Kipas Dewi Murka - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Serial Pendekar Mabuk
Kipas Dewi Murka
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU

LANGKAH si tampan Pendekar Mabuk terpaksa berhenti ketika ia mendengar suara aneh yang mencurigakan. Suara itu datang dari hutan sebelah kirinya yang penuh dengan semak belukar. Daun-daun ilalang tumbuh subur dalam ketinggian melebihi tubuh manusia dewasa. Dari dalam semak belukar itulah suara mirip orang merintih terputus-putus terdengar menembus kelebatan semak.

"Ada yang terluka di sana?!" pikir Suto Sinting dalam keraguan. "Suara orang merintih karena luka, atau suara orang yang merintih karena nikmat?!"

Telinga si murid sinting Gila Tuak itu dipertajam lagi. Suara rintihan yang terdengar samar-samar karena jaraknya agak jauh itu terdengar semakin meragukan bayangan yang ada dalam benak Suto Sinting.

"Uh, aah... aduh, aduh, aaah... uuuh... ooh, oh, oh."

Hati pemuda tampan berambut lurus sepundak tanpa ikat kepala itu mulai membatin lagi sambil dahi tetap berkerut tajam. "Suara itu jelas suara perempuan. Tapi perempuan tua atau muda, ya?! Hmmm jangan-jangan perempuan itu sedang bercumbu? Tapi mengapa suara lawan jenisnya tidak terdengar? Apakah ia bercumbu dengan lelaki bisu? Ah, sialan! Jantungku jadi berdebar-debar begini. Sebaiknya kutinggalkan saja suara itu."

Namun rasa penasaran yang mudah terpancing dalam hati Suto Sinting, tak mungkin mampu membuatnya pergi begitu saja. Walaupun hati berdebar-debar dan keringat dingin sempat keluar karena bayangan mesum yang muncul di benaknya, Suto Sinting akhirnya nekat mendekati suara rintihan seorang wanita itu. Ia menerabas semak dengan langkah pelan-pelan agar tak menimbulkan bunyi, ia bermaksud ingin mengintip si pemilik suara tersebut.

"Ooh... uuuh... ah, ah, ah, aaaahh...," lalu disusul suara napas terengah-engah seperti orang habis berlari jauh.

Semakin dekat semakin jelas suara napas ngos-ngosan itu, sehingga kini Pendekar Mabuk pun semakin gemetar dan hati kian berdebar-debar karena bayangan dalam benak Suto bertambah syur. Tapi kaki tetap melangkah mendekati suara tersebut dengan batin kian bicara,

"Suaranya merdu, agak serak-serak basah. Sepertinya ia masih muda dan sedang diburu hasrat cinta yang menggebu-gebu. Oh, ya... sebaiknya kuintip dari atas pohon saja. Biar pemandangannya lebih jelas lagi."

Wuuut...! Tubuh kekar berdada bidang itu melesat ke atas dan hinggap di atas pohon tanpa suara dan gerakan berisik. Itu menandakan bahwa ilmu peringan tubuh yang dimiliki Suto Sinting cukup tinggi, sehingga tubuhnya mampu melayang dan hinggap bagaikan kapas tanpa beban berat. Tak satu pun daun pohon itu yang bergerak walau kaki Suto Sinting sempat menginjak permukaan daun sebelum akhirnya pindah ke sebuah dahan sebesar lengannya.

"Ya, ampuuun...?!" Pendekar Mabuk lebarkan matanya yang indah itu. Ia terkejut melihat apa yang dicarinya sejak tadi. "Ternyata aku salah khayal. Ooh... celaka! Kalau begini caranya aku tak boleh terlalu lama ada di sini. Aku harus segera turun dan... dan... ah, tapi kalau aku turun dan mendekatinya, ia bisa salah paham padaku?! Aduh, bingung juga kalau begini?!"

Pemandangan yang diintainya itu adalah pemandangan segar yang menyedihkan. Seorang gadis dengan rambut terurai lepas dari ikatannya berdiri di antara dua pohon yang tumbuh dalam jarak dekat. Gadis itu berwajah cantik, matanya berbulu lantik dan berbinar-binar indah sekali. Suto Sinting memperkirakan usia gadis itu sekitar dua puluh dua tahun. Tubuhnya sekal padat berisi, dengan dada yang membengkak bagai penuh tantangan yang menggiurkan setiap lelaki.

Keadaan si gadis sangat menyedihkan. Kedua tangannya diikat dalam keadaan terentang pada dua pohon di kanan-kirinya. Kakinya juga merentang ke kanan-kiri dalam keadaan diikatkan pada dua pohon tersebut. Jelas gadis itu tertawan dan seorang musuh telah mengikatnya sedemikian rupa hingga mendebarkan hati Pendekar Mabuk.

Hal yang paling mendebarkan si Pendekar Mabuk itu adalah keadaan gadis itu yang mirip bayi. Ia ditawan sebegitu rupa dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun. Keadaan itu yang membuat hati Suto Sinting kian berdebar dan jantungnya menyentak-nyentak. Sesaat ia seperti terpesona melihat pemandangan di hadapannya. Gadis itu berkulit kuning langsat, mulus tanpa cacat sedikit pun. Bentuk tubuhnya sangat indah, tak terlalu kurus, juga tak terlalu gemuk. Sekal, padat berisi.

"Ah, uuhh... eeeh... uuuh...!" suara si gadis mengerang dan mendesah bukan lantaran menikmati sentuhan mesra, namun berusaha menarik tangan agar terlepas dari tali pengikatnya. Sebentar kemudian ia berhenti dan terengah-engah kelelahan. Bibirnya yang ranum mungil itu digigit sendiri bagai sedang menangis. Melihat bibir digigit, Suto Sinting semakin menggeram gemas dalam hatinya.

"Apa yang harus kulakukan jika begini?" pikir Pendekar Mabuk dalam kebingungan. "Kalau kudekati, nanti disangkanya aku ingin menyaksikan kemulusannya. Kalau dibiarkan saja, oh... alangkah kasihannya gadis itu?! Agaknya tali yang dipakai untuk mengikatnya bukan sembarang tali. Semakin ditarik-tarik semakin mengencang membuat pergelangan tangan gadis itu menjadi kian terjerat dan kulitnya berubah merah."

Pakaian si gadis tak kelihatan di sana-sini. Senjatanya pun tak ada di sekitar tempat itu. Timbul pertanyaan di batin Suto Sinting, "Apakah gadis itu setiap harinya memang polos begitu ke mana pun ia pergi?! Mengapa tak ada selembar pakaian pun di sekitarnya? Jika aku berhasil melepaskan ikatannya, lalu apa yang harus kulakukan?!"

Pendekar Mabuk akhirnya duduk di atas dahan itu merenungkan langkah yang harus diambil. Renungan itu disertai pandangan mata tertuju lurus pada si gadis yang malang. Semakin lama merenung semakin hanyut khyalannya, sehingga yang terbayang dalam benak Suto Sinting bukan mencari cara melepaskan gadis itu melainkan bayangan indah dalam menikmati kemulusan dan keterbukaan gadis cantik bertahi lalat kecil di ujung bibir kirinya itu. Lamunan ngeres itu segera lenyap setelah gadis itu perdengarkan suara walau lirih dan hampir tak terdengar oleh Pendekar Mabuk dari atas pohon.

"Kalau saja ada orang yang datang menolongku, aku akan sangat berterima kasih padanya. Jika ia perempuan, aku akan mengabdi kepadanya sebagai saudara angkat. Jika yang menolongku seorang lelaki, seburuk apa pun wajahnya aku akan bersedia menjadi istrinya dan akan kuturuti apa kemauannya. Daripada aku harus begini terus-terusan, lama-lama aku bisa mati nganggur! Oh, Dewaaaaa... kirimkan-lah seorang penolong bagiku."

Kepala gadis itu akhirnya terkulai menunduk. Mungkin menangis, tapi tak terlihat air mata meleleh di pipinya. Mungkin hanya tangis batin yang dapat dilakukannya. Hati Suto Sinting pun menjadi kian iba melihatnya.

Pendekar Mabuk akhirnya beranikan diri untuk berseru dari tempatnya. Keberanian itu timbul setelah ia menenggak tuak beberapa teguk dari bumbung bambu, tempat tuak yang ke mana pun perginya selalu dibawa-bawa. "Nona cantik, bolehkah aku datang menolongmu?!"

"Oooh... suara seorang lelaki?!" gadis itu terbelalak kaget sekali, ia mulai tampak gusar dan panik. Matanya membelalak memandangi arah sekelilingnya dengan gerakan menggeragap. Jantung gadis itu menyentak- nyentak cukup kuat karena rasa malu dan bingung menyadari keadaan dirinya.

"Haruskah kubiarkan seorang lelaki datang menolongku dalam keadaan tubuhku seperti ini?!" pikir si gadis sambil menyentak-nyentak tangannya yang ingin bergerak menutup bagian depan secara naluriah. Namun tangan itu tetap terjerat tali yang terbuat dari sejenis akar aneh, karena jika tali itu semakin ditarik jeratannya bukan mengendur melainkan justru semakin mengencang.

"Jawablah pertanyaanku tadi, Nona! Aku akan menolongmu melepaskan penjerat itu, tapi apakah kau izinkan diriku untuk mendekatimu?"

"Jangan!" jawabnya seketika itu juga. Tapi ia jadi berpikir lagi dan ragu-ragu memberi keputusan. "Eh, tapi... boleh saja kau kemari, eh... anu... jangan, sebab aku dalam keadaan... tapi, iya... silakan datang asal... asal... asal kau tutup kedua matamu dan kau tak boleh mengintip sedikit pun. Eh, tapi... anu juga... begini"

Tak ada yang jelas kata-katanya. Bagi si tampan murid Gila Tuak dan Bidadari Jalang itu, kata-kata gadis tersebut sangat membingungkan sehingga ia tak tahu apa yang harus dilakukan, ia diam beberapa saat memikirkan jalan terbaik.

"Kau... kkau... ada di mana?!" seru gadis itu dengan wajah pucat karena rasa malu. Bagaimanapun juga ia tahu bahwa ada seorang lelaki yang telah melihat keadaannya dari balik persembunyian. Dan kesadaran itulah yang membuatnya sangat malu hingga kakinya gemetar.

"Nona, aku ingin menolongmu bukan ingin bertindak tak sopan padamu!" seru Suto lagi.

"Bersumpahlah bahwa kau tak akan memandangiku dengan nakal!"

"Aku... aku tak pernah bersumpah, jadi aku tak bisa bersumpah."

"Ooh...!" gadis itu lemas, karena ia tahu tubuhnya yang polos itu akan menjadi pusat pandangan mata seorang lelaki. Alangkah memalukannya jika hal Itu sampai terjadi, sementara ia belum kenal siapa lelaki itu dan belum tahu seperti apa wajah si lelaki. Tak heran jika dalam hati gadis itu timbul rasa muak dan sebal kepada suara lelaki yang didengarnya.

"Tapi aku butuh bantuannya untuk melepaskan tali penjerat ini?! Jika kuturuti perasaan malu dan muakku, belum tentu ada seorang perempuan yang lewat hutan ini dan menolongku. Aduh, bagaimana diriku jika sudah begini?!" ujarnya membatin dengan sangat sedih dan salah tingkah.

"Kau ada di mana, Kang...?!" seru gadis itu memanggil 'kang' karena melalui suara yang didengar ia dapat menduga bahwa lelaki yang akan menolongnya belum terlalu tua.

"Aku ada di suatu tempat yang mudah mencapai tempatmu dalam sekejap!" seru Suto Sinting. Suaranya yang bergema membuat ia sulit diketahui letak persembunyiannya.

"Apakah... apakah kau melihat keadaanku dengan jelas?!"

"Jelas sekali!"

"Gawat!" gumamnya, lalu berseru lagi, "Dari mana kau melihatku saat ini?!"

"Dari arah depanmu, Nona!"

"Mati aku!" ucapnya dalam hati dengan rasa malu semakin menghujam hati dan membuatnya serba salah. Kemudian ia berseru kembali dengan suara bergetar karena menahan perasaan yang bercampur aduk. "Tutup matamu sekarang juga! Tutup!"

"Baik, sudah kututup mataku saat ini!" seru Suto Sinting dengan mata terbuka lebar dan tetap memandang ke arah gadis itu melalui celah dedaunan.

"Kau... kau boleh mendekatiku dari belakang. Jangan dari depan!"

"Mengapa dari belakang?!"

"Aku mempunyai jurus 'Ludah Geni'. Jika kau mendekatiku dari depan, ludahku bisa keluar secara tak sadar dan membakar kulit tubuhmu!" seru sang gadis, kemudian membatin kata untuk dirinya sendiri, "Lebih baik kubohongi begitu, biar dia tidak mendekatiku dari depan. Biarlah dia mendekatiku dari belakang dan melepaskan tali penjerat ini. Jika sudah terlepas semua, kubunuh pria itu supaya tidak membayangkan kepolosan tubuhku terus-terusan! Biarlah aku menjadi jahat satu kali ini saja. Tebusan dosaku akan kuterima seberat apapun."

Hutan menjadi sepi, alam menjadi sunyi. Suara pria yang diharapkan oleh sang gadis itu terdengar lagi. Sang gadis menjadi bertanya-tanya dalam hati dengan rasa heran. Matanya masih mencari ke sana-sini, namun tak ditemukan sesosok tubuh yang mendekatinya dari balik semak mana pun juga.

"Celaka! Jangan-jangan orang itu justru pergi karena mendengar aku mempunyai jurus 'Ludah Geni' yang kukatakan tadi? Oh, bodohnya aku ini! Bodoh sekali! Mestinya biarlah aku menderita malu sebentar, yang penting aku bisa bebas dari jeratan akar setan ini! Mestinya aku tak perlu menakut-nakuti dia, sehingga akhirnya dia pergi tak mau menolongku. Mungkin dia seorang lelaki pencari kayu atau mengembara tanpa nyali."

Rasa sesal si gadis membuatnya dongkol dan semakin salah tingkah, ia segera mencoba berseru ke arah depan, karena menurut pengakuan yang didengar tadi orang tersebut dapat melihatnya dari arah depan. Perkiraan si gadis mengatakan, bahwa pria yang berseru itu ada di semak depan, di bawah sebuah pohon besar berdaun rimbun itu.

"Hoii...! Kenapa kau diam saja?! Kau ada di mana, Kang?! Jawablah seruanku ini! Jangan main-main denganku, aku bisa mencelakakan dirimu walau kau ada di balik semak-semak. Jawablah, di mana kau sekarang berada!"

"Aku ada di belakangmu!"

"Oooh...?!" gadis itu memekik kaget. Begitu kagetnya sampai tubuhnya terlonjak dan tali penjerat-nya kian mengencang, ia ingin berpaling ke belakang, tapi tak jadi sebab dari suara pelan yang didengarnya tadi ia tahu bahwa si ielaki sudah ada di belakangnya dalam jarak sekitar dua atau tiga langkah.

"Celaka! Ternyata dia sudah ada di belakangku?! Mengapa tak kulihat dan tak kudengar gerakannya saat berpindah tempat?!" pikir si gadis dengan jantung kian menyentak-nyentak kuat. Ia tak tahu bahwa Suto Sinting mampu bergerak cepat bagai sekelebat bayangan dihembus badai karena mempunyai jurus yang bernama 'Gerak Siluman', di mana kecepatan geraknya itu melebihi kecepatan anak panah yang melesat dari busurnya.

Suto Sinting memang ada di belakang gadis itu. Tapi ia terpaku di tempat memandangi tubuh si gadis yang mulus dengan keringat berbintik-bintik di permukaan kulit halusnya itu. Pendekar Mabuk memandang penuh rasa kagum dan hati berdebar-debar diburu hasrat ingin memeluknya. Namun hasrat itu segera dikuasai dengan tarikan napas pelan-pelan. Tetapi mata si tampan itu tak bisa berkedip memandang kesekalan tubuh polos di depannya.

"Pantatnya montok sekali!" gumam hati Suto Sinting dengan jari bergerak-gerak bagai ingin meremas gemas. Sesuatu yang lebih menarik lagi bagi mata bening Pendekar Mabuk adalah sebuah tato yang ada di punggung gadis itu. Pada punggung dekat pundak kiri gadis itu ada tato bergambar setangkai bunga mawar warna Jingga. Tato itu tidak seberapa besar namun tampak indah dan mempunyai nilai seni cukup tinggi. Tato itu menyimbulkan bahwa si gadis bukan wanita yang cengeng dan penakut, bahkan mungkin tubuhnya sudah terbiasa menerima sentuhan yang menyakitkan, sehingga ia berani ditato dengan jarum dan getah pewarna pada kulit punggungnya.

"Hei, mengapa diam saja di belakangku, Setan!" sentak si gadis mulai berang karena sejak tadi Pendekar Mabuk tak berbuat apa-apa. Gadis itu menjadi risi dipandangi dari belakang.

"Apakah namamu, Mawar Jingga?" tanya Suto Sinting setelah maju selangkah lagi. Suaranya makin dekat, hingga si gadis merasa merinding menerima hembusan napas dari mulut dan hidung Suto Sinting saat bicara tadi.

"Tak perlu tanya soal nama!" ketus si gadis dengan jengkel. "Lepaskan dulu ikatanku baru kita bicara soal nama!" ujarnya dengan tetap tak berani memandang ke belakang.

Pendekar Mabuk tertawa kecil, hati gadis itu kian dongkol. "Lakukanlah sekarang juga, Tolol!" bentak si gadis tak sabar lagi.

Suto Sinting segera menenggak tuaknya. Tuak tidak ditelan semua, namun sebagian disimpan di mulut. Kemudian tuak itu disemburkan ke tali pengikat pada tangan kanan si gadis.

Brruss...! Laaap...!

Brrusssh...! Semburan berikutnya pada tali pengikat di tangan kiri si gadis. Laaap...!

Si gadis terbengong melompong di tempat. Hampir-hampir ia tak sadar bahwa tali dan kakinya sudah tidak terikat lagi. Hal yang membuatnya tertegun di tempat adalah keanehan yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Dua pohon yang tadi digunakan untuk mengikat tali dan tangannya itu tiba-tiba lenyap tak berbekas sedikit pun, demikian pula tali pengikat itu hilang bagaikan ditelan angin.

Si gadis tidak tahu bahwa Suto Sinting mempunyai jurus 'Sembur Siluman' yang dapat melenyapkan benda apa pun dengan semburan tuaknya dari mulut. Semburan itu mempunyai kekuatan sentak tersendiri yang berbeda dengan sentakan napas saat ia pergunakan jurus 'Sembur Husada', yaitu semburan untuk menghilangkan luka pada diri seseorang.

Lenyapnya pohon membuat tali pengikat itu pun hilang seketika. Kedua tangan dan kaki si gadis kini telah bebas. Namun rasa heran dan terkagum-kagum membuatnya masih diam di tempat dengan mulut melongo dan mata terbelalak tak berkedip.

Brruk...! Gadis itu terkejut karena Suto Sinting melemparkan baju coklatnya yang tanpa lengan itu. Baju itu jatuh di pundak si gadis bersamaan suara Suto Sinting yang berkata dengan nada kalem.

"Pakailah bajuku itu untuk sementara supaya kau tidak masuk angin."

Ucapan itu membuat si gadis sadar bahwa dirinya dalam keadaan polos. Dengan tetap memunggungi Suto Sinting, ia mengenakan baju coklat tersebut dan merapatkan bagian depannya dengan dipegangi dua tangan. Baju itu panjangnya sampai paha, hingga menutup bagian yang harus ditutupi di sekitar paha. Walau tak tertutup sepenuhnya, namun bagian tersebut sudah tak terbuka ngablak seperti goa tanpa pintu. Gadis itu pun segera berpaling memandang Suto Sinting.

Deeg...! Hatinya bagai tersentak oleh rasa kaget di luar dugaan. "Ternyata dia seorang pemuda yang tampan, kekar dan gagah?! Oh, tak kusangka penolongku seorang pemuda setampan dia? Kalau begitu, niatku untuk membunuhnya kuurungkan saja. Tak baik membunuh orang yang telah menolongku. Lagi pula... tak begitu rugi tubuhku dari tadi diperhatikan pemuda setampan dia. Kusangka yang memperhatikan tubuhku dari tadi adalah lelaki bertampang memuakkan!"

Pandangan mata si gadis tertuju pada wajah Suto Sinting. Kecamuk batinnya segera terhenti karena Suto Sinting mengajaknya bicara dengan senyum kalem yang menawan hati.

"Di mana pakaianmu, Nona?"

"Entahlah. Mungkin dibuang ke tempat jauh oleh si iblis itu!"

"Siapa yang memperlakukan dirimu sedemikian memalukannya?!"

"Peri Kedung Hantu!"

"Ooh... dia?!"

"Apakah kau kenal dengannya?!" si gadis agak curiga karena Suto Sinting manggut-manggut.

"Aku kenal hanya sepintas, ia pernah bertarung denganku dan kutinggalkan dalam keadaan luka," jawab Suto Sinting lalu membayangkan pertarungannya dengan Peri Kedung Hantu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Titisan Dewa Pelebur Teluh).

Gadis itu merasa lega setelah tahu bahwa Suto Sinting ternyata bukan berada di pihak Peri Kedung Hantu, ia pun menceritakan pertarungannya dengan Peri Kedung Hantu yang mempunyai nama asli Rumisita itu.

"Dia berhasil menotokku, membuatku lemas tak berdaya. Aku sempat pingsan beberapa saat. Ketika aku sadar, keadaanku sudah terikat seperti tadi dan aku tak tahu pakaianku dikemanakan oleh si perempuan Iblis itu!"

"Rumisita memang menyebalkan."

"Hei, kau tahu nama aslinya segala. Siapa kau sebenarnya?"

"Suto Sinting, itu namaku!"

"Mak... maksudmu... maksudmu kau si Pendekar Mabuk, muridnya Gila Tuak?"

"Benar, Nona. Bagaimana kau bisa mengenali diriku sampai tahu nama guruku?"

"Aku pernah mendengar cerita dari guruku tentang dirimu."

"Siapa gurumu itu, Nona?"

"Nini Kalong, Penghuni Hutan Rawa Kotek!"

"Oooo...," Suto Sinting manggut-manggut. Ia segera terbayang wajah tua keriput yang badannya kurus dan sedikit bungkuk berjubah hitam, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Titisan Dewa Pelebur Teluh).

"Aku kenal dengan gurumu; Nini Kalong. Tapi aku tak kenal siapa muridnya yang cantik dan meminjam bajuku ini."

Gadis itu sunggingkan senyum tersipu, menunduk sejenak, kemudian memandang Suto Sinting lagi dengan bibir ranumnya masih tersungging senyum indah. "Namaku adalah Puspita Jingga. Murid kedua dari Nini Kalong setelah Syair Kusumi."

"Pantas kau punya tato bunga mawar jingga."

"Apakah kau suka dengan tatoku itu?"

Pendekar Mabuk yang kini hanya bercelana putih kusam dengan ikat pinggang kain merah itu hanya sunggingkan senyum menawan. Senyuman itu membuat hati Puspa Jingga berdebar-debar bagai digelitik keindahan.

"Aku lebih suka lagi jika kau mau sebutkan apa alasanmu sehingga kau bertarung dengan Peri Kedung Hantu?!"

Puspa Jingga masih mendekap diri untuk merapatkan baju yang dipakainya, ia melangkah ke samping hingga mencapai bawah pohon. Dari sana ia berkata kepada Suto Sinting dengan suara sedikit pelan.

"Aku diutus oleh Guru untuk mengambil sebuah pusaka yang ada di dalam makam Resi Dirgantara. Guru membekaliku selembar denah tempat makam Resi Dirgantara. Rupanya percakapanku dengan Guru disadap oleh Peri Kedung Hantu. Di perjalanan, denah itu direbutnya. Aku mempertahankan, tapi ilmuku kalah sakti dengan Peri Kedung Hantu. Denah itu berhasil direbut dan dibawanya pergi bersama pakaianku."

"Pusaka apa yang ada dalam makam itu?!" tanya Suto Sinting, namun Puspa Jingga ragu-ragu untuk mengatakannya.

* * *

DUA

NINI Kalong adalah tokoh beraliran hitam yang kala itu pernah dilumpuhkan oleh Suto Sinting pada saat ia menyerang si Gadis Dungu. Tetapi lukanya itu segera ditolong pula oleh Suto Sinting, hingga si nenek pun akhirnya terselamatkan jiwanya. Pada saat Suto Sinting bertarung oleh Peri Kedung Hantu yang merasa tak suka terhadap sikap Suto Sinting dalam mempengaruhi Nini Kalong, keduanya menjadi terluka parah setelah adu kesaktian. Namun Suto Sinting segera dilarikan oleh Nini Kalong dan melalui bantuan Nini Kalong tuak dalam bumbung bambu itu berhasil diminumkan pada Suto, sehingga luka itu pun sembuh kembali.

Nini Kalong segera meninggalkan Suto Sinting yang kala itu sedang mengejar si pembawa lari Gadis Dungu yang ternyata adalah Nyai Serat Biru, guru si Gadis Dungu itu sendiri. Kepergian Nini Kalong agaknya mempunyai maksud tersembunyi. Suto Sinting merasakan nasihatnya kepada Nini Kalong untuk beralih ke aliran putih cukup mengena di hati nenek tua itu. Maka ketika Suto Sinting bertemu dengan Puspa Jingga, gadis itu pun menceritakan diri sang guru yang telah berubah dari tokoh aliran hitam menjadi tokoh aliran putih. Namun mengenai pusaka yang diburunya sejak dulu itu masih tetap merupakan rencana dalam hidup Nini Kalong.

"Guru tidak ingin pusaka itu jatuh di tangan tokoh aliran hitam, sehingga begitu mendapat kabar dari seorang pertapa tentang di mana adanya pusaka tersebut, Guru memerintahkan diriku untuk mengambil pusaka itu lebih dulu sebelum telanjur diambil dan dikuasai oleh tokoh aliran hitam," ujar Puspa Jingga sambil mencari pakaiannya.

"Mengapa bukan Nini Kalong sendiri yang mengambil pusaka itu?!"

"Guru belum selesai lakukan tapa gantung."

"Tapa gantung?!" Suto Sinting agak heran.

"Bertapa dengan kaki terikat di atas dan tubuh berjungkir balik, itu yang dimaksud tapa gantung. Dalam beberapa waktu lagi Guru akan selesai lakukan tapa tersebut. Tapi merasa takut jika pusaka itu dimiliki orang lain, maka aku ditugaskan untuk mengambil pusaka tersebut."

"Mengapa kau tak mau sebutkan nama pusaka itu padaku?"

"Guru melarangku bicara kepada siapa pun tentang nama pusaka tersebut. Maafkan aku, aku tak bisa mengatakannya padamu."

Pendekar Mabuk sempat berkerut dahi mengingat-ingat peristiwa pertemuannya dengan Nini Kalong. Kala itu ia bersama Gadis Dungu yang sekarang mengasingkan diri bersama gurunya; Nyai Serat Biru, di puncak Gunung Randu. Seingat Suto, waktu itu Indayani si Gadis Dungu pernah sebutkan satu nama pusaka yang sering menjadi bahan bentrokan antara Nini Kalong dengan Nyai Serat Biru. Suto Sinting mencoba mengingat-ingat nama pusaka itu, namun sampai akhirnya ia menemukan pakaian Puspa Jingga, nama pusaka itu masih belum bisa diingatnya dengan jelas.

Pakaian gadis itu ditemukan di jalanan bawah bukit yang tak seberapa tinggi itu. Bahkan senjata Puspa Jingga berupa pedang bersarung merah dengan gagangnya yang dlbungkus kain merah itu juga ada tak jauh dari pakaiannya. Gadis itu segera mengenakan pakaiannya di balik semak. Kejap berikutnya ia tampil dengan lebih cantik lagi mengenakan pakaian berlengan komprang warna ungu tanpa jubah. Pedangnya diselipkan pada ikat pinggangnya yang terbuat dari kain warna hitam. Rambutnya yang panjang disanggul sebagian, sisanya dibiarkan meriap dengan lembut gemulai.

"Kau tampak cantik dan anggun jika mengenakan pakaian seperti itu," ujar Suto Sinting setelah gadis itu keluar dari semak belukar, selesai berganti pakaian, ia lemparkan baju coklat Suto Sinting hingga baju itu jatuh di pundak Suto Sinting.

"Kau justru tampak perkasa jika tanpa baju begitu," katanya sambil tersenyum-senyum.

"Kalau aku tanpa baju, kau pasti tak akan bisa pergi mencari pakaianmu karena aku tak bisa meminjamkan bajuku ini padamu."

"Tapi, sekalipun kau mengenakan baju itu, masih saja tampak gagah dan perkasa!"

Pendekar Mabuk sunggingkan senyumnya dengan mata melirik ke arah Puspa Jingga. Yang dilirik alihkan pandangan dengan sikap malu-malu. Suto Sinting pun mengenakan bajunya kembali. Namun baru saja selesai mengenakan baju, tiba-tiba ia harus melesat dan bersalto melintasi sisi kanan Puspa Jingga. Wuuut...! Sang gadis terkejut lalu memandang dengan heran ketika Suto Sinting berdiri memunggunginya dengan wajah menengok kepadanya.

"Apa maksudmu melompat begitu? Mau pamer ilmu?"

Suto Sinting berbalik arah berhadapan dengan Puspa Jingga. Tangannya yang menggenggam segera membuka dan sebilah logam berbentuk bintang segi enam terselip di sela-sela jarinya.

"Hampir saja kau mati oleh senjata rahasia ini!" katanya sambil matanya melirik ke arah datangnya senjata rahasia itu.

Puspa Jingga terbelalak kaget dan segera berkerut dahi tajam-tajam. "Bintang Neraka?!" gumam Puspa Jingga yang agaknya cukup kenal dengan pemilik senjata rahasia itu. "Seandainya kau tidak menyambar logam putih itu, maka tubuhku akan menjadi lumer karena terkena racun yang ada di ujung keruncingan bintang itu," kata Puspa Jingga, ia pun segera mencabut pedangnya. Sraaang...! Matanya menjadi nanar memandang ke arah datangnya senjata maut tersebut.

"Bintang Neraka itu nama orang atau nama senjata ini?!"

"Nama senjata itu!" jawabnya dengan lirih sambil bersiap menebaskan pedang jika terjadi serangan mendadak, ia berkata juga kepada Suto Sinting walau tanpa memandangi pemuda tampanitu. "Pemiliknya sangat kukenal. Bintang Neraka adalah senjata andalan Pangeran Umbardanu."

"Oh, ya... aku pernah mendengar nama Pangeran Umbardanu," gumam Suto Sinting sambil masih memandang ke arah sekeliling, ia teringat nama Pangeran Umbardanu sebagai nama kekasih dari si Gadis Dungu yang kala itu ikut mengejar-ngejar Gadis Dungu untuk dibunuh.

Dalam penjelasan Indayani, si Gadis Dungu itu, saat Suto Sinting ikut mengantarkan sampai di kaki Gunung Randu, orang yang bernama Pangeran Umbardanu itu memang putra seorang sultan di Kesultanan Siliwindu. Timbulnya peristiwa pengejaran titisan Dewa Pelebur Teluh itu, Indayani menjadi tahu bahwa Umbardanu sebenarnya bukan mencintainya, melainkan berusaha menangkapnya untuk dibunuh. Sebab kala itu Indayani menjadi bahan buruan para tokoh aliran hitam dan akan dihabisi masa hidupnya sebelum Gadis Dungu mencapai usia dua puluh lima tahun.

Dalam kitab kuno yang bernama Kitab Samak Kubur berisi ramalan-ramalan masa depan para tokoh aliran hitam disebutkan bahwa titisan Dewa Pelebur Teluh akan membantai habis para tokoh aliran hitam setelah bocah itu berusia dua puluh lima tahun. Dan si Gadis Dungu dicurigai sebagai titisan Dewa Pelebur Teluh itu, sehingga dikejar-kejar oleh para tokoh aliran hitam. Jika Pangeran Umbardanu ikut ingin melenyapkan si Gadis Dungu, berarti Pangeran Umbardanu termasuk murid seorang guru yang beraliran hitam.

"Mengapa Pangeran Umbardanu sekarang menyerangmu dengan senjata andalannya ini?!" tanya Suto.

Belum sampai Puspa Jingga menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba kilauan benda logam melayang lagi dari arah samping kanan gadis itu. Gerakannya begitu cepat bagaikan kilasan cahaya perak.

Zingg...zingg...!

Pedang yang sudah siap di tangan itu segera berkelebat menangkisnya dengan gerakan cepat. Tring, tring!

Tubuh gadis itu melompat ke arah belakang, dan tangkisan pedang itu membuat dua bintang segi enam itu terpental ke dua arah yang berlawanan. Salah satu benda tersebut menancap pada sebatang pohon.

Jrrraab...!

Pohon itu kepulkan asap dari tempatnya yang tertancap bintang segi enam. Makin lama asapnya semakin tebal, menandakan bahwa benda itu mempunyai racun yang berbahaya. Sementara itu bintang yang masih ada dalam jepitan jari tangan Suto Sinting itu segera dilemparkan ke arah datangnya dua benda yang ditangkis Puspa Jingga tadi.

Ziiing...!

Zrrraaak...! Benda itu menerabas semak rimbun, lalu terdengar suara nyaring bagaikan sentuhan logam dengan besi. Traaang...!

Pohon yang tadi terkena Bintang Neraka itu menjadi busuk dan seluruh daunnya berguguran. Pohon kekar itu menjadi lumer bagaikan gedebong pisang yang sebentar lagi membusuk. Sedangkan benda yang dilemparkan Suto Sinting tadi tidak menampakkan perubahan apa-apa pada dua buah pohon yang ada di balik semak. Berarti bintang itu tidak mengenai pohon tersebut, tapi mengenai sesuatu yang menimbulkan suara denting.

"Keluarlah kau dari situ! Aku tahu kau adalah Pangeran Umbardanu!" seru Puspa Jingga dengan sikap siaga menghadapi serangan lawan.

"Bagaimana kalau ternyata dia bukan Pangeran Umbardanu?!" bisik Suto Sinting dalam jarak dua langkah di samping kiri gadis itu.

"Senjata yang kau lemparkan tadi sebenarnya mengenai dadanya, tapi karena kebiasaannya memakai baju perisai besi, maka ia tidak mengalami luka apa pun!" balas Puspa Jingga dalam bisikan pula.

Beberapa saat lamanya mereka hanya menunggu kemunculan dan serangan berikutnya dari orang di balik semak belukar. Tetapi ternyata yang ditunggu tak muncul-muncul juga, sehingga Puspa Jingga kehilangan kesabaran. Kemudian ia lepaskan pukulan jarak jauhnya dari tangan kiri. Pukulan itu berupa gumpalan asap merah sebesar buah jeruk. Wuuut...!

Zrrraak...! Bruaaasss...!

Semak belukar rusak, menghambur ke atas bagaikan diterjang badai pemangkas yang cukup besar. Daun-daun terpotong bagai dipangkas dengan senjata tajam. Dalam sekejap saja semak belukar itu telah lenyap, tempat itu menjadi terang seakan siap dipakai untuk jalanan.

"Gila! Kau menyerang musuh atau babat hutan buat jalanan?!" bisik Suto Sinting dengan nada sedikit kagum dan geli.

Puspa Jingga menjadi jengkel sendiri karena rasa penasarannya. Orang yang menyerangnya secara sembunyi-sembunyi itu tidak muncul-muncul juga. Akhirnya ia berkelebat menerjang semak dan mencari orang tersebut di sekeliling tempat itu. Suto Sinting melesat ke atas, tubuhnya dengan sangat ringan melayang tanpa bersalto dan hinggap di atas sebuah pohon. Dari sana ia memandang ke arah sekelilingnya, ia melompat dari dahan ke dahan, dari pohon ke pohon. Namun ia tak menemukan sesosok bayangan pun selain bayangan Puspa Jingga sendiri.

"Mungkin ia telah kabur!" seru Suto Sinting sambil meluncur turun dari atas pohon. Tubuhnya melayang dengan tenang dan kakinya mendarat ke tanah tanpa hentakan dan suara apa-apa.

Puspa Jingga yang melihat hal itu hanya membatin, "Benar-benar tinggi ilmu peringan tubuhnya. Pantas jika Guru merasa kagum dan bangga terhadap si Pendekar Mabuk ini. Biar sering minum tuak, tapi matanya tidak kelihatan merah seperti beberapa orang pemabuk yang pernah kujumpai di kedai-kedai itu. Namanya saja Pendekar Mabuk, tapi matanya bening dan teduh, membuat hatiku sering berdesir indah penuh khayalan asmara. Ah, lupakan dulu soal kehebatannya itu!"

Puspa Jingga menarik napas dan kecamuk batinnya pun sirna seketika. Kini ia memandang ke sana-sini, masih penasaran mencari orang yang menyerangnya dari persembunyian tadi.

"Apakah Pangeran Umbardanu itu seorang pengecut?!" tanya Suto Sinting seraya mengambil tempat di bawah pohon rindang, ia berdiri dengan satu tangan bersandar pada batang pohon itu. Bumbung tuaknya tetap menggantung di pundak, siap dipergunakan sewaktu-waktu.

"Aku tak tahu apakah Pangeran Umbardanu itu sebenarnya orang yang punya nyali atau seorang pengecut. Tapi dari jenis senjatanya tadi aku dapat pastikan bahwa dialah penyerangnya."

"Apakah kau ada masalah dengan Pangeran Umbardanu?"

"Dia pernah ingin melamarku. Dia menyatakan hatinya jatuh cinta padaku. Tapi aku menolaknya secara kasar, sebab aku tahu dia punya maksud tersembunyi dari ungkapan cintanya itu."

"Maksud apa kira-kira?"

"Dia mengincar pusaka, dan rahasia pusaka itu ada di tangan guruku. Dia ingin dapatkan pusaka itu dengan memperalat diriku."

"Pusaka apa yang dimaksud?"

"Pusaka yang ada dalam makam Resi Dirgantara."

Pendekar Mabuk tertawa kecil. "Kelicikannya selalu gagal. Cinta dipakainya sebagai jembatan memperoleh keinginannya. Kurasa lelaki macam dia satu hari bisa jatuh cinta seratus kali. Agaknya ia cukup berbahaya bagi seorang wanita seperti kau, Puspa Jingga. Untung kau cukup waspada. Hal yang sama pun pernah dialami oleh Indayani dan..."

"Indayani...?! Oh, si Gadis Dungu itu maksudmu?"

"Benar. Pangeran Umbardanu mendekati Indayani dengan bahasa cinta, padahal ia ingin membunuh gadis itu pada saat si gadis lengah. Namun usahanya gagal, sebelum niatnya tercapai Indayani telah berhasil diselamatkan oleh gurunya; Nyai Serat Biru."

"Apakah kau punya hubungan dekat dengan Indayani?" pancing Puspa Jingga dengan nada curiga.

Pendekar Mabuk hanya tersenyum lebar, tertawa pelan tanpa suara. "Hubungan dekatku dengan Indayani bukan untuk masalah cinta."

"Syukurlah kalau kau tak jatuh cinta kepada Indayani. Guru pasti akan mengecammu jika kau jatuh cinta pada Indayani, sebab Guru bermusuhan dengan Nyai Serat Biru."

Suto Sinting membuka tutup bumbung bambu itu, kemudian beberapa teguk tuak ditenggaknya. Badannya terasa segar setelah meneguk tuak yang mempunyai kesaktian sendiri bersama bumbungnya itu. Puspa Jingga memasukkan pedang ke sarungnya. Trak...! Lalu ia berkata kepada Pendekar Mabuk yang baru saja menutup bumbung tuaknya.

"Kurasa Pangeran Umbardanu melapor kepada gurunya mengenai keberadaanmu bersamaku."

"Siapa guru Pangeran Umbardanu itu?"

"Dupa Dewa, dari Perguruan Serikat Jagal."

"Ooo... pantas dia sampai hati ingin membunuh Indayani, rupanya rencana itu atas perintah gurunya; Dupa Dewa yang merasa takut kalau Indayani tetap hidup sampai usia dua puluh lima tahun."

"Kudengar si Dupa Dewa ingin membalas dendam padamu. Menurut cerita seorang anak buahnya yang pernah bertemu denganku, Dupa Dewa menderita luka parah saat bertarung denganmu. Lukanya sampai sekarang belum sembuh betul, dan ia menyimpan dendam pada Pendekar Mabuk."

Suto Sinting hanya tertawa kecil, ia teringat saat bertarung dengan Dupa Dewa yang membuat Dupa Dewa terpental akibat hembusan badai yang keluar dari jurus 'Napas Tuak Setan'-nya itu. Rupanya Dupa Dewa masih hidup, dan sekarang tentunya sedang persiapkan diri untuk melakukan balas dendam kepadanya. Tapi Suto Sinting tak punya rasa takut sedikit pun, bahkan menertawakan dengan rencana balas dendam itu.

"Aku akan pergi ke makam Resi Dirgantara," ujar Puspa Jingga pelan sekali, seperti takut didengar orang lain.

"Aku akan mendampingimu. Tapi apakah kau tahu tempatnya? Bukankah peta menuju ke makam itu telah direbut oleh Peri Kedung Hantu?!"

"Aku masih ingat patokannya. Mendiang Resi Dirgantara dimakamkan dalam goa. Goa itu ada di Bukit Batok, letak bukit itu ada di antara Gunung Sumbar dan anak gunung itu yang bernama Gunung Gempur."

"Kau tahu arah menuju ke Bukit Batok?!"

"Patokan kita adalah Gunung Sumbar yang tinggi dan ada di sebelah timur tempat ini. Kalau kita sudah temukan Gunung Sumbar, kita mudah temukan Bukit Batok. Kalau kau mau mendampingiku, kau harus siap menghadapi Peri Kedung Hantu, sebab perempuan itu pasti ke sana."

"Kalau mau bergerak lebih cepat dari Peri Kedung Hantu, kau harus mau kugendong, karena aku akan pergunakan jurus 'Gerak Siluman' supaya cepat sampai di sana."

"Bodoh sekali aku kalau sampai merasa keberatan dengan usulmu," ujar Puspa Jingga dengan senyum indah mekar di bibirnya yang ranum itu.

Baru saja Suto Sinting dekati Puspa Jingga dan ingin menggendongnya, tiba-tiba dua berkas sinar kuning sebesar lidi menghantam punggung mereka. Clap, clap...! Deb, deb...!

"Uhg...! Sssu.... Suto...?!"

Puspa Jingga tersentak dengan tubuh mengejang, lalu meliuk sebentar dan jatuh terkulai dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedangkan Pendekar Mabuk juga mengalami hal serupa, tapi ia berusaha untuk bertahan. Napasnya yang terasa sesak itu dipaksakan untuk disedot dalam-dalam. Tetapi semakin lama pandangan mata Suto Sinting mulai berkunang-kunang. Tubuh pendekar tampan itu semakin lemas, dan ia jatuh berlutut dengan kepala mulai tertunduk lemas.

Dalam keadaan seperti itu, Pendekar Mabuk sempat melihat sekelebat bayangan yang menyambar tubuh Puspa Jingga. Sayang sekali yang dapat dilihat Suto Sinting hanya berupa sekelebat bayangan, tak jelas seperti apa wajah orang itu dan siapa sebenarnya orang itu. Pendekar Mabuk pun roboh ke depan saat Puspa Jingga disambar dan dibawa pergi oleh orang tersebut. Suto Sinting dibiarkan terkulai di tanah tanpa ada yang mengusiknya lagi.

* * *

TIGA

TEBING terjal berbatu karang mempunyai rongga menyerupai goa. Di dalam goa Itulah Pendekar Mabuk sadarkan diri dan terkejut melihat keadaannya terkapar di atas batu datar setinggi lutut. Batu itu seukuran dengan sebuah tempat tidur yang cukup untuk dua orang. Langit-langit goa yang tinggi adalah sasaran pertama ketika Suto Sinting membuka matanya. Sebelum ia bangkit duduk, terlebih dulu dirasakan gerakan urat-urat sekujur tubuhnya. Masih terasa kaku dan linu, namun sudah bisa untuk bergerak sebagaimana mestinya. Pendekar Mabuk pun segera bangkit dan bertanya dalam hati,

"Di mana aku ini?! Hmmm... siapa yang membawaku kesini?! Bagaimana dengan Puspa Jingga?!"

Goa itu sangat sunyi, kosong tanpa orang lain. Tapi melihat tumpukan kayu bakar bekas api unggun, Suto Sinting yakin bahwa goa ini bukan dihuni oleh dirinya sendiri. Pasti ada seseorang yang membawanya ke situ. Beberapa buah kelapa hijau tampak terbelah dan berserakan di sana-sini, juga beberapa sisa makanan lain, termasuk tempat pembakaran ikan yang tersisa tulangnya di sekitar tempat bara.

Bumbung tuak sakti ada di samping batu, bersandar dalam keadaan berdiri. Pendekar Mabuk cepat ambil bumbung tuak itu dan menenggak tuak beberapa teguk. Dalam waktu singkat tubuhnya menjadi segar dan kekuatannya pulih kembali seperti sedia kala. Turun dari batu datar Suto Sinting melangkah dekati mulut goa.

Oh, ternyata ia berada di lereng tebing dalam kemiringan tegak lurus. Di bawahnya tampak lautan bergelombang besar. Jaraknya cukup jauh dari mulut tebing. Di depan pintu goa yang ternganga lebar itu ada sebidang tanah berbatu, di sanalah Suto Sinting berdiri dan memandang ke atas. Ternyata jarak antara mulut goa dengan bagian atas tebing iebih dekat ketimbang jarak ke perairan laut.

"Tempat yang sungguh aman untuk persembunyian. Hmmm... siapa orang yang menempati goa ini sebenarnya? Mengapa ia tidak ada di tempat? Tak kulihat ada manusia di sekitar tebing ini. Ah, sial betul, aku tak bisa menduga-duga siapa orang yang membawaku kemari sebenarnya?!"

Akhirnya Pendekar Mabuk putuskan untuk menunggu di dalam goa sambil sesekali menikmati tuaknya secara sedikit demi sedikit. Keadaan di dalam goa diperiksanya untuk menentukan dugaan siapa penghuni goa tersebut. Goa yang tidak mempunyai jalan tembus ke mana-mana dan keadaannya tak terlalu dalam itu mendapat sorotan sinar matahari dari arah timur. Sinar matahari itu cukup menyegarkan udara di dalam goa, walau sinarnya tak sampai menembus ke dinding dasar goa, tapi sinar itu membuat terang goa tersebut, sehingga benda apa pun yang ada di situ bisa dilihat dengan jelas.

Beberapa saat lamanya Pendekar Mabuk menunggu si penolong yang membawanya ke goa tersebut. Hatinya menjadi tak sabar dan ingin segera meninggalkan goa itu. Tetapi tiba-tiba niatnya terpaksa dibatalkan karena sekelebat bayangan masuk ke dalam goa saat Suto Sinting bergegas ingin menuju ke pintu goa. Langkah murid sinting si Gla Tuak itu pun terhenti dan pandangan matanya tertuju kepada orang yang baru datang itu. Orang tersebut pastilah yang membawanya ke tempat itu dalam keadaan pingsan.

"Sudah sehatkah keadaanmu, Suto?!"

"Rara Santika...?!" gumam Suto Sinting dengan lirih dan bernada kagum.

Perempuan yang rambutnya disanggul dan dihiasi permata itu sunggingkan senyum manis kepada Suto. Benak Suto Sinting segera teringat peristiwa saat bertemu dengan perempuan berusia sekitar dua puluh delapan tahun yang berwajah cantik, bulat telur, berhidung mancung, dan bermata indah itu. Jubah satin warna merah jambu menutup dada montoknya yang dilapisi kain biru muda sesuai kain bagian bawahnya membuat Suto Sinting segera mengenali perempuan itu. Ia mengenal Rara Santika dalam satu peristiwa yang cukup menegangkan karena perempuan itu mempunyai saudara kembar beraliran hitam, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Gundik Sakti).

"Tak kusangka kaulah orangnya yang membawaku kemari dalam keadaan aku tidak berdaya," ujar Suto Sinting saat Rara Santika mendekatinya.

"Aku pun tak menyangka sejak perpisahan kita setelah menghancurkan Goa Tumbal Perawan dulu, tahu-tahu kujumpa dirimu dalam keadaan terkapar tanpa daya. Kau telah pingsan selama dua hari, Suto."

"Oh, jadi aku berada di sini sudah dua hari?"

"Lebih tepatnya dua hari tiga malam. Ini hari ketigamu berada di sini. Kupikir kau tak dapat siuman kembali. Aku sudah berusaha mengobati dengan tenaga intiku dan hawa murniku, namun tak mampu membuatmu sadar. Aku baru saja pergi ke seorang tabib untuk membawanya kemari, tapi sayang tabib itu tidak ada di tempat."

Perempuan bersenjata kipas gading dengan hiasan ronce-ronce merah di bagian gagang kipasnya itu memandangi Suto Sinting dengan sorot pandangan mata yang ceria dan berbinar-binar. Agaknya ia punya kesan pribadi tersendiri selama bersama Pendekar Mabuk dalam usaha menghancurkan Desa Lambung Bumi yang ada di dalam Goa Tumbal Perawan, bekas tempat kekuasaan adik kembarnya yang berjuluk si Gundik Sakti itu.

"Siapa orangnya yang bisa membuatmu sampai pingsan beberapa hari itu, Suto?!" sambil tangan perempuan itu mengusap rambut Suto Sinting dengan penuh kelembutan.

"Aku tak tahu siapa orangnya, karena kala itu aku sedang bersama Puspa Jingga."

"Maksudmu, si genit murid Nini Kalong itu?"

"Benar, apakah kau kenal dengannya?"

"Aku cukup kenal dengan Nini Kalong dan kedua murid andalannya; Puspa Jingga dan Syair Kusumi. Tapi hanya sebatas kenal biasa, tanpa ikatan jasa apa pun. Yang jelas kami tidak saling bermusuhan."

"Apakah kau juga tahu siapa orang yang membawa lari Puspa Jingga dalam keadaan tak berdaya itu?"

Rara Santika berkerut dahi. "Jadi, Puspa Jingga dibawa lari oleh seseorang?"

Pendekar Mabuk segera ceritakan masalah sebenarnya tentang Puspa Jingga. Perempuan itu pun menanyakan tentang pusaka yang ada di dalam makam Resi Dirgantara, tapi Suto Sinting tak bisa memberi penjelasan.

"Puspa Jingga sendiri tak mau menyebutkan nama pusaka tersebut karena takut melanggar larangan dari gurunya," ujar Suto Sinting sambil duduk di batu tempatnya terbaring tadi.

"Resi Dirgantara semasa hidupnya adalah sahabat dari mendiang ayahku," kata Rara Santika. "Tapi beliau tidak pernah bicara tentang pusaka miliknya kepada Ayah. Semasa berusia empat belas tahun, aku pernah ikut Resi Dirgantara menyeberang ke Pulau Sumbing, dan dalam perjalanan itu aku dapat mengetahui bahwa Resi Dirgantara tak pernah punya pusaka. Rasa-rasanya janggal sekali jika ada kabar yang mengatakan bahwa di dalam makam Resi Dirgantara terdapat sebuah pusaka."

"Apakah Resi Dirgantara tidak mempunyai senjata apa pun?"

"Hmmm... ya, memang punya, tapi menurutnya bukan pusaka, itu hanya senjata biasa untuk keamanan dirinya."

Suto Sinting terbungkam dalam keadaan merenung. Kemudian terdengar gumam lirihnya secara samar-samar, "Jadi untuk apa Nini Kalong membekali muridnya sebuah peta menuju makam Resi Dirgantara?! Benarkah Nini Kalong mendapat petunjuk dari dewata bahwa ada pusaka di dalam makam Resi Dirgantara?!"

"Kurasa itu hanya rekaan Nini Kalong saja. Kalau toh di dalam makam itu ada pusaka, satu-satunya orang yang tahu persis adalah Nyai Serat Biru. Sebab dia adalah adik kandung dari Resi Dirgantara."

"Nyai Serat Biru...?!" Pendekar Mabuk kerutkan dahi. "Aku kenal betul dengan Nyai Serat Biru."

"Tanyakanlah kepada Nyai Serat Biru tentang pusaka itu. Kurasa hanya dialah yang bisa menjelaskan mengenai isi makam Resi Dirgantara."

Untuk memperjelas keadaan yang sebenarnya, Pendekar Mabuk merasa perlu menemui Nyai Serat Biru yang sedang mengasingkan diri di puncak Gunung Randu yang bersama muridnya: Indayani, si Gadis Dungu. Ketika hal itu dikemukakan oleh Suto, Rara Santika menampakkan wajah kurang setuju dan serba salah.

"Sebenarnya aku tak suka dengan Indayani yang sombong itu," ujarnya kepada Suto Sinting. "Aku sering cekcok mulut dengan murid Bibi Serat Biru. Jika tidak memandang Bibi Serat Biru termasuk sahabat mendiang ayahku, sudah kuhancurkan mulut si Gadis Dungu itu."

Suto Sinting tertawa pendek. "Apakah ia pernah bikin persoalan denganmu?"

"Memang tidak, tapi aku tak betah mendengar kata-katanya. Hatiku cepat panas jika ia berbicara muluk-muluk."

"Kendalikan saja hatimu, jangan terpengaruh oleh sifatnya yang memang sudah begitu adanya. Setiap orang mempunyai pembawaan pribadi sejak kecil. Kau harus bisa berlapang dada dan memaklumi pembawaan tiap pribadi manusia."

Rara Santika diam termenung, semantara itu Suto Sinting sudah berada di ambang mulut goa. Ia memandang ke arah lautan lepas. Sejenak kemudian berpaling menatap Rara Santika dan bertanya dengan suara merdunya.

"Aku akan berangkat ke puncak Gunung Randu menemui Nyai Serat Biru. Bagaimana dengan dirimu? Apakah mau ikut ke sana atau tidak?"

Rara Santika tarik napas dalam-dalam, ia memandang Suto Sinting dengan hati diliputi kebimbangan. Setelah dua helaan napas ia bangkit dan mendekati Suto Sinting. "Baik, aku akan ikut ke Gunung Randu. Tapi dengan satu syarat yang harus kau penuhi."

"Syarat apa?" seraya Suto Sinting sunggingkan senyum tipis.

"Jangan terlalu dekat dengan Indayani!"

"Mengapa jika aku terlalu dekat dengannya?"

"Aku bisa benci padamu, karena kuanggap kau ikut-ikutan menjadi manusia sombong."

Tawa pelan mirip suara menggumam itu berkepanjangan. Rara Santika menjadi tersipu malu dan salah tingkah sendiri. Pendekar Mabuk segera meraih kedua pundak perempuan itu dan menghadapkan ke arahnya. Wajah cantik yang sudah cukup dewasa itu dipandanginya beberapa saat dalam hiasan senyum yang menawan.

"Baiklah, akan kuturuti saranmu itu. Tapi kau tidak boleh mudah cemburu jika aku bicara padanya."

"Siapa yang cemburu?!" Rara Santika bersungut-sungut, Pendekar Mabuk tertawa geli.

Mereka berdua segera melesat menuju Gunung Randu. Mereka bergerak ke arah selatan dari tebing curam itu. Namun baru mendapat beberapa langkah terpaksa harus berhenti karena kehadiran seseorang yang tahu-tahu menghadang di depan mereka.

Jleeg...!

Orang tersebut bagaikan hantu yang muncul dari alam gaib. Tahu-tahu ada di depan mereka dan mengejutkan Rara Santika. Mata tajam Pendekar Mabuk mulai memandangi sosok orang yang berdiri menghadang langkahnya itu, namun sikapnya masih tampak tenang dan tak menunjukkan keheranan sedikit pun. Keheranan itu hanya dipendam dalam hati, karena Suto merasa baru sekarang berjumpa dengan orang tersebut.

"Kau kenal dengannya?" bisik Suto Sinting kepada Rara Santika.

"Aku tak pernah jumpa dengannya," jawab Rara Santika dengan mata tetap tertuju pada seorang pemuda berusia sebaya dengan Suto Sinting. Pemuda itu mengenakan pakaian hijau berhias benang emas dengan celananya yang berwarna sama pula. Rambutnya panjang sebatas punggung dengan kepala mengenakan ikat dari logam emas berhias butiran permata kecil. Tangan kirinya menggenggam pedang bersarung kuning emas dengan ukiran indah.

"Dilihat dari pedang dan pakaiannya, agaknya pemuda itu bukan dari golongan masyarakat biasa!" bisik Suto Sinting.

Rara Santika memperhatikan rompi perunggu yang dikenakan pemuda itu dalam keadaan rapat. Rompi itu berukir dan tampak tebal sekali. Agaknya rompi itu berguna sebagai pelindung dada dari serangan senjata tajam dan sejenisnya. Rara Santika segera menyapa dengan sikap tak ramah, "Siapa kau sebenarnya, dan apa perlumu menghadang langkah kami?!"

"Aku ingin bicara dengan pemuda sinting itu!" jawabnya sambil menuding Pendekar Mabuk.

Pemuda berkumis tipis dengan ketampanan yang berkesan licik itu diperhatikan Suto Sinting tanpa berkesip. Di bibir Suto masih ada seulas senyum tipis sebagai kesan menyepelekan kewibawaan pemuda tersebut. Suto Sinting sengaja tidak bicara, sehingga Rara Santika mewakilinya.

"Ada perlu apa kau ingin bicara dengan sahabatku ini?!"

"Kulihat tadi dia bersama kekasihku; Puspa Jingga!"

"O jadi kau yang bernama Pangeran Umbardanu?!" sahut Suto Sinting segera dapat menyimpulkan siapa pemuda itu.

"Kalau kau sudah tahu siapa aku, sekarang kau harus memberi tahu di mana kekasihku; Puspa Jingga itu?!"

"Kalau dia kekasihmu, tentunya kau tidak akan menyerangnya dengan senjata Bintang Neraka-mu, Pangeran!" kata Suto Sinting tak kalah ketus. Senyumnya justru dibuat sinis dan memancing kejengkelan Pangeran Umbardanu.

"Aku tadi ingin membunuhmu, bukan membunuh Puspa Jingga."

"Arahnya jelas kepada Puspa Jingga, bukan kepadaku. Kau punya kemarahan kepada Puspa Jingga karena tak mau menerima cintamu, bukan?!"

"Persetan dengan cinta! Sekarang yang kuminta darimu adalah sebuah peta! Kudengar Puspa Jingga yang membawa sebuah peta dari gurunya untuk menuju ke makam Resi Dirgantara. Aku yakin peta itu sekarang sudah berpindah ke tanganmu karena kulihat kau pandai membujuk hati wanita!"

Pendekar Mabuk kian sunggingkan senyum bernada sinis. "Kau tak akan mendapatkan apa-apa dariku, Pangeran Umbardanu! Aku bukan pria sepertimu; mendekati wanita untuk maksud kelicikan pribadi! Sama halnya kala kau mendekati Indayani dan berlagak jatuh cinta"

"Tutup mulutmu!" sentak Pangeran Umbardanu sambil tangannya mulai memegang gagang pedangnya. "Kucabik-cabik tubuhmu kalau tak segera serahkan peta itu!"

"Oh, kau mencabik-cabik dia?! Kalau begitu ada baiknya kau hadapi dulu aku, Umbardanu!" ujar Rara Santika dengan sikap menantang tanpa rasa takut sedikit pun.

"Perempuan lacur kau! Jangan berlagak menjadi pelindung pemuda ingusan macam dia! Menyingkirlah dari hadapanku!"

"Dapatkah kau memaksaku untuk menyingkir dari tempatku?!"

"Keparat! Rupanya kau belum tahu siapa Pangeran Umbardanu ini, hah?! Hiaaaat!"

Srang! Pedang dicabut dari sarungnya dan Pangeran Umbardanu lompat ke depan. Wuuut! Tangan bersenjata pedang terangkat ke atas, siap menebaskan pedang tersebut ke kepala Rara Santika. Namun tubuh Rara Santika segera bergerak cepat, ia bersalto ke belakang sambil salah satu kakinya menendang pergelangan tangan Pangeran Umbardanu.

Wuuut...! Deess...!

"Aaauuh...!" Pangeran Umbardanu terpekik menahan sakit. Pedang yang ada di tangannya itu terlepas dan terpental. Sementara itu Rara Santika sudah berdiri tegak kembali dengan kaki sedikit merenggang dan merendah, siap hadapi serangan lawannya. Namun sang lawan agaknya tidak cepat bergerak akibat menahan rasa sakit pada tulang tangannya.

"Setan kurap! Tendangannya mematahkan tulang tanganku! Uuh...! Sakitnya bukan main. Pasti ia salurkan tenaga salju ke dalam tendangannya hingga seluruh darahku terasa dingin sekali! Hmmm... agaknya aku harus gunakan Bintang Neraka untuk membunuh perempuan keparat itu!"

Pangeran Umbardanu menggeram-geram sambil bergerak membuka jurus baru. Sementara itu, Suto Sinting hanya senyum-senyum saja dari tempat berdirinya di dekat gerumbulan semak belukar. Matanya memperhatikan Pangeran Umbardanu dengan sikap mencemooh ilmu putra sultan itu.

Zub, zub, zub...! Tiba-tiba tiga keping logam melesat dari tangan Pangeran Umbardanu yang bergerak melemparkan benda itu dengan gerakan cepat. Sepertinya ia mengambil benda berbentuk bintang segi enam itu dari balik rompi perunggunya. Tiga benda yang melayang ke arah Rara Santika itu sengaja tidak dihindari. Namun tangan Rara Santika dengan cepat menyambar senjata kipas gadingnya yang sejak tadi tertutup kain jubahnya. Suut...! Kipas gading itu pun dibentangkan di depan dada.

Bred...! Jub, jub, jub...! Tiga keping bintang bersegi enam menancap pada kipas gading bagaikan besi semberani. Kipas itu segera dikibaskan ke depan, weesss...! Dan tiga keping senjata rahasia itu melesat ke arah Pangeran Umbardanu. Zing, zing, zing...!

"Heaaah...!" pekik Pangeran Umbardanu sambil lakukan lompatan bersalto ke belakang. Senjata rahasia yang memburu balik ke arahnya itu melesat ke tempat kosong dan akhirnya ketiga senjata itu menancap pada tiga batang pohon. Jrab, jrab, jrab...!

Pohon yang segera menjadi layu itu tidak dihiraukan oleh mereka. Pangeran Umbardanu masih penasaran untuk lakukan serangan beruntun kepada Rara Santika. Sebuah tendangaan berputar bagaikan kipas dilancarkan dengan cepat. Wut, wut wut, wut...!

Kaki kekar itu melayang bagai ingin membabat kepala Rara Santika. Namun perempuan itu menghindarinya dengan meliuk-liukkan kepala dan punggung hingga lolos dari tendangan putar beruntun tersebut. Hanya saja, pada saat tendangan Pangeran Umbardanu berubah menjadi menyodok lurus ke depan, Rara Santika hampir saja terkena tendangan tersebut di bagian wajahnya. Untung tangan kirinya segera berkelebat dan telapak tangan itu menahan tendangan yang menggunakan ujung kaki itu.

Dees...! Kipas segera mengatup. Taab...! Kemudian ujung kipas disodokkan ke mata kaki Pangeran Umbardanu. Duuhg...!

"Aaaauuww...!" Pangeran Umbardanu menjerit keras karena mata kaki kanannya remuk seketika itu juga. Ia tak bisa berdiri dengan menggunakan kaki kanannya, ia terlonjak-lonjak ke belakang menggunakan kaki kiri, sementara tangannya memegangi kaki kanannya. "Bangsat kau, Perempuan Iblis!!" teriaknya penuh murka.

Rara Santika hanya sunggingkan senyum sinis sambil berdiri dengan tangan memegangi kipas terangkat ke atas. Kipas itu sendiri masih dalam keadaan tertutup. Matanya memandang tajam tak berkedip.

"Terpaksa kuhancurkan tubuhmu yang kotor itu, Jahanam! Heeeaah...!" Pangeran Umbardanu sentakkan kedua tangannya. Wuuut...! Dari kedua tangan itu meluncur dua larik sinar biru sebesar gagang pedang. Wuuut, wuuut...!

Rara Santika segera membuka kipasnya. Breed...! Lalu dikibaskan dari atas ke bawah, dan ke atas lagi. Wuus, wees...! Sinar biru menghantam tanah. Blaaarr...! Tanah menjadi retak, tubuh Pangeran Umbardanu hampir terperosok masuk ke dalam belahan tanah. Namun sebelum ia terperosok, angin badai berhembus sangat cepat dan kencang. Wuuusss...!

Cahaya petir biru kemerahan memercik dari tepian kipas sebanyak tiga larik dan saling bertebaran menghantam tubuh Pangeran Umbardanu. Trat, trat, trat...!

Sayang sekali tubuh itu telah terbang dihempaskan angin badai yang dahsyat. Sinar petir itu menghantam beberapa pohon yang ikut jebol dan terbang karena angin badai dari kipas Rara Santika itu.

Duaaar, blegaaarrr...! Gleeeerrrr...!

Suara gemuruh bagai langit roboh terdengar menggema panjang. Alam menjadi porak-poranda. Pohon-pohon dijungkirbalikkan oleh angin badai dari kipas Rara Santika. Tempat itu bagai dilanda bencana alam. Tanah yang terbelah akibat sinar birunya Pangeran Umbardanu tadi menjadi kian retak dan bergetar hebat. Bahkan keretakan tanah terjadi di sana-sini, terutama pada bekas pohon yang tumbang dan jebol bersama akarnya.

Pendekar Mabuk hanya bisa tertegun bengong menyaksikan kehebatan kipas Rara Santika yang hampir menyerupai kedahsyatan 'Napas Tuak Setan'-nya. Jika jurus 'Napas Tuak Setan' dipergunakan Pendekar Mabuk, maka langit pun menjadi gaduh, petir menyambar-nyambar dan awan hitam datang bergulung-gulung.

Kali ini awan hitam juga datang bergulung-gulung walau tak sebanyak jika 'Napas Tuak Setan' digunakan Suto Sinting. Kilatan cahaya petir bermunculan dari gulungan awan hitam di langit, alam dibuat semakin gaduh oleh gelegar guntur yang bersahutan.

"Dahsyat juga kipas itu?! Dalam sekejap saja hutan ini menjadi bersih bagai ladang tanpa tanaman?!" pikir Suto Sinting sambil pandangi tumpukan pohon yang menggunung di kejauhan sana. Di antara tumpukan pohon itu, terdapat tubuh Pangeran Umbardanu yang tak jelas apakah masih hidup atau sudah tak bernyawa.

Rara Santika juga memandang ke arah depannya yang bersih dan terang karena tanpa pepohonan lagi. Napasnya ditarik panjang-panjang, kipasnya dikatupkan dan diselipkan ke pinggang kanan, tertutup jubah merah jambunya.

"Mengapa sampai seperti itu kau melawannya? Mestinya tak perlu sampai merusak alam," ujar Suto Sinting yang melangkah mendekatinya.

"Tanggung," jawab Rara Santika dengan datar. "Dia tak akan berani menantangmu sembarangan lagi. Itu baru melawanku, belum melawanmu! Kurasa ia akan cepat menjadi mayat jika melawanmu."

"Kalau dia sampai tewas, berarti kita akan berurusan dengan Perguruan Serikat Jagal dan orang-orang dari Kesultanan Siliwindu."

"Akan kugulung habis mereka jika masih coba-coba membalas dendam padamu."

Pendekar Mabuk diam saja, tapi hatinya membatin, "Begitu marahnya ia melihat diriku ditantang orang? Apa arti sikapnya ini?! Seakan ia tak ingin orang lain menyinggung perasaanku sedikit pun. Jika begitu ia akan murka jika melihat orang lain melukai tubuhku walau segores pun?! Apa benar ia punya sikap seperti itu?!"

Rara Santika berkata dengan tegas, "Lanjutkan langkah kita! Jangan bertindak jika ada yang ingin berkurang ajar padamu. Biar aku yang bertindak memberi pelajaran pada mereka! Jika perlu akan kuhentikan masa hidupnya siapa pun juga orangnya yang menantangmu dengan gegabah!"

Pendekar Mabuk tertawa kecil menyimpan rasa geli dan bangga hati. Ia nyaris tertinggal karena Rara Santika melangkah lebih dulu. Sambil menyusul langkah Rara Santika hati Pendekar Mabuk pun berkata pada diri sendiri,

"Pembelaannya itu jelas mempunyai maksud tertentu yang amat pribadi. Maukah ia menjelaskannya jika kutanya maksud pembelaannya ini?!"

* * *

EMPAT

DALAM perjalanan menuju Gunung Randu, tiba-tiba Pendekar Mabuk tersentak oleh ingatan tentang Puspa Jingga. Langkahnya terhenti seketika, membuat Rara Santika memandanginya dengan dahi berkerut merasa heran.

"Ada apa, Suto?" tegurnya pelan.

"Puspa Jingga," jawab Suto Sinting dari wajah menunduk jadi terangkat memandang Rara Santika.

"Kenapa dengan Puspa Jingga?"

"Siapa yang membawa lari Puspa Jingga pada saat kami sama-sama pingsan?"

"Mengapa baru sekarang kau berpikir begitu?"

"Karena kusangka Pangeran Umbardanu yang membawa lari Puspa Jingga. Ternyata bukan dia, dan bukan Pangeran Umbardanu juga yang menghantam kami dari belakang hingga tak sadarkan diri itu."

Setelah diam sebentar, Rara Santika ajukan tanya kembali dengan nada sedikit meremehkan, "Apakah hilangnya Puspa Jingga adalah hal yang amat penting bagimu, Pendekar Mabuk?! Apakah ia dalam tanggung jawabmu?!"

"Memang tidak dalam tanggung jawabku. Tetapi hilangnya Puspa Jingga melibatkan diriku, sebab akulah yang saat itu ada bersamanya. Aku pula yang terkena serangan dari orang yang membawa pergi Puspa Jingga itu."

"Mungkin orang itu adalah Nini Kalong sendiri."

"Tidak mungkin," sangkal Pendekar Mabuk. "Nini Kalong sedang bertapa gantung. Karenanya ia tugaskan Puspa Jingga untuk mengambil pusaka di dalam makam Resi Dirgantara."

"Tak bisakah kau melupakan Puspa Jingga?"

"Tak bisa, Rara. Setidaknya aku juga ingin tahu siapa orang yang menyerangku dari belakang itu!"

Rara Santika menarik napas panjang lalu menghembuskannya lepas-lepas. Pandangan matanya dialihkan ke arah lain. Perempuan itu tampak sembunyikan kedongkolan dalam hatinya. Rasa tak suka melihat Suto Sinting terlalu peduli dengan perempuan lain membuat Rara Santika menjauh tiga langkah, seakan sedang memandangi alam sekeliling mereka. Pada saat itulah Rara Santika melihat sekelebat bayangan melintas di sela-sela pepohonan seberang. Pandangan matanya berubah menjadi tajam seketika.

"Suto, ada orang di seberang sana!" ucapnya pelan, tapi sampai juga di telinga murid si Gila Tuak itu.

Pandangan mata Pendekar Mabuk pun segera mengarah ke tempat yang diperhatikan Rara Santika. "Benar apa katamu. Tapi agaknya ia orang berilmu tinggi. Gerakannya sangat cepat dan hampir-hampir tak bisa dilihat oleh mata kepala kita."

"Tapi ia tidak tahu kalau kita ada di sini."

"Mungkin tahu, tapi tak mau peduli dengan diri kita. Aku jadi penasaran dan ingin menguntitnya."

"Jangan, Suto! Tak perlu kita..."

Zlaaap...!

"Sutooo...?!" panggil Rara Santika, tetapi Pendekar Mabuk telah lenyap bagai ditelan bumi. Ia melesat dengan kecepatan lebih tinggi dari bayangan yang berkelebat di hutan seberang mereka itu. Mau tak mau Rara Santika mengikuti gerakan Suto Sinting dengan gerutuan tak jelas.

Orang yang diikuti Suto Sinting itu akhirnya berhenti di balik pohon besar yang berongga mirip goa. Ia bersembunyi di sana, tapi Suto Sinting melihatnya dan segera menghampiri orang itu. Wuuut...! Zeeb! Tahu-tahu Suto Sinting sudah berdiri di depan mulut rongga pohon besar itu dalam jarak empat langkah. Orang yang bersembunyi itu terkejut hingga memekik tertahan.

"Hahh...?!" matanya mendelik memancarkan perasaan takutnya.

"Resi Pakar Pantun...?!" sapa Suto Sinting dengan terheran-heran.

"Oooh... syukurlah. Akhirnya kutemukan juga dirimu, Suto Sinting," ujar orang tua berpakaian abu-abu dalam potongan pakaian biarawan. Tokoh ini sudah tidak asing lagi bagi Suto Sinting, karena belakangan Suto Sinting memang banyak terlibat masalah yang ada hubungannya dengan Resi Pakar Pantun, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Sabuk Gempur Jagat).

"Kau tampak ketakutan sekali, Resi Pakar Pantun. Apa yang terjadi pada dirimu?!"

"Ikan teri makanan perkutut, ketan wajik makanan hewan. Aku lari bukan karena takut, tapi jijik berhadapan dengan lawan."

Sang Resi pun langsung berpantun, karena memang ia gemar bermain pantun. Suto Sinting hanya sunggingkan senyum tipis setelah mendengar arti pantun sang Resi. Orang tua berjenggot putih agak gemuk itu keluar dari rongga pohon, matanya memandang ke sana-sini dengan rasa waswas.

"Siapa lawan yang mengejarmu itu. Resi?" tanya Suto Sinting menahan geli melihat wajah tua berusia delapan puluh tahun itu sangat lucu jika dalam ketakutan begitu.

"Lawanku kali ini bukan lawan sembarangan, Suto. Aku... aku benar-benar jijik berhadapan dengan lawanku itu."

"Bukankah beberapa waktu yang lalu, kala kita berpisah, kau pergi ke negeri Bumiloka untuk membantu muridmu; Kertapaksi, yang sedang diserang oleh Ratu Sangkar Mesum?!"

"Benar. Itu benar sekali!" jawabnya penuh semangat Sang Resi pun ingat masa perpisahannya dengan Pendekar Mabuk beberapa waktu yang lalu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Gundik Sakti).

"Lalu, bagaimana hasilnya? Apakah kau tak bisa menyelamatkan negeri muridmu itu?!"

"Bukan aku tak mampu menyelamatkan muridku, tapi justru sekarang pihak Ratu Sangkar Mesum berbalik memusuhiku."

"Lalu, kau lari dari pertarungan dengan Ratu Sangkar Mesum itu?" desak Suto Sinting, tapi sang Resi agaknya tak mau dikecam begitu saja. Ia mulai berpantun kembali.

"Ikan teri main garukan dengan kuku, memancing ikan di gayung adalah sia-sia. Lari dari pertarungan adalah tabu bagiku, tapi menghindari maut adalah kewajiban tiap manusia."

Suto Sinting tertawa-tawa kecil dan berkata, "Bilang saja kau takut menghadapi Ratu Sangkar Mesum!"

"Ikan teri kalau berenang baunya kecut, orang disunat susah dicabut. Bukan perempuan itu yang membuatku takut, tapi mayat hidup yang bikin aku kalang kabut."

Dahi pemuda tampan itu mulai berkerut dan menggumam lirih, "Mayat hidup...?!"

"Ratu Sangkar Mesum kerahkan pasukan mayat hidup, ia membangkitkan beberapa mayat dari dalam kubur untuk menyerangku. Padahal aku paling jijik dengan mayat. Salah satu mayat ada yang mengejarku dan sukar kuhancurkan dengan tenaga dalamku. Padahal semasa hidup mayat itu aku sangat kenal dengannya."

"Mayat siapa yang kau maksudkan itu, Resi?"

"Mayat sahabatku sendiri; mendiang Resi Dirgantara!"

"Hahh...?!" Pendekar Mabuk tersentak kaget dan matanya mendelik lebar.

"Baru kuceritakan kebangkitannya saja kau sudah kaget dan menjadi takut, apalagi jika berhadapan dengan mayat itu!" ujar sang Resi salah duga.

"Ja... jadi mayat Resi Dirgantara dibangkitkan oleh Ratu Sangkar Mesum? Oh, kalau begitu kuburan sang Resi Dirgantara menjadi rusak?!"

"Ceritanya begini," kata Resi Pakar Pantun berlagak tenang dalam memberi penjelasan. Padahal hatinya penuh kecemasan karena takut tertangkap pengejarnya. "Aku berhasil melumpuhkan anak buah Ratu Sangkar Mesum. Rupanya perempuan itu menjadi murka, kami adu kesaktian, ia keteter melawanku, lalu memanggil Dewi Geladak Ayu."

"Maksudmu, si bajak laut wanita itu?!"

"Benar. Menghadapi si bajak laut wanita itu aku menjadi terdesak, lalu segera larikan diri untuk mencuri kesempatan memukul kelemahan si Dewi Geladak Ayu. Namun ternyata siasat lariku itu justru dikejar oleh Ratu Sangkar Mesum. Mayat-mayat dibangkitkan dari kubur untuk ikut mengejarku. Para mayat itu bisa kuhancurkan, tapi ada satu mayat yang susah kulawan; selain tak tega juga sukar dihancurkan. Mayat itu adalah mayat mendiang sahabatku; Resi Dirgantara."

"Apakah kau berlari ke arah Bukit Batok?"

"Benar, aku berlari ke arah sana tanpa kusadari. Dan ketika melewati makam Resi Dirgantara, tahu-tahu goa itu jebol, mayat sahabatku yang sudah berpuluh-puluh tahun dimakamkan itu bangkit menyerangku dan, hiiii...! Ngeri!" sang Resi bergidik. Matanya melirik ke kanan kiri dengan tegang.

Pendekar Mabuk menjadi kian geli melihat tokoh tua yang terkenal sakti itu dicekam perasaan takut yang bukan sekadar main-main. "Lalu... di mana pelayanmu si Kadal Ginting itu, Resi?!"

"Wah, tak tahu bagaimana nasibnya anak itu! Dia lari ngibrit tunggang langgang begitu serangan mayat pertama datang. Sejak itu kami berpisah dan saling tidak mengetahui nasib masing-masing," jawab sang Resi yang bernada menggelikan bagi Suto Sinting.

"Seorang Resi berilmu tinggi kok takut sama mayat?!"

"Kalau mayat mati aku tak takut, tapi kalau mayat hidup aku memang takut. Aku tak pernah berurusan dengan mayat hidup, sejak kecil sampai setua ini!"

"Padahal dirimu sendiri sebenarnya mayat hidup, Resi."

"Ah, bercanda kau!" sang Resi melirik bersungut-sungut.

"Dulu kau pernah mati dan dihidupkan lagi oleh Pipit Serindu," ujar Suto Sinting, lalu menceritakan secara sekilas saat Resi Pakar Pantun sudah dinyatakan mati dan mau disemayamkan dengan cara dibakar, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kutukan Pelacur Tua).

"Itu bukan mati, tapi salah anggapan!" ujar sang Resi dengan wajah cemberut pertanda tak suka dikatakan sebagai orang yang pernah mati.

"Jadi bagaimana nasib negeri Bumiloka dan muridmu si Kertapaksi itu, Resi?"

"Entahlah, aku belum bisa berpikir soal itu. Aku masih terbayang-bayang dikejar mayatnya si Dirgantara selama sehari semalam penuh. Sampai sekarang aku belum tidur, karena mayat itu tak mau tidur juga."

Suto Sinting tertawa tanpa suara. Tawa itu tiba-tiba lenyap karena sekelebat sinar merah yang melesat lurus bagaikan sepotong besi panjang sehasta. Slaaap...! Sinar merah bening mirip dengan besi membara itu meluncur cepat ke punggung Resi Pakar Pantun.

Suto Sinting menyambar tangan sang Resi. Wuuut...! Sang Resi tersentak ke depan karena tarikan tangan kiri Suto Sinting, sementara tangan kanan Pendekar Mabuk segera melayangkan bumbung tuaknya ke arah depan. Wees...! Sinar merah itu menghantam bumbung tuak tersebut.

Duaaar...! Ledakan cukup keras terjadi tanpa melukai bambu bumbung tuak. Tapi ledakan itu mempunyai gelombang hentakan yang cukup kuat, sehingga Suto Sinting dan Resi Pakar Pantun terjungkal berguling-guling saling tindih.

"Auuow...! Auuuh...! Kepalaku jangan ditindih, Suto! Aauh... tanganku... tanganku, Sutooo...! Aduh, remuk tulangku kalau begini, uuuh...!"

Celoteh dan ratapan Resi Pakar Pantun tak sempat dihiraukan Suto Sinting. Ketika tubuh mereka sama-sama berhenti karena membentur sebuah pohon besar, Resi Pakar Pantun meratap lirih, wajahnya meringis karena kakinya tertindih tubuh Suto Sinting. Akhirnya ia membentak Suto Sinting sambil menepak pundak pemuda itu.

"Cepat bangun, Tolol!"

"Serangan itu pasti dari orang berilmu tinggi, Resi!"

"Tak peduli berilmu tinggi atau rendah, kakiku jangan kau injak terus!" geram sang Resi dengan berang.

Suto Sinting buru-buru menenggak tuaknya untuk hilangkan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Resi Pakar Pantun pun disuruh menenggak tuak tersebut. "Biar rasa sakitmu hilang, Resi. Minumlah tuak ini!"

Resi Pakar Pantun yang tahu persis bahwa tuak Suto itu mempunyai kesaktian tinggi sebagai senjata maupun obat, tak menolak tawaran untuk minum tuak. Ia menenggaknya beberapa teguk. Kejap berikut mereka berdua saling memandang keadaan sekeliling mencari lawan mereka yang tahu-tahu menyerang dengan tenaga dalam cukup tinggi.

"Jika orang itu tidak menggunakan jurus bertenaga dalam tinggi, sinar itu pasti akan memantul balik dalam keadaan lebih besar dan lebih cepat gerakannya. Tapi sinar itu ternyata justru meledak begitu mengenai bumbung tuakku, berarti kadar hawa saktinya cukup tinggi," tutur Suto Sinting tanpa memandang Resi Pakar Pantun.

"Musuhmu atau musuhku yang menyerang kita tadi?!" tanya sang Resi benar-benar dalam kebingungan.

Belum sempat Pendekar Mabuk memberi jawaban, tiba-tiba mereka sama-sama bungkam dengan mata tertuju ke arah munculnya sesosok tubuh yang meluncur dari ketinggian sebuah pohon. Wuuuusss...!

Jleeg...! Tubuh ramping berjubah hijau muda dari kain sutera tipis telah berdiri di depan mereka dalam jarak enam langkah. Tubuh ramping itu mempunyai wajah cantik dan sorot pandangan mata yang menggoda hati lelaki. Rambutnya disanggul sebagian, pada sanggulnya dililit pengikat dari logam emas bermanik-manik intan.

Tubuh berkulit putih mulus itu hanya dibungkus dengan jubah hijau tipis bagian depannya hanya mempunyai satu pengait 'kancing jepret' yang sewaktu-waktu bisa terlepas sendiri. Sedangkan di bagian dalam jubah tak mempunyai pelapis apa pun, sehingga jika jubah itu tersingkap maka akan tampak sebentuk keindahan yang membakar gairah setiap lelaki.

Resi Pakar Pantun menggeram dengan kedua tangan meremas sendiri. Sorot pandangan mata tuanya memancarkan permusuhan kepada perempuan berkalung dan bergelang emas permata.

"Kau mengenal perempuan itu, Resi?" tanya Suto Sinting dalam bisikan.

"Ratu Sangkar Mesum!" geram sang Resi penuh dendam.

Suto Sinting hanya menggumam dalam hati, kemudian pandangan matanya dipertajam dalam menatap Ratu Sangkar Mesum. Perempuan itu sendiri menatap Suto Sinting lebih lama ketimbang memandang Resi Pakar Pantun.

"Kau tak akan bisa lari ke mana-mana lagi, Pakar Pantun!"

"Ikan teri menjelma sebagai tamu, belalai gajah direbus dibuat jamu. Aku lari bukan karena kalah ilmu, tapi lari untuk mencarikan kuburmu."

Perempuan itu sunggingkan senyum sinis mendengar pantun sang Resi. Rupanya ia juga pandai berpantun sehingga membalas pantun tersebut dengan suara yang sedikit serak namun mempunyai getaran penggugah hasrat cinta lawan jenisnya.

"Ikan teri berbondong-bondong masuk dalam saku, ikan lele berlari-lari menuju biara. Kalau kau memang tak sanggup lagi melawanku, biarkan aku melawan pemuda itu dengan asmara."

Mata jeli yang berkesan nakal dan jalang itu melirik kembali kepada Suto Sinting. Pemuda yang dilirik hanya sunggingkan senyum tipis dan bersikap tenang, seakan acuh tak acuh terhadap pantun sang Ratu Sangkar Mesum itu. Walaupun ia tahu maksud pantun tersebut, namun tak punya niat untuk membalas dengan pantun juga. Sikap diam dan acuh tak acuh merupakan balasan yang cukup untuk pantun tersebut.

Tetapi tidak demikian halnya dengan Resi Pakar Pantun. Mendengar lawannya berpantun, ia pun membalas dengan pantun ejekan yang dapat membangkitkan amarah Ratu Sangkar Mesum. "Ikan teri mencakar memar seekor tikus, mencari tikar buat campuran ubi rebus. Dasar perempuan liar berjiwa rakus, lihat pemuda kekar maunya langsung bungkus."

Ratu Sangkar Mesum langsung membentak kepada sang Resi, "Hentikan permainan pantunmu!" Ia maju dua langkah, lalu berkata lagi dengan wajah memancarkan dendam. "Anak buahku hampir habis karena ulahmu. Tua Peot! Sekarang saatnya menebus dengan nyawamu!"

Suto Sinting sempat berbisik kepada sang Resi, "Mau kau tangani sendiri atau aku yang menangani, Resi?"

"Biar kutangani sendiri!" jawab sang Resi dengan tegas.

Suto Sinting angkat bahu, lalu segera mundur menjauh. Belum seberapa jauh Suto Sinting melangkah mundur, tiba-tiba dari mata kiri Ratu Sangkar Meaum melepaskan sinar lurus warna hijau bening. Claaap...! Sinar itu melesat cepat menuju dada Resi Pakar Pantun.

Sang Resi terperanjat karena tak menyangka serangan lawan datang secepat itu. Akibatnya ia hanya bisa menangkis sinar hijau itu dengan sentakkan tangan kanannya yang memancarkan sinar merah berbentuk bola berapi. Wuuus...!

Zrrub...! Jegaaarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi saat sinar hijau lurus itu menghantam sinar merah. Gelombang ledakan membuat tubuh Resi Pakar Pantun tersentak dan terbang ke belakang. Buugh...! Tubuh agak gemuk itu menghantam batang pohon. Tak ada keseimbangan tubuh yang dapat dikuasai, ia pun jatuh tersungkur dihujani oleh daun-daun pohon yang berguguran akibat benturan tubuhnya tadi. Bisa dibayangkan alangkah kerasnya benturan itu, sampai-sampai daun-daun pohon berguguran baik yang sudah layu maupun yang masih segar.

Rupanya gelombang ledakan itu bertenaga sangat besar, sehingga Resi Pakar Pantun tak bisa bangkit lagi dalam keadaan hidung berdarah dan wajah memucat. Tokoh tua itu jatuh pingsan dalam satu jurus. Itu menandakan si Ratu Sangkar Mesum pergunakan jurus andalan yang terlambat ditangkis oleh sang Resi. Mestinya jurus itu ditangkis pada saat masih melesat di pertengahan jarak, bukan dalam jarak satu langkah di depan sang Resi berdiri tadi.

Akibat tangkisan dalam jarak dekat, maka gelombang ledakan tersebut cukup telak menghantam tubuh Resi Pakar Pantun. Sementara si perempuan cantik berpakaian seronok itu tetap berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya.

Melihat keadaan Resi Pakar Pantun tidak berdaya, Ratu Sangkar Mesum segera lepaskan pukulan jarak jauhnya yang dapat mengakhiri riwayat hidup sang Resi. Tangan kanannya memutar cepat lalu menghentak ke depan dalam keadaan lurus, kedua kaki pun merendah. Suuut...! Dari ujung tangan itu melesat sinar biru lebar berbentuk separo lingkaran. Weeess...!

Suto Sinting buru-buru melesat dari tempatnya. Zlaaap...! Tahu-tahu sudah menghadang di depan lajunya sinar biru, menjadi pelindung tubuh Resi Pakar Pantun. Tangannya menyentak ke depan dan sinar hijau keluar dari tangan tersebut, melesat cepat menghantam sinar biru lawan. Claap...!

Blegaaar...!

Pukulan 'Guntur Perkasa' mematahkan jurus maut Ratu Sangkar Mesum. Ledakan dahsyat memercikkan sinar biru kehijauan yang menyebar ke atas dalam sekejap. Gelombang ledakan itu mampu membuat tubuh Ratu Sangkar Mesum tersentak mundur ke belakang, terhuyung-huyung hampir jatuh. Sedangkan Suto Sinting sudah jatuh lebih dulu dalam keadaan terduduk menindih pinggang Resi Pakar Pantun. Namun karena sang Resi dalam keadaan pingsan, Suto pun tak mendapat omelan, ia segera bangkit dalam keadaan masih segar.

Ratu Sangkar Mesum hentikan serangan. Langkahnya tampak menggoda dengan pinggul bergoyang ke sana-sini. Wajah perempuan itu tidak memancarkan permusuhan kepada Suto Sinting. Bahkan ada seulas senyum tipis di bibirnya yang sedikit tebal dan menggemaskan jika dipandang terlalu lama itu.

"Aku suka dengan caramu, Pendekar Tampan!" katanya setelah mereka saling berhadapan dalam jarak lima langkah. Mata jalang sang Ratu sengaja dimainkan untuk menggoda hati si pemuda tampan itu. Lagak berdirinya pun tampak menantang kemesraan. Kancing jubahnya dilepaskan dengan sengaja. Suto Sinting tertegun bengong memandanginya, ia menelan ludahnya sendiri dua kali, kemudian menarik napas untuk menahan getaran indah yang menuntut kemesraan.

"Hanya kaulah orangnya yang bisa mematahkan jurus 'Pedang Biru'-ku. Kini aku tahu kau pemuda yang hebat, dan aku yakin bukan saja ilmu kanuraganmu yang hebat, namun ilmu cumbuanmu juga pasti hebat!"

"Aku tak mengerti arah bicaramu, Ratu Sangkar Mesum!" kata Suto Sinting dengan wajah tanpa senyum namun masih kelihatan tampan.

Ratu Sangkar Mesum semakin menggoda dengan senyum dan pandangan matanya, ia mendekati Suto Sinting dan membiarkan jubahnya tersingkap lebar, seakan ia sengaja memamerkan perabotnya.

"Berhenti di situ saja!" sentak Suto Sinting tak terlalu keras namun terdengar tegas.

Langkah sang Ratu pun terhenti dalam jarak tiga langkah di depan Suto Sinting. Pemuda itu justru mundur menjauh sambil matanya melirik tajam tak bersahabat.

"Jangan coba-coba meruntuhkan jiwaku dengan kemesumanmu, Ratu! Kalau kemarahanku tak terbendung lagi, kau akan pulang tanpa raga."

Sang Ratu makin sunggingkan senyum jalang. "Pria yang ketus adalah pria yang sangat menggairahkan bagiku. Semakin kau menjauh semakin aku memburumu, Anak Ganteng!"

"Semakin kau memburuku berarti semakin kau mendekati ajalmu, Perempuan Cantik!"

"Ahaa... kau pun memujiku rupanya?!" Ratu Sangkar Mesum semakin ceria. Tawanya lepas berderai dengan suara sedikit serak yang memancarkan getaran daya pikat bagi lawan jenisnya.

Sementara itu, Suto Sinting melangkah pelan-pelan mengelilingi sang Ratu.

"Dekatlah kemari, Sayang! Dekaplah aku selagi si tua Pakar Pantun itu sekarat! Dekatlah, Sayang...," sambil kedua tangan dijulurkan ke depan dan melambai-lambaikan penuh goda.

"Aku tak bisa tergoda oleh rayuanmu, Ratu! Karena aku sudah mempunyai calon istri yang amat kucintai dan kujaga kesetiaan cintaku ini."

"O, kau sudah punya calon istri? Siapa calon istrimu itu?!"

"Dyah Sariningrum; Gusti Mahkota Sejati, penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi di Pulau Serindu!"

Wajah sang Ratu terperanjat, keceriaannya lenyap seketika. Tangan yang dijulurkan ke depan segera turun dan menggenggam kuat-kuat. Matanya memandang dengan menyipit memancarkan permusuhan dan kebencian. "Rupanya kau kekasih si keparat itu?!" geram sang Ratu.

Pendekar Mabuk bagai dibakar darahnya mendengar kekasihnya dikatakan sebagai 'si keparat' oleh Ratu Sangkar Mesum. Kemarahan pun segera timbul di hati Suto Sinting, sikap memandangnya menjadi kian bermusuhan.

"Apa maksudmu berkata begitu, Perempuan Liar?!" sentak Suto Sinting dengan wajah menegang. Rupanya ia paling tersinggung jika Dyah Sariningrum dihina oleh seseorang.

"Mahkota Sejati adalah orang yang akan kuhancurkan, karena para pengawalnya telah membuat dua adikku tewas dalam penyerbuan ke Pulau Serindu. Perempuanmu itu harus bertanggung jawab dan menebusnya dengan nyawa! Tapi ada baiknya jika sebelum itu kukirimkan dulu jenazah kekasihnya yang ada di sini!"

Gigi sang Pendekar Mabuk mulai menggeletak. Napas yang keluar dari hidungnya menyembur deras, membuat tanah di depannya tersibak dan menjadi cekung sedikit demi sedikit. Napas itu adalah Napas Tuak Setan yang keluar dengan sendirinya jika hatinya diliputi kemarahan besar.

* * *

LIMA

PEREMPUAN berkuku runcing itu mulai membuka jurus dengan gerakan merentang ke belakang, kedua tangannya terangkat dalam keadaan siap mencakar. Suto Sinting sendiri mulai siapkan diri melawan musuhnya yang tak menimbulkan kesan indah sama sekali seperti tadi.

Namun baru saja mereka ingin mengawali pertarungan, tiba-tiba sekelebat bayangan menerjang dari arah belakang Ratu Sangkar Mesum. Gerakan yang begitu cepat itu membuat sang Ratu tak mampu berkelit atau menangkis balik, sehingga tubuhnya pun terpental jatuh berguling-gulingan setelah terlebih dahulu terpelanting ke samping. Sesosok bayangan itu kini berdiri dengan tegak dan tegar.

Pendekar Mabuk sempat berkerut dahi sebentar dan bergumam lirih kepada bayangan yang menerjang sang Ratu itu. "Rara Santika...?"

"Mundur, biar aku yang menghajar si jahanam itu!" ujar Rara Santika dengan nada berang.

"Ini urusan pribadiku, Rara!"

"Aku pun punya urusan pribadi dengannya. Akan kuselesaikan dulu urusanku, setelah itu baru kau yang maju menyelesaikan urusan pribadimu dengannya!"

Dengan agak dongkol Pendekar Mabuk pun mundur menjauh sambil membatin, "Akan kulihat sampai di mana kehebatanmu, Rara. Kalau kau sudah kepepet, baru aku turun tangan."

Rara Santika tampak geram sekali kepada Ratu Sangkar Mesum. Dihampirinya perempuan berjubah hijau tipis yang kala itu baru saja bangkit dari jatuhnya. Mata si perempuan jalang tampak terkesiap pandangi kehadiran Rara Santika. Ia pun menggeletukkan gigi dan menggeram lirih dengan kedua tangan menggenggam kuat-kuat.

"Masih ingat diriku, Sangkar Mesum?!" seru Rara Santika menyentak.

"Mau apa kau mencampuri urusanku, Perempuan Laknat?!" Ratu Sangkar Mesum ganti menyentak dengan berani.

"Kau boleh berurusan dengan Suto Sinting itu," Rara Santika menuding ke belakang, menunjuk Pendekar Mabuk. "Tapi lebih dulu kau harus selesaikan urusan lamamu denganku, Iblis Betina!"

Ratu Sangkar Mesum diam membisu dengan napas mulai memburu. Rara Santika melangkah ke samping dengan mata tajam memandang tak berkedip. "Tentunya kau masih ingat dengan Pramudya Wiseta, pemuda dari Lembah Damar yang kau jadikan budak nafsumu dan akhirnya kau bunuh begitu saja itu!"

"Oh, jadi kau masih teringat dengan kekasihmu yang malang itu?! Hmmm...! Dia memang layak untuk mati, karena dia tak mau lagi melayaniku dan itu merupakan penghinaan bagiku. Hukuman mati adalah hukuman yang layak diterima bagi siapa saja yang berani menolak keinginanku!"

"Sekarang aku menuntut balas atas kematian tunangganku itu! Kesempatan ini tak akan kusia-siakan karena sudah cukup lama kutunggu-tunggu datangnya!" seru Rara Santika semakin garang.

"Coba dulu hadapi jurus kecilku ini, Santika!" Kedua tangan Ratu Sangkar Mesum terangkat ke atas. Wuuuss! Dua sinar putih terang menyilaukan membias lebar ke arah Rara Santika. Namun dengan lincahnya tubuh Rara Santika segera melenting di udara hindari sinar terang yang menyilaukan itu.

Zuuub...!

Dua bongkah batu yang terkena sinar terang itu lenyap seketika tanpa bekas sedikit pun. Sinar itu pun padam seketika. Bluub...! Tapi tubuh Rara Santika yang masih melayang di udara itu segera lepaskan pukulan jarak jauh dari sana. Dua jarinya dikeraskan dan disentakkan ke depan. Claaap...! Sinar merah berbentuk anak panah melesat ke arah Ratu Sangkar Mesum. Gerakan sinar yang amat cepat itu membuat Ratu Sangkar Mesum tak punya kesempatan untuk menghindar. Maka ia menangkis sinar itu dengan mengadu kekuatan tenaga dalamnya yang tadi dinamakan jurus 'Pedang Biru' dari ujung telapak tangan yang disodokkan kedepan. Slaaap...!

Blegaaar...!

Kedua sinar yang bertabrakan itu menimbulkan ledakan dahsyat. Tubuh mereka sama-sama terpental ke belakang. Tapi keduanya mampu menjaga keseimbangan hingga tak sampai terguling-guling.

"Kuhancurkan kepalamu, Santikaaaa...!" teriak sang Ratu. "Heeeeaaah...!"

"Hiaaat...!" Rara Santika berkelebat maju dalam satu lompatan bersalto.

Ratu Sangkar Mesum juga berkelebat maju dalam satu lompatan bersalto. Mereka berhadapan dalam jarak dekat selama di udara. Saat itulah kedua tangan mereka saling menghantam dengan kecepatan tinggi. Plak, plak, plak, plak, duaaar...!

Sekelebat sinar merah berasap memercik dari benturan telapak tangan mereka. Keduanya sama-sama terdorong mundur dan mendaratkan kaki dengan sigap.

Jleg, jleg...!

Saking terkesimanya menyaksikan pertarungan Rara Santika dan Ratu Sangkar Mesum, Suto jadi lupa dengan keadaan Resi Pakar Pantun yang terbaring pingsan, ia terus memandang pertarungan itu dengan hati cemas.

Ratu Sangkar Mesum segera mengerahkan tenaganya dengan gerakan tangan membentang lebar dan tubuh merendah, kaki kirinya ditarik ke belakang sedikit. Gerakan tangan itu lama-lama membuat kedua telapak tangannya menyala bagaikan besi membara. Asap mengepul tipis dari kedua telapak tangan yang berwarna merah kekuning-kuningan itu. Dari ujung-ujung kuku memercik sinar biru berkerilap-kerilap, bagaikan anak petir yang saling berlompatan.

Trat, tat, tat, traat, taar, tar, trat, tat...!

Rara Santika segera mencabut kipas gadingnya yang sejak tadi tertutup jubah merah jambu itu. Dengan satu sentakan kaki merendah dan tangan kiri ke depan membentuk cakar, kipas itu disentakkan ke samping dan membuka seketika. Braab...! Kemudian kipas itu dimainkan meliuk ke sana-sini sambil langkahnya makin mendekati lawan.

Seketika itu juga, Ratu Sangkar Mesum segera menepukkan kedua tangannya di depan dada dalam keadaan lengan lurus. Plaak...! Claaap...!

Seberkas sinar biru kemerah-merahan melesat dan menghantam Rara Santika. Namun kipas Rara Santika segera menghadang di depan dada dan menangkis sinar tersebut. Drrrbb.! Sinar itu padam tanpa ledakan apa pun. Hanya meninggalkan kepulan asap yang membubung tinggi, seolah-olah kipas itu terbakar. Tapi sebenarnya kipas itu masih utuh tanpa hangus sedikit pun.

"Jahanam busuk kau, heeeeaaah...!!" Ratu Sangkar Mesum semakin murka, ia menyerang maju dengan kedua telapak tangan masih membara dan dapat menghanguskan apa saja.

Agaknya Rara Santika pun tak merasa gentar sama sekali, sehingga ia menyongsong gerakan lawan dengan satu lompatan cepat dan kipas ditakupkan. Zrrrb...! Wweeess!

Tar, tar, tar...! Letusan terdengar ketika telapak tangan Ratu Sangkar Mesum ditangkis dengan kipas gading. Tubuh Rara Santika bergerak cepat mengitari lawan. Gerakan cepatnya nyaris tak terlihat sekalipun dari jarak jauh. Bret, bret, bret, bret, bret!

Craas!

"Aaaahg !!" terdengar suara pekik tertahan dari Ratu Sangkar Mesum.

Weees...! Rara Santika menarik diri, menjauhkan jarak dengan lawannya. Maka tampaklah keadaan Ratu Sangkar Mesum yang cukup menyedihkan. Jubah hijaunya tercabik-cabik tak layak lagi dipakai sebagai penutup tubuhnya yang ramping. Punggung mulus itu kini koyak berdarah, lukanya dari tengkuk sampai ke pinggang belakang. Luka itu mengepulkan asap putih samar-samar menandakan adanya racun berbahaya dalam luka tersebut. Kipas itu ternyata mempunyai ketajaman melebihi pedang dan mempunyai racun yang amat berbahaya.

"Uuuuhg...!!" Ratu Sangkar Mesum mengerang dengan tubuh menggeliat dan terhuyung-huyung. Wajahnya tampak pucat, bola matanya keruh. Ratu Sangkar Mesum jatuh berlutut sambil menahan sakit.

Rara Santika bergegas mengakhiri riwayat hidup perempuan itu. Tapi Suto Sinting segera berseru,

"Cukup, Rara...!"

Langkahnya terhenti dengan napas tertahan di dada. Rara Santika palingkan pandang ke arah Suto Sinting dan berkata dalam geram. "Ia harus menebus kematian mantan kekasihku dengan nyawanya!"

"Ia akan mati sendiri karena luka beracun itu! Tak perlu kau buang-buang tenaga lagi."

Napas pun akhirnya dihempaskan lepas-lepas oleh Rara Santika. Niatnya untuk memenggal leher Ratu Sangkar Mesum dengan kipas gading dibatalkan.

Tetapi kejap berikutnya Ratu Sangkar Mesum memasukkan dua jarinya ke mulut dan meniupnya keras-keras. "Suiiiiittt...!"

Suara suitan panjang terdengar membuat Suto Sinting dan Rara Santika saling berpandangan. Pendekar Mabuk segera dapat mengerti maksud suitan panjang itu. "Ia memanggil seseorang!"

Baru saja Rara Santika ingin bicara, tiba-tiba dari balik semak-semak muncul lima sosok tubuh dalam keadaan mengerikan. Lima sosok tubuh itu berbelatung dan berlendir busuk. Mereka adalah lima sosok mayat yang rupanya sudah disembunyikan sejak tadi oleh Ratu Sangkar Mesum sebelum melakukan pertarungan dengan Resi Pakar Pantun.

"Pantas sejak tadi aku mencium bau busuk, rupanya dari mayat-mayat itu?" pikir Suto Sinting, demikian pula yang ada dalam batin Rara Santika.

Lima sosok mayat yang berwajah mengerikan serta dalam bentuk menjijikkan itu mulai mengurung Rara Santika yang kala itu berdekatan dengan Pendekar Mabuk. Sosok berlumur tanah basah dan berbelatung itu mempunyai bola mata putih rata tanpa ada manik hitamnya. Mereka menyeringai dan mengeluarkan suara serak yang mengerikan.

Wuuuut...! Tubuh Ratu Sangkar Mesum melesat meninggalkan tempat itu setelah berseru dengan suara tertahan, "Terimalah pembalasanku, Santika...!"

Pendekar Mabuk dan Rara Santika tidak hiraukan pelarian Ratu Sangkar Mesum yang membawa luka parahnya itu. Perhatian mereka tertuju pada lima sosok mayat berbelatung menjijikkan dengan kuku-kuku hitam meruncing keras. Mereka mendekat dengan langkah gontai dari berbagai arah.

"Agaknya Ratu Sangkar Mesum membangkitkan mayat-mayat orang yang semasa hidupnya mempunyai ilmu cukup tinggi," bisik Suto Sinting kepada Rara Santika. Hal itu dikatakan oleh Suto Sinting melihat mayat-mayat itu lakukan gerakan pembuka jurus tanpa limbung dan gontai sedikit pun.

"Krrraaakkkk...!!" salah satu mayat menjerit dengan suara seraknya, karena di bagian leher sudah bolong serta berbelatung menjijikkan. Mayat itu melompat dengan cepat menerjang Suto Sinting. Dengan cepat Suto Sinting pun segera mengayunkan bumbung tuaknya ke depan.

Wuuung...!

Prrrok...! Kepala mayat itu pecah bagai dihantam dengan palu besi. Sosok mayat yang kepalanya terhantam bambu bumbung itu akhirnya menggelepar-gelepar di tanah dengan keluarkan suara derak dari tenggorokannya.

Suto Sinting memberi isyarat dengan gerakan tangan sambil berseru, "Mundur, Rara...!"

Tetapi perempuan itu justru diam di tempat menghadapi serbuan empat mayat yang masih bergerak maju. Dan serta-merta ia membentangkan kipasnya. Brrrab...! Kipas itu tiba-tiba menyala merah bagaikan membara. Kemudian Rara Santika melemparkan kipas itu ke arah mayat yang datang dari arah kanannya.

Weeess...! Zuuuubb...!

Kipas menyala merah terbang melesat dan menerjang leher mayat. Craas...! Leher itu terpotong seketika, kepala mayat jatuh menggelinding. Kipas itu membalik arah dengan gerakan melingkar. Keadaannya yang masih terbuka dan membara itu ternyata menerjang kembali sebatang leher mayat lain dari belakang.

Craaas...! Crras...! Craas...!

Pendekar Mabuk sempat tertegun bengong melihat gerakan kipas itu yang begitu cepat dan mampu memenggal leher keempat mayat dalam waktu singkat. Ketika kipas selesai memenggal leher mayat terakhir, gerakannya memutar kembali dan melesat ke arah Rara Santika. Tangan perempuan berjari lentik itu segera menyambarnya.

Taab...! Kini kipas gading sudah berada di tangan Rara Santika kembali. Sementara itu, lima mayat dalam keadaan tumbang tak berkutik lagi. Satu mayat kepalanya hancur, empat lainnya buntung tanpa kepala lagi. Bau busuk menyebar ke mana-mana dan membuat perut mual.

Pendekar Mabuk segera meneguk tuaknya, lalu rasa mual pun hilang dan bau busuk pun berkurang. Rara Santika ikut-ikutan menenggak tuak setelah diberi tahu khasiatnya untuk menangkal bau busuk dan rasa mual.

"Bagaimana dengan si kakek tua itu?" tanya Rara Santika sambil menunjuk kepada Reai Pakar Pantun yang masih belum siuman itu.

Pendekar Mabuk segera memeriksanya, ia menjadi tegang setelah mengetahui denyut nadi Resi Pakar Pantun sangat lemah. "Bantu aku meminumkan tuak ini ke dalam mulutnya! Terlambat sedikit lagi ia akan tewas tak tertolong lagi!" ujar Suto Sinting sambil berusaha membuka mulut Resi Pakar Pantun dengan paksa.

Rara Santika menyelipkan kipasnya ke pinggang kanan, kemudian menuangkan tuak pelan-pelan ke mulut Resi Pakar Pantun.

"Jangan keras-keras membukakan mulutnya, nanti robek tepiannya!" ujar Rara Santika, namun Pendekar Mabuk tak hiraukan himbauan itu. Ia berusaha mengguncang-guncang kepala sang Resi, menyentak-nyentakkan agar tuak dapat terminum masuk ke dalam tenggorokan sang Resi.

"Sekali lagi! Lakukan sekali lagi, Rara!" ujar Suto Sinting sambil membuka mulut sang Resi seperti membelah durian. Rara Santika pun menuangkan tuak itu pelan-pelan hingga mulut sang Resi terisi tuak.

"Krrraaaakkk...!"

Tiba-tiba terdengar suara serak mengerikan dari balik pohon tak jauh dari mereka berada. Pendekar Mabuk dan Rara Santika kaget dan saling pandang sejenak, kemudian keduanya sama-sama menatap ke arah datangnya suara tadi.

"Ohh... celaka!" gumam Suto Sinting dengan tegang.

Dari balik semak belakang pohon muncul sesosok mayat yang berlendir busuk dan berbelatung seluruhnya. Separo wajahnya telah menjadi tulang dikerumuni belatung menjijikkan. Bagian dadanya telah bolong dan berisi belatung berjubal-jubal. Pendekar Mabuk bergidik merinding, demikian pula Rara Santika.

Mayat itu bertangan satu. Mungkin semasa hidupnya tangan yang satunya lagi dibuntungi oleh lawan. Dan melihat keadaan mayat bertangan satu dengan rambut putih berlumur tanah liat, Rara Santika pun mulai mengenali mayat yang bergerak perlahan-lahan keluar dari balik pohon sedikit terhuyung-huyung.

"Eyang...!" sapa Rara Santika yang berpisah jarak dengan Suto Sinting.

Mata mayat yang putih dengan rongga mata dikerumuni belatung itu bergerak memandang ke arah Rara Santika. Wajah perempuan itu memancarkan kedukaan yang amat dalam.

"Rara, kau mengenal mayat itu?!"

"Eyang Resi Dirgantara...?!"

"Kkkkkrraakkk...!" mayat itu mendekati Rara Santika. Tangannya terangkat dengan kuku hitam memanjang.

Suto Sinting sempat berdebar-debar setelah tahu mayat itu adalah mayat Resi Dirgantara. "Berpuluh-puluh tahun dimakamkan baru sekarang mayatnya membusuk seperti itu. Kalau bukan orang berilmu tinggi tak mungkin mayatnya bisa seawet itu dan cukup lama mengalami pembusukan," pikir Suto Sinting sambil melangkah mundur jauhi mayat berbelatung itu.

Resi Pakar Pantun mulai sadar dari siumannya, ia mengerang lirih, kemudian menggeliat, merasakan badannya mulai ringan, ia mencoba bangkit berdiri sambil menarik napas panjang-panjang.

"Uuufffh...! Napasku terasa lega, enteng sekali dihirupnya, dan... hah, apa itu?!" Resi Pakar Pantun terbelalak pandangi mayat yang sedang mendekati pertengahan jarak antara Suto Sinting dengan Rara Santika. Wajah sang Resi yang baru siuman itu tegang sekali. "Maaa... mayat si Dirgantara?! Ooh.... Oooooohh...!"

Brrruk...! Resi Pakar Pantun pingsan kembali, ia memang paling takut dengan mayat hidup yang menjijikkan itu. Repotnya, suara jatuhnya Resi Pakar Pantun memancing perhatian mayat Resi Dirgantara. Mayat itu segera menggeram sambil mendekati Resi Pakar Pantun sebagai lawan yang dikejar-kejarnya sejak kemarin itu.

"Hhgggrr...! Krrraaahhhkk...!"

Melihat mayat itu mendekati Resi Pakar Pantun, Suto Sinting menjadi cemas dan sempat salah tingkah sendiri. Sementara itu, Rara Santika berseru dengan keras,

"Eyang, jangan sentuh orang itu! Eyang Resi... dengarlah seruan saya ini, Eyang!"

Langkah kaki lamban itu terhenti, mayat berpaling memandang Rara Santika yang berwajah haru. Perempuan itu mencoba mengajaknya bicara lagi.

"Eyang, saya Rara Santika...! Masih ingatkah pada saya, Eyang...?! Saya anak dari Ki Panjuru Gesang yang dulu pernah Eyang ajak ke Pulau Sumbing! Saya Rara Santika, Eyang Resi Dirgantara...!"

"Hhhhgggrrr...!" mayat itu menggeram dengan mata putihnya kian melebar. Tiba-tiba tangannya menyentak ke depan. Belatung berjatuhan, telapak tangan keluarkan sinar kuning lurus menghantam Rara Santika.

Perempuan itu terkejut dan terlambat menghindar, ia hanya memberi tangkisan dengan sebuah pukulan bersinar merah. Claaap...! Kedua sinar itu pun beradu dalam jarak empat langkah di depan Rara Santika.

Blegaaarr...! Dentuman membahana menggelegar mengguncangkan bumi. Rara Santika terlempar melayang dan jatuh terbanting tanpa keseimbangan tubuh lagi. Brrruk...!

"Aaaahg...!

"Rara...?!" pekik Suto Sinting, lalu segera berlari ke arah Rara Santika. "Rara, apa yang harus kita lakukan jika begini?! Mengapa kau tak memenggal kepala mayat itu seperti yang lain?!"

Rara Santika menjawab sambil dibantu berdiri oleh Suto Sinting. "Aaak... aku tak tega. Ddddia... dia mayat orang yang kuhormati dan... dan... oh, lihat! Dia ingin mencabik-cabik pak tua itu!"

"Celaka!" geram Suto Sinting dengan tegang melihat mayat Resi Dirgantara sudah kian dekat dengan tubuh Resi Pakar Pantun yang terkapar tak sadarkan diri. Tangan berkuku hitam itu terangkat dan siap mencabik tubuh Resi Pakar Pantun. Suto Sinting segera lepaskan pukulan 'Jari Guntur'- nya, sebuah sentilan jari yang dapat mengeluarkan tenaga dalam berkekuatan seekor kuda jantan. Teeb...!

Brrrus...! Tubuh mayat Resi Dirgantara terhantam tenaga kuat dari sentilan tangan Suto Sinting. Sosok mayat berbelatung itu terlempar jatuh ke semak-semak sambil keluarkan erangan mengerikan yang cukup panjang. "Kkkrrraaaaahhhhkkk...!!"

Pendekar Mabuk berkelebat dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya. Zlaaap...! Weeeess...! Tubuh Resi Pakar Pantun yang pingsan disambarnya. "Rara Santika, tinggalkan tempat ini!" serunya, lalu ia melesat lebih dulu, dan Rara Santika segera menyusulnya.

Mayat Resi Dirgantara bangkit dari kejatuhannya. Mengerang panjang dengan suara menyeramkan. Dari bola matanya yang putih keluarkan sepasang sinar merah berbentuk lingkaran sebesar gelas. Slaap, slaap...!

Blegaaaar...!

Kedua sinar menghantam pohon di depan langkah Suto Sinting dan Rara Santika. Pohon itu tumbang seketika dan nyaris menimpa tubuh Suto Sinting. Untung si Pendekar Mabuk mampu bergerak lincah menghindari pohon itu sambil tetap memanggul tubuh Resi Pakar Pantun. Sementara itu, Rara Santika sendiri mendapatkan tempat yang aman tak terkena robohan pohon.

"Cepat, Rara...! Mayat itu pasti akan mengejar kita!" seru Pendekar Mabuk mencemaskan perempuan cantik yang gerakannya masih kalah cepat dengan gerakan Suto Sinting itu.

"Hhhhgggrrr..!" suara mayat terdengar, ternyata mayat itu mampu bergerak cepat, bagai menggunakan sisa jurus semasa hidupnya. Wuuuss...! Mayat Resi Dirgantara mengejar mereka, belatungnya berjatuhan ke mana-mana.

* * *

ENAM

RESI Pakar Pantun baru saja siuman begitu mereka berhenti di kaki bukit. Suto Sinting tersandung akar pohon hampir jatuh tersungkur. Tubuh yang dipanggulnya terlepas dan jatuh terbanting. Saat itulah Resi Pakar Pantun siuman sambil mengerang kesakitan pegangi tulang pinggangnya.

"Uuuhff...!" Resi Pakar Pantun menggeliat, ia membuka mata dan memandang sekeliling, lalu tersentak kaget dan segera bangkit terduduk. "Hei, mengapa aku ada di sini?!"

"Daripada di sana, kau akan dicabik-cabik oleh mayat Resi Dirgantara," ujar Suto Sinting.

"Mayat...?!" Resi Pakar Pantun kerutkan dahi. "O, iya...! Ada mayat yang mengejarku. Mayat si Dirgantara. Sekarang bagaimana kabarnya mayat si Dirgantara?!"

"Sehat walafiat," jawab Suto Sinting seenaknya, lalu ia menenggak tuaknya tak peduli Rara Santika tertawa kecil mendengar jawabannya itu.

"Hei, kalau tak salah kau putri kesayangan si Panjuru Gesang?!" sang Resi menuding Rara Santika.

"Benar, aku putri Panjuru Gesang. Apakah kau mengenal mendiang ayahku, Resi?"

"Ya, aku kenal betul dengan beliau. Waktu aku sering berkunjung ke pondoknya, kau masih kecil. Paling akhir aku jumpa Panjuru Gesang, kau masih berusia sekitar... yah, sekitar delapan belas tahun."

"O, aku tak ingat samas ekali."

"Tentu saja, karena kau saat itu sedang kasmaran dengan Pramudya Wiseta. Kulihat kau berduaan di belakang pondok, sementara aku berbincang-bincang dengan ayahmu di samping pondok."

Rara Santika sunggingkan senyum tersipu, matanya melirik Suto Sinting sekilas, ternyata pemuda itu memperhatikan dengan cibiran menggoda.

"Itu masa lalu yang tak perlu dikenang lagi, Resi," ujar Rara Santika menutupi rasa tak enak hati terhadap Pendekar Mabuk.

"Ya, ya... tapi aku menyesal sekali pada saat pemakaman ayahmu tak bisa hadir," wajah sang Resi menampakkan raaa sesalnya. "Semoga arwahnya sekarang sudah berada di sisi Yang Maha Kuasa dengan damai," kenang sang Resi dengan mata menerawang.

Mereka dicekam keheningan sejenak. Keheningan itu menjadi buyar setelah kemunculan sesosok bayangan hitam yang berkelebat melintasi kepala mereka. Wuuttt...! Kemudian bayangan itu menapakkan kakinya dalam jarak enam langkah dari Suto Sinting. Jleeeg...!

"Nini Kalong...?!" sapa Suto Sinting dengan nada heran.

Nenek berjubah hitam yang badannya kurus dan bungkuk itu melangkah pelan mendekati Suto Sinting. Tapi Resi Pakar Pantun segera menyapa dengan wajah ceria.

"Murcaci...?! Oh, tak kusangka kita akan jumpa di sini, Murcaci?!"

Rupanya Nini Kalong mempunyai nama asli Murcaci, dan hanya Resi Pakar Pantun yang mengenal nama itu di antara mereka bertiga. Sang Resi segera menyambut dengan langkah mendekat dan membentangkan tangannya. Nini Kalong dipeluknya beberapa saat. Sang nenek meronta dan menggerutu karena merasa malu.

"Kita sudah tua, jangan bertingkah seperti anak muda, Rangga," kata sang nenek kepada Resi Pakar Pantun.

Pendekar Mabuk tertawa kecil berkepanjangan. Rara Santika bertanya dalam bisikan, "Mengapa kau tampak geli sekali?"

"Ternyata nama asli Resi Pakar Pantun adalah Rangga. Lucu sekali bagiku, nama sebagus itu dipakai oleh orang setua dia! Tak ada pantasnya sedikit pun."

Nini Kalong perdengarkan suaranya yang sedikit bergetar, "Secara kebetulan saja aku melihat kalian di sini dan kubelokkan arah langkahku. Jadi jangan kau anggap aku sengaja menemuimu, Rangga."

"Ikan teri menari ke sana-sini, pakai kebaya jalannya amat kaku. Sengaja ataupun tidak pertemuan kita ini, tapi kenangan manis masa lalu mekar di ujung hatiku."

Resi Pakar Pantun berlutut satu kaki dengan kedua tangan dibentangkan dan kepala mendongak memandang Nini Kalong. Namun nenek berambut putih berpegangan tongkat baru justru menyingkirkan tangan sang Resi dengan tongkatnya. Gaya rayuan sang Resi membuat Rara Santika dan Pendekar Mabuk terkikik geli.

"Minggir kau, aku mau bicara dengan murid si Gila Tuak itu!" lalu ia melangkah mendekati Suto Sinting, Resi Pakar Pantun dibiarkan berlutut di tempatnya. Sang Resi memandang dengan terbengong dan berwajah kecewa karena rayuannya tidak dihiraukan oleh mantan kekasihnya itu.

"Jangan tanggapi rayuan orang gila itu," ujar Nini Kalong kepada Suto dan Rara Santika. "Kami memang dulu pernah menjalin hubungan cinta, ketika aku masih berusia dua puluh dua tahun, dia masih lebih muda dariku. Tapi sudahlah... sekarang bukan saatnya bicara tentang masa lalu kami."

"Kudengar kau sedang lakukan tapa gantung, Nini?"

"Benar, Suto. Tapi firasatku mengatakan bahwa muridku si Puspa Jingga menghadapi bahaya. Aku ingin mencarinya ke Bukit Batok dan..."

"Sepertinya firasatmu itu memang benar, Nini," sahut Suto Sinting. "Aku telah berjumpa dengan muridmu; Puspa Jingga. Kala itu ia terikat di pohon karena ulah Peri Kedung Hantu yang merebut peta dari tangannya. Lalu kami bergegas menuju ke Bukit Batok. Hanya saja di perjalanan kami diserang dari belakang oleh seseorang yang tak kuketahui wajahnya. Dalam keadaan setengah pingsan aku melihat Puspa Jingga disambar oleh bayangan yang menyerang kami itu. Sampai sekarang aku tidak tahu di mana muridmu itu, Nini."

"Keparat si Rumisita!" geram Nini Kalong dengan mata memancarkan permusuhan.

"Tapi aku tak yakin apakah yang membawa lari muridmu itu Peri Kedung Hantu atau orang lain, Nini!"

"Siapa pun orangnya, yang jelas Peri Kedung Hantu menjadi penyebab hilangnya Puspa Jingga. Bertapaku sampai kugagalkan hanya karena ulahnya juga! Kuhajar dia jika kutemukan di makam si Dirgantara!"

"Dirgantara bangkit lagi!" sahut Resi Pakar Pantun dengan cepat dan tegang. "Sumpah mati tujuh turunan, Dirgantara telah bangkit lagi, Murcaci."

Mata nenek yang usianya lebih tua dari Resi Pakar Pantun itu memandang dengan sedikit mengecil. Dahi tuanya yang berkeriput menjadi kian keriting karena ia berkerut heran. "Dirgantara bangkit lagi?!" gumamnya bernada kurang percaya.

"Aku dikejar-kejarnya sejak kemarin siang. Baru saja aku siuman karena pengejaran mayat si Dirgantara. Kalau tak percaya tanyakan sendiri kepada kedua anak muda ini yang menyelamatkan diriku dari kejaran mayat si Dirgantara!"

Nini Kalong segera memandang Suto Sinting dan Rara Santika. Sebelum ia lontarkan tanya, Rara Santika lebih dulu bicara dengan nada tega. "Benar, Nini. Mayat Eyang Resi Dirgantara bangkit lagi dan tidak mengenaliku sama sekali, ia dibangkitkan oleh seseorang, si perempuan keparat Penguasa Pulau Cumbu itu."

"Ratu Sangkar Mesum...?!"

"Benar, Nini. Dialah yang membangkitkan beberapa mayat untuk menyerang Resi Pakar Pantun. Salah satu mayat yang dibangkitkan adalah mayat Eyang Resi Dirgantara!"

"Memang keparat si Sangkar Mesum!" geram Nini Kalong, "Berarti pusaka itu telah diambilnya!"

"Pusaka apa maksudmu, Murcaci?!" tanya Resi Pakar Pantun.

Nini Kalong tidak menjawab, ia hanya berkata, "Akan kuperiksa makam itu!"

"Jangan, Murcaci! Jangan ke sana, nanti mayat si Dirgantara kembali ke sana dan bertemu denganmu, kau bisa dikunyah habis olehnya!" ujar sang Resi dengan wajah tegang.

"Aku bukan pengecut seperti kau, Rangga!"

Resi Pakar Pantun bersungut-sungut, "Tentu saja kau tidak takut, sebab wajahmu sendiri lebih menyeramkan dari mayat si Dirgantara!"

Celoteh itu tak dihiraukan oleh Nini Kalong, sang nenek segera berkata kepada Suto Sinting, "Kalau kau jumpa si Puspa Jingga, dampingilah dia dan bawa pulang ke Hutan Rawa Kotek."

"Mudah-mudahan aku bisa jumpa dengannya lagi, Nini!"

Weeeess...! Tanpa basa-basi lagi, Nini Kalong melesat pergi tinggalkan tempat itu. Ia tak pedulikan seruan Resi Pakar Pantun yang ingin mencoba menahannya lagi. Sang Resi sempat berlari beberapa jauh, lalu kembali lagi dengan lemas.

"Mengapa kau tak ikut mendampingi Nini Kalong, Resi?" tegur Suto Sinting sambil tersenyum-senyum.

Resi Pakar Pantun bersungut-sungut. "Perempuan gila! Sudah diberi tahu ada bahaya masih nekat pergi ke sana! Kalau dia mati aku bisa menangis."

"Cinta masa muda memang sering bikin orang tua berubah menjadi anak-anak," ucap Rara Santika dengan pelan, tapi didengar oleh Suto Sinting maupun Resi Pakar Pantun.

"Murcaci itu memang bandel sejak kecilnya," ujar sang Resi. "Sayang usiaku lebih muda darinya, sehingga ia tak merasa takut dengan ancamanku, tak mau menurut dengan nasihatku. Kusarankan agar ia kawin denganku, eeh... malah kawin sama yang lebih tua darinya. Tak urung suaminya cepat mati, kan?! Coba kalau dia kawin denganku, suaminya masih awet hidup sampai sekarang."

Rara Santika hanya bisa tertawa geli sambil tangannya bergelayutan di pundak Suto Sinting. Keduanya sama-sama memandangi Resi Pakar Pantun yang duduk di atas sebuah batu di bawah pohon depan mereka.

"Rara, kita teruskan perjalanan kita menemui Nyai Serat Biru!" ujar Suto Sinting.

"Baik. Kita berangkat sekarang saja, dan bermalam di sebuah desa yang tak seberapa jauh dari sini."

Resi Pakar Pantun berdiri dan bertanya, "Kalian mau temui Serat Biru? Mau apa kalian temui dia?"

"Menanyakan tentang pusaka yang...," Suto Sinting hentikan ucapannya. "Ya, ampun... mengapa kita tadi lupa tidak mendesak Nini Kalong tentang pusaka tersebut, Rara?"

"Aku sendiri lupa bahwa perkara peta dan pusaka itu berawal dari dirinya."

"Pusaka apa sebenarnya?!" tanya Resi Pakar Pantun. "Murcaci tadi tak mau jelaskan pusaka yang dimaksud. Apakah kalian tak ada yang mengerti tentang pusaka itu?!"

"Puspa Jingga disuruh mengambil pusaka dari makam Resi Dirgantara!" jawab Pendekar Mabuk. "Tapi gadis itu tak mau jelaskan pusaka apa yang harus diambilnya dari makam itu. Peta tersebut sudah telanjur direbut oleh Peri Kedung Hantu."

Resi Pakar Pantun diam termenung dengan dahi berkerut. Beberapa kejap berikutnya terdengar suaranya bagai orang bicara pada diri sendiri. "Dirgantara tidak mempunyai pusaka apa-apa. Seingatku ia tak pernah ribut soal pusaka?!"

"Barangkali Nini Kalong mendapat keterangan dari seseorang yang sengaja mengacaukan jalan pikirannya," kata Rara Santika. "Sebab itulah kami ingin menemui Nyai Serat Biru dan menanyakan apakah mendiang Resi Dirgantara mempunyai pusaka yang layak dijadikan incaran para tokoh di rimba persilatan."

"Aku jadi penasaran," kata Resi Pakar Pantun. "Kalau begitu aku ikut menemui Serat Biru, sekalian beranjangsana karena sudah lama tak pernah jumpa dia."

"Tapi tunggu dulu...," sergah Suto Sinting. "Mungkin yang dimaksud Nini Kalong memang bukan pusaka milik mendiang Resi Dirgantara. Barangkali ada seseorang menyimpan pusaka di dalam makamnya Resi Dirgantara. Dan hanya Nini Kalong yang mengetahui letak penyimpanan pusaka tersebut. Lalu, bekas kekasihmu itu bernafsu sekali untuk memiliki pusaka itu, Resi!"

Mereka saling bungkam merenungi kemungkinan tersebut. Akhirnya Resi Pakar Pantun berkata, "Kalau begitu kita ikuti saja kepergian Murcaci, dan kita lihat pusaka apa yang dimaksud sehingga Peri Kedung Hantu ikut-ikutan ingin memilikinya!"

"Aku setuju," sela Rara Santika. "Tapi bagaimana dengan mayat Resi Dirgantara itu?!"

"Mayat itu sudah keluar dari makamnya, justru keadaan di makam itu sudah aman!" kata Suto Sinting, "Ia pasti akan mengembara mencari jalan kematian yang kedua."

Rasa takut Resi Pakar Pantun menjadi susut mendengar penjelasan Pendekar Mabuk. Maka ketika mereka bergegas menuju ke Bukit Batok, Resi Pakar Pantun tak punya keraguan lagi. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh masing-masing mereka bergerak cepat menuju Bukit Batok.

Blegaaar...!

Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ledakan yang datang dari balik bukit cadas sebelah timur. Suto Sinting hentikan langkah lebih dulu, sehingga yang lainnya ikut-ikutan berhenti.

"Ada pertarungan di sebelah timur sana!" ujarnya sedikit tegang.

"Tanah yang kita pijak sampai bergetar. Berarti ada pertarungan menggunakan tenaga dalam tinggi di sana."

"Tapi itu bukan urusan kita," ujar Resi Pakar Pantun.

"Aku penasaran ingin melihat siapa yang bertarung di sana!" kata Suto Sinting yang tak bisa diam jika mendengar suara pertarungan. Tanpa mendapat persetujuan dari yang lain ia melesat lebih dulu menuju ke arah timur. Resi Pakar Pantun dan Rara Santika akhirnya mengikuti langkah Pendekar Mabuk.

Dari balik kerimbunan semak, Suto Sinting mengintai pertarungan itu. Ia terkejut melihat sosok perempuan cantik berusia muda bertarung melawan dua lelaki berwajah angker. Kedua lelaki itu sudah dikenal Suto Sinting saat mereka melawan si Gadis Dungu; Indayani. Kedua orang yang sama-sama berbadan kekar dan mempunyai golok besar itu tak lain adalah murid Perguruan Serikat Jagal yang bernama Togayo dan Gayong. Tetapi perempuan cantik berusia sekitar dua puluh lima tahun itu belum pernah dilihat oleh Suto Sinting.

Gadis itu mengenakan rompi panjang warna kuning emas, dengan celana merah dililit kain putih. Pinjung penutup dadanya juga berwarna merah dari bahan satin seperti celananya, ia menyandang pedang di punggung bergagang perak. Rambutnya dikuncir satu agak tinggi, sisa rambut dalam kunciran-nya itu berjuntai seperti ekor kuda. Gadis itu mempunyai dada yang sekal walau tak terlalu montok seperti dadanya Rara Santika. Kulitnya berwarna kuning mulus. Ketika Resi Pakar Pantun dan Rara Santika mendekati Suto Sinting dan ikut mengintai ke arah pertarungan, Suto Sinting sempatkan diri bertanya dalam bisikan kepada Rara Santika.

"Kau kenal dengan gadis itu?!"

"Dia murid Nini Kalong juga, kakak perguruan Puspa Jingga. Dia yang bernama Syair Kusumi."

"Oooo...," gumam Suto Sinting sambil manggut-manggut. "Rupanya dia itulah yang dimaksud murid nomor satu Nini Kalong."

"Memang dia murid tertua dari keempat murid Nini Kalong."

Resi Pakar Pantun menyahut, "Kedua lelaki itu, kalau tak salah, murid si Dupa Dewa!"

"Benar, mereka memang murid Perguruan Serikat Jagal. Tetapi apa masalahnya sehingga mereka bentrok dengan Syair Kusumi? Padahal pihak Perguruan Serikat Jagal selama ini tak pernah bentrok dengan murid-murid dari Hutan Rawa Kotek," kata Rara Santika.

Pendekar Mabuk segera memberi isyarat agar mereka jangan bicara, karena tampaknya pertarungan dihentikan sebentar dan mereka mau saling bicara.

"Jangan keras kepala, Syair Kusumi. Gurumu benar-benar telah berpesan kepada kami agar pusaka itu diserahkan kepada kami demi keamanannya."

"Matahari pun tahu, aku tidak pernah bawa pusaka itu. Tapi di punggungku ada sebuah pedang, jika kalian rindu kematian, aku akan cabut pedang untuk bikin nyawa melayang," kata Syair Kusumi dengan nada bicara yang mendayu-dayu mirip orang bersyair.

Togayo memandang Gayong dan menggeram jengkel. "Perlu diberi pelajaran sekali lagi gadis itu!"

"Terlalu buang waktu, bunuh saja kalau memang tak mau diajak damai!"

Togayo berkata kepada Syair Kusumi, "Jika kau masih bersikeras menahan pusaka itu, maka jangan salahkan kami jika kami berlaku lebih kasar lagi demi memenuhi pesan dari gurumu, Nini Kalong!"

"Pasir di pantai tak akan lebih kasar dari sikap kalian. Mega Putih di langit menjadi saksi, tak pernah ada pusaka di tanganku ini."

"Kami mengikutimu terus, Syair Kusumi. Itu pun atas suruhan gurumu. Kami tahu kau telah datang ke makam Resi Dirgantara. Makam itu telah rusak, dan kau telah membongkarnya untuk mengambil pusaka tersebut"

"Angin berhembus ke mana pun ia mau, kalian pun boleh bicara apa pun kalian mau. Tapi ombak di pantai tak akan diam disapu badai, aku pun tak akan diam jika kalian ingin saling bantai!"

"Menyebalkan sekali! Heeeeaaat...!" Gayong yang bermata lebar itu segera melompat lakukan terjangan ke arah Syair Kusumi. Gadis itu berkelebat ke samping dengan gerakan cepat dan sukar dilihat mata lawan. Wuuut...! Gayong menyerang tempat kosong. Wajahnya menjadi beringas karena merasa dipermainkan oleh gadis manis itu.

"Togayo... serang dia dengan jurus 'Petir Menangis' andalan kita!" seru Gayong sambil mencabut golok lebarnya. Togayo pun mencabut golok dengan suara menggeram penuh nafsu membunuh.

"Celaka! Mereka mau pergunakan jurus 'Petir Menangis' seperti saat melawan Gadis Dungu! Tutup telinga kalian, lekas...! Tutup telinga rapat-rapat!" perintah Suto Sinting kepada Resi Pakar Pantun dan Rara Santika.


"Heaaaet...!" Togayo lakukan lompatan menyerang dengan golok lebarnya. Rupanya ia ingin mencoba dengan jurus golok yang mampu berkelebat dengan cepat itu.

Wut, wut, trrang, traaang, trang...! Ternyata Syair Kusumi mampu menangkis kecepatan golok Togayo, bahkan gerakan pedang Syair Kusumi lebih cepat dari gerakan golok Togayo. Lelaki itu tersentak mundur ketika tangan kiri Syair Kusumi keluarkan pukulan bertenaga dalam tanpa sinar. Wuuuk...! Beeehg...!

"Uuhg...!" Togayo terjengkang ke belakang, tepat didepan kaki temannya. Hal itu membuat Gayong menjadi semakin berang.

"Laknat kau, Syair Kusumii!" geram Gayong dengan kumis lebatnya naik turun sendiri.

Syair Kusumi tetap menggerakkan pedangnya di sekeliling tubuh. Gerakan pedang itu menimbulkan bunyi mendengung berkepanjangan, ia bergerak menyamping selangkah demi selangkah dengan mata tertuju pada kedua lawannya.

"'Petir Menangis'! Heeeeaaah...!" seru Togayo.

"Heeeeaaah...!" seru Gayong dan mereka saling mengadu golok dan digesekkan hingga timbul bunyi berdesing yang menggema panjang. Srrraaangngngngng...!

Desing golok itu melengking tinggi, membuat pohon- pohon bergetar, daun-daun rontok bagaikan dipangkas habis oleh ketajaman desingan itu. Bahkan dahan-dahan pohon berukuran sedang ada yang tumbang karena terpotong bagai dibabat dengan senjata yang amat tajam. Batu-batu di sekitar tempat itu remuk dengan sendirinya. Desingan itu dapat memotong urat nadi dan jantung bagi siapa pun yang mendengarnya, kecuali si pemilik jurus 'Petir Menangis' itu.

Seandainya Suto Sinting tak menyuruh Resi Pakar Pantun dan Rara Santika menutup telinga, maka mereka pun dapat mengalami luka dalam, jantung, urat nadi dan perangkat bagian dalam tubuhnya terpotong oleh suara desingan itu. Tetapi Syair Kusumi tetap berdiri tanpa menutup telinganya. Pedangnya makin bergerak cepat hingga timbulkan suara dengung yang lebih keras lagi. Suara dengung itu yang membuat telinganya tak tembus suara desingan dua golok yang digesekkan di udara tadi. Bahkan sekarang gerakan pedang bertambah cepat lagi, sehingga suara dengungnya semakin tinggi.

Wuuung, wuuung, wuuung, wuuung, wuuung...! Gerakan pedang bertambah lebih cepat lagi, tubuh Syair Kusumi bagai terbungkus oleh logam mengkilat yang tak lain adalah kerapatan gerak mata pedangnya. Dengung yang timbul pun bertambah melengking tinggi.

Nguuuuung...! Srrraaaangggg...!

Togayo dan Gayong melepaskan jurus 'Petir Menangis' lagi untuk imbangi suara gaung. Tetapi kali ini desing dari jurus 'Petir Menangis' tak mampu memotong dahan pohon. Bahkan selembar daun pun tak ada yang terpotong. Rupanya desing itu kalah oleh suara dengung pedang Syair Kusumi. Kedua lelaki berwajah angker itu bergetar tubuhnya, telinganya tak kuat menahan suara dengung yang makin mendekat itu. Mereka mengimbangi dengan suara teriakan liarnya.

"Heeeeaaaahhh...!!"

Namun suara teriakan itu tidak membuat mereka mampu mengusir rasa sakit yang menusuk telinga. Dengung pedang Syair Kusumi akhirnya membuat tubuh mereka terpental ke belakang. Wuuut...! Braaass...! Darah segar mengalir keluar dari telinga mereka. Dengung yang masih diperdengarkan oleh Syair Kusumi itu membuat mereka kelojotan sambil meraung-raung. Darah semakin membanjir dari telinga mereka. Bahkan sekarang hidung mereka pun mengucurkan darah segar. Tetapi bagi orang lain yang mendengarnya, tak mengalami hal seperti yang dialami Togayo dan Gayong.

"Uaaaahhhkk...!!" Togayo memekik sekeras-kerasnya dengan tubuh terkapar dan tangan memegangi telinga. Crraaat...! Sungguh mengerikan kejadian berikutnya. Darah menyembur keluar dari seluruh lubang, termasuk dari mulut, hidung, telinga, dan mata mereka pun menyemburkan darah segar. Keduanya akhirnya kelojotan beberapa saat, kemudian diam tak bergerak lagi karena tak punya nyawa.

"Gila! Jurus pedang apa itu suaranya bisa membuat kedua lawan menjadi tumbang tanpa nyawa begitu?!" gumam Resi Pakar Pantun. "Tapi kita yang mendengar dengung pedang itu tidak apa-apa, ya?"

"Syair Kusumi menyalurkan tenaga dalamnya lewat dengung pedangnya, dan tenaga dalam itu diarahkan kepada kedua lawannya, bukan kepada kita. Kekuatan kendali batin terhadap saluran tenaga dalam membuat ia dapat membunuh siapa-siapa yang ingin diserangnya," tutur Rara Santika, yang mengaku teman baik Syair Kusumi.

"Pantas kalau dia dikatakan sebagai murid pertama dari Nini Kalong," gumam Suto Sinting pelan.

Syair Kusumi hentikan permainan pedangnya, pandangi mayat kedua lawannya. Napasnya ditarik panjang-panjang bagai menikmati kelegaan. Tetapi tiba-tiba ia berkelebat berbalik badan sambil sentakan tangan kirinya. Rupanya ia merasakan ada hawa panas datang mendekati punggungnya. Ternyata sekelebat sinar hijau hendak menghantam punggungnya. Sinar itu beradu dengan sinar merah yang keluar dari telapak tangan Syair Kusumi.

Claap...! Blegaaar...!

Syair Kusumi terjungkal ke belakang dan berguling-guling. Pedangnya sempat terlepas dari tangan. Namun segera disambarnya dalam satu gerakan berguling ke samping. Kejap berikut, sesosok bayangan melesat dari balik pohon. Wuuut...!

Jleeg...!

"Peri Kedung Hantu...?!" gumam Suto Sinting bernada tegang.

* * *

TUJUH

KEMUNCULAN Peri Kedung Hantu terang-terangan memihak Perguruan Serikat Jagal. Kematian Togayo dan Gayong dijadikan alasan untuk menyerang Syair Kusumi. Pemihakan itu wajar dilakukan Peri Kedung Hantu karena ia adalah keponakan dari Dupa Dewa, ketua dan guru dari Perguruan Serikat Jagal.

"Kematian mereka harus kau tebus dengan nyawamu, Syair Kusumi!" ujar perempuan cantik yang bernama asli Rumisita itu. Ia bermata coklat dengan bulu mata lentik indah. Rambutnya disanggul sebagian. Lehernya tampak jenjang dalam keadaan kulit berwarna kuning langsat mulus. Pinjung dan celananya berwarna ungu, dilapisi jubah tanpa lengan warna kuning tua.

Syair Kusumi tampak tidak merasa gentar berhadapan dengan Peri Kedung Hantu. Hempasan gelombang ledakan yang membuatnya terjungkir balik tadi tidak mencederai tubuhnya sedikit pun, hanya merasakan sesak napas beberapa saat. Kini napasnya sudah terasa ringan kembali, dan ia memandang Peri Kedung Hantu dengan sikap kalem sambil masih menggenggam pedangnya.

"Tak ada hujan tak ada badai, kau datang...

(Hal 103-104 tidak ada)

keluarkan darah kental dari mulutnya.

"Serahkan pusaka itu atau kau akan mati dalam beberapa kejap lagi?!" ancam Peri Kedung Hantu dengan lagak angkuhnya. "Kau tak perlu berbohong padaku, segala gerakanmu sempat dipergoki oleh para muridku yang menjadi mata-mata di sana-sini. Salah satu muridku melihat kau menghantam Puspa Jingga dan Pendekar Mabuk, lalu membawa lari Puspa Jingga untuk disembunyikan di lorong Bukit Randa. Kuduga kau ingin menguasai pusaka itu sendiri dan tak akan kau serahkan pada siapa pun, bahkan kepada gurumu pun pusaka itu tak akan kauberikan!"

Pendekar Mabuk terkejut hingga matanya terbelalak. "Oh, jadi dia yang menyerangku dari belakang dan membawa lari Puspa Jingga?!"

Rara Santika berkata dalam bisik, "Tak mungkin Syair Kusumi punya maksud seperti itu. Aku tahu betul sifatnya, dia bukan orang berwatak pengkhianat. Pasti dia punya maksud tertentu dari tindakannya itu."

"Kita lihat saja kebenarannya," sahut Resi Pakar Pantun. Sambungnya lagi, "Ikan teri di dalam tomat, hidung mancung enak diremat. Orang benar akan selamat, orang salah akan terjerat."

Suto Sinting menyenggol sang Resi dengan sikunya sambil menggerutu, "Ah, kau ini dalam keadaan sembunyi masih saja sempat berpantun!"

"Sekadar melemaskan lidah," jawab sang Resi lirih, seakan terlontar seenaknya saja.

"Hiaaah...!" tiba-tiba tubuh yang disangka telah tak berdaya itu menyentak ke atas dengan menggunakan gagang pedang sebagai tempat tumpuan. Syair Kusumi melambung tinggi dan berjungkir balik sambil menebaskan pedangnya ke arah kepala Peri Kedung Hantu.

Gerakan mendadak itu membuat Rumisita terkejut, lalu serta merta tangannya menghentak ke atas dalam keadaan kaki merendah hampir berlutut. Wuuut...! Claaap...!

"Aaahg...!" Syair Kusumi tersentak melambung lebih tinggi dan jatuh tanpa daya lagi. Brruk...! Ia mengerang dan menggelinjang terkena sinar kuning dari tangan Peri Kedung Hantu tadi.

"Beraninya kau menyerangku secara tiba-tiba, hah?! Sekarang saatnya bagimu kukirim ke neraka! Hiaaah...!"

Zlaaap...! Brrrus...!

Suto Sinting tahu-tahu telah melesat dan menerjang Peri Kedung Hantu. Tubuh perempuan cantik itu terpental sebelum ia melepaskan jurus pencabut nyawa lawannya. Tubuh itu terguling-guiing bagaikan diterjang badai setan yang mengerikan.

Pada saat itu, Nini Kalong pun melesat dari balik kerimbunan semak. Rupanya ia tertarik dengan bunyi dengung yang menjadi tanda pertarungan muridnya itu. Ia tak jadi ke arah Bukit Batok dan mencari tahu mengapa muridnya memainkan jurus 'Pedang Gangsing' yang jarang dipakai itu. Akhirnya ia tiba di tempat tersebut dalam keadaan Syair Kusumi sedang sekarat dan Peri Kedung Hantu terguling-guling akibat terjangan SutoSinting. "Rupanya kau bermaksud keji pada muridku, Rumisita!" geram Nini Kalong.

Tetapi Rumisita tak hiraukan kata-kata itu. Ia segera lepaskan jurus mautnya berupa sinar ungu dari kedua matanya. Claaap, claaap...! Kedua sinar ungu itu mengarah kepada Nini Kalong dan Pendekar Mabuk. Wuuut...! Suto Sinting maju sambil kibaskan bumbung tuaknya. Sinar ungu itu menghantam bumbung tuak. Deeb...! Lalu membalik arah dengan lebih cepat dan lebih besar lagi. Wuuusss...!

Duaaar...! Blegaaar...!

Dua ledakan itu terjadi hampir bersamaan. Ledakan pertama adalah sinar ungu yang menghantam tubuh Nini Kalong itu berhasil dipatahkan oleh gerakan sinar merahnya Rara Santika yang melesat bersamaan tubuhnya melompat dari balik semak. Benturan sinar merah dengan sinar ungu menimbulkan ledakan bergelombang besar yang membuat tubuh Nini Kalong terpelanting berguling-guling. Jika sinar itu tidak dipatahkan oleh sinarnya Rara Santika, maka Nini Kalong akan mati hangus dihantam sinar ungu yang datang secara tiba-tiba.

Sedangkan ledakan kedua adalah ledakan yang timbul akibat sinar ungu memantul balik dari bumbung tuak, menjadi lebih cepat dan lebih besar dari aslinya. Peri Kedung Hantu terperanjat dan tak sempat menghindar, akhirnya sinar ungu tersebut menghantam matanya sendiri. Hantaman itulah yang menimbulkan ledakan dan membuat kepala Peri Kedung Hantu pun pecah secara mengerikan. Pendekar Mabuk saling bertatap pandang dengan Rara Santika. Perempuan itu acungkan jempolnya, kemudian bergerak mendekati Nini Kalong bersama-sama Resi Pakar Pantun.

"Bagaimana keadaanmu, Nini?!"

"Tulang punggungku sepertinya patah," jawab Nini Kalong dengan suara berat.

Pendekar Mabuk cepat-cepat meraih kepala Syair Kusumi. Ia belum terlambat untuk meminumkan tuak saktinya. Berkat tuak sakti itulah Syair Kusumi akhirnya terselamatkan dan Nini Kalong yang ikut meminum tuak Suto itu pun mengalami kesegaran pada tubuhnya, tulang punggungnya tidak terasa sakit lagi.

Syair Kusumi berkata kepada Pendekar Mabuk, "Jika ada sumur di ladang, boleh aku menumpang mandi. Jika umurmu ingin panjang, maafkanlah perbuatanku tempo hari. Aku telah melumpuhkan dirimu bersama Puspa Jingga, karena aku tak ingin Puspa Jingga celaka dalam mengemban tugas dari Guru."

"Celaka bagaimana maksudmu?!" sergah Nini Kalong.

"Guru memberikan tugas berat kepada Puspa Jingga. Mengambil pusaka bukan pekerjaan mudah. Bahaya yang timbul tidak sebanding dengan llmu yang dimiliki Puspa Jingga. Terpaksa aku melumpuhkan dan menyembunyikannya. Tugas itu kuambil alih karena aku tak ingin Puspa Jingga mati di tangan orang-orang seperti Peri Kedung Hantu yang bernafsu ingin memiliki pusaka itu. Jika kulakukan terang-terangan, pasti Puspa Jingga tersinggung dan marah padaku, sedangkan Pendekar Mabuk kulihat ada bersamanya. Maka jika aku bertengkar dengan Puspa Jingga, pasti Pendekar Mabuk memihaknya. Tak ada jalan lain kecuali dengan cara melumpuhkan keduanya secara sembunyi-sembunyi."

Pendekar Mabuk hanya geleng-geleng kepala sambil sunggingkan senyum geli.

"Tapi lain kali kau tak boleh mengambil langkah sendiri seperti itu, Syair Kusumi?"

"Baik, Guru!"

"Lalu bagaimana hasilnya dengan pusaka itu? Apakah kau sudah mengambilnya dari makam Resi Dirgantara?"

"Pusaka itu tidak ada, Guru. Makam Resi Dirgantara sudah dibongkar oleh seseorang dan menjadi rusak."

"Jadi... pusaka itu tidak ada?!" gumam Nini Kalong dengan heran. "Kalau begitu mimpiku itu hanya bunga tidur saja, bukan bisikan dewata?!"

"Mimpi...?!" Resi Pakar Pantun berkerut dahi. "Jadi kau mengikuti apa kata mimpimu?! Uuuh... sudah tahu kau ini orangnya doyan tidur sejak masih gadis, mana mungkin dewa mau berbisik lewat tidurmu!" gerutu Resi Pakar Pantun.

Pendekar Mabuk segera bertanya kepada Nini Kalong, "Kalau boleh kutahu, sebenarnya pusaka apa yang kau cari itu, Nini?!"

"Setahuku, dulu Dirgantara mempunyai senjata pusaka yang bernama Kipas Dewi Murka. Aku pernah melihat Dirgantara menggunakan kipas pusaka itu melawan panglima dari tanah Tibet. Kedahsyatannya luar biasa. Kusangka kipas itu jatuh di tangan Serat Biru, ternyata dia tidak menyimpannya dan..."

"Seperti apa bentuk kipasnya?!" tanya Rara Santika.

"Kipas itu terbuat dari gading, mempunyai hiasan benang merah pada tangkainya. Kesaktian kipas itu bisa untuk memenggal leher lawan jika dilemparkan dan akan melayang kembali ke tangan kita."

Suto Sinting cepat alihkan pandang kepada Rara Santika. Perempuan itu tertegun sejenak. Kemudian ia mengeluarkan kipasnya dari balik jubah. "Seperti inikah kipas pusaka yang kau cari itu?!"

"Naah...! Benar! Itu dia yang dinamakan pusaka Kipas Dewi Murka. Memang itu bendanya!"

"Dari mana kau dapatkan kipas itu?" tanya Suto kepada Rara Santika.

"Ketika pulang dari Pulau Sumbing, aku diberi kipas ini oleh Eyang Resi Dirgantara. Tapi dia tidak menyebutnya sebagai pusaka. Dia hanya mengatakan bahwa aku harus merawat kipas ini sebagai cenderamata dari beliau. Kipas ini memang punya kesaktian tersendiri, tapi tak pernah disebut-sebut sebagai pusaka. Kadang dulunya sering digunakan untuk berkipas-kipas Eyang Resi Dirgantara jika dalam keadaan kegerahan."

Resi Pakar Pantun berkata, "Kalau begitu, jelas sudah si Dirgantara mewariskan senjata itu kepada Rara Santika! Siapa pun yang bermaksud merebutnya, berarti hatinya serakah dan membuka permusuhan dengan Rara Santika!"

Terbayang Rara Santika tadi menyelamatkan nyawanya, Nini Kalong akhirnya berkata dengan lesu. "Agaknya memang kemujuran tidak jatuh pada diriku, melainkan pada diri Rara Santika. Kalau begitu, jagalah kipas pusaka itu baik-baik dan jangan sampai jatuh ke tangan orang sesat beraliran hitam. Karena aku sendiri sudah tidak lagi mau mengikuti aliran hitam!"

Pendekar Mabuk masih diam terbengong dan sesekali geleng-geleng kepala. Ternyata pusaka yang dicari-cari dan dipertarungkan sejak tadi sudah ada di sampingnya. Merenungi hal itu, Pendekar Mabuk tertawa sendiri dan membuat alam seakan ikut berseri mengagumi ketampanan Suto jika sedang tersenyum geli itu.

SELESAI


Kipas Dewi Murka

Serial Pendekar Mabuk
Kipas Dewi Murka
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU

LANGKAH si tampan Pendekar Mabuk terpaksa berhenti ketika ia mendengar suara aneh yang mencurigakan. Suara itu datang dari hutan sebelah kirinya yang penuh dengan semak belukar. Daun-daun ilalang tumbuh subur dalam ketinggian melebihi tubuh manusia dewasa. Dari dalam semak belukar itulah suara mirip orang merintih terputus-putus terdengar menembus kelebatan semak.

"Ada yang terluka di sana?!" pikir Suto Sinting dalam keraguan. "Suara orang merintih karena luka, atau suara orang yang merintih karena nikmat?!"

Telinga si murid sinting Gila Tuak itu dipertajam lagi. Suara rintihan yang terdengar samar-samar karena jaraknya agak jauh itu terdengar semakin meragukan bayangan yang ada dalam benak Suto Sinting.

"Uh, aah... aduh, aduh, aaah... uuuh... ooh, oh, oh."

Hati pemuda tampan berambut lurus sepundak tanpa ikat kepala itu mulai membatin lagi sambil dahi tetap berkerut tajam. "Suara itu jelas suara perempuan. Tapi perempuan tua atau muda, ya?! Hmmm jangan-jangan perempuan itu sedang bercumbu? Tapi mengapa suara lawan jenisnya tidak terdengar? Apakah ia bercumbu dengan lelaki bisu? Ah, sialan! Jantungku jadi berdebar-debar begini. Sebaiknya kutinggalkan saja suara itu."

Namun rasa penasaran yang mudah terpancing dalam hati Suto Sinting, tak mungkin mampu membuatnya pergi begitu saja. Walaupun hati berdebar-debar dan keringat dingin sempat keluar karena bayangan mesum yang muncul di benaknya, Suto Sinting akhirnya nekat mendekati suara rintihan seorang wanita itu. Ia menerabas semak dengan langkah pelan-pelan agar tak menimbulkan bunyi, ia bermaksud ingin mengintip si pemilik suara tersebut.

"Ooh... uuuh... ah, ah, ah, aaaahh...," lalu disusul suara napas terengah-engah seperti orang habis berlari jauh.

Semakin dekat semakin jelas suara napas ngos-ngosan itu, sehingga kini Pendekar Mabuk pun semakin gemetar dan hati kian berdebar-debar karena bayangan dalam benak Suto bertambah syur. Tapi kaki tetap melangkah mendekati suara tersebut dengan batin kian bicara,

"Suaranya merdu, agak serak-serak basah. Sepertinya ia masih muda dan sedang diburu hasrat cinta yang menggebu-gebu. Oh, ya... sebaiknya kuintip dari atas pohon saja. Biar pemandangannya lebih jelas lagi."

Wuuut...! Tubuh kekar berdada bidang itu melesat ke atas dan hinggap di atas pohon tanpa suara dan gerakan berisik. Itu menandakan bahwa ilmu peringan tubuh yang dimiliki Suto Sinting cukup tinggi, sehingga tubuhnya mampu melayang dan hinggap bagaikan kapas tanpa beban berat. Tak satu pun daun pohon itu yang bergerak walau kaki Suto Sinting sempat menginjak permukaan daun sebelum akhirnya pindah ke sebuah dahan sebesar lengannya.

"Ya, ampuuun...?!" Pendekar Mabuk lebarkan matanya yang indah itu. Ia terkejut melihat apa yang dicarinya sejak tadi. "Ternyata aku salah khayal. Ooh... celaka! Kalau begini caranya aku tak boleh terlalu lama ada di sini. Aku harus segera turun dan... dan... ah, tapi kalau aku turun dan mendekatinya, ia bisa salah paham padaku?! Aduh, bingung juga kalau begini?!"

Pemandangan yang diintainya itu adalah pemandangan segar yang menyedihkan. Seorang gadis dengan rambut terurai lepas dari ikatannya berdiri di antara dua pohon yang tumbuh dalam jarak dekat. Gadis itu berwajah cantik, matanya berbulu lantik dan berbinar-binar indah sekali. Suto Sinting memperkirakan usia gadis itu sekitar dua puluh dua tahun. Tubuhnya sekal padat berisi, dengan dada yang membengkak bagai penuh tantangan yang menggiurkan setiap lelaki.

Keadaan si gadis sangat menyedihkan. Kedua tangannya diikat dalam keadaan terentang pada dua pohon di kanan-kirinya. Kakinya juga merentang ke kanan-kiri dalam keadaan diikatkan pada dua pohon tersebut. Jelas gadis itu tertawan dan seorang musuh telah mengikatnya sedemikian rupa hingga mendebarkan hati Pendekar Mabuk.

Hal yang paling mendebarkan si Pendekar Mabuk itu adalah keadaan gadis itu yang mirip bayi. Ia ditawan sebegitu rupa dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun. Keadaan itu yang membuat hati Suto Sinting kian berdebar dan jantungnya menyentak-nyentak. Sesaat ia seperti terpesona melihat pemandangan di hadapannya. Gadis itu berkulit kuning langsat, mulus tanpa cacat sedikit pun. Bentuk tubuhnya sangat indah, tak terlalu kurus, juga tak terlalu gemuk. Sekal, padat berisi.

"Ah, uuhh... eeeh... uuuh...!" suara si gadis mengerang dan mendesah bukan lantaran menikmati sentuhan mesra, namun berusaha menarik tangan agar terlepas dari tali pengikatnya. Sebentar kemudian ia berhenti dan terengah-engah kelelahan. Bibirnya yang ranum mungil itu digigit sendiri bagai sedang menangis. Melihat bibir digigit, Suto Sinting semakin menggeram gemas dalam hatinya.

"Apa yang harus kulakukan jika begini?" pikir Pendekar Mabuk dalam kebingungan. "Kalau kudekati, nanti disangkanya aku ingin menyaksikan kemulusannya. Kalau dibiarkan saja, oh... alangkah kasihannya gadis itu?! Agaknya tali yang dipakai untuk mengikatnya bukan sembarang tali. Semakin ditarik-tarik semakin mengencang membuat pergelangan tangan gadis itu menjadi kian terjerat dan kulitnya berubah merah."

Pakaian si gadis tak kelihatan di sana-sini. Senjatanya pun tak ada di sekitar tempat itu. Timbul pertanyaan di batin Suto Sinting, "Apakah gadis itu setiap harinya memang polos begitu ke mana pun ia pergi?! Mengapa tak ada selembar pakaian pun di sekitarnya? Jika aku berhasil melepaskan ikatannya, lalu apa yang harus kulakukan?!"

Pendekar Mabuk akhirnya duduk di atas dahan itu merenungkan langkah yang harus diambil. Renungan itu disertai pandangan mata tertuju lurus pada si gadis yang malang. Semakin lama merenung semakin hanyut khyalannya, sehingga yang terbayang dalam benak Suto Sinting bukan mencari cara melepaskan gadis itu melainkan bayangan indah dalam menikmati kemulusan dan keterbukaan gadis cantik bertahi lalat kecil di ujung bibir kirinya itu. Lamunan ngeres itu segera lenyap setelah gadis itu perdengarkan suara walau lirih dan hampir tak terdengar oleh Pendekar Mabuk dari atas pohon.

"Kalau saja ada orang yang datang menolongku, aku akan sangat berterima kasih padanya. Jika ia perempuan, aku akan mengabdi kepadanya sebagai saudara angkat. Jika yang menolongku seorang lelaki, seburuk apa pun wajahnya aku akan bersedia menjadi istrinya dan akan kuturuti apa kemauannya. Daripada aku harus begini terus-terusan, lama-lama aku bisa mati nganggur! Oh, Dewaaaaa... kirimkan-lah seorang penolong bagiku."

Kepala gadis itu akhirnya terkulai menunduk. Mungkin menangis, tapi tak terlihat air mata meleleh di pipinya. Mungkin hanya tangis batin yang dapat dilakukannya. Hati Suto Sinting pun menjadi kian iba melihatnya.

Pendekar Mabuk akhirnya beranikan diri untuk berseru dari tempatnya. Keberanian itu timbul setelah ia menenggak tuak beberapa teguk dari bumbung bambu, tempat tuak yang ke mana pun perginya selalu dibawa-bawa. "Nona cantik, bolehkah aku datang menolongmu?!"

"Oooh... suara seorang lelaki?!" gadis itu terbelalak kaget sekali, ia mulai tampak gusar dan panik. Matanya membelalak memandangi arah sekelilingnya dengan gerakan menggeragap. Jantung gadis itu menyentak- nyentak cukup kuat karena rasa malu dan bingung menyadari keadaan dirinya.

"Haruskah kubiarkan seorang lelaki datang menolongku dalam keadaan tubuhku seperti ini?!" pikir si gadis sambil menyentak-nyentak tangannya yang ingin bergerak menutup bagian depan secara naluriah. Namun tangan itu tetap terjerat tali yang terbuat dari sejenis akar aneh, karena jika tali itu semakin ditarik jeratannya bukan mengendur melainkan justru semakin mengencang.

"Jawablah pertanyaanku tadi, Nona! Aku akan menolongmu melepaskan penjerat itu, tapi apakah kau izinkan diriku untuk mendekatimu?"

"Jangan!" jawabnya seketika itu juga. Tapi ia jadi berpikir lagi dan ragu-ragu memberi keputusan. "Eh, tapi... boleh saja kau kemari, eh... anu... jangan, sebab aku dalam keadaan... tapi, iya... silakan datang asal... asal... asal kau tutup kedua matamu dan kau tak boleh mengintip sedikit pun. Eh, tapi... anu juga... begini"

Tak ada yang jelas kata-katanya. Bagi si tampan murid Gila Tuak dan Bidadari Jalang itu, kata-kata gadis tersebut sangat membingungkan sehingga ia tak tahu apa yang harus dilakukan, ia diam beberapa saat memikirkan jalan terbaik.

"Kau... kkau... ada di mana?!" seru gadis itu dengan wajah pucat karena rasa malu. Bagaimanapun juga ia tahu bahwa ada seorang lelaki yang telah melihat keadaannya dari balik persembunyian. Dan kesadaran itulah yang membuatnya sangat malu hingga kakinya gemetar.

"Nona, aku ingin menolongmu bukan ingin bertindak tak sopan padamu!" seru Suto lagi.

"Bersumpahlah bahwa kau tak akan memandangiku dengan nakal!"

"Aku... aku tak pernah bersumpah, jadi aku tak bisa bersumpah."

"Ooh...!" gadis itu lemas, karena ia tahu tubuhnya yang polos itu akan menjadi pusat pandangan mata seorang lelaki. Alangkah memalukannya jika hal Itu sampai terjadi, sementara ia belum kenal siapa lelaki itu dan belum tahu seperti apa wajah si lelaki. Tak heran jika dalam hati gadis itu timbul rasa muak dan sebal kepada suara lelaki yang didengarnya.

"Tapi aku butuh bantuannya untuk melepaskan tali penjerat ini?! Jika kuturuti perasaan malu dan muakku, belum tentu ada seorang perempuan yang lewat hutan ini dan menolongku. Aduh, bagaimana diriku jika sudah begini?!" ujarnya membatin dengan sangat sedih dan salah tingkah.

"Kau ada di mana, Kang...?!" seru gadis itu memanggil 'kang' karena melalui suara yang didengar ia dapat menduga bahwa lelaki yang akan menolongnya belum terlalu tua.

"Aku ada di suatu tempat yang mudah mencapai tempatmu dalam sekejap!" seru Suto Sinting. Suaranya yang bergema membuat ia sulit diketahui letak persembunyiannya.

"Apakah... apakah kau melihat keadaanku dengan jelas?!"

"Jelas sekali!"

"Gawat!" gumamnya, lalu berseru lagi, "Dari mana kau melihatku saat ini?!"

"Dari arah depanmu, Nona!"

"Mati aku!" ucapnya dalam hati dengan rasa malu semakin menghujam hati dan membuatnya serba salah. Kemudian ia berseru kembali dengan suara bergetar karena menahan perasaan yang bercampur aduk. "Tutup matamu sekarang juga! Tutup!"

"Baik, sudah kututup mataku saat ini!" seru Suto Sinting dengan mata terbuka lebar dan tetap memandang ke arah gadis itu melalui celah dedaunan.

"Kau... kau boleh mendekatiku dari belakang. Jangan dari depan!"

"Mengapa dari belakang?!"

"Aku mempunyai jurus 'Ludah Geni'. Jika kau mendekatiku dari depan, ludahku bisa keluar secara tak sadar dan membakar kulit tubuhmu!" seru sang gadis, kemudian membatin kata untuk dirinya sendiri, "Lebih baik kubohongi begitu, biar dia tidak mendekatiku dari depan. Biarlah dia mendekatiku dari belakang dan melepaskan tali penjerat ini. Jika sudah terlepas semua, kubunuh pria itu supaya tidak membayangkan kepolosan tubuhku terus-terusan! Biarlah aku menjadi jahat satu kali ini saja. Tebusan dosaku akan kuterima seberat apapun."

Hutan menjadi sepi, alam menjadi sunyi. Suara pria yang diharapkan oleh sang gadis itu terdengar lagi. Sang gadis menjadi bertanya-tanya dalam hati dengan rasa heran. Matanya masih mencari ke sana-sini, namun tak ditemukan sesosok tubuh yang mendekatinya dari balik semak mana pun juga.

"Celaka! Jangan-jangan orang itu justru pergi karena mendengar aku mempunyai jurus 'Ludah Geni' yang kukatakan tadi? Oh, bodohnya aku ini! Bodoh sekali! Mestinya biarlah aku menderita malu sebentar, yang penting aku bisa bebas dari jeratan akar setan ini! Mestinya aku tak perlu menakut-nakuti dia, sehingga akhirnya dia pergi tak mau menolongku. Mungkin dia seorang lelaki pencari kayu atau mengembara tanpa nyali."

Rasa sesal si gadis membuatnya dongkol dan semakin salah tingkah, ia segera mencoba berseru ke arah depan, karena menurut pengakuan yang didengar tadi orang tersebut dapat melihatnya dari arah depan. Perkiraan si gadis mengatakan, bahwa pria yang berseru itu ada di semak depan, di bawah sebuah pohon besar berdaun rimbun itu.

"Hoii...! Kenapa kau diam saja?! Kau ada di mana, Kang?! Jawablah seruanku ini! Jangan main-main denganku, aku bisa mencelakakan dirimu walau kau ada di balik semak-semak. Jawablah, di mana kau sekarang berada!"

"Aku ada di belakangmu!"

"Oooh...?!" gadis itu memekik kaget. Begitu kagetnya sampai tubuhnya terlonjak dan tali penjerat-nya kian mengencang, ia ingin berpaling ke belakang, tapi tak jadi sebab dari suara pelan yang didengarnya tadi ia tahu bahwa si ielaki sudah ada di belakangnya dalam jarak sekitar dua atau tiga langkah.

"Celaka! Ternyata dia sudah ada di belakangku?! Mengapa tak kulihat dan tak kudengar gerakannya saat berpindah tempat?!" pikir si gadis dengan jantung kian menyentak-nyentak kuat. Ia tak tahu bahwa Suto Sinting mampu bergerak cepat bagai sekelebat bayangan dihembus badai karena mempunyai jurus yang bernama 'Gerak Siluman', di mana kecepatan geraknya itu melebihi kecepatan anak panah yang melesat dari busurnya.

Suto Sinting memang ada di belakang gadis itu. Tapi ia terpaku di tempat memandangi tubuh si gadis yang mulus dengan keringat berbintik-bintik di permukaan kulit halusnya itu. Pendekar Mabuk memandang penuh rasa kagum dan hati berdebar-debar diburu hasrat ingin memeluknya. Namun hasrat itu segera dikuasai dengan tarikan napas pelan-pelan. Tetapi mata si tampan itu tak bisa berkedip memandang kesekalan tubuh polos di depannya.

"Pantatnya montok sekali!" gumam hati Suto Sinting dengan jari bergerak-gerak bagai ingin meremas gemas. Sesuatu yang lebih menarik lagi bagi mata bening Pendekar Mabuk adalah sebuah tato yang ada di punggung gadis itu. Pada punggung dekat pundak kiri gadis itu ada tato bergambar setangkai bunga mawar warna Jingga. Tato itu tidak seberapa besar namun tampak indah dan mempunyai nilai seni cukup tinggi. Tato itu menyimbulkan bahwa si gadis bukan wanita yang cengeng dan penakut, bahkan mungkin tubuhnya sudah terbiasa menerima sentuhan yang menyakitkan, sehingga ia berani ditato dengan jarum dan getah pewarna pada kulit punggungnya.

"Hei, mengapa diam saja di belakangku, Setan!" sentak si gadis mulai berang karena sejak tadi Pendekar Mabuk tak berbuat apa-apa. Gadis itu menjadi risi dipandangi dari belakang.

"Apakah namamu, Mawar Jingga?" tanya Suto Sinting setelah maju selangkah lagi. Suaranya makin dekat, hingga si gadis merasa merinding menerima hembusan napas dari mulut dan hidung Suto Sinting saat bicara tadi.

"Tak perlu tanya soal nama!" ketus si gadis dengan jengkel. "Lepaskan dulu ikatanku baru kita bicara soal nama!" ujarnya dengan tetap tak berani memandang ke belakang.

Pendekar Mabuk tertawa kecil, hati gadis itu kian dongkol. "Lakukanlah sekarang juga, Tolol!" bentak si gadis tak sabar lagi.

Suto Sinting segera menenggak tuaknya. Tuak tidak ditelan semua, namun sebagian disimpan di mulut. Kemudian tuak itu disemburkan ke tali pengikat pada tangan kanan si gadis.

Brruss...! Laaap...!

Brrusssh...! Semburan berikutnya pada tali pengikat di tangan kiri si gadis. Laaap...!

Si gadis terbengong melompong di tempat. Hampir-hampir ia tak sadar bahwa tali dan kakinya sudah tidak terikat lagi. Hal yang membuatnya tertegun di tempat adalah keanehan yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Dua pohon yang tadi digunakan untuk mengikat tali dan tangannya itu tiba-tiba lenyap tak berbekas sedikit pun, demikian pula tali pengikat itu hilang bagaikan ditelan angin.

Si gadis tidak tahu bahwa Suto Sinting mempunyai jurus 'Sembur Siluman' yang dapat melenyapkan benda apa pun dengan semburan tuaknya dari mulut. Semburan itu mempunyai kekuatan sentak tersendiri yang berbeda dengan sentakan napas saat ia pergunakan jurus 'Sembur Husada', yaitu semburan untuk menghilangkan luka pada diri seseorang.

Lenyapnya pohon membuat tali pengikat itu pun hilang seketika. Kedua tangan dan kaki si gadis kini telah bebas. Namun rasa heran dan terkagum-kagum membuatnya masih diam di tempat dengan mulut melongo dan mata terbelalak tak berkedip.

Brruk...! Gadis itu terkejut karena Suto Sinting melemparkan baju coklatnya yang tanpa lengan itu. Baju itu jatuh di pundak si gadis bersamaan suara Suto Sinting yang berkata dengan nada kalem.

"Pakailah bajuku itu untuk sementara supaya kau tidak masuk angin."

Ucapan itu membuat si gadis sadar bahwa dirinya dalam keadaan polos. Dengan tetap memunggungi Suto Sinting, ia mengenakan baju coklat tersebut dan merapatkan bagian depannya dengan dipegangi dua tangan. Baju itu panjangnya sampai paha, hingga menutup bagian yang harus ditutupi di sekitar paha. Walau tak tertutup sepenuhnya, namun bagian tersebut sudah tak terbuka ngablak seperti goa tanpa pintu. Gadis itu pun segera berpaling memandang Suto Sinting.

Deeg...! Hatinya bagai tersentak oleh rasa kaget di luar dugaan. "Ternyata dia seorang pemuda yang tampan, kekar dan gagah?! Oh, tak kusangka penolongku seorang pemuda setampan dia? Kalau begitu, niatku untuk membunuhnya kuurungkan saja. Tak baik membunuh orang yang telah menolongku. Lagi pula... tak begitu rugi tubuhku dari tadi diperhatikan pemuda setampan dia. Kusangka yang memperhatikan tubuhku dari tadi adalah lelaki bertampang memuakkan!"

Pandangan mata si gadis tertuju pada wajah Suto Sinting. Kecamuk batinnya segera terhenti karena Suto Sinting mengajaknya bicara dengan senyum kalem yang menawan hati.

"Di mana pakaianmu, Nona?"

"Entahlah. Mungkin dibuang ke tempat jauh oleh si iblis itu!"

"Siapa yang memperlakukan dirimu sedemikian memalukannya?!"

"Peri Kedung Hantu!"

"Ooh... dia?!"

"Apakah kau kenal dengannya?!" si gadis agak curiga karena Suto Sinting manggut-manggut.

"Aku kenal hanya sepintas, ia pernah bertarung denganku dan kutinggalkan dalam keadaan luka," jawab Suto Sinting lalu membayangkan pertarungannya dengan Peri Kedung Hantu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Titisan Dewa Pelebur Teluh).

Gadis itu merasa lega setelah tahu bahwa Suto Sinting ternyata bukan berada di pihak Peri Kedung Hantu, ia pun menceritakan pertarungannya dengan Peri Kedung Hantu yang mempunyai nama asli Rumisita itu.

"Dia berhasil menotokku, membuatku lemas tak berdaya. Aku sempat pingsan beberapa saat. Ketika aku sadar, keadaanku sudah terikat seperti tadi dan aku tak tahu pakaianku dikemanakan oleh si perempuan Iblis itu!"

"Rumisita memang menyebalkan."

"Hei, kau tahu nama aslinya segala. Siapa kau sebenarnya?"

"Suto Sinting, itu namaku!"

"Mak... maksudmu... maksudmu kau si Pendekar Mabuk, muridnya Gila Tuak?"

"Benar, Nona. Bagaimana kau bisa mengenali diriku sampai tahu nama guruku?"

"Aku pernah mendengar cerita dari guruku tentang dirimu."

"Siapa gurumu itu, Nona?"

"Nini Kalong, Penghuni Hutan Rawa Kotek!"

"Oooo...," Suto Sinting manggut-manggut. Ia segera terbayang wajah tua keriput yang badannya kurus dan sedikit bungkuk berjubah hitam, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Titisan Dewa Pelebur Teluh).

"Aku kenal dengan gurumu; Nini Kalong. Tapi aku tak kenal siapa muridnya yang cantik dan meminjam bajuku ini."

Gadis itu sunggingkan senyum tersipu, menunduk sejenak, kemudian memandang Suto Sinting lagi dengan bibir ranumnya masih tersungging senyum indah. "Namaku adalah Puspita Jingga. Murid kedua dari Nini Kalong setelah Syair Kusumi."

"Pantas kau punya tato bunga mawar jingga."

"Apakah kau suka dengan tatoku itu?"

Pendekar Mabuk yang kini hanya bercelana putih kusam dengan ikat pinggang kain merah itu hanya sunggingkan senyum menawan. Senyuman itu membuat hati Puspa Jingga berdebar-debar bagai digelitik keindahan.

"Aku lebih suka lagi jika kau mau sebutkan apa alasanmu sehingga kau bertarung dengan Peri Kedung Hantu?!"

Puspa Jingga masih mendekap diri untuk merapatkan baju yang dipakainya, ia melangkah ke samping hingga mencapai bawah pohon. Dari sana ia berkata kepada Suto Sinting dengan suara sedikit pelan.

"Aku diutus oleh Guru untuk mengambil sebuah pusaka yang ada di dalam makam Resi Dirgantara. Guru membekaliku selembar denah tempat makam Resi Dirgantara. Rupanya percakapanku dengan Guru disadap oleh Peri Kedung Hantu. Di perjalanan, denah itu direbutnya. Aku mempertahankan, tapi ilmuku kalah sakti dengan Peri Kedung Hantu. Denah itu berhasil direbut dan dibawanya pergi bersama pakaianku."

"Pusaka apa yang ada dalam makam itu?!" tanya Suto Sinting, namun Puspa Jingga ragu-ragu untuk mengatakannya.

* * *

DUA

NINI Kalong adalah tokoh beraliran hitam yang kala itu pernah dilumpuhkan oleh Suto Sinting pada saat ia menyerang si Gadis Dungu. Tetapi lukanya itu segera ditolong pula oleh Suto Sinting, hingga si nenek pun akhirnya terselamatkan jiwanya. Pada saat Suto Sinting bertarung oleh Peri Kedung Hantu yang merasa tak suka terhadap sikap Suto Sinting dalam mempengaruhi Nini Kalong, keduanya menjadi terluka parah setelah adu kesaktian. Namun Suto Sinting segera dilarikan oleh Nini Kalong dan melalui bantuan Nini Kalong tuak dalam bumbung bambu itu berhasil diminumkan pada Suto, sehingga luka itu pun sembuh kembali.

Nini Kalong segera meninggalkan Suto Sinting yang kala itu sedang mengejar si pembawa lari Gadis Dungu yang ternyata adalah Nyai Serat Biru, guru si Gadis Dungu itu sendiri. Kepergian Nini Kalong agaknya mempunyai maksud tersembunyi. Suto Sinting merasakan nasihatnya kepada Nini Kalong untuk beralih ke aliran putih cukup mengena di hati nenek tua itu. Maka ketika Suto Sinting bertemu dengan Puspa Jingga, gadis itu pun menceritakan diri sang guru yang telah berubah dari tokoh aliran hitam menjadi tokoh aliran putih. Namun mengenai pusaka yang diburunya sejak dulu itu masih tetap merupakan rencana dalam hidup Nini Kalong.

"Guru tidak ingin pusaka itu jatuh di tangan tokoh aliran hitam, sehingga begitu mendapat kabar dari seorang pertapa tentang di mana adanya pusaka tersebut, Guru memerintahkan diriku untuk mengambil pusaka itu lebih dulu sebelum telanjur diambil dan dikuasai oleh tokoh aliran hitam," ujar Puspa Jingga sambil mencari pakaiannya.

"Mengapa bukan Nini Kalong sendiri yang mengambil pusaka itu?!"

"Guru belum selesai lakukan tapa gantung."

"Tapa gantung?!" Suto Sinting agak heran.

"Bertapa dengan kaki terikat di atas dan tubuh berjungkir balik, itu yang dimaksud tapa gantung. Dalam beberapa waktu lagi Guru akan selesai lakukan tapa tersebut. Tapi merasa takut jika pusaka itu dimiliki orang lain, maka aku ditugaskan untuk mengambil pusaka tersebut."

"Mengapa kau tak mau sebutkan nama pusaka itu padaku?"

"Guru melarangku bicara kepada siapa pun tentang nama pusaka tersebut. Maafkan aku, aku tak bisa mengatakannya padamu."

Pendekar Mabuk sempat berkerut dahi mengingat-ingat peristiwa pertemuannya dengan Nini Kalong. Kala itu ia bersama Gadis Dungu yang sekarang mengasingkan diri bersama gurunya; Nyai Serat Biru, di puncak Gunung Randu. Seingat Suto, waktu itu Indayani si Gadis Dungu pernah sebutkan satu nama pusaka yang sering menjadi bahan bentrokan antara Nini Kalong dengan Nyai Serat Biru. Suto Sinting mencoba mengingat-ingat nama pusaka itu, namun sampai akhirnya ia menemukan pakaian Puspa Jingga, nama pusaka itu masih belum bisa diingatnya dengan jelas.

Pakaian gadis itu ditemukan di jalanan bawah bukit yang tak seberapa tinggi itu. Bahkan senjata Puspa Jingga berupa pedang bersarung merah dengan gagangnya yang dlbungkus kain merah itu juga ada tak jauh dari pakaiannya. Gadis itu segera mengenakan pakaiannya di balik semak. Kejap berikutnya ia tampil dengan lebih cantik lagi mengenakan pakaian berlengan komprang warna ungu tanpa jubah. Pedangnya diselipkan pada ikat pinggangnya yang terbuat dari kain warna hitam. Rambutnya yang panjang disanggul sebagian, sisanya dibiarkan meriap dengan lembut gemulai.

"Kau tampak cantik dan anggun jika mengenakan pakaian seperti itu," ujar Suto Sinting setelah gadis itu keluar dari semak belukar, selesai berganti pakaian, ia lemparkan baju coklat Suto Sinting hingga baju itu jatuh di pundak Suto Sinting.

"Kau justru tampak perkasa jika tanpa baju begitu," katanya sambil tersenyum-senyum.

"Kalau aku tanpa baju, kau pasti tak akan bisa pergi mencari pakaianmu karena aku tak bisa meminjamkan bajuku ini padamu."

"Tapi, sekalipun kau mengenakan baju itu, masih saja tampak gagah dan perkasa!"

Pendekar Mabuk sunggingkan senyumnya dengan mata melirik ke arah Puspa Jingga. Yang dilirik alihkan pandangan dengan sikap malu-malu. Suto Sinting pun mengenakan bajunya kembali. Namun baru saja selesai mengenakan baju, tiba-tiba ia harus melesat dan bersalto melintasi sisi kanan Puspa Jingga. Wuuut...! Sang gadis terkejut lalu memandang dengan heran ketika Suto Sinting berdiri memunggunginya dengan wajah menengok kepadanya.

"Apa maksudmu melompat begitu? Mau pamer ilmu?"

Suto Sinting berbalik arah berhadapan dengan Puspa Jingga. Tangannya yang menggenggam segera membuka dan sebilah logam berbentuk bintang segi enam terselip di sela-sela jarinya.

"Hampir saja kau mati oleh senjata rahasia ini!" katanya sambil matanya melirik ke arah datangnya senjata rahasia itu.

Puspa Jingga terbelalak kaget dan segera berkerut dahi tajam-tajam. "Bintang Neraka?!" gumam Puspa Jingga yang agaknya cukup kenal dengan pemilik senjata rahasia itu. "Seandainya kau tidak menyambar logam putih itu, maka tubuhku akan menjadi lumer karena terkena racun yang ada di ujung keruncingan bintang itu," kata Puspa Jingga, ia pun segera mencabut pedangnya. Sraaang...! Matanya menjadi nanar memandang ke arah datangnya senjata maut tersebut.

"Bintang Neraka itu nama orang atau nama senjata ini?!"

"Nama senjata itu!" jawabnya dengan lirih sambil bersiap menebaskan pedang jika terjadi serangan mendadak, ia berkata juga kepada Suto Sinting walau tanpa memandangi pemuda tampanitu. "Pemiliknya sangat kukenal. Bintang Neraka adalah senjata andalan Pangeran Umbardanu."

"Oh, ya... aku pernah mendengar nama Pangeran Umbardanu," gumam Suto Sinting sambil masih memandang ke arah sekeliling, ia teringat nama Pangeran Umbardanu sebagai nama kekasih dari si Gadis Dungu yang kala itu ikut mengejar-ngejar Gadis Dungu untuk dibunuh.

Dalam penjelasan Indayani, si Gadis Dungu itu, saat Suto Sinting ikut mengantarkan sampai di kaki Gunung Randu, orang yang bernama Pangeran Umbardanu itu memang putra seorang sultan di Kesultanan Siliwindu. Timbulnya peristiwa pengejaran titisan Dewa Pelebur Teluh itu, Indayani menjadi tahu bahwa Umbardanu sebenarnya bukan mencintainya, melainkan berusaha menangkapnya untuk dibunuh. Sebab kala itu Indayani menjadi bahan buruan para tokoh aliran hitam dan akan dihabisi masa hidupnya sebelum Gadis Dungu mencapai usia dua puluh lima tahun.

Dalam kitab kuno yang bernama Kitab Samak Kubur berisi ramalan-ramalan masa depan para tokoh aliran hitam disebutkan bahwa titisan Dewa Pelebur Teluh akan membantai habis para tokoh aliran hitam setelah bocah itu berusia dua puluh lima tahun. Dan si Gadis Dungu dicurigai sebagai titisan Dewa Pelebur Teluh itu, sehingga dikejar-kejar oleh para tokoh aliran hitam. Jika Pangeran Umbardanu ikut ingin melenyapkan si Gadis Dungu, berarti Pangeran Umbardanu termasuk murid seorang guru yang beraliran hitam.

"Mengapa Pangeran Umbardanu sekarang menyerangmu dengan senjata andalannya ini?!" tanya Suto.

Belum sampai Puspa Jingga menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba kilauan benda logam melayang lagi dari arah samping kanan gadis itu. Gerakannya begitu cepat bagaikan kilasan cahaya perak.

Zingg...zingg...!

Pedang yang sudah siap di tangan itu segera berkelebat menangkisnya dengan gerakan cepat. Tring, tring!

Tubuh gadis itu melompat ke arah belakang, dan tangkisan pedang itu membuat dua bintang segi enam itu terpental ke dua arah yang berlawanan. Salah satu benda tersebut menancap pada sebatang pohon.

Jrrraab...!

Pohon itu kepulkan asap dari tempatnya yang tertancap bintang segi enam. Makin lama asapnya semakin tebal, menandakan bahwa benda itu mempunyai racun yang berbahaya. Sementara itu bintang yang masih ada dalam jepitan jari tangan Suto Sinting itu segera dilemparkan ke arah datangnya dua benda yang ditangkis Puspa Jingga tadi.

Ziiing...!

Zrrraaak...! Benda itu menerabas semak rimbun, lalu terdengar suara nyaring bagaikan sentuhan logam dengan besi. Traaang...!

Pohon yang tadi terkena Bintang Neraka itu menjadi busuk dan seluruh daunnya berguguran. Pohon kekar itu menjadi lumer bagaikan gedebong pisang yang sebentar lagi membusuk. Sedangkan benda yang dilemparkan Suto Sinting tadi tidak menampakkan perubahan apa-apa pada dua buah pohon yang ada di balik semak. Berarti bintang itu tidak mengenai pohon tersebut, tapi mengenai sesuatu yang menimbulkan suara denting.

"Keluarlah kau dari situ! Aku tahu kau adalah Pangeran Umbardanu!" seru Puspa Jingga dengan sikap siaga menghadapi serangan lawan.

"Bagaimana kalau ternyata dia bukan Pangeran Umbardanu?!" bisik Suto Sinting dalam jarak dua langkah di samping kiri gadis itu.

"Senjata yang kau lemparkan tadi sebenarnya mengenai dadanya, tapi karena kebiasaannya memakai baju perisai besi, maka ia tidak mengalami luka apa pun!" balas Puspa Jingga dalam bisikan pula.

Beberapa saat lamanya mereka hanya menunggu kemunculan dan serangan berikutnya dari orang di balik semak belukar. Tetapi ternyata yang ditunggu tak muncul-muncul juga, sehingga Puspa Jingga kehilangan kesabaran. Kemudian ia lepaskan pukulan jarak jauhnya dari tangan kiri. Pukulan itu berupa gumpalan asap merah sebesar buah jeruk. Wuuut...!

Zrrraak...! Bruaaasss...!

Semak belukar rusak, menghambur ke atas bagaikan diterjang badai pemangkas yang cukup besar. Daun-daun terpotong bagai dipangkas dengan senjata tajam. Dalam sekejap saja semak belukar itu telah lenyap, tempat itu menjadi terang seakan siap dipakai untuk jalanan.

"Gila! Kau menyerang musuh atau babat hutan buat jalanan?!" bisik Suto Sinting dengan nada sedikit kagum dan geli.

Puspa Jingga menjadi jengkel sendiri karena rasa penasarannya. Orang yang menyerangnya secara sembunyi-sembunyi itu tidak muncul-muncul juga. Akhirnya ia berkelebat menerjang semak dan mencari orang tersebut di sekeliling tempat itu. Suto Sinting melesat ke atas, tubuhnya dengan sangat ringan melayang tanpa bersalto dan hinggap di atas sebuah pohon. Dari sana ia memandang ke arah sekelilingnya, ia melompat dari dahan ke dahan, dari pohon ke pohon. Namun ia tak menemukan sesosok bayangan pun selain bayangan Puspa Jingga sendiri.

"Mungkin ia telah kabur!" seru Suto Sinting sambil meluncur turun dari atas pohon. Tubuhnya melayang dengan tenang dan kakinya mendarat ke tanah tanpa hentakan dan suara apa-apa.

Puspa Jingga yang melihat hal itu hanya membatin, "Benar-benar tinggi ilmu peringan tubuhnya. Pantas jika Guru merasa kagum dan bangga terhadap si Pendekar Mabuk ini. Biar sering minum tuak, tapi matanya tidak kelihatan merah seperti beberapa orang pemabuk yang pernah kujumpai di kedai-kedai itu. Namanya saja Pendekar Mabuk, tapi matanya bening dan teduh, membuat hatiku sering berdesir indah penuh khayalan asmara. Ah, lupakan dulu soal kehebatannya itu!"

Puspa Jingga menarik napas dan kecamuk batinnya pun sirna seketika. Kini ia memandang ke sana-sini, masih penasaran mencari orang yang menyerangnya dari persembunyian tadi.

"Apakah Pangeran Umbardanu itu seorang pengecut?!" tanya Suto Sinting seraya mengambil tempat di bawah pohon rindang, ia berdiri dengan satu tangan bersandar pada batang pohon itu. Bumbung tuaknya tetap menggantung di pundak, siap dipergunakan sewaktu-waktu.

"Aku tak tahu apakah Pangeran Umbardanu itu sebenarnya orang yang punya nyali atau seorang pengecut. Tapi dari jenis senjatanya tadi aku dapat pastikan bahwa dialah penyerangnya."

"Apakah kau ada masalah dengan Pangeran Umbardanu?"

"Dia pernah ingin melamarku. Dia menyatakan hatinya jatuh cinta padaku. Tapi aku menolaknya secara kasar, sebab aku tahu dia punya maksud tersembunyi dari ungkapan cintanya itu."

"Maksud apa kira-kira?"

"Dia mengincar pusaka, dan rahasia pusaka itu ada di tangan guruku. Dia ingin dapatkan pusaka itu dengan memperalat diriku."

"Pusaka apa yang dimaksud?"

"Pusaka yang ada dalam makam Resi Dirgantara."

Pendekar Mabuk tertawa kecil. "Kelicikannya selalu gagal. Cinta dipakainya sebagai jembatan memperoleh keinginannya. Kurasa lelaki macam dia satu hari bisa jatuh cinta seratus kali. Agaknya ia cukup berbahaya bagi seorang wanita seperti kau, Puspa Jingga. Untung kau cukup waspada. Hal yang sama pun pernah dialami oleh Indayani dan..."

"Indayani...?! Oh, si Gadis Dungu itu maksudmu?"

"Benar. Pangeran Umbardanu mendekati Indayani dengan bahasa cinta, padahal ia ingin membunuh gadis itu pada saat si gadis lengah. Namun usahanya gagal, sebelum niatnya tercapai Indayani telah berhasil diselamatkan oleh gurunya; Nyai Serat Biru."

"Apakah kau punya hubungan dekat dengan Indayani?" pancing Puspa Jingga dengan nada curiga.

Pendekar Mabuk hanya tersenyum lebar, tertawa pelan tanpa suara. "Hubungan dekatku dengan Indayani bukan untuk masalah cinta."

"Syukurlah kalau kau tak jatuh cinta kepada Indayani. Guru pasti akan mengecammu jika kau jatuh cinta pada Indayani, sebab Guru bermusuhan dengan Nyai Serat Biru."

Suto Sinting membuka tutup bumbung bambu itu, kemudian beberapa teguk tuak ditenggaknya. Badannya terasa segar setelah meneguk tuak yang mempunyai kesaktian sendiri bersama bumbungnya itu. Puspa Jingga memasukkan pedang ke sarungnya. Trak...! Lalu ia berkata kepada Pendekar Mabuk yang baru saja menutup bumbung tuaknya.

"Kurasa Pangeran Umbardanu melapor kepada gurunya mengenai keberadaanmu bersamaku."

"Siapa guru Pangeran Umbardanu itu?"

"Dupa Dewa, dari Perguruan Serikat Jagal."

"Ooo... pantas dia sampai hati ingin membunuh Indayani, rupanya rencana itu atas perintah gurunya; Dupa Dewa yang merasa takut kalau Indayani tetap hidup sampai usia dua puluh lima tahun."

"Kudengar si Dupa Dewa ingin membalas dendam padamu. Menurut cerita seorang anak buahnya yang pernah bertemu denganku, Dupa Dewa menderita luka parah saat bertarung denganmu. Lukanya sampai sekarang belum sembuh betul, dan ia menyimpan dendam pada Pendekar Mabuk."

Suto Sinting hanya tertawa kecil, ia teringat saat bertarung dengan Dupa Dewa yang membuat Dupa Dewa terpental akibat hembusan badai yang keluar dari jurus 'Napas Tuak Setan'-nya itu. Rupanya Dupa Dewa masih hidup, dan sekarang tentunya sedang persiapkan diri untuk melakukan balas dendam kepadanya. Tapi Suto Sinting tak punya rasa takut sedikit pun, bahkan menertawakan dengan rencana balas dendam itu.

"Aku akan pergi ke makam Resi Dirgantara," ujar Puspa Jingga pelan sekali, seperti takut didengar orang lain.

"Aku akan mendampingimu. Tapi apakah kau tahu tempatnya? Bukankah peta menuju ke makam itu telah direbut oleh Peri Kedung Hantu?!"

"Aku masih ingat patokannya. Mendiang Resi Dirgantara dimakamkan dalam goa. Goa itu ada di Bukit Batok, letak bukit itu ada di antara Gunung Sumbar dan anak gunung itu yang bernama Gunung Gempur."

"Kau tahu arah menuju ke Bukit Batok?!"

"Patokan kita adalah Gunung Sumbar yang tinggi dan ada di sebelah timur tempat ini. Kalau kita sudah temukan Gunung Sumbar, kita mudah temukan Bukit Batok. Kalau kau mau mendampingiku, kau harus siap menghadapi Peri Kedung Hantu, sebab perempuan itu pasti ke sana."

"Kalau mau bergerak lebih cepat dari Peri Kedung Hantu, kau harus mau kugendong, karena aku akan pergunakan jurus 'Gerak Siluman' supaya cepat sampai di sana."

"Bodoh sekali aku kalau sampai merasa keberatan dengan usulmu," ujar Puspa Jingga dengan senyum indah mekar di bibirnya yang ranum itu.

Baru saja Suto Sinting dekati Puspa Jingga dan ingin menggendongnya, tiba-tiba dua berkas sinar kuning sebesar lidi menghantam punggung mereka. Clap, clap...! Deb, deb...!

"Uhg...! Sssu.... Suto...?!"

Puspa Jingga tersentak dengan tubuh mengejang, lalu meliuk sebentar dan jatuh terkulai dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedangkan Pendekar Mabuk juga mengalami hal serupa, tapi ia berusaha untuk bertahan. Napasnya yang terasa sesak itu dipaksakan untuk disedot dalam-dalam. Tetapi semakin lama pandangan mata Suto Sinting mulai berkunang-kunang. Tubuh pendekar tampan itu semakin lemas, dan ia jatuh berlutut dengan kepala mulai tertunduk lemas.

Dalam keadaan seperti itu, Pendekar Mabuk sempat melihat sekelebat bayangan yang menyambar tubuh Puspa Jingga. Sayang sekali yang dapat dilihat Suto Sinting hanya berupa sekelebat bayangan, tak jelas seperti apa wajah orang itu dan siapa sebenarnya orang itu. Pendekar Mabuk pun roboh ke depan saat Puspa Jingga disambar dan dibawa pergi oleh orang tersebut. Suto Sinting dibiarkan terkulai di tanah tanpa ada yang mengusiknya lagi.

* * *

TIGA

TEBING terjal berbatu karang mempunyai rongga menyerupai goa. Di dalam goa Itulah Pendekar Mabuk sadarkan diri dan terkejut melihat keadaannya terkapar di atas batu datar setinggi lutut. Batu itu seukuran dengan sebuah tempat tidur yang cukup untuk dua orang. Langit-langit goa yang tinggi adalah sasaran pertama ketika Suto Sinting membuka matanya. Sebelum ia bangkit duduk, terlebih dulu dirasakan gerakan urat-urat sekujur tubuhnya. Masih terasa kaku dan linu, namun sudah bisa untuk bergerak sebagaimana mestinya. Pendekar Mabuk pun segera bangkit dan bertanya dalam hati,

"Di mana aku ini?! Hmmm... siapa yang membawaku kesini?! Bagaimana dengan Puspa Jingga?!"

Goa itu sangat sunyi, kosong tanpa orang lain. Tapi melihat tumpukan kayu bakar bekas api unggun, Suto Sinting yakin bahwa goa ini bukan dihuni oleh dirinya sendiri. Pasti ada seseorang yang membawanya ke situ. Beberapa buah kelapa hijau tampak terbelah dan berserakan di sana-sini, juga beberapa sisa makanan lain, termasuk tempat pembakaran ikan yang tersisa tulangnya di sekitar tempat bara.

Bumbung tuak sakti ada di samping batu, bersandar dalam keadaan berdiri. Pendekar Mabuk cepat ambil bumbung tuak itu dan menenggak tuak beberapa teguk. Dalam waktu singkat tubuhnya menjadi segar dan kekuatannya pulih kembali seperti sedia kala. Turun dari batu datar Suto Sinting melangkah dekati mulut goa.

Oh, ternyata ia berada di lereng tebing dalam kemiringan tegak lurus. Di bawahnya tampak lautan bergelombang besar. Jaraknya cukup jauh dari mulut tebing. Di depan pintu goa yang ternganga lebar itu ada sebidang tanah berbatu, di sanalah Suto Sinting berdiri dan memandang ke atas. Ternyata jarak antara mulut goa dengan bagian atas tebing iebih dekat ketimbang jarak ke perairan laut.

"Tempat yang sungguh aman untuk persembunyian. Hmmm... siapa orang yang menempati goa ini sebenarnya? Mengapa ia tidak ada di tempat? Tak kulihat ada manusia di sekitar tebing ini. Ah, sial betul, aku tak bisa menduga-duga siapa orang yang membawaku kemari sebenarnya?!"

Akhirnya Pendekar Mabuk putuskan untuk menunggu di dalam goa sambil sesekali menikmati tuaknya secara sedikit demi sedikit. Keadaan di dalam goa diperiksanya untuk menentukan dugaan siapa penghuni goa tersebut. Goa yang tidak mempunyai jalan tembus ke mana-mana dan keadaannya tak terlalu dalam itu mendapat sorotan sinar matahari dari arah timur. Sinar matahari itu cukup menyegarkan udara di dalam goa, walau sinarnya tak sampai menembus ke dinding dasar goa, tapi sinar itu membuat terang goa tersebut, sehingga benda apa pun yang ada di situ bisa dilihat dengan jelas.

Beberapa saat lamanya Pendekar Mabuk menunggu si penolong yang membawanya ke goa tersebut. Hatinya menjadi tak sabar dan ingin segera meninggalkan goa itu. Tetapi tiba-tiba niatnya terpaksa dibatalkan karena sekelebat bayangan masuk ke dalam goa saat Suto Sinting bergegas ingin menuju ke pintu goa. Langkah murid sinting si Gla Tuak itu pun terhenti dan pandangan matanya tertuju kepada orang yang baru datang itu. Orang tersebut pastilah yang membawanya ke tempat itu dalam keadaan pingsan.

"Sudah sehatkah keadaanmu, Suto?!"

"Rara Santika...?!" gumam Suto Sinting dengan lirih dan bernada kagum.

Perempuan yang rambutnya disanggul dan dihiasi permata itu sunggingkan senyum manis kepada Suto. Benak Suto Sinting segera teringat peristiwa saat bertemu dengan perempuan berusia sekitar dua puluh delapan tahun yang berwajah cantik, bulat telur, berhidung mancung, dan bermata indah itu. Jubah satin warna merah jambu menutup dada montoknya yang dilapisi kain biru muda sesuai kain bagian bawahnya membuat Suto Sinting segera mengenali perempuan itu. Ia mengenal Rara Santika dalam satu peristiwa yang cukup menegangkan karena perempuan itu mempunyai saudara kembar beraliran hitam, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Gundik Sakti).

"Tak kusangka kaulah orangnya yang membawaku kemari dalam keadaan aku tidak berdaya," ujar Suto Sinting saat Rara Santika mendekatinya.

"Aku pun tak menyangka sejak perpisahan kita setelah menghancurkan Goa Tumbal Perawan dulu, tahu-tahu kujumpa dirimu dalam keadaan terkapar tanpa daya. Kau telah pingsan selama dua hari, Suto."

"Oh, jadi aku berada di sini sudah dua hari?"

"Lebih tepatnya dua hari tiga malam. Ini hari ketigamu berada di sini. Kupikir kau tak dapat siuman kembali. Aku sudah berusaha mengobati dengan tenaga intiku dan hawa murniku, namun tak mampu membuatmu sadar. Aku baru saja pergi ke seorang tabib untuk membawanya kemari, tapi sayang tabib itu tidak ada di tempat."

Perempuan bersenjata kipas gading dengan hiasan ronce-ronce merah di bagian gagang kipasnya itu memandangi Suto Sinting dengan sorot pandangan mata yang ceria dan berbinar-binar. Agaknya ia punya kesan pribadi tersendiri selama bersama Pendekar Mabuk dalam usaha menghancurkan Desa Lambung Bumi yang ada di dalam Goa Tumbal Perawan, bekas tempat kekuasaan adik kembarnya yang berjuluk si Gundik Sakti itu.

"Siapa orangnya yang bisa membuatmu sampai pingsan beberapa hari itu, Suto?!" sambil tangan perempuan itu mengusap rambut Suto Sinting dengan penuh kelembutan.

"Aku tak tahu siapa orangnya, karena kala itu aku sedang bersama Puspa Jingga."

"Maksudmu, si genit murid Nini Kalong itu?"

"Benar, apakah kau kenal dengannya?"

"Aku cukup kenal dengan Nini Kalong dan kedua murid andalannya; Puspa Jingga dan Syair Kusumi. Tapi hanya sebatas kenal biasa, tanpa ikatan jasa apa pun. Yang jelas kami tidak saling bermusuhan."

"Apakah kau juga tahu siapa orang yang membawa lari Puspa Jingga dalam keadaan tak berdaya itu?"

Rara Santika berkerut dahi. "Jadi, Puspa Jingga dibawa lari oleh seseorang?"

Pendekar Mabuk segera ceritakan masalah sebenarnya tentang Puspa Jingga. Perempuan itu pun menanyakan tentang pusaka yang ada di dalam makam Resi Dirgantara, tapi Suto Sinting tak bisa memberi penjelasan.

"Puspa Jingga sendiri tak mau menyebutkan nama pusaka tersebut karena takut melanggar larangan dari gurunya," ujar Suto Sinting sambil duduk di batu tempatnya terbaring tadi.

"Resi Dirgantara semasa hidupnya adalah sahabat dari mendiang ayahku," kata Rara Santika. "Tapi beliau tidak pernah bicara tentang pusaka miliknya kepada Ayah. Semasa berusia empat belas tahun, aku pernah ikut Resi Dirgantara menyeberang ke Pulau Sumbing, dan dalam perjalanan itu aku dapat mengetahui bahwa Resi Dirgantara tak pernah punya pusaka. Rasa-rasanya janggal sekali jika ada kabar yang mengatakan bahwa di dalam makam Resi Dirgantara terdapat sebuah pusaka."

"Apakah Resi Dirgantara tidak mempunyai senjata apa pun?"

"Hmmm... ya, memang punya, tapi menurutnya bukan pusaka, itu hanya senjata biasa untuk keamanan dirinya."

Suto Sinting terbungkam dalam keadaan merenung. Kemudian terdengar gumam lirihnya secara samar-samar, "Jadi untuk apa Nini Kalong membekali muridnya sebuah peta menuju makam Resi Dirgantara?! Benarkah Nini Kalong mendapat petunjuk dari dewata bahwa ada pusaka di dalam makam Resi Dirgantara?!"

"Kurasa itu hanya rekaan Nini Kalong saja. Kalau toh di dalam makam itu ada pusaka, satu-satunya orang yang tahu persis adalah Nyai Serat Biru. Sebab dia adalah adik kandung dari Resi Dirgantara."

"Nyai Serat Biru...?!" Pendekar Mabuk kerutkan dahi. "Aku kenal betul dengan Nyai Serat Biru."

"Tanyakanlah kepada Nyai Serat Biru tentang pusaka itu. Kurasa hanya dialah yang bisa menjelaskan mengenai isi makam Resi Dirgantara."

Untuk memperjelas keadaan yang sebenarnya, Pendekar Mabuk merasa perlu menemui Nyai Serat Biru yang sedang mengasingkan diri di puncak Gunung Randu yang bersama muridnya: Indayani, si Gadis Dungu. Ketika hal itu dikemukakan oleh Suto, Rara Santika menampakkan wajah kurang setuju dan serba salah.

"Sebenarnya aku tak suka dengan Indayani yang sombong itu," ujarnya kepada Suto Sinting. "Aku sering cekcok mulut dengan murid Bibi Serat Biru. Jika tidak memandang Bibi Serat Biru termasuk sahabat mendiang ayahku, sudah kuhancurkan mulut si Gadis Dungu itu."

Suto Sinting tertawa pendek. "Apakah ia pernah bikin persoalan denganmu?"

"Memang tidak, tapi aku tak betah mendengar kata-katanya. Hatiku cepat panas jika ia berbicara muluk-muluk."

"Kendalikan saja hatimu, jangan terpengaruh oleh sifatnya yang memang sudah begitu adanya. Setiap orang mempunyai pembawaan pribadi sejak kecil. Kau harus bisa berlapang dada dan memaklumi pembawaan tiap pribadi manusia."

Rara Santika diam termenung, semantara itu Suto Sinting sudah berada di ambang mulut goa. Ia memandang ke arah lautan lepas. Sejenak kemudian berpaling menatap Rara Santika dan bertanya dengan suara merdunya.

"Aku akan berangkat ke puncak Gunung Randu menemui Nyai Serat Biru. Bagaimana dengan dirimu? Apakah mau ikut ke sana atau tidak?"

Rara Santika tarik napas dalam-dalam, ia memandang Suto Sinting dengan hati diliputi kebimbangan. Setelah dua helaan napas ia bangkit dan mendekati Suto Sinting. "Baik, aku akan ikut ke Gunung Randu. Tapi dengan satu syarat yang harus kau penuhi."

"Syarat apa?" seraya Suto Sinting sunggingkan senyum tipis.

"Jangan terlalu dekat dengan Indayani!"

"Mengapa jika aku terlalu dekat dengannya?"

"Aku bisa benci padamu, karena kuanggap kau ikut-ikutan menjadi manusia sombong."

Tawa pelan mirip suara menggumam itu berkepanjangan. Rara Santika menjadi tersipu malu dan salah tingkah sendiri. Pendekar Mabuk segera meraih kedua pundak perempuan itu dan menghadapkan ke arahnya. Wajah cantik yang sudah cukup dewasa itu dipandanginya beberapa saat dalam hiasan senyum yang menawan.

"Baiklah, akan kuturuti saranmu itu. Tapi kau tidak boleh mudah cemburu jika aku bicara padanya."

"Siapa yang cemburu?!" Rara Santika bersungut-sungut, Pendekar Mabuk tertawa geli.

Mereka berdua segera melesat menuju Gunung Randu. Mereka bergerak ke arah selatan dari tebing curam itu. Namun baru mendapat beberapa langkah terpaksa harus berhenti karena kehadiran seseorang yang tahu-tahu menghadang di depan mereka.

Jleeg...!

Orang tersebut bagaikan hantu yang muncul dari alam gaib. Tahu-tahu ada di depan mereka dan mengejutkan Rara Santika. Mata tajam Pendekar Mabuk mulai memandangi sosok orang yang berdiri menghadang langkahnya itu, namun sikapnya masih tampak tenang dan tak menunjukkan keheranan sedikit pun. Keheranan itu hanya dipendam dalam hati, karena Suto merasa baru sekarang berjumpa dengan orang tersebut.

"Kau kenal dengannya?" bisik Suto Sinting kepada Rara Santika.

"Aku tak pernah jumpa dengannya," jawab Rara Santika dengan mata tetap tertuju pada seorang pemuda berusia sebaya dengan Suto Sinting. Pemuda itu mengenakan pakaian hijau berhias benang emas dengan celananya yang berwarna sama pula. Rambutnya panjang sebatas punggung dengan kepala mengenakan ikat dari logam emas berhias butiran permata kecil. Tangan kirinya menggenggam pedang bersarung kuning emas dengan ukiran indah.

"Dilihat dari pedang dan pakaiannya, agaknya pemuda itu bukan dari golongan masyarakat biasa!" bisik Suto Sinting.

Rara Santika memperhatikan rompi perunggu yang dikenakan pemuda itu dalam keadaan rapat. Rompi itu berukir dan tampak tebal sekali. Agaknya rompi itu berguna sebagai pelindung dada dari serangan senjata tajam dan sejenisnya. Rara Santika segera menyapa dengan sikap tak ramah, "Siapa kau sebenarnya, dan apa perlumu menghadang langkah kami?!"

"Aku ingin bicara dengan pemuda sinting itu!" jawabnya sambil menuding Pendekar Mabuk.

Pemuda berkumis tipis dengan ketampanan yang berkesan licik itu diperhatikan Suto Sinting tanpa berkesip. Di bibir Suto masih ada seulas senyum tipis sebagai kesan menyepelekan kewibawaan pemuda tersebut. Suto Sinting sengaja tidak bicara, sehingga Rara Santika mewakilinya.

"Ada perlu apa kau ingin bicara dengan sahabatku ini?!"

"Kulihat tadi dia bersama kekasihku; Puspa Jingga!"

"O jadi kau yang bernama Pangeran Umbardanu?!" sahut Suto Sinting segera dapat menyimpulkan siapa pemuda itu.

"Kalau kau sudah tahu siapa aku, sekarang kau harus memberi tahu di mana kekasihku; Puspa Jingga itu?!"

"Kalau dia kekasihmu, tentunya kau tidak akan menyerangnya dengan senjata Bintang Neraka-mu, Pangeran!" kata Suto Sinting tak kalah ketus. Senyumnya justru dibuat sinis dan memancing kejengkelan Pangeran Umbardanu.

"Aku tadi ingin membunuhmu, bukan membunuh Puspa Jingga."

"Arahnya jelas kepada Puspa Jingga, bukan kepadaku. Kau punya kemarahan kepada Puspa Jingga karena tak mau menerima cintamu, bukan?!"

"Persetan dengan cinta! Sekarang yang kuminta darimu adalah sebuah peta! Kudengar Puspa Jingga yang membawa sebuah peta dari gurunya untuk menuju ke makam Resi Dirgantara. Aku yakin peta itu sekarang sudah berpindah ke tanganmu karena kulihat kau pandai membujuk hati wanita!"

Pendekar Mabuk kian sunggingkan senyum bernada sinis. "Kau tak akan mendapatkan apa-apa dariku, Pangeran Umbardanu! Aku bukan pria sepertimu; mendekati wanita untuk maksud kelicikan pribadi! Sama halnya kala kau mendekati Indayani dan berlagak jatuh cinta"

"Tutup mulutmu!" sentak Pangeran Umbardanu sambil tangannya mulai memegang gagang pedangnya. "Kucabik-cabik tubuhmu kalau tak segera serahkan peta itu!"

"Oh, kau mencabik-cabik dia?! Kalau begitu ada baiknya kau hadapi dulu aku, Umbardanu!" ujar Rara Santika dengan sikap menantang tanpa rasa takut sedikit pun.

"Perempuan lacur kau! Jangan berlagak menjadi pelindung pemuda ingusan macam dia! Menyingkirlah dari hadapanku!"

"Dapatkah kau memaksaku untuk menyingkir dari tempatku?!"

"Keparat! Rupanya kau belum tahu siapa Pangeran Umbardanu ini, hah?! Hiaaaat!"

Srang! Pedang dicabut dari sarungnya dan Pangeran Umbardanu lompat ke depan. Wuuut! Tangan bersenjata pedang terangkat ke atas, siap menebaskan pedang tersebut ke kepala Rara Santika. Namun tubuh Rara Santika segera bergerak cepat, ia bersalto ke belakang sambil salah satu kakinya menendang pergelangan tangan Pangeran Umbardanu.

Wuuut...! Deess...!

"Aaauuh...!" Pangeran Umbardanu terpekik menahan sakit. Pedang yang ada di tangannya itu terlepas dan terpental. Sementara itu Rara Santika sudah berdiri tegak kembali dengan kaki sedikit merenggang dan merendah, siap hadapi serangan lawannya. Namun sang lawan agaknya tidak cepat bergerak akibat menahan rasa sakit pada tulang tangannya.

"Setan kurap! Tendangannya mematahkan tulang tanganku! Uuh...! Sakitnya bukan main. Pasti ia salurkan tenaga salju ke dalam tendangannya hingga seluruh darahku terasa dingin sekali! Hmmm... agaknya aku harus gunakan Bintang Neraka untuk membunuh perempuan keparat itu!"

Pangeran Umbardanu menggeram-geram sambil bergerak membuka jurus baru. Sementara itu, Suto Sinting hanya senyum-senyum saja dari tempat berdirinya di dekat gerumbulan semak belukar. Matanya memperhatikan Pangeran Umbardanu dengan sikap mencemooh ilmu putra sultan itu.

Zub, zub, zub...! Tiba-tiba tiga keping logam melesat dari tangan Pangeran Umbardanu yang bergerak melemparkan benda itu dengan gerakan cepat. Sepertinya ia mengambil benda berbentuk bintang segi enam itu dari balik rompi perunggunya. Tiga benda yang melayang ke arah Rara Santika itu sengaja tidak dihindari. Namun tangan Rara Santika dengan cepat menyambar senjata kipas gadingnya yang sejak tadi tertutup kain jubahnya. Suut...! Kipas gading itu pun dibentangkan di depan dada.

Bred...! Jub, jub, jub...! Tiga keping bintang bersegi enam menancap pada kipas gading bagaikan besi semberani. Kipas itu segera dikibaskan ke depan, weesss...! Dan tiga keping senjata rahasia itu melesat ke arah Pangeran Umbardanu. Zing, zing, zing...!

"Heaaah...!" pekik Pangeran Umbardanu sambil lakukan lompatan bersalto ke belakang. Senjata rahasia yang memburu balik ke arahnya itu melesat ke tempat kosong dan akhirnya ketiga senjata itu menancap pada tiga batang pohon. Jrab, jrab, jrab...!

Pohon yang segera menjadi layu itu tidak dihiraukan oleh mereka. Pangeran Umbardanu masih penasaran untuk lakukan serangan beruntun kepada Rara Santika. Sebuah tendangaan berputar bagaikan kipas dilancarkan dengan cepat. Wut, wut wut, wut...!

Kaki kekar itu melayang bagai ingin membabat kepala Rara Santika. Namun perempuan itu menghindarinya dengan meliuk-liukkan kepala dan punggung hingga lolos dari tendangan putar beruntun tersebut. Hanya saja, pada saat tendangan Pangeran Umbardanu berubah menjadi menyodok lurus ke depan, Rara Santika hampir saja terkena tendangan tersebut di bagian wajahnya. Untung tangan kirinya segera berkelebat dan telapak tangan itu menahan tendangan yang menggunakan ujung kaki itu.

Dees...! Kipas segera mengatup. Taab...! Kemudian ujung kipas disodokkan ke mata kaki Pangeran Umbardanu. Duuhg...!

"Aaaauuww...!" Pangeran Umbardanu menjerit keras karena mata kaki kanannya remuk seketika itu juga. Ia tak bisa berdiri dengan menggunakan kaki kanannya, ia terlonjak-lonjak ke belakang menggunakan kaki kiri, sementara tangannya memegangi kaki kanannya. "Bangsat kau, Perempuan Iblis!!" teriaknya penuh murka.

Rara Santika hanya sunggingkan senyum sinis sambil berdiri dengan tangan memegangi kipas terangkat ke atas. Kipas itu sendiri masih dalam keadaan tertutup. Matanya memandang tajam tak berkedip.

"Terpaksa kuhancurkan tubuhmu yang kotor itu, Jahanam! Heeeaah...!" Pangeran Umbardanu sentakkan kedua tangannya. Wuuut...! Dari kedua tangan itu meluncur dua larik sinar biru sebesar gagang pedang. Wuuut, wuuut...!

Rara Santika segera membuka kipasnya. Breed...! Lalu dikibaskan dari atas ke bawah, dan ke atas lagi. Wuus, wees...! Sinar biru menghantam tanah. Blaaarr...! Tanah menjadi retak, tubuh Pangeran Umbardanu hampir terperosok masuk ke dalam belahan tanah. Namun sebelum ia terperosok, angin badai berhembus sangat cepat dan kencang. Wuuusss...!

Cahaya petir biru kemerahan memercik dari tepian kipas sebanyak tiga larik dan saling bertebaran menghantam tubuh Pangeran Umbardanu. Trat, trat, trat...!

Sayang sekali tubuh itu telah terbang dihempaskan angin badai yang dahsyat. Sinar petir itu menghantam beberapa pohon yang ikut jebol dan terbang karena angin badai dari kipas Rara Santika itu.

Duaaar, blegaaarrr...! Gleeeerrrr...!

Suara gemuruh bagai langit roboh terdengar menggema panjang. Alam menjadi porak-poranda. Pohon-pohon dijungkirbalikkan oleh angin badai dari kipas Rara Santika. Tempat itu bagai dilanda bencana alam. Tanah yang terbelah akibat sinar birunya Pangeran Umbardanu tadi menjadi kian retak dan bergetar hebat. Bahkan keretakan tanah terjadi di sana-sini, terutama pada bekas pohon yang tumbang dan jebol bersama akarnya.

Pendekar Mabuk hanya bisa tertegun bengong menyaksikan kehebatan kipas Rara Santika yang hampir menyerupai kedahsyatan 'Napas Tuak Setan'-nya. Jika jurus 'Napas Tuak Setan' dipergunakan Pendekar Mabuk, maka langit pun menjadi gaduh, petir menyambar-nyambar dan awan hitam datang bergulung-gulung.

Kali ini awan hitam juga datang bergulung-gulung walau tak sebanyak jika 'Napas Tuak Setan' digunakan Suto Sinting. Kilatan cahaya petir bermunculan dari gulungan awan hitam di langit, alam dibuat semakin gaduh oleh gelegar guntur yang bersahutan.

"Dahsyat juga kipas itu?! Dalam sekejap saja hutan ini menjadi bersih bagai ladang tanpa tanaman?!" pikir Suto Sinting sambil pandangi tumpukan pohon yang menggunung di kejauhan sana. Di antara tumpukan pohon itu, terdapat tubuh Pangeran Umbardanu yang tak jelas apakah masih hidup atau sudah tak bernyawa.

Rara Santika juga memandang ke arah depannya yang bersih dan terang karena tanpa pepohonan lagi. Napasnya ditarik panjang-panjang, kipasnya dikatupkan dan diselipkan ke pinggang kanan, tertutup jubah merah jambunya.

"Mengapa sampai seperti itu kau melawannya? Mestinya tak perlu sampai merusak alam," ujar Suto Sinting yang melangkah mendekatinya.

"Tanggung," jawab Rara Santika dengan datar. "Dia tak akan berani menantangmu sembarangan lagi. Itu baru melawanku, belum melawanmu! Kurasa ia akan cepat menjadi mayat jika melawanmu."

"Kalau dia sampai tewas, berarti kita akan berurusan dengan Perguruan Serikat Jagal dan orang-orang dari Kesultanan Siliwindu."

"Akan kugulung habis mereka jika masih coba-coba membalas dendam padamu."

Pendekar Mabuk diam saja, tapi hatinya membatin, "Begitu marahnya ia melihat diriku ditantang orang? Apa arti sikapnya ini?! Seakan ia tak ingin orang lain menyinggung perasaanku sedikit pun. Jika begitu ia akan murka jika melihat orang lain melukai tubuhku walau segores pun?! Apa benar ia punya sikap seperti itu?!"

Rara Santika berkata dengan tegas, "Lanjutkan langkah kita! Jangan bertindak jika ada yang ingin berkurang ajar padamu. Biar aku yang bertindak memberi pelajaran pada mereka! Jika perlu akan kuhentikan masa hidupnya siapa pun juga orangnya yang menantangmu dengan gegabah!"

Pendekar Mabuk tertawa kecil menyimpan rasa geli dan bangga hati. Ia nyaris tertinggal karena Rara Santika melangkah lebih dulu. Sambil menyusul langkah Rara Santika hati Pendekar Mabuk pun berkata pada diri sendiri,

"Pembelaannya itu jelas mempunyai maksud tertentu yang amat pribadi. Maukah ia menjelaskannya jika kutanya maksud pembelaannya ini?!"

* * *

EMPAT

DALAM perjalanan menuju Gunung Randu, tiba-tiba Pendekar Mabuk tersentak oleh ingatan tentang Puspa Jingga. Langkahnya terhenti seketika, membuat Rara Santika memandanginya dengan dahi berkerut merasa heran.

"Ada apa, Suto?" tegurnya pelan.

"Puspa Jingga," jawab Suto Sinting dari wajah menunduk jadi terangkat memandang Rara Santika.

"Kenapa dengan Puspa Jingga?"

"Siapa yang membawa lari Puspa Jingga pada saat kami sama-sama pingsan?"

"Mengapa baru sekarang kau berpikir begitu?"

"Karena kusangka Pangeran Umbardanu yang membawa lari Puspa Jingga. Ternyata bukan dia, dan bukan Pangeran Umbardanu juga yang menghantam kami dari belakang hingga tak sadarkan diri itu."

Setelah diam sebentar, Rara Santika ajukan tanya kembali dengan nada sedikit meremehkan, "Apakah hilangnya Puspa Jingga adalah hal yang amat penting bagimu, Pendekar Mabuk?! Apakah ia dalam tanggung jawabmu?!"

"Memang tidak dalam tanggung jawabku. Tetapi hilangnya Puspa Jingga melibatkan diriku, sebab akulah yang saat itu ada bersamanya. Aku pula yang terkena serangan dari orang yang membawa pergi Puspa Jingga itu."

"Mungkin orang itu adalah Nini Kalong sendiri."

"Tidak mungkin," sangkal Pendekar Mabuk. "Nini Kalong sedang bertapa gantung. Karenanya ia tugaskan Puspa Jingga untuk mengambil pusaka di dalam makam Resi Dirgantara."

"Tak bisakah kau melupakan Puspa Jingga?"

"Tak bisa, Rara. Setidaknya aku juga ingin tahu siapa orang yang menyerangku dari belakang itu!"

Rara Santika menarik napas panjang lalu menghembuskannya lepas-lepas. Pandangan matanya dialihkan ke arah lain. Perempuan itu tampak sembunyikan kedongkolan dalam hatinya. Rasa tak suka melihat Suto Sinting terlalu peduli dengan perempuan lain membuat Rara Santika menjauh tiga langkah, seakan sedang memandangi alam sekeliling mereka. Pada saat itulah Rara Santika melihat sekelebat bayangan melintas di sela-sela pepohonan seberang. Pandangan matanya berubah menjadi tajam seketika.

"Suto, ada orang di seberang sana!" ucapnya pelan, tapi sampai juga di telinga murid si Gila Tuak itu.

Pandangan mata Pendekar Mabuk pun segera mengarah ke tempat yang diperhatikan Rara Santika. "Benar apa katamu. Tapi agaknya ia orang berilmu tinggi. Gerakannya sangat cepat dan hampir-hampir tak bisa dilihat oleh mata kepala kita."

"Tapi ia tidak tahu kalau kita ada di sini."

"Mungkin tahu, tapi tak mau peduli dengan diri kita. Aku jadi penasaran dan ingin menguntitnya."

"Jangan, Suto! Tak perlu kita..."

Zlaaap...!

"Sutooo...?!" panggil Rara Santika, tetapi Pendekar Mabuk telah lenyap bagai ditelan bumi. Ia melesat dengan kecepatan lebih tinggi dari bayangan yang berkelebat di hutan seberang mereka itu. Mau tak mau Rara Santika mengikuti gerakan Suto Sinting dengan gerutuan tak jelas.

Orang yang diikuti Suto Sinting itu akhirnya berhenti di balik pohon besar yang berongga mirip goa. Ia bersembunyi di sana, tapi Suto Sinting melihatnya dan segera menghampiri orang itu. Wuuut...! Zeeb! Tahu-tahu Suto Sinting sudah berdiri di depan mulut rongga pohon besar itu dalam jarak empat langkah. Orang yang bersembunyi itu terkejut hingga memekik tertahan.

"Hahh...?!" matanya mendelik memancarkan perasaan takutnya.

"Resi Pakar Pantun...?!" sapa Suto Sinting dengan terheran-heran.

"Oooh... syukurlah. Akhirnya kutemukan juga dirimu, Suto Sinting," ujar orang tua berpakaian abu-abu dalam potongan pakaian biarawan. Tokoh ini sudah tidak asing lagi bagi Suto Sinting, karena belakangan Suto Sinting memang banyak terlibat masalah yang ada hubungannya dengan Resi Pakar Pantun, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Sabuk Gempur Jagat).

"Kau tampak ketakutan sekali, Resi Pakar Pantun. Apa yang terjadi pada dirimu?!"

"Ikan teri makanan perkutut, ketan wajik makanan hewan. Aku lari bukan karena takut, tapi jijik berhadapan dengan lawan."

Sang Resi pun langsung berpantun, karena memang ia gemar bermain pantun. Suto Sinting hanya sunggingkan senyum tipis setelah mendengar arti pantun sang Resi. Orang tua berjenggot putih agak gemuk itu keluar dari rongga pohon, matanya memandang ke sana-sini dengan rasa waswas.

"Siapa lawan yang mengejarmu itu. Resi?" tanya Suto Sinting menahan geli melihat wajah tua berusia delapan puluh tahun itu sangat lucu jika dalam ketakutan begitu.

"Lawanku kali ini bukan lawan sembarangan, Suto. Aku... aku benar-benar jijik berhadapan dengan lawanku itu."

"Bukankah beberapa waktu yang lalu, kala kita berpisah, kau pergi ke negeri Bumiloka untuk membantu muridmu; Kertapaksi, yang sedang diserang oleh Ratu Sangkar Mesum?!"

"Benar. Itu benar sekali!" jawabnya penuh semangat Sang Resi pun ingat masa perpisahannya dengan Pendekar Mabuk beberapa waktu yang lalu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Gundik Sakti).

"Lalu, bagaimana hasilnya? Apakah kau tak bisa menyelamatkan negeri muridmu itu?!"

"Bukan aku tak mampu menyelamatkan muridku, tapi justru sekarang pihak Ratu Sangkar Mesum berbalik memusuhiku."

"Lalu, kau lari dari pertarungan dengan Ratu Sangkar Mesum itu?" desak Suto Sinting, tapi sang Resi agaknya tak mau dikecam begitu saja. Ia mulai berpantun kembali.

"Ikan teri main garukan dengan kuku, memancing ikan di gayung adalah sia-sia. Lari dari pertarungan adalah tabu bagiku, tapi menghindari maut adalah kewajiban tiap manusia."

Suto Sinting tertawa-tawa kecil dan berkata, "Bilang saja kau takut menghadapi Ratu Sangkar Mesum!"

"Ikan teri kalau berenang baunya kecut, orang disunat susah dicabut. Bukan perempuan itu yang membuatku takut, tapi mayat hidup yang bikin aku kalang kabut."

Dahi pemuda tampan itu mulai berkerut dan menggumam lirih, "Mayat hidup...?!"

"Ratu Sangkar Mesum kerahkan pasukan mayat hidup, ia membangkitkan beberapa mayat dari dalam kubur untuk menyerangku. Padahal aku paling jijik dengan mayat. Salah satu mayat ada yang mengejarku dan sukar kuhancurkan dengan tenaga dalamku. Padahal semasa hidup mayat itu aku sangat kenal dengannya."

"Mayat siapa yang kau maksudkan itu, Resi?"

"Mayat sahabatku sendiri; mendiang Resi Dirgantara!"

"Hahh...?!" Pendekar Mabuk tersentak kaget dan matanya mendelik lebar.

"Baru kuceritakan kebangkitannya saja kau sudah kaget dan menjadi takut, apalagi jika berhadapan dengan mayat itu!" ujar sang Resi salah duga.

"Ja... jadi mayat Resi Dirgantara dibangkitkan oleh Ratu Sangkar Mesum? Oh, kalau begitu kuburan sang Resi Dirgantara menjadi rusak?!"

"Ceritanya begini," kata Resi Pakar Pantun berlagak tenang dalam memberi penjelasan. Padahal hatinya penuh kecemasan karena takut tertangkap pengejarnya. "Aku berhasil melumpuhkan anak buah Ratu Sangkar Mesum. Rupanya perempuan itu menjadi murka, kami adu kesaktian, ia keteter melawanku, lalu memanggil Dewi Geladak Ayu."

"Maksudmu, si bajak laut wanita itu?!"

"Benar. Menghadapi si bajak laut wanita itu aku menjadi terdesak, lalu segera larikan diri untuk mencuri kesempatan memukul kelemahan si Dewi Geladak Ayu. Namun ternyata siasat lariku itu justru dikejar oleh Ratu Sangkar Mesum. Mayat-mayat dibangkitkan dari kubur untuk ikut mengejarku. Para mayat itu bisa kuhancurkan, tapi ada satu mayat yang susah kulawan; selain tak tega juga sukar dihancurkan. Mayat itu adalah mayat mendiang sahabatku; Resi Dirgantara."

"Apakah kau berlari ke arah Bukit Batok?"

"Benar, aku berlari ke arah sana tanpa kusadari. Dan ketika melewati makam Resi Dirgantara, tahu-tahu goa itu jebol, mayat sahabatku yang sudah berpuluh-puluh tahun dimakamkan itu bangkit menyerangku dan, hiiii...! Ngeri!" sang Resi bergidik. Matanya melirik ke kanan kiri dengan tegang.

Pendekar Mabuk menjadi kian geli melihat tokoh tua yang terkenal sakti itu dicekam perasaan takut yang bukan sekadar main-main. "Lalu... di mana pelayanmu si Kadal Ginting itu, Resi?!"

"Wah, tak tahu bagaimana nasibnya anak itu! Dia lari ngibrit tunggang langgang begitu serangan mayat pertama datang. Sejak itu kami berpisah dan saling tidak mengetahui nasib masing-masing," jawab sang Resi yang bernada menggelikan bagi Suto Sinting.

"Seorang Resi berilmu tinggi kok takut sama mayat?!"

"Kalau mayat mati aku tak takut, tapi kalau mayat hidup aku memang takut. Aku tak pernah berurusan dengan mayat hidup, sejak kecil sampai setua ini!"

"Padahal dirimu sendiri sebenarnya mayat hidup, Resi."

"Ah, bercanda kau!" sang Resi melirik bersungut-sungut.

"Dulu kau pernah mati dan dihidupkan lagi oleh Pipit Serindu," ujar Suto Sinting, lalu menceritakan secara sekilas saat Resi Pakar Pantun sudah dinyatakan mati dan mau disemayamkan dengan cara dibakar, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kutukan Pelacur Tua).

"Itu bukan mati, tapi salah anggapan!" ujar sang Resi dengan wajah cemberut pertanda tak suka dikatakan sebagai orang yang pernah mati.

"Jadi bagaimana nasib negeri Bumiloka dan muridmu si Kertapaksi itu, Resi?"

"Entahlah, aku belum bisa berpikir soal itu. Aku masih terbayang-bayang dikejar mayatnya si Dirgantara selama sehari semalam penuh. Sampai sekarang aku belum tidur, karena mayat itu tak mau tidur juga."

Suto Sinting tertawa tanpa suara. Tawa itu tiba-tiba lenyap karena sekelebat sinar merah yang melesat lurus bagaikan sepotong besi panjang sehasta. Slaaap...! Sinar merah bening mirip dengan besi membara itu meluncur cepat ke punggung Resi Pakar Pantun.

Suto Sinting menyambar tangan sang Resi. Wuuut...! Sang Resi tersentak ke depan karena tarikan tangan kiri Suto Sinting, sementara tangan kanan Pendekar Mabuk segera melayangkan bumbung tuaknya ke arah depan. Wees...! Sinar merah itu menghantam bumbung tuak tersebut.

Duaaar...! Ledakan cukup keras terjadi tanpa melukai bambu bumbung tuak. Tapi ledakan itu mempunyai gelombang hentakan yang cukup kuat, sehingga Suto Sinting dan Resi Pakar Pantun terjungkal berguling-guling saling tindih.

"Auuow...! Auuuh...! Kepalaku jangan ditindih, Suto! Aauh... tanganku... tanganku, Sutooo...! Aduh, remuk tulangku kalau begini, uuuh...!"

Celoteh dan ratapan Resi Pakar Pantun tak sempat dihiraukan Suto Sinting. Ketika tubuh mereka sama-sama berhenti karena membentur sebuah pohon besar, Resi Pakar Pantun meratap lirih, wajahnya meringis karena kakinya tertindih tubuh Suto Sinting. Akhirnya ia membentak Suto Sinting sambil menepak pundak pemuda itu.

"Cepat bangun, Tolol!"

"Serangan itu pasti dari orang berilmu tinggi, Resi!"

"Tak peduli berilmu tinggi atau rendah, kakiku jangan kau injak terus!" geram sang Resi dengan berang.

Suto Sinting buru-buru menenggak tuaknya untuk hilangkan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Resi Pakar Pantun pun disuruh menenggak tuak tersebut. "Biar rasa sakitmu hilang, Resi. Minumlah tuak ini!"

Resi Pakar Pantun yang tahu persis bahwa tuak Suto itu mempunyai kesaktian tinggi sebagai senjata maupun obat, tak menolak tawaran untuk minum tuak. Ia menenggaknya beberapa teguk. Kejap berikut mereka berdua saling memandang keadaan sekeliling mencari lawan mereka yang tahu-tahu menyerang dengan tenaga dalam cukup tinggi.

"Jika orang itu tidak menggunakan jurus bertenaga dalam tinggi, sinar itu pasti akan memantul balik dalam keadaan lebih besar dan lebih cepat gerakannya. Tapi sinar itu ternyata justru meledak begitu mengenai bumbung tuakku, berarti kadar hawa saktinya cukup tinggi," tutur Suto Sinting tanpa memandang Resi Pakar Pantun.

"Musuhmu atau musuhku yang menyerang kita tadi?!" tanya sang Resi benar-benar dalam kebingungan.

Belum sempat Pendekar Mabuk memberi jawaban, tiba-tiba mereka sama-sama bungkam dengan mata tertuju ke arah munculnya sesosok tubuh yang meluncur dari ketinggian sebuah pohon. Wuuuusss...!

Jleeg...! Tubuh ramping berjubah hijau muda dari kain sutera tipis telah berdiri di depan mereka dalam jarak enam langkah. Tubuh ramping itu mempunyai wajah cantik dan sorot pandangan mata yang menggoda hati lelaki. Rambutnya disanggul sebagian, pada sanggulnya dililit pengikat dari logam emas bermanik-manik intan.

Tubuh berkulit putih mulus itu hanya dibungkus dengan jubah hijau tipis bagian depannya hanya mempunyai satu pengait 'kancing jepret' yang sewaktu-waktu bisa terlepas sendiri. Sedangkan di bagian dalam jubah tak mempunyai pelapis apa pun, sehingga jika jubah itu tersingkap maka akan tampak sebentuk keindahan yang membakar gairah setiap lelaki.

Resi Pakar Pantun menggeram dengan kedua tangan meremas sendiri. Sorot pandangan mata tuanya memancarkan permusuhan kepada perempuan berkalung dan bergelang emas permata.

"Kau mengenal perempuan itu, Resi?" tanya Suto Sinting dalam bisikan.

"Ratu Sangkar Mesum!" geram sang Resi penuh dendam.

Suto Sinting hanya menggumam dalam hati, kemudian pandangan matanya dipertajam dalam menatap Ratu Sangkar Mesum. Perempuan itu sendiri menatap Suto Sinting lebih lama ketimbang memandang Resi Pakar Pantun.

"Kau tak akan bisa lari ke mana-mana lagi, Pakar Pantun!"

"Ikan teri menjelma sebagai tamu, belalai gajah direbus dibuat jamu. Aku lari bukan karena kalah ilmu, tapi lari untuk mencarikan kuburmu."

Perempuan itu sunggingkan senyum sinis mendengar pantun sang Resi. Rupanya ia juga pandai berpantun sehingga membalas pantun tersebut dengan suara yang sedikit serak namun mempunyai getaran penggugah hasrat cinta lawan jenisnya.

"Ikan teri berbondong-bondong masuk dalam saku, ikan lele berlari-lari menuju biara. Kalau kau memang tak sanggup lagi melawanku, biarkan aku melawan pemuda itu dengan asmara."

Mata jeli yang berkesan nakal dan jalang itu melirik kembali kepada Suto Sinting. Pemuda yang dilirik hanya sunggingkan senyum tipis dan bersikap tenang, seakan acuh tak acuh terhadap pantun sang Ratu Sangkar Mesum itu. Walaupun ia tahu maksud pantun tersebut, namun tak punya niat untuk membalas dengan pantun juga. Sikap diam dan acuh tak acuh merupakan balasan yang cukup untuk pantun tersebut.

Tetapi tidak demikian halnya dengan Resi Pakar Pantun. Mendengar lawannya berpantun, ia pun membalas dengan pantun ejekan yang dapat membangkitkan amarah Ratu Sangkar Mesum. "Ikan teri mencakar memar seekor tikus, mencari tikar buat campuran ubi rebus. Dasar perempuan liar berjiwa rakus, lihat pemuda kekar maunya langsung bungkus."

Ratu Sangkar Mesum langsung membentak kepada sang Resi, "Hentikan permainan pantunmu!" Ia maju dua langkah, lalu berkata lagi dengan wajah memancarkan dendam. "Anak buahku hampir habis karena ulahmu. Tua Peot! Sekarang saatnya menebus dengan nyawamu!"

Suto Sinting sempat berbisik kepada sang Resi, "Mau kau tangani sendiri atau aku yang menangani, Resi?"

"Biar kutangani sendiri!" jawab sang Resi dengan tegas.

Suto Sinting angkat bahu, lalu segera mundur menjauh. Belum seberapa jauh Suto Sinting melangkah mundur, tiba-tiba dari mata kiri Ratu Sangkar Meaum melepaskan sinar lurus warna hijau bening. Claaap...! Sinar itu melesat cepat menuju dada Resi Pakar Pantun.

Sang Resi terperanjat karena tak menyangka serangan lawan datang secepat itu. Akibatnya ia hanya bisa menangkis sinar hijau itu dengan sentakkan tangan kanannya yang memancarkan sinar merah berbentuk bola berapi. Wuuus...!

Zrrub...! Jegaaarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi saat sinar hijau lurus itu menghantam sinar merah. Gelombang ledakan membuat tubuh Resi Pakar Pantun tersentak dan terbang ke belakang. Buugh...! Tubuh agak gemuk itu menghantam batang pohon. Tak ada keseimbangan tubuh yang dapat dikuasai, ia pun jatuh tersungkur dihujani oleh daun-daun pohon yang berguguran akibat benturan tubuhnya tadi. Bisa dibayangkan alangkah kerasnya benturan itu, sampai-sampai daun-daun pohon berguguran baik yang sudah layu maupun yang masih segar.

Rupanya gelombang ledakan itu bertenaga sangat besar, sehingga Resi Pakar Pantun tak bisa bangkit lagi dalam keadaan hidung berdarah dan wajah memucat. Tokoh tua itu jatuh pingsan dalam satu jurus. Itu menandakan si Ratu Sangkar Mesum pergunakan jurus andalan yang terlambat ditangkis oleh sang Resi. Mestinya jurus itu ditangkis pada saat masih melesat di pertengahan jarak, bukan dalam jarak satu langkah di depan sang Resi berdiri tadi.

Akibat tangkisan dalam jarak dekat, maka gelombang ledakan tersebut cukup telak menghantam tubuh Resi Pakar Pantun. Sementara si perempuan cantik berpakaian seronok itu tetap berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya.

Melihat keadaan Resi Pakar Pantun tidak berdaya, Ratu Sangkar Mesum segera lepaskan pukulan jarak jauhnya yang dapat mengakhiri riwayat hidup sang Resi. Tangan kanannya memutar cepat lalu menghentak ke depan dalam keadaan lurus, kedua kaki pun merendah. Suuut...! Dari ujung tangan itu melesat sinar biru lebar berbentuk separo lingkaran. Weeess...!

Suto Sinting buru-buru melesat dari tempatnya. Zlaaap...! Tahu-tahu sudah menghadang di depan lajunya sinar biru, menjadi pelindung tubuh Resi Pakar Pantun. Tangannya menyentak ke depan dan sinar hijau keluar dari tangan tersebut, melesat cepat menghantam sinar biru lawan. Claap...!

Blegaaar...!

Pukulan 'Guntur Perkasa' mematahkan jurus maut Ratu Sangkar Mesum. Ledakan dahsyat memercikkan sinar biru kehijauan yang menyebar ke atas dalam sekejap. Gelombang ledakan itu mampu membuat tubuh Ratu Sangkar Mesum tersentak mundur ke belakang, terhuyung-huyung hampir jatuh. Sedangkan Suto Sinting sudah jatuh lebih dulu dalam keadaan terduduk menindih pinggang Resi Pakar Pantun. Namun karena sang Resi dalam keadaan pingsan, Suto pun tak mendapat omelan, ia segera bangkit dalam keadaan masih segar.

Ratu Sangkar Mesum hentikan serangan. Langkahnya tampak menggoda dengan pinggul bergoyang ke sana-sini. Wajah perempuan itu tidak memancarkan permusuhan kepada Suto Sinting. Bahkan ada seulas senyum tipis di bibirnya yang sedikit tebal dan menggemaskan jika dipandang terlalu lama itu.

"Aku suka dengan caramu, Pendekar Tampan!" katanya setelah mereka saling berhadapan dalam jarak lima langkah. Mata jalang sang Ratu sengaja dimainkan untuk menggoda hati si pemuda tampan itu. Lagak berdirinya pun tampak menantang kemesraan. Kancing jubahnya dilepaskan dengan sengaja. Suto Sinting tertegun bengong memandanginya, ia menelan ludahnya sendiri dua kali, kemudian menarik napas untuk menahan getaran indah yang menuntut kemesraan.

"Hanya kaulah orangnya yang bisa mematahkan jurus 'Pedang Biru'-ku. Kini aku tahu kau pemuda yang hebat, dan aku yakin bukan saja ilmu kanuraganmu yang hebat, namun ilmu cumbuanmu juga pasti hebat!"

"Aku tak mengerti arah bicaramu, Ratu Sangkar Mesum!" kata Suto Sinting dengan wajah tanpa senyum namun masih kelihatan tampan.

Ratu Sangkar Mesum semakin menggoda dengan senyum dan pandangan matanya, ia mendekati Suto Sinting dan membiarkan jubahnya tersingkap lebar, seakan ia sengaja memamerkan perabotnya.

"Berhenti di situ saja!" sentak Suto Sinting tak terlalu keras namun terdengar tegas.

Langkah sang Ratu pun terhenti dalam jarak tiga langkah di depan Suto Sinting. Pemuda itu justru mundur menjauh sambil matanya melirik tajam tak bersahabat.

"Jangan coba-coba meruntuhkan jiwaku dengan kemesumanmu, Ratu! Kalau kemarahanku tak terbendung lagi, kau akan pulang tanpa raga."

Sang Ratu makin sunggingkan senyum jalang. "Pria yang ketus adalah pria yang sangat menggairahkan bagiku. Semakin kau menjauh semakin aku memburumu, Anak Ganteng!"

"Semakin kau memburuku berarti semakin kau mendekati ajalmu, Perempuan Cantik!"

"Ahaa... kau pun memujiku rupanya?!" Ratu Sangkar Mesum semakin ceria. Tawanya lepas berderai dengan suara sedikit serak yang memancarkan getaran daya pikat bagi lawan jenisnya.

Sementara itu, Suto Sinting melangkah pelan-pelan mengelilingi sang Ratu.

"Dekatlah kemari, Sayang! Dekaplah aku selagi si tua Pakar Pantun itu sekarat! Dekatlah, Sayang...," sambil kedua tangan dijulurkan ke depan dan melambai-lambaikan penuh goda.

"Aku tak bisa tergoda oleh rayuanmu, Ratu! Karena aku sudah mempunyai calon istri yang amat kucintai dan kujaga kesetiaan cintaku ini."

"O, kau sudah punya calon istri? Siapa calon istrimu itu?!"

"Dyah Sariningrum; Gusti Mahkota Sejati, penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi di Pulau Serindu!"

Wajah sang Ratu terperanjat, keceriaannya lenyap seketika. Tangan yang dijulurkan ke depan segera turun dan menggenggam kuat-kuat. Matanya memandang dengan menyipit memancarkan permusuhan dan kebencian. "Rupanya kau kekasih si keparat itu?!" geram sang Ratu.

Pendekar Mabuk bagai dibakar darahnya mendengar kekasihnya dikatakan sebagai 'si keparat' oleh Ratu Sangkar Mesum. Kemarahan pun segera timbul di hati Suto Sinting, sikap memandangnya menjadi kian bermusuhan.

"Apa maksudmu berkata begitu, Perempuan Liar?!" sentak Suto Sinting dengan wajah menegang. Rupanya ia paling tersinggung jika Dyah Sariningrum dihina oleh seseorang.

"Mahkota Sejati adalah orang yang akan kuhancurkan, karena para pengawalnya telah membuat dua adikku tewas dalam penyerbuan ke Pulau Serindu. Perempuanmu itu harus bertanggung jawab dan menebusnya dengan nyawa! Tapi ada baiknya jika sebelum itu kukirimkan dulu jenazah kekasihnya yang ada di sini!"

Gigi sang Pendekar Mabuk mulai menggeletak. Napas yang keluar dari hidungnya menyembur deras, membuat tanah di depannya tersibak dan menjadi cekung sedikit demi sedikit. Napas itu adalah Napas Tuak Setan yang keluar dengan sendirinya jika hatinya diliputi kemarahan besar.

* * *

LIMA

PEREMPUAN berkuku runcing itu mulai membuka jurus dengan gerakan merentang ke belakang, kedua tangannya terangkat dalam keadaan siap mencakar. Suto Sinting sendiri mulai siapkan diri melawan musuhnya yang tak menimbulkan kesan indah sama sekali seperti tadi.

Namun baru saja mereka ingin mengawali pertarungan, tiba-tiba sekelebat bayangan menerjang dari arah belakang Ratu Sangkar Mesum. Gerakan yang begitu cepat itu membuat sang Ratu tak mampu berkelit atau menangkis balik, sehingga tubuhnya pun terpental jatuh berguling-gulingan setelah terlebih dahulu terpelanting ke samping. Sesosok bayangan itu kini berdiri dengan tegak dan tegar.

Pendekar Mabuk sempat berkerut dahi sebentar dan bergumam lirih kepada bayangan yang menerjang sang Ratu itu. "Rara Santika...?"

"Mundur, biar aku yang menghajar si jahanam itu!" ujar Rara Santika dengan nada berang.

"Ini urusan pribadiku, Rara!"

"Aku pun punya urusan pribadi dengannya. Akan kuselesaikan dulu urusanku, setelah itu baru kau yang maju menyelesaikan urusan pribadimu dengannya!"

Dengan agak dongkol Pendekar Mabuk pun mundur menjauh sambil membatin, "Akan kulihat sampai di mana kehebatanmu, Rara. Kalau kau sudah kepepet, baru aku turun tangan."

Rara Santika tampak geram sekali kepada Ratu Sangkar Mesum. Dihampirinya perempuan berjubah hijau tipis yang kala itu baru saja bangkit dari jatuhnya. Mata si perempuan jalang tampak terkesiap pandangi kehadiran Rara Santika. Ia pun menggeletukkan gigi dan menggeram lirih dengan kedua tangan menggenggam kuat-kuat.

"Masih ingat diriku, Sangkar Mesum?!" seru Rara Santika menyentak.

"Mau apa kau mencampuri urusanku, Perempuan Laknat?!" Ratu Sangkar Mesum ganti menyentak dengan berani.

"Kau boleh berurusan dengan Suto Sinting itu," Rara Santika menuding ke belakang, menunjuk Pendekar Mabuk. "Tapi lebih dulu kau harus selesaikan urusan lamamu denganku, Iblis Betina!"

Ratu Sangkar Mesum diam membisu dengan napas mulai memburu. Rara Santika melangkah ke samping dengan mata tajam memandang tak berkedip. "Tentunya kau masih ingat dengan Pramudya Wiseta, pemuda dari Lembah Damar yang kau jadikan budak nafsumu dan akhirnya kau bunuh begitu saja itu!"

"Oh, jadi kau masih teringat dengan kekasihmu yang malang itu?! Hmmm...! Dia memang layak untuk mati, karena dia tak mau lagi melayaniku dan itu merupakan penghinaan bagiku. Hukuman mati adalah hukuman yang layak diterima bagi siapa saja yang berani menolak keinginanku!"

"Sekarang aku menuntut balas atas kematian tunangganku itu! Kesempatan ini tak akan kusia-siakan karena sudah cukup lama kutunggu-tunggu datangnya!" seru Rara Santika semakin garang.

"Coba dulu hadapi jurus kecilku ini, Santika!" Kedua tangan Ratu Sangkar Mesum terangkat ke atas. Wuuuss! Dua sinar putih terang menyilaukan membias lebar ke arah Rara Santika. Namun dengan lincahnya tubuh Rara Santika segera melenting di udara hindari sinar terang yang menyilaukan itu.

Zuuub...!

Dua bongkah batu yang terkena sinar terang itu lenyap seketika tanpa bekas sedikit pun. Sinar itu pun padam seketika. Bluub...! Tapi tubuh Rara Santika yang masih melayang di udara itu segera lepaskan pukulan jarak jauh dari sana. Dua jarinya dikeraskan dan disentakkan ke depan. Claaap...! Sinar merah berbentuk anak panah melesat ke arah Ratu Sangkar Mesum. Gerakan sinar yang amat cepat itu membuat Ratu Sangkar Mesum tak punya kesempatan untuk menghindar. Maka ia menangkis sinar itu dengan mengadu kekuatan tenaga dalamnya yang tadi dinamakan jurus 'Pedang Biru' dari ujung telapak tangan yang disodokkan kedepan. Slaaap...!

Blegaaar...!

Kedua sinar yang bertabrakan itu menimbulkan ledakan dahsyat. Tubuh mereka sama-sama terpental ke belakang. Tapi keduanya mampu menjaga keseimbangan hingga tak sampai terguling-guling.

"Kuhancurkan kepalamu, Santikaaaa...!" teriak sang Ratu. "Heeeeaaah...!"

"Hiaaat...!" Rara Santika berkelebat maju dalam satu lompatan bersalto.

Ratu Sangkar Mesum juga berkelebat maju dalam satu lompatan bersalto. Mereka berhadapan dalam jarak dekat selama di udara. Saat itulah kedua tangan mereka saling menghantam dengan kecepatan tinggi. Plak, plak, plak, plak, duaaar...!

Sekelebat sinar merah berasap memercik dari benturan telapak tangan mereka. Keduanya sama-sama terdorong mundur dan mendaratkan kaki dengan sigap.

Jleg, jleg...!

Saking terkesimanya menyaksikan pertarungan Rara Santika dan Ratu Sangkar Mesum, Suto jadi lupa dengan keadaan Resi Pakar Pantun yang terbaring pingsan, ia terus memandang pertarungan itu dengan hati cemas.

Ratu Sangkar Mesum segera mengerahkan tenaganya dengan gerakan tangan membentang lebar dan tubuh merendah, kaki kirinya ditarik ke belakang sedikit. Gerakan tangan itu lama-lama membuat kedua telapak tangannya menyala bagaikan besi membara. Asap mengepul tipis dari kedua telapak tangan yang berwarna merah kekuning-kuningan itu. Dari ujung-ujung kuku memercik sinar biru berkerilap-kerilap, bagaikan anak petir yang saling berlompatan.

Trat, tat, tat, traat, taar, tar, trat, tat...!

Rara Santika segera mencabut kipas gadingnya yang sejak tadi tertutup jubah merah jambu itu. Dengan satu sentakan kaki merendah dan tangan kiri ke depan membentuk cakar, kipas itu disentakkan ke samping dan membuka seketika. Braab...! Kemudian kipas itu dimainkan meliuk ke sana-sini sambil langkahnya makin mendekati lawan.

Seketika itu juga, Ratu Sangkar Mesum segera menepukkan kedua tangannya di depan dada dalam keadaan lengan lurus. Plaak...! Claaap...!

Seberkas sinar biru kemerah-merahan melesat dan menghantam Rara Santika. Namun kipas Rara Santika segera menghadang di depan dada dan menangkis sinar tersebut. Drrrbb.! Sinar itu padam tanpa ledakan apa pun. Hanya meninggalkan kepulan asap yang membubung tinggi, seolah-olah kipas itu terbakar. Tapi sebenarnya kipas itu masih utuh tanpa hangus sedikit pun.

"Jahanam busuk kau, heeeeaaah...!!" Ratu Sangkar Mesum semakin murka, ia menyerang maju dengan kedua telapak tangan masih membara dan dapat menghanguskan apa saja.

Agaknya Rara Santika pun tak merasa gentar sama sekali, sehingga ia menyongsong gerakan lawan dengan satu lompatan cepat dan kipas ditakupkan. Zrrrb...! Wweeess!

Tar, tar, tar...! Letusan terdengar ketika telapak tangan Ratu Sangkar Mesum ditangkis dengan kipas gading. Tubuh Rara Santika bergerak cepat mengitari lawan. Gerakan cepatnya nyaris tak terlihat sekalipun dari jarak jauh. Bret, bret, bret, bret, bret!

Craas!

"Aaaahg !!" terdengar suara pekik tertahan dari Ratu Sangkar Mesum.

Weees...! Rara Santika menarik diri, menjauhkan jarak dengan lawannya. Maka tampaklah keadaan Ratu Sangkar Mesum yang cukup menyedihkan. Jubah hijaunya tercabik-cabik tak layak lagi dipakai sebagai penutup tubuhnya yang ramping. Punggung mulus itu kini koyak berdarah, lukanya dari tengkuk sampai ke pinggang belakang. Luka itu mengepulkan asap putih samar-samar menandakan adanya racun berbahaya dalam luka tersebut. Kipas itu ternyata mempunyai ketajaman melebihi pedang dan mempunyai racun yang amat berbahaya.

"Uuuuhg...!!" Ratu Sangkar Mesum mengerang dengan tubuh menggeliat dan terhuyung-huyung. Wajahnya tampak pucat, bola matanya keruh. Ratu Sangkar Mesum jatuh berlutut sambil menahan sakit.

Rara Santika bergegas mengakhiri riwayat hidup perempuan itu. Tapi Suto Sinting segera berseru,

"Cukup, Rara...!"

Langkahnya terhenti dengan napas tertahan di dada. Rara Santika palingkan pandang ke arah Suto Sinting dan berkata dalam geram. "Ia harus menebus kematian mantan kekasihku dengan nyawanya!"

"Ia akan mati sendiri karena luka beracun itu! Tak perlu kau buang-buang tenaga lagi."

Napas pun akhirnya dihempaskan lepas-lepas oleh Rara Santika. Niatnya untuk memenggal leher Ratu Sangkar Mesum dengan kipas gading dibatalkan.

Tetapi kejap berikutnya Ratu Sangkar Mesum memasukkan dua jarinya ke mulut dan meniupnya keras-keras. "Suiiiiittt...!"

Suara suitan panjang terdengar membuat Suto Sinting dan Rara Santika saling berpandangan. Pendekar Mabuk segera dapat mengerti maksud suitan panjang itu. "Ia memanggil seseorang!"

Baru saja Rara Santika ingin bicara, tiba-tiba dari balik semak-semak muncul lima sosok tubuh dalam keadaan mengerikan. Lima sosok tubuh itu berbelatung dan berlendir busuk. Mereka adalah lima sosok mayat yang rupanya sudah disembunyikan sejak tadi oleh Ratu Sangkar Mesum sebelum melakukan pertarungan dengan Resi Pakar Pantun.

"Pantas sejak tadi aku mencium bau busuk, rupanya dari mayat-mayat itu?" pikir Suto Sinting, demikian pula yang ada dalam batin Rara Santika.

Lima sosok mayat yang berwajah mengerikan serta dalam bentuk menjijikkan itu mulai mengurung Rara Santika yang kala itu berdekatan dengan Pendekar Mabuk. Sosok berlumur tanah basah dan berbelatung itu mempunyai bola mata putih rata tanpa ada manik hitamnya. Mereka menyeringai dan mengeluarkan suara serak yang mengerikan.

Wuuuut...! Tubuh Ratu Sangkar Mesum melesat meninggalkan tempat itu setelah berseru dengan suara tertahan, "Terimalah pembalasanku, Santika...!"

Pendekar Mabuk dan Rara Santika tidak hiraukan pelarian Ratu Sangkar Mesum yang membawa luka parahnya itu. Perhatian mereka tertuju pada lima sosok mayat berbelatung menjijikkan dengan kuku-kuku hitam meruncing keras. Mereka mendekat dengan langkah gontai dari berbagai arah.

"Agaknya Ratu Sangkar Mesum membangkitkan mayat-mayat orang yang semasa hidupnya mempunyai ilmu cukup tinggi," bisik Suto Sinting kepada Rara Santika. Hal itu dikatakan oleh Suto Sinting melihat mayat-mayat itu lakukan gerakan pembuka jurus tanpa limbung dan gontai sedikit pun.

"Krrraaakkkk...!!" salah satu mayat menjerit dengan suara seraknya, karena di bagian leher sudah bolong serta berbelatung menjijikkan. Mayat itu melompat dengan cepat menerjang Suto Sinting. Dengan cepat Suto Sinting pun segera mengayunkan bumbung tuaknya ke depan.

Wuuung...!

Prrrok...! Kepala mayat itu pecah bagai dihantam dengan palu besi. Sosok mayat yang kepalanya terhantam bambu bumbung itu akhirnya menggelepar-gelepar di tanah dengan keluarkan suara derak dari tenggorokannya.

Suto Sinting memberi isyarat dengan gerakan tangan sambil berseru, "Mundur, Rara...!"

Tetapi perempuan itu justru diam di tempat menghadapi serbuan empat mayat yang masih bergerak maju. Dan serta-merta ia membentangkan kipasnya. Brrrab...! Kipas itu tiba-tiba menyala merah bagaikan membara. Kemudian Rara Santika melemparkan kipas itu ke arah mayat yang datang dari arah kanannya.

Weeess...! Zuuuubb...!

Kipas menyala merah terbang melesat dan menerjang leher mayat. Craas...! Leher itu terpotong seketika, kepala mayat jatuh menggelinding. Kipas itu membalik arah dengan gerakan melingkar. Keadaannya yang masih terbuka dan membara itu ternyata menerjang kembali sebatang leher mayat lain dari belakang.

Craaas...! Crras...! Craas...!

Pendekar Mabuk sempat tertegun bengong melihat gerakan kipas itu yang begitu cepat dan mampu memenggal leher keempat mayat dalam waktu singkat. Ketika kipas selesai memenggal leher mayat terakhir, gerakannya memutar kembali dan melesat ke arah Rara Santika. Tangan perempuan berjari lentik itu segera menyambarnya.

Taab...! Kini kipas gading sudah berada di tangan Rara Santika kembali. Sementara itu, lima mayat dalam keadaan tumbang tak berkutik lagi. Satu mayat kepalanya hancur, empat lainnya buntung tanpa kepala lagi. Bau busuk menyebar ke mana-mana dan membuat perut mual.

Pendekar Mabuk segera meneguk tuaknya, lalu rasa mual pun hilang dan bau busuk pun berkurang. Rara Santika ikut-ikutan menenggak tuak setelah diberi tahu khasiatnya untuk menangkal bau busuk dan rasa mual.

"Bagaimana dengan si kakek tua itu?" tanya Rara Santika sambil menunjuk kepada Reai Pakar Pantun yang masih belum siuman itu.

Pendekar Mabuk segera memeriksanya, ia menjadi tegang setelah mengetahui denyut nadi Resi Pakar Pantun sangat lemah. "Bantu aku meminumkan tuak ini ke dalam mulutnya! Terlambat sedikit lagi ia akan tewas tak tertolong lagi!" ujar Suto Sinting sambil berusaha membuka mulut Resi Pakar Pantun dengan paksa.

Rara Santika menyelipkan kipasnya ke pinggang kanan, kemudian menuangkan tuak pelan-pelan ke mulut Resi Pakar Pantun.

"Jangan keras-keras membukakan mulutnya, nanti robek tepiannya!" ujar Rara Santika, namun Pendekar Mabuk tak hiraukan himbauan itu. Ia berusaha mengguncang-guncang kepala sang Resi, menyentak-nyentakkan agar tuak dapat terminum masuk ke dalam tenggorokan sang Resi.

"Sekali lagi! Lakukan sekali lagi, Rara!" ujar Suto Sinting sambil membuka mulut sang Resi seperti membelah durian. Rara Santika pun menuangkan tuak itu pelan-pelan hingga mulut sang Resi terisi tuak.

"Krrraaaakkk...!"

Tiba-tiba terdengar suara serak mengerikan dari balik pohon tak jauh dari mereka berada. Pendekar Mabuk dan Rara Santika kaget dan saling pandang sejenak, kemudian keduanya sama-sama menatap ke arah datangnya suara tadi.

"Ohh... celaka!" gumam Suto Sinting dengan tegang.

Dari balik semak belakang pohon muncul sesosok mayat yang berlendir busuk dan berbelatung seluruhnya. Separo wajahnya telah menjadi tulang dikerumuni belatung menjijikkan. Bagian dadanya telah bolong dan berisi belatung berjubal-jubal. Pendekar Mabuk bergidik merinding, demikian pula Rara Santika.

Mayat itu bertangan satu. Mungkin semasa hidupnya tangan yang satunya lagi dibuntungi oleh lawan. Dan melihat keadaan mayat bertangan satu dengan rambut putih berlumur tanah liat, Rara Santika pun mulai mengenali mayat yang bergerak perlahan-lahan keluar dari balik pohon sedikit terhuyung-huyung.

"Eyang...!" sapa Rara Santika yang berpisah jarak dengan Suto Sinting.

Mata mayat yang putih dengan rongga mata dikerumuni belatung itu bergerak memandang ke arah Rara Santika. Wajah perempuan itu memancarkan kedukaan yang amat dalam.

"Rara, kau mengenal mayat itu?!"

"Eyang Resi Dirgantara...?!"

"Kkkkkrraakkk...!" mayat itu mendekati Rara Santika. Tangannya terangkat dengan kuku hitam memanjang.

Suto Sinting sempat berdebar-debar setelah tahu mayat itu adalah mayat Resi Dirgantara. "Berpuluh-puluh tahun dimakamkan baru sekarang mayatnya membusuk seperti itu. Kalau bukan orang berilmu tinggi tak mungkin mayatnya bisa seawet itu dan cukup lama mengalami pembusukan," pikir Suto Sinting sambil melangkah mundur jauhi mayat berbelatung itu.

Resi Pakar Pantun mulai sadar dari siumannya, ia mengerang lirih, kemudian menggeliat, merasakan badannya mulai ringan, ia mencoba bangkit berdiri sambil menarik napas panjang-panjang.

"Uuufffh...! Napasku terasa lega, enteng sekali dihirupnya, dan... hah, apa itu?!" Resi Pakar Pantun terbelalak pandangi mayat yang sedang mendekati pertengahan jarak antara Suto Sinting dengan Rara Santika. Wajah sang Resi yang baru siuman itu tegang sekali. "Maaa... mayat si Dirgantara?! Ooh.... Oooooohh...!"

Brrruk...! Resi Pakar Pantun pingsan kembali, ia memang paling takut dengan mayat hidup yang menjijikkan itu. Repotnya, suara jatuhnya Resi Pakar Pantun memancing perhatian mayat Resi Dirgantara. Mayat itu segera menggeram sambil mendekati Resi Pakar Pantun sebagai lawan yang dikejar-kejarnya sejak kemarin itu.

"Hhgggrr...! Krrraaahhhkk...!"

Melihat mayat itu mendekati Resi Pakar Pantun, Suto Sinting menjadi cemas dan sempat salah tingkah sendiri. Sementara itu, Rara Santika berseru dengan keras,

"Eyang, jangan sentuh orang itu! Eyang Resi... dengarlah seruan saya ini, Eyang!"

Langkah kaki lamban itu terhenti, mayat berpaling memandang Rara Santika yang berwajah haru. Perempuan itu mencoba mengajaknya bicara lagi.

"Eyang, saya Rara Santika...! Masih ingatkah pada saya, Eyang...?! Saya anak dari Ki Panjuru Gesang yang dulu pernah Eyang ajak ke Pulau Sumbing! Saya Rara Santika, Eyang Resi Dirgantara...!"

"Hhhhgggrrr...!" mayat itu menggeram dengan mata putihnya kian melebar. Tiba-tiba tangannya menyentak ke depan. Belatung berjatuhan, telapak tangan keluarkan sinar kuning lurus menghantam Rara Santika.

Perempuan itu terkejut dan terlambat menghindar, ia hanya memberi tangkisan dengan sebuah pukulan bersinar merah. Claaap...! Kedua sinar itu pun beradu dalam jarak empat langkah di depan Rara Santika.

Blegaaarr...! Dentuman membahana menggelegar mengguncangkan bumi. Rara Santika terlempar melayang dan jatuh terbanting tanpa keseimbangan tubuh lagi. Brrruk...!

"Aaaahg...!

"Rara...?!" pekik Suto Sinting, lalu segera berlari ke arah Rara Santika. "Rara, apa yang harus kita lakukan jika begini?! Mengapa kau tak memenggal kepala mayat itu seperti yang lain?!"

Rara Santika menjawab sambil dibantu berdiri oleh Suto Sinting. "Aaak... aku tak tega. Ddddia... dia mayat orang yang kuhormati dan... dan... oh, lihat! Dia ingin mencabik-cabik pak tua itu!"

"Celaka!" geram Suto Sinting dengan tegang melihat mayat Resi Dirgantara sudah kian dekat dengan tubuh Resi Pakar Pantun yang terkapar tak sadarkan diri. Tangan berkuku hitam itu terangkat dan siap mencabik tubuh Resi Pakar Pantun. Suto Sinting segera lepaskan pukulan 'Jari Guntur'- nya, sebuah sentilan jari yang dapat mengeluarkan tenaga dalam berkekuatan seekor kuda jantan. Teeb...!

Brrrus...! Tubuh mayat Resi Dirgantara terhantam tenaga kuat dari sentilan tangan Suto Sinting. Sosok mayat berbelatung itu terlempar jatuh ke semak-semak sambil keluarkan erangan mengerikan yang cukup panjang. "Kkkrrraaaaahhhhkkk...!!"

Pendekar Mabuk berkelebat dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya. Zlaaap...! Weeeess...! Tubuh Resi Pakar Pantun yang pingsan disambarnya. "Rara Santika, tinggalkan tempat ini!" serunya, lalu ia melesat lebih dulu, dan Rara Santika segera menyusulnya.

Mayat Resi Dirgantara bangkit dari kejatuhannya. Mengerang panjang dengan suara menyeramkan. Dari bola matanya yang putih keluarkan sepasang sinar merah berbentuk lingkaran sebesar gelas. Slaap, slaap...!

Blegaaaar...!

Kedua sinar menghantam pohon di depan langkah Suto Sinting dan Rara Santika. Pohon itu tumbang seketika dan nyaris menimpa tubuh Suto Sinting. Untung si Pendekar Mabuk mampu bergerak lincah menghindari pohon itu sambil tetap memanggul tubuh Resi Pakar Pantun. Sementara itu, Rara Santika sendiri mendapatkan tempat yang aman tak terkena robohan pohon.

"Cepat, Rara...! Mayat itu pasti akan mengejar kita!" seru Pendekar Mabuk mencemaskan perempuan cantik yang gerakannya masih kalah cepat dengan gerakan Suto Sinting itu.

"Hhhhgggrrr..!" suara mayat terdengar, ternyata mayat itu mampu bergerak cepat, bagai menggunakan sisa jurus semasa hidupnya. Wuuuss...! Mayat Resi Dirgantara mengejar mereka, belatungnya berjatuhan ke mana-mana.

* * *

ENAM

RESI Pakar Pantun baru saja siuman begitu mereka berhenti di kaki bukit. Suto Sinting tersandung akar pohon hampir jatuh tersungkur. Tubuh yang dipanggulnya terlepas dan jatuh terbanting. Saat itulah Resi Pakar Pantun siuman sambil mengerang kesakitan pegangi tulang pinggangnya.

"Uuuhff...!" Resi Pakar Pantun menggeliat, ia membuka mata dan memandang sekeliling, lalu tersentak kaget dan segera bangkit terduduk. "Hei, mengapa aku ada di sini?!"

"Daripada di sana, kau akan dicabik-cabik oleh mayat Resi Dirgantara," ujar Suto Sinting.

"Mayat...?!" Resi Pakar Pantun kerutkan dahi. "O, iya...! Ada mayat yang mengejarku. Mayat si Dirgantara. Sekarang bagaimana kabarnya mayat si Dirgantara?!"

"Sehat walafiat," jawab Suto Sinting seenaknya, lalu ia menenggak tuaknya tak peduli Rara Santika tertawa kecil mendengar jawabannya itu.

"Hei, kalau tak salah kau putri kesayangan si Panjuru Gesang?!" sang Resi menuding Rara Santika.

"Benar, aku putri Panjuru Gesang. Apakah kau mengenal mendiang ayahku, Resi?"

"Ya, aku kenal betul dengan beliau. Waktu aku sering berkunjung ke pondoknya, kau masih kecil. Paling akhir aku jumpa Panjuru Gesang, kau masih berusia sekitar... yah, sekitar delapan belas tahun."

"O, aku tak ingat samas ekali."

"Tentu saja, karena kau saat itu sedang kasmaran dengan Pramudya Wiseta. Kulihat kau berduaan di belakang pondok, sementara aku berbincang-bincang dengan ayahmu di samping pondok."

Rara Santika sunggingkan senyum tersipu, matanya melirik Suto Sinting sekilas, ternyata pemuda itu memperhatikan dengan cibiran menggoda.

"Itu masa lalu yang tak perlu dikenang lagi, Resi," ujar Rara Santika menutupi rasa tak enak hati terhadap Pendekar Mabuk.

"Ya, ya... tapi aku menyesal sekali pada saat pemakaman ayahmu tak bisa hadir," wajah sang Resi menampakkan raaa sesalnya. "Semoga arwahnya sekarang sudah berada di sisi Yang Maha Kuasa dengan damai," kenang sang Resi dengan mata menerawang.

Mereka dicekam keheningan sejenak. Keheningan itu menjadi buyar setelah kemunculan sesosok bayangan hitam yang berkelebat melintasi kepala mereka. Wuuttt...! Kemudian bayangan itu menapakkan kakinya dalam jarak enam langkah dari Suto Sinting. Jleeeg...!

"Nini Kalong...?!" sapa Suto Sinting dengan nada heran.

Nenek berjubah hitam yang badannya kurus dan bungkuk itu melangkah pelan mendekati Suto Sinting. Tapi Resi Pakar Pantun segera menyapa dengan wajah ceria.

"Murcaci...?! Oh, tak kusangka kita akan jumpa di sini, Murcaci?!"

Rupanya Nini Kalong mempunyai nama asli Murcaci, dan hanya Resi Pakar Pantun yang mengenal nama itu di antara mereka bertiga. Sang Resi segera menyambut dengan langkah mendekat dan membentangkan tangannya. Nini Kalong dipeluknya beberapa saat. Sang nenek meronta dan menggerutu karena merasa malu.

"Kita sudah tua, jangan bertingkah seperti anak muda, Rangga," kata sang nenek kepada Resi Pakar Pantun.

Pendekar Mabuk tertawa kecil berkepanjangan. Rara Santika bertanya dalam bisikan, "Mengapa kau tampak geli sekali?"

"Ternyata nama asli Resi Pakar Pantun adalah Rangga. Lucu sekali bagiku, nama sebagus itu dipakai oleh orang setua dia! Tak ada pantasnya sedikit pun."

Nini Kalong perdengarkan suaranya yang sedikit bergetar, "Secara kebetulan saja aku melihat kalian di sini dan kubelokkan arah langkahku. Jadi jangan kau anggap aku sengaja menemuimu, Rangga."

"Ikan teri menari ke sana-sini, pakai kebaya jalannya amat kaku. Sengaja ataupun tidak pertemuan kita ini, tapi kenangan manis masa lalu mekar di ujung hatiku."

Resi Pakar Pantun berlutut satu kaki dengan kedua tangan dibentangkan dan kepala mendongak memandang Nini Kalong. Namun nenek berambut putih berpegangan tongkat baru justru menyingkirkan tangan sang Resi dengan tongkatnya. Gaya rayuan sang Resi membuat Rara Santika dan Pendekar Mabuk terkikik geli.

"Minggir kau, aku mau bicara dengan murid si Gila Tuak itu!" lalu ia melangkah mendekati Suto Sinting, Resi Pakar Pantun dibiarkan berlutut di tempatnya. Sang Resi memandang dengan terbengong dan berwajah kecewa karena rayuannya tidak dihiraukan oleh mantan kekasihnya itu.

"Jangan tanggapi rayuan orang gila itu," ujar Nini Kalong kepada Suto dan Rara Santika. "Kami memang dulu pernah menjalin hubungan cinta, ketika aku masih berusia dua puluh dua tahun, dia masih lebih muda dariku. Tapi sudahlah... sekarang bukan saatnya bicara tentang masa lalu kami."

"Kudengar kau sedang lakukan tapa gantung, Nini?"

"Benar, Suto. Tapi firasatku mengatakan bahwa muridku si Puspa Jingga menghadapi bahaya. Aku ingin mencarinya ke Bukit Batok dan..."

"Sepertinya firasatmu itu memang benar, Nini," sahut Suto Sinting. "Aku telah berjumpa dengan muridmu; Puspa Jingga. Kala itu ia terikat di pohon karena ulah Peri Kedung Hantu yang merebut peta dari tangannya. Lalu kami bergegas menuju ke Bukit Batok. Hanya saja di perjalanan kami diserang dari belakang oleh seseorang yang tak kuketahui wajahnya. Dalam keadaan setengah pingsan aku melihat Puspa Jingga disambar oleh bayangan yang menyerang kami itu. Sampai sekarang aku tidak tahu di mana muridmu itu, Nini."

"Keparat si Rumisita!" geram Nini Kalong dengan mata memancarkan permusuhan.

"Tapi aku tak yakin apakah yang membawa lari muridmu itu Peri Kedung Hantu atau orang lain, Nini!"

"Siapa pun orangnya, yang jelas Peri Kedung Hantu menjadi penyebab hilangnya Puspa Jingga. Bertapaku sampai kugagalkan hanya karena ulahnya juga! Kuhajar dia jika kutemukan di makam si Dirgantara!"

"Dirgantara bangkit lagi!" sahut Resi Pakar Pantun dengan cepat dan tegang. "Sumpah mati tujuh turunan, Dirgantara telah bangkit lagi, Murcaci."

Mata nenek yang usianya lebih tua dari Resi Pakar Pantun itu memandang dengan sedikit mengecil. Dahi tuanya yang berkeriput menjadi kian keriting karena ia berkerut heran. "Dirgantara bangkit lagi?!" gumamnya bernada kurang percaya.

"Aku dikejar-kejarnya sejak kemarin siang. Baru saja aku siuman karena pengejaran mayat si Dirgantara. Kalau tak percaya tanyakan sendiri kepada kedua anak muda ini yang menyelamatkan diriku dari kejaran mayat si Dirgantara!"

Nini Kalong segera memandang Suto Sinting dan Rara Santika. Sebelum ia lontarkan tanya, Rara Santika lebih dulu bicara dengan nada tega. "Benar, Nini. Mayat Eyang Resi Dirgantara bangkit lagi dan tidak mengenaliku sama sekali, ia dibangkitkan oleh seseorang, si perempuan keparat Penguasa Pulau Cumbu itu."

"Ratu Sangkar Mesum...?!"

"Benar, Nini. Dialah yang membangkitkan beberapa mayat untuk menyerang Resi Pakar Pantun. Salah satu mayat yang dibangkitkan adalah mayat Eyang Resi Dirgantara!"

"Memang keparat si Sangkar Mesum!" geram Nini Kalong, "Berarti pusaka itu telah diambilnya!"

"Pusaka apa maksudmu, Murcaci?!" tanya Resi Pakar Pantun.

Nini Kalong tidak menjawab, ia hanya berkata, "Akan kuperiksa makam itu!"

"Jangan, Murcaci! Jangan ke sana, nanti mayat si Dirgantara kembali ke sana dan bertemu denganmu, kau bisa dikunyah habis olehnya!" ujar sang Resi dengan wajah tegang.

"Aku bukan pengecut seperti kau, Rangga!"

Resi Pakar Pantun bersungut-sungut, "Tentu saja kau tidak takut, sebab wajahmu sendiri lebih menyeramkan dari mayat si Dirgantara!"

Celoteh itu tak dihiraukan oleh Nini Kalong, sang nenek segera berkata kepada Suto Sinting, "Kalau kau jumpa si Puspa Jingga, dampingilah dia dan bawa pulang ke Hutan Rawa Kotek."

"Mudah-mudahan aku bisa jumpa dengannya lagi, Nini!"

Weeeess...! Tanpa basa-basi lagi, Nini Kalong melesat pergi tinggalkan tempat itu. Ia tak pedulikan seruan Resi Pakar Pantun yang ingin mencoba menahannya lagi. Sang Resi sempat berlari beberapa jauh, lalu kembali lagi dengan lemas.

"Mengapa kau tak ikut mendampingi Nini Kalong, Resi?" tegur Suto Sinting sambil tersenyum-senyum.

Resi Pakar Pantun bersungut-sungut. "Perempuan gila! Sudah diberi tahu ada bahaya masih nekat pergi ke sana! Kalau dia mati aku bisa menangis."

"Cinta masa muda memang sering bikin orang tua berubah menjadi anak-anak," ucap Rara Santika dengan pelan, tapi didengar oleh Suto Sinting maupun Resi Pakar Pantun.

"Murcaci itu memang bandel sejak kecilnya," ujar sang Resi. "Sayang usiaku lebih muda darinya, sehingga ia tak merasa takut dengan ancamanku, tak mau menurut dengan nasihatku. Kusarankan agar ia kawin denganku, eeh... malah kawin sama yang lebih tua darinya. Tak urung suaminya cepat mati, kan?! Coba kalau dia kawin denganku, suaminya masih awet hidup sampai sekarang."

Rara Santika hanya bisa tertawa geli sambil tangannya bergelayutan di pundak Suto Sinting. Keduanya sama-sama memandangi Resi Pakar Pantun yang duduk di atas sebuah batu di bawah pohon depan mereka.

"Rara, kita teruskan perjalanan kita menemui Nyai Serat Biru!" ujar Suto Sinting.

"Baik. Kita berangkat sekarang saja, dan bermalam di sebuah desa yang tak seberapa jauh dari sini."

Resi Pakar Pantun berdiri dan bertanya, "Kalian mau temui Serat Biru? Mau apa kalian temui dia?"

"Menanyakan tentang pusaka yang...," Suto Sinting hentikan ucapannya. "Ya, ampun... mengapa kita tadi lupa tidak mendesak Nini Kalong tentang pusaka tersebut, Rara?"

"Aku sendiri lupa bahwa perkara peta dan pusaka itu berawal dari dirinya."

"Pusaka apa sebenarnya?!" tanya Resi Pakar Pantun. "Murcaci tadi tak mau jelaskan pusaka yang dimaksud. Apakah kalian tak ada yang mengerti tentang pusaka itu?!"

"Puspa Jingga disuruh mengambil pusaka dari makam Resi Dirgantara!" jawab Pendekar Mabuk. "Tapi gadis itu tak mau jelaskan pusaka apa yang harus diambilnya dari makam itu. Peta tersebut sudah telanjur direbut oleh Peri Kedung Hantu."

Resi Pakar Pantun diam termenung dengan dahi berkerut. Beberapa kejap berikutnya terdengar suaranya bagai orang bicara pada diri sendiri. "Dirgantara tidak mempunyai pusaka apa-apa. Seingatku ia tak pernah ribut soal pusaka?!"

"Barangkali Nini Kalong mendapat keterangan dari seseorang yang sengaja mengacaukan jalan pikirannya," kata Rara Santika. "Sebab itulah kami ingin menemui Nyai Serat Biru dan menanyakan apakah mendiang Resi Dirgantara mempunyai pusaka yang layak dijadikan incaran para tokoh di rimba persilatan."

"Aku jadi penasaran," kata Resi Pakar Pantun. "Kalau begitu aku ikut menemui Serat Biru, sekalian beranjangsana karena sudah lama tak pernah jumpa dia."

"Tapi tunggu dulu...," sergah Suto Sinting. "Mungkin yang dimaksud Nini Kalong memang bukan pusaka milik mendiang Resi Dirgantara. Barangkali ada seseorang menyimpan pusaka di dalam makamnya Resi Dirgantara. Dan hanya Nini Kalong yang mengetahui letak penyimpanan pusaka tersebut. Lalu, bekas kekasihmu itu bernafsu sekali untuk memiliki pusaka itu, Resi!"

Mereka saling bungkam merenungi kemungkinan tersebut. Akhirnya Resi Pakar Pantun berkata, "Kalau begitu kita ikuti saja kepergian Murcaci, dan kita lihat pusaka apa yang dimaksud sehingga Peri Kedung Hantu ikut-ikutan ingin memilikinya!"

"Aku setuju," sela Rara Santika. "Tapi bagaimana dengan mayat Resi Dirgantara itu?!"

"Mayat itu sudah keluar dari makamnya, justru keadaan di makam itu sudah aman!" kata Suto Sinting, "Ia pasti akan mengembara mencari jalan kematian yang kedua."

Rasa takut Resi Pakar Pantun menjadi susut mendengar penjelasan Pendekar Mabuk. Maka ketika mereka bergegas menuju ke Bukit Batok, Resi Pakar Pantun tak punya keraguan lagi. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh masing-masing mereka bergerak cepat menuju Bukit Batok.

Blegaaar...!

Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ledakan yang datang dari balik bukit cadas sebelah timur. Suto Sinting hentikan langkah lebih dulu, sehingga yang lainnya ikut-ikutan berhenti.

"Ada pertarungan di sebelah timur sana!" ujarnya sedikit tegang.

"Tanah yang kita pijak sampai bergetar. Berarti ada pertarungan menggunakan tenaga dalam tinggi di sana."

"Tapi itu bukan urusan kita," ujar Resi Pakar Pantun.

"Aku penasaran ingin melihat siapa yang bertarung di sana!" kata Suto Sinting yang tak bisa diam jika mendengar suara pertarungan. Tanpa mendapat persetujuan dari yang lain ia melesat lebih dulu menuju ke arah timur. Resi Pakar Pantun dan Rara Santika akhirnya mengikuti langkah Pendekar Mabuk.

Dari balik kerimbunan semak, Suto Sinting mengintai pertarungan itu. Ia terkejut melihat sosok perempuan cantik berusia muda bertarung melawan dua lelaki berwajah angker. Kedua lelaki itu sudah dikenal Suto Sinting saat mereka melawan si Gadis Dungu; Indayani. Kedua orang yang sama-sama berbadan kekar dan mempunyai golok besar itu tak lain adalah murid Perguruan Serikat Jagal yang bernama Togayo dan Gayong. Tetapi perempuan cantik berusia sekitar dua puluh lima tahun itu belum pernah dilihat oleh Suto Sinting.

Gadis itu mengenakan rompi panjang warna kuning emas, dengan celana merah dililit kain putih. Pinjung penutup dadanya juga berwarna merah dari bahan satin seperti celananya, ia menyandang pedang di punggung bergagang perak. Rambutnya dikuncir satu agak tinggi, sisa rambut dalam kunciran-nya itu berjuntai seperti ekor kuda. Gadis itu mempunyai dada yang sekal walau tak terlalu montok seperti dadanya Rara Santika. Kulitnya berwarna kuning mulus. Ketika Resi Pakar Pantun dan Rara Santika mendekati Suto Sinting dan ikut mengintai ke arah pertarungan, Suto Sinting sempatkan diri bertanya dalam bisikan kepada Rara Santika.

"Kau kenal dengan gadis itu?!"

"Dia murid Nini Kalong juga, kakak perguruan Puspa Jingga. Dia yang bernama Syair Kusumi."

"Oooo...," gumam Suto Sinting sambil manggut-manggut. "Rupanya dia itulah yang dimaksud murid nomor satu Nini Kalong."

"Memang dia murid tertua dari keempat murid Nini Kalong."

Resi Pakar Pantun menyahut, "Kedua lelaki itu, kalau tak salah, murid si Dupa Dewa!"

"Benar, mereka memang murid Perguruan Serikat Jagal. Tetapi apa masalahnya sehingga mereka bentrok dengan Syair Kusumi? Padahal pihak Perguruan Serikat Jagal selama ini tak pernah bentrok dengan murid-murid dari Hutan Rawa Kotek," kata Rara Santika.

Pendekar Mabuk segera memberi isyarat agar mereka jangan bicara, karena tampaknya pertarungan dihentikan sebentar dan mereka mau saling bicara.

"Jangan keras kepala, Syair Kusumi. Gurumu benar-benar telah berpesan kepada kami agar pusaka itu diserahkan kepada kami demi keamanannya."

"Matahari pun tahu, aku tidak pernah bawa pusaka itu. Tapi di punggungku ada sebuah pedang, jika kalian rindu kematian, aku akan cabut pedang untuk bikin nyawa melayang," kata Syair Kusumi dengan nada bicara yang mendayu-dayu mirip orang bersyair.

Togayo memandang Gayong dan menggeram jengkel. "Perlu diberi pelajaran sekali lagi gadis itu!"

"Terlalu buang waktu, bunuh saja kalau memang tak mau diajak damai!"

Togayo berkata kepada Syair Kusumi, "Jika kau masih bersikeras menahan pusaka itu, maka jangan salahkan kami jika kami berlaku lebih kasar lagi demi memenuhi pesan dari gurumu, Nini Kalong!"

"Pasir di pantai tak akan lebih kasar dari sikap kalian. Mega Putih di langit menjadi saksi, tak pernah ada pusaka di tanganku ini."

"Kami mengikutimu terus, Syair Kusumi. Itu pun atas suruhan gurumu. Kami tahu kau telah datang ke makam Resi Dirgantara. Makam itu telah rusak, dan kau telah membongkarnya untuk mengambil pusaka tersebut"

"Angin berhembus ke mana pun ia mau, kalian pun boleh bicara apa pun kalian mau. Tapi ombak di pantai tak akan diam disapu badai, aku pun tak akan diam jika kalian ingin saling bantai!"

"Menyebalkan sekali! Heeeeaaat...!" Gayong yang bermata lebar itu segera melompat lakukan terjangan ke arah Syair Kusumi. Gadis itu berkelebat ke samping dengan gerakan cepat dan sukar dilihat mata lawan. Wuuut...! Gayong menyerang tempat kosong. Wajahnya menjadi beringas karena merasa dipermainkan oleh gadis manis itu.

"Togayo... serang dia dengan jurus 'Petir Menangis' andalan kita!" seru Gayong sambil mencabut golok lebarnya. Togayo pun mencabut golok dengan suara menggeram penuh nafsu membunuh.

"Celaka! Mereka mau pergunakan jurus 'Petir Menangis' seperti saat melawan Gadis Dungu! Tutup telinga kalian, lekas...! Tutup telinga rapat-rapat!" perintah Suto Sinting kepada Resi Pakar Pantun dan Rara Santika.


"Heaaaet...!" Togayo lakukan lompatan menyerang dengan golok lebarnya. Rupanya ia ingin mencoba dengan jurus golok yang mampu berkelebat dengan cepat itu.

Wut, wut, trrang, traaang, trang...! Ternyata Syair Kusumi mampu menangkis kecepatan golok Togayo, bahkan gerakan pedang Syair Kusumi lebih cepat dari gerakan golok Togayo. Lelaki itu tersentak mundur ketika tangan kiri Syair Kusumi keluarkan pukulan bertenaga dalam tanpa sinar. Wuuuk...! Beeehg...!

"Uuhg...!" Togayo terjengkang ke belakang, tepat didepan kaki temannya. Hal itu membuat Gayong menjadi semakin berang.

"Laknat kau, Syair Kusumii!" geram Gayong dengan kumis lebatnya naik turun sendiri.

Syair Kusumi tetap menggerakkan pedangnya di sekeliling tubuh. Gerakan pedang itu menimbulkan bunyi mendengung berkepanjangan, ia bergerak menyamping selangkah demi selangkah dengan mata tertuju pada kedua lawannya.

"'Petir Menangis'! Heeeeaaah...!" seru Togayo.

"Heeeeaaah...!" seru Gayong dan mereka saling mengadu golok dan digesekkan hingga timbul bunyi berdesing yang menggema panjang. Srrraaangngngngng...!

Desing golok itu melengking tinggi, membuat pohon- pohon bergetar, daun-daun rontok bagaikan dipangkas habis oleh ketajaman desingan itu. Bahkan dahan-dahan pohon berukuran sedang ada yang tumbang karena terpotong bagai dibabat dengan senjata yang amat tajam. Batu-batu di sekitar tempat itu remuk dengan sendirinya. Desingan itu dapat memotong urat nadi dan jantung bagi siapa pun yang mendengarnya, kecuali si pemilik jurus 'Petir Menangis' itu.

Seandainya Suto Sinting tak menyuruh Resi Pakar Pantun dan Rara Santika menutup telinga, maka mereka pun dapat mengalami luka dalam, jantung, urat nadi dan perangkat bagian dalam tubuhnya terpotong oleh suara desingan itu. Tetapi Syair Kusumi tetap berdiri tanpa menutup telinganya. Pedangnya makin bergerak cepat hingga timbulkan suara dengung yang lebih keras lagi. Suara dengung itu yang membuat telinganya tak tembus suara desingan dua golok yang digesekkan di udara tadi. Bahkan sekarang gerakan pedang bertambah cepat lagi, sehingga suara dengungnya semakin tinggi.

Wuuung, wuuung, wuuung, wuuung, wuuung...! Gerakan pedang bertambah lebih cepat lagi, tubuh Syair Kusumi bagai terbungkus oleh logam mengkilat yang tak lain adalah kerapatan gerak mata pedangnya. Dengung yang timbul pun bertambah melengking tinggi.

Nguuuuung...! Srrraaaangggg...!

Togayo dan Gayong melepaskan jurus 'Petir Menangis' lagi untuk imbangi suara gaung. Tetapi kali ini desing dari jurus 'Petir Menangis' tak mampu memotong dahan pohon. Bahkan selembar daun pun tak ada yang terpotong. Rupanya desing itu kalah oleh suara dengung pedang Syair Kusumi. Kedua lelaki berwajah angker itu bergetar tubuhnya, telinganya tak kuat menahan suara dengung yang makin mendekat itu. Mereka mengimbangi dengan suara teriakan liarnya.

"Heeeeaaaahhh...!!"

Namun suara teriakan itu tidak membuat mereka mampu mengusir rasa sakit yang menusuk telinga. Dengung pedang Syair Kusumi akhirnya membuat tubuh mereka terpental ke belakang. Wuuut...! Braaass...! Darah segar mengalir keluar dari telinga mereka. Dengung yang masih diperdengarkan oleh Syair Kusumi itu membuat mereka kelojotan sambil meraung-raung. Darah semakin membanjir dari telinga mereka. Bahkan sekarang hidung mereka pun mengucurkan darah segar. Tetapi bagi orang lain yang mendengarnya, tak mengalami hal seperti yang dialami Togayo dan Gayong.

"Uaaaahhhkk...!!" Togayo memekik sekeras-kerasnya dengan tubuh terkapar dan tangan memegangi telinga. Crraaat...! Sungguh mengerikan kejadian berikutnya. Darah menyembur keluar dari seluruh lubang, termasuk dari mulut, hidung, telinga, dan mata mereka pun menyemburkan darah segar. Keduanya akhirnya kelojotan beberapa saat, kemudian diam tak bergerak lagi karena tak punya nyawa.

"Gila! Jurus pedang apa itu suaranya bisa membuat kedua lawan menjadi tumbang tanpa nyawa begitu?!" gumam Resi Pakar Pantun. "Tapi kita yang mendengar dengung pedang itu tidak apa-apa, ya?"

"Syair Kusumi menyalurkan tenaga dalamnya lewat dengung pedangnya, dan tenaga dalam itu diarahkan kepada kedua lawannya, bukan kepada kita. Kekuatan kendali batin terhadap saluran tenaga dalam membuat ia dapat membunuh siapa-siapa yang ingin diserangnya," tutur Rara Santika, yang mengaku teman baik Syair Kusumi.

"Pantas kalau dia dikatakan sebagai murid pertama dari Nini Kalong," gumam Suto Sinting pelan.

Syair Kusumi hentikan permainan pedangnya, pandangi mayat kedua lawannya. Napasnya ditarik panjang-panjang bagai menikmati kelegaan. Tetapi tiba-tiba ia berkelebat berbalik badan sambil sentakan tangan kirinya. Rupanya ia merasakan ada hawa panas datang mendekati punggungnya. Ternyata sekelebat sinar hijau hendak menghantam punggungnya. Sinar itu beradu dengan sinar merah yang keluar dari telapak tangan Syair Kusumi.

Claap...! Blegaaar...!

Syair Kusumi terjungkal ke belakang dan berguling-guling. Pedangnya sempat terlepas dari tangan. Namun segera disambarnya dalam satu gerakan berguling ke samping. Kejap berikut, sesosok bayangan melesat dari balik pohon. Wuuut...!

Jleeg...!

"Peri Kedung Hantu...?!" gumam Suto Sinting bernada tegang.

* * *

TUJUH

KEMUNCULAN Peri Kedung Hantu terang-terangan memihak Perguruan Serikat Jagal. Kematian Togayo dan Gayong dijadikan alasan untuk menyerang Syair Kusumi. Pemihakan itu wajar dilakukan Peri Kedung Hantu karena ia adalah keponakan dari Dupa Dewa, ketua dan guru dari Perguruan Serikat Jagal.

"Kematian mereka harus kau tebus dengan nyawamu, Syair Kusumi!" ujar perempuan cantik yang bernama asli Rumisita itu. Ia bermata coklat dengan bulu mata lentik indah. Rambutnya disanggul sebagian. Lehernya tampak jenjang dalam keadaan kulit berwarna kuning langsat mulus. Pinjung dan celananya berwarna ungu, dilapisi jubah tanpa lengan warna kuning tua.

Syair Kusumi tampak tidak merasa gentar berhadapan dengan Peri Kedung Hantu. Hempasan gelombang ledakan yang membuatnya terjungkir balik tadi tidak mencederai tubuhnya sedikit pun, hanya merasakan sesak napas beberapa saat. Kini napasnya sudah terasa ringan kembali, dan ia memandang Peri Kedung Hantu dengan sikap kalem sambil masih menggenggam pedangnya.

"Tak ada hujan tak ada badai, kau datang...

(Hal 103-104 tidak ada)

keluarkan darah kental dari mulutnya.

"Serahkan pusaka itu atau kau akan mati dalam beberapa kejap lagi?!" ancam Peri Kedung Hantu dengan lagak angkuhnya. "Kau tak perlu berbohong padaku, segala gerakanmu sempat dipergoki oleh para muridku yang menjadi mata-mata di sana-sini. Salah satu muridku melihat kau menghantam Puspa Jingga dan Pendekar Mabuk, lalu membawa lari Puspa Jingga untuk disembunyikan di lorong Bukit Randa. Kuduga kau ingin menguasai pusaka itu sendiri dan tak akan kau serahkan pada siapa pun, bahkan kepada gurumu pun pusaka itu tak akan kauberikan!"

Pendekar Mabuk terkejut hingga matanya terbelalak. "Oh, jadi dia yang menyerangku dari belakang dan membawa lari Puspa Jingga?!"

Rara Santika berkata dalam bisik, "Tak mungkin Syair Kusumi punya maksud seperti itu. Aku tahu betul sifatnya, dia bukan orang berwatak pengkhianat. Pasti dia punya maksud tertentu dari tindakannya itu."

"Kita lihat saja kebenarannya," sahut Resi Pakar Pantun. Sambungnya lagi, "Ikan teri di dalam tomat, hidung mancung enak diremat. Orang benar akan selamat, orang salah akan terjerat."

Suto Sinting menyenggol sang Resi dengan sikunya sambil menggerutu, "Ah, kau ini dalam keadaan sembunyi masih saja sempat berpantun!"

"Sekadar melemaskan lidah," jawab sang Resi lirih, seakan terlontar seenaknya saja.

"Hiaaah...!" tiba-tiba tubuh yang disangka telah tak berdaya itu menyentak ke atas dengan menggunakan gagang pedang sebagai tempat tumpuan. Syair Kusumi melambung tinggi dan berjungkir balik sambil menebaskan pedangnya ke arah kepala Peri Kedung Hantu.

Gerakan mendadak itu membuat Rumisita terkejut, lalu serta merta tangannya menghentak ke atas dalam keadaan kaki merendah hampir berlutut. Wuuut...! Claaap...!

"Aaahg...!" Syair Kusumi tersentak melambung lebih tinggi dan jatuh tanpa daya lagi. Brruk...! Ia mengerang dan menggelinjang terkena sinar kuning dari tangan Peri Kedung Hantu tadi.

"Beraninya kau menyerangku secara tiba-tiba, hah?! Sekarang saatnya bagimu kukirim ke neraka! Hiaaah...!"

Zlaaap...! Brrrus...!

Suto Sinting tahu-tahu telah melesat dan menerjang Peri Kedung Hantu. Tubuh perempuan cantik itu terpental sebelum ia melepaskan jurus pencabut nyawa lawannya. Tubuh itu terguling-guiing bagaikan diterjang badai setan yang mengerikan.

Pada saat itu, Nini Kalong pun melesat dari balik kerimbunan semak. Rupanya ia tertarik dengan bunyi dengung yang menjadi tanda pertarungan muridnya itu. Ia tak jadi ke arah Bukit Batok dan mencari tahu mengapa muridnya memainkan jurus 'Pedang Gangsing' yang jarang dipakai itu. Akhirnya ia tiba di tempat tersebut dalam keadaan Syair Kusumi sedang sekarat dan Peri Kedung Hantu terguling-guling akibat terjangan SutoSinting. "Rupanya kau bermaksud keji pada muridku, Rumisita!" geram Nini Kalong.

Tetapi Rumisita tak hiraukan kata-kata itu. Ia segera lepaskan jurus mautnya berupa sinar ungu dari kedua matanya. Claaap, claaap...! Kedua sinar ungu itu mengarah kepada Nini Kalong dan Pendekar Mabuk. Wuuut...! Suto Sinting maju sambil kibaskan bumbung tuaknya. Sinar ungu itu menghantam bumbung tuak. Deeb...! Lalu membalik arah dengan lebih cepat dan lebih besar lagi. Wuuusss...!

Duaaar...! Blegaaar...!

Dua ledakan itu terjadi hampir bersamaan. Ledakan pertama adalah sinar ungu yang menghantam tubuh Nini Kalong itu berhasil dipatahkan oleh gerakan sinar merahnya Rara Santika yang melesat bersamaan tubuhnya melompat dari balik semak. Benturan sinar merah dengan sinar ungu menimbulkan ledakan bergelombang besar yang membuat tubuh Nini Kalong terpelanting berguling-guling. Jika sinar itu tidak dipatahkan oleh sinarnya Rara Santika, maka Nini Kalong akan mati hangus dihantam sinar ungu yang datang secara tiba-tiba.

Sedangkan ledakan kedua adalah ledakan yang timbul akibat sinar ungu memantul balik dari bumbung tuak, menjadi lebih cepat dan lebih besar dari aslinya. Peri Kedung Hantu terperanjat dan tak sempat menghindar, akhirnya sinar ungu tersebut menghantam matanya sendiri. Hantaman itulah yang menimbulkan ledakan dan membuat kepala Peri Kedung Hantu pun pecah secara mengerikan. Pendekar Mabuk saling bertatap pandang dengan Rara Santika. Perempuan itu acungkan jempolnya, kemudian bergerak mendekati Nini Kalong bersama-sama Resi Pakar Pantun.

"Bagaimana keadaanmu, Nini?!"

"Tulang punggungku sepertinya patah," jawab Nini Kalong dengan suara berat.

Pendekar Mabuk cepat-cepat meraih kepala Syair Kusumi. Ia belum terlambat untuk meminumkan tuak saktinya. Berkat tuak sakti itulah Syair Kusumi akhirnya terselamatkan dan Nini Kalong yang ikut meminum tuak Suto itu pun mengalami kesegaran pada tubuhnya, tulang punggungnya tidak terasa sakit lagi.

Syair Kusumi berkata kepada Pendekar Mabuk, "Jika ada sumur di ladang, boleh aku menumpang mandi. Jika umurmu ingin panjang, maafkanlah perbuatanku tempo hari. Aku telah melumpuhkan dirimu bersama Puspa Jingga, karena aku tak ingin Puspa Jingga celaka dalam mengemban tugas dari Guru."

"Celaka bagaimana maksudmu?!" sergah Nini Kalong.

"Guru memberikan tugas berat kepada Puspa Jingga. Mengambil pusaka bukan pekerjaan mudah. Bahaya yang timbul tidak sebanding dengan llmu yang dimiliki Puspa Jingga. Terpaksa aku melumpuhkan dan menyembunyikannya. Tugas itu kuambil alih karena aku tak ingin Puspa Jingga mati di tangan orang-orang seperti Peri Kedung Hantu yang bernafsu ingin memiliki pusaka itu. Jika kulakukan terang-terangan, pasti Puspa Jingga tersinggung dan marah padaku, sedangkan Pendekar Mabuk kulihat ada bersamanya. Maka jika aku bertengkar dengan Puspa Jingga, pasti Pendekar Mabuk memihaknya. Tak ada jalan lain kecuali dengan cara melumpuhkan keduanya secara sembunyi-sembunyi."

Pendekar Mabuk hanya geleng-geleng kepala sambil sunggingkan senyum geli.

"Tapi lain kali kau tak boleh mengambil langkah sendiri seperti itu, Syair Kusumi?"

"Baik, Guru!"

"Lalu bagaimana hasilnya dengan pusaka itu? Apakah kau sudah mengambilnya dari makam Resi Dirgantara?"

"Pusaka itu tidak ada, Guru. Makam Resi Dirgantara sudah dibongkar oleh seseorang dan menjadi rusak."

"Jadi... pusaka itu tidak ada?!" gumam Nini Kalong dengan heran. "Kalau begitu mimpiku itu hanya bunga tidur saja, bukan bisikan dewata?!"

"Mimpi...?!" Resi Pakar Pantun berkerut dahi. "Jadi kau mengikuti apa kata mimpimu?! Uuuh... sudah tahu kau ini orangnya doyan tidur sejak masih gadis, mana mungkin dewa mau berbisik lewat tidurmu!" gerutu Resi Pakar Pantun.

Pendekar Mabuk segera bertanya kepada Nini Kalong, "Kalau boleh kutahu, sebenarnya pusaka apa yang kau cari itu, Nini?!"

"Setahuku, dulu Dirgantara mempunyai senjata pusaka yang bernama Kipas Dewi Murka. Aku pernah melihat Dirgantara menggunakan kipas pusaka itu melawan panglima dari tanah Tibet. Kedahsyatannya luar biasa. Kusangka kipas itu jatuh di tangan Serat Biru, ternyata dia tidak menyimpannya dan..."

"Seperti apa bentuk kipasnya?!" tanya Rara Santika.

"Kipas itu terbuat dari gading, mempunyai hiasan benang merah pada tangkainya. Kesaktian kipas itu bisa untuk memenggal leher lawan jika dilemparkan dan akan melayang kembali ke tangan kita."

Suto Sinting cepat alihkan pandang kepada Rara Santika. Perempuan itu tertegun sejenak. Kemudian ia mengeluarkan kipasnya dari balik jubah. "Seperti inikah kipas pusaka yang kau cari itu?!"

"Naah...! Benar! Itu dia yang dinamakan pusaka Kipas Dewi Murka. Memang itu bendanya!"

"Dari mana kau dapatkan kipas itu?" tanya Suto kepada Rara Santika.

"Ketika pulang dari Pulau Sumbing, aku diberi kipas ini oleh Eyang Resi Dirgantara. Tapi dia tidak menyebutnya sebagai pusaka. Dia hanya mengatakan bahwa aku harus merawat kipas ini sebagai cenderamata dari beliau. Kipas ini memang punya kesaktian tersendiri, tapi tak pernah disebut-sebut sebagai pusaka. Kadang dulunya sering digunakan untuk berkipas-kipas Eyang Resi Dirgantara jika dalam keadaan kegerahan."

Resi Pakar Pantun berkata, "Kalau begitu, jelas sudah si Dirgantara mewariskan senjata itu kepada Rara Santika! Siapa pun yang bermaksud merebutnya, berarti hatinya serakah dan membuka permusuhan dengan Rara Santika!"

Terbayang Rara Santika tadi menyelamatkan nyawanya, Nini Kalong akhirnya berkata dengan lesu. "Agaknya memang kemujuran tidak jatuh pada diriku, melainkan pada diri Rara Santika. Kalau begitu, jagalah kipas pusaka itu baik-baik dan jangan sampai jatuh ke tangan orang sesat beraliran hitam. Karena aku sendiri sudah tidak lagi mau mengikuti aliran hitam!"

Pendekar Mabuk masih diam terbengong dan sesekali geleng-geleng kepala. Ternyata pusaka yang dicari-cari dan dipertarungkan sejak tadi sudah ada di sampingnya. Merenungi hal itu, Pendekar Mabuk tertawa sendiri dan membuat alam seakan ikut berseri mengagumi ketampanan Suto jika sedang tersenyum geli itu.

SELESAI