Serial Pendekar Mabuk
Perawan Maha Sakti
Karya Suryadi
Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
WAJAH-WAJAH angker pancarkan pandangan mata penuh murka. Tajamnya menyerupai mata pedang. Gigi mereka menggeletuk, tulang rahang tampak keras. Dua wajah angker itu dalam kebisuan yang mendirikan bulu kuduk. Berdiri tegak dengan dada membusung kekar, kaki merenggang kokoh, tangan dan lengan menampakkan otot-ototnya yang mirip baja. Keras dan alot. Dua wajah angker itu adalah milik tokoh keras dari Tebing Karma. Mereka dikenal dengan julukan si Kapak Iblis dan Setan Akhirat.

"Mengapa mereka tampaknya tidak bersenjata semua? Kapak Iblis kulihat tak memegang sebilah kapak, Setan Akhirat juga tidak membawa senjata apa-apa."

"Kapak Iblis memang tidak membawa kapak, tapi tebasan tangannya setajam kapak pemancung leher. Tebasan tangannya mampu memotong sebatang pohon dalam satu kali tebas. Setan Akhirat mempunyai telapak tangan melebihi baja. Bahkan pintu baja pun jika dihantam dengan telapak tangannya dapat jebol seperti pintu kardus. Itulah kehebatan mereka sebagai dua saudara dari Tebing Karma."

"Jadi, mereka kakak beradik?"

"Benar. Tapi itu hanya silsilah dalam perguruan. Bukan saudara kandung. Mereka sudah menjadi kakak beradik dalam perguruan sejak berusia lima belas tahun. Mereka adalah anak-anak telantar yang tidak tahu siapa orang tuanya."

"Lalu, siapa guru mereka?"

"Guru mereka adalah tokoh sakti seangkatan dengan gurumu si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Tokoh sakti itu berjuluk Gerhana Mandrasakti."

Pemuda berambut panjang lurus sebatas lewat pundak itu hanya manggut-manggut saja mendengarkan penjelasan dari si Bongkok Sepuh. Pemuda tampan berbaju coklat tanpa lengan dengan celana putih kusam dan ikat pinggang kain merah itu tak lain adalah Pendekar Mabuk, murid di Gila Tuak bernama Suto Sinting.

Lalu, siapa tokoh tua yang berjuluk si Bongkok Sepuh itu? Di sinilah letak keanehannya. Suto Sinting sendiri tidak tahu siapa si Bongkok Sepuh itu. Tokoh tua yang usianya di atas tujuh puluh tahun itu berpakaian kuning kecoklatan karena lusuhnya. Ia memegang tongkat kayu yang tingginya melebihi tinggi kepalanya. Tongkat kayu itu berkepala bundar, seperti bola. Licin dan halus. Warnanya hitam.

Si Bongkok Sepuh itu mirip seorang wanita karena mempunyai rambut panjang putih digelung di tengah kepala, sisanya meriap-riap ke sana-sini. Jenggotnya tak begitu panjang, tapi berwarna putih uban. Kumisnya tidak ada. Mungkin sang kumis malas tumbuh di kulit tua yang mulai keriput itu.

Pertemuannya dengan Bongkok Sepuh seperti mimpi di siang bolong. Waktu itu Pendekar Mabuk yang berwajah ganteng dan berbadan tegap, gagah, serta kekar itu sedang dalam perjalanan pulang dari pondok Resi Wulung Gading. Ia habis mengantarkan Angin Betina yang membawa Kitab Lorong Zaman. Ia bermaksud untuk temui Gila Tuak di Jurang Lindu untuk meminta izin akan ikut pelajari isi Kitab Lorong Zaman.

Tetapi di perjalanan, pendekar tampan itu bertemu dengan seorang pengemis bungkuk yang kehausan. Tubuh pengemis bungkuk itu terkulai bersandar pada sebatang pohon, bibirnya retak-retak kekeringan, wajahnya menghiba karena kelihatan sangat kelaparan. Suto Sinting sempatkan diri menghampiri si pengemis bungkuk itu.

"Pak Tua, kulihat kau sangat kehausan dan kelaparan. Jika kau mau, minumlah tuakku ini, setidaknya bisa untuk penghilang dahaga dan menahan lapar sementara waktu."

Pengemis bungkuk itu manggut-manggut dan berucap lirih, "Terima kasih, Anak Muda."

Suto Sinting segera menuangkan tuak dari bumbung bambu yang ke mana-mana selalu dibawanya itu. Tuak dituang ke dalam tempurung yang juga dibawa-bawa oleh si pengemis ke mana pun perginya. Tiga kali Suto menuangkan tuaknya ke tempurung itu, dan tiga kali si pengemis meminumnya dengan rakus.

"Kasihan sekali dia. Tampaknya sangat kehausan, sampai tiga tempurung agaknya masih kurang juga." Maka Suto Sinting menuangkan tuak untuk yang keempat kalinya. Pengemis itu pun meminumnya kembali. Napasnya terengah-engah pertanda lelah meminum tuak keempat. Tetapi ketika Suto berkata,

"Badanmu pasti akan segar, Pak Tua. Apakah kau masih merasa haus?"

"Masih," jawab pengemis bungkuk itu. Maka Suto Sinting menuangkan tuak ke dalam tempurung untuk yang kelima kalinya, keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya sampai akhirnya tuak dalam bumbung menjadi habis. Tinggal beberapa teguk saja yang tersisa. Anehnya, pengemis bungkuk yang berkulit keriput itu tidak tampak mabuk sedikit pun. Bahkan ia bertanya,

"Masih adakah tuakmu yang tersisa?"

"Masih. Tapi... kurasa kau akan jatuh mabuk jika terlalu banyak meminum tuak, Pak Tua."

"Tidak. Aku tidak akan mabuk, karena aku masih sangat haus!"

Pendekar Mabuk membatin, "Gila juga Pak Tua ini?! Satu bumbung penuh tuakku sudah habis diminumnya masih merasa kehausan? Jangan-jangan dia jago minum? Wah, ludes sudah bumbung tuakku. Aku tak dapat bagian kalau kuberikan semuanya. Tapi... biarlah kuberikan sisanya ini. Tampaknya ia memang masih sangat kehausan. Aku bisa mencari tuak di desa terdekat dari sini."

Tempurung kelapa disodorkan, Suto Sinting menuangkan sisa tuak dalam bumbungnya. Tuangan terakhir itu tidak disadari oleh Suto bahwa sebuah benda yang disimpan lama di dalam bumbung tuak itu ikut tertuang keluar dan masuk ke dalam tempurung. Plung...!

Zlaaap...!

Tiba-tiba pengemis tua itu lenyap bagaikan ditelan bumi. Suto Sinting terkejut sekali hingga mulutnya ternganga dan matanya mendelik. Dua kejutan menjadi satu, pertama lenyapnya si pengemis bungkuk itu, kedua kesadaran Suto tentang benda yang tertuang dan jatuh ke dalam tempurung tadi.

"Celaka! Cincin Manik Intan ikut tertuang dan... dan... ke mana dia? Oh, ternyata aku telah diperdaya olehnya. Dia membawa lari pusaka Cincin Manik Intan?!" Jantung Suto Sinting pun mulai berdetak-detak tegang. Matanya mulai memandang liar ke sekelilingnya, ia merasa telah tertipu. Agaknya pengemis bungkuk itu mengetahui di dalam bumbung tuak terdapat cincin pusaka, sehingga ia memancingnya keluar dengan cara menghabiskan tuak dalam bumbung.

Cincin Manik Intan adalah pusaka milik Bibi Gurunya Suto, yaitu Bidadari Jalang. Cincin itu amat berbahaya jika dikenakan seseorang. Bisa mengeluarkan sinar dengan sendirinya apabila si pemakai sedang marah. Arah sinarnya sering tidak terkendali, dan sinar itu mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat besar, sepuluh kali lipat tenaga dalam si pemakai cincin tersebut.

Bahkan bisa mencapai seratus kali lipat tenaga si pemakainya jika orang tersebut memendam murka yang amat besar. Sebab itulah Suto Sinting tak berani memakai cincin itu, takut menimbulkan korban salah sasaran jika ia dilanda kemarahan. Untuk amannya, cincin disimpan di dalam bumbung tuak, terendam di sana selama tidak dibutuhkan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Darah Asmara Gila)

Itulah yang dimaksud mimpi siang bolong. Cincin pusaka dengan mudahnya jatuh ke tangan seorang pengemis tua tanpa melalui pertarungan sedikit pun. Tentu saja hati Suto Sinting menjadi geram dan kemarahannya mulai timbul. Padahal jika Pendekar Mabuk sedang dilanda kemarahan dalam hatinya, napasnya sangat berbahaya. Hembusan napasnya mempunyai kekuatan membadai, terutama jika sengaja dihembuskan lewat mulut dengan sentakan keras, alam sekitarnya akan mengalami kiamat karena disapu badai besar yang mengerikan.

Dalam memendam kemarahannya akibat tertipu saja, napas yang keluar melalui hidung Pendekar Mabuk sudah sempat membuat sebatang pohon bergetar. Pohon yang ada di depannya itu berukuran besar dan daunnya berguguran bagai ada yang mengguncang dari bawah. Padahal hanya terkena hembusan napas biasa dari Suto Sinting. Pada saat ia berpaling mencari pengemis bungkuk itu, semak-semak di sekelilingnya terhempas dan rebah, namun tak membuatnya patah. Beberapa bongkah batu berlarian bagai digelindingkan oleh tenaga dalam tak terlihat.

Menggelindingnya bebatuan itu akibat terkena hembusan napas Suto. Bisa-bisa batu diseberangnya yang sebesar kerbau itu akan pecah jika Pendekar Mabuk mengarahkan hembusan napasnya ke sana dengan tekanan sedikit keras lagi. Itu semua disebabkan Pendekar Mabuk mempunyai jurus 'Tuak Setan' akibat meminum Pusaka Tuak Setan tanpa disengaja, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan)

Menyadari keadaan alam mulai akan rusak, Suto Sinting buru-buru meredam kemarahannya sendiri. Ia diam dan tundukkan kepala sambil pejamkan mata. Gemuruh kemarahan dalam dada diredam, pikirannya ditenangkan, benaknya membayangkan kejadian tersebut adalah kejadian yang lucu atas kebodohannya.

"Bukan salah pengemis itu, tapi salahku sendiri. Mengapa aku mudah tertipu? Mengapa aku tidak waspada dan kurang hati-hati? Ini adalah suatu pelajaran bagiku. Tingkat kewaspadaanku sudah mulai rapuh, dan harus kupertajam lagi. Sekarang tugasku sebagai hukuman adalah mencari pengemis itu dan berusaha mendapatkan Cincin Manik Intan kembali. Nyawaku kupertaruhkan demi merebut pusaka itu, daripada pusaka itu dipergunakan untuk membantai orang tak bersalah."

Keberanian menuding diri sebagai pihak yang bersalah merupakan langkah terbaik untuk mengatasi kemarahan dalam hati. Cara itulah yang dipergunakan Suto Sinting, sehingga sekalipun masih tersisa kemarahan namun tak seberapa besar dan tidak terlalu berbahaya bagi hembusan napasnya.

"Ke mana perginya? Masuk ke alam gaib? Hmmm... kalau begitu aku harus mengejarnya ke alam gaib. Aku yakin pengemis itu pasti orang berilmu tinggi karena dapat menghilang dalam sekejap saja."

Pendekar Mabuk memang bisa masuk ke alam gaib, karena ia mempunyai noda merah kecil di keningnya. Noda merah itu pemberian dari seorang ratu penguasa sebuah negeri di alam kasat mata, artinya alam yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa, yaitu alam gaib. Negeri itu bernama Puri Gerbang Surgawi. Seorang ratu bertakhta di sana. Ratu itu adalah Ratu Kartika Wangi, tokoh sakti yang tidak mau ikut campur dunia nyata walau mempunyai anak gadis yang menjadi ratu pula di dunia nyata, yaitu di negeri Puri Gerbang Surgawi juga yang ada di Pulau Serindu. Ratu itu bernama Dyah Sariningrum, Gusti Mahkota Sejati gelarnya.

Perempuan itulah calon istri Suto nantinya. Jadi tanda merah itu pemberian dari calon mertua Suto yang memberi penghargaan padanya sebagai Manggala Yudha Kinasih. Dengan mengusap noda merah yang hanya bisa dilihat oleh tokoh berilmu tinggi itu, Suto dapat masuk ke alam kehidupan tak terlihat mata. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah)

Tak heran jika Pendekar Mabuk bermaksud mengejar pengemis bungkuk itu, karena menyangka si pengemis masuk ke alam gaib. Tetapi baru saja Suto ingin mengusap keningnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara berasal dari belakangnya.

"Aku di sini, Anak Muda!"

Pendekar Mabuk cepat-cepat palingkan wajah. Terkesiap menatap si pengemis bungkuk sudah tidak kenakan pakaian compang-camping lagi, melainkan kenakan pakaian kuning kecoklat-coklatan karena usangnya. Rambutnya tidak diriap seperti semula, melainkan digulung rapi ke atas kepala. Tongkatnya sudah bukan tongkat kayu kering biasa, melainkan tongkat hitam berkepala bulat seperti bola yang mulus dan licin.

Pandangan mata Suto segera tertuju ke arah tangan orang tersebut. Tampak Cincin Manik Intan melingkar di jari tengah pada tangan sebelah kanan. Mata cincinnya yang berwarna putih intan itu tidak terlihat karena cara memakainya dibalik. Mata cincin itu ada dalam genggaman. Karena dilihatnya Pak Tua itu tenang-tenang saja, maka Suto Sinting pun menjaga sikap agar tetap tenang. Bumbung tuaknya masih ditenteng dengan tangan kiri, berdirinya tegak, sedikit renggangkan kaki, tampak gagah dan tegar. Jaraknya berdiri sekitar tiga tombak dari si pengemis bungkuk itu.

"Pak Tua, apa maksudmu menipuku dengan cara seperti ini? Kumohon padamu, kembalikan cincin pusaka tersebut padaku."

"Kewaspadaanmu sangat lemah, Anak Muda. Kecepatan gerakmu pun kurang bisa diandalkan."

"Jadi kau hanya mengujiku, Pak Tua?"

"Aku tidak sekadar mengujimu, tapi memang ingin menahan cincin pusaka ini!"

"Kusarankan jangan memancing kemarahanku, Pak Tua."

"Aku tak peduli kemarahanmu terpancing atau tidak, yang jelas aku akan menahan cincin milik Bidadari Jalang ini!"

Suto Sinting kaget terperanjat mendengar tokoh tua itu menyebutkan nama Bibi Gurunya. Ia mulai membatin, "Berarti orang ini juga kenal dengan Kakek Guru si Gila Tuak. Hmm... siapa sebenarnya dia?"

Pendekar Mabuk mencoba menenangkan gemuruh yang hampir timbul lagi di dalam dadanya itu. Ia berkata dengan sikap tetap tenang, "Apakah tindakanku salah, Pak Tua? Aku menolongmu dengan memberikan minum dengan tuakku sampai tuakku habis. Apakah...," kata Suto Sinting terpotong,

"Siapa bilang tuakmu habis?!"

Maka berhentilah Suto bicara. Dahinya berkerut. Tangan kiri yang menjinjing bumbung tuak mulai dirasakan. Diangkat pelan-pelan. Hatinya membatin dengan heran, "Aneh. Bumbung tuak ini rasa-rasanya agak berat dari sebelumnya. Padahal sudah kosong tanpa isi? Tapi jika bumbung ini sekarang berat, berarti bumbung ini berisi sesuatu. Apakah... apakah bumbung ini berisi tuak lagi?"

Pendekar Mabuk memeriksanya, dan ternyata memang benar, bumbung itu berisi tuak, penuh seperti semula. Bahkan lebih penuh lagi, karena air tuak sampai bisa terlihat jelas begitu tutup bumbung dibuka. Padahal ketika Suto belum bertemu dengan pengemis bungkuk tadi, ia sudah meneguk tuak tersebut tiga kali. Semestinya tidak sepenuh saat ini. Suto Sinting merasakan tuak itu dengan meneguknya satu kali. Ia membantin,

"Benar-benar air tuak. Bahkan rasanya lebih enak, seperti Tuak Mojolegi?! Badanku terasa lebih segar dan lebih tenang. Aneh sekali?! Aku bisa tenang dan... dan sangat tenang. Tak ada kemarahan yang harus kutekan seperti tadi? Hei, kenapa bisa begini? Apakah pengaruh dari tuak ini? Oh, kalau begitu apa yang kuduga tadi memang benar; orang bungkuk ini adalah orang sakti."

Dengan sikap lebih hormat lagi Suto Sinting berkata, "Sesungguhnya siapakah dirimu, Pak Tua. Sudilah kiranya kau perkenalkan diri padaku."

"Gurumu pasti kenal denganku. Tapi... baiklah, karena badanku bungkuk dan sudah tua renta begini, kau boleh memanggilku si Bongkok Sepuh. Hanya itu yang bisa kuperkenalkan padamu, Pendekar Mabuk."

Anehnya lagi, si Bongkok Sepuh tampak lebih hormat juga dari sebelumnya. Sikap itu membuat Suto Sinting menyimpan keheranan dalam hatinya, namun tak dicetuskan lewat kata apa pun. Ia hanya berkata, "Apa perlumu menahan cincin pusaka itu, Ki Bongkok Sepuh?"

"Bukan semata-mata untuk menantangmu, Gusti Manggala Yudha Kinasih."

Kini Suto Sinting terperanjat walau sekejap. Ia dipanggil dengan sebutan itu. Padahal sebutan itu hanya berlaku bagi orang-orang Puri Gerbang Surgawi. "Apakah kau orang Puri Gerbang Surgawi, Ki Bongkok Sepuh?"

"Memang bukan. Tapi tanda merah di keningmu membuatku merasa layak menghormat dengan sebutan itu. Setidaknya kau dapat menyimpulkan."

Zlaaap...! Orang itu lenyap dalam pandangan Suto Sinting. Tentu saja Suto terkejut dan mencari-carinya. Ternyata sudah ada di belakang dalam jarak lebih dekat lagi. Bongkok Sepuh lanjutkan kata,

"... bahwa maksudku tidak buruk kepadamu. Aku memang sedikit nakal, menahan Cincin Manik Intan yang menjadi tanggung jawabmu ini. Artinya aku menahan tanggung jawabmu karena suatu keperluan."

"Keperluan apa?"

"Tak ada cara lain yang bisa kupakai agar kau mau membantuku selain dengan cara menahan Cincin Manik Intan ini."

"Jelaskan apa yang harus kubantu?"

"Sebaiknya ikutlah aku sekarang juga!"

"Tapi...," Pendekar Mabuk tak jadi lanjutkan kata karena orang itu telah melesat tanpa melangkah, tahu-tahu sudah berada dalam jarak dua puluh langkah dari tempat Suto berdiri. Mau tak mau Suto Sinting segera menghampirinya untuk lanjutkan kata-katanya tadi. Namun ketika Suto baru mencapai jarak sepuluh langkah, orang itu sudah melesat tanpa melangkah hingga jaraknya lebih jauh lagi, sekitar tigapuluh langkah dari Suto. Terpaksa Suto juga melesat, mempergunakan jurus 'Gerak Siluman' yang mampu berkelebat cepat melebihi anak panah itu. Zlaaap... !

Bongkok Sepuh berkelebat lagi. Zlaaap...!

Suto mengejarnya dengan gerakan yang tak mampu terlihat mata orang biasa. Zlaap...! Sampai suatu saat Bongkok Sepuh terpaksa hentikan gerak, karena ia tidak melihat Suto tertinggal di belakangnya. Ia mencari-cari Suto, dan segera terkejut melihat Suto sudah ada di jalanan yang akan dilaluinya. Jaraknya lebih cepat tiga langkah darinya.

"Sudah kuduga akhirnya kau akan tunjukkan padaku kehebatanmu, Anak Muda."

"Maaf, Ki Bongkok Sepuh. Kulakukan karena kau memaksaku untuk adu kecepatan. Aku tak mau kau kecam seperti saat kau berhasil membawa lari cincin itu."

Bongkok Sepuh manggut-manggut dengan senyum tuanya. Terdengar suaranya yang pelan berkata, "Aku harus mengakui keunggulanmu yang melebihi gerakanku."

"Aku tidak butuh pengakuan itu. Aku hanya butuh cincin pusaka itu."

"Akan kuberikan setelah kau selesai mengatasi persoalanku. Ada baiknya kalau kau jangan bergerak lebih cepat dariku, supaya kau tahu arah yang kutuju nanti, Anak Muda!"

Begitulah awal jumpa Suto dengan si Bongkok Sepuh. Rupanya Bongkok Sepuh membawa Pendekar Mabuk ke sebuah perbukitan cadas. Tanahnya keras walau ditumbuhi pepohonan yang tak terlalu rindang. Di situ banyak tebing-tebing cadas yang tegak lurus namun tidak dalam. Masih memungkinkan dipakai melompat seseorang dari atas ke bawah.

Pada salah satu bukit cadas yang menyerupai gundukan tanah tinggi itulah si Bongkok Sepuh membawa Suto berlindung di balik pepohonan. Dari sana mereka dapat memandang ke arah bawah, jalanan tandus dengan pepohonan renggang dan rumputnya tak terlalu rimbun.

Di jalanan tandus itulah Suto melihat dua wajah angker berdiri dengan tegar berdampingan menghadap ke timur. Bongkok Sepuh menjelaskan tentang kedua orang angker yang berjuluk Kapak Iblis dan Setan Akhirat. Kedua orang keras beraliran hitam dari Tebing Karma itu tidak mengetahui jika ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka dari atas bukit.

Kapak Iblis adalah orang yang nyata-nyata terlihat keangkerannya, karena wajahnya brewokan, alisnya tebal, matanya lebih ganas, rambutnya pendek namun diikat dengan kain merah. Ia mengenakan pakaian biru tua dengan bagian dada terbuka. Pakaian itu diikat dengan kain merah juga pada pinggangnya. Usianya sama dengan Setan Akhirat, sekitar lima puluh tahun. Tapi keangkeran wajah Setan Akhirat berkesan dingin dan bengis, bagai manusia tak kenal kata ampun kepada lawannya.

Setan Akhirat mempunyai rambut tipis tapi panjang selewat punggung. Warna rambutnya abu-abu karena sudah mulai banyak ubannya. Warna rambutnya itu kontras dengan warna jubah yang dikenakan. Jubah merah darah. Ia tanpa kumis dan jenggot, tapi matanya sedikit kecil. Sekalipun kecil, ketajaman pandangan mata itu mirip ujung tombak yang runcing. Menggetarkan hati orang yang dipandangnya.

Kedua orang berwajah angker itu berhadapan dengan seorang gadis yang menurut perkiraan Suto berusia sekitar dua puluh enam tahun. Gadis itu berwajah cantik jelita, kulitnya kuning langsat, bersih. Hidungnya bangir, bibirnya mungil segar. Badannya tak terlalu kurus. Sekal berisi, dengan dada padat dan kemontokannya adalah kemontokan yang indah, tidak berlebihan.

Gadis itu berpakaian hijau muda sebatas dada, tapi dirangkap jubah warna ungu tua yang tak berlengan, sehingga kemulusan kulit lengannya terlihat jelas tanpa cacat. Sebuah pedang bersarung perak ukir terselip di pinggangnya. Gadis itu mempunyai rambut panjang, sebagian digulung di tengah kepala dan diikat dengan pita hijau muda, sisanya meriap kesana-sini.

"Siapa perempuan cantik itu, Ki Bongkok Sepuh?" tanya Suto yang sebenarnya ingin menyimpan rasa ingin tahunya itu, namun tak tertahankan lagi.

"Namanya: Dara Cupanggeni, murid dari Nyai Sunti Rahim."

"Nama itu sangat asing bagiku. Siapa Nyai Sunti Rahim itu?"

"Bekas istriku," jawab Bongkok Sepuh pelan tapi mengejutkan Suto, sehingga pemuda tampan berhidung bangir itu menatap si tua bungkuk. "Bekas istrimu?"

"Ya. Kutinggalkan Sunti Rahim, kupatahkan cintanya dan kuhancurkan hatinya, karena kala itu aku terpikat dengan bibi gurumu; Bidadari Jalang."

"Ooo...?!" Suto Sinting manggut-manggut.

"Waktu itu, Bidadari Jalang benar-benar membuatku gila asmara kepadanya, sampai aku tega menghancurkan hati dan cinta Sunti Rahim. Padahal waktu itu Sunti Rahim sedang hamil muda. Karena perlakuanku, Sunti Rahim menggugurkan kandungannya dan nyaris putus asa. Ketika ia mau lakukan bunuh diri, ia mendengar suara bayi menangis, ternyata bayi itu hanyut di sungai di atas sebuah anyaman belarak, atau daun kelapa kering. Sunti Rahim mengambil bayi itu, dan tak jadi bunuh diri. Ia pergi mengasingkan diri, merawat bayi yang tak diketahui orangtuanya itu. Sunti Rahim menurunkan semua ilmunya kepada bocah angkatnya itu, sampai ilmu pengawet ayunya diturunkan, sehingga bocah itu sekarang tetap kelihatan cantik dan muda, padahal usianya sudah hampir empat puluh tahun."

Suto terperanjat mendengar jumlah usia itu. Tentu saja hatinya merasa heran tak menyangka gadis cantik itu ternyata sudah berusia banyak. Tapi Suto segera lupakan soal itu, dan lebih tertarik mendengarkan penjelasan Bongkok Sepuh yang tampak bernada sedih itu.

"Sunti Rahim pernah bertemu denganku dan bersumpah akan membunuhku melalui anak angkatnya itu. Dara Cupanggeni itulah wakil dan utusan Sunti Rahim untuk membalas sakit hati atas perlakuanku semasa muda."

"Apakah kau sudah pernah bicara dengan Dara Cupanggeni itu?"

Bongkok Sepuh menggelengkan kepala. "Aku selalu berusaha menghindarinya. Sebab aku tahu, jika Dara Cupanggeni sudah turun dari gunung, berarti seluruh ilmu Sunti Rahim sudah diturunkan semuanya kepada anak itu."

"Lalu, mengapa kau membawaku kemari dan memperlihatkan keadaan di bawah sana?" tanya Suto dengan berbisik.

"Ingin kutunjukkan kepadamu kesaktian Dara Cupanggeni itu."

"Setelah itu?"

"Bantulah aku menghadapi gadis itu."

Suto Sinting berkerut dahi dengan merasa heran lagi, "Apakah kesaktianmu tak mampu ungguli kesaktian gadis itu?"

Bongkok Sepuh diam sebentar, matanya tetap memandang ke bawah, ke pertarungan antara Dara Cupanggeni dengan Kapak Iblis dan Setan Akhirat yang sudah dimulai walau baru secara kecil-kecilan saja. Mata itu menerawang dalam memandang, karena mulut Bongkok Sepuh berkata datar, "Sunti Rahim sebenarnya guruku sendiri."

"Hah...?!" Suto Sinting jelas-jelas terperangah. "Ja... jadi usiamu dengan Nyai Sunti Rahim lebih tua dia?"

"Lima belas tahun lebih tua dariku," jawab Bongkok Sepuh. "Ilmu pengawet ayunya itulah yang membuatku jatuh cinta padanya ketika itu. Dia tokoh wanita yang sakti, mendapat warisan ilmu dari eyangnya sejak berusia tujuh tahun. Separo ilmunya sudah diturunkan kepadaku, tapi aku tergoda oleh Bibi Gurumu, dan akhirnya kami berpisah. Aku terpaksa berguru kepada tokoh sakti lainnya. Namun kesaktianku tetap saja tidak bisa mengungguli Sunti Rahim."

"Kenapa waktu itu Sunti Rahim tidak melabrak Bibi Guruku?"

Bongkok Sepuh gelengkan kepala, "Hanya Bibi Gurumu yang tak bisa dilawan oleh Sunti Rahim, karena ilmu yang dimiliki Bidadari Jalang sangat tinggi."

"Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan untukmu, Ki Bongkok Sepuh?!"

"Kalahkan Dara Cupanggeni itu dengan cara melumpuhkan ilmu andalannya!"

"Apa ilmu andalannya itu?" tanya Suto, tapi tidak segera mendapat jawaban.

* * *

DUA

tokoh angker itu seperti sedang dipermainkan oleh Dara Cupanggeni. Diam-diam Pendekar Mabuk akui kelincahan dan kegesitan gadis berjubah ungu itu. Kecepatan geraknya juga cukup mengagumkan. Dara Cupanggeni mampu lakukan salto ke depan dan kembali salto ke belakang pada saat tubuh masih melayang di udara.

"Edan!" gumam Suto dalam hati. "Baru saja berjungkir ke depan sudah bisa kembali ke belakang tanpa menjejak apa pun? Aku tak bisa lakukan gerak seperti itu! Tapi aku tahu rahasianya; dia pergunakan udara sebagai tempat berpijak. Berarti getaran tubuhnya dapat membuat udara menjadi sesuatu yang padat! Oh, sungguh mengagumkan. Aku akan pelajari gerakan seperti itu."

Gerak tipuan itu membuat Kapak Iblis lakukan serangan yang salah. Akibatnya pukulan bertenaga dalam jarak jauh milik Dara Cupanggeni menghantam telak pinggang kiri Kapak Iblis.

Wuuut...! Bheeeg...!

Gadis itu mendaratkan kaki dengan sigap dan memandang dengan senyum sinis. Senyum kemenangan yang membuat Kapak Iblis menggeram dalam jatuhnya. Sementara itu Setan Akhirat sengaja hentikan serangan karena ingin pelajari kelemahan jurus-jurus Dara Cupanggeni.

"Wedus bangsat!" geram Kapak Iblis. "Rupanya kau benar-benar ingin beradu nyawa denganku, hah?!"

"Dugaanmu tepat sekali Kapak Iblis. Tapi yang lebih tepat lagi, siapa orang terkuat di Tebing Karma, itulah yang ingin kutumbangkan. Bukan keroco-keroco seperti kalian."

"Setan Akhirat! Robek mulut perempuan liar itu biar tak bisa berkoar lagi!" sentak Kapak Iblis dengan suara keras berkesan buas.

"Aku hanya ingin pecahkan batok kepalanya saja!" kata Setan Akhirat dengan sikap dingin berkesan bengis, ia segera bergerak kembali dekati lawannya. Sang lawan hanya senyum-senyum mengejek yang membangkitkan kemarahan besar di hati Setan Akhirat.

"Heaaaah...!" Setan Akhirat menerjang dalam satu lompatan sangat cepat. Telapak tangannya dihantamkan tepat ketika ada di depan kepala Dara Cupanggeni. Semula gadis itu diam saja dalam keadaan tubuhnya merapat di pohon. Tapi ketika hantaman telapak tangan lawan mulai berkelebat, gadis itu pun bagaikan lenyap seketika, ia telah berpindah tempat dengan gerakan amat cepat, seperti yang dilakukan oleh Bongkok Sepuh saat menjadi pengemis bungkuk dan membawa lari cincin pusaka dalam tempurungnya.

Tentu saja hantaman telapak tangan Setan Akhirat tidak kenai sasaran semestinya. Telapak tangan itu kenai batang pohon. Duaar...! Ledakan yang timbul cukup keras, pertanda telapak tangan itu disaluri tenaga dalam yang amat besar. Dan akibatnya pohon yang dihantam Setan Akhirat terbelah dari akar sampai ke atas menjadi empat belahan, lalu tumbang tak beraturan lagi.

Dara Cupanggeni bertepuk tangan mengejek dengan senyum yang memuakkan bagi kedua tokoh angker itu. "Hebat sekali jurus 'Tepak Nyamuk'-mu, Setan Akhirat. Mengapa tidak kau ajarkan kepada anak-anak kecil di desa-desa?" sindir Dara Cupanggeni.

Setan Akhirat menggeram dengan matakian menyipit penuh benci. Kapak Iblis diam-diam lepaskan pukulan tenaga dalam melalui sentakan tangan kirinya dari samping kanan Dara Cupanggeni. Wuuut...! Pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi itu tidak terbentuk dan berwarna. Diduga lawan tidak merasa sedang diserang oleh gerakan kecil yang menghadirkan bahaya tinggi itu. Tetapi kepekaan Dara Cupanggeni rupanya juga cukup tinggi. Gelombang hawa panas yang mendekatinya dengan cepat terasa betul mendesak kulit tubuhnya. Dara Cupanggeni cepat-cepat kibaskan kepala berpaling kearah Kapak Iblis sambil denguskan napas.

Wuuus...! Dan tiba-tiba Kapak Iblis terjungkirbalik sendiri dalam keadaan amat terkejut. Gerakan kepala dan dengusan napas ternyata mampu hadirkan tenaga dalam tinggi yang dapat kalahkan pukulan tenaga dalam Kapak Iblis. Tubuh lelaki brewokan itu terbanting keras di tanah tak berumput.

Bruuk...!

"Monyet picak!" makinya dengan berang.

Dara Cupanggeni hanya tersenyum sambil perhatikan Kapak Iblis yang bangkit dengan sedikit menyeringai karena pinggangnya bagaikan mau patah. Sikap Dara Cupanggeni kelihatan lengah, sehingga Setan Akhirat segera lepaskan pukulan jarak jauh secara diam-diam melalui gerakan empat jari yang menggenggam menjadi menyentak lurus ke depan. Suuut...!

Gadis itu cepat palingkan wajah ke kiri dan gerakkan tangan kanannya dalam keadaan terbuka menghadap lawan. Wees...! Tenaga dalam besar yang dilepaskan Setan Akhirat itu membentur telapak tangan Dara Cupanggeni, bagai terkumpul jadi satu di tangan itu. Dara Cupanggeni segera menggenggam seakan menangkap tenaga dalam itu, lalu memutar tangannya dan menyentakkan kembali ke depan dalam keadaan telapak tangan terbuka ke atas dan disodokkan ke depan. Wuuut...!

Baaahg...!

"Heegh...!" Setan Akhirat mendorong mundur dengan mendelik, kakinya tak menyentuh tanah sampai akhirnya membentur sebongkah batu cadas. Buuhg...!

Suto Sinting bergumam lirih di samping Bongkok Sepuh, "Gila! Tenaga lawan dapat ditangkap dan dikembalikan seenaknya saja?!"

Bongkok Sepuh berujar, "Itu belum seberapa. Jurus-jurus yang dimainkan gadis itu masih merupakan jurus-jurus kecil yang kumiliki juga."

"Mengapa ia tidak segera gunakan jurus mautnya?"

"Kurasa dia sengaja permainkan tokoh kasar itu supaya keduanya menjadi gila sendiri oleh kegagalannya menyerang lawan. Agaknya Dara Cupanggeni punya maksud memancing mereka agar mengadukan kehebatannya kepada ketua Tebing Karma yang bergelar Gerhana Mandrasakti itu."

"O, guru mereka masih hidup?"

"Masih. Lebih tua dariku, tapi usia kami tak terpaut banyak. Hanya saja, kudengar Gerhana Mandrasakti sudah tidak mau lakukan pertarungan dengan siapa pun. Ia hanya ingin turunkan ilmu-ilmunya kepada murid-murid yang terpilih dan sesuai dengan hatinya."

Pendekar Mabuk manggut-manggut kecil, pandangan mata dan perhatiannya kembali ke pertarungan di bawah sana. Bongkok Sepuh pun segera bungkamkan mulut.

Kapak Iblis dan Setan Akhirat tampak semakin penasaran, karena tak satu pun serangan mereka ada yang mengenai tubuh Dara Cupanggeni. Kini mereka lakukan serangan bersama dengan jurus pukulan bersinar. Dua sinar hijau terlepas dari tangan mereka dan menerjang tubuh Dara Cupanggeni dari dua arah.

Clap, claaap...!

Draassh...! Dua sinar itu menghantam bersamaan. Tubuh Dara Cupanggeni bagaikan sasaran empuk, karena gadis itu tidak lakukan tangkisan ataupun gerakan menghindar. Tetapi kedua sinar hijau itu hanya bisa kepulkan asap setelah mengenai tubuh Dara Cupanggeni. Asap itu melesat dan hilang, sehingga keadaan Dara Cupanggeni tampak utuh tanpa luka apa pun, justru senyumnya yang angkuh membentang lebar di depan kedua lawannya.

Tentu saja Kapak Iblis dan Setan Akhirat terkejut dan terperangah, sama halnya dengan keadaan Suto Sinting di atas sana; terperangah dengan dahi berkerut menandakan rasa heran yang luar biasa. Belum sempat Suto bicara, ia sudah harus perhatikan kembali gerakan Setan Akhirat yang kirimkan pukulan sinar hijau lagi ke arah Dara Cupanggeni. Sinar yang sama seperti tadi segera dihindari Dara Cupanggeni dengan satu lompatan bersalto ke depan. Sinar hijau itu akhirnya melesat melalui samping telinga Kapak Iblis yang ada di seberangnya. Wuuus..! Dan sinar itu menghantam sebatang pohon besar jauh di belakang Kapak Iblis.

Blaaar...!

Tanah bergetar, pohon itu hancur tak beraturan bagaikan kain yang dirobek dengan paksa. Pohon di sampingnya ikut bergetar hebat, tapi hanya sempat membuat daun-daunnya berguguran.

"Seharusnya tubuh Dara Cupanggeni tadi mengalami nasib seperti pohon itu, apalagi mendapat serangan dua sinar hijau sekaligus. Tapi mengapa ia tidak mengalami cedera sedikit pun?!" gumam Suto Sinting pelan sekali.

"Itulah salah satu jurus andalannya."

"Maksudmu?"

"Dara Cupanggeni mewarisi ilmu 'Darah Gaib' milik Sunti Rahim. Jurus dari ilmu 'Darah Gaib' telah membuat Dara Cupanggeni tidak akan mampu ditembus oleh sinar tenaga dalam macam apa pun, tidak akan mempan dilukai oleh senjata apa pun. Ia menjadi orang kebal. Dulu Sunti Rahim sebelum menikah denganku juga demikian, tapi setelah keperawanannya hilang, ilmu 'Darah Gaib' lenyap dengan sendirinya."

Pandangan pendekar tampan ini masih tertuju ke arah Dara Cupanggeni, walau telinganya dengarkan kata-kata Bongkok Sepuh. Tetapi sebagian pendengarannya juga menangkap seruan Dara Cupanggeni yang tertuju kepada kedua lawannya.

"Kuperingatkan sekali lagi, temukan aku dengan guru kalian. Aku butuh Gerhana Mandrasakti. Yang ingin kutundukkan adalah dia, bukan kalian! Kalau kalian nekat melawanku, kalian akan dapat ganjaran sendiri dariku! Ini peringatanku yang terakhir!"

Kapak Iblis berteriak, "Persetan dengan perintahmu, Gadis Busuk! Terimalah jurus 'Kapak Lebur'-ku ini, hiaaaaah...!"

Rupanya bukan hanya Kapak Iblis yang kerahkan tenaga dalamnya dengan mengeraskan seluruh otot lengan, melainkan Setan Akhirat juga lakukan hal yang sama. Tangan Kapak Iblis menyala hijau berpendar-pendar, tangan Setan Akhirat juga menyala bagaikan bara, kuning kemerahan. Keduanya kini melompat menerjang Dara Cupanggeni. Wuuuuttt...!

Dara Cupanggeni diam di tempat. Kedua tangannya mengembang ke depan pada saat kedua lawan dari kanan-kiri datang menghantam. Pukulan mereka ditangkis dengan kedua lengan itu. Plak, plak...! Tangan mulus itu seharusnya bukan hanya patah melainkan hancur menjadi debu. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Tangan itu melebihi baja kekuatannya, karena memang tidak mempan dihantam tenaga setinggi apa pun. Bahkan Dara Cupanggeni segera sentakkan kaki dan melompat, lalu kedua kakinya menendang ke samping dengan secara bersamaan.

"Hiaaah...!" lengkingnya sambil menendang kedua arah.

Beegh, beegh...!

Kedua ulu hati lawan terkena tendangan telak gadis itu. Kedua orang berwajah angker itu terlempar ke arah kanan-kiri. Tubuh kekar mereka melayang bagaikan sampah terhempas angin kencang. Akhirnya keduanya jatuh terpuruk tanpa bisa menjaga keseimbangan tubuh mereka.

Brruk...! Brruk...! Gusraak...!

Kapak Iblis terseret menjauh hingga membentur onggokan batu. Setan Akhirat tersedak satu kali ketika berusaha bangkit. Ternyata sedakan itu keluarkan darah kental dari mulutnya. Wajah dinginnya semakin pucat, mata tajam kian meruncing pandangannya. Ia tetap bangkit untuk lakukan pembalasan.

Tetapi tiba-tiba Dara Cupanggeni kelebatkan tangan kanannya. Jari telunjuknya berdiri tegak dan mengeras, seperti lakukan totokan dari jarak jauh. Namun yang terjadi bukan jurus totokan, melainkan jurus maut yang menjadi andalannya. Ujung jari telunjuk itu lepaskan selarik sinar merah yang mampu bergerak cepat dan memanjang sampai sasarannya.

Ciaaap...!

Setan Akhirat tak bisa menghindar atau menangkis, karena pada saat sinar merah itu melesat dari jari gadis tersebut, tubuhnya diam tak bergerak, seakan menjadi patung di tempatnya berdiri. Tentu saja sinar merah itu dapat kenai sasaran dengan tepat. Leher Setan Akhirat adalah sasaran yang dituju, dan sinar merah itu menghantam leher tersebut.

Dees...! Blaap...!

Sinar merah panjang pun lenyap seketika. Noda merah bundar membekas di leher Setan Akhirat. Tokoh itu mulai bisa bergerak lagi sejak hilangnya sinar merah. Tetapi ternyata Setan Akhirat hanya mampu bergerak tiga langkah. Tubuhnya segera jatuh dan terkulai lemas di tanah. Lalu sejumlah asap mengepul bagaikan asap babi panggang yang baru diangkat dari tempat bakarannya. Bau hangus tercium di mana-mana. Setan Akhirat ternyata tidak bergerak lagi dan napasnya pun lenyap bersama mengepulnya asap putih samar-samar dari tubuh.

"Bangsat busuk kau, Setan Wadon! Heaaaah...!" Kapak Iblis berada di puncak kemarahannya begitu melihat Setan Akhirat tumbang tak bernyawa, ia segera kerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menyerang. Tetapi jari telunjuk Dara Cupanggeni lebih dulu bergerak bagai menotok dengan jurus tangan menguncup. Ciaaap...! jari telunjuk itu keluarkan selarik sinar merah panjang.

Kapak Iblis yang ingin melompat jadi mematung dalam keadaan tangan terbuka dan mengembang serta kaki terangkat satu siap melompat. Dalam keadaan tubuh tak bisa bergerak, tentu saja Kapak Iblis tak mampu hindari sinar merah panjang itu. Maka sinar tersebut menghantam telak leher kiri Kapak Iblis.

Deess...!

Nasib Kapak Iblis tak berbeda dengan nasib Setan Akhirat. Noda merah di lehernya membuat Kapak Iblis hanya mampu lanjutkan gerak tiga kali, setelah itu jatuh terpuruk tanpa daya. Tubuhnya berasap, bau hangus menyebar, tapi tubuh itu masih utuh bagai tanpa luka sedikit pun. Hanya saja sekarang tubuh itu sudah tidak bernyawa lagi dan dalam waktu beberapa kejap telah dikerumuni belatung yang tersumbul keluar dari dalam dagingnya.

"Ada sesuatu yang aneh, kurasakan terjadi dua kali, Ki Bongkok Sepuh!" kata Suto dalam bisikannya.

"Ya, memang aneh. Dua kali keanehan itu juga kurasakan. Kau tak bisa bergerak dan napasmu terasa terhenti dua kali, bukan?"

"Benar," jawab Suto sambil menatap Bongkok Sepuh yang tetap pandangi Dara Cupanggeni. Kala itu Dara Cupanggeni sedang periksa lawan-lawannya dengan sungging senyum kemenangannya.

"Itulah jurus andalan yang kumaksud tadi. Dara Cupanggeni telah kuasai ilmu "Bias Dewa' yang dulu tak sempat dipelajari oleh gurunya karena telanjur kurenggut kegadisannya."

"Apa itu ilmu 'Bias Dewa'?"

"Jurus itu hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang masih perawan. Sinar merah yang keluar dari jari telunjuk Dara Cupanggeni itu adalah sinar berkekuatan gaib. Bukan saja mampu membusukkan tubuh lawan dalam sekejap, tapi juga membuat alam menjadi mati."

"Alam menjadi mati?" gumam Suto dalam keheranan.

"Jika sinar merah dari ilmu 'Bias dewa' dilepaskan, maka seluruh kegiatan di muka bumi ini terhenti sampai sinar itu padam. Angin akan berhenti, ombak lautan berhenti, gerakan air terjun pun terhenti, semua hewan bagai mati sekejap, manusia tak mampu gerakkan tubuhnya, napas kita seakan tak mampu dihela lagi. Jantung kita berhenti berdetak. Segalanya serba berhenti. Bahkan matahari pun berhenti dari jalur edarnya jika sinar 'Bias Dewa' dilepaskan. Itulah sebabnya sinar merah tadi tak bisa ditangkis dan dihindari oleh Kapak Iblis dan Setan Akhirat, ilmu itulah yang ingin kutunjukkan padamu."

Suto Sinting tertegun dengan mulut terperangah bengong. Batinnya mengakui kehebatan ilmu 'Bias Dewa' yang baru kali ini dilihat dan dirasakan akibat sampingannya. Wajah Pendekar Mabuk kelihatan sangat kagum dan terheran-heran mendengar penjelasan Bongkok Sepuh.

"Jika ilmu itu bisa hentikan peredaran waktu segala, berarti Dara Cupanggeni adalah orang yang tak bisa dikalahkan?" ujarnya lirih.

Bongkok Sepuh mengangguk dan menambahkan kata, "Memang benar. Karena itulah aku tak berani hadapi dia. Untuk saat ini, Dara Cupanggeni sebenarnya telah menjadi orang tertinggi ilmunya dari semua tokoh di rimba persilatan. Gurumu sendiri kalah tinggi dan bisa ditumbangkan olehnya. Aku yakin, sasaran utama Dara Cupanggeni adalah diriku, sasaran kedua adalah Bibi Gurumu; Bidadari Jalang. Sebab Sunti Rahim turunkan semua ilmu kepada gadis itu hanya untuk dua sasaran utama itu. Selebihnya adalah kehendak Dara Cupanggeni sendiri."

"Celaka...!" geram Suto Sinting merasa cemas mendengar bibi gurunya terancam maut oleh kemunculan Dara Cupanggeni.

"Aku yakin, kalau saja dulu Sunti Rahim telah kuasai ilmu itu, pasti dia akan labrak Bidadari Jalang, dan akan mampu tumbangkan bibi gurumu itu. Bahkan ia tak akan merasa gentar sekalipun Gila Tuak berada dipihak Bidadari Jalang. Gila Tuak dapat dengan mudah ditumbangkan seperti Dara Cupanggeni menumbangkan dua tokoh keras dari Tebing karma itu."

Suto Sinting meneguk tuaknya sebentar, lalu menghempaskan napas panjang dengan menahan kemarahan agar tak meluap. Kecemasan akan ancaman maut bagi bibi gurunya itu membuatnya sedikit resah, sehingga perlu menenggak tuak agar menguasai ketenangan kembali.

"Lalu, mengapa dia ingin bertemu dengan Gerhana Mandrasakti?"

"Dugaanku, Dara Cupanggeni akan tundukkan semua tokoh sakti dan ingin menjadi orang terunggul di rimba persilatan. Dan aku percaya bahwa dia akan berhasil tumbangkan siapa saja, karena dua ilmu berbahaya itu ada padanya!"

"Kalau begitu aku harus hentikan tindakannya sekarang juga, sebelum kedua guruku menjadi korban kedua ilmu itu!"

"Apakah kau sudah punya cara untuk melumpuhkannya?"

"Akan kucoba dengan bumbung tuakku ini!" kata Suto dengan tegas, lalu ia melesat pergi diikuti oleh Bongkok Sepuh. Mereka terpaksa berpindah tempat karena Dara Cupanggeni sudah tinggalkan kedua lawannya itu. Suto Sinting sengaja mengejar dari ketinggian tebing cadas, sampai akhirnya ia melihat Dara Cupanggeni sedang berlari tak begitu cepat menuju arah Tebing Karma. Tentunya ia akan temui Gerhana Mandrasakti dan menantang pertarungan di Tebing Karma.

Suto Sinting melesat turun tebing gunakan gerak silumannya. Dalam waktu sekejap ia sudah berdiri di depan Dara Cupanggeni. Kemunculannya membuat gadis itu terhenyak dan berhenti melangkah dalam seketika. Matanya memandang lembut dan tak berkedip. Suto Sinting sengaja sunggingkan senyum menawan agar gadis itu tak lekas-lekas lakukan penyerangan berbahayanya.

Di tempat persembunyian, di antara pohon dan semak, mata si Bongkok Sepuh memperhatikan pertemuan dua tokoh muda itu dengan hati berdebar-debar. Bahkan tokoh tua itu sempat membatin; "Moga-moga murid Gila Tuak mampu kalahkan kekuatan Dara Cupanggeni dengan caranya yang tak bisa kubayangkan. Jika pemuda itu gagal, maka keganasan Dara Cupanggeni akan melebar ke mana-mana dan menguasai dunia persilatan. Dia bisa menjadi tokoh lalim yang tak kenal belas kasihan kepada siapapun."

Bongkok Sepuh sering mendengar kehebatan ilmu murid si Gila Tuak, tapi hatinya masih saja berdebar-debar mengetahui siapa lawan Pendekar Mabuk kali ini. Padahal Suto Sinting sendiri menghadapi gadis itu dengan tenang sekali. Sang gadis sendiri tampak tidak mengumbar ketegangan, sehingga pertemuan mereka bagaikan terselubung sikap bersahabat yang saling dipamerkan.

"Benarkah kau yang bernama Dara Cupanggeni, murid Nyai Sunti Rahim?" sapa Suto Sinting sekadar memancing percakapan.

Dengan senyum tipis penuh makna pribadi Dara Cupanggeni menanggapi sapaan pendekar tampan itu. Suaranya lembut, seakan tak mempunyai keganasan apa pun di dalam hatinya. "Dugaanmu memang benar; aku Dara Cupanggeni, murid Nyai Sunti Rahim. Apakah kau kenal baik dengan guruku?"

"Hanya mendengar namanya saja. Tapi aku tak pernah jumpa dengan beliau."

"Mungkin kau orang Tebing Karma, murid Gerhana Mandrasakti?!"

Suto Sinting tertawa kecil berkesan ramah walau sebenarnya dipaksakan. "Aku sama sekali tak punya hubungan dengan orang Tebing Karma. Bertemu dengan Gerhana Mandrasakti pun belum pernah. Apakah kau belum mengenali ciri-ciriku?"

"Aku baru turun gunung, tak kudengar kabar apa pun tentang rimba persilatan sekarang ini. Hanya satu-dua kabar yang kudengar dari para pengelana."

"Dari mana kau bisa mendengar nama Gerhana Mandrasakti?"

"Dulu dia musuh guruku dan pernah melukai Guru. Tugasku adalah membalaskan kekalahan Guru." Sambil berkata demikian, Dara Cupanggeni langkahkan kakinya pelan-pelan, dekati tanaman bunga liar warna kuning dan tangannya yang berjari lentik indah itu memetik-metik dedaunan bunga tersebut. Jaraknya semakin dekat dengan Pendekar Mabuk, sehingga si tampan Suto terpaksa harus lebih waspada lagi dengan selalu memandangi gadis itu.

"Jadi kau turun ke rimba persilatan untuk membalas dendam kepada musuh-musuh gurumu masa lalu?"

"Benar. Nama-nama mereka telah kucatat dalam ingatanku. Selain Gerhana Mandrasakti juga Empu Sakya, Raja Maut, Raja Tumbal, Embun Salju, Dampu Sabang, Nini Pancungsari, Nyai Gandrik, Urat Setan, Nyai Demang Ronggeng."

Suto Sinting segera memutus kata ketika Dara Cupanggeni berpikir sebentar. "Beberapa nama itu kukenal dengan baik. Sebagian sudah ada yang mati."

"O, ya? Siapa saja?"

"Empu Sakya mati dibunuh oleh cucunya sendiri. Dampu Sabang, Raja Tumbal, Nyai Demang Ronggeng, tewas di tangan seorang pemuda gunung yang..."

"Siapa nama pemuda itu?" sergah Dara Cupanggeni merasa tertarik, sebab ia tahu nama-nama yang disebutkan Suto adalah nama-nama tokoh berilmu tinggi yang konon sukar ditumbangkan. Jika ada seorang pemuda yang mampu menumbangkan tokoh-tokoh berilmu tinggi itu, Dara Cupanggeni ingin sekali mengenalnya, karena dianggap berada di pihaknya.

Suto sendiri kikuk saat ingin menjawab bahwa tokoh-tokoh sakti itu tewas di tangannya. Namun ia segera menjawab, "Kudengar mereka tewas di tangan Pendekar Mabuk."

"O, ya... aku ingat! Nama Pendekar Mabuk berhubungan erat dengan nama tokoh utama yang harus kulenyapkan sesuai pesan guruku."

Suto Sinting memancing, "Siapa nama tokoh utama yang harus kau musnahkan itu?"

"Ada dua," jawab Dara Cupanggeni. "Pertama adalah si Setan Arak, kedua adalah Bidadari Jalang."

"Setan Arak?" gumam Suto dalam hati. "Mungkinkah si Bongkok Sepuh itu dulunya berjuluk Setan Arak? Jika benar, pantas dia tak merasa mabuk meminum tuakku sampai satu bumbung dihabiskan?!"

Dara Cupanggeni berkata jelas, "Mereka adalah pasangan yang menghancurkan hati Guru dan meninggalkan bekas luka yang sampai sekarang masih terasa perih di hati Guru. Aku harus melenyapkan mereka. Tapi kudengar Bidadari Jalang mempunyai murid sakti bernama Pendekar Mabuk. Barangkali aku juga harus lenyapkan muridnya itu jika ikut campur urusan ini. Bahkan si Gila Tuak yang konon menjadi guru utamanya Pendekar Mabuk, jika ikut campur akan kuhabisi sekalian biar mata dunia tahu, bahwa murid Nyai Sunti Rahim adalah orang yang layak dinobatkan sebagai Perawan Maha Sakti."

Gemuruh di dalam dada Pendekar Mabuk bagai ingin menyentak keluar. Gemuruh itu adalah kemarahan saat mendengar kedua gurunya diancam seremeh itu oleh Dara Cupanggeni. Tetapi dengan menahan napas beberapa saat, kemarahan yang bergemuruh itu mampu diredakan, sehingga penampilan Suto Sinting masih tetap kelihatan tenang-tenang saja.

"Kalau boleh aku beri saran padamu," kata Suto dengan mata tetap memandang ke mata gadis itu, "... sebaiknya urungkan saja niatmu untuk melenyapkan Bidadari Jalang atau yang lainnya."

Dara Cupanggeni yang menjuluki dirinya Perawan Maha Sakti sunggingkan senyum tipis berkesan manis. "Rasa-rasanya aku tak bisa terima saranmu. Kau tak punya alasan kuat untuk memberikan saran seperti itu."

"Alasanku adalah demi perdamaian di antara sesama dan demi keselamatan jiwamu juga. Bidadari Jalang dan Gila Tuak adalah dua tokoh yang tak bisa ditumbangkan dengan sekali-dua kali gebrak saja."

"Kau salah duga," kata gadis itu sambil tertawa kecil. "Justru aku akan memperlihatkan kepada mata para tokoh persilatan bahwa Bidadari Jalang akan menjadi belatung dalam dua kejap netra saja oleh Perawan Maha Sakti!"

Senyum Suto mulai sinis karena menahan kejengkelan. "Sesumbarmu sangat berbahaya, Dara Cupanggeni. Bidadari Jalang jangan disamakan dengan tokoh sakti lainnya. Sekalipun kau mempunyai ilmu 'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa' tapi kau akan hancur lebih dulu sebelum bertemu dengan Bidadari Jalang."

Gadis itu mulai curiga. Mulutnya diam terkatup, matanya tajam memandang. Akhirnya terlontar pula pertanyaan dari kecurigaannya itu, "Kau tahu tentang dua jurus andalanku itu? Kau bersikap menghalangi niatku untuk melawan Bidadari Jalang? Siapa kau sebenarnya?"

"Aku hanya pemuda desa yang tak berarti bagimu. Namaku Suto Sinting," jawab Pendekar Mabuk dengan tenang, bahkan segera membuka tutup bumbung tuak dan menenggak tuaknya dengan cuek. Ia tak peduli dipandangi gadis itu dengan wajah penuh keheranan.

"Suto Sinting?" gumam Dara Cupanggeni pelan sekali, lalu suara itu menjadi lebih jelas lagi ketika berkata, "Seingatku, Guru pernah sebutkan nama Suto Sinting sebagai nama asli Pendekar Mabuk. Apakah... apakah kau Pendekar Mabuk yang sekarang sedang kesohor namanya itu?"

"Setahuku, aku hanyalah murid tunggal dari Bidadari Jalang dan Gila Tuak!"

Wuuut...!

Dara Cupanggeni pindah tempat dengan gerakan cepat. Wajahnya mulai menegang dan kecantikan dari senyum manisnya lenyap seketika. Suto Sinting melirik dalam senyum sambil menutup kembali bumbung tuaknya.

"Kau terkejut?" sindir Suto kini melebarkan senyumnya, tenang sekali.

"Pantas kau mengenal tokoh-tokoh sakti yang ada dalam daftar orang-orang yang harus kulenyapkan!"

"Hanya kebetulan saja aku mengenal mereka. Sama halnya dengan sekarang, hanya kebetulan saja aku jumpa kau di sini."

"Kalau begitu aku harus harus singkirkan dirimu sebelum kau nyata-nyata menjadi penghalangku berhadapan dengan Bidadari Jalang!"

"Kapan kau akan singkirkan diriku? Sekarang? Aku sudah siap sekarang juga!" tantangan itu terdengar kalem tapi memanaskan darah gadis cantik itu.

"Jika kau menantangku sekarang juga, dengan sangat terpaksa aku harus melakukannya, Suto Sinting!" geram Dara Cupanggeni dengan mata menyipit benci.

Tali penggantung bumbung bambu dililitkan di tangan kanan Suto Sinting. Bumbung itu dapat digerakkan dengan mudah dan cepat jika talinya melilit di telapak tangan dan digenggam kuat-kuat. Suto Sinting sudah persiapkan diri dengan menempatkan bumbung tuaknya di depan dada. Matanya selalu memandang ke arah tangan Dara Cupanggeni secara tidak kentara.

"Aku harus mengadu kecepatan gerak dengan tangannya," pikir Suto sebelum Dara Cupanggeni berkata,

"Rupanya kau ingin menjajal ilmu 'Bias Dewa'-ku, Pendekar Tampan?!"

"Aku tak memaksamu keluarkan jurus itu," kata Suto. "Tapi kalau kau ingin lepaskan sekarang juga, aku sudah siap hadapi kekuatanmu itu, Dara Cupanggeni!"

"Dasar bodoh! Hiaaah...!"

Rupanya dalam menghadapi Pendekar Mabuk yang namanya cukup terkenal dan sedang menjadi bahan percakapan para tokoh itu, Dara Cupanggeni tidak mau bermain-main seperti menghadapi dua orang angker dari Tebing Karma tadi. Gadis itu segera lepaskan ilmu andalannya yang paling berbahaya. Tangannya berkelebat menguncup dengan jari telunjuk meruncing keras. Gerakan tangan yang seperti hendak melakukan totokan jarak jauh itulah yang diperhatikan Suto Sinting, sehingga ia dapat perkirakan sinar merah yang akan keluar nanti mengarah ke mana. Suto Sinting sudah persiapkan perisainya dengan menggerakkan bumbung tuak ke arah atas dada. Dugaannya sinar itu akan melesat ke lehernya. Maka ketika sinar merah itu benar-benar melesat dari ujung jari sang gadis, bumbung tuak segera menjadi sasarannya.

Claaap...! Desss...! Blegaaar...!

Sekalipun tubuh Suto Sinting tak dapat bergerak saat sinar itu melesat, namun bumbung tuak telah lebih dulu menghadang dan ledakan dahsyat pun terjadi menggelegar menggema kemana-mana. Suto Sinting segera terhempas ke belakang ketika sinar itu padam bersama bunyi ledakan dahsyat tadi. Dara Cupanggeni pun terlempar mundur lebih dari tiga tindak. Tubuhnya membentur pohon dalam keadaan berdiri limbung, ia memandang lawannya dengan sangat terheran-heran, karena Suto Sinting ternyata masih bisa berdiri lebih dari tiga gerakan. Namun keadaan Suto cukup parah. Mulutnya keluarkan darah, wajahnya tampak memar membiru. Hampir saja ia terhantam batang pohon yang tumbang seketika begitu terjadi ledakan bergelombang tinggi dan mengguncang bumi.

"Bumbung bambu itu tidak pecah?! Aneh?!" gumam hati Dara Cupanggeni. "Biasanya tak ada benda yang tidak bisa ditembus 'Bias Dewa'-ku. Tapi bumbung tuak itu tidak bolong sedikit pun. Tak ada tanda-tanda keretakan, bahkan lecet sedikit pun tidak?!"

Memang benar, bumbung itu tidak mengalami kerusakan apa pun. Tapi Suto sendiri juga merasa aneh karena sinar merah itu ternyata tidak bisa memantul balik seperti sinar-sinar tenaga dalam dari musuhnya yang terdahulu. "Sekujur tubuhku panas sekali. Gila! Dadaku sakitnya bukan main," Suto membatin, tapi matanya yang mulai buram dalam penglihatan tetap mencoba mengawasi gerakan Dara Cupanggeni. Bumbung tuaknya masih berada di tangan. Talinya melilit telapak tangan sampai lengan.

Dara Cupanggeni tidak mengalami cedera apa pun kecuali hanya rasa ngilu akibat terbentur pohon punggungnya. Melihat Suto Sinting limbung dalam berdirinya, ia bermaksud lepaskan sinar 'Bias Dewa' sekali lagi. "Kali ini dia tak akan bisa menangkis dengan bumbung tuaknya!" pikir Dara Cupanggeni. Maka, tangannya pun mulai merapatkan jemari, siap berkelebat melakukan serangan serupa.

Sayang sekali tiba-tiba sekelebat bayangan melintas di depannya dengan sangat cepat. Bayangan itu bagaikan sebentuk angin aneh yang menerjang Pendekar Mabuk, lalu kejap berikutnya sosok pendekar tampan itu lenyap dari pandangan mata Dara Cupanggeni.

Zlaaap...!

Rupanya ada seseorang yang telah menyambar Pendekar Mabuk dalam keadaan terluka dalam cukup parah itu. Dara Cupanggeni bergegas memburu ke arah lenyapnya bayangan tadi. Tapi agaknya ia tidak mampu mengejar lawannya, bahkan sempat melesat kearah yang berlawanan.

"Kurang ajar! Siapa orang yang berani ikut campur urusanku ini? Siapa yang menyambar Pendekar Mabuk?! Dia kira aku tak bisa melumpuhkannya walau ia mampu bergerak secepat itu?!" geram Dara Cupanggeni dalam pelacakannya.

* * *

TIGA
DALAM keadaan terluka berbahaya seperti itu, seandainya Dara Cupanggeni alias Perawan Maha Sakti itu lepaskan jurus 'Bias Dewa'-nya, pasti Suto tak akan dapat menangkisnya lagi. Sinar merah itu akan menghantam leher Pendekar Mabuk, dan nasib si tampan akan berakhir sampai di situ saja. Itulah pertimbangan seorang tokoh yang menyambar Suto Sinting.

Sampai di suatu tempat, Suto Sinting dibaringkan dibawah pohon. Ternyata keadaannya sudah semakin parah. Kulitnya mulai keluarkan bintik-bintik merah menyerupai ujung darah. Pandangan matanya kian buram, sehingga tak bisa melihat jelas siapa orang yang telah menyambarnya sampai ke situ.

Tetapi Suto mendengar suara samar-samar yang memerintahkan dirinya agar membuka mulut. Dengan lemas mulut itu pun membuka pelan-pelan, kemudian ia juga rasakan ada air yang mengucur ke dalam mulutnya hingga terpaksa tertelan beberapa teguk. Glek, glek, glek...! Suto tak sadar bahwa bumbung tuaknya sudah tidak ada di tangan lagi. Dan air yang mengucur itu tak lain tuak dari bumbung tersebut.

Rupanya kepergian tokoh yang menyambar Suto Sinting itu segera diikuti oleh si Bongkok Sepuh. Sampai di tempat itu, Bongkok Sepuh pandangi tokoh penolong Suto yang mengenakan pakaian ketat ungu muda model angkin sebatas dada berhias benang emas di tepiannya. Tokoh itu adalah seorang perempuan cantik seperti layaknya gadis berusia dua puluh lima tahun, tapi sebenarnya sudah lanjut usia. Ia juga kenakan jubah lengan panjang warna ungu tua. Rambutnya disanggul sebagian dengan pedang di punggung dibungkus kain ungu tua dari bahan beludru. Ia seorang perempuan yang cantik, mancung, dan bermata indah walau berkesan galak.

Bongkok Sepuh mengenal tokoh tua yang awet muda itu, karenanya Bongkok Sepuh segera menyapa dengan suaranya yang mirip orang menggumam. "Mengapa kau ikut campur urusanku ini, Sumbaruni?!"

Perempuan cantik itu segera menatap Bongkok Sepuh dengan pandangan mata memancarkan kedongkolan hati. Mulut Sumbaruni masih terkatup diam. Bongkok Sepuh kembali ucapkan kata sambil dekati Sumbaruni, bekas istri Jin Kazmat yang menjadi pewaris seluruh ilmu tokoh tua bernama Eyang Bayudana, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Tanpa Tapak).

"Mestinya kau tak boleh remehkan kekuatan Pendekar Mabuk, murid si Gila Tuak itu, Sumbaruni. Mundur dari pertarungan merupakan tindakan yang kurang terhormat bagi seorang pendekar kondang seperti Suto Sinting itu! Kau telah memalukan nama besar murid Gila Tuak dan Bidadari Jalang, Sumbaruni!"

Dengan menggeram jengkel Sumbaruni bicara, "Otakmu kau taruh di mana, Setan Arak?! Tak tahukah kau bahwa Suto bukan tandingan Dara Cupanggeni bersama ilmu 'Bias Dewa'-nya?!"

Rupanya usia Sumbaruni yang asli sejajar atau melebihi usia Bongkok Sepuh yang dulu dikenal dengan nama Setan Arak. Dengan begitu Sumbaruni bebas bicara dengan Bongkok Sepuh tanpa memandang si Bongkok Sepuh orang tua. Dan Bongkok Sepuh pun agaknya tidak pedulikan sikap Sumbaruni yang tampaknya ngelunjak, namun sebenarnya memang layak bersikap demikian. Ketidakpedulian itu disebabkan karena Bongkok Sepuh mengakui bahwa dirinya lebih muda dari Sumbaruni, walau wujud nyatanya terbalik.

"Kalau murid Sunti Rahim itu tidak gunakan ilmu 'Bias Dewa', aku tak akan campuri urusan mereka berdua. Tapi karena aku tahu bahwa Dara Cupanggeni telah kuasai ilmu 'Bias Dewa', maka aku tak akan biarkan Suto Sinting mati di tangan gadis itu."

"Kau mengecewakan aku, Sumbaruni!" Bongkok Sepuh bersungut-sungut sambil melangkah dengan tongkatnya. "Harapanku selamat dari ancaman dendam Sunti Rahim terletak pada kekuatan ilmu Pendekar Mabuk. Dan aku yakin pemuda itu punya cara sendiri untuk melawan ilmu 'Bias Dewa'. Buktinya ia tidak langsung mati seperti yang lain walau Dara Cupanggeni sudah lepaskan sinar merahnya! Kurasa bocah itu lebih cerdas daripada otakmu, Sumbaruni!"

"Oh, berarti kau yang membujuk Suto untuk bertarung dengan murid Sunti Rahim itu?! Keparat kau, Setan Arak! Kau gunakan orang lain sebagai tameng urusan masa lalumu! Licik kau, Setan Arak!" sentak Sumbaruni mulai marah.

"Kau tak punya hak untuk marah padaku, Sumbaruni! Kau bukan apa-apanya Suto Sinting!"

"Siapa pun orang yang ingin celakai kekasihku, akan kupertaruhkan nyawaku untuk membalas orang yang kucintai ini!"

"He, he, he, he...!" Bongkok Sepuh terkekeh. "Jadi kau mencintai Suto Sinting?! Oh, itu sebuah mimpi buruk bagimu, Sumbaruni. Cintamu tak akan dihiraukan oleh Suto Sinting, sebab setahuku dia sudah menjadi kekasih penguasa Puri Gerbang Surgawi yang bernama Dyah Sariningrum. Tentu saja Suto Sinting akan memilih Dyah Sariningrum daripada memilih perempuan bekas istri jin, sama saja Suto mendapatkan barang bekas jika memilihmu. Barang bekas kalau masih bagus agak lumayan, tapi kalau barang bekas yang sudah rusak berat tak ada gunanya dipiara. Suto tentunya tak akan mau dapatkan barang bekas yang tinggal sisa-sisa ketuaannya itu! He, he, he,he...!"

Sumbaruni gemetar menahan luapan amarah. Giginya menggeletuk, matanya menyipit, suaranya menggeram penuh getaran, "Mulutmu perlu dihancurkan, Setan Arak! Heaaah...!" tiba-tiba Sumbaruni sentakkan kedua tangannya yang mengembang di atas kepala. Dari sentakan telapak tangan yang membentuk cakar itu melesat dua sinar kuning secara bersamaan.

Clap, claaap...!

Sinar kuning itu menghantam wajah Bongkok Sepuh. Tetapi orang berkulit keriput itu segera kibaskan tongkatnya memutari kepala satu kali dan bagian ujung tongkat yang berbentuk seperti bola licin itu disodokkan kedepan.

Wuuut...!

Dari bola hitam tersebut keluar segumpal asap hijau bergulung-gulung dan cepat menyebar ke kanan-kiri. Sinar kuning terperangkat asap hijau. Zrruuub...! Asap itu bagaikan membungkus kedua sinar tersebut, membentuk bola besar berasap, melambung naik ke angkasa dan kejap berikutnya meledak dahsyat di atas sana.

Blegaaar...!

Bumi terasa berguncang akibat dentuman dahsyat itu. Asap hijau menyebar kian tebal, seakan langit ingin dilapisi dengan kabut hijau seluruhnya. Cahaya matahari tak bisa menerobos kabut tersebut, membuat alam menjadi remang-remang. Angin yang berhembus hadirkan hawa dingin yang makin lama semakin menggigilkan tubuh. Rupanya Bongkok Sepuh telah lepaskan jurus anehnya yang mempunyai kekuatan inti salju, dapat membekukan semua darah yang dinaungi awan hijaunya itu.

Suto Sinting yang mulai segar karena telah meneguk tuak saktinya itu hanya memandangi awan hijau dengan tubuh sedikit menggigil. Ia tahu datangnya hawa dingin melebihi salju, maka ia segera meneguk tuaknya lagi. Glek, glek, glek, glek...! Tuak itu sebagai penangkal hawa dingin salju. Sedangkan Sumbaruni segera lakukan gerakan-gerakan cepat dengan pergunakan kibasan kedua tangannya ke sana-sini untuk atasi hawa dingin itu. Lalu tiba-tiba kedua tangannya menyentak ke atas dengan satu kaki berlutut.

Ciaaap...!

Sinar merah terang dan lebar terlepas dari kedua tangan itu dan melesat ke atas menembus kabut hijau. Blegaar...! Gumpalan awan hijau itu pecah dan lenyap seketika setelah terhantam sinar merah dari tangan Sumbaruni. Alam terguncang tapi sinar matahari dapat memancar kembali ke bumi dan udara hangat mulai terasa menyebar.

Bongkok Sepuh memandang ke atas, memperhatikan lenyapnya awan hijaunya dengan rasa kecewa. Saat itulah Sumbaruni segera melompat dan menerjang Bongkok Sepuh dengan tendangan beruntun yang tak bisa dilihat mata.

Bruuuss...!

Tubuh Bongkok Sepuh terlempar delapan langkah dan terpelanting jatuh seperti dibanting di atas bebatuan.

Bruuk!

"Kau perlu dihajar agar lain kali tak akan pergunakan kekasihku untuk tameng nyawamu, Setan Arak! Hiaaah...!"

Sentakan tangan kiri Sumbaruni membuat tubuh yang terpuruk melesat tinggi ke atas, lalu kibasan tangan kanan Sumbaruni memutar tubuh itu dengan kencang. Wuuut...! Wwerrr...! Tubuh tua itu berputar bagai baling-baling, kemudian terlempar lagi ke arah lain dan membentur pohon. Bluuurrr...! Pohon itu guncang hebat, sepertinya mau patah dan tumbang. Bongkok Sepuh terpuruk di bawah pohon itu dengan terengah-engah dan bagaikan tak berdaya lagi.

"Sumbaruni, hentikan menghajarnya," seru Suto Sinting yang sudah mampu berdiri tegak dan keadaan tubuhnya sudah sesehat sebelum bertarung dengan Dara Cupanggeni. Suto Sinting mencoba dekati Sumbaruni yang sedang marah. Tapi langkah Suto terhenti setelah ia dibentak dan dituding oleh Sumbaruni,

"Diam di tempatmu! Aku akan kasih pelajaran pada si tua pikun itu!"

Sumbaruni hendak pergunakan kekuatan jarak jauhnya lagi untuk membanting dan mengajar Bongkok Sepuh. Tapi tiba-tiba tangan Bongkok Sepuh yang melepaskan tongkatnya itu mengembang dan telapak tangannya menghadang ke arah Sumbaruni. Dari telapak tangan itu keluar sinar putih sebesar lidi yang melesat ke arah Sumbaruni.

Zuiiit...!

Sumbaruni cepat sentakkan kaki dan melesat tinggi di angkasa, ia bersalto hingga kakinya mencapai salah satu dahan pohon yang kering. Sinar putih itu menerobos sebatang pohon besar. Jraab...! Zlaaap...! Pohon itu berlubang sebesar bumbung tuaknya Suto. Bahkan enam pohon di deretan belakang pohon pertama pun masih mampu ditembus sinar putih sebesar lidi itu.

Jrab...!

Blus, blus, blus, blus...!

Melihat keenam pohon berlubang seukuran bumbung tuak, Suto Sinting terperanjat kaget dan segera melompat ke depan Bongkok Sepuh. "Hentikan! Hentikan seranganmu!"

"Biarkan aku bertarung dengan si mulut sumbar itu, Suto!"

Sedangkan Sumbaruni segera melayang turun dari atas pohon dan berseru seraya mencabut pedangnya, "Minggir, Suto! Biarkan aku menebaskan pedangku sebagai pelajaran terakhir bagi si tua bangkaitu!"

"Tidak! Hentikan pertarungan ini!" bentak Suto kelihatan marah.

"Minggir, Suto," geram Bongkok Sepuh sambil melangkah dengan tongkat dltangan kiri, sedangkan Suto semakin mendekatinya.

"Kau berjanji hanya akan menahan Cincin Manik Intan-ku! Kau tidak akan menggunakannya! Kenapa sekarang kau menggunakan cincin itu untuk menyerang Sumbaruni! Aku tak setuju! Kuminta kembali cincin itu dengan cara apa pun!"

"Aku terpaksa lakukan karena Sumbaruni seenaknya menghajarku!"

"Tidak bisa!" sentak Suto. Bentakan itu membuat tubuh Bongkok Sepuh terdorong mundur tiga langkah. Orang tua itu merasa mendapat sentakan tenaga cukup besar dari hembusan napas mulut Suto.

Anak muda itu berseru lagi, "Kalau kau masih tetap mau pergunakan cincin pusaka itu, hantamkan ke tubuhku sekarang juga. Lepaskan amarahmu ke dadaku! Lakukan, Bongkok Sepuh! Dan aku tak akan membantumu lagi mengalahkan Dara Cupanggeni!"

Bongkok Sepuh terdorong mundur lagi. Ia mulai sadar, napas Suto sudah mulai membahayakan. Napas Tuak Setan lebih berbahaya jika sampai disentakkan melalui mulut Suto Sinting. Bongkok Sepuh mulai berpikir seratus kali untuk mempertahankan Cincin Manik Intan itu. Apalagi Suto Sinting berkata,

"Kalau kau ingin memiliki cincin itu untuk kepentingan murkamu, sebaiknya kita bertarung secara jantan, Bongkok Sepuh! Kau dulu disebut Setan Arak, dan aku Pendekar Mabuk! Kita adu kekuatan arak dengan tuak!"

Bongkok Sepuh semakin ciut nyali. "Kalau kulayani, mungkin juga aku bisa menang, mungkin pula akan hancur berkeping-keping diterjang Napas Tuaknya. Lagi pula, Gila Tuak pasti tidak akan tinggal diam dan menuntut balas atas perlakuanku kepada muridnya. Ah, jangan sampai Gila Tuak dan Bidadari Jalang mengamuk padaku! Sebaiknya kuserahkan saja cincin ini, tampaknya anak muda itu sudah mulai dipengaruhi oleh Napas Setan Tuak-nya. Berbahaya sekali. Bisa-bisa orang lain yang berada di arah belakangku bisa menjadi korban tak bersalah jika anak muda ini mulai murka."

Sumbaruni sendiri mulai tegang setelah ingat bahwa Suto Sinting mempunyai jurus yang amat berbahaya, yaitu Napas Setan Tuak. Sumbaruni mengendurkan ketegangannya, bahkan memasukkan pedangnya kembali. Sebab ia tahu bahwa saat itu Suto Sinting benar-benar diliputi kemarahan karena Bongkok Sepuh menggunakan Cincin Manik Intan. Sumbaruni tak tahu bagaimana awalnya hingga Cincin Manik Intan ada di tangan Bongkok Sepuh, yang jelas ia tahu kekuatan dahsyat pada cincin pusaka tersebut.

"Serahkan cincin itu atau kita adu kesaktian?!" geram Suto yang terpancing kemarahannya karena melihat Sumbaruni nyaris mati dengan cincin itu.

"Tapi kau janji tetap akan menghadapi Dara Cupanggeni?!"

"Aku janji!" kata Suto dengan tegas.

Bongkok Sepuh tak punya pilihan lain. Cincin Manik Intan dilepas dan diserahkan kepada Suto. Cincin itu dikenakan di jari manis Suto sebelah kanan. Cara memakainya juga terbalik, sehingga sewaktu-waktu getaran amarahnya meluap, Cincin Manik Intan tidak keluarkan sinar tanpa arah yang dapat membahayakan orang lain.

"Hadapi gadis itu, kalau perlu pergunakan cincinmu itu, Suto," kata Bongkok Sepuh.

Tapi Sumbaruni segera menyahut, "Tidak! Tak kuizinkan Suto bertarung melawan murid Sunti Rahim!"

"Apa urusanmu melarang Suto, hah?!" sentak Bongkok Sepuh.

"Kalau dia celaka aku yang rugi!" jawab Sumbaruni dengan keras.

Bongkok Sepuh dekati Sumbaruni dan berkata dengan geram, "Bercerminlah dalam wujudmu yang sebenarnya Sumbaruni! Suto layak menjadi cucumu, bukan suamimu! Kau lebih pantas menjadi istri jin seperti dulu!"

Plaaak...!

Kelebatan tangan Sumbaruni tak bisa ditangkis Bongkok Sepuh. Tamparan yang mendarat di pipi Bongkok Sepuh membuat orang tua itu terpelanting, nyaris jatuh kalau tak segera bertahan dengan tongkatnya. Pipi tua itu membekas merah, empat jari Sumbaruni ada di pipi itu.

"Tahan...!" seru Suto Sinting. Pendekar tampan dan gagah itu segera dekati Sumbaruni, berdiri di samping wanita muda yang cantik jelita itu. "Biarkan aku menghadapi Dara Cupanggeni! Dia punya niat tak baik bagi kehidupan kita bersama, Sumbaruni!"

"Dara Cupanggeni bukan tandinganmu, karena dia memiliki ilmu 'Bias Dewa'. Jangan bodoh kau, Suto! Kau akan mati jika nekat melawannya!"

"Akan kutantang dengan Cincin Manik Intan ini!"

"Cincin itu tak akan mampu menembus tubuhnya, karena dia punya ilmu 'Darah Gaib' yang kusaksikan dari tempat tersembunyi saat ia bertarung melawan dua orang Tebing Karma itu!"

"Jangan remehkan kesaktian cincin ini, Sumbaruni!"

"Aku tidak remehkan! Tapi aku tahu bahwa dia punya 'Darah Gaib' yang tak bisa ditembus dengan kekuatan dahsyat pusaka apa pun! Kekuatan 'Darah Gaib' sejajar dengan kekuatan 'Seruling Malaikat', Suto! Dia hanya bisa dikalahkan dengan Pedang Kayu Petir!"

Bongkok Sepuh menyambar omongan, "Siapa bilang?! Aku yakin Cincin Manik Intan dapat tembus 'Darah Gaib'. Sekarang baru kusadari kebodohanku tadi. Seharusnya aku tidak menawan cincin pusakamu itu, Suto. Seharusnya tadi kau pergunakan cincin itu untuk melawan Dara Cupanggeni!"

"Tua bangka! Jangan kau jerumuskan orang tak bersalah ini untuk kepentingan pribadimu! Cincin itu tidak akan bisa imbangi kekuatan 'Darah Gaib'!"

"Bisa!" bantah Bongkok Sepuh tak mau kalah.

"Tidak bisa!"

Suto Sinting berseru, "Bisa atau tidak harus kucoba dulu!"

"Betul!" kata Bongkok Sepuh.

"Tidak! Aku tidak setuju! Ilmu yang ada pada gadis itu tidak bisa dipakai untuk coba-coba!"

"Aku punya cara sendiri untuk mencobanya!"

"Aku tidak setuju!" sentak Sumbaruni. "Kalau kau nekat mau mencoba menghadapinya, hadapi dulu jurus 'Anak Rembulan' ini!"

Tangan Sumbaruni tak disangka-sangka berkelebat seperti melemparkan sesuatu dari samping. Yang keluar dari lemparan itu adalah sinar kuning berbentuk seperti bintang. Sinar kuning itu tahu-tahu telah kenai pundak Suto.

Claaap...!

Brruk...! Suto Sinting langsung terkulai lemas bagai kehilangan seluruh kekuatannya. Sinar kuning itu pernah diterima Suto dan membuat Suto seperti tak berilmu lagi beberapa waktu yang lalu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Tanpa Tapak). Siapa pun yang terkena jurus 'Anak Rembulan' akan menjadi lunglai tanpa daya, bahkan menggerakkan jari tangannya pun tak bisa.

Melihat keadaan Suto dilumpuhkan, Bongkok Sepuh menjadi marah. Ia segera sabetkan tongkatnya ke arah Sumbaruni sambil berseru, "Beraninya kau lumpuhkan jago andalanku itu, hah...? Heaaah...!"

Wuuut...! Sumbaruni hadangkan pukulan tongkat dengan lengan kirinya. Dees...! Blaar...! Ledakan terjadi menghentakkan kedua tokoh itu. Namun mereka masih sama-sama saling serang kembali. Pertarungan itu membuat mereka lengah dan tak tahu ada sekelebat bayangan hitam yang menyambar tubuh Suto bersama bumbung tuaknya.

Wuuuusss...!

* * *

EMPAT
KERIMBUNAN hutan sisi lereng membentuk semacam lorong-lorong beratap dedaunan. Ranting-ranting saling bertaut, dahan-dahan rendah berbentuk lengkung. Di situlah Suto Sinting ditelentangkan oleh si penyambar yang menganggap tempat itu lebih aman dan lebih tersembunyi.

Kali ini orang yang menyambar Suto dalam keadaan lemas tanpa daya itu adalah seorang gadis berwajah cantik liar. Cantik tapi kesannya seperti liar dan ganas. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya serba hitam ketat seperti terbuat dari karet. Ketatnya pakaian membentuk tubuh meliuk-liuk penuh pesona kegairahan.

Siapa lagi gadis berpakaian hitam dan berwajah cantik liar kalau bukan Angin Betina, murid Nini Pancungsari yang telah berubah aliran dari hitam ke putih? Pertemuan dan perkenalannya dengan Pendekar Mabuk itulah yang membuat tokoh muda beraliran hitam itu merubah haluan menjadi tokoh cantik beraliran putih, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pedang Kayu Petir)

Janjinya yang ingin menjadi pelindung Suto Sinting, tameng terdepan bagi Pendekar Mabuk, telah membuatnya berang melihat sang pendekar terkapar tak berdaya. Tak ada raut sedih pada wajahnya, yang ada hanyalah kemarahan yang menggeram-geram penuh hasrat untuk berbalas dendam.

"Jangan ke mana-mana. Tetaplah di sini. Aku akan segera kembali setelah menghajar Sumbaruni!" katanya kepada Suto yang terkapar tanpa daya sedikit pun itu.

Namun karena Suto masih bisa bicara lamban, ia pun berkata, "Jangan lakukan!"

"Tidak bisa! Sumbaruni yang menyerangmu saat kuintip dari balik semak! Aku melihat sendiri sinar kuningnya kenai pundakmu!"

"Angin Betina."

"Aku hanya sebentar. Jangan ke mana-mana!"

"Mau ke mana lagi, Tolol?! Keadaanku seperti ini jelas tak mungkin ke mana-mana!" ucap Suto Sinting dengan nada kesal namun tak bisa dilampiaskan dengan tekanan semestinya.

Angin Betina bangkit. Pedang yang diselipkan di pinggang dicabut bersama sarungnya. Digenggam dengan tangan kiri untuk dicabut sewaktu-waktu, ia bergegas pergi setelah berkata, "Perempuan itu memang layak mendapat pelajaran terberat dariku!"

"Angin Betina, tunggu dulu!" cegah Suto Sinting. "Jangan lakukan pertarungan dengan Sumbaruni!"

'Kau pikir aku kalah ilmu dengannya? Dia boleh cabut pedangnya dan bertarung sampai mati denganku. Kau akan tahu siapa yang unggul dalam bermain pedang nanti!"

"Memang betul, tapi dengarlah dulu kataku, Angin Betina...!"

"Tidak bisa! Aku harus bikin perhitungan dengannya. Dia atau aku yang mati!"

"Dengarlah dulu, Angin Betina! Dia lakukan begini bukan karena benci padaku tapi karena..."

"Kau masih ingin membelanya?!" sergah Angin Betina bernada cemburu. "Kalau kau memang ingin membelanya,

baiklah aku pergi dan kita tak perlu jumpa lagi!" "Angin Betina," keluh Suto yang tanpa daya itu. "Ini bukan masalah pembelaan, ini masalah keselamatan. Kau salah paham, Angin Betina. Sebaiknya."

"Aku sudah berjanji padamu untuk menjadi pelindungmu! Barang siapa ingin lukai dirimu harus melukai nyawaku lebih dulu! Sekarang Sumbaruni membuatmu terkulai begini, kehilangan kekuatan, kehilangan ilmu, dan harus ditebus dengan kehilangan nyawanya. Aku tidak terima! Aku akan menuntut balas kepadanya!"

"Jangan pergi, Angin Betina.!"

Weees...! Gadis itu melesat seperti angin. Suto Sinting berusaha berseru namun tak seberapa keras, "Angin Betina...! Tolong pulihkan dulu diriku! Hei... kembalilah! Ada yang harus kau lakukan sebelum kau pergi! Haaai...! Kampret!"

Kesal sekali hati Suto Sinting ditinggalkan Angin Betina dalam keadaan masih terkulai tak berdaya sebegitu. Padahal mestinya Angin Betina tuangkan tuak ke mulut Suto lebih dulu, supaya kekuatannya pulih kembali. Sebab dulu ketika Suto alami sama seperti itu, Angon Luwak si bocah penggembala datang dan menuangkan tuak ke mulut Suto. Dengan begitu pengaruh jurus 'Anak Rembulan' segera lenyap. Suto tidak lagi terkulai lemas. Seluruh kekuatannya pulih kembali bersama ilmunya.

Tetapi agaknya gadis berambut acak-acakan itu lebih mementingkan amarahnya ketimbang memulihkan Suto. Atau ia memang tidak tahu bahwa hal yang sebaiknya dilakukan paling utama adalah menuangkan tuak ke mulut Suto. Rasa cemburu dan dendam itulah yang membuat Angin Betina hanya punya satu tujuan; melabrak Sumbaruni. Akibatnya Suto hanya terkapar dengan mata berkedip-kedip dan di hati penuh kedongkolan. Bukan pada Sumbaruni saja, melainkan dongkol pula kepada Angin Betina.

Di sela-sela kedongkolan hati itu terselip pula perasaan cemas membayangkan pertarungan Angin Betina dengan Sumbaruni. Sekalipun Angin Betina mahir memainkan jurus pedang dan mampu melakukan gerakan secepat anak panah, tetapi kekuatan tenaga dalamnya lebih unggul Sumbaruni. Angin Betina bisa mati dihajar Sumbaruni dari jarak jauh. Jika Sumbaruni pergunakan jurus 'Siulan Hantu'-nya, Angin Betina belum tentu mampu menahan kekuatan bunyi siulan yang bertenaga dalam tinggi dan mampu meledakkan pohon serta batu besar itu.

"Gadis dungu!" gerutu Suto dengan suara pelan. "Kalau dia mati melawan Sumbaruni, siapa yang tahu bahwa aku ada di sini? Aku bisa mati dengan sendirinya jika tersembunyi di sini berbulan-bulan! Konyol juga gadis itu!"

Suto Sinting berusaha gerakkan kepalanya, namun sedikit pun tak mampu bergerak. Matanya mencoba melirik ke kanan-kiri mencari di mana bumbung tuaknya, tapi Suto tak berhasil melihat benda itu di sampingnya. Padahal benda itu ada di atas kepalanya dalam jarak tiga jengkal saja. Suto menjadi lebih dongkol lagi menghadapi keadaan dirinya. Kekuatan batinnya pun tak mampu digunakan untuk mengangkat tubuh atau menggerakkan benda apa pun.

Ia benar-benar seperti bayi baru lahir yang hanya bisa gerakkan mata kanan-kiri dengan pelan-pelan. Semula ia ingin berteriak minta tolong, tapi menyadari suaranya tak mampu keras akhirnya niat itu dibatalkan. Ia hanya bisa mendesah membuang kekesalan hatinya. Tetapi desahannya terasa lain. Hati Suto Sinting merasa heran sekali mendengar suara desahan napasnya menggeram besar. Setahunya ia tak punya suara desahan sebesar itu.

"Gggrraaaoww...!"

"Mati aku! Suara apa itu tadi? Macan apa harimau? Oh, sama saja! Aduh, dari mana suara itu tadi?!" Suto menjadi tegang sendiri, matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Telinganya menangkap suara gemerisik, seperti tanaman dan ranting terinjak kaki, entah kaki manusia atau kaki binatang. Yang jelas suara geram yang didengarnya tadi membayangkan sebentuk wajah seram dengan gigi runcing dan taring setajam pedang. Langkah-langkah kaki kian mendekat. Semak yang terinjak bertambah jelas di pendengaran. Kejap berikut suara raung membesar terdengar lagi lebih dekat.

"Grraaow...!"

Suto Sinting melirik ke kiri. Semak ilalang di sebelah kiri bergoyang-goyang. Itu menandakan ada sesuatu yang mendekam di sana atau menerabas melintasinya. Suara tersebut terdengar lagi,

"Grraaow...!"

"Oh, Dewa...! Itu benar-benar suara harimau. Matilah aku. Mati sudah!" Pendekar Mabuk mulai ciut nyali. "Dalam keadaan tak bisa bergerak tak bisa melawan, harimau itu dapat seenaknya menyantap dagingku. Oooh... nasib sial apa sebenarnya yang menimpaku jadi begini?!"

"Graaaaooowww...!" raung harimau memanjang, wajahnya tampak di balik semak sedang mengincar ke arah Suto Sinting. Harimau itu berbulu loreng kuning- hitam. Seringai mulutnya tampak sedang mempersiapkan diri memangsa hidangan yang terbaring bebas dalam jarak empat langkah didepannya.

Suto Sinting berdebar-debar. "Bagaimana caraku melawannya jika dalam keadaan begini?! Oh, sudahlah. Pasrah saja. Mudah-mudahan sekail santap aku langsung mati, jadi untuk santapan berikutnya aku tak rasakan sakit. Mudah-mudahan jangan jempol kakiku lebih dulu yang dicicipinya...!" Suto membatin dalam ketegangan yang sebenarnya telah hadirkan keringat dingin di keningnya.

"Hmmmmgggrrr...!" Harimau itu pakai menggumam segala, makin membuat hati Suto bagai dipermainkan. Wujudnya telah tampak penuh. Menyeramkan sekali. Tubuh harimau loreng itu besar dan mulutnya tampak lebar. Ia melangkah pelan-pelan dengan suara geram dan raungnya yang membuat jantung Suto seakan-akan sedang diguncang dan dipermainkan.

Tiba-tiba dari sisi kanan terdengar suara yang sama. "Grraaoowww...!"

Suto membatin, "Wah, ada dua...?! Mampuslah aku. Sudah tak dapat bergerak, masih harus dikeroyok dua harimau! Hmmm... selamat tinggal sajalah kepada dunia ini! Kapan-kapan aku datang kalau Dewata mengizinkan." Mata Pendekar Mabuk melirik ke kanan, ia terkejut karena di sebelah kanan tampak sosok harimau lebih besar dengan bulu loreng putih hitam. Mata harimau loreng hitam itu tampak lebih tajam memperhatikan ke arah Suto, lebih bernafsu sekali untuk menyantap tubuh Suto. Jantung pun seakan berhenti berdetak karena cepatnya hingga tak terasa debarannya.

"Ggrraaoow...!" raung si loreng hitam-kuning.

"Grrraaaoowwm...!" balas si loreng hitam-putih.

Suto Sinting hanya membatin, "Barangkali mereka sedang berunding, siapa dulu yang ingin menerkamku? Celaka! Baru sekarang nasibku dirundingkan oleh dua binatang buas. Ooh... benar-benar konyol si Angin Betina itu; meletakkan diriku di sarang macan! Sama saja ia meletakkan diriku di atas ujung tombak!"

"Grraaowww...!"

Dan tiba-tiba harimau loreng hitam-putih itu meraung panjang sambil melompat ke arah Suto Sinting. "Grrraaaoooww...!"

Weeesss...!

Suto Sinting pejamkan mata kuat-kuat sambil mengeluh, "Habislah riwayatku!"

Tetapi suara raung kedua harimau itu semakin tidak beraturan. Suto Sinting buka mata kembali. Melirik ke kiri dan melihat kedua harimau itu sedang saling bertarung dengan sendirinya. Geram dan raungan pertarungan mereka menggema memenuhi hutan berpepohonan lengkung. Kalau saja saat itu Suto bisa bergerak, ia pasti akan cepat-cepat larikan diri pada saat kedua binatang buas itu bertarung. Tapi karena ia tidak bisa berbuat apa-apa, maka ia hanya bisa membatin sambil menunggu nasib,

"Mereka bertarung memperebutkan diriku. Oh, nasib! Biasa diperebutkan wanita sekarang diperebutkan harimau. Kutukan siapa sebenarnya ini?"

Pertarungan dua harimau itu cukup seru. Mereka saling cakar dan saling terkam. Tapi agaknya si loreng hitam-putih yang unggul, karena tubuhnya tak terluka sedikit pun, sedangkan si loreng hitam-kuning tampak berdarah di bagian tengkuk dan wajahnya. Si loreng hitam-putih menyerangnya dengan buas, sampai akhirnya loreng hitam-kuning larikan diri, loreng hitam-putih mengejar.

Napas Suto yang semula berat menjadi ringan kembali. Hatinya membatin, "Bagus! Kejar terus dia sejauh mungkin, dengan begitu diriku akan selamat dari ancaman maut mulut kalian!"

Kini yang diharapkan Suto adalah kehadiran Angin Betina. Suto ingin cepat-cepat tinggalkan sarang harimau itu. Napasnya yang sudah lega dan enteng tak mau menjadi berat lagi karena kemunculan binatang buas lainnya. Hal yang dicemaskan Suto ialah kemunculan seekor ular yang jelas tak mungkin bisa diajak berundinglagi. Tetapi sampai beberapa saat lamanya Angin Betina belum kembali. Pasti sedang sibuk lakukan pertarungan dengan Sumbaruni.

"Atau mungkin malah sudah mati dihajar Sumbaruni?!" pikir Suto. "Eh... tapi sepertinya ada suara langkah kaki yang datang dari arah kiri? Oh, syukurlah! Pasti Angin Betina gagal temui Sumbaruni dan kembali dengan wajah murung. Masa bodohlah! Dia mau berhasil tumbangkan Sumbaruni atau tidak, yang penting dia akan cepat-cepat singkirkan aku dari sini!" seraya mata Suto melirik ke kiri. Tepat ketika ia melirik ke kiri, langkah kaki yang didengarnya sudah dekat dan suara pun terdengar menggetarkan jantung.

"Grrraaaoowww...!"

"Yaaaah... dia lagi?!" ucap Suto membatin dengan sambil matanya meredup pertanda hatinya melemah kembali. Harimau loreng hitam-putih muncul lagi dengan sorot matanya yang tajam. Langkahnya bagaikan ingin mengguncang bumi karena badan harimau itu cukup gemuk. Makin lama langkahnya makin pelan ketika jaraknya kian denganSuto.

"Rupanya dia masih ingat ada makanan yang tersisa di sini sehingga balik kembali. Sial! Kalau yang ini... sekali caplok kepalaku pasti masuk. Mudah-mudahan dia langsung menggigit patah leherku jika kepalaku sudah masuk ke mulutnya. Jangan sampai hanya dikulum-kulum saja, bisa putus jantungku tanpa luka leherku," pikir Suto dalam kepasrahannya.

"Ggrrraaaaooww...!"

Suto mencoba mengajak bicara karena tak punya akal apa-apa lagi, "Jangan begitulah. Kita kan teman? Kita bersahabat saja."

"Ggrraaooowwm...!"

"Berhentilah di situ. Jangan dekati aku. Aku tak berdaya. Tidakkah kau kasihan padaku? Jika kedatanganku di sini mengganggu wilayahmu, jangan salahkan aku. Salahkanlah Angin Betina. Cari dia dan gigitlah dia, karena dia yang menempatkan aku di sini!"

Harimau itu benar-benar berhenti dalam jarak tiga langkah sebelum mencapai Suto Sinting. Ada keheranan di hati Suto pada saat itu, "Dia berhenti karena mendengar kata-kataku atau berhenti untuk memperhitungkan bagian mana yang harus disantapnya lebih dulu?"

Ekornya bergerak-gerak bagai kipas tak berkembang. Matanya yang bundar ganas masih memandang penuh selera makan. Hembusan napasnya terasa menerpa lengan Suto Sinting. Tak heran jika kulit Suto Sinting pun merinding karena merasakan awal dari bencana yang akanmenimpanya. Suto Sinting yang tak punya daya dan tak punya akal lagi mencoba mengajak binatang itu untuk bicara,

"Duduklah yang sopan. Jangan berdiri terus di situ. Tak ada jeleknya kau menghormati calon korbanmu sebelum kau menyantapnya."

Eh, binatang itu benar-benar duduk. Kedua kaki belakangnya dilipat, merapat dengan tanah, kedua kaki depannya ditekuk sebatas persendian. Matanya melirik ke sana-sini dengan gerakan kepala yang lamban. Ekornya berkopat-kapit seakan siap menyabet lalat yang ingin mengganggunya.

Dalam hati Suto Sinting merasa heran melihat harimau loreng putih-hitam duduk sesuai perintahnya. "Jangan-jangan dia mengerti bahasa manusia? Atau sengaja menikmati wujud calon mangsanya sepuas mungkin baru bertindak? Oh, ya... bukankah aku punya jurus 'Siulan Peri' yang bisa bikin gendang telinga manusia dan hewan menjadi sakit? Bagaimana kalau kucoba untuk mengusir hewan ini?"

Suto Sinting segera mencoba bersiul. "Suiisss... suiiiis...!"

"Sial! Siulanku tak bisa keras dan bening. Pasti ini pengaruh 'Anak Rembulan' yang melumpuhkan seluruh ilmuku juga."

Jurus 'Siulan Peri' tidak dapat digunakan. Suto Sinting semakin pasrah. Hanya ada satu harapan, yaitu mengajak bicara binatang itu, siapa tahu bisa dijinakkan dengan kata-kata. Maka, Suto Sinting pun kembali melirik kekiri.

"Hahh...?!" mata Suto kalau bisa mendelik pasti akan mendelik, karena harimau loreng hitam-putih itu ternyata sudah berubah wujud menjadi seorang lelaki kurus yang duduk dengan santai, kedua kakinya ditekuk sampai hampir menyentuh dada. Kedua tangannya mendekap kaki itu.

Orang tersebut nyengir geli memandangi Suto yang terperanjat kaget. Lelaki berpakaian serba hitam, berambut putih, dan berusia lanjut itu segera menyapa dengan suara kekeh tawanya, "Baru sekarang aku melihat pendekar hebat tak terkalahkan berwajah pucat dan berkeringat dingin. He, he, he, he...!"

"Ki Sonokeling...!" keluh Suto menyebut nama orang yang sudah dikenalnya. "Kalau aku bisa bergerak sudah kupukul kau, Ki Sonokeling!"

Orang tua itu semakin terkekeh geli. Ki Sonokeling adalah tokoh tua, teman dari si Gila Tuak yang dulu pernah jumpa dengan Suto Sinting dalam peristiwa di Petilasan Teratai Dewa, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Malaikat Jubah Keramat), ilmu orangtua itu memang dapat merubah diri menjadi seekor harimau. Tapi hal itu sangat di luar dugaan Suto Sinting.

"Aku baru saja mau beranjangsana ke tempat tinggal gurumu, Suto. Kebetulan aku lewat jalanan sebelah selatan sana. Kudengar ada suara aum harimau. Maka kudekati tempat ini, dan ternyata kau dalam ancaman bahaya si loreng tadi. Kulihat kau dalam keadaan lemas tak berdaya, maka aku terpaksa mengusir si loreng tadi dengan merubah diri seperti kawanannya."

Napas Pendekar Mabuk menjadi enteng kembali. "Pantas kau bisa mengerti bahasaku," ujarnya bernada gerutu. "Lain kali jangan memandangiku dengan menyeramkan begitu. Jantungku nyaris terbelah menjadi tujuh, Ki."

"He, he, he, he.... Maafkan aku, Suto. Aku senang menggoda anak muda yang selama ini menjadi kebanggaanku. Tapi... ngomong-ngomong mengapa kau sampai seperti ini, Suto? Apa yang membuatmu terkulai lemas tak berdaya ini?"

Suto Sinting tidak langsung menjawab tapi justru berkata, "Tolong tuangkan tuak ke mulutku, Ki Sonokeling. Apakah di sekitar sini ada bumbung tuakku?"

"Ya, ada di atas kepalamu."

"Tuangkanlah, biar kuminum beberapa teguk."

"Katakan dulu apa yang membuatmu menjadi begini?"

"Tuangkanlah dulu, nanti kujelaskan!" kata Suto, karena pikirnya hal yang paling utama adalah meneguk tuak untuk peroleh kekuatan kembali daripada menjelaskan masalahnya dalam keadaan masih terkapar tanpa daya. Bisa-bisa Ki Sonokeling pergi memburu Angin Betina dan Sumbaruni sebelum menuangkan tuak ke mulutnya.

Tokoh tua itu akhirnya menuangkan tuak tersebut. Beberapa teguk tuak ditelan Suto. Sebagian tuak ada yang tersiram di wajah. Suto gelagapan dan berkata sedikit seru, "Hati-hati! Jangan sampai masuk ke hidung dan mata. Perih!"

"Maaf, aku geli melakukan hai ini. Ingat waktu aku mengisi air di lubang belut pinggir sungai!"

"Jangan anggap mulutku seperti lubang belut, Ki."

"Maaf, aku terlalu jujur!"

Tuak sudah tertelan beberapa teguk. Bahkan Suto sempat tersedak batuk. Kemudian ia diam beberapa saat, pejamkan mata sambil mengatur pernapasannya. Ki Sonokeling memandang ke sana-sini, seakan menjaga keamanan Suto, murid sahabat karibnya itu. Beberapa saat kemudian, jemari tangan Suto mulai bisa digerakkan, disusul dengan anggota tubuh lainnya, dan kini Suto pun mulai bisa bangkit. Duduk dengan kaki dilonjorkan, dipijat-pijatnya sendiri karena merasa kaku pada bagian persendian lututnya.

"Sekarang kau sudah bisa jelaskan masalahmu?" tanya Ki Sonokeling.

"Kau kenal Sumbaruni?"

"Ya. Bekas istri Jin Kazmat itu maksudmu?"

"Benar. Dialah yang membuatku lemas tak berdaya."

Ki Sonokeling kerutkan dahi tuanya yang memang sudah berkulit mengkerut itu, matanya menatap heran pada Suto Sinting. Sebelum Suto Sinting ucapkan kata, Ki Sonokeling sudah lebih dulu berujar, "Mengapa ia memusuhimu? Padahal ketika kami ingin mencabut gelar kependekaranmu dalam peristiwa kematian Empu Sakya itu, Sumbaruni orang yang paling ngotot membelamu. Ada persoalan apa sehingga Sumbaruni tega melumpuhkanmu?!"

"Bukan dengan maksud benci atau bermusuhan. Maksudnya baik, tapi caranya yang tidak kusetujui."

Suto Sinting mencoba berdiri, ternyata bisa tegak, ia melemaskan gerakan kaki dan tangan, juga melicikkan pinggangnya yang tadi terasa kaku dan pegal itu. Setelah merasa dirinya pulih seperti sediakala, penjelasan yang ditunggu Ki Sonokeling itu dilanjutkan.

"Sumbaruni melarangku bertarung dengan Dara Cupanggeni yang menjuluki dirinya Perawan Maha Sakti, murid Sunti Rahim. Mungkin kau kenal nama Sunti Rahim."

"Ya, ya... aku sangat kenal nama itu. Dan aku sedang mau bicarakan kepada gurumu; Gila Tuak, tentang sebuah ilmu yang hanya dimiliki oleh Sunti Rahim."

Suto Sinting berkerut dahi, "Maksud Ki Sonokeling, ilmu 'Bias Dewa'?"

"Benar. Karena aku merasakan adanya pengaruh ilmu 'Bias Dewa' beberapa kali. Saat kumandi di pancuran, air pancuran berhenti mendadak. Kejap berikutnya bergerak seperti biasa lagi. Aku jadi ingat ilmu 'Bias Dewa' yang bila digunakan bisa membuat alam mati dalam sekejap."

"Kalau begitu semua tokoh tingkat tinggi tentunya mengetahui tentang penggunaan ilmu 'Bias Dewa' itu?"

"Kurasa begitu. Tapi setahuku ilmu tersebut tak bisa dipergunakan oleh Sunti Rahim, sebab dia sudah tidak perawan lagi."

"Muridnya yang menggunakannya, Ki. Perawan Maha Sakti julukannya."

"Pantas! Pasti dia masih gadis, masih perawan, dan... itu sangat berbahaya. Dia akan kalahkan siapa saja dengan ilmu 'Bias Dewa' itu, Suto. Kau pun tak mungkin bisa tandingi ilmu 'Bias Dewa'. Jadi..., kurasa langkah yang diambil Sumbaruni memang benar, hanya caranya sedikit salah. Kusarankan juga, jangan hadapi murid Sunti Rahim itu, Suto. Kau bisa ditumbangkannya!"

Kemudian Suto Sinting ceritakan masalahnya dengan Bongkok Sepuh sampai ia mencoba menghadapi Perawan Maha Sakti dan disambar oleh Sumbaruni, lalu disambar pula oleh Angin Betina. Ki Sonokeling menerawang memandangi dedaunan sambil berkata bagai orang menggumam,

"Sebenarnya Setan Arak tak boleh begitu! Urusan pribadinya harus dia hadapi sendiri, jangan memaksa seseorang untuk ikut mencampurinya!"

"Dia sangat ketakutan, Ki!"

"Sekarang di mana Setan Arak? Aku mau temui dia!"

"Bertarung dengan Sumbaruni. Namun terlepas dari masalah pribadi Setan Arak, menurutku Perawan Maha Sakti memang harus dilumpuhkan, ia mencoba menantang Gerhana Mandrasakti, juga ingin membalaskan sakit hati gurunya kepada Bibi Guru Bidadari Jalang. Malahan jika perlu ia akan melawan Kakek Guru Gila Tuak, Ki. Banyak tokoh sakti yang akan ditumbangkannya, karena ia ingin diakui sebagai orang terkuat di dunia persilatan, sebagai Perawan Maha Sakti yang patut dihormati oleh semua tokoh!"

"Hmmm... begitu?" Ki Sonokeling manggut-manggut.

Suto Sinting meneguk tuaknya lagi. Sebentar kemudian berkata, "Aku harus mencegah niat jahatnya itu, Ki. Aku harus menghadapinya!"

Ki Sonokeling tarik napas, melangkah menjauhi Suto dengan berpikir, lalu kembali lagi dekati pendekar tampan yang telah gagah perkasa kembali itu. "Ini pekerjaan yang sulit. Apalagi kau tadi menceritakan tentang ilmu 'Darah Gaib' yang juga dimiliki oleh Perawan Maha Sakti. Jelas ini hal yang paling sulit untuk dihadapi. Kau tidak mudah menumbangkannya, Suto. Dia kebal, tapi juga punya ilmu berbahaya. Dalam sekejap saja kau bisa dibuatnya tak bernyawa."

"Aku akan melawannya dengan Cincin Manik Intan. Ki!" sambil Suto memperlihatkan cincin yang dikenakan terbalik di tangannya.

Ki Sonokeling pandangi cincin pusaka itu beberapa saat sambil berpikir, lalu memandang Suto dengan berkata pelan, "Aku tak yakin cincin ini bisa menembus 'Darah Gaib'. Setahuku ilmu 'Darah Gaib' adalah ilmu kebal yang tertinggi, sejajar dengan ilmu kebal bagi pemilik pusaka Seruling Malaikat. Jadi, terus terang saja aku tak yakin kalau sinar maut Cincin Manik Intan ini dapat menembus lapisan gaib tubuh Perawan Maha Sakti."

"Bagaimana jika menggunakan jurus 'Manggala Yudha'-ku itu, Ki?"

"Aku tidak tahu secara pasti, tapi hati kecilku tetap sangsi akan keberhasilan jurus itu."

Suto Sinting diam sesaat. Dalam hatinya timbul niat untuk berlaku curang, mencoba jurus-jurus mautnya dari belakang Perawan Maha Sakti. Tapi niat itu disingkirkan karena hati kecil Suto seakan tak ingin melakukan pertarungan dengan cara membokong lawan. "Jadi menurutmu kedua ilmu itu tidak mempunyai kelemahan apa pun, Ki?" tanya Suto membuka kebisuan mereka.

"Setinggi-tinggi ilmu memang ada kelemahannya, kecuali ilmunya Yang Maha Kuasa. Tapi setahuku, kedua ilmu itu memang tak memiliki kelemahan kecuali dengan cara merengguk keperawanan gadis itu."

Suto Sinting menatap tajam dengan dahi berkerut. Ki Sonokeling merasa perlu berikan alasan terhadap kata-katanya.

"Ingat, kedua ilmu itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang masih perawan. Jadi jika Dara Cupanggeni alias Perawan Maha Sakti sudah tidak perawan lagi, maka ilmu itu akan sirna dengan sendirinya."

"Kau menyuruhku memperkosa dia?"

Ki Sonokeling terkekeh geli. "Bukan. Bukan begitu maksudku, Suto. Ini penalaran saja. Hilangnya kedua ilmu itu apabila si pemiliknya sudah tidak suci lagi. Tentang bagaimana caranya membuat dia tidak suci, aku tidak tahu. Secara lahiriah memang aku tahu dan jago membuat perawan tidak suci, tapi secara batiniah aku tak mengerti bagaimana cara mendekatinya dan membujuknya. Sebab biasanya orang yang sudah telanjur memiliki kedua ilmu itu, ia akan selalu menjaga kesuciannya. Sebelum niatnya tercapai, ia tidak akan serahkan kesuciannya kepada pria manapun."

"Bagaimana kalau ternyata dia mampu kubuat kasmaran padaku?"

"Itu terserah dirimu, kau tak perlu mengundangku untuk menyaksikan caramu melumpuhkan kedua ilmu itu," Ki Sonokeling tersenyum-senyum.

Suto Sinting diam termenung dalam sunggingan sisa senyum gelinya. Ia mempertimbangkan langkahnya. Ia merasa mampu menundukkan hati gadis itu menjadi kasmaran kepadanya, tapi sanggupkah ia menodai gadis itu sementara ia sangat menjaga kesetiaan cintanya terhadap Dyah Sariningrum? Gusti Mahkota Sejati calon istrinya itu pasti akan tahu jika ia berbuat tak senonoh dengan perempuan lain, karena segala gerak-gerik Suto terpantau dari Pulau Serindu. Setidaknya sang Ratu Kartika Wangi, sebagai calon mertuanya itu pun akan mengetahui jika Suto telah menodai seorang gadis.

"Jika alasanku demi menyelamatkan dunia dari kehancuran kedua ilmu itu, apakah mereka bisa menerimanya?" gumam Suto Sinting dalam hatinya.

* * *

LIMA
TOKOH tua yang punya ilmu 'Singa Lohdaya' itu juga menyinggung-nyinggung tentang Pedang Kayu Petir. Terlintas dalam pikiran Pendekar Mabuk untuk meminjam Pedang Kayu Petir kepada Resi Wulung Gading. Tetapi lebih dulu ia harus segera susul Angin Betina agar tidak mati di tangan Sumbaruni. Sementara itu Ki Sonokeling tetap teruskan perjalanan ke Jurang Lindu untuk temui si Gila Tuak dan bicarakan tentang kemunculan ilmu 'Bias Dewa'itu.

Apa yang dikhawatirkan Suto sebenarnya memang telah terjadi. Pertarungan antara Sumbaruni dengan Angin Betina pada mulanya hanya sebatas luapan amarah tak terlalu membahayakan. Sumbaruni memaklumi kemarahan Angin Betina yang belum memahami maksud dan tujuannya dalam melumpuhkan Pendekar Mabuk.

Pertemuan mereka terjadi setelah Sumbaruni dan Bongkok Sepuh merasa sama-sama kehilangan Suto dan segera mencarinya bersama pula. Angin Betina kebingungan mencari jejak Sumbaruni. Namun dengan firasatnya akhirnya Sumbaruni ditemukan juga saat hendak menuruni lereng. Tempat sedikit tandus itulah yang dijadikan ajang pertarungan oleh Angin Betina.

Serangan sinar putih perak dari Angin Betina menghantam Sumbaruni dari belakang. Tetapi Sumbaruni cepat tanggap akan datangnya bahaya, ia segera melenting ke udara dan bersalto satu kali, sehingga sinar putih perak itu lolos dari tubuhnya. Duaaar...! Sinar itu menghantam sebongkah batu besar di seberang sana. Batu tersebut hancur berkeping-keping.

Bongkok Sepuh yang sebenarnya tidak membenci Sumbaruni dan hanya merasa jengkel saja itu segera melepaskan pukulan tenaga dalamnya melalui sodokan ujung tongkatnya ke arah datangnya sinar putih tadi. Dari tongkat itu melesat sinar hijau lurus dan menghantam dua pohon berjajar.

Blaaar...!

Namun sebelum kedua pohon itu tumbang bersamaan, dari balik pohon itu telah melesat sesosok bayangan hitam yang cepat berkelebat bagaikan angin berpindah tempat. Sosok bayangan itu akhirnya tampakkan diri dan Sumbaruni kenali orang tersebut yang tak lain adalah Angin Betina.

"Kau rupanya?!" Sumbaruni sunggingkan senyum sinis, karena ia tahu belakangan ini Angin Betina adalah gadis yang sering bersama Suto Sinting. Rasa cemburu Sumbaruni timbul, namun mampu dikendalikan dengan teratur.

"Aku ke sini hanya untuk bikin perhitungan denganmu, Sumbaruni!"

Angin Betina bicara dengan tegas dan jelas. Pandangan matanya menampakkan sinar permusuhan yang cukup besar. Sumbaruni hanya sunggingkan senyum kian sinis, karena cepat mengerti maksud Angin Betina yang tak lain pasti berkaitan dengan Suto Sinting. Karenanya Sumbaruni berkata kepada Bongkok Sepuh,

"Setan Arak, menyingkirlah dulu di bawah pohon sana. Ini urusan perempuan!"

"Siapa bilang aku ingin campuri urusanmu," kata Bongkok Sepuh sambil bersungut-sungut melangkah, menjauhi kedua perempuan itu, berdiri di bawah pohon rindang sambil pegangi tongkatnya."

Sumbaruni dekati Angin Betina dan berkata dengan keras, "Perhitungan tentang apa maksudmu?!"

"Kau telah lumpuhkan Suto, dan kau harus menebusnya dengan nyawa!"

"Tak salah dugaanku. Kau adalah gadis bodoh yang tak mengerti bagaimana cara menyelamatkan seseorang yang dicintainya!"

Angin Betina diam saja. Matanya memandang angker dengan rambut acak-acakan yang menambah seram raut mukanya. Tangan kirinya memegang pedang bersama sarungnya, tangan kanannya menggenggam di samping, tapi dalam sekejap dapat cabut pedang itu untuk lakukan penyerangan.

Sumbaruni berkata lagi, "Aku memang melumpuhkan Suto Sinting demi menyelamatkan jiwanya yang ingin menghadapi Dara Cupanggeni alias Perawan Maha Sakti! Jika ia berhadapan dengan Perawan Maha Sakti, maka dalam waktu dua kejap ia akan menjadi bangkai berbelatung menjijikkan, karena Perawan Maha Sakti mempunyai dua ilmu unggulan; 'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa'. Kau mungkin masih belum tahu tentang dua ilmu unggulan itu, karena kau memang masih hijau, Angin Betina!"

"Kurasa aku sudah mampu memenggal kepalamu walau sehijau apa pun!"

Senyum sinis Sumbaruni yang juga bernama Pelangi Sutera kala menjadi panglimanya Ratu Asmaradani, penguasa negeri bawah laut itu, kembali membias di depan mata Angin Betina. Senyum itu berkesan meremehkan dan memancing hasrat pertempuran di hati Angin Betina.

"Dengar, Gadis Bodoh...!" kata Sumbaruni seenaknya saja. "Kalau kau tak ingin pendekar tampan itu celaka, jangan izinkan dia menemui Perawan Maha Sakti. Cegah dia dengan berbagai cara, supaya kita tetap bisa bertemu dengannya kapan saja!"

"Kau tak perlu memerintahku, Sumbaruni! Aku hanya merasa perlu menuntut tindakanmu yang melenyapkan segala kekuatan pada diri Suto!"

"Aku bisa memulihkannya kembali kalau ia berjanji tidak akan menghadapi Perawan Maha Sakti!" kata Sumbaruni dengan membanggakan diri.

"Pulihkan sekarang juga, atau kutebaskan pedang ini ke lehermu!"

"Hei, jangan galak-galak padaku, Gadis Bodoh! Kau bisa celaka sendiri kalau bersikap galak padaku!"

"Cabut pedangmu dan kita tentukan siapa yang celaka!" Angin Betina tak tersenyum sedikit pun. Tangannya sudah menggenggam gagang pedang.

Sumbaruni memperhatikan dengan kesan remeh. Lalu ia berkata sambil berpaling hendak meninggalkan Angin Betina, "Sebaiknya kuteruskan mencari anakku daripada mengurusimu!"

Sumbaruni hendak bergerak pergi, tapi Angin Betina maju sambil membentak, "Selesaikan urusanmu denganku, Sumbaruni!"

Sentakan itu membuat Sumbaruni mulai tak sabar lagi. Kakinya segera berkelebat menendang dengan gerakkan tubuh memutar balik. Wees...! Plaaak...! Tendangan putar itu ditangkis oleh tangan Angin Betina yang menggenggam pedang dan sarungnya. Angin Betina cepat memunggungi Sumbaruni, lalu tangan kanannya menyodokkan siku ke belakang. Jarak yang rapat dengan lawan membuat siku itu berhasil kenai ulu hati Sumbaruni.

Duuhg...!

"Eehg...!" Sumbaruni tersentak dengan suara tertahan. Tapi dengan cepat tangannya menghantam tengkuk kepala Angin Betina. Wuuut...! Tepat tangan menyentak tubuh Angin Betina merunduk dan kedua kakinya menjejak ke belakang dengan sangat cepat bagaikan seekor kuda menyepak lawan.

Bluuhg...!

Perut Sumbaruni menjadi sasaran kedua kaki bertenaga dalam itu. Tubuhnya pun melayang ke belakang namun cepat diatas dengan sentakkan kaki di atas batu. Sentakan kaki itu membuat tubuh Sumbaruni melenting di udara dan bersalto maju satu kali.

Wuuuk...! Jleeg...!

Sumbaruni mendarat dengan sigap. Kedua kakinya sedikit merenggang, napasnya tertarik panjang untuk atasi rasa mual akibat tendangan tadi. Sedangkan Angin Betina sudah sejak tadi siap mencabut pedang dengan mata angker memandangi lawannya.

Sementara itu, Bongkok Sepuh membatin dari kejauhan, "Bocah liar itu punya gerakan cukup hebat. Cepat dan tepat! Sumbaruni bisa tumbang kalau dia meremehkan bocah liar itu."

Sumbaruni pun juga membatin, "Agaknya aku tak boleh main-main dengannya. Ia bersungguh-sungguh ingin menuntut balas dan mencelakakan diriku. Benar-benar gadis bodoh! Aku harus memberi pelajaran padanya!"

Pedang di punggung Sumbaruni sengaja tidak dicabut. Ia segera melepaskan jurus 'Anak Rembulan' dengan maksud ingin lumpuhkan Angin Betina. Kilatan cahaya kuning terlepas dari kibasan tangannya. Tetapi Angin Betina yang sudah siaga dari tadi segera hentakkan kaki yang membuat tubuhnya melonjak tinggi, lalu dari tangan kanannya terlepaslah sinar putih perak menghantam sinar kuning tersebut.

Claaap...! Blaaar...!

Asap mengepul dari ledakan besar itu. Angin Betina daratkan kakinya ke tanah. Namun baru saja mendarat, empat larik sinar biru dari empat jari kanan Sumbaruni menghantamnya dengan gerakan cepat.

Zraaab...!

Angin Betina sudah telanjur menapakkan kaki, mau tak mau ia hadapi sinar biru empat larik itu dengan mencabut pedangnya dan mengibaskannya ke samping. Kibasan pedang itu keluarkan nyala sinar putih perak menyilaukan dan berbenturan dengan keempat sinar biru tadi.

Slaaap...! Blegaaarrr...!

Angin Betina terlempar sendiri karena gelombang hentakan tenaga ledak tersebut. Sedangkan Sumbaruni melenting ke atas dan bersalto di udara dua kali. Ketika tubuhnya mendarat ia melihat Angin Betina baru saja hendak bangkit dari jatuhnya. Maka dengan kekuatan tenaga dalam jarak jauh, Sumbaruni sentakkan tangan kirinya.

Wuuuut...! Tubuh Angin Betina terlempar ke atas. Tangan kanan Sumbaruni segera digerakkan memutar dalam satu ayunan kuat. Wuuut...! Dan tubuh Angin Betina yang melayang itu menjadi berputar cepat. Terjungkal tak mampu kuasai keseimbangan. Bahkan ketika Sumbaruni gerakkan tangan kanannya ke kiri, tubuh Angin Betina terlempar keras dan membentur pohon di sebelah kanannya.

Duuurrrr...! Beehg...!

"Uuhg...!" Angin Betina meringis. Ia terkapar dengan dihujani rontokan daun-daun pohon yang ditabraknya itu. Sumbaruni segera melesat mendekatinya.

Weess...!

Angin Betina yang pandangannya sedikit buram itu tak tahu kalau Sumbaruni sudah berdiri di belakangnya. Tahu-tahu rambutnya merasa ada yang menjambak dari belakang. Kepalanya diputar cepat hingga menghadap Sumbaruni, lalu telapak tangan kiri Sumbaruni dihantamkan ke wajah Angin Betina.

Plook...!

"Uhg...!" Angin Betina tersentak dan membentur pohon yang tadi juga. Keadaan Angin Betina yang menggeragap segera disambut dengan tendangan kaki kanan Sumbaruni yang mampu bergerak cepat dan kenai perut sampai kepala lawan secara beruntun.

Des, des, des, des, des, des...!

Lalu tubuh Sumbaruni memutar dan kaki kirinya yang berkelebat menendang bagaikan menampar wajah Angin Betina yang sudah melelehkan darah dari mulut.

Ploook...!

Weees...! Tubuh Angin Betina terlempar ke samping lima langkah jauhnya. Ia jatuh terpuruk di sana. Sekujur tulangnya bagaikan patah semua. Seluruh isi perutnya terasa ingin dimuntahkan. Tendangan bertenaga dalam secara beruntun tadi membuat darah keluar cukup banyak dari mulutnya. Jika bukan orang berlapiskan tenaga dalam tinggi, Angin Betina pasti sudah mati dihajar habis seperti itu. Ia mengalami luka remuk dalam. Tangannya sudah tak kuat menggenggam pedang lagi, sehingga pedang itu terlepas dan jatuh dalam jarak lebih dari satu jangkauannya.

Bongkok Sepuh membatin, "Bocah liar itu bisa mati di tangan Sumbaruni kalau Sumbaruni mau pergunakan pedangnya. Tapi mengapa Sumbaruni agaknya tak mau membinasakan gadis liar itu?"

"Di mana Suto! Katakan!" bentak Sumbaruni sambil berdiri di samping Angin Betina yang berusaha bangkit dengan berlutut. Angin Betina tidak menjawab. Sumbaruni menendang pinggang Angin Betina dengan seenaknya.

Buuhg...!

Tendangan itu pasti bertenaga dalam juga, terbukti tubuh Angin Betina dapat terlempar empat langkah jauhnya dari tempatnya ditendang. Darah kembali keluar dari mulut Angin Betina yang tersungkur di sana.

Kepala Bongkok Sepuh manggut-manggut, "Rupanya alasan itulah yang membuat Sumbaruni tak berani membunuh gadis liar itu. Ia butuh keterangan tentang di mana Suto Sinting disembunyikan. Hmmm... tapi, hei...?! Siapa itu yang datang kemari dari arah sana? Oh, bahaya...!"

Zlaaap...!

Sumbaruni tak tahu kalau Bongkok Sepuh telah lenyap larikan diri. Perhatian Sumbaruni masih tertuju pada Angin Betina dengan kemarahan yang berusaha tidak dilepaskan seluruhnya.

"Kalau kau tak mau katakan, aku akan menghajarmu lebih parah lagi!" sentak Sumbaruni. Angin Betina masih diam, memendam murka yang tak mampu dilepaskan karena sekujur tubuhnya bagai kehilangan daya lagi. Tulang-tulangnya seakan remuk semua, dipakai bergerak terasa sangat sakit. Bahkan untuk bernapas pun sakit. Ulu hatinya bagai diganjal dengan mata pisau yang jika digunakan untuk menarik napas terasa perih.

Tiba-tiba Sumbaruni mendengar suara tepukan pelan bernada mencemoohkan kemenangannya terhadap Angin Betina. Sumbaruni buru-buru berpaling ke belakang dan hatinya sempat terkejut melihat sesosok wanita cantik rambutnya digulung di tengah kepala dengan dililit pita hijau muda.

"Perawan Maha Sakti...?!" desahnya dalam hati yang menjadi tegang. Tapi Sumbaruni berusaha sembunyikan perasaan cemas dan ketegangannya dengan melangkah dekati Dara Cupanggeni, tinggalkan Angin Betina. "Siapa kau?" sapa Sumbaruni berlagak tak mengenal pendatang baru itu.

"Aku murid Sunti Rahim. Namaku Dara Cupanggeni. Julukanku Perawan Maha Sakti! Mungkin baru sekarang kau melihatku, demikian juga aku melihatmu. Tapi aku cukup salut melihat kemenanganmu. Kau pasti orang hebat dan berilmu tinggi!"

Sumbaruni tidak kasih jawaban apa-apa. Matanya menatap tak berkedip, mulutnya terkatup rapat, tapi batinnya berkecamuk sendiri. Akhirnya Perawan Maha Sakti perdengarkan suaranya lagi,

"Siapa namamu, Sobat?!"

"Pelangi Sutera!" jawab Sumbaruni sengaja menyembunyikan nama aslinya. Sebab nama aslinya itu tentunya dikenal pula oleh guru Perawan Maha Sakti. Sumbaruni menjaga keadaan agar jangan menjadi panas, karena ia belum siap hadapi Perawan Maha Sakti dengan ilmu 'Bias Dewa'-nya.

Angin Betina mendengar nama Perawan Maha Sakti disebutkan. Ia bergegas bangkit untuk melihat dengan lebih jelas lagi sosok gadis yang ditakuti Sumbaruni, dan yang membuat Sumbaruni melarang Suto berhadapan dengan gadis berjuluk Perawan Maha Sakti itu. Tapi kekuatan Angin Betina sangat terbatas, sehingga ia hanya bisa duduk bersandar di bawah pohon itu sambil meraih pedangnya.

"Agaknya lawanmu sebentar lagi kehilangan nyawa, Pelangi Sutera. Rupanya kau orang berilmu tinggi. Bagaimana jika ilmumu diajarkan kepadaku sekitar tiga-empat jurus saja?!"

Sumbaruni diam karena memilih jawaban yang tepat. Ia tahu bahwa dirinya sedang dipancing untuk lakukan pertarungan. Ia tak mau terpancing saat itu. Karenanya ia pun segera bertanya, "Apa maksudmu berkata begitu? Hendak menantangku?!"

Perawan Maha Sakti tersenyum angkuh. "Kalau kau merasa mampu melawanku, anggap saja kata-kataku tadi adalah sebuah tantangan bagimu. Bagaimana?"

"Kita tak punya persoalan apa-apa, Dara Cupanggeni. Mengapa harus saling beradu nyawa?"

"Karena aku selalu ingin membuat orang sakti mana pun bertekuk lutut di hadapanku. Jadi jika sekarang kau mau berlutut di depanku dan mengakui kesaktianku, maka pertarungan itu tidak pernah ada!"

"Keparat betul anak ini!" geram batin Sumbaruni. Matanya melirik ke arah seberang, ternyata di sana sudah tidak ada Bongkok Sepuh. Batin Sumbaruni berucap lanjut, "Pantas Setan Arak sudah menghilang lebih dulu, karena dia tahu yang akan datang adalah Perawan Maha Sakti. Hmmm... bocah ini benar-benar pintar memancing kemarahan seseorang. Aku harus lebih hati-hati lagi menghadapi pancingannya."

Terdengar suara Perawan Maha Sakti berseru, "Mengapa diam saja, Pelangi Sutera?! Apakah kau sangsi dengan pengakuanku, bahwa aku adalah Perawan Maha Sakti yang layak dihormati? Kalau kau sangsi, apakah kau ingin mencoba bermain dua-tiga jurus denganku?"

Sumbaruni tetap diam. Tantangan itu sebenarnya memanaskan darah, tapi Sumbaruni tetap mengendalikan hawa murkanya. Sedangkan Angin Betina yang mendengar lagak bicara Perawan Maha Sakti itu ikut dibakar kemarahan. Kalau saja keadaannya tidak terluka cukup parah, Angin Betina pasti akan menerjang Perawan Maha Sakti tak peduli apa pun akibatnya nanti.

"Hei, apakah kau tiba-tiba menjadi tuli, Pelangi Sutera?" Perawan Maha Sakti dekati Sumbaruni. Yang dilakukan Sumbaruni hanya menarik napas. Gadis itu berkata lagi, "Berlututlah sekarang juga sebagai tanda kau mengakui kehebatanku!"

"Persetan dengan kata-katamu, Dara Cupanggeni!" geram Sumbaruni dengan gigi menggeletuk dan mata menyipit.

Tapi hal itu justru membuat Perawan Maha Sakti tertawa kegirangan. "Bagus! Kau sudah berani memakiku, itu bagus! Berarti kau berani melawanku!"

"Apa yang kutakuti dari dirimu?!" kata Sumbaruni bagai penuh dendam. Sambungnya lagi, "Jika kau ingin adu kesaktian denganku, jangan sekarang! Sebab sekarang aku masih punya urusan dengan pihak lain! Tentukan tempatnya di mana kita akan bertanding laga satu lawan satu?!" Rupanya Sumbaruni tak mau terhina dan diremehkan begitu saja. Ia sengaja mengulur waktu untuk menunda hasrat Dara Cupanggeni yang ingin melawannya.

"Bagus sekali! Aku suka jiwa-jiwa pemberani sepertimu, Pelangi Sutera. Aku punya tempat pertarungan tersendiri. Kau tahu letak Bukit Perawan?!"

"Ya," jawabnya tegas.

"Aku membuka pertarungan bebas di Bukit Perawan. Datanglah tiga hari lagi terhitung mulai esok! Kutunggu kau di Bukit Perawan!" ucapnya sambil masih tersenyum sinis.

"Aku tak akan kecewakan dirimu. Aku akan ada di sana tepat pada waktunya!"

Wuuut...! Sumbaruni tidak memberi kesempatan Perawan Maha Sakti untuk bicara terlalu banyak lagi. Ia segera pergi tinggalkan tempat itu. Perawan Maha Sakti hanya tertawa kecil melihat kepergian Sumbaruni. Sesaat kemudian ia pun segera pergi ke arah timur. Ia tak pedulikan Angin Betina, dianggap tak ada siapa pun di situ sejak kepergian Sumbaruni.

Angin Betina sempat merasa cemas karena kepergian Perawan Maha Sakti ke arah tempatnya menyembunyikan Suto Sinting. Angin Betina khawatir gadis angkuh itu temukan Suto dan Suto akan dihabisi di sana. Sebab itu Angin Betina kerahkan tenaga yang tersisa untuk segera pergi menyusul ke arah timur. Namun, ketika ia mampu berdiri, baru satu langkah sudah terhuyung-huyung dan jatuh.

"Angin Betina...!" seru sebuah suara yang tak lain adalah suara Suto Sinting. Pendekar tampan itu terperanjat cemas melihat keadaan Angin Betina yang penuh luka memar dan mulut serta hidungnya berdarah. Ia segera menghampirinya, memapah gadis itu ke tempat teduh. "Sumbaruni-kah yang melakukannya?"

"Ya," jawab Angin Betina pelan sekali.

Suto Sinting buru-buru membuka tutup bumbung tuaknya sambil berkata, "Sudah kuingatkan, jangan hadapi Sumbaruni. Dia tak mudah ditumbangkan!" Suto segera menyuruh Angin Betina meminum tuaknya. Sesaat kemudian Suto berkata, "Aku akan ke pondoknya Resi Wulung Gading untuk meminjam Pedang Kayu Petir. Aku akan kalahkan Perawan Maha Sakti dengan pedang itu."

Angin Betina gelengkan kepala. "Justru aku pergi dari sana mau kasih tahu kau, bahwa Resi pergi berziarah ke makam Nini Galih sambil membawa pedang itu."

"Celaka!" gumam Suto. "Aku tak tahu di mana makam Eyang Nini Galih?!"

* * *

ENAM
MENDENGAR cerita dari Angin Betina, Pendekar Mabuk menjadi cemaskan nasib Sumbaruni. Menurutnya, Sumbaruni sendiri terlalu berani jika menerima tantangan itu. Suto Sinting yakin, Sumbaruni akan binasa jika melawan Perawan Maha Sakti.

"Aku harus temui Sumbaruni!" kata Suto sebelum mereka bergegas pergi.

"Untuk apa menemuinya? Mau minta dilumpuhkan lagi?!"

"Justru aku yang ganti akan melumpuhkannya!" tegas Suto Sinting. "Aku tak izinkan dia menerima tantangan itu."

"Kalau dia berani, mengapa harus dilarang? Itu haknya untuk menerima tantangan atau menghindarinya!" Angin Betina agak ngotot, karena dalam hatinya sangat setuju jika Sumbaruni maju ke pertarungan. Dengan begitu, Sumbaruni akan tumbang di tangan Perawan Maha Sakti. Jika Sumbaruni tumbang, menurut Angin Betina ia akan bebas mendekati Suto dan tak ada yang mengganggu dengan kecemburuan-kecemburuan seperti yang terjadi belakangan ini.

Pendekar Mabuk sendiri paham dengan maksud hati Angin Betina. Karenanya, ia segera membendung hasratnya yang ingin menggagalkan pertarungan Sumbaruni melawan Perawan Maha Sakti. Tetapi pada dasarnya, sebelum hari pertarungan itu tiba, Suto Sinting harus bisa melumpuhkan Perawan Maha Sakti. Satu- satunya cara ialah dengan meminjam Pedang Kayu Petir. Karena Pedang Kayu Petir saat itu dibawa berziarah oleh Resi Wulung Gading, sedangkan Suto tidak tahu di mana makam Nini Galih, gurunya Bidadari Jalang itu, maka Suto harus pergi ke Lembah Badai untuk temui Bidadari Jalang dan tanyakan letak makam itu.

"Aku setuju, dan aku ikut ke sana!" kata Angin Betina.

Maka pergilah mereka menuju ke Lembah Badai. Jalan pintas tercepat untuk menuju Lembah Badai melalui arah timur. Angin Betina mencegah langkah Suto.

"Sebaiknya lewat arah lain saja, sebab Perawan Maha Sakti tadi melesat ke arah timur. Kita hindari perjumpaan dengannya sebelum kita dapatkan pedang pusakaitu."

Mau tak mau Suto Sinting merubah arah ke selatan. Angin Betina hampir tertinggal ketika Suto Sinting gunakan 'Gerak Siluman'-nya. Ternyata gerakan itu mempunyai kecepatan melebihi angin, sehingga Angin Betina benar-benar tertinggal dalam jarak tak begitu jauh. Gadis itu berseru dengan dongkol karena merasa tak mampu menyamai gerakan Suto. Akibatnya Suto Sinting kurangi kecepatan larinya sehingga mereka bisa melesat dalam seiring.

"Ternyata kecepatan jurus 'Jejak Kilat'-ku tidak bisa mengungguli kecepatan gerakmu, Suto," kata Angin Betina mengakui kelebihan Pendekar Mabuk.

"Kalau kau mau perdalam jurusmu itu, kau bisa samai gerakanku."

"Apakah kau mau ajarkan jurus 'Gerak Siluman'-mu itu?"

"Tak terlalu sulit untuk mengajarkannya padamu, karena kau sudah punya dasar gerakan kilat seperti ini!"

"Tapi...," ucapan itu tak dilanjutkan, karena tiba-tiba mereka harus hentikan langkah. Seseorang melesat di jalanan depan mereka. Mau tak mau mereka pun berhenti dan menatap orang yang menghadang di depan jalan itu.

Suto Sinting berbisik kepada Angin Betina, "Kau masih ingat orang itu?"

"Ya. Dia si tampan berjuluk Dewa Rayu!"

"Tepat sekali. Ternyata ingatanmu sangat tajam untuk wajah-wajah tampan," goda Suto Sinting sambil dekati pemuda berkumis tipis yang menghadang jalan mereka itu. Angin Betina hanya bersungut-sungut dengan gerutu tak jelas.

"Rupanya kau telah sehat kembali, Dewa Rayu," sapa Suto Sinting, sebab Dewa Rayu beberapa waktu yang lalu terluka parah karena dihajar habis oleh Lancang Puri, keponakannya Nyai Gandrik. Dan Nyai Gandrik sendiri yang membawa lari tubuh Dewa Rayu dalam keadaan terluka parah untuk dibawa ke Pulau Lanang dengan tujuan sangat pribadi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kitab Lorong Zaman)

Angin Betina menimpali perkataan kepada Dewa Rayu, "Rupanya Nyai Gandrik telah mengobati luka-lukamu dengan caranya sendiri, Dewa Rayu. Sayang kau kelihatan pucat dan letih. Mungkin karena kewalahan melayani Nyai Gandrik!"

"Nyai Gandrik curang!" kata Dewa Rayu. "Dia sembuhkan luka parahku, dia juga menyembuhkan diriku dari pengaruh 'Racun Edan Cumbu', tapi dia tanamkan 'Racun Cumbu Abadi' dalam diriku, sehingga... hasratku untuk bercinta tak pernah ada puasnya."

Angin Betina sembunyikan tawa geli. Ia tahu bahwa Nyai Gandrik termasuk tokoh tua jago pelet. Hasrat kepada lelaki sangat besar, sebab ia mempunyai penyakit yang membuatnya akan mati jika dalam satu purnama tidak bercumbu dengan lelaki. Sebab itu Angin Betina tak heran jika Dewa Rayu ingin dikuasai Nyai Gandrik dengan cara menanamkan 'Racun Cumbu Abadi', supaya pemuda tampan dan perkasa itu selalu mempunyai kebutuhan yang sama dengannya.

"Apa kekuatan dan bahayanya 'Racun Cumbu Abadi' itu?" tanya Suto.

"Setiap saat hasratku menyala-nyala. Jika hasrat bercumbu kutahan sampai tiga hari, maka aku akan kehilangan tenaga. Lebih dari tiga hari, aku akan menjadi lumpuh. Genap tujuh hari, aku akan mati rasa seumur hidup. Jadi aku selalu harus lakukan keinginan bercumbuku untuk dapatkan kekuatan hidup."

"Tentu saja Nyai Gandrik membuatmu menjadi seperti itu, karena ia berharap kau mau melayaninya setiap saat," ujar Angin Betina.

"Aku tahu, karenanya aku lari darinya."

"Mengapa kau lari darinya? Bukankah bersamanya kau akan tetap dapatkan kekuatan karena bisa bercumbu kapan saja kalian inginkan?" kata Suto.

Dewa Rayu tundukkan kepala sebentar, lalu berucap dengan memandang Suto. "Aku telah membunuh Lancang Puri, keponakannya."

"Oh...?!" Suto dan Angin Betina sama-sama terperanjat.

"Bagaimana kau bisa membunuh Lancang Puri, sedangkan setahuku Lancang Puri berilmu tinggi," Angin Betina bernada kurang percaya.

Dewa Rayu jelaskan, "Lancang Puri memaksaku bercumbu tanpa setahu Nyai Gandrik. Kulayani dia, tapi aku juga ingat dengan 'Racun Edan Cumbu'-nya yang membuatku akhirnya jadi begini. Maka ketika ia sedang menikmati asmaranya, kutancapkan pisau di punggungnya sebagai pembalasan atas dendam kekalahanku! Lalu... aku melarikan diri dari Pulau Lanang."

Rupanya kejadian itu terjadi saat Lancang Puri berkunjung ke Pulau Lanang yang dikuasai oleh bibinya itu. Pada awalnya, Lancang Puri memang tidak bergairah kepada Dewa Rayu, mungkin karena masih dalam keadaan memusatkan pikiran ke masalah Kitab Lorong Zaman. Tetapi lama kelamaan, seringnya Lancang Puri melihat bibinya bermesraan dengan Dewa Rayu, hasratnya menjadi terbakar.

Rasa penasaran dan ingin mencoba menambah hasrat bercumbunya kian besar, sehingga Lancang Puri pun melepaskan hasrat itu kepada Dewa Rayu. Ia tidak menyangka kalau Dewa Rayu ternyata masih punya dendam kekalahan tempo hari yang membuat Dewa Rayu akhirnya menderita ancaman 'Racun Cumbu Abadi'.

"Lalu, apa maksudmu menghadang langkah kami di sini, Dewa Rayu?" lanjut Pendekar Mabuk dalam sapaannya.

"Aku merasa sudah mulai kehabisan tenaga. Aku butuh seorang perempuan."

"Apa maksudmu?!" hardik Angin Betina mulai curiga.

Dewa Rayu berwajah sedih. Ia sulit menjawab, namun akhirnya dipaksakan juga untuk bicara apa adanya. "Aku membutuhkan kau!"

"Edan!" sentak Angin Betina.

"Sudah dua hari aku tidak melakukannya. Sekarang hari ketiga. Badanku sudah mulai merasa lemas."

"Persetan dengan badanmu! Kau anggap apa aku ini, sehingga kau berani menghadangku dan membutuhkan diriku untuk melayanimu?!"

"Jika memang terpaksa, mungkin aku harus melakukannya dengan kekerasan."

Suto Sinting tersenyum tipis. Hatinya membatin, "Berani juga dia bersikap seperti ini di depan Angin Betina. Apakah dia tidak perhitungkan bahwa aku ada di pihak Angin Betina?"

Menurut dugaan Suto, hal itu berani dilakukan oleh Dewa Rayu karena pemuda bekas anak Raja Pengging itu sudah sangat kepepet. Mungkin sejak tadi ia tidak temukan perempuan di hutan itu, sehingga ketika melihat Angin Betina ia beranikan diri untuk menyatakan maksudnya. Tak heran jika Angin Betina pun tersinggung dengan pernyataan Dewa Rayu, apalagi diucapkan di depan Suto, sebagai orang yang dicintai, tentu saja Angin Betina akan tunjukkan sikap menantang keras ajakan Dewa Rayu, sekalipun Dewa Rayu punya ketampanan yang hampir senilai dengan ketampanan si Pendekar Mabuk. Setidaknya saat-saat seperti ini adalah saat kesempatan bagi Angin Betina untuk tunjukkan kesetiaan hatinya kepada Suto Sinting. Wajar-wajar saja jika Angin Betina segera cabut pedangnya dan berkata dengan suara keras,

"Kupertaruhkan nyawaku untuk menjaga kehormatanku! Kalau kau memang inginkan tubuhku dan berani memaksaku, aku pun inginkan nyawamu dan berani memenggalmu, Dewa Rayu."

Sraang...!

Pedang pemuda berkumis tipis itu juga dicabut dari sarungnya dengan tenang. "Lebih baik aku mati dalam pertarungan daripada menjadi lumpuh dan mati rasa seumur hidup!"

"Wah, benar-benar nekat anak ini!" gumam Suto membatin dengan perasaan geli. Ketika Angin Betina dan Dewa Rayu mulai bersiap untuk saling lepaskan serangan, Pendekar Mabuk segera berseru dengan sunggingkan senyum meremehkan pertarungan tersebut.

"Tahan amarahmu, Angin Betina!"

"Minggirlah kau, biar kutangani sendiri penghinaan pribadiku ini!"

"Tahanlah. Ada jalan yang lebih baik daripada harus beradu nyawa begini," ujar Suto Sinting dengan kalem, ia masuk ke pertengahan jarak antara Angin Betina dengan Dewa Rayu.

"Dewa Rayu, mendekatlah kemari. Barangkali tuakku bisa lenyapkan kekuatan 'Racun Cumbu Abadi' itu!"

"Tuakmu tidak punya kekuatan apa-apa. Aku masih ingat saat kau guyur wajahku dengan tuakmu, ternyata aku masih dalam pengaruh 'Racun Edan Cumbu'-nya si Lancang Puri."

"Barangkali kekuatan 'Racun Edan Cumbu' dengan 'Racun Cumbu Abadi' agak berbeda. Cobalah dulu, siapa tahu 'Racun Cumbu Abadi' bisa ditawarkan dengan tuakku!"

Pada mulanya Dewa Rayu ngotot tidak mau meminum tuak, melainkan butuh seorang perempuan. Angin Betina yang sudah sangat muak itu hampir-hampijr menebaskan pedangnya ke leher Dewa Rayu. Tapi berkat kesabaran Suto dalam membujuk, akhirnya Dewa Rayu mau meminum tuak dari bumbung bambu itu.

Rupanya kekuatan 'Racun Cumbu Abadi' cukup besar. Racun itu jika bercampur dengan tuak hanya akan datangkan rasa kantuk yang amat kuat, namun tidak membuat racun itu menjadi tawar. Dewa Rayu jatuh terkulai setelah sesaat menenggak tuak. Akhirnya ia tertidur di bawah pohon dalam keadaan duduk bersandar.

"Setan itu malah ngorok!" gerutu Angin Betina. "Tinggalkan saja dia! Untuk apa mengurusinya?!"

"Tunggu sebentar, aku jadi punya rencana sendiri untuknya."

"Rencana apa?"

"Memanfaatkannya untuk menghadapi Perawan Maha Sakti."

Angin Betina pandangi Pendekar Mabuk dengan perasaan heran, ia mencoba menduga rencana tersebut, membayangkan pertarungan Dewa Rayu dengan Perawan Maha Sakti. Akhirnya Angin Betina mendesis dan berkata, "Dia pun akan hancur di tangan Perawan Maha Sakti kalau benar Perawan Maha Sakti memiliki ilmu sehebat itu."

"Mungkin pertarungannya agak berbeda dengan pertarungan yang kau bayangkan."

"Kau akan menghantam Perawan Maha Sakti dari belakang saat ia bertarung melawan Dewa Rayu?"

"Tidak. Seingatku, Guru pernah berpesan padaku: 'Jika kau tak bisa atasi lawanmu dengan ilmu, atasi lawanmu dengan kecerdasan otak'. Berarti aku harus gunakan siasat untuk mengalahkan Perawan Maha Sakti."

"Siasat yang bagaimana?"

Suto Sinting sunggingkan senyum, seakan telah terbayang kemenangan di tangannya. Tapi ia tidak jelaskan siasatnya itu. Ia hanya berkata, "Carikan sebuah tempat untuk menyembunyikan pemuda itu!"

Angin Betina mendesah malas. Suto Sinting membujuk sampai akhirnya Angin Betina memandang ke sana-sini, lalu berkata, "Seingatku di sebelah barat bukit ini ada gua yang biasa digunakan bermalam para pengelana. Entah gua itu masih ada atau sudah tertutup, aku kurang bisa memastikan. Tapi ada baiknya kalau kita periksa dulu kesana!"

Ternyata gua yang dimaksud Angin Betina adalah gua yang pernah digunakan Suto untuk menolong mengobati Raja Maut dalam peristiwa Ratu Tanpa Tapak. Gua itu masih ada. Tempatnya termasuk bersih untuk sebuah gua di lereng bukit. Letaknya sedikit tersembunyi, karena empat langkah di depan pintu gua terdapat tanaman semak yang rimbun dengan sebatang pohon berdaun lebat. Menurut Suto Sinting, gua itu layak dipakai untuk menyembunyikan Dewa Rayu.

Ketika mereka membawa masuk Dewa Rayu yang tertidur itu, Angin Betina sempat menahan lengan Suto hingga langkah Suto terhenti di pintu gua. Mata Angin Betina memandang ke arah timur. Suto mengerti maksud Angin Betina, sehingga ia segera memandang ke arah timur juga. Lembah sebelah timur merupakan tempat yang ditumbuhi pohon berjarak renggang, sehingga apa yang ada di lembah itu dapat terlihat dengan jelas dari depan gua tersebut. Di sana terjadi pertarungan yang tak asing lagi bagi Suto Sinting.

Perawan Maha Sakti ada di lembah itu, hanya saja siapa lawannya kali ini masih belum diketahui Suto Sinting. Dengan terburu-buru Suto Sinting masuk ke gua yang tidak terlalu dalam tapi ditumbuhi banyak bebatuan datar yang menjulang di sana-sini itu. Ia meletakkan tubuh Dewa Rayu yang masih tertidur pulas. Setelah itu ia berkata kepada Angin Betina yang masih melongok ke luar, memandang ke arah lembah.

"Angin Betina, kau tunggu di sini! Aku akan ke lembah timur sana!"

"Mau apa?!" Angin Betina cemas bercampur curiga.

"Lakukan saja perintahku. Tetaplah di sini dan jaga dia agar jangan sampai pergi," kata Suto seraya bergegas keluar gua.

"Suto, apa yang akan kau lakukan di sana? Katakan!"

"Nanti sepulangnya dari sana akan kukatakan."

"Aku tidak ingin kau bertarung melawannya!" geram Angin Betina sambil dekati wajah Suto dan dipandanginya dalam jarak amat dekat.

Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum menawan yang menjengkelkan hati Angin Betina. "Aku tidak akan bertarung dengannya. Kali ini kuturuti keinginanmu," ujar Suto sambil menepuk-nepuk pipi Angin Betina.

Sikap itu menyenangkan bagi Angin Betina. Tepukan pipi diterima sebagai tepukan mesra. Angin Betina merasa mendapat perhatian, karena Sutomau turuti keinginannya untuk tidak bertarung denganPerawan Maha Sakti itu. Akibatnya, Angin Betina pun tak bisa tolak tugasnya menjaga Dewa Rayu, sekalipun hatinya muak melihat pemuda tampan berkumis tipis itu.

Pendekar Mabuk sempat meneguk tuaknya lebih dulu sebelum tiba di pertarungan itu. Ketika sampai di balik pohon dekat tempat pertarungan, ternyata lawan yang dihadapi Perawan Maha Sakti adalah lelaki berjubah hitam yang usianya sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya kurus, rambutnya panjang, kuku tangannya panjang dan tajam-tajam. Suto tidak mengenali siapa lelaki berwajah dingin itu. Karenanya ia sempat menyimak percakapan mereka ketika mereka hentikan pertarungan sejenak, yaitu pada saat lelaki berjubah hitam terpental karena pukulan jarak jauhnya Perawan Maha Sakti.

"Sekali lagi kuberi kesempatan padamu untuk tetap hidup, asal kau segera pulang dan memanggil Gerhana Mandrasakti. Jangan sampai kesempatan yang kuberikan ini kucabut kembali, Kucing Terbang!"

Suto membatin, "O, rupanya kucing itu bernama Kucing Terbang. Dia pasti orang Tebing Karma, anak buah Gerhana Mandrasakti."

Terdengar suara si Kucing Terbang yang serak pada saat ia bangkit dari jatuhnya, "Tebus dulu nyawa kedua saudara sepupuku itu, baru kuturuti perintahmu, Gadis Jalang!"

"Nyawa kedua saudaramu adalah korban ketidak taatannya kepada perintahku! Kalau waktu itu Kapak Iblis dan Setan Akhirat segera pergi memanggil Gerhana Mandrasakti, mereka pasti akan selamat sampai sekarang juga!"

"Untuk apa taat kepadamu? Kau pikir siapa dirimu, hah?!" Kucing Terbang menampakkan sikap bermusuhannya, sedikit pun tak merasa gentar menghadapi lawannya. "Sekalipun menurut mata-mata Tebing Karma yang melihat pertarunganmu dengan kedua saudaraku itu, kau mempunyai jurus maut, tapi jangan merasa bangga dulu jika berhadapan denganku; si Kucing Terbang! Jurus mautmu itu belum tentu bisa tandingi jurus 'Meong Seribu Kaki'! Majulah kalau kau mau tahu kehebatan jurusku: 'Meong Seribu Kaki'!"

Suto Sinting menahan geli. Tersenyum sambil geleng-gelengkan kepala. Hatinya membatin, "Kucing Terbang terlalu berani. Dia belum tahu kekuatan 'Bias Dewa'-nya Dara Cupanggeni. Biar pakai jurus 'Meong Seribu Kaki' atau 'Meong Seribu Istri', tetap saja akan tumbang jika Perawan Maha Sakti sudah lepaskan jurus 'Bias Dewa'-nya."

Beberapa saat setelah Suto berpikir demikian, tiba-tiba ia rasakan dirinya tertegun mematung. Laaap...! Jantung bagaikan berhenti, semuanya terasa mati. Ternyata saat itulah Perawan Maha Sakti lepaskan jurus 'Bias Dewa'-nya yang menghantam leher Kucing Terbang. Dees...! Akibatnya bisa dibayangkan sendiri; nasib Kucing Terbang seperti nasib Kapak Iblis dan Setan Akhirat. Ia tumbang dan segera dikerumuni belatung dalam waktu beberapa saat saja.

Suto Sinting yang mulai sadar kembali setelah nyala sinar merah dari telunjuk gadis itu padam, segera memandang ke arah pertarungan dengan wajah sedikit tegang. Matanya lebih tertuju pada mayat Kucing Terbang. Ia hanya geleng-gelengkan kepala merasa prihatin melihat nasib korban jurus maut itu.

Perawan Maha Sakti bermaksud tinggalkan tempat. Suto Sinting bergegas keluar dari persembunyiannya, langsung melompat dalam gerakan salto beberapa kali. Sampai akhirnya ia tapakkan kakinya di tanah belakang gadis itu tanpa terdengar suara kaki menyentuh tanah.

"Dara...!" Suto Sinting langsung menyapa. "Masih ingat aku tentunya!"

Perawan Maha Sakti yang berpaling segera putar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Pendekar Mabuk. Gadis itu masih diam memandang dengan wajah tanpa senyum. Sikap bermusuhannya masih terbayang walau tipis. Tetapi Suto Sinting tampak tenang, bahkan sunggingkan senyum ketampanannya.

"Kau ingin lanjutkan pertarungan kita yang tertunda itu?!" tantang Perawan Maha Sakti secara tak langsung.

Tetapi tantangan itu dijawab dengan senyum lebar oleh Suto Sinting. Perawan Maha Sakti sempat membatin, "Pantas namanya Suto Sinting, agaknya dia benar-benar sinting; ditantang malah cengar-cengir?!"

"Menciptakan pertarungan itu mudah," kata Suto. "Tapi menciptakan perdamaian itu susah."

Gadis cantik berbibir merekah itu pandangi Suto tak berkedip. Ia tak tahu bahwa Pendekar Mabuk mempunyai satu jurus yang sebenarnya sudah jarang digunakan. Jurus itu adalah pemberian dari Bibi Gurunya, Bidadari Jalang yang sering dipergunakan semasa Bidadari Jalang menjadi tokoh aliran hitam. Jurus tersebut sering mengembang dengan sendirinya, tapi tidak terlalu parah bagi korbannya. Namun jika dipergunakan dengan sengaja, jurus itu mampu membuat lawannya tak berkutik.

Seperti kata Ki Sonokeling, gadis yang memiliki ilmu 'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa' biasanya sangat berhati-hati menjaga jiwanya. Ia mencoba untuk tidak jatuh cinta kepada lelaki sebelum apa yang diinginkan dari dua ilmu itu terlaksana. Begitu pula Perawan Maha Sakti, sekalipun Suto dipandangnya sebagai pemuda yang menawan, tampan, gagah, dan perkasa, namun Perawan Maha Sakti menutup pintu hatinya untuk tidak terpikat dengan pendekar tampan itu.

Hanya saja, di saat menjelang senja tiba itu, pertemuannya dengan Pendekar Mabuk rupanya mempunyai makna lain dalam hidup Perawan Maha Sakti. Suto Sinting pergunakan jurus pemberian Bidadari Jalang yang dinamakan jurus 'Senyuman Iblis'. Dengan menahan napas pada saat tersenyum, menyalurkan kekuatan batin dan hawa murni pada saat memandang, maka memancarlah kekuatan gaib yang membuat senyuman itu luar biasa memikatnya.

Andai pada waktu itu Perawan Maha Sakti pejamkan mata, maka ia tidak akan terperangkap gelombang gaib senyuman Suto Sinting. Tapi karena Perawan Maha Sakti justru memandang tanpa berkedip dan menikmati keindahan senyuman tersebut, maka hatinya menjadi berdebar-debar dan berbunga indah. Semakin lama mereka saling pandang, semakin lama gadis itu menikmati senyuman Suto, semakin resah jiwanya dan bayangan kemesraan bercumbu menggoda hati, tak bisa dihindari lagi.

"Celaka! Dia begitu menggetarkan hatiku dan batinku menuntut kemesraan. Aduh...! Aku tak bisa mengatasi rasa terpikatku ini. Kurang ajar sekali pemuda yang satu ini. Sikapnya benar-benar menyenangkan hatiku, membuat khayalanku terbang ke mana-mana. Oh, Dewa... baru sekarang kuperhatikan bahwa senyumnya benar-benar enak dinikmati. Wajahnya yang tampan, sangat serasi dengan tubuhnya yang kekar, berotot, perkasa, dan... oh, kulihat genangan keringatnya membersit di leher, mengalir sampai didadanya. Oh, Dewa... bagaimana cara menghentikan khayalanku ini?!"

Sementara itu, Pendekar Mabuk pun membatin, "Kau boleh andalkan ilmu 'Darah Gaib'-mu untuk menolak serangan-serangan keras, senjata tajam, dan tenaga dalam penghancur raga. Tapi mampukah 'Darah Gaib'-mu itu menolak kehadiran 'Senyuman Iblis'-ku? Mampukah kau bertahan jika batinmu yang kuserang dengan kemesraan? Mampukah kau menghindari pancaran bunga cintaku jika hatimu yang kutuju? Oh, tingkahmu sudah mulai serba salah. Mau apa kau? Kalau kutinggalkan, bagaimana? Mampukah kau biarkan aku pergi?"

Suto Sinting yang punya ilmu edan-edanan itu sering bersikap konyol. Ketika dilihatnya mata Perawan Maha Sakti mulai redup dan menjadi sayu, senyum tipisnya kian mekar penuh harap, napasnya mulai tampak tak teratur, bibirnya sering digigit sendiri, pandangan matanya salah tingkah, saat seperti itulah yang dimanfaatkan Suto Sinting untuk mempermainkan hati gadis itu dengan kekonyolannya.

"Dara Cupanggeni," ucap Suto dengan suara merdu yang kian menawan hati bagi gadis berjubah ungu itu.

Sang gadis segera angkat wajah dan pandangi Suto dengan menggigit bibir bawahnya. "Untuk melanjutkan pertarungan kita yang tertunda itu, aku sama sekali tak keberatan. Satu-satunya hal yang membuatku berat hati adalah jika sampai kulit halusmu itu tergores atau terluka. Hatiku retak jika melihatmu sampai terluka. Aku sendiri tak tahu, mengapa aku punya perasaan begitu. Bahkan aku merasa lebih rela kehilangan nyawa dibandingkan harus melihat tubuhmu ada yang terluka."

Perawan Maha Sakti semakin berdebar-debar indah mendengar ucapan itu. Sangkanya hati Suto benar-benar tulus mengucapkan perasaan sebenarnya. Padahal kata-kata itu adalah seonggok gombal yang sudah lama tak pernah digunakan oleh Suto Sinting. Kali ini ia terpaksa menggunakannya demi runtuhkan kedua ilmu berbahaya itu. Katanya lagi seraya mendekat dan mengusap pipi gadis itu dengan punggang telapak tangannya, "Ilmu setinggi apa pun bisa kucari dan kupelajari. Tapi kecantikan seperti ini hanya ada satu di dunia, yaitu hanya kau pemiliknya."

"Jangan merayuku," ucapnya lirih sekali, hampir tak terdengar. Pandangan matanya semakin sayu karena terbuai keindahan dalam hatinya.

"Kalau kata-kataku ini kau anggap rayuan, izinkan aku merayumu beberapa saat sebelum akhirnya kita harus bertarung. Tapi sesungguhnya apa yang kukatakan adalah curahan hatiku yang sukar kubendung sejak aku harus berhadapan denganmu. Mestinya aku tak ingin temui kau lagi, karena kau mempunyai ilmu yang dahsyat. Tetapi harapan hatiku menuntut jiwaku untuk bisa bertemu denganmu walau untuk yang terakhir kalinya. Harapan hati itu hanya semata-mata ingin curahkan perasaan yang kukatakan ini. Hanya itu tujuanku menemuimu sore ini, Dara Cupanggeni. Setelah itu, marilah kita ianjutkan pertarungan kita yang tertunda itu."

Perawan Maha Sakti menatap sedikit mendongak karena Suto lebih tinggi darinya. Wajah ayu berbibir merekah penuh gairah itu menggeleng pelan-pelan. Lalu terdengar suaranya bagai orang mendesah dicekam asmara. "Tidak. Aku tidak ingin lanjutkan pertarungan denganmu. Aku... aku...," Perawan Maha Sakti tundukkan wajahnya, terdengar lagi lanjutan katanya, "Aku tak sanggup bertarung melawanmu. Aku benar-benar tak sanggup."

Suto Sinting raih dagu gadis itu dan diangkatnya pelan hingga matanya menatap lembut si mata sayu itu. Lalu dengan senyum berkekuatan gaib, Suto Sinting berucap kata lirih, "Jangan lemahkan hatimu. Mari lanjutkan pertarungan kita."

"Tidak, Suto," ucapnya pelan sekali. Lalu gadis itu menggigit bibirnya sendiri, seperti ada suatu perasaan yang ingin meledak dalam dadanya tapi ditahan kuat-kuat.

"Lalu apa yang kau inginkan?"

"Hmmm... ehh... ppe... peluklah aku walau sekejap saja, Suto."

Bukan Suto Sinting yang memeluk, tapi Perawan Maha Sakti yang mendahului memeluk Suto. Kepalanya disandarkan di dada Suto dengan mata terpejam seakan meresapi kehangatan yang mengalir dari tubuh Pendekar Mabuk, sebab Pendekar Mabuk pun membalas pelukan itu erat-erat. Perawan Maha Sakti merasa dirinya terbenam sangat dalam hingga menyentuh kehangatan dasar hati Suto.

* * *

TUJUH
SEMENTARA itu, Angin Betina yang resah di dalam gua segera melongok keluar dan memandang ke arah lembah. Matanya terbelalak, wajahnya bagai disiram air panas melihat Suto sedang berpelukan dengan Dara Cupanggeni. Jantung Angin Betina seakan dibetot dari dalam, terasa ingin meledak dadanya.

"Setan! Iblis! Peri! Hantu! Buaya buntung...!" makinya dalam geram dengan kedua tangan menggenggam kencang sekali. "Dasar sapi otak kerbau! Katanya mau berhadapan dengan gadis itu ternyata malah berpelukan! Katanya bermusuhan dengan gadis itu, nyatanya malah berkasih-kasihan. Uuuhhh...!" Angin Betina jengkel sekali. Darahnya bagaikan mendidih dan mengguyur seluruh kepala. Kedua kaki dan tangannya gemetar menahan amukan yang mendesak untuk meledak.

"Pendekar cap tikus!" cacinya sambilmondar-mandir di dalam gua dengan pedang terhunus. "Apa yang harus kulakukan jika begini?! Membantai mereka berdua? Atau pergi meninggalkan mereka selamanya?! Uuhh...! Dasar lelaki mata keranjang, mata serokan ikan, mata buaya, mata kucing, mata... mata sapi juga! Benci aku padanya! benci aku! Benciiiii...!"

Duuurrr...! Sebongkah batu ditendang langsung hancur menjadi kerikil-kerikil lembut. Kemarahan Angin Betina berkobar karena kecemburuan dalam hatinya meluap-luap. Ia kembali masuk ke dalam gua dengan mondar-mandir salah tingkah sendiri. Pedang yang sudah dihunus ingin dipancungkan ke leher Dewa Rayu yang sedang tertidur, tapi niat itu segera dibatalkan. Ia kembali melongok keluar, memandang kelembah.

"Dasar buaya kampung kumuh!" makinya lagi. "Dari tadi belum mau melepaskan pelukannya! Iiih... benci aku! Benciii...!"

Plook...! Angin Betina menampar pipinya sendiri untuk lampiaskan kegeraman yang menyiksa batin itu. Ketika ia melongok keluar lagi, ternyata di lembah sudah tidak ada Suto Sinting. Mata Angin Betina membelalak tegang, mencari-cari Suto ke sekitar lembah dengan pandangan matanya yang tersembunyi di celah bebatuan. Suto tidak kelihatan, tapi Perawan Maha Sakti masih diam di sana, duduk di sebatang kayu pohon kering yang tumbang sudah sekian lama.

"Ke mana si buaya kampung kumuh itu? Mengapa tidak ada? Mengapa gadis itu masih di sana? O, aku tahu...! Pasti si buaya kampung kumuh sedang cari tempat buat kencan mereka! Setan peot! Sebaiknya kuhampiri gadis itu dan kuserang dari belakang sebelum dibawa kencan oleh si buaya mata kodok!"

Rupanya Suto Sinting memang berjanji akan kembali lagi, sehingga Perawan Maha Sakti masih menunggu di sana. Suto Sinting pamit mau cari tempat buat tidur mereka, karena senja mulai tua dan mereka harus punya tempat untuk bermalam. Perawan Maha Sakti setuju sekali, bahkan hatinya yang sudah kasmaran itu bersorak kegirangan. Suto tidak langsung menuju ke gua, melainkan mengambil jalan putar, sehingga ia muncul dari arah sisi kiri gua tersebut.

"Hei, mau ke mana kau?!" sergah Suto dengan suara berbisik ketika dilihatnya Angin Betina hendak tinggalkan gua dengan pedang terhunus.

Angin Betina menatap dengan mata mengecil tanda menyimpan benci. Bicaranya pun ketus. Giginya bagai tak mau terbuka. "Iblis kau, Suto! Peri hamil busung kau!"

"Hei, hei... kenapa kau marah begitu? Masuklah! Lekas masuk, kita bicara!"

Suto menarik lengan Angin Betina untuk dibawa masuk ke gua. Angin Betina sentakkan lengannya dengan kasar hingga terlepas dari genggaman Suto Sinting. "Jangan sentuh diriku lagi! Kau telah puas memeluknya!"

"Angin Betina, ini siasat! Hanya siasat semata!"

"Siasat untuk menutupi kerakusanmu?! Siasat untuk memuaskan hasratmu? Iya?!"

Angin Betina angkat pedangnya untuk ditebaskan, Suto Sinting hanya merunduk dan menyilangkan tangannya seakan ingin menangkis pedang itu dengan tangan.

"Tunggu dulu. Kujelaskan dulu rencanaku!"

Angin Betina hempaskan napas dengan dongkol sekali. Ia tak suka melihat Suto berpelukan dengan wanita lain, tapi ia harus menahan rasa tak suka itu untuk dengarkan penjelasan dari Pendekar Mabuk.

"Kau menyingkirlah dulu. Pindah di tempat lain yang tersembunyi!"

"Apa...?! Kau menyuruhku pergi dari gua ini dan gua ini akan kau pakai untuk bermesraan dengan gadis liar itu?!" mata Angin Betina mendelik.

Suto masih menjaga sikap sabarnya. "Tenang dulu, dengarlah penjelasanku!" Suto Sinting mendekat. Angin Betina buang muka. Ia berkata lagi, "Aku berhasil menjerat hatinya. Ia terpikat padaku. Ia kasmaran padaku. Lalu kami sepakat untuk mencari tempat buat bermalam. Ia senang sekali ketika kukatakan bahwa aku berusaha mencari tempat yang nyaman dan enak untuk bermalam bersama. Ia bahkan mau menungguku di sana, dan aku berjanji akan kembali lagi secepatnya."

Angin Betina menjauh, memandang ke arah luar gua, melirik ke arah Dara Cupanggeni yang bagai perawan setia menunggu sang kekasihnya datang. Suto Sinting bicara dari belakang Angin Betina dengan suara pelan tapi jelas.

"Ia bergairah sekali untuk tidur bersamaku. Aku berhasil memancing gairahnya dan dia."

"Tentu saja dia bersedia sekali tidur denganmu!" potong Angin Betina dengan ucapan cepat.

Suto Sinting sempat gelagapan, lalu tertawa kecil. Angin Betina buang muka lagi seraya berkata, "Dia boleh tidur denganmu jika dia bisa lepaskan nyawaku dari raga! Akan kutantang dia sekarang juga!"

"Hei, tunggu dulu!" cegah Suto Sinting menarik pundak Angin Betina.

Gadis berambut acak-acakan itu menepiskan tangan Suto dengan kasar. Tapi ia tidak tahu bahwa saat ia mengucapkan niatnya untuk menantang Perawan Maha Sakti, Suto telah lakukan sesuatu di belakangnya; memejamkan mata dan mengarahkan wajahnya kepada Dewa Rayu yang sedang tidur itu. Maka ketika Angin Betina berbalik arah dan memandang Suto dengan sengit, tiba-tiba wajah tegang itu mengendur, mata sipit itu melebar, mulut runcing itu ternganga. Di belakang Suto ia melihat sosok Suto Sinting sedang tertidur, sedangkan sosok Dewa Rayu tidak ada.

Angin Betina jadi tergeragap, "Lho, it... kok... kuk... puas... di... nguk... ngok... ngek."

Suto Sinting hanya tertawa dengan mulut terbungkam, hingga yang terdengar hanya gumam terpatah-patah. Katanya dalam senyum, "Makanya jangan salah anggap dulu. Dengarkan penjelasanku, baru ngotot kalau memang tak setuju!"

"Tap... tapi... siapa yang tidur itu?"

"Dewa Rayu!" jawab Suto dengan kalem.

"Mengapa wajahnya, perawakannya, pakaiannya, semuanya seperti dirimu?"

"Aku menggunakan ilmu 'Seberang Raga'. Biasanya ilmu 'Seberang Raga' kugunakan untuk mengecoh pandangan lawan. Benda apa pun bisa menyerupai diriku dan akan kembali ke wujud semula jika batinku sudah melepaskan ilmu 'Seberang Raga' itu."

"Jadi apa maksudmu?"

"Kupancing Perawan Maha Sakti agar masuk ke gua ini. Dia akan menemui Dewa Rayu yang disangka diriku. Lalu... tentu saja dia akan bermalam di gua ini bersama Dewa Rayu. Sementara itu, kita mencari tempat lain untuk bersembunyi, tapi jangan jauh-jauh dari sini untuk menjaga kalau terjadi sesuatu pada diri Dewa Rayu."

Angin Betina manggut-manggut dengan kemarahan yang mereda. "Ternyata kau bukan buaya kampung kumuh, tapi kancil mata keranjang!" ejek Angin Betina.

Suto hanya tersenyum. "Sekarang, kita bangunkan dulu Dewa Rayu...!"

Dengan susah payah mereka membangunkan Dewa Rayu. Percikan tuak di wajah Dewa Rayu baru bisa membuat pemuda berkumis tipis yang sudah menjadi serupa betul dengan Suto itu menggeragap dan bangun dari tidurnya. Ia terkejut mendapatkan dirinya sudah mengenakan pakaian mirip dengan Suto Sinting. Tapi ia menjadi lebih terbelalak melihat Angin Betina dan mulai mendesis dengan pandangan mata penuh gairah. Dewa Rayu pun berkata kepada Suto,

"Tuakmu hanya bisa membuatku mengantuk. Tapi hasratku untuk bercinta dengan seorang wanita masih menyala-nyala. Semakin kuat mencekam jiwaku!"

"Karena itulah kau kudandani seperti diriku!"

"Apa maksudmu mendandaniku seperti ini?" tanyanya penuh keheranan. Bahkan ia juga merasa heran melihat bumbung tuak ada disampingnya.

Suto Sinting jelaskan, "Kau akan kuberikan obat pelega jiwa. Tapi kau harus bisa berpura-pura menjadi diriku."

"Aku tak mengerti maksudmu?!" Dewa Rayu kerutkan dahi.

"Kami mau kasih kamu perempuan!" sentak Angin Betina dengan kasar.

"Pokoknya nanti kalau ada gadis cantik datang kemari berjuluk Perawan Maha Sakti, jangan kecewakan dia. Turuti saja apa keinginannya. Kau tetap harus merasa menjadi Suto Sinting, tak perlu sering-sering minum tuak tak apa, tapi kau harus merasa menjadi diriku dan merasa sudah kenal lama dengan Perawan Maha Sakti."

"Mengapa begitu?"

"Karena aku punya kencan dengan Perawan Maha Sakti, tapi tidak bisa melaksanakan. Aku harus temui seorang tokoh tua yang sedang ziarah dan tak kutahu di mana makam itu. Aku dan Angin Betina akan pergi, baik-baiklah di sini dan jangan ke mana-mana!"

Dalam hati Angin Betina kagum dengan kecerdasan Suto Sinting. "Biar sinting tapi otaknya encer juga!" katanya membatin sambil ia duduk di atas pohon berdaun rindang.

Sementara itu Suto Sinting sedang memancing Perawan Maha Sakti agar memasuki gua tersebut. Angin Betina masih bisa pandangi pertemuan Suto dengan Perawan Maha Sakti di lembah, karena pohon tempatnya bersembunyi tak jauh dari gua tersebut. Di sana, Suto Sinting kembali mekarkan senyum pemikatnya. Hati Perawan Maha Sakti kian berbunga-bunga. Senyum gadis itu menampakkan kegirangan hati yang sepertinya baru kali ini dialami dan dirasakannya.

"Kusangka kau tak akan kembali lagi."

"Kau pikir aku lelaki yang bodoh?! Mana mungkin akan kubiarkan gadis secantik kau duduk sendirian di sini sampai petang tiba?"

Mereka berhadap-hadapan, jaraknya sangat dekat. Tangan Perawan Maha Sakti sempat berbuat nakal, mencubit pipi Suto, mengusap rambut panjangnya, dan semua itu membuat Angin Betina di atas pohon salah tingkah lagi. Ia lekas-lekas buang muka sambil menggerutu dan bersungut-sungut,

"Mudah-mudahan lain kali Suto tidak temui lawan yang seperti itu! Menyakitkan hati kalau dipandang. Sudah kubilang jangan bersentuhan lagi, eeh... malah nempel! Ah, dasar buaya kampung kumuh bermata kodok!"

Perawan Maha Sakti berkata, "Sebentar lagi petang tiba. Apakah kau sudah dapatkan tempat untuk bermalam?"

"Ya. Aku sudah dapatkan sebuah gua di sebelah sana!" seraya Suto menunjukkan tempat gua tersebut. Senyum gadis itu mekar berseri-seri, matanya tampak berbinar-binar penuh kegembiraan.

"Kalau begitu, tak ada jeleknya jika sekarang juga kita ke sana saja!"

Suto anggukkan kepala. "Aku menjadi pelayanmu jika kau bisa mencapai gua itu lebih dulu dariku."

"O, kau mengajak beradu kecepatan lari? Baik! Kita mulai sekarang!"

Wees...!

Zlaaap...! Suto Sinting menggunakan 'Gerak Siluman' hingga Perawan Maha Sakti tertinggal jauh. Tapi gadis itu melihat Suto masuk ke gua tersebut. Padahal hanya masuk selintas, kemudian keluar lagi dengan gerakan cepat yang nyaris tak tertangkap mata Perawan Maha Sakti. Maklum, remang petang kian menua, sehingga mata gadis itu sulit menangkap kelebatan bayangan Suto Sinting.

"Ternyata kau lebih dulu sampai di sini," kata Perawan Maha Sakti kepada Dewa Rayu yang disangka Suto Sinting.

Dewa Rayu hanya tersenyum dan berkata, "Cukup lama aku menunggumu di sini. Tak sabar rasa hatiku untuk segera membawamu terbang tinggi-tinggi."

"Terbang? Oh..., hi, hi, hi, hi...!"

Suara tawa lirih terdengar sampai di atas pohon tempat Suto dan Angin Betina bersembunyi. Jarak pohon dengan gua yang tak seberapa jauh membuat suasana malam kian memperjelas suara-suara mesra di dalam gua itu. Kadang terdengar suara cekikikan, kadang terdengar suara desahan memanjang menyerupai erangan orang kesakitan.

Sementara mereka yang di atas pohon hanya bisa saling bungkam, membiarkan malam meluncur bersama rembulan separo bagian, membiarkan suara- suara mesra berhamburan di dalam gua sana. Angin Betina membayangkan apa yang terjadi di dalam gua itu, terlalu kuat bayangan tersebut, akibatnya jantungnya berdetak-detak dan tubuhnya berkeringat dingin.

"Suto," bisiknya kepada Suto Sinting yang duduk di dahan sampingnya, "Aku berkeringat dingin. Hi, hi, hi, hi...!"

"Pakailah bajuku kalau kau kedinginan," balas Suto.

"Bukan kedinginan!" sentak Angin Betina dalam bisik. "Aku tergoda dengan suara-suara mereka itu."

"Kalau begitu, pejamkan mata dan tidurlah. Biar aku saja yang menjaga mereka dari sini."

Dahan yang besar dan pipih itu bisa dipakai untuk merebahkan badan. Suto Sinting tahu, Angin Betina bergairah mendengar suara-suara mesra dari dalam gua. Apa yang diharapkan Angin Betina juga diketahui Suto. Tapi Suto tidak mau memberikannya. Ia hanya menghibur hati Angin Betina dengan membiarkan gadis itu berbaring di pangkuannya, rambutnya diusap-usap oleh Suto, sampai akhirnya Angin Betina tertidur dengan sendirinya.

Suto sengaja tidak tidur, sebab jika ia tidur maka pengaruh kekuatan ilmu 'Seberang Raga' akan lenyap. Dewa Rayu menjadi wujud sebenarnya. Suto menjaga agar kekuatan ilmu itu masih tetap ada sampai esok pagi. Setidaknya memberi kesempatan panjang bagi Dewa Rayu untuk melenyapkan kedua ilmu andalan Perawan Maha Sakti yang amat berbahaya itu.

Melintasi pertengahan malam, ketika malam dicekam sepi, Suto Sinting mendengar suara isak tangis samar-samar dari dalam gua tersebut. Angin Betina terbangun oleh suara tangis itu.

"Suara siapa?" tanyanya kepada Suto.

"Jelas suara perempuan. Pasti suara Dara Cupanggeni."

"Mengapa menangis? Apakah Dewa Rayu berubah wujud?"

"Kurasa dia menangis karena sadar bahwa kedua ilmu andalannya telah hilang!" jawab Suto pelan sekali.

"Kalau begitu... dia sudah tidak perawan lagi?"

"Mungkin saja begitu. Tapi bisa jadi tangis itu disebabkan karena Dewa Rayu tak bisa memenuhi seleranya, atau mungkin kakinya kejatuhan batu atau hal-hal lainnya."

"Bagaimana kalau kita intip lebih dekat?"

"Jangan! Nanti keadaan menjadi kacau-balau jika Dara Cupanggeni mengetahui aku ada di luar gua."

Sampai pagi tiba, Angin Betina tidak bisa tidur lagi. Tapi mereka masih di atas pohon. Dan ketika matahari mulai merayap naik, mereka melihat Perawan Maha Sakti keluar dari gua dalam keadaan lesu.

"Hei, dia keluar sendirian. Mana si Dewa Rayu? Mengapa tidak ikut keluar juga?" kata Angin Betina berbisik. "Jangan-jangan... jangan-jangan Dewa Rayu dibunuh olehnya?!"

"Coba kau periksa gua itu, dan aku akan mengikutinya dari belakang!" kata Angin Betina, lalu ia melesat berpindah pohon tanpa timbulkan suara.

Suto Sinting segera melesat ke arah gua dengan melintasi dahan-dahan pohon lainnya. Dara Cupanggeni berjalan dengan gontai, seperti orang putus asa.

Suto Sinting terkejut melihat gua dalam keadaan kosong. Dewa Rayu tak ada di tempat, tapi baju dan celananya tertinggal di sana, juga bumbung tuaknya. "Ke mana perginya? Apakah dia pergi tanpa kenakan pakaian apa-apa?"

Suto Sinting segera susul kepergian Perawan Maha Sakti. Tapi pada waktu itu Perawan Maha Sakti sudah terhenti langkahnya karena Angin Betina nekat menghadang dari arah depan. Perawan Maha Sakti segera tegakkan badan dan pasang lagak sebagai orang yang tidak mengalami duka apapun.

"Siapa kau?" sapanya dengan ketus kepada Angin Betina.

"Angin Betina! Aku kekasih Suto! Kau ingat saat bertemu dengan Sumbaruni? Akulah yang dihajar habis-habisan oleh perempuan itu."

"O, ya...! Aku ingat tentang itu. Tapi aku tidak tahu kalau kau kekasih Pendekar Mabuk! Pendekar tampan itu mengaku padaku tidak mempunyai kekasih siapa pun!"

"Kau telah ditipunya! Dan kulihat semalam kau masuk ke gua bersamanya!"

"Ya, benar!" jawabnya tegas penuh keberanian yang dlberani-beranikan.

Angin Betina pandangi wajah itu, bahkan seluruh tubuh dari atas ke bawah dipandanginya. Angin Betina temukan noda merah di leher Perawan Maha Sakti. Noda merah itu ada di kanan dan kiri leher. "Noda merah apa itu?" pikir Angin Betina. "Pukulan maut atau ciuman maut?"

Perawan Maha Sakti merasa kikuk dipandangi demikian, ia segera sentakkan suara untuk membuang kekakuannya. "Apa maksudmu menghadangku?! Kau ingin tuduh aku yang membawa lari Suto Sinting itu?! Hmm...! Kalau itu maumu, kau salah duga! Aku tidak membawa pergi Suto Sinting! Justru aku merasa kecewa karena Suto telah dibawa lari seseorang ketika kami sedang bercengkerama!"

Angin Betina terperanjat, namun buru-buru ditutupi dengan tarikan napas. "Siapa yang membawanya lari?!"

"Tak kukenal! Aku tak sempat mempertahankan karena aku ditotok melalui pandangan matanya yang tajam itu!"

Angin Betina berpikir, apakah orang yang membawa lari itu tahu bahwa pemuda tersebut adalah Dewa Rayu? Jangan-jangan Dewa Rayu diculik orang sebelum merenggut kesucian gadis ini? Keadaanku gawat juga kalau ternyata gadis ini masih perawan. Berarti dia bisa serang diriku dengan jurus 'Bias Dewa'-nya itu. Hmmm... sebaiknya aku menyingkir saja sebelum luapan amarahnya dilampiaskan padaku!"

Tanpa pamit apa-apa Angin Betina cepat-cepat pergi, berkelebat bagaikan angin pegunungan berhembus di pagi hari. Gerakan cepat itu segera dihentikan ketika berpapasan dengan Pendekar Mabuk.

"Bagaimana keadaannya?"

"Gua kosong. Dewa Rayu tak ada. Tapi pakaiannya ada di tempat."

"Berarti pengakuan gadis itu memang benar," kata Angin Betina seperti bicara pada diri sendiri. Lalu ia ceritakan apa yang diceritakan Perawan Maha Sakti.

Suto Sinting berkerut dahi, pertanyaan dalam benaknya sama dengan pertanyaan batin Angin Betina. "Apakah dia sudah kehilangan kesuciannya saat Dewa Rayu diculik orang?"

"Aku tak tahu dengan pasti. Aku hanya melihat noda merah di lehernya, yang menurutku adalah noda kemesraan yang diberikan oleh Dewa Rayu."

"Berarti penculik itu orang berilmu tinggi yang bisa menyelinap masuk ke dalam gua tanpa kulihat. Padahal aku semalaman tidak tidur."

"Mungkin pada saat kau memandang ke arah lain, penculik itu masuk ke gua dan membawa pergi Dewa Rayu. Barangkali juga kejadiannya ketika tengah malam terdengar suara tangis. Itulah suara tangis Dara Cupanggeni yang kehilangan Suto Sinting-nya!"

"Tapi menurutmu tadi, dia ditotok dengan pandangan mata?!"

"Memang. Tapi totokan yang bagaimana? Mungkin hanya totokan yang membuatnya tidak bisa bergerak kecuali hanya bersuara dan menangis saja?"

"Kalau begitu..." kata Suto setelah diam. "Aku harus menjajal ilmunya. Aku akan bertarung dengan Perawan Maha Sakti. Jika dia masih perawan, maka dia akan lepaskan jurus mautnya itu. Tapi jika ia tidak perawan lagi, ia akan pergunakan jurus lain yang tidak berbahaya!"

"Aku keberatan!" debat Angin Betina. "Kalau ternyata dia masih perawan, belum sempat direnggut Dewa Rayu, maka kau akan jadi korban jurus mautnya itu! Sebaiknya aku saja yang mencoba bertarung dengannya!"

Suto berpikir, "Belum tentu Angin Betina bisa hindari jurus mautnya. Daripada dia yang celaka, lebih baik aku yang mencobanya dengan caraku sendiri. Seandainya Perawan Maha Sakti sudah tak berilmu maut, siapa tahu ia masih punya ilmu dahsyat lainnya yang sukar ditandingi oleh Angin Betina?"

Tiba-tiba Suto Sinting gerakkan tangannya, menyentil tiga kali ke arah depan. Jurus 'Jari Guntur' dilepaskan, segumpal tenaga melesat dari sentilan itu mengenai beberapa tempat di tubuh Angin Betina. Perempuan itu terkejut sesaat, untuk selanjutnya badannya tak bisa bergerak kecuali mulutnya yang berseru dengan marah,

"Setan kau, Suto! Lepaskan totokan ini! Hei, Suto...! Lepaskan totokan ini atau kuhajar kau!"

"Aku harus hadapi Perawan Maha Sakti. Maafkan aku, nanti kulepaskan kalau aku sudah bertemu dia!"

"Buaya kampung miskin! Jangan hadapi dia!" teriak Angin Betina, tapi Suto Sinting tetap melesat dengan kecepatan gerak silumannya. Zlaaap...! Sebaris makian terdengar makin kecil dan hilang karena kecepatan Suto mencapai tempat yang jauh dalam beberapa kejap saja.

"Itu dia orangnya!" Suto membatin. "Sebelum ia lepaskan jurus mautnya, aku harus mendahului melepaskan pukulan jarak jauh. Jika ternyata masih belum bisa menembus lapisan 'Darah Gaib'-nya, berarti dia masih perawan dan aku harus cepat lari sebelum ia membalas dengan jurus 'Bias Dewa'-nya."

Suto Sinting hentikan langkah dalam jarak delapan tindak di belakang Perawan Maha Sakti. Ia menyapa dengan satu sentakan, "Daraaa...!"

Gadis itu langsung berpaling ke belakang. Ia terperanjat melihat Suto. Keceriaannya terlintas sekejap, karena Suto Sinting segera lepaskan pukulan jarak jauhnya berupa sinar biru besar dari telapak tangan. Ciaaap...! Tentu saja munculnya sinar biru itu mengejutkan bagi Perawan Maha Sakti. Dengan gerak naluri kedua tangannya menghadang dada dan keluarkan sinar merah membias dari kedua telapak tangan itu. Namun sebelum sinar merah sempat melesat, sinar birunya Suto dari jurus 'Tangan Guntur' telah lebih dulu menghantam tangan bersinar merah itu.

Deeess...! Blaaar..!

"Uuhg...!"

Terdengar pekik tertahan dari mulut Perawan Maha Sakti. Gadis itu terlempar ke atas, melayang-layang dalam keadaan tubuh berasap, menandakan jurus 'Tangan Guntur' berhasil kenai tubuh lawan.

"Pukulanku kena sasaran?! Berarti dia sudah tidak mempunyai lapisan 'Darah Gaib' lagi. Ilmu 'Bias Dewa'-nya juga pasti telah hilang. Jika begitu... ternyata dia sudah tidak perawan lagi?!"

Tubuh yang berasap itu tepat jatuh di kedua tangan seseorang yang berkelebat dari balik sebatang pohon besar. Brlleb...! Gerakannya sangat cepat, seimbang dengan kecepatan 'Gerak Siluman'-nya Suto Sinting. Tokoh yang baru datang itu berambut putih, tapi wajahnya masih cantik, hidungnya kecil bangir. Ia mengenakan jubah abu-abu dengan pakaian dalamnya berwarna kuning gading. Matanya memandang tajam kepada Suto, suaranya terdengar ketus penuh dendam.

"Tunggu pembalasanku! Kalau sampai muridku ini tak tertolong, kuhancurkan dirimu di depan Bidadari Jalang!"

Zlaaap...! Tokoh berambut putih meriap-riap itu bagaikan lenyap. Suto Sinting tertegun bengong beberapa saat, lalu hatinya membatin, "Berarti dia adalah Nyai Sunti Rahim; gurunya Dara Cupanggeni?!"

Sambil menuju ke tempat Angin Betina tertotok, Suto berbicara sendiri dalam hati, "Perawan Maha Sakti sudah tak perawan lagi. Kedua ilmu mautnya sudah hilang. Buktinya jurus 'Tangan Guntur'-ku bisa celakai dirinya. Syukurlah jika dua jurus maut itu telah lenyap darinya. Cuma yang membuatku heran, siapa orang yang menculik Dewa Rayu itu?"

SELESAI

Perawan Maha Sakti

Serial Pendekar Mabuk
Perawan Maha Sakti
Karya Suryadi
Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
WAJAH-WAJAH angker pancarkan pandangan mata penuh murka. Tajamnya menyerupai mata pedang. Gigi mereka menggeletuk, tulang rahang tampak keras. Dua wajah angker itu dalam kebisuan yang mendirikan bulu kuduk. Berdiri tegak dengan dada membusung kekar, kaki merenggang kokoh, tangan dan lengan menampakkan otot-ototnya yang mirip baja. Keras dan alot. Dua wajah angker itu adalah milik tokoh keras dari Tebing Karma. Mereka dikenal dengan julukan si Kapak Iblis dan Setan Akhirat.

"Mengapa mereka tampaknya tidak bersenjata semua? Kapak Iblis kulihat tak memegang sebilah kapak, Setan Akhirat juga tidak membawa senjata apa-apa."

"Kapak Iblis memang tidak membawa kapak, tapi tebasan tangannya setajam kapak pemancung leher. Tebasan tangannya mampu memotong sebatang pohon dalam satu kali tebas. Setan Akhirat mempunyai telapak tangan melebihi baja. Bahkan pintu baja pun jika dihantam dengan telapak tangannya dapat jebol seperti pintu kardus. Itulah kehebatan mereka sebagai dua saudara dari Tebing Karma."

"Jadi, mereka kakak beradik?"

"Benar. Tapi itu hanya silsilah dalam perguruan. Bukan saudara kandung. Mereka sudah menjadi kakak beradik dalam perguruan sejak berusia lima belas tahun. Mereka adalah anak-anak telantar yang tidak tahu siapa orang tuanya."

"Lalu, siapa guru mereka?"

"Guru mereka adalah tokoh sakti seangkatan dengan gurumu si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Tokoh sakti itu berjuluk Gerhana Mandrasakti."

Pemuda berambut panjang lurus sebatas lewat pundak itu hanya manggut-manggut saja mendengarkan penjelasan dari si Bongkok Sepuh. Pemuda tampan berbaju coklat tanpa lengan dengan celana putih kusam dan ikat pinggang kain merah itu tak lain adalah Pendekar Mabuk, murid di Gila Tuak bernama Suto Sinting.

Lalu, siapa tokoh tua yang berjuluk si Bongkok Sepuh itu? Di sinilah letak keanehannya. Suto Sinting sendiri tidak tahu siapa si Bongkok Sepuh itu. Tokoh tua yang usianya di atas tujuh puluh tahun itu berpakaian kuning kecoklatan karena lusuhnya. Ia memegang tongkat kayu yang tingginya melebihi tinggi kepalanya. Tongkat kayu itu berkepala bundar, seperti bola. Licin dan halus. Warnanya hitam.

Si Bongkok Sepuh itu mirip seorang wanita karena mempunyai rambut panjang putih digelung di tengah kepala, sisanya meriap-riap ke sana-sini. Jenggotnya tak begitu panjang, tapi berwarna putih uban. Kumisnya tidak ada. Mungkin sang kumis malas tumbuh di kulit tua yang mulai keriput itu.

Pertemuannya dengan Bongkok Sepuh seperti mimpi di siang bolong. Waktu itu Pendekar Mabuk yang berwajah ganteng dan berbadan tegap, gagah, serta kekar itu sedang dalam perjalanan pulang dari pondok Resi Wulung Gading. Ia habis mengantarkan Angin Betina yang membawa Kitab Lorong Zaman. Ia bermaksud untuk temui Gila Tuak di Jurang Lindu untuk meminta izin akan ikut pelajari isi Kitab Lorong Zaman.

Tetapi di perjalanan, pendekar tampan itu bertemu dengan seorang pengemis bungkuk yang kehausan. Tubuh pengemis bungkuk itu terkulai bersandar pada sebatang pohon, bibirnya retak-retak kekeringan, wajahnya menghiba karena kelihatan sangat kelaparan. Suto Sinting sempatkan diri menghampiri si pengemis bungkuk itu.

"Pak Tua, kulihat kau sangat kehausan dan kelaparan. Jika kau mau, minumlah tuakku ini, setidaknya bisa untuk penghilang dahaga dan menahan lapar sementara waktu."

Pengemis bungkuk itu manggut-manggut dan berucap lirih, "Terima kasih, Anak Muda."

Suto Sinting segera menuangkan tuak dari bumbung bambu yang ke mana-mana selalu dibawanya itu. Tuak dituang ke dalam tempurung yang juga dibawa-bawa oleh si pengemis ke mana pun perginya. Tiga kali Suto menuangkan tuaknya ke tempurung itu, dan tiga kali si pengemis meminumnya dengan rakus.

"Kasihan sekali dia. Tampaknya sangat kehausan, sampai tiga tempurung agaknya masih kurang juga." Maka Suto Sinting menuangkan tuak untuk yang keempat kalinya. Pengemis itu pun meminumnya kembali. Napasnya terengah-engah pertanda lelah meminum tuak keempat. Tetapi ketika Suto berkata,

"Badanmu pasti akan segar, Pak Tua. Apakah kau masih merasa haus?"

"Masih," jawab pengemis bungkuk itu. Maka Suto Sinting menuangkan tuak ke dalam tempurung untuk yang kelima kalinya, keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya sampai akhirnya tuak dalam bumbung menjadi habis. Tinggal beberapa teguk saja yang tersisa. Anehnya, pengemis bungkuk yang berkulit keriput itu tidak tampak mabuk sedikit pun. Bahkan ia bertanya,

"Masih adakah tuakmu yang tersisa?"

"Masih. Tapi... kurasa kau akan jatuh mabuk jika terlalu banyak meminum tuak, Pak Tua."

"Tidak. Aku tidak akan mabuk, karena aku masih sangat haus!"

Pendekar Mabuk membatin, "Gila juga Pak Tua ini?! Satu bumbung penuh tuakku sudah habis diminumnya masih merasa kehausan? Jangan-jangan dia jago minum? Wah, ludes sudah bumbung tuakku. Aku tak dapat bagian kalau kuberikan semuanya. Tapi... biarlah kuberikan sisanya ini. Tampaknya ia memang masih sangat kehausan. Aku bisa mencari tuak di desa terdekat dari sini."

Tempurung kelapa disodorkan, Suto Sinting menuangkan sisa tuak dalam bumbungnya. Tuangan terakhir itu tidak disadari oleh Suto bahwa sebuah benda yang disimpan lama di dalam bumbung tuak itu ikut tertuang keluar dan masuk ke dalam tempurung. Plung...!

Zlaaap...!

Tiba-tiba pengemis tua itu lenyap bagaikan ditelan bumi. Suto Sinting terkejut sekali hingga mulutnya ternganga dan matanya mendelik. Dua kejutan menjadi satu, pertama lenyapnya si pengemis bungkuk itu, kedua kesadaran Suto tentang benda yang tertuang dan jatuh ke dalam tempurung tadi.

"Celaka! Cincin Manik Intan ikut tertuang dan... dan... ke mana dia? Oh, ternyata aku telah diperdaya olehnya. Dia membawa lari pusaka Cincin Manik Intan?!" Jantung Suto Sinting pun mulai berdetak-detak tegang. Matanya mulai memandang liar ke sekelilingnya, ia merasa telah tertipu. Agaknya pengemis bungkuk itu mengetahui di dalam bumbung tuak terdapat cincin pusaka, sehingga ia memancingnya keluar dengan cara menghabiskan tuak dalam bumbung.

Cincin Manik Intan adalah pusaka milik Bibi Gurunya Suto, yaitu Bidadari Jalang. Cincin itu amat berbahaya jika dikenakan seseorang. Bisa mengeluarkan sinar dengan sendirinya apabila si pemakai sedang marah. Arah sinarnya sering tidak terkendali, dan sinar itu mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat besar, sepuluh kali lipat tenaga dalam si pemakai cincin tersebut.

Bahkan bisa mencapai seratus kali lipat tenaga si pemakainya jika orang tersebut memendam murka yang amat besar. Sebab itulah Suto Sinting tak berani memakai cincin itu, takut menimbulkan korban salah sasaran jika ia dilanda kemarahan. Untuk amannya, cincin disimpan di dalam bumbung tuak, terendam di sana selama tidak dibutuhkan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Darah Asmara Gila)

Itulah yang dimaksud mimpi siang bolong. Cincin pusaka dengan mudahnya jatuh ke tangan seorang pengemis tua tanpa melalui pertarungan sedikit pun. Tentu saja hati Suto Sinting menjadi geram dan kemarahannya mulai timbul. Padahal jika Pendekar Mabuk sedang dilanda kemarahan dalam hatinya, napasnya sangat berbahaya. Hembusan napasnya mempunyai kekuatan membadai, terutama jika sengaja dihembuskan lewat mulut dengan sentakan keras, alam sekitarnya akan mengalami kiamat karena disapu badai besar yang mengerikan.

Dalam memendam kemarahannya akibat tertipu saja, napas yang keluar melalui hidung Pendekar Mabuk sudah sempat membuat sebatang pohon bergetar. Pohon yang ada di depannya itu berukuran besar dan daunnya berguguran bagai ada yang mengguncang dari bawah. Padahal hanya terkena hembusan napas biasa dari Suto Sinting. Pada saat ia berpaling mencari pengemis bungkuk itu, semak-semak di sekelilingnya terhempas dan rebah, namun tak membuatnya patah. Beberapa bongkah batu berlarian bagai digelindingkan oleh tenaga dalam tak terlihat.

Menggelindingnya bebatuan itu akibat terkena hembusan napas Suto. Bisa-bisa batu diseberangnya yang sebesar kerbau itu akan pecah jika Pendekar Mabuk mengarahkan hembusan napasnya ke sana dengan tekanan sedikit keras lagi. Itu semua disebabkan Pendekar Mabuk mempunyai jurus 'Tuak Setan' akibat meminum Pusaka Tuak Setan tanpa disengaja, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan)

Menyadari keadaan alam mulai akan rusak, Suto Sinting buru-buru meredam kemarahannya sendiri. Ia diam dan tundukkan kepala sambil pejamkan mata. Gemuruh kemarahan dalam dada diredam, pikirannya ditenangkan, benaknya membayangkan kejadian tersebut adalah kejadian yang lucu atas kebodohannya.

"Bukan salah pengemis itu, tapi salahku sendiri. Mengapa aku mudah tertipu? Mengapa aku tidak waspada dan kurang hati-hati? Ini adalah suatu pelajaran bagiku. Tingkat kewaspadaanku sudah mulai rapuh, dan harus kupertajam lagi. Sekarang tugasku sebagai hukuman adalah mencari pengemis itu dan berusaha mendapatkan Cincin Manik Intan kembali. Nyawaku kupertaruhkan demi merebut pusaka itu, daripada pusaka itu dipergunakan untuk membantai orang tak bersalah."

Keberanian menuding diri sebagai pihak yang bersalah merupakan langkah terbaik untuk mengatasi kemarahan dalam hati. Cara itulah yang dipergunakan Suto Sinting, sehingga sekalipun masih tersisa kemarahan namun tak seberapa besar dan tidak terlalu berbahaya bagi hembusan napasnya.

"Ke mana perginya? Masuk ke alam gaib? Hmmm... kalau begitu aku harus mengejarnya ke alam gaib. Aku yakin pengemis itu pasti orang berilmu tinggi karena dapat menghilang dalam sekejap saja."

Pendekar Mabuk memang bisa masuk ke alam gaib, karena ia mempunyai noda merah kecil di keningnya. Noda merah itu pemberian dari seorang ratu penguasa sebuah negeri di alam kasat mata, artinya alam yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa, yaitu alam gaib. Negeri itu bernama Puri Gerbang Surgawi. Seorang ratu bertakhta di sana. Ratu itu adalah Ratu Kartika Wangi, tokoh sakti yang tidak mau ikut campur dunia nyata walau mempunyai anak gadis yang menjadi ratu pula di dunia nyata, yaitu di negeri Puri Gerbang Surgawi juga yang ada di Pulau Serindu. Ratu itu bernama Dyah Sariningrum, Gusti Mahkota Sejati gelarnya.

Perempuan itulah calon istri Suto nantinya. Jadi tanda merah itu pemberian dari calon mertua Suto yang memberi penghargaan padanya sebagai Manggala Yudha Kinasih. Dengan mengusap noda merah yang hanya bisa dilihat oleh tokoh berilmu tinggi itu, Suto dapat masuk ke alam kehidupan tak terlihat mata. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah)

Tak heran jika Pendekar Mabuk bermaksud mengejar pengemis bungkuk itu, karena menyangka si pengemis masuk ke alam gaib. Tetapi baru saja Suto ingin mengusap keningnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara berasal dari belakangnya.

"Aku di sini, Anak Muda!"

Pendekar Mabuk cepat-cepat palingkan wajah. Terkesiap menatap si pengemis bungkuk sudah tidak kenakan pakaian compang-camping lagi, melainkan kenakan pakaian kuning kecoklat-coklatan karena usangnya. Rambutnya tidak diriap seperti semula, melainkan digulung rapi ke atas kepala. Tongkatnya sudah bukan tongkat kayu kering biasa, melainkan tongkat hitam berkepala bulat seperti bola yang mulus dan licin.

Pandangan mata Suto segera tertuju ke arah tangan orang tersebut. Tampak Cincin Manik Intan melingkar di jari tengah pada tangan sebelah kanan. Mata cincinnya yang berwarna putih intan itu tidak terlihat karena cara memakainya dibalik. Mata cincin itu ada dalam genggaman. Karena dilihatnya Pak Tua itu tenang-tenang saja, maka Suto Sinting pun menjaga sikap agar tetap tenang. Bumbung tuaknya masih ditenteng dengan tangan kiri, berdirinya tegak, sedikit renggangkan kaki, tampak gagah dan tegar. Jaraknya berdiri sekitar tiga tombak dari si pengemis bungkuk itu.

"Pak Tua, apa maksudmu menipuku dengan cara seperti ini? Kumohon padamu, kembalikan cincin pusaka tersebut padaku."

"Kewaspadaanmu sangat lemah, Anak Muda. Kecepatan gerakmu pun kurang bisa diandalkan."

"Jadi kau hanya mengujiku, Pak Tua?"

"Aku tidak sekadar mengujimu, tapi memang ingin menahan cincin pusaka ini!"

"Kusarankan jangan memancing kemarahanku, Pak Tua."

"Aku tak peduli kemarahanmu terpancing atau tidak, yang jelas aku akan menahan cincin milik Bidadari Jalang ini!"

Suto Sinting kaget terperanjat mendengar tokoh tua itu menyebutkan nama Bibi Gurunya. Ia mulai membatin, "Berarti orang ini juga kenal dengan Kakek Guru si Gila Tuak. Hmm... siapa sebenarnya dia?"

Pendekar Mabuk mencoba menenangkan gemuruh yang hampir timbul lagi di dalam dadanya itu. Ia berkata dengan sikap tetap tenang, "Apakah tindakanku salah, Pak Tua? Aku menolongmu dengan memberikan minum dengan tuakku sampai tuakku habis. Apakah...," kata Suto Sinting terpotong,

"Siapa bilang tuakmu habis?!"

Maka berhentilah Suto bicara. Dahinya berkerut. Tangan kiri yang menjinjing bumbung tuak mulai dirasakan. Diangkat pelan-pelan. Hatinya membatin dengan heran, "Aneh. Bumbung tuak ini rasa-rasanya agak berat dari sebelumnya. Padahal sudah kosong tanpa isi? Tapi jika bumbung ini sekarang berat, berarti bumbung ini berisi sesuatu. Apakah... apakah bumbung ini berisi tuak lagi?"

Pendekar Mabuk memeriksanya, dan ternyata memang benar, bumbung itu berisi tuak, penuh seperti semula. Bahkan lebih penuh lagi, karena air tuak sampai bisa terlihat jelas begitu tutup bumbung dibuka. Padahal ketika Suto belum bertemu dengan pengemis bungkuk tadi, ia sudah meneguk tuak tersebut tiga kali. Semestinya tidak sepenuh saat ini. Suto Sinting merasakan tuak itu dengan meneguknya satu kali. Ia membantin,

"Benar-benar air tuak. Bahkan rasanya lebih enak, seperti Tuak Mojolegi?! Badanku terasa lebih segar dan lebih tenang. Aneh sekali?! Aku bisa tenang dan... dan sangat tenang. Tak ada kemarahan yang harus kutekan seperti tadi? Hei, kenapa bisa begini? Apakah pengaruh dari tuak ini? Oh, kalau begitu apa yang kuduga tadi memang benar; orang bungkuk ini adalah orang sakti."

Dengan sikap lebih hormat lagi Suto Sinting berkata, "Sesungguhnya siapakah dirimu, Pak Tua. Sudilah kiranya kau perkenalkan diri padaku."

"Gurumu pasti kenal denganku. Tapi... baiklah, karena badanku bungkuk dan sudah tua renta begini, kau boleh memanggilku si Bongkok Sepuh. Hanya itu yang bisa kuperkenalkan padamu, Pendekar Mabuk."

Anehnya lagi, si Bongkok Sepuh tampak lebih hormat juga dari sebelumnya. Sikap itu membuat Suto Sinting menyimpan keheranan dalam hatinya, namun tak dicetuskan lewat kata apa pun. Ia hanya berkata, "Apa perlumu menahan cincin pusaka itu, Ki Bongkok Sepuh?"

"Bukan semata-mata untuk menantangmu, Gusti Manggala Yudha Kinasih."

Kini Suto Sinting terperanjat walau sekejap. Ia dipanggil dengan sebutan itu. Padahal sebutan itu hanya berlaku bagi orang-orang Puri Gerbang Surgawi. "Apakah kau orang Puri Gerbang Surgawi, Ki Bongkok Sepuh?"

"Memang bukan. Tapi tanda merah di keningmu membuatku merasa layak menghormat dengan sebutan itu. Setidaknya kau dapat menyimpulkan."

Zlaaap...! Orang itu lenyap dalam pandangan Suto Sinting. Tentu saja Suto terkejut dan mencari-carinya. Ternyata sudah ada di belakang dalam jarak lebih dekat lagi. Bongkok Sepuh lanjutkan kata,

"... bahwa maksudku tidak buruk kepadamu. Aku memang sedikit nakal, menahan Cincin Manik Intan yang menjadi tanggung jawabmu ini. Artinya aku menahan tanggung jawabmu karena suatu keperluan."

"Keperluan apa?"

"Tak ada cara lain yang bisa kupakai agar kau mau membantuku selain dengan cara menahan Cincin Manik Intan ini."

"Jelaskan apa yang harus kubantu?"

"Sebaiknya ikutlah aku sekarang juga!"

"Tapi...," Pendekar Mabuk tak jadi lanjutkan kata karena orang itu telah melesat tanpa melangkah, tahu-tahu sudah berada dalam jarak dua puluh langkah dari tempat Suto berdiri. Mau tak mau Suto Sinting segera menghampirinya untuk lanjutkan kata-katanya tadi. Namun ketika Suto baru mencapai jarak sepuluh langkah, orang itu sudah melesat tanpa melangkah hingga jaraknya lebih jauh lagi, sekitar tigapuluh langkah dari Suto. Terpaksa Suto juga melesat, mempergunakan jurus 'Gerak Siluman' yang mampu berkelebat cepat melebihi anak panah itu. Zlaaap... !

Bongkok Sepuh berkelebat lagi. Zlaaap...!

Suto mengejarnya dengan gerakan yang tak mampu terlihat mata orang biasa. Zlaap...! Sampai suatu saat Bongkok Sepuh terpaksa hentikan gerak, karena ia tidak melihat Suto tertinggal di belakangnya. Ia mencari-cari Suto, dan segera terkejut melihat Suto sudah ada di jalanan yang akan dilaluinya. Jaraknya lebih cepat tiga langkah darinya.

"Sudah kuduga akhirnya kau akan tunjukkan padaku kehebatanmu, Anak Muda."

"Maaf, Ki Bongkok Sepuh. Kulakukan karena kau memaksaku untuk adu kecepatan. Aku tak mau kau kecam seperti saat kau berhasil membawa lari cincin itu."

Bongkok Sepuh manggut-manggut dengan senyum tuanya. Terdengar suaranya yang pelan berkata, "Aku harus mengakui keunggulanmu yang melebihi gerakanku."

"Aku tidak butuh pengakuan itu. Aku hanya butuh cincin pusaka itu."

"Akan kuberikan setelah kau selesai mengatasi persoalanku. Ada baiknya kalau kau jangan bergerak lebih cepat dariku, supaya kau tahu arah yang kutuju nanti, Anak Muda!"

Begitulah awal jumpa Suto dengan si Bongkok Sepuh. Rupanya Bongkok Sepuh membawa Pendekar Mabuk ke sebuah perbukitan cadas. Tanahnya keras walau ditumbuhi pepohonan yang tak terlalu rindang. Di situ banyak tebing-tebing cadas yang tegak lurus namun tidak dalam. Masih memungkinkan dipakai melompat seseorang dari atas ke bawah.

Pada salah satu bukit cadas yang menyerupai gundukan tanah tinggi itulah si Bongkok Sepuh membawa Suto berlindung di balik pepohonan. Dari sana mereka dapat memandang ke arah bawah, jalanan tandus dengan pepohonan renggang dan rumputnya tak terlalu rimbun.

Di jalanan tandus itulah Suto melihat dua wajah angker berdiri dengan tegar berdampingan menghadap ke timur. Bongkok Sepuh menjelaskan tentang kedua orang angker yang berjuluk Kapak Iblis dan Setan Akhirat. Kedua orang keras beraliran hitam dari Tebing Karma itu tidak mengetahui jika ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka dari atas bukit.

Kapak Iblis adalah orang yang nyata-nyata terlihat keangkerannya, karena wajahnya brewokan, alisnya tebal, matanya lebih ganas, rambutnya pendek namun diikat dengan kain merah. Ia mengenakan pakaian biru tua dengan bagian dada terbuka. Pakaian itu diikat dengan kain merah juga pada pinggangnya. Usianya sama dengan Setan Akhirat, sekitar lima puluh tahun. Tapi keangkeran wajah Setan Akhirat berkesan dingin dan bengis, bagai manusia tak kenal kata ampun kepada lawannya.

Setan Akhirat mempunyai rambut tipis tapi panjang selewat punggung. Warna rambutnya abu-abu karena sudah mulai banyak ubannya. Warna rambutnya itu kontras dengan warna jubah yang dikenakan. Jubah merah darah. Ia tanpa kumis dan jenggot, tapi matanya sedikit kecil. Sekalipun kecil, ketajaman pandangan mata itu mirip ujung tombak yang runcing. Menggetarkan hati orang yang dipandangnya.

Kedua orang berwajah angker itu berhadapan dengan seorang gadis yang menurut perkiraan Suto berusia sekitar dua puluh enam tahun. Gadis itu berwajah cantik jelita, kulitnya kuning langsat, bersih. Hidungnya bangir, bibirnya mungil segar. Badannya tak terlalu kurus. Sekal berisi, dengan dada padat dan kemontokannya adalah kemontokan yang indah, tidak berlebihan.

Gadis itu berpakaian hijau muda sebatas dada, tapi dirangkap jubah warna ungu tua yang tak berlengan, sehingga kemulusan kulit lengannya terlihat jelas tanpa cacat. Sebuah pedang bersarung perak ukir terselip di pinggangnya. Gadis itu mempunyai rambut panjang, sebagian digulung di tengah kepala dan diikat dengan pita hijau muda, sisanya meriap kesana-sini.

"Siapa perempuan cantik itu, Ki Bongkok Sepuh?" tanya Suto yang sebenarnya ingin menyimpan rasa ingin tahunya itu, namun tak tertahankan lagi.

"Namanya: Dara Cupanggeni, murid dari Nyai Sunti Rahim."

"Nama itu sangat asing bagiku. Siapa Nyai Sunti Rahim itu?"

"Bekas istriku," jawab Bongkok Sepuh pelan tapi mengejutkan Suto, sehingga pemuda tampan berhidung bangir itu menatap si tua bungkuk. "Bekas istrimu?"

"Ya. Kutinggalkan Sunti Rahim, kupatahkan cintanya dan kuhancurkan hatinya, karena kala itu aku terpikat dengan bibi gurumu; Bidadari Jalang."

"Ooo...?!" Suto Sinting manggut-manggut.

"Waktu itu, Bidadari Jalang benar-benar membuatku gila asmara kepadanya, sampai aku tega menghancurkan hati dan cinta Sunti Rahim. Padahal waktu itu Sunti Rahim sedang hamil muda. Karena perlakuanku, Sunti Rahim menggugurkan kandungannya dan nyaris putus asa. Ketika ia mau lakukan bunuh diri, ia mendengar suara bayi menangis, ternyata bayi itu hanyut di sungai di atas sebuah anyaman belarak, atau daun kelapa kering. Sunti Rahim mengambil bayi itu, dan tak jadi bunuh diri. Ia pergi mengasingkan diri, merawat bayi yang tak diketahui orangtuanya itu. Sunti Rahim menurunkan semua ilmunya kepada bocah angkatnya itu, sampai ilmu pengawet ayunya diturunkan, sehingga bocah itu sekarang tetap kelihatan cantik dan muda, padahal usianya sudah hampir empat puluh tahun."

Suto terperanjat mendengar jumlah usia itu. Tentu saja hatinya merasa heran tak menyangka gadis cantik itu ternyata sudah berusia banyak. Tapi Suto segera lupakan soal itu, dan lebih tertarik mendengarkan penjelasan Bongkok Sepuh yang tampak bernada sedih itu.

"Sunti Rahim pernah bertemu denganku dan bersumpah akan membunuhku melalui anak angkatnya itu. Dara Cupanggeni itulah wakil dan utusan Sunti Rahim untuk membalas sakit hati atas perlakuanku semasa muda."

"Apakah kau sudah pernah bicara dengan Dara Cupanggeni itu?"

Bongkok Sepuh menggelengkan kepala. "Aku selalu berusaha menghindarinya. Sebab aku tahu, jika Dara Cupanggeni sudah turun dari gunung, berarti seluruh ilmu Sunti Rahim sudah diturunkan semuanya kepada anak itu."

"Lalu, mengapa kau membawaku kemari dan memperlihatkan keadaan di bawah sana?" tanya Suto dengan berbisik.

"Ingin kutunjukkan kepadamu kesaktian Dara Cupanggeni itu."

"Setelah itu?"

"Bantulah aku menghadapi gadis itu."

Suto Sinting berkerut dahi dengan merasa heran lagi, "Apakah kesaktianmu tak mampu ungguli kesaktian gadis itu?"

Bongkok Sepuh diam sebentar, matanya tetap memandang ke bawah, ke pertarungan antara Dara Cupanggeni dengan Kapak Iblis dan Setan Akhirat yang sudah dimulai walau baru secara kecil-kecilan saja. Mata itu menerawang dalam memandang, karena mulut Bongkok Sepuh berkata datar, "Sunti Rahim sebenarnya guruku sendiri."

"Hah...?!" Suto Sinting jelas-jelas terperangah. "Ja... jadi usiamu dengan Nyai Sunti Rahim lebih tua dia?"

"Lima belas tahun lebih tua dariku," jawab Bongkok Sepuh. "Ilmu pengawet ayunya itulah yang membuatku jatuh cinta padanya ketika itu. Dia tokoh wanita yang sakti, mendapat warisan ilmu dari eyangnya sejak berusia tujuh tahun. Separo ilmunya sudah diturunkan kepadaku, tapi aku tergoda oleh Bibi Gurumu, dan akhirnya kami berpisah. Aku terpaksa berguru kepada tokoh sakti lainnya. Namun kesaktianku tetap saja tidak bisa mengungguli Sunti Rahim."

"Kenapa waktu itu Sunti Rahim tidak melabrak Bibi Guruku?"

Bongkok Sepuh gelengkan kepala, "Hanya Bibi Gurumu yang tak bisa dilawan oleh Sunti Rahim, karena ilmu yang dimiliki Bidadari Jalang sangat tinggi."

"Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan untukmu, Ki Bongkok Sepuh?!"

"Kalahkan Dara Cupanggeni itu dengan cara melumpuhkan ilmu andalannya!"

"Apa ilmu andalannya itu?" tanya Suto, tapi tidak segera mendapat jawaban.

* * *

DUA

tokoh angker itu seperti sedang dipermainkan oleh Dara Cupanggeni. Diam-diam Pendekar Mabuk akui kelincahan dan kegesitan gadis berjubah ungu itu. Kecepatan geraknya juga cukup mengagumkan. Dara Cupanggeni mampu lakukan salto ke depan dan kembali salto ke belakang pada saat tubuh masih melayang di udara.

"Edan!" gumam Suto dalam hati. "Baru saja berjungkir ke depan sudah bisa kembali ke belakang tanpa menjejak apa pun? Aku tak bisa lakukan gerak seperti itu! Tapi aku tahu rahasianya; dia pergunakan udara sebagai tempat berpijak. Berarti getaran tubuhnya dapat membuat udara menjadi sesuatu yang padat! Oh, sungguh mengagumkan. Aku akan pelajari gerakan seperti itu."

Gerak tipuan itu membuat Kapak Iblis lakukan serangan yang salah. Akibatnya pukulan bertenaga dalam jarak jauh milik Dara Cupanggeni menghantam telak pinggang kiri Kapak Iblis.

Wuuut...! Bheeeg...!

Gadis itu mendaratkan kaki dengan sigap dan memandang dengan senyum sinis. Senyum kemenangan yang membuat Kapak Iblis menggeram dalam jatuhnya. Sementara itu Setan Akhirat sengaja hentikan serangan karena ingin pelajari kelemahan jurus-jurus Dara Cupanggeni.

"Wedus bangsat!" geram Kapak Iblis. "Rupanya kau benar-benar ingin beradu nyawa denganku, hah?!"

"Dugaanmu tepat sekali Kapak Iblis. Tapi yang lebih tepat lagi, siapa orang terkuat di Tebing Karma, itulah yang ingin kutumbangkan. Bukan keroco-keroco seperti kalian."

"Setan Akhirat! Robek mulut perempuan liar itu biar tak bisa berkoar lagi!" sentak Kapak Iblis dengan suara keras berkesan buas.

"Aku hanya ingin pecahkan batok kepalanya saja!" kata Setan Akhirat dengan sikap dingin berkesan bengis, ia segera bergerak kembali dekati lawannya. Sang lawan hanya senyum-senyum mengejek yang membangkitkan kemarahan besar di hati Setan Akhirat.

"Heaaaah...!" Setan Akhirat menerjang dalam satu lompatan sangat cepat. Telapak tangannya dihantamkan tepat ketika ada di depan kepala Dara Cupanggeni. Semula gadis itu diam saja dalam keadaan tubuhnya merapat di pohon. Tapi ketika hantaman telapak tangan lawan mulai berkelebat, gadis itu pun bagaikan lenyap seketika, ia telah berpindah tempat dengan gerakan amat cepat, seperti yang dilakukan oleh Bongkok Sepuh saat menjadi pengemis bungkuk dan membawa lari cincin pusaka dalam tempurungnya.

Tentu saja hantaman telapak tangan Setan Akhirat tidak kenai sasaran semestinya. Telapak tangan itu kenai batang pohon. Duaar...! Ledakan yang timbul cukup keras, pertanda telapak tangan itu disaluri tenaga dalam yang amat besar. Dan akibatnya pohon yang dihantam Setan Akhirat terbelah dari akar sampai ke atas menjadi empat belahan, lalu tumbang tak beraturan lagi.

Dara Cupanggeni bertepuk tangan mengejek dengan senyum yang memuakkan bagi kedua tokoh angker itu. "Hebat sekali jurus 'Tepak Nyamuk'-mu, Setan Akhirat. Mengapa tidak kau ajarkan kepada anak-anak kecil di desa-desa?" sindir Dara Cupanggeni.

Setan Akhirat menggeram dengan matakian menyipit penuh benci. Kapak Iblis diam-diam lepaskan pukulan tenaga dalam melalui sentakan tangan kirinya dari samping kanan Dara Cupanggeni. Wuuut...! Pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi itu tidak terbentuk dan berwarna. Diduga lawan tidak merasa sedang diserang oleh gerakan kecil yang menghadirkan bahaya tinggi itu. Tetapi kepekaan Dara Cupanggeni rupanya juga cukup tinggi. Gelombang hawa panas yang mendekatinya dengan cepat terasa betul mendesak kulit tubuhnya. Dara Cupanggeni cepat-cepat kibaskan kepala berpaling kearah Kapak Iblis sambil denguskan napas.

Wuuus...! Dan tiba-tiba Kapak Iblis terjungkirbalik sendiri dalam keadaan amat terkejut. Gerakan kepala dan dengusan napas ternyata mampu hadirkan tenaga dalam tinggi yang dapat kalahkan pukulan tenaga dalam Kapak Iblis. Tubuh lelaki brewokan itu terbanting keras di tanah tak berumput.

Bruuk...!

"Monyet picak!" makinya dengan berang.

Dara Cupanggeni hanya tersenyum sambil perhatikan Kapak Iblis yang bangkit dengan sedikit menyeringai karena pinggangnya bagaikan mau patah. Sikap Dara Cupanggeni kelihatan lengah, sehingga Setan Akhirat segera lepaskan pukulan jarak jauh secara diam-diam melalui gerakan empat jari yang menggenggam menjadi menyentak lurus ke depan. Suuut...!

Gadis itu cepat palingkan wajah ke kiri dan gerakkan tangan kanannya dalam keadaan terbuka menghadap lawan. Wees...! Tenaga dalam besar yang dilepaskan Setan Akhirat itu membentur telapak tangan Dara Cupanggeni, bagai terkumpul jadi satu di tangan itu. Dara Cupanggeni segera menggenggam seakan menangkap tenaga dalam itu, lalu memutar tangannya dan menyentakkan kembali ke depan dalam keadaan telapak tangan terbuka ke atas dan disodokkan ke depan. Wuuut...!

Baaahg...!

"Heegh...!" Setan Akhirat mendorong mundur dengan mendelik, kakinya tak menyentuh tanah sampai akhirnya membentur sebongkah batu cadas. Buuhg...!

Suto Sinting bergumam lirih di samping Bongkok Sepuh, "Gila! Tenaga lawan dapat ditangkap dan dikembalikan seenaknya saja?!"

Bongkok Sepuh berujar, "Itu belum seberapa. Jurus-jurus yang dimainkan gadis itu masih merupakan jurus-jurus kecil yang kumiliki juga."

"Mengapa ia tidak segera gunakan jurus mautnya?"

"Kurasa dia sengaja permainkan tokoh kasar itu supaya keduanya menjadi gila sendiri oleh kegagalannya menyerang lawan. Agaknya Dara Cupanggeni punya maksud memancing mereka agar mengadukan kehebatannya kepada ketua Tebing Karma yang bergelar Gerhana Mandrasakti itu."

"O, guru mereka masih hidup?"

"Masih. Lebih tua dariku, tapi usia kami tak terpaut banyak. Hanya saja, kudengar Gerhana Mandrasakti sudah tidak mau lakukan pertarungan dengan siapa pun. Ia hanya ingin turunkan ilmu-ilmunya kepada murid-murid yang terpilih dan sesuai dengan hatinya."

Pendekar Mabuk manggut-manggut kecil, pandangan mata dan perhatiannya kembali ke pertarungan di bawah sana. Bongkok Sepuh pun segera bungkamkan mulut.

Kapak Iblis dan Setan Akhirat tampak semakin penasaran, karena tak satu pun serangan mereka ada yang mengenai tubuh Dara Cupanggeni. Kini mereka lakukan serangan bersama dengan jurus pukulan bersinar. Dua sinar hijau terlepas dari tangan mereka dan menerjang tubuh Dara Cupanggeni dari dua arah.

Clap, claaap...!

Draassh...! Dua sinar itu menghantam bersamaan. Tubuh Dara Cupanggeni bagaikan sasaran empuk, karena gadis itu tidak lakukan tangkisan ataupun gerakan menghindar. Tetapi kedua sinar hijau itu hanya bisa kepulkan asap setelah mengenai tubuh Dara Cupanggeni. Asap itu melesat dan hilang, sehingga keadaan Dara Cupanggeni tampak utuh tanpa luka apa pun, justru senyumnya yang angkuh membentang lebar di depan kedua lawannya.

Tentu saja Kapak Iblis dan Setan Akhirat terkejut dan terperangah, sama halnya dengan keadaan Suto Sinting di atas sana; terperangah dengan dahi berkerut menandakan rasa heran yang luar biasa. Belum sempat Suto bicara, ia sudah harus perhatikan kembali gerakan Setan Akhirat yang kirimkan pukulan sinar hijau lagi ke arah Dara Cupanggeni. Sinar yang sama seperti tadi segera dihindari Dara Cupanggeni dengan satu lompatan bersalto ke depan. Sinar hijau itu akhirnya melesat melalui samping telinga Kapak Iblis yang ada di seberangnya. Wuuus..! Dan sinar itu menghantam sebatang pohon besar jauh di belakang Kapak Iblis.

Blaaar...!

Tanah bergetar, pohon itu hancur tak beraturan bagaikan kain yang dirobek dengan paksa. Pohon di sampingnya ikut bergetar hebat, tapi hanya sempat membuat daun-daunnya berguguran.

"Seharusnya tubuh Dara Cupanggeni tadi mengalami nasib seperti pohon itu, apalagi mendapat serangan dua sinar hijau sekaligus. Tapi mengapa ia tidak mengalami cedera sedikit pun?!" gumam Suto Sinting pelan sekali.

"Itulah salah satu jurus andalannya."

"Maksudmu?"

"Dara Cupanggeni mewarisi ilmu 'Darah Gaib' milik Sunti Rahim. Jurus dari ilmu 'Darah Gaib' telah membuat Dara Cupanggeni tidak akan mampu ditembus oleh sinar tenaga dalam macam apa pun, tidak akan mempan dilukai oleh senjata apa pun. Ia menjadi orang kebal. Dulu Sunti Rahim sebelum menikah denganku juga demikian, tapi setelah keperawanannya hilang, ilmu 'Darah Gaib' lenyap dengan sendirinya."

Pandangan pendekar tampan ini masih tertuju ke arah Dara Cupanggeni, walau telinganya dengarkan kata-kata Bongkok Sepuh. Tetapi sebagian pendengarannya juga menangkap seruan Dara Cupanggeni yang tertuju kepada kedua lawannya.

"Kuperingatkan sekali lagi, temukan aku dengan guru kalian. Aku butuh Gerhana Mandrasakti. Yang ingin kutundukkan adalah dia, bukan kalian! Kalau kalian nekat melawanku, kalian akan dapat ganjaran sendiri dariku! Ini peringatanku yang terakhir!"

Kapak Iblis berteriak, "Persetan dengan perintahmu, Gadis Busuk! Terimalah jurus 'Kapak Lebur'-ku ini, hiaaaaah...!"

Rupanya bukan hanya Kapak Iblis yang kerahkan tenaga dalamnya dengan mengeraskan seluruh otot lengan, melainkan Setan Akhirat juga lakukan hal yang sama. Tangan Kapak Iblis menyala hijau berpendar-pendar, tangan Setan Akhirat juga menyala bagaikan bara, kuning kemerahan. Keduanya kini melompat menerjang Dara Cupanggeni. Wuuuuttt...!

Dara Cupanggeni diam di tempat. Kedua tangannya mengembang ke depan pada saat kedua lawan dari kanan-kiri datang menghantam. Pukulan mereka ditangkis dengan kedua lengan itu. Plak, plak...! Tangan mulus itu seharusnya bukan hanya patah melainkan hancur menjadi debu. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Tangan itu melebihi baja kekuatannya, karena memang tidak mempan dihantam tenaga setinggi apa pun. Bahkan Dara Cupanggeni segera sentakkan kaki dan melompat, lalu kedua kakinya menendang ke samping dengan secara bersamaan.

"Hiaaah...!" lengkingnya sambil menendang kedua arah.

Beegh, beegh...!

Kedua ulu hati lawan terkena tendangan telak gadis itu. Kedua orang berwajah angker itu terlempar ke arah kanan-kiri. Tubuh kekar mereka melayang bagaikan sampah terhempas angin kencang. Akhirnya keduanya jatuh terpuruk tanpa bisa menjaga keseimbangan tubuh mereka.

Brruk...! Brruk...! Gusraak...!

Kapak Iblis terseret menjauh hingga membentur onggokan batu. Setan Akhirat tersedak satu kali ketika berusaha bangkit. Ternyata sedakan itu keluarkan darah kental dari mulutnya. Wajah dinginnya semakin pucat, mata tajam kian meruncing pandangannya. Ia tetap bangkit untuk lakukan pembalasan.

Tetapi tiba-tiba Dara Cupanggeni kelebatkan tangan kanannya. Jari telunjuknya berdiri tegak dan mengeras, seperti lakukan totokan dari jarak jauh. Namun yang terjadi bukan jurus totokan, melainkan jurus maut yang menjadi andalannya. Ujung jari telunjuk itu lepaskan selarik sinar merah yang mampu bergerak cepat dan memanjang sampai sasarannya.

Ciaaap...!

Setan Akhirat tak bisa menghindar atau menangkis, karena pada saat sinar merah itu melesat dari jari gadis tersebut, tubuhnya diam tak bergerak, seakan menjadi patung di tempatnya berdiri. Tentu saja sinar merah itu dapat kenai sasaran dengan tepat. Leher Setan Akhirat adalah sasaran yang dituju, dan sinar merah itu menghantam leher tersebut.

Dees...! Blaap...!

Sinar merah panjang pun lenyap seketika. Noda merah bundar membekas di leher Setan Akhirat. Tokoh itu mulai bisa bergerak lagi sejak hilangnya sinar merah. Tetapi ternyata Setan Akhirat hanya mampu bergerak tiga langkah. Tubuhnya segera jatuh dan terkulai lemas di tanah. Lalu sejumlah asap mengepul bagaikan asap babi panggang yang baru diangkat dari tempat bakarannya. Bau hangus tercium di mana-mana. Setan Akhirat ternyata tidak bergerak lagi dan napasnya pun lenyap bersama mengepulnya asap putih samar-samar dari tubuh.

"Bangsat busuk kau, Setan Wadon! Heaaaah...!" Kapak Iblis berada di puncak kemarahannya begitu melihat Setan Akhirat tumbang tak bernyawa, ia segera kerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menyerang. Tetapi jari telunjuk Dara Cupanggeni lebih dulu bergerak bagai menotok dengan jurus tangan menguncup. Ciaaap...! jari telunjuk itu keluarkan selarik sinar merah panjang.

Kapak Iblis yang ingin melompat jadi mematung dalam keadaan tangan terbuka dan mengembang serta kaki terangkat satu siap melompat. Dalam keadaan tubuh tak bisa bergerak, tentu saja Kapak Iblis tak mampu hindari sinar merah panjang itu. Maka sinar tersebut menghantam telak leher kiri Kapak Iblis.

Deess...!

Nasib Kapak Iblis tak berbeda dengan nasib Setan Akhirat. Noda merah di lehernya membuat Kapak Iblis hanya mampu lanjutkan gerak tiga kali, setelah itu jatuh terpuruk tanpa daya. Tubuhnya berasap, bau hangus menyebar, tapi tubuh itu masih utuh bagai tanpa luka sedikit pun. Hanya saja sekarang tubuh itu sudah tidak bernyawa lagi dan dalam waktu beberapa kejap telah dikerumuni belatung yang tersumbul keluar dari dalam dagingnya.

"Ada sesuatu yang aneh, kurasakan terjadi dua kali, Ki Bongkok Sepuh!" kata Suto dalam bisikannya.

"Ya, memang aneh. Dua kali keanehan itu juga kurasakan. Kau tak bisa bergerak dan napasmu terasa terhenti dua kali, bukan?"

"Benar," jawab Suto sambil menatap Bongkok Sepuh yang tetap pandangi Dara Cupanggeni. Kala itu Dara Cupanggeni sedang periksa lawan-lawannya dengan sungging senyum kemenangannya.

"Itulah jurus andalan yang kumaksud tadi. Dara Cupanggeni telah kuasai ilmu "Bias Dewa' yang dulu tak sempat dipelajari oleh gurunya karena telanjur kurenggut kegadisannya."

"Apa itu ilmu 'Bias Dewa'?"

"Jurus itu hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang masih perawan. Sinar merah yang keluar dari jari telunjuk Dara Cupanggeni itu adalah sinar berkekuatan gaib. Bukan saja mampu membusukkan tubuh lawan dalam sekejap, tapi juga membuat alam menjadi mati."

"Alam menjadi mati?" gumam Suto dalam keheranan.

"Jika sinar merah dari ilmu 'Bias dewa' dilepaskan, maka seluruh kegiatan di muka bumi ini terhenti sampai sinar itu padam. Angin akan berhenti, ombak lautan berhenti, gerakan air terjun pun terhenti, semua hewan bagai mati sekejap, manusia tak mampu gerakkan tubuhnya, napas kita seakan tak mampu dihela lagi. Jantung kita berhenti berdetak. Segalanya serba berhenti. Bahkan matahari pun berhenti dari jalur edarnya jika sinar 'Bias Dewa' dilepaskan. Itulah sebabnya sinar merah tadi tak bisa ditangkis dan dihindari oleh Kapak Iblis dan Setan Akhirat, ilmu itulah yang ingin kutunjukkan padamu."

Suto Sinting tertegun dengan mulut terperangah bengong. Batinnya mengakui kehebatan ilmu 'Bias Dewa' yang baru kali ini dilihat dan dirasakan akibat sampingannya. Wajah Pendekar Mabuk kelihatan sangat kagum dan terheran-heran mendengar penjelasan Bongkok Sepuh.

"Jika ilmu itu bisa hentikan peredaran waktu segala, berarti Dara Cupanggeni adalah orang yang tak bisa dikalahkan?" ujarnya lirih.

Bongkok Sepuh mengangguk dan menambahkan kata, "Memang benar. Karena itulah aku tak berani hadapi dia. Untuk saat ini, Dara Cupanggeni sebenarnya telah menjadi orang tertinggi ilmunya dari semua tokoh di rimba persilatan. Gurumu sendiri kalah tinggi dan bisa ditumbangkan olehnya. Aku yakin, sasaran utama Dara Cupanggeni adalah diriku, sasaran kedua adalah Bibi Gurumu; Bidadari Jalang. Sebab Sunti Rahim turunkan semua ilmu kepada gadis itu hanya untuk dua sasaran utama itu. Selebihnya adalah kehendak Dara Cupanggeni sendiri."

"Celaka...!" geram Suto Sinting merasa cemas mendengar bibi gurunya terancam maut oleh kemunculan Dara Cupanggeni.

"Aku yakin, kalau saja dulu Sunti Rahim telah kuasai ilmu itu, pasti dia akan labrak Bidadari Jalang, dan akan mampu tumbangkan bibi gurumu itu. Bahkan ia tak akan merasa gentar sekalipun Gila Tuak berada dipihak Bidadari Jalang. Gila Tuak dapat dengan mudah ditumbangkan seperti Dara Cupanggeni menumbangkan dua tokoh keras dari Tebing karma itu."

Suto Sinting meneguk tuaknya sebentar, lalu menghempaskan napas panjang dengan menahan kemarahan agar tak meluap. Kecemasan akan ancaman maut bagi bibi gurunya itu membuatnya sedikit resah, sehingga perlu menenggak tuak agar menguasai ketenangan kembali.

"Lalu, mengapa dia ingin bertemu dengan Gerhana Mandrasakti?"

"Dugaanku, Dara Cupanggeni akan tundukkan semua tokoh sakti dan ingin menjadi orang terunggul di rimba persilatan. Dan aku percaya bahwa dia akan berhasil tumbangkan siapa saja, karena dua ilmu berbahaya itu ada padanya!"

"Kalau begitu aku harus hentikan tindakannya sekarang juga, sebelum kedua guruku menjadi korban kedua ilmu itu!"

"Apakah kau sudah punya cara untuk melumpuhkannya?"

"Akan kucoba dengan bumbung tuakku ini!" kata Suto dengan tegas, lalu ia melesat pergi diikuti oleh Bongkok Sepuh. Mereka terpaksa berpindah tempat karena Dara Cupanggeni sudah tinggalkan kedua lawannya itu. Suto Sinting sengaja mengejar dari ketinggian tebing cadas, sampai akhirnya ia melihat Dara Cupanggeni sedang berlari tak begitu cepat menuju arah Tebing Karma. Tentunya ia akan temui Gerhana Mandrasakti dan menantang pertarungan di Tebing Karma.

Suto Sinting melesat turun tebing gunakan gerak silumannya. Dalam waktu sekejap ia sudah berdiri di depan Dara Cupanggeni. Kemunculannya membuat gadis itu terhenyak dan berhenti melangkah dalam seketika. Matanya memandang lembut dan tak berkedip. Suto Sinting sengaja sunggingkan senyum menawan agar gadis itu tak lekas-lekas lakukan penyerangan berbahayanya.

Di tempat persembunyian, di antara pohon dan semak, mata si Bongkok Sepuh memperhatikan pertemuan dua tokoh muda itu dengan hati berdebar-debar. Bahkan tokoh tua itu sempat membatin; "Moga-moga murid Gila Tuak mampu kalahkan kekuatan Dara Cupanggeni dengan caranya yang tak bisa kubayangkan. Jika pemuda itu gagal, maka keganasan Dara Cupanggeni akan melebar ke mana-mana dan menguasai dunia persilatan. Dia bisa menjadi tokoh lalim yang tak kenal belas kasihan kepada siapapun."

Bongkok Sepuh sering mendengar kehebatan ilmu murid si Gila Tuak, tapi hatinya masih saja berdebar-debar mengetahui siapa lawan Pendekar Mabuk kali ini. Padahal Suto Sinting sendiri menghadapi gadis itu dengan tenang sekali. Sang gadis sendiri tampak tidak mengumbar ketegangan, sehingga pertemuan mereka bagaikan terselubung sikap bersahabat yang saling dipamerkan.

"Benarkah kau yang bernama Dara Cupanggeni, murid Nyai Sunti Rahim?" sapa Suto Sinting sekadar memancing percakapan.

Dengan senyum tipis penuh makna pribadi Dara Cupanggeni menanggapi sapaan pendekar tampan itu. Suaranya lembut, seakan tak mempunyai keganasan apa pun di dalam hatinya. "Dugaanmu memang benar; aku Dara Cupanggeni, murid Nyai Sunti Rahim. Apakah kau kenal baik dengan guruku?"

"Hanya mendengar namanya saja. Tapi aku tak pernah jumpa dengan beliau."

"Mungkin kau orang Tebing Karma, murid Gerhana Mandrasakti?!"

Suto Sinting tertawa kecil berkesan ramah walau sebenarnya dipaksakan. "Aku sama sekali tak punya hubungan dengan orang Tebing Karma. Bertemu dengan Gerhana Mandrasakti pun belum pernah. Apakah kau belum mengenali ciri-ciriku?"

"Aku baru turun gunung, tak kudengar kabar apa pun tentang rimba persilatan sekarang ini. Hanya satu-dua kabar yang kudengar dari para pengelana."

"Dari mana kau bisa mendengar nama Gerhana Mandrasakti?"

"Dulu dia musuh guruku dan pernah melukai Guru. Tugasku adalah membalaskan kekalahan Guru." Sambil berkata demikian, Dara Cupanggeni langkahkan kakinya pelan-pelan, dekati tanaman bunga liar warna kuning dan tangannya yang berjari lentik indah itu memetik-metik dedaunan bunga tersebut. Jaraknya semakin dekat dengan Pendekar Mabuk, sehingga si tampan Suto terpaksa harus lebih waspada lagi dengan selalu memandangi gadis itu.

"Jadi kau turun ke rimba persilatan untuk membalas dendam kepada musuh-musuh gurumu masa lalu?"

"Benar. Nama-nama mereka telah kucatat dalam ingatanku. Selain Gerhana Mandrasakti juga Empu Sakya, Raja Maut, Raja Tumbal, Embun Salju, Dampu Sabang, Nini Pancungsari, Nyai Gandrik, Urat Setan, Nyai Demang Ronggeng."

Suto Sinting segera memutus kata ketika Dara Cupanggeni berpikir sebentar. "Beberapa nama itu kukenal dengan baik. Sebagian sudah ada yang mati."

"O, ya? Siapa saja?"

"Empu Sakya mati dibunuh oleh cucunya sendiri. Dampu Sabang, Raja Tumbal, Nyai Demang Ronggeng, tewas di tangan seorang pemuda gunung yang..."

"Siapa nama pemuda itu?" sergah Dara Cupanggeni merasa tertarik, sebab ia tahu nama-nama yang disebutkan Suto adalah nama-nama tokoh berilmu tinggi yang konon sukar ditumbangkan. Jika ada seorang pemuda yang mampu menumbangkan tokoh-tokoh berilmu tinggi itu, Dara Cupanggeni ingin sekali mengenalnya, karena dianggap berada di pihaknya.

Suto sendiri kikuk saat ingin menjawab bahwa tokoh-tokoh sakti itu tewas di tangannya. Namun ia segera menjawab, "Kudengar mereka tewas di tangan Pendekar Mabuk."

"O, ya... aku ingat! Nama Pendekar Mabuk berhubungan erat dengan nama tokoh utama yang harus kulenyapkan sesuai pesan guruku."

Suto Sinting memancing, "Siapa nama tokoh utama yang harus kau musnahkan itu?"

"Ada dua," jawab Dara Cupanggeni. "Pertama adalah si Setan Arak, kedua adalah Bidadari Jalang."

"Setan Arak?" gumam Suto dalam hati. "Mungkinkah si Bongkok Sepuh itu dulunya berjuluk Setan Arak? Jika benar, pantas dia tak merasa mabuk meminum tuakku sampai satu bumbung dihabiskan?!"

Dara Cupanggeni berkata jelas, "Mereka adalah pasangan yang menghancurkan hati Guru dan meninggalkan bekas luka yang sampai sekarang masih terasa perih di hati Guru. Aku harus melenyapkan mereka. Tapi kudengar Bidadari Jalang mempunyai murid sakti bernama Pendekar Mabuk. Barangkali aku juga harus lenyapkan muridnya itu jika ikut campur urusan ini. Bahkan si Gila Tuak yang konon menjadi guru utamanya Pendekar Mabuk, jika ikut campur akan kuhabisi sekalian biar mata dunia tahu, bahwa murid Nyai Sunti Rahim adalah orang yang layak dinobatkan sebagai Perawan Maha Sakti."

Gemuruh di dalam dada Pendekar Mabuk bagai ingin menyentak keluar. Gemuruh itu adalah kemarahan saat mendengar kedua gurunya diancam seremeh itu oleh Dara Cupanggeni. Tetapi dengan menahan napas beberapa saat, kemarahan yang bergemuruh itu mampu diredakan, sehingga penampilan Suto Sinting masih tetap kelihatan tenang-tenang saja.

"Kalau boleh aku beri saran padamu," kata Suto dengan mata tetap memandang ke mata gadis itu, "... sebaiknya urungkan saja niatmu untuk melenyapkan Bidadari Jalang atau yang lainnya."

Dara Cupanggeni yang menjuluki dirinya Perawan Maha Sakti sunggingkan senyum tipis berkesan manis. "Rasa-rasanya aku tak bisa terima saranmu. Kau tak punya alasan kuat untuk memberikan saran seperti itu."

"Alasanku adalah demi perdamaian di antara sesama dan demi keselamatan jiwamu juga. Bidadari Jalang dan Gila Tuak adalah dua tokoh yang tak bisa ditumbangkan dengan sekali-dua kali gebrak saja."

"Kau salah duga," kata gadis itu sambil tertawa kecil. "Justru aku akan memperlihatkan kepada mata para tokoh persilatan bahwa Bidadari Jalang akan menjadi belatung dalam dua kejap netra saja oleh Perawan Maha Sakti!"

Senyum Suto mulai sinis karena menahan kejengkelan. "Sesumbarmu sangat berbahaya, Dara Cupanggeni. Bidadari Jalang jangan disamakan dengan tokoh sakti lainnya. Sekalipun kau mempunyai ilmu 'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa' tapi kau akan hancur lebih dulu sebelum bertemu dengan Bidadari Jalang."

Gadis itu mulai curiga. Mulutnya diam terkatup, matanya tajam memandang. Akhirnya terlontar pula pertanyaan dari kecurigaannya itu, "Kau tahu tentang dua jurus andalanku itu? Kau bersikap menghalangi niatku untuk melawan Bidadari Jalang? Siapa kau sebenarnya?"

"Aku hanya pemuda desa yang tak berarti bagimu. Namaku Suto Sinting," jawab Pendekar Mabuk dengan tenang, bahkan segera membuka tutup bumbung tuak dan menenggak tuaknya dengan cuek. Ia tak peduli dipandangi gadis itu dengan wajah penuh keheranan.

"Suto Sinting?" gumam Dara Cupanggeni pelan sekali, lalu suara itu menjadi lebih jelas lagi ketika berkata, "Seingatku, Guru pernah sebutkan nama Suto Sinting sebagai nama asli Pendekar Mabuk. Apakah... apakah kau Pendekar Mabuk yang sekarang sedang kesohor namanya itu?"

"Setahuku, aku hanyalah murid tunggal dari Bidadari Jalang dan Gila Tuak!"

Wuuut...!

Dara Cupanggeni pindah tempat dengan gerakan cepat. Wajahnya mulai menegang dan kecantikan dari senyum manisnya lenyap seketika. Suto Sinting melirik dalam senyum sambil menutup kembali bumbung tuaknya.

"Kau terkejut?" sindir Suto kini melebarkan senyumnya, tenang sekali.

"Pantas kau mengenal tokoh-tokoh sakti yang ada dalam daftar orang-orang yang harus kulenyapkan!"

"Hanya kebetulan saja aku mengenal mereka. Sama halnya dengan sekarang, hanya kebetulan saja aku jumpa kau di sini."

"Kalau begitu aku harus harus singkirkan dirimu sebelum kau nyata-nyata menjadi penghalangku berhadapan dengan Bidadari Jalang!"

"Kapan kau akan singkirkan diriku? Sekarang? Aku sudah siap sekarang juga!" tantangan itu terdengar kalem tapi memanaskan darah gadis cantik itu.

"Jika kau menantangku sekarang juga, dengan sangat terpaksa aku harus melakukannya, Suto Sinting!" geram Dara Cupanggeni dengan mata menyipit benci.

Tali penggantung bumbung bambu dililitkan di tangan kanan Suto Sinting. Bumbung itu dapat digerakkan dengan mudah dan cepat jika talinya melilit di telapak tangan dan digenggam kuat-kuat. Suto Sinting sudah persiapkan diri dengan menempatkan bumbung tuaknya di depan dada. Matanya selalu memandang ke arah tangan Dara Cupanggeni secara tidak kentara.

"Aku harus mengadu kecepatan gerak dengan tangannya," pikir Suto sebelum Dara Cupanggeni berkata,

"Rupanya kau ingin menjajal ilmu 'Bias Dewa'-ku, Pendekar Tampan?!"

"Aku tak memaksamu keluarkan jurus itu," kata Suto. "Tapi kalau kau ingin lepaskan sekarang juga, aku sudah siap hadapi kekuatanmu itu, Dara Cupanggeni!"

"Dasar bodoh! Hiaaah...!"

Rupanya dalam menghadapi Pendekar Mabuk yang namanya cukup terkenal dan sedang menjadi bahan percakapan para tokoh itu, Dara Cupanggeni tidak mau bermain-main seperti menghadapi dua orang angker dari Tebing Karma tadi. Gadis itu segera lepaskan ilmu andalannya yang paling berbahaya. Tangannya berkelebat menguncup dengan jari telunjuk meruncing keras. Gerakan tangan yang seperti hendak melakukan totokan jarak jauh itulah yang diperhatikan Suto Sinting, sehingga ia dapat perkirakan sinar merah yang akan keluar nanti mengarah ke mana. Suto Sinting sudah persiapkan perisainya dengan menggerakkan bumbung tuak ke arah atas dada. Dugaannya sinar itu akan melesat ke lehernya. Maka ketika sinar merah itu benar-benar melesat dari ujung jari sang gadis, bumbung tuak segera menjadi sasarannya.

Claaap...! Desss...! Blegaaar...!

Sekalipun tubuh Suto Sinting tak dapat bergerak saat sinar itu melesat, namun bumbung tuak telah lebih dulu menghadang dan ledakan dahsyat pun terjadi menggelegar menggema kemana-mana. Suto Sinting segera terhempas ke belakang ketika sinar itu padam bersama bunyi ledakan dahsyat tadi. Dara Cupanggeni pun terlempar mundur lebih dari tiga tindak. Tubuhnya membentur pohon dalam keadaan berdiri limbung, ia memandang lawannya dengan sangat terheran-heran, karena Suto Sinting ternyata masih bisa berdiri lebih dari tiga gerakan. Namun keadaan Suto cukup parah. Mulutnya keluarkan darah, wajahnya tampak memar membiru. Hampir saja ia terhantam batang pohon yang tumbang seketika begitu terjadi ledakan bergelombang tinggi dan mengguncang bumi.

"Bumbung bambu itu tidak pecah?! Aneh?!" gumam hati Dara Cupanggeni. "Biasanya tak ada benda yang tidak bisa ditembus 'Bias Dewa'-ku. Tapi bumbung tuak itu tidak bolong sedikit pun. Tak ada tanda-tanda keretakan, bahkan lecet sedikit pun tidak?!"

Memang benar, bumbung itu tidak mengalami kerusakan apa pun. Tapi Suto sendiri juga merasa aneh karena sinar merah itu ternyata tidak bisa memantul balik seperti sinar-sinar tenaga dalam dari musuhnya yang terdahulu. "Sekujur tubuhku panas sekali. Gila! Dadaku sakitnya bukan main," Suto membatin, tapi matanya yang mulai buram dalam penglihatan tetap mencoba mengawasi gerakan Dara Cupanggeni. Bumbung tuaknya masih berada di tangan. Talinya melilit telapak tangan sampai lengan.

Dara Cupanggeni tidak mengalami cedera apa pun kecuali hanya rasa ngilu akibat terbentur pohon punggungnya. Melihat Suto Sinting limbung dalam berdirinya, ia bermaksud lepaskan sinar 'Bias Dewa' sekali lagi. "Kali ini dia tak akan bisa menangkis dengan bumbung tuaknya!" pikir Dara Cupanggeni. Maka, tangannya pun mulai merapatkan jemari, siap berkelebat melakukan serangan serupa.

Sayang sekali tiba-tiba sekelebat bayangan melintas di depannya dengan sangat cepat. Bayangan itu bagaikan sebentuk angin aneh yang menerjang Pendekar Mabuk, lalu kejap berikutnya sosok pendekar tampan itu lenyap dari pandangan mata Dara Cupanggeni.

Zlaaap...!

Rupanya ada seseorang yang telah menyambar Pendekar Mabuk dalam keadaan terluka dalam cukup parah itu. Dara Cupanggeni bergegas memburu ke arah lenyapnya bayangan tadi. Tapi agaknya ia tidak mampu mengejar lawannya, bahkan sempat melesat kearah yang berlawanan.

"Kurang ajar! Siapa orang yang berani ikut campur urusanku ini? Siapa yang menyambar Pendekar Mabuk?! Dia kira aku tak bisa melumpuhkannya walau ia mampu bergerak secepat itu?!" geram Dara Cupanggeni dalam pelacakannya.

* * *

TIGA
DALAM keadaan terluka berbahaya seperti itu, seandainya Dara Cupanggeni alias Perawan Maha Sakti itu lepaskan jurus 'Bias Dewa'-nya, pasti Suto tak akan dapat menangkisnya lagi. Sinar merah itu akan menghantam leher Pendekar Mabuk, dan nasib si tampan akan berakhir sampai di situ saja. Itulah pertimbangan seorang tokoh yang menyambar Suto Sinting.

Sampai di suatu tempat, Suto Sinting dibaringkan dibawah pohon. Ternyata keadaannya sudah semakin parah. Kulitnya mulai keluarkan bintik-bintik merah menyerupai ujung darah. Pandangan matanya kian buram, sehingga tak bisa melihat jelas siapa orang yang telah menyambarnya sampai ke situ.

Tetapi Suto mendengar suara samar-samar yang memerintahkan dirinya agar membuka mulut. Dengan lemas mulut itu pun membuka pelan-pelan, kemudian ia juga rasakan ada air yang mengucur ke dalam mulutnya hingga terpaksa tertelan beberapa teguk. Glek, glek, glek...! Suto tak sadar bahwa bumbung tuaknya sudah tidak ada di tangan lagi. Dan air yang mengucur itu tak lain tuak dari bumbung tersebut.

Rupanya kepergian tokoh yang menyambar Suto Sinting itu segera diikuti oleh si Bongkok Sepuh. Sampai di tempat itu, Bongkok Sepuh pandangi tokoh penolong Suto yang mengenakan pakaian ketat ungu muda model angkin sebatas dada berhias benang emas di tepiannya. Tokoh itu adalah seorang perempuan cantik seperti layaknya gadis berusia dua puluh lima tahun, tapi sebenarnya sudah lanjut usia. Ia juga kenakan jubah lengan panjang warna ungu tua. Rambutnya disanggul sebagian dengan pedang di punggung dibungkus kain ungu tua dari bahan beludru. Ia seorang perempuan yang cantik, mancung, dan bermata indah walau berkesan galak.

Bongkok Sepuh mengenal tokoh tua yang awet muda itu, karenanya Bongkok Sepuh segera menyapa dengan suaranya yang mirip orang menggumam. "Mengapa kau ikut campur urusanku ini, Sumbaruni?!"

Perempuan cantik itu segera menatap Bongkok Sepuh dengan pandangan mata memancarkan kedongkolan hati. Mulut Sumbaruni masih terkatup diam. Bongkok Sepuh kembali ucapkan kata sambil dekati Sumbaruni, bekas istri Jin Kazmat yang menjadi pewaris seluruh ilmu tokoh tua bernama Eyang Bayudana, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Tanpa Tapak).

"Mestinya kau tak boleh remehkan kekuatan Pendekar Mabuk, murid si Gila Tuak itu, Sumbaruni. Mundur dari pertarungan merupakan tindakan yang kurang terhormat bagi seorang pendekar kondang seperti Suto Sinting itu! Kau telah memalukan nama besar murid Gila Tuak dan Bidadari Jalang, Sumbaruni!"

Dengan menggeram jengkel Sumbaruni bicara, "Otakmu kau taruh di mana, Setan Arak?! Tak tahukah kau bahwa Suto bukan tandingan Dara Cupanggeni bersama ilmu 'Bias Dewa'-nya?!"

Rupanya usia Sumbaruni yang asli sejajar atau melebihi usia Bongkok Sepuh yang dulu dikenal dengan nama Setan Arak. Dengan begitu Sumbaruni bebas bicara dengan Bongkok Sepuh tanpa memandang si Bongkok Sepuh orang tua. Dan Bongkok Sepuh pun agaknya tidak pedulikan sikap Sumbaruni yang tampaknya ngelunjak, namun sebenarnya memang layak bersikap demikian. Ketidakpedulian itu disebabkan karena Bongkok Sepuh mengakui bahwa dirinya lebih muda dari Sumbaruni, walau wujud nyatanya terbalik.

"Kalau murid Sunti Rahim itu tidak gunakan ilmu 'Bias Dewa', aku tak akan campuri urusan mereka berdua. Tapi karena aku tahu bahwa Dara Cupanggeni telah kuasai ilmu 'Bias Dewa', maka aku tak akan biarkan Suto Sinting mati di tangan gadis itu."

"Kau mengecewakan aku, Sumbaruni!" Bongkok Sepuh bersungut-sungut sambil melangkah dengan tongkatnya. "Harapanku selamat dari ancaman dendam Sunti Rahim terletak pada kekuatan ilmu Pendekar Mabuk. Dan aku yakin pemuda itu punya cara sendiri untuk melawan ilmu 'Bias Dewa'. Buktinya ia tidak langsung mati seperti yang lain walau Dara Cupanggeni sudah lepaskan sinar merahnya! Kurasa bocah itu lebih cerdas daripada otakmu, Sumbaruni!"

"Oh, berarti kau yang membujuk Suto untuk bertarung dengan murid Sunti Rahim itu?! Keparat kau, Setan Arak! Kau gunakan orang lain sebagai tameng urusan masa lalumu! Licik kau, Setan Arak!" sentak Sumbaruni mulai marah.

"Kau tak punya hak untuk marah padaku, Sumbaruni! Kau bukan apa-apanya Suto Sinting!"

"Siapa pun orang yang ingin celakai kekasihku, akan kupertaruhkan nyawaku untuk membalas orang yang kucintai ini!"

"He, he, he, he...!" Bongkok Sepuh terkekeh. "Jadi kau mencintai Suto Sinting?! Oh, itu sebuah mimpi buruk bagimu, Sumbaruni. Cintamu tak akan dihiraukan oleh Suto Sinting, sebab setahuku dia sudah menjadi kekasih penguasa Puri Gerbang Surgawi yang bernama Dyah Sariningrum. Tentu saja Suto Sinting akan memilih Dyah Sariningrum daripada memilih perempuan bekas istri jin, sama saja Suto mendapatkan barang bekas jika memilihmu. Barang bekas kalau masih bagus agak lumayan, tapi kalau barang bekas yang sudah rusak berat tak ada gunanya dipiara. Suto tentunya tak akan mau dapatkan barang bekas yang tinggal sisa-sisa ketuaannya itu! He, he, he,he...!"

Sumbaruni gemetar menahan luapan amarah. Giginya menggeletuk, matanya menyipit, suaranya menggeram penuh getaran, "Mulutmu perlu dihancurkan, Setan Arak! Heaaah...!" tiba-tiba Sumbaruni sentakkan kedua tangannya yang mengembang di atas kepala. Dari sentakan telapak tangan yang membentuk cakar itu melesat dua sinar kuning secara bersamaan.

Clap, claaap...!

Sinar kuning itu menghantam wajah Bongkok Sepuh. Tetapi orang berkulit keriput itu segera kibaskan tongkatnya memutari kepala satu kali dan bagian ujung tongkat yang berbentuk seperti bola licin itu disodokkan kedepan.

Wuuut...!

Dari bola hitam tersebut keluar segumpal asap hijau bergulung-gulung dan cepat menyebar ke kanan-kiri. Sinar kuning terperangkat asap hijau. Zrruuub...! Asap itu bagaikan membungkus kedua sinar tersebut, membentuk bola besar berasap, melambung naik ke angkasa dan kejap berikutnya meledak dahsyat di atas sana.

Blegaaar...!

Bumi terasa berguncang akibat dentuman dahsyat itu. Asap hijau menyebar kian tebal, seakan langit ingin dilapisi dengan kabut hijau seluruhnya. Cahaya matahari tak bisa menerobos kabut tersebut, membuat alam menjadi remang-remang. Angin yang berhembus hadirkan hawa dingin yang makin lama semakin menggigilkan tubuh. Rupanya Bongkok Sepuh telah lepaskan jurus anehnya yang mempunyai kekuatan inti salju, dapat membekukan semua darah yang dinaungi awan hijaunya itu.

Suto Sinting yang mulai segar karena telah meneguk tuak saktinya itu hanya memandangi awan hijau dengan tubuh sedikit menggigil. Ia tahu datangnya hawa dingin melebihi salju, maka ia segera meneguk tuaknya lagi. Glek, glek, glek, glek...! Tuak itu sebagai penangkal hawa dingin salju. Sedangkan Sumbaruni segera lakukan gerakan-gerakan cepat dengan pergunakan kibasan kedua tangannya ke sana-sini untuk atasi hawa dingin itu. Lalu tiba-tiba kedua tangannya menyentak ke atas dengan satu kaki berlutut.

Ciaaap...!

Sinar merah terang dan lebar terlepas dari kedua tangan itu dan melesat ke atas menembus kabut hijau. Blegaar...! Gumpalan awan hijau itu pecah dan lenyap seketika setelah terhantam sinar merah dari tangan Sumbaruni. Alam terguncang tapi sinar matahari dapat memancar kembali ke bumi dan udara hangat mulai terasa menyebar.

Bongkok Sepuh memandang ke atas, memperhatikan lenyapnya awan hijaunya dengan rasa kecewa. Saat itulah Sumbaruni segera melompat dan menerjang Bongkok Sepuh dengan tendangan beruntun yang tak bisa dilihat mata.

Bruuuss...!

Tubuh Bongkok Sepuh terlempar delapan langkah dan terpelanting jatuh seperti dibanting di atas bebatuan.

Bruuk!

"Kau perlu dihajar agar lain kali tak akan pergunakan kekasihku untuk tameng nyawamu, Setan Arak! Hiaaah...!"

Sentakan tangan kiri Sumbaruni membuat tubuh yang terpuruk melesat tinggi ke atas, lalu kibasan tangan kanan Sumbaruni memutar tubuh itu dengan kencang. Wuuut...! Wwerrr...! Tubuh tua itu berputar bagai baling-baling, kemudian terlempar lagi ke arah lain dan membentur pohon. Bluuurrr...! Pohon itu guncang hebat, sepertinya mau patah dan tumbang. Bongkok Sepuh terpuruk di bawah pohon itu dengan terengah-engah dan bagaikan tak berdaya lagi.

"Sumbaruni, hentikan menghajarnya," seru Suto Sinting yang sudah mampu berdiri tegak dan keadaan tubuhnya sudah sesehat sebelum bertarung dengan Dara Cupanggeni. Suto Sinting mencoba dekati Sumbaruni yang sedang marah. Tapi langkah Suto terhenti setelah ia dibentak dan dituding oleh Sumbaruni,

"Diam di tempatmu! Aku akan kasih pelajaran pada si tua pikun itu!"

Sumbaruni hendak pergunakan kekuatan jarak jauhnya lagi untuk membanting dan mengajar Bongkok Sepuh. Tapi tiba-tiba tangan Bongkok Sepuh yang melepaskan tongkatnya itu mengembang dan telapak tangannya menghadang ke arah Sumbaruni. Dari telapak tangan itu keluar sinar putih sebesar lidi yang melesat ke arah Sumbaruni.

Zuiiit...!

Sumbaruni cepat sentakkan kaki dan melesat tinggi di angkasa, ia bersalto hingga kakinya mencapai salah satu dahan pohon yang kering. Sinar putih itu menerobos sebatang pohon besar. Jraab...! Zlaaap...! Pohon itu berlubang sebesar bumbung tuaknya Suto. Bahkan enam pohon di deretan belakang pohon pertama pun masih mampu ditembus sinar putih sebesar lidi itu.

Jrab...!

Blus, blus, blus, blus...!

Melihat keenam pohon berlubang seukuran bumbung tuak, Suto Sinting terperanjat kaget dan segera melompat ke depan Bongkok Sepuh. "Hentikan! Hentikan seranganmu!"

"Biarkan aku bertarung dengan si mulut sumbar itu, Suto!"

Sedangkan Sumbaruni segera melayang turun dari atas pohon dan berseru seraya mencabut pedangnya, "Minggir, Suto! Biarkan aku menebaskan pedangku sebagai pelajaran terakhir bagi si tua bangkaitu!"

"Tidak! Hentikan pertarungan ini!" bentak Suto kelihatan marah.

"Minggir, Suto," geram Bongkok Sepuh sambil melangkah dengan tongkat dltangan kiri, sedangkan Suto semakin mendekatinya.

"Kau berjanji hanya akan menahan Cincin Manik Intan-ku! Kau tidak akan menggunakannya! Kenapa sekarang kau menggunakan cincin itu untuk menyerang Sumbaruni! Aku tak setuju! Kuminta kembali cincin itu dengan cara apa pun!"

"Aku terpaksa lakukan karena Sumbaruni seenaknya menghajarku!"

"Tidak bisa!" sentak Suto. Bentakan itu membuat tubuh Bongkok Sepuh terdorong mundur tiga langkah. Orang tua itu merasa mendapat sentakan tenaga cukup besar dari hembusan napas mulut Suto.

Anak muda itu berseru lagi, "Kalau kau masih tetap mau pergunakan cincin pusaka itu, hantamkan ke tubuhku sekarang juga. Lepaskan amarahmu ke dadaku! Lakukan, Bongkok Sepuh! Dan aku tak akan membantumu lagi mengalahkan Dara Cupanggeni!"

Bongkok Sepuh terdorong mundur lagi. Ia mulai sadar, napas Suto sudah mulai membahayakan. Napas Tuak Setan lebih berbahaya jika sampai disentakkan melalui mulut Suto Sinting. Bongkok Sepuh mulai berpikir seratus kali untuk mempertahankan Cincin Manik Intan itu. Apalagi Suto Sinting berkata,

"Kalau kau ingin memiliki cincin itu untuk kepentingan murkamu, sebaiknya kita bertarung secara jantan, Bongkok Sepuh! Kau dulu disebut Setan Arak, dan aku Pendekar Mabuk! Kita adu kekuatan arak dengan tuak!"

Bongkok Sepuh semakin ciut nyali. "Kalau kulayani, mungkin juga aku bisa menang, mungkin pula akan hancur berkeping-keping diterjang Napas Tuaknya. Lagi pula, Gila Tuak pasti tidak akan tinggal diam dan menuntut balas atas perlakuanku kepada muridnya. Ah, jangan sampai Gila Tuak dan Bidadari Jalang mengamuk padaku! Sebaiknya kuserahkan saja cincin ini, tampaknya anak muda itu sudah mulai dipengaruhi oleh Napas Setan Tuak-nya. Berbahaya sekali. Bisa-bisa orang lain yang berada di arah belakangku bisa menjadi korban tak bersalah jika anak muda ini mulai murka."

Sumbaruni sendiri mulai tegang setelah ingat bahwa Suto Sinting mempunyai jurus yang amat berbahaya, yaitu Napas Setan Tuak. Sumbaruni mengendurkan ketegangannya, bahkan memasukkan pedangnya kembali. Sebab ia tahu bahwa saat itu Suto Sinting benar-benar diliputi kemarahan karena Bongkok Sepuh menggunakan Cincin Manik Intan. Sumbaruni tak tahu bagaimana awalnya hingga Cincin Manik Intan ada di tangan Bongkok Sepuh, yang jelas ia tahu kekuatan dahsyat pada cincin pusaka tersebut.

"Serahkan cincin itu atau kita adu kesaktian?!" geram Suto yang terpancing kemarahannya karena melihat Sumbaruni nyaris mati dengan cincin itu.

"Tapi kau janji tetap akan menghadapi Dara Cupanggeni?!"

"Aku janji!" kata Suto dengan tegas.

Bongkok Sepuh tak punya pilihan lain. Cincin Manik Intan dilepas dan diserahkan kepada Suto. Cincin itu dikenakan di jari manis Suto sebelah kanan. Cara memakainya juga terbalik, sehingga sewaktu-waktu getaran amarahnya meluap, Cincin Manik Intan tidak keluarkan sinar tanpa arah yang dapat membahayakan orang lain.

"Hadapi gadis itu, kalau perlu pergunakan cincinmu itu, Suto," kata Bongkok Sepuh.

Tapi Sumbaruni segera menyahut, "Tidak! Tak kuizinkan Suto bertarung melawan murid Sunti Rahim!"

"Apa urusanmu melarang Suto, hah?!" sentak Bongkok Sepuh.

"Kalau dia celaka aku yang rugi!" jawab Sumbaruni dengan keras.

Bongkok Sepuh dekati Sumbaruni dan berkata dengan geram, "Bercerminlah dalam wujudmu yang sebenarnya Sumbaruni! Suto layak menjadi cucumu, bukan suamimu! Kau lebih pantas menjadi istri jin seperti dulu!"

Plaaak...!

Kelebatan tangan Sumbaruni tak bisa ditangkis Bongkok Sepuh. Tamparan yang mendarat di pipi Bongkok Sepuh membuat orang tua itu terpelanting, nyaris jatuh kalau tak segera bertahan dengan tongkatnya. Pipi tua itu membekas merah, empat jari Sumbaruni ada di pipi itu.

"Tahan...!" seru Suto Sinting. Pendekar tampan dan gagah itu segera dekati Sumbaruni, berdiri di samping wanita muda yang cantik jelita itu. "Biarkan aku menghadapi Dara Cupanggeni! Dia punya niat tak baik bagi kehidupan kita bersama, Sumbaruni!"

"Dara Cupanggeni bukan tandinganmu, karena dia memiliki ilmu 'Bias Dewa'. Jangan bodoh kau, Suto! Kau akan mati jika nekat melawannya!"

"Akan kutantang dengan Cincin Manik Intan ini!"

"Cincin itu tak akan mampu menembus tubuhnya, karena dia punya ilmu 'Darah Gaib' yang kusaksikan dari tempat tersembunyi saat ia bertarung melawan dua orang Tebing Karma itu!"

"Jangan remehkan kesaktian cincin ini, Sumbaruni!"

"Aku tidak remehkan! Tapi aku tahu bahwa dia punya 'Darah Gaib' yang tak bisa ditembus dengan kekuatan dahsyat pusaka apa pun! Kekuatan 'Darah Gaib' sejajar dengan kekuatan 'Seruling Malaikat', Suto! Dia hanya bisa dikalahkan dengan Pedang Kayu Petir!"

Bongkok Sepuh menyambar omongan, "Siapa bilang?! Aku yakin Cincin Manik Intan dapat tembus 'Darah Gaib'. Sekarang baru kusadari kebodohanku tadi. Seharusnya aku tidak menawan cincin pusakamu itu, Suto. Seharusnya tadi kau pergunakan cincin itu untuk melawan Dara Cupanggeni!"

"Tua bangka! Jangan kau jerumuskan orang tak bersalah ini untuk kepentingan pribadimu! Cincin itu tidak akan bisa imbangi kekuatan 'Darah Gaib'!"

"Bisa!" bantah Bongkok Sepuh tak mau kalah.

"Tidak bisa!"

Suto Sinting berseru, "Bisa atau tidak harus kucoba dulu!"

"Betul!" kata Bongkok Sepuh.

"Tidak! Aku tidak setuju! Ilmu yang ada pada gadis itu tidak bisa dipakai untuk coba-coba!"

"Aku punya cara sendiri untuk mencobanya!"

"Aku tidak setuju!" sentak Sumbaruni. "Kalau kau nekat mau mencoba menghadapinya, hadapi dulu jurus 'Anak Rembulan' ini!"

Tangan Sumbaruni tak disangka-sangka berkelebat seperti melemparkan sesuatu dari samping. Yang keluar dari lemparan itu adalah sinar kuning berbentuk seperti bintang. Sinar kuning itu tahu-tahu telah kenai pundak Suto.

Claaap...!

Brruk...! Suto Sinting langsung terkulai lemas bagai kehilangan seluruh kekuatannya. Sinar kuning itu pernah diterima Suto dan membuat Suto seperti tak berilmu lagi beberapa waktu yang lalu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Tanpa Tapak). Siapa pun yang terkena jurus 'Anak Rembulan' akan menjadi lunglai tanpa daya, bahkan menggerakkan jari tangannya pun tak bisa.

Melihat keadaan Suto dilumpuhkan, Bongkok Sepuh menjadi marah. Ia segera sabetkan tongkatnya ke arah Sumbaruni sambil berseru, "Beraninya kau lumpuhkan jago andalanku itu, hah...? Heaaah...!"

Wuuut...! Sumbaruni hadangkan pukulan tongkat dengan lengan kirinya. Dees...! Blaar...! Ledakan terjadi menghentakkan kedua tokoh itu. Namun mereka masih sama-sama saling serang kembali. Pertarungan itu membuat mereka lengah dan tak tahu ada sekelebat bayangan hitam yang menyambar tubuh Suto bersama bumbung tuaknya.

Wuuuusss...!

* * *

EMPAT
KERIMBUNAN hutan sisi lereng membentuk semacam lorong-lorong beratap dedaunan. Ranting-ranting saling bertaut, dahan-dahan rendah berbentuk lengkung. Di situlah Suto Sinting ditelentangkan oleh si penyambar yang menganggap tempat itu lebih aman dan lebih tersembunyi.

Kali ini orang yang menyambar Suto dalam keadaan lemas tanpa daya itu adalah seorang gadis berwajah cantik liar. Cantik tapi kesannya seperti liar dan ganas. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya serba hitam ketat seperti terbuat dari karet. Ketatnya pakaian membentuk tubuh meliuk-liuk penuh pesona kegairahan.

Siapa lagi gadis berpakaian hitam dan berwajah cantik liar kalau bukan Angin Betina, murid Nini Pancungsari yang telah berubah aliran dari hitam ke putih? Pertemuan dan perkenalannya dengan Pendekar Mabuk itulah yang membuat tokoh muda beraliran hitam itu merubah haluan menjadi tokoh cantik beraliran putih, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pedang Kayu Petir)

Janjinya yang ingin menjadi pelindung Suto Sinting, tameng terdepan bagi Pendekar Mabuk, telah membuatnya berang melihat sang pendekar terkapar tak berdaya. Tak ada raut sedih pada wajahnya, yang ada hanyalah kemarahan yang menggeram-geram penuh hasrat untuk berbalas dendam.

"Jangan ke mana-mana. Tetaplah di sini. Aku akan segera kembali setelah menghajar Sumbaruni!" katanya kepada Suto yang terkapar tanpa daya sedikit pun itu.

Namun karena Suto masih bisa bicara lamban, ia pun berkata, "Jangan lakukan!"

"Tidak bisa! Sumbaruni yang menyerangmu saat kuintip dari balik semak! Aku melihat sendiri sinar kuningnya kenai pundakmu!"

"Angin Betina."

"Aku hanya sebentar. Jangan ke mana-mana!"

"Mau ke mana lagi, Tolol?! Keadaanku seperti ini jelas tak mungkin ke mana-mana!" ucap Suto Sinting dengan nada kesal namun tak bisa dilampiaskan dengan tekanan semestinya.

Angin Betina bangkit. Pedang yang diselipkan di pinggang dicabut bersama sarungnya. Digenggam dengan tangan kiri untuk dicabut sewaktu-waktu, ia bergegas pergi setelah berkata, "Perempuan itu memang layak mendapat pelajaran terberat dariku!"

"Angin Betina, tunggu dulu!" cegah Suto Sinting. "Jangan lakukan pertarungan dengan Sumbaruni!"

'Kau pikir aku kalah ilmu dengannya? Dia boleh cabut pedangnya dan bertarung sampai mati denganku. Kau akan tahu siapa yang unggul dalam bermain pedang nanti!"

"Memang betul, tapi dengarlah dulu kataku, Angin Betina...!"

"Tidak bisa! Aku harus bikin perhitungan dengannya. Dia atau aku yang mati!"

"Dengarlah dulu, Angin Betina! Dia lakukan begini bukan karena benci padaku tapi karena..."

"Kau masih ingin membelanya?!" sergah Angin Betina bernada cemburu. "Kalau kau memang ingin membelanya,

baiklah aku pergi dan kita tak perlu jumpa lagi!" "Angin Betina," keluh Suto yang tanpa daya itu. "Ini bukan masalah pembelaan, ini masalah keselamatan. Kau salah paham, Angin Betina. Sebaiknya."

"Aku sudah berjanji padamu untuk menjadi pelindungmu! Barang siapa ingin lukai dirimu harus melukai nyawaku lebih dulu! Sekarang Sumbaruni membuatmu terkulai begini, kehilangan kekuatan, kehilangan ilmu, dan harus ditebus dengan kehilangan nyawanya. Aku tidak terima! Aku akan menuntut balas kepadanya!"

"Jangan pergi, Angin Betina.!"

Weees...! Gadis itu melesat seperti angin. Suto Sinting berusaha berseru namun tak seberapa keras, "Angin Betina...! Tolong pulihkan dulu diriku! Hei... kembalilah! Ada yang harus kau lakukan sebelum kau pergi! Haaai...! Kampret!"

Kesal sekali hati Suto Sinting ditinggalkan Angin Betina dalam keadaan masih terkulai tak berdaya sebegitu. Padahal mestinya Angin Betina tuangkan tuak ke mulut Suto lebih dulu, supaya kekuatannya pulih kembali. Sebab dulu ketika Suto alami sama seperti itu, Angon Luwak si bocah penggembala datang dan menuangkan tuak ke mulut Suto. Dengan begitu pengaruh jurus 'Anak Rembulan' segera lenyap. Suto tidak lagi terkulai lemas. Seluruh kekuatannya pulih kembali bersama ilmunya.

Tetapi agaknya gadis berambut acak-acakan itu lebih mementingkan amarahnya ketimbang memulihkan Suto. Atau ia memang tidak tahu bahwa hal yang sebaiknya dilakukan paling utama adalah menuangkan tuak ke mulut Suto. Rasa cemburu dan dendam itulah yang membuat Angin Betina hanya punya satu tujuan; melabrak Sumbaruni. Akibatnya Suto hanya terkapar dengan mata berkedip-kedip dan di hati penuh kedongkolan. Bukan pada Sumbaruni saja, melainkan dongkol pula kepada Angin Betina.

Di sela-sela kedongkolan hati itu terselip pula perasaan cemas membayangkan pertarungan Angin Betina dengan Sumbaruni. Sekalipun Angin Betina mahir memainkan jurus pedang dan mampu melakukan gerakan secepat anak panah, tetapi kekuatan tenaga dalamnya lebih unggul Sumbaruni. Angin Betina bisa mati dihajar Sumbaruni dari jarak jauh. Jika Sumbaruni pergunakan jurus 'Siulan Hantu'-nya, Angin Betina belum tentu mampu menahan kekuatan bunyi siulan yang bertenaga dalam tinggi dan mampu meledakkan pohon serta batu besar itu.

"Gadis dungu!" gerutu Suto dengan suara pelan. "Kalau dia mati melawan Sumbaruni, siapa yang tahu bahwa aku ada di sini? Aku bisa mati dengan sendirinya jika tersembunyi di sini berbulan-bulan! Konyol juga gadis itu!"

Suto Sinting berusaha gerakkan kepalanya, namun sedikit pun tak mampu bergerak. Matanya mencoba melirik ke kanan-kiri mencari di mana bumbung tuaknya, tapi Suto tak berhasil melihat benda itu di sampingnya. Padahal benda itu ada di atas kepalanya dalam jarak tiga jengkal saja. Suto menjadi lebih dongkol lagi menghadapi keadaan dirinya. Kekuatan batinnya pun tak mampu digunakan untuk mengangkat tubuh atau menggerakkan benda apa pun.

Ia benar-benar seperti bayi baru lahir yang hanya bisa gerakkan mata kanan-kiri dengan pelan-pelan. Semula ia ingin berteriak minta tolong, tapi menyadari suaranya tak mampu keras akhirnya niat itu dibatalkan. Ia hanya bisa mendesah membuang kekesalan hatinya. Tetapi desahannya terasa lain. Hati Suto Sinting merasa heran sekali mendengar suara desahan napasnya menggeram besar. Setahunya ia tak punya suara desahan sebesar itu.

"Gggrraaaoww...!"

"Mati aku! Suara apa itu tadi? Macan apa harimau? Oh, sama saja! Aduh, dari mana suara itu tadi?!" Suto menjadi tegang sendiri, matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Telinganya menangkap suara gemerisik, seperti tanaman dan ranting terinjak kaki, entah kaki manusia atau kaki binatang. Yang jelas suara geram yang didengarnya tadi membayangkan sebentuk wajah seram dengan gigi runcing dan taring setajam pedang. Langkah-langkah kaki kian mendekat. Semak yang terinjak bertambah jelas di pendengaran. Kejap berikut suara raung membesar terdengar lagi lebih dekat.

"Grraaow...!"

Suto Sinting melirik ke kiri. Semak ilalang di sebelah kiri bergoyang-goyang. Itu menandakan ada sesuatu yang mendekam di sana atau menerabas melintasinya. Suara tersebut terdengar lagi,

"Grraaow...!"

"Oh, Dewa...! Itu benar-benar suara harimau. Matilah aku. Mati sudah!" Pendekar Mabuk mulai ciut nyali. "Dalam keadaan tak bisa bergerak tak bisa melawan, harimau itu dapat seenaknya menyantap dagingku. Oooh... nasib sial apa sebenarnya yang menimpaku jadi begini?!"

"Graaaaooowww...!" raung harimau memanjang, wajahnya tampak di balik semak sedang mengincar ke arah Suto Sinting. Harimau itu berbulu loreng kuning- hitam. Seringai mulutnya tampak sedang mempersiapkan diri memangsa hidangan yang terbaring bebas dalam jarak empat langkah didepannya.

Suto Sinting berdebar-debar. "Bagaimana caraku melawannya jika dalam keadaan begini?! Oh, sudahlah. Pasrah saja. Mudah-mudahan sekail santap aku langsung mati, jadi untuk santapan berikutnya aku tak rasakan sakit. Mudah-mudahan jangan jempol kakiku lebih dulu yang dicicipinya...!" Suto membatin dalam ketegangan yang sebenarnya telah hadirkan keringat dingin di keningnya.

"Hmmmmgggrrr...!" Harimau itu pakai menggumam segala, makin membuat hati Suto bagai dipermainkan. Wujudnya telah tampak penuh. Menyeramkan sekali. Tubuh harimau loreng itu besar dan mulutnya tampak lebar. Ia melangkah pelan-pelan dengan suara geram dan raungnya yang membuat jantung Suto seakan-akan sedang diguncang dan dipermainkan.

Tiba-tiba dari sisi kanan terdengar suara yang sama. "Grraaoowww...!"

Suto membatin, "Wah, ada dua...?! Mampuslah aku. Sudah tak dapat bergerak, masih harus dikeroyok dua harimau! Hmmm... selamat tinggal sajalah kepada dunia ini! Kapan-kapan aku datang kalau Dewata mengizinkan." Mata Pendekar Mabuk melirik ke kanan, ia terkejut karena di sebelah kanan tampak sosok harimau lebih besar dengan bulu loreng putih hitam. Mata harimau loreng hitam itu tampak lebih tajam memperhatikan ke arah Suto, lebih bernafsu sekali untuk menyantap tubuh Suto. Jantung pun seakan berhenti berdetak karena cepatnya hingga tak terasa debarannya.

"Ggrraaoow...!" raung si loreng hitam-kuning.

"Grrraaaoowwm...!" balas si loreng hitam-putih.

Suto Sinting hanya membatin, "Barangkali mereka sedang berunding, siapa dulu yang ingin menerkamku? Celaka! Baru sekarang nasibku dirundingkan oleh dua binatang buas. Ooh... benar-benar konyol si Angin Betina itu; meletakkan diriku di sarang macan! Sama saja ia meletakkan diriku di atas ujung tombak!"

"Grraaowww...!"

Dan tiba-tiba harimau loreng hitam-putih itu meraung panjang sambil melompat ke arah Suto Sinting. "Grrraaaoooww...!"

Weeesss...!

Suto Sinting pejamkan mata kuat-kuat sambil mengeluh, "Habislah riwayatku!"

Tetapi suara raung kedua harimau itu semakin tidak beraturan. Suto Sinting buka mata kembali. Melirik ke kiri dan melihat kedua harimau itu sedang saling bertarung dengan sendirinya. Geram dan raungan pertarungan mereka menggema memenuhi hutan berpepohonan lengkung. Kalau saja saat itu Suto bisa bergerak, ia pasti akan cepat-cepat larikan diri pada saat kedua binatang buas itu bertarung. Tapi karena ia tidak bisa berbuat apa-apa, maka ia hanya bisa membatin sambil menunggu nasib,

"Mereka bertarung memperebutkan diriku. Oh, nasib! Biasa diperebutkan wanita sekarang diperebutkan harimau. Kutukan siapa sebenarnya ini?"

Pertarungan dua harimau itu cukup seru. Mereka saling cakar dan saling terkam. Tapi agaknya si loreng hitam-putih yang unggul, karena tubuhnya tak terluka sedikit pun, sedangkan si loreng hitam-kuning tampak berdarah di bagian tengkuk dan wajahnya. Si loreng hitam-putih menyerangnya dengan buas, sampai akhirnya loreng hitam-kuning larikan diri, loreng hitam-putih mengejar.

Napas Suto yang semula berat menjadi ringan kembali. Hatinya membatin, "Bagus! Kejar terus dia sejauh mungkin, dengan begitu diriku akan selamat dari ancaman maut mulut kalian!"

Kini yang diharapkan Suto adalah kehadiran Angin Betina. Suto ingin cepat-cepat tinggalkan sarang harimau itu. Napasnya yang sudah lega dan enteng tak mau menjadi berat lagi karena kemunculan binatang buas lainnya. Hal yang dicemaskan Suto ialah kemunculan seekor ular yang jelas tak mungkin bisa diajak berundinglagi. Tetapi sampai beberapa saat lamanya Angin Betina belum kembali. Pasti sedang sibuk lakukan pertarungan dengan Sumbaruni.

"Atau mungkin malah sudah mati dihajar Sumbaruni?!" pikir Suto. "Eh... tapi sepertinya ada suara langkah kaki yang datang dari arah kiri? Oh, syukurlah! Pasti Angin Betina gagal temui Sumbaruni dan kembali dengan wajah murung. Masa bodohlah! Dia mau berhasil tumbangkan Sumbaruni atau tidak, yang penting dia akan cepat-cepat singkirkan aku dari sini!" seraya mata Suto melirik ke kiri. Tepat ketika ia melirik ke kiri, langkah kaki yang didengarnya sudah dekat dan suara pun terdengar menggetarkan jantung.

"Grrraaaoowww...!"

"Yaaaah... dia lagi?!" ucap Suto membatin dengan sambil matanya meredup pertanda hatinya melemah kembali. Harimau loreng hitam-putih muncul lagi dengan sorot matanya yang tajam. Langkahnya bagaikan ingin mengguncang bumi karena badan harimau itu cukup gemuk. Makin lama langkahnya makin pelan ketika jaraknya kian denganSuto.

"Rupanya dia masih ingat ada makanan yang tersisa di sini sehingga balik kembali. Sial! Kalau yang ini... sekali caplok kepalaku pasti masuk. Mudah-mudahan dia langsung menggigit patah leherku jika kepalaku sudah masuk ke mulutnya. Jangan sampai hanya dikulum-kulum saja, bisa putus jantungku tanpa luka leherku," pikir Suto dalam kepasrahannya.

"Ggrrraaaaooww...!"

Suto mencoba mengajak bicara karena tak punya akal apa-apa lagi, "Jangan begitulah. Kita kan teman? Kita bersahabat saja."

"Ggrraaooowwm...!"

"Berhentilah di situ. Jangan dekati aku. Aku tak berdaya. Tidakkah kau kasihan padaku? Jika kedatanganku di sini mengganggu wilayahmu, jangan salahkan aku. Salahkanlah Angin Betina. Cari dia dan gigitlah dia, karena dia yang menempatkan aku di sini!"

Harimau itu benar-benar berhenti dalam jarak tiga langkah sebelum mencapai Suto Sinting. Ada keheranan di hati Suto pada saat itu, "Dia berhenti karena mendengar kata-kataku atau berhenti untuk memperhitungkan bagian mana yang harus disantapnya lebih dulu?"

Ekornya bergerak-gerak bagai kipas tak berkembang. Matanya yang bundar ganas masih memandang penuh selera makan. Hembusan napasnya terasa menerpa lengan Suto Sinting. Tak heran jika kulit Suto Sinting pun merinding karena merasakan awal dari bencana yang akanmenimpanya. Suto Sinting yang tak punya daya dan tak punya akal lagi mencoba mengajak binatang itu untuk bicara,

"Duduklah yang sopan. Jangan berdiri terus di situ. Tak ada jeleknya kau menghormati calon korbanmu sebelum kau menyantapnya."

Eh, binatang itu benar-benar duduk. Kedua kaki belakangnya dilipat, merapat dengan tanah, kedua kaki depannya ditekuk sebatas persendian. Matanya melirik ke sana-sini dengan gerakan kepala yang lamban. Ekornya berkopat-kapit seakan siap menyabet lalat yang ingin mengganggunya.

Dalam hati Suto Sinting merasa heran melihat harimau loreng putih-hitam duduk sesuai perintahnya. "Jangan-jangan dia mengerti bahasa manusia? Atau sengaja menikmati wujud calon mangsanya sepuas mungkin baru bertindak? Oh, ya... bukankah aku punya jurus 'Siulan Peri' yang bisa bikin gendang telinga manusia dan hewan menjadi sakit? Bagaimana kalau kucoba untuk mengusir hewan ini?"

Suto Sinting segera mencoba bersiul. "Suiisss... suiiiis...!"

"Sial! Siulanku tak bisa keras dan bening. Pasti ini pengaruh 'Anak Rembulan' yang melumpuhkan seluruh ilmuku juga."

Jurus 'Siulan Peri' tidak dapat digunakan. Suto Sinting semakin pasrah. Hanya ada satu harapan, yaitu mengajak bicara binatang itu, siapa tahu bisa dijinakkan dengan kata-kata. Maka, Suto Sinting pun kembali melirik kekiri.

"Hahh...?!" mata Suto kalau bisa mendelik pasti akan mendelik, karena harimau loreng hitam-putih itu ternyata sudah berubah wujud menjadi seorang lelaki kurus yang duduk dengan santai, kedua kakinya ditekuk sampai hampir menyentuh dada. Kedua tangannya mendekap kaki itu.

Orang tersebut nyengir geli memandangi Suto yang terperanjat kaget. Lelaki berpakaian serba hitam, berambut putih, dan berusia lanjut itu segera menyapa dengan suara kekeh tawanya, "Baru sekarang aku melihat pendekar hebat tak terkalahkan berwajah pucat dan berkeringat dingin. He, he, he, he...!"

"Ki Sonokeling...!" keluh Suto menyebut nama orang yang sudah dikenalnya. "Kalau aku bisa bergerak sudah kupukul kau, Ki Sonokeling!"

Orang tua itu semakin terkekeh geli. Ki Sonokeling adalah tokoh tua, teman dari si Gila Tuak yang dulu pernah jumpa dengan Suto Sinting dalam peristiwa di Petilasan Teratai Dewa, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Malaikat Jubah Keramat), ilmu orangtua itu memang dapat merubah diri menjadi seekor harimau. Tapi hal itu sangat di luar dugaan Suto Sinting.

"Aku baru saja mau beranjangsana ke tempat tinggal gurumu, Suto. Kebetulan aku lewat jalanan sebelah selatan sana. Kudengar ada suara aum harimau. Maka kudekati tempat ini, dan ternyata kau dalam ancaman bahaya si loreng tadi. Kulihat kau dalam keadaan lemas tak berdaya, maka aku terpaksa mengusir si loreng tadi dengan merubah diri seperti kawanannya."

Napas Pendekar Mabuk menjadi enteng kembali. "Pantas kau bisa mengerti bahasaku," ujarnya bernada gerutu. "Lain kali jangan memandangiku dengan menyeramkan begitu. Jantungku nyaris terbelah menjadi tujuh, Ki."

"He, he, he, he.... Maafkan aku, Suto. Aku senang menggoda anak muda yang selama ini menjadi kebanggaanku. Tapi... ngomong-ngomong mengapa kau sampai seperti ini, Suto? Apa yang membuatmu terkulai lemas tak berdaya ini?"

Suto Sinting tidak langsung menjawab tapi justru berkata, "Tolong tuangkan tuak ke mulutku, Ki Sonokeling. Apakah di sekitar sini ada bumbung tuakku?"

"Ya, ada di atas kepalamu."

"Tuangkanlah, biar kuminum beberapa teguk."

"Katakan dulu apa yang membuatmu menjadi begini?"

"Tuangkanlah dulu, nanti kujelaskan!" kata Suto, karena pikirnya hal yang paling utama adalah meneguk tuak untuk peroleh kekuatan kembali daripada menjelaskan masalahnya dalam keadaan masih terkapar tanpa daya. Bisa-bisa Ki Sonokeling pergi memburu Angin Betina dan Sumbaruni sebelum menuangkan tuak ke mulutnya.

Tokoh tua itu akhirnya menuangkan tuak tersebut. Beberapa teguk tuak ditelan Suto. Sebagian tuak ada yang tersiram di wajah. Suto gelagapan dan berkata sedikit seru, "Hati-hati! Jangan sampai masuk ke hidung dan mata. Perih!"

"Maaf, aku geli melakukan hai ini. Ingat waktu aku mengisi air di lubang belut pinggir sungai!"

"Jangan anggap mulutku seperti lubang belut, Ki."

"Maaf, aku terlalu jujur!"

Tuak sudah tertelan beberapa teguk. Bahkan Suto sempat tersedak batuk. Kemudian ia diam beberapa saat, pejamkan mata sambil mengatur pernapasannya. Ki Sonokeling memandang ke sana-sini, seakan menjaga keamanan Suto, murid sahabat karibnya itu. Beberapa saat kemudian, jemari tangan Suto mulai bisa digerakkan, disusul dengan anggota tubuh lainnya, dan kini Suto pun mulai bisa bangkit. Duduk dengan kaki dilonjorkan, dipijat-pijatnya sendiri karena merasa kaku pada bagian persendian lututnya.

"Sekarang kau sudah bisa jelaskan masalahmu?" tanya Ki Sonokeling.

"Kau kenal Sumbaruni?"

"Ya. Bekas istri Jin Kazmat itu maksudmu?"

"Benar. Dialah yang membuatku lemas tak berdaya."

Ki Sonokeling kerutkan dahi tuanya yang memang sudah berkulit mengkerut itu, matanya menatap heran pada Suto Sinting. Sebelum Suto Sinting ucapkan kata, Ki Sonokeling sudah lebih dulu berujar, "Mengapa ia memusuhimu? Padahal ketika kami ingin mencabut gelar kependekaranmu dalam peristiwa kematian Empu Sakya itu, Sumbaruni orang yang paling ngotot membelamu. Ada persoalan apa sehingga Sumbaruni tega melumpuhkanmu?!"

"Bukan dengan maksud benci atau bermusuhan. Maksudnya baik, tapi caranya yang tidak kusetujui."

Suto Sinting mencoba berdiri, ternyata bisa tegak, ia melemaskan gerakan kaki dan tangan, juga melicikkan pinggangnya yang tadi terasa kaku dan pegal itu. Setelah merasa dirinya pulih seperti sediakala, penjelasan yang ditunggu Ki Sonokeling itu dilanjutkan.

"Sumbaruni melarangku bertarung dengan Dara Cupanggeni yang menjuluki dirinya Perawan Maha Sakti, murid Sunti Rahim. Mungkin kau kenal nama Sunti Rahim."

"Ya, ya... aku sangat kenal nama itu. Dan aku sedang mau bicarakan kepada gurumu; Gila Tuak, tentang sebuah ilmu yang hanya dimiliki oleh Sunti Rahim."

Suto Sinting berkerut dahi, "Maksud Ki Sonokeling, ilmu 'Bias Dewa'?"

"Benar. Karena aku merasakan adanya pengaruh ilmu 'Bias Dewa' beberapa kali. Saat kumandi di pancuran, air pancuran berhenti mendadak. Kejap berikutnya bergerak seperti biasa lagi. Aku jadi ingat ilmu 'Bias Dewa' yang bila digunakan bisa membuat alam mati dalam sekejap."

"Kalau begitu semua tokoh tingkat tinggi tentunya mengetahui tentang penggunaan ilmu 'Bias Dewa' itu?"

"Kurasa begitu. Tapi setahuku ilmu tersebut tak bisa dipergunakan oleh Sunti Rahim, sebab dia sudah tidak perawan lagi."

"Muridnya yang menggunakannya, Ki. Perawan Maha Sakti julukannya."

"Pantas! Pasti dia masih gadis, masih perawan, dan... itu sangat berbahaya. Dia akan kalahkan siapa saja dengan ilmu 'Bias Dewa' itu, Suto. Kau pun tak mungkin bisa tandingi ilmu 'Bias Dewa'. Jadi..., kurasa langkah yang diambil Sumbaruni memang benar, hanya caranya sedikit salah. Kusarankan juga, jangan hadapi murid Sunti Rahim itu, Suto. Kau bisa ditumbangkannya!"

Kemudian Suto Sinting ceritakan masalahnya dengan Bongkok Sepuh sampai ia mencoba menghadapi Perawan Maha Sakti dan disambar oleh Sumbaruni, lalu disambar pula oleh Angin Betina. Ki Sonokeling menerawang memandangi dedaunan sambil berkata bagai orang menggumam,

"Sebenarnya Setan Arak tak boleh begitu! Urusan pribadinya harus dia hadapi sendiri, jangan memaksa seseorang untuk ikut mencampurinya!"

"Dia sangat ketakutan, Ki!"

"Sekarang di mana Setan Arak? Aku mau temui dia!"

"Bertarung dengan Sumbaruni. Namun terlepas dari masalah pribadi Setan Arak, menurutku Perawan Maha Sakti memang harus dilumpuhkan, ia mencoba menantang Gerhana Mandrasakti, juga ingin membalaskan sakit hati gurunya kepada Bibi Guru Bidadari Jalang. Malahan jika perlu ia akan melawan Kakek Guru Gila Tuak, Ki. Banyak tokoh sakti yang akan ditumbangkannya, karena ia ingin diakui sebagai orang terkuat di dunia persilatan, sebagai Perawan Maha Sakti yang patut dihormati oleh semua tokoh!"

"Hmmm... begitu?" Ki Sonokeling manggut-manggut.

Suto Sinting meneguk tuaknya lagi. Sebentar kemudian berkata, "Aku harus mencegah niat jahatnya itu, Ki. Aku harus menghadapinya!"

Ki Sonokeling tarik napas, melangkah menjauhi Suto dengan berpikir, lalu kembali lagi dekati pendekar tampan yang telah gagah perkasa kembali itu. "Ini pekerjaan yang sulit. Apalagi kau tadi menceritakan tentang ilmu 'Darah Gaib' yang juga dimiliki oleh Perawan Maha Sakti. Jelas ini hal yang paling sulit untuk dihadapi. Kau tidak mudah menumbangkannya, Suto. Dia kebal, tapi juga punya ilmu berbahaya. Dalam sekejap saja kau bisa dibuatnya tak bernyawa."

"Aku akan melawannya dengan Cincin Manik Intan. Ki!" sambil Suto memperlihatkan cincin yang dikenakan terbalik di tangannya.

Ki Sonokeling pandangi cincin pusaka itu beberapa saat sambil berpikir, lalu memandang Suto dengan berkata pelan, "Aku tak yakin cincin ini bisa menembus 'Darah Gaib'. Setahuku ilmu 'Darah Gaib' adalah ilmu kebal yang tertinggi, sejajar dengan ilmu kebal bagi pemilik pusaka Seruling Malaikat. Jadi, terus terang saja aku tak yakin kalau sinar maut Cincin Manik Intan ini dapat menembus lapisan gaib tubuh Perawan Maha Sakti."

"Bagaimana jika menggunakan jurus 'Manggala Yudha'-ku itu, Ki?"

"Aku tidak tahu secara pasti, tapi hati kecilku tetap sangsi akan keberhasilan jurus itu."

Suto Sinting diam sesaat. Dalam hatinya timbul niat untuk berlaku curang, mencoba jurus-jurus mautnya dari belakang Perawan Maha Sakti. Tapi niat itu disingkirkan karena hati kecil Suto seakan tak ingin melakukan pertarungan dengan cara membokong lawan. "Jadi menurutmu kedua ilmu itu tidak mempunyai kelemahan apa pun, Ki?" tanya Suto membuka kebisuan mereka.

"Setinggi-tinggi ilmu memang ada kelemahannya, kecuali ilmunya Yang Maha Kuasa. Tapi setahuku, kedua ilmu itu memang tak memiliki kelemahan kecuali dengan cara merengguk keperawanan gadis itu."

Suto Sinting menatap tajam dengan dahi berkerut. Ki Sonokeling merasa perlu berikan alasan terhadap kata-katanya.

"Ingat, kedua ilmu itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang masih perawan. Jadi jika Dara Cupanggeni alias Perawan Maha Sakti sudah tidak perawan lagi, maka ilmu itu akan sirna dengan sendirinya."

"Kau menyuruhku memperkosa dia?"

Ki Sonokeling terkekeh geli. "Bukan. Bukan begitu maksudku, Suto. Ini penalaran saja. Hilangnya kedua ilmu itu apabila si pemiliknya sudah tidak suci lagi. Tentang bagaimana caranya membuat dia tidak suci, aku tidak tahu. Secara lahiriah memang aku tahu dan jago membuat perawan tidak suci, tapi secara batiniah aku tak mengerti bagaimana cara mendekatinya dan membujuknya. Sebab biasanya orang yang sudah telanjur memiliki kedua ilmu itu, ia akan selalu menjaga kesuciannya. Sebelum niatnya tercapai, ia tidak akan serahkan kesuciannya kepada pria manapun."

"Bagaimana kalau ternyata dia mampu kubuat kasmaran padaku?"

"Itu terserah dirimu, kau tak perlu mengundangku untuk menyaksikan caramu melumpuhkan kedua ilmu itu," Ki Sonokeling tersenyum-senyum.

Suto Sinting diam termenung dalam sunggingan sisa senyum gelinya. Ia mempertimbangkan langkahnya. Ia merasa mampu menundukkan hati gadis itu menjadi kasmaran kepadanya, tapi sanggupkah ia menodai gadis itu sementara ia sangat menjaga kesetiaan cintanya terhadap Dyah Sariningrum? Gusti Mahkota Sejati calon istrinya itu pasti akan tahu jika ia berbuat tak senonoh dengan perempuan lain, karena segala gerak-gerik Suto terpantau dari Pulau Serindu. Setidaknya sang Ratu Kartika Wangi, sebagai calon mertuanya itu pun akan mengetahui jika Suto telah menodai seorang gadis.

"Jika alasanku demi menyelamatkan dunia dari kehancuran kedua ilmu itu, apakah mereka bisa menerimanya?" gumam Suto Sinting dalam hatinya.

* * *

LIMA
TOKOH tua yang punya ilmu 'Singa Lohdaya' itu juga menyinggung-nyinggung tentang Pedang Kayu Petir. Terlintas dalam pikiran Pendekar Mabuk untuk meminjam Pedang Kayu Petir kepada Resi Wulung Gading. Tetapi lebih dulu ia harus segera susul Angin Betina agar tidak mati di tangan Sumbaruni. Sementara itu Ki Sonokeling tetap teruskan perjalanan ke Jurang Lindu untuk temui si Gila Tuak dan bicarakan tentang kemunculan ilmu 'Bias Dewa'itu.

Apa yang dikhawatirkan Suto sebenarnya memang telah terjadi. Pertarungan antara Sumbaruni dengan Angin Betina pada mulanya hanya sebatas luapan amarah tak terlalu membahayakan. Sumbaruni memaklumi kemarahan Angin Betina yang belum memahami maksud dan tujuannya dalam melumpuhkan Pendekar Mabuk.

Pertemuan mereka terjadi setelah Sumbaruni dan Bongkok Sepuh merasa sama-sama kehilangan Suto dan segera mencarinya bersama pula. Angin Betina kebingungan mencari jejak Sumbaruni. Namun dengan firasatnya akhirnya Sumbaruni ditemukan juga saat hendak menuruni lereng. Tempat sedikit tandus itulah yang dijadikan ajang pertarungan oleh Angin Betina.

Serangan sinar putih perak dari Angin Betina menghantam Sumbaruni dari belakang. Tetapi Sumbaruni cepat tanggap akan datangnya bahaya, ia segera melenting ke udara dan bersalto satu kali, sehingga sinar putih perak itu lolos dari tubuhnya. Duaaar...! Sinar itu menghantam sebongkah batu besar di seberang sana. Batu tersebut hancur berkeping-keping.

Bongkok Sepuh yang sebenarnya tidak membenci Sumbaruni dan hanya merasa jengkel saja itu segera melepaskan pukulan tenaga dalamnya melalui sodokan ujung tongkatnya ke arah datangnya sinar putih tadi. Dari tongkat itu melesat sinar hijau lurus dan menghantam dua pohon berjajar.

Blaaar...!

Namun sebelum kedua pohon itu tumbang bersamaan, dari balik pohon itu telah melesat sesosok bayangan hitam yang cepat berkelebat bagaikan angin berpindah tempat. Sosok bayangan itu akhirnya tampakkan diri dan Sumbaruni kenali orang tersebut yang tak lain adalah Angin Betina.

"Kau rupanya?!" Sumbaruni sunggingkan senyum sinis, karena ia tahu belakangan ini Angin Betina adalah gadis yang sering bersama Suto Sinting. Rasa cemburu Sumbaruni timbul, namun mampu dikendalikan dengan teratur.

"Aku ke sini hanya untuk bikin perhitungan denganmu, Sumbaruni!"

Angin Betina bicara dengan tegas dan jelas. Pandangan matanya menampakkan sinar permusuhan yang cukup besar. Sumbaruni hanya sunggingkan senyum kian sinis, karena cepat mengerti maksud Angin Betina yang tak lain pasti berkaitan dengan Suto Sinting. Karenanya Sumbaruni berkata kepada Bongkok Sepuh,

"Setan Arak, menyingkirlah dulu di bawah pohon sana. Ini urusan perempuan!"

"Siapa bilang aku ingin campuri urusanmu," kata Bongkok Sepuh sambil bersungut-sungut melangkah, menjauhi kedua perempuan itu, berdiri di bawah pohon rindang sambil pegangi tongkatnya."

Sumbaruni dekati Angin Betina dan berkata dengan keras, "Perhitungan tentang apa maksudmu?!"

"Kau telah lumpuhkan Suto, dan kau harus menebusnya dengan nyawa!"

"Tak salah dugaanku. Kau adalah gadis bodoh yang tak mengerti bagaimana cara menyelamatkan seseorang yang dicintainya!"

Angin Betina diam saja. Matanya memandang angker dengan rambut acak-acakan yang menambah seram raut mukanya. Tangan kirinya memegang pedang bersama sarungnya, tangan kanannya menggenggam di samping, tapi dalam sekejap dapat cabut pedang itu untuk lakukan penyerangan.

Sumbaruni berkata lagi, "Aku memang melumpuhkan Suto Sinting demi menyelamatkan jiwanya yang ingin menghadapi Dara Cupanggeni alias Perawan Maha Sakti! Jika ia berhadapan dengan Perawan Maha Sakti, maka dalam waktu dua kejap ia akan menjadi bangkai berbelatung menjijikkan, karena Perawan Maha Sakti mempunyai dua ilmu unggulan; 'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa'. Kau mungkin masih belum tahu tentang dua ilmu unggulan itu, karena kau memang masih hijau, Angin Betina!"

"Kurasa aku sudah mampu memenggal kepalamu walau sehijau apa pun!"

Senyum sinis Sumbaruni yang juga bernama Pelangi Sutera kala menjadi panglimanya Ratu Asmaradani, penguasa negeri bawah laut itu, kembali membias di depan mata Angin Betina. Senyum itu berkesan meremehkan dan memancing hasrat pertempuran di hati Angin Betina.

"Dengar, Gadis Bodoh...!" kata Sumbaruni seenaknya saja. "Kalau kau tak ingin pendekar tampan itu celaka, jangan izinkan dia menemui Perawan Maha Sakti. Cegah dia dengan berbagai cara, supaya kita tetap bisa bertemu dengannya kapan saja!"

"Kau tak perlu memerintahku, Sumbaruni! Aku hanya merasa perlu menuntut tindakanmu yang melenyapkan segala kekuatan pada diri Suto!"

"Aku bisa memulihkannya kembali kalau ia berjanji tidak akan menghadapi Perawan Maha Sakti!" kata Sumbaruni dengan membanggakan diri.

"Pulihkan sekarang juga, atau kutebaskan pedang ini ke lehermu!"

"Hei, jangan galak-galak padaku, Gadis Bodoh! Kau bisa celaka sendiri kalau bersikap galak padaku!"

"Cabut pedangmu dan kita tentukan siapa yang celaka!" Angin Betina tak tersenyum sedikit pun. Tangannya sudah menggenggam gagang pedang.

Sumbaruni memperhatikan dengan kesan remeh. Lalu ia berkata sambil berpaling hendak meninggalkan Angin Betina, "Sebaiknya kuteruskan mencari anakku daripada mengurusimu!"

Sumbaruni hendak bergerak pergi, tapi Angin Betina maju sambil membentak, "Selesaikan urusanmu denganku, Sumbaruni!"

Sentakan itu membuat Sumbaruni mulai tak sabar lagi. Kakinya segera berkelebat menendang dengan gerakkan tubuh memutar balik. Wees...! Plaaak...! Tendangan putar itu ditangkis oleh tangan Angin Betina yang menggenggam pedang dan sarungnya. Angin Betina cepat memunggungi Sumbaruni, lalu tangan kanannya menyodokkan siku ke belakang. Jarak yang rapat dengan lawan membuat siku itu berhasil kenai ulu hati Sumbaruni.

Duuhg...!

"Eehg...!" Sumbaruni tersentak dengan suara tertahan. Tapi dengan cepat tangannya menghantam tengkuk kepala Angin Betina. Wuuut...! Tepat tangan menyentak tubuh Angin Betina merunduk dan kedua kakinya menjejak ke belakang dengan sangat cepat bagaikan seekor kuda menyepak lawan.

Bluuhg...!

Perut Sumbaruni menjadi sasaran kedua kaki bertenaga dalam itu. Tubuhnya pun melayang ke belakang namun cepat diatas dengan sentakkan kaki di atas batu. Sentakan kaki itu membuat tubuh Sumbaruni melenting di udara dan bersalto maju satu kali.

Wuuuk...! Jleeg...!

Sumbaruni mendarat dengan sigap. Kedua kakinya sedikit merenggang, napasnya tertarik panjang untuk atasi rasa mual akibat tendangan tadi. Sedangkan Angin Betina sudah sejak tadi siap mencabut pedang dengan mata angker memandangi lawannya.

Sementara itu, Bongkok Sepuh membatin dari kejauhan, "Bocah liar itu punya gerakan cukup hebat. Cepat dan tepat! Sumbaruni bisa tumbang kalau dia meremehkan bocah liar itu."

Sumbaruni pun juga membatin, "Agaknya aku tak boleh main-main dengannya. Ia bersungguh-sungguh ingin menuntut balas dan mencelakakan diriku. Benar-benar gadis bodoh! Aku harus memberi pelajaran padanya!"

Pedang di punggung Sumbaruni sengaja tidak dicabut. Ia segera melepaskan jurus 'Anak Rembulan' dengan maksud ingin lumpuhkan Angin Betina. Kilatan cahaya kuning terlepas dari kibasan tangannya. Tetapi Angin Betina yang sudah siaga dari tadi segera hentakkan kaki yang membuat tubuhnya melonjak tinggi, lalu dari tangan kanannya terlepaslah sinar putih perak menghantam sinar kuning tersebut.

Claaap...! Blaaar...!

Asap mengepul dari ledakan besar itu. Angin Betina daratkan kakinya ke tanah. Namun baru saja mendarat, empat larik sinar biru dari empat jari kanan Sumbaruni menghantamnya dengan gerakan cepat.

Zraaab...!

Angin Betina sudah telanjur menapakkan kaki, mau tak mau ia hadapi sinar biru empat larik itu dengan mencabut pedangnya dan mengibaskannya ke samping. Kibasan pedang itu keluarkan nyala sinar putih perak menyilaukan dan berbenturan dengan keempat sinar biru tadi.

Slaaap...! Blegaaarrr...!

Angin Betina terlempar sendiri karena gelombang hentakan tenaga ledak tersebut. Sedangkan Sumbaruni melenting ke atas dan bersalto di udara dua kali. Ketika tubuhnya mendarat ia melihat Angin Betina baru saja hendak bangkit dari jatuhnya. Maka dengan kekuatan tenaga dalam jarak jauh, Sumbaruni sentakkan tangan kirinya.

Wuuuut...! Tubuh Angin Betina terlempar ke atas. Tangan kanan Sumbaruni segera digerakkan memutar dalam satu ayunan kuat. Wuuut...! Dan tubuh Angin Betina yang melayang itu menjadi berputar cepat. Terjungkal tak mampu kuasai keseimbangan. Bahkan ketika Sumbaruni gerakkan tangan kanannya ke kiri, tubuh Angin Betina terlempar keras dan membentur pohon di sebelah kanannya.

Duuurrrr...! Beehg...!

"Uuhg...!" Angin Betina meringis. Ia terkapar dengan dihujani rontokan daun-daun pohon yang ditabraknya itu. Sumbaruni segera melesat mendekatinya.

Weess...!

Angin Betina yang pandangannya sedikit buram itu tak tahu kalau Sumbaruni sudah berdiri di belakangnya. Tahu-tahu rambutnya merasa ada yang menjambak dari belakang. Kepalanya diputar cepat hingga menghadap Sumbaruni, lalu telapak tangan kiri Sumbaruni dihantamkan ke wajah Angin Betina.

Plook...!

"Uhg...!" Angin Betina tersentak dan membentur pohon yang tadi juga. Keadaan Angin Betina yang menggeragap segera disambut dengan tendangan kaki kanan Sumbaruni yang mampu bergerak cepat dan kenai perut sampai kepala lawan secara beruntun.

Des, des, des, des, des, des...!

Lalu tubuh Sumbaruni memutar dan kaki kirinya yang berkelebat menendang bagaikan menampar wajah Angin Betina yang sudah melelehkan darah dari mulut.

Ploook...!

Weees...! Tubuh Angin Betina terlempar ke samping lima langkah jauhnya. Ia jatuh terpuruk di sana. Sekujur tulangnya bagaikan patah semua. Seluruh isi perutnya terasa ingin dimuntahkan. Tendangan bertenaga dalam secara beruntun tadi membuat darah keluar cukup banyak dari mulutnya. Jika bukan orang berlapiskan tenaga dalam tinggi, Angin Betina pasti sudah mati dihajar habis seperti itu. Ia mengalami luka remuk dalam. Tangannya sudah tak kuat menggenggam pedang lagi, sehingga pedang itu terlepas dan jatuh dalam jarak lebih dari satu jangkauannya.

Bongkok Sepuh membatin, "Bocah liar itu bisa mati di tangan Sumbaruni kalau Sumbaruni mau pergunakan pedangnya. Tapi mengapa Sumbaruni agaknya tak mau membinasakan gadis liar itu?"

"Di mana Suto! Katakan!" bentak Sumbaruni sambil berdiri di samping Angin Betina yang berusaha bangkit dengan berlutut. Angin Betina tidak menjawab. Sumbaruni menendang pinggang Angin Betina dengan seenaknya.

Buuhg...!

Tendangan itu pasti bertenaga dalam juga, terbukti tubuh Angin Betina dapat terlempar empat langkah jauhnya dari tempatnya ditendang. Darah kembali keluar dari mulut Angin Betina yang tersungkur di sana.

Kepala Bongkok Sepuh manggut-manggut, "Rupanya alasan itulah yang membuat Sumbaruni tak berani membunuh gadis liar itu. Ia butuh keterangan tentang di mana Suto Sinting disembunyikan. Hmmm... tapi, hei...?! Siapa itu yang datang kemari dari arah sana? Oh, bahaya...!"

Zlaaap...!

Sumbaruni tak tahu kalau Bongkok Sepuh telah lenyap larikan diri. Perhatian Sumbaruni masih tertuju pada Angin Betina dengan kemarahan yang berusaha tidak dilepaskan seluruhnya.

"Kalau kau tak mau katakan, aku akan menghajarmu lebih parah lagi!" sentak Sumbaruni. Angin Betina masih diam, memendam murka yang tak mampu dilepaskan karena sekujur tubuhnya bagai kehilangan daya lagi. Tulang-tulangnya seakan remuk semua, dipakai bergerak terasa sangat sakit. Bahkan untuk bernapas pun sakit. Ulu hatinya bagai diganjal dengan mata pisau yang jika digunakan untuk menarik napas terasa perih.

Tiba-tiba Sumbaruni mendengar suara tepukan pelan bernada mencemoohkan kemenangannya terhadap Angin Betina. Sumbaruni buru-buru berpaling ke belakang dan hatinya sempat terkejut melihat sesosok wanita cantik rambutnya digulung di tengah kepala dengan dililit pita hijau muda.

"Perawan Maha Sakti...?!" desahnya dalam hati yang menjadi tegang. Tapi Sumbaruni berusaha sembunyikan perasaan cemas dan ketegangannya dengan melangkah dekati Dara Cupanggeni, tinggalkan Angin Betina. "Siapa kau?" sapa Sumbaruni berlagak tak mengenal pendatang baru itu.

"Aku murid Sunti Rahim. Namaku Dara Cupanggeni. Julukanku Perawan Maha Sakti! Mungkin baru sekarang kau melihatku, demikian juga aku melihatmu. Tapi aku cukup salut melihat kemenanganmu. Kau pasti orang hebat dan berilmu tinggi!"

Sumbaruni tidak kasih jawaban apa-apa. Matanya menatap tak berkedip, mulutnya terkatup rapat, tapi batinnya berkecamuk sendiri. Akhirnya Perawan Maha Sakti perdengarkan suaranya lagi,

"Siapa namamu, Sobat?!"

"Pelangi Sutera!" jawab Sumbaruni sengaja menyembunyikan nama aslinya. Sebab nama aslinya itu tentunya dikenal pula oleh guru Perawan Maha Sakti. Sumbaruni menjaga keadaan agar jangan menjadi panas, karena ia belum siap hadapi Perawan Maha Sakti dengan ilmu 'Bias Dewa'-nya.

Angin Betina mendengar nama Perawan Maha Sakti disebutkan. Ia bergegas bangkit untuk melihat dengan lebih jelas lagi sosok gadis yang ditakuti Sumbaruni, dan yang membuat Sumbaruni melarang Suto berhadapan dengan gadis berjuluk Perawan Maha Sakti itu. Tapi kekuatan Angin Betina sangat terbatas, sehingga ia hanya bisa duduk bersandar di bawah pohon itu sambil meraih pedangnya.

"Agaknya lawanmu sebentar lagi kehilangan nyawa, Pelangi Sutera. Rupanya kau orang berilmu tinggi. Bagaimana jika ilmumu diajarkan kepadaku sekitar tiga-empat jurus saja?!"

Sumbaruni diam karena memilih jawaban yang tepat. Ia tahu bahwa dirinya sedang dipancing untuk lakukan pertarungan. Ia tak mau terpancing saat itu. Karenanya ia pun segera bertanya, "Apa maksudmu berkata begitu? Hendak menantangku?!"

Perawan Maha Sakti tersenyum angkuh. "Kalau kau merasa mampu melawanku, anggap saja kata-kataku tadi adalah sebuah tantangan bagimu. Bagaimana?"

"Kita tak punya persoalan apa-apa, Dara Cupanggeni. Mengapa harus saling beradu nyawa?"

"Karena aku selalu ingin membuat orang sakti mana pun bertekuk lutut di hadapanku. Jadi jika sekarang kau mau berlutut di depanku dan mengakui kesaktianku, maka pertarungan itu tidak pernah ada!"

"Keparat betul anak ini!" geram batin Sumbaruni. Matanya melirik ke arah seberang, ternyata di sana sudah tidak ada Bongkok Sepuh. Batin Sumbaruni berucap lanjut, "Pantas Setan Arak sudah menghilang lebih dulu, karena dia tahu yang akan datang adalah Perawan Maha Sakti. Hmmm... bocah ini benar-benar pintar memancing kemarahan seseorang. Aku harus lebih hati-hati lagi menghadapi pancingannya."

Terdengar suara Perawan Maha Sakti berseru, "Mengapa diam saja, Pelangi Sutera?! Apakah kau sangsi dengan pengakuanku, bahwa aku adalah Perawan Maha Sakti yang layak dihormati? Kalau kau sangsi, apakah kau ingin mencoba bermain dua-tiga jurus denganku?"

Sumbaruni tetap diam. Tantangan itu sebenarnya memanaskan darah, tapi Sumbaruni tetap mengendalikan hawa murkanya. Sedangkan Angin Betina yang mendengar lagak bicara Perawan Maha Sakti itu ikut dibakar kemarahan. Kalau saja keadaannya tidak terluka cukup parah, Angin Betina pasti akan menerjang Perawan Maha Sakti tak peduli apa pun akibatnya nanti.

"Hei, apakah kau tiba-tiba menjadi tuli, Pelangi Sutera?" Perawan Maha Sakti dekati Sumbaruni. Yang dilakukan Sumbaruni hanya menarik napas. Gadis itu berkata lagi, "Berlututlah sekarang juga sebagai tanda kau mengakui kehebatanku!"

"Persetan dengan kata-katamu, Dara Cupanggeni!" geram Sumbaruni dengan gigi menggeletuk dan mata menyipit.

Tapi hal itu justru membuat Perawan Maha Sakti tertawa kegirangan. "Bagus! Kau sudah berani memakiku, itu bagus! Berarti kau berani melawanku!"

"Apa yang kutakuti dari dirimu?!" kata Sumbaruni bagai penuh dendam. Sambungnya lagi, "Jika kau ingin adu kesaktian denganku, jangan sekarang! Sebab sekarang aku masih punya urusan dengan pihak lain! Tentukan tempatnya di mana kita akan bertanding laga satu lawan satu?!" Rupanya Sumbaruni tak mau terhina dan diremehkan begitu saja. Ia sengaja mengulur waktu untuk menunda hasrat Dara Cupanggeni yang ingin melawannya.

"Bagus sekali! Aku suka jiwa-jiwa pemberani sepertimu, Pelangi Sutera. Aku punya tempat pertarungan tersendiri. Kau tahu letak Bukit Perawan?!"

"Ya," jawabnya tegas.

"Aku membuka pertarungan bebas di Bukit Perawan. Datanglah tiga hari lagi terhitung mulai esok! Kutunggu kau di Bukit Perawan!" ucapnya sambil masih tersenyum sinis.

"Aku tak akan kecewakan dirimu. Aku akan ada di sana tepat pada waktunya!"

Wuuut...! Sumbaruni tidak memberi kesempatan Perawan Maha Sakti untuk bicara terlalu banyak lagi. Ia segera pergi tinggalkan tempat itu. Perawan Maha Sakti hanya tertawa kecil melihat kepergian Sumbaruni. Sesaat kemudian ia pun segera pergi ke arah timur. Ia tak pedulikan Angin Betina, dianggap tak ada siapa pun di situ sejak kepergian Sumbaruni.

Angin Betina sempat merasa cemas karena kepergian Perawan Maha Sakti ke arah tempatnya menyembunyikan Suto Sinting. Angin Betina khawatir gadis angkuh itu temukan Suto dan Suto akan dihabisi di sana. Sebab itu Angin Betina kerahkan tenaga yang tersisa untuk segera pergi menyusul ke arah timur. Namun, ketika ia mampu berdiri, baru satu langkah sudah terhuyung-huyung dan jatuh.

"Angin Betina...!" seru sebuah suara yang tak lain adalah suara Suto Sinting. Pendekar tampan itu terperanjat cemas melihat keadaan Angin Betina yang penuh luka memar dan mulut serta hidungnya berdarah. Ia segera menghampirinya, memapah gadis itu ke tempat teduh. "Sumbaruni-kah yang melakukannya?"

"Ya," jawab Angin Betina pelan sekali.

Suto Sinting buru-buru membuka tutup bumbung tuaknya sambil berkata, "Sudah kuingatkan, jangan hadapi Sumbaruni. Dia tak mudah ditumbangkan!" Suto segera menyuruh Angin Betina meminum tuaknya. Sesaat kemudian Suto berkata, "Aku akan ke pondoknya Resi Wulung Gading untuk meminjam Pedang Kayu Petir. Aku akan kalahkan Perawan Maha Sakti dengan pedang itu."

Angin Betina gelengkan kepala. "Justru aku pergi dari sana mau kasih tahu kau, bahwa Resi pergi berziarah ke makam Nini Galih sambil membawa pedang itu."

"Celaka!" gumam Suto. "Aku tak tahu di mana makam Eyang Nini Galih?!"

* * *

ENAM
MENDENGAR cerita dari Angin Betina, Pendekar Mabuk menjadi cemaskan nasib Sumbaruni. Menurutnya, Sumbaruni sendiri terlalu berani jika menerima tantangan itu. Suto Sinting yakin, Sumbaruni akan binasa jika melawan Perawan Maha Sakti.

"Aku harus temui Sumbaruni!" kata Suto sebelum mereka bergegas pergi.

"Untuk apa menemuinya? Mau minta dilumpuhkan lagi?!"

"Justru aku yang ganti akan melumpuhkannya!" tegas Suto Sinting. "Aku tak izinkan dia menerima tantangan itu."

"Kalau dia berani, mengapa harus dilarang? Itu haknya untuk menerima tantangan atau menghindarinya!" Angin Betina agak ngotot, karena dalam hatinya sangat setuju jika Sumbaruni maju ke pertarungan. Dengan begitu, Sumbaruni akan tumbang di tangan Perawan Maha Sakti. Jika Sumbaruni tumbang, menurut Angin Betina ia akan bebas mendekati Suto dan tak ada yang mengganggu dengan kecemburuan-kecemburuan seperti yang terjadi belakangan ini.

Pendekar Mabuk sendiri paham dengan maksud hati Angin Betina. Karenanya, ia segera membendung hasratnya yang ingin menggagalkan pertarungan Sumbaruni melawan Perawan Maha Sakti. Tetapi pada dasarnya, sebelum hari pertarungan itu tiba, Suto Sinting harus bisa melumpuhkan Perawan Maha Sakti. Satu- satunya cara ialah dengan meminjam Pedang Kayu Petir. Karena Pedang Kayu Petir saat itu dibawa berziarah oleh Resi Wulung Gading, sedangkan Suto tidak tahu di mana makam Nini Galih, gurunya Bidadari Jalang itu, maka Suto harus pergi ke Lembah Badai untuk temui Bidadari Jalang dan tanyakan letak makam itu.

"Aku setuju, dan aku ikut ke sana!" kata Angin Betina.

Maka pergilah mereka menuju ke Lembah Badai. Jalan pintas tercepat untuk menuju Lembah Badai melalui arah timur. Angin Betina mencegah langkah Suto.

"Sebaiknya lewat arah lain saja, sebab Perawan Maha Sakti tadi melesat ke arah timur. Kita hindari perjumpaan dengannya sebelum kita dapatkan pedang pusakaitu."

Mau tak mau Suto Sinting merubah arah ke selatan. Angin Betina hampir tertinggal ketika Suto Sinting gunakan 'Gerak Siluman'-nya. Ternyata gerakan itu mempunyai kecepatan melebihi angin, sehingga Angin Betina benar-benar tertinggal dalam jarak tak begitu jauh. Gadis itu berseru dengan dongkol karena merasa tak mampu menyamai gerakan Suto. Akibatnya Suto Sinting kurangi kecepatan larinya sehingga mereka bisa melesat dalam seiring.

"Ternyata kecepatan jurus 'Jejak Kilat'-ku tidak bisa mengungguli kecepatan gerakmu, Suto," kata Angin Betina mengakui kelebihan Pendekar Mabuk.

"Kalau kau mau perdalam jurusmu itu, kau bisa samai gerakanku."

"Apakah kau mau ajarkan jurus 'Gerak Siluman'-mu itu?"

"Tak terlalu sulit untuk mengajarkannya padamu, karena kau sudah punya dasar gerakan kilat seperti ini!"

"Tapi...," ucapan itu tak dilanjutkan, karena tiba-tiba mereka harus hentikan langkah. Seseorang melesat di jalanan depan mereka. Mau tak mau mereka pun berhenti dan menatap orang yang menghadang di depan jalan itu.

Suto Sinting berbisik kepada Angin Betina, "Kau masih ingat orang itu?"

"Ya. Dia si tampan berjuluk Dewa Rayu!"

"Tepat sekali. Ternyata ingatanmu sangat tajam untuk wajah-wajah tampan," goda Suto Sinting sambil dekati pemuda berkumis tipis yang menghadang jalan mereka itu. Angin Betina hanya bersungut-sungut dengan gerutu tak jelas.

"Rupanya kau telah sehat kembali, Dewa Rayu," sapa Suto Sinting, sebab Dewa Rayu beberapa waktu yang lalu terluka parah karena dihajar habis oleh Lancang Puri, keponakannya Nyai Gandrik. Dan Nyai Gandrik sendiri yang membawa lari tubuh Dewa Rayu dalam keadaan terluka parah untuk dibawa ke Pulau Lanang dengan tujuan sangat pribadi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kitab Lorong Zaman)

Angin Betina menimpali perkataan kepada Dewa Rayu, "Rupanya Nyai Gandrik telah mengobati luka-lukamu dengan caranya sendiri, Dewa Rayu. Sayang kau kelihatan pucat dan letih. Mungkin karena kewalahan melayani Nyai Gandrik!"

"Nyai Gandrik curang!" kata Dewa Rayu. "Dia sembuhkan luka parahku, dia juga menyembuhkan diriku dari pengaruh 'Racun Edan Cumbu', tapi dia tanamkan 'Racun Cumbu Abadi' dalam diriku, sehingga... hasratku untuk bercinta tak pernah ada puasnya."

Angin Betina sembunyikan tawa geli. Ia tahu bahwa Nyai Gandrik termasuk tokoh tua jago pelet. Hasrat kepada lelaki sangat besar, sebab ia mempunyai penyakit yang membuatnya akan mati jika dalam satu purnama tidak bercumbu dengan lelaki. Sebab itu Angin Betina tak heran jika Dewa Rayu ingin dikuasai Nyai Gandrik dengan cara menanamkan 'Racun Cumbu Abadi', supaya pemuda tampan dan perkasa itu selalu mempunyai kebutuhan yang sama dengannya.

"Apa kekuatan dan bahayanya 'Racun Cumbu Abadi' itu?" tanya Suto.

"Setiap saat hasratku menyala-nyala. Jika hasrat bercumbu kutahan sampai tiga hari, maka aku akan kehilangan tenaga. Lebih dari tiga hari, aku akan menjadi lumpuh. Genap tujuh hari, aku akan mati rasa seumur hidup. Jadi aku selalu harus lakukan keinginan bercumbuku untuk dapatkan kekuatan hidup."

"Tentu saja Nyai Gandrik membuatmu menjadi seperti itu, karena ia berharap kau mau melayaninya setiap saat," ujar Angin Betina.

"Aku tahu, karenanya aku lari darinya."

"Mengapa kau lari darinya? Bukankah bersamanya kau akan tetap dapatkan kekuatan karena bisa bercumbu kapan saja kalian inginkan?" kata Suto.

Dewa Rayu tundukkan kepala sebentar, lalu berucap dengan memandang Suto. "Aku telah membunuh Lancang Puri, keponakannya."

"Oh...?!" Suto dan Angin Betina sama-sama terperanjat.

"Bagaimana kau bisa membunuh Lancang Puri, sedangkan setahuku Lancang Puri berilmu tinggi," Angin Betina bernada kurang percaya.

Dewa Rayu jelaskan, "Lancang Puri memaksaku bercumbu tanpa setahu Nyai Gandrik. Kulayani dia, tapi aku juga ingat dengan 'Racun Edan Cumbu'-nya yang membuatku akhirnya jadi begini. Maka ketika ia sedang menikmati asmaranya, kutancapkan pisau di punggungnya sebagai pembalasan atas dendam kekalahanku! Lalu... aku melarikan diri dari Pulau Lanang."

Rupanya kejadian itu terjadi saat Lancang Puri berkunjung ke Pulau Lanang yang dikuasai oleh bibinya itu. Pada awalnya, Lancang Puri memang tidak bergairah kepada Dewa Rayu, mungkin karena masih dalam keadaan memusatkan pikiran ke masalah Kitab Lorong Zaman. Tetapi lama kelamaan, seringnya Lancang Puri melihat bibinya bermesraan dengan Dewa Rayu, hasratnya menjadi terbakar.

Rasa penasaran dan ingin mencoba menambah hasrat bercumbunya kian besar, sehingga Lancang Puri pun melepaskan hasrat itu kepada Dewa Rayu. Ia tidak menyangka kalau Dewa Rayu ternyata masih punya dendam kekalahan tempo hari yang membuat Dewa Rayu akhirnya menderita ancaman 'Racun Cumbu Abadi'.

"Lalu, apa maksudmu menghadang langkah kami di sini, Dewa Rayu?" lanjut Pendekar Mabuk dalam sapaannya.

"Aku merasa sudah mulai kehabisan tenaga. Aku butuh seorang perempuan."

"Apa maksudmu?!" hardik Angin Betina mulai curiga.

Dewa Rayu berwajah sedih. Ia sulit menjawab, namun akhirnya dipaksakan juga untuk bicara apa adanya. "Aku membutuhkan kau!"

"Edan!" sentak Angin Betina.

"Sudah dua hari aku tidak melakukannya. Sekarang hari ketiga. Badanku sudah mulai merasa lemas."

"Persetan dengan badanmu! Kau anggap apa aku ini, sehingga kau berani menghadangku dan membutuhkan diriku untuk melayanimu?!"

"Jika memang terpaksa, mungkin aku harus melakukannya dengan kekerasan."

Suto Sinting tersenyum tipis. Hatinya membatin, "Berani juga dia bersikap seperti ini di depan Angin Betina. Apakah dia tidak perhitungkan bahwa aku ada di pihak Angin Betina?"

Menurut dugaan Suto, hal itu berani dilakukan oleh Dewa Rayu karena pemuda bekas anak Raja Pengging itu sudah sangat kepepet. Mungkin sejak tadi ia tidak temukan perempuan di hutan itu, sehingga ketika melihat Angin Betina ia beranikan diri untuk menyatakan maksudnya. Tak heran jika Angin Betina pun tersinggung dengan pernyataan Dewa Rayu, apalagi diucapkan di depan Suto, sebagai orang yang dicintai, tentu saja Angin Betina akan tunjukkan sikap menantang keras ajakan Dewa Rayu, sekalipun Dewa Rayu punya ketampanan yang hampir senilai dengan ketampanan si Pendekar Mabuk. Setidaknya saat-saat seperti ini adalah saat kesempatan bagi Angin Betina untuk tunjukkan kesetiaan hatinya kepada Suto Sinting. Wajar-wajar saja jika Angin Betina segera cabut pedangnya dan berkata dengan suara keras,

"Kupertaruhkan nyawaku untuk menjaga kehormatanku! Kalau kau memang inginkan tubuhku dan berani memaksaku, aku pun inginkan nyawamu dan berani memenggalmu, Dewa Rayu."

Sraang...!

Pedang pemuda berkumis tipis itu juga dicabut dari sarungnya dengan tenang. "Lebih baik aku mati dalam pertarungan daripada menjadi lumpuh dan mati rasa seumur hidup!"

"Wah, benar-benar nekat anak ini!" gumam Suto membatin dengan perasaan geli. Ketika Angin Betina dan Dewa Rayu mulai bersiap untuk saling lepaskan serangan, Pendekar Mabuk segera berseru dengan sunggingkan senyum meremehkan pertarungan tersebut.

"Tahan amarahmu, Angin Betina!"

"Minggirlah kau, biar kutangani sendiri penghinaan pribadiku ini!"

"Tahanlah. Ada jalan yang lebih baik daripada harus beradu nyawa begini," ujar Suto Sinting dengan kalem, ia masuk ke pertengahan jarak antara Angin Betina dengan Dewa Rayu.

"Dewa Rayu, mendekatlah kemari. Barangkali tuakku bisa lenyapkan kekuatan 'Racun Cumbu Abadi' itu!"

"Tuakmu tidak punya kekuatan apa-apa. Aku masih ingat saat kau guyur wajahku dengan tuakmu, ternyata aku masih dalam pengaruh 'Racun Edan Cumbu'-nya si Lancang Puri."

"Barangkali kekuatan 'Racun Edan Cumbu' dengan 'Racun Cumbu Abadi' agak berbeda. Cobalah dulu, siapa tahu 'Racun Cumbu Abadi' bisa ditawarkan dengan tuakku!"

Pada mulanya Dewa Rayu ngotot tidak mau meminum tuak, melainkan butuh seorang perempuan. Angin Betina yang sudah sangat muak itu hampir-hampijr menebaskan pedangnya ke leher Dewa Rayu. Tapi berkat kesabaran Suto dalam membujuk, akhirnya Dewa Rayu mau meminum tuak dari bumbung bambu itu.

Rupanya kekuatan 'Racun Cumbu Abadi' cukup besar. Racun itu jika bercampur dengan tuak hanya akan datangkan rasa kantuk yang amat kuat, namun tidak membuat racun itu menjadi tawar. Dewa Rayu jatuh terkulai setelah sesaat menenggak tuak. Akhirnya ia tertidur di bawah pohon dalam keadaan duduk bersandar.

"Setan itu malah ngorok!" gerutu Angin Betina. "Tinggalkan saja dia! Untuk apa mengurusinya?!"

"Tunggu sebentar, aku jadi punya rencana sendiri untuknya."

"Rencana apa?"

"Memanfaatkannya untuk menghadapi Perawan Maha Sakti."

Angin Betina pandangi Pendekar Mabuk dengan perasaan heran, ia mencoba menduga rencana tersebut, membayangkan pertarungan Dewa Rayu dengan Perawan Maha Sakti. Akhirnya Angin Betina mendesis dan berkata, "Dia pun akan hancur di tangan Perawan Maha Sakti kalau benar Perawan Maha Sakti memiliki ilmu sehebat itu."

"Mungkin pertarungannya agak berbeda dengan pertarungan yang kau bayangkan."

"Kau akan menghantam Perawan Maha Sakti dari belakang saat ia bertarung melawan Dewa Rayu?"

"Tidak. Seingatku, Guru pernah berpesan padaku: 'Jika kau tak bisa atasi lawanmu dengan ilmu, atasi lawanmu dengan kecerdasan otak'. Berarti aku harus gunakan siasat untuk mengalahkan Perawan Maha Sakti."

"Siasat yang bagaimana?"

Suto Sinting sunggingkan senyum, seakan telah terbayang kemenangan di tangannya. Tapi ia tidak jelaskan siasatnya itu. Ia hanya berkata, "Carikan sebuah tempat untuk menyembunyikan pemuda itu!"

Angin Betina mendesah malas. Suto Sinting membujuk sampai akhirnya Angin Betina memandang ke sana-sini, lalu berkata, "Seingatku di sebelah barat bukit ini ada gua yang biasa digunakan bermalam para pengelana. Entah gua itu masih ada atau sudah tertutup, aku kurang bisa memastikan. Tapi ada baiknya kalau kita periksa dulu kesana!"

Ternyata gua yang dimaksud Angin Betina adalah gua yang pernah digunakan Suto untuk menolong mengobati Raja Maut dalam peristiwa Ratu Tanpa Tapak. Gua itu masih ada. Tempatnya termasuk bersih untuk sebuah gua di lereng bukit. Letaknya sedikit tersembunyi, karena empat langkah di depan pintu gua terdapat tanaman semak yang rimbun dengan sebatang pohon berdaun lebat. Menurut Suto Sinting, gua itu layak dipakai untuk menyembunyikan Dewa Rayu.

Ketika mereka membawa masuk Dewa Rayu yang tertidur itu, Angin Betina sempat menahan lengan Suto hingga langkah Suto terhenti di pintu gua. Mata Angin Betina memandang ke arah timur. Suto mengerti maksud Angin Betina, sehingga ia segera memandang ke arah timur juga. Lembah sebelah timur merupakan tempat yang ditumbuhi pohon berjarak renggang, sehingga apa yang ada di lembah itu dapat terlihat dengan jelas dari depan gua tersebut. Di sana terjadi pertarungan yang tak asing lagi bagi Suto Sinting.

Perawan Maha Sakti ada di lembah itu, hanya saja siapa lawannya kali ini masih belum diketahui Suto Sinting. Dengan terburu-buru Suto Sinting masuk ke gua yang tidak terlalu dalam tapi ditumbuhi banyak bebatuan datar yang menjulang di sana-sini itu. Ia meletakkan tubuh Dewa Rayu yang masih tertidur pulas. Setelah itu ia berkata kepada Angin Betina yang masih melongok ke luar, memandang ke arah lembah.

"Angin Betina, kau tunggu di sini! Aku akan ke lembah timur sana!"

"Mau apa?!" Angin Betina cemas bercampur curiga.

"Lakukan saja perintahku. Tetaplah di sini dan jaga dia agar jangan sampai pergi," kata Suto seraya bergegas keluar gua.

"Suto, apa yang akan kau lakukan di sana? Katakan!"

"Nanti sepulangnya dari sana akan kukatakan."

"Aku tidak ingin kau bertarung melawannya!" geram Angin Betina sambil dekati wajah Suto dan dipandanginya dalam jarak amat dekat.

Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum menawan yang menjengkelkan hati Angin Betina. "Aku tidak akan bertarung dengannya. Kali ini kuturuti keinginanmu," ujar Suto sambil menepuk-nepuk pipi Angin Betina.

Sikap itu menyenangkan bagi Angin Betina. Tepukan pipi diterima sebagai tepukan mesra. Angin Betina merasa mendapat perhatian, karena Sutomau turuti keinginannya untuk tidak bertarung denganPerawan Maha Sakti itu. Akibatnya, Angin Betina pun tak bisa tolak tugasnya menjaga Dewa Rayu, sekalipun hatinya muak melihat pemuda tampan berkumis tipis itu.

Pendekar Mabuk sempat meneguk tuaknya lebih dulu sebelum tiba di pertarungan itu. Ketika sampai di balik pohon dekat tempat pertarungan, ternyata lawan yang dihadapi Perawan Maha Sakti adalah lelaki berjubah hitam yang usianya sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya kurus, rambutnya panjang, kuku tangannya panjang dan tajam-tajam. Suto tidak mengenali siapa lelaki berwajah dingin itu. Karenanya ia sempat menyimak percakapan mereka ketika mereka hentikan pertarungan sejenak, yaitu pada saat lelaki berjubah hitam terpental karena pukulan jarak jauhnya Perawan Maha Sakti.

"Sekali lagi kuberi kesempatan padamu untuk tetap hidup, asal kau segera pulang dan memanggil Gerhana Mandrasakti. Jangan sampai kesempatan yang kuberikan ini kucabut kembali, Kucing Terbang!"

Suto membatin, "O, rupanya kucing itu bernama Kucing Terbang. Dia pasti orang Tebing Karma, anak buah Gerhana Mandrasakti."

Terdengar suara si Kucing Terbang yang serak pada saat ia bangkit dari jatuhnya, "Tebus dulu nyawa kedua saudara sepupuku itu, baru kuturuti perintahmu, Gadis Jalang!"

"Nyawa kedua saudaramu adalah korban ketidak taatannya kepada perintahku! Kalau waktu itu Kapak Iblis dan Setan Akhirat segera pergi memanggil Gerhana Mandrasakti, mereka pasti akan selamat sampai sekarang juga!"

"Untuk apa taat kepadamu? Kau pikir siapa dirimu, hah?!" Kucing Terbang menampakkan sikap bermusuhannya, sedikit pun tak merasa gentar menghadapi lawannya. "Sekalipun menurut mata-mata Tebing Karma yang melihat pertarunganmu dengan kedua saudaraku itu, kau mempunyai jurus maut, tapi jangan merasa bangga dulu jika berhadapan denganku; si Kucing Terbang! Jurus mautmu itu belum tentu bisa tandingi jurus 'Meong Seribu Kaki'! Majulah kalau kau mau tahu kehebatan jurusku: 'Meong Seribu Kaki'!"

Suto Sinting menahan geli. Tersenyum sambil geleng-gelengkan kepala. Hatinya membatin, "Kucing Terbang terlalu berani. Dia belum tahu kekuatan 'Bias Dewa'-nya Dara Cupanggeni. Biar pakai jurus 'Meong Seribu Kaki' atau 'Meong Seribu Istri', tetap saja akan tumbang jika Perawan Maha Sakti sudah lepaskan jurus 'Bias Dewa'-nya."

Beberapa saat setelah Suto berpikir demikian, tiba-tiba ia rasakan dirinya tertegun mematung. Laaap...! Jantung bagaikan berhenti, semuanya terasa mati. Ternyata saat itulah Perawan Maha Sakti lepaskan jurus 'Bias Dewa'-nya yang menghantam leher Kucing Terbang. Dees...! Akibatnya bisa dibayangkan sendiri; nasib Kucing Terbang seperti nasib Kapak Iblis dan Setan Akhirat. Ia tumbang dan segera dikerumuni belatung dalam waktu beberapa saat saja.

Suto Sinting yang mulai sadar kembali setelah nyala sinar merah dari telunjuk gadis itu padam, segera memandang ke arah pertarungan dengan wajah sedikit tegang. Matanya lebih tertuju pada mayat Kucing Terbang. Ia hanya geleng-gelengkan kepala merasa prihatin melihat nasib korban jurus maut itu.

Perawan Maha Sakti bermaksud tinggalkan tempat. Suto Sinting bergegas keluar dari persembunyiannya, langsung melompat dalam gerakan salto beberapa kali. Sampai akhirnya ia tapakkan kakinya di tanah belakang gadis itu tanpa terdengar suara kaki menyentuh tanah.

"Dara...!" Suto Sinting langsung menyapa. "Masih ingat aku tentunya!"

Perawan Maha Sakti yang berpaling segera putar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Pendekar Mabuk. Gadis itu masih diam memandang dengan wajah tanpa senyum. Sikap bermusuhannya masih terbayang walau tipis. Tetapi Suto Sinting tampak tenang, bahkan sunggingkan senyum ketampanannya.

"Kau ingin lanjutkan pertarungan kita yang tertunda itu?!" tantang Perawan Maha Sakti secara tak langsung.

Tetapi tantangan itu dijawab dengan senyum lebar oleh Suto Sinting. Perawan Maha Sakti sempat membatin, "Pantas namanya Suto Sinting, agaknya dia benar-benar sinting; ditantang malah cengar-cengir?!"

"Menciptakan pertarungan itu mudah," kata Suto. "Tapi menciptakan perdamaian itu susah."

Gadis cantik berbibir merekah itu pandangi Suto tak berkedip. Ia tak tahu bahwa Pendekar Mabuk mempunyai satu jurus yang sebenarnya sudah jarang digunakan. Jurus itu adalah pemberian dari Bibi Gurunya, Bidadari Jalang yang sering dipergunakan semasa Bidadari Jalang menjadi tokoh aliran hitam. Jurus tersebut sering mengembang dengan sendirinya, tapi tidak terlalu parah bagi korbannya. Namun jika dipergunakan dengan sengaja, jurus itu mampu membuat lawannya tak berkutik.

Seperti kata Ki Sonokeling, gadis yang memiliki ilmu 'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa' biasanya sangat berhati-hati menjaga jiwanya. Ia mencoba untuk tidak jatuh cinta kepada lelaki sebelum apa yang diinginkan dari dua ilmu itu terlaksana. Begitu pula Perawan Maha Sakti, sekalipun Suto dipandangnya sebagai pemuda yang menawan, tampan, gagah, dan perkasa, namun Perawan Maha Sakti menutup pintu hatinya untuk tidak terpikat dengan pendekar tampan itu.

Hanya saja, di saat menjelang senja tiba itu, pertemuannya dengan Pendekar Mabuk rupanya mempunyai makna lain dalam hidup Perawan Maha Sakti. Suto Sinting pergunakan jurus pemberian Bidadari Jalang yang dinamakan jurus 'Senyuman Iblis'. Dengan menahan napas pada saat tersenyum, menyalurkan kekuatan batin dan hawa murni pada saat memandang, maka memancarlah kekuatan gaib yang membuat senyuman itu luar biasa memikatnya.

Andai pada waktu itu Perawan Maha Sakti pejamkan mata, maka ia tidak akan terperangkap gelombang gaib senyuman Suto Sinting. Tapi karena Perawan Maha Sakti justru memandang tanpa berkedip dan menikmati keindahan senyuman tersebut, maka hatinya menjadi berdebar-debar dan berbunga indah. Semakin lama mereka saling pandang, semakin lama gadis itu menikmati senyuman Suto, semakin resah jiwanya dan bayangan kemesraan bercumbu menggoda hati, tak bisa dihindari lagi.

"Celaka! Dia begitu menggetarkan hatiku dan batinku menuntut kemesraan. Aduh...! Aku tak bisa mengatasi rasa terpikatku ini. Kurang ajar sekali pemuda yang satu ini. Sikapnya benar-benar menyenangkan hatiku, membuat khayalanku terbang ke mana-mana. Oh, Dewa... baru sekarang kuperhatikan bahwa senyumnya benar-benar enak dinikmati. Wajahnya yang tampan, sangat serasi dengan tubuhnya yang kekar, berotot, perkasa, dan... oh, kulihat genangan keringatnya membersit di leher, mengalir sampai didadanya. Oh, Dewa... bagaimana cara menghentikan khayalanku ini?!"

Sementara itu, Pendekar Mabuk pun membatin, "Kau boleh andalkan ilmu 'Darah Gaib'-mu untuk menolak serangan-serangan keras, senjata tajam, dan tenaga dalam penghancur raga. Tapi mampukah 'Darah Gaib'-mu itu menolak kehadiran 'Senyuman Iblis'-ku? Mampukah kau bertahan jika batinmu yang kuserang dengan kemesraan? Mampukah kau menghindari pancaran bunga cintaku jika hatimu yang kutuju? Oh, tingkahmu sudah mulai serba salah. Mau apa kau? Kalau kutinggalkan, bagaimana? Mampukah kau biarkan aku pergi?"

Suto Sinting yang punya ilmu edan-edanan itu sering bersikap konyol. Ketika dilihatnya mata Perawan Maha Sakti mulai redup dan menjadi sayu, senyum tipisnya kian mekar penuh harap, napasnya mulai tampak tak teratur, bibirnya sering digigit sendiri, pandangan matanya salah tingkah, saat seperti itulah yang dimanfaatkan Suto Sinting untuk mempermainkan hati gadis itu dengan kekonyolannya.

"Dara Cupanggeni," ucap Suto dengan suara merdu yang kian menawan hati bagi gadis berjubah ungu itu.

Sang gadis segera angkat wajah dan pandangi Suto dengan menggigit bibir bawahnya. "Untuk melanjutkan pertarungan kita yang tertunda itu, aku sama sekali tak keberatan. Satu-satunya hal yang membuatku berat hati adalah jika sampai kulit halusmu itu tergores atau terluka. Hatiku retak jika melihatmu sampai terluka. Aku sendiri tak tahu, mengapa aku punya perasaan begitu. Bahkan aku merasa lebih rela kehilangan nyawa dibandingkan harus melihat tubuhmu ada yang terluka."

Perawan Maha Sakti semakin berdebar-debar indah mendengar ucapan itu. Sangkanya hati Suto benar-benar tulus mengucapkan perasaan sebenarnya. Padahal kata-kata itu adalah seonggok gombal yang sudah lama tak pernah digunakan oleh Suto Sinting. Kali ini ia terpaksa menggunakannya demi runtuhkan kedua ilmu berbahaya itu. Katanya lagi seraya mendekat dan mengusap pipi gadis itu dengan punggang telapak tangannya, "Ilmu setinggi apa pun bisa kucari dan kupelajari. Tapi kecantikan seperti ini hanya ada satu di dunia, yaitu hanya kau pemiliknya."

"Jangan merayuku," ucapnya lirih sekali, hampir tak terdengar. Pandangan matanya semakin sayu karena terbuai keindahan dalam hatinya.

"Kalau kata-kataku ini kau anggap rayuan, izinkan aku merayumu beberapa saat sebelum akhirnya kita harus bertarung. Tapi sesungguhnya apa yang kukatakan adalah curahan hatiku yang sukar kubendung sejak aku harus berhadapan denganmu. Mestinya aku tak ingin temui kau lagi, karena kau mempunyai ilmu yang dahsyat. Tetapi harapan hatiku menuntut jiwaku untuk bisa bertemu denganmu walau untuk yang terakhir kalinya. Harapan hati itu hanya semata-mata ingin curahkan perasaan yang kukatakan ini. Hanya itu tujuanku menemuimu sore ini, Dara Cupanggeni. Setelah itu, marilah kita ianjutkan pertarungan kita yang tertunda itu."

Perawan Maha Sakti menatap sedikit mendongak karena Suto lebih tinggi darinya. Wajah ayu berbibir merekah penuh gairah itu menggeleng pelan-pelan. Lalu terdengar suaranya bagai orang mendesah dicekam asmara. "Tidak. Aku tidak ingin lanjutkan pertarungan denganmu. Aku... aku...," Perawan Maha Sakti tundukkan wajahnya, terdengar lagi lanjutan katanya, "Aku tak sanggup bertarung melawanmu. Aku benar-benar tak sanggup."

Suto Sinting raih dagu gadis itu dan diangkatnya pelan hingga matanya menatap lembut si mata sayu itu. Lalu dengan senyum berkekuatan gaib, Suto Sinting berucap kata lirih, "Jangan lemahkan hatimu. Mari lanjutkan pertarungan kita."

"Tidak, Suto," ucapnya pelan sekali. Lalu gadis itu menggigit bibirnya sendiri, seperti ada suatu perasaan yang ingin meledak dalam dadanya tapi ditahan kuat-kuat.

"Lalu apa yang kau inginkan?"

"Hmmm... ehh... ppe... peluklah aku walau sekejap saja, Suto."

Bukan Suto Sinting yang memeluk, tapi Perawan Maha Sakti yang mendahului memeluk Suto. Kepalanya disandarkan di dada Suto dengan mata terpejam seakan meresapi kehangatan yang mengalir dari tubuh Pendekar Mabuk, sebab Pendekar Mabuk pun membalas pelukan itu erat-erat. Perawan Maha Sakti merasa dirinya terbenam sangat dalam hingga menyentuh kehangatan dasar hati Suto.

* * *

TUJUH
SEMENTARA itu, Angin Betina yang resah di dalam gua segera melongok keluar dan memandang ke arah lembah. Matanya terbelalak, wajahnya bagai disiram air panas melihat Suto sedang berpelukan dengan Dara Cupanggeni. Jantung Angin Betina seakan dibetot dari dalam, terasa ingin meledak dadanya.

"Setan! Iblis! Peri! Hantu! Buaya buntung...!" makinya dalam geram dengan kedua tangan menggenggam kencang sekali. "Dasar sapi otak kerbau! Katanya mau berhadapan dengan gadis itu ternyata malah berpelukan! Katanya bermusuhan dengan gadis itu, nyatanya malah berkasih-kasihan. Uuuhhh...!" Angin Betina jengkel sekali. Darahnya bagaikan mendidih dan mengguyur seluruh kepala. Kedua kaki dan tangannya gemetar menahan amukan yang mendesak untuk meledak.

"Pendekar cap tikus!" cacinya sambilmondar-mandir di dalam gua dengan pedang terhunus. "Apa yang harus kulakukan jika begini?! Membantai mereka berdua? Atau pergi meninggalkan mereka selamanya?! Uuhh...! Dasar lelaki mata keranjang, mata serokan ikan, mata buaya, mata kucing, mata... mata sapi juga! Benci aku padanya! benci aku! Benciiiii...!"

Duuurrr...! Sebongkah batu ditendang langsung hancur menjadi kerikil-kerikil lembut. Kemarahan Angin Betina berkobar karena kecemburuan dalam hatinya meluap-luap. Ia kembali masuk ke dalam gua dengan mondar-mandir salah tingkah sendiri. Pedang yang sudah dihunus ingin dipancungkan ke leher Dewa Rayu yang sedang tertidur, tapi niat itu segera dibatalkan. Ia kembali melongok keluar, memandang kelembah.

"Dasar buaya kampung kumuh!" makinya lagi. "Dari tadi belum mau melepaskan pelukannya! Iiih... benci aku! Benciii...!"

Plook...! Angin Betina menampar pipinya sendiri untuk lampiaskan kegeraman yang menyiksa batin itu. Ketika ia melongok keluar lagi, ternyata di lembah sudah tidak ada Suto Sinting. Mata Angin Betina membelalak tegang, mencari-cari Suto ke sekitar lembah dengan pandangan matanya yang tersembunyi di celah bebatuan. Suto tidak kelihatan, tapi Perawan Maha Sakti masih diam di sana, duduk di sebatang kayu pohon kering yang tumbang sudah sekian lama.

"Ke mana si buaya kampung kumuh itu? Mengapa tidak ada? Mengapa gadis itu masih di sana? O, aku tahu...! Pasti si buaya kampung kumuh sedang cari tempat buat kencan mereka! Setan peot! Sebaiknya kuhampiri gadis itu dan kuserang dari belakang sebelum dibawa kencan oleh si buaya mata kodok!"

Rupanya Suto Sinting memang berjanji akan kembali lagi, sehingga Perawan Maha Sakti masih menunggu di sana. Suto Sinting pamit mau cari tempat buat tidur mereka, karena senja mulai tua dan mereka harus punya tempat untuk bermalam. Perawan Maha Sakti setuju sekali, bahkan hatinya yang sudah kasmaran itu bersorak kegirangan. Suto tidak langsung menuju ke gua, melainkan mengambil jalan putar, sehingga ia muncul dari arah sisi kiri gua tersebut.

"Hei, mau ke mana kau?!" sergah Suto dengan suara berbisik ketika dilihatnya Angin Betina hendak tinggalkan gua dengan pedang terhunus.

Angin Betina menatap dengan mata mengecil tanda menyimpan benci. Bicaranya pun ketus. Giginya bagai tak mau terbuka. "Iblis kau, Suto! Peri hamil busung kau!"

"Hei, hei... kenapa kau marah begitu? Masuklah! Lekas masuk, kita bicara!"

Suto menarik lengan Angin Betina untuk dibawa masuk ke gua. Angin Betina sentakkan lengannya dengan kasar hingga terlepas dari genggaman Suto Sinting. "Jangan sentuh diriku lagi! Kau telah puas memeluknya!"

"Angin Betina, ini siasat! Hanya siasat semata!"

"Siasat untuk menutupi kerakusanmu?! Siasat untuk memuaskan hasratmu? Iya?!"

Angin Betina angkat pedangnya untuk ditebaskan, Suto Sinting hanya merunduk dan menyilangkan tangannya seakan ingin menangkis pedang itu dengan tangan.

"Tunggu dulu. Kujelaskan dulu rencanaku!"

Angin Betina hempaskan napas dengan dongkol sekali. Ia tak suka melihat Suto berpelukan dengan wanita lain, tapi ia harus menahan rasa tak suka itu untuk dengarkan penjelasan dari Pendekar Mabuk.

"Kau menyingkirlah dulu. Pindah di tempat lain yang tersembunyi!"

"Apa...?! Kau menyuruhku pergi dari gua ini dan gua ini akan kau pakai untuk bermesraan dengan gadis liar itu?!" mata Angin Betina mendelik.

Suto masih menjaga sikap sabarnya. "Tenang dulu, dengarlah penjelasanku!" Suto Sinting mendekat. Angin Betina buang muka. Ia berkata lagi, "Aku berhasil menjerat hatinya. Ia terpikat padaku. Ia kasmaran padaku. Lalu kami sepakat untuk mencari tempat buat bermalam. Ia senang sekali ketika kukatakan bahwa aku berusaha mencari tempat yang nyaman dan enak untuk bermalam bersama. Ia bahkan mau menungguku di sana, dan aku berjanji akan kembali lagi secepatnya."

Angin Betina menjauh, memandang ke arah luar gua, melirik ke arah Dara Cupanggeni yang bagai perawan setia menunggu sang kekasihnya datang. Suto Sinting bicara dari belakang Angin Betina dengan suara pelan tapi jelas.

"Ia bergairah sekali untuk tidur bersamaku. Aku berhasil memancing gairahnya dan dia."

"Tentu saja dia bersedia sekali tidur denganmu!" potong Angin Betina dengan ucapan cepat.

Suto Sinting sempat gelagapan, lalu tertawa kecil. Angin Betina buang muka lagi seraya berkata, "Dia boleh tidur denganmu jika dia bisa lepaskan nyawaku dari raga! Akan kutantang dia sekarang juga!"

"Hei, tunggu dulu!" cegah Suto Sinting menarik pundak Angin Betina.

Gadis berambut acak-acakan itu menepiskan tangan Suto dengan kasar. Tapi ia tidak tahu bahwa saat ia mengucapkan niatnya untuk menantang Perawan Maha Sakti, Suto telah lakukan sesuatu di belakangnya; memejamkan mata dan mengarahkan wajahnya kepada Dewa Rayu yang sedang tidur itu. Maka ketika Angin Betina berbalik arah dan memandang Suto dengan sengit, tiba-tiba wajah tegang itu mengendur, mata sipit itu melebar, mulut runcing itu ternganga. Di belakang Suto ia melihat sosok Suto Sinting sedang tertidur, sedangkan sosok Dewa Rayu tidak ada.

Angin Betina jadi tergeragap, "Lho, it... kok... kuk... puas... di... nguk... ngok... ngek."

Suto Sinting hanya tertawa dengan mulut terbungkam, hingga yang terdengar hanya gumam terpatah-patah. Katanya dalam senyum, "Makanya jangan salah anggap dulu. Dengarkan penjelasanku, baru ngotot kalau memang tak setuju!"

"Tap... tapi... siapa yang tidur itu?"

"Dewa Rayu!" jawab Suto dengan kalem.

"Mengapa wajahnya, perawakannya, pakaiannya, semuanya seperti dirimu?"

"Aku menggunakan ilmu 'Seberang Raga'. Biasanya ilmu 'Seberang Raga' kugunakan untuk mengecoh pandangan lawan. Benda apa pun bisa menyerupai diriku dan akan kembali ke wujud semula jika batinku sudah melepaskan ilmu 'Seberang Raga' itu."

"Jadi apa maksudmu?"

"Kupancing Perawan Maha Sakti agar masuk ke gua ini. Dia akan menemui Dewa Rayu yang disangka diriku. Lalu... tentu saja dia akan bermalam di gua ini bersama Dewa Rayu. Sementara itu, kita mencari tempat lain untuk bersembunyi, tapi jangan jauh-jauh dari sini untuk menjaga kalau terjadi sesuatu pada diri Dewa Rayu."

Angin Betina manggut-manggut dengan kemarahan yang mereda. "Ternyata kau bukan buaya kampung kumuh, tapi kancil mata keranjang!" ejek Angin Betina.

Suto hanya tersenyum. "Sekarang, kita bangunkan dulu Dewa Rayu...!"

Dengan susah payah mereka membangunkan Dewa Rayu. Percikan tuak di wajah Dewa Rayu baru bisa membuat pemuda berkumis tipis yang sudah menjadi serupa betul dengan Suto itu menggeragap dan bangun dari tidurnya. Ia terkejut mendapatkan dirinya sudah mengenakan pakaian mirip dengan Suto Sinting. Tapi ia menjadi lebih terbelalak melihat Angin Betina dan mulai mendesis dengan pandangan mata penuh gairah. Dewa Rayu pun berkata kepada Suto,

"Tuakmu hanya bisa membuatku mengantuk. Tapi hasratku untuk bercinta dengan seorang wanita masih menyala-nyala. Semakin kuat mencekam jiwaku!"

"Karena itulah kau kudandani seperti diriku!"

"Apa maksudmu mendandaniku seperti ini?" tanyanya penuh keheranan. Bahkan ia juga merasa heran melihat bumbung tuak ada disampingnya.

Suto Sinting jelaskan, "Kau akan kuberikan obat pelega jiwa. Tapi kau harus bisa berpura-pura menjadi diriku."

"Aku tak mengerti maksudmu?!" Dewa Rayu kerutkan dahi.

"Kami mau kasih kamu perempuan!" sentak Angin Betina dengan kasar.

"Pokoknya nanti kalau ada gadis cantik datang kemari berjuluk Perawan Maha Sakti, jangan kecewakan dia. Turuti saja apa keinginannya. Kau tetap harus merasa menjadi Suto Sinting, tak perlu sering-sering minum tuak tak apa, tapi kau harus merasa menjadi diriku dan merasa sudah kenal lama dengan Perawan Maha Sakti."

"Mengapa begitu?"

"Karena aku punya kencan dengan Perawan Maha Sakti, tapi tidak bisa melaksanakan. Aku harus temui seorang tokoh tua yang sedang ziarah dan tak kutahu di mana makam itu. Aku dan Angin Betina akan pergi, baik-baiklah di sini dan jangan ke mana-mana!"

Dalam hati Angin Betina kagum dengan kecerdasan Suto Sinting. "Biar sinting tapi otaknya encer juga!" katanya membatin sambil ia duduk di atas pohon berdaun rindang.

Sementara itu Suto Sinting sedang memancing Perawan Maha Sakti agar memasuki gua tersebut. Angin Betina masih bisa pandangi pertemuan Suto dengan Perawan Maha Sakti di lembah, karena pohon tempatnya bersembunyi tak jauh dari gua tersebut. Di sana, Suto Sinting kembali mekarkan senyum pemikatnya. Hati Perawan Maha Sakti kian berbunga-bunga. Senyum gadis itu menampakkan kegirangan hati yang sepertinya baru kali ini dialami dan dirasakannya.

"Kusangka kau tak akan kembali lagi."

"Kau pikir aku lelaki yang bodoh?! Mana mungkin akan kubiarkan gadis secantik kau duduk sendirian di sini sampai petang tiba?"

Mereka berhadap-hadapan, jaraknya sangat dekat. Tangan Perawan Maha Sakti sempat berbuat nakal, mencubit pipi Suto, mengusap rambut panjangnya, dan semua itu membuat Angin Betina di atas pohon salah tingkah lagi. Ia lekas-lekas buang muka sambil menggerutu dan bersungut-sungut,

"Mudah-mudahan lain kali Suto tidak temui lawan yang seperti itu! Menyakitkan hati kalau dipandang. Sudah kubilang jangan bersentuhan lagi, eeh... malah nempel! Ah, dasar buaya kampung kumuh bermata kodok!"

Perawan Maha Sakti berkata, "Sebentar lagi petang tiba. Apakah kau sudah dapatkan tempat untuk bermalam?"

"Ya. Aku sudah dapatkan sebuah gua di sebelah sana!" seraya Suto menunjukkan tempat gua tersebut. Senyum gadis itu mekar berseri-seri, matanya tampak berbinar-binar penuh kegembiraan.

"Kalau begitu, tak ada jeleknya jika sekarang juga kita ke sana saja!"

Suto anggukkan kepala. "Aku menjadi pelayanmu jika kau bisa mencapai gua itu lebih dulu dariku."

"O, kau mengajak beradu kecepatan lari? Baik! Kita mulai sekarang!"

Wees...!

Zlaaap...! Suto Sinting menggunakan 'Gerak Siluman' hingga Perawan Maha Sakti tertinggal jauh. Tapi gadis itu melihat Suto masuk ke gua tersebut. Padahal hanya masuk selintas, kemudian keluar lagi dengan gerakan cepat yang nyaris tak tertangkap mata Perawan Maha Sakti. Maklum, remang petang kian menua, sehingga mata gadis itu sulit menangkap kelebatan bayangan Suto Sinting.

"Ternyata kau lebih dulu sampai di sini," kata Perawan Maha Sakti kepada Dewa Rayu yang disangka Suto Sinting.

Dewa Rayu hanya tersenyum dan berkata, "Cukup lama aku menunggumu di sini. Tak sabar rasa hatiku untuk segera membawamu terbang tinggi-tinggi."

"Terbang? Oh..., hi, hi, hi, hi...!"

Suara tawa lirih terdengar sampai di atas pohon tempat Suto dan Angin Betina bersembunyi. Jarak pohon dengan gua yang tak seberapa jauh membuat suasana malam kian memperjelas suara-suara mesra di dalam gua itu. Kadang terdengar suara cekikikan, kadang terdengar suara desahan memanjang menyerupai erangan orang kesakitan.

Sementara mereka yang di atas pohon hanya bisa saling bungkam, membiarkan malam meluncur bersama rembulan separo bagian, membiarkan suara- suara mesra berhamburan di dalam gua sana. Angin Betina membayangkan apa yang terjadi di dalam gua itu, terlalu kuat bayangan tersebut, akibatnya jantungnya berdetak-detak dan tubuhnya berkeringat dingin.

"Suto," bisiknya kepada Suto Sinting yang duduk di dahan sampingnya, "Aku berkeringat dingin. Hi, hi, hi, hi...!"

"Pakailah bajuku kalau kau kedinginan," balas Suto.

"Bukan kedinginan!" sentak Angin Betina dalam bisik. "Aku tergoda dengan suara-suara mereka itu."

"Kalau begitu, pejamkan mata dan tidurlah. Biar aku saja yang menjaga mereka dari sini."

Dahan yang besar dan pipih itu bisa dipakai untuk merebahkan badan. Suto Sinting tahu, Angin Betina bergairah mendengar suara-suara mesra dari dalam gua. Apa yang diharapkan Angin Betina juga diketahui Suto. Tapi Suto tidak mau memberikannya. Ia hanya menghibur hati Angin Betina dengan membiarkan gadis itu berbaring di pangkuannya, rambutnya diusap-usap oleh Suto, sampai akhirnya Angin Betina tertidur dengan sendirinya.

Suto sengaja tidak tidur, sebab jika ia tidur maka pengaruh kekuatan ilmu 'Seberang Raga' akan lenyap. Dewa Rayu menjadi wujud sebenarnya. Suto menjaga agar kekuatan ilmu itu masih tetap ada sampai esok pagi. Setidaknya memberi kesempatan panjang bagi Dewa Rayu untuk melenyapkan kedua ilmu andalan Perawan Maha Sakti yang amat berbahaya itu.

Melintasi pertengahan malam, ketika malam dicekam sepi, Suto Sinting mendengar suara isak tangis samar-samar dari dalam gua tersebut. Angin Betina terbangun oleh suara tangis itu.

"Suara siapa?" tanyanya kepada Suto.

"Jelas suara perempuan. Pasti suara Dara Cupanggeni."

"Mengapa menangis? Apakah Dewa Rayu berubah wujud?"

"Kurasa dia menangis karena sadar bahwa kedua ilmu andalannya telah hilang!" jawab Suto pelan sekali.

"Kalau begitu... dia sudah tidak perawan lagi?"

"Mungkin saja begitu. Tapi bisa jadi tangis itu disebabkan karena Dewa Rayu tak bisa memenuhi seleranya, atau mungkin kakinya kejatuhan batu atau hal-hal lainnya."

"Bagaimana kalau kita intip lebih dekat?"

"Jangan! Nanti keadaan menjadi kacau-balau jika Dara Cupanggeni mengetahui aku ada di luar gua."

Sampai pagi tiba, Angin Betina tidak bisa tidur lagi. Tapi mereka masih di atas pohon. Dan ketika matahari mulai merayap naik, mereka melihat Perawan Maha Sakti keluar dari gua dalam keadaan lesu.

"Hei, dia keluar sendirian. Mana si Dewa Rayu? Mengapa tidak ikut keluar juga?" kata Angin Betina berbisik. "Jangan-jangan... jangan-jangan Dewa Rayu dibunuh olehnya?!"

"Coba kau periksa gua itu, dan aku akan mengikutinya dari belakang!" kata Angin Betina, lalu ia melesat berpindah pohon tanpa timbulkan suara.

Suto Sinting segera melesat ke arah gua dengan melintasi dahan-dahan pohon lainnya. Dara Cupanggeni berjalan dengan gontai, seperti orang putus asa.

Suto Sinting terkejut melihat gua dalam keadaan kosong. Dewa Rayu tak ada di tempat, tapi baju dan celananya tertinggal di sana, juga bumbung tuaknya. "Ke mana perginya? Apakah dia pergi tanpa kenakan pakaian apa-apa?"

Suto Sinting segera susul kepergian Perawan Maha Sakti. Tapi pada waktu itu Perawan Maha Sakti sudah terhenti langkahnya karena Angin Betina nekat menghadang dari arah depan. Perawan Maha Sakti segera tegakkan badan dan pasang lagak sebagai orang yang tidak mengalami duka apapun.

"Siapa kau?" sapanya dengan ketus kepada Angin Betina.

"Angin Betina! Aku kekasih Suto! Kau ingat saat bertemu dengan Sumbaruni? Akulah yang dihajar habis-habisan oleh perempuan itu."

"O, ya...! Aku ingat tentang itu. Tapi aku tidak tahu kalau kau kekasih Pendekar Mabuk! Pendekar tampan itu mengaku padaku tidak mempunyai kekasih siapa pun!"

"Kau telah ditipunya! Dan kulihat semalam kau masuk ke gua bersamanya!"

"Ya, benar!" jawabnya tegas penuh keberanian yang dlberani-beranikan.

Angin Betina pandangi wajah itu, bahkan seluruh tubuh dari atas ke bawah dipandanginya. Angin Betina temukan noda merah di leher Perawan Maha Sakti. Noda merah itu ada di kanan dan kiri leher. "Noda merah apa itu?" pikir Angin Betina. "Pukulan maut atau ciuman maut?"

Perawan Maha Sakti merasa kikuk dipandangi demikian, ia segera sentakkan suara untuk membuang kekakuannya. "Apa maksudmu menghadangku?! Kau ingin tuduh aku yang membawa lari Suto Sinting itu?! Hmm...! Kalau itu maumu, kau salah duga! Aku tidak membawa pergi Suto Sinting! Justru aku merasa kecewa karena Suto telah dibawa lari seseorang ketika kami sedang bercengkerama!"

Angin Betina terperanjat, namun buru-buru ditutupi dengan tarikan napas. "Siapa yang membawanya lari?!"

"Tak kukenal! Aku tak sempat mempertahankan karena aku ditotok melalui pandangan matanya yang tajam itu!"

Angin Betina berpikir, apakah orang yang membawa lari itu tahu bahwa pemuda tersebut adalah Dewa Rayu? Jangan-jangan Dewa Rayu diculik orang sebelum merenggut kesucian gadis ini? Keadaanku gawat juga kalau ternyata gadis ini masih perawan. Berarti dia bisa serang diriku dengan jurus 'Bias Dewa'-nya itu. Hmmm... sebaiknya aku menyingkir saja sebelum luapan amarahnya dilampiaskan padaku!"

Tanpa pamit apa-apa Angin Betina cepat-cepat pergi, berkelebat bagaikan angin pegunungan berhembus di pagi hari. Gerakan cepat itu segera dihentikan ketika berpapasan dengan Pendekar Mabuk.

"Bagaimana keadaannya?"

"Gua kosong. Dewa Rayu tak ada. Tapi pakaiannya ada di tempat."

"Berarti pengakuan gadis itu memang benar," kata Angin Betina seperti bicara pada diri sendiri. Lalu ia ceritakan apa yang diceritakan Perawan Maha Sakti.

Suto Sinting berkerut dahi, pertanyaan dalam benaknya sama dengan pertanyaan batin Angin Betina. "Apakah dia sudah kehilangan kesuciannya saat Dewa Rayu diculik orang?"

"Aku tak tahu dengan pasti. Aku hanya melihat noda merah di lehernya, yang menurutku adalah noda kemesraan yang diberikan oleh Dewa Rayu."

"Berarti penculik itu orang berilmu tinggi yang bisa menyelinap masuk ke dalam gua tanpa kulihat. Padahal aku semalaman tidak tidur."

"Mungkin pada saat kau memandang ke arah lain, penculik itu masuk ke gua dan membawa pergi Dewa Rayu. Barangkali juga kejadiannya ketika tengah malam terdengar suara tangis. Itulah suara tangis Dara Cupanggeni yang kehilangan Suto Sinting-nya!"

"Tapi menurutmu tadi, dia ditotok dengan pandangan mata?!"

"Memang. Tapi totokan yang bagaimana? Mungkin hanya totokan yang membuatnya tidak bisa bergerak kecuali hanya bersuara dan menangis saja?"

"Kalau begitu..." kata Suto setelah diam. "Aku harus menjajal ilmunya. Aku akan bertarung dengan Perawan Maha Sakti. Jika dia masih perawan, maka dia akan lepaskan jurus mautnya itu. Tapi jika ia tidak perawan lagi, ia akan pergunakan jurus lain yang tidak berbahaya!"

"Aku keberatan!" debat Angin Betina. "Kalau ternyata dia masih perawan, belum sempat direnggut Dewa Rayu, maka kau akan jadi korban jurus mautnya itu! Sebaiknya aku saja yang mencoba bertarung dengannya!"

Suto berpikir, "Belum tentu Angin Betina bisa hindari jurus mautnya. Daripada dia yang celaka, lebih baik aku yang mencobanya dengan caraku sendiri. Seandainya Perawan Maha Sakti sudah tak berilmu maut, siapa tahu ia masih punya ilmu dahsyat lainnya yang sukar ditandingi oleh Angin Betina?"

Tiba-tiba Suto Sinting gerakkan tangannya, menyentil tiga kali ke arah depan. Jurus 'Jari Guntur' dilepaskan, segumpal tenaga melesat dari sentilan itu mengenai beberapa tempat di tubuh Angin Betina. Perempuan itu terkejut sesaat, untuk selanjutnya badannya tak bisa bergerak kecuali mulutnya yang berseru dengan marah,

"Setan kau, Suto! Lepaskan totokan ini! Hei, Suto...! Lepaskan totokan ini atau kuhajar kau!"

"Aku harus hadapi Perawan Maha Sakti. Maafkan aku, nanti kulepaskan kalau aku sudah bertemu dia!"

"Buaya kampung miskin! Jangan hadapi dia!" teriak Angin Betina, tapi Suto Sinting tetap melesat dengan kecepatan gerak silumannya. Zlaaap...! Sebaris makian terdengar makin kecil dan hilang karena kecepatan Suto mencapai tempat yang jauh dalam beberapa kejap saja.

"Itu dia orangnya!" Suto membatin. "Sebelum ia lepaskan jurus mautnya, aku harus mendahului melepaskan pukulan jarak jauh. Jika ternyata masih belum bisa menembus lapisan 'Darah Gaib'-nya, berarti dia masih perawan dan aku harus cepat lari sebelum ia membalas dengan jurus 'Bias Dewa'-nya."

Suto Sinting hentikan langkah dalam jarak delapan tindak di belakang Perawan Maha Sakti. Ia menyapa dengan satu sentakan, "Daraaa...!"

Gadis itu langsung berpaling ke belakang. Ia terperanjat melihat Suto. Keceriaannya terlintas sekejap, karena Suto Sinting segera lepaskan pukulan jarak jauhnya berupa sinar biru besar dari telapak tangan. Ciaaap...! Tentu saja munculnya sinar biru itu mengejutkan bagi Perawan Maha Sakti. Dengan gerak naluri kedua tangannya menghadang dada dan keluarkan sinar merah membias dari kedua telapak tangan itu. Namun sebelum sinar merah sempat melesat, sinar birunya Suto dari jurus 'Tangan Guntur' telah lebih dulu menghantam tangan bersinar merah itu.

Deeess...! Blaaar..!

"Uuhg...!"

Terdengar pekik tertahan dari mulut Perawan Maha Sakti. Gadis itu terlempar ke atas, melayang-layang dalam keadaan tubuh berasap, menandakan jurus 'Tangan Guntur' berhasil kenai tubuh lawan.

"Pukulanku kena sasaran?! Berarti dia sudah tidak mempunyai lapisan 'Darah Gaib' lagi. Ilmu 'Bias Dewa'-nya juga pasti telah hilang. Jika begitu... ternyata dia sudah tidak perawan lagi?!"

Tubuh yang berasap itu tepat jatuh di kedua tangan seseorang yang berkelebat dari balik sebatang pohon besar. Brlleb...! Gerakannya sangat cepat, seimbang dengan kecepatan 'Gerak Siluman'-nya Suto Sinting. Tokoh yang baru datang itu berambut putih, tapi wajahnya masih cantik, hidungnya kecil bangir. Ia mengenakan jubah abu-abu dengan pakaian dalamnya berwarna kuning gading. Matanya memandang tajam kepada Suto, suaranya terdengar ketus penuh dendam.

"Tunggu pembalasanku! Kalau sampai muridku ini tak tertolong, kuhancurkan dirimu di depan Bidadari Jalang!"

Zlaaap...! Tokoh berambut putih meriap-riap itu bagaikan lenyap. Suto Sinting tertegun bengong beberapa saat, lalu hatinya membatin, "Berarti dia adalah Nyai Sunti Rahim; gurunya Dara Cupanggeni?!"

Sambil menuju ke tempat Angin Betina tertotok, Suto berbicara sendiri dalam hati, "Perawan Maha Sakti sudah tak perawan lagi. Kedua ilmu mautnya sudah hilang. Buktinya jurus 'Tangan Guntur'-ku bisa celakai dirinya. Syukurlah jika dua jurus maut itu telah lenyap darinya. Cuma yang membuatku heran, siapa orang yang menculik Dewa Rayu itu?"

SELESAI