GOLOK MAUT
JILID 11
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
ORANG pun ribut. Setelah kecurangan itu diketahui dan semua mata melihat bahwa di bawah sepatu itu benar saja terdapat sebuah pisau kecil maka pendukung barongsai merah menjadi marah. Mereka berteriak dan menuntut perbuatan barongsai biru. Kwik Beng, laki-laki itu gembira. Lawannya di sana terkejut dan berobah mukanya. Tapi ketika semua orang menjadi ribut dan pihak barongsai biru tentu saja tersudut tiba-tiba laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam itu menerjang dan menyerang pemuda tampan ini.

"Kau pengacau!" Bentakan ini mengejutkan yang lain. Kwik Beng, yang melindungi pemuda itu tentu saja marah. Dia membentak dan mau menangkis serangan ini. Tapi ketika pemuda itu tertawa dan mendorongnya perlahan tiba-tiba pukulan itu dikelit dan si muka hitam mendapat sebuah ungkitan kecil dan... terjerembab mencium tanah.

"Hei, hati-hati, Hek-twako. Jangan marah di sini... bluk!"

Laki-laki itu terpekik, berteriak dan tentu saja marah dan malu. Tubrukannya dikelit dan tadi sebuah kaki mengungkit pantatnya, cepat sekali, tak diketahui orang lain dan tahu-tahu ia terjerembab. Dan ketika laki-laki itu mengumpat caci dan marah bangun berdiri maka dia menubruk dan menyerang lagi, dikelit dan entah bagaimana tiba-tiba ia pun terjungkal. Pemuda itu tak nampak membalas kecuali tangan atau kakinya sering menyentuh tubuh si muka hitam, seperti orang takut jatuh tapi justeru si muka hitam yang tersungkur. Dan ketika kejadian ini berulang enam tujuh kali dan orangpun gempar maka laki-laki itu akhirnya mencabut golok dan menyerang pemuda ini, membabi-buta.

"Hei..!" orang she Kwik pun terkejut. "Jangan main curang, hitam. Simpan golokmu dan pergilah!" laki-laki ini melompat, tak tahan lagi melihat berkelebatnya golok yang menyambar-nyambar. Dia khawatir pemuda itu terbacok dan luka, pendukung barongsai merah sudah berteriak-teriak dan siap menyerang kembali, hal yang akan dihadapi pula oleh pendukung atau pihak barongsai biru, karena Hek-twako adalah pendukung mereka. Namun ketika laki-laki she Kwik meloncat dan hendak menubruk si muka hitam tiba-tiba pemuda tampan itu menggerakkan jarinya dan entah bagaimana tahu-tahu tubuh laki-laki tinggi besar ini terbanting dan golok di tangannya mencelat patah.

"Sudah... sudah... aku minta ampun. Kembalilah dan buang golokmu!" dan ketika benar saja si Hek-twako itu mencelat ke arah barongsai biru dan goloknya dibuang ke kanan maka Kwik Beng pun tertegun tdk jadi menyerang, tepat mendengar bentakan Lu-ciangkun.

"Pemuda ini dan si muka hitam kutangkap. Kalian minggir!"

Keributan baru tiba-tiba terjadi. Lu-ciangkun yang hendak menangkap si muka hitam tiba-tiba dihadang kelompok barongsai biru, begitu pula ketika ia melompat hendak menangkap si pemuda tampan, hal yang membuat komandan ini mendelik. Dan ketika dia membentak dan marah menyuruh pasukannya maka orang pun geger ketika pihak barongsai biru ataupun merah melakukan perlawanan!

"Hei, kalian pemberontak-pemberontak hina. Awas, kalian menghadapi pasukan pemerintah!"

Seruan ini tak ditanggapi. Barongsai biru melindungi kawannya sementara barongsai merah melindungi pemuda tampan itu. Kwik Beng terutama meminta teman-temannya melindungi pemuda itu, setiap pasukan yang mendekat tentu didorong dan hiruk-pikuklah suasana. Tapi ketika Lu-ciangkun naik darah dan kudanya dikeprak siap menerjang siapa saja mendadak bayangan pemuda itu berkelebat dan tahu-tahu menangkap Cun Khing, pemimpin atau kepala barongsai biru.

"Lu-ciangkun, tahan. Lihat siapa yang kutangkap!"

Orang-orang terkejut. Tiba-tiba mereka tertegun melihat Cun Khing meronta-ronta di pegangan pemuda itu, membentak dan mau melawan tapi tiba-tiba pemuda itu menggerakkan jarinya, menotok pundak. Dan ketika Cun Khing mengeluh dan roboh tidak berdaya maka gemparlah semua orang karena pemuda itu kiranya seorang pemuda yang lihai, yang tadi hanya berpura-pura lemah saja.

"Ciangkun, lihat. Biang keladi keributan sudah kutangkap!"

Lu-ciangkun tertegun. Tadi dia melihat bayangan pemuda itu yang bergerak luar biasa cepat, menerobos di sela-sela semua keributan itu dan tahu-tahu Cun Khing, pemimpin dari barongsai biru tertangkap. Dan ketika laki-laki itu menggantung tak berdaya di pegangan pemuda ini sementara perkelahian atau kegaduhan berhenti maka semua orang dibuat terbelalak dan kaget memandang ke situ.

"Lihat, orang she Cun inipun menyembunyikan pisau kecilnya di bawah sepatu. Semua anggauta barongsai biru juga begitu!" pemuda ini mengangkat naik kaki si tangkapan, menunjukkan pisau yang tiba-tiba dicabut. Dan ketika orang menjadi gempar lagi karena benar saja laki-laki itu menyembunyikan pisaunya maka anggauta barongsai biru tiba-tiba ribut dan membuang pisau di bawah sepatu mereka!

"Nah, lihat. Siapa salah siapa benar kelihatan sekarang, Lu-ciangkun. Justeru orang-orang ini yang harus kau tangkap bukannya aku!"

Namun aneh, komandan itu tiba-tiba membentak. Dan ketika dia mengeprak kudanya dan maju mendekat tiba-tiba komandan ini berseru, "Anak muda, kau mengacau. Serahkan juga dirimu dan mari ikut ke markas!"

Si pemuda terkejut. Dia tak menyangka reaksi balik dari komandan ini, yang jelas sekarang mulai kelihatan membela barongsai biru. Tapi ketika Lu-ciangkun menggerakkan tangan dan hendak merampas tawanannya tiba-tiba pemuda ini tertawa dan melempar laki-laki itu pada pemimpin barongsai merah, Kwik Beng.

"Kwik-twako, terimalah. Rupanya Lu-ciangkun tak suka kepadaku dan ngotot ingin menangkap... wut!" laki-laki itu dilempar ke Kwik Beng, tentu saja diterima dan si pemuda sudah mengelak sambaran Lu-ciangkun. Kelitan yang begitu mudah serta gampang yang ditunjukkan pemuda ini rupanya membuat tubrukan atau sambaran jari Lu-ciangkun luput, mengenai angin kosong.

Dan ketika komandan itu marah dan tentu saja membentak gusar maka dia sudah memajukan kudanya dan menyerang pemuda ini lagi, dua tiga kali namun semuanya itu luput. Si pemuda mengelak dan selalu menghindari serangannya, tak ada satupun yang kena dan ributlah semua orang. Pendukung barongsai merah bersorak dan mengejek komandan itu, yang membuat si komandan naik pitam dan gusar bukan kepalang. Dan ketika dia menyuruh beberapa pembantunya maju membantu namun pihak barongsai merah tiba-tiba menyerbu maka komandan ini terkejut ketika pasukannya diserang.

"Hei, tangkap pemuda ini. Tangkap!"

Kiranya komandan itu lebih mementingkan pemuda ini daripada barongsai merah. Dia terkejut dan kaget tak dapat menangkap pemuda itu, yang hanya berlompatan dan selalu menghindar. Tapi karena para pembantunya dicegat dan diserang pendukung barongsai merah maka komandan itu memaki-maki dan tiba-tiba pihak barongsai biru menyerang. Mereka membantu pasukan dan sudah menerjang pihak barongsai merah, apalagi Cun King masih ditangkap pemimpin barongsai merah, Kwik Beng. Tapi ketika semuanya bergerak dan serang-menyerang tak dapat dicegah lagi mendadak pemuda tampan itu membentak dan berkelebatan menampar Lu-ciangkun.

"Hentikan semua ini, tahan!"

Lu-ciangkun berteriak. Tiba-tiba dia terlempar dari atas kudanya dan terbanting, jatuh terguling-guling dan nyaris terinjak-injak. Beng Tan atau pemuda tampan itu sudah lenyap entah ke mana, tubuhnya berkelebatan dari satu tempat ke tempat lain, menyambar-nyambar bagai seekor burung besar. Dan ketika terdengar jerit atau pekik kesakitan di sana-sini tiba-tiba terpelantinglah sekian banyak orang itu oleh kibasan atau dorongan Beng Tan, yang hanya mempergunakan ujung lengan bajunya.

"Berhenti, kalian semua berhenti!"

Orang-orang itu terlempar. Sama seperti Lu-ciangkun yang jatuh dari atas kudanya maka orang-orang itupun terpelanting ke kiri kanan. Baik pendukung barongsai biru maupun merah terlempar tak keruan, pasukan berkuda juga tersibak dan rata-rata menjerit kaget. Dan ketika semuanya berhenti dan otomatis tidak serang menyerang lagi maka Beng Tan sudah berdiri di tengah-tengah dengan tegak dan gagah.

"Siapa yang masih serang-menyerang lagi akan kupatahkan lengannya. Sekarang lihat dan dengarkan kata-kataku!" pemuda ini menghadapi Lu-ciangkun, dikepung dan dikelilingi pasukan berkuda namun pemuda itu tidak takut, bahkan matanya tiba-tiba berkilat dan gentarlah semua orang menyaksikan kepandaian pemuda itu, yang ternyata amat tinggi! Dan ketika Lu-ciangkun juga tergetar dan jerih maka dicabutlah sesuatu dari saku dalam pemuda itu.

"Lu-ciangkun, kau mengenal ini? Kau tahu apa artinya ini?"

"Ooh!" komandan itu tersentak, melihat sebuah cincin di tangan pemuda itu, cincin gemerlap seperti bintang. "Kau... kau utusan istana, kongcu? Kau kiranya.."

"Benar, tak usah diteruskan. Sekarang kau mengerti siapa aku, ciangkun. Kuminta agar kau menghukum orang-orang dari barongsai biru ini karena mereka curang. Bebaskan rombongan barongsai merah dan biarkan mereka pulang!"

Orang tiba-tiba terkejut. Lu-ciangkun tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan berteriak agar pasukannya turun dari kuda masing-masing, berseru bahwa utusan Li-ongya (sri baginda Li) tiba. Dan ketika pasukan meloncat dari kudanya masing-masing dan terkejut menjatuhkan diri berlutut maka gemparlah semua orang karena pemuda yang disangka lemah itu ternyata utusan kaisar!

"Nah, tangkap dan adili orang-orang dari barongsai biru ini, ciangkun. Mereka pengacau dan jelas orang-orang curang. Siapa melawan harap serahkan kepada ku!"

Lu-ciangkun menggigil. Tiba-tiba sikapnya menjadi lain dan berulang-ulang dia memohon ampun, tak mengetahui datangnya seorang utusan dan tentu saja Kwik Beng, pemimpin barongsai merah tertegun. Laki-laki ini juga tak menduga bahwa pemuda itu adalah utusan Li-ongya, junjungan atau penguasa mereka. Dan ketika semua menjatuhkan diri berlutut dan serempak semua orang tak berani mengangkat mukanya maka Beng Tan tersenyum mengangguk-angguk, memandang si muka hitam.

"Kau," katanya, "ke sini dan lakukan hukuman ringan. Tampar dan maki dirimu sebanyak sepuluh kali!"

Hek-twako, si muka hitam gemetar. Dia tadi terlempar dan terbanting oleh kelihaian pemuda ini, tak tahunya utusan atau orang dekat kaisar. Diam-diam mau menyelinap pergi tapi si pemuda melihat, menggapai dan kini menyuruhnya dekat. Dan ketika laki-laki ini menggigil dan belum apa-apa sudah meratap minta ampun maka dia disambar dan telinganya dijewer.

"Aku sudah mengampunimu. Kalau tidak tentu kau sudah kubunuh. Heh, lakukan perintahku, Hitam, tampar dan maki dirimu sebanyak lima kali!"

"Baik... baik..!" dan si hitam yang lalu menampari dan memaki dirinya sendiri lalu didengar secara geli oleh orang-orang itu, tak berani tertawa karena si pemuda ada di situ.

Beng Tan tampak berwibawa memandang orang-orang ini, aneh, sikapnya menjadi lain daripada waktu pertama dia datang. Dan ketika si hitam selesai menampari mukanya dan memaki sebanyak sepuluh kali maka pemuda itu menghadapi Lu-ciangkun, sang komandan yang tadi tampak melindungi orang-orang barongsai biru.

"Kau," tanyanya. "Kenapa melindungi dan membela orang-orang barongsai biru ini, ciangkun? Kenapa memusuhi pihak barongsai merah?"

"Dia kena suap ribuan tail, kongcu. Lu-ciangkun memihak karena makan sogokan!" Kwik Beng, pemimpin barongsai merah berseru, mendahului.

Tentu saja mengejutkan Lu-ciangkun dan komandan itu cepat-cepat menggeleng, menyangkal. Dan ketika Beng Tan tampak tertegun dan mengangguk-angguk maka komandan ini pucat, menyanggah, "Tidak, dia... dia bohong, kongcu. Aku tidak makan suap!"

"Tapi kau membela barongsai biru. Mula-mula tampak bersikap adil tapi akhirnya berat sebelah!"

"Tidak... ampun, kongcu. Dia bohong!" namun ketika Cun Khing diminta dan laki-laki ini dipencet punggungnya maka Beng Tan mendesis,

"Orang she Cun, coba kau jelaskan benarkah tuduhan itu atau tidak. Jangan coba berbohong karena aku dapat menyakitimu yang lebih lagi!"

"Tidak... tidak! Orang she Kwik itu bohong!"

"Kau dapat memberi bukti?"

"Aku dapat membuktikannya, kongcu. Lihat saja buntalan di atas pelana Lu-ciangkun itu!" tiba-tiba Kwik Beng kembali berseru, mendahului dan mengejutkan Lu-ciangkun dan tentu saja pemuda itu menoleh, melihat sebuah buntalan di pelana Lu-ciangkun, yang tadi tak menjadi perhatiannya, Dan ketika Lu-ciangkun gemetar dan Cun Khing juga terkejut menggigil tubuhnya maka pemuda itu sudah berkelebat dan menyambar buntalan di atas pelana kuda ini.

"Cring!"

Suara itu cukup. Kiranya ribuan tail perak memang tersimpan di buntalan ini, Beng Tan sudah membukanya dan tentu saja alisnya berkerut, mukapun merah dan mengeluhlah komandan Lu itu. Dan ketika dia ditanya dari mana uang sebanyak itu dan bagaimana dalam menjalankan tugasnya komandan ini membawa-bawa uang segala maka dia mengaku dan lemaslah hatinya, jatuh mendeprok dan Cun Khing pun pucat. Sekarang laki-laki ini tak dapat berkutik karena yang bersangkutan sendiri sudah mengaku, tak mungkin lagi dia berbohong. Dan ketika pemuda itu memandangnya dan sinar matanya tajam menyambar maka Beng Tan membentak dan marah menarik Lu-ciangkun.

"Heh, beginikah perbuatanmu sebagai aparat negara, Lu-ciangkun? Kau kena sogok dan makan suap?"

"Ampun... ampun... aku tak akan mengulanginya, kongcu. Aku salah..!"

"Hm, mengaku salah tidaklah cukup, ciangkun. Aku harus melapor pada atasanmu agar kau dihukum. Dan kau..!" pemuda itu menunjuk Cun Khing. "Kau akan kuserahkan pada So-goanswe (jenderal So), orang she Cun. Lu-ciangkun tak dapat kupercaya memberikan hukuman setimpal untukmu. Kau dan orang-orangmu tak boleh lagi tinggal di Li-poh!"

Dan ketika laki-laki itu pucat dan mengangguk-angguk maka hari itu pemuda ini memerintahkan pasukan menangkap Lu-ciangkun, aneh dan lucu karena anak buah tiba-tiba menangkap pemimpinnya! Tapi karena pemuda itu jelas orang yang lebih tinggi tingkatnya dan kepandaiannyapun juga luar biasa, maka Lu-ciangkun yang sial lalu ditangkap dan diserahkan kepada atasannya, jenderal So atau So-goanswe dan pemimpin barongsai biru itupun juga dihukum. Cun Khing dan anak buahnya jelas bersalah, melakukan kecurangan.

Dan, ketika hari itu Li-poh digegerkan oleh pemuda ini maka nama Ju Beng Tan dikenal orang sebagai utusan atau paling tidak orang dekat dengan kaisar, ditakuti dan tentu saja Li-poh gempar. Kota yang tidak seberapa besar itu ternyata didatangi utusan kaisar, Lu-ciangkun sebagai komandan malah kena hukum! Dan ketika hari itu juga pemuda ini membereskan orang-orang itu dan pendukung barongsai biru otomatis ngacir maka Kwik Beng, pemimpin barongsai merah berulang-ulang mengucapkan terima kasihnya pada Beng Tan.

"Terima kasih. Tanpa kau barangkali kami tinggal nama, kongcu. Terima kasih dan mari mampir di rumahku!"

"Hm, tak usah," Beng Tan tersenyum. "Aku datang memang sengaja melihat-lihat, Kwik-twako, membersihkan daerah dari kejahatan orang-orang macam barongsai biru itu!"

"Dan kongcu hebat sekali. Maaf kalau tadi aku merendahkanmu, kongcu. Aku tak tahu bahwa kau demikian lihai!"

"Sudahlah, aku sudah bertemu So-goanswe, twako. Sekarang aku harus pergi dan meninjau daerah lain!"

Kwik Beng hendak mencegah. Tapi belum dia membuka mulutnya tiba-tiba pemuda itu berkelebat dan lenyap, begitu luar biasa dan laki-laki ini tertegun. Untuk kesekian kalinya dia dibuat bengong. Tapi begitu si pemuda lenyap dan orang-orang di belakangnya kagum maka mereka mendecak dan memuji,

"Hebat, Ju-kongcu itu luar biasa sekali. Aih, kalau tak ada dia tentu keramaian ini sudah banjir darah!"

"Benar," yang lain menimpali. "Pemuda itu hebat sekali, A-siok, dan tampan!"

"Hm, kalau saja aku punya anak gadis cantik!" yang lain menyambung, bersinar-sinar. "Tentu kubujuk dia untuk bertandang, Akan, Sayang aku sebatangkara dan sudah tua!"

Begitulah, nama pemuda itu dikagumi banyak orang dan disebut-sebut. Sebagai pemuda lihai yang berkepandaian tinggi tentu saja banyak orang tertarik padanya, apalagi setelah dikenal sebagai utusan kaisar, entah khusus atau tidak. Dan ketika hari itu semua orang memuji pemuda ini sementara Cun Khing dan teman-temannya menggigit jari maka Beng Tan sendiri sudah lenyap meninggalkan Li-poh.

* * * * * * *

"Berhenti dulu, sobat. Terangkan apakah benar kau datang dari Li-poh!"

Beng Tan berhenti. Dia sedang memasuki hutan ketika terdengar bentakan atau seruan nyaring itu, seruan atau bentakan seorang wanita cantik. Dan ketika pemuda ini berhenti dan menoleh ke belakang maka sesosok bayangan ramping berkelebat datang dan sudah berdiri di depannya, seorang wanita cantik yang membawa payung.

"Kau siapa?" Beng Tan heran, tergetar. "Kenapa menghentikan aku?"

"Hi-hik, aku Eng Hwa, Li Eng Hwa. Menghentikan perjalananmu karena tertarik mendengar cerita tentangmu. Apakah kau yang dari Li-poh?"

"Hm, benar," Beng Tan mengangguk, semakin heran lagi "Ada apakah, nona? Kukira kita tak saling kenal-mengenal!"

"Hi-hik, salah. Sekarang kita sudah kenal-mengenal, kongcu. Dan untuk lebih mengenal lagi coba kau terima seranganku... siutt!" gadis atau wanita itu tiba-tiba berkelebat ke depan, mengayun tangan kirinya dan menyambarlah serangkum angin dingin ke muka Beng Tan.

Beng Tan jadi terkejut dan tentu saja mengelak. Tapi ketika dia berkelit dan lawan mengejar tiba-tiba tangan satunya bergerak dan sebuah tamparan mengenai pundak pemuda ini. "Plak!" Beng Tan terkejut. Dia cepat mengerahkan sinkangnya dan lawan terpekik, tamparan itu mental dan telapak Eng Hwa melepuh! Dan ketika wanita itu terkejut dan tentu saja marah tiba-tiba wanita ini telah menggerakkan tubuhnya dan bertubi-tubi menyerang pemuda itu, payung dikempit di bawah ketiak dan Beng Tan terbelalak. Wanita itu berkelebatan mengelilingi tubuhnya dan lenyap dengan serangan-serangan yang cepat. Pemuda ini jadi penasaran dan gemas juga. Dan ketika sebuah pukulan akhirnya diterima tangan kirinya dan Beng Tan mengerahkan sinkang menyedot maka lawan menjerit ketika telapaknya tertempel!

"Aih!" wanita itu terpekik. "Hebat, kongcu. Tapi lepaskanlah... dess!"

Beng Tan menerima sebuah tendangan, tidak bersungguh-sungguh dan sudah melepaskan telapak lawan. Eng Hwa atau wanita cantik itu tampak pucat memandangnya. Dan ketika Beng Tan tersenyum namun lawan membentak lagi tiba-tiba wanita itu mencabut payungnya dan berkelebatan lagi menusuk dan menotok.

"Hei... hei!" Beng Tan jadi berlompatan ke sana-sini. "Tahan, nona. Tahan dulu. Aku ingin bicara!"

"Nanti saja!" wanita itu melengking. "Hadapi semua serangan-seranganku, kongcu. Dan robohkan aku baru kita bicara!"

"Eh!" Beng Tan jadi heran. "Kenapa begini? Kenapa harus bertempur?"

"Tak perlu banyak cakap. Kau robohkan aku atau aku yang akan merobohkan-mu!" dan si cantik yang kembali menggerakkan payungnya dengan gesit dan lin-cah tiba-tiba hampir menusuk mata Beng Tan ketika mengelak ke kiri, untung cepat ditampar dan payung pun mental. Beng Tan mengerahkan sinkangnya dan lagi-lagi untuk kesekian kali lawan terpekik, tangannya linu dan payung itupun tertolak balik, hampir mengenai muka sendiri.

Namun ketika dia mendesak dan pukulan demi pukulan silih berganti mendesak pemuda ini ternyata Beng Tan mampu bertahan, bahkan demikian baiknya karena tak lama kemudian angin pukulan pemuda itu sudah mampu mendorong payung, sebelum senjata itu mendekat! Dan ketika si wanita terkejut dan marah mempercepat gerakannya tiba-tiba Beng Tan berseru bahwa dia akan menyudahi perkelahian ini, yang dinilainya tak beralasan.

"Cukup, sekarang kita berhenti!"

Wanita cantik itu mengeluh. Beng Tan menyambar dan mencengkeram payungnya, kena dan tiba-tiba dibetot. Dan ketika dia tertarik ke depan dan kaget serta mau bertahan mendadak jari pemuda itu bergerak dan sebuah totokan mengenai pundaknya.

"Tuk!"

Robohlah wanita ini. Eng Hwa mendesis namun kagum memandang pemuda itu, matanya bersinar-sinar dan tertawa Aneh! Dan ketika Beng Tan heran dan menganggap wanita ini gila tiba-tiba berkelebat lagi sesosok bayangan dan seorang laki-laki muda tiba-tiba menyerangnya.

"Sobat, kau hebat. Tapi coba dulu seranganku dan lihatlah.. wutt!" sebuah ikat pinggang menyambar ganas, meledak di sisi telinga pemuda ini ketika Beng Tan membungkuk, maksudnya mau membebaskan totokan tapi tentu saja tidak jadi, mengelak dan melempar tubuh ke kiri. Dan ketika di situ berdiri seorang laki-laki muda yang tampan namun matanya mengeluarkan minyak maka Beng Tan sudah diserang dan dihujani sambaran ikat-pinggang ini.

"Ha-ha, kenalkan. Aku Bhok Li, sobat. Jaga ikat-pinggangku dan berhati-hatilah ... tar!" sebuah ledakan akhirnya mengenai juga pundak Beng Tan, lihai menyambar namun pemuda ini mengerahkan sinkangnya. Senjata lawan terpental dan lawan terkejut, berseru keras dan menyerang lagi. Dan ketika ikat-pinggang kembali meledak-ledak namun Beng Tan dapat mengelak atau menangkis akhirnya lawan terbelalak karena tak satupun serangannya dapat merobohkan pemuda itu.

"Hebat!" serunya. "Kau hebat, anak muda. Tapi coba terima pukulan-pukulanku ini!" laki-laki itu menggerakkan tangan kirinya, mengiringi ledakan ikat pinggang namun Beng Tan menolak semua pukulannya itu. Dengan tangan kirinya pula pemuda ini menghalau pukulan lawan, yang berhawa panas dan menyambar-nyambar mengiringi serangan ikat-pinggang. Dan ketika sebuah pukulan akhirnya bertemu tamparan pemuda ini maka Beng Tan membentak dan lawanpun terpelanting.

"Cukup!" Beng Tan berseru. "Hentikan main-main ini, sobat. Dan katakan apa artinya ini!"

"Ha-ha, belum puas!" lawan meloncat bangun, menerjang lagi. "Robohkan aku, anak muda. Atau aku yang akan merobohkanmu dan baru kita bicara!"

Terpaksa, karena Bhok Li atau laki-laki muda itu tak mau menghentikan serangannya dan baru berhenti kalau sudah dirobohkan maka Beng Tan membentak dan menggerakkan kedua tangannya, jari menampar dan ikat-pinggang pun mencelat, lawan terpekik namun tangan kirinya menyambar, melepas sebuah pukulan amis. Namun ketika Beng Tan menangkis dan pukulan itu diterima akhirnya lawan terbanting dan roboh terguling-guling.

"Dess!"

Berakhirlah pertandingan ini. Beng Tan telah menyambar dan merampas ikat-pinggang, lawan telah bergulingan melompat bangun, kaget di sana. Leber bajunya sobek dan sebuah titik hitam tampak di lehernya itu, totokan yang tidak diteruskan Beng Tan karena lawan dapat roboh tak bernyawa, hal yang membuat laki-laki itu terkejut, tahu bahwa Beng Tan bermurah hati. Maka ketika dia sadar dan pucat tertawa menyeringai maka Bhok Li, laki-laki ini menjura.

"Bagus, terima kasih, sobat yang lihai. Sekarang aku dan temanku benar-benar menyerah kalah!"

"Hm, siapa kau?"

"Aku Bhok Li, Bhok-kongcu!"

"Ah, Hi-ngok (Si Hidung Belang)?"

"Ha-ha, orang yang tak senang padaku menjulukiku begitu, sobat yang lihai. Tapi sebenarnya aku bukan pemuda hidung belang!"

"Hm!" dengus atau suara dari hidung itu tiba-tiba tidak ramah. "Ada apa kau menggangguku di sini, Bhok-kongcu? Dan apakah dia temanmu?"

"Benar, dia Mao-siao Mo-li Li Eng Hwa, sobat lihai. Dan maksud kami mengganggumu adalah ingin mencoba ilmu kepandaianmu apakah pantas berhadapan dengan Golok Maut!"

Beng Tan mengerutkan kening. Mendengar bahwa dua orang ini ternyata adalah si Hidung Belang Bhok-kongcu dan itu adalah Mao-siao Mo-li si wanita cabul tiba-tiba dia tidak bersahabat lagi. Dua orang ini adalah orang-orang yang dikenalnya sebagai orang-orang sesat, tidak bernama harum. Tapi mendengar disebutnya nama Golok Maut dan lawan rupanya ada maksud dengan itu maka pemuda ini bergerak dan totokan Eng Hwa alias Mao-siao Mo-li dibebaskan.

"Aku tak mengerti," katanya. "Apa hubungannya Golok Maut dengan aku? Apa maksud kalian?"

"Ha-ha, maksudnya minta tolong, sobat yang lihai. Golok Maut telah merobohkan kami dan menghina banyak orang!"

"Benar," Eng Hwa, si Siluman Kucing menimpali, terkekeh dengan kerlingnya yang tajam menyambar, penuh daya pikat. "Golok Maut sombong sekali dengan menantang semua orang pandai, kongcu. Dan kami serta kawan-kawan terus terang saja ingin mencari bantuan dan meminta tolong yang dapat mengalahkan Golok Maut itu!"

"Hm, aku pribadi memang juga hendak mencari Golok Maut, tapi bukan dalam bantuannya kepada kalian, orang-orang sesat!"

"Ah, kami bukan orang-orang sesat, kongcu. Orang yang tak senang kepada kami saja yang menamakan kami begitu!"

"Tapi nama kalian kudengar tidak sedap, Dan tadi itu, bukankah Ang-tok-kang (Pukulan Racun Merah)?" Beng Tan memandang Bhok-kongcu. "Ilmu silat kalian jelas ilmu silat kotor, Bhok-kongcu. Aku tak suka dan sebaiknya kalian tak usah meminta tolong aku!"

"Sombong!" Bhok-kongcu tiba-tiba marah. "Meskipun kau lihai tapi belum tentu dapat mengalahkan kami berdua, anak muda. Coba kau hadapi kami dan lihat apakah ilmu silat kami berdua tak dapat dipakai merobohkanmu!" dan Bhok Li yng sudah membentak dan mengajak temannya menyerang tiba-tiba mengambil ikat-pinggang barunya dan menerjang ke depan, marah karena Beng Tan dinilai menghina.

Pemuda itu memang dapat merobohkan mereka, satu persatu, belum tentu kalau dikeroyok berbareng. Dan karena Mao-siao Mo-li Li Eng Hwa juga marah dan mengerutkan kening mendengar kata-kata Beng Tan tiba-tiba wanita cantik inipun mengangguk, berseru keras menyambar payungnya dan bergeraklah dua orang itu mengeroyok Beng Tan. Pemuda ini hendak diuji apakah dapat mengalahkan lawannya berbareng, seperti yang dulu dilakukan Golok Maut. Dan ketika Beng Tan mengelak sana-sini dan pemuda ini berseru marah maka Beng Tan tak senang membentak lawannya,

"Orang she Bhok, sebaiknya jangan disamakan aku dengan Golok Maut. Kalian pergilah, atau aku terpaksa menghajar!"

"Ha-ha, cobalah, anak muda sombong. Kalau kau dapat menghajar dan mengalahkan kami berdua seperti dulu Golok Maut juga mengalahkan kami maka pantas kiranya hajaran itu. Hayo, hajar dan robohkan kami!"

Beng Tan gemas. "Kalian masih juga mau menyamakan aku dengan Golok Maut? Kalau aku merobohkan kalian bukan karena ingin diadu, Bhok-kongcu, melainkan semata menghajar kalian yang tidak punya adat... plak-dess!" dan pukulan atau tamparan Beng Tan yang mulai bekerja menghalau payung atau ikat-pinggang akhirnya membuat Mao-siao Mo-li maupun temannya berseru kaget, terpental dan hampir mengenai muka sendiri dan tentu saja mereka terkejut. Lawan hanya bertangan kosong sementara mereka bersenjata.

Dan ketika Bhok-kongcu berseru nyaring mempercepat gerakannya tiba-tiba Mao-siao Mo-li juga membentak dan mengerahkan ginkangnya, berkelebatan cepat mengelilingi pemuda itu dan menyambarlah dari mana-mana hujan serangan atau pukulan. Bhok-kongcu menggerakkan tangan kirinya melakukan pukulan-pukulan Ang-tok-kang, pukulan yang berbau amis dan tadi sudah dicium oleh Beng Tan, yang tentu saja mengerutkan alisnya dan semakin tidak senang. Dan ketika payung di tangan Mao-siao Mo-li juga menyambar-nyambar dalam tusukan atau totokan maka Beng Tan berkelebat lenyap mengeluarkan kepandaiannya, mengejutkan lawan.

"Kalian manusia-manusia tak tahu diri!"

Bhok-kongcu dan Mao-siao Mo-li terkejut. Lawan tiba-tiba menghilang, begitu cepat, begitu luar biasa. Dan ketika mereka terbelalak dan tertegun tak tahu lawan di mana mendadak sebuah tamparan mendarat di masing-masing pelipis dua orang itu.

"Robohlah, orang-orang sesat, dan pergilah... plak-plakk!"

Mao-siao Mo-li dan Bhok-kongcu menjerit. Mereka terpelanting dan jatuh terguling-guling, kelengar. Bumi rasanya berada di atas dan kepala mereka pening. Tamparan itu begitu kuat hingga payung maupun ikat-pinggang terlepas dari tangan mereka. Dan ketika dua orang itu mengaduh dan tak dapat bangun maka Beng Tan berkelebat lenyap dan berseru dari jauh,

"Nah, sekarang aku sudah merobohkan kalian, Bhok-kongcu. Lain kali kalau tetap mengganggu tentu kalian kubunuh!"

"Aduh, keparat. Jahanam bedebah...!" Bhok-kongcu hampir tak dapat bangun. "Dia lihai, Mao-siao Mo-li, namun sayang tak dapat membantu kita!"

"Benar," Mao-siao Mo-li, yang juga merintih di sana mengeluh. "Dia lihai, orang she Bhok. Dan barangkali kita harus memaksanya bersama teman-teman kita yang lain!"

"Tapi dia akan membunuh kita!" Bhok-kongcu ngeri. "Apakah kau tidak dengar ancamannya tadi?"

"Ah, pemuda macam begitu tak gampang membunuh, Bhok Li. Dia berhati lemah dan tanggung tak akan membunuh kita!"

"Keparat, tapi sekarang aku tak dapat bangun! Apakah kau dapat bangun, Siluman Kucing? Heh, kau tidak mau membantu aku?"

"Membantu hidungmu! Berdiri saja susah, orang she Bhok. Lebih baik kau jangan cuap-cuap dan biarkan aku menghilangkan pusingku!"

Ternyata Siluman Kucing ini juga pening. Dihajar dan dirobohkan pemuda lihai itu dia tak dapat bangun, sama seperti temannya. Dan ketika di sana Bhok Li tertawa menyeringai dan girang bahwa dia tidak sendirian maka Beng Tan, yang sudah meninggalkan dua orang ini jauh di luar hutan melenggang dengan santai setelah sedikit mendongkol menghadapi gangguan Bhok-kongcu dan Siluman Kucing itu.

Pemuda ini tersenyum mengejek. Diam-diam dia geli bahwa dua orang sesat itu telah menerima hajarannya, mereka tak mungkin berani lagi mengganggunya kalau tidak ada sesuatu yang lain. Tapi ketika dia tersenyum-senyum dan geli membayangkan dua orang itu tiba-tiba muncul dua penunggang keledai yang menghadang jalannya.

"Heh, kau yang baru merobohkan Hi-ngok Bhok-kongcu, anak muda? Kau yang mengalahkan Siluman Kucing?"

Beng Tan terkejut, seketika berhenti. "Kalian siapakah? Tampaknya bukan orang sini!" Beng Tan mengerutkan kening, melihat bahwa dua laki-laki di atas keledai itu adalah orang-orang berkulit hitam yang hidungnya mancung, seperti bangsa Hindia dan tentu saja dia heran, berhenti dan bertanya. Dan ketika dua orang itu tertawa dan menjepit perut keledainya tiba-tiba binatang itu terlonjak dan meloncat ke depan, hampir menubruk Beng Tan.

"Hei!" Beng Tan marah. "Hati-hati, kakek ceroboh. Keledai mu hampir menubruk aku!"

"Ha-ha!" kakek di sebelah kiri, yang bersinar-sinar memandang pemuda itu tiba-tiba mengangkat lengannya, mendorong. "Kami tanya kau belum menjawab, anak muda. Apakah betul kau yang merobohkan Bhok-kongcu dan Siluman Kucing.. wherrr!" angin pukulan dahsyat menyambar, tahu-tahu mengangkat naik tubuh pemuda itu dan Beng Tan berseru keras. Ia sudah terangkat tanpa tahu bahwa dirinya diserang, kakek itu licik.

Tapi ketika Beng Tan membentak dan mengerahkan ilmunya tiba-tiba tubuh pemuda ini menjadi berat dan pemuda itu kembali turun ke tanah, meluncur ringan namun sudah menancap kuat, kakinya tak bergeming dan kakek itu berseru tertahan. Dia telah menyerang pemuda ini tetapi gagal, Beng Tan telah mengerahkan Jing-kin-kangnya (Tenaga Seribu Kati) dan tubuh pemuda itu anjlog ke bawah, tak lagi bergeming. Dan ketika kakek satunya juga berseru perlahan dan terbelalak memandang Beng Tan maka pemuda ini tahu bahwa dia berhadapan dengan dua kakek lihai dari Thian-tok (India).

"Kakek siluman, kenapa kau menyerang aku?" Beng Tan tentu saja marah, tak lagi menghormat dua orang itu karena kakek-kakek ini dinilainya keterlaluan. Dia diserang tanpa diberi tahu. Kalau dia tidak memiliki Jing-kin-kang dan terangkat ke atas tentu dia sudah terbanting dan mendapat malu.

"Ha-ha!" kakek di sebelah kiri, yang tadi menyerang tertawa, aneh suaranya, serak namun menggetarkan. "Kau hebat, anak muda. Tapi kau benar. Kami akan menyerangmu kalau kau tidak menjawab pertanyaan kami!"

"Pertanyaan apa?"

"Itu tadi, apakah benar kau yang merobohkan Bhok-kongcu dan Siluman Kucing!"

"Benar," Beng Tan mendongkol. "Mereka menggangguku, kakek buruk. Dan aku akan merobohkan siapa saja yang berani menggangguku pula!" dengan perkataan ini Beng Tan hendak memberi tahu dua orang kakek itu, bahwa dia mungkin juga akan merobohkan dua kakek itu kalau mereka kurang ajar, coba-coba mengganggunya, hal yang tentu saja dimengerti dua orang itu dan kakek di sebelah kiri maupun kanan tertawa bergelak.

Suara mereka tinggi menggetarkan dan diam-diam Beng Tan kaget, harus mengerahkan sinkangnya kalau isi dada tak ingin rontok! Dan ketika dua kakek itu berhenti tertawa dan mereka menghentak kedua kaki tiba-tiba kakek di sebelah kanan kini maju mengitari.

"Ha-ha, kau gagah, tetapi sombong! Eh, terus terang kami ingin mengganggumu, anak muda. Tapi sebutkan dulu siapa namamu dan dari perguruan mana!"

"Aku Beng Tan, bukan dari perguruan mana-mana. Sekarang sebutkan siapa kalian dan mau apa menghadang di sini!"

"Kami tertarik melihat kepandaianmu, terus terang ingin mengajakmu bertanding!"

"Apa?"

"Benar, kami ingin main-main denganmu, anak muda. Kami selalu tertarik melihat orang lihai!"

"Seperti Golok Maut!" kakek di sebelah kiri menyahut, cepat dan mengejutkan. "Kami penasaran tak menemukan Golok Maut, bocah. Maka kebetulan kau dapat sebagai penggantinya karena kami lihat kaupun cukup lihai!"

"Gila!" Beng Tan membentak. "Aku tak mau berkelahi tanpa alasan yang cukup, kakek siluman. Kalian sebaiknya pergi atau aku yang pergi!" Beng Tan menggerakkan kakinya, berkelebat di sisi kakek sebelah kanan namun kakek itu tiba-tiba tertawa. Beng Tan yang berkelebat tahu-tahu sudah disambut pukulan telapak tangannya, lebar menyambar dan Beng Tan terkejut. Telapak itu tahu-tahu sudah menghadang di mukanya dan tentu saja dia menangkis. Dan ketika dua pukulan mereka bertemu dan Beng Tan terpental mundur maka si kakek juga bergoyang-goyang di atas keledainya, nyaris jatuh!

"Ha-ha! Lihai, anak muda. Kau cukup lihai. Ayo maju lagi, jangan terburu-buru menyingkir!"

"Kalian gila!" Beng Tan menjadi marah. "Sebutkan nama kalian, kakek busuk. Dan baru setelah itu kupikir untuk merobohkan kalian!"

"Ha-ha, aku Mindra..."

"Dan aku Sudra!"

Beng Tan tertegun. Tiba-tiba dia teringat nama dua kakek sakti dari Thian-tok, dua orang terkenal yang mendapat sebutan Nehikha (Tidak Aturan), dua kakek yang sepak terjangnya memang seenak perut sendiri, tidak memperdulikan tata-aturan atau tata-krama. Dua orang ini berasal dari sebelah barat Nepal dan berdiam di satu dari sekian banyak puncak-puncak bersalju dari Himalaya, dikabarkan hebat dan ilmu kepandaiannya tinggi, tadi sudah dia rasakan meskipun sedikit, belum semua. Maka mengerutkan kening teringat nama ini tiba-tiba Beng Tan bertanya,

"Kalian yang mendapat julukan Nehikha dari Thian-tok?"

"Aha, kau kenal?" kakek itu bahkan gembira. "Benar, kami orangnya, anak muda. Dan sebutkan sekarang siapa namamu!"

"Aku Beng Tan!" Beng Tan terkejut. "Kiranya benar kalian dan tidak aneh kalau kini kalian menggangguku. Hm, kalian memang berjuluk Tidak Aturan, kakek buruk. Kalau begitu aku tidak heran dan boleh kita main-main sebentar. Turunlah, rupanya kita harus bertanding!"

"Ha-ha, siapa yang kau pilih?"

"Lebih baik kalian maju berbareng, agar cepat selesai!"

"Apa?" jawaban Beng Tan disambut mata yang melotot. "Kau minta kami maju berbareng? Heh, biar aku dulu yang coba-coba denganmu, bocah sombong. Dan kau menarilah di situ... tar!" sebatang cambuk tiba-tiba menjeletar, meledak menuju mata Beng Tan dan pemuda ini terkejut. Cambuk itu cambuk baja yang tiba-tiba meluncur lurus, cepat dan berbahaya namun tentu saja dia mengelak. Dan ketika cambuk lewat di sisi kepalanya namun membalik bagai seekor ular maka Beng Tan mengebutkan ujung lengan bajunya dan sekaligus menampar. "Plak!"

Cambuk itu melenceng. Lihai dan cepat sekali Beng Tan telah menghalau serangan, lawan terpekik dan membelalakkan matanya. Dan ketika Beng Tan mengejek dan lawan melengking tiba-tiba tubuh kakek itu, Sudra, sudah melayang turun dari keledainya dan berkelebatan cepat mengelilingi dirinya, cambuk menyambar dan meledak-ledak dan diseranglah Beng Tan dari segala penjuru. Pemuda itu terpaksa berkelit dan mengerahkan ginkangnya, berkelebatan dan mengimbangi kecepatan lawan.

Tapi ketika si kakek melengking menambah kecepatannya maka apa boleh buat Beng Tan harus menangkis, menghalau dan menolak semua serangan lawan dan terkejutlah kakek itu ketika cambuknya terpental. Beng Tan mampu menolak setiap serangannya dengan kepretan jari tangan, atau kadang-kadang tamparan miring di mana senjatanya selalu membalik. Dan ketika kakek itu menggeram dan memaki namun kagum melihat kelihaian pemuda ini maka temannya, Mindra, berseru mengeluarkan pujian dan bertepuk tangan berulang-ulang.

"Bagus, aih, hebat sekali, anak muda. Bagus dan hebat sekali!"

Temannya naik pitam. Pujian Mindra kepada Beng Tan memang tak dibuat-buat. Sudra menjadi mendongkol dan marah sekali. Dan ketika pemuda itu selalu menolak balik setiap serangannya maka kakek ini tiba-tiba menggerakkan tangan kiri dan meluncurlah pukulan bersinar biru yang tidak diduga Beng Tan.

"Dar!"

Beng Tan terbanting. Untuk pertama kali dia dibuat terkejut dan kaget oleh pukulan itu, lawan tertawa dan dia bergulingan, dikejar, menerima lagi pukulan bersinar biru itu dan Beng Tan terkesiap. Tentu saja menggulingkan tubuh semakin cepat namun cambuk menjeletar. Dan karena senjata panjang itu mampu menjangkau jarak yang jauh dan Beng Tan terguling ketika terkena sengatan senjata ini maka lawan tertawa-tawa dan Beng Tan terdesak, untuk pertama kalinya berkeringat!

"Ha-ha, roboh kau, anak muda. Roboh!"

Beng Tan mengeluh. Selama ini dia belum membalas dan hanya bertangan kosong, lawan mendesak dan kini dibantu pukulan bersinar biru itu, yang bukan lain Hwi-seng-ciang (Pukulan Bintang Api), ilmu yang memang dipunyai dua orang Thian-tok ini di samping kepandaian mereka memainkan senjata. Maka begitu dia terdesak dan harus mundur-mundur maka Sudra mengejeknya dengan kata-kata memerahkan telinga.

"Ha-ha, kau belum setanding bila dibanding Golok Maut, anak muda. Aku mengira kau betul-betul lihai!"

"Tutup mulutmu, jangan sombong!" Beng Tan membentak. "Aku belum mengeluarkan senjataku, Sudra, tak usah kau besar mulut karena aku belum roboh!"

"Ha-ha, kalau begitu keluarkan senjatamu, cobalah... plak-dess!" dan Beng Tan yang harus menerima sebuah pukulan lagi tiba-tiba terlempar dan terbanting bergulingan,tadi lengah sekejap dan lawan mempergunakan kesempatan itu, melepas sebuah pukulan dan Beng Tan terlempar.

Pemuda ini mengeluh dan lawan mengejar, berkelebat dan ujung cambuk meledak menuju ulu hati, satu serangan yang berbahaya. Dan ketika itu masih ditambahi dengan dorongan tangan kiri yang melepas pukulan Bintang Api maka Beng Tan berseru keras mencabut sesuatu, langsung menangkis dan menggerakkan tangan kirinya.

"Cring-dess!"

Cambuk itu patah. Sebatang pedang pendek tiba-tiba sudah berada di tangan pemuda ini, pedang yang mengeluarkan cahaya berkeredep seperti matahari, sinarnya menyilaukan dan Sudra terpekik. Dan ketika pukulannya diterima tangan kiri Beng Tan yang mengeluarkan cahaya putih tiba-tiba sinar biru dari Hwi-seng-ciang lenyap dan punah.

"Pek-lui-ciang (Tangan Kilat)!" Sudra berseru, kaget terguling-guling dan kakek ini mencelos bagai disambar petir. Tadi Hwi-seng-ciangnya terbakar dan padam bertemu pukulan pemuda itu, yang berhawa lebih panas dan dia kalah kuat, langsung terbanting dan bergulingan. Dan ketika kakek itu meloncat bangun sementara cambuk bajanya putus dibabat pedang pendek maka Sudra terbelalak sementara Mindra bengong di sana, tak berkedip memandang pedang yang berkeredepan itu, mencorong dan mengeluarkan cahaya seperti matahari.

"Pek-jit-kiam (Pedang Matahari)!" Mindra kini mengeluarkan seruan, ganti terkejut memandang pemuda itu dan matanya lekat memandang pedang di tangan Beng Tan. Pedang itu pendek namun ampuhnya bukan main, mampu membuat putus cambuk baja temannya dan tiba-tiba kakek ini berjungkir balik, melayang turun dari keledainya. Dan ketika Sudra masih ngeri dan terkejut oleh Pek-lui-ciang maka Mindra, temannya, berkedip-kedip memandang Pek-jit-kiam, Pedang Matahari.

"Eh, kau siapa, anak muda? Dari mana kau dapatkan Pek-jit-kiam ini? Bukankah itu sebuah dari tujuh senjata pusaka dari dinasti Cou?"

"Hm, aku Beng Tan, orang tua, sudah kubilang dan kusebut namaku tadi!"

"Bukan, bukan itu! Maksudku kau siapakah apakah dari keluarga raja!"

"Tidak, aku orang biasa. Aku bukan turunan bangsawan dan rupanya tak perlu kau berpanjang lebar menanyakan perihal pribadiku.."

"Kalau begitu serahkan Pek-jit-kiam!" kakek itu tiba-tiba membentak, meluncur maju. "Serahkan pedang itu kepadaku, anak muda. Atau kau mampus kubunuh.. wirr!" tangan si kakek bergerak ke depan, mau merampas pedang tapi Beng Tan tentu saja mengelak. Dan ketika si kakek menggereng dan mencabut nenggalanya, senjata seperti tombak yang bermata dua tiba-tiba Mindra sudah menyuruh temannya mengeroyok.

"Sudra, bantu aku. Rampas pedang itu!"

Sudra terkejut. Tadi dia sedang bengong oleh pukulan Pek-lui-ciang, kini dibuat semakin bengong lagi oleh Pedang Matahari di tangan lawan. Bukan main, pikirnya, pemuda ini ternyata bukan pemuda sembarangan karena juga memiliki senjata pusaka, yang ampuhnya tak kalah dengan Golok Maut! Dan ketika temannya berteriak dan mengajak dia mengeroyok maka Sudra ragu-ragu tapi akhirnya mengangguk, memandang cambuk buntungnya dan tiba-tiba dia berseru keras.

Meskipun buntung namun cambuknya itu masih cukup panjang, bisa dipakai sebagai senjata. Maka begitu Mindra membentak dan dia diminta maju mengeroyok tiba-tiba kakek ini sudah bergerak dan berseru menerjang, tidak menunggu lagi dan Beng Tan dibuat terkejut. Nenggala di tangan Mindra tak kalah berbahaya dengan cambuk di tangan Sudra, kakek ini juga hebat. Tapi ketika Sudra maju mengeroyok dan dua kakek itu bergerak di kiri kanan tiba-tiba Beng Tan membentak dan pedang di tangannya berputar dua kali.

"Cring-crangg!"

Nenggala dan cambuk lagi-lagi buntung! Mindra berseru kaget sementara Sudra berteriak tertahan. Sebenarnya mereka tadi sudah menarik senjata namun kalah cepat, Pedang Matahari sudah membabat senjata mereka dan bergujinganlah mereka ketika pedang itu mengejar, terpaksa membanting tubuh menjauh dan tentu saja mereka pucat. Pedang mendesing dan rambut mereka terbabat, tidak banyak namun cukup membuat nyali menciut, gentar! Namun karena dua orang kakek lihai ini adalah orang-orang yang suka berkelahi dan dulu Golok Maut dipaksa melayani mereka habis-habisan maka mereka sudah meloncat bangun dan menyerang lagi, tidak takut dan Beng Tan mau tak mau merasa kagum juga. Dua orang ini adalah kakek-kakek yang doyan berkelahi, dia sudah mendengar tentang itu.

Tapi karena tak mau dirinya diganggu dan apa boleh buat dia harus mengeluarkan kepandaiannya maka bergeraklah Beng Tan dengan pedang menyambar-nyambar, kian lama kian cepat dan dia selalu mendahului dua orang itu. Mindra dan Sudra terkejut karena Pedang Matahari tiba-tiba sudah mengelilingi mereka, berseliweran naik turun dan sibuklah dua orang itu mengelak sana-sini. Mereka jadi takut mengadu senjata karena jelas kalah, persis seperti Golok Maut dulu! Dan ketika mereka mengumpat caci dan tentu saja harus mengelak atau menjauhi gerakan pedang maka akibatnya mereka tak dapat membalas, mati kutu.

"Keparat, pergunakan Hwi-seng-ciang, Sudra. Kita gabung dan serang pemuda itu dari bawah!" Mindra, yang bersenjata nenggala berteriak gusar. Dia mempergunakan bahasanya sendiri hingga Beng Tan tidak mengerti, tak tahu apa yang dipercakapkan. Tapi ketika lawan bergulingan di bawah dan dari bawah mereka melakukan pukulan-pukulan Hwi-seng-ciang maka pemuda ini terkejut dan terbelalak.

"Des-dess!"

Beng Tan sibuk. Dikeroyok dan harus menghadapi lawan yang melakukan serangan dari bawah cukup merepotkan juga. Dia menggerakkan tangan kiri dan meluncurlah tamparan Pek-lui-ciang. Tapi karena lawan berjumlah dua orang dan mereka dapat bergerak berbareng maka pukulannya kurang mengena karena harus dibagi, dielak Sudra sementara Mindra mendesaknya dengan Hwi-seng-ciang. Beng Tan tergetar namun tidak roboh. Dan ketika apa boleh buat pedangnya harus membantu dan dua orang itu berteriak maka Beng Tan dapat memperbaiki dirinya lagi dan desakan dua orang itu gagal.

"Keparat, kau benar-benar lihai, anak muda. Tapi kami pantang menyerah!"

Beng Tan mendongkol. Kalau dua orang ini terus menyerang dan nekat tak tahu diri maka dia harus memberi pelajaran dan merobohkannya, meskipun di antara mereka tak ada permusuhan serius. Maka ketika lawan melengking dan kembali bergulingan mendadak Beng Tan membanting tubuh ke bawah dan... menyambut mereka dengan cara bergulingan pula.

"Heii...!"

"Hayaa...!"

Dua orang itu terpekik. Dengan cara bergulingan disambut dengan bergulingan pula maka maksud atau serangan dua kakek ini patah. Beng Tan melayaninya pula di bawah dan mereka beradu muka, tak ada waktu mengelak ketika Jit-seng-kiam maupun Pek-lui-ciang menyambar. Mereka terpaksa menangkis dan putuslah senjata nenggala ketika bertemu Jit-seng-kiam, Pedang Matahari yang ampuh itu. Dan ketika Sudra di sana juga menjerit karena cambuknya putus maka pedang di tangan Beng Tan berkelebat dua kali mengenai pundak dua orang lawannya itu.

"Bret-cret!"

Mindra dan temannya mengeluh. Mereka melompat bangun dengan pucat, pundak mereka berdarah. Beng Tan telah melukai mereka dengan goresan memanjang, tentu saja mereka menggigil, terhuyung. Dan ketika pemuda itu berdiri tegak dan Jit-seng-kiam telah menghilang di belakang punggung pemuda ini maka Beng Tan berkata,

"Cukup, kalian harus tahu diri, Mindra. Aku telah melukai pundak kalian bukannya leher. Kalau aku telengas tentu kalian tinggal nama!"

"Ooh!" Mindra terhuyung memaki. "Kau mengandalkan pedang ampuhmu, bocah. Kau seperti Golok Maut. Licik!"

"Hm, yang licik adalah kau, Mindra. Kau menyerang orang yang bertangan kosong dengan senjata!"

Dua kakek itu memaki-maki. Baik Mindra maupun Sudra rupanya tak puas, masih penasaran. Tapi ketika Beng Tan membentak mereka dan akan mencabut Jit-seng-kiamnya lagi tiba-tiba dua orang kakek itu berkelebat dan berjungkir balik di atas keledainya, melarikan diri.

"Baiklah, kau menang, bocah. Tapi lain kali kami akan datang dengan membawa senjata yang lebih baik!"

Beng Tan tersenyum. Kalau dua kakek itu masih tak tahu diri tentu dia akan bersikap lebih keras, bukan lagi melukai pundak namun barangkali harus membuntungi tangan atau kaki mereka, hal yang sebenarnya tak tega dilakukan kalau tidak terpaksa. Maka begitu lawan ngacir pergi dan Beng Tan lega maka pemuda inipun tersenyum dan melanjutkan langkahnya, mencari Golok Maut dan semakin tertarik mendengar nama ini. Sebenarnya dia memiliki tugas rahasia, tugas yang orang lain tidak mengetahui. Maka begitu dia menggerakkan kakinya dan tersenyum memandang larinya dua kakek lihai itu Beng Tanpun sudah meninggalkan hutan dan keluar dari tempat itu.

* * * * * * *

Hek-yan-pang (Perkumpulan Walet Hitam). Perkumpulan ini adalah perkumpulan yang anggautanya terdiri dari para wanita, tak ada laki-laki di situ dan tabu bagi perkumpulan ini kalau markasnya dimasuki lelaki. Dan karena perkumpulan ini berdiri di atas sebuah pulau kecil di sebuah telaga yang besar maka tak ada orang yang dapat memasuki perkumpulan itu tanpa diketahui penjaga, murid-murid Hek-yan-pang yang rata-rata cantik dan muda.

Hek-yan-cu (Si Walet Hitam) adalah ketua atau pemimpin Hek-yan-pang, masih muda dan cantik namun ilmu kepandaiannya tinggi. Tak ada yang berani coba-coba mengganggu perkumpulan itu kalau tak ingin menerima pil pahit. Dan karena perkumpulan ini berdiri di atas sebuah pulau kecil di mana tak sembarang orang dapat masuk maka agaklah aneh kalau hari itu serombongan tamu memasuki wilayah perkumpulan ini, sebagian besar lelaki!

"Stop, dilarang masuk!" begitu tujuh orang murid wanita Hek-yan-pang melon-cat menghadang, ketika melihat rombongan ini. Dan ketika mereka bertolak pinggang dan rombongan laki-laki itu tertegun karena semua murid-murid Hek-yan-pang ini mengenakan saputangan hitam, sebagai penutup wajahnya, maka pemimpin rombongan, seorang laki-laki berpakaian biru menjura.

"Maaf, kami dari kota raja, nona, utusan. Ingin bertemu Hek-yan-cu dan to-long beritahukan bahwa kami adalah utusan Ci-ongya!"

"Hm, Ci-ongya siapa? Wilayah Hek-yan-pang tak boleh dimasuki laki-laki, sobat. Tabu bagi kami laki-laki menginjak wilayah ini. Kalian rupanya tak tahu, boleh dimaafkan. Sekarang pergilah dan orang yang kalian cari kebetulan tak ada!"

"Kami membawa perintah penting!"

"Tak perduli. Hek-yan-pang tak dapat didatangi atau ditemui sesuka hati, sobat. Pangcu (ketua) tak ada di rumah karena kebetulan sedang pergi!"

Laki-laki itu mengerutkan kening. Dia adalah pemimpin rombongan dan rupanya baru kali ini tahu bahwa Hek-yan-pang adalah perkumpulan yang anggautanya terdiri dari wanita semua, karena penyambutnya itu adalah wanita-wanita, tentu gadis-gadis muda karena suaranya bening dan nyaring, juga merdu, tentu cantik. Seharusnya luwes dan ramah. Maka penasaran dan bersinar-sinar memandang tajam laki-laki itu berkata, sekali lagi,

"Maaf, kami membawa urusan yang betul-betul penting, nona. Kalau begitu apakah kami dapat menemui wakilnya?"

"Hm, kalaupun ada tapi kalian tak dapat menemuinya, orang nekat. Hek-yan-pang tak boleh didatangi laki-laki dan pantang bertemu laki-laki!"

"Tapi kalian telah menemui kami!"

"Itu lain. Kalian pendatang jauh, belum tahu aturan!"

"Hm," laki-laki ini, yang tiba-tiba menoleh ke belakang memandang seorang pemuda. "Bagaimana, siauw-ya? Apakah kita mendesak atau pulang?"

"Kita sudah di sini, tentu tak akan pulang dengan tangan hampa!"

"Nah," laki-laki itu, yang membalik lagi sudah menghadapi penyambutnya. "Ci-kongcu tak menghendaki kami pergi, nona. Perkenalkan bahwa dia adalah putera Ci-ongya, Ci Kiang..."

"Paman!" pemuda itu berseru. "Kenapa menyebut namaku di sini? Bekuk atau tangkap dia, paman. Dan kita ke pulau sambil meminta maaf!"

"Srat!" tujuh pedang tiba-tiba dicabut, hampir serentak. "Kalian mau membuat onar? Berani hendak menangkap tuan rumah di wilayahnya sendiri? Keparat, serang mereka, Hoa-ji, usir dan lempar orang-orang ini!" dan gadis atau murid penyambut yang rupanya gusar mendengar kata-kata si pemuda mendadak sudah melengking dan berkelebat dengan pedangnya, membacok dan menusuk dan yang diserang adalah pemuda itu.

Gadis atau murid Hek-yan-pang ini rupanya tak tergetar oleh ketampanan si pemuda, pedangnya bergerak sementara enam temannya yang lain juga membentak marah. Mereka tersinggung dan gusar oleh kata-kata pemuda itu. Tapi ketika pedang berkelebatan dan semua menyerang rombongan itu tiba-tiba laki-laki berpakaian biru sudah melindungi pemuda ini sementara teman-temannya yang lain menangkis.

"Tahan... cring-crang!"

Pedang terpental balik. Tadi dengan kebutannya laki-laki berpakaian biru ini telah menolak pedang lawannya, yang lain-lain juga menangkis dan mereka ada yang terhuyung. Dan ketika laki-laki berpakaian biru itu gugup mengangkat lengannya maka dia berkata,

"Nona, tahan. Minta dengan hormat agar kita tidak bermusuhan, jangan menyerang!"

"Tapi temanmu mengeluarkan kata-kata menghina, mana bisa kutahan?"

"Maaf, perlahan dulu, nona. Kami adalah para busu yang mengawal keselamatan Ci-kongcu (tuan muda Ci). Kalau kami tak diperkenankan datang ke pulau biarlah surat ini saja kau bawa, serahkan pada Hek-yan-pangcu (ketua Hek-yan-pang)!"

"Siapa mereka?" sebuah suara halus tiba-tiba menyambar datang, tanpa diketahui orangnya. "Ada apa ribut-ribut, Kim Nio?"

"Ah," Kim Nio, gadis atau murid kepala Hek-yan-pang itu gembira, menoleh ke pulau, menjatuhkan diri berlutut. "Mereka katanya utusan Ci-ongya, pangcu. Datang ingin menemuimu tapi kutolak!"

"Hm, tanya apa keperluan mereka!"

"Kami ingin minta perlindungan!" laki-laki berpakaian biru itu tiba-tiba berseru, mendahului. "Ongya ingin menitipkan puteranya, pangcu. Dari keganasan Golok Maut!"

Suara tak jelas terdengar dari kejauhan. Laki-laki berpakaian biru itu tampak gembira sementara tujuh anggauta Hek-yan-pang terkejut. Mereka terkejut mendengar disebutnya nama Golok Maut ini. Tapi ketika mereka menanti dan terdengar suara jengekan di sana tiba-tiba pangcu atau ketua Hek-yan-pang yang tidak kelihatan orangnya itu berkata, perlahan namun mampu menyeberangi pulau, "Kim Nio, bawa surat itu ke mari. Biar kubaca dulu!"

"Nanti dulu!" laki-laki berpakaian biru berseru mencegah. "Kalau kau ada di sana ijinkan kami menemuimu, pangcu. Ada pesan lisan dari Ci-ongya!"

"Hm, laki-laki tak boleh masuk!" suara itu tiba-tiba dingin. "Kau serahkan surat itu atau kalian semua pulang, Cam-busu. Aku sudah mengenalmu dan tak usah bertatap muka!" lalu, sementara Cam-busu atau laki-laki berpakaian biru itu terkejut karena dikenal lawan maka serangkum angin tiba-tiba menyambar dari depan dan... surat di tangan Cam-busu melayang ke dalam pulau!

"Heii..!" Cam-busu terpekik. "Nanti dulu, pangcu. Tunggu!" namun sebuah dengus dan pukulan jarak jauh tiba-tiba menyambar busu itu, jatuh terjengkang dan semua orang kaget. Jauh di tengah pulau sana ternyata ketua Hek-yan-pang mampu melepas pukulan, bukan main, hal yang seakan sukar dipercaya tapi Cam-busu sudah membuktikannya. Dan ketika busu itu bergulingan meloncat bangun sementara tujuh murid Hek-yan-pang tertawa mengejek maka busu itu dan teman-temannya tertegun, melihat surat itu sudah terbang ke tengah pulau dan lenyap. Surat itu seakan dibawa setan! Dan ketika semua orang terkejut dan tentu saja terbelalak lebar maka suara atau jengek itu terdengar kembali, rupanya selesai membaca surat yang dibawa busu ini.

"Cam-busu, aku menolak perintah Ci-ongya. Katakan padanya bahwa perkumpulan Hek-yan-pang bukan orang-orang yang mudah dibeli dengan uang!"

"Ah," busu ini terkejut. "Kami memohon dengan sangat, pangcu. Ci-ongya telah mendengar kelihaianmu dan berani membayar berapa saja untuk perlindunganmu terhadap Ci-kongcu!"

"Di sini tak ada jual beli. Jasa orang-orang Hek-yan-pang tak dijual!"

"Tapi Ci-kongcu telah kami bawa ke sini!"

"Apa perdulimu? Kau kira aku tunduk pada perintah Ci-ongya ini? Hm, kembalilah, Cam-busu. Katakan pada Ci-ongya bahwa Hek-yan-pang bisa hidup tanpa uang!"

"Ooh!" dan Cam-busu yang tampak kecewa dan pucat tiba-tiba berseru sekali lagi, menggigil, "Pangcu, kami telah jauh-jauh mempercayakan hal ini padamu. Aku nanti kena marah. Tolonglah dan biarkan Ci-kongcu di sini!"

"Hm, memangnya siapa kau berani membujuk aku? Pergilah, jangan cerewet lagi, orang she Cam, atau kau minta kulempar dan baru tahu diri... bress!"

Cam-busu tiba-tiba benar saja terlempar, terkena angin pukulan dari tengah pulau dan berteriaklah busu itu oleh sambaran angin ini. Dan ketika dia terguling-guling dan lagi-lagi meloncat bangun mendadak laki-laki ini menghadap Ci-kongcu, pemuda tampan itu. "Kongcu, aku gagal. Harap kau maafkan aku dan kita pulang!"

Ci-kongcu, pemuda tampan itu terbelalak. Dia sejak tadi melenggong oleh kehebatan ketua Hek-yan-pang. Jauh dari tengah pulau sana dapat membuat pengawalnya jungkir balik. Dan ketika Cam-busu tampak pucat dan menggigil kepadanya tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri, memandang ke pulau.

"Hek-yan-pangcu, kau betul-betul hebat. Aku kagum, tapi ayah rupanya tak perlu memaksa seorang sombong!" dan membalik menyambar pengawalnya tiba-tiba pemuda ini mengajak pergi. "Paman, kita pulang. Kalau Golok Maut datang biarlah kita hadapi dengan gagah!"

"Hm!" suara di tengah pulau itu terdengar lagi. "Tangkap pemuda itu, Kim Nio. Dia telah menghinaku. Lempar yang lain dan seret pemuda itu ke mari!"

Kim Nio, murid kepala itu tiba-tiba bergerak. Dia sudah melotot mendengar kata-kata Ci-kongcu tadi, ketuanya dimaki sombong! Maka membentak dan bergerak mematuhi perintah tiba-tiba gadis ini berkelebat dan menyambar pemuda itu, ditangkis Cam-busu dan enam temannya yang lain tiba-tiba bergerak menyerang yang lain. Dan ketika rombongan itu marah dan terkejut karena tuan rumah hendak menangkap junjungan mereka tiba-tiba berkesiur angin dingin dari tengah pulau dan orang-orang itu terlempar.

"Ci-kongcu, kau ke sinilah!"

Orang-orang terpekik. Mereka melihat pemuda itu terangkat naik dan terbang ke pulau, sama seperti surat yang dirampas ketua Hek-yan-pang itu. Dan ketika Ci-kongcu sendiri berteriak dan kaget tersedot ke pulau tiba-tiba pemuda itu telah lenyap dan seperti diculik siluman!

"Hai" Cam-busu terperanjat. "Kembalikan Ci-kongcu, Hek-yan-pang. Kalian merampasnya!" namun ketika terdengar ketawa dingin dan kesiur angin dari pulau tiba-tiba busu itu terbanting dan terlempar jauh di sana.

"Pulanglah, sekarang lain urusannya, busu tolol. Junjunganmu ini berani juga dan gagah. Kalian enyah, dan jangan kembali lagi!"

Cam-busu tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa tugasnya telah berhasil, meskipun agak berliku dan terjadi dengan cara yang janggal. Bayangkan, tadi ditolak tiba-tiba sekarang diterima, meskipun Junjungannya termasuk diculik atau "dirampas" ketua Hek-yan-pang. Tapi karena hal itu sama saja dan yang jelas junjungannya sudah berpindah ke tengah pulau maka laki-laki ini girang berseru dari jauh,

"Pangcu, terima kasih kami ucapkan. Kami akan pulang dan melapor pada Ci-ongya. Tolong jaga baik-baik junjungan kami itu!"

"Keparat, pergilah, busu tolol. Aku tak mahu mendengar suaramu lagi!"

Golok Maut Jilid 11

GOLOK MAUT
JILID 11
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
ORANG pun ribut. Setelah kecurangan itu diketahui dan semua mata melihat bahwa di bawah sepatu itu benar saja terdapat sebuah pisau kecil maka pendukung barongsai merah menjadi marah. Mereka berteriak dan menuntut perbuatan barongsai biru. Kwik Beng, laki-laki itu gembira. Lawannya di sana terkejut dan berobah mukanya. Tapi ketika semua orang menjadi ribut dan pihak barongsai biru tentu saja tersudut tiba-tiba laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam itu menerjang dan menyerang pemuda tampan ini.

"Kau pengacau!" Bentakan ini mengejutkan yang lain. Kwik Beng, yang melindungi pemuda itu tentu saja marah. Dia membentak dan mau menangkis serangan ini. Tapi ketika pemuda itu tertawa dan mendorongnya perlahan tiba-tiba pukulan itu dikelit dan si muka hitam mendapat sebuah ungkitan kecil dan... terjerembab mencium tanah.

"Hei, hati-hati, Hek-twako. Jangan marah di sini... bluk!"

Laki-laki itu terpekik, berteriak dan tentu saja marah dan malu. Tubrukannya dikelit dan tadi sebuah kaki mengungkit pantatnya, cepat sekali, tak diketahui orang lain dan tahu-tahu ia terjerembab. Dan ketika laki-laki itu mengumpat caci dan marah bangun berdiri maka dia menubruk dan menyerang lagi, dikelit dan entah bagaimana tiba-tiba ia pun terjungkal. Pemuda itu tak nampak membalas kecuali tangan atau kakinya sering menyentuh tubuh si muka hitam, seperti orang takut jatuh tapi justeru si muka hitam yang tersungkur. Dan ketika kejadian ini berulang enam tujuh kali dan orangpun gempar maka laki-laki itu akhirnya mencabut golok dan menyerang pemuda ini, membabi-buta.

"Hei..!" orang she Kwik pun terkejut. "Jangan main curang, hitam. Simpan golokmu dan pergilah!" laki-laki ini melompat, tak tahan lagi melihat berkelebatnya golok yang menyambar-nyambar. Dia khawatir pemuda itu terbacok dan luka, pendukung barongsai merah sudah berteriak-teriak dan siap menyerang kembali, hal yang akan dihadapi pula oleh pendukung atau pihak barongsai biru, karena Hek-twako adalah pendukung mereka. Namun ketika laki-laki she Kwik meloncat dan hendak menubruk si muka hitam tiba-tiba pemuda tampan itu menggerakkan jarinya dan entah bagaimana tahu-tahu tubuh laki-laki tinggi besar ini terbanting dan golok di tangannya mencelat patah.

"Sudah... sudah... aku minta ampun. Kembalilah dan buang golokmu!" dan ketika benar saja si Hek-twako itu mencelat ke arah barongsai biru dan goloknya dibuang ke kanan maka Kwik Beng pun tertegun tdk jadi menyerang, tepat mendengar bentakan Lu-ciangkun.

"Pemuda ini dan si muka hitam kutangkap. Kalian minggir!"

Keributan baru tiba-tiba terjadi. Lu-ciangkun yang hendak menangkap si muka hitam tiba-tiba dihadang kelompok barongsai biru, begitu pula ketika ia melompat hendak menangkap si pemuda tampan, hal yang membuat komandan ini mendelik. Dan ketika dia membentak dan marah menyuruh pasukannya maka orang pun geger ketika pihak barongsai biru ataupun merah melakukan perlawanan!

"Hei, kalian pemberontak-pemberontak hina. Awas, kalian menghadapi pasukan pemerintah!"

Seruan ini tak ditanggapi. Barongsai biru melindungi kawannya sementara barongsai merah melindungi pemuda tampan itu. Kwik Beng terutama meminta teman-temannya melindungi pemuda itu, setiap pasukan yang mendekat tentu didorong dan hiruk-pikuklah suasana. Tapi ketika Lu-ciangkun naik darah dan kudanya dikeprak siap menerjang siapa saja mendadak bayangan pemuda itu berkelebat dan tahu-tahu menangkap Cun Khing, pemimpin atau kepala barongsai biru.

"Lu-ciangkun, tahan. Lihat siapa yang kutangkap!"

Orang-orang terkejut. Tiba-tiba mereka tertegun melihat Cun Khing meronta-ronta di pegangan pemuda itu, membentak dan mau melawan tapi tiba-tiba pemuda itu menggerakkan jarinya, menotok pundak. Dan ketika Cun Khing mengeluh dan roboh tidak berdaya maka gemparlah semua orang karena pemuda itu kiranya seorang pemuda yang lihai, yang tadi hanya berpura-pura lemah saja.

"Ciangkun, lihat. Biang keladi keributan sudah kutangkap!"

Lu-ciangkun tertegun. Tadi dia melihat bayangan pemuda itu yang bergerak luar biasa cepat, menerobos di sela-sela semua keributan itu dan tahu-tahu Cun Khing, pemimpin dari barongsai biru tertangkap. Dan ketika laki-laki itu menggantung tak berdaya di pegangan pemuda ini sementara perkelahian atau kegaduhan berhenti maka semua orang dibuat terbelalak dan kaget memandang ke situ.

"Lihat, orang she Cun inipun menyembunyikan pisau kecilnya di bawah sepatu. Semua anggauta barongsai biru juga begitu!" pemuda ini mengangkat naik kaki si tangkapan, menunjukkan pisau yang tiba-tiba dicabut. Dan ketika orang menjadi gempar lagi karena benar saja laki-laki itu menyembunyikan pisaunya maka anggauta barongsai biru tiba-tiba ribut dan membuang pisau di bawah sepatu mereka!

"Nah, lihat. Siapa salah siapa benar kelihatan sekarang, Lu-ciangkun. Justeru orang-orang ini yang harus kau tangkap bukannya aku!"

Namun aneh, komandan itu tiba-tiba membentak. Dan ketika dia mengeprak kudanya dan maju mendekat tiba-tiba komandan ini berseru, "Anak muda, kau mengacau. Serahkan juga dirimu dan mari ikut ke markas!"

Si pemuda terkejut. Dia tak menyangka reaksi balik dari komandan ini, yang jelas sekarang mulai kelihatan membela barongsai biru. Tapi ketika Lu-ciangkun menggerakkan tangan dan hendak merampas tawanannya tiba-tiba pemuda ini tertawa dan melempar laki-laki itu pada pemimpin barongsai merah, Kwik Beng.

"Kwik-twako, terimalah. Rupanya Lu-ciangkun tak suka kepadaku dan ngotot ingin menangkap... wut!" laki-laki itu dilempar ke Kwik Beng, tentu saja diterima dan si pemuda sudah mengelak sambaran Lu-ciangkun. Kelitan yang begitu mudah serta gampang yang ditunjukkan pemuda ini rupanya membuat tubrukan atau sambaran jari Lu-ciangkun luput, mengenai angin kosong.

Dan ketika komandan itu marah dan tentu saja membentak gusar maka dia sudah memajukan kudanya dan menyerang pemuda ini lagi, dua tiga kali namun semuanya itu luput. Si pemuda mengelak dan selalu menghindari serangannya, tak ada satupun yang kena dan ributlah semua orang. Pendukung barongsai merah bersorak dan mengejek komandan itu, yang membuat si komandan naik pitam dan gusar bukan kepalang. Dan ketika dia menyuruh beberapa pembantunya maju membantu namun pihak barongsai merah tiba-tiba menyerbu maka komandan ini terkejut ketika pasukannya diserang.

"Hei, tangkap pemuda ini. Tangkap!"

Kiranya komandan itu lebih mementingkan pemuda ini daripada barongsai merah. Dia terkejut dan kaget tak dapat menangkap pemuda itu, yang hanya berlompatan dan selalu menghindar. Tapi karena para pembantunya dicegat dan diserang pendukung barongsai merah maka komandan itu memaki-maki dan tiba-tiba pihak barongsai biru menyerang. Mereka membantu pasukan dan sudah menerjang pihak barongsai merah, apalagi Cun King masih ditangkap pemimpin barongsai merah, Kwik Beng. Tapi ketika semuanya bergerak dan serang-menyerang tak dapat dicegah lagi mendadak pemuda tampan itu membentak dan berkelebatan menampar Lu-ciangkun.

"Hentikan semua ini, tahan!"

Lu-ciangkun berteriak. Tiba-tiba dia terlempar dari atas kudanya dan terbanting, jatuh terguling-guling dan nyaris terinjak-injak. Beng Tan atau pemuda tampan itu sudah lenyap entah ke mana, tubuhnya berkelebatan dari satu tempat ke tempat lain, menyambar-nyambar bagai seekor burung besar. Dan ketika terdengar jerit atau pekik kesakitan di sana-sini tiba-tiba terpelantinglah sekian banyak orang itu oleh kibasan atau dorongan Beng Tan, yang hanya mempergunakan ujung lengan bajunya.

"Berhenti, kalian semua berhenti!"

Orang-orang itu terlempar. Sama seperti Lu-ciangkun yang jatuh dari atas kudanya maka orang-orang itupun terpelanting ke kiri kanan. Baik pendukung barongsai biru maupun merah terlempar tak keruan, pasukan berkuda juga tersibak dan rata-rata menjerit kaget. Dan ketika semuanya berhenti dan otomatis tidak serang menyerang lagi maka Beng Tan sudah berdiri di tengah-tengah dengan tegak dan gagah.

"Siapa yang masih serang-menyerang lagi akan kupatahkan lengannya. Sekarang lihat dan dengarkan kata-kataku!" pemuda ini menghadapi Lu-ciangkun, dikepung dan dikelilingi pasukan berkuda namun pemuda itu tidak takut, bahkan matanya tiba-tiba berkilat dan gentarlah semua orang menyaksikan kepandaian pemuda itu, yang ternyata amat tinggi! Dan ketika Lu-ciangkun juga tergetar dan jerih maka dicabutlah sesuatu dari saku dalam pemuda itu.

"Lu-ciangkun, kau mengenal ini? Kau tahu apa artinya ini?"

"Ooh!" komandan itu tersentak, melihat sebuah cincin di tangan pemuda itu, cincin gemerlap seperti bintang. "Kau... kau utusan istana, kongcu? Kau kiranya.."

"Benar, tak usah diteruskan. Sekarang kau mengerti siapa aku, ciangkun. Kuminta agar kau menghukum orang-orang dari barongsai biru ini karena mereka curang. Bebaskan rombongan barongsai merah dan biarkan mereka pulang!"

Orang tiba-tiba terkejut. Lu-ciangkun tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan berteriak agar pasukannya turun dari kuda masing-masing, berseru bahwa utusan Li-ongya (sri baginda Li) tiba. Dan ketika pasukan meloncat dari kudanya masing-masing dan terkejut menjatuhkan diri berlutut maka gemparlah semua orang karena pemuda yang disangka lemah itu ternyata utusan kaisar!

"Nah, tangkap dan adili orang-orang dari barongsai biru ini, ciangkun. Mereka pengacau dan jelas orang-orang curang. Siapa melawan harap serahkan kepada ku!"

Lu-ciangkun menggigil. Tiba-tiba sikapnya menjadi lain dan berulang-ulang dia memohon ampun, tak mengetahui datangnya seorang utusan dan tentu saja Kwik Beng, pemimpin barongsai merah tertegun. Laki-laki ini juga tak menduga bahwa pemuda itu adalah utusan Li-ongya, junjungan atau penguasa mereka. Dan ketika semua menjatuhkan diri berlutut dan serempak semua orang tak berani mengangkat mukanya maka Beng Tan tersenyum mengangguk-angguk, memandang si muka hitam.

"Kau," katanya, "ke sini dan lakukan hukuman ringan. Tampar dan maki dirimu sebanyak sepuluh kali!"

Hek-twako, si muka hitam gemetar. Dia tadi terlempar dan terbanting oleh kelihaian pemuda ini, tak tahunya utusan atau orang dekat kaisar. Diam-diam mau menyelinap pergi tapi si pemuda melihat, menggapai dan kini menyuruhnya dekat. Dan ketika laki-laki ini menggigil dan belum apa-apa sudah meratap minta ampun maka dia disambar dan telinganya dijewer.

"Aku sudah mengampunimu. Kalau tidak tentu kau sudah kubunuh. Heh, lakukan perintahku, Hitam, tampar dan maki dirimu sebanyak lima kali!"

"Baik... baik..!" dan si hitam yang lalu menampari dan memaki dirinya sendiri lalu didengar secara geli oleh orang-orang itu, tak berani tertawa karena si pemuda ada di situ.

Beng Tan tampak berwibawa memandang orang-orang ini, aneh, sikapnya menjadi lain daripada waktu pertama dia datang. Dan ketika si hitam selesai menampari mukanya dan memaki sebanyak sepuluh kali maka pemuda itu menghadapi Lu-ciangkun, sang komandan yang tadi tampak melindungi orang-orang barongsai biru.

"Kau," tanyanya. "Kenapa melindungi dan membela orang-orang barongsai biru ini, ciangkun? Kenapa memusuhi pihak barongsai merah?"

"Dia kena suap ribuan tail, kongcu. Lu-ciangkun memihak karena makan sogokan!" Kwik Beng, pemimpin barongsai merah berseru, mendahului.

Tentu saja mengejutkan Lu-ciangkun dan komandan itu cepat-cepat menggeleng, menyangkal. Dan ketika Beng Tan tampak tertegun dan mengangguk-angguk maka komandan ini pucat, menyanggah, "Tidak, dia... dia bohong, kongcu. Aku tidak makan suap!"

"Tapi kau membela barongsai biru. Mula-mula tampak bersikap adil tapi akhirnya berat sebelah!"

"Tidak... ampun, kongcu. Dia bohong!" namun ketika Cun Khing diminta dan laki-laki ini dipencet punggungnya maka Beng Tan mendesis,

"Orang she Cun, coba kau jelaskan benarkah tuduhan itu atau tidak. Jangan coba berbohong karena aku dapat menyakitimu yang lebih lagi!"

"Tidak... tidak! Orang she Kwik itu bohong!"

"Kau dapat memberi bukti?"

"Aku dapat membuktikannya, kongcu. Lihat saja buntalan di atas pelana Lu-ciangkun itu!" tiba-tiba Kwik Beng kembali berseru, mendahului dan mengejutkan Lu-ciangkun dan tentu saja pemuda itu menoleh, melihat sebuah buntalan di pelana Lu-ciangkun, yang tadi tak menjadi perhatiannya, Dan ketika Lu-ciangkun gemetar dan Cun Khing juga terkejut menggigil tubuhnya maka pemuda itu sudah berkelebat dan menyambar buntalan di atas pelana kuda ini.

"Cring!"

Suara itu cukup. Kiranya ribuan tail perak memang tersimpan di buntalan ini, Beng Tan sudah membukanya dan tentu saja alisnya berkerut, mukapun merah dan mengeluhlah komandan Lu itu. Dan ketika dia ditanya dari mana uang sebanyak itu dan bagaimana dalam menjalankan tugasnya komandan ini membawa-bawa uang segala maka dia mengaku dan lemaslah hatinya, jatuh mendeprok dan Cun Khing pun pucat. Sekarang laki-laki ini tak dapat berkutik karena yang bersangkutan sendiri sudah mengaku, tak mungkin lagi dia berbohong. Dan ketika pemuda itu memandangnya dan sinar matanya tajam menyambar maka Beng Tan membentak dan marah menarik Lu-ciangkun.

"Heh, beginikah perbuatanmu sebagai aparat negara, Lu-ciangkun? Kau kena sogok dan makan suap?"

"Ampun... ampun... aku tak akan mengulanginya, kongcu. Aku salah..!"

"Hm, mengaku salah tidaklah cukup, ciangkun. Aku harus melapor pada atasanmu agar kau dihukum. Dan kau..!" pemuda itu menunjuk Cun Khing. "Kau akan kuserahkan pada So-goanswe (jenderal So), orang she Cun. Lu-ciangkun tak dapat kupercaya memberikan hukuman setimpal untukmu. Kau dan orang-orangmu tak boleh lagi tinggal di Li-poh!"

Dan ketika laki-laki itu pucat dan mengangguk-angguk maka hari itu pemuda ini memerintahkan pasukan menangkap Lu-ciangkun, aneh dan lucu karena anak buah tiba-tiba menangkap pemimpinnya! Tapi karena pemuda itu jelas orang yang lebih tinggi tingkatnya dan kepandaiannyapun juga luar biasa, maka Lu-ciangkun yang sial lalu ditangkap dan diserahkan kepada atasannya, jenderal So atau So-goanswe dan pemimpin barongsai biru itupun juga dihukum. Cun Khing dan anak buahnya jelas bersalah, melakukan kecurangan.

Dan, ketika hari itu Li-poh digegerkan oleh pemuda ini maka nama Ju Beng Tan dikenal orang sebagai utusan atau paling tidak orang dekat dengan kaisar, ditakuti dan tentu saja Li-poh gempar. Kota yang tidak seberapa besar itu ternyata didatangi utusan kaisar, Lu-ciangkun sebagai komandan malah kena hukum! Dan ketika hari itu juga pemuda ini membereskan orang-orang itu dan pendukung barongsai biru otomatis ngacir maka Kwik Beng, pemimpin barongsai merah berulang-ulang mengucapkan terima kasihnya pada Beng Tan.

"Terima kasih. Tanpa kau barangkali kami tinggal nama, kongcu. Terima kasih dan mari mampir di rumahku!"

"Hm, tak usah," Beng Tan tersenyum. "Aku datang memang sengaja melihat-lihat, Kwik-twako, membersihkan daerah dari kejahatan orang-orang macam barongsai biru itu!"

"Dan kongcu hebat sekali. Maaf kalau tadi aku merendahkanmu, kongcu. Aku tak tahu bahwa kau demikian lihai!"

"Sudahlah, aku sudah bertemu So-goanswe, twako. Sekarang aku harus pergi dan meninjau daerah lain!"

Kwik Beng hendak mencegah. Tapi belum dia membuka mulutnya tiba-tiba pemuda itu berkelebat dan lenyap, begitu luar biasa dan laki-laki ini tertegun. Untuk kesekian kalinya dia dibuat bengong. Tapi begitu si pemuda lenyap dan orang-orang di belakangnya kagum maka mereka mendecak dan memuji,

"Hebat, Ju-kongcu itu luar biasa sekali. Aih, kalau tak ada dia tentu keramaian ini sudah banjir darah!"

"Benar," yang lain menimpali. "Pemuda itu hebat sekali, A-siok, dan tampan!"

"Hm, kalau saja aku punya anak gadis cantik!" yang lain menyambung, bersinar-sinar. "Tentu kubujuk dia untuk bertandang, Akan, Sayang aku sebatangkara dan sudah tua!"

Begitulah, nama pemuda itu dikagumi banyak orang dan disebut-sebut. Sebagai pemuda lihai yang berkepandaian tinggi tentu saja banyak orang tertarik padanya, apalagi setelah dikenal sebagai utusan kaisar, entah khusus atau tidak. Dan ketika hari itu semua orang memuji pemuda ini sementara Cun Khing dan teman-temannya menggigit jari maka Beng Tan sendiri sudah lenyap meninggalkan Li-poh.

* * * * * * *

"Berhenti dulu, sobat. Terangkan apakah benar kau datang dari Li-poh!"

Beng Tan berhenti. Dia sedang memasuki hutan ketika terdengar bentakan atau seruan nyaring itu, seruan atau bentakan seorang wanita cantik. Dan ketika pemuda ini berhenti dan menoleh ke belakang maka sesosok bayangan ramping berkelebat datang dan sudah berdiri di depannya, seorang wanita cantik yang membawa payung.

"Kau siapa?" Beng Tan heran, tergetar. "Kenapa menghentikan aku?"

"Hi-hik, aku Eng Hwa, Li Eng Hwa. Menghentikan perjalananmu karena tertarik mendengar cerita tentangmu. Apakah kau yang dari Li-poh?"

"Hm, benar," Beng Tan mengangguk, semakin heran lagi "Ada apakah, nona? Kukira kita tak saling kenal-mengenal!"

"Hi-hik, salah. Sekarang kita sudah kenal-mengenal, kongcu. Dan untuk lebih mengenal lagi coba kau terima seranganku... siutt!" gadis atau wanita itu tiba-tiba berkelebat ke depan, mengayun tangan kirinya dan menyambarlah serangkum angin dingin ke muka Beng Tan.

Beng Tan jadi terkejut dan tentu saja mengelak. Tapi ketika dia berkelit dan lawan mengejar tiba-tiba tangan satunya bergerak dan sebuah tamparan mengenai pundak pemuda ini. "Plak!" Beng Tan terkejut. Dia cepat mengerahkan sinkangnya dan lawan terpekik, tamparan itu mental dan telapak Eng Hwa melepuh! Dan ketika wanita itu terkejut dan tentu saja marah tiba-tiba wanita ini telah menggerakkan tubuhnya dan bertubi-tubi menyerang pemuda itu, payung dikempit di bawah ketiak dan Beng Tan terbelalak. Wanita itu berkelebatan mengelilingi tubuhnya dan lenyap dengan serangan-serangan yang cepat. Pemuda ini jadi penasaran dan gemas juga. Dan ketika sebuah pukulan akhirnya diterima tangan kirinya dan Beng Tan mengerahkan sinkang menyedot maka lawan menjerit ketika telapaknya tertempel!

"Aih!" wanita itu terpekik. "Hebat, kongcu. Tapi lepaskanlah... dess!"

Beng Tan menerima sebuah tendangan, tidak bersungguh-sungguh dan sudah melepaskan telapak lawan. Eng Hwa atau wanita cantik itu tampak pucat memandangnya. Dan ketika Beng Tan tersenyum namun lawan membentak lagi tiba-tiba wanita itu mencabut payungnya dan berkelebatan lagi menusuk dan menotok.

"Hei... hei!" Beng Tan jadi berlompatan ke sana-sini. "Tahan, nona. Tahan dulu. Aku ingin bicara!"

"Nanti saja!" wanita itu melengking. "Hadapi semua serangan-seranganku, kongcu. Dan robohkan aku baru kita bicara!"

"Eh!" Beng Tan jadi heran. "Kenapa begini? Kenapa harus bertempur?"

"Tak perlu banyak cakap. Kau robohkan aku atau aku yang akan merobohkan-mu!" dan si cantik yang kembali menggerakkan payungnya dengan gesit dan lin-cah tiba-tiba hampir menusuk mata Beng Tan ketika mengelak ke kiri, untung cepat ditampar dan payung pun mental. Beng Tan mengerahkan sinkangnya dan lagi-lagi untuk kesekian kali lawan terpekik, tangannya linu dan payung itupun tertolak balik, hampir mengenai muka sendiri.

Namun ketika dia mendesak dan pukulan demi pukulan silih berganti mendesak pemuda ini ternyata Beng Tan mampu bertahan, bahkan demikian baiknya karena tak lama kemudian angin pukulan pemuda itu sudah mampu mendorong payung, sebelum senjata itu mendekat! Dan ketika si wanita terkejut dan marah mempercepat gerakannya tiba-tiba Beng Tan berseru bahwa dia akan menyudahi perkelahian ini, yang dinilainya tak beralasan.

"Cukup, sekarang kita berhenti!"

Wanita cantik itu mengeluh. Beng Tan menyambar dan mencengkeram payungnya, kena dan tiba-tiba dibetot. Dan ketika dia tertarik ke depan dan kaget serta mau bertahan mendadak jari pemuda itu bergerak dan sebuah totokan mengenai pundaknya.

"Tuk!"

Robohlah wanita ini. Eng Hwa mendesis namun kagum memandang pemuda itu, matanya bersinar-sinar dan tertawa Aneh! Dan ketika Beng Tan heran dan menganggap wanita ini gila tiba-tiba berkelebat lagi sesosok bayangan dan seorang laki-laki muda tiba-tiba menyerangnya.

"Sobat, kau hebat. Tapi coba dulu seranganku dan lihatlah.. wutt!" sebuah ikat pinggang menyambar ganas, meledak di sisi telinga pemuda ini ketika Beng Tan membungkuk, maksudnya mau membebaskan totokan tapi tentu saja tidak jadi, mengelak dan melempar tubuh ke kiri. Dan ketika di situ berdiri seorang laki-laki muda yang tampan namun matanya mengeluarkan minyak maka Beng Tan sudah diserang dan dihujani sambaran ikat-pinggang ini.

"Ha-ha, kenalkan. Aku Bhok Li, sobat. Jaga ikat-pinggangku dan berhati-hatilah ... tar!" sebuah ledakan akhirnya mengenai juga pundak Beng Tan, lihai menyambar namun pemuda ini mengerahkan sinkangnya. Senjata lawan terpental dan lawan terkejut, berseru keras dan menyerang lagi. Dan ketika ikat-pinggang kembali meledak-ledak namun Beng Tan dapat mengelak atau menangkis akhirnya lawan terbelalak karena tak satupun serangannya dapat merobohkan pemuda itu.

"Hebat!" serunya. "Kau hebat, anak muda. Tapi coba terima pukulan-pukulanku ini!" laki-laki itu menggerakkan tangan kirinya, mengiringi ledakan ikat pinggang namun Beng Tan menolak semua pukulannya itu. Dengan tangan kirinya pula pemuda ini menghalau pukulan lawan, yang berhawa panas dan menyambar-nyambar mengiringi serangan ikat-pinggang. Dan ketika sebuah pukulan akhirnya bertemu tamparan pemuda ini maka Beng Tan membentak dan lawanpun terpelanting.

"Cukup!" Beng Tan berseru. "Hentikan main-main ini, sobat. Dan katakan apa artinya ini!"

"Ha-ha, belum puas!" lawan meloncat bangun, menerjang lagi. "Robohkan aku, anak muda. Atau aku yang akan merobohkanmu dan baru kita bicara!"

Terpaksa, karena Bhok Li atau laki-laki muda itu tak mau menghentikan serangannya dan baru berhenti kalau sudah dirobohkan maka Beng Tan membentak dan menggerakkan kedua tangannya, jari menampar dan ikat-pinggang pun mencelat, lawan terpekik namun tangan kirinya menyambar, melepas sebuah pukulan amis. Namun ketika Beng Tan menangkis dan pukulan itu diterima akhirnya lawan terbanting dan roboh terguling-guling.

"Dess!"

Berakhirlah pertandingan ini. Beng Tan telah menyambar dan merampas ikat-pinggang, lawan telah bergulingan melompat bangun, kaget di sana. Leber bajunya sobek dan sebuah titik hitam tampak di lehernya itu, totokan yang tidak diteruskan Beng Tan karena lawan dapat roboh tak bernyawa, hal yang membuat laki-laki itu terkejut, tahu bahwa Beng Tan bermurah hati. Maka ketika dia sadar dan pucat tertawa menyeringai maka Bhok Li, laki-laki ini menjura.

"Bagus, terima kasih, sobat yang lihai. Sekarang aku dan temanku benar-benar menyerah kalah!"

"Hm, siapa kau?"

"Aku Bhok Li, Bhok-kongcu!"

"Ah, Hi-ngok (Si Hidung Belang)?"

"Ha-ha, orang yang tak senang padaku menjulukiku begitu, sobat yang lihai. Tapi sebenarnya aku bukan pemuda hidung belang!"

"Hm!" dengus atau suara dari hidung itu tiba-tiba tidak ramah. "Ada apa kau menggangguku di sini, Bhok-kongcu? Dan apakah dia temanmu?"

"Benar, dia Mao-siao Mo-li Li Eng Hwa, sobat lihai. Dan maksud kami mengganggumu adalah ingin mencoba ilmu kepandaianmu apakah pantas berhadapan dengan Golok Maut!"

Beng Tan mengerutkan kening. Mendengar bahwa dua orang ini ternyata adalah si Hidung Belang Bhok-kongcu dan itu adalah Mao-siao Mo-li si wanita cabul tiba-tiba dia tidak bersahabat lagi. Dua orang ini adalah orang-orang yang dikenalnya sebagai orang-orang sesat, tidak bernama harum. Tapi mendengar disebutnya nama Golok Maut dan lawan rupanya ada maksud dengan itu maka pemuda ini bergerak dan totokan Eng Hwa alias Mao-siao Mo-li dibebaskan.

"Aku tak mengerti," katanya. "Apa hubungannya Golok Maut dengan aku? Apa maksud kalian?"

"Ha-ha, maksudnya minta tolong, sobat yang lihai. Golok Maut telah merobohkan kami dan menghina banyak orang!"

"Benar," Eng Hwa, si Siluman Kucing menimpali, terkekeh dengan kerlingnya yang tajam menyambar, penuh daya pikat. "Golok Maut sombong sekali dengan menantang semua orang pandai, kongcu. Dan kami serta kawan-kawan terus terang saja ingin mencari bantuan dan meminta tolong yang dapat mengalahkan Golok Maut itu!"

"Hm, aku pribadi memang juga hendak mencari Golok Maut, tapi bukan dalam bantuannya kepada kalian, orang-orang sesat!"

"Ah, kami bukan orang-orang sesat, kongcu. Orang yang tak senang kepada kami saja yang menamakan kami begitu!"

"Tapi nama kalian kudengar tidak sedap, Dan tadi itu, bukankah Ang-tok-kang (Pukulan Racun Merah)?" Beng Tan memandang Bhok-kongcu. "Ilmu silat kalian jelas ilmu silat kotor, Bhok-kongcu. Aku tak suka dan sebaiknya kalian tak usah meminta tolong aku!"

"Sombong!" Bhok-kongcu tiba-tiba marah. "Meskipun kau lihai tapi belum tentu dapat mengalahkan kami berdua, anak muda. Coba kau hadapi kami dan lihat apakah ilmu silat kami berdua tak dapat dipakai merobohkanmu!" dan Bhok Li yng sudah membentak dan mengajak temannya menyerang tiba-tiba mengambil ikat-pinggang barunya dan menerjang ke depan, marah karena Beng Tan dinilai menghina.

Pemuda itu memang dapat merobohkan mereka, satu persatu, belum tentu kalau dikeroyok berbareng. Dan karena Mao-siao Mo-li Li Eng Hwa juga marah dan mengerutkan kening mendengar kata-kata Beng Tan tiba-tiba wanita cantik inipun mengangguk, berseru keras menyambar payungnya dan bergeraklah dua orang itu mengeroyok Beng Tan. Pemuda ini hendak diuji apakah dapat mengalahkan lawannya berbareng, seperti yang dulu dilakukan Golok Maut. Dan ketika Beng Tan mengelak sana-sini dan pemuda ini berseru marah maka Beng Tan tak senang membentak lawannya,

"Orang she Bhok, sebaiknya jangan disamakan aku dengan Golok Maut. Kalian pergilah, atau aku terpaksa menghajar!"

"Ha-ha, cobalah, anak muda sombong. Kalau kau dapat menghajar dan mengalahkan kami berdua seperti dulu Golok Maut juga mengalahkan kami maka pantas kiranya hajaran itu. Hayo, hajar dan robohkan kami!"

Beng Tan gemas. "Kalian masih juga mau menyamakan aku dengan Golok Maut? Kalau aku merobohkan kalian bukan karena ingin diadu, Bhok-kongcu, melainkan semata menghajar kalian yang tidak punya adat... plak-dess!" dan pukulan atau tamparan Beng Tan yang mulai bekerja menghalau payung atau ikat-pinggang akhirnya membuat Mao-siao Mo-li maupun temannya berseru kaget, terpental dan hampir mengenai muka sendiri dan tentu saja mereka terkejut. Lawan hanya bertangan kosong sementara mereka bersenjata.

Dan ketika Bhok-kongcu berseru nyaring mempercepat gerakannya tiba-tiba Mao-siao Mo-li juga membentak dan mengerahkan ginkangnya, berkelebatan cepat mengelilingi pemuda itu dan menyambarlah dari mana-mana hujan serangan atau pukulan. Bhok-kongcu menggerakkan tangan kirinya melakukan pukulan-pukulan Ang-tok-kang, pukulan yang berbau amis dan tadi sudah dicium oleh Beng Tan, yang tentu saja mengerutkan alisnya dan semakin tidak senang. Dan ketika payung di tangan Mao-siao Mo-li juga menyambar-nyambar dalam tusukan atau totokan maka Beng Tan berkelebat lenyap mengeluarkan kepandaiannya, mengejutkan lawan.

"Kalian manusia-manusia tak tahu diri!"

Bhok-kongcu dan Mao-siao Mo-li terkejut. Lawan tiba-tiba menghilang, begitu cepat, begitu luar biasa. Dan ketika mereka terbelalak dan tertegun tak tahu lawan di mana mendadak sebuah tamparan mendarat di masing-masing pelipis dua orang itu.

"Robohlah, orang-orang sesat, dan pergilah... plak-plakk!"

Mao-siao Mo-li dan Bhok-kongcu menjerit. Mereka terpelanting dan jatuh terguling-guling, kelengar. Bumi rasanya berada di atas dan kepala mereka pening. Tamparan itu begitu kuat hingga payung maupun ikat-pinggang terlepas dari tangan mereka. Dan ketika dua orang itu mengaduh dan tak dapat bangun maka Beng Tan berkelebat lenyap dan berseru dari jauh,

"Nah, sekarang aku sudah merobohkan kalian, Bhok-kongcu. Lain kali kalau tetap mengganggu tentu kalian kubunuh!"

"Aduh, keparat. Jahanam bedebah...!" Bhok-kongcu hampir tak dapat bangun. "Dia lihai, Mao-siao Mo-li, namun sayang tak dapat membantu kita!"

"Benar," Mao-siao Mo-li, yang juga merintih di sana mengeluh. "Dia lihai, orang she Bhok. Dan barangkali kita harus memaksanya bersama teman-teman kita yang lain!"

"Tapi dia akan membunuh kita!" Bhok-kongcu ngeri. "Apakah kau tidak dengar ancamannya tadi?"

"Ah, pemuda macam begitu tak gampang membunuh, Bhok Li. Dia berhati lemah dan tanggung tak akan membunuh kita!"

"Keparat, tapi sekarang aku tak dapat bangun! Apakah kau dapat bangun, Siluman Kucing? Heh, kau tidak mau membantu aku?"

"Membantu hidungmu! Berdiri saja susah, orang she Bhok. Lebih baik kau jangan cuap-cuap dan biarkan aku menghilangkan pusingku!"

Ternyata Siluman Kucing ini juga pening. Dihajar dan dirobohkan pemuda lihai itu dia tak dapat bangun, sama seperti temannya. Dan ketika di sana Bhok Li tertawa menyeringai dan girang bahwa dia tidak sendirian maka Beng Tan, yang sudah meninggalkan dua orang ini jauh di luar hutan melenggang dengan santai setelah sedikit mendongkol menghadapi gangguan Bhok-kongcu dan Siluman Kucing itu.

Pemuda ini tersenyum mengejek. Diam-diam dia geli bahwa dua orang sesat itu telah menerima hajarannya, mereka tak mungkin berani lagi mengganggunya kalau tidak ada sesuatu yang lain. Tapi ketika dia tersenyum-senyum dan geli membayangkan dua orang itu tiba-tiba muncul dua penunggang keledai yang menghadang jalannya.

"Heh, kau yang baru merobohkan Hi-ngok Bhok-kongcu, anak muda? Kau yang mengalahkan Siluman Kucing?"

Beng Tan terkejut, seketika berhenti. "Kalian siapakah? Tampaknya bukan orang sini!" Beng Tan mengerutkan kening, melihat bahwa dua laki-laki di atas keledai itu adalah orang-orang berkulit hitam yang hidungnya mancung, seperti bangsa Hindia dan tentu saja dia heran, berhenti dan bertanya. Dan ketika dua orang itu tertawa dan menjepit perut keledainya tiba-tiba binatang itu terlonjak dan meloncat ke depan, hampir menubruk Beng Tan.

"Hei!" Beng Tan marah. "Hati-hati, kakek ceroboh. Keledai mu hampir menubruk aku!"

"Ha-ha!" kakek di sebelah kiri, yang bersinar-sinar memandang pemuda itu tiba-tiba mengangkat lengannya, mendorong. "Kami tanya kau belum menjawab, anak muda. Apakah betul kau yang merobohkan Bhok-kongcu dan Siluman Kucing.. wherrr!" angin pukulan dahsyat menyambar, tahu-tahu mengangkat naik tubuh pemuda itu dan Beng Tan berseru keras. Ia sudah terangkat tanpa tahu bahwa dirinya diserang, kakek itu licik.

Tapi ketika Beng Tan membentak dan mengerahkan ilmunya tiba-tiba tubuh pemuda ini menjadi berat dan pemuda itu kembali turun ke tanah, meluncur ringan namun sudah menancap kuat, kakinya tak bergeming dan kakek itu berseru tertahan. Dia telah menyerang pemuda ini tetapi gagal, Beng Tan telah mengerahkan Jing-kin-kangnya (Tenaga Seribu Kati) dan tubuh pemuda itu anjlog ke bawah, tak lagi bergeming. Dan ketika kakek satunya juga berseru perlahan dan terbelalak memandang Beng Tan maka pemuda ini tahu bahwa dia berhadapan dengan dua kakek lihai dari Thian-tok (India).

"Kakek siluman, kenapa kau menyerang aku?" Beng Tan tentu saja marah, tak lagi menghormat dua orang itu karena kakek-kakek ini dinilainya keterlaluan. Dia diserang tanpa diberi tahu. Kalau dia tidak memiliki Jing-kin-kang dan terangkat ke atas tentu dia sudah terbanting dan mendapat malu.

"Ha-ha!" kakek di sebelah kiri, yang tadi menyerang tertawa, aneh suaranya, serak namun menggetarkan. "Kau hebat, anak muda. Tapi kau benar. Kami akan menyerangmu kalau kau tidak menjawab pertanyaan kami!"

"Pertanyaan apa?"

"Itu tadi, apakah benar kau yang merobohkan Bhok-kongcu dan Siluman Kucing!"

"Benar," Beng Tan mendongkol. "Mereka menggangguku, kakek buruk. Dan aku akan merobohkan siapa saja yang berani menggangguku pula!" dengan perkataan ini Beng Tan hendak memberi tahu dua orang kakek itu, bahwa dia mungkin juga akan merobohkan dua kakek itu kalau mereka kurang ajar, coba-coba mengganggunya, hal yang tentu saja dimengerti dua orang itu dan kakek di sebelah kiri maupun kanan tertawa bergelak.

Suara mereka tinggi menggetarkan dan diam-diam Beng Tan kaget, harus mengerahkan sinkangnya kalau isi dada tak ingin rontok! Dan ketika dua kakek itu berhenti tertawa dan mereka menghentak kedua kaki tiba-tiba kakek di sebelah kanan kini maju mengitari.

"Ha-ha, kau gagah, tetapi sombong! Eh, terus terang kami ingin mengganggumu, anak muda. Tapi sebutkan dulu siapa namamu dan dari perguruan mana!"

"Aku Beng Tan, bukan dari perguruan mana-mana. Sekarang sebutkan siapa kalian dan mau apa menghadang di sini!"

"Kami tertarik melihat kepandaianmu, terus terang ingin mengajakmu bertanding!"

"Apa?"

"Benar, kami ingin main-main denganmu, anak muda. Kami selalu tertarik melihat orang lihai!"

"Seperti Golok Maut!" kakek di sebelah kiri menyahut, cepat dan mengejutkan. "Kami penasaran tak menemukan Golok Maut, bocah. Maka kebetulan kau dapat sebagai penggantinya karena kami lihat kaupun cukup lihai!"

"Gila!" Beng Tan membentak. "Aku tak mau berkelahi tanpa alasan yang cukup, kakek siluman. Kalian sebaiknya pergi atau aku yang pergi!" Beng Tan menggerakkan kakinya, berkelebat di sisi kakek sebelah kanan namun kakek itu tiba-tiba tertawa. Beng Tan yang berkelebat tahu-tahu sudah disambut pukulan telapak tangannya, lebar menyambar dan Beng Tan terkejut. Telapak itu tahu-tahu sudah menghadang di mukanya dan tentu saja dia menangkis. Dan ketika dua pukulan mereka bertemu dan Beng Tan terpental mundur maka si kakek juga bergoyang-goyang di atas keledainya, nyaris jatuh!

"Ha-ha! Lihai, anak muda. Kau cukup lihai. Ayo maju lagi, jangan terburu-buru menyingkir!"

"Kalian gila!" Beng Tan menjadi marah. "Sebutkan nama kalian, kakek busuk. Dan baru setelah itu kupikir untuk merobohkan kalian!"

"Ha-ha, aku Mindra..."

"Dan aku Sudra!"

Beng Tan tertegun. Tiba-tiba dia teringat nama dua kakek sakti dari Thian-tok, dua orang terkenal yang mendapat sebutan Nehikha (Tidak Aturan), dua kakek yang sepak terjangnya memang seenak perut sendiri, tidak memperdulikan tata-aturan atau tata-krama. Dua orang ini berasal dari sebelah barat Nepal dan berdiam di satu dari sekian banyak puncak-puncak bersalju dari Himalaya, dikabarkan hebat dan ilmu kepandaiannya tinggi, tadi sudah dia rasakan meskipun sedikit, belum semua. Maka mengerutkan kening teringat nama ini tiba-tiba Beng Tan bertanya,

"Kalian yang mendapat julukan Nehikha dari Thian-tok?"

"Aha, kau kenal?" kakek itu bahkan gembira. "Benar, kami orangnya, anak muda. Dan sebutkan sekarang siapa namamu!"

"Aku Beng Tan!" Beng Tan terkejut. "Kiranya benar kalian dan tidak aneh kalau kini kalian menggangguku. Hm, kalian memang berjuluk Tidak Aturan, kakek buruk. Kalau begitu aku tidak heran dan boleh kita main-main sebentar. Turunlah, rupanya kita harus bertanding!"

"Ha-ha, siapa yang kau pilih?"

"Lebih baik kalian maju berbareng, agar cepat selesai!"

"Apa?" jawaban Beng Tan disambut mata yang melotot. "Kau minta kami maju berbareng? Heh, biar aku dulu yang coba-coba denganmu, bocah sombong. Dan kau menarilah di situ... tar!" sebatang cambuk tiba-tiba menjeletar, meledak menuju mata Beng Tan dan pemuda ini terkejut. Cambuk itu cambuk baja yang tiba-tiba meluncur lurus, cepat dan berbahaya namun tentu saja dia mengelak. Dan ketika cambuk lewat di sisi kepalanya namun membalik bagai seekor ular maka Beng Tan mengebutkan ujung lengan bajunya dan sekaligus menampar. "Plak!"

Cambuk itu melenceng. Lihai dan cepat sekali Beng Tan telah menghalau serangan, lawan terpekik dan membelalakkan matanya. Dan ketika Beng Tan mengejek dan lawan melengking tiba-tiba tubuh kakek itu, Sudra, sudah melayang turun dari keledainya dan berkelebatan cepat mengelilingi dirinya, cambuk menyambar dan meledak-ledak dan diseranglah Beng Tan dari segala penjuru. Pemuda itu terpaksa berkelit dan mengerahkan ginkangnya, berkelebatan dan mengimbangi kecepatan lawan.

Tapi ketika si kakek melengking menambah kecepatannya maka apa boleh buat Beng Tan harus menangkis, menghalau dan menolak semua serangan lawan dan terkejutlah kakek itu ketika cambuknya terpental. Beng Tan mampu menolak setiap serangannya dengan kepretan jari tangan, atau kadang-kadang tamparan miring di mana senjatanya selalu membalik. Dan ketika kakek itu menggeram dan memaki namun kagum melihat kelihaian pemuda ini maka temannya, Mindra, berseru mengeluarkan pujian dan bertepuk tangan berulang-ulang.

"Bagus, aih, hebat sekali, anak muda. Bagus dan hebat sekali!"

Temannya naik pitam. Pujian Mindra kepada Beng Tan memang tak dibuat-buat. Sudra menjadi mendongkol dan marah sekali. Dan ketika pemuda itu selalu menolak balik setiap serangannya maka kakek ini tiba-tiba menggerakkan tangan kiri dan meluncurlah pukulan bersinar biru yang tidak diduga Beng Tan.

"Dar!"

Beng Tan terbanting. Untuk pertama kali dia dibuat terkejut dan kaget oleh pukulan itu, lawan tertawa dan dia bergulingan, dikejar, menerima lagi pukulan bersinar biru itu dan Beng Tan terkesiap. Tentu saja menggulingkan tubuh semakin cepat namun cambuk menjeletar. Dan karena senjata panjang itu mampu menjangkau jarak yang jauh dan Beng Tan terguling ketika terkena sengatan senjata ini maka lawan tertawa-tawa dan Beng Tan terdesak, untuk pertama kalinya berkeringat!

"Ha-ha, roboh kau, anak muda. Roboh!"

Beng Tan mengeluh. Selama ini dia belum membalas dan hanya bertangan kosong, lawan mendesak dan kini dibantu pukulan bersinar biru itu, yang bukan lain Hwi-seng-ciang (Pukulan Bintang Api), ilmu yang memang dipunyai dua orang Thian-tok ini di samping kepandaian mereka memainkan senjata. Maka begitu dia terdesak dan harus mundur-mundur maka Sudra mengejeknya dengan kata-kata memerahkan telinga.

"Ha-ha, kau belum setanding bila dibanding Golok Maut, anak muda. Aku mengira kau betul-betul lihai!"

"Tutup mulutmu, jangan sombong!" Beng Tan membentak. "Aku belum mengeluarkan senjataku, Sudra, tak usah kau besar mulut karena aku belum roboh!"

"Ha-ha, kalau begitu keluarkan senjatamu, cobalah... plak-dess!" dan Beng Tan yang harus menerima sebuah pukulan lagi tiba-tiba terlempar dan terbanting bergulingan,tadi lengah sekejap dan lawan mempergunakan kesempatan itu, melepas sebuah pukulan dan Beng Tan terlempar.

Pemuda ini mengeluh dan lawan mengejar, berkelebat dan ujung cambuk meledak menuju ulu hati, satu serangan yang berbahaya. Dan ketika itu masih ditambahi dengan dorongan tangan kiri yang melepas pukulan Bintang Api maka Beng Tan berseru keras mencabut sesuatu, langsung menangkis dan menggerakkan tangan kirinya.

"Cring-dess!"

Cambuk itu patah. Sebatang pedang pendek tiba-tiba sudah berada di tangan pemuda ini, pedang yang mengeluarkan cahaya berkeredep seperti matahari, sinarnya menyilaukan dan Sudra terpekik. Dan ketika pukulannya diterima tangan kiri Beng Tan yang mengeluarkan cahaya putih tiba-tiba sinar biru dari Hwi-seng-ciang lenyap dan punah.

"Pek-lui-ciang (Tangan Kilat)!" Sudra berseru, kaget terguling-guling dan kakek ini mencelos bagai disambar petir. Tadi Hwi-seng-ciangnya terbakar dan padam bertemu pukulan pemuda itu, yang berhawa lebih panas dan dia kalah kuat, langsung terbanting dan bergulingan. Dan ketika kakek itu meloncat bangun sementara cambuk bajanya putus dibabat pedang pendek maka Sudra terbelalak sementara Mindra bengong di sana, tak berkedip memandang pedang yang berkeredepan itu, mencorong dan mengeluarkan cahaya seperti matahari.

"Pek-jit-kiam (Pedang Matahari)!" Mindra kini mengeluarkan seruan, ganti terkejut memandang pemuda itu dan matanya lekat memandang pedang di tangan Beng Tan. Pedang itu pendek namun ampuhnya bukan main, mampu membuat putus cambuk baja temannya dan tiba-tiba kakek ini berjungkir balik, melayang turun dari keledainya. Dan ketika Sudra masih ngeri dan terkejut oleh Pek-lui-ciang maka Mindra, temannya, berkedip-kedip memandang Pek-jit-kiam, Pedang Matahari.

"Eh, kau siapa, anak muda? Dari mana kau dapatkan Pek-jit-kiam ini? Bukankah itu sebuah dari tujuh senjata pusaka dari dinasti Cou?"

"Hm, aku Beng Tan, orang tua, sudah kubilang dan kusebut namaku tadi!"

"Bukan, bukan itu! Maksudku kau siapakah apakah dari keluarga raja!"

"Tidak, aku orang biasa. Aku bukan turunan bangsawan dan rupanya tak perlu kau berpanjang lebar menanyakan perihal pribadiku.."

"Kalau begitu serahkan Pek-jit-kiam!" kakek itu tiba-tiba membentak, meluncur maju. "Serahkan pedang itu kepadaku, anak muda. Atau kau mampus kubunuh.. wirr!" tangan si kakek bergerak ke depan, mau merampas pedang tapi Beng Tan tentu saja mengelak. Dan ketika si kakek menggereng dan mencabut nenggalanya, senjata seperti tombak yang bermata dua tiba-tiba Mindra sudah menyuruh temannya mengeroyok.

"Sudra, bantu aku. Rampas pedang itu!"

Sudra terkejut. Tadi dia sedang bengong oleh pukulan Pek-lui-ciang, kini dibuat semakin bengong lagi oleh Pedang Matahari di tangan lawan. Bukan main, pikirnya, pemuda ini ternyata bukan pemuda sembarangan karena juga memiliki senjata pusaka, yang ampuhnya tak kalah dengan Golok Maut! Dan ketika temannya berteriak dan mengajak dia mengeroyok maka Sudra ragu-ragu tapi akhirnya mengangguk, memandang cambuk buntungnya dan tiba-tiba dia berseru keras.

Meskipun buntung namun cambuknya itu masih cukup panjang, bisa dipakai sebagai senjata. Maka begitu Mindra membentak dan dia diminta maju mengeroyok tiba-tiba kakek ini sudah bergerak dan berseru menerjang, tidak menunggu lagi dan Beng Tan dibuat terkejut. Nenggala di tangan Mindra tak kalah berbahaya dengan cambuk di tangan Sudra, kakek ini juga hebat. Tapi ketika Sudra maju mengeroyok dan dua kakek itu bergerak di kiri kanan tiba-tiba Beng Tan membentak dan pedang di tangannya berputar dua kali.

"Cring-crangg!"

Nenggala dan cambuk lagi-lagi buntung! Mindra berseru kaget sementara Sudra berteriak tertahan. Sebenarnya mereka tadi sudah menarik senjata namun kalah cepat, Pedang Matahari sudah membabat senjata mereka dan bergujinganlah mereka ketika pedang itu mengejar, terpaksa membanting tubuh menjauh dan tentu saja mereka pucat. Pedang mendesing dan rambut mereka terbabat, tidak banyak namun cukup membuat nyali menciut, gentar! Namun karena dua orang kakek lihai ini adalah orang-orang yang suka berkelahi dan dulu Golok Maut dipaksa melayani mereka habis-habisan maka mereka sudah meloncat bangun dan menyerang lagi, tidak takut dan Beng Tan mau tak mau merasa kagum juga. Dua orang ini adalah kakek-kakek yang doyan berkelahi, dia sudah mendengar tentang itu.

Tapi karena tak mau dirinya diganggu dan apa boleh buat dia harus mengeluarkan kepandaiannya maka bergeraklah Beng Tan dengan pedang menyambar-nyambar, kian lama kian cepat dan dia selalu mendahului dua orang itu. Mindra dan Sudra terkejut karena Pedang Matahari tiba-tiba sudah mengelilingi mereka, berseliweran naik turun dan sibuklah dua orang itu mengelak sana-sini. Mereka jadi takut mengadu senjata karena jelas kalah, persis seperti Golok Maut dulu! Dan ketika mereka mengumpat caci dan tentu saja harus mengelak atau menjauhi gerakan pedang maka akibatnya mereka tak dapat membalas, mati kutu.

"Keparat, pergunakan Hwi-seng-ciang, Sudra. Kita gabung dan serang pemuda itu dari bawah!" Mindra, yang bersenjata nenggala berteriak gusar. Dia mempergunakan bahasanya sendiri hingga Beng Tan tidak mengerti, tak tahu apa yang dipercakapkan. Tapi ketika lawan bergulingan di bawah dan dari bawah mereka melakukan pukulan-pukulan Hwi-seng-ciang maka pemuda ini terkejut dan terbelalak.

"Des-dess!"

Beng Tan sibuk. Dikeroyok dan harus menghadapi lawan yang melakukan serangan dari bawah cukup merepotkan juga. Dia menggerakkan tangan kiri dan meluncurlah tamparan Pek-lui-ciang. Tapi karena lawan berjumlah dua orang dan mereka dapat bergerak berbareng maka pukulannya kurang mengena karena harus dibagi, dielak Sudra sementara Mindra mendesaknya dengan Hwi-seng-ciang. Beng Tan tergetar namun tidak roboh. Dan ketika apa boleh buat pedangnya harus membantu dan dua orang itu berteriak maka Beng Tan dapat memperbaiki dirinya lagi dan desakan dua orang itu gagal.

"Keparat, kau benar-benar lihai, anak muda. Tapi kami pantang menyerah!"

Beng Tan mendongkol. Kalau dua orang ini terus menyerang dan nekat tak tahu diri maka dia harus memberi pelajaran dan merobohkannya, meskipun di antara mereka tak ada permusuhan serius. Maka ketika lawan melengking dan kembali bergulingan mendadak Beng Tan membanting tubuh ke bawah dan... menyambut mereka dengan cara bergulingan pula.

"Heii...!"

"Hayaa...!"

Dua orang itu terpekik. Dengan cara bergulingan disambut dengan bergulingan pula maka maksud atau serangan dua kakek ini patah. Beng Tan melayaninya pula di bawah dan mereka beradu muka, tak ada waktu mengelak ketika Jit-seng-kiam maupun Pek-lui-ciang menyambar. Mereka terpaksa menangkis dan putuslah senjata nenggala ketika bertemu Jit-seng-kiam, Pedang Matahari yang ampuh itu. Dan ketika Sudra di sana juga menjerit karena cambuknya putus maka pedang di tangan Beng Tan berkelebat dua kali mengenai pundak dua orang lawannya itu.

"Bret-cret!"

Mindra dan temannya mengeluh. Mereka melompat bangun dengan pucat, pundak mereka berdarah. Beng Tan telah melukai mereka dengan goresan memanjang, tentu saja mereka menggigil, terhuyung. Dan ketika pemuda itu berdiri tegak dan Jit-seng-kiam telah menghilang di belakang punggung pemuda ini maka Beng Tan berkata,

"Cukup, kalian harus tahu diri, Mindra. Aku telah melukai pundak kalian bukannya leher. Kalau aku telengas tentu kalian tinggal nama!"

"Ooh!" Mindra terhuyung memaki. "Kau mengandalkan pedang ampuhmu, bocah. Kau seperti Golok Maut. Licik!"

"Hm, yang licik adalah kau, Mindra. Kau menyerang orang yang bertangan kosong dengan senjata!"

Dua kakek itu memaki-maki. Baik Mindra maupun Sudra rupanya tak puas, masih penasaran. Tapi ketika Beng Tan membentak mereka dan akan mencabut Jit-seng-kiamnya lagi tiba-tiba dua orang kakek itu berkelebat dan berjungkir balik di atas keledainya, melarikan diri.

"Baiklah, kau menang, bocah. Tapi lain kali kami akan datang dengan membawa senjata yang lebih baik!"

Beng Tan tersenyum. Kalau dua kakek itu masih tak tahu diri tentu dia akan bersikap lebih keras, bukan lagi melukai pundak namun barangkali harus membuntungi tangan atau kaki mereka, hal yang sebenarnya tak tega dilakukan kalau tidak terpaksa. Maka begitu lawan ngacir pergi dan Beng Tan lega maka pemuda inipun tersenyum dan melanjutkan langkahnya, mencari Golok Maut dan semakin tertarik mendengar nama ini. Sebenarnya dia memiliki tugas rahasia, tugas yang orang lain tidak mengetahui. Maka begitu dia menggerakkan kakinya dan tersenyum memandang larinya dua kakek lihai itu Beng Tanpun sudah meninggalkan hutan dan keluar dari tempat itu.

* * * * * * *

Hek-yan-pang (Perkumpulan Walet Hitam). Perkumpulan ini adalah perkumpulan yang anggautanya terdiri dari para wanita, tak ada laki-laki di situ dan tabu bagi perkumpulan ini kalau markasnya dimasuki lelaki. Dan karena perkumpulan ini berdiri di atas sebuah pulau kecil di sebuah telaga yang besar maka tak ada orang yang dapat memasuki perkumpulan itu tanpa diketahui penjaga, murid-murid Hek-yan-pang yang rata-rata cantik dan muda.

Hek-yan-cu (Si Walet Hitam) adalah ketua atau pemimpin Hek-yan-pang, masih muda dan cantik namun ilmu kepandaiannya tinggi. Tak ada yang berani coba-coba mengganggu perkumpulan itu kalau tak ingin menerima pil pahit. Dan karena perkumpulan ini berdiri di atas sebuah pulau kecil di mana tak sembarang orang dapat masuk maka agaklah aneh kalau hari itu serombongan tamu memasuki wilayah perkumpulan ini, sebagian besar lelaki!

"Stop, dilarang masuk!" begitu tujuh orang murid wanita Hek-yan-pang melon-cat menghadang, ketika melihat rombongan ini. Dan ketika mereka bertolak pinggang dan rombongan laki-laki itu tertegun karena semua murid-murid Hek-yan-pang ini mengenakan saputangan hitam, sebagai penutup wajahnya, maka pemimpin rombongan, seorang laki-laki berpakaian biru menjura.

"Maaf, kami dari kota raja, nona, utusan. Ingin bertemu Hek-yan-cu dan to-long beritahukan bahwa kami adalah utusan Ci-ongya!"

"Hm, Ci-ongya siapa? Wilayah Hek-yan-pang tak boleh dimasuki laki-laki, sobat. Tabu bagi kami laki-laki menginjak wilayah ini. Kalian rupanya tak tahu, boleh dimaafkan. Sekarang pergilah dan orang yang kalian cari kebetulan tak ada!"

"Kami membawa perintah penting!"

"Tak perduli. Hek-yan-pang tak dapat didatangi atau ditemui sesuka hati, sobat. Pangcu (ketua) tak ada di rumah karena kebetulan sedang pergi!"

Laki-laki itu mengerutkan kening. Dia adalah pemimpin rombongan dan rupanya baru kali ini tahu bahwa Hek-yan-pang adalah perkumpulan yang anggautanya terdiri dari wanita semua, karena penyambutnya itu adalah wanita-wanita, tentu gadis-gadis muda karena suaranya bening dan nyaring, juga merdu, tentu cantik. Seharusnya luwes dan ramah. Maka penasaran dan bersinar-sinar memandang tajam laki-laki itu berkata, sekali lagi,

"Maaf, kami membawa urusan yang betul-betul penting, nona. Kalau begitu apakah kami dapat menemui wakilnya?"

"Hm, kalaupun ada tapi kalian tak dapat menemuinya, orang nekat. Hek-yan-pang tak boleh didatangi laki-laki dan pantang bertemu laki-laki!"

"Tapi kalian telah menemui kami!"

"Itu lain. Kalian pendatang jauh, belum tahu aturan!"

"Hm," laki-laki ini, yang tiba-tiba menoleh ke belakang memandang seorang pemuda. "Bagaimana, siauw-ya? Apakah kita mendesak atau pulang?"

"Kita sudah di sini, tentu tak akan pulang dengan tangan hampa!"

"Nah," laki-laki itu, yang membalik lagi sudah menghadapi penyambutnya. "Ci-kongcu tak menghendaki kami pergi, nona. Perkenalkan bahwa dia adalah putera Ci-ongya, Ci Kiang..."

"Paman!" pemuda itu berseru. "Kenapa menyebut namaku di sini? Bekuk atau tangkap dia, paman. Dan kita ke pulau sambil meminta maaf!"

"Srat!" tujuh pedang tiba-tiba dicabut, hampir serentak. "Kalian mau membuat onar? Berani hendak menangkap tuan rumah di wilayahnya sendiri? Keparat, serang mereka, Hoa-ji, usir dan lempar orang-orang ini!" dan gadis atau murid penyambut yang rupanya gusar mendengar kata-kata si pemuda mendadak sudah melengking dan berkelebat dengan pedangnya, membacok dan menusuk dan yang diserang adalah pemuda itu.

Gadis atau murid Hek-yan-pang ini rupanya tak tergetar oleh ketampanan si pemuda, pedangnya bergerak sementara enam temannya yang lain juga membentak marah. Mereka tersinggung dan gusar oleh kata-kata pemuda itu. Tapi ketika pedang berkelebatan dan semua menyerang rombongan itu tiba-tiba laki-laki berpakaian biru sudah melindungi pemuda ini sementara teman-temannya yang lain menangkis.

"Tahan... cring-crang!"

Pedang terpental balik. Tadi dengan kebutannya laki-laki berpakaian biru ini telah menolak pedang lawannya, yang lain-lain juga menangkis dan mereka ada yang terhuyung. Dan ketika laki-laki berpakaian biru itu gugup mengangkat lengannya maka dia berkata,

"Nona, tahan. Minta dengan hormat agar kita tidak bermusuhan, jangan menyerang!"

"Tapi temanmu mengeluarkan kata-kata menghina, mana bisa kutahan?"

"Maaf, perlahan dulu, nona. Kami adalah para busu yang mengawal keselamatan Ci-kongcu (tuan muda Ci). Kalau kami tak diperkenankan datang ke pulau biarlah surat ini saja kau bawa, serahkan pada Hek-yan-pangcu (ketua Hek-yan-pang)!"

"Siapa mereka?" sebuah suara halus tiba-tiba menyambar datang, tanpa diketahui orangnya. "Ada apa ribut-ribut, Kim Nio?"

"Ah," Kim Nio, gadis atau murid kepala Hek-yan-pang itu gembira, menoleh ke pulau, menjatuhkan diri berlutut. "Mereka katanya utusan Ci-ongya, pangcu. Datang ingin menemuimu tapi kutolak!"

"Hm, tanya apa keperluan mereka!"

"Kami ingin minta perlindungan!" laki-laki berpakaian biru itu tiba-tiba berseru, mendahului. "Ongya ingin menitipkan puteranya, pangcu. Dari keganasan Golok Maut!"

Suara tak jelas terdengar dari kejauhan. Laki-laki berpakaian biru itu tampak gembira sementara tujuh anggauta Hek-yan-pang terkejut. Mereka terkejut mendengar disebutnya nama Golok Maut ini. Tapi ketika mereka menanti dan terdengar suara jengekan di sana tiba-tiba pangcu atau ketua Hek-yan-pang yang tidak kelihatan orangnya itu berkata, perlahan namun mampu menyeberangi pulau, "Kim Nio, bawa surat itu ke mari. Biar kubaca dulu!"

"Nanti dulu!" laki-laki berpakaian biru berseru mencegah. "Kalau kau ada di sana ijinkan kami menemuimu, pangcu. Ada pesan lisan dari Ci-ongya!"

"Hm, laki-laki tak boleh masuk!" suara itu tiba-tiba dingin. "Kau serahkan surat itu atau kalian semua pulang, Cam-busu. Aku sudah mengenalmu dan tak usah bertatap muka!" lalu, sementara Cam-busu atau laki-laki berpakaian biru itu terkejut karena dikenal lawan maka serangkum angin tiba-tiba menyambar dari depan dan... surat di tangan Cam-busu melayang ke dalam pulau!

"Heii..!" Cam-busu terpekik. "Nanti dulu, pangcu. Tunggu!" namun sebuah dengus dan pukulan jarak jauh tiba-tiba menyambar busu itu, jatuh terjengkang dan semua orang kaget. Jauh di tengah pulau sana ternyata ketua Hek-yan-pang mampu melepas pukulan, bukan main, hal yang seakan sukar dipercaya tapi Cam-busu sudah membuktikannya. Dan ketika busu itu bergulingan meloncat bangun sementara tujuh murid Hek-yan-pang tertawa mengejek maka busu itu dan teman-temannya tertegun, melihat surat itu sudah terbang ke tengah pulau dan lenyap. Surat itu seakan dibawa setan! Dan ketika semua orang terkejut dan tentu saja terbelalak lebar maka suara atau jengek itu terdengar kembali, rupanya selesai membaca surat yang dibawa busu ini.

"Cam-busu, aku menolak perintah Ci-ongya. Katakan padanya bahwa perkumpulan Hek-yan-pang bukan orang-orang yang mudah dibeli dengan uang!"

"Ah," busu ini terkejut. "Kami memohon dengan sangat, pangcu. Ci-ongya telah mendengar kelihaianmu dan berani membayar berapa saja untuk perlindunganmu terhadap Ci-kongcu!"

"Di sini tak ada jual beli. Jasa orang-orang Hek-yan-pang tak dijual!"

"Tapi Ci-kongcu telah kami bawa ke sini!"

"Apa perdulimu? Kau kira aku tunduk pada perintah Ci-ongya ini? Hm, kembalilah, Cam-busu. Katakan pada Ci-ongya bahwa Hek-yan-pang bisa hidup tanpa uang!"

"Ooh!" dan Cam-busu yang tampak kecewa dan pucat tiba-tiba berseru sekali lagi, menggigil, "Pangcu, kami telah jauh-jauh mempercayakan hal ini padamu. Aku nanti kena marah. Tolonglah dan biarkan Ci-kongcu di sini!"

"Hm, memangnya siapa kau berani membujuk aku? Pergilah, jangan cerewet lagi, orang she Cam, atau kau minta kulempar dan baru tahu diri... bress!"

Cam-busu tiba-tiba benar saja terlempar, terkena angin pukulan dari tengah pulau dan berteriaklah busu itu oleh sambaran angin ini. Dan ketika dia terguling-guling dan lagi-lagi meloncat bangun mendadak laki-laki ini menghadap Ci-kongcu, pemuda tampan itu. "Kongcu, aku gagal. Harap kau maafkan aku dan kita pulang!"

Ci-kongcu, pemuda tampan itu terbelalak. Dia sejak tadi melenggong oleh kehebatan ketua Hek-yan-pang. Jauh dari tengah pulau sana dapat membuat pengawalnya jungkir balik. Dan ketika Cam-busu tampak pucat dan menggigil kepadanya tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri, memandang ke pulau.

"Hek-yan-pangcu, kau betul-betul hebat. Aku kagum, tapi ayah rupanya tak perlu memaksa seorang sombong!" dan membalik menyambar pengawalnya tiba-tiba pemuda ini mengajak pergi. "Paman, kita pulang. Kalau Golok Maut datang biarlah kita hadapi dengan gagah!"

"Hm!" suara di tengah pulau itu terdengar lagi. "Tangkap pemuda itu, Kim Nio. Dia telah menghinaku. Lempar yang lain dan seret pemuda itu ke mari!"

Kim Nio, murid kepala itu tiba-tiba bergerak. Dia sudah melotot mendengar kata-kata Ci-kongcu tadi, ketuanya dimaki sombong! Maka membentak dan bergerak mematuhi perintah tiba-tiba gadis ini berkelebat dan menyambar pemuda itu, ditangkis Cam-busu dan enam temannya yang lain tiba-tiba bergerak menyerang yang lain. Dan ketika rombongan itu marah dan terkejut karena tuan rumah hendak menangkap junjungan mereka tiba-tiba berkesiur angin dingin dari tengah pulau dan orang-orang itu terlempar.

"Ci-kongcu, kau ke sinilah!"

Orang-orang terpekik. Mereka melihat pemuda itu terangkat naik dan terbang ke pulau, sama seperti surat yang dirampas ketua Hek-yan-pang itu. Dan ketika Ci-kongcu sendiri berteriak dan kaget tersedot ke pulau tiba-tiba pemuda itu telah lenyap dan seperti diculik siluman!

"Hai" Cam-busu terperanjat. "Kembalikan Ci-kongcu, Hek-yan-pang. Kalian merampasnya!" namun ketika terdengar ketawa dingin dan kesiur angin dari pulau tiba-tiba busu itu terbanting dan terlempar jauh di sana.

"Pulanglah, sekarang lain urusannya, busu tolol. Junjunganmu ini berani juga dan gagah. Kalian enyah, dan jangan kembali lagi!"

Cam-busu tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa tugasnya telah berhasil, meskipun agak berliku dan terjadi dengan cara yang janggal. Bayangkan, tadi ditolak tiba-tiba sekarang diterima, meskipun Junjungannya termasuk diculik atau "dirampas" ketua Hek-yan-pang. Tapi karena hal itu sama saja dan yang jelas junjungannya sudah berpindah ke tengah pulau maka laki-laki ini girang berseru dari jauh,

"Pangcu, terima kasih kami ucapkan. Kami akan pulang dan melapor pada Ci-ongya. Tolong jaga baik-baik junjungan kami itu!"

"Keparat, pergilah, busu tolol. Aku tak mahu mendengar suaramu lagi!"