GOLOK MAUT
JILID 14
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
KENG HAN pucat. Memang benar, air keemasan yang mulai keluar dari tubuh mereka itu dapat membunuh mereka, lama-lama habis tenaga mereka dan tentu saja ini berbahaya. Namun karena mereka tak berdaya dan Keng Han mengeluh maka pemuda ini menjawab,

"Benar, tapi kita tak dapat berbuat apa-apa, Su Tong. Kakek iblis itu keji sekali. Kita tak dapat keluar dan Bhi Li serta kakaknya pingsan."

"Hm, apa itu?" Su Tong tiba-tiba menoleh, menunjuk pada sesuatu dan Keng Han tertegun.

Di luar hutan berindap sesosok bayangan dan lapat-lapat mereka mengenal bentuk bayangan itu, seorang laki-laki gagah yang sudah tua, berjenggot dan rambutnya digelung ke atas, diikat saputangan biru dan Keng Han terbelalak. Dan ketika bayangan itu semakln dekat dan mereka berdua yang kebetulan berada di tempat yang tinggi karena terendam di dalam tong besar maka hampir berteriak Su Tong mengeluarkan seruan tertahan,

"Suhu..." Su Tong terlonjak girang.

Keng Han juga hampir berteriak saking girangnya, setelah mengenal dan yakin betul siapa kiranya orang tua gagah itu, bukan lain guru mereka, Pek-lui-kong, si kakek Halilintar! Dan begitu mereka berteriak menyebut nama itu dan Lam-ciat di bawah api mendengar seruan ini mendadak Pek-lui-kong, laki-laki gagah dari utara itu sudah mengangguk dan berkelebat datang, menghantam Hantu Selatan.

"Lam-ciat, bebaskan dua orang muridku!"

Lam-ciat terkejut. Saat itu air Kim-kang yang dikeluarkan dua anak muda ini sudah semakin banyak saja, kental dan kakek itu berseri-seri, mempersiapkan mangkok dan siap menciduk air Kim-kang ini, air gaib yang diperas dari tubuh dua pemuda itu, setelah semalam diberkahi Dewi Bulan, dalam pesta gila-gilaan yang hanya dapat dilakukan orang-orang macam kakek ini. Maka begitu bentakan itu disertai berkelebatnya sebuah bayangan dan pukulan panas menyambar dari belakang maka kakek ini terkejut dan berteriak memutar tubuhnya.

"Hei... dukk!"

Lam-ciat mencelat. Dia tak tahu bahwa yang datang adalah Pek-lui-kong, jago dari utara yang menjadi guru dari anak-anak muda yang direbusnya itu. Maka ketika pukulan panas menyambar tubuhnya dan ditangkis dengan cara tergesa-gesa kontan kakek ini terpelanting dan roboh bergulingan.

"Haiyaa...!" Lam-ciat melompat bangun, marah memandang lawan namun saat itu Pek-lui-kong mengibas lengan. Tong besar di sebelah kirinya terkena dorongan angin kuat, miring dan akhirnya terguling. Dan ketika segala isinya tumpah dan dua pemuda itu terloncat bersama Bhi Li dan kakaknya maka Pek-lui-kong tertegun melihat keadaan muridnya itu.

"Suhu, kami.. kami dipermainkan kakek iblis ini. Tolong kau bunuh dia dan bebaskan kami berempat!"

"Hm, siapa gadis-gadis itu, Su Tong? Bagaimana kalian berada di tempat celaka ini?"

"Panjang ceritanya, suhu. Nanti saja kami beritahukan. Awas...!" Su Tong berteriak, melihat Lam-ciat menyerang dari belakang namun jago tua ini tahu. Dengan cepat ia membalik dan menangkis pukulan itu. Dan ketika Pek-lui-ciang atau Tangan Haiilintar bertemu pukulan Lam-ciat tiba-tiba kakek itu berteriak keras dan lengan bajunya terbakar.

"Dess-haihhh...!"

Lam-ciat bergulingan. Kakek ini terpaksa melempar tubuh karena Tangan Halilintar yang bertemu pukulannya itu hebat bukan main, dia mencelat dan pukulan lawan itupun masih terus menyambar ke belakang, menghantam pohon dan robohlah pohon itu dengan suaranya yang hiruk-pikuk, hangus tumbang dan hampir saja menimpa Lam-ciat! Dan ketika kakek itu mengumpat caci dan bergulingan meloncat bangun maka Pek-lui-kong berkelebat ke arah murid-muridnya dan menotok membebaskan mereka.

"Kalian urus gadis-gadis itu. Rupanya mereka pingsan oleh kelelahan dan kengerian yang sangat!"

Su Tong dan Keng Han sudah bergerak tanpa diulang lagi. Masing-masing sudah menuju ke arah kekasihnya, Su Tong menyadarkan Bhi Li sedang Keng Han menolong Bhi Pui. Dan ketika dua enci adik itu sadar dan membuka mata mereka maka hampir berbareng keduanya berteriak menanyakan Lam-ciat.

"Jahanam si kakek iblis itu. Mana Hantu Selatan!"

"Tenang," Su Tong mencekal, menenangkan Bhi Li. "Kita ditolong suhu, Bhi Li. Lihat dan saksikan itu betapa si kakek jahanam didesak suhu!"

Bhi Li tertegun. Di sana ternyata sudah bertempur seorang kakek gagah dengan si Hantu Selatan itu, pukulannya meledak-ledak dan enci adik ini terbelalak. Lam-ciat telah menyerang kakek itu dan pertempuran hebat terjadi, Lam-ciat memaki-maki namun kakek gagah itu benar-benar hebat. Kedua tangannya yang bergerak silih berganti ternyata mendesak Lam-ciat, mengeluarkan sinar putih dan meledaklah suara petir disertai kilatan api. Dan ketika Lam-ciat harus mengelak sana-Eini sementara pukulan-pukulan petir itu terus menyambar dan mengejar kakek ini akhirnya baju pundak si Hantu , Selatan terbakar dan kakek ibiis itu bergulingan melempar tubuh.

"Aduh... des-dess!"

Bhi Li tertegun. Akhirnya gadis ini menjadi kagum dan berbisiklah Su Tong bahwa itulah pukulan Petir yang dipunyai gurunya, kini dipakai menghajar Lam-ciat dan tentu saja jauh lebih hebat daripada Su Tong sendiri. Pek-lui-kong adalah penciptanya dan kini Puk-lui-ciang atau Tangan Petir dikeluarkan tokohnya, tentu saja hebat. Bhi Li kagum. Dan ketika pertandingan berjalan lagi dan Pek-lui-kong atau kakek gagah itu mendesak Lam-ciat akhirnya kakek iblis ini mengeluarkan Hoan-eng-sut, ilmu andalannya.

"Bedebah, kau tak dapat mengalahkan aku, Pek-lui-kong. Lihat, ilmu pukulan-pukulan Petirmu tak berdaya... wush-klap!" Hantu Selatan menghilang, mempergunakan Hoan-eng-sutnya atau Ilmu Penukar Bayangan itu, lenyap dan lawan tentu saja terkejut. Dan ketika Pek-lui-ciang atau pukulan Petir menghantam tempat kosong dan meledak menghajar pohon-pohon atau tanah di belakang Lam-ciat akhirnya Lam-ciat tertawa-tawa di balik ilmu silumannya itu.

"Ha-ha, lihat, Lui-kong. Aku tak dapat dipukul!"

Lui-kong atau si Raja Petir ini terbelalak. Lawan tiba-tiba memang menghilang dan tentu saja semua pukulannya mengenai tempat kosong, tokoh utara itu terkejut. Dan ketika bayangan lawan suatu ketika tampak di depan tapi tawa aneh terdengar di belakangnya maka sebuah pukulan ttba-tiba menghantam pundaknya.

"Dess!"

Jago tua itu terpelanting. Untuk pertama kalinya dia terpukul, Lam-ciat tertawa-tawa lagi dan memperlihatkan dirinya, di samping kanan jago utara ini. Namun ketika dipukul dia menghilang sementara dari sebelah kiri berkesiur angin tamparan maka Lui-kong atau Raja Petir itu terpelanting atau terbanting roboh.

"Des-plak!"

Kakek gagah itu mengeluh. Akhirnya dia menghantam bayangan Lam-ciat yang terlihat di mana-mana, tak tahu bahwa bayangan itu sebenarnya hanya jadi-jadian saja. Lam-ciat yang sesungguhnya entah di mana karena Hoan-eng-cut memang dapat merobah seseorang menjadi banyak, yang sejati bersembunyi di balik yang palsu dan tentu saja Pek-lui-kong bingung.

Dan ketika pukulan demi pukulan selalu mengenai tempat kosong sementara lawan membalas dan mulai melepas pukulan-pukulan jarak jauh akhirnya jago tua ini pucat terhuyung jatuh bangun, tak dapat membalas karena lawan yang asli tak diketahui di mana sebenarnya, hanya bertemu bayangan-bayangan semu dl mana tiba-tiba dari tempat-tempat tertentu menyambar angin pukulan Lam-ciat, sibuk dan jatuh bangunlah pendekar itu. Dan ketika suhunya terdesak dan Lam-ciat ganti mempermainkan gurunya maka Su Tong pucat sementara Keng Han juga berobah mukanya.

"Celaka, suhu terdesak, Su Tong. Kita harus maju membantu!"

"Benar, kakek iblis itu hebat, Keng Han. Yang membuat suhu bingung adalah Penukar Bayangannya itu. Lam-ciat mempergunakan Hoan-eng-sut!"

"Kita bergerak, bantu suhu!" dan Keng Han yang tidak banyak bicara lagi membentak ke depan tiba-tiba sudah membantu gurunya dan Su Tong pun ikut bergerak ke depan, mencabut pedangnya dan tangan kiri melepas pukulan Petir. Dan ketika Keng Han juga melakukan hal yang sama dan dua pemuda itu sudah membantu gurunya maka Pek-lui-kong malu dan merah mukanya.

"Keparat, malu aku dibantu kalian, Keng Han. Kalau kakek ini tidak benar-benar luar biasa dengan ilmu hitamnya tentu kalian kutendang keluar!"

"Maaf, Lam-ciat mempergunakan Hoan-eng-sutnya, suhu. Kalau tidak dikeroyok barangkali dia tak akan roboh!"

"Benar," Su Tong di sana menyambung. "Ilmunya ini ilmu siluman, suhu. Tak usah malu karena diapun curang... haitt!" dan Su Tong yang membentak dengan pedang di tangan kanan sementara pukulan Petir di tangan kiri tiba-tiba melihat bayangan lawan, tepat di sebelah kirinya dan dibacoklah bayangan itu. Tapi ketika pedangnya menembus kosong dan pukulan pun serasa mengenai mahluk halus, lenyap dan amblas begitu saja tiba-tiba pemuda ini terlempar ketika sebuah hembusan angin menyambar tengkuknya.

"Ha-ha, aku di sini, bocah. Lihat.....des-dess!"

Su Tong terbanting bergulingan. Memang dia tahu bahwa Hoan-eng-sut memang hebat, ilmu Penukar Bayangan ini dapat membuat pemiliknya berpindah-pindah tempat tanpa diketahui di mana sebenarnya. Lam-ciat bisa muncul di sana-sini tapi sebagian besar semu, bukan sejatinya dan tentu saja menghadapi ilmu berbau hitam begini Su Tong kewalahan. 

Dan ketika dia melompat bangun sementara Keng Han di sana juga berteriak ketika tertiup pukulan Lam-ciat maka hanya guru mereka sendiri yang dapat bertahan menerima pukulan lawan, mengerahkan sinkangnya dan dengan sinkangnya ini Pek-lui-kong tak terpelanting, setelah menancapkan kaki kuat-kuat di atas tanah. Dan ketika guru dan murid menjadi permainan Hoan-eng-sut di mana Lam-ciat akhirnya membentak dan memperkuat daya ilmunya itu maka seratus atau seribu bayangan Hantu Selatan sekonyong-konyong tampak di mana-mana hingga dua pemuda itu pusing.

"Tutup mata kalian, jangan dilihat!" Pek-lui-kong, yang terkejut melihat perobahan ini tiba-tiba berseru pada muridnya. Keng Han dan Su Tong melaksanakan itu namun terlambat, tiba-tiba pusing dan roboh sendiri, gedebak-gedebuk. Dan ketika dua pemuda itu mengeluh terguling dan Lam-ciat di balik ilmu hitamnya terkekeh aneh maka Bhi Li dan kakaknya tiba-tiba melengking dan menyambar pedang di atas tanah.

"Locianpwe, kalau Su Tong dan Keng Han tak dapat membantumu biarlah kami maju menggantikan. Kakek ini jahat, mari kita basmi dan bunuh dia... sing-singg!" dan Bhi Li yang melengking marah membentak lawannya tiba-tiba menusuk dan membacok, menggerakkan pedangnya namun sama seperti Su Tong iapun menembus bayangan kosong. Lam-ciat seolah roh halus dan memekiklah gadis itu. Dan ketika kakaknya juga melakukan hal yang sama namun mendapat kenyataan yang sama pula maka Lam-ciat mengibas dua gadis itu dengan pukulan jarak jauhnya.

"Ha-ha, kaupun tak dapat mengalahkan aku, anak-anak. Robohlah dan menyingkir... bres-bress!" dua enci adik itu mengeluh, terlempar dan tak dapat menahan diri namun bergulingan meloncat bangun, menyerang lagi dengan nekar dan Pek-lui-kong si kakek gagah kagum. Dua enci adik itu membantunya namun lagi-lagi mereka terlempar. Dan ketika kejadian itu berulang enam tujuh kali dan hanya karena dia selalu melindungi kalau Lam-ciat hendak menotok roboh gadis itu maka pendekar ini berseru agar mereka mundur, membawa pergi Su Tong dan Keng Han.

"Kakek ini hebat, biar aku saja yang menghadapinya. Kalian pergilah, bawa muridku dan kalian selamatkan diri!"

"Tidak," Bhi Li melengking. "Kau datang juga hendak menolong kami, locianpwe. Kalau kami mampus biarlah itu terjadi. Kami tak mau mundur atau kau saja yang pergi dan bawa murid-muridmu itu!"

"Hm, mana mungkin?" kakek ini terbelalak, semakin kagum. "Aku saja kewalahan menghadapinya, nona. Kalian pergilah dan biar aku yang melindungi dari belakang!"

"Tidak!" kali ini Bhi Pui berseru. "Kau yang pergi atau kita semua menghadapi iblis ini, locianpwe. Kami tak takut,mampus dan biar kami membalas sakit hati kami!"

"Hm, baiklah," Pek-lui-kong merasa tak berdaya. "Kalian gadis-gadis yang keras hati, nona. Kalau begitu keinginan kalian baiklah kita hadapi kakek iblis ini dan hati-hatilah!" lalu melindungi diri dari setiap pukulan sinkang dan coba membalas dengan pukulan-pukulan Petirnya kakek ini kembali menghadapi Lam-ciat, sayang tak berhasil baik karena Lam-ciat berlindung di balik ilmu hitamnya. Dan ketika Bhi Li kembali terlempar oleh sebuah tamparan maka Bhi Pui ganti menyusul dan terlepas pedangnya.

"Plak-plak!"

Dua gadis itu merintih. Pukulan Lam-ciat kali ini tak dapat dicegah si kakek gagah, karena saat itu Pek-lui-kong juga menangkis sebuah angin pukulan yang menyambar dari belakang. Dan ketika dua enci adik itu merintih dan terlepas pedangnya maka Lam-ciat tertawa bergelak dan tiba-tiba memecah bayangannya menjadi sepuluh orang.

"Wut-siut!"

Pek-lui-kong terkejut. Saat itu dia baru terhuyung menangkis sebuah pukulan, tiba-tiba melihat sepuluh bayangan sekaligus mengelilinginya, tak ayal berobah mukanya dan dari mana-mana menyambar pukulan bertubi-tubi. Dan karena dia tak dapat memilih bayangan mana yang kira-kira Lam-ciat adanya maka kakek ini berseru keras mencabut ikat rambutnya, menangkis.

"Des-dess!"

Si kakek terkecoh. Sepuluh bayangan yang ditangkis ternyata palsu adanya, semuanya bukan Lam-ciat yang asli. Dan ketika dia terhuyung karena terbawa oleh pukulannya sendiri maka saat itulah Lam-ciat yang asli berkelebat muncul di... atas kepalanya.

"Ha-ha, mampus kau, Lui-kong. Sekarang kau tak berdaya... bumm!"

Kakek itu menjerit, kepalanya dihantam dari atas dan terlemparlah kakek gagah itu. Lui-kong tokoh utara ini terguling-guling, secara curang dan licik Hantu Selatan itu menyerangnya. Dan ketika dia mengeluh dan kepala serasa pecah dihantam pukulan Lam-ciat maka saat itulah Lam-ciat menggerakkan tangan kirinya dan puluhan jarum-jarum kuning menyambar tokoh utara ini, dikelit tapi tiga batang jarum tetap mengenainya, pedas dan gatal. Dan ketika kakek itu menyadari bahwa jarum yang amat berbahaya dan beracun menusuki tubuhnya maka di saat itulah lawan berkelebat menghilang dan tahu-tahu sudah mencengkeram kepalanya untuk dicengkeram hancur.

"Ha-ha, roboh kau, Lui-kong. Sekarang kau mampus!"

Kakek ini terkejut. Saat itu dia mau menangkis namun kedua lengan tak dapat digerakkan. Jarum yang menancap di tubuhnya kiranya dengan cepat sudah menyebar racunnya, seluruh tubuh menjadi kaku dan kakek ini kaget bukan main. Lui-kong memaki lawan dengan muka pucat. Dan ketika serangan tak dapat dihindarkan lagi dan Lam-ciat tertawa bergelak dengan cengkeraman mautnya, dua jari telunjuk dan tengah siap mencoblos mata lawan yang tentu akan seketika hancur, tiba-tiba berkelebat sinar putih menyilaukan mata diiring bentakan yang mendirikan bulu roma,

"Lam-ciat, tahan seranganmu... crat!" dan kelingking Lam-ciat yang putus dibabat sinar menyilaukan ini tiba-tiba sudah menarik serangannya dan secepat kilat membanting tubuh bergulingan.

"Haiyaaa...!" Lam-ciat kaget bukan main. Saat itu dia tinggal merobohkan lawan, Pek-lui-kong sudah tak dapat menggerakkan tangannya karena seluruh tubuh mendadak kaku, akibat racun dari jarum yang menyebar cepat. Dan ketika kakek itu roboh namun Lam-ciat buntung kelingking kirinya, yang terus bergulingan dan meloncat bangun maka berdirilah di situ seorang laki-laki gagah yang mengenakan caping lebar.

"Golok Maut...!"

Semua tertegun. Lam-ciat terbelalak namun Bhi Li dan kakaknya girang bukan main. Mereka itulah yang tadi berteriak dan menyebut nama ini, nama Golok Maut yang akhir-akhir ini mengguncang dunia kang-ouw. Dan ketika Golok Maut, laki-laki yang tegak dengan tubuh tak bergeming itu mengangguk pada Bhi Li dan Bhi Pui, dua enci adik maka di sana Lam-ciat tergetar dan Lui-kong tokoh utara itu mengeluh.

"Kau telan ini, cepat!"

Dua pil hijau melayang ke mulut kakek ini. Entah bagaimana tahu-tahu Pek-lui-kong telah menerima pil itu, yang cepat menyambar ke mulutnya. Dan ketika pil itu lenyap dan Golok Maut telah menghadapi Lam-ciat maka kakek Hantu Selatan ini menggereng, sadar dari kagetnya.

"Heh, kau Golok Maut, anak muda?"

"Tak perlu banyak cakap. Kau pergi atau kuhajar, kakek sinting. Enyahlah dan jangan ganggu lima orang ini!"

"Ha-ha!" dan Lam-ciat yang tiba-tiba menubruk dan menghantamkan tangannya tahu-tahu berkelebat dan sudah menyerang si Golok Maut, tidak banyak cakap karena lawan menyuruhnya pergi. Tapi begitu pukulan melayang dan Golok Maut menggerakkan tangannya mendadak secepat kilat sinar yang menyilaukan mata itu berkelebat panjang.

"Cras!" Hantu Selatan menjerit. Sama seperti tadi tahu-tahu jari manisnya hilang, terbabat atau disambut sinar menyilaukan itu. Bukan main kagetnya. Dan ketika kakek ini merintih dan melempar tubuh bergulingan lagi maka ia terbelalak memandang si Golok Maut, yang telah menyimpan senjatanya kembali, di belakang punggung.

"Nah, kau tahu rasa, Lam-ciat. Atau kau akan kehilangan semua jarimu dan putus sia-sia!"

"Keparat!" kakek ini memekik. "Kubunuh kau, Golok Maut. Kukeremus kepalamu!" dan Lam-ciat yang menerjang lagi sambil membalut lukanya lalu menghantam dan memaki-maki si Golok Maut, dielak dan dikelit dan sinar putih panjang itu mau keluar lagi, mengancam. Dan ketika Golok Maut benar-benar mengeluarkan senjatanya dan kakek itu melengking tiba-tiba lenyaplah dia di balik ilmu hitamnya, Hoan-eng-sut.

"Siut-klap!"

Terdengar ledakan. Kakek ini melengking-lengking namun Golok Maut tiba-tiba mendengus, berkelebat dan lenyap pula berkejaran dengan bayangan si kakek gila, heran dan mengejutkan dan tampaklah oleh Bhi Li betapa dua bayangan sambar-menyambar seperti siluman. Dengan ginkangnya yang luar biasa Golok Maut mengimbangi Hoan-eng-sut, sebuah demonstrasi mentakjubkan yang hampir tak dapat dipercaya. Tapi ketika ke manapun bayangan kakek itu pergi selalu Golok Maut berada di belakangnya maka menjerit dan berteriaklah kakek siluman ini.

"Keparat, kau jangan mengintil di belakangku, Golok Maut. Pergilah... pergi!"

Ternyata kakek itu ketakutan. Setelah Golok Maut "terbang" bersama goloknya dan kemanapun Hoan-eng-sut melesat ke situ pula dia membayangi maka Lam-ciat gentar dan pucat memaki-maki, menyerang tapi selalu disambut sinar golok, tentu saja menarik serangannya dan jadilah kakek itu terbirit-birit berputaran. Tingkahnya seperti anak kecil yang bermain petak-umpet, berusaha lari dan bersembunyi tapi lawan mengintil di belakang, mau menyerang tapi golok itu menyambut. Dan karena dua kali jarinya sudah putus dibabat sinar golok dan senjata di tangan Golok Maut itu benar-benar maut maka kakek Ini memutar tubuh dan akhirnya melarikan diri, berteriak-teriak.

"Golok Maut, tobat. Jangan kejar aku. Tobat...!"

Golok Maut tak menghiraukan. Dia tetap mengejar dan si kakek akhirnya melepas jarum-jarum keemasan, yakni jarum-jarum beracun yang tadi melukai si Raja Petir. Tapi ketika Golok Maut menggerakkan senjatanya dan bunyi trang-tring menyampok runtuh sinar-sinar keemasan itu akhirnya tujuh sinar emas membalik menyambar kakek itu sendiri.

"Cret-cret!"

Lam-ciat meraung. Tujuh jarum beracunnya sendiri membalik menancap di tubuh, menjerit dan kakek itu terjungkal. Dan ketika Golok Maut berkelebat dan sinar putih bergerak tiba-tiba sebagian bahu kakek itu sompal.

"Aduh!"

Golok Maut berhenti. Lam-ciat sudah bergulingan meraung tak keruan, menjerit dan menangis dan lucu rasanya melihat ini. Lam-ciat, si Hantu Selatan yang tadi bersikap sombong dan gila-gila mendadak mengenal takut, menjauh dan akhirnya meloncat bangun di sana, melarikan diri dan lenyap di balik pohon-pohon besar. Dan ketika Bhi Li dan lain-lain tertegun melihat Golok Maut menoleh, tersenyum sejenak tiba-tiba laki-laki bercaping itu berkelebat dan... lenyap pula.

"Bhi Li, tak usah pergi sendirian. Kalian bersamalah Su Tong ataupun Keng Han!"

"Heii..!" Bhi Li terkejut, sadar. "Tunggu, Golok Maut. Tunggu dulu...!"

Namun Golok Maut menghilang. Bhi Pui juga berteriak dan mengejar, tak dijawab dan dua enci adik itu masih tetap mencari-cari. Namun ketika mereka gagal dan Golok Maut benar-benar telah menghilang entah ke mana maka dua bayangan berkelebat dan muncullah Keng Han serta Su Tong di situ.

"Bhi Li, Bhi Pui, tak usah mencari lagi. Golok Maut memang aneh, tak mungkin kita temukan!"

"Benar," bayangan lain berkelebat, Pek-lui-kong adanya. "Aku juga sudah mencari-cari, nona. Dia tak ada dan aku menyesal belum menyampaikan terima kasihku!"

Bhi Li dan kakaknya tertegun. Keng Han dan Su Tong rupanya sudah ditolong guru mereka ini, bersinar-sinar memandang mereka. Tapi begitu mereka ingat apa yang telah terjadi di antara mereka dengan Su Tong dan Keng Han mendadak enci adik ini meloncat pergi dan terisak.

"Heii..!" dua pemuda itu terkejut. "Tunggu, Bhi Li. Kami mau bicara!"

"Benar," Keng Han juga berseru. "Tunggu, Bhi Pui. Aku mau bicara..!" dan dua pemuda itu yang sudah tergerak dan mengejar ke depan lalu memberi tahu guru mereka bahwa sebaiknya guru mereka tinggal di situ dulu, mereka ada persoalan pribadi dan Pek-lui-kong mengangguk. Tadi orang tua ini telah mendengar cerita muridnya tentang perbuatan Lam-ciat, kakek iblis terkutuk yang membuat dua pasangan itu menjadi malu dan terhina. Maka begitu muridnya mengejar dan dua enci adik itu sudah disusul cepat kakek ini menarik napas dan menunggu di situ.

"Tunggu... tunggu, Bhi Li. Aku mau bicara...!"

Tapi Bhi Li tak mau mendengarkan ini. Su Tong meneriakinya di belakang dan tiba-tiba Keng Han juga berseru pada Bhi Pui, sang kakak. Dan ketika dua gadis itu mengerahkan ilmu lari cepatnya namun Keng Han dan temannya juga menambah kecepatan mereka hingga jarak selalu sama tiba-tiba Bhi Pui bertanya pada adiknya,

"Bhi Li, mau apa mereka itu kira-kira? Mau kurang ajarkah?"

"Entahlah, tapi rasanya tidak, enci. Kukira... kukira mereka mau bicara tentang apa yang sudah terjadi di antara kita!"

"Hm, kalau begitu kita tunggu, berhenti saja!"

"Tidak, jangan enci. Di hutan itu saja kita bersembunyi. Kau dan aku berpisah, biar mereka mencari!"

"Apa?"

"Benar, masa kita harus menemui mereka bersamaan? Ah, malu, enci. Biar Su Tong mencariku dan Keng Han mencarimu. Kalau mereka kurang ajar kita bunuh. Tapi kalau mereka mau bertanggung jawab, hmm.. kita... kita terima!"

Bhi Pui merah mukanya. Akhirnya dia mengangguk dan setuju, sudah tiba di hutan yang dimaksud Bhi Li dan di sini tiba-tiba mereka berpisah. Keng Han dan Su Tong tak jauh di belakang, terus berteriak-teriak namun mereka seolah tak perduli. Inilah wanita. Butuh tapi pura-pura acuh! Dan ketika mereka sudah memasuki hutan itu dan berpisah, Bhi Li ke kiri sementara Bhi Pui ke kanan maka Su Tong dan Keng Han tertegun.

"Hei!" Su Tong berteriak. "Kenapa kalian ini, Bhi Li? Kami mau bicara, bukan mau apa-apa!" dan terbelalak melihat Bhi Li ke kiri tiba-tiba pemuda ini berkata pada temannya bahwa dia akan mengejar gadis baju biru itu.

"Baiklah, aku ke kanan, Su Tong. Kau kejar kekasihmu itu sedang aku mengejar kakaknya!" Keng Han pun membelok, berpisah dengan temannya dan dua pemuda itu sudah mengejar kekasih masing-masing. Mereka tak mengerti sikap enci adik itu tapi sudah menyusul. Dan ketika Su Tong berkelebat mengejar Bhi Li maka di dalam hutan tiba-tiba pemuda itu berhasil menyambar baju pundak kekasihnya.

"Bhi Li, tunggu... bret!" dan baju Bhi Li yang sobek tertarik Su Tong tiba-tiba membuat pemuda itu terkejut, berseru minta maaf namun Bhi Li terlanjur marah. Gadis ini gusar karena Su Tong merobek pakaiannya. Maka begitu dia membalik dan berhenti memutar tubuh tiba-tiba tangannya bergerak dan Su Tong sudah ditampar.

"Keparat kau... plak-plak!" dan Su Tong yang terlempar serta terbanting roboh tiba-tiba mengeluh dan bergulingan meloncat bangun, berseru agar Bhi Li menahan kemarahannya dan kini gadis itu tegak di depan Su Tong. Pemuda ini bangkit terhuyung dengan pipi bengap, tembem! Dan ketika Bhi Li membentak dan berkacak pinggang menanya apa keperluan pemuda itu maka Su Tong menggigil, terbata-bata.

"Aku... aku mau bicara tentang itu. Tentang...."

"Tentang apa!" Bhi Li memotong, galak menjawab dan pura-pura tidak tahu, padahal di dalam hati tentu saja berdebaran dan mukapun merah padam. Dan ketika Su Tong berkata bahwa dia mau bertanggung jawab tentang peristiwa di malam bulan purnama, persis yang disangka Bhi Li tiba-tiba gadis ini pun tak dapat menahan rona mukanya yang semburat merah, apalagi ketika Su Tong menjatuhkan diri berlutut, gemetar.

"Aku... aku mencintaimu, Bhi Li. Aku tak mau kau pergi dari sampingku. Aku telah melaporkan kejadian ini kepada suhu, dan aku mau bertanggung jawab!"

Bhi Li terisak.

"Kau... kau mau, bukan? Kau tak menolak?"

"Ooh!" gadis itu tiba-tiba meloncat meninggalkan Su Tong. "Aku... aku telah menyerahkan segala-galanya kepadamu, Su Tong. Tak perlu kujawab karena kau tentu mengerti sendiri!"

"He!" Su Tong berteriak, meloncat bangun. "Kalau begitu kau menerimanya?"

Gadis ini tak menjawab. Su Tong akhirnya mengejar dan menangkap gadis itu lagi, mencengkeram dan tersedu-sedulah Bhi Li berhadapan dengan pemuda ini, menunduk, tak mau mengangkat mukanya. Dan ketika gadis itu mengguguk dan Su Tong menjadi bingung, tak tahu apakah gadis ini setuju atau tidak tiba-tiba Su Tong memeluk gadis itu, yang ternyata diam saja.

"Bhi Li, aku... aku bingung. Kalau kau tak mau menjawab biarlah beri tandanya dengan cara yang lain. Aku mencintaimu, aku ingin menciummu. Kalau kau marah tamparlah aku!" dan Su Tong yang benar-benar mencium dan melumat bibir Bhi Li ternyata tak ditampar dan Bhi Li menyambut, tidak marah dan tentu saja pemuda ini semakin berani, girang. Dan ketika dia mencium bertubi-tubi hingga keduanya seakan kehabisan napas maka Bhi Li mendorong pundaknya dan berseru, menggigil,

"Cukup... cukup, Su Tong. Kau sudah tahu jawabannya!"

"Ooh!" Su Tong tertawa bergelak, gembira sekali. "Aku bahagia, Bhi Li. Kalau begitu kau menerima cintaku!" dan pemuda ini yang menyambar serta mau mencium kekasihnya lagi mendadak ditahan dan dielak.

"Nanti dulu, kau harus berjanji!"

"Hm, janji apa? Bagaimana?"

"Kau harus memperlakukan aku baik-baik, Su Tong. Harus... harus melamarku sebagaimana gadis dilamar pemuda secara baik-baik!"

"Ah, tentu. Suhu yang akan melamarmu, Bhi Li. Aku akan minta padanya agar kau menjadi isteriku!"

"Kita sudah menjadi suami isteri.." gadis ini terisak. "Aku... aku, ah, jahanam keparat Lam-ciat itu, Su Tong. Kalau saja tak ada dia tentu perbuatan itu tak akan kita lakukan!"

"Sudahlah," Su Tong menghibur. "Semuanya sudah terjadi, Bhi Li. Kita tak dapat menolak atau menghindarinya. Aku juga menyesal, tapi nasi sudah menjadi bubur."

"Dan kau akan bertanggung jawab, bukan?"

"Tentu, aku mencintaimu, Bhi Li. Aku akan bertanggung jawab!" dan Su Tong yang meraih serta memeluk lagi lalu mencium dan kali ini Bhi Li membiarkan, bahkan menyambut dan Bhi Li terisak. Dan ketika pemuda itu berbisik bahwa dia mencintainya akhirnya keduanya terbang ke sorga namun mendadak Bhi Li teringat encinya.

"Kita lihat enci Bhi Pui!"

"Hm," Su Tong puas, berseri-seri. "Mereka pasti melakukan seperti apa yang kita lakukan, Bhi Li. Keng Han mencintai kakakmu dan ingin mempertanggung-jawabkan perbuatannya pula!"

"Kau yakin?"

"Tentu, mari kita lihat!"

Dan Su Tong yang bahagia menyambar kekasihnya lalu berkelebat dan mengajak Bhi Li ke tempat di mana tadi Keng Han mengejar Bhi Pui, mencari dan tak lama kemudian mereka menemukan dua orang itu, benar saja, asyik bercumbu dan berpelukan, saling cium dan Su Tong berhenti, menarik kekasihnya dan tersenyum mengajak bersembunyi. Dan ketika Bhi Li menurut tapi muka tentu saja merah padam maka di sana Keng Han terdengar berkata, melepaskan pelukannya,

"Lihat, demi Tuhan aku mencintaimu, Bhi Pui. Ingin bertanggung jawab dan mengambilmu sebagai isteri. Kita telah diikat oleh Lam-ciat. Tapi tanpa itupun aku tetap mencintaimu dan ingin mengambilmu sebagai isteri, kekasih tercinta!"

"Tapi kau harus melamarku," Bhi Pui terdengar menjawab, terisak. "Aku tak ingin menjadi isterimu begini saja, Keng Han, Kau harus melamarku dan memintaku secara baik-baik!"

"Tentu, aku telah membicarakannya dengan suhu, Bhi Pui. Dan aku yakin suhu mau melamar dirimu untukku. Aku akan memperlakukan dirimu secara baik-baik dan bukan hanya karena disebabkan perbuatan kakek iblis itu!" lalu, ketika Bhi Pui tampak lega dan bersinar-sinar maka Keng Han mengajak untuk mencari temannya, Su Tong. "Urusan kita selesai. Sekarang kita mencari Su Tong yang mengejar adikmu itu!"

"Ha-ha, tak perlu dicari!" Su Tong keluar dari persembunyiannya, berkelebat muncul, "Aku di sini, Keng Han, bersama Bhi Li!" dan ketika Keng Han tertegun dan muka Bhi Pui merah, teringat bahwa dia baru saja berciuman dengan Keng Han maka Bhi Li muncul dan tersenyum-senyum berkelebat menyambar encinya itu.

"Enci, maaf kami agak lama di situ. Su Tong yang mengajakku bersembunyi dan tak mau mengganggu kalian, Maaf, betapapun aku lega!"

"Kau di sana?"

"Ya."

"Mengintai.. mengintai kami?"

"Hi-hik, maaf, enci. Aku tak sengaja!"

"Ih, kurang ajar kau!" dan Bhi Li yang mengelak dicubit encinya tiba-tiba bersembunyi di punggung Su Tong.

"Aduh, tolong, Su Tong. Enciku marah!"

Su Tong tertawa. Setelah Bhi Li menggoda encinya dan suara menjadi gembira tiba-tiba pemuda ini menarik Bhi Li, menyembunyikan sang kekasih dan Bhi Pui tentu saja tertegun, berhadapan dengan Su Tong. tak mungkin mengejar adiknva lagi dan tertawalah Keng Han di sana. Dan ketika Bhi Pui mundur dan adiknya terkekeh-kekeh maka gadis ini minta agar Keng Han membalas pada Su Tong.

"Eh-eh, apa yang harus kulakukan?"

"Dorong dia, Keng Han. Ambil adikku yang nakal itu!"

"Ha-ha, dorong sendiri. Su Tong memang kekasihnya!" dan ketika suasana menjadi bertambah hangat dan Bhi Pui gemas-gemas mendongkol maka Bhi Li meloncat dan terbang meninggaikan hutan.

"Hi-hik, kejar aku saja, enci. Ayo jangan minta tolong Keng Han!"

Bhi Pui mendapat kesempatan. Setelah adiknya keluar dan dia tentu saja mengejar maka dua pemuda di belakangnya itu tertawa-tawa. Keng Han dan Su Tong gembira sekali karena kini mereka masing-masing sudah mendapatkan pujaannya secara baik-baik. Bhi Pui mengejar Bhi Li dan merekapun saling pandang, mengangguk dan ganti mengejar dua gadis itu.

Dan ketika semuanya tertawa-tawa namun dua enci adik itu tentu saja tiada maksud untuk meninggaikan dua pemuda ini akhirnya Bhi Li tertangkap dan dicubit kakaknya, mengaduh dan minta tolong Su Tong dan akhirnya bersembunyi lagi di punggung kekasihnya. Bhi Pui puas sementara Keng Han sudah mencekal lengannya. Dan ketika dua pasangan itu tampak gembira dan bahagia sekali maka Su Tong teringat gurunya dan mengajak semua kembali.

"Suhu sudah menanti, mari kita ke Sana."

"Benar," Keng Han juga teringat. "Kita bicarakan ini lebih lanjut, Su Tong. Dan kita minta nasihat suhu!"

Begitulah, empat orang muda ini menghadap Pek-lui-kong, yang memang sudah menunggu. Dan ketika kakek gagah itu berseri-seri karena keempatnya tampak bahagia dan gembira maka Su Tong menjatuhkan diri berlutut memberikan laporannya.

"Teecu berhasil membawa Bhi Li, mohon suhu memberikan restunya."

"Benar, dan teecu juga, suhu," Keng Han menyambung. "Teecu telah berhasil membawa kekasih teecu dan inilah Bhi Pui!"

"Hm-hm, bagus. Aku gembira, anak-anak. Dan aku turut bahagia. Pernikahan kalian dapat ditentukan dan sebelumnya tentunya kita harus baik-baik melamar kekasih kalian masing-masing. Siapakah orang tua kalian?"

"Kami... kami hanya mempunyai seorang paman, locianpwe. Ayah ibu telah tiada dan kami sebatangkara." Bhi Pui menjawab.

"Hm, tak apa. Kepada pamanmu itulah aku akan melamar kalian untuk murid-muridku. Siapa paman kalian itu? Kalian dari mana?"

"Kami keluarga besar Pek-kiok-pang..."

"He?"

"Benar, kami keponakan ketua Pek-kiok-pang yang dibunuh Golok Maut, locianpwe. Tapi Golok Maut pula yang berkali-kali menolong kami!"

"Ah, Golok Maut!" Pek-lui-kong tertegun, bersinar-sinar. "Dan dia pula yang baru menyelamatkan kita semua, Bhi Li. Dan aku juga berhutang jiwa padanya!"

"Benar, kami juga pernah ditolongnya, suhu. Dan kami juga berhutang budi!" Su Tong berseru.

"Apa?"

"Benar," Keng Han mendahului. "Kami dua kali ditolongnya dari Mao-siao Moli, suhu. Tanpa Golok Maut tentu kami sudah menjadi korban!"

"Iblis betina cabul itu?"

"Ya."

"Ah, berbahaya!" dan Pek-lui-kong yang tepekur dengan mata redup tiba-tiba muram mukanya, bangkit berdiri, "Baiklah, Golok Maut memang tokoh yang aneh, Su Tong. Orang mencapnya jahat tapi nyatanya berkali-kali pula dia menolong orang lain. Sudahlah, kita pergi dan selesaikan urusan ini."

"Pulang?"

"Hm, apakah kalian mau tinggal di sini saja? Tidak ingin mengikat perkawinan dan segera saja menjadi suami isteri?"

"Ah, tentu, suhu. Tapi kami agaknya masih ingin berkecimpung di dunia kang-ouw lagi, menambah pengalaman!"

"Benar, kami juga bemiat begitu, locianpwe. Terutama ingin mengikuti cerita si Golok Maut ini dan melihat apa yang terjadi, yang dia lakukan!"

"Hm, tapi kalian harus menikah dulu, baru setelah itu sesuka hati kalian!"

"Baiklah, terserah, suhu," dan Keng Han yang menjawab mewakili teman-temannya tentu saja girang dan mengedip pada yang lain, memang harus menjadi suami isteri dulu setelah perbuatan terkutuk Lam-ciat. Harus memberi muka pada kekasih masing-masing dan jadilah mereka setuju. Dan karena itu tentu saja juga melegakan dan menggembirakan Bhi Li enci adik maka Pek-lui-kong akhirnya mengajak pergi. Dan begitu kakek itu berkelebat dan empat muda-mudi ini mengikut di belakang maka arah tujuan mereka adalah Pek-kiok-pang!

* * * * * * *

"Apa? Terbunuh? Cam-busu dibunuh Golok Maut itu?"

"Benar, dan tugasnya barangkali gagal, ongya. Kepala Cam-busu menggelinding di luar Hek-yan-pang ketika secara kebetulan kami menyusul!"

"Keparat, jahanam bedebah!" dan Ci-ongya yang marah-marah dan membentak-bentak laki-laki di depannya lalu menendang dan melempar mangkok piring, begitu marah dan gusar hingga pengawal yang menjaga di pintu pucat, menggigil dan cepat menggeser kakinya ketika sang pangeran melotot, hampir membuang piring ke arahnya namun untunglah saat itu berkelebat sesosok bayangan memasuki ruangan. Dan ketika bentakan dan kemarahan pangeran ini menggegerkan seisi gedung karena meja kursi dibanting dan ikut ditendang pula maka bayangan ini, seorang kakek tinggi besar berkulit hitam berseru menahan kemarahan,

"Ongya, berhentilah. Maaf hamba datang diutus kakak paduka!"

"Hm, kau?" Ci-ongya berhenti, bersinar-sinar. "Ada apa kau datang, Yalucang? Menambah kekecewaanku dan kemarahanku saja?"

"Maaf, hamba datang diutus kakak paduka, ongya. Paduka diminta datang dan ditunggu di gedung Ui-tien!"

"Hm, baik!" dan sang pangeran yang menahan kemarahan dan masuk ke dalam lalu berganti sepatu dan sudah mengikuti kakek ini, yang bukan lain Yalucang adanya si kakek Tibet, pembantu atau orang kepercayaan Coa-ongya, pangeran Coa. Dan ketika dua orang itu datang dan ternyata di meja besar sudah duduk menunggu seorang laki-laki berusia empat puluhan maka pangeran ini duduk dan langsung menanya geram,

"Ada apa, kanda? Kau memanggilku?"

"Benar, ada sesuatu yang ingin kurundingkan, Ci-te (adik Ci). Dan ini agaknya keuntungan bagi kita!"

"Hm, selama ini kesialan. Aku tak percaya segala keuntungan, kanda. Selama Golok Maut belum dibunuh maka ancaman bahaya tetap di depan mata kita!"

"Sabarlah, jangan marah-marah. Aku telah mendengar tentang terbunuhnya bu-su tolol itu tapi belum tentu puteramu ikut celaka. Ada berita menggembirakan, tentang pembantu sri baginda yang lihai!"

Ci-ongya mengerutkan kening. Dia tak tahu tapi tampak terkejut dan heran mendengar ini. Maka ketika kakaknya bersinar-sinar dan dia membetulkan letak duduknya maka pangeran yang sedang menahan marah ini bertanya, "Kanda, apa hubungannya pembantu sri baginda dengan kita? Apa kaitannya dengan semua ini?"

"Ah, banyak. Yang jelas kita bisa berharap orang ini membunuh Golok Maut, Ci-te. Karena dikabarkan dia amat lihai dan memiliki Jit-seng-kiam (Pedang Matahari)!"

"Jit-seng-kiam? Pedang keramat itu?"

"Benar, dan orang ini lihai bukan main, Ci-te. Minimal dia setangguh Si Golok Maut!"

"Aku tak percaya. Golok Maut itu luar biasa sekali. Kalau ada orang bicara begitu tentu dia hanya membual!"

"Hm, kau tak percaya? Kalau begitu lihatlah ini, dengar kata-katanya!" dan Coa-ongya yang bertepuk tangan dan menoleh ke belakang tiba-tiba telah memanggil dua orang kakek luar biasa, berkelebat dan tahu-tahu muncul di situ. Dan ketika Ci-ongya terbelalak dan tertegun, tak mengenal, maka kakaknya sudah memberi tanda dan dua orang itu membungkuk hormat di depan pangeran ini.

"Ha-ha, kenalkah kau kepadanya. Cite, Inilah dua kakek lihai dari Thian-tok. Mereka adalah dua bersaudara Sudra dan Mindra!"

"Eh, yang terkenal berjuluk Nehikha itu?"

"Ha-ha, benar. Kamilah orangnya, ongya. Selamat bertemu dan kami baru saja diundang di sini!"

Mindra, kakek yang mendahului itu tertawa bergelak. Ci-ongya terkejut karena dia sudah mendengar nama dua kakek lihai ini, yang diusir dari India dan ternyata malang-melintang di Tionggoan, kini muncul di rumah kakaknya dan tersenyumlah dia karena orang-orang lihai telah bermunculan di istana, jadi kekuatan mereka bertambah dan bertanyalah pangeran itu kapan mereka datang. Dan ketika sambil tertawa Mindra berkata bahwa dia baru saja datang, setelah bertemu Golok Maut maka Ci-ongya tertegun dan tiba-tiba mengerutkan keningnya, lagi-lagi tak senang.

"Kami baru tiba, dan kami membawa berita penting!"

"Hm, tentang pembantu kaisar itu? Jadi kalian kiranya?"

"Tidak, bukan!" Sudra menggeleng, mendahului temannya. "Kami membawa berita bahwa Tiat-kak, pembantu kalian itu telah dibunuh Golok Maut, ongya. Dan saksi utamanya adalah kami berdua!"

"Apa?" Ci-ongya terkejut. "Tiat-kak si Kaki Besi itu?"

"Benar, dan dia tewas, ongya. Inilah kepalanya!" Sudra mengeluarkan sebuah buntalan, membuka itu dan menggelindinglah kepala si gundul itu, Tiat-kak si Kaki Besi. Dan ketika Ci-ongya terkejut dan undur selangkah, mukanya berobah dan kaget bukan main maka Sudra, yang rupanya mengambil dan sempat membawa pulang kepala si gundul itu berkata lagi, gentar namun marah,

"Kami telah bertempur dengan Golok Maut, dan terus terang kami tak mampu mengalahkannya. Tapi ada sesuatu yang kami bawa pula, ongya, berita tentang seorang anak muda lain yang juga lihai dan sehebat Golok Maut!"

"Hm-hm!" Ci-ongya menjadi acuh, berkilat-kilat matanya. "Aku sangsi akan segala yang bersifat bual, Sudra. Golok Maut memang hebat dan rasanya tak ada seorang pun yang mampu menandinginya!"

"Sabar dulu," sang kakak mengulapkan lengannya. "Berita yang kau dengar belum habis, Ci-te. Sebaiknya kau dengar dulu dan lihat apa yang terjadi!"

"Apa yang terjadi? Dua kakek ini sudah mengakui kekalahannya dengan Golok Maut, kanda. Dan orang-orang kita juga tak ada yang mampu mencegah sepak terjang Si Golok Maut itu. Aku sebenarnya tak usah dengar karena isinya hanya kekecewaan melulu!"

"Hm, kau emosi. Kau terbawa oleh kematian Cam-busu!"

"Bah, kematian si tolol itu untuk apa kuhiraukan, kanda? Tapi ketidaktentuan nasib puteraku membuat aku begini!"

"Hm, sudahlah, sabar. Puteramu tak apa-apa. Dia selamat di Hek-yan-pang."

"Bagaimana kanda tahu?"

"Mereka ini yang bicara, Ci-te. Mereka telah bertemu pula dengan ketua Hek-yan-pang itu!"

"Benarkah?"

"Kami tidak tahu pasti, ongya. Tapi ketua Hek-yan-pang itu mengamuk dan marah-marah kepada Si Golok Maut!" Sudra menjawab.

"Ah, ini belum menjamin! Bagaimana bisa dibilang tak apa-apa, kanda? Kalau ketua Hek-yan-pang itu keluar dan marah-marah malah mungkin saja puteraku tak ada di sana!"

"Kami yang akan membuktikannya!" Mindra tiba-tiba berseru. "Kami dapat ke Hek-yan-pang kalau perlu, ongya. Dan kami sudah tahu kepandaian ketua Hek-yan-pang itu!"

"Hm, sebaiknya kalian ceritakan secara urut dulu. Duduklah dan biar cerita kalian didengar adikku," Coa-ongya tiba-tiba mengangkat lengannya, menyusuh dua orang itu duduk dan Yalucang juga diminta mengambil kursinya. Kini lima orang itu duduk mengelilingi meja besar dan berkerutlah kening Ci-ongya memandang dua kakek itu. Dan ketika semuanya duduk dan dua kakek lihai ini menjadi pusat perhatian maka Mindra mendahului temannya bercerita,

"Mula-mula kami bertemu dengan seorang pemuda lihai, dia bersenjatakan Jit-seng-kiam..."

"Hm, lalu?"

"Lalu kami bertemu Golok Maut itu, ongya. Dan kami mencacat perbandingan bahwa dua anak muda ini sama lihai!"

"Hm, kau sudah pernah menyaksikan wajah si Golok Maut itu?"

"Secara jelas belum, ongya. Tapi kami tahu bahwa ia masih muda, cukup muda!"

"Berapa kira-kira usianya?"

"Tak lebih dari tiga puluh lima tahun!"

"Hm, ceritakan selanjutnya!" Ci-ongya melirik kakaknya, melihat kakaknya mengangguk dan diam-diam mereka saling memberi isyarat. Hal itu semakin menguatkan dugaan mereka akan seseorang. Dan ketika Mindra menarik napas dan bersinar-sinar mengenang kejadian itu maka dia melanjutkan,

"Anak muda bersenjata Jit-seng-kiam ini luar biasa, kami kalah karena dia memegang pedang pusaka!"

"Hm, siapa dia?"

"Beng Tan, ongya. Katanya she Ju!"

"Beng Tan?"

"Benar."

"Ah, belum kudengar nama ini. Baiklah, lanjutkan!"

"Kami penasaran, coba merampas pedang tetapi gagal. Dan ketika kami harus pergi karena pemuda itu benar-benar lihai maka kami bertemu Golok Maut!"

"Nanti dulu. Kapan kau bertemu Golok Maut itu, Mindra? Berapa lama dan di mana?"

"Kami menemuinya di hutan pinus, jauh dari sini. Dan waktunya kurang lebih empat hari yang lalu!"

"Hm, dan bocah she Ju itu?"

"Kurang lebih enam hari yang lalu!"

"Baiklah, teruskan lagi."

"Maaf, ada apa ongya memotong ceritaku?"

"Tak apa. Aku hanya mengukur waktu dengan keberangkatan puteraku ke Hek-yan-pang, Mindra. Selebihnya aku tak memotong lagi!"

"Baiklah, kami lalu bertempur. Sebenarnya bukan pertama ini kami bertanding dengan Si Golok Maut, ini yang kedua. Dan karena kebetulan ada si gundul itu di sana di mana akhirnya Golok Maut kami keroyok tiga maka kami mengakui keunggulan lawan karena Golok Maut terlampau ampuh dengan senjatanya itu..."

"Kami sebenarnya berlima!" Sudra tiba-tiba menyambung. "Mao-siao Mo-li dan Hi-ngok Bhok-kongcu ada bersama kami, ongya. Tapi karena mereka menghina ketua Hek-yan-pang itu maka wanita itu marah dan menyerang dua orang ini!"

"Hm, bagaimana akhirnya?"

"Si Hidung Belang itu dihajar, temannya juga kalang-kabut!"

"Hm, Hek-yan-pangcu itu cukup lihai?"

"Benar, wanita itu cukup lihai. pangeran. Dan dia berhasil mengalahkan Siluman Kucing dan temannya itu!"

"Baiklah, lalu bagaimana dengan Golok Maut itu?"

"Dia menghadapi keroyokan kami bertiga, tapi akhirnya serangan-serangannya lebih tertuju kepada pembantu paduka itu, Tiat-kak si gundul!"

"Hm, dan Golok Maut tiba-tiba beringas dan benci sekali setelah mengetahui bahwa si gundul itu pembantu paduka, ongya. Kebencian dan sinar matanya membuat orang bergidik. Dia mengampuni kami tapi tidak pembantu paduka itu!" Sudra terbelalak, memberikan informasinya dan Coa-ongya maupun Ci-ongya tertegun. Mereka berdesir tapi Ci-ongya tertawa mengejek. Dan ketika dua pangeran itu saling pandang dan kembali mengangguk maka Sudra diminta melanjutkan ceritanya.

"Sekarang katakan bagaimana akhirnya, kenapa kalian datang ke sini dan siapa pula Ju Beng Tan itu!"

"Dia pembantu sri baginda,"

Coa-ongya kali ini mendahului, tiba-tiba menjawab. "Aku baru saja mendengar berita bahwa kanda kaisar memiliki seorang pengawal tangguh, Ci-te. Konon katanya lebih lihai dan hebat daripada pengawal-pengawal kita!"

"Benar, itulah pemuda itu!" Mindra berseru, penuh takjub dan kagum. "Pemuda ini hebat sekali, ongya. Kalau dikatakan pembantu-pembantu paduka tak dapat menandinginya memang benar. Kami berdua sendiri saja kalah!"

"Hm, belum tentu!" Yalucang si kakek tinggi besar mendengus, tiba-tiba merah mukanya. "Kami semua memang belum dapat merobohkan Si Golok Maut, Mindra. Tapi kalau kau merendahkan kami di sini aku juga tidak percaya akan kepandaianmu. Siapa tahu kau justeru lebih rendah dibanding kami!"

"Ha-ha, kau menantang?" Mindra tiba-tiba bangkit berdiri. "Kalau Coa-ongya memperbolehkan tentu kami berdua ingin main-main denganmu, Yalucang. Kami sudah mendengar namamu tapi juga belum melihat kepandaianmu!"

"Akupun juga begitu. Kalau kau menghina aku dan teman-temanku maka sebaiknya kita mengadu kepandaian dan lihat siapa yang besar mulut!"

"Ha-ha, boleh!" namun Coa-ongya yang membentak menyuruh mereka duduk kembali lalu berseru agar pertikaian itu dihentikan dulu.

"Mindra, di tempat ini tak boleh kalian bertempur. Kalau ingin berkelahi boleh, tapi di belakang, jangan di sini. Sebaiknya kalian terangkan dulu apa maksud kedatangan kalian, dengan membawa pula kepala si Kaki Besi itu!"

"Kami ingin mencari orang-orang pandai, ingin mengalahkan Si Golok Maut. Kalau di sini ada orang-orang lihai yang dapat bekerja sama dengan kami tentu kami ingin bergabung dan melaksanakan keinginan kami untuk merobohkan Si Golok Maut!"

"Hm, di sini orang-orang lihai banyak, tapi maksudmu kurang jelas kuterima. Apakah kau ingin menjadi pembantu-pembantu kami?"

"Ha-ha, tidak, ongya, Kami ingin hidup bebas dan tidak terikat. Kami datang hanya untuk maksud mencari teman, mengalahkan Si Golok Maut itu!"

"Tapi kalian dapat bekerja untuk kami. Kami dapat memberimu kedudukan dan uang!"

"Benar, si Kaki Besi sudah tewas, Mindra. Kalian menggantikan dirinya dan bersama Mo-ko atau Yalucang kalian tinggal di sini!"

"Hm, cukupkah berharga?" Sudra berkata mengejek. "Istana tak memiliki orang-orang tangguh, ongya. Kecuali pemuda bernama Beng Tan itu. Tapi diapun musuh kami! Kami penasaran, ingin merobohkan Si Golok Maut tapi juga pemuda she Ju itu!"

"Hm, kalian sombong. Kalau di istana tak ada orang-orang tangguh tentu kalian tak kemari. Eh, bilang saja kau ingin menjajal para pengawalku, Mindra. Bahwa kalian ingin membujuk Yalucang atau Mo-ko untuk menghadapi Golok Maut!"

Coa-ongya berseru, tiba-tiba dapat menangkap maksud pembicaraan kakek India itu dan Sudra tertawa bergelak. Kakek ini berdiri dan memandang temannya. Dan ketika temannya juga tertawa dan bangkit memandang ke, kiri maka Mindra berseru,

"Ongya, baiklah kami berterus terang. Tapi jangan suruh Mo-ko kakak beradik membokong kami... siut!" dan tangan kanan kakek ini yang bergerak ke belakang tiba-tiba sudah menangkis runtuh sebatang anak panah kecil, langsung mematahkannya dan muncullah di situ dua kakek iblis yang berkelebat dengan bentakan marah. Dan ketika mereka sudah berdiri di depan dua kakek tinggi kurus itu dan Hek-mo-ko yang berangasan membentak lebih dulu maka iblis muka hitam ini melengking,

"Mindra, tak usah sombong. Kalau kau ingin membujuk kami untuk meninggaikan tempat ini maka adalah tidak mungkin. Kau bisa bersahabat dengan kami tapi harus mengabdi Coa-ongya, atau kau pergi dan pulang tinggal nama!"

"Ha-ha, ini Hek-mo-ko?" Mindra tertawa, berseri-seri. "Bagus sekali, Mo-ko, dan ucapanmu benar. Kami perlu tenaga-tenaga yang dapat diandalkan untuk menghadapi Si Golok Maut itu!"

"Kau tak dapat menyuruh kami pergi, kecuali atas perintah Coa-ongya!"

"Ha-ha, Coa-ongya dapat kami tundukkan. Mo-ko. Tapi cobalah kita main-main dulu untuk melihat kepandaian masing-masing!"

"Jangan di sini, tahan!" Coa-ongya yang tiba-tiba maju dan berjalan perlahan sudah menghadapi kakek-kakek yang aneh ini. "Kalian tak boleh bertempur di sini, Mindra, tapi di belakang! Hm, tahu aku. Kiranya kalian hendak membujuk dan membawa pergi para pembantuku untuk membantu kalian. Heh, mereka orang-orang kepercayaanku, Mindra. Kalau kau membujuknya percuma. Lebih baik kita bertaruh dan siapa kalah harus mengikuti keinginan si pemenang!"

"Heh-heh, maksud paduka?"

"Boleh kalian bawa Mo-ko dan Yalucang kalau kau menang, Mindra. Tapi kalau kau yang kalah maka kalian berdua harus bekerja di sini, tunduk kepadaku!"

"Bagus, boleh!" dan Mindra yang tertawa penuh kepercayaan diri tiba-tiba berkelebat dan mendahului ke belakang, di sana temannya juga bergerak dan menanti di belakang. Dan ketika Mo-ko dan lain-lain juga berkelebat dan menyusul di belakang maka dua kakek India itu sudah berhadapan dengan lawan-lawannya, aneh.

"Heh, siapa maju lebih dulu?"

"Aku!" Hek-mo-ko yang berangasan melompat lebih dulu, mencabut tongkatnya. "Kau sombong dan pongah, Mindra. Mari kita main-main dan lihat siapa yang roboh!"

"Tidak!" Coa-ongya berseru. "Mereka berdua datang bersama, Mo-ko. Dan mereka menantang kalian semua. Lebih baik kalian bertiga maju berbareng dan robohkan dua kakek yang pongah ini!"

"Eh!" Mindra terkejut. "Kalian mau maju keroyokan?"

"Bukan kami yang menghendakinya, Mindra, melainkan kau. Kau yang merendahkan dan menghina orang-orangku. Kalau kau berani biarlah pertandingan ini cepat selesai dan hadapi mereka bertiga. Atau, kalau kau takut tentu saja boleh bertanding satu lawan satu tapi segera kutahu bahwa kalian orang-orang yang penakut!"

"Ha-ha, boleh, Coa-ongya. Kalau begitu kami terima dan kami tidak takut! Majulah, aku dan Sudra siap menghadapi mereka bertiga!"

Coa-ongya girang. Dia telah berhasll memojokkan dan mendahului pembicaraan, dua kakek ini telah disinggung kegagahannya dan tentu saja mereka menerima, atau bakal dicap penakut! Dan karena dia ragu apakah pertandingan seorang lawan seorang cukup dapat dihadapi oleh tiga pembantunya, karena dia telah mendengar kelihaian dua kakek India ini maka dengan cerdik langsung saja dia mengajak pertandingan serentak, dua lawan tiga dan inilah siasatnya untuk memperoleh kemenangan.

Dua kakek lihai itu harus dapat dijadikan pembantunya sebagai pengganti Tiat-kak yang tewas, yang kepalanya telah disingkirkan dan tadi dibawa dua kakek lihai ini. Maka begitu Mindra berhasil disudutkan dan mau tidak mau harus menerima pertandingan itu, karena mereka telah menghina dan merendahkan tiga pembantunya maka dua orang itu bersiap-siap ketika Yalucang dan Pek-mo-ko serta Hek-mo-ko diberi isyarat.

"Kalian hadapi mereka ini, dan robohkan!"

Mo-ko kakak beradik mengangguk. Yalucang juga sudah melompat maju dan kakek tinggi besar ini menggeram. Sebenarnya dalam setiap pembicaraan tadi kakek ini sudah menaruh ketidaksenangan kepada dua kakek Thian-tok ini, mereka dianggapnya sombong meskipun tak malu-malu mengakui kekalahannya dengan Golok Maut. Mungkin tak usah malu karena Golok Maut memang hebat, juga karena semua orang di istana tak ada yang dapat mengalahkan Golok Maut itu, jadi tak usah malu.

Namun karena sikap Mindra maupun Sudra dianggap merendahkan mereka bertiga dan rupanya kakek-kakek India ini enak saja mau menyuruh dia dan Mo-ko mengikutinya untuk membantu mencari Golok Maut, sebagai pelampiasan nafsu tak mau kalah dan rasa penasaran dua kakek itu maka Yalucang tentu saja tersinggung, kini menggeram dan bersama Mo-ko kakak beradik dia sudah berhadapan dengan dua orang lawannya itu. Dan begitu Mindra maupun Sudra tertawa mencabut senjata mereka, cambuk dan nenggala maka di sana Coa-ongy3 berseru agar mereka tidak membunuh dua kakek India itu, yang membuat Sudra merah mukanya tapi kawannya justeru tertawa bergelak.

"Ha-ha, akupun tak akan membunuh lawan-lawanku ini, ongya, melainkan menundukkan dan menyuruh mereka ikut kami untuk mencari Golok Maut!"

"Hm, kau bodoh. Golok Maut adalah musuh kita semua, Mindra. Kalau kau mau bergabung dengan kami justeru kalian memperoleh keuntungan yang banyak. Sudahlah, kalian bertanding dan kujamin para pembantuku tak akan membunuh kalian!"

"Ha-ha, kentut busuk!" dan Mindra yang membentak menggerakkan nenggalanya tiba-tiba harus berkelit dan menangkis ketika tiba-tiba Hek-mo-ko menyerangnya lebih dulu, bergerak dan sudah membentak dirinya dan tongkat iblis hitam ini menyambar. Dan ketika Mintra mengelak dan menangkis dengan nenggalanya maka berpijarlah bunga api disusul suara yang nyaring.

"Trangg!"

Dua orang itu terpental. Mindra terkejut karena tenaga Mo-ko ternyata kuat sekali, mampu menggetarkan dan mementalkan senjatanya, meskipun senjata di tangan iblis hitam itu juga terpental. Dan ketika Mo-ko membentak kembali dan sudah menggerakkan tangan kanannya, karena tongkat dipegang tangan kiri yang masih lengkap jarinya, karena dulu kelima jari tangan kanan iblis ini habis dibabat Golok Maut, maka dengan tongkat di tangan kiri dan pukulan-pukulan di tangan kanan Hek-mo-ko sudah menyerang dan menghujani lawannya dengan serangan-serangan cepat, ganas dan bertubi-tubi dan akhirnya Mindra berseru keras, menggerakkan tubuhnya dan mulailah dua orang itu bertanding, tongkat kembali bertemu nenggala dan sama-sama terpental, hal yang membuat Mindra semakin kaget karena Mo-ko benar-benar tangguh. Tapi ketika dia tertawa bergelak dan menyambut serta membalas serangan-serangan lawan maka di sana Pek-mo-ko juga sudah menyerang temannya dan Yalucang membantu dengan semburan apinya.

"Dar-dar!"

Lima orang itu segera bertanding. Mindra akhirnya terkejut ketika tongkat di tangan Pek-mo-ko juga tak kalah dahsyat dengan tongkat di tangan Hek-mo-ko. Namun ketika dia meledakkan cambuknya dan serangan demi serangan ditangkis dan dibalas dengan tak kalah cepat akhirnya Sudra harus berkelebatan dan memuji kehebatan lawannya.

"Kau serang siapa saja, Yalu. Jangan terpancang kakek ini!" Pek-mo-ko berseru, memberi siasatnya dan kakek tinggi besar itu mengangguk.

Kakek ini akhirnya mengerti dan berpindah-pindahlah dia menyerang yang dekat, sebentar Sudra dan sebentar kemudian Mindra. Jadi kakek tinggi besar ini bebas menyerang siapa saja, tentu saja serangannya tak dapat diduga dan Mindra maupun temannya terkejut. Semburan api dan tenaga Hwee-kang yang dilepas kakek Tibet itu cukup menggetarkan. Kilatan api atau hawa panas mulai melingkupi jalannya pertandingan. Sudra maupun Mindra harus mengerahkan sinkang untuk menahan hawa panas ini. Dan ketika pertandingan semakin seru karena Yalu si tokoh Tibet bisa menyerang bebas tanpa dapat diketahui siapa yajg akan diserangnya kemudian maka dua kakek India itu akhirnya terdesak.

"Ha-ha, kalian lihat, Mindra. Tiga orang pembantuku bukanlah manusia-manusia bodoh yang rendah kepandaiannya. Kalian terdesak, menyerah saja daripada dihajar kena pukulan...!"

Golok Maut Jilid 14

GOLOK MAUT
JILID 14
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
KENG HAN pucat. Memang benar, air keemasan yang mulai keluar dari tubuh mereka itu dapat membunuh mereka, lama-lama habis tenaga mereka dan tentu saja ini berbahaya. Namun karena mereka tak berdaya dan Keng Han mengeluh maka pemuda ini menjawab,

"Benar, tapi kita tak dapat berbuat apa-apa, Su Tong. Kakek iblis itu keji sekali. Kita tak dapat keluar dan Bhi Li serta kakaknya pingsan."

"Hm, apa itu?" Su Tong tiba-tiba menoleh, menunjuk pada sesuatu dan Keng Han tertegun.

Di luar hutan berindap sesosok bayangan dan lapat-lapat mereka mengenal bentuk bayangan itu, seorang laki-laki gagah yang sudah tua, berjenggot dan rambutnya digelung ke atas, diikat saputangan biru dan Keng Han terbelalak. Dan ketika bayangan itu semakln dekat dan mereka berdua yang kebetulan berada di tempat yang tinggi karena terendam di dalam tong besar maka hampir berteriak Su Tong mengeluarkan seruan tertahan,

"Suhu..." Su Tong terlonjak girang.

Keng Han juga hampir berteriak saking girangnya, setelah mengenal dan yakin betul siapa kiranya orang tua gagah itu, bukan lain guru mereka, Pek-lui-kong, si kakek Halilintar! Dan begitu mereka berteriak menyebut nama itu dan Lam-ciat di bawah api mendengar seruan ini mendadak Pek-lui-kong, laki-laki gagah dari utara itu sudah mengangguk dan berkelebat datang, menghantam Hantu Selatan.

"Lam-ciat, bebaskan dua orang muridku!"

Lam-ciat terkejut. Saat itu air Kim-kang yang dikeluarkan dua anak muda ini sudah semakin banyak saja, kental dan kakek itu berseri-seri, mempersiapkan mangkok dan siap menciduk air Kim-kang ini, air gaib yang diperas dari tubuh dua pemuda itu, setelah semalam diberkahi Dewi Bulan, dalam pesta gila-gilaan yang hanya dapat dilakukan orang-orang macam kakek ini. Maka begitu bentakan itu disertai berkelebatnya sebuah bayangan dan pukulan panas menyambar dari belakang maka kakek ini terkejut dan berteriak memutar tubuhnya.

"Hei... dukk!"

Lam-ciat mencelat. Dia tak tahu bahwa yang datang adalah Pek-lui-kong, jago dari utara yang menjadi guru dari anak-anak muda yang direbusnya itu. Maka ketika pukulan panas menyambar tubuhnya dan ditangkis dengan cara tergesa-gesa kontan kakek ini terpelanting dan roboh bergulingan.

"Haiyaa...!" Lam-ciat melompat bangun, marah memandang lawan namun saat itu Pek-lui-kong mengibas lengan. Tong besar di sebelah kirinya terkena dorongan angin kuat, miring dan akhirnya terguling. Dan ketika segala isinya tumpah dan dua pemuda itu terloncat bersama Bhi Li dan kakaknya maka Pek-lui-kong tertegun melihat keadaan muridnya itu.

"Suhu, kami.. kami dipermainkan kakek iblis ini. Tolong kau bunuh dia dan bebaskan kami berempat!"

"Hm, siapa gadis-gadis itu, Su Tong? Bagaimana kalian berada di tempat celaka ini?"

"Panjang ceritanya, suhu. Nanti saja kami beritahukan. Awas...!" Su Tong berteriak, melihat Lam-ciat menyerang dari belakang namun jago tua ini tahu. Dengan cepat ia membalik dan menangkis pukulan itu. Dan ketika Pek-lui-ciang atau Tangan Haiilintar bertemu pukulan Lam-ciat tiba-tiba kakek itu berteriak keras dan lengan bajunya terbakar.

"Dess-haihhh...!"

Lam-ciat bergulingan. Kakek ini terpaksa melempar tubuh karena Tangan Halilintar yang bertemu pukulannya itu hebat bukan main, dia mencelat dan pukulan lawan itupun masih terus menyambar ke belakang, menghantam pohon dan robohlah pohon itu dengan suaranya yang hiruk-pikuk, hangus tumbang dan hampir saja menimpa Lam-ciat! Dan ketika kakek itu mengumpat caci dan bergulingan meloncat bangun maka Pek-lui-kong berkelebat ke arah murid-muridnya dan menotok membebaskan mereka.

"Kalian urus gadis-gadis itu. Rupanya mereka pingsan oleh kelelahan dan kengerian yang sangat!"

Su Tong dan Keng Han sudah bergerak tanpa diulang lagi. Masing-masing sudah menuju ke arah kekasihnya, Su Tong menyadarkan Bhi Li sedang Keng Han menolong Bhi Pui. Dan ketika dua enci adik itu sadar dan membuka mata mereka maka hampir berbareng keduanya berteriak menanyakan Lam-ciat.

"Jahanam si kakek iblis itu. Mana Hantu Selatan!"

"Tenang," Su Tong mencekal, menenangkan Bhi Li. "Kita ditolong suhu, Bhi Li. Lihat dan saksikan itu betapa si kakek jahanam didesak suhu!"

Bhi Li tertegun. Di sana ternyata sudah bertempur seorang kakek gagah dengan si Hantu Selatan itu, pukulannya meledak-ledak dan enci adik ini terbelalak. Lam-ciat telah menyerang kakek itu dan pertempuran hebat terjadi, Lam-ciat memaki-maki namun kakek gagah itu benar-benar hebat. Kedua tangannya yang bergerak silih berganti ternyata mendesak Lam-ciat, mengeluarkan sinar putih dan meledaklah suara petir disertai kilatan api. Dan ketika Lam-ciat harus mengelak sana-Eini sementara pukulan-pukulan petir itu terus menyambar dan mengejar kakek ini akhirnya baju pundak si Hantu , Selatan terbakar dan kakek ibiis itu bergulingan melempar tubuh.

"Aduh... des-dess!"

Bhi Li tertegun. Akhirnya gadis ini menjadi kagum dan berbisiklah Su Tong bahwa itulah pukulan Petir yang dipunyai gurunya, kini dipakai menghajar Lam-ciat dan tentu saja jauh lebih hebat daripada Su Tong sendiri. Pek-lui-kong adalah penciptanya dan kini Puk-lui-ciang atau Tangan Petir dikeluarkan tokohnya, tentu saja hebat. Bhi Li kagum. Dan ketika pertandingan berjalan lagi dan Pek-lui-kong atau kakek gagah itu mendesak Lam-ciat akhirnya kakek iblis ini mengeluarkan Hoan-eng-sut, ilmu andalannya.

"Bedebah, kau tak dapat mengalahkan aku, Pek-lui-kong. Lihat, ilmu pukulan-pukulan Petirmu tak berdaya... wush-klap!" Hantu Selatan menghilang, mempergunakan Hoan-eng-sutnya atau Ilmu Penukar Bayangan itu, lenyap dan lawan tentu saja terkejut. Dan ketika Pek-lui-ciang atau pukulan Petir menghantam tempat kosong dan meledak menghajar pohon-pohon atau tanah di belakang Lam-ciat akhirnya Lam-ciat tertawa-tawa di balik ilmu silumannya itu.

"Ha-ha, lihat, Lui-kong. Aku tak dapat dipukul!"

Lui-kong atau si Raja Petir ini terbelalak. Lawan tiba-tiba memang menghilang dan tentu saja semua pukulannya mengenai tempat kosong, tokoh utara itu terkejut. Dan ketika bayangan lawan suatu ketika tampak di depan tapi tawa aneh terdengar di belakangnya maka sebuah pukulan ttba-tiba menghantam pundaknya.

"Dess!"

Jago tua itu terpelanting. Untuk pertama kalinya dia terpukul, Lam-ciat tertawa-tawa lagi dan memperlihatkan dirinya, di samping kanan jago utara ini. Namun ketika dipukul dia menghilang sementara dari sebelah kiri berkesiur angin tamparan maka Lui-kong atau Raja Petir itu terpelanting atau terbanting roboh.

"Des-plak!"

Kakek gagah itu mengeluh. Akhirnya dia menghantam bayangan Lam-ciat yang terlihat di mana-mana, tak tahu bahwa bayangan itu sebenarnya hanya jadi-jadian saja. Lam-ciat yang sesungguhnya entah di mana karena Hoan-eng-cut memang dapat merobah seseorang menjadi banyak, yang sejati bersembunyi di balik yang palsu dan tentu saja Pek-lui-kong bingung.

Dan ketika pukulan demi pukulan selalu mengenai tempat kosong sementara lawan membalas dan mulai melepas pukulan-pukulan jarak jauh akhirnya jago tua ini pucat terhuyung jatuh bangun, tak dapat membalas karena lawan yang asli tak diketahui di mana sebenarnya, hanya bertemu bayangan-bayangan semu dl mana tiba-tiba dari tempat-tempat tertentu menyambar angin pukulan Lam-ciat, sibuk dan jatuh bangunlah pendekar itu. Dan ketika suhunya terdesak dan Lam-ciat ganti mempermainkan gurunya maka Su Tong pucat sementara Keng Han juga berobah mukanya.

"Celaka, suhu terdesak, Su Tong. Kita harus maju membantu!"

"Benar, kakek iblis itu hebat, Keng Han. Yang membuat suhu bingung adalah Penukar Bayangannya itu. Lam-ciat mempergunakan Hoan-eng-sut!"

"Kita bergerak, bantu suhu!" dan Keng Han yang tidak banyak bicara lagi membentak ke depan tiba-tiba sudah membantu gurunya dan Su Tong pun ikut bergerak ke depan, mencabut pedangnya dan tangan kiri melepas pukulan Petir. Dan ketika Keng Han juga melakukan hal yang sama dan dua pemuda itu sudah membantu gurunya maka Pek-lui-kong malu dan merah mukanya.

"Keparat, malu aku dibantu kalian, Keng Han. Kalau kakek ini tidak benar-benar luar biasa dengan ilmu hitamnya tentu kalian kutendang keluar!"

"Maaf, Lam-ciat mempergunakan Hoan-eng-sutnya, suhu. Kalau tidak dikeroyok barangkali dia tak akan roboh!"

"Benar," Su Tong di sana menyambung. "Ilmunya ini ilmu siluman, suhu. Tak usah malu karena diapun curang... haitt!" dan Su Tong yang membentak dengan pedang di tangan kanan sementara pukulan Petir di tangan kiri tiba-tiba melihat bayangan lawan, tepat di sebelah kirinya dan dibacoklah bayangan itu. Tapi ketika pedangnya menembus kosong dan pukulan pun serasa mengenai mahluk halus, lenyap dan amblas begitu saja tiba-tiba pemuda ini terlempar ketika sebuah hembusan angin menyambar tengkuknya.

"Ha-ha, aku di sini, bocah. Lihat.....des-dess!"

Su Tong terbanting bergulingan. Memang dia tahu bahwa Hoan-eng-sut memang hebat, ilmu Penukar Bayangan ini dapat membuat pemiliknya berpindah-pindah tempat tanpa diketahui di mana sebenarnya. Lam-ciat bisa muncul di sana-sini tapi sebagian besar semu, bukan sejatinya dan tentu saja menghadapi ilmu berbau hitam begini Su Tong kewalahan. 

Dan ketika dia melompat bangun sementara Keng Han di sana juga berteriak ketika tertiup pukulan Lam-ciat maka hanya guru mereka sendiri yang dapat bertahan menerima pukulan lawan, mengerahkan sinkangnya dan dengan sinkangnya ini Pek-lui-kong tak terpelanting, setelah menancapkan kaki kuat-kuat di atas tanah. Dan ketika guru dan murid menjadi permainan Hoan-eng-sut di mana Lam-ciat akhirnya membentak dan memperkuat daya ilmunya itu maka seratus atau seribu bayangan Hantu Selatan sekonyong-konyong tampak di mana-mana hingga dua pemuda itu pusing.

"Tutup mata kalian, jangan dilihat!" Pek-lui-kong, yang terkejut melihat perobahan ini tiba-tiba berseru pada muridnya. Keng Han dan Su Tong melaksanakan itu namun terlambat, tiba-tiba pusing dan roboh sendiri, gedebak-gedebuk. Dan ketika dua pemuda itu mengeluh terguling dan Lam-ciat di balik ilmu hitamnya terkekeh aneh maka Bhi Li dan kakaknya tiba-tiba melengking dan menyambar pedang di atas tanah.

"Locianpwe, kalau Su Tong dan Keng Han tak dapat membantumu biarlah kami maju menggantikan. Kakek ini jahat, mari kita basmi dan bunuh dia... sing-singg!" dan Bhi Li yang melengking marah membentak lawannya tiba-tiba menusuk dan membacok, menggerakkan pedangnya namun sama seperti Su Tong iapun menembus bayangan kosong. Lam-ciat seolah roh halus dan memekiklah gadis itu. Dan ketika kakaknya juga melakukan hal yang sama namun mendapat kenyataan yang sama pula maka Lam-ciat mengibas dua gadis itu dengan pukulan jarak jauhnya.

"Ha-ha, kaupun tak dapat mengalahkan aku, anak-anak. Robohlah dan menyingkir... bres-bress!" dua enci adik itu mengeluh, terlempar dan tak dapat menahan diri namun bergulingan meloncat bangun, menyerang lagi dengan nekar dan Pek-lui-kong si kakek gagah kagum. Dua enci adik itu membantunya namun lagi-lagi mereka terlempar. Dan ketika kejadian itu berulang enam tujuh kali dan hanya karena dia selalu melindungi kalau Lam-ciat hendak menotok roboh gadis itu maka pendekar ini berseru agar mereka mundur, membawa pergi Su Tong dan Keng Han.

"Kakek ini hebat, biar aku saja yang menghadapinya. Kalian pergilah, bawa muridku dan kalian selamatkan diri!"

"Tidak," Bhi Li melengking. "Kau datang juga hendak menolong kami, locianpwe. Kalau kami mampus biarlah itu terjadi. Kami tak mau mundur atau kau saja yang pergi dan bawa murid-muridmu itu!"

"Hm, mana mungkin?" kakek ini terbelalak, semakin kagum. "Aku saja kewalahan menghadapinya, nona. Kalian pergilah dan biar aku yang melindungi dari belakang!"

"Tidak!" kali ini Bhi Pui berseru. "Kau yang pergi atau kita semua menghadapi iblis ini, locianpwe. Kami tak takut,mampus dan biar kami membalas sakit hati kami!"

"Hm, baiklah," Pek-lui-kong merasa tak berdaya. "Kalian gadis-gadis yang keras hati, nona. Kalau begitu keinginan kalian baiklah kita hadapi kakek iblis ini dan hati-hatilah!" lalu melindungi diri dari setiap pukulan sinkang dan coba membalas dengan pukulan-pukulan Petirnya kakek ini kembali menghadapi Lam-ciat, sayang tak berhasil baik karena Lam-ciat berlindung di balik ilmu hitamnya. Dan ketika Bhi Li kembali terlempar oleh sebuah tamparan maka Bhi Pui ganti menyusul dan terlepas pedangnya.

"Plak-plak!"

Dua gadis itu merintih. Pukulan Lam-ciat kali ini tak dapat dicegah si kakek gagah, karena saat itu Pek-lui-kong juga menangkis sebuah angin pukulan yang menyambar dari belakang. Dan ketika dua enci adik itu merintih dan terlepas pedangnya maka Lam-ciat tertawa bergelak dan tiba-tiba memecah bayangannya menjadi sepuluh orang.

"Wut-siut!"

Pek-lui-kong terkejut. Saat itu dia baru terhuyung menangkis sebuah pukulan, tiba-tiba melihat sepuluh bayangan sekaligus mengelilinginya, tak ayal berobah mukanya dan dari mana-mana menyambar pukulan bertubi-tubi. Dan karena dia tak dapat memilih bayangan mana yang kira-kira Lam-ciat adanya maka kakek ini berseru keras mencabut ikat rambutnya, menangkis.

"Des-dess!"

Si kakek terkecoh. Sepuluh bayangan yang ditangkis ternyata palsu adanya, semuanya bukan Lam-ciat yang asli. Dan ketika dia terhuyung karena terbawa oleh pukulannya sendiri maka saat itulah Lam-ciat yang asli berkelebat muncul di... atas kepalanya.

"Ha-ha, mampus kau, Lui-kong. Sekarang kau tak berdaya... bumm!"

Kakek itu menjerit, kepalanya dihantam dari atas dan terlemparlah kakek gagah itu. Lui-kong tokoh utara ini terguling-guling, secara curang dan licik Hantu Selatan itu menyerangnya. Dan ketika dia mengeluh dan kepala serasa pecah dihantam pukulan Lam-ciat maka saat itulah Lam-ciat menggerakkan tangan kirinya dan puluhan jarum-jarum kuning menyambar tokoh utara ini, dikelit tapi tiga batang jarum tetap mengenainya, pedas dan gatal. Dan ketika kakek itu menyadari bahwa jarum yang amat berbahaya dan beracun menusuki tubuhnya maka di saat itulah lawan berkelebat menghilang dan tahu-tahu sudah mencengkeram kepalanya untuk dicengkeram hancur.

"Ha-ha, roboh kau, Lui-kong. Sekarang kau mampus!"

Kakek ini terkejut. Saat itu dia mau menangkis namun kedua lengan tak dapat digerakkan. Jarum yang menancap di tubuhnya kiranya dengan cepat sudah menyebar racunnya, seluruh tubuh menjadi kaku dan kakek ini kaget bukan main. Lui-kong memaki lawan dengan muka pucat. Dan ketika serangan tak dapat dihindarkan lagi dan Lam-ciat tertawa bergelak dengan cengkeraman mautnya, dua jari telunjuk dan tengah siap mencoblos mata lawan yang tentu akan seketika hancur, tiba-tiba berkelebat sinar putih menyilaukan mata diiring bentakan yang mendirikan bulu roma,

"Lam-ciat, tahan seranganmu... crat!" dan kelingking Lam-ciat yang putus dibabat sinar menyilaukan ini tiba-tiba sudah menarik serangannya dan secepat kilat membanting tubuh bergulingan.

"Haiyaaa...!" Lam-ciat kaget bukan main. Saat itu dia tinggal merobohkan lawan, Pek-lui-kong sudah tak dapat menggerakkan tangannya karena seluruh tubuh mendadak kaku, akibat racun dari jarum yang menyebar cepat. Dan ketika kakek itu roboh namun Lam-ciat buntung kelingking kirinya, yang terus bergulingan dan meloncat bangun maka berdirilah di situ seorang laki-laki gagah yang mengenakan caping lebar.

"Golok Maut...!"

Semua tertegun. Lam-ciat terbelalak namun Bhi Li dan kakaknya girang bukan main. Mereka itulah yang tadi berteriak dan menyebut nama ini, nama Golok Maut yang akhir-akhir ini mengguncang dunia kang-ouw. Dan ketika Golok Maut, laki-laki yang tegak dengan tubuh tak bergeming itu mengangguk pada Bhi Li dan Bhi Pui, dua enci adik maka di sana Lam-ciat tergetar dan Lui-kong tokoh utara itu mengeluh.

"Kau telan ini, cepat!"

Dua pil hijau melayang ke mulut kakek ini. Entah bagaimana tahu-tahu Pek-lui-kong telah menerima pil itu, yang cepat menyambar ke mulutnya. Dan ketika pil itu lenyap dan Golok Maut telah menghadapi Lam-ciat maka kakek Hantu Selatan ini menggereng, sadar dari kagetnya.

"Heh, kau Golok Maut, anak muda?"

"Tak perlu banyak cakap. Kau pergi atau kuhajar, kakek sinting. Enyahlah dan jangan ganggu lima orang ini!"

"Ha-ha!" dan Lam-ciat yang tiba-tiba menubruk dan menghantamkan tangannya tahu-tahu berkelebat dan sudah menyerang si Golok Maut, tidak banyak cakap karena lawan menyuruhnya pergi. Tapi begitu pukulan melayang dan Golok Maut menggerakkan tangannya mendadak secepat kilat sinar yang menyilaukan mata itu berkelebat panjang.

"Cras!" Hantu Selatan menjerit. Sama seperti tadi tahu-tahu jari manisnya hilang, terbabat atau disambut sinar menyilaukan itu. Bukan main kagetnya. Dan ketika kakek ini merintih dan melempar tubuh bergulingan lagi maka ia terbelalak memandang si Golok Maut, yang telah menyimpan senjatanya kembali, di belakang punggung.

"Nah, kau tahu rasa, Lam-ciat. Atau kau akan kehilangan semua jarimu dan putus sia-sia!"

"Keparat!" kakek ini memekik. "Kubunuh kau, Golok Maut. Kukeremus kepalamu!" dan Lam-ciat yang menerjang lagi sambil membalut lukanya lalu menghantam dan memaki-maki si Golok Maut, dielak dan dikelit dan sinar putih panjang itu mau keluar lagi, mengancam. Dan ketika Golok Maut benar-benar mengeluarkan senjatanya dan kakek itu melengking tiba-tiba lenyaplah dia di balik ilmu hitamnya, Hoan-eng-sut.

"Siut-klap!"

Terdengar ledakan. Kakek ini melengking-lengking namun Golok Maut tiba-tiba mendengus, berkelebat dan lenyap pula berkejaran dengan bayangan si kakek gila, heran dan mengejutkan dan tampaklah oleh Bhi Li betapa dua bayangan sambar-menyambar seperti siluman. Dengan ginkangnya yang luar biasa Golok Maut mengimbangi Hoan-eng-sut, sebuah demonstrasi mentakjubkan yang hampir tak dapat dipercaya. Tapi ketika ke manapun bayangan kakek itu pergi selalu Golok Maut berada di belakangnya maka menjerit dan berteriaklah kakek siluman ini.

"Keparat, kau jangan mengintil di belakangku, Golok Maut. Pergilah... pergi!"

Ternyata kakek itu ketakutan. Setelah Golok Maut "terbang" bersama goloknya dan kemanapun Hoan-eng-sut melesat ke situ pula dia membayangi maka Lam-ciat gentar dan pucat memaki-maki, menyerang tapi selalu disambut sinar golok, tentu saja menarik serangannya dan jadilah kakek itu terbirit-birit berputaran. Tingkahnya seperti anak kecil yang bermain petak-umpet, berusaha lari dan bersembunyi tapi lawan mengintil di belakang, mau menyerang tapi golok itu menyambut. Dan karena dua kali jarinya sudah putus dibabat sinar golok dan senjata di tangan Golok Maut itu benar-benar maut maka kakek Ini memutar tubuh dan akhirnya melarikan diri, berteriak-teriak.

"Golok Maut, tobat. Jangan kejar aku. Tobat...!"

Golok Maut tak menghiraukan. Dia tetap mengejar dan si kakek akhirnya melepas jarum-jarum keemasan, yakni jarum-jarum beracun yang tadi melukai si Raja Petir. Tapi ketika Golok Maut menggerakkan senjatanya dan bunyi trang-tring menyampok runtuh sinar-sinar keemasan itu akhirnya tujuh sinar emas membalik menyambar kakek itu sendiri.

"Cret-cret!"

Lam-ciat meraung. Tujuh jarum beracunnya sendiri membalik menancap di tubuh, menjerit dan kakek itu terjungkal. Dan ketika Golok Maut berkelebat dan sinar putih bergerak tiba-tiba sebagian bahu kakek itu sompal.

"Aduh!"

Golok Maut berhenti. Lam-ciat sudah bergulingan meraung tak keruan, menjerit dan menangis dan lucu rasanya melihat ini. Lam-ciat, si Hantu Selatan yang tadi bersikap sombong dan gila-gila mendadak mengenal takut, menjauh dan akhirnya meloncat bangun di sana, melarikan diri dan lenyap di balik pohon-pohon besar. Dan ketika Bhi Li dan lain-lain tertegun melihat Golok Maut menoleh, tersenyum sejenak tiba-tiba laki-laki bercaping itu berkelebat dan... lenyap pula.

"Bhi Li, tak usah pergi sendirian. Kalian bersamalah Su Tong ataupun Keng Han!"

"Heii..!" Bhi Li terkejut, sadar. "Tunggu, Golok Maut. Tunggu dulu...!"

Namun Golok Maut menghilang. Bhi Pui juga berteriak dan mengejar, tak dijawab dan dua enci adik itu masih tetap mencari-cari. Namun ketika mereka gagal dan Golok Maut benar-benar telah menghilang entah ke mana maka dua bayangan berkelebat dan muncullah Keng Han serta Su Tong di situ.

"Bhi Li, Bhi Pui, tak usah mencari lagi. Golok Maut memang aneh, tak mungkin kita temukan!"

"Benar," bayangan lain berkelebat, Pek-lui-kong adanya. "Aku juga sudah mencari-cari, nona. Dia tak ada dan aku menyesal belum menyampaikan terima kasihku!"

Bhi Li dan kakaknya tertegun. Keng Han dan Su Tong rupanya sudah ditolong guru mereka ini, bersinar-sinar memandang mereka. Tapi begitu mereka ingat apa yang telah terjadi di antara mereka dengan Su Tong dan Keng Han mendadak enci adik ini meloncat pergi dan terisak.

"Heii..!" dua pemuda itu terkejut. "Tunggu, Bhi Li. Kami mau bicara!"

"Benar," Keng Han juga berseru. "Tunggu, Bhi Pui. Aku mau bicara..!" dan dua pemuda itu yang sudah tergerak dan mengejar ke depan lalu memberi tahu guru mereka bahwa sebaiknya guru mereka tinggal di situ dulu, mereka ada persoalan pribadi dan Pek-lui-kong mengangguk. Tadi orang tua ini telah mendengar cerita muridnya tentang perbuatan Lam-ciat, kakek iblis terkutuk yang membuat dua pasangan itu menjadi malu dan terhina. Maka begitu muridnya mengejar dan dua enci adik itu sudah disusul cepat kakek ini menarik napas dan menunggu di situ.

"Tunggu... tunggu, Bhi Li. Aku mau bicara...!"

Tapi Bhi Li tak mau mendengarkan ini. Su Tong meneriakinya di belakang dan tiba-tiba Keng Han juga berseru pada Bhi Pui, sang kakak. Dan ketika dua gadis itu mengerahkan ilmu lari cepatnya namun Keng Han dan temannya juga menambah kecepatan mereka hingga jarak selalu sama tiba-tiba Bhi Pui bertanya pada adiknya,

"Bhi Li, mau apa mereka itu kira-kira? Mau kurang ajarkah?"

"Entahlah, tapi rasanya tidak, enci. Kukira... kukira mereka mau bicara tentang apa yang sudah terjadi di antara kita!"

"Hm, kalau begitu kita tunggu, berhenti saja!"

"Tidak, jangan enci. Di hutan itu saja kita bersembunyi. Kau dan aku berpisah, biar mereka mencari!"

"Apa?"

"Benar, masa kita harus menemui mereka bersamaan? Ah, malu, enci. Biar Su Tong mencariku dan Keng Han mencarimu. Kalau mereka kurang ajar kita bunuh. Tapi kalau mereka mau bertanggung jawab, hmm.. kita... kita terima!"

Bhi Pui merah mukanya. Akhirnya dia mengangguk dan setuju, sudah tiba di hutan yang dimaksud Bhi Li dan di sini tiba-tiba mereka berpisah. Keng Han dan Su Tong tak jauh di belakang, terus berteriak-teriak namun mereka seolah tak perduli. Inilah wanita. Butuh tapi pura-pura acuh! Dan ketika mereka sudah memasuki hutan itu dan berpisah, Bhi Li ke kiri sementara Bhi Pui ke kanan maka Su Tong dan Keng Han tertegun.

"Hei!" Su Tong berteriak. "Kenapa kalian ini, Bhi Li? Kami mau bicara, bukan mau apa-apa!" dan terbelalak melihat Bhi Li ke kiri tiba-tiba pemuda ini berkata pada temannya bahwa dia akan mengejar gadis baju biru itu.

"Baiklah, aku ke kanan, Su Tong. Kau kejar kekasihmu itu sedang aku mengejar kakaknya!" Keng Han pun membelok, berpisah dengan temannya dan dua pemuda itu sudah mengejar kekasih masing-masing. Mereka tak mengerti sikap enci adik itu tapi sudah menyusul. Dan ketika Su Tong berkelebat mengejar Bhi Li maka di dalam hutan tiba-tiba pemuda itu berhasil menyambar baju pundak kekasihnya.

"Bhi Li, tunggu... bret!" dan baju Bhi Li yang sobek tertarik Su Tong tiba-tiba membuat pemuda itu terkejut, berseru minta maaf namun Bhi Li terlanjur marah. Gadis ini gusar karena Su Tong merobek pakaiannya. Maka begitu dia membalik dan berhenti memutar tubuh tiba-tiba tangannya bergerak dan Su Tong sudah ditampar.

"Keparat kau... plak-plak!" dan Su Tong yang terlempar serta terbanting roboh tiba-tiba mengeluh dan bergulingan meloncat bangun, berseru agar Bhi Li menahan kemarahannya dan kini gadis itu tegak di depan Su Tong. Pemuda ini bangkit terhuyung dengan pipi bengap, tembem! Dan ketika Bhi Li membentak dan berkacak pinggang menanya apa keperluan pemuda itu maka Su Tong menggigil, terbata-bata.

"Aku... aku mau bicara tentang itu. Tentang...."

"Tentang apa!" Bhi Li memotong, galak menjawab dan pura-pura tidak tahu, padahal di dalam hati tentu saja berdebaran dan mukapun merah padam. Dan ketika Su Tong berkata bahwa dia mau bertanggung jawab tentang peristiwa di malam bulan purnama, persis yang disangka Bhi Li tiba-tiba gadis ini pun tak dapat menahan rona mukanya yang semburat merah, apalagi ketika Su Tong menjatuhkan diri berlutut, gemetar.

"Aku... aku mencintaimu, Bhi Li. Aku tak mau kau pergi dari sampingku. Aku telah melaporkan kejadian ini kepada suhu, dan aku mau bertanggung jawab!"

Bhi Li terisak.

"Kau... kau mau, bukan? Kau tak menolak?"

"Ooh!" gadis itu tiba-tiba meloncat meninggalkan Su Tong. "Aku... aku telah menyerahkan segala-galanya kepadamu, Su Tong. Tak perlu kujawab karena kau tentu mengerti sendiri!"

"He!" Su Tong berteriak, meloncat bangun. "Kalau begitu kau menerimanya?"

Gadis ini tak menjawab. Su Tong akhirnya mengejar dan menangkap gadis itu lagi, mencengkeram dan tersedu-sedulah Bhi Li berhadapan dengan pemuda ini, menunduk, tak mau mengangkat mukanya. Dan ketika gadis itu mengguguk dan Su Tong menjadi bingung, tak tahu apakah gadis ini setuju atau tidak tiba-tiba Su Tong memeluk gadis itu, yang ternyata diam saja.

"Bhi Li, aku... aku bingung. Kalau kau tak mau menjawab biarlah beri tandanya dengan cara yang lain. Aku mencintaimu, aku ingin menciummu. Kalau kau marah tamparlah aku!" dan Su Tong yang benar-benar mencium dan melumat bibir Bhi Li ternyata tak ditampar dan Bhi Li menyambut, tidak marah dan tentu saja pemuda ini semakin berani, girang. Dan ketika dia mencium bertubi-tubi hingga keduanya seakan kehabisan napas maka Bhi Li mendorong pundaknya dan berseru, menggigil,

"Cukup... cukup, Su Tong. Kau sudah tahu jawabannya!"

"Ooh!" Su Tong tertawa bergelak, gembira sekali. "Aku bahagia, Bhi Li. Kalau begitu kau menerima cintaku!" dan pemuda ini yang menyambar serta mau mencium kekasihnya lagi mendadak ditahan dan dielak.

"Nanti dulu, kau harus berjanji!"

"Hm, janji apa? Bagaimana?"

"Kau harus memperlakukan aku baik-baik, Su Tong. Harus... harus melamarku sebagaimana gadis dilamar pemuda secara baik-baik!"

"Ah, tentu. Suhu yang akan melamarmu, Bhi Li. Aku akan minta padanya agar kau menjadi isteriku!"

"Kita sudah menjadi suami isteri.." gadis ini terisak. "Aku... aku, ah, jahanam keparat Lam-ciat itu, Su Tong. Kalau saja tak ada dia tentu perbuatan itu tak akan kita lakukan!"

"Sudahlah," Su Tong menghibur. "Semuanya sudah terjadi, Bhi Li. Kita tak dapat menolak atau menghindarinya. Aku juga menyesal, tapi nasi sudah menjadi bubur."

"Dan kau akan bertanggung jawab, bukan?"

"Tentu, aku mencintaimu, Bhi Li. Aku akan bertanggung jawab!" dan Su Tong yang meraih serta memeluk lagi lalu mencium dan kali ini Bhi Li membiarkan, bahkan menyambut dan Bhi Li terisak. Dan ketika pemuda itu berbisik bahwa dia mencintainya akhirnya keduanya terbang ke sorga namun mendadak Bhi Li teringat encinya.

"Kita lihat enci Bhi Pui!"

"Hm," Su Tong puas, berseri-seri. "Mereka pasti melakukan seperti apa yang kita lakukan, Bhi Li. Keng Han mencintai kakakmu dan ingin mempertanggung-jawabkan perbuatannya pula!"

"Kau yakin?"

"Tentu, mari kita lihat!"

Dan Su Tong yang bahagia menyambar kekasihnya lalu berkelebat dan mengajak Bhi Li ke tempat di mana tadi Keng Han mengejar Bhi Pui, mencari dan tak lama kemudian mereka menemukan dua orang itu, benar saja, asyik bercumbu dan berpelukan, saling cium dan Su Tong berhenti, menarik kekasihnya dan tersenyum mengajak bersembunyi. Dan ketika Bhi Li menurut tapi muka tentu saja merah padam maka di sana Keng Han terdengar berkata, melepaskan pelukannya,

"Lihat, demi Tuhan aku mencintaimu, Bhi Pui. Ingin bertanggung jawab dan mengambilmu sebagai isteri. Kita telah diikat oleh Lam-ciat. Tapi tanpa itupun aku tetap mencintaimu dan ingin mengambilmu sebagai isteri, kekasih tercinta!"

"Tapi kau harus melamarku," Bhi Pui terdengar menjawab, terisak. "Aku tak ingin menjadi isterimu begini saja, Keng Han, Kau harus melamarku dan memintaku secara baik-baik!"

"Tentu, aku telah membicarakannya dengan suhu, Bhi Pui. Dan aku yakin suhu mau melamar dirimu untukku. Aku akan memperlakukan dirimu secara baik-baik dan bukan hanya karena disebabkan perbuatan kakek iblis itu!" lalu, ketika Bhi Pui tampak lega dan bersinar-sinar maka Keng Han mengajak untuk mencari temannya, Su Tong. "Urusan kita selesai. Sekarang kita mencari Su Tong yang mengejar adikmu itu!"

"Ha-ha, tak perlu dicari!" Su Tong keluar dari persembunyiannya, berkelebat muncul, "Aku di sini, Keng Han, bersama Bhi Li!" dan ketika Keng Han tertegun dan muka Bhi Pui merah, teringat bahwa dia baru saja berciuman dengan Keng Han maka Bhi Li muncul dan tersenyum-senyum berkelebat menyambar encinya itu.

"Enci, maaf kami agak lama di situ. Su Tong yang mengajakku bersembunyi dan tak mau mengganggu kalian, Maaf, betapapun aku lega!"

"Kau di sana?"

"Ya."

"Mengintai.. mengintai kami?"

"Hi-hik, maaf, enci. Aku tak sengaja!"

"Ih, kurang ajar kau!" dan Bhi Li yang mengelak dicubit encinya tiba-tiba bersembunyi di punggung Su Tong.

"Aduh, tolong, Su Tong. Enciku marah!"

Su Tong tertawa. Setelah Bhi Li menggoda encinya dan suara menjadi gembira tiba-tiba pemuda ini menarik Bhi Li, menyembunyikan sang kekasih dan Bhi Pui tentu saja tertegun, berhadapan dengan Su Tong. tak mungkin mengejar adiknva lagi dan tertawalah Keng Han di sana. Dan ketika Bhi Pui mundur dan adiknya terkekeh-kekeh maka gadis ini minta agar Keng Han membalas pada Su Tong.

"Eh-eh, apa yang harus kulakukan?"

"Dorong dia, Keng Han. Ambil adikku yang nakal itu!"

"Ha-ha, dorong sendiri. Su Tong memang kekasihnya!" dan ketika suasana menjadi bertambah hangat dan Bhi Pui gemas-gemas mendongkol maka Bhi Li meloncat dan terbang meninggaikan hutan.

"Hi-hik, kejar aku saja, enci. Ayo jangan minta tolong Keng Han!"

Bhi Pui mendapat kesempatan. Setelah adiknya keluar dan dia tentu saja mengejar maka dua pemuda di belakangnya itu tertawa-tawa. Keng Han dan Su Tong gembira sekali karena kini mereka masing-masing sudah mendapatkan pujaannya secara baik-baik. Bhi Pui mengejar Bhi Li dan merekapun saling pandang, mengangguk dan ganti mengejar dua gadis itu.

Dan ketika semuanya tertawa-tawa namun dua enci adik itu tentu saja tiada maksud untuk meninggaikan dua pemuda ini akhirnya Bhi Li tertangkap dan dicubit kakaknya, mengaduh dan minta tolong Su Tong dan akhirnya bersembunyi lagi di punggung kekasihnya. Bhi Pui puas sementara Keng Han sudah mencekal lengannya. Dan ketika dua pasangan itu tampak gembira dan bahagia sekali maka Su Tong teringat gurunya dan mengajak semua kembali.

"Suhu sudah menanti, mari kita ke Sana."

"Benar," Keng Han juga teringat. "Kita bicarakan ini lebih lanjut, Su Tong. Dan kita minta nasihat suhu!"

Begitulah, empat orang muda ini menghadap Pek-lui-kong, yang memang sudah menunggu. Dan ketika kakek gagah itu berseri-seri karena keempatnya tampak bahagia dan gembira maka Su Tong menjatuhkan diri berlutut memberikan laporannya.

"Teecu berhasil membawa Bhi Li, mohon suhu memberikan restunya."

"Benar, dan teecu juga, suhu," Keng Han menyambung. "Teecu telah berhasil membawa kekasih teecu dan inilah Bhi Pui!"

"Hm-hm, bagus. Aku gembira, anak-anak. Dan aku turut bahagia. Pernikahan kalian dapat ditentukan dan sebelumnya tentunya kita harus baik-baik melamar kekasih kalian masing-masing. Siapakah orang tua kalian?"

"Kami... kami hanya mempunyai seorang paman, locianpwe. Ayah ibu telah tiada dan kami sebatangkara." Bhi Pui menjawab.

"Hm, tak apa. Kepada pamanmu itulah aku akan melamar kalian untuk murid-muridku. Siapa paman kalian itu? Kalian dari mana?"

"Kami keluarga besar Pek-kiok-pang..."

"He?"

"Benar, kami keponakan ketua Pek-kiok-pang yang dibunuh Golok Maut, locianpwe. Tapi Golok Maut pula yang berkali-kali menolong kami!"

"Ah, Golok Maut!" Pek-lui-kong tertegun, bersinar-sinar. "Dan dia pula yang baru menyelamatkan kita semua, Bhi Li. Dan aku juga berhutang jiwa padanya!"

"Benar, kami juga pernah ditolongnya, suhu. Dan kami juga berhutang budi!" Su Tong berseru.

"Apa?"

"Benar," Keng Han mendahului. "Kami dua kali ditolongnya dari Mao-siao Moli, suhu. Tanpa Golok Maut tentu kami sudah menjadi korban!"

"Iblis betina cabul itu?"

"Ya."

"Ah, berbahaya!" dan Pek-lui-kong yang tepekur dengan mata redup tiba-tiba muram mukanya, bangkit berdiri, "Baiklah, Golok Maut memang tokoh yang aneh, Su Tong. Orang mencapnya jahat tapi nyatanya berkali-kali pula dia menolong orang lain. Sudahlah, kita pergi dan selesaikan urusan ini."

"Pulang?"

"Hm, apakah kalian mau tinggal di sini saja? Tidak ingin mengikat perkawinan dan segera saja menjadi suami isteri?"

"Ah, tentu, suhu. Tapi kami agaknya masih ingin berkecimpung di dunia kang-ouw lagi, menambah pengalaman!"

"Benar, kami juga bemiat begitu, locianpwe. Terutama ingin mengikuti cerita si Golok Maut ini dan melihat apa yang terjadi, yang dia lakukan!"

"Hm, tapi kalian harus menikah dulu, baru setelah itu sesuka hati kalian!"

"Baiklah, terserah, suhu," dan Keng Han yang menjawab mewakili teman-temannya tentu saja girang dan mengedip pada yang lain, memang harus menjadi suami isteri dulu setelah perbuatan terkutuk Lam-ciat. Harus memberi muka pada kekasih masing-masing dan jadilah mereka setuju. Dan karena itu tentu saja juga melegakan dan menggembirakan Bhi Li enci adik maka Pek-lui-kong akhirnya mengajak pergi. Dan begitu kakek itu berkelebat dan empat muda-mudi ini mengikut di belakang maka arah tujuan mereka adalah Pek-kiok-pang!

* * * * * * *

"Apa? Terbunuh? Cam-busu dibunuh Golok Maut itu?"

"Benar, dan tugasnya barangkali gagal, ongya. Kepala Cam-busu menggelinding di luar Hek-yan-pang ketika secara kebetulan kami menyusul!"

"Keparat, jahanam bedebah!" dan Ci-ongya yang marah-marah dan membentak-bentak laki-laki di depannya lalu menendang dan melempar mangkok piring, begitu marah dan gusar hingga pengawal yang menjaga di pintu pucat, menggigil dan cepat menggeser kakinya ketika sang pangeran melotot, hampir membuang piring ke arahnya namun untunglah saat itu berkelebat sesosok bayangan memasuki ruangan. Dan ketika bentakan dan kemarahan pangeran ini menggegerkan seisi gedung karena meja kursi dibanting dan ikut ditendang pula maka bayangan ini, seorang kakek tinggi besar berkulit hitam berseru menahan kemarahan,

"Ongya, berhentilah. Maaf hamba datang diutus kakak paduka!"

"Hm, kau?" Ci-ongya berhenti, bersinar-sinar. "Ada apa kau datang, Yalucang? Menambah kekecewaanku dan kemarahanku saja?"

"Maaf, hamba datang diutus kakak paduka, ongya. Paduka diminta datang dan ditunggu di gedung Ui-tien!"

"Hm, baik!" dan sang pangeran yang menahan kemarahan dan masuk ke dalam lalu berganti sepatu dan sudah mengikuti kakek ini, yang bukan lain Yalucang adanya si kakek Tibet, pembantu atau orang kepercayaan Coa-ongya, pangeran Coa. Dan ketika dua orang itu datang dan ternyata di meja besar sudah duduk menunggu seorang laki-laki berusia empat puluhan maka pangeran ini duduk dan langsung menanya geram,

"Ada apa, kanda? Kau memanggilku?"

"Benar, ada sesuatu yang ingin kurundingkan, Ci-te (adik Ci). Dan ini agaknya keuntungan bagi kita!"

"Hm, selama ini kesialan. Aku tak percaya segala keuntungan, kanda. Selama Golok Maut belum dibunuh maka ancaman bahaya tetap di depan mata kita!"

"Sabarlah, jangan marah-marah. Aku telah mendengar tentang terbunuhnya bu-su tolol itu tapi belum tentu puteramu ikut celaka. Ada berita menggembirakan, tentang pembantu sri baginda yang lihai!"

Ci-ongya mengerutkan kening. Dia tak tahu tapi tampak terkejut dan heran mendengar ini. Maka ketika kakaknya bersinar-sinar dan dia membetulkan letak duduknya maka pangeran yang sedang menahan marah ini bertanya, "Kanda, apa hubungannya pembantu sri baginda dengan kita? Apa kaitannya dengan semua ini?"

"Ah, banyak. Yang jelas kita bisa berharap orang ini membunuh Golok Maut, Ci-te. Karena dikabarkan dia amat lihai dan memiliki Jit-seng-kiam (Pedang Matahari)!"

"Jit-seng-kiam? Pedang keramat itu?"

"Benar, dan orang ini lihai bukan main, Ci-te. Minimal dia setangguh Si Golok Maut!"

"Aku tak percaya. Golok Maut itu luar biasa sekali. Kalau ada orang bicara begitu tentu dia hanya membual!"

"Hm, kau tak percaya? Kalau begitu lihatlah ini, dengar kata-katanya!" dan Coa-ongya yang bertepuk tangan dan menoleh ke belakang tiba-tiba telah memanggil dua orang kakek luar biasa, berkelebat dan tahu-tahu muncul di situ. Dan ketika Ci-ongya terbelalak dan tertegun, tak mengenal, maka kakaknya sudah memberi tanda dan dua orang itu membungkuk hormat di depan pangeran ini.

"Ha-ha, kenalkah kau kepadanya. Cite, Inilah dua kakek lihai dari Thian-tok. Mereka adalah dua bersaudara Sudra dan Mindra!"

"Eh, yang terkenal berjuluk Nehikha itu?"

"Ha-ha, benar. Kamilah orangnya, ongya. Selamat bertemu dan kami baru saja diundang di sini!"

Mindra, kakek yang mendahului itu tertawa bergelak. Ci-ongya terkejut karena dia sudah mendengar nama dua kakek lihai ini, yang diusir dari India dan ternyata malang-melintang di Tionggoan, kini muncul di rumah kakaknya dan tersenyumlah dia karena orang-orang lihai telah bermunculan di istana, jadi kekuatan mereka bertambah dan bertanyalah pangeran itu kapan mereka datang. Dan ketika sambil tertawa Mindra berkata bahwa dia baru saja datang, setelah bertemu Golok Maut maka Ci-ongya tertegun dan tiba-tiba mengerutkan keningnya, lagi-lagi tak senang.

"Kami baru tiba, dan kami membawa berita penting!"

"Hm, tentang pembantu kaisar itu? Jadi kalian kiranya?"

"Tidak, bukan!" Sudra menggeleng, mendahului temannya. "Kami membawa berita bahwa Tiat-kak, pembantu kalian itu telah dibunuh Golok Maut, ongya. Dan saksi utamanya adalah kami berdua!"

"Apa?" Ci-ongya terkejut. "Tiat-kak si Kaki Besi itu?"

"Benar, dan dia tewas, ongya. Inilah kepalanya!" Sudra mengeluarkan sebuah buntalan, membuka itu dan menggelindinglah kepala si gundul itu, Tiat-kak si Kaki Besi. Dan ketika Ci-ongya terkejut dan undur selangkah, mukanya berobah dan kaget bukan main maka Sudra, yang rupanya mengambil dan sempat membawa pulang kepala si gundul itu berkata lagi, gentar namun marah,

"Kami telah bertempur dengan Golok Maut, dan terus terang kami tak mampu mengalahkannya. Tapi ada sesuatu yang kami bawa pula, ongya, berita tentang seorang anak muda lain yang juga lihai dan sehebat Golok Maut!"

"Hm-hm!" Ci-ongya menjadi acuh, berkilat-kilat matanya. "Aku sangsi akan segala yang bersifat bual, Sudra. Golok Maut memang hebat dan rasanya tak ada seorang pun yang mampu menandinginya!"

"Sabar dulu," sang kakak mengulapkan lengannya. "Berita yang kau dengar belum habis, Ci-te. Sebaiknya kau dengar dulu dan lihat apa yang terjadi!"

"Apa yang terjadi? Dua kakek ini sudah mengakui kekalahannya dengan Golok Maut, kanda. Dan orang-orang kita juga tak ada yang mampu mencegah sepak terjang Si Golok Maut itu. Aku sebenarnya tak usah dengar karena isinya hanya kekecewaan melulu!"

"Hm, kau emosi. Kau terbawa oleh kematian Cam-busu!"

"Bah, kematian si tolol itu untuk apa kuhiraukan, kanda? Tapi ketidaktentuan nasib puteraku membuat aku begini!"

"Hm, sudahlah, sabar. Puteramu tak apa-apa. Dia selamat di Hek-yan-pang."

"Bagaimana kanda tahu?"

"Mereka ini yang bicara, Ci-te. Mereka telah bertemu pula dengan ketua Hek-yan-pang itu!"

"Benarkah?"

"Kami tidak tahu pasti, ongya. Tapi ketua Hek-yan-pang itu mengamuk dan marah-marah kepada Si Golok Maut!" Sudra menjawab.

"Ah, ini belum menjamin! Bagaimana bisa dibilang tak apa-apa, kanda? Kalau ketua Hek-yan-pang itu keluar dan marah-marah malah mungkin saja puteraku tak ada di sana!"

"Kami yang akan membuktikannya!" Mindra tiba-tiba berseru. "Kami dapat ke Hek-yan-pang kalau perlu, ongya. Dan kami sudah tahu kepandaian ketua Hek-yan-pang itu!"

"Hm, sebaiknya kalian ceritakan secara urut dulu. Duduklah dan biar cerita kalian didengar adikku," Coa-ongya tiba-tiba mengangkat lengannya, menyusuh dua orang itu duduk dan Yalucang juga diminta mengambil kursinya. Kini lima orang itu duduk mengelilingi meja besar dan berkerutlah kening Ci-ongya memandang dua kakek itu. Dan ketika semuanya duduk dan dua kakek lihai ini menjadi pusat perhatian maka Mindra mendahului temannya bercerita,

"Mula-mula kami bertemu dengan seorang pemuda lihai, dia bersenjatakan Jit-seng-kiam..."

"Hm, lalu?"

"Lalu kami bertemu Golok Maut itu, ongya. Dan kami mencacat perbandingan bahwa dua anak muda ini sama lihai!"

"Hm, kau sudah pernah menyaksikan wajah si Golok Maut itu?"

"Secara jelas belum, ongya. Tapi kami tahu bahwa ia masih muda, cukup muda!"

"Berapa kira-kira usianya?"

"Tak lebih dari tiga puluh lima tahun!"

"Hm, ceritakan selanjutnya!" Ci-ongya melirik kakaknya, melihat kakaknya mengangguk dan diam-diam mereka saling memberi isyarat. Hal itu semakin menguatkan dugaan mereka akan seseorang. Dan ketika Mindra menarik napas dan bersinar-sinar mengenang kejadian itu maka dia melanjutkan,

"Anak muda bersenjata Jit-seng-kiam ini luar biasa, kami kalah karena dia memegang pedang pusaka!"

"Hm, siapa dia?"

"Beng Tan, ongya. Katanya she Ju!"

"Beng Tan?"

"Benar."

"Ah, belum kudengar nama ini. Baiklah, lanjutkan!"

"Kami penasaran, coba merampas pedang tetapi gagal. Dan ketika kami harus pergi karena pemuda itu benar-benar lihai maka kami bertemu Golok Maut!"

"Nanti dulu. Kapan kau bertemu Golok Maut itu, Mindra? Berapa lama dan di mana?"

"Kami menemuinya di hutan pinus, jauh dari sini. Dan waktunya kurang lebih empat hari yang lalu!"

"Hm, dan bocah she Ju itu?"

"Kurang lebih enam hari yang lalu!"

"Baiklah, teruskan lagi."

"Maaf, ada apa ongya memotong ceritaku?"

"Tak apa. Aku hanya mengukur waktu dengan keberangkatan puteraku ke Hek-yan-pang, Mindra. Selebihnya aku tak memotong lagi!"

"Baiklah, kami lalu bertempur. Sebenarnya bukan pertama ini kami bertanding dengan Si Golok Maut, ini yang kedua. Dan karena kebetulan ada si gundul itu di sana di mana akhirnya Golok Maut kami keroyok tiga maka kami mengakui keunggulan lawan karena Golok Maut terlampau ampuh dengan senjatanya itu..."

"Kami sebenarnya berlima!" Sudra tiba-tiba menyambung. "Mao-siao Mo-li dan Hi-ngok Bhok-kongcu ada bersama kami, ongya. Tapi karena mereka menghina ketua Hek-yan-pang itu maka wanita itu marah dan menyerang dua orang ini!"

"Hm, bagaimana akhirnya?"

"Si Hidung Belang itu dihajar, temannya juga kalang-kabut!"

"Hm, Hek-yan-pangcu itu cukup lihai?"

"Benar, wanita itu cukup lihai. pangeran. Dan dia berhasil mengalahkan Siluman Kucing dan temannya itu!"

"Baiklah, lalu bagaimana dengan Golok Maut itu?"

"Dia menghadapi keroyokan kami bertiga, tapi akhirnya serangan-serangannya lebih tertuju kepada pembantu paduka itu, Tiat-kak si gundul!"

"Hm, dan Golok Maut tiba-tiba beringas dan benci sekali setelah mengetahui bahwa si gundul itu pembantu paduka, ongya. Kebencian dan sinar matanya membuat orang bergidik. Dia mengampuni kami tapi tidak pembantu paduka itu!" Sudra terbelalak, memberikan informasinya dan Coa-ongya maupun Ci-ongya tertegun. Mereka berdesir tapi Ci-ongya tertawa mengejek. Dan ketika dua pangeran itu saling pandang dan kembali mengangguk maka Sudra diminta melanjutkan ceritanya.

"Sekarang katakan bagaimana akhirnya, kenapa kalian datang ke sini dan siapa pula Ju Beng Tan itu!"

"Dia pembantu sri baginda,"

Coa-ongya kali ini mendahului, tiba-tiba menjawab. "Aku baru saja mendengar berita bahwa kanda kaisar memiliki seorang pengawal tangguh, Ci-te. Konon katanya lebih lihai dan hebat daripada pengawal-pengawal kita!"

"Benar, itulah pemuda itu!" Mindra berseru, penuh takjub dan kagum. "Pemuda ini hebat sekali, ongya. Kalau dikatakan pembantu-pembantu paduka tak dapat menandinginya memang benar. Kami berdua sendiri saja kalah!"

"Hm, belum tentu!" Yalucang si kakek tinggi besar mendengus, tiba-tiba merah mukanya. "Kami semua memang belum dapat merobohkan Si Golok Maut, Mindra. Tapi kalau kau merendahkan kami di sini aku juga tidak percaya akan kepandaianmu. Siapa tahu kau justeru lebih rendah dibanding kami!"

"Ha-ha, kau menantang?" Mindra tiba-tiba bangkit berdiri. "Kalau Coa-ongya memperbolehkan tentu kami berdua ingin main-main denganmu, Yalucang. Kami sudah mendengar namamu tapi juga belum melihat kepandaianmu!"

"Akupun juga begitu. Kalau kau menghina aku dan teman-temanku maka sebaiknya kita mengadu kepandaian dan lihat siapa yang besar mulut!"

"Ha-ha, boleh!" namun Coa-ongya yang membentak menyuruh mereka duduk kembali lalu berseru agar pertikaian itu dihentikan dulu.

"Mindra, di tempat ini tak boleh kalian bertempur. Kalau ingin berkelahi boleh, tapi di belakang, jangan di sini. Sebaiknya kalian terangkan dulu apa maksud kedatangan kalian, dengan membawa pula kepala si Kaki Besi itu!"

"Kami ingin mencari orang-orang pandai, ingin mengalahkan Si Golok Maut. Kalau di sini ada orang-orang lihai yang dapat bekerja sama dengan kami tentu kami ingin bergabung dan melaksanakan keinginan kami untuk merobohkan Si Golok Maut!"

"Hm, di sini orang-orang lihai banyak, tapi maksudmu kurang jelas kuterima. Apakah kau ingin menjadi pembantu-pembantu kami?"

"Ha-ha, tidak, ongya, Kami ingin hidup bebas dan tidak terikat. Kami datang hanya untuk maksud mencari teman, mengalahkan Si Golok Maut itu!"

"Tapi kalian dapat bekerja untuk kami. Kami dapat memberimu kedudukan dan uang!"

"Benar, si Kaki Besi sudah tewas, Mindra. Kalian menggantikan dirinya dan bersama Mo-ko atau Yalucang kalian tinggal di sini!"

"Hm, cukupkah berharga?" Sudra berkata mengejek. "Istana tak memiliki orang-orang tangguh, ongya. Kecuali pemuda bernama Beng Tan itu. Tapi diapun musuh kami! Kami penasaran, ingin merobohkan Si Golok Maut tapi juga pemuda she Ju itu!"

"Hm, kalian sombong. Kalau di istana tak ada orang-orang tangguh tentu kalian tak kemari. Eh, bilang saja kau ingin menjajal para pengawalku, Mindra. Bahwa kalian ingin membujuk Yalucang atau Mo-ko untuk menghadapi Golok Maut!"

Coa-ongya berseru, tiba-tiba dapat menangkap maksud pembicaraan kakek India itu dan Sudra tertawa bergelak. Kakek ini berdiri dan memandang temannya. Dan ketika temannya juga tertawa dan bangkit memandang ke, kiri maka Mindra berseru,

"Ongya, baiklah kami berterus terang. Tapi jangan suruh Mo-ko kakak beradik membokong kami... siut!" dan tangan kanan kakek ini yang bergerak ke belakang tiba-tiba sudah menangkis runtuh sebatang anak panah kecil, langsung mematahkannya dan muncullah di situ dua kakek iblis yang berkelebat dengan bentakan marah. Dan ketika mereka sudah berdiri di depan dua kakek tinggi kurus itu dan Hek-mo-ko yang berangasan membentak lebih dulu maka iblis muka hitam ini melengking,

"Mindra, tak usah sombong. Kalau kau ingin membujuk kami untuk meninggaikan tempat ini maka adalah tidak mungkin. Kau bisa bersahabat dengan kami tapi harus mengabdi Coa-ongya, atau kau pergi dan pulang tinggal nama!"

"Ha-ha, ini Hek-mo-ko?" Mindra tertawa, berseri-seri. "Bagus sekali, Mo-ko, dan ucapanmu benar. Kami perlu tenaga-tenaga yang dapat diandalkan untuk menghadapi Si Golok Maut itu!"

"Kau tak dapat menyuruh kami pergi, kecuali atas perintah Coa-ongya!"

"Ha-ha, Coa-ongya dapat kami tundukkan. Mo-ko. Tapi cobalah kita main-main dulu untuk melihat kepandaian masing-masing!"

"Jangan di sini, tahan!" Coa-ongya yang tiba-tiba maju dan berjalan perlahan sudah menghadapi kakek-kakek yang aneh ini. "Kalian tak boleh bertempur di sini, Mindra, tapi di belakang! Hm, tahu aku. Kiranya kalian hendak membujuk dan membawa pergi para pembantuku untuk membantu kalian. Heh, mereka orang-orang kepercayaanku, Mindra. Kalau kau membujuknya percuma. Lebih baik kita bertaruh dan siapa kalah harus mengikuti keinginan si pemenang!"

"Heh-heh, maksud paduka?"

"Boleh kalian bawa Mo-ko dan Yalucang kalau kau menang, Mindra. Tapi kalau kau yang kalah maka kalian berdua harus bekerja di sini, tunduk kepadaku!"

"Bagus, boleh!" dan Mindra yang tertawa penuh kepercayaan diri tiba-tiba berkelebat dan mendahului ke belakang, di sana temannya juga bergerak dan menanti di belakang. Dan ketika Mo-ko dan lain-lain juga berkelebat dan menyusul di belakang maka dua kakek India itu sudah berhadapan dengan lawan-lawannya, aneh.

"Heh, siapa maju lebih dulu?"

"Aku!" Hek-mo-ko yang berangasan melompat lebih dulu, mencabut tongkatnya. "Kau sombong dan pongah, Mindra. Mari kita main-main dan lihat siapa yang roboh!"

"Tidak!" Coa-ongya berseru. "Mereka berdua datang bersama, Mo-ko. Dan mereka menantang kalian semua. Lebih baik kalian bertiga maju berbareng dan robohkan dua kakek yang pongah ini!"

"Eh!" Mindra terkejut. "Kalian mau maju keroyokan?"

"Bukan kami yang menghendakinya, Mindra, melainkan kau. Kau yang merendahkan dan menghina orang-orangku. Kalau kau berani biarlah pertandingan ini cepat selesai dan hadapi mereka bertiga. Atau, kalau kau takut tentu saja boleh bertanding satu lawan satu tapi segera kutahu bahwa kalian orang-orang yang penakut!"

"Ha-ha, boleh, Coa-ongya. Kalau begitu kami terima dan kami tidak takut! Majulah, aku dan Sudra siap menghadapi mereka bertiga!"

Coa-ongya girang. Dia telah berhasll memojokkan dan mendahului pembicaraan, dua kakek ini telah disinggung kegagahannya dan tentu saja mereka menerima, atau bakal dicap penakut! Dan karena dia ragu apakah pertandingan seorang lawan seorang cukup dapat dihadapi oleh tiga pembantunya, karena dia telah mendengar kelihaian dua kakek India ini maka dengan cerdik langsung saja dia mengajak pertandingan serentak, dua lawan tiga dan inilah siasatnya untuk memperoleh kemenangan.

Dua kakek lihai itu harus dapat dijadikan pembantunya sebagai pengganti Tiat-kak yang tewas, yang kepalanya telah disingkirkan dan tadi dibawa dua kakek lihai ini. Maka begitu Mindra berhasil disudutkan dan mau tidak mau harus menerima pertandingan itu, karena mereka telah menghina dan merendahkan tiga pembantunya maka dua orang itu bersiap-siap ketika Yalucang dan Pek-mo-ko serta Hek-mo-ko diberi isyarat.

"Kalian hadapi mereka ini, dan robohkan!"

Mo-ko kakak beradik mengangguk. Yalucang juga sudah melompat maju dan kakek tinggi besar ini menggeram. Sebenarnya dalam setiap pembicaraan tadi kakek ini sudah menaruh ketidaksenangan kepada dua kakek Thian-tok ini, mereka dianggapnya sombong meskipun tak malu-malu mengakui kekalahannya dengan Golok Maut. Mungkin tak usah malu karena Golok Maut memang hebat, juga karena semua orang di istana tak ada yang dapat mengalahkan Golok Maut itu, jadi tak usah malu.

Namun karena sikap Mindra maupun Sudra dianggap merendahkan mereka bertiga dan rupanya kakek-kakek India ini enak saja mau menyuruh dia dan Mo-ko mengikutinya untuk membantu mencari Golok Maut, sebagai pelampiasan nafsu tak mau kalah dan rasa penasaran dua kakek itu maka Yalucang tentu saja tersinggung, kini menggeram dan bersama Mo-ko kakak beradik dia sudah berhadapan dengan dua orang lawannya itu. Dan begitu Mindra maupun Sudra tertawa mencabut senjata mereka, cambuk dan nenggala maka di sana Coa-ongy3 berseru agar mereka tidak membunuh dua kakek India itu, yang membuat Sudra merah mukanya tapi kawannya justeru tertawa bergelak.

"Ha-ha, akupun tak akan membunuh lawan-lawanku ini, ongya, melainkan menundukkan dan menyuruh mereka ikut kami untuk mencari Golok Maut!"

"Hm, kau bodoh. Golok Maut adalah musuh kita semua, Mindra. Kalau kau mau bergabung dengan kami justeru kalian memperoleh keuntungan yang banyak. Sudahlah, kalian bertanding dan kujamin para pembantuku tak akan membunuh kalian!"

"Ha-ha, kentut busuk!" dan Mindra yang membentak menggerakkan nenggalanya tiba-tiba harus berkelit dan menangkis ketika tiba-tiba Hek-mo-ko menyerangnya lebih dulu, bergerak dan sudah membentak dirinya dan tongkat iblis hitam ini menyambar. Dan ketika Mintra mengelak dan menangkis dengan nenggalanya maka berpijarlah bunga api disusul suara yang nyaring.

"Trangg!"

Dua orang itu terpental. Mindra terkejut karena tenaga Mo-ko ternyata kuat sekali, mampu menggetarkan dan mementalkan senjatanya, meskipun senjata di tangan iblis hitam itu juga terpental. Dan ketika Mo-ko membentak kembali dan sudah menggerakkan tangan kanannya, karena tongkat dipegang tangan kiri yang masih lengkap jarinya, karena dulu kelima jari tangan kanan iblis ini habis dibabat Golok Maut, maka dengan tongkat di tangan kiri dan pukulan-pukulan di tangan kanan Hek-mo-ko sudah menyerang dan menghujani lawannya dengan serangan-serangan cepat, ganas dan bertubi-tubi dan akhirnya Mindra berseru keras, menggerakkan tubuhnya dan mulailah dua orang itu bertanding, tongkat kembali bertemu nenggala dan sama-sama terpental, hal yang membuat Mindra semakin kaget karena Mo-ko benar-benar tangguh. Tapi ketika dia tertawa bergelak dan menyambut serta membalas serangan-serangan lawan maka di sana Pek-mo-ko juga sudah menyerang temannya dan Yalucang membantu dengan semburan apinya.

"Dar-dar!"

Lima orang itu segera bertanding. Mindra akhirnya terkejut ketika tongkat di tangan Pek-mo-ko juga tak kalah dahsyat dengan tongkat di tangan Hek-mo-ko. Namun ketika dia meledakkan cambuknya dan serangan demi serangan ditangkis dan dibalas dengan tak kalah cepat akhirnya Sudra harus berkelebatan dan memuji kehebatan lawannya.

"Kau serang siapa saja, Yalu. Jangan terpancang kakek ini!" Pek-mo-ko berseru, memberi siasatnya dan kakek tinggi besar itu mengangguk.

Kakek ini akhirnya mengerti dan berpindah-pindahlah dia menyerang yang dekat, sebentar Sudra dan sebentar kemudian Mindra. Jadi kakek tinggi besar ini bebas menyerang siapa saja, tentu saja serangannya tak dapat diduga dan Mindra maupun temannya terkejut. Semburan api dan tenaga Hwee-kang yang dilepas kakek Tibet itu cukup menggetarkan. Kilatan api atau hawa panas mulai melingkupi jalannya pertandingan. Sudra maupun Mindra harus mengerahkan sinkang untuk menahan hawa panas ini. Dan ketika pertandingan semakin seru karena Yalu si tokoh Tibet bisa menyerang bebas tanpa dapat diketahui siapa yajg akan diserangnya kemudian maka dua kakek India itu akhirnya terdesak.

"Ha-ha, kalian lihat, Mindra. Tiga orang pembantuku bukanlah manusia-manusia bodoh yang rendah kepandaiannya. Kalian terdesak, menyerah saja daripada dihajar kena pukulan...!"