GOLOK MAUT
JILID 01
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
GIAM-TO (Golok Maut) dikenal orang pada jamannya Lima Dinasti. Waktu itu Tiongkok Utara kacau, kerajaan Tang baru saja tumbang. Dan ketika kekalutan serta pertikaian masih mendominir suasana maka daerah ini seakan neraka bagi kebanyakan orang.

Li Ko Yung, satu di antara yang bertikai waktu itu berhasil menguasai Honan dan Shan si. Dua propinsi ini jatuh di bawah kekuasaan laki-laki itu. Namun karena di mana-mana terjadi peperangan dan mulut tak pernah diam untuk memaki atau mengutuk maka dua wilayah ini pun masih tak sepenuhnya tenang.

Ho-nan, yang terletak di selatan Shan-si berbatasan dengan Sungai Kuning. Sungai ini membelah dua wilayah itu, dari barat ke timur, tentu saja merupakan daerah penting karena sungai itu merupakan penyeberangan bagi banyak orang, termasuk serdadu atau pasukan dari pihak penguasa.

Dan karena orang berlalu lalang di sungai itu dan banyak di antaranya yang menyeberang pulang-pergi maka daerah ini merupakan daerah rawan karena sering terjadi huru-hara di situ, sering tak dapat diatasi pasukan dan timbullah pertumpahan darah, apalagi kalau orang kang-ouw (dunia persilatan) ikut bergerak, orang-orang berkepandaian tinggi dan sering mereka datang atau pergi seperti siluman. Dan ketika semuanya itu ditambah dengan blok-blokan antara pendukung yang satu dengan yang lain dalam membela junjungan masing-masing maka daerah ini termasuk rawan dan gawat.

Dan hari itu kejadian itu muncul di permukaan. Mula-mula Sungai Kuning beriak perlahan. airnya mengalir tenang dan di dermaga pelabuhan terdapat kesibukan penumpang, naik turunnya barang atau orang. Dan ketika matahari semakin tinggi dan panas juga semakin menyengat, tiba-tiba dari barat sungai meluncur sebuah perahu yang ditumpangi enam orang laki-laki.

"Hei, minggir.......minggir.......!"

Bentakan atau seruan kasar itu terdengar dari dalam perahu ini. Perahu tersebut melintas dengan cepat, tidak menyeberang melainkan mengikuti aliran sungai, ke timur, tentu saja memotong beberapa perahu yang akan menyeberang. Tiga perahu dari selatan ke utara hampir terbalik, penumpangnya menjerit-jerit dan enam orang di atas perahu pertama tak perduli. Mereka seakan raja di situ, Dan ketika perahu terus meluncur namun dari utara muncul dua perahu kecil yang hendak ke dermaga. tiba-tiba enam orang di atas perahu itu melotot.

"He, minggir. Atau kalian kutabrak mampus!"

Dua perahu itu, yang hendak menepi ke selatan tiba-tiba gugup. Penumpangnya adalah seorang kakek yang mempergunakan dua buah dayung, hendak menyibak dan perahu sudah hampir bertumbukan. Si kakek rupanya tak sanggup mengendalikan perahunya karena air tiba-tiba berpusar. perahu terputar dan tiba-tiba tanpa dapat dicegah lagi perahu kakek pertama bertumbukan dengan peiahu enam orang itu. Dan ketika suara keras mengejutkan semuanya dan enam orang di atas perahu itu memaki dan membentak. mendadak perahu kedua, yang berada di sebelah perahu si kakek juga menumbuk dan menghantam dari belakang.

"Dukk!"

Perahu-perahu itu tak keruan. Laju perahu yang ditumpangi enam orang Iaki2 ini otomatis berhenti, perahu mereka terputar dan seolah dikeroyok dari dua arah. Satu dari kakek di depan sedang yang lain dari perahu yang menumbuk terakhir itu. Dan ketika mereka berteriak dan mengumpat caci mendadak perahu bocor!

"Hei, awas! Jahanam keparat!" enam lelaki itu mencak-mencak. Perahu mereka miring dan sebentar kemudian dimasuki air. Dan ketika kakek di depan terbelalak dan pucat mehhat itu mendadak perahu enam lelaki itu terguling dan tenggelam.

"Bedebah, jahanam keparat mereka ini!" enam orang di atat perahu membentak meloncat dan tentu saja memaki-maki perahu yang menumbuk. Tiga yang pertama meloncat di perahu si kakek, yang lain ke perahu di belakang. Dan ketika mereka membentak dan menyambar kakek itu maka bagai harimau buas mereka mencengkeram dan melempar kakek itu ke sungai.

"Byurrr....!"

Kakek penumpang perahu ini melolong-lolong. Dengan cepat ia timbul tenggelam di Sungai Kuning. Tak dapat berenang karena satu tangannya patah, tadi dipuntir oleh lelaki kejam itu. Dan ketika kakek ini menjerit dan hanyut di tengah sungai maka terdengar suara "byur-byur" tiga kali yang membuat tiga lelaki pertama menengok, merasa aneh kenapa tiga kali terdengar suara tercebur. Di perahu kedua itu pun tinggal seorang kakek lain. Dan ketika mereka terbelalak dan melihat siapa yang terlempar mendadak ketiganya, mendelong dan kaget...

"Hei, Ci-ko........!"

Namun suara mereka tak dapat menolong yang terlempar. Yang tercebur itu adalah tiga teman mereka yang lain, yang tadi berlompatan ke perahu di belakang. Namun begitu mereka sadar dan coba bergerak ternyata tiga teman mereka itu telah tewas dengan leher tergorok panjang, lukanya menganga dan darah tiba-tiba membuat air sungai merah gelap. Mengerikan sekali. Dan ketika tiga orang itu terkejut dan menoleh ke perahu kedua maka samar-samar, di balik gubuk perahu tampak sebuah caping, seseorang yang sedang duduk melonjorkan kaki dengan cara santai.

"Keparat!" tiga orang itu membentak, "Tangkap dan seret dia, A-cong. Cincang!" tiga orang itu sudah berloncatan, naik ke perahu di belakang dan meninggalkan perahu si kakek yang sudah hanyut entah ke mana.

Kakek tua itu akhirnya pingsan dan kemungkinan maut menjemputnya, sungai tiba-tiba menjadi deras dan tiga orang ini sudah berlompatan ke perahu baru. Namun ketika mereka bergerak dan mencabut senjata sambil menyerang tiba-tiba orang di seberang mendengar pekik tiga kali disusul terlemparnya dua di antara tiga laki laki itu, jatuh dan terbanting di sungai dan darah pun muncrat memenuhi permukaan air. Orang di seberang tak tahu apa yang terjadi namun mereka mcrasa ngeri. Dua tubuh yang terlempar itu sudah tanpa kepala lagi! Dan ketika orang terakhir terjengkang dan terbanting di geladak maka orang melihat mukanya yang pucat dan lengan buntung sebatas siku.

"Golok Maut.....Golok Maut...;!" orang mendengar rintihannya, menuding-nuding namun tiba-tiba sebuah sinar berkelebat. Dan begitu sinar itu lenyap dan orang tak tahu sinar apa gerangan, maka tubuh laki-laki ini sudah terlempar dan tercebur pula, tanpa kepala!

"Byuurrr....!"

Kejadian mengerikan ini mengguncangkan banyak orang. Orang di tepian tak tahu bagaimana wajah si Golok Maut itu, mereka sendiri tak melihat gerakan seseorang kecuali berkelebatnya sinar atau cahaya itu tadi. Dan ketika mereka bengong dan menjublak dengan muka pucat maka perahu kedua ini berputar dan... meluncur menghilang menuju ke timur, disusul keceburnya si kakek kedua dan kakek ini berteriak-teriak minta tolong. Dia adalah pemilik perahu yang ditinggalkan selamat itu, hanya kakek inilah satu-satunya orang yang masih utuh jiwanya.

Dan ketika perahu yang lain berdatangan menolong dan kakek itu menjerit seperti orang kalap maka kakek ini pingsan dan tidak dapat ditanyai lagi, disadarkan namun dia berteriak-teriak. Agaknya orang tua itu mengalami shock hebat, kejadian di depan mata yang begitu mengerikan membuat kakek ini terguncang syarafnya. Dan ketika orang bertanya bagaimana wajah si Golok Maut yang tadi menumpang perahunya itu tiba-tiba kakek ini malah terkekeh-kekeh, menjadi gila.

"Heh-heh, dia cantik. Tampan tapi cantik....!"

"Eh, mana mungkin, lopek? Cantik hanya untuk perempuan, sedang tampan untuk laki-laki!"

"Ya-ya, itu tadi. Dia cantik, kakinya tampan..... dan, heh-heh......tangannya seribu.....!"

Orang tak dapat menanyai lagi. Kalau kakek itu sudah bicara seperti itu jelas pikirannya terganggu. Kakek ini gila. Dan karena omongannya sudah ngaco tak keruan dan tak mungkin orang menanyai bagaimana bentuk atau rupa si Golok Maut, maka hari itu Sungai Kuning digemparkan oleh peristiwa mengerikan ini.

Hanya dalam waktu singkat dan segebrak itu enam jiwa melayang, orang ramai membicarakan ini dan perahu yang menghilang ke timur itu sudah lenyap. Golok Maut membawa perahu itu dan orang pun ribut, pasukan keamanan dibuat bengong dan mereka tak dapat berbuat apa-apa. Tapi ketika orang membicarakan ini dan enam mayat di sungai itu sudah diangkat dan diselamatkan maka dari sudut cekungan yang lain tiba-tiba meluncur tujuh perahu mengejar si Golok Maut.

"Sst, hati-hati, awas.....!" seorang gadis berbaju hijau, yang berdiri dan memberi isyarat di perahu terdepan tampak menggerakkan telunjuk di depan mulutnya.

Enam perahu lain, yang ternyata teman-temannya mengangguk. Mereka terdiri dari dua puluh satu orang terdiri dari pria dan wanita, masing-masing perahu ditumpangi tiga orang dan setiap perahu pasti terdapat seorang wanitanya. Jadi, di perahu itu ada tujuh wanita. rata-rata gagah dan cantik, dengan gadis berbaju hijau sebagai pemimpinnya. Dan ketika perahu meluncur dan mengejar si Golok Maut yang sudah menghilang di depan maka tujuh perahu ini berlomba dan masing masing mengayuh dengan sepasang dayung, tentu saja cepat dan perahu pun seakan didorong tenaga raksasa.

Setiap perahu yang dikayuh tiga pasang lengan tampak melesat dan melaju ke depan, masing masing tak bersuara lagi dan semua wajah tampak tegang. Dan ketika mereka mempercepat gerakan dan arus sungai juga membantu luncuran perahu, akhirnya tampaklah perahu si Golok Maut itu yang terapung-apung di depan, berhenti!

"Awas, semua berpencar!"

Dua puluh orang itu mengangguk. Si Golok Maut, yang tak kelihatan orangnya kecuali perahunya tampak menanti di depan. Hal ini membuat orang tegang dan wajah-wajah itu pun tampak mengeras, tujuh wanita di atas perahu tiba-tiba mencabut pedang dan empat belas lelaki yang lain juga mencabut senjata. masing-masing bersiap dan jelas memasang kewaspadaan tinggi. Dan ketika tujuh perahu iru berpencar dan kini mereka mendekati perahu si Golok Maut dari tujuh penjuru akhirnya perahu yang berhenti dan terombang-ambing oleh arus yang deras itu sudah dikepung.

"Golok Maut!" si gadis berbaju hijau melengking. "Keluar dan menyerahlah. Kau telah membunuh enam utusan Hek liong pang (Perkumpulun Naga Hitam)!"

"Hm, siapa kalian? Kenapa membuntuti aku?" suara dari dalam perahu terdengar dingin. Tidak nampak orangnya dan orang-orang di tujuh perahu marah. Golok Maut bersembunyi di dalam gubuk perahu itu, semuanya hanya melihat ujung sebuah caping yang menyembul keluar, sedikit tapi sudah memberi tahu bahwa seseorang ada di situ. Golok Maut!! Dan ketika mereka marah mendengar pertanyaan dibalas pertanyaan akhirnya gadis berbaju hijau ini membentak,

"Kami dari Kim-liong-pang (Perkumpulan Naga Emas). Keluar dan menyerahlah untuk mempertanggungjawabkan perbuataumu!"

"Hm, kau murid ke berapa dari Kim-liong Sian li (Dewi Naga Emas)?"

"Aku murid ke delapan. Keluar dan ccpatlah menyerah!"

"Hm, terlalu rendah!!" dan perahu yang tiba tiba melejit dan bergerak melampaui perahu si gadis baju hijau mendadak sudah terbang dan meluncur lagi di depan, tadi dihentak gedrukan kaki dan tahu-tahu perahu naik tinggi, setombak di atas permukaan air dan melayang melewati tujuh perahu pengepung. Dan ketika si gadis baju hijau terkejut dan teman-temannya juga terpekik maka si Golok Maut sudah meluncur dan terbang di depan, cepat luar biasa di atas permukaan Sungai Kuning.

"Kejar! Tangkap.....!" si gadis baju hijau marah, berteriak dan bersama dua temannya sudah mendayung perahu.

Enam yang lain mengikuti dan diam-diam mereka itu kaget. Bayangkan, bagai perahu siluman saja tahu-tahu perahu yang ditumpangi si Golok Maut itu meloncat dan terbang di atas kepala mereka. Dan ketika mereka tersentak kaget dan pucat tahu tahu Golok Maut itu telah mengemudikan perahunya jauh di depan, sebentar kemudian menghilang dan mereka itu kelabakan.

Si gadis baju hijau berteriak-teriak agar mereka semua mengayuh lebih kuat, keringat segera deras membanjir dan empat belas lelaki serta enam wanita bekerja mati-matian. si gadis baju hijau sendiri menggerak-gerakkan tangannya mendorong perahu Tapi ketika mereka kehilangan jejak dan perahu si Golok Maut tak tampak lagi maka gadis baju hijau ini marah-marah dan kecewa.

"Keparat, kita gagal. Kalian terlalu lemah!!"

"Tidak, kita sudah berusaha, pek-ci (saudara kedelapan). Tapi si Golok Maut yang memang terlalu lihai!"

"Goblok, bagaimana memuji musuh? Kau seharusnya percaya diri sendiri. Kiat-lu. Golok Maut tak mungkin menang menghadapi kita sebanyak dua puluh satu orang!"

"Sudahlah, tak perlu bertengkar. Mari kita cari lagi," dan seorang yang memisah dan melerai pertengkaran itu akhirnya menyadarkan si gadis baju hijau yang membalik dan meloncat lagi di atas perahunya. Tadi dia marah-marah dan memaki di perahu temannya ini. Tapi begitu dia menginjakkan kaki dan siap menyambar dayung mendadak seorang di antara mereka berteriak,

"He, itu dia......!" dan begitu semua menoleh dan menengok tempat yang ditunjuk mendadak dua puluh satu orang ini tertegun. Perahu Golok Maut, yang tadi tak nampak dan disangka hilang tiba-tiba kelihatan di sebuah cekungan kecil, menepi. Mereka terkejut karena jarak tak begitu jauh. Tapi begitu sadar dan si gadis baju hijau memberi tanda tiba tiba semuanya mendayung dan menuju ke perahu si Golok Maut itu.

"Awas, hati-hati. Semua bersiap!"

Dua puluh orang itu mengangguk. Tanpa disuruh pun mereka sudah mencekal senjata masing-masing dengan erat, perahu meluncur dari kiri dan kanan dan sebentar kemudian mereka sudah mengepung perahu tunggal itu, mengelilinginya dari segala penjuru. Dan ketika si baju hijau membentak dan melengking menyuruh Golok Maut keluar ternyata perahu hanya bergoyang-goyang dan tak ada jawaban.

"Kita periksa!" si baju hijau meloncat berani, berkelebat dari sudah di atas perahu tunggal itu. Tapi ketika dia memeriksa dan membentak ke dalam ternyata penumpangnya tak ada. Perahu itu kosong!

"Keparat, Golok Maut mempermainkan kita!" si baju hijau meradang, mukanya merah dan segera dia melompat ke perahu sendiri. Tapi baru kaki menginjak lantai mendadak seorang di antara mereka kembali berseru,

"He, dia di atas pohon....!"

Semua melengak. Dua puluh pasang mata menengok dan melihat ke tempat yang tinggi, sebatang pohon tua yang daunnya gundul. Pohon ini meranggas dan tampak si Golok Maut yang bercaping itu ongkang-ongkang kaki di sana, mukanya ditutupi caping dan orang tak tahu apakah dia tua atau muda, duduk bersandar setengah tidur. Kakinya, yang ditopang diatas kaki yang lain menunjukkan sikapnya yang santai. Dalam ketinggian begitu rupa Golok Maut itu hanya ditahan oleh sebuah ranting kecil, tak lebih dari jari telunjuk! Dan ketika semua bengong dan terbelalak memandang ke atas mendadak si baju hijau berkelebat dan meloncat keluar.

"Kejar! Kepung.......!"

Semua berkelebatan. Mereka telah meninggalkan perahu masing-masing untuk menangkap si Golok Maut itu, tapi ketika mereka tiba di sana tiba-tiba manusia misterius itu hilang.

"Tak ada!" si baju hijau tertegun. "Kemana dia? Keparat, kita dipermainkan, Kiat-lu. Coba berpencar dan cari iblis itu!" si baju hijau bergerak, menggapai ke arah enam temannya dan mereka berputar mengelilingi pohon, dalam radius puluhan tombak. Dan ketika temannya yang lain juga berpencar dan mencari mengelilingi tempat itu, maka si baju hijau tertegun melihat Golok Maut berlenggang jauh di depan, memasuki hutan!

"He, dia di sana!" si baju hijau menuding, marah dan berlari cepat dan segera dia terbang mengejar lawannya itu. Enam temannya mengikuti dan segera mereka bersuitan memberi tanda pada yang lain. Dua puluh bayangan tiba-tiba berkelebatan dari kiri dan kanan. Dan ketika mereka memaki dan membentak bayangan itu maka si baju hijau tiba-tiba menyambitkan jarum-jarum halus menyuruh lawan berhenti.

"Golok Maut, berhenti......wut-wut-wut!" dan jarum-jarum halus yang menyambar serta menyerang pungguug Golok Maut.

Tiba-tiba disusul oleh yang lain yang menghamburkan senjata-senjata kecil, pisau atau paku bintang dan Golok Maut mendengus. Semua senjata itu dibiarkan mendekati punggungnya. Tapi begitu pisau dan jarum-jarum halus hampir mengena punggung mendadak Golok Maut ini menggerakkan lengan ke belakang dan... semua seujata rahasia itu membalik, dikebut serangkum tenaga dahsyat dan segera terdengar jerit atau pekik mengerikan. Si baju hijau tertembus seluruh wajahnya oleh semua jarum-jarumnya sendiri, amblas memasuki kulit dan daging. Dan ketika yang lain juga roboh dan terbanting oleh senjata-senjata rahasianya sendiri maka dua puluh satu orang itu tumpang-tindih dan...... Golok Maut pun melanjutkan perjalanannya dengan santai.

"Keparat..... aduh, keparat.....!"

Golok Maut tak menghiraukan. Dia melenggang dan akhirnya lenyap di dalam hutan, capingnya ditekan dan wajah itu pun semakin tertutup. Dan ketika dua puluh satu orang itu merintih dan mengaduh memaki-maki tak keruan maka anak buah Kim-Liong-pang itu terlantar dan akhirnya pingsan. Yang luka berat akhirnya meninggal, tewas, termasuk si baju hijau yang mukanya tertembus hancur itu, penuh dengan jarum-jarum miliknya sendiri. Dan ketika suasana menjadi mengerikan karena tubuh yang malang-melintang itu tak ada yang mengurus, mendadak dari dalam hutan terdengar geraman dan raung binatang buas, disusul munculnya harimau dan singa-singa yang lapar.

Entah bagaimana tiba-tiba mereka itu berlari dan seolah digebah orang dari dalam, kebetulan menuju ke tempat kejadian ini. Dan ketika yang hidup merintih dan melihat itu tiba-tiba harimau dan singa-singa yang lapar ini menubruk dan menerkam mereka, dilawan tapi anak buah Kim-Liong-pang ini sudah luka-luka. Mereka menjerit dan berteriak ketika kuku kuku yang tajam menancap ditubuh mereka, mencabik dan mengoyak. Dan karena mereka sudah dilumpuhkan oleh Golok Maut dan sebagian tak dapat bangun lagi maka orang-orang itu pun menjadi mangsa binatang binatang buas ini, satu persatu roboh dan terkapar mandi darah. Mereka sudah ketakutan dari ngeri oleh munculnya hewan-hewan buas itu di saat mereka terluka.

Dan begitu hewan-hewan ganas itu menyerang dan merobek mereka akhirnya dua puluh satu anggauta Kim-Liong-Pang ini tewas dan binasa, potongan kaki dan lengan tercecer di mana mana dan pemandangan itu sungguh mengerikan. Tubuh mereka menjadi ajang perebutan dan makanan binatang-binatang buas itu. Dan ketika semuanya berlalu dan harimau serta singa-singa lapar itu telah pergi dengan mulut berlumuran darah maka dua puluh satu orang ini habis dibunuh Golok Maut, melalui hewan-hewan buas yang tadi digiring dan digebahnya!

"Apa? Mereka semua tewas? Kau tidak salah?"

"Tidak.... benar, pangcu. Benar... Mereka itu dibunuh Golok Maut, dua puluh anggauta Kim-liong-pang bahkan dijadikannya santapan harimau!"

"Kau tidak keliru?"

"Tidak pangcu, tak mungkin! Aku menontonnya dari jauh dan...."

"Plak-dess!" orang itu terlempar. "Dan kau berani datang memberi laporan, Lo-si. Kau tak membantu teman-temanmu dan menghadapi si Golok Maut itu. Keparat!" dan Lo-si yang dihajar seorang kakek tinggi besar yang marah-marah dan gusar memaki pelapor itu akhirnya membuat jatuh bangun si pelapor ini, seorang laki-laki tinggi kurus yang tentu saja pucat dan seketika mengaduh aduh.

Dia berteriak dan dijadikan bulan bulanan pukulan kakek tinggi besar itu, Hek-liong-pangcu (ketua Naga Hitam), akhirnya terlempar dan terbanting di sudut ketika sebuah tendangan mengenai perutnya. Namun ketika kakek tinggi besar itu berkelebat dan siap mengayun tamparan ke kepala laki-laki ini mendadak seorang laki-laki berpakaian longgar berseru, mencelat.

"Pangcu, tahan. Betapapun Lo-si telah berjasa.... dukk!"

dan laki-laki itu yang terpental dan terdorong dua tindak akhirnya menyelamatkan laki-laki itu, menangkis tamparan ketuanya dan Hek-liong-pangcu mendelik. Kakek tinggi besar ini marah dan membalik, menggeram mau memaki laki-laki berpakaian longgar itu, wakilnya. Namun ketika pembantunya itu menunduk dan cepat memberi hormat maka sebuah suara yang tenang dan lembut meredakan kemarahan kakek tinggi besar ini.

"Maaf, Lo-si harus diampuni, pangcu. Tanpa dia tentu kita tak tahu kedatangan Golok Maut. Biarlah dia mengatur napasnya dan menceritakan kembali peristiwa itu. Kalau dia menghadapi Golok Maut tentu dia tak akan pulang dengan selamat!"

"Hm!" kakek ini sadar, mengeluarkan suara seperti harimau menggereng. "Kau benar, Hok-sute. Biarlah dia bercerita dan kuampuni!"

"Terima kasih...!" Lo-si, laki-laki itu menjatuhkan diri berlutut. "Ampunkan hamba, pangcu. Hamba.....hamba memang bersalah!"

"Sudahlah," laki-laki berpakaian longgar, yang disebut Hok-sute mengangkat bangun laki-laki itu. "Kau ceritakan kembali kisah itu lebih tenang, Lo-si. Jangan memburu dan atur napasmu. Kau berada di markas Hek-Liong-pang!"

"Baik....baik, hu-pangcu (wakil ketua).....aku.....aku akan menceritakannya kembali!" laki-laki itu mengatur napasnya, memang tadi dia memburu dan seakan dikejar setan. Peristiwa yang dilihatnya di depan mata itu sungguh mengerikan, terutama anggauta-anggauta Kim-liong-pang yang tewas dijadikan santapan harimau.

Si Golok Maut yang menggebah dan menggiring hewan-hewan buas itu luar biasa dinginnya. Tokoh yang mengerikan itu solah tak memiliki perasaan, beku. Enak saja membacok putus enam anggauta Hek liong-pang dan memberikan santapan pada binatang-binatang buas itu dua puluh satu orang anggauta Kim-liong pang, termasuk tujuh wanitanya yang rata-rata gagah dan cantik itu. Dan ketika laki-laki ini menghapus keringat dinginnya dan menceritakan kejadian itu lagi didepan ketuanya maka dengan sedikit lebih terang dia dapat bercerita, mengulang dan tidak menggigil lagi meskipun masih pucat. Peristiwa itu memang mengerikan. Dan ketika sang ketua menggeram dan berkali-kali menghantam permukaan meja maka Lo-si, laki-laki ini menutup.

"Demikianlah,.. hamba kembali dan lalu melaporkan peristiwa ini, pangcu. Enam anggauta kita gagal dan tewas dibunuh Golok Maut."

"Dan dua puluh satu anggauta Kim-Liong-pang itu belum bertemu sejenak pun dengan anggauta kita?"

"Belum, pangcu. Dua puluh satu anggauta Kim-liong-pang itu rupanya menunggu di teluk tapi tak keburu jumpa. Ci-ko (kakak Ci) dibunuh Golok Maut di Sungai Kuning!"

"Hm, baiklah, sekarang kau pergi. Panggil Lo Ki Peng ke mari!"

"Baik, terima kasih, pangcu," dan laki-laki ini yang muridur dan girang mendapat ampun lalu membiarkan ketuanya berdua dengan hu pang cu, tak lama kemudian muncul seorang pemuda dan Hek-liong-pangcu menyuruh pemuda itu mendekat. Dan ketika tiga orang itu berada di dalam dan pintu ditutup maka pemuda ini ditanya. "Kau berani ke Kim-liong-pang?"

"Tentu, kenapa tidak, suhu? Teecu telah mendengar tewasnya Ci-ko tapi teecu (aku) tidak takut terhadap Golok Maut!"

"Bagus, kau pemberani, Ki Peng. Seharusnya semua anggauta seperti dirimu dan tidak seperti Lo-si. Antarkan surat ini kepada Kim-liong-pangcu (ketua Kim-liong-pang) dan beritahukan dia bahwa dua puluh satu anak muridnya dibunuh Golok Maut!" kakek tinggi besar itu menyerahkan sepucuk surat, memberikan pada si pemuda dan mereka terlibat percakapan sejenak. Hu-pangcu yang berpakaian longgar itu berkali-kali memesan agar si pemuda berhati-hati.

Dan ketika pemuda itu mengangguk dan menyatakan tak takut maka pergilah dia mengantar surat pangcunya ke markas Kim-liong-pang, tak seberapa jauh dari tempat itu dan Hek-liong-pangcu pun menunggu. Ketua Kim liong-pang, Kim-liong Sian-li, adalah suci (kakak seperguruan perempuan) kakek tinggi besar itu. Memang antara Hek-liong-pang dan Kim-liong-pang ada hubungan tali persaudaraan. Tapi ketika sehari ditunggu dan Ki Peng, murid yang diutus belum kembali juga mendadak bagai petir di siang bolong murid itu telah kembali berupa mayat, diantar seorang gadis baju ungu dari Kim-liong-pang yang terseok-seok dan berlepotan darah!

"Aduh, ampun, susiok... aku... aku bertemu Golok Maut...!" gadis baju ungu itu roboh, jatuh di depan Hek-liong-pangcu dan segera anak murid Hik-Liong-pang geger.

Mereka menjemput dan membawa gadis itu ke dalam, anak marid Kim-liong pang. Dan ketika Hek-liong-pangcu tertegun dan berdiri menjublak maka terlihatlah bahwa di punggung gadis Kim-liong-pang ini penuh tertancap jarum-jarum halus.

"Cepat, singkirkan dia!" kakek tinggi besar besar itu akhirnya sadar, menyuruh membawa pergi mayat Ki Peng dan mengurus anak murid Kim liong-pang itu.

Gadis baju ungu ini ditolong tapi terlambat. Kiranya dia kehabisan darah dan jarum halus menancapi hampir seluruh punggungnya, itulah jarum yang khas dimiliki murid-murid perempuan Kim-liong-pang, di samping paku bintang dan ketika Hek-liong-pangcu gagal menolong dan gadis itu menggelinjang sedikit tiba-tiba murid Kim liong-pang ini tewas.

"Keparat jahanam si Golok Maut itu. Bedebah!" kakek tinggi besar ini memaki-maki, kaget dan marah serta juga menyesal tak dapat menolong anak murid Kim-liong-pang. Gadis baju ungu itu kiranya terluka parah dan tak dapat diselamatkan lagi, tiga jarum halus menembus punggung atasnya, mengenai jantung. Dan ketika gadis itu tewas dan anak murid Hek-liong-pang ribut maka kakek ini memandang wakilnya. "Bagaimana, Hok-sute, kau berani ke Kim-liong-pang?"

"Hm," laki-laki berpakaian longgar ini mengangguk, sedikit menggigil. "Tentu saja, suheng. Agaknya memang harus aku yang pergi. Biarlah ku bawa mayat gadis itu dan kuberitahukan pada suci!"

"Dan kau berhati-hatilah, sute. Golok Maut rupanya benar-benar telengas dan ganas!"

"Aku tahu. Aku dapat menjaga diri, suheng. Dan biar malam ini juga aku berangkat!"

"Eh, sebaiknya besok, sute. Jangan sekarang!"

"Tidak, biar sekarang saja, suheng. Aku tak takut!" dan wakil ketua Hek-liong-pang yang sudah menyambar mayat si gadis baju ungu lalu berkelebat dan tiba-tiba lenyap di luar. Tampaknya tak takut malam-malam begitu dia berhadapan dengan si Golok Maut, orang akan kagum dan bakal memujinya.

Tapi kalau orang tahu bahwa laki laki ini sebenarnya justeru mempergunakan malam yang gelap untuk menyembunyikan diri kalau bertemu Golok Maut maka orang akan berbalik pikiran tak jadi memuji wakil ketua Hek-hong-pang itu, dapat dilihat betapa nama Golok Maut mulai mengguncangkan hati setiap orang. Wakil dari Perkumpulan Naga Hitam itu pun tampaknya gentar, jerih!

Dan ketika malam itu dengan berdebar kakek tinggi besar ini menanti sutenya dan kebat kebit mengharap sutenya kembali maka keesokannya, ketika matahari menampakkan sinarnya yang pertama ternyata sutenya datang dengan selamat.

"Sudah, suci sudah menerima suratmu dan waspada terhadap si Golok Maut. Aku tak menemui apa-apa, suheng. Selamat!"

"Hm!" kakek tinggi besar ini ma lah termangu-mangu. "Kau selamat tapi kita diancam bahaya, sute. Pagi-pagi sebelum kau datang seorang anak murid mengantar ini!" si ketua Hek-hong-pang melempar sepucuk surat, merah dan muram dan laki-laki berpakaian longgar itu tertegun. Dia menyambar dan menerima surat ini. Dan ketika surat dibaca dan selesai dimengerti mendadak muka wakil ketua Hek-liong-pang itu berubah.

"Dari si Golok Maut!" serunya. "Kenapa dia menghendaki daftar nama-nama orang kita, suheng? Apa maunya?"

"Entahlah, aku tak mengerti, sute. Tapi malam nanti dia berjanji datang!"

Dua laki-laki itu tertegun. Hek-liong-pangcu, yang tadi menerima dan membaca sepucuk surat jadi dibikin panas dingin dan pucat mukanya. Golok Maut berkirim surat padanya agar menyerahkan daftar nama-nama para anggauta perkumpulannya, tak boleh ada yang terlewat dan Golok Maut akan datang nanti malam. Jadi, dengan berani tokoh mengerikan itu akan menyatroni mereka! Dan ketika dua orang pimpinan Hek-liong-pang itu heran namun juga marah oleh perintah ini maka mereka berpandangan dan mengepal tinju.

"Panggil Su-ma!"

Seseorang akhirnya datang, menghadap.

"Kau tahu berapa jumlah anggauta kita?"

"Tiga ratus orang, pangcu, belum ditambah anggauta baru."

"Hm, dan kau menyimpan daftar nama-nama orang kita?"

"Ada, pangcu. Ini!" dan ketika laki-laki itu menyerahkan sebuah buku tebal berisi daftar atau nama dari anggauta Hek-liong-pang maka kakek tinggi besar itu bersinar-sinar, membuka dan mengamati dan akhirnya melempar buku itu pada sutenya, diterima dan ditangkap. Dan ketika Su-ma disuruh pergi dan ketua serta wakil ketua berpandangan maka kakek tinggi besar itu bertanya, "Bagaimana pendapatmu? Apakah daftar nama-nama ini kita serahkan padanya?"

"Hm, Golok Maut terlalu sombong, suheng. Juga telah membunuh tujuh orang murid kita. Tentu saja buku ini tetap di sini dan Golok Maut ku hadapi!"

"Bagus, cocok, sute. Aku sependapat. Memang harus kita hadapi si Golok Maut itu dan biar kulihat tampangnya!"

"Dan tiga ratus anggauta rupanya lebih dari cukup untuk menghadapi seorang saja, suheng. Kita harus membekuk dan menangkap si Golok Maut itu!"

"Ya, dan suruh anak murid kita memblokir semua tempat. Jaga dan awasi segala penjuru untuk mencegat kedatangannya!"

Hari itu Hek-liong-pang sibuk. Tiga ratus anak murid dikerahkan, mereka segera gempar mendengar bakal munculnya Golok Maut, di sarang mereka. Satu perbuatan berani yang dianggap mencari mati. Tapi sementara mereka membuat parit dan jebakan-jebakan mendadak seorang murid perempuan Kim-liong-pang muncul, langsung dihadapkan pada ketua Hek-liong-pang.

"Ampun, ada berita, susiok (paman guru). Harap semua anggauta yang ber-she (marga) Coa atau Ci disingkirkan. Subo (ibu guru) menyuruh teecu ke sini setelah tadi Hok-susiok (paman Hok) pulang!"

"Apa? Kenapa?"

"Golok Maut membenci orang-orang yang ber-she Coa dan Ci. Semua manusia di dunia yang ber-she itu akan dibunuh!"

"Keparat!" dan kakek tinggi besar itu yang merinding dan berobah mukanya tiba-tiba menghantam pinggiran meja, hancur dan murid-murid pun menyingkir. Mereka tadi melihat mata sang ketua yang terbelalak dan marah, sinarnya seperti api dan kilatan cahaya tampak mengerikan di mata ketua Hek-liong-pang itu. Dan ketika kakek ini menggeram dan menyuruh murid Kim-liong-pang itu kembali maka kakek ini berhadapan dengan wakilnya. "Apa maksudmu dengan pesan suci ini?"

"Hm...!" laki-laki berpakaian longgar itu tak bergerak, mukanya pucat dan merah berganti ganti. "Suci hendak maksudkan bahwa kau sementara ini diminta bersembunyi, suheng. Karena kau ber-she Coa!!"

"Jahanam!" kakek itu menggereng. "Bedebah keparat si Golok Maut itu, sute! Tapi apakah dia tahu aku ber-she Coa?"

"Entahlah." sang sute menggigil. "Kau telah mengubur namamu belasan tahun, suheng. Mestinya tak ada yang tahu dan memperdulikannya."

"Dan Golok Maut dikabarkan membenci orang orang ber-she Coa dan Ci. Apa artinya ini? Permusuhan apa yang menjadikan orang gila itu semakin tidak waras? Jahanam, aku tak takuti si Golok Maut itu, sute. Malam nanti kita bersiap dan suruh semua murid mengepung!"

Kini ada ketidaknyamanan di hati dua pimpinan Hek liong-pang itu. Golok Maut dikabarkan membenci orang-orang bermarga Coa, juga Ci. Dan ketika malam itu ketua Hek-liong-pang mondar-mandir dan tak dapat duduk diam maka matahari pun bergeser ke barat dan cepat tanpa terasa tahu-tahu malam pun tiba.

"Semua bersiap. Pasang lampu-lampu di segala penjuru!"

Aba-aba ini menunjukkan kepanikan sang ketua. Memang. siapa tak akan panik tapi juga marah mendengar Golok Maut mengancam orang orang ber she Coa dan Ci? Dan karena ketua Hek liong-pang kebetulan memiliki nama itu dan keganasan Golok Maut sebentar saja sudah menggetarkan Hek-liong-pang maka sesungguhnya pesan atau petunjuk dari ketua Kim-liong-pang, suci ketua Hek-liong-pang memang ditujukan kepada kakek tinggi besar itu. Sekarang mulai dapatlah diambil kesimpulan kenapa Golok Maut menghendaki daftar nama-nama anggauta Rupanya Golok Maut itu mau membunuh-bunuhi orang-orang ber she Coa dan Ci. Dan ketika malam semakin gelap dan ketika Hek-liong-pang tak dapat menikmati hidangan malamnya maka jarum menunjuk pukul sembilan.

"Jam berapa dia datang? Beranikah dia datang?"

Pertanyaan itu menghuni benak semua orang. Hek-liong-pangcu kini duduk di kursi ketuanya yang agung dan megah. bersandar tapi semua syaraf bergetar sejak tadi. Sebuah tongkat, yang ujungnyu dikaiti pedang bergerigi tampak tak jauh dari tangannya. Itulah senjata ampuh yang dipunyai ketua Hek liong-pang ini. Dan ketika jarum bergerak ke angka sepuluh dan akhirnya sebelas maka orang pun mulai ragu akan ancaman si Golok Maut karena yang dinanti tak datang juga.

"Rupanya dia takut, atau suratnya itu gertak sambal belaka!"

"Hm, tak boleh kita lengah. suheng. Takut atau tidak Golok Maut pasti datang. Biasanya orang ini selalu menepati janji."

"Tapi sekarang hampir tengah malam!"

"Benar, tapi masih belum larut. suheng. Kentongan baru dipukul sebelas kali. Sebaiknya waspada dan berjaga jaga saja."

Ketua Hek-liong-pang itu menggeram. Wakilnya, Hok Beng, selalu menasehatinya untuk berhati-hati. Sutenya memang benar, dialah yang barangkali kemrungsung dan terlampau panik. Tak dapat disalahkan, msnunggu adalah pekerjaan yang amat menyiksa, apalagi kalau ada kaitannya dengan jiwa sendiri. Dan ketika kentongan kembali di pukul dan jam di dinding menunjuk angka dua belas maka kakek tinggi besar ini mulai kehilangan kesabarannya.

"Keparat, Golok Maut itu pengecut! Mau jam berapa dia datang? Jadi atau tidak dia datang?"

"Sudahlah, sabar, suheng. Aku merasa dia sebentar lagi datang...."

"Tapi sekarang tepat tengah malam!"

"Benar, tapi juga belum pagi, suheng. Masih ada dua tiga jam lagi si Golok Maut itu datang."

"Hm!" dan ketua Hek-liong-pang ini yang mengerotokkan buku-buku jarinya akhirnya memukul kursi dan mengumpat. Dia benar-benar dicekam ketegangan. Baru kali itu dia dibuat sedemikian panik dan gelisah. Keparat, terkutuk si Golok Maut itu! Dan ketika ketua serta wakil ketua mulai tak tenang dan gelisah sendirian maka anak murid Hek-liong-pang yang berjaga malah melebihi pimpinannya.

Mereka mulai mengantuk dan hilang kewaspadaannya, sedikit demi sedikit berangsur lengah dan itu memang tak dapat disalahkan. Menunggu memang pekerjaan yang membosankan. Dan ketika tepat kentongan dipukul satu kali dan tiga ratus murid Perkumpulan Naga Hitam ini menguap dan satu demi satu melempar tubuh untuk melepas kantuk, mendadak terdengar jerit tiga kali dan tiga sosok tubuh terbanting dan berdebuk di gerbang pertama.

"Aaaa.....!"

Suara itu mendirikan bulu roma. Hek-liong pang, yang telah membuat penjagaan berlapis tiba tiba dibuat gaduh. Serentak orang bangun geragapan dan tiga puluh murid yang berjaga di pintu paling depan sekonyong-konyong ribut. Entah dari mana asalnya mendadak muncul seorang lelaki di tengah-tengah mereka, mukanya tak kelihatan karena tertuiup caping lebar, tegak dan berdiri bagai hantu di tengah murid-murid hek-liong-pang itu.

Dan ketika semua murid tertegun dan terhenyak dengan muka kaget maka keadaan menjadi hening ketika tak ada tanya jawab di situ. Lelaki itu, yang dapat diduga Golok Maut adanya berdiri tak bergeming. Tiga murid Hek-liong-pang terkapar di depan kakinya, mandi darah. Leher mereka putus! Tapi begitu mereka sadar dan laki-laki itu masih tak bergerak maka Liong-ma, murid kepala yang menjaga di pintu ini membentak.

"Golok Maut, kenapa kau membunuh tiga murid Hek-liong-pang? Apa maksud dan keinginanmu?"

Tak ada jawaban.

"Keparat, kau Golok Maut atau bukan?"

"Hm, panggil ketuamu, anak muda. Suruh dia ke sini atau kaupun mampus seperti tiga temanmu!" suara yang dingin kini terdengar, beku dan menyeramkan dan tiga puluh murid Hek-liong pang bergidik. Suara itu seperti es yang dingin dan tidak berperasaan. Suara yang hanya patut dikeluarkan oleh iblis-iblis di dalam kubur! Ta pi L iong-ma yang sadar dan membentak lagi tiba-tiba meloncat ke depan dan menyuruh teman-temannya menyerang.

"Serang, bunuh Golok Maut ini....!" dan pemuda itu yang sudah mencabut pedang dan menusuk serta membacok tiba-tiba bergerak dan sudah menyuruh teman-temannya membantu.

Tiga puluh murid Hek-liong-pang bergerak dan mengikuti aba-aba kepala regunya, pedang dan tongkat berlipat atau tombak berhamburan menuju tubuh lelaki bercaping itu, semuanya merupakan hujan senjata yang tak mungkin dielak atau dihindarkan lagi. Golok Maut menjadi sasaran tunggal dari bentakan dan teriakan. Dan ketika hujan senjata masih disambut dengan dingin oleh si Golok Maut dan laki-laki itu tenang menerima serangan, maka tiga puluh murid Hek-liong-pang terbelalak karena menganggap orang ini gila, tidak bergerak dan tidak bergeming seolah siap menerima kematian. Tapi begitu semua senjata tinggal serambut saja dan orang tidak tahu kapan Golok Maut bergerak tiba-tiba tampak cahaya menyilaukan dan.... trang-trang-trang..... semua senjata ditangan tiga puluh anak murid Hek-liong-pang buntung sebatas pegangannya!

"Aiihhh.....!"

Teriakan itu menggema dari tiga puluh buah mulut. Anak-anak murid Hek-liong-pang tertegun, mereka ini bengong dan muka pun pucat pias seperti kertas. Mereka itu tadi mengira bahwa pergelangan tangan mereka yang buntung. Senjata tahu-tahu ringan dan mereka ada yang roboh berpelantingan. Orang tak tahu bagaimana Golok Maut itu mengalahkan mereka. Tapi ketika semua terkejut dan sadar tiba-tiba tiga puluh murid dari pintu kedua berhamburan keluar.

"Awas, Golok Maut datang....!" Hek-liong-pang geger. Malam yang semula tenang mendadak ribut, kesunyian yang mencekam sudah dicabik ketegangan dan kengerian.

Dan ketika Golok Maut masih berdiri tegak dengan caping melindungi muka maka terdengar dengus dan suara yang dingin itu, mengulang kembali, "Kalian tak mau memanggil ketua kalian?"

"Keparat!" Liong-ma, kepala regu pintu atau lapis pertama membentak. "Kau tak dapat me nemui ketua kami kalau kami masih ada di sini, Golok Maut. Kau kami tangkap dan menyerahlah. Serbu.....!" pemuda ini kembali bergerak, sudah menyambar senjata yang lain dan tiga puluh murid dari pintu kedua sudah bersama mereka. Tadinya teman-teman baru ini membuat Liong-ma besar hati, kepala regu itu membentak dan sudah menerjang si Golok Maut. Dan ketika tiga puluh yang lain juga menyerang dan berteriak tumpang-tindih maka enam puluh murid Hek-liong-pang sudah berhamburan mengayun senjatanya ke si Golok Maut.

"Bunuh dia...."

"Serang......!"

Golok Maut mengeluarkan tawa aneh. Sekejap dia mendongakkan muka, tampak sepasang mata semerah saga berkilat dari balik caping yang menutupi mukanya itu. Lalu ketika pedang dan hujan senjata yang lain kembali berkelebatan dan menuju dirinya tiba-tiba cahaya menyilaukan itu kembali tampak dan.... murid-murid di depan berteriak ngeri, roboh dan terjungkal dan putuslah kepala-kepala yang bergelindingan. Tiga puluh murid di depan habis tersapu sekejap saja, senjata mereka patah-patah dan sinar atau cahaya menyilaukan itu terus menyambar, bergerak panjang dan satu per satu kepala pun terpenggal dari tempatnya. Dan ketika tiga puluh murid yang kedua terkesiap dan gentar menahan senjatanya maka Golok Maut berkelebat dan..... lenyap memasuki markas Pekumpulan Naga Hitam.

"Awas.....!"

"Kejar.....!"

"Golok Maut membasmi teman-teman kita......."

Dan ketika teriakan serta jerit berhamburan dan mulut tiga puluh murid yang terakhir maka mereka melonjak dan memukul genta tanda bahaya, tang-teng-tang-teng menyemarakkan suasana dan Hek-liong-pang pun gaduh. Datangnya Golok Maut dan terbunuhnya tiga puluh tiga orang murid Hek-liong-pang sungguh membuat panik. Golok Maut itu seperti dewa kematian saja. Dan ketika pintu ketiga dan keempat serta seterusnya terjaga dan bangun dari tidurnya maka perkumpulan Naga Hitam ini dibuat ribut dan kalut oleh hadirnya si Golok Maut, semuanya berhamburan keluar dan tiga ratus anak murid berteriak-teriak satu sama lainnya.

Gerbang atau pintu pertama dan kedua sudah bobol, musuh memasuki sarang mereka dan Hek-liong-pang pun gempar. Dan ketika di sana sini semua orang membunyikan tanda bahaya dan Golok Maut dicari-cari maka di pinlu ke tujuh, di mana penjagaan dan perondaan dilakukan sangat ketat maka di sini terjadi ribut-ribut arena Golok Maut sudah menerobos ke situ.

"Awas, kepung. Musuh di sini...!!"

Keadaan benar-benar geger. Golok Maut, yang diserang dan dihujani senjata tampak berkelebatan bagai walet menyambar. Tubuh lelaki itu demikian ringan dan enteng mengelak atau menghindari serangan-serangan lawannya. Tak satu pun mengenai tubuhnya dan dia seolah burung yang berterbangan di antara puluhan murid-murid Hek-liong-pang. Semuanya tertegun dan kaget oleh gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dipertunjukkan si Golok Maut ini menyelinap dan jarinya bergerak merobohkan lawan-lawan yang ada di depan. Dan pintu ketiga sampai pintu ketujuh Golok Maut ini selalu lolos menghindari hujan tombak atau pedang berkelebatan dan terus maju sementara murid-murid Hek-liong-pang pun roboh bagai rumput dibabat.

Dan ketika di pintu ketujuh ini dia menghadapi murid-murid Hek liong pang yang lebih tangguh karena mereka terdiri dari murid murid tingkat empat atau tiga maka di sini si Golok Maut itu agak tertahan. dikeroyok puluhan orang tapi akhirnya sinar atau cahaya menyilaukan itu kembali berkelebat. Sekarang Golok Maut tak mempergunakan jari atau tangannya lagi melainkan sinar atau cahaya menyilaukan itu, yang entah apa tapi dapat dipastikan sebuah senjata yang ampuh, hebat dan luar biasa dan ketajamannya melebihi pisau cukur. Terbukti kepala-kepala segera bergelindingan dan jerit atau pekik ngeri disusul tumbangnya tubuh-tubuh yang tanpa kepala.

Dan ketika anak murid Hek-Liong-pang gentar dan mereka mundur sambil berteriak teriak maka Golok Maut sudah melompat dan memasuki pintu kedelapan, disusul dengan pintu kesembilan dan akhirnya pintu terakhir, pintu nomor sepuluh. Dan begitu di pintu ini bola-bola kepala sudah bergelindingan dan malang-melintang di mana-mana maka Golok Maut sudah berhadapan dengan ketua Hek-liong-pang sendiri, juga wakilnya. Hok Beng. Dua pemimpin Hek liong-pang yang mendelik dan marah bukan main melihat sepak terjang si Golok Maut itu.

"Golok Maut," Hek liong-pangcu, sang ketua Hek-Liong-pang mengeluarkan bentakan yang membuat dinding-dinding bergetar. "Apa ulasanmu membunuh-bunuhi anak murid Hek-Liong-pang? Apa yang membuatmu begini telengas dan ganas?"

"Hm," Golok Maut, laki-laki itu menjawab dingin. "Aku selamanya tak suka membunuh orang kalau tidak dipaksa. Hek liong-pangcu. Kalau mereka mau baik-baik mengantar aku ke sini tentu mereka tak akan kubunuh. Mereka memulai dan mereka meminta mati."

"Keparat, kau sekarang sudah berhadapan dengan aku. ketua Hek Liong-pang. Katakan maksudmu dan bagaimana penanggung-jawabanmu mengenai puluhan korban yang menjadi keganasan tanganmu ini!"

"Hm!" Golok Maut kini mendongakkan sedikit mukanya. "Aku datang untuk meminta daftar para anggauta Hek-liong-pangcu. Dan sayang bahwa kau dan anak muridmu menyambutku dengan cara begini. Kematian mereka adalah salahnya sendiri, aku lak bertanggung jawab untuk itu."

"Jahanam. dan untuk apa daftar para anggautaku di sini. Apa perlumu?"

"Membunuh yang ber-she Coa dan Ci. Kau sudah menyiapkan buku itu?"

Hek Liong-pangcu menggigil. Enak saja Golok Maut ini bicara. suaranya begitu dingin dan lenang. Seolah dia bicara kepada bawahan dan menyuruh ketua Hek-liong-pang itu menyerahkan daftar para anggautanya. Dan ketika kakek tinggi besar itu membelalak dan bentakan terdengar dari mulutnya maka kakek ini meloncat dan mencabut tongkat pedangnya.

"Golok Maut, kau bedebah dan terkutuk. Daftar ini tak akan kuberikan dan biar kau mampus membayar hutangmu!"

"Hm. boleh kutanya sebentar?" Golok Maut tenang-tenang saja, tak perduli pada tongkat berbahaya yang bergetar di tangan ketua Hek-liong pang itu. "Apakah kau she Coa? Benarkah kau bernama Coa Hing Kok?"

Kakek tinggi besar ini tertegun,

"Jawab, tak perlu takut, Hek-liong pangcu. Kalau benar aku akan memberikan kematian yang mudah bagimu."

"Aargh!" kakek itu menggeram. menggedruk bumi. "Benar aku Coa Hing Kok. Golok Maut. Tapi nama itu sudah kukubur belasan tahun yang lalu. Kau sombong berani mengancam orang-orang she Coa.... wutt!" dan tongkat pedang yang bergerak menuju dada si Golok Maut tahu-tahu menyambar dengan kecepatan kilat dan menusuk diiringi bentakan menggetarkan, membuat anak murid Hek-liong pang mundur dan beberapa di antaranya mengeluh. Bentakan sang ketua yang penuh tenaga khikang membuat yang tak kuat serasa rontok jantungnya. mereka itu pucat dan cepat berlindung.

Tapi ketika senjata tinggal sejengkal dari dada si Golok Maut siap dilubangi tahu-tahu lelaki bercaping itu mengegos. perlahan saja dan tongkat pedang pun lewat di sisinya. Begitu mudah!! Dan ketua Hek-liong-pangcu mendelik dan kaget oleh egosan ini maka si Golok Maut menggerakkan tangannya dan.... plak, terpelantinglah kakek itu oleh sebuah tamparan perlahan yang mendarat di pergelangannya.

"Hek-liong-pangcu, tak usah buru buru. Kalau ingin mati cepat, mudah kululuskan!"

Sang ketua Hek liong pang terkejut bukan main. Dia sudah meloncat bangun oleh tamparan itu, berjungkir balik dan kini tegak dengan muka merah padam. Wajah kakek ini membesi dan gelap. Hek liong-pangcu marah tapi juga terkejut. Segebrakan itu ia dibuat terpelanting, membuka mata kakek ini bahwa lawan benar-benar hebat. Agaknya dia bukan tandingan! Namun karena pantang menyerah sebelum kalah dan kakek itu mau menyerang lagi tiba-tiba wakilnya sudah berkelebat dan menahan tangannya.

"Suheng, sabar. Agaknya lawan harus kita hadapi berdua. Kau mundurlah dan biar aku dulu mencobanya."

Bisikan itu menyadarkan sang ketua. Hek liong-pangcu ini menggeram dan mengangguk, mundur dan wakil ketua Hek-liong-pang itu pun sudah maju dengan pedang ditangan. Hok Beng, laki-laki berpakaian longgar ini telab melihat segebrakan tadi, terkejut dan tentu saja kaget setengah mati. Tapi karena mereka berada di sarang sendiri dan banyak jebakan-jebakan yang mereka buat maka wakil ketua Hek-liong pang ini menindas rasa jerihnya dan membentak.

"Golok Maut, aku adalah wakil ketua Hek Liong-pang. Kalau kau hendak membunuh ketua kami tentu saja kau harus berhadapan dulu denganku. Bersiaplah, aku akan mulai menyerang!"

"Hm, kau Hok Beng? Sute termuda dari Kim-Hong Sian-li?"

"Benar, kau rupanya tahu. Entah bagaimana kau menciptakan permusuhan dengan Hek-Liong-pang yang selamanya belum pernah mengganggumu!"

"Hm, Hek-liong-pang harus kuhajar. orang she Hok. Kalian pernah menjalin hubungan dengan Coa ongya (pangeran Coa)."

"Siapa kau?" laki-laki ini tertegun, terkejut. "Kau musuh pangeran Coa?"

Si Golok Maut tak menjawab.

"Buka capingmu, Golok Maut. Perlihatkan siapa dirimu dan apa arti kata-katamu itu dengan semuanya ini!"

Golok Maut mendengus. "Aku membuka capingku kalau seseorang berhasil mengalahkan aku. Mengingat dirimu she Hok dan hanya ikut-ikutan ketuamu saja sebaiknya kau menyingkir. Aku butuh ketuamu dan daftar orang orang she Coa dan Ci"

"Keparat!" hu-pangcu ini tak sabar lagi. "Meskipun kau lihai tapi bukan berarti kami takut, Golok Maut. Terimalah ini dan mampuslah.......sing!" pedang menyambar menuju tenggorokan si Golok Maut tapi sama seperti tadi tiba-tiba Golok Maut ini mengegos.

Laki-laki itu hanya menggerakkan kepalanya sedikit, miring ke kiri. Dan ketika pedang mendesing di samping lehernya dan Golok Maut itu tak merobah kedudukan kukinya tiba tiba tangan kanan bergerak dan....... dess.......perut Hok Beng disambar siku yang sudah dilipat, roboh mengaduh dan wakil Hek-Liong pang itu bergulingan. Perut melilit-lilit dan sute Coa Hing Kok itu merintih! Dan ketika dia melompat bangun namun terhuyung sambil menahan sakit maka Golok Maut berseru agar laki laki itu mundur.

"Kau bukan lawanku, mundurlah baik baik"

"Jahanam'" lelaki ini membentak. "Kau lihai namun aku tidak takut. Golok Maut. Kalau kau ingin membunubku cobalah.... sing-wut" pedang kembali bergerak, menusuk dan membacoki, tapi Golok Maut tenang tenang saja mengelak. Bhesi atau pasangan kaki lelaki bercaping itu masih saja menancap kokoh di tanah, hanya pinggang ke atas yang bergerak menghindari semua tusukan atau bacokan. Dan ketika pedang menyamhar nyambar tapi luput mengenai angin maka dua jari si Golok Maut bergerak dan.......trang.....lepaslah pedang di tangan wakil ketua Hek-liong-pang itu yang terkena totokan lihai, tepat di pergelangannya!

"Hah," wakil ketua ini tertegun.

"Kau bukan lawanku, orang she Hok. Minggir dan turuti kata-kataku. Biar suhengmu maju dan berhadapan dengan aku!"

Hok Beng, lelaki ini pucat pasi, Dia ternyata kalah begitu mudah, pedangnya diruntuhkan dan kalau mau lawannya itu dapat membunuh ia. Bukan main lihainya si Golok Maut ini. Tapi sementara dia tertegun dan menjublak memandang lawan, tiba tiba tujuh pisau berkesiur dan suhengnya membentak menerjang si Golok Maut, maju memberi aba-aba dan anak murid Hek-liong pang tersentak.

Mereka disuruh mengeroyok dan agaknya itu yang memang dapat mereka kerjakan. Tak seorang pun di antara mereka yang rupanya dapat menandingi si Golok Maut ini, satu lawan satu. Dan ketika kakek tinggi besar itu juga membentak pada sutenya agar mengambil senjata baru dan maju menerjang si Golok Maut itu maka Hok Beng sadar dan meloncat ke dinding, mencabut pedang yang tersisip di situ dan anak murid Hek-Liong pang yang patah-patah senjatanya juga segera mengambil senjata-senjata disini, golok atau pedang dan tombak yang sengaja disediakan di situ sebagai senjata darurat atau cadangan. Dan begitu mereka menyerbu dan berteriak membantu ketuanya maka Golok Maut sudah dikeroyok dan mendapat hujan senjata yang berhamburan dari kiri dan kanan.

"Trang-trangg!"

Orang terkejut, Golok Maut yang mereka serang tiba tiba lenyap. Senjata mereka beradu sendiri dan kontan anak anak murid Hek hong pang itu menjerit. Mereka saling bertemu dengan teman sendiri dan mereka pun terpelanting. Dan ketika mereka kaget dan terbelalak karena tak tahu di mana Golok Maut berada mendadak Hek-liong-pangcu (sang ketua) membentak menusuk sebuah tubuh yang melingkar. Ada di bawah dan kiranya si Golok Maut sudah mempergunakan ilmu trenggiling, rebah dan secepat kilat menekuk tubuh di situ, melingkar, persis trenggiling. Dan begiiu pedang membacok ke bawah dan Golok Maut menjadi sasaran tunggal tiba-liba sebuah jari menjentik dan...... pedang di tangan ketua Hek-liong-pang itu pun terpental.

"Cring!"

Hek-liong-pangcu kaget bukan main. Golok Maut telah menangkis serangannya dengan cara yang luar biasa, seperti kura-kura atau trenggiling yang mengeluarkan sedikit jarinya. Dan ketika pedang terpental dan Golok Maut tertawa dingin, tiba tiba lelaki bercaping itu sudah menggelindingkan tubuhnya ke kiri dan... robohlah murid murid Hek-liong-pang, diketuk atau ditarik kakinya dan anak-anak murid Perkumpulan Naga hitam itu berteriak-teriak. Mereka salah urat dan sebagian besar tak dapat bangun lagi. Dari Lima puluh anak murid ternyata dua puluh sudah dibikin tak berdaya oleh si Golok Maut, yang hanya bertangan kosong.

Dan ketika yang lain terkejut dan Hek liong pangcu marah bukan main maka kakek ini membentak menerjang lagi, dibantu sutenya dan ketua Hek liong pang itu melepas lagi tujuh pisau pisau kecil, menyambar ke bawah dan Hok Beng juga membacok serta menusuk Golok Maut yang masih bergelindingan di bawah, diserang dari dua jurusan, kiri dan kanan. Tapi tepat tujuh pisau menyambar dan Golok Maut mengeluarkan tawa aneh, tiba tiba lelaki bercaping itu menangkap tujuh murid Hek liong pang dan menendang dua yang lain untuk menerima tusukan atau bacokan si ketua Hek-liong-pang, juga sutenya.

"Crep-crep...!"

Tujuh pisau itu mendapat sasaran, bukan Golok Maut melainkan tujuh murid hek liong pang ini. Kontan tujuh teriakan ngeri terdengar di situ dan ditambah dua jeritan lagi, dua dari murid terakhir yang menerima tusukan atau bacokan pemimpinnya. dan ketika ketua Hek liong pang dan wakilnya tertegun melihat itu maka Golok Maut sudah melenting bangun dan sembilan tubuh terkapar tak bernyawa ditembus pisau pisau kecil itu dan serangan Hek-liong-pangcu sendiri.

"Nahh," Golok Maut berkata dingin. "Kau memhunuh anak-anak muridmu sendiri. Hek-liong pangcu, tak ada tanggung jawab dariku,"

"Keparat!" kakek tinggi besar ini membentak. "Kau jahanam bedebah. Golok Maut. Kau berhutang semakin banyak jiwa di sini. Kubunuh kau!" dan Hek-liong-pangcu yang kembali menerjang dan menyuruh anak-anak murid yang lain maju membantu, akhirnya mengeroyok pula bersama sutenya.

Hok Beng menggerakkan tongkat pedangnya namun si Golok Maut mengelak sana-sini, mudah dan enteng dan ketua Hek-liong-pang itu mendelik sebesar jengkol Ketua Hek liong-pang ini marah dan gusar bukan kepalang. Dan ketika anak muridnya maju membantu dan puluhan orang kini mengeroyok lelaki bercaping itu maka Golok Maut tertawa mengejek. Menggerak-gerakkan jari tangannya dan terdengarlah bunyi tang ting-tang-ting yang nyaring. Semua senjata anak murid Hek Liong-pang terpental dan beberapa di antaranya bahkan terlepas, tak kuat bertemu jari si Golok Maut yang menangkis. Dan ketika Golok Maut menyuruh mereka mundur tapi anak murid Hek-liong-pang takut kepada ketuanya maka Golok Maut mengancam bahwa mereka bisa tinggal nama.

"Yang bukan she Coa dan Ci harap minggir, Atau kalian terpaksa ke akherat!"

Murid-murid gentar. Sebenarnya mereka sudah jerih dan pucat. Golok Maut ini dikeroyok bersama wakil ketua dan ketua masih juga hebat. Mampu bicara dan berteriak menyentil ke sana kini. Dan ketika mereka maju mundur dan bingung oleh ancaman itu maka Hek-liong-pangcu membentak agar menyerang lebih hebat.

"Jangan takut, atau kalian kuhukum nanti!"

Terpaksa, karena diancam ketuanya sendiri dan Golok Maut tetap dikepung akhirnya anak murid menjadi nekat dan menyerang lebih sengit. Lebih takut kepada ketuanya daripada Golok Maut. Lawan belum merobohkan pemimpin mereka dan karena itu murid murid Hek liong pang lebih patuh kepada ketuanya Dan ketika mereka menyerang lagi dan Golok Maut mengeluarkan tawa dingin, tiba-tiba lelaki ini menerima hujan senjata dengan jari-jari terbuka, tangan telanjang

"Crak-crak-crakk!"

Anak murid Hek-liong-pang terkejut. Mereka tiba-tiba ditangkapi senjatanya dicengkeram. Dan ketika Golok Maut mengerahkan tenaga dan tombak atau pedang diremas hancur maka potongan-potongan senjata ini dihamburkan ke kiri kanan disertai bentakan.

"Robohlah!" dan begitu pekik serta jerit ngeri terdengar maka anak-anak murid Hek liong-pang roboh dan satu persatu mereka terbanting bergulingan. pundak atau lengan serta kaki mereka ditembus patahan senjata senjata tadi yang terkena perut atau dadanya langsung tewas.

Hek hong pangcu sendiri berseru keras menangkis sebuah potongan pedang, mencelat dan kakek itu terbabat tongkatnya. Dan ketika potongan pedang menyambar dan masih memburu matanya maka kakek ini menangkis dan tangan pun terluka, sutenya sendiri di sana bergulingan menjauh mendapat serangan mata tombak memberebet dan pundak pun terluka. Dan ketika dua orang itu meloncat bangun dan potongan mata tombak menancap di pundak wakil ketua Hek liong-pang ini maka dua orang itu menggigil dan saling pandang. ngeri.

"Suheng. lari....."

Kakek tinggi besar itu tertegun. Hok Beng. sutenya menyuruh dia lari! Anak-murid Hek liong pang menjadi gentar dan menjauh. mereka tinggal beberapa saja karena lebih separohnya malang-melintang di tanah. roboh atau tewas. Tapi ketika Hok Beng berteriak lagi dan kakek ini ragu atau marah tiba tiba dia menyuruh anak murid yang menjublak untuk menyerang Golok Maut itu.

"Serang, bunuh dia.....!"

Namun tak ada yang bergerak

"Keparat, kalian tak mendengar perintahku? He. serang dia. anak-anak. Serang!!"

Namun murid murid Hek-liong-pang yang menggigil dan seolah terpaku di tempatnya tiba-tiba malah lemas dan roboh sendiri-sendiri. tak kuasa menahan lutut mereka yang gemetar dan kakek tinggi besar itu merah padam, kaget dan marah, juga panik. Dan ketika dia menyuruh sutenya menyerang namun sutenya juga mendelong dan malah menyuruh dia lari akhirnya kakek tinggi besar ini membanting kaki dan menghantam sebuah pintu.

"Brakk!"

Ketua Hek-liong pang itu berkelebat. Dia memaki si Golok Maut dan lenyap ke dalam, melalui pintu yang dihantam pecah ini. Dan ketika Hok Beng juga menyusul dan anak murid Hek liong-pang ribut maka mereka berhamburan keluar melarikan diri. mencontoh perbuatan ketua mereka dan pimpinan serta wakil pimpinan Hek-liong pang itu lenyap melalui pintu rahasia. Golok Maut tertegun tapi tiba-tiba mendengus. berkelebat dan melesat melalui pintu yang dihantam pecah itu. Tapi ketika panah-panah beracun menyambut dari dalam dan benda-bcnda lain seperti batu atau tombak dijepret dari dalam maka Golok Maut ini menggerakkan kedua tangannya mendorong dan mengebut.

"Plak-des-plak!!" Batu dan tombak atau panah hancur bertemu pukulan si Golok Maut ini. Dengan berani dia mcnyelinap dan melakukan pengejaran, menuruni atau menaiki jalan-jalan rahasia dengan jebakan di sana-sini. Tak ayal ketua Hek-liong-pang dan wakilnya menjadi panik. Mereka selalu dibuntuti dan dibayangi. pintu pintu rahasia hancur dipukui kedua tangan si Golok Maut. Dan ketika dua orang itu melarikan diri dan Coa Hing Kok, ketua Hek-liong-pang itu pucat dan gemetaran maka bersama sutenya kakek tinggi besar ini naik turun melalui terowongan terowongan rahasia.

"Cepat, putar batu itu. Tutup pintu terowongan!!"

Hok Beng. sutenya, telah melakukan ini. Memutar sebuah batu yang mengganjal di mulut sebuah pintu rahasia, terdengarlah dentam dan dentum sebuah batu persegi empat menutup dan langsung mengganjal terowongan bawah tanah. Tapi ketika terdengar suara "cras-cres" dan batu atau bongkahan batu raksasa itu tembus dibocok sebuah golok menyilaukan maka ketua Hek-liong pang ini ngeri dan jatuh bangun melanjutkan larinya.

"Ke kiri! Kita ke kiri. suheng. Langsung ke Kim liong-pang.....!"

Kakek tinggi besar itu berkeringat. Malam itu. dua jam setelah pertempuran dan kejadian di markas Hek-liong-pang ketua Perkumpulan Naga hitam ini menyadari bahwa lawan terlalu hebat. Golok Maut bukan tandingan dan satu-satunya jalan hanyalah melarikan diri. Sebagai ketua dan wakil ketua tak malu malu lagi mareka melakukan ini, buku tebal berisi daftar para anggauta dikempit di ketiak kakek ini. Dan ketika mereka berdua melarikan diri dan berulang kali menutup terowongan bawah tanah dengan batu-batu besar namun semua batu atau pengganjal itu tak tahan terhadap bacokan sebuah golok menyilaukan maka menjelang pagi ketua dan wakil ketua Hek-liong-pang ini keluar dari ruangan bawah tanah mandi keringat.

"Cepat. kita minta bantuan suci. sute. Kita harus. bersembunyi!!."

Hok Beng tak dapat bicara lagi. Wakil ketua Hek liong pang ini sudah menggigil dan gemetaran sejak tadi. Kilatan sebuah golok yang melubangi alau membacok batu-batu di dalam terowongan sungguh mengerikan. Golok Maut tetap di belakang dan mengejar mereka. tawa dinginnya tak pernah hilang dan mereka selalu dibayangi, Dan ketika menjelang pagi mereka sudah keluar dari ruang bawah tanah dan keduanya mandi keringat maka Hing Kok, ketua Hek-liong-pang itu menguatkan tubuhnya berlari cepat, setengah menyeret sutenya.

"Ayo, cepat. sute. Kita sudah hampir di perbatasan Kim-liong-pang!"

"Augh!!" laki-laki ini mengerang. "Tomhak yang menancap di pundakku ini mengganggu, suheng. Lengan kiriku tak dapat digerakkan. Cabut dulu, obati aku!"

"Ah. berbahaya, sute. Golok Maut di belakang dan tahan dulu. Biarkan itu dan kita lari!"

Wakil ketua Hek-liong-pang ini mengeluh. Dia terseok-seok mengikuti lari ketuanya. ditarik dan diseret dan akhirnya sebuah tembok kuning tampak di kejauhan. Pagi sudah tiba dan mereka berdua habis tenaganya. Ketegangan dan kengerian yang mencekam mereka itu sungguh menyedot tenaga, berulang-ulang wakil ketua Hek-Liong pang ini mendesis. Kalau tak diseret dan ditarik seperti itu tentu dia sudah roboh, kaki gemetaran tak keruan Dan ketika mereka kian mendekati tembok Kim-hong-pang dan rasa girang mulai timbul di hati kakek tinggi besar. mendadak bagai iblis saja Golok Maut tampak bayangannya dengan tawanya yang dingin.

"Orang she Coa. kau mau lari ke mana?"

Hing Kok menoleh. Bagai disambar petir tiba-tiba dia melihat lawannya itu sudah dekat di belakang caping yang hampir menutupi seluruh muka itu tampak mendongak sedikit. Sedikit saja tapi sudah cukup membuat kakek ini ngeri' Maka membentak dan melempar lagi tujuh pisau kecilnya tiba tiba ketua Hek-liong-pang itu kabur dan kini meninggalkan wakilnya, yang sudah roboh kehabisan tenaga.

"Golok Maut. kau siluman jahanam.....!"

Tujuh pisau itu rontok. Terdengar suara tang ting ketika pisau pisau ini mengenai tubuh si Golok Maut yang tidak menangkis atau menyampok. ha! yang tak dilihat kakek tinggi besar itu tapi dilihat wakilnya, Hok Beng, yung sudah terjerembab. Dan ketika Golok Maut mendengus dan lawan melarikan diri mendadak laki-laki bercaping itu membentak dan angin pun berkesiur di atas kepala Hek liong-pangcu.

"Coa Hing Kok, berhenti!!"

Kakek tinggi besar ini berteriak. Golok Maut tahu tahu telah berada di depannya, tegak tak bergeming dan dia akan menabrak lawannya itu. tentu saja kakek ini membentak dan menggerakkan senjatanya. Tongkat pedang yang tongkatnya sudah terpapas sedikit, menghantam dan mengemplang kepala lawan dengan tongkatnya itu. Tapi ketika lawan menerima dan kepala dihantam tongkat tiha-tiba tongkatnya itu hancur dan lawan tak apa apa.

"Desss!" Hing Kok. kakek ini pucat. Golok Maut tertawa dingin dan memandangnya dengan senyum mengejek. Kini tampaklah sekilas lebih jelas wajah di balik caping itu. wajah yang membuat ketua Hek-liong-pang tertegun. Tapi membentak dan berseru lagi tiba tiba kakek itu menggerakkan pedangnya. bagian bawah dan tongkat dan pedang itu sudah membacok leher lawan, menyambar dengan kecepatan kilat. Tapi Golok Maut yang mengelak dan menggerakkan jari tiba tiba menangkap dan menjepit senjata kakek itu.

"Pletak!

Hing Kok mendelong. Kakek ini menjadi pucat melihat pedangnya ditekuk menjadi dua. patah dan tentu saja tak dapat dipakai lagi. Dan ketika Golok Maut berseru menyambit patahan pedang maka kakek itu terjungkal ketika pundaknya tembus terluka.

"Hah." kakek itu bergulingan merintih tak keruan.

"Serahkan daftar anggautamu, Hek-Liong pantcu. dan juga serahkan jiwamu!"

"Tidak!" kakek itu menjerit. "Kau kejam dan ganas. Golok Maut. Kau.. breet!" buku di ketiak disambar Golok Maut, lenyap dan sudah berpindah ke tangan laki laki mengerikan itu. Dan ketika kakek ini melolong dan Golok Maut membuka sekejap buku yang diambil tiba-tiba ketua Hek Liong-pang itu memanggil manggil Sucinya. ketua Kim-hong pang. "Suci. tolong......"

Namun jeritan ini terbungkam. Golok Maut tiba tiba berkelebat dan keluarlah cahaya atau sinar mengerikan itu, satu kali saja namun kepala kakek tinggi besar itu telah terpisah dari tubuhnya. Dan ketika kakek itu roboh dan tubuh tanpa kepala ini memuncratkan darah bagai pancuran besar maka dari balik tembok Kim long pang berkelebatlah bayangan-bayangan yang menuju ke tempat itu, ditoleh dan Golok Maut mendengus. Tawa dinginnya tak pernah lupa dan Hok Beng yang roboh terbelalak menyaksikan kekejaman itu.

Wakil ketua Hek-liong-pang ini dengan jelas melihat robohnya sang suheng, yang sudah tidak berkepala lagi. Dan ketika wakil ketua itu mengeluh dan pingsan serta ngeri maka Golok Maut berkelebat dan lenyap meninggalkan tempat itu, terganti oleh datangnya seorang nenek dan puluhan wanita wanita muda dari Kim liong pang.

"Sute..,.!"

Panggilan ini sudah tak terjawab. Nenek itu berkelebat dan tertegun di depan sebuah kepala yang baru terhenti menggelinding, terbelalak dan pucat di situ. Dan ketika murid-murid Kim liong pang, wanita-wanita muda itu juga tertegun dan terbelalak di situ tiba-tiba nenek ini, ketua Kim-lioug-pang menjerit dan melengking lenyap.

"Golok Maut. kau siluman tak berjantung!"

Namun nenek ini tak dapat menemukan lawannya. Dia tadi melengking-lengking dan berputaran di situ, bayangannya berkelebatan dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, begitu cepat namun masih kalah cepat oleh menghilangnya Golok Maut. Dan ketika nenek itu kembali dan menangis tersedu-sedu maka Kim-liong-pang geger dengan kematian ketua Hek-liong-pang itu, mengurus jenasahnya dan Hok Beng segera di sadarkan. Wakil ketua Hek-liong-pang ini terkena guncangan hebat dan untuk beberapa hari dia kejang-kejang.

Memang peristiwa itu terlampau hebat, Hek liong-pang, yang memiliki tiga ratus anggauta ternyata tak mampu berbuat apa-apa terhadap si Golok Maut, tokoh mengerikan itu. Dan ketika ini masih ditambah lagi dengan berita bahwa murid-murid Hek-liong-pang yang ber-she Coa dan Ci akhirnya dibunuh Golok Maut berdasar Catatan yang dibawa maka dunia kang-ouw-pun gempar dan ribut.

"Golok Maut benar-benar telengas dan ganas. Dia membunuh-bunuhi orang ber-she Coa, dan Ci seperti terhadap musuh bebuyutannya!"

"Benar, kabarnya dia akan membunuh orang-orang yang ber-she Coa dan Ci di dunia ini kawan. Dunia hendak dibersihkannya dari dua nama itu!"

"Heran, persoalan apa yang membuat dta begitu? Dan siapa sesungguhnya si Golok Maut ini?"

"Siapa tahu? Kabarnya tokoh itu menyembunyikan muka di balik capingnya yang lebar. Orang tak tahu siapa dia kecuali kelihaiannya!"

"Hm, dan orang-orang ber-she Coa atau Ci akan bersembunyi. Golok Maut bagai hantu penyebar penyakit!" dan ketika percakapan atau pembicaraan ini menjadi hangat dan kian santer maka benar saja orang-orang ber-she Coa atau Ci menyembunyikan diri. Banyak di antara mereka yang mengubah nama namun Golok Maut tetap tahu juga.

Ketua Pek-kiok-pang dan Hwa-long, yang masing-masing bernama Ci Hak dan Coa Hun akhirnya terbunuh. Kepala mereka dipenggal dan banyak murid-murid yang hanya melihat berkelebatnya sebuah cahaya menyilaukan dan terpisahlah kepala ketua mereka itu dari tubuhnya. Dan ketika orang menjadi kian terguncang dan nama Golok Maut benar benar merupakan momok bagi dua nama yang bersangkutan maka Golok Maut akhirnya dibenci tapi juga ditakuti orang bagai sebuah sebuah penyakit ganas!

Siapa Golok Maut? Tak ada yang tahu. Dan persoalan apa yang membuat dia memusuhi orang-orang she Coa dan Ci? Juga tak ada yang tahu. Dan karena Golok Maut merupakan tokoh misterius namun kelihaian dan kekejamannya amat luar biasa maka orang pun akhirnya bersiap dan waspada terhadap tokoh yang satu itu, terutama orang-orang she Coa dan Ci.

 
* * * * * * *

"Kau she Coa?"

"Bukan."

"Kau she Ci?"

"Bukan."

"He, kalau begitu siapa namamu?"

"Ha-ha, aku Golok Maut, Kong lian. Dan kalau kau she Coa atau Ci maka kau akan ku bunuh!"

Dua anak muda bergurau di tengah jalan, tertawa-tawa dan tuding-menuding. Mereka itu membawa buntalan besar di punggung, masing-masing ejek-mengejek dan nama Golok Maut dibuat bahan permainan. Mereka itu saling pukul dan tampar di pundak temannya. Dan ketika siang itu mereka tiba di hutan dan berteduh di bawah pohon maka Keng Han, pemuda pertama duduk membanting pantatnya.

"Hai, tak usah bergurau lagi. Suhu menyuruh kita menyelidiki si Golok Maut itu dan bukan mengolok-oloknyal"

"Ha, kau takut?"

"Siapa takut? Kita bertugas membela si teman, Su Tong. Kalau Golok Maut itu ada di sini tentu kutangkap dia!"

"Dan kau gebuki pantatnya," Su Tong, pemuda, kedua tertawa. "Kau harus menghajarnya seperti anak kecil dulu, Kang Han. Baru menyerahkan kepadaku untuk kuseret menghadap suhu!!"

"Hm. masa begitu? Kalau aku yang menangkapnya maka aku pula yang membawanya, Su Tong. Kau jangan enak sendiri dan mau menonjolkan jasa!"

"Ha-ha, bukan begitu. Tapi, eh siapa itu?" Su Tong. pemuda ini berhenti dan menoleh. Mereka tiba-tiba melihat seorang wanita muda muncul dari dalam hutan. membawa payung. Muncul seperti siluman dan dua pemuda ini bengong. Mereka itu melihat seraut wajah yang cantik dan tubuh menggaiurkan, tiba-tiba jakun mereka naik turun dan Su Tong melihat temannya melonpat bangun.

Keng Han, pemuda yang duduk tadi tiba-tiba bersinar-sinar. Dan ketika mereka tertegun dan wanita muda yang cantik itu melenggang dan akhirnya melewati mereka berdua maka, seperti di sambar gunting tajam, dua pemuda ini mendapat senyum dan kerlingan maut, tajam menyambar...!

Golok Maut Jilid 01

GOLOK MAUT
JILID 01
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
GIAM-TO (Golok Maut) dikenal orang pada jamannya Lima Dinasti. Waktu itu Tiongkok Utara kacau, kerajaan Tang baru saja tumbang. Dan ketika kekalutan serta pertikaian masih mendominir suasana maka daerah ini seakan neraka bagi kebanyakan orang.

Li Ko Yung, satu di antara yang bertikai waktu itu berhasil menguasai Honan dan Shan si. Dua propinsi ini jatuh di bawah kekuasaan laki-laki itu. Namun karena di mana-mana terjadi peperangan dan mulut tak pernah diam untuk memaki atau mengutuk maka dua wilayah ini pun masih tak sepenuhnya tenang.

Ho-nan, yang terletak di selatan Shan-si berbatasan dengan Sungai Kuning. Sungai ini membelah dua wilayah itu, dari barat ke timur, tentu saja merupakan daerah penting karena sungai itu merupakan penyeberangan bagi banyak orang, termasuk serdadu atau pasukan dari pihak penguasa.

Dan karena orang berlalu lalang di sungai itu dan banyak di antaranya yang menyeberang pulang-pergi maka daerah ini merupakan daerah rawan karena sering terjadi huru-hara di situ, sering tak dapat diatasi pasukan dan timbullah pertumpahan darah, apalagi kalau orang kang-ouw (dunia persilatan) ikut bergerak, orang-orang berkepandaian tinggi dan sering mereka datang atau pergi seperti siluman. Dan ketika semuanya itu ditambah dengan blok-blokan antara pendukung yang satu dengan yang lain dalam membela junjungan masing-masing maka daerah ini termasuk rawan dan gawat.

Dan hari itu kejadian itu muncul di permukaan. Mula-mula Sungai Kuning beriak perlahan. airnya mengalir tenang dan di dermaga pelabuhan terdapat kesibukan penumpang, naik turunnya barang atau orang. Dan ketika matahari semakin tinggi dan panas juga semakin menyengat, tiba-tiba dari barat sungai meluncur sebuah perahu yang ditumpangi enam orang laki-laki.

"Hei, minggir.......minggir.......!"

Bentakan atau seruan kasar itu terdengar dari dalam perahu ini. Perahu tersebut melintas dengan cepat, tidak menyeberang melainkan mengikuti aliran sungai, ke timur, tentu saja memotong beberapa perahu yang akan menyeberang. Tiga perahu dari selatan ke utara hampir terbalik, penumpangnya menjerit-jerit dan enam orang di atas perahu pertama tak perduli. Mereka seakan raja di situ, Dan ketika perahu terus meluncur namun dari utara muncul dua perahu kecil yang hendak ke dermaga. tiba-tiba enam orang di atas perahu itu melotot.

"He, minggir. Atau kalian kutabrak mampus!"

Dua perahu itu, yang hendak menepi ke selatan tiba-tiba gugup. Penumpangnya adalah seorang kakek yang mempergunakan dua buah dayung, hendak menyibak dan perahu sudah hampir bertumbukan. Si kakek rupanya tak sanggup mengendalikan perahunya karena air tiba-tiba berpusar. perahu terputar dan tiba-tiba tanpa dapat dicegah lagi perahu kakek pertama bertumbukan dengan peiahu enam orang itu. Dan ketika suara keras mengejutkan semuanya dan enam orang di atas perahu itu memaki dan membentak. mendadak perahu kedua, yang berada di sebelah perahu si kakek juga menumbuk dan menghantam dari belakang.

"Dukk!"

Perahu-perahu itu tak keruan. Laju perahu yang ditumpangi enam orang Iaki2 ini otomatis berhenti, perahu mereka terputar dan seolah dikeroyok dari dua arah. Satu dari kakek di depan sedang yang lain dari perahu yang menumbuk terakhir itu. Dan ketika mereka berteriak dan mengumpat caci mendadak perahu bocor!

"Hei, awas! Jahanam keparat!" enam lelaki itu mencak-mencak. Perahu mereka miring dan sebentar kemudian dimasuki air. Dan ketika kakek di depan terbelalak dan pucat mehhat itu mendadak perahu enam lelaki itu terguling dan tenggelam.

"Bedebah, jahanam keparat mereka ini!" enam orang di atat perahu membentak meloncat dan tentu saja memaki-maki perahu yang menumbuk. Tiga yang pertama meloncat di perahu si kakek, yang lain ke perahu di belakang. Dan ketika mereka membentak dan menyambar kakek itu maka bagai harimau buas mereka mencengkeram dan melempar kakek itu ke sungai.

"Byurrr....!"

Kakek penumpang perahu ini melolong-lolong. Dengan cepat ia timbul tenggelam di Sungai Kuning. Tak dapat berenang karena satu tangannya patah, tadi dipuntir oleh lelaki kejam itu. Dan ketika kakek ini menjerit dan hanyut di tengah sungai maka terdengar suara "byur-byur" tiga kali yang membuat tiga lelaki pertama menengok, merasa aneh kenapa tiga kali terdengar suara tercebur. Di perahu kedua itu pun tinggal seorang kakek lain. Dan ketika mereka terbelalak dan melihat siapa yang terlempar mendadak ketiganya, mendelong dan kaget...

"Hei, Ci-ko........!"

Namun suara mereka tak dapat menolong yang terlempar. Yang tercebur itu adalah tiga teman mereka yang lain, yang tadi berlompatan ke perahu di belakang. Namun begitu mereka sadar dan coba bergerak ternyata tiga teman mereka itu telah tewas dengan leher tergorok panjang, lukanya menganga dan darah tiba-tiba membuat air sungai merah gelap. Mengerikan sekali. Dan ketika tiga orang itu terkejut dan menoleh ke perahu kedua maka samar-samar, di balik gubuk perahu tampak sebuah caping, seseorang yang sedang duduk melonjorkan kaki dengan cara santai.

"Keparat!" tiga orang itu membentak, "Tangkap dan seret dia, A-cong. Cincang!" tiga orang itu sudah berloncatan, naik ke perahu di belakang dan meninggalkan perahu si kakek yang sudah hanyut entah ke mana.

Kakek tua itu akhirnya pingsan dan kemungkinan maut menjemputnya, sungai tiba-tiba menjadi deras dan tiga orang ini sudah berlompatan ke perahu baru. Namun ketika mereka bergerak dan mencabut senjata sambil menyerang tiba-tiba orang di seberang mendengar pekik tiga kali disusul terlemparnya dua di antara tiga laki laki itu, jatuh dan terbanting di sungai dan darah pun muncrat memenuhi permukaan air. Orang di seberang tak tahu apa yang terjadi namun mereka mcrasa ngeri. Dua tubuh yang terlempar itu sudah tanpa kepala lagi! Dan ketika orang terakhir terjengkang dan terbanting di geladak maka orang melihat mukanya yang pucat dan lengan buntung sebatas siku.

"Golok Maut.....Golok Maut...;!" orang mendengar rintihannya, menuding-nuding namun tiba-tiba sebuah sinar berkelebat. Dan begitu sinar itu lenyap dan orang tak tahu sinar apa gerangan, maka tubuh laki-laki ini sudah terlempar dan tercebur pula, tanpa kepala!

"Byuurrr....!"

Kejadian mengerikan ini mengguncangkan banyak orang. Orang di tepian tak tahu bagaimana wajah si Golok Maut itu, mereka sendiri tak melihat gerakan seseorang kecuali berkelebatnya sinar atau cahaya itu tadi. Dan ketika mereka bengong dan menjublak dengan muka pucat maka perahu kedua ini berputar dan... meluncur menghilang menuju ke timur, disusul keceburnya si kakek kedua dan kakek ini berteriak-teriak minta tolong. Dia adalah pemilik perahu yang ditinggalkan selamat itu, hanya kakek inilah satu-satunya orang yang masih utuh jiwanya.

Dan ketika perahu yang lain berdatangan menolong dan kakek itu menjerit seperti orang kalap maka kakek ini pingsan dan tidak dapat ditanyai lagi, disadarkan namun dia berteriak-teriak. Agaknya orang tua itu mengalami shock hebat, kejadian di depan mata yang begitu mengerikan membuat kakek ini terguncang syarafnya. Dan ketika orang bertanya bagaimana wajah si Golok Maut yang tadi menumpang perahunya itu tiba-tiba kakek ini malah terkekeh-kekeh, menjadi gila.

"Heh-heh, dia cantik. Tampan tapi cantik....!"

"Eh, mana mungkin, lopek? Cantik hanya untuk perempuan, sedang tampan untuk laki-laki!"

"Ya-ya, itu tadi. Dia cantik, kakinya tampan..... dan, heh-heh......tangannya seribu.....!"

Orang tak dapat menanyai lagi. Kalau kakek itu sudah bicara seperti itu jelas pikirannya terganggu. Kakek ini gila. Dan karena omongannya sudah ngaco tak keruan dan tak mungkin orang menanyai bagaimana bentuk atau rupa si Golok Maut, maka hari itu Sungai Kuning digemparkan oleh peristiwa mengerikan ini.

Hanya dalam waktu singkat dan segebrak itu enam jiwa melayang, orang ramai membicarakan ini dan perahu yang menghilang ke timur itu sudah lenyap. Golok Maut membawa perahu itu dan orang pun ribut, pasukan keamanan dibuat bengong dan mereka tak dapat berbuat apa-apa. Tapi ketika orang membicarakan ini dan enam mayat di sungai itu sudah diangkat dan diselamatkan maka dari sudut cekungan yang lain tiba-tiba meluncur tujuh perahu mengejar si Golok Maut.

"Sst, hati-hati, awas.....!" seorang gadis berbaju hijau, yang berdiri dan memberi isyarat di perahu terdepan tampak menggerakkan telunjuk di depan mulutnya.

Enam perahu lain, yang ternyata teman-temannya mengangguk. Mereka terdiri dari dua puluh satu orang terdiri dari pria dan wanita, masing-masing perahu ditumpangi tiga orang dan setiap perahu pasti terdapat seorang wanitanya. Jadi, di perahu itu ada tujuh wanita. rata-rata gagah dan cantik, dengan gadis berbaju hijau sebagai pemimpinnya. Dan ketika perahu meluncur dan mengejar si Golok Maut yang sudah menghilang di depan maka tujuh perahu ini berlomba dan masing masing mengayuh dengan sepasang dayung, tentu saja cepat dan perahu pun seakan didorong tenaga raksasa.

Setiap perahu yang dikayuh tiga pasang lengan tampak melesat dan melaju ke depan, masing masing tak bersuara lagi dan semua wajah tampak tegang. Dan ketika mereka mempercepat gerakan dan arus sungai juga membantu luncuran perahu, akhirnya tampaklah perahu si Golok Maut itu yang terapung-apung di depan, berhenti!

"Awas, semua berpencar!"

Dua puluh orang itu mengangguk. Si Golok Maut, yang tak kelihatan orangnya kecuali perahunya tampak menanti di depan. Hal ini membuat orang tegang dan wajah-wajah itu pun tampak mengeras, tujuh wanita di atas perahu tiba-tiba mencabut pedang dan empat belas lelaki yang lain juga mencabut senjata. masing-masing bersiap dan jelas memasang kewaspadaan tinggi. Dan ketika tujuh perahu iru berpencar dan kini mereka mendekati perahu si Golok Maut dari tujuh penjuru akhirnya perahu yang berhenti dan terombang-ambing oleh arus yang deras itu sudah dikepung.

"Golok Maut!" si gadis berbaju hijau melengking. "Keluar dan menyerahlah. Kau telah membunuh enam utusan Hek liong pang (Perkumpulun Naga Hitam)!"

"Hm, siapa kalian? Kenapa membuntuti aku?" suara dari dalam perahu terdengar dingin. Tidak nampak orangnya dan orang-orang di tujuh perahu marah. Golok Maut bersembunyi di dalam gubuk perahu itu, semuanya hanya melihat ujung sebuah caping yang menyembul keluar, sedikit tapi sudah memberi tahu bahwa seseorang ada di situ. Golok Maut!! Dan ketika mereka marah mendengar pertanyaan dibalas pertanyaan akhirnya gadis berbaju hijau ini membentak,

"Kami dari Kim-liong-pang (Perkumpulan Naga Emas). Keluar dan menyerahlah untuk mempertanggungjawabkan perbuataumu!"

"Hm, kau murid ke berapa dari Kim-liong Sian li (Dewi Naga Emas)?"

"Aku murid ke delapan. Keluar dan ccpatlah menyerah!"

"Hm, terlalu rendah!!" dan perahu yang tiba tiba melejit dan bergerak melampaui perahu si gadis baju hijau mendadak sudah terbang dan meluncur lagi di depan, tadi dihentak gedrukan kaki dan tahu-tahu perahu naik tinggi, setombak di atas permukaan air dan melayang melewati tujuh perahu pengepung. Dan ketika si gadis baju hijau terkejut dan teman-temannya juga terpekik maka si Golok Maut sudah meluncur dan terbang di depan, cepat luar biasa di atas permukaan Sungai Kuning.

"Kejar! Tangkap.....!" si gadis baju hijau marah, berteriak dan bersama dua temannya sudah mendayung perahu.

Enam yang lain mengikuti dan diam-diam mereka itu kaget. Bayangkan, bagai perahu siluman saja tahu-tahu perahu yang ditumpangi si Golok Maut itu meloncat dan terbang di atas kepala mereka. Dan ketika mereka tersentak kaget dan pucat tahu tahu Golok Maut itu telah mengemudikan perahunya jauh di depan, sebentar kemudian menghilang dan mereka itu kelabakan.

Si gadis baju hijau berteriak-teriak agar mereka semua mengayuh lebih kuat, keringat segera deras membanjir dan empat belas lelaki serta enam wanita bekerja mati-matian. si gadis baju hijau sendiri menggerak-gerakkan tangannya mendorong perahu Tapi ketika mereka kehilangan jejak dan perahu si Golok Maut tak tampak lagi maka gadis baju hijau ini marah-marah dan kecewa.

"Keparat, kita gagal. Kalian terlalu lemah!!"

"Tidak, kita sudah berusaha, pek-ci (saudara kedelapan). Tapi si Golok Maut yang memang terlalu lihai!"

"Goblok, bagaimana memuji musuh? Kau seharusnya percaya diri sendiri. Kiat-lu. Golok Maut tak mungkin menang menghadapi kita sebanyak dua puluh satu orang!"

"Sudahlah, tak perlu bertengkar. Mari kita cari lagi," dan seorang yang memisah dan melerai pertengkaran itu akhirnya menyadarkan si gadis baju hijau yang membalik dan meloncat lagi di atas perahunya. Tadi dia marah-marah dan memaki di perahu temannya ini. Tapi begitu dia menginjakkan kaki dan siap menyambar dayung mendadak seorang di antara mereka berteriak,

"He, itu dia......!" dan begitu semua menoleh dan menengok tempat yang ditunjuk mendadak dua puluh satu orang ini tertegun. Perahu Golok Maut, yang tadi tak nampak dan disangka hilang tiba-tiba kelihatan di sebuah cekungan kecil, menepi. Mereka terkejut karena jarak tak begitu jauh. Tapi begitu sadar dan si gadis baju hijau memberi tanda tiba tiba semuanya mendayung dan menuju ke perahu si Golok Maut itu.

"Awas, hati-hati. Semua bersiap!"

Dua puluh orang itu mengangguk. Tanpa disuruh pun mereka sudah mencekal senjata masing-masing dengan erat, perahu meluncur dari kiri dan kanan dan sebentar kemudian mereka sudah mengepung perahu tunggal itu, mengelilinginya dari segala penjuru. Dan ketika si baju hijau membentak dan melengking menyuruh Golok Maut keluar ternyata perahu hanya bergoyang-goyang dan tak ada jawaban.

"Kita periksa!" si baju hijau meloncat berani, berkelebat dari sudah di atas perahu tunggal itu. Tapi ketika dia memeriksa dan membentak ke dalam ternyata penumpangnya tak ada. Perahu itu kosong!

"Keparat, Golok Maut mempermainkan kita!" si baju hijau meradang, mukanya merah dan segera dia melompat ke perahu sendiri. Tapi baru kaki menginjak lantai mendadak seorang di antara mereka kembali berseru,

"He, dia di atas pohon....!"

Semua melengak. Dua puluh pasang mata menengok dan melihat ke tempat yang tinggi, sebatang pohon tua yang daunnya gundul. Pohon ini meranggas dan tampak si Golok Maut yang bercaping itu ongkang-ongkang kaki di sana, mukanya ditutupi caping dan orang tak tahu apakah dia tua atau muda, duduk bersandar setengah tidur. Kakinya, yang ditopang diatas kaki yang lain menunjukkan sikapnya yang santai. Dalam ketinggian begitu rupa Golok Maut itu hanya ditahan oleh sebuah ranting kecil, tak lebih dari jari telunjuk! Dan ketika semua bengong dan terbelalak memandang ke atas mendadak si baju hijau berkelebat dan meloncat keluar.

"Kejar! Kepung.......!"

Semua berkelebatan. Mereka telah meninggalkan perahu masing-masing untuk menangkap si Golok Maut itu, tapi ketika mereka tiba di sana tiba-tiba manusia misterius itu hilang.

"Tak ada!" si baju hijau tertegun. "Kemana dia? Keparat, kita dipermainkan, Kiat-lu. Coba berpencar dan cari iblis itu!" si baju hijau bergerak, menggapai ke arah enam temannya dan mereka berputar mengelilingi pohon, dalam radius puluhan tombak. Dan ketika temannya yang lain juga berpencar dan mencari mengelilingi tempat itu, maka si baju hijau tertegun melihat Golok Maut berlenggang jauh di depan, memasuki hutan!

"He, dia di sana!" si baju hijau menuding, marah dan berlari cepat dan segera dia terbang mengejar lawannya itu. Enam temannya mengikuti dan segera mereka bersuitan memberi tanda pada yang lain. Dua puluh bayangan tiba-tiba berkelebatan dari kiri dan kanan. Dan ketika mereka memaki dan membentak bayangan itu maka si baju hijau tiba-tiba menyambitkan jarum-jarum halus menyuruh lawan berhenti.

"Golok Maut, berhenti......wut-wut-wut!" dan jarum-jarum halus yang menyambar serta menyerang pungguug Golok Maut.

Tiba-tiba disusul oleh yang lain yang menghamburkan senjata-senjata kecil, pisau atau paku bintang dan Golok Maut mendengus. Semua senjata itu dibiarkan mendekati punggungnya. Tapi begitu pisau dan jarum-jarum halus hampir mengena punggung mendadak Golok Maut ini menggerakkan lengan ke belakang dan... semua seujata rahasia itu membalik, dikebut serangkum tenaga dahsyat dan segera terdengar jerit atau pekik mengerikan. Si baju hijau tertembus seluruh wajahnya oleh semua jarum-jarumnya sendiri, amblas memasuki kulit dan daging. Dan ketika yang lain juga roboh dan terbanting oleh senjata-senjata rahasianya sendiri maka dua puluh satu orang itu tumpang-tindih dan...... Golok Maut pun melanjutkan perjalanannya dengan santai.

"Keparat..... aduh, keparat.....!"

Golok Maut tak menghiraukan. Dia melenggang dan akhirnya lenyap di dalam hutan, capingnya ditekan dan wajah itu pun semakin tertutup. Dan ketika dua puluh satu orang itu merintih dan mengaduh memaki-maki tak keruan maka anak buah Kim-Liong-pang itu terlantar dan akhirnya pingsan. Yang luka berat akhirnya meninggal, tewas, termasuk si baju hijau yang mukanya tertembus hancur itu, penuh dengan jarum-jarum miliknya sendiri. Dan ketika suasana menjadi mengerikan karena tubuh yang malang-melintang itu tak ada yang mengurus, mendadak dari dalam hutan terdengar geraman dan raung binatang buas, disusul munculnya harimau dan singa-singa yang lapar.

Entah bagaimana tiba-tiba mereka itu berlari dan seolah digebah orang dari dalam, kebetulan menuju ke tempat kejadian ini. Dan ketika yang hidup merintih dan melihat itu tiba-tiba harimau dan singa-singa yang lapar ini menubruk dan menerkam mereka, dilawan tapi anak buah Kim-Liong-pang ini sudah luka-luka. Mereka menjerit dan berteriak ketika kuku kuku yang tajam menancap ditubuh mereka, mencabik dan mengoyak. Dan karena mereka sudah dilumpuhkan oleh Golok Maut dan sebagian tak dapat bangun lagi maka orang-orang itu pun menjadi mangsa binatang binatang buas ini, satu persatu roboh dan terkapar mandi darah. Mereka sudah ketakutan dari ngeri oleh munculnya hewan-hewan buas itu di saat mereka terluka.

Dan begitu hewan-hewan ganas itu menyerang dan merobek mereka akhirnya dua puluh satu anggauta Kim-Liong-Pang ini tewas dan binasa, potongan kaki dan lengan tercecer di mana mana dan pemandangan itu sungguh mengerikan. Tubuh mereka menjadi ajang perebutan dan makanan binatang-binatang buas itu. Dan ketika semuanya berlalu dan harimau serta singa-singa lapar itu telah pergi dengan mulut berlumuran darah maka dua puluh satu orang ini habis dibunuh Golok Maut, melalui hewan-hewan buas yang tadi digiring dan digebahnya!

"Apa? Mereka semua tewas? Kau tidak salah?"

"Tidak.... benar, pangcu. Benar... Mereka itu dibunuh Golok Maut, dua puluh anggauta Kim-liong-pang bahkan dijadikannya santapan harimau!"

"Kau tidak keliru?"

"Tidak pangcu, tak mungkin! Aku menontonnya dari jauh dan...."

"Plak-dess!" orang itu terlempar. "Dan kau berani datang memberi laporan, Lo-si. Kau tak membantu teman-temanmu dan menghadapi si Golok Maut itu. Keparat!" dan Lo-si yang dihajar seorang kakek tinggi besar yang marah-marah dan gusar memaki pelapor itu akhirnya membuat jatuh bangun si pelapor ini, seorang laki-laki tinggi kurus yang tentu saja pucat dan seketika mengaduh aduh.

Dia berteriak dan dijadikan bulan bulanan pukulan kakek tinggi besar itu, Hek-liong-pangcu (ketua Naga Hitam), akhirnya terlempar dan terbanting di sudut ketika sebuah tendangan mengenai perutnya. Namun ketika kakek tinggi besar itu berkelebat dan siap mengayun tamparan ke kepala laki-laki ini mendadak seorang laki-laki berpakaian longgar berseru, mencelat.

"Pangcu, tahan. Betapapun Lo-si telah berjasa.... dukk!"

dan laki-laki itu yang terpental dan terdorong dua tindak akhirnya menyelamatkan laki-laki itu, menangkis tamparan ketuanya dan Hek-liong-pangcu mendelik. Kakek tinggi besar ini marah dan membalik, menggeram mau memaki laki-laki berpakaian longgar itu, wakilnya. Namun ketika pembantunya itu menunduk dan cepat memberi hormat maka sebuah suara yang tenang dan lembut meredakan kemarahan kakek tinggi besar ini.

"Maaf, Lo-si harus diampuni, pangcu. Tanpa dia tentu kita tak tahu kedatangan Golok Maut. Biarlah dia mengatur napasnya dan menceritakan kembali peristiwa itu. Kalau dia menghadapi Golok Maut tentu dia tak akan pulang dengan selamat!"

"Hm!" kakek ini sadar, mengeluarkan suara seperti harimau menggereng. "Kau benar, Hok-sute. Biarlah dia bercerita dan kuampuni!"

"Terima kasih...!" Lo-si, laki-laki itu menjatuhkan diri berlutut. "Ampunkan hamba, pangcu. Hamba.....hamba memang bersalah!"

"Sudahlah," laki-laki berpakaian longgar, yang disebut Hok-sute mengangkat bangun laki-laki itu. "Kau ceritakan kembali kisah itu lebih tenang, Lo-si. Jangan memburu dan atur napasmu. Kau berada di markas Hek-Liong-pang!"

"Baik....baik, hu-pangcu (wakil ketua).....aku.....aku akan menceritakannya kembali!" laki-laki itu mengatur napasnya, memang tadi dia memburu dan seakan dikejar setan. Peristiwa yang dilihatnya di depan mata itu sungguh mengerikan, terutama anggauta-anggauta Kim-liong-pang yang tewas dijadikan santapan harimau.

Si Golok Maut yang menggebah dan menggiring hewan-hewan buas itu luar biasa dinginnya. Tokoh yang mengerikan itu solah tak memiliki perasaan, beku. Enak saja membacok putus enam anggauta Hek liong-pang dan memberikan santapan pada binatang-binatang buas itu dua puluh satu orang anggauta Kim-liong pang, termasuk tujuh wanitanya yang rata-rata gagah dan cantik itu. Dan ketika laki-laki ini menghapus keringat dinginnya dan menceritakan kejadian itu lagi didepan ketuanya maka dengan sedikit lebih terang dia dapat bercerita, mengulang dan tidak menggigil lagi meskipun masih pucat. Peristiwa itu memang mengerikan. Dan ketika sang ketua menggeram dan berkali-kali menghantam permukaan meja maka Lo-si, laki-laki ini menutup.

"Demikianlah,.. hamba kembali dan lalu melaporkan peristiwa ini, pangcu. Enam anggauta kita gagal dan tewas dibunuh Golok Maut."

"Dan dua puluh satu anggauta Kim-Liong-pang itu belum bertemu sejenak pun dengan anggauta kita?"

"Belum, pangcu. Dua puluh satu anggauta Kim-liong-pang itu rupanya menunggu di teluk tapi tak keburu jumpa. Ci-ko (kakak Ci) dibunuh Golok Maut di Sungai Kuning!"

"Hm, baiklah, sekarang kau pergi. Panggil Lo Ki Peng ke mari!"

"Baik, terima kasih, pangcu," dan laki-laki ini yang muridur dan girang mendapat ampun lalu membiarkan ketuanya berdua dengan hu pang cu, tak lama kemudian muncul seorang pemuda dan Hek-liong-pangcu menyuruh pemuda itu mendekat. Dan ketika tiga orang itu berada di dalam dan pintu ditutup maka pemuda ini ditanya. "Kau berani ke Kim-liong-pang?"

"Tentu, kenapa tidak, suhu? Teecu telah mendengar tewasnya Ci-ko tapi teecu (aku) tidak takut terhadap Golok Maut!"

"Bagus, kau pemberani, Ki Peng. Seharusnya semua anggauta seperti dirimu dan tidak seperti Lo-si. Antarkan surat ini kepada Kim-liong-pangcu (ketua Kim-liong-pang) dan beritahukan dia bahwa dua puluh satu anak muridnya dibunuh Golok Maut!" kakek tinggi besar itu menyerahkan sepucuk surat, memberikan pada si pemuda dan mereka terlibat percakapan sejenak. Hu-pangcu yang berpakaian longgar itu berkali-kali memesan agar si pemuda berhati-hati.

Dan ketika pemuda itu mengangguk dan menyatakan tak takut maka pergilah dia mengantar surat pangcunya ke markas Kim-liong-pang, tak seberapa jauh dari tempat itu dan Hek-liong-pangcu pun menunggu. Ketua Kim liong-pang, Kim-liong Sian-li, adalah suci (kakak seperguruan perempuan) kakek tinggi besar itu. Memang antara Hek-liong-pang dan Kim-liong-pang ada hubungan tali persaudaraan. Tapi ketika sehari ditunggu dan Ki Peng, murid yang diutus belum kembali juga mendadak bagai petir di siang bolong murid itu telah kembali berupa mayat, diantar seorang gadis baju ungu dari Kim-liong-pang yang terseok-seok dan berlepotan darah!

"Aduh, ampun, susiok... aku... aku bertemu Golok Maut...!" gadis baju ungu itu roboh, jatuh di depan Hek-liong-pangcu dan segera anak murid Hik-Liong-pang geger.

Mereka menjemput dan membawa gadis itu ke dalam, anak marid Kim-liong pang. Dan ketika Hek-liong-pangcu tertegun dan berdiri menjublak maka terlihatlah bahwa di punggung gadis Kim-liong-pang ini penuh tertancap jarum-jarum halus.

"Cepat, singkirkan dia!" kakek tinggi besar besar itu akhirnya sadar, menyuruh membawa pergi mayat Ki Peng dan mengurus anak murid Kim liong-pang itu.

Gadis baju ungu ini ditolong tapi terlambat. Kiranya dia kehabisan darah dan jarum halus menancapi hampir seluruh punggungnya, itulah jarum yang khas dimiliki murid-murid perempuan Kim-liong-pang, di samping paku bintang dan ketika Hek-liong-pangcu gagal menolong dan gadis itu menggelinjang sedikit tiba-tiba murid Kim liong-pang ini tewas.

"Keparat jahanam si Golok Maut itu. Bedebah!" kakek tinggi besar ini memaki-maki, kaget dan marah serta juga menyesal tak dapat menolong anak murid Kim-liong-pang. Gadis baju ungu itu kiranya terluka parah dan tak dapat diselamatkan lagi, tiga jarum halus menembus punggung atasnya, mengenai jantung. Dan ketika gadis itu tewas dan anak murid Hek-liong-pang ribut maka kakek ini memandang wakilnya. "Bagaimana, Hok-sute, kau berani ke Kim-liong-pang?"

"Hm," laki-laki berpakaian longgar ini mengangguk, sedikit menggigil. "Tentu saja, suheng. Agaknya memang harus aku yang pergi. Biarlah ku bawa mayat gadis itu dan kuberitahukan pada suci!"

"Dan kau berhati-hatilah, sute. Golok Maut rupanya benar-benar telengas dan ganas!"

"Aku tahu. Aku dapat menjaga diri, suheng. Dan biar malam ini juga aku berangkat!"

"Eh, sebaiknya besok, sute. Jangan sekarang!"

"Tidak, biar sekarang saja, suheng. Aku tak takut!" dan wakil ketua Hek-liong-pang yang sudah menyambar mayat si gadis baju ungu lalu berkelebat dan tiba-tiba lenyap di luar. Tampaknya tak takut malam-malam begitu dia berhadapan dengan si Golok Maut, orang akan kagum dan bakal memujinya.

Tapi kalau orang tahu bahwa laki laki ini sebenarnya justeru mempergunakan malam yang gelap untuk menyembunyikan diri kalau bertemu Golok Maut maka orang akan berbalik pikiran tak jadi memuji wakil ketua Hek-hong-pang itu, dapat dilihat betapa nama Golok Maut mulai mengguncangkan hati setiap orang. Wakil dari Perkumpulan Naga Hitam itu pun tampaknya gentar, jerih!

Dan ketika malam itu dengan berdebar kakek tinggi besar ini menanti sutenya dan kebat kebit mengharap sutenya kembali maka keesokannya, ketika matahari menampakkan sinarnya yang pertama ternyata sutenya datang dengan selamat.

"Sudah, suci sudah menerima suratmu dan waspada terhadap si Golok Maut. Aku tak menemui apa-apa, suheng. Selamat!"

"Hm!" kakek tinggi besar ini ma lah termangu-mangu. "Kau selamat tapi kita diancam bahaya, sute. Pagi-pagi sebelum kau datang seorang anak murid mengantar ini!" si ketua Hek-hong-pang melempar sepucuk surat, merah dan muram dan laki-laki berpakaian longgar itu tertegun. Dia menyambar dan menerima surat ini. Dan ketika surat dibaca dan selesai dimengerti mendadak muka wakil ketua Hek-liong-pang itu berubah.

"Dari si Golok Maut!" serunya. "Kenapa dia menghendaki daftar nama-nama orang kita, suheng? Apa maunya?"

"Entahlah, aku tak mengerti, sute. Tapi malam nanti dia berjanji datang!"

Dua laki-laki itu tertegun. Hek-liong-pangcu, yang tadi menerima dan membaca sepucuk surat jadi dibikin panas dingin dan pucat mukanya. Golok Maut berkirim surat padanya agar menyerahkan daftar nama-nama para anggauta perkumpulannya, tak boleh ada yang terlewat dan Golok Maut akan datang nanti malam. Jadi, dengan berani tokoh mengerikan itu akan menyatroni mereka! Dan ketika dua orang pimpinan Hek-liong-pang itu heran namun juga marah oleh perintah ini maka mereka berpandangan dan mengepal tinju.

"Panggil Su-ma!"

Seseorang akhirnya datang, menghadap.

"Kau tahu berapa jumlah anggauta kita?"

"Tiga ratus orang, pangcu, belum ditambah anggauta baru."

"Hm, dan kau menyimpan daftar nama-nama orang kita?"

"Ada, pangcu. Ini!" dan ketika laki-laki itu menyerahkan sebuah buku tebal berisi daftar atau nama dari anggauta Hek-liong-pang maka kakek tinggi besar itu bersinar-sinar, membuka dan mengamati dan akhirnya melempar buku itu pada sutenya, diterima dan ditangkap. Dan ketika Su-ma disuruh pergi dan ketua serta wakil ketua berpandangan maka kakek tinggi besar itu bertanya, "Bagaimana pendapatmu? Apakah daftar nama-nama ini kita serahkan padanya?"

"Hm, Golok Maut terlalu sombong, suheng. Juga telah membunuh tujuh orang murid kita. Tentu saja buku ini tetap di sini dan Golok Maut ku hadapi!"

"Bagus, cocok, sute. Aku sependapat. Memang harus kita hadapi si Golok Maut itu dan biar kulihat tampangnya!"

"Dan tiga ratus anggauta rupanya lebih dari cukup untuk menghadapi seorang saja, suheng. Kita harus membekuk dan menangkap si Golok Maut itu!"

"Ya, dan suruh anak murid kita memblokir semua tempat. Jaga dan awasi segala penjuru untuk mencegat kedatangannya!"

Hari itu Hek-liong-pang sibuk. Tiga ratus anak murid dikerahkan, mereka segera gempar mendengar bakal munculnya Golok Maut, di sarang mereka. Satu perbuatan berani yang dianggap mencari mati. Tapi sementara mereka membuat parit dan jebakan-jebakan mendadak seorang murid perempuan Kim-liong-pang muncul, langsung dihadapkan pada ketua Hek-liong-pang.

"Ampun, ada berita, susiok (paman guru). Harap semua anggauta yang ber-she (marga) Coa atau Ci disingkirkan. Subo (ibu guru) menyuruh teecu ke sini setelah tadi Hok-susiok (paman Hok) pulang!"

"Apa? Kenapa?"

"Golok Maut membenci orang-orang yang ber-she Coa dan Ci. Semua manusia di dunia yang ber-she itu akan dibunuh!"

"Keparat!" dan kakek tinggi besar itu yang merinding dan berobah mukanya tiba-tiba menghantam pinggiran meja, hancur dan murid-murid pun menyingkir. Mereka tadi melihat mata sang ketua yang terbelalak dan marah, sinarnya seperti api dan kilatan cahaya tampak mengerikan di mata ketua Hek-liong-pang itu. Dan ketika kakek ini menggeram dan menyuruh murid Kim-liong-pang itu kembali maka kakek ini berhadapan dengan wakilnya. "Apa maksudmu dengan pesan suci ini?"

"Hm...!" laki-laki berpakaian longgar itu tak bergerak, mukanya pucat dan merah berganti ganti. "Suci hendak maksudkan bahwa kau sementara ini diminta bersembunyi, suheng. Karena kau ber-she Coa!!"

"Jahanam!" kakek itu menggereng. "Bedebah keparat si Golok Maut itu, sute! Tapi apakah dia tahu aku ber-she Coa?"

"Entahlah." sang sute menggigil. "Kau telah mengubur namamu belasan tahun, suheng. Mestinya tak ada yang tahu dan memperdulikannya."

"Dan Golok Maut dikabarkan membenci orang orang ber-she Coa dan Ci. Apa artinya ini? Permusuhan apa yang menjadikan orang gila itu semakin tidak waras? Jahanam, aku tak takuti si Golok Maut itu, sute. Malam nanti kita bersiap dan suruh semua murid mengepung!"

Kini ada ketidaknyamanan di hati dua pimpinan Hek liong-pang itu. Golok Maut dikabarkan membenci orang-orang bermarga Coa, juga Ci. Dan ketika malam itu ketua Hek-liong-pang mondar-mandir dan tak dapat duduk diam maka matahari pun bergeser ke barat dan cepat tanpa terasa tahu-tahu malam pun tiba.

"Semua bersiap. Pasang lampu-lampu di segala penjuru!"

Aba-aba ini menunjukkan kepanikan sang ketua. Memang. siapa tak akan panik tapi juga marah mendengar Golok Maut mengancam orang orang ber she Coa dan Ci? Dan karena ketua Hek liong-pang kebetulan memiliki nama itu dan keganasan Golok Maut sebentar saja sudah menggetarkan Hek-liong-pang maka sesungguhnya pesan atau petunjuk dari ketua Kim-liong-pang, suci ketua Hek-liong-pang memang ditujukan kepada kakek tinggi besar itu. Sekarang mulai dapatlah diambil kesimpulan kenapa Golok Maut menghendaki daftar nama-nama anggauta Rupanya Golok Maut itu mau membunuh-bunuhi orang-orang ber she Coa dan Ci. Dan ketika malam semakin gelap dan ketika Hek-liong-pang tak dapat menikmati hidangan malamnya maka jarum menunjuk pukul sembilan.

"Jam berapa dia datang? Beranikah dia datang?"

Pertanyaan itu menghuni benak semua orang. Hek-liong-pangcu kini duduk di kursi ketuanya yang agung dan megah. bersandar tapi semua syaraf bergetar sejak tadi. Sebuah tongkat, yang ujungnyu dikaiti pedang bergerigi tampak tak jauh dari tangannya. Itulah senjata ampuh yang dipunyai ketua Hek liong-pang ini. Dan ketika jarum bergerak ke angka sepuluh dan akhirnya sebelas maka orang pun mulai ragu akan ancaman si Golok Maut karena yang dinanti tak datang juga.

"Rupanya dia takut, atau suratnya itu gertak sambal belaka!"

"Hm, tak boleh kita lengah. suheng. Takut atau tidak Golok Maut pasti datang. Biasanya orang ini selalu menepati janji."

"Tapi sekarang hampir tengah malam!"

"Benar, tapi masih belum larut. suheng. Kentongan baru dipukul sebelas kali. Sebaiknya waspada dan berjaga jaga saja."

Ketua Hek-liong-pang itu menggeram. Wakilnya, Hok Beng, selalu menasehatinya untuk berhati-hati. Sutenya memang benar, dialah yang barangkali kemrungsung dan terlampau panik. Tak dapat disalahkan, msnunggu adalah pekerjaan yang amat menyiksa, apalagi kalau ada kaitannya dengan jiwa sendiri. Dan ketika kentongan kembali di pukul dan jam di dinding menunjuk angka dua belas maka kakek tinggi besar ini mulai kehilangan kesabarannya.

"Keparat, Golok Maut itu pengecut! Mau jam berapa dia datang? Jadi atau tidak dia datang?"

"Sudahlah, sabar, suheng. Aku merasa dia sebentar lagi datang...."

"Tapi sekarang tepat tengah malam!"

"Benar, tapi juga belum pagi, suheng. Masih ada dua tiga jam lagi si Golok Maut itu datang."

"Hm!" dan ketua Hek-liong-pang ini yang mengerotokkan buku-buku jarinya akhirnya memukul kursi dan mengumpat. Dia benar-benar dicekam ketegangan. Baru kali itu dia dibuat sedemikian panik dan gelisah. Keparat, terkutuk si Golok Maut itu! Dan ketika ketua serta wakil ketua mulai tak tenang dan gelisah sendirian maka anak murid Hek-liong-pang yang berjaga malah melebihi pimpinannya.

Mereka mulai mengantuk dan hilang kewaspadaannya, sedikit demi sedikit berangsur lengah dan itu memang tak dapat disalahkan. Menunggu memang pekerjaan yang membosankan. Dan ketika tepat kentongan dipukul satu kali dan tiga ratus murid Perkumpulan Naga Hitam ini menguap dan satu demi satu melempar tubuh untuk melepas kantuk, mendadak terdengar jerit tiga kali dan tiga sosok tubuh terbanting dan berdebuk di gerbang pertama.

"Aaaa.....!"

Suara itu mendirikan bulu roma. Hek-liong pang, yang telah membuat penjagaan berlapis tiba tiba dibuat gaduh. Serentak orang bangun geragapan dan tiga puluh murid yang berjaga di pintu paling depan sekonyong-konyong ribut. Entah dari mana asalnya mendadak muncul seorang lelaki di tengah-tengah mereka, mukanya tak kelihatan karena tertuiup caping lebar, tegak dan berdiri bagai hantu di tengah murid-murid hek-liong-pang itu.

Dan ketika semua murid tertegun dan terhenyak dengan muka kaget maka keadaan menjadi hening ketika tak ada tanya jawab di situ. Lelaki itu, yang dapat diduga Golok Maut adanya berdiri tak bergeming. Tiga murid Hek-liong-pang terkapar di depan kakinya, mandi darah. Leher mereka putus! Tapi begitu mereka sadar dan laki-laki itu masih tak bergerak maka Liong-ma, murid kepala yang menjaga di pintu ini membentak.

"Golok Maut, kenapa kau membunuh tiga murid Hek-liong-pang? Apa maksud dan keinginanmu?"

Tak ada jawaban.

"Keparat, kau Golok Maut atau bukan?"

"Hm, panggil ketuamu, anak muda. Suruh dia ke sini atau kaupun mampus seperti tiga temanmu!" suara yang dingin kini terdengar, beku dan menyeramkan dan tiga puluh murid Hek-liong pang bergidik. Suara itu seperti es yang dingin dan tidak berperasaan. Suara yang hanya patut dikeluarkan oleh iblis-iblis di dalam kubur! Ta pi L iong-ma yang sadar dan membentak lagi tiba-tiba meloncat ke depan dan menyuruh teman-temannya menyerang.

"Serang, bunuh Golok Maut ini....!" dan pemuda itu yang sudah mencabut pedang dan menusuk serta membacok tiba-tiba bergerak dan sudah menyuruh teman-temannya membantu.

Tiga puluh murid Hek-liong-pang bergerak dan mengikuti aba-aba kepala regunya, pedang dan tongkat berlipat atau tombak berhamburan menuju tubuh lelaki bercaping itu, semuanya merupakan hujan senjata yang tak mungkin dielak atau dihindarkan lagi. Golok Maut menjadi sasaran tunggal dari bentakan dan teriakan. Dan ketika hujan senjata masih disambut dengan dingin oleh si Golok Maut dan laki-laki itu tenang menerima serangan, maka tiga puluh murid Hek-liong-pang terbelalak karena menganggap orang ini gila, tidak bergerak dan tidak bergeming seolah siap menerima kematian. Tapi begitu semua senjata tinggal serambut saja dan orang tidak tahu kapan Golok Maut bergerak tiba-tiba tampak cahaya menyilaukan dan.... trang-trang-trang..... semua senjata ditangan tiga puluh anak murid Hek-liong-pang buntung sebatas pegangannya!

"Aiihhh.....!"

Teriakan itu menggema dari tiga puluh buah mulut. Anak-anak murid Hek-liong-pang tertegun, mereka ini bengong dan muka pun pucat pias seperti kertas. Mereka itu tadi mengira bahwa pergelangan tangan mereka yang buntung. Senjata tahu-tahu ringan dan mereka ada yang roboh berpelantingan. Orang tak tahu bagaimana Golok Maut itu mengalahkan mereka. Tapi ketika semua terkejut dan sadar tiba-tiba tiga puluh murid dari pintu kedua berhamburan keluar.

"Awas, Golok Maut datang....!" Hek-liong-pang geger. Malam yang semula tenang mendadak ribut, kesunyian yang mencekam sudah dicabik ketegangan dan kengerian.

Dan ketika Golok Maut masih berdiri tegak dengan caping melindungi muka maka terdengar dengus dan suara yang dingin itu, mengulang kembali, "Kalian tak mau memanggil ketua kalian?"

"Keparat!" Liong-ma, kepala regu pintu atau lapis pertama membentak. "Kau tak dapat me nemui ketua kami kalau kami masih ada di sini, Golok Maut. Kau kami tangkap dan menyerahlah. Serbu.....!" pemuda ini kembali bergerak, sudah menyambar senjata yang lain dan tiga puluh murid dari pintu kedua sudah bersama mereka. Tadinya teman-teman baru ini membuat Liong-ma besar hati, kepala regu itu membentak dan sudah menerjang si Golok Maut. Dan ketika tiga puluh yang lain juga menyerang dan berteriak tumpang-tindih maka enam puluh murid Hek-liong-pang sudah berhamburan mengayun senjatanya ke si Golok Maut.

"Bunuh dia...."

"Serang......!"

Golok Maut mengeluarkan tawa aneh. Sekejap dia mendongakkan muka, tampak sepasang mata semerah saga berkilat dari balik caping yang menutupi mukanya itu. Lalu ketika pedang dan hujan senjata yang lain kembali berkelebatan dan menuju dirinya tiba-tiba cahaya menyilaukan itu kembali tampak dan.... murid-murid di depan berteriak ngeri, roboh dan terjungkal dan putuslah kepala-kepala yang bergelindingan. Tiga puluh murid di depan habis tersapu sekejap saja, senjata mereka patah-patah dan sinar atau cahaya menyilaukan itu terus menyambar, bergerak panjang dan satu per satu kepala pun terpenggal dari tempatnya. Dan ketika tiga puluh murid yang kedua terkesiap dan gentar menahan senjatanya maka Golok Maut berkelebat dan..... lenyap memasuki markas Pekumpulan Naga Hitam.

"Awas.....!"

"Kejar.....!"

"Golok Maut membasmi teman-teman kita......."

Dan ketika teriakan serta jerit berhamburan dan mulut tiga puluh murid yang terakhir maka mereka melonjak dan memukul genta tanda bahaya, tang-teng-tang-teng menyemarakkan suasana dan Hek-liong-pang pun gaduh. Datangnya Golok Maut dan terbunuhnya tiga puluh tiga orang murid Hek-liong-pang sungguh membuat panik. Golok Maut itu seperti dewa kematian saja. Dan ketika pintu ketiga dan keempat serta seterusnya terjaga dan bangun dari tidurnya maka perkumpulan Naga Hitam ini dibuat ribut dan kalut oleh hadirnya si Golok Maut, semuanya berhamburan keluar dan tiga ratus anak murid berteriak-teriak satu sama lainnya.

Gerbang atau pintu pertama dan kedua sudah bobol, musuh memasuki sarang mereka dan Hek-liong-pang pun gempar. Dan ketika di sana sini semua orang membunyikan tanda bahaya dan Golok Maut dicari-cari maka di pinlu ke tujuh, di mana penjagaan dan perondaan dilakukan sangat ketat maka di sini terjadi ribut-ribut arena Golok Maut sudah menerobos ke situ.

"Awas, kepung. Musuh di sini...!!"

Keadaan benar-benar geger. Golok Maut, yang diserang dan dihujani senjata tampak berkelebatan bagai walet menyambar. Tubuh lelaki itu demikian ringan dan enteng mengelak atau menghindari serangan-serangan lawannya. Tak satu pun mengenai tubuhnya dan dia seolah burung yang berterbangan di antara puluhan murid-murid Hek-liong-pang. Semuanya tertegun dan kaget oleh gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dipertunjukkan si Golok Maut ini menyelinap dan jarinya bergerak merobohkan lawan-lawan yang ada di depan. Dan pintu ketiga sampai pintu ketujuh Golok Maut ini selalu lolos menghindari hujan tombak atau pedang berkelebatan dan terus maju sementara murid-murid Hek-liong-pang pun roboh bagai rumput dibabat.

Dan ketika di pintu ketujuh ini dia menghadapi murid-murid Hek liong pang yang lebih tangguh karena mereka terdiri dari murid murid tingkat empat atau tiga maka di sini si Golok Maut itu agak tertahan. dikeroyok puluhan orang tapi akhirnya sinar atau cahaya menyilaukan itu kembali berkelebat. Sekarang Golok Maut tak mempergunakan jari atau tangannya lagi melainkan sinar atau cahaya menyilaukan itu, yang entah apa tapi dapat dipastikan sebuah senjata yang ampuh, hebat dan luar biasa dan ketajamannya melebihi pisau cukur. Terbukti kepala-kepala segera bergelindingan dan jerit atau pekik ngeri disusul tumbangnya tubuh-tubuh yang tanpa kepala.

Dan ketika anak murid Hek-Liong-pang gentar dan mereka mundur sambil berteriak teriak maka Golok Maut sudah melompat dan memasuki pintu kedelapan, disusul dengan pintu kesembilan dan akhirnya pintu terakhir, pintu nomor sepuluh. Dan begitu di pintu ini bola-bola kepala sudah bergelindingan dan malang-melintang di mana-mana maka Golok Maut sudah berhadapan dengan ketua Hek-liong-pang sendiri, juga wakilnya. Hok Beng. Dua pemimpin Hek liong-pang yang mendelik dan marah bukan main melihat sepak terjang si Golok Maut itu.

"Golok Maut," Hek liong-pangcu, sang ketua Hek-Liong-pang mengeluarkan bentakan yang membuat dinding-dinding bergetar. "Apa ulasanmu membunuh-bunuhi anak murid Hek-Liong-pang? Apa yang membuatmu begini telengas dan ganas?"

"Hm," Golok Maut, laki-laki itu menjawab dingin. "Aku selamanya tak suka membunuh orang kalau tidak dipaksa. Hek liong-pangcu. Kalau mereka mau baik-baik mengantar aku ke sini tentu mereka tak akan kubunuh. Mereka memulai dan mereka meminta mati."

"Keparat, kau sekarang sudah berhadapan dengan aku. ketua Hek Liong-pang. Katakan maksudmu dan bagaimana penanggung-jawabanmu mengenai puluhan korban yang menjadi keganasan tanganmu ini!"

"Hm!" Golok Maut kini mendongakkan sedikit mukanya. "Aku datang untuk meminta daftar para anggauta Hek-liong-pangcu. Dan sayang bahwa kau dan anak muridmu menyambutku dengan cara begini. Kematian mereka adalah salahnya sendiri, aku lak bertanggung jawab untuk itu."

"Jahanam. dan untuk apa daftar para anggautaku di sini. Apa perlumu?"

"Membunuh yang ber-she Coa dan Ci. Kau sudah menyiapkan buku itu?"

Hek Liong-pangcu menggigil. Enak saja Golok Maut ini bicara. suaranya begitu dingin dan lenang. Seolah dia bicara kepada bawahan dan menyuruh ketua Hek-liong-pang itu menyerahkan daftar para anggautanya. Dan ketika kakek tinggi besar itu membelalak dan bentakan terdengar dari mulutnya maka kakek ini meloncat dan mencabut tongkat pedangnya.

"Golok Maut, kau bedebah dan terkutuk. Daftar ini tak akan kuberikan dan biar kau mampus membayar hutangmu!"

"Hm. boleh kutanya sebentar?" Golok Maut tenang-tenang saja, tak perduli pada tongkat berbahaya yang bergetar di tangan ketua Hek-liong pang itu. "Apakah kau she Coa? Benarkah kau bernama Coa Hing Kok?"

Kakek tinggi besar ini tertegun,

"Jawab, tak perlu takut, Hek-liong pangcu. Kalau benar aku akan memberikan kematian yang mudah bagimu."

"Aargh!" kakek itu menggeram. menggedruk bumi. "Benar aku Coa Hing Kok. Golok Maut. Tapi nama itu sudah kukubur belasan tahun yang lalu. Kau sombong berani mengancam orang-orang she Coa.... wutt!" dan tongkat pedang yang bergerak menuju dada si Golok Maut tahu-tahu menyambar dengan kecepatan kilat dan menusuk diiringi bentakan menggetarkan, membuat anak murid Hek-liong pang mundur dan beberapa di antaranya mengeluh. Bentakan sang ketua yang penuh tenaga khikang membuat yang tak kuat serasa rontok jantungnya. mereka itu pucat dan cepat berlindung.

Tapi ketika senjata tinggal sejengkal dari dada si Golok Maut siap dilubangi tahu-tahu lelaki bercaping itu mengegos. perlahan saja dan tongkat pedang pun lewat di sisinya. Begitu mudah!! Dan ketua Hek-liong-pangcu mendelik dan kaget oleh egosan ini maka si Golok Maut menggerakkan tangannya dan.... plak, terpelantinglah kakek itu oleh sebuah tamparan perlahan yang mendarat di pergelangannya.

"Hek-liong-pangcu, tak usah buru buru. Kalau ingin mati cepat, mudah kululuskan!"

Sang ketua Hek liong pang terkejut bukan main. Dia sudah meloncat bangun oleh tamparan itu, berjungkir balik dan kini tegak dengan muka merah padam. Wajah kakek ini membesi dan gelap. Hek liong-pangcu marah tapi juga terkejut. Segebrakan itu ia dibuat terpelanting, membuka mata kakek ini bahwa lawan benar-benar hebat. Agaknya dia bukan tandingan! Namun karena pantang menyerah sebelum kalah dan kakek itu mau menyerang lagi tiba-tiba wakilnya sudah berkelebat dan menahan tangannya.

"Suheng, sabar. Agaknya lawan harus kita hadapi berdua. Kau mundurlah dan biar aku dulu mencobanya."

Bisikan itu menyadarkan sang ketua. Hek liong-pangcu ini menggeram dan mengangguk, mundur dan wakil ketua Hek-liong-pang itu pun sudah maju dengan pedang ditangan. Hok Beng, laki-laki berpakaian longgar ini telab melihat segebrakan tadi, terkejut dan tentu saja kaget setengah mati. Tapi karena mereka berada di sarang sendiri dan banyak jebakan-jebakan yang mereka buat maka wakil ketua Hek-liong pang ini menindas rasa jerihnya dan membentak.

"Golok Maut, aku adalah wakil ketua Hek Liong-pang. Kalau kau hendak membunuh ketua kami tentu saja kau harus berhadapan dulu denganku. Bersiaplah, aku akan mulai menyerang!"

"Hm, kau Hok Beng? Sute termuda dari Kim-Hong Sian-li?"

"Benar, kau rupanya tahu. Entah bagaimana kau menciptakan permusuhan dengan Hek-Liong-pang yang selamanya belum pernah mengganggumu!"

"Hm, Hek-liong-pang harus kuhajar. orang she Hok. Kalian pernah menjalin hubungan dengan Coa ongya (pangeran Coa)."

"Siapa kau?" laki-laki ini tertegun, terkejut. "Kau musuh pangeran Coa?"

Si Golok Maut tak menjawab.

"Buka capingmu, Golok Maut. Perlihatkan siapa dirimu dan apa arti kata-katamu itu dengan semuanya ini!"

Golok Maut mendengus. "Aku membuka capingku kalau seseorang berhasil mengalahkan aku. Mengingat dirimu she Hok dan hanya ikut-ikutan ketuamu saja sebaiknya kau menyingkir. Aku butuh ketuamu dan daftar orang orang she Coa dan Ci"

"Keparat!" hu-pangcu ini tak sabar lagi. "Meskipun kau lihai tapi bukan berarti kami takut, Golok Maut. Terimalah ini dan mampuslah.......sing!" pedang menyambar menuju tenggorokan si Golok Maut tapi sama seperti tadi tiba-tiba Golok Maut ini mengegos.

Laki-laki itu hanya menggerakkan kepalanya sedikit, miring ke kiri. Dan ketika pedang mendesing di samping lehernya dan Golok Maut itu tak merobah kedudukan kukinya tiba tiba tangan kanan bergerak dan....... dess.......perut Hok Beng disambar siku yang sudah dilipat, roboh mengaduh dan wakil Hek-Liong pang itu bergulingan. Perut melilit-lilit dan sute Coa Hing Kok itu merintih! Dan ketika dia melompat bangun namun terhuyung sambil menahan sakit maka Golok Maut berseru agar laki laki itu mundur.

"Kau bukan lawanku, mundurlah baik baik"

"Jahanam'" lelaki ini membentak. "Kau lihai namun aku tidak takut. Golok Maut. Kalau kau ingin membunubku cobalah.... sing-wut" pedang kembali bergerak, menusuk dan membacoki, tapi Golok Maut tenang tenang saja mengelak. Bhesi atau pasangan kaki lelaki bercaping itu masih saja menancap kokoh di tanah, hanya pinggang ke atas yang bergerak menghindari semua tusukan atau bacokan. Dan ketika pedang menyamhar nyambar tapi luput mengenai angin maka dua jari si Golok Maut bergerak dan.......trang.....lepaslah pedang di tangan wakil ketua Hek-liong-pang itu yang terkena totokan lihai, tepat di pergelangannya!

"Hah," wakil ketua ini tertegun.

"Kau bukan lawanku, orang she Hok. Minggir dan turuti kata-kataku. Biar suhengmu maju dan berhadapan dengan aku!"

Hok Beng, lelaki ini pucat pasi, Dia ternyata kalah begitu mudah, pedangnya diruntuhkan dan kalau mau lawannya itu dapat membunuh ia. Bukan main lihainya si Golok Maut ini. Tapi sementara dia tertegun dan menjublak memandang lawan, tiba tiba tujuh pisau berkesiur dan suhengnya membentak menerjang si Golok Maut, maju memberi aba-aba dan anak murid Hek-liong pang tersentak.

Mereka disuruh mengeroyok dan agaknya itu yang memang dapat mereka kerjakan. Tak seorang pun di antara mereka yang rupanya dapat menandingi si Golok Maut ini, satu lawan satu. Dan ketika kakek tinggi besar itu juga membentak pada sutenya agar mengambil senjata baru dan maju menerjang si Golok Maut itu maka Hok Beng sadar dan meloncat ke dinding, mencabut pedang yang tersisip di situ dan anak murid Hek-Liong pang yang patah-patah senjatanya juga segera mengambil senjata-senjata disini, golok atau pedang dan tombak yang sengaja disediakan di situ sebagai senjata darurat atau cadangan. Dan begitu mereka menyerbu dan berteriak membantu ketuanya maka Golok Maut sudah dikeroyok dan mendapat hujan senjata yang berhamburan dari kiri dan kanan.

"Trang-trangg!"

Orang terkejut, Golok Maut yang mereka serang tiba tiba lenyap. Senjata mereka beradu sendiri dan kontan anak anak murid Hek hong pang itu menjerit. Mereka saling bertemu dengan teman sendiri dan mereka pun terpelanting. Dan ketika mereka kaget dan terbelalak karena tak tahu di mana Golok Maut berada mendadak Hek-liong-pangcu (sang ketua) membentak menusuk sebuah tubuh yang melingkar. Ada di bawah dan kiranya si Golok Maut sudah mempergunakan ilmu trenggiling, rebah dan secepat kilat menekuk tubuh di situ, melingkar, persis trenggiling. Dan begiiu pedang membacok ke bawah dan Golok Maut menjadi sasaran tunggal tiba-liba sebuah jari menjentik dan...... pedang di tangan ketua Hek-liong-pang itu pun terpental.

"Cring!"

Hek-liong-pangcu kaget bukan main. Golok Maut telah menangkis serangannya dengan cara yang luar biasa, seperti kura-kura atau trenggiling yang mengeluarkan sedikit jarinya. Dan ketika pedang terpental dan Golok Maut tertawa dingin, tiba tiba lelaki bercaping itu sudah menggelindingkan tubuhnya ke kiri dan... robohlah murid murid Hek-liong-pang, diketuk atau ditarik kakinya dan anak-anak murid Perkumpulan Naga hitam itu berteriak-teriak. Mereka salah urat dan sebagian besar tak dapat bangun lagi. Dari Lima puluh anak murid ternyata dua puluh sudah dibikin tak berdaya oleh si Golok Maut, yang hanya bertangan kosong.

Dan ketika yang lain terkejut dan Hek liong pangcu marah bukan main maka kakek ini membentak menerjang lagi, dibantu sutenya dan ketua Hek liong pang itu melepas lagi tujuh pisau pisau kecil, menyambar ke bawah dan Hok Beng juga membacok serta menusuk Golok Maut yang masih bergelindingan di bawah, diserang dari dua jurusan, kiri dan kanan. Tapi tepat tujuh pisau menyambar dan Golok Maut mengeluarkan tawa aneh, tiba tiba lelaki bercaping itu menangkap tujuh murid Hek liong pang dan menendang dua yang lain untuk menerima tusukan atau bacokan si ketua Hek-liong-pang, juga sutenya.

"Crep-crep...!"

Tujuh pisau itu mendapat sasaran, bukan Golok Maut melainkan tujuh murid hek liong pang ini. Kontan tujuh teriakan ngeri terdengar di situ dan ditambah dua jeritan lagi, dua dari murid terakhir yang menerima tusukan atau bacokan pemimpinnya. dan ketika ketua Hek liong pang dan wakilnya tertegun melihat itu maka Golok Maut sudah melenting bangun dan sembilan tubuh terkapar tak bernyawa ditembus pisau pisau kecil itu dan serangan Hek-liong-pangcu sendiri.

"Nahh," Golok Maut berkata dingin. "Kau memhunuh anak-anak muridmu sendiri. Hek-liong pangcu, tak ada tanggung jawab dariku,"

"Keparat!" kakek tinggi besar ini membentak. "Kau jahanam bedebah. Golok Maut. Kau berhutang semakin banyak jiwa di sini. Kubunuh kau!" dan Hek-liong-pangcu yang kembali menerjang dan menyuruh anak-anak murid yang lain maju membantu, akhirnya mengeroyok pula bersama sutenya.

Hok Beng menggerakkan tongkat pedangnya namun si Golok Maut mengelak sana-sini, mudah dan enteng dan ketua Hek-liong-pang itu mendelik sebesar jengkol Ketua Hek liong-pang ini marah dan gusar bukan kepalang. Dan ketika anak muridnya maju membantu dan puluhan orang kini mengeroyok lelaki bercaping itu maka Golok Maut tertawa mengejek. Menggerak-gerakkan jari tangannya dan terdengarlah bunyi tang ting-tang-ting yang nyaring. Semua senjata anak murid Hek Liong-pang terpental dan beberapa di antaranya bahkan terlepas, tak kuat bertemu jari si Golok Maut yang menangkis. Dan ketika Golok Maut menyuruh mereka mundur tapi anak murid Hek-liong-pang takut kepada ketuanya maka Golok Maut mengancam bahwa mereka bisa tinggal nama.

"Yang bukan she Coa dan Ci harap minggir, Atau kalian terpaksa ke akherat!"

Murid-murid gentar. Sebenarnya mereka sudah jerih dan pucat. Golok Maut ini dikeroyok bersama wakil ketua dan ketua masih juga hebat. Mampu bicara dan berteriak menyentil ke sana kini. Dan ketika mereka maju mundur dan bingung oleh ancaman itu maka Hek-liong-pangcu membentak agar menyerang lebih hebat.

"Jangan takut, atau kalian kuhukum nanti!"

Terpaksa, karena diancam ketuanya sendiri dan Golok Maut tetap dikepung akhirnya anak murid menjadi nekat dan menyerang lebih sengit. Lebih takut kepada ketuanya daripada Golok Maut. Lawan belum merobohkan pemimpin mereka dan karena itu murid murid Hek liong pang lebih patuh kepada ketuanya Dan ketika mereka menyerang lagi dan Golok Maut mengeluarkan tawa dingin, tiba-tiba lelaki ini menerima hujan senjata dengan jari-jari terbuka, tangan telanjang

"Crak-crak-crakk!"

Anak murid Hek-liong-pang terkejut. Mereka tiba-tiba ditangkapi senjatanya dicengkeram. Dan ketika Golok Maut mengerahkan tenaga dan tombak atau pedang diremas hancur maka potongan-potongan senjata ini dihamburkan ke kiri kanan disertai bentakan.

"Robohlah!" dan begitu pekik serta jerit ngeri terdengar maka anak-anak murid Hek liong-pang roboh dan satu persatu mereka terbanting bergulingan. pundak atau lengan serta kaki mereka ditembus patahan senjata senjata tadi yang terkena perut atau dadanya langsung tewas.

Hek hong pangcu sendiri berseru keras menangkis sebuah potongan pedang, mencelat dan kakek itu terbabat tongkatnya. Dan ketika potongan pedang menyambar dan masih memburu matanya maka kakek ini menangkis dan tangan pun terluka, sutenya sendiri di sana bergulingan menjauh mendapat serangan mata tombak memberebet dan pundak pun terluka. Dan ketika dua orang itu meloncat bangun dan potongan mata tombak menancap di pundak wakil ketua Hek liong-pang ini maka dua orang itu menggigil dan saling pandang. ngeri.

"Suheng. lari....."

Kakek tinggi besar itu tertegun. Hok Beng. sutenya menyuruh dia lari! Anak-murid Hek liong pang menjadi gentar dan menjauh. mereka tinggal beberapa saja karena lebih separohnya malang-melintang di tanah. roboh atau tewas. Tapi ketika Hok Beng berteriak lagi dan kakek ini ragu atau marah tiba tiba dia menyuruh anak murid yang menjublak untuk menyerang Golok Maut itu.

"Serang, bunuh dia.....!"

Namun tak ada yang bergerak

"Keparat, kalian tak mendengar perintahku? He. serang dia. anak-anak. Serang!!"

Namun murid murid Hek-liong-pang yang menggigil dan seolah terpaku di tempatnya tiba-tiba malah lemas dan roboh sendiri-sendiri. tak kuasa menahan lutut mereka yang gemetar dan kakek tinggi besar itu merah padam, kaget dan marah, juga panik. Dan ketika dia menyuruh sutenya menyerang namun sutenya juga mendelong dan malah menyuruh dia lari akhirnya kakek tinggi besar ini membanting kaki dan menghantam sebuah pintu.

"Brakk!"

Ketua Hek-liong pang itu berkelebat. Dia memaki si Golok Maut dan lenyap ke dalam, melalui pintu yang dihantam pecah ini. Dan ketika Hok Beng juga menyusul dan anak murid Hek liong-pang ribut maka mereka berhamburan keluar melarikan diri. mencontoh perbuatan ketua mereka dan pimpinan serta wakil pimpinan Hek-liong pang itu lenyap melalui pintu rahasia. Golok Maut tertegun tapi tiba-tiba mendengus. berkelebat dan melesat melalui pintu yang dihantam pecah itu. Tapi ketika panah-panah beracun menyambut dari dalam dan benda-bcnda lain seperti batu atau tombak dijepret dari dalam maka Golok Maut ini menggerakkan kedua tangannya mendorong dan mengebut.

"Plak-des-plak!!" Batu dan tombak atau panah hancur bertemu pukulan si Golok Maut ini. Dengan berani dia mcnyelinap dan melakukan pengejaran, menuruni atau menaiki jalan-jalan rahasia dengan jebakan di sana-sini. Tak ayal ketua Hek-liong-pang dan wakilnya menjadi panik. Mereka selalu dibuntuti dan dibayangi. pintu pintu rahasia hancur dipukui kedua tangan si Golok Maut. Dan ketika dua orang itu melarikan diri dan Coa Hing Kok, ketua Hek-liong-pang itu pucat dan gemetaran maka bersama sutenya kakek tinggi besar ini naik turun melalui terowongan terowongan rahasia.

"Cepat, putar batu itu. Tutup pintu terowongan!!"

Hok Beng. sutenya, telah melakukan ini. Memutar sebuah batu yang mengganjal di mulut sebuah pintu rahasia, terdengarlah dentam dan dentum sebuah batu persegi empat menutup dan langsung mengganjal terowongan bawah tanah. Tapi ketika terdengar suara "cras-cres" dan batu atau bongkahan batu raksasa itu tembus dibocok sebuah golok menyilaukan maka ketua Hek-liong pang ini ngeri dan jatuh bangun melanjutkan larinya.

"Ke kiri! Kita ke kiri. suheng. Langsung ke Kim liong-pang.....!"

Kakek tinggi besar itu berkeringat. Malam itu. dua jam setelah pertempuran dan kejadian di markas Hek-liong-pang ketua Perkumpulan Naga hitam ini menyadari bahwa lawan terlalu hebat. Golok Maut bukan tandingan dan satu-satunya jalan hanyalah melarikan diri. Sebagai ketua dan wakil ketua tak malu malu lagi mareka melakukan ini, buku tebal berisi daftar para anggauta dikempit di ketiak kakek ini. Dan ketika mereka berdua melarikan diri dan berulang kali menutup terowongan bawah tanah dengan batu-batu besar namun semua batu atau pengganjal itu tak tahan terhadap bacokan sebuah golok menyilaukan maka menjelang pagi ketua dan wakil ketua Hek-liong-pang ini keluar dari ruangan bawah tanah mandi keringat.

"Cepat. kita minta bantuan suci. sute. Kita harus. bersembunyi!!."

Hok Beng tak dapat bicara lagi. Wakil ketua Hek liong pang ini sudah menggigil dan gemetaran sejak tadi. Kilatan sebuah golok yang melubangi alau membacok batu-batu di dalam terowongan sungguh mengerikan. Golok Maut tetap di belakang dan mengejar mereka. tawa dinginnya tak pernah hilang dan mereka selalu dibayangi, Dan ketika menjelang pagi mereka sudah keluar dari ruang bawah tanah dan keduanya mandi keringat maka Hing Kok, ketua Hek-liong-pang itu menguatkan tubuhnya berlari cepat, setengah menyeret sutenya.

"Ayo, cepat. sute. Kita sudah hampir di perbatasan Kim-liong-pang!"

"Augh!!" laki-laki ini mengerang. "Tomhak yang menancap di pundakku ini mengganggu, suheng. Lengan kiriku tak dapat digerakkan. Cabut dulu, obati aku!"

"Ah. berbahaya, sute. Golok Maut di belakang dan tahan dulu. Biarkan itu dan kita lari!"

Wakil ketua Hek-liong-pang ini mengeluh. Dia terseok-seok mengikuti lari ketuanya. ditarik dan diseret dan akhirnya sebuah tembok kuning tampak di kejauhan. Pagi sudah tiba dan mereka berdua habis tenaganya. Ketegangan dan kengerian yang mencekam mereka itu sungguh menyedot tenaga, berulang-ulang wakil ketua Hek-Liong pang ini mendesis. Kalau tak diseret dan ditarik seperti itu tentu dia sudah roboh, kaki gemetaran tak keruan Dan ketika mereka kian mendekati tembok Kim-hong-pang dan rasa girang mulai timbul di hati kakek tinggi besar. mendadak bagai iblis saja Golok Maut tampak bayangannya dengan tawanya yang dingin.

"Orang she Coa. kau mau lari ke mana?"

Hing Kok menoleh. Bagai disambar petir tiba-tiba dia melihat lawannya itu sudah dekat di belakang caping yang hampir menutupi seluruh muka itu tampak mendongak sedikit. Sedikit saja tapi sudah cukup membuat kakek ini ngeri' Maka membentak dan melempar lagi tujuh pisau kecilnya tiba tiba ketua Hek-liong-pang itu kabur dan kini meninggalkan wakilnya, yang sudah roboh kehabisan tenaga.

"Golok Maut. kau siluman jahanam.....!"

Tujuh pisau itu rontok. Terdengar suara tang ting ketika pisau pisau ini mengenai tubuh si Golok Maut yang tidak menangkis atau menyampok. ha! yang tak dilihat kakek tinggi besar itu tapi dilihat wakilnya, Hok Beng, yung sudah terjerembab. Dan ketika Golok Maut mendengus dan lawan melarikan diri mendadak laki-laki bercaping itu membentak dan angin pun berkesiur di atas kepala Hek liong-pangcu.

"Coa Hing Kok, berhenti!!"

Kakek tinggi besar ini berteriak. Golok Maut tahu tahu telah berada di depannya, tegak tak bergeming dan dia akan menabrak lawannya itu. tentu saja kakek ini membentak dan menggerakkan senjatanya. Tongkat pedang yang tongkatnya sudah terpapas sedikit, menghantam dan mengemplang kepala lawan dengan tongkatnya itu. Tapi ketika lawan menerima dan kepala dihantam tongkat tiha-tiba tongkatnya itu hancur dan lawan tak apa apa.

"Desss!" Hing Kok. kakek ini pucat. Golok Maut tertawa dingin dan memandangnya dengan senyum mengejek. Kini tampaklah sekilas lebih jelas wajah di balik caping itu. wajah yang membuat ketua Hek-liong-pang tertegun. Tapi membentak dan berseru lagi tiba tiba kakek itu menggerakkan pedangnya. bagian bawah dan tongkat dan pedang itu sudah membacok leher lawan, menyambar dengan kecepatan kilat. Tapi Golok Maut yang mengelak dan menggerakkan jari tiba tiba menangkap dan menjepit senjata kakek itu.

"Pletak!

Hing Kok mendelong. Kakek ini menjadi pucat melihat pedangnya ditekuk menjadi dua. patah dan tentu saja tak dapat dipakai lagi. Dan ketika Golok Maut berseru menyambit patahan pedang maka kakek itu terjungkal ketika pundaknya tembus terluka.

"Hah." kakek itu bergulingan merintih tak keruan.

"Serahkan daftar anggautamu, Hek-Liong pantcu. dan juga serahkan jiwamu!"

"Tidak!" kakek itu menjerit. "Kau kejam dan ganas. Golok Maut. Kau.. breet!" buku di ketiak disambar Golok Maut, lenyap dan sudah berpindah ke tangan laki laki mengerikan itu. Dan ketika kakek ini melolong dan Golok Maut membuka sekejap buku yang diambil tiba-tiba ketua Hek Liong-pang itu memanggil manggil Sucinya. ketua Kim-hong pang. "Suci. tolong......"

Namun jeritan ini terbungkam. Golok Maut tiba tiba berkelebat dan keluarlah cahaya atau sinar mengerikan itu, satu kali saja namun kepala kakek tinggi besar itu telah terpisah dari tubuhnya. Dan ketika kakek itu roboh dan tubuh tanpa kepala ini memuncratkan darah bagai pancuran besar maka dari balik tembok Kim long pang berkelebatlah bayangan-bayangan yang menuju ke tempat itu, ditoleh dan Golok Maut mendengus. Tawa dinginnya tak pernah lupa dan Hok Beng yang roboh terbelalak menyaksikan kekejaman itu.

Wakil ketua Hek-liong-pang ini dengan jelas melihat robohnya sang suheng, yang sudah tidak berkepala lagi. Dan ketika wakil ketua itu mengeluh dan pingsan serta ngeri maka Golok Maut berkelebat dan lenyap meninggalkan tempat itu, terganti oleh datangnya seorang nenek dan puluhan wanita wanita muda dari Kim liong pang.

"Sute..,.!"

Panggilan ini sudah tak terjawab. Nenek itu berkelebat dan tertegun di depan sebuah kepala yang baru terhenti menggelinding, terbelalak dan pucat di situ. Dan ketika murid-murid Kim liong pang, wanita-wanita muda itu juga tertegun dan terbelalak di situ tiba-tiba nenek ini, ketua Kim-lioug-pang menjerit dan melengking lenyap.

"Golok Maut. kau siluman tak berjantung!"

Namun nenek ini tak dapat menemukan lawannya. Dia tadi melengking-lengking dan berputaran di situ, bayangannya berkelebatan dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, begitu cepat namun masih kalah cepat oleh menghilangnya Golok Maut. Dan ketika nenek itu kembali dan menangis tersedu-sedu maka Kim-liong-pang geger dengan kematian ketua Hek-liong-pang itu, mengurus jenasahnya dan Hok Beng segera di sadarkan. Wakil ketua Hek-liong-pang ini terkena guncangan hebat dan untuk beberapa hari dia kejang-kejang.

Memang peristiwa itu terlampau hebat, Hek liong-pang, yang memiliki tiga ratus anggauta ternyata tak mampu berbuat apa-apa terhadap si Golok Maut, tokoh mengerikan itu. Dan ketika ini masih ditambah lagi dengan berita bahwa murid-murid Hek-liong-pang yang ber-she Coa dan Ci akhirnya dibunuh Golok Maut berdasar Catatan yang dibawa maka dunia kang-ouw-pun gempar dan ribut.

"Golok Maut benar-benar telengas dan ganas. Dia membunuh-bunuhi orang ber-she Coa, dan Ci seperti terhadap musuh bebuyutannya!"

"Benar, kabarnya dia akan membunuh orang-orang yang ber-she Coa dan Ci di dunia ini kawan. Dunia hendak dibersihkannya dari dua nama itu!"

"Heran, persoalan apa yang membuat dta begitu? Dan siapa sesungguhnya si Golok Maut ini?"

"Siapa tahu? Kabarnya tokoh itu menyembunyikan muka di balik capingnya yang lebar. Orang tak tahu siapa dia kecuali kelihaiannya!"

"Hm, dan orang-orang ber-she Coa atau Ci akan bersembunyi. Golok Maut bagai hantu penyebar penyakit!" dan ketika percakapan atau pembicaraan ini menjadi hangat dan kian santer maka benar saja orang-orang ber-she Coa atau Ci menyembunyikan diri. Banyak di antara mereka yang mengubah nama namun Golok Maut tetap tahu juga.

Ketua Pek-kiok-pang dan Hwa-long, yang masing-masing bernama Ci Hak dan Coa Hun akhirnya terbunuh. Kepala mereka dipenggal dan banyak murid-murid yang hanya melihat berkelebatnya sebuah cahaya menyilaukan dan terpisahlah kepala ketua mereka itu dari tubuhnya. Dan ketika orang menjadi kian terguncang dan nama Golok Maut benar benar merupakan momok bagi dua nama yang bersangkutan maka Golok Maut akhirnya dibenci tapi juga ditakuti orang bagai sebuah sebuah penyakit ganas!

Siapa Golok Maut? Tak ada yang tahu. Dan persoalan apa yang membuat dia memusuhi orang-orang she Coa dan Ci? Juga tak ada yang tahu. Dan karena Golok Maut merupakan tokoh misterius namun kelihaian dan kekejamannya amat luar biasa maka orang pun akhirnya bersiap dan waspada terhadap tokoh yang satu itu, terutama orang-orang she Coa dan Ci.

 
* * * * * * *

"Kau she Coa?"

"Bukan."

"Kau she Ci?"

"Bukan."

"He, kalau begitu siapa namamu?"

"Ha-ha, aku Golok Maut, Kong lian. Dan kalau kau she Coa atau Ci maka kau akan ku bunuh!"

Dua anak muda bergurau di tengah jalan, tertawa-tawa dan tuding-menuding. Mereka itu membawa buntalan besar di punggung, masing-masing ejek-mengejek dan nama Golok Maut dibuat bahan permainan. Mereka itu saling pukul dan tampar di pundak temannya. Dan ketika siang itu mereka tiba di hutan dan berteduh di bawah pohon maka Keng Han, pemuda pertama duduk membanting pantatnya.

"Hai, tak usah bergurau lagi. Suhu menyuruh kita menyelidiki si Golok Maut itu dan bukan mengolok-oloknyal"

"Ha, kau takut?"

"Siapa takut? Kita bertugas membela si teman, Su Tong. Kalau Golok Maut itu ada di sini tentu kutangkap dia!"

"Dan kau gebuki pantatnya," Su Tong, pemuda, kedua tertawa. "Kau harus menghajarnya seperti anak kecil dulu, Kang Han. Baru menyerahkan kepadaku untuk kuseret menghadap suhu!!"

"Hm. masa begitu? Kalau aku yang menangkapnya maka aku pula yang membawanya, Su Tong. Kau jangan enak sendiri dan mau menonjolkan jasa!"

"Ha-ha, bukan begitu. Tapi, eh siapa itu?" Su Tong. pemuda ini berhenti dan menoleh. Mereka tiba-tiba melihat seorang wanita muda muncul dari dalam hutan. membawa payung. Muncul seperti siluman dan dua pemuda ini bengong. Mereka itu melihat seraut wajah yang cantik dan tubuh menggaiurkan, tiba-tiba jakun mereka naik turun dan Su Tong melihat temannya melonpat bangun.

Keng Han, pemuda yang duduk tadi tiba-tiba bersinar-sinar. Dan ketika mereka tertegun dan wanita muda yang cantik itu melenggang dan akhirnya melewati mereka berdua maka, seperti di sambar gunting tajam, dua pemuda ini mendapat senyum dan kerlingan maut, tajam menyambar...!