GOLOK MAUT
JILID 22
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"PLAK-PLAK-PLAK!"

Semua perwira terbelalak. Mereka memang mengetahui kelihaian Si Golok Maut ini, tokoh yang mendirikan bulu roma. Namun karena mereka berjumlah banyak dan patahnya tombak atau panah itu justeru membuat mereka marah maka mereka menerjang dan membentak maju.

"Kepung dia. Tangkap!"

Tigapuluh perwira menyerang berbareng. Mereka sudah menyiapkan senjata dan masing-masing mengeluarkan bentakan penambah semangat. Menghadapi tokoh seperti Si Golok Maut itu harus mengerahkan keberanian kalau tak ingin jatuh lebih dulu. Tapi ketika pedang dan golok berhamburan menyerang tokoh bercaping ini tiba-tiba Golok Maut lenyap dan entah bagaimana tiba-tiba mereka mendapat tendangan dan tamparan.

"Yang bukan she Coa atau Ci tak usah main-main disini. Pergilah... des-des-cringg!" senjata sesama teman bertemu sendiri, nyaring memekakkan telinga dan pemiliknya sudah mencelat beterbangan. Mereka jatuh ke bawah dan menggelinding dari atas genteng yang tinggi. Dan ketika semua memekik dan berdebuk di bawah maka Golok Maut tiba-tiba sudah tampak di sebelah timur.

"Hei, kejar. Dia disana!"

Namun Golok Maut mengeluarkan tawa dari hidung. Para siwi dan busu yang tiba-tiba melepas panah berdesing-desing tiba-tiba dikebut runtuh. Semua anak panah itu runtuh dan Golok Maut menghilang di puncak gedung. Dan ketika semua kelabakan dan berteriak-teriak mengejar maka para perwira yang sudah melompat bangun mengerahkan anak buahnya masing-masing untuk mengepung rapat tempat itu.

"Pagar betis! Semua harap memagar betis...!"

Hal itupun sudah dilakukan. Ratusan siwi dan busu yang sudah berkumpul dan cepat mengelilingi seluruh gedung sudah tak dapat disibak lagi. Perwira mereka berteriak-teriak dan melayang kembali ke atas gedung. Dan ketika mereka melakukan pencarian sambil berkelompok dan memaki tak keruan maka lima bayangan berkelebat dari lima penjuru.

"Dimana jahanam itu? Mana Si Golok Maut?"

"Ah," para perwira girang. "Golok Maut tadi disana, locianpwe. Di gedung sebelah timur!"

"Benar, tapi sudah menghilang di puncak wuwungan itu!" dan ketika yang lain saling bersahutan dan memberi tahu maka lima bayangan ini, yang bukan lain Mindra dan empat temannya tiba-tiba berkelebat dan memencar.

"Kalian mengepung puncak wuwungan itu. Kita kesana... wut-wut!"

Mindra dan Sudra sudah lenyap mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, tiga yang lain bergerak dan menganggukkan kepala dan berturut-turut seperti iblis saja kakek-kakek ini menghilang bagai iblis. Namun ketika mereka tiba disana dan tak melihat bayangan Golok Maut maka semuanya tertegun dan Pek-mo-ko menggeram dan celingukan.

"Tak ada. Pasti ke bawah!"

Yalucang, kakek tinggi besar mengangguk. Kakek ini mengeluarkan geraman mirip singa dan tiba-tiba berkelebat ke bawah, meluncur ke dalam gedung. Dan ketika Sudra juga mengangguk dan meluncur turun maka Hek-mo-ko yang gentar berada sendirian memandang kakaknya.

"Kita cari dia?"

"Ya, dan balas sakit hati ini, sute. Ayo turun dan cari dia!"

Pek-mo-ko menepuk pundak adiknya. Dia tahu rasa jerih yang menghuni jiwa adiknya ini. Hek-mo-ko telah kehilangan lima jari kanan ketika dulu dipapas Golok Maut, golok mengerikan itu. Dan ketika mereka berkelebat dan menghilang ke bawah maka Yalucang tiba-tiba melihat bayangan tokoh bercaping itu, berkelebat memasuki lorong di bawah air hujan yang kini tiba-tiba seolah dicurahkan dari langit.

"Golok Maut, berhenti kau. Jahanam!" Kakek tinggi besar lni mencabut roda gergajinya. Dia sudah melempar itu dan senjata mengerikan ini berdesing menyambar punggung Si Golok Maut. Tapi ketika Golok Maut menoleh dan menangkis, tersenyum mengejek tiba-tiba roda-gergaji itu terpental dan menyambar tuannya kembali.

"Plak!"

Golok Maut melesat menghilang lagi. Yalucang si kakek tinggi besar harus mengerahkan tenaga ketika roda gergajinya itu menyambar cepat, menuju dadanya dan terdengarlah suara keras ketika senjata itu mengenai atau menghantam dada kakek tinggi besar ini. Tapi karena tokoh Tibet itu sudah mengerahkan sinkang dan roda-gergajinya berdetak maka kakek itu terhuyung tapi sudah mengejar lagi.

"Dia disini...!" kakek itu agak berobah. "Hei, dia disini, Mo-ko. Tangkap dan kepung dia!"

Namun Golok Maut sudah menghilang lagi. Bagai siluman atau iblis saja tokoh bercaping itu berkelebat entah kemana. Bayangan Mo-ko dan Sudra yang berturut-turut datang sia-sia saja, mereka tak menemukan dan kakek tinggi besar itu melotot. Panggilannya tadi berkesan gentar dan buru-buru minta tolong, hal yang menggelikan namun siapapun tahu kelihaian Si Golok Maut itu, tak ada yang tertawa. Dan ketika Mindra mendengus dan tak melihat bayangan lawan maka kakek itu mengajak saudaranya berpencar.

"Kau kesana, aku kesini!"

Sudra mengangguk. Dia sudah mencabut cambuknya dan dengan marah menjeletarkan senjatanya itu, meledak dan hancurlah genteng di atas yang berderak roboh. Dan ketika yang lain bergerak dan Mo-ko selalu berdua maka dilorong sebelah kanan terdengar jeritan ngeri.

"Aduh..!"

Semuanya dahulu-mendahului. Jeritan panjang disusul berdebuknya tubuh yang roboh ke tanah membuat lima kakek itu mendelik. Mereka melihat enam pengawal terbabat tewas, leher mereka digorok dan putus tanpa kepala. Mengerikan! Dan ketika lima kakek itu terbelalak dan marah maka sudah meledakkan cambuknya berseru nyaring,

"Golok Maut, jangan sembunyi-sembunyi. Hayo hadapi kami dan jangan bersikap pengecut!"

Namun jeritan dan pekik ngeri terdengar disebelah kiri. Seolah menyambut jawaban kakek itu tiba-tiba belasan tubuh berdebuk seperti pisang. Mereka berkelebat dan melihat belasan pengawal roboh tanpa kepala, lagi-lagi digorok putus! Dan ketika Sudra maupun lainnya membelalakkan mata dengan ngeri dan marah maka di empat penjuru sudah terdengar jeritan-jeritan lain.

Golok Maut berpincah-pindah dengan cepat dan mencari Coa-ongya, mulai mengamuk dan membunuh-bunuhi pengawal dengan kejam. Dia menangkap dan menanya pengawal tapi selalu dijawab tak tahu, kemarahannya bangkit dan dibinasakanlah pengawal-pengawal itu, tanpa ampun. Dan ketika istana menjadi geger dan bayangan Golok Maut benar-benar merupakan hantu pencabut nyawa maka tubuh-tubuh bergelimpangan di bawan hujan yang semakin deras.

"Kepung dia, tangkap!"

"Kejar!"

Namun semua ini seolah terompet penyambung lidah beleka, yang berteriak dan berseru itu rata-rata tak ada yang berani mendekat. Bayangan Golok Maut yang mulai berkelebatan disekitar gedung istana menyambar-nyambar bagai siluman haus darah. Sudra dan teman-temannya mengejar namun Si Golok Maut berpindah-pindah cepat dan luar biasa hingga kakek itu memaki-maki. Mereka dibuat malu dan penasaran karena sampai sedemikian jauh mereka belum berhasil menangkap Si Golok Maut itu.

Jangankan menangkap, berhadapan dan bertanding saja belum. Golok Maut seolah menghindar atau mungkin mempermainkan mereka! Dan ketika tubuh pengawal bergelimpangan dan darah membanjir di istana maka Yalucang mengeluarkan bentakan dahsyat ketika satu saat bayangan Golok Maut dilihatnya melayang turun dari wuwungan yang tinggi.

"Blarr!"

Kakek itu menyemburkan apinya. ilmu Hwee-kang (Tenaga Api) dilepas dan dikeluarkan kakek ini, mulutnya meniup dan bentakannya tadi sudah menyertai api yang berkobar. Tapi ketika Golok Maut menangkis dari tangan kirinya bergerak tiba-tiba kakek ini terpental dan jatuh di sudut.

"Keparat, jahanam keparat!" Yalucang kakek si tinggi besar merah padam. "Kau hebat Golok Maut. Tapi jangan lari dan hadapi aku lagi. Hayo...!" Dan si kakek yang bangun menerjang lagi, tiba-tiba melihat lawannya berkelebat menjauhkan diri, memang tidak mau melayani Kakek ini. Karena begitu dilayani maka Sudra dan lain-lain pasti datang membantu. Dia bakal dikeroyok dan itu berbahaya.

Golok Maut memang sengaja berpindah-pindah dan mencari Coa-ongya sambil membunuh siapa saja yang menghadang di depan. Tapi karena Yalucang adalah kakek lihai dan tentu saja tidak segampang itu membunuh kakek ini seperti halnya membunuh para pengawal atau busu maka Golok Maut meninggalkan lawan dan kakek ini mencak-mencak, tak tahu kemana Golok Maut pergi namun tempat itu sudah dikepung ribuan orang.

Pasukan istana sudah bergerak dan jenderal serta panglima ikut membantu. Kegegeran yang terjadi di istana sungguh mengejutkan siapa saja dan hujan yang deras itu seakan menambah suasana jadi semakin menyeramkan saja. Dan ketika dua ribu orang sudah memagari tempat itu dan istana benar-benar terkepung maka Golok Maut akhirnya mulai tersudut.

Tokoh ini, seperti yang diketahui dari sepak terjangnya yang sudah-sudah adalah tokoh yang keras hati dan tak gampang menyerah. Golok Maut memang laki-laki gagah yang amat luar biasa. Maka ketika ruang geraknya mulai dipersempit dan para perwira serta jenderal mulai bergerak secara rapat akhirnya sikap lari seperti kucing yang selalu berpindah-pindah itu tak dapat diterapkan Si Golok Maut ini. Disitu ada orang-orang lihai seperti Mindra dan kawan-kawannya, Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko yang bukan tergolong orang-orang biasa itu. Maka ketika teriakan dan kepungan semakin rapat akhirnya pertemuan dengan lima pelindung Coa-ongya ini tak dapat dihindarkan lagi.

Golok Maut mula-mula bertemu Mindra. Kakek lihai dari India yang sudah memegang nenggalanya ini menggeram marah. Mindra merasa dipermainkan lawan karena sama seperti Yalucang tadi dia-pun ditinggal pergi setelah bertemu sebentar, terhuyung dan memaki ketika pukulannya ditangkis. Maka ketika mereka bertemu lagi dan Golok Maut tak dapat menghindar maka satu bentakan dan tusukan nenggala mendahului kemarahan kakek itu.

"Mampus kau!"

Golok Maut mengelak. Sekarang dia mengerutkan kening karena di mana-mana terdapat musuh. Dua ribu orang sudah mengepung dan baru kali itu istana dibuat guncang. Untuk menghadapi seorang saja mereka telah mengerahkan dua ribu orang, bukan main. Hal yang sebenarnya membuat malu! Maka ketika Golok Maut mulai berhadapan dengan kakek India itu dan para pengawal serta perwira bersorak maju maka Golok Maut berkilat matanya sedikit gugup.

"Duk!" nenggala kembali menyambar, ditangkis dan kakek itu terhuyung. Dan ketika Mindra bergerak dan menyerang lagi tiba-tiba Mo-ko kakak beradik muncul berkelebat.

"Bagus, bantu aku, Mo-ko. Tangkap dan bunuh jahanam ini!"

Mo-ko mengangguk. Mereka, seperti yang lain-lain tadi juga dipermainkan Si Golok Maut ini. Tadi mereka juga bertemu tapi segera ditinggal pergi, setelah dibuat terhuyung dan terjengkang. Hek-mo-ko malah terpelanting terguling-guling ketika Golok Maut menggerakkan senjatanya, Golok Penghisap Darah itu.

Dan ketika mereka mengejar namun tentu saja berhati-hati, maklum bahwa lawan bukanlah lawan sembarangan maka mereka melihat Mindra yang sudah berhadapan dengan Si Golok Maut itu, berkelebat dan datang menyerang dan duaribu pasukan bersorak. Banjir darah sudah terjadi namun mereka bangkit semangatnya, karena disitu banyak teman. Dan ketika Golok Maut harus berkelebatan karena Mo-ko kakak beradik juga sudah menyerangnya dengan tongkat di tangan maka pemuda ini menggerakkan goloknya yang menyilaukan mata itu.

"Crak-dess!"

Mo-ko sang adik berteriak. Ujung tongkatnya terbabat dan putus sejengkal, kaget melempar tubuh dan kakaknya berseru agar tidak menyambut golok di tangan lawan, hal yang sebenarnya sudah dilakukan iblis hitam itu namun Golok Maut mengejar dan menggerakkan goloknya dengan amat lihai. Dan ketika apa boleh buat tongkat harus bertemu golok maka seperti yang sudah diduga senjata di tangan iblis bermuka hitam ini putus, sementara tuannya sendiri melempar tubuh bergulingan.

"Jangan sambut goloknya, hindari jauh-jauh...!"

Mo-ko mendesis. Dia bangkit lagi dan was-was memandang lawan. Golok Maut tertawa mengejek dan sudah berkelebatan diantara mereka, cepat memutar goloknya dan mereka bertiga tak ada yang berani mendekat. Ngeri!

Mindra sendiri terpaksa menarik nenggalanya kalau golok maut menyambar, tak berani dan akibatnya desakan atau tekanan mereka berkurang. Dan ketika mereka hanya menjaga diri dan Golok Maut mulai melihat para pengawal yang berdatangan maka tokoh ini berkelebat dan membentak berjungkir balik, mundur kebelakang. Namun celaka, perwira dan panglima yang ada disitu memberi aba-aba. Mereka melepas panah dan ribuan panah berbahaya menjepret ke satu arah.

Golok Maut terancam dan dipaksa menangkis runtuh. Dan ketika dia berhenti sejenak dan tentu saja memberi kesempatan pada orang-orang seperti Mo-ko dan Mindra untuk menyerang dari belakang maka nenggala bergerak sementara tongkat juga menghantam, semuanya lewat belakang.

"Duk-dess!"

Golok Maut terhuyung. Nenggala mengenai punggungnya tapi terpental, begitu juga tongkat Mo-ko kakak beradik. Mereka bertemu kekebalan yang dipasang tokoh bercaping ini, yang melindungi dirinya dengan sinkang. Dan ketika mereka terbelalak tapi perwira dan panglima berteriak menyerang lagi maka Sudra berkelebat muncul disusul kakek tinggi besar Yalucang.

"Kepung dia! Jaga rapat-rapat...!"

Golok Maut tak dapat melarikan diri. Sekarang dua ribu pasang kaki sudah memagar betis, kemanapun dia lari kesitu pula senjata menyambar, tentu saja bukan dari dekat melainkan dari jauh, panah dan tombak yang dilepas sambil bersorak-sorai. Dan ketika Golok Maut terkepung dan apa boleh buat menghadapi semua lawannya maka lima kakek di depan membentak dan menerjang maju, mengeroyok.

"Golok Maut, serahkan dirimu. Atau kau mati kami cincang!"

"Benar, dan mintalah ampun, Golok Maut. Cepat sebelum kami semua kehabisan sabar!"

Golok Maut tak menjawab. Hujan senjata dari lima orang lawannya itu masih ditambah dengan hujan anak panah dan tombak dari mana-mana. Dari delapan lenjuru para pengawal dan perwira berterak-teriak. Hujan tak mereka hiraukan lagi dan terkepunglah Si Golok Maut itu. Tapi ketika laki-laki ini memutar senjatanya dan golok berkeredepan menyilaukan mata maka Mindra berteriak agar tidak menyambut cahaya putih yang menggiriskan itu.

"Awas...!"

Namun terlambat. Cambuk baja di tangan temannya terbabat putus, kakek Yalucang juga mencelat roda-gergajinya bertemu sinar golok itu, yang sudah berkelebat dan menyambar luar biasa cepat. Dan ketika mereka melempar tubuh bergulingan sementara Golok Maut membentak dan melengking tinggi tiba-tiba barisan pengawal yang ada di depan diterjang roboh.

"Minggir!"

Pengawal berteriak ketakutan. Mereka melepas panah-panah berbahaya namun semua disapu runtuh, rontok oleh kilauan golok yang membungkus Si Golok Maut itu. Dan ketika mereka berteriak dan coba mengelak namun gagal maka sebelas diantaranya roboh tanpa kepala.

"Crat-crat-crat!"

Mengerikan sekali. Dua ribu pengawal tersentak melihat kejadian itu. Sebelas kepala menggelinding dan pisah dari tubuhnya, begitu cepat dan luar biasa. Dan ketika mereka terkejut sementara disana Mindra dan kawan-kawannya masih bergulingan melempar tubuh maka Golok Maut bergerak dan berjungkir balik menerjang berikutnya.

"Ah!"

"Awas...!"

Semua tiba-tiba menyibak. Golok Maut berjungkir balik turun dikerumunan orang-orang ini, yang semua tiba-tiba membalik dan berhamburan melompat mundur. Dan ketika tempat itu kosong dan Golok Maut mendengus maka tokoh ini sudah berloncatan dan mengerahkan ginkangnya untuk terbang dari satu kepala ke kepala yang lain.

"Hei, jangan buka kepungan. Tutup rapat-rapat!"

Mindra, yang terkejut melihat semua pengawal tiba-tiba mundur mendadak membentak marah. Kakek ini paling dulu melompat bangun dan menggeram menggerakkan nenggalanya lagi. Dan ketika dia berkelebat dan empat temannya yang lain juga bergerak dan marah membentak Si Golok Maut maka kakek ini melepas pukulan berbahayanya, Hwi-seng-ciang.

"Dess!"

Golok Maut bergoyang. Hwi-seng-ciang membokongnya dibelakang dan saat itu pukulan-pukulan lain juga datang menyambar-nyambar. Mo-ko kakak beradik melepas Pek-see-kang mereka, disusul gerengan kakek tinggi besar Yalucang yang melepas Hwee-kang (Pukulan Api). Dan ketika semuanya hampir bersamaan mendarat di tubuh tokoh bercaping ini dan Golok Maut tak sempat menangkis karena maju ke depan maka semua pukulan itu menghantam keras dan amat hebatnya.

"Des-dess!"

Golok Maut terhuyung. Dia membalik dan secepat kilat tangan kirinya tiba-tiba membalas. Satu sinar kuning menyambar lima orang itu dan Mindra terkejut, mengelak dan berteriak pada teman-temannya agar cepat menghindar. Itulah Kim-kong-ciang atau Pukulan Sinar Emas, hebatnya bukan main karena dari jarak setombak saja pakaian dan baju mereka sudah berkibar.

Pengawal menjerit berpelantingan karena tahu-tahu tubuh mereka terangkat, terdorong dan terlempat oleh angin pukulan itu, padahal baru angin pukulannya saja, keserempet! Dan ketika mereka terbanting bergulingan dan mengaduh menjerit-jerit maka disana Yalucang terlempar sementara Mo-ko terpental karena kalah cepat berkelit.

"Bres-bress!"

Dua orang itu mengeluh. Golok Maut membalas dan sekali balasannya cukup membuat mereka gentar. Tapi ketika tokoh itu hendak melepas pukulannya lagi dan menerjang lawan tiba-tiba empat puluh perwira menjepretkan anak panah mereka berbareng.

"Jret!"

Gendewa yang dipentang mengeluarkan suara bergetar. Empat puluh anak panah menyambar dari delapan perjuru dan bercuitanlah panah-panah yang besar itu. Mereka adalah perwira-perwira pilihan yang mahir memainkan senjata jarak jauh itu. Tapi ketika semua mengenai tubuh Si Golok Maut dan runtuh ke tanah, bertemu kekebalan mengagumkan maka Golok Maut menggeram dan tiba-tiba berkelebat ke arah mereka.

"Kalian manusia-manusia jahanam!"

Empat puluh perwira itu terkejut. Mereka berteriak dan melepas anak-anak panah lagi, kini bukan sebatang melainkan dua batang. Jadi delapan puluh batang panah menyambar Si Golok Maut itu. Tapi ketika Golok Maut memutar senjatanya dan sinar putih yang menyilaukan itu melindungi dirinya tiba-tiba delapanpuluh anak panah rontok sementara cahaya atau sinar putih itu masih menyambar ke depan, cepat dan ganas, luar biasa.

"Augh... crat-crat-crat!"

Dua puluh tiga kepala tiba-tiba putus. Golok Maut membabatnya dalam sekali ayunan panjang, begitu cepat dan tak dapat diikuti mata dan tahu-tahu dua puluh tiga kepala menggelinding. Semuanya sudah pisah dari tubuh! Dan ketika tujuh belas yang lain terbelalak pucat dan nyawa seakan terbang dari tubuh maka mereka melempar tubuh menyelamatkan diri.

"Duk-duk-bress!"

Tujuh belas perwira ini saling tumbuk. Mereka menjerit dan berteriak sendiri tapi untunglah saat itu Mindra dan empat temannya datang lagi menolong. Lima kakek ini ngeri tapi juga marah melihat sepak terjang Si Golok Maut. Pemuda bercaping ini sungguh ganas dan kejam, benar-benar bertangan besi! Dan ketika mereka maju lagi dan panglima-panglima yang ada dibelakang membentak pasukannya agar melepas panah-panah atau tom-hoi, maka Golok Maut sudah dikeroyok.

"Jangan biarkan dia lolos. Pagar betis! Semua mengepung rapat-rapat!"

Keadaan benar-benar menggemparkan. Keganasan dan kekejaman Golok Maut ini yang tak kenal ampun sungguh mendirikan bulu roma. Kini laki-laki itu berkelebatan tapi ditahan lima tokoh lihai itu. Mindra berusaha keras untuk mencegah Golok Maut melarikan diri, karena laki-laki itu tampak bermaksud meninggalkan pertempuran dan melarikan diri, hal yang memang akan dilakukan Si Golok Maut itu.

Dan ketika Mindra berseru pada empat temannya agar mengurung Golok Maut rapat-rapat maka Golok Maut tak dapat keluar karena mereka ganti-berganti menyerangnya. Ditangkis yang satu menyerang yang lain, dihadapi yang lain maju lagi yang lainnya lagi, begitu terus-menerus, tak ada yang berani berhadapan langsung karena mereka menghindari keras pertemuan senjata itu. Kutungnya cambuk dan terbabatnya tongkat sudah lebih dari cukup untuk memberi tahu mereka perihal kehebatan golok di tangan Si Golok Maut itu. Dan karena serangan mereka bersifat mengganggu dan Golok Maut tentu saja marah maka pukulan-pukulan Hwee-kang maupun Pek-see-kang atau Hwi-seng-ciang menyambar dari kelima orang itu.

"Keparat, kalian pengecut, Mindra. Tak tahu malu. Curang!"

"Hm, tak ada yang curang. Kau telengas dan kejam, Golok Maut. Kau berdarah dingin!"

"Kalian yang membuat aku begini. Kalian, ah... kubunuh kalian, siut-plak-dess!" dan Golok Maut yang membalik menerima pukulan dari belakang tiba-tiba berseru keras membabat panah-panah yang berhamburan, menggerakkan tangan kirinya dan lepaslah pukulan Kim-kong-ciang menyambut pukulan Hwi-seng-ciang.

Sudra menghantamnya dari belakang dan kakek itu terpental, berteriak kaget. Dan ketika yang lain maju menubruk namun Golok Maut memutar goloknya maka tak dapat dihindari lagi kali ini kelima senjata lawan bertemu sinar goloknya itu.

"Awas... cring-crak-plak!" dan cambuk serta tongkat yang terbabat kutung tiba-tiba disusul lengkingan panjang lima kakek itu.

Golok Maut melakukan gerak luar biasa yang disebut Le-hi-ta-teng (Ikan Le Meloncat), merundukkan tubuhnya dan dari bawah ia menyapu semua senjata lawannya itu. Tangan kiri baru saja bergerak melepas Kim-kong-ciang dan sisa angin pukulan itu masih tetap menyambar, hebat bukan main. Dan ketika kelima kakek itu terkejut dan mereka cepat melempar tubuh bergulingan maka hujan panah yang kembali menyambar diterima dan disambut kelebatan golok yang meruntuhkan atau merontokkan senjata jarak jauh itu. Lalu begitu lawan terbelalak dan terperangah melihat kehebatan Si Golok Maut ini tiba-tiba Golok Maut berjungkir balik dan terbang menyambar ke pasukan sebelah kiri yang bersenjata tombak.

"Minggir...!"

Gegerlah pasukan tombak. Mereka tiba-tiba menyibak dan semuanya berteriak mundur, memutar tubuh. Tapi ketika Golok Maut melayang turun dan senjatanya melindungi tubuh dengan rapat sekonyong-konyong terdengar bentakan atau seruan,

"Lepaskan jaring!"

Dan benda-benda lebar hitam tiba-tiba menakup kepala Si Golok Maut dari segala penjuru. Si Golok Maut terkejut karena waktu itu dia baru saja berjungkir balik, turun ke tanah ketempat pasukan tombak ini. Maka begitu puluhan jaring tiba-tiba melayang ke bawah dan menakup kepalanya tiba-tiba Golok Maut dibuat tersentak dan tentu saja senjata ditangannya itu bergerak membabat.

"Bret-bret!"

Tujuh jaring robek. Golok Maut dapat keluar tapi jaring-jaring yang lain kembali berhamburan, susul-menyusul dan tentu saja laki-laki bercaping itu terkejut. Dan ketika dia marah dan membentak menggerakkan goloknya lagi tiba-tiba Mindra dan keempat kawannya itu telah berkelebat dan tertawa dengan jaring menyambar pula, di tangan kiri!

"Ha-ha, betul, Golok Maut. Sekarang kami dapat meringkusmu!"

Si Golok Maut kaget. Di atas kepalanya menyambar tak kurang dari tigapuluh jaring, robek yang satu muncul lagi yang lain. Semuanya bertubi-tubi dan dilepaskan dari jarak jauh. Dan ketika dia dibuat sibuk dengan membabat jaring-jaring ini sementara Mindra dan kawan-kawan mendadak juga memegang jaring dan menyerang dirinya dengan cara yang licik maka Golok Maut tersentak ketika jaring yang dilepas kakek India itu menakup kepalanya.

"Rrt!" Golok Maut terjebak. Mindra tertawa bergelak dan Golok Maut tak dapat melepaskan diri.

Saat itu empat temannya juga melempar jaring dan kaki serta tangan tokoh bercaping itu terjirat. Kejadian berlangsung demikian cepat dan semuanya itu dapat terjadi karena disamping kelima kakek ini masih menyambar puluhan jaring-jaring lain, jadi waktu itu Golok Maut dibuat sibuk dengan jaring-jaring diluar kelima kakek ini. Maka begitu kepalanya tertutup dan lemparan jaring kakek India itu jelas berbeda dengan lemparan jaring para pengawal yang bertenaga biasa maka Golok Maut terjebak dan tiba-tiba tak dapat menggerakkan tubuhnya!

"Ha-ha, lepaskan golokmu. Atau kau mati!"

Pengawal dan panglima bersorak. Mereka melihat Golok Maut terjebak seperti seekor harimau yang tak berdaya lagi. Laki-laki itu terjirat dan seluruh tubuhnya terikat. Mereka tiba-tiba berhamburan dan maju dengan senjata di tangan, menusuk dan membacok karena saat itu, Mindra dan lain-lain sedang berkutat mempertahankan jaring, bersitegang dan menarik agar Golok Maut itu tak dapat melepaskan diri. Tapi ketika senjata golok atau tombak mengenai tubuh laki-laki ini ternyata semuanya patah-patah dan Golok Maut masih dapat menendang!

"Plak-des-augh!"

Tombak dan golok patah-patah tak keruan. Mindra berteriak agar para pengawal itu mundur, karena hal itu tak dikehendakinya. Dia ingin menangkap hidup-hidup tokoh bercaping ini untuk diserahkan kepada Coa-ongya, karena tentu Coa-ongya lebih menghendaki Si Golok Maut itu ditangkap hidup-hidup daripada sudah menjadi mayat. Namun karena para perwira dan pengawal sudah terlanjut bersorak-sorai dan mereka itu membacok atau menusuk Golok Maut tapi gagal maka mereka yang terkena tendangan tiba-tiba menjerit dan celaka sekali berjatuhan menimpa Mindra dan empat kawannya.

"Keparat.... bres-bress."

Kakek itu mengumpat-umpat. Baik dia maupun yang lain otomatis terganggu kejadian ini, tegangan mengendor dan jaring pun melonggar. Dan karena itu cukup bagi Si Golok Maut untuk membebaskan diri maka sekali membentak tiba-tiba tokoh ini sudah meronta dan bebas, benar-benar dapat keluar lagi. Dan begitu Golok Maut menggeram dan berkelebatan kesana-sini maka puluhan pengeroyok yang tadi membacok atau menusuk tubuhnya menjadi korban!

"Crat-crat!"

Jerit ngeri dan teriakan panjang ini menggema di empat penjuru. Golok Maut telah bersikap beringas dan kemarahannya tadi tak dapat ditahan lagi. Dia hampir celaka oleh jaring kelima kakek iblis itu namun untung para pengawal yang bodoh-bodoh ini menolongnya. Mereka tanpa sadar mengganggu kelima kakek itu dan ini berarti kebebasan baginya. Maka begitu keluar dan golok bergerak naik turun maka empatpuluh tubuh sudah bergelimpangan tak bernyawa.

"Minggir... minggir. Kalian bodoh!" kakek India berteriak-teriak, marah dan mengumpat-caci dan Pek-mo-ko maupun yang lain-lain juga membentak dan memaki-maki kebodohan para pengawal tadi. Mereka melepaskan buruan dan kini Golok Maut mengamuk, memaksa mereka mundur dan Mindra sendiri maupun empat temannya terpaksa bergulingan menjauhkan diri.

Maklumlah, kemarahan Golok Maut tak dapat dibendung lagi dan laki-laki itu berusaha mendekati mereka, dengan golok yang berlumuran darah tapi cepat kering lagi karena dihisap oleh kekuatan aneh di tubuh golok itu, kekuatan iblis, daya gaib! Dan karena Golok Maut benar-benar marah dan pasukan cerai-berai tiba-tiba Golok Maut melepas tiga benda bulat ke arah Mindra dan kawan-kawan yang sedang bergulingan.

"Dar-dar!"

Granat tangan meledak. Kiranya Golok Maut menggunakan senjata penyelamatnya itu, senjata terakhir. Dia melepas lagi beberapa granat tangan ke arah pengawal yang tentu saja tiba-tiba berhamburan dan menjerit-jerit. Mereka yang terkena segera terlempar roboh, luka parah. Mindra terkejut dan bergulingan semakin menjauhkan diri saja. Keempat temannya juga begitu dan asap tebal tiba-tiba menghalangi pandangan. Dan ketika beberapa granat lagi meledak dan duaribu orang itu cerai-berai maka Golok Maut lenyap dan entah menghilang kemana.

"Kejar! Tangkap Si Golok Maut itu. Jangan sampai lari!"

Namun siapa yang mengejar? Dilempari granat itu saja mereka sudah panik, belum lagi oleh keganasan Si Golok Maut yang amat nggegirisi. Maka begitu semuanya berusaha menyelamatkan diri sendiri-sendiri dan Mindra hanya berteriak mengumpat caci maka ketika asap tebal menghilang Si Golok Maut itu juga tak tampak bayangannya lagi.

Tiga ratus orang tewas dengan tubuh malang-melintang. Seratus diantaranya putus tanpa kepala, darah membanjir dan menyatu dengan air hujan yang membasahi tanah. Dan ketika yang lain tertegun dan ngeri maka bayangan Coa-ongya muncul di balkon gedungnya.

"Bodoh! Gentong-gentong kosong semua! Heh, mana itu Si Golok Maut, Lui-ciangkun? Mana binatang jahanam keparat itu? Dan kau..!" pangeran ini menuding Pek-mo-ko dan lain-lainnya itu. "Bagaimana Si Golok Maut sampai lolos, Mo-ko? Kenapa kalian membiarkannya lari dan tidak mengejar? Keparat, kalian hanya pandai memakan uang. Tak becus menangkap satu orang saja dan layaknya anak-anak kecil yang goblok dan tolol!"

Dan ketika semua orang tertegun dan tentu saja tak berani bercuit, Coa-ongya marah-marah dan menuding-nuding mereka semua maka hujan di malam yang mengerikan itu reda. Coa-ongya marah bukan main di atas balkon dan mencaci-maki mereka semua. Mindra dan saudaranya juga disemprot! Namun ketika yang lain ini juga diam saja dan tak bergeming maka muncullah Kun-taijin yang membujuk dan memberi hormat di depan pangeran ini.

"Mereka tak bersalah. Golok Maut memang terlalu lihai. Biarlah paduka masuk kembali dan biarkan aku bercakap-cakap dengan mereka."

"Tidak. Aku justeru ingin mencaci-maki mereka ini, taijin. Para pembantuku itu juga gentong-gentong kosong yang tak bisa apa-apa. Ah, mereka itu anjing penjaga yang bisanya makan melulu!"

"Sst, tak perlu mengumbar marah disini, pangeran. Semuanya sedang sedih dan paduka masuk saja ke dalam. Mo-ko dan kawan-kawannya itu juga terpukul. Sebaiknya paduka tak usah menyakitkan hati mereka dan aku khawatir kalau mereka pergi karena tersinggung!"

Coa-ongya terbelalak. Akhirnya dia terkejut juga ketika Kun-taijin bicara seperti itu. Memang repot kalau Mo-ko dan kawan-kawannya sampai pergi meninggalkan dirinya, tentu tanpa pelindung lagi dan itupun berarti tak baik. Maka ketika dia dibujuk lagi dan dengan halus menteri Kun bicara menasihati akhirnya pangeran ini sadar dan insyaf, kembali menghilang dan dialah tadi yang memberi perintah agar Golok Maut diserang dengan jaring.

Pengalamannya masa lalu membuat pangeran ini ingin mengulang keberhasilannya. Tapi bahwa Golok Maut dapat lolos juga dan tokoh bercaping itu memiliki granat untuk menyelamatkan dirinya maka banjir darah malam itu menjadi buah bibir semua orang. Istana benar-benar terguncang dan ini untuk kedua kalinya Si Golok Maut itu beraksi, bukan main beraninya. Bahkan berhasil membunuh Ci-ongya, satu dari dua orang yang dibenci! Dan ketika malam itu mayat-mayat yang tewas diurus dan Kun-taijin turun tangan meredakan Coa-ongya maka keesokannya istana dan seluruh rakyat mengibarkan bendera tanda berkabung.

* * * * * * *

"Begitulah," Kun-taijin mengakhiri ceritanya, menarik napas dalam. "Sri baginda dan Coa-ongya marah-marah, Beng Tan. Sri baginda marah karena Golok Maut dianggap menghina istana sedang Coa-ongya karena adiknya dibunuh. Kami tak dapat berbuat apa-apa karena Golok Maut benar-benar luar biasa. Dikeroyok duaribu orang dia dapat melarikan diri juga. Mengejutkan!"

Beng Tan termangu-mangu. Mendengar semua cerita ini memang dia dapat memaklumi. Golok Maut amat lihai dan hanya dialah yang dapat menghadapi. Itu-pun kalau dia tak memiliki Pek-jit-kiam, Pedang Matahari, tak mungkin dia dapat menandingi lawannya itu. Dan ketika Kun-taijin selesai bercerita dan Swi Cu yang ada disampingnya juga termangu dan ngeri maka Kun-taijin bertanya pada pemuda itu apa yang selanjutnya hendak dilakukan.

"Bagaimana menurut pendapat taijin, apa yang harus kulakukan," Beng Tan balas bertanya.

Memang tidak tahu apa yang harus dilakukan karena khawatir kalau ia meninggalkan istana jangan-jangan sri baginda marah lagi. Gara-gara keterlambatannya datang di istana terjadilah semuanya itu. Ah, kalau saja dia ada disitu! Beng Tan bergidik melihat sepak terjang Si Golok Maut ini.

"Hm, apa yang harus kuberikan?" Kun-taijin menarik napas dalam, kembali menekuri keadaan di depan. "Aku tak dapat memerintahkan apa-apa, Beng Tan. Hanya kaisar yang berhak memerintahmu. Kau pengawal pribadinya, aku hanya sekedar mewakili sri baginda menceritakan peristiwa ini kepadamu!"

"Benar, tapi setidak-tidaknya kau dapat memberikan pandangan, taijin. Apa yang kira-kira harus kuperbuat."

"Sebaiknya kau menghadap sri baginda saja. Tanya apa sarannya."

"Tapi sri baginda baru marah-marah. Aku tak enak!"

"Bukan sekarang, Beng Tan, melainkan besok. Biar kuantar dan besok sri baginda tentu sudah lebih dingin."

"Hm," Beng Tan mengangguk. "Benar, taijin. Tapi agaknya satu yang diperintahkan baginda, aku harus menangkap atau membunuh Si Golok Maut itu!"

"Kukira memang begitu, dan kaulah satu-satunya pemilik Pedang Malayan. Golok Penghisap Darah di tangan Si Golok Maut itu tak ada tandingannya. Kau harus bergerak!"

Beng Tan mengangguk. Kun taijin akhirnya bicara sana-sini lagi memberi petunjuk sebelum dia disuruh istirahat. Dan ketika malam itu Beng Tan ada di kamarnya dan Swi Cu mendapat kamar di sebelah maka malam itu dua muda-mudi ini bercakap-cakap.

"Golok Maut memang terlalu. Keberingasannya sudah melewati batas. Hm, orang sedunia perlu menghukum pemuda ini dan mencincangnya sebelum mampus!"

"Sabar," Beng Tan berkedip memandang lampu-lampu teng yang mulai dipasang para pengawal. "Sepak terjang Si Golok Maut tentu didasari sesuatu, Cu-moi. Dan aku melihat api dendam yang besar sekali di hatinya. Permusuhannya berawal dengan Coa-ongya dan Ci-ongya itu. Dan sekarang satu di antara dua musuhnya itu telah dibunuh!"

"Dan kau membelanya?"

"Eh, siapa membela?"

"Kau menyuruh aku sabar, koko. Padahal iblis macam itu tak perlu disabari. Dia harus dibunuh dan habis perkara. Apalagi dia juga memperkosa suciku!"

Swi Cu tiba-tiba menangis, marah kepada kekasihnya dan buru-buru Beng Tan memeluk. Dia berkata bahwa bukan begitu maksudnya, sepak terjang Si Golok Maut tak patut dibela tapi Beng Tan bermaksud membicarakan sebab-sebab paling dalam kenapa tokoh yang ganas itu dapat sedemikian kejam. Membunuh-bunuhi orang-orang she Coa dan Ci hanya karena permusuhannya dengan dua orang pangeran di istana itu. Dan ketika Swi Cu menjawab bahwa semuanya itu tak perlu diketahui karena Golok Maut pada dasarnya adalah iblis maka Beng Tan menarik napas panjang tak mau berdebat.

"Baiklah... baiklah. Dia memang iblis. Tapi sebelum aku diperintahkan membunuh Si Golok Maut ini aku ingin mengetahui kenapa dia bisa sampai begitu." lalu menunduk dan mencium kekasihnya.

Pemuda ini mengajak bicara yang lain, percuma bicara tentang itu karena Swi Cu sudah terlampau dendam terhadap si tokoh bercaping itu. Dugaan mereka bahwa Golok Maut memperkosa Wi Hong membuat gadis ini tak mau mendengar Golok Maut dibela sekecil apapun, apalagi oleh Beng Tan, pemuda yang menjadi kekasihnya sekaligus calon suaminya. Ah, tak boleh Beng Tan mencari kebaikan-kebaikan Si Golok Maut, betapa pun kecilnya. Dan ketika mereka bicara yang lain dan malam itu pemuda ini menunggu fajar maka keesokannya dia sudah ditunggu menteri Kun.

"Dapat tidur, Beng Tan? Nyenyak tidurnya?"

"Ah," Beng Tan tersenyum, melirik Swi Cu. "Kami semalam dapat tidur enak, taijin. Meskipun tentu saja penuh dengan mimpi-mimpi buruk. Kami masih terkejut oleh kejadian di istana!"

"Hm, aku juga. Dapat terlelap sejenak tapi setelah itu ingat kau. Sudahlah, kita menghadap sri baginda dan kutemani kau untuk menerima titahnya."

Beng Tan mengangguk. Dia menyuruh Swi Cu tinggal di situ tapi gadis ini tak mau, menolak dan ingin ikut bersama. Beng Tan memperingatkan bahwa kemarin kaisar memaki-maki gadis itu. Tapi ketika Swi Cu berkata bahwa dia tak menaruh di hati semua ucapan kaisar karena keadaan sedang dirundung malang maka Beng Tan mengangguk dan membiarkan kekasihnya ikut.

"Baiklah, tapi jangan marah kalau sri baginda masih mengeluarkan kata-kata pedas!"

"Aku tak apa-apa, asal selalu di sampingmu!"

Dan ketika Kun-taijin tersenyum karena ucapan itu penuh arti maka ketiganya berangkat dan sudah menemui sri baginda, yang pagi itu ternyata sudah duduk di kursi singgasananya, sedikit cerah meskipun sorot matanya masih menampakkan sisa-sisa kecewa dan marah.

"Maaf, kemarin aku tak dapat menahan diri, Beng Tan. Dan, ah... betapa cantiknya kekasihmu ini!"

Beng Tan berlutut. Dia tersenyum dan cepat memberi hormat bersama Kun-taijin. Swi Cu merah mukanya namun gembira di hati, kaisar bersikap ramah dan sikapnya sungguh berbeda dengan kemarin. Dan ketika semua memberi hormat dan kaisar menerima, menyuruh mereka berdiri maka Beng Tan bertiga dipersilahkan duduk.

"Aku sudah mendengar maksud kedatanganmu, Kun-taijin memberitahuku semalam. Nah, katakan bagaimara pandanganmu setelah mendengar semuanya ini."

"Hamba ingin meminta pendapat paduka, tak berani mendahului."

"Hm, aku pribadi ingin menyuruhmu menangkap dan membunuh Si Golok Maut itu, Beng Tan. Bawa kepalanya kemari dan tenangkan suasana!"

"Benar, hamba akan melaksanakan titah paduka, sri baginda. Tapi mohon keterangan kenapa Golok Maut itu mempunyai permusuhan demikian mendalam terhadap Coa-ongya maupun Ci-ongya?"

"Hm, ini..." kaisar mengerutkan kening, tiba-tiba tertegun. "Aku tak ingin menceritakannya, Beng Tan. Dan barangkali tak perlu bagimu. Yang jelas Golok Maut telah menghina dan mengacau di istana, untuk ini saja dia sudah dapat dianggap pemberontak dan musuh berat!"

"Apakah hamba tak boleh mengetahui asal mulanya?"

"Itu urusan pribadi adikku. Kalau kau mau bertanya silahkan saja kepada yang bersangkutan. Dan, eh... bukankah tak perlu semuanya ini, Beng Tan? Kau kutugaskan untuk menangkap atau membunuh Si Golok Maut itu, bukan menyelidiki. asal mula permusuhan ini!"

"Benar, tapi maaf, sri baginda. Sebagai orang kang-ouw yang menjunjung tinggi nilai-nilai kegagahan dan keadilan mestinya hamba ingin tahu kenapa Golok Maut itu dapat bersikap demikian kejam. Siapa yang bersalah dan bagaimana sebenarnya duduknya perkara."

"Hm-hm!" kaisar menggeleng-geleng kepala. "Urusan ini tak ingin kubicarakan, Beng Tan. Karena Golok Maut harus ditangkap atau dibunuh. Dia telah mengacau istana, membunuh dan menghina aku!"

"Benar..." Beng Tan mau bicara lagi, mendesak tapi Kun-taijin tiba-tiba menyenggol lengannya, batuk-batuK dan memberi isyarat agar dia tidak banyak bertanya. Deheman halus dari menteri itu menyadarkan Beng Tan bahwa tak sepatutnya dia mendesak kaisar. Dia sudah menerima perintah dan dia tinggal melaksanakan. Dan ketika Beng Tan sadar dari menahan kata-katanya maka menteri itu mendahului berkata,

"Maaf, kami mengerti, sri baginda. Tapi Beng Tan barangkali hendak bertanya apakah dia harus meninggalkan istana lagi atau tidak. Maklumlah, Beng Tan khawatir paduka marah-marah kalau Golok Maut datang sementara dia pergi! Bukankah begitu, Beng Tan?"

Pemuda ini mengangguk. Dengan cepat dia tanggap akan pertanyaan Kun-taijin itu. Bahwa dia harus mengikuti perintah kaisar dan memang inilah yang hendak ditanyakan, apakah dia harus mencari Golok Maut dan membawanya ke istana ataukah menunggu Golok Maut itu datang lagi di istana dan dia menghadapi. Dan karena pertanyaan itu tepat dan Beng Tan tentu saja mengangguk maka pemuda ini membenarkan dan sadar.

"Benar, begitu maksud hamba, sri baginda. Bagaimanakah caranya hamba melaksanakan tugas ini."

"Kau harus pergi lagi, dan secepatnya kembali!"

"Tapi kalau dia datang?"

"Tidak, Golok Maut baru saja mengacau, Beng Tan. Tak mungkin dia datang dalam waktu sedekat ini. Dan aku hendak memerintahmu langsung ke Lembah Iblis, tempat Si Golok Maut itu tinggal!"

"Lembah Iblis?" Beng Tan terkejut.

"Ya, Lembah Iblis, Beng Tan. Aku mendapat keterangan bahwa Golok Maut bertempat tinggal disana. Dia pasti kembali ke sarangnya setelah gagal melakukan balas dendamnya disini, karena adikku Coa-ongya masih hidup!"

Beng Tan tertegun.

"Dan kau bawa limaribu pasukan kesana!"

Beng Tan semakin terkejut. "Apa?" pemuda ini membelalakkan mata. "Bersama pasukan, sri baginda? Hamba harus menangkap Si Golok Maut itu bersama demikian banyak orang?"

"Aku tak mau gagal, dan aku juga tidak menyangsikan kepandaianmu. Tapi karena Lembah Iblis merupakan tempat yang tersembunyi dan aku tak ingin iblis itu pergi meninggalkanmu maka limaribu orang yang akan mengiringimu itu bertugas hanya mengepung lembah!"

"Tapi hamba tak suka!" Beng Tan memprotes, tiba-tiba bangkit berdiri. "Hamba sendiri sanggup membawa Si Golok Maut itu, sri baginda. Dan hamba bersumpah akan membawanya kehadapan paduka!"

"Tapi kau gagal ketika bertemu," kaisar bersinar-sinar, memandang tajam. "Aku tak ingin hal itu terulang, Beng Tan. Dan terus terang saja kali ini aku tak mau gagal! Lui-ciangkun dan Kwan-goan-swe (jenderal Kwan) akan menyertaimu. Dan mereka itulah yang membawa pasukan!"

Beng Tan tertegun. Tiba-tiba dia merasa terpukul karena seolah kaisar kurang percaya kepadanya. Dia diberi bantuan limaribu orang untuk menangkap si Golok Maut, hal yang tidak main-main lagi dan tentu saja membuat pemuda itu marah. Tapi ketika kaisar berkata lagi bahwa kaisar tidak meragukan kepandaiannya melainkan semata mengepung Lembah iblis agar Golok Maut tak dapat melarikan diri maka perlahan-lahan muka Beng Tan pulih kembali.

"Aku tidak menyangsikan kepandaianmu, dan aku bukannya tidak percaya. Tapi ingat, Golok Maut cerdik dan licik memiliki g ranat-granat tangan, Beng Tan. Dengan itu dia dapat lari dan meloloskan dirinya. Dan aku tidak menghendaki ini. Aku ingin kau membereskannya dan tidak bekerja dua tiga kali!"

"Hm, tapi sekian banyak orang..." Beng Tan termangu-mangu. "Memalukan hamba, sri baginda. Membuat hamba tak ada muka untuk menghadapi Si Golok Maut itu. Sebaiknya begini saja. Untuk menjaga lembah hamba hanya minta bantuan beberapa orang saja, tiga atau empat orang cukup. Orang-orang berkepandaian tinggi seperti Pek-mo-ko dan lain-lainnya itu yang membantu Coa-ongya!"

"Hm, begitukah?" kaisar memandang ragu, cepat diberi isyarat rahasia oleh Kun-taijin, yang mengedip-ngedip dan menunjuk berulang-ulang ke arah Beng Tan. "Baiklah, Beng Tan. Kuikuti permintaan-mu tapi bagaimana tanggung jawabmu bila sekali ini gagal!"

"Hamba akan menyerahkan kepala hamba!" Beng Tan tiba-tiba berseru gemas. "Hamba yakin tak akan gagal, sri baginda. Asal benar-benar bertemu dengan Si Golok Maut itu di Lembah Iblis!"

"Bagus, janjimu kuterima. Kalau begitu pergilah ke tempat adikku dan mintalah bantuan kelima pelindungnya itu agar menemanimu!"

Swi Cu terkesiap. Kekasihnya telah mempertaruhkan kepala kalau kali ini tugas gagal, padahal Golok Maut itu lihai dan dulu mereka berimbang. Bahkan Beng Tan sendiri mengakui bahwa sebenarnya sukar merobohkan Si Golok Maut itu karena masing-masing sama dan setingkat. Golok Maut memiliki Golok Penghisap Darah itu sementara Beng Tan dengan pedang Pek-jit-kiamnya. Baik senjata mau-pun kepandaian sebenarnya berimbang. Dulu mereka sama-sama roboh ketika bertanding di pulau. Tapi karena Beng Tan sudah menyerahkan janjinya dan agaknya pemuda itu juga gemas dan marah karena sepak terjang Golok Maut benar-benar dinilai keterlaluan maka pagi itu Beng Tan menemui Coa-ongya, bersama Swi Cu Dan ketika dia pergi berdua karena Kun-taijin ditahan kaisar maka terdengar kisik-kisik diantara sri baginda dengan menteri itu.

"Kenapa kau memberiku isyarat?"

"Maaf, agar supaya Beng Tan tidak tersinggung, sri baginda. Sebab menolak begitu saja tentu tidak baik. Betapa pun dia adalah pemuda hebat yang satu-satunya dapat menandingi Golok Maut!"

"Hm, aku sebenarnya penasaran. Baiklah, kuharap dia sudah bertemu adikku dan rencana tidak akan gagal."

Beng Tan sudah menghadap Coa-ongya. Dia tentu saja tidak mendengar pembicaraan ini yang mungkin akan menimbulkan kecurigaannya. Maklumlah, kaisar tak bersuara keras-keras dan Kun-taijin juga tampak berhati-hati. Dan ketika dia tiba di gedung pangeran itu dan Coa-ongya sudah menyambut maka bayangan lima kakek pelindung tampak berkelebatan disekitar sang pangeran.

"Aha, kau, Beng Tan? Sudah datang?"

Beng Tan memberi hormat. Coa-ongya yang berdiri menyambut dan bergegas bangkit dari kursinya membuat Beng Tan agak tersipu. Sebenarnya dia sudah mengenal pangeran ini kecuali yang bersangkutan. Coa-ongya belum pernah bertemu muka tapi agaknya sudah dapat menduga siapa dia, tentu dari para pembantunya. Dan ketika dia memberi hormat dan Coa-ongya bersinar-sinar memandangnya gembira mendadak pangeran itu tertegun melihat Swi Cu, sepasang matanya mengeluarkan cahaya aneh.

"Siapa dia?"

"Maaf," Beng Tan menjura. "Kekasih hamba, ong-ya. Swi Cu."

"Hm, cantik sekali!" sang pangeran memuji tak canggung-canggung, tiba-tiba tertawa dan menarik lengan Beng Tan. "Mari... mari duduk, Beng Tan. Aku sudah mendapat kabar tentang kedatanganmu dari sri baginda kaisar!"

Swi Cu berdetak. Beng Tan sudah ditarik pangeran itu dan duduk menghadapi meja besar, diperkenalkan kepada kelima kakek-kakek itu tapi Beng Tan tersenyum. Tentu saja dia mengenal dan bahkan pernah bergebrak! Dan ketika Sudra maupun saudaranya melengos dan merah bertemu pemuda ini maka Swi Cu agak berdebar melihat kilatan mata Coa-ongya yang agak lain dan membuatnya tidak enak.

"Siapa kekasihmu ini? Dari mana?"

Beng Tan tersenyum. Dengan wajar dia menjawab bahwa Swi Cu adalah wakil ketua Hek-yan-pang, berkata bahwa gadis itu dikenalnya di Hek-yan-pang pula, ketika diserbu dan mendapat amukan Golok Maut. Dan ketika Coa-ongya terkejut tapi merah mukanya mendengar nama Golok Maut disebut-sebut maka perhatiannya terseret dan mengepal tinju dengan mata berapi.

"Ah, kiranya Hu-pangcu dari Perkumpulan Walet Hitam. Maaf, aku tak tahu, nona. Kukira siapa! Hm, dan Golok Maut menyerang Hek-yan-pang pula. Sungguh kurang ajar! Apakah ketuamu bershe Coa atau Ci?"

"Tidak," Swi Cu menjawab. "Suciku bukan she Coa atau Ci, ong-ya. Tapi kedatangan Golok Maut semata atas keponakanmu Ci Fang itu!"

"Oh, dia? Ya-ya..." pangeran ini mengangguk-angguk. "Sekarang Ci Fang entah kemana, nona. Dan ayahnya terbunuh oleh Si Golok Maut itu. Jahanam, aku ingin menuntut balas!"

Beng Tan bermuka murung. Bicara tentang itu tiba-tiba saja dia sudah dibawa kemasalah dendam. Pangeran tampak begitu benci namun tak dapat disembunyikan pula ketakutan atau kekhawatirannya yang hebat. Maklumlah, Golok Maut benar-benar luar biasa dan dua kali menyatroni istana dua kali itu pula Golok Maut dapat meloloskan diri. Jadi tokoh ini memang amat lihai dan kepandaiannya tinggi.

Beng Tan sendiri mengakui itu karena sudah pernah bertanding dan mengadu jiwa, nyaris sampyuh kalau saja kakek dewa Bu-beng Sian-su tidak datang menolong. Dan ketika pembicaraan sudah berkisar ke Golok Maut ini dan Coa-ongya sesekali masih menyambar Swi Cu dengan sinar mata aneh maka pangeran menutup bahwa sri baginda kaisar katanya mengutus Beng Tan untuk menangkap dan membunuh laki-laki bercaping itu.

"Semalam sri baginda telah memanggil aku, dan menerangkan maksud atau keinginannya. Nah, katakan bagaimana keinginanmu atau keputusan kaisar setelah kau menghadap padanya!"

"Hamba diminta ke Lembah Iblis..."

"Cocok! Kalau begitu limaribu pasukan juga akan menyertaimu!"

"Tidak, untuk ini hamba menolak, ong-ya. Memalukan rasanya untuk membekuk seorang saja harus dikerahkan sedemikian banyak orang," Beng Tan menggeleng, ganti memotong omongan orang. "Hamba mengajukan usul lain dan kini sri baginda menyerahkannya kepada paduka!"

"Hm, usul apa? Tentang apa?"

"Bantuan ke Lembah Iblis itu. Sri baginda khawatir kalau Golok Maut lolos, minta agar hamba sekali kerja tak mengulang dua tiga kali."

"Ya-ya, itu juga dikatakannya kepadaku!" Coa-ongya mengangguk-angguk. "Aku rasa memang benar, Beng Tan. Bukan tidak mempercayai kepandaianmu melainkan semata mengepung dan menjaga supaya Golok Maut tidak melarikan diri."

"Hm, cara ini hamba tak suka," Beng Tan menggeleng lagi. "Kalau bantuan dimaksudkan agar Golok Maut tidak melarikan diri maka jumlah demikian besar tidak cocok bagi hamba, ong-ya. Terus terang hamba menolak. Dan sri baginda menyetujui rencana hamba yang lain!"

"Hm!" Coa-ongya bersinar-sinar, kagum dan mendecak karena tidak sembarang orang dapat dengan begitu saja "memerintah" kaisar. Beng Tan telah mempengaruhi kaisar dan menolak bantuan pasukan, perbuatan yang tak mungkin dilakukan orang lain kalau pemuda itu betul-betul tidak memiliki kepandaian tinggi. Dan ketika Coa-ongya mengangguk-angguk dan bertanya bagaimana maksud Beng Tan, maka pemuda ini memandang dua kakek India itu bersama tiga temannya yang lain.

"Hamba ingin meminjam pengawal-pengawal pribadi paduka. Dengan lain kata, limaribu pasukan itu hamba ganti saja dengan lima orang pembantu paduka!"

Sang pangeran tertegun. "Mereka-mereka ini?"

"Ya, mereka-mereka ini, ong-ya. Mindra dan teman-temannya. Hamba telah berkenalan dengan mereka dan tentu mereka setuju, asal paduka setuju pula!"

"Hm-hm!" pangeran berseri-seri, menoleh kebelakang. "Bagaimana kalian, Mindra? Setuju?"

"Kami menyerahkannya kepada paduka," Mindra menjawab gugup. "Kalau paduka setuju tentu saja kami setuju, pangeran. Tapi bagaimana istana kalau ditinggal kami semua!"

"Hm, sri baginda menjamin Golok Maut tak akan datang dalam waktu dekat. Dia dipastikan kembali ke Lembah Iblis!" Beng Tan menjawab, mendahului. "Karena itu masalah istana tak usah khawatir, Mindra, Lui-ciangkun atau Kwan-goanswe akan mengambil alih tugas kita disini!"

"Benar," Coa-ongya mengangguk. "Kami mendapat kabar bahwa Golok Maut bertempat tinggal di Lembah Iblis, Beng Tan. Dan sri baginda juga telah memberitahukan pandangannya itu. Kalau kau minta mereka ini menemani dan sri baginda tak menolak tentu saja aku juga memenuhi permintaanmu!"

"Kalau begitu terima kasih," Beng Tan bersoja. "Tapi keikutsertaan mereka hanya menjaga disekitar lembah, ong-ya. Jangan sekali-sekali membantu hamba mengeroyok Si Golok Maut!"

"Ha-ha!" sang pangeran tertawa bergelak. "Kau jujur, Beng Tan. Tapi sekilas berkesan sombong! Hm, kalau saja aku tak mendengar tentang kelihaianmu dan kau bukan pengawal bayangan sri baginda kaisar tentu aku akan menganggapmu bermulut besar! Eh, omong-omong aku ingin kau menunjukkan sedikit kepandaianmu, Beng Tan. Bolehkah? Kalau kau mampu menghadapi Golok Maut seorang diri tentu kau mampu pula menghadapi kelima pembantuku ini. Nah, coba perlihatkan kepandaianmu dan biar mataku ini terbuka!"

Coa-ongya tertawa bergelak, pembicaraan inti sudah selesai dan kini tiba gilirannya untuk menyaksikan kepandaian pemuda itu. Sebelumnya Sudra dan Mindra telah memuji kepandaian pemuda ini, dan kaisar pun mempergunakan pemuda itu sebagai pengawal bayangannya, satu jabatan tinggi karena mempertaruhkan kepercayaan yang besar. Dan ketika Beng Tan tersenyum dan dua kakek India itu tersipu merah maka Beng Tan tentu saja memenuhi permintaan pangeran ini.

Langsung saja dia memandang lima kakek itu, Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko melotot namun Beng Tan tidak perduli. Dan ketika dia melangkah maju dan mengangguk di depan kelima kakek itu maka Beng Tan sudah berhadapan dengan Mindra dan kawan-kawannya ini.

"Ong-ya ingin aku menundukkan kalian. Lagi pula belum pernah kalian berlima maju mengeroyok secara berbareng. Nah, majulah, Mindra. Dan mari kita main-main sebentar!"

Mindra dan kawan-kawannya berkelebat. Ditantang dan digapai pemuda itu tentu saja mereka tak dapat menolak, mundur adalah merupakan perbuatan pengecut dan memalukan. Dan ketika semuanya bergerak dan Coa-ongya ingin melihat kepandaian pemuda ini maka Beng Tan bersiap-siap memasang kuda-kuda.

"Tak perlu sungkan lagi. Kita bergebrak siapa yang robek bajunya dia kalah!"

Mindra mendesis. Kakek ini tentu saja maklum akan kepandaian Beng Tan namun marah karena pemuda itu dianggap merendahkan dirinya di depan Coa-ongya. Beng Tan tak mencabut senjata dan tentu saja dia lebih berani, karena pemuda itu akan lebih hebat kalau mengeluarkan Pek-jit-kiamnya, Pedang Matahari, pedang yang mengerikan karena tajamnya sama dengan Golok Penghisap Darah, golok maut di tangan Si Golok Maut itu. Dan ketika si pemuda sudah bersiap dan keempat kawannnya pun juga sudah menggeram membentak pemuda itu tiba-tiba kakek ini sudah maju menubruk dengan pukulan Hwi-seng-ciangnya.

"Bocah, boleh robohkan kami berlima kalau kau mampu!"

"Ha-ha, tentu. Kalau tidak begitu tentu kalian tak akan tunduk, Mindra. Dan lihat sebelum limapuluh jurus kalian semua akan kurobohkan, tanpa senjata!"

Beng Tan bergerak, membiarkan pukulan Hwi-seng-ciang lewat dan tiba-tiba Hwee-kang atau Pukulan Api menyembur dari mulut kakek Yalucang. Kakek itu marah dan menganggap Beng Tan juga sombong, membentak dan bergeraklah Pukulan Api dari mulutnya, meniup sekaligus menghantam dengan kedua lengannya pula sementara Hek-mo-ko dan Pek-mo-ko melepas Pek-see-kang dan Hek-see-kang mereka, hebat dan tentu saja tidak main-main. Tapi ketika Beng Tan berkelebat dan Hwi-seng-ciang yang dilancarkan Mindra melewati samping tubuhnya maka semua pukulan-pukulan itu diterimanya, disambut dengan Pek-lui-ciang yang tiba-tiba meledak dari kedua lengannya, Pukulan Kilat.

"Dar!"

Kelima lawannya terpekik. Mo-ko dan lain-lain terpental dan lima orang kakek itu kaget bukan main, merasa pukulan mereka tertolak dan Hwee-kang atau Pukulan Api malah membalik menyambar kakek Yalucang sendiri, menyembur dan mengenai mukanya. Tapi ketika kakek itu bergulingan dan meniup padam maka api yang berkobar lenyap dan Beng Tan pun tertawa.

"Ha-ha, gebrak pemanasan, Yalucang. Selanjutnya kalian harus lebih berhati-hati!"

Beng Tan berkelebat mendahului lawan, tertawa dan tiba-tiba beterbangan mengelilingi kelima orang itu bagai capung menyambar-nyambar. Lima kakek itu membentak dan tentu saja tak mau kalah. Dan ketika mereka mengerahkan ginkangnya pula dan ilmu meringankan tubuh ini dipakai untuk menghadapi Beng Tan yang sudah beterbangan kian cepat maka enam orang itu tiba-tiba tak nampak ujudnya lagi karena sudah berobah menjadi bayang-bayang yang luar biasa cepat, jauh lebih cenat daripada kelima kakek itu sendiri.

"Hebat!" Coa-ongya memuji, terkejut tapi tertawa girang, "Hebat sekali, Beng Tan. Ah, kau benar-Denar luar biasa dan agaknya setanding dengan Golok Maut!"

"Ha-ha," Beng Tan tertawa. "Hamba sudah hapal kepandaian lima orang lawan hamba ini ong-ya. Tapi kalau mereka mau mencabut senjata tentu kekalahan mereka lebih cepat."

"Masa? Begitukah? Eh cabut senjata kalian, Mindra. Dan lihat berapa jurus anak muda itu mengalahkan kalian. Aku ingin melihat Pek-jit-kiamnya pula."

"Ha-ha, hamba akan mengalahkan mereka dalam duapuluh lima jurus, setengah dari yang dijanjikan!"

"Ah, begitukah? Hei, cabut senjata kalian, Mindra. Dan perlihatkan apakah pemuda ini bermulut sombong atau tidak!"

"Baik!" dan Mindra serta kawan-kawan yang tiba-tiba mencabut senjata dan menggerakkannya diruangan besar itu lalu melengking dan marah kepada Beng Tan, hampir bersamaan semuanya bergerak berbareng dan tongkat atau roda-gergaji bersiut hebat, menderu dan nenggala serta cambuk juga mengeluarkan sinar bercahaya ketika menjeletar dan menusuk kuat. Dan ketika kelima kakek itu berseru mengeroyok Beng Tan maka Beng Tan tiba-tiba berjungkir balik dan melayang tinggi nyaris menyentuh belandar ruangan.

"Siut-trak-dess!"

Semua senjata menghantam lantai. Beng Tan telah menyelamatkan dirinya dengan berjungkir balik itu, tertawa dan tiba-tiba mencabut Pek-jit-kiamnya ketika melayang turun. Dan karena lima orang itu sudah menggerakkan senjata masing-masing dan belum sempat menarik diri ketika Beng Tan menggerakkan Pek-jit-kiamnya maka Pedang Matahari itu menusuk ganas ketika ganti menyambar mereka.

"Awas!"

Mindra dan kawan-kawan terkejut. Mereka terpaksa melempar kepala kebelakang ketika Pek-jit-kiam menyambar, masih juga tersontek dan robeklah kelima baju kakek-kakek itu. Dan ketika mereka berseru tertahan dan Coa-ongya berteriak kagum maka Beng Tan sudah berdiri lagi di tanah menerima bentakan dan serangan lawan, yang sudah maju dan marah kepada pemuda itu!

"Ha-ha, hebat, Beng Tan. Aih, ini agaknya ilmu silat pedangmu itu. Wah, luar biasa. Hebat dan mengagumkan!" dan ketika Coa-ongya bertepuk tangan dan memuji berulang-ulang maka hitungan demi hitungan sudah mulai dilakukan Beng Tan.

Pedang Matahari sudah bergerak naik turun menahan dan menyambar senjata kelima lawannya itu, kian lama kian cepat saja hingga pedang bersinar putih itu sudah tak dapat diikuti mata lagi. Dan ketika pertandingan sudah berjalan cepat limabelas jurus banyaknya dan kakek Ya-lucang membentak menggerakkan roda-gergajinya maka untuk pertama kali Pek-jit-kiam membentur senjata lawan.

"Crak!"

Roda-gergaji putus. Kakek tinggi besar itu berteriak kaget karena demikian mudahnya pedang di tangan si pemuda membacok senjatanya, seolah membacok agar-agar! Dan ketika kakek itu bergulingan melempar tubuh dan tongkat Mo-ko kakak beradik juga menyambar pemuda ini maka Beng Tan juga menyambut dan membabat dari samping.

"Crak-crak!"

Semuanya putus! Mo-ko menjerit dan bergulingan seperti kakek tinggi besar itu pula ketika pedang masih menyambar, menukik dan menuju dada mereka. Tapi ketika mereka masih terlambat juga dan pedang menggores ke bawah maka leher Mo-ko kakak beradik tergurat panjang.

"Bret!"

Dua iblis itu pucat. Coa-ongya bersorak kagum dan tak habis-habisnya memuji Beng Tan. Sekarang dia benar-benar melihat kepandaian pemuda ini yang sangat luar biasa. Dan ketika gebrakan itu sudah berjalan duapuluh tiga jurus dan tinggal dua jurus lagi untuk merobohkan dua kakek terakhir maka Mindra dan Sudra sudah mengeluh melihat Pek-jit-kiam mengurung diri mereka, tak dapat keluar...!

Golok Maut Jilid 22

GOLOK MAUT
JILID 22
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"PLAK-PLAK-PLAK!"

Semua perwira terbelalak. Mereka memang mengetahui kelihaian Si Golok Maut ini, tokoh yang mendirikan bulu roma. Namun karena mereka berjumlah banyak dan patahnya tombak atau panah itu justeru membuat mereka marah maka mereka menerjang dan membentak maju.

"Kepung dia. Tangkap!"

Tigapuluh perwira menyerang berbareng. Mereka sudah menyiapkan senjata dan masing-masing mengeluarkan bentakan penambah semangat. Menghadapi tokoh seperti Si Golok Maut itu harus mengerahkan keberanian kalau tak ingin jatuh lebih dulu. Tapi ketika pedang dan golok berhamburan menyerang tokoh bercaping ini tiba-tiba Golok Maut lenyap dan entah bagaimana tiba-tiba mereka mendapat tendangan dan tamparan.

"Yang bukan she Coa atau Ci tak usah main-main disini. Pergilah... des-des-cringg!" senjata sesama teman bertemu sendiri, nyaring memekakkan telinga dan pemiliknya sudah mencelat beterbangan. Mereka jatuh ke bawah dan menggelinding dari atas genteng yang tinggi. Dan ketika semua memekik dan berdebuk di bawah maka Golok Maut tiba-tiba sudah tampak di sebelah timur.

"Hei, kejar. Dia disana!"

Namun Golok Maut mengeluarkan tawa dari hidung. Para siwi dan busu yang tiba-tiba melepas panah berdesing-desing tiba-tiba dikebut runtuh. Semua anak panah itu runtuh dan Golok Maut menghilang di puncak gedung. Dan ketika semua kelabakan dan berteriak-teriak mengejar maka para perwira yang sudah melompat bangun mengerahkan anak buahnya masing-masing untuk mengepung rapat tempat itu.

"Pagar betis! Semua harap memagar betis...!"

Hal itupun sudah dilakukan. Ratusan siwi dan busu yang sudah berkumpul dan cepat mengelilingi seluruh gedung sudah tak dapat disibak lagi. Perwira mereka berteriak-teriak dan melayang kembali ke atas gedung. Dan ketika mereka melakukan pencarian sambil berkelompok dan memaki tak keruan maka lima bayangan berkelebat dari lima penjuru.

"Dimana jahanam itu? Mana Si Golok Maut?"

"Ah," para perwira girang. "Golok Maut tadi disana, locianpwe. Di gedung sebelah timur!"

"Benar, tapi sudah menghilang di puncak wuwungan itu!" dan ketika yang lain saling bersahutan dan memberi tahu maka lima bayangan ini, yang bukan lain Mindra dan empat temannya tiba-tiba berkelebat dan memencar.

"Kalian mengepung puncak wuwungan itu. Kita kesana... wut-wut!"

Mindra dan Sudra sudah lenyap mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, tiga yang lain bergerak dan menganggukkan kepala dan berturut-turut seperti iblis saja kakek-kakek ini menghilang bagai iblis. Namun ketika mereka tiba disana dan tak melihat bayangan Golok Maut maka semuanya tertegun dan Pek-mo-ko menggeram dan celingukan.

"Tak ada. Pasti ke bawah!"

Yalucang, kakek tinggi besar mengangguk. Kakek ini mengeluarkan geraman mirip singa dan tiba-tiba berkelebat ke bawah, meluncur ke dalam gedung. Dan ketika Sudra juga mengangguk dan meluncur turun maka Hek-mo-ko yang gentar berada sendirian memandang kakaknya.

"Kita cari dia?"

"Ya, dan balas sakit hati ini, sute. Ayo turun dan cari dia!"

Pek-mo-ko menepuk pundak adiknya. Dia tahu rasa jerih yang menghuni jiwa adiknya ini. Hek-mo-ko telah kehilangan lima jari kanan ketika dulu dipapas Golok Maut, golok mengerikan itu. Dan ketika mereka berkelebat dan menghilang ke bawah maka Yalucang tiba-tiba melihat bayangan tokoh bercaping itu, berkelebat memasuki lorong di bawah air hujan yang kini tiba-tiba seolah dicurahkan dari langit.

"Golok Maut, berhenti kau. Jahanam!" Kakek tinggi besar lni mencabut roda gergajinya. Dia sudah melempar itu dan senjata mengerikan ini berdesing menyambar punggung Si Golok Maut. Tapi ketika Golok Maut menoleh dan menangkis, tersenyum mengejek tiba-tiba roda-gergaji itu terpental dan menyambar tuannya kembali.

"Plak!"

Golok Maut melesat menghilang lagi. Yalucang si kakek tinggi besar harus mengerahkan tenaga ketika roda gergajinya itu menyambar cepat, menuju dadanya dan terdengarlah suara keras ketika senjata itu mengenai atau menghantam dada kakek tinggi besar ini. Tapi karena tokoh Tibet itu sudah mengerahkan sinkang dan roda-gergajinya berdetak maka kakek itu terhuyung tapi sudah mengejar lagi.

"Dia disini...!" kakek itu agak berobah. "Hei, dia disini, Mo-ko. Tangkap dan kepung dia!"

Namun Golok Maut sudah menghilang lagi. Bagai siluman atau iblis saja tokoh bercaping itu berkelebat entah kemana. Bayangan Mo-ko dan Sudra yang berturut-turut datang sia-sia saja, mereka tak menemukan dan kakek tinggi besar itu melotot. Panggilannya tadi berkesan gentar dan buru-buru minta tolong, hal yang menggelikan namun siapapun tahu kelihaian Si Golok Maut itu, tak ada yang tertawa. Dan ketika Mindra mendengus dan tak melihat bayangan lawan maka kakek itu mengajak saudaranya berpencar.

"Kau kesana, aku kesini!"

Sudra mengangguk. Dia sudah mencabut cambuknya dan dengan marah menjeletarkan senjatanya itu, meledak dan hancurlah genteng di atas yang berderak roboh. Dan ketika yang lain bergerak dan Mo-ko selalu berdua maka dilorong sebelah kanan terdengar jeritan ngeri.

"Aduh..!"

Semuanya dahulu-mendahului. Jeritan panjang disusul berdebuknya tubuh yang roboh ke tanah membuat lima kakek itu mendelik. Mereka melihat enam pengawal terbabat tewas, leher mereka digorok dan putus tanpa kepala. Mengerikan! Dan ketika lima kakek itu terbelalak dan marah maka sudah meledakkan cambuknya berseru nyaring,

"Golok Maut, jangan sembunyi-sembunyi. Hayo hadapi kami dan jangan bersikap pengecut!"

Namun jeritan dan pekik ngeri terdengar disebelah kiri. Seolah menyambut jawaban kakek itu tiba-tiba belasan tubuh berdebuk seperti pisang. Mereka berkelebat dan melihat belasan pengawal roboh tanpa kepala, lagi-lagi digorok putus! Dan ketika Sudra maupun lainnya membelalakkan mata dengan ngeri dan marah maka di empat penjuru sudah terdengar jeritan-jeritan lain.

Golok Maut berpincah-pindah dengan cepat dan mencari Coa-ongya, mulai mengamuk dan membunuh-bunuhi pengawal dengan kejam. Dia menangkap dan menanya pengawal tapi selalu dijawab tak tahu, kemarahannya bangkit dan dibinasakanlah pengawal-pengawal itu, tanpa ampun. Dan ketika istana menjadi geger dan bayangan Golok Maut benar-benar merupakan hantu pencabut nyawa maka tubuh-tubuh bergelimpangan di bawan hujan yang semakin deras.

"Kepung dia, tangkap!"

"Kejar!"

Namun semua ini seolah terompet penyambung lidah beleka, yang berteriak dan berseru itu rata-rata tak ada yang berani mendekat. Bayangan Golok Maut yang mulai berkelebatan disekitar gedung istana menyambar-nyambar bagai siluman haus darah. Sudra dan teman-temannya mengejar namun Si Golok Maut berpindah-pindah cepat dan luar biasa hingga kakek itu memaki-maki. Mereka dibuat malu dan penasaran karena sampai sedemikian jauh mereka belum berhasil menangkap Si Golok Maut itu.

Jangankan menangkap, berhadapan dan bertanding saja belum. Golok Maut seolah menghindar atau mungkin mempermainkan mereka! Dan ketika tubuh pengawal bergelimpangan dan darah membanjir di istana maka Yalucang mengeluarkan bentakan dahsyat ketika satu saat bayangan Golok Maut dilihatnya melayang turun dari wuwungan yang tinggi.

"Blarr!"

Kakek itu menyemburkan apinya. ilmu Hwee-kang (Tenaga Api) dilepas dan dikeluarkan kakek ini, mulutnya meniup dan bentakannya tadi sudah menyertai api yang berkobar. Tapi ketika Golok Maut menangkis dari tangan kirinya bergerak tiba-tiba kakek ini terpental dan jatuh di sudut.

"Keparat, jahanam keparat!" Yalucang kakek si tinggi besar merah padam. "Kau hebat Golok Maut. Tapi jangan lari dan hadapi aku lagi. Hayo...!" Dan si kakek yang bangun menerjang lagi, tiba-tiba melihat lawannya berkelebat menjauhkan diri, memang tidak mau melayani Kakek ini. Karena begitu dilayani maka Sudra dan lain-lain pasti datang membantu. Dia bakal dikeroyok dan itu berbahaya.

Golok Maut memang sengaja berpindah-pindah dan mencari Coa-ongya sambil membunuh siapa saja yang menghadang di depan. Tapi karena Yalucang adalah kakek lihai dan tentu saja tidak segampang itu membunuh kakek ini seperti halnya membunuh para pengawal atau busu maka Golok Maut meninggalkan lawan dan kakek ini mencak-mencak, tak tahu kemana Golok Maut pergi namun tempat itu sudah dikepung ribuan orang.

Pasukan istana sudah bergerak dan jenderal serta panglima ikut membantu. Kegegeran yang terjadi di istana sungguh mengejutkan siapa saja dan hujan yang deras itu seakan menambah suasana jadi semakin menyeramkan saja. Dan ketika dua ribu orang sudah memagari tempat itu dan istana benar-benar terkepung maka Golok Maut akhirnya mulai tersudut.

Tokoh ini, seperti yang diketahui dari sepak terjangnya yang sudah-sudah adalah tokoh yang keras hati dan tak gampang menyerah. Golok Maut memang laki-laki gagah yang amat luar biasa. Maka ketika ruang geraknya mulai dipersempit dan para perwira serta jenderal mulai bergerak secara rapat akhirnya sikap lari seperti kucing yang selalu berpindah-pindah itu tak dapat diterapkan Si Golok Maut ini. Disitu ada orang-orang lihai seperti Mindra dan kawan-kawannya, Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko yang bukan tergolong orang-orang biasa itu. Maka ketika teriakan dan kepungan semakin rapat akhirnya pertemuan dengan lima pelindung Coa-ongya ini tak dapat dihindarkan lagi.

Golok Maut mula-mula bertemu Mindra. Kakek lihai dari India yang sudah memegang nenggalanya ini menggeram marah. Mindra merasa dipermainkan lawan karena sama seperti Yalucang tadi dia-pun ditinggal pergi setelah bertemu sebentar, terhuyung dan memaki ketika pukulannya ditangkis. Maka ketika mereka bertemu lagi dan Golok Maut tak dapat menghindar maka satu bentakan dan tusukan nenggala mendahului kemarahan kakek itu.

"Mampus kau!"

Golok Maut mengelak. Sekarang dia mengerutkan kening karena di mana-mana terdapat musuh. Dua ribu orang sudah mengepung dan baru kali itu istana dibuat guncang. Untuk menghadapi seorang saja mereka telah mengerahkan dua ribu orang, bukan main. Hal yang sebenarnya membuat malu! Maka ketika Golok Maut mulai berhadapan dengan kakek India itu dan para pengawal serta perwira bersorak maju maka Golok Maut berkilat matanya sedikit gugup.

"Duk!" nenggala kembali menyambar, ditangkis dan kakek itu terhuyung. Dan ketika Mindra bergerak dan menyerang lagi tiba-tiba Mo-ko kakak beradik muncul berkelebat.

"Bagus, bantu aku, Mo-ko. Tangkap dan bunuh jahanam ini!"

Mo-ko mengangguk. Mereka, seperti yang lain-lain tadi juga dipermainkan Si Golok Maut ini. Tadi mereka juga bertemu tapi segera ditinggal pergi, setelah dibuat terhuyung dan terjengkang. Hek-mo-ko malah terpelanting terguling-guling ketika Golok Maut menggerakkan senjatanya, Golok Penghisap Darah itu.

Dan ketika mereka mengejar namun tentu saja berhati-hati, maklum bahwa lawan bukanlah lawan sembarangan maka mereka melihat Mindra yang sudah berhadapan dengan Si Golok Maut itu, berkelebat dan datang menyerang dan duaribu pasukan bersorak. Banjir darah sudah terjadi namun mereka bangkit semangatnya, karena disitu banyak teman. Dan ketika Golok Maut harus berkelebatan karena Mo-ko kakak beradik juga sudah menyerangnya dengan tongkat di tangan maka pemuda ini menggerakkan goloknya yang menyilaukan mata itu.

"Crak-dess!"

Mo-ko sang adik berteriak. Ujung tongkatnya terbabat dan putus sejengkal, kaget melempar tubuh dan kakaknya berseru agar tidak menyambut golok di tangan lawan, hal yang sebenarnya sudah dilakukan iblis hitam itu namun Golok Maut mengejar dan menggerakkan goloknya dengan amat lihai. Dan ketika apa boleh buat tongkat harus bertemu golok maka seperti yang sudah diduga senjata di tangan iblis bermuka hitam ini putus, sementara tuannya sendiri melempar tubuh bergulingan.

"Jangan sambut goloknya, hindari jauh-jauh...!"

Mo-ko mendesis. Dia bangkit lagi dan was-was memandang lawan. Golok Maut tertawa mengejek dan sudah berkelebatan diantara mereka, cepat memutar goloknya dan mereka bertiga tak ada yang berani mendekat. Ngeri!

Mindra sendiri terpaksa menarik nenggalanya kalau golok maut menyambar, tak berani dan akibatnya desakan atau tekanan mereka berkurang. Dan ketika mereka hanya menjaga diri dan Golok Maut mulai melihat para pengawal yang berdatangan maka tokoh ini berkelebat dan membentak berjungkir balik, mundur kebelakang. Namun celaka, perwira dan panglima yang ada disitu memberi aba-aba. Mereka melepas panah dan ribuan panah berbahaya menjepret ke satu arah.

Golok Maut terancam dan dipaksa menangkis runtuh. Dan ketika dia berhenti sejenak dan tentu saja memberi kesempatan pada orang-orang seperti Mo-ko dan Mindra untuk menyerang dari belakang maka nenggala bergerak sementara tongkat juga menghantam, semuanya lewat belakang.

"Duk-dess!"

Golok Maut terhuyung. Nenggala mengenai punggungnya tapi terpental, begitu juga tongkat Mo-ko kakak beradik. Mereka bertemu kekebalan yang dipasang tokoh bercaping ini, yang melindungi dirinya dengan sinkang. Dan ketika mereka terbelalak tapi perwira dan panglima berteriak menyerang lagi maka Sudra berkelebat muncul disusul kakek tinggi besar Yalucang.

"Kepung dia! Jaga rapat-rapat...!"

Golok Maut tak dapat melarikan diri. Sekarang dua ribu pasang kaki sudah memagar betis, kemanapun dia lari kesitu pula senjata menyambar, tentu saja bukan dari dekat melainkan dari jauh, panah dan tombak yang dilepas sambil bersorak-sorai. Dan ketika Golok Maut terkepung dan apa boleh buat menghadapi semua lawannya maka lima kakek di depan membentak dan menerjang maju, mengeroyok.

"Golok Maut, serahkan dirimu. Atau kau mati kami cincang!"

"Benar, dan mintalah ampun, Golok Maut. Cepat sebelum kami semua kehabisan sabar!"

Golok Maut tak menjawab. Hujan senjata dari lima orang lawannya itu masih ditambah dengan hujan anak panah dan tombak dari mana-mana. Dari delapan lenjuru para pengawal dan perwira berterak-teriak. Hujan tak mereka hiraukan lagi dan terkepunglah Si Golok Maut itu. Tapi ketika laki-laki ini memutar senjatanya dan golok berkeredepan menyilaukan mata maka Mindra berteriak agar tidak menyambut cahaya putih yang menggiriskan itu.

"Awas...!"

Namun terlambat. Cambuk baja di tangan temannya terbabat putus, kakek Yalucang juga mencelat roda-gergajinya bertemu sinar golok itu, yang sudah berkelebat dan menyambar luar biasa cepat. Dan ketika mereka melempar tubuh bergulingan sementara Golok Maut membentak dan melengking tinggi tiba-tiba barisan pengawal yang ada di depan diterjang roboh.

"Minggir!"

Pengawal berteriak ketakutan. Mereka melepas panah-panah berbahaya namun semua disapu runtuh, rontok oleh kilauan golok yang membungkus Si Golok Maut itu. Dan ketika mereka berteriak dan coba mengelak namun gagal maka sebelas diantaranya roboh tanpa kepala.

"Crat-crat-crat!"

Mengerikan sekali. Dua ribu pengawal tersentak melihat kejadian itu. Sebelas kepala menggelinding dan pisah dari tubuhnya, begitu cepat dan luar biasa. Dan ketika mereka terkejut sementara disana Mindra dan kawan-kawannya masih bergulingan melempar tubuh maka Golok Maut bergerak dan berjungkir balik menerjang berikutnya.

"Ah!"

"Awas...!"

Semua tiba-tiba menyibak. Golok Maut berjungkir balik turun dikerumunan orang-orang ini, yang semua tiba-tiba membalik dan berhamburan melompat mundur. Dan ketika tempat itu kosong dan Golok Maut mendengus maka tokoh ini sudah berloncatan dan mengerahkan ginkangnya untuk terbang dari satu kepala ke kepala yang lain.

"Hei, jangan buka kepungan. Tutup rapat-rapat!"

Mindra, yang terkejut melihat semua pengawal tiba-tiba mundur mendadak membentak marah. Kakek ini paling dulu melompat bangun dan menggeram menggerakkan nenggalanya lagi. Dan ketika dia berkelebat dan empat temannya yang lain juga bergerak dan marah membentak Si Golok Maut maka kakek ini melepas pukulan berbahayanya, Hwi-seng-ciang.

"Dess!"

Golok Maut bergoyang. Hwi-seng-ciang membokongnya dibelakang dan saat itu pukulan-pukulan lain juga datang menyambar-nyambar. Mo-ko kakak beradik melepas Pek-see-kang mereka, disusul gerengan kakek tinggi besar Yalucang yang melepas Hwee-kang (Pukulan Api). Dan ketika semuanya hampir bersamaan mendarat di tubuh tokoh bercaping ini dan Golok Maut tak sempat menangkis karena maju ke depan maka semua pukulan itu menghantam keras dan amat hebatnya.

"Des-dess!"

Golok Maut terhuyung. Dia membalik dan secepat kilat tangan kirinya tiba-tiba membalas. Satu sinar kuning menyambar lima orang itu dan Mindra terkejut, mengelak dan berteriak pada teman-temannya agar cepat menghindar. Itulah Kim-kong-ciang atau Pukulan Sinar Emas, hebatnya bukan main karena dari jarak setombak saja pakaian dan baju mereka sudah berkibar.

Pengawal menjerit berpelantingan karena tahu-tahu tubuh mereka terangkat, terdorong dan terlempat oleh angin pukulan itu, padahal baru angin pukulannya saja, keserempet! Dan ketika mereka terbanting bergulingan dan mengaduh menjerit-jerit maka disana Yalucang terlempar sementara Mo-ko terpental karena kalah cepat berkelit.

"Bres-bress!"

Dua orang itu mengeluh. Golok Maut membalas dan sekali balasannya cukup membuat mereka gentar. Tapi ketika tokoh itu hendak melepas pukulannya lagi dan menerjang lawan tiba-tiba empat puluh perwira menjepretkan anak panah mereka berbareng.

"Jret!"

Gendewa yang dipentang mengeluarkan suara bergetar. Empat puluh anak panah menyambar dari delapan perjuru dan bercuitanlah panah-panah yang besar itu. Mereka adalah perwira-perwira pilihan yang mahir memainkan senjata jarak jauh itu. Tapi ketika semua mengenai tubuh Si Golok Maut dan runtuh ke tanah, bertemu kekebalan mengagumkan maka Golok Maut menggeram dan tiba-tiba berkelebat ke arah mereka.

"Kalian manusia-manusia jahanam!"

Empat puluh perwira itu terkejut. Mereka berteriak dan melepas anak-anak panah lagi, kini bukan sebatang melainkan dua batang. Jadi delapan puluh batang panah menyambar Si Golok Maut itu. Tapi ketika Golok Maut memutar senjatanya dan sinar putih yang menyilaukan itu melindungi dirinya tiba-tiba delapanpuluh anak panah rontok sementara cahaya atau sinar putih itu masih menyambar ke depan, cepat dan ganas, luar biasa.

"Augh... crat-crat-crat!"

Dua puluh tiga kepala tiba-tiba putus. Golok Maut membabatnya dalam sekali ayunan panjang, begitu cepat dan tak dapat diikuti mata dan tahu-tahu dua puluh tiga kepala menggelinding. Semuanya sudah pisah dari tubuh! Dan ketika tujuh belas yang lain terbelalak pucat dan nyawa seakan terbang dari tubuh maka mereka melempar tubuh menyelamatkan diri.

"Duk-duk-bress!"

Tujuh belas perwira ini saling tumbuk. Mereka menjerit dan berteriak sendiri tapi untunglah saat itu Mindra dan empat temannya datang lagi menolong. Lima kakek ini ngeri tapi juga marah melihat sepak terjang Si Golok Maut. Pemuda bercaping ini sungguh ganas dan kejam, benar-benar bertangan besi! Dan ketika mereka maju lagi dan panglima-panglima yang ada dibelakang membentak pasukannya agar melepas panah-panah atau tom-hoi, maka Golok Maut sudah dikeroyok.

"Jangan biarkan dia lolos. Pagar betis! Semua mengepung rapat-rapat!"

Keadaan benar-benar menggemparkan. Keganasan dan kekejaman Golok Maut ini yang tak kenal ampun sungguh mendirikan bulu roma. Kini laki-laki itu berkelebatan tapi ditahan lima tokoh lihai itu. Mindra berusaha keras untuk mencegah Golok Maut melarikan diri, karena laki-laki itu tampak bermaksud meninggalkan pertempuran dan melarikan diri, hal yang memang akan dilakukan Si Golok Maut itu.

Dan ketika Mindra berseru pada empat temannya agar mengurung Golok Maut rapat-rapat maka Golok Maut tak dapat keluar karena mereka ganti-berganti menyerangnya. Ditangkis yang satu menyerang yang lain, dihadapi yang lain maju lagi yang lainnya lagi, begitu terus-menerus, tak ada yang berani berhadapan langsung karena mereka menghindari keras pertemuan senjata itu. Kutungnya cambuk dan terbabatnya tongkat sudah lebih dari cukup untuk memberi tahu mereka perihal kehebatan golok di tangan Si Golok Maut itu. Dan karena serangan mereka bersifat mengganggu dan Golok Maut tentu saja marah maka pukulan-pukulan Hwee-kang maupun Pek-see-kang atau Hwi-seng-ciang menyambar dari kelima orang itu.

"Keparat, kalian pengecut, Mindra. Tak tahu malu. Curang!"

"Hm, tak ada yang curang. Kau telengas dan kejam, Golok Maut. Kau berdarah dingin!"

"Kalian yang membuat aku begini. Kalian, ah... kubunuh kalian, siut-plak-dess!" dan Golok Maut yang membalik menerima pukulan dari belakang tiba-tiba berseru keras membabat panah-panah yang berhamburan, menggerakkan tangan kirinya dan lepaslah pukulan Kim-kong-ciang menyambut pukulan Hwi-seng-ciang.

Sudra menghantamnya dari belakang dan kakek itu terpental, berteriak kaget. Dan ketika yang lain maju menubruk namun Golok Maut memutar goloknya maka tak dapat dihindari lagi kali ini kelima senjata lawan bertemu sinar goloknya itu.

"Awas... cring-crak-plak!" dan cambuk serta tongkat yang terbabat kutung tiba-tiba disusul lengkingan panjang lima kakek itu.

Golok Maut melakukan gerak luar biasa yang disebut Le-hi-ta-teng (Ikan Le Meloncat), merundukkan tubuhnya dan dari bawah ia menyapu semua senjata lawannya itu. Tangan kiri baru saja bergerak melepas Kim-kong-ciang dan sisa angin pukulan itu masih tetap menyambar, hebat bukan main. Dan ketika kelima kakek itu terkejut dan mereka cepat melempar tubuh bergulingan maka hujan panah yang kembali menyambar diterima dan disambut kelebatan golok yang meruntuhkan atau merontokkan senjata jarak jauh itu. Lalu begitu lawan terbelalak dan terperangah melihat kehebatan Si Golok Maut ini tiba-tiba Golok Maut berjungkir balik dan terbang menyambar ke pasukan sebelah kiri yang bersenjata tombak.

"Minggir...!"

Gegerlah pasukan tombak. Mereka tiba-tiba menyibak dan semuanya berteriak mundur, memutar tubuh. Tapi ketika Golok Maut melayang turun dan senjatanya melindungi tubuh dengan rapat sekonyong-konyong terdengar bentakan atau seruan,

"Lepaskan jaring!"

Dan benda-benda lebar hitam tiba-tiba menakup kepala Si Golok Maut dari segala penjuru. Si Golok Maut terkejut karena waktu itu dia baru saja berjungkir balik, turun ke tanah ketempat pasukan tombak ini. Maka begitu puluhan jaring tiba-tiba melayang ke bawah dan menakup kepalanya tiba-tiba Golok Maut dibuat tersentak dan tentu saja senjata ditangannya itu bergerak membabat.

"Bret-bret!"

Tujuh jaring robek. Golok Maut dapat keluar tapi jaring-jaring yang lain kembali berhamburan, susul-menyusul dan tentu saja laki-laki bercaping itu terkejut. Dan ketika dia marah dan membentak menggerakkan goloknya lagi tiba-tiba Mindra dan keempat kawannya itu telah berkelebat dan tertawa dengan jaring menyambar pula, di tangan kiri!

"Ha-ha, betul, Golok Maut. Sekarang kami dapat meringkusmu!"

Si Golok Maut kaget. Di atas kepalanya menyambar tak kurang dari tigapuluh jaring, robek yang satu muncul lagi yang lain. Semuanya bertubi-tubi dan dilepaskan dari jarak jauh. Dan ketika dia dibuat sibuk dengan membabat jaring-jaring ini sementara Mindra dan kawan-kawan mendadak juga memegang jaring dan menyerang dirinya dengan cara yang licik maka Golok Maut tersentak ketika jaring yang dilepas kakek India itu menakup kepalanya.

"Rrt!" Golok Maut terjebak. Mindra tertawa bergelak dan Golok Maut tak dapat melepaskan diri.

Saat itu empat temannya juga melempar jaring dan kaki serta tangan tokoh bercaping itu terjirat. Kejadian berlangsung demikian cepat dan semuanya itu dapat terjadi karena disamping kelima kakek ini masih menyambar puluhan jaring-jaring lain, jadi waktu itu Golok Maut dibuat sibuk dengan jaring-jaring diluar kelima kakek ini. Maka begitu kepalanya tertutup dan lemparan jaring kakek India itu jelas berbeda dengan lemparan jaring para pengawal yang bertenaga biasa maka Golok Maut terjebak dan tiba-tiba tak dapat menggerakkan tubuhnya!

"Ha-ha, lepaskan golokmu. Atau kau mati!"

Pengawal dan panglima bersorak. Mereka melihat Golok Maut terjebak seperti seekor harimau yang tak berdaya lagi. Laki-laki itu terjirat dan seluruh tubuhnya terikat. Mereka tiba-tiba berhamburan dan maju dengan senjata di tangan, menusuk dan membacok karena saat itu, Mindra dan lain-lain sedang berkutat mempertahankan jaring, bersitegang dan menarik agar Golok Maut itu tak dapat melepaskan diri. Tapi ketika senjata golok atau tombak mengenai tubuh laki-laki ini ternyata semuanya patah-patah dan Golok Maut masih dapat menendang!

"Plak-des-augh!"

Tombak dan golok patah-patah tak keruan. Mindra berteriak agar para pengawal itu mundur, karena hal itu tak dikehendakinya. Dia ingin menangkap hidup-hidup tokoh bercaping ini untuk diserahkan kepada Coa-ongya, karena tentu Coa-ongya lebih menghendaki Si Golok Maut itu ditangkap hidup-hidup daripada sudah menjadi mayat. Namun karena para perwira dan pengawal sudah terlanjut bersorak-sorai dan mereka itu membacok atau menusuk Golok Maut tapi gagal maka mereka yang terkena tendangan tiba-tiba menjerit dan celaka sekali berjatuhan menimpa Mindra dan empat kawannya.

"Keparat.... bres-bress."

Kakek itu mengumpat-umpat. Baik dia maupun yang lain otomatis terganggu kejadian ini, tegangan mengendor dan jaring pun melonggar. Dan karena itu cukup bagi Si Golok Maut untuk membebaskan diri maka sekali membentak tiba-tiba tokoh ini sudah meronta dan bebas, benar-benar dapat keluar lagi. Dan begitu Golok Maut menggeram dan berkelebatan kesana-sini maka puluhan pengeroyok yang tadi membacok atau menusuk tubuhnya menjadi korban!

"Crat-crat!"

Jerit ngeri dan teriakan panjang ini menggema di empat penjuru. Golok Maut telah bersikap beringas dan kemarahannya tadi tak dapat ditahan lagi. Dia hampir celaka oleh jaring kelima kakek iblis itu namun untung para pengawal yang bodoh-bodoh ini menolongnya. Mereka tanpa sadar mengganggu kelima kakek itu dan ini berarti kebebasan baginya. Maka begitu keluar dan golok bergerak naik turun maka empatpuluh tubuh sudah bergelimpangan tak bernyawa.

"Minggir... minggir. Kalian bodoh!" kakek India berteriak-teriak, marah dan mengumpat-caci dan Pek-mo-ko maupun yang lain-lain juga membentak dan memaki-maki kebodohan para pengawal tadi. Mereka melepaskan buruan dan kini Golok Maut mengamuk, memaksa mereka mundur dan Mindra sendiri maupun empat temannya terpaksa bergulingan menjauhkan diri.

Maklumlah, kemarahan Golok Maut tak dapat dibendung lagi dan laki-laki itu berusaha mendekati mereka, dengan golok yang berlumuran darah tapi cepat kering lagi karena dihisap oleh kekuatan aneh di tubuh golok itu, kekuatan iblis, daya gaib! Dan karena Golok Maut benar-benar marah dan pasukan cerai-berai tiba-tiba Golok Maut melepas tiga benda bulat ke arah Mindra dan kawan-kawan yang sedang bergulingan.

"Dar-dar!"

Granat tangan meledak. Kiranya Golok Maut menggunakan senjata penyelamatnya itu, senjata terakhir. Dia melepas lagi beberapa granat tangan ke arah pengawal yang tentu saja tiba-tiba berhamburan dan menjerit-jerit. Mereka yang terkena segera terlempar roboh, luka parah. Mindra terkejut dan bergulingan semakin menjauhkan diri saja. Keempat temannya juga begitu dan asap tebal tiba-tiba menghalangi pandangan. Dan ketika beberapa granat lagi meledak dan duaribu orang itu cerai-berai maka Golok Maut lenyap dan entah menghilang kemana.

"Kejar! Tangkap Si Golok Maut itu. Jangan sampai lari!"

Namun siapa yang mengejar? Dilempari granat itu saja mereka sudah panik, belum lagi oleh keganasan Si Golok Maut yang amat nggegirisi. Maka begitu semuanya berusaha menyelamatkan diri sendiri-sendiri dan Mindra hanya berteriak mengumpat caci maka ketika asap tebal menghilang Si Golok Maut itu juga tak tampak bayangannya lagi.

Tiga ratus orang tewas dengan tubuh malang-melintang. Seratus diantaranya putus tanpa kepala, darah membanjir dan menyatu dengan air hujan yang membasahi tanah. Dan ketika yang lain tertegun dan ngeri maka bayangan Coa-ongya muncul di balkon gedungnya.

"Bodoh! Gentong-gentong kosong semua! Heh, mana itu Si Golok Maut, Lui-ciangkun? Mana binatang jahanam keparat itu? Dan kau..!" pangeran ini menuding Pek-mo-ko dan lain-lainnya itu. "Bagaimana Si Golok Maut sampai lolos, Mo-ko? Kenapa kalian membiarkannya lari dan tidak mengejar? Keparat, kalian hanya pandai memakan uang. Tak becus menangkap satu orang saja dan layaknya anak-anak kecil yang goblok dan tolol!"

Dan ketika semua orang tertegun dan tentu saja tak berani bercuit, Coa-ongya marah-marah dan menuding-nuding mereka semua maka hujan di malam yang mengerikan itu reda. Coa-ongya marah bukan main di atas balkon dan mencaci-maki mereka semua. Mindra dan saudaranya juga disemprot! Namun ketika yang lain ini juga diam saja dan tak bergeming maka muncullah Kun-taijin yang membujuk dan memberi hormat di depan pangeran ini.

"Mereka tak bersalah. Golok Maut memang terlalu lihai. Biarlah paduka masuk kembali dan biarkan aku bercakap-cakap dengan mereka."

"Tidak. Aku justeru ingin mencaci-maki mereka ini, taijin. Para pembantuku itu juga gentong-gentong kosong yang tak bisa apa-apa. Ah, mereka itu anjing penjaga yang bisanya makan melulu!"

"Sst, tak perlu mengumbar marah disini, pangeran. Semuanya sedang sedih dan paduka masuk saja ke dalam. Mo-ko dan kawan-kawannya itu juga terpukul. Sebaiknya paduka tak usah menyakitkan hati mereka dan aku khawatir kalau mereka pergi karena tersinggung!"

Coa-ongya terbelalak. Akhirnya dia terkejut juga ketika Kun-taijin bicara seperti itu. Memang repot kalau Mo-ko dan kawan-kawannya sampai pergi meninggalkan dirinya, tentu tanpa pelindung lagi dan itupun berarti tak baik. Maka ketika dia dibujuk lagi dan dengan halus menteri Kun bicara menasihati akhirnya pangeran ini sadar dan insyaf, kembali menghilang dan dialah tadi yang memberi perintah agar Golok Maut diserang dengan jaring.

Pengalamannya masa lalu membuat pangeran ini ingin mengulang keberhasilannya. Tapi bahwa Golok Maut dapat lolos juga dan tokoh bercaping itu memiliki granat untuk menyelamatkan dirinya maka banjir darah malam itu menjadi buah bibir semua orang. Istana benar-benar terguncang dan ini untuk kedua kalinya Si Golok Maut itu beraksi, bukan main beraninya. Bahkan berhasil membunuh Ci-ongya, satu dari dua orang yang dibenci! Dan ketika malam itu mayat-mayat yang tewas diurus dan Kun-taijin turun tangan meredakan Coa-ongya maka keesokannya istana dan seluruh rakyat mengibarkan bendera tanda berkabung.

* * * * * * *

"Begitulah," Kun-taijin mengakhiri ceritanya, menarik napas dalam. "Sri baginda dan Coa-ongya marah-marah, Beng Tan. Sri baginda marah karena Golok Maut dianggap menghina istana sedang Coa-ongya karena adiknya dibunuh. Kami tak dapat berbuat apa-apa karena Golok Maut benar-benar luar biasa. Dikeroyok duaribu orang dia dapat melarikan diri juga. Mengejutkan!"

Beng Tan termangu-mangu. Mendengar semua cerita ini memang dia dapat memaklumi. Golok Maut amat lihai dan hanya dialah yang dapat menghadapi. Itu-pun kalau dia tak memiliki Pek-jit-kiam, Pedang Matahari, tak mungkin dia dapat menandingi lawannya itu. Dan ketika Kun-taijin selesai bercerita dan Swi Cu yang ada disampingnya juga termangu dan ngeri maka Kun-taijin bertanya pada pemuda itu apa yang selanjutnya hendak dilakukan.

"Bagaimana menurut pendapat taijin, apa yang harus kulakukan," Beng Tan balas bertanya.

Memang tidak tahu apa yang harus dilakukan karena khawatir kalau ia meninggalkan istana jangan-jangan sri baginda marah lagi. Gara-gara keterlambatannya datang di istana terjadilah semuanya itu. Ah, kalau saja dia ada disitu! Beng Tan bergidik melihat sepak terjang Si Golok Maut ini.

"Hm, apa yang harus kuberikan?" Kun-taijin menarik napas dalam, kembali menekuri keadaan di depan. "Aku tak dapat memerintahkan apa-apa, Beng Tan. Hanya kaisar yang berhak memerintahmu. Kau pengawal pribadinya, aku hanya sekedar mewakili sri baginda menceritakan peristiwa ini kepadamu!"

"Benar, tapi setidak-tidaknya kau dapat memberikan pandangan, taijin. Apa yang kira-kira harus kuperbuat."

"Sebaiknya kau menghadap sri baginda saja. Tanya apa sarannya."

"Tapi sri baginda baru marah-marah. Aku tak enak!"

"Bukan sekarang, Beng Tan, melainkan besok. Biar kuantar dan besok sri baginda tentu sudah lebih dingin."

"Hm," Beng Tan mengangguk. "Benar, taijin. Tapi agaknya satu yang diperintahkan baginda, aku harus menangkap atau membunuh Si Golok Maut itu!"

"Kukira memang begitu, dan kaulah satu-satunya pemilik Pedang Malayan. Golok Penghisap Darah di tangan Si Golok Maut itu tak ada tandingannya. Kau harus bergerak!"

Beng Tan mengangguk. Kun taijin akhirnya bicara sana-sini lagi memberi petunjuk sebelum dia disuruh istirahat. Dan ketika malam itu Beng Tan ada di kamarnya dan Swi Cu mendapat kamar di sebelah maka malam itu dua muda-mudi ini bercakap-cakap.

"Golok Maut memang terlalu. Keberingasannya sudah melewati batas. Hm, orang sedunia perlu menghukum pemuda ini dan mencincangnya sebelum mampus!"

"Sabar," Beng Tan berkedip memandang lampu-lampu teng yang mulai dipasang para pengawal. "Sepak terjang Si Golok Maut tentu didasari sesuatu, Cu-moi. Dan aku melihat api dendam yang besar sekali di hatinya. Permusuhannya berawal dengan Coa-ongya dan Ci-ongya itu. Dan sekarang satu di antara dua musuhnya itu telah dibunuh!"

"Dan kau membelanya?"

"Eh, siapa membela?"

"Kau menyuruh aku sabar, koko. Padahal iblis macam itu tak perlu disabari. Dia harus dibunuh dan habis perkara. Apalagi dia juga memperkosa suciku!"

Swi Cu tiba-tiba menangis, marah kepada kekasihnya dan buru-buru Beng Tan memeluk. Dia berkata bahwa bukan begitu maksudnya, sepak terjang Si Golok Maut tak patut dibela tapi Beng Tan bermaksud membicarakan sebab-sebab paling dalam kenapa tokoh yang ganas itu dapat sedemikian kejam. Membunuh-bunuhi orang-orang she Coa dan Ci hanya karena permusuhannya dengan dua orang pangeran di istana itu. Dan ketika Swi Cu menjawab bahwa semuanya itu tak perlu diketahui karena Golok Maut pada dasarnya adalah iblis maka Beng Tan menarik napas panjang tak mau berdebat.

"Baiklah... baiklah. Dia memang iblis. Tapi sebelum aku diperintahkan membunuh Si Golok Maut ini aku ingin mengetahui kenapa dia bisa sampai begitu." lalu menunduk dan mencium kekasihnya.

Pemuda ini mengajak bicara yang lain, percuma bicara tentang itu karena Swi Cu sudah terlampau dendam terhadap si tokoh bercaping itu. Dugaan mereka bahwa Golok Maut memperkosa Wi Hong membuat gadis ini tak mau mendengar Golok Maut dibela sekecil apapun, apalagi oleh Beng Tan, pemuda yang menjadi kekasihnya sekaligus calon suaminya. Ah, tak boleh Beng Tan mencari kebaikan-kebaikan Si Golok Maut, betapa pun kecilnya. Dan ketika mereka bicara yang lain dan malam itu pemuda ini menunggu fajar maka keesokannya dia sudah ditunggu menteri Kun.

"Dapat tidur, Beng Tan? Nyenyak tidurnya?"

"Ah," Beng Tan tersenyum, melirik Swi Cu. "Kami semalam dapat tidur enak, taijin. Meskipun tentu saja penuh dengan mimpi-mimpi buruk. Kami masih terkejut oleh kejadian di istana!"

"Hm, aku juga. Dapat terlelap sejenak tapi setelah itu ingat kau. Sudahlah, kita menghadap sri baginda dan kutemani kau untuk menerima titahnya."

Beng Tan mengangguk. Dia menyuruh Swi Cu tinggal di situ tapi gadis ini tak mau, menolak dan ingin ikut bersama. Beng Tan memperingatkan bahwa kemarin kaisar memaki-maki gadis itu. Tapi ketika Swi Cu berkata bahwa dia tak menaruh di hati semua ucapan kaisar karena keadaan sedang dirundung malang maka Beng Tan mengangguk dan membiarkan kekasihnya ikut.

"Baiklah, tapi jangan marah kalau sri baginda masih mengeluarkan kata-kata pedas!"

"Aku tak apa-apa, asal selalu di sampingmu!"

Dan ketika Kun-taijin tersenyum karena ucapan itu penuh arti maka ketiganya berangkat dan sudah menemui sri baginda, yang pagi itu ternyata sudah duduk di kursi singgasananya, sedikit cerah meskipun sorot matanya masih menampakkan sisa-sisa kecewa dan marah.

"Maaf, kemarin aku tak dapat menahan diri, Beng Tan. Dan, ah... betapa cantiknya kekasihmu ini!"

Beng Tan berlutut. Dia tersenyum dan cepat memberi hormat bersama Kun-taijin. Swi Cu merah mukanya namun gembira di hati, kaisar bersikap ramah dan sikapnya sungguh berbeda dengan kemarin. Dan ketika semua memberi hormat dan kaisar menerima, menyuruh mereka berdiri maka Beng Tan bertiga dipersilahkan duduk.

"Aku sudah mendengar maksud kedatanganmu, Kun-taijin memberitahuku semalam. Nah, katakan bagaimara pandanganmu setelah mendengar semuanya ini."

"Hamba ingin meminta pendapat paduka, tak berani mendahului."

"Hm, aku pribadi ingin menyuruhmu menangkap dan membunuh Si Golok Maut itu, Beng Tan. Bawa kepalanya kemari dan tenangkan suasana!"

"Benar, hamba akan melaksanakan titah paduka, sri baginda. Tapi mohon keterangan kenapa Golok Maut itu mempunyai permusuhan demikian mendalam terhadap Coa-ongya maupun Ci-ongya?"

"Hm, ini..." kaisar mengerutkan kening, tiba-tiba tertegun. "Aku tak ingin menceritakannya, Beng Tan. Dan barangkali tak perlu bagimu. Yang jelas Golok Maut telah menghina dan mengacau di istana, untuk ini saja dia sudah dapat dianggap pemberontak dan musuh berat!"

"Apakah hamba tak boleh mengetahui asal mulanya?"

"Itu urusan pribadi adikku. Kalau kau mau bertanya silahkan saja kepada yang bersangkutan. Dan, eh... bukankah tak perlu semuanya ini, Beng Tan? Kau kutugaskan untuk menangkap atau membunuh Si Golok Maut itu, bukan menyelidiki. asal mula permusuhan ini!"

"Benar, tapi maaf, sri baginda. Sebagai orang kang-ouw yang menjunjung tinggi nilai-nilai kegagahan dan keadilan mestinya hamba ingin tahu kenapa Golok Maut itu dapat bersikap demikian kejam. Siapa yang bersalah dan bagaimana sebenarnya duduknya perkara."

"Hm-hm!" kaisar menggeleng-geleng kepala. "Urusan ini tak ingin kubicarakan, Beng Tan. Karena Golok Maut harus ditangkap atau dibunuh. Dia telah mengacau istana, membunuh dan menghina aku!"

"Benar..." Beng Tan mau bicara lagi, mendesak tapi Kun-taijin tiba-tiba menyenggol lengannya, batuk-batuK dan memberi isyarat agar dia tidak banyak bertanya. Deheman halus dari menteri itu menyadarkan Beng Tan bahwa tak sepatutnya dia mendesak kaisar. Dia sudah menerima perintah dan dia tinggal melaksanakan. Dan ketika Beng Tan sadar dari menahan kata-katanya maka menteri itu mendahului berkata,

"Maaf, kami mengerti, sri baginda. Tapi Beng Tan barangkali hendak bertanya apakah dia harus meninggalkan istana lagi atau tidak. Maklumlah, Beng Tan khawatir paduka marah-marah kalau Golok Maut datang sementara dia pergi! Bukankah begitu, Beng Tan?"

Pemuda ini mengangguk. Dengan cepat dia tanggap akan pertanyaan Kun-taijin itu. Bahwa dia harus mengikuti perintah kaisar dan memang inilah yang hendak ditanyakan, apakah dia harus mencari Golok Maut dan membawanya ke istana ataukah menunggu Golok Maut itu datang lagi di istana dan dia menghadapi. Dan karena pertanyaan itu tepat dan Beng Tan tentu saja mengangguk maka pemuda ini membenarkan dan sadar.

"Benar, begitu maksud hamba, sri baginda. Bagaimanakah caranya hamba melaksanakan tugas ini."

"Kau harus pergi lagi, dan secepatnya kembali!"

"Tapi kalau dia datang?"

"Tidak, Golok Maut baru saja mengacau, Beng Tan. Tak mungkin dia datang dalam waktu sedekat ini. Dan aku hendak memerintahmu langsung ke Lembah Iblis, tempat Si Golok Maut itu tinggal!"

"Lembah Iblis?" Beng Tan terkejut.

"Ya, Lembah Iblis, Beng Tan. Aku mendapat keterangan bahwa Golok Maut bertempat tinggal disana. Dia pasti kembali ke sarangnya setelah gagal melakukan balas dendamnya disini, karena adikku Coa-ongya masih hidup!"

Beng Tan tertegun.

"Dan kau bawa limaribu pasukan kesana!"

Beng Tan semakin terkejut. "Apa?" pemuda ini membelalakkan mata. "Bersama pasukan, sri baginda? Hamba harus menangkap Si Golok Maut itu bersama demikian banyak orang?"

"Aku tak mau gagal, dan aku juga tidak menyangsikan kepandaianmu. Tapi karena Lembah Iblis merupakan tempat yang tersembunyi dan aku tak ingin iblis itu pergi meninggalkanmu maka limaribu orang yang akan mengiringimu itu bertugas hanya mengepung lembah!"

"Tapi hamba tak suka!" Beng Tan memprotes, tiba-tiba bangkit berdiri. "Hamba sendiri sanggup membawa Si Golok Maut itu, sri baginda. Dan hamba bersumpah akan membawanya kehadapan paduka!"

"Tapi kau gagal ketika bertemu," kaisar bersinar-sinar, memandang tajam. "Aku tak ingin hal itu terulang, Beng Tan. Dan terus terang saja kali ini aku tak mau gagal! Lui-ciangkun dan Kwan-goan-swe (jenderal Kwan) akan menyertaimu. Dan mereka itulah yang membawa pasukan!"

Beng Tan tertegun. Tiba-tiba dia merasa terpukul karena seolah kaisar kurang percaya kepadanya. Dia diberi bantuan limaribu orang untuk menangkap si Golok Maut, hal yang tidak main-main lagi dan tentu saja membuat pemuda itu marah. Tapi ketika kaisar berkata lagi bahwa kaisar tidak meragukan kepandaiannya melainkan semata mengepung Lembah iblis agar Golok Maut tak dapat melarikan diri maka perlahan-lahan muka Beng Tan pulih kembali.

"Aku tidak menyangsikan kepandaianmu, dan aku bukannya tidak percaya. Tapi ingat, Golok Maut cerdik dan licik memiliki g ranat-granat tangan, Beng Tan. Dengan itu dia dapat lari dan meloloskan dirinya. Dan aku tidak menghendaki ini. Aku ingin kau membereskannya dan tidak bekerja dua tiga kali!"

"Hm, tapi sekian banyak orang..." Beng Tan termangu-mangu. "Memalukan hamba, sri baginda. Membuat hamba tak ada muka untuk menghadapi Si Golok Maut itu. Sebaiknya begini saja. Untuk menjaga lembah hamba hanya minta bantuan beberapa orang saja, tiga atau empat orang cukup. Orang-orang berkepandaian tinggi seperti Pek-mo-ko dan lain-lainnya itu yang membantu Coa-ongya!"

"Hm, begitukah?" kaisar memandang ragu, cepat diberi isyarat rahasia oleh Kun-taijin, yang mengedip-ngedip dan menunjuk berulang-ulang ke arah Beng Tan. "Baiklah, Beng Tan. Kuikuti permintaan-mu tapi bagaimana tanggung jawabmu bila sekali ini gagal!"

"Hamba akan menyerahkan kepala hamba!" Beng Tan tiba-tiba berseru gemas. "Hamba yakin tak akan gagal, sri baginda. Asal benar-benar bertemu dengan Si Golok Maut itu di Lembah Iblis!"

"Bagus, janjimu kuterima. Kalau begitu pergilah ke tempat adikku dan mintalah bantuan kelima pelindungnya itu agar menemanimu!"

Swi Cu terkesiap. Kekasihnya telah mempertaruhkan kepala kalau kali ini tugas gagal, padahal Golok Maut itu lihai dan dulu mereka berimbang. Bahkan Beng Tan sendiri mengakui bahwa sebenarnya sukar merobohkan Si Golok Maut itu karena masing-masing sama dan setingkat. Golok Maut memiliki Golok Penghisap Darah itu sementara Beng Tan dengan pedang Pek-jit-kiamnya. Baik senjata mau-pun kepandaian sebenarnya berimbang. Dulu mereka sama-sama roboh ketika bertanding di pulau. Tapi karena Beng Tan sudah menyerahkan janjinya dan agaknya pemuda itu juga gemas dan marah karena sepak terjang Golok Maut benar-benar dinilai keterlaluan maka pagi itu Beng Tan menemui Coa-ongya, bersama Swi Cu Dan ketika dia pergi berdua karena Kun-taijin ditahan kaisar maka terdengar kisik-kisik diantara sri baginda dengan menteri itu.

"Kenapa kau memberiku isyarat?"

"Maaf, agar supaya Beng Tan tidak tersinggung, sri baginda. Sebab menolak begitu saja tentu tidak baik. Betapa pun dia adalah pemuda hebat yang satu-satunya dapat menandingi Golok Maut!"

"Hm, aku sebenarnya penasaran. Baiklah, kuharap dia sudah bertemu adikku dan rencana tidak akan gagal."

Beng Tan sudah menghadap Coa-ongya. Dia tentu saja tidak mendengar pembicaraan ini yang mungkin akan menimbulkan kecurigaannya. Maklumlah, kaisar tak bersuara keras-keras dan Kun-taijin juga tampak berhati-hati. Dan ketika dia tiba di gedung pangeran itu dan Coa-ongya sudah menyambut maka bayangan lima kakek pelindung tampak berkelebatan disekitar sang pangeran.

"Aha, kau, Beng Tan? Sudah datang?"

Beng Tan memberi hormat. Coa-ongya yang berdiri menyambut dan bergegas bangkit dari kursinya membuat Beng Tan agak tersipu. Sebenarnya dia sudah mengenal pangeran ini kecuali yang bersangkutan. Coa-ongya belum pernah bertemu muka tapi agaknya sudah dapat menduga siapa dia, tentu dari para pembantunya. Dan ketika dia memberi hormat dan Coa-ongya bersinar-sinar memandangnya gembira mendadak pangeran itu tertegun melihat Swi Cu, sepasang matanya mengeluarkan cahaya aneh.

"Siapa dia?"

"Maaf," Beng Tan menjura. "Kekasih hamba, ong-ya. Swi Cu."

"Hm, cantik sekali!" sang pangeran memuji tak canggung-canggung, tiba-tiba tertawa dan menarik lengan Beng Tan. "Mari... mari duduk, Beng Tan. Aku sudah mendapat kabar tentang kedatanganmu dari sri baginda kaisar!"

Swi Cu berdetak. Beng Tan sudah ditarik pangeran itu dan duduk menghadapi meja besar, diperkenalkan kepada kelima kakek-kakek itu tapi Beng Tan tersenyum. Tentu saja dia mengenal dan bahkan pernah bergebrak! Dan ketika Sudra maupun saudaranya melengos dan merah bertemu pemuda ini maka Swi Cu agak berdebar melihat kilatan mata Coa-ongya yang agak lain dan membuatnya tidak enak.

"Siapa kekasihmu ini? Dari mana?"

Beng Tan tersenyum. Dengan wajar dia menjawab bahwa Swi Cu adalah wakil ketua Hek-yan-pang, berkata bahwa gadis itu dikenalnya di Hek-yan-pang pula, ketika diserbu dan mendapat amukan Golok Maut. Dan ketika Coa-ongya terkejut tapi merah mukanya mendengar nama Golok Maut disebut-sebut maka perhatiannya terseret dan mengepal tinju dengan mata berapi.

"Ah, kiranya Hu-pangcu dari Perkumpulan Walet Hitam. Maaf, aku tak tahu, nona. Kukira siapa! Hm, dan Golok Maut menyerang Hek-yan-pang pula. Sungguh kurang ajar! Apakah ketuamu bershe Coa atau Ci?"

"Tidak," Swi Cu menjawab. "Suciku bukan she Coa atau Ci, ong-ya. Tapi kedatangan Golok Maut semata atas keponakanmu Ci Fang itu!"

"Oh, dia? Ya-ya..." pangeran ini mengangguk-angguk. "Sekarang Ci Fang entah kemana, nona. Dan ayahnya terbunuh oleh Si Golok Maut itu. Jahanam, aku ingin menuntut balas!"

Beng Tan bermuka murung. Bicara tentang itu tiba-tiba saja dia sudah dibawa kemasalah dendam. Pangeran tampak begitu benci namun tak dapat disembunyikan pula ketakutan atau kekhawatirannya yang hebat. Maklumlah, Golok Maut benar-benar luar biasa dan dua kali menyatroni istana dua kali itu pula Golok Maut dapat meloloskan diri. Jadi tokoh ini memang amat lihai dan kepandaiannya tinggi.

Beng Tan sendiri mengakui itu karena sudah pernah bertanding dan mengadu jiwa, nyaris sampyuh kalau saja kakek dewa Bu-beng Sian-su tidak datang menolong. Dan ketika pembicaraan sudah berkisar ke Golok Maut ini dan Coa-ongya sesekali masih menyambar Swi Cu dengan sinar mata aneh maka pangeran menutup bahwa sri baginda kaisar katanya mengutus Beng Tan untuk menangkap dan membunuh laki-laki bercaping itu.

"Semalam sri baginda telah memanggil aku, dan menerangkan maksud atau keinginannya. Nah, katakan bagaimana keinginanmu atau keputusan kaisar setelah kau menghadap padanya!"

"Hamba diminta ke Lembah Iblis..."

"Cocok! Kalau begitu limaribu pasukan juga akan menyertaimu!"

"Tidak, untuk ini hamba menolak, ong-ya. Memalukan rasanya untuk membekuk seorang saja harus dikerahkan sedemikian banyak orang," Beng Tan menggeleng, ganti memotong omongan orang. "Hamba mengajukan usul lain dan kini sri baginda menyerahkannya kepada paduka!"

"Hm, usul apa? Tentang apa?"

"Bantuan ke Lembah Iblis itu. Sri baginda khawatir kalau Golok Maut lolos, minta agar hamba sekali kerja tak mengulang dua tiga kali."

"Ya-ya, itu juga dikatakannya kepadaku!" Coa-ongya mengangguk-angguk. "Aku rasa memang benar, Beng Tan. Bukan tidak mempercayai kepandaianmu melainkan semata mengepung dan menjaga supaya Golok Maut tidak melarikan diri."

"Hm, cara ini hamba tak suka," Beng Tan menggeleng lagi. "Kalau bantuan dimaksudkan agar Golok Maut tidak melarikan diri maka jumlah demikian besar tidak cocok bagi hamba, ong-ya. Terus terang hamba menolak. Dan sri baginda menyetujui rencana hamba yang lain!"

"Hm!" Coa-ongya bersinar-sinar, kagum dan mendecak karena tidak sembarang orang dapat dengan begitu saja "memerintah" kaisar. Beng Tan telah mempengaruhi kaisar dan menolak bantuan pasukan, perbuatan yang tak mungkin dilakukan orang lain kalau pemuda itu betul-betul tidak memiliki kepandaian tinggi. Dan ketika Coa-ongya mengangguk-angguk dan bertanya bagaimana maksud Beng Tan, maka pemuda ini memandang dua kakek India itu bersama tiga temannya yang lain.

"Hamba ingin meminjam pengawal-pengawal pribadi paduka. Dengan lain kata, limaribu pasukan itu hamba ganti saja dengan lima orang pembantu paduka!"

Sang pangeran tertegun. "Mereka-mereka ini?"

"Ya, mereka-mereka ini, ong-ya. Mindra dan teman-temannya. Hamba telah berkenalan dengan mereka dan tentu mereka setuju, asal paduka setuju pula!"

"Hm-hm!" pangeran berseri-seri, menoleh kebelakang. "Bagaimana kalian, Mindra? Setuju?"

"Kami menyerahkannya kepada paduka," Mindra menjawab gugup. "Kalau paduka setuju tentu saja kami setuju, pangeran. Tapi bagaimana istana kalau ditinggal kami semua!"

"Hm, sri baginda menjamin Golok Maut tak akan datang dalam waktu dekat. Dia dipastikan kembali ke Lembah Iblis!" Beng Tan menjawab, mendahului. "Karena itu masalah istana tak usah khawatir, Mindra, Lui-ciangkun atau Kwan-goanswe akan mengambil alih tugas kita disini!"

"Benar," Coa-ongya mengangguk. "Kami mendapat kabar bahwa Golok Maut bertempat tinggal di Lembah Iblis, Beng Tan. Dan sri baginda juga telah memberitahukan pandangannya itu. Kalau kau minta mereka ini menemani dan sri baginda tak menolak tentu saja aku juga memenuhi permintaanmu!"

"Kalau begitu terima kasih," Beng Tan bersoja. "Tapi keikutsertaan mereka hanya menjaga disekitar lembah, ong-ya. Jangan sekali-sekali membantu hamba mengeroyok Si Golok Maut!"

"Ha-ha!" sang pangeran tertawa bergelak. "Kau jujur, Beng Tan. Tapi sekilas berkesan sombong! Hm, kalau saja aku tak mendengar tentang kelihaianmu dan kau bukan pengawal bayangan sri baginda kaisar tentu aku akan menganggapmu bermulut besar! Eh, omong-omong aku ingin kau menunjukkan sedikit kepandaianmu, Beng Tan. Bolehkah? Kalau kau mampu menghadapi Golok Maut seorang diri tentu kau mampu pula menghadapi kelima pembantuku ini. Nah, coba perlihatkan kepandaianmu dan biar mataku ini terbuka!"

Coa-ongya tertawa bergelak, pembicaraan inti sudah selesai dan kini tiba gilirannya untuk menyaksikan kepandaian pemuda itu. Sebelumnya Sudra dan Mindra telah memuji kepandaian pemuda ini, dan kaisar pun mempergunakan pemuda itu sebagai pengawal bayangannya, satu jabatan tinggi karena mempertaruhkan kepercayaan yang besar. Dan ketika Beng Tan tersenyum dan dua kakek India itu tersipu merah maka Beng Tan tentu saja memenuhi permintaan pangeran ini.

Langsung saja dia memandang lima kakek itu, Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko melotot namun Beng Tan tidak perduli. Dan ketika dia melangkah maju dan mengangguk di depan kelima kakek itu maka Beng Tan sudah berhadapan dengan Mindra dan kawan-kawannya ini.

"Ong-ya ingin aku menundukkan kalian. Lagi pula belum pernah kalian berlima maju mengeroyok secara berbareng. Nah, majulah, Mindra. Dan mari kita main-main sebentar!"

Mindra dan kawan-kawannya berkelebat. Ditantang dan digapai pemuda itu tentu saja mereka tak dapat menolak, mundur adalah merupakan perbuatan pengecut dan memalukan. Dan ketika semuanya bergerak dan Coa-ongya ingin melihat kepandaian pemuda ini maka Beng Tan bersiap-siap memasang kuda-kuda.

"Tak perlu sungkan lagi. Kita bergebrak siapa yang robek bajunya dia kalah!"

Mindra mendesis. Kakek ini tentu saja maklum akan kepandaian Beng Tan namun marah karena pemuda itu dianggap merendahkan dirinya di depan Coa-ongya. Beng Tan tak mencabut senjata dan tentu saja dia lebih berani, karena pemuda itu akan lebih hebat kalau mengeluarkan Pek-jit-kiamnya, Pedang Matahari, pedang yang mengerikan karena tajamnya sama dengan Golok Penghisap Darah, golok maut di tangan Si Golok Maut itu. Dan ketika si pemuda sudah bersiap dan keempat kawannnya pun juga sudah menggeram membentak pemuda itu tiba-tiba kakek ini sudah maju menubruk dengan pukulan Hwi-seng-ciangnya.

"Bocah, boleh robohkan kami berlima kalau kau mampu!"

"Ha-ha, tentu. Kalau tidak begitu tentu kalian tak akan tunduk, Mindra. Dan lihat sebelum limapuluh jurus kalian semua akan kurobohkan, tanpa senjata!"

Beng Tan bergerak, membiarkan pukulan Hwi-seng-ciang lewat dan tiba-tiba Hwee-kang atau Pukulan Api menyembur dari mulut kakek Yalucang. Kakek itu marah dan menganggap Beng Tan juga sombong, membentak dan bergeraklah Pukulan Api dari mulutnya, meniup sekaligus menghantam dengan kedua lengannya pula sementara Hek-mo-ko dan Pek-mo-ko melepas Pek-see-kang dan Hek-see-kang mereka, hebat dan tentu saja tidak main-main. Tapi ketika Beng Tan berkelebat dan Hwi-seng-ciang yang dilancarkan Mindra melewati samping tubuhnya maka semua pukulan-pukulan itu diterimanya, disambut dengan Pek-lui-ciang yang tiba-tiba meledak dari kedua lengannya, Pukulan Kilat.

"Dar!"

Kelima lawannya terpekik. Mo-ko dan lain-lain terpental dan lima orang kakek itu kaget bukan main, merasa pukulan mereka tertolak dan Hwee-kang atau Pukulan Api malah membalik menyambar kakek Yalucang sendiri, menyembur dan mengenai mukanya. Tapi ketika kakek itu bergulingan dan meniup padam maka api yang berkobar lenyap dan Beng Tan pun tertawa.

"Ha-ha, gebrak pemanasan, Yalucang. Selanjutnya kalian harus lebih berhati-hati!"

Beng Tan berkelebat mendahului lawan, tertawa dan tiba-tiba beterbangan mengelilingi kelima orang itu bagai capung menyambar-nyambar. Lima kakek itu membentak dan tentu saja tak mau kalah. Dan ketika mereka mengerahkan ginkangnya pula dan ilmu meringankan tubuh ini dipakai untuk menghadapi Beng Tan yang sudah beterbangan kian cepat maka enam orang itu tiba-tiba tak nampak ujudnya lagi karena sudah berobah menjadi bayang-bayang yang luar biasa cepat, jauh lebih cenat daripada kelima kakek itu sendiri.

"Hebat!" Coa-ongya memuji, terkejut tapi tertawa girang, "Hebat sekali, Beng Tan. Ah, kau benar-Denar luar biasa dan agaknya setanding dengan Golok Maut!"

"Ha-ha," Beng Tan tertawa. "Hamba sudah hapal kepandaian lima orang lawan hamba ini ong-ya. Tapi kalau mereka mau mencabut senjata tentu kekalahan mereka lebih cepat."

"Masa? Begitukah? Eh cabut senjata kalian, Mindra. Dan lihat berapa jurus anak muda itu mengalahkan kalian. Aku ingin melihat Pek-jit-kiamnya pula."

"Ha-ha, hamba akan mengalahkan mereka dalam duapuluh lima jurus, setengah dari yang dijanjikan!"

"Ah, begitukah? Hei, cabut senjata kalian, Mindra. Dan perlihatkan apakah pemuda ini bermulut sombong atau tidak!"

"Baik!" dan Mindra serta kawan-kawan yang tiba-tiba mencabut senjata dan menggerakkannya diruangan besar itu lalu melengking dan marah kepada Beng Tan, hampir bersamaan semuanya bergerak berbareng dan tongkat atau roda-gergaji bersiut hebat, menderu dan nenggala serta cambuk juga mengeluarkan sinar bercahaya ketika menjeletar dan menusuk kuat. Dan ketika kelima kakek itu berseru mengeroyok Beng Tan maka Beng Tan tiba-tiba berjungkir balik dan melayang tinggi nyaris menyentuh belandar ruangan.

"Siut-trak-dess!"

Semua senjata menghantam lantai. Beng Tan telah menyelamatkan dirinya dengan berjungkir balik itu, tertawa dan tiba-tiba mencabut Pek-jit-kiamnya ketika melayang turun. Dan karena lima orang itu sudah menggerakkan senjata masing-masing dan belum sempat menarik diri ketika Beng Tan menggerakkan Pek-jit-kiamnya maka Pedang Matahari itu menusuk ganas ketika ganti menyambar mereka.

"Awas!"

Mindra dan kawan-kawan terkejut. Mereka terpaksa melempar kepala kebelakang ketika Pek-jit-kiam menyambar, masih juga tersontek dan robeklah kelima baju kakek-kakek itu. Dan ketika mereka berseru tertahan dan Coa-ongya berteriak kagum maka Beng Tan sudah berdiri lagi di tanah menerima bentakan dan serangan lawan, yang sudah maju dan marah kepada pemuda itu!

"Ha-ha, hebat, Beng Tan. Aih, ini agaknya ilmu silat pedangmu itu. Wah, luar biasa. Hebat dan mengagumkan!" dan ketika Coa-ongya bertepuk tangan dan memuji berulang-ulang maka hitungan demi hitungan sudah mulai dilakukan Beng Tan.

Pedang Matahari sudah bergerak naik turun menahan dan menyambar senjata kelima lawannya itu, kian lama kian cepat saja hingga pedang bersinar putih itu sudah tak dapat diikuti mata lagi. Dan ketika pertandingan sudah berjalan cepat limabelas jurus banyaknya dan kakek Ya-lucang membentak menggerakkan roda-gergajinya maka untuk pertama kali Pek-jit-kiam membentur senjata lawan.

"Crak!"

Roda-gergaji putus. Kakek tinggi besar itu berteriak kaget karena demikian mudahnya pedang di tangan si pemuda membacok senjatanya, seolah membacok agar-agar! Dan ketika kakek itu bergulingan melempar tubuh dan tongkat Mo-ko kakak beradik juga menyambar pemuda ini maka Beng Tan juga menyambut dan membabat dari samping.

"Crak-crak!"

Semuanya putus! Mo-ko menjerit dan bergulingan seperti kakek tinggi besar itu pula ketika pedang masih menyambar, menukik dan menuju dada mereka. Tapi ketika mereka masih terlambat juga dan pedang menggores ke bawah maka leher Mo-ko kakak beradik tergurat panjang.

"Bret!"

Dua iblis itu pucat. Coa-ongya bersorak kagum dan tak habis-habisnya memuji Beng Tan. Sekarang dia benar-benar melihat kepandaian pemuda ini yang sangat luar biasa. Dan ketika gebrakan itu sudah berjalan duapuluh tiga jurus dan tinggal dua jurus lagi untuk merobohkan dua kakek terakhir maka Mindra dan Sudra sudah mengeluh melihat Pek-jit-kiam mengurung diri mereka, tak dapat keluar...!