GOLOK MAUT
JILID 03
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“HA HA, sekarang kalian mengakui kelihaianku, Bhi Pui. Sekarang aku dapat bersenang senang dengan kalian!” pemuda she Bhok itu meloncat, menghampiri Bhi Pui dan dengan leluasa ia menggerayangi tubuh gadis itu. Bhi Pui mengeluh dan memaki maki namun Bhok kongcu malah tertawa gembira. Dan ketika pemuda itu mencium dan gadis baju merah ini tak berdaya maka Bhok Li sudah membuka bajunya untuk bertindak lebih jauh.

“Brett!”

Bhi Pui menjerit kecil. Bajunya, yang sudah direnggut dan robek lebar memperlihatkan bagian tubuhnya yang putih menggairahkan. Bhi Li di sana berteriak dan memaki maki pemuda itu, tak di hiraukan dan Bhok kongcu sudah mendengus dan menciumi bagian ini, tertawa. Dan ketika pemuda itu menyelinapkan jari ke perut Bhi Pui dan siap merenggut celana gadis itu maka Bhi Li hampir pingsan dan Bhi Pui sendiri nyaris histeris.

“Bhok koko, tidak. Jangan lakukan itu. ooh ....... !”

Namun Bhok Li tertawa bergelak. Dia menggerakkan jari dan celana itu siap direnggut. Namun tepat jari pemuda ini menempel perut dan Bhi Pui juga hampir pingsan mendadak sebuah tendangan membuat pemuda ini terlempar dan terbanting.

“Orang she Bhok, lepaskan korbanmu!”

Bhok kongcu terkejut. Dia terpekik terlempar bergulingan, nafsunya lenyap terganti kaget dan marah. Dia tak mendengar suara apa apa dan tahu tahu seseorang menendangnya. Dan ketika pemuda itu meloncat bangun dan mau memaki mendadak ia tertegun.

“Golok Maut.....!”

Bhi Pui dan adiknya tersentak. Mereka melihat seseorang berdiri di situ, menghadapi Bhok kongcu. Tubuhnya membelakangi namun caping lebar jelas menutupi muka orang ini, laki laki tegap bertubuh sedang. Dan ketika mereka tercengang dan kaget tapi tentu saja girang maka Bhok kongcu sudah dapat menenangkan dirinya dan kini maju membentak,

“Golok Maut, kau datang menghilangkan selera orang? Kau berani menendangku?”

“Hm!” suara yang dingin dan beku itu serasa tak berperasaan. “Aku datang karena tak suka melihat perbuatanmu. Bhok kongcu. Aku muak melihat sepak terjangmu mengganggu wanita. Pergilah dan jangan ganggu mereka lagi!”

“Keparat!” pemuda she Bhok ini marah. “Kau berani mengusirku. Golok Maut? Kaukira aku takut? Bedebah, coba terima ini dan mampuslah .....wut!” pemuda itu menerjang, dua jarinya menotok ulu hati dan Golok Maut tertawa dingin.

Lelaki bercaping ini tidak mengelak atau menangkis, dia menunggu sampai dua jari pemuda itu dekat benar. Dan ketika totokan hampir mengenai ulu hatinya dan Bhok Li girang tiba tiba lelaki ini berkelit dan... luputlah totokan itu serambut saja di sisi kanan.

“Eh!” Bhok Li terkejut. “Kau pamer kepandaianmu, Golok Maut? Coba lagi yang ini... wut wut!” pemuda itu membalik, menerjang dan kini tujuh totokan beruntun bercuitan menyambar tubuh lawannya itu.

Golok Maut mengegos dan mengelak sana sini, kakinya tidak bergerak kecuali bagian atas tubuhnya yang menghindari semua serangan lawannya itu. Dan ketika Bhok kongcu terkejut dan membentak marah tiba tiba pemuda ini sudah menghantam dan menggerakkan kelima jari menampar kepala lawannya itu.

“Dess!”

Bhok Kongcu malah terbanting menjerit mengaduh aduh. Tadi Golok Maut menggerakkan lengan dan menangkis tamparannya itu. Dan begitu lengan beradu jari mendadak pemuda she Bhok ini seakan menampar batangan baja dan kontan dia terbanting, menjerit dan bergulingan meloncat bangun dan tampaklah kini betapa pucat muka pemuda itu. Dalam gebrakan tangan kosong ini dia kalah! Tapi membentak dan mencabut ikat pinggangnya tiba-tiba Bhok kongcu sudah memekik dan menyerang kembali, mengerahkan sinkang dan ikat pinggangnya sudah berobah kaku seperti lempengan baja, lurus menyambar namun Golok Maut mengelak.

Dan ketika pemuda itu memekik dan menyerang lagi maka Golok Maut menghindar sana sini dan membiarkan ikat pinggang lawan lewat seinci atau serambut saja, tak pernah mengenai tubuhnya dan Bhok Li marah bukan main, juga penasaran. Pemuda itu membentak dan kini menggerakkan tangan kirinya pula, mengeluarkan Ang tok kang (Tangan Racun Merah), amis menyambar dan Golok Maut akhirnya mendengus. Dan ketika ikat pinggaag kembali menyambar nyambar dan satu saat meledak di pinggir telinganya tiba tiba Golok Maut membentak dan menangkis pukulan Ang tok kang yang menyambar dari tangan kiri pemuda itu.

“Plak!”

Bhok kongcu menjerit. Untuk kedua kali ia terbanting bergulingan mengaduh aduh. Ang tok kangnya, yang biasa dapat diandalkan dan menjadi senjata utamanya setelah ikat pinggang mendadak membalik, menghantam mukanya sendiri dan berteriak teriaklah pemuda she Bhok itu. Hidung dan mulutnya pecah! Dan, ketika ia bergulingan meloncat bangun tahu tahu sebuah sinar menyilaukan berkelebat menyambar rambutnya.

“Cess!” Hanya suara itu yang terdengar. Bhok kongcu, yang terkesiap dan baru meloncat bangun tiba tiba merasa kepalanya dingin. Dia tersentak dan meraba kepalanya itu. Dan ketika ia melihat betapa rambutnya terpapas habis dan kepalanya gundul tiba tiba pemuda ini terbelalak dan tertegun.

“Nah,” suara dingin itu membuatnya tergetar. “Kali ini rambutmu yang kubabat, Bhok kongcu. Kalau kau tak mau pergi maka jangan salahkan kalau lehermu yang menjadi korban berikut!”

Bhok kongcu ngeri. Tiba tiba dia menyadari bahwa Golok Maut bukan tandingannya, sekali berkelebat tiba tiba dia dibuat gundul. Maka mengeluh dan menyambar ikat pinggangnya kembali mendadak pemuda ini meloncat dan melarikan diri, berteriak ketakutan dan lenyaplah pemuda itu di luar hutan. Dan begitu lawan melarikan diri dan Golok Maut menggerakkan dua jarinya tiba tiba dari jauh dia sudah membebaskan totokan Bhi Li dan Bhi Pui.

“Tuk!”

Dua gadis itu tertegun. Mereka tiba tiba bebas, dapat menggerakkan tubuh. Dan begitu mereka meloncat bangun maka Bhi Pui terisak memaki Bhok kongcu itu.

“Orang she Bhok awas lain kali kalau kita bertemu lagi. Kubunuh kau!”

“Tak mungkin,” suara Golok Maut terdengar hambar dan enteng. “Kalian berdua tak dapat mengalahkannya, nona. Sebaliknya pergi dan hindari pemuda itu agar tidak ditimpa malapetaka.”

Bhi Pui tertegun, tiba tiba terisak. “Golok Maut, terima kasih atas pertolonganmu.” katanya. “Tapi kau pun berhutang sebuah jiwa kepadaku.....sing!” dan pedang yang menyambar menusuk Golok Maut tiba tiba membuat laki laki itu tertegun, mengelak dan Bhi Li tiba tiba berteriak pula. Kakak beradik ini sekonyong konyong menyerangnya dan mereka tampak beringas.

Dan ketika Golok Maut berlompatan dan mengelak lagi maka laki laki itu mendengus dan bertanya dingin, “Hutang jiwa apa yang kalian maksud? Kalian tidak menghentikan serangan?”

“Keparat, kau membunuh ketua Pek kiok pang, Golok Maut. Dia adalah paman dari ibu ku!”

“Hm, siapa ibu atau ayah kalian?”

“Ibuku Coa Eng, sudah meninggal. Sedang ayahku adalah Bhi Kong... sing singg!” dan pedang yang kembali menyambar namun dielak mudah tiba tiba membuat Golok Maut tersenyum mengejek, menghindar sebuah serangan lagi dan sekonyong konyong dua jarinya bergerak, menjepit pedang Bhi Pui. Dan ketika Bhi Li di sana berteriak marah dan Golok Maut tertawa dingin mendadak dia sudah menekuk pedang yang dijepit dan menendang Bhi Li, tepat di pergelangan tangannya hingga pedang di tangan gadis itu terlepas.

“Pergilah, aku tak dapat membunuh kalian, nona. Kalian bukan she Coa atau Ci....tring!” dan pedang yang terlempar serta jatuh di tanah tiba tiba disusul teriakan Golok Maut yang berkelebat lenyap menghilang dengan caranya yang luar biasa dan dua kakak beradik itu bengong.

Mereka ditampar dan dirobohkan begitu mudah, bahkan, pedang Bhi Pui patah menjadi dua dan Golok Maut mendemonstrasikan kehebatan jarinya. Tentu saja mereka terkejut. Tapi begitu sadar dan menjerit membanting kaki tiba tiba Bhi Pui mengutuk dan memaki habis habisan.

“Golok Maut, kau bedebah keparat. Kenapa tak membunuh kami sekalian agar bertumpuk dosamu? Kenapa membiarkan kami hidup dan harus mencarimu lagi? Hutang jiwa tetap dibayar jiwa, Golok Maut. Kami tak mau sudah!”

“Sudahlah,” Bhi Li tiba tiba menggenggam tangan encinya, menggigil. “Kita telah diselamatkan Golok Maut, cici. Apa yang akan dilakukan Bhok kongcu tadi sungguh melebihi kematian. Kukira jasa Golok Maut lebih besar dibanding hutangnya.”

“Ya, dan ini gara gara kau, Bhi Li. Kalau kau tak menentang dan membela si hidung belang itu barangkali tak akan kita bertemu Bhok kongcu. Kau tak percaya nasihatku, keras kepala!”

“Maaf, aku salah, cici. Sekarang aku sadar. Kau hukumlah aku kalau perlu dihukum!” Bhi Pui tiba tiba menangis.

Setelah adiknya menyerah dan terisak begitu mendadak mereka saling tubruk, betapapun mereka berdua adalah saudara dan tak perlu kiranya memarahi yang lain habis2an. Mereka hampir tertimpa bencana dan sesungguhnya apa yang dilakukan Bhok kongcu itu memang jauh lebih kejam daripada kematian sendiri. Untunglah, Golok Maut datang dan mereka selamat. Dan ketika keduanya menangis dan saling peluk tiba tiba berkelebat dua pemuda yang mengejutkan mereka.

“Nona, mana Golok Maut?”

Bhi Li dan kakaknya tertegun. Tiba tiba mereka melepaskan diri bersiap. Pandangan tampak tak bersahabat dan Bhi Li bahkan mencabut pedangnya, sinar mata mereka curiga dan tak percaya. Kejadian dengan Bhok kongcu tadi telah membuat mereka terguncang, setiap pemuda rasanya bakal dimusuhi dan Bhi Li mengedikkan kepala. Dan ketika dua pemuda itu mengerutkan kening dan mereka kelihatan terkejut melihat sikap dua gadis cantik itu tiba tiba Bhi Li membentak,

“Kalian siapa? Sahahat Bhok kongcu?”

Dua pemuda ini saling pandang, yang satu dengan yang lain tampak tidak mengerti. Tapi menjura dan melipat lengannya pemuda di sebelah kiri tiba tiba berkata. “Maaf, kami tidak mengerti siapa yang kau maksud, nona. Kami adalah dua sekawan yang kebetulan saja mendengar teriakan kalian tadi, yang menyebut nyebut Golok Maut. Aku adalah Keng Han sedang temanku ini Tong, tak kenal mengenal dengan Bhok kongcu.”

“Hm, ada hubungan apa dengan Golok Maut?”

“Kami, ah, ... kami bingung. Dulu kami memusuhinya tapi sekarang rupanya tidak. Kami pernah ditolong Golok Maut dan berhutang budi. Maaf, siapakah nona berdua? Apakah diganggunya?”

Bhi Li memandang kakaknya. “Bagaimana, cici,” bisiknya, “apakah mereka ini juga pemuda pemogoran seperti Bhok kongcu?”

Bhi Pui tertegun. Dia mengamati tajam dua pemuda itu, yang berdebar. Tapi tak melihat “mata minyak” di pandangan dua pemuda itu gadis ini menggeleng. “Tampaknya bukan,” balasnya berbisik. “Tapi kita harus berhati hati, Bhi Li. Betapapun mereka juga pemuda yang baru kira kenal.”

“Hm, kalian bicara apa“ Keng Han, pemuda yang sudah kita kenal bertanya keheranan. “Apakah kami terlihat sebagai orang jahat?”

“Kalian dari manakah? Bhi Pui melangkah maju, kini mendahului adiknya. “Apakah mencari Golok Maut untuk memusuhi orang orang she Coa atau Ci pula?”

“Ah tidak.” Su Tong kali ini bicara. “Kami justeru tak setuju dengan sepak terjang Golok Maut nona. Kami bahkan disuruh guru kami untuk mencegah perbuatan Golok Maut ini, tapi kami gagal. Kami adalah murid murid Pek lui kong asal dari utara.”

“Pek lui kong? Dewa Halilintar itu?”

“Hai, nona kenal?” Su Tong girang. “Benar, nona Kami adalah......”

“Wut!” gadis itu tiba tiba menyerang, membuat Su Tong menghentikan kata katanya dan pemuda itu berseru kaget. Bhi Pui menyerangnya tanpa banyak cakap lagi, hal yang juga mengherankan Bhi Li, adiknya. Dan ketika pemuda itu berteriak teriak dan mengelak serta menghindar sana sini, maka Bhi Pui berseru pada adiknya agar menyerang pula pemuda satunya, Keng Han.

“Bhi Li, serang pemuda itu. Cepat!”

Bhi Li tertegun. Tapi percaya bahwa encinya pasti mempunyai alasan tertentu mendadak gadis ini menggerakkan pedangnya dan membentak menyerang Keng Han. Dan begitu pedang berdesing dan Keng Han kaget maka sama seperti teman nya dia pun mengelak dan berseru,

“Eh, apa apaan ini, nona? Kenapa menyerang?”

“Tutup mulutmu!” Bhi Pui membentak. “Kami tak percaya siapa saja, orang she Keng. Perlihatkan dan tunjukkan dulu kepada kami apukah benar kalian murid Pek lui kong!”

Kini mengertilah Bhi Li. Gadis baju biru ini mengangguk tapi Keng Han dan Su Tong masih keheranan. Mereka itu kaget tapi juga marah, tak mengerti bahwa Bhi Pui ingin melihat ilmu mereka, apakah benar murid Pek lui kong atau bukan. Maklum, Bhi Pui sekarang tak gampang percaya terhadap siapa pun, khususnya laki laki. Maka begitu dibentak dan diserang pedang segera Keng Han berkelebatan dan keluarlah pukulan pukulan Lui kong ciangnya, meledak dan menangkis dan dua anak muda itu terhuyung. Keng Han mengarah pergelangan tangan, tak berani mata pedang karena dilihatnya serangan Bhi Li cukup berbahaya, pedang mendesing dan Su Tong di sana juga mengelak sambil menangkis.

Mau tak mau mereka mengeluarkan Lui kong ciangnya karena itulah yang mereka miliki, ilmu andalan dari Pek lui kong, guru mereka. Dan ketika benturan atau ledakan membuat Bhi Pui percaya bahwa dua pemuda ini betul betul murid si Dewa Halilintar tiba tiba dia menghentikan serangannya dan berseru pada adiknya pula agar berhenti.

“Cukup!” seruan itu mencengangkan Keng Han dan temannya. “Mereka betul murid murid Pek lui kong, Bhi Li. Hentikan dan jangan menyerang lagi!”

Bhi Li menghapus keringat, pipinya kemerah merahan. Dan ketika dia meloncat dan mendekati encinya maka gadis itu menyimpan pedang dan Bhi Pui pun agak jengah.

“Maaf, kami hanya ingin mencoba, sobat. Kami ingin membuktikan apakah kalian benar murid locianpwe Pek lui kong!”

“Hm,” Keng Han kini maju menghampiri, merangkapkan kembali kedua tangannya. “Nona berdua siapakah? Kenapa tampaknya bercuriga kepada setiap orang?”

“Kami baru diganggu Bhok kongcu!” Bhi Li tiba tiba berseru. “Kami tak mau ditipu lagi, sahabat. Dan terus terang enci kami tak mau celaka!”

“Siapa yang kalian maksud? Bhok kongcu yang mana?”

“Bhok Li, si hidung belang itu. Kalian kenal?” Keng Han tertegun.

“Sudahlah,” Bhi Pui menggamit adiknya. “Kami sekarang tahu bahwa kalian bukan orang orang golongan sesat, sobat. Guru kalian locianpwe Pek lui kong cukup menjadi jaminan.”

“Maaf,” Keng Han maju lagi. “Bolehkah kami tahu suipa nona berdua? Dari mana dan mau ke mana?”

“Aku Bhi Pui, ini adikku Bhi Li,” Bhi Pui terpaksa mengaku, tak enak karena orang telah menunjukkan identitas. “Kami tadinya mau mencari Golok Maut tapi malah celaka, sobat. Sekarang kami mau kembali!”

“Eh, tunggu!” Su Tong sekarang melompat. “Kami juga hampir celaka, nona. Kalau Golok Maut tak datang menolong barangkali kami sudah menjadi mayat. Apakah nona mencari Golok Maut karena permusuhan?”

“Hm,” Bhi Pui tiba tiba bersinar. “Golok Maut membunuh paman ibuku, sobat. Ketua Pek kiok pang!”

“Ah, nona dari sana?”

“Benar, tapi kami hanya kerabat.”

“Kalau begitu Golok Maut berhutang sebuah jiwa!”

“Ya, dan kami mau membalas dendam. Tapi sayang, kepandaian kami rendah sekali dan Golok Maut itu amat lihai. Kalau saja kami tidak begini bodoh dan rendah tentu kami cari si Golok Maut itu biar pun ia lari ke ujung dunia!”

“Tapi nona katanya ditolong......”

Bhi Pui tertegun.

“Maaf, bolehkah kami tahu bagaimana Golok Maut itu menolong kalian? Apakah Bhok kongcu yangkalian sebut sebagai pemuda hidung belang itu mengganggu kalian?”

“Hm.....!” gadis ini berkilat matanya. “Apakah urusan kami perlu kalian ketahui sedetail detailnya? Apakah kalian tidak punya kerjaan hingga kalian ingin mengetahui urusan kami?”

Keng Han terkejut. “Maaf, nona,” katanya. “Temanku ini barangkali terlalu lancang. Kami menarik kembali pertanyaan kami dan barangkali maksud temanku ini adalah ingin menbantu kalian kalau bertemu Bhok kongcu itu, mengetahui apa yang ia lakukan dan bermaksud membela. Kalau kami dianggap terlalu jauh biarlah kami tak bertanya lagi dan mohon maaf!”

Bhi Pui merah mukanya. Terhadap Keng Han ia merasa ditundukkan. Dua kali ia bersikap keras dan dua kali pula pemuda itu meminta maaf, halus dan lembut tutur katanya. Tentu saja membuat ia malu namun mendengus, menutupi rasa malunya. Dan ketika Bhi Li tertarik dan mengamati pemuda tampan ini maka Su long juga menjura dan minta maaf.

“Baiklah, maafkan kami, nona. Kami tak bermaksud mencampuri. Pertanyaanku tadi hanyalah kumaksudkan untuk mengetahui siapa Bhok kongcu yang membuat kalian marah marah itu. Kalau kami sudah tahu dan bertemu di tengah jalan barangkali kami akan menghajarnya dan membalas perlakuannya terhadap kalian. Apakah ia kira kira sama dengun Mao siao Mo li?”

“Siapa itu Mao siao Mo li?”

“Wanita cabul. Kami diganggunya dan hampir saja kami malu. Siluman Kucing itu.......”

“Sudahlah.” Keng Han tiba tiba menarik temannya, memotong. “Urusan kita tak usah diberitahukan orang lain, Su Tong. Itu adalah peristiwa memalukan. Jangan membukanya di depan ji wi siocia (dua nona) ini!” dan tersenyum menghadapi Bhi Pui tiba tiba Keng Han bertanya. “Sekarang nona mau ke mana? Apakah masih hendak mencari Golok Maut? Kalau begitu kita dapai bersama, barangkali ji wi (anda berdua) tidak keberatan.”

Bhi Pui tertegun. Tiba tiba adiknya melirik, mereka saling pandang namun gadis baju merah itu mendengus. Dan ketika Keng Han menunggu jawaban dan dua pemuda itu rupanya ingin mendekati mereka mendadak gadis ini menyambar tangan adiknya dan berkelebat pergi.

“Maaf. kami masih ada urusan lain, sobat. Biar kita berpisah dan mengerjakan pekerjaan sendiri sendiri!”

“Hei...” Su Tong terkejut, mau memanggil namun Keng Han menekan pergelangan temannya. Sikap ketus dan galak dari Bhi Pu membuat ia maklum bahwa mereka tak boleh berdekatan. Maka begitu dua enci adik itu lenyap dan Su Tong kecewa tiba tiba ia berbisik.

“Kau mau mengikuti?“

“Bukankah kita mau pulang?”

“Hm, kalau kau tertarik pada gadis baju biru itu boleh saja kita mengikuti, Su Tong. Si baju merah yang galak itu juiteru menarik hatiku!”

“Kau tertarik pada encinya?”

“Ya. dan kau pada adiknya, bukan?”

“Ha ha, kalau begitu.......”

“Kalau begitu kita ikuti mereka, Su Tong. Tapi hati hati dan dari jauh saja!” dan begitu keduanya tertawa dan saling sambar tiba tiba Keng Han dan Su Tong bergerak mengikuti, mengerahkan ilmu lari cepat mereka dan segera enci adik itu dikejar.

Bhi Pui dan Bhi Li sudah lenyap di depan. Namun karena dua pemuda itu juga memiliki kepandaian yang tak berselisih jauh karena terbukti mereka tadi dapat menghadapi enci adik itu maka Keng Han dan Su Tong sudah lenyap dan berkelebat membuntuti kakak beradik itu. Dan begitu mereka meninggalkan hutan dan lenyap di sana maka Bhi Li dan kakaknya tak menduga kalau diikuti.

* * * * * * *

Kota raja. Sejak menduduki istananya dan hidup sebagai penguasa maka Li Ko Yung, penguasa itu selalu dikelilingi pembantu pembantunya. Satu diantaranya yang paling dekat adalah pangeran Coa, saudara sepupu dari garis keturunan ibu. Dan karena siapa yang dekat dengan kaisar tentu merupakan orang berpengaruh dan pangeran ini pun juga demikian maka Coa ongya, pangeran Coa, merupakan orang yang disegani dan ditakuti.

Bahkan pangeran itu hampir menyamai kaisar sendiri sepak terjangnya. Apa yang diinginkan biasanya dituruti. Maklum, di samping sebagai pembantu kaisar dia juga masih ada ikatan kekeluargaan. Dekat hubungannya dengan kaisar. Dan karena pengaruhnya yang besar dan juga darah kebangsawanannya maka pangeran ini merupakan pangeran yang menonjol dari semua pangeran yang ada di istana.

Coa ongya adalah pangeran yang belum begitu tua. Usianya masih empat puluhan tahun namun roman mukanya masih tampak muda, meski pun agak gemuk. Memiliki banyak selir dan seorang isteri yang memberi keturunan dua orang anak laki laki. Dan karena dia adalah pangeran yang dekat dengan raja dan hidup senang di istana maka hampir tak ada kesusahan yang dialami pangeran ini, segi duniawinya. Tapi karena sebagai manusia dia juga mempunyai cacad dan kekurangan di sana sini maka betapapun senangnya hidup di istana raaanya masih kurang nyaman juga kalau hidup tanpa pelindung. Dan empat orang tokoh melindungi pangeran itu.

Pertama adalah si Kaki Besi, Tiat Kak. Orangnya gundul dan berkepala hitam. Leher ke bawah kuning bersih dan orang akan terheran heran melihat keadaan pelindung Coa ongya yang satu ini, maklum, kulitnya berwarna dua. Kepala hitam sedang tubuh kuning bersih. Kepandaiannya, sesuai julukannya adalah sepasang kakinya itu. Kalau tokoh ini sudah berpuntir maka siapa pun tak sanggup menghadapi sepasang kakinya yang hebat. Tahan bacokan senjata tajam dan keras seperti besi. Dia mendapat julukan karena kakinya itu. Dan karena si Kaki Besi Tiat Kak ini berdarah Mongol campuran dan berasal dari utara maka untuk daerah utara tak ada yang tidak mengenal namanya.

Dulu, lima tahun yang lalu pernah si Kaki Besi ini mendemonstrasikan kepandaiannya. Dihadapi limapuluh orang tubuhnya didorong dorong tak bergeming dan akhirnya seekor gajah diambil. disuruh menarik si Kaki Besi itu namun justeru gajahnya yang mendengus dengus. Binatang itu sampai berkeringat tapi Tiat Kak tak bergeming. Dan ketika gajah berkutat dan lawan juga bertahan akhirnya tali penarik putus dan gajah terjengkang!

Itu kepandaian bertahan, pasangan bhesi (kuda kuda) yang ampuhnya luar biasa dan semua orang kagum. Coa ongya sendiri menemukan orang aneh ini ketika berburu, bertemu dan akhirnya berhasil membujuk tokoh luar biasa itu, tinggil di istananya dan menjadi pelindungnya. Namun karena Tiat Kak masih dirasa kurang dan pangeran ingin tambah muka beturut turut didaptatnya tiga tokoh yang lain, masing masing adalah Pek mo ko (Setan Putih) dan Hek mo ko (Setan Hitam) serta Yalucang, seorang tokoh tinggi besar berasal dari pedalaman Tibet, jauh di barat. Dan kini dilindungi oleh empat orang luar biasa ini Coa ongya merasa tenteram. Tapi, benarkah?

Sesungguhnya sebuah peristiwa mengusik ketenangan pangeran itu. Dia teringat kejadian belasan tahun yang lewat, kejadian yang tak akan di lupakannya seumur hidup dan dia merasa ngeri. Kejadian dua kakak beradik jauh di Cin ling san. Namun karena paristiwa itu sudah berhenti dan tak ada kelanjutannya lagi maka peristiwa itu seakan sebuah mimpi buruk bagi sang pangeran.

Empat pembantunya, tokoh tokoh luar biara itu memang dapat diandalkan. Pek mo ko dan Hek mo ko adalah sepasang suheng dan sute yang dapat menghilang. Mereka memiliki ilmu hitam dan juga kebal, kepandaiannya tinggi dan dulu pernah dicoba diadu dengan si Kaki Besi, tak ada yang kalah dan menang karena masing-masing sama lihai. Dan karena Yalucang juga seorang kakek hebat yang dapat menyemburkan api lewat mulutnya dengan ilmu Hwee kang (Ilmu Api) maka tokoh Tibet itu juga tokoh mengagumkan yang sekaligus melindungi istana, berempat bersama yang lain sekaligus mendapat tugas melindungi kaisar, menjadi pengawal bayangan. Dan karena mereka adalah orang orang luar biasa yang selama ini tak terkalahkan maka istana benar benar tenang dan aman.

Tapi hari itu agak lain. Coa ongya yang mendengar munculnya Golok Maut tiba tiba memanggil keempat pembantunya, bertanya apakah empat pembantunya itu tahu. Tapi Tiat Kak dan teman temannya yang menggeleng justeru mengeluarkan tawa mengejek.

“Ah, itu kata orang, ongya. Golok Maut rupanya lihai dan juga tokoh baru. Hamba belum mengenal nama ini kecuali akhir akhir ini saja. Ada apakah?”

“Hm, kau tak mendengar ancamannya?”

“Ancaman apa?”

“Dia akan membunuh orang orang she Coa dan Ci. Apakah kalian tidak dengar?”

“Ha ha!” si Kaki Besi tertawa lantang. “Paduka tak perlu khawatir, ongya. Ada hamha di sini. juga Pek mo ko dan lain lain. Kalau dia berani mengganggu paduka biarlah dia mampus di sini.“

“Tidak, aku tak menghendaki dia datang di sini. Tiat Kak. Aku ingin satu atau dua orang diantara kalian pergi menyelidiki. Aku teringat seseorang!”

Si Kaki Besi terkejut. “Paduka takut?”

Sang pangeran marah. Kalau pertanyaan ini dilontarkan orang lain barangkali dia sudah menggebrak kursi dan menyuruh tangkap orang yang kurang ajar begitu tak akan lama berhadapan dengannya. Tapi karena yang bertanya adalah pembantunya terpercaya dan Tiat Kak juga tidak bermaksud mengejek maka pangeran ini menggigit bibir.

“Bukan takut,” jawabnya lirih. “Hanya aku tak mau orang ini membuat huru hara. Tiat Kak. Dan ancamannya itu berarti penghinaan pula bagi diriku. Juga kebetulan adikku Ci Kung ber she Ci!”

“Hm, Jadi bagaimana maksud paduka?”

“Aku ingin mengutus kalian, selidiki dan kalau perlu tangkap orang itu!”

“Baik, hamba siap, paduka. Sekarang juga hamba berangkat!”

“Nanti dulu,” sang pangeran menggerakkan lengan. “Tunggu, Tiat Kak, berunnding dulu dengan temanmu!”

“Ha ha,.., untuk apalagi? Biar mereka berjaga di sini, pangeran. Hamba akan melaksanakan tugas dan membekuk si Golok Maut itu!”

“Tidak berdua?”

“Ah, untuk apa? Hamba sendiri cukup, ongya. Tak perlu kawan!” dan si Kaki Besi yang melompat dan menghilang keluar lalu berkelebat dan meninggalkan istana, mendapat tugas dan ingin membeluk si Golok Maut, nama yang akhir akhir ini mencuat di permukaan dunia kang ouw setelah mengobrak abrik Hek liong pang. Tak mau berteman karena dia percaya pada kekuatan diri sendiri, juga sekalian ingin pamer dan unjuk jasa pada majikan, kalau dia dapat menangkap Golok Maut!

Dan begitu satu diantara empat pembantu Coa ongya pergi meninggalkan istana maka pangeran berpesan agar tiga yang lain berhati hati, “Jaga baik baik sekeliling istana. Jangan sampai kita disatroni musuh!”

“Baik.” Pek mo ko dan Hek mo ko mengangguk, mendengus ke arah lenyapnya si Kaki Besi dan mereka mendongkol.

Sebenarnya mereka ingin mengajukan diri tapi Tiat Kak mendahului, sombong dun ingin menunjukkan jasa. Dan ketika Yaulucang juga berkelebat pergi dan kakek tinggi besar itu tak berkata sepatah pun maka malam itu istana lowong satu bagian, yakni bagian yang biasa dijaga si Kaki Besi, bagian timur.

Malam itu tak ada apa apa tapi malam berikut terjadi kegenparan. Malam kedua ini gedung Coa ong ya disatroni musuh. Golok Maut, yang dicari si Kaki Besi mendadak muncul, hadir dan datang di tengah tengah mereka. Dan ketika malam itu terjadi kegegeran besar maka untuk pertama kali istana dibuat guncang, bahkan kaisar sekalipun!

Waktu itu, seperti biasa keadaan tenang tenang saja. Ketenangan yang sudah berjalan lama memang membuat orang akhirnya lengah. Yalucang si kakek tinggi besar tidur tidur ayam di sudut barat, sementara Hek mo ko dan Pek mo ko berada di utara dan selatan. Jadi, bagian timur kosong dan justeru di bagian inilah Golok Maut masuk, dimulai dengan jeritan seorang pengawal yang tiba tiba terbungkam. Suaranya seperti ayam dicekik, mendadak hilang. Dan karena tempat itu jauh dari penjagaan tiga orang ini dan suasana juga masih biasa biasa saja maka Pek mo ko mau pun yang lain lenggut lenggut di tempat jaganya. kecuali tiga penjaga yang berada di gardu terdepan, kebetulan mendengar suara aneh itu.

“Eh, apa kiranya?”

“Hm, siapa tahu? Barangkali seorang mabok yang jatuh ke parit, Siok Lun. Coba kau periksa!”

Siok Lun, penjaga bersenjata tombak melompat. Komandannya memberi perintah dan ia menyelidiki. Dia khawatir karena itu seperti suara temannya yang sedang meronda dari gardu kedua, di samping kanan. Maka menjenguk dan meloncat ke ke tempat ini tiba penjaga itu sudah bergerak dan melihat keadaan.

Namun apa yang terjadi? Komandannya tiba tiba mendengar suara berdebuk, disusul keluhan lirih dan akhirnya diam. Tentu saja membuat komandan dan pembantunya yang satu lagi terkejut, keluar dan memanggil manggil Siok Lun. Namun ketika tak ada jawaban dan dua orang itu curiga akhirnya sang komandan mengajak bawahannya yang tinggal seorang dan meloncat mendekati tempat itu. Tapi baru mereka bergerak tiba tiba dua orang itu terbanting.

“Berhenti di tempatmu!”

Sang komandan dan temannya terkejut. Mereka mau berteriak tapi suara tiba tiba tak dapat dikeluarkan, kiranya mereka telah ditotok dan tampaklah kini seorang laki laki bercaping yang tegak berdiri di depan mereka. Mukanya hampir tak kelihatan karena menunduk, sengaja bersembunyi di balik capingnya yang lebar itu. Dan ketika mereka tertegun dan terbelalak dengan muka pucat maka laki laki itu mendesis.

“Kalian tahu di mana kamar Coa ongya?”

Komandan dan pembantunya menggeleng geleng.

“Kalian tak tahu pula di mana Ci ongya (pangeran Ci)?”

Dua orang itu juga menggeleng berulang ulang.

“Hm, kalau begitu biar kalian berdua tidur di sini... dess!” dan sang komandan beserta temannya yang mengeluh ditendang lawannya tiba-tiba terbanting dan pingsan di semak belukar, tak dipaksa mengaku namun lelaki bercaping itu langsung membuat mereka “tidur”. Sikapnya dingin dan tidak banyak omong.

Dan begitu gardu pertama kosong dan laki laki ini mendengus maka dia berkelebat dan sudah melayang di atas genteng, berkelebatan dari satu tempat ke tempat yang lain dan sekali kali dia turun, menenteng seseorang yang agaknya pengawal atau pelayan, bertanya tapi akhirnya membanting pengawal atau pelayan itu ke bawah. Dia bertanya tentang Coa ongya namun tak seorang pun yang menjawab tahu. Pangeran itu memang merahasiakan tempat tidurnya, tentu saja laki laki ini marah. Dan ketika dia membuka dan menutup genteng namun bayangan Coa ongya tak berhasil ditemukan akhirnya dia melayang turun dan langsung berhadapan dengan tujuh pengawal di pintu masuk, di geduug utama. Tindakan yang amat berani!

“Aku ingin bertemu Coa ongya. Beritahukan padanya!”

Tujuh pengawal tersentak. Meeka kaget karena tahu tahu seseorang meluncur dari atas genteng dan sudah berdiri di depan mereka. Dan ketika semunnya bangkit berdiri dan bertanya siapa dan apa keperluan lelaki itu maka Golok Maut, tokoh ini bicara hambar,

“Aku ingin bekerja di sini, melamar pekerjaan.”

“Keparat. malam malam begini? Bohong, kau dusta, orang asing. Buka capingmu itu dan tunjukkan kepada kami siapa dirimu!”

“Hm, Coa ongya akan tahu. Panggil dia ke mari atau bawa aku menghadap padanya!”

Ributlah tujuh pengawal itu. Tentu saja mereka curiga karena tak ada orang melamar pekerjaan di malam hari, apalagi dengan cara dan sikap yang begitu aneh, menyembunyikan muka dalam caping dan meluncur dari atas. Seakan siluman! Maka membentak dan berloncatan mengepung laki laki itu pengawal di depan membentak, “Orang asing, jangan maeam macam. Buka dan perlihatkan dulu siapa dirimu, atau kau kami tangkap!”

“Hm, kalian main main?”

“Siapa main main? Kaulah yang main main. Kau mencurigakan dan terpaksa kami tangkap. Menyerahlah!” namun baru pengawal ini selesai membentak tiba tiba Golok Maut berkelebat, jarinya bergerak dan robohlah pengawal itu. Dia terbanting dan berdebuk menimpa lantai, pantatnya lebih dulu. Dan ketika pengawal itu berteriak dan teman temannya yang lain terkejut dan berseru keras mendadak Golok Maut sudah membagi bagi tamparan dan pukulan, menendang mereka dan satu persatu akhirnya mencelat bergulingan. Golok Maut meloncat dan akhirnya masuk ke dalam. Dan ketika laki laki itu melempar atau menendang meja kursi maka gedung Coa ongya gempar dan pengawal pun berteriak teriak.

“Awas, ada penjahat.....!”

“Kepung, kita kemasukan maling…!”

Dan ketika tujuh pengawal itu bangkit lagi dan berseru menubruk lawannya maka Golok Maut membalik dan kembali mereka dibuat terpelanting, jatuh bangun dan Golok Maut mendengus. Saat itu pengawal berdatangan dan muncullah mereka dari segala penjuru, teriakan tujuh pengawal mengejutkan mereka dan semua berdatangan. Namun ketika mereka menyerang dan Golok Maut membagi bagi tendangan maka ada diantaranya yang mengenal laki laki bercaping itu.

“Golok Maut! Dia Golok Maut.... ” dan begitu teriakan ini menggema di gedung Coa ongya maka tanda bahaya dipukul dan orang pun terbelalak, maju menyerang lagi namun mereka terlempar tak keruan, Golok Maut mendorong dan mengibaskan tangannya ke sana ke mari, angin pukulan menjengkangkan mereka dan berteriak teriaklah para pengawal itu. Dan ketika istana terguncang dan nama Golok Maut disebut semua mulut barulah Pek mo ko dan Hek mo ko datang, juga kakek tinggi besar Yalucang. Namun ketika mereka tiba di sana ternyata Golok Maut sudah menghilang mencari cari pangeran Coa.

“Dia terbang ke situ, naik ke atap!” Hek mo ko dan Pek mo ko menggeram. Mereka merasa kebobolan, melihat puluhan pengawal merintih rintih dan tentu saja mereka marah, juga malu. Hal itu mencoreng nama mereka di mata Coa ongya. Maka begitu membentak dan menjejakkan kakinya tiba tiba sepasang kakek iblis ini lenyap, melayang keatas dan mereka sudah disusul Yalucang. Kakek tinggi besar itu juga kaget dan marah. Itu tak boleh terjadi. Meka begitu mereka bertiga sama sama melayang ke atas dan Yalucang menggeram geram mereka sudah melihat sesosok bayangan berkelebat di wuwungan timur.

“Golok Maut, berhenti......!”

Bentakan itu tak mendapat sambutan. Golok Maut yang ada di wuwungan timur tiba tiba lenyap. Gerakannyn demikian luar biasa dan Hek mo ko seta Pek mo ko terkejut. Mereka melihat kepandaian ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sekali, ringan dan tanpa suara. Dan ketika mereka mengejar dan berjungkir balik di sini akhirnya Pek mo ko berkata agar mereka berpencar, “ Kau ke kiri, aku ke kanan!”

“Hm, dan aku terus ke depan, Mo ko. Cari dan bekuk si Golok Maut itu!” Yalucang, yang kini mulai bersuara tiba tiba ke wuwungan barat.

Mereka sudah berpencar sementara pengawal di bawah berteriak teriak. Pangeran Coa cepat diberi tahu dan tentu saja pangeran itu pucat, terkejut dan bersembunyi. Dia di kamar rahasianya ketika Golok Maut datang, kini menuju ruang bawah tanah di mana kamar rahasianya itu berhubungan. Dan ketika pengawal dan pembantu pembantunya membentak mencari Golok Maut maka Pek mo ko yang berkelebat ke kanan akhirnya melihat lagi bayangan si Golok Maut, yang mau menyelinap di sebuah wuwungan bersusun.

“Golok Maut, berhenti!” Pek mo ko melengking, menyambit tujuh sinar hitam dan tujuh jarum rahasia mendahului tubuhnya, menyambar Golok Maut. Tapi ketika Golok Maut mengibakan lengan ke belakang dan jaium jarum hitam itu runtuh maka Pek mo ko terkejut dan kembali melihat lawannya menghilang.

“Keparat, ke mana kau mau lari?” tokoh ini membentak lagi, berkelebat namun Golok Maut tak ada di situ. Kecepatan geraknya yang begitu luar biasa membuat Pek mo ko tertegun juga, memaki namum terus mengejar. Diam diam Pek mn ko terkesiap karena itulah ilmu meringinkan tubuh yang hebat sekali, dia penasaran dan terus mencari, kemanapun Golok Maut bersembunyi. Dan ketika Pek mo ko berkelebatan sementara pengawal di bawah masih berteriak teriak mendadak Golok Maut ada di belakangnya dan mendengus dingin,

“Pek mo ko, kau sekarang membantu Coa ongya?”

Iblis ini kaget bukan main. Suara lawan yang terasa begitu dekat di belakang tengkuknya membuat Pek mo ko membalik secepat kilat, kaget karena dia merasa ditiup sesuatu. Dan begitu iblis ini membentak sambil menangkis maka bertemulah lengan iblis itu dengan lawannya.

“Dukk!”

Pek mo ko tergetar, terpental tiga tindak. Dan ketika iblis itu berseru kaget dan berjungkir balik mematahkan kekuatan lawan maka kakek itu sudah tegak menggigil di atas genteng, untuk pertama kali berhadapan dengan Golok Maut, tokoh misterius yang akhir akhir ini namanya mengguncang jagad!

“Golok Maut, mau apa kau di sini? Mencari siapa?”

Bentakan itu lebih ditujukan untuk memulihkan ketenangan iblis itu sendiri. Pek mo ko terguncang karena dalam adu pukulan tadi dia dibuat terpental, terbelalak dan melihat tokoh yang menggemparkan ini, seorang laki laki yang wajahnya tertutup caping lebar, sengaja menyembunyikan diri dan dia tak dapat melihat siapa lawan. Hal yang tentu saja membuat kakek itu gusar. Dan ketika dia membentak dan mereka berada di sebuah wuwungan tinggi di mana kiri kanannya diapit wuwungan wuwungan lain maka mereka seolah berdua di situ, tak terlihat pengawal di bawah.

“Aku mau mencari Coa ongya. Pertemukan aku dengannya atau panggil dia ke mari.”

Pek mo ko mendelik. “Kau mau apa?”

“Membunuhnya.”

Kakek iblis ini membentak. Tiba tiba dia berkelebat dan menyerang lawannya itu, marah karena suara si Golok Maut demikian tenang dan dingin, seolah tak memandang dirinya. Maka begitu ketenangannya pulih dan Pek mo ko berkelebat tiba tiba kakek itu sudah meluruskan kedua tangannya menghantam sekaligus merenggut caping di kepala lawan, bergerak cepat karena sudah tak mau bicara lagi. Lawan telah menyatakan maksudnya dan tentu saja dia gusar.

Tapi ketika Galok Maut berkelit dan serangannya luput maka kakek ini terkejut dan melengking tinggi, membentak dan menyerang lagi dan segera kakek iblis itu berkelebatan. Golok Maut mendengus dan mengelak sana sini, serangan kian cepat dan akhirnya dia berkelebatan pula. Tapi ketika Pek mo ko tak memberi hati dan mengejar serta menyerang bertubi tubi maka Golok Maut menangkis dan menggerakkan lengaannya ke kiri kanan.

“Duk plak!”

Pek mo ko terpekik. Untuk kedua kali dia kembali tergetar, terpental dan berjungkir balik tinggi. Kakek muka putih ini melotot dan kaget sekali. Dia merasa betapa sinkangnya membentur sinkang lawan yang amat kuat, mencoba lagi namun tetap saja dia terpental. Dan ketika empat lima kali tetap saja dia terdorong dan lawan tertawa dingin tiba tiba kakek itu mencabut tongkatnya dan sekali pencet menyemburlah belasan jarum rahasia di ujung tongkat, sar ser sar ser menyambar lawan dan serangan itu segera disusul pukulan telapak kiri yang kini bercuitan.

Pek see kang (Pukulan Pasir Putih) telah dikeluarkan kakek ini dan tongkat menyambar nyarabar dengan puluhan jarum jarum rahasianya, sibuklah Golok Maut mengelak dan menyampok. Pek mo ko mendesak dan tertawa gembira, dimaki namun kakek itu bahkan melengking tinggi. Dan ketika serangan serangannya semakin berbahaya dan tongkat tak henti hentinya menghamburkan jarum rahasia maka sinar berkilauan mendadak berkelebat dan entah bagaimana tahu tahu ujung tongkat kakek itu putus.

“Crak!”

Pek mo ko membanting tubuh bergulingan. Tadi sinar itu menyambar dirinya namun dia menangkis, tongkat bertemu benda tajam dan terpapaslah senjatanya itu, kaget bukan main karena Pek mo ko sebenarnya sudah mengerahkan sinkang, tongkat ditangannya itu tak akan putus biar dibabat apa pun, sudah keras melebihi kayu biasa. Bahkan, tak kalah dengan baja!

Tapi ketika senjatanya itu tetap putus dan Golok Maut, lawannya, tertawa dingin dan sudah menyimpan kembali senjatanya yang luar biasa itu maka kakek muka putih ini menggigil dan gemetaran, menjublak dan tertegun karena sepintas dia melihat sebuah golok lebar dicabut lawannya itu, berkelebat dan sudah masuk kembali entah di mana, mungkin di balik punggung si Golok Maut itu. Dan sementara kakek ini tertegun dan masih belum dapat bicara mendadak muncul adiknya, Hek mo ko, disusul kemudian oleh sesosok bayangan lain yang tinggi besar yang bukan lain Yalucang si tokoh Tibet.

“Suheng, Golok Maut ada di sini?”

Pek mo ko tiba tiba girang, juga marah, di samping malu. “Benar!” serunya. “Dan dia mencari ongya, sute. Bunuh laki laki ini....... wut!” dan Pek mo ko yang kembali menerjang dan menggerakkan tongkat buntungnya tiba tiba berkelebat dan memencet, coba mengeluarkan jarum jarum rahasianya namuu ternyata gagal, ujung tongkatnya yang sudah putus sekaligus merusakkan pula alat rahasia di dalamnya yang dapat menyemburkan jarum, tentu saja kakek itu marah dan memaki.

Dan ketika Golok Maut kembali mengelak dan tongkat menghantam wuwungan maka bagian gedung itu hancur disambar tongkat. Golok Maut berjungkir balik. Dia menjauh, melihat Hek mo ko dan Yalucang bergerak, mengepung dan pengawal di bawah akhirnya melihat mereka, bereriak teriak. Dan ketika para perwira serta panglima juga berloncatan dan melayang naik akhirnya tempat itu penuh dengan orang.

“Sute, robohkan dia. Bantu aku!”

Hek mo ko terkejut. Dia sudah melihat kehebatan Golok Maut itu, gerakannya yang ringan serta enteng mengelak serangan serangan suhengnya, diburu namun tetap saja suhengnya gagal. Biasanya suhengnya itu jarang meminta bantuan kalau tidak terpaksa, tanda betapa Golok Maut ini bukan lawan sembarangan dan betul betul lihai. Maka melihat para perwira serta yang lain lain mau maju membantu sementara suhengnya sudah berteriak padanya maka Hek mo ko mengibaskan lengan dan akhirnya para perwira atau panglima terdorong, disuruh mundur dan kakek bermuka hitam itu kini berkelebat. Hek mo ko melihat tongkat suhengnya yang putus, terkejut dan membentak melepas pukulan jarak jauhnya. Dan ketika di sana Pek mo ko juga menggerakkan tangan dan tongkat serta pukulan jarak jauh menghantam Golok Maut dari tiga penjuru tiba tiba Golok Maut mendengus dan terpaksa menangkis.

“Des des dess!”

Hek mo ko dan suhengnya terpekik. Dikeroyok dua begitu tetap saja sepasang kakek iblis ini tergetar, mereka terpental dan Hek mo ko terkejut, berjungkir balik dan berseru keras. Lawan, yang tadi menangkis pukulannya juga tampak terhuyung, meskipun jelas masih lebih kuat. Dan ketika dia melayang turun dan Yalucang, kakek tinggi besar juga terkejut dan terbelalak matanya tiba tiba Hek mo ko dan Pek mo ko sudah menerjang kembali, Hek mo ko mencabut senjatanya pula sebatang tongkat hitam, yang ujungnya ada rantai. Dan ketika rantai itu bersiutan pula dan dua kakek iblis itu berteriak dan melengking lengking maka semua orang akhirnya mundur karena tak kuat menahan deru angin pukulan, melihat Hek mo ko dan Pek mo ko menyerang lawannya dan cepat serta bertubi tubi suheng dan sute itu menggerakkan senjata mereka.

Kini, Pek mo ko meniup telapak tangannya dan tiba tiba mengucap mantra hitam keluarlah uap di telapak kakek itu, kian lama kian banyak dan akhirnya orang terbatuk mencium bau sangit, mundur dan kian menjauhi pertempuran dengan muka berobah. Asap hitam yang dikeluarkan Pek mo ko itu seperti bau tulang di bakar, busuk dan memualkan perut. Dan ketika beberapa di antaranya mulai muntah muntah dan semacam bentakan sihir dilakukan kakek itu untuk mempengaruhi lawannya akhirnya Yalucang memerintahkan agar para perwira atau panglima meloncat turun menjaga di bawah.

“Turun, kalian semua turun. Awas Pek mo ko mengeluarkan Hoat kui kang (Tenaga Tulang Sihir) ......!”

Semua terkejut. Tanpa diperintah lagi tiba tiba semua orang berloncatan turun, yang muntah muntah keburu terguling di atas genteng, menggelinding dan jatuh ke bawah. Untunglah, tak terluka dan yang lain cepat menolong. Dan ketika pertempuran di atas kian seru dan semua perwira atau panglima mengepung di bawah maka Hek mo ko dan Pek mo ko memperhebat serangan mereka dan ilmu hitam pun ikut bekerja.

“Robohlah, kau tak dapat menghadapi kami, Golok Maut. Lihat naga atau harimau ini mengejar ngejar dirimu......ssh koak!” naga atau harimau jejadian muncul keluar dari telapak tangan Pek mo ko namun Golok Maut mengibas, membentak dan terdengar ledakan nyaring ketika naga atau harimau jejadian ini lenyap, diserang lagi namun dua tiga kali pengaruh sihir tak mempengaruhi si Golok Maut itu. Nyatalah, kekuatan batinnya sudah tinggi dan segala ilmu hitam lawannya tak mempan, Pek mo ko melotot dan marah sekali. Dan ketika Hek mo ko juga membantu dan membentak mengeluarkan sihirnya mandadak Golok Maut melakukan tamparan dan asap hitam di tangan Hek mo ko hancur.

“Dess!”

Kejadian itu cukup bagi Hek mo ko. Iblis muka hitam ini maklum bahwa ilmu hitamnya tak mempan, tadi membalik dan dia harus melempar tubuh bergulingan. Dan ketika kakek itu melengking nyaring dan Yalucang tampak menggosok gosok tangan tanda tak sabar maka Hek mo ko sudah meloncat bangun dan berseru marah, melengking dan tongkat rantainya dipencet. Menyambarlah kemudian puluhan paku paku halus ka arah Golok Maut, bukan jarum halus namun bahayanya sama saja. Sekarang Hek mo ko juga merasa perlu dibantu am gi (senjata gelap), kewalahan menghadapi lawannya itu dan Golok Maut mendengus. Dan ketika paku paku itu berhamburan menyambar dirinya dan Hek mo ko masih meloncat dengan satu pukulan Hek see kang (Tangan Paku hitam) maka Pek mo ko juga berseru melengking dengan ayunan tongkat buntungnya ditambah lagi dengan pukulan tangan kiri dengan tamparan Pek See kang.

“Klap des crak!”

Dua orang itu menjerit. Golok Maut, yang marah dan berkelebat cepat tiba tiba menggerakkan tangan kebelakang. Sinar atau cahaya menyilaukan itu berkelebat dan tampaklah sinar panjang yang melengkung mirip sabit, merontokkan semua paku paku halus dan tiba tiba bergerak ke leher Hek mo ko dan Pek mo ko. Geraknya luar biasa cepat dan Hek mo ko maupun Pek mo ko terperanjat. Mereka itu menangkis dan Pek mo ko lupa pada pengalaman pertama, menggerakkan tongkat buntungnya namun apa lacur tongkat buntungnya itu malah terbabat. Sebuah golok, yang tajam menyilaukan tiba tiba memapas tongkatnya itu.

Dan ketika tongkat terasa ringan karena sudah putus setengahnya lagi maka sinar golok itu terus menyambar lehernya dan membabat pula adiknya. Jadi, dalam sebuah gerakan panjang si Golok Maut telah menyerang mereka berdua sekaligus, tak berhenti setengah jalan dan Pek mo ko membanting tubuh bergulingan, kaget dan pucat dan baru dia sadar bahwa Golok Maut memiliki senjata istimewa yang luar biasa sekali, dia berteriak dan memperingatkan sutenya pula. Dan ketika golok menyambar Hek mo ko dan tongkat rantai menangkis namun putus disambar golok maka Hek mo ko juga melempar tubuh bergulingan ketika sinar maut di tangan Golak Maut itu masih menyambar lehernya juga.

“Brett!”

Hek mo ko masih kalah cepat. Golok Maut, yang menggerakkan senjatanya luar biasa cepat ternyata mendapat segumpal kecil daging pundak lawannya, yang menjerit dan bergulingan di sana. Dan ketika Hek mo ko meloncat bangun dan ngeri memandang lawan maka Golok Maut sudah berkelebat dan sinar menyilaukun itu kembali menyambar nyambar.

“Yalucang, tolong!”

Kakek tinggi besar itu terkejut. Dia melihat Hek mo ko dikejar dan disambar sinar golok yang amat ganas, sinarnya menyilaukun mata dan kakek itu tertegun. Tentu saja dia melihat pundak yang sompal dagingnya itu, Hek mo ko yang terluka. Tapi bahwa golok masih putih bersih dan sepintas dia melihat betapa golok di tangan si Golok Maut setetes pun tak dikotori darah maka kakek tinggi besar ini tertegun dan menjublak, belum mengerti benar kenapa bisa begitu. Tapi ketika Hek mo ko bergulingan mengelak sana sini dan kembali mendapat sebuah bacokan maka Yalucang kaget dan mengerti, cepat membantu dan tiba tiba menggereng.

“Golok penghisap darah!” dan begitu kakek ini menerjang dan nenolong temannya maka sepasang roda gergaji sudah menyambar si Golok Maut, digenggam di kedua tangannya dan Golok Maut terkejut. Waktu itu dia sedang mengejar si iblis hitam, mendengar angin berkesiur dan cepat ia mengelak, tak berani menerima karena dari angin sambaran itu ia tahu betapa dahsyatnya tenaga si penyambar. Benar saja, genteng hancur berantakan ketika ditimpa roda gergaji, yang dahsyat menghantam ke bawah.

Dan ketika Hek mo ko bangun meloncat terhuyung dan Yalucang sudah menggeram membentak lawannya maka roda gergaji sudah menghantam lagi dan Pek mo ko, suheng Hek mo ko pucat di tempat, melihat sutenya terluka dan ia tadi tak sempat menolong. Ia sendiri sedang bergulingan saat itu, menyelamatkan diri. Sinar menyilaukan dari golok maut itu benar benar berbahaya sekali, benar benar maut! Dan ketika ia melompat bangun dan Hek mo ko mengeluh dengan lukanya mendadak di sana terdengar suara “cring crang” dan Yalucang, rekan mereka itu berteriak membanting tubuh, roda gergajinya terpapas sebagian dan kakek tinggi besar itu berseru keras. Ia tadi menyerang namun Golok Maut membalas. Dan begitu sinar menyilaukan itu berkelebat dan ia menangkis tiba tiba satu dari sepasang roda gergajinya rompal.

“Mo ko, tolong......!”

Dua kakek iblis itu berkelebat. Kalau Yalucang sudah minta tolong memang dapat dimaklumi. Mereka sendiri sudah merasakan betapa hebat dan luar biasanya si Golok Maut ini, terutama golok mautnya di tangan itu, yang hanya merupakan kilat menyambar nyambar dan tajamnya melebihi pisau cukur! Dan begitu mereka bergerak dan Golok Maut dibokong terpaksa lelaki bercaping itu membalik menangkis, dielak dan segera Yalucang memaki maki. Kakek tinggi besar itu sudah melompat bangun dan mukanya merah padam, menyerang dan mengeroyok si Golok Maut. Dan ketika mereka bertiga bergerak silih berganti serang menyerang dan Golok Maut membalas atau menerima serangan mereka maka di atas wuwungan itu empat tubuh berkelebatan dengaa luar biasa cepatnya, tak dapat diikuti mata lagi dan baru kali ini Golok Maut menghadapi lawan tangguh.

Biasanya, kalau dia sudah mencabut goloknya dan sinar menyilaukan berkelebat maka robohlah lawannya, seperti yang sudah kita lihat ketika dia membunuh orang orang Hek liong pang, bahkan ketuanya sendiri, Coa Hing Kok Tapi bahwa sekarang dia hanya dapat melukai Hek mo ko sementara yang lain dapat membalas atau mengelak serangannya terbuktilah bahwa tiga tokoh istana ini memang cukup luar biasa. Mereka memiliki gerakan cepat dan masing masing memang lihai.

Hek mo ko sendiri meskipun sudah dikejar ternyata mampu mengelak, hanya mendapat dua luka itu dan selanjutnya kakek iblis ini dapat melayani kembali, mengeroyok bersama suheng dan rekannya, Yalucang yang kini tak berani lagi menangkis golok secara berdepan. Takut senjatanya bakal rompal atau putus, padahal roda di langannya itu adalah senjata yang terbuat dari bahan pilihan, mampu menerima bacokan pedang setajam apa pun. Tapi bahwa senjatanya itu rusak dibabat Golok Maut dan tentu saja ia harus berhati hati agar tidak kehilangan senjata maka tiga kakek iblis ini bergerak silih berganti untuk menyerang dari tempat yang berbeda beda, mergelilingi Golok Maut tapi lawan dapat mengimbangi.

Kaget dan terbelalaklah mereka bertiga. Biasanya, satu dari mereka maju siapa pun dapat dirobohkan. Apalagi bertiga. Tapi bahwa Golok Maut ini dapat bertahan dan mereka bahkan harus berhati hati menghadapi senjata di tangan lawan akhirnya Pek mo ko maupun lainnya marah bukan main, tak tahu bahwa Golok Maut pun juga marah seperti mereka. Golok maut di tangannya belum mendapat korban lagi dan tokoh bercaping itu menggeram. Dan ketika satu saat Hek mo ko melancarkan Hek see king dan Pek mo ko menggerakkan sisa tongkat buntungnya maka kakek Yalucang tiba tiba melepas roda gergajinya menghantam kepala si Golok Maut.

“Siut wir dess!”

Golok Maut terhuyung. Roda yang dilepas Yalucang mengenai pundaknya, tongkat buntung menyambar lewat dan Hek see kang menyerempet tubuhnya. Dia tak sempat menangkis semuanya itu karena serangan lawan dilakukan hampir berbareng, dan semuanya tentu saja berbahaya. Dan ketika Golok Maut terhuyung dan berkilat marah maka Yalucang tertawa bergelak menyambar roda gergajinya kembali.

“Ha ha, desak terus, Mo ko. Lawan kita rupanya lelah!”

Mo ko kakak beradik mengangguk. Mereka juga melihat begitu, Golok Maut tampak kendor dan lamban, hal yang tentu saja menggirangkan mereka dan bertiga mareka menyerang lagi. Dan ketika Golok Maut terhuyung sana sini dan menggigil seolah tak kuat menahan beban maka sebuah pukulan dan gebukan mengenai tubuhnya lagi.

“Plak dess!”

Golok Maut terpelanting. Hek mo ko tertawa bergelak oleh hasil pukulannya itu, mendesak dan berteriak pada suhengnya agar menekan lebih berat. Pengawal di bawah membelalakkan matanya dan perwira serta panglima pun tampak tegang. Mereka menyaksikan pertandingan di atas itu. Dan ketika satu saat Golok Maut kembali terpelanting dan terguling di atas genteng maka Hek mo ko berseru menubruk lawannya itu.

“Heh heh, sekarang kau roboh, Golok Maut. Mampuslah!”

Golok Maut mengeluarkan pandangan aneh. Hek mo ko menubruk dan menggerakkan tongkat rantainya, yang juga buntung. Tapi ketika iblis itu menubruk dan Golok Maut berseru keras mendadak dia melejit dan tongkat serta pukulan tangan kiri dipapak sinar menyilaukan, gerakannya cepat sekali dan Hek mo ko kaget. Apa yang ditunjukkan lawannya ini bukan lagi gerakan lamban yang kehabisan tenaga melainkan sebuah gerakan cepat yang luar biasa prima, tentu saja dia terkejut dan Hek mo ko seketika sadar bahwa lawan kiranya berpura pura. Golok Maut, yang tampak kendor dan seolah kehabisan tenaga itu, ternyata memancing mereka agar mereka lengah. Dan begitu golok menyambar dan tongkat serta pukulan disambut senjata menyilaukan itu tiba tiba Hek mo ko berteriak keras menyadari bahaya, tak mungkin harus menangkis karena sudah terbukti berkali kali bahwa senjata apapun bakal putus disambar senjata di tangan si Golok Maut itu.

Maka begitu menyadari bahaya dan tongkat serta pukulannya disambut sinar menyilaukun mendadak Hek mo ko berteriak pada suheng dan rekannya agar maju membantu melepas tongkat dan iblis ini menarik pukulannya, hal yang dilakukan dengan muka pucat. Maklum, keadaan berlangsung demikian cepat dan dia ragu apakah perbuatannya itu berhasil. Dan ketika benar saja tongkat dipapas buntung dan pukulan Hek mo ko tak dapat ditarik sepenuhnya maka sinar menyilaukan itu masih membabat tangannya dan Hek mo ko membanting tubuh bergulingan ketika lima jarinya putus, dipapas senjata di tangan si Golok Maui itu.

“Augh cras!”

Lima jari beterbangan di atas genteng. Golok Maut, yang untuk pertama kali mendapat korban tiba tiba tersenyum puas. Lima jari Hek mo ko yang bergelindingan di atas genteng akhirnya jatuh ke tanah, mengejutkan para perwira dan pengawal yang tersentak. Hek mo ko sendiri menjerit dan melempar tubuh bergulingan, menyentak suhengnya dan Yalucang. Kejadian itu berlangsung luar biasa cepat dan dua orang ini tertegun. Tapi ketika Golok Maut tersenyum puas dan mereka berkelebat ke depan tiba tiba Pek mo ko melepas tongkatnya ke punggung Golok Maut, menyambar tanpa suara dan saat itu juga kakek tinggi besar Yalucang juga melepas sepasang rodanya. Dua orang ini masih menggerakkan kedua lengannya menghantam punggung, melakukan pukulan jarak jauh, menutupi suara tongkat dan roda yang bergerak di bawah.

Dan karena Golok Maut masih tersenyum gembira oleh hasil pertamanya dan kurang waspada terhadap semua serangan ini maka yang didengar hanyalah dua pukulan jarak jauh yang dilancarkan lawan, membalik dan menggerakkan tangan kiri. Tapi begitu pukulan beradu dan tongkat serta roda kini menyambar perutnya maka Golok Maut tampak terkejut ketika melihat tiga senjata itu, yang tadi menyambar punggung.

“Des des dess!” Golok Maut terlempar. Pukulan Yalucang dan Pek mo ko berhasil ditangkis, tapi tongkat dan roda yang menghantam perutnya tiba tiba membuat si Golok Maut ingin muntah, cepat mengerahkan sinkangnya dan dia terbanting bergulingan di atas genteng. Saat itu Yalucang menggeram dan berkelebat mengejar, ilmu Hwee kang, Semburan Api tiba tiba dikeluarkan. Kakek tinggi besar itu marah karena Golok Maut masih dapat bertahan dari semua serangan mereka. Maka begitu Pek mo ko melengking tinggi dan sudah mengejar lawannya dia pun tiba tiba membuka mulut nya dan segumpal lidah api menyembur dari mulut kakek tinggi besar ini.

“Wushh!”

Api itu sendiri mendahului si kakek tinggi besar Yalucang. Di sebelah kirinya menyambar pula bayangan Pek mo ko yang melepas pukulan jarak jauh, Golok Maut sedang bergulingan dan tentu saja tak dapat mengelak. Dan ketika pukulan serta semburan api menghantam tubuhnya dan pakaiannya terjilat hangus tiba tiba si Golok Maut berteriak tertahan karena terbakar.

“Aih bluk!”

Golok Maut terbanting di tanah. Dalam ketinggian begitu rupa diserang dan didesak lawan memang sulit baginya untuk menghindar. Hantaman tongkat dan roda gergaji diam diam melukai isi perutnya, itulah yang menyebabkan Golok Maut merintih dan menahan sakit.

Betapapun, Pek mo ko dan Yalucang adalah tokoh tokoh berkepandaian tinggi yang sinkangnya sudah hebat. Serangan curang dengan roda dan tongkat tadi tak diduga, mereka menyembunyikan dua serangan itu dengrn pukulan jarak jauh. Maka begitu Yalucang mengeluarkan ilmu Apinya dan kini pakaiannya terbakar muka Golok Maut panik menggilas tanah, bergulingan memadamkan api namun dia lupa bahwa saat itu dia berada di bawah. Para perwira dan panglima sudah lama menantinya di situ. Maka begitu dia terbanting ke tanah dan bergulingan memadamkan api maka para perwira dan panglima berkelebat menggerakkan senjata mereka.

“Bunuh Golok Maut.....!”

Pedang dan tombak serta panah berhamburan menuju tubuh si Golok Maut. Lelaki bercaping ini kaget dan sadar, tiba tiba mengeluarkan seruan keras dan meloncat bangun. Api tinggal sedikit saja membakar pundaknya, tak dihiraukan dan menyambut hujan senjata itu. Dan ketika dia membentak dan menggerakkan tangan ke kiri kanan tiba tiba hujan senjata bertemu cahaya menyilaukan namun di saat itu pula Pek mo ko dan Yalucang melayang turun, membokong dari belakang.

“Crak des dess!”

Para perwira dan panglima terpekik. Senjata mereka putus dibabat si Golok Maut yang menerima juga hujan senjata mereka, mental dan membalik karena Golok Maut telah melidulungi dirinya dengan sinkang. Tapi begitu mereka terlempar dan tujuh diantaranya mengaduh aduh karena tangan atau kaki mereka dibacok putus maka Golok Maut sendiri terpelanting mendapat bokongan curang di belakang, tembus kekebalannya oleh pukulan Yalucang dan Pek mo ko, yang tadi menghantam dengan sepenuh bagian.

Dan ketika Yalucang tertawa menggeram dan menyemburkan lagi Ilmu Apinya maka Golok Maut kembali terbakar dan bergulingan menggigit bibir, memadamkan api namun para pengawal dan lain lain kini bergerak menyerang, membentak dan kembali hujan tombak atau pedang menyambar tubuhnya. Pek mo ko dan Yalucang menunggangi dengan serangan serangan curang mereka, membiarkan Golok Maut membabat pengawal tapi dengan leluasa pukulan mereka mengenai lawan. Tentu saja hal itu merepotkan Golok Maut. Dan ketika tokoh ini mengeluh dan merintih serta kebingungan memadamkan api maka sebuah pukulan Pek mo ko akhirnya mendarat lagi di punggungnya.

“Dess!”

Golok Maut terguncang pukulan berat. Banjir darah sudah terjadi di situ, sinar atau cahaya menyilaukan di tangannya sudah menghirup darah puluhan pengawal juga perwira dan seorang panglima yang buntung kedua kakinya dibabat golok maut yang tetap putih bersih itu, sedikit pun tak bernoda darah. Maklnm, begitu darah melekat tiba tiba golok maut itu menghisap, seakan lintah atau besi sembrani tampak semacam kepulan uap putih membayang di tubuh golok itu, yang menyambar nyambar dan dapat dilihat si kakek tinggi besar Yalucang, yang sejak tadi tertegun dan ngeri oleh golok itu, yang disebutnya golok penghisap darah. Dan ketika Golok Maut kembali bergulingan dan merintih menerima pukulan Pek mo ko tiba tiba Hek mo ko, yang sudah membalut lukanya dan berteriak marah tiba tiba meluncur dari atas genteng dan ikut mengeroyok.

“Bunuh jahanam ini, suheng. Bunuh!”

Golok Maut berobah. Sekarang dari mana-mana muncul pasukan pengawal, hiruk pikuk dan semua keributan itu telah mengguncangkan istana. Semua bergerak dan menuju ke gedung Coa ongya. Di sinilah Golok Maut mengamuk dan membuat banjir darah, tak kurang dari tujuh puluh orang telah terkapar di tanah, ada yang luka berat namun sebagian besar mati. Mereka tewas oleh berkelebatnya golok maut di tangan laki laki bercaping itu. Dan ketika dari segala penjuru tempat itu telah di kepung dan Golok Maut berkali kali menerima hantaman atau pukulan curang dari Pek mo ko maupun Yalucang akhirnya laki laki ini sibuk dan semakin repot setelah Hek mo ko juga datang, mempergunakan tangan kirinya dan meskipun terluka namun iblis muka hitam itu masih dapat membahayakan.

Hek mo ko menggeram dan pandang matanya penuh kebencian. Sama seperti Yalucang atau suhengnya iblis ini melakukan serangan dari belakang, mengorbankan pengawal atau pasukan dan tentu saja dengan empuk pukulan pukulannya mendarat di tubuh Galok Maut itu. Dan karena tiga iblis ini benar benar curang dan mereka tampaknya tak perduli berapa banyak pengawal dibantai Golok Maut asal pukulan atau serangan mereka dapat membuat lawan terhuyung dan terbanting akhirnya Golok Maut melengking tinggi dan berjungkir balik. Saat itu tak mungkin dia menghadapi keroyokan demikian banyak orang. Pengawal yang roboh segera digantikan pengawal yang lain, tewas satu maju sepuluh, tewas sepuluh maju seratus!

Dan karena Pek mo ko serta Yaluceng atau Hek mo ko semakin hebat melepas pukulan akhirnya Golok Maut berjungkir balik tinggi di udara, membabat serta menghindari serangan serangan tiga orang lawan utamanya itu. Mereka jauh lebih berbahaya dibanding pengawal. Dan begitu dia berjungkir balik dan bebas dari semua serangan tiba tiba Golok Maut meneruskan gerakannya menuju genteng, berkelebat dan sudah berjumpalitan di situ. Dan ketika lawan terkejut dan dengan melihat gerkannya tiba tiba Golok Maut melarikan diri.

“Pek mo ko biar lain kali saja aku datang. Kutitipkan nyuwa kalian beberapa bulan dulu!”

“Keparat!” Pek mo ko marah. “Jangan lari, Golok Maut. Tunggu” dan Pek mo ko yang sudah berkebat dan berjungkir balik ke atas genteng akhirnya diikuti sutenya dan juga si kakek tinggi besar Yaluceng, tentu saja tak mau membiarkan lawan melarikan diri setelah membunuh bunuhi begitu banyak orang. Golok Maut telah menyebar maut dan mereka tak menduga bahwa Golok Maut akan melarikan diri lewat atas, segera membentak menyuruh pasukan panah melepas panah mereka dan segera berhamburan ratusan panah ke atas genteng.

Golok Maut menangkis namun beberapa panah menancap di tubuhnya. Kiranya luka di perut sudah mengurangi kekuatan Golok Maut ini dan sinkangnya tak cukup melindungi tubuh. Itulah sebabnya kenapa dia buru buru melarikan diri, kiranya sudah mengukur bahwa dengan adanya tiga lawan tangguh di situ tak mungkin dia menang. Yalucang dan Pek mo ko licik, mereka mengorbankan pengawal dan membiarkan pukulan pukulan mereka mendarat di tubuhnya. Tentu saja kian lama kian hebat dan lama lama Golok Maut ini tak tahan. Kalau perutnya tidak terluka oleh sambaran roda dan tongkat tadi barangkali dia masih dapat bertahan. Tapi kali ini lain. Dia harus mengobati lukanya itu dulu dan tak boleh menghabiskan tenaga. Dan ketika tiga batang panah menancap di tubuhnya dan Golok Maut mengeluh tapi tetap meneruskan larinya mendadak dia sudah berjungkir balik dan melewati sebuah wuwungan paling tinggi.

“Wut!” Golok Maut lenyap di depan. Laki laki bercaping ini mencari tempat gelap, mendengar teriakan teriakan dari bawah namun dia sudah menuju bagian timur istana. Pek mo ko dan dua teman nya mengejar dan mereka itu dapat membayangi. Maklumlah, mereka orang orang yang berkepandaian tinggi dan juga mengenal daerah istana, tidak seperti Golok Maut yang baru pertama kali itu datang. Dan ketika Golok Maut terlihat lagi dan mereka membentak menyuruh lawannya berhenti mendadak Pek mo ko dan Yalucang samu sama mengeluarkan senjata rahasia.

“Robohlah, Golok Maut. Berhenti!”

Belasan jarum hitam dan pelor baja menyambar Golok Maut. Laki laki itu terpaksa menangkis dan berhenti, dia sudah tiba di dekat tembok dan siap meloncat. Terganggu serangan gelap ini dan tentu saja menggeram. Tapi begitu dia menangkis dan meruntuhkan senjata senjata rahasia ini maka Pek mo ko dan Yalucang sudah tiba di tempat itu, langsung melepas pukulan jarak jauh.

“Des des!”

Golok Maut terpelanting, berkurang daya tahannya dan tampaklah bahwa dia lelah. Lawan memburu dan Golok Maut bingung, Yalucang tiba tiba mengeluarkan bentakannya dan Semburan Api dari mulutnya menyambar, dielak tapi Pek mo ko ini lepas Pek see kang. Dan ketika dia terbanting dan terguling guling lagi maka Golok Maut memaki dan meloncat berjungkir balik, masih bisa melarikan diri.

“Mo ko, dan kau kakek keparat. Terimalah ini...... wut wut” Belasan batu kecil ditendang si Golok Maut, merupakan senjata senjata rahasia yang aneh dan menyambar Mo ko maupun temannya, ditangkis namun Golok Maut sudah hinggap di tembok. Memang serangan itu hanya untuk memberi kesempatan padanya menyingkir, berkelebat dan berjungkir balik ke tembok itu. Tapi baru dia menginjakkan kakinya di sini sekonyong konyong Hek mo ko muncul dan melontar sebuah jaring.

“Jrt!” Golok Maut terkejut. Saat itu dia mau melayang turun, siap kabur. Kakinya tiba tiba terjerat dan sebuah jaring penuh mata kaitan menggubat kakinya, tak ayal laki laki ini terbelalak dan kaget. Dan ketika dia membungkuk dan membacok jaring itu maka Hek mo ko berseru keras dan jaring jaring lain sudah dilontarkan berturut turut oleh para perwira yang bersiap di bawah.

“Ha ha, terperangkap kau, Golok Maut. Robohlah!”

Golok Maut kaget sekali. Di atas kepalanya tiba tiba berhaburan belasan jaring yang kuat dari baja, kaitannya seperti pancing dan siapa terjebak bakal luka luka kulitnya. Dan ketika dia membentak dan mengelak atau membacok putus jaring jaring itu maka Pek mo ko dan Yaluceng sudah kembali tiba di situ dan melontar jaring pula.

“Ha ha, benar. Golok Maut. Kau robohlah!”

Golok Maut sibuk. Di atas tembok ia jadi kelabakan, menangkis dan membabat semua jaring itu, bahkan jaring yang dilontar oleh Pek mo ko dan temannya pula, si kakek tinggi besar Yalucang. Dan ketika ia membentak dan marah bukan main mendadak tanpa disangka tembok yang diinjak runtuh, merekah dan dari kiri serta kanan menyambar tombak tombak rahasia yang di pasang dari dalam. Kiranya dia menginjak sebuah tembok rahasia yang penuh jebakan, tembok yang berhubungan dengan kamar Coa ongya! Dan persis dia berjungkir balik dan turun ke bawah maka sesosok bayangan muncul samar samar memberi perintah, hal yang menguntungkan Golok Maut,

“Mo ko, tangkap hidup hidup si Golok Maut itu. Jangan bunuh!”

Dan ketika Mo ko dan yang lain terkejut dan heran maka suara itu berseru kembali, “Bawa dia ke Ui tien (Gedung Kuning), giring dan tangkap di sana!” dan ketika Mo ko terbahak dan girang berseru keras tiba tiba bersama rekannya dia membentak,

“Nah, ongya minta kau ditangkap hidup hidup. Golok Maut. Menyerahlah kalau tak ingin di tangkap seperti monyet!”

“Hm!” Golok Maut tiba tiba bangkit semangatnya. “Dia itu Coa ongya? Anjing yang memberi makan kalian setiap hari?”

“Keparat, jaga mulutmu, Golok Maut. Kau manusiu tak tahu diri yang tak mengenal keadaan ........sial!” dan Mo ko yang membentak serta menyuruh yang lain menyerang lagi lalu mengepung dan memaksa Golok Maut menuju ke timur pagar, memerintah pengawal atau perwira agar tidak berada di situ. Jadi memberi tempat kosong bagi Golok Maut untuk berlari ke sini, menghindar dan sibuk menangkis serangan dari kiri dan kanan serta depan, hal yang membuat Golok Maut mengerutkan kening dan tentu saja curiga. Coa ongya telah memberi perintah agar dia digiring ke Gedung Kuning, tempat yang belum dikenal tapi pasti ada apa apa di sana, jelas perangkap. Dan ketika jaring serta pukulan pukulan Mo ko juga kian mendesak dan Golok Maut tak mau ke bagian yang kosong mendadak laki laki ini merogoh sesuatu di kantung bajunya. Dan begitu dia mencabut serta melempar beberapa benda hitam maka meledaklah empat buah granat di tempat itu.

“Hei,.....dar dar dar!”

Mo ko dan kakek tinggi besar Yalucang berjungkir balik. Mereka itu tak menyangka si Golok Maut memiliki alat peledak, para pengawal dan perwira yang tak menduga itu segera menjerit berpelantingan. Mereka roboh dan sembilan diantaranya tewas, langsung menjadi korban. Dan ketika keadaan menjadi panik dan juga gelap maka Golok Maut melempar lagi beberapa buah granat tangannya, menendang batu atau apa saja untuk memadamkan pula lampu lampu di situ. Tak ayal keadaan menjadi gelap gulita dan kacau, para pengawal berteriak teriak dan Mo ko serta kakek Yalucang juga tak berani mendekati Golok Maut. Mereka memaki maki dan mengumpat tak keruan, marah bukan main. Dan ketika semuanya dibentak agar memasang lagi lampu lampu di situ ternyata Golok Maut sudah menghilang dan entah kemana.

“Bangsat, kau licik dan pengecut. Golok Maut. Kau keparat jahanam!”

Namun Golok Maut tak memberi jawaban. Di dalam kekacauan dan kekalutan tadi Golok Maut itu telah pergi. Granat tangannya, yang baru pertama kali itu digunakan dan terpaksa dilemparkan ternyata menyelamatkannya. Pek mo ko dan sutenya mengumpat caci dan segera berputar bahkan berkelebat keluar kota. Tapi ketika Golok Maut tak ditemukan lagi dan dua orang ini memaki maki maka Yalucang berkelebat di situ dan berkata bahwa mereka dipanggil Coa ongya.

“Kita bertiga diminta datang. Harap kalian kembali!”

Mo ko kakak beradik saling pandang. Mereka tahu apa yang akan diterima, tentu kemarahan majikan. Dan ketika benar saja di sana Coa ongya memaki dan mengutuk mereka maka pangeran itu marah marah membodoh bodohkan mereka.

“Lihat, apa jadinya semua ini. Apa gunanya kalian melindungi istana? Hampir duaratus orang luka dan tewas, Mo ko. Dan kalian tak dapat menangkap satu orang saja! Bagaimana tanggung jawab kalian dengan semuanya ini? Apa yang harus kukatakan pada sri baginda!”

“Maaf,” Pek mo ko menunduk. “Hamba mengaku salah, ongya. Tapi Golok Maut itu curang dan licik. Dia kabur meledakkan granat.”

“Dan hamba kehilangan lima jari hamba, ong ya. Hamba bersumpah akan mencari dan membunuh si Golok Maut itu!”

“Omong kosong! Bertiga kalian tak marapu, Hek mo ko. Bagaimana akan menangkap dan membunuh lawan kalian itu? Kalau kalian dapat menggiring dan mendesaknya ke Gedung Kuning tentu aku sendiri dapat menangkap. Tapi kalian gagal. Kalian tak berpikir dan memaksa aku memberi perintah. Kalian bodoh dan tolol. Tenaga kalian sungguh tak dapat diharapkan!” dan ketika pangeran marah marah dan akhirnya dipanggil kaisar maka ganti pangeran itu mendapat teguran.

“Siapa itu Golok Maut? Kenapa mencarimu?”

“Maaf,” pangeran Coa tertegun. “Aku tak mengerti, kanda kaisar. Tapi katanya dia akan membunuh bunuhi semua orang ber she Coa dan Ci. Aku tak tahu siapa Golok Maut ini kecuali dia tentu orang gila!”

“Dan empat pembantumu, ke mana yang seorang?”

Pangeran terkejut. “Tiat Kak kusuruh mencari Golok Maut ini, kanda kaisar. Tapi belum apa apa ternyata orang gila itu datang!”

Golok Maut Jilid 03

GOLOK MAUT
JILID 03
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“HA HA, sekarang kalian mengakui kelihaianku, Bhi Pui. Sekarang aku dapat bersenang senang dengan kalian!” pemuda she Bhok itu meloncat, menghampiri Bhi Pui dan dengan leluasa ia menggerayangi tubuh gadis itu. Bhi Pui mengeluh dan memaki maki namun Bhok kongcu malah tertawa gembira. Dan ketika pemuda itu mencium dan gadis baju merah ini tak berdaya maka Bhok Li sudah membuka bajunya untuk bertindak lebih jauh.

“Brett!”

Bhi Pui menjerit kecil. Bajunya, yang sudah direnggut dan robek lebar memperlihatkan bagian tubuhnya yang putih menggairahkan. Bhi Li di sana berteriak dan memaki maki pemuda itu, tak di hiraukan dan Bhok kongcu sudah mendengus dan menciumi bagian ini, tertawa. Dan ketika pemuda itu menyelinapkan jari ke perut Bhi Pui dan siap merenggut celana gadis itu maka Bhi Li hampir pingsan dan Bhi Pui sendiri nyaris histeris.

“Bhok koko, tidak. Jangan lakukan itu. ooh ....... !”

Namun Bhok Li tertawa bergelak. Dia menggerakkan jari dan celana itu siap direnggut. Namun tepat jari pemuda ini menempel perut dan Bhi Pui juga hampir pingsan mendadak sebuah tendangan membuat pemuda ini terlempar dan terbanting.

“Orang she Bhok, lepaskan korbanmu!”

Bhok kongcu terkejut. Dia terpekik terlempar bergulingan, nafsunya lenyap terganti kaget dan marah. Dia tak mendengar suara apa apa dan tahu tahu seseorang menendangnya. Dan ketika pemuda itu meloncat bangun dan mau memaki mendadak ia tertegun.

“Golok Maut.....!”

Bhi Pui dan adiknya tersentak. Mereka melihat seseorang berdiri di situ, menghadapi Bhok kongcu. Tubuhnya membelakangi namun caping lebar jelas menutupi muka orang ini, laki laki tegap bertubuh sedang. Dan ketika mereka tercengang dan kaget tapi tentu saja girang maka Bhok kongcu sudah dapat menenangkan dirinya dan kini maju membentak,

“Golok Maut, kau datang menghilangkan selera orang? Kau berani menendangku?”

“Hm!” suara yang dingin dan beku itu serasa tak berperasaan. “Aku datang karena tak suka melihat perbuatanmu. Bhok kongcu. Aku muak melihat sepak terjangmu mengganggu wanita. Pergilah dan jangan ganggu mereka lagi!”

“Keparat!” pemuda she Bhok ini marah. “Kau berani mengusirku. Golok Maut? Kaukira aku takut? Bedebah, coba terima ini dan mampuslah .....wut!” pemuda itu menerjang, dua jarinya menotok ulu hati dan Golok Maut tertawa dingin.

Lelaki bercaping ini tidak mengelak atau menangkis, dia menunggu sampai dua jari pemuda itu dekat benar. Dan ketika totokan hampir mengenai ulu hatinya dan Bhok Li girang tiba tiba lelaki ini berkelit dan... luputlah totokan itu serambut saja di sisi kanan.

“Eh!” Bhok Li terkejut. “Kau pamer kepandaianmu, Golok Maut? Coba lagi yang ini... wut wut!” pemuda itu membalik, menerjang dan kini tujuh totokan beruntun bercuitan menyambar tubuh lawannya itu.

Golok Maut mengegos dan mengelak sana sini, kakinya tidak bergerak kecuali bagian atas tubuhnya yang menghindari semua serangan lawannya itu. Dan ketika Bhok kongcu terkejut dan membentak marah tiba tiba pemuda ini sudah menghantam dan menggerakkan kelima jari menampar kepala lawannya itu.

“Dess!”

Bhok Kongcu malah terbanting menjerit mengaduh aduh. Tadi Golok Maut menggerakkan lengan dan menangkis tamparannya itu. Dan begitu lengan beradu jari mendadak pemuda she Bhok ini seakan menampar batangan baja dan kontan dia terbanting, menjerit dan bergulingan meloncat bangun dan tampaklah kini betapa pucat muka pemuda itu. Dalam gebrakan tangan kosong ini dia kalah! Tapi membentak dan mencabut ikat pinggangnya tiba-tiba Bhok kongcu sudah memekik dan menyerang kembali, mengerahkan sinkang dan ikat pinggangnya sudah berobah kaku seperti lempengan baja, lurus menyambar namun Golok Maut mengelak.

Dan ketika pemuda itu memekik dan menyerang lagi maka Golok Maut menghindar sana sini dan membiarkan ikat pinggang lawan lewat seinci atau serambut saja, tak pernah mengenai tubuhnya dan Bhok Li marah bukan main, juga penasaran. Pemuda itu membentak dan kini menggerakkan tangan kirinya pula, mengeluarkan Ang tok kang (Tangan Racun Merah), amis menyambar dan Golok Maut akhirnya mendengus. Dan ketika ikat pinggaag kembali menyambar nyambar dan satu saat meledak di pinggir telinganya tiba tiba Golok Maut membentak dan menangkis pukulan Ang tok kang yang menyambar dari tangan kiri pemuda itu.

“Plak!”

Bhok kongcu menjerit. Untuk kedua kali ia terbanting bergulingan mengaduh aduh. Ang tok kangnya, yang biasa dapat diandalkan dan menjadi senjata utamanya setelah ikat pinggang mendadak membalik, menghantam mukanya sendiri dan berteriak teriaklah pemuda she Bhok itu. Hidung dan mulutnya pecah! Dan, ketika ia bergulingan meloncat bangun tahu tahu sebuah sinar menyilaukan berkelebat menyambar rambutnya.

“Cess!” Hanya suara itu yang terdengar. Bhok kongcu, yang terkesiap dan baru meloncat bangun tiba tiba merasa kepalanya dingin. Dia tersentak dan meraba kepalanya itu. Dan ketika ia melihat betapa rambutnya terpapas habis dan kepalanya gundul tiba tiba pemuda ini terbelalak dan tertegun.

“Nah,” suara dingin itu membuatnya tergetar. “Kali ini rambutmu yang kubabat, Bhok kongcu. Kalau kau tak mau pergi maka jangan salahkan kalau lehermu yang menjadi korban berikut!”

Bhok kongcu ngeri. Tiba tiba dia menyadari bahwa Golok Maut bukan tandingannya, sekali berkelebat tiba tiba dia dibuat gundul. Maka mengeluh dan menyambar ikat pinggangnya kembali mendadak pemuda ini meloncat dan melarikan diri, berteriak ketakutan dan lenyaplah pemuda itu di luar hutan. Dan begitu lawan melarikan diri dan Golok Maut menggerakkan dua jarinya tiba tiba dari jauh dia sudah membebaskan totokan Bhi Li dan Bhi Pui.

“Tuk!”

Dua gadis itu tertegun. Mereka tiba tiba bebas, dapat menggerakkan tubuh. Dan begitu mereka meloncat bangun maka Bhi Pui terisak memaki Bhok kongcu itu.

“Orang she Bhok awas lain kali kalau kita bertemu lagi. Kubunuh kau!”

“Tak mungkin,” suara Golok Maut terdengar hambar dan enteng. “Kalian berdua tak dapat mengalahkannya, nona. Sebaliknya pergi dan hindari pemuda itu agar tidak ditimpa malapetaka.”

Bhi Pui tertegun, tiba tiba terisak. “Golok Maut, terima kasih atas pertolonganmu.” katanya. “Tapi kau pun berhutang sebuah jiwa kepadaku.....sing!” dan pedang yang menyambar menusuk Golok Maut tiba tiba membuat laki laki itu tertegun, mengelak dan Bhi Li tiba tiba berteriak pula. Kakak beradik ini sekonyong konyong menyerangnya dan mereka tampak beringas.

Dan ketika Golok Maut berlompatan dan mengelak lagi maka laki laki itu mendengus dan bertanya dingin, “Hutang jiwa apa yang kalian maksud? Kalian tidak menghentikan serangan?”

“Keparat, kau membunuh ketua Pek kiok pang, Golok Maut. Dia adalah paman dari ibu ku!”

“Hm, siapa ibu atau ayah kalian?”

“Ibuku Coa Eng, sudah meninggal. Sedang ayahku adalah Bhi Kong... sing singg!” dan pedang yang kembali menyambar namun dielak mudah tiba tiba membuat Golok Maut tersenyum mengejek, menghindar sebuah serangan lagi dan sekonyong konyong dua jarinya bergerak, menjepit pedang Bhi Pui. Dan ketika Bhi Li di sana berteriak marah dan Golok Maut tertawa dingin mendadak dia sudah menekuk pedang yang dijepit dan menendang Bhi Li, tepat di pergelangan tangannya hingga pedang di tangan gadis itu terlepas.

“Pergilah, aku tak dapat membunuh kalian, nona. Kalian bukan she Coa atau Ci....tring!” dan pedang yang terlempar serta jatuh di tanah tiba tiba disusul teriakan Golok Maut yang berkelebat lenyap menghilang dengan caranya yang luar biasa dan dua kakak beradik itu bengong.

Mereka ditampar dan dirobohkan begitu mudah, bahkan, pedang Bhi Pui patah menjadi dua dan Golok Maut mendemonstrasikan kehebatan jarinya. Tentu saja mereka terkejut. Tapi begitu sadar dan menjerit membanting kaki tiba tiba Bhi Pui mengutuk dan memaki habis habisan.

“Golok Maut, kau bedebah keparat. Kenapa tak membunuh kami sekalian agar bertumpuk dosamu? Kenapa membiarkan kami hidup dan harus mencarimu lagi? Hutang jiwa tetap dibayar jiwa, Golok Maut. Kami tak mau sudah!”

“Sudahlah,” Bhi Li tiba tiba menggenggam tangan encinya, menggigil. “Kita telah diselamatkan Golok Maut, cici. Apa yang akan dilakukan Bhok kongcu tadi sungguh melebihi kematian. Kukira jasa Golok Maut lebih besar dibanding hutangnya.”

“Ya, dan ini gara gara kau, Bhi Li. Kalau kau tak menentang dan membela si hidung belang itu barangkali tak akan kita bertemu Bhok kongcu. Kau tak percaya nasihatku, keras kepala!”

“Maaf, aku salah, cici. Sekarang aku sadar. Kau hukumlah aku kalau perlu dihukum!” Bhi Pui tiba tiba menangis.

Setelah adiknya menyerah dan terisak begitu mendadak mereka saling tubruk, betapapun mereka berdua adalah saudara dan tak perlu kiranya memarahi yang lain habis2an. Mereka hampir tertimpa bencana dan sesungguhnya apa yang dilakukan Bhok kongcu itu memang jauh lebih kejam daripada kematian sendiri. Untunglah, Golok Maut datang dan mereka selamat. Dan ketika keduanya menangis dan saling peluk tiba tiba berkelebat dua pemuda yang mengejutkan mereka.

“Nona, mana Golok Maut?”

Bhi Li dan kakaknya tertegun. Tiba tiba mereka melepaskan diri bersiap. Pandangan tampak tak bersahabat dan Bhi Li bahkan mencabut pedangnya, sinar mata mereka curiga dan tak percaya. Kejadian dengan Bhok kongcu tadi telah membuat mereka terguncang, setiap pemuda rasanya bakal dimusuhi dan Bhi Li mengedikkan kepala. Dan ketika dua pemuda itu mengerutkan kening dan mereka kelihatan terkejut melihat sikap dua gadis cantik itu tiba tiba Bhi Li membentak,

“Kalian siapa? Sahahat Bhok kongcu?”

Dua pemuda ini saling pandang, yang satu dengan yang lain tampak tidak mengerti. Tapi menjura dan melipat lengannya pemuda di sebelah kiri tiba tiba berkata. “Maaf, kami tidak mengerti siapa yang kau maksud, nona. Kami adalah dua sekawan yang kebetulan saja mendengar teriakan kalian tadi, yang menyebut nyebut Golok Maut. Aku adalah Keng Han sedang temanku ini Tong, tak kenal mengenal dengan Bhok kongcu.”

“Hm, ada hubungan apa dengan Golok Maut?”

“Kami, ah, ... kami bingung. Dulu kami memusuhinya tapi sekarang rupanya tidak. Kami pernah ditolong Golok Maut dan berhutang budi. Maaf, siapakah nona berdua? Apakah diganggunya?”

Bhi Li memandang kakaknya. “Bagaimana, cici,” bisiknya, “apakah mereka ini juga pemuda pemogoran seperti Bhok kongcu?”

Bhi Pui tertegun. Dia mengamati tajam dua pemuda itu, yang berdebar. Tapi tak melihat “mata minyak” di pandangan dua pemuda itu gadis ini menggeleng. “Tampaknya bukan,” balasnya berbisik. “Tapi kita harus berhati hati, Bhi Li. Betapapun mereka juga pemuda yang baru kira kenal.”

“Hm, kalian bicara apa“ Keng Han, pemuda yang sudah kita kenal bertanya keheranan. “Apakah kami terlihat sebagai orang jahat?”

“Kalian dari manakah? Bhi Pui melangkah maju, kini mendahului adiknya. “Apakah mencari Golok Maut untuk memusuhi orang orang she Coa atau Ci pula?”

“Ah tidak.” Su Tong kali ini bicara. “Kami justeru tak setuju dengan sepak terjang Golok Maut nona. Kami bahkan disuruh guru kami untuk mencegah perbuatan Golok Maut ini, tapi kami gagal. Kami adalah murid murid Pek lui kong asal dari utara.”

“Pek lui kong? Dewa Halilintar itu?”

“Hai, nona kenal?” Su Tong girang. “Benar, nona Kami adalah......”

“Wut!” gadis itu tiba tiba menyerang, membuat Su Tong menghentikan kata katanya dan pemuda itu berseru kaget. Bhi Pui menyerangnya tanpa banyak cakap lagi, hal yang juga mengherankan Bhi Li, adiknya. Dan ketika pemuda itu berteriak teriak dan mengelak serta menghindar sana sini, maka Bhi Pui berseru pada adiknya agar menyerang pula pemuda satunya, Keng Han.

“Bhi Li, serang pemuda itu. Cepat!”

Bhi Li tertegun. Tapi percaya bahwa encinya pasti mempunyai alasan tertentu mendadak gadis ini menggerakkan pedangnya dan membentak menyerang Keng Han. Dan begitu pedang berdesing dan Keng Han kaget maka sama seperti teman nya dia pun mengelak dan berseru,

“Eh, apa apaan ini, nona? Kenapa menyerang?”

“Tutup mulutmu!” Bhi Pui membentak. “Kami tak percaya siapa saja, orang she Keng. Perlihatkan dan tunjukkan dulu kepada kami apukah benar kalian murid Pek lui kong!”

Kini mengertilah Bhi Li. Gadis baju biru ini mengangguk tapi Keng Han dan Su Tong masih keheranan. Mereka itu kaget tapi juga marah, tak mengerti bahwa Bhi Pui ingin melihat ilmu mereka, apakah benar murid Pek lui kong atau bukan. Maklum, Bhi Pui sekarang tak gampang percaya terhadap siapa pun, khususnya laki laki. Maka begitu dibentak dan diserang pedang segera Keng Han berkelebatan dan keluarlah pukulan pukulan Lui kong ciangnya, meledak dan menangkis dan dua anak muda itu terhuyung. Keng Han mengarah pergelangan tangan, tak berani mata pedang karena dilihatnya serangan Bhi Li cukup berbahaya, pedang mendesing dan Su Tong di sana juga mengelak sambil menangkis.

Mau tak mau mereka mengeluarkan Lui kong ciangnya karena itulah yang mereka miliki, ilmu andalan dari Pek lui kong, guru mereka. Dan ketika benturan atau ledakan membuat Bhi Pui percaya bahwa dua pemuda ini betul betul murid si Dewa Halilintar tiba tiba dia menghentikan serangannya dan berseru pada adiknya pula agar berhenti.

“Cukup!” seruan itu mencengangkan Keng Han dan temannya. “Mereka betul murid murid Pek lui kong, Bhi Li. Hentikan dan jangan menyerang lagi!”

Bhi Li menghapus keringat, pipinya kemerah merahan. Dan ketika dia meloncat dan mendekati encinya maka gadis itu menyimpan pedang dan Bhi Pui pun agak jengah.

“Maaf, kami hanya ingin mencoba, sobat. Kami ingin membuktikan apakah kalian benar murid locianpwe Pek lui kong!”

“Hm,” Keng Han kini maju menghampiri, merangkapkan kembali kedua tangannya. “Nona berdua siapakah? Kenapa tampaknya bercuriga kepada setiap orang?”

“Kami baru diganggu Bhok kongcu!” Bhi Li tiba tiba berseru. “Kami tak mau ditipu lagi, sahabat. Dan terus terang enci kami tak mau celaka!”

“Siapa yang kalian maksud? Bhok kongcu yang mana?”

“Bhok Li, si hidung belang itu. Kalian kenal?” Keng Han tertegun.

“Sudahlah,” Bhi Pui menggamit adiknya. “Kami sekarang tahu bahwa kalian bukan orang orang golongan sesat, sobat. Guru kalian locianpwe Pek lui kong cukup menjadi jaminan.”

“Maaf,” Keng Han maju lagi. “Bolehkah kami tahu suipa nona berdua? Dari mana dan mau ke mana?”

“Aku Bhi Pui, ini adikku Bhi Li,” Bhi Pui terpaksa mengaku, tak enak karena orang telah menunjukkan identitas. “Kami tadinya mau mencari Golok Maut tapi malah celaka, sobat. Sekarang kami mau kembali!”

“Eh, tunggu!” Su Tong sekarang melompat. “Kami juga hampir celaka, nona. Kalau Golok Maut tak datang menolong barangkali kami sudah menjadi mayat. Apakah nona mencari Golok Maut karena permusuhan?”

“Hm,” Bhi Pui tiba tiba bersinar. “Golok Maut membunuh paman ibuku, sobat. Ketua Pek kiok pang!”

“Ah, nona dari sana?”

“Benar, tapi kami hanya kerabat.”

“Kalau begitu Golok Maut berhutang sebuah jiwa!”

“Ya, dan kami mau membalas dendam. Tapi sayang, kepandaian kami rendah sekali dan Golok Maut itu amat lihai. Kalau saja kami tidak begini bodoh dan rendah tentu kami cari si Golok Maut itu biar pun ia lari ke ujung dunia!”

“Tapi nona katanya ditolong......”

Bhi Pui tertegun.

“Maaf, bolehkah kami tahu bagaimana Golok Maut itu menolong kalian? Apakah Bhok kongcu yangkalian sebut sebagai pemuda hidung belang itu mengganggu kalian?”

“Hm.....!” gadis ini berkilat matanya. “Apakah urusan kami perlu kalian ketahui sedetail detailnya? Apakah kalian tidak punya kerjaan hingga kalian ingin mengetahui urusan kami?”

Keng Han terkejut. “Maaf, nona,” katanya. “Temanku ini barangkali terlalu lancang. Kami menarik kembali pertanyaan kami dan barangkali maksud temanku ini adalah ingin menbantu kalian kalau bertemu Bhok kongcu itu, mengetahui apa yang ia lakukan dan bermaksud membela. Kalau kami dianggap terlalu jauh biarlah kami tak bertanya lagi dan mohon maaf!”

Bhi Pui merah mukanya. Terhadap Keng Han ia merasa ditundukkan. Dua kali ia bersikap keras dan dua kali pula pemuda itu meminta maaf, halus dan lembut tutur katanya. Tentu saja membuat ia malu namun mendengus, menutupi rasa malunya. Dan ketika Bhi Li tertarik dan mengamati pemuda tampan ini maka Su long juga menjura dan minta maaf.

“Baiklah, maafkan kami, nona. Kami tak bermaksud mencampuri. Pertanyaanku tadi hanyalah kumaksudkan untuk mengetahui siapa Bhok kongcu yang membuat kalian marah marah itu. Kalau kami sudah tahu dan bertemu di tengah jalan barangkali kami akan menghajarnya dan membalas perlakuannya terhadap kalian. Apakah ia kira kira sama dengun Mao siao Mo li?”

“Siapa itu Mao siao Mo li?”

“Wanita cabul. Kami diganggunya dan hampir saja kami malu. Siluman Kucing itu.......”

“Sudahlah.” Keng Han tiba tiba menarik temannya, memotong. “Urusan kita tak usah diberitahukan orang lain, Su Tong. Itu adalah peristiwa memalukan. Jangan membukanya di depan ji wi siocia (dua nona) ini!” dan tersenyum menghadapi Bhi Pui tiba tiba Keng Han bertanya. “Sekarang nona mau ke mana? Apakah masih hendak mencari Golok Maut? Kalau begitu kita dapai bersama, barangkali ji wi (anda berdua) tidak keberatan.”

Bhi Pui tertegun. Tiba tiba adiknya melirik, mereka saling pandang namun gadis baju merah itu mendengus. Dan ketika Keng Han menunggu jawaban dan dua pemuda itu rupanya ingin mendekati mereka mendadak gadis ini menyambar tangan adiknya dan berkelebat pergi.

“Maaf. kami masih ada urusan lain, sobat. Biar kita berpisah dan mengerjakan pekerjaan sendiri sendiri!”

“Hei...” Su Tong terkejut, mau memanggil namun Keng Han menekan pergelangan temannya. Sikap ketus dan galak dari Bhi Pu membuat ia maklum bahwa mereka tak boleh berdekatan. Maka begitu dua enci adik itu lenyap dan Su Tong kecewa tiba tiba ia berbisik.

“Kau mau mengikuti?“

“Bukankah kita mau pulang?”

“Hm, kalau kau tertarik pada gadis baju biru itu boleh saja kita mengikuti, Su Tong. Si baju merah yang galak itu juiteru menarik hatiku!”

“Kau tertarik pada encinya?”

“Ya. dan kau pada adiknya, bukan?”

“Ha ha, kalau begitu.......”

“Kalau begitu kita ikuti mereka, Su Tong. Tapi hati hati dan dari jauh saja!” dan begitu keduanya tertawa dan saling sambar tiba tiba Keng Han dan Su Tong bergerak mengikuti, mengerahkan ilmu lari cepat mereka dan segera enci adik itu dikejar.

Bhi Pui dan Bhi Li sudah lenyap di depan. Namun karena dua pemuda itu juga memiliki kepandaian yang tak berselisih jauh karena terbukti mereka tadi dapat menghadapi enci adik itu maka Keng Han dan Su Tong sudah lenyap dan berkelebat membuntuti kakak beradik itu. Dan begitu mereka meninggalkan hutan dan lenyap di sana maka Bhi Li dan kakaknya tak menduga kalau diikuti.

* * * * * * *

Kota raja. Sejak menduduki istananya dan hidup sebagai penguasa maka Li Ko Yung, penguasa itu selalu dikelilingi pembantu pembantunya. Satu diantaranya yang paling dekat adalah pangeran Coa, saudara sepupu dari garis keturunan ibu. Dan karena siapa yang dekat dengan kaisar tentu merupakan orang berpengaruh dan pangeran ini pun juga demikian maka Coa ongya, pangeran Coa, merupakan orang yang disegani dan ditakuti.

Bahkan pangeran itu hampir menyamai kaisar sendiri sepak terjangnya. Apa yang diinginkan biasanya dituruti. Maklum, di samping sebagai pembantu kaisar dia juga masih ada ikatan kekeluargaan. Dekat hubungannya dengan kaisar. Dan karena pengaruhnya yang besar dan juga darah kebangsawanannya maka pangeran ini merupakan pangeran yang menonjol dari semua pangeran yang ada di istana.

Coa ongya adalah pangeran yang belum begitu tua. Usianya masih empat puluhan tahun namun roman mukanya masih tampak muda, meski pun agak gemuk. Memiliki banyak selir dan seorang isteri yang memberi keturunan dua orang anak laki laki. Dan karena dia adalah pangeran yang dekat dengan raja dan hidup senang di istana maka hampir tak ada kesusahan yang dialami pangeran ini, segi duniawinya. Tapi karena sebagai manusia dia juga mempunyai cacad dan kekurangan di sana sini maka betapapun senangnya hidup di istana raaanya masih kurang nyaman juga kalau hidup tanpa pelindung. Dan empat orang tokoh melindungi pangeran itu.

Pertama adalah si Kaki Besi, Tiat Kak. Orangnya gundul dan berkepala hitam. Leher ke bawah kuning bersih dan orang akan terheran heran melihat keadaan pelindung Coa ongya yang satu ini, maklum, kulitnya berwarna dua. Kepala hitam sedang tubuh kuning bersih. Kepandaiannya, sesuai julukannya adalah sepasang kakinya itu. Kalau tokoh ini sudah berpuntir maka siapa pun tak sanggup menghadapi sepasang kakinya yang hebat. Tahan bacokan senjata tajam dan keras seperti besi. Dia mendapat julukan karena kakinya itu. Dan karena si Kaki Besi Tiat Kak ini berdarah Mongol campuran dan berasal dari utara maka untuk daerah utara tak ada yang tidak mengenal namanya.

Dulu, lima tahun yang lalu pernah si Kaki Besi ini mendemonstrasikan kepandaiannya. Dihadapi limapuluh orang tubuhnya didorong dorong tak bergeming dan akhirnya seekor gajah diambil. disuruh menarik si Kaki Besi itu namun justeru gajahnya yang mendengus dengus. Binatang itu sampai berkeringat tapi Tiat Kak tak bergeming. Dan ketika gajah berkutat dan lawan juga bertahan akhirnya tali penarik putus dan gajah terjengkang!

Itu kepandaian bertahan, pasangan bhesi (kuda kuda) yang ampuhnya luar biasa dan semua orang kagum. Coa ongya sendiri menemukan orang aneh ini ketika berburu, bertemu dan akhirnya berhasil membujuk tokoh luar biasa itu, tinggil di istananya dan menjadi pelindungnya. Namun karena Tiat Kak masih dirasa kurang dan pangeran ingin tambah muka beturut turut didaptatnya tiga tokoh yang lain, masing masing adalah Pek mo ko (Setan Putih) dan Hek mo ko (Setan Hitam) serta Yalucang, seorang tokoh tinggi besar berasal dari pedalaman Tibet, jauh di barat. Dan kini dilindungi oleh empat orang luar biasa ini Coa ongya merasa tenteram. Tapi, benarkah?

Sesungguhnya sebuah peristiwa mengusik ketenangan pangeran itu. Dia teringat kejadian belasan tahun yang lewat, kejadian yang tak akan di lupakannya seumur hidup dan dia merasa ngeri. Kejadian dua kakak beradik jauh di Cin ling san. Namun karena paristiwa itu sudah berhenti dan tak ada kelanjutannya lagi maka peristiwa itu seakan sebuah mimpi buruk bagi sang pangeran.

Empat pembantunya, tokoh tokoh luar biara itu memang dapat diandalkan. Pek mo ko dan Hek mo ko adalah sepasang suheng dan sute yang dapat menghilang. Mereka memiliki ilmu hitam dan juga kebal, kepandaiannya tinggi dan dulu pernah dicoba diadu dengan si Kaki Besi, tak ada yang kalah dan menang karena masing-masing sama lihai. Dan karena Yalucang juga seorang kakek hebat yang dapat menyemburkan api lewat mulutnya dengan ilmu Hwee kang (Ilmu Api) maka tokoh Tibet itu juga tokoh mengagumkan yang sekaligus melindungi istana, berempat bersama yang lain sekaligus mendapat tugas melindungi kaisar, menjadi pengawal bayangan. Dan karena mereka adalah orang orang luar biasa yang selama ini tak terkalahkan maka istana benar benar tenang dan aman.

Tapi hari itu agak lain. Coa ongya yang mendengar munculnya Golok Maut tiba tiba memanggil keempat pembantunya, bertanya apakah empat pembantunya itu tahu. Tapi Tiat Kak dan teman temannya yang menggeleng justeru mengeluarkan tawa mengejek.

“Ah, itu kata orang, ongya. Golok Maut rupanya lihai dan juga tokoh baru. Hamba belum mengenal nama ini kecuali akhir akhir ini saja. Ada apakah?”

“Hm, kau tak mendengar ancamannya?”

“Ancaman apa?”

“Dia akan membunuh orang orang she Coa dan Ci. Apakah kalian tidak dengar?”

“Ha ha!” si Kaki Besi tertawa lantang. “Paduka tak perlu khawatir, ongya. Ada hamha di sini. juga Pek mo ko dan lain lain. Kalau dia berani mengganggu paduka biarlah dia mampus di sini.“

“Tidak, aku tak menghendaki dia datang di sini. Tiat Kak. Aku ingin satu atau dua orang diantara kalian pergi menyelidiki. Aku teringat seseorang!”

Si Kaki Besi terkejut. “Paduka takut?”

Sang pangeran marah. Kalau pertanyaan ini dilontarkan orang lain barangkali dia sudah menggebrak kursi dan menyuruh tangkap orang yang kurang ajar begitu tak akan lama berhadapan dengannya. Tapi karena yang bertanya adalah pembantunya terpercaya dan Tiat Kak juga tidak bermaksud mengejek maka pangeran ini menggigit bibir.

“Bukan takut,” jawabnya lirih. “Hanya aku tak mau orang ini membuat huru hara. Tiat Kak. Dan ancamannya itu berarti penghinaan pula bagi diriku. Juga kebetulan adikku Ci Kung ber she Ci!”

“Hm, Jadi bagaimana maksud paduka?”

“Aku ingin mengutus kalian, selidiki dan kalau perlu tangkap orang itu!”

“Baik, hamba siap, paduka. Sekarang juga hamba berangkat!”

“Nanti dulu,” sang pangeran menggerakkan lengan. “Tunggu, Tiat Kak, berunnding dulu dengan temanmu!”

“Ha ha,.., untuk apalagi? Biar mereka berjaga di sini, pangeran. Hamba akan melaksanakan tugas dan membekuk si Golok Maut itu!”

“Tidak berdua?”

“Ah, untuk apa? Hamba sendiri cukup, ongya. Tak perlu kawan!” dan si Kaki Besi yang melompat dan menghilang keluar lalu berkelebat dan meninggalkan istana, mendapat tugas dan ingin membeluk si Golok Maut, nama yang akhir akhir ini mencuat di permukaan dunia kang ouw setelah mengobrak abrik Hek liong pang. Tak mau berteman karena dia percaya pada kekuatan diri sendiri, juga sekalian ingin pamer dan unjuk jasa pada majikan, kalau dia dapat menangkap Golok Maut!

Dan begitu satu diantara empat pembantu Coa ongya pergi meninggalkan istana maka pangeran berpesan agar tiga yang lain berhati hati, “Jaga baik baik sekeliling istana. Jangan sampai kita disatroni musuh!”

“Baik.” Pek mo ko dan Hek mo ko mengangguk, mendengus ke arah lenyapnya si Kaki Besi dan mereka mendongkol.

Sebenarnya mereka ingin mengajukan diri tapi Tiat Kak mendahului, sombong dun ingin menunjukkan jasa. Dan ketika Yaulucang juga berkelebat pergi dan kakek tinggi besar itu tak berkata sepatah pun maka malam itu istana lowong satu bagian, yakni bagian yang biasa dijaga si Kaki Besi, bagian timur.

Malam itu tak ada apa apa tapi malam berikut terjadi kegenparan. Malam kedua ini gedung Coa ong ya disatroni musuh. Golok Maut, yang dicari si Kaki Besi mendadak muncul, hadir dan datang di tengah tengah mereka. Dan ketika malam itu terjadi kegegeran besar maka untuk pertama kali istana dibuat guncang, bahkan kaisar sekalipun!

Waktu itu, seperti biasa keadaan tenang tenang saja. Ketenangan yang sudah berjalan lama memang membuat orang akhirnya lengah. Yalucang si kakek tinggi besar tidur tidur ayam di sudut barat, sementara Hek mo ko dan Pek mo ko berada di utara dan selatan. Jadi, bagian timur kosong dan justeru di bagian inilah Golok Maut masuk, dimulai dengan jeritan seorang pengawal yang tiba tiba terbungkam. Suaranya seperti ayam dicekik, mendadak hilang. Dan karena tempat itu jauh dari penjagaan tiga orang ini dan suasana juga masih biasa biasa saja maka Pek mo ko mau pun yang lain lenggut lenggut di tempat jaganya. kecuali tiga penjaga yang berada di gardu terdepan, kebetulan mendengar suara aneh itu.

“Eh, apa kiranya?”

“Hm, siapa tahu? Barangkali seorang mabok yang jatuh ke parit, Siok Lun. Coba kau periksa!”

Siok Lun, penjaga bersenjata tombak melompat. Komandannya memberi perintah dan ia menyelidiki. Dia khawatir karena itu seperti suara temannya yang sedang meronda dari gardu kedua, di samping kanan. Maka menjenguk dan meloncat ke ke tempat ini tiba penjaga itu sudah bergerak dan melihat keadaan.

Namun apa yang terjadi? Komandannya tiba tiba mendengar suara berdebuk, disusul keluhan lirih dan akhirnya diam. Tentu saja membuat komandan dan pembantunya yang satu lagi terkejut, keluar dan memanggil manggil Siok Lun. Namun ketika tak ada jawaban dan dua orang itu curiga akhirnya sang komandan mengajak bawahannya yang tinggal seorang dan meloncat mendekati tempat itu. Tapi baru mereka bergerak tiba tiba dua orang itu terbanting.

“Berhenti di tempatmu!”

Sang komandan dan temannya terkejut. Mereka mau berteriak tapi suara tiba tiba tak dapat dikeluarkan, kiranya mereka telah ditotok dan tampaklah kini seorang laki laki bercaping yang tegak berdiri di depan mereka. Mukanya hampir tak kelihatan karena menunduk, sengaja bersembunyi di balik capingnya yang lebar itu. Dan ketika mereka tertegun dan terbelalak dengan muka pucat maka laki laki itu mendesis.

“Kalian tahu di mana kamar Coa ongya?”

Komandan dan pembantunya menggeleng geleng.

“Kalian tak tahu pula di mana Ci ongya (pangeran Ci)?”

Dua orang itu juga menggeleng berulang ulang.

“Hm, kalau begitu biar kalian berdua tidur di sini... dess!” dan sang komandan beserta temannya yang mengeluh ditendang lawannya tiba-tiba terbanting dan pingsan di semak belukar, tak dipaksa mengaku namun lelaki bercaping itu langsung membuat mereka “tidur”. Sikapnya dingin dan tidak banyak omong.

Dan begitu gardu pertama kosong dan laki laki ini mendengus maka dia berkelebat dan sudah melayang di atas genteng, berkelebatan dari satu tempat ke tempat yang lain dan sekali kali dia turun, menenteng seseorang yang agaknya pengawal atau pelayan, bertanya tapi akhirnya membanting pengawal atau pelayan itu ke bawah. Dia bertanya tentang Coa ongya namun tak seorang pun yang menjawab tahu. Pangeran itu memang merahasiakan tempat tidurnya, tentu saja laki laki ini marah. Dan ketika dia membuka dan menutup genteng namun bayangan Coa ongya tak berhasil ditemukan akhirnya dia melayang turun dan langsung berhadapan dengan tujuh pengawal di pintu masuk, di geduug utama. Tindakan yang amat berani!

“Aku ingin bertemu Coa ongya. Beritahukan padanya!”

Tujuh pengawal tersentak. Meeka kaget karena tahu tahu seseorang meluncur dari atas genteng dan sudah berdiri di depan mereka. Dan ketika semunnya bangkit berdiri dan bertanya siapa dan apa keperluan lelaki itu maka Golok Maut, tokoh ini bicara hambar,

“Aku ingin bekerja di sini, melamar pekerjaan.”

“Keparat. malam malam begini? Bohong, kau dusta, orang asing. Buka capingmu itu dan tunjukkan kepada kami siapa dirimu!”

“Hm, Coa ongya akan tahu. Panggil dia ke mari atau bawa aku menghadap padanya!”

Ributlah tujuh pengawal itu. Tentu saja mereka curiga karena tak ada orang melamar pekerjaan di malam hari, apalagi dengan cara dan sikap yang begitu aneh, menyembunyikan muka dalam caping dan meluncur dari atas. Seakan siluman! Maka membentak dan berloncatan mengepung laki laki itu pengawal di depan membentak, “Orang asing, jangan maeam macam. Buka dan perlihatkan dulu siapa dirimu, atau kau kami tangkap!”

“Hm, kalian main main?”

“Siapa main main? Kaulah yang main main. Kau mencurigakan dan terpaksa kami tangkap. Menyerahlah!” namun baru pengawal ini selesai membentak tiba tiba Golok Maut berkelebat, jarinya bergerak dan robohlah pengawal itu. Dia terbanting dan berdebuk menimpa lantai, pantatnya lebih dulu. Dan ketika pengawal itu berteriak dan teman temannya yang lain terkejut dan berseru keras mendadak Golok Maut sudah membagi bagi tamparan dan pukulan, menendang mereka dan satu persatu akhirnya mencelat bergulingan. Golok Maut meloncat dan akhirnya masuk ke dalam. Dan ketika laki laki itu melempar atau menendang meja kursi maka gedung Coa ongya gempar dan pengawal pun berteriak teriak.

“Awas, ada penjahat.....!”

“Kepung, kita kemasukan maling…!”

Dan ketika tujuh pengawal itu bangkit lagi dan berseru menubruk lawannya maka Golok Maut membalik dan kembali mereka dibuat terpelanting, jatuh bangun dan Golok Maut mendengus. Saat itu pengawal berdatangan dan muncullah mereka dari segala penjuru, teriakan tujuh pengawal mengejutkan mereka dan semua berdatangan. Namun ketika mereka menyerang dan Golok Maut membagi bagi tendangan maka ada diantaranya yang mengenal laki laki bercaping itu.

“Golok Maut! Dia Golok Maut.... ” dan begitu teriakan ini menggema di gedung Coa ongya maka tanda bahaya dipukul dan orang pun terbelalak, maju menyerang lagi namun mereka terlempar tak keruan, Golok Maut mendorong dan mengibaskan tangannya ke sana ke mari, angin pukulan menjengkangkan mereka dan berteriak teriaklah para pengawal itu. Dan ketika istana terguncang dan nama Golok Maut disebut semua mulut barulah Pek mo ko dan Hek mo ko datang, juga kakek tinggi besar Yalucang. Namun ketika mereka tiba di sana ternyata Golok Maut sudah menghilang mencari cari pangeran Coa.

“Dia terbang ke situ, naik ke atap!” Hek mo ko dan Pek mo ko menggeram. Mereka merasa kebobolan, melihat puluhan pengawal merintih rintih dan tentu saja mereka marah, juga malu. Hal itu mencoreng nama mereka di mata Coa ongya. Maka begitu membentak dan menjejakkan kakinya tiba tiba sepasang kakek iblis ini lenyap, melayang keatas dan mereka sudah disusul Yalucang. Kakek tinggi besar itu juga kaget dan marah. Itu tak boleh terjadi. Meka begitu mereka bertiga sama sama melayang ke atas dan Yalucang menggeram geram mereka sudah melihat sesosok bayangan berkelebat di wuwungan timur.

“Golok Maut, berhenti......!”

Bentakan itu tak mendapat sambutan. Golok Maut yang ada di wuwungan timur tiba tiba lenyap. Gerakannyn demikian luar biasa dan Hek mo ko seta Pek mo ko terkejut. Mereka melihat kepandaian ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sekali, ringan dan tanpa suara. Dan ketika mereka mengejar dan berjungkir balik di sini akhirnya Pek mo ko berkata agar mereka berpencar, “ Kau ke kiri, aku ke kanan!”

“Hm, dan aku terus ke depan, Mo ko. Cari dan bekuk si Golok Maut itu!” Yalucang, yang kini mulai bersuara tiba tiba ke wuwungan barat.

Mereka sudah berpencar sementara pengawal di bawah berteriak teriak. Pangeran Coa cepat diberi tahu dan tentu saja pangeran itu pucat, terkejut dan bersembunyi. Dia di kamar rahasianya ketika Golok Maut datang, kini menuju ruang bawah tanah di mana kamar rahasianya itu berhubungan. Dan ketika pengawal dan pembantu pembantunya membentak mencari Golok Maut maka Pek mo ko yang berkelebat ke kanan akhirnya melihat lagi bayangan si Golok Maut, yang mau menyelinap di sebuah wuwungan bersusun.

“Golok Maut, berhenti!” Pek mo ko melengking, menyambit tujuh sinar hitam dan tujuh jarum rahasia mendahului tubuhnya, menyambar Golok Maut. Tapi ketika Golok Maut mengibakan lengan ke belakang dan jaium jarum hitam itu runtuh maka Pek mo ko terkejut dan kembali melihat lawannya menghilang.

“Keparat, ke mana kau mau lari?” tokoh ini membentak lagi, berkelebat namun Golok Maut tak ada di situ. Kecepatan geraknya yang begitu luar biasa membuat Pek mo ko tertegun juga, memaki namum terus mengejar. Diam diam Pek mn ko terkesiap karena itulah ilmu meringinkan tubuh yang hebat sekali, dia penasaran dan terus mencari, kemanapun Golok Maut bersembunyi. Dan ketika Pek mo ko berkelebatan sementara pengawal di bawah masih berteriak teriak mendadak Golok Maut ada di belakangnya dan mendengus dingin,

“Pek mo ko, kau sekarang membantu Coa ongya?”

Iblis ini kaget bukan main. Suara lawan yang terasa begitu dekat di belakang tengkuknya membuat Pek mo ko membalik secepat kilat, kaget karena dia merasa ditiup sesuatu. Dan begitu iblis ini membentak sambil menangkis maka bertemulah lengan iblis itu dengan lawannya.

“Dukk!”

Pek mo ko tergetar, terpental tiga tindak. Dan ketika iblis itu berseru kaget dan berjungkir balik mematahkan kekuatan lawan maka kakek itu sudah tegak menggigil di atas genteng, untuk pertama kali berhadapan dengan Golok Maut, tokoh misterius yang akhir akhir ini namanya mengguncang jagad!

“Golok Maut, mau apa kau di sini? Mencari siapa?”

Bentakan itu lebih ditujukan untuk memulihkan ketenangan iblis itu sendiri. Pek mo ko terguncang karena dalam adu pukulan tadi dia dibuat terpental, terbelalak dan melihat tokoh yang menggemparkan ini, seorang laki laki yang wajahnya tertutup caping lebar, sengaja menyembunyikan diri dan dia tak dapat melihat siapa lawan. Hal yang tentu saja membuat kakek itu gusar. Dan ketika dia membentak dan mereka berada di sebuah wuwungan tinggi di mana kiri kanannya diapit wuwungan wuwungan lain maka mereka seolah berdua di situ, tak terlihat pengawal di bawah.

“Aku mau mencari Coa ongya. Pertemukan aku dengannya atau panggil dia ke mari.”

Pek mo ko mendelik. “Kau mau apa?”

“Membunuhnya.”

Kakek iblis ini membentak. Tiba tiba dia berkelebat dan menyerang lawannya itu, marah karena suara si Golok Maut demikian tenang dan dingin, seolah tak memandang dirinya. Maka begitu ketenangannya pulih dan Pek mo ko berkelebat tiba tiba kakek itu sudah meluruskan kedua tangannya menghantam sekaligus merenggut caping di kepala lawan, bergerak cepat karena sudah tak mau bicara lagi. Lawan telah menyatakan maksudnya dan tentu saja dia gusar.

Tapi ketika Galok Maut berkelit dan serangannya luput maka kakek ini terkejut dan melengking tinggi, membentak dan menyerang lagi dan segera kakek iblis itu berkelebatan. Golok Maut mendengus dan mengelak sana sini, serangan kian cepat dan akhirnya dia berkelebatan pula. Tapi ketika Pek mo ko tak memberi hati dan mengejar serta menyerang bertubi tubi maka Golok Maut menangkis dan menggerakkan lengaannya ke kiri kanan.

“Duk plak!”

Pek mo ko terpekik. Untuk kedua kali dia kembali tergetar, terpental dan berjungkir balik tinggi. Kakek muka putih ini melotot dan kaget sekali. Dia merasa betapa sinkangnya membentur sinkang lawan yang amat kuat, mencoba lagi namun tetap saja dia terpental. Dan ketika empat lima kali tetap saja dia terdorong dan lawan tertawa dingin tiba tiba kakek itu mencabut tongkatnya dan sekali pencet menyemburlah belasan jarum rahasia di ujung tongkat, sar ser sar ser menyambar lawan dan serangan itu segera disusul pukulan telapak kiri yang kini bercuitan.

Pek see kang (Pukulan Pasir Putih) telah dikeluarkan kakek ini dan tongkat menyambar nyarabar dengan puluhan jarum jarum rahasianya, sibuklah Golok Maut mengelak dan menyampok. Pek mo ko mendesak dan tertawa gembira, dimaki namun kakek itu bahkan melengking tinggi. Dan ketika serangan serangannya semakin berbahaya dan tongkat tak henti hentinya menghamburkan jarum rahasia maka sinar berkilauan mendadak berkelebat dan entah bagaimana tahu tahu ujung tongkat kakek itu putus.

“Crak!”

Pek mo ko membanting tubuh bergulingan. Tadi sinar itu menyambar dirinya namun dia menangkis, tongkat bertemu benda tajam dan terpapaslah senjatanya itu, kaget bukan main karena Pek mo ko sebenarnya sudah mengerahkan sinkang, tongkat ditangannya itu tak akan putus biar dibabat apa pun, sudah keras melebihi kayu biasa. Bahkan, tak kalah dengan baja!

Tapi ketika senjatanya itu tetap putus dan Golok Maut, lawannya, tertawa dingin dan sudah menyimpan kembali senjatanya yang luar biasa itu maka kakek muka putih ini menggigil dan gemetaran, menjublak dan tertegun karena sepintas dia melihat sebuah golok lebar dicabut lawannya itu, berkelebat dan sudah masuk kembali entah di mana, mungkin di balik punggung si Golok Maut itu. Dan sementara kakek ini tertegun dan masih belum dapat bicara mendadak muncul adiknya, Hek mo ko, disusul kemudian oleh sesosok bayangan lain yang tinggi besar yang bukan lain Yalucang si tokoh Tibet.

“Suheng, Golok Maut ada di sini?”

Pek mo ko tiba tiba girang, juga marah, di samping malu. “Benar!” serunya. “Dan dia mencari ongya, sute. Bunuh laki laki ini....... wut!” dan Pek mo ko yang kembali menerjang dan menggerakkan tongkat buntungnya tiba tiba berkelebat dan memencet, coba mengeluarkan jarum jarum rahasianya namuu ternyata gagal, ujung tongkatnya yang sudah putus sekaligus merusakkan pula alat rahasia di dalamnya yang dapat menyemburkan jarum, tentu saja kakek itu marah dan memaki.

Dan ketika Golok Maut kembali mengelak dan tongkat menghantam wuwungan maka bagian gedung itu hancur disambar tongkat. Golok Maut berjungkir balik. Dia menjauh, melihat Hek mo ko dan Yalucang bergerak, mengepung dan pengawal di bawah akhirnya melihat mereka, bereriak teriak. Dan ketika para perwira serta panglima juga berloncatan dan melayang naik akhirnya tempat itu penuh dengan orang.

“Sute, robohkan dia. Bantu aku!”

Hek mo ko terkejut. Dia sudah melihat kehebatan Golok Maut itu, gerakannya yang ringan serta enteng mengelak serangan serangan suhengnya, diburu namun tetap saja suhengnya gagal. Biasanya suhengnya itu jarang meminta bantuan kalau tidak terpaksa, tanda betapa Golok Maut ini bukan lawan sembarangan dan betul betul lihai. Maka melihat para perwira serta yang lain lain mau maju membantu sementara suhengnya sudah berteriak padanya maka Hek mo ko mengibaskan lengan dan akhirnya para perwira atau panglima terdorong, disuruh mundur dan kakek bermuka hitam itu kini berkelebat. Hek mo ko melihat tongkat suhengnya yang putus, terkejut dan membentak melepas pukulan jarak jauhnya. Dan ketika di sana Pek mo ko juga menggerakkan tangan dan tongkat serta pukulan jarak jauh menghantam Golok Maut dari tiga penjuru tiba tiba Golok Maut mendengus dan terpaksa menangkis.

“Des des dess!”

Hek mo ko dan suhengnya terpekik. Dikeroyok dua begitu tetap saja sepasang kakek iblis ini tergetar, mereka terpental dan Hek mo ko terkejut, berjungkir balik dan berseru keras. Lawan, yang tadi menangkis pukulannya juga tampak terhuyung, meskipun jelas masih lebih kuat. Dan ketika dia melayang turun dan Yalucang, kakek tinggi besar juga terkejut dan terbelalak matanya tiba tiba Hek mo ko dan Pek mo ko sudah menerjang kembali, Hek mo ko mencabut senjatanya pula sebatang tongkat hitam, yang ujungnya ada rantai. Dan ketika rantai itu bersiutan pula dan dua kakek iblis itu berteriak dan melengking lengking maka semua orang akhirnya mundur karena tak kuat menahan deru angin pukulan, melihat Hek mo ko dan Pek mo ko menyerang lawannya dan cepat serta bertubi tubi suheng dan sute itu menggerakkan senjata mereka.

Kini, Pek mo ko meniup telapak tangannya dan tiba tiba mengucap mantra hitam keluarlah uap di telapak kakek itu, kian lama kian banyak dan akhirnya orang terbatuk mencium bau sangit, mundur dan kian menjauhi pertempuran dengan muka berobah. Asap hitam yang dikeluarkan Pek mo ko itu seperti bau tulang di bakar, busuk dan memualkan perut. Dan ketika beberapa di antaranya mulai muntah muntah dan semacam bentakan sihir dilakukan kakek itu untuk mempengaruhi lawannya akhirnya Yalucang memerintahkan agar para perwira atau panglima meloncat turun menjaga di bawah.

“Turun, kalian semua turun. Awas Pek mo ko mengeluarkan Hoat kui kang (Tenaga Tulang Sihir) ......!”

Semua terkejut. Tanpa diperintah lagi tiba tiba semua orang berloncatan turun, yang muntah muntah keburu terguling di atas genteng, menggelinding dan jatuh ke bawah. Untunglah, tak terluka dan yang lain cepat menolong. Dan ketika pertempuran di atas kian seru dan semua perwira atau panglima mengepung di bawah maka Hek mo ko dan Pek mo ko memperhebat serangan mereka dan ilmu hitam pun ikut bekerja.

“Robohlah, kau tak dapat menghadapi kami, Golok Maut. Lihat naga atau harimau ini mengejar ngejar dirimu......ssh koak!” naga atau harimau jejadian muncul keluar dari telapak tangan Pek mo ko namun Golok Maut mengibas, membentak dan terdengar ledakan nyaring ketika naga atau harimau jejadian ini lenyap, diserang lagi namun dua tiga kali pengaruh sihir tak mempengaruhi si Golok Maut itu. Nyatalah, kekuatan batinnya sudah tinggi dan segala ilmu hitam lawannya tak mempan, Pek mo ko melotot dan marah sekali. Dan ketika Hek mo ko juga membantu dan membentak mengeluarkan sihirnya mandadak Golok Maut melakukan tamparan dan asap hitam di tangan Hek mo ko hancur.

“Dess!”

Kejadian itu cukup bagi Hek mo ko. Iblis muka hitam ini maklum bahwa ilmu hitamnya tak mempan, tadi membalik dan dia harus melempar tubuh bergulingan. Dan ketika kakek itu melengking nyaring dan Yalucang tampak menggosok gosok tangan tanda tak sabar maka Hek mo ko sudah meloncat bangun dan berseru marah, melengking dan tongkat rantainya dipencet. Menyambarlah kemudian puluhan paku paku halus ka arah Golok Maut, bukan jarum halus namun bahayanya sama saja. Sekarang Hek mo ko juga merasa perlu dibantu am gi (senjata gelap), kewalahan menghadapi lawannya itu dan Golok Maut mendengus. Dan ketika paku paku itu berhamburan menyambar dirinya dan Hek mo ko masih meloncat dengan satu pukulan Hek see kang (Tangan Paku hitam) maka Pek mo ko juga berseru melengking dengan ayunan tongkat buntungnya ditambah lagi dengan pukulan tangan kiri dengan tamparan Pek See kang.

“Klap des crak!”

Dua orang itu menjerit. Golok Maut, yang marah dan berkelebat cepat tiba tiba menggerakkan tangan kebelakang. Sinar atau cahaya menyilaukan itu berkelebat dan tampaklah sinar panjang yang melengkung mirip sabit, merontokkan semua paku paku halus dan tiba tiba bergerak ke leher Hek mo ko dan Pek mo ko. Geraknya luar biasa cepat dan Hek mo ko maupun Pek mo ko terperanjat. Mereka itu menangkis dan Pek mo ko lupa pada pengalaman pertama, menggerakkan tongkat buntungnya namun apa lacur tongkat buntungnya itu malah terbabat. Sebuah golok, yang tajam menyilaukan tiba tiba memapas tongkatnya itu.

Dan ketika tongkat terasa ringan karena sudah putus setengahnya lagi maka sinar golok itu terus menyambar lehernya dan membabat pula adiknya. Jadi, dalam sebuah gerakan panjang si Golok Maut telah menyerang mereka berdua sekaligus, tak berhenti setengah jalan dan Pek mo ko membanting tubuh bergulingan, kaget dan pucat dan baru dia sadar bahwa Golok Maut memiliki senjata istimewa yang luar biasa sekali, dia berteriak dan memperingatkan sutenya pula. Dan ketika golok menyambar Hek mo ko dan tongkat rantai menangkis namun putus disambar golok maka Hek mo ko juga melempar tubuh bergulingan ketika sinar maut di tangan Golak Maut itu masih menyambar lehernya juga.

“Brett!”

Hek mo ko masih kalah cepat. Golok Maut, yang menggerakkan senjatanya luar biasa cepat ternyata mendapat segumpal kecil daging pundak lawannya, yang menjerit dan bergulingan di sana. Dan ketika Hek mo ko meloncat bangun dan ngeri memandang lawan maka Golok Maut sudah berkelebat dan sinar menyilaukun itu kembali menyambar nyambar.

“Yalucang, tolong!”

Kakek tinggi besar itu terkejut. Dia melihat Hek mo ko dikejar dan disambar sinar golok yang amat ganas, sinarnya menyilaukun mata dan kakek itu tertegun. Tentu saja dia melihat pundak yang sompal dagingnya itu, Hek mo ko yang terluka. Tapi bahwa golok masih putih bersih dan sepintas dia melihat betapa golok di tangan si Golok Maut setetes pun tak dikotori darah maka kakek tinggi besar ini tertegun dan menjublak, belum mengerti benar kenapa bisa begitu. Tapi ketika Hek mo ko bergulingan mengelak sana sini dan kembali mendapat sebuah bacokan maka Yalucang kaget dan mengerti, cepat membantu dan tiba tiba menggereng.

“Golok penghisap darah!” dan begitu kakek ini menerjang dan nenolong temannya maka sepasang roda gergaji sudah menyambar si Golok Maut, digenggam di kedua tangannya dan Golok Maut terkejut. Waktu itu dia sedang mengejar si iblis hitam, mendengar angin berkesiur dan cepat ia mengelak, tak berani menerima karena dari angin sambaran itu ia tahu betapa dahsyatnya tenaga si penyambar. Benar saja, genteng hancur berantakan ketika ditimpa roda gergaji, yang dahsyat menghantam ke bawah.

Dan ketika Hek mo ko bangun meloncat terhuyung dan Yalucang sudah menggeram membentak lawannya maka roda gergaji sudah menghantam lagi dan Pek mo ko, suheng Hek mo ko pucat di tempat, melihat sutenya terluka dan ia tadi tak sempat menolong. Ia sendiri sedang bergulingan saat itu, menyelamatkan diri. Sinar menyilaukan dari golok maut itu benar benar berbahaya sekali, benar benar maut! Dan ketika ia melompat bangun dan Hek mo ko mengeluh dengan lukanya mendadak di sana terdengar suara “cring crang” dan Yalucang, rekan mereka itu berteriak membanting tubuh, roda gergajinya terpapas sebagian dan kakek tinggi besar itu berseru keras. Ia tadi menyerang namun Golok Maut membalas. Dan begitu sinar menyilaukan itu berkelebat dan ia menangkis tiba tiba satu dari sepasang roda gergajinya rompal.

“Mo ko, tolong......!”

Dua kakek iblis itu berkelebat. Kalau Yalucang sudah minta tolong memang dapat dimaklumi. Mereka sendiri sudah merasakan betapa hebat dan luar biasanya si Golok Maut ini, terutama golok mautnya di tangan itu, yang hanya merupakan kilat menyambar nyambar dan tajamnya melebihi pisau cukur! Dan begitu mereka bergerak dan Golok Maut dibokong terpaksa lelaki bercaping itu membalik menangkis, dielak dan segera Yalucang memaki maki. Kakek tinggi besar itu sudah melompat bangun dan mukanya merah padam, menyerang dan mengeroyok si Golok Maut. Dan ketika mereka bertiga bergerak silih berganti serang menyerang dan Golok Maut membalas atau menerima serangan mereka maka di atas wuwungan itu empat tubuh berkelebatan dengaa luar biasa cepatnya, tak dapat diikuti mata lagi dan baru kali ini Golok Maut menghadapi lawan tangguh.

Biasanya, kalau dia sudah mencabut goloknya dan sinar menyilaukan berkelebat maka robohlah lawannya, seperti yang sudah kita lihat ketika dia membunuh orang orang Hek liong pang, bahkan ketuanya sendiri, Coa Hing Kok Tapi bahwa sekarang dia hanya dapat melukai Hek mo ko sementara yang lain dapat membalas atau mengelak serangannya terbuktilah bahwa tiga tokoh istana ini memang cukup luar biasa. Mereka memiliki gerakan cepat dan masing masing memang lihai.

Hek mo ko sendiri meskipun sudah dikejar ternyata mampu mengelak, hanya mendapat dua luka itu dan selanjutnya kakek iblis ini dapat melayani kembali, mengeroyok bersama suheng dan rekannya, Yalucang yang kini tak berani lagi menangkis golok secara berdepan. Takut senjatanya bakal rompal atau putus, padahal roda di langannya itu adalah senjata yang terbuat dari bahan pilihan, mampu menerima bacokan pedang setajam apa pun. Tapi bahwa senjatanya itu rusak dibabat Golok Maut dan tentu saja ia harus berhati hati agar tidak kehilangan senjata maka tiga kakek iblis ini bergerak silih berganti untuk menyerang dari tempat yang berbeda beda, mergelilingi Golok Maut tapi lawan dapat mengimbangi.

Kaget dan terbelalaklah mereka bertiga. Biasanya, satu dari mereka maju siapa pun dapat dirobohkan. Apalagi bertiga. Tapi bahwa Golok Maut ini dapat bertahan dan mereka bahkan harus berhati hati menghadapi senjata di tangan lawan akhirnya Pek mo ko maupun lainnya marah bukan main, tak tahu bahwa Golok Maut pun juga marah seperti mereka. Golok maut di tangannya belum mendapat korban lagi dan tokoh bercaping itu menggeram. Dan ketika satu saat Hek mo ko melancarkan Hek see king dan Pek mo ko menggerakkan sisa tongkat buntungnya maka kakek Yalucang tiba tiba melepas roda gergajinya menghantam kepala si Golok Maut.

“Siut wir dess!”

Golok Maut terhuyung. Roda yang dilepas Yalucang mengenai pundaknya, tongkat buntung menyambar lewat dan Hek see kang menyerempet tubuhnya. Dia tak sempat menangkis semuanya itu karena serangan lawan dilakukan hampir berbareng, dan semuanya tentu saja berbahaya. Dan ketika Golok Maut terhuyung dan berkilat marah maka Yalucang tertawa bergelak menyambar roda gergajinya kembali.

“Ha ha, desak terus, Mo ko. Lawan kita rupanya lelah!”

Mo ko kakak beradik mengangguk. Mereka juga melihat begitu, Golok Maut tampak kendor dan lamban, hal yang tentu saja menggirangkan mereka dan bertiga mareka menyerang lagi. Dan ketika Golok Maut terhuyung sana sini dan menggigil seolah tak kuat menahan beban maka sebuah pukulan dan gebukan mengenai tubuhnya lagi.

“Plak dess!”

Golok Maut terpelanting. Hek mo ko tertawa bergelak oleh hasil pukulannya itu, mendesak dan berteriak pada suhengnya agar menekan lebih berat. Pengawal di bawah membelalakkan matanya dan perwira serta panglima pun tampak tegang. Mereka menyaksikan pertandingan di atas itu. Dan ketika satu saat Golok Maut kembali terpelanting dan terguling di atas genteng maka Hek mo ko berseru menubruk lawannya itu.

“Heh heh, sekarang kau roboh, Golok Maut. Mampuslah!”

Golok Maut mengeluarkan pandangan aneh. Hek mo ko menubruk dan menggerakkan tongkat rantainya, yang juga buntung. Tapi ketika iblis itu menubruk dan Golok Maut berseru keras mendadak dia melejit dan tongkat serta pukulan tangan kiri dipapak sinar menyilaukan, gerakannya cepat sekali dan Hek mo ko kaget. Apa yang ditunjukkan lawannya ini bukan lagi gerakan lamban yang kehabisan tenaga melainkan sebuah gerakan cepat yang luar biasa prima, tentu saja dia terkejut dan Hek mo ko seketika sadar bahwa lawan kiranya berpura pura. Golok Maut, yang tampak kendor dan seolah kehabisan tenaga itu, ternyata memancing mereka agar mereka lengah. Dan begitu golok menyambar dan tongkat serta pukulan disambut senjata menyilaukan itu tiba tiba Hek mo ko berteriak keras menyadari bahaya, tak mungkin harus menangkis karena sudah terbukti berkali kali bahwa senjata apapun bakal putus disambar senjata di tangan si Golok Maut itu.

Maka begitu menyadari bahaya dan tongkat serta pukulannya disambut sinar menyilaukun mendadak Hek mo ko berteriak pada suheng dan rekannya agar maju membantu melepas tongkat dan iblis ini menarik pukulannya, hal yang dilakukan dengan muka pucat. Maklum, keadaan berlangsung demikian cepat dan dia ragu apakah perbuatannya itu berhasil. Dan ketika benar saja tongkat dipapas buntung dan pukulan Hek mo ko tak dapat ditarik sepenuhnya maka sinar menyilaukan itu masih membabat tangannya dan Hek mo ko membanting tubuh bergulingan ketika lima jarinya putus, dipapas senjata di tangan si Golok Maui itu.

“Augh cras!”

Lima jari beterbangan di atas genteng. Golok Maut, yang untuk pertama kali mendapat korban tiba tiba tersenyum puas. Lima jari Hek mo ko yang bergelindingan di atas genteng akhirnya jatuh ke tanah, mengejutkan para perwira dan pengawal yang tersentak. Hek mo ko sendiri menjerit dan melempar tubuh bergulingan, menyentak suhengnya dan Yalucang. Kejadian itu berlangsung luar biasa cepat dan dua orang ini tertegun. Tapi ketika Golok Maut tersenyum puas dan mereka berkelebat ke depan tiba tiba Pek mo ko melepas tongkatnya ke punggung Golok Maut, menyambar tanpa suara dan saat itu juga kakek tinggi besar Yalucang juga melepas sepasang rodanya. Dua orang ini masih menggerakkan kedua lengannya menghantam punggung, melakukan pukulan jarak jauh, menutupi suara tongkat dan roda yang bergerak di bawah.

Dan karena Golok Maut masih tersenyum gembira oleh hasil pertamanya dan kurang waspada terhadap semua serangan ini maka yang didengar hanyalah dua pukulan jarak jauh yang dilancarkan lawan, membalik dan menggerakkan tangan kiri. Tapi begitu pukulan beradu dan tongkat serta roda kini menyambar perutnya maka Golok Maut tampak terkejut ketika melihat tiga senjata itu, yang tadi menyambar punggung.

“Des des dess!” Golok Maut terlempar. Pukulan Yalucang dan Pek mo ko berhasil ditangkis, tapi tongkat dan roda yang menghantam perutnya tiba tiba membuat si Golok Maut ingin muntah, cepat mengerahkan sinkangnya dan dia terbanting bergulingan di atas genteng. Saat itu Yalucang menggeram dan berkelebat mengejar, ilmu Hwee kang, Semburan Api tiba tiba dikeluarkan. Kakek tinggi besar itu marah karena Golok Maut masih dapat bertahan dari semua serangan mereka. Maka begitu Pek mo ko melengking tinggi dan sudah mengejar lawannya dia pun tiba tiba membuka mulut nya dan segumpal lidah api menyembur dari mulut kakek tinggi besar ini.

“Wushh!”

Api itu sendiri mendahului si kakek tinggi besar Yalucang. Di sebelah kirinya menyambar pula bayangan Pek mo ko yang melepas pukulan jarak jauh, Golok Maut sedang bergulingan dan tentu saja tak dapat mengelak. Dan ketika pukulan serta semburan api menghantam tubuhnya dan pakaiannya terjilat hangus tiba tiba si Golok Maut berteriak tertahan karena terbakar.

“Aih bluk!”

Golok Maut terbanting di tanah. Dalam ketinggian begitu rupa diserang dan didesak lawan memang sulit baginya untuk menghindar. Hantaman tongkat dan roda gergaji diam diam melukai isi perutnya, itulah yang menyebabkan Golok Maut merintih dan menahan sakit.

Betapapun, Pek mo ko dan Yalucang adalah tokoh tokoh berkepandaian tinggi yang sinkangnya sudah hebat. Serangan curang dengan roda dan tongkat tadi tak diduga, mereka menyembunyikan dua serangan itu dengrn pukulan jarak jauh. Maka begitu Yalucang mengeluarkan ilmu Apinya dan kini pakaiannya terbakar muka Golok Maut panik menggilas tanah, bergulingan memadamkan api namun dia lupa bahwa saat itu dia berada di bawah. Para perwira dan panglima sudah lama menantinya di situ. Maka begitu dia terbanting ke tanah dan bergulingan memadamkan api maka para perwira dan panglima berkelebat menggerakkan senjata mereka.

“Bunuh Golok Maut.....!”

Pedang dan tombak serta panah berhamburan menuju tubuh si Golok Maut. Lelaki bercaping ini kaget dan sadar, tiba tiba mengeluarkan seruan keras dan meloncat bangun. Api tinggal sedikit saja membakar pundaknya, tak dihiraukan dan menyambut hujan senjata itu. Dan ketika dia membentak dan menggerakkan tangan ke kiri kanan tiba tiba hujan senjata bertemu cahaya menyilaukan namun di saat itu pula Pek mo ko dan Yalucang melayang turun, membokong dari belakang.

“Crak des dess!”

Para perwira dan panglima terpekik. Senjata mereka putus dibabat si Golok Maut yang menerima juga hujan senjata mereka, mental dan membalik karena Golok Maut telah melidulungi dirinya dengan sinkang. Tapi begitu mereka terlempar dan tujuh diantaranya mengaduh aduh karena tangan atau kaki mereka dibacok putus maka Golok Maut sendiri terpelanting mendapat bokongan curang di belakang, tembus kekebalannya oleh pukulan Yalucang dan Pek mo ko, yang tadi menghantam dengan sepenuh bagian.

Dan ketika Yalucang tertawa menggeram dan menyemburkan lagi Ilmu Apinya maka Golok Maut kembali terbakar dan bergulingan menggigit bibir, memadamkan api namun para pengawal dan lain lain kini bergerak menyerang, membentak dan kembali hujan tombak atau pedang menyambar tubuhnya. Pek mo ko dan Yalucang menunggangi dengan serangan serangan curang mereka, membiarkan Golok Maut membabat pengawal tapi dengan leluasa pukulan mereka mengenai lawan. Tentu saja hal itu merepotkan Golok Maut. Dan ketika tokoh ini mengeluh dan merintih serta kebingungan memadamkan api maka sebuah pukulan Pek mo ko akhirnya mendarat lagi di punggungnya.

“Dess!”

Golok Maut terguncang pukulan berat. Banjir darah sudah terjadi di situ, sinar atau cahaya menyilaukan di tangannya sudah menghirup darah puluhan pengawal juga perwira dan seorang panglima yang buntung kedua kakinya dibabat golok maut yang tetap putih bersih itu, sedikit pun tak bernoda darah. Maklnm, begitu darah melekat tiba tiba golok maut itu menghisap, seakan lintah atau besi sembrani tampak semacam kepulan uap putih membayang di tubuh golok itu, yang menyambar nyambar dan dapat dilihat si kakek tinggi besar Yalucang, yang sejak tadi tertegun dan ngeri oleh golok itu, yang disebutnya golok penghisap darah. Dan ketika Golok Maut kembali bergulingan dan merintih menerima pukulan Pek mo ko tiba tiba Hek mo ko, yang sudah membalut lukanya dan berteriak marah tiba tiba meluncur dari atas genteng dan ikut mengeroyok.

“Bunuh jahanam ini, suheng. Bunuh!”

Golok Maut berobah. Sekarang dari mana-mana muncul pasukan pengawal, hiruk pikuk dan semua keributan itu telah mengguncangkan istana. Semua bergerak dan menuju ke gedung Coa ongya. Di sinilah Golok Maut mengamuk dan membuat banjir darah, tak kurang dari tujuh puluh orang telah terkapar di tanah, ada yang luka berat namun sebagian besar mati. Mereka tewas oleh berkelebatnya golok maut di tangan laki laki bercaping itu. Dan ketika dari segala penjuru tempat itu telah di kepung dan Golok Maut berkali kali menerima hantaman atau pukulan curang dari Pek mo ko maupun Yalucang akhirnya laki laki ini sibuk dan semakin repot setelah Hek mo ko juga datang, mempergunakan tangan kirinya dan meskipun terluka namun iblis muka hitam itu masih dapat membahayakan.

Hek mo ko menggeram dan pandang matanya penuh kebencian. Sama seperti Yalucang atau suhengnya iblis ini melakukan serangan dari belakang, mengorbankan pengawal atau pasukan dan tentu saja dengan empuk pukulan pukulannya mendarat di tubuh Galok Maut itu. Dan karena tiga iblis ini benar benar curang dan mereka tampaknya tak perduli berapa banyak pengawal dibantai Golok Maut asal pukulan atau serangan mereka dapat membuat lawan terhuyung dan terbanting akhirnya Golok Maut melengking tinggi dan berjungkir balik. Saat itu tak mungkin dia menghadapi keroyokan demikian banyak orang. Pengawal yang roboh segera digantikan pengawal yang lain, tewas satu maju sepuluh, tewas sepuluh maju seratus!

Dan karena Pek mo ko serta Yaluceng atau Hek mo ko semakin hebat melepas pukulan akhirnya Golok Maut berjungkir balik tinggi di udara, membabat serta menghindari serangan serangan tiga orang lawan utamanya itu. Mereka jauh lebih berbahaya dibanding pengawal. Dan begitu dia berjungkir balik dan bebas dari semua serangan tiba tiba Golok Maut meneruskan gerakannya menuju genteng, berkelebat dan sudah berjumpalitan di situ. Dan ketika lawan terkejut dan dengan melihat gerkannya tiba tiba Golok Maut melarikan diri.

“Pek mo ko biar lain kali saja aku datang. Kutitipkan nyuwa kalian beberapa bulan dulu!”

“Keparat!” Pek mo ko marah. “Jangan lari, Golok Maut. Tunggu” dan Pek mo ko yang sudah berkebat dan berjungkir balik ke atas genteng akhirnya diikuti sutenya dan juga si kakek tinggi besar Yaluceng, tentu saja tak mau membiarkan lawan melarikan diri setelah membunuh bunuhi begitu banyak orang. Golok Maut telah menyebar maut dan mereka tak menduga bahwa Golok Maut akan melarikan diri lewat atas, segera membentak menyuruh pasukan panah melepas panah mereka dan segera berhamburan ratusan panah ke atas genteng.

Golok Maut menangkis namun beberapa panah menancap di tubuhnya. Kiranya luka di perut sudah mengurangi kekuatan Golok Maut ini dan sinkangnya tak cukup melindungi tubuh. Itulah sebabnya kenapa dia buru buru melarikan diri, kiranya sudah mengukur bahwa dengan adanya tiga lawan tangguh di situ tak mungkin dia menang. Yalucang dan Pek mo ko licik, mereka mengorbankan pengawal dan membiarkan pukulan pukulan mereka mendarat di tubuhnya. Tentu saja kian lama kian hebat dan lama lama Golok Maut ini tak tahan. Kalau perutnya tidak terluka oleh sambaran roda dan tongkat tadi barangkali dia masih dapat bertahan. Tapi kali ini lain. Dia harus mengobati lukanya itu dulu dan tak boleh menghabiskan tenaga. Dan ketika tiga batang panah menancap di tubuhnya dan Golok Maut mengeluh tapi tetap meneruskan larinya mendadak dia sudah berjungkir balik dan melewati sebuah wuwungan paling tinggi.

“Wut!” Golok Maut lenyap di depan. Laki laki bercaping ini mencari tempat gelap, mendengar teriakan teriakan dari bawah namun dia sudah menuju bagian timur istana. Pek mo ko dan dua teman nya mengejar dan mereka itu dapat membayangi. Maklumlah, mereka orang orang yang berkepandaian tinggi dan juga mengenal daerah istana, tidak seperti Golok Maut yang baru pertama kali itu datang. Dan ketika Golok Maut terlihat lagi dan mereka membentak menyuruh lawannya berhenti mendadak Pek mo ko dan Yalucang samu sama mengeluarkan senjata rahasia.

“Robohlah, Golok Maut. Berhenti!”

Belasan jarum hitam dan pelor baja menyambar Golok Maut. Laki laki itu terpaksa menangkis dan berhenti, dia sudah tiba di dekat tembok dan siap meloncat. Terganggu serangan gelap ini dan tentu saja menggeram. Tapi begitu dia menangkis dan meruntuhkan senjata senjata rahasia ini maka Pek mo ko dan Yalucang sudah tiba di tempat itu, langsung melepas pukulan jarak jauh.

“Des des!”

Golok Maut terpelanting, berkurang daya tahannya dan tampaklah bahwa dia lelah. Lawan memburu dan Golok Maut bingung, Yalucang tiba tiba mengeluarkan bentakannya dan Semburan Api dari mulutnya menyambar, dielak tapi Pek mo ko ini lepas Pek see kang. Dan ketika dia terbanting dan terguling guling lagi maka Golok Maut memaki dan meloncat berjungkir balik, masih bisa melarikan diri.

“Mo ko, dan kau kakek keparat. Terimalah ini...... wut wut” Belasan batu kecil ditendang si Golok Maut, merupakan senjata senjata rahasia yang aneh dan menyambar Mo ko maupun temannya, ditangkis namun Golok Maut sudah hinggap di tembok. Memang serangan itu hanya untuk memberi kesempatan padanya menyingkir, berkelebat dan berjungkir balik ke tembok itu. Tapi baru dia menginjakkan kakinya di sini sekonyong konyong Hek mo ko muncul dan melontar sebuah jaring.

“Jrt!” Golok Maut terkejut. Saat itu dia mau melayang turun, siap kabur. Kakinya tiba tiba terjerat dan sebuah jaring penuh mata kaitan menggubat kakinya, tak ayal laki laki ini terbelalak dan kaget. Dan ketika dia membungkuk dan membacok jaring itu maka Hek mo ko berseru keras dan jaring jaring lain sudah dilontarkan berturut turut oleh para perwira yang bersiap di bawah.

“Ha ha, terperangkap kau, Golok Maut. Robohlah!”

Golok Maut kaget sekali. Di atas kepalanya tiba tiba berhaburan belasan jaring yang kuat dari baja, kaitannya seperti pancing dan siapa terjebak bakal luka luka kulitnya. Dan ketika dia membentak dan mengelak atau membacok putus jaring jaring itu maka Pek mo ko dan Yaluceng sudah kembali tiba di situ dan melontar jaring pula.

“Ha ha, benar. Golok Maut. Kau robohlah!”

Golok Maut sibuk. Di atas tembok ia jadi kelabakan, menangkis dan membabat semua jaring itu, bahkan jaring yang dilontar oleh Pek mo ko dan temannya pula, si kakek tinggi besar Yalucang. Dan ketika ia membentak dan marah bukan main mendadak tanpa disangka tembok yang diinjak runtuh, merekah dan dari kiri serta kanan menyambar tombak tombak rahasia yang di pasang dari dalam. Kiranya dia menginjak sebuah tembok rahasia yang penuh jebakan, tembok yang berhubungan dengan kamar Coa ongya! Dan persis dia berjungkir balik dan turun ke bawah maka sesosok bayangan muncul samar samar memberi perintah, hal yang menguntungkan Golok Maut,

“Mo ko, tangkap hidup hidup si Golok Maut itu. Jangan bunuh!”

Dan ketika Mo ko dan yang lain terkejut dan heran maka suara itu berseru kembali, “Bawa dia ke Ui tien (Gedung Kuning), giring dan tangkap di sana!” dan ketika Mo ko terbahak dan girang berseru keras tiba tiba bersama rekannya dia membentak,

“Nah, ongya minta kau ditangkap hidup hidup. Golok Maut. Menyerahlah kalau tak ingin di tangkap seperti monyet!”

“Hm!” Golok Maut tiba tiba bangkit semangatnya. “Dia itu Coa ongya? Anjing yang memberi makan kalian setiap hari?”

“Keparat, jaga mulutmu, Golok Maut. Kau manusiu tak tahu diri yang tak mengenal keadaan ........sial!” dan Mo ko yang membentak serta menyuruh yang lain menyerang lagi lalu mengepung dan memaksa Golok Maut menuju ke timur pagar, memerintah pengawal atau perwira agar tidak berada di situ. Jadi memberi tempat kosong bagi Golok Maut untuk berlari ke sini, menghindar dan sibuk menangkis serangan dari kiri dan kanan serta depan, hal yang membuat Golok Maut mengerutkan kening dan tentu saja curiga. Coa ongya telah memberi perintah agar dia digiring ke Gedung Kuning, tempat yang belum dikenal tapi pasti ada apa apa di sana, jelas perangkap. Dan ketika jaring serta pukulan pukulan Mo ko juga kian mendesak dan Golok Maut tak mau ke bagian yang kosong mendadak laki laki ini merogoh sesuatu di kantung bajunya. Dan begitu dia mencabut serta melempar beberapa benda hitam maka meledaklah empat buah granat di tempat itu.

“Hei,.....dar dar dar!”

Mo ko dan kakek tinggi besar Yalucang berjungkir balik. Mereka itu tak menyangka si Golok Maut memiliki alat peledak, para pengawal dan perwira yang tak menduga itu segera menjerit berpelantingan. Mereka roboh dan sembilan diantaranya tewas, langsung menjadi korban. Dan ketika keadaan menjadi panik dan juga gelap maka Golok Maut melempar lagi beberapa buah granat tangannya, menendang batu atau apa saja untuk memadamkan pula lampu lampu di situ. Tak ayal keadaan menjadi gelap gulita dan kacau, para pengawal berteriak teriak dan Mo ko serta kakek Yalucang juga tak berani mendekati Golok Maut. Mereka memaki maki dan mengumpat tak keruan, marah bukan main. Dan ketika semuanya dibentak agar memasang lagi lampu lampu di situ ternyata Golok Maut sudah menghilang dan entah kemana.

“Bangsat, kau licik dan pengecut. Golok Maut. Kau keparat jahanam!”

Namun Golok Maut tak memberi jawaban. Di dalam kekacauan dan kekalutan tadi Golok Maut itu telah pergi. Granat tangannya, yang baru pertama kali itu digunakan dan terpaksa dilemparkan ternyata menyelamatkannya. Pek mo ko dan sutenya mengumpat caci dan segera berputar bahkan berkelebat keluar kota. Tapi ketika Golok Maut tak ditemukan lagi dan dua orang ini memaki maki maka Yalucang berkelebat di situ dan berkata bahwa mereka dipanggil Coa ongya.

“Kita bertiga diminta datang. Harap kalian kembali!”

Mo ko kakak beradik saling pandang. Mereka tahu apa yang akan diterima, tentu kemarahan majikan. Dan ketika benar saja di sana Coa ongya memaki dan mengutuk mereka maka pangeran itu marah marah membodoh bodohkan mereka.

“Lihat, apa jadinya semua ini. Apa gunanya kalian melindungi istana? Hampir duaratus orang luka dan tewas, Mo ko. Dan kalian tak dapat menangkap satu orang saja! Bagaimana tanggung jawab kalian dengan semuanya ini? Apa yang harus kukatakan pada sri baginda!”

“Maaf,” Pek mo ko menunduk. “Hamba mengaku salah, ongya. Tapi Golok Maut itu curang dan licik. Dia kabur meledakkan granat.”

“Dan hamba kehilangan lima jari hamba, ong ya. Hamba bersumpah akan mencari dan membunuh si Golok Maut itu!”

“Omong kosong! Bertiga kalian tak marapu, Hek mo ko. Bagaimana akan menangkap dan membunuh lawan kalian itu? Kalau kalian dapat menggiring dan mendesaknya ke Gedung Kuning tentu aku sendiri dapat menangkap. Tapi kalian gagal. Kalian tak berpikir dan memaksa aku memberi perintah. Kalian bodoh dan tolol. Tenaga kalian sungguh tak dapat diharapkan!” dan ketika pangeran marah marah dan akhirnya dipanggil kaisar maka ganti pangeran itu mendapat teguran.

“Siapa itu Golok Maut? Kenapa mencarimu?”

“Maaf,” pangeran Coa tertegun. “Aku tak mengerti, kanda kaisar. Tapi katanya dia akan membunuh bunuhi semua orang ber she Coa dan Ci. Aku tak tahu siapa Golok Maut ini kecuali dia tentu orang gila!”

“Dan empat pembantumu, ke mana yang seorang?”

Pangeran terkejut. “Tiat Kak kusuruh mencari Golok Maut ini, kanda kaisar. Tapi belum apa apa ternyata orang gila itu datang!”