GOLOK MAUT
JILID 21
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
SUDRA, kakek bersenjata cambuk tertawa. Dia menjeletarkan cambuknya dengan nyaring ketika tiba disitu, berkelebat dan saudaranya, Mindra, menyeringai. Dan ketika Coa-ongya berkata mereka tak usah mengejar wanita itu maka kakek ini berseru,

"Ha-ha, baik, pangeran. Tapi agaknya kami ingin memberinya sedikit hajaran!"

"Tak usah, kalian pergi saja dan jaga gedung seperti biasa. Kami telah mengetahui maksudnya dan untung semua selamat," lalu menghadapi Ci Fang yang melotot disitu pangeran ini berkata, "Ci Fang, lain kali harap hati-hati. Jangan sembrono membawa wanita cantik. Tahukah kau bahwa dirimu diperalat? Hm, kalau aku tak waspada tentu keadaan menjadi runyam, Ci Fang. Sebaiknya kau tak gampang percaya dan selidiki dulu siapa sahabatmu itu!"

Ci Fang mengepal tinju. Kalau dia tidak tahu apa kiranya maksud kekasihnya itu barangkali dia akan membela Siluman Kucing mati-matian. Tapi Siluman Kucing ternyata memperalatnya, ingin memiliki Giam-to-hoat catatan pamannya. Dia dipergunakan dan jadilah dia kerbau yang dungu. Ah, Eng Hwa benar-benar keparat. Maka begitu pamannya bicara seperti itu dan dia ditegur tiba-tiba pemuda ini membalik dan melompat pergi, entah kemana tapi sang ayah maupun sang paman tidak memanggil. Coa-ongya hanya tersenyum saja melihat sikap keponakannya itu.

Dan ketika semua kembali dan catatan Giam-to-hoat selamat di tangan Coa-ongya maka keributan itu selesai dan disana Siluman Kucing Li Eng Hwa mempelajari kitab palsu!

* * * * * * *

"Aduh, keparat kau, Golok Maut. Jahanam kau! Terkutuk! Ah, kubunuh kau kalau nanti kita bertemu...!"

Seorang wanita berjalan terhuyung-huyung sambil menangis di tepi jalanan berbatu itu, mengutuk dan mencaci-maki Golok Maut sementara tangannya yang lain memegangi atau mendekap perut. Sejak pagi dia menangis dan bercucuran air mata, jatuh terguling dua kali dipematang ketika muntah-muntah. Dan ketika dia bangkit terhuyung lagi dan berjalan dengan air mata bercucuran tiba-tiba wanita ini yang bertubuh ramping namun mengenakan kedok tiba-tiba dikejutkan oleh berkelebatnya sesosok bayangan seorang pemuda.

"Ha-ha, kau disini, Hek-yan-pangcu? Mengutuk dan memaki-maki si Golok Maut? Bagus, aku juga benci padanya dan kita berdua dapat menjadi sahabat!" Hi-ngok, Si Hidung Belang Bhok-kongcu muncul, datang dan tertawa dan pemuda hidung belang ini berseri-seri memandang ketua Hek-yan-pang itu, yang tampak letih dan pucat. Dan ketika Hek-yan-pang-cu terkejut dan tertegun, berhenti, maka pemuda itu sudah menyambar lengannya dengan sikap ceriwis, kurang ajar.

"Tak perlu berduka, ada aku disini. Mari, kita bersenang-senang, pangcu. Dan Bhok-kongcu akan mengajakmu melayang ke surga..."

"Plak!" Wi Hong, ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba meronta, membentak dan melepas satu tamparan tapi Bhok-kongcu menangkis.

Pemuda itu tentu saja waspada dan cepat mengelak, melepas tangan lawan. Dan ketika dia tertawa dan. mundur selangkah, mata berkejap bersinar-sinar maka dia mengagumi wajah di balik kedok itu, yang pasti cantik. "Kita tak perlu bermusuhan. Musuh kita sama, Golok Maut. Kenapa marah-marah, pangcu? Golok Maut memang jahanam, dia manusia keparat. Aku dapat mendampingimu dan mencarinya bersama, sama-sama kita bunuh!"

"Diam kau!" Wi Hong, yang marah dan terkejut melihat siapa lawannya ini tiba-tiba menggigil. "Kau tak berhak bicara seperti itu, orang she Bhok. Lekas kau pergi dari sini atau aku segera membunuhmu!"

"Ha-ha, dengan tubuh lemah dan muka pucat begini? Eh, tak usah bersombong, pangcu, Aku tahu kau tak seperti biasanya dan hari ini kau lelah lahir batin. Tamparanmu tadi menunjukkannya, dan aku tak dapat kau tipu, ha-ha!"

Wi Hong mundur. Tiba-tiba dia menjadi marah namun juga cemas. Memang, tak dapat disangkal bahwa sesuatu sedang terjadi padanya. Beberapa hari ini dia muntah-muntah dan sakit, entah sakit apa dia tak mengerti. Sudah diberinya obat tapi tak sembuh juga. Kepalanya sering pening dan badan pun rasanya loyo. Makan tak enak tidur tak tenteram. Ada gangguan asing yang seumur hidup baru kali itu dialaminya. Dia muntah-muntah dan empat hari ini hampir tak terisi nasi, maklumlah, selera makan tak ada dan dia sama sekali tak tahu gejala apa itu. Maka ketika Bhok-kongcu itu berkata bahwa dia tak seperti biasanya dan tenaganya memang lemah ketika menampar tadi maka ketua Hek-yan-pang yang lagi kacau hubungan asmaranya ini melotot.

Seperti diketahui, terjadi pertengkaran antara wanita cantik ini dengan Golok Maut, setelah mereka melakukan hubungan suami isteri. Mereka berdua ternyata sama-sama jatuh cinta tapi Golok Maut akhirnya marah-marah. Pemuda itu mengutuk kekasihnya karena perbuatan yang mereka lakukan merupakan pelanggaran berat bagi sumpah Golok Penghisap Darah. Seharusnya mereka tak boleh melakukan itu sebelum musuh-musuh Golok Maut dibunuh, orang-orang she Coa dan Ci khususnya Coa-ongya dan Ci-ongya. Maka ketika sumpah itu turun dan dari angkasa Golok Maut mendengar suara tanpa rupa maka permulaan itu menjadi awal permusuhan mereka.

Golok Maut meninggalkan wanita ini, berpisah. Asyik-masyuk mereka yang baru mereguk nikmatnya madu asmara tiba-tiba hancur dengan kemarahan Golok Maut itu, yang sadar setelah semuanya terjadi. Dan ketika hal itu menyakitkan hati wanita ini dan Wi Hong tentu saja tertusuk dan marah bukan main maka berakhirnya kisah-kasih mereka menghancurkan wanita ini.

Wi Hong, seperti diketahui, amatlah mencinta Golok Maut. Golok Maut pun akhirnya ternyata mencinta gadis baju merah itu dimana semuanya itu timbul setelah Golok Maut membuka kedok di muka gadis baju merah ini.

Sudah menjadi peraturan di partai Hek-yan-pang bahwa laki-laki yang membuka kedok ketua atau wakil ketua haruslah mengawini ketua atau wakil ketua itu, seperti juga para murid lainnya karena Hek-yan-pang dihuni oleh para wanita belaka. Mereka rata-rata cantik dan baru Golok Maut itulah yang membuka kedok ketua, setelah mereka bertempur dan bertanding hebat, gara-gara mempertahankan Ci Fang. Dan karena Golok Maut berkepandaian tinggi dan tak ada satu murid wanita pun yang mampu menandingi si Golok Maut itu maka Golok Maut akhirnya membuka kedok Wi Hong secara tak disengaja. Dan ternyata itu berkelanjutan.

Golok Maut diminta mempertanggung-jawabkan perbuatannya atau harus membunuh wanita itu, hal yang tak dapat dilakukan Si Golok Maut karena sebenarnya dia terguncang oleh kecantikan luar biasa wanita atau gadis baju merah ini. Dan ketika dia dikejar-kejar dan cinta memang akhirnya bersemi dihati Si Golok Maut maka dia menerima namun celaka nafsu menghanyutkan keduanya. Golok Maut mula-mula bingung ketika dia dipaksa mengawini gadis baju merah itu. Dia teringat akan sumpah Golok Penghisap Darah bahwa tak boleh dia menikah kalau semua musuh-musuhnya belum dihabisi, inilah yang menyebabkan dia melarikan diri dari markas Hek-yan-pang itu ketika dimintai tanggung jawab.

Bukan masalah takut atau apa melainkan semata teringat akan sumpah dari Golok Maut itu, yang dibawanya. Tapi ketika dia menyerah dan Wi Hong diterimanya, mabok dan ternina-bobok oleh asmara yang demikian nikmat tiba-tiba dia lupa akan sumpah itu dan melanggarnya. Wi Hong dianggap penggoda tak tahu malu dan gadis atau wanita baju merah ini tentu saja marah. Wi Hong tak tahu akan sumpah yang mengikat kekasihnya dan tentu saja dia terkejut sekali. Golok Maut tiba-tiba marah kepadanya dan mengutuk dia habis-habisan, padahal dia tak tahu apa-apa dan rela menyerahkan segalanya pada orang yang dicintanya itu.

Maka begitu pertengkaran diantara mereka terjadi dan Golok Maut akhirnya pergi meninggalkannya maka Wi Hong berbulan-bulan menangis dan terhuyung sepanjang jalan, kaget dan marah akan sikap kekasihnya itu dan tentu saja perasaannya hancur. Golok Maut dinilai tak bertanggung jawab dan semua kata-katanya dianggapnya sebagai dalih untuk melepaskan tanggung jawab. Wi Hong malah salah sangka dengan menganggap Golok Maut mengada-ada. Habis manis sepah dibuang! Maka ketika hari itu dia bertemu dengan Bhok-kongcu dan si Hidung Belang ini tertawa mengganggunya mendadak Wi Hong menjadi beringas dan merah padam.

"Orang she Bhok," katanya sekali lagi. "Jangan mencari penyakit dan pergilah. Aku tak main-main dan kali ini benar-benar akan membunuhmu kalau kau menggangguku!"

"Ha-ha!" pemuda itu tertawa bergelak. "Aku justeru tak mau pergi kalau kau mengusirku, nona. Tapi kalau kau mau kutemani dan kita bersama-sama mencari si Golok Maut itu maka barulah aku pergi kalau nanti sudah bosan!"

"Sing!" sebatang pedang tiba-tiba berkelebat menyambar, cepat dan ganas.

"Kau benar-benar minta mati, orang she Bhok. Kalau begitu baiklah, terima ini dan kuantar kau ke neraka!" dan Wi Hong yang sudah mencabut pedangnya berkelebatan kesana-sini tiba-tiba menggerakkan pedangnya itu bagai harimau haus darah, tak kenal ampun dan menusuk atau menikam dan Bhok-kongcu itu tentu saja mengelak.

Si Hidung Belang ini terkejut tapi tertawa menyeringai, berkelebatan dan mengimbangi kecepatan pedang yang menyambar-nyambar dari segala penjuru. Tapi karena dia yakin bahwa tenaga pemiliknya taklah sehebat seperti biasa maka ketika pedang menusuk tenggorokan dengan berani dia menangkis.

"Tring!"

Benar saja, pedang terpental. Wi Hong terkejut karena tenaganya tak seperti biasa dan tangkisan kuku jari lawan mampu mementalkan pedangnya. Dan ketika dia membentak dan menyerang lagi dengan ganas maka Bhok-kongcu itu menangkis dan mengelak sana-sini.

"Tring-tring!"

Wi Hong pucat. Entah bagai mana tiba-tiba dia merasa lemah dan perut yang mulas tiba-tiba kambuh kembali. Wi Hong ingin muntah namun saat itu ditahannya, bergerak dan membentak lawan dan ditikamnya si Hidung Belang itu dengan penuh kemarahan. Tapi ketika isi perut bergolak dan lawan lagi-lagi menangkis tiba-tiba dia muntah dan lawan terkejut karena muntahan itu menyemprot mengenai bajunya.

"Uah...!"

Si Hidung Belang terbelalak. Dia melihat ketua Hek-yan-pang itu limbung dan tiba-tiba roboh, menangis dan memegangi perutnya yang entah kenapa. Heran dia. Tapi karena saat itu justeru merupakan saat yang bagus dan Bhok-kongcu terbahak tiba-tiba pemuda ini berkelebat menotok lawan. "Ha-ha, sekarang habis kesombonganmu, pangcu. Robohlah dan menyerahlah....!"

Tapi ketika dia bergerak dan lawan terkejut memandangnya, tak mampu mengelak tiba-tiba bayangan hitam berkelebat dan membentak pemuda she Bhok itu dari belakang.

"Hi-ngok, jangan macam-macam. Kaulah yang mampus... singg!"

Bhok-kongcu terkejut. Dari belakang menyambar sebatang pedang lain dan punggungnya menerima tusukan ganas. Dari tusukan ini dia tahu bahwa lawan yang berbahaya sedang menyerang, terkesiap pemuda itu. Dan ketika dia membalik dan apa boleh buat harus menangkis serangan itu sambil mencabut ikat pinggangnya tiba-tiba si Hidung Belang ini telah membentak dan membalikkan tubuh.

"Plak-plak!"

Bhok-kongcu terpental. Bayangan hitam terhuyung sejenak dan pemuda itu berjungkir balik, kaget melihat seorang gadis lain berkedok hitam telah berdiri disitu, mata berapi-api. Dan ketika pemuda itu tertegun dan berjungkir balik melayang turun maka Wi Hong, yang roboh dan lemas ditanah tiba-tiba berseru girang,

"Cu-moi (adik Cu)...!"

Gadis itu, yang dipanggil dan menoleh tiba-tiba mengangguk. Dia memang Swi Cu adanya, wakil ketua sekaligus adik seperguruan Wi Hong, yang mencari dan menemukan sucinya (kakak seperguruan) disitu. Maka begitu Wi Hong memanggilnya dan panggilan itu begitu lemah tiba-tiba Swi Cu berkelebat dan menolong ketuanya ini.

"Suci, kau kenapa? Kau luka?"

"Tidak," Wi Hong menangis. "Tapi... tapi... entahlah, aku tak tahu, Cu-moi. Akhir-akhir ini aku pusing-pusing dan muntah-muntah. Golok Maut mempermainkan aku, dan kini buaya ini juga mau menggangguku!"

"Tenanglah," Swi Cu mengerotokkan buku-buku jarinya. "Aku akan menghajar Si Hidung Belang ini, suci. Aku mencari-carimu dan kebetulan kita bertemu disini. Golok Maut mencari dirimu di markas, marah-marah dan mengamuk. Aku hampir saja dibunuhnya!"

"Apa?"

"Benar, dia marah-marah, suci. Entah kenapa. Markas kita diobrak-abrik dan dia memaki-makimu."

"Ooh...!" dan Wi Hong yang menangis mengepalkan tinju tiba-tiba berteriak, "Golok Maut, kau sungguh laki-laki keparat. Sudah mempermainkan aku masih juga mengganggu markasku. Ah, kubunuh kau. Terkutuk kau...!"

Namun Wi Hong yang tersedak dan batuk serta muntah-muntah tiba-tiba mengejutkan Swi Cu karena ketua atau sucinya ini terguling roboh, lemas oleh penyakit aneh dan mengeluh menyatakan pusing-pusing.

Pada saat itu Bhok-kongcu tertegun disana, mendengar percakapan dua enci adik itu. Tapi ketika Wi Hong terguling dan pemuda hidung belang ini bersinar-sinar memandang Swi Cu, gadis yang baru datang tiba-tiba dia menyeringai dan menubruk gadis itu dari belakang, melepas pukulan diam-diam, dalam satu kilatan mata yang keji.

"Wut!"

Swi Cu lupa. Gadis ini tak menyadari bahaya karena saat itu perhatiannya tercurah pada sang suci, Wi Hong, menolong dan membantu sucinya itu duduk. Tapi karena saat itu Wi Hong kebetulan melihat serangan ini dan tentu saja gadis baju merah itu terkejut tiba-tiba Wi Hong berteriak,

"Awas!"

Swi Cu sadar, Angin pukulan Bhok-kongcu akhirnya terdengar juga, dalam detik yang terlambat. Maka kaget dan mengeluh tertahan tiba-tiba Swi Cu mengelak dan marah oleh serangan curang ini.

"Dess!"

Dia terkena juga. Swi Cu mencelat terguling-guling karena angin pukulan Bhok kongcu menyerempet pundaknya, pedas dan pedih dan Swi Cu gusar. Bhok-kongcu tertawa tapi menyeringai kecewa, melotot pada Wi Hong yang memberi tahu adiknya. Maka ketika Swi Cu bergulingan mengeluh di sana dan gadis baju hitam itu memakinya maka si Hidung Belang yang gagal pukulannya ini tiba-tiba menubruk dan meneruskan serangannya pada Wi Hong.

"Kutangkap kau...!"

Wi Hong terkesiap. Dia dalam keadaan lemah dan tenaga serasa habis. Entah kenapa dia merasa tubuhnya begitu lunglai dan tentu saja tubrukan atau serangan itu tak dapat ditangkis. Jangankan ditangkis, dielak saja dia tak sanggup dan Wi Hong mengeluh pucat. Dan ketika tubrukan itu datang dan gadis ini berusaha miringkan tubuhnya maka sebuah tamparan mengenai lehernya.

"Plak!"

Wi Hong menjerit pingsan. Pukulan atau tamparan Bhok-kongcu tadi cukup keras baginya, tak tahan dia. Namun ketika Bhok-kongcu terbahak dan mau menyambar tubuh itu tiba-tiba Swi Cu membentak dan gadis itu melontar pedangnya yang mendesing dibelakang punggung lawannya.

"Jangan sentuh suciku!"

Bhok-kongcu terkejut, Terpaksa apa boleh buat dia membatalkan niatnya, membalik dan menangkis timpukan pedang yang luar biasa cepat itu. Dan ketika pedang tersampok runtuh namun dia terhuyung mundur maka Swi Cu sudah berkelebat dan menyambar pedangnya dari atas tanah.

"Kau jahanam keparat!"

Bhok-kongcu menyeringai. Untuk detik berikutnya dia sudah diserang gadis baju hitam ini, ganas dan cepat dan tentu saja dia mengelak sana-sini. Tapi ketika pedang menyambar kian cepat dan sinar yang bergulung-gulung naik turun mengelilingi dirinya tiba-tiba bahunya terbabat robek.

"Bret!"

Bhok-kongcu sadar. Tiba-tiba dia terkejut bahwa yang dihadapi kali ini adalah gadis yang penuh tenaganya, tidak seperti Hek-yan-pangcu yang pada mulanya memang tak enak badan, sedang menderita sakit. Maka ketika Swi Cu berteriak lagi dan melengking-lengking melakukan tusukan atau bacokan cepat akhirnya pemuda she Bhok ini tak bisa mengelak saja, mau tak mau harus mencabut senjatanya, ikat-pinggangnya itu.

"Plak-cringg!"

Swi Cu menjadi gusar. Lawan mencabut senjatanya dan pedangnya tertolak terpental, membalik dan menyerang lagi namun ikat-pinggang di tangan lawan kini menjeletar-njeletar menyambut pedangnya itu. Dan ketika gadis ini berteriak dan pedang serta ikat-pinggang berkelebatan menjadi satu tiba-tiba Swi Cu melakukan bentakan tinggi dan tangan kirinya bergerak menyambar.

"Dess!" Ang-in-kang, Pukulan Awan Merah tiba-tiba menghantam lawannya itu. Bhok-kongcu terkejut dan terdorong beberapa tindak, tadi tak menduga dan dia terkena pukulan itu. Tapi karena pemuda ini memang kuat dan Ang-in-kang hanya membuatnya tergetar dan terdorong saja tiba-tiba pemuda itu tertawa bergelak menggerakkan tangan kirinya pula.

"Ha-ha, pukulan Awan Merah, nona? Bagus, kita sama-sama memiliki pukulan bersinar merah. Lihat, akupun juga punya .... plak-dess!" dan tangan kiri Bhok-kongcu yang bergerak dan menyambut pukulan di tangan kiri lawan tiba-tiba meledak dan mengeluarkan suara keras, mengejutkan Swi Cu karena sinar merah di tangan lawannya itu mengeluarkan bau amis.

Kagetlah gadis ini, juga marah. Dan ketika Ang-in-kang disambut dan selalu bertemu dengan tangkisan-tangkisan lawan yang juga serupa namun amis dan lebih berbahaya sadarlah Swi Cu bahwa lawan mempergunakan pukulan beracun. "Ang-tok-kang (Pukulan Racun Merah)!"

"Ha-ha, cocok!" Bhok-kongcu berseru terbahak. "Memang benar, nona. Dan kini Ang-tok-kang bertemu Ang-in-kang. Aih, seharusnya kita tak usah bertempur melainkan bersahabat. Ha-ha...!" dan Bhok kongcu yang terbahak dan tertawa bergelak tiba-tiba melingkarkan ikat-pinggangnya dan menggubat pedang Swi Cu, menarik dan membetot dan Swi Cu terkejut.

Saat itu dia menyerang tapi lawan menangkis, menggerakkan ikat-pinggangnya itu dan melingkar dari atas. Dan ketika pedang tergubat ujungnya dan tarik-menarik diantara mereka tentu saja terjadi maka Bhok-kongcu tiba-tiba melepas Ang-tok-kangnya dengan tangan kiri itu.

"Dess!"

Swi Cu terpaksa menyambut, apa boleh buat harus menggerakkan tangan kirinya pula dan kini kedua tangan mereka menempel. Bhok-kongcu tertawa bergelak dan jari-jari tangan lawan yang lembut diusapnya, diremas dan Swi Cu tentu saja mendelik. Gadis itu tak dapat melepaskan tangannya karena baru saja menangkis, bertemu dan lawan secara kurang ajar ternyata kini meremasnya, terbahak tapi tentu saja Ang-tok-kang terus mengalir dari lengan pemuda itu, ditahan dan disambut Ang-in-kang namun Swi Cu terguncang lebih dulu, yakni ketika lawan mengusap dan meremas jari-jarinya itu, dengan sikap kurang ajar. Dan karena hal ini memecah perhatiannya karena kemarahan luar biasa membuat gadis itu serasa meledak maka tiba-tiba dia terdorong ketika Ang-tok-kang maju menerjang.

"Hek!" Swi Cu mendelik. Saat itu dia sadar dan cepat mengerahkan tenaganya kembali, bertahan. Namun karena tadi sudah kalah satu detik dan hal itu cukup membuat dia berada di posisi yang buruk maka gadis ini terdesak ketika lawan juga menambah tenaganya, jari-jari lawan mengusap semakin kurang ajar dan memanaskan hati!

"Ha-ha, kau menyerah, Cu-moi. Dan kita berbaik. Aih, aku jatuh cinta padamu dan langsung ingin menikah!" Bhok-kongcu tahu kedudukan lawan, mengeluarkan kata-kata kurang ajar dan tertawa terbahak-bahak. Dia menirukan panggilan Wi Hong tadi kepada gadis ini, menyebutnya dengan mesra tapi ceriwis, hal yang membuat Swi Cu jadi merah padam dan buyar pemusatan perhatiannya. Dan ketika gadis itu membentak namun kalah dulu tiba-tiba dia terjengkang ketika lawan mendorong.

"Bress!" Swi Cu terguling-guling. Gadis ini mengeluh dan pedang di tanganpun terlepas. Bhok-kongcu secara cepat mendahuluinya tadi, menambah Ang-tok-kang dan pukulan Awan Merahnya terdesak, kalah dan tertindih. Dan ketika gadis itu terjengkang dan merasa dadanya sesak maka Bhok-kongcu menyambar dan berkelebat menotok buah dadanya!

"Ha-ha, sekarang kita bersenang-senang, Cu-moi. Aih, alangkah nikmat mendapatkan dua kakak beradik sekaligus!"

Namun, ketika pemuda hidung belang itu bergerak dan siap merobohkan lawan, karena Swi Cu tak mungkin menangkis lagi karena sedang terguling-guling dan sesak dadanya tiba-tiba berkelebat bayangan putih. Bayangan ini bergerak jauh lebih cepat daripada pemuda she Bhok itu, berkelebat dan tahu-tahu sudah mencengkeram bahu si Hi-ngok ini. Dan ketika Bhok-kongcu terkejut dan terpekik kesakitan tiba-tiba dia terbanting dan sebuah bentakan terdengar di situ, dingin menyeramkan,

"Orang she Bhok, jangan mengganggu wanita. Pergilah!"

Bhok-kongcu terlempar. Dia tadi serasa diserang setan dan hanya Golok Maut sajalah yang mampu berbuat itu, karena dulu dia pernah mengalami hal serupa. Dan ketika dia menjerit dan sudah menyangka si Golok Maut, lawan yang paling ditakuti tiba-tiba orang she Bhok ini tertegun karena disitu berdiri seorang pemuda lain yang bukan Golok Maut, seorang pemuda berbaju putih.

"Beng Tan...!" Yang berteriak itu adalah Swi Cu. Wakil ketua Hek-yan-pang ini girang bukan main ketika melihat siapa yang datang, bukan lain memang Beng Tan adanya. Dan ketika pemuda itu mengangguk dan Bhok-kongcu juga mengenal maka si Hi-ngok si Hidung Belang ini pucat mukanya.

"Ah, kau?" Bhok-kongcu tiba-tiba gemetar. Pemuda lihai yang dikenalnya sehebat Golok Maut itu tiba-tiba membuat dia pias, tak ayal membalikkan tubuh dan tiba-tiba meloncat pergi, terbang meninggalkan lawan. Dan ketika Beng Tan, pemuda itu tak mengejarnya melainkan menolong Swi Cu maka gadis baju hitam ini menangis dan menubruk pemuda baju putih itu.

"Ah, kau... kau, in-kong. Terima kasih!"

"Hush, apa-apaan ini? Bangunlah, Swi Cu. Dan jangan bercanda."

Swi Cu, sumoi dari Wi Hong itu girang bukan main. Dia mengguguk tapi segera menciumi Beng Tan. Mereka adalah kekasih dan seperti diketahui di muka sebenarnya dua orang ini pergi bersama-sama, meninggalkan Hek-yap-pang. Tapi karena di tengah jalan Beng Tan ke kota raja sebentar untuk suatu keperluan maka mereka berpisah sejenak dan Swi Cu kebetulan melihat pertandingan sucinya dengan Hi-ngok si Hidung Belang itu, menolong sucinya tapi Bhok-kongcu ternyata lihai. Hampir saja dia celaka. Dan ketika Beng Tan muncul lagi disitu dan tentu saja dia gembira maka Swi Cu terlupa panggilannya karena teringat peristiwa ketika Beng Tan dulu menolongnya dari tangan si Golok Maut, wajah berseri-seri dan kini dipeluk pemuda itu, mendapat ciuman sekali di pipi.

"Hm, apa yang terjadi, Cu-moi. Bhok-kongcu itu mengganggumu? Dan eh , itu sucimu." Beng Tan tiba-tiba baru melihat Wi Hong disitu, pingsan di atas tanah karena tadi hampir hanyut oleh keberduaannya dengan Swi Cu. Mereka sekarang bertemu lagi dan Beng Tan tentu saja terkejut, melihat Wi Hong yang pingsan. Dan ketika dia melepas kekasihnya untuk berkelebat ke arah Wi Hong maka Swi Cu juga sadar dan berkelebat menyusul disampingnya.

"Benar, aku bertemu orang she Bhok itu justeru karena melihat suciku disini, koko. Tadi dia bertanding tapi aneh sekali suciku tiba-tiba roboh, seolah kesakitan!"

"Hm, mari kita sadarkan dulu. Lain-lain akan terjawab sendiri," dan ketika Beng Tan menotok serta menolong Wi Hong maka wanita atau gadis baju merah itu sadar.

"Ooh. !" Wi Hong membuka mata. "Dimana kau, Cu-moi' Dan dimana keparat Bhok-kongcu itu?"

"Aku disini," Swi Cu memegang sucinya dengan khawatir. "Kau tak apa-apa, suci, Kau masih pusing-pusing?"

"Benar, aku... ah." Wi Hong terkejut, membuka matanya dan melihat Beng Tan disitu, terbelalak. "Siapa.... siapa ini?"

"Dia penolongku?"

Wanita itu tiba-tiba bangkit, terhuyung dan merah padam. "Keparat, tak boleh ada laki-laki menyentuh tubuhku, Cu-moi. Kau tahu itu!" dan Wi Hong yang bergerak serta menghantam Beng Tan tiba-tiba diterima dan dibiarkan Beng Tan, yang tentu saja mengejutkan Swi Cu, kekasihnya.

"Suci.... dess!" pukulan sudah mengena, mendarat namun Beng Tan tentu saja tidak apa-apa. Pemuda ini telah mengerahkan sinkangnya dan Wi Hong malah terbanting, kaget berteriak tertahan. Dan ketika sumoinya berkelebat dan menolong sang enci maka Wi Hong tertegun melihat adik atau sumoinya itu tersedu-sedu.

"Jangan... jangan serang dia. Dia.... dia calon suamiku, kekasihku!"

"Apa?" Wi Hong tersentak, kaget membelalakkan mata. "Kau... kau sudah berhubungan dengan lelaki? Kau.... plak-plak!" dan Wi Hong yang tiba-tiba menampar dan membuat Swi Cu terpelanting tiba-tiba menjadi marah dan kecewa teringat penderitaannya sendiri. Menganggap laki-laki adalah pendusta belaka dan mereka tu "penyakit" bagi wanita.

Wi Hong terguncang dan entah kenapa menjadi marah dan panas mendengar kata-kata sumoinya. Semacam perasaan cemburu dan iri mengganggu dirinya saat itu. Maka begitu sumoinya menerangkan dan dia marah serta menampar sumoinya itu maka Wi Hong bangkit dan berapi-api menghadapi Beng Tan, yang membuatnya terkejut oleh kelihaiannya tadi tapi sama sekali tidak membuat ketua Hek-yan-pang ini takut, apalagi gentar!

"Jahanam, siapa namamu? Kau telah merayu dan memikat sumoiku? Kau mau menipunya dan berbuat seperti yang lain-lain? Ah, kubunuh kau. Laki-laki tak dapat dipercaya... wut!" dan Wi Hong yang membentak lagi menerjang maju tiba-tiba melepas pukulan namun kali ini dikelit oleh Beng Tan, dibentak dan diserang lagi namun Swi Cu menjerit-jerit disana.

Gadis baju hitam ini meloncat bangun dan mencegah encinya menyerang Beng Tan. Tapi ketika Wi Hong membalik dan menghantam dirinya tiba-tiba Swi Cu mengeluh dan terbanting roboh.

"Pergi kau..., dess!"

Beng Tan mengerutkan kening. Segera pemuda ini menjadi terkejut melihat ketidak wajaran sikap ketua Hek-yan-pang itu.

Wi Hong mendesis-desis padanya dan mata gadis atau wanita itu memancarkan api. Dendam dan kebencian tak dapat disembunyikan disitu, Beng Tan melihatnya jelas. Dan ketika dia berkelit sana-sini sementara Swi Cu berteriak-teriak agar sucinya tak menyerang tiba-tiba Wi Hong membentak dan melepas Ang-in-kang. "Roboh kau!"

Beng Tan menangkap. Tiba-tiba dengan cepat dia menerima pukulan itu, menampar dan menangkis. Dan ketika Wi Hong menjerit dan terlempar roboh, terguling-guling tiba-tiba ketua Hek-yan-pang itu muntah-muntah.

"Keparat, kau bersekongkol dengan pemuda jahanam ini, Swi Cu. Kau tak dapat kubela. Ah, kalian terkutuk. Kubunuh kalian nanti... huak!" dan Wi Hong yang menghentikan kata-katanya terguling roboh tiba-tiba muntah-muntah dan penyakit lamanya kumat, mengeluh dan mengglgit bibir dan tiba-tiba gadis itu menangis. Dan ketika Beng Tan tertegun melihat gadis atau ketua Hek-yan-pang itu mendekap-dekap perutnya maka Swi Cu mengguguk menubruk encinya.

"Tidak.... tidak, enci. Aku boleh kau bunuh tapi dia jangan. Kau salah paham, kau sedang dilanda dendam. Ah, tenanglah, enci. Tenanglah.... plak!" namun sebuah pukulan yang membuat Swi Cu terlempar dan terbanting bergulingan akhirnya membuat Beng Tan tak tahan lagi, marah dan memaki Wi Hong serta cepat menolong kekasihnya. Swi Cu mengguguk dan menangis tak keruan. Dan ketika disana encinya juga menangis namun mendekap perut serta muntah-muntah maka Beng Tan menjadi curiga dan cepat berbisik di telinga Swi Cu,

"Dia agaknya mengalami kelainan. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi di dalam tubuhnya. Coba dekati dan totok dia, Cu-moi. Atau aku akan merobohkannya dan memeriksa!"

"Kau... kau bilang apa?" Swi Cu tak mendengar, menangis tersedu-sedu.

"Kau dekati dia, totok dan robohkan!"

"Tapi..,. tapi..." gadis ini mengguguk. "Suciku marah-marah, Tan-ko. Sebelum aku dekat tentu dia menyerangku!"

"Kalau begitu...." Beng Tan tiba-tiba terkejut, mendengar desing sebuah pedang yang ditimpukkan kebelakang punggungnya. "Aku yang akan melakukannya, Cu-moi. Dan maaf terpaksa dia kurobohkan .... plak!" dan pedang yang ditangkis pemuda ini tanpa menoleh tiba-tiba runtuh terpukul dan Beng Tan berkelebat ke arah Wi Hong, tadi disambit dan dia melihat ketua Hek-yan-pang itu berapi-api padanya.

Wi Hong mendesis dan rupanya mendengar kata-katanya tadi, marah dan menyerang dari belakang. Tapi ketika pedang terpukul ke tanah dan Wi Hong kecewa tiba-tiba pemuda itu telah berkelebat dan menotoknya roboh.

"Maaf, kau mengalami gangguan, pang-cu. Robohlah dan jangan menyerang!"

Wi Hong tak dapat mengelak. Diserang Bhok-kongcu saja dia tak dapat menghindar, apalagi pemuda yang jauh lebih lihai ini. Maka begitu dia mengeluh dan roboh tertotok maka Beng Tan telah menyambar tubuhnya memeriksa denyut nadi.

"Kau... jahanam!" Wi Hong gemetar. "Terkutuk kau, pemuda setan. Keparat kau!"

"Tenanglah," Beng Tan tak perduli, sudah menghitung detak jantung. "Kau terguncang oleh sesuatu yang sangat, pangcu. Agaknya oleh Golok Maut. Hm, nadimu cepat sekali. Dan.... he!"

Beng Tan tertegun, pucat dan berobah mukanya dan tiba-tiba saat itu lagi-lagi Wi Hong muntah. Tanpa dapat dicegah baju pemuda ini kena semprot, Beng Tan agaknya tak berniat untuk mengelak pula. Dan ketika pemuda itu terkejut dan mundur melepaskan tangan lawannya maka Swi Cu terisak berkelebat menghampiri.

"Apa yang kau rasa, Tan-ko? Berbahaya?"

"Tidak, dia... dia..." Beng Tan gugup, muka tiba-tiba merah dan Swi Cu membelalakkan mata.

Gadis ini heran kenapa Beng Tan tidak meneruskan kata-katanya. Dan ketika disana Wi Hong mendesis dan memaki pemuda itu maka Swi Cu berlutut dan memeluk encinya, menangis. "Suci, dia... dia Beng Tan. Dialah yang menyelamatkan aku dan seluruh murid kita dari amukan Golok Maut. Beng Tan mencintaiku, dan akupun mencintainya. Maaf, aku tak sempat memberitahumu karena kau pergi, suci. Tapi sekarang kuberi tahu dan harap kau tidak marah."

"Kau pun jahanam!" Wi Hong membentak, mengejutkan sumoinya. "Perkumpulan kita tak boleh didekati lelaki, Swi Cu. Tapi kau melanggar, keparat!"

"Ah," Swi Cu tersentak, mundur membelalakkan mata. "Kaupun melanggar, suci. Kaupun mencintai Golok Maut dan mencari-carinya! Kau... kau..."

"Diam!" sang suci marah. "Golok Maut adalah musuhku, Swi Cu. Dia musuh kita semua. Aku.... aku benci padanya!" dan Wi Hong yang menangis dan mengguguk tak dapat menahan diri akhirnya dipeluk dan membiarkan mukanya terbenam di dada sang sumoi, tak tahu saat itu Beng Tan merah terbelalak memandangnya, mau bicara tapi ragu, seolah ada sesuatu yang mengganggu, berat dikatakan. Tapi ketika dia batuk-batuk dan Swi Cu teringat, menoleh, tiba-tiba gadis itu berkelebat menyambar lengannya.

"Tan-ko, apa yang terjadi? Ada apa dengan suciku? Kau tampak bingung, mau bicara tapi tak jadi!"

"Benar, aku... hm... hm!" Beng Tan merah dan gugup. "Ada sesuatu yang hampir tak kupercaya, Swi Cu. Sucimu itu... sucimu itu..."

"Kenapa? Ada apa dengan dia?"

"Aku... aku takut mengatakan. Jangan-jangan kau marah!"

"Ah, gila. Kita sudah bukan orang lain, Tan-ko. Katakan dan tak mungkin aku marah!"

"Dia.... dia..." Beng Tan masih ragu. "Ah, sebaiknya bawa dia ke bidan, Cu-moi. Periksakan saja disana."

"Apa?" Swi Cu terkejut, bagai disengat listrik. "Bidan? Maksudmu...?"

"Benar, dia hamil, Cu-moi. Sucimu itu hamil tapi barangkali bisa juga aku salah periksa!"

"Astaga!" Swi Cu mencelat, kaget bagai disambar petir. "Kau...kau jangan main-main, Tan-ko. Ini masalah besar dan bisa berupa penghinaan!"

"Maaf, kalau begitu biar kau tanya sucimu itu, Cu-moi. Aku pergi dulu dan kalian bicaralah!" Beng Tan berkelebat, akhirnya meninggalkan Swi Cu dan tertegunlah Swi Cu disitu.

Gadis ini merah padam dan kalau bukan Beng Tan yang bicara tentu dia sudah mengamuk dan menerjang. Bayangkan, sucinya, yang masih gadis dan selama ini diketahuinya sebagai perawan ting-ting tiba-tiba saja dikatakan hamil! Swi Cu pucat dan dia berdiri sampai mendelik. Tapi ketika Beng Tan menyuruhnya bicara dan itu memang betul akhirnya gadis ini membalik dan menyambar encinya itu, yang masih menangis.

"Suci..." gadis ini gemetar. "Bolehkah kutahu apa yang terjadi diantara dirimu dengan si Golok Maut itu? Kenapa dia marah-marah dan mengamuk di markas? Apa yang terjadi?"

"Dia... dia ..." Wi Hong mengguguk, sakit hatinya. "Dia menghina aku, Cu-moi. Dia... dia manusia jahanam!"

"Dia mengganggumu? Dia memperkosamu?"

"Apa?" Wi Hong tersentak, berjengit kaget.

"Maaf," Swi Cu merah padam, menahan diri. "Kau dinyatakan hamil, suci. Beng Tan memeriksa denyut nadimu dan kau katanya hamil!"

Wi Hong menjerit. Gadis baju merah ini tiba-tiba roboh dan mengeluh panjang pendek, suaranya tak jelas tapi tiba-tiba dia mengguguk, tersedu-sedu. Dan ketika Swi Cu terkejut dan tentu saja terkesiap maka gadis ini melihat sucinya memukul-mukul kepala sendiri.

"Oh, jahanam keparat. Kau bunuhlah aku, Swi Cu. Kau bunuhlah aku dan cari pemuda terkutuk itu. Golok Maut menghinaku. Dia... dia...!" dan Wi Hong yang melengking menjerit tinggi tiba-tiba roboh pingsan.

"Celaka!" Swi Cu jadi bingung. "Kenapa begini jadinya, suci? He, tolong aku, Tan-ko. Suci pingsan lagi!"

Beng Tan muncul. Pemuda ini berkelebat bagai siluman dan tahu-tahu sudah ada disitu lagi. Beng Tan sebenarnya tak enak mencampuri urusan ini dan bicara tentang itu. Tapi karena Wi Hong dilihatnya pingsan dan Swi Cu tak berhasil menolong encinya maka pemuda ini berlutut dan menotok serta mengeluarkan sebutir pil hijau. "Kau serahkan ini padanya, sebentar lagi tentu siuman."

Beng Tan berkelebat mundur lagi. Pemuda ini menghilang karena sungguh tak enak bicara seperti itu. Ketua Hek-yan-pang hamil, padahal jelas dia masih perawan dan suci seperti Swi Cu sendiri, begitu juga seperti halnya murid-murid wanita Hek-yan-pang yang lain. Dan ketika Wi Hong sadar dan benar saja gadis atau wanita baju merah itu siuman dan tertegun melihat sumoinya menangis maka Swi Cu menyerahkan obat pemberian Beng Tan kepada sucinya.

"Kau minum ini, dan ceritakan apa yang terjadi!"

"Tidak!" Wi Hong tiba-tiba melompat bangun. "Aku akan mencari Golok Maut, Swi Cu. Dan sementara ini kau pimpin tampuk pimpman partai!"

"Kau mau kemana?" sang sumoi terbelalak, pucat. "Golok Maut pun sedang kami cari, suci. Daripada sendiri-sendiri lebih baik bersama. Aku..."

"Tidak!" Wi Hong membentak, muka beringas. "Aku ingin mencarinya dan mengadu jiwa, Swi Cu. Aku... aku... dia menghina aku!" dan Wi Hong yang menangis berkelebat pergi tiba-tiba terhuyung dan jatuh terjerembab, kiranya belum kuat dan kemarahannya itu membutuhkan energi berlebih.

Gadis ini tersungkur dan Swi Cu pun menjerit. Dan ketika gadis itu memeluk sucinya dan menangis tak keruan maka Beng Tan, yang bersembunyi dan mengintai dari jauh menyusupkan suaranya lewat telinga kekasihnya itu,

"Cu-moi, berikan obat itu kepada sucimu. Obat itu berguna untuk memulihkan tenaga. Bujuklah, dan biarkan ia pergi!"

Swi Cu tersedu-sedu. Teringat obat yang ditampar sucinya cepat dia mengambil lagi, membujuk dan berkata pada sucinya bahwa obat itu untuk pemulih tenaga, seperti yang dikata Beng Tan. Dan ketika Wi Hong terbelalak dan tertegun, menoleh kiri kanan maka dia bertanya di mana Beng Tan, pemuda baju putih itu.

"Dia... dia pergi. Tak mau mencampuri urusan kita."

"Hm!" Wi Hong menyambar, menelan obat pemberian itu. "Baiklah, Cu-moi. Terima kasih. Tapi aku tak mau bersama siapa pun karena aku ingin sendiri.... wut!" dan Wi Hong yang melompat dan tidak terhuyung lagi ternyata sudah pulih tenaganya dan diteriaki sang sumoi, yang menjerit dan menyusul sucinya tapi Wi Hong membalik. Dengan bengis dan ganas wanita ini tiba-tiba menyambitkan tujuh jarum merah ke arah sumoinya itu, yang tentu saja terkejut dan berhenti menangkis, mendapat seruan agar tidak mengejar dan patuh pada perintah ketua. Dan ketika Swi Cu tertegun dan menangis tersedu-sedu maka Wi Hong lenyap dan lemaslah gadis ini mengguguk di tanah.

"Suci, kau... kau gila. Kau tak waras. Ah, kau menempuh bahaya!"

"Biarlah!" Wi Hong menjawab dari jauh.

"Dendam sakit hati ini tak dapat kubiarkan berlarut-larut, Swi Cu. Dia atau aku yang mati!"

Swi Cu mengguguk. Kalau sang suci yang sekaligus juga sebagai sang ketua sudah memerintahkan begitu maka dia tak dapat berbuat apa-apa. Sucinya tadi sungguh-sungguh bermaksud membunuh dia dengan sambitan jarum-jarum merahnya itu. Kalau tak cepat dia mengelak atau menangkis runtuh tentu dia sudah terkapar. Ah, sucinya sekarang bengis! Namun ketika gadis ini mengguguk dan tersedu di tanah tiba-tiba bayangan Beng Tan muncul, berkelebat.

"Cu-moi, sucimu betul. Dia tak mungkin mau ditemani siapapun. Bersiaplah, kita juga berangkat dan mencari Golok Maut!"

"Tapi... tapi..." Swi Cu mengguguk. "Suciku menempuh bahaya sendirian, koko. Dan dia tak mengaku apakah Golok Maut memperkosanya!"

"Kita dapat tanyakan itu, kita selidiki Si Golok Maut. Sudahlah, kau bangun berdiri dan kita pergi!" Beng Tan menarik tangan kekasihnya, kening berkerut kerut dan tiba-tiba kebencian membakar dadanya. Dia menganggap Golok Maut mengganggu ketua Hek yan-pang itu, suci kekasihnya. Dan karena kebencian Wi Hong juga kelihatan besar dan tentu Golok Maut memperkosa gadis baju merah itu maka Beng Tan berkerotok giginya ketika membangunkan Swi Cu.

"Kita pergi, dan kita tangkap Si Golok Maut itu."

"Bisakah?" Swi Cu tersedu. "Kau dan dia sama lihai, koko. Kalian berimbang. Aku khawatir...."

"Tidak, untuk sebuah tugas mulia tak perlu kita ragu, Cu-moi. Membekuk dan menangkap Si Golok Maut itu sudah berubah sifatnya bagiku. Bukan lagi sekedar menasihati seorang sesat melainkan harus membekuk dan kalau perlu membunuhnya agar dia tak memperkosa wanita-wanita lain lagi."

Swi Cu mengangguk. Memang dia pun menganggap begitu. Golok Maut dianggap memperkosa sucinya dan hal itu sungguh membakar hati. Mentang-mentang lihai lalu main perkosa segala. Ah, Golok Maut ternyata tak hanya membunuh-bunuhi musuhnya saja tapi sudah bertindak terlalu jauh dengan menghina dan memperkosa wanita. Sucinya sudah menjadi korban. Dan ketika Swi Cu bangkit berdiri dan mengigit bibir maka dia siap melanjutkan perjalanan namun anehnya kekasihnya tiba-tiba membalik.

"Kita ke kota raja sebentar, melapor atasanku."

"Apa?" Swi Cu tertegun. "Ke kota raja?"

"Ya, sementara ini aku harus pulang, Cu-moi, melapor pada atasanku karena sudah waktunya. Aku sudah ditunggu-tunggu."

"Tapi suciku, Dan Golok Maut?"

"Dapat disusul, Cu-moi. Sudahlah kau percaya padaku atau kita berpisah sementara waktu!"

"Tidak. Aku tak mau kau tinggal lagi, koko. Kalau kau mau ke kota raja aku pun ikut!"

"Hm, baik kalau begitu. Kau tak membantah lagi?"

Swi Cu terisak. Tiba-tiba. dia memeluk dan menyusupkan kepalanya ke dada kekasihnya itu. Setelah bertemu dan bertempur dengan si Hidung Belang Bhok-kongcu tadi tiba-tiba Swi Cu ngeri untuk sendirian. Ah, di dunia ini penuh dengan orang-orang jahat dan curang, juga keji dan kejam seperti Bhok-kongcu itu, yang hampir merobohkannya dengan kecurangan tak tahu malu. Dan teringat betapa orang she Bhok itu memandangnya dengan mata berminyak dan nafsu yang kotor jelas terpancar dimata pemuda itu, tiba-tiba Swi Cu menjadi ngeri meskipun bukan berarti gentar.

"Aku... aku tak membantah lagi. Kau benar, dunia ini penuh dengan laki-laki busuk!"

"Hm, karena itu turut nasihatku, moi-moi. Jangan bawa adat sendiri seperti biasanya. Ayolah, kita ke kota raja sebentar dan setelah itu mencari Si Golok Maut!"

Swi Cu mengangguk. Memang dalam perjalanan yang lalu terjadi sedikit perselisihan diantara mereka. Beng Tan waktu itu hendak menemui seseorang tapi ia tak mau ikut, bersitegang sedikit dan akhirnya berpisah. Mereka menentukan akan bertemu di kota Ih-peh tapi ternyata Beng Tan belum datang, dianggap tak menepati janji dan Swi Cu marah, meneruskan perjalanan sendirian dan akhirnya bertemu Bhok-kongcu itu, yang kebetulan juga hendak mengganggu sucinya. Dan ketika orang she Bhok itu hampir mencelakainya namun Beng Tan keburu datang, menolong dan menyelamatkannya maka Swi Cu tak berani bertengkar lagi ketika kekasihnya hendak mengajak ke kota raja.

"Aku menurut, dan kau jangan tinggalkan aku."

"Ah, bukan aku yang meninggalkanmu, Cu-moi. Tapi kadang-kadang kau tak mau mengerti urusan orang lain dan membawa adat sendiri."

"Sudahlah, maafkan aku, koko. Aku sekarang menurut dan patuh padamu!"

Beng Tan tersenyum. Tentu saja dia tak akan marah kalau kekasih sudah menyerah begini. Swi Cu sekarang dapat mengerti tugasnya dan mau memahami. Maka begitu Swi Cu terisak dan menyembunyikan muka di dadanya tiba-tiba Beng Tan mengangkat dan menahan dagu itu. Lalu ketika kekasihnya terbelalak dan bertanya mau apa mendadak pemuda ini menundukkan mukanya mencium bibir yang lembut memikat itu.

"Aku mau menciummu. Ha-ha, jangan marah dan terimalah!"

"Iih!" Swi Cu terkejut, tersentak namun tak mengelak. "Kau nakal, koko. Kau... ah, sudahlah. Aku masih teringat akan nasib suciku!"

Dan Beng Tan yang menarik napas melepas bibirnya lalu mengangguk dan tak dapat bersenang-senang dulu, diganggu urusan ini dan diapun mengangguk. Memang, teringat keadaan Wi Hong tiba-tiba dia menjadi tak enak. Mereka bersenang-senang sementara orang lain menderita. Maka ketika dia mengangguk dan mengajak kekasihnya pergi akhirnya Beng Tan berkelebat dan terbang ke kota raja, menggandeng lengan kekasihnya.

Namun apa yang terjadi? Kota raja berkabung! Beng Tan, yang pagi itu juga tiba disana ternyata melihat bendera berkibar setengah tiang. Semua wajah di ibu kota muram dan sedih. Wajah semua orang menunjukkan rasa takut yang hebat tapi juga marah. Dan ketika Beng Tan menyelidiki dan bertanya sana-sini ternyata Ci-ongya, adik kaisar, terbunuh. Tewas di tangan Si Golok Maut!

"Kau terlalu!" begitu atasan pemuda ini menegur dan langsung marah-marah. "Sudah kubilang agar tidak lama-lama meninggalkan istana, Beng Tan. Tapi kau melanggar dan tidak datang-datang. Semalam Golok Maut mengamuk, membunuh-bunuhi tigaratus siwi dan busu pengawal istana dan adikku Ci-ongya tewas! Apa yang hendak kau katakan dan jawab disini? Dan siapa gadis ini?"

Swi Cu, yang menggigil dan berlutut didepan orang yang marah-marah ini hampir tak berani mengangkat mukanya. Ternyata atasan kekasihnya itu adalah kaisar sendiri, sri baginda yang menyambut kedatangan mereka dengan muka merah padam. Dan ketika Beng Tan juga berlutut dan menggigil di depan kaisar maka pemuda ini terguncang dan terkejut, sejenak tak dapat berkata-kata.

"Maaf, hamba,... hamba salah, sri bag inda. Hamba menemui banyak persoalan ditengah jalan dan telah bertempur pula dengan Si Golok Maut itu, bahkan mengadu jiwa!"

"Tapi dia kemari. Semua orang tak ada yang sanggup menandinginya dan tiga ratus pengawal tewas, terakhir adikku. Heh, apa yang hendak kau katakan lagi, Beng Tan? Dan siapa gadis disampingmu ini? Kau rupanya bersenang-senang, mabok dan melupakan tugas! Ah, sialan wanita ini dan gara-gara keteledoranmu maka adikku binasa!"

Beng Tan pucat. Kalau kaisar sudah marah-marah seperti itu tak ada siapa pun yang berani mengeluarkan suara. Swi Cu sampai gemetar namun kekasihnya memegang lengannya erat-erat. Beng Tan berbisik tak boleh dia tersinggung atau marah disitu. Kaisar adalah kuasa dan dia adalah segala-galanya. Dan ketika geraman maupun kutukan juga mengenai Swi Cu yang tak tahu apa-apa akhirnya sri baginda menggebrak meja.

"Nah, katakan laporanmu dan siapa siluman betina ini!"

Swi Cu menggigit bibir kuat-kuat. Kalau Beng Tan tidak mencengkeram lengannya sedemikian kuat dan dia mampu melepaskan diri tentu dia sudah berteriak dan memaki kaisar itu. Betapapun dia tak terima. Enak saja disebut siluman betina, seolah dia iblis! Namun karena Beng Tan mencengkeramnya dan pemuda itu berbisik agar dia menelan segala kata-kata kaisar maka Beng Tan berlutut melipat tubuhnya.

"Maaf, dia Swi Cu, sri baginda. Wakil ketua Hek-yan-pang, calon isteri hamba!"

Sri baginda terkejut. "Calon isterimu? Hu-pangcu dari Hek-yan-pang?"

"Benar, dan maaf, sri baginda. Kekasih hamba ini tak tahu apa-apa dan justeru ia pun telah diserang dan hampir dibunuh Si Golok Maut!"

"Hm, ceritakan pengalamanmu... ceritakan pengalamanmu...!"

Dan sri baginda yang tampak menahan diri dan kelepasan omong lalu sedikit lunak dan minta agar Beng Tan menceritakan perjalanannya, mendengar dan Beng Tan segera bercerita apa yang terjadi. Semua yang dialami bersama Swi Cu diceritakan, kecuali tentu saja pertemuannya dengan Wi Hong, cerita yang rupanya tak perlu didengar orang lain apalagi Wi Hong dalam keadaan hamil, cerita yang hanya akan memancing pertanyaan orang lain belaka dan justeru dapat memalukan diri sendiri. Dan ketika semua itu sudah diceritakan dan sri baginda mengangguk-angguk maka Beng Tan ganti bertanya,

"Maaf, sekarang bagaimana dengan paduka sendiri. Kapan Si Golok Maut itu datang dan bagaimana sampai membunuh Ci-ongya?"

"Hm, kau tanya Kun-taijin (menteri Kun), Beng Tan. Sekarang aku ingin beristirahat dan biarlah kalian berdua bicara," kaisar memutar tubuh tampak mengerotkan gigi dan menteri Kun memberi isyarat mata padanya.

Sri baginda telah menyuruh menterinya itu bercerita, jadi tak mau bercerita sendiri dan Beng Tan tentu saja tak dapat memaksa. Dalam keadaan biasa tentu sri baginda tak akan bersikap seperti itu kepadanya. Namun karena istana lagi berkabung dan kematian Ci-ongya memang menggegerkan semua orang maka Beng Tan mengangguk pada menteri itu dan duduklah keduanya di ruang sebelah, diikuti Swi Cu.

* * * * * * *

Semalam, para pengawal dan istana tak merasakan datangnya badai yang tiba-tiba mengamuk itu. Semua pengawal dan isi istana biasa-biasa saja, bahkan rakyat masih bergembira diluar sana, bertandang dan masuk keluar toko untuk membeli keperluan barang-barang seperti biasa, untuk esok harinya. Namun ketika malam tiba-tiba mendung dan bulan serta bintang mulai menyembunyikan diri mendadak suasana riang-ria diluar agak berobah.

Orang yang hilir-mudik kembali kerumah masing-masing. Angin malam bertiup dingin dan hujan akan datang. Dan ketika benar saja pada kentongan kesepuluh hujan mengguyur ibu kota maka penduduk mulai membuka selimut untuk menutupi tubuh sendiri.

"Ah, dingin. Hujan sialan. Lebih baik kita berjaga di dalam gardu dan main kartu!" pengawal di istana menggerutu.

Mereka agak terganggu dengan datangnya hujan itu dan bagi yang bertugas jaga memang agak menjengkelkan. Mereka kedinginan diluar dan terpaksa memakai mantol, melindungi diri. Dan ketika tujuh orang bermain kartu di dalam sementara dua lagi berjaga di sudut kiri dan kanan maka sebuah kereta tiba-tiba berderap memasuki halaman istana.

"He, siapa itu? Aneh sekali, malam-malam hujan begini datang bertandang!" dua pengawal mengerutkan kening, diam menyambut dan kereta itu akhirnya berhenti di pintu gerbang.

Saisnya turun dan pengawal melihat bahwa itu adalah kereta milik Lie-taijin, menteri Lie. Dan ketika sais bicara sejenak dengan penjaga dan berkata bahwa Lie-taijin ingin bertemu Ci-ongya maka penjaga tak curiga namun minta agar Lie-taijin memperlihatkan diri.

"Maaf, aneh bahwa taijin malam-malam datang begini, hujan lagi. Bisakah beliau memberikan surat pengantar atau memperlihatkan diri?"

"Taijin sakit, tak enak badan. Menggigil di dalam dan ingin secepatnya bertemu ongya. Kalau surat pengantar ada, inilah." sais memberikan surat menteri itu, lengkap dengan stempelnya dan penjaga semakin tak curiga lagi. Namun karena dia harus melapor ke dalam dan Ci-ongya harus diberi tahu maka dia menyuruh kereta dimasukkan ke dalam, di samping gedung.

"Ongya kebetulan sedang dilayani selirnya. Baiklah kau tunggu disamping gedung itu dan silahkan taijin masuk!"

Sais mengangguk. Caping lebarnya yang dipakai di atas kepala tak mencurigakan siapapun karena waktu itu hujan, jadi dipakai untuk melindungi kepala dan kereta pun berderap masuk. Dan ketika penjaga melapor pada komandannya dan serempak tujuh orang yang bermain kartu itu menghentikan permainannya maka komandan melompat tergopoh menyuruh anak buahnya menyimpan kartu-kartu itu, berikut uang yang berceceran di lantai. Judi!

"Ah, sialan kau. Kenapa baru bilang sekarang? Cepat simpan semua uang yang berceceran, jangan diketahui Lie-taijin!"

Kiranya di istana pun ada judi. Para pengawal membuang waktunya bukan hanya sekedar bermain kartu tapi juga iseng dengan mempertaruhkan uang, padahal kaisar baru saja mengeluarkan undang-un-dang agar pengawal tidak berjudi, karena dapat mengganggu tugas. Dan ketika semua berlompatan dan uang yang berceceran cepat disembunyikan di balik tikar maka komandan sudah tergopoh-gopoh menyambut tamu.

"Taijin, selamat malam. Biarlah kami la porkan pada ongya dan silahkan paduka menunggu di dalam!"

"Taijin sakit, tak dapat menggerakkan tubuhnya. Biarlah dia di dalam sampai ong-ya datang," si sais berkata, tenang-tenang saja dan komandan jaga tertegun.

"Kenapa begitu? Bukankah kalau sakit harus dibawa ke tabib?" Namun ketika sais berkata bahwa justeru Lie-taijin ingin menghubungi tabib Kwee melalui Ci-ongya maka komandan hilang kecurigaannya dan mengangguk-angguk.

"Taijin tak berani mengganggu Kwee-yok-ong yang merupakan tabib pribadi sri baginda. Datang dan ingin diantar Ci-ongya agar cepat sembuh."

"Oh, begitukah? Baik, kami akan segera memanggil ong-ya," dan komandan yang bergegas sendiri menghadap majikannya lalu menyuruh anak buahnya memberi minuman hangat pada tamu.

Kwee-yok-ong (raja obat Kwee) adalah tabib pribadi kaisar, memang tak sembarangan menemuinya kalau tidak diantar orang-orang yang dekat dengan kaisar. Dan karena Ci-ongya adalah adik tiri kaisar dan tentu saja dapat diantar melalui pangeran itu maka Ci-ongya tertegun ketika mendengar laporan datangnya menteri ini, malam-malam begitu, hujan lagi.

"Sakit apa? Kenapa tak disuruh menemui aku?"

"Maaf, hamba tak tahu sakitnya, ong-ya, tak bertanya. Tapi katanya tak dapat bergerak dan menunggu di dalam kereta."

"Aneh, tadi pagi masih sehat. Bagaimana itu?"

"Hamba tak tahu, penyakit memang dapat mengganggu siapa saja, sewaktu-waktu."

"Ya, seperti kau ini. Yang datang dan mengganggu aku yang sedang bersenang-senang dengan selirku... plak!" Ci-ongya menampar komandan jaga itu, jengkel dan gemas karena dia merasa diganggu. Kalau bukan Lie-taijin yang datang tentu sudah diusirnya tamu itu. Tapi karena Lie taijin adalah sahabatnya dan jelek-jelek adalah pembantu sri baginda kaisar yang cukup pandai maka dia bergegas keluar dan menyuruh selirnya menunggu disitu.

"Bawa dia masuk, biar aku melihatnya!"

"Maaf, kereta ada di samping gedung, ong-ya, bukan diluar. Paduka sudah ditunggu disebelah kiri gedung!"

Ci-ongya mengumpat. Dia tadi bergegas keluar tapi ternyata bukan disana. Kereta sudah berteduh disamping gedung dan benar saja dia melihat kereta itu, milik Lie-taijin. Dan ketika dia menuruni tangga dan berseru memanggil Lie-taijin maka sais yang berdiri membungkuk tiba-tiba maju mendekat.

"Mana majikanmu? Sakit apa? Suruh keluar, biar aku melihatnya!"

Sang sais menggumam aneh. Dia tidak memanggil majikannya melainkan malah menyambar lengan pangeran ini. Dan ketika komandan terkejut karena sikap itu dinilai kurang ajar maka Ci-ongya sendiri terkejut melihat keberanian sekaligus kekurang ajaran sais ini.

"Lie-taijin ada di dalam, mari kau lihat!"

Ci-ongya tersentak. Dia terlalu tergesa dengan menghampiri kereta, tidak melihat baik-baik sais itu. Tapi ketika si sais ber-engkau dan ber-aku begitu enak kepadanya dan tahu-tahu lengannya disambar maka pangeran ini kaget bukan main melihat wajah di balik caping lebar itu.

"Golok Maut...!"

Teriakan atau jeritan pangeran ini mengejutkan pengawal. Sang komandan yang sama sekali tidak menyangka atau menduga tiba-tiba bagai disengat lebah. Komandan ini terkesiap dan kaget bukan main. Dan ketika Ci-ongya terlihat meronta dan memekik melepaskan diri tiba-tiba Golok Maut, sais yang menyamar itu tertawa dingin.

"Benar, aku, ong-ya. Dan sekarang kau mampuslah."

Jerit melengking memecah kesunyian malam. Ci-ongya mencelos dan menarik lepas dirinya, membalik dan lari memasuki gedung. Tapi baru tiga langkah kakinya bergerak menaiki tangga tiba-tiba sinar putih berkelebat dan komandan terbeliak melihat golok yang menyambar cepat sudah menabas putus leher pangeran itu, dalam waktu hanya sepersekian detik.

"Crass!" Kepala Ci-ongya menggelinding. Darah menyemprot bagai pancuran dan tubuh itupun roboh. Ci-ongya hanya sekali memekik dan setelah itupun nyawanya terbang ke neraka. Kejadian berlangsung demikian cepat dan tidak terduga. Dan ketika pengawal berteriak dan sang komandan terjaga tiba-tiba mereka malah melarikan diri dan lintang-pukang.

"Golok Maut.... Golok Maut....!"

"Ci-ongya terbunuh, Golok Maut datang....!"

Keadaan menjadi gempar. Sekilas gebrak yang berlangsung bagai mimpi itu tiba-tiba membuat pengawal ketakutan. Mereka gentar dan pucat setelah melihat bahwa itu adalah Golok Maut, bukan sais Lie-taijin. Dan ketika Golok Maut membalik dan tertawa dingin maka dia berkelebat namun pengawal sudah memukul tanda bahaya.

"Golok Maut datang, Ci-ongya terbunuh!"

Istana menjadi geger. Pekik dan jerit mereka yang ngeri melihat sepak terjang Si Golok Maut sudah tak dapat dikendalikan lagi.

Golok Maut mengerutkan kening melihat pengawal memukul tanda bahaya. Namun ketika dia menggerakkan tangan dan sebuah jarum hitam menancap di dahi pengawal itu maka pengawal yang memukul tanda bahaya ini roboh, tersungkur.

"Keparat, kalian mencari penyakit!"

Sang komandan pucat dan putih mukanya. Dialah yang bertanggung jawab menerima kedatangan Si Golok Maut. Kereta Lie-taijin yang sama sekali tidak mengundang kecurigaan ternyata justeru dipakai Si Golok Maut itu. Golok Maut dengan mudah dan tenang memasuki gedung Ci-ongya, memang tidak menimbulkan kecurigaan dan caping lebar yang biasa dipakainya itu juga kebetulan dilupakan pengawal.

Malam itu hujan, jadi pas sekali kalau seseorang melindungi kepala dengan caping. Dan ketika semuanya sudah terlambat dan Ci-ongya terbunuh, begitu cepat dan tidak terduga maka pengawal berteriak-teriak sementara komandan jaga bingung memikirkan hukuman yang akan diterimanya.

"Panggil Siang-mo-ko. Beritahukan lo-cianpwe Yalucang dan lain-lain!"

Namun Golok Maut berkelebat. Golok Maut mengenal komandan ini sebagai komandan jaga yang menerimanya, bergerak dan tahu-tahu sudah menangkap laki-laki itu. Dan ketika komandan ini berteriak dan meronta serta ketakutan maka Golok Maut bertanya dimana Coa-ongya,

"Aku sudah mencari digedungnya, tapi tidak ketemu. Beritahukan atau kau mampus!"

"Tidak... tidak...!" sang komandan ber-kaok. "Aku tak tahu, Golok Maut. Aku bukan pengawalnya!"

"Tapi kau pengawal istana, pasti tahu. Bertahukan atau kau kubunuh!"

"Oh, tidak. Aku tak tahu!" namun ketika pengawal ini menjerit dan berteriak mengaduh maka Golok Maut menjepit batang lehernya dan menginjak dadanya.

"Kalau begitu kaupun mampus.. ngek!" komandan itu menggeliat lemah, tidak bersuara lagi karena dari tenggoroKannya keluar cairan kental berwarna merah. Golok Maut telah menghancurkan batang tenggorokannya tadi dengan jepitan di leher, patah dan terkulailah komandan jaga itu.

Dan ketika anak buahnya kalang-kabut dan tentu saja berteriak-teriak maka bayangan-bayangan hitam berkelebatan memasuki halaman, bayangan dari para si-wi atau busu, yang berjaga disebelah.

"Apa yang terjadi. Dimana Golok Maut!"

"Itu, disana. Dia... dia telah membunuh Ci-ongja!"

Para siwi dan busu berkelebatan ke arah yang ditunjuk. Mereka melihat bayangan tinggi tegap dengan caping lebar, ciri khas yang dipunyai si Golok Maut. Tapi ketika mereka bergerak dan membentak kesini ternyata Golok Maut Sudan menghilang dan naik ke atas genteng.

"Kejar, dia ke gedung Coa-ongya...!"

Memang betul. Golok Maut ke barat dan gedung Coa-ongya yang dituju. Tadi dia sudah kesana tapi tak ketemu, membuat ribut-ribut ditempat Ci-ongya dulu dan kini semua pengawal berhamburan. Dan ketika mereka melihat Ci-ongya putus kepalanya mandi darah maka semua merinding melihat darah yang membanjir dari luka itu bergelimang membasahi tanah. tangga, bercampur air hujan.

"Dia membunuh Ci-ongya, kejar. Tangkap iblis berdarah dingin itu!"

Golok Maut tak menghiraukan. Sinar putih dan goloknya sudah tak nampak lagi, lenyap dibelakang punggung. Tadi dia sudah membunuh lawan yang dibencinya dan seorang penjaga melihat tokoh bercaping ini menghirup darah di badan golok, menjilat dan memasukkannya lagi dibelakang punggung setelah berkemak-kemik, Dan ketika penjaga atau pengawal itu tertegun membelalakkan mata maka seluruh penjuru istana sudah dipenuhi ratusan si-wi atau busu yang mendengar tanda bahaya.

"Golok Maut datang, dia membunuh Ci-ongya!"

Suasana gempar. Istana yang semula tenang tiba-tiba dibuat hiruk-pikuk oleh kegaduhan ini. Mereka sungguh tak menduga bahwa Golok Maut berani datang lagi, bahkan telah membunuh Ci-ongya. Dan ketika semua mengkirik melihat jenasah Ci-ongya yang tidak berkepala lagi maka wuwungan menjadi penuh orang ketika bayangan Golok maut dituding-tuding.

"Dia di atap, di atas. Kejar...!"

Namun hanya orang-orang tertentu yang berani mengejar. Mereka adalah pemimpin-pemimpin para siwi dan busu itu, tiga-puluh jumlahnya. Dan ketika bayangan Golok Maut tampak meluncur ke gedung Coa-ongya maka mereka membentak, sebagian melepas panah dan tombak.

"Golok Maut, berhenti. Menyerahlah!"

"Benar. Dan serahkan dirimu baik-baik, Golok Maut. Atau kau mampus sia-sia.... wut-singg."

Panah dan tombak menyambar belakang punggung, cepat dan luar biasa namun Golok Maut mendengus. Dan ketika dia menampar dan semua senjata itu ditangkis tanpa menoleh maka tombak atau panah runtuh ke tanah dan patah-patah...

Golok Maut Jilid 21

GOLOK MAUT
JILID 21
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
SUDRA, kakek bersenjata cambuk tertawa. Dia menjeletarkan cambuknya dengan nyaring ketika tiba disitu, berkelebat dan saudaranya, Mindra, menyeringai. Dan ketika Coa-ongya berkata mereka tak usah mengejar wanita itu maka kakek ini berseru,

"Ha-ha, baik, pangeran. Tapi agaknya kami ingin memberinya sedikit hajaran!"

"Tak usah, kalian pergi saja dan jaga gedung seperti biasa. Kami telah mengetahui maksudnya dan untung semua selamat," lalu menghadapi Ci Fang yang melotot disitu pangeran ini berkata, "Ci Fang, lain kali harap hati-hati. Jangan sembrono membawa wanita cantik. Tahukah kau bahwa dirimu diperalat? Hm, kalau aku tak waspada tentu keadaan menjadi runyam, Ci Fang. Sebaiknya kau tak gampang percaya dan selidiki dulu siapa sahabatmu itu!"

Ci Fang mengepal tinju. Kalau dia tidak tahu apa kiranya maksud kekasihnya itu barangkali dia akan membela Siluman Kucing mati-matian. Tapi Siluman Kucing ternyata memperalatnya, ingin memiliki Giam-to-hoat catatan pamannya. Dia dipergunakan dan jadilah dia kerbau yang dungu. Ah, Eng Hwa benar-benar keparat. Maka begitu pamannya bicara seperti itu dan dia ditegur tiba-tiba pemuda ini membalik dan melompat pergi, entah kemana tapi sang ayah maupun sang paman tidak memanggil. Coa-ongya hanya tersenyum saja melihat sikap keponakannya itu.

Dan ketika semua kembali dan catatan Giam-to-hoat selamat di tangan Coa-ongya maka keributan itu selesai dan disana Siluman Kucing Li Eng Hwa mempelajari kitab palsu!

* * * * * * *

"Aduh, keparat kau, Golok Maut. Jahanam kau! Terkutuk! Ah, kubunuh kau kalau nanti kita bertemu...!"

Seorang wanita berjalan terhuyung-huyung sambil menangis di tepi jalanan berbatu itu, mengutuk dan mencaci-maki Golok Maut sementara tangannya yang lain memegangi atau mendekap perut. Sejak pagi dia menangis dan bercucuran air mata, jatuh terguling dua kali dipematang ketika muntah-muntah. Dan ketika dia bangkit terhuyung lagi dan berjalan dengan air mata bercucuran tiba-tiba wanita ini yang bertubuh ramping namun mengenakan kedok tiba-tiba dikejutkan oleh berkelebatnya sesosok bayangan seorang pemuda.

"Ha-ha, kau disini, Hek-yan-pangcu? Mengutuk dan memaki-maki si Golok Maut? Bagus, aku juga benci padanya dan kita berdua dapat menjadi sahabat!" Hi-ngok, Si Hidung Belang Bhok-kongcu muncul, datang dan tertawa dan pemuda hidung belang ini berseri-seri memandang ketua Hek-yan-pang itu, yang tampak letih dan pucat. Dan ketika Hek-yan-pang-cu terkejut dan tertegun, berhenti, maka pemuda itu sudah menyambar lengannya dengan sikap ceriwis, kurang ajar.

"Tak perlu berduka, ada aku disini. Mari, kita bersenang-senang, pangcu. Dan Bhok-kongcu akan mengajakmu melayang ke surga..."

"Plak!" Wi Hong, ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba meronta, membentak dan melepas satu tamparan tapi Bhok-kongcu menangkis.

Pemuda itu tentu saja waspada dan cepat mengelak, melepas tangan lawan. Dan ketika dia tertawa dan. mundur selangkah, mata berkejap bersinar-sinar maka dia mengagumi wajah di balik kedok itu, yang pasti cantik. "Kita tak perlu bermusuhan. Musuh kita sama, Golok Maut. Kenapa marah-marah, pangcu? Golok Maut memang jahanam, dia manusia keparat. Aku dapat mendampingimu dan mencarinya bersama, sama-sama kita bunuh!"

"Diam kau!" Wi Hong, yang marah dan terkejut melihat siapa lawannya ini tiba-tiba menggigil. "Kau tak berhak bicara seperti itu, orang she Bhok. Lekas kau pergi dari sini atau aku segera membunuhmu!"

"Ha-ha, dengan tubuh lemah dan muka pucat begini? Eh, tak usah bersombong, pangcu, Aku tahu kau tak seperti biasanya dan hari ini kau lelah lahir batin. Tamparanmu tadi menunjukkannya, dan aku tak dapat kau tipu, ha-ha!"

Wi Hong mundur. Tiba-tiba dia menjadi marah namun juga cemas. Memang, tak dapat disangkal bahwa sesuatu sedang terjadi padanya. Beberapa hari ini dia muntah-muntah dan sakit, entah sakit apa dia tak mengerti. Sudah diberinya obat tapi tak sembuh juga. Kepalanya sering pening dan badan pun rasanya loyo. Makan tak enak tidur tak tenteram. Ada gangguan asing yang seumur hidup baru kali itu dialaminya. Dia muntah-muntah dan empat hari ini hampir tak terisi nasi, maklumlah, selera makan tak ada dan dia sama sekali tak tahu gejala apa itu. Maka ketika Bhok-kongcu itu berkata bahwa dia tak seperti biasanya dan tenaganya memang lemah ketika menampar tadi maka ketua Hek-yan-pang yang lagi kacau hubungan asmaranya ini melotot.

Seperti diketahui, terjadi pertengkaran antara wanita cantik ini dengan Golok Maut, setelah mereka melakukan hubungan suami isteri. Mereka berdua ternyata sama-sama jatuh cinta tapi Golok Maut akhirnya marah-marah. Pemuda itu mengutuk kekasihnya karena perbuatan yang mereka lakukan merupakan pelanggaran berat bagi sumpah Golok Penghisap Darah. Seharusnya mereka tak boleh melakukan itu sebelum musuh-musuh Golok Maut dibunuh, orang-orang she Coa dan Ci khususnya Coa-ongya dan Ci-ongya. Maka ketika sumpah itu turun dan dari angkasa Golok Maut mendengar suara tanpa rupa maka permulaan itu menjadi awal permusuhan mereka.

Golok Maut meninggalkan wanita ini, berpisah. Asyik-masyuk mereka yang baru mereguk nikmatnya madu asmara tiba-tiba hancur dengan kemarahan Golok Maut itu, yang sadar setelah semuanya terjadi. Dan ketika hal itu menyakitkan hati wanita ini dan Wi Hong tentu saja tertusuk dan marah bukan main maka berakhirnya kisah-kasih mereka menghancurkan wanita ini.

Wi Hong, seperti diketahui, amatlah mencinta Golok Maut. Golok Maut pun akhirnya ternyata mencinta gadis baju merah itu dimana semuanya itu timbul setelah Golok Maut membuka kedok di muka gadis baju merah ini.

Sudah menjadi peraturan di partai Hek-yan-pang bahwa laki-laki yang membuka kedok ketua atau wakil ketua haruslah mengawini ketua atau wakil ketua itu, seperti juga para murid lainnya karena Hek-yan-pang dihuni oleh para wanita belaka. Mereka rata-rata cantik dan baru Golok Maut itulah yang membuka kedok ketua, setelah mereka bertempur dan bertanding hebat, gara-gara mempertahankan Ci Fang. Dan karena Golok Maut berkepandaian tinggi dan tak ada satu murid wanita pun yang mampu menandingi si Golok Maut itu maka Golok Maut akhirnya membuka kedok Wi Hong secara tak disengaja. Dan ternyata itu berkelanjutan.

Golok Maut diminta mempertanggung-jawabkan perbuatannya atau harus membunuh wanita itu, hal yang tak dapat dilakukan Si Golok Maut karena sebenarnya dia terguncang oleh kecantikan luar biasa wanita atau gadis baju merah ini. Dan ketika dia dikejar-kejar dan cinta memang akhirnya bersemi dihati Si Golok Maut maka dia menerima namun celaka nafsu menghanyutkan keduanya. Golok Maut mula-mula bingung ketika dia dipaksa mengawini gadis baju merah itu. Dia teringat akan sumpah Golok Penghisap Darah bahwa tak boleh dia menikah kalau semua musuh-musuhnya belum dihabisi, inilah yang menyebabkan dia melarikan diri dari markas Hek-yan-pang itu ketika dimintai tanggung jawab.

Bukan masalah takut atau apa melainkan semata teringat akan sumpah dari Golok Maut itu, yang dibawanya. Tapi ketika dia menyerah dan Wi Hong diterimanya, mabok dan ternina-bobok oleh asmara yang demikian nikmat tiba-tiba dia lupa akan sumpah itu dan melanggarnya. Wi Hong dianggap penggoda tak tahu malu dan gadis atau wanita baju merah ini tentu saja marah. Wi Hong tak tahu akan sumpah yang mengikat kekasihnya dan tentu saja dia terkejut sekali. Golok Maut tiba-tiba marah kepadanya dan mengutuk dia habis-habisan, padahal dia tak tahu apa-apa dan rela menyerahkan segalanya pada orang yang dicintanya itu.

Maka begitu pertengkaran diantara mereka terjadi dan Golok Maut akhirnya pergi meninggalkannya maka Wi Hong berbulan-bulan menangis dan terhuyung sepanjang jalan, kaget dan marah akan sikap kekasihnya itu dan tentu saja perasaannya hancur. Golok Maut dinilai tak bertanggung jawab dan semua kata-katanya dianggapnya sebagai dalih untuk melepaskan tanggung jawab. Wi Hong malah salah sangka dengan menganggap Golok Maut mengada-ada. Habis manis sepah dibuang! Maka ketika hari itu dia bertemu dengan Bhok-kongcu dan si Hidung Belang ini tertawa mengganggunya mendadak Wi Hong menjadi beringas dan merah padam.

"Orang she Bhok," katanya sekali lagi. "Jangan mencari penyakit dan pergilah. Aku tak main-main dan kali ini benar-benar akan membunuhmu kalau kau menggangguku!"

"Ha-ha!" pemuda itu tertawa bergelak. "Aku justeru tak mau pergi kalau kau mengusirku, nona. Tapi kalau kau mau kutemani dan kita bersama-sama mencari si Golok Maut itu maka barulah aku pergi kalau nanti sudah bosan!"

"Sing!" sebatang pedang tiba-tiba berkelebat menyambar, cepat dan ganas.

"Kau benar-benar minta mati, orang she Bhok. Kalau begitu baiklah, terima ini dan kuantar kau ke neraka!" dan Wi Hong yang sudah mencabut pedangnya berkelebatan kesana-sini tiba-tiba menggerakkan pedangnya itu bagai harimau haus darah, tak kenal ampun dan menusuk atau menikam dan Bhok-kongcu itu tentu saja mengelak.

Si Hidung Belang ini terkejut tapi tertawa menyeringai, berkelebatan dan mengimbangi kecepatan pedang yang menyambar-nyambar dari segala penjuru. Tapi karena dia yakin bahwa tenaga pemiliknya taklah sehebat seperti biasa maka ketika pedang menusuk tenggorokan dengan berani dia menangkis.

"Tring!"

Benar saja, pedang terpental. Wi Hong terkejut karena tenaganya tak seperti biasa dan tangkisan kuku jari lawan mampu mementalkan pedangnya. Dan ketika dia membentak dan menyerang lagi dengan ganas maka Bhok-kongcu itu menangkis dan mengelak sana-sini.

"Tring-tring!"

Wi Hong pucat. Entah bagai mana tiba-tiba dia merasa lemah dan perut yang mulas tiba-tiba kambuh kembali. Wi Hong ingin muntah namun saat itu ditahannya, bergerak dan membentak lawan dan ditikamnya si Hidung Belang itu dengan penuh kemarahan. Tapi ketika isi perut bergolak dan lawan lagi-lagi menangkis tiba-tiba dia muntah dan lawan terkejut karena muntahan itu menyemprot mengenai bajunya.

"Uah...!"

Si Hidung Belang terbelalak. Dia melihat ketua Hek-yan-pang itu limbung dan tiba-tiba roboh, menangis dan memegangi perutnya yang entah kenapa. Heran dia. Tapi karena saat itu justeru merupakan saat yang bagus dan Bhok-kongcu terbahak tiba-tiba pemuda ini berkelebat menotok lawan. "Ha-ha, sekarang habis kesombonganmu, pangcu. Robohlah dan menyerahlah....!"

Tapi ketika dia bergerak dan lawan terkejut memandangnya, tak mampu mengelak tiba-tiba bayangan hitam berkelebat dan membentak pemuda she Bhok itu dari belakang.

"Hi-ngok, jangan macam-macam. Kaulah yang mampus... singg!"

Bhok-kongcu terkejut. Dari belakang menyambar sebatang pedang lain dan punggungnya menerima tusukan ganas. Dari tusukan ini dia tahu bahwa lawan yang berbahaya sedang menyerang, terkesiap pemuda itu. Dan ketika dia membalik dan apa boleh buat harus menangkis serangan itu sambil mencabut ikat pinggangnya tiba-tiba si Hidung Belang ini telah membentak dan membalikkan tubuh.

"Plak-plak!"

Bhok-kongcu terpental. Bayangan hitam terhuyung sejenak dan pemuda itu berjungkir balik, kaget melihat seorang gadis lain berkedok hitam telah berdiri disitu, mata berapi-api. Dan ketika pemuda itu tertegun dan berjungkir balik melayang turun maka Wi Hong, yang roboh dan lemas ditanah tiba-tiba berseru girang,

"Cu-moi (adik Cu)...!"

Gadis itu, yang dipanggil dan menoleh tiba-tiba mengangguk. Dia memang Swi Cu adanya, wakil ketua sekaligus adik seperguruan Wi Hong, yang mencari dan menemukan sucinya (kakak seperguruan) disitu. Maka begitu Wi Hong memanggilnya dan panggilan itu begitu lemah tiba-tiba Swi Cu berkelebat dan menolong ketuanya ini.

"Suci, kau kenapa? Kau luka?"

"Tidak," Wi Hong menangis. "Tapi... tapi... entahlah, aku tak tahu, Cu-moi. Akhir-akhir ini aku pusing-pusing dan muntah-muntah. Golok Maut mempermainkan aku, dan kini buaya ini juga mau menggangguku!"

"Tenanglah," Swi Cu mengerotokkan buku-buku jarinya. "Aku akan menghajar Si Hidung Belang ini, suci. Aku mencari-carimu dan kebetulan kita bertemu disini. Golok Maut mencari dirimu di markas, marah-marah dan mengamuk. Aku hampir saja dibunuhnya!"

"Apa?"

"Benar, dia marah-marah, suci. Entah kenapa. Markas kita diobrak-abrik dan dia memaki-makimu."

"Ooh...!" dan Wi Hong yang menangis mengepalkan tinju tiba-tiba berteriak, "Golok Maut, kau sungguh laki-laki keparat. Sudah mempermainkan aku masih juga mengganggu markasku. Ah, kubunuh kau. Terkutuk kau...!"

Namun Wi Hong yang tersedak dan batuk serta muntah-muntah tiba-tiba mengejutkan Swi Cu karena ketua atau sucinya ini terguling roboh, lemas oleh penyakit aneh dan mengeluh menyatakan pusing-pusing.

Pada saat itu Bhok-kongcu tertegun disana, mendengar percakapan dua enci adik itu. Tapi ketika Wi Hong terguling dan pemuda hidung belang ini bersinar-sinar memandang Swi Cu, gadis yang baru datang tiba-tiba dia menyeringai dan menubruk gadis itu dari belakang, melepas pukulan diam-diam, dalam satu kilatan mata yang keji.

"Wut!"

Swi Cu lupa. Gadis ini tak menyadari bahaya karena saat itu perhatiannya tercurah pada sang suci, Wi Hong, menolong dan membantu sucinya itu duduk. Tapi karena saat itu Wi Hong kebetulan melihat serangan ini dan tentu saja gadis baju merah itu terkejut tiba-tiba Wi Hong berteriak,

"Awas!"

Swi Cu sadar, Angin pukulan Bhok-kongcu akhirnya terdengar juga, dalam detik yang terlambat. Maka kaget dan mengeluh tertahan tiba-tiba Swi Cu mengelak dan marah oleh serangan curang ini.

"Dess!"

Dia terkena juga. Swi Cu mencelat terguling-guling karena angin pukulan Bhok kongcu menyerempet pundaknya, pedas dan pedih dan Swi Cu gusar. Bhok-kongcu tertawa tapi menyeringai kecewa, melotot pada Wi Hong yang memberi tahu adiknya. Maka ketika Swi Cu bergulingan mengeluh di sana dan gadis baju hitam itu memakinya maka si Hidung Belang yang gagal pukulannya ini tiba-tiba menubruk dan meneruskan serangannya pada Wi Hong.

"Kutangkap kau...!"

Wi Hong terkesiap. Dia dalam keadaan lemah dan tenaga serasa habis. Entah kenapa dia merasa tubuhnya begitu lunglai dan tentu saja tubrukan atau serangan itu tak dapat ditangkis. Jangankan ditangkis, dielak saja dia tak sanggup dan Wi Hong mengeluh pucat. Dan ketika tubrukan itu datang dan gadis ini berusaha miringkan tubuhnya maka sebuah tamparan mengenai lehernya.

"Plak!"

Wi Hong menjerit pingsan. Pukulan atau tamparan Bhok-kongcu tadi cukup keras baginya, tak tahan dia. Namun ketika Bhok-kongcu terbahak dan mau menyambar tubuh itu tiba-tiba Swi Cu membentak dan gadis itu melontar pedangnya yang mendesing dibelakang punggung lawannya.

"Jangan sentuh suciku!"

Bhok-kongcu terkejut, Terpaksa apa boleh buat dia membatalkan niatnya, membalik dan menangkis timpukan pedang yang luar biasa cepat itu. Dan ketika pedang tersampok runtuh namun dia terhuyung mundur maka Swi Cu sudah berkelebat dan menyambar pedangnya dari atas tanah.

"Kau jahanam keparat!"

Bhok-kongcu menyeringai. Untuk detik berikutnya dia sudah diserang gadis baju hitam ini, ganas dan cepat dan tentu saja dia mengelak sana-sini. Tapi ketika pedang menyambar kian cepat dan sinar yang bergulung-gulung naik turun mengelilingi dirinya tiba-tiba bahunya terbabat robek.

"Bret!"

Bhok-kongcu sadar. Tiba-tiba dia terkejut bahwa yang dihadapi kali ini adalah gadis yang penuh tenaganya, tidak seperti Hek-yan-pangcu yang pada mulanya memang tak enak badan, sedang menderita sakit. Maka ketika Swi Cu berteriak lagi dan melengking-lengking melakukan tusukan atau bacokan cepat akhirnya pemuda she Bhok ini tak bisa mengelak saja, mau tak mau harus mencabut senjatanya, ikat-pinggangnya itu.

"Plak-cringg!"

Swi Cu menjadi gusar. Lawan mencabut senjatanya dan pedangnya tertolak terpental, membalik dan menyerang lagi namun ikat-pinggang di tangan lawan kini menjeletar-njeletar menyambut pedangnya itu. Dan ketika gadis ini berteriak dan pedang serta ikat-pinggang berkelebatan menjadi satu tiba-tiba Swi Cu melakukan bentakan tinggi dan tangan kirinya bergerak menyambar.

"Dess!" Ang-in-kang, Pukulan Awan Merah tiba-tiba menghantam lawannya itu. Bhok-kongcu terkejut dan terdorong beberapa tindak, tadi tak menduga dan dia terkena pukulan itu. Tapi karena pemuda ini memang kuat dan Ang-in-kang hanya membuatnya tergetar dan terdorong saja tiba-tiba pemuda itu tertawa bergelak menggerakkan tangan kirinya pula.

"Ha-ha, pukulan Awan Merah, nona? Bagus, kita sama-sama memiliki pukulan bersinar merah. Lihat, akupun juga punya .... plak-dess!" dan tangan kiri Bhok-kongcu yang bergerak dan menyambut pukulan di tangan kiri lawan tiba-tiba meledak dan mengeluarkan suara keras, mengejutkan Swi Cu karena sinar merah di tangan lawannya itu mengeluarkan bau amis.

Kagetlah gadis ini, juga marah. Dan ketika Ang-in-kang disambut dan selalu bertemu dengan tangkisan-tangkisan lawan yang juga serupa namun amis dan lebih berbahaya sadarlah Swi Cu bahwa lawan mempergunakan pukulan beracun. "Ang-tok-kang (Pukulan Racun Merah)!"

"Ha-ha, cocok!" Bhok-kongcu berseru terbahak. "Memang benar, nona. Dan kini Ang-tok-kang bertemu Ang-in-kang. Aih, seharusnya kita tak usah bertempur melainkan bersahabat. Ha-ha...!" dan Bhok kongcu yang terbahak dan tertawa bergelak tiba-tiba melingkarkan ikat-pinggangnya dan menggubat pedang Swi Cu, menarik dan membetot dan Swi Cu terkejut.

Saat itu dia menyerang tapi lawan menangkis, menggerakkan ikat-pinggangnya itu dan melingkar dari atas. Dan ketika pedang tergubat ujungnya dan tarik-menarik diantara mereka tentu saja terjadi maka Bhok-kongcu tiba-tiba melepas Ang-tok-kangnya dengan tangan kiri itu.

"Dess!"

Swi Cu terpaksa menyambut, apa boleh buat harus menggerakkan tangan kirinya pula dan kini kedua tangan mereka menempel. Bhok-kongcu tertawa bergelak dan jari-jari tangan lawan yang lembut diusapnya, diremas dan Swi Cu tentu saja mendelik. Gadis itu tak dapat melepaskan tangannya karena baru saja menangkis, bertemu dan lawan secara kurang ajar ternyata kini meremasnya, terbahak tapi tentu saja Ang-tok-kang terus mengalir dari lengan pemuda itu, ditahan dan disambut Ang-in-kang namun Swi Cu terguncang lebih dulu, yakni ketika lawan mengusap dan meremas jari-jarinya itu, dengan sikap kurang ajar. Dan karena hal ini memecah perhatiannya karena kemarahan luar biasa membuat gadis itu serasa meledak maka tiba-tiba dia terdorong ketika Ang-tok-kang maju menerjang.

"Hek!" Swi Cu mendelik. Saat itu dia sadar dan cepat mengerahkan tenaganya kembali, bertahan. Namun karena tadi sudah kalah satu detik dan hal itu cukup membuat dia berada di posisi yang buruk maka gadis ini terdesak ketika lawan juga menambah tenaganya, jari-jari lawan mengusap semakin kurang ajar dan memanaskan hati!

"Ha-ha, kau menyerah, Cu-moi. Dan kita berbaik. Aih, aku jatuh cinta padamu dan langsung ingin menikah!" Bhok-kongcu tahu kedudukan lawan, mengeluarkan kata-kata kurang ajar dan tertawa terbahak-bahak. Dia menirukan panggilan Wi Hong tadi kepada gadis ini, menyebutnya dengan mesra tapi ceriwis, hal yang membuat Swi Cu jadi merah padam dan buyar pemusatan perhatiannya. Dan ketika gadis itu membentak namun kalah dulu tiba-tiba dia terjengkang ketika lawan mendorong.

"Bress!" Swi Cu terguling-guling. Gadis ini mengeluh dan pedang di tanganpun terlepas. Bhok-kongcu secara cepat mendahuluinya tadi, menambah Ang-tok-kang dan pukulan Awan Merahnya terdesak, kalah dan tertindih. Dan ketika gadis itu terjengkang dan merasa dadanya sesak maka Bhok-kongcu menyambar dan berkelebat menotok buah dadanya!

"Ha-ha, sekarang kita bersenang-senang, Cu-moi. Aih, alangkah nikmat mendapatkan dua kakak beradik sekaligus!"

Namun, ketika pemuda hidung belang itu bergerak dan siap merobohkan lawan, karena Swi Cu tak mungkin menangkis lagi karena sedang terguling-guling dan sesak dadanya tiba-tiba berkelebat bayangan putih. Bayangan ini bergerak jauh lebih cepat daripada pemuda she Bhok itu, berkelebat dan tahu-tahu sudah mencengkeram bahu si Hi-ngok ini. Dan ketika Bhok-kongcu terkejut dan terpekik kesakitan tiba-tiba dia terbanting dan sebuah bentakan terdengar di situ, dingin menyeramkan,

"Orang she Bhok, jangan mengganggu wanita. Pergilah!"

Bhok-kongcu terlempar. Dia tadi serasa diserang setan dan hanya Golok Maut sajalah yang mampu berbuat itu, karena dulu dia pernah mengalami hal serupa. Dan ketika dia menjerit dan sudah menyangka si Golok Maut, lawan yang paling ditakuti tiba-tiba orang she Bhok ini tertegun karena disitu berdiri seorang pemuda lain yang bukan Golok Maut, seorang pemuda berbaju putih.

"Beng Tan...!" Yang berteriak itu adalah Swi Cu. Wakil ketua Hek-yan-pang ini girang bukan main ketika melihat siapa yang datang, bukan lain memang Beng Tan adanya. Dan ketika pemuda itu mengangguk dan Bhok-kongcu juga mengenal maka si Hi-ngok si Hidung Belang ini pucat mukanya.

"Ah, kau?" Bhok-kongcu tiba-tiba gemetar. Pemuda lihai yang dikenalnya sehebat Golok Maut itu tiba-tiba membuat dia pias, tak ayal membalikkan tubuh dan tiba-tiba meloncat pergi, terbang meninggalkan lawan. Dan ketika Beng Tan, pemuda itu tak mengejarnya melainkan menolong Swi Cu maka gadis baju hitam ini menangis dan menubruk pemuda baju putih itu.

"Ah, kau... kau, in-kong. Terima kasih!"

"Hush, apa-apaan ini? Bangunlah, Swi Cu. Dan jangan bercanda."

Swi Cu, sumoi dari Wi Hong itu girang bukan main. Dia mengguguk tapi segera menciumi Beng Tan. Mereka adalah kekasih dan seperti diketahui di muka sebenarnya dua orang ini pergi bersama-sama, meninggalkan Hek-yap-pang. Tapi karena di tengah jalan Beng Tan ke kota raja sebentar untuk suatu keperluan maka mereka berpisah sejenak dan Swi Cu kebetulan melihat pertandingan sucinya dengan Hi-ngok si Hidung Belang itu, menolong sucinya tapi Bhok-kongcu ternyata lihai. Hampir saja dia celaka. Dan ketika Beng Tan muncul lagi disitu dan tentu saja dia gembira maka Swi Cu terlupa panggilannya karena teringat peristiwa ketika Beng Tan dulu menolongnya dari tangan si Golok Maut, wajah berseri-seri dan kini dipeluk pemuda itu, mendapat ciuman sekali di pipi.

"Hm, apa yang terjadi, Cu-moi. Bhok-kongcu itu mengganggumu? Dan eh , itu sucimu." Beng Tan tiba-tiba baru melihat Wi Hong disitu, pingsan di atas tanah karena tadi hampir hanyut oleh keberduaannya dengan Swi Cu. Mereka sekarang bertemu lagi dan Beng Tan tentu saja terkejut, melihat Wi Hong yang pingsan. Dan ketika dia melepas kekasihnya untuk berkelebat ke arah Wi Hong maka Swi Cu juga sadar dan berkelebat menyusul disampingnya.

"Benar, aku bertemu orang she Bhok itu justeru karena melihat suciku disini, koko. Tadi dia bertanding tapi aneh sekali suciku tiba-tiba roboh, seolah kesakitan!"

"Hm, mari kita sadarkan dulu. Lain-lain akan terjawab sendiri," dan ketika Beng Tan menotok serta menolong Wi Hong maka wanita atau gadis baju merah itu sadar.

"Ooh. !" Wi Hong membuka mata. "Dimana kau, Cu-moi' Dan dimana keparat Bhok-kongcu itu?"

"Aku disini," Swi Cu memegang sucinya dengan khawatir. "Kau tak apa-apa, suci, Kau masih pusing-pusing?"

"Benar, aku... ah." Wi Hong terkejut, membuka matanya dan melihat Beng Tan disitu, terbelalak. "Siapa.... siapa ini?"

"Dia penolongku?"

Wanita itu tiba-tiba bangkit, terhuyung dan merah padam. "Keparat, tak boleh ada laki-laki menyentuh tubuhku, Cu-moi. Kau tahu itu!" dan Wi Hong yang bergerak serta menghantam Beng Tan tiba-tiba diterima dan dibiarkan Beng Tan, yang tentu saja mengejutkan Swi Cu, kekasihnya.

"Suci.... dess!" pukulan sudah mengena, mendarat namun Beng Tan tentu saja tidak apa-apa. Pemuda ini telah mengerahkan sinkangnya dan Wi Hong malah terbanting, kaget berteriak tertahan. Dan ketika sumoinya berkelebat dan menolong sang enci maka Wi Hong tertegun melihat adik atau sumoinya itu tersedu-sedu.

"Jangan... jangan serang dia. Dia.... dia calon suamiku, kekasihku!"

"Apa?" Wi Hong tersentak, kaget membelalakkan mata. "Kau... kau sudah berhubungan dengan lelaki? Kau.... plak-plak!" dan Wi Hong yang tiba-tiba menampar dan membuat Swi Cu terpelanting tiba-tiba menjadi marah dan kecewa teringat penderitaannya sendiri. Menganggap laki-laki adalah pendusta belaka dan mereka tu "penyakit" bagi wanita.

Wi Hong terguncang dan entah kenapa menjadi marah dan panas mendengar kata-kata sumoinya. Semacam perasaan cemburu dan iri mengganggu dirinya saat itu. Maka begitu sumoinya menerangkan dan dia marah serta menampar sumoinya itu maka Wi Hong bangkit dan berapi-api menghadapi Beng Tan, yang membuatnya terkejut oleh kelihaiannya tadi tapi sama sekali tidak membuat ketua Hek-yan-pang ini takut, apalagi gentar!

"Jahanam, siapa namamu? Kau telah merayu dan memikat sumoiku? Kau mau menipunya dan berbuat seperti yang lain-lain? Ah, kubunuh kau. Laki-laki tak dapat dipercaya... wut!" dan Wi Hong yang membentak lagi menerjang maju tiba-tiba melepas pukulan namun kali ini dikelit oleh Beng Tan, dibentak dan diserang lagi namun Swi Cu menjerit-jerit disana.

Gadis baju hitam ini meloncat bangun dan mencegah encinya menyerang Beng Tan. Tapi ketika Wi Hong membalik dan menghantam dirinya tiba-tiba Swi Cu mengeluh dan terbanting roboh.

"Pergi kau..., dess!"

Beng Tan mengerutkan kening. Segera pemuda ini menjadi terkejut melihat ketidak wajaran sikap ketua Hek-yan-pang itu.

Wi Hong mendesis-desis padanya dan mata gadis atau wanita itu memancarkan api. Dendam dan kebencian tak dapat disembunyikan disitu, Beng Tan melihatnya jelas. Dan ketika dia berkelit sana-sini sementara Swi Cu berteriak-teriak agar sucinya tak menyerang tiba-tiba Wi Hong membentak dan melepas Ang-in-kang. "Roboh kau!"

Beng Tan menangkap. Tiba-tiba dengan cepat dia menerima pukulan itu, menampar dan menangkis. Dan ketika Wi Hong menjerit dan terlempar roboh, terguling-guling tiba-tiba ketua Hek-yan-pang itu muntah-muntah.

"Keparat, kau bersekongkol dengan pemuda jahanam ini, Swi Cu. Kau tak dapat kubela. Ah, kalian terkutuk. Kubunuh kalian nanti... huak!" dan Wi Hong yang menghentikan kata-katanya terguling roboh tiba-tiba muntah-muntah dan penyakit lamanya kumat, mengeluh dan mengglgit bibir dan tiba-tiba gadis itu menangis. Dan ketika Beng Tan tertegun melihat gadis atau ketua Hek-yan-pang itu mendekap-dekap perutnya maka Swi Cu mengguguk menubruk encinya.

"Tidak.... tidak, enci. Aku boleh kau bunuh tapi dia jangan. Kau salah paham, kau sedang dilanda dendam. Ah, tenanglah, enci. Tenanglah.... plak!" namun sebuah pukulan yang membuat Swi Cu terlempar dan terbanting bergulingan akhirnya membuat Beng Tan tak tahan lagi, marah dan memaki Wi Hong serta cepat menolong kekasihnya. Swi Cu mengguguk dan menangis tak keruan. Dan ketika disana encinya juga menangis namun mendekap perut serta muntah-muntah maka Beng Tan menjadi curiga dan cepat berbisik di telinga Swi Cu,

"Dia agaknya mengalami kelainan. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi di dalam tubuhnya. Coba dekati dan totok dia, Cu-moi. Atau aku akan merobohkannya dan memeriksa!"

"Kau... kau bilang apa?" Swi Cu tak mendengar, menangis tersedu-sedu.

"Kau dekati dia, totok dan robohkan!"

"Tapi..,. tapi..." gadis ini mengguguk. "Suciku marah-marah, Tan-ko. Sebelum aku dekat tentu dia menyerangku!"

"Kalau begitu...." Beng Tan tiba-tiba terkejut, mendengar desing sebuah pedang yang ditimpukkan kebelakang punggungnya. "Aku yang akan melakukannya, Cu-moi. Dan maaf terpaksa dia kurobohkan .... plak!" dan pedang yang ditangkis pemuda ini tanpa menoleh tiba-tiba runtuh terpukul dan Beng Tan berkelebat ke arah Wi Hong, tadi disambit dan dia melihat ketua Hek-yan-pang itu berapi-api padanya.

Wi Hong mendesis dan rupanya mendengar kata-katanya tadi, marah dan menyerang dari belakang. Tapi ketika pedang terpukul ke tanah dan Wi Hong kecewa tiba-tiba pemuda itu telah berkelebat dan menotoknya roboh.

"Maaf, kau mengalami gangguan, pang-cu. Robohlah dan jangan menyerang!"

Wi Hong tak dapat mengelak. Diserang Bhok-kongcu saja dia tak dapat menghindar, apalagi pemuda yang jauh lebih lihai ini. Maka begitu dia mengeluh dan roboh tertotok maka Beng Tan telah menyambar tubuhnya memeriksa denyut nadi.

"Kau... jahanam!" Wi Hong gemetar. "Terkutuk kau, pemuda setan. Keparat kau!"

"Tenanglah," Beng Tan tak perduli, sudah menghitung detak jantung. "Kau terguncang oleh sesuatu yang sangat, pangcu. Agaknya oleh Golok Maut. Hm, nadimu cepat sekali. Dan.... he!"

Beng Tan tertegun, pucat dan berobah mukanya dan tiba-tiba saat itu lagi-lagi Wi Hong muntah. Tanpa dapat dicegah baju pemuda ini kena semprot, Beng Tan agaknya tak berniat untuk mengelak pula. Dan ketika pemuda itu terkejut dan mundur melepaskan tangan lawannya maka Swi Cu terisak berkelebat menghampiri.

"Apa yang kau rasa, Tan-ko? Berbahaya?"

"Tidak, dia... dia..." Beng Tan gugup, muka tiba-tiba merah dan Swi Cu membelalakkan mata.

Gadis ini heran kenapa Beng Tan tidak meneruskan kata-katanya. Dan ketika disana Wi Hong mendesis dan memaki pemuda itu maka Swi Cu berlutut dan memeluk encinya, menangis. "Suci, dia... dia Beng Tan. Dialah yang menyelamatkan aku dan seluruh murid kita dari amukan Golok Maut. Beng Tan mencintaiku, dan akupun mencintainya. Maaf, aku tak sempat memberitahumu karena kau pergi, suci. Tapi sekarang kuberi tahu dan harap kau tidak marah."

"Kau pun jahanam!" Wi Hong membentak, mengejutkan sumoinya. "Perkumpulan kita tak boleh didekati lelaki, Swi Cu. Tapi kau melanggar, keparat!"

"Ah," Swi Cu tersentak, mundur membelalakkan mata. "Kaupun melanggar, suci. Kaupun mencintai Golok Maut dan mencari-carinya! Kau... kau..."

"Diam!" sang suci marah. "Golok Maut adalah musuhku, Swi Cu. Dia musuh kita semua. Aku.... aku benci padanya!" dan Wi Hong yang menangis dan mengguguk tak dapat menahan diri akhirnya dipeluk dan membiarkan mukanya terbenam di dada sang sumoi, tak tahu saat itu Beng Tan merah terbelalak memandangnya, mau bicara tapi ragu, seolah ada sesuatu yang mengganggu, berat dikatakan. Tapi ketika dia batuk-batuk dan Swi Cu teringat, menoleh, tiba-tiba gadis itu berkelebat menyambar lengannya.

"Tan-ko, apa yang terjadi? Ada apa dengan suciku? Kau tampak bingung, mau bicara tapi tak jadi!"

"Benar, aku... hm... hm!" Beng Tan merah dan gugup. "Ada sesuatu yang hampir tak kupercaya, Swi Cu. Sucimu itu... sucimu itu..."

"Kenapa? Ada apa dengan dia?"

"Aku... aku takut mengatakan. Jangan-jangan kau marah!"

"Ah, gila. Kita sudah bukan orang lain, Tan-ko. Katakan dan tak mungkin aku marah!"

"Dia.... dia..." Beng Tan masih ragu. "Ah, sebaiknya bawa dia ke bidan, Cu-moi. Periksakan saja disana."

"Apa?" Swi Cu terkejut, bagai disengat listrik. "Bidan? Maksudmu...?"

"Benar, dia hamil, Cu-moi. Sucimu itu hamil tapi barangkali bisa juga aku salah periksa!"

"Astaga!" Swi Cu mencelat, kaget bagai disambar petir. "Kau...kau jangan main-main, Tan-ko. Ini masalah besar dan bisa berupa penghinaan!"

"Maaf, kalau begitu biar kau tanya sucimu itu, Cu-moi. Aku pergi dulu dan kalian bicaralah!" Beng Tan berkelebat, akhirnya meninggalkan Swi Cu dan tertegunlah Swi Cu disitu.

Gadis ini merah padam dan kalau bukan Beng Tan yang bicara tentu dia sudah mengamuk dan menerjang. Bayangkan, sucinya, yang masih gadis dan selama ini diketahuinya sebagai perawan ting-ting tiba-tiba saja dikatakan hamil! Swi Cu pucat dan dia berdiri sampai mendelik. Tapi ketika Beng Tan menyuruhnya bicara dan itu memang betul akhirnya gadis ini membalik dan menyambar encinya itu, yang masih menangis.

"Suci..." gadis ini gemetar. "Bolehkah kutahu apa yang terjadi diantara dirimu dengan si Golok Maut itu? Kenapa dia marah-marah dan mengamuk di markas? Apa yang terjadi?"

"Dia... dia ..." Wi Hong mengguguk, sakit hatinya. "Dia menghina aku, Cu-moi. Dia... dia manusia jahanam!"

"Dia mengganggumu? Dia memperkosamu?"

"Apa?" Wi Hong tersentak, berjengit kaget.

"Maaf," Swi Cu merah padam, menahan diri. "Kau dinyatakan hamil, suci. Beng Tan memeriksa denyut nadimu dan kau katanya hamil!"

Wi Hong menjerit. Gadis baju merah ini tiba-tiba roboh dan mengeluh panjang pendek, suaranya tak jelas tapi tiba-tiba dia mengguguk, tersedu-sedu. Dan ketika Swi Cu terkejut dan tentu saja terkesiap maka gadis ini melihat sucinya memukul-mukul kepala sendiri.

"Oh, jahanam keparat. Kau bunuhlah aku, Swi Cu. Kau bunuhlah aku dan cari pemuda terkutuk itu. Golok Maut menghinaku. Dia... dia...!" dan Wi Hong yang melengking menjerit tinggi tiba-tiba roboh pingsan.

"Celaka!" Swi Cu jadi bingung. "Kenapa begini jadinya, suci? He, tolong aku, Tan-ko. Suci pingsan lagi!"

Beng Tan muncul. Pemuda ini berkelebat bagai siluman dan tahu-tahu sudah ada disitu lagi. Beng Tan sebenarnya tak enak mencampuri urusan ini dan bicara tentang itu. Tapi karena Wi Hong dilihatnya pingsan dan Swi Cu tak berhasil menolong encinya maka pemuda ini berlutut dan menotok serta mengeluarkan sebutir pil hijau. "Kau serahkan ini padanya, sebentar lagi tentu siuman."

Beng Tan berkelebat mundur lagi. Pemuda ini menghilang karena sungguh tak enak bicara seperti itu. Ketua Hek-yan-pang hamil, padahal jelas dia masih perawan dan suci seperti Swi Cu sendiri, begitu juga seperti halnya murid-murid wanita Hek-yan-pang yang lain. Dan ketika Wi Hong sadar dan benar saja gadis atau wanita baju merah itu siuman dan tertegun melihat sumoinya menangis maka Swi Cu menyerahkan obat pemberian Beng Tan kepada sucinya.

"Kau minum ini, dan ceritakan apa yang terjadi!"

"Tidak!" Wi Hong tiba-tiba melompat bangun. "Aku akan mencari Golok Maut, Swi Cu. Dan sementara ini kau pimpin tampuk pimpman partai!"

"Kau mau kemana?" sang sumoi terbelalak, pucat. "Golok Maut pun sedang kami cari, suci. Daripada sendiri-sendiri lebih baik bersama. Aku..."

"Tidak!" Wi Hong membentak, muka beringas. "Aku ingin mencarinya dan mengadu jiwa, Swi Cu. Aku... aku... dia menghina aku!" dan Wi Hong yang menangis berkelebat pergi tiba-tiba terhuyung dan jatuh terjerembab, kiranya belum kuat dan kemarahannya itu membutuhkan energi berlebih.

Gadis ini tersungkur dan Swi Cu pun menjerit. Dan ketika gadis itu memeluk sucinya dan menangis tak keruan maka Beng Tan, yang bersembunyi dan mengintai dari jauh menyusupkan suaranya lewat telinga kekasihnya itu,

"Cu-moi, berikan obat itu kepada sucimu. Obat itu berguna untuk memulihkan tenaga. Bujuklah, dan biarkan ia pergi!"

Swi Cu tersedu-sedu. Teringat obat yang ditampar sucinya cepat dia mengambil lagi, membujuk dan berkata pada sucinya bahwa obat itu untuk pemulih tenaga, seperti yang dikata Beng Tan. Dan ketika Wi Hong terbelalak dan tertegun, menoleh kiri kanan maka dia bertanya di mana Beng Tan, pemuda baju putih itu.

"Dia... dia pergi. Tak mau mencampuri urusan kita."

"Hm!" Wi Hong menyambar, menelan obat pemberian itu. "Baiklah, Cu-moi. Terima kasih. Tapi aku tak mau bersama siapa pun karena aku ingin sendiri.... wut!" dan Wi Hong yang melompat dan tidak terhuyung lagi ternyata sudah pulih tenaganya dan diteriaki sang sumoi, yang menjerit dan menyusul sucinya tapi Wi Hong membalik. Dengan bengis dan ganas wanita ini tiba-tiba menyambitkan tujuh jarum merah ke arah sumoinya itu, yang tentu saja terkejut dan berhenti menangkis, mendapat seruan agar tidak mengejar dan patuh pada perintah ketua. Dan ketika Swi Cu tertegun dan menangis tersedu-sedu maka Wi Hong lenyap dan lemaslah gadis ini mengguguk di tanah.

"Suci, kau... kau gila. Kau tak waras. Ah, kau menempuh bahaya!"

"Biarlah!" Wi Hong menjawab dari jauh.

"Dendam sakit hati ini tak dapat kubiarkan berlarut-larut, Swi Cu. Dia atau aku yang mati!"

Swi Cu mengguguk. Kalau sang suci yang sekaligus juga sebagai sang ketua sudah memerintahkan begitu maka dia tak dapat berbuat apa-apa. Sucinya tadi sungguh-sungguh bermaksud membunuh dia dengan sambitan jarum-jarum merahnya itu. Kalau tak cepat dia mengelak atau menangkis runtuh tentu dia sudah terkapar. Ah, sucinya sekarang bengis! Namun ketika gadis ini mengguguk dan tersedu di tanah tiba-tiba bayangan Beng Tan muncul, berkelebat.

"Cu-moi, sucimu betul. Dia tak mungkin mau ditemani siapapun. Bersiaplah, kita juga berangkat dan mencari Golok Maut!"

"Tapi... tapi..." Swi Cu mengguguk. "Suciku menempuh bahaya sendirian, koko. Dan dia tak mengaku apakah Golok Maut memperkosanya!"

"Kita dapat tanyakan itu, kita selidiki Si Golok Maut. Sudahlah, kau bangun berdiri dan kita pergi!" Beng Tan menarik tangan kekasihnya, kening berkerut kerut dan tiba-tiba kebencian membakar dadanya. Dia menganggap Golok Maut mengganggu ketua Hek yan-pang itu, suci kekasihnya. Dan karena kebencian Wi Hong juga kelihatan besar dan tentu Golok Maut memperkosa gadis baju merah itu maka Beng Tan berkerotok giginya ketika membangunkan Swi Cu.

"Kita pergi, dan kita tangkap Si Golok Maut itu."

"Bisakah?" Swi Cu tersedu. "Kau dan dia sama lihai, koko. Kalian berimbang. Aku khawatir...."

"Tidak, untuk sebuah tugas mulia tak perlu kita ragu, Cu-moi. Membekuk dan menangkap Si Golok Maut itu sudah berubah sifatnya bagiku. Bukan lagi sekedar menasihati seorang sesat melainkan harus membekuk dan kalau perlu membunuhnya agar dia tak memperkosa wanita-wanita lain lagi."

Swi Cu mengangguk. Memang dia pun menganggap begitu. Golok Maut dianggap memperkosa sucinya dan hal itu sungguh membakar hati. Mentang-mentang lihai lalu main perkosa segala. Ah, Golok Maut ternyata tak hanya membunuh-bunuhi musuhnya saja tapi sudah bertindak terlalu jauh dengan menghina dan memperkosa wanita. Sucinya sudah menjadi korban. Dan ketika Swi Cu bangkit berdiri dan mengigit bibir maka dia siap melanjutkan perjalanan namun anehnya kekasihnya tiba-tiba membalik.

"Kita ke kota raja sebentar, melapor atasanku."

"Apa?" Swi Cu tertegun. "Ke kota raja?"

"Ya, sementara ini aku harus pulang, Cu-moi, melapor pada atasanku karena sudah waktunya. Aku sudah ditunggu-tunggu."

"Tapi suciku, Dan Golok Maut?"

"Dapat disusul, Cu-moi. Sudahlah kau percaya padaku atau kita berpisah sementara waktu!"

"Tidak. Aku tak mau kau tinggal lagi, koko. Kalau kau mau ke kota raja aku pun ikut!"

"Hm, baik kalau begitu. Kau tak membantah lagi?"

Swi Cu terisak. Tiba-tiba. dia memeluk dan menyusupkan kepalanya ke dada kekasihnya itu. Setelah bertemu dan bertempur dengan si Hidung Belang Bhok-kongcu tadi tiba-tiba Swi Cu ngeri untuk sendirian. Ah, di dunia ini penuh dengan orang-orang jahat dan curang, juga keji dan kejam seperti Bhok-kongcu itu, yang hampir merobohkannya dengan kecurangan tak tahu malu. Dan teringat betapa orang she Bhok itu memandangnya dengan mata berminyak dan nafsu yang kotor jelas terpancar dimata pemuda itu, tiba-tiba Swi Cu menjadi ngeri meskipun bukan berarti gentar.

"Aku... aku tak membantah lagi. Kau benar, dunia ini penuh dengan laki-laki busuk!"

"Hm, karena itu turut nasihatku, moi-moi. Jangan bawa adat sendiri seperti biasanya. Ayolah, kita ke kota raja sebentar dan setelah itu mencari Si Golok Maut!"

Swi Cu mengangguk. Memang dalam perjalanan yang lalu terjadi sedikit perselisihan diantara mereka. Beng Tan waktu itu hendak menemui seseorang tapi ia tak mau ikut, bersitegang sedikit dan akhirnya berpisah. Mereka menentukan akan bertemu di kota Ih-peh tapi ternyata Beng Tan belum datang, dianggap tak menepati janji dan Swi Cu marah, meneruskan perjalanan sendirian dan akhirnya bertemu Bhok-kongcu itu, yang kebetulan juga hendak mengganggu sucinya. Dan ketika orang she Bhok itu hampir mencelakainya namun Beng Tan keburu datang, menolong dan menyelamatkannya maka Swi Cu tak berani bertengkar lagi ketika kekasihnya hendak mengajak ke kota raja.

"Aku menurut, dan kau jangan tinggalkan aku."

"Ah, bukan aku yang meninggalkanmu, Cu-moi. Tapi kadang-kadang kau tak mau mengerti urusan orang lain dan membawa adat sendiri."

"Sudahlah, maafkan aku, koko. Aku sekarang menurut dan patuh padamu!"

Beng Tan tersenyum. Tentu saja dia tak akan marah kalau kekasih sudah menyerah begini. Swi Cu sekarang dapat mengerti tugasnya dan mau memahami. Maka begitu Swi Cu terisak dan menyembunyikan muka di dadanya tiba-tiba Beng Tan mengangkat dan menahan dagu itu. Lalu ketika kekasihnya terbelalak dan bertanya mau apa mendadak pemuda ini menundukkan mukanya mencium bibir yang lembut memikat itu.

"Aku mau menciummu. Ha-ha, jangan marah dan terimalah!"

"Iih!" Swi Cu terkejut, tersentak namun tak mengelak. "Kau nakal, koko. Kau... ah, sudahlah. Aku masih teringat akan nasib suciku!"

Dan Beng Tan yang menarik napas melepas bibirnya lalu mengangguk dan tak dapat bersenang-senang dulu, diganggu urusan ini dan diapun mengangguk. Memang, teringat keadaan Wi Hong tiba-tiba dia menjadi tak enak. Mereka bersenang-senang sementara orang lain menderita. Maka ketika dia mengangguk dan mengajak kekasihnya pergi akhirnya Beng Tan berkelebat dan terbang ke kota raja, menggandeng lengan kekasihnya.

Namun apa yang terjadi? Kota raja berkabung! Beng Tan, yang pagi itu juga tiba disana ternyata melihat bendera berkibar setengah tiang. Semua wajah di ibu kota muram dan sedih. Wajah semua orang menunjukkan rasa takut yang hebat tapi juga marah. Dan ketika Beng Tan menyelidiki dan bertanya sana-sini ternyata Ci-ongya, adik kaisar, terbunuh. Tewas di tangan Si Golok Maut!

"Kau terlalu!" begitu atasan pemuda ini menegur dan langsung marah-marah. "Sudah kubilang agar tidak lama-lama meninggalkan istana, Beng Tan. Tapi kau melanggar dan tidak datang-datang. Semalam Golok Maut mengamuk, membunuh-bunuhi tigaratus siwi dan busu pengawal istana dan adikku Ci-ongya tewas! Apa yang hendak kau katakan dan jawab disini? Dan siapa gadis ini?"

Swi Cu, yang menggigil dan berlutut didepan orang yang marah-marah ini hampir tak berani mengangkat mukanya. Ternyata atasan kekasihnya itu adalah kaisar sendiri, sri baginda yang menyambut kedatangan mereka dengan muka merah padam. Dan ketika Beng Tan juga berlutut dan menggigil di depan kaisar maka pemuda ini terguncang dan terkejut, sejenak tak dapat berkata-kata.

"Maaf, hamba,... hamba salah, sri bag inda. Hamba menemui banyak persoalan ditengah jalan dan telah bertempur pula dengan Si Golok Maut itu, bahkan mengadu jiwa!"

"Tapi dia kemari. Semua orang tak ada yang sanggup menandinginya dan tiga ratus pengawal tewas, terakhir adikku. Heh, apa yang hendak kau katakan lagi, Beng Tan? Dan siapa gadis disampingmu ini? Kau rupanya bersenang-senang, mabok dan melupakan tugas! Ah, sialan wanita ini dan gara-gara keteledoranmu maka adikku binasa!"

Beng Tan pucat. Kalau kaisar sudah marah-marah seperti itu tak ada siapa pun yang berani mengeluarkan suara. Swi Cu sampai gemetar namun kekasihnya memegang lengannya erat-erat. Beng Tan berbisik tak boleh dia tersinggung atau marah disitu. Kaisar adalah kuasa dan dia adalah segala-galanya. Dan ketika geraman maupun kutukan juga mengenai Swi Cu yang tak tahu apa-apa akhirnya sri baginda menggebrak meja.

"Nah, katakan laporanmu dan siapa siluman betina ini!"

Swi Cu menggigit bibir kuat-kuat. Kalau Beng Tan tidak mencengkeram lengannya sedemikian kuat dan dia mampu melepaskan diri tentu dia sudah berteriak dan memaki kaisar itu. Betapapun dia tak terima. Enak saja disebut siluman betina, seolah dia iblis! Namun karena Beng Tan mencengkeramnya dan pemuda itu berbisik agar dia menelan segala kata-kata kaisar maka Beng Tan berlutut melipat tubuhnya.

"Maaf, dia Swi Cu, sri baginda. Wakil ketua Hek-yan-pang, calon isteri hamba!"

Sri baginda terkejut. "Calon isterimu? Hu-pangcu dari Hek-yan-pang?"

"Benar, dan maaf, sri baginda. Kekasih hamba ini tak tahu apa-apa dan justeru ia pun telah diserang dan hampir dibunuh Si Golok Maut!"

"Hm, ceritakan pengalamanmu... ceritakan pengalamanmu...!"

Dan sri baginda yang tampak menahan diri dan kelepasan omong lalu sedikit lunak dan minta agar Beng Tan menceritakan perjalanannya, mendengar dan Beng Tan segera bercerita apa yang terjadi. Semua yang dialami bersama Swi Cu diceritakan, kecuali tentu saja pertemuannya dengan Wi Hong, cerita yang rupanya tak perlu didengar orang lain apalagi Wi Hong dalam keadaan hamil, cerita yang hanya akan memancing pertanyaan orang lain belaka dan justeru dapat memalukan diri sendiri. Dan ketika semua itu sudah diceritakan dan sri baginda mengangguk-angguk maka Beng Tan ganti bertanya,

"Maaf, sekarang bagaimana dengan paduka sendiri. Kapan Si Golok Maut itu datang dan bagaimana sampai membunuh Ci-ongya?"

"Hm, kau tanya Kun-taijin (menteri Kun), Beng Tan. Sekarang aku ingin beristirahat dan biarlah kalian berdua bicara," kaisar memutar tubuh tampak mengerotkan gigi dan menteri Kun memberi isyarat mata padanya.

Sri baginda telah menyuruh menterinya itu bercerita, jadi tak mau bercerita sendiri dan Beng Tan tentu saja tak dapat memaksa. Dalam keadaan biasa tentu sri baginda tak akan bersikap seperti itu kepadanya. Namun karena istana lagi berkabung dan kematian Ci-ongya memang menggegerkan semua orang maka Beng Tan mengangguk pada menteri itu dan duduklah keduanya di ruang sebelah, diikuti Swi Cu.

* * * * * * *

Semalam, para pengawal dan istana tak merasakan datangnya badai yang tiba-tiba mengamuk itu. Semua pengawal dan isi istana biasa-biasa saja, bahkan rakyat masih bergembira diluar sana, bertandang dan masuk keluar toko untuk membeli keperluan barang-barang seperti biasa, untuk esok harinya. Namun ketika malam tiba-tiba mendung dan bulan serta bintang mulai menyembunyikan diri mendadak suasana riang-ria diluar agak berobah.

Orang yang hilir-mudik kembali kerumah masing-masing. Angin malam bertiup dingin dan hujan akan datang. Dan ketika benar saja pada kentongan kesepuluh hujan mengguyur ibu kota maka penduduk mulai membuka selimut untuk menutupi tubuh sendiri.

"Ah, dingin. Hujan sialan. Lebih baik kita berjaga di dalam gardu dan main kartu!" pengawal di istana menggerutu.

Mereka agak terganggu dengan datangnya hujan itu dan bagi yang bertugas jaga memang agak menjengkelkan. Mereka kedinginan diluar dan terpaksa memakai mantol, melindungi diri. Dan ketika tujuh orang bermain kartu di dalam sementara dua lagi berjaga di sudut kiri dan kanan maka sebuah kereta tiba-tiba berderap memasuki halaman istana.

"He, siapa itu? Aneh sekali, malam-malam hujan begini datang bertandang!" dua pengawal mengerutkan kening, diam menyambut dan kereta itu akhirnya berhenti di pintu gerbang.

Saisnya turun dan pengawal melihat bahwa itu adalah kereta milik Lie-taijin, menteri Lie. Dan ketika sais bicara sejenak dengan penjaga dan berkata bahwa Lie-taijin ingin bertemu Ci-ongya maka penjaga tak curiga namun minta agar Lie-taijin memperlihatkan diri.

"Maaf, aneh bahwa taijin malam-malam datang begini, hujan lagi. Bisakah beliau memberikan surat pengantar atau memperlihatkan diri?"

"Taijin sakit, tak enak badan. Menggigil di dalam dan ingin secepatnya bertemu ongya. Kalau surat pengantar ada, inilah." sais memberikan surat menteri itu, lengkap dengan stempelnya dan penjaga semakin tak curiga lagi. Namun karena dia harus melapor ke dalam dan Ci-ongya harus diberi tahu maka dia menyuruh kereta dimasukkan ke dalam, di samping gedung.

"Ongya kebetulan sedang dilayani selirnya. Baiklah kau tunggu disamping gedung itu dan silahkan taijin masuk!"

Sais mengangguk. Caping lebarnya yang dipakai di atas kepala tak mencurigakan siapapun karena waktu itu hujan, jadi dipakai untuk melindungi kepala dan kereta pun berderap masuk. Dan ketika penjaga melapor pada komandannya dan serempak tujuh orang yang bermain kartu itu menghentikan permainannya maka komandan melompat tergopoh menyuruh anak buahnya menyimpan kartu-kartu itu, berikut uang yang berceceran di lantai. Judi!

"Ah, sialan kau. Kenapa baru bilang sekarang? Cepat simpan semua uang yang berceceran, jangan diketahui Lie-taijin!"

Kiranya di istana pun ada judi. Para pengawal membuang waktunya bukan hanya sekedar bermain kartu tapi juga iseng dengan mempertaruhkan uang, padahal kaisar baru saja mengeluarkan undang-un-dang agar pengawal tidak berjudi, karena dapat mengganggu tugas. Dan ketika semua berlompatan dan uang yang berceceran cepat disembunyikan di balik tikar maka komandan sudah tergopoh-gopoh menyambut tamu.

"Taijin, selamat malam. Biarlah kami la porkan pada ongya dan silahkan paduka menunggu di dalam!"

"Taijin sakit, tak dapat menggerakkan tubuhnya. Biarlah dia di dalam sampai ong-ya datang," si sais berkata, tenang-tenang saja dan komandan jaga tertegun.

"Kenapa begitu? Bukankah kalau sakit harus dibawa ke tabib?" Namun ketika sais berkata bahwa justeru Lie-taijin ingin menghubungi tabib Kwee melalui Ci-ongya maka komandan hilang kecurigaannya dan mengangguk-angguk.

"Taijin tak berani mengganggu Kwee-yok-ong yang merupakan tabib pribadi sri baginda. Datang dan ingin diantar Ci-ongya agar cepat sembuh."

"Oh, begitukah? Baik, kami akan segera memanggil ong-ya," dan komandan yang bergegas sendiri menghadap majikannya lalu menyuruh anak buahnya memberi minuman hangat pada tamu.

Kwee-yok-ong (raja obat Kwee) adalah tabib pribadi kaisar, memang tak sembarangan menemuinya kalau tidak diantar orang-orang yang dekat dengan kaisar. Dan karena Ci-ongya adalah adik tiri kaisar dan tentu saja dapat diantar melalui pangeran itu maka Ci-ongya tertegun ketika mendengar laporan datangnya menteri ini, malam-malam begitu, hujan lagi.

"Sakit apa? Kenapa tak disuruh menemui aku?"

"Maaf, hamba tak tahu sakitnya, ong-ya, tak bertanya. Tapi katanya tak dapat bergerak dan menunggu di dalam kereta."

"Aneh, tadi pagi masih sehat. Bagaimana itu?"

"Hamba tak tahu, penyakit memang dapat mengganggu siapa saja, sewaktu-waktu."

"Ya, seperti kau ini. Yang datang dan mengganggu aku yang sedang bersenang-senang dengan selirku... plak!" Ci-ongya menampar komandan jaga itu, jengkel dan gemas karena dia merasa diganggu. Kalau bukan Lie-taijin yang datang tentu sudah diusirnya tamu itu. Tapi karena Lie taijin adalah sahabatnya dan jelek-jelek adalah pembantu sri baginda kaisar yang cukup pandai maka dia bergegas keluar dan menyuruh selirnya menunggu disitu.

"Bawa dia masuk, biar aku melihatnya!"

"Maaf, kereta ada di samping gedung, ong-ya, bukan diluar. Paduka sudah ditunggu disebelah kiri gedung!"

Ci-ongya mengumpat. Dia tadi bergegas keluar tapi ternyata bukan disana. Kereta sudah berteduh disamping gedung dan benar saja dia melihat kereta itu, milik Lie-taijin. Dan ketika dia menuruni tangga dan berseru memanggil Lie-taijin maka sais yang berdiri membungkuk tiba-tiba maju mendekat.

"Mana majikanmu? Sakit apa? Suruh keluar, biar aku melihatnya!"

Sang sais menggumam aneh. Dia tidak memanggil majikannya melainkan malah menyambar lengan pangeran ini. Dan ketika komandan terkejut karena sikap itu dinilai kurang ajar maka Ci-ongya sendiri terkejut melihat keberanian sekaligus kekurang ajaran sais ini.

"Lie-taijin ada di dalam, mari kau lihat!"

Ci-ongya tersentak. Dia terlalu tergesa dengan menghampiri kereta, tidak melihat baik-baik sais itu. Tapi ketika si sais ber-engkau dan ber-aku begitu enak kepadanya dan tahu-tahu lengannya disambar maka pangeran ini kaget bukan main melihat wajah di balik caping lebar itu.

"Golok Maut...!"

Teriakan atau jeritan pangeran ini mengejutkan pengawal. Sang komandan yang sama sekali tidak menyangka atau menduga tiba-tiba bagai disengat lebah. Komandan ini terkesiap dan kaget bukan main. Dan ketika Ci-ongya terlihat meronta dan memekik melepaskan diri tiba-tiba Golok Maut, sais yang menyamar itu tertawa dingin.

"Benar, aku, ong-ya. Dan sekarang kau mampuslah."

Jerit melengking memecah kesunyian malam. Ci-ongya mencelos dan menarik lepas dirinya, membalik dan lari memasuki gedung. Tapi baru tiga langkah kakinya bergerak menaiki tangga tiba-tiba sinar putih berkelebat dan komandan terbeliak melihat golok yang menyambar cepat sudah menabas putus leher pangeran itu, dalam waktu hanya sepersekian detik.

"Crass!" Kepala Ci-ongya menggelinding. Darah menyemprot bagai pancuran dan tubuh itupun roboh. Ci-ongya hanya sekali memekik dan setelah itupun nyawanya terbang ke neraka. Kejadian berlangsung demikian cepat dan tidak terduga. Dan ketika pengawal berteriak dan sang komandan terjaga tiba-tiba mereka malah melarikan diri dan lintang-pukang.

"Golok Maut.... Golok Maut....!"

"Ci-ongya terbunuh, Golok Maut datang....!"

Keadaan menjadi gempar. Sekilas gebrak yang berlangsung bagai mimpi itu tiba-tiba membuat pengawal ketakutan. Mereka gentar dan pucat setelah melihat bahwa itu adalah Golok Maut, bukan sais Lie-taijin. Dan ketika Golok Maut membalik dan tertawa dingin maka dia berkelebat namun pengawal sudah memukul tanda bahaya.

"Golok Maut datang, Ci-ongya terbunuh!"

Istana menjadi geger. Pekik dan jerit mereka yang ngeri melihat sepak terjang Si Golok Maut sudah tak dapat dikendalikan lagi.

Golok Maut mengerutkan kening melihat pengawal memukul tanda bahaya. Namun ketika dia menggerakkan tangan dan sebuah jarum hitam menancap di dahi pengawal itu maka pengawal yang memukul tanda bahaya ini roboh, tersungkur.

"Keparat, kalian mencari penyakit!"

Sang komandan pucat dan putih mukanya. Dialah yang bertanggung jawab menerima kedatangan Si Golok Maut. Kereta Lie-taijin yang sama sekali tidak mengundang kecurigaan ternyata justeru dipakai Si Golok Maut itu. Golok Maut dengan mudah dan tenang memasuki gedung Ci-ongya, memang tidak menimbulkan kecurigaan dan caping lebar yang biasa dipakainya itu juga kebetulan dilupakan pengawal.

Malam itu hujan, jadi pas sekali kalau seseorang melindungi kepala dengan caping. Dan ketika semuanya sudah terlambat dan Ci-ongya terbunuh, begitu cepat dan tidak terduga maka pengawal berteriak-teriak sementara komandan jaga bingung memikirkan hukuman yang akan diterimanya.

"Panggil Siang-mo-ko. Beritahukan lo-cianpwe Yalucang dan lain-lain!"

Namun Golok Maut berkelebat. Golok Maut mengenal komandan ini sebagai komandan jaga yang menerimanya, bergerak dan tahu-tahu sudah menangkap laki-laki itu. Dan ketika komandan ini berteriak dan meronta serta ketakutan maka Golok Maut bertanya dimana Coa-ongya,

"Aku sudah mencari digedungnya, tapi tidak ketemu. Beritahukan atau kau mampus!"

"Tidak... tidak...!" sang komandan ber-kaok. "Aku tak tahu, Golok Maut. Aku bukan pengawalnya!"

"Tapi kau pengawal istana, pasti tahu. Bertahukan atau kau kubunuh!"

"Oh, tidak. Aku tak tahu!" namun ketika pengawal ini menjerit dan berteriak mengaduh maka Golok Maut menjepit batang lehernya dan menginjak dadanya.

"Kalau begitu kaupun mampus.. ngek!" komandan itu menggeliat lemah, tidak bersuara lagi karena dari tenggoroKannya keluar cairan kental berwarna merah. Golok Maut telah menghancurkan batang tenggorokannya tadi dengan jepitan di leher, patah dan terkulailah komandan jaga itu.

Dan ketika anak buahnya kalang-kabut dan tentu saja berteriak-teriak maka bayangan-bayangan hitam berkelebatan memasuki halaman, bayangan dari para si-wi atau busu, yang berjaga disebelah.

"Apa yang terjadi. Dimana Golok Maut!"

"Itu, disana. Dia... dia telah membunuh Ci-ongja!"

Para siwi dan busu berkelebatan ke arah yang ditunjuk. Mereka melihat bayangan tinggi tegap dengan caping lebar, ciri khas yang dipunyai si Golok Maut. Tapi ketika mereka bergerak dan membentak kesini ternyata Golok Maut Sudan menghilang dan naik ke atas genteng.

"Kejar, dia ke gedung Coa-ongya...!"

Memang betul. Golok Maut ke barat dan gedung Coa-ongya yang dituju. Tadi dia sudah kesana tapi tak ketemu, membuat ribut-ribut ditempat Ci-ongya dulu dan kini semua pengawal berhamburan. Dan ketika mereka melihat Ci-ongya putus kepalanya mandi darah maka semua merinding melihat darah yang membanjir dari luka itu bergelimang membasahi tanah. tangga, bercampur air hujan.

"Dia membunuh Ci-ongya, kejar. Tangkap iblis berdarah dingin itu!"

Golok Maut tak menghiraukan. Sinar putih dan goloknya sudah tak nampak lagi, lenyap dibelakang punggung. Tadi dia sudah membunuh lawan yang dibencinya dan seorang penjaga melihat tokoh bercaping ini menghirup darah di badan golok, menjilat dan memasukkannya lagi dibelakang punggung setelah berkemak-kemik, Dan ketika penjaga atau pengawal itu tertegun membelalakkan mata maka seluruh penjuru istana sudah dipenuhi ratusan si-wi atau busu yang mendengar tanda bahaya.

"Golok Maut datang, dia membunuh Ci-ongya!"

Suasana gempar. Istana yang semula tenang tiba-tiba dibuat hiruk-pikuk oleh kegaduhan ini. Mereka sungguh tak menduga bahwa Golok Maut berani datang lagi, bahkan telah membunuh Ci-ongya. Dan ketika semua mengkirik melihat jenasah Ci-ongya yang tidak berkepala lagi maka wuwungan menjadi penuh orang ketika bayangan Golok maut dituding-tuding.

"Dia di atap, di atas. Kejar...!"

Namun hanya orang-orang tertentu yang berani mengejar. Mereka adalah pemimpin-pemimpin para siwi dan busu itu, tiga-puluh jumlahnya. Dan ketika bayangan Golok Maut tampak meluncur ke gedung Coa-ongya maka mereka membentak, sebagian melepas panah dan tombak.

"Golok Maut, berhenti. Menyerahlah!"

"Benar. Dan serahkan dirimu baik-baik, Golok Maut. Atau kau mampus sia-sia.... wut-singg."

Panah dan tombak menyambar belakang punggung, cepat dan luar biasa namun Golok Maut mendengus. Dan ketika dia menampar dan semua senjata itu ditangkis tanpa menoleh maka tombak atau panah runtuh ke tanah dan patah-patah...