GOLOK MAUT
JILID 09
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
”SIN HAUW, menyerahlah. Kau kami tangkap!"

Sin Hauw menggereng. Dia meloncat keluar kamar dan tubuh Tang Kiok dipondongnya, mandi darah namun Sin Hauw tak perduli. Bajunya basah oleh wanita itu namun Sin Hauw membiarkannya. Matanya tajam menatap ke depan dan tampak berapi-api, membakar siapa saja dan semua orangpun tertegun. Matanya itu rasanya sanggup menghanguskan setiap orang dengan sekali pandang saja, menelan dan melahap siapa saja yang berani beradu pandang dengannya. Dan ketika Sin Hauw tegak dengan wanita berlumuran darah di bahunya maka pemuda itu balas membentak, suaranya menyambar bagai geledek di siang bolong.

"Kwi-goanswe, jahanam keparat kau! Majulah, tak usah banyak cakap. Kau telah menipu dan mempermainkan aku!"

"Keparat, kau yang jahanam. Sin Hauw. Kau pemberontak dan tak tahu diri, menyerahlah, atau kami semua akan menyerangmu!"

"Kenapa banyak cakap? Majulah, Kwi-goanswe, dan mari kuantar kau ke neraka jahanam!" dan Sin Hauw yang tidak kuat lagi menahan marah tiba-tiba membentak dan sudah berkelebat ke depan, menyambar pengawal yang ada di muka dan pengawal-pengawal itu terkejut. Sin Hauw mencabut Golok Mautnya dan sinar kemerahan menyambar mereka, dari atas ke bawah. Dan ketika mereka menangkis namun tombak atau pedang putus dibabat tiba-tiba saja sinar merah itu terus menyambar mereka dan meluncur lurus ke leher Kwi-goanswe.

"Tahan dia, awas... cring-crangg!"

Pedang dan tombak mencelat entah ke mana. Sebelas pengawal tiba-tiba roboh menjerit ketika golok di tangan Sin Hauw berkelebat menyambar, tak kenal ampun dan terpekiklah tujuh prang pertama ketika leher mereka tergurat panjang, mandi darah dan tentu saja orang-orang itu terjungkal. Dan ketika yang lain juga terpelanting dan terlempar ke kiri kanan maka Kwi-goanswe terkejut melihat sinar kemerahan itu menuju lehernya, cepat dan tak kenal ampun dan tentu saja jenderal ini membanting tubuh bergulingan, tak sempat mengelak karena gerakan Sin Hauw luar biasa cepatnya. Satu-satunya jalan hanya melempar tubuh bergulingan itu. Dan ketika hal itu sudah dilakukan namun masih juga pundak kirinya robek tersambar maka jenderal ini berteriak menyuruh pasukan panah melepas panahnya.

"Bunuh dia! Panah...!"

Puluhan panah tiba-tiba menyambar. Jepretan yang hampir berbareng disusul sinar-sinar hitam yang menuju Sin Hauw bergerak bukan main cepatnya. Sin Hauw memutar golok dan semua panah itupun runtuh, tak kurang dari tujuh puluh jumlahnya. Tapi ketika pasukan kembali mementang gendewanya dan puluhan panah menjepret menuju Sin Hauw maka Sin Hauw berkelebatan mengerahkan ginkang, menangkis dan meruntuhkan panah-panah itu namun pasukan tombak mendapat aba-aba. Seratus orang sudah menggerakkan tombaknya pula dan menyambarlah dari mana-mana senjata panjang itu.

Sin Hauw sibuk dan marah, akhirnya melengking-lengking dan bergeraklah pemuda itu bagai bayang-bayang yang luar biasa cepatnya. Betapapun dia tak boleh lengah karena lawan hendak membunuhnya. Sin Hauw marah karena dua ratus lawan menyerangnya dari jauh. Dan ketika dia berkelebatan menangkis sambaran panah atau tombak tiba-tiba delapan ratus yang lain mulai bergerak dan menyerang.

"Ha-ha, mampus kau, Sin Hauw. Mati kau sekarang!"

Sin Hauw membentak panjang. Akhirnya dia demikian sibuk menyelamatkan dirinya, lupa pada mayat Tang Kiok dan tubuh wanita itu menjadi korban. Beberapa panah atau tombak yang luput menyambar Sin Hauw mengenai tubuh wanita ini, tubuh yang sebenarnya sudah menjadi mayat. Dan ketika suara "crap-crep" membuat Sin Hauw naik darah karena tubuh wanita itu sudah penuh oleh tombak atau panah maka Sin Hauw tiba-tiba meloncat berjungkir balik tinggi sekali, begitu tinggi hingga pasukan panah atau tombak tertegun. Sin Hauw sudah berjungkir balik begitu jauh dan tingginya hingga tahu-tahu ia sudah hinggap di wuwungan paling tinggi, turun dan lenyap di sini.

Dan ketika ia keluar lagi namun sudah tidak membawa mayat Tang Kiok maka Sin Hauw terjun dan sudah menyerang pasukan di wuwungan yang lain, berkelebat dan berjungkir balik melayang ke sini dan kagetlah semua orang ketika Golok Maut tiba-tiba berkelebatan meminum darah. Sin Hauw tidak bertindak setengah-setengah lagi dan dibalaslah semua kekejaman lawan. Apa yang ada di depan diterjang dan dirobohkannya. Dan ketika darah memuncrat dari mana-mana dan kepala atau lengan putus disambar Golok Maut maka orang menjadi ngeri dan pucat melihat tandang pemuda itu.

"Awas, menjauh... menyingkir..!"

Sin Hauw tak perduli. Dia terus membentak dan mencari Kwi-goanswe, memaki-maki. Jenderal itu tiba-tiba menghilang dan tentu saja Sin Hauw marah. Seribu pasukan hanya mendengar aba-aba jenderal itu dari tempat tersembunyi, beberapa bawahannya membantu dengan teriakan-teriakan nyaring. Pasukan panah dan tombak tiba-tiba tak dapat menyerang lagi karena Sin Hauw berpindah-pindah. Pemuda ini selalu bergerak di tengah hingga membuat pasukan tombak atau panah ragu, mereka tak berani meluncurkan tombak atau panah lagi karena takut mengenai teman sendiri.

Maklumlah. Sin Hauw dengan cerdik sengaja bergerak di tengah agar pasukan tombak atau panah tak berani melepaskan senjatanya, pemuda ini membabat dan merobohkan siapa saja yang ada di depan. Dan karena orang-orang seperti Kak-busu atau Pek-wan tak ada di situ karena mereka tewas terbunuh maka hanya Kwi-goanswe dan pasukannya ini yang dihadapi Sin Hauw, memang tidak memiliki kepandaian tinggi namun serangan begitu banyak orang tetap membahayakan juga. Sin Hauw melindungi dirinya dengan baik sementara golok ditangannya terus menyambar-nyambar mencari sasarannya. Dan ketika seratus orang akhirnya tergelimpang mandi darah dengan begitu cepatnya maka Sin Hauw ditakuti dan membuat gentar semua orang.

"Jangan didekati, serang dari jauh!"

Itulah suara Kwi-goanswe. Entah bersembunyi di mana jenderal tinggi besar itu namun aba-abanya cukup terdengar jelas. Kwi-goanswe memang sengaja mengorbenkan pasukannya, yang menjadi makanan empuk bagi Sin Hauw dan akhirnya seratus orang kembali roboh, bermandi darah. Sepak terjang Sin Hauw memang menggiriskan dan pemuda itu terus mengamuk. Namun ketika pasukan mulai menjauh dan Sin Hauw harus beterbangan dari satu tempat ke tempat lain maka pemuda ini membentak memaki-maki Kwi-goanswe.

"Orang she Kwi, keluarlah. Ayo jangan bersikap pengecut!"

Sin Hauw akhirnya serak suaranya. Memaki dan membentak-bentak jenderal itu sementara lawan tetap bersembunyi memang menghabiskan tenaga juga. Sin Hauw mulai berkeringat namun belum lelah, seperlima dari lawan sudah dibantai dan pemuda itu terus bergerak menyambar-nyambar. Namun ketika lawan mulai menjauh dan terdengar suitan panjang tiba-tiba beterbangan benda-benda hitam di atas kepala Sin Hauw.

"Rrtt-crat-crat!"

Sin Hauw terkejut. Kiranya puluhan jala menyambar mau menjerat, Kwi-goanswe berteriak dari sana agar semua orang mempergunakan senjata perangkap itu, Sin Hauw terkejut dan marah. Dan ketika benar saja tak lama kemudian dari segala penjuru meluncur ratusan jala yang ditembakkan dari jauh maka Sin Hauw membentak dan memutar goloknya di atas kepala, cepat melebihi kitiran.

"Rrtt-crat-crat!"

Sebagian besar memang terbabat. Hampir semua jala itu putus bertemu Golok Maut, senjata yang luar biasa dan ampuh. Namun karena putus sepuluh menyambar seratus maka Sin Hauw kewalahan dan beberapa di antaranya ada yang mulai menjirat, jatuh di bawah kaki atau di atas pundaknya. Ratusan jala tiba-tiba saja sudah bertumpuk di dekat kakinya, bukan main! Dan ketika Sin Hauw mengeluh dan satu di antaranya menjerat kaki tiba-tiba pemuda ini terjatuh dan terguling.

"Panah dia, hujani senjata!"

Ratusan panah dan tombak sekarang menyambar. Sin Hauw rupanya benar-benar mau dibunuh dan pemuda itu tak diberi ampun. Sementara dia terguling tiba-tiba ratusan panah dan tombak menyambar, seperti tadi. Tak dapat dielak dan mengenai Sin Hauw. Namun karena Sin Hauw telah mengerahkan sinkangnya dan semua panah atau tombak patah bertemu tubuhnya maka orang pun terbelalak dan semakin gentar, melihat bahwa Sin Hauw kebal!

"Keparat, lepaskan lagi panah dan jala. Serang sampai dia kehabisan tenaga!"

Sin Hauw menggeram. Kwi-goanswe itu keparat benar, kerjanya hanya memerintah dan pasukannya terus menghujani dirinya dengan panah dan jala. Sin Hauw kerepotan karena bagaimanapun juga dia diserang dari jauh. Sekarang semua pasukan tak ada yang berani maju mendekat setelah Sin Hauw merobohkan lagi seratus teman mereka, jadi tiga ratus orang sudah roboh mandi darah menjadi korban Golok Maut.

Dan ketika pemuda itu dihujani ratusan panah dan jala secara berbareng maka Sin Hauw kembali terguling, jatuh keserimpet jala sementara tubuhnya kebal menerima hujan panah atau senjata-senjata lain yang tajam, hal yang membuat kagum musuh-musuhnya tapi mereka tak berhenti menyerang. Kwi-goanswe terus menyuruh mereka merepotkan pemuda itu. Sin Hauw memang sibuk. Dan ketika akhirnya dia terguling dan memang keserimpet jala maka pemuda itu mengeluh ketika hampir saja sebuah panah mengenai matanya.

"Crep!" panah itu menancap di rambut, di atas telinganya, disusul lagi panah-panah yang lain di mana tiba-tiba Kwi-goanswe memerintahkan agar pasukannya menyerang mata pemuda itu, tempat yang tentu saja tak dapat dilindungi kekebalan. Dan ketika Sin Hauw menggeram dan hampir saja sebuah panah lagi-lagi menusuk mata kirinya maka pemuda itu berkelebat ke atas genteng.

"Kwi-goanswe, kau jahanam keparat!"

Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi.. Sin Hauw tiba-tiba berteriak kaget ketika genteng yang diinjak amblong, menjejakkan kaki dan berjungkir balik lagi ke genteng yang lain, maksudnya mau menyembunyikan diri dari hujan serangan jala dan panah, yang kini semakin berbahaya karena diarahkan pada sepasang matanya, padahal pandangannya bisa tertutup oleh puluhan jala yang menimpa atas kepalanya. Tapi begitu kakinya juga menginjak genteng yang amblong dan entah mengapa tiba-tiba semua wuwungan rapuh maka terdengarlah tawa bergelak sang jenderal yang kini muncul di sebelah timur.

"Ha-ha, kau tak dapat melarikan diri. Sin Hauw. Kau sudah terjebak!"

Sin Hauw terbelalak. Genteng atau wuwungan terakhir yang diinjaknya tiba-tiba mengeluarkan suara keras, berkeratak dan robohlah wuwungan itu. Genteng di atas kepalanya berguguran semua dan Sin Hauw kaget sekali. Hal itu tak diduga. Dan ketika tembok di sekelilingnya juga runtuh dan panah serta tombak bersuitan menyambarnya maka Sin Hauw terpelanting ke bawah dan jatuh terbanting.

"Buummm...!"

Suara itu menggetarkan tempat sekitar. Sin Hauw tahu-tahu teruruk dan kejatuhan semua bahan-bahan ini, genteng dan tembok yang berguguran. Tentu saja terkubur hidup-hidup. Dan ketika pemuda itu terpekik dan menjadi kaget maka kakinya yang ada di bawah tahu-tahu seakan dibetot dan, meluncurlah pemuda ini ke sebuah lubang mirip sumur yang dalam.

"Bress!"

Sin Hauw tak ingat apa-apa lagi. Dia tahu-tahu terbentur oleh sesuatu yang keras dan pemuda itu pingsan. Dan ketika tubuhnya terbanting dan jatuh di tempat yang dalam maka pemuda itu kehilangan kesadarannya dan tak tahu apa yang terjadi.

* * * * * * *

"Hm, ini pemuda itu, kanda? Dia adik mendiang Hwa Kin?"

Begitu Sin Hauw mendengar sebuah percakapan ketika kesadarannya mulai pulih. Pemuda ini masih merasa seakan melayang-layang di tempat yang tinggi, kepalanya pening dan bumi rasanya seperti berputar. Tapi ketika seember air dingin disiramkan ke mukanya dan pemuda itu membuka mata maka dilihatnya Coa-ong-ya berdiri di situ dengan seorang laki-laki lain, juga Kwi-goanswe, dan Kwi Bun!

"Heh, kau bangunlah. Sin Hauw. Lihat bahwa kau sudah tertangkap!"

Sin Hauw terkejut. Memang benar dia sudah tertangkap dan keempat kaki tangannya diikat rantai yang besar. Golok Maut, senjatanya itu, ternyata sudah di tangan Coa-ongya. Pangeran itu mengamang-amangkan goloknya dan membolak-balik, sikapnya seperti main-main tapi pandang matanya penuh ancaman. Dan ketika pangeran itu tertawa aneh dan menyuruh dia bangun maka Sin Hauw bangkit. dengan susah payah namun merasa seluruh tenaganya seakan dilolosi.

"Kau telah menelan liur Katak Merah, Sin Hauw. Kau tak punya daya kalau tidak kami beri obat penawar!"

"Pengecut!" Sin Hauw membentak, marah sekali. "Apa yang kau kehendaki, Coa-ongya? Kenapa tidak membunuhku?"

"Hm, kau masih kuperlukan, Sin Hauw. Belum semua kepandaianmu kurekam!"

"Apa maksudmu? Dan siapa temanmu itu?"

"Oh, kenalkan. Sin Hauw. Dia adikku pangeran Ci!"

Sin Hauw terbelalak. Ci-ongya, adik Coa-ongya itu tiba-tiba maju, mengangkat dagunya dan Sin Hauw melihat tawa yang aneh pada pandang mata pangeran ini. Dan ketika Ci-ongya mengangguk-angguk dan tertawa maka laki-laki itu berkata,

"Mirip.., mirip sekali. Dia dan mendiang encinya sama! Hm, pemuda ini keras kepala, kanda pangeran. Sebaiknya diberi obat pelupa ingatan dan menyerahkan semua kepandaiannya kepada kita!"

"Nah!" Coa-ongya menjengek. "Dengar kata-kata adikku. Sin Hauw. Kami dapat memberimu obat pelupa ingatan agar tunduk seperti kerbau!"

Sin Hauw pucat. Mendengar kata-kata dua orang itu tiba-tiba dia semakin marah, coba menarik tangan dan kakinya namun gagal. Tenaganya lemah sekali sementara rantai itu kuat bukan main, dia mengerahkan sinkang namun juga gagal. Dan ketika Sin Hauw mendelik dan merah padam maka Coa-ongya kini maju menjepit dagunya.

"Sin Hauw, jangan coba-coba melawan. Kau tak punya daya, jangan macam-macam!"

"keparat, kau curang, pangeran. Kau licik dan tidak berperikemanusiaan!"

"Ha-ha, sesukamulah. Kau boleh memaki. Sin Hauw. Tapi sekarang katakan dulu maukah secara baik-baik kau menyerahkan Im-kan-to-hoat (Silat Golok Dari Akherat) atau tidak?"

"Aku tak sudi!" Sin Hauw membentak. "Kau bunuhlah aku, pangeran. Aku tak takut mati!"

"Ha-ha, seperti encinya!" Ci-ongya tiba-tiba tertawa. "Persis encinya, kanda pangeran, gagah dan tak takut mati! Tapi kita harus menundukkannya, kali ini tak boleh gagal!" dan Ci-ongya bertepuk tangan memanggil pengawal tiba-tiba menyuruh pengawal mengambil sesuatu. "Ambilkan Arak Hitam!"

Sin Hauw menggigil. Rupanya dua kakak beradik ini sama-sama keji, mereka suka mencekoki lawan dengan arak beracun, atau entah arak apalagi yang kini diminta pangeran itu. Dan ketika pengawal mengangguk dan keluar lagi maka Ci-ongya memandang Kwi Bun dan ayahnya.

"Kwi-kongcu, kau tak ingin membalas dendam?"

"Hm!" Kwi Bun, pemuda yang sejak tadi diam dengan mata bersinar-sinar tiba-tiba seolah mendapat kesempatan bagus. "Tentu saja aku ingin membalas dendam, ongya. Tapi paduka katanya membutuhkan pemuda ini!"

"Ha-ha, itu betul. Tapi kau dapat main-main sebentar kalau kau ingin, Kwi-kongcu, asal jangan bunuh dulu!"

"Baik!" dan Kwi Bun yang melompat dengan muka gembira tiba-tiba memandang ayahnya. "Ayah, apakah yang pantas kita lakukan pada pemuda ini? Bolehkah kukerat dagingnya sedikit demi sedikit?"

"Hm, terserah kau, Bun-ji. Asal jangan dibunuh seperti kata pangeran!"

"Tidak, tentu tidak!" dan Kwi Bun yg gembira mencabut pisau tiba-tiba sudah membungkuk dan menempelkan pisau dileher Sin Hauw. "Sin Hauw, kau ingat betapa kau pernah kurang ajar kepadaku? Hukuman apa yang kauinginkan setelah kau bersikap kurang ajar memusuhi ayahku pula? Kau ingin dihukum picis?"

"Cuh!" Sin Hauw tiba-tiba meludah, tepat sekali mengenai muka pemuda itu. "Kau bunuhlah aku, Kwi Bun. Aku tak takut!" dan Kwi Bun yang terkejut serta marah tiba-tiba membentak dan melayangkan tangannya yang lain, menampar Sin Hauw dan terpelantinglah pemuda itu. Dan ketika Sin Hauw dicengkeram bangun dan balas diludahi maka pemuda itu menggigil mengancam Sin Hauw.

"Sin Hauw, pangeran telah memberi perkenan kepadaku. Kau akan kuhukum picis!" pisau bergerak, menyayat lengan Sin Hauw namun ternyata tak mempan. Sin Hauw tak dapat mengerahkan sinkangnya namun tenaga sakti di tubuh pemuda itu bekerja secara otomatis, menolak dan Sin Hauw ternyata tetap kebal. Dan ketika Kwi Bun membentak lagi dan kini menyayat punggung ternyata tetap saja pisau pemuda itu mental!

"Tak-tak!"

Kwi Bun jadi malu. Dua kali dia menyayat namun dua kali itu pula gagal, pisaunya seolah tumpul dan Sin Hauw tertawa mengejek. Putera Kwi-goanswe itu melotot dan menampar mulut Sin Hauw. Dan ketika Sin Hauw tersentak dan bibirnya pecah berdarah tiba-tiba Kwi Bun sudah melekatkan ujung pisaunya di mata Sin Hauw.

"Heh, jangan tertawa. Tubuhmu boleh kebal tapi tak mungkin bola matamu kebal, Sin Hauw. Aku ingin mencobanya dan kau tertawalah!" pisau bergerak, menusuk mata pemuda itu namun Sin Hauw berkelit. Terhadap ancaman pemuda ini membuat muka Sin Hauw berobah juga dan Kwi Bun tertawa mengejek. Sekarang dia yang ganti mengejek lawannya itu, pisau kembali bergerak dan akhirnya mengenai juga pipi kiri Sin Hauw, pemuda itu sudah pucat dan marah. Dia bisa buta! Tapi ketika pisau kembali bergerak dan siap menusuk mata Sin Hauw untuk kesekian kalinya lagi tiba-tiba pengawal mengetuk pintu dan masuk, membawa apa yang diminta pangeran Ci.

"Maaf, ini, ongya. Arak Hitam yang paduka minta!"

Ci-ongya menerima. Kwi Bun akhirnya menghentikan juga tusukan pisaunya dan sejenak Sin Hauw lega. Betapapun ia masih selamat. Tapi ketika Kwi Bun hendak mengulangi perbuatannya dan membutakan mata Sin Hauw tiba-tiba Ci-ongya berseru agar pemuda itu mencekoki Sin Hauw dengan Arak Hitam.

"Simpan pisaumu, kongcu. Cekokkan ini padanya dan lihat apa yang nanti terjadi!"

Kwi Bun sedikit kecewa. Rupanya pemuda itu ingin benar menyiksa Sin Hauw, memberikan arak dianggapnya mengenakkan Sin Hauw menghalangi kegembiraannya.Tapi ketika ayah berseru agar dia cepat melaksanakan perintah itu maka Kwi Bun menerima dan menyambut.

"Baiklah, maaf, ongya. Rupanya aku masih kurang beruntung!"

"Ma-ha, jangan kecewa. Arak itu jauh akan lebih menyenangkanmu, Kwi-kongcu. Sin Hauw bisa tunduk kepada siapa saja. Mulailah!"

Sin Hauw berdebar. Mengingat pengalamannya ketika minum arak bersama Coa-ongya pemuda ini jadi mendapat firasat buruk dengan segala macam arak, apalagi kalau dari orang-orang ini, yang keji dan rupanya tak tahu malu. Dan ketika arak sudah didekatkan Kwi Bun dan Sin Hauw siap disuruh minum tiba-tiba Sin Hauw membentak dan meludahi pemuda itu, kali ini tiba-tiba tenaganya sedikit pulih dan langsung air ludahnya menjadi sekeras batu!

"Kwi Bun, kau pergilah ke neraka. Minumlah arak itu sendiri.. cuh!" ludah Sin Hauw mengenai pipi pemuda ini, langsung tembus dan tentu saja Kwi Bun kaget bukan main, berteriak-teriak dan ludah itu seperti pelor baja yang diletupkan dari sebuah senapan. Kwi Bun terbanting dan botol arak pun pecah. Dan ketika pemuda itu bergulingan dan semua kaget maka pemuda ini menjerit-jerit dan mengaduh.

"Aduh, keparat. Sin Hauw. Kau jahanam keparat!" Kwi Bun bergulingan, mencabut pisaunya lagi dan tiba-tiba pemuda itu melemparkannya ke dada Sin Hauw. Kwi Bun lupa bahwa pemuda ini tak boleh dibunuh, pisaunya itu menyambar cepat dan sang ayahpun terkejut. Tapi ketika pisau mengenai dada Sin Hauw dan mental bertemu kekebalan pemuda itu maka Kwi-goanswe lega sementara Coa-ongya dan Ci-ongya berseru marah,

"Kwi-kongcu, kau tak boleh membunuh pemuda ini. Tahan!"

Kiranya Kwi Bun mencabut pedangnya. Dalam kemarahan dan kesakitannya tadi tiba-tiba pemuda ini hendak menyerang Sin Hauw, yang diincar adalah mata karena pedang itu sudah bergetar ke arah mata. Sin Hauw bakal tak dapat melindungi jiwanya lagi kalau pedang itu mengenai matanya, tembus ke otak dan tentu saja dua pangeran itu segera membentak. Kelemahan Sin Hauw diketahui dan Ci-ongya serta Coa-ongya melompat ke depan, menegur pemuda itu. Dan ketika Kwi Bun kecewa dan memasukkan pedangnya lagi maka sang ayah berkelebat dan marah memandang Sin Hauw.

"Pangeran, pemuda ini berbahaya sekali. Sebaiknya dia cepat dibunuh!"

"Tidak, kami akan menundukkannya dengan obat pelupa ingatan, goanswe. Obat itu sudah kami campur di Arak Hitam tapi sayang puteramu menumpahkannya!"

"Bukan dia yang menumpahkan, pangeran, melainkan Sin Hauw!"

"Sama saja. Puteramu tak dapat berhati-hati, goanswe. Tapi kami akan mengambil lagi. Sebaiknya kau yang meminumkan dan kusuruh pengawal datang!"

Kwi-goanswe pucat. Disuruh meminumkan arak pada Sin Hauw tiba-tiba jenderal ini berobah mukanya. Sin Hauw itu masih hebat, air ludahnya seperti pelor! Ngeri jenderal ini! Tapi ketika pengawal dipanggil datang dan membawa arak lagi maka jenderal ini bingung memandang pangeran itu.

"Minumkan, biar kau membalas sakit hati puteramu, goanswe. Berikan arak itu dan paksa pemuda ini minum!"

Jenderal itu ragu, memandang Sin Hauw dan pangeran berganti-ganti.

"Kenapa? Kau takut?"

"Hm, bukan begitu, pangeran. Tapi pemuda ini masih berbahaya!"

"Dia tidak dapat menyerang!"

"Tapi ludahnya seperti pelor, pangeran. Aku jadi ragu!"

"Ah, kau pengecut, Kwi-goanswe. Tak pantas kau menjadi pembantuku!"

Jenderal ini pucat. Melihat pandang mata penuh ancaman dari Coa-ongya tiba-tiba jenderal itu mengeraskan hati, melompat ke belakang dan dari belakang ia menubruk Sin Hauw. Sin Hauw mau membalik namun kalah cepat, jenderal itu tahu-tahu telah mencekik lehernya. Dan ketika Sin Hauw mengeluh dan mau meronta tapi tak berdaya maka dengan kuat dan kasar jenderal ini menjepit rahangnya, memaksa dia membuka mulut dan Sin Hauw kesakitan. Dia tak berdaya dan mulutpun terbuka. Dan begitu Kwi-goanswe mencekokkan arak dan memaksa dia minum maka arak memasuki mulut pemuda ini namun Sin Hauw menahan.

"Glek-glek!"

Sin Hauw membuat lawannya terbelalak. Kwi-goanswe melihat arak itu hanya berhenti saja di mulut Sin Hauw, tidak memasuki perutnya dan tentu saja jenderal ini penasaran. Tapi begitu dia membentak dan memencet rahang tahu-tahu Sin Hauw menyemburkan arak yang ada di dalam mulutnya itu, mengerahkan tenaga sakti.

"Crot!"

Jerit ngeri terdengar meraung-raung. Kwi-goanswe berteriak dan menjerit-jerit ketika arak itu tepat mengenai mukanya, hidungnya hancur sementara mata jenderal itu buta sebelah! Terkejutlah semua orang. Dan ketika Kwi-goanswe bergulingan di sana dan puteranya terbelalak maka Kwi Bun tiba-tiba mencabut pisaunya dan menerjang Sin Hauw.

"Bedebah! Kau melukai ayahku. Sin Hauw. Jahanam keparat!"

Coa-ongya dan Ci-ongya terkejut. Dua orang pangeran itu belum bermaksud membunuh Sin Hauw, kalau hal itu dilakukan tentu sejak tadi mereka sudah melaksanakannya. Maka begitu Kwi Bun tak dapat menguasai diri sementara Kwi-goanswe di sana berteriak-teriak dan bergulingan maka dua pangeran ini membentak dan Sin Hauw sendiri melempar kepalanya ke belakang, melihat pisau menyambar mata dan Kwi Bun hendak menusuk bagian yang tak dapat dilindungi kekebalan ini. Pemuda itu marah melihat kebutaan yang menimpa ayahnya. Dan begitu pisau menyambar namun Sin Hauw keburu melempar kepala ke belakang maka pisau itu mengenai tembok, mental.

"Takk!"

Kwi Bun membalik. Keadaan tiba-tiba tak dapat dikuasai lagi, Kwi-goanswe di sana membentak dan sudah mencabut pedangnya, jenderal tinggi besar itu tampak menyeramkan karena sebagian besar mukanya penuh darah, matanya yang buta hancur sebuah dan jenderal itu menyerang. Tapi ketika dia menubruk dan pengawal sudah dipanggil tiba-tiba Coa-ongya memerintahkan agar Kwi-goanswe dicegah, jenderal itu harus ditangkap dan dibawa keluar. Dia harus diobati dan Sin Hauw tak boleh dibunuh.

Dan ketika Kwi Bun juga ditubruk dan pengawal berhamburan datang maka Sin Hauw selamat namun baju pemuda ini robek-robek, tadi tak dapat mengelak semua serangan dan pisau atau pedang di tangan ayah dan anak mengenainya juga. Untung sinkangnya masih bekerja dan kekebalannya menjaga. Dan ketika dua orang itu ditangkap sementara Coa-ongya sendiri membentak penuh wibawa maka Sin Hauw akhirnya dipukul dengan sepotong besi, pingsan.

"Kau jahanam keparat, rebahlah di situ, ngek!" pemuda ini tersungkur, roboh dan pingsan lagi dan dua orang pangeran itu pucat. Mereka masih melihat kehebatan Sin Hauw ini, kekuatannya yang luar biasa dan juga kekebalannya yang mengagumkan. Dalam keadaan seperti itupun pemuda ini mampu melukai Kwi-goanswe dan anaknya. Bukan main! Hal yang benar-benar mengejutkan.

Dan ketika dua orang itu meninggalkan Sin Hauw dan Kwi-goanswe dirawat tapi tetap matanya buta sebelah maka hari-hari berikut merupakan neraka bagi Sin Hauw. Akhirnya Arak Hitam dicekokkan juga ketika dia pingsan. Sin Hauw masih mendapat hajaran dan siksa yang lain, pukulan dan tendangan, tapi pemuda itu tak terluka. Obat pelupa ingatan mulai bekerja dan seminggu kemudian Sin Hauw sudah seperti orang linglung, tubuhnya kurus karena selama seminggu itu pula makan minumnya tak diurus. Dan ketika pemuda itu benar-benar lupa ingatan pada minggu kedua maka Coa-ongya dan Ci-ongya mempermainkannya.

"Ha-ha, ke sinilah. Sin Hauw. Jalan merangkak!"

Sin Hauw merangkak, lambat-lambat, tidak lagi diikat.

"Cepat, seperti anjing!"

Sin Hauw merangkak seperti anjing.

"Ha-ha, sekarang berdirilah. Sin Hauw Mainkan silat golokmu yang paling hebat itu!"

Sin Hauw mengerutkan kening, pandang matanya kosong.

"Eh, kau tak mendengar perintahku?" sebuah cambuk mengeletar. "Cepat, mainkan silat golokmu itu, Sin Hauw. Dan tunjukkan pada kami semua tipu-tipunya!"

Sin Hauw mendelong saja. Cambuk akhirnya menjeletar dan tergulinglah pemuda itu, bajunya pecah namun kulitnya tidak apa-apa. Hebat pemuda ini. Dan ketika Coa-ongya terbelalak sementara adiknya juga tertegun maka Ci-ongya mendecak menyatakan kagum.

"Sin Hauw ini benar-benar luar biasa. Sinkangnya masih melindungi tubuhnya meskipun hilang ingatan!"

"Ya, dan aku ingin memiliki sinkang seperti itu, adik pangeran. Kudengar Im-kan-to-hoat yang dimiliki pemuda ini mengandung gerak-gerak tenaga sakti. Setiap tarikan napas atau hembusan napasnya dikendalikan sinkang otomatis, ilmu itu hebat!"

"Tapi dia belum menjelaskan!"

"Dapat kita paksa, adik pangeran. Biarlah kusuruh lagi dan kuperiksa dia!" pangeran ini membentak Sin Hauw, mengeletarkan cambuknya dan Sin Hauw pun bangun. Coa-ongya memerintah agar dia mainkan silat goloknya itu, Im-kan-to-hoat. Tapi ketika Sin Hauw mendelong saja dan seperti orang bodoh maka Coa-ongya marah dan mencambuk pemuda itu lagi.

"Sin Hauw, ayo mainkan silat golokmu itu. Cepat, atau kau kusiram air panas!"

Sin Hauw menggigil. "Aku... aku tak dapat, pangeran. Aku lupa..."

"Apa? Kau bohong? Keparat, jangan menipu aku. Sin Hauw. Ayo mainkan itu atau kau roboh... tar!" cambuk meledak kembali, mengenai muka Sin Hauw dan pipi pemuda itu tergurat. Sin Hauw terpelanting namun diperintahkan bangun lagi. Dan ketika pemuda itu terhuyung dan Coa-ongya mendelik maka pemuda ini menggeleng kuyu, menyatakan lupa.

"Aku... aku tak bisa... aku tak ingat semua yang pernah kupunyai..."

Jawaban itu disambut geraman. Coa-ongya marah dan tiba-tiba menyiramkan air panas. Sin Hauw berjengit dan mengaduh, berkelojotan di tanah. Dan ketika dia diperintah lagi namun jawabannya selalu itu-itu saja maka pangeran ini marah dan mengambil api, menyulutkan itu pada Sin Hauw dan Sin Hauw kesakitan. Luka bakar memang tidak dialami pemuda ini, namun karena api merupakan barang panas dan rasa panas itu menyakiti tubuhnya maka pemuda ini merintih dan melingkar-lingkar.

"Ampun... ampun, pangeran. Aku betul-betul tak tahu...!"

Ci-ongya mengerutkan alis. Melihat perbuatan kakaknya dan sikap Sin Hauw yang tampaknya tidak dibuat-buat akhirnya membuat pangeran ini tertegun. Dia khawatir bahwa jangan-jangan obat pelupa ingatan yang telah dicekokkan kepada Sin Hauw juga sekaligus menghilangkan ingatan pemuda itu pada semua ilmunya. Dan ketika dia meloncat dan menyatakan ini pada kakaknya maka Coa-ongya terkejut dan mengerutkan kening.

"Begitukah?"

"Mungkin saja. Ini baru dugaan, kanda pangeran. Dan sebaiknya kita uji!" Ci-ongya melangkah maju, mengangkat bangun Sin Hauw dan dengan mata tajam bersinar-sinar pangeran muda itu mengamati pemuda ini. Dan ketika Sin Hauw dilihatnya berpandangan kosong maka pangeran itu mendesis,

"Sin Hauw, kau ingat dan mengenai nama Hwa Kin?"

Sin Hauw mengerutkan kening, berpikir keras.

"Kau tidak ingat?"

"Tidak, pangeran. Aku tidak ingat..."

"Dia encimu!"

"Aku tidak ingat..."

"Hm, kau ingat siapa gurumu?"

"Tidak, pangeran. Aku juga tidak ingat..."

"Gurumu adalah Sin-liong Hap Bu Kok! Kau ingat nama ini?"

"Tidak," Sin Hauw menggeleng sedih. "Aku tidak ingat apa-apa..."

"Hm, encimu bernama Hwa Kin, Sin Hauw. Dan dia tewas membunuh diri, ku-perkosa!"

Mata itu tiba-tiba terbelalak. Sin Hauw tampak terkejut dan memandang Ci-ongya, sejenak ada kilat seperti api namun redup lagi. Dan ketika Ci-ongya memberi tahu dengan berani bahwa enci pemuda itu digagahinya tapi lalu mati membunuh diri maka pangeran ini tertawa mengejek.

"Sin Hauw, encimu itu hebat. Manis benar dia. Kau tidak benci kepadaku dan marah?"

"Hm, aku tak ingat siapa wanita itu, pangeran. Kalau aku ingat tentu aku benci dan marah kepadamu!"

"Dan kau tak ingat apapun tentang ilmu silat yang kau punyai?"

"Tidak, aku tak ingat apa-apa..."

"Nah," Ci-ongya membalik. "Sin Hauw ternyata kehilangan ingatannya tentang ilmunya pula, kanda. Jadi percuma mengharap pemuda ini!"

"Jadi bagaimana?"

"Sebaiknya dibuang saja, pemuda ini tak berguna!"

Sang kakak kecewa. "Dia benar-benar tak dapat digunakan?"

"Lihat sendiri, dia kehilangan semua ingatannya, kanda. Bahkan tentang encinya yang juga kuperkosa pemuda ini tak menyerangku. Obat itu rupanya terlampau banyak kita minumkan!"

"Hm!" Coa-ongya membanting kaki. "Kalau begitu percuma kita menahannya, adik pangeran. Tapi coba kita panggil Miao In!"

"Hamba di sini!" sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat. "Ada apa, ongya? Paduka memerlukan hamba?"

"Ha-ha, cepat benar!" sang pangeran tertawa bergelak. "Kau datang di saat kami memerlukanmu, Miao In. Bagus dan lihatlah Sin Hauw!" Coa-ongya bertepuk tangan, menyambar dan tiba-tiba memeluk gadis itu dengan gembira. Adiknya juga tertawa dan bersinar-sinar memandang Miao In, gadis yang tiba-tiba muncul di situ dengan caranya yang mengejutkan. Dan ketika Miao In tersenyum dan membiarkan Coa-ongya meraba dan meremas dadanya maka Sin Hauw terbelalak tapi diam tak memberikan reaksi, padahal gadis ini adalah kekasihnya, setidak-tidaknya adalah bekas kekasih!

"Sin Hauw, kau kenal siapa ini?"

"Tidak."

"Dia Miao In, kekasihmu!"

"Hi-hik, hamba tak memiliki kekasih macam orang gila ini, ongya. Kekasih hamba adalah paduka berdua!" gadis itu tertawa, melingkarkan lengannya di pinggang Coa-ongya dan Ci-ongyapun diberinya kerling tajam. Pangeran Ci itu datang dan tertawa meraih lengannya. Dan ketika tanpa malu-malu lagi Ci-ongya meremas dan meraba tubuh gadis itu maka sebuah ciuman didaratkan pada mulut si gadis.

"Miao In, kau sungguh kekasih yang hebat!"

"Hi-hik, hati-hati, pangeran. Nanti Kwi Bun datang!"

"Ah, Kwi-kongcu itu orang tolol. Dia pemuda ingusan yang tak tahu permainan kami!"

"Hi-hik!" Miao In menggeliat, geli oleh jari-jari nakal dua orang pangeran itu. Baik Ci-ongya maupun Coa-ongya akhirnya meremas seluruh tubuhnya, dari dada sampai ke perut. Dan ketika Sin Hauw juga tak memberikan reaksi atas semuanya itu maka Coa-ongya melepas si gadis berkata jemu,

"Miao In, pemuda ini sudah tak dapat kita pergunakan. Kau buanglah dia ke mana kau suka!"

"Maksud paduka?"

"Dia kehilangan seluruh ingatannya, Miao In, termasuk ilmu silatnya itu. Kami tak dapat memaksanya karena pemuda ini sudah linglung!"

"Begitukah?"

"Ya, dan kau ringkas saja ilmu-ilmu yang sudah kau dapat dari pemuda ini, Miao In. Berikan kepada kami kitab catatan itu."

"Belum selesai," gadis ini berkata, "masih kurang sedikit, pangeran. Dua tiga minggu lagi hamba serahkan paduka semuanya!"

"Ah, begitu? Baiklah, bawa pemuda ini, Miao In. Tapi serahkan dulu apa saja yang sudah kau catat!" Coa-ongya merogoh, langsung mengambil sesuatu dari balik baju dalam gadis itu dan pangeran ini tertawa mendapatkan sebuah kitab, tak perduli pada wajah si gadis yang berobah. Dan ketika buku kecil itu berada di tangannya dan ditimang-timang maka Coa-ongya melirik adiknya, memberi isyarat dan Ci-ongya tersenyum. Tiba-tiba dia menepuk pundak gadis itu dan menyuruh Miao In pergi, membawa Sin Hauw. Berkata biarlah nanti gadis itu ke kamar mereka, setelah tugasnya selesai. Dan sementara Miao In tertegun tapi tak dapat berbuat apa-apa maka Ci-ongya sudah disambar kakaknya.

"Bawa pemuda itu, setelah itu ke kamarku!"

Miao In akhirnya mengangguk. Senyum kecut menghias bibirnya sejenak dan tiba-tiba gadis ini berkelebat, menyambar Sin Hauw. Dan ketika Sin Hauw terkejut dan berseru tertahan maka pemuda itu sudah dibawa berjungkir balik melompati tembok yang tinggi. "Sin Hauw, kau benar-benar pemuda tak berguna!"

Sin Hauw terpekik. Dibawa berjungkir balik dan melayang di tempat begitu tinggi tiba-tiba pemuda ini menjerit, ketakutan, sungguh jauh bedanya dengan Sin Hauw beberapa minggu yang lalu. Dan ketika Miao In membawanya "terbang" dan berkali-kali pemuda itu mengeluarkan seruan kaget maka Miao In berhenti di hutan, mendengar rintih dan erangan seorang nenek.

"Aduh, keparat kau. Sin Hauw. Kau membiarkan aku si tua bangka kelaparan dan tersiksa!"

Miao In terkejut. Dia berhenti dan menoleh. Sin Hauw dilepas dan pemuda itu roboh ke tanah. Dan ketika seorang nenek muncul dari balik semak-semak dan merangkak susah payah maka Miao In terbelalak melihat siapa kiranya. "Subo...!"

"Miao In...!"

Gadis ini bergerak. Tahu-tahu dia telah menolong nenek itu, yang bukan lain Im-kan Siang-li yang buntung lengannya. Nenek ini susah payah merangkak di tengah hutan, memaki dan menyebut-nyebut nama Sin Hauw. Dan ketika nenek itu bertemu Miao In dan gadis itu bergerak menubruknya maka Miao In tersedu-sedu memeluk subonya (ibu guru).

"Ah, celaka. Aku ditipu Coa-ongya, subo. Aku dipedayai! Kau di mana saja selama ini? Kau masih hidup?"

"Keparat, siapa yang kau bawa itu, Miao In? Bukankah dia Sin Hauw?" sang nenek tak menjawab, melotot memandang Sin Hauw dan Sin Hauw bengong saja memandang dua orang ini.

Baik Im-kan Sian-li maupun Miao In hanya merupakan bayang-bayang samar dalam ingatannya, Sin Hauw seolah kenal tapi juga seolah tidak. Obat perampas ingatan yang diberikan dua orang pangeran itu memang melebihi takaran. Sin Hauw telah mendapat perlakuan yang kejam. Dan ketika nenek itu tidak menjawab melainkan mendelik dan memandang Sin Hauw tiba-tiba kakinya bergerak dan Sin Hauw sudah ditendangnya, padahal tadi nenek ini seolah kelihatan lumpuh dan tidak bertenaga.

"Sin Hauw, kau bedebah terkutuk. Jahanam... des-dess!"

Sin Hauw mencelat, ditendang penuh kemarahan oleh nenek ini dan pemuda itu mengaduh. Sin Hauw tak berdaya apa-apa dan tiba-tiba nenek itu menyerang lagi, menendang dan menghajar pemuda ini di mana-mana. Sin Hauw akhirnya terguling-guling dan mengeluh, pemuda itu tak membalas dan si nenek heran, tertegun. Tapi ketika dia mau menghajar lagi dan Miao In berkelebat maka gadis itu berseru,

"Subo, tahan. Sin Hauw sekarang bukan Sin Hauw beberapa waktu yang lalu!"

"Apa maksudmu?" sang nenek terbelalak. "Kau bilang apa?"

"Pemuda ini sudah dicekoki arak perampas ingatan, subo. Sin Hauw sudah tak dapat mainkan ilmu silatnya dan menjadi orang biasa!"

"Heh...?"

"Benar, subo. Dan itu adalah perbuatan Coa-ongya. Pemuda ini tak akan melawan biarpun dibunuh. Kau tak usah kalap karena dengan mudah kau akan dapat membunuh pemuda ini!"

Nenek itu tertegun. Tiba-tiba dia terbelalak dan bengong, Sin Hauw dilihatnya bangkit terhuyung dan meringis kesakitan. Beberapa tendangannya yang keras dan kuat membuat pemuda itu jungkir balik. Sin Hauw cukup tersiksa. Tapi ketika pemuda itu berdiri dengan pandangan kosong dan nenek ini akhirnya percaya maka Miao In bercerita, bahwa dua minggu ini Sin Hauw ditangkap dan disiksa Coa-ongya, juga Ci-ongya yang akhirnya mencekoki pemuda itu dengan Arak Hitam, arak yang sudah dicampuri obat perampas ingatan dan nenek itu mengangguk-angguk. Mengertilah dia kenapa selama ini Sin Hauw tak muncul, dia dibiarkan di luar gedung Coa-ongya ketika pemuda itu masuk, ditotok dan berhari-hari dibiarkan menderita.

Seperti kita ketahui nenek ini memang belum dibebaskan Sin Hauw yang ingin membuktikan omongannya kepada Coa-ongya, akhirnya mengompres Tang Kiok dan terjadilah semuanya itu, terbunuhnya wanita itu tapi Sin Hauw juga tertangkap, terjeblos dalam lubang jebakan di mana Coa-ongya yang memasang semuanya itu, untuk menghadapi kepandaian Sin Hauw yang luar biasa. Dan ketika nenek itu mengerti dan mengangguk-angguk maka nenek ini terkekeh dan tiba-tiba memandang Sin Hauw.

"Heh-heh, begitukah kiranya? Dan kau sendiri, kenapa tidak menolong subomu, Miao In? Ke mana saja kau selama ini?"

"Aku bersama Kwi-kongcu, subo, merencanakan untuk membunuh Coa-ongya!"

"Begitukah? Kau tidak bohong?"

"Tidak, tapi rasanya tak berhasil, subo. Kitab kecil yang berisi catatan Im-kan-to-hoat yang belum lengkap kupelajari dari Sin Hauw tiba-tiba diambil Coa-ongya. Aku tak mengerti kenapa dia melakukan itu padahal sudah kujanjikan seminggu dua minggu lagi!"

"Heh? Buku kecil itu diambil Coa-ongya?"

"Benar, subo. Dan sekarang aku disuruh membunuh atau membuang Sin Hauw...."

"Celaka, goblok sekali! Kau tak tahu tipu muslihat pangeran itu! Eh, mana Golok Maut, Miao In? Juga di tangan Coa-ongya?"

"Benar, subo. Aku belum berhasil mencurinya..."

"Awas!" teriakan itu dikeluarkan si nenek, menendang muridnya dan tiba-tiba mereka berdua melempar tubuh bergulingan. Dan ketika Miao In berseru kaget sementara subonya memaki maka terdengar suara "crep" dan sebatang panah persis sekali menancap di pohon di belakang gadis itu, di mana kalau Miao In tak disambar subonya tentu gadis itu menjadi korban.

Miao In tak tahu karena sedang bercerita, subonya yang mendengar dan secepat kilat nenek yang masih lihai itu menendang muridnya. Dan ketika mereka berdua meloncat bangun dan Miao In terbelalak maka di situ berdiri seratus pengawal dipimpin seorang laki-laki tinggi kurus yang kumisnya pendek.

"Yin-goanswe (Jenderal Yin)...!" Miao In terkejut, kaget memandang laki-laki itu dan Yin-goanswe, sahabat atau rekan Kwi-goanswe yang biasanya bertugas di kota raja tiba-tiba mengangguk, mengeluarkan suara dingin.

"Ya, aku, nona. Dan benar dugaan Coa-ongya bahwa kau akan membunuhnya!"

Miao In tertegun. Setelah jenderal Yin bicara dan seratus orang pasukannya tegak mengelilinginya maka tahulah dia bahwa dirinya dalam bahaya. Rupanya Coa-ongya sudah mencium rencananya itu dan pantas saja merampas buku kecil yang berisi catatan Im-kan-to-hoat, ilmu silat golok yang amat hebat yang baru sebagian diberikan Sin Hauw kepadanya, ditulis dan dicatat dalam buku kecil itu. Maka begitu Yin-taijin muncul dan mendengar semua kata-katanya segera maklumlah gadis ini bahwa tak mungkin lagi baginya untuk kembali ke tempat pangeran itu.

"Yin-goanswe, kau jahanam keparat! Kenapa menyerang secara curang?"

"Hm, Coa-ongya menyuruhku membunuhmu, Miao In. Sekarang menyerahlah atau kami akan bersikap keras kepadamu!"

"Bedebah!" nenek buntung tiba-tiba membentak. "Kau tak perlu takut, Miao In. Ada aku di sini dan kita hadapi tikus-tikus busuk ini!"

"Hm, kau masih hidup, Im-kan Siang-li? Dan kau kiranya diam-diam juga mengatur muridmu?"

"Keparat, kau jahanam busuk, Yin-goa-swe. Tak usah banyak cakap dan mari kubasmi kau.. wut!" nenek ini meloncat, gerakannya begitu sigap dan orang lagi-lagi akan tertegun. Tadi nenek itu tampak begitu lemah dan merangkak, tiba-tiba saja menjadi segesit elang dan kini menyambar Yin-goanswe itu. Kakinya berputar dua kali dan tahu-tahu selangkangan Yin-goanswe sudah diserangnya. Tapi ketika jenderal itu mundur dan membentak marah tiba-tiba dia mencabut golok-tombak dan membabat kaki nenek ini.

"Bret-plak!"

Golok-tombak luput, sudah ditendang namun sebagian ujung celana nenek itu robek. Tadi jenderal ini bergerak cekatan dan mundur menjauh. Dan ketika si nenek melengting tinggi dan berkelebat lagi maka jenderal ini memerintahkan anak buahnya maju membantu.

"Bunuh nenek ini, tangkap gadis itu!"

Pasukan tiba-tiba bergerak. Miao In sudah berkelebat hendak membantu subonya, tak tahunya didahului bentakan dan serangan tombak dari kiri kanan. Pembantu Yin-goanswe telah bergerak dan membentak gadis itu. Dan ketika Miao In melengking dan marah mencabut goloknya, meniru-niru Sin Hauw, tiba-tiba gadis ini sudah berkelebatan dan mainkan Im-kan-to-hoat, yang tidak lengkap.

"Subo, bunuh Yin-goanswe itu. Jangan beri ampun!"

"Ya, dan kau basmi semua tikus-tikus itu, Miao In. Dan cepat kita lari setelah ini!"

Namun pasukan sudah bergerak dari mana-mana. Yin-goanswe cepat dibantu sepuluh pembantunya sementara sembilan puluh yang lain mengeroyok Miao In. Gadis itu memutar golok namun akhirnya kewalahan juga. Im-kan-to-hoat yang dipelajari belum lengkap semuanya dan gadis ini bingung kalau melanjutkan, tak tahu dan tentu saja permainan goloknya kacau. Dan ketika di sana subonya ternyata juga kewalahan menghadapi lawannya karena tangannya yang buntung tak dapat digunakan maka hanya kaki nenek ini yang membagi-bagi tendangan, celaka sekali lawan tiba-tiba mengeluarkan jala, melempar dan berusaha menjerat kaki nenek itu.

Nenek ini memaki-maki dan tentu saja dia harus berloncatan, satu karena menghindari jeratan itu sedang yang lain karena dia harus mengelak dari sambaran senjata sebelas lawannya. Yin-goanswe mainkan golok-tombaknya dengan berganti-ganti, sebentar bagian golok lalu sebentar kemudian bagian tombak. Ternyata jenderal ini lihai mainkan senjata khasnya itu. Dan ketika si nenek melengking-lengking dan tentu saja marah bukan main maka dua kali tendangannya berhasil merobohkan dua orang perwira tapi sebuah lontaran lasso atau jala kecil itu menjirat kakinya.

"Rrt-des-dess!"

Nenek ini berteriak. Dua pembantu Yin-goanswe roboh namun dia sendiri terpelanting. Untunglah, nenek ini cukup lihai karena tiba-tiba sambil menggulingkan tubuh seperti trenggiling tiba-tiba nenek ini menumbukkan badannya. Yin-goanswe yang terdekat dijadikannya kaget karena nenek itu mengait kaki, melompat tinggi dan nenek itupun lolos dari serangan yang lain-lain. Dan ketika nenek itu sudah meloncat bangun sementara Yin-goanswe sendiri melayang turun maka Yin-goanswe membentak dan menyerang kembali bersama sepuluh pembantunya, memaki dan jala atau lasso kini ditambah, sang nenek sibuk dan berloncatan serta menendang ke sana-sini, akhirnya berteriak ketika dua buah jala lagi-lagi menggubat kaki.

Dan ketika dia terguling dan Yin-goanswe serta sepuluh pembantunya membentak mengayun senjata maka nenek itu menjerit ketika golok-tombak di tangan Yin-goanswe membabat bahunya, bergulingan menyelamatkan diri namun sepuluh yang lain berkelebatan dari mana-mana, nenek itu sibuk dan tentu saja pucat. Dan karena kakinya masih tergubat dan susah baginya melepaskan diri maka nenek yang kewalahan ini berteriak ketika empat buah golok mengenai dirinya lagi, mengeluh dan darah mulai membasahi tubuh nenek itu.

Im-kan Siang-li pucat karena sebenarnya dia tak sanggup menghadapi keroyokan ini, dia sudah lelah dan tenaganya cepat habis. Beberapa hari ini menderita di bawah totokan Sin Hauw yang celaka sekali tak pernah datang membebaskannya karena Sin Hauw tertangkap membuat nenek itu menderita. Apalagi kedua tangannya yang buntung belum dapat menyesuaikan diri membuat keseimbangan.

Akibatnya nenek ini jatuh lagi ketika jala yang menjerat kakinya ditarik, terseret dan terpelanting dan sebuah bentakan Yin-goanswe akhirnya disusul bacokan ke kaki. Nenek itu menjerit ketika tiba-tiba kakinya putus, darah memuncrat dan berteriaklah nenek itu memanggil muridnya. Dan ketika Miao In di sana terbelalak dan terkejut melihat keadaan subonya maka nenek ini terhenti teriakannya ketika senjata yang lain dari pembantu Yin-goanswe itu juga menusuk tubuhnya.

"Aduh, tolong, Miao In... crep!" nenek itu menggeliat, akhirnya berhenti memekik karena tombak di tangan jenderal Yin menancap di dadanya. Dalam keadaan tangan dan kaki buntung memang tak mungkin lagi bagi nenek itu untuk melawan, Jenderal Yin adalah jenderal yang kepandaiannya cukup tinggi, betapapun lihainya dia tentu tak mungkin menghadapi keroyokan sebelas orang lawan yang rata-rata memiliki kepandaian cukup. Maka begitu golok seorang pembantu jenderal itu membacok pinggangnya dan Yin-goanswe menyusulinya dengan tusukan di dada maka nenek itupun terkapar dan roboh mandi darah, tewas.

"Yin-goanswe, keparat jahanam kau!" Miao In membentak marah menggerakkan goloknya dan lima orang di depan roboh menjerit. Dari sembilan puluh orang lawan gadis ini sudah melukai tak kurang dari dua puluh, berkelebatan dan menyambar-nyambar namun lawan terlampau banyak. Satu dikeroyok sembilan puluh adalah terlalu berat, apalagi gadis ini belum memiliki Im-kan-to-hoat sepenuhnya. Banyak jurus-jurus lanjutan yang tiba-tiba saja macet di tengah jalan, tak dapat diteruskan karena gadis itu memang tak tahu.

Maka begitu subonya roboh dan gadis ini membentak memaki Yin-goanswe tiba-tiba ia mencoba menerobos kepungan namun gagal, pengawal atau pasukan Yin-goanswe itu mengepung ketat karena roboh satu maju sepuluh, roboh sepuluh mereka maju dua puluh. Tentu saja gadis ini repot. Dan ketika ia menjadi marah dan memekik membuka jalan darah tiba-tiba goloknya kembali mendapat korban tujuh orang di depan.

"Minggir kalian, bedebah... des-plak-cret!" tujuh orang itu menjerit, roboh berteriak dan Miao In berjungkir balik, maunya keluar tapi tiba-tiba Yin-goanswe sudah berkelebat ke situ.

Setelah merobohkan nenek buntung maka jenderal ini bersama sepuluh pembantunya sudah cepat ke sini, tentu saja jenderal itu tak mau anak buahnya dibantai. Dia sudah bergerak dan balas membentak gadis itu. Dan ketika Miao In melayang turun namun sudah disambut sang jenderal maka gadis itu melengking dan menggerakkan goloknya.

"Cring-crangg!"

Miao In terpental. Ternyata Yin-goanswe memiliki tenaga yang besar dan dia terpekik, kalah beradu tenaga dan sang jenderal sudah menyerang lagi. Dan ketika sepuluh pembantunya juga bergerak dan membantu jenderal itu maka yang lain diminta mengepung dan agar menonton.

"Biarkan gadis ini kami hadapi, kalian mundur...!"

Semua akhirnya mundur. Miao In dikeroyok sebelas orang saja dan sebenarnya lebih ringan, dalam arti jumlah. Namun karena yang mengeroyok kali ini adalah sang jenderal sendiri dan sepuluh pembantunya itu adalah perwira-perwira yang tentu saja kepandaiannya masih di atas perajurit biasa maka bukannya ringan melainkan justeru semakin berat bagi gadis ini, yang terdesak dan tiba-tiba mundur dan terus mundur.

Miao In berteriak agar Sin Hauw membantunya, lupa bahwa pemuda itu kehilangan ingatannya dn pasukan tak ada yang menyerang. Mereka hanya mendapat perintah untuk menangkap atau membunuh guru dan murid itu, Miao In dan subonya. Maka ketika Sin Hauw diam saja dan sejak tadi pemuda ini mendelong memandang pertempuran maka teriakan Miao In sia-sia dan gadis itu tiba-tiba menangis.

"Sin Hauw, bantu aku. Cepat, bantu aku...!"

Namun mana Sin Hauw bisa? Menjaga diri sendiri saja tak mampu, apalagi orang lain. Pemuda itu telah kehilangan ingatannya akan semua ilmu silat dan masa lalunya. Tak ada pandangan hidup pada mata pemuda itu, sinar mata Sin Hauw kosong dan tak sedikitpun ada perasaan mengerti. Pemuda ini seperti orang bingung, gerak-geriknya seperti orang linglung karena pemuda itu memang tak mengerti apa-apa. Dia juga tak bisa silat karena ingatannya akan ilmu silat hilang. Coa-ongya telah membuatnya begitu rupa hingga pemuda ini seperti area saja, hidup tapi jiwanya kosong. Maka ketika di sana Miao In memekik dan menjerit oleh sebuah tusukan Yin-goanswe tiba-tiba gadis ini mendapat serangan lima senjata yang terpaksa ditangkis dengan muka pucat.

"Cring-crang-crangg..!"

Golok di tangan gadis ini mencelat. Miao In sudah gemetar karena habis tenaganya, terkuras oleh keroyokan tadi dan gadis ini mengeluh. Dia terpelanting dan Yin-goanswe serta perwira-perwiranya mengejar, Miao In menggulingkan tubuh namun akhirnya menabrak pohon, berhenti dan tentu saja gadis itu pucat. Yin-goanswe dan sepuluh pembantunya tertawa mengejek dan berkelebat, sebelas senjata tertuju kepadanya dan Miao In melotot. Dia akan ditembus senjata bermacam-macam itu, bakal disate. Tapi ketika Yin-goanswe dan sepuluh pembantunya membentak mau membunuh tiba-tiba terdengar bentakan dan Coa-ongya serta Ci-ongya muncul.

"Yin-goanswe, tahan...!"

Jenderal itu terkejut. Golok-tombak di tangannya tertahan, begitu pula sepuluh perwiranya. Mereka mengenal suara Coa-ongya dan tentu saja semuanya berhenti, semua senjata tertodong beberapa inci saja di muka gadis itu, Miao In hampir memejamkan mata menyerah pada maut. Tapi begitu Yin-goanswe menahan senjatanya dan sepuluh orang pembantunya juga begitu maka berdeguplah gadis ini melihat kedatangan Coa-ongya.

"Ha-ha, bagaimana, Miao In? Kau mau membela diri?" lalu sementara gadis itu masih tertegun tak mampu menjawab pangeran ini berkata, "Mundurlah, goanswe. Biarkan ia berdiri!"

Jenderal Yin mundur. Dia tetap menjaga bersama sepuluh perwiranya itu, semeter di depan korbannya. Dan ketika Miao In bangkit dan terhuyung pucat maka Coa-ongya mencabut Golok Maut dan membolang-balingnya di tangan.

"Ha-ha, kematian apa yang kau inginkan, Miao In? Minta dikutungi seperti gurumu atau bagaimana?"

"Tidak.. tidak..!" gadis ini gemetar. "Ampun, ongya. Aku.. aku tak bersalah...!"

"Ha-ha, tidak bersalah setelah merencanakan untuk membunuhku? Hm, kau seperti subomu, Miao In, suka berkhianat dan jalan di belakang!" pangeran tertawa, maju mendekat dan Golok Maut diputar-putar. Pandang penuh ancaman tampak di mata pangeran ini, Coa-ongya menatap keji dan sorot matanya itu membuat Miao In gentar, gelisah. Dan ketika pangeran dekat benar dan golok ditempelkan di pangkal lengannya maka pangeran bertanya, senyumnya keji, "Miao In, kau ingin aku mengutungi lenganmu yang kiri dulu atau kanan? Atau kau minta kakimu dibuntungi dulu?"

"Tidak... tidak!" gadis ini menangis. "Kau bunuhlah aku, ongya. Kau bunuhlah aku!"

"Hm, terlalu enak. Sebelumnya ingin kutanya dulu siapa yang merencanakan pembunuhan itu, Miao In. Kau ataukah Kwi-kongcu!"

"Kwi Bun!" Miao In cepat menjawab. "Dia itu yang mengajak aku, ongya. Sungguh mati aku hanya ikut-ikutan, tak bersalah!"

"Bagaimana kalau kuadu?"

Miao In terbelalak.

"Ha-ha, kau terkejut, bukan?" sang pangeran menyeringai. "Lihatlah, Miao In, siapa itu...!" dan pangeran yang menuding serta bertepuk ke belakang tiba-tiba membuat Miao In tersirap, Kwi Bun terhuyung dan muncul di situ, mukanya babak-belur dan jelas dihajar, mengeluh dan gemetar memandang Miao In. Dan ketika pemuda itu didorong dan nyaris jatuh maka Coa-ongya berkata dingin,

"Heh, jawab, Kwi-kongcu. Siapa sebenarnya di antara kalian yang merencanakan untuk membunuh aku!"

"Di... dia...!" Kwi Bun menggigil. „Ampun, ongya. Aku hanya terbujuk!"

"Hm, bagaimana, Miao In? Apa jawabanmu?"

"Dia itu! Bohong!" gadis itu melengking, "Kwi Bun yang membujuk, ongya, Aku hanya ikut-ikutan dan dia yang merencanakan!"

"Eh, bagaimana, Kwi-kongcu? Siapa yang benar dan siapa yang bohong? Atau kau minta dikerat lagi?"

"Tidak... tidak...!" pemuda ini ketakutan. "Miao In yang merencanakan, ongya. Dan aku yang dibujuk!"

"Bohong! Kau..."

"Diam!" Coa-ongya membentak gadis itu. "Satu per satu kalau bicara, Miao In. Biar Kwi-kongcu yang menjelaskan bagaimana kau membujuknya!" lalu memandang pemuda itu bengis bertanya pangeran ini membentak, "Katakan alasanmu, Kwi Bun. Sebutkan kenapa kau yang terbujuk dan gadis itu yang merencanakan!"

"Dia hendak membalas kematian subonya. Miao In membenci paduka karena gara-gara padukalah subonya pertama terbunuh!"

"Nah, dengar?" pangeran mengejek, membalik menghadapi gadis itu. "Alasan ini dapat kuterima, Miao In. Sedang kau, alasan apa yang hendak kaukatakan? Kwi Bun putera Kwi-goanswe, pembantuku. Tak mungkin mau makar kalau bukan atas bujukanmu!"

Gadis ini pucat. "Dia... dia bohong, pangeran. Justeru Kwi Bunlah yang membujuk aku. Dia membalik omongan!"

"Apa alasanmu?"

Gadis ini menangis. "Dia.. dia..." katanya terbata-bata. "Kwi Bun cemburu kepadamu, ongya. Dia tak rela aku menjadi kekasihmu secara diam-diam!"

"Apa?"

"Benar. Kwi Bun marah melihat kau mencintaiku pula, pangeran. Pemuda ini sakit hati dan lalu merencanakan pembunuhan itu. Dia... dia..."

"Bohong!" Kwi Bun tiba-tiba melompat, membentak gusar. "Kau memfitnah, Miao In. Kau menjebloskan aku. Ah, kau gadis siluman!" dan Kwi Bun yang menyerang dan menubruk gadis ini tiba-tiba melengking dan langsung menghantam, maunya membanting gadis itu namun Miao In ternyata dapat berkelit. Gadis ini menjengek dan Kwi Bun menubruk angin kosong. Dan ketika pemuda itu membalik dan mau menyerang lagi tiba-tiba Miao In mendahului dan menendangnya.

"Kwi Bun, kau yang melempar omongan fitnah. Kau jahanam busuk... dess!" dan Kwi Bun yang mengeluh terlempar tinggi tiba-tiba terbanting dan berdebuk di sana, jatuh menggeliat namun pemuda ini bangun lagi, terhuyung dan memaki lawannya, bekas kekasih yang juga menjadi teman tidur Coa-ongya dan adiknya.

Dan ketika Miao In menyambut dan dua orang itu segera berkelahi maka Kwi Bun jatuh bangun dihajar Miao In, ternyata masih lihai gadis itu. Maklum, Miao In adalah murid Im-kan Siang-li dan kepandaian dua nenek itu jelas lebih tinggi dibanding Kwi-goanswe, yang melatih ilmu silat pada puteranya sendiri. Dan ketika Kwi Bun terguling-guling dan jatuh oleh tamparan Miao In maka Miao In berkelebat mau membunuh pemuda ini, dengan satu totokan jari ke dahi.

"Stop! Tahan itu, Yin-goanswe. Tak boleh gadis itu membunuh Kwi-kongcu!"

Yin-goanswe sudah bergerak. Dia memiliki tenaga yang besar, golok-tombaknya menusuk dan tahu-tahu gadis itu mengeluh. Punggung bajunya robek dan otomatis totokannya kepada Kwi Bun tertahan. Yin-goanswe akan meneruskan gerakan tombaknya bila dia terus menyerang Kwi Bun. Dan ketika pemuda itu terhuyung bangun berdiri sementara Coa-ongya bergerak ke depan maka pangeran ini memberi tanda dan adiknya melompat maju.

"Kwi Bun, alasan gadis ini dapat kuterima secara akal. Agaknya itu benar, kau yang memulai dulu!"

"Tidak... tidak...! Gadis itu bohong, pangeran. Sumpah demi langit bumi paduka ditipunya!"

"Tapi hal itu dapat kuterima Kau cemburu!"

"Ah, meskipun siluman ini paduka serahkan pada pengawal aku tak cemburu, pangeran. Iblis betina busuk yang macam begini tak perlu ku cemburui!"

"Keparat, kau yang menipu pangeran, Kwi Bun. Kau yang ingin menyelamatkan diri!"

"Hm, begini saja. Kalian berdua kuanggap sama-sama bersalah, jadi patut menerima hukuman. Siapa yang minta hukuman paling berat kuanggap dia itu yang kurang dosanya. Hukuman apa yang ingin masing-masing kalian minta?"

Dua orang itu tertegun. Tapi Kwi Bun yang maju dengan muka pucat berkata gemetar, "Aku berani memotong jariku, ongya. Siap menerima hukuman dari paduka!"

"Hm, dan kau?" sang pangeran memandang Miao In. "Hukuman apa yang kau kehendaki, Miao In? Juga memotong jari?"

Gadis ini pucat. Namun berkata mengedikkan kepala gadis ini menjawab, "Aku juga bersedia dipotong jari!"

"Hm, bagaimana, Kwi Bun? Kau berani tambah?"

"Aku... aku berani dikutungi lenganku, ongya. Aku siap dihukum!"

"Ha-ha, bagaimana, Miao In? Kau berani mengimbangi?"

Gadis ini terkejut. Kwi Bun yang berani dipotong lengannya jelas lebih tinggi keberaniannya dibanding dirinya, kalau ia tidak cepat-cepat mengimbangi. Maka mengangguk dan berkata melengking gadis ini menjawab, "Aku juga berani!"

"Ha-ha, kalau begitu mari dibuktikan!" sang pangeran tertawa bergelak. "Pinjam golokmu, Cing-ciangkun, dan berikan masing-masing sebuah pada dua orang ini!"

Cing-ciangkun, pembantu Yin-goanswe tiba-tiba melolos goloknya. Kebetulan dia punya dua buah dan cepat golok itu dilempar kepada Miao In dan Kwi Bun. Dan ketika dua orang itu pucat menerima dan masing-masing diminta memberi bukti maka Miao In maupun Kwi Bun sama-sama menggigil. Maklumlah, mereka diminta mengutungi lengan sendiri. Baik Miao In maupun Kwi Bun tiba-tiba merasa ngeri setelah diberi golok, mereka pucat membayangkan lengan yang sebentar lagi putus dari tempatnya.

Namun ketika semua orang menunggu dan Kwi Bun maupun Miao In sama-sama ragu mendadak terdengar bentakan dan sinar putih berkeredep dari satu di antara dua orang itu.

Golok Maut Jilid 09

GOLOK MAUT
JILID 09
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
”SIN HAUW, menyerahlah. Kau kami tangkap!"

Sin Hauw menggereng. Dia meloncat keluar kamar dan tubuh Tang Kiok dipondongnya, mandi darah namun Sin Hauw tak perduli. Bajunya basah oleh wanita itu namun Sin Hauw membiarkannya. Matanya tajam menatap ke depan dan tampak berapi-api, membakar siapa saja dan semua orangpun tertegun. Matanya itu rasanya sanggup menghanguskan setiap orang dengan sekali pandang saja, menelan dan melahap siapa saja yang berani beradu pandang dengannya. Dan ketika Sin Hauw tegak dengan wanita berlumuran darah di bahunya maka pemuda itu balas membentak, suaranya menyambar bagai geledek di siang bolong.

"Kwi-goanswe, jahanam keparat kau! Majulah, tak usah banyak cakap. Kau telah menipu dan mempermainkan aku!"

"Keparat, kau yang jahanam. Sin Hauw. Kau pemberontak dan tak tahu diri, menyerahlah, atau kami semua akan menyerangmu!"

"Kenapa banyak cakap? Majulah, Kwi-goanswe, dan mari kuantar kau ke neraka jahanam!" dan Sin Hauw yang tidak kuat lagi menahan marah tiba-tiba membentak dan sudah berkelebat ke depan, menyambar pengawal yang ada di muka dan pengawal-pengawal itu terkejut. Sin Hauw mencabut Golok Mautnya dan sinar kemerahan menyambar mereka, dari atas ke bawah. Dan ketika mereka menangkis namun tombak atau pedang putus dibabat tiba-tiba saja sinar merah itu terus menyambar mereka dan meluncur lurus ke leher Kwi-goanswe.

"Tahan dia, awas... cring-crangg!"

Pedang dan tombak mencelat entah ke mana. Sebelas pengawal tiba-tiba roboh menjerit ketika golok di tangan Sin Hauw berkelebat menyambar, tak kenal ampun dan terpekiklah tujuh prang pertama ketika leher mereka tergurat panjang, mandi darah dan tentu saja orang-orang itu terjungkal. Dan ketika yang lain juga terpelanting dan terlempar ke kiri kanan maka Kwi-goanswe terkejut melihat sinar kemerahan itu menuju lehernya, cepat dan tak kenal ampun dan tentu saja jenderal ini membanting tubuh bergulingan, tak sempat mengelak karena gerakan Sin Hauw luar biasa cepatnya. Satu-satunya jalan hanya melempar tubuh bergulingan itu. Dan ketika hal itu sudah dilakukan namun masih juga pundak kirinya robek tersambar maka jenderal ini berteriak menyuruh pasukan panah melepas panahnya.

"Bunuh dia! Panah...!"

Puluhan panah tiba-tiba menyambar. Jepretan yang hampir berbareng disusul sinar-sinar hitam yang menuju Sin Hauw bergerak bukan main cepatnya. Sin Hauw memutar golok dan semua panah itupun runtuh, tak kurang dari tujuh puluh jumlahnya. Tapi ketika pasukan kembali mementang gendewanya dan puluhan panah menjepret menuju Sin Hauw maka Sin Hauw berkelebatan mengerahkan ginkang, menangkis dan meruntuhkan panah-panah itu namun pasukan tombak mendapat aba-aba. Seratus orang sudah menggerakkan tombaknya pula dan menyambarlah dari mana-mana senjata panjang itu.

Sin Hauw sibuk dan marah, akhirnya melengking-lengking dan bergeraklah pemuda itu bagai bayang-bayang yang luar biasa cepatnya. Betapapun dia tak boleh lengah karena lawan hendak membunuhnya. Sin Hauw marah karena dua ratus lawan menyerangnya dari jauh. Dan ketika dia berkelebatan menangkis sambaran panah atau tombak tiba-tiba delapan ratus yang lain mulai bergerak dan menyerang.

"Ha-ha, mampus kau, Sin Hauw. Mati kau sekarang!"

Sin Hauw membentak panjang. Akhirnya dia demikian sibuk menyelamatkan dirinya, lupa pada mayat Tang Kiok dan tubuh wanita itu menjadi korban. Beberapa panah atau tombak yang luput menyambar Sin Hauw mengenai tubuh wanita ini, tubuh yang sebenarnya sudah menjadi mayat. Dan ketika suara "crap-crep" membuat Sin Hauw naik darah karena tubuh wanita itu sudah penuh oleh tombak atau panah maka Sin Hauw tiba-tiba meloncat berjungkir balik tinggi sekali, begitu tinggi hingga pasukan panah atau tombak tertegun. Sin Hauw sudah berjungkir balik begitu jauh dan tingginya hingga tahu-tahu ia sudah hinggap di wuwungan paling tinggi, turun dan lenyap di sini.

Dan ketika ia keluar lagi namun sudah tidak membawa mayat Tang Kiok maka Sin Hauw terjun dan sudah menyerang pasukan di wuwungan yang lain, berkelebat dan berjungkir balik melayang ke sini dan kagetlah semua orang ketika Golok Maut tiba-tiba berkelebatan meminum darah. Sin Hauw tidak bertindak setengah-setengah lagi dan dibalaslah semua kekejaman lawan. Apa yang ada di depan diterjang dan dirobohkannya. Dan ketika darah memuncrat dari mana-mana dan kepala atau lengan putus disambar Golok Maut maka orang menjadi ngeri dan pucat melihat tandang pemuda itu.

"Awas, menjauh... menyingkir..!"

Sin Hauw tak perduli. Dia terus membentak dan mencari Kwi-goanswe, memaki-maki. Jenderal itu tiba-tiba menghilang dan tentu saja Sin Hauw marah. Seribu pasukan hanya mendengar aba-aba jenderal itu dari tempat tersembunyi, beberapa bawahannya membantu dengan teriakan-teriakan nyaring. Pasukan panah dan tombak tiba-tiba tak dapat menyerang lagi karena Sin Hauw berpindah-pindah. Pemuda ini selalu bergerak di tengah hingga membuat pasukan tombak atau panah ragu, mereka tak berani meluncurkan tombak atau panah lagi karena takut mengenai teman sendiri.

Maklumlah. Sin Hauw dengan cerdik sengaja bergerak di tengah agar pasukan tombak atau panah tak berani melepaskan senjatanya, pemuda ini membabat dan merobohkan siapa saja yang ada di depan. Dan karena orang-orang seperti Kak-busu atau Pek-wan tak ada di situ karena mereka tewas terbunuh maka hanya Kwi-goanswe dan pasukannya ini yang dihadapi Sin Hauw, memang tidak memiliki kepandaian tinggi namun serangan begitu banyak orang tetap membahayakan juga. Sin Hauw melindungi dirinya dengan baik sementara golok ditangannya terus menyambar-nyambar mencari sasarannya. Dan ketika seratus orang akhirnya tergelimpang mandi darah dengan begitu cepatnya maka Sin Hauw ditakuti dan membuat gentar semua orang.

"Jangan didekati, serang dari jauh!"

Itulah suara Kwi-goanswe. Entah bersembunyi di mana jenderal tinggi besar itu namun aba-abanya cukup terdengar jelas. Kwi-goanswe memang sengaja mengorbenkan pasukannya, yang menjadi makanan empuk bagi Sin Hauw dan akhirnya seratus orang kembali roboh, bermandi darah. Sepak terjang Sin Hauw memang menggiriskan dan pemuda itu terus mengamuk. Namun ketika pasukan mulai menjauh dan Sin Hauw harus beterbangan dari satu tempat ke tempat lain maka pemuda ini membentak memaki-maki Kwi-goanswe.

"Orang she Kwi, keluarlah. Ayo jangan bersikap pengecut!"

Sin Hauw akhirnya serak suaranya. Memaki dan membentak-bentak jenderal itu sementara lawan tetap bersembunyi memang menghabiskan tenaga juga. Sin Hauw mulai berkeringat namun belum lelah, seperlima dari lawan sudah dibantai dan pemuda itu terus bergerak menyambar-nyambar. Namun ketika lawan mulai menjauh dan terdengar suitan panjang tiba-tiba beterbangan benda-benda hitam di atas kepala Sin Hauw.

"Rrtt-crat-crat!"

Sin Hauw terkejut. Kiranya puluhan jala menyambar mau menjerat, Kwi-goanswe berteriak dari sana agar semua orang mempergunakan senjata perangkap itu, Sin Hauw terkejut dan marah. Dan ketika benar saja tak lama kemudian dari segala penjuru meluncur ratusan jala yang ditembakkan dari jauh maka Sin Hauw membentak dan memutar goloknya di atas kepala, cepat melebihi kitiran.

"Rrtt-crat-crat!"

Sebagian besar memang terbabat. Hampir semua jala itu putus bertemu Golok Maut, senjata yang luar biasa dan ampuh. Namun karena putus sepuluh menyambar seratus maka Sin Hauw kewalahan dan beberapa di antaranya ada yang mulai menjirat, jatuh di bawah kaki atau di atas pundaknya. Ratusan jala tiba-tiba saja sudah bertumpuk di dekat kakinya, bukan main! Dan ketika Sin Hauw mengeluh dan satu di antaranya menjerat kaki tiba-tiba pemuda ini terjatuh dan terguling.

"Panah dia, hujani senjata!"

Ratusan panah dan tombak sekarang menyambar. Sin Hauw rupanya benar-benar mau dibunuh dan pemuda itu tak diberi ampun. Sementara dia terguling tiba-tiba ratusan panah dan tombak menyambar, seperti tadi. Tak dapat dielak dan mengenai Sin Hauw. Namun karena Sin Hauw telah mengerahkan sinkangnya dan semua panah atau tombak patah bertemu tubuhnya maka orang pun terbelalak dan semakin gentar, melihat bahwa Sin Hauw kebal!

"Keparat, lepaskan lagi panah dan jala. Serang sampai dia kehabisan tenaga!"

Sin Hauw menggeram. Kwi-goanswe itu keparat benar, kerjanya hanya memerintah dan pasukannya terus menghujani dirinya dengan panah dan jala. Sin Hauw kerepotan karena bagaimanapun juga dia diserang dari jauh. Sekarang semua pasukan tak ada yang berani maju mendekat setelah Sin Hauw merobohkan lagi seratus teman mereka, jadi tiga ratus orang sudah roboh mandi darah menjadi korban Golok Maut.

Dan ketika pemuda itu dihujani ratusan panah dan jala secara berbareng maka Sin Hauw kembali terguling, jatuh keserimpet jala sementara tubuhnya kebal menerima hujan panah atau senjata-senjata lain yang tajam, hal yang membuat kagum musuh-musuhnya tapi mereka tak berhenti menyerang. Kwi-goanswe terus menyuruh mereka merepotkan pemuda itu. Sin Hauw memang sibuk. Dan ketika akhirnya dia terguling dan memang keserimpet jala maka pemuda itu mengeluh ketika hampir saja sebuah panah mengenai matanya.

"Crep!" panah itu menancap di rambut, di atas telinganya, disusul lagi panah-panah yang lain di mana tiba-tiba Kwi-goanswe memerintahkan agar pasukannya menyerang mata pemuda itu, tempat yang tentu saja tak dapat dilindungi kekebalan. Dan ketika Sin Hauw menggeram dan hampir saja sebuah panah lagi-lagi menusuk mata kirinya maka pemuda itu berkelebat ke atas genteng.

"Kwi-goanswe, kau jahanam keparat!"

Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi.. Sin Hauw tiba-tiba berteriak kaget ketika genteng yang diinjak amblong, menjejakkan kaki dan berjungkir balik lagi ke genteng yang lain, maksudnya mau menyembunyikan diri dari hujan serangan jala dan panah, yang kini semakin berbahaya karena diarahkan pada sepasang matanya, padahal pandangannya bisa tertutup oleh puluhan jala yang menimpa atas kepalanya. Tapi begitu kakinya juga menginjak genteng yang amblong dan entah mengapa tiba-tiba semua wuwungan rapuh maka terdengarlah tawa bergelak sang jenderal yang kini muncul di sebelah timur.

"Ha-ha, kau tak dapat melarikan diri. Sin Hauw. Kau sudah terjebak!"

Sin Hauw terbelalak. Genteng atau wuwungan terakhir yang diinjaknya tiba-tiba mengeluarkan suara keras, berkeratak dan robohlah wuwungan itu. Genteng di atas kepalanya berguguran semua dan Sin Hauw kaget sekali. Hal itu tak diduga. Dan ketika tembok di sekelilingnya juga runtuh dan panah serta tombak bersuitan menyambarnya maka Sin Hauw terpelanting ke bawah dan jatuh terbanting.

"Buummm...!"

Suara itu menggetarkan tempat sekitar. Sin Hauw tahu-tahu teruruk dan kejatuhan semua bahan-bahan ini, genteng dan tembok yang berguguran. Tentu saja terkubur hidup-hidup. Dan ketika pemuda itu terpekik dan menjadi kaget maka kakinya yang ada di bawah tahu-tahu seakan dibetot dan, meluncurlah pemuda ini ke sebuah lubang mirip sumur yang dalam.

"Bress!"

Sin Hauw tak ingat apa-apa lagi. Dia tahu-tahu terbentur oleh sesuatu yang keras dan pemuda itu pingsan. Dan ketika tubuhnya terbanting dan jatuh di tempat yang dalam maka pemuda itu kehilangan kesadarannya dan tak tahu apa yang terjadi.

* * * * * * *

"Hm, ini pemuda itu, kanda? Dia adik mendiang Hwa Kin?"

Begitu Sin Hauw mendengar sebuah percakapan ketika kesadarannya mulai pulih. Pemuda ini masih merasa seakan melayang-layang di tempat yang tinggi, kepalanya pening dan bumi rasanya seperti berputar. Tapi ketika seember air dingin disiramkan ke mukanya dan pemuda itu membuka mata maka dilihatnya Coa-ong-ya berdiri di situ dengan seorang laki-laki lain, juga Kwi-goanswe, dan Kwi Bun!

"Heh, kau bangunlah. Sin Hauw. Lihat bahwa kau sudah tertangkap!"

Sin Hauw terkejut. Memang benar dia sudah tertangkap dan keempat kaki tangannya diikat rantai yang besar. Golok Maut, senjatanya itu, ternyata sudah di tangan Coa-ongya. Pangeran itu mengamang-amangkan goloknya dan membolak-balik, sikapnya seperti main-main tapi pandang matanya penuh ancaman. Dan ketika pangeran itu tertawa aneh dan menyuruh dia bangun maka Sin Hauw bangkit. dengan susah payah namun merasa seluruh tenaganya seakan dilolosi.

"Kau telah menelan liur Katak Merah, Sin Hauw. Kau tak punya daya kalau tidak kami beri obat penawar!"

"Pengecut!" Sin Hauw membentak, marah sekali. "Apa yang kau kehendaki, Coa-ongya? Kenapa tidak membunuhku?"

"Hm, kau masih kuperlukan, Sin Hauw. Belum semua kepandaianmu kurekam!"

"Apa maksudmu? Dan siapa temanmu itu?"

"Oh, kenalkan. Sin Hauw. Dia adikku pangeran Ci!"

Sin Hauw terbelalak. Ci-ongya, adik Coa-ongya itu tiba-tiba maju, mengangkat dagunya dan Sin Hauw melihat tawa yang aneh pada pandang mata pangeran ini. Dan ketika Ci-ongya mengangguk-angguk dan tertawa maka laki-laki itu berkata,

"Mirip.., mirip sekali. Dia dan mendiang encinya sama! Hm, pemuda ini keras kepala, kanda pangeran. Sebaiknya diberi obat pelupa ingatan dan menyerahkan semua kepandaiannya kepada kita!"

"Nah!" Coa-ongya menjengek. "Dengar kata-kata adikku. Sin Hauw. Kami dapat memberimu obat pelupa ingatan agar tunduk seperti kerbau!"

Sin Hauw pucat. Mendengar kata-kata dua orang itu tiba-tiba dia semakin marah, coba menarik tangan dan kakinya namun gagal. Tenaganya lemah sekali sementara rantai itu kuat bukan main, dia mengerahkan sinkang namun juga gagal. Dan ketika Sin Hauw mendelik dan merah padam maka Coa-ongya kini maju menjepit dagunya.

"Sin Hauw, jangan coba-coba melawan. Kau tak punya daya, jangan macam-macam!"

"keparat, kau curang, pangeran. Kau licik dan tidak berperikemanusiaan!"

"Ha-ha, sesukamulah. Kau boleh memaki. Sin Hauw. Tapi sekarang katakan dulu maukah secara baik-baik kau menyerahkan Im-kan-to-hoat (Silat Golok Dari Akherat) atau tidak?"

"Aku tak sudi!" Sin Hauw membentak. "Kau bunuhlah aku, pangeran. Aku tak takut mati!"

"Ha-ha, seperti encinya!" Ci-ongya tiba-tiba tertawa. "Persis encinya, kanda pangeran, gagah dan tak takut mati! Tapi kita harus menundukkannya, kali ini tak boleh gagal!" dan Ci-ongya bertepuk tangan memanggil pengawal tiba-tiba menyuruh pengawal mengambil sesuatu. "Ambilkan Arak Hitam!"

Sin Hauw menggigil. Rupanya dua kakak beradik ini sama-sama keji, mereka suka mencekoki lawan dengan arak beracun, atau entah arak apalagi yang kini diminta pangeran itu. Dan ketika pengawal mengangguk dan keluar lagi maka Ci-ongya memandang Kwi Bun dan ayahnya.

"Kwi-kongcu, kau tak ingin membalas dendam?"

"Hm!" Kwi Bun, pemuda yang sejak tadi diam dengan mata bersinar-sinar tiba-tiba seolah mendapat kesempatan bagus. "Tentu saja aku ingin membalas dendam, ongya. Tapi paduka katanya membutuhkan pemuda ini!"

"Ha-ha, itu betul. Tapi kau dapat main-main sebentar kalau kau ingin, Kwi-kongcu, asal jangan bunuh dulu!"

"Baik!" dan Kwi Bun yang melompat dengan muka gembira tiba-tiba memandang ayahnya. "Ayah, apakah yang pantas kita lakukan pada pemuda ini? Bolehkah kukerat dagingnya sedikit demi sedikit?"

"Hm, terserah kau, Bun-ji. Asal jangan dibunuh seperti kata pangeran!"

"Tidak, tentu tidak!" dan Kwi Bun yg gembira mencabut pisau tiba-tiba sudah membungkuk dan menempelkan pisau dileher Sin Hauw. "Sin Hauw, kau ingat betapa kau pernah kurang ajar kepadaku? Hukuman apa yang kauinginkan setelah kau bersikap kurang ajar memusuhi ayahku pula? Kau ingin dihukum picis?"

"Cuh!" Sin Hauw tiba-tiba meludah, tepat sekali mengenai muka pemuda itu. "Kau bunuhlah aku, Kwi Bun. Aku tak takut!" dan Kwi Bun yang terkejut serta marah tiba-tiba membentak dan melayangkan tangannya yang lain, menampar Sin Hauw dan terpelantinglah pemuda itu. Dan ketika Sin Hauw dicengkeram bangun dan balas diludahi maka pemuda itu menggigil mengancam Sin Hauw.

"Sin Hauw, pangeran telah memberi perkenan kepadaku. Kau akan kuhukum picis!" pisau bergerak, menyayat lengan Sin Hauw namun ternyata tak mempan. Sin Hauw tak dapat mengerahkan sinkangnya namun tenaga sakti di tubuh pemuda itu bekerja secara otomatis, menolak dan Sin Hauw ternyata tetap kebal. Dan ketika Kwi Bun membentak lagi dan kini menyayat punggung ternyata tetap saja pisau pemuda itu mental!

"Tak-tak!"

Kwi Bun jadi malu. Dua kali dia menyayat namun dua kali itu pula gagal, pisaunya seolah tumpul dan Sin Hauw tertawa mengejek. Putera Kwi-goanswe itu melotot dan menampar mulut Sin Hauw. Dan ketika Sin Hauw tersentak dan bibirnya pecah berdarah tiba-tiba Kwi Bun sudah melekatkan ujung pisaunya di mata Sin Hauw.

"Heh, jangan tertawa. Tubuhmu boleh kebal tapi tak mungkin bola matamu kebal, Sin Hauw. Aku ingin mencobanya dan kau tertawalah!" pisau bergerak, menusuk mata pemuda itu namun Sin Hauw berkelit. Terhadap ancaman pemuda ini membuat muka Sin Hauw berobah juga dan Kwi Bun tertawa mengejek. Sekarang dia yang ganti mengejek lawannya itu, pisau kembali bergerak dan akhirnya mengenai juga pipi kiri Sin Hauw, pemuda itu sudah pucat dan marah. Dia bisa buta! Tapi ketika pisau kembali bergerak dan siap menusuk mata Sin Hauw untuk kesekian kalinya lagi tiba-tiba pengawal mengetuk pintu dan masuk, membawa apa yang diminta pangeran Ci.

"Maaf, ini, ongya. Arak Hitam yang paduka minta!"

Ci-ongya menerima. Kwi Bun akhirnya menghentikan juga tusukan pisaunya dan sejenak Sin Hauw lega. Betapapun ia masih selamat. Tapi ketika Kwi Bun hendak mengulangi perbuatannya dan membutakan mata Sin Hauw tiba-tiba Ci-ongya berseru agar pemuda itu mencekoki Sin Hauw dengan Arak Hitam.

"Simpan pisaumu, kongcu. Cekokkan ini padanya dan lihat apa yang nanti terjadi!"

Kwi Bun sedikit kecewa. Rupanya pemuda itu ingin benar menyiksa Sin Hauw, memberikan arak dianggapnya mengenakkan Sin Hauw menghalangi kegembiraannya.Tapi ketika ayah berseru agar dia cepat melaksanakan perintah itu maka Kwi Bun menerima dan menyambut.

"Baiklah, maaf, ongya. Rupanya aku masih kurang beruntung!"

"Ma-ha, jangan kecewa. Arak itu jauh akan lebih menyenangkanmu, Kwi-kongcu. Sin Hauw bisa tunduk kepada siapa saja. Mulailah!"

Sin Hauw berdebar. Mengingat pengalamannya ketika minum arak bersama Coa-ongya pemuda ini jadi mendapat firasat buruk dengan segala macam arak, apalagi kalau dari orang-orang ini, yang keji dan rupanya tak tahu malu. Dan ketika arak sudah didekatkan Kwi Bun dan Sin Hauw siap disuruh minum tiba-tiba Sin Hauw membentak dan meludahi pemuda itu, kali ini tiba-tiba tenaganya sedikit pulih dan langsung air ludahnya menjadi sekeras batu!

"Kwi Bun, kau pergilah ke neraka. Minumlah arak itu sendiri.. cuh!" ludah Sin Hauw mengenai pipi pemuda ini, langsung tembus dan tentu saja Kwi Bun kaget bukan main, berteriak-teriak dan ludah itu seperti pelor baja yang diletupkan dari sebuah senapan. Kwi Bun terbanting dan botol arak pun pecah. Dan ketika pemuda itu bergulingan dan semua kaget maka pemuda ini menjerit-jerit dan mengaduh.

"Aduh, keparat. Sin Hauw. Kau jahanam keparat!" Kwi Bun bergulingan, mencabut pisaunya lagi dan tiba-tiba pemuda itu melemparkannya ke dada Sin Hauw. Kwi Bun lupa bahwa pemuda ini tak boleh dibunuh, pisaunya itu menyambar cepat dan sang ayahpun terkejut. Tapi ketika pisau mengenai dada Sin Hauw dan mental bertemu kekebalan pemuda itu maka Kwi-goanswe lega sementara Coa-ongya dan Ci-ongya berseru marah,

"Kwi-kongcu, kau tak boleh membunuh pemuda ini. Tahan!"

Kiranya Kwi Bun mencabut pedangnya. Dalam kemarahan dan kesakitannya tadi tiba-tiba pemuda ini hendak menyerang Sin Hauw, yang diincar adalah mata karena pedang itu sudah bergetar ke arah mata. Sin Hauw bakal tak dapat melindungi jiwanya lagi kalau pedang itu mengenai matanya, tembus ke otak dan tentu saja dua pangeran itu segera membentak. Kelemahan Sin Hauw diketahui dan Ci-ongya serta Coa-ongya melompat ke depan, menegur pemuda itu. Dan ketika Kwi Bun kecewa dan memasukkan pedangnya lagi maka sang ayah berkelebat dan marah memandang Sin Hauw.

"Pangeran, pemuda ini berbahaya sekali. Sebaiknya dia cepat dibunuh!"

"Tidak, kami akan menundukkannya dengan obat pelupa ingatan, goanswe. Obat itu sudah kami campur di Arak Hitam tapi sayang puteramu menumpahkannya!"

"Bukan dia yang menumpahkan, pangeran, melainkan Sin Hauw!"

"Sama saja. Puteramu tak dapat berhati-hati, goanswe. Tapi kami akan mengambil lagi. Sebaiknya kau yang meminumkan dan kusuruh pengawal datang!"

Kwi-goanswe pucat. Disuruh meminumkan arak pada Sin Hauw tiba-tiba jenderal ini berobah mukanya. Sin Hauw itu masih hebat, air ludahnya seperti pelor! Ngeri jenderal ini! Tapi ketika pengawal dipanggil datang dan membawa arak lagi maka jenderal ini bingung memandang pangeran itu.

"Minumkan, biar kau membalas sakit hati puteramu, goanswe. Berikan arak itu dan paksa pemuda ini minum!"

Jenderal itu ragu, memandang Sin Hauw dan pangeran berganti-ganti.

"Kenapa? Kau takut?"

"Hm, bukan begitu, pangeran. Tapi pemuda ini masih berbahaya!"

"Dia tidak dapat menyerang!"

"Tapi ludahnya seperti pelor, pangeran. Aku jadi ragu!"

"Ah, kau pengecut, Kwi-goanswe. Tak pantas kau menjadi pembantuku!"

Jenderal ini pucat. Melihat pandang mata penuh ancaman dari Coa-ongya tiba-tiba jenderal itu mengeraskan hati, melompat ke belakang dan dari belakang ia menubruk Sin Hauw. Sin Hauw mau membalik namun kalah cepat, jenderal itu tahu-tahu telah mencekik lehernya. Dan ketika Sin Hauw mengeluh dan mau meronta tapi tak berdaya maka dengan kuat dan kasar jenderal ini menjepit rahangnya, memaksa dia membuka mulut dan Sin Hauw kesakitan. Dia tak berdaya dan mulutpun terbuka. Dan begitu Kwi-goanswe mencekokkan arak dan memaksa dia minum maka arak memasuki mulut pemuda ini namun Sin Hauw menahan.

"Glek-glek!"

Sin Hauw membuat lawannya terbelalak. Kwi-goanswe melihat arak itu hanya berhenti saja di mulut Sin Hauw, tidak memasuki perutnya dan tentu saja jenderal ini penasaran. Tapi begitu dia membentak dan memencet rahang tahu-tahu Sin Hauw menyemburkan arak yang ada di dalam mulutnya itu, mengerahkan tenaga sakti.

"Crot!"

Jerit ngeri terdengar meraung-raung. Kwi-goanswe berteriak dan menjerit-jerit ketika arak itu tepat mengenai mukanya, hidungnya hancur sementara mata jenderal itu buta sebelah! Terkejutlah semua orang. Dan ketika Kwi-goanswe bergulingan di sana dan puteranya terbelalak maka Kwi Bun tiba-tiba mencabut pisaunya dan menerjang Sin Hauw.

"Bedebah! Kau melukai ayahku. Sin Hauw. Jahanam keparat!"

Coa-ongya dan Ci-ongya terkejut. Dua orang pangeran itu belum bermaksud membunuh Sin Hauw, kalau hal itu dilakukan tentu sejak tadi mereka sudah melaksanakannya. Maka begitu Kwi Bun tak dapat menguasai diri sementara Kwi-goanswe di sana berteriak-teriak dan bergulingan maka dua pangeran ini membentak dan Sin Hauw sendiri melempar kepalanya ke belakang, melihat pisau menyambar mata dan Kwi Bun hendak menusuk bagian yang tak dapat dilindungi kekebalan ini. Pemuda itu marah melihat kebutaan yang menimpa ayahnya. Dan begitu pisau menyambar namun Sin Hauw keburu melempar kepala ke belakang maka pisau itu mengenai tembok, mental.

"Takk!"

Kwi Bun membalik. Keadaan tiba-tiba tak dapat dikuasai lagi, Kwi-goanswe di sana membentak dan sudah mencabut pedangnya, jenderal tinggi besar itu tampak menyeramkan karena sebagian besar mukanya penuh darah, matanya yang buta hancur sebuah dan jenderal itu menyerang. Tapi ketika dia menubruk dan pengawal sudah dipanggil tiba-tiba Coa-ongya memerintahkan agar Kwi-goanswe dicegah, jenderal itu harus ditangkap dan dibawa keluar. Dia harus diobati dan Sin Hauw tak boleh dibunuh.

Dan ketika Kwi Bun juga ditubruk dan pengawal berhamburan datang maka Sin Hauw selamat namun baju pemuda ini robek-robek, tadi tak dapat mengelak semua serangan dan pisau atau pedang di tangan ayah dan anak mengenainya juga. Untung sinkangnya masih bekerja dan kekebalannya menjaga. Dan ketika dua orang itu ditangkap sementara Coa-ongya sendiri membentak penuh wibawa maka Sin Hauw akhirnya dipukul dengan sepotong besi, pingsan.

"Kau jahanam keparat, rebahlah di situ, ngek!" pemuda ini tersungkur, roboh dan pingsan lagi dan dua orang pangeran itu pucat. Mereka masih melihat kehebatan Sin Hauw ini, kekuatannya yang luar biasa dan juga kekebalannya yang mengagumkan. Dalam keadaan seperti itupun pemuda ini mampu melukai Kwi-goanswe dan anaknya. Bukan main! Hal yang benar-benar mengejutkan.

Dan ketika dua orang itu meninggalkan Sin Hauw dan Kwi-goanswe dirawat tapi tetap matanya buta sebelah maka hari-hari berikut merupakan neraka bagi Sin Hauw. Akhirnya Arak Hitam dicekokkan juga ketika dia pingsan. Sin Hauw masih mendapat hajaran dan siksa yang lain, pukulan dan tendangan, tapi pemuda itu tak terluka. Obat pelupa ingatan mulai bekerja dan seminggu kemudian Sin Hauw sudah seperti orang linglung, tubuhnya kurus karena selama seminggu itu pula makan minumnya tak diurus. Dan ketika pemuda itu benar-benar lupa ingatan pada minggu kedua maka Coa-ongya dan Ci-ongya mempermainkannya.

"Ha-ha, ke sinilah. Sin Hauw. Jalan merangkak!"

Sin Hauw merangkak, lambat-lambat, tidak lagi diikat.

"Cepat, seperti anjing!"

Sin Hauw merangkak seperti anjing.

"Ha-ha, sekarang berdirilah. Sin Hauw Mainkan silat golokmu yang paling hebat itu!"

Sin Hauw mengerutkan kening, pandang matanya kosong.

"Eh, kau tak mendengar perintahku?" sebuah cambuk mengeletar. "Cepat, mainkan silat golokmu itu, Sin Hauw. Dan tunjukkan pada kami semua tipu-tipunya!"

Sin Hauw mendelong saja. Cambuk akhirnya menjeletar dan tergulinglah pemuda itu, bajunya pecah namun kulitnya tidak apa-apa. Hebat pemuda ini. Dan ketika Coa-ongya terbelalak sementara adiknya juga tertegun maka Ci-ongya mendecak menyatakan kagum.

"Sin Hauw ini benar-benar luar biasa. Sinkangnya masih melindungi tubuhnya meskipun hilang ingatan!"

"Ya, dan aku ingin memiliki sinkang seperti itu, adik pangeran. Kudengar Im-kan-to-hoat yang dimiliki pemuda ini mengandung gerak-gerak tenaga sakti. Setiap tarikan napas atau hembusan napasnya dikendalikan sinkang otomatis, ilmu itu hebat!"

"Tapi dia belum menjelaskan!"

"Dapat kita paksa, adik pangeran. Biarlah kusuruh lagi dan kuperiksa dia!" pangeran ini membentak Sin Hauw, mengeletarkan cambuknya dan Sin Hauw pun bangun. Coa-ongya memerintah agar dia mainkan silat goloknya itu, Im-kan-to-hoat. Tapi ketika Sin Hauw mendelong saja dan seperti orang bodoh maka Coa-ongya marah dan mencambuk pemuda itu lagi.

"Sin Hauw, ayo mainkan silat golokmu itu. Cepat, atau kau kusiram air panas!"

Sin Hauw menggigil. "Aku... aku tak dapat, pangeran. Aku lupa..."

"Apa? Kau bohong? Keparat, jangan menipu aku. Sin Hauw. Ayo mainkan itu atau kau roboh... tar!" cambuk meledak kembali, mengenai muka Sin Hauw dan pipi pemuda itu tergurat. Sin Hauw terpelanting namun diperintahkan bangun lagi. Dan ketika pemuda itu terhuyung dan Coa-ongya mendelik maka pemuda ini menggeleng kuyu, menyatakan lupa.

"Aku... aku tak bisa... aku tak ingat semua yang pernah kupunyai..."

Jawaban itu disambut geraman. Coa-ongya marah dan tiba-tiba menyiramkan air panas. Sin Hauw berjengit dan mengaduh, berkelojotan di tanah. Dan ketika dia diperintah lagi namun jawabannya selalu itu-itu saja maka pangeran ini marah dan mengambil api, menyulutkan itu pada Sin Hauw dan Sin Hauw kesakitan. Luka bakar memang tidak dialami pemuda ini, namun karena api merupakan barang panas dan rasa panas itu menyakiti tubuhnya maka pemuda ini merintih dan melingkar-lingkar.

"Ampun... ampun, pangeran. Aku betul-betul tak tahu...!"

Ci-ongya mengerutkan alis. Melihat perbuatan kakaknya dan sikap Sin Hauw yang tampaknya tidak dibuat-buat akhirnya membuat pangeran ini tertegun. Dia khawatir bahwa jangan-jangan obat pelupa ingatan yang telah dicekokkan kepada Sin Hauw juga sekaligus menghilangkan ingatan pemuda itu pada semua ilmunya. Dan ketika dia meloncat dan menyatakan ini pada kakaknya maka Coa-ongya terkejut dan mengerutkan kening.

"Begitukah?"

"Mungkin saja. Ini baru dugaan, kanda pangeran. Dan sebaiknya kita uji!" Ci-ongya melangkah maju, mengangkat bangun Sin Hauw dan dengan mata tajam bersinar-sinar pangeran muda itu mengamati pemuda ini. Dan ketika Sin Hauw dilihatnya berpandangan kosong maka pangeran itu mendesis,

"Sin Hauw, kau ingat dan mengenai nama Hwa Kin?"

Sin Hauw mengerutkan kening, berpikir keras.

"Kau tidak ingat?"

"Tidak, pangeran. Aku tidak ingat..."

"Dia encimu!"

"Aku tidak ingat..."

"Hm, kau ingat siapa gurumu?"

"Tidak, pangeran. Aku juga tidak ingat..."

"Gurumu adalah Sin-liong Hap Bu Kok! Kau ingat nama ini?"

"Tidak," Sin Hauw menggeleng sedih. "Aku tidak ingat apa-apa..."

"Hm, encimu bernama Hwa Kin, Sin Hauw. Dan dia tewas membunuh diri, ku-perkosa!"

Mata itu tiba-tiba terbelalak. Sin Hauw tampak terkejut dan memandang Ci-ongya, sejenak ada kilat seperti api namun redup lagi. Dan ketika Ci-ongya memberi tahu dengan berani bahwa enci pemuda itu digagahinya tapi lalu mati membunuh diri maka pangeran ini tertawa mengejek.

"Sin Hauw, encimu itu hebat. Manis benar dia. Kau tidak benci kepadaku dan marah?"

"Hm, aku tak ingat siapa wanita itu, pangeran. Kalau aku ingat tentu aku benci dan marah kepadamu!"

"Dan kau tak ingat apapun tentang ilmu silat yang kau punyai?"

"Tidak, aku tak ingat apa-apa..."

"Nah," Ci-ongya membalik. "Sin Hauw ternyata kehilangan ingatannya tentang ilmunya pula, kanda. Jadi percuma mengharap pemuda ini!"

"Jadi bagaimana?"

"Sebaiknya dibuang saja, pemuda ini tak berguna!"

Sang kakak kecewa. "Dia benar-benar tak dapat digunakan?"

"Lihat sendiri, dia kehilangan semua ingatannya, kanda. Bahkan tentang encinya yang juga kuperkosa pemuda ini tak menyerangku. Obat itu rupanya terlampau banyak kita minumkan!"

"Hm!" Coa-ongya membanting kaki. "Kalau begitu percuma kita menahannya, adik pangeran. Tapi coba kita panggil Miao In!"

"Hamba di sini!" sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat. "Ada apa, ongya? Paduka memerlukan hamba?"

"Ha-ha, cepat benar!" sang pangeran tertawa bergelak. "Kau datang di saat kami memerlukanmu, Miao In. Bagus dan lihatlah Sin Hauw!" Coa-ongya bertepuk tangan, menyambar dan tiba-tiba memeluk gadis itu dengan gembira. Adiknya juga tertawa dan bersinar-sinar memandang Miao In, gadis yang tiba-tiba muncul di situ dengan caranya yang mengejutkan. Dan ketika Miao In tersenyum dan membiarkan Coa-ongya meraba dan meremas dadanya maka Sin Hauw terbelalak tapi diam tak memberikan reaksi, padahal gadis ini adalah kekasihnya, setidak-tidaknya adalah bekas kekasih!

"Sin Hauw, kau kenal siapa ini?"

"Tidak."

"Dia Miao In, kekasihmu!"

"Hi-hik, hamba tak memiliki kekasih macam orang gila ini, ongya. Kekasih hamba adalah paduka berdua!" gadis itu tertawa, melingkarkan lengannya di pinggang Coa-ongya dan Ci-ongyapun diberinya kerling tajam. Pangeran Ci itu datang dan tertawa meraih lengannya. Dan ketika tanpa malu-malu lagi Ci-ongya meremas dan meraba tubuh gadis itu maka sebuah ciuman didaratkan pada mulut si gadis.

"Miao In, kau sungguh kekasih yang hebat!"

"Hi-hik, hati-hati, pangeran. Nanti Kwi Bun datang!"

"Ah, Kwi-kongcu itu orang tolol. Dia pemuda ingusan yang tak tahu permainan kami!"

"Hi-hik!" Miao In menggeliat, geli oleh jari-jari nakal dua orang pangeran itu. Baik Ci-ongya maupun Coa-ongya akhirnya meremas seluruh tubuhnya, dari dada sampai ke perut. Dan ketika Sin Hauw juga tak memberikan reaksi atas semuanya itu maka Coa-ongya melepas si gadis berkata jemu,

"Miao In, pemuda ini sudah tak dapat kita pergunakan. Kau buanglah dia ke mana kau suka!"

"Maksud paduka?"

"Dia kehilangan seluruh ingatannya, Miao In, termasuk ilmu silatnya itu. Kami tak dapat memaksanya karena pemuda ini sudah linglung!"

"Begitukah?"

"Ya, dan kau ringkas saja ilmu-ilmu yang sudah kau dapat dari pemuda ini, Miao In. Berikan kepada kami kitab catatan itu."

"Belum selesai," gadis ini berkata, "masih kurang sedikit, pangeran. Dua tiga minggu lagi hamba serahkan paduka semuanya!"

"Ah, begitu? Baiklah, bawa pemuda ini, Miao In. Tapi serahkan dulu apa saja yang sudah kau catat!" Coa-ongya merogoh, langsung mengambil sesuatu dari balik baju dalam gadis itu dan pangeran ini tertawa mendapatkan sebuah kitab, tak perduli pada wajah si gadis yang berobah. Dan ketika buku kecil itu berada di tangannya dan ditimang-timang maka Coa-ongya melirik adiknya, memberi isyarat dan Ci-ongya tersenyum. Tiba-tiba dia menepuk pundak gadis itu dan menyuruh Miao In pergi, membawa Sin Hauw. Berkata biarlah nanti gadis itu ke kamar mereka, setelah tugasnya selesai. Dan sementara Miao In tertegun tapi tak dapat berbuat apa-apa maka Ci-ongya sudah disambar kakaknya.

"Bawa pemuda itu, setelah itu ke kamarku!"

Miao In akhirnya mengangguk. Senyum kecut menghias bibirnya sejenak dan tiba-tiba gadis ini berkelebat, menyambar Sin Hauw. Dan ketika Sin Hauw terkejut dan berseru tertahan maka pemuda itu sudah dibawa berjungkir balik melompati tembok yang tinggi. "Sin Hauw, kau benar-benar pemuda tak berguna!"

Sin Hauw terpekik. Dibawa berjungkir balik dan melayang di tempat begitu tinggi tiba-tiba pemuda ini menjerit, ketakutan, sungguh jauh bedanya dengan Sin Hauw beberapa minggu yang lalu. Dan ketika Miao In membawanya "terbang" dan berkali-kali pemuda itu mengeluarkan seruan kaget maka Miao In berhenti di hutan, mendengar rintih dan erangan seorang nenek.

"Aduh, keparat kau. Sin Hauw. Kau membiarkan aku si tua bangka kelaparan dan tersiksa!"

Miao In terkejut. Dia berhenti dan menoleh. Sin Hauw dilepas dan pemuda itu roboh ke tanah. Dan ketika seorang nenek muncul dari balik semak-semak dan merangkak susah payah maka Miao In terbelalak melihat siapa kiranya. "Subo...!"

"Miao In...!"

Gadis ini bergerak. Tahu-tahu dia telah menolong nenek itu, yang bukan lain Im-kan Siang-li yang buntung lengannya. Nenek ini susah payah merangkak di tengah hutan, memaki dan menyebut-nyebut nama Sin Hauw. Dan ketika nenek itu bertemu Miao In dan gadis itu bergerak menubruknya maka Miao In tersedu-sedu memeluk subonya (ibu guru).

"Ah, celaka. Aku ditipu Coa-ongya, subo. Aku dipedayai! Kau di mana saja selama ini? Kau masih hidup?"

"Keparat, siapa yang kau bawa itu, Miao In? Bukankah dia Sin Hauw?" sang nenek tak menjawab, melotot memandang Sin Hauw dan Sin Hauw bengong saja memandang dua orang ini.

Baik Im-kan Sian-li maupun Miao In hanya merupakan bayang-bayang samar dalam ingatannya, Sin Hauw seolah kenal tapi juga seolah tidak. Obat perampas ingatan yang diberikan dua orang pangeran itu memang melebihi takaran. Sin Hauw telah mendapat perlakuan yang kejam. Dan ketika nenek itu tidak menjawab melainkan mendelik dan memandang Sin Hauw tiba-tiba kakinya bergerak dan Sin Hauw sudah ditendangnya, padahal tadi nenek ini seolah kelihatan lumpuh dan tidak bertenaga.

"Sin Hauw, kau bedebah terkutuk. Jahanam... des-dess!"

Sin Hauw mencelat, ditendang penuh kemarahan oleh nenek ini dan pemuda itu mengaduh. Sin Hauw tak berdaya apa-apa dan tiba-tiba nenek itu menyerang lagi, menendang dan menghajar pemuda ini di mana-mana. Sin Hauw akhirnya terguling-guling dan mengeluh, pemuda itu tak membalas dan si nenek heran, tertegun. Tapi ketika dia mau menghajar lagi dan Miao In berkelebat maka gadis itu berseru,

"Subo, tahan. Sin Hauw sekarang bukan Sin Hauw beberapa waktu yang lalu!"

"Apa maksudmu?" sang nenek terbelalak. "Kau bilang apa?"

"Pemuda ini sudah dicekoki arak perampas ingatan, subo. Sin Hauw sudah tak dapat mainkan ilmu silatnya dan menjadi orang biasa!"

"Heh...?"

"Benar, subo. Dan itu adalah perbuatan Coa-ongya. Pemuda ini tak akan melawan biarpun dibunuh. Kau tak usah kalap karena dengan mudah kau akan dapat membunuh pemuda ini!"

Nenek itu tertegun. Tiba-tiba dia terbelalak dan bengong, Sin Hauw dilihatnya bangkit terhuyung dan meringis kesakitan. Beberapa tendangannya yang keras dan kuat membuat pemuda itu jungkir balik. Sin Hauw cukup tersiksa. Tapi ketika pemuda itu berdiri dengan pandangan kosong dan nenek ini akhirnya percaya maka Miao In bercerita, bahwa dua minggu ini Sin Hauw ditangkap dan disiksa Coa-ongya, juga Ci-ongya yang akhirnya mencekoki pemuda itu dengan Arak Hitam, arak yang sudah dicampuri obat perampas ingatan dan nenek itu mengangguk-angguk. Mengertilah dia kenapa selama ini Sin Hauw tak muncul, dia dibiarkan di luar gedung Coa-ongya ketika pemuda itu masuk, ditotok dan berhari-hari dibiarkan menderita.

Seperti kita ketahui nenek ini memang belum dibebaskan Sin Hauw yang ingin membuktikan omongannya kepada Coa-ongya, akhirnya mengompres Tang Kiok dan terjadilah semuanya itu, terbunuhnya wanita itu tapi Sin Hauw juga tertangkap, terjeblos dalam lubang jebakan di mana Coa-ongya yang memasang semuanya itu, untuk menghadapi kepandaian Sin Hauw yang luar biasa. Dan ketika nenek itu mengerti dan mengangguk-angguk maka nenek ini terkekeh dan tiba-tiba memandang Sin Hauw.

"Heh-heh, begitukah kiranya? Dan kau sendiri, kenapa tidak menolong subomu, Miao In? Ke mana saja kau selama ini?"

"Aku bersama Kwi-kongcu, subo, merencanakan untuk membunuh Coa-ongya!"

"Begitukah? Kau tidak bohong?"

"Tidak, tapi rasanya tak berhasil, subo. Kitab kecil yang berisi catatan Im-kan-to-hoat yang belum lengkap kupelajari dari Sin Hauw tiba-tiba diambil Coa-ongya. Aku tak mengerti kenapa dia melakukan itu padahal sudah kujanjikan seminggu dua minggu lagi!"

"Heh? Buku kecil itu diambil Coa-ongya?"

"Benar, subo. Dan sekarang aku disuruh membunuh atau membuang Sin Hauw...."

"Celaka, goblok sekali! Kau tak tahu tipu muslihat pangeran itu! Eh, mana Golok Maut, Miao In? Juga di tangan Coa-ongya?"

"Benar, subo. Aku belum berhasil mencurinya..."

"Awas!" teriakan itu dikeluarkan si nenek, menendang muridnya dan tiba-tiba mereka berdua melempar tubuh bergulingan. Dan ketika Miao In berseru kaget sementara subonya memaki maka terdengar suara "crep" dan sebatang panah persis sekali menancap di pohon di belakang gadis itu, di mana kalau Miao In tak disambar subonya tentu gadis itu menjadi korban.

Miao In tak tahu karena sedang bercerita, subonya yang mendengar dan secepat kilat nenek yang masih lihai itu menendang muridnya. Dan ketika mereka berdua meloncat bangun dan Miao In terbelalak maka di situ berdiri seratus pengawal dipimpin seorang laki-laki tinggi kurus yang kumisnya pendek.

"Yin-goanswe (Jenderal Yin)...!" Miao In terkejut, kaget memandang laki-laki itu dan Yin-goanswe, sahabat atau rekan Kwi-goanswe yang biasanya bertugas di kota raja tiba-tiba mengangguk, mengeluarkan suara dingin.

"Ya, aku, nona. Dan benar dugaan Coa-ongya bahwa kau akan membunuhnya!"

Miao In tertegun. Setelah jenderal Yin bicara dan seratus orang pasukannya tegak mengelilinginya maka tahulah dia bahwa dirinya dalam bahaya. Rupanya Coa-ongya sudah mencium rencananya itu dan pantas saja merampas buku kecil yang berisi catatan Im-kan-to-hoat, ilmu silat golok yang amat hebat yang baru sebagian diberikan Sin Hauw kepadanya, ditulis dan dicatat dalam buku kecil itu. Maka begitu Yin-taijin muncul dan mendengar semua kata-katanya segera maklumlah gadis ini bahwa tak mungkin lagi baginya untuk kembali ke tempat pangeran itu.

"Yin-goanswe, kau jahanam keparat! Kenapa menyerang secara curang?"

"Hm, Coa-ongya menyuruhku membunuhmu, Miao In. Sekarang menyerahlah atau kami akan bersikap keras kepadamu!"

"Bedebah!" nenek buntung tiba-tiba membentak. "Kau tak perlu takut, Miao In. Ada aku di sini dan kita hadapi tikus-tikus busuk ini!"

"Hm, kau masih hidup, Im-kan Siang-li? Dan kau kiranya diam-diam juga mengatur muridmu?"

"Keparat, kau jahanam busuk, Yin-goa-swe. Tak usah banyak cakap dan mari kubasmi kau.. wut!" nenek ini meloncat, gerakannya begitu sigap dan orang lagi-lagi akan tertegun. Tadi nenek itu tampak begitu lemah dan merangkak, tiba-tiba saja menjadi segesit elang dan kini menyambar Yin-goanswe itu. Kakinya berputar dua kali dan tahu-tahu selangkangan Yin-goanswe sudah diserangnya. Tapi ketika jenderal itu mundur dan membentak marah tiba-tiba dia mencabut golok-tombak dan membabat kaki nenek ini.

"Bret-plak!"

Golok-tombak luput, sudah ditendang namun sebagian ujung celana nenek itu robek. Tadi jenderal ini bergerak cekatan dan mundur menjauh. Dan ketika si nenek melengting tinggi dan berkelebat lagi maka jenderal ini memerintahkan anak buahnya maju membantu.

"Bunuh nenek ini, tangkap gadis itu!"

Pasukan tiba-tiba bergerak. Miao In sudah berkelebat hendak membantu subonya, tak tahunya didahului bentakan dan serangan tombak dari kiri kanan. Pembantu Yin-goanswe telah bergerak dan membentak gadis itu. Dan ketika Miao In melengking dan marah mencabut goloknya, meniru-niru Sin Hauw, tiba-tiba gadis ini sudah berkelebatan dan mainkan Im-kan-to-hoat, yang tidak lengkap.

"Subo, bunuh Yin-goanswe itu. Jangan beri ampun!"

"Ya, dan kau basmi semua tikus-tikus itu, Miao In. Dan cepat kita lari setelah ini!"

Namun pasukan sudah bergerak dari mana-mana. Yin-goanswe cepat dibantu sepuluh pembantunya sementara sembilan puluh yang lain mengeroyok Miao In. Gadis itu memutar golok namun akhirnya kewalahan juga. Im-kan-to-hoat yang dipelajari belum lengkap semuanya dan gadis ini bingung kalau melanjutkan, tak tahu dan tentu saja permainan goloknya kacau. Dan ketika di sana subonya ternyata juga kewalahan menghadapi lawannya karena tangannya yang buntung tak dapat digunakan maka hanya kaki nenek ini yang membagi-bagi tendangan, celaka sekali lawan tiba-tiba mengeluarkan jala, melempar dan berusaha menjerat kaki nenek itu.

Nenek ini memaki-maki dan tentu saja dia harus berloncatan, satu karena menghindari jeratan itu sedang yang lain karena dia harus mengelak dari sambaran senjata sebelas lawannya. Yin-goanswe mainkan golok-tombaknya dengan berganti-ganti, sebentar bagian golok lalu sebentar kemudian bagian tombak. Ternyata jenderal ini lihai mainkan senjata khasnya itu. Dan ketika si nenek melengking-lengking dan tentu saja marah bukan main maka dua kali tendangannya berhasil merobohkan dua orang perwira tapi sebuah lontaran lasso atau jala kecil itu menjirat kakinya.

"Rrt-des-dess!"

Nenek ini berteriak. Dua pembantu Yin-goanswe roboh namun dia sendiri terpelanting. Untunglah, nenek ini cukup lihai karena tiba-tiba sambil menggulingkan tubuh seperti trenggiling tiba-tiba nenek ini menumbukkan badannya. Yin-goanswe yang terdekat dijadikannya kaget karena nenek itu mengait kaki, melompat tinggi dan nenek itupun lolos dari serangan yang lain-lain. Dan ketika nenek itu sudah meloncat bangun sementara Yin-goanswe sendiri melayang turun maka Yin-goanswe membentak dan menyerang kembali bersama sepuluh pembantunya, memaki dan jala atau lasso kini ditambah, sang nenek sibuk dan berloncatan serta menendang ke sana-sini, akhirnya berteriak ketika dua buah jala lagi-lagi menggubat kaki.

Dan ketika dia terguling dan Yin-goanswe serta sepuluh pembantunya membentak mengayun senjata maka nenek itu menjerit ketika golok-tombak di tangan Yin-goanswe membabat bahunya, bergulingan menyelamatkan diri namun sepuluh yang lain berkelebatan dari mana-mana, nenek itu sibuk dan tentu saja pucat. Dan karena kakinya masih tergubat dan susah baginya melepaskan diri maka nenek yang kewalahan ini berteriak ketika empat buah golok mengenai dirinya lagi, mengeluh dan darah mulai membasahi tubuh nenek itu.

Im-kan Siang-li pucat karena sebenarnya dia tak sanggup menghadapi keroyokan ini, dia sudah lelah dan tenaganya cepat habis. Beberapa hari ini menderita di bawah totokan Sin Hauw yang celaka sekali tak pernah datang membebaskannya karena Sin Hauw tertangkap membuat nenek itu menderita. Apalagi kedua tangannya yang buntung belum dapat menyesuaikan diri membuat keseimbangan.

Akibatnya nenek ini jatuh lagi ketika jala yang menjerat kakinya ditarik, terseret dan terpelanting dan sebuah bentakan Yin-goanswe akhirnya disusul bacokan ke kaki. Nenek itu menjerit ketika tiba-tiba kakinya putus, darah memuncrat dan berteriaklah nenek itu memanggil muridnya. Dan ketika Miao In di sana terbelalak dan terkejut melihat keadaan subonya maka nenek ini terhenti teriakannya ketika senjata yang lain dari pembantu Yin-goanswe itu juga menusuk tubuhnya.

"Aduh, tolong, Miao In... crep!" nenek itu menggeliat, akhirnya berhenti memekik karena tombak di tangan jenderal Yin menancap di dadanya. Dalam keadaan tangan dan kaki buntung memang tak mungkin lagi bagi nenek itu untuk melawan, Jenderal Yin adalah jenderal yang kepandaiannya cukup tinggi, betapapun lihainya dia tentu tak mungkin menghadapi keroyokan sebelas orang lawan yang rata-rata memiliki kepandaian cukup. Maka begitu golok seorang pembantu jenderal itu membacok pinggangnya dan Yin-goanswe menyusulinya dengan tusukan di dada maka nenek itupun terkapar dan roboh mandi darah, tewas.

"Yin-goanswe, keparat jahanam kau!" Miao In membentak marah menggerakkan goloknya dan lima orang di depan roboh menjerit. Dari sembilan puluh orang lawan gadis ini sudah melukai tak kurang dari dua puluh, berkelebatan dan menyambar-nyambar namun lawan terlampau banyak. Satu dikeroyok sembilan puluh adalah terlalu berat, apalagi gadis ini belum memiliki Im-kan-to-hoat sepenuhnya. Banyak jurus-jurus lanjutan yang tiba-tiba saja macet di tengah jalan, tak dapat diteruskan karena gadis itu memang tak tahu.

Maka begitu subonya roboh dan gadis ini membentak memaki Yin-goanswe tiba-tiba ia mencoba menerobos kepungan namun gagal, pengawal atau pasukan Yin-goanswe itu mengepung ketat karena roboh satu maju sepuluh, roboh sepuluh mereka maju dua puluh. Tentu saja gadis ini repot. Dan ketika ia menjadi marah dan memekik membuka jalan darah tiba-tiba goloknya kembali mendapat korban tujuh orang di depan.

"Minggir kalian, bedebah... des-plak-cret!" tujuh orang itu menjerit, roboh berteriak dan Miao In berjungkir balik, maunya keluar tapi tiba-tiba Yin-goanswe sudah berkelebat ke situ.

Setelah merobohkan nenek buntung maka jenderal ini bersama sepuluh pembantunya sudah cepat ke sini, tentu saja jenderal itu tak mau anak buahnya dibantai. Dia sudah bergerak dan balas membentak gadis itu. Dan ketika Miao In melayang turun namun sudah disambut sang jenderal maka gadis itu melengking dan menggerakkan goloknya.

"Cring-crangg!"

Miao In terpental. Ternyata Yin-goanswe memiliki tenaga yang besar dan dia terpekik, kalah beradu tenaga dan sang jenderal sudah menyerang lagi. Dan ketika sepuluh pembantunya juga bergerak dan membantu jenderal itu maka yang lain diminta mengepung dan agar menonton.

"Biarkan gadis ini kami hadapi, kalian mundur...!"

Semua akhirnya mundur. Miao In dikeroyok sebelas orang saja dan sebenarnya lebih ringan, dalam arti jumlah. Namun karena yang mengeroyok kali ini adalah sang jenderal sendiri dan sepuluh pembantunya itu adalah perwira-perwira yang tentu saja kepandaiannya masih di atas perajurit biasa maka bukannya ringan melainkan justeru semakin berat bagi gadis ini, yang terdesak dan tiba-tiba mundur dan terus mundur.

Miao In berteriak agar Sin Hauw membantunya, lupa bahwa pemuda itu kehilangan ingatannya dn pasukan tak ada yang menyerang. Mereka hanya mendapat perintah untuk menangkap atau membunuh guru dan murid itu, Miao In dan subonya. Maka ketika Sin Hauw diam saja dan sejak tadi pemuda ini mendelong memandang pertempuran maka teriakan Miao In sia-sia dan gadis itu tiba-tiba menangis.

"Sin Hauw, bantu aku. Cepat, bantu aku...!"

Namun mana Sin Hauw bisa? Menjaga diri sendiri saja tak mampu, apalagi orang lain. Pemuda itu telah kehilangan ingatannya akan semua ilmu silat dan masa lalunya. Tak ada pandangan hidup pada mata pemuda itu, sinar mata Sin Hauw kosong dan tak sedikitpun ada perasaan mengerti. Pemuda ini seperti orang bingung, gerak-geriknya seperti orang linglung karena pemuda itu memang tak mengerti apa-apa. Dia juga tak bisa silat karena ingatannya akan ilmu silat hilang. Coa-ongya telah membuatnya begitu rupa hingga pemuda ini seperti area saja, hidup tapi jiwanya kosong. Maka ketika di sana Miao In memekik dan menjerit oleh sebuah tusukan Yin-goanswe tiba-tiba gadis ini mendapat serangan lima senjata yang terpaksa ditangkis dengan muka pucat.

"Cring-crang-crangg..!"

Golok di tangan gadis ini mencelat. Miao In sudah gemetar karena habis tenaganya, terkuras oleh keroyokan tadi dan gadis ini mengeluh. Dia terpelanting dan Yin-goanswe serta perwira-perwiranya mengejar, Miao In menggulingkan tubuh namun akhirnya menabrak pohon, berhenti dan tentu saja gadis itu pucat. Yin-goanswe dan sepuluh pembantunya tertawa mengejek dan berkelebat, sebelas senjata tertuju kepadanya dan Miao In melotot. Dia akan ditembus senjata bermacam-macam itu, bakal disate. Tapi ketika Yin-goanswe dan sepuluh pembantunya membentak mau membunuh tiba-tiba terdengar bentakan dan Coa-ongya serta Ci-ongya muncul.

"Yin-goanswe, tahan...!"

Jenderal itu terkejut. Golok-tombak di tangannya tertahan, begitu pula sepuluh perwiranya. Mereka mengenal suara Coa-ongya dan tentu saja semuanya berhenti, semua senjata tertodong beberapa inci saja di muka gadis itu, Miao In hampir memejamkan mata menyerah pada maut. Tapi begitu Yin-goanswe menahan senjatanya dan sepuluh orang pembantunya juga begitu maka berdeguplah gadis ini melihat kedatangan Coa-ongya.

"Ha-ha, bagaimana, Miao In? Kau mau membela diri?" lalu sementara gadis itu masih tertegun tak mampu menjawab pangeran ini berkata, "Mundurlah, goanswe. Biarkan ia berdiri!"

Jenderal Yin mundur. Dia tetap menjaga bersama sepuluh perwiranya itu, semeter di depan korbannya. Dan ketika Miao In bangkit dan terhuyung pucat maka Coa-ongya mencabut Golok Maut dan membolang-balingnya di tangan.

"Ha-ha, kematian apa yang kau inginkan, Miao In? Minta dikutungi seperti gurumu atau bagaimana?"

"Tidak.. tidak..!" gadis ini gemetar. "Ampun, ongya. Aku.. aku tak bersalah...!"

"Ha-ha, tidak bersalah setelah merencanakan untuk membunuhku? Hm, kau seperti subomu, Miao In, suka berkhianat dan jalan di belakang!" pangeran tertawa, maju mendekat dan Golok Maut diputar-putar. Pandang penuh ancaman tampak di mata pangeran ini, Coa-ongya menatap keji dan sorot matanya itu membuat Miao In gentar, gelisah. Dan ketika pangeran dekat benar dan golok ditempelkan di pangkal lengannya maka pangeran bertanya, senyumnya keji, "Miao In, kau ingin aku mengutungi lenganmu yang kiri dulu atau kanan? Atau kau minta kakimu dibuntungi dulu?"

"Tidak... tidak!" gadis ini menangis. "Kau bunuhlah aku, ongya. Kau bunuhlah aku!"

"Hm, terlalu enak. Sebelumnya ingin kutanya dulu siapa yang merencanakan pembunuhan itu, Miao In. Kau ataukah Kwi-kongcu!"

"Kwi Bun!" Miao In cepat menjawab. "Dia itu yang mengajak aku, ongya. Sungguh mati aku hanya ikut-ikutan, tak bersalah!"

"Bagaimana kalau kuadu?"

Miao In terbelalak.

"Ha-ha, kau terkejut, bukan?" sang pangeran menyeringai. "Lihatlah, Miao In, siapa itu...!" dan pangeran yang menuding serta bertepuk ke belakang tiba-tiba membuat Miao In tersirap, Kwi Bun terhuyung dan muncul di situ, mukanya babak-belur dan jelas dihajar, mengeluh dan gemetar memandang Miao In. Dan ketika pemuda itu didorong dan nyaris jatuh maka Coa-ongya berkata dingin,

"Heh, jawab, Kwi-kongcu. Siapa sebenarnya di antara kalian yang merencanakan untuk membunuh aku!"

"Di... dia...!" Kwi Bun menggigil. „Ampun, ongya. Aku hanya terbujuk!"

"Hm, bagaimana, Miao In? Apa jawabanmu?"

"Dia itu! Bohong!" gadis itu melengking, "Kwi Bun yang membujuk, ongya, Aku hanya ikut-ikutan dan dia yang merencanakan!"

"Eh, bagaimana, Kwi-kongcu? Siapa yang benar dan siapa yang bohong? Atau kau minta dikerat lagi?"

"Tidak... tidak...!" pemuda ini ketakutan. "Miao In yang merencanakan, ongya. Dan aku yang dibujuk!"

"Bohong! Kau..."

"Diam!" Coa-ongya membentak gadis itu. "Satu per satu kalau bicara, Miao In. Biar Kwi-kongcu yang menjelaskan bagaimana kau membujuknya!" lalu memandang pemuda itu bengis bertanya pangeran ini membentak, "Katakan alasanmu, Kwi Bun. Sebutkan kenapa kau yang terbujuk dan gadis itu yang merencanakan!"

"Dia hendak membalas kematian subonya. Miao In membenci paduka karena gara-gara padukalah subonya pertama terbunuh!"

"Nah, dengar?" pangeran mengejek, membalik menghadapi gadis itu. "Alasan ini dapat kuterima, Miao In. Sedang kau, alasan apa yang hendak kaukatakan? Kwi Bun putera Kwi-goanswe, pembantuku. Tak mungkin mau makar kalau bukan atas bujukanmu!"

Gadis ini pucat. "Dia... dia bohong, pangeran. Justeru Kwi Bunlah yang membujuk aku. Dia membalik omongan!"

"Apa alasanmu?"

Gadis ini menangis. "Dia.. dia..." katanya terbata-bata. "Kwi Bun cemburu kepadamu, ongya. Dia tak rela aku menjadi kekasihmu secara diam-diam!"

"Apa?"

"Benar. Kwi Bun marah melihat kau mencintaiku pula, pangeran. Pemuda ini sakit hati dan lalu merencanakan pembunuhan itu. Dia... dia..."

"Bohong!" Kwi Bun tiba-tiba melompat, membentak gusar. "Kau memfitnah, Miao In. Kau menjebloskan aku. Ah, kau gadis siluman!" dan Kwi Bun yang menyerang dan menubruk gadis ini tiba-tiba melengking dan langsung menghantam, maunya membanting gadis itu namun Miao In ternyata dapat berkelit. Gadis ini menjengek dan Kwi Bun menubruk angin kosong. Dan ketika pemuda itu membalik dan mau menyerang lagi tiba-tiba Miao In mendahului dan menendangnya.

"Kwi Bun, kau yang melempar omongan fitnah. Kau jahanam busuk... dess!" dan Kwi Bun yang mengeluh terlempar tinggi tiba-tiba terbanting dan berdebuk di sana, jatuh menggeliat namun pemuda ini bangun lagi, terhuyung dan memaki lawannya, bekas kekasih yang juga menjadi teman tidur Coa-ongya dan adiknya.

Dan ketika Miao In menyambut dan dua orang itu segera berkelahi maka Kwi Bun jatuh bangun dihajar Miao In, ternyata masih lihai gadis itu. Maklum, Miao In adalah murid Im-kan Siang-li dan kepandaian dua nenek itu jelas lebih tinggi dibanding Kwi-goanswe, yang melatih ilmu silat pada puteranya sendiri. Dan ketika Kwi Bun terguling-guling dan jatuh oleh tamparan Miao In maka Miao In berkelebat mau membunuh pemuda ini, dengan satu totokan jari ke dahi.

"Stop! Tahan itu, Yin-goanswe. Tak boleh gadis itu membunuh Kwi-kongcu!"

Yin-goanswe sudah bergerak. Dia memiliki tenaga yang besar, golok-tombaknya menusuk dan tahu-tahu gadis itu mengeluh. Punggung bajunya robek dan otomatis totokannya kepada Kwi Bun tertahan. Yin-goanswe akan meneruskan gerakan tombaknya bila dia terus menyerang Kwi Bun. Dan ketika pemuda itu terhuyung bangun berdiri sementara Coa-ongya bergerak ke depan maka pangeran ini memberi tanda dan adiknya melompat maju.

"Kwi Bun, alasan gadis ini dapat kuterima secara akal. Agaknya itu benar, kau yang memulai dulu!"

"Tidak... tidak...! Gadis itu bohong, pangeran. Sumpah demi langit bumi paduka ditipunya!"

"Tapi hal itu dapat kuterima Kau cemburu!"

"Ah, meskipun siluman ini paduka serahkan pada pengawal aku tak cemburu, pangeran. Iblis betina busuk yang macam begini tak perlu ku cemburui!"

"Keparat, kau yang menipu pangeran, Kwi Bun. Kau yang ingin menyelamatkan diri!"

"Hm, begini saja. Kalian berdua kuanggap sama-sama bersalah, jadi patut menerima hukuman. Siapa yang minta hukuman paling berat kuanggap dia itu yang kurang dosanya. Hukuman apa yang ingin masing-masing kalian minta?"

Dua orang itu tertegun. Tapi Kwi Bun yang maju dengan muka pucat berkata gemetar, "Aku berani memotong jariku, ongya. Siap menerima hukuman dari paduka!"

"Hm, dan kau?" sang pangeran memandang Miao In. "Hukuman apa yang kau kehendaki, Miao In? Juga memotong jari?"

Gadis ini pucat. Namun berkata mengedikkan kepala gadis ini menjawab, "Aku juga bersedia dipotong jari!"

"Hm, bagaimana, Kwi Bun? Kau berani tambah?"

"Aku... aku berani dikutungi lenganku, ongya. Aku siap dihukum!"

"Ha-ha, bagaimana, Miao In? Kau berani mengimbangi?"

Gadis ini terkejut. Kwi Bun yang berani dipotong lengannya jelas lebih tinggi keberaniannya dibanding dirinya, kalau ia tidak cepat-cepat mengimbangi. Maka mengangguk dan berkata melengking gadis ini menjawab, "Aku juga berani!"

"Ha-ha, kalau begitu mari dibuktikan!" sang pangeran tertawa bergelak. "Pinjam golokmu, Cing-ciangkun, dan berikan masing-masing sebuah pada dua orang ini!"

Cing-ciangkun, pembantu Yin-goanswe tiba-tiba melolos goloknya. Kebetulan dia punya dua buah dan cepat golok itu dilempar kepada Miao In dan Kwi Bun. Dan ketika dua orang itu pucat menerima dan masing-masing diminta memberi bukti maka Miao In maupun Kwi Bun sama-sama menggigil. Maklumlah, mereka diminta mengutungi lengan sendiri. Baik Miao In maupun Kwi Bun tiba-tiba merasa ngeri setelah diberi golok, mereka pucat membayangkan lengan yang sebentar lagi putus dari tempatnya.

Namun ketika semua orang menunggu dan Kwi Bun maupun Miao In sama-sama ragu mendadak terdengar bentakan dan sinar putih berkeredep dari satu di antara dua orang itu.