Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 93

Bermain cepat justru sangat dikehendaki oleh Ngwang. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki masih sedikit lebih unggul. Dengan memaksa main cepat, Ngwang berusaha menguras tenaga Upasara Wulung. Bertambah lima belas jurus, Ngwang makin maju setapak demi setapak. Ujung rambut seblaknya beberapa kali menyapu Upasara, dan mulai membuat gurat-gurat kecil melepuh di kulit tangannya.

Yang mengganggu pemusatan kekuatan karena rasa gatal dan panas menyatu. Apalagi Upasara tak ingin tangannya yang tergurat itu menyentuh Cubluk, karena kuatir memindahkan racun yang ada. Upasara terpontang-panting. Sangat tidak imbang. Karena dirinya bukan hanya melindungi Cubluk. Malah boleh dikatakan gerakan Cubluk yang merepotkan dirinya. Sepenuhnya Cubluk berada dalam kontrol Ngwang.

Meraga Sukma dan Merogoh Sukma
GAWAT! Sangar! Karena keunggulan Ngwang juga dilihat Halayudha. Halayudha bisa memperhatikan dengan saksama. Menghadapi serangan Gendhuk Tri maupun Pangeran Hiang, Halayudha masih bisa memaksa mereka mundur-maju tanpa pernah berani beradu dengan Kangkam Galih. Kedua lawan Halayudha seperti main petak umpet, setiap kali berhasil mendesak maju, jadinya malah mundur kembali begitu Halayudha menerabas asal-asalan dengan Kangkam Galih.

Baik Pangeran Hiang maupun Gendhuk Tri mencari saat yang aman untuk menyusup maju. Tetapi kesempatan seperti itu tidak mudah diperoleh. Melihat Upasara mulai terdesak, Halayudha menggerung keras. Mempercepat irama dan tempo serangannya. Tebasannya kiri-kanan makin tajam dan cepat. Putaran pergelangannya makin tak terkendalikan. Yang menjadi makin sulit ditebak ialah permainan silat Halayudha.

Di satu pihak, rangkaian serangan seperti permainan jago pedang panjang dari negeri Jepun yang menebas paksa dalam pertarungan jarak pendek, pada pihak berikutnya, rangkaian dari negeri Cina. Yang lebih mengandalkan serangan berjarak dan hanya kalau perlu merangsek maju. Gerakan mengentengkan tubuh, berjumpalitan, ataupun menyusup, dalam rangkaian berikutnya berubah menjadi merapat, seolah mau menekuk habis Upasara berikut Cubluk sebagaimana gulat Tartar. Masih harus ditambah dengan kembangan kaki yang berasal dari ajaran tanah Hindia.

Mengagumkan. Terlebih bagi Nyai Demang yang mempelajari serba sedikit. Semua yang dimainkan Halayudha mendekati titik kesempurnaan. Apalagi setiap perubahan gerak bisa berlangsung dalam satu tarikan napas. Inilah keunggulan Halayudha, yang tak dimiliki oleh yang lain yang tengah bertarung mati-hidup sekarang ini. Nyai Demang menyesali. Menyesali suara hati yang meminta Mada maju ke tengah gelanggang. Sekarang akibatnya justru lebih buruk.

Kehadiran Mada malah menyebabkan Halayudha bisa menemukan cara mengubah permainan silatnya sekaligus mengubah penampilannya. Yang kini diteruskan dengan sadar. Mada mengelus dadanya. Menahan batuk yang menyedak. Bahwa Halayudha pernah mempelajari segala aliran ilmu silat dengan tekun, bisa diterima. Akan tetapi bisa memainkan segalanya dengan penuh penghayatan atau rumangsuk, itu benar-benar luar biasa baginya. Karena itu justru hal yang tak mungkin dilakukan.

Pertanyaan Mada: Apakah mahamanusia yang sejati justru seperti ini? Manusia yang tidak mempunyai pribadi? Mata Mada memandang nyalang. Apa yang dilihat dimasukkan ke dalam kekuatan batinnya. Untuk menemukan jawaban dari apa yang menggelisahkan. Untuk diakurkan dengan kekuatannya sendiri. Kekuatan batinnya yang akan menjawab. Tubuh Mada menggeletar. Napasnya berdengusan tergesa. Bagai tertimpa beban yang berat.

Mada tak bisa menghentikan, meskipun setengah sadar batinnya memperingatkan bahwa sekarang bukan saat yang tepat mencari tahu hal itu. Karena yang akan menjawab adalah yang merasakan getaran yang sama. Itu berarti bisa Upasara Wulung, Gendhuk Tri, atau Halayudha. Siapa pun yang berusaha menjawab, seperti memecah pemusatan kekuatan batinnya.

Itu berarti Upasara atau Gendhuk Tri. Karena Halayudha mampu menukar diri. Mengabaikan getaran yang ada, saat tidak memerlukan. Mada mengerem kemauannya, hingga dadanya sakit dan pandangannya kabur. Mada keras kepala. Membiarkan rasa sakit makin tak tertahankan.

“Jangan menarik sukma yang sudah didatangkan.” Itulah suara Upasara Wulung. Berarti sebagian kekuatan inti Upasara terpecah lagi, di saat menghadapi situasi yang kritis. “Sukma sejati adalah kekuatan, adalah kehidupan. “Ngraga sukma berarti menjadikan raga sebagai sukma. Menyatukan raga dengan sukma. Sedangkan ngrogoh sukma berarti membuat sukma keluar. Tak ada bedanya, jika tak dibedakan. Tak ada samanya, jika nyatanya berbeda. Paman Jaghana tidak akan turun ke jagat ini, kalau sekadar merogoh sukma. Paman Jaghana, badaniah dari sukma.”

Mada menggerung makin keras. Bibirnya mendesis. Rasa sakit di dadanya melenyap. Matanya bisa menemukan pandangan kembali. Tapi apa yang dilihatnya membuat darahnya berhenti berdesir. Setiap kali pedang berpindah tangan, kesiuran angin mengiris tajam. Guratan luka di punggung tangan Upasara makin melebar. Darah menetes dan kadang muncrat seirama dengan sentakan gerakannya.

Kini serangan Halayudha juga mengarah langsung ke Upasara, seperti telah diperhitungkan Gendhuk Tri. Saat yang tepat sekali. Saat kekuatan Upasara terpecah banyak. Melindungi Cubluk, berhubungan dengan Mada, dan entah apa lagi. Saat di mana Ngwang mengedutkan seblak-nya ke arah Cubluk, sementara kakinya terjulur ke depan menendang dada Upasara. Gerakan membungkuk bagai udang, mengempos seluruh kekuatan dalam satu genjotan. Satu lontaran tenaga penuh disertai teriakan keras.

Nyai Demang memekik. Klobot menjerit, untuk pertama kalinya menutup mata. Klobot tidak tahu persis apa yang terjadi akan tetapi merasa kengerian melewati ambang kemampuannya. Pangeran Hiang tersedak melihat perubahan yang mendadak. Bukan hanya perubahan Halayudha mengalihkan sasaran ataupun caranya bersilat, melainkan juga perubahan menyeluruh dalam penampilannya.

Seolah ada beberapa Halayudha yang setara yang mampu memainkan gaya Jepun, Tartar, Cina, India. Membuat tersedak, karena ketika Pangeran Hiang berusaha meruket, merangkul kencang dengan gulatan, Halayudha melabrak dengan kekuatan yang sama. Sesaat Pangeran Hiang merasa Halayudha kena jebak. Karena Pangeran Hiang menggulat dengan lengan yang kosong. Sehingga Halayudha akan terjeblos.

Nyatanya tidak. Dengan keluwesan tenaga air, Halayudha meluncur bebas. Tebasan Kangkam Galih mampu mengutungkan lengan baju yang kosong! Kosong! Lengan baju kosong yang tidak bertenaga bisa disabet hingga putus! Dengan cara yang sama ketika menyabet putus lengan Pangeran Hiang! Menebas benda keras atau benda lembut, Halayudha tetap sama saktinya! Kangkam Galih makin perkasa.

Pada saat yang bersamaan dengan itu, Gendhuk Tri yang tengah berjumpalitan di udara menyongsong maju. Gendhuk Tri satu-satunya yang mempunyai peluang terbesar untuk masuk lebih dalam. Dengan gerakan seakan menyambar Cubluk, yang bisa dilontarkan ke tengah udara untuk diselamatkan. Batin Gendhuk Tri mengisyaratkan hal ini, dan Gendhuk Tri yakin bahwa Upasara bisa menangkap getaran kemauannya ini.

Upasara memang menangkap kemauan Gendhuk Tri. Dan menganggap bahwa cara ini yang lebih baik. Bagaimanapun, keselamatan Cubluk makin terimpit bahaya. Sekurangnya dengan berada dalam lindungan Gendhuk Tri, keselamatannya tidak berada dalam titik kritis. Upasara menggerakkan pundaknya, seiring dengan tubuh Gendhuk Tri melayang.

Ngwang bersorak kegirangan. Juga Halayudha! Percakapan batin Upasara Wulung dengan Gendhuk Tri seakan bisa terbaca jelas. Meskipun barangkali dari beberapa perkiraan, kemungkinan gerakan berikutnya memang bisa diduga. Itu sebabnya Ngwang meloncat tinggi sambil melakukan tendangan berputar. Kemungkinan datangnya Gendhuk Tri akan disambut sentakan kekuatan utuh. Kalaupun Gendhuk Tri tumbuh sayap dan bisa terbang, masih perlu waktu untuk berkelit.

Sementara tendangan maut telah masuk. Sedangkan Halayudha memilih cara yang aman. Cukup dengan memutar pergelangan tangan, sehingga arah tusukan bisa mendua. Bisa menembus dua tujuan, dua tubuh sekaligus. Baik Upasara maupun Gendhuk Tri akan terkena sodetan. Kalau satu menghindar, yang lainnya pasti kena. Kalau dua-duanya terkena, tak membuat tenaga Halayudha perlu dikerahkan lebih besar. Nyai Demang tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Mada menggigit bibirnya hingga berdarah.

“Rama Wulung…” Klobot menjerit lirih.

Pangeran Hiang menunduk.

“Telah berakhir…”

Air, Rembulan, Api, Matahari
NYAI DEMANG menyebut nama Dewa Yang Mahadewa dalam batinnya. Pasrah. Memang segera berakhir. Dalam pengertian yang berbeda. Gendhuk Tri memang meloncat ke tengah udara. Melayang dengan tangan terkembang. Upasara memang menggerakkan pundaknya. Tetapi, yang tak terbaca adalah bahwa Gendhuk Tri tidak melayang ke arah Cubluk, yang tetap berada di pundak Upasara.

Hubungan batin keduanya telah mencapai titik keseimbangan pengertian yang berhubungan lebih halus dari apa yang ditunjukkan oleh gerakan Halayudha. Gendhuk Tri melayang turun. Dengan tangan bersidekap di dada. Dengan mata tertutup. Dengan tubuh tetap tegak. Bersamaan dengan Upasara yang mengempos seluruh kemampuannya. Jurus demi jurus yang diciptakan dengan inti kekuatan tanah air, kini teruji sempurna seluruhnya.

Sewaktu dua serangan ganas dari dua jurusan yang berbeda dengan kembangan yang sangat berbeda menggempur keras bersamaan, tenaga dalam Upasara mengumpul, berdenyar-denyar melalui seluruh pembuluh dalam tubuhnya menggelegak di bawah semua kulitnya. Begitu Gendhuk Tri melayang turun dengan sikap semadi, Upasara menggebrak maju.

Mada seakan diarifkan, bisa mengetahui, bahwa Gendhuk Tri maupun Upasara Wulung sebenarnya sudah menyatu. Kekuatan tanah air, bukan lagi merupakan gabungan kekuatan Gendhuk Tri ditambah Upasara Wulung. Melainkan dalam diri Upasara ada kekuatan tanah dan sekaligus kekuatan air. Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri. Secara sendiri-sendiri, bisa memainkan tenaga tanah dan tenaga air sekaligus. Bahkan dalam bentuknya yang sekarang, dengan bersemadi, Gendhuk Tri seakan memindahkan tenaga dalamnya ke dalam tenaga dalam Upasara. Tanpa menggerakkan tubuh.

Sewaktu Kangkam Galih yang lebih dulu menebas, Upasara malah menyongsong. Siku kirinya ditekankan ke bawah. Tepat ke arah pedang! Dengan bertumpu pada kekuatan pedang yang bergerak, tubuhnya miring sebagaimana pedang, dan ikut terdorong bergerak. Gerak yang teramat sulit, karena kekuatan bertumpu pada bidang yang sangat sempit dan tipis. Apalagi poros pijaknya adalah siku!

Gerakan ini menyatu dengan ayunan tubuh mengikuti arah pedang. Seolah Upasara yang masih tetap merangkul Cubluk bermain dalam lingkaran. Walau sebenarnya Upasara berusaha membebaskan diri dari kekuatan yang menekan. Gerakan ini sekaligus meloloskan diri dari gempuran Ngwang yang melayang di atas dengan kedutan seblak maupun tendangan kaki lurus yang mengarah ke dada.

Pada saat yang bersamaan dengan itu tubuh Cubluk dilontarkan ke bawah, dijepit di antara kaki Upasara, sehingga kedua tangannya leluasa membalas serangan. Gerakan tangannya tetap perlahan, bisa diikuti dengan pandangan mata oleh yang melihatnya. Gerakan yang sangat sederhana. Telapak tangan Upasara menengadah-membuka, kemudian berubah miring-menepis. Itu saja.

Membuka ke arah Ngwang yang melayang di atas, dan menepis dengan pinggir tangan mengetuk pergelangan tangan Halayudha. Tubuh Ngwang yang melayang di atas seakan kena tenaga dongkrakan besar dari bawah. Seolah muntahan semburan gunung berapi yang menjotos keras, dan sekaligus bagai tarikan bumi terbelah ketika telapak tangan Upasara miring. Akibatnya hebat.

Tenaga dalam yang dikerahkan sepenuhnya, yang membuat Upasara dan Gendhuk Tri bagai satu tarikan napas, dirasakan oleh Ngwang bagai sambaran angin beliung. Tubuh Ngwang terpuntir. Tidak terputar, tapi terpuntir. Hanya bagian-bagian tertentu yang berputar. Kaki ke arah dalam dan kepala ke arah luar. Mengeluarkan suara keras rontoknya tulang dan otot-otot.

Padahal beberapa kejap sebelumnya Ngwang hanya mengira bahwa Gendhuk Tri tak jadi menerima tendangannya, tanpa menyangka bahwa Upasara bisa menghindari tebasan Kangkam Galih. Apalagi balas menyerang, dengan tenaga mendorong, memuntir, dan kemudian mengempaskan. Selebihnya udara sekitarnya mengental, pandangannya tertutup, dan bumi yang diinjaknya amblas. Keunggulannya tidak menginjak bumi berubah menjadi malapetaka. Karena pengerahan tenaga dalamnya di bagian pusar menjadi macet.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir, Ngwang mengentakkan kedua tangannya, meraup apa saja yang bisa. Dan melampiaskan seluruh kekuatannya dengan mencengkeram keras. Entakan tenaga terakhir. Sebagai balas dendam. Kalau bisa meledak bersama korban, ia sedikitnya bisa terhibur. Tubuh Upasara, atau hanya tangan atau kaki, akan remuk dalam genggamannya. Apalagi kalau gadis kecil.

Hasilnya pekikan menyayat yang panjang dan menyakitkan telinga. Sehingga Nala bergoyangan tubuhnya. Nala sadar dari pengaruh sirep dan kekuatan lawan, tetapi seketika itu pula terlelap kembali. Barangkali memang hanya Nala yang berada dalam medan pertarungan, tetapi sama sekali tak bisa mengikuti apa yang terjadi. Bahkan tidak sadar sama sekali.

Nyai Demang menutup telinga, dan membuat gerakan agar Klobot mengikuti. Sebenarnya tanpa disuruh pun, reaksi pertama Klobot ketika mendengar jeritan Ngwang yang menyayat adalah menutup telinga. Mada sendiri terbengong dan untuk sementara pendengarannya menjadi mati.

Kejutan yang sama dirasakan oleh Halayudha. Ketika menebas dengan Kangkam Galih, ia tak menduga bahwa Upasara akan menyongsong. Dengan cara meletakkan berat badannya pada siku yang bertumpu di pedangnya. Dewa yang memiliki langit pun belum tentu berani mengambil risiko berat ini. Nyatanya Upasara bisa melakukan dengan tepat.

Sebelum kagetnya lenyap, pergelangan tangannya kena tetak sisi telapak tangan Upasara yang mematikan pergelangannya. Sehingga pegangannya lepas. Kangkam Galih terlepas! Ini sungguh-sungguh luar biasa. Dalam satu jurus, Upasara membalik kemenangan. Dengan menghancurkan Ngwang, sekaligus melukainya, dan mendepak Halayudha. Dua-duanya jago utama. Pendekar silat yang setara ilmunya dengan Upasara.

Ngwang paling menderita. Ketika terkena gempuran dan tubuhnya amblas serta pandangannya lenyap, tangannya meraup sekenanya dan mengerahkan kekuatan terakhir. Tak tahunya yang kena diraup adalah Kangkam Galih! Dua tangan yang mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk diadu dengan Kangkam Galih. Pedang sakti yang selalu haus darah. Teriakan yang memanjang bagai membelah langit dan menyayat menggambarkan kengerian yang tak tertanggungkan.

Apa yang sesungguhnya dimainkan oleh Upasara Wulung sebenarnya merupakan jurus kelima ilmu ciptaannya. Yang diberi nama Tirta Candra Geni Raditya. Dalam arti lahiriah kata-kata itu mengandung pengertian air, bulan, api, serta matahari. Pengertian yang lebih dalam dari itu adalah penggunaan unsur-unsur tenaga itu secara keseluruhan, tapi bisa diurai satu per satu. Sebutan Tirta Candra Geni Raditya biasanya untuk menggambarkan keputusan dalam tata hukum yang adil, lurus, luar-dalam.

Teliti seperti air dalam memeriksa, lembut seperti rembulan dalam menanya, jatuhnya putusan seperti api, dan semuanya jelas seperti di bawah matahari. Dalam jurus yang diciptakan Upasara, semuanya diwujudkan dengan pengerahan tenaga tanah air. Menggelombang dengan tenaga air ketika seluruh tubuhnya tertumpu pada pedang, lembut mengikuti irama ayunan, dan panas membara menggertak atas serta samping.

Kesemuanya dilakukan dengan jejeg-bener, lurus dalam pengertian irama memainkannya tak berbeda dengan irama gending, di mana penekanan keras, lembut, cepat, lambat sangat menentukan hasil yang dicapai. Kalau meleset sedikit saja, gending tidak lagi nyamleng, tidak pas mengena, bisa buyar semuanya. Dalam serangan tadi, jika tenaga bertumpu dalam putaran pedang, sambil memiringkan tubuh melesat, semuanya bisa berantakan. Tubuh Upasara akan terpotong menjadi dua, karena Kangkam Galih yang tipis leluasa melibasnya.

Hasilnya memang luar biasa. Ngwang berkelojotan, tubuhnya meregang bergulingan dengan darah terus memancar dari kedua tangan yang terbelah. Sebaliknya, Halayudha terlempar satu langkah. Akan tetapi Halayudha tidak berhenti di situ saja. Sekali terlempar jauh, segera membal balik. Lebih ganas, lebih beringas. Tangannya meraih Kangkam Galih dan menebas keras. Tubuh Ngwang masih berkelojotan. Meskipun telah terpisah. Terpisah. Pisah.

Pedang dan Tanah air
TERPOTONG-Potong. Terputus. Putus. Terobek. Robek. Gendhuk Tri merasa sangat mual. Dengan cara yang tidak mengenal perikemanusiaan, Halayudha memotong-motong bagian demi bagian tubuh Ngwang Tangan yang sudah lepas disabet, ditebas, dengan miring, dengan tusukan lurus. Jari-jari yang masih meregang dikutungi satu demi satu. Mengerikan. Halayudha makin buas. Makin kalap. Semua bagian tubuh yang masih tersisa disodet, ditetas, dicacah-cacah.

“Tahan…!” Teriakan Gendhuk Tri berlanjut dengan langkah yang limbung. Bagaimanapun Ia tak tega melihat cara Halayudha yang menjadi sangat buas dan mengerikan. Bahkan tanpa latar belakang cerita mengenai Maha Singanada yang terpoteng-poteng itu pun, apa yang dilihatnya di luar batas kemanusiaan.

Nyai Demang menutupi mata Klobot sambil memejamkan matanya sendiri. Mada menggigil.

“Duh, Dewa… Duh, Dewa…”

Pangeran Hiang mengerang bagai binatang terluka. Tangannya terentang kencang. Halayudha berteriak keras, merasa terganggu oleh erangan Pangeran Hiang. Seluruh wajahnya telah berubah. Rambutnya menjurai, bercak darah memercik di seluruh wajah. Tangannya penuh darah merah yang masih menetes-netes. Tapi yang paling mengerikan adalah matanya yang hanya menyisakan warna putih mendelik. Bibirnya membuka.

Meskipun tidak melihat sempurna, Halayudha langsung mengarahkan Kangkam Galih ke Pangeran Hiang. Pangeran Hiang bersiaga. Adalah Nyai Demang yang bergerak lebih dulu. Melompat ke depan dengan bergulingan. Kedua tangannya terentang. Menghadang di depan Halayudha.

“Jangan…!” Keberanian Nyai Demang yang nyaris seperti membunuh diri, karena menempatkan diri di depan Kangkam Galih yang siap ditebaskan.

Kepala Halayudha miring ke kiri dan kanan, mengawasi sekitar dengan mata yang hanya terlihat warna putih seluruhnya. Tudingan Kangkam Galih beralih ke Mada ketika ia bergerak. Mada jadi mematung. Kangkam Galih bergetar. Menuding ke arah Raja. Ke arah Upasara. Ke arah Gendhuk Tri.

“Kudengar kidungan Kangkam Galih. Tebas semuanya!” Teriakan Halayudha mengguntur keras.

Sementara dengan terseok-seok, dengan menyeret tubuh, Nyai Demang berusaha menghadang. Pangeran Hiang berusaha menghalangi. Gerakan kecil darinya membuat Halayudha menebaskan pedangnya.

“Nyai…”

“Jangan… Jangan lakukan, Halayudha.”

“Nyai…” Pangeran Hiang berusaha lebih keras, “Nyai tak perlu menghadang di depan. Persoalan saya dengan Halayudha, biarlah saya selesaikan sendiri. Terima kasih atas perhatian dan keprihatinan Nyai Demang yang tetap tak berubah.”

Dua pasang mata bertatapan. Nyai Demang merunduk. Dahinya menyentuh tanah. “Kudengar bisikan kidungan pedang. Kemenangan. Kemenangan. Masih terus kudengar. Ya, aku Halayudha akan melakukan kidungan yang sebenarnya ini. Kidungan Pedang Tak Terkalahkan.”

Kedua tangan Halayudha menggenggam kencang Kangkam Galih. Upasara perlahan membaringkan Cubluk di sampingnya. Mengelus dada Cubluk sesaat. Gerakan yang sangat lembut, kecil, membuat Halayudha menggertak. Kangkam Galih-nya menyambar. Upasara menutup tikaman angin dengan tangannya. Tergurat luka melingkar. Melingkar dari ujung ke ujung. Dan meneteskan darah.

Sambaran yang sama sebenarnya terjadi ketika Upasara menangkis. Yaitu tertuju kepada Pangeran Hiang yang berusaha menarik perhatian Halayudha ke arah lain. Dan akibatnya sama. Bahkan lebih parah. Karena ketajaman angin Kangkam Galih membuat Pangeran Hiang tak mampu berdiri. Kedua kakinya, sedikit di atas lutut, tergores luka. Melingkar.

Benar-benar menggetarkan. Kangkam Galih menjadi sedemikian sakti sehingga luka yang ditinggalkan berupa lingkaran. Seolah pedang itu mengiris dua kaki Pangeran Hiang dari arah depan dan belakang, temu gelang. Padahal hanya dengan satu sabetan.

Mada menahan napas. “Paduka…”

Belum selesai kalimatnya, Kangkam Galih tertuju ke arahnya. Bagai ada pancaran tenaga yang meneruskan ujung pedang. Menusuk pundak Mada. Seketika itu juga mengucurkan darah segar. Seakan Kangkam Galih menjadi panjang dan bisa menembus. Kalaupun hanya angin, kekuatannya benar-benar sudah menyatu dengan jiwa Halayudha.

Tanah air memiliki api, rembulan, dan matahari
di mana ada samudra dan gunung, di situ tanah air
tanah air bisa mengatas namakan
kemenangan
peperangan
takhta
derajat

pangkat
harta
wanita
segalanya
atas nama tanah air
segalanya menjadi bisa
dan boleh dan benar

tanah air adalah asmara
berpasangan
tanah air adalah kasih
memberi
berbakti
menerima
berbagi
tanah air yang sesungguhnya…


Kidungan Gendhuk Tri terputus karena Halayudha menebaskan Kangkam Galih dengan sodetan. Seakan ingin memotong lidah Gendhuk Tri dengan paksa. Yang terkunci untuk melanjutkan kata-kata kidungan. Gendhuk Tri masih duduk. Masih bersemadi. Ketegangan meninggi. Justru ketika Halayudha terdiam. Pengaruh kidungan Gendhuk Tri?

“Kudengar kidunganku sendiri. Pedang adalah segalanya. Inilah pusaka yang sejati. Inilah pusaka yang sejati. Kemenangan yang nyata.”

Tanah air adalah sukma
yang menjelma
dalam raga
tanah air adalah raga
yang menjelma
dalam sukma
tanah air adalah mahamanusia
mengatasi manusia
takhta
Dewa
Dewa…


Pedang Tanpa Dosa
HALAYUDHA menudingkan Kangkam Galih ke arah lain. Tepat berhenti di jidat Nyai Demang. “Aku Halayudha. Bukan Gemuka yang bisa kalian akali dengan kidungan, tembang, atau apa saja. Kalian kira aku bisa dipengaruhi dengan cara hafalan lirik-lirik tanpa makna itu? Aku lebih mendengar suara pedang yang menggetarkan dan membuatku merasa jantan. Menjadi lelaki yang sejati.”

Halayudha menggerakkan pergelangan tangannya, ujung Kangkam Galih bergeser menoreh ke arah sanggul Nyai Demang hingga terlepas. Gendhuk Tri tak bisa menahan diri. Kedua tangannya terulur, pukulan menggelombang menghantam seketika. Halayudha mengeluarkan suara dingin. Dengan membalikkan tubuh, Halayudha balik menerjang ke arah Gendhuk Tri. Tenaga yang menghantamnya dilawan. Dihadapi dengan dada terbuka. Kangkam Galih menyibak masuk. Gendhuk Tri meloncat minggir, selendang mematuk.

Bret, wreek!

Ujung selendang terputus. Tubuh Gendhuk Tri terpental sempoyongan. Berguling-guling ketika Halayudha membenamkan Kangkam Galih. Setiap kali ditusukkan amblas ke tanah. Meskipun demikian Halayudha bisa menarik kembali dengan enteng dan kembali menebaskan. Kangkam Galih berubah bagai tombak, bagai keris, bagai cundrik, yang membuat Gendhuk Tri menghindar, menggelepar bagai ikan kehabisan air.

Mada tak tahan. Bersamaan dengan Pangeran Hiang, Mada menggertak maju, menggunakan kerisnya dan keris Nala. Walaupun semua terluka, terobosan kidungan Gendhuk Tri membuat Halayudha yang mata putihnya bergerak-gerak, seperti menginjak bumi lagi. Bukan semata-mata kena pengaruh Kangkam Galih. Tapi ternyata juga tak gampang.

Dengan mengeluarkan suara dingin, Halayudha membabat. Menebas rata ke semua arah. Keris di tangan Mada kutung seketika, tubuhnya terlempar terkena sabetan angin yang membekaskan garis merah sepanjang wajahnya. Pangeran Hiang berjongkok. Satu pukulan menghantam pundak Halayudha hingga oleng. Sampai dengan sepuluh jurus. Halayudha bisa ditindih. Akan tetapi sambaran Kangkam Galih benar-benar luar biasa. Tak ada yang berani mendekat.

Pertarungan tidak imbang kembali berulang. Mada melirik ke arah Upasara. Yang duduk bersila memunggungi pertarungan. Yang dari kepalanya mengepulkan asap lurus ke atas. Keluarnya asap dari ubun-ubun Upasara dalam bentuk yang menyentak-nyentak. Setiap kali seperti satu embusan. Tidak berurutan sebagaimana biasanya orang yang melatih tenaga dalamnya. Upasara memang tidak sedang melatih tenaga dalamnya.

Justru sebaliknya. Karena keadaan tubuh Cubluk menjadi gawat tak menentu. Ketika memelorotkan tubuh Cubluk ke bawah dan mengepit di antara kakinya, sementara tangannya melancarkan pukulan Tirta Candra Geni Raditya, denyut nadi kehidupan Cubluk tak terganggu. Upasara mampu menggunakan tenaga lembut menahan Cubluk. Sehingga kalaupun bergeser ke arah pundak kiri, pindah ke pundak kanan, menempel di punggung, atau kembali ke dada, tak ada perubahan apa-apa yang mempengaruhi.

Memang penyakit yang diderita Cubluk bukan itu. Melainkan mengalir atau berpindahnya bercak hitam, yang sebenarnya berasal dari tenaga dalam kotor Halayudha. Ketika tengah membalik tubuh tadi, keteg-nadi kehidupan-Cubluk menjadi tersendat. Maka Upasara segera berlutut dan berusaha menerobos masuk melalui tenaga dalamnya.

Tidak gampang. Karena Cubluk pada dasarnya tidak begitu menghendaki penyembuhan, dan karena tubuhnya masih terlalu ringkih, terlalu lemah dibandingkan dengan tenaga dalam Upasara. Sehingga harus sangat hati-hati dan perlahan. Sedikit saja mendesak dan takarannya berlebihan, Cubluk bisa lebih menderita.

Tanah air bukan pedang
keris, tombak, bindi, gada
bukan semua gegaman

pedang kemenangan
hanya bila diperlukan
sebab kekuatannya terbatas
pada tangan

kalau lebih percaya kekuatan pedang
apa artinya kekuatan tanah air
di mana kasih dan kekuatan mahamanusia…


Halayudha menanggapi dengan tertawa lebar. Kini sepenuhnya dirinya menguasai pertarungan. Dengan mendesak maju kiri-kanan, Halayudha bisa mempermainkan lawan-lawannya. Bahkan dengan pangkal pedangnya, berhasil mengetok pundak kanan Pangeran Hiang. Tubuh Pangeran Hiang terhuyung rebah.

Pada saat jatuh, Pangeran Hiang memaksakan tenaganya, dan menubruk ke arah Halayudha. Tangan kiri yang menjadi satu-satunya tumpuan menepiskan kemungkinan penyerangan yang masuk. Kakinya terangkat ke atas. Selangkangan Halayudha kena tendang, hingga terbanting, dan jalannya terseok-seok. Akan tetapi itu makin berarti memaksa Halayudha mengerahkan seluruh dendamnya.

“Demi langit dan bumi, pedang lebih kuasa dari semuanya!” Kangkam Galih dipegang erat dengan tangan kanan, menempel di pundak, sebelum ditebaskan. Membabat keras, tajam, lurus, dengan sepenuh tenaga.

JILID 92BUKU PERTAMAJILID 94

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 93

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 93

Bermain cepat justru sangat dikehendaki oleh Ngwang. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki masih sedikit lebih unggul. Dengan memaksa main cepat, Ngwang berusaha menguras tenaga Upasara Wulung. Bertambah lima belas jurus, Ngwang makin maju setapak demi setapak. Ujung rambut seblaknya beberapa kali menyapu Upasara, dan mulai membuat gurat-gurat kecil melepuh di kulit tangannya.

Yang mengganggu pemusatan kekuatan karena rasa gatal dan panas menyatu. Apalagi Upasara tak ingin tangannya yang tergurat itu menyentuh Cubluk, karena kuatir memindahkan racun yang ada. Upasara terpontang-panting. Sangat tidak imbang. Karena dirinya bukan hanya melindungi Cubluk. Malah boleh dikatakan gerakan Cubluk yang merepotkan dirinya. Sepenuhnya Cubluk berada dalam kontrol Ngwang.

Meraga Sukma dan Merogoh Sukma
GAWAT! Sangar! Karena keunggulan Ngwang juga dilihat Halayudha. Halayudha bisa memperhatikan dengan saksama. Menghadapi serangan Gendhuk Tri maupun Pangeran Hiang, Halayudha masih bisa memaksa mereka mundur-maju tanpa pernah berani beradu dengan Kangkam Galih. Kedua lawan Halayudha seperti main petak umpet, setiap kali berhasil mendesak maju, jadinya malah mundur kembali begitu Halayudha menerabas asal-asalan dengan Kangkam Galih.

Baik Pangeran Hiang maupun Gendhuk Tri mencari saat yang aman untuk menyusup maju. Tetapi kesempatan seperti itu tidak mudah diperoleh. Melihat Upasara mulai terdesak, Halayudha menggerung keras. Mempercepat irama dan tempo serangannya. Tebasannya kiri-kanan makin tajam dan cepat. Putaran pergelangannya makin tak terkendalikan. Yang menjadi makin sulit ditebak ialah permainan silat Halayudha.

Di satu pihak, rangkaian serangan seperti permainan jago pedang panjang dari negeri Jepun yang menebas paksa dalam pertarungan jarak pendek, pada pihak berikutnya, rangkaian dari negeri Cina. Yang lebih mengandalkan serangan berjarak dan hanya kalau perlu merangsek maju. Gerakan mengentengkan tubuh, berjumpalitan, ataupun menyusup, dalam rangkaian berikutnya berubah menjadi merapat, seolah mau menekuk habis Upasara berikut Cubluk sebagaimana gulat Tartar. Masih harus ditambah dengan kembangan kaki yang berasal dari ajaran tanah Hindia.

Mengagumkan. Terlebih bagi Nyai Demang yang mempelajari serba sedikit. Semua yang dimainkan Halayudha mendekati titik kesempurnaan. Apalagi setiap perubahan gerak bisa berlangsung dalam satu tarikan napas. Inilah keunggulan Halayudha, yang tak dimiliki oleh yang lain yang tengah bertarung mati-hidup sekarang ini. Nyai Demang menyesali. Menyesali suara hati yang meminta Mada maju ke tengah gelanggang. Sekarang akibatnya justru lebih buruk.

Kehadiran Mada malah menyebabkan Halayudha bisa menemukan cara mengubah permainan silatnya sekaligus mengubah penampilannya. Yang kini diteruskan dengan sadar. Mada mengelus dadanya. Menahan batuk yang menyedak. Bahwa Halayudha pernah mempelajari segala aliran ilmu silat dengan tekun, bisa diterima. Akan tetapi bisa memainkan segalanya dengan penuh penghayatan atau rumangsuk, itu benar-benar luar biasa baginya. Karena itu justru hal yang tak mungkin dilakukan.

Pertanyaan Mada: Apakah mahamanusia yang sejati justru seperti ini? Manusia yang tidak mempunyai pribadi? Mata Mada memandang nyalang. Apa yang dilihat dimasukkan ke dalam kekuatan batinnya. Untuk menemukan jawaban dari apa yang menggelisahkan. Untuk diakurkan dengan kekuatannya sendiri. Kekuatan batinnya yang akan menjawab. Tubuh Mada menggeletar. Napasnya berdengusan tergesa. Bagai tertimpa beban yang berat.

Mada tak bisa menghentikan, meskipun setengah sadar batinnya memperingatkan bahwa sekarang bukan saat yang tepat mencari tahu hal itu. Karena yang akan menjawab adalah yang merasakan getaran yang sama. Itu berarti bisa Upasara Wulung, Gendhuk Tri, atau Halayudha. Siapa pun yang berusaha menjawab, seperti memecah pemusatan kekuatan batinnya.

Itu berarti Upasara atau Gendhuk Tri. Karena Halayudha mampu menukar diri. Mengabaikan getaran yang ada, saat tidak memerlukan. Mada mengerem kemauannya, hingga dadanya sakit dan pandangannya kabur. Mada keras kepala. Membiarkan rasa sakit makin tak tertahankan.

“Jangan menarik sukma yang sudah didatangkan.” Itulah suara Upasara Wulung. Berarti sebagian kekuatan inti Upasara terpecah lagi, di saat menghadapi situasi yang kritis. “Sukma sejati adalah kekuatan, adalah kehidupan. “Ngraga sukma berarti menjadikan raga sebagai sukma. Menyatukan raga dengan sukma. Sedangkan ngrogoh sukma berarti membuat sukma keluar. Tak ada bedanya, jika tak dibedakan. Tak ada samanya, jika nyatanya berbeda. Paman Jaghana tidak akan turun ke jagat ini, kalau sekadar merogoh sukma. Paman Jaghana, badaniah dari sukma.”

Mada menggerung makin keras. Bibirnya mendesis. Rasa sakit di dadanya melenyap. Matanya bisa menemukan pandangan kembali. Tapi apa yang dilihatnya membuat darahnya berhenti berdesir. Setiap kali pedang berpindah tangan, kesiuran angin mengiris tajam. Guratan luka di punggung tangan Upasara makin melebar. Darah menetes dan kadang muncrat seirama dengan sentakan gerakannya.

Kini serangan Halayudha juga mengarah langsung ke Upasara, seperti telah diperhitungkan Gendhuk Tri. Saat yang tepat sekali. Saat kekuatan Upasara terpecah banyak. Melindungi Cubluk, berhubungan dengan Mada, dan entah apa lagi. Saat di mana Ngwang mengedutkan seblak-nya ke arah Cubluk, sementara kakinya terjulur ke depan menendang dada Upasara. Gerakan membungkuk bagai udang, mengempos seluruh kekuatan dalam satu genjotan. Satu lontaran tenaga penuh disertai teriakan keras.

Nyai Demang memekik. Klobot menjerit, untuk pertama kalinya menutup mata. Klobot tidak tahu persis apa yang terjadi akan tetapi merasa kengerian melewati ambang kemampuannya. Pangeran Hiang tersedak melihat perubahan yang mendadak. Bukan hanya perubahan Halayudha mengalihkan sasaran ataupun caranya bersilat, melainkan juga perubahan menyeluruh dalam penampilannya.

Seolah ada beberapa Halayudha yang setara yang mampu memainkan gaya Jepun, Tartar, Cina, India. Membuat tersedak, karena ketika Pangeran Hiang berusaha meruket, merangkul kencang dengan gulatan, Halayudha melabrak dengan kekuatan yang sama. Sesaat Pangeran Hiang merasa Halayudha kena jebak. Karena Pangeran Hiang menggulat dengan lengan yang kosong. Sehingga Halayudha akan terjeblos.

Nyatanya tidak. Dengan keluwesan tenaga air, Halayudha meluncur bebas. Tebasan Kangkam Galih mampu mengutungkan lengan baju yang kosong! Kosong! Lengan baju kosong yang tidak bertenaga bisa disabet hingga putus! Dengan cara yang sama ketika menyabet putus lengan Pangeran Hiang! Menebas benda keras atau benda lembut, Halayudha tetap sama saktinya! Kangkam Galih makin perkasa.

Pada saat yang bersamaan dengan itu, Gendhuk Tri yang tengah berjumpalitan di udara menyongsong maju. Gendhuk Tri satu-satunya yang mempunyai peluang terbesar untuk masuk lebih dalam. Dengan gerakan seakan menyambar Cubluk, yang bisa dilontarkan ke tengah udara untuk diselamatkan. Batin Gendhuk Tri mengisyaratkan hal ini, dan Gendhuk Tri yakin bahwa Upasara bisa menangkap getaran kemauannya ini.

Upasara memang menangkap kemauan Gendhuk Tri. Dan menganggap bahwa cara ini yang lebih baik. Bagaimanapun, keselamatan Cubluk makin terimpit bahaya. Sekurangnya dengan berada dalam lindungan Gendhuk Tri, keselamatannya tidak berada dalam titik kritis. Upasara menggerakkan pundaknya, seiring dengan tubuh Gendhuk Tri melayang.

Ngwang bersorak kegirangan. Juga Halayudha! Percakapan batin Upasara Wulung dengan Gendhuk Tri seakan bisa terbaca jelas. Meskipun barangkali dari beberapa perkiraan, kemungkinan gerakan berikutnya memang bisa diduga. Itu sebabnya Ngwang meloncat tinggi sambil melakukan tendangan berputar. Kemungkinan datangnya Gendhuk Tri akan disambut sentakan kekuatan utuh. Kalaupun Gendhuk Tri tumbuh sayap dan bisa terbang, masih perlu waktu untuk berkelit.

Sementara tendangan maut telah masuk. Sedangkan Halayudha memilih cara yang aman. Cukup dengan memutar pergelangan tangan, sehingga arah tusukan bisa mendua. Bisa menembus dua tujuan, dua tubuh sekaligus. Baik Upasara maupun Gendhuk Tri akan terkena sodetan. Kalau satu menghindar, yang lainnya pasti kena. Kalau dua-duanya terkena, tak membuat tenaga Halayudha perlu dikerahkan lebih besar. Nyai Demang tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Mada menggigit bibirnya hingga berdarah.

“Rama Wulung…” Klobot menjerit lirih.

Pangeran Hiang menunduk.

“Telah berakhir…”

Air, Rembulan, Api, Matahari
NYAI DEMANG menyebut nama Dewa Yang Mahadewa dalam batinnya. Pasrah. Memang segera berakhir. Dalam pengertian yang berbeda. Gendhuk Tri memang meloncat ke tengah udara. Melayang dengan tangan terkembang. Upasara memang menggerakkan pundaknya. Tetapi, yang tak terbaca adalah bahwa Gendhuk Tri tidak melayang ke arah Cubluk, yang tetap berada di pundak Upasara.

Hubungan batin keduanya telah mencapai titik keseimbangan pengertian yang berhubungan lebih halus dari apa yang ditunjukkan oleh gerakan Halayudha. Gendhuk Tri melayang turun. Dengan tangan bersidekap di dada. Dengan mata tertutup. Dengan tubuh tetap tegak. Bersamaan dengan Upasara yang mengempos seluruh kemampuannya. Jurus demi jurus yang diciptakan dengan inti kekuatan tanah air, kini teruji sempurna seluruhnya.

Sewaktu dua serangan ganas dari dua jurusan yang berbeda dengan kembangan yang sangat berbeda menggempur keras bersamaan, tenaga dalam Upasara mengumpul, berdenyar-denyar melalui seluruh pembuluh dalam tubuhnya menggelegak di bawah semua kulitnya. Begitu Gendhuk Tri melayang turun dengan sikap semadi, Upasara menggebrak maju.

Mada seakan diarifkan, bisa mengetahui, bahwa Gendhuk Tri maupun Upasara Wulung sebenarnya sudah menyatu. Kekuatan tanah air, bukan lagi merupakan gabungan kekuatan Gendhuk Tri ditambah Upasara Wulung. Melainkan dalam diri Upasara ada kekuatan tanah dan sekaligus kekuatan air. Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri. Secara sendiri-sendiri, bisa memainkan tenaga tanah dan tenaga air sekaligus. Bahkan dalam bentuknya yang sekarang, dengan bersemadi, Gendhuk Tri seakan memindahkan tenaga dalamnya ke dalam tenaga dalam Upasara. Tanpa menggerakkan tubuh.

Sewaktu Kangkam Galih yang lebih dulu menebas, Upasara malah menyongsong. Siku kirinya ditekankan ke bawah. Tepat ke arah pedang! Dengan bertumpu pada kekuatan pedang yang bergerak, tubuhnya miring sebagaimana pedang, dan ikut terdorong bergerak. Gerak yang teramat sulit, karena kekuatan bertumpu pada bidang yang sangat sempit dan tipis. Apalagi poros pijaknya adalah siku!

Gerakan ini menyatu dengan ayunan tubuh mengikuti arah pedang. Seolah Upasara yang masih tetap merangkul Cubluk bermain dalam lingkaran. Walau sebenarnya Upasara berusaha membebaskan diri dari kekuatan yang menekan. Gerakan ini sekaligus meloloskan diri dari gempuran Ngwang yang melayang di atas dengan kedutan seblak maupun tendangan kaki lurus yang mengarah ke dada.

Pada saat yang bersamaan dengan itu tubuh Cubluk dilontarkan ke bawah, dijepit di antara kaki Upasara, sehingga kedua tangannya leluasa membalas serangan. Gerakan tangannya tetap perlahan, bisa diikuti dengan pandangan mata oleh yang melihatnya. Gerakan yang sangat sederhana. Telapak tangan Upasara menengadah-membuka, kemudian berubah miring-menepis. Itu saja.

Membuka ke arah Ngwang yang melayang di atas, dan menepis dengan pinggir tangan mengetuk pergelangan tangan Halayudha. Tubuh Ngwang yang melayang di atas seakan kena tenaga dongkrakan besar dari bawah. Seolah muntahan semburan gunung berapi yang menjotos keras, dan sekaligus bagai tarikan bumi terbelah ketika telapak tangan Upasara miring. Akibatnya hebat.

Tenaga dalam yang dikerahkan sepenuhnya, yang membuat Upasara dan Gendhuk Tri bagai satu tarikan napas, dirasakan oleh Ngwang bagai sambaran angin beliung. Tubuh Ngwang terpuntir. Tidak terputar, tapi terpuntir. Hanya bagian-bagian tertentu yang berputar. Kaki ke arah dalam dan kepala ke arah luar. Mengeluarkan suara keras rontoknya tulang dan otot-otot.

Padahal beberapa kejap sebelumnya Ngwang hanya mengira bahwa Gendhuk Tri tak jadi menerima tendangannya, tanpa menyangka bahwa Upasara bisa menghindari tebasan Kangkam Galih. Apalagi balas menyerang, dengan tenaga mendorong, memuntir, dan kemudian mengempaskan. Selebihnya udara sekitarnya mengental, pandangannya tertutup, dan bumi yang diinjaknya amblas. Keunggulannya tidak menginjak bumi berubah menjadi malapetaka. Karena pengerahan tenaga dalamnya di bagian pusar menjadi macet.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir, Ngwang mengentakkan kedua tangannya, meraup apa saja yang bisa. Dan melampiaskan seluruh kekuatannya dengan mencengkeram keras. Entakan tenaga terakhir. Sebagai balas dendam. Kalau bisa meledak bersama korban, ia sedikitnya bisa terhibur. Tubuh Upasara, atau hanya tangan atau kaki, akan remuk dalam genggamannya. Apalagi kalau gadis kecil.

Hasilnya pekikan menyayat yang panjang dan menyakitkan telinga. Sehingga Nala bergoyangan tubuhnya. Nala sadar dari pengaruh sirep dan kekuatan lawan, tetapi seketika itu pula terlelap kembali. Barangkali memang hanya Nala yang berada dalam medan pertarungan, tetapi sama sekali tak bisa mengikuti apa yang terjadi. Bahkan tidak sadar sama sekali.

Nyai Demang menutup telinga, dan membuat gerakan agar Klobot mengikuti. Sebenarnya tanpa disuruh pun, reaksi pertama Klobot ketika mendengar jeritan Ngwang yang menyayat adalah menutup telinga. Mada sendiri terbengong dan untuk sementara pendengarannya menjadi mati.

Kejutan yang sama dirasakan oleh Halayudha. Ketika menebas dengan Kangkam Galih, ia tak menduga bahwa Upasara akan menyongsong. Dengan cara meletakkan berat badannya pada siku yang bertumpu di pedangnya. Dewa yang memiliki langit pun belum tentu berani mengambil risiko berat ini. Nyatanya Upasara bisa melakukan dengan tepat.

Sebelum kagetnya lenyap, pergelangan tangannya kena tetak sisi telapak tangan Upasara yang mematikan pergelangannya. Sehingga pegangannya lepas. Kangkam Galih terlepas! Ini sungguh-sungguh luar biasa. Dalam satu jurus, Upasara membalik kemenangan. Dengan menghancurkan Ngwang, sekaligus melukainya, dan mendepak Halayudha. Dua-duanya jago utama. Pendekar silat yang setara ilmunya dengan Upasara.

Ngwang paling menderita. Ketika terkena gempuran dan tubuhnya amblas serta pandangannya lenyap, tangannya meraup sekenanya dan mengerahkan kekuatan terakhir. Tak tahunya yang kena diraup adalah Kangkam Galih! Dua tangan yang mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk diadu dengan Kangkam Galih. Pedang sakti yang selalu haus darah. Teriakan yang memanjang bagai membelah langit dan menyayat menggambarkan kengerian yang tak tertanggungkan.

Apa yang sesungguhnya dimainkan oleh Upasara Wulung sebenarnya merupakan jurus kelima ilmu ciptaannya. Yang diberi nama Tirta Candra Geni Raditya. Dalam arti lahiriah kata-kata itu mengandung pengertian air, bulan, api, serta matahari. Pengertian yang lebih dalam dari itu adalah penggunaan unsur-unsur tenaga itu secara keseluruhan, tapi bisa diurai satu per satu. Sebutan Tirta Candra Geni Raditya biasanya untuk menggambarkan keputusan dalam tata hukum yang adil, lurus, luar-dalam.

Teliti seperti air dalam memeriksa, lembut seperti rembulan dalam menanya, jatuhnya putusan seperti api, dan semuanya jelas seperti di bawah matahari. Dalam jurus yang diciptakan Upasara, semuanya diwujudkan dengan pengerahan tenaga tanah air. Menggelombang dengan tenaga air ketika seluruh tubuhnya tertumpu pada pedang, lembut mengikuti irama ayunan, dan panas membara menggertak atas serta samping.

Kesemuanya dilakukan dengan jejeg-bener, lurus dalam pengertian irama memainkannya tak berbeda dengan irama gending, di mana penekanan keras, lembut, cepat, lambat sangat menentukan hasil yang dicapai. Kalau meleset sedikit saja, gending tidak lagi nyamleng, tidak pas mengena, bisa buyar semuanya. Dalam serangan tadi, jika tenaga bertumpu dalam putaran pedang, sambil memiringkan tubuh melesat, semuanya bisa berantakan. Tubuh Upasara akan terpotong menjadi dua, karena Kangkam Galih yang tipis leluasa melibasnya.

Hasilnya memang luar biasa. Ngwang berkelojotan, tubuhnya meregang bergulingan dengan darah terus memancar dari kedua tangan yang terbelah. Sebaliknya, Halayudha terlempar satu langkah. Akan tetapi Halayudha tidak berhenti di situ saja. Sekali terlempar jauh, segera membal balik. Lebih ganas, lebih beringas. Tangannya meraih Kangkam Galih dan menebas keras. Tubuh Ngwang masih berkelojotan. Meskipun telah terpisah. Terpisah. Pisah.

Pedang dan Tanah air
TERPOTONG-Potong. Terputus. Putus. Terobek. Robek. Gendhuk Tri merasa sangat mual. Dengan cara yang tidak mengenal perikemanusiaan, Halayudha memotong-motong bagian demi bagian tubuh Ngwang Tangan yang sudah lepas disabet, ditebas, dengan miring, dengan tusukan lurus. Jari-jari yang masih meregang dikutungi satu demi satu. Mengerikan. Halayudha makin buas. Makin kalap. Semua bagian tubuh yang masih tersisa disodet, ditetas, dicacah-cacah.

“Tahan…!” Teriakan Gendhuk Tri berlanjut dengan langkah yang limbung. Bagaimanapun Ia tak tega melihat cara Halayudha yang menjadi sangat buas dan mengerikan. Bahkan tanpa latar belakang cerita mengenai Maha Singanada yang terpoteng-poteng itu pun, apa yang dilihatnya di luar batas kemanusiaan.

Nyai Demang menutupi mata Klobot sambil memejamkan matanya sendiri. Mada menggigil.

“Duh, Dewa… Duh, Dewa…”

Pangeran Hiang mengerang bagai binatang terluka. Tangannya terentang kencang. Halayudha berteriak keras, merasa terganggu oleh erangan Pangeran Hiang. Seluruh wajahnya telah berubah. Rambutnya menjurai, bercak darah memercik di seluruh wajah. Tangannya penuh darah merah yang masih menetes-netes. Tapi yang paling mengerikan adalah matanya yang hanya menyisakan warna putih mendelik. Bibirnya membuka.

Meskipun tidak melihat sempurna, Halayudha langsung mengarahkan Kangkam Galih ke Pangeran Hiang. Pangeran Hiang bersiaga. Adalah Nyai Demang yang bergerak lebih dulu. Melompat ke depan dengan bergulingan. Kedua tangannya terentang. Menghadang di depan Halayudha.

“Jangan…!” Keberanian Nyai Demang yang nyaris seperti membunuh diri, karena menempatkan diri di depan Kangkam Galih yang siap ditebaskan.

Kepala Halayudha miring ke kiri dan kanan, mengawasi sekitar dengan mata yang hanya terlihat warna putih seluruhnya. Tudingan Kangkam Galih beralih ke Mada ketika ia bergerak. Mada jadi mematung. Kangkam Galih bergetar. Menuding ke arah Raja. Ke arah Upasara. Ke arah Gendhuk Tri.

“Kudengar kidungan Kangkam Galih. Tebas semuanya!” Teriakan Halayudha mengguntur keras.

Sementara dengan terseok-seok, dengan menyeret tubuh, Nyai Demang berusaha menghadang. Pangeran Hiang berusaha menghalangi. Gerakan kecil darinya membuat Halayudha menebaskan pedangnya.

“Nyai…”

“Jangan… Jangan lakukan, Halayudha.”

“Nyai…” Pangeran Hiang berusaha lebih keras, “Nyai tak perlu menghadang di depan. Persoalan saya dengan Halayudha, biarlah saya selesaikan sendiri. Terima kasih atas perhatian dan keprihatinan Nyai Demang yang tetap tak berubah.”

Dua pasang mata bertatapan. Nyai Demang merunduk. Dahinya menyentuh tanah. “Kudengar bisikan kidungan pedang. Kemenangan. Kemenangan. Masih terus kudengar. Ya, aku Halayudha akan melakukan kidungan yang sebenarnya ini. Kidungan Pedang Tak Terkalahkan.”

Kedua tangan Halayudha menggenggam kencang Kangkam Galih. Upasara perlahan membaringkan Cubluk di sampingnya. Mengelus dada Cubluk sesaat. Gerakan yang sangat lembut, kecil, membuat Halayudha menggertak. Kangkam Galih-nya menyambar. Upasara menutup tikaman angin dengan tangannya. Tergurat luka melingkar. Melingkar dari ujung ke ujung. Dan meneteskan darah.

Sambaran yang sama sebenarnya terjadi ketika Upasara menangkis. Yaitu tertuju kepada Pangeran Hiang yang berusaha menarik perhatian Halayudha ke arah lain. Dan akibatnya sama. Bahkan lebih parah. Karena ketajaman angin Kangkam Galih membuat Pangeran Hiang tak mampu berdiri. Kedua kakinya, sedikit di atas lutut, tergores luka. Melingkar.

Benar-benar menggetarkan. Kangkam Galih menjadi sedemikian sakti sehingga luka yang ditinggalkan berupa lingkaran. Seolah pedang itu mengiris dua kaki Pangeran Hiang dari arah depan dan belakang, temu gelang. Padahal hanya dengan satu sabetan.

Mada menahan napas. “Paduka…”

Belum selesai kalimatnya, Kangkam Galih tertuju ke arahnya. Bagai ada pancaran tenaga yang meneruskan ujung pedang. Menusuk pundak Mada. Seketika itu juga mengucurkan darah segar. Seakan Kangkam Galih menjadi panjang dan bisa menembus. Kalaupun hanya angin, kekuatannya benar-benar sudah menyatu dengan jiwa Halayudha.

Tanah air memiliki api, rembulan, dan matahari
di mana ada samudra dan gunung, di situ tanah air
tanah air bisa mengatas namakan
kemenangan
peperangan
takhta
derajat

pangkat
harta
wanita
segalanya
atas nama tanah air
segalanya menjadi bisa
dan boleh dan benar

tanah air adalah asmara
berpasangan
tanah air adalah kasih
memberi
berbakti
menerima
berbagi
tanah air yang sesungguhnya…


Kidungan Gendhuk Tri terputus karena Halayudha menebaskan Kangkam Galih dengan sodetan. Seakan ingin memotong lidah Gendhuk Tri dengan paksa. Yang terkunci untuk melanjutkan kata-kata kidungan. Gendhuk Tri masih duduk. Masih bersemadi. Ketegangan meninggi. Justru ketika Halayudha terdiam. Pengaruh kidungan Gendhuk Tri?

“Kudengar kidunganku sendiri. Pedang adalah segalanya. Inilah pusaka yang sejati. Inilah pusaka yang sejati. Kemenangan yang nyata.”

Tanah air adalah sukma
yang menjelma
dalam raga
tanah air adalah raga
yang menjelma
dalam sukma
tanah air adalah mahamanusia
mengatasi manusia
takhta
Dewa
Dewa…


Pedang Tanpa Dosa
HALAYUDHA menudingkan Kangkam Galih ke arah lain. Tepat berhenti di jidat Nyai Demang. “Aku Halayudha. Bukan Gemuka yang bisa kalian akali dengan kidungan, tembang, atau apa saja. Kalian kira aku bisa dipengaruhi dengan cara hafalan lirik-lirik tanpa makna itu? Aku lebih mendengar suara pedang yang menggetarkan dan membuatku merasa jantan. Menjadi lelaki yang sejati.”

Halayudha menggerakkan pergelangan tangannya, ujung Kangkam Galih bergeser menoreh ke arah sanggul Nyai Demang hingga terlepas. Gendhuk Tri tak bisa menahan diri. Kedua tangannya terulur, pukulan menggelombang menghantam seketika. Halayudha mengeluarkan suara dingin. Dengan membalikkan tubuh, Halayudha balik menerjang ke arah Gendhuk Tri. Tenaga yang menghantamnya dilawan. Dihadapi dengan dada terbuka. Kangkam Galih menyibak masuk. Gendhuk Tri meloncat minggir, selendang mematuk.

Bret, wreek!

Ujung selendang terputus. Tubuh Gendhuk Tri terpental sempoyongan. Berguling-guling ketika Halayudha membenamkan Kangkam Galih. Setiap kali ditusukkan amblas ke tanah. Meskipun demikian Halayudha bisa menarik kembali dengan enteng dan kembali menebaskan. Kangkam Galih berubah bagai tombak, bagai keris, bagai cundrik, yang membuat Gendhuk Tri menghindar, menggelepar bagai ikan kehabisan air.

Mada tak tahan. Bersamaan dengan Pangeran Hiang, Mada menggertak maju, menggunakan kerisnya dan keris Nala. Walaupun semua terluka, terobosan kidungan Gendhuk Tri membuat Halayudha yang mata putihnya bergerak-gerak, seperti menginjak bumi lagi. Bukan semata-mata kena pengaruh Kangkam Galih. Tapi ternyata juga tak gampang.

Dengan mengeluarkan suara dingin, Halayudha membabat. Menebas rata ke semua arah. Keris di tangan Mada kutung seketika, tubuhnya terlempar terkena sabetan angin yang membekaskan garis merah sepanjang wajahnya. Pangeran Hiang berjongkok. Satu pukulan menghantam pundak Halayudha hingga oleng. Sampai dengan sepuluh jurus. Halayudha bisa ditindih. Akan tetapi sambaran Kangkam Galih benar-benar luar biasa. Tak ada yang berani mendekat.

Pertarungan tidak imbang kembali berulang. Mada melirik ke arah Upasara. Yang duduk bersila memunggungi pertarungan. Yang dari kepalanya mengepulkan asap lurus ke atas. Keluarnya asap dari ubun-ubun Upasara dalam bentuk yang menyentak-nyentak. Setiap kali seperti satu embusan. Tidak berurutan sebagaimana biasanya orang yang melatih tenaga dalamnya. Upasara memang tidak sedang melatih tenaga dalamnya.

Justru sebaliknya. Karena keadaan tubuh Cubluk menjadi gawat tak menentu. Ketika memelorotkan tubuh Cubluk ke bawah dan mengepit di antara kakinya, sementara tangannya melancarkan pukulan Tirta Candra Geni Raditya, denyut nadi kehidupan Cubluk tak terganggu. Upasara mampu menggunakan tenaga lembut menahan Cubluk. Sehingga kalaupun bergeser ke arah pundak kiri, pindah ke pundak kanan, menempel di punggung, atau kembali ke dada, tak ada perubahan apa-apa yang mempengaruhi.

Memang penyakit yang diderita Cubluk bukan itu. Melainkan mengalir atau berpindahnya bercak hitam, yang sebenarnya berasal dari tenaga dalam kotor Halayudha. Ketika tengah membalik tubuh tadi, keteg-nadi kehidupan-Cubluk menjadi tersendat. Maka Upasara segera berlutut dan berusaha menerobos masuk melalui tenaga dalamnya.

Tidak gampang. Karena Cubluk pada dasarnya tidak begitu menghendaki penyembuhan, dan karena tubuhnya masih terlalu ringkih, terlalu lemah dibandingkan dengan tenaga dalam Upasara. Sehingga harus sangat hati-hati dan perlahan. Sedikit saja mendesak dan takarannya berlebihan, Cubluk bisa lebih menderita.

Tanah air bukan pedang
keris, tombak, bindi, gada
bukan semua gegaman

pedang kemenangan
hanya bila diperlukan
sebab kekuatannya terbatas
pada tangan

kalau lebih percaya kekuatan pedang
apa artinya kekuatan tanah air
di mana kasih dan kekuatan mahamanusia…


Halayudha menanggapi dengan tertawa lebar. Kini sepenuhnya dirinya menguasai pertarungan. Dengan mendesak maju kiri-kanan, Halayudha bisa mempermainkan lawan-lawannya. Bahkan dengan pangkal pedangnya, berhasil mengetok pundak kanan Pangeran Hiang. Tubuh Pangeran Hiang terhuyung rebah.

Pada saat jatuh, Pangeran Hiang memaksakan tenaganya, dan menubruk ke arah Halayudha. Tangan kiri yang menjadi satu-satunya tumpuan menepiskan kemungkinan penyerangan yang masuk. Kakinya terangkat ke atas. Selangkangan Halayudha kena tendang, hingga terbanting, dan jalannya terseok-seok. Akan tetapi itu makin berarti memaksa Halayudha mengerahkan seluruh dendamnya.

“Demi langit dan bumi, pedang lebih kuasa dari semuanya!” Kangkam Galih dipegang erat dengan tangan kanan, menempel di pundak, sebelum ditebaskan. Membabat keras, tajam, lurus, dengan sepenuh tenaga.

JILID 92BUKU PERTAMAJILID 94