Pedang Kayu Harum Jilid 35 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Pedang Kayu Harum Jilid 35
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
Terjadilah pertandingan hebat di dalam kuil, di bawah cahaya penerangan obor-obor yang dinyalakan oleh para penjaga. Kalau mereka menghendaki, Keng Hong dan Biauw Eng tentu saja akan dapat melarikan diri dengan mudah di kegelapan malam itu. Akan tetapi mereka, terutama Biauw Eng, tidak sudi melarikan diri meninggalkan tiga orang kawan mereka, sedangkan dua orang lawan mereka yang amat tangguh itu tidak memungkinkan mereka dapat menolong kawan-kawan mereka yang masih ditawan dalam kamar.

"Berhenti! Cia Keng Hong, lihat, apakah kau ingin melihat mereka ini mampus di depan matamu?"

Keng Hong dan Biauw Eng terkejut sekali melihat betapa Cong San, Yan Cu dan Hun Bwee sudah diseret ke sana dan diancam dengan pedang pada leher mereka oleh Lian Ci Sengjin, Sian Ti Sengjin, Kim-to Lai Ban dan Thian It Tosu!

"Hi-hi-hik-hik! Keng Hong, apakah engkau masih belum mau menyerah? Ataukah engkau hendak mengorbankan mereka ini demi keselamatanmu?" Cui Im mengejek.

"Cui Im, engkau curang dan pengecut!" Keng Hong membentak marah.

"Hi-hi-hik, siapa yang curang? Apakah engkau sendiri yang tadi merayuku supaya dapat membebaskan diri tidak curang?"

Terpaksa Keng Hong dan Biauw Eng menyerahkan diri dan tidak melawan ketika Pat-jiu Sian-ong dan Cui Im menotok mereka roboh. Mereka diikat lagi dengan erat, bahkan Keng Hong kini ditotok sendiri oleh Cui Im menggunakan ilmu Tiam-hiat-hoat dari kitab pusaka Sin-jiu Kiam-ong sehingga sekali ini Keng Hong benar-benar lumpuh tidak dapat menggerakkan kaki tangannya.

Karena tidak ingin mengalami hal-hal tidak enak seperti yang telah terjadi tadi, malam itu juga Cui Im melanjutkan perjalanan membawa lima orang tawanan itu menuju ke arah markas Pat-jiu Sian-ong. Beberapa hari kemudian tibalah mereka di tempat yang menjadi tempat tinggal Pat-jiu Sian-ong dan anak buahnya.

Tempat ini merupakan sebuah benteng yang kuat, dikelilingi dengan pagar tembok tinggi dan terjaga kuat. Diam-diam Keng Hong memperhatikan keadaan benteng itu dan harus mengaku di dalam hati bahwa sekali ini, kalau dia mendapat kesempatan, dia bersama dengan empat orang temannya harus berkelahi mati-matian dan agaknya tidaklah akan mudah bagi dia dan teman-temannya untuk dapat lolos dari tempat yang kuat itu.

Mereka memasuki benteng ini pada siang hari dan betapa kaget hati Keng Hong ketika melihat banyak sekali orang-orang yang kelihatan berkepandaian tinggi, bahkan di antara mereka ini dia melihat Pak-san Kwi-ong! Selain ini, dia melihat pula Pak-san Su-liong, tokoh-tokoh yang bersenjata tengkorak, yaitu murid-murid Pak-san Kwi-ong yang lihai dan masih ada lagi empat orang pengawal-pengawal rahasia kaisar, yaitu Gu Coan Kok si Iblis Cebol, Huk Ku si setan bangsa Kerait dan Thai-lek Sin-mo Cou Seng! Heran dia mengapa pengawal-pengawal rahasia kaisar itu, yang tadinya berjumlah empat orang ditambah lagi Pak-san Kwi-ong, Bhe Cui Im dan Siauw Lek, bisa berkumpul di tempat ini.

Memang sesungguhnyalah, para pengawal rahasia itu kesemuanya melarikan diri setelah terjadi peristiwa di luar istana ketika Cui Im berusaha menjebak Keng Hong. Tio Hok Gwan, pengawal Laksamana Tinggi The Ho yang lihai dan telah bersimpati kepada Keng Hong, memberi pelaporan kepada jujungannya.

Laksamana The Ho adalah orang yang bijaksana dan sangat berpengaruh serta dihormati oleh kaisar. Karena itu ketika The Ho memberi nasehat kepada kaisar betapa bahayanya menggunakan tenaga orang-orang yang terkenal sebagai datuk-datuk dan tokoh-tokoh dunia hitam itu, kaisar lalu membebas tugaskan mereka.

Pak-san Kwi-ong dan teman-temannya kemudian pergi dari istana dan diam-diam merasa marah sekali. Di dalam hati mereka memberontak dan hendak menjatuhkan kaisar, maka mereka segera beramai-ramai pergi mengunjungi Pat-jiu Sian-ong untuk mengumpulkan kawan dan bersekutu menjatuhkan kaisar!

Tugas pertama mereka adalah hendak mempergunakan kesempatan selagi orang-orang kang-ouw berkumpul di Tai-hang-san untuk menggempur mereka karena mereka sudah mendengar betapa orang-orang kang-ouw itu juga menentang Pak-san Kwi-ong beserta sekutunya menjadi pengawal kaisar. Bahkan diam-diam Pak-san Kwi-ong dan para Iblis Tembok Besar yang kini tinggal tiga orang itu karena Kemutani telah tewas di tangan Yap Cong San, menghubungi suku bangsa Mongol dan Mancu agar bersekutu dan menyerang ke sebelah selatan tembok besar.

Ketika para tawanan itu dikumpulkan di ruangan dalam, semuanya dibelenggu, tiba-tiba Hun Bwee berteriak-teriak dan meronta-ronta, "Lepaskan aku! Lepaskan! Kenapa kalian membelenggu aku? Awas, jika tidak kalian lepaskan, kelak guruku Go-bi Thai-houw tentu akan mencabut nyawa kalian semua!"

Mendengar disebutnya nama Go-bi Thai-houw, Pak-san Kwi-ong terkejut. “Apa? Gadis ini adalah murid Go-bi Thai-houw? Bagaimana bisa menjadi tawananmu, Ang-kiam Bu-tek?” Ia kelihatan gelisah dan heran.

"Hemmm... kalau dia menjadi muridnya, mengapa sih? Dia bersama dengan Biauw Eng, dan agaknya gila."

"Lepaskan! Aku tidak memusuhi siapa-siapa, aku hanya akan membunuh Cia Keng Hong, bocah yang telah memperkosaku. Lepaskan!"

"Tan Hun Bwee, yang memperkosamu adalah Lian Ci…"

"Plakkk!"

Pipi Cong San kena ditampar oleh Lian Ci Sengjin. "Diam kau, monyet!"

"Bohong! Bukan siapa-siapa, melainkan Cia Keng Hong. Lepaskan aku!"

"Ang-kiam Bu-tek, sebaiknya kau bebaskan dia. Kalau dia murid Go-bi Thai-houw, berarti bukan musuh."

"Eh, eh, eh, Kwi-ong. Agaknya engkau jeri sekali mendengar nama Go-bi Thai-houw!" Cui Im mengejek.

Pak-san Kwi-ong terbatuk-batuk. "Eehhhh... Dia... dia... Hemm. Pat-jiu Sian-ong, apakah engkau pun memusuhi Go-bi Thai-houw?"

Tiba-tiba kakek kecil kate yang berkepala besar itu kelihatan bingung, akan tetapi cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Siapa memusuhi siapa? Aku tidak pernah bentrok dengan nenek sakti itu."

"Nona Bhe, engkau belum tahu. Go-bi Thai-houw itu lihainya bukan main, dan jauh lebih menguntungkan jika kita bersekutu dengan dia. Lebih baik jangan mengganggu muridnya. Pula, apakah perlunya gadis ini ditawan?" Pak-san Kwi-ong berkata.

Cui Im tersenyum dan mengeling kepada Lian Ci Sengjin. "Aku pribadi tidak mempunyai urusan dengan Tan Hun Bwee ini, juga tidak pernah mengenal Go-bi Thai-houw, maka soal membebaskan dia atau tidak, tidak penting bagiku. Hanya kita mesti menanyakan pendapat Lian Ci Sengjin dulu, karena kalau nona ini dibebaskan, jangan-jangan dia akan menyerang Lian Ci Sengjin."

Wajah bekas tosu Kun-lun-pai itu sebentar merah sebentar pucat. Akhirnya, saking malu dan marah dia hanya dapat mengomel, "Perempuan ini terang seorang yang gila, mau bebaskan dia atau mau bunuh, aku tidak peduli!"

Cui Im tertawa mengejek lalu menghampiri Hun Bwee. Sekarang dia memandang penuh perhatian karena disebutnya nama guru gadis ini sebagai seorang yang amat lihai, yang ditakuti oleh Pat-jiu Sian-ong dan Pak-san Kwi-ong, benar-benar membuat dia menaruh perhatian. "Katakan kalau kau kubebaskan, apa yang hendak kau lakukan?"

Hun Bwee hanya sebentar saja memandang Cui Im, lalu matanya mencari-cari kemudian menatap wajah Keng Hong, mulutnya berkata nyaring, "Akan kubunuh Cia Keng Hong!"

Cui Im mengerutkan keningnya. "Ehh, bukankah ada orang lain yang bilang bahwa yang memperkosamu bukanlah Keng Hong?"

"Bohong! Yang memperkosaku adalah Keng Hong, bukan orang lain!"

"Hemmm... benarkah itu? Bukan dia itu...?" Cui Im menuding ke arah Lian Ci Sengjin yang memandang dengan muka merah.

Semua orang juga memandang karena ingin melihat apakah gadis gila itu sekarang akan membuka rahasia itu secara jelas. Dapat dibayangkan betapa menyesal dan kaget hati Keng Hong, Biauw Eng, Yan Cu dan Cong San ketika melihat Hun Bwee menggeleng kepala dan berkata lantang,

"Bukan! Bukan dia...! Cia Keng Hong-lah yang memperkosa aku, orang gagah itu belum pernah kulihat selama hidupku!"

Bukan main girang hati Lian Ci Sengjin dan dia menekan kegirangannya, hanya mulutnya berkata dengan suara dibikin-bikin menjadi tenang sekali, "Nah, sekarang baru semua orang mendengarnya. Yang suka main gila dengan para wanita adalah bocah pengacau Cia Keng Hong itu, sama sekali bukan aku. Sudah kukatakan bahwa perempuan ini gila, maka tadinya dia menuduhku yang bukan-bukan."

Sian Ti Sengjin memandang kepada sute-nya dengan kening dikerutkan. Bekas tosu dari Kun-lun-pai ini tidak berkata sesuatu, akan tetapi terjadi perang hebat di dalam dadanya yang tidak diketahui orang lain. Dia mengenal sute-nya dan tahu pula akan kelemahan sute-nya.

"Baiklah, Tan Hun Bwee, aku akan membebaskan engkau, namun dengan syarat bahwa engkau harus suka menjadi sekutu kami, kelak engkau membujuk gurumu untuk bekerja sama dengan kami pula, dan yang terpenting sekarang ini, engkau harus mentaati semua perintahku. Bagaimana, sanggupkah?"

Betapa cemas dan khawatir hati Biauw Eng menyaksikan keadaan suci-nya itu, apa lagi ketika melihat suci-nya mengangguk. Perasaan cemas ini bercampur rasa marah sekali. Dia tahu bahwa Hun Bwee memang menderita penyakit jiwa, akan tetapi selama ini dia merasa yakin bahwa di balik kegilaan Hun Bwee terdapat watak yang gagah perkasa dan tidak mengenal takut. Kenapa sekarang Hun Bwee berubah seperti itu dan tunduk kepada Cui Im?

Juga, walau pun gila, Hun Bwee biasanya cerdik sekali. Kenapa sekarang tetap menuduh Keng Hong sebagai pemerkosanya, sedangkan tadi begitu yakin bahwa Lian Ci Sengjin bekas tosu Kun-lun-pai itulah pelakunya?

"Suci! Jangan mendengarkan bujukan iblis itu!" Biauw Eng berseru memperingatkan Hun Bwee.

Akan tetapi Hun Bwee menoleh dan melotot kepadanya. "Jangan turut campur! Aku tidak sudi mendengar omonganmu, perempuan tak tahu malu!"

Biauw Eng terkejut setengah mati. Belum pernah suci-nya ini, waras atau sedang kumat, bersikap seperti ini kepadanya. Padahal ketika tadi melotot kepadanya dia melihat bahwa pandang mata suci-nya itu tidak seperti kalau sedang kumat.

Cui Im tertawa, kemudian bertanya kepada Hun Bwee. "Dia menyebutmu Suci? Hi-hi-hik, alangkah lucunya. Sebetulnya, akulah Suci-nya. Apakah dia... ahhhh! Apakah dia menjadi murid Go-bi Thai-houw?"

Hun Bwee mengangguk. "Dia baru saja menjadi murid subo. Akan tetapi mulai sekarang aku tidak sudi mengakuinya sebagai Sumoi lagi. Dia curang, tak bermalu dan palsu!"

Cui Im tersenyum girang. "Mengapa?"

"Dia tahu bahwa Keng Hong sudah memperkosaku dan tadinya kami hendak menangkap Keng Hong lalu memaksa pemuda itu menjadi suamiku. Tapi setelah berhasil menangkap Keng Hong, hemmm... dia ingin memilikinya sendiri!"

"He-he-hi-hi-hik!" Cui Im tertawa senang dan sekali tangannya bergerak, maka bebaslah Hun Bwee.

Sejenak gadis ini mengurut-urut kedua lengannya, kemudian dengan beringas dia segera menghampiri Keng Hong sambil berkata, "Kubunuh engkau, Cia Keng Hong!"

"Hun Bwee, tahan!" Cui Im membentak hingga Hun Bwee menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"Dengar baik-baik. Engkau sudah berjanji akan mentaati perintahku, bukan? Nah, perintah pertama engkau tidak boleh membunuh Keng Hong...”

"Akan tetapi dia... dia..."

"Engkau tak boleh mengganggunya tanpa seijin dariku, mengerti? Bila sudah tiba saatnya aku harus membunuhnya, biarlah kuserahkan tugas itu kepadamu. Mengerti?"

Dengan muka kecewa sekali Hun Bwee mengangguk, kemudian berdiri di dekat Cui Im sambil menundukkan muka seperti orang melamun. Cui Im menepuk-nepuk pundaknya dan berkata, “Mulai sekarang engkau menjadi pembantuku yang setia, Hun Bwee...”

Hun Bwee hanya mengangguk-angguk dan semua ini dipandang oleh Biauw Eng dengan hati panas, akan tetapi bagaimana dia akan dapat menyalahkan suci-nya yang memang tidak waras pikirannya itu? Ia hanya dapat menghela napas panjang. Sesudah Hun Bwee berubah menjadi seperti itu, tentu saja kini menjadi semakin sukar lagi bagi mereka untuk meloloskan diri. Berkurang sudah seorang tenaga yang sangat kuat.

Dalam keputus asaan ini, tak terasa lagi Biauw Eng mengerling ke arah Keng Hong dan betapa heran hatinya melihat Keng Hong yang menyandarkan tubuhnya yang lemas itu ke tiang di mana dia terikat, juga memandangnya dan tersenyum! Pandang mata pemuda itu kepadanya seolah-olah menggantikan kata-kata yang menghibur, yang minta kepadanya agar tidak putus asa!

Tawanan yang kini tinggal empat orang itu lalu dibawa pergi dan dijebloskan ke dalam kamar-kamar tahanan yang amat kuat dan terpisah. Kamar tahanan itu terbuat dari pada dinding batu dan pintu serta jendelanya diberi jeruji besi yang amat kuat.

Empat orang muda-mudi yang ditahan ini masing-masing tenggelam dalam lamunannya sendiri. Cong San sangat khawatir akan keselamatan kawan-kawannya, terutama sekali Yan Cu. Ia harus mengakui bahwa baru satu kali ini dia jatuh cinta, yaitu kepada Yan Cu.

Ia tidak khawatir akan keselamatan dirinya sendiri. Sebagai seorang pemuda gemblengan murid ketua Siauw-lim-pai, tentu saja dia memiliki tenaga dan ilmu simpanan dan bila dia menghendaki, dengan pengerahan tenaga sakti, dia akan mampu mematahkan belenggu dan membebaskan diri.

Akan tetapi tadi dia melihat tanda isyarat dari pandang mata Keng Hong dan dia dapat menangkap apa kehendak Keng Hong dengan isyarat itu. Memang benar kalau dia nekat memberontak, hal ini akan membahayakan keselamatan mereka berlima, yang kini hanya tinggal berempat karena wanita gila itu berpihak kepada musuh.

Pihak musuh terlalu kuat dan terlalu banyak. Dia harus menanti saat yang baik, mencari kesempatan agar dengan sekali memberontak saja dapat membebaskan mereka semua. Tentunya Keng Hong juga berpendapat demikian, pikir Cong San yang duduk termenung bersandar dinding di dalam kamar tahanannya yang sempit?

Benarkah pendapat Keng Hong seperti pikiran murid Siauw-lim-pai ini? Hanya sebagian saja demikian. Sebetulnya, banyak hal yang menyebabkan Keng Hong mandah dan diam saja dijadikan tawanan.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, kalau dia mau tentu saja dia pada kesempatan pertama sudah dapat menyelamatkan dirinya, sungguh pun belum tentu dia akan dapat menyelamatkan empat orang temannya. Akan tetapi Keng Hong tidak mau melakukan hal itu.

Pertama kali, ketika mereka semua tertawan dan dia sendiri telah dibelenggu Biauw Eng, dia sengaja diam saja untuk sekedar mencoba Biauw Eng, akan tetapi tentu saja setiap saat dia siap untuk melindungi teman-temannya apa bila terancam keselamatannya. Tapi ketika melihat bahwa Cui Im hanya menawan mereka, dia pun diam saja, pura-pura tidak berdaya.

Kini, Keng Hong masih belum turun tangan, pertama karena usahanya pertama kali gagal, dan ke dua, di samping melihat kokoh kuatnya penjagaan benteng itu serta banyaknya tokoh-tokoh yang berilmu tinggi, juga dia harus mengingat akan pusaka-pusaka yang kini kembali terampas oleh Cui Im. Terutama sekali pusaka-pusaka yang harus ia kembalikan kepada partai-partai besar yang memilikinya. Kalau kali ini dia sampai gagal merampas, tentu kelak akan sukar sekali baginya untuk merampas kembali sebab Cui Im tentu akan lebih berhati-hati.

Biauw Eng juga melamun di dalam kamar tahanannya. Hatinya masih penuh penasaran melihat sikap Hun Bwee. Tak diduganya sama sekali bahwa suci-nya itu ternyata adalah seorang yang rendah budi, yang begitu saja menyerah kepada musuh dan mengorbankan teman-temannya, terutama sekali mengorbankan dia, sumoi-nya.

Benarkah bahwa Hun Bwee berbuat seperti itu karena iri hati dan cemburu kepadanya? Karena dia kini kembali menyatakan cinta kasihnya kepada Keng Hong? Dan gadis ini pun mulai meneliti perasaannya sendiri.

Tadinya dia memang benci kepada Keng Hong, tidak saja karena sikap Keng Hong yang lalu, akan tetapi kini ditambah lagi cerita Hun Bwee bahwa pemuda itu memperkosanya. Setelah bertemu dengan Keng Hong kemudian melihat betapa Keng Hong menyatakan penyesalannya atas sikapnya yang dulu terhadap dirinya, bahkan Keng Hong juga telah menyerah dan rela untuk ditawan atau dibunuhnya sekali pun, apa lagi ketika mendengar ucapan Cong San lalu melihat sikap Hun Bwee dan Lian Ci Sengjin yang membongkar perkosaan itu, rasa bencinya semakin membuyar dan timbullah kembali cinta kasihnya terhadap Keng Hong yang memang tak pernah padam.

Dia mencinta Keng Hong, hal ini terjadi semenjak dahulu. Akan tetapi Hun Bwee, yang katanya telah diperkosa oleh Keng Hong, apakah juga mencinta Keng Hong dan cemburu kepadanya? Akan tetapi jika benar demikian, mengapa Hun Bwee kini hendak membunuh Keng Hong? Benar-benar dia menjadi bingung. Apakah Hun Bwee kumat gilanya? Akan tetapi sinar matanya tidak liar seperti biasanya kalau kumat.

Yan Cu juga termenung. Gadis ini merasa menyesal sekali kepada Biauw Eng yang dia anggap menjadi gara-gara sampai mereka tertawan. Akan tetapi ia pun merasa menyesal pada Keng Hong kenapa suheng-nya begitu tolol untuk mengorbankan diri demi cintanya kepada Biauw Eng yang tak dapat menghargai cinta orang itu!

Dan dia teringat akan sikap Cong San kepadanya. Pemuda murid Siauw-lim-pai itu cinta kepadanya! Akan tetapi dia? Ahhh…, sukarlah untuk menjawabnya. Hatinya masih belum dapat melenyapkan perasaan mesranya terhadap Keng Hong, walau pun dia sendiri tidak berani mengatakan apakah dia sesungguhnya mencinta Keng Hong. Sampai saat itu pun Yan Cu masih mencari-cari arti cinta dan belum dapat menemukannya!

Akan tetapi, dia tidak putus asa, juga tidak takut. Selama nyawa masih dikandung badan, dia tidak akan kehabisan akal dan harapan. Pasti akan muncul saat dan kesempatan bagi salah seorang di antara mereka untuk meloloskan diri lalu menolong teman-temannya.

Dia sendiri pun akan mencari kesempatan itu. Apa bila mungkin malam nanti melepaskan ikatannya dan berusaha keluar dari kamar tahanan itu. Atau kalau tidak berhasil, dia akan menanti sampai penjaga mengantarkan makanan. Mungkin dia akan dapat merobohkan penjaga.

Kalau saja Keng Hong tidak begitu lemah terhadap cinta kasihnya yang amat mendalam kepada Biauw Eng! Ia percaya penuh bahwa dengan kelihaiannya, suheng-nya itu akan dapat menolong mereka semua.

Sementara itu, Cui Im, Pat-jiu Sian-ong, Pak-san Kwi-ong dan semua tokoh yang berada di benteng itu mengadakan perundingan. Cui Im yang dianggap sebagai paling lihai dan paling cerdik di antara mereka, memimpin perundingan.

Mereka sudah mengirim mata-mata dan kurir untuk menyelidiki keadaan kota raja, juga menyelidiki pertemuan para tokoh kang-ouw di puncak Tai-hang-san, dan telah mengirim utusan untuk menghubungi kepala suku bangsa Mongol dan Mancu yang berada di luar Tembok Besar di daerah utara. Mereka itu memutuskan untuk menanti kembalinya para penyedlidik sekalian menanti datangnya utusan Mongol dan Mancu yang mereka undang.

Tan Hun Bwee benar-benar diberi kebebasan. Ia mendapatkan sebuah kamar yang cukup indah dan dia tidak diganggu sama sekali. Akan tetapi Cui Im adalah seorang cerdik. Dia memang ingin mempergunakan gadis gila itu untuk menarik Go-bi Thai-houw bersekutu, akan tetapi diam-dia ia pun selalu menyuruh orang memperhatikan dan menjaga gadis ini.

Akan tetapi dalam beberapa hari itu Hun Bwee kelihatan baik-baik saja, bahkan dia mulai mendekati Lian Ci Sengjin! Hal ini diketahui baik oleh Cui Im dan dia diam-diam tertawa. Lebih baik Lian Ci Sengjin didekatkan kembali dengan gadis yang sudah diperkosanya itu. Dia tahu betapa Lian Ci Sengjin masih tergila-gila padanya dan sering suka menggodanya dengan celaan-celaan dan tuntutan-tuntutan agar dia suka memikirkan lamarannya! Kalau Hun Bwee bisa menghiburnya, tentu godaan bekas tosu itu akan berkurang.

Malam itu rembulan bersinar penuh. Lian Ci Sengjin keluar dari pondoknya dengan muka merah. Baru saja dia kembali cekcok dengan suheng-nya, Sian Ti Sengjin. Suheng-nya itu sudah beberapa kali mengajaknya agar kembali saja ke Phu-niu-san, di mana mereka berdua sedang membangun serta mengembangkan partai yang mereka bentuk sesudah mereka ‘tidak mendapat angin’ di Kun-lun-pai.

"Suheng, kenapa mesti tergesa-gesa? Bukankah kita membutuhkan bantuan Cui Im untuk membalas sakit hati kita terhadap Kun-lun-pai? Pula, kalau kita berhasil menghancurkan Kun-lun-pai, mana bisa nama kita bersih dari pada noda setelah kita berdua diusir dari sana? Tentu dunia kang-ouw akan mencemoohkan nama partai Phu-niu-san yang akan kita kembangkan!" Demikian dia membantah ajakan suheng-nya.

“Tapi aku merasa ragu-ragu, Sute. Mereka itu... ahh…, bagaimana kita sudah terperosok begini rendah sehingga bersekutu dengan kaum sesat?" Sian Ti Sengjin berkata sambil menarik napas berulang-ulang dan keningnya berkerut.

"Aku pun tidak suka, akan tetapi kita terpaksa, Suheng! Sudahlah, kita sudah terlanjur basah, lebih baik terjun sama sekali!" Dengan kata-kata itu, Lian Ci Sengjin meninggalkan suheng-nya dan keluar untuk mencari hawa sejuk agar mendinginkan hati dan pikirannya yang panas.

Di bawah sinar bulan purnama itu, teringat dia akan wajah-wajah cantik. Ia menengadah, memandang bulan purnama dan bekas tosu Kun-lun-pai yang gagal menguasai nafsunya sendiri itu menghela napas. Bulan yang bundar itu seakan-akan berubah menjadi wajah Cui Im yang tersenyum kepadanya. Ahhh…, tidak ada harapan, pikirnya. Wanita cantik itu terlalu angkuh.

Kemudian bulan itu membayangkan wajah Hun Bwee, dan kembali dia menghela napas. Gadis itu cantik juga dan kalau dia teringat akan peristiwa dahulu pada saat dia berhasil merenggut kehormatan gadis itu, timbul pula gairahnya. Kalau saja dia bisa mendapatkan Hun Bwee untuk menjinakkan nafsunya yang liar bergelora, akan puaslah hatinya.

Sayang bahwa gadis itu agaknya telah berubah ingatannya! Tapi sekarang kelihatan telah waras dan dengan pakaiannya yang merah dan ketat, sungguh tak kalah menariknya oleh Cui Im yang jauh lebih tua. Sungguh pun kelihatan masih cantik, akan tetapi dia dapat menduga bahwa usia Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im sudah mendekati tiga puluh tahun, sedangkan Hun Bwee tentu baru dua puluh tahun lebih!

"Lo-enghiong...!"

Suara halus ini menyadarkan Lian Ci Sengjin dari lamunan dan ketika dia menengok, dia melihat Hun Bwee berdiri sambil tersenyum manis dengan pandang mata begitu indah, seperti sinar bulan purnama sendiri! Pertama-tama dia amat kaget dan siap menghadapi wanita ini kalau hendak mengamuk, akan tetapi melihat senyum dan pandang mata itu, dia pun merasa lega.

"No... Nona..., engkau di sini?"

Hun Bwee tersenyum, senyum yang amat manis dalam pandang mata Lian Ci Sengjin, karena disertai bayangan malu-malu kucing!

"Lo-enghiong... kenapa engkau agaknya selalu menjauhkan diri dariku? Apakah... apakah Lo-enghiong termasuk golongan pria yang berwatak habis manis sepah dibuang?"

Berubah wajah Lian Ci Sengjin, menjadi pucat lalu berubah merah, matanya terbelalak. Tadinya dia menyangka bahwa gadis ini benar-benar menjatuhkan tuduhan perkosaan itu kepada Keng Hong, akan tetapi pertanyaan ini berarti lain?

"Apa... apa maksudmu, Nona?"

Kembali Hun Bwee tersenyum malu-malu dan mengerling. "Lo-enghiong, bukankah aku sudah membersihkan nama baikmu dan menjatuhkan noda kepada Cia Keng Hong yang kubenci? Apakah kau masih tidak mengerti apa yang kumaksudkan? Marilah kita bicara di taman sana, Lo-enghiong. Sungguh tak menyenangkan dan amat memalukan bagiku bila ada telinga lain yang mendengarnya," kata gadis itu perlahan-lahan.

Timbul kecurigaan di hati Lian Ci Sengjin. "Katakan dulu mengapa kau lakukan itu, baru aku percaya," katanya terus terang.

Hun Bwee menarik napas panjang dan menoleh ke kanan kiri, kemudian melangkah maju mendekat dan berbisik lirih, "Lo-enghiong, aku adalah puteri tunggal Tan-piauwsu. Ayah dan ibuku mendendam sakit hati kepada Sin-jiu Kiam-ong dan aku telah bersumpah akan membalasnya. Karena ayah dan ibuku mati akibat perbuatan Sin-jiu Kiam-ong, maka aku harus membalas kepadanya namun karena dia pun sudah tidak ada, maka satu-satunya jalan hanya membalas dendam kepada muridnya."

Lian Ci Sengjin mengangguk-angguk. Dia mengenal Tan-piauwsu dan sudah mendengar pula bahwa piauwsu itu adalah salah seorang di antara musuh-musuh Sin-jiu Kiam-ong. "Lalu bagaimana?"

"Aku... ehh, aku telah... menjadi isteri Lo-enghiong... dan... hal itu... amat membahagiakan hati..."

"Hemmm... sungguhkah?" Jantung bekas tokoh Kun-lun-pai yang usianya telah setengah abad kurang sedikit ini berdebar.

"Perlu apa aku bohong? Mengapa Lo-enghiong dahulu itu meninggalkan aku begitu saja? Padahal aku... aku mencari-carimu, maka aku menimpakan noda itu kepada Keng Hong."

"Tapi... tapi mengapa engkau mengancamku ketika murid Siauw-lim-pai itu membuka... rahasia itu?"

"Aihhhhh... Lo-enghiong mengapa tidak tahu akan wanita? Tentu saja aku malu di depan begitu banyak orang dan... sudahlah, mari kita berbicara di taman sana sambil menikmati cahaya bulan dan membicarakan masa depan kita. Ataukah... Lo-enghiong benar-benar berwatak habis manis sepah dibuang?"

Sejenak mereka saling berpandangan di bawah sinar bulan yang terang. Lian Ci Sengjin memandang dengan pandang mata penuh selidik, namun setelah diamuk birahi tentu saja penyelidikannya percuma sehingga makin lama makin menipis sinar menyelidik, terganti seluruhnya oleh sinar mata mesra dan haus, maka akhirnya hanya sepasang mata yang indah, mulut yang manis menggairahkan saja yang nampak olehnya.

Ada pun Tan Hun Bwee memandang bekas tokoh Kun-lun-pai itu dengan mata dikerling, tajam memikat, mulut agak terbuka sehingga di balik sepasang bibir merah basah tampak deretan gigi putih mengkilap dan ujung lidah merah mengintai genit.

Walau pun kini hatinya sudah yakin bahwa gadis ini benar-benar ‘jatuh cinta’ kepadanya karena peristiwa dahulu itu, mulut Lian Ci Sengjin masih bertanya,

"Nona, mana bisa aku percaya begitu saja? Aku sudah tua, engkau masih begini muda, segar dan cantik jelita."

"Ahhh, mengapa engkau berkata demikian, Lo-enghiong? Aku adalah seorang wanita dari keluarga baik-baik. Setelah... setelah menjadi milikmu... bagaimana aku tak mencintamu? Engkau telah memiliki diriku berarti telah memiliki jiwa ragaku...” Hun Bwee menundukkan muka dan kelihatan malu-malu kucing sehingga sikap ini makin membetot jantung Lian Ci Sengjin.

"Tapi... tapi... hatiku belum yakin..."

"Aahhh...!" Hun Bwee tiba-tiba melangkah maju.

Lian Ci Sengjin terkejut dan sudah siap menangkis. Akan tetapi kedua tangan Hun Bwee bergerak mesra sekali merangkul leher Lian Ci Sengjin, kedua lengan yang berkulit halus putih itu seperti dua ekor ular merayap melingkari leher, menarik leher itu sehingga Lian Ci Sengjin terpaksa menundukkan muka.

Muka mereka perlahan saling mendekati, dua pasang mata bertemu pandang, semakin dekat, semakin dekat hingga laki-laki itu merasa napas halus Hun Bwee menyapu pipinya, mencium keharuman yang memabukkan dan masih saja Hun Bwee menariknya sehingga akhirnya mulut mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang sebelumnya hanya pernah dialami Lian Ci Sengjin di dalam alam mimpi!

Hampir pingsan Lian Ci Sengjin dibuatnya! Sepasang matanya terbelalak dan sejenak dia tidak percaya akan pengalamannya, namun diam-diam menikmati permainan perasaan yang amat luar biasa. Betapa sepasang bibir yang lembut, hangat dan basah mengecup-ngecupnya! Betapa gigi yang putih-putih menggigit gemas! Betapa lidah kecil merah itu...!

Lian Ci Sengjin semenjak mudanya menjadi tosu. Seperti juga segala macam agama di dunia ini, agama To juga merupakan agama yang amat baik, amat suci dan merupakan pelajaran bagi manusia supaya tidak menghambakan diri kepada nafsu dan kenikmatan duniawi. Kalau toh ada seorang beragama yang melakukan penyelewengan, hal ini bukan sekali-kali salahnya agama itu sendiri, melainkan kesalahan si orang yang lemah batinnya sehingga menyeleweng dari pada ajaran agamanya!

Agamanya sendiri tetap suci, tetap bersih, namun manusia juga tetap manusia, makhluk yang selemah-lemahnya! Semenjak mudanya, sudah banyak Lian Ci Sengjin digembleng dengan pelajaran-pelajaran Agama To, namun karena batinnya lemah, dia tidak mampu menanggulangi amukan nafsu-nafsu dirinya sendiri, terutama sekali nafsu birahi.

Sekarang pertahanannya yang umpama sebuah tanggul telah bocor, mana kuat menahan nafsu yang membanjir akibat dibangkitkan oleh Hun Bwee! Segala pertahanannya hancur berantakan dan dia pun tenggelam dalam lautan nafsunya sendiri. Geraman seperti suara seekor beruang keluar dari kerongkongan dan dia membalas ciuman Hun Bwee dengan kasar penuh nafsu, memeluk tubuh wanita itu yang seakan hendak ditelannya bulat-bulat pada saat itu juga!

Hun Bwee memegang lengan Lian Ci Sengjin yang menggerayangi pakaiannya sambil berbisik, "Lian Ci koko... jangan... jangan di sini... ohhh...!"

Lian Ci Sengjin merasa seolah-olah terapung di langit ke tujuh mendengar sebutan ‘koko’ ini. Dua lengannya memeluk dan sambil tertawa seperti orang mabuk, dia menggendong tubuh kekasihnya itu dan membawanya lari ke dalam taman di mana terdapat banyak pohon-pohon sehingga mereka akan terlindung dalam kegelapan bayangan pohon.

********************

Semenjak manusia tercipta, nafsu birahi merupakan nafsu yang paling kuat dan jika nafsu ini telah mencengkeram diri manusia, maka si manusia lupa akan segala hal, kehilangan kewaspadaannya dan seluruhnya menjadi permaianan nafsu. Dapat dilihat dalam catatan sejarah betapa banyaknya kaisar-kaisar yang jatuh karena diperhamba oleh nafsu birahi, orang-orang gagah runtuh karena wanita, dan orang-orang yang hendak menyucikan diri tergoda oleh nafsu yang merupakan godaan terkuat.

Nafsu birahi merupakan anugerah alamiah yang memperindah cinta kasih antara pria dan wanita, mendorong manusia untuk berkembang biak dan sudahlah menjadi hukum alam. Namun apa bila nafsu birahi tidak dikekang dan sudah mencengkeram diri manusia yang telah menciptakan hukum-hukum kesusilaan, maka segala rintangan, segala pantangan akan dilanggar di luar kesadarannya.


Dalam cengkeraman nafsu birahinya yang memuncak, Lian Ci Sengjin lupa bahwa wanita cantik yang kini dipeluknya dan diletakkan dengan mesranya di atas rumput tebal dalam taman itu adalah seorang wanita yang mempunyai ilmu kepandaian luar biasa, jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada dia sendiri, lupa bahwa dia pernah melakukan perbuatan keji dan terkutuk terhadap gadis ini.

Dalam keadaan telanjang bulat, bagaikan seekor binatang buas dia menubruk gadis yang dianggapnya kekasihnya itu, dan gerengnya dahsyat keluar dari kerongkongannya. Akan tetapi gerengan dahsyat ini berubah menjadi pekik kaget yang tertahan. Untuk terkejut pun dia tidak sempat lagi, karena tahu-tahu tubuhnya telah menjadi lemas, tertotok oleh dua ujung jari Hun Bwee yang amat lihai.

Tubuh Lian Ci Sengjin tergelimpang tak berdaya di atas rumput dan hanya matanya yang memandang betapa gadis dengan tubuh yang bagaikan terselaput emas di bawah sinar bulan purnama itu kini tidak tampak lagi oleh Lian Ci Sengjin karena seolah-olah gadis itu telah berubah menjadi setan yang amat menyeramkan baginya.

"Hi-hi-hik, he-he-heh-heh-heh!" Hun Bwee merenggut pakaiannya dan tidak tergesa-gesa mengenakan pakaiannya menutupi tubuhnya yang telanjang di depan pandang mata Lian Ci Sengjin, bagaikan orang yang sedang bersolek dan memikat. Setelah semua pakaian dikenakannya, dia menyanggul kembali rambutnya yang tadi terlepas dalam pergumulan mesranya dengan Lian Ci Sengjin!

Lian Ci Sengjin maklum bahwa dia telah terjebak, maklum akan bahaya maut mengancam dirinya. Cepat dia membuka mulut hendak menjerit agar dapat menarik perhatian kawan-kawannya.

Tetapi secepat kilat Hun Bwee menampar mulutnya, lalu mencengkeram mulut itu dengan tangan kiri ada pun tangan kanannya menyambar pakaian Lian Ci Sengjin yang tergeletak berceceran di situ. Celana bekas tokoh Kun-lun-pai itu kini disumbatkan ke dalam mulut sampai hampir memenuhi kerongkongan!

"Hi-hi-hik! Lian Ci Sengjin, ataukah Lian Ci Tojin? Enak benar ya dulu kau memperkosa aku? Hi-hi-hik, sekarang tiba saatnya engkau menerima hukumanku!"

Lian Ci Sengjin hanya membelalakkan dua matanya dengan penuh rasa ngeri dan seram, kemudian saking takutnya, air keluar dari atas dan bawah! Ia terkencing-kencing saking takutnya, dan air matanya mengalir turun, pandang matanya minta dikasihani bagai mata seekor lembu yang sudah ditelikung akan disembelih. Akan tetapi tentu saja keadaannya ini bukan menimbulkan rasa iba di hati Hun Bweee, bahkan menambah kemarahan gadis yang gilanya sudah kumat lagi itu!

"Singggg...!" Sinar hitam berkelebat ketika Hek-sin-kiam dicabut.

"Apamu dulu yang harus dihukum? Hi-hi-hik-hik!" Hun Bwee mengelebatkan pedangnya di depan hidung Lian Ci Sengjin. "Mula-mula tanganmu, ya? Tanganmu mencengkeramku, merenggut lepas pakaianku, membelaiku. Benar, tanganmu yang lebih dulu kurang ajar."

Sinar hitam berkelebat dan andai kata mulut Lian Ci Sengjin tidak disumbat, tentulah dia akan melolong-lolong saking nyerinya. Satu demi satu jari-jari tangannya dibabat buntung oleh sinar pedang hitam, tinggal setengah jari saja! Dapat dibayangkan betapa nyerinya, kiut-miut rasanya, pedih perih seperti jarum-jarum ditusukkan ke ulu hatinya.

Hebatnya, gadis itu kini menari-nari di depan Lian Ci Sengjin! Menari-nari sambil tertawa terkekeh-kekeh kegirangan seperti seorang anak kecil bermain-main.

"Bagus! Bagus! Hi-hi-hik-hik, kini tanganmu tidak dapat menggerayangi tubuh wanita lagi! Sekarang apamu?" Tiba-tiba Hun Bwee berhenti menari, menengadah dan mengerutkan kening, mengingat-ingat. Dahulu ketika dia diperkosa, dia berada dalam keadaan pingsan, atau setengah pingsan sehingga dia hanya ingat secara remang-remang saja.

"Hemmm, engkau menciumku! Hidungmu menciumi seluruh tubuhku, kemudian mulutmu yang bau bangkai itu menggigit bibirku dan leherku!"

Kembali sinar hitam berkelebat dua kali seperti kilat menyambar dan... ujung hidung Lian Ci Sengjin terbabat putus disusul dengan kedua bibirnya! Tentu saja wajah yang mulutnya tersumbat itu tampak buruk mengerikan sekali. Tampak dua buah lubang hidungnya yang sudah kehilangan bukit hidung, dan giginya yang besar-besar kuning tampak pula setelah sepasang bibir penutupnya robek.

Lian Ci Sengjin memejamkan matanya, dahinya berkerut-kerut saking nyeri yang hampir tak tertahankan lagi. Darah membasahi tubuh dan lehernya, darah dari kedua tangan dan dari mukanya. Pada waktu dia membuka mata lagi, sepasang biji matanya berputar-putar liar penuh ketakutan.

"Hi-hi-hik! Engkau makin buruk saja, menjijikan! Orang macam engkau ini hendak menjadi kekasihku? Heh-he-heh! Sekarang giliran bagian tubuhmu yang paling menjijikan harus dibuang!"

Pedang berkelebat dan Lian Ci Sengjin memejamkan mata, maklum bahwa maut akan datang merenggut nyawanya. Akan tetapi pedang tidak jadi dibacokkan dan Hun Bwee tertawa-tawa.

"Ahh, nanti dulu, hi-hi-hik-hik! Keenakan engkau kalau mati sekarang! Engkau pun telah menyiksaku dan sampai kini aku masih hidup, hu-hu-huuuuuk!" Gadis itu menangis. Lian Ci Sengjin makin mengkirik ngeri.

Tiba-tiba Hun Bwee tertawa lagi. "Ha-ha-hi-hi-hik! Benar! Matamu itu, ahhh…, kalau saja matamu bukan yang kau pakai sekarang ini, belum tentu kau akan melakukan perkosaan kepadaku. Matamu itu mata keranjang, maka lebih baik dibuang saja!" Dua kali pedang berkelebat dan sepasang biji mata Lian Ci Sengjin tercongkel keluar!

Mengerikan sekali keadaan bekas tokoh Kun-lun-pai itu. Bila mana tadi dia masih dapat memperlihatkan rasa takut dan rasa nyeri yang luar biasa melalui pandang matanya, kini dia hanya dapat berkelojotan saja. Dan hanya gerakan berkelojotan lemah ini saja yang menandakan bahwa dia belum mati, juga belum pingsan dan masih menderita penyiksaan yang hanya sanggup dilakukan seorang yang sudah gila itu, gila karena berubah ingatan atau juga gila karena diamuk dendam.

Hun Bwee masih terkekeh-kekeh dan berkali-kali pedangnya berkelebat berubah menjadi sinar hitam. Mula-mula sepuluh buah jari kaki Lian Ci Sengjin dibabat buntung kemudian kedua telinganya dan semua anggota tubuh yang ‘menonjol’, dibuntungi semua satu demi satu.

"Heh-heh-heh, engkau tidak merintih. Ohhh, sumbat mulutmu!"

Hun Bwee yang agaknya merasa kurang puas karena melihat korbannya tidak dapat mengeluarkan suara itu, menyambar dan membuka sumbat yang dijejalkan ke mulut Lian Ci Sengjin. Begitu sumbat mulutnya dibuka terdengar rintihan dari mulut itu, rintihan yang tidak karuan bunyinya, akan tetapi masih dapat ditangkap kata-katanya,

“Ampun... ampun... ampun...!"

"Hi-hi-hik! Bagus sekali...!" Tiba-tiba pedang menyambar ke bawah pusar Lian Ci Sengjin.

"Auggghhhhrrrrr...!"

Jeritan terakhir yang keluar dari kerongkongan Lian Ci Sengjin sangat nyaring, juga amat mengerikan sebab jeritan itu merupakan pekik kematian yang mungkin dibarengi dengan melayangnya nyawa dari tubuhnya. Lian Ci Sengjin baru mati setelah dia disiksa selama hampir setengah jam.

Namun agaknya Hun Bwee belum merasa puas. Pedangnya masih terus menyambar-nyambar dan membacoki tubuh yang sudah menjadi mayat itu sehingga sekarang tubuh itu terpotong-potong dicacah-cacah sampai tidak ada potongan yang panjangnya lebih besar dari setengah kaki. Kepalanya dibelah menjadi empat potong dan anggota tubuh yang paling dibenci Hun Bwee dan paling membuatnya jijik itu telah dicacah-cacah seperti daging bahan bakso!

Sekarang Hun Bwee tidak tertawa-tawa lagi, melainkan menjerit-jerit menangis diselingi tawa sambil membacoki terus! Pakaian merahnya penuh dengan percikan darah, namun tak dipedulikan. Pedang hitamnya juga sudah basah oleh darah.

Dalam keadaan seperti itulah lima orang anak buah Pat-liu Sian-ong yang pada waktu itu kebetulan sedang meronda di taman mendapatkan gadis itu. Lima orang anak buah ini cepat-cepat lari mendekati dan mereka terbelalak penuh kengerian ketika melihat gadis itu membacoki mayat yang sudah menjadi onggokan daging berceceran. Hanya ketika mereka melihat pakaian Lian Ci Sengjin di atas rumput saja yang membuat mereka sadar bahwa yang dibacoki itu adalah bekas tubuh Lian Ci Sengjin!

"Celaka...!" Seorang di antara mereka berseru kaget.

Mendengar ini, Hun Bwee menengok dan sambil berteriak ganas ia menerjang ke depan, menggerakkan pedangnya. Lima orang itu cepat menggunakan senjata menangkis, akan tetapi dalam sekejap mata saja, empat orang di antara mereka telah roboh dengan nyawa melayang, dan hanya seorang yang terluka pada pundaknya masih sempat lari sambil berteriak-teriak sekerasnya.

Hun Bwee mengejarnya. Dua bayangan orang berkelabat dan muncullah Si Iblis Cebol Gu Coan Kok dan si raksasa Kerait yang bernama Hok Ku. Melihat keadaan Hun Bwee, dua orang di antara iblis-iblis Tembok Besar ini cepat menyerangnya.

Gu Coan Kok menyerang dengan tongkatnya yang panjang, gerakannya cepat dan aneh sekali, menyodokkan tongkatnya ke arah perut Hun Bwee. Pada saat itu juga, Hok Ku si raksasa tinggi besar bongkok telah menggerakkan senjatanya berbentuk cakar besi yang beracun dan yang disambung dengan dua tangannya, menyerangnya dengan Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa), mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala dengan tangan kanan ke arah dada Hun Bwee.

Hun Bwee menjadi marah sekali. Mulutnya mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya berkelebat, berubah menjadi segulung sinar hitam yang sekaligus menangkis tongkat yang menyodok perut dan cakar yang mencengkeram dada, sedangkan tangan kirinya dengan berani menyampok cakar yang mencengkeram kepalanya.

"Cring! Tranggg! Plakkk!"

Kedua orang jagoan Tembok Besar terkejut sekali karena tangkisan pedang itu membuat senjata mereka terpental, sedangkan cakar besi beracun itu ketika disampok tangan kiri Hun Bwee, membuat Hok Ku hampir terguling! Padahal raksasa bongkok ini mempunyai tenaga yang amat besar. Tahulah mereka bahwa wanita gila ini ternyata lihai luar biasa.

Mereka bersilat dengan hati-hati sekali, apa lagi ketika Hun Bwee kini membalas dengan serangan yang bertubi-tubi dan gerakannya mirip gerakan ngawur, asal bacok dan tusuk saja bukan seperti gerakan dari seorang ahli pedang. Justru gerakan ngawur inilah yang menyembunyikan kelihaian ilmu pedang ajaran Go-bi Thai-houw si nenek gila.

Serangan yang ngawur ini benar-benar mengacaukan gerakan dua orang jagoan Tembok Besar. Kelihatannya ngawur, namun dari gerakan itu memancar keluar bahaya-bahaya maut sehingga mereka tidak berani memandang ringan dan cepat menggerakkan senjata untuk menangkis.

"Hi-hi-hik!" Hun Bwee terkekeh dan tiba-tiba tubuhnya jatuh terpelanting sendiri karena kakinya yang kacau itu membuat ia kehilangan keseimbangan tubuh!

Melihat wanita baju merah itu terguling miring dan pedangnya terhimpit tubuhnya sendiri, tentu saja dua orang jagoan Tembok Besar menjadi girang bukan main. Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi dan melihat keadaan lawan, mereka tahu bahwa kini mereka tentu akan dapat menundukkan lawan aneh itu.

Cepat mereka berdua menubruk, seperti berlomba, menggerakkan senjata. Betapa pun juga, karena mereka ingin menawan wanita gila ini hidup-hidup, senjata tongkat bergerak menotok jalan darah sedangkan kedua cakar besi hanya mencengkeram pundak. Mereka berdua tidak mengirim pukulan maut karena keadaan lawan yang sudah tidak berdaya seperti tiu, dengan penyerangan mereka itu pun pasti mereka akan berhasil.

Kedua orang jagoan Tembok Besar itu boleh jadi sudah memiliki kepandaian tinggi dan pengalaman bertanding yang amat matang, akan tetapi tentu saja mereka belum pernah bertemu dengan lawan yang mempunyai ilmu dari Go-bi Thai-houw yang luar biasa, ilmu yang diciptakan oleh orang yang miring otaknya sehingga akal-akal yang terdapat dalam ilmu silatnya kiranya hanya akan dapat diduga dan diperhitungkan oleh orang sinting pula.

Jatuhnya tubuh Hun Bwee sehingga rebah sendiri bukanlah memang sewajarnya, meski pun tampaknya demikian, melainkan gerak tipu yang berbahaya sekali! Pada saat ujung senjata kedua orang sudah hampir berhasil, secara tak tersangka-sangka dan tiba-tiba tubuh gadis itu terguling menelungkup dan kedua kakinya bergerak menendang, bukan menendang seperti biasa, melainkan ‘menyepak’ ke belakang seperti kaki belakang kuda mengarah anggota rahasia pusar kedua orang lawan!

Bukan main kagetnya Gu Coan Kok dan Hok Ku! Apa bila serangan mereka itu mereka lanjutkan, tentu akan mengenai lawan, akan tetapi tidak sampai menimbulkan kematian. Sebaliknya, sepakan gadis itu pun akan mengenai sasaran dan akibatnya tentu sangat hebat. Akan tetapi, untuk menarik kembali serangan mereka, sudah tak keburu lagi maka mereka berusaha mengelak.

Masih untung bahwa mereka adalah dua orang yang memiliki kepandaian tinggi sehingga dalam keadaan tubuh sudah condong ke depan dan menyerang itu mereka masih sempat meloncat ke belakang sehingga sepakan yang cepat dan kuat itu tidak mengenai sasaran secara tepat dan hanya mengenai paha mereka.

Dua orang itu berteriak dan masih dapat meloncat terus ke belakang, paha mereka terasa panas kena dicium belakang kaki Hun Bwee. Ada pun serangan mereka yang tadi hanya sempat menyentuh tubuh Hun Bwee, sama sekali tidak mendatangkan kerugian apa-apa bagi gadis itu.
Selanjutnya,

Pedang Kayu Harum Jilid 35

Pedang Kayu Harum Jilid 35
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
Terjadilah pertandingan hebat di dalam kuil, di bawah cahaya penerangan obor-obor yang dinyalakan oleh para penjaga. Kalau mereka menghendaki, Keng Hong dan Biauw Eng tentu saja akan dapat melarikan diri dengan mudah di kegelapan malam itu. Akan tetapi mereka, terutama Biauw Eng, tidak sudi melarikan diri meninggalkan tiga orang kawan mereka, sedangkan dua orang lawan mereka yang amat tangguh itu tidak memungkinkan mereka dapat menolong kawan-kawan mereka yang masih ditawan dalam kamar.

"Berhenti! Cia Keng Hong, lihat, apakah kau ingin melihat mereka ini mampus di depan matamu?"

Keng Hong dan Biauw Eng terkejut sekali melihat betapa Cong San, Yan Cu dan Hun Bwee sudah diseret ke sana dan diancam dengan pedang pada leher mereka oleh Lian Ci Sengjin, Sian Ti Sengjin, Kim-to Lai Ban dan Thian It Tosu!

"Hi-hi-hik-hik! Keng Hong, apakah engkau masih belum mau menyerah? Ataukah engkau hendak mengorbankan mereka ini demi keselamatanmu?" Cui Im mengejek.

"Cui Im, engkau curang dan pengecut!" Keng Hong membentak marah.

"Hi-hi-hik, siapa yang curang? Apakah engkau sendiri yang tadi merayuku supaya dapat membebaskan diri tidak curang?"

Terpaksa Keng Hong dan Biauw Eng menyerahkan diri dan tidak melawan ketika Pat-jiu Sian-ong dan Cui Im menotok mereka roboh. Mereka diikat lagi dengan erat, bahkan Keng Hong kini ditotok sendiri oleh Cui Im menggunakan ilmu Tiam-hiat-hoat dari kitab pusaka Sin-jiu Kiam-ong sehingga sekali ini Keng Hong benar-benar lumpuh tidak dapat menggerakkan kaki tangannya.

Karena tidak ingin mengalami hal-hal tidak enak seperti yang telah terjadi tadi, malam itu juga Cui Im melanjutkan perjalanan membawa lima orang tawanan itu menuju ke arah markas Pat-jiu Sian-ong. Beberapa hari kemudian tibalah mereka di tempat yang menjadi tempat tinggal Pat-jiu Sian-ong dan anak buahnya.

Tempat ini merupakan sebuah benteng yang kuat, dikelilingi dengan pagar tembok tinggi dan terjaga kuat. Diam-diam Keng Hong memperhatikan keadaan benteng itu dan harus mengaku di dalam hati bahwa sekali ini, kalau dia mendapat kesempatan, dia bersama dengan empat orang temannya harus berkelahi mati-matian dan agaknya tidaklah akan mudah bagi dia dan teman-temannya untuk dapat lolos dari tempat yang kuat itu.

Mereka memasuki benteng ini pada siang hari dan betapa kaget hati Keng Hong ketika melihat banyak sekali orang-orang yang kelihatan berkepandaian tinggi, bahkan di antara mereka ini dia melihat Pak-san Kwi-ong! Selain ini, dia melihat pula Pak-san Su-liong, tokoh-tokoh yang bersenjata tengkorak, yaitu murid-murid Pak-san Kwi-ong yang lihai dan masih ada lagi empat orang pengawal-pengawal rahasia kaisar, yaitu Gu Coan Kok si Iblis Cebol, Huk Ku si setan bangsa Kerait dan Thai-lek Sin-mo Cou Seng! Heran dia mengapa pengawal-pengawal rahasia kaisar itu, yang tadinya berjumlah empat orang ditambah lagi Pak-san Kwi-ong, Bhe Cui Im dan Siauw Lek, bisa berkumpul di tempat ini.

Memang sesungguhnyalah, para pengawal rahasia itu kesemuanya melarikan diri setelah terjadi peristiwa di luar istana ketika Cui Im berusaha menjebak Keng Hong. Tio Hok Gwan, pengawal Laksamana Tinggi The Ho yang lihai dan telah bersimpati kepada Keng Hong, memberi pelaporan kepada jujungannya.

Laksamana The Ho adalah orang yang bijaksana dan sangat berpengaruh serta dihormati oleh kaisar. Karena itu ketika The Ho memberi nasehat kepada kaisar betapa bahayanya menggunakan tenaga orang-orang yang terkenal sebagai datuk-datuk dan tokoh-tokoh dunia hitam itu, kaisar lalu membebas tugaskan mereka.

Pak-san Kwi-ong dan teman-temannya kemudian pergi dari istana dan diam-diam merasa marah sekali. Di dalam hati mereka memberontak dan hendak menjatuhkan kaisar, maka mereka segera beramai-ramai pergi mengunjungi Pat-jiu Sian-ong untuk mengumpulkan kawan dan bersekutu menjatuhkan kaisar!

Tugas pertama mereka adalah hendak mempergunakan kesempatan selagi orang-orang kang-ouw berkumpul di Tai-hang-san untuk menggempur mereka karena mereka sudah mendengar betapa orang-orang kang-ouw itu juga menentang Pak-san Kwi-ong beserta sekutunya menjadi pengawal kaisar. Bahkan diam-diam Pak-san Kwi-ong dan para Iblis Tembok Besar yang kini tinggal tiga orang itu karena Kemutani telah tewas di tangan Yap Cong San, menghubungi suku bangsa Mongol dan Mancu agar bersekutu dan menyerang ke sebelah selatan tembok besar.

Ketika para tawanan itu dikumpulkan di ruangan dalam, semuanya dibelenggu, tiba-tiba Hun Bwee berteriak-teriak dan meronta-ronta, "Lepaskan aku! Lepaskan! Kenapa kalian membelenggu aku? Awas, jika tidak kalian lepaskan, kelak guruku Go-bi Thai-houw tentu akan mencabut nyawa kalian semua!"

Mendengar disebutnya nama Go-bi Thai-houw, Pak-san Kwi-ong terkejut. “Apa? Gadis ini adalah murid Go-bi Thai-houw? Bagaimana bisa menjadi tawananmu, Ang-kiam Bu-tek?” Ia kelihatan gelisah dan heran.

"Hemmm... kalau dia menjadi muridnya, mengapa sih? Dia bersama dengan Biauw Eng, dan agaknya gila."

"Lepaskan! Aku tidak memusuhi siapa-siapa, aku hanya akan membunuh Cia Keng Hong, bocah yang telah memperkosaku. Lepaskan!"

"Tan Hun Bwee, yang memperkosamu adalah Lian Ci…"

"Plakkk!"

Pipi Cong San kena ditampar oleh Lian Ci Sengjin. "Diam kau, monyet!"

"Bohong! Bukan siapa-siapa, melainkan Cia Keng Hong. Lepaskan aku!"

"Ang-kiam Bu-tek, sebaiknya kau bebaskan dia. Kalau dia murid Go-bi Thai-houw, berarti bukan musuh."

"Eh, eh, eh, Kwi-ong. Agaknya engkau jeri sekali mendengar nama Go-bi Thai-houw!" Cui Im mengejek.

Pak-san Kwi-ong terbatuk-batuk. "Eehhhh... Dia... dia... Hemm. Pat-jiu Sian-ong, apakah engkau pun memusuhi Go-bi Thai-houw?"

Tiba-tiba kakek kecil kate yang berkepala besar itu kelihatan bingung, akan tetapi cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Siapa memusuhi siapa? Aku tidak pernah bentrok dengan nenek sakti itu."

"Nona Bhe, engkau belum tahu. Go-bi Thai-houw itu lihainya bukan main, dan jauh lebih menguntungkan jika kita bersekutu dengan dia. Lebih baik jangan mengganggu muridnya. Pula, apakah perlunya gadis ini ditawan?" Pak-san Kwi-ong berkata.

Cui Im tersenyum dan mengeling kepada Lian Ci Sengjin. "Aku pribadi tidak mempunyai urusan dengan Tan Hun Bwee ini, juga tidak pernah mengenal Go-bi Thai-houw, maka soal membebaskan dia atau tidak, tidak penting bagiku. Hanya kita mesti menanyakan pendapat Lian Ci Sengjin dulu, karena kalau nona ini dibebaskan, jangan-jangan dia akan menyerang Lian Ci Sengjin."

Wajah bekas tosu Kun-lun-pai itu sebentar merah sebentar pucat. Akhirnya, saking malu dan marah dia hanya dapat mengomel, "Perempuan ini terang seorang yang gila, mau bebaskan dia atau mau bunuh, aku tidak peduli!"

Cui Im tertawa mengejek lalu menghampiri Hun Bwee. Sekarang dia memandang penuh perhatian karena disebutnya nama guru gadis ini sebagai seorang yang amat lihai, yang ditakuti oleh Pat-jiu Sian-ong dan Pak-san Kwi-ong, benar-benar membuat dia menaruh perhatian. "Katakan kalau kau kubebaskan, apa yang hendak kau lakukan?"

Hun Bwee hanya sebentar saja memandang Cui Im, lalu matanya mencari-cari kemudian menatap wajah Keng Hong, mulutnya berkata nyaring, "Akan kubunuh Cia Keng Hong!"

Cui Im mengerutkan keningnya. "Ehh, bukankah ada orang lain yang bilang bahwa yang memperkosamu bukanlah Keng Hong?"

"Bohong! Yang memperkosaku adalah Keng Hong, bukan orang lain!"

"Hemmm... benarkah itu? Bukan dia itu...?" Cui Im menuding ke arah Lian Ci Sengjin yang memandang dengan muka merah.

Semua orang juga memandang karena ingin melihat apakah gadis gila itu sekarang akan membuka rahasia itu secara jelas. Dapat dibayangkan betapa menyesal dan kaget hati Keng Hong, Biauw Eng, Yan Cu dan Cong San ketika melihat Hun Bwee menggeleng kepala dan berkata lantang,

"Bukan! Bukan dia...! Cia Keng Hong-lah yang memperkosa aku, orang gagah itu belum pernah kulihat selama hidupku!"

Bukan main girang hati Lian Ci Sengjin dan dia menekan kegirangannya, hanya mulutnya berkata dengan suara dibikin-bikin menjadi tenang sekali, "Nah, sekarang baru semua orang mendengarnya. Yang suka main gila dengan para wanita adalah bocah pengacau Cia Keng Hong itu, sama sekali bukan aku. Sudah kukatakan bahwa perempuan ini gila, maka tadinya dia menuduhku yang bukan-bukan."

Sian Ti Sengjin memandang kepada sute-nya dengan kening dikerutkan. Bekas tosu dari Kun-lun-pai ini tidak berkata sesuatu, akan tetapi terjadi perang hebat di dalam dadanya yang tidak diketahui orang lain. Dia mengenal sute-nya dan tahu pula akan kelemahan sute-nya.

"Baiklah, Tan Hun Bwee, aku akan membebaskan engkau, namun dengan syarat bahwa engkau harus suka menjadi sekutu kami, kelak engkau membujuk gurumu untuk bekerja sama dengan kami pula, dan yang terpenting sekarang ini, engkau harus mentaati semua perintahku. Bagaimana, sanggupkah?"

Betapa cemas dan khawatir hati Biauw Eng menyaksikan keadaan suci-nya itu, apa lagi ketika melihat suci-nya mengangguk. Perasaan cemas ini bercampur rasa marah sekali. Dia tahu bahwa Hun Bwee memang menderita penyakit jiwa, akan tetapi selama ini dia merasa yakin bahwa di balik kegilaan Hun Bwee terdapat watak yang gagah perkasa dan tidak mengenal takut. Kenapa sekarang Hun Bwee berubah seperti itu dan tunduk kepada Cui Im?

Juga, walau pun gila, Hun Bwee biasanya cerdik sekali. Kenapa sekarang tetap menuduh Keng Hong sebagai pemerkosanya, sedangkan tadi begitu yakin bahwa Lian Ci Sengjin bekas tosu Kun-lun-pai itulah pelakunya?

"Suci! Jangan mendengarkan bujukan iblis itu!" Biauw Eng berseru memperingatkan Hun Bwee.

Akan tetapi Hun Bwee menoleh dan melotot kepadanya. "Jangan turut campur! Aku tidak sudi mendengar omonganmu, perempuan tak tahu malu!"

Biauw Eng terkejut setengah mati. Belum pernah suci-nya ini, waras atau sedang kumat, bersikap seperti ini kepadanya. Padahal ketika tadi melotot kepadanya dia melihat bahwa pandang mata suci-nya itu tidak seperti kalau sedang kumat.

Cui Im tertawa, kemudian bertanya kepada Hun Bwee. "Dia menyebutmu Suci? Hi-hi-hik, alangkah lucunya. Sebetulnya, akulah Suci-nya. Apakah dia... ahhhh! Apakah dia menjadi murid Go-bi Thai-houw?"

Hun Bwee mengangguk. "Dia baru saja menjadi murid subo. Akan tetapi mulai sekarang aku tidak sudi mengakuinya sebagai Sumoi lagi. Dia curang, tak bermalu dan palsu!"

Cui Im tersenyum girang. "Mengapa?"

"Dia tahu bahwa Keng Hong sudah memperkosaku dan tadinya kami hendak menangkap Keng Hong lalu memaksa pemuda itu menjadi suamiku. Tapi setelah berhasil menangkap Keng Hong, hemmm... dia ingin memilikinya sendiri!"

"He-he-hi-hi-hik!" Cui Im tertawa senang dan sekali tangannya bergerak, maka bebaslah Hun Bwee.

Sejenak gadis ini mengurut-urut kedua lengannya, kemudian dengan beringas dia segera menghampiri Keng Hong sambil berkata, "Kubunuh engkau, Cia Keng Hong!"

"Hun Bwee, tahan!" Cui Im membentak hingga Hun Bwee menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"Dengar baik-baik. Engkau sudah berjanji akan mentaati perintahku, bukan? Nah, perintah pertama engkau tidak boleh membunuh Keng Hong...”

"Akan tetapi dia... dia..."

"Engkau tak boleh mengganggunya tanpa seijin dariku, mengerti? Bila sudah tiba saatnya aku harus membunuhnya, biarlah kuserahkan tugas itu kepadamu. Mengerti?"

Dengan muka kecewa sekali Hun Bwee mengangguk, kemudian berdiri di dekat Cui Im sambil menundukkan muka seperti orang melamun. Cui Im menepuk-nepuk pundaknya dan berkata, “Mulai sekarang engkau menjadi pembantuku yang setia, Hun Bwee...”

Hun Bwee hanya mengangguk-angguk dan semua ini dipandang oleh Biauw Eng dengan hati panas, akan tetapi bagaimana dia akan dapat menyalahkan suci-nya yang memang tidak waras pikirannya itu? Ia hanya dapat menghela napas panjang. Sesudah Hun Bwee berubah menjadi seperti itu, tentu saja kini menjadi semakin sukar lagi bagi mereka untuk meloloskan diri. Berkurang sudah seorang tenaga yang sangat kuat.

Dalam keputus asaan ini, tak terasa lagi Biauw Eng mengerling ke arah Keng Hong dan betapa heran hatinya melihat Keng Hong yang menyandarkan tubuhnya yang lemas itu ke tiang di mana dia terikat, juga memandangnya dan tersenyum! Pandang mata pemuda itu kepadanya seolah-olah menggantikan kata-kata yang menghibur, yang minta kepadanya agar tidak putus asa!

Tawanan yang kini tinggal empat orang itu lalu dibawa pergi dan dijebloskan ke dalam kamar-kamar tahanan yang amat kuat dan terpisah. Kamar tahanan itu terbuat dari pada dinding batu dan pintu serta jendelanya diberi jeruji besi yang amat kuat.

Empat orang muda-mudi yang ditahan ini masing-masing tenggelam dalam lamunannya sendiri. Cong San sangat khawatir akan keselamatan kawan-kawannya, terutama sekali Yan Cu. Ia harus mengakui bahwa baru satu kali ini dia jatuh cinta, yaitu kepada Yan Cu.

Ia tidak khawatir akan keselamatan dirinya sendiri. Sebagai seorang pemuda gemblengan murid ketua Siauw-lim-pai, tentu saja dia memiliki tenaga dan ilmu simpanan dan bila dia menghendaki, dengan pengerahan tenaga sakti, dia akan mampu mematahkan belenggu dan membebaskan diri.

Akan tetapi tadi dia melihat tanda isyarat dari pandang mata Keng Hong dan dia dapat menangkap apa kehendak Keng Hong dengan isyarat itu. Memang benar kalau dia nekat memberontak, hal ini akan membahayakan keselamatan mereka berlima, yang kini hanya tinggal berempat karena wanita gila itu berpihak kepada musuh.

Pihak musuh terlalu kuat dan terlalu banyak. Dia harus menanti saat yang baik, mencari kesempatan agar dengan sekali memberontak saja dapat membebaskan mereka semua. Tentunya Keng Hong juga berpendapat demikian, pikir Cong San yang duduk termenung bersandar dinding di dalam kamar tahanannya yang sempit?

Benarkah pendapat Keng Hong seperti pikiran murid Siauw-lim-pai ini? Hanya sebagian saja demikian. Sebetulnya, banyak hal yang menyebabkan Keng Hong mandah dan diam saja dijadikan tawanan.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, kalau dia mau tentu saja dia pada kesempatan pertama sudah dapat menyelamatkan dirinya, sungguh pun belum tentu dia akan dapat menyelamatkan empat orang temannya. Akan tetapi Keng Hong tidak mau melakukan hal itu.

Pertama kali, ketika mereka semua tertawan dan dia sendiri telah dibelenggu Biauw Eng, dia sengaja diam saja untuk sekedar mencoba Biauw Eng, akan tetapi tentu saja setiap saat dia siap untuk melindungi teman-temannya apa bila terancam keselamatannya. Tapi ketika melihat bahwa Cui Im hanya menawan mereka, dia pun diam saja, pura-pura tidak berdaya.

Kini, Keng Hong masih belum turun tangan, pertama karena usahanya pertama kali gagal, dan ke dua, di samping melihat kokoh kuatnya penjagaan benteng itu serta banyaknya tokoh-tokoh yang berilmu tinggi, juga dia harus mengingat akan pusaka-pusaka yang kini kembali terampas oleh Cui Im. Terutama sekali pusaka-pusaka yang harus ia kembalikan kepada partai-partai besar yang memilikinya. Kalau kali ini dia sampai gagal merampas, tentu kelak akan sukar sekali baginya untuk merampas kembali sebab Cui Im tentu akan lebih berhati-hati.

Biauw Eng juga melamun di dalam kamar tahanannya. Hatinya masih penuh penasaran melihat sikap Hun Bwee. Tak diduganya sama sekali bahwa suci-nya itu ternyata adalah seorang yang rendah budi, yang begitu saja menyerah kepada musuh dan mengorbankan teman-temannya, terutama sekali mengorbankan dia, sumoi-nya.

Benarkah bahwa Hun Bwee berbuat seperti itu karena iri hati dan cemburu kepadanya? Karena dia kini kembali menyatakan cinta kasihnya kepada Keng Hong? Dan gadis ini pun mulai meneliti perasaannya sendiri.

Tadinya dia memang benci kepada Keng Hong, tidak saja karena sikap Keng Hong yang lalu, akan tetapi kini ditambah lagi cerita Hun Bwee bahwa pemuda itu memperkosanya. Setelah bertemu dengan Keng Hong kemudian melihat betapa Keng Hong menyatakan penyesalannya atas sikapnya yang dulu terhadap dirinya, bahkan Keng Hong juga telah menyerah dan rela untuk ditawan atau dibunuhnya sekali pun, apa lagi ketika mendengar ucapan Cong San lalu melihat sikap Hun Bwee dan Lian Ci Sengjin yang membongkar perkosaan itu, rasa bencinya semakin membuyar dan timbullah kembali cinta kasihnya terhadap Keng Hong yang memang tak pernah padam.

Dia mencinta Keng Hong, hal ini terjadi semenjak dahulu. Akan tetapi Hun Bwee, yang katanya telah diperkosa oleh Keng Hong, apakah juga mencinta Keng Hong dan cemburu kepadanya? Akan tetapi jika benar demikian, mengapa Hun Bwee kini hendak membunuh Keng Hong? Benar-benar dia menjadi bingung. Apakah Hun Bwee kumat gilanya? Akan tetapi sinar matanya tidak liar seperti biasanya kalau kumat.

Yan Cu juga termenung. Gadis ini merasa menyesal sekali kepada Biauw Eng yang dia anggap menjadi gara-gara sampai mereka tertawan. Akan tetapi ia pun merasa menyesal pada Keng Hong kenapa suheng-nya begitu tolol untuk mengorbankan diri demi cintanya kepada Biauw Eng yang tak dapat menghargai cinta orang itu!

Dan dia teringat akan sikap Cong San kepadanya. Pemuda murid Siauw-lim-pai itu cinta kepadanya! Akan tetapi dia? Ahhh…, sukarlah untuk menjawabnya. Hatinya masih belum dapat melenyapkan perasaan mesranya terhadap Keng Hong, walau pun dia sendiri tidak berani mengatakan apakah dia sesungguhnya mencinta Keng Hong. Sampai saat itu pun Yan Cu masih mencari-cari arti cinta dan belum dapat menemukannya!

Akan tetapi, dia tidak putus asa, juga tidak takut. Selama nyawa masih dikandung badan, dia tidak akan kehabisan akal dan harapan. Pasti akan muncul saat dan kesempatan bagi salah seorang di antara mereka untuk meloloskan diri lalu menolong teman-temannya.

Dia sendiri pun akan mencari kesempatan itu. Apa bila mungkin malam nanti melepaskan ikatannya dan berusaha keluar dari kamar tahanan itu. Atau kalau tidak berhasil, dia akan menanti sampai penjaga mengantarkan makanan. Mungkin dia akan dapat merobohkan penjaga.

Kalau saja Keng Hong tidak begitu lemah terhadap cinta kasihnya yang amat mendalam kepada Biauw Eng! Ia percaya penuh bahwa dengan kelihaiannya, suheng-nya itu akan dapat menolong mereka semua.

Sementara itu, Cui Im, Pat-jiu Sian-ong, Pak-san Kwi-ong dan semua tokoh yang berada di benteng itu mengadakan perundingan. Cui Im yang dianggap sebagai paling lihai dan paling cerdik di antara mereka, memimpin perundingan.

Mereka sudah mengirim mata-mata dan kurir untuk menyelidiki keadaan kota raja, juga menyelidiki pertemuan para tokoh kang-ouw di puncak Tai-hang-san, dan telah mengirim utusan untuk menghubungi kepala suku bangsa Mongol dan Mancu yang berada di luar Tembok Besar di daerah utara. Mereka itu memutuskan untuk menanti kembalinya para penyedlidik sekalian menanti datangnya utusan Mongol dan Mancu yang mereka undang.

Tan Hun Bwee benar-benar diberi kebebasan. Ia mendapatkan sebuah kamar yang cukup indah dan dia tidak diganggu sama sekali. Akan tetapi Cui Im adalah seorang cerdik. Dia memang ingin mempergunakan gadis gila itu untuk menarik Go-bi Thai-houw bersekutu, akan tetapi diam-dia ia pun selalu menyuruh orang memperhatikan dan menjaga gadis ini.

Akan tetapi dalam beberapa hari itu Hun Bwee kelihatan baik-baik saja, bahkan dia mulai mendekati Lian Ci Sengjin! Hal ini diketahui baik oleh Cui Im dan dia diam-diam tertawa. Lebih baik Lian Ci Sengjin didekatkan kembali dengan gadis yang sudah diperkosanya itu. Dia tahu betapa Lian Ci Sengjin masih tergila-gila padanya dan sering suka menggodanya dengan celaan-celaan dan tuntutan-tuntutan agar dia suka memikirkan lamarannya! Kalau Hun Bwee bisa menghiburnya, tentu godaan bekas tosu itu akan berkurang.

Malam itu rembulan bersinar penuh. Lian Ci Sengjin keluar dari pondoknya dengan muka merah. Baru saja dia kembali cekcok dengan suheng-nya, Sian Ti Sengjin. Suheng-nya itu sudah beberapa kali mengajaknya agar kembali saja ke Phu-niu-san, di mana mereka berdua sedang membangun serta mengembangkan partai yang mereka bentuk sesudah mereka ‘tidak mendapat angin’ di Kun-lun-pai.

"Suheng, kenapa mesti tergesa-gesa? Bukankah kita membutuhkan bantuan Cui Im untuk membalas sakit hati kita terhadap Kun-lun-pai? Pula, kalau kita berhasil menghancurkan Kun-lun-pai, mana bisa nama kita bersih dari pada noda setelah kita berdua diusir dari sana? Tentu dunia kang-ouw akan mencemoohkan nama partai Phu-niu-san yang akan kita kembangkan!" Demikian dia membantah ajakan suheng-nya.

“Tapi aku merasa ragu-ragu, Sute. Mereka itu... ahh…, bagaimana kita sudah terperosok begini rendah sehingga bersekutu dengan kaum sesat?" Sian Ti Sengjin berkata sambil menarik napas berulang-ulang dan keningnya berkerut.

"Aku pun tidak suka, akan tetapi kita terpaksa, Suheng! Sudahlah, kita sudah terlanjur basah, lebih baik terjun sama sekali!" Dengan kata-kata itu, Lian Ci Sengjin meninggalkan suheng-nya dan keluar untuk mencari hawa sejuk agar mendinginkan hati dan pikirannya yang panas.

Di bawah sinar bulan purnama itu, teringat dia akan wajah-wajah cantik. Ia menengadah, memandang bulan purnama dan bekas tosu Kun-lun-pai yang gagal menguasai nafsunya sendiri itu menghela napas. Bulan yang bundar itu seakan-akan berubah menjadi wajah Cui Im yang tersenyum kepadanya. Ahhh…, tidak ada harapan, pikirnya. Wanita cantik itu terlalu angkuh.

Kemudian bulan itu membayangkan wajah Hun Bwee, dan kembali dia menghela napas. Gadis itu cantik juga dan kalau dia teringat akan peristiwa dahulu pada saat dia berhasil merenggut kehormatan gadis itu, timbul pula gairahnya. Kalau saja dia bisa mendapatkan Hun Bwee untuk menjinakkan nafsunya yang liar bergelora, akan puaslah hatinya.

Sayang bahwa gadis itu agaknya telah berubah ingatannya! Tapi sekarang kelihatan telah waras dan dengan pakaiannya yang merah dan ketat, sungguh tak kalah menariknya oleh Cui Im yang jauh lebih tua. Sungguh pun kelihatan masih cantik, akan tetapi dia dapat menduga bahwa usia Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im sudah mendekati tiga puluh tahun, sedangkan Hun Bwee tentu baru dua puluh tahun lebih!

"Lo-enghiong...!"

Suara halus ini menyadarkan Lian Ci Sengjin dari lamunan dan ketika dia menengok, dia melihat Hun Bwee berdiri sambil tersenyum manis dengan pandang mata begitu indah, seperti sinar bulan purnama sendiri! Pertama-tama dia amat kaget dan siap menghadapi wanita ini kalau hendak mengamuk, akan tetapi melihat senyum dan pandang mata itu, dia pun merasa lega.

"No... Nona..., engkau di sini?"

Hun Bwee tersenyum, senyum yang amat manis dalam pandang mata Lian Ci Sengjin, karena disertai bayangan malu-malu kucing!

"Lo-enghiong... kenapa engkau agaknya selalu menjauhkan diri dariku? Apakah... apakah Lo-enghiong termasuk golongan pria yang berwatak habis manis sepah dibuang?"

Berubah wajah Lian Ci Sengjin, menjadi pucat lalu berubah merah, matanya terbelalak. Tadinya dia menyangka bahwa gadis ini benar-benar menjatuhkan tuduhan perkosaan itu kepada Keng Hong, akan tetapi pertanyaan ini berarti lain?

"Apa... apa maksudmu, Nona?"

Kembali Hun Bwee tersenyum malu-malu dan mengerling. "Lo-enghiong, bukankah aku sudah membersihkan nama baikmu dan menjatuhkan noda kepada Cia Keng Hong yang kubenci? Apakah kau masih tidak mengerti apa yang kumaksudkan? Marilah kita bicara di taman sana, Lo-enghiong. Sungguh tak menyenangkan dan amat memalukan bagiku bila ada telinga lain yang mendengarnya," kata gadis itu perlahan-lahan.

Timbul kecurigaan di hati Lian Ci Sengjin. "Katakan dulu mengapa kau lakukan itu, baru aku percaya," katanya terus terang.

Hun Bwee menarik napas panjang dan menoleh ke kanan kiri, kemudian melangkah maju mendekat dan berbisik lirih, "Lo-enghiong, aku adalah puteri tunggal Tan-piauwsu. Ayah dan ibuku mendendam sakit hati kepada Sin-jiu Kiam-ong dan aku telah bersumpah akan membalasnya. Karena ayah dan ibuku mati akibat perbuatan Sin-jiu Kiam-ong, maka aku harus membalas kepadanya namun karena dia pun sudah tidak ada, maka satu-satunya jalan hanya membalas dendam kepada muridnya."

Lian Ci Sengjin mengangguk-angguk. Dia mengenal Tan-piauwsu dan sudah mendengar pula bahwa piauwsu itu adalah salah seorang di antara musuh-musuh Sin-jiu Kiam-ong. "Lalu bagaimana?"

"Aku... ehh, aku telah... menjadi isteri Lo-enghiong... dan... hal itu... amat membahagiakan hati..."

"Hemmm... sungguhkah?" Jantung bekas tokoh Kun-lun-pai yang usianya telah setengah abad kurang sedikit ini berdebar.

"Perlu apa aku bohong? Mengapa Lo-enghiong dahulu itu meninggalkan aku begitu saja? Padahal aku... aku mencari-carimu, maka aku menimpakan noda itu kepada Keng Hong."

"Tapi... tapi mengapa engkau mengancamku ketika murid Siauw-lim-pai itu membuka... rahasia itu?"

"Aihhhhh... Lo-enghiong mengapa tidak tahu akan wanita? Tentu saja aku malu di depan begitu banyak orang dan... sudahlah, mari kita berbicara di taman sana sambil menikmati cahaya bulan dan membicarakan masa depan kita. Ataukah... Lo-enghiong benar-benar berwatak habis manis sepah dibuang?"

Sejenak mereka saling berpandangan di bawah sinar bulan yang terang. Lian Ci Sengjin memandang dengan pandang mata penuh selidik, namun setelah diamuk birahi tentu saja penyelidikannya percuma sehingga makin lama makin menipis sinar menyelidik, terganti seluruhnya oleh sinar mata mesra dan haus, maka akhirnya hanya sepasang mata yang indah, mulut yang manis menggairahkan saja yang nampak olehnya.

Ada pun Tan Hun Bwee memandang bekas tokoh Kun-lun-pai itu dengan mata dikerling, tajam memikat, mulut agak terbuka sehingga di balik sepasang bibir merah basah tampak deretan gigi putih mengkilap dan ujung lidah merah mengintai genit.

Walau pun kini hatinya sudah yakin bahwa gadis ini benar-benar ‘jatuh cinta’ kepadanya karena peristiwa dahulu itu, mulut Lian Ci Sengjin masih bertanya,

"Nona, mana bisa aku percaya begitu saja? Aku sudah tua, engkau masih begini muda, segar dan cantik jelita."

"Ahhh, mengapa engkau berkata demikian, Lo-enghiong? Aku adalah seorang wanita dari keluarga baik-baik. Setelah... setelah menjadi milikmu... bagaimana aku tak mencintamu? Engkau telah memiliki diriku berarti telah memiliki jiwa ragaku...” Hun Bwee menundukkan muka dan kelihatan malu-malu kucing sehingga sikap ini makin membetot jantung Lian Ci Sengjin.

"Tapi... tapi... hatiku belum yakin..."

"Aahhh...!" Hun Bwee tiba-tiba melangkah maju.

Lian Ci Sengjin terkejut dan sudah siap menangkis. Akan tetapi kedua tangan Hun Bwee bergerak mesra sekali merangkul leher Lian Ci Sengjin, kedua lengan yang berkulit halus putih itu seperti dua ekor ular merayap melingkari leher, menarik leher itu sehingga Lian Ci Sengjin terpaksa menundukkan muka.

Muka mereka perlahan saling mendekati, dua pasang mata bertemu pandang, semakin dekat, semakin dekat hingga laki-laki itu merasa napas halus Hun Bwee menyapu pipinya, mencium keharuman yang memabukkan dan masih saja Hun Bwee menariknya sehingga akhirnya mulut mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang sebelumnya hanya pernah dialami Lian Ci Sengjin di dalam alam mimpi!

Hampir pingsan Lian Ci Sengjin dibuatnya! Sepasang matanya terbelalak dan sejenak dia tidak percaya akan pengalamannya, namun diam-diam menikmati permainan perasaan yang amat luar biasa. Betapa sepasang bibir yang lembut, hangat dan basah mengecup-ngecupnya! Betapa gigi yang putih-putih menggigit gemas! Betapa lidah kecil merah itu...!

Lian Ci Sengjin semenjak mudanya menjadi tosu. Seperti juga segala macam agama di dunia ini, agama To juga merupakan agama yang amat baik, amat suci dan merupakan pelajaran bagi manusia supaya tidak menghambakan diri kepada nafsu dan kenikmatan duniawi. Kalau toh ada seorang beragama yang melakukan penyelewengan, hal ini bukan sekali-kali salahnya agama itu sendiri, melainkan kesalahan si orang yang lemah batinnya sehingga menyeleweng dari pada ajaran agamanya!

Agamanya sendiri tetap suci, tetap bersih, namun manusia juga tetap manusia, makhluk yang selemah-lemahnya! Semenjak mudanya, sudah banyak Lian Ci Sengjin digembleng dengan pelajaran-pelajaran Agama To, namun karena batinnya lemah, dia tidak mampu menanggulangi amukan nafsu-nafsu dirinya sendiri, terutama sekali nafsu birahi.

Sekarang pertahanannya yang umpama sebuah tanggul telah bocor, mana kuat menahan nafsu yang membanjir akibat dibangkitkan oleh Hun Bwee! Segala pertahanannya hancur berantakan dan dia pun tenggelam dalam lautan nafsunya sendiri. Geraman seperti suara seekor beruang keluar dari kerongkongan dan dia membalas ciuman Hun Bwee dengan kasar penuh nafsu, memeluk tubuh wanita itu yang seakan hendak ditelannya bulat-bulat pada saat itu juga!

Hun Bwee memegang lengan Lian Ci Sengjin yang menggerayangi pakaiannya sambil berbisik, "Lian Ci koko... jangan... jangan di sini... ohhh...!"

Lian Ci Sengjin merasa seolah-olah terapung di langit ke tujuh mendengar sebutan ‘koko’ ini. Dua lengannya memeluk dan sambil tertawa seperti orang mabuk, dia menggendong tubuh kekasihnya itu dan membawanya lari ke dalam taman di mana terdapat banyak pohon-pohon sehingga mereka akan terlindung dalam kegelapan bayangan pohon.

********************

Semenjak manusia tercipta, nafsu birahi merupakan nafsu yang paling kuat dan jika nafsu ini telah mencengkeram diri manusia, maka si manusia lupa akan segala hal, kehilangan kewaspadaannya dan seluruhnya menjadi permaianan nafsu. Dapat dilihat dalam catatan sejarah betapa banyaknya kaisar-kaisar yang jatuh karena diperhamba oleh nafsu birahi, orang-orang gagah runtuh karena wanita, dan orang-orang yang hendak menyucikan diri tergoda oleh nafsu yang merupakan godaan terkuat.

Nafsu birahi merupakan anugerah alamiah yang memperindah cinta kasih antara pria dan wanita, mendorong manusia untuk berkembang biak dan sudahlah menjadi hukum alam. Namun apa bila nafsu birahi tidak dikekang dan sudah mencengkeram diri manusia yang telah menciptakan hukum-hukum kesusilaan, maka segala rintangan, segala pantangan akan dilanggar di luar kesadarannya.


Dalam cengkeraman nafsu birahinya yang memuncak, Lian Ci Sengjin lupa bahwa wanita cantik yang kini dipeluknya dan diletakkan dengan mesranya di atas rumput tebal dalam taman itu adalah seorang wanita yang mempunyai ilmu kepandaian luar biasa, jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada dia sendiri, lupa bahwa dia pernah melakukan perbuatan keji dan terkutuk terhadap gadis ini.

Dalam keadaan telanjang bulat, bagaikan seekor binatang buas dia menubruk gadis yang dianggapnya kekasihnya itu, dan gerengnya dahsyat keluar dari kerongkongannya. Akan tetapi gerengan dahsyat ini berubah menjadi pekik kaget yang tertahan. Untuk terkejut pun dia tidak sempat lagi, karena tahu-tahu tubuhnya telah menjadi lemas, tertotok oleh dua ujung jari Hun Bwee yang amat lihai.

Tubuh Lian Ci Sengjin tergelimpang tak berdaya di atas rumput dan hanya matanya yang memandang betapa gadis dengan tubuh yang bagaikan terselaput emas di bawah sinar bulan purnama itu kini tidak tampak lagi oleh Lian Ci Sengjin karena seolah-olah gadis itu telah berubah menjadi setan yang amat menyeramkan baginya.

"Hi-hi-hik, he-he-heh-heh-heh!" Hun Bwee merenggut pakaiannya dan tidak tergesa-gesa mengenakan pakaiannya menutupi tubuhnya yang telanjang di depan pandang mata Lian Ci Sengjin, bagaikan orang yang sedang bersolek dan memikat. Setelah semua pakaian dikenakannya, dia menyanggul kembali rambutnya yang tadi terlepas dalam pergumulan mesranya dengan Lian Ci Sengjin!

Lian Ci Sengjin maklum bahwa dia telah terjebak, maklum akan bahaya maut mengancam dirinya. Cepat dia membuka mulut hendak menjerit agar dapat menarik perhatian kawan-kawannya.

Tetapi secepat kilat Hun Bwee menampar mulutnya, lalu mencengkeram mulut itu dengan tangan kiri ada pun tangan kanannya menyambar pakaian Lian Ci Sengjin yang tergeletak berceceran di situ. Celana bekas tokoh Kun-lun-pai itu kini disumbatkan ke dalam mulut sampai hampir memenuhi kerongkongan!

"Hi-hi-hik! Lian Ci Sengjin, ataukah Lian Ci Tojin? Enak benar ya dulu kau memperkosa aku? Hi-hi-hik, sekarang tiba saatnya engkau menerima hukumanku!"

Lian Ci Sengjin hanya membelalakkan dua matanya dengan penuh rasa ngeri dan seram, kemudian saking takutnya, air keluar dari atas dan bawah! Ia terkencing-kencing saking takutnya, dan air matanya mengalir turun, pandang matanya minta dikasihani bagai mata seekor lembu yang sudah ditelikung akan disembelih. Akan tetapi tentu saja keadaannya ini bukan menimbulkan rasa iba di hati Hun Bweee, bahkan menambah kemarahan gadis yang gilanya sudah kumat lagi itu!

"Singggg...!" Sinar hitam berkelebat ketika Hek-sin-kiam dicabut.

"Apamu dulu yang harus dihukum? Hi-hi-hik-hik!" Hun Bwee mengelebatkan pedangnya di depan hidung Lian Ci Sengjin. "Mula-mula tanganmu, ya? Tanganmu mencengkeramku, merenggut lepas pakaianku, membelaiku. Benar, tanganmu yang lebih dulu kurang ajar."

Sinar hitam berkelebat dan andai kata mulut Lian Ci Sengjin tidak disumbat, tentulah dia akan melolong-lolong saking nyerinya. Satu demi satu jari-jari tangannya dibabat buntung oleh sinar pedang hitam, tinggal setengah jari saja! Dapat dibayangkan betapa nyerinya, kiut-miut rasanya, pedih perih seperti jarum-jarum ditusukkan ke ulu hatinya.

Hebatnya, gadis itu kini menari-nari di depan Lian Ci Sengjin! Menari-nari sambil tertawa terkekeh-kekeh kegirangan seperti seorang anak kecil bermain-main.

"Bagus! Bagus! Hi-hi-hik-hik, kini tanganmu tidak dapat menggerayangi tubuh wanita lagi! Sekarang apamu?" Tiba-tiba Hun Bwee berhenti menari, menengadah dan mengerutkan kening, mengingat-ingat. Dahulu ketika dia diperkosa, dia berada dalam keadaan pingsan, atau setengah pingsan sehingga dia hanya ingat secara remang-remang saja.

"Hemmm, engkau menciumku! Hidungmu menciumi seluruh tubuhku, kemudian mulutmu yang bau bangkai itu menggigit bibirku dan leherku!"

Kembali sinar hitam berkelebat dua kali seperti kilat menyambar dan... ujung hidung Lian Ci Sengjin terbabat putus disusul dengan kedua bibirnya! Tentu saja wajah yang mulutnya tersumbat itu tampak buruk mengerikan sekali. Tampak dua buah lubang hidungnya yang sudah kehilangan bukit hidung, dan giginya yang besar-besar kuning tampak pula setelah sepasang bibir penutupnya robek.

Lian Ci Sengjin memejamkan matanya, dahinya berkerut-kerut saking nyeri yang hampir tak tertahankan lagi. Darah membasahi tubuh dan lehernya, darah dari kedua tangan dan dari mukanya. Pada waktu dia membuka mata lagi, sepasang biji matanya berputar-putar liar penuh ketakutan.

"Hi-hi-hik! Engkau makin buruk saja, menjijikan! Orang macam engkau ini hendak menjadi kekasihku? Heh-he-heh! Sekarang giliran bagian tubuhmu yang paling menjijikan harus dibuang!"

Pedang berkelebat dan Lian Ci Sengjin memejamkan mata, maklum bahwa maut akan datang merenggut nyawanya. Akan tetapi pedang tidak jadi dibacokkan dan Hun Bwee tertawa-tawa.

"Ahh, nanti dulu, hi-hi-hik-hik! Keenakan engkau kalau mati sekarang! Engkau pun telah menyiksaku dan sampai kini aku masih hidup, hu-hu-huuuuuk!" Gadis itu menangis. Lian Ci Sengjin makin mengkirik ngeri.

Tiba-tiba Hun Bwee tertawa lagi. "Ha-ha-hi-hi-hik! Benar! Matamu itu, ahhh…, kalau saja matamu bukan yang kau pakai sekarang ini, belum tentu kau akan melakukan perkosaan kepadaku. Matamu itu mata keranjang, maka lebih baik dibuang saja!" Dua kali pedang berkelebat dan sepasang biji mata Lian Ci Sengjin tercongkel keluar!

Mengerikan sekali keadaan bekas tokoh Kun-lun-pai itu. Bila mana tadi dia masih dapat memperlihatkan rasa takut dan rasa nyeri yang luar biasa melalui pandang matanya, kini dia hanya dapat berkelojotan saja. Dan hanya gerakan berkelojotan lemah ini saja yang menandakan bahwa dia belum mati, juga belum pingsan dan masih menderita penyiksaan yang hanya sanggup dilakukan seorang yang sudah gila itu, gila karena berubah ingatan atau juga gila karena diamuk dendam.

Hun Bwee masih terkekeh-kekeh dan berkali-kali pedangnya berkelebat berubah menjadi sinar hitam. Mula-mula sepuluh buah jari kaki Lian Ci Sengjin dibabat buntung kemudian kedua telinganya dan semua anggota tubuh yang ‘menonjol’, dibuntungi semua satu demi satu.

"Heh-heh-heh, engkau tidak merintih. Ohhh, sumbat mulutmu!"

Hun Bwee yang agaknya merasa kurang puas karena melihat korbannya tidak dapat mengeluarkan suara itu, menyambar dan membuka sumbat yang dijejalkan ke mulut Lian Ci Sengjin. Begitu sumbat mulutnya dibuka terdengar rintihan dari mulut itu, rintihan yang tidak karuan bunyinya, akan tetapi masih dapat ditangkap kata-katanya,

“Ampun... ampun... ampun...!"

"Hi-hi-hik! Bagus sekali...!" Tiba-tiba pedang menyambar ke bawah pusar Lian Ci Sengjin.

"Auggghhhhrrrrr...!"

Jeritan terakhir yang keluar dari kerongkongan Lian Ci Sengjin sangat nyaring, juga amat mengerikan sebab jeritan itu merupakan pekik kematian yang mungkin dibarengi dengan melayangnya nyawa dari tubuhnya. Lian Ci Sengjin baru mati setelah dia disiksa selama hampir setengah jam.

Namun agaknya Hun Bwee belum merasa puas. Pedangnya masih terus menyambar-nyambar dan membacoki tubuh yang sudah menjadi mayat itu sehingga sekarang tubuh itu terpotong-potong dicacah-cacah sampai tidak ada potongan yang panjangnya lebih besar dari setengah kaki. Kepalanya dibelah menjadi empat potong dan anggota tubuh yang paling dibenci Hun Bwee dan paling membuatnya jijik itu telah dicacah-cacah seperti daging bahan bakso!

Sekarang Hun Bwee tidak tertawa-tawa lagi, melainkan menjerit-jerit menangis diselingi tawa sambil membacoki terus! Pakaian merahnya penuh dengan percikan darah, namun tak dipedulikan. Pedang hitamnya juga sudah basah oleh darah.

Dalam keadaan seperti itulah lima orang anak buah Pat-liu Sian-ong yang pada waktu itu kebetulan sedang meronda di taman mendapatkan gadis itu. Lima orang anak buah ini cepat-cepat lari mendekati dan mereka terbelalak penuh kengerian ketika melihat gadis itu membacoki mayat yang sudah menjadi onggokan daging berceceran. Hanya ketika mereka melihat pakaian Lian Ci Sengjin di atas rumput saja yang membuat mereka sadar bahwa yang dibacoki itu adalah bekas tubuh Lian Ci Sengjin!

"Celaka...!" Seorang di antara mereka berseru kaget.

Mendengar ini, Hun Bwee menengok dan sambil berteriak ganas ia menerjang ke depan, menggerakkan pedangnya. Lima orang itu cepat menggunakan senjata menangkis, akan tetapi dalam sekejap mata saja, empat orang di antara mereka telah roboh dengan nyawa melayang, dan hanya seorang yang terluka pada pundaknya masih sempat lari sambil berteriak-teriak sekerasnya.

Hun Bwee mengejarnya. Dua bayangan orang berkelabat dan muncullah Si Iblis Cebol Gu Coan Kok dan si raksasa Kerait yang bernama Hok Ku. Melihat keadaan Hun Bwee, dua orang di antara iblis-iblis Tembok Besar ini cepat menyerangnya.

Gu Coan Kok menyerang dengan tongkatnya yang panjang, gerakannya cepat dan aneh sekali, menyodokkan tongkatnya ke arah perut Hun Bwee. Pada saat itu juga, Hok Ku si raksasa tinggi besar bongkok telah menggerakkan senjatanya berbentuk cakar besi yang beracun dan yang disambung dengan dua tangannya, menyerangnya dengan Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa), mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala dengan tangan kanan ke arah dada Hun Bwee.

Hun Bwee menjadi marah sekali. Mulutnya mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya berkelebat, berubah menjadi segulung sinar hitam yang sekaligus menangkis tongkat yang menyodok perut dan cakar yang mencengkeram dada, sedangkan tangan kirinya dengan berani menyampok cakar yang mencengkeram kepalanya.

"Cring! Tranggg! Plakkk!"

Kedua orang jagoan Tembok Besar terkejut sekali karena tangkisan pedang itu membuat senjata mereka terpental, sedangkan cakar besi beracun itu ketika disampok tangan kiri Hun Bwee, membuat Hok Ku hampir terguling! Padahal raksasa bongkok ini mempunyai tenaga yang amat besar. Tahulah mereka bahwa wanita gila ini ternyata lihai luar biasa.

Mereka bersilat dengan hati-hati sekali, apa lagi ketika Hun Bwee kini membalas dengan serangan yang bertubi-tubi dan gerakannya mirip gerakan ngawur, asal bacok dan tusuk saja bukan seperti gerakan dari seorang ahli pedang. Justru gerakan ngawur inilah yang menyembunyikan kelihaian ilmu pedang ajaran Go-bi Thai-houw si nenek gila.

Serangan yang ngawur ini benar-benar mengacaukan gerakan dua orang jagoan Tembok Besar. Kelihatannya ngawur, namun dari gerakan itu memancar keluar bahaya-bahaya maut sehingga mereka tidak berani memandang ringan dan cepat menggerakkan senjata untuk menangkis.

"Hi-hi-hik!" Hun Bwee terkekeh dan tiba-tiba tubuhnya jatuh terpelanting sendiri karena kakinya yang kacau itu membuat ia kehilangan keseimbangan tubuh!

Melihat wanita baju merah itu terguling miring dan pedangnya terhimpit tubuhnya sendiri, tentu saja dua orang jagoan Tembok Besar menjadi girang bukan main. Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi dan melihat keadaan lawan, mereka tahu bahwa kini mereka tentu akan dapat menundukkan lawan aneh itu.

Cepat mereka berdua menubruk, seperti berlomba, menggerakkan senjata. Betapa pun juga, karena mereka ingin menawan wanita gila ini hidup-hidup, senjata tongkat bergerak menotok jalan darah sedangkan kedua cakar besi hanya mencengkeram pundak. Mereka berdua tidak mengirim pukulan maut karena keadaan lawan yang sudah tidak berdaya seperti tiu, dengan penyerangan mereka itu pun pasti mereka akan berhasil.

Kedua orang jagoan Tembok Besar itu boleh jadi sudah memiliki kepandaian tinggi dan pengalaman bertanding yang amat matang, akan tetapi tentu saja mereka belum pernah bertemu dengan lawan yang mempunyai ilmu dari Go-bi Thai-houw yang luar biasa, ilmu yang diciptakan oleh orang yang miring otaknya sehingga akal-akal yang terdapat dalam ilmu silatnya kiranya hanya akan dapat diduga dan diperhitungkan oleh orang sinting pula.

Jatuhnya tubuh Hun Bwee sehingga rebah sendiri bukanlah memang sewajarnya, meski pun tampaknya demikian, melainkan gerak tipu yang berbahaya sekali! Pada saat ujung senjata kedua orang sudah hampir berhasil, secara tak tersangka-sangka dan tiba-tiba tubuh gadis itu terguling menelungkup dan kedua kakinya bergerak menendang, bukan menendang seperti biasa, melainkan ‘menyepak’ ke belakang seperti kaki belakang kuda mengarah anggota rahasia pusar kedua orang lawan!

Bukan main kagetnya Gu Coan Kok dan Hok Ku! Apa bila serangan mereka itu mereka lanjutkan, tentu akan mengenai lawan, akan tetapi tidak sampai menimbulkan kematian. Sebaliknya, sepakan gadis itu pun akan mengenai sasaran dan akibatnya tentu sangat hebat. Akan tetapi, untuk menarik kembali serangan mereka, sudah tak keburu lagi maka mereka berusaha mengelak.

Masih untung bahwa mereka adalah dua orang yang memiliki kepandaian tinggi sehingga dalam keadaan tubuh sudah condong ke depan dan menyerang itu mereka masih sempat meloncat ke belakang sehingga sepakan yang cepat dan kuat itu tidak mengenai sasaran secara tepat dan hanya mengenai paha mereka.

Dua orang itu berteriak dan masih dapat meloncat terus ke belakang, paha mereka terasa panas kena dicium belakang kaki Hun Bwee. Ada pun serangan mereka yang tadi hanya sempat menyentuh tubuh Hun Bwee, sama sekali tidak mendatangkan kerugian apa-apa bagi gadis itu.
Selanjutnya,