GOLOK MAUT
JILID 23
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"CRAK-CRAK!" Habislah harapan dua kakek ini. Mereka terpaksa menangkis karena pedang menuju tenggorokan, tak dapat dikelit atau dielak karena gerakan pedang sedemikian cepatnya, menyambar dan tahu- tahu su-dah serambut saja di kulit leher. Dan ke-tika mereka menangkis dan nenggala mau-pun cambuk tentu saja bukan tandingan Pek-jit-kiam yang luar biasa maka dua senjata di tangan kakek lihai itu putus.

"Ha-ha!" pangeran Coa bersorak. "Kalian kalah, Mindra. Sekarang Beng Tan benar-benar membuktikan omongannya dan tepat duapuluh lima jurus kalian menyerah!"

Memang benar. Lima orang kakek itu terpaksa mengakui kekalahannya dan mereka menunduk lesu. Beng Tan telah mengalahkan mereka dan kalau pemuda itu bersikap kejam tentu mereka bakal terlu-ka, tidak hanya tergurat kulit atau pecah berdarah seperti Mo-ko kakak beradik. Dan ketika seraua raundur dan Coa-ongya melompat menepuk-nepuk Eieng Tan maka hari itu Beng Tan benar-benar mendapat perhatian istimewa pangeran ini.

"Kau hebat, ilmu pedangmu luar biasa. Ah, ingin kulihat kalau kau sudah bertanding dengan Si Golok Maut itu! Hm, siapa gurumu, Beng Tan? Bolehkah aku tahu?"

"Maaf," Beng Tan tersenyum. "Guruku tak mau disebut guru, ong-ya. Aku hanya belajar sedikit-sedikit darinya. Aku tak mempunyai guru dalam arti mewarisi semua kepandaiannya."

"Ah, dan itu saja sudah membuatnmu sedemikian lihai? Wah, kalau begitu orang yang mengajarimu itu hebat luar biasa, Beng Tan. Pantasnya dewa dan bukan manusia!"

"Memang, dia kuanggap dewa. Tapi, ah.... sudahlah. Guruku itu tak suka memperkenalkan diri dan sekarang apa yang harus kulakukan, ong-ya. Kapan aku berangkat dan kapan pula kelima orang ini ikut denganku!"

"Ah, ha-ha! Jangan tergesa-gesa. Malam ini biar kau beristirahat semalam dan besok baru berangkat!"

"Tapi sri baginda..."

"Tak usah takut. Aku yang menjamin! Betapapun kelima orangku ini harus bersiap-siap kalau ingin mengikutimu. Sudahlah, kita bersenang-senang dulu, Beng Tan. Dan sungguh beruntung kau mendapatkan Pek-jit-kiam itu. Hm, aku iri!" Coa-ongya tak segan-segan memandang belakang punggung Beng Tan, benar-benar iri akan pedang hebat yang dibawa pemuda itu.

Beng Tan tersenyum saja dan dijamulah pemuda itu oleh hidangan-hidangan lezat yang disuguhkan tuan rumah. Dan ketika malam itu dia diminta menginap di gedung pangeran ini dan Beng Tan ragu untuk menolak maka sang pangeran sudah memandang Swi Cu, yang sejak tadi diam dan hanya mengikuti pembicaraan kekasihnya.

"Dan kau," pangeran ini tersenyum berkata. "Kau boleh tinggal di kamar belakang, nona. Ada sebuah kamar khusus untuk wanita disana. Beng Tan biar disamping gedung, dan kau disana."

Swi Cu tertegun. Sebenarnya dia tak ingin jauh-jauh dari Beng Tan. Semalam dia selalu berdekatan dengan pemuda itu, kamar bersebelahan, dapat bercakap-cakap dan mudah bertemu muka kalau ingin bicara. Maka begitu Coa-ongya berkata dan tentu saja dia tak sanggup menolak, karena malu baginya kalau minta kamar yang dekat dengan Beng Tan maka disana Beng Tan juga agak sedikit gugup mendengar penawaran itu. Namun, mau apalagi? Maka ketika malam itu mereka beristirahat dan Swi Cu diam-diam mengumpat pangeran ini karena memisah mereka dengan kamar yang berjauhan maka sebelum tidur gadis ini melepas kemendongkolannya.

"Sialan Coa-ongya itu. Kenapa dia memberiku kamar yang jauh? Uh, sudah tahu aku kekasihmu masih saja dia mengatur kamar yang terlalu jauh. Kalau aku tak ma lu tentu sudah kuminta kamar yang lain, yang dekat denganmu!"

"Sudahlah," Beng Tan tersenyum, menarik napas dalam. "Aku juga tak enak menawar yang lain, Cu-moi. Tapi tak apa ah, toh kita tetap disatu gedung yang sama."

"Benar, tapi aku dibelakang, koko. Jauh darimu. Kalau ada apa-apa tentu kau tak segera tahu!"

"Ah, ada apa bagaimana? Kita di tempat aman, Cu-moi. Tak akan ada apa-apa, Sudahlah, kau tidur dan kita beristirahat, besok aku harus berangkat!"

Swi Cu mengomel. Beng Tan telah menutup pintu kamarnya karena tadi pemuda itu mengantar, pergi dan sekarang sudah kembali ke kamarnya sendiri. Dan ketika malam itu Swi Cu membanting kesal di atas pembaringannya yang empuk maka malam berjalan merayap dan gadis inipun akhirnya tertidur.

* * * * * * *

"Hei, augh.... uph!"

Swi Cu kaget bukan main. Malam itu dia terlelap pulas ketika tiba-tiba lampu kamarnya padam. Gadis ini terkejut dan gerakan refleksnya sebagai gadis kang-ouw timbul, bangkit dan tiba-tiba dia membuka mata ketika lampu kamarnya itu padam. Kesiur angin di jendela yang tiba-tiba terbuka lebar membuat gadis ini tersentak, bangun dan mau melompat turun tapi bayangan itu, yang tampak hitam dan tidak jelas tiba-tiba sudah menyambar, menubruk dan mendekap tubuhnya di atas pembaringan. Dan ketika Swi Cu kaget dan tentu saja tersentak maka bayangan itu sudah menciuminya dan tubuhnya digerayangi dari bawah sampai ke atas.

"Kurang ajar. Aeh, lepaskan... uph!" Swi Cu meronta-ronta, membentak dan menjerit tapi suara yang keluar hanya ap-up saja. Dia tak dapat berteriak keras-keras karena tubuh dan mulutnya ditutup. Kumis yang kasar dan mata yang berkilat bagai binatang yang sedang berahi menutup tubuhnya erat-erat, mencium dan mulutnya hampir tertutup oleh mulut lawan. Dan ketika Swi Cu kaget dan tentu saja meronta-ronta, marah dan ngeri maka lawan sudah melipat punggungnya mem-buat dia roboh kembali di atas pembaringannya, yang segera berderit.

"Jangan berteriak, jangan membuat gaduh. Aku ingin menumpahkan sayang dan kasihku padamu... cup-cup!"

Bayangan itu mendengus-dengus, hampir membuat Swi Cu pingsan namun gadis itu tentu saja tidak menyerah. Swi Cu sudah ditelikung namun gadis ini masih dapat menggerakkan kakinya. Dan ketika dengan bentakan yang mirip rintihan seekor harimau yang lagi ketakutan gadis ini mengangkat lututnya tiba-tiba tepat sekali selangkangan lawan berhasil ditendang.

"Lepaskan aku... lepaskan aku,.. dess!"

Laki laki itu terjengkang. Mulutnya mengeluarkan teriakan tertahan dan Swi Cu sudah bangkit menggulingkan tubuhnya. Dengan marah tapi juga pucat gadis ini melompat bangun. Dan ketika lampu dinyalakan lagi dan Swi Cu terbelalak melihat seorang laki-laki bercaping tiba-tiba gadis ini tersentak dan menjerit.

"Golok Maut...!"

Laki-laki itu menggeram. Swi Cu tiba-tiba ditubruk dan gadis ini berkelit, kaget karena tak menyangka bahwa lawan yang datang adalah Golok Maut. Lawan mempergunakan kedok namun caping di atas kepala itu tak mungkin dilupanya. Dia hafal betul akan caping itu dan memang hanya Golok Mautlah tokoh yang mengenakan caping. Dan ketika Swi Cu hilang kagetnya sementara tubrukan lawan juga luput maka Golok Maut, laki-laki itu tiba-tiba mengumpat dan memadamkan lampu yang tadi dinyalakan Swi Cu.

"Benar, aku, Swi Cu. Dan kini terimalah cintaku atau kau mampus!"

Swi Cu melengking. Akhirnya kamar menjadi padam lagi dan mereka bergerak di tempat yang gelap. Golok Maut menubruk dan menyerang lagi namun Swi Cu menghindar Dan ketika bentakan-bentakan disusul umpatan dan geraman laki-laki itu, Si Golok Maut, maka Swi Cu sudah mencabut pedangnya dan menyerang serta menusuk atau membacok.

"Keparat! Terkutuk kau, Golok Maut. Kiranya disamping pembunuh kaupun seorang jai-hwa-cat (pemerkosa). Ah, kubunuh kau. Jahanam...!" dan Swi Cu yang mengamuk sambil marah-marah akhirnya menerjang dan menyerang kamarnya itu, dua tiga kali menyalakan lampu namun dua tiga kali itu pula lawannya memadamkan kembali.

Rupanya Golok Maut tak mau dikenal dan biar di dalam gelap begitu saja, melayani dan menangkis pedang di tangan Swi Cu yang menusuk dan membacok. Dan ketika dentingan atau benturan keras terjadi setiap kali pedang ditangkis kuku jari maka Swi Cu pucat ketika lawan mulai mendesis.

"Swi Cu, kau tak dapat diajak baik-baik. Awas, aku akan membunuhmu kalau kau tak mau menyerah!"

"Jahanam! Kau boleh bunuh aku kalau mampu, Golok Maut. Dan jangan harap kau dapat menggagahi aku seperti keinginanmu. Keparat, kebetulan kau datang karena akupun ingin menagih sakit hati suciku yang kau nodai... cring-plaK!" dan pedang yang bertemu kuku jari tiba-tiba terpental ketika ditangkis lawan, membuat Swi Cu terpelanting dan gadis ini kaget bukan main karena tenaga lawan sekarang demikian hebatnya.

Telapak tangannya sampai pedas dan Swi Cu yang bergulingan menyelamatkan diri tiba-tiba melihat bayangan lawan menyambar, menubruk dan mengejarnya. Dan ketika gadis ini menjerit sambil menggerakkan pedangnya membacok tiba-tiba pedangnya malah mencelat dan tangan lawan pun sudah mencengkeram bahunya.

"Aduh, tolong, Beng Tan. Tolong....!"

Jeritan ini menggugah kesepian malam. Swi Cu yang tak tahan lagi dan tahu kelihaian Si Golok Maut akhirnya menjerit dan berteriak memanggil Beng Tan. Suaranya penuh ketakutan dan melengking tinggi. Maklumlah, Swi Cu juga kesakitan oleh cengkeraman lawan yang amat kuat dibahunya. Dan ketika lawan terkejut karena Swi Cu memanggil kekasihnya maka di luar terlihat sesosok bayangan dan Beng Tan berkelebat muncul, seperti iblis.

"Swi Cu, apa yang terjadi?"

Golok Maut terkejut. Kamar dalam keadaan gelap-gulita. Jari pun tak dapat dilihat namun sebagai orang berkepandaian tinggi Beng Tan dapat melihat bayang-bayang hitam di dalam, juga keluhan atau rintihan Swi Cu, yang tampaknya tertindih dan bayangan hitam itu mencekiknya, Dan ketika Beng Tan tentu saja terkejut dan bayangan itu juga terkejut, karena cekikannya segera mengendor dan berkelebat ke arah Beng Tan tiba-tiba kedua tangannya sudah memukul dan melepas sebuah pukulan dahsyat.

"Dess!"

Beng Tan terlempar berjungkir balik. Pemuda ini berteriak namun dapat menahan pukulan itu, dia tadi mau memasuki jendela namun lawan di dalam sudah mendahului, menyerang dan melepas pukulannya. Dan ketika Beng Tan berjungkir balik dan terkesiap melihat lawan yang bercaping maka Swi Cu di dalam sudah bangkit berdiri dan terhuyung-huyung menudingkan jarinya.

"Dia... dia Golok Maut. Aku mau diperkosanya!"

Beng Tan tertegun. Dia sudah melayang turun ketika Swi Cu terhuyung dan memaki lawannya itu, berkelebat keiuar. Dan ketika Golok Maut, laki-laki yang mereka duga itu mendengus dan berjungkir balik melayang turun maka tokoh bercaping ini tiba-tiba melarikan diri.

"Hei..!" Beng Tan terkejut, marah. "Jangan lari, Golok Maut. Tunggu..!"

Namun Swi Cu tiba-tiba mengeluh. Entah kenapa mendadak gadis itu jatuh terduduk, memanggil nama Beng Tan dan roboh ke tanah. Dan ketika lawan di depan juga melepas empat batang pisau kecil dan Beng Tan menyampok runtuh maka dari empat penjuru tiba-tiba muncul bayangan-bayangan Mo-ko dan Mindra.

"Tahan, kejar! Dia... dia Golok Maut!"

Beng Tan gugup, mau mengejar lawan atau melihat kekasihnya dulu. Swi Cu terkapar dan merintih-rintih di sana, kesakitan. Dan ketika Mo-ko serta lain-lainnya tertegun dan menjublak di tempat maka Golok Maut berseru bahwa mereka boleh mengejarnya sampai di Lembah Iblis.

"Siapa yang ingin mati boleh mengejar aku. Sampai di Lembah Iblis!"

Mindra dan keempat temannya tertegun. Mereka sudah terlanjur jerih mendengar nama Si Golok Maut. Tanpa disangka tanpa dinyana tiba-tiba tokoh itu muncul, di tempat mereka. Dan ketika Beng Tan berteriak-teriak sementara pemuda itu sudah menolong kekasihnya maka Mindra dan empat temannya ini tak ada yang mengejar, mendelong mengawasi lawan yang sebentar kemudian sudah lenyap, hilang ditelan kegelapan malam.

"Hei..!" Beng Tan melotot. "Kejar dan tahan dulu jahanam itu, Mo-ko. Sebentar kemudian aku membantu!"

Mo-ko bergerak. Akhirnya mereka mengejar namun kesan ayal-ayalan tak dapat disembunyikan. Iblis hitam putih ini tak mungkin berani melaksanakan perintah Beng Tan sepenuhnya. Dan ketika Mindra juga bergerak dan Sudra pura-pura meledakkan cambuknya maka Beng Tan mengepal tinju menolong kekasihnya, yang tiba-tiba biru dan kehitaman mukanya.

"Ah, kau terkena racun. Keparat, Golok Maut juga suka mempergunakan racun!" Beng Tan marah, terbelalak dan cepat menolong kekasihnya dan menotok sana-sini. Beng Tan menjejali kekasihnya dengan sebutir obat penawar racun. Namun ketika Swi Cu masih mengeluh dan menggigil tubuhnya maka gadis ini mengerang dan roboh pingsan.

"Keparat!" Beng Tan jadi semakin bingung lagi, tak mungkin mengejar lawannya. "Kau keji dan curang, Golok Maut. Tak sangka kalau sekarang kau suka mempergunakan racun dan segala kekejian menjijikkan!" Beng Tan berkelebat, menolong dan membawa kekasihnya ke kamar dan segera pemuda itu menyalakan lampu.

Di dalam dia melihat kursi dan meja yang jungkir balik. Bekas pertempuran memang tak dapat disembunyikan lagi. Dan ketika Beng Tan melihat luka cengkeraman di bahunya maka pemuda ini terkejut dan cepat menempelkan lengan di bahu kekasihnya itu, yang tiba-tiba panas seperti terbakar!

"Bedebah! Jahanam terkutuk!" Beng Tan merah padam, marah dan cepat tanpa banyak bicara lagi dia mengerahkan sinkangnya untuk "menyedot" racun di bahu kekasihnya itu. Dan ketika tak lama kemudian darah menghitam keluar bercampur bau yang busuk maka Swi Cu mengeluh sadar membuka matanya, langsung menangis dan mengguguk menubruk Beng Tan.

"Golok Maut... Golok Maut mau memperkosaku. Dia... dia jahanam terkutuk!"

"Sudahlah," Beng Tan lega, memeluk kekasihnya ini. "Kau sudah selamat, Cu-moi. Dan telanlah sekali lagi obat ini." Beng Tan menyerahkan dua pil merah muda, memberikan minuman dan Swi Cu terisak menerima semuanya itu. Dan ketika obat sudah bekerja cepat dan Swi Cu dapat melompat bangun maka diluar Coa-ongya tiba-tiba muncul.

"Kalian tak apa-apa? Swi Cu selamat?"

"Ah," Beng Tan bangkit berdiri, memutar tubuhnya. "Kekasihku selamat, ong-ya. Tapi Golok Maut melarikan diri!"

"Aku tahu... aku sudah mendengar," dan ketika pangeran itu mengepal tinjunya dan mencaci-maki Golok Maut maka malam itu Mindra dan kawan-kawannya melapor bahwa mereka tak dapat menangkap laki-laki bercaping itu, yang sudah menghilang dan lenyap di gelapan malam.

Beng Tan maupun Coa-ongya dapat memaklumi itu, Beng Tan bahkan diam-diam tahu bahwa Mindra dan empat temannya ini tak mungkin melakukan pengejaran sungguh-sungguh. Dia tentu saja tahu bahwa kelima orang ini gentar menghadapi Golok Maut, yang lihai dan memiliki golok mengerikan itu. Dan ketika malam itu mereka kembali ke tempat masing-masing dan sedikit kegaduhan itu berhasil diatasi maka Beng Tan diminta agar pindah ke kamar belakang pula, oleh Swi Cu.

"Aku takut. Golok Maut amat lihai. Kau pindah kebelakang juga, koko. Menemani aku di kamar sebelah!"

"Hm, akan kuminta pada pangeran," dan ketika Beng Tan menyatakan itu dan Coa-ongya tampak ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala maka malam itu Beng Tan pindah di kamar belakang, bersebelahan dengan kamat Swi Cu.

"Coba ceritakan sekali lagi apa yang kau alami ini. Bagaimana Golok Maut datang dan apa yang dia lakukan."

"Dia tahu-tahu ada di kamar ini, lampu padam. Dan ketika aku terkejut dan terbangun tiba-tiba dia sudah menubruk dan memeluk aku!"

"Hm!" Beng Tan merah mukanya. "Lalu apa yang dia lakukan, moi-moi?"

"Dia... dia menindih tubuhku, menciumi! Ah, tak usah kukatakan ini, koko. Golok Maut itu jahanam keparat!" Swi Cu menangis, menutupi mukanya dan ada rasa panas di hati Beng Tan.

Pemuda ini terbakar dan tiba-tiba secara aneh dipandanginya kekasihnya itu. Swi Cu tiba-tiba seolah barang "kotor" yang harus dicurigai. Namun ketika Beng Tan menarik napas panjang dan hampir saja terjebak dalam nafsu egonya tiba-tiba dia memeluk dan mencium rambut kekasihnya ini.

"Sudahlah, dia... dia tak sampai mengganggu, bukan?"

"Apa? Maksudmu... ah, tidak, koko. Kalau itu terjadi lebih baik aku mati bunuh diri!"

Beng Tan lega, memeluk dan mencium kekasihnya ini lagi dan Swi Cu tiba-tiba kecewa. Dia kecewa kenapa Beng Tan ada kecurigaan seperti itu, tak percaya. Maka ketika dia melepaskan diri dan marah memandang kekasihnya itu tiba-tiba gadis ini berkata,

"Aku besok tak ikut denganmu. Aku ingin kembali!"

"Eh!" Beng Tan terkejut. "Apa maksudmu, moi-moi? Kembali kemana?"

"Hek-yan-pang. Aku besok akan kesana dan tidak ikut ke Lembah Iblis!"

Beng Tan melonjak. Swi Cu tiba-tiba menunjukkan kemarahannya dengan jelas, kaget dia. Dan ketika gadis itu membanting pintu kamar dan mengguguk di pembaringan maka Beng Tan berdebar mencari kesalahan sendiri. "Cu-moi, kenapa kau tiba-tiba begini? Kenapa kau marah-marah kepadaku? Apa salahku?"

Gadis itu tak menjawab. Swi Cu menutupi muka dengan bantal dan tersedu-sedulah gadis itu mendengar pertanyaan Beng Tan. Dan ketika Beng Tan menunduk dan menarik bantal itu tiba-tiba gadis ini malah membentak, "Pergi... pergi kau. Diriku sudah kotor!"

Beng Tan tersentak. Untuk selanjutnya dia segera mendengar kutuk dan caci maki kekasihnya, 'mengumpat dan memaki-maki Golok Maut itu. Dan ketika dia juga mendapat bagiannya karena gara-gara Golok Maut sekarang dia mencurigai kekasihnya maka Beng Tan sadar dan cepat tanggap.

"Kau boleh tinggalkan aku, Tan-ko. Besok kau berangkat sendiri dan aku kembali ke tempat tinggalku. Aku sudah dijamah Golok Maut, jangan percaya lagi kepadaku!"

"Ah-ah...!" Beng Tan tersipu. "Kau salah paham, moi-moi. Aku tidak mencurigaimu dan tetap percaya padamu. Siapa bilang aku mencurigaimu? Aku percaya bahwa kau tetap bersih, dan maafkan kalau sikap atau kata-kataku menyakiti hatimu!"

Swi Cu mengguguk. Dibelai dan dikecup penuh sayang begitu mendadak dia memukul-mukul dada Beng Tan. Memang dia marah dan benci kepada kekasihnya ini setelah mendengar nada pertanyaan Beng Tan. Betapapun sebagai wanita dia tahu itu, merasa, bahwa Beng Tan mencurigai dirinya dan jangan-jangan Golok Maut telah menodai, seperti halnya sucinya yang malang itu, yang sampai hamil!

Namun ketika Beng Tan mengecupnya lembut dan berulang-ulang pemuda itu menyatakan maafnya akhirnya Beng Tan menarik kekasihnya ini dan berlutut di tepi pembaringan.

"Moi-moi, maafkan aku. Terus terang saja, mana ada pemuda yang tak bakalan marah dan panas kalau kekasihnya dipeluk-peluk orang lain? Memang tadi aku sedikit mencurigaimu, moi-moi, terbakar. Tapi itulah tanda cintaku untukmu. Kau boleh percaya atau tidak tapi kalau besok kau tak ikut aku maka aku juga membatalkan perjalanan ke Lembah Iblis!"

Swi Cu kaget. "Kau gila? Kau... kau mau menolak perintah kaisar?"

"Kalau kau tak senang denganku justeru ini lebih berat, moi-moi. Kemarahan kaisar tak akan seberat kemarahanmu. Aku tak sanggup!"

"Oh, tidak! Jangan, koko... jangan. Aku... aku ikut!" dan ketika Swi Cu menangis dan gemetar mengangkat bangun kekasihnya itu maka gadis ini menciumi pipi Beng Tan dengan penuh haru.

Tentu saja terkejut dan terharu karena demi dia Beng Tan akan membatalkan perjalanannya ke Lembah Iblis, padahal perjalanan itu adalah perintah kaisar dan siapa pun tak boleh menolak. Menolak berarti mati dan Beng Tan sanggup melakukan itu, demi dia! Dan karena ini menunjukkan cinta yang amat besar dan kemarahan Swi Cu terganti oleh haru dan kasih yang mendalam tiba-tiba keduanya sudah berciuman dan berguling di tempat tidur.

"Moi-moi, demi kau aku siap melawan siapa saja. Jangankan sri baginda kaisar, iblispun akan kulawan dan siluman atau hantu tak akan membuat aku mundur, asal selalu berdua denganmu!"

"Oh, kau... kau gila, koko. Tidak, tidak boleh. Sebagai hamba yang baik kau harus melaksanakan perintah sri baginda dan untuk itu aku ikut denganmu!"

"Kau tak akan meninggalkan aku? Tak jadi ke Hek-yan-pang?"

"Tidak, tidak... aku harus menyertaimu dan jangan kau menjadi pengawal yang tak setia pada junjungannya!"

"Ah, terima kasih!" dan keduanya yang kembali sudah berciuman dan bahagia mendapatkan kehangatan cinta lalu malam itu tidur di kamar masing-masing.

Beng Tan tentu saja tak mau berbuat lebih dan Swi Cu kagum akan itu. Beng Tan selalu dapat menjaga dirinya dan setiap kali mereka mabok tentu pemuda itu mendorong kekasihnya, sekedar berciuman dan berdekapan mesra. Cukup, tak mau lebih. Dan ketika malam itu keduanya kembali memperoleh nikmat dan bahagia dari cinta yang suci maka Swi Cu lega ketika kekasihnya menutup pintu kamar sambil berkata,

"Nah, malam ini kita tidur bersebelahan. Tak akan ada yang berani mengganggumu. Selamat malam, moi-moi. Sampai besok dan tidurlah yang nyenyak!"

Swi Cu mengangguk. Air mata kebahagiaan masih membasahi pipinya, tersenyum dan sekali lagi dia mendapat ciuman lembut di pipi. Ah, Beng Tan memang pemuda yang lembut dan halus kalau bercinta!

Dan ketika malam itu mereka tidur di kamar bersebelahan dan Swi Cu tentu saja tenang maka keesokannya perjalanan ke Lembah Iblis sudah dipersiapkan. Pertarungan mati hidup antara pemuda baju putih ini dengan Si Golok Maut, pertandingan yang bakal tak terelakkan lagi!

* * * * * * * *

Mari kita lihat suasana di Lembah Iblis. Seperti diketahui, lembah ini adalah bekas tempat tinggal mendiang jago perkasa Sin-liong Hap Bu Kok bersama isterinya, wanita lihai dan amat gagah yang berjuluk Cheng-giok Sian-li (Dewi Permata Hijau). Dan karena mereka berdua sudah sama-sama tiada ketika memperebutkan Golok Penghisap Darah, golok maut yang amat berbahaya itu maka seseorang telah menggantikan sepasang suami isteri itu, yakni Si Golok Maut yang membunuh-bunuhi dan amat benci kepada orang-orang she Coa dan Ci.

Pagi itu Lembah Iblis masih sunyi. Ayam jantan berkokok berkali-kali dan pagi yang segar terasa menyeramkan di lembah ini. Dua tebing tinggi yang menjulang di sisi kanan lembah, tebing yang amat curam dan terjal sungguh ngeri untuk dipandang dari bawah. Lembah Iblis terletak di antara dua ceruk atau tebing ini, datar di bawah namun penuh tetumbuhan liar. Tanaman kaktus atau seruni liar tampak bertebaran dimana-mana, bercampur dengan mawar hutan atau bunga-bunga bangkai, yakni sejenis tanaman yang kalau dihembus angin mengeluarkan bau busuk. Jenis-jenis tanaman ini bertebaran rata dan suasana sunyi yang kering, benar-benar mencekam disitu.

Lembah Iblis tampak gelap dan tidak bersahabat. Pendatang akan mencium bau warna-warni di situ, kalau berdiri di mulut lembah. Dan ketika semuanya itu masih ditambah dengan suara-suara Jengkerik malam yang tiada habis-habisnya mengeluarkan suara mirip iblis melengking maka Lembah Iblis benar-benar lembah yang tidak enak dimasuki. Ada kesan angker di lembah ini, juga dingin.

Tak ada senyum atau tawa bersahabat. Semuanya dingin dan beku, mirip daerah makam yang dikeramatkan, dengan sebuah pohon siong yang tua dan besar. Dan ketika pagi itu Lembah Iblis masih sunyi namun diramaikan oleh suara-suara jengkerik malam yang bersahut-sahutan dan mengerik mendirikan bulu roma maka sesosok bayangan tampak terhuyung-huyung memasuki lembah, baju dan pakaiannya robek-robek, bahkan percikan darah tampak disana-sini. Siapa dia? Bukan lain Si Golok Maut, pemilik lembah!

Pagi itu Golok Maut tampak letih dan kehabisan tenaga, baru pulang dari kota raja setelah membunuh Ci-ongya disana, mengamuk dan membabat habis tigaratus pengawal dan busu. Dia letih dan ingin beristirahat, pulang kandang. Dan ketika pagi itu tokoh bercaping ini terseok-seok melangkah sementara pangkal lengan dan mata kakinya luka berdarah maka orang tahu bahwa Golok Maut memang nyaris celaka dalam satu pertempuran berat.

Tidak aneh. Dia hampir saja terperangkap dan tertangkap barisan jaring, jala-jala berkait yang dilepas para pengawal. Namun karena dia berkepandaian tinggi dan golok maut ditangannya itu mampu menabas putus setiap jaring yang datang maka tokoh ini selamat dan kini meninggalkan istana setelah satu dari dua orang musuhnya yang amat dibenci berhasil dibunuh.

Ci-ongya telah digorok dan semacam kepuasan aneh tampak di mata yang bersinar-sinar itu. Golok Maut sering tersenyum dan tertawa sendiri, kalau membayangkan betapa dia telah menipu penjaga dan memanggil pangeran she Ci itu, yang dengan mudah dibabat dan dipenggal lehernya. Namun ketika dia mengeluh dan keletihan luar biasa akibat keroyokan berat itu mengganggu tubuhnya tiba-tiba tokoh ini jatuh terduduk dan tak sanggup menyeret kakinya lagi.

"Koaakk...!" Seekor gagak tiba-tiba melayang di atas kepala. Pekik dan jeritnya yang mengejutkan tokoh ini tampak membuat Golok Maut menengadahkan muka, meiihat gagak itu terbang rendah dan tiba-tiba sesuatu benda jatuh dari atas. Golok Maut terkejut dan mengelak, kalah cepat dan terdengarlah bunyi "ketepok" ketika caping lebarnya dijatuhi benda itu. Dan ketika dia tertegun dan melepas capingnya, meiihat benda apa itu maka ternyata kotoran gagak menimpa dirinya, tahi si gagak hitam!

"Keparat," Golok Maut mendesis. "Apa maksudmu, gagak hitam? Kau memberi tanda buruk kepadaku?"

"Koaak.... koaakk....!" sang gagak meneruskan terbangnya, lenyap di timur dan muka tokoh ini berubah. Ada hal-hal yang menjadi pantangan kalau tinggal di Lembah Iblis. Pertama tak boleh kejatuhan tahi burung, apalagi gagak. Dan kedua adalah tak boleh memaki sembarangan. Lembah Iblis amat pantang untuk mendengar sumpah serapah bagi yang tinggal di situ, mulut harus dijaga dan pantangan ini harus dijaga kalau tak ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Maka ketika pagi itu Si Golok Maut kejatuhan kotoran gagak dan dia tertegun merasakan getaran kuat tiba-tiba seekor kelinci meloncat melewati atas kepalanya dipatuk seekor ular.

"Sshh...!"

Golok Maut kembali terkejut. Kelinci itu ketakutan dan menguik melompati kepalanya, begitu saja, kurang ajar. Dan ketika dia terkejut dan ular yang mematuk gagal mendapatkan korbannya tiba-tiba ular ini yang marah dan kaget melihat Si Golok Maut mendadak menyambar dan menyerang laki-laki bercaping ini, ular yang kelaparan!

"Jahanam!" Golok Maut menggerakkan tangannya. "Kau tak tahu siapa aku, ular belang? Pergilah, dan mampus kau... ple-tak!" Golok Maut mendahului, menangkap dan memelintir kepala ular dan tewaslah ular itu dengan kepala hancur. Tapi baru laki-laki ini melempar bangkai ular dengan gemas mendadak auman dahsyat menggetarkan isi lembah dan seekor hari-mau loreng tiba-tiba muncul di situ, penghuni dari luar lembah.

"Auummm...!"

Golok Maut tersentak. Tak biasanya Lembah Iblis didatangi binatang-blnatang buas yang berasal dari luar. Dia selalu menjaga di situ dan hanya hewan-hewan kecil seperti kelinci atau sebangsanya yang boleh tinggal, karena mereka biasanya menjadi santapan baginya. Maka ketika pagi itu seekor harimau loreng datang mengaum dan harimau inipun tampaknya kelaparan karena cepat menyambar bang-kai ular yang dibuang Si Golok Maut tiba-tiba si raja hutan yang rupanya masih kelaparan ini menyambar Golok Maut.

"Dess!" Golok Maut menendang. Si raja hutan terpekik dan terlempar, jatuh tapi sudah menyerang lagi. Dan ketika Golok Maut menjadi marah karena binatang ini tak tahu diri maka dari mana-mana muncul harimau-harimau loreng yang sama besar dan ganasnya, lima ekor jumlahnya.

"Bagus, kalian minta mati? Majulah, dan kebetulan kalian di sini, harimau-harimau keparat. Aku ingin melepaskan kesalku dengan menghajar kalian... crat!" sinar putih berkelebat, tahu-tahu menyambar dari balik punggung laki-laki itu dan robohlah harimau pertama.

Harimau ini tak sempat mengaum karena batang kepalanya tahu-tahu menggelinding, putus dibabat sinar putih panjang itu. Dan ketika sinar ini masih bergerak dua tiga kali ke kiri kanan maka tiga yang lain roboh bergelimpangan disambar golok di tangan Si Golok Maut itu, Golok Penghisap Darah.

"Crat-crat-crat!"

Empat harimau terkapar mandi darah. Mereka dikutungi kepalanya dan harimau terakhir tampak terkejut, merintih dan tiba-tiba memutar tubuhnya, lari. Agaknya, sebagai binatang, dia memiliki naluri tajam bahwa lawan yang dihadapi kali ini amatlah bengis dan berbahaya. Maka begitu dia mengaum dan melompat panjang tiba-tiba dia meninggalkan pertempuran tapi Si Golok Maut terlanjur marah.

"Jangan lari, kaupun harus kuhukum!" laki-laki ini bergerak, maju berkelebat dan loncatan panjang si harimau loreng masih kalah cepat dengan gerakan laki-laki bercaping ini. Golok Maut melesat bagai hantu kesiangan, senjata di tangannya bergerak tapi saat itu tiba-tiba dari samping kanan menyambar seekor harimau cilik. Harimau ini memekik dan aum-nya yang kecil menggetarkan cukup mengejutkan isi lembah. Dan ketika Golok Maut tertegun namun menggerakkan tangannya ke kanan tiba-tiba harimau kecil itu terlempar sementara yang besar, yang disambar golok maut terpapas telinganya.

"Crat!"

Sang harimau memekik. Dia mengaum terlempar di sana, terguling-guling. Namun ketika Golok Maut berkelebat dan kembali mengejar tiba-tiba harimau cilik yang rupanya anak dari sang induk menyerang dan menubruk Si Golok Maut lagi.

"Des-dess!" Golok Maut marah, menendang harimau cilik itu dan harimau ini terlempar seperti induknya, memekik dan terguling-guling. Dan ketika Golok Maut tertegun karena sang induk sudah menggeram dan bergerak mendekati anaknya maka dua ekor harimau itu sudah berdiri berdampingan dengan mata bersinar-sinar, marah tapi juga gentar menghadapi Si Golok Maut.

"Enyahlah!" Golok Maut terkejut, tertegun dan heran memandang dua harimau anak dan induknya itu, tak jadi menggerakkan golok. "Pergi kalian, binatang sialan. Dan jangan melotot di sini!"

Aneh sekali. Harimau yang besar seolah mengerti dan mengaum, lirih bercampur erangan karena telinga sebelah kirinya putus. Potongan telinga itu masih terkapar di tanah dan si harimau cilik menggeram-geram. Meskipun takut namun agaknya harimau ini siap membela induknya kalau Golok Maut menyerang lagi. Tapi ketika Golok Maut mengusir dan membentak mereka tiba-tiba sang induk melompat dan pergi meninggalkan tempat itu.

Golok Maut terhenyak. Harimau yang kecll juga membalik dan mengaum tanda lega. Induknya disusul dan lenyaplah mereka berdua ketika hilang di iuar lembah. Dan ketika Golok Maut termangu-mangu dan menjublak di tempat maka pagi itu empat harimau melintang mayatnya tanpa kepala.

"Terkutuk," Golok Maut memaki. "Kenapa kalian mengganggu aku, harimau-harimau keparat? Kalau kalian tak datang mengganggu tentu kalian tak akan mati konyol!"

Angin bertiup. Tiba-tiba seolah menja-wab kekesalan hati laki-laki ini menda-dak terdengar cicit dan kelepak burung-burung malam. Seratus kelelawar tiba-tiba beterbangan memasuki lembah, menci-it dan gugup seolah digebah iblis. Dan ketika mereka berputar-putar di atas kepala tokoh bercaping ini dan dua di antaranya menabrak Si Golok Maut tiba-tiba Golok Maut berseru keras menangkap dan mencengkeram mereka sampai hancur.

"Keparat!" dua ekor kelelawar itu remuk, dibuang bangkainya dan ratusan kelelawar lain lagi muncul. Golok Maut terkejut karena seperti pasukan siluman saja kelelawar-kelelawar itu beterbangan memasuki Lembah Iblis. Mereka mencicit-cicit dan berputaran di atas kepalanya. Suasana menjadi gelap dan langit yang terang tiba-tiba menjadi hitam oleh ba-nyaknya kelelawar-kelelawar vang beterbangan ini. Dan ketika Golok Maut terbelalak dan merasakan firasat yang tidak enak tiba-tiba dari timur muncul tujuh gagak hitam yang berkaok-kaok.

"Koaakk..... koaakkk....!"

Golok Maut berdiri bulu kuduknya. Baru kali ini selama hidupnya dia mendapat Kejadian begitu aneh. Lembah Iblis dida-tangi hewan-hewan langit dan mereka semua beterbangan mengelilingi tubuhnya. Dari atas mereka mengeluarkan suara-suara ramai layaknya musuh yang maju perang. Dan ketika laki-laki ini tertegun dan merinding bulu romanya tiba-tiba ia-ngit yang hitam dipenuhi kelelawar-kelelawar itu meledak dan mengeluarkan suara macam guntur.

"Blarr!"

Sinar warna-warni memenuhi langit hitam. Entah dari mana tiba-tiba muncul sesosok asap putih jingga, meluncur dan berkelok tiga kali membentuk seekor na-ga. Dan ketika gagak di atas berkoak ke-takutan dan kelelawar-kelelawar yang beterbangan juga buyar dan mencicit meng-hilang cepat maka terdengar suara tawa terbahak mirip iblis mendapatkan buruannya.

"Ha-ha, selamat datang, Golok Maut. Selamat bertemu kembali. Aku arwah Mo-bin-lo (Si Muka Iblis) datang menemuimu!"

Golok Maut pucat. Tiga bayangan asap putih yang berkelok tiga kali di udara sejenak memperlihatkan bayang-bayang naga, berobah dengan cepat dan tahu-tahu seorang kakek tinggi besar berwajah menyeramkan muncul di sana, di langit yang hitam. Dan ketika Golok Maut terkesiap dan senjata di sarungnya meledak tiba-tiba Golok Penghisap Darah yang ada dibelakang punggungnya itu melesat dan terbang menuju kakek ini, Mo-bin-lo, atau lebih tepat, arwah Mo-bin-lo.

"Darr!"

Golok Maut tak sanggup menahan kilatan cahaya itu. Sinar yang luar biasa terangnya mendadak pecah di udara, meledak dan tak kuat dia bertahan. Dan ketika dia memejamkan mata dan apa boleh buat harus melengos dari kilatan warna-warna terang di langit yang gemebyar itu tiba-tiba suara dari atas terdengar lagi, kini dingin menyeramkan, menyerupai bentakan seorang kakek terhadap cucunya.

"Golok Maut, kau bocah iblis. Kenapa kau menodai Golok Penghisap Darah ini dengan perbuatanmu menggauli ketua Hek yan-pang itu? Kau harus mencuci dosa ini dengan darahmu, atau senjata ini tak bakal bertuah lagi gara-gara perbuatanmu!"

Golok Maut terkejut. Dia membuka mata dan serangkum angin pukulan menghantam tubuhnya. Entah bagaimana tahu-tahu asap atau roh di udara itu menukik, menyambar dan sudah menyerang dirinya. Dan ketika dia mengelak namun kalah cepat maka asap seperti iblis itu menghantam dirinya.

"Bress!"

Golok Maut terlempar. Hampir tak masuk akal tahu-tahu tubuhnya terangkat dan terlempar naik, terbanting dan terguling-guling di sana, terjengkang. Dan ketika dia kaget melompat bangun namun golok menyambar lagi ke sarungnya maka sesuatu yang dingin terasa melekat di belakang punggungnya itu.

"Aku selalu mengikutimu, atau kau mati membayar dosa!"

"Ooh...!" Golok Maut menggigil, tiba-tiba ketakutan hebat. "Tolong aku, suhu, tolong...!" dan Golok Maut yang berkelebat serta naik ke tebing tiba-tiba berjungkir balik dan berkali-kali menggerakkan tubuhnya. Dari bawah dia sudah menjejak dan menendang dinding enam tujuh kali. Setiap kali tentu mencelat atau melambung ke udara. Dan ketika semua gerakan itu membuat tubuhnya mumbul dan mumbul semakin tinggi akhirnya tebing yang tingginya tak kurang dari seratus tombak itu sudah dilalui dan selamat tiba di atas, hanya sekejap mata saja!

"Subo, tolong! Suhu, tolong aku...!"

Golok Maut bagai anak kecil. Ledakan dan suara tawa di atas langit tadi sungguh membuat jiwanya menciut. Golok Maut diancam roh halus dan itulah pembuat atau penempa Golok Penghisap Darah. Mo-bin-lo adalah kakek pencipta Golok Maut, pembuat dan penempa yang amat hebat, hidup pada ratusan tahun yang lalu dan kakek ini adalah kakek iblis yang amat sakti, keji dan kejam namun penuh daya linuwih. Golok Penghisap Darah yang dibuatnya itu "diisi" tapa dan puasa selama sepuluh tahun, hidup meraendam diri dan tujuh tahun penuh kakek ini berada di sarang ular, tak bergerak dan tak bergeming menyatukan diri dalam alam samadhi yang mengerikan.

Kakek itu sedang bertarung melawan seorang pendekar sakti yang dua kali mengalahkannya, membuat atau mencipta golok yang ampuh dan akhirnya berhasil. Golok itu hanya pantang dikotori oleh hubungan suami isteri. Hanya kaum bujang atau perawan saja yang boleh memegang. Mereka yang sudah bersuami isteri dilarang keras memegang atau memiliki golok ini, karena dapat berakibat fatal. Namun ketika golok selesai dibuat dan kakek itu mencari musuhnya ternyata orang hebat yang mengalahkannya itu sudah meninggal dunia.

Mo-bin-lo menyumpah-nyumpah. Kakek ini menggeram di bukit Iblis dan gugurlah bukit yang ditempati itu, marah-marah di lautan dan lautan pun tiba-tiba membuih, bergolak dan menimbulkan gelombang pasang di mana para nelayan maupun pencari ikan lainnya diserang ombak besar. Rumah-rumah roboh dan ratusan orang tenggelam atau hanyut, terbawa oleh getaran sakti kemarahan kakek menyeramkan ini. Dan karena lawan yang dicari sudah meninggal dunia dan kakek itu tak dapat membalas musuhnya maka Mo-bin-lo mencari di akherat!

"Kakek ini dahsyat luar biasa. Segala iblis dan siluman tak ada yang mampu melawan. Dewa-dewa di angkasa juga tak ada yang mampu menandingi, kecuali pendekar sakti yang sudah menjelma menjadi mahluk suci di alam halus sana. Maka ketika kakek itu mengamuk dan akhirnya bertemu lawannya ini di akherat maka bertempurlah keduanya namun kakek itu kalah lagi," begitu gurunya pernah bercerita.

"Lalu apa yang terjadi, suhu? Bagaimana selanjutnya?" Golok Maut bertanya.

"Kakek ini terpaksa mengakui kekalahan. Mo-bin-lo melarikan diri namun roh-nya yang tak dapat kembali ke badan kasar akhirnya gentayangan di tempat-tempat gelap dan angkasa yang luas. Karena itu hati-hati, jangan sampai melanggar larangan kakek ini atau kau akan celaka terkena kutuknya."

Begitu Golok Maut pernah mendengar nasihat suhunya. Gurunya itu berkata seperti itu namun gurunya sendiri ternyata melanggar. Sebagai laki-laki yang sudah beristeri ternyata gurunya memegang Golok Maut, terkutuk dan akhirnya kena tuah dari sumpah si pembuat golok. Dan ketika gurunya mati sampyuh karena bertanding dengan isterinya sendiri, hal yang terjadi akibat kutukan maka guru dan ibu gurunya itu akhirnya tewas dan mati berbareng.

"Kau ingat itu baik-baik," gurunya pernah berpesan sebelum ajal. "Golok Maut jangan dikotori dengan perbuatan-perbuatan yang menjadi larangannya. Jangan berpacaran dulu, apalagi sampai mengadakan hubungan suami isteri. Jangan mengeluarkan kata-kata makian kalau kau sedang berada di Lembah Iblis. Kau mengerti?"

Golok Maut mengangguk. Waktu itu dia menanggapi semua kata-kata gurunya itu dengan dingin dan sedikit tak acuh. Pacaran? Ah, dia tak ada minat untuk mendekati wanita. Dendamnya terhadap orang-orang she Coa dan Ci membekukan semua hatinya tentang cinta. Tak terbersit di hatinya bahwa dia ingin pacaran, apalagi mengadakan hubungan suami isteri. Jijik dia!

Tapi ketika hal itu terjadi juga dan dia sudah melanggarnya dengan jatuh cinta dan bersebadan dengan ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba Mo-bin-lo muncul dengan tawa kutuknya di udara. Golok Maut kena tuah! Dan kini, mendengar suara dari langit itu dan kakek tinggi besar yang menyeramkan itu seolah membayanginya dan mengejar ke manapun dia pergi maka Golok Maut terengah menaiki tebing dan langsung berlarian jatuh bangun menuju sepasang makam yang tegak membisu di antara tanaman perdu liar.

"Suhu, tolong.... subo, tolong...!" Golok Maut mendeprok, langsung roboh berlutut dan menggigil membentur benturkan dahinya di batu nisan itu.

Dalam keadaan seperti itu di mana tak ada sahabat atau pun teman maka makam sepasang gurunya ini adalah penunjuk satu-satunya. Makam itu lebih dari sahabat dan Golok Maut kini gemetaran berlutut di situ, menangis seperti anak kecil karena tawa atau ancaman dari roh di langit itu menggetarkan hatinya. Betapapun dia adalah manusia biasa dan Golok Maut kini berubah sebagai laki-laki yang lemah dan tak berdaya, ketakutan dan memanggil-manggil suhunya. Dan ketika dua jam kemudian tokoh ini berlutut dan gemetar memanggil-manggil gurunya mendadak di atas makam terdengar sebuah ledakan dan muncullah roh dan seorang laki-laki gagah perkasa, mendiang Hap Bu Kok yang menampakkan diri dalam bentuk badan halus.

"Muridku, kenapa kau memanggil-manggil aku? Apa yang terjadi? Kenapa kau mengerahkan Kun-tek-giam-ong (Raja Akherat Membuka Pintu)?"

"Ampun..!" Golok Maut terkejut, tapi girang luar biasa. "Aku... aku ingin minta tolong padamu, suhu. Teecu (aku) melanggar pantangan Golok Maut!"

"Apa yang kau lakukan?"

"Teecu... teecu mencinta seorang gadis..."

"Hm, belum melanggar!"

"Tidak... tidak, suhu. Teecu... teecu bukan hanya mencinta saja melainkan juga telah melakukan hubungan badan. Arwah Mo-bin-lo yang suhu katakan itu sekarang mengejar-ngejar teecu. Teecu mau dibunuh!"

"Hm!" Sin-liong Hap Bu Kok tampak terkejut. "Kau bertemu kakek ini, murid-ku? Dan kau telah diancamnya?"

"Benar, teecu.... teecu takut, suhu. Teecu tak ingin mati sebelum dua musuh besar teecu terbunuh!"

Roh dari laki-laki gagah itu tergetar. Golok Maut berkeringat dan tubuhnya juga selalu menggigil. Sinar menghitam tiba-tiba menyelimuti wajah dan tampak bayang-bayang aneh mengelilingi pemuda ini. Ada bentuk-bentuk seperti anjing atau wanita cantik berseliweran di situ. Golok Maut sedang berada di alam aneh karena dia memanggil gurunya dengan ilmu Kun-tek-giam-ong, ilmu yang hanya boleh dipergunakan sekali saja dalam hidup, ilmu yang khusus memanggil arwah api setelah itu harus dibuang jauh-jauh. Pelepas ilmu ini untuk kedua kalinya bisa terseret ke akherat kalau berani coba-coba, alias akan terbawa nyawanya kalau mempergunakan lebih dari sekali. Maka ketika pagi itu Golok Maut terpaksa mempergunakan ilmunya ini untuk bertemu gurunya di akherat maka roh atau arwah dari Sin-liong Hap Bu Kok itu tampak tertegun.

"Bagaimana, suhu? Apa yang harus teecu lakukan?"

"Hm...!" laki-laki gagah ini bersedakap. "Tak ada jalan lain kecuali membunuh kekasihmu itu, muridku. Pergi dan cari dia dan berikan arwahnya pada Mo-bin-lo!"

"Teecu.... teecu harus membunuhnya?"

"Ya, atau kau yang harus mati, muridku. Kutuk atau pantangan golok itu telah kau langgar. Kau membuat kemarahan Mo-bin-lo. Tak ada jalan kecuali membunuh kekasihmu itu dan cepat-cepat cari dua musuhmu itu sebelum Mo-bin-lo meminta nyawamu melalui Golok Maut!"

Pemuda bercaping ini menggigil. Dia bertanya iagi apakah permintaan itu tak dapat dirobah, maksudnya, ditawar. Apakah tak dapat nyawa orang lain saja sebagai penukar. Tapi ketika gurunya meng-geleng dan berkata bahwa itu satu-satunya cara untuk melepas "tumbal" maka Golok Maut menggigil dan berketrukan giginya.

"Kau tinggal memilih, menyerahkan nyawamu atau nyawa kekasihmu itu. Nah, selamat tinggal, muridku. Dan jangan main-main dengan ilmu Kun-tek-giam ong lagi...plash!" arwah atau roh halus itu hilang dalam satu ledakan kecil, lenyap dan entah ke mana dan Golok Maut pun tiba-tiba terbanting roboh.

Tubuh yang menggigil dan muka yang kehitaman itu sekarang pulih kembali. Golok Maut telah diberi pilihan dan tinggal menentukan nasibnya. Dan ketika laki-laki itu me-ngeluh namun kepalan tinju menunjukkan keputusannya maka di bawah lembah sesosok tubuh terhuyung-huyung menghampiri.

"Golok Maut, keluarlah. Aku datang untuk menuntut balas!"

Golok Maut tertegun. Seorang gadis cantik berpakaian merah datang meng-hampiri, terseok dan menangis serta memanggil-manggil namanya. Dan ketika gadis itu sudah memasuki lembah dari berdiri di ujung sana maka Golok Maut berkilat girang karena itulah Wi Hong, kekasihnya!

"Golok Maut, keluarlah. Aku datang!"

Golok Maut berkelebat. Tiba-tiba dengan cara berjungkir batik dia meluncur turun ke bawah, geraknya bagai elang rajawali atau garuda menyambar. Dari tempat setinggi itu mengembangkan kedua lengannya di kiri kanan tubuh, meluncur dan tiba-tiba sudah menyambar bagai rajawali haus darah. Dan ketika tubuh itu hinggap dengan ringan dan gadis baju merah yang berteriak-teriak memanggil namanya ini tertegun kaget maka muka yang mangar-mangar dan cantik tapi penuh air mata itu tiba-tiba beringas tapi juga girang.

"Golok Maut, kau datang sebagai laki-laki gagah. Nah, aku mencarimu dan sengaja ingin menantang maut. Kau pernah bilang untuk membunuhku kalau bertemu lagi. Kini aku datang untuk membunuh atau dibunuh!"

Golok Maut berkilat. "Wi Hong," suara ini tak bersahabat. "Aku memang pernah bicara seperti itu dan sungguh kebetulan kalau kaupun mencari aku di sini. Aku ingin membunuhmu, dan maaf bahwa segala kenangan kita terpaksa kubuang jauh-jauh. Nah, kau majulah dan serahkan nyawamu!"

"Srat!" Wi Hong, gadis cantik itu men-cabut pedang. "Aku memang ingin mencarimu, Golok Maut. Menuntut balas dan sakit hati. Kau boleh bunuh aku atau aku yang akan membunuhmu!" dan pedang yang bergerak tanpa banyak bicara lagi tiba-tiba mendesing dan sudah menuju tenggorokan Si Golok Maut ini, yang mengelak dan mundur selangkah dan pedang pun luput mengenai angin kosong. Wi Hong membentak lagi dan memutar pe-dangnya, tiga kali membuat gerakan me-lingkar dan ditikamlah ulu hati serta dada lawan. Namun ketika Golok Maut mengengos dan serangan itu gagal lagi maka Wi Hong berkelebat dan tangan kirinya pun melepas pukulan Ang-in-kang (Awan Merah).

"Des-dess!"

Golok Maut tergetar. Wl Hong memang bukan gadis sembarangan dan jelek-jelek sebagai ketua Hek-yan-pang dia adalah tokoh keias satu. Maka ketika pukulan itu menggetarkan Si Golok Maut dan untuk selanjutnya gadis atau ketua Hek-yan-pang ini sudah berkelebatan cepat dengan seruan atau bentakan nyaring maka pedang dan pukulan bertubi-tubi menghujani Si Golok Maut ini, menyambar naik turun bagai naga sedang murka dan ilmu pedang Walet Hitam mengurung Si Golok Maut dengan cepat. Golok Maut terpaksa mengikuti namun Wi Hong mengerahkan ginkangnya, lenyap dan melengking-lengking menyerang lawannya itu. Dan ketika Ang-in-kang atau pukulan Awan Merah menyambar-nyambar pula dari tangan kirinya maka untuk beberapa jurus Golok Maut terdesak.

"Plak-bret!"

Satu tangkisan kuat agak menahan bertubi-tubinya serangan. Hujan pukulan atau tikaman yang menyerang Si Colok Maut akhirnya mulai mendapatkan perla-wanan juga, Wi Hong membentak lagi namun tergetar. Kali ini dia terhuyung dan pedang di tangannya tiba-tiba pedas di tangan. Keparat, Golok Maut mulai bersi-kap keras! Dan ketika Wi Hong melengking tinggi dan menerjang serta menusuk lagi maka pukulan Awan Merahnya mulai bertemu telapak Si Golok Maut.

"Des!"

Wi Hong terpental. Gadis ini kaget dan marah sekali karena pukulannya membalik. Dia harus melempar tubuh bergulingan kalau tak ingin terluka, menerima daya tolak pukulannya sendiri. Dan ketika dia membentak dan menyerang lagi maka Golok Maut mendengus dan mulai bicara,

"Wi Hong, aku akan mengalah padamu sebanyak limapuluh jurus. Setelah itu kau harus mati!"

"Matilah! Bunuhlah! Aku tak takut mati atau ancamanmu, Golok Maut. Kau memang laki-laki jahanam dan terKutuk mampuslah kau... wut-singg!" pedang menyambar lagi, kian ganas dan cepat namun Golok Maut mengelak. Dan ketika pedang bergulung-gulung naik turun lagi dan pu-'tulan Awan Merah dilepas tiada henti-hentinya maka Golok Maut kembali menangkis.

"Dess!"

Wi Hong mencelat. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mengeluh dan terban-ting terguling-guiing di sana, bukan me-iempar tubuh melainkan memang terbanting oleh tangkisan Golok Maut yang me-nambah tenaganya, kian keras saja dan pucatlah gadis itu oleh sikap dingin lawan. Goiok Maut memang benar-benar telah tidak memiliki rasa cinta lagi dan mereka benar-benar musuh. Ah, sakitnya hati ini! Dan ketika Wi Hong membentak dan menyerang lagi maka Golok Maut mulal menghitung-hitung jurusnya.

"Sepuluh.... sebelas.... empat belas... des dess!"

Wi Hong memaki-maki. Mengelak atau menangkis sambil menghitung-hitung jurus serangan rasanya kok semakin me-nyakitkan perasaan saja. Golok Maut bersikap merendahkan dan sikap ini amat di-benci gadis atau ketua Hek-yan-pang Itu. Tapi ketika dia menyerang dan tetap saja semua serangan atau pukulannya terpen tal bertemu lawan maka Wi Hong terhuyung-huyung dan mulai menangis.

"Golok Maut, kau keparat. Terkutuk!"

"Hm, kau boleh memaki-maki sepuasmu. Setelah itu jangan membuka mulut lagi, Wi Hong. Maaf bahwa aku terpaksa akan mengantarmu ke akherat."

"Bedebah! Jahanam keparat!" dan Wi Hong yang kembali menyerang dan menerjang sengit akhirnya mendapat kenyataan bahwa Golok Maut memang bukan lawannya. Hitungan jurus sudah menginjak pa-da angka ketigapuluh dan gadis baju merah itu tersedu-sedu. Golok Maut mulai bersikap bengis karena tangkisan-tangkisannya kian diperkuat saja. Sinkang Golok Maut memang masih di atas sinkangnya sendiri. Dan ketika hitungan menginjak pada angka empatpuluh satu maka pedang ditangkis tangan telanjang dan langsung melengkung.

"Plak!"

Wi Hong menjerit-jerit. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mulai histeris dan bercucuranlah air mata di wajah yang cantik itu. Golok Maut membekukan perasaannya dari Wi Hong semakin sakit hati saja. Dan ketika hitungan menginjak pada jurus keempatpuluh delapan dan Golok Maut berseru bahwa tinggal dua jurus lagi gadis itu memiliki nyawanya maka laki-laki atau tokoh bercaping ini mendesis.

"Wi Hong, tinggal dua jurus lagi. Bersiaplah, setelah itu kau mati!"

"Terkutuk! Bedebah! Kau bunuhlah aku, Golok Maut. Kau bunuhlah aku. Aku tak takut mati. Aku... aku... huak!" dan Wi Hong yang tiba-tiba muntah dan terpelanting roboh tiba-tiba kumat penyakitnya dan rasa mulas yang hebat mengganggu perutnya. Wanita ini sedang hamil dan tentu saja Golok Maut tak tahu.

Bertempur hampir limapuluh jurus bukanlah pekerjaan ringan bagi seorang wanita hamil muda. Wi Hong telah menguras tenaga-nya padahal selama itu lawan hanya mengelak dan menangkis saja, belum membalas, apalagi mencabut senjatanya yang mengerikan itu, Golok Penghisap Darah! Dan ketika Wi Hong terpelanting bergulingan dan muntah-muntah maka pertandingan sejenak berhenti dan Golok Maut tertegun.

Wi Hong disana menangis tersedu-sedu dan mengeluh panjang pendek. Perutnya didekap dan rasa kesakitan hebat di-tahan gadis itu, herari Golok Maut. Tapi ketika laki-laki bercaping ini menganggap itu hanya pura-pura saja agar Wi Hong tidak menyelesaikan jurus yang kelimapuluh, berarti gadis itu selamat maka Golok Maut tertawa mengejek dan berkata,

"Wi Hong, tak perlu berpura-pura. Aku belum membalasmu, bagaimana kau kesakitan begini? Hm, jangan menipu aku, Wi Hong. Aku tahu bahwa kau berpura-pura dan sengaja ingin menghentikan pertandingan, agar tak kubunuh! Sial, tak perlu kau mengelabuhi aku, wanita siluman. Keputusan telah tetap di hatiku bahwa kau harus kubunuh!"

"Keparat!" Wi Hong menangis tak keruan. "Terkutuk kau, Golok Maut. Jahanam kau. Aku tak bermaksud pura-pura agar kau tak membunuhku. Ah, keparat kau!" dan Wi Hong yang bangkit lagi dengan air mata bercucuran lalu berusaha menyerang meskipun gemetar, menggigil dan terhuyung tapi tiba-tiba dia roboh lagi.

Muntah-muntah yang mengganggunya kembali muncul, ambruk dan Golok Maut mengerutkan kening. Tapi menganggap wanita itu pura-pura saja dan ingin menghentikan pertempuran, agar dia tak membunuh maka Golok Maut berkelebat dan tangan pun siap meraba gagang golok, senjata maut yang ada di balik punggungnya itu.

"Wi Hong, berdirilah, dan serang aku. Selesaikan jurus kelimapuluh dan jangan harap aku memberi ampun!"

"Ah, bedebah!" Wi Hong terguling, menggeliat dan melompat bangun. "Kau tak tahu bahwa aku tak berpura-pura, Golok Maut. Kau jahanam mengira aku takut mati. Baiklah, inilah dua jurus terakhir dan setelah itu kubuktikan padamu bahwa aku tak minta agar kau membatalkan niatmu.... singg!" dan pedang bengkok yang menyambar lagi di tangan yang gemetar akhirnya dielak namun menusuk lagi dengan jari-jarl menggigil, ditangkis dan terlepaslah pedang itu dari tangan pemiliknya yang mencelat.

Wi Hong terlempar dan terbanting roboh, mengaduh dan menangis. Dan ketika gadis itu merintih-rintih tak keruan dan Golok Maut bersinar matanya tiba-tiba pemuda itu bergerak mencabut golok mautnya, Golok Penghisap Darah!

"Wi Hong, sekarang kau mati. Terimalah....!" sinar putih berkeredep, cepat dan mengejutkan mata dan Wi Hong disana terbelalak.

Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini terkesiap, kaget tapi tidak takut hanya satu keluhan kecil keluar dari mulutnya saat itu. Dengan berani dan gagah dia menatap sinar maut itu, yang menyambar menuju lehernya. Sekali terpancung tentu lehernya terpenggal, bakal menggelinding dan kekejaman Golok Maut benar-benar tampak lagi.

Tokoh yang sudah menetapkan keputusannya ini tak memberi ampun, apa yang dia katakan kini hendak dia laksanakan. Ah, batang leher yang halus putih itu akan segera berpisah dari ubuhnya, disusul muncratnya darah segar seperti biasanya tubuh-tubuh yang sudah roboh bergelimpangan. Tapi ketika Golok Maut berkelebat dan senjata di tangannya itu menyambar tak kenal ampun tiba-tiba terdengar bentakan dan dari samping menyambar sinar putih lain yang kecepatannya juga luar biasa.

"Golok Maut, tahan kekejianmu....... crangg!"

Sinar menyilaukan memuncrat di udara. Sebatang pedang pendek namun yang ampuhnya luar biasa telah menangkis dan menggagalkan serangan Si Golok Maut. Laki-laki bercaping ini tergetar dan ter-huyung, sinar goloknya tadi telah bertemu dengan amat keras dengan sebatang pedang yang juga berkilauan mengejutkan mata. Dan ketika Golok Maut tegak memandang dan Wi Hong di sana jatuh terduduk diteriaki sesosok bayangan lain maka Beng Tan, pemuda gagah perkasa itu telah berdiri disitu bersama Swi Cu, yang datang belakangan dan langsung menjerit menubruk sucinya!

"Suci....!"

Golok Maut tertegun. Disitu telah berdiri musuhnya yang amat lihai, bahkan paling lihai dan terkejutlah tokoh ini melihat kedatangan Beng Tan. Pemuda baju putih itu berkilat matanya dan kemarahan yang amat besar jelas keluar dari sepasang mata yang mencorong itu.

Beng Tan marah sekali karena Golok Maut hampir saja membunuh Wi Hong, yang sedang hamil! Tapi sebelum pemuda ini bergerak dan memaki lawannya ternyata Swi Cu sudah berkelebat dan membalik menusuk lawannya itu.

"Golok Maut, kau keji. Kau culas. Kau, ah... kau binatang jalang terkutuk, sing-singg!" dan pedang Swi Cu yang menyambar-nyambar bagai hujan menyerang Si Golok Maut akhirnya membuat laki-laki bercaping itu mengelak dan berlompatan, masih dikejar dan diserang bertubi-tubi, tiada habisnya. Dan ketika pedang menusuk beringas ke arah dadanya akhirnya Golok Maut membentak dan pedang di tangan gadis itupun ditangkis.

"Kaupun wanita sialan....plak!"

Swi Cu menjerit, roboh terguling-guling sementara pedangnya sendiri terlepas jatuh ke tanah. Golok Maut memang amat lihai dan jelas bukan tandingan gadis ini. Jangankan Swi Cu, yang wakil ketua Hek-yan-pang itu. Sucinya sendiri, Wi Hong, ketua Hek-yan-pang masih bukan tandingan Si Golok Maut, pria gagah perkasa tapi yang berhati keras, sekeras batu karang! Dan ketika Swi Cu terguling-guling Jan Goiok Maut menyimpan senjatanya maka Beng Tan berkelebat menolong kekasihnya itu.

"Golok Maut, kau jangan menghadapi wanita. Lawanlah adalah aku, laki-laki!"

Golok Maut menunggu. Dia tergetar memandang pemuda baju putih itu sementara matanya berkilat-kilat memandang Wi Hong. Kekasih yang akan dibunuhnya itu sudah mengeluh panjang pendek mendekap perut, entah kenapa. Dia mulai ragu bahwa gadis itu benar-benar tidak berpura-pura, karena Wi Hong tampak sakit dan perut serasa melilit-lilit. Dan ketika Beng Tan disana sudah menolong kekasihnya dan Swi Cu menangis memaki-maki Si Golok Maut maka Beng Tan sudah berdiri dan membalik menghadapi lawannya itu, menyuruh kekasihnya menolong Wi Hong.

"Kau kesana, biar aku menghadapi ini..."

"Dia... dia..." Swi Cu mengguguk tersedu-sedu. "Bunuh jahanam keparat ini, koko. Bunuh dia dan minta pertanggung jawabannya menghamili enci Wi Hong!"

"Sudahlah," Beng Tan melihat muka Si Golok Maut yang berobah terkejut. "Kau kesana, Cu-moi. Tolong encimu dan biar Golok Maut bagianku. Dia memang harus dimintai tanggung jawab, juga atas perbuatannya yang malam-malam datang mengganggumu!" dan Beng Tan yang berkilat memandang Si Golok Maut akhirnya bertanya, dengan bentakan marah, "Golok Maut, kenapa kau akan membunuh Wi Hong? Kau tak suka gadis itu hamil akibat kejalanganmu? Dan kau mengganggu kekasihku pula. Sungguh tak kusangka bahwa disamping pembunuh kau pun juga seorang pemerkosa. Terkutuk!"

"Apa?" Golok Maut tersentak, mundur selangkah. "Kau bilang apa, Beng Tan? Kau melancarkan tuduhan busuk? Jaga mulutmu, atau aku akan membunuhmu!"

"Hm, tak perlu menggertak. Aku datang justeru untuk memintai tanggung jawabmu, Golok Maut. Di samping perintah kaisar agar aku menangkap atau membunuhmu juga bertanya kenapa kau sekarang menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa) Kau gila, kau tidak waras. Sekarang sepak terjangmu sudah benar-benar keluar garis dan tak ada lagi kekagumanku akan kegagahanmu yang dulu-dulu!"

"Hm!" Golok Maut membentak. "Kau semakin melantur yang tidak-tidak, bocah she Ju. Dan kuanggap kaulah yang gila dan tidak waras! Aku memang pembunuh, tapi bukan pemerkosa! Aku akan membunuh siapa saja tapi pantang bagiku memperkosa wanita!"

"Ha-ha!" Beng Tan terbahak-bahak, geli tapi marah. "Kau rampok dan maling tak tahu malu, Golok Maut. Kau si muka tebal yang benar-benar tak patut diampuni! Ah, bagaimana dengan Wi Hong yang jelas kauhamili itu? Bagaimana dengan Swi Cu yang malam itu kau ganggu dan hampir kau perkosa? Mereka-mereka ini ada dihadapanmu semua, Golok Maut. Kalau masih berani menyangkal maka dirimu bukan manusia melainkan binatang murahan!"

"Tutup mulutmu!" bentakan itu bagai geledek ditengah-tengah hujan deras. "Simpan semua makian dan fitnahmu ini, Beng Tan. Aku tak pernah mengganggu kekasihmu itu seperti yang kau bilang. Sedang Wi Hong, dia... dia hamil? Kau tidak dusta?"

"Hm!" Beng Tan mengerutkan kening, melihat Golok Maut tiba-tiba menggigil dan gemetar hebat. "Aku adalah seorang laki-laki yang pantang berbohong, Golok Maut. Apa yang kukatakan adalah apa senyatanya terjadi. Wi Hong memang hamil, akibat perbuatanmu. Dan karena kekejianmu memperkosanya seperti binatang maka dia rela kau bunuh! Ah, kau laki-laki tak berjantung. Sudah memperkosa Wi Hong masih juga kau mengganggu Swi Cu Keparat!"

"Tidak!" Golok Maut tiba-tiba berseru, mencelat ke arah Wi Hong. "Aku tak percaya, Beng Tan. Aku tak percaya!" dan Golok Maut yang sudah berkelebat dan menyambar Wi Hong tiba-tiba menampar minggir Swi Cu, yang berdiri di sebelah sucinya. Dan ketika gadis itu terlempar dan tentu saja berteriak kaget maka Golok Maut sudah mencengkeram dan mengguncang-guncang Wi Hong...

Golok Maut Jilid 23

GOLOK MAUT
JILID 23
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"CRAK-CRAK!" Habislah harapan dua kakek ini. Mereka terpaksa menangkis karena pedang menuju tenggorokan, tak dapat dikelit atau dielak karena gerakan pedang sedemikian cepatnya, menyambar dan tahu- tahu su-dah serambut saja di kulit leher. Dan ke-tika mereka menangkis dan nenggala mau-pun cambuk tentu saja bukan tandingan Pek-jit-kiam yang luar biasa maka dua senjata di tangan kakek lihai itu putus.

"Ha-ha!" pangeran Coa bersorak. "Kalian kalah, Mindra. Sekarang Beng Tan benar-benar membuktikan omongannya dan tepat duapuluh lima jurus kalian menyerah!"

Memang benar. Lima orang kakek itu terpaksa mengakui kekalahannya dan mereka menunduk lesu. Beng Tan telah mengalahkan mereka dan kalau pemuda itu bersikap kejam tentu mereka bakal terlu-ka, tidak hanya tergurat kulit atau pecah berdarah seperti Mo-ko kakak beradik. Dan ketika seraua raundur dan Coa-ongya melompat menepuk-nepuk Eieng Tan maka hari itu Beng Tan benar-benar mendapat perhatian istimewa pangeran ini.

"Kau hebat, ilmu pedangmu luar biasa. Ah, ingin kulihat kalau kau sudah bertanding dengan Si Golok Maut itu! Hm, siapa gurumu, Beng Tan? Bolehkah aku tahu?"

"Maaf," Beng Tan tersenyum. "Guruku tak mau disebut guru, ong-ya. Aku hanya belajar sedikit-sedikit darinya. Aku tak mempunyai guru dalam arti mewarisi semua kepandaiannya."

"Ah, dan itu saja sudah membuatnmu sedemikian lihai? Wah, kalau begitu orang yang mengajarimu itu hebat luar biasa, Beng Tan. Pantasnya dewa dan bukan manusia!"

"Memang, dia kuanggap dewa. Tapi, ah.... sudahlah. Guruku itu tak suka memperkenalkan diri dan sekarang apa yang harus kulakukan, ong-ya. Kapan aku berangkat dan kapan pula kelima orang ini ikut denganku!"

"Ah, ha-ha! Jangan tergesa-gesa. Malam ini biar kau beristirahat semalam dan besok baru berangkat!"

"Tapi sri baginda..."

"Tak usah takut. Aku yang menjamin! Betapapun kelima orangku ini harus bersiap-siap kalau ingin mengikutimu. Sudahlah, kita bersenang-senang dulu, Beng Tan. Dan sungguh beruntung kau mendapatkan Pek-jit-kiam itu. Hm, aku iri!" Coa-ongya tak segan-segan memandang belakang punggung Beng Tan, benar-benar iri akan pedang hebat yang dibawa pemuda itu.

Beng Tan tersenyum saja dan dijamulah pemuda itu oleh hidangan-hidangan lezat yang disuguhkan tuan rumah. Dan ketika malam itu dia diminta menginap di gedung pangeran ini dan Beng Tan ragu untuk menolak maka sang pangeran sudah memandang Swi Cu, yang sejak tadi diam dan hanya mengikuti pembicaraan kekasihnya.

"Dan kau," pangeran ini tersenyum berkata. "Kau boleh tinggal di kamar belakang, nona. Ada sebuah kamar khusus untuk wanita disana. Beng Tan biar disamping gedung, dan kau disana."

Swi Cu tertegun. Sebenarnya dia tak ingin jauh-jauh dari Beng Tan. Semalam dia selalu berdekatan dengan pemuda itu, kamar bersebelahan, dapat bercakap-cakap dan mudah bertemu muka kalau ingin bicara. Maka begitu Coa-ongya berkata dan tentu saja dia tak sanggup menolak, karena malu baginya kalau minta kamar yang dekat dengan Beng Tan maka disana Beng Tan juga agak sedikit gugup mendengar penawaran itu. Namun, mau apalagi? Maka ketika malam itu mereka beristirahat dan Swi Cu diam-diam mengumpat pangeran ini karena memisah mereka dengan kamar yang berjauhan maka sebelum tidur gadis ini melepas kemendongkolannya.

"Sialan Coa-ongya itu. Kenapa dia memberiku kamar yang jauh? Uh, sudah tahu aku kekasihmu masih saja dia mengatur kamar yang terlalu jauh. Kalau aku tak ma lu tentu sudah kuminta kamar yang lain, yang dekat denganmu!"

"Sudahlah," Beng Tan tersenyum, menarik napas dalam. "Aku juga tak enak menawar yang lain, Cu-moi. Tapi tak apa ah, toh kita tetap disatu gedung yang sama."

"Benar, tapi aku dibelakang, koko. Jauh darimu. Kalau ada apa-apa tentu kau tak segera tahu!"

"Ah, ada apa bagaimana? Kita di tempat aman, Cu-moi. Tak akan ada apa-apa, Sudahlah, kau tidur dan kita beristirahat, besok aku harus berangkat!"

Swi Cu mengomel. Beng Tan telah menutup pintu kamarnya karena tadi pemuda itu mengantar, pergi dan sekarang sudah kembali ke kamarnya sendiri. Dan ketika malam itu Swi Cu membanting kesal di atas pembaringannya yang empuk maka malam berjalan merayap dan gadis inipun akhirnya tertidur.

* * * * * * *

"Hei, augh.... uph!"

Swi Cu kaget bukan main. Malam itu dia terlelap pulas ketika tiba-tiba lampu kamarnya padam. Gadis ini terkejut dan gerakan refleksnya sebagai gadis kang-ouw timbul, bangkit dan tiba-tiba dia membuka mata ketika lampu kamarnya itu padam. Kesiur angin di jendela yang tiba-tiba terbuka lebar membuat gadis ini tersentak, bangun dan mau melompat turun tapi bayangan itu, yang tampak hitam dan tidak jelas tiba-tiba sudah menyambar, menubruk dan mendekap tubuhnya di atas pembaringan. Dan ketika Swi Cu kaget dan tentu saja tersentak maka bayangan itu sudah menciuminya dan tubuhnya digerayangi dari bawah sampai ke atas.

"Kurang ajar. Aeh, lepaskan... uph!" Swi Cu meronta-ronta, membentak dan menjerit tapi suara yang keluar hanya ap-up saja. Dia tak dapat berteriak keras-keras karena tubuh dan mulutnya ditutup. Kumis yang kasar dan mata yang berkilat bagai binatang yang sedang berahi menutup tubuhnya erat-erat, mencium dan mulutnya hampir tertutup oleh mulut lawan. Dan ketika Swi Cu kaget dan tentu saja meronta-ronta, marah dan ngeri maka lawan sudah melipat punggungnya mem-buat dia roboh kembali di atas pembaringannya, yang segera berderit.

"Jangan berteriak, jangan membuat gaduh. Aku ingin menumpahkan sayang dan kasihku padamu... cup-cup!"

Bayangan itu mendengus-dengus, hampir membuat Swi Cu pingsan namun gadis itu tentu saja tidak menyerah. Swi Cu sudah ditelikung namun gadis ini masih dapat menggerakkan kakinya. Dan ketika dengan bentakan yang mirip rintihan seekor harimau yang lagi ketakutan gadis ini mengangkat lututnya tiba-tiba tepat sekali selangkangan lawan berhasil ditendang.

"Lepaskan aku... lepaskan aku,.. dess!"

Laki laki itu terjengkang. Mulutnya mengeluarkan teriakan tertahan dan Swi Cu sudah bangkit menggulingkan tubuhnya. Dengan marah tapi juga pucat gadis ini melompat bangun. Dan ketika lampu dinyalakan lagi dan Swi Cu terbelalak melihat seorang laki-laki bercaping tiba-tiba gadis ini tersentak dan menjerit.

"Golok Maut...!"

Laki-laki itu menggeram. Swi Cu tiba-tiba ditubruk dan gadis ini berkelit, kaget karena tak menyangka bahwa lawan yang datang adalah Golok Maut. Lawan mempergunakan kedok namun caping di atas kepala itu tak mungkin dilupanya. Dia hafal betul akan caping itu dan memang hanya Golok Mautlah tokoh yang mengenakan caping. Dan ketika Swi Cu hilang kagetnya sementara tubrukan lawan juga luput maka Golok Maut, laki-laki itu tiba-tiba mengumpat dan memadamkan lampu yang tadi dinyalakan Swi Cu.

"Benar, aku, Swi Cu. Dan kini terimalah cintaku atau kau mampus!"

Swi Cu melengking. Akhirnya kamar menjadi padam lagi dan mereka bergerak di tempat yang gelap. Golok Maut menubruk dan menyerang lagi namun Swi Cu menghindar Dan ketika bentakan-bentakan disusul umpatan dan geraman laki-laki itu, Si Golok Maut, maka Swi Cu sudah mencabut pedangnya dan menyerang serta menusuk atau membacok.

"Keparat! Terkutuk kau, Golok Maut. Kiranya disamping pembunuh kaupun seorang jai-hwa-cat (pemerkosa). Ah, kubunuh kau. Jahanam...!" dan Swi Cu yang mengamuk sambil marah-marah akhirnya menerjang dan menyerang kamarnya itu, dua tiga kali menyalakan lampu namun dua tiga kali itu pula lawannya memadamkan kembali.

Rupanya Golok Maut tak mau dikenal dan biar di dalam gelap begitu saja, melayani dan menangkis pedang di tangan Swi Cu yang menusuk dan membacok. Dan ketika dentingan atau benturan keras terjadi setiap kali pedang ditangkis kuku jari maka Swi Cu pucat ketika lawan mulai mendesis.

"Swi Cu, kau tak dapat diajak baik-baik. Awas, aku akan membunuhmu kalau kau tak mau menyerah!"

"Jahanam! Kau boleh bunuh aku kalau mampu, Golok Maut. Dan jangan harap kau dapat menggagahi aku seperti keinginanmu. Keparat, kebetulan kau datang karena akupun ingin menagih sakit hati suciku yang kau nodai... cring-plaK!" dan pedang yang bertemu kuku jari tiba-tiba terpental ketika ditangkis lawan, membuat Swi Cu terpelanting dan gadis ini kaget bukan main karena tenaga lawan sekarang demikian hebatnya.

Telapak tangannya sampai pedas dan Swi Cu yang bergulingan menyelamatkan diri tiba-tiba melihat bayangan lawan menyambar, menubruk dan mengejarnya. Dan ketika gadis ini menjerit sambil menggerakkan pedangnya membacok tiba-tiba pedangnya malah mencelat dan tangan lawan pun sudah mencengkeram bahunya.

"Aduh, tolong, Beng Tan. Tolong....!"

Jeritan ini menggugah kesepian malam. Swi Cu yang tak tahan lagi dan tahu kelihaian Si Golok Maut akhirnya menjerit dan berteriak memanggil Beng Tan. Suaranya penuh ketakutan dan melengking tinggi. Maklumlah, Swi Cu juga kesakitan oleh cengkeraman lawan yang amat kuat dibahunya. Dan ketika lawan terkejut karena Swi Cu memanggil kekasihnya maka di luar terlihat sesosok bayangan dan Beng Tan berkelebat muncul, seperti iblis.

"Swi Cu, apa yang terjadi?"

Golok Maut terkejut. Kamar dalam keadaan gelap-gulita. Jari pun tak dapat dilihat namun sebagai orang berkepandaian tinggi Beng Tan dapat melihat bayang-bayang hitam di dalam, juga keluhan atau rintihan Swi Cu, yang tampaknya tertindih dan bayangan hitam itu mencekiknya, Dan ketika Beng Tan tentu saja terkejut dan bayangan itu juga terkejut, karena cekikannya segera mengendor dan berkelebat ke arah Beng Tan tiba-tiba kedua tangannya sudah memukul dan melepas sebuah pukulan dahsyat.

"Dess!"

Beng Tan terlempar berjungkir balik. Pemuda ini berteriak namun dapat menahan pukulan itu, dia tadi mau memasuki jendela namun lawan di dalam sudah mendahului, menyerang dan melepas pukulannya. Dan ketika Beng Tan berjungkir balik dan terkesiap melihat lawan yang bercaping maka Swi Cu di dalam sudah bangkit berdiri dan terhuyung-huyung menudingkan jarinya.

"Dia... dia Golok Maut. Aku mau diperkosanya!"

Beng Tan tertegun. Dia sudah melayang turun ketika Swi Cu terhuyung dan memaki lawannya itu, berkelebat keiuar. Dan ketika Golok Maut, laki-laki yang mereka duga itu mendengus dan berjungkir balik melayang turun maka tokoh bercaping ini tiba-tiba melarikan diri.

"Hei..!" Beng Tan terkejut, marah. "Jangan lari, Golok Maut. Tunggu..!"

Namun Swi Cu tiba-tiba mengeluh. Entah kenapa mendadak gadis itu jatuh terduduk, memanggil nama Beng Tan dan roboh ke tanah. Dan ketika lawan di depan juga melepas empat batang pisau kecil dan Beng Tan menyampok runtuh maka dari empat penjuru tiba-tiba muncul bayangan-bayangan Mo-ko dan Mindra.

"Tahan, kejar! Dia... dia Golok Maut!"

Beng Tan gugup, mau mengejar lawan atau melihat kekasihnya dulu. Swi Cu terkapar dan merintih-rintih di sana, kesakitan. Dan ketika Mo-ko serta lain-lainnya tertegun dan menjublak di tempat maka Golok Maut berseru bahwa mereka boleh mengejarnya sampai di Lembah Iblis.

"Siapa yang ingin mati boleh mengejar aku. Sampai di Lembah Iblis!"

Mindra dan keempat temannya tertegun. Mereka sudah terlanjur jerih mendengar nama Si Golok Maut. Tanpa disangka tanpa dinyana tiba-tiba tokoh itu muncul, di tempat mereka. Dan ketika Beng Tan berteriak-teriak sementara pemuda itu sudah menolong kekasihnya maka Mindra dan empat temannya ini tak ada yang mengejar, mendelong mengawasi lawan yang sebentar kemudian sudah lenyap, hilang ditelan kegelapan malam.

"Hei..!" Beng Tan melotot. "Kejar dan tahan dulu jahanam itu, Mo-ko. Sebentar kemudian aku membantu!"

Mo-ko bergerak. Akhirnya mereka mengejar namun kesan ayal-ayalan tak dapat disembunyikan. Iblis hitam putih ini tak mungkin berani melaksanakan perintah Beng Tan sepenuhnya. Dan ketika Mindra juga bergerak dan Sudra pura-pura meledakkan cambuknya maka Beng Tan mengepal tinju menolong kekasihnya, yang tiba-tiba biru dan kehitaman mukanya.

"Ah, kau terkena racun. Keparat, Golok Maut juga suka mempergunakan racun!" Beng Tan marah, terbelalak dan cepat menolong kekasihnya dan menotok sana-sini. Beng Tan menjejali kekasihnya dengan sebutir obat penawar racun. Namun ketika Swi Cu masih mengeluh dan menggigil tubuhnya maka gadis ini mengerang dan roboh pingsan.

"Keparat!" Beng Tan jadi semakin bingung lagi, tak mungkin mengejar lawannya. "Kau keji dan curang, Golok Maut. Tak sangka kalau sekarang kau suka mempergunakan racun dan segala kekejian menjijikkan!" Beng Tan berkelebat, menolong dan membawa kekasihnya ke kamar dan segera pemuda itu menyalakan lampu.

Di dalam dia melihat kursi dan meja yang jungkir balik. Bekas pertempuran memang tak dapat disembunyikan lagi. Dan ketika Beng Tan melihat luka cengkeraman di bahunya maka pemuda ini terkejut dan cepat menempelkan lengan di bahu kekasihnya itu, yang tiba-tiba panas seperti terbakar!

"Bedebah! Jahanam terkutuk!" Beng Tan merah padam, marah dan cepat tanpa banyak bicara lagi dia mengerahkan sinkangnya untuk "menyedot" racun di bahu kekasihnya itu. Dan ketika tak lama kemudian darah menghitam keluar bercampur bau yang busuk maka Swi Cu mengeluh sadar membuka matanya, langsung menangis dan mengguguk menubruk Beng Tan.

"Golok Maut... Golok Maut mau memperkosaku. Dia... dia jahanam terkutuk!"

"Sudahlah," Beng Tan lega, memeluk kekasihnya ini. "Kau sudah selamat, Cu-moi. Dan telanlah sekali lagi obat ini." Beng Tan menyerahkan dua pil merah muda, memberikan minuman dan Swi Cu terisak menerima semuanya itu. Dan ketika obat sudah bekerja cepat dan Swi Cu dapat melompat bangun maka diluar Coa-ongya tiba-tiba muncul.

"Kalian tak apa-apa? Swi Cu selamat?"

"Ah," Beng Tan bangkit berdiri, memutar tubuhnya. "Kekasihku selamat, ong-ya. Tapi Golok Maut melarikan diri!"

"Aku tahu... aku sudah mendengar," dan ketika pangeran itu mengepal tinjunya dan mencaci-maki Golok Maut maka malam itu Mindra dan kawan-kawannya melapor bahwa mereka tak dapat menangkap laki-laki bercaping itu, yang sudah menghilang dan lenyap di gelapan malam.

Beng Tan maupun Coa-ongya dapat memaklumi itu, Beng Tan bahkan diam-diam tahu bahwa Mindra dan empat temannya ini tak mungkin melakukan pengejaran sungguh-sungguh. Dia tentu saja tahu bahwa kelima orang ini gentar menghadapi Golok Maut, yang lihai dan memiliki golok mengerikan itu. Dan ketika malam itu mereka kembali ke tempat masing-masing dan sedikit kegaduhan itu berhasil diatasi maka Beng Tan diminta agar pindah ke kamar belakang pula, oleh Swi Cu.

"Aku takut. Golok Maut amat lihai. Kau pindah kebelakang juga, koko. Menemani aku di kamar sebelah!"

"Hm, akan kuminta pada pangeran," dan ketika Beng Tan menyatakan itu dan Coa-ongya tampak ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala maka malam itu Beng Tan pindah di kamar belakang, bersebelahan dengan kamat Swi Cu.

"Coba ceritakan sekali lagi apa yang kau alami ini. Bagaimana Golok Maut datang dan apa yang dia lakukan."

"Dia tahu-tahu ada di kamar ini, lampu padam. Dan ketika aku terkejut dan terbangun tiba-tiba dia sudah menubruk dan memeluk aku!"

"Hm!" Beng Tan merah mukanya. "Lalu apa yang dia lakukan, moi-moi?"

"Dia... dia menindih tubuhku, menciumi! Ah, tak usah kukatakan ini, koko. Golok Maut itu jahanam keparat!" Swi Cu menangis, menutupi mukanya dan ada rasa panas di hati Beng Tan.

Pemuda ini terbakar dan tiba-tiba secara aneh dipandanginya kekasihnya itu. Swi Cu tiba-tiba seolah barang "kotor" yang harus dicurigai. Namun ketika Beng Tan menarik napas panjang dan hampir saja terjebak dalam nafsu egonya tiba-tiba dia memeluk dan mencium rambut kekasihnya ini.

"Sudahlah, dia... dia tak sampai mengganggu, bukan?"

"Apa? Maksudmu... ah, tidak, koko. Kalau itu terjadi lebih baik aku mati bunuh diri!"

Beng Tan lega, memeluk dan mencium kekasihnya ini lagi dan Swi Cu tiba-tiba kecewa. Dia kecewa kenapa Beng Tan ada kecurigaan seperti itu, tak percaya. Maka ketika dia melepaskan diri dan marah memandang kekasihnya itu tiba-tiba gadis ini berkata,

"Aku besok tak ikut denganmu. Aku ingin kembali!"

"Eh!" Beng Tan terkejut. "Apa maksudmu, moi-moi? Kembali kemana?"

"Hek-yan-pang. Aku besok akan kesana dan tidak ikut ke Lembah Iblis!"

Beng Tan melonjak. Swi Cu tiba-tiba menunjukkan kemarahannya dengan jelas, kaget dia. Dan ketika gadis itu membanting pintu kamar dan mengguguk di pembaringan maka Beng Tan berdebar mencari kesalahan sendiri. "Cu-moi, kenapa kau tiba-tiba begini? Kenapa kau marah-marah kepadaku? Apa salahku?"

Gadis itu tak menjawab. Swi Cu menutupi muka dengan bantal dan tersedu-sedulah gadis itu mendengar pertanyaan Beng Tan. Dan ketika Beng Tan menunduk dan menarik bantal itu tiba-tiba gadis ini malah membentak, "Pergi... pergi kau. Diriku sudah kotor!"

Beng Tan tersentak. Untuk selanjutnya dia segera mendengar kutuk dan caci maki kekasihnya, 'mengumpat dan memaki-maki Golok Maut itu. Dan ketika dia juga mendapat bagiannya karena gara-gara Golok Maut sekarang dia mencurigai kekasihnya maka Beng Tan sadar dan cepat tanggap.

"Kau boleh tinggalkan aku, Tan-ko. Besok kau berangkat sendiri dan aku kembali ke tempat tinggalku. Aku sudah dijamah Golok Maut, jangan percaya lagi kepadaku!"

"Ah-ah...!" Beng Tan tersipu. "Kau salah paham, moi-moi. Aku tidak mencurigaimu dan tetap percaya padamu. Siapa bilang aku mencurigaimu? Aku percaya bahwa kau tetap bersih, dan maafkan kalau sikap atau kata-kataku menyakiti hatimu!"

Swi Cu mengguguk. Dibelai dan dikecup penuh sayang begitu mendadak dia memukul-mukul dada Beng Tan. Memang dia marah dan benci kepada kekasihnya ini setelah mendengar nada pertanyaan Beng Tan. Betapapun sebagai wanita dia tahu itu, merasa, bahwa Beng Tan mencurigai dirinya dan jangan-jangan Golok Maut telah menodai, seperti halnya sucinya yang malang itu, yang sampai hamil!

Namun ketika Beng Tan mengecupnya lembut dan berulang-ulang pemuda itu menyatakan maafnya akhirnya Beng Tan menarik kekasihnya ini dan berlutut di tepi pembaringan.

"Moi-moi, maafkan aku. Terus terang saja, mana ada pemuda yang tak bakalan marah dan panas kalau kekasihnya dipeluk-peluk orang lain? Memang tadi aku sedikit mencurigaimu, moi-moi, terbakar. Tapi itulah tanda cintaku untukmu. Kau boleh percaya atau tidak tapi kalau besok kau tak ikut aku maka aku juga membatalkan perjalanan ke Lembah Iblis!"

Swi Cu kaget. "Kau gila? Kau... kau mau menolak perintah kaisar?"

"Kalau kau tak senang denganku justeru ini lebih berat, moi-moi. Kemarahan kaisar tak akan seberat kemarahanmu. Aku tak sanggup!"

"Oh, tidak! Jangan, koko... jangan. Aku... aku ikut!" dan ketika Swi Cu menangis dan gemetar mengangkat bangun kekasihnya itu maka gadis ini menciumi pipi Beng Tan dengan penuh haru.

Tentu saja terkejut dan terharu karena demi dia Beng Tan akan membatalkan perjalanannya ke Lembah Iblis, padahal perjalanan itu adalah perintah kaisar dan siapa pun tak boleh menolak. Menolak berarti mati dan Beng Tan sanggup melakukan itu, demi dia! Dan karena ini menunjukkan cinta yang amat besar dan kemarahan Swi Cu terganti oleh haru dan kasih yang mendalam tiba-tiba keduanya sudah berciuman dan berguling di tempat tidur.

"Moi-moi, demi kau aku siap melawan siapa saja. Jangankan sri baginda kaisar, iblispun akan kulawan dan siluman atau hantu tak akan membuat aku mundur, asal selalu berdua denganmu!"

"Oh, kau... kau gila, koko. Tidak, tidak boleh. Sebagai hamba yang baik kau harus melaksanakan perintah sri baginda dan untuk itu aku ikut denganmu!"

"Kau tak akan meninggalkan aku? Tak jadi ke Hek-yan-pang?"

"Tidak, tidak... aku harus menyertaimu dan jangan kau menjadi pengawal yang tak setia pada junjungannya!"

"Ah, terima kasih!" dan keduanya yang kembali sudah berciuman dan bahagia mendapatkan kehangatan cinta lalu malam itu tidur di kamar masing-masing.

Beng Tan tentu saja tak mau berbuat lebih dan Swi Cu kagum akan itu. Beng Tan selalu dapat menjaga dirinya dan setiap kali mereka mabok tentu pemuda itu mendorong kekasihnya, sekedar berciuman dan berdekapan mesra. Cukup, tak mau lebih. Dan ketika malam itu keduanya kembali memperoleh nikmat dan bahagia dari cinta yang suci maka Swi Cu lega ketika kekasihnya menutup pintu kamar sambil berkata,

"Nah, malam ini kita tidur bersebelahan. Tak akan ada yang berani mengganggumu. Selamat malam, moi-moi. Sampai besok dan tidurlah yang nyenyak!"

Swi Cu mengangguk. Air mata kebahagiaan masih membasahi pipinya, tersenyum dan sekali lagi dia mendapat ciuman lembut di pipi. Ah, Beng Tan memang pemuda yang lembut dan halus kalau bercinta!

Dan ketika malam itu mereka tidur di kamar bersebelahan dan Swi Cu tentu saja tenang maka keesokannya perjalanan ke Lembah Iblis sudah dipersiapkan. Pertarungan mati hidup antara pemuda baju putih ini dengan Si Golok Maut, pertandingan yang bakal tak terelakkan lagi!

* * * * * * * *

Mari kita lihat suasana di Lembah Iblis. Seperti diketahui, lembah ini adalah bekas tempat tinggal mendiang jago perkasa Sin-liong Hap Bu Kok bersama isterinya, wanita lihai dan amat gagah yang berjuluk Cheng-giok Sian-li (Dewi Permata Hijau). Dan karena mereka berdua sudah sama-sama tiada ketika memperebutkan Golok Penghisap Darah, golok maut yang amat berbahaya itu maka seseorang telah menggantikan sepasang suami isteri itu, yakni Si Golok Maut yang membunuh-bunuhi dan amat benci kepada orang-orang she Coa dan Ci.

Pagi itu Lembah Iblis masih sunyi. Ayam jantan berkokok berkali-kali dan pagi yang segar terasa menyeramkan di lembah ini. Dua tebing tinggi yang menjulang di sisi kanan lembah, tebing yang amat curam dan terjal sungguh ngeri untuk dipandang dari bawah. Lembah Iblis terletak di antara dua ceruk atau tebing ini, datar di bawah namun penuh tetumbuhan liar. Tanaman kaktus atau seruni liar tampak bertebaran dimana-mana, bercampur dengan mawar hutan atau bunga-bunga bangkai, yakni sejenis tanaman yang kalau dihembus angin mengeluarkan bau busuk. Jenis-jenis tanaman ini bertebaran rata dan suasana sunyi yang kering, benar-benar mencekam disitu.

Lembah Iblis tampak gelap dan tidak bersahabat. Pendatang akan mencium bau warna-warni di situ, kalau berdiri di mulut lembah. Dan ketika semuanya itu masih ditambah dengan suara-suara Jengkerik malam yang tiada habis-habisnya mengeluarkan suara mirip iblis melengking maka Lembah Iblis benar-benar lembah yang tidak enak dimasuki. Ada kesan angker di lembah ini, juga dingin.

Tak ada senyum atau tawa bersahabat. Semuanya dingin dan beku, mirip daerah makam yang dikeramatkan, dengan sebuah pohon siong yang tua dan besar. Dan ketika pagi itu Lembah Iblis masih sunyi namun diramaikan oleh suara-suara jengkerik malam yang bersahut-sahutan dan mengerik mendirikan bulu roma maka sesosok bayangan tampak terhuyung-huyung memasuki lembah, baju dan pakaiannya robek-robek, bahkan percikan darah tampak disana-sini. Siapa dia? Bukan lain Si Golok Maut, pemilik lembah!

Pagi itu Golok Maut tampak letih dan kehabisan tenaga, baru pulang dari kota raja setelah membunuh Ci-ongya disana, mengamuk dan membabat habis tigaratus pengawal dan busu. Dia letih dan ingin beristirahat, pulang kandang. Dan ketika pagi itu tokoh bercaping ini terseok-seok melangkah sementara pangkal lengan dan mata kakinya luka berdarah maka orang tahu bahwa Golok Maut memang nyaris celaka dalam satu pertempuran berat.

Tidak aneh. Dia hampir saja terperangkap dan tertangkap barisan jaring, jala-jala berkait yang dilepas para pengawal. Namun karena dia berkepandaian tinggi dan golok maut ditangannya itu mampu menabas putus setiap jaring yang datang maka tokoh ini selamat dan kini meninggalkan istana setelah satu dari dua orang musuhnya yang amat dibenci berhasil dibunuh.

Ci-ongya telah digorok dan semacam kepuasan aneh tampak di mata yang bersinar-sinar itu. Golok Maut sering tersenyum dan tertawa sendiri, kalau membayangkan betapa dia telah menipu penjaga dan memanggil pangeran she Ci itu, yang dengan mudah dibabat dan dipenggal lehernya. Namun ketika dia mengeluh dan keletihan luar biasa akibat keroyokan berat itu mengganggu tubuhnya tiba-tiba tokoh ini jatuh terduduk dan tak sanggup menyeret kakinya lagi.

"Koaakk...!" Seekor gagak tiba-tiba melayang di atas kepala. Pekik dan jeritnya yang mengejutkan tokoh ini tampak membuat Golok Maut menengadahkan muka, meiihat gagak itu terbang rendah dan tiba-tiba sesuatu benda jatuh dari atas. Golok Maut terkejut dan mengelak, kalah cepat dan terdengarlah bunyi "ketepok" ketika caping lebarnya dijatuhi benda itu. Dan ketika dia tertegun dan melepas capingnya, meiihat benda apa itu maka ternyata kotoran gagak menimpa dirinya, tahi si gagak hitam!

"Keparat," Golok Maut mendesis. "Apa maksudmu, gagak hitam? Kau memberi tanda buruk kepadaku?"

"Koaak.... koaakk....!" sang gagak meneruskan terbangnya, lenyap di timur dan muka tokoh ini berubah. Ada hal-hal yang menjadi pantangan kalau tinggal di Lembah Iblis. Pertama tak boleh kejatuhan tahi burung, apalagi gagak. Dan kedua adalah tak boleh memaki sembarangan. Lembah Iblis amat pantang untuk mendengar sumpah serapah bagi yang tinggal di situ, mulut harus dijaga dan pantangan ini harus dijaga kalau tak ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Maka ketika pagi itu Si Golok Maut kejatuhan kotoran gagak dan dia tertegun merasakan getaran kuat tiba-tiba seekor kelinci meloncat melewati atas kepalanya dipatuk seekor ular.

"Sshh...!"

Golok Maut kembali terkejut. Kelinci itu ketakutan dan menguik melompati kepalanya, begitu saja, kurang ajar. Dan ketika dia terkejut dan ular yang mematuk gagal mendapatkan korbannya tiba-tiba ular ini yang marah dan kaget melihat Si Golok Maut mendadak menyambar dan menyerang laki-laki bercaping ini, ular yang kelaparan!

"Jahanam!" Golok Maut menggerakkan tangannya. "Kau tak tahu siapa aku, ular belang? Pergilah, dan mampus kau... ple-tak!" Golok Maut mendahului, menangkap dan memelintir kepala ular dan tewaslah ular itu dengan kepala hancur. Tapi baru laki-laki ini melempar bangkai ular dengan gemas mendadak auman dahsyat menggetarkan isi lembah dan seekor hari-mau loreng tiba-tiba muncul di situ, penghuni dari luar lembah.

"Auummm...!"

Golok Maut tersentak. Tak biasanya Lembah Iblis didatangi binatang-blnatang buas yang berasal dari luar. Dia selalu menjaga di situ dan hanya hewan-hewan kecil seperti kelinci atau sebangsanya yang boleh tinggal, karena mereka biasanya menjadi santapan baginya. Maka ketika pagi itu seekor harimau loreng datang mengaum dan harimau inipun tampaknya kelaparan karena cepat menyambar bang-kai ular yang dibuang Si Golok Maut tiba-tiba si raja hutan yang rupanya masih kelaparan ini menyambar Golok Maut.

"Dess!" Golok Maut menendang. Si raja hutan terpekik dan terlempar, jatuh tapi sudah menyerang lagi. Dan ketika Golok Maut menjadi marah karena binatang ini tak tahu diri maka dari mana-mana muncul harimau-harimau loreng yang sama besar dan ganasnya, lima ekor jumlahnya.

"Bagus, kalian minta mati? Majulah, dan kebetulan kalian di sini, harimau-harimau keparat. Aku ingin melepaskan kesalku dengan menghajar kalian... crat!" sinar putih berkelebat, tahu-tahu menyambar dari balik punggung laki-laki itu dan robohlah harimau pertama.

Harimau ini tak sempat mengaum karena batang kepalanya tahu-tahu menggelinding, putus dibabat sinar putih panjang itu. Dan ketika sinar ini masih bergerak dua tiga kali ke kiri kanan maka tiga yang lain roboh bergelimpangan disambar golok di tangan Si Golok Maut itu, Golok Penghisap Darah.

"Crat-crat-crat!"

Empat harimau terkapar mandi darah. Mereka dikutungi kepalanya dan harimau terakhir tampak terkejut, merintih dan tiba-tiba memutar tubuhnya, lari. Agaknya, sebagai binatang, dia memiliki naluri tajam bahwa lawan yang dihadapi kali ini amatlah bengis dan berbahaya. Maka begitu dia mengaum dan melompat panjang tiba-tiba dia meninggalkan pertempuran tapi Si Golok Maut terlanjur marah.

"Jangan lari, kaupun harus kuhukum!" laki-laki ini bergerak, maju berkelebat dan loncatan panjang si harimau loreng masih kalah cepat dengan gerakan laki-laki bercaping ini. Golok Maut melesat bagai hantu kesiangan, senjata di tangannya bergerak tapi saat itu tiba-tiba dari samping kanan menyambar seekor harimau cilik. Harimau ini memekik dan aum-nya yang kecil menggetarkan cukup mengejutkan isi lembah. Dan ketika Golok Maut tertegun namun menggerakkan tangannya ke kanan tiba-tiba harimau kecil itu terlempar sementara yang besar, yang disambar golok maut terpapas telinganya.

"Crat!"

Sang harimau memekik. Dia mengaum terlempar di sana, terguling-guling. Namun ketika Golok Maut berkelebat dan kembali mengejar tiba-tiba harimau cilik yang rupanya anak dari sang induk menyerang dan menubruk Si Golok Maut lagi.

"Des-dess!" Golok Maut marah, menendang harimau cilik itu dan harimau ini terlempar seperti induknya, memekik dan terguling-guling. Dan ketika Golok Maut tertegun karena sang induk sudah menggeram dan bergerak mendekati anaknya maka dua ekor harimau itu sudah berdiri berdampingan dengan mata bersinar-sinar, marah tapi juga gentar menghadapi Si Golok Maut.

"Enyahlah!" Golok Maut terkejut, tertegun dan heran memandang dua harimau anak dan induknya itu, tak jadi menggerakkan golok. "Pergi kalian, binatang sialan. Dan jangan melotot di sini!"

Aneh sekali. Harimau yang besar seolah mengerti dan mengaum, lirih bercampur erangan karena telinga sebelah kirinya putus. Potongan telinga itu masih terkapar di tanah dan si harimau cilik menggeram-geram. Meskipun takut namun agaknya harimau ini siap membela induknya kalau Golok Maut menyerang lagi. Tapi ketika Golok Maut mengusir dan membentak mereka tiba-tiba sang induk melompat dan pergi meninggalkan tempat itu.

Golok Maut terhenyak. Harimau yang kecll juga membalik dan mengaum tanda lega. Induknya disusul dan lenyaplah mereka berdua ketika hilang di iuar lembah. Dan ketika Golok Maut termangu-mangu dan menjublak di tempat maka pagi itu empat harimau melintang mayatnya tanpa kepala.

"Terkutuk," Golok Maut memaki. "Kenapa kalian mengganggu aku, harimau-harimau keparat? Kalau kalian tak datang mengganggu tentu kalian tak akan mati konyol!"

Angin bertiup. Tiba-tiba seolah menja-wab kekesalan hati laki-laki ini menda-dak terdengar cicit dan kelepak burung-burung malam. Seratus kelelawar tiba-tiba beterbangan memasuki lembah, menci-it dan gugup seolah digebah iblis. Dan ketika mereka berputar-putar di atas kepala tokoh bercaping ini dan dua di antaranya menabrak Si Golok Maut tiba-tiba Golok Maut berseru keras menangkap dan mencengkeram mereka sampai hancur.

"Keparat!" dua ekor kelelawar itu remuk, dibuang bangkainya dan ratusan kelelawar lain lagi muncul. Golok Maut terkejut karena seperti pasukan siluman saja kelelawar-kelelawar itu beterbangan memasuki Lembah Iblis. Mereka mencicit-cicit dan berputaran di atas kepalanya. Suasana menjadi gelap dan langit yang terang tiba-tiba menjadi hitam oleh ba-nyaknya kelelawar-kelelawar vang beterbangan ini. Dan ketika Golok Maut terbelalak dan merasakan firasat yang tidak enak tiba-tiba dari timur muncul tujuh gagak hitam yang berkaok-kaok.

"Koaakk..... koaakkk....!"

Golok Maut berdiri bulu kuduknya. Baru kali ini selama hidupnya dia mendapat Kejadian begitu aneh. Lembah Iblis dida-tangi hewan-hewan langit dan mereka semua beterbangan mengelilingi tubuhnya. Dari atas mereka mengeluarkan suara-suara ramai layaknya musuh yang maju perang. Dan ketika laki-laki ini tertegun dan merinding bulu romanya tiba-tiba ia-ngit yang hitam dipenuhi kelelawar-kelelawar itu meledak dan mengeluarkan suara macam guntur.

"Blarr!"

Sinar warna-warni memenuhi langit hitam. Entah dari mana tiba-tiba muncul sesosok asap putih jingga, meluncur dan berkelok tiga kali membentuk seekor na-ga. Dan ketika gagak di atas berkoak ke-takutan dan kelelawar-kelelawar yang beterbangan juga buyar dan mencicit meng-hilang cepat maka terdengar suara tawa terbahak mirip iblis mendapatkan buruannya.

"Ha-ha, selamat datang, Golok Maut. Selamat bertemu kembali. Aku arwah Mo-bin-lo (Si Muka Iblis) datang menemuimu!"

Golok Maut pucat. Tiga bayangan asap putih yang berkelok tiga kali di udara sejenak memperlihatkan bayang-bayang naga, berobah dengan cepat dan tahu-tahu seorang kakek tinggi besar berwajah menyeramkan muncul di sana, di langit yang hitam. Dan ketika Golok Maut terkesiap dan senjata di sarungnya meledak tiba-tiba Golok Penghisap Darah yang ada dibelakang punggungnya itu melesat dan terbang menuju kakek ini, Mo-bin-lo, atau lebih tepat, arwah Mo-bin-lo.

"Darr!"

Golok Maut tak sanggup menahan kilatan cahaya itu. Sinar yang luar biasa terangnya mendadak pecah di udara, meledak dan tak kuat dia bertahan. Dan ketika dia memejamkan mata dan apa boleh buat harus melengos dari kilatan warna-warna terang di langit yang gemebyar itu tiba-tiba suara dari atas terdengar lagi, kini dingin menyeramkan, menyerupai bentakan seorang kakek terhadap cucunya.

"Golok Maut, kau bocah iblis. Kenapa kau menodai Golok Penghisap Darah ini dengan perbuatanmu menggauli ketua Hek yan-pang itu? Kau harus mencuci dosa ini dengan darahmu, atau senjata ini tak bakal bertuah lagi gara-gara perbuatanmu!"

Golok Maut terkejut. Dia membuka mata dan serangkum angin pukulan menghantam tubuhnya. Entah bagaimana tahu-tahu asap atau roh di udara itu menukik, menyambar dan sudah menyerang dirinya. Dan ketika dia mengelak namun kalah cepat maka asap seperti iblis itu menghantam dirinya.

"Bress!"

Golok Maut terlempar. Hampir tak masuk akal tahu-tahu tubuhnya terangkat dan terlempar naik, terbanting dan terguling-guling di sana, terjengkang. Dan ketika dia kaget melompat bangun namun golok menyambar lagi ke sarungnya maka sesuatu yang dingin terasa melekat di belakang punggungnya itu.

"Aku selalu mengikutimu, atau kau mati membayar dosa!"

"Ooh...!" Golok Maut menggigil, tiba-tiba ketakutan hebat. "Tolong aku, suhu, tolong...!" dan Golok Maut yang berkelebat serta naik ke tebing tiba-tiba berjungkir balik dan berkali-kali menggerakkan tubuhnya. Dari bawah dia sudah menjejak dan menendang dinding enam tujuh kali. Setiap kali tentu mencelat atau melambung ke udara. Dan ketika semua gerakan itu membuat tubuhnya mumbul dan mumbul semakin tinggi akhirnya tebing yang tingginya tak kurang dari seratus tombak itu sudah dilalui dan selamat tiba di atas, hanya sekejap mata saja!

"Subo, tolong! Suhu, tolong aku...!"

Golok Maut bagai anak kecil. Ledakan dan suara tawa di atas langit tadi sungguh membuat jiwanya menciut. Golok Maut diancam roh halus dan itulah pembuat atau penempa Golok Penghisap Darah. Mo-bin-lo adalah kakek pencipta Golok Maut, pembuat dan penempa yang amat hebat, hidup pada ratusan tahun yang lalu dan kakek ini adalah kakek iblis yang amat sakti, keji dan kejam namun penuh daya linuwih. Golok Penghisap Darah yang dibuatnya itu "diisi" tapa dan puasa selama sepuluh tahun, hidup meraendam diri dan tujuh tahun penuh kakek ini berada di sarang ular, tak bergerak dan tak bergeming menyatukan diri dalam alam samadhi yang mengerikan.

Kakek itu sedang bertarung melawan seorang pendekar sakti yang dua kali mengalahkannya, membuat atau mencipta golok yang ampuh dan akhirnya berhasil. Golok itu hanya pantang dikotori oleh hubungan suami isteri. Hanya kaum bujang atau perawan saja yang boleh memegang. Mereka yang sudah bersuami isteri dilarang keras memegang atau memiliki golok ini, karena dapat berakibat fatal. Namun ketika golok selesai dibuat dan kakek itu mencari musuhnya ternyata orang hebat yang mengalahkannya itu sudah meninggal dunia.

Mo-bin-lo menyumpah-nyumpah. Kakek ini menggeram di bukit Iblis dan gugurlah bukit yang ditempati itu, marah-marah di lautan dan lautan pun tiba-tiba membuih, bergolak dan menimbulkan gelombang pasang di mana para nelayan maupun pencari ikan lainnya diserang ombak besar. Rumah-rumah roboh dan ratusan orang tenggelam atau hanyut, terbawa oleh getaran sakti kemarahan kakek menyeramkan ini. Dan karena lawan yang dicari sudah meninggal dunia dan kakek itu tak dapat membalas musuhnya maka Mo-bin-lo mencari di akherat!

"Kakek ini dahsyat luar biasa. Segala iblis dan siluman tak ada yang mampu melawan. Dewa-dewa di angkasa juga tak ada yang mampu menandingi, kecuali pendekar sakti yang sudah menjelma menjadi mahluk suci di alam halus sana. Maka ketika kakek itu mengamuk dan akhirnya bertemu lawannya ini di akherat maka bertempurlah keduanya namun kakek itu kalah lagi," begitu gurunya pernah bercerita.

"Lalu apa yang terjadi, suhu? Bagaimana selanjutnya?" Golok Maut bertanya.

"Kakek ini terpaksa mengakui kekalahan. Mo-bin-lo melarikan diri namun roh-nya yang tak dapat kembali ke badan kasar akhirnya gentayangan di tempat-tempat gelap dan angkasa yang luas. Karena itu hati-hati, jangan sampai melanggar larangan kakek ini atau kau akan celaka terkena kutuknya."

Begitu Golok Maut pernah mendengar nasihat suhunya. Gurunya itu berkata seperti itu namun gurunya sendiri ternyata melanggar. Sebagai laki-laki yang sudah beristeri ternyata gurunya memegang Golok Maut, terkutuk dan akhirnya kena tuah dari sumpah si pembuat golok. Dan ketika gurunya mati sampyuh karena bertanding dengan isterinya sendiri, hal yang terjadi akibat kutukan maka guru dan ibu gurunya itu akhirnya tewas dan mati berbareng.

"Kau ingat itu baik-baik," gurunya pernah berpesan sebelum ajal. "Golok Maut jangan dikotori dengan perbuatan-perbuatan yang menjadi larangannya. Jangan berpacaran dulu, apalagi sampai mengadakan hubungan suami isteri. Jangan mengeluarkan kata-kata makian kalau kau sedang berada di Lembah Iblis. Kau mengerti?"

Golok Maut mengangguk. Waktu itu dia menanggapi semua kata-kata gurunya itu dengan dingin dan sedikit tak acuh. Pacaran? Ah, dia tak ada minat untuk mendekati wanita. Dendamnya terhadap orang-orang she Coa dan Ci membekukan semua hatinya tentang cinta. Tak terbersit di hatinya bahwa dia ingin pacaran, apalagi mengadakan hubungan suami isteri. Jijik dia!

Tapi ketika hal itu terjadi juga dan dia sudah melanggarnya dengan jatuh cinta dan bersebadan dengan ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba Mo-bin-lo muncul dengan tawa kutuknya di udara. Golok Maut kena tuah! Dan kini, mendengar suara dari langit itu dan kakek tinggi besar yang menyeramkan itu seolah membayanginya dan mengejar ke manapun dia pergi maka Golok Maut terengah menaiki tebing dan langsung berlarian jatuh bangun menuju sepasang makam yang tegak membisu di antara tanaman perdu liar.

"Suhu, tolong.... subo, tolong...!" Golok Maut mendeprok, langsung roboh berlutut dan menggigil membentur benturkan dahinya di batu nisan itu.

Dalam keadaan seperti itu di mana tak ada sahabat atau pun teman maka makam sepasang gurunya ini adalah penunjuk satu-satunya. Makam itu lebih dari sahabat dan Golok Maut kini gemetaran berlutut di situ, menangis seperti anak kecil karena tawa atau ancaman dari roh di langit itu menggetarkan hatinya. Betapapun dia adalah manusia biasa dan Golok Maut kini berubah sebagai laki-laki yang lemah dan tak berdaya, ketakutan dan memanggil-manggil suhunya. Dan ketika dua jam kemudian tokoh ini berlutut dan gemetar memanggil-manggil gurunya mendadak di atas makam terdengar sebuah ledakan dan muncullah roh dan seorang laki-laki gagah perkasa, mendiang Hap Bu Kok yang menampakkan diri dalam bentuk badan halus.

"Muridku, kenapa kau memanggil-manggil aku? Apa yang terjadi? Kenapa kau mengerahkan Kun-tek-giam-ong (Raja Akherat Membuka Pintu)?"

"Ampun..!" Golok Maut terkejut, tapi girang luar biasa. "Aku... aku ingin minta tolong padamu, suhu. Teecu (aku) melanggar pantangan Golok Maut!"

"Apa yang kau lakukan?"

"Teecu... teecu mencinta seorang gadis..."

"Hm, belum melanggar!"

"Tidak... tidak, suhu. Teecu... teecu bukan hanya mencinta saja melainkan juga telah melakukan hubungan badan. Arwah Mo-bin-lo yang suhu katakan itu sekarang mengejar-ngejar teecu. Teecu mau dibunuh!"

"Hm!" Sin-liong Hap Bu Kok tampak terkejut. "Kau bertemu kakek ini, murid-ku? Dan kau telah diancamnya?"

"Benar, teecu.... teecu takut, suhu. Teecu tak ingin mati sebelum dua musuh besar teecu terbunuh!"

Roh dari laki-laki gagah itu tergetar. Golok Maut berkeringat dan tubuhnya juga selalu menggigil. Sinar menghitam tiba-tiba menyelimuti wajah dan tampak bayang-bayang aneh mengelilingi pemuda ini. Ada bentuk-bentuk seperti anjing atau wanita cantik berseliweran di situ. Golok Maut sedang berada di alam aneh karena dia memanggil gurunya dengan ilmu Kun-tek-giam-ong, ilmu yang hanya boleh dipergunakan sekali saja dalam hidup, ilmu yang khusus memanggil arwah api setelah itu harus dibuang jauh-jauh. Pelepas ilmu ini untuk kedua kalinya bisa terseret ke akherat kalau berani coba-coba, alias akan terbawa nyawanya kalau mempergunakan lebih dari sekali. Maka ketika pagi itu Golok Maut terpaksa mempergunakan ilmunya ini untuk bertemu gurunya di akherat maka roh atau arwah dari Sin-liong Hap Bu Kok itu tampak tertegun.

"Bagaimana, suhu? Apa yang harus teecu lakukan?"

"Hm...!" laki-laki gagah ini bersedakap. "Tak ada jalan lain kecuali membunuh kekasihmu itu, muridku. Pergi dan cari dia dan berikan arwahnya pada Mo-bin-lo!"

"Teecu.... teecu harus membunuhnya?"

"Ya, atau kau yang harus mati, muridku. Kutuk atau pantangan golok itu telah kau langgar. Kau membuat kemarahan Mo-bin-lo. Tak ada jalan kecuali membunuh kekasihmu itu dan cepat-cepat cari dua musuhmu itu sebelum Mo-bin-lo meminta nyawamu melalui Golok Maut!"

Pemuda bercaping ini menggigil. Dia bertanya iagi apakah permintaan itu tak dapat dirobah, maksudnya, ditawar. Apakah tak dapat nyawa orang lain saja sebagai penukar. Tapi ketika gurunya meng-geleng dan berkata bahwa itu satu-satunya cara untuk melepas "tumbal" maka Golok Maut menggigil dan berketrukan giginya.

"Kau tinggal memilih, menyerahkan nyawamu atau nyawa kekasihmu itu. Nah, selamat tinggal, muridku. Dan jangan main-main dengan ilmu Kun-tek-giam ong lagi...plash!" arwah atau roh halus itu hilang dalam satu ledakan kecil, lenyap dan entah ke mana dan Golok Maut pun tiba-tiba terbanting roboh.

Tubuh yang menggigil dan muka yang kehitaman itu sekarang pulih kembali. Golok Maut telah diberi pilihan dan tinggal menentukan nasibnya. Dan ketika laki-laki itu me-ngeluh namun kepalan tinju menunjukkan keputusannya maka di bawah lembah sesosok tubuh terhuyung-huyung menghampiri.

"Golok Maut, keluarlah. Aku datang untuk menuntut balas!"

Golok Maut tertegun. Seorang gadis cantik berpakaian merah datang meng-hampiri, terseok dan menangis serta memanggil-manggil namanya. Dan ketika gadis itu sudah memasuki lembah dari berdiri di ujung sana maka Golok Maut berkilat girang karena itulah Wi Hong, kekasihnya!

"Golok Maut, keluarlah. Aku datang!"

Golok Maut berkelebat. Tiba-tiba dengan cara berjungkir batik dia meluncur turun ke bawah, geraknya bagai elang rajawali atau garuda menyambar. Dari tempat setinggi itu mengembangkan kedua lengannya di kiri kanan tubuh, meluncur dan tiba-tiba sudah menyambar bagai rajawali haus darah. Dan ketika tubuh itu hinggap dengan ringan dan gadis baju merah yang berteriak-teriak memanggil namanya ini tertegun kaget maka muka yang mangar-mangar dan cantik tapi penuh air mata itu tiba-tiba beringas tapi juga girang.

"Golok Maut, kau datang sebagai laki-laki gagah. Nah, aku mencarimu dan sengaja ingin menantang maut. Kau pernah bilang untuk membunuhku kalau bertemu lagi. Kini aku datang untuk membunuh atau dibunuh!"

Golok Maut berkilat. "Wi Hong," suara ini tak bersahabat. "Aku memang pernah bicara seperti itu dan sungguh kebetulan kalau kaupun mencari aku di sini. Aku ingin membunuhmu, dan maaf bahwa segala kenangan kita terpaksa kubuang jauh-jauh. Nah, kau majulah dan serahkan nyawamu!"

"Srat!" Wi Hong, gadis cantik itu men-cabut pedang. "Aku memang ingin mencarimu, Golok Maut. Menuntut balas dan sakit hati. Kau boleh bunuh aku atau aku yang akan membunuhmu!" dan pedang yang bergerak tanpa banyak bicara lagi tiba-tiba mendesing dan sudah menuju tenggorokan Si Golok Maut ini, yang mengelak dan mundur selangkah dan pedang pun luput mengenai angin kosong. Wi Hong membentak lagi dan memutar pe-dangnya, tiga kali membuat gerakan me-lingkar dan ditikamlah ulu hati serta dada lawan. Namun ketika Golok Maut mengengos dan serangan itu gagal lagi maka Wi Hong berkelebat dan tangan kirinya pun melepas pukulan Ang-in-kang (Awan Merah).

"Des-dess!"

Golok Maut tergetar. Wl Hong memang bukan gadis sembarangan dan jelek-jelek sebagai ketua Hek-yan-pang dia adalah tokoh keias satu. Maka ketika pukulan itu menggetarkan Si Golok Maut dan untuk selanjutnya gadis atau ketua Hek-yan-pang ini sudah berkelebatan cepat dengan seruan atau bentakan nyaring maka pedang dan pukulan bertubi-tubi menghujani Si Golok Maut ini, menyambar naik turun bagai naga sedang murka dan ilmu pedang Walet Hitam mengurung Si Golok Maut dengan cepat. Golok Maut terpaksa mengikuti namun Wi Hong mengerahkan ginkangnya, lenyap dan melengking-lengking menyerang lawannya itu. Dan ketika Ang-in-kang atau pukulan Awan Merah menyambar-nyambar pula dari tangan kirinya maka untuk beberapa jurus Golok Maut terdesak.

"Plak-bret!"

Satu tangkisan kuat agak menahan bertubi-tubinya serangan. Hujan pukulan atau tikaman yang menyerang Si Colok Maut akhirnya mulai mendapatkan perla-wanan juga, Wi Hong membentak lagi namun tergetar. Kali ini dia terhuyung dan pedang di tangannya tiba-tiba pedas di tangan. Keparat, Golok Maut mulai bersi-kap keras! Dan ketika Wi Hong melengking tinggi dan menerjang serta menusuk lagi maka pukulan Awan Merahnya mulai bertemu telapak Si Golok Maut.

"Des!"

Wi Hong terpental. Gadis ini kaget dan marah sekali karena pukulannya membalik. Dia harus melempar tubuh bergulingan kalau tak ingin terluka, menerima daya tolak pukulannya sendiri. Dan ketika dia membentak dan menyerang lagi maka Golok Maut mendengus dan mulai bicara,

"Wi Hong, aku akan mengalah padamu sebanyak limapuluh jurus. Setelah itu kau harus mati!"

"Matilah! Bunuhlah! Aku tak takut mati atau ancamanmu, Golok Maut. Kau memang laki-laki jahanam dan terKutuk mampuslah kau... wut-singg!" pedang menyambar lagi, kian ganas dan cepat namun Golok Maut mengelak. Dan ketika pedang bergulung-gulung naik turun lagi dan pu-'tulan Awan Merah dilepas tiada henti-hentinya maka Golok Maut kembali menangkis.

"Dess!"

Wi Hong mencelat. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mengeluh dan terban-ting terguling-guiing di sana, bukan me-iempar tubuh melainkan memang terbanting oleh tangkisan Golok Maut yang me-nambah tenaganya, kian keras saja dan pucatlah gadis itu oleh sikap dingin lawan. Goiok Maut memang benar-benar telah tidak memiliki rasa cinta lagi dan mereka benar-benar musuh. Ah, sakitnya hati ini! Dan ketika Wi Hong membentak dan menyerang lagi maka Golok Maut mulal menghitung-hitung jurusnya.

"Sepuluh.... sebelas.... empat belas... des dess!"

Wi Hong memaki-maki. Mengelak atau menangkis sambil menghitung-hitung jurus serangan rasanya kok semakin me-nyakitkan perasaan saja. Golok Maut bersikap merendahkan dan sikap ini amat di-benci gadis atau ketua Hek-yan-pang Itu. Tapi ketika dia menyerang dan tetap saja semua serangan atau pukulannya terpen tal bertemu lawan maka Wi Hong terhuyung-huyung dan mulai menangis.

"Golok Maut, kau keparat. Terkutuk!"

"Hm, kau boleh memaki-maki sepuasmu. Setelah itu jangan membuka mulut lagi, Wi Hong. Maaf bahwa aku terpaksa akan mengantarmu ke akherat."

"Bedebah! Jahanam keparat!" dan Wi Hong yang kembali menyerang dan menerjang sengit akhirnya mendapat kenyataan bahwa Golok Maut memang bukan lawannya. Hitungan jurus sudah menginjak pa-da angka ketigapuluh dan gadis baju merah itu tersedu-sedu. Golok Maut mulai bersikap bengis karena tangkisan-tangkisannya kian diperkuat saja. Sinkang Golok Maut memang masih di atas sinkangnya sendiri. Dan ketika hitungan menginjak pada angka empatpuluh satu maka pedang ditangkis tangan telanjang dan langsung melengkung.

"Plak!"

Wi Hong menjerit-jerit. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mulai histeris dan bercucuranlah air mata di wajah yang cantik itu. Golok Maut membekukan perasaannya dari Wi Hong semakin sakit hati saja. Dan ketika hitungan menginjak pada jurus keempatpuluh delapan dan Golok Maut berseru bahwa tinggal dua jurus lagi gadis itu memiliki nyawanya maka laki-laki atau tokoh bercaping ini mendesis.

"Wi Hong, tinggal dua jurus lagi. Bersiaplah, setelah itu kau mati!"

"Terkutuk! Bedebah! Kau bunuhlah aku, Golok Maut. Kau bunuhlah aku. Aku tak takut mati. Aku... aku... huak!" dan Wi Hong yang tiba-tiba muntah dan terpelanting roboh tiba-tiba kumat penyakitnya dan rasa mulas yang hebat mengganggu perutnya. Wanita ini sedang hamil dan tentu saja Golok Maut tak tahu.

Bertempur hampir limapuluh jurus bukanlah pekerjaan ringan bagi seorang wanita hamil muda. Wi Hong telah menguras tenaga-nya padahal selama itu lawan hanya mengelak dan menangkis saja, belum membalas, apalagi mencabut senjatanya yang mengerikan itu, Golok Penghisap Darah! Dan ketika Wi Hong terpelanting bergulingan dan muntah-muntah maka pertandingan sejenak berhenti dan Golok Maut tertegun.

Wi Hong disana menangis tersedu-sedu dan mengeluh panjang pendek. Perutnya didekap dan rasa kesakitan hebat di-tahan gadis itu, herari Golok Maut. Tapi ketika laki-laki bercaping ini menganggap itu hanya pura-pura saja agar Wi Hong tidak menyelesaikan jurus yang kelimapuluh, berarti gadis itu selamat maka Golok Maut tertawa mengejek dan berkata,

"Wi Hong, tak perlu berpura-pura. Aku belum membalasmu, bagaimana kau kesakitan begini? Hm, jangan menipu aku, Wi Hong. Aku tahu bahwa kau berpura-pura dan sengaja ingin menghentikan pertandingan, agar tak kubunuh! Sial, tak perlu kau mengelabuhi aku, wanita siluman. Keputusan telah tetap di hatiku bahwa kau harus kubunuh!"

"Keparat!" Wi Hong menangis tak keruan. "Terkutuk kau, Golok Maut. Jahanam kau. Aku tak bermaksud pura-pura agar kau tak membunuhku. Ah, keparat kau!" dan Wi Hong yang bangkit lagi dengan air mata bercucuran lalu berusaha menyerang meskipun gemetar, menggigil dan terhuyung tapi tiba-tiba dia roboh lagi.

Muntah-muntah yang mengganggunya kembali muncul, ambruk dan Golok Maut mengerutkan kening. Tapi menganggap wanita itu pura-pura saja dan ingin menghentikan pertempuran, agar dia tak membunuh maka Golok Maut berkelebat dan tangan pun siap meraba gagang golok, senjata maut yang ada di balik punggungnya itu.

"Wi Hong, berdirilah, dan serang aku. Selesaikan jurus kelimapuluh dan jangan harap aku memberi ampun!"

"Ah, bedebah!" Wi Hong terguling, menggeliat dan melompat bangun. "Kau tak tahu bahwa aku tak berpura-pura, Golok Maut. Kau jahanam mengira aku takut mati. Baiklah, inilah dua jurus terakhir dan setelah itu kubuktikan padamu bahwa aku tak minta agar kau membatalkan niatmu.... singg!" dan pedang bengkok yang menyambar lagi di tangan yang gemetar akhirnya dielak namun menusuk lagi dengan jari-jarl menggigil, ditangkis dan terlepaslah pedang itu dari tangan pemiliknya yang mencelat.

Wi Hong terlempar dan terbanting roboh, mengaduh dan menangis. Dan ketika gadis itu merintih-rintih tak keruan dan Golok Maut bersinar matanya tiba-tiba pemuda itu bergerak mencabut golok mautnya, Golok Penghisap Darah!

"Wi Hong, sekarang kau mati. Terimalah....!" sinar putih berkeredep, cepat dan mengejutkan mata dan Wi Hong disana terbelalak.

Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini terkesiap, kaget tapi tidak takut hanya satu keluhan kecil keluar dari mulutnya saat itu. Dengan berani dan gagah dia menatap sinar maut itu, yang menyambar menuju lehernya. Sekali terpancung tentu lehernya terpenggal, bakal menggelinding dan kekejaman Golok Maut benar-benar tampak lagi.

Tokoh yang sudah menetapkan keputusannya ini tak memberi ampun, apa yang dia katakan kini hendak dia laksanakan. Ah, batang leher yang halus putih itu akan segera berpisah dari ubuhnya, disusul muncratnya darah segar seperti biasanya tubuh-tubuh yang sudah roboh bergelimpangan. Tapi ketika Golok Maut berkelebat dan senjata di tangannya itu menyambar tak kenal ampun tiba-tiba terdengar bentakan dan dari samping menyambar sinar putih lain yang kecepatannya juga luar biasa.

"Golok Maut, tahan kekejianmu....... crangg!"

Sinar menyilaukan memuncrat di udara. Sebatang pedang pendek namun yang ampuhnya luar biasa telah menangkis dan menggagalkan serangan Si Golok Maut. Laki-laki bercaping ini tergetar dan ter-huyung, sinar goloknya tadi telah bertemu dengan amat keras dengan sebatang pedang yang juga berkilauan mengejutkan mata. Dan ketika Golok Maut tegak memandang dan Wi Hong di sana jatuh terduduk diteriaki sesosok bayangan lain maka Beng Tan, pemuda gagah perkasa itu telah berdiri disitu bersama Swi Cu, yang datang belakangan dan langsung menjerit menubruk sucinya!

"Suci....!"

Golok Maut tertegun. Disitu telah berdiri musuhnya yang amat lihai, bahkan paling lihai dan terkejutlah tokoh ini melihat kedatangan Beng Tan. Pemuda baju putih itu berkilat matanya dan kemarahan yang amat besar jelas keluar dari sepasang mata yang mencorong itu.

Beng Tan marah sekali karena Golok Maut hampir saja membunuh Wi Hong, yang sedang hamil! Tapi sebelum pemuda ini bergerak dan memaki lawannya ternyata Swi Cu sudah berkelebat dan membalik menusuk lawannya itu.

"Golok Maut, kau keji. Kau culas. Kau, ah... kau binatang jalang terkutuk, sing-singg!" dan pedang Swi Cu yang menyambar-nyambar bagai hujan menyerang Si Golok Maut akhirnya membuat laki-laki bercaping itu mengelak dan berlompatan, masih dikejar dan diserang bertubi-tubi, tiada habisnya. Dan ketika pedang menusuk beringas ke arah dadanya akhirnya Golok Maut membentak dan pedang di tangan gadis itupun ditangkis.

"Kaupun wanita sialan....plak!"

Swi Cu menjerit, roboh terguling-guling sementara pedangnya sendiri terlepas jatuh ke tanah. Golok Maut memang amat lihai dan jelas bukan tandingan gadis ini. Jangankan Swi Cu, yang wakil ketua Hek-yan-pang itu. Sucinya sendiri, Wi Hong, ketua Hek-yan-pang masih bukan tandingan Si Golok Maut, pria gagah perkasa tapi yang berhati keras, sekeras batu karang! Dan ketika Swi Cu terguling-guling Jan Goiok Maut menyimpan senjatanya maka Beng Tan berkelebat menolong kekasihnya itu.

"Golok Maut, kau jangan menghadapi wanita. Lawanlah adalah aku, laki-laki!"

Golok Maut menunggu. Dia tergetar memandang pemuda baju putih itu sementara matanya berkilat-kilat memandang Wi Hong. Kekasih yang akan dibunuhnya itu sudah mengeluh panjang pendek mendekap perut, entah kenapa. Dia mulai ragu bahwa gadis itu benar-benar tidak berpura-pura, karena Wi Hong tampak sakit dan perut serasa melilit-lilit. Dan ketika Beng Tan disana sudah menolong kekasihnya dan Swi Cu menangis memaki-maki Si Golok Maut maka Beng Tan sudah berdiri dan membalik menghadapi lawannya itu, menyuruh kekasihnya menolong Wi Hong.

"Kau kesana, biar aku menghadapi ini..."

"Dia... dia..." Swi Cu mengguguk tersedu-sedu. "Bunuh jahanam keparat ini, koko. Bunuh dia dan minta pertanggung jawabannya menghamili enci Wi Hong!"

"Sudahlah," Beng Tan melihat muka Si Golok Maut yang berobah terkejut. "Kau kesana, Cu-moi. Tolong encimu dan biar Golok Maut bagianku. Dia memang harus dimintai tanggung jawab, juga atas perbuatannya yang malam-malam datang mengganggumu!" dan Beng Tan yang berkilat memandang Si Golok Maut akhirnya bertanya, dengan bentakan marah, "Golok Maut, kenapa kau akan membunuh Wi Hong? Kau tak suka gadis itu hamil akibat kejalanganmu? Dan kau mengganggu kekasihku pula. Sungguh tak kusangka bahwa disamping pembunuh kau pun juga seorang pemerkosa. Terkutuk!"

"Apa?" Golok Maut tersentak, mundur selangkah. "Kau bilang apa, Beng Tan? Kau melancarkan tuduhan busuk? Jaga mulutmu, atau aku akan membunuhmu!"

"Hm, tak perlu menggertak. Aku datang justeru untuk memintai tanggung jawabmu, Golok Maut. Di samping perintah kaisar agar aku menangkap atau membunuhmu juga bertanya kenapa kau sekarang menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa) Kau gila, kau tidak waras. Sekarang sepak terjangmu sudah benar-benar keluar garis dan tak ada lagi kekagumanku akan kegagahanmu yang dulu-dulu!"

"Hm!" Golok Maut membentak. "Kau semakin melantur yang tidak-tidak, bocah she Ju. Dan kuanggap kaulah yang gila dan tidak waras! Aku memang pembunuh, tapi bukan pemerkosa! Aku akan membunuh siapa saja tapi pantang bagiku memperkosa wanita!"

"Ha-ha!" Beng Tan terbahak-bahak, geli tapi marah. "Kau rampok dan maling tak tahu malu, Golok Maut. Kau si muka tebal yang benar-benar tak patut diampuni! Ah, bagaimana dengan Wi Hong yang jelas kauhamili itu? Bagaimana dengan Swi Cu yang malam itu kau ganggu dan hampir kau perkosa? Mereka-mereka ini ada dihadapanmu semua, Golok Maut. Kalau masih berani menyangkal maka dirimu bukan manusia melainkan binatang murahan!"

"Tutup mulutmu!" bentakan itu bagai geledek ditengah-tengah hujan deras. "Simpan semua makian dan fitnahmu ini, Beng Tan. Aku tak pernah mengganggu kekasihmu itu seperti yang kau bilang. Sedang Wi Hong, dia... dia hamil? Kau tidak dusta?"

"Hm!" Beng Tan mengerutkan kening, melihat Golok Maut tiba-tiba menggigil dan gemetar hebat. "Aku adalah seorang laki-laki yang pantang berbohong, Golok Maut. Apa yang kukatakan adalah apa senyatanya terjadi. Wi Hong memang hamil, akibat perbuatanmu. Dan karena kekejianmu memperkosanya seperti binatang maka dia rela kau bunuh! Ah, kau laki-laki tak berjantung. Sudah memperkosa Wi Hong masih juga kau mengganggu Swi Cu Keparat!"

"Tidak!" Golok Maut tiba-tiba berseru, mencelat ke arah Wi Hong. "Aku tak percaya, Beng Tan. Aku tak percaya!" dan Golok Maut yang sudah berkelebat dan menyambar Wi Hong tiba-tiba menampar minggir Swi Cu, yang berdiri di sebelah sucinya. Dan ketika gadis itu terlempar dan tentu saja berteriak kaget maka Golok Maut sudah mencengkeram dan mengguncang-guncang Wi Hong...