GOLOK MAUT
JILID 20
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
CI-ONGYA rerkejut. Dia tiba-tiba melihat puteranya yang jauh berubah ini, kejam lagi ganas. Tapi karena puteranya sudah menunjukkan kepandaian yang tinggi dan tak baik untuk ribut-ribut di situ maka pangeran ini melangkah lebar menyuruh pelayan atau pembantu wanita mengeluarkan makan minum. Ci Fang telah meminta untuk dilayani yang enak-enak, segala makanan dan minuman dikeluarkan di situ. Dan ketika dua orang itu makan minum dan sang ayah menonton dari jauh maka hari-hari berikut dilalui puteranya ini dengan kekasihnya yang cantik.

Ci-ongya heran. Sebenarnya dia marah oleh sikap puteranya yang kini kurang ajar, tak menghargai orang tua. Tapi karena gadis di sebelah puteranya itu amat lihai dan jelas menguasai puteranya, terlihat dari gerak-gerik dan sikap puteranya maka pangeran ini menahan diri untuk marah-marah.

Dia ingin memberi tahu kakaknya tapi ditahan. Ancaman atau kata-kata puteranya bahwa Eng Hwa tak ingin dikenal di situ membuat pangeran ini bingung. Ada apa dengan itu? Kenapa puteranya akan membunuhnya kalau dia melapor? Ah, sebagai orang tua dia menaruh curiga. Pasti ada apa-apa yang tak beres. Dan ketika pangeran ini maju mundur untuk menemui kakaknya mendadak suatu malam puteranya itu datang ke kamarnya.

"Aku ingin bicara sebentar, mengetahui sedikit keterangan."

"Hm, apa yang ingin kau ketahui?" sang ayah terbelalak, memandang tajam. "Kau akhir-akhir ini aneh, Ci Fang. Sepak terjang dan tindak-tandukmu luar biasa!"

"Ha-ha, ayah boleh bicara apa saja, tapi aku ingin mengetahui tentang sesuatu hal. Dapatkah ayah bersikap jujur?"

"Apa yang ingin kau ketahui?"

"Tentang Golok Maut, rahasia ayah dengannya!"

"Ci Fang...!" sang ayah terpekik, berseru tertahan. "Kau ada apa bertanya-tanya tentang ini? Bukankah kau sudah tahu bahwa Golok Maut adalah manusia keparat yang ingin membunuh ayahmu?"

"Justeru itulah," sang anak tersenyum, menarik sebuah kursi dan duduk. "Aku mendengar bahwa ada sebab-sebab tersembunyi yang membuat Golok Maut benci padamu, ayah. Begitu pula terhadap paman Coa. Kudengar kau dan paman pernah bersekongkol untuk mempermainkan Golok Maut dan encinya, belasan tahun yang lalu!"

"Dari mana kau tahu?" sang ayah kaget, tersentak meloncat bangun. "Kau... kau.... dari mana kau tahu ini, Fang-ji? Siapa yang memberitahumu?"

"Ha-ha, siapa yang memberitahuku tak usah kau tahu, ayah. Tapi kelanjutan cerita ini ingin kuketahui!"

Ci-ongya gemetar, menggigil. "Ci Fang ... kau... kau sekarang aneh. Luar biasa dan mengejutkan. Hm, tentu ini semua berkat pergaulanmu dengan kekasihmu itu. Siapa sebenarnya dia, Ci Fang? Tidak bolehkah ayahmu sendiri tahu?"

"Hm, ayah tahu juga tak ada gunanya. Dia gadis hebat, calon menantumu sendiri. Kalau kau masih bertanya lagi maka aneh rasanya bagaimana aku harus menjawab!"

"Bukan... bukan begitu. Maksudku siapakah dia itu dan apakah kawan atau lawan!"

"Ah, ayah aneh. Kalau lawan bukankah aku tak bakal membawanya ke sini? Dan ilmu silat yang kudapat justeru dari dia, ayah. Eng Hwa adalah kawan bukan lawan!"

"Tapi aku curiga, dia bukan gadis baik-baik....ngek!" Ci- ongya menghentikan kata-katanya, dicekik sang anak dan Ci Fang marah mendengar kata-kata ayahnya tadi. Dan ketika sang ayah terkejut dan melotot tak dapat bernapas maka pemuda ini mendorong dan melempar ayahnya ke kursi panjang.

"Ayah harap menahan mulut, atau aku akan membunuhmu!"

"Beb... beb... bedebah!" sang ayah berteriak mengepal tinju. "Kau... kau anak durhaka, Ci Fang. Kau bocah keparat!"

"Hm, kau masih ingin memaki-makiku lagi? Kau ingin membuktikan ancamanku?"

Ci-ongya menggigil. Dia pucat melihat Ci Fang tiba-tiba mencabut pisau, tajam dan mengkilat dan kini pisau itu dilekatkannya di leher. Sekali usap tentu lehernya terkuak. Ah, ngeri pangeran ini! Dan ketika dia tergagap-gagap mengeluarkan keringat dingin dan mendorong pisau itu, yang seakan sudah membeset kulit lehernya maka laki-laki tua ini gemetar,

"Ci Fang, jangan... jangan lakukan itu. Durhaka! Seorang anak tak boleh membunuh ayahnya sendiri! Ah, simpan pisau itu. Fang Fang. Jangan takut-takuti ayahmu dengan senjata tajam!"

"Hm, aku memang tak akan membunuhmu. Tapi kuminta kau bicara jujur!"

"Bab... baik! Ap... apa yang ingin kau tanyakan? Tentang Golok Maut itu?"

"Benar, permusuhanmu dengannya, ayah. Dan kenapa dia mengejar-ngejar kau!"

"Ini... ini gara-gara pamanmu. Dia yang bersalah!"

"Hm, bagaimana itu? Kau dapat menjelaskan?"

"Aku... aku dapat menjelaskan. Fang Fang. Tapi ceritakan dulu untuk apa kau ingin mengetahiui semuanya ini!"

"Aku ingin bukti, sedang mencari data!"

"Untuk siapa?"

"Untuk diriku sendiri."

"Ah, aku tak percaya. Fang Fang. Kau pasti disuruh kekasihmu itu!"

"Srat!" pisau itu tiba-tiba muncul kembali. "Aku tak ingin kau mencurigai Eng Hwa berlebih-lebihan, ayah. Kalau kau tak turut kata-kataku maka sekali lagi kau kubunuh!"

Ci-ongya pucat. Puteranya ini tiba-tiba seperti iblis, tak kenal ampun dan kejam, bahkan terhadap orang tua sendiri! Dan ketika dia mengangguk dan gemetar bercerita, seperti apa yang sudah didengar pemuda itu dari kekasihnya maka Fang Fang tertawa mengangguk-angguk.

"Cocok, kalau begitu cocok. Terima kasih!" dan Fang Fang yang ngeloyor pergi menutup pintu kamar ayahnya akhirnya membuat pangeran ini tertegun, melotot namun menahan diri dan keesokannya dia terhenyak.

Eng Hwa, gadis yang amat lihai itu mendadak mengetuk pintu kamarnya pula, masuk dan tiba-tiba duduk tanpa permisi. Dan ketika pangeran ini tersentak dan kaget maka gadis atau wanita itu menyilangkan kakinya, hal yang membuat Ci-ongya tersirap karena sepasang paha yang gempal terpampang sekilas, gempal dan putih, mulus!

"Ongya, maafkan aku. Semalam agaknya Ci Fang ke sini. Benarkah?"

"Kau... kau..." sang pangeran terkejut, masih tersentak oleh paha yang mulus putih itu. "Kau ada apa datang ke sini? Mau apa?"

"Hm," gadis itu menarik napas, bersinar-sinar. "Aku hanya ingin tanya tentang maksud kedatangan Ci Fang, ongya. Apakah benar bertanya tentang permusuhanmu dengan Si Golok Maut."

"Benar, dan kau..." pangeran ini menelan ludah, berdebur karena lagi-lagi Eng Hwa menyilangkan kakinya, tanpa malu-malu, mengangkang begitu saja! "Kau ada apa bertanya tentang ini, nona? Apa hubungannya dengan kita?"

"Hi-hik, hubungannya banyak, ongya. Antara lain demi menjaga keselamatan-mu. Dua tiga minggu ini Golok Maut akan datang, dan aku akan menangkapnya lewat kakakmu!"

"Maksudmu?"

"Hm, aku sudah tahu sebab-sebab permusuhan Golok Maut dengan dirimu dan kakakmu, ongya. Bahwa kalian berdua pernah menipu dan menyakiti Si Golok Maut itu. Kakakmu ingin menguasai Golok Penghisap Darah dan ilmunya, menangkap dan menawan Si Golok Maut. Tapi karena pemuda itu dapat lolos dan melarikan diri maka sekarang kalian berdua diancam pembalasannya yang mengerikan!"

"Kau tahu?" sang pangeran kaget.

"Tenang, aku tahu semuanya, ongya. Dan tak perlu terkejut karena perbuatan kalian sudah bukan rahasia lagi bagiku. Aku akan menolong kalian, tapi kalian juga harus menolongku!"

Ci-ongya tertegun. Pangeran ini pucat memandang lawan, terbelalak dan heran serta kaget. Tapi ketika gadis itu kembali menyilangkan kaki dan untuk ini pangeran itu berdesir maka Eng Hwa alias Siluman Kucing Mao-siao Mo-li tertawa berkata,

"Aku bukan musuh, aku kawan. Asal ongya percaya kepadaku dan mau menolong diriku pula maka aku dapat menolong kalian berdua untuk menangkap dan membunuh Si Golok Maut itu!"

"Apa yang dapat kulakukan?" Ci-ongya mulai kacau, tak keruan oleh kilatan-kilatan paha mulus itu. "Kau mau apa, nona? Kau minta aku menolongmu bagaimana?"

"Aku ingin kau mengambilkan catatan-catatan kakakmu tentang ilmu silat Ciam-to-hoat (Silat Golok Maut)!"

"Apa?" sang pangeran terlonjak. "Giam-to-hoat? Kau... kau ngaco?"

"Hm, tak perlu berpura-pura. Kakakmu mempelajari rahasia ilmu itu namun gagal, ongya. Aku tahu bahwa kakakmu ingin menjadi orang yang terhebat di luar dan di dalam istana. Tapi sayang dia belum berhasil!"

"Eng Hwa...."

Siluman Kucing tertawa. Sekarang dia bangkit berdiri dan tiba-tiba menghampiri pintu, siap keluar. Lenggangnya diayun naik turun dan bergerak-geraklah sepasang pinggul yang bulat membusung itu. Pinggul atau pantat Siluman Kucing ini memang hebat, kalau diayun-ayun maka jakun lelaki pun bisa naik turun, seolah terbawa oleh gerak yang merangsang itu, gerak menggairahkan. Dan ketika wanita ini berkata bahwa dia akan keluar kalau sang pangeran tak sanggup membantu tiba-tiba Ci-ongya melompat dan memegang lengannya.

"Tunggu, nanti dulu...!" Ci-ongya ber-seru, sudah terpikat dan terpengaruh oleh pinggul yang menari-nari itu, nafsunya naik ke kepala. "Aku... aku dapat menolong, nona. Tapi... tapi apa balasanmu kalau aku memberikan apa yang kau minta!"

"Hi-hik, apa yang ongya inginkan? Ongya mau apa?"

Sang pangeran tak tahan. Sebagai laki-laki berpengalaman tentu saja dia tahu bahwa ada maksud-maksud tersembunyi di hati gadis ini. Ada semacam keinginan panas yang membuat dia terbakar. Cadis atau wanita ini berkali-kali menyilangkan kaki, tanpa malu-malu. Sebuah tanda bagi dia bahwa wanita ini sebenarnya gampangan. Dia diajak secara halus untuk berdua, dirangsang dan tentu saja birahinya timbul. Dan karena dia bukanlah laki-laki bodoh dan ajakan atau keinginan gadis itu segera ditangkap maka begitu Eng Hwa mau keluar dan menutup pintu kamar mendadak pangeran ini sudah menyambar dan menangkap lengan orang.

"Kau tak boleh pergi, jangan buru-buru pergi. Di sinilah dulu dan kita bercakap-cakap!"

"Hi-hik, ongya mau menolongku?"

"Ah, asal kau memberikan apa yang kusenangi pasti aku dapat menolongmu, Eng Hwa. Dan terus terang saja bahwa kau sengaja menggodaku! Ya atau tidak?" Ci-ongya meremas jari-jari yang lembut itu, tiba-tiba dikecup keningnya dan tersentaklah pangeran ini oleh kejut dan girang. Dia sudah menduga tapi tak secepat itu disangkanya. Dan ketika Eng Hwa terkekeh dan roboh ke pelukannya, mencium dan mengecup bibirnya maka pangeran ini serasa terbang ke sorga.

"Hi-hik, aku tahu keinginanmu, ongya. Bahwa kau ingin menikmati tubuhku dan berdua. Aku mau, tapi kau harus membawa dulu kitab catatan itu!"

"Aku... aku...!" Ci-ongya terbakar, memeluk dan menciumi tubuh menggairahkan itu, meremas-remas. "Aku sanggup menolong, Eng Hwa. Aku janji! Tapi jangan setelah kitab catatan itu kuberikan. Aku ingin sekarang... sekarang!"

"Hi-hik, kalau sekarang tak boleh semuanya, ongya. Kalau kitab belum kau berikan maka kau hanja boleh menciumku saja. Yang lain, nanti dulu!" Eng Hwa tertawa genit, membiarkan lawan menciuminya sesuka hati tapi tiba-tiba dia mendorong ketika Ci-ongya hendak melepas bajunya. Calon ayah mertuanya ini sudah memburu dan merah padam, terbakar oleh nafsu tapi secara cerdik dia memotong di tengah jalan, sikap yang menjadikan pria penasaran karena rasa nikmatnya diputus, sebelum mencapai puncak! Dan ketika pangeran itu mendengus dan gemetaran mau menubruknya lagi maka Siluman Kucing ini berseru, tawanya penuh daya pikat,

"Cukup... cukup, ongya. Aku telah memberikan porsekot! Untuk selanjutnya kau boleh meminta yang lebih tapi berikan kitab catatan itu!"

Ci-ongya gemetar. "Eng Hwa," katanya menggigil. "Untuk apa sebenarnya kitab catatan itu? Kau mau mempelajari Giam-to-hoat?"

"Benar," Eng Hwa mengangguk. "Tapi bukan semuanya, ongya. Karena maksud hatiku adalah ingin menemukan kelemahan-kelemahan Si Golok Maut itu. Kalau aku tahu ilmunya dan menemukan kelemahan-kelemahan Giam-to-hoat tentu Si Golok Maut semakin mudah kurobohkan!"

"Tapi kau senjatanya dapat mengalahkan si jahanam itu!"

"Benar, tapi juga tidak mudah, ongya. Lain kalau aku dapat mempelajari Giam-to-hoatnya. Sudahlah, kauberikan dulu kitab catatan itu dan selanjutnya kita bersenang-senang!"

Ci-ongya terbakar. Sikap dan kata-kata si cantik ini sungguh membuat dia kehilangan akal setiatnya. Ci-ongya tahu bahwa Eng Hwa bukanlah wanita baik-baik, karena sejak mula dia sudah melihat sinar mata dan gerak-gerik orang yang genit, cabul. Tapi ditinggal begitu saja dalam keadaan nafsu sudah "mendidih" tiba-tiba saja pangeran ini tak tahan.

"Eng Hwa, nanti dulu. Jangan kau pergi!"

"Kau mau apa?"

"Aku dapat memberikan kitab catatan itu, sekarang. Kau tunggulah di sini dan jangan keluar dulu!"

"Ah, betulkah?" Eng Hwa berseri, girang dan gembira. "Kau tidak bohong, ong ya? Kau sungguh-sungguh?"

"Ah, aku tak pernah bohong, Eng Hwa. Tapi lepaskan dulu pakaianmu sebelum kuambil buku catatan itu!"

"Kau jangan main-main...."

"Aku tidak' main-main. Aku ingin menikmati sejenak tubuhmu yang indah, sebelum kuambil buku catatan itu!"

Eng Hwa terkekeh. Dia mengangguk dan kembali melepaskan pintu kamar, tak jadi keluar. Dan ketika dengan gerak menggairahkan ia mulai melepas pakaiannya satu per satu, hal yang sudah membuat Ci-ongya tak tahan maka pangeran itu mendengus dan menangkap tubuh ini, meremas-remasnya, memeluk.

"Ah, indah. Luar biasa, sungguh indah .,..!" sang pangeran memeluk dan menciumi bagian-bagian tubuh. Eng Hwa. Dia sendiri tanpa terasa sudah melepas pakaiannya, napas memburu. Tapi ketika Eng Hwa mendorong dan terkekeh, membuat pangeran ini terjengkang di tempat tidur maka wanita cantik itu sudah menyambar pakaiannya kembali dan berkata,

"Cukup! Sudah sesuai perjanjian, ongya. Sekarang kau buktikan kata-katamu dan kutunggu!"

Ci-ongya benar-benar terbakar. Dia sudah terbius dan tenggelam dalam nafsunya. Tubuh Eng Hwa yang montok menggairahkan sungguh tak tertahankan, dia hampir saja gila. Tapi ketika wanita itu mendorongnya dan mata yang bersinar itu tak mungkin dibantah maka pangeran ini mengeluh kecewa dan melompat bangun, sekali lagi meremas dan menciumi bagian tubuh Eng Hwa namun wanita itu menamparnya tertawa. Ci-ongya terhuyung dan melompat keluar. Dan ketika dia berkata bahwa dia akan mengambil kitab catatan itu dan Eng Hwa disuruh menunggu, sesuai perjanjian maka Eng Hwa mengangguk dan berseri-seri.

"Cepat, aku juga tak tahan!"

Ci-ongya mengangguk. Tubuh mulus bagai pualam yang baru saja dipamerkan di depannya sungguh membuat pangeran ini jungkir balik. Dia melihat bentuk tubuh yang luar biasa yang dimiliki Eng Hwa, persis angan-angannya, kalau dia sedang merenung dan menjilat bibir membayangkan tubuh wanita ini. Dan ketika tak lama kemudian pangeran itu muncul kembali dan sebuah kitab terdapat di tangannya maka Eng Hwa menyambut dan sang pangeran berseru,

"Eng Hwa, inilah kitab yang kau cari-cari, Ayo, lepaslah pakaianmu dan layani aku!"

Eng Hwa ditubruk. Wanita ini sendiri sudah cepat menerima buku catatan itu, bergairah membuka dan mengamati, tak perduli pada gerayangan tangan si pangeran, membiarkan saja jari-jari pangeran itu menggerayangi sana-sini, bahkan akhirnya melepas kancing-kancing bajunya. Dan ketika pangeran itu mendengus-dengus dan sudah mengangkat tubuhnya di atas pembaringan maka kecupan panas membuat Siluman Kucing ini menggelinjang geli.

"Ih, tahan, ongya. Aku masih ingin membaca buku ini!"

"Tidak, nanti dapat kau baca, Eng Hwa. Sekarang tepati dulu janjimu dan kita bersenang-senang!"

"Ih, hi-hik.... aku, ah!" dan Siluman Kucing Li Eng Hwa yang tidak tahan oleh jari-jari Ci-ongya sudah menggeliat dan terpaksa menerima serbuan pangeran itu, melempar kitab catatannya dan bergulinganlah keduanya di tempat tidur.

Calon menantu sudah berbuat sama tak senonoh dengan calon mertua. Dua-duanya memang bukan orang baik-baik. Dan ketika Siluman Kucing itu melenguh dan erangan atau rintihan-rintihan nikmat terdengar di situ dan keduanya sudah melepas nafsu berahi maka Ci-ongya benar-benar puas mendapatkan si cantik ini. Eng Hwa montok dan menggairahkan, permainannya di tempat tidur sungguh luar biasa hingga membuat laki-laki mabok. Dan ketika malam itu keduanya bersenang-senang dan malam-malam berikut sudah menjadi milik mereka berdua maka suatu hari Coa-ongya tiba-tiba datang dan marah-marah, mendobrak pintu kamar adiknya ini!

"Ci-te, mana kitab catatan Giam-to-hoat? Kau mengambilnya? Keparat, kau .... ah!" dan sang pangeran yang tertegun dan menghentikan bentakannya tiba-tiba melihat Eng Hwa di situ, polos dalam keadaan bugil dan adiknya tampak tertawa-tawa di tempat tidur. Tubuh yang indah sedang diremas-remas adiknya ini, tubuh yang mulus putih, menggairahkan! Dan ketika Coa-ongya terkejut dan tentu saja tersirap, baru kali itu melihat Eng Hwa maka adiknya buru-buru melompat bangun, terkejut menyambar celana.

"Kanda, ini... ah, ini Eng Hwa. Kekasih baruku. Ada apa kau datang-datang marah kepadaku? Apa yang hilang?"

"Keparat!" pangeran ini marah kembali, masih terganggu oleh keindahan tubuh Siluman Kucing. "Kau mencuri catatanku, Ci-te. Giam-to-hoat kitab catatanku hilang!"

"Hilang?" Ci-ongya pura-pura terkejut, kebodoh-bodohan. "Hilang bagaimana, kanda? Maksudmu kau menuduhku mencuri?"

"Tentu, hanya kau yang tahu, Ci-te. Kau, ah., berikan buku itu kepadaku!" dan sang pangeran yang marah dan menubruk maju tiba-tiba telah mencekik adiknya ini, mengguncang-guncang dan Ci-ongya berteriak pada Eng Hwa. Pada saat itu yang diharap hanyalah Eng Hwa, tak ada yang lain. Dan ketika Eng Hwa berkelebat dan mengenakan pakaian seadanya, buah dadanya tersembul separoh maka gadis atau wanita ini berseru,

"Ongya, tahan. Tak baik bermusuh-musuhan dengan saudara Lepaskan, dan ceritakan apa yang terjadi!" Eng Hwa mencengkeram pundak pangeran ini, lemas namun kuat dan tiba-tiba baju yang dikenakan seadanya itu melorot. Buah dadanya yang tertutup separoh mendadak tampak semua, Eng Hwa menjerit dan berseru lirih. Dan ketika Coa-ongya terbelalak dan terkejut oleh pemandangan itu, pemandangan yang membangkitkan nafsunya maka pangeran ini tiba-tiba lupa akan kemarahannya kepada saudaranya.

"Kau siapa?" pangeran ini gemetar. "Bagaimana dapat ada di sini tanpa kuketahui?"

"Maaf, dia... dia pengawalku, kanda. Sekaligus kekasih dan baru saja bekerja di sini beberapa minggu!"

Coa-ongya memandang adiknya, berkerut kening, kembali terganggu antara marah dan nafsunya yang bangkit itu, buah dada Eng Hwa yang tampak! "Kau tidak melaporkan ini padaku, Ci-te? Kau melanggar larangan?"

"Maaf, Eng Hwa memang tak ingin diketahui dulu, kanda. Dia minta dirahasiakan agar tak diketahui Golok Maut!"

"Golok Maut?" sang kakak terkejut. "Dia dapat berbuat apa terhadap Golok Maut?"

"Hi-hik, jangan memandang rendah, pangeran. Golok Maut bukan apa-apa bagiku karena berkali-kali dia kurobohkan!" Eng Hwa menyambar, tentu saja membual dan Ci-ongya mengangguk. Akhirnya dia berkata bahwa gadis itu benar, puteranya sebagai saksi. Dan ketika Ci-ongya memberi keterangan bahwa Ci Fang yang dulu lemah sekarang sudah dapat merobohkan sepuluh pengawal dengan mudah maka Coa-ongya terkejut dan memandang si cantik ini.

"Kau benar? Berani kuuji?"

"Ah, jangan sekarang, kanda. Eng Hwa tak ingin dikenal pembantu-pembantumu. Kalau semua orang tahu tentu Si Golok Maut tak berani ke sini! Dan Eng Hwa juga tahu semua perbuatan kita, jangan mengacau rencananya agar Golok Maut itu dapat dibunuh dan dilenyapkan!"

Coa-ongya semakin terkejut. "Semua perbuatan kita?" suaranya ragu menyelidik. "Apa maksudmu, Ci-te? Dan siapa sebenarnya wanita ini?"

"Hi-hik, aku Eng Hwa, ongya. Li Eng Hwa. Kau tak perlu curiga kepadaku karena aku bukan musuh!"

"Benar, dia kawan. Dan dia sebenarnya kekasih Ci Fang!"

Coa-ongya tertegun. Akhirnya adiknya itu bicara agak panjang lebar tentang siapa sebenarnya Eng Hwa ini, bahwa dia adalah musuh Golok Maut dan Ci Fang dlselamatkan gadis ini, ketika berada di perkumpulan Hek-yan-pang, sebuah cerita yang sudah dibumbui dan dijungkir balik sedemikian rupa. Dan ketika Coa-ongya mengangguk-angguk dan bersinar-sinar, kagum memandang gadis itu maka pangeran ini tersenyum dan berkata,

"Kalau begitu bagus, aku percaya padamu. Hm, kalau bukan kau yang bicara tentu aku akan curiga, Ci-te. Ah, sudahlah. Betapapun kalian berdua sebenarnya tak usah sembunyi-sembunyi dariku. Sekarang aku ingin bertanya tentang catatan itu, di mana dan kenapa kau ambil!"

"Aku tidak mengambil!" sang adik tiba-tiba pucat, melirik Eng Hwa. "Aku justeru tidak mengerti bagaimana kau tiba-tiba menuduhku, kanda. Aku tak tahu-menahu dan sama sekali tak pernah mengambil buku catatanmu itu!"

"Tapi kau satu-satunya orang yang mengetahui di mana aku menyembunyikan catatan Itu. Tidak, jangan main-main. Cite. Kalau kitab catatan itu jatuh di tangan orang lain maka hal itu bisa membahayakan kita!"

"Tapi aku tak tahu, sungguh tak tahu ....!" dan ketika Coa-ongya melihat betapa adiknya menggeleng dan menyangkal berulang-ulang tiba-tiba dia menarik napas dan akhirnya mengajak adiknya ini keluar. "Kalau begitu mari ke gedungku sejenak. Aku ingin bicara di sana."

Ci-ongya gelisah. Sebenarnya tak baik bagi dia untuk berduaan saja dengan kakaknya itu. Kakaknya adalah seorang yang amat tajam matanya dan dapat melihat gerak-geriknya. Tapi ketika Eng Hwa berkelebat pergi dan tertawa meninggalkan dua orang itu maka Ci-ongya agak lega karena dia masih berada di gedung sendiri.

"Aku agaknya mengganggu. Biarlah aku keluar dan ji-wi (anda berdua) dapat bicara di sini saja!"

Coa-ongya memandang adiknya. Akhirnya dia mengangguk dan Ci-ongya pun setuju. Memang dia agak tak senang kalau ada orang ketiga di situ. Eng Hwa mengganggu namun kehadiran gadis itu menggerakkan hati pangeran ini. Sama seperti adiknya Coa-ongya pun bukanlah pria yang gampang melewatkan seorang wanita cantik. Wajah dan tubuh Eng Hwa sudah membangkitkan selera pangeran ini. Namun karena ada pembicaraan yang lebih penting dan urusan itu ditahan dahulu maka kakak beradik ini akhirnya bercakap-cakap dan mereka tak tahu bahwa diam-diam Eng Hwa mengintai, di luar kamar.

"Aku tak percaya," begitu Coa-ongya menegur adiknya. "Kitab catatanku hilang begitu saja, Ci-te. Kalau bukan kau yang mengambil maka tak mungkin!"

"Aku tak mengambil, aku tak tahu apa-apa. Sumpah!"

"Hm, sumpah yang keluar dari mulutmu tak dapat dipercaya, Ci-te. Aku tahu siapa kau dan kaupun tahu siapa aku!"

"Tapi aku tak mengambil...."

"Bohong! Catatan itu tak mungkin lenyap ditelan setan! Aku tetap tak percaya, Ci-te. Dan aku curiga jangan-jangan antara dirimu dan si Eng Hwa itu....."

"Ah-ah, nanti dulu!" sang adik menggoyang lengan. "Jangan terlampau jauh curiga, kanda. Eng Hwa baru beberapa minggu di sini dan tak ada hubungannya dengan itu. Aku menjamin!"

"Tapi kitab itu tak ada, dan anehnya hilang tidak semua!"

"Maksudmu?" Ci-ongya pura-pura bodoh, mengerutkan kening.

"Dua kitab yang kupunyai hanya sebuah yang hilang, Ci-te. Dan yang satunya masih di tempat. Aku jadi heran dan hanya kaulah yang tahu!"

"Tapi bagiku tak ada gunanya. Aku tak pernah belajar silat! Kalaupun kuambil mestinya dulu-dulu, kanda. Tak perlu sekarang di saat aku sudah mulai tua begini!! Aku mempunyai dugaan lain, jangan-jangan para pembantumu itu yang mengambil!"

"Tak mungkin," sang kakak menggeleng. "Mereka tak ada yang tahu di mana kitab catatan itu, Ci-te. Yang tahu hanya kau dan aku!"

"Tapi aku tak mengambil! Lagi pula, kalau aku yang mengambil, lalu untuk apa, kanda? Kitab ilmu silat itu tak ada perlunya bagiku. Kau tahu sendiri aku orang lemah!"

Sang kakak tertegun. Memang dia heran juga bahwa kitab hanya hilang sebagian, tidak semua. Karena kitab catatannya ada dua buah. Tentu saja dia tak tahu bahwa adiknya mengambil dan diberikan pada Eng Hwa. Ci-ongya licik dan cerdik. Dia tak memberikan itu semua pada Eng Hwa agar gadis itu dapat ditahannya terus, jadi dapat menjadi kekasihnya selama dia suka, sampai bosan. Dan ketika percakapan itu didengar Eng Hwa dan tentu saja wanita ini bersinar-sinar maka di luar siluman Kucing itu juga menjadi marah.

Sebenarnya Eng Hwa tahu. Dia melihat bahwa kitab catatan yang diberikan Ci-ongya ternyata bersambung, jadi masih ada kitab yang lain dan tentu saja gadis itu penasaran, mendongkol. Diam-diam memuji namun sekaligus mengumpat kecerdikan Ci-ongya inl. Itulah sebabnya dia mau terus di situ dan melayani ayah kekasihnya ini. Jadi diam-diam dua belah pihak sama-saraa tahu kecerdikan lawan, masing-masing beradu pintar. Dan ketika hari itu Coa-ongya membongkar kejadian ini dan dugaan Eng Hwa kuat maka gadis itu terus mendengarkan.

"Jadi bagaimana?" sang kakak menyambung, masih kelihatan marah. "Aku tak mau kau tipu, Ci-te. Kalau kau bohong dan kelak aku tahu tentu aku akan membunuhmu!"

"Ah, boleh!" sang adik berkata gagah. "Tapi ingat bahwa tanpa bertengkar pun kita sudah menghadapi lawan berat, kanda. Golok Maut mengintai dan katanya akan datang lagi!"

"Aku tak takut, aku siap menghadapinya!"

"Tapi kanda, kaisar pasti marah!"

"Hm, ini dapat kuatur," dan ketika sang kakak mengepal tinju dan berkata bahwa dia akan menyelidiki hllangnya kitab catatan itu, Ciam-to-hoat yang dulu ditulisnya berbulan-bulan maka pangeran ini akhirnya meninggalkan adiknya setelah berkata memperingatkan, "Aku belum mengenal jelas siapa sesungguhnya Eng Hwa itu. Tapi kalau kau tak keberatan sukalah kau berikan padaku untuk kuselidiki secara diam-diam."

"Ha-ha, kenapa bicara memutar? Kalau kau ingin menikmatinya maka sekarangpun boleh kau bawa, kanda. Eng Hwa gadis cantik yang pandai melayani lelaki!"

"Hm, kau tak keberatan?"

"Ah, kenapa keberatan?" sang adik sudah lega, urusan kitab catatan sudah selesai. "Aku dapat memanggilnya ke mari kalau kau suka, kanda. Biarlah kusuruh sini dan mengantarmu pulang!"

Eng Hwa berkelebat datang. Ci-ongya telah bertepuk tangan memanggilnya dan tentu saja dia masuk, sebelum dipanggil sudah lebih dulu mendengar pembicaraan itu. Dan ketika Coa-ongya bersinar-sinar memandangnya kagum dan Ci-ongya tertawa menggapai maka ayah kekasihnya tapi juga kekasihnya itu berkata,

"Kakakku ingin bercakap-cakap denganmu. Kau pergilah bersamanya dan perlakukan dia sama seperti diriku!"

Eng Hwa pura-pura merah. "Maksud ongya aku menemaninya di tempat tidur?"

"Ha-ha, benar, Eng Hwa. Kita tak perlu malu-malu karena dia maupun aku sama saja bersenang-senang. Barangkali kakakku ingin kau dapat membantunya masalah kitab catatan itu!"

"Hm, ini urusan kita berdua. Kenapa merepotkan orang lain?" sang kakak menegur, melirik adiknya. "Itu rahasia kita, Ci-te. Tak usah melibatkan orang ketiga!"

"Ah, maksudku menyelidiki para pembantumu itu" Ci-ongya meralat, buru-buru menerangkan. "Eng Hwa boleh dipercaya masalah ini, kanda. Dan tak perlu takut!"

Coa-ongya tersenyum. Dia mengejek adiknya itu tapi tak memperlihatkannya pada Eng Hwa. Urusan kitab sesungguhnya tak ada orang lain tahu kecuali mereka berdua. Tapi karena Eng Hwa keburu mendengar karena itu kesalahannya sendiri buru-buru membuka pintu kamar adiknya maka pangeran ini mengangguk dan berkata melempar senyum, "Sudahlah, aku tahu. Kalau kau boleh membiarkan aku membawa gadis ini maka sungguh merupakan satu kegembiraan besar bagiku. Mari, temani aku, Eng Hwa. Kau ke gedungku!"

Eng Hwa tertawa. Dia sudah ditarik dan hendak dibawa pangeran she Coa ini. Ah, dirinya seperti barang mainan saja, dibawa dan sudah berganti-ganti lelaki. Tapi ketika Eng Hwa melepaskan diri dan berkata biarlah pangeran itu lebih dulu dan dia menyusul maka gadis atau wanita ini berkelebat, "Ongya silahkan duluan. Nanti aku tak enak terhadap Ci Fang!"

Coa-ongya tertegun. Adiknya tiba-tiba juga sadar dan mengangguk, memang mereka harus berhati-hati kalau Ci Fang tahu. Eng Hwa dan dirinya telah sepakat bahwa hubungan mereka tak boleh diketahui. Ci Fang bisa marah dan menciptakan bahaya. Itu tak boleh terjadi. Maka ketika tertawa dan mengangguk pada kakaknya pangeran Ci ini berseru,

"Benar, memang tak boleh diketahui Ci Fang, kanda. Sebaiknya diam-diam dan kau pergi lebih dulu!"

Coa-ongya mengangguk. Di sana adiknya sudah memberi isyarat dan tersenyumlah dia. Membayangkan Eng Hwa yang cantik dan menggairahkan tiba-tiba saja nafsunya memang timbul, apalagi adiknya berkata bahwa Eng Hwa pandai melayani laki-laki, jadi tentu memuaskan. Dan ketika hari itu Eng Hwa sudah pindah ke pelukan Coa-ongya, tertawa dan terkekeh di sana maka hari-hari berikut wanita ini sudah menjadi milik beberapa laki-laki. Pertama tentu saja Ci Fang. Eng Hwa tak berani melupakan pemuda ini agar keadaan tak menjadi gawat. Kedua lalu ayah kekasihnya itu, Ci-ongya. Dan ketika yang terakhir adalah Coa-ongya dan Eng Hwa mulai sibuk membagi-bagi waktunya, hal yang mulai merepotkan maka suatu hari Ci Fang mulai curiga.

"Aneh, kenapa kau sering bepergian! Ke mana saja kau ini' Dan mana Golok Maut yang kaukatakan akan datang itu?"

"Ih, sabar. Aku bepergian tidak jauh meninggalkan istana, Ci Fang. Aku meronda dan jalan-jalan di sekitar sini saja Dan tentang Golok Maut, hmm... sebentar lagi dia pasti datang. Aku telah mengatur rencana!"

Ci Fang tak puas. "Kau sekarang banyak menolak keinginanku, Eng Hwa. Tidak seperti dulu. Apakah kau tidak cinta lagi kepadaku?"

"Ih, omongan apa ini, Ci Fang? Siapa bilang aku tidak mencintaimu lagi? Aku masih tetap cinta padamu, dan lihat ini .... cup!" Eng Hwa memberikan ciumannya, mendarat mesra dan tertawalah wanita itu membelai Ci Fang. Sebenarnya dia lelah karena baru saja melayani Ci-ongya. Ayah kekasihnya itu harus dibujuk dan didekati agar menyerahkan kitab catatan satunya. Dia sudah mencoba kepada Coa-ongya secara hati-hati namun belum berhasil, hal yang diam-diam membuat wanita ini gemas. Maka ketika hari itu Ci Fang cemberut padanya dan menegur serta merengut maka Eng Hwa sadar bahwa sudah empat hari dia meninggalkan Ci Fang, sibuk dengan Coa-ongya dan Ci-ongya, yang lagi panas-panasnya mencumbu dan menginglnkan dirinya!

"Aku tak mana-mana, Ci Fang. Aku hanya di sekitar sini saja. Eh, apakah kau cemburu?"

"Hm, cemburu sih tidak, tapi pelajaran ilmu silat tak pernah kau tambah lagi!"

"Ah, hi-hik, aku lupa!" dan Eng Hwa yang teringat dan tertawa mendengar itu lalu mengajak Ci Fang ke belakang, memberi tambahan ilmu-ilmu silat karena memang selama ini dia lupa. Biasanya Ci Fang ingin bercumbu dan bermesraan melulu, seperti paman dan ayahnya itu. Tapi karena pemuda ini sudah terlampau sering dan rupanya Ci Fang juga mendapatkan seorang dua orang selir di istana itu maka mereka tiba-tiba agak jauh satu sama lain dan Eng Hwa selalu memberi alasan ini-ltu kalau sibuk melayani kekasih-kekasih barunya.

Hebat wanita ini. Ci Fang tentu saja tak tahu semuanya itu. Sama sekali dia tak curiga bahwa ayah dan pamannya ada main dengan kekasihnya ini, karena dia percaya Eng Hwa tak akan melanggar larangannya. Yakni, Eng Hwa boleh bergaul dengan siapa saja asal tidak bergaul atau bercinta dengan ayah dan pamannya itu, hal yang tak disuka pemuda ini, sesuatu yang aneh. Dan ketika hari itu Eng Hwa tertawa dan membelai Ci Fang, di sela-sela pelajaran silatnya maka wanita ini berpikir bagaimana dia dapat pergi dari situ, karena kebosanan sudah mulai timbul, diam-diam sudah mulai mempelajari kitab catatan Giam-to-hoat dan dia ingin menyendiri, setelah mendapatkan kitab catatan secara lengkap. Dan ketika hari itu Ci Fang terpaksa dilayani dan dia kelelahan, karena semalam melayani tiga lelaki sekaligus maka Eng Hwa berkata bahwa besok dia tak mau diganggu.

"Aku akan bersamadhi di kamarku, ingin sendiri. Kalau ada keperluan datanglah pada hari berikutnya."

"Kau tak keluar?"

"Tidak, aku lelah, Ci Fang. Aku ingin beristirahat."

"Kalau begitu kupuaskan dulu diriku. Biarlah hari ini kita habiskan waktu dengan bersenang-senang!"

Eng Hwa tersenyum. Ci Fang seperti biasa lalu memeluk dan menciuminya, ganas. Empat hari tak bertemu membuat pemuda ini seakan kelaparan. Dan ketika esoknya dia tak mau diganggu dan Eng Hwa minta agar pemuda itu keluar maka diam-diam wanita ini menemui Ci-ongya, ayah kekasihnya yang juga sekaligus kekasihnya pula!

"Aku tak mau kau tipu. Cukup sebulan ini kau berjanji. Nah, berikan kitab catatan satunya, ongya. Atau aku melapor pada kakakmu bahwa kaulah orangnya yang mencuri itu!"

Ci-ongya terkejut. Datang-datang Eng Hwa berkata marah. Memang akhirnya ia mengaku bahwa kitab yang diberikan baru sebuah, yang lain tak berani diambil karena itu saja sudah cukup membangkitkan kecurigaan kakaknya, Coa-ongya. Dan ketika pagi itu si cantik ini datang dan marah kepadanya maka Ci-ongya terbelalak dan bangkit dari kursinya.

"Eng Hwa, kenapa kau bicara begini? Bukankah sudah kuberi tahu bahwa kau harus bersabar? Kitab catatan itu telah dipindah, Eng Hwa. Dan terus terang aku tak tahu!"

"Tapi kau menyatakan janjimu, berusaha sebulan!"

"Benar, tapi jangan marah-marah, dewiku. Aku telah berusaha namun sampai hari ini masih belum berhasil. Sudahlah, ke marilah dan jangan marah-marah!"

Eng Hwa berkelebat. Tiba-tiba dia memaki dan menampar pangeran ini, yang seketika terjengkang dan menjerit roboh! Dan ketika Ci-ongya merintih dan kaget bukan main, karena baru kali ini Eng Hwa menyerangnya maka gadis atau wanita itu berkata, "Aku tak percaya mulutmu lagi, ongya. Kau pembohong dan penipu. Aku akan menghadap kakakmu, minta tukar!"

"Apa... apa maksudmu?"

"Aku akan menukarkan yang sudah kubaca ini dengan yang lain. Dan berkata bahwa kau yang memberikan!"

"Tidak... tidak...! Jangan, Eng Hwa. Kalau begitu beri aku waktu seminggu lagi untuk ku usahakan!"

"Aku tak sabar, kau selalu bohong!" dan Eng Hwa yang gemas meloncat pergi lalu menghadap Coa-ongya dan menemukan kekasihnya yang satu ini, yang tentu saja terkejut dan berobah mukanya begitu melihat kitab catatan di tangan Eng Hwa, kitab yang dikenal!

"Ongya, aku menemukan ini. Barangkali ini yang kau cari-cari. Benarkah?"

"Beb... benar. Dari mana kaudapatkan itu, Eng Hwa? Dari mana kau dapatkan? Ah, berikan padaku. Itu punyaku!"

Namun Eng Hwa yang tertawa dan terkekeh mengelak berseru, "Ongya, kitab ini kebetulan saja jatuh ke tanganku, dan sudah kubaca. Bagaimana kalau kita sekarang saling tukar-menukar? Aku tertarik isinya, sukalah kau keluarkan yang satu dan yang ini kuserahkan padamu!"

Coa-ongya terkejut. Eng Hwa tiba-tiba saja bersikap aneh dan berani, belum pernah wanita itu coba menguasainya. Tapi begitu. sadar dan mampu mengendalikan hatinya tiba-tiba pangeran ini tersenyum dan menekan debaran jantungnya. "Eng Hwa, kau adalah kekasihku. Kita sudah bersenang-senang dan sering bermesraan berdua. Kenapa kau ingin tukar-menukar? Masalah ini tak pernah kau bicarakan, kini mendadak saja kau memegang kitab itu. Ah, tanpa tukar-menukar pun kalau kau ingin membaca tentu aku sedia memberikannya, Eng Hwa. Tapi sifatnya pinjam!"

"Hm, aku memang ingin pinjam. Bukan bermaksud mengangkangi. Kau tak marah padaku, ongya?"

"Ah, marah? Ha-ha, terhadap wanita secantik dirimu aku tak mungkin marah, Eng Hwa. Kau minta kepalaku pun pasti kuberi. Mari, kuambilkan kitab yang satu itu tapi berikan itu padaku!"

Eng Hwa ragu, bersinar-sinar. "Aku ingin berhati-hati dan sebaiknya kita saling memberikan saja. Kau ambil yang satu itu dan serahkan padaku dan aku memberikan serta menyerahkan ini padamu."

"Ha-ha, kau takut? Tak ada alasan, Eng Hwa. Aku tak bisa silat dan kau tahu itu, tak perlu khawatir!"

"Benar, tapi... hm!" Eng Hwa tertawa. "Aku perlu berhati-hati, ongya. Sudahlah ambilkan saja kitab itu dan ini nanti kuserahkan padamu!"

"Baiklah, kau tunggu sebentar!" dan Coa-ongya yang tersenyum mengangguk pergi lalu ke dalam dan tak lama kemudian sudah mengambil sebuah kitab, bentuk dan sampulnya persis seperti yang dibawa Eng Hwa dan Siluman Kucing itu berseri-seri. Ah, itu yang diincar! Dan ketika sang pangeran sudah mendekat dan tertawa meminta kitabnya maka wanita ini mau menyambar namun sang pangeran mengelak. "Ha-ha, nanti dulu, Eng Hwa. Berikan itu padaku!"

"Tidak, berikan itu dulu, ongya. Nanti kuserahkan!"

"Tapi kita harus adil, kau tak boleh menipu. Hayo, kita sama melempar dan mari sama-sama menerima!"

Dan ketika Siluman Kucing tertawa dan mengangguk maka keduanya sudah melempar dan memberikan kitab masing-masing, disambut dan diterima dan keduanya sama memeriksa. Tapi begitu Eng Hwa melihat bahwa sambungan kitab kedua ini tidak sama dengan kitab pertama, mengherankan dan membuat dia terkejut maka Coa-ongya di sana tertawa bergelak memeriksa kitab yang diberikan Siluman Kucing itu.

"Ha-ha, tidak sama. Aih, mana yang salah mana yang benar aku jadi tidak tahu, Eng Hwa. Tapi sekarang aku tahu bahwa maksud kedatanganmu ke mari sebenarnya adalah untuk kitab ini!"

Dan ketika Siluman Kucing itu terbelalak dan mengerutkan kening, tak mengerti maksud si pangeran tiba-tiba pangeran itu bertepuk tangan dan berkelebatlah di situ dua bayangan laki-laki.

"Mindra, tangkap dan bekuk siluman betina ini. Kalian benar, dia kiranya adalah Mao-siao Mo-li Siluman Kucing!"

Eng Hwa kaget sekali. Di ruangan itu tahu-tahu berkesiur dua bayangan biru dan kuning dan muncullah Mindra dan Sudra, dua kakek India yang amat lihai dan yang dulu pernah bertemu dengannya, bahkan yang pernah mengebut dia hingga roboh! Bukan main kagetnya wanita ini. Dan ketika dua kakek itu tertawa dan menyeringai padanya, penuh ejekan maka Sudra, kakek kedua itu sudah berkata,

"Siluman Kucing, selamat bertemu. Kiranya kau ada maksud merampas kitab!"

"Keparat!" Eng Hwa tiba-tiba berteriak nyaring, berkelebat ke arah pangeran Coa. "Kalian tak dapat menangkapku, Sudra. Karena aku akan menangkap pangeran Coa!" tapi ketika sang pangeran terbahak dan berkelit di belakang sebuah kursi tiba-tiba terdengar dentuman dan tembok rahasia muncul menghadang, menutup dengan cepat dan Siluman Kucing ini hampir saja tergencet. Tak pelak dia berjungkir balik menendang tembok rahasia itu dan lenyaplah sang pangeran di balik dinding tak tampak. Dan ketika suara sang pangeran ikut menghilang dan tinggallah suara tawa dua orang kakek itu maka Li Eng Hwa Siluman Kucing ini pucat.

"Coa-ongya, kau manusia keparat. Penipu!"

"Ha-ha, tak tahulah. Entah kau atau aku yang menipu, Eng Hwa. Tapi sekarang kau hadapi dulu dua pembantuku itu!" suara sang pangeran tiba-tiba terdengar lagi, entah dari mana namun gaung suaranya cukup jelas.

Eng Hwa tak sempat mencari karena dua kakek di depannya itu sudah bergerak, Mindra dengan tawanya yang parau sementara Sudra dengan bentakan pendeknya. Kedua-duanya menubruk dan siap menangkapnya. Dan karena lawan tak mungkin dihadapi karena dia bukanlah tandingannya maka Siluman Kucing ini tiba-tiba meledakkan granatnya dan memaki dua kakek itu.

"Kalian tua-bangka-tua bangka busuk. Mampuslah!"

Mindra dan Sudra terkejut. Mereka berseru keras mengebutkan lengan, granat diterima dan digulung lengan baju. Namun ketika mereka menangkap dan menggulung granat, yang tak jadi meledak maka Siluman Kucing itu melepas lainnya lagi menghantam tembok.

"Dar-dar!"

Ruangan menjadi gelap. Memang inilah yang dikehendaki Eng Hwa karena wanita itu sudah terbang menyelinap di bawah ketiak lawan, lolos dan melarikan diri dan tentu saja dua kakek India itu marah. Mereka belum apa-apa sudah dikecoh dan siluman betina itu pun kabur. Dan ketika dua kakek itu menjadi marah dan memukup asap tebal agar buyar maka keduanya berkelebat melihat bayangan Siluman Kucing, yang sudah meloncat diluar.

"Berhenti, atau kau mampus!" Sudra melepas cambuk baja, meledak, dan menjeletar namun Eng Hwa melepas lagi dua granatnya.

Cerdik wanita ini, bukan Mindra atau Sudra yang dihantam melainkan tanah di depan mereka, yang seketika meledak dan kembali mengeluarkan asap tebal. Dan ketika dua kakek itu memaki-maki sementara Eng Hwa sudah lolos lagi dengan cepat maka di sana wanita ini mengumpat ketika belasan pengawal tiba-tiba menghadang.

"Pergi kalian, minggir!"

Pengawal berpelantingan. Mereka itu adalah orang-orang yang segera datang begitu mendengar keributan. Granat yang meledak serta bentakan dua kakek India di dalam mengisyaratkan mereka akan adanya bahaya, sang komandan sudah membentak dan menyuruh mereka bergerak. Dan ketika bayangan Eng Hwa sudah mereka lihat dan wanita itu belum mereka lihat maka tentu saja mereka menganggap musuh dan langsung diserang, sayangnya tak mampu dan mereka justeru dipukul balik, tunggang-langgang dan menjerit sambil berteriak-teriak. Memang mereka bukan tandingan wanita ini dan Eng Hwa sudah berkelebat dan melarikan diri lagi, tak mau tertahan karena dia maklum akan bahaya di belakang, dua kakek India yang lihai itu. Dan ketika benar saja Sudra maupun Mindra sudah membentak dan mengejar di belakang maka wanita ini memaki dan melepas lagi granat-granat tangan.

"Dar-dar!"

Siluman Kucing coba meloloskan diri. Wanita ini mengumpat dan bersicepat menggerakkan kakinya, untung hapal jalan-jalan di situ namun dia tak mau lewat bawah, melayang dan sudah berlarian di atas genteng. Tapi ketika terdengar dengus seseorang dan entah dari mana mendadak muncul seorang kakek tinggi besar, yang bukan lain Yalucang si kakek Tibet maka Eng Hwa terkejut setengah mati oleh kehadiran kakek ini, yang muncul dan tahu-tahu sudah ada di depannya seperti iblis.

"Siluman betina, Coa-ongya menyuruhku menangkap dan membekukmu, bukan membunuh. Menyerahlah dan kembalikan kitab di tanganmu itu!"

"Jahanam!" Siluman Kucing ini melengklng. "Kaupun sama dengan Mindra mau pun Sudra, kakek busuk. Menyerah hidungmu dan kau mampuslah... dar-dar!" Eng Hwa kembali mengayun granat tangannya, meledak di depan si kakek dan Yalucang mengelak. Kakek ini mendengus namun mulutnya tiba-tiba dibuka, mendesis dan menyemburlah segumpal api menyibak asap tebal yang dihasilkan granat. Dan ketika Eng Hwa terkejut dan kakek itu menggeram maka Yalucang sudah menubruk dan berkelebat marah.

"Menyerahlah!"

Eng Hwa putus asa.

"Kau tak dibunuh, Mao-siao Mo-li. Melainkan ditangkap dan sekedar menerima hukuman ringan. Atau pangeran akan gusar dan salah-salah kau bakal dlbunuh...wut-plak!"

Siluman Kucing terlempar, gugup menerima semburan api kakek itu dan melempar tubuh bergulingan. Apa boleh buat dia harus ke bawah dan di sana ternyata menunggu dua kakek India itu, Sudra dan Mindra yang tertawa menggerakkan lengannya, Sudra bahkan meledakkan rambut dan tubuh Eng Hwa disengat ujung cambuk, yang bukan main sakitnya. Dan ketika dia menjerit dan jatuh ke tanah, langsung menggulingkan diri dan melempar-lempar lagi granat tangannya tiba-tiba semua granat tangannya itu sudah dililit cambuk, yang amat lihai menangkap dan menerima!

"Ha-ha, tak guna lagi, bocah. Hayo menyerah dan menghadap Coa-ongya!"

Eng Hwa pucat. Kalau tiga orang ini sudah siap di bawah dan di sana masih banyak terlihat pengawal yang berlari-lari maka harapan lolos sungguh tipis sekali. Dia tak bermaksud melakukan perlawanan kecuali meloloskan diri, itu maksudnya, karena Mindra maupun Sudra bukanlah lawan-lawan yang dapat dihadapi, apalagi masih ada kakek tinggi besar yang menyeramkan itu, Yalucang. Dan ketika dia memaki namun juga mengeluh bergulingan meloncat bangun maka di Sana tiga orang itu mengejarnya dan Sudra tertawa-tawa.

"Ha-ha, hayo lepaskan lagi granat-granat tanganmu, siluman betina. Biar kurampas dan kubuang semua!"

Eng Hwa gelisah. Kalau begini terus-terusan tentu dia celaka, tiga orang itu sudah mengurung namun dia mencabut payungnya, menusuk kaki si kakek tinggi besar. Dan ketika Yalucang mengangkat kakinya dan menggeram serta menyemburkan apinya lagi mendadak Ci Fang muncul dan membentak tiga orang itu.

"He, kalian. Berhenti! Apa yang kalian lakukan ini dan kenapa kekasihku diserang!"

Tiga orang itu terkejut. Ci Fang adalah pemuda pemberani dan mereka mengenalnya, maklumlah, Ci Fang adalah keponakan Coa-ongya, majikan mereka. Dan ketika bentakan itu memberi kesempatan pada wanita ini untuk melompat bangun maka Ci Fang sudah berkelebat dan menghadang tiga orang kakek itu.

"Ci Fang, mereka manusia-manusia kurang ajar. Pukul mereka!"

Ci Fang bergerak. Dia menyerang dan memukul tiga kakek itu, yang tentu saja menangkis dan Ci Fang pun tergetar, terhuyung hampir roboh. Namun ketika pemuda itu marah-marah dan memaki mereka maka Eng Hwa berkelebat dan melarikan diri.

"Tahan mereka, jangan biarkan mengganggu aku!"

"He!" Ci Fang berseru. "Kau sendiri mau ke mana, Eng Hwa? Kenapa keluar? Hei, tunggu aku. Jangan lari!" dan Ci Fang yang bergerak dan mengejar kekasihnya lalu mendengar seruan Mindra,

"Siauw-ya (tuan muda), dia merampas kitab pamanmu. Suruh dia menyerahkan kitab itu dan baru kita membiarkannya pergi!"

"Apa? Dia merampas kitab?"

"Ya, lihat di tangannya itu, siauw-ya. Siluman betina ini mau melarikan diri setelah mengambil kitab!"

Ci Fang tertegun. Dia melihat kekasihnya memang membawa kitab namun Eng Hwa sudah cepat menyembunyikan kitab itu di balik bajunya. Gerakan menyentuh buah dada ini mendebarkan hati para pengawal yang tentu saja melotot. Eng Hwa tak malu-malu melakukan itu dengan membuka bajunya, ketika melewati pengawal. Dan ketika Ci Fang tertegun namun membentak dan segera mengejar lagi maka tiga kakek di belakang berani mengikuti dan berseru,

"Berhenti, atau kami akan merobohkanmu!"

"Benar," Ci Fang juga berseru. "Berhenti, Eng Hwa. Atau aku akan menyangkamu buruk dan kau ditangkap!"

"Aku tak mau ditangkap, kitab ini punyaku!"

"Apakah Giam-to-hoat?"

Eng Hwa tak menjawab.

"Hei, kalau betul justeru jangan takut, Eng Hwa. Aku akan menolongmu dan kita berdua sama-sama pergi, seperti janji semula!"

Tiga kakek di belakang melengak. Mereka jadi heran dan mengerutkan kening ketika mendengar itu. Kalau betul begitu maka justeru putera Ci-ongya ini harus dihajar, karena jelas mau bersekongkol dengan musuh. Tapi sebelum mereka melakukan itu dan Eng Hwa di sana melempar dan membanting pengawal maka sebuah panggilan membuat wanita ini terkejut, menoleh.

"Sst, tak perlu meroboh-robohkan pengawal, Eng Hwa. Ke marilah, kutolong...!"

Eng Hwa melihat seseorang di situ. Sebuah kepala melongok dari balik dinding dan itulah Ci-ongya, ayah kekasihnya, atau juga kekasihnya, pangeran yang baru saja dihajar. Dan ketika Eng Hwa ragu dan tertegun melihat Ci-ongya menggapai maka adik Coa-ongya itu berseru,

"Hei, di luar ada Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko. Jalan larimu tertutup. Marilah dan ikut aku, lewat jalan rahasia!"

Eng Hwa berjungkir balik. Akhirnya dia tertarik melihat tawaran ini dan girang menyambut, melayang dan sudah turun di dekat pangeran itu. Dan ketika ia langsung menangkap dan mencengkeram leher baju maka dia membentak, "Kau jangan menipu, atau aku akan membunuhmu!"

"Ah," pangeran ini kesakitan. "Kau terlalu, Eng Hwa. Sudah melaporkan pencurianku masih juga kau tidak percaya kepadaku. Lepaskan, atau aku tak dapat bergerak!"

"Kau mau bawa aku ke mana?"

"Keluar tentu saja. Bukankah kau ingin menghindari tiga orang itu?"

"Benar."

"Nah, mari, Eng Hwa. Di lorong bawah tanah kita bisa selamat. Tapi beri imbalannya agar kau dapat keluar!"

Eng Hwa terkejut, ganti disambar tangannya dan dicium. Dalam saat seperti itu ternyata ayah kekasihnya ini masih bernafsu, dirinya sudah dipeluk dan dadanyapun diremas. Terlalu si tua bangka ini! Tapi karena dia ingin selamat dan tersenyum membiarkan itu maka Ci-ongya menekan sebuah tombol dan mereka tahu-tahu terjeblos ke dalam sebuah sumur rahasia.

"Hati-hati, pegang aku erat-erat!"

Eng Hwa merasa luncuran yang cepat. Entah berapa lama dia tak tahu tapi mereka tiba-tiba sudah berada di sebuah, ruangan bawah tanah, terang dan tidak gelap. Dan ketika pangeran itu tertawa dan dia melepas pelukannya maka Ci-ongya terkekeh dan berseru,

"Heh, di bawah sini kita aman, Eng Hwa. Hayo beri imbalannya sebelum kau benar-benar kuantar keluar!"

"Kau mau apa?"

"Eh, bukankah mau mengantarmu keluar? Eit, jangan kira aku menipumu, Eng Hwa. Justeru kaulah yang menipu dan tidak dapat kupercaya! Hayo, lepas bajumu dan kita bersenang-senang sejenak!"

Eng Hwa gemas-gemas geli. Dia tak bergairah dan saat itu keinginannya hanya keluar, secepatnya meninggalkan tempat itu. Tapi ketika Ci-ongya mengingatkan bahwa tanpa dia tak mungkin dirinya keluar dengan selamat maka wanita ini tertegun.

"Kau layani aku dulu, baru semuanya akan beres. Bukankah kitab yang diberikan kakakku adalah palsu?"

Si cantik terkejut.

"Lihat, aku tahu, Eng Hwa. Dan aku juga membawa aslinya. Kalau kau mau melayani aku dan baik-baik bersamaku maka semuanya akan kau peroleh. Buang kitab itu, itu palsu!"

Eng Hwa tertegun. Ci-ongya sudah mengeluarkan kitab yang lain dan terdapatlah kitab seperti yang persis di tangannya, tersentak dia. Dan ketika dia menyambar dan merampas kitab itu maka Ci-ongya terkejut dan berseru,

"Eng Hwa, jangan macam-macam. Kalau kau merampas dan membawa lari kitab itu maka aku akan memanggil tiga orang kakek di luar itu. Atau kakakku akan datang dan kau terkurung hidup-hidup di tempat ini!"

Eng Hwa melotot. Memang dia menjadi jerih setelah melihat bahwa di tempat itu kiranya banyak tempat-tempat rahasia yang tidak diketahui umum. Tadi Coa-ongya menghilang di balik dinding dan sekarang Ci-ongya ini amblas di perut bumi, sumur rahasia. Dan karena mengakui bahwa kakak beradik dua orang pangeran ini adalah orang-orang cerdik yang dapat membuat orang lain celaka kalau tidak berhati-hati maka Eng Hwa tertawa, memancing.

"Ongya, jangan menggertak aku. Seandainya aku membunuhmu di sini dan keluar mencari jalan sendiri tentu dapat. Kenapa kau menakut-nakuti?"

"Ha-ha, kau mau coba-coba itu? Cobalah, dan lihat apakah kau dapat keluar tanpa petunjuk jalan, Eng Hwa. Di sekitar tempat ini tak ada lubang kecuali dinding melulu!"

Eng Hwa tak percaya. Dia melompat dan menghilang sejenak, membuktikan omongan itu. Dan ketika benar saja bahwa di sekeliling mereka hanya dinding melulu dan tampaknya tak ada jalan keluar maka gadis atau wanita ini tertawa, diam-diam menyembunyikan marahnya.

"Ongya, kau benar. Tapi akupun tak sungguh-sungguh. Ah, keparat kau! Tempat ini memang dinding melulu dan mengherankan bagaimana kau mengajakku keluar dari sini. Apakah kau tak bohong dan dapat membuktikan omonganmu itu? Awas, jangan kau main-main, ongya. Atau aku akan membunuhmu dan kita berdua mampus di sini!"

"Ha-ha, kau kira aku main-main? Ah, kau terlalu, Eng Hwa. Heran benar bahwa kau masih juga tak percaya padaku! Sudahlah, aku tak mungkin membohongimu dan kalau aku bohong tentu kau dapat membunuhku di sini. Sekarang, apakah kau menepati janjimu untuk melayaniku bersenang-senang? Kalau mau tentu aku akan membawamu keluar, tapi kalau tidak tentu saja kau akan tetap tinggal di sini!"

"Dan membunuhmu!"

"Ah, tak mungkin. Kau tak berani membunuhku kalau tak ingin keselamatan dirimu terancam. Sudahlah, kau mau melayaniku atau tidak?"

"Hm!" Eng Hwa tertawa, mendongkol juga. "Kau cerdik, ongya. Kalau tidak mengenalmu barangkali tak semua orang tahu kelicikanmu ini. Baiklah, aku mau bersenang-senang tapi kubaca dulu kitab catatanmu ini. Kalau cocok, boleh kita teruskan. Tapi kalau tidak, hmm... aku tak mau bercakap-cakap lagi denganmu dan kau kupaksa untuk menunjukkan jalan keluar di sini!"

"Ha-ha, kau kira aku bohong? Baiklah, boleh kau baca kitabku itu, Eng Hwa. Dan buang saja kitab yang kau dapat dari kakakku!"

Eng Hwa mengangguk. Memang dia penasaran dan heran serta marah melihat dan mendengar semua Itu. Coa-ongya telah menipunya dan baru sekarang dia tahu. Maka membalik dan membuka-buka halaman kitab itu dia lalu mencocokkan dan mengecek isinya, memang betul dan akhirnya dia tertawa. Dan ketika lawan bertanya bagaimana pendapatnya maka dia mengangguk dan berkata, "Memang cocok, sungguh tidak salah. Baiklah, aku melayanimu, ongya. Tapi katakan dulu bagaimana kau tahu bahwa kitab yang itu palsu!"

"Ah, gampang, Eng Hwa. Aku tahu watak kakakku yang tak dapat dipercaya. Mana mungkin dia mau memberimu kitab yang sungguhan? Itu palsu, dan pasti dengan kitab yang pertama sambungannya tidak cocok!"

"Benar, memang tidak cocok, Dan kitab ini, hmm... dari mana kau dapatkan? Apakah kau mencurinya pula?"

"Ha-ha, aku mengambilnya untukmu, Eng Hwa. Dan semua ini sebenarnya atas jasamu juga. Kalau kau tak mengacau dan membuat ribut di situ tentu aku tak dapat mengambilnya. Tapi karena kau telah mengacau dan ribut-ribut di luar maka kakakku lengah dan kitabnya kuambil!"

"Tapi dia juga mempunyai kitab lain!"

"Benar, semata untuk menipu kalau seseorang menekannya, Eng Hwa. Berjaga-jaga dari segala kemungkinan buruk kalau hal itu datang!"

"Hm-hm!" Eng Hwa kagum, mengangguk-angguk. "Kau dan kakakmu sungguh orang-orang luar biasa, ongya. Ah, kalian memang setan dan siluman jahanam!"

"Ha-ha, kau memaki kami? Eh, saat ini kita bersahabat, Eng Hwa, bukan musuh. Hayo layani aku dan kita bersenang-senang!"

Eng Hwa tertawa. Ci-ongya sudah menubruknya dan menciumi mukanya, dibiarkan dan akhirnya pakaiannya pun dilepas. Dan ketika dia roboh dan menyambut ciuman-ciuman lawannya itu maka mereka berdua sudah bergulingan dan melepas hawa nafsu. Bagi Siluman Kucing ini tak jadi soal karena akhirnya diapun terangsang ciuman-ciuman ganas itu, terkekeh dan balas mencium lawan dan lekatlah mereka seperti lintah. Dan ketika setengah jam kemudian Ci-ongya sudah mendapat kepuasannya dan wanita ini menepati janji maka Eng Hwa mengenakan pakaiannya kembali dan melompat bangun.

"Cukup, sudah puas. Lain kali kita lanjutkan dan bawa aku keluar!"

"Heh-heh, kau tak ingin lagi?"

"Tidak, ini cukup, ongya. Aku tak mau berlama-lama lagi dan bawa aku keluar dari sini!"

"Baiklah, mari," dan Ci-ongya yang tertawa bangkit berdiri akhirnya menyambar pakaiannya pula dan sekali dua masih menciumi Siluman Kucing itu.

Eng Hwa mengelak dan mendorongnya. Dan ketika dia berkata bahwa semua permainan itu cukup maka Ci-ongya menghela napas dan membawanya keluar. Mula-mula dia menginjak sesuatu di lantai, menekan sebuah tombol dan terbukalah dinding sumur itu. Dan ketika lorong atau jalanan berliku mulai mereka lalui naik turun maka Eng Hwa mengumpat di dalam hati karena jalanan di situ benar-benar sukar diingat. Jangankan diingat, menghadapi tembok-tembok buntu yang sering menghadang mereka saja sudah cukup memberatkan pikiran, tak gampang baginya untuk menghapal di mana kira-kira kunci atau tombol rahasianya. Namun ketika lima belas menit kemudian mereka sudah menghadapi sinar matahari dan di luar sana menganga sebuah guha lebar maka Ci-ongya tertawa dan mengusap pinggulnya.

"Nah, Itu, Eng Hwa. Kau bebas!"

Eng Hwa membalik. Dia tertawa dan siap melepas sebuah tamparan, sebenarnya sejak tadi menahan-nahan marah dan ingin menghantam mampus laki-)aki yang telah menidurinya ini. Tapi begitu melihat lawan memegang sebuah kelenengan dan berkata bahwa dengan kelenengan itu Ci-ongya dapat memanggil pengawal atau Sudra dan kawan-kawannya dalam sekejap maka Siluman Kucing ini tak jadi menggerakkan tangannya.

"Kau mau apa? Membunuhku? Ha-ha, jangan begitu, Eng Hwa. Kehangatan tubuh kita berdua masih sama-sama menempel. Pergilah, dan kutanggung kau selamat. Atau kelenengan ini akan bergoyang dan sekejap saja kakakku dan para pembantunya datang!"

"Keparat, siapa mau membunuhmu? Kau cukup tengik, Ci-ongya. Tapi aku berterima kasih bahwa kitab-kitab catatan kakakmu telah kudapatkan. Hi-hik, inilah maksudku sebenarnya, mendekati puteramu dan mempergunakan dirinya untuk menemukan Giam-to-hoat!"

"Hm, begitukah?" sebuah suara tiba-tiba menguak. "Kau kejam, Eng Hwa. Kalau begitu kau tak berperasaan. Dan kau kiranya Siluman Kucing, penipu!"

Eng Hwa membalik. Dia melihat Ci Fang tiba-tiba muncul di situ, di luar sana. Dan ketika dia terkejut tapi tertawa berkelebat ke depan tiba-tiba dilihatnya bayangan dua kakek India dan si tinggi besar itu, kakek Yalucang.

"Maaf, kau kiranya di sini, Ci Fang. Tapi apa boleh buat, aku harus mengaku. Baiklah, sampai ketemu lagi dan banyak terima kasih atas semua kesetiaanmu selama ini!" Eng Hwa melesat di luar guha, terbang dan cepat mengerahkan ginkangnya karena saat itu bayangan tiga kakek lihai semakin dekat. Dia tak berani berlama-lama lagi setelah mereka muncul. Dan ketika wanita itu lenyap dan Ci Fang mendengus dengan marah maka Coa-ongya datang dan tertawa-tawa memuji adiknya.

"Ha-ha, kitab itu telah kembali lagi, Ci-te. Siluman Kucing itu kau pedayai lagi?"

Ci-ongya tertawa. "Dia lumayan, sayang memperdayai puteraku. Hm, ini kitabmu, kanda. Dan maaf hampir saja aku teledor!"

"Ah, kau tak melakukan kesalahan. Untung saja kita waspada. Terima kasih, ha-ha...!" dan Coa-ongya yang menerima kitab dan menepuk-nepuk pundak adiknya lalu melihat tiga bayangan kakek-kakek itu. "Sudra, tak perlu dikejar. Biarkan ia pergi. Ha-ha, Siluman Kucing akan mempelajari Giam-to-hoat palsu!"

Golok Maut Jilid 20

GOLOK MAUT
JILID 20
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
CI-ONGYA rerkejut. Dia tiba-tiba melihat puteranya yang jauh berubah ini, kejam lagi ganas. Tapi karena puteranya sudah menunjukkan kepandaian yang tinggi dan tak baik untuk ribut-ribut di situ maka pangeran ini melangkah lebar menyuruh pelayan atau pembantu wanita mengeluarkan makan minum. Ci Fang telah meminta untuk dilayani yang enak-enak, segala makanan dan minuman dikeluarkan di situ. Dan ketika dua orang itu makan minum dan sang ayah menonton dari jauh maka hari-hari berikut dilalui puteranya ini dengan kekasihnya yang cantik.

Ci-ongya heran. Sebenarnya dia marah oleh sikap puteranya yang kini kurang ajar, tak menghargai orang tua. Tapi karena gadis di sebelah puteranya itu amat lihai dan jelas menguasai puteranya, terlihat dari gerak-gerik dan sikap puteranya maka pangeran ini menahan diri untuk marah-marah.

Dia ingin memberi tahu kakaknya tapi ditahan. Ancaman atau kata-kata puteranya bahwa Eng Hwa tak ingin dikenal di situ membuat pangeran ini bingung. Ada apa dengan itu? Kenapa puteranya akan membunuhnya kalau dia melapor? Ah, sebagai orang tua dia menaruh curiga. Pasti ada apa-apa yang tak beres. Dan ketika pangeran ini maju mundur untuk menemui kakaknya mendadak suatu malam puteranya itu datang ke kamarnya.

"Aku ingin bicara sebentar, mengetahui sedikit keterangan."

"Hm, apa yang ingin kau ketahui?" sang ayah terbelalak, memandang tajam. "Kau akhir-akhir ini aneh, Ci Fang. Sepak terjang dan tindak-tandukmu luar biasa!"

"Ha-ha, ayah boleh bicara apa saja, tapi aku ingin mengetahui tentang sesuatu hal. Dapatkah ayah bersikap jujur?"

"Apa yang ingin kau ketahui?"

"Tentang Golok Maut, rahasia ayah dengannya!"

"Ci Fang...!" sang ayah terpekik, berseru tertahan. "Kau ada apa bertanya-tanya tentang ini? Bukankah kau sudah tahu bahwa Golok Maut adalah manusia keparat yang ingin membunuh ayahmu?"

"Justeru itulah," sang anak tersenyum, menarik sebuah kursi dan duduk. "Aku mendengar bahwa ada sebab-sebab tersembunyi yang membuat Golok Maut benci padamu, ayah. Begitu pula terhadap paman Coa. Kudengar kau dan paman pernah bersekongkol untuk mempermainkan Golok Maut dan encinya, belasan tahun yang lalu!"

"Dari mana kau tahu?" sang ayah kaget, tersentak meloncat bangun. "Kau... kau.... dari mana kau tahu ini, Fang-ji? Siapa yang memberitahumu?"

"Ha-ha, siapa yang memberitahuku tak usah kau tahu, ayah. Tapi kelanjutan cerita ini ingin kuketahui!"

Ci-ongya gemetar, menggigil. "Ci Fang ... kau... kau sekarang aneh. Luar biasa dan mengejutkan. Hm, tentu ini semua berkat pergaulanmu dengan kekasihmu itu. Siapa sebenarnya dia, Ci Fang? Tidak bolehkah ayahmu sendiri tahu?"

"Hm, ayah tahu juga tak ada gunanya. Dia gadis hebat, calon menantumu sendiri. Kalau kau masih bertanya lagi maka aneh rasanya bagaimana aku harus menjawab!"

"Bukan... bukan begitu. Maksudku siapakah dia itu dan apakah kawan atau lawan!"

"Ah, ayah aneh. Kalau lawan bukankah aku tak bakal membawanya ke sini? Dan ilmu silat yang kudapat justeru dari dia, ayah. Eng Hwa adalah kawan bukan lawan!"

"Tapi aku curiga, dia bukan gadis baik-baik....ngek!" Ci- ongya menghentikan kata-katanya, dicekik sang anak dan Ci Fang marah mendengar kata-kata ayahnya tadi. Dan ketika sang ayah terkejut dan melotot tak dapat bernapas maka pemuda ini mendorong dan melempar ayahnya ke kursi panjang.

"Ayah harap menahan mulut, atau aku akan membunuhmu!"

"Beb... beb... bedebah!" sang ayah berteriak mengepal tinju. "Kau... kau anak durhaka, Ci Fang. Kau bocah keparat!"

"Hm, kau masih ingin memaki-makiku lagi? Kau ingin membuktikan ancamanku?"

Ci-ongya menggigil. Dia pucat melihat Ci Fang tiba-tiba mencabut pisau, tajam dan mengkilat dan kini pisau itu dilekatkannya di leher. Sekali usap tentu lehernya terkuak. Ah, ngeri pangeran ini! Dan ketika dia tergagap-gagap mengeluarkan keringat dingin dan mendorong pisau itu, yang seakan sudah membeset kulit lehernya maka laki-laki tua ini gemetar,

"Ci Fang, jangan... jangan lakukan itu. Durhaka! Seorang anak tak boleh membunuh ayahnya sendiri! Ah, simpan pisau itu. Fang Fang. Jangan takut-takuti ayahmu dengan senjata tajam!"

"Hm, aku memang tak akan membunuhmu. Tapi kuminta kau bicara jujur!"

"Bab... baik! Ap... apa yang ingin kau tanyakan? Tentang Golok Maut itu?"

"Benar, permusuhanmu dengannya, ayah. Dan kenapa dia mengejar-ngejar kau!"

"Ini... ini gara-gara pamanmu. Dia yang bersalah!"

"Hm, bagaimana itu? Kau dapat menjelaskan?"

"Aku... aku dapat menjelaskan. Fang Fang. Tapi ceritakan dulu untuk apa kau ingin mengetahiui semuanya ini!"

"Aku ingin bukti, sedang mencari data!"

"Untuk siapa?"

"Untuk diriku sendiri."

"Ah, aku tak percaya. Fang Fang. Kau pasti disuruh kekasihmu itu!"

"Srat!" pisau itu tiba-tiba muncul kembali. "Aku tak ingin kau mencurigai Eng Hwa berlebih-lebihan, ayah. Kalau kau tak turut kata-kataku maka sekali lagi kau kubunuh!"

Ci-ongya pucat. Puteranya ini tiba-tiba seperti iblis, tak kenal ampun dan kejam, bahkan terhadap orang tua sendiri! Dan ketika dia mengangguk dan gemetar bercerita, seperti apa yang sudah didengar pemuda itu dari kekasihnya maka Fang Fang tertawa mengangguk-angguk.

"Cocok, kalau begitu cocok. Terima kasih!" dan Fang Fang yang ngeloyor pergi menutup pintu kamar ayahnya akhirnya membuat pangeran ini tertegun, melotot namun menahan diri dan keesokannya dia terhenyak.

Eng Hwa, gadis yang amat lihai itu mendadak mengetuk pintu kamarnya pula, masuk dan tiba-tiba duduk tanpa permisi. Dan ketika pangeran ini tersentak dan kaget maka gadis atau wanita itu menyilangkan kakinya, hal yang membuat Ci-ongya tersirap karena sepasang paha yang gempal terpampang sekilas, gempal dan putih, mulus!

"Ongya, maafkan aku. Semalam agaknya Ci Fang ke sini. Benarkah?"

"Kau... kau..." sang pangeran terkejut, masih tersentak oleh paha yang mulus putih itu. "Kau ada apa datang ke sini? Mau apa?"

"Hm," gadis itu menarik napas, bersinar-sinar. "Aku hanya ingin tanya tentang maksud kedatangan Ci Fang, ongya. Apakah benar bertanya tentang permusuhanmu dengan Si Golok Maut."

"Benar, dan kau..." pangeran ini menelan ludah, berdebur karena lagi-lagi Eng Hwa menyilangkan kakinya, tanpa malu-malu, mengangkang begitu saja! "Kau ada apa bertanya tentang ini, nona? Apa hubungannya dengan kita?"

"Hi-hik, hubungannya banyak, ongya. Antara lain demi menjaga keselamatan-mu. Dua tiga minggu ini Golok Maut akan datang, dan aku akan menangkapnya lewat kakakmu!"

"Maksudmu?"

"Hm, aku sudah tahu sebab-sebab permusuhan Golok Maut dengan dirimu dan kakakmu, ongya. Bahwa kalian berdua pernah menipu dan menyakiti Si Golok Maut itu. Kakakmu ingin menguasai Golok Penghisap Darah dan ilmunya, menangkap dan menawan Si Golok Maut. Tapi karena pemuda itu dapat lolos dan melarikan diri maka sekarang kalian berdua diancam pembalasannya yang mengerikan!"

"Kau tahu?" sang pangeran kaget.

"Tenang, aku tahu semuanya, ongya. Dan tak perlu terkejut karena perbuatan kalian sudah bukan rahasia lagi bagiku. Aku akan menolong kalian, tapi kalian juga harus menolongku!"

Ci-ongya tertegun. Pangeran ini pucat memandang lawan, terbelalak dan heran serta kaget. Tapi ketika gadis itu kembali menyilangkan kaki dan untuk ini pangeran itu berdesir maka Eng Hwa alias Siluman Kucing Mao-siao Mo-li tertawa berkata,

"Aku bukan musuh, aku kawan. Asal ongya percaya kepadaku dan mau menolong diriku pula maka aku dapat menolong kalian berdua untuk menangkap dan membunuh Si Golok Maut itu!"

"Apa yang dapat kulakukan?" Ci-ongya mulai kacau, tak keruan oleh kilatan-kilatan paha mulus itu. "Kau mau apa, nona? Kau minta aku menolongmu bagaimana?"

"Aku ingin kau mengambilkan catatan-catatan kakakmu tentang ilmu silat Ciam-to-hoat (Silat Golok Maut)!"

"Apa?" sang pangeran terlonjak. "Giam-to-hoat? Kau... kau ngaco?"

"Hm, tak perlu berpura-pura. Kakakmu mempelajari rahasia ilmu itu namun gagal, ongya. Aku tahu bahwa kakakmu ingin menjadi orang yang terhebat di luar dan di dalam istana. Tapi sayang dia belum berhasil!"

"Eng Hwa...."

Siluman Kucing tertawa. Sekarang dia bangkit berdiri dan tiba-tiba menghampiri pintu, siap keluar. Lenggangnya diayun naik turun dan bergerak-geraklah sepasang pinggul yang bulat membusung itu. Pinggul atau pantat Siluman Kucing ini memang hebat, kalau diayun-ayun maka jakun lelaki pun bisa naik turun, seolah terbawa oleh gerak yang merangsang itu, gerak menggairahkan. Dan ketika wanita ini berkata bahwa dia akan keluar kalau sang pangeran tak sanggup membantu tiba-tiba Ci-ongya melompat dan memegang lengannya.

"Tunggu, nanti dulu...!" Ci-ongya ber-seru, sudah terpikat dan terpengaruh oleh pinggul yang menari-nari itu, nafsunya naik ke kepala. "Aku... aku dapat menolong, nona. Tapi... tapi apa balasanmu kalau aku memberikan apa yang kau minta!"

"Hi-hik, apa yang ongya inginkan? Ongya mau apa?"

Sang pangeran tak tahan. Sebagai laki-laki berpengalaman tentu saja dia tahu bahwa ada maksud-maksud tersembunyi di hati gadis ini. Ada semacam keinginan panas yang membuat dia terbakar. Cadis atau wanita ini berkali-kali menyilangkan kaki, tanpa malu-malu. Sebuah tanda bagi dia bahwa wanita ini sebenarnya gampangan. Dia diajak secara halus untuk berdua, dirangsang dan tentu saja birahinya timbul. Dan karena dia bukanlah laki-laki bodoh dan ajakan atau keinginan gadis itu segera ditangkap maka begitu Eng Hwa mau keluar dan menutup pintu kamar mendadak pangeran ini sudah menyambar dan menangkap lengan orang.

"Kau tak boleh pergi, jangan buru-buru pergi. Di sinilah dulu dan kita bercakap-cakap!"

"Hi-hik, ongya mau menolongku?"

"Ah, asal kau memberikan apa yang kusenangi pasti aku dapat menolongmu, Eng Hwa. Dan terus terang saja bahwa kau sengaja menggodaku! Ya atau tidak?" Ci-ongya meremas jari-jari yang lembut itu, tiba-tiba dikecup keningnya dan tersentaklah pangeran ini oleh kejut dan girang. Dia sudah menduga tapi tak secepat itu disangkanya. Dan ketika Eng Hwa terkekeh dan roboh ke pelukannya, mencium dan mengecup bibirnya maka pangeran ini serasa terbang ke sorga.

"Hi-hik, aku tahu keinginanmu, ongya. Bahwa kau ingin menikmati tubuhku dan berdua. Aku mau, tapi kau harus membawa dulu kitab catatan itu!"

"Aku... aku...!" Ci-ongya terbakar, memeluk dan menciumi tubuh menggairahkan itu, meremas-remas. "Aku sanggup menolong, Eng Hwa. Aku janji! Tapi jangan setelah kitab catatan itu kuberikan. Aku ingin sekarang... sekarang!"

"Hi-hik, kalau sekarang tak boleh semuanya, ongya. Kalau kitab belum kau berikan maka kau hanja boleh menciumku saja. Yang lain, nanti dulu!" Eng Hwa tertawa genit, membiarkan lawan menciuminya sesuka hati tapi tiba-tiba dia mendorong ketika Ci-ongya hendak melepas bajunya. Calon ayah mertuanya ini sudah memburu dan merah padam, terbakar oleh nafsu tapi secara cerdik dia memotong di tengah jalan, sikap yang menjadikan pria penasaran karena rasa nikmatnya diputus, sebelum mencapai puncak! Dan ketika pangeran itu mendengus dan gemetaran mau menubruknya lagi maka Siluman Kucing ini berseru, tawanya penuh daya pikat,

"Cukup... cukup, ongya. Aku telah memberikan porsekot! Untuk selanjutnya kau boleh meminta yang lebih tapi berikan kitab catatan itu!"

Ci-ongya gemetar. "Eng Hwa," katanya menggigil. "Untuk apa sebenarnya kitab catatan itu? Kau mau mempelajari Giam-to-hoat?"

"Benar," Eng Hwa mengangguk. "Tapi bukan semuanya, ongya. Karena maksud hatiku adalah ingin menemukan kelemahan-kelemahan Si Golok Maut itu. Kalau aku tahu ilmunya dan menemukan kelemahan-kelemahan Giam-to-hoat tentu Si Golok Maut semakin mudah kurobohkan!"

"Tapi kau senjatanya dapat mengalahkan si jahanam itu!"

"Benar, tapi juga tidak mudah, ongya. Lain kalau aku dapat mempelajari Giam-to-hoatnya. Sudahlah, kauberikan dulu kitab catatan itu dan selanjutnya kita bersenang-senang!"

Ci-ongya terbakar. Sikap dan kata-kata si cantik ini sungguh membuat dia kehilangan akal setiatnya. Ci-ongya tahu bahwa Eng Hwa bukanlah wanita baik-baik, karena sejak mula dia sudah melihat sinar mata dan gerak-gerik orang yang genit, cabul. Tapi ditinggal begitu saja dalam keadaan nafsu sudah "mendidih" tiba-tiba saja pangeran ini tak tahan.

"Eng Hwa, nanti dulu. Jangan kau pergi!"

"Kau mau apa?"

"Aku dapat memberikan kitab catatan itu, sekarang. Kau tunggulah di sini dan jangan keluar dulu!"

"Ah, betulkah?" Eng Hwa berseri, girang dan gembira. "Kau tidak bohong, ong ya? Kau sungguh-sungguh?"

"Ah, aku tak pernah bohong, Eng Hwa. Tapi lepaskan dulu pakaianmu sebelum kuambil buku catatan itu!"

"Kau jangan main-main...."

"Aku tidak' main-main. Aku ingin menikmati sejenak tubuhmu yang indah, sebelum kuambil buku catatan itu!"

Eng Hwa terkekeh. Dia mengangguk dan kembali melepaskan pintu kamar, tak jadi keluar. Dan ketika dengan gerak menggairahkan ia mulai melepas pakaiannya satu per satu, hal yang sudah membuat Ci-ongya tak tahan maka pangeran itu mendengus dan menangkap tubuh ini, meremas-remasnya, memeluk.

"Ah, indah. Luar biasa, sungguh indah .,..!" sang pangeran memeluk dan menciumi bagian-bagian tubuh. Eng Hwa. Dia sendiri tanpa terasa sudah melepas pakaiannya, napas memburu. Tapi ketika Eng Hwa mendorong dan terkekeh, membuat pangeran ini terjengkang di tempat tidur maka wanita cantik itu sudah menyambar pakaiannya kembali dan berkata,

"Cukup! Sudah sesuai perjanjian, ongya. Sekarang kau buktikan kata-katamu dan kutunggu!"

Ci-ongya benar-benar terbakar. Dia sudah terbius dan tenggelam dalam nafsunya. Tubuh Eng Hwa yang montok menggairahkan sungguh tak tertahankan, dia hampir saja gila. Tapi ketika wanita itu mendorongnya dan mata yang bersinar itu tak mungkin dibantah maka pangeran ini mengeluh kecewa dan melompat bangun, sekali lagi meremas dan menciumi bagian tubuh Eng Hwa namun wanita itu menamparnya tertawa. Ci-ongya terhuyung dan melompat keluar. Dan ketika dia berkata bahwa dia akan mengambil kitab catatan itu dan Eng Hwa disuruh menunggu, sesuai perjanjian maka Eng Hwa mengangguk dan berseri-seri.

"Cepat, aku juga tak tahan!"

Ci-ongya mengangguk. Tubuh mulus bagai pualam yang baru saja dipamerkan di depannya sungguh membuat pangeran ini jungkir balik. Dia melihat bentuk tubuh yang luar biasa yang dimiliki Eng Hwa, persis angan-angannya, kalau dia sedang merenung dan menjilat bibir membayangkan tubuh wanita ini. Dan ketika tak lama kemudian pangeran itu muncul kembali dan sebuah kitab terdapat di tangannya maka Eng Hwa menyambut dan sang pangeran berseru,

"Eng Hwa, inilah kitab yang kau cari-cari, Ayo, lepaslah pakaianmu dan layani aku!"

Eng Hwa ditubruk. Wanita ini sendiri sudah cepat menerima buku catatan itu, bergairah membuka dan mengamati, tak perduli pada gerayangan tangan si pangeran, membiarkan saja jari-jari pangeran itu menggerayangi sana-sini, bahkan akhirnya melepas kancing-kancing bajunya. Dan ketika pangeran itu mendengus-dengus dan sudah mengangkat tubuhnya di atas pembaringan maka kecupan panas membuat Siluman Kucing ini menggelinjang geli.

"Ih, tahan, ongya. Aku masih ingin membaca buku ini!"

"Tidak, nanti dapat kau baca, Eng Hwa. Sekarang tepati dulu janjimu dan kita bersenang-senang!"

"Ih, hi-hik.... aku, ah!" dan Siluman Kucing Li Eng Hwa yang tidak tahan oleh jari-jari Ci-ongya sudah menggeliat dan terpaksa menerima serbuan pangeran itu, melempar kitab catatannya dan bergulinganlah keduanya di tempat tidur.

Calon menantu sudah berbuat sama tak senonoh dengan calon mertua. Dua-duanya memang bukan orang baik-baik. Dan ketika Siluman Kucing itu melenguh dan erangan atau rintihan-rintihan nikmat terdengar di situ dan keduanya sudah melepas nafsu berahi maka Ci-ongya benar-benar puas mendapatkan si cantik ini. Eng Hwa montok dan menggairahkan, permainannya di tempat tidur sungguh luar biasa hingga membuat laki-laki mabok. Dan ketika malam itu keduanya bersenang-senang dan malam-malam berikut sudah menjadi milik mereka berdua maka suatu hari Coa-ongya tiba-tiba datang dan marah-marah, mendobrak pintu kamar adiknya ini!

"Ci-te, mana kitab catatan Giam-to-hoat? Kau mengambilnya? Keparat, kau .... ah!" dan sang pangeran yang tertegun dan menghentikan bentakannya tiba-tiba melihat Eng Hwa di situ, polos dalam keadaan bugil dan adiknya tampak tertawa-tawa di tempat tidur. Tubuh yang indah sedang diremas-remas adiknya ini, tubuh yang mulus putih, menggairahkan! Dan ketika Coa-ongya terkejut dan tentu saja tersirap, baru kali itu melihat Eng Hwa maka adiknya buru-buru melompat bangun, terkejut menyambar celana.

"Kanda, ini... ah, ini Eng Hwa. Kekasih baruku. Ada apa kau datang-datang marah kepadaku? Apa yang hilang?"

"Keparat!" pangeran ini marah kembali, masih terganggu oleh keindahan tubuh Siluman Kucing. "Kau mencuri catatanku, Ci-te. Giam-to-hoat kitab catatanku hilang!"

"Hilang?" Ci-ongya pura-pura terkejut, kebodoh-bodohan. "Hilang bagaimana, kanda? Maksudmu kau menuduhku mencuri?"

"Tentu, hanya kau yang tahu, Ci-te. Kau, ah., berikan buku itu kepadaku!" dan sang pangeran yang marah dan menubruk maju tiba-tiba telah mencekik adiknya ini, mengguncang-guncang dan Ci-ongya berteriak pada Eng Hwa. Pada saat itu yang diharap hanyalah Eng Hwa, tak ada yang lain. Dan ketika Eng Hwa berkelebat dan mengenakan pakaian seadanya, buah dadanya tersembul separoh maka gadis atau wanita ini berseru,

"Ongya, tahan. Tak baik bermusuh-musuhan dengan saudara Lepaskan, dan ceritakan apa yang terjadi!" Eng Hwa mencengkeram pundak pangeran ini, lemas namun kuat dan tiba-tiba baju yang dikenakan seadanya itu melorot. Buah dadanya yang tertutup separoh mendadak tampak semua, Eng Hwa menjerit dan berseru lirih. Dan ketika Coa-ongya terbelalak dan terkejut oleh pemandangan itu, pemandangan yang membangkitkan nafsunya maka pangeran ini tiba-tiba lupa akan kemarahannya kepada saudaranya.

"Kau siapa?" pangeran ini gemetar. "Bagaimana dapat ada di sini tanpa kuketahui?"

"Maaf, dia... dia pengawalku, kanda. Sekaligus kekasih dan baru saja bekerja di sini beberapa minggu!"

Coa-ongya memandang adiknya, berkerut kening, kembali terganggu antara marah dan nafsunya yang bangkit itu, buah dada Eng Hwa yang tampak! "Kau tidak melaporkan ini padaku, Ci-te? Kau melanggar larangan?"

"Maaf, Eng Hwa memang tak ingin diketahui dulu, kanda. Dia minta dirahasiakan agar tak diketahui Golok Maut!"

"Golok Maut?" sang kakak terkejut. "Dia dapat berbuat apa terhadap Golok Maut?"

"Hi-hik, jangan memandang rendah, pangeran. Golok Maut bukan apa-apa bagiku karena berkali-kali dia kurobohkan!" Eng Hwa menyambar, tentu saja membual dan Ci-ongya mengangguk. Akhirnya dia berkata bahwa gadis itu benar, puteranya sebagai saksi. Dan ketika Ci-ongya memberi keterangan bahwa Ci Fang yang dulu lemah sekarang sudah dapat merobohkan sepuluh pengawal dengan mudah maka Coa-ongya terkejut dan memandang si cantik ini.

"Kau benar? Berani kuuji?"

"Ah, jangan sekarang, kanda. Eng Hwa tak ingin dikenal pembantu-pembantumu. Kalau semua orang tahu tentu Si Golok Maut tak berani ke sini! Dan Eng Hwa juga tahu semua perbuatan kita, jangan mengacau rencananya agar Golok Maut itu dapat dibunuh dan dilenyapkan!"

Coa-ongya semakin terkejut. "Semua perbuatan kita?" suaranya ragu menyelidik. "Apa maksudmu, Ci-te? Dan siapa sebenarnya wanita ini?"

"Hi-hik, aku Eng Hwa, ongya. Li Eng Hwa. Kau tak perlu curiga kepadaku karena aku bukan musuh!"

"Benar, dia kawan. Dan dia sebenarnya kekasih Ci Fang!"

Coa-ongya tertegun. Akhirnya adiknya itu bicara agak panjang lebar tentang siapa sebenarnya Eng Hwa ini, bahwa dia adalah musuh Golok Maut dan Ci Fang dlselamatkan gadis ini, ketika berada di perkumpulan Hek-yan-pang, sebuah cerita yang sudah dibumbui dan dijungkir balik sedemikian rupa. Dan ketika Coa-ongya mengangguk-angguk dan bersinar-sinar, kagum memandang gadis itu maka pangeran ini tersenyum dan berkata,

"Kalau begitu bagus, aku percaya padamu. Hm, kalau bukan kau yang bicara tentu aku akan curiga, Ci-te. Ah, sudahlah. Betapapun kalian berdua sebenarnya tak usah sembunyi-sembunyi dariku. Sekarang aku ingin bertanya tentang catatan itu, di mana dan kenapa kau ambil!"

"Aku tidak mengambil!" sang adik tiba-tiba pucat, melirik Eng Hwa. "Aku justeru tidak mengerti bagaimana kau tiba-tiba menuduhku, kanda. Aku tak tahu-menahu dan sama sekali tak pernah mengambil buku catatanmu itu!"

"Tapi kau satu-satunya orang yang mengetahui di mana aku menyembunyikan catatan Itu. Tidak, jangan main-main. Cite. Kalau kitab catatan itu jatuh di tangan orang lain maka hal itu bisa membahayakan kita!"

"Tapi aku tak tahu, sungguh tak tahu ....!" dan ketika Coa-ongya melihat betapa adiknya menggeleng dan menyangkal berulang-ulang tiba-tiba dia menarik napas dan akhirnya mengajak adiknya ini keluar. "Kalau begitu mari ke gedungku sejenak. Aku ingin bicara di sana."

Ci-ongya gelisah. Sebenarnya tak baik bagi dia untuk berduaan saja dengan kakaknya itu. Kakaknya adalah seorang yang amat tajam matanya dan dapat melihat gerak-geriknya. Tapi ketika Eng Hwa berkelebat pergi dan tertawa meninggalkan dua orang itu maka Ci-ongya agak lega karena dia masih berada di gedung sendiri.

"Aku agaknya mengganggu. Biarlah aku keluar dan ji-wi (anda berdua) dapat bicara di sini saja!"

Coa-ongya memandang adiknya. Akhirnya dia mengangguk dan Ci-ongya pun setuju. Memang dia agak tak senang kalau ada orang ketiga di situ. Eng Hwa mengganggu namun kehadiran gadis itu menggerakkan hati pangeran ini. Sama seperti adiknya Coa-ongya pun bukanlah pria yang gampang melewatkan seorang wanita cantik. Wajah dan tubuh Eng Hwa sudah membangkitkan selera pangeran ini. Namun karena ada pembicaraan yang lebih penting dan urusan itu ditahan dahulu maka kakak beradik ini akhirnya bercakap-cakap dan mereka tak tahu bahwa diam-diam Eng Hwa mengintai, di luar kamar.

"Aku tak percaya," begitu Coa-ongya menegur adiknya. "Kitab catatanku hilang begitu saja, Ci-te. Kalau bukan kau yang mengambil maka tak mungkin!"

"Aku tak mengambil, aku tak tahu apa-apa. Sumpah!"

"Hm, sumpah yang keluar dari mulutmu tak dapat dipercaya, Ci-te. Aku tahu siapa kau dan kaupun tahu siapa aku!"

"Tapi aku tak mengambil...."

"Bohong! Catatan itu tak mungkin lenyap ditelan setan! Aku tetap tak percaya, Ci-te. Dan aku curiga jangan-jangan antara dirimu dan si Eng Hwa itu....."

"Ah-ah, nanti dulu!" sang adik menggoyang lengan. "Jangan terlampau jauh curiga, kanda. Eng Hwa baru beberapa minggu di sini dan tak ada hubungannya dengan itu. Aku menjamin!"

"Tapi kitab itu tak ada, dan anehnya hilang tidak semua!"

"Maksudmu?" Ci-ongya pura-pura bodoh, mengerutkan kening.

"Dua kitab yang kupunyai hanya sebuah yang hilang, Ci-te. Dan yang satunya masih di tempat. Aku jadi heran dan hanya kaulah yang tahu!"

"Tapi bagiku tak ada gunanya. Aku tak pernah belajar silat! Kalaupun kuambil mestinya dulu-dulu, kanda. Tak perlu sekarang di saat aku sudah mulai tua begini!! Aku mempunyai dugaan lain, jangan-jangan para pembantumu itu yang mengambil!"

"Tak mungkin," sang kakak menggeleng. "Mereka tak ada yang tahu di mana kitab catatan itu, Ci-te. Yang tahu hanya kau dan aku!"

"Tapi aku tak mengambil! Lagi pula, kalau aku yang mengambil, lalu untuk apa, kanda? Kitab ilmu silat itu tak ada perlunya bagiku. Kau tahu sendiri aku orang lemah!"

Sang kakak tertegun. Memang dia heran juga bahwa kitab hanya hilang sebagian, tidak semua. Karena kitab catatannya ada dua buah. Tentu saja dia tak tahu bahwa adiknya mengambil dan diberikan pada Eng Hwa. Ci-ongya licik dan cerdik. Dia tak memberikan itu semua pada Eng Hwa agar gadis itu dapat ditahannya terus, jadi dapat menjadi kekasihnya selama dia suka, sampai bosan. Dan ketika percakapan itu didengar Eng Hwa dan tentu saja wanita ini bersinar-sinar maka di luar siluman Kucing itu juga menjadi marah.

Sebenarnya Eng Hwa tahu. Dia melihat bahwa kitab catatan yang diberikan Ci-ongya ternyata bersambung, jadi masih ada kitab yang lain dan tentu saja gadis itu penasaran, mendongkol. Diam-diam memuji namun sekaligus mengumpat kecerdikan Ci-ongya inl. Itulah sebabnya dia mau terus di situ dan melayani ayah kekasihnya ini. Jadi diam-diam dua belah pihak sama-saraa tahu kecerdikan lawan, masing-masing beradu pintar. Dan ketika hari itu Coa-ongya membongkar kejadian ini dan dugaan Eng Hwa kuat maka gadis itu terus mendengarkan.

"Jadi bagaimana?" sang kakak menyambung, masih kelihatan marah. "Aku tak mau kau tipu, Ci-te. Kalau kau bohong dan kelak aku tahu tentu aku akan membunuhmu!"

"Ah, boleh!" sang adik berkata gagah. "Tapi ingat bahwa tanpa bertengkar pun kita sudah menghadapi lawan berat, kanda. Golok Maut mengintai dan katanya akan datang lagi!"

"Aku tak takut, aku siap menghadapinya!"

"Tapi kanda, kaisar pasti marah!"

"Hm, ini dapat kuatur," dan ketika sang kakak mengepal tinju dan berkata bahwa dia akan menyelidiki hllangnya kitab catatan itu, Ciam-to-hoat yang dulu ditulisnya berbulan-bulan maka pangeran ini akhirnya meninggalkan adiknya setelah berkata memperingatkan, "Aku belum mengenal jelas siapa sesungguhnya Eng Hwa itu. Tapi kalau kau tak keberatan sukalah kau berikan padaku untuk kuselidiki secara diam-diam."

"Ha-ha, kenapa bicara memutar? Kalau kau ingin menikmatinya maka sekarangpun boleh kau bawa, kanda. Eng Hwa gadis cantik yang pandai melayani lelaki!"

"Hm, kau tak keberatan?"

"Ah, kenapa keberatan?" sang adik sudah lega, urusan kitab catatan sudah selesai. "Aku dapat memanggilnya ke mari kalau kau suka, kanda. Biarlah kusuruh sini dan mengantarmu pulang!"

Eng Hwa berkelebat datang. Ci-ongya telah bertepuk tangan memanggilnya dan tentu saja dia masuk, sebelum dipanggil sudah lebih dulu mendengar pembicaraan itu. Dan ketika Coa-ongya bersinar-sinar memandangnya kagum dan Ci-ongya tertawa menggapai maka ayah kekasihnya tapi juga kekasihnya itu berkata,

"Kakakku ingin bercakap-cakap denganmu. Kau pergilah bersamanya dan perlakukan dia sama seperti diriku!"

Eng Hwa pura-pura merah. "Maksud ongya aku menemaninya di tempat tidur?"

"Ha-ha, benar, Eng Hwa. Kita tak perlu malu-malu karena dia maupun aku sama saja bersenang-senang. Barangkali kakakku ingin kau dapat membantunya masalah kitab catatan itu!"

"Hm, ini urusan kita berdua. Kenapa merepotkan orang lain?" sang kakak menegur, melirik adiknya. "Itu rahasia kita, Ci-te. Tak usah melibatkan orang ketiga!"

"Ah, maksudku menyelidiki para pembantumu itu" Ci-ongya meralat, buru-buru menerangkan. "Eng Hwa boleh dipercaya masalah ini, kanda. Dan tak perlu takut!"

Coa-ongya tersenyum. Dia mengejek adiknya itu tapi tak memperlihatkannya pada Eng Hwa. Urusan kitab sesungguhnya tak ada orang lain tahu kecuali mereka berdua. Tapi karena Eng Hwa keburu mendengar karena itu kesalahannya sendiri buru-buru membuka pintu kamar adiknya maka pangeran ini mengangguk dan berkata melempar senyum, "Sudahlah, aku tahu. Kalau kau boleh membiarkan aku membawa gadis ini maka sungguh merupakan satu kegembiraan besar bagiku. Mari, temani aku, Eng Hwa. Kau ke gedungku!"

Eng Hwa tertawa. Dia sudah ditarik dan hendak dibawa pangeran she Coa ini. Ah, dirinya seperti barang mainan saja, dibawa dan sudah berganti-ganti lelaki. Tapi ketika Eng Hwa melepaskan diri dan berkata biarlah pangeran itu lebih dulu dan dia menyusul maka gadis atau wanita ini berkelebat, "Ongya silahkan duluan. Nanti aku tak enak terhadap Ci Fang!"

Coa-ongya tertegun. Adiknya tiba-tiba juga sadar dan mengangguk, memang mereka harus berhati-hati kalau Ci Fang tahu. Eng Hwa dan dirinya telah sepakat bahwa hubungan mereka tak boleh diketahui. Ci Fang bisa marah dan menciptakan bahaya. Itu tak boleh terjadi. Maka ketika tertawa dan mengangguk pada kakaknya pangeran Ci ini berseru,

"Benar, memang tak boleh diketahui Ci Fang, kanda. Sebaiknya diam-diam dan kau pergi lebih dulu!"

Coa-ongya mengangguk. Di sana adiknya sudah memberi isyarat dan tersenyumlah dia. Membayangkan Eng Hwa yang cantik dan menggairahkan tiba-tiba saja nafsunya memang timbul, apalagi adiknya berkata bahwa Eng Hwa pandai melayani laki-laki, jadi tentu memuaskan. Dan ketika hari itu Eng Hwa sudah pindah ke pelukan Coa-ongya, tertawa dan terkekeh di sana maka hari-hari berikut wanita ini sudah menjadi milik beberapa laki-laki. Pertama tentu saja Ci Fang. Eng Hwa tak berani melupakan pemuda ini agar keadaan tak menjadi gawat. Kedua lalu ayah kekasihnya itu, Ci-ongya. Dan ketika yang terakhir adalah Coa-ongya dan Eng Hwa mulai sibuk membagi-bagi waktunya, hal yang mulai merepotkan maka suatu hari Ci Fang mulai curiga.

"Aneh, kenapa kau sering bepergian! Ke mana saja kau ini' Dan mana Golok Maut yang kaukatakan akan datang itu?"

"Ih, sabar. Aku bepergian tidak jauh meninggalkan istana, Ci Fang. Aku meronda dan jalan-jalan di sekitar sini saja Dan tentang Golok Maut, hmm... sebentar lagi dia pasti datang. Aku telah mengatur rencana!"

Ci Fang tak puas. "Kau sekarang banyak menolak keinginanku, Eng Hwa. Tidak seperti dulu. Apakah kau tidak cinta lagi kepadaku?"

"Ih, omongan apa ini, Ci Fang? Siapa bilang aku tidak mencintaimu lagi? Aku masih tetap cinta padamu, dan lihat ini .... cup!" Eng Hwa memberikan ciumannya, mendarat mesra dan tertawalah wanita itu membelai Ci Fang. Sebenarnya dia lelah karena baru saja melayani Ci-ongya. Ayah kekasihnya itu harus dibujuk dan didekati agar menyerahkan kitab catatan satunya. Dia sudah mencoba kepada Coa-ongya secara hati-hati namun belum berhasil, hal yang diam-diam membuat wanita ini gemas. Maka ketika hari itu Ci Fang cemberut padanya dan menegur serta merengut maka Eng Hwa sadar bahwa sudah empat hari dia meninggalkan Ci Fang, sibuk dengan Coa-ongya dan Ci-ongya, yang lagi panas-panasnya mencumbu dan menginglnkan dirinya!

"Aku tak mana-mana, Ci Fang. Aku hanya di sekitar sini saja. Eh, apakah kau cemburu?"

"Hm, cemburu sih tidak, tapi pelajaran ilmu silat tak pernah kau tambah lagi!"

"Ah, hi-hik, aku lupa!" dan Eng Hwa yang teringat dan tertawa mendengar itu lalu mengajak Ci Fang ke belakang, memberi tambahan ilmu-ilmu silat karena memang selama ini dia lupa. Biasanya Ci Fang ingin bercumbu dan bermesraan melulu, seperti paman dan ayahnya itu. Tapi karena pemuda ini sudah terlampau sering dan rupanya Ci Fang juga mendapatkan seorang dua orang selir di istana itu maka mereka tiba-tiba agak jauh satu sama lain dan Eng Hwa selalu memberi alasan ini-ltu kalau sibuk melayani kekasih-kekasih barunya.

Hebat wanita ini. Ci Fang tentu saja tak tahu semuanya itu. Sama sekali dia tak curiga bahwa ayah dan pamannya ada main dengan kekasihnya ini, karena dia percaya Eng Hwa tak akan melanggar larangannya. Yakni, Eng Hwa boleh bergaul dengan siapa saja asal tidak bergaul atau bercinta dengan ayah dan pamannya itu, hal yang tak disuka pemuda ini, sesuatu yang aneh. Dan ketika hari itu Eng Hwa tertawa dan membelai Ci Fang, di sela-sela pelajaran silatnya maka wanita ini berpikir bagaimana dia dapat pergi dari situ, karena kebosanan sudah mulai timbul, diam-diam sudah mulai mempelajari kitab catatan Giam-to-hoat dan dia ingin menyendiri, setelah mendapatkan kitab catatan secara lengkap. Dan ketika hari itu Ci Fang terpaksa dilayani dan dia kelelahan, karena semalam melayani tiga lelaki sekaligus maka Eng Hwa berkata bahwa besok dia tak mau diganggu.

"Aku akan bersamadhi di kamarku, ingin sendiri. Kalau ada keperluan datanglah pada hari berikutnya."

"Kau tak keluar?"

"Tidak, aku lelah, Ci Fang. Aku ingin beristirahat."

"Kalau begitu kupuaskan dulu diriku. Biarlah hari ini kita habiskan waktu dengan bersenang-senang!"

Eng Hwa tersenyum. Ci Fang seperti biasa lalu memeluk dan menciuminya, ganas. Empat hari tak bertemu membuat pemuda ini seakan kelaparan. Dan ketika esoknya dia tak mau diganggu dan Eng Hwa minta agar pemuda itu keluar maka diam-diam wanita ini menemui Ci-ongya, ayah kekasihnya yang juga sekaligus kekasihnya pula!

"Aku tak mau kau tipu. Cukup sebulan ini kau berjanji. Nah, berikan kitab catatan satunya, ongya. Atau aku melapor pada kakakmu bahwa kaulah orangnya yang mencuri itu!"

Ci-ongya terkejut. Datang-datang Eng Hwa berkata marah. Memang akhirnya ia mengaku bahwa kitab yang diberikan baru sebuah, yang lain tak berani diambil karena itu saja sudah cukup membangkitkan kecurigaan kakaknya, Coa-ongya. Dan ketika pagi itu si cantik ini datang dan marah kepadanya maka Ci-ongya terbelalak dan bangkit dari kursinya.

"Eng Hwa, kenapa kau bicara begini? Bukankah sudah kuberi tahu bahwa kau harus bersabar? Kitab catatan itu telah dipindah, Eng Hwa. Dan terus terang aku tak tahu!"

"Tapi kau menyatakan janjimu, berusaha sebulan!"

"Benar, tapi jangan marah-marah, dewiku. Aku telah berusaha namun sampai hari ini masih belum berhasil. Sudahlah, ke marilah dan jangan marah-marah!"

Eng Hwa berkelebat. Tiba-tiba dia memaki dan menampar pangeran ini, yang seketika terjengkang dan menjerit roboh! Dan ketika Ci-ongya merintih dan kaget bukan main, karena baru kali ini Eng Hwa menyerangnya maka gadis atau wanita itu berkata, "Aku tak percaya mulutmu lagi, ongya. Kau pembohong dan penipu. Aku akan menghadap kakakmu, minta tukar!"

"Apa... apa maksudmu?"

"Aku akan menukarkan yang sudah kubaca ini dengan yang lain. Dan berkata bahwa kau yang memberikan!"

"Tidak... tidak...! Jangan, Eng Hwa. Kalau begitu beri aku waktu seminggu lagi untuk ku usahakan!"

"Aku tak sabar, kau selalu bohong!" dan Eng Hwa yang gemas meloncat pergi lalu menghadap Coa-ongya dan menemukan kekasihnya yang satu ini, yang tentu saja terkejut dan berobah mukanya begitu melihat kitab catatan di tangan Eng Hwa, kitab yang dikenal!

"Ongya, aku menemukan ini. Barangkali ini yang kau cari-cari. Benarkah?"

"Beb... benar. Dari mana kaudapatkan itu, Eng Hwa? Dari mana kau dapatkan? Ah, berikan padaku. Itu punyaku!"

Namun Eng Hwa yang tertawa dan terkekeh mengelak berseru, "Ongya, kitab ini kebetulan saja jatuh ke tanganku, dan sudah kubaca. Bagaimana kalau kita sekarang saling tukar-menukar? Aku tertarik isinya, sukalah kau keluarkan yang satu dan yang ini kuserahkan padamu!"

Coa-ongya terkejut. Eng Hwa tiba-tiba saja bersikap aneh dan berani, belum pernah wanita itu coba menguasainya. Tapi begitu. sadar dan mampu mengendalikan hatinya tiba-tiba pangeran ini tersenyum dan menekan debaran jantungnya. "Eng Hwa, kau adalah kekasihku. Kita sudah bersenang-senang dan sering bermesraan berdua. Kenapa kau ingin tukar-menukar? Masalah ini tak pernah kau bicarakan, kini mendadak saja kau memegang kitab itu. Ah, tanpa tukar-menukar pun kalau kau ingin membaca tentu aku sedia memberikannya, Eng Hwa. Tapi sifatnya pinjam!"

"Hm, aku memang ingin pinjam. Bukan bermaksud mengangkangi. Kau tak marah padaku, ongya?"

"Ah, marah? Ha-ha, terhadap wanita secantik dirimu aku tak mungkin marah, Eng Hwa. Kau minta kepalaku pun pasti kuberi. Mari, kuambilkan kitab yang satu itu tapi berikan itu padaku!"

Eng Hwa ragu, bersinar-sinar. "Aku ingin berhati-hati dan sebaiknya kita saling memberikan saja. Kau ambil yang satu itu dan serahkan padaku dan aku memberikan serta menyerahkan ini padamu."

"Ha-ha, kau takut? Tak ada alasan, Eng Hwa. Aku tak bisa silat dan kau tahu itu, tak perlu khawatir!"

"Benar, tapi... hm!" Eng Hwa tertawa. "Aku perlu berhati-hati, ongya. Sudahlah ambilkan saja kitab itu dan ini nanti kuserahkan padamu!"

"Baiklah, kau tunggu sebentar!" dan Coa-ongya yang tersenyum mengangguk pergi lalu ke dalam dan tak lama kemudian sudah mengambil sebuah kitab, bentuk dan sampulnya persis seperti yang dibawa Eng Hwa dan Siluman Kucing itu berseri-seri. Ah, itu yang diincar! Dan ketika sang pangeran sudah mendekat dan tertawa meminta kitabnya maka wanita ini mau menyambar namun sang pangeran mengelak. "Ha-ha, nanti dulu, Eng Hwa. Berikan itu padaku!"

"Tidak, berikan itu dulu, ongya. Nanti kuserahkan!"

"Tapi kita harus adil, kau tak boleh menipu. Hayo, kita sama melempar dan mari sama-sama menerima!"

Dan ketika Siluman Kucing tertawa dan mengangguk maka keduanya sudah melempar dan memberikan kitab masing-masing, disambut dan diterima dan keduanya sama memeriksa. Tapi begitu Eng Hwa melihat bahwa sambungan kitab kedua ini tidak sama dengan kitab pertama, mengherankan dan membuat dia terkejut maka Coa-ongya di sana tertawa bergelak memeriksa kitab yang diberikan Siluman Kucing itu.

"Ha-ha, tidak sama. Aih, mana yang salah mana yang benar aku jadi tidak tahu, Eng Hwa. Tapi sekarang aku tahu bahwa maksud kedatanganmu ke mari sebenarnya adalah untuk kitab ini!"

Dan ketika Siluman Kucing itu terbelalak dan mengerutkan kening, tak mengerti maksud si pangeran tiba-tiba pangeran itu bertepuk tangan dan berkelebatlah di situ dua bayangan laki-laki.

"Mindra, tangkap dan bekuk siluman betina ini. Kalian benar, dia kiranya adalah Mao-siao Mo-li Siluman Kucing!"

Eng Hwa kaget sekali. Di ruangan itu tahu-tahu berkesiur dua bayangan biru dan kuning dan muncullah Mindra dan Sudra, dua kakek India yang amat lihai dan yang dulu pernah bertemu dengannya, bahkan yang pernah mengebut dia hingga roboh! Bukan main kagetnya wanita ini. Dan ketika dua kakek itu tertawa dan menyeringai padanya, penuh ejekan maka Sudra, kakek kedua itu sudah berkata,

"Siluman Kucing, selamat bertemu. Kiranya kau ada maksud merampas kitab!"

"Keparat!" Eng Hwa tiba-tiba berteriak nyaring, berkelebat ke arah pangeran Coa. "Kalian tak dapat menangkapku, Sudra. Karena aku akan menangkap pangeran Coa!" tapi ketika sang pangeran terbahak dan berkelit di belakang sebuah kursi tiba-tiba terdengar dentuman dan tembok rahasia muncul menghadang, menutup dengan cepat dan Siluman Kucing ini hampir saja tergencet. Tak pelak dia berjungkir balik menendang tembok rahasia itu dan lenyaplah sang pangeran di balik dinding tak tampak. Dan ketika suara sang pangeran ikut menghilang dan tinggallah suara tawa dua orang kakek itu maka Li Eng Hwa Siluman Kucing ini pucat.

"Coa-ongya, kau manusia keparat. Penipu!"

"Ha-ha, tak tahulah. Entah kau atau aku yang menipu, Eng Hwa. Tapi sekarang kau hadapi dulu dua pembantuku itu!" suara sang pangeran tiba-tiba terdengar lagi, entah dari mana namun gaung suaranya cukup jelas.

Eng Hwa tak sempat mencari karena dua kakek di depannya itu sudah bergerak, Mindra dengan tawanya yang parau sementara Sudra dengan bentakan pendeknya. Kedua-duanya menubruk dan siap menangkapnya. Dan karena lawan tak mungkin dihadapi karena dia bukanlah tandingannya maka Siluman Kucing ini tiba-tiba meledakkan granatnya dan memaki dua kakek itu.

"Kalian tua-bangka-tua bangka busuk. Mampuslah!"

Mindra dan Sudra terkejut. Mereka berseru keras mengebutkan lengan, granat diterima dan digulung lengan baju. Namun ketika mereka menangkap dan menggulung granat, yang tak jadi meledak maka Siluman Kucing itu melepas lainnya lagi menghantam tembok.

"Dar-dar!"

Ruangan menjadi gelap. Memang inilah yang dikehendaki Eng Hwa karena wanita itu sudah terbang menyelinap di bawah ketiak lawan, lolos dan melarikan diri dan tentu saja dua kakek India itu marah. Mereka belum apa-apa sudah dikecoh dan siluman betina itu pun kabur. Dan ketika dua kakek itu menjadi marah dan memukup asap tebal agar buyar maka keduanya berkelebat melihat bayangan Siluman Kucing, yang sudah meloncat diluar.

"Berhenti, atau kau mampus!" Sudra melepas cambuk baja, meledak, dan menjeletar namun Eng Hwa melepas lagi dua granatnya.

Cerdik wanita ini, bukan Mindra atau Sudra yang dihantam melainkan tanah di depan mereka, yang seketika meledak dan kembali mengeluarkan asap tebal. Dan ketika dua kakek itu memaki-maki sementara Eng Hwa sudah lolos lagi dengan cepat maka di sana wanita ini mengumpat ketika belasan pengawal tiba-tiba menghadang.

"Pergi kalian, minggir!"

Pengawal berpelantingan. Mereka itu adalah orang-orang yang segera datang begitu mendengar keributan. Granat yang meledak serta bentakan dua kakek India di dalam mengisyaratkan mereka akan adanya bahaya, sang komandan sudah membentak dan menyuruh mereka bergerak. Dan ketika bayangan Eng Hwa sudah mereka lihat dan wanita itu belum mereka lihat maka tentu saja mereka menganggap musuh dan langsung diserang, sayangnya tak mampu dan mereka justeru dipukul balik, tunggang-langgang dan menjerit sambil berteriak-teriak. Memang mereka bukan tandingan wanita ini dan Eng Hwa sudah berkelebat dan melarikan diri lagi, tak mau tertahan karena dia maklum akan bahaya di belakang, dua kakek India yang lihai itu. Dan ketika benar saja Sudra maupun Mindra sudah membentak dan mengejar di belakang maka wanita ini memaki dan melepas lagi granat-granat tangan.

"Dar-dar!"

Siluman Kucing coba meloloskan diri. Wanita ini mengumpat dan bersicepat menggerakkan kakinya, untung hapal jalan-jalan di situ namun dia tak mau lewat bawah, melayang dan sudah berlarian di atas genteng. Tapi ketika terdengar dengus seseorang dan entah dari mana mendadak muncul seorang kakek tinggi besar, yang bukan lain Yalucang si kakek Tibet maka Eng Hwa terkejut setengah mati oleh kehadiran kakek ini, yang muncul dan tahu-tahu sudah ada di depannya seperti iblis.

"Siluman betina, Coa-ongya menyuruhku menangkap dan membekukmu, bukan membunuh. Menyerahlah dan kembalikan kitab di tanganmu itu!"

"Jahanam!" Siluman Kucing ini melengklng. "Kaupun sama dengan Mindra mau pun Sudra, kakek busuk. Menyerah hidungmu dan kau mampuslah... dar-dar!" Eng Hwa kembali mengayun granat tangannya, meledak di depan si kakek dan Yalucang mengelak. Kakek ini mendengus namun mulutnya tiba-tiba dibuka, mendesis dan menyemburlah segumpal api menyibak asap tebal yang dihasilkan granat. Dan ketika Eng Hwa terkejut dan kakek itu menggeram maka Yalucang sudah menubruk dan berkelebat marah.

"Menyerahlah!"

Eng Hwa putus asa.

"Kau tak dibunuh, Mao-siao Mo-li. Melainkan ditangkap dan sekedar menerima hukuman ringan. Atau pangeran akan gusar dan salah-salah kau bakal dlbunuh...wut-plak!"

Siluman Kucing terlempar, gugup menerima semburan api kakek itu dan melempar tubuh bergulingan. Apa boleh buat dia harus ke bawah dan di sana ternyata menunggu dua kakek India itu, Sudra dan Mindra yang tertawa menggerakkan lengannya, Sudra bahkan meledakkan rambut dan tubuh Eng Hwa disengat ujung cambuk, yang bukan main sakitnya. Dan ketika dia menjerit dan jatuh ke tanah, langsung menggulingkan diri dan melempar-lempar lagi granat tangannya tiba-tiba semua granat tangannya itu sudah dililit cambuk, yang amat lihai menangkap dan menerima!

"Ha-ha, tak guna lagi, bocah. Hayo menyerah dan menghadap Coa-ongya!"

Eng Hwa pucat. Kalau tiga orang ini sudah siap di bawah dan di sana masih banyak terlihat pengawal yang berlari-lari maka harapan lolos sungguh tipis sekali. Dia tak bermaksud melakukan perlawanan kecuali meloloskan diri, itu maksudnya, karena Mindra maupun Sudra bukanlah lawan-lawan yang dapat dihadapi, apalagi masih ada kakek tinggi besar yang menyeramkan itu, Yalucang. Dan ketika dia memaki namun juga mengeluh bergulingan meloncat bangun maka di Sana tiga orang itu mengejarnya dan Sudra tertawa-tawa.

"Ha-ha, hayo lepaskan lagi granat-granat tanganmu, siluman betina. Biar kurampas dan kubuang semua!"

Eng Hwa gelisah. Kalau begini terus-terusan tentu dia celaka, tiga orang itu sudah mengurung namun dia mencabut payungnya, menusuk kaki si kakek tinggi besar. Dan ketika Yalucang mengangkat kakinya dan menggeram serta menyemburkan apinya lagi mendadak Ci Fang muncul dan membentak tiga orang itu.

"He, kalian. Berhenti! Apa yang kalian lakukan ini dan kenapa kekasihku diserang!"

Tiga orang itu terkejut. Ci Fang adalah pemuda pemberani dan mereka mengenalnya, maklumlah, Ci Fang adalah keponakan Coa-ongya, majikan mereka. Dan ketika bentakan itu memberi kesempatan pada wanita ini untuk melompat bangun maka Ci Fang sudah berkelebat dan menghadang tiga orang kakek itu.

"Ci Fang, mereka manusia-manusia kurang ajar. Pukul mereka!"

Ci Fang bergerak. Dia menyerang dan memukul tiga kakek itu, yang tentu saja menangkis dan Ci Fang pun tergetar, terhuyung hampir roboh. Namun ketika pemuda itu marah-marah dan memaki mereka maka Eng Hwa berkelebat dan melarikan diri.

"Tahan mereka, jangan biarkan mengganggu aku!"

"He!" Ci Fang berseru. "Kau sendiri mau ke mana, Eng Hwa? Kenapa keluar? Hei, tunggu aku. Jangan lari!" dan Ci Fang yang bergerak dan mengejar kekasihnya lalu mendengar seruan Mindra,

"Siauw-ya (tuan muda), dia merampas kitab pamanmu. Suruh dia menyerahkan kitab itu dan baru kita membiarkannya pergi!"

"Apa? Dia merampas kitab?"

"Ya, lihat di tangannya itu, siauw-ya. Siluman betina ini mau melarikan diri setelah mengambil kitab!"

Ci Fang tertegun. Dia melihat kekasihnya memang membawa kitab namun Eng Hwa sudah cepat menyembunyikan kitab itu di balik bajunya. Gerakan menyentuh buah dada ini mendebarkan hati para pengawal yang tentu saja melotot. Eng Hwa tak malu-malu melakukan itu dengan membuka bajunya, ketika melewati pengawal. Dan ketika Ci Fang tertegun namun membentak dan segera mengejar lagi maka tiga kakek di belakang berani mengikuti dan berseru,

"Berhenti, atau kami akan merobohkanmu!"

"Benar," Ci Fang juga berseru. "Berhenti, Eng Hwa. Atau aku akan menyangkamu buruk dan kau ditangkap!"

"Aku tak mau ditangkap, kitab ini punyaku!"

"Apakah Giam-to-hoat?"

Eng Hwa tak menjawab.

"Hei, kalau betul justeru jangan takut, Eng Hwa. Aku akan menolongmu dan kita berdua sama-sama pergi, seperti janji semula!"

Tiga kakek di belakang melengak. Mereka jadi heran dan mengerutkan kening ketika mendengar itu. Kalau betul begitu maka justeru putera Ci-ongya ini harus dihajar, karena jelas mau bersekongkol dengan musuh. Tapi sebelum mereka melakukan itu dan Eng Hwa di sana melempar dan membanting pengawal maka sebuah panggilan membuat wanita ini terkejut, menoleh.

"Sst, tak perlu meroboh-robohkan pengawal, Eng Hwa. Ke marilah, kutolong...!"

Eng Hwa melihat seseorang di situ. Sebuah kepala melongok dari balik dinding dan itulah Ci-ongya, ayah kekasihnya, atau juga kekasihnya, pangeran yang baru saja dihajar. Dan ketika Eng Hwa ragu dan tertegun melihat Ci-ongya menggapai maka adik Coa-ongya itu berseru,

"Hei, di luar ada Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko. Jalan larimu tertutup. Marilah dan ikut aku, lewat jalan rahasia!"

Eng Hwa berjungkir balik. Akhirnya dia tertarik melihat tawaran ini dan girang menyambut, melayang dan sudah turun di dekat pangeran itu. Dan ketika ia langsung menangkap dan mencengkeram leher baju maka dia membentak, "Kau jangan menipu, atau aku akan membunuhmu!"

"Ah," pangeran ini kesakitan. "Kau terlalu, Eng Hwa. Sudah melaporkan pencurianku masih juga kau tidak percaya kepadaku. Lepaskan, atau aku tak dapat bergerak!"

"Kau mau bawa aku ke mana?"

"Keluar tentu saja. Bukankah kau ingin menghindari tiga orang itu?"

"Benar."

"Nah, mari, Eng Hwa. Di lorong bawah tanah kita bisa selamat. Tapi beri imbalannya agar kau dapat keluar!"

Eng Hwa terkejut, ganti disambar tangannya dan dicium. Dalam saat seperti itu ternyata ayah kekasihnya ini masih bernafsu, dirinya sudah dipeluk dan dadanyapun diremas. Terlalu si tua bangka ini! Tapi karena dia ingin selamat dan tersenyum membiarkan itu maka Ci-ongya menekan sebuah tombol dan mereka tahu-tahu terjeblos ke dalam sebuah sumur rahasia.

"Hati-hati, pegang aku erat-erat!"

Eng Hwa merasa luncuran yang cepat. Entah berapa lama dia tak tahu tapi mereka tiba-tiba sudah berada di sebuah, ruangan bawah tanah, terang dan tidak gelap. Dan ketika pangeran itu tertawa dan dia melepas pelukannya maka Ci-ongya terkekeh dan berseru,

"Heh, di bawah sini kita aman, Eng Hwa. Hayo beri imbalannya sebelum kau benar-benar kuantar keluar!"

"Kau mau apa?"

"Eh, bukankah mau mengantarmu keluar? Eit, jangan kira aku menipumu, Eng Hwa. Justeru kaulah yang menipu dan tidak dapat kupercaya! Hayo, lepas bajumu dan kita bersenang-senang sejenak!"

Eng Hwa gemas-gemas geli. Dia tak bergairah dan saat itu keinginannya hanya keluar, secepatnya meninggalkan tempat itu. Tapi ketika Ci-ongya mengingatkan bahwa tanpa dia tak mungkin dirinya keluar dengan selamat maka wanita ini tertegun.

"Kau layani aku dulu, baru semuanya akan beres. Bukankah kitab yang diberikan kakakku adalah palsu?"

Si cantik terkejut.

"Lihat, aku tahu, Eng Hwa. Dan aku juga membawa aslinya. Kalau kau mau melayani aku dan baik-baik bersamaku maka semuanya akan kau peroleh. Buang kitab itu, itu palsu!"

Eng Hwa tertegun. Ci-ongya sudah mengeluarkan kitab yang lain dan terdapatlah kitab seperti yang persis di tangannya, tersentak dia. Dan ketika dia menyambar dan merampas kitab itu maka Ci-ongya terkejut dan berseru,

"Eng Hwa, jangan macam-macam. Kalau kau merampas dan membawa lari kitab itu maka aku akan memanggil tiga orang kakek di luar itu. Atau kakakku akan datang dan kau terkurung hidup-hidup di tempat ini!"

Eng Hwa melotot. Memang dia menjadi jerih setelah melihat bahwa di tempat itu kiranya banyak tempat-tempat rahasia yang tidak diketahui umum. Tadi Coa-ongya menghilang di balik dinding dan sekarang Ci-ongya ini amblas di perut bumi, sumur rahasia. Dan karena mengakui bahwa kakak beradik dua orang pangeran ini adalah orang-orang cerdik yang dapat membuat orang lain celaka kalau tidak berhati-hati maka Eng Hwa tertawa, memancing.

"Ongya, jangan menggertak aku. Seandainya aku membunuhmu di sini dan keluar mencari jalan sendiri tentu dapat. Kenapa kau menakut-nakuti?"

"Ha-ha, kau mau coba-coba itu? Cobalah, dan lihat apakah kau dapat keluar tanpa petunjuk jalan, Eng Hwa. Di sekitar tempat ini tak ada lubang kecuali dinding melulu!"

Eng Hwa tak percaya. Dia melompat dan menghilang sejenak, membuktikan omongan itu. Dan ketika benar saja bahwa di sekeliling mereka hanya dinding melulu dan tampaknya tak ada jalan keluar maka gadis atau wanita ini tertawa, diam-diam menyembunyikan marahnya.

"Ongya, kau benar. Tapi akupun tak sungguh-sungguh. Ah, keparat kau! Tempat ini memang dinding melulu dan mengherankan bagaimana kau mengajakku keluar dari sini. Apakah kau tak bohong dan dapat membuktikan omonganmu itu? Awas, jangan kau main-main, ongya. Atau aku akan membunuhmu dan kita berdua mampus di sini!"

"Ha-ha, kau kira aku main-main? Ah, kau terlalu, Eng Hwa. Heran benar bahwa kau masih juga tak percaya padaku! Sudahlah, aku tak mungkin membohongimu dan kalau aku bohong tentu kau dapat membunuhku di sini. Sekarang, apakah kau menepati janjimu untuk melayaniku bersenang-senang? Kalau mau tentu aku akan membawamu keluar, tapi kalau tidak tentu saja kau akan tetap tinggal di sini!"

"Dan membunuhmu!"

"Ah, tak mungkin. Kau tak berani membunuhku kalau tak ingin keselamatan dirimu terancam. Sudahlah, kau mau melayaniku atau tidak?"

"Hm!" Eng Hwa tertawa, mendongkol juga. "Kau cerdik, ongya. Kalau tidak mengenalmu barangkali tak semua orang tahu kelicikanmu ini. Baiklah, aku mau bersenang-senang tapi kubaca dulu kitab catatanmu ini. Kalau cocok, boleh kita teruskan. Tapi kalau tidak, hmm... aku tak mau bercakap-cakap lagi denganmu dan kau kupaksa untuk menunjukkan jalan keluar di sini!"

"Ha-ha, kau kira aku bohong? Baiklah, boleh kau baca kitabku itu, Eng Hwa. Dan buang saja kitab yang kau dapat dari kakakku!"

Eng Hwa mengangguk. Memang dia penasaran dan heran serta marah melihat dan mendengar semua Itu. Coa-ongya telah menipunya dan baru sekarang dia tahu. Maka membalik dan membuka-buka halaman kitab itu dia lalu mencocokkan dan mengecek isinya, memang betul dan akhirnya dia tertawa. Dan ketika lawan bertanya bagaimana pendapatnya maka dia mengangguk dan berkata, "Memang cocok, sungguh tidak salah. Baiklah, aku melayanimu, ongya. Tapi katakan dulu bagaimana kau tahu bahwa kitab yang itu palsu!"

"Ah, gampang, Eng Hwa. Aku tahu watak kakakku yang tak dapat dipercaya. Mana mungkin dia mau memberimu kitab yang sungguhan? Itu palsu, dan pasti dengan kitab yang pertama sambungannya tidak cocok!"

"Benar, memang tidak cocok, Dan kitab ini, hmm... dari mana kau dapatkan? Apakah kau mencurinya pula?"

"Ha-ha, aku mengambilnya untukmu, Eng Hwa. Dan semua ini sebenarnya atas jasamu juga. Kalau kau tak mengacau dan membuat ribut di situ tentu aku tak dapat mengambilnya. Tapi karena kau telah mengacau dan ribut-ribut di luar maka kakakku lengah dan kitabnya kuambil!"

"Tapi dia juga mempunyai kitab lain!"

"Benar, semata untuk menipu kalau seseorang menekannya, Eng Hwa. Berjaga-jaga dari segala kemungkinan buruk kalau hal itu datang!"

"Hm-hm!" Eng Hwa kagum, mengangguk-angguk. "Kau dan kakakmu sungguh orang-orang luar biasa, ongya. Ah, kalian memang setan dan siluman jahanam!"

"Ha-ha, kau memaki kami? Eh, saat ini kita bersahabat, Eng Hwa, bukan musuh. Hayo layani aku dan kita bersenang-senang!"

Eng Hwa tertawa. Ci-ongya sudah menubruknya dan menciumi mukanya, dibiarkan dan akhirnya pakaiannya pun dilepas. Dan ketika dia roboh dan menyambut ciuman-ciuman lawannya itu maka mereka berdua sudah bergulingan dan melepas hawa nafsu. Bagi Siluman Kucing ini tak jadi soal karena akhirnya diapun terangsang ciuman-ciuman ganas itu, terkekeh dan balas mencium lawan dan lekatlah mereka seperti lintah. Dan ketika setengah jam kemudian Ci-ongya sudah mendapat kepuasannya dan wanita ini menepati janji maka Eng Hwa mengenakan pakaiannya kembali dan melompat bangun.

"Cukup, sudah puas. Lain kali kita lanjutkan dan bawa aku keluar!"

"Heh-heh, kau tak ingin lagi?"

"Tidak, ini cukup, ongya. Aku tak mau berlama-lama lagi dan bawa aku keluar dari sini!"

"Baiklah, mari," dan Ci-ongya yang tertawa bangkit berdiri akhirnya menyambar pakaiannya pula dan sekali dua masih menciumi Siluman Kucing itu.

Eng Hwa mengelak dan mendorongnya. Dan ketika dia berkata bahwa semua permainan itu cukup maka Ci-ongya menghela napas dan membawanya keluar. Mula-mula dia menginjak sesuatu di lantai, menekan sebuah tombol dan terbukalah dinding sumur itu. Dan ketika lorong atau jalanan berliku mulai mereka lalui naik turun maka Eng Hwa mengumpat di dalam hati karena jalanan di situ benar-benar sukar diingat. Jangankan diingat, menghadapi tembok-tembok buntu yang sering menghadang mereka saja sudah cukup memberatkan pikiran, tak gampang baginya untuk menghapal di mana kira-kira kunci atau tombol rahasianya. Namun ketika lima belas menit kemudian mereka sudah menghadapi sinar matahari dan di luar sana menganga sebuah guha lebar maka Ci-ongya tertawa dan mengusap pinggulnya.

"Nah, Itu, Eng Hwa. Kau bebas!"

Eng Hwa membalik. Dia tertawa dan siap melepas sebuah tamparan, sebenarnya sejak tadi menahan-nahan marah dan ingin menghantam mampus laki-)aki yang telah menidurinya ini. Tapi begitu melihat lawan memegang sebuah kelenengan dan berkata bahwa dengan kelenengan itu Ci-ongya dapat memanggil pengawal atau Sudra dan kawan-kawannya dalam sekejap maka Siluman Kucing ini tak jadi menggerakkan tangannya.

"Kau mau apa? Membunuhku? Ha-ha, jangan begitu, Eng Hwa. Kehangatan tubuh kita berdua masih sama-sama menempel. Pergilah, dan kutanggung kau selamat. Atau kelenengan ini akan bergoyang dan sekejap saja kakakku dan para pembantunya datang!"

"Keparat, siapa mau membunuhmu? Kau cukup tengik, Ci-ongya. Tapi aku berterima kasih bahwa kitab-kitab catatan kakakmu telah kudapatkan. Hi-hik, inilah maksudku sebenarnya, mendekati puteramu dan mempergunakan dirinya untuk menemukan Giam-to-hoat!"

"Hm, begitukah?" sebuah suara tiba-tiba menguak. "Kau kejam, Eng Hwa. Kalau begitu kau tak berperasaan. Dan kau kiranya Siluman Kucing, penipu!"

Eng Hwa membalik. Dia melihat Ci Fang tiba-tiba muncul di situ, di luar sana. Dan ketika dia terkejut tapi tertawa berkelebat ke depan tiba-tiba dilihatnya bayangan dua kakek India dan si tinggi besar itu, kakek Yalucang.

"Maaf, kau kiranya di sini, Ci Fang. Tapi apa boleh buat, aku harus mengaku. Baiklah, sampai ketemu lagi dan banyak terima kasih atas semua kesetiaanmu selama ini!" Eng Hwa melesat di luar guha, terbang dan cepat mengerahkan ginkangnya karena saat itu bayangan tiga kakek lihai semakin dekat. Dia tak berani berlama-lama lagi setelah mereka muncul. Dan ketika wanita itu lenyap dan Ci Fang mendengus dengan marah maka Coa-ongya datang dan tertawa-tawa memuji adiknya.

"Ha-ha, kitab itu telah kembali lagi, Ci-te. Siluman Kucing itu kau pedayai lagi?"

Ci-ongya tertawa. "Dia lumayan, sayang memperdayai puteraku. Hm, ini kitabmu, kanda. Dan maaf hampir saja aku teledor!"

"Ah, kau tak melakukan kesalahan. Untung saja kita waspada. Terima kasih, ha-ha...!" dan Coa-ongya yang menerima kitab dan menepuk-nepuk pundak adiknya lalu melihat tiga bayangan kakek-kakek itu. "Sudra, tak perlu dikejar. Biarkan ia pergi. Ha-ha, Siluman Kucing akan mempelajari Giam-to-hoat palsu!"