Dewi Maut Jilid 40 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Dewi Maut Jilid 40
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
KETIKA Kim Hwa Cinjin yang merobohkan Giok Keng dengan debu racun pembius merah itu melihat Giok Keng, birahinya sudah timbul dan berkobar. Dia sudah bosan dengan gadis-gadis culikan, wanita-wanita yang masih amat muda dan lemah, wanita-wanita yang baginya masih mentah dan hanya bisa menangis dan minta ampun.

Kini, melihat seorang wanita seperti Giok Keng, yang ‘matang’ bentuk badannya, yang selain cantik jailta juga mengandung kegagahan, yang memiliki sinkang kuat dan ilmu silat tinggi, dia sudah mengilar dan tentu saja dia sengaja menangkap hidup-hidup wanita ini untuk menjadi kekasihnya yang tentu akan menyenangkan dan memuaskan hatinya yang selalu dilanda kehausan nafsu itu.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya pada saat dia mendengar bahwa wanita menggairahkan yang kini terbelenggu dan terlentang didepannya, yang tinggal menunggu dia turun tangan mempermainkannya, ternyata adalah Cia Giok Keng, pembunuh dari rekannya, Thian Hwa Cinjin. Wanita ini adalah puteri ketua Cin-ling-pai dan teringat akan nama Cin-ling-pai, bulu tengkuknya langsung meremang dan perasaan gentar mengusir jauh-jauh semua nafsu birahinya!

Bergidik mengenangkan betapa dia tadi ingin memperkosa dan mempermainkan wanita ini. Untung dia lebih dahulu menyelidikinya, karena kalau sudah terlanjur dia memperkosa puteri ketua Cin-ling-pai, ngeri dia membayangkan akibatnya! Akan tetapi dia tidak akan membebaskan wanita ini begitu saja! Tentu saja tidak!

Dia harus membalaskan kematian rekannya Thian Hwa Cinjin dan biar pun dia tidak akan memperkosa mau pun membunuh wanita ini, akan tetapi ada jalan lain yang lebih bagus, bahkan sangat bagus, untuk menghancurkan nama wanita musuh Pek-lian-kauw ini dan sekaligus mencemarkan nama Cin-ling-pai. Dia hendak menyerahkan wanita ini kepada yang berwajib sebagai ‘siluman’ yang selama ini mengacau Heng-tung!

Akhirnya Kim Hwa Cinjin dapat menguasai hatinya yang terguncang dan dia pun berkata, "Omitohud... agaknya keteranganmu itu benar. Akan tetapi, sebelum ada bukti-bukti yang nyata, harap maafkan bahwa kami belum bisa membebaskanmu begitu saja, toanio. Kami harus dapat melihat bukti serta saksi, yaitu harta dari hartawan Ciong dan temanmu itu, untuk melihat apakah bukan dia siluman yang menculik wanita-wanita."

"Dia adalah seorang maling tunggal yang terhormat. Dia adalah Jeng-ci Sin-touw Can Pouw dari Tai-goan yang juga datang untuk menyelidiki siluman yang sudah mengacau Hek-tung. Dialah yang menggunakan akal mencuri harta itu untuk memancing munculnya siluman dan sekarang dia menanti di rumah penginapan, dan harta itu masih berada di sana karena memang akan kami kembalikan kalau siluman itu sudah tertangkap."

"Baik, kami akan membuktikan semua keteranganmu itu. Sute, kalian pergilah ke rumah penginapan itu dan lihat apa benar harta itu disembunyikan di sana. Kalau benar, bawa harta itu ke sini, dan juga Jeng-ci Sin-touw!"

"Baik, suheng," jawab hwesio muka bopeng dan mereka berdua lalu pergi meninggalkan kamar itu.

"Toanio tentu maklum bahwa dalam keadaan seperti sekarang ini, pinceng belum berani membebaskan toanio. Tunggulah kalau semua bukti dan saksi sudah lengkap, tentu kami akan membebaskan toanio atau minta kepada pejabat untuk memutuskan persoalan ini. Harap toanio maafkan pinceng," Kim Hwa Cinjin berkata dengan sikap sopan dan alim, lalu dia melangkah keluar meninggalkan Giok Keng terbelenggu di atas pembaringan.

Beberapa orang hwesio nampak menjaga di luar kamar itu, ada pun Giok Keng terpaksa menggigit bibir dengan gemas. Akan tetapi, dia tidak dapat menyalahkan hwesio-hwesio ini yang tentu saja bersikap hati-hati. Dia makin marah dan penasaran pada ‘siluman’ itu yang seperti mempermainkan mereka semua dan diam-diam dia berjanji akan membasmi siluman itu dan tidak akan pergi meninggalkan Heng-tung sebelum berhasil menangkap atau membunuh siluman itu.

********************

Baru sekali itu selama hidupnya Jeng-ci Sin-touw Can Pouw kehabisan akal dan bingung tak tahu apa yang harus dilakukan! Biasanya dia adalah seorang yang cerdik dan tidak kekurangan akal. Akan tetapi sekarang, di malam itu, dia kelihatan termenung di dalam kamarnya, berulang-ulang menggaruk kepalanya yang awut-awutan. Topi yang biasanya tak pernah meninggalkan kepala itu kini menggeletak di atas meja, di dekat bungkusan uang emas yang dicurinya dari gedung hartawan Ciong malam kemarin.

"Sialan!" gerutunya dan dia membuka kantung itu, melihat uang emas yang berkilauan. "Uang sialan!" Dia menonjok ke arah kantung itu.

Dia sudah mengatur akal, dan memang siluman itu pun telah keluar, akan tetapi sekarang siluman itu hilang lagi, bahkan pendekar wanita puteri ketua Cin-ling-pai juga turut hilang bersamanya! Celaka, pikirnya. Bagaimana jika sampai pendekar wanita itu tertimpa mala petaka? Siluman belum tertangkap, malah pendekar wanita itu celaka. Dan ke mana dia harus mencari siluman itu dan pendekar wanita itu? Mencari siluman itu saja sudah susah payah sampai kini belum berhasil, kini ditambah lagi harus menyelidiki lenyapnya puteri ketua Cin-ling-pai.

"Uang sialan! Siluman sialan!" dia berkata agak keras dan kembali dia menonjok ke arah kantung uang.

"Hemm, kiranya di sini kau sembunyi!" Tiba-tiba jendela itu terbuka dari luar dan seorang laki-laki tampan berpakaian sederhana meloncat masuk dengan sikap tenang sekali.

Melihat seorang laki-laki yang tak dikenalnya masuk melalui jendela, tentu saja Can Pouw terkejut setengah mati dan dia segera menduga bahwa inilah silumannya! Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera menerjang maju menggunakan ginkang-nya yang lumayan sehingga gerakannya cepat sekali dan dia langsung menerkam bagaikan seekor harimau kelaparan yang menubruk seekor kelinci.

Akan tetapi sang kelinci ternyata bukan kelinci sembarangan, karena entah bagaimana si Jari Seribu tidak mengerti, tahu-tahu dia merasakan kaki dan tangannya lumpuh dan dia sudah terbanting jatuh ke atas lantai!

Laki-laki itu memandang ke arah uang emas yang nampak di dalam karung terbuka, lalu menoleh kepada Can Pouw. Can Pouw sudah bergerak meloncat, akan tetapi mendadak tengkuknya dicengkeram oleh tangan yang amat kuat dan terdengar lelaki itu menghardik,

"Manusia busuk! Ternyata engkaukah silumannya di kota ini? Hayo katakan di mana kau sembunyikan gadis-gadis itu dan harta-harta yang lain!"

"Sialan...!" Can Pouw memaki gemas. "Siluman sial dangkalan!" Siapa yang tidak menjadi gemas? Dia malah disangka siluman itu!

"Ehh, apa maksudmu?" Laki-laki itu menghardik. "Hayo jekas mengaku, siluman keji!"

"Bagaimana saya harus mengaku jika bukan saya silumannya?" dia balas bertanya penuh kemendongkolan.

"Hemmm, sudah tertangkap basah masih mencoba untuk menyangkal! Bukankah uang emas di meja itu hasil curianmu?"

"Memang, akan tetapi hal itu kulakukan untuk memancing keluarnya siluman yang asli! Sudahlah, siapa pun adanya engkau, yang tadinya kusangka adalah si siluman yang asli, bila tidak percaya kepada Jeng-ci Sin-touw Can Pouw, kau boleh bertanya kepada puteri ketua Cin-ling-pai! Nah, jika kepada puteri ketua Cin-ling-pai kau masih juga tak percaya, agaknya memang engkau inilah silumannya!"

Orang itu kelihatan terkejut bukan main. "Apa?! Siapa?! Puteri ketua Cin-ling-pai? Apa maksudmu? Di mana dia?"

Tubuh Can Pouw terguncang ke kanan dan kiri sehingga dia merasa seolah-olah semua tulangnya rontok. "Eh-eehhh... bagaimana aku bisa menjawab hujan pertanyaan itu kalau aku kau goncang-goncang seperti ini?"

"Brukkk!"

Tubuh Can Pouw dilempar ke atas kursi dan laki-laki itu berkata, "Cepat kau ceritakan yang sebenarnya dan mengapa kau membawa-bawa nama puteri ketua Cin-ling-pai?"

Can Pouw meraba-raba tengkuknya yang masih terasa nyeri, lalu memandang kepada laki-laki itu dengan mata agak dipicingkan. Memang matanya sudah agak lamur selama beberapa bulan ini sehingga kalau hendak melihat sejelasnya, perlu agak dipicingkan.

Dia melihat bahwa pria itu berusia kurang dari empat puluh tahun, kelihatan masih muda, berwajah tampan, bersikap tenang dan berpakaian sederhana, akan tetapi ada sinar duka pada kedua matanya yang luar biasa tajamnya itu. Can Pouw adalah seorang kang-ouw yang berpengalaman, maka melihat keadaan laki-laki ini, dia mengerti bahwa dia sedang berhadapan dengan orang pandai, dengan seorang pendekar, karena tidak mungkin lelaki seperti ini menjadi jai-hoa-cat. Akan tetapi dia mendongkol karena kembali dia disangka siluman.

"Hemm, kalau awak lagi sial!" dia menggerutu. "Sudah dua kali berturut-turut aku dikira jai-hoa-cat, disangka siluman! Pertama oleh puteri ketua Cin-ling-pai, kedua oleh kau!"

"Lekas ceritakan apa yang terjadi, jangan banyak rewel!"

"Baik, dengarkanlah, orang gagah. Kemarin malam aku yang sudah sepekan menyelidiki adanya siluman itu tanpa hasil, lalu mengambil keputusan hendak memancing siluman itu keluar dengan mencuri harta milik hartawan Ciong. Celakanya, perbuatanku itu ketahuan oleh Cia Giok Keng lihiap, puteri ketua Cin-ling-pai sehingga hampir saja aku mampus di tangannya. Untung aku sempat memberi tahu dia dan kemudian malam ini kami berdua menanti akan hasil rencanaku itu yang disetujui pula oleh Cia-lihiap. Siluman itu memang muncul. Aku dihajar sampai hampir celaka, untung ditolong oleh Cia-lihiap yang kemudian mengejar siluman itu. Akan tetapi mereka itu lenyap, entah ke mana dan pada waktu aku sedang termenung bingung menanti di sini bersama harta curian yang digunakan sebagai pancingan ini, engkau datang-datang menyangka aku siluman lagi!"

"Ahh, ke mana perginya Cia-lihiap...?" Laki-laki itu bertanya dengan nada suara khawatir.

"Bagaimana saya tahu?" Can Pouw lalu menceritakan sejelasnya tentang pertemuannya dengan Giok Keng dan tentang peristiwa tadi.

"Sudah kuceritakan bahwa aku hampir tewas di tangan siluman itu, dan untung Cia-lihiap menolongku. Mereka bertanding ramai dan siluman itu lalu melarikan diri dan dikejar oleh Cia-lihiap. Mereka lenyap ditelan kegelapan malam, dan karena aku tahu bahwa siluman itu lihai sekali dan aku tidak dapat mencari, terpaksa aku kembali ke sini dan menunggu kembalinya Cia... ehhh, apa ini?" Can Pouw terkejut karena tiba-tiba laki-laki itu meniup padam lilin di atas meja, kemudian bagaikan seekor burung rajawali menerkam tikus, dia telah menyambar tubuh Can Pouw lalu dibawanya meloncat keluar dari jendela, kemudian mendekam tak jauh dari situ.

"Ssstttt, ada orang datang...!" bisik laki-laki itu kepada Can Pouw.

Mereka menanti dan jantung Can Pouw berdebar tegang. Belum pernah dia mengalami hal seperti ini di mana dia menjadi orang yang sama sekali tidak berdaya dan lemah!

Tidak lama kemudian, kelihatan berkelebat bayangan dua orang yang kepalanya gundul. Hwesio! Mereka itu mempunyai gerakan lincah sekali, meloncat memasuki kamar dan tak lama kemudian, mereka terdengar berbisik-bisik di dalam kamar, lalu kedua bayangan itu kembali berkelebat keluar terus melayang ke atas genteng. Can Pouw hanya merasa ada angin menyambar di belakangnya, dan sesudah dia menoleh, ternyata laki-laki yang tadi menangkapnya telah lenyap pula.

Can Pouw membanting-banting kakinya. "Sialan! Tentu dia tadi siluman dan dua orang tadi teman-temannya! Celaka, harta itu mereka bawa pula!”

Akan tetapi dia segera berpikir bahwa tak mungkin siluman itu si laki-laki sederhana tadi. Kalau benar demikian, dengan kepandaiannya yang tinggi, apa sukarnya untuk membawa pergi harta itu dan membunuhnya? Tidak, tentu tidak ada hubungannya antara laki-laki gagah tadi dengan dua orang hwesio yang membawa pergi harta. Hwesio? Hanya ada satu kuil di Heng-tung. Kuil Ban-hok-tong!

Can Pouw adalah seorang yang cerdik. Begitu melihat bahwa dua orang yang mengambil harta itu adalah hwesio-hwesio, maka segera timbul dugaan keras di hatinya bahwa tentu ada apa-apanya di Kuil Ban-hok-tong, ada hubungan antara para hwesio di sana dengan siluman yang menghebohkan Heng-tung itu. Maka dia tidak ragu-ragu lagi, cepat dia pun meloncat ke atas genteng dan menggunakan kepandaiannya, cepat-cepat dia menuju ke Kuil Ban-hok-tong!

Siapakah laki-laki gagah perkasa berpakaian sederhana yang terkejut mendengar nama Cia Giok Keng tadi? Dia itu bukan lain adalah Yap Kun Liong!

Seperti sudah diceritakan di bagian depan cerita ini, setelah berpisah dari pertemuannya dengan Cia Giok Keng, Kun Liong juga pergi hendak mencari putera Cia Giok Keng yang lenyap diculik penjahat, yaitu Lie Seng.

Namun, Kun Liong lebih mementingkan penyelidikannya mengenai Lima Bayangan Dewa sampai akhirnya dia dapat membongkar semua rahasia setelah dia bertemu dengan Yo Bi Kiok pembunuh isterinya, berhasil merobohkan Bi Kiok dan di tempat Raja Sabutai itu pun dia telah bertemu dengan In Hong dan mendengar bahwa Lie Seng ternyata telah ditolong oleh ayah mertuanya, yaitu Kok Beng Lama.

Sesudah kembali dari utara, Kun Liong lalu pulang ke Leng-kok untuk menengok kuburan isterinya. Di Leng-kok inilah dia mendengar mengenai siluman yang sudah mengacau di Heng-tung, kota yang tidak jauh letaknya dari Leng-kok. Maka dengan hati penasaran pendekar ini segera menyelidikinya dan kebetulan malam itu dia melihat gerak-gerik Can Pouw yang mencurigakan pada saat Can Pouw dengan jalan tidak semestinya memasuki kamar hotelnya dari atas genteng!

Sekarang dengan perasaan terheran-heran Kun Liong mengikuti dua orang hwesio yang mengambil karung berisi uang emas dari kamar Can Pouw itu. Dua orang hwesio itu memasuki Kuil Ban-hok-tong dan dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi, Kun Liong dapat terus membayangi mereka dan ketika mereka berdua memasuki kamar besar itu, Kun Liong sudah mengintai dari atas dengan menggantungkan kedua kakinya di tiang melintang.

Alangkah kaget dan juga girangnya ketika dia melihat Cia Giok Keng rebah terbelenggu di atas pembaringan dan dua orang hwesio itu memasuki kamar sambil membawa karung berisi uang emas.

"Suheng, inilah karung uang emas yang dicuri itu, ditinggalkan di sebuah kamar kosong di penginapan itu. Kami tidak melihat adanya Jeng-ci Sin-touw, karena itu kami hanya dapat membawa karung ini saja."

"Nah, losuhu. Bukankah benar semua penjelasanku?" terdengar Giok Keng berkata.

"Nanti dulu, toanio. Memang benar ada karung emas ini, akan tetapi Jeng-ci Sin-touw belum ditangkap. Siapa tahu kalau-kalau dialah silumannya dan engkau hanya ditipu saja! Betapa pun juga, sudah menjadi kewajiban kami untuk melaporkan semuanya ini kepada yang berwajib. Kami masih merasa ragu-ragu karena bagaimana kami dapat tahu bahwa benar-benar toanio adalah puteri ketua Cin-ling-pai, bukan satu di antara siluman-siluman yang selama ini mengacau kota ini?"

"Losuhu keliru! Dia benar puteri ketua Cin-ling-pai!" Tiba-tiba terdengar suara orang dan tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan seorang laki-laki berdiri di dalam kamar itu.

Tentu saja Kim Hwa Cinjin dan dua orang sute-nya terkejut setengah mati! Bagaimana mereka bertiga yang merupakan orang-orang berkepandaian tinggi, sekaligus merupakan tokoh-tokoh ternama dari Pek-lian-kauw wilayah selatan, sampai tidak melihat ada orang memasuki kamar di mana mereka berada, dan orang itu bahkan agaknya sudah lama mengintai, buktinya dapat menyambung percakapan mereka!

"Yap-suheng...!"

"Cia-sumoi, tenanglah," kata Kun Liong.

Mendengar sebutan itu, Kim Hwa Cinjin terkejut. Sute-nya yang bermuka bopeng sudah mengeluarkan teriakan keras maka berbondong-bondong datanglah belasan orang hwesio mengepung kamar itu.

Akan tetapi Kim Hwa Cinjin yang pernah mendengar akan nama seorang pendekar sakti she Yap, yaitu Yap Kun Liong, cepat mengangkat tangan ke atas sebagai isyarat supaya anak buahnya jangan bertindak sembrono. Kemudian dengan tangan tetap terangkap di dada dia berkata,

"Omitohud... banyak orang pandai kami temui malam ini! Agaknya persoalan siluman di Heng-tung menarik datangnya pendekar-pendekar sakti. Siapakah sicu dan apa maksud kedatangan sicu di sini?"

Kun Liong cepat menjura, kemudian berkata dengan sikap hormat. "Saya bernama Yap Kun Liong, tinggal di kota Leng-kok. Mendengar akan adanya siluman mengganas, saya menyelidiki dan tadi saya melihat dua orang losuhu ini membawa karung emas ke sini, maka saya lancang membayangi mereka dan melihat bahwa sumoi Cia Giok Keng juga ditawan di sini, maka saya cepat menjelaskan. Losuhu sudah salah tangkap dan harap suka membebaskan sumoi. Dia itu benar puteri ketua Cin-ling-pai dan tidaklah mungkin kalau dia yang menjadi silumannya!"

"Omitohud... pinceng benar-benar menjadi bingung," Kim Hwa Cinjin berkata. "Sumoi dari sicu ini, Cia-toanio, juga mengaku sebagai penyelidik, namun kemarin malam hartawan Ciong kemalingan dan ternyata emas itu berada pada Cia-toanio yang katanya memang dicuri oleh temannya untuk memancing keluar siluman. Ah, Yap-sicu, tentu sicu mengerti kedudukan kami sehingga terpaksa kami menangkap Cia-toanio yang perbuatannya amat mencurigakan itu. Akan tetapi, sesudah sicu muncul, ada saksi bahwa dia adalah benar puteri ketua Cin-ling-pai, maka tidak ada perlunya lagi kami menahannya. Sute, lepaskan belenggu itu!"

"Biarkan saya yang melepaskannya!" kata Kun Liong sambil menghampiri pembaringan.

Jari-jari tangannya meraba dan belenggu itu putus semua, kemudian dia membebaskan totokan pada tubuh Giok Keng. Giok Keng bangkit berdiri, mengurut kaki tangannya untuk melancarkan darah.

"Maaf, toanio," Kim Hwa Cinjin menjura. "Kami hanya menjalankan kewajiban kami, dan bagaimana pun juga, kami harap toanio suka pergi kepada pembesar setempat bersama Yap-sicu dan melaporkan semua peristiwa agar kami tidak terlibat dalam kesukaran. Dan untuk menyatakan maaf kami, harap ji-wi sudi menerima suguhan teh harum dari kami. Sute, lekas ambilkan teh untuk menghilangkan rasa tak enak dan kekagetan Cia-toanio."

Si muka bopeng itu mengangguk lantas keluar dari kamar. Akan tetapi, segera terdengar suaranya dari kamar belakang, "Heiii! Siapa yang mencuri cawan-cawan teh? Tadi masih di sini, kenapa sekarang lenyap semua?"

Tiba-tiba banyak benda menyambar dari luar kamar memasuki kamar itu, menyambar ke arah Kim Hwa Cinjin dan teman-temannya. Tentu saja mereka sibuk menghindarkan diri, menangkis dan mengelak.

"Cia-lihiap, awas, mereka itu bukan hwesio-hwesio Ban-hok-tong! Mereka semua adalah tosu-tosu Pek-lian-kauw!" Terdengar suara teriakan keras kemudian muncullah Can Pouw bersama seorang hwesio tua yang dikenal oleh Kun Liong sebagai Kai Sek Hwesio, ketua Ban-hok-tong!

Bagaimana Can Pouw bisa muncul dan membongkar rahasia kawanan Pek-lian-kauw itu? Seperti yang telah kita ketahui, Can Pouw merasa curiga melihat bahwa yang mengambil karung uang emas itu adalah dua orang hwesio, maka dengan cepat dia pergi memasuki Kuil Ban-hok-tong. Kebetulan sekali, saat dia tiba di situ, semua anak buah Pek-lian-kauw telah berkumpul dan mengurung kamar besar atas isyarat sute dari Kim Hwa Cinjin untuk menghadapi Kun Liong.

Karena kuil itu sepi akibat ditinggalkan, enak saja maling yang berpengalaman ini untuk menyelinap masuk. Dia terus pergi ke belakang hingga mendengar isak tangis tertahan. Cepat dia mengintai dan di dalam beberapa buah kamar dia melihat beberapa orang gadis cantik yang tidak berpakaian sama sekali berada di atas pembaringan atau duduk di atas kursi sambil menangis, tangis yang ditahan-tahan karena mereka itu kelihatannya takut sekali!

Can Pouw tidak berani masuk karena melihat gadis-gadis cantik itu telanjang bulat, maka dia terus menyelidiki ke belakang dan akhirnya dalam sebuah kamar gudang dia melihat hwesio-hwesio asli Ban-hok-tong dibelenggu menjadi satu dan mulut mereka disumbat!

Can Pouw cepat membebaskan belenggu Kai Sek Hwesio, lalu bersama dengan ketua itu yang telah menceritakan semua perbuatan tosu-tosu Pek-lian-kauw yang telah menyergap mereka dan menguasai kuil, dia cepat pergi ke kamar yang terkurung dan membikin ribut, dengan mencuri cawan-cawan dan menggunakannya sebagai senjata-senjata rahasia.

Tentu saja Kim Hwa Cinjin dan anak buahnya terkejut bukan main. Melihat bahwa rahasia mereka kini sudah terbuka, Kim Hwa Cinjin memberi isyarat dan semua hwesio palsu itu lantas mencabut senjata dan menyerbu, menyerang Kun Liong, Giok Keng dan Can Pouw dengan ganas karena tiga orang ini harus cepat dibunuh...!

Akan tetapi orang-orang Pek-lian-kauw itu menemui batunya sekarang! Kun Liong dan terutama sekali Giok Keng mengamuk dengan hebat karena mereka marah sekali ketika melihat bahwa hwesio-hwesio itu ternyata adalah penjahat-penjahat Pek-lian-kauw yang menyamar. Can Pouw juga mengamuk dan dikeroyok oleh dua orang hwesio, sedangkan hwesio-hwesio penyamaran orang-orang Pek-lian-kauw yang lainnya membantu Kim Hwa Cinjin dan dua orang sute-nya mengeroyok Kun Liong dan Giok Keng.

Pertempuran hebat di dalam dan di luar kamar itu hanya ramai suaranya saja, akan tetapi pertempuran itu sendiri sama sekali tidak berimbang. Belasan orang yang dipimpin oleh Kim Hwa Cinjin dan dua orang sute-nya itu sama sekali bukanlah lawan yang seimbang dengan Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng.

Memang harus diakui bahwa kepandaian ketiga orang pemimpin itu, terutama Kim Hwa Cinjin, cukup tinggi. Akan tetapi berhadapan dengan Yap Kun Liong, mereka itu mati kutu dan bukan apa-apa. Oleh karena itu, pertempuran itu lebih tepat disebut penghancuran orang-orang Pek-lian-kauw yang dilakukan oleh dua orang pendekar itu yang menghajar mereka. Bahkan, Can Pouw yang dikeroyok oleh dua orang anak buah Pek-lian-kauw itu juga memperlihatkan keunggulannya!

Ketika Can Pouw sedang dikeroyok dan dia menggunakan kegesitannya untuk mengelak ke sana-sini, tangannya seperti dua ekor ular dengan jari-jarinya yang panjang bergerak-gerak, lalu tiba-tiba dia membentak, "Lihat ini!" Dan dia sudah memainkan sehelai kalung emas bermata mutiara yang digantungkan di antara jari-jari tangannya.

"Heiiiii, itu punyaku!" teriak seorang di antara dua orang pengeroyoknya yang bermata juling.

Kiranya kalung itu adalah satu di antara barang-barang berharga yang dia sembunyikan dari kumpulan barang-barang curian mereka dan entah bagaimana sudah dicopet oleh si pencopet Jari Seribu dari saku sebelah dalam bajunya!

"Nah, ambillah!" kata Can Pouw, akan tetapi ketika si mata juling itu mengulurkan tangan hendak mengambil kalung itu, tiba-tiba kaki Can Pouw bergerak dari bawah menendang.

"Dessss...!”

“Auwwwww...!" Si juling terkejut dan berteriak, lantas berloncatan dengan kaki kiri sambil memegang kaki kanan dengan kedua tangannya karena tulang kering kaki kanannya itu kena digajul (ditendang dengan ujung sepatu) oleh Can Pouw secara licik. Mata itu makin menjuling menahan rasa nyeri yang menyusup ke tulang sumsum.

"Heh-heh-heh, dan ini punya siapa?" Kembali Can Pouw memperlihatkan sebuah hiasan rambut berupa burung terbuat dari emas dihias mutiara, yang dicopetnya dari saku baju pengeroyok kedua yang hidungnya besar. Hidung itu langsung kembang kempis ketika orangnya sudah mengenali barangnya.

"Si copet busuk! Kembalikan barangku!" hardiknya.

"Boleh, mari ambillah!" Can Pouw mengulurkan benda itu di atas telapak tangannya. Akan tetapi orang ini tidak mau diakali, dia mengambil benda itu sambil memperhatikan kaki Can Pouw.

"Plokkk!”

“Aduhhh...!" Kiranya sekali ini Can Pouw bukannya mempergunakan kakinya, melainkan menggunakan hiasan rambut yang terbuat dari emas dan ujungnya runcing keras untuk menghantam hidung yang besar itu. Tentu saja hidung itu langsung menjadi remuk dan darah mengucur deras.

Sambil tertawa, Can Pouw lalu menghujankan pukulan dan tendangan kepada dua orang pengeroyoknya sampai mereka jatuh bangun dan roboh pingsan. Akan tetapi ketika itu pertempuran sudah selesai. Semua anak buah Pek-lian-kauw roboh, ada yang tewas dan ada pula yang pingsan, akan tetapi Kim Hwa Cinjin beserta dua orang sute-nya berhasil meloloskan diri dengan mempergunakan selampe merah yang mengeluarkan debu merah beracun.

Semua hwesio Ban-hok-tong lalu dibebaskan dari belenggu dan tujuh orang gadis cantik yang menjadi korban kebiadaban orang-orang Pek-lian-kauw itu diberi pakaian. Dengan girang Giok Keng dapat menemukan kembali pedangnya dan setelah mewakilkan kepada Can Pouw untuk menyelesaikan urusan itu dengan pembesar setempat, Kun Liong serta Giok Keng cepat pergi meninggalkan kuil itu di waktu itu juga, yaitu lewat tengah malam menjelang pagi!

Can Pouw dengan sikap dan lagak sebagai seorang pahlawan, kemudian mengumpulkan gadis-gadis dan semua harta curian, menerima kedatangan pembesar yang telah dilapori dan datang untuk mengadakan pemeriksaan. Can Pouw dihujani pujian, baik dari para hwesio dan dari para pembesar mau pun dari semua penghuni kota Heng-tung.

Berkat jasanya yang besar, di kemudian hari Can Pouw menjadi seorang tokoh di kota Heng-tung, hidup sebagai seorang warga terhormat, dihadiahi banyak harta oleh kaum hartawan yang mendapatkan kembali harta mereka, diberi kedudukan sebagai penasehat oleh kepala daerah, bahkan dijadikan pelindung oleh Kuil Ban-hok-tong. Dia memperoleh sebuah rumah dan hidup dengan makmur dan terhormat.

Tentu saja dia membuang julukannya yang lama, tidak lagi Jeng-ci Sin-touw atau Maling Sakti Jari Seribu, melainkan Jeng-ci Ho-han (Orang Gagah Jari Seribu). Jari-jarinya yang seribu sekarang bukan lagi digunakan untuk mencopet, melainkan untuk menolong orang! Demikianlah anggapan orang banyak, dan termasuk anggapannya sendiri.

********************

Sementara itu, Kun Liong dan Giok Keng sudah berjalan cepat meninggalkan Heng-tung dan setelah tiba di luar kota yang sunyi, di waktu pagi yang berkabut, dengan warna-warni biru merah keemasan yang indah di langit timur, mereka berhenti dan berdiri berhadapan. Sampai lama keduanya hanya berdiri saling pandang, kemudian terdengar ucapan Giok Keng,

"Terima kasih, suheng. Untuk kesekian kalinya, engkau menyelamatkan aku."

"Ahhh, hal itu tidak perlu disebut lagi, sumoi. Aku malah mempunyai berita yang jauh lebih menyenangkan bagimu."

"Lie Seng?" Giok Keng bertanya penuh gairah dan sinar matanya penuh harapan.

Kun Liong mengangguk.

"Bagaimana dengan dia, suheng? Dan di mana dia?"

"Dia selamat, diselamatkan oleh... ayah mertuaku..."

"Kok Beng Lama...?" Giok Keng bertanya dengan mata terbuka lebar.

Kun Liong mengangguk lalu menceritakan apa yang didengarnya dari In Hong tentang Lie Seng yang terluka oleh pasir beracun Siang-tok-swa dan diobati oleh In Hong sendiri dan dia pun mengatakan bahwa racun yang jahat itu sudah berhasil dikeluarkan dan bahwa Siang-tok-swa adalah senjata rahasia dari Yo Bi Kiok ketua dari Giok-hong-pang.

Giok Keng mendengarkan dengan jantung berdebar-debar, dengan perasaan bercampur aduk. Siapa mengira bahwa akhirnya, orang-orang yang tadinya dianggap memusuhinya itu malah yang menolong puteranya! Kok Beng Lama yang menyeretnya ke Cin-ling-pai dulu karena menuduh dia membunuh puteri pendeta itu, dan Yap In Hong yang dianggap menghinanya, yang bahkan merupakan penyebab yang menimbulkan keributan dan mala petaka, malah menjadi penyelamat puteranya.

Teringatlah dia akan kata-kata ayahnya yang ternyata amat tepat sekarang, yaitu bahwa tidak benar kalau kita menilai orang dari perbuatan yang lalu, karena setiap saat bisa saja terjadi perubahan pada orang itu!

"Jadi... kalau begitu... yang menculik puteraku, yang membunuh Hong Khi Hoatsu guru mendiang suamiku, adalah Yo Bi Kiok?"

"Yang menculik puteramu memang jelas Bi Kiok, akan tetapi yang membunuh Hong Khi Hoatsu tentu orang-orang Bayangan Dewa."

"Hemm, Yo Bi Kiok perempuan laknat. Aku harus mencarinya!" Giok Keng berkata geram.

"Tidak perlu lagi, sumoi. Dia sudah tewas dan tahukah engkau siapa yang membunuh isteriku?"

Giok Keng terkejut sekali. "Siapa? Sudah tahukah engkau, suheng?"

Kun Liong mengangguk. "Yang membunuh dia juga, Yo Bi Kiok itulah."

"Bukankah dia guru adikmu? Bagaimana ini? Aku menjadi bingung, suheng," kata Giok Keng yang tentu saja sama sekali tidak menduga akan hal ini.

Kun Liong lalu menceritakan semuanya, menceritakan tentang Yo Bi Kiok yang ternyata berhasil mewarisi pusaka dari mendiang Panglima The Hoo dan menjadi seorang sakti sesudah mempelajari ilmu dari pusaka itu. Betapa secara kebetulan saja adiknya, Yap In Hong, telah ditolongnya dan menjadi murid wanita sakti itu dan dia pun mengaku terus terang bahwa semua perbuatan Yo Bi Kiok itu terjadi karena dorongan rasa cemburu dan cinta kepadanya.

"Apa? Karena cinta kepadamu, suheng?"

Kun Liong mengangguk lesu, diam-diam dia kembali menyesali semua pengalamannya di waktu muda dulu, sikapnya yang selalu ramah, dan memikat terhadap gadis-gadis cantik, ternyata menimbulkan banyak hal yang hebat sekarang.

"Karena aku tidak dapat membalas perasaannya itu, karena aku sudah menikah dengan Hong Ing, lalu dia menjadi kecewa, benci dan dendam. Semua itu diakuinya setelah dia hampir mati." Dia lalu menceritakan pertempuran antara dia dan Yo Bi Kiok di benteng Raja Sabutai.

Mendengar cerita yang hebat itu, Giok Keng menarik napas panjang. "Ternyata bahwa cinta hanya mendatangkan kedukaan dan malapetaka belaka..."

"Memang, kalau cinta hanya didorong mencari kesenangan untuk diri pribadi seperti cinta Yo Bi Kiok dan... dan makin menyesal hatiku mengapa perbuatan sesat yang dilakukan Bi Kiok itu sampai akibatnya menimpa keluargamu, sumoi..."

"Sudahlah, sekarang sudah tidak ada ganjalan lagi. Lie Seng sudah selamat, akan tetapi engkau... masih ada Mei Lan yang belum kau ceritakan. Bagaimana dengan dia?"

Wajah Kun Liong menjadi muram. Dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang. "Aku belum menemukan jejaknya, sumoi."

"Aku justru sedang menyelidikinya, mulai dari Leng-kok di mana dia menghilang dan saat aku mendengar tentang siluman yang menculik gadis-gadis itu, aku cepat menyelidikinya karena khawatir kalau-kalau puterimu menjadi korban. Karena menyelidiki Mei Lan maka aku berada di sini."

"Aku sendiri pun baru saja pulang dan menengok kuburan isteriku ketika aku mendengar tentang siluman itu lalu kebetulan dapat bertemu denganmu di sini, sumoi."

Tiba-tiba Giok Keng berkata, "Suheng, apakah engkau tidak hendak menolong adikmu?"

Kun Liong terkejut dan memandang wanita cantik itu. "Apa maksudmu, sumoi? Apa yang terjadi dengan In Hong? Bukankah dia telah menjadi seorang puteri istana kaisar?"

"Jadi kau belum tahu tentang penculikan itu?"

"Penculikan? Apa? Siapa...?"

"Aku pun baru mendengar malam tadi, suheng. Dari Jeng-ci Sin-touw. Dialah yang baru mendengar dari kota raja bahwa In Hong telah diculik oleh guru-guru Raja Sabutai dan dibawa keluar tembok besar..."

"Ehhh...?" Kun Liong terkejut sekali mendengar berita ini. "Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li? Berbahaya sekali! Sumoi, benarkah berita itu?"

"Kurasa orang seperti Jeng-ci Sin-touw itu, walau pun maling, ternyata dapat dan boleh dipercaya, suheng."

"Kalau begitu, aku akan cepat mengejar ke utara!"

"Aku akan membantumu, suheng."

"Jangan, sumoi. Mereka itu lihai bukan main dan perjalanan ke sana amat sukar..."

"Suheng, apakah kau masih meragukan perasaanku yang sangat menyesal dan berdosa terhadap dirimu? Apakah kau tega menolak kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku ini? Andai kata engkau tidak sudi mengajak aku, tetap saja aku akan menyusul sendiri ke sana untuk menolong In Hong."

Kun Liong menarik napas panjang. Sejenak mereka berdiri saling pandang dan kembali di dalam lubuk hatinya, Kun Liong merasa yakin bahwa hanya satu wanita inilah yang akan mampu mengisi bekas tempat Hong Ing di dalam hatinya. Dia menghela napas panjang dan mengangguk, berkata lirih, "Baiklah, sumoi. Mari kita pergi."

Mereka berdua tidak berbicara apa-apa lagi, melainkan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk berlari cepat dan melakukan perjalanan ke utara.

********************

Biar pun pengalaman mereka bertemu dengan dua orang kakek tadi amat mengejutkan hati, akan tetapi tidak membuat kedua orang pemuda itu menjadi takut. Sesudah berhasil melewati Padang Bangkai dengan selamat, Tio Sun dan Kwi Beng langsung melanjutkan perjalanan mereka ke Lembah Naga menurut petunjuk yang mereka dapat dari Si Kwi.

Tentu saja mereka maklum bahwa memasuki Lembah Naga sama artinya dengan masuk ke goa naga siluman yang berbahaya dan dengan mengandalkan kepandaian mereka saja tentu mereka tidak akan mampu menandingi tokoh-tokoh tempat itu. Akan tetapi mereka bertekad untuk mencari In Hong sampai dapat, dan mereka mengharapkan dapat bertemu dengan In Hong dan Bun Houw supaya mereka dapat menyampaikan rahasia kelemahan dua orang kakek dan nenek iblis seperti yang telah mereka ketahui dari Ratu Khamila.

Akan tetapi, dua orang pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak memasuki Lembah Naga, mereka telah diawasi dan semua gerak-gerik mereka telah ketahuan oleh fihak musuh!

Oleh karena itu terkejutlah mereka ketika mereka melewati dua buah batu besar yang seolah-olah merupakan pintu gerbang, tiba-tiba saja dari balik batu-batu besar itu muncul Bouw Thaisu, Hek I Siankouw, Ang-bin Ciu-kwi, Coa-tok Sian-li dan belasan orang tinggi besar anak buah Lembah Naga!

Melihat munculnya banyak tokoh ini, Kwi Beng yang berdarah panas dan tidak mengenal takut sudah meraba sisa pisau terbangnya, akan tetapi Tio Sun yang melihat gerakan itu cepat memegang lengannya. Tio Sun memang lebih berhati-hati dan waspada dalam tiap perbuatannya.

Melihat bahwa orang-orang yang mengurung mereka, terutama empat orang tua yang berdiri menghadang itu jelas menunjukkan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh yang tentu memiliki kepandaian tinggi, Tio Sun lalu menjura dan pura-pura bertanya, "Kami mohon maaf apa bila mengganggu cu-wi sekalian. Kami hendak bertanya di manakah letaknya Lembah Naga?"

"Huah-ha-ha!" Ang-bin Ciu-kwi tertawa dan menenggak araknya, matanya yang merah itu mengincar dua orang pemuda itu dari balik guci araknya. "Sudah berada di depan mulut naga masih bertanya-tanya. Ha-ha-ha! Thaisu, apakah aku boleh menangkap dua ekor kelinci ini untukmu?" setelah berkata demikian, tiba-tiba Ang-bin Ciu-kwi menyemburkan arak dari mulutnya ke arah Tio Sun dan Kwi Beng.

Tio Sun cepat menyampok dengan lengan bajunya sehingga arak yang menyambarnya tertangkis dan membuyar, akan tetapi Kwi Beng yang menganggap ringan semburan arak itu menghindar dan masih kecipratan arak pada lehernya, terasa panas dan sakit seperti jarum. Hal ini membuat dia marah sekali, tangan kirinya bergerak dan nampak sinar kilat berkelebat lantas sebatang pisau terbang menyambar ke arah leher Ang-bin Ciu-kwi.

"Tranggg...!"

Pisau itu tertangkis guci dan menancap di atas tanah. Ang-bin Ciu-kwi menggereng, akan tetapi Bouw Thaisu cepat berkata,

"Ciu-kwi, tahan dahulu, jangan engkau menurutkan nafsumu, kita belum tahu siapa yang datang!"

Ang-bin Ciu-kwi mau menurut dan kembali minum arak dari gucinya, sedangkan Coa-tok Sian-li sudah berdiri bengong memandang kepada Kwi Beng karena nafsu birahi wanita cabul ini sudah terbangkit ketika dia melihat seorang pemuda yang bermata kebiruan dan berambut kuning keemasan itu!

"Orang muda, kalian siapakah dan apa maksud kalian datang ke Lembah Naga?" Bouw Thaisu bertanya dengan sikapnya yang memang halus.

Tio Sun melangkah maju dan menjawab. Dia maklum bahwa menghadapi orang-orang pandai ini, biar pun mereka itu agaknya merupakan sekutu fihak lawan, tidak ada gunanya lagi untuk membohong dan sebaiknya bersikap gagah dan terang-terangan.

"Saya bernama Tio Sun, dan sahabatku ini adalah Souw Kwi Beng. Kami berdua sengaja datang ke Lembah Naga untuk mencari keterangan mengenai nona Yap In Hong yang kabarnya dibawa oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li ke Lembah Naga."

"Hemm, sungguh kalian ini orang-orang muda yang bernyali besar!" Bouw Thaisu berseru kagum juga. "Apakah kalian ini utusan kaisar?"

"Bukan, akan tetapi kami adalah sahabat nona Yap In Hong. Dan biar pun kami bukan langsung menjadi utusan kaisar, akan tetapi saya adalah putera dari Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, bekas pengawal kepercayaan mendiang Panglima Besar The Hoo, dan sahabat saya ini bahkan masih terhitung cucu murid dari mendiang Panglima The Hoo. Oleh karena itu..."

Mendadak terdengar suara tertawa nyaring disusul suara seorang kakek, "Bagus sekali! Thaisu, Siankouw, tangkaplah mereka hidup-hidup! Mereka berdua merupakan keturunan musuh-musuh kami!"

Tio Sun dan Kwi Beng terkejut karena biar pun mereka mendengar jelas suara kakek itu, namun mereka tidak melihat orangnya. Tio Sun maklum bahwa tentu kakek itu seorang sakti yang mengirim suara dari jauh dan agaknya juga memiliki pendengaran sakti hingga mampu mendengarkan percakapan itu dari jauh pula.

Akan tetapi dia dan Kwi Beng tidak mempunyai kesempatan untuk banyak menduga lagi karena begitu mendengar suara itu, Bouw Thaisu sudah menerjang Tio Sun sedangkan Hek I Siankouw sudah menyerang Kwi Beng. Dua orang muda ini memang sudah siap menghadapi segala bahaya. Oleh karena itu, begitu melihat kakek dan nenek itu bergerak menyerang, mereka cepat mengelak dan menandingi mereka.

"Dukkk!"

Tio Sun terhuyung mundur sampai tiga langkah ketika lengannya beradu dengan lengan kakek tua itu yang terlindung lengan baju. Dia terkejut sekali. Tadi, karena telah menduga bahwa penyerangnya itu tentu seorang kakek yang memiliki ilmu tinggi, pemuda ini telah mengerahkan tenaga Ban-kin-kang sekuatnya untuk menangkis. Akan tetapi ujung lengan baju kakek itu ternyata mengandung tenaga yang bukan main kuatnya hingga dia tergetar dan terhuyung.

Karena maklum bahwa lawannya ini seorang yang berilmu tinggi, Tio Sun tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan sepasang senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang pedang pada tangan kanan dan sebatang pecut yang sebenarnya adalah sabuknya sendiri di tangan kiri. Dengan sepasang senjata ini di tangan, dia langsung menerjang maju, disambut oleh Bouw Thaisu dengan tenang dan seperti biasanya, kakek ini hanya mengandalkan kedua lengan bajunya sebagai senjata yang amat berbahaya.

Sementara itu, Kwi Beng yang dihadapi oleh Hek I Siankouw, dalam belasan jurus saja sudah terdesak hebat. Selisih tingkat kepandaian mereka jauh sekali sehingga meski pun Kwi Beng sudah mengamuk, mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaganya, tetapi belum sampai dua puluh jurus saja, pedangnya terampas dan dia roboh tertotok. Setelah merobohkan Kwi Beng yang segera diringkus oleh Ang-bin Ciu-kwi, Hek I Siankouw lalu membantu Bouw Thaisu mengeroyok Tio Sun.

Tentu saja pemuda ini menjadi semakin repot. Melawan Bouw Thaisu seorang saja dia sudah kalah lihai dan kalau dilanjutkan akhirnya dia tentu akan roboh, dan kini maju lagi Hek I Siankouw yang juga lebih lihai dari pada dia.

Pemuda perkasa ini melawan mati-matian, namun akhirnya, pedang hitam di tangan Hek I Siankouw membuat pedang di tangan Tio Sun terlepas, cambuknya dapat ditangkap oleh Bouw Thaisu lantas sebuah tendangan yang secepat kilat dari Hek I Siankouw mengenai lututnya hingga membuat dia roboh. Seperti juga Kwi Beng, Tio Sun ditubruk oleh banyak anak buah Lembah Naga dan diringkus.

Tubuh dua orang pemuda yang sudah diringkus kaki dan tangannya itu diseret ke dalam sebuah rumah besar, lalu dihadapkan kepada Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li yang memandang dengan mulut menyeringai girang. Dengan kasar, para anak buah Lembah Naga memaksa Tio Sun dan Kwi Beng duduk di atas lantai menghadapi kakek dan nenek yang duduk di atas kursi itu.

"Benarkah engkau putera Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan pengawal kepercayaan The Hoo?" Pek-hiat Mo-ko bertanya kepada Tio Sun.

Pemuda ini mengangguk.

"Hemm, mengapa tidak ayahmu sendiri yang datang untuk menghadapi kami? Mengapa mengutus seorang pemuda yang masih hijau seperti engkau?" tanya pula Pek-hiat Mo-ko.

Tio Sun memandang dengan sikap tenang. "Pek-hiat Mo-ko, ayahku tidak tahu-menahu akan kedatanganku ke sini. Aku datang bersama sahabatku atas kehendak sendiri untuk menentangmu dan menuntut agar engkau membebaskan nona Yap In Hong."

"Ha-ha-ha, nyalimu besar sekali. Engkau sudah tahu siapa aku?"

"Tentu saja aku tahu. Pada saat engkau bersama Hek-hiat Mo-li bertempur dengan ketua Cin-ling-pai, aku sudah melihat kalian."

Tiba-tiba Hek-hiat Mo-li yang semenjak tadi memandang kepada Kwi Beng, menghardik kepada pemuda itu. "Kau bukan orang Han! Engkau orang asing dari barat! Bagaimana engkau tadi berani mengaku bahwa engkau adalah cucu murid The Hoo?"

Kwi Beng balas memandang dengan dua mata melotot, "Nenek gila! Dengarlah baik-baik. Ibuku adalah pendekar wanita Souw Li Hwa, murid dari mendiang Panglima The Hoo, sedangkan ayah adalah seorang Portugis. Aku datang untuk menuntut kepada kalian agar membebaskan nona Yap In Hong!"

"Heh-heh-heh-hi-hik!" Hek-hiat Mo-li tertawa terkekeh dan mata kanannya bersinar-sinar aneh. "Bawa mereka ke lapangan dan ikat di kayu tonggak agar menjadi makanan burung nazar, heh-heh-heh!"

"Benar! Bawa mereka keluar. Terserah nasib mereka. Kalau nasib baik, tentu akan datang orang-orang yang lebih penting untuk menolong mereka dan menghadapi kita, tapi kalau nasib buruk, biar mereka dicabik-cabik burung-burung nazar!" kata Pek-hiat Mo-ko.

Para anak buah Lembah Naga lalu menyeret Tio Sun dan Kwi Beng keluar dari tempat itu, dibawa ke lapangan dan mereka segera sibuk membuat tonggak kayu salib dan mengikat mereka berdua di tonggak kayu itu. Kemudian mereka meninggalkan Tio Sun dan Kwi Beng berdua di tempat itu, tertimpa panas sinar matahari tanpa terlindung apa pun.

Kedua orang pemuda itu berusaha untuk meronta dan melepaskan diri, akan tetapi Tio Sun segera mendapat kenyataan bahwa tak mungkin mereka dapat lolos. Melihat betapa Kwi Beng meronta-ronta dengan beringas sehingga nampak darah di pergelangan tangan dan kaki pemuda itu karena kulitnya pecah-pecah ketika dia meronta-ronta dengan kuat, Tio Sun berkata,

"Tenanglah, Beng-te. Tali untuk mengikat kaki tangan kita ini adalah tali kulit kerbau yang kuat sekali dan tak mungkin bisa kita putuskan begitu saja. Tidak baik membuang-buang tenaga dan lebih tidak baik kalau sampai darah kita keluar karena hal itu akan menarik perhatian burung-burung di sana-sini."

Kwi Beng mengikuti pandang mata Tio Sun dan dia melihat beberapa ekor burung yang besar bertengger di atas sebatang pohon dan ada beberapa ekor lagi yang beterbangan di sekitar tempat itu. Itulah burung-burung nazar, burung-burung pemakan bangkai yang liar dan buas!

Wajah Kwi Beng menjadi pucat karena dia merasa ngeri. Melihat ini, Tio Sun bertanya, hatinya penuh iba. "Engkau takut, Beng-te?"

Kwi Beng memandang kepadanya, lalu mengangguk.

"Tidak aneh, aku pun merasa ngeri melihat burung-burung itu. Akan tetapi engkau jangan khawatir, burung-burung yang kelihatan menyeramkan itu sebenarnya adalah binatang-binatang yang penakut dan mereka tidak akan menyerang sesuatu yang hidup. Hanya kalau kita sudah mati saja mereka berani menyerang. Dan kurasa kita tidak akan mudah mati begitu saja. Pula, orang-orang seperti kita, mana takut mati? Hanya sayangnya, kita belum menyampaikan rahasia mereka itu kepada Cia-taihiap atau nona Yap."

Kwi Beng kelihatan termenung, tak lagi mempedulikan burung-burung itu. "Ah, bagaimana dengan dia? Jangan-jangan dia telah mereka bunuh..."

"Nona Yap? Kiranya tidak mungkin. Apa bila mereka itu hendak membunuh nona Yap In Hong, perlu apa mereka susah payah menculik dan membawanya ke tempat sejauh ini. Tentu ada maksudnya, dan kurasa kakek bersama nenek gila itu tentu menangkap dan menculiknya untuk dipakai sebagai umpan agar memancing datangnya orang-orang yang dianggapnya sebagai musuh, seperti Cia-locianpwe ketua Cin-ling-pai dan lain-lain."

Mereka kini tidak bercakap-cakap lagi dan terik matahari mulai menyengati kulit tubuh mereka. Peluh mulai mengalir keluar. Akan tetapi kini Kwi Beng bersikap tenang saja. Dia merasa malu untuk memperlihatkan kelemahannya. Tidak, dia takkan mengeluh dan akan menghadapi kematian dengan gagah kalau perlu. Memang sudah disengaja untuk datang ke tempat berbahaya ini, untuk berusaha menolong In Hong dengan taruhan nyawa...
Selanjutnya,

Dewi Maut Jilid 40

Dewi Maut Jilid 40
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
KETIKA Kim Hwa Cinjin yang merobohkan Giok Keng dengan debu racun pembius merah itu melihat Giok Keng, birahinya sudah timbul dan berkobar. Dia sudah bosan dengan gadis-gadis culikan, wanita-wanita yang masih amat muda dan lemah, wanita-wanita yang baginya masih mentah dan hanya bisa menangis dan minta ampun.

Kini, melihat seorang wanita seperti Giok Keng, yang ‘matang’ bentuk badannya, yang selain cantik jailta juga mengandung kegagahan, yang memiliki sinkang kuat dan ilmu silat tinggi, dia sudah mengilar dan tentu saja dia sengaja menangkap hidup-hidup wanita ini untuk menjadi kekasihnya yang tentu akan menyenangkan dan memuaskan hatinya yang selalu dilanda kehausan nafsu itu.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya pada saat dia mendengar bahwa wanita menggairahkan yang kini terbelenggu dan terlentang didepannya, yang tinggal menunggu dia turun tangan mempermainkannya, ternyata adalah Cia Giok Keng, pembunuh dari rekannya, Thian Hwa Cinjin. Wanita ini adalah puteri ketua Cin-ling-pai dan teringat akan nama Cin-ling-pai, bulu tengkuknya langsung meremang dan perasaan gentar mengusir jauh-jauh semua nafsu birahinya!

Bergidik mengenangkan betapa dia tadi ingin memperkosa dan mempermainkan wanita ini. Untung dia lebih dahulu menyelidikinya, karena kalau sudah terlanjur dia memperkosa puteri ketua Cin-ling-pai, ngeri dia membayangkan akibatnya! Akan tetapi dia tidak akan membebaskan wanita ini begitu saja! Tentu saja tidak!

Dia harus membalaskan kematian rekannya Thian Hwa Cinjin dan biar pun dia tidak akan memperkosa mau pun membunuh wanita ini, akan tetapi ada jalan lain yang lebih bagus, bahkan sangat bagus, untuk menghancurkan nama wanita musuh Pek-lian-kauw ini dan sekaligus mencemarkan nama Cin-ling-pai. Dia hendak menyerahkan wanita ini kepada yang berwajib sebagai ‘siluman’ yang selama ini mengacau Heng-tung!

Akhirnya Kim Hwa Cinjin dapat menguasai hatinya yang terguncang dan dia pun berkata, "Omitohud... agaknya keteranganmu itu benar. Akan tetapi, sebelum ada bukti-bukti yang nyata, harap maafkan bahwa kami belum bisa membebaskanmu begitu saja, toanio. Kami harus dapat melihat bukti serta saksi, yaitu harta dari hartawan Ciong dan temanmu itu, untuk melihat apakah bukan dia siluman yang menculik wanita-wanita."

"Dia adalah seorang maling tunggal yang terhormat. Dia adalah Jeng-ci Sin-touw Can Pouw dari Tai-goan yang juga datang untuk menyelidiki siluman yang sudah mengacau Hek-tung. Dialah yang menggunakan akal mencuri harta itu untuk memancing munculnya siluman dan sekarang dia menanti di rumah penginapan, dan harta itu masih berada di sana karena memang akan kami kembalikan kalau siluman itu sudah tertangkap."

"Baik, kami akan membuktikan semua keteranganmu itu. Sute, kalian pergilah ke rumah penginapan itu dan lihat apa benar harta itu disembunyikan di sana. Kalau benar, bawa harta itu ke sini, dan juga Jeng-ci Sin-touw!"

"Baik, suheng," jawab hwesio muka bopeng dan mereka berdua lalu pergi meninggalkan kamar itu.

"Toanio tentu maklum bahwa dalam keadaan seperti sekarang ini, pinceng belum berani membebaskan toanio. Tunggulah kalau semua bukti dan saksi sudah lengkap, tentu kami akan membebaskan toanio atau minta kepada pejabat untuk memutuskan persoalan ini. Harap toanio maafkan pinceng," Kim Hwa Cinjin berkata dengan sikap sopan dan alim, lalu dia melangkah keluar meninggalkan Giok Keng terbelenggu di atas pembaringan.

Beberapa orang hwesio nampak menjaga di luar kamar itu, ada pun Giok Keng terpaksa menggigit bibir dengan gemas. Akan tetapi, dia tidak dapat menyalahkan hwesio-hwesio ini yang tentu saja bersikap hati-hati. Dia makin marah dan penasaran pada ‘siluman’ itu yang seperti mempermainkan mereka semua dan diam-diam dia berjanji akan membasmi siluman itu dan tidak akan pergi meninggalkan Heng-tung sebelum berhasil menangkap atau membunuh siluman itu.

********************

Baru sekali itu selama hidupnya Jeng-ci Sin-touw Can Pouw kehabisan akal dan bingung tak tahu apa yang harus dilakukan! Biasanya dia adalah seorang yang cerdik dan tidak kekurangan akal. Akan tetapi sekarang, di malam itu, dia kelihatan termenung di dalam kamarnya, berulang-ulang menggaruk kepalanya yang awut-awutan. Topi yang biasanya tak pernah meninggalkan kepala itu kini menggeletak di atas meja, di dekat bungkusan uang emas yang dicurinya dari gedung hartawan Ciong malam kemarin.

"Sialan!" gerutunya dan dia membuka kantung itu, melihat uang emas yang berkilauan. "Uang sialan!" Dia menonjok ke arah kantung itu.

Dia sudah mengatur akal, dan memang siluman itu pun telah keluar, akan tetapi sekarang siluman itu hilang lagi, bahkan pendekar wanita puteri ketua Cin-ling-pai juga turut hilang bersamanya! Celaka, pikirnya. Bagaimana jika sampai pendekar wanita itu tertimpa mala petaka? Siluman belum tertangkap, malah pendekar wanita itu celaka. Dan ke mana dia harus mencari siluman itu dan pendekar wanita itu? Mencari siluman itu saja sudah susah payah sampai kini belum berhasil, kini ditambah lagi harus menyelidiki lenyapnya puteri ketua Cin-ling-pai.

"Uang sialan! Siluman sialan!" dia berkata agak keras dan kembali dia menonjok ke arah kantung uang.

"Hemm, kiranya di sini kau sembunyi!" Tiba-tiba jendela itu terbuka dari luar dan seorang laki-laki tampan berpakaian sederhana meloncat masuk dengan sikap tenang sekali.

Melihat seorang laki-laki yang tak dikenalnya masuk melalui jendela, tentu saja Can Pouw terkejut setengah mati dan dia segera menduga bahwa inilah silumannya! Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera menerjang maju menggunakan ginkang-nya yang lumayan sehingga gerakannya cepat sekali dan dia langsung menerkam bagaikan seekor harimau kelaparan yang menubruk seekor kelinci.

Akan tetapi sang kelinci ternyata bukan kelinci sembarangan, karena entah bagaimana si Jari Seribu tidak mengerti, tahu-tahu dia merasakan kaki dan tangannya lumpuh dan dia sudah terbanting jatuh ke atas lantai!

Laki-laki itu memandang ke arah uang emas yang nampak di dalam karung terbuka, lalu menoleh kepada Can Pouw. Can Pouw sudah bergerak meloncat, akan tetapi mendadak tengkuknya dicengkeram oleh tangan yang amat kuat dan terdengar lelaki itu menghardik,

"Manusia busuk! Ternyata engkaukah silumannya di kota ini? Hayo katakan di mana kau sembunyikan gadis-gadis itu dan harta-harta yang lain!"

"Sialan...!" Can Pouw memaki gemas. "Siluman sial dangkalan!" Siapa yang tidak menjadi gemas? Dia malah disangka siluman itu!

"Ehh, apa maksudmu?" Laki-laki itu menghardik. "Hayo jekas mengaku, siluman keji!"

"Bagaimana saya harus mengaku jika bukan saya silumannya?" dia balas bertanya penuh kemendongkolan.

"Hemmm, sudah tertangkap basah masih mencoba untuk menyangkal! Bukankah uang emas di meja itu hasil curianmu?"

"Memang, akan tetapi hal itu kulakukan untuk memancing keluarnya siluman yang asli! Sudahlah, siapa pun adanya engkau, yang tadinya kusangka adalah si siluman yang asli, bila tidak percaya kepada Jeng-ci Sin-touw Can Pouw, kau boleh bertanya kepada puteri ketua Cin-ling-pai! Nah, jika kepada puteri ketua Cin-ling-pai kau masih juga tak percaya, agaknya memang engkau inilah silumannya!"

Orang itu kelihatan terkejut bukan main. "Apa?! Siapa?! Puteri ketua Cin-ling-pai? Apa maksudmu? Di mana dia?"

Tubuh Can Pouw terguncang ke kanan dan kiri sehingga dia merasa seolah-olah semua tulangnya rontok. "Eh-eehhh... bagaimana aku bisa menjawab hujan pertanyaan itu kalau aku kau goncang-goncang seperti ini?"

"Brukkk!"

Tubuh Can Pouw dilempar ke atas kursi dan laki-laki itu berkata, "Cepat kau ceritakan yang sebenarnya dan mengapa kau membawa-bawa nama puteri ketua Cin-ling-pai?"

Can Pouw meraba-raba tengkuknya yang masih terasa nyeri, lalu memandang kepada laki-laki itu dengan mata agak dipicingkan. Memang matanya sudah agak lamur selama beberapa bulan ini sehingga kalau hendak melihat sejelasnya, perlu agak dipicingkan.

Dia melihat bahwa pria itu berusia kurang dari empat puluh tahun, kelihatan masih muda, berwajah tampan, bersikap tenang dan berpakaian sederhana, akan tetapi ada sinar duka pada kedua matanya yang luar biasa tajamnya itu. Can Pouw adalah seorang kang-ouw yang berpengalaman, maka melihat keadaan laki-laki ini, dia mengerti bahwa dia sedang berhadapan dengan orang pandai, dengan seorang pendekar, karena tidak mungkin lelaki seperti ini menjadi jai-hoa-cat. Akan tetapi dia mendongkol karena kembali dia disangka siluman.

"Hemm, kalau awak lagi sial!" dia menggerutu. "Sudah dua kali berturut-turut aku dikira jai-hoa-cat, disangka siluman! Pertama oleh puteri ketua Cin-ling-pai, kedua oleh kau!"

"Lekas ceritakan apa yang terjadi, jangan banyak rewel!"

"Baik, dengarkanlah, orang gagah. Kemarin malam aku yang sudah sepekan menyelidiki adanya siluman itu tanpa hasil, lalu mengambil keputusan hendak memancing siluman itu keluar dengan mencuri harta milik hartawan Ciong. Celakanya, perbuatanku itu ketahuan oleh Cia Giok Keng lihiap, puteri ketua Cin-ling-pai sehingga hampir saja aku mampus di tangannya. Untung aku sempat memberi tahu dia dan kemudian malam ini kami berdua menanti akan hasil rencanaku itu yang disetujui pula oleh Cia-lihiap. Siluman itu memang muncul. Aku dihajar sampai hampir celaka, untung ditolong oleh Cia-lihiap yang kemudian mengejar siluman itu. Akan tetapi mereka itu lenyap, entah ke mana dan pada waktu aku sedang termenung bingung menanti di sini bersama harta curian yang digunakan sebagai pancingan ini, engkau datang-datang menyangka aku siluman lagi!"

"Ahh, ke mana perginya Cia-lihiap...?" Laki-laki itu bertanya dengan nada suara khawatir.

"Bagaimana saya tahu?" Can Pouw lalu menceritakan sejelasnya tentang pertemuannya dengan Giok Keng dan tentang peristiwa tadi.

"Sudah kuceritakan bahwa aku hampir tewas di tangan siluman itu, dan untung Cia-lihiap menolongku. Mereka bertanding ramai dan siluman itu lalu melarikan diri dan dikejar oleh Cia-lihiap. Mereka lenyap ditelan kegelapan malam, dan karena aku tahu bahwa siluman itu lihai sekali dan aku tidak dapat mencari, terpaksa aku kembali ke sini dan menunggu kembalinya Cia... ehhh, apa ini?" Can Pouw terkejut karena tiba-tiba laki-laki itu meniup padam lilin di atas meja, kemudian bagaikan seekor burung rajawali menerkam tikus, dia telah menyambar tubuh Can Pouw lalu dibawanya meloncat keluar dari jendela, kemudian mendekam tak jauh dari situ.

"Ssstttt, ada orang datang...!" bisik laki-laki itu kepada Can Pouw.

Mereka menanti dan jantung Can Pouw berdebar tegang. Belum pernah dia mengalami hal seperti ini di mana dia menjadi orang yang sama sekali tidak berdaya dan lemah!

Tidak lama kemudian, kelihatan berkelebat bayangan dua orang yang kepalanya gundul. Hwesio! Mereka itu mempunyai gerakan lincah sekali, meloncat memasuki kamar dan tak lama kemudian, mereka terdengar berbisik-bisik di dalam kamar, lalu kedua bayangan itu kembali berkelebat keluar terus melayang ke atas genteng. Can Pouw hanya merasa ada angin menyambar di belakangnya, dan sesudah dia menoleh, ternyata laki-laki yang tadi menangkapnya telah lenyap pula.

Can Pouw membanting-banting kakinya. "Sialan! Tentu dia tadi siluman dan dua orang tadi teman-temannya! Celaka, harta itu mereka bawa pula!”

Akan tetapi dia segera berpikir bahwa tak mungkin siluman itu si laki-laki sederhana tadi. Kalau benar demikian, dengan kepandaiannya yang tinggi, apa sukarnya untuk membawa pergi harta itu dan membunuhnya? Tidak, tentu tidak ada hubungannya antara laki-laki gagah tadi dengan dua orang hwesio yang membawa pergi harta. Hwesio? Hanya ada satu kuil di Heng-tung. Kuil Ban-hok-tong!

Can Pouw adalah seorang yang cerdik. Begitu melihat bahwa dua orang yang mengambil harta itu adalah hwesio-hwesio, maka segera timbul dugaan keras di hatinya bahwa tentu ada apa-apanya di Kuil Ban-hok-tong, ada hubungan antara para hwesio di sana dengan siluman yang menghebohkan Heng-tung itu. Maka dia tidak ragu-ragu lagi, cepat dia pun meloncat ke atas genteng dan menggunakan kepandaiannya, cepat-cepat dia menuju ke Kuil Ban-hok-tong!

Siapakah laki-laki gagah perkasa berpakaian sederhana yang terkejut mendengar nama Cia Giok Keng tadi? Dia itu bukan lain adalah Yap Kun Liong!

Seperti sudah diceritakan di bagian depan cerita ini, setelah berpisah dari pertemuannya dengan Cia Giok Keng, Kun Liong juga pergi hendak mencari putera Cia Giok Keng yang lenyap diculik penjahat, yaitu Lie Seng.

Namun, Kun Liong lebih mementingkan penyelidikannya mengenai Lima Bayangan Dewa sampai akhirnya dia dapat membongkar semua rahasia setelah dia bertemu dengan Yo Bi Kiok pembunuh isterinya, berhasil merobohkan Bi Kiok dan di tempat Raja Sabutai itu pun dia telah bertemu dengan In Hong dan mendengar bahwa Lie Seng ternyata telah ditolong oleh ayah mertuanya, yaitu Kok Beng Lama.

Sesudah kembali dari utara, Kun Liong lalu pulang ke Leng-kok untuk menengok kuburan isterinya. Di Leng-kok inilah dia mendengar mengenai siluman yang sudah mengacau di Heng-tung, kota yang tidak jauh letaknya dari Leng-kok. Maka dengan hati penasaran pendekar ini segera menyelidikinya dan kebetulan malam itu dia melihat gerak-gerik Can Pouw yang mencurigakan pada saat Can Pouw dengan jalan tidak semestinya memasuki kamar hotelnya dari atas genteng!

Sekarang dengan perasaan terheran-heran Kun Liong mengikuti dua orang hwesio yang mengambil karung berisi uang emas dari kamar Can Pouw itu. Dua orang hwesio itu memasuki Kuil Ban-hok-tong dan dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi, Kun Liong dapat terus membayangi mereka dan ketika mereka berdua memasuki kamar besar itu, Kun Liong sudah mengintai dari atas dengan menggantungkan kedua kakinya di tiang melintang.

Alangkah kaget dan juga girangnya ketika dia melihat Cia Giok Keng rebah terbelenggu di atas pembaringan dan dua orang hwesio itu memasuki kamar sambil membawa karung berisi uang emas.

"Suheng, inilah karung uang emas yang dicuri itu, ditinggalkan di sebuah kamar kosong di penginapan itu. Kami tidak melihat adanya Jeng-ci Sin-touw, karena itu kami hanya dapat membawa karung ini saja."

"Nah, losuhu. Bukankah benar semua penjelasanku?" terdengar Giok Keng berkata.

"Nanti dulu, toanio. Memang benar ada karung emas ini, akan tetapi Jeng-ci Sin-touw belum ditangkap. Siapa tahu kalau-kalau dialah silumannya dan engkau hanya ditipu saja! Betapa pun juga, sudah menjadi kewajiban kami untuk melaporkan semuanya ini kepada yang berwajib. Kami masih merasa ragu-ragu karena bagaimana kami dapat tahu bahwa benar-benar toanio adalah puteri ketua Cin-ling-pai, bukan satu di antara siluman-siluman yang selama ini mengacau kota ini?"

"Losuhu keliru! Dia benar puteri ketua Cin-ling-pai!" Tiba-tiba terdengar suara orang dan tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan seorang laki-laki berdiri di dalam kamar itu.

Tentu saja Kim Hwa Cinjin dan dua orang sute-nya terkejut setengah mati! Bagaimana mereka bertiga yang merupakan orang-orang berkepandaian tinggi, sekaligus merupakan tokoh-tokoh ternama dari Pek-lian-kauw wilayah selatan, sampai tidak melihat ada orang memasuki kamar di mana mereka berada, dan orang itu bahkan agaknya sudah lama mengintai, buktinya dapat menyambung percakapan mereka!

"Yap-suheng...!"

"Cia-sumoi, tenanglah," kata Kun Liong.

Mendengar sebutan itu, Kim Hwa Cinjin terkejut. Sute-nya yang bermuka bopeng sudah mengeluarkan teriakan keras maka berbondong-bondong datanglah belasan orang hwesio mengepung kamar itu.

Akan tetapi Kim Hwa Cinjin yang pernah mendengar akan nama seorang pendekar sakti she Yap, yaitu Yap Kun Liong, cepat mengangkat tangan ke atas sebagai isyarat supaya anak buahnya jangan bertindak sembrono. Kemudian dengan tangan tetap terangkap di dada dia berkata,

"Omitohud... banyak orang pandai kami temui malam ini! Agaknya persoalan siluman di Heng-tung menarik datangnya pendekar-pendekar sakti. Siapakah sicu dan apa maksud kedatangan sicu di sini?"

Kun Liong cepat menjura, kemudian berkata dengan sikap hormat. "Saya bernama Yap Kun Liong, tinggal di kota Leng-kok. Mendengar akan adanya siluman mengganas, saya menyelidiki dan tadi saya melihat dua orang losuhu ini membawa karung emas ke sini, maka saya lancang membayangi mereka dan melihat bahwa sumoi Cia Giok Keng juga ditawan di sini, maka saya cepat menjelaskan. Losuhu sudah salah tangkap dan harap suka membebaskan sumoi. Dia itu benar puteri ketua Cin-ling-pai dan tidaklah mungkin kalau dia yang menjadi silumannya!"

"Omitohud... pinceng benar-benar menjadi bingung," Kim Hwa Cinjin berkata. "Sumoi dari sicu ini, Cia-toanio, juga mengaku sebagai penyelidik, namun kemarin malam hartawan Ciong kemalingan dan ternyata emas itu berada pada Cia-toanio yang katanya memang dicuri oleh temannya untuk memancing keluar siluman. Ah, Yap-sicu, tentu sicu mengerti kedudukan kami sehingga terpaksa kami menangkap Cia-toanio yang perbuatannya amat mencurigakan itu. Akan tetapi, sesudah sicu muncul, ada saksi bahwa dia adalah benar puteri ketua Cin-ling-pai, maka tidak ada perlunya lagi kami menahannya. Sute, lepaskan belenggu itu!"

"Biarkan saya yang melepaskannya!" kata Kun Liong sambil menghampiri pembaringan.

Jari-jari tangannya meraba dan belenggu itu putus semua, kemudian dia membebaskan totokan pada tubuh Giok Keng. Giok Keng bangkit berdiri, mengurut kaki tangannya untuk melancarkan darah.

"Maaf, toanio," Kim Hwa Cinjin menjura. "Kami hanya menjalankan kewajiban kami, dan bagaimana pun juga, kami harap toanio suka pergi kepada pembesar setempat bersama Yap-sicu dan melaporkan semua peristiwa agar kami tidak terlibat dalam kesukaran. Dan untuk menyatakan maaf kami, harap ji-wi sudi menerima suguhan teh harum dari kami. Sute, lekas ambilkan teh untuk menghilangkan rasa tak enak dan kekagetan Cia-toanio."

Si muka bopeng itu mengangguk lantas keluar dari kamar. Akan tetapi, segera terdengar suaranya dari kamar belakang, "Heiii! Siapa yang mencuri cawan-cawan teh? Tadi masih di sini, kenapa sekarang lenyap semua?"

Tiba-tiba banyak benda menyambar dari luar kamar memasuki kamar itu, menyambar ke arah Kim Hwa Cinjin dan teman-temannya. Tentu saja mereka sibuk menghindarkan diri, menangkis dan mengelak.

"Cia-lihiap, awas, mereka itu bukan hwesio-hwesio Ban-hok-tong! Mereka semua adalah tosu-tosu Pek-lian-kauw!" Terdengar suara teriakan keras kemudian muncullah Can Pouw bersama seorang hwesio tua yang dikenal oleh Kun Liong sebagai Kai Sek Hwesio, ketua Ban-hok-tong!

Bagaimana Can Pouw bisa muncul dan membongkar rahasia kawanan Pek-lian-kauw itu? Seperti yang telah kita ketahui, Can Pouw merasa curiga melihat bahwa yang mengambil karung uang emas itu adalah dua orang hwesio, maka dengan cepat dia pergi memasuki Kuil Ban-hok-tong. Kebetulan sekali, saat dia tiba di situ, semua anak buah Pek-lian-kauw telah berkumpul dan mengurung kamar besar atas isyarat sute dari Kim Hwa Cinjin untuk menghadapi Kun Liong.

Karena kuil itu sepi akibat ditinggalkan, enak saja maling yang berpengalaman ini untuk menyelinap masuk. Dia terus pergi ke belakang hingga mendengar isak tangis tertahan. Cepat dia mengintai dan di dalam beberapa buah kamar dia melihat beberapa orang gadis cantik yang tidak berpakaian sama sekali berada di atas pembaringan atau duduk di atas kursi sambil menangis, tangis yang ditahan-tahan karena mereka itu kelihatannya takut sekali!

Can Pouw tidak berani masuk karena melihat gadis-gadis cantik itu telanjang bulat, maka dia terus menyelidiki ke belakang dan akhirnya dalam sebuah kamar gudang dia melihat hwesio-hwesio asli Ban-hok-tong dibelenggu menjadi satu dan mulut mereka disumbat!

Can Pouw cepat membebaskan belenggu Kai Sek Hwesio, lalu bersama dengan ketua itu yang telah menceritakan semua perbuatan tosu-tosu Pek-lian-kauw yang telah menyergap mereka dan menguasai kuil, dia cepat pergi ke kamar yang terkurung dan membikin ribut, dengan mencuri cawan-cawan dan menggunakannya sebagai senjata-senjata rahasia.

Tentu saja Kim Hwa Cinjin dan anak buahnya terkejut bukan main. Melihat bahwa rahasia mereka kini sudah terbuka, Kim Hwa Cinjin memberi isyarat dan semua hwesio palsu itu lantas mencabut senjata dan menyerbu, menyerang Kun Liong, Giok Keng dan Can Pouw dengan ganas karena tiga orang ini harus cepat dibunuh...!

Akan tetapi orang-orang Pek-lian-kauw itu menemui batunya sekarang! Kun Liong dan terutama sekali Giok Keng mengamuk dengan hebat karena mereka marah sekali ketika melihat bahwa hwesio-hwesio itu ternyata adalah penjahat-penjahat Pek-lian-kauw yang menyamar. Can Pouw juga mengamuk dan dikeroyok oleh dua orang hwesio, sedangkan hwesio-hwesio penyamaran orang-orang Pek-lian-kauw yang lainnya membantu Kim Hwa Cinjin dan dua orang sute-nya mengeroyok Kun Liong dan Giok Keng.

Pertempuran hebat di dalam dan di luar kamar itu hanya ramai suaranya saja, akan tetapi pertempuran itu sendiri sama sekali tidak berimbang. Belasan orang yang dipimpin oleh Kim Hwa Cinjin dan dua orang sute-nya itu sama sekali bukanlah lawan yang seimbang dengan Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng.

Memang harus diakui bahwa kepandaian ketiga orang pemimpin itu, terutama Kim Hwa Cinjin, cukup tinggi. Akan tetapi berhadapan dengan Yap Kun Liong, mereka itu mati kutu dan bukan apa-apa. Oleh karena itu, pertempuran itu lebih tepat disebut penghancuran orang-orang Pek-lian-kauw yang dilakukan oleh dua orang pendekar itu yang menghajar mereka. Bahkan, Can Pouw yang dikeroyok oleh dua orang anak buah Pek-lian-kauw itu juga memperlihatkan keunggulannya!

Ketika Can Pouw sedang dikeroyok dan dia menggunakan kegesitannya untuk mengelak ke sana-sini, tangannya seperti dua ekor ular dengan jari-jarinya yang panjang bergerak-gerak, lalu tiba-tiba dia membentak, "Lihat ini!" Dan dia sudah memainkan sehelai kalung emas bermata mutiara yang digantungkan di antara jari-jari tangannya.

"Heiiiii, itu punyaku!" teriak seorang di antara dua orang pengeroyoknya yang bermata juling.

Kiranya kalung itu adalah satu di antara barang-barang berharga yang dia sembunyikan dari kumpulan barang-barang curian mereka dan entah bagaimana sudah dicopet oleh si pencopet Jari Seribu dari saku sebelah dalam bajunya!

"Nah, ambillah!" kata Can Pouw, akan tetapi ketika si mata juling itu mengulurkan tangan hendak mengambil kalung itu, tiba-tiba kaki Can Pouw bergerak dari bawah menendang.

"Dessss...!”

“Auwwwww...!" Si juling terkejut dan berteriak, lantas berloncatan dengan kaki kiri sambil memegang kaki kanan dengan kedua tangannya karena tulang kering kaki kanannya itu kena digajul (ditendang dengan ujung sepatu) oleh Can Pouw secara licik. Mata itu makin menjuling menahan rasa nyeri yang menyusup ke tulang sumsum.

"Heh-heh-heh, dan ini punya siapa?" Kembali Can Pouw memperlihatkan sebuah hiasan rambut berupa burung terbuat dari emas dihias mutiara, yang dicopetnya dari saku baju pengeroyok kedua yang hidungnya besar. Hidung itu langsung kembang kempis ketika orangnya sudah mengenali barangnya.

"Si copet busuk! Kembalikan barangku!" hardiknya.

"Boleh, mari ambillah!" Can Pouw mengulurkan benda itu di atas telapak tangannya. Akan tetapi orang ini tidak mau diakali, dia mengambil benda itu sambil memperhatikan kaki Can Pouw.

"Plokkk!”

“Aduhhh...!" Kiranya sekali ini Can Pouw bukannya mempergunakan kakinya, melainkan menggunakan hiasan rambut yang terbuat dari emas dan ujungnya runcing keras untuk menghantam hidung yang besar itu. Tentu saja hidung itu langsung menjadi remuk dan darah mengucur deras.

Sambil tertawa, Can Pouw lalu menghujankan pukulan dan tendangan kepada dua orang pengeroyoknya sampai mereka jatuh bangun dan roboh pingsan. Akan tetapi ketika itu pertempuran sudah selesai. Semua anak buah Pek-lian-kauw roboh, ada yang tewas dan ada pula yang pingsan, akan tetapi Kim Hwa Cinjin beserta dua orang sute-nya berhasil meloloskan diri dengan mempergunakan selampe merah yang mengeluarkan debu merah beracun.

Semua hwesio Ban-hok-tong lalu dibebaskan dari belenggu dan tujuh orang gadis cantik yang menjadi korban kebiadaban orang-orang Pek-lian-kauw itu diberi pakaian. Dengan girang Giok Keng dapat menemukan kembali pedangnya dan setelah mewakilkan kepada Can Pouw untuk menyelesaikan urusan itu dengan pembesar setempat, Kun Liong serta Giok Keng cepat pergi meninggalkan kuil itu di waktu itu juga, yaitu lewat tengah malam menjelang pagi!

Can Pouw dengan sikap dan lagak sebagai seorang pahlawan, kemudian mengumpulkan gadis-gadis dan semua harta curian, menerima kedatangan pembesar yang telah dilapori dan datang untuk mengadakan pemeriksaan. Can Pouw dihujani pujian, baik dari para hwesio dan dari para pembesar mau pun dari semua penghuni kota Heng-tung.

Berkat jasanya yang besar, di kemudian hari Can Pouw menjadi seorang tokoh di kota Heng-tung, hidup sebagai seorang warga terhormat, dihadiahi banyak harta oleh kaum hartawan yang mendapatkan kembali harta mereka, diberi kedudukan sebagai penasehat oleh kepala daerah, bahkan dijadikan pelindung oleh Kuil Ban-hok-tong. Dia memperoleh sebuah rumah dan hidup dengan makmur dan terhormat.

Tentu saja dia membuang julukannya yang lama, tidak lagi Jeng-ci Sin-touw atau Maling Sakti Jari Seribu, melainkan Jeng-ci Ho-han (Orang Gagah Jari Seribu). Jari-jarinya yang seribu sekarang bukan lagi digunakan untuk mencopet, melainkan untuk menolong orang! Demikianlah anggapan orang banyak, dan termasuk anggapannya sendiri.

********************

Sementara itu, Kun Liong dan Giok Keng sudah berjalan cepat meninggalkan Heng-tung dan setelah tiba di luar kota yang sunyi, di waktu pagi yang berkabut, dengan warna-warni biru merah keemasan yang indah di langit timur, mereka berhenti dan berdiri berhadapan. Sampai lama keduanya hanya berdiri saling pandang, kemudian terdengar ucapan Giok Keng,

"Terima kasih, suheng. Untuk kesekian kalinya, engkau menyelamatkan aku."

"Ahhh, hal itu tidak perlu disebut lagi, sumoi. Aku malah mempunyai berita yang jauh lebih menyenangkan bagimu."

"Lie Seng?" Giok Keng bertanya penuh gairah dan sinar matanya penuh harapan.

Kun Liong mengangguk.

"Bagaimana dengan dia, suheng? Dan di mana dia?"

"Dia selamat, diselamatkan oleh... ayah mertuaku..."

"Kok Beng Lama...?" Giok Keng bertanya dengan mata terbuka lebar.

Kun Liong mengangguk lalu menceritakan apa yang didengarnya dari In Hong tentang Lie Seng yang terluka oleh pasir beracun Siang-tok-swa dan diobati oleh In Hong sendiri dan dia pun mengatakan bahwa racun yang jahat itu sudah berhasil dikeluarkan dan bahwa Siang-tok-swa adalah senjata rahasia dari Yo Bi Kiok ketua dari Giok-hong-pang.

Giok Keng mendengarkan dengan jantung berdebar-debar, dengan perasaan bercampur aduk. Siapa mengira bahwa akhirnya, orang-orang yang tadinya dianggap memusuhinya itu malah yang menolong puteranya! Kok Beng Lama yang menyeretnya ke Cin-ling-pai dulu karena menuduh dia membunuh puteri pendeta itu, dan Yap In Hong yang dianggap menghinanya, yang bahkan merupakan penyebab yang menimbulkan keributan dan mala petaka, malah menjadi penyelamat puteranya.

Teringatlah dia akan kata-kata ayahnya yang ternyata amat tepat sekarang, yaitu bahwa tidak benar kalau kita menilai orang dari perbuatan yang lalu, karena setiap saat bisa saja terjadi perubahan pada orang itu!

"Jadi... kalau begitu... yang menculik puteraku, yang membunuh Hong Khi Hoatsu guru mendiang suamiku, adalah Yo Bi Kiok?"

"Yang menculik puteramu memang jelas Bi Kiok, akan tetapi yang membunuh Hong Khi Hoatsu tentu orang-orang Bayangan Dewa."

"Hemm, Yo Bi Kiok perempuan laknat. Aku harus mencarinya!" Giok Keng berkata geram.

"Tidak perlu lagi, sumoi. Dia sudah tewas dan tahukah engkau siapa yang membunuh isteriku?"

Giok Keng terkejut sekali. "Siapa? Sudah tahukah engkau, suheng?"

Kun Liong mengangguk. "Yang membunuh dia juga, Yo Bi Kiok itulah."

"Bukankah dia guru adikmu? Bagaimana ini? Aku menjadi bingung, suheng," kata Giok Keng yang tentu saja sama sekali tidak menduga akan hal ini.

Kun Liong lalu menceritakan semuanya, menceritakan tentang Yo Bi Kiok yang ternyata berhasil mewarisi pusaka dari mendiang Panglima The Hoo dan menjadi seorang sakti sesudah mempelajari ilmu dari pusaka itu. Betapa secara kebetulan saja adiknya, Yap In Hong, telah ditolongnya dan menjadi murid wanita sakti itu dan dia pun mengaku terus terang bahwa semua perbuatan Yo Bi Kiok itu terjadi karena dorongan rasa cemburu dan cinta kepadanya.

"Apa? Karena cinta kepadamu, suheng?"

Kun Liong mengangguk lesu, diam-diam dia kembali menyesali semua pengalamannya di waktu muda dulu, sikapnya yang selalu ramah, dan memikat terhadap gadis-gadis cantik, ternyata menimbulkan banyak hal yang hebat sekarang.

"Karena aku tidak dapat membalas perasaannya itu, karena aku sudah menikah dengan Hong Ing, lalu dia menjadi kecewa, benci dan dendam. Semua itu diakuinya setelah dia hampir mati." Dia lalu menceritakan pertempuran antara dia dan Yo Bi Kiok di benteng Raja Sabutai.

Mendengar cerita yang hebat itu, Giok Keng menarik napas panjang. "Ternyata bahwa cinta hanya mendatangkan kedukaan dan malapetaka belaka..."

"Memang, kalau cinta hanya didorong mencari kesenangan untuk diri pribadi seperti cinta Yo Bi Kiok dan... dan makin menyesal hatiku mengapa perbuatan sesat yang dilakukan Bi Kiok itu sampai akibatnya menimpa keluargamu, sumoi..."

"Sudahlah, sekarang sudah tidak ada ganjalan lagi. Lie Seng sudah selamat, akan tetapi engkau... masih ada Mei Lan yang belum kau ceritakan. Bagaimana dengan dia?"

Wajah Kun Liong menjadi muram. Dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang. "Aku belum menemukan jejaknya, sumoi."

"Aku justru sedang menyelidikinya, mulai dari Leng-kok di mana dia menghilang dan saat aku mendengar tentang siluman yang menculik gadis-gadis itu, aku cepat menyelidikinya karena khawatir kalau-kalau puterimu menjadi korban. Karena menyelidiki Mei Lan maka aku berada di sini."

"Aku sendiri pun baru saja pulang dan menengok kuburan isteriku ketika aku mendengar tentang siluman itu lalu kebetulan dapat bertemu denganmu di sini, sumoi."

Tiba-tiba Giok Keng berkata, "Suheng, apakah engkau tidak hendak menolong adikmu?"

Kun Liong terkejut dan memandang wanita cantik itu. "Apa maksudmu, sumoi? Apa yang terjadi dengan In Hong? Bukankah dia telah menjadi seorang puteri istana kaisar?"

"Jadi kau belum tahu tentang penculikan itu?"

"Penculikan? Apa? Siapa...?"

"Aku pun baru mendengar malam tadi, suheng. Dari Jeng-ci Sin-touw. Dialah yang baru mendengar dari kota raja bahwa In Hong telah diculik oleh guru-guru Raja Sabutai dan dibawa keluar tembok besar..."

"Ehhh...?" Kun Liong terkejut sekali mendengar berita ini. "Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li? Berbahaya sekali! Sumoi, benarkah berita itu?"

"Kurasa orang seperti Jeng-ci Sin-touw itu, walau pun maling, ternyata dapat dan boleh dipercaya, suheng."

"Kalau begitu, aku akan cepat mengejar ke utara!"

"Aku akan membantumu, suheng."

"Jangan, sumoi. Mereka itu lihai bukan main dan perjalanan ke sana amat sukar..."

"Suheng, apakah kau masih meragukan perasaanku yang sangat menyesal dan berdosa terhadap dirimu? Apakah kau tega menolak kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku ini? Andai kata engkau tidak sudi mengajak aku, tetap saja aku akan menyusul sendiri ke sana untuk menolong In Hong."

Kun Liong menarik napas panjang. Sejenak mereka berdiri saling pandang dan kembali di dalam lubuk hatinya, Kun Liong merasa yakin bahwa hanya satu wanita inilah yang akan mampu mengisi bekas tempat Hong Ing di dalam hatinya. Dia menghela napas panjang dan mengangguk, berkata lirih, "Baiklah, sumoi. Mari kita pergi."

Mereka berdua tidak berbicara apa-apa lagi, melainkan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk berlari cepat dan melakukan perjalanan ke utara.

********************

Biar pun pengalaman mereka bertemu dengan dua orang kakek tadi amat mengejutkan hati, akan tetapi tidak membuat kedua orang pemuda itu menjadi takut. Sesudah berhasil melewati Padang Bangkai dengan selamat, Tio Sun dan Kwi Beng langsung melanjutkan perjalanan mereka ke Lembah Naga menurut petunjuk yang mereka dapat dari Si Kwi.

Tentu saja mereka maklum bahwa memasuki Lembah Naga sama artinya dengan masuk ke goa naga siluman yang berbahaya dan dengan mengandalkan kepandaian mereka saja tentu mereka tidak akan mampu menandingi tokoh-tokoh tempat itu. Akan tetapi mereka bertekad untuk mencari In Hong sampai dapat, dan mereka mengharapkan dapat bertemu dengan In Hong dan Bun Houw supaya mereka dapat menyampaikan rahasia kelemahan dua orang kakek dan nenek iblis seperti yang telah mereka ketahui dari Ratu Khamila.

Akan tetapi, dua orang pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak memasuki Lembah Naga, mereka telah diawasi dan semua gerak-gerik mereka telah ketahuan oleh fihak musuh!

Oleh karena itu terkejutlah mereka ketika mereka melewati dua buah batu besar yang seolah-olah merupakan pintu gerbang, tiba-tiba saja dari balik batu-batu besar itu muncul Bouw Thaisu, Hek I Siankouw, Ang-bin Ciu-kwi, Coa-tok Sian-li dan belasan orang tinggi besar anak buah Lembah Naga!

Melihat munculnya banyak tokoh ini, Kwi Beng yang berdarah panas dan tidak mengenal takut sudah meraba sisa pisau terbangnya, akan tetapi Tio Sun yang melihat gerakan itu cepat memegang lengannya. Tio Sun memang lebih berhati-hati dan waspada dalam tiap perbuatannya.

Melihat bahwa orang-orang yang mengurung mereka, terutama empat orang tua yang berdiri menghadang itu jelas menunjukkan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh yang tentu memiliki kepandaian tinggi, Tio Sun lalu menjura dan pura-pura bertanya, "Kami mohon maaf apa bila mengganggu cu-wi sekalian. Kami hendak bertanya di manakah letaknya Lembah Naga?"

"Huah-ha-ha!" Ang-bin Ciu-kwi tertawa dan menenggak araknya, matanya yang merah itu mengincar dua orang pemuda itu dari balik guci araknya. "Sudah berada di depan mulut naga masih bertanya-tanya. Ha-ha-ha! Thaisu, apakah aku boleh menangkap dua ekor kelinci ini untukmu?" setelah berkata demikian, tiba-tiba Ang-bin Ciu-kwi menyemburkan arak dari mulutnya ke arah Tio Sun dan Kwi Beng.

Tio Sun cepat menyampok dengan lengan bajunya sehingga arak yang menyambarnya tertangkis dan membuyar, akan tetapi Kwi Beng yang menganggap ringan semburan arak itu menghindar dan masih kecipratan arak pada lehernya, terasa panas dan sakit seperti jarum. Hal ini membuat dia marah sekali, tangan kirinya bergerak dan nampak sinar kilat berkelebat lantas sebatang pisau terbang menyambar ke arah leher Ang-bin Ciu-kwi.

"Tranggg...!"

Pisau itu tertangkis guci dan menancap di atas tanah. Ang-bin Ciu-kwi menggereng, akan tetapi Bouw Thaisu cepat berkata,

"Ciu-kwi, tahan dahulu, jangan engkau menurutkan nafsumu, kita belum tahu siapa yang datang!"

Ang-bin Ciu-kwi mau menurut dan kembali minum arak dari gucinya, sedangkan Coa-tok Sian-li sudah berdiri bengong memandang kepada Kwi Beng karena nafsu birahi wanita cabul ini sudah terbangkit ketika dia melihat seorang pemuda yang bermata kebiruan dan berambut kuning keemasan itu!

"Orang muda, kalian siapakah dan apa maksud kalian datang ke Lembah Naga?" Bouw Thaisu bertanya dengan sikapnya yang memang halus.

Tio Sun melangkah maju dan menjawab. Dia maklum bahwa menghadapi orang-orang pandai ini, biar pun mereka itu agaknya merupakan sekutu fihak lawan, tidak ada gunanya lagi untuk membohong dan sebaiknya bersikap gagah dan terang-terangan.

"Saya bernama Tio Sun, dan sahabatku ini adalah Souw Kwi Beng. Kami berdua sengaja datang ke Lembah Naga untuk mencari keterangan mengenai nona Yap In Hong yang kabarnya dibawa oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li ke Lembah Naga."

"Hemm, sungguh kalian ini orang-orang muda yang bernyali besar!" Bouw Thaisu berseru kagum juga. "Apakah kalian ini utusan kaisar?"

"Bukan, akan tetapi kami adalah sahabat nona Yap In Hong. Dan biar pun kami bukan langsung menjadi utusan kaisar, akan tetapi saya adalah putera dari Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, bekas pengawal kepercayaan mendiang Panglima Besar The Hoo, dan sahabat saya ini bahkan masih terhitung cucu murid dari mendiang Panglima The Hoo. Oleh karena itu..."

Mendadak terdengar suara tertawa nyaring disusul suara seorang kakek, "Bagus sekali! Thaisu, Siankouw, tangkaplah mereka hidup-hidup! Mereka berdua merupakan keturunan musuh-musuh kami!"

Tio Sun dan Kwi Beng terkejut karena biar pun mereka mendengar jelas suara kakek itu, namun mereka tidak melihat orangnya. Tio Sun maklum bahwa tentu kakek itu seorang sakti yang mengirim suara dari jauh dan agaknya juga memiliki pendengaran sakti hingga mampu mendengarkan percakapan itu dari jauh pula.

Akan tetapi dia dan Kwi Beng tidak mempunyai kesempatan untuk banyak menduga lagi karena begitu mendengar suara itu, Bouw Thaisu sudah menerjang Tio Sun sedangkan Hek I Siankouw sudah menyerang Kwi Beng. Dua orang muda ini memang sudah siap menghadapi segala bahaya. Oleh karena itu, begitu melihat kakek dan nenek itu bergerak menyerang, mereka cepat mengelak dan menandingi mereka.

"Dukkk!"

Tio Sun terhuyung mundur sampai tiga langkah ketika lengannya beradu dengan lengan kakek tua itu yang terlindung lengan baju. Dia terkejut sekali. Tadi, karena telah menduga bahwa penyerangnya itu tentu seorang kakek yang memiliki ilmu tinggi, pemuda ini telah mengerahkan tenaga Ban-kin-kang sekuatnya untuk menangkis. Akan tetapi ujung lengan baju kakek itu ternyata mengandung tenaga yang bukan main kuatnya hingga dia tergetar dan terhuyung.

Karena maklum bahwa lawannya ini seorang yang berilmu tinggi, Tio Sun tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan sepasang senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang pedang pada tangan kanan dan sebatang pecut yang sebenarnya adalah sabuknya sendiri di tangan kiri. Dengan sepasang senjata ini di tangan, dia langsung menerjang maju, disambut oleh Bouw Thaisu dengan tenang dan seperti biasanya, kakek ini hanya mengandalkan kedua lengan bajunya sebagai senjata yang amat berbahaya.

Sementara itu, Kwi Beng yang dihadapi oleh Hek I Siankouw, dalam belasan jurus saja sudah terdesak hebat. Selisih tingkat kepandaian mereka jauh sekali sehingga meski pun Kwi Beng sudah mengamuk, mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaganya, tetapi belum sampai dua puluh jurus saja, pedangnya terampas dan dia roboh tertotok. Setelah merobohkan Kwi Beng yang segera diringkus oleh Ang-bin Ciu-kwi, Hek I Siankouw lalu membantu Bouw Thaisu mengeroyok Tio Sun.

Tentu saja pemuda ini menjadi semakin repot. Melawan Bouw Thaisu seorang saja dia sudah kalah lihai dan kalau dilanjutkan akhirnya dia tentu akan roboh, dan kini maju lagi Hek I Siankouw yang juga lebih lihai dari pada dia.

Pemuda perkasa ini melawan mati-matian, namun akhirnya, pedang hitam di tangan Hek I Siankouw membuat pedang di tangan Tio Sun terlepas, cambuknya dapat ditangkap oleh Bouw Thaisu lantas sebuah tendangan yang secepat kilat dari Hek I Siankouw mengenai lututnya hingga membuat dia roboh. Seperti juga Kwi Beng, Tio Sun ditubruk oleh banyak anak buah Lembah Naga dan diringkus.

Tubuh dua orang pemuda yang sudah diringkus kaki dan tangannya itu diseret ke dalam sebuah rumah besar, lalu dihadapkan kepada Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li yang memandang dengan mulut menyeringai girang. Dengan kasar, para anak buah Lembah Naga memaksa Tio Sun dan Kwi Beng duduk di atas lantai menghadapi kakek dan nenek yang duduk di atas kursi itu.

"Benarkah engkau putera Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan pengawal kepercayaan The Hoo?" Pek-hiat Mo-ko bertanya kepada Tio Sun.

Pemuda ini mengangguk.

"Hemm, mengapa tidak ayahmu sendiri yang datang untuk menghadapi kami? Mengapa mengutus seorang pemuda yang masih hijau seperti engkau?" tanya pula Pek-hiat Mo-ko.

Tio Sun memandang dengan sikap tenang. "Pek-hiat Mo-ko, ayahku tidak tahu-menahu akan kedatanganku ke sini. Aku datang bersama sahabatku atas kehendak sendiri untuk menentangmu dan menuntut agar engkau membebaskan nona Yap In Hong."

"Ha-ha-ha, nyalimu besar sekali. Engkau sudah tahu siapa aku?"

"Tentu saja aku tahu. Pada saat engkau bersama Hek-hiat Mo-li bertempur dengan ketua Cin-ling-pai, aku sudah melihat kalian."

Tiba-tiba Hek-hiat Mo-li yang semenjak tadi memandang kepada Kwi Beng, menghardik kepada pemuda itu. "Kau bukan orang Han! Engkau orang asing dari barat! Bagaimana engkau tadi berani mengaku bahwa engkau adalah cucu murid The Hoo?"

Kwi Beng balas memandang dengan dua mata melotot, "Nenek gila! Dengarlah baik-baik. Ibuku adalah pendekar wanita Souw Li Hwa, murid dari mendiang Panglima The Hoo, sedangkan ayah adalah seorang Portugis. Aku datang untuk menuntut kepada kalian agar membebaskan nona Yap In Hong!"

"Heh-heh-heh-hi-hik!" Hek-hiat Mo-li tertawa terkekeh dan mata kanannya bersinar-sinar aneh. "Bawa mereka ke lapangan dan ikat di kayu tonggak agar menjadi makanan burung nazar, heh-heh-heh!"

"Benar! Bawa mereka keluar. Terserah nasib mereka. Kalau nasib baik, tentu akan datang orang-orang yang lebih penting untuk menolong mereka dan menghadapi kita, tapi kalau nasib buruk, biar mereka dicabik-cabik burung-burung nazar!" kata Pek-hiat Mo-ko.

Para anak buah Lembah Naga lalu menyeret Tio Sun dan Kwi Beng keluar dari tempat itu, dibawa ke lapangan dan mereka segera sibuk membuat tonggak kayu salib dan mengikat mereka berdua di tonggak kayu itu. Kemudian mereka meninggalkan Tio Sun dan Kwi Beng berdua di tempat itu, tertimpa panas sinar matahari tanpa terlindung apa pun.

Kedua orang pemuda itu berusaha untuk meronta dan melepaskan diri, akan tetapi Tio Sun segera mendapat kenyataan bahwa tak mungkin mereka dapat lolos. Melihat betapa Kwi Beng meronta-ronta dengan beringas sehingga nampak darah di pergelangan tangan dan kaki pemuda itu karena kulitnya pecah-pecah ketika dia meronta-ronta dengan kuat, Tio Sun berkata,

"Tenanglah, Beng-te. Tali untuk mengikat kaki tangan kita ini adalah tali kulit kerbau yang kuat sekali dan tak mungkin bisa kita putuskan begitu saja. Tidak baik membuang-buang tenaga dan lebih tidak baik kalau sampai darah kita keluar karena hal itu akan menarik perhatian burung-burung di sana-sini."

Kwi Beng mengikuti pandang mata Tio Sun dan dia melihat beberapa ekor burung yang besar bertengger di atas sebatang pohon dan ada beberapa ekor lagi yang beterbangan di sekitar tempat itu. Itulah burung-burung nazar, burung-burung pemakan bangkai yang liar dan buas!

Wajah Kwi Beng menjadi pucat karena dia merasa ngeri. Melihat ini, Tio Sun bertanya, hatinya penuh iba. "Engkau takut, Beng-te?"

Kwi Beng memandang kepadanya, lalu mengangguk.

"Tidak aneh, aku pun merasa ngeri melihat burung-burung itu. Akan tetapi engkau jangan khawatir, burung-burung yang kelihatan menyeramkan itu sebenarnya adalah binatang-binatang yang penakut dan mereka tidak akan menyerang sesuatu yang hidup. Hanya kalau kita sudah mati saja mereka berani menyerang. Dan kurasa kita tidak akan mudah mati begitu saja. Pula, orang-orang seperti kita, mana takut mati? Hanya sayangnya, kita belum menyampaikan rahasia mereka itu kepada Cia-taihiap atau nona Yap."

Kwi Beng kelihatan termenung, tak lagi mempedulikan burung-burung itu. "Ah, bagaimana dengan dia? Jangan-jangan dia telah mereka bunuh..."

"Nona Yap? Kiranya tidak mungkin. Apa bila mereka itu hendak membunuh nona Yap In Hong, perlu apa mereka susah payah menculik dan membawanya ke tempat sejauh ini. Tentu ada maksudnya, dan kurasa kakek bersama nenek gila itu tentu menangkap dan menculiknya untuk dipakai sebagai umpan agar memancing datangnya orang-orang yang dianggapnya sebagai musuh, seperti Cia-locianpwe ketua Cin-ling-pai dan lain-lain."

Mereka kini tidak bercakap-cakap lagi dan terik matahari mulai menyengati kulit tubuh mereka. Peluh mulai mengalir keluar. Akan tetapi kini Kwi Beng bersikap tenang saja. Dia merasa malu untuk memperlihatkan kelemahannya. Tidak, dia takkan mengeluh dan akan menghadapi kematian dengan gagah kalau perlu. Memang sudah disengaja untuk datang ke tempat berbahaya ini, untuk berusaha menolong In Hong dengan taruhan nyawa...
Selanjutnya,