GOLOK MAUT
JILID 12
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
CAM-BUSU terlempar. Untuk kesekian kalinya lagi dia disambar angin pukulan dari pulau, terpekik namun terguling-guling meloncat bangun. Dan ketika busu itu pucat namun girang maka busu ini sudah mengajak teman-temannya pergi meninggalkan tempat itu, terhuyung dan tertatih dan teman-temannya ngeri. Mereka gentar oleh kesaktian ketua Hek-yan-pang itu, yang tak menampakkan diri namun pukulannya dapat menyambar begitu jauh, dari tengah pulau. Dan ketika mereka pergi dan Ci-kongcu sudah di bawah perlindungan Hek-yan-pangcu maka di sana pemuda tampan yang tadi memaki ketua Hek-yan-pang itu sudah terbanting di lantai yang keras.

"Brukk!"

Pemuda ini terguling-guling. Tubuhnya, yang terlempar dan terbanting ke dalam pulau tahu-tahu sudah berada di sebuah ruangan yang bersih dan luas, lantainya keras dan pemuda ini mengeluh kesakitan ketika bokongnya harus beradu dengan lantai itu, nyaris dia menjerit. Dan ketika pemuda ini meringis dan memaki-maki tanpa tahu siapa yang harus dimaki maka sebuah suara dingin menyambutnya di ruangan itu.

"Bocah, sebutkan siapa namamu!"

Pemuda ini tertegun. Di belakangnya, hampir tak berjarak tahu-tahu berdiri seorang wanita yang suaranya seperti es, dingin dan menyeramkan. Dari mana dia datang tak diketahui, tahu-tahu muncul dan sudah ada di situ seperti iblis! Dan ketika pemuda ini tertegun dan tentu saja juga terkejut maka wanita itu, yang menutupi mukanya dengan sapu tangan hitam membentaknya kembali, lebih bengis,

"Aku tanya siapa namamu, sebutkan siapa namamu!"

"Aku... aku..." pemuda ini tersentak.

"Aku Ci Fang, nona. Kau siapakah? Apakah pangcu Hek-yan-pang?"

"Hm, aku hu-pangcu (wakil) di sini. Kau panggil aku hu-pangcu dan jangan nona. Mulutmu ceriwis, bagaimana tahu bahwa aku nyonya atau nona? Memangnya kau tahu bahwa aku seorang nona?"

Pemuda ini tertegun.

"Bocah she Ci," suara yang dingin dan ketus itu terdengar lagi. "Kau tinggal di sini di ruangan belakang. Mulai hari ini apa yang kau lihat tak boleh lebih dari sekeliling dinding kamarmu. Makan minum kami antar, melalui bawah pintu. Kalau kau berani coba-coba melihat wajah di antara para anggauta Hek-yan-pang maka kau akan dibunuh. Di sini berlaku hukum pancung!"

Pemuda ini terkejut. "Kenapa begitu? Bukankah kau yang meoghendaki aku di sini? Tak perlu melihat kalian pun aku tahu dengan siapa aku berhadapan, hu-pangcu. Kalian merupakan wanita-wanita penakut yang gagah di luar pengecut di dalam. Aku tak sudi kalau dikurung!"

"Hm, kau berani membantah?"

"Jangankan membantah, melawan pun aku berani..."

"Plak!" dan sebuah tamparan yang menghentikan kata-kata pemuda itu disusul jerit dan pekik mengaduh akhirnya membuat Ci Fang terlempar dan terbanting di sudut, pipinya bengap dan bibirnya pecah. Untuk pertama kali pemuda ini dihajar! Dan ketika pemuda itu terhuyung bangun berdiri dan tak dapat memaki karena pipinya bengkak maka hu-pangcu dari Hek-yan-pang yang bengis dan dingin itu berkata,

"Bocah she Ci, di sini bukan istana ayahmu. Kalau kau minta dihajar lagi dan macam-macam tentu aku tak segan membunuhmu. Nah, angkat buntalanmu, kita ke belakang!"

Ci Fang, putera Ci-ongya ini terbelalak. Dia marah sekali tapi tak dapat berbuat apa-apa, mau memaki-maki tapi tentu akan dihajar lagi, salah-salah mungkin dibunuh. Maka ketika lawan menuding buntalannya dan dengus serta kata-kata itu rupanya tak dapat dibantah lagi maka pemuda ini tersuruk mengambil buntalannya, terseok mengikuti lawan karena kini wanita yang amat dingin itu sudah melangkah, mengajaknya ke belakang, bertemu dengan beberapa bayangan lain yang semuanya wanita, rata-rata menutupi wajah mereka dengan sapu tangan, tak tahu cantik ataukah tidak, di dada mereka terdapat semacam lukisan berkembang yang menunjukkan nama masing-masing, langkahnya ringan tapi siapapun pasti akan menebak bahwa rata-rata anggauta Walet Hitam ini cantik-cantik dan muda, merangsang orang untuk mengetahui tapi Ci Fang tak berani ceriwis.

Dia sedang di sarang macan dan tentu saja tak berani macam-macam. Dan ketika mereka tiba di ujung dan hampir semua anggauta Hek-yan-pang yang dijumpai selalu mengangguk atau berlutut setengah kaki dengan wanita bersapu tangan hitam ini maka sebuah ruangan dituding dan Ci Fang diminta masuk, sebuah ruangan berdinding baja yang hampir tak ada lubangnya, rapat melebihi kerangkeng!

"Masuklah, ini kamarmu."

Ci Fang tertegun. Baru sekarang ini dia diperlakukan seperti itu. Bayangkan, dia putera pangeran Ci, seorang bangsawan, tiba-tiba harus dimasukkan kurungan seperti ayam jago yang kalah bertanding. Kalau saja ayahnya tidak menasihati agar dia menerima saja semua sikap Hek-yan-pang yang diminta melindunginya dari ancaman Golok Maut barangkali dia akan berang dan sudah memaki-maki, tak kuat. Tapi karena dia menyadari keadaan dan dirinya sebenarnya terlindung di situ maka pemuda ini menggigit bibir tapi tidak segera masuk.

"Tunggu apa lagi? Minta dipaksa?"

"Hm, bolehkah aku protes? Tidak adakah kamar yang lebih baik dari kurungan binatang buas ini? Bukankah selayaknya hanya harimau atau binatang-binatang buas saja yang sepantasnya menghuni ruangan ini?"

"Kau mau masuk atau tidak?" bentakan itu menciutkan nyali. "Jangan banyak cakap, bocah. Masuk dan segera kututup pintunya!"

Ci Fang mendongkol. Apa boleh buat dia terpaksa memasuki ruangan itu, yang anehnya tidak pengap karena ada lubang udara cukup di sana, di atas, kecil saja tapi cukup menjadikan ruangan tidak panas. Dan ketika pemuda itu masuk dan hu-pangcu dari Hek-yan-pang ini mengunci dari luar maka Ci Fang mendengar suara wanita itu yang memanggil penjaga.

"Awasi baik-baik bocah she Ci ini, siapkan makan minumnya!"

Terdengar suara mengiyakan di luar. Tak lama kemudian masuklah penampan berisi makanan atau minum an, dari bawah pintu, hal yang membuat pemuda ini mendongkol. Namun ketika dia menerima dan baru untuk pertama kalinya dalam hidup merasakan rasanya dikurung dalam kamar tertutup maka pemuda ini melempar tubuh dan duduk di sudut. Lalu ketika malam tiba dan ruangan menjadi gelap, tanpa lampu sedikitpun, maka pemuda itu dengan marah tidur tanpa mem-buka sepatunya, tak tahu kejadian di luar yang cukup menggetarkan perkumpulan Hek-yan-pang ini.

* * * * * * *

Malam itu, malam pertama sejak kedatangan putera Ci-ongya ini penjagaan di sekitar pulau tampak diperketat. Hampir setiap sepuluh tombak tampak bayangan murid-murid Hek-yan-pang, berkelebatan atau memanggil teman-temannya dengan suitan pendek, isyarat yang memang sudah dikenal masing-masing murid. Tapi ketika malam mulai larut dan bulan bergeser semakin ke barat tiba-tiba terdengar suara atau pekikan kecil di sebelah timur telaga.

"Hei... aduh!"

Suara itu disusul keributan kecil. Murid-murid wanita Hek-yan-pang yang otomatis mendengar pekik atau suara keluhan temannya ini sudah berkelebatan ke asal suara, melihat empat teman mereka, gadis-gadis berbaju hijau terlempar dan terpelanting ke sana ke mari. Mereka itulah yang berteriak atau menjerit kecil tadi, pucat dan kaget serta terheran-heran karena mereka merasa diserang setan. Tanpa sebab tahu-tahu berkesiur angin dingin, menyambar dan membuat mereka terpelanting. Dan ketika mereka melompat bangun sementara teman-teman mereka sudah berdatangan menanyakan itu maka mereka terbelalak dan bengong terlongong-longong, tak dapat menjawab.

"Kami tak tahu, hanya kami tiba-tiba disambar angin kuat dan roboh berpelantingan!"

"Hm, kau tak melihat apa-apa, Kiok Bhi?"

"Tidak, kami tak melihat apa-apa, Kim-cici. Tapi rupanya kami disambar setan!"

"Omong kosong, tak ada setan di sini! Kita periksa sekitar, Kiok Bhi, jangan-jangan ada musuh yang sengaja menyatroni kita!" Kim Nio, gadis yang bertanggung jawab di situ membentak temannya, marah karena tak mungkin di situ ada setan. Perkumpulan Hek-yan-pang bebas dari setan, segala mahluk halus atau dedemit sudah diusir ketua mereka yang sakti. Dan ketika semua mengangguk dan berlompatan ke kiri kanan maka seorang di antaranya tiba-tiba berseru kaget ketika sebuah perahu tampak meluncur ke tengah pulau, perahu yang bergerak tenang tapi cepat.

"Hei, siapa itu?!"

Semua menoleh. Mereka kaget dan tersentak karena samar-samar di kegelapan malam sesosok bayangan hitam melajukan perahu, cepat dan sebentar saja sudah ke tengah. Dan ketika Kim Nio memberi suitan namun bayangan itu tak membalas, tanda bukan murid Hek-yan-pang maka wanita ini panik dan marah, terkejut.

"Keparat, kita kebobolan. Kejar!"

Murid-murid Hek-yan-pang berlarian. Mereka menyambar perahu masing-masing dan membentaklah Kim Nio di perahu paling depan. Wanita ini sudah meneriakkan seruan nyaring di mana semua murid Hek-yan-pang yang berjaga tiba-tiba keluar, terbelalak dan tertegun melihat perahu yang meluncur sendirian itu, kaget tapi segera masing-masing menyambar perahunya, membentak dan sudah mengejar bayangan itu, yang hanya tampak hitam di kegelapan malam. Dan ketika belasan perahu meluncur dan tak kurang dari seratus dua puluh murid Hek-yan-pang mengejar dan membentak perahu di depan maka senjata-senjata rahasia mulai berhamburan dan menyerang perahu itu.

"Berhenti! Dilarang masuk!"

Namun perahu itu meluncur semakin cepat. Hujan senjata rahasia berupa jarum atau paku serta bintang berwarna emas tak satu pun mengenai tubuh penumpang perahu ini. Murid-murid Hek-yan-pang hanya melihat gerakan si bayangan yang mengebut tanpa menoleh, meruntuhkan dan membuat semua senjata rahasia jatuh ke air. Dan ketika perahu semakin mendekati pulau dan Kim Nio sebagai penanggung jawab menjadi pucat mukanya maka wanita ini meniup terompet panjang untuk memberi tahu teman-temannya di pulau.

"Awas, kita kebobolan musuh. Tang-kap dan cegat orang itu!"

Hek-yan-pang menjadi geger. Bahwa mereka tiba-tiba kemasukan musuh tanpa diketahui penjaga di luar dapatlah dibayangkan bahwa musuh ini orang pandai. Seharusnya terjadi dulu ribut-ribut di luar, pencegatan. Tapi karena musuh tahu-tahu menyelinap begitu saja dan sadarlah Kim Nio bahwa bayangan di depan itulah yang menyerang Kiok Bhi untuk memancing teman-temannya yang lain agar terbuka lubang untuk menerobos penjagaan maka wanita ini merasa terkecoh dan marah bukan main, membentak dan menyambitkan belasan senjata rahasianya.

Namun semua itu sudah terlambat, lawan menggerakkan perahunya dan cepat serta mengejutkan bayangan di depan itu tiba-tiba terbang di atas permukaan air. Ya, terbang begitu saja seolah perahunya bersayap! Dan ketika dia tertinggal begitu jauh sementara teman-temannya di dalam pulau berkelebatan keluar ternyata bayangan ini sudah menghilang dan perahunya terapung-apung kosong di pantai!

"Keparat, kita kemasukan maling. Kejar, laporkan pada pangcu!"

Murid-murid tertegun. Mereka sudah mencegat tapi ternyata terlambat, dapat dibayangkan betapa hebat dan cepatnya si maling ini. Dan ketika Hek-yan-pang gempar karena musuh dapat masuk mendahului mereka maka Kim Nio dan kawan-kawannya sudah berpencar dan berkelebatan mencari bayangan ini, sebagian melapor pada pangcu tapi wanita bersapu tangan hitam tiba-tiba muncul, berkelebat dan sudah tertegun mendengar laporan anak buahnya. Kiok Bhi menceritakan apa yang terjadi dan wanita ini mendengus, matanya bersinar dan tiba-tiba ia pun lenyap mencari pendatang gelap itu. Dan ketika suitan serta tanda-tanda lain digunakan untuk mencari tamu tak diundang ini maka untuk pertama kalinya Hek-yan-pang merasa kebobolan dan dibuat malu!

"Cari ke sekeliling penjuru. Tangkap bedebah itu!"

Seruan ini tak perlu diulang. Hu-pangcu Walet Hitam yang berseru lantang menyuruh anak buahnya mencari sudah berkelebat ke belakang. Wanita ini terkesiap dan cepat teringat putera Ci-ongya, pikirannya bekerja cepat dan jantungnya berdetak. Sebuah nama membuat dia terkejut. Dan ketika seruan atau bentakan terdengar ramai maka di sebelah utara tiba-tiba terdengar pekik dan jerit kaget murid-murid Hek-yan-pang, yang menemukan bayangan itu.

"Hei, dia di sini...!"

Bentakan dan suara senjata segera terdengar. Bayangan itu rupanya terlihat dan sudah diserang murid-murid Walet Hitam, dentang senjata ramai disusul teriakan-teriakan marah. Tapi ketika teriakan-teriakan itu terganti pekik kaget dan kesakitan maka murid-murid Hek-yan-pang ini roboh menjerit tak keruan dan terpelanting mengaduh-aduh, dipukul senjatanya dan lepas dari tangan dan merekapun sudah didorong jatuh bangun, tunggang-langgang dan otomatis teman-teman mereka yang lain datang berkelebatan. Tapi ketika mereka terbelalak dan bertanya di mana bayangan itu ternyata tamu tak diundang ini sudah menghilang lagi!

"Keparat, dia amat lihai!"

Orang pun geger lagi. Mereka menca-ri-cari dan yang terlempar sudah menceritakan datangnya bayangan ini, yang amat lihai dan luar biasa. Dan ketika semua tertegun karena untuk kedua kalinya mendengar kehebatan bayangan ini maka murid-murid pun ribut lagi dan mencari, akhirnya terdengar bentakan dan seruan di sebelah barat, cepat menuju ke situ namun lagi-lagi yang sudah menemukan bayangan ini terlempar menjerit-jerit, mereka menuding-nuding ke atas. Dan ketika semua memandang dan bayangan itu tampak berjungkir balik di atas gedung maka murid Hek-yan-pang pun berteriak dan marah.

"Dia di atas, kejar..!"

Orang pun berjungkir balik ke atas. Di sini enam murid Hek-yan-pang yang berkepandaian tinggi sudah melihat bayangan itu berada di wuwungan, dibentak dan mereka sudah mendekat. Tapi ketika pedang dan bentakan menyerang bayangan ini, seorang laki-laki bercaping maka pedang terpental dan mereka menjerit terpelanting.

"Plak-plak-cring!"

Enam murid utama Hek-yan-pang ini ada yang terbanting. Murid ini terguling-guling dan langsung jatuh ke tanah, berdebuk tapi sudah meloncat bangun lagi, terhuyung, naik dan membentak ke atas lagi namun bayangan itu sudah lenyap entah ke mana. Dan ketika mereka terkejut tapi juga memaki maka di sebelah selatan terdengar teriakan dan seruan kaget.

"Dia di sini..!"

Enam murid utama itu terbelalak. Mereka ke sana tapi teriakan tiba-tiba terdengar di timur, yang di selatan sudah menerit dan berpelantingan tak keruan, seperti mereka. Dan ketika Hek-yan-pang benar-benar diobrak-abrik dan merasa dipermainkan bayangan itu, yang mulai dikenal sebagai laki-laki tinggi tegap yang menyembunyikan mukanya di balik caping maka hu-pangcu, wanita bersapu tangan hitam itu akhirnya berkelebat dan mencegat si bayangan ini, ketika teriakan terdengar di timur.

"Golok Maut, hentikan ulahmu... des..,plak!" sang wakil, yang sudah membentak dan menemukan bayangan itu langsung melepas pukulan, menghantam dan dua ratus anak murid akhirnya sudah berkumpul di sini, mengepung. Dan ketika bayangan itu dipaksa menangkis karena berkelit sudah tak mungkin lagi maka bayangan ini tergetar sementara sang hu-pangcu dari Hek-yan-pang terpental berjungkir balik.

"Aihh..!" Seruan itu cukup memberi tahu. Anak murid Hek-yan-pang yang melihat pemimpinnya terpental di udara tiba-tiba membelalakkan mata, mereka terkejut dan khawatir. Tapi ketika sang pemimpin selamat melayang turun dan kaget serta terbelalak memandang Golok Maut, laki-laki itu, akhirnya seruan dan pekik lirih terdengar dari mulutnya.

"Golok Maut, kau jahanam keparat. Sebutkan niatmu datang ke mari dan kenapa kau laki-laki berani memasuki markas Hek-yan-pang!"

Golok Maut, laki-laki ini, tak menjawab. Dia mengangkat sedikit capingnya dan tampaklah sinar mata yang berkilat-kilat seperti naga, sedetik saja tapi sudah cukup membuat hati semua anak murid Hek-yan-pang tergetar. Mereka terkejut oleh pandang mata yang amat tajam dan berpengaruh dari laki-laki ini, yang kiranya Si Golok Maut, tajam dan dingin! Dan ketika hu-pangcu dari perkumpulan Walet Hitam itu juga tergetar dan surut selangkah, tanpa terasa, maka wanita bersapu tangan hitam ini membentak lagi,

"Golok Maut, jawab pertanyaanku. Kenapa kau mengganggu dan memasuki Hek-yan-pang tanpa ijin!"

"Aku mencari putera Ci-ongya," akhirnya jawaban itu terdengar juga, dingin dan hambar. "Aku datang dengan cara begini karena kalau meminta ijin pasti tak dikabulkan. Maaf."

Wakil ketua Hek-yan-pang itu tertegun. Dia mendengar suara yang serak-serak basah dari lawannya ini, suara seorang laki-laki yang sudah matang. Dan ketika dia tertegun sementara anak murid Hek-yan-pang berbisik-bisik mendengar suara yang dingin namun halus itu, halus dan empuk, maka wanita bersapu tangan hitam ini membentak anggauta-anggautanya, tak senang, seolah jelus atau cemburu!

"Diam kalian, jangan berisik!" lalu menghadapi Si Golok Maut wanita ini mendengus, "Golok Maut, kau lancang. Betapapun wilayah Hek-yan-pang tak boleh dimasuki laki-laki. Kau harus dibunuh, melanggar dan menghina perkumpulan Walet Hitam!"

"Maaf, sebelum aku Hek-yan-pang sudah dimasuki laki-laki, nona. Dan itu adalah putera Ci-ongya. Hek-yan-pang harus adil, aku datang hanya untuk membawa pemuda itu, serahkan padaku."

"Keparat, dari mana kau tahu bahwa putera Ci-ongya ada di sini? Bagaimana kau berani mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kau menuduh dan melantur yang tidak-tidak, Golok Maut, hukumanmu semakin berat!"

"Hm, tak kunyana kalau Hek-yan-pang merupakan perkumpulan pengecut. Apakah bukti ini tidak cukup, nona? Barangkali kau perlu melihat!" Golok Maut tiba-tiba melempar sebuah buntalan, terbuka dan tiba-tiba isinya menggelinding. Dan ketika sebuah kepala tiba-tiba meluncur dan berhenti di depan wakil ketua Hek-yan-pang ini maka wanita bersapu tangan hitam itu tersentak.

"Cam-busu!"

"Betul," suara Si Golok Maut hambar dan dingin, langsung menjawab sefuan lawan yang tersentak kaget. "Orang itu adanya, nona. Dan aku terpaksa membawa kepalanya ke mari karena dialah saksi utama bagiku. Lihat, siapa yang melantur dan bicara yang tidak-tidak!"

Wanita bersapu tangan hitam ini tertegun. Dia pucat memandang kepala Cam-busu itu, yang masih mendelik dan rupanya dipenggal Si Golok Maut, yang agaknya tak kalah dingin dengannya. Dan ketika wanita itu tertegun dan pucat memandang marah tiba-tiba dari tempat yang jauh terdengar sebuah suara,

"Cu-moi, kenapa banyak bicara saja? Golok Maut telah datang, tangkap dan bawa dia ke mari!"

"Srat!" sebuah pedang berkilau tiba-tiba berkelebat di tangan wanita bersapu tangan hitam ini. "Kau dengar suara pangcuku, Golok Maut. Menyerahlah atau kau kubunuh!"

"Jangan dibunuh," suara itu terdengar lagi. "Tangkap dia hidup-hidup, Cu-moi. Bawa dan serahkan padaku ke mari!"

"Baik," dan wanita bersapu tangan hitam ini yang sudah membentak dan minta Golok Maut menyerah tiba-tiba bergerak dan sudah meluncur ke depan, pedang menusuk namun tangan kirinya bergerak, cepat dan luar biasa melakukan totokan di balik bayangan pedang. Jadi, totokan itu merupakan serangan tersembunyi, betapa lihainya. Tapi ketika Si Golok Maut mengelak dan mengelit dua kali ternyata dua serangan itu luput, dua-duanya mengenai angin kosong.

"Siut-wut!"

Wanita ini terkejut. Pedangnya kehilangan sasaran tapi secepat kilat dia membalik, membentak dan melakukan serangan lagi, kali ini juga disertai totokan dan kakinyapun ikut menendang, bukan main, cepat dan bertubi-tubi. Tapi ketika Golok Maut berkelebat dan menggerakkan tangannya menangkis tiba-tiba pedang dan totokan maupun tendangan terpental.

"Plak-duk-cring!"

Semua terkejut. Enam murid utama Hek-yan-pang yang melihat wakil ketuanya terpekik tiba-tiba melihat pemimpinnya itu sudah berkelebatan menyambar-nyambar, marah melakukan serangan-serangan lagi dan tadi ketika terpental sudah berjungkir balik, melewati atas kepala lawan dan Golok Maut sudah diserang lagi, cepat dan bertubi-tubi dan hilanglah kini bayangan pedang yang sudah berobah ujudnya menjadi sinar putih yang berkeredepan menyilaukan mata. Dan ketika totokan atau tendangan lagi ganti-berganti mengelilingi Golok Maut ini maka laki-laki bercaping itu mengelak dan berlompatan, kian lama kian cepat dan akhirnya dua orang itu lenyap mengerahkan ginkang.

Wakil Hek-yan-pang ini melengking-lengking karena tak satu pun dari serangannya mengenai lawan, selalu ditangkis dan terpental bertemu tenaga tolak yang kuat. Dan ketika pedang sering tertangkis sementara Golok Maut belum mengeluarkan senjatanya maka orang pun menjadi kagum dan mau tak mau memuji juga, di dalam hati. Karena kalau terang-terangan tentu wakil ketua mereka itu marah. Golok Maut ternyata hebat dan kemarahan wanita bersapu tangan hitam itu menjadi-jadi, akhirnya melengking tinggi dan satu gerakan pedang tiba-tiba berubah arahnya, tadi membacok pundak tapi tiba-tiba sekarang menusuk leher, cepat dan ganas. Tapi ketika Golok Maut menggerakkan kuku jarinya dan menangkis tepat maka pedang terpental dan tiba-tiba patah. "Cring!"

Kejadian itu mengejutkan. Wanita bersapu tangan hitam ini terpekik, menjerit tinggi namun kakinya tiba-tiba menendang dari samping, berputar setengah lingkaran dan tangan kirinyapun bergerak melakukan totokan, cepat dan luar biasa namun Golok Maut ternyata waspada, mendengus dan menggerakkan tangan yang lain. Dan ketika terdengar suara benturan dan wakil ketua Hek-yan-pang itu terpelanting maka terdengarlah bentakan dari ketua Hek-yan-pang, yang tadi menyuruh wakilnya menangkap Golok Maut.

"Jit-nio, Liok-hoa, maju kalian berenam. Bantu hu-pangcu!"

Enam murid utama tiba-tiba bergerak. Mereka itu adalah murid-murid terpandai, mencabut pedang dan sudah membantu sang wakil ketua, yang terhuyung dan pucat di sana, terbelalak memandang Golok Maut, antara marah tapi juga gentar! Dan ketika enam pembantunya maju dan Golok Maut dikeroyok maka enam batang pedang berkelebatan menusuk atau membacok Si Golok Maut ini.

"Golok Maut, pangcu menghendaki kami menangkapmu. Awas pedang... sing-singg!" Golok Maut sudah diserang, lincah mengelak dan enam murid utama itu membentak lagi, menyerang. Dan ketika di sana hu-pangcu dari perkumpulan Walet Hitam itu sudah menyambar pedang yang baru dan menerjang lagi maka Golok Maut dikeroyok dan tujuh senjata bertubi-tubi menghujani laki-laki berca ping ini, cepat dan ganas dan Golok Maut terdesak.

Betapapun bantuan enam murid utama ini tak boleh dipandang sebelah mata, mereka memiliki gerakan-gerakan cepat dan kini hu-pangcu itupun maju menyerang. Keadaan menjadi lebih ramai dan dua ratus pasang mata menonton jalannya pertandingan itu. Dan ketika Golok Maut harus berkelebatan ke sana ke mari mengelak dan menangkis maka tampaklah bahwa meskipun sedikit tetapi pasti Golok Maut ini mulai terdesak.

"Cring-plak!"

Golok Maut terhuyung. Laki-laki bercaping ini harus membagi tenaga, satu dikeroyok tujuh cukup berat. Dan ketika pedang ditangkis terpental tapi yang lain sudah menyambar dan menyerang lagi akhirnya satu bacokan miring mengenai bahu kirinya.

"Bret!"

Golok Maut tak apa-apa. Baju pundaknya robek namun kulit pundak itu sendiri tak apa-apa. Enam murid Hek-yan-pang dan wakilnya agak jengah ketika segumpal pundak yang bersih berotot terkuak dari baju yang robek, putih bersih dan tak terasa tiba-tiba enam wajah di balik sapu tangan itu memerah, mereka jengah dan tersipu oleh pemandangan ini. Dan ketika sebuah tusukan kembali mengenai punggung Si Golok Maut tapi laki-laki bercaping itu tak apa-apa maka baju punggungnya robek lagi memperlihatkan punggung yang putih bersih.

"Bret!"

Enam wajah kembali semburat. Hu-pangcu dari perkumpulan Walet Hitam itupun memerah wajahnya, jantung berdegup keras tapi Golok Maut tentu saja tak tahu. Laki-laki ini terus mengelak sana-sini sambil menangkis atau menampar. Tapi ketika dari luar keroyokan menyambar sinar empat sinar emas berturut-turut disertai dengus perlahan tiba-tiba laki-laki ini mencabut senjatanya dan sebuah sinar memanjang menangkis sinar-sinar emas itu, cepat dan luar biasa.

"Mundurlah... cring-crangg!"

Enam murid utama dan sang wakil ketua terpelanting. Tiba-tiba pedang mereka dibabat sinar putih panjang itu, yang sudah memapas runtuh sinar-sinar emas yang bukan lain senjata jarum adanya, terus bergerak dan menyambar pedang mereka, yang tiba-tiba terasa ringan karena sudah kutung menjadi dua. Dan ketika mereka terkejut dan berseru tertahan maka Golok Maut berkelebat dan tahu-tahu sudah menodong wakil ketua Hek-yan-pang, dengan senjatanya yang mengerikan, golok yang mengeluarkan hawa dingin!

"Hek-yan-pangcu (ketua Hek-yan-pang), keluarlah. Atau aku membunuh wakilmu!"

"Wut!" sesosok bayangan bergerak bagai iblis. "Aku di sini, Golok Maut. Lepaskan pembantuku atau kau mampus... des-dess!" Golok Maut terlempar, jatuh terguling-guling oleh sebuah tendangan kilat dan berdirilah di situ seorang wanita berpakaian merah yang juga menutupi mukanya dengan sapu tangan merah. Dingin menyeramkan! Dan ketika semua murid berseru tertahan dan anggauta Hek-yan-pang itu menjatuhkan diri berlutut maka terdengarlah seruan di sana-sini yang menyebut nama pemimpin itu.

"Pangcu..!"

Tertegunlah Golok Maut. Ketua Hek-yan-pang, yang kiranya merupakan seorang wanita tinggi semampai tampak tegak di depannya. Wanita itu berapi-api memandangnya dari balik sepasang lubang yang tidak begitu lebar, lubang di balik sapu tangan itu. Dan ketika Golok Maut tertegun dan hu-pangcu yang tadi diancamnya sudah ditolong sang ketua maka wanita berpakaian serba merah ini membentak, dingin menyeramkan,

"Golok Maut, aku sudah di sini. Sekarang cabut golokmu itu dan perlihatkan kepandaianmu kepadaku!"

Golok Maut tak berkedip. Dia sudah menyimpan senjatanya ketika ketua Hek-yan-pang ini muncul, datang dan menendangnya. Tapi melihat lawan tak mencabut senjata diapun menggeleng, tiba-tiba membungkuk.

"Hek-yan-pangcu, sebenarnya tak ada permusuhan pribadi di antara diriku dengan perkumpulanmu. Aku datang hanya ingin mencari putera Ci-ongya, harap memaklumi ini dan biarlah aku meminta maaf!"

"Enak kau bicara!" suara dingin melengking itu jelas marah. "Kau sudah membuat onar, Golok Maut, dan juga memamerkan kepandaianmu itu. Aku sudah di sini, kau harus melayaniku atau kau terbunuh!"

"Hm, aku hanya mencari orang she Ci itu, bukan dirimu..."

"Tapi kau memasuki wilayah Hek-yan-pang. Cerewet, kau sudah merobohkan sumoiku, Golok Maut. Sekarang harus mengalahkan aku atau kau mampus... wirr!" rambut di atas kepala tiba-tiba bergerak, terurai memanjang dn tahu-tahu sudah menyambar Golok Maut, meledak dan murid-murid Hek-yan-pang yang berada paling depan tiba-tiba terjungkal. Mereka itu menjerit menutupi lubang telinga mereka, ledakan rambut itu seakan petir! Dan ketika Golok Maut mengelak namun rambut kembali menyambar mendadak tubuh ketua Hek-yan-pang itu berkelebatan melepas serangan-serangannya.

"Golok Maut, kau melayani aku atau mampus!"

Golok Maut terkejut. Apa boleh buat dia menggerakkan kakinya dan mengelak serangan-serangan ini, kian lama kian cepat dan rambut yang menyambar-nyambar itu meledak kian keras juga. Anak-anak murid Hek-yan-pang akhirnya menjauh, mengeluh dan disuruh mundur oleh wanita bersapu tangan hitam, yang ternyata juga sumoi atau adik seperguruan ketua Hek-yan-pang itu. Dan ketika rambut menyambar-nyambar namun Golok Maut berhasil mengelak atau menampar dari samping maka pertemuan atau tangkisan itu mengeluarkan kilat bercahaya.

"Tar-tarr!"

Golok Maut terkejut. Lawan berkelebatan lebih cepat dan pukulan-pukulan uap merah juga menyambar. Wanita itu melengking-lengking dan hawa panas menyertai ledakan rambut atau pukulan-pukulan ini. Dan ketika Golok Maut menangkis tapi dia terhuyung maka sebuah lecutan rambut akhirnya membakar baju pundaknya.

"Blarr!"

Golok Maut bergulingan. Itulah pukulan dahsyat dan segera matanya terbelalak, teringat Ang-in-kang atau Pukulan Awan Merah. Dan ketika berseru keras dan menyebut nama pukulan itu maka lawan terbelalak tapi tertawa mengejek, membenarkan kata-katanya dan ketua Hek-yan-pang itu sudah menyambar-nyambar lagi. Kini Golok Maut terdesak namun masih dapat bertahan, terus mundur-mundur dan lawan akhirnya melengking tinggi, ketua Hek-yan-pang ini marah karena Golok Maut belum dapat dirobohkannya juga. Dan ketika Golok Maut terdesak di satu sudut dan menerima ledakan rambut maka pukulan Ang-in-kang juga menyambar dan mengenai tubuhnya.

"Plak-dess!"

Golok Maut mengeluh. Sebenarnya dia lebih banyak mengelak tak mau membalas, pukulan-pukulan lawan memang berbahaya namun dia dapat bertahan, meskipun terdesak. Tapi ketika lawan menyabet dengan rambutnya dan pukulan Ang-in-kang menyambar tak kenal ampun apa boleh buat tiba-tiba dia membentak keras mencabut senjatanya, ketika serangan itu datang lagi.

"Cring-tass!"

Ketua Hek-yan-pang terpekik. Rambutnya tiba-tiba terpapas, kutung ujungnya. Dan ketika dia bergulingan meloncat bangun dan memekik menyerang lagi ternyata rambutnya itu selalu dihadang sinar berkeredep di tangan Si Golok Maut, yang terpaksa mencabut senjatanya karena lawan juga mempergunakan senjata, meskipun rambut dan tampaknya sebagai benda tidak berbahaya, yang sesungguhnya justeru amat berbahaya kalau dipergunakan oleh orang-orang pandai macam ketua Hek-yan-pang ini, yang mampu mengisi tenaga saktinya ke dalam rambut hingga benda lemas itu dapat berobah kuat dan kaku seperti baja, merupakan kawat-kawat berbahaya yang bukan main ampuhnya kalau menyengat tubuh, atau mencolok mata misalnya, yang bisa mengakibatkan kebutaan. Dan ketika lawan melengking-lengking karena dihadang golok maut di tangan laki-laki bercaping ini akhirnya ketua Hek-yan-pang itu tak dapat menyerang karena takut rambutnya gundul!

"Golok Maut, kau licik. Kau mengandalkan senjata ampuh!"

"Hm, yang licik adalah kau, pangcu. Kau mempergunakan senjata menghadapi orang yang bertangan kosong."

"Tapi kau tamu tak diundang, kau pengacau!"

"Hm, menunggu undangan Hek-yan-pang taklah mungkin, pangcu. Aku datang hanya sekedar meminta putera Ci-ongya itu."

"Keparat, kau pandai berdebat!" dan ketua Hek-yan-pang yang marah ini akhirnya membentak mencabut senjatanya, sebuah pedang hitam dan dia coba mengadu pedangnya dengan golok di tangan lawan. Tapi ketika pedangnya buntung dan putus terbabat maka wanita ini gentar dan memaki-maki, kaget memandang golok berkeredep di tangan Si Golok Maut itu.

"Bedebah! Manusia tengik!" dan wanita ini yang terpaksa tak berani mengadu senjatanya lagi lalu berkelebatan mengelilingi lawan dengan serangan-serangannya, sayang sekali selalu dihadang sinar putih yang berkeredep menyilaukan mata, akhirnya menarik serangan-serangannya itu dan tentu saja membuat ketua Hek-yan-pang ini sewot.

Golok Maut hanya menghalau atau menangkis serangan-serangannya, berkata bahwa dia tak ingin membalas karena sekali membalas tentu ketua Hek-yan-pang itu roboh, kata-kata yang membuat wanita baju merah ini marah bukan kepalang.

Dan ketika dia membentak dan menantang lawan untuk membuktikannya tiba-tiba Si Golok Maut mengangguk dan berkata "baik", sudah merobah gerak senjatanya dan tiba-tiba sinar yang bergulung-gulung naik turun di depan ketua Hek-yan-pang ini. Dan ketika sinar itu pecah dan menukik menuju tubuh si wanita baju merah ini tiba-tiba delapan belas mata golok menyambar kepala wanita ini.

"Hei...bret!"

Semua orang terkejut. Serangan Golok Maut ternyata merobek sapu tangan ketua Hek-yan-pang, menguaknya lebar dan tampaklah seraut wajah cantik yang saat itu merah padam melempar tubuh bergulingan, kaget dan terpekik dan Golok Maut tertegun. Dia sebenarnya tak bermaksud membuka sapu tangan merah itu, membuka kedok. Tapi karena lawan menangkis dan bingung menghindar ke sana-sini maka sapu tangan itu terbuka dan tampaklah wajah cantik luar biasa dari ketua Hek-yan-pang ini, yang tak diduga Golok Maut karena ketua Hek-yan-pang itu masih muda dan luar biasa cantiknya, padahal sikap dan kata-katanya demikian dingin dan menyeramkan, seolah membayangkan wanita iblis yang berhati beku. Maka, begitu lawan bergulingan melempar tubuh sementara sapu tangan itu sudah terbuka memperlihatkan wajah pemiliknya tiba-tiba laki-laki berca ping ini bengong dan malah menjublak!

"Bunuh dia, tangkap!"

Bentakan atau seruan itu akhirnya menyadarkan Si Golok Maut. Murid-murid Hek-yan-pang, yang baru pertama kali itu melihat wajah ketuanya dan bengong tiba-tiba bangkit berdiri, menyerang dan sudah berhamburan menyerang Golok Maut. Jit-nio dan Liok-hoa sudah membentak bersama sang wakil ketua, yang juga kaget dan terkesiap karena wajah ketuanya ditelanjangi. Hal itu merupakan pantangan besar bagi ketuanya, kecuali laki-laki yang membuka kedok itu berani bertanggung jawab dengan mengawininya, hal yang tentu merupakan urusan besar bagi kedua belah pihak, baik ketuanya atau sucinya (kakak seperguruan) itu maupun pihak yang membuka kedok.

Maka begitu Golok Maut telah merobek sapu tangan sucinya sementara sucinya di sana berteriak menyuruh semuanya menyerang maka wanita bersapu tangan hitam ini menyerang dan sudah membentak maju, diam-diam tergetar karena di saat bengongnya tadi Golok Maut terlihat lebih jelas, gagah dan tampan, usianya sekitar tiga puluhan tahun dan berdebar serta kencanglah hati sang wakil ketua Hek-yan-pang itu. Namun ketika dia dan murid-murid Hek-yan-pang menyerang dan membentak Si Golok Maut ini tiba-tiba entah kenapa laki-laki bercaping itu mengeluh dan berkelebat meninggalkan mereka.

"Aku tak mau bertempur, aku tak mau bertanding. Sudahlah, kalau kalian tak mau menyerahkan bocah she Ci itu biarlah kutitipkan dulu dan lain kali kuambil!" dan pergi meninggalkan musuh-musuhnya Si Golok Maut ini sudah menyimpan senjatanya dan menggerakkan kedua lengan ke depan, mendorong dan mengibas anak-anak murid Hek-yan-pang dan terpekik serta kagetlah semua murid-murid wanita itu.

Mereka terpelanting dan terlempar oleh dorongan Si Golok Maut, tersibak dan Golok Maut itu sudah berkelebat keluar dan pergi meninggalkan mereka. Tapi ketika Golok Maut menuju telaga dan siap menumpangi perahunya lagi mendadak ketua Hek-yan-pang berjungkir balik dan sudah berdiri gemetar di depannya, membentak dengan suara menggigil,

"Golok Maut, berhenti dulu. Tak biasa kau melepaskan korban dengan cara seperti ini!"

Golok Maut tertegun. Tiba-tiba dia memejamkan mata melihat wajah luar biasa cantik itu, tergetar dan seakan diguncang-guncang. Baru kali ini selama hidup dia melihat wajah begitu jelita, cantik menawan dan anggun, seperti dewi kahyangan. Atau, ah., tidak, lebih dari itu. Seperti ratu di antara segala bidadari! Dan ketika Golok Maut berhenti dan apa boleh buat menahan maksudnya dan membuka mata kembali maka dilihatnya wajah yang jelita itu menangis, bercucuran air mata.

"Golok Maut, jawab pertanyaanku. Sudah menjadi larangan di sini bahwa seorang ketua pantang dibuka sapu tangannya oleh laki-laki. Dan kau telah membuka sapu tanganku, berarti harus melanjutkan dengan membunuhku. Kenapa kau lari dan meninggalkan tempat ini? Bukankah kau mencari putera Ci-ongya? Nah, dia ada padaku, Golok Maut, akan kuserahkan tapi bunuh dulu diriku!"

Golok Maut terkejut, mundur, tiba-tiba menggigil. "Pangcu, aku... aku menitipkan dulu bocah she Ci itu. Aku sudah tahu bahwa dia di sini. Tapi... tapi entahlah, aku ingin pergi dan mencari korbanku yang lain dulu. Bocah itu kutitipkan dan biar di sini dulu..."

"Aku membolehkan kau pergi, tapi kau harus membunuhku!"

"Ah, aku tak ingin membunuhmu. Kita pribadi tidak bermusuhan!"

"Tapi sekarang kita bermusuhan. Kau telah melanggar pantangan seorang ketua!”

"Apa maksudmu?"

"Kau harus membunuh atau mengawininya!" wanita bersapu tangan hitam, sumoi atau adik seperguruan ketua Hek-yan-pang ini tiba-tiba membentak, berkelebat ke depan. "Suciku tak boleh ditinggalkan begitu saja, Golok Maut. Telah menjadi peraturan di sini bahwa laki-laki yang membuka kedok ketua harus mengawininya. Atau, kau membunuhnya dan baru boleh pergi!"

"Apa?" Golok Maut berseru tertahan. "Mengawininya? Menikahinya?"

"Benar, dan boleh kau pergi, Golok Maut, atau kau membunuhnya dulu dan membasmi kami semua, seperti apa yang telah biasa kau lakukan!"

"Tidak, aku... aku tak dapat melakukan itu. Aku tak dapat membunuh atau membasmi kalian!"

"Kalau begitu nikahi ketua kami, atau kami akan menyerangmu mati-matian dan kau atau kami yang mati!"

Golok Maut tertegun. Tiba-tiba dia merasa berada di persimpangan jalan, berdiri bengong dan tidak berkedip. Anak-anak murid Walet Hitam sudah berdiri pula di situ, mengepung setengah lingkaran dan bisik-bisik terdengar di sana-sini. Golok Maut ditawari kawin, jodoh yang tidak tanggung-tanggung, ketua Hek-yan-pang yang cantik jelita dan gagah serta lihai! Tapi ketika Golok Maut menggeleng dan menghela napas tiba-tiba laki-laki bercaping ini menjawab, gemetar,

"Hu-pangcu, maaf. Urusan ini tak dapat kujawab dengan pasti. Aku datang bukan untuk mencari jodoh melainkan mencari orang-orang she Ci atau Coa. Pantangan ini tak kuketahui, maafkan dan biar aku pergi!"

"Apa? Kau berani menolak? Kalau begitu bunuhlah kami, Golok Maut, dan biar aku mati lebih dulu membela ketuaku!" dan hu-pangcu dari perkumpulan Walet Hitam yang terhina serta marah ini tiba-tiba membentak dan menerjang Golok Maut, ketuanya ditolak begitu saja dan tentu saja dia marah.

Ketua Hek-yan-pang yang menggigil di sana mengeluh, menggigit bibirnya dan tiba-tiba iapun membentak. Dan ketika anak murid yang lain juga disuruh menyerang dan Golok Maut diperintahkan bunuh maka berhamburanlah dua ratus wanita-wanita muda dari perkumpulan Walet Hitam ini, gusar dan marah menyerang Si Golok Maut karena ketua mereka diabaikan, mereka merasa tersinggung dan terhina.

Tapi ketika semuanya menerjang maju dan menyerang dengan sengit tiba-tiba Golok Maut berjungkir balik mengeluarkan senjatanya itu, membabat dan menghalau semua senjata yang menyerang, yang tentu saja patah-patah dan kutung bertemu goloknya yang ampuh, terdorong mundur dan semua berteriak kaget, termasuk ketua Hek-yan-pang itu, si bidadari baju merah. Dan ketika semua terdorong dan mundur oleh senjatanya tiba-tiba Golok Maut sudah melayang dan hinggap di atas perahunya.

"Maaf, pangcu, lain kali kita bertemu lagi!"

Golok Maut meluncur. Laki-laki bercaping ini sudah menggerakkan perahunya dengan cepat sekali, terbang dan meninggalkan pulau dengan cara yang amat luar biasa. Dan ketika semua orang tertegun tapi ketua Hek-yan-pang berseru marah tiba-tiba wanita baju merah ini menyambar perahu lain dan mengejar, diikuti yang lain-lain tapi Golok Maut sudah keburu mendarat. Laki-laki yang amat lihai itu sudah berkelebat meninggalkan perahunya di pantai. Dan ketika semua orang tertegun dan lagi-lagi menjublak tiba-tiba ketua Hek-yan-pang ini menangis dan berkelebat lenyap.

"Swi Cu, kau menjaga perkumpulan. Aku akan mencari dan mengadu jiwa dengan Si Golok Maut!"

Dan begitu wanita baju merah ini mengerahkan kepandaiannya berkelebat menghilang maka Swi Cu pun, sang adik sekaligus wakil ketua Walet Hitam menjublak, berteriak memanggil sucinya namun sang suci atau ketua sudah lenyap di kejauhan sana. Anak-anak murid menjadi ribut tapi akhirnya dibentak wanita bersapu tangan hitam ini. Dan ketika gadis atau wanita itu menyuruh murid-murid Hek-yan-pang menunggu sementara ia mengejar ketuanya namun gagal akhirnya gadis atau wanita ini menangis tersedu-sedu.

"Kita kembali, pangcu telah memerintahkan kita menjaga pulau!" dan kembali dengan air mata bercucuran akhirnya wanita bersapu tangan hitam itu membiarkan sucinya mengejar Si Golok Maut.

* * * * * * *

"Celaka, sial Bagaimana bisa terjadi seperti ini? Ah, kenapa aku tak keruan rasanya? Oh, ampun ibu, ampun cici... aku terpaksa menunda kematian bocah she Ci itu!" Golok Maut terhuyung-huyung, seluruh tubuh basah kuyup dan kakipun menggigil. Entah mengapa sejak dia melihat wajah di balik sapu tangan itu tiba-tiba ingatannya kepada wajah ketua Hek-yan-pang ini tak dapat dilupakan. Wajah yang begitu cantik luar biasa dan amat mempesona, anggun dan angkuh namun justeru ini daya tariknya. Dia seakan dihipnotis dan Golok Maut terhuyung-huyung.

Baru kali ini selama hidup dia merasa gemetaran begitu, dan baru kali ini pula dia menunda kematian seorang manusia ber-she Ci, putera Ci-ongya lagi, pangeran yang amat dibenci dan menimbulkan dendam kesumat, pembunuhan-pembunuhan yang dia lakukan itu dan Golok Maut mengeluh. Dan ketika laki-laki itu jatuh terduduk dan menangis menitikkan air mata tiba-tiba dia terkejut ketika terdengar bentakan di belakangnya.

"Golok Maut, bayar hinaan ini... wut-singg!!" dan ketua Hek-yan-pang yang datang dengan air mata bercucuran kiranya telah menemukan dirinya dan mengejar sampai ke situ, langsung menyerang dan pedang di tangan wanita cantik ini mendesing. Golok Maut mengelak dan kaget, diserang lagi dan bengong terlongong-longong. Tapi ketika pundaknya terbabat dan Golok Maut terkejut tiba-tiba laki-laki ini sadar dan melompat jauh ke belakang, mengeluh.

"Pangcu, maaf. Jangan kejar-kejar aku!"

"Keparat, aku tak akan mengejar-ngejarmu kalau kau sudah membunuhku, Golok Maut. Nah, bunuhlah aku atau kau kubunuh!"

Golok Maut berlompatan. Dia mengeluh dan mengelak sana-sini, menjauh namun lawan selalu mengejar. Ke manapun dia menghindar ke situlah pedang menyambar dirinya. Dan ketika satu bacokan lagi mengenai pangkal lengannya dan robek berdarah maka untuk pertama kali lawan terkejut.

"Bret!" Golok Maut tak mengerahkan sinkang. Pangkal lengannya dibiarkan terluka dan ketua Hek-yan-pang itu tertegun. Tapi membentak dan melengking lagi akhirnya wanita cantik luar biasa itu melanjutkan serangannya, mempergunakan rambutnya pula dan menjeletar-jeletarlah senjata luar biasa ini. Wanita itu penasaran karena Golok Maut belum juga dapat dirobohkannya, padahal laki-laki itu hanya mengelak dan belum sekali pun membalas. Dua luka di tubuh Golok Maut cukup merupakan bukti. Dan ketika Golok Maut terhuyung mundur-mundur mendadak pedang menyambar leher namun secepat kilat menyontek ke atas menusuk dahi.

"Aih... brett!"

Caping itu terlempar. Tiba-tiba Golok Maut terbuka wajahnya, tampak seluruh wajah tokoh yang biasanya menutupi muka ini, gagah dan tampan namun penuh kerut-kerut kepedihan. Baru kali ini Golok Maut ditelanjangi mukanya! Namun ketika wanita cantik itu tertegun dan berseru kagum, seruan yang begitu saja meluncur dari mulutnya mendadak Golok Maut sudah melempar tubuh bergulingan dan menyambar capingnya lagi, mengenakannya secepat kilat.

"Pangcu, kita seri. Akupun pantang memperlihatkan mukaku kalau bukan atas kehendakku sendiri.. wut!" dan Golok Maut yang berjungkir balik meninggalkan lawan tiba-tiba berkelebat dan membuat ketua Hek-yan-pang itu bengong, termangu dan tertegun oleh wajah yang tampan gagah tadi namun tiba-tiba sang bidadari ini membentak nyaring, mengejar dan memaki Golok Maut itu. Dan ketika ke manapun Golok Maut pergi ke situ pula wanita cantik ini mengikuti maka Golok Maut menjadi bingung dan baru untuk pertama kali merasa marah namun juga iba, aneh!

"Pangcu, biarkan aku sendiri. Jangan kejar-kejar aku!"

"Tidak, ke manapun kau pergi ke situ pula aku mencari, Golok Maut. Atau kau membunuhku dan bayar hinaan ini!"

"Ooh..!" dan Golok Maut yang bingung namun juga gemas tiba-tiba memasuki hutan dan bersembunyi di sini, berkelebat dan mengerahkan kepandaiannya dan hilang sejenak. Tapi karena tak mungkin terus-menerus bersembunyi di hutan dan lawan ternyata menunggu tiba-tiba ketua Hek-yan-pang itu sudah mencegatnya di luar hutan, di seberang!

"Golok Maut, kau tak dapat bersembunyi!"

Golok Maut mengeluh. Sebenarnya dia ingin lari jauh-jauh, tapi ketika sudah jauh dan dapat bersembunyi mendadak saja dia ingin menampakkan diri dan melihat wanita cantik itu, entah kenapa hatinya berdebar kencang melihat wajah yang mempesona ini, ingin rasanya berdekatan dan tidak bermusuhan. Tapi ketika teringat betapa gara-gara wajah cantik dia pernah tertipu maka Golok Maut mengeraskan hati dan bersikap dingin, anehnya memanas lagi dan ingin melihat si juwita.

Akibatnya muncul dan menghilang lagi, begitu berkali-kali hingga ketua Hek-yan-pang itu juga marah, gemas. Dan ketika seminggu terjadi kejar-kejaran ini dan Golok Maut tampaknya juga ragu untuk benar-benar meninggalkan lawannya, hal yang sebenarnya dapat dilakukan, mendadak menghadang seorang laki-laki gundul berkulit dua warna, kepala hitam sedang leher ke bawah kuning bersih.

"Hei, berhenti. Aku mencari Golok Maut dan kau agaknya orangnya!"

Golok Maut terkejut. Di belakang ketua Hek-yan-pang itu melengking-lengking, menyebut namanya. Dan ketika dia tertegun dan dihadang si gundul ini, yang tidak dikenal tiba-tiba berkelebatan beberapa bayangan dan muncullah di situ dua kakek India itu, Mindra dan Sudra!

"Ha-ha, benar, sobat. Dia Si Golok Maut!"

"Dan kita tangkap dia, cincang beramai-ramai!"

Golok Maut tersentak. Di belakang dan kiri kanan dua kakek lihai ini muncul Bhok-kongcu dan si Kucing Liar, Mao-siao Mo-li. Dan ketika dua orang itu juga tertawa dan terkekeh maka Bhok-kongcu kagum melihat tubuh indah si ketua Hek-yan-pang, yang waktu itu cepat memakai sapu tangannya lagi dan menyembunyikan diri.

"Heh-heh, siapa niocu ini? Dari mana?"

Ketua Hek-yan-pang itu mendengus. Dia tentu saja tak menghiraukan pertanyaan Bhok-kongcu, yang ceriwis dan kurang ajar. Perhatiannya tertuju pada Si Golok Maut karena itulah lawannya. Maka begitu dia juga terkejut dan tertegun melihat orang-orang ini, musuh-musuh lama Golok Maut maka Golok Maut berhenti dan yang pertama mencegatnya adalah si gundul itu, yang bukan lain adalah Tiat-kak, si Kaki Besi, pembantu Coa-ongya!

"Heh-heh, kau kiranya Si Golok Maut? Bagus, aku lama mencari-carimu, Golok Maut. Kalau begitu tak usah kita banyak cakap dan terimalah ini... wut-wirr!" si Kaki Besi tiba-tiba berpuntir, kakinya bergerak dan tahu-tahu sebuah tendangan melingkar menghantam Golok Maut. Laki-laki gundul itu tak banyak cakap lagi dan benar-benar menyerang Golok Maut. Tapi ketika Golok Maut mengelak dan tertegun melihat si gundul ini, yang belum dikenal, maka dia menangkis dan menggerakkan tangannya.

"Duk-plak!"

Si gundul terpekik. Tiba-tiba dia tergetar dan terdorong, tendangannya tadi bertemu tangkisan yang kuat dan hampir dia terpelanting, padahal gajah pun tak akan sanggup mendorongnya! Maka begitu dia terpekik namun sudah kembali menyerang tiba-tiba orang kepercayaan Coa-ongya ini bergerak dan kedua kakinya naik turun menyambar Golok Maut, cepat dan luar biasa dan Golok Maut terkejut.

Si gundul yang baru pertama kali ini bertemu dengannya ternyata memiliki kaki yang istimewa dan tendangan bertubi-tubi, cepat dan kuat dan tiba-tiba kaki yng naik turun itu mengenai pinggangnya, Golok Maut terhuyung dan hampir terjungkal. Dan ketika dia membentak dan tentu saja marah maka dia membalas dan pukulan Kim-kong-ciang menyambut serta menerima tendangan bertubi-tubi itu, lawan terpekik dan kali ini si Kaki Besi terpelanting. Kakinya tadi disambar dan didorong jatuh, dia terguiing-guling.

Namun ketika si gundul ini meloncat bangun dan membentak lawan ternyata dua kakek India itu, Mindra dan Sudra sudah menyerang Golok Maut, mencabut senjata masing-masing dan meledaklah cambuk baja di tangan Sudra. Dan ketika Mindra juga mengeluarkan nenggalanya dan maju menyerang maka Golok Maut sudah dikeroyok pula oleh Siluman Kucing, yang menggerakkan payungnya.

"Hi-hik, bagus, Mindra. Bunuh dan robohkan Si Golok Maut ini!"

Golok Maut terbelalak. Kelicikan ini sudah diduganya, terutama Siluman Kucing dan Bhok-kongcu, yang masih bersinar-sinar dan kagum memandang ketua Hek-yan-pang, yang belum bergerak dan diamati dari samping. Mata kurang ajar dari si Hidung Belang Bhok-kongcu ini melahap bebas, nikmat dan tampaknya laki-laki muda itu kagum benar, tertarik. Maklumlah, tubuh aduhai dari wanita baju merah ini tampaknya sudah menjanjikan segalanya bagi Bhok-kongcu itu. Tapi ketika dia cengar-cengir dan temannya di sana sudah menyerang Golok Maut sekonyong-konyong Siluman Kucing itu membentaknya dan menyodokkan ujung payung ke pinggangnya.

"Orang she Bhok, ayo bantu kami. Jangan mendelong memandang si cantik. Kubunuh kau nanti!"

"Ha-ha!" Bhok-kongcu terbahak. "Jangan cemburu, Eng Hwa. Laki-laki bebas menikmati wajah cantik di manapun!"

"Tapi dia mengenakan sapu tangan, bagaimana kau tahu cantik atau tidak?"

"Ha-ha, mataku cukup terlatih, Mo-li, sekali lihat luarnya aku sudah tahu bagian dalamnya, ha-ha!"

Mata berkilat dari ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba berapi. Orang she Bhok ini sudah mencabut ikat-pinggangnya menyerang Si Golok Maut ketika tiba-tiba dia membentak, mencabut pedangnya dan menyerang si Hidung Belang ini, yang tentu saja kaget dan berseru keras. Dan ketika dia menangkis namun ikat-pinggang putus dibabat tiba-tiba Bhok-kongcu ini melempar tubuh berjungkir melihat keganasan pedang.

"Tutup mulutmu... sing-bret-dess!" dan Bhok-kongcu yang kaget serta memekik tinggi tiba-tiba menyadari bahwa wanita yang dihinanya itu bukan sembarang wanita, segera mendapat serangan bertubi-tubi dan Siluman Kucing terkejut. Bhok-kongcu memang pemuda pemogoran, ceriwis dan kurang ajar. Tapi melihat temannya diserang cepat dan pedang itu menusuk atau membacok maka wanita berpayung ini tiba-tiba marah dan meloncat meninggalkan Golok Maut.

"Hei, berhenti... cring-trang!" pedang bertemu payung, terpental dan Siluman Kucing terpekik. Payungnya mental sementara pedang lawan berdesing menyambar tenggorokannya, cepat dan ganas dan hampir saja mencoblos, kalau dia tidak bergulingan melempar tubuh. Dan ketika Siluman Kucing meloncat bangun dan marah serta melengking tinggi tiba-tiba dia menyerang lawannya ini dan ketua Hek-yan-pang dikeroyok dua, karena Bhok-kongcu juga marah!

"Hei-hei...! Apa-apaan kalian itu. Jangan berkelahi, kita semua adalah orang-orang yang memusuhi Golok Maut. Kembali, bantu kami!" Sudra, yang meledak-ledakkan cambuknya berteriak-teriak.

Golok Maut mencabut goloknya dan sinar putih yang berkeredepan panjang itu menyambut, tentu saja dia menarik serangannya dan saudaranyapun memaki-maki. Mereka sudah mengenal betul keampuhan golok itu, golok yang akan memapas buntung setiap senjata yang betapapun tajamnya, tak mungkin menang dan mereka harus melempar tubuh menyelamatkan diri kalau sinar golok itu terus menyambar, tak mau celaka dan dua kakek India ini jungkir balik. Namun ketika dua orang itu tak menggubris seruannya dan masih terus menyerang Hek-yan-pangcu maka Sudra meledakkan cambuknya ke bahu Siluman Kucing.

"Tar-aduh!" Mao-siao Mo-li terpekik. Kakek India itu membuatnya kesakitan dan dia memaki-maki, meloncat bangun namun cambuk si kakek juga menjeletar di bahu Bhok-kongcu, menyambar pula ke ketua Walet Hitam itu namun wanita baju merah ini menangkis, cambuk terpental dan kakek itu kaget, pedang di tangan wanita baju merah itu ternyata hebat sekali, sanggup menahan cambuknya. Dan ketika Mao-siao Mo-li meloncat bangun sementara Bhok-kongcu terguling-guling memaki marah maka di sana Tiat-kak si Kaki Besi mengeluh ketika Golok Maut menabas kakinya.

"Cret!" Jari si gundul itu nyaris putus. Kuku jarinya yang terkena dan berteriaklah si gundul itu melempar tubuh, tiba-tiba menggereng dan mencabut senjatanya, gading gajah berwarna hitam, aneh. Dan ketika dia menubruk dan menyerang lagi maka nenggala di tangan Mindra membantu dirinya dan menyambar-nyambar Golok Maut, sayang sekali harus ditarik cepat kalau Golok Maut menangkis, tak mau kutung dan mengumpatlah semuanya.

Golok Maut memang berbahaya sekali. Dan ketika pertandingan berjalan lagi sementara Sudra mengancam Bhok-kongcu dan Siluman Kucing untuk tidak menyerang ketua Hek-yan-pang maka dua orang itu melompat dan menyerang Golok Maut, tak tahunya wanita baju merah ini mengejar Bhok-kongcu, membentak dan menyerang si Hidung Belang ini, Hi-ngok. Dan ketika Bhok-kongcu terpaksa menangkis namun selalu terpental maka Siluman Kucing menjadi marah dan menyerang ketua Hek-yan-pang itu.

"Hei, lihat, tua bangka. Wanita ini menyerang temanku!"

Sudra melotot. Dia marah melihat itu, mau membentak tapi Golok Maut menyerang dirinya, tertawa mengejek. Dan ketika apa boleh buat dia terpaksa mengelak dan memaki-maki maka Golok Maut seolah dibantu ketua Walet Hitam itu.

"Hek-yan-pangcu, terima kasih. Mereka memang sepantasnya kau hajar!"

"Ah, kau ketua Hek-yan-pang?" Bhok kongcu terkejut, baru mengerti ini. "Kau membantu Golok Maut? Keparat, Hek-yan-pang biasanya tak berdekatan dengan laki-laki, siluman betina. Tak nyana kalau kau jatuh hati dan agaknya tergila gila pada Golok Maut..."

"Sing-dess!" Bhok-kongcu menghentikan kata-katanya, bermaksud mengejek tapi tak tahunya gerakan pedang yang marah hampir saja membabat lehernya. Dia harus bergulingan melempar tubuh ketika wanita baju merah itu melengking tinggi, menggerakkan pedangnya dua kali dan hampir saja si Hidung Belang celaka, pucat dan ngeri dan segera mendengar jawaban bahwa lawan tidak membantu Golok Maut, melainkan semata ingin menghajarnya karena omongannya yang kotor dan tidak tahu malu. Dan ketika ketua Hek-yan-pang ini juga memaki Golok Maut karena orang bisa salah duga maka Siluman Kucing memekik dan marah menyerang wanita baju merah ini.

"Keparat, membantu ataukah tidak kami tak tahu betul, Hek-yan-pangcu. Kalau kau memusuhi temanku maka kau adalah juga musuhku... siut-trak!" payung menyambar, menusuk dari samping namun pedang menangkis. Siluman Kucing tergetar dan terdorong mundur. Dan ketika Bhok-kongcu marah-marah dan menggeram maju maka laki-laki ini berkata bahwa dia ingin menelanjangi lawannya itu, merobek sapu tangannya dan melihat wajah di balik kedok, menyerang dan justeru membuat kemarahan wanita baju merah ini tak terkendalikan lagi. Dan ketika di sana Golok Maut bertanding menghadapi tiga orang lawannya maka di sini ketua Hek-yan-pang itu juga mendesak dan menyerang dua orang lawannya, yang cepat keteter.

"Cring-bret!"

Golok Maut tersenyum. Dia melihat ketua Hek-yan-pang itu membabat ikat-pinggang Bhok-kongcu, meneruskan gerakannya dan pemuda hidung belang itu terpekik. Bhok-kongcu melempar tubuh bergulingan ketika pedang mengejar, untung ditangkis Mao-siao Mo-li dan Bhok-kongcu selamat, dapat melompat bangun. Dan ketika dua orang itu mengeroyok lagi namun agaknya jalannya pertandingan dikuasai ketua Hek-yan-pang ini maka di sana Golok Maut juga mengendalikan keadaan dan jalannya pertandingan di bawah kekuasaan tokoh bercaping ini.

"Cring-crat!"

Golok Maut beraksi. Nenggala di tangan Mindra terluka, ujungnya buntung dan kakek India ini memaki-maki. Dan ketika dia menggerakkan tangan kirinya melakukan pukulan Hwi-seng-ciang (pukulan Bintang Api) maka meledaklah sinar merah menyambar Golok Maut.

"Dess!"

Kakek itu terguncang. Golok Maut menolak dengan tangan kirinya dan kakek itu mengeluh, terdorong dan terhuyung mundur. Dan ketika Sudra juga menggerakkan cambuknya namun meledak ditampar Golok Maut maka dua orang itu mendelik dan mengumpat-umpat.

"Keparat, bedebah jahanam! Kita menyerang di kiri kanan, Sudra. Biar si gundul ini di depan!"

"Hei..!" si gundul, Tiat-kak adanya, terkejut. "Kalian di depan, kakek-kakek busuk. Aku di belakang atau di samping!"

"Hm, kakimu lihai mendupak. Kau di depan saja, gundul. Dan agaknya kalau aku tidak salah duga kau adalah si Kaki Besi Tiat-kak, pembantu Coa-ongya. Benarkah?"

"Ha-ha, benar!" Tiat-kak merasa terkenal. "Aku memang pembantu Coa-ongya, kakek busuk. Kalian berdua siapakah kenapa memusuhi Golok Maut ini?"

"Kami Sudra dan Mindra, dari Thian-tok."

"Ah, si Tak Tahu Aturan dari India? Ha-ha, aku sudah mendengar nama kalian, Mindra, dan juga kenapa kalian diusir dari negerimu, karena tak suka kepada kalian, ha-ha!" dan si Kaki Besi yang tertawa dan mengejek dua kakek itu tiba-tiba berteriak keras ketika Golok Maut menyambar, berkilat matanya dan tiba-tiba nafsu membunuh memancar ganas.

Golok Maut baru tahu bahwa si gundul ini kiranya antek Coa-ongya, kaki tangannya. Maka begitu dia membentak dan golok berkeredep menyilaukan mata tiba-tiba tokoh bercaping ini sudah mengejar si Kaki Besi.

"Crat-dess!"

Tiat-kak terguling-guling. Dia terkejut melihat kemarahan Golok Maut, yang tiba-tiba begitu beringas dan benci memandangnya. Golok Maut yang tadi masih agak lunak sekonyong-konyong berobah bengis, dagu itu mengeras dan wajahnya membesi! Dan ketika si gundul berteriak bergulingan sementara lawan mengejar tiba-tiba golok kembali menyambar dan apa boleh buat gading di tangannya menangkis.

"Crat!" gading itu tinggal separoh! Si Kaki Besi berteriak dan menjerit bergulingan menjauh, Golok Maut berkelebat dan mengeluarkan geraman benci, sinar matanya berbahaya sekali dan tentu saja si gundul ini ngeri. Dan ketika dia bergulingan menjauh namun Golok Maut mengejar maka laki-laki ini berteriak pada Mindra dan Sudra agar menolongnya, atau mereka bakal kehilangan kawan kalau dia terbunuh.

"Hei, bantu aku. Tolong!"

Mindra dan Sudra bergerak. Memang mereka tak akan membiarkan Golok Maut membunuh si gundul itu, yang betapapun merupakan teman seperjuangan, sama-sama menghadapi Si Golok Maut yang lihai. Maka begitu mereka membentak dan keduanya sudah menggerakkan cambuk dan nenggala maka dari belakang Si Golok Maut ini mendapat serangan berbahaya.

Golok Maut Jilid 12

GOLOK MAUT
JILID 12
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
CAM-BUSU terlempar. Untuk kesekian kalinya lagi dia disambar angin pukulan dari pulau, terpekik namun terguling-guling meloncat bangun. Dan ketika busu itu pucat namun girang maka busu ini sudah mengajak teman-temannya pergi meninggalkan tempat itu, terhuyung dan tertatih dan teman-temannya ngeri. Mereka gentar oleh kesaktian ketua Hek-yan-pang itu, yang tak menampakkan diri namun pukulannya dapat menyambar begitu jauh, dari tengah pulau. Dan ketika mereka pergi dan Ci-kongcu sudah di bawah perlindungan Hek-yan-pangcu maka di sana pemuda tampan yang tadi memaki ketua Hek-yan-pang itu sudah terbanting di lantai yang keras.

"Brukk!"

Pemuda ini terguling-guling. Tubuhnya, yang terlempar dan terbanting ke dalam pulau tahu-tahu sudah berada di sebuah ruangan yang bersih dan luas, lantainya keras dan pemuda ini mengeluh kesakitan ketika bokongnya harus beradu dengan lantai itu, nyaris dia menjerit. Dan ketika pemuda ini meringis dan memaki-maki tanpa tahu siapa yang harus dimaki maka sebuah suara dingin menyambutnya di ruangan itu.

"Bocah, sebutkan siapa namamu!"

Pemuda ini tertegun. Di belakangnya, hampir tak berjarak tahu-tahu berdiri seorang wanita yang suaranya seperti es, dingin dan menyeramkan. Dari mana dia datang tak diketahui, tahu-tahu muncul dan sudah ada di situ seperti iblis! Dan ketika pemuda ini tertegun dan tentu saja juga terkejut maka wanita itu, yang menutupi mukanya dengan sapu tangan hitam membentaknya kembali, lebih bengis,

"Aku tanya siapa namamu, sebutkan siapa namamu!"

"Aku... aku..." pemuda ini tersentak.

"Aku Ci Fang, nona. Kau siapakah? Apakah pangcu Hek-yan-pang?"

"Hm, aku hu-pangcu (wakil) di sini. Kau panggil aku hu-pangcu dan jangan nona. Mulutmu ceriwis, bagaimana tahu bahwa aku nyonya atau nona? Memangnya kau tahu bahwa aku seorang nona?"

Pemuda ini tertegun.

"Bocah she Ci," suara yang dingin dan ketus itu terdengar lagi. "Kau tinggal di sini di ruangan belakang. Mulai hari ini apa yang kau lihat tak boleh lebih dari sekeliling dinding kamarmu. Makan minum kami antar, melalui bawah pintu. Kalau kau berani coba-coba melihat wajah di antara para anggauta Hek-yan-pang maka kau akan dibunuh. Di sini berlaku hukum pancung!"

Pemuda ini terkejut. "Kenapa begitu? Bukankah kau yang meoghendaki aku di sini? Tak perlu melihat kalian pun aku tahu dengan siapa aku berhadapan, hu-pangcu. Kalian merupakan wanita-wanita penakut yang gagah di luar pengecut di dalam. Aku tak sudi kalau dikurung!"

"Hm, kau berani membantah?"

"Jangankan membantah, melawan pun aku berani..."

"Plak!" dan sebuah tamparan yang menghentikan kata-kata pemuda itu disusul jerit dan pekik mengaduh akhirnya membuat Ci Fang terlempar dan terbanting di sudut, pipinya bengap dan bibirnya pecah. Untuk pertama kali pemuda ini dihajar! Dan ketika pemuda itu terhuyung bangun berdiri dan tak dapat memaki karena pipinya bengkak maka hu-pangcu dari Hek-yan-pang yang bengis dan dingin itu berkata,

"Bocah she Ci, di sini bukan istana ayahmu. Kalau kau minta dihajar lagi dan macam-macam tentu aku tak segan membunuhmu. Nah, angkat buntalanmu, kita ke belakang!"

Ci Fang, putera Ci-ongya ini terbelalak. Dia marah sekali tapi tak dapat berbuat apa-apa, mau memaki-maki tapi tentu akan dihajar lagi, salah-salah mungkin dibunuh. Maka ketika lawan menuding buntalannya dan dengus serta kata-kata itu rupanya tak dapat dibantah lagi maka pemuda ini tersuruk mengambil buntalannya, terseok mengikuti lawan karena kini wanita yang amat dingin itu sudah melangkah, mengajaknya ke belakang, bertemu dengan beberapa bayangan lain yang semuanya wanita, rata-rata menutupi wajah mereka dengan sapu tangan, tak tahu cantik ataukah tidak, di dada mereka terdapat semacam lukisan berkembang yang menunjukkan nama masing-masing, langkahnya ringan tapi siapapun pasti akan menebak bahwa rata-rata anggauta Walet Hitam ini cantik-cantik dan muda, merangsang orang untuk mengetahui tapi Ci Fang tak berani ceriwis.

Dia sedang di sarang macan dan tentu saja tak berani macam-macam. Dan ketika mereka tiba di ujung dan hampir semua anggauta Hek-yan-pang yang dijumpai selalu mengangguk atau berlutut setengah kaki dengan wanita bersapu tangan hitam ini maka sebuah ruangan dituding dan Ci Fang diminta masuk, sebuah ruangan berdinding baja yang hampir tak ada lubangnya, rapat melebihi kerangkeng!

"Masuklah, ini kamarmu."

Ci Fang tertegun. Baru sekarang ini dia diperlakukan seperti itu. Bayangkan, dia putera pangeran Ci, seorang bangsawan, tiba-tiba harus dimasukkan kurungan seperti ayam jago yang kalah bertanding. Kalau saja ayahnya tidak menasihati agar dia menerima saja semua sikap Hek-yan-pang yang diminta melindunginya dari ancaman Golok Maut barangkali dia akan berang dan sudah memaki-maki, tak kuat. Tapi karena dia menyadari keadaan dan dirinya sebenarnya terlindung di situ maka pemuda ini menggigit bibir tapi tidak segera masuk.

"Tunggu apa lagi? Minta dipaksa?"

"Hm, bolehkah aku protes? Tidak adakah kamar yang lebih baik dari kurungan binatang buas ini? Bukankah selayaknya hanya harimau atau binatang-binatang buas saja yang sepantasnya menghuni ruangan ini?"

"Kau mau masuk atau tidak?" bentakan itu menciutkan nyali. "Jangan banyak cakap, bocah. Masuk dan segera kututup pintunya!"

Ci Fang mendongkol. Apa boleh buat dia terpaksa memasuki ruangan itu, yang anehnya tidak pengap karena ada lubang udara cukup di sana, di atas, kecil saja tapi cukup menjadikan ruangan tidak panas. Dan ketika pemuda itu masuk dan hu-pangcu dari Hek-yan-pang ini mengunci dari luar maka Ci Fang mendengar suara wanita itu yang memanggil penjaga.

"Awasi baik-baik bocah she Ci ini, siapkan makan minumnya!"

Terdengar suara mengiyakan di luar. Tak lama kemudian masuklah penampan berisi makanan atau minum an, dari bawah pintu, hal yang membuat pemuda ini mendongkol. Namun ketika dia menerima dan baru untuk pertama kalinya dalam hidup merasakan rasanya dikurung dalam kamar tertutup maka pemuda ini melempar tubuh dan duduk di sudut. Lalu ketika malam tiba dan ruangan menjadi gelap, tanpa lampu sedikitpun, maka pemuda itu dengan marah tidur tanpa mem-buka sepatunya, tak tahu kejadian di luar yang cukup menggetarkan perkumpulan Hek-yan-pang ini.

* * * * * * *

Malam itu, malam pertama sejak kedatangan putera Ci-ongya ini penjagaan di sekitar pulau tampak diperketat. Hampir setiap sepuluh tombak tampak bayangan murid-murid Hek-yan-pang, berkelebatan atau memanggil teman-temannya dengan suitan pendek, isyarat yang memang sudah dikenal masing-masing murid. Tapi ketika malam mulai larut dan bulan bergeser semakin ke barat tiba-tiba terdengar suara atau pekikan kecil di sebelah timur telaga.

"Hei... aduh!"

Suara itu disusul keributan kecil. Murid-murid wanita Hek-yan-pang yang otomatis mendengar pekik atau suara keluhan temannya ini sudah berkelebatan ke asal suara, melihat empat teman mereka, gadis-gadis berbaju hijau terlempar dan terpelanting ke sana ke mari. Mereka itulah yang berteriak atau menjerit kecil tadi, pucat dan kaget serta terheran-heran karena mereka merasa diserang setan. Tanpa sebab tahu-tahu berkesiur angin dingin, menyambar dan membuat mereka terpelanting. Dan ketika mereka melompat bangun sementara teman-teman mereka sudah berdatangan menanyakan itu maka mereka terbelalak dan bengong terlongong-longong, tak dapat menjawab.

"Kami tak tahu, hanya kami tiba-tiba disambar angin kuat dan roboh berpelantingan!"

"Hm, kau tak melihat apa-apa, Kiok Bhi?"

"Tidak, kami tak melihat apa-apa, Kim-cici. Tapi rupanya kami disambar setan!"

"Omong kosong, tak ada setan di sini! Kita periksa sekitar, Kiok Bhi, jangan-jangan ada musuh yang sengaja menyatroni kita!" Kim Nio, gadis yang bertanggung jawab di situ membentak temannya, marah karena tak mungkin di situ ada setan. Perkumpulan Hek-yan-pang bebas dari setan, segala mahluk halus atau dedemit sudah diusir ketua mereka yang sakti. Dan ketika semua mengangguk dan berlompatan ke kiri kanan maka seorang di antaranya tiba-tiba berseru kaget ketika sebuah perahu tampak meluncur ke tengah pulau, perahu yang bergerak tenang tapi cepat.

"Hei, siapa itu?!"

Semua menoleh. Mereka kaget dan tersentak karena samar-samar di kegelapan malam sesosok bayangan hitam melajukan perahu, cepat dan sebentar saja sudah ke tengah. Dan ketika Kim Nio memberi suitan namun bayangan itu tak membalas, tanda bukan murid Hek-yan-pang maka wanita ini panik dan marah, terkejut.

"Keparat, kita kebobolan. Kejar!"

Murid-murid Hek-yan-pang berlarian. Mereka menyambar perahu masing-masing dan membentaklah Kim Nio di perahu paling depan. Wanita ini sudah meneriakkan seruan nyaring di mana semua murid Hek-yan-pang yang berjaga tiba-tiba keluar, terbelalak dan tertegun melihat perahu yang meluncur sendirian itu, kaget tapi segera masing-masing menyambar perahunya, membentak dan sudah mengejar bayangan itu, yang hanya tampak hitam di kegelapan malam. Dan ketika belasan perahu meluncur dan tak kurang dari seratus dua puluh murid Hek-yan-pang mengejar dan membentak perahu di depan maka senjata-senjata rahasia mulai berhamburan dan menyerang perahu itu.

"Berhenti! Dilarang masuk!"

Namun perahu itu meluncur semakin cepat. Hujan senjata rahasia berupa jarum atau paku serta bintang berwarna emas tak satu pun mengenai tubuh penumpang perahu ini. Murid-murid Hek-yan-pang hanya melihat gerakan si bayangan yang mengebut tanpa menoleh, meruntuhkan dan membuat semua senjata rahasia jatuh ke air. Dan ketika perahu semakin mendekati pulau dan Kim Nio sebagai penanggung jawab menjadi pucat mukanya maka wanita ini meniup terompet panjang untuk memberi tahu teman-temannya di pulau.

"Awas, kita kebobolan musuh. Tang-kap dan cegat orang itu!"

Hek-yan-pang menjadi geger. Bahwa mereka tiba-tiba kemasukan musuh tanpa diketahui penjaga di luar dapatlah dibayangkan bahwa musuh ini orang pandai. Seharusnya terjadi dulu ribut-ribut di luar, pencegatan. Tapi karena musuh tahu-tahu menyelinap begitu saja dan sadarlah Kim Nio bahwa bayangan di depan itulah yang menyerang Kiok Bhi untuk memancing teman-temannya yang lain agar terbuka lubang untuk menerobos penjagaan maka wanita ini merasa terkecoh dan marah bukan main, membentak dan menyambitkan belasan senjata rahasianya.

Namun semua itu sudah terlambat, lawan menggerakkan perahunya dan cepat serta mengejutkan bayangan di depan itu tiba-tiba terbang di atas permukaan air. Ya, terbang begitu saja seolah perahunya bersayap! Dan ketika dia tertinggal begitu jauh sementara teman-temannya di dalam pulau berkelebatan keluar ternyata bayangan ini sudah menghilang dan perahunya terapung-apung kosong di pantai!

"Keparat, kita kemasukan maling. Kejar, laporkan pada pangcu!"

Murid-murid tertegun. Mereka sudah mencegat tapi ternyata terlambat, dapat dibayangkan betapa hebat dan cepatnya si maling ini. Dan ketika Hek-yan-pang gempar karena musuh dapat masuk mendahului mereka maka Kim Nio dan kawan-kawannya sudah berpencar dan berkelebatan mencari bayangan ini, sebagian melapor pada pangcu tapi wanita bersapu tangan hitam tiba-tiba muncul, berkelebat dan sudah tertegun mendengar laporan anak buahnya. Kiok Bhi menceritakan apa yang terjadi dan wanita ini mendengus, matanya bersinar dan tiba-tiba ia pun lenyap mencari pendatang gelap itu. Dan ketika suitan serta tanda-tanda lain digunakan untuk mencari tamu tak diundang ini maka untuk pertama kalinya Hek-yan-pang merasa kebobolan dan dibuat malu!

"Cari ke sekeliling penjuru. Tangkap bedebah itu!"

Seruan ini tak perlu diulang. Hu-pangcu Walet Hitam yang berseru lantang menyuruh anak buahnya mencari sudah berkelebat ke belakang. Wanita ini terkesiap dan cepat teringat putera Ci-ongya, pikirannya bekerja cepat dan jantungnya berdetak. Sebuah nama membuat dia terkejut. Dan ketika seruan atau bentakan terdengar ramai maka di sebelah utara tiba-tiba terdengar pekik dan jerit kaget murid-murid Hek-yan-pang, yang menemukan bayangan itu.

"Hei, dia di sini...!"

Bentakan dan suara senjata segera terdengar. Bayangan itu rupanya terlihat dan sudah diserang murid-murid Walet Hitam, dentang senjata ramai disusul teriakan-teriakan marah. Tapi ketika teriakan-teriakan itu terganti pekik kaget dan kesakitan maka murid-murid Hek-yan-pang ini roboh menjerit tak keruan dan terpelanting mengaduh-aduh, dipukul senjatanya dan lepas dari tangan dan merekapun sudah didorong jatuh bangun, tunggang-langgang dan otomatis teman-teman mereka yang lain datang berkelebatan. Tapi ketika mereka terbelalak dan bertanya di mana bayangan itu ternyata tamu tak diundang ini sudah menghilang lagi!

"Keparat, dia amat lihai!"

Orang pun geger lagi. Mereka menca-ri-cari dan yang terlempar sudah menceritakan datangnya bayangan ini, yang amat lihai dan luar biasa. Dan ketika semua tertegun karena untuk kedua kalinya mendengar kehebatan bayangan ini maka murid-murid pun ribut lagi dan mencari, akhirnya terdengar bentakan dan seruan di sebelah barat, cepat menuju ke situ namun lagi-lagi yang sudah menemukan bayangan ini terlempar menjerit-jerit, mereka menuding-nuding ke atas. Dan ketika semua memandang dan bayangan itu tampak berjungkir balik di atas gedung maka murid Hek-yan-pang pun berteriak dan marah.

"Dia di atas, kejar..!"

Orang pun berjungkir balik ke atas. Di sini enam murid Hek-yan-pang yang berkepandaian tinggi sudah melihat bayangan itu berada di wuwungan, dibentak dan mereka sudah mendekat. Tapi ketika pedang dan bentakan menyerang bayangan ini, seorang laki-laki bercaping maka pedang terpental dan mereka menjerit terpelanting.

"Plak-plak-cring!"

Enam murid utama Hek-yan-pang ini ada yang terbanting. Murid ini terguling-guling dan langsung jatuh ke tanah, berdebuk tapi sudah meloncat bangun lagi, terhuyung, naik dan membentak ke atas lagi namun bayangan itu sudah lenyap entah ke mana. Dan ketika mereka terkejut tapi juga memaki maka di sebelah selatan terdengar teriakan dan seruan kaget.

"Dia di sini..!"

Enam murid utama itu terbelalak. Mereka ke sana tapi teriakan tiba-tiba terdengar di timur, yang di selatan sudah menerit dan berpelantingan tak keruan, seperti mereka. Dan ketika Hek-yan-pang benar-benar diobrak-abrik dan merasa dipermainkan bayangan itu, yang mulai dikenal sebagai laki-laki tinggi tegap yang menyembunyikan mukanya di balik caping maka hu-pangcu, wanita bersapu tangan hitam itu akhirnya berkelebat dan mencegat si bayangan ini, ketika teriakan terdengar di timur.

"Golok Maut, hentikan ulahmu... des..,plak!" sang wakil, yang sudah membentak dan menemukan bayangan itu langsung melepas pukulan, menghantam dan dua ratus anak murid akhirnya sudah berkumpul di sini, mengepung. Dan ketika bayangan itu dipaksa menangkis karena berkelit sudah tak mungkin lagi maka bayangan ini tergetar sementara sang hu-pangcu dari Hek-yan-pang terpental berjungkir balik.

"Aihh..!" Seruan itu cukup memberi tahu. Anak murid Hek-yan-pang yang melihat pemimpinnya terpental di udara tiba-tiba membelalakkan mata, mereka terkejut dan khawatir. Tapi ketika sang pemimpin selamat melayang turun dan kaget serta terbelalak memandang Golok Maut, laki-laki itu, akhirnya seruan dan pekik lirih terdengar dari mulutnya.

"Golok Maut, kau jahanam keparat. Sebutkan niatmu datang ke mari dan kenapa kau laki-laki berani memasuki markas Hek-yan-pang!"

Golok Maut, laki-laki ini, tak menjawab. Dia mengangkat sedikit capingnya dan tampaklah sinar mata yang berkilat-kilat seperti naga, sedetik saja tapi sudah cukup membuat hati semua anak murid Hek-yan-pang tergetar. Mereka terkejut oleh pandang mata yang amat tajam dan berpengaruh dari laki-laki ini, yang kiranya Si Golok Maut, tajam dan dingin! Dan ketika hu-pangcu dari perkumpulan Walet Hitam itu juga tergetar dan surut selangkah, tanpa terasa, maka wanita bersapu tangan hitam ini membentak lagi,

"Golok Maut, jawab pertanyaanku. Kenapa kau mengganggu dan memasuki Hek-yan-pang tanpa ijin!"

"Aku mencari putera Ci-ongya," akhirnya jawaban itu terdengar juga, dingin dan hambar. "Aku datang dengan cara begini karena kalau meminta ijin pasti tak dikabulkan. Maaf."

Wakil ketua Hek-yan-pang itu tertegun. Dia mendengar suara yang serak-serak basah dari lawannya ini, suara seorang laki-laki yang sudah matang. Dan ketika dia tertegun sementara anak murid Hek-yan-pang berbisik-bisik mendengar suara yang dingin namun halus itu, halus dan empuk, maka wanita bersapu tangan hitam ini membentak anggauta-anggautanya, tak senang, seolah jelus atau cemburu!

"Diam kalian, jangan berisik!" lalu menghadapi Si Golok Maut wanita ini mendengus, "Golok Maut, kau lancang. Betapapun wilayah Hek-yan-pang tak boleh dimasuki laki-laki. Kau harus dibunuh, melanggar dan menghina perkumpulan Walet Hitam!"

"Maaf, sebelum aku Hek-yan-pang sudah dimasuki laki-laki, nona. Dan itu adalah putera Ci-ongya. Hek-yan-pang harus adil, aku datang hanya untuk membawa pemuda itu, serahkan padaku."

"Keparat, dari mana kau tahu bahwa putera Ci-ongya ada di sini? Bagaimana kau berani mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kau menuduh dan melantur yang tidak-tidak, Golok Maut, hukumanmu semakin berat!"

"Hm, tak kunyana kalau Hek-yan-pang merupakan perkumpulan pengecut. Apakah bukti ini tidak cukup, nona? Barangkali kau perlu melihat!" Golok Maut tiba-tiba melempar sebuah buntalan, terbuka dan tiba-tiba isinya menggelinding. Dan ketika sebuah kepala tiba-tiba meluncur dan berhenti di depan wakil ketua Hek-yan-pang ini maka wanita bersapu tangan hitam itu tersentak.

"Cam-busu!"

"Betul," suara Si Golok Maut hambar dan dingin, langsung menjawab sefuan lawan yang tersentak kaget. "Orang itu adanya, nona. Dan aku terpaksa membawa kepalanya ke mari karena dialah saksi utama bagiku. Lihat, siapa yang melantur dan bicara yang tidak-tidak!"

Wanita bersapu tangan hitam ini tertegun. Dia pucat memandang kepala Cam-busu itu, yang masih mendelik dan rupanya dipenggal Si Golok Maut, yang agaknya tak kalah dingin dengannya. Dan ketika wanita itu tertegun dan pucat memandang marah tiba-tiba dari tempat yang jauh terdengar sebuah suara,

"Cu-moi, kenapa banyak bicara saja? Golok Maut telah datang, tangkap dan bawa dia ke mari!"

"Srat!" sebuah pedang berkilau tiba-tiba berkelebat di tangan wanita bersapu tangan hitam ini. "Kau dengar suara pangcuku, Golok Maut. Menyerahlah atau kau kubunuh!"

"Jangan dibunuh," suara itu terdengar lagi. "Tangkap dia hidup-hidup, Cu-moi. Bawa dan serahkan padaku ke mari!"

"Baik," dan wanita bersapu tangan hitam ini yang sudah membentak dan minta Golok Maut menyerah tiba-tiba bergerak dan sudah meluncur ke depan, pedang menusuk namun tangan kirinya bergerak, cepat dan luar biasa melakukan totokan di balik bayangan pedang. Jadi, totokan itu merupakan serangan tersembunyi, betapa lihainya. Tapi ketika Si Golok Maut mengelak dan mengelit dua kali ternyata dua serangan itu luput, dua-duanya mengenai angin kosong.

"Siut-wut!"

Wanita ini terkejut. Pedangnya kehilangan sasaran tapi secepat kilat dia membalik, membentak dan melakukan serangan lagi, kali ini juga disertai totokan dan kakinyapun ikut menendang, bukan main, cepat dan bertubi-tubi. Tapi ketika Golok Maut berkelebat dan menggerakkan tangannya menangkis tiba-tiba pedang dan totokan maupun tendangan terpental.

"Plak-duk-cring!"

Semua terkejut. Enam murid utama Hek-yan-pang yang melihat wakil ketuanya terpekik tiba-tiba melihat pemimpinnya itu sudah berkelebatan menyambar-nyambar, marah melakukan serangan-serangan lagi dan tadi ketika terpental sudah berjungkir balik, melewati atas kepala lawan dan Golok Maut sudah diserang lagi, cepat dan bertubi-tubi dan hilanglah kini bayangan pedang yang sudah berobah ujudnya menjadi sinar putih yang berkeredepan menyilaukan mata. Dan ketika totokan atau tendangan lagi ganti-berganti mengelilingi Golok Maut ini maka laki-laki bercaping itu mengelak dan berlompatan, kian lama kian cepat dan akhirnya dua orang itu lenyap mengerahkan ginkang.

Wakil Hek-yan-pang ini melengking-lengking karena tak satu pun dari serangannya mengenai lawan, selalu ditangkis dan terpental bertemu tenaga tolak yang kuat. Dan ketika pedang sering tertangkis sementara Golok Maut belum mengeluarkan senjatanya maka orang pun menjadi kagum dan mau tak mau memuji juga, di dalam hati. Karena kalau terang-terangan tentu wakil ketua mereka itu marah. Golok Maut ternyata hebat dan kemarahan wanita bersapu tangan hitam itu menjadi-jadi, akhirnya melengking tinggi dan satu gerakan pedang tiba-tiba berubah arahnya, tadi membacok pundak tapi tiba-tiba sekarang menusuk leher, cepat dan ganas. Tapi ketika Golok Maut menggerakkan kuku jarinya dan menangkis tepat maka pedang terpental dan tiba-tiba patah. "Cring!"

Kejadian itu mengejutkan. Wanita bersapu tangan hitam ini terpekik, menjerit tinggi namun kakinya tiba-tiba menendang dari samping, berputar setengah lingkaran dan tangan kirinyapun bergerak melakukan totokan, cepat dan luar biasa namun Golok Maut ternyata waspada, mendengus dan menggerakkan tangan yang lain. Dan ketika terdengar suara benturan dan wakil ketua Hek-yan-pang itu terpelanting maka terdengarlah bentakan dari ketua Hek-yan-pang, yang tadi menyuruh wakilnya menangkap Golok Maut.

"Jit-nio, Liok-hoa, maju kalian berenam. Bantu hu-pangcu!"

Enam murid utama tiba-tiba bergerak. Mereka itu adalah murid-murid terpandai, mencabut pedang dan sudah membantu sang wakil ketua, yang terhuyung dan pucat di sana, terbelalak memandang Golok Maut, antara marah tapi juga gentar! Dan ketika enam pembantunya maju dan Golok Maut dikeroyok maka enam batang pedang berkelebatan menusuk atau membacok Si Golok Maut ini.

"Golok Maut, pangcu menghendaki kami menangkapmu. Awas pedang... sing-singg!" Golok Maut sudah diserang, lincah mengelak dan enam murid utama itu membentak lagi, menyerang. Dan ketika di sana hu-pangcu dari perkumpulan Walet Hitam itu sudah menyambar pedang yang baru dan menerjang lagi maka Golok Maut dikeroyok dan tujuh senjata bertubi-tubi menghujani laki-laki berca ping ini, cepat dan ganas dan Golok Maut terdesak.

Betapapun bantuan enam murid utama ini tak boleh dipandang sebelah mata, mereka memiliki gerakan-gerakan cepat dan kini hu-pangcu itupun maju menyerang. Keadaan menjadi lebih ramai dan dua ratus pasang mata menonton jalannya pertandingan itu. Dan ketika Golok Maut harus berkelebatan ke sana ke mari mengelak dan menangkis maka tampaklah bahwa meskipun sedikit tetapi pasti Golok Maut ini mulai terdesak.

"Cring-plak!"

Golok Maut terhuyung. Laki-laki bercaping ini harus membagi tenaga, satu dikeroyok tujuh cukup berat. Dan ketika pedang ditangkis terpental tapi yang lain sudah menyambar dan menyerang lagi akhirnya satu bacokan miring mengenai bahu kirinya.

"Bret!"

Golok Maut tak apa-apa. Baju pundaknya robek namun kulit pundak itu sendiri tak apa-apa. Enam murid Hek-yan-pang dan wakilnya agak jengah ketika segumpal pundak yang bersih berotot terkuak dari baju yang robek, putih bersih dan tak terasa tiba-tiba enam wajah di balik sapu tangan itu memerah, mereka jengah dan tersipu oleh pemandangan ini. Dan ketika sebuah tusukan kembali mengenai punggung Si Golok Maut tapi laki-laki bercaping itu tak apa-apa maka baju punggungnya robek lagi memperlihatkan punggung yang putih bersih.

"Bret!"

Enam wajah kembali semburat. Hu-pangcu dari perkumpulan Walet Hitam itupun memerah wajahnya, jantung berdegup keras tapi Golok Maut tentu saja tak tahu. Laki-laki ini terus mengelak sana-sini sambil menangkis atau menampar. Tapi ketika dari luar keroyokan menyambar sinar empat sinar emas berturut-turut disertai dengus perlahan tiba-tiba laki-laki ini mencabut senjatanya dan sebuah sinar memanjang menangkis sinar-sinar emas itu, cepat dan luar biasa.

"Mundurlah... cring-crangg!"

Enam murid utama dan sang wakil ketua terpelanting. Tiba-tiba pedang mereka dibabat sinar putih panjang itu, yang sudah memapas runtuh sinar-sinar emas yang bukan lain senjata jarum adanya, terus bergerak dan menyambar pedang mereka, yang tiba-tiba terasa ringan karena sudah kutung menjadi dua. Dan ketika mereka terkejut dan berseru tertahan maka Golok Maut berkelebat dan tahu-tahu sudah menodong wakil ketua Hek-yan-pang, dengan senjatanya yang mengerikan, golok yang mengeluarkan hawa dingin!

"Hek-yan-pangcu (ketua Hek-yan-pang), keluarlah. Atau aku membunuh wakilmu!"

"Wut!" sesosok bayangan bergerak bagai iblis. "Aku di sini, Golok Maut. Lepaskan pembantuku atau kau mampus... des-dess!" Golok Maut terlempar, jatuh terguling-guling oleh sebuah tendangan kilat dan berdirilah di situ seorang wanita berpakaian merah yang juga menutupi mukanya dengan sapu tangan merah. Dingin menyeramkan! Dan ketika semua murid berseru tertahan dan anggauta Hek-yan-pang itu menjatuhkan diri berlutut maka terdengarlah seruan di sana-sini yang menyebut nama pemimpin itu.

"Pangcu..!"

Tertegunlah Golok Maut. Ketua Hek-yan-pang, yang kiranya merupakan seorang wanita tinggi semampai tampak tegak di depannya. Wanita itu berapi-api memandangnya dari balik sepasang lubang yang tidak begitu lebar, lubang di balik sapu tangan itu. Dan ketika Golok Maut tertegun dan hu-pangcu yang tadi diancamnya sudah ditolong sang ketua maka wanita berpakaian serba merah ini membentak, dingin menyeramkan,

"Golok Maut, aku sudah di sini. Sekarang cabut golokmu itu dan perlihatkan kepandaianmu kepadaku!"

Golok Maut tak berkedip. Dia sudah menyimpan senjatanya ketika ketua Hek-yan-pang ini muncul, datang dan menendangnya. Tapi melihat lawan tak mencabut senjata diapun menggeleng, tiba-tiba membungkuk.

"Hek-yan-pangcu, sebenarnya tak ada permusuhan pribadi di antara diriku dengan perkumpulanmu. Aku datang hanya ingin mencari putera Ci-ongya, harap memaklumi ini dan biarlah aku meminta maaf!"

"Enak kau bicara!" suara dingin melengking itu jelas marah. "Kau sudah membuat onar, Golok Maut, dan juga memamerkan kepandaianmu itu. Aku sudah di sini, kau harus melayaniku atau kau terbunuh!"

"Hm, aku hanya mencari orang she Ci itu, bukan dirimu..."

"Tapi kau memasuki wilayah Hek-yan-pang. Cerewet, kau sudah merobohkan sumoiku, Golok Maut. Sekarang harus mengalahkan aku atau kau mampus... wirr!" rambut di atas kepala tiba-tiba bergerak, terurai memanjang dn tahu-tahu sudah menyambar Golok Maut, meledak dan murid-murid Hek-yan-pang yang berada paling depan tiba-tiba terjungkal. Mereka itu menjerit menutupi lubang telinga mereka, ledakan rambut itu seakan petir! Dan ketika Golok Maut mengelak namun rambut kembali menyambar mendadak tubuh ketua Hek-yan-pang itu berkelebatan melepas serangan-serangannya.

"Golok Maut, kau melayani aku atau mampus!"

Golok Maut terkejut. Apa boleh buat dia menggerakkan kakinya dan mengelak serangan-serangan ini, kian lama kian cepat dan rambut yang menyambar-nyambar itu meledak kian keras juga. Anak-anak murid Hek-yan-pang akhirnya menjauh, mengeluh dan disuruh mundur oleh wanita bersapu tangan hitam, yang ternyata juga sumoi atau adik seperguruan ketua Hek-yan-pang itu. Dan ketika rambut menyambar-nyambar namun Golok Maut berhasil mengelak atau menampar dari samping maka pertemuan atau tangkisan itu mengeluarkan kilat bercahaya.

"Tar-tarr!"

Golok Maut terkejut. Lawan berkelebatan lebih cepat dan pukulan-pukulan uap merah juga menyambar. Wanita itu melengking-lengking dan hawa panas menyertai ledakan rambut atau pukulan-pukulan ini. Dan ketika Golok Maut menangkis tapi dia terhuyung maka sebuah lecutan rambut akhirnya membakar baju pundaknya.

"Blarr!"

Golok Maut bergulingan. Itulah pukulan dahsyat dan segera matanya terbelalak, teringat Ang-in-kang atau Pukulan Awan Merah. Dan ketika berseru keras dan menyebut nama pukulan itu maka lawan terbelalak tapi tertawa mengejek, membenarkan kata-katanya dan ketua Hek-yan-pang itu sudah menyambar-nyambar lagi. Kini Golok Maut terdesak namun masih dapat bertahan, terus mundur-mundur dan lawan akhirnya melengking tinggi, ketua Hek-yan-pang ini marah karena Golok Maut belum dapat dirobohkannya juga. Dan ketika Golok Maut terdesak di satu sudut dan menerima ledakan rambut maka pukulan Ang-in-kang juga menyambar dan mengenai tubuhnya.

"Plak-dess!"

Golok Maut mengeluh. Sebenarnya dia lebih banyak mengelak tak mau membalas, pukulan-pukulan lawan memang berbahaya namun dia dapat bertahan, meskipun terdesak. Tapi ketika lawan menyabet dengan rambutnya dan pukulan Ang-in-kang menyambar tak kenal ampun apa boleh buat tiba-tiba dia membentak keras mencabut senjatanya, ketika serangan itu datang lagi.

"Cring-tass!"

Ketua Hek-yan-pang terpekik. Rambutnya tiba-tiba terpapas, kutung ujungnya. Dan ketika dia bergulingan meloncat bangun dan memekik menyerang lagi ternyata rambutnya itu selalu dihadang sinar berkeredep di tangan Si Golok Maut, yang terpaksa mencabut senjatanya karena lawan juga mempergunakan senjata, meskipun rambut dan tampaknya sebagai benda tidak berbahaya, yang sesungguhnya justeru amat berbahaya kalau dipergunakan oleh orang-orang pandai macam ketua Hek-yan-pang ini, yang mampu mengisi tenaga saktinya ke dalam rambut hingga benda lemas itu dapat berobah kuat dan kaku seperti baja, merupakan kawat-kawat berbahaya yang bukan main ampuhnya kalau menyengat tubuh, atau mencolok mata misalnya, yang bisa mengakibatkan kebutaan. Dan ketika lawan melengking-lengking karena dihadang golok maut di tangan laki-laki bercaping ini akhirnya ketua Hek-yan-pang itu tak dapat menyerang karena takut rambutnya gundul!

"Golok Maut, kau licik. Kau mengandalkan senjata ampuh!"

"Hm, yang licik adalah kau, pangcu. Kau mempergunakan senjata menghadapi orang yang bertangan kosong."

"Tapi kau tamu tak diundang, kau pengacau!"

"Hm, menunggu undangan Hek-yan-pang taklah mungkin, pangcu. Aku datang hanya sekedar meminta putera Ci-ongya itu."

"Keparat, kau pandai berdebat!" dan ketua Hek-yan-pang yang marah ini akhirnya membentak mencabut senjatanya, sebuah pedang hitam dan dia coba mengadu pedangnya dengan golok di tangan lawan. Tapi ketika pedangnya buntung dan putus terbabat maka wanita ini gentar dan memaki-maki, kaget memandang golok berkeredep di tangan Si Golok Maut itu.

"Bedebah! Manusia tengik!" dan wanita ini yang terpaksa tak berani mengadu senjatanya lagi lalu berkelebatan mengelilingi lawan dengan serangan-serangannya, sayang sekali selalu dihadang sinar putih yang berkeredep menyilaukan mata, akhirnya menarik serangan-serangannya itu dan tentu saja membuat ketua Hek-yan-pang ini sewot.

Golok Maut hanya menghalau atau menangkis serangan-serangannya, berkata bahwa dia tak ingin membalas karena sekali membalas tentu ketua Hek-yan-pang itu roboh, kata-kata yang membuat wanita baju merah ini marah bukan kepalang.

Dan ketika dia membentak dan menantang lawan untuk membuktikannya tiba-tiba Si Golok Maut mengangguk dan berkata "baik", sudah merobah gerak senjatanya dan tiba-tiba sinar yang bergulung-gulung naik turun di depan ketua Hek-yan-pang ini. Dan ketika sinar itu pecah dan menukik menuju tubuh si wanita baju merah ini tiba-tiba delapan belas mata golok menyambar kepala wanita ini.

"Hei...bret!"

Semua orang terkejut. Serangan Golok Maut ternyata merobek sapu tangan ketua Hek-yan-pang, menguaknya lebar dan tampaklah seraut wajah cantik yang saat itu merah padam melempar tubuh bergulingan, kaget dan terpekik dan Golok Maut tertegun. Dia sebenarnya tak bermaksud membuka sapu tangan merah itu, membuka kedok. Tapi karena lawan menangkis dan bingung menghindar ke sana-sini maka sapu tangan itu terbuka dan tampaklah wajah cantik luar biasa dari ketua Hek-yan-pang ini, yang tak diduga Golok Maut karena ketua Hek-yan-pang itu masih muda dan luar biasa cantiknya, padahal sikap dan kata-katanya demikian dingin dan menyeramkan, seolah membayangkan wanita iblis yang berhati beku. Maka, begitu lawan bergulingan melempar tubuh sementara sapu tangan itu sudah terbuka memperlihatkan wajah pemiliknya tiba-tiba laki-laki berca ping ini bengong dan malah menjublak!

"Bunuh dia, tangkap!"

Bentakan atau seruan itu akhirnya menyadarkan Si Golok Maut. Murid-murid Hek-yan-pang, yang baru pertama kali itu melihat wajah ketuanya dan bengong tiba-tiba bangkit berdiri, menyerang dan sudah berhamburan menyerang Golok Maut. Jit-nio dan Liok-hoa sudah membentak bersama sang wakil ketua, yang juga kaget dan terkesiap karena wajah ketuanya ditelanjangi. Hal itu merupakan pantangan besar bagi ketuanya, kecuali laki-laki yang membuka kedok itu berani bertanggung jawab dengan mengawininya, hal yang tentu merupakan urusan besar bagi kedua belah pihak, baik ketuanya atau sucinya (kakak seperguruan) itu maupun pihak yang membuka kedok.

Maka begitu Golok Maut telah merobek sapu tangan sucinya sementara sucinya di sana berteriak menyuruh semuanya menyerang maka wanita bersapu tangan hitam ini menyerang dan sudah membentak maju, diam-diam tergetar karena di saat bengongnya tadi Golok Maut terlihat lebih jelas, gagah dan tampan, usianya sekitar tiga puluhan tahun dan berdebar serta kencanglah hati sang wakil ketua Hek-yan-pang itu. Namun ketika dia dan murid-murid Hek-yan-pang menyerang dan membentak Si Golok Maut ini tiba-tiba entah kenapa laki-laki bercaping itu mengeluh dan berkelebat meninggalkan mereka.

"Aku tak mau bertempur, aku tak mau bertanding. Sudahlah, kalau kalian tak mau menyerahkan bocah she Ci itu biarlah kutitipkan dulu dan lain kali kuambil!" dan pergi meninggalkan musuh-musuhnya Si Golok Maut ini sudah menyimpan senjatanya dan menggerakkan kedua lengan ke depan, mendorong dan mengibas anak-anak murid Hek-yan-pang dan terpekik serta kagetlah semua murid-murid wanita itu.

Mereka terpelanting dan terlempar oleh dorongan Si Golok Maut, tersibak dan Golok Maut itu sudah berkelebat keluar dan pergi meninggalkan mereka. Tapi ketika Golok Maut menuju telaga dan siap menumpangi perahunya lagi mendadak ketua Hek-yan-pang berjungkir balik dan sudah berdiri gemetar di depannya, membentak dengan suara menggigil,

"Golok Maut, berhenti dulu. Tak biasa kau melepaskan korban dengan cara seperti ini!"

Golok Maut tertegun. Tiba-tiba dia memejamkan mata melihat wajah luar biasa cantik itu, tergetar dan seakan diguncang-guncang. Baru kali ini selama hidup dia melihat wajah begitu jelita, cantik menawan dan anggun, seperti dewi kahyangan. Atau, ah., tidak, lebih dari itu. Seperti ratu di antara segala bidadari! Dan ketika Golok Maut berhenti dan apa boleh buat menahan maksudnya dan membuka mata kembali maka dilihatnya wajah yang jelita itu menangis, bercucuran air mata.

"Golok Maut, jawab pertanyaanku. Sudah menjadi larangan di sini bahwa seorang ketua pantang dibuka sapu tangannya oleh laki-laki. Dan kau telah membuka sapu tanganku, berarti harus melanjutkan dengan membunuhku. Kenapa kau lari dan meninggalkan tempat ini? Bukankah kau mencari putera Ci-ongya? Nah, dia ada padaku, Golok Maut, akan kuserahkan tapi bunuh dulu diriku!"

Golok Maut terkejut, mundur, tiba-tiba menggigil. "Pangcu, aku... aku menitipkan dulu bocah she Ci itu. Aku sudah tahu bahwa dia di sini. Tapi... tapi entahlah, aku ingin pergi dan mencari korbanku yang lain dulu. Bocah itu kutitipkan dan biar di sini dulu..."

"Aku membolehkan kau pergi, tapi kau harus membunuhku!"

"Ah, aku tak ingin membunuhmu. Kita pribadi tidak bermusuhan!"

"Tapi sekarang kita bermusuhan. Kau telah melanggar pantangan seorang ketua!”

"Apa maksudmu?"

"Kau harus membunuh atau mengawininya!" wanita bersapu tangan hitam, sumoi atau adik seperguruan ketua Hek-yan-pang ini tiba-tiba membentak, berkelebat ke depan. "Suciku tak boleh ditinggalkan begitu saja, Golok Maut. Telah menjadi peraturan di sini bahwa laki-laki yang membuka kedok ketua harus mengawininya. Atau, kau membunuhnya dan baru boleh pergi!"

"Apa?" Golok Maut berseru tertahan. "Mengawininya? Menikahinya?"

"Benar, dan boleh kau pergi, Golok Maut, atau kau membunuhnya dulu dan membasmi kami semua, seperti apa yang telah biasa kau lakukan!"

"Tidak, aku... aku tak dapat melakukan itu. Aku tak dapat membunuh atau membasmi kalian!"

"Kalau begitu nikahi ketua kami, atau kami akan menyerangmu mati-matian dan kau atau kami yang mati!"

Golok Maut tertegun. Tiba-tiba dia merasa berada di persimpangan jalan, berdiri bengong dan tidak berkedip. Anak-anak murid Walet Hitam sudah berdiri pula di situ, mengepung setengah lingkaran dan bisik-bisik terdengar di sana-sini. Golok Maut ditawari kawin, jodoh yang tidak tanggung-tanggung, ketua Hek-yan-pang yang cantik jelita dan gagah serta lihai! Tapi ketika Golok Maut menggeleng dan menghela napas tiba-tiba laki-laki bercaping ini menjawab, gemetar,

"Hu-pangcu, maaf. Urusan ini tak dapat kujawab dengan pasti. Aku datang bukan untuk mencari jodoh melainkan mencari orang-orang she Ci atau Coa. Pantangan ini tak kuketahui, maafkan dan biar aku pergi!"

"Apa? Kau berani menolak? Kalau begitu bunuhlah kami, Golok Maut, dan biar aku mati lebih dulu membela ketuaku!" dan hu-pangcu dari perkumpulan Walet Hitam yang terhina serta marah ini tiba-tiba membentak dan menerjang Golok Maut, ketuanya ditolak begitu saja dan tentu saja dia marah.

Ketua Hek-yan-pang yang menggigil di sana mengeluh, menggigit bibirnya dan tiba-tiba iapun membentak. Dan ketika anak murid yang lain juga disuruh menyerang dan Golok Maut diperintahkan bunuh maka berhamburanlah dua ratus wanita-wanita muda dari perkumpulan Walet Hitam ini, gusar dan marah menyerang Si Golok Maut karena ketua mereka diabaikan, mereka merasa tersinggung dan terhina.

Tapi ketika semuanya menerjang maju dan menyerang dengan sengit tiba-tiba Golok Maut berjungkir balik mengeluarkan senjatanya itu, membabat dan menghalau semua senjata yang menyerang, yang tentu saja patah-patah dan kutung bertemu goloknya yang ampuh, terdorong mundur dan semua berteriak kaget, termasuk ketua Hek-yan-pang itu, si bidadari baju merah. Dan ketika semua terdorong dan mundur oleh senjatanya tiba-tiba Golok Maut sudah melayang dan hinggap di atas perahunya.

"Maaf, pangcu, lain kali kita bertemu lagi!"

Golok Maut meluncur. Laki-laki bercaping ini sudah menggerakkan perahunya dengan cepat sekali, terbang dan meninggalkan pulau dengan cara yang amat luar biasa. Dan ketika semua orang tertegun tapi ketua Hek-yan-pang berseru marah tiba-tiba wanita baju merah ini menyambar perahu lain dan mengejar, diikuti yang lain-lain tapi Golok Maut sudah keburu mendarat. Laki-laki yang amat lihai itu sudah berkelebat meninggalkan perahunya di pantai. Dan ketika semua orang tertegun dan lagi-lagi menjublak tiba-tiba ketua Hek-yan-pang ini menangis dan berkelebat lenyap.

"Swi Cu, kau menjaga perkumpulan. Aku akan mencari dan mengadu jiwa dengan Si Golok Maut!"

Dan begitu wanita baju merah ini mengerahkan kepandaiannya berkelebat menghilang maka Swi Cu pun, sang adik sekaligus wakil ketua Walet Hitam menjublak, berteriak memanggil sucinya namun sang suci atau ketua sudah lenyap di kejauhan sana. Anak-anak murid menjadi ribut tapi akhirnya dibentak wanita bersapu tangan hitam ini. Dan ketika gadis atau wanita itu menyuruh murid-murid Hek-yan-pang menunggu sementara ia mengejar ketuanya namun gagal akhirnya gadis atau wanita ini menangis tersedu-sedu.

"Kita kembali, pangcu telah memerintahkan kita menjaga pulau!" dan kembali dengan air mata bercucuran akhirnya wanita bersapu tangan hitam itu membiarkan sucinya mengejar Si Golok Maut.

* * * * * * *

"Celaka, sial Bagaimana bisa terjadi seperti ini? Ah, kenapa aku tak keruan rasanya? Oh, ampun ibu, ampun cici... aku terpaksa menunda kematian bocah she Ci itu!" Golok Maut terhuyung-huyung, seluruh tubuh basah kuyup dan kakipun menggigil. Entah mengapa sejak dia melihat wajah di balik sapu tangan itu tiba-tiba ingatannya kepada wajah ketua Hek-yan-pang ini tak dapat dilupakan. Wajah yang begitu cantik luar biasa dan amat mempesona, anggun dan angkuh namun justeru ini daya tariknya. Dia seakan dihipnotis dan Golok Maut terhuyung-huyung.

Baru kali ini selama hidup dia merasa gemetaran begitu, dan baru kali ini pula dia menunda kematian seorang manusia ber-she Ci, putera Ci-ongya lagi, pangeran yang amat dibenci dan menimbulkan dendam kesumat, pembunuhan-pembunuhan yang dia lakukan itu dan Golok Maut mengeluh. Dan ketika laki-laki itu jatuh terduduk dan menangis menitikkan air mata tiba-tiba dia terkejut ketika terdengar bentakan di belakangnya.

"Golok Maut, bayar hinaan ini... wut-singg!!" dan ketua Hek-yan-pang yang datang dengan air mata bercucuran kiranya telah menemukan dirinya dan mengejar sampai ke situ, langsung menyerang dan pedang di tangan wanita cantik ini mendesing. Golok Maut mengelak dan kaget, diserang lagi dan bengong terlongong-longong. Tapi ketika pundaknya terbabat dan Golok Maut terkejut tiba-tiba laki-laki ini sadar dan melompat jauh ke belakang, mengeluh.

"Pangcu, maaf. Jangan kejar-kejar aku!"

"Keparat, aku tak akan mengejar-ngejarmu kalau kau sudah membunuhku, Golok Maut. Nah, bunuhlah aku atau kau kubunuh!"

Golok Maut berlompatan. Dia mengeluh dan mengelak sana-sini, menjauh namun lawan selalu mengejar. Ke manapun dia menghindar ke situlah pedang menyambar dirinya. Dan ketika satu bacokan lagi mengenai pangkal lengannya dan robek berdarah maka untuk pertama kali lawan terkejut.

"Bret!" Golok Maut tak mengerahkan sinkang. Pangkal lengannya dibiarkan terluka dan ketua Hek-yan-pang itu tertegun. Tapi membentak dan melengking lagi akhirnya wanita cantik luar biasa itu melanjutkan serangannya, mempergunakan rambutnya pula dan menjeletar-jeletarlah senjata luar biasa ini. Wanita itu penasaran karena Golok Maut belum juga dapat dirobohkannya, padahal laki-laki itu hanya mengelak dan belum sekali pun membalas. Dua luka di tubuh Golok Maut cukup merupakan bukti. Dan ketika Golok Maut terhuyung mundur-mundur mendadak pedang menyambar leher namun secepat kilat menyontek ke atas menusuk dahi.

"Aih... brett!"

Caping itu terlempar. Tiba-tiba Golok Maut terbuka wajahnya, tampak seluruh wajah tokoh yang biasanya menutupi muka ini, gagah dan tampan namun penuh kerut-kerut kepedihan. Baru kali ini Golok Maut ditelanjangi mukanya! Namun ketika wanita cantik itu tertegun dan berseru kagum, seruan yang begitu saja meluncur dari mulutnya mendadak Golok Maut sudah melempar tubuh bergulingan dan menyambar capingnya lagi, mengenakannya secepat kilat.

"Pangcu, kita seri. Akupun pantang memperlihatkan mukaku kalau bukan atas kehendakku sendiri.. wut!" dan Golok Maut yang berjungkir balik meninggalkan lawan tiba-tiba berkelebat dan membuat ketua Hek-yan-pang itu bengong, termangu dan tertegun oleh wajah yang tampan gagah tadi namun tiba-tiba sang bidadari ini membentak nyaring, mengejar dan memaki Golok Maut itu. Dan ketika ke manapun Golok Maut pergi ke situ pula wanita cantik ini mengikuti maka Golok Maut menjadi bingung dan baru untuk pertama kali merasa marah namun juga iba, aneh!

"Pangcu, biarkan aku sendiri. Jangan kejar-kejar aku!"

"Tidak, ke manapun kau pergi ke situ pula aku mencari, Golok Maut. Atau kau membunuhku dan bayar hinaan ini!"

"Ooh..!" dan Golok Maut yang bingung namun juga gemas tiba-tiba memasuki hutan dan bersembunyi di sini, berkelebat dan mengerahkan kepandaiannya dan hilang sejenak. Tapi karena tak mungkin terus-menerus bersembunyi di hutan dan lawan ternyata menunggu tiba-tiba ketua Hek-yan-pang itu sudah mencegatnya di luar hutan, di seberang!

"Golok Maut, kau tak dapat bersembunyi!"

Golok Maut mengeluh. Sebenarnya dia ingin lari jauh-jauh, tapi ketika sudah jauh dan dapat bersembunyi mendadak saja dia ingin menampakkan diri dan melihat wanita cantik itu, entah kenapa hatinya berdebar kencang melihat wajah yang mempesona ini, ingin rasanya berdekatan dan tidak bermusuhan. Tapi ketika teringat betapa gara-gara wajah cantik dia pernah tertipu maka Golok Maut mengeraskan hati dan bersikap dingin, anehnya memanas lagi dan ingin melihat si juwita.

Akibatnya muncul dan menghilang lagi, begitu berkali-kali hingga ketua Hek-yan-pang itu juga marah, gemas. Dan ketika seminggu terjadi kejar-kejaran ini dan Golok Maut tampaknya juga ragu untuk benar-benar meninggalkan lawannya, hal yang sebenarnya dapat dilakukan, mendadak menghadang seorang laki-laki gundul berkulit dua warna, kepala hitam sedang leher ke bawah kuning bersih.

"Hei, berhenti. Aku mencari Golok Maut dan kau agaknya orangnya!"

Golok Maut terkejut. Di belakang ketua Hek-yan-pang itu melengking-lengking, menyebut namanya. Dan ketika dia tertegun dan dihadang si gundul ini, yang tidak dikenal tiba-tiba berkelebatan beberapa bayangan dan muncullah di situ dua kakek India itu, Mindra dan Sudra!

"Ha-ha, benar, sobat. Dia Si Golok Maut!"

"Dan kita tangkap dia, cincang beramai-ramai!"

Golok Maut tersentak. Di belakang dan kiri kanan dua kakek lihai ini muncul Bhok-kongcu dan si Kucing Liar, Mao-siao Mo-li. Dan ketika dua orang itu juga tertawa dan terkekeh maka Bhok-kongcu kagum melihat tubuh indah si ketua Hek-yan-pang, yang waktu itu cepat memakai sapu tangannya lagi dan menyembunyikan diri.

"Heh-heh, siapa niocu ini? Dari mana?"

Ketua Hek-yan-pang itu mendengus. Dia tentu saja tak menghiraukan pertanyaan Bhok-kongcu, yang ceriwis dan kurang ajar. Perhatiannya tertuju pada Si Golok Maut karena itulah lawannya. Maka begitu dia juga terkejut dan tertegun melihat orang-orang ini, musuh-musuh lama Golok Maut maka Golok Maut berhenti dan yang pertama mencegatnya adalah si gundul itu, yang bukan lain adalah Tiat-kak, si Kaki Besi, pembantu Coa-ongya!

"Heh-heh, kau kiranya Si Golok Maut? Bagus, aku lama mencari-carimu, Golok Maut. Kalau begitu tak usah kita banyak cakap dan terimalah ini... wut-wirr!" si Kaki Besi tiba-tiba berpuntir, kakinya bergerak dan tahu-tahu sebuah tendangan melingkar menghantam Golok Maut. Laki-laki gundul itu tak banyak cakap lagi dan benar-benar menyerang Golok Maut. Tapi ketika Golok Maut mengelak dan tertegun melihat si gundul ini, yang belum dikenal, maka dia menangkis dan menggerakkan tangannya.

"Duk-plak!"

Si gundul terpekik. Tiba-tiba dia tergetar dan terdorong, tendangannya tadi bertemu tangkisan yang kuat dan hampir dia terpelanting, padahal gajah pun tak akan sanggup mendorongnya! Maka begitu dia terpekik namun sudah kembali menyerang tiba-tiba orang kepercayaan Coa-ongya ini bergerak dan kedua kakinya naik turun menyambar Golok Maut, cepat dan luar biasa dan Golok Maut terkejut.

Si gundul yang baru pertama kali ini bertemu dengannya ternyata memiliki kaki yang istimewa dan tendangan bertubi-tubi, cepat dan kuat dan tiba-tiba kaki yng naik turun itu mengenai pinggangnya, Golok Maut terhuyung dan hampir terjungkal. Dan ketika dia membentak dan tentu saja marah maka dia membalas dan pukulan Kim-kong-ciang menyambut serta menerima tendangan bertubi-tubi itu, lawan terpekik dan kali ini si Kaki Besi terpelanting. Kakinya tadi disambar dan didorong jatuh, dia terguiing-guling.

Namun ketika si gundul ini meloncat bangun dan membentak lawan ternyata dua kakek India itu, Mindra dan Sudra sudah menyerang Golok Maut, mencabut senjata masing-masing dan meledaklah cambuk baja di tangan Sudra. Dan ketika Mindra juga mengeluarkan nenggalanya dan maju menyerang maka Golok Maut sudah dikeroyok pula oleh Siluman Kucing, yang menggerakkan payungnya.

"Hi-hik, bagus, Mindra. Bunuh dan robohkan Si Golok Maut ini!"

Golok Maut terbelalak. Kelicikan ini sudah diduganya, terutama Siluman Kucing dan Bhok-kongcu, yang masih bersinar-sinar dan kagum memandang ketua Hek-yan-pang, yang belum bergerak dan diamati dari samping. Mata kurang ajar dari si Hidung Belang Bhok-kongcu ini melahap bebas, nikmat dan tampaknya laki-laki muda itu kagum benar, tertarik. Maklumlah, tubuh aduhai dari wanita baju merah ini tampaknya sudah menjanjikan segalanya bagi Bhok-kongcu itu. Tapi ketika dia cengar-cengir dan temannya di sana sudah menyerang Golok Maut sekonyong-konyong Siluman Kucing itu membentaknya dan menyodokkan ujung payung ke pinggangnya.

"Orang she Bhok, ayo bantu kami. Jangan mendelong memandang si cantik. Kubunuh kau nanti!"

"Ha-ha!" Bhok-kongcu terbahak. "Jangan cemburu, Eng Hwa. Laki-laki bebas menikmati wajah cantik di manapun!"

"Tapi dia mengenakan sapu tangan, bagaimana kau tahu cantik atau tidak?"

"Ha-ha, mataku cukup terlatih, Mo-li, sekali lihat luarnya aku sudah tahu bagian dalamnya, ha-ha!"

Mata berkilat dari ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba berapi. Orang she Bhok ini sudah mencabut ikat-pinggangnya menyerang Si Golok Maut ketika tiba-tiba dia membentak, mencabut pedangnya dan menyerang si Hidung Belang ini, yang tentu saja kaget dan berseru keras. Dan ketika dia menangkis namun ikat-pinggang putus dibabat tiba-tiba Bhok-kongcu ini melempar tubuh berjungkir melihat keganasan pedang.

"Tutup mulutmu... sing-bret-dess!" dan Bhok-kongcu yang kaget serta memekik tinggi tiba-tiba menyadari bahwa wanita yang dihinanya itu bukan sembarang wanita, segera mendapat serangan bertubi-tubi dan Siluman Kucing terkejut. Bhok-kongcu memang pemuda pemogoran, ceriwis dan kurang ajar. Tapi melihat temannya diserang cepat dan pedang itu menusuk atau membacok maka wanita berpayung ini tiba-tiba marah dan meloncat meninggalkan Golok Maut.

"Hei, berhenti... cring-trang!" pedang bertemu payung, terpental dan Siluman Kucing terpekik. Payungnya mental sementara pedang lawan berdesing menyambar tenggorokannya, cepat dan ganas dan hampir saja mencoblos, kalau dia tidak bergulingan melempar tubuh. Dan ketika Siluman Kucing meloncat bangun dan marah serta melengking tinggi tiba-tiba dia menyerang lawannya ini dan ketua Hek-yan-pang dikeroyok dua, karena Bhok-kongcu juga marah!

"Hei-hei...! Apa-apaan kalian itu. Jangan berkelahi, kita semua adalah orang-orang yang memusuhi Golok Maut. Kembali, bantu kami!" Sudra, yang meledak-ledakkan cambuknya berteriak-teriak.

Golok Maut mencabut goloknya dan sinar putih yang berkeredepan panjang itu menyambut, tentu saja dia menarik serangannya dan saudaranyapun memaki-maki. Mereka sudah mengenal betul keampuhan golok itu, golok yang akan memapas buntung setiap senjata yang betapapun tajamnya, tak mungkin menang dan mereka harus melempar tubuh menyelamatkan diri kalau sinar golok itu terus menyambar, tak mau celaka dan dua kakek India ini jungkir balik. Namun ketika dua orang itu tak menggubris seruannya dan masih terus menyerang Hek-yan-pangcu maka Sudra meledakkan cambuknya ke bahu Siluman Kucing.

"Tar-aduh!" Mao-siao Mo-li terpekik. Kakek India itu membuatnya kesakitan dan dia memaki-maki, meloncat bangun namun cambuk si kakek juga menjeletar di bahu Bhok-kongcu, menyambar pula ke ketua Walet Hitam itu namun wanita baju merah ini menangkis, cambuk terpental dan kakek itu kaget, pedang di tangan wanita baju merah itu ternyata hebat sekali, sanggup menahan cambuknya. Dan ketika Mao-siao Mo-li meloncat bangun sementara Bhok-kongcu terguling-guling memaki marah maka di sana Tiat-kak si Kaki Besi mengeluh ketika Golok Maut menabas kakinya.

"Cret!" Jari si gundul itu nyaris putus. Kuku jarinya yang terkena dan berteriaklah si gundul itu melempar tubuh, tiba-tiba menggereng dan mencabut senjatanya, gading gajah berwarna hitam, aneh. Dan ketika dia menubruk dan menyerang lagi maka nenggala di tangan Mindra membantu dirinya dan menyambar-nyambar Golok Maut, sayang sekali harus ditarik cepat kalau Golok Maut menangkis, tak mau kutung dan mengumpatlah semuanya.

Golok Maut memang berbahaya sekali. Dan ketika pertandingan berjalan lagi sementara Sudra mengancam Bhok-kongcu dan Siluman Kucing untuk tidak menyerang ketua Hek-yan-pang maka dua orang itu melompat dan menyerang Golok Maut, tak tahunya wanita baju merah ini mengejar Bhok-kongcu, membentak dan menyerang si Hidung Belang ini, Hi-ngok. Dan ketika Bhok-kongcu terpaksa menangkis namun selalu terpental maka Siluman Kucing menjadi marah dan menyerang ketua Hek-yan-pang itu.

"Hei, lihat, tua bangka. Wanita ini menyerang temanku!"

Sudra melotot. Dia marah melihat itu, mau membentak tapi Golok Maut menyerang dirinya, tertawa mengejek. Dan ketika apa boleh buat dia terpaksa mengelak dan memaki-maki maka Golok Maut seolah dibantu ketua Walet Hitam itu.

"Hek-yan-pangcu, terima kasih. Mereka memang sepantasnya kau hajar!"

"Ah, kau ketua Hek-yan-pang?" Bhok kongcu terkejut, baru mengerti ini. "Kau membantu Golok Maut? Keparat, Hek-yan-pang biasanya tak berdekatan dengan laki-laki, siluman betina. Tak nyana kalau kau jatuh hati dan agaknya tergila gila pada Golok Maut..."

"Sing-dess!" Bhok-kongcu menghentikan kata-katanya, bermaksud mengejek tapi tak tahunya gerakan pedang yang marah hampir saja membabat lehernya. Dia harus bergulingan melempar tubuh ketika wanita baju merah itu melengking tinggi, menggerakkan pedangnya dua kali dan hampir saja si Hidung Belang celaka, pucat dan ngeri dan segera mendengar jawaban bahwa lawan tidak membantu Golok Maut, melainkan semata ingin menghajarnya karena omongannya yang kotor dan tidak tahu malu. Dan ketika ketua Hek-yan-pang ini juga memaki Golok Maut karena orang bisa salah duga maka Siluman Kucing memekik dan marah menyerang wanita baju merah ini.

"Keparat, membantu ataukah tidak kami tak tahu betul, Hek-yan-pangcu. Kalau kau memusuhi temanku maka kau adalah juga musuhku... siut-trak!" payung menyambar, menusuk dari samping namun pedang menangkis. Siluman Kucing tergetar dan terdorong mundur. Dan ketika Bhok-kongcu marah-marah dan menggeram maju maka laki-laki ini berkata bahwa dia ingin menelanjangi lawannya itu, merobek sapu tangannya dan melihat wajah di balik kedok, menyerang dan justeru membuat kemarahan wanita baju merah ini tak terkendalikan lagi. Dan ketika di sana Golok Maut bertanding menghadapi tiga orang lawannya maka di sini ketua Hek-yan-pang itu juga mendesak dan menyerang dua orang lawannya, yang cepat keteter.

"Cring-bret!"

Golok Maut tersenyum. Dia melihat ketua Hek-yan-pang itu membabat ikat-pinggang Bhok-kongcu, meneruskan gerakannya dan pemuda hidung belang itu terpekik. Bhok-kongcu melempar tubuh bergulingan ketika pedang mengejar, untung ditangkis Mao-siao Mo-li dan Bhok-kongcu selamat, dapat melompat bangun. Dan ketika dua orang itu mengeroyok lagi namun agaknya jalannya pertandingan dikuasai ketua Hek-yan-pang ini maka di sana Golok Maut juga mengendalikan keadaan dan jalannya pertandingan di bawah kekuasaan tokoh bercaping ini.

"Cring-crat!"

Golok Maut beraksi. Nenggala di tangan Mindra terluka, ujungnya buntung dan kakek India ini memaki-maki. Dan ketika dia menggerakkan tangan kirinya melakukan pukulan Hwi-seng-ciang (pukulan Bintang Api) maka meledaklah sinar merah menyambar Golok Maut.

"Dess!"

Kakek itu terguncang. Golok Maut menolak dengan tangan kirinya dan kakek itu mengeluh, terdorong dan terhuyung mundur. Dan ketika Sudra juga menggerakkan cambuknya namun meledak ditampar Golok Maut maka dua orang itu mendelik dan mengumpat-umpat.

"Keparat, bedebah jahanam! Kita menyerang di kiri kanan, Sudra. Biar si gundul ini di depan!"

"Hei..!" si gundul, Tiat-kak adanya, terkejut. "Kalian di depan, kakek-kakek busuk. Aku di belakang atau di samping!"

"Hm, kakimu lihai mendupak. Kau di depan saja, gundul. Dan agaknya kalau aku tidak salah duga kau adalah si Kaki Besi Tiat-kak, pembantu Coa-ongya. Benarkah?"

"Ha-ha, benar!" Tiat-kak merasa terkenal. "Aku memang pembantu Coa-ongya, kakek busuk. Kalian berdua siapakah kenapa memusuhi Golok Maut ini?"

"Kami Sudra dan Mindra, dari Thian-tok."

"Ah, si Tak Tahu Aturan dari India? Ha-ha, aku sudah mendengar nama kalian, Mindra, dan juga kenapa kalian diusir dari negerimu, karena tak suka kepada kalian, ha-ha!" dan si Kaki Besi yang tertawa dan mengejek dua kakek itu tiba-tiba berteriak keras ketika Golok Maut menyambar, berkilat matanya dan tiba-tiba nafsu membunuh memancar ganas.

Golok Maut baru tahu bahwa si gundul ini kiranya antek Coa-ongya, kaki tangannya. Maka begitu dia membentak dan golok berkeredep menyilaukan mata tiba-tiba tokoh bercaping ini sudah mengejar si Kaki Besi.

"Crat-dess!"

Tiat-kak terguling-guling. Dia terkejut melihat kemarahan Golok Maut, yang tiba-tiba begitu beringas dan benci memandangnya. Golok Maut yang tadi masih agak lunak sekonyong-konyong berobah bengis, dagu itu mengeras dan wajahnya membesi! Dan ketika si gundul berteriak bergulingan sementara lawan mengejar tiba-tiba golok kembali menyambar dan apa boleh buat gading di tangannya menangkis.

"Crat!" gading itu tinggal separoh! Si Kaki Besi berteriak dan menjerit bergulingan menjauh, Golok Maut berkelebat dan mengeluarkan geraman benci, sinar matanya berbahaya sekali dan tentu saja si gundul ini ngeri. Dan ketika dia bergulingan menjauh namun Golok Maut mengejar maka laki-laki ini berteriak pada Mindra dan Sudra agar menolongnya, atau mereka bakal kehilangan kawan kalau dia terbunuh.

"Hei, bantu aku. Tolong!"

Mindra dan Sudra bergerak. Memang mereka tak akan membiarkan Golok Maut membunuh si gundul itu, yang betapapun merupakan teman seperjuangan, sama-sama menghadapi Si Golok Maut yang lihai. Maka begitu mereka membentak dan keduanya sudah menggerakkan cambuk dan nenggala maka dari belakang Si Golok Maut ini mendapat serangan berbahaya.