GOLOK MAUT
JILID 25
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"AKU adalah si Kedok Hitam, kau sudah menyebut namaku. Kenapa bertanya dan bersikap bodoh?"

"Bukan itu, tapi siapa kau sebenarnya!"

"Heh, tidak berotakkah kau ini, Mo-ko? Sudah kusebut bahwa diriku adalah si Kedok Hitam, dan kau bertanya lagi. Apakah ingatanmu demikian buram hingga perlu diketok sekali dua?"

Hek-mo-ko menggeram. Dia bingung juga dengan pertanyaannya itu. Betul, lawan sudah menyebut dirinya, si Kedok Hitam. Tapi karena yang dia maksudkan adalah lebih luas lagi dengan siapa sesungguhnya bayangan di balik kedok itu dan bagaimana si Kedok Hitam bisa menjadi pembantu Coa-ongya maka kakek ini membentak dan tiba-tiba menyerang.

"Kau manusia busuk! Biar kurobohkan dirimu dan kulihat pantaskah kau bersikap sombong!" namun lawan yang mengelak dan mengejek kakek ini tiba-tiba tertawa mengeluarkan tawa menghina.

"Mo-ko, tak perlu kalap. Dikeroyok empat dengan tiga temanmu yang lain aku masih juga menang. Pergilah, dan katakan pada Coa-ongya bahwa aku datang..... plak-plak!"

Kakek iblis itu terpental, kaget berteriak keras dan menyerang lagi namun lawan dengan mudah menangkis dan menghalau. Dan ketika enam tujuh kali tetap begitu dan kakek ini terkejut tiba-tiba Mo-ko mencabut tongkatnya dan kalap menyerang, berseru menerjang dengan senjatanya itu dan tangan kiri pun bergerak melakukan tamparan-tamparan Hek-see-kang (Pukulan Pasir Hitam), dahsyat menyambar namun lawan tertawa aneh.

Tubuh yang diserang itu mendadak berkelebatan cepat dan lenyap mendahului serangan-serangan kakek itu. Dan ketika Mo-ko terkejut karena lawan benar-benar tak dapat diikuti bayangannya maka sebuah tamparan ganti mengenai pundaknya, terpelanting dan kakek itu menjerit keras karena sentuhan lawan demikian menyengat, rasanya seperti api! Dan ketika Mo-ko berteriak gusar dan memencet ujung tongkatnya, menghamburkan jarum-jarum beracun maka lawan mengebut dan berkata,

"Mo-ko, kecurangan macam ini tak perlu kau perlihatkan padaku. Robohlah, dan sekarang kita berhenti!"

Mo-ko meraung. Belasan jarum-jarum hitamnya yang menyambar dalam jarak begitu dekat ternyata dikebut runtuh dengan satu kibasan ringan, tampaknya ringan tapi nyatanya dia terdorong. Dan karena jarum-jarumnya itu dikebut balik dan tentu saja menyambar dirinya sendiri maka kakek iblis itu roboh terbanting dengan tujuh belas jarum menancap di hampir seluruh tubuhnya.

"Aduh!" Mo-ko terguling-guling. Kakek ini mengeluh dan berteriak kesakitan. Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Dan ketika dia merintih dan mengerang tak keruan maka lawan berkelebat lenyap dan menghilang entah ke mana, berkata dari jauh bahwa dia akan menghadap Coa-ongya, melaporkan tindakan kakek itu dan tentu saja kakek ini pucat. Namun ketika dia mencabuti semua jarum-jarum itu dan menelan obat penawar, karena dia bisa tewas kalau tidak mengobati dirinya maka kakek ini bangkit terhuyung dan lari terpincang-pincang menuju istana.

"Kedok Hitam, bangsat keparat kau! Awas, tantanganmu akan kulaporkan pada tiga orang rekanku!"

"Hm!" suara itu terdengar amat jauh. "Boleh laporkan kalau ingin coba-coba kepandaianku, Mo-ko. Dan lihat berapa jurus kalian berempat kurobohkan!"

"Ah, kau sombong. Jahanam takabur!" namun lawan yang tidak menjawab lagi karena sudah lenyap akhirnya membuat kakek ini terseok-seok berlari, di sepanjang jalan mengumpat caci namun diam-diam kakek iblis ini gentar. Kalau saja si Kedok Hitam itu musuh barangkali dia sudah dibunuh, kenyataan itu diyakininya. Namun ketika kakek ini jatuh bangun meninggalkan kelenteng tua itu maka di Sana, di istana, telah menunggu pangeran she Coa.

"Hm, kau terlambat!" teguran itu bernada dingin. "Dan kau menghina si Kedok Hitam pula. Benarkah, Mo-ko?"

Kakek ini tertegun. "Dia sudah di sini?"

"Satu jam yang lalu, dan kau katanya bersikap kurang ajar! Mo-ko, sesama rekan tak seharusnya kau melakukan itu. Besok kau harus minta maaf padanya dan kalian berempat tunduk pada si Kedok Hitam. Aku besok tak ada di istana, melaksanakan tugas kaisar. Kedok Hitam mewakiliku dan kalian tak boleh membantah!"

"Paduka mau pergi? Berapa lama? Dan Kedok Hitam itu mewakili paduka?"

"Benar, dan tadi aku sudah memanggil tiga temanmu, Mo-ko. Mindra dan Sudra serta kakek Yalucang kuperintahkan untuk datang ke sini besok. Kedok Hitam akan membawa kalian ke Lembah Iblis!"

"Astaga!" kakek ini terkesiap. "Hamba dan kawan-kawan belum tahu betul kepandaian si Kedok Hitam itu, pangeran. Meskipun dia lihai namun baru mengalahkan hamba seorang. Dan Colok Maut, ah..... dia itu mampu menandingi kami berlima! Hamba khawatir...."

"Tak perlu khawatir!" sang pangeran memotong. "Kalian besok boleh mengujinya, Mo-ko. Kedok Hitam telah meminta persetujuanku untuk menundukkan kalian berempat. Kalian semua gentong-gentong kosong belaka. Lihatlah dan tirulah pembantuku yang rahasia itu. Kalau saja kalian dapat mengalahkan Golok Maut tentu dia tak akan kupanggil. Sudahlah, besok kalian berkumpul dan ingat bahwa Kedok Hitam adalah wakil diriku pribadi!"

Hek-mo-ko tertegun. Coa-ongya sudah membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, dia disemprot dan diam-diam timbul rasa benci dan tak suka kakek itu kepada si Kedok Hitam. Memangnya siapa laki-laki misterius itu? Mampukah dia menghadapi Golok Maut? Kalau benar dapat mengalahkan mereka berempat barangkall hal itu dapat dijadikan jaminan. Tapi Golok Maut, ah... belum tentu. Tokoh itu memiliki Golok Penghisap Darah, golok yang luar biasa ampuh dan mengerikan!

Dan teringat bahwa dengan mengalahkan mereka berempat saja masih bukan merupakan jaminan bagi si Kedok Hitam untuk mengalahkan Golok Maut maka Mo-ko maju mundur dan akhirnya menggeram, tetap kurang percaya namun akhirnya kakek ini berkelebat pergi juga. Biarlah besok dilihat saja bagaimana baiknya. Ketiga temannya akan dihubunginya dulu dan ternyata benar Mindra dan lain-lainnya itu sudah diberitahu Coa-ongya.

Mereka diminta datang menghadap dan besok mereka akan berhadapan langsung dengan si Kedok Hitam itu, tokoh baru bagi mereka namun yang agaknya amat dipercaya Coa-ongya, bahkan lebih dipercaya daripada mereka! Dan ketika semuanya mengangguk dan tentu saja penasaran, di samping tak suka maka keesokannya Mo-ko dan tiga temannya sudah menunggu di tempat yang dijanjikan.

* * * * * * *

Laki-laki itu sudah duduk di kursi Coa ongya. Sikapnya, dan gayanya, sungguh menggantikan Coa-ongya benar, sombong dan angkuh. Dan ketika Mo-ko dan kawan-kawan berkelebatan masuk ternyata si Kedok Hitam itu sudah mendahului di sana.

"Hm, tak tepat waktu! Kenapa kalian terlambat, Mo-ko? Sudah sejam aku menunggu di sini, dan baru sekarang kalian datang. Kalau musuh datang menyerbu maka kalian sudah percuma melindungi istana!"

Mo-ko dan kawan-kawan semburat merah. Mereka terlambat karena diam-diam mereka mengelilingi gedung, menjaga dan ingin menghadang si Kedok Hitam itu di luar. Tapi karena dicegat tak ada juga maka mereka masuk dan memang benar satu jam sudah mereka terlambat. Dan kini "wakil pribadi" Coa-ongya itu menegur mereka mirip atasan kepada bawahan yang bersalah. Dingin dan sombong! Dan ketika Mo-ko bersinar-sinar sementara Mindra dan dua temannya menatap tajam maka Kedok Hitam minta agar mereka berlutut.

"Aku adalah pemimpin kalian. Selama ongya tak ada di sini maka segala perintah dan keputusan ada di tanganku. Berlututlah, dan beri hormat sebagaimana layaknya pembantu yang baik!"

"Keparat!" Mo-ko melotot. "Kau pongah dan sombong, Kedok Hitam! Mentang-mentang dapat mengalahkan aku seorang kau lalu bersikap takabur! Jangan tergesa dulu, di sini masih ada tiga temanku yang lain dan mereka belum tentu tunduk padamu!"

"Hm, kalian semua akan kutundukkan, dan memang harus tunduk! Apa yang keluar dari mulutku adalah sama dengan Coa-ongya. Bukankah kalian sudah diberi tahu dan tak boleh membantah? Berlututlah, atau kalian kuhajar!"

"Ha-ha!" Mindra tiba-tiba tertawa bergelak. "Kau orang yang sombong sekali, Kedok Hitam. Sikapmu sungguh melebihi Coa-ongya. Baiklah, kami akan berlutut di hadapanmu tapi bukalah dulu kedokmu itu dan baru setelah itu kami memenuhi permintaanmu!"

"Hm, tak ada bawahan memerintah atasannya. Kau tak usah bicara seperti itu, Mindra. Atau kau kuhajar!"

"Ah, kau mau memberi petunjuk? Bagus, aku tentu senang.... heii!" dan Mindra yang kaget bukan main tiba-tiba melihat Kedok Hitam mencelat dari kursinya, terbang dan meluncur ke arahnya dan gerakan itu bukan main cepatnya. Dia sedang bicara ketika tahu-tahu lawan menyerang. Dan karena tak ada waktu untuk mengelak maka kakek ini menggerakkan tangannya menangkis.

"Dess...!" dan.... kakek ini terlempar mencelat empat tombak! "Aiihh...!" Mindra berjungkir balik meloncat bangun, kaget dan pucat. "Kau... kau hebat, Kedok Hitam. Tapi kau curang!"

Sudra, yang ada di sampingnya juga terbelalak kaget. Kakek yang bersenjata cambuk ini sudah meraba cambuknya dan siap berjaga-jaga. Kedok Hitam sudah kembali ke tempat duduknya tadi dan duduk dengan tenang, tegak dan dingin. Sungguh cepat namun menyeramkan! Dan ketika temannya kaget dan marah maka Kedok Hitam tertawa mengejek.

"Mindra, kalian semua pasti akan merasakan kehebatanku. Dan jangan sombong dengan Hwi-seng-ciangmu. Siapa takut akan Pukulan Bintang Api itu? Nah, segebrak ini buat pelajaran untukmu, tua bangka. Atau kau akan kubuat jungkir balik dengan lebih hebat lagi!"

"Keparat!" kakek itu menggigil, melirik temannya. "Agaknya main-main ini tak usah ditunda lagi, Sudra. Kawan kita ini rupanya sengaja ingin pamer! Kau mau mencobanya pula dan menerima tantangannya!"

"Hm.... tar-tar!" Sudra meledakkan cambuk. "Aku suka melihat kepongahannya, Mindra. Tapi aku tak suka melihat tarttangannya yang amat merendahkan kita. Dia berani dikeroyok, begitu kata Mo-ko. Apakah dia memang ingin kita maju berempat?"

"Nanti duiu!" Yalucang tiba-tiba melompat maju, terkejut dan juga membelalakkan mata melihat kecepatan dan serangan si Kedok Hitam itu. "Aku ingin mencobanya, Mindra. Biarlah kau mundur dulu dan kita bertempur seorang lawan seorang!"

"Hm!" Mo-ko tersenyum. "Apa yang dikata Yalu benar, Mindra. Biarlah kau mundur dan lihat dulu apakah Kedok Hitam dapat mengalahkan rekan kita ini. Kalau benar, barulah kita maju semua tapi sebaiknya kau pribadi mencobanya dulu bersama Sudra!"

Mindra tertegun. Dia mendapat kedipan dan isyarat ini segera ditangkapnya dengan baik. Kalau satu per satu, tentu Kedok Hitam akan terkuras tenaganya dan nanti kalau mereka maju berbareng pastilah lawan sudah kehabisan tenaga. Siasat itu bagus dan tentu saja kakek India ini tertawa, mengangguk. Dan ketika dia mundur dan kakek tinggi besar Yalu-cang sudah menggosok-gosok tangannya maka keluarlah asap dari pengerahan tenaga Hwee-kang (Api).

"Aku ingin melihat kepandaianmu secara pribadi. Marilah, kita main-main dan lihat berapa jurus aku merobohkanmu!"

"Hm!" Kedok Hitam tertawa. "Bukan kau yang merobohkan aku, Yalu. Melainkan akulah yang akan merobohkanmu. Aku berjanji tak lebih dari dua puluh jurus kau sudah terkapar!"

"Sombong!" kakek ini menggeram. "Kau bermulut besar, Kedok Hitam. Baiklah, mari kita mulai dan buktikan mulut besarmu itu... wut!" si kakek berkelebat, tangannya yang lebar dan kuat sudah menghantam sementara mulut siap meniup. Yalucang kakek tinggi besar ini memang ahli penyembur api dan Hwee-kang atau ilmu Apinya itu akan bekerja, dia sudah mengumpulkan tenaganya dan begitu lawan menangkis diapun akan meniup. Dan ketika benar saja Kedok Hitam bergerak dan menangkis pukulannya maka kakek ini sudah membuka mulutnya dan menyemburkan api.

"Wushh... dess!"

Kakek ini kaget bukan main. Tepat dia terpental dan menyemburkan apinya mendadak lawannya itu ikut meniup. Tenaga khikang yang amat hebatnya menolak balik tiupan apinya itu. Dan karena Hwee-kang atau semburan api membalik mengenai dirinya maka kakek ini terbakar dan terjilat apinya sendiri!

"Jahanam!" kakek itu bergulingan memaki kaget. Dia tak menyangka bahwa lawan demikian lihai. Benturan pukulan di antara mereka jelas menunjukkan lawan lebih unggul, lebih kuat. Dan ketika kakek itu meloncat bangun dan kaget membelalakkan mata maka si Kedok Hitam sudah tertawa dan menendang kursinya, siap menghadapi kakek itu dan menggapai dengan sikap sombong.

Gebrakan pertama itu jelas memberi pelajaran pada si kakek tinggi besar ini. Dan karena kakek itu marah dan jelas masih penasaran maka Yalucang membentak dan bangkit menyerang lagi, melepas pukulan-pukulan kuat dan api pun mulai menyembur-nyembur dari mulutnya. Kakek ini menggereng-gereng karena kekagetannya tadi sungguh membuat dia gusar. Dan ketika tak lama kemudian pukulan Hwee-kang maupun semburan api sudah mengelilingi lawannya maka si Kedok Hitam terkepung dan tak dapat keluar.

"Mampus kau, kubunuh kau!" Yalucang bersinar-sinar. "Tak dapat kau melarikan diri, Kedok Hitam. Ayolah keluar dan tunjukkan kepandaianmu!"

Mindra dan kawan-kawan melebarkan mata. Mereka melihat bahwa si Kedok Hitam benar-benar sudah terkurung. Pukulan dan semburan api sudah mengelilingi laki-laki itu dan Kedok Hitam tampak terdesak. Mo-ko mulai tertawa-tawa dan berseru menghitung jurus-jurusnya. Dia ingat bahwa Kedok Hitam akan merobohkan Yalucang dalam waktu dua puluh jurus saja, sebuah ucapan yang dinilai terlalu besar.

Tapi ketika Kedok Hitam tertawa dan terus mengelak maju mundur, menangkis dan menggerak-gerakkan kedua tangannya ke kiri kanan maka aneh tetapi nyata pukulan-pukulan kakek Yalu terpental. Dan ketika Kedok Hitam berseru meniup-niupkan mulutnya, mengerahkan sinkangnya tiba-tiba semburan api itu juga ikut terdorong dan terhalau, kian lama kian jauh dan kakek Yalu tampak membentak sekuat tenaga mengerahkan kekuatannya. Kakek ini sampai merah dan mendelik karena semua pukulannya itu tertolak. Dan ketika semburan apinya juga tertiup dan membalik menyerang dirinya maka kakek itu pucat sementara Hek-mo-ko sudah menghitung pada jurus ke enam belas,

"Keparat, kau tak dapat merobohkan aku dalam jurus kedua puluh, Kedok Hitam. Aku akan bertahan dan membuat malu dirimu!"

"Ha-ha, sekarang mulai ketakutan! Ayolah, kautunjukkan kepandaianmu, Yalu. Bertahan dan perhebatlah seranganmu. Aku sengaja bertahan, tapi setelah itu aku pasti membalas. Tinggal empat jurus lagi!"

Kakek Yalu menggigil. Dalam pertempuran yang sudah berjalan enam belas jurus itu sebenarnya dia sudah mengerahkan segenap kemampuan. Pada jurus-jurus pertama memang dia dapat mendesak, mengira dapat mengalahkan lawan tapi tak tahunya si Kedok Hitam ini sengaja mengalah, bertahan dan mempermainkannya sedemikian rupa. Dan ketika pada jurus ke sepuluh dan selanjutnya lawannya itu mulai membalas dan setiap tangkisan atau benturan tenaga di antara mereka tentu membuat kakek ini terdorong dan terhuyung-huyung maka pada hitungan ke enambelas itu kakek tinggi besar ini terdesak.

Semburan apinya atau pukulan Hwee-kangnya tertolak balik, kian lama kian kuat dan empat kali kakek ini sudah menghindar jilatan apinya sendiri, gagal dan pipinya gosong terjilat! Dan ketika kakek itu terbelalak pucat dan marah tapi juga gentar akhirnya pada jurus kedelapanbelas dia terpental. Waktu itu lawan sudah mulai membalas dan pukulan atau dorongan tangan si Kedok Hitam mengeluarkan angin dahsyat, menghantam dan menyambar kakek ini dan Hwee-kang tertolak.

Dan ketika lawan meniup dan semburan api melejit menyambar muka kakek ini maka Yalucang berteriak karena dua serangan sekaligus menghantam dirinya. Satu dari tangan lawan sementara yang lain dari tiupan mulut itu. Ah, sin-kang yang dimiliki Kedok Hitam memang jauh lebih kuat! Dan ketika kakek itu terpental dan kaget berteriak keras maka lawan berkelebat dan Kedok Hitam tertawa mengakhiri pertandingan.

"Nah, ini dua jurus terakhir. Roboh-lah!"

Yalu bergulingan. Dia berusaha menjauh tapi lawan membayangi, selalu menempel dan tak mungkin dia dapat mengelak lagi. Dan ketika kakek itu pucat berseru keras karena lawan melepas pukulan dua kali ke tengkuk dan dadanya maka kakek ini menangkis sebisanya tapi tetap juga dia kalah cepat.

"Des-plak!"

Kakek itu terkapar. Akhirnya Yalucang kakek tinggi besar ini mengeluh. Dia serasa dihantam palu godam dan kelenger, merintih tak dapat bangun. Dan ketika lawan menendang dan kakek itu terbanting di sudut maka selesailah pertandingan dan tepat duapuluh jurus si Kedok Hitam ini mengalahkan lawannya!

"Ha-ha, bagaimana, Mindra? Kalian sudah melihat kepandaianku?"

Mindra terkejut. Akhirnya dia melihat bahwa si Kedok Hitam ini betul-betul lawan yang tangguh. Kemarin Mo-ko sudah bercerita padanya tapi dia tak yakin. Belum bertempur belum percaya, begitu biasanya watak orang-orang kang-ouw. Maka begitu melihat dan membuktikan maka tergetarlah hati kakek ini namun. itu masih bukan berarti dia takut!

"Bagus!" Mindra tiba-tiba mencabut nenggalanya. "Kau hebat, Kedok Hitam. Tapi aku masih tak tunduk padamu. Kau sudah merobohkan Yalu, tapi belum merobohkan aku. Nah, biarlah kurasakan kepandaianmu dan kita bertanding... cus!"

nenggala tiba-tiba bergerak, maju menusuk karena dengan kecepatan luar biasa tiba-tiba kakek India ini berkelebat. Dia mempergunakan kesempatan selagi lawan tersenyum-senyum, kaget dan mengelak dan berlubanglah ujung baju lawan! Dan ketika Kedok Hitam terkejut berseru keras tiba-tiba kakek India ini sudah menyerangnya ganas.

"Wut-wut!" nenggala menyambar-nyambar. Mindra ternyata licik ingin mendahului lawan. Sementara bicara serangannya pun sudah dimulai. Dan ketika lawan mengelak sana-sini dan untuk beberapa saat si Kedok Hitam terdesak maka Sudra, temannya, tertawa bergelak.

"Bagus, desak dia ke sini, Mindra. Biar sekalian kuhajar!"

Mindra mengangguk. Tadi mereka sudah saling memberi isyarat dan maklum bahwa pertempuran seorang lawan seorang rupanya tak menguntungkan mereka. Yalu hampir setingkat dengan mereka, kalau kakek itu kalah maka tak ada harapan bagi mereka untuk menang pula. Maka begitu saudaranya berseru dan Mindra mengangguk bersinar-sinar maka kakek ini sudah mendesak dan menggiring lawan agar mendekati temannya, terus mendesak dan merangsek dan kerut di balik kedok itu berkernyit. Kedok Hitam mengelak sana-sini sementara matanya pun mengeluarkan cahaya aneh. Mata itu mencorong dan mulai marah. Dan ketika dia didesak dan terus mendekati Sudra, yang sudah siap dengan cambuknya tiba-tiba senjata itu menjeletar menyerang dirinya.

"Tarr!"

Kedok Hitam berjengit. Pundaknya termakan dan dua kakek India itu sudah tertawa-tawa. Kini Sudra bergerak maju pula dan dikeroyoklah laki-laki berkedok ini. Yalu masih merintih-rintih dan mende-sis di sana Kakek itu kelengar dan merasakan sakitnya. Tapi karena dia seorang kuat dan betapapun kakek ini memang bukan orang sembarangan maka tak lama kemudian dia sudah bangkit berdiri, terhuyung dan membelalakkan matanya memandang pertempuran dan kakek itu mendelik marah.

Dia gentar dan kagum terhadap lawannya ini. Tapi karena dia dikalahkan begitu mudah namun harus diingat bahwa senjatanya, roda bergigi itu belum dlkeluarkan maka kakek ini merasa penasaran juga dan masih tidak mau menyerah. Dan ketika Kedok Hitam sudah dibuat berlompatan menghindari tusukan nenggala atau ledakan cambuk maka Mo-ko mendekatinya dan berbisik-bisik.

"Kau harus maju kembali. Kita semua mengeroyok!"

"Hm, aku memang masih penasaran!" kakek itu mengangguk. "Aku kalah tapi masih belum sempurna, Mo-ko. Aku masih belum mengeluarkan senjataku dan belum tentu lawanku menang!"

"Benar, tapi betapapun dia hebat. Aku juga masih penasaran. Kalau Mindra dan Sudra tak dapat merobohkannya marilah kita maju berbareng dan keroyok berempat!"

"Hm, aku setuju. Mari kita lihat dan saksikan perkembangannya dulu!"

Dua orang itu sepakat. Mo-ko telah berbisik dan siap mengajak temannya mengeroyok, dua-duanya memang masih sama-sama penasaran dan kakek tinggi besar itu geram. Dan ketika mereka menonton dan tampak kerubutan ini menguntungkan Mindra dan Sudra maka Kedok Hitam terlihat keteter.

"Ha-ha, lihat, Mo-ko. Berdua saja rupanya sudah cukup!"

"Benar, kalian menonton saja di situ. Kalau Kedok Hitam tak dapat kami selesaikan tigapuluh jurus barulah kalian maju!"

"Hm, jangan sombong!" Kedok Hitam membentak. "Aku belum mengeluarkan semua kepandaianku, Mindra. Kalian licik dan curang mempergunakan senjata. Aku masir belum kalah!"

"Ha-ha, kalau begitu keluarkan senjatamu...."

"Dan juga semua kepandaianmu!" Sudra menyambung, mengejek. "Kami ingin melihat seberapa hebat kau, Kedok Hitam. Atau kau pecundang secara konyol kalau memandang rendah kami!"

"Hm, baiklah!" Kedok Hitam mendengus. "Semua permintaan kalian kupenuhi, Sudra. Dan lihat baik-baik siapa yang akan pecundang... clap!" sebuah sinar kebiruan tiba-tiba muncul, melesat dari balik punggung laki-laki ini dan Sudra maupun Mindra terkejut karena mereka silau melihat sebuah golok yang tajam mengkilat. Cahaya golok itu demikian keras dan menyakitkan mata. Dan ketika mereka terkejut dan masih menggerakkan senjata untuk mendesak atau merangsek lawan tiba-tiba Kedok Hitam melanjutkan gerakan sinar kebiruan itu.

"Cring-tas!"

Sudra dan temannya berseru kaget. Mereka tersentak karena tiba-tiba nenggala dan cambuk putus, putus dibabat sinar kebiruan itu. Dan ketika mereka terbelalak dan terhuyung mundur, kaget dan tergetar oleh sinar kebiruan itu maka golok bergerak dua kali dan.... robeklah baju pundak berikut sedikit daging dua orang kakek ini.

"Aiihhh...!" dua kakek itu berteriak panjang. Mereka membanting tubuh bergulingan namun sebentar kemudian sinar kebiruan itu sudah bergulung-gulung mengejar mereka, menusuk dan membacok dan kagetlah dua orang ini karena mengenal itulah gerakan atau jurus-jurus Giam-to-hoat (Ilmu Silat Golok Maut), ilmu yang dimiliki Si Golok Maut dan tentu saja dua kakek itu berteriak keras.

Mo-ko dan Yalu yang ada di luar tiba-tiba juga terkejut dan berseru tertahan. Pertemuan mereka yang berkali-kali dengan Si Golok Maut tentu saja membuat mereka hapal akan jurus-jurus ilmu golok itu, yang ganas dan berbahayanya bukan alang-kepalang. Dan ketika mereka tertegun dan menjublak di tempat, menyaksikan dua orang rekan mereka yang bergulingan ke sana ke mari maka nenggala putus dibabat lagi dan cambuk yang meledak-ledak akhirnya tinggal sejengkal!

"Golok Maut.... ! Kau Golok Maut...!"

Mo-ko dan kakek Yalu terkesiap. Mindra dan Sudra berteriak-teriak menyebut nama ini, belum apa-apa sudah terbang nyalinya karena nama tokoh bercaping itu memang menggetarkan. Hanya Beng Tan sajalah yang dapat mengatasi Si Golok Maut itu. Tapi ketika keadaan menjadi geger dan Mo-ko siap memanggil pengawal, karena ribut-ribut itu sudah didengar dan ditangkap pengawal maka Kedok Hitam berseru menyelesaikan pertempuran dengan suaranya yang tinggi.

"Bukan, aku bukan Golok Maut. Kalau aku Si Golok Maut tentu kalian sudah kubunuh! Nah, berhenti dan sekarang kalian harus percaya kelihaianku... crat-bluk!"

Dua kakek itu terlempar, leher mereka tergurat berdarah dan si Kedok Hitam melakukan tendangan. Gentar dan ciut mengira lawannya Si Golok Maut maka dua kakek itu sudah terbang semangatnya. Ilmu silat mereka menjadi kacau dan terlemparlah mereka ketika lawan menendang. Dan ketika keduanya terkejut melompat bangun dan Mo-ko serta kakek Yalu terguncang di sana maka sinar kebiruan itu sudah lenyap di belakang punggung dan si Kedok Hitam ini berdiri tegak.

"Aku bukan Golok Maut. Aku adalah si Kedok Hitam. Nah, siapa tidak percaya kepadaku dan ingin coba-coba silahkan, boleh maju dan rasakan kepandaianku!"

"Kau... kau siapa sebenarnya? Bagaimana dapat mainkan Giam-to-hoat yang menjadi andalan Si Golok Maut?"

"Hm, siapa aku tak usah kalian tahu, Mindra. Cukup kalian ketahui bahwa aku adalah si Kedok Hitam. Kalian tunduk?"

Mindra gentar. Akhirnya setelah dia tahu kehebatan lawannya ini dan betapa senjata atau golok di tangan si Kedok Hitam berturut-turut melukai tubuhnya maka dia harus tahu diri dan mengangguk. Sudra juga melakukan hal yang sama dan Mo-ko serta kakek Yalu terbengong-bengong. Mereka yang semula hendak mengeroyok tiba-tiba saja gentar sebelum bertanding. Nyali pun tiba-tiba sudah menciut begitu melihat Giam-to-hoat dikeluarkan si Kedok Hitam ini, hal yang amat mengherankan dan mencengangkan bagaimana ada orang selain Si Golok Maut dapat memiliki ilmu silat itu, ilmu golok yang luar biasa ampuhnya di mana mereka tak mungkin berani bercuit-cuit lagi. Dan ketika mereka terbelalak dan gentar memandang laki-laki ini maka Kedok Hitam minta agar mereka berempat menjatuhkan diri berlutut.

"Sekarang kuulangi perintahku, kalian berlutut dan memberi hormat padaku!"

Mindra tiba-tiba gemetar. Hampir berbareng mereka berempat tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan si Kedok Hitam itu, hal yang aneh, hal yang akan membuat orang luar bakal terheran-heran dan tidak percaya. Tapi ketika semuanya berlutut dan menyatakan menyerah, menyerah secara total maka Hek-mo-ko memberanikan diri bertanya tentang golok di balik punggung si Kedok Hitam ini.

"Kami ingin membuktikan sekali lagi bahwa kau bukanlah Si Golok Maut. Tunjukkan kepada kami bahwa golok di belakang punggungmu itu bukanlah Golok Penghisap Darah!"

"Benar," Sudra tiba-tiba teringat. "Kami ingin menenangkan diri, Kedok Maut. Perlihatkanlah kepada kami bahwa kau benar-benar bukan Si Golok Maut!"

"Hm, kalian ingin menenteramkan hati? Baiklah, lihat ini. Ini bukan Golok Penghisap Darah.... singg!" dan sinar kebiruan yang muncul kembali dicabut laki-laki ini akhirnya diperlihatkan kepada semua orang bahwa golok itu betul-betul bukan Golok Penghisap Darah, senjata yang dimiliki Si Golok Maut itu. Dan ketika mereka tenang dan percaya karena bercak darah masih ada di situ, darah dari pundak Mindra dan Sudra yang terbabat maka semuanya mengangguk dan lega.

"Terima kasih!"

Kedok Hitam sudah mengembalikan goloknya ini. Seperti orang main sulap saja tiba-tiba hampir tak terlihat mata dia sudah mengembalikan goloknya di belakang punggung, cepat dan luar biasa. Dan ketika semua lega dan percaya maka laki-laki ini duduk dan berkata bahwa mereka berlima semuanya besok akan menuju ke Lembah Iblis.

"Ongya memerintahkan padaku untuk membunuh Si Golok Maut itu. Dan ongya sudah menghubungi jenderal Gwe. Besok kita ke Lembah Iblis dan bersama lima ribu pasukan kita tangkap dan bunuh Si Golok Maut itu!"

"Lima ribu pasukan? Padahal kau sudah dapat mengalahkan kami?" Mo-ko, yang terkejut dan membelalakkan matanya bertanya. Iblis ini heran dan kaget karena orang sehebat si Kedok Hitam ini masih juga perlu bantuan pasukan, tak tanggung-tanggung, lima ribu jumlahnya! Dan ketika Kedok Hitam mengangguk dan bersinar-sinar, matanya mencorong membayangkan nafsu membunuh maka dia berkata,

"Benar, bukan karena aku takut menghadapi Si Golok Maut itu, Mo-ko. Melainkan semata agar Golok Maut kali ini benar-benar tidak dapat lolos lagi. Dan kalian tak perlu memberi tahu bocah she Ju itu, kita bergerak secara diam-diam!"

Mo-ko melongo. Kedok Hitam akhirnya memberi tahu mereka bahwa jenderal Gwe sudah dihubungi. Secara diam-diam lima ribu pasukan akan bergerak dari kota raja, menyertai mereka. Dan karena mereka harus bergerak secara diam-diam dan Golok Maut kali ini harus ditumpas, karena hanya akan menimbulkan huru-hara saja maka Mo-ko dan kawan-kawan bengong namun girang bukan main, terutama kakek iblis itu, yang suhengnya sudah tewas dan dibunuh Si Golok Maut.

Tokoh bercaping itu memang hebat dan tak ada orang selain Beng Tan yang dapat mengatasi. Namun karena Beng Tan sedang marah-marah dan pemuda itu entah ke mana maka rencana serbuan besar-besaran ke Lembah Iblis ini tentu saja menggembirakan mereka. Kedok Hitam berkata bahwa inilah saatnya terbaik. Golok Maut sedang luka dan gebrakan mendadak yang akan dilancarkan ini pastilah berhasil. Mereka akan membasmi dan membunuh Si Golok Maut itu. Dan ketika Mo-ko mengangguk dan Mindra serta yang lain juga berseri-seri maka hari itu semua persiapan dilakukan.

"Kalian ikuti perintahku, jangan ke mana-mana!"

Empat orang itu mengangguk. Akhirnya mereka melihat bahwa benar saja lima ribu orang telah keluar dari kota raja secara diam-diam. Rakyat tak banyak yang tahu karena semuanya itu memang dirahasiakan. Dan ketika keesokannya benar saja barisan ular yang panjang telah bergerak ke selatan maka Lembah Iblis, tempat yang berbahaya sedang mengalami bahaya! Tahukah Golok Maut akan rencana serbuan itu? Tahukah dia akan badai yang bakal mengguncangkan tempat tinggalnya ini? Agaknya tidak. Karena Golok Maut, yang sedang terluka dan dihantam pukulan bertubi-tubi ternyata sedang dirawat Wi Hong yang selalu menangis melihat keadaan kekasihnya itu. Dan mari kita lihat ke sana.

* * * * * * *

Seperti diketahui, Golok Maut luka parah setelah menghadapi keroyokan Mindra dan kawan-kawannya. Sebelumnya tokoh ini baru mengamuk di kota raja. Ci-ongya yang dibunuh dan menimbulkan geger bukanlah berlalu begitu saja. Golok Maut juga luka-luka, terhuyung dan letih memasuki Lembah Iblis, tempat tinggalnya. Tapi ketika Wi Hong muncul dan marah-marah kepadanya, menyerang dan membuat keributan maka Golok Maut hampir saja membunuh kekasihnya ini, kalau saja Beng Tan tidak muncul. Dan karena pemuda baju putih yang lihai itu juga sedang mencari-cari dirinya dan minta pertanggung-jawabannya atas pembunuhan yang dilakukan Golok Maut maka barulah terbuka bahwa Wi Hong hamil setelah perbuatannya dulu dengan pemuda bercaping ini.

Golok Maut tentu saja terkejut, terpukul. Dia hampir saja membunuh kekasihnya ini, juga jabang bayi dari hasil hubungan mereka. Dan karena hal itu jauh lebih dahsyat menghantam pemuda ini dari segala pukulan atau serangan maka Golok Maut kaget dan terbelalak, serasa disambar petir dan selanjutnya dimaki-makilah dia oleh Beng Tan. Dia juga dituduh mau menggagahi Swi Cu, kekasih Beng Tan. Dan ketika semuanya itu bertubi-tu-bi mendarat di tubuh pemuda ini dan Golok Maut masih menjublak oleh kehamilan Wi Hong yang hampir dibunuh maka serangan Wi Hong nyaris saja menamatkan jiwanya, ketika Wi Hong merampas dan mengayun Golok Penghisap Darah, yang tidak dielak oleh pemuda bercaping ini.

Tapi karena Beng Tan tak membiarkan itu dan Golok Maut selamat maka selanjutnya pemuda yang sedang diguncang pukulan batin ini diserang Mindra dan kawan-kawannya. Kita telah mengetahui itu dan terakhir Golok Maut pingsan setelah membunuh Pek-mo-ko, suheng dari Hek-mo-ko. Dan karena luka-lukanya ditambah lagi oleh jarum-jarum beracun yang dihamburkan Mo-ko lewat ujung tongkatnya maka pemuda itu roboh setelah Mindra dan sisa temannya berhasil dipukul mundur.

Dan kini Wi Hong merawat pemuda itu. Dua hari dua malam Golok Maut masih tak sadarkan diri. Wi Hong sudah mendapat obat dari Beng Tan namun ketua Hek-yan-pang yang angkuh ini tak mau menerima begitu saja. Dia juga memiliki sisa obat-obatan. Namun ketika tak mencukupi dan racun di tubuh Golok Maut tak lenyap dengan tuntas maka Wi Hong tersedu mengambil obat pemberian Beng Tan.

"Jahanam keparat. Kami terpaksa berhutang budi padamu, Beng Tan. Tapi biarlah, kuterima ini dan kelak budimu akan kubalas dengan cara lain!"

Wi Hong tersedu-sedu. Sebenarnya, dia sudah mengerahkan sinkang membantu kekasihnya ini, dua hari dua malam menempelkan lengan dan tiada henti-hentinya dia berseru memanggil Si Golok Maut. Tapi karena kondisi tubuhnya juga lemah dan hamil muda yang dialaminya sering disusul muntah-muntah, maka Wi Hong tak berdaya lagi dan apa boleh buat terpaksa menerima pemberian Beng Tan, hal yang tak diingini karena dia berjanji akan mempertemukan pemuda itu dengan Golok Maut, kalau sudah sembuh.

Jadi dua pemuda itu bakal bertarung lagi! Padahal masing-masing adalah orang-orang yang sama dicinta. Dia mencintai Golok Maut sedangkan sumoinya, Swi Cu, mencintai Beng Tan. Mereka kakak beradik bakal terlibat permusuhan karena masing-masing tentu akan membela kekasihnya sendiri, hal yang menyakitkan. Dan ketika Wi Hong tersedu dan mengguguk teringat ini maka dia menjejalkan obat pemberian Beng Tan kepada kekasihnya.

Namun sayang, karena terlambat, sebab Wi Hong baru memberikannya sekarang, setelah lewat dua hari maka bayangan kehijauan dari racun yang mengeram di tubuh tetap bersarang. Warna kehitaman sudah lenyap, tapi tubuh yang terganti dengan warna kehijauan tetap saja membuat Wi Hong gelisah, cemas. Dan ketika dia batuk-batuk dan mengerahkan sinkang duduk bersila tiba-tiba saja satu jam kemudian reaksi obat bekerja, meskipun tak menyeluruh. Hal ini terlihat karena tiba-tiba Si Golok Maut sadar, membuka mata dan mengeluh. Dan ketika Wi Hong terkejut tapi tentu saja girang maka gadis atau wanita ini cepat melepaskan tangannya berseru cemas,

"Ah, kau sudah sadar. Bangunlah, lihatlah...!"

Golok Maut nanar. Caping di atas kepalanya sudah dibuka. Wi Hong memang tak membiarkan caping itu melekat lagi di atas kepala karena mengeluarkan keringat yang membanjir. Gadis ini girang karena pemuda itu siuman. Tapi begitu dia berjongkok dan mengangkat kepala itu, diletakkannya di atas pahanya tiba-tiba Golok Maut terguling dan kesakitan,

"Aduh, mati aku, Wi Hong. Tubuhku tak keruan.... huak!" Golok Maut muntah, menyemburkan darah kehitaman dan kental serta amis. Pemuda itu tak dapat bangun dan girang melihat kekasihnya, mau bersandar tapi tak sanggup, kepala serasa berputar dan begitu berat serta pusing. Dan ketika dia menyemprotkan darah busuk dan mendekap dada maka Wi Hong menangis dan tak jadi gembira.

"Apamu yang sakit? Di mana?"

"Augh, aku... ah, di mana kita, Wi Hong? Dan kenapa kau di sini pula? Di mana kita?"

"Kita di Lembah Iblis, tempat tinggalmu. Ah, sembuhlah, Golok Maut. Sembuhlah!"

Wi Hong tersedu-sedu. Gadis ini tak dapat menahan pilunya hati melihat kekasihnya mengerang dan mendesis menahan sakit. Lontakan darah segar kembali terjadi dan basahlah baju Wi Hong oleh semburan darah busuk itu. Tapi ketika gadis ini tak menghiraukan dan menangis merangkul kekasihnya maka Golok Maut terengah-engah dan pucat mukanya.

"Menjauhlah, jangan dekat-dekat. Aku merasa demam dan menggigil!"

"Tidak.... tidak, Golok Maut. Aku akan tetap di sini dan tak perduli apapun yang terjadi!"

"Bodoh! Pakaianmu kotor, Wi Hong. Bersihkan dulu dan bantu aku duduk...!"

Wi Hong bercucuran air mata. Akhirnya Golok Maut minta disandarkan pada dinding, mereka berada di sebuah guha di atas tebing. Itu adalah guha yang hangat meskipun gelap. Wi Hong telah menyalakan lilin dan dua hari ini gadis itu hampir tak tidur, kusut dan mengharukan Dan ketika Golok Maut melihat semuanya ini dan tentu saja terharu maka pemuda itu tertegun dan menangis.

"Kau.... berapa hari di sini? Berapa lama aku pingsan?"

"Dua hari..."

"Dan kau tetap menungguku?"

"Kau.... kita, ah.... aku wajib menunggumu, Golok Maut. Kita bukan orang lain!"

"Hm, dan kau tak tidur. Wi Hong, bagaimana kesehatanmu? Bagaimana dengan anak di kandunganmu itu? Bolehkah aku mendengar detak jantungnya?"

Wi Hong tersedu-sedu. "Kesehatanku baik, Golok Maut. Tak apa-apa. Kau jangan tanya itu. Lihat dan tanyalah dirimu. Bagaimana aku bisa membantumu dan kau sembuh!"

"Hm, aku... ah!" Golok Maut menggigil, menahan sengatan rasa sakit di dada kirinya. "Aku terluka berat, Wi Hong. Dan .... ah, keparat jahanam-jahanam itu. Jarum di ujung tongkat Mo-ko menembus sebuah jalan darahku. Apakah sudah kau cabut?"

Wi Hong terkejut. "Dicabut? Yang mana? Aku sudah mencabut hampir semua jarum di tubuhmu!"

"Di selangkangan...." Golok Maut agak merah mukanya.

"Apakah kau tahu itu dan sudah mencabutnya?"

"Di selangkangan?" Wi Hong tiba-tiba merah padam. "Tidak, aku tak tahu itu. Kalau begitu, ah... biar kuperiksa!"

"Tidak, jangan. Biarkan aku sendiri!" dan Golok Maut yang membungkuk menahan sakit lalu merobek celananya meraba bagian itu, Wi Hong melengos dan tentu saja merah padam. Untung, mereka pernah melakukan hubungan intim dan Wi Hong dapat menekan rasa malu. Kalau tidak, barangkali dia akan melompat pergi, tidak hanya sekedar melengos! Dan ketika Golok Maut mengeluh dan merintih kesakitan maka pemuda ini berkata bahwa jarum itu sudah tak ada lagi di situ.

"Terlambat, sudah masuk!" muka pemuda ini pucat. "Jarum itu sudah mengikuti jalan darah, Wi Hong. Dan ini berarti nyawaku tak dapat dipertahankan lagi!"

"Tidak!" Wi Hong tiba-tiba menjerit.

"Kau tak akan mati, Golok Maut. Aku akan mencari itu!"

"Di mana? Dengan membedah tubuhku? Hm, terlambat, Wi Hong. Tapi aku heran juga bagaimana aku masih dapat bertahan hidup! Kau agaknya memberikan obat yang istimewa!"

"Beng Tan yang memberikannya..." gadis ini tersedu, gemetar. "Dan... dan... ah, tidak. Kau tak akan mati, Golok Maut. Kau akan hidup dan aku akan membantumu sebisaku!" dan Wi Hong yang mengguguk tak dapat menahan dirinya lagi lalu terguncang-guncang di atas dada pemuda ini, ngeri dan pucat karena dia tahu apa artinya itu. Jarum selembut dan sehalus seperti yang dimiliki Mo-ko memang dapat menyusup dan mengikuti aliran darah, kalau tidak cepat dicabut. Dan menyesal bagaimana dia tidak tahu itu hingga kini Golok Maut terancam jiwanya maka gadis ini tersedu-sedu dan akhirnya berteriak-teriak, mencaci dan mengumpat Pek-mo-ko yang sudah terbunuh itu dan dia berjanji akan mencari dan "membunuh" lagi kakek itu kalau bertemu di akherat. Satu kebencian yang memperlihatkan betapa marahnya gadis ini. Tapi ketika dia berteriak-teriak dan memaki-maki kakek itu maka Golok Maut tersenyum dan tiba-tiba membelai mukanya.

"Wi Hong, sudahlah. Aku akan mati, tak guna menangis dengan air mata darah sekalipun. Kau mau diam dan mendengarkan kata-kataku ini?"

"Tidak, kau tak akan mati, Golok Maut. Kau akan kuselamatkan!"

"Sst, jangan berteriak-teriak. Kalau ajal sudah menanti tiba tak dapat kita mengelak. Aku siap mati, ini memang resikoku. Dan kau dengarkanlah kata-kataku sebelum aku berangkat."

"Tidak... tidak...!" dan Wi Hong yang mengguguk serta meremas-remas pemuda itu akhirnya berteriak agar kekasihnya tidak bicara seperti itu. Bicara tentang kematian sungguh bukanlah hal enak dan tak mau gadis ini mendengarkan. Namun ketika Golok Maut tetap berbisik lembut dan mengusap rambutnya tiba-tiba Wi Hong meloncat bangun dan beringas.

"Kalau begitu baiklah, aku ikut dan kita sama-sama mencari Pek-mo-ko diakherat!"

"Apa?"

"Benar, aku akan mengiringimu dalam kematian, Golok Maut. Kita sama-sama berangkat ke akherat dan mencari kakek iblis itu!"

"Tidak... jangan!" Golok Maut tiba-tiba menggigil. "Kau jangan gila, Wi Hong. Justeru aku menghendaki kau hidup untuk melanjutkan pembalasanku!"

"Aku tak mau, dan aku merasa terlalu berat. Tanpa kau disampingku aku tak dapat berbuat apa-apa dan lebih baik mati!" dan Wi Hong yang kembali mengguguk dan tersedu menubruk pemuda ini akhirnya menyatakan bahwa dia siap mengikuti pemuda itu ke akherat. Gadis ini tak mau hidup sendiri dan biarlah dia mengiringi serta. Pek-mo-ko dapat dicari di sana dan mereka berdua akan sama-sama membalas dendam, pembicaraan yang melantur dan tentu hanya menggelikan orang-orang yang tak tahu akan kekuatan cinta. Dan ketika gadis itu bersumpah pula tak mau hidup sendiri maka Wi Hong menutup,

"Kau adalah suamiku. Meskipun kita belum terikat secara resmi namun aku adalah isterimu. Ke mana kau pergi ke situ pula aku ikut. Aku bersumpah tak mau sendiri!"

"Tidak... jangan...!" Golok Maut terbata-bata. "Justeru itu yang hendak kucegah, Wi Hong. Kerjaku belum selesai. Orang-orang she Coa dan Ci masih hidup! Aku ingin kau membalaskan itu dan Coa-ongya juga belum terbunuh! Ah, tidak.., jangan, Wi Hong. Kau harus tunduk kepadaku dan ingat jabang bayi itu. Dia harus hidup dan jangan menyertai ayahnya. Kalau kau ingin menyusulku di alam baka baiklah, tapi lahirkan dan besarkan dulu anak kita itu. Suruh dia menuntut balas dan jangan menyertai ayah ibunya!"

Wi Hong terkejut. Tiba-tiba dia teringat bahwa dia sedang mengandung. Anak yang di perutnya itu akan ikut ke alam baka pula kalau dia mengikuti Si Golok Maut, bela pati! Dan ketika dia tertegun dan pucat teringat itu maka Golok Maut berkata-kata lagi, gemetar,

"Ingat, baru Ci-ongya yang kubunuh, Wi Hong. Masih ada dedengkotnya yang lain lagi, pangeran she Coa yang keparat itu! Aku tak mau mati penasaran dan tak meram kalau orang she Coa itu belum binasa. Aku menghendaki kau hidup untuk mendidik anak kita itu. Suruh dia melanjutkan tugasku dan bunuhlah jahanam terkutuk itu. Atau aku tak mau menerimamu di akherat dan kau tak kuakui sebagai isteriku!"

"Ooh...!" Wi Hong tersedu-sedu. "Kau kejam, Golok Maut. Kau tak berperasaan. Kau menyakiti hatiku, keparat! Kau... kau...."

"Kau bunuhlah aku!" Golok Maut bangkit berdiri, tiba-tiba terhuyung. "Dan mana Golok Penghisap Darah itu, Wi Hong. Tusuk dadaku kalau kau tak mau turut kata-kataku!"

"Tidak... tidak!" Wi Hong menjerit. "Aku...ah, aku akan menurut kata-katamu, Golok Maut. Dan aku akan melahirkan dan membesarkan anak ini. Tapi aku masih akan berusaha untuk menyelamatkan jiwamu!"

"Tak ada harapan lagi...."

"Siapa bilang?" gadis itu cepat memotong. "Kau bilang mengenal seorang yang hebat, Golok Maut, Kau pernah bicara padaku tentang Sian-su! Nah, tunjukkan di mana kakek dewa ini dan biar kucari dia!"

Golok Maut tertegun. Tiba-tiba roman berserl terbayang di wajah itu, Golok Maut kaget namun girang. Dan ketika Wi Hong berkata bahwa dulu dia pernah menceritakan tentang Sian-su, kakek dewa yang menyelamatkannya dari kekejaman Coa-ongya maka Golok Maut tertawa dan menyeringai menahan sakit.

"Ah, kau benar, Wi Hong. Kalau kita dapat menemui Sian-su barangkali aku selamat! Tapi, hmm... aku tak yakin. Kakek itu tak tentu tempat tinggalnya, tak tentu rimbanya...!"

"Bukankah kau pernah bilang dia di Jurang Malaikat? Di mana tempat itu? Katakan padaku, Golok Maut. Dan akan kucari kakek itu. Aku ingin hidup berdua bersamamu dan sama-sama membesarkan anak di kandunganku ini!"

"Hm," Golok Maut menyeringai. "Aku lupa-lupa ingat akan Jurang Malaikat ini. Tempatnya jauh, dan asing. Aku tak hapal..."

"Tapi waktu itu kau dibawanya!"

"Benar, tapi harap diingat bahwa waktu itu aku pingsan, Wi Hong. Tempat itu hanya samar-samar saja kuingat!"

"Kalau begitu kita gagal!" Wi Hong menangis lagi, membanting-banting kakinya. "Kau menghancurkan harapanku, Golok Maut. Kau tak kasihan kepadaku!"

"Hm, nanti dulu," pemuda ini tiba-tiba bergerak. "Ada kuingat sebuah tempat lain, Wi Hong. Lembah Malaikat! Ya, di situ kakek itu sering juga tinggal dan aku mengenal beberapa ciri-cirinya. Tempat itu merupakan tebing yang tinggi dan terjal, di atasnya ada sebuah guha!"

"Di mana itu?" Wi Hong tiba-tiba menghentikan tangisnya, bersemangat. "Aku akan mencarinya dan mari segera berangkat!"

"Tempat itu di tepi batas propinsi Shansi dengan Honan. Kau ikuti arah aliran sungai Huang-ho ke timur!"

"Hah? Berapa hari perjalanan? Tempat itu jauh sekali, Golok Maut. Dan aku tak dapat ke sana dalam waktu tiga atau empat hari! Ah, tapi aku akan berusaha. Kita membawa kereta dan menukar kuda sepanjang perjalanan!" Wi Hong tiba-tiba gembira, bangkit semangatnya meskipun mula-mula terkejut. Tempat yang ditunjukkan itu cukuplah jauh namun dia tak kecil hati. Dan ketika dia bergerak dan menyambar pemuda ini maka Golok Maut sudah dipanggul tapi mereka berdua jatuh terguling!

"Ah, kaupun kehabisan tenaga. Semangatmu besar tapi tenagamu kurang! Wi Hong, biarkan aku sendiri dan kita berjalan bersama!"

Wi Hong pucat. "Aku tolol, aku lemah....!"

"Tidak, kau memang letih, Wi Hong. Dan lagi kau sedang mengandung. Kau tak dapat memanggulku dan turun ke bawah. Lebih baik tuntun aku dan kita bersama-sama menuruni tempat ini."

Wi Hong gugup mengangguk. Setelah sebuah harapan terbersit di depan mata tiba-tiba gadis itu menyala semangatnya. Golok Maut harus disembuhkan dan dia akan mencari Sian-su, Bu-beng Sian-su si kakek dewa. Dulu kakek itu menolong pemuda ini dan sekarang dia akan mencari-nya. Tak boleh kekasihnya itu tewas dan dia hidup sendiri. Dan ketika gadis itu bangkit semangatnya dan menyambar serta menuntun hati-hati maka dua orang ini sudah mulai menuruni tebing untuk keluar mencari pertolongan.

Golok Maut diam-diam mendesis mudah-mudahan maksudnya itu kesampaian. Bu-beng sian-su adalah kakek aneh yang tak dapat diikuti bayangannya. Acapkali muncul kalau tidak dicari tapi tak muncul kalau sedang ditunggu-tunggu. Golok Maut diam-diam kecil hati. Namun melihat betapa kekasihnya demikian besar menaruh harapan dan betapa ketua Hek-yan-pang itu amat mencintanya tiba-tiba keharuan mendalam muncul lagi di hatinya, meremas dan menggenggam tangan kekasihnya itu erat-erat. Dan ketika Golok Maut batuk-batuk dan berhenti di tengah jalan maka Wi Hong ikut berhenti dan khawatir.

"Kau telan ini lagi, masih sebutir!"

"Hm, berapa kau dapatkan dari Beng Tan?"

”Tiga butir, yang dua sudah kau minum!"

"Keparat, aku berhutang budi!" Golok Maut, yang merasa terpukul tapi terpaksa menerima obat itu lalu menelannya dan diam-diam mengepal tinju. Kalau saja tidak kasihan kepada Wi Hong yang demikian sungguh-sungguh ingin menyelamatkan jiwanya barangkali dia lebih baik mati daripada menerima obat lawan. Obat itu memang manjur karena sesak di dada tiba-tiba agak berkurang. Dan ketika mereka turun lagi dan tertatih berpegangan batu-batu tebing maka tak lama kemudian mereka sudah hampir tiba di bawah. Tapi Wi Hong tiba-tiba tertegun.

Golok Maut juga menoleh dan tersiraplah dua muda-mudi ini melihat ular-ularan yang panjang. Dan karena mereka kebetulan masih berada di tempat yang agak tinggi, di pinggang tebing terjal itu maka tampaklah oleh keduanya gerakan pasukan besar yang sedang menuju Lembah Iblis!

"Kita kedatangan musuh!" Wi Hong tiba-tiba pucat. "Lihat, dari depan tak kurang dari seribu orang, Golok Maut. Kita harus turun cepat-cepat, berputar!"

"Hm, keparat. Siapa itu?"

"Pasukan dari kota raja! Siapa lagi?"

"Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku, siapa pemimpinnya dan apakah mereka hendak membunuh aku!"

"Tentu, mereka akan membunuhmu. Dan Beng Tan barangkali ada di sana. Celaka!"

"Tak mungkin," Golok Maut tiba-tiba mencekal lengan kekasihnya. "Pemuda she Ju itu tak mungkin memimpin pasukan, Wi Hong. Dia adalah manusia gagah dan dapat menghadapiku sendiri. Pasukan itu pasti dipimpin orang lain!"

"Aku tak perduli siapa, pokoknya kita pergi dan lari!" Wi Hong menarik, cemas menyambar kekasihnya ini dan Golok Maut marah.

Sebenarnya, kalau saja dia tidak dalam keadaan luka-luka tentu dia tak akan pergi dan justeru menyambut musuh. Namun karena dia sedang luka-luka dan racun di tubuhnya itu harus segera dilenyapkan kalau dia tak ingin membuat kekasihnya gelisah maka Golok Maut mengikuti meskipun sambil menggeram marah, mengepal tinju dan Wi Hong sudah membawanya cepat turun ke bawah, melempar tubuh dan terjun dan hampoir saja Wi Hong terkilir! Namun ketika gadis itu tak perduli dan sudah berlari tergesa-gesa maka Wi Hong berputar dan mau menghindari pasukan yang ada di depan itu.

Tapi Wi Hong kaget. Lembah Iblis, yang mempunyai dua pintu masuk dari muka dan belakang ternyata sudah terkurung. Dia bermaksud melalui jalan belakang namun di sanapun sedang mendatangi pasukan yang lain. Dan ketika Wi Hong mengeluh dan mengutuk marah maka di kiri dan kanan tiba-tiba terlihat gerakan-gerakan panjang dan nyatalah di empat penjuru lembah semua pasukan sudah mengepung!

"Celaka, kita tak dapat keluar!"

Golok Maut berobah. Kalau saja dirinya dalam keadaan sehat tentu hal itu tak perlu membuatnya khawatir. Tapi sekarang keadaan lain. Dia justeru sedang keracunan, luka-luka. Dan ketika pemuda itu mengepal tinju dan marah maka Wi Hong menangis.

"Golok Maut, kita rupanya harus mati bersama di tempat ini. Biarlah, aku akan mengadu jiwa!"

"Tidak, yang mereka cari adalah aku, Wi Hong. Kau tak akan apa-apa. Sebaiknya kau pergi dan kembali ke atas. Kalau mereka sudah menangkapku tentu kau tak akan diperhatikan!"

"Apa? Kau menyuruhku lari? Menyuruh aku menyelamatkan diri sementara kau terancam bahaya? Keparat, jaga mulutmu, Golok Maut. Otakmu tidak waras!"

"Hm, aku ingin menyelamatkanmu..."

"Aku lebih baik mati kalau kau binasa!"

"Hm, kalau begitu baik. Kita berdua sama-sama kembali ke tebing!" Golok Maut bergegas, bingung dan tak mau membuat kekasihnya marah-marah lagi. Pertikaian di antara mereka tak akan membawa keuntungan apa-apa sementara musuh tentu akan kian mendekat saja. Dia harus mencari akal dan terutama kekasihnya ini biarlah selamat. Dan ketika Wi Hong mengangguk dan menangis mencengkeram lengannya maka mereka kembali dan naik ke atas, merayap, tak dapat berlompatan.

"Hati-hati, jangan terpeleset!"

"Kaulah yang hati-hati!" Wi Hong menegur, menangis. "Kau lebih parah daripada aku, Golok Maut. Perhatikan dirimu dan jangan perhatikan orang lain!"

Golok Maut menutup mulut. Akhirnya dia menggigit bibir dan cepat mendaki dengan susah payah. Tebing itu tinggi dan mereka sama-sama letih. Yang satu karena akibat pukulan sedang yang lain karena tak pernah istirahat. Wi Hong juga sedang hamil dan tentu saja gadis itu menahan sakit. Perutnya serasa dikocok-kocok dan Wi Hong menangis bercucuran air mata. Tapi ketika mereka sudah sampai di tengah dan siap mendaki lagi ternyata pasukan sudah melihat bayangan mereka dan bersorak-sorak.

"Golok Maut, berhenti. Turunlah!"

"Atau kau kami panah dari sini!"

Wi Hong pucat. Musuh ternyata sudah memasuki lembah dan bersorak-sorailah mereka itu meneriakkan ancaman. Golok Maut berhenti dan menoleh. Dan ketika sebatang panah menyambar dan disusul panah-panah yang lain maka pemuda ini menyampok dan panah-panah itu runtuh meskipun dia mengeluh menahan dada kirinya.

"Jangan hiraukan, kita terus ke atas!" WI Hong tersedu, melihat panah menyambar lagi dan gadis inilah yang sekarang menghalau semua serangan.

Golok Maut mendesis dan cepat didorong naik, terpaksa membiarkan Wi Hong yang menangkis panah-panah itu dan bergeraklah mereka mendaki susah payah. Hujan senjata dan sorakan sungguh membuat nyali menciut. Lembah Iblis seolah tergetar dan diguncang gempa oleh pekik sorak pasukan di bawah itu. Namun ketika mereka berhasil naik dan selamat di atas ternyata sebatang panah menancap di pundak Wi Hong.

"Kau terluka!" Golok Maut terkejut. "Ah, jahanam keparat orang-orang itu, Wi Hong. Mari kucabut dan jangan sampai panah itu beracun!"

Wi Hong berteriak. Golok Maut mencabut anak panah itu dari pundaknya dan luka pun mengucur. Namun ketika Golok Maut mengecup dan membalut dengan merobek sebagian bajunya maka luka itu tertutup dan Golok Maut lega bahwa panah itu tidak beracun.

"Kita kumpulkan batu-batu besar. Mereka pasti naik!"

Wi Hong mengguguk. Memang pasukan di bawah mulai ada yang mendaki. Mereka rupanya tahu bahwa Golok Maut sedang terluka, tidak berbahaya dan mendakilah orang-orang yang berani ke atas tebing itu, hal yang sudah dilihat dan diperhitungkan Qolok Maut. Namun ketika golok Maut bergerak dan menggelindingkan batu-batu besar yang banyak terdapat di atas maka orang-orang itu berteriak ketika tertimpa.

"Buummm...!"

Empat tubuh hancur di bawah sana. Korban mulai jatuh dan yang lain ngeri. Tapi ketika seseorang memberi aba-aba dan menyuruh orang-orang itu terus naik maka belasan orang memberanikan hati-nya lagi karena seruan atau bentakan itu menggetarkan nyali.

"Bum-buummm...!"

Beberapa orang menjadi korban lagi. Golok Maut dan Wi Hong terus menggelindingkan atau melempar batu-batu dari atas, menahan dan tentu saja tak mau orang-orang itu naik. Dan ketika belasan orang akhirnya mati sia-sia maka pasukan yang panik akhirnya disuruh melepas panah api.

"Semua turun, lancarkan panah api!"

Golok Maut terkejut. Hujan panah tiba-tiba berhamburan. Namun karena tebing cukup tinggi dan serangan panah itu tak sampai maka banyak di antaranya yang gagal dan jatuh di tengah tebing, menyala dan membakar tempat-tempat kering dan Wi Hong ngeri. Kalau itu terjadi terus-menerus tentu mereka akan tertembus hidup-hidup, bukan main kejinya. Musuh teramat kejam! Tapi ketika Golok Maut menyambar tong-tong kayu yang berisi air minum maka pemuda ini sudah menuangkan air dan tempat-tempat yang terbakar seketika padam!

"Wi Hong, bantu aku. Ambil air di dalam guha!"

Wi Hong terkejut. Tiba-tiba dia teringat bahwa di dalam guha, di atas tebing itu terdapat mata-air yang besar. Air terus bergemiricik dan di situlah biasanya orang mandi atau minum. Maka begitu melihat kekasihnya menyambar tong-tong kayu itu dan menyiramkan airnya ke bawah maka Wi Hong mengikuti dan sudah menuangkan hujan air ini, memadamkan tempat-tempat lain yang terbakar dan tentu saja musuh mengumpat-caci. Tempat itu seketika basah dan gagallah pasukan api. Dan ketika sehari itu mereka dikepung dan musuh tak berani naik, karena bakal dihujani batu-batu besar maka malam mulai tiba dan pasukan di bawah diam tak berteriak-teriak lagi.

Golok Maut tak tahu apa yang akan dilakukan lawan namun dia berdebar keras. Kalau malam tiba dan keadaan menjadi gelap tentu mereka itu akan naik. Hm, berbahaya! Apa akal? Dan ketika Wi Hong juga merasakan itu dan bertanya maka pemuda ini menggigit bibir.

"Ada dua jalan. Pertama membiarkan mereka naik dan kita menghadapinya di sini atau kita turun dan menyerbu mereka di sana!"

"Tapi kau tak dapat bertempur. Kau luka-luka!"

"Hm, dalam keadaan terdesak dan terancam aku masih dapat melakukan apa saja, Wi Hong. Berikan senjataku itu dan aku akan berbuat sesuatu!"

"Kau mau apa?"

"Menyambut mereka tentu saja! Kau masih menyimpan pedangmu?"

"Masih..." Wi Hong gemetar, menahan tangisnya. "Aku akan menyertaimu, Golok Maut. Sampai titik darah terakhir!"

"Hm!" Golok Maut tiba-tiba mencengkeram jari kekasihnya. "Tidakkah kau dapat memanggilku dengan namaku, Wi Hong? Kenapa mesti selalu menyebut nama julukanku? Itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang tak suka padaku. Kau tak seharusnya menyebut nama julukanku!"

"Hauw-ko (kanda Hauw)...." suara itu tiba-tiba bergetar lembut, lembut dan mesra. "Aku... aku... maafkan aku. Aku lupa, aku bingung. Aku, ah... aku khawatir akan keselamatanmu!" dan Wi Hong yang mengguguk menubruk kekasihnya lalu menangis dan tak henti-hentinya mencucurkan air mata membasahi baju pemuda ini.

Golok Maut, yang dipanggil nama kecilnya tiba-tiba tersenyum. Dan ketika gadis itu tersedu dan menyusupkan kepala di dada tiba-tiba Golok Maut meraih dan mengangkat wajah jelita itu. "Hong-moi (dinda Hong)..." suara ini pun bergetar dan menembus perasaan gadis baju merah itu. "Aku menyesal bahwa aku telah membawamu ke tempat yang begini buruk. Ah, aku berdosa padamu. Aku manusia terkutuk..."

"Tidak... tidak, Hauw-ko. Apa yang terjadi adalah atas kehendak kita berdua juga. Kau tak perlu menyesal, tak perlu menyalahkan diri sendiri!"

"Tapi kau mengandung, hasil perbuatanku!"

"Memangnya kenapa?" Wi Hong tiba-tiba mengangkat tegak tubuhnya itu. "Aku menghendaki itu, Hauw-ko. Aku ingin benih dan melahirkan keturunanmu. Aku tak menyesal!"

"Tapi kau terancam bahaya!"

"Hidup selalu mengandung resiko bahaya! Tidak, tak perlu kau menyesall ini, Hauw-ko. Aku mencintamu dan siap mati untukmu!"

"Ah!" dan Golok Maut yang terharu dan cepat mendekap kepala ini la lu mencium dan berbisik gemetar. "Hong-moi, kalau saja kau dapat selamat, maukah kau memenuhi permintaanku?"

"Apa yang kau minta? Menyuruh aku melarikan diri dan pergi dari sini? Tidak, jangan katakan itu, Hauw-ko. Aku tak mau dan tak sudi!"

"Maaf, bukan itu," Golok Maut mendekap menggigil. "Aku tahu kau siap mati di sini. Tapi kalau seandainya... hm, seandainya saja aku terbunuh dan kau tidak dikehendaki orang-orang itu maukah kau melahirkan dan merawat anak kita, Hong-moi? Maukah kau membesarkannya dan membalaskan dendamku?"

"Aku... aku tak ingin selamat. Kuharap orang-orang itu membunuhku pula dan kita sama-sama ke alam baka!"

"Tidak! Orang-orang itu mencariku, Hong-moi, bukan kau. Aku hanya mengandalkan seumpamanya kau tidak dikehendaki, tidak dibunuh! Maukah kau memenuhi permintaanku dan menyuruh anak kita membalas dendam?"

"Hauw-ko, aku ingin mati bersamamu!"

"Dengarlah, jangan tolol!" Golok Maut mencengkeram kekasihnya ini."Selama dari sini belum tentu aku selamat dari racun jahanam ini, Wi Hong. Maksud kita mencari Sian-su telah terhalangi orang-orang itu. Aku merasa umurku tak akan panjang!"

"Hauw-ko...!"

"Tidak!! kau dengarlah Mo-bin-lo telah menjumpai aku dan aku harus membayar kutukannya!"

"Mo-bin-lo (Si Muka lblis)? Siapa itu?"

"Hm, dialah pencipta Golok Penghisap Darah, Hong-moi. Dan aku telah bertemu dengannya dan tak dapat menghindar. Nyawaku terancam, dan maut pasti menjemputku. Semua yang terjadi ini kukira adalah garis nasib yang harus kujalani karena aku melanggar larangan, sebuah kutukan!"

"Ah, kau bicara tentang sesuatu yang mengerikan. Bulu romaku berdiri...!"

Golok Maut Jilid 25

GOLOK MAUT
JILID 25
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"AKU adalah si Kedok Hitam, kau sudah menyebut namaku. Kenapa bertanya dan bersikap bodoh?"

"Bukan itu, tapi siapa kau sebenarnya!"

"Heh, tidak berotakkah kau ini, Mo-ko? Sudah kusebut bahwa diriku adalah si Kedok Hitam, dan kau bertanya lagi. Apakah ingatanmu demikian buram hingga perlu diketok sekali dua?"

Hek-mo-ko menggeram. Dia bingung juga dengan pertanyaannya itu. Betul, lawan sudah menyebut dirinya, si Kedok Hitam. Tapi karena yang dia maksudkan adalah lebih luas lagi dengan siapa sesungguhnya bayangan di balik kedok itu dan bagaimana si Kedok Hitam bisa menjadi pembantu Coa-ongya maka kakek ini membentak dan tiba-tiba menyerang.

"Kau manusia busuk! Biar kurobohkan dirimu dan kulihat pantaskah kau bersikap sombong!" namun lawan yang mengelak dan mengejek kakek ini tiba-tiba tertawa mengeluarkan tawa menghina.

"Mo-ko, tak perlu kalap. Dikeroyok empat dengan tiga temanmu yang lain aku masih juga menang. Pergilah, dan katakan pada Coa-ongya bahwa aku datang..... plak-plak!"

Kakek iblis itu terpental, kaget berteriak keras dan menyerang lagi namun lawan dengan mudah menangkis dan menghalau. Dan ketika enam tujuh kali tetap begitu dan kakek ini terkejut tiba-tiba Mo-ko mencabut tongkatnya dan kalap menyerang, berseru menerjang dengan senjatanya itu dan tangan kiri pun bergerak melakukan tamparan-tamparan Hek-see-kang (Pukulan Pasir Hitam), dahsyat menyambar namun lawan tertawa aneh.

Tubuh yang diserang itu mendadak berkelebatan cepat dan lenyap mendahului serangan-serangan kakek itu. Dan ketika Mo-ko terkejut karena lawan benar-benar tak dapat diikuti bayangannya maka sebuah tamparan ganti mengenai pundaknya, terpelanting dan kakek itu menjerit keras karena sentuhan lawan demikian menyengat, rasanya seperti api! Dan ketika Mo-ko berteriak gusar dan memencet ujung tongkatnya, menghamburkan jarum-jarum beracun maka lawan mengebut dan berkata,

"Mo-ko, kecurangan macam ini tak perlu kau perlihatkan padaku. Robohlah, dan sekarang kita berhenti!"

Mo-ko meraung. Belasan jarum-jarum hitamnya yang menyambar dalam jarak begitu dekat ternyata dikebut runtuh dengan satu kibasan ringan, tampaknya ringan tapi nyatanya dia terdorong. Dan karena jarum-jarumnya itu dikebut balik dan tentu saja menyambar dirinya sendiri maka kakek iblis itu roboh terbanting dengan tujuh belas jarum menancap di hampir seluruh tubuhnya.

"Aduh!" Mo-ko terguling-guling. Kakek ini mengeluh dan berteriak kesakitan. Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Dan ketika dia merintih dan mengerang tak keruan maka lawan berkelebat lenyap dan menghilang entah ke mana, berkata dari jauh bahwa dia akan menghadap Coa-ongya, melaporkan tindakan kakek itu dan tentu saja kakek ini pucat. Namun ketika dia mencabuti semua jarum-jarum itu dan menelan obat penawar, karena dia bisa tewas kalau tidak mengobati dirinya maka kakek ini bangkit terhuyung dan lari terpincang-pincang menuju istana.

"Kedok Hitam, bangsat keparat kau! Awas, tantanganmu akan kulaporkan pada tiga orang rekanku!"

"Hm!" suara itu terdengar amat jauh. "Boleh laporkan kalau ingin coba-coba kepandaianku, Mo-ko. Dan lihat berapa jurus kalian berempat kurobohkan!"

"Ah, kau sombong. Jahanam takabur!" namun lawan yang tidak menjawab lagi karena sudah lenyap akhirnya membuat kakek ini terseok-seok berlari, di sepanjang jalan mengumpat caci namun diam-diam kakek iblis ini gentar. Kalau saja si Kedok Hitam itu musuh barangkali dia sudah dibunuh, kenyataan itu diyakininya. Namun ketika kakek ini jatuh bangun meninggalkan kelenteng tua itu maka di Sana, di istana, telah menunggu pangeran she Coa.

"Hm, kau terlambat!" teguran itu bernada dingin. "Dan kau menghina si Kedok Hitam pula. Benarkah, Mo-ko?"

Kakek ini tertegun. "Dia sudah di sini?"

"Satu jam yang lalu, dan kau katanya bersikap kurang ajar! Mo-ko, sesama rekan tak seharusnya kau melakukan itu. Besok kau harus minta maaf padanya dan kalian berempat tunduk pada si Kedok Hitam. Aku besok tak ada di istana, melaksanakan tugas kaisar. Kedok Hitam mewakiliku dan kalian tak boleh membantah!"

"Paduka mau pergi? Berapa lama? Dan Kedok Hitam itu mewakili paduka?"

"Benar, dan tadi aku sudah memanggil tiga temanmu, Mo-ko. Mindra dan Sudra serta kakek Yalucang kuperintahkan untuk datang ke sini besok. Kedok Hitam akan membawa kalian ke Lembah Iblis!"

"Astaga!" kakek ini terkesiap. "Hamba dan kawan-kawan belum tahu betul kepandaian si Kedok Hitam itu, pangeran. Meskipun dia lihai namun baru mengalahkan hamba seorang. Dan Colok Maut, ah..... dia itu mampu menandingi kami berlima! Hamba khawatir...."

"Tak perlu khawatir!" sang pangeran memotong. "Kalian besok boleh mengujinya, Mo-ko. Kedok Hitam telah meminta persetujuanku untuk menundukkan kalian berempat. Kalian semua gentong-gentong kosong belaka. Lihatlah dan tirulah pembantuku yang rahasia itu. Kalau saja kalian dapat mengalahkan Golok Maut tentu dia tak akan kupanggil. Sudahlah, besok kalian berkumpul dan ingat bahwa Kedok Hitam adalah wakil diriku pribadi!"

Hek-mo-ko tertegun. Coa-ongya sudah membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, dia disemprot dan diam-diam timbul rasa benci dan tak suka kakek itu kepada si Kedok Hitam. Memangnya siapa laki-laki misterius itu? Mampukah dia menghadapi Golok Maut? Kalau benar dapat mengalahkan mereka berempat barangkall hal itu dapat dijadikan jaminan. Tapi Golok Maut, ah... belum tentu. Tokoh itu memiliki Golok Penghisap Darah, golok yang luar biasa ampuh dan mengerikan!

Dan teringat bahwa dengan mengalahkan mereka berempat saja masih bukan merupakan jaminan bagi si Kedok Hitam untuk mengalahkan Golok Maut maka Mo-ko maju mundur dan akhirnya menggeram, tetap kurang percaya namun akhirnya kakek ini berkelebat pergi juga. Biarlah besok dilihat saja bagaimana baiknya. Ketiga temannya akan dihubunginya dulu dan ternyata benar Mindra dan lain-lainnya itu sudah diberitahu Coa-ongya.

Mereka diminta datang menghadap dan besok mereka akan berhadapan langsung dengan si Kedok Hitam itu, tokoh baru bagi mereka namun yang agaknya amat dipercaya Coa-ongya, bahkan lebih dipercaya daripada mereka! Dan ketika semuanya mengangguk dan tentu saja penasaran, di samping tak suka maka keesokannya Mo-ko dan tiga temannya sudah menunggu di tempat yang dijanjikan.

* * * * * * *

Laki-laki itu sudah duduk di kursi Coa ongya. Sikapnya, dan gayanya, sungguh menggantikan Coa-ongya benar, sombong dan angkuh. Dan ketika Mo-ko dan kawan-kawan berkelebatan masuk ternyata si Kedok Hitam itu sudah mendahului di sana.

"Hm, tak tepat waktu! Kenapa kalian terlambat, Mo-ko? Sudah sejam aku menunggu di sini, dan baru sekarang kalian datang. Kalau musuh datang menyerbu maka kalian sudah percuma melindungi istana!"

Mo-ko dan kawan-kawan semburat merah. Mereka terlambat karena diam-diam mereka mengelilingi gedung, menjaga dan ingin menghadang si Kedok Hitam itu di luar. Tapi karena dicegat tak ada juga maka mereka masuk dan memang benar satu jam sudah mereka terlambat. Dan kini "wakil pribadi" Coa-ongya itu menegur mereka mirip atasan kepada bawahan yang bersalah. Dingin dan sombong! Dan ketika Mo-ko bersinar-sinar sementara Mindra dan dua temannya menatap tajam maka Kedok Hitam minta agar mereka berlutut.

"Aku adalah pemimpin kalian. Selama ongya tak ada di sini maka segala perintah dan keputusan ada di tanganku. Berlututlah, dan beri hormat sebagaimana layaknya pembantu yang baik!"

"Keparat!" Mo-ko melotot. "Kau pongah dan sombong, Kedok Hitam! Mentang-mentang dapat mengalahkan aku seorang kau lalu bersikap takabur! Jangan tergesa dulu, di sini masih ada tiga temanku yang lain dan mereka belum tentu tunduk padamu!"

"Hm, kalian semua akan kutundukkan, dan memang harus tunduk! Apa yang keluar dari mulutku adalah sama dengan Coa-ongya. Bukankah kalian sudah diberi tahu dan tak boleh membantah? Berlututlah, atau kalian kuhajar!"

"Ha-ha!" Mindra tiba-tiba tertawa bergelak. "Kau orang yang sombong sekali, Kedok Hitam. Sikapmu sungguh melebihi Coa-ongya. Baiklah, kami akan berlutut di hadapanmu tapi bukalah dulu kedokmu itu dan baru setelah itu kami memenuhi permintaanmu!"

"Hm, tak ada bawahan memerintah atasannya. Kau tak usah bicara seperti itu, Mindra. Atau kau kuhajar!"

"Ah, kau mau memberi petunjuk? Bagus, aku tentu senang.... heii!" dan Mindra yang kaget bukan main tiba-tiba melihat Kedok Hitam mencelat dari kursinya, terbang dan meluncur ke arahnya dan gerakan itu bukan main cepatnya. Dia sedang bicara ketika tahu-tahu lawan menyerang. Dan karena tak ada waktu untuk mengelak maka kakek ini menggerakkan tangannya menangkis.

"Dess...!" dan.... kakek ini terlempar mencelat empat tombak! "Aiihh...!" Mindra berjungkir balik meloncat bangun, kaget dan pucat. "Kau... kau hebat, Kedok Hitam. Tapi kau curang!"

Sudra, yang ada di sampingnya juga terbelalak kaget. Kakek yang bersenjata cambuk ini sudah meraba cambuknya dan siap berjaga-jaga. Kedok Hitam sudah kembali ke tempat duduknya tadi dan duduk dengan tenang, tegak dan dingin. Sungguh cepat namun menyeramkan! Dan ketika temannya kaget dan marah maka Kedok Hitam tertawa mengejek.

"Mindra, kalian semua pasti akan merasakan kehebatanku. Dan jangan sombong dengan Hwi-seng-ciangmu. Siapa takut akan Pukulan Bintang Api itu? Nah, segebrak ini buat pelajaran untukmu, tua bangka. Atau kau akan kubuat jungkir balik dengan lebih hebat lagi!"

"Keparat!" kakek itu menggigil, melirik temannya. "Agaknya main-main ini tak usah ditunda lagi, Sudra. Kawan kita ini rupanya sengaja ingin pamer! Kau mau mencobanya pula dan menerima tantangannya!"

"Hm.... tar-tar!" Sudra meledakkan cambuk. "Aku suka melihat kepongahannya, Mindra. Tapi aku tak suka melihat tarttangannya yang amat merendahkan kita. Dia berani dikeroyok, begitu kata Mo-ko. Apakah dia memang ingin kita maju berempat?"

"Nanti duiu!" Yalucang tiba-tiba melompat maju, terkejut dan juga membelalakkan mata melihat kecepatan dan serangan si Kedok Hitam itu. "Aku ingin mencobanya, Mindra. Biarlah kau mundur dulu dan kita bertempur seorang lawan seorang!"

"Hm!" Mo-ko tersenyum. "Apa yang dikata Yalu benar, Mindra. Biarlah kau mundur dan lihat dulu apakah Kedok Hitam dapat mengalahkan rekan kita ini. Kalau benar, barulah kita maju semua tapi sebaiknya kau pribadi mencobanya dulu bersama Sudra!"

Mindra tertegun. Dia mendapat kedipan dan isyarat ini segera ditangkapnya dengan baik. Kalau satu per satu, tentu Kedok Hitam akan terkuras tenaganya dan nanti kalau mereka maju berbareng pastilah lawan sudah kehabisan tenaga. Siasat itu bagus dan tentu saja kakek India ini tertawa, mengangguk. Dan ketika dia mundur dan kakek tinggi besar Yalu-cang sudah menggosok-gosok tangannya maka keluarlah asap dari pengerahan tenaga Hwee-kang (Api).

"Aku ingin melihat kepandaianmu secara pribadi. Marilah, kita main-main dan lihat berapa jurus aku merobohkanmu!"

"Hm!" Kedok Hitam tertawa. "Bukan kau yang merobohkan aku, Yalu. Melainkan akulah yang akan merobohkanmu. Aku berjanji tak lebih dari dua puluh jurus kau sudah terkapar!"

"Sombong!" kakek ini menggeram. "Kau bermulut besar, Kedok Hitam. Baiklah, mari kita mulai dan buktikan mulut besarmu itu... wut!" si kakek berkelebat, tangannya yang lebar dan kuat sudah menghantam sementara mulut siap meniup. Yalucang kakek tinggi besar ini memang ahli penyembur api dan Hwee-kang atau ilmu Apinya itu akan bekerja, dia sudah mengumpulkan tenaganya dan begitu lawan menangkis diapun akan meniup. Dan ketika benar saja Kedok Hitam bergerak dan menangkis pukulannya maka kakek ini sudah membuka mulutnya dan menyemburkan api.

"Wushh... dess!"

Kakek ini kaget bukan main. Tepat dia terpental dan menyemburkan apinya mendadak lawannya itu ikut meniup. Tenaga khikang yang amat hebatnya menolak balik tiupan apinya itu. Dan karena Hwee-kang atau semburan api membalik mengenai dirinya maka kakek ini terbakar dan terjilat apinya sendiri!

"Jahanam!" kakek itu bergulingan memaki kaget. Dia tak menyangka bahwa lawan demikian lihai. Benturan pukulan di antara mereka jelas menunjukkan lawan lebih unggul, lebih kuat. Dan ketika kakek itu meloncat bangun dan kaget membelalakkan mata maka si Kedok Hitam sudah tertawa dan menendang kursinya, siap menghadapi kakek itu dan menggapai dengan sikap sombong.

Gebrakan pertama itu jelas memberi pelajaran pada si kakek tinggi besar ini. Dan karena kakek itu marah dan jelas masih penasaran maka Yalucang membentak dan bangkit menyerang lagi, melepas pukulan-pukulan kuat dan api pun mulai menyembur-nyembur dari mulutnya. Kakek ini menggereng-gereng karena kekagetannya tadi sungguh membuat dia gusar. Dan ketika tak lama kemudian pukulan Hwee-kang maupun semburan api sudah mengelilingi lawannya maka si Kedok Hitam terkepung dan tak dapat keluar.

"Mampus kau, kubunuh kau!" Yalucang bersinar-sinar. "Tak dapat kau melarikan diri, Kedok Hitam. Ayolah keluar dan tunjukkan kepandaianmu!"

Mindra dan kawan-kawan melebarkan mata. Mereka melihat bahwa si Kedok Hitam benar-benar sudah terkurung. Pukulan dan semburan api sudah mengelilingi laki-laki itu dan Kedok Hitam tampak terdesak. Mo-ko mulai tertawa-tawa dan berseru menghitung jurus-jurusnya. Dia ingat bahwa Kedok Hitam akan merobohkan Yalucang dalam waktu dua puluh jurus saja, sebuah ucapan yang dinilai terlalu besar.

Tapi ketika Kedok Hitam tertawa dan terus mengelak maju mundur, menangkis dan menggerak-gerakkan kedua tangannya ke kiri kanan maka aneh tetapi nyata pukulan-pukulan kakek Yalu terpental. Dan ketika Kedok Hitam berseru meniup-niupkan mulutnya, mengerahkan sinkangnya tiba-tiba semburan api itu juga ikut terdorong dan terhalau, kian lama kian jauh dan kakek Yalu tampak membentak sekuat tenaga mengerahkan kekuatannya. Kakek ini sampai merah dan mendelik karena semua pukulannya itu tertolak. Dan ketika semburan apinya juga tertiup dan membalik menyerang dirinya maka kakek itu pucat sementara Hek-mo-ko sudah menghitung pada jurus ke enam belas,

"Keparat, kau tak dapat merobohkan aku dalam jurus kedua puluh, Kedok Hitam. Aku akan bertahan dan membuat malu dirimu!"

"Ha-ha, sekarang mulai ketakutan! Ayolah, kautunjukkan kepandaianmu, Yalu. Bertahan dan perhebatlah seranganmu. Aku sengaja bertahan, tapi setelah itu aku pasti membalas. Tinggal empat jurus lagi!"

Kakek Yalu menggigil. Dalam pertempuran yang sudah berjalan enam belas jurus itu sebenarnya dia sudah mengerahkan segenap kemampuan. Pada jurus-jurus pertama memang dia dapat mendesak, mengira dapat mengalahkan lawan tapi tak tahunya si Kedok Hitam ini sengaja mengalah, bertahan dan mempermainkannya sedemikian rupa. Dan ketika pada jurus ke sepuluh dan selanjutnya lawannya itu mulai membalas dan setiap tangkisan atau benturan tenaga di antara mereka tentu membuat kakek ini terdorong dan terhuyung-huyung maka pada hitungan ke enambelas itu kakek tinggi besar ini terdesak.

Semburan apinya atau pukulan Hwee-kangnya tertolak balik, kian lama kian kuat dan empat kali kakek ini sudah menghindar jilatan apinya sendiri, gagal dan pipinya gosong terjilat! Dan ketika kakek itu terbelalak pucat dan marah tapi juga gentar akhirnya pada jurus kedelapanbelas dia terpental. Waktu itu lawan sudah mulai membalas dan pukulan atau dorongan tangan si Kedok Hitam mengeluarkan angin dahsyat, menghantam dan menyambar kakek ini dan Hwee-kang tertolak.

Dan ketika lawan meniup dan semburan api melejit menyambar muka kakek ini maka Yalucang berteriak karena dua serangan sekaligus menghantam dirinya. Satu dari tangan lawan sementara yang lain dari tiupan mulut itu. Ah, sin-kang yang dimiliki Kedok Hitam memang jauh lebih kuat! Dan ketika kakek itu terpental dan kaget berteriak keras maka lawan berkelebat dan Kedok Hitam tertawa mengakhiri pertandingan.

"Nah, ini dua jurus terakhir. Roboh-lah!"

Yalu bergulingan. Dia berusaha menjauh tapi lawan membayangi, selalu menempel dan tak mungkin dia dapat mengelak lagi. Dan ketika kakek itu pucat berseru keras karena lawan melepas pukulan dua kali ke tengkuk dan dadanya maka kakek ini menangkis sebisanya tapi tetap juga dia kalah cepat.

"Des-plak!"

Kakek itu terkapar. Akhirnya Yalucang kakek tinggi besar ini mengeluh. Dia serasa dihantam palu godam dan kelenger, merintih tak dapat bangun. Dan ketika lawan menendang dan kakek itu terbanting di sudut maka selesailah pertandingan dan tepat duapuluh jurus si Kedok Hitam ini mengalahkan lawannya!

"Ha-ha, bagaimana, Mindra? Kalian sudah melihat kepandaianku?"

Mindra terkejut. Akhirnya dia melihat bahwa si Kedok Hitam ini betul-betul lawan yang tangguh. Kemarin Mo-ko sudah bercerita padanya tapi dia tak yakin. Belum bertempur belum percaya, begitu biasanya watak orang-orang kang-ouw. Maka begitu melihat dan membuktikan maka tergetarlah hati kakek ini namun. itu masih bukan berarti dia takut!

"Bagus!" Mindra tiba-tiba mencabut nenggalanya. "Kau hebat, Kedok Hitam. Tapi aku masih tak tunduk padamu. Kau sudah merobohkan Yalu, tapi belum merobohkan aku. Nah, biarlah kurasakan kepandaianmu dan kita bertanding... cus!"

nenggala tiba-tiba bergerak, maju menusuk karena dengan kecepatan luar biasa tiba-tiba kakek India ini berkelebat. Dia mempergunakan kesempatan selagi lawan tersenyum-senyum, kaget dan mengelak dan berlubanglah ujung baju lawan! Dan ketika Kedok Hitam terkejut berseru keras tiba-tiba kakek India ini sudah menyerangnya ganas.

"Wut-wut!" nenggala menyambar-nyambar. Mindra ternyata licik ingin mendahului lawan. Sementara bicara serangannya pun sudah dimulai. Dan ketika lawan mengelak sana-sini dan untuk beberapa saat si Kedok Hitam terdesak maka Sudra, temannya, tertawa bergelak.

"Bagus, desak dia ke sini, Mindra. Biar sekalian kuhajar!"

Mindra mengangguk. Tadi mereka sudah saling memberi isyarat dan maklum bahwa pertempuran seorang lawan seorang rupanya tak menguntungkan mereka. Yalu hampir setingkat dengan mereka, kalau kakek itu kalah maka tak ada harapan bagi mereka untuk menang pula. Maka begitu saudaranya berseru dan Mindra mengangguk bersinar-sinar maka kakek ini sudah mendesak dan menggiring lawan agar mendekati temannya, terus mendesak dan merangsek dan kerut di balik kedok itu berkernyit. Kedok Hitam mengelak sana-sini sementara matanya pun mengeluarkan cahaya aneh. Mata itu mencorong dan mulai marah. Dan ketika dia didesak dan terus mendekati Sudra, yang sudah siap dengan cambuknya tiba-tiba senjata itu menjeletar menyerang dirinya.

"Tarr!"

Kedok Hitam berjengit. Pundaknya termakan dan dua kakek India itu sudah tertawa-tawa. Kini Sudra bergerak maju pula dan dikeroyoklah laki-laki berkedok ini. Yalu masih merintih-rintih dan mende-sis di sana Kakek itu kelengar dan merasakan sakitnya. Tapi karena dia seorang kuat dan betapapun kakek ini memang bukan orang sembarangan maka tak lama kemudian dia sudah bangkit berdiri, terhuyung dan membelalakkan matanya memandang pertempuran dan kakek itu mendelik marah.

Dia gentar dan kagum terhadap lawannya ini. Tapi karena dia dikalahkan begitu mudah namun harus diingat bahwa senjatanya, roda bergigi itu belum dlkeluarkan maka kakek ini merasa penasaran juga dan masih tidak mau menyerah. Dan ketika Kedok Hitam sudah dibuat berlompatan menghindari tusukan nenggala atau ledakan cambuk maka Mo-ko mendekatinya dan berbisik-bisik.

"Kau harus maju kembali. Kita semua mengeroyok!"

"Hm, aku memang masih penasaran!" kakek itu mengangguk. "Aku kalah tapi masih belum sempurna, Mo-ko. Aku masih belum mengeluarkan senjataku dan belum tentu lawanku menang!"

"Benar, tapi betapapun dia hebat. Aku juga masih penasaran. Kalau Mindra dan Sudra tak dapat merobohkannya marilah kita maju berbareng dan keroyok berempat!"

"Hm, aku setuju. Mari kita lihat dan saksikan perkembangannya dulu!"

Dua orang itu sepakat. Mo-ko telah berbisik dan siap mengajak temannya mengeroyok, dua-duanya memang masih sama-sama penasaran dan kakek tinggi besar itu geram. Dan ketika mereka menonton dan tampak kerubutan ini menguntungkan Mindra dan Sudra maka Kedok Hitam terlihat keteter.

"Ha-ha, lihat, Mo-ko. Berdua saja rupanya sudah cukup!"

"Benar, kalian menonton saja di situ. Kalau Kedok Hitam tak dapat kami selesaikan tigapuluh jurus barulah kalian maju!"

"Hm, jangan sombong!" Kedok Hitam membentak. "Aku belum mengeluarkan semua kepandaianku, Mindra. Kalian licik dan curang mempergunakan senjata. Aku masir belum kalah!"

"Ha-ha, kalau begitu keluarkan senjatamu...."

"Dan juga semua kepandaianmu!" Sudra menyambung, mengejek. "Kami ingin melihat seberapa hebat kau, Kedok Hitam. Atau kau pecundang secara konyol kalau memandang rendah kami!"

"Hm, baiklah!" Kedok Hitam mendengus. "Semua permintaan kalian kupenuhi, Sudra. Dan lihat baik-baik siapa yang akan pecundang... clap!" sebuah sinar kebiruan tiba-tiba muncul, melesat dari balik punggung laki-laki ini dan Sudra maupun Mindra terkejut karena mereka silau melihat sebuah golok yang tajam mengkilat. Cahaya golok itu demikian keras dan menyakitkan mata. Dan ketika mereka terkejut dan masih menggerakkan senjata untuk mendesak atau merangsek lawan tiba-tiba Kedok Hitam melanjutkan gerakan sinar kebiruan itu.

"Cring-tas!"

Sudra dan temannya berseru kaget. Mereka tersentak karena tiba-tiba nenggala dan cambuk putus, putus dibabat sinar kebiruan itu. Dan ketika mereka terbelalak dan terhuyung mundur, kaget dan tergetar oleh sinar kebiruan itu maka golok bergerak dua kali dan.... robeklah baju pundak berikut sedikit daging dua orang kakek ini.

"Aiihhh...!" dua kakek itu berteriak panjang. Mereka membanting tubuh bergulingan namun sebentar kemudian sinar kebiruan itu sudah bergulung-gulung mengejar mereka, menusuk dan membacok dan kagetlah dua orang ini karena mengenal itulah gerakan atau jurus-jurus Giam-to-hoat (Ilmu Silat Golok Maut), ilmu yang dimiliki Si Golok Maut dan tentu saja dua kakek itu berteriak keras.

Mo-ko dan Yalu yang ada di luar tiba-tiba juga terkejut dan berseru tertahan. Pertemuan mereka yang berkali-kali dengan Si Golok Maut tentu saja membuat mereka hapal akan jurus-jurus ilmu golok itu, yang ganas dan berbahayanya bukan alang-kepalang. Dan ketika mereka tertegun dan menjublak di tempat, menyaksikan dua orang rekan mereka yang bergulingan ke sana ke mari maka nenggala putus dibabat lagi dan cambuk yang meledak-ledak akhirnya tinggal sejengkal!

"Golok Maut.... ! Kau Golok Maut...!"

Mo-ko dan kakek Yalu terkesiap. Mindra dan Sudra berteriak-teriak menyebut nama ini, belum apa-apa sudah terbang nyalinya karena nama tokoh bercaping itu memang menggetarkan. Hanya Beng Tan sajalah yang dapat mengatasi Si Golok Maut itu. Tapi ketika keadaan menjadi geger dan Mo-ko siap memanggil pengawal, karena ribut-ribut itu sudah didengar dan ditangkap pengawal maka Kedok Hitam berseru menyelesaikan pertempuran dengan suaranya yang tinggi.

"Bukan, aku bukan Golok Maut. Kalau aku Si Golok Maut tentu kalian sudah kubunuh! Nah, berhenti dan sekarang kalian harus percaya kelihaianku... crat-bluk!"

Dua kakek itu terlempar, leher mereka tergurat berdarah dan si Kedok Hitam melakukan tendangan. Gentar dan ciut mengira lawannya Si Golok Maut maka dua kakek itu sudah terbang semangatnya. Ilmu silat mereka menjadi kacau dan terlemparlah mereka ketika lawan menendang. Dan ketika keduanya terkejut melompat bangun dan Mo-ko serta kakek Yalu terguncang di sana maka sinar kebiruan itu sudah lenyap di belakang punggung dan si Kedok Hitam ini berdiri tegak.

"Aku bukan Golok Maut. Aku adalah si Kedok Hitam. Nah, siapa tidak percaya kepadaku dan ingin coba-coba silahkan, boleh maju dan rasakan kepandaianku!"

"Kau... kau siapa sebenarnya? Bagaimana dapat mainkan Giam-to-hoat yang menjadi andalan Si Golok Maut?"

"Hm, siapa aku tak usah kalian tahu, Mindra. Cukup kalian ketahui bahwa aku adalah si Kedok Hitam. Kalian tunduk?"

Mindra gentar. Akhirnya setelah dia tahu kehebatan lawannya ini dan betapa senjata atau golok di tangan si Kedok Hitam berturut-turut melukai tubuhnya maka dia harus tahu diri dan mengangguk. Sudra juga melakukan hal yang sama dan Mo-ko serta kakek Yalu terbengong-bengong. Mereka yang semula hendak mengeroyok tiba-tiba saja gentar sebelum bertanding. Nyali pun tiba-tiba sudah menciut begitu melihat Giam-to-hoat dikeluarkan si Kedok Hitam ini, hal yang amat mengherankan dan mencengangkan bagaimana ada orang selain Si Golok Maut dapat memiliki ilmu silat itu, ilmu golok yang luar biasa ampuhnya di mana mereka tak mungkin berani bercuit-cuit lagi. Dan ketika mereka terbelalak dan gentar memandang laki-laki ini maka Kedok Hitam minta agar mereka berempat menjatuhkan diri berlutut.

"Sekarang kuulangi perintahku, kalian berlutut dan memberi hormat padaku!"

Mindra tiba-tiba gemetar. Hampir berbareng mereka berempat tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan si Kedok Hitam itu, hal yang aneh, hal yang akan membuat orang luar bakal terheran-heran dan tidak percaya. Tapi ketika semuanya berlutut dan menyatakan menyerah, menyerah secara total maka Hek-mo-ko memberanikan diri bertanya tentang golok di balik punggung si Kedok Hitam ini.

"Kami ingin membuktikan sekali lagi bahwa kau bukanlah Si Golok Maut. Tunjukkan kepada kami bahwa golok di belakang punggungmu itu bukanlah Golok Penghisap Darah!"

"Benar," Sudra tiba-tiba teringat. "Kami ingin menenangkan diri, Kedok Maut. Perlihatkanlah kepada kami bahwa kau benar-benar bukan Si Golok Maut!"

"Hm, kalian ingin menenteramkan hati? Baiklah, lihat ini. Ini bukan Golok Penghisap Darah.... singg!" dan sinar kebiruan yang muncul kembali dicabut laki-laki ini akhirnya diperlihatkan kepada semua orang bahwa golok itu betul-betul bukan Golok Penghisap Darah, senjata yang dimiliki Si Golok Maut itu. Dan ketika mereka tenang dan percaya karena bercak darah masih ada di situ, darah dari pundak Mindra dan Sudra yang terbabat maka semuanya mengangguk dan lega.

"Terima kasih!"

Kedok Hitam sudah mengembalikan goloknya ini. Seperti orang main sulap saja tiba-tiba hampir tak terlihat mata dia sudah mengembalikan goloknya di belakang punggung, cepat dan luar biasa. Dan ketika semua lega dan percaya maka laki-laki ini duduk dan berkata bahwa mereka berlima semuanya besok akan menuju ke Lembah Iblis.

"Ongya memerintahkan padaku untuk membunuh Si Golok Maut itu. Dan ongya sudah menghubungi jenderal Gwe. Besok kita ke Lembah Iblis dan bersama lima ribu pasukan kita tangkap dan bunuh Si Golok Maut itu!"

"Lima ribu pasukan? Padahal kau sudah dapat mengalahkan kami?" Mo-ko, yang terkejut dan membelalakkan matanya bertanya. Iblis ini heran dan kaget karena orang sehebat si Kedok Hitam ini masih juga perlu bantuan pasukan, tak tanggung-tanggung, lima ribu jumlahnya! Dan ketika Kedok Hitam mengangguk dan bersinar-sinar, matanya mencorong membayangkan nafsu membunuh maka dia berkata,

"Benar, bukan karena aku takut menghadapi Si Golok Maut itu, Mo-ko. Melainkan semata agar Golok Maut kali ini benar-benar tidak dapat lolos lagi. Dan kalian tak perlu memberi tahu bocah she Ju itu, kita bergerak secara diam-diam!"

Mo-ko melongo. Kedok Hitam akhirnya memberi tahu mereka bahwa jenderal Gwe sudah dihubungi. Secara diam-diam lima ribu pasukan akan bergerak dari kota raja, menyertai mereka. Dan karena mereka harus bergerak secara diam-diam dan Golok Maut kali ini harus ditumpas, karena hanya akan menimbulkan huru-hara saja maka Mo-ko dan kawan-kawan bengong namun girang bukan main, terutama kakek iblis itu, yang suhengnya sudah tewas dan dibunuh Si Golok Maut.

Tokoh bercaping itu memang hebat dan tak ada orang selain Beng Tan yang dapat mengatasi. Namun karena Beng Tan sedang marah-marah dan pemuda itu entah ke mana maka rencana serbuan besar-besaran ke Lembah Iblis ini tentu saja menggembirakan mereka. Kedok Hitam berkata bahwa inilah saatnya terbaik. Golok Maut sedang luka dan gebrakan mendadak yang akan dilancarkan ini pastilah berhasil. Mereka akan membasmi dan membunuh Si Golok Maut itu. Dan ketika Mo-ko mengangguk dan Mindra serta yang lain juga berseri-seri maka hari itu semua persiapan dilakukan.

"Kalian ikuti perintahku, jangan ke mana-mana!"

Empat orang itu mengangguk. Akhirnya mereka melihat bahwa benar saja lima ribu orang telah keluar dari kota raja secara diam-diam. Rakyat tak banyak yang tahu karena semuanya itu memang dirahasiakan. Dan ketika keesokannya benar saja barisan ular yang panjang telah bergerak ke selatan maka Lembah Iblis, tempat yang berbahaya sedang mengalami bahaya! Tahukah Golok Maut akan rencana serbuan itu? Tahukah dia akan badai yang bakal mengguncangkan tempat tinggalnya ini? Agaknya tidak. Karena Golok Maut, yang sedang terluka dan dihantam pukulan bertubi-tubi ternyata sedang dirawat Wi Hong yang selalu menangis melihat keadaan kekasihnya itu. Dan mari kita lihat ke sana.

* * * * * * *

Seperti diketahui, Golok Maut luka parah setelah menghadapi keroyokan Mindra dan kawan-kawannya. Sebelumnya tokoh ini baru mengamuk di kota raja. Ci-ongya yang dibunuh dan menimbulkan geger bukanlah berlalu begitu saja. Golok Maut juga luka-luka, terhuyung dan letih memasuki Lembah Iblis, tempat tinggalnya. Tapi ketika Wi Hong muncul dan marah-marah kepadanya, menyerang dan membuat keributan maka Golok Maut hampir saja membunuh kekasihnya ini, kalau saja Beng Tan tidak muncul. Dan karena pemuda baju putih yang lihai itu juga sedang mencari-cari dirinya dan minta pertanggung-jawabannya atas pembunuhan yang dilakukan Golok Maut maka barulah terbuka bahwa Wi Hong hamil setelah perbuatannya dulu dengan pemuda bercaping ini.

Golok Maut tentu saja terkejut, terpukul. Dia hampir saja membunuh kekasihnya ini, juga jabang bayi dari hasil hubungan mereka. Dan karena hal itu jauh lebih dahsyat menghantam pemuda ini dari segala pukulan atau serangan maka Golok Maut kaget dan terbelalak, serasa disambar petir dan selanjutnya dimaki-makilah dia oleh Beng Tan. Dia juga dituduh mau menggagahi Swi Cu, kekasih Beng Tan. Dan ketika semuanya itu bertubi-tu-bi mendarat di tubuh pemuda ini dan Golok Maut masih menjublak oleh kehamilan Wi Hong yang hampir dibunuh maka serangan Wi Hong nyaris saja menamatkan jiwanya, ketika Wi Hong merampas dan mengayun Golok Penghisap Darah, yang tidak dielak oleh pemuda bercaping ini.

Tapi karena Beng Tan tak membiarkan itu dan Golok Maut selamat maka selanjutnya pemuda yang sedang diguncang pukulan batin ini diserang Mindra dan kawan-kawannya. Kita telah mengetahui itu dan terakhir Golok Maut pingsan setelah membunuh Pek-mo-ko, suheng dari Hek-mo-ko. Dan karena luka-lukanya ditambah lagi oleh jarum-jarum beracun yang dihamburkan Mo-ko lewat ujung tongkatnya maka pemuda itu roboh setelah Mindra dan sisa temannya berhasil dipukul mundur.

Dan kini Wi Hong merawat pemuda itu. Dua hari dua malam Golok Maut masih tak sadarkan diri. Wi Hong sudah mendapat obat dari Beng Tan namun ketua Hek-yan-pang yang angkuh ini tak mau menerima begitu saja. Dia juga memiliki sisa obat-obatan. Namun ketika tak mencukupi dan racun di tubuh Golok Maut tak lenyap dengan tuntas maka Wi Hong tersedu mengambil obat pemberian Beng Tan.

"Jahanam keparat. Kami terpaksa berhutang budi padamu, Beng Tan. Tapi biarlah, kuterima ini dan kelak budimu akan kubalas dengan cara lain!"

Wi Hong tersedu-sedu. Sebenarnya, dia sudah mengerahkan sinkang membantu kekasihnya ini, dua hari dua malam menempelkan lengan dan tiada henti-hentinya dia berseru memanggil Si Golok Maut. Tapi karena kondisi tubuhnya juga lemah dan hamil muda yang dialaminya sering disusul muntah-muntah, maka Wi Hong tak berdaya lagi dan apa boleh buat terpaksa menerima pemberian Beng Tan, hal yang tak diingini karena dia berjanji akan mempertemukan pemuda itu dengan Golok Maut, kalau sudah sembuh.

Jadi dua pemuda itu bakal bertarung lagi! Padahal masing-masing adalah orang-orang yang sama dicinta. Dia mencintai Golok Maut sedangkan sumoinya, Swi Cu, mencintai Beng Tan. Mereka kakak beradik bakal terlibat permusuhan karena masing-masing tentu akan membela kekasihnya sendiri, hal yang menyakitkan. Dan ketika Wi Hong tersedu dan mengguguk teringat ini maka dia menjejalkan obat pemberian Beng Tan kepada kekasihnya.

Namun sayang, karena terlambat, sebab Wi Hong baru memberikannya sekarang, setelah lewat dua hari maka bayangan kehijauan dari racun yang mengeram di tubuh tetap bersarang. Warna kehitaman sudah lenyap, tapi tubuh yang terganti dengan warna kehijauan tetap saja membuat Wi Hong gelisah, cemas. Dan ketika dia batuk-batuk dan mengerahkan sinkang duduk bersila tiba-tiba saja satu jam kemudian reaksi obat bekerja, meskipun tak menyeluruh. Hal ini terlihat karena tiba-tiba Si Golok Maut sadar, membuka mata dan mengeluh. Dan ketika Wi Hong terkejut tapi tentu saja girang maka gadis atau wanita ini cepat melepaskan tangannya berseru cemas,

"Ah, kau sudah sadar. Bangunlah, lihatlah...!"

Golok Maut nanar. Caping di atas kepalanya sudah dibuka. Wi Hong memang tak membiarkan caping itu melekat lagi di atas kepala karena mengeluarkan keringat yang membanjir. Gadis ini girang karena pemuda itu siuman. Tapi begitu dia berjongkok dan mengangkat kepala itu, diletakkannya di atas pahanya tiba-tiba Golok Maut terguling dan kesakitan,

"Aduh, mati aku, Wi Hong. Tubuhku tak keruan.... huak!" Golok Maut muntah, menyemburkan darah kehitaman dan kental serta amis. Pemuda itu tak dapat bangun dan girang melihat kekasihnya, mau bersandar tapi tak sanggup, kepala serasa berputar dan begitu berat serta pusing. Dan ketika dia menyemprotkan darah busuk dan mendekap dada maka Wi Hong menangis dan tak jadi gembira.

"Apamu yang sakit? Di mana?"

"Augh, aku... ah, di mana kita, Wi Hong? Dan kenapa kau di sini pula? Di mana kita?"

"Kita di Lembah Iblis, tempat tinggalmu. Ah, sembuhlah, Golok Maut. Sembuhlah!"

Wi Hong tersedu-sedu. Gadis ini tak dapat menahan pilunya hati melihat kekasihnya mengerang dan mendesis menahan sakit. Lontakan darah segar kembali terjadi dan basahlah baju Wi Hong oleh semburan darah busuk itu. Tapi ketika gadis ini tak menghiraukan dan menangis merangkul kekasihnya maka Golok Maut terengah-engah dan pucat mukanya.

"Menjauhlah, jangan dekat-dekat. Aku merasa demam dan menggigil!"

"Tidak.... tidak, Golok Maut. Aku akan tetap di sini dan tak perduli apapun yang terjadi!"

"Bodoh! Pakaianmu kotor, Wi Hong. Bersihkan dulu dan bantu aku duduk...!"

Wi Hong bercucuran air mata. Akhirnya Golok Maut minta disandarkan pada dinding, mereka berada di sebuah guha di atas tebing. Itu adalah guha yang hangat meskipun gelap. Wi Hong telah menyalakan lilin dan dua hari ini gadis itu hampir tak tidur, kusut dan mengharukan Dan ketika Golok Maut melihat semuanya ini dan tentu saja terharu maka pemuda itu tertegun dan menangis.

"Kau.... berapa hari di sini? Berapa lama aku pingsan?"

"Dua hari..."

"Dan kau tetap menungguku?"

"Kau.... kita, ah.... aku wajib menunggumu, Golok Maut. Kita bukan orang lain!"

"Hm, dan kau tak tidur. Wi Hong, bagaimana kesehatanmu? Bagaimana dengan anak di kandunganmu itu? Bolehkah aku mendengar detak jantungnya?"

Wi Hong tersedu-sedu. "Kesehatanku baik, Golok Maut. Tak apa-apa. Kau jangan tanya itu. Lihat dan tanyalah dirimu. Bagaimana aku bisa membantumu dan kau sembuh!"

"Hm, aku... ah!" Golok Maut menggigil, menahan sengatan rasa sakit di dada kirinya. "Aku terluka berat, Wi Hong. Dan .... ah, keparat jahanam-jahanam itu. Jarum di ujung tongkat Mo-ko menembus sebuah jalan darahku. Apakah sudah kau cabut?"

Wi Hong terkejut. "Dicabut? Yang mana? Aku sudah mencabut hampir semua jarum di tubuhmu!"

"Di selangkangan...." Golok Maut agak merah mukanya.

"Apakah kau tahu itu dan sudah mencabutnya?"

"Di selangkangan?" Wi Hong tiba-tiba merah padam. "Tidak, aku tak tahu itu. Kalau begitu, ah... biar kuperiksa!"

"Tidak, jangan. Biarkan aku sendiri!" dan Golok Maut yang membungkuk menahan sakit lalu merobek celananya meraba bagian itu, Wi Hong melengos dan tentu saja merah padam. Untung, mereka pernah melakukan hubungan intim dan Wi Hong dapat menekan rasa malu. Kalau tidak, barangkali dia akan melompat pergi, tidak hanya sekedar melengos! Dan ketika Golok Maut mengeluh dan merintih kesakitan maka pemuda ini berkata bahwa jarum itu sudah tak ada lagi di situ.

"Terlambat, sudah masuk!" muka pemuda ini pucat. "Jarum itu sudah mengikuti jalan darah, Wi Hong. Dan ini berarti nyawaku tak dapat dipertahankan lagi!"

"Tidak!" Wi Hong tiba-tiba menjerit.

"Kau tak akan mati, Golok Maut. Aku akan mencari itu!"

"Di mana? Dengan membedah tubuhku? Hm, terlambat, Wi Hong. Tapi aku heran juga bagaimana aku masih dapat bertahan hidup! Kau agaknya memberikan obat yang istimewa!"

"Beng Tan yang memberikannya..." gadis ini tersedu, gemetar. "Dan... dan... ah, tidak. Kau tak akan mati, Golok Maut. Kau akan hidup dan aku akan membantumu sebisaku!" dan Wi Hong yang mengguguk tak dapat menahan dirinya lagi lalu terguncang-guncang di atas dada pemuda ini, ngeri dan pucat karena dia tahu apa artinya itu. Jarum selembut dan sehalus seperti yang dimiliki Mo-ko memang dapat menyusup dan mengikuti aliran darah, kalau tidak cepat dicabut. Dan menyesal bagaimana dia tidak tahu itu hingga kini Golok Maut terancam jiwanya maka gadis ini tersedu-sedu dan akhirnya berteriak-teriak, mencaci dan mengumpat Pek-mo-ko yang sudah terbunuh itu dan dia berjanji akan mencari dan "membunuh" lagi kakek itu kalau bertemu di akherat. Satu kebencian yang memperlihatkan betapa marahnya gadis ini. Tapi ketika dia berteriak-teriak dan memaki-maki kakek itu maka Golok Maut tersenyum dan tiba-tiba membelai mukanya.

"Wi Hong, sudahlah. Aku akan mati, tak guna menangis dengan air mata darah sekalipun. Kau mau diam dan mendengarkan kata-kataku ini?"

"Tidak, kau tak akan mati, Golok Maut. Kau akan kuselamatkan!"

"Sst, jangan berteriak-teriak. Kalau ajal sudah menanti tiba tak dapat kita mengelak. Aku siap mati, ini memang resikoku. Dan kau dengarkanlah kata-kataku sebelum aku berangkat."

"Tidak... tidak...!" dan Wi Hong yang mengguguk serta meremas-remas pemuda itu akhirnya berteriak agar kekasihnya tidak bicara seperti itu. Bicara tentang kematian sungguh bukanlah hal enak dan tak mau gadis ini mendengarkan. Namun ketika Golok Maut tetap berbisik lembut dan mengusap rambutnya tiba-tiba Wi Hong meloncat bangun dan beringas.

"Kalau begitu baiklah, aku ikut dan kita sama-sama mencari Pek-mo-ko diakherat!"

"Apa?"

"Benar, aku akan mengiringimu dalam kematian, Golok Maut. Kita sama-sama berangkat ke akherat dan mencari kakek iblis itu!"

"Tidak... jangan!" Golok Maut tiba-tiba menggigil. "Kau jangan gila, Wi Hong. Justeru aku menghendaki kau hidup untuk melanjutkan pembalasanku!"

"Aku tak mau, dan aku merasa terlalu berat. Tanpa kau disampingku aku tak dapat berbuat apa-apa dan lebih baik mati!" dan Wi Hong yang kembali mengguguk dan tersedu menubruk pemuda ini akhirnya menyatakan bahwa dia siap mengikuti pemuda itu ke akherat. Gadis ini tak mau hidup sendiri dan biarlah dia mengiringi serta. Pek-mo-ko dapat dicari di sana dan mereka berdua akan sama-sama membalas dendam, pembicaraan yang melantur dan tentu hanya menggelikan orang-orang yang tak tahu akan kekuatan cinta. Dan ketika gadis itu bersumpah pula tak mau hidup sendiri maka Wi Hong menutup,

"Kau adalah suamiku. Meskipun kita belum terikat secara resmi namun aku adalah isterimu. Ke mana kau pergi ke situ pula aku ikut. Aku bersumpah tak mau sendiri!"

"Tidak... jangan...!" Golok Maut terbata-bata. "Justeru itu yang hendak kucegah, Wi Hong. Kerjaku belum selesai. Orang-orang she Coa dan Ci masih hidup! Aku ingin kau membalaskan itu dan Coa-ongya juga belum terbunuh! Ah, tidak.., jangan, Wi Hong. Kau harus tunduk kepadaku dan ingat jabang bayi itu. Dia harus hidup dan jangan menyertai ayahnya. Kalau kau ingin menyusulku di alam baka baiklah, tapi lahirkan dan besarkan dulu anak kita itu. Suruh dia menuntut balas dan jangan menyertai ayah ibunya!"

Wi Hong terkejut. Tiba-tiba dia teringat bahwa dia sedang mengandung. Anak yang di perutnya itu akan ikut ke alam baka pula kalau dia mengikuti Si Golok Maut, bela pati! Dan ketika dia tertegun dan pucat teringat itu maka Golok Maut berkata-kata lagi, gemetar,

"Ingat, baru Ci-ongya yang kubunuh, Wi Hong. Masih ada dedengkotnya yang lain lagi, pangeran she Coa yang keparat itu! Aku tak mau mati penasaran dan tak meram kalau orang she Coa itu belum binasa. Aku menghendaki kau hidup untuk mendidik anak kita itu. Suruh dia melanjutkan tugasku dan bunuhlah jahanam terkutuk itu. Atau aku tak mau menerimamu di akherat dan kau tak kuakui sebagai isteriku!"

"Ooh...!" Wi Hong tersedu-sedu. "Kau kejam, Golok Maut. Kau tak berperasaan. Kau menyakiti hatiku, keparat! Kau... kau...."

"Kau bunuhlah aku!" Golok Maut bangkit berdiri, tiba-tiba terhuyung. "Dan mana Golok Penghisap Darah itu, Wi Hong. Tusuk dadaku kalau kau tak mau turut kata-kataku!"

"Tidak... tidak!" Wi Hong menjerit. "Aku...ah, aku akan menurut kata-katamu, Golok Maut. Dan aku akan melahirkan dan membesarkan anak ini. Tapi aku masih akan berusaha untuk menyelamatkan jiwamu!"

"Tak ada harapan lagi...."

"Siapa bilang?" gadis itu cepat memotong. "Kau bilang mengenal seorang yang hebat, Golok Maut, Kau pernah bicara padaku tentang Sian-su! Nah, tunjukkan di mana kakek dewa ini dan biar kucari dia!"

Golok Maut tertegun. Tiba-tiba roman berserl terbayang di wajah itu, Golok Maut kaget namun girang. Dan ketika Wi Hong berkata bahwa dulu dia pernah menceritakan tentang Sian-su, kakek dewa yang menyelamatkannya dari kekejaman Coa-ongya maka Golok Maut tertawa dan menyeringai menahan sakit.

"Ah, kau benar, Wi Hong. Kalau kita dapat menemui Sian-su barangkali aku selamat! Tapi, hmm... aku tak yakin. Kakek itu tak tentu tempat tinggalnya, tak tentu rimbanya...!"

"Bukankah kau pernah bilang dia di Jurang Malaikat? Di mana tempat itu? Katakan padaku, Golok Maut. Dan akan kucari kakek itu. Aku ingin hidup berdua bersamamu dan sama-sama membesarkan anak di kandunganku ini!"

"Hm," Golok Maut menyeringai. "Aku lupa-lupa ingat akan Jurang Malaikat ini. Tempatnya jauh, dan asing. Aku tak hapal..."

"Tapi waktu itu kau dibawanya!"

"Benar, tapi harap diingat bahwa waktu itu aku pingsan, Wi Hong. Tempat itu hanya samar-samar saja kuingat!"

"Kalau begitu kita gagal!" Wi Hong menangis lagi, membanting-banting kakinya. "Kau menghancurkan harapanku, Golok Maut. Kau tak kasihan kepadaku!"

"Hm, nanti dulu," pemuda ini tiba-tiba bergerak. "Ada kuingat sebuah tempat lain, Wi Hong. Lembah Malaikat! Ya, di situ kakek itu sering juga tinggal dan aku mengenal beberapa ciri-cirinya. Tempat itu merupakan tebing yang tinggi dan terjal, di atasnya ada sebuah guha!"

"Di mana itu?" Wi Hong tiba-tiba menghentikan tangisnya, bersemangat. "Aku akan mencarinya dan mari segera berangkat!"

"Tempat itu di tepi batas propinsi Shansi dengan Honan. Kau ikuti arah aliran sungai Huang-ho ke timur!"

"Hah? Berapa hari perjalanan? Tempat itu jauh sekali, Golok Maut. Dan aku tak dapat ke sana dalam waktu tiga atau empat hari! Ah, tapi aku akan berusaha. Kita membawa kereta dan menukar kuda sepanjang perjalanan!" Wi Hong tiba-tiba gembira, bangkit semangatnya meskipun mula-mula terkejut. Tempat yang ditunjukkan itu cukuplah jauh namun dia tak kecil hati. Dan ketika dia bergerak dan menyambar pemuda ini maka Golok Maut sudah dipanggul tapi mereka berdua jatuh terguling!

"Ah, kaupun kehabisan tenaga. Semangatmu besar tapi tenagamu kurang! Wi Hong, biarkan aku sendiri dan kita berjalan bersama!"

Wi Hong pucat. "Aku tolol, aku lemah....!"

"Tidak, kau memang letih, Wi Hong. Dan lagi kau sedang mengandung. Kau tak dapat memanggulku dan turun ke bawah. Lebih baik tuntun aku dan kita bersama-sama menuruni tempat ini."

Wi Hong gugup mengangguk. Setelah sebuah harapan terbersit di depan mata tiba-tiba gadis itu menyala semangatnya. Golok Maut harus disembuhkan dan dia akan mencari Sian-su, Bu-beng Sian-su si kakek dewa. Dulu kakek itu menolong pemuda ini dan sekarang dia akan mencari-nya. Tak boleh kekasihnya itu tewas dan dia hidup sendiri. Dan ketika gadis itu bangkit semangatnya dan menyambar serta menuntun hati-hati maka dua orang ini sudah mulai menuruni tebing untuk keluar mencari pertolongan.

Golok Maut diam-diam mendesis mudah-mudahan maksudnya itu kesampaian. Bu-beng sian-su adalah kakek aneh yang tak dapat diikuti bayangannya. Acapkali muncul kalau tidak dicari tapi tak muncul kalau sedang ditunggu-tunggu. Golok Maut diam-diam kecil hati. Namun melihat betapa kekasihnya demikian besar menaruh harapan dan betapa ketua Hek-yan-pang itu amat mencintanya tiba-tiba keharuan mendalam muncul lagi di hatinya, meremas dan menggenggam tangan kekasihnya itu erat-erat. Dan ketika Golok Maut batuk-batuk dan berhenti di tengah jalan maka Wi Hong ikut berhenti dan khawatir.

"Kau telan ini lagi, masih sebutir!"

"Hm, berapa kau dapatkan dari Beng Tan?"

”Tiga butir, yang dua sudah kau minum!"

"Keparat, aku berhutang budi!" Golok Maut, yang merasa terpukul tapi terpaksa menerima obat itu lalu menelannya dan diam-diam mengepal tinju. Kalau saja tidak kasihan kepada Wi Hong yang demikian sungguh-sungguh ingin menyelamatkan jiwanya barangkali dia lebih baik mati daripada menerima obat lawan. Obat itu memang manjur karena sesak di dada tiba-tiba agak berkurang. Dan ketika mereka turun lagi dan tertatih berpegangan batu-batu tebing maka tak lama kemudian mereka sudah hampir tiba di bawah. Tapi Wi Hong tiba-tiba tertegun.

Golok Maut juga menoleh dan tersiraplah dua muda-mudi ini melihat ular-ularan yang panjang. Dan karena mereka kebetulan masih berada di tempat yang agak tinggi, di pinggang tebing terjal itu maka tampaklah oleh keduanya gerakan pasukan besar yang sedang menuju Lembah Iblis!

"Kita kedatangan musuh!" Wi Hong tiba-tiba pucat. "Lihat, dari depan tak kurang dari seribu orang, Golok Maut. Kita harus turun cepat-cepat, berputar!"

"Hm, keparat. Siapa itu?"

"Pasukan dari kota raja! Siapa lagi?"

"Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku, siapa pemimpinnya dan apakah mereka hendak membunuh aku!"

"Tentu, mereka akan membunuhmu. Dan Beng Tan barangkali ada di sana. Celaka!"

"Tak mungkin," Golok Maut tiba-tiba mencekal lengan kekasihnya. "Pemuda she Ju itu tak mungkin memimpin pasukan, Wi Hong. Dia adalah manusia gagah dan dapat menghadapiku sendiri. Pasukan itu pasti dipimpin orang lain!"

"Aku tak perduli siapa, pokoknya kita pergi dan lari!" Wi Hong menarik, cemas menyambar kekasihnya ini dan Golok Maut marah.

Sebenarnya, kalau saja dia tidak dalam keadaan luka-luka tentu dia tak akan pergi dan justeru menyambut musuh. Namun karena dia sedang luka-luka dan racun di tubuhnya itu harus segera dilenyapkan kalau dia tak ingin membuat kekasihnya gelisah maka Golok Maut mengikuti meskipun sambil menggeram marah, mengepal tinju dan Wi Hong sudah membawanya cepat turun ke bawah, melempar tubuh dan terjun dan hampoir saja Wi Hong terkilir! Namun ketika gadis itu tak perduli dan sudah berlari tergesa-gesa maka Wi Hong berputar dan mau menghindari pasukan yang ada di depan itu.

Tapi Wi Hong kaget. Lembah Iblis, yang mempunyai dua pintu masuk dari muka dan belakang ternyata sudah terkurung. Dia bermaksud melalui jalan belakang namun di sanapun sedang mendatangi pasukan yang lain. Dan ketika Wi Hong mengeluh dan mengutuk marah maka di kiri dan kanan tiba-tiba terlihat gerakan-gerakan panjang dan nyatalah di empat penjuru lembah semua pasukan sudah mengepung!

"Celaka, kita tak dapat keluar!"

Golok Maut berobah. Kalau saja dirinya dalam keadaan sehat tentu hal itu tak perlu membuatnya khawatir. Tapi sekarang keadaan lain. Dia justeru sedang keracunan, luka-luka. Dan ketika pemuda itu mengepal tinju dan marah maka Wi Hong menangis.

"Golok Maut, kita rupanya harus mati bersama di tempat ini. Biarlah, aku akan mengadu jiwa!"

"Tidak, yang mereka cari adalah aku, Wi Hong. Kau tak akan apa-apa. Sebaiknya kau pergi dan kembali ke atas. Kalau mereka sudah menangkapku tentu kau tak akan diperhatikan!"

"Apa? Kau menyuruhku lari? Menyuruh aku menyelamatkan diri sementara kau terancam bahaya? Keparat, jaga mulutmu, Golok Maut. Otakmu tidak waras!"

"Hm, aku ingin menyelamatkanmu..."

"Aku lebih baik mati kalau kau binasa!"

"Hm, kalau begitu baik. Kita berdua sama-sama kembali ke tebing!" Golok Maut bergegas, bingung dan tak mau membuat kekasihnya marah-marah lagi. Pertikaian di antara mereka tak akan membawa keuntungan apa-apa sementara musuh tentu akan kian mendekat saja. Dia harus mencari akal dan terutama kekasihnya ini biarlah selamat. Dan ketika Wi Hong mengangguk dan menangis mencengkeram lengannya maka mereka kembali dan naik ke atas, merayap, tak dapat berlompatan.

"Hati-hati, jangan terpeleset!"

"Kaulah yang hati-hati!" Wi Hong menegur, menangis. "Kau lebih parah daripada aku, Golok Maut. Perhatikan dirimu dan jangan perhatikan orang lain!"

Golok Maut menutup mulut. Akhirnya dia menggigit bibir dan cepat mendaki dengan susah payah. Tebing itu tinggi dan mereka sama-sama letih. Yang satu karena akibat pukulan sedang yang lain karena tak pernah istirahat. Wi Hong juga sedang hamil dan tentu saja gadis itu menahan sakit. Perutnya serasa dikocok-kocok dan Wi Hong menangis bercucuran air mata. Tapi ketika mereka sudah sampai di tengah dan siap mendaki lagi ternyata pasukan sudah melihat bayangan mereka dan bersorak-sorak.

"Golok Maut, berhenti. Turunlah!"

"Atau kau kami panah dari sini!"

Wi Hong pucat. Musuh ternyata sudah memasuki lembah dan bersorak-sorailah mereka itu meneriakkan ancaman. Golok Maut berhenti dan menoleh. Dan ketika sebatang panah menyambar dan disusul panah-panah yang lain maka pemuda ini menyampok dan panah-panah itu runtuh meskipun dia mengeluh menahan dada kirinya.

"Jangan hiraukan, kita terus ke atas!" WI Hong tersedu, melihat panah menyambar lagi dan gadis inilah yang sekarang menghalau semua serangan.

Golok Maut mendesis dan cepat didorong naik, terpaksa membiarkan Wi Hong yang menangkis panah-panah itu dan bergeraklah mereka mendaki susah payah. Hujan senjata dan sorakan sungguh membuat nyali menciut. Lembah Iblis seolah tergetar dan diguncang gempa oleh pekik sorak pasukan di bawah itu. Namun ketika mereka berhasil naik dan selamat di atas ternyata sebatang panah menancap di pundak Wi Hong.

"Kau terluka!" Golok Maut terkejut. "Ah, jahanam keparat orang-orang itu, Wi Hong. Mari kucabut dan jangan sampai panah itu beracun!"

Wi Hong berteriak. Golok Maut mencabut anak panah itu dari pundaknya dan luka pun mengucur. Namun ketika Golok Maut mengecup dan membalut dengan merobek sebagian bajunya maka luka itu tertutup dan Golok Maut lega bahwa panah itu tidak beracun.

"Kita kumpulkan batu-batu besar. Mereka pasti naik!"

Wi Hong mengguguk. Memang pasukan di bawah mulai ada yang mendaki. Mereka rupanya tahu bahwa Golok Maut sedang terluka, tidak berbahaya dan mendakilah orang-orang yang berani ke atas tebing itu, hal yang sudah dilihat dan diperhitungkan Qolok Maut. Namun ketika golok Maut bergerak dan menggelindingkan batu-batu besar yang banyak terdapat di atas maka orang-orang itu berteriak ketika tertimpa.

"Buummm...!"

Empat tubuh hancur di bawah sana. Korban mulai jatuh dan yang lain ngeri. Tapi ketika seseorang memberi aba-aba dan menyuruh orang-orang itu terus naik maka belasan orang memberanikan hati-nya lagi karena seruan atau bentakan itu menggetarkan nyali.

"Bum-buummm...!"

Beberapa orang menjadi korban lagi. Golok Maut dan Wi Hong terus menggelindingkan atau melempar batu-batu dari atas, menahan dan tentu saja tak mau orang-orang itu naik. Dan ketika belasan orang akhirnya mati sia-sia maka pasukan yang panik akhirnya disuruh melepas panah api.

"Semua turun, lancarkan panah api!"

Golok Maut terkejut. Hujan panah tiba-tiba berhamburan. Namun karena tebing cukup tinggi dan serangan panah itu tak sampai maka banyak di antaranya yang gagal dan jatuh di tengah tebing, menyala dan membakar tempat-tempat kering dan Wi Hong ngeri. Kalau itu terjadi terus-menerus tentu mereka akan tertembus hidup-hidup, bukan main kejinya. Musuh teramat kejam! Tapi ketika Golok Maut menyambar tong-tong kayu yang berisi air minum maka pemuda ini sudah menuangkan air dan tempat-tempat yang terbakar seketika padam!

"Wi Hong, bantu aku. Ambil air di dalam guha!"

Wi Hong terkejut. Tiba-tiba dia teringat bahwa di dalam guha, di atas tebing itu terdapat mata-air yang besar. Air terus bergemiricik dan di situlah biasanya orang mandi atau minum. Maka begitu melihat kekasihnya menyambar tong-tong kayu itu dan menyiramkan airnya ke bawah maka Wi Hong mengikuti dan sudah menuangkan hujan air ini, memadamkan tempat-tempat lain yang terbakar dan tentu saja musuh mengumpat-caci. Tempat itu seketika basah dan gagallah pasukan api. Dan ketika sehari itu mereka dikepung dan musuh tak berani naik, karena bakal dihujani batu-batu besar maka malam mulai tiba dan pasukan di bawah diam tak berteriak-teriak lagi.

Golok Maut tak tahu apa yang akan dilakukan lawan namun dia berdebar keras. Kalau malam tiba dan keadaan menjadi gelap tentu mereka itu akan naik. Hm, berbahaya! Apa akal? Dan ketika Wi Hong juga merasakan itu dan bertanya maka pemuda ini menggigit bibir.

"Ada dua jalan. Pertama membiarkan mereka naik dan kita menghadapinya di sini atau kita turun dan menyerbu mereka di sana!"

"Tapi kau tak dapat bertempur. Kau luka-luka!"

"Hm, dalam keadaan terdesak dan terancam aku masih dapat melakukan apa saja, Wi Hong. Berikan senjataku itu dan aku akan berbuat sesuatu!"

"Kau mau apa?"

"Menyambut mereka tentu saja! Kau masih menyimpan pedangmu?"

"Masih..." Wi Hong gemetar, menahan tangisnya. "Aku akan menyertaimu, Golok Maut. Sampai titik darah terakhir!"

"Hm!" Golok Maut tiba-tiba mencengkeram jari kekasihnya. "Tidakkah kau dapat memanggilku dengan namaku, Wi Hong? Kenapa mesti selalu menyebut nama julukanku? Itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang tak suka padaku. Kau tak seharusnya menyebut nama julukanku!"

"Hauw-ko (kanda Hauw)...." suara itu tiba-tiba bergetar lembut, lembut dan mesra. "Aku... aku... maafkan aku. Aku lupa, aku bingung. Aku, ah... aku khawatir akan keselamatanmu!" dan Wi Hong yang mengguguk menubruk kekasihnya lalu menangis dan tak henti-hentinya mencucurkan air mata membasahi baju pemuda ini.

Golok Maut, yang dipanggil nama kecilnya tiba-tiba tersenyum. Dan ketika gadis itu tersedu dan menyusupkan kepala di dada tiba-tiba Golok Maut meraih dan mengangkat wajah jelita itu. "Hong-moi (dinda Hong)..." suara ini pun bergetar dan menembus perasaan gadis baju merah itu. "Aku menyesal bahwa aku telah membawamu ke tempat yang begini buruk. Ah, aku berdosa padamu. Aku manusia terkutuk..."

"Tidak... tidak, Hauw-ko. Apa yang terjadi adalah atas kehendak kita berdua juga. Kau tak perlu menyesal, tak perlu menyalahkan diri sendiri!"

"Tapi kau mengandung, hasil perbuatanku!"

"Memangnya kenapa?" Wi Hong tiba-tiba mengangkat tegak tubuhnya itu. "Aku menghendaki itu, Hauw-ko. Aku ingin benih dan melahirkan keturunanmu. Aku tak menyesal!"

"Tapi kau terancam bahaya!"

"Hidup selalu mengandung resiko bahaya! Tidak, tak perlu kau menyesall ini, Hauw-ko. Aku mencintamu dan siap mati untukmu!"

"Ah!" dan Golok Maut yang terharu dan cepat mendekap kepala ini la lu mencium dan berbisik gemetar. "Hong-moi, kalau saja kau dapat selamat, maukah kau memenuhi permintaanku?"

"Apa yang kau minta? Menyuruh aku melarikan diri dan pergi dari sini? Tidak, jangan katakan itu, Hauw-ko. Aku tak mau dan tak sudi!"

"Maaf, bukan itu," Golok Maut mendekap menggigil. "Aku tahu kau siap mati di sini. Tapi kalau seandainya... hm, seandainya saja aku terbunuh dan kau tidak dikehendaki orang-orang itu maukah kau melahirkan dan merawat anak kita, Hong-moi? Maukah kau membesarkannya dan membalaskan dendamku?"

"Aku... aku tak ingin selamat. Kuharap orang-orang itu membunuhku pula dan kita sama-sama ke alam baka!"

"Tidak! Orang-orang itu mencariku, Hong-moi, bukan kau. Aku hanya mengandalkan seumpamanya kau tidak dikehendaki, tidak dibunuh! Maukah kau memenuhi permintaanku dan menyuruh anak kita membalas dendam?"

"Hauw-ko, aku ingin mati bersamamu!"

"Dengarlah, jangan tolol!" Golok Maut mencengkeram kekasihnya ini."Selama dari sini belum tentu aku selamat dari racun jahanam ini, Wi Hong. Maksud kita mencari Sian-su telah terhalangi orang-orang itu. Aku merasa umurku tak akan panjang!"

"Hauw-ko...!"

"Tidak!! kau dengarlah Mo-bin-lo telah menjumpai aku dan aku harus membayar kutukannya!"

"Mo-bin-lo (Si Muka lblis)? Siapa itu?"

"Hm, dialah pencipta Golok Penghisap Darah, Hong-moi. Dan aku telah bertemu dengannya dan tak dapat menghindar. Nyawaku terancam, dan maut pasti menjemputku. Semua yang terjadi ini kukira adalah garis nasib yang harus kujalani karena aku melanggar larangan, sebuah kutukan!"

"Ah, kau bicara tentang sesuatu yang mengerikan. Bulu romaku berdiri...!"