Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 92

Ksatria sejati, lelananging jagat yang dengan kepala tegak menghadapi bahaya untuk menolong sesama, tetapi juga masih manusia biasa yang keras menolak menemui Permaisuri Rajapatni. Lelaki sejati. Upasara Wulung. Kakang Upasara!

Hanya saja Gendhuk Tri merasa pemunculan kali ini bukan saat yang tepat. Gendhuk Tri merasa yakin bisa mengatasi pertarungan, dengan cara apa pun, meskipun harus mengerahkan seluruh kemampuannya. Upasara bisa sedikitnya menunggu sampai situasi lebih jelas. Atau seperti yang disindirkan Halayudha. Barangkali Upasara memang baru saja datang. Barangkali sudah sejak tadi.

Tetapi sifat mencari keuntungan untuk kepentingan diri sendiri bukanlah sifat Upasara. Lagi pula tak ada saat yang tepat untuk ikut bertarung. Sampai kapan pun situasi tetap mengandung bahaya dan tak menentu. Terutama bagi Cubluk. Cubluk yang murni, gadis kecil yang matanya bagai mata rusa. Yang berpandangan jernih. Entah kenapa emosi Gendhuk Tri memuai dan merayap liar. Bisa jadi karena beban pikirannya selama ini menjadi lepas dari ketegangan dengan munculnya Upasara Wulung. Seolah Upasara adalah penyelesai segalanya.

Padahal Mada saja mengetahui bahwa siapa pun di antara ksatria utama, tak akan menyelesaikan seorang diri. Upasara Wulung berdiri tegak. Tangan kanannya mengurut lembut punggung Cubluk, sementara bibirnya berkomat-kamit seakan membisikkan sesuatu yang menenteramkan hati. Ditantang dengan penghinaan yang paling buruk sekalipun, tak akan membuat Upasara muncul. Akan tetapi ketika mengetahui bahwa jiwa Pangeran Hiang terancam bahaya, kakinya menjejak bumi. Tubuhnya bergerak cepat, dua tangannya membuka, dan serta-merta memancarkan hawa keras, panas, menyambar ke arah kipas Ngwang yang membuka.

Menjadikan pecahnya senjata rahasia sebagai kekuatan kepet kemamang, yaitu mengubah arah semua serangan ke bagian pangkal kepala menjadi kekuatan api. Kemamang adalah salah satu dari sebelas hantu yang menampilkan diri dalam bentuk api menyala. Tanpa pemberitahuan Nyai Demang yang meneriakkan nama kepet banaspati, Upasara sudah menangkap arah dan maksud serangan. Makanya dengan sama mudahnya bisa mengubah menjadi serangan api.

Dengan mengubah menjadi kepet kemamang, arah luncuran lempengan kipas tidak hanya mengarah ke leher, melainkan menyebar ke segala penjuru, seperti berkobarnya api. Kelihatannya perbedaannya kecil, akan tetapi sangat besar artinya bagi para jago silat. Terutama bagi Pangeran Hiang yang untuk sepersekian kejap bisa menyelamatkan diri. Perubahan arah yang sekejap, memberi cukup waktu untuk mengubah jalan hidupnya dari kematian.

Sebaliknya yang terjadi pada diri Naka. Tidak tepat benar demikian. Karena kalaupun tidak diubah, lempengan kipas itu tetap akan memutuskan lehernya. Hanya arahnya yang berubah dan menembus tepat di tengah dadanya. Pekikan kematian dan muncratnya darah segar, yang menyadarkan Mada bahwa maut sudah mulai menggerayangi satu demi satu. Dan agaknya tak akan berhenti.

Halayudha sudah mengangkat tinggi-tinggi Kangkam Galih. Memindahkan dari tangan kanan ke tangan kiri. Pandangannya liar menyapu. Pangeran Hiang melirik ke Upasara dalam kejapan pandangan mata yang cepat, sebelum bersiaga. Tangannya yang masih utuh terkepal dengan siku tertekuk.

Tega Lara…
DALAM putaran pertama, yang paling menderita adalah Ngwang. Pendita Tartar yang memiliki beberapa keunggulan, dan tidak terlalu kalah dalam bidang yang lain, ternyata ditabrakkan pada dinding kekalahan. Satu-satunya lawan yang bisa dijungkirbalikkan hanyalah Klobot. Selebihnya, dirinya yang menjadi korban.

Semua senjata andalan yang dikeluarkan ternyata sia-sia. Pecahan tasbih yang memancarkan bau wangi penyirep tak banyak gunanya. Hanya mampu membuat barisan prajurit kawal Keraton, serta Raja Jayanegara, dan Mahapatih tidak melakukan perlawanan. Pecahan tasbih yang merupakan salah satu dari senjata andalannya yang bisa membungkam seluruh petarung, bisa dimentahkan oleh Pangeran Hiang. Bahkan juga bagian kedua yang berbentuk pasir, musnah begitu saja.

Kemudian kipas logam tipis yang biasa menyodet leher hingga memutus kepala, dengan rahasia terbesar bisa dilepas sebagai senjata rahasia, juga tak banyak berbicara. Kalaupun ada hasilnya, hanyalah menjatuhkan seorang prajurit yang sama sekali tak dikenal. Keunggulannya dalam bermain silat dengan tendangan maut hanya mengenai Nyai Demang, yang juga boleh dikatakan tidak bersiaga. Apa yang diharapkan bisa menjadikan kemenangan besar, ternyata membuahkan kesia-siaan. Ini semua masih harus ditambah bahwa hubungannya dengan Pangeran Sang Hiang makin rapuh. Makin patah arang.

Dan kini posisinya sudah tersudut. Tak bisa mundur atau mengelak lagi. Karena ketahuan bahwa lepasan kipasnya termasuk untuk menghajar Pangeran Hiang. Lautan dendam, murka, kebencian, menggelegak di seluruh pembuluh. Wajahnya tampak membeku, kering terbakar nafsu. Hangus oleh amarah. Bibir Ngwang mendesis bagai jeritan barisan ular yang dilindas derap kaki kuda.

Dari kejauhan, Nyai Demang menahan napas. Pergolakan batin Ngwang bisa dirasakan. Dalam hubungan dengan Pangeran Hiang, Ngwang dua kali dipermalukan. Pertama, saat pemutusan hubungan tali kandungan, punahnya rasa persaudaraan. Kedua, ketika tadi Ngwang melepas lempengan kipas tipis, justru pada saat Pangeran Hiang bergerak menolong.

Ini tak berbeda jauh dari apa yang menjadi budaya di mana Nyai Demang hidup. Peribahasa kata, hubungan Pangeran Hiang dengan Ngwang masih bersifat tega larane, ora tega patine. Tega melihat sakit, tapi tidak tega membiarkan mati.

Dengan kata lain, meskipun sudah putus hubungan persaudaraan, Pangeran Hiang masih tetap tak akan membiarkan Ngwang mati mengenaskan. Gondok, kesal, dongkol, berdentuman dalam dadanya. Dengan demikian pengaruh sirep Ngwang menjadi pudar. Kuncian yang membuat Raja, Jabung Krewes, serta para prajurit membisu tak sadarkan diri, menjadi buyar.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara-suara. Para prajurit terbangun dan dalam bingungnya lebih membuat kegaduhan. Sementara Mahapatih Jabung Krewes bahkan terjatuh dari dahan di mana ia tertidur. Hanya Raja yang merasa lebih tenang. Berpegangan di dahan, menggelantung, sambil melihat ke bawah. Melihat begitu banyak ksatria yang tampak aneh, melihat prajurit kawalnya serabutan tak berirama dalam barisan.

“Rama Ingkang Sinuwun…” Teriakan Klobot yang menggema lebih dulu.

Nyai Demang mendongak ke atas. Dan bercekat karena memang yang dilihatnya tak lain dan tak bukan adalah Raja Majapahit. Raja yang bergelantungan di atas pohon. Hal lain yang tak terduga ialah dengan teriakan Klobot, Cubluk yang berada di pundak Upasara Wulung menggeliat.

“Rama…”

“Ya, saya di sini, Anak Ayu…” Jawaban Upasara Wulung terdengar antara haru dan berpengharapan. Haru melihat wajah Cubluk yang pasi, berpengharapan karena setelah sekian lama bibir pucat itu terkancing rapat kini membuka. Biarpun sangat lirih. Cubluk menggeleng. Jakun Upasara turun dan tertahan.

“Rama…” Suara Cubluk lirih.

Gendhuk Tri mendekat. Rapat. Upasara menahan napas. Cubluk menyebutkan “rama”, akan tetapi yang dimaksudkan bukan dirinya.

“Rama Ingkang Sinuwun. Hamba menghaturkan sembah pangabekti. Mudah-mudahan diterima di telapak kaki Sinuwun…”

Klobot melepaskan diri dari rangkulan Nyai Demang. Bersujud di tanah. Cubluk ikut melorot. Perlahan Upasara menurunkan ke tanah, sementara Gendhuk Tri berjaga, karena Halayudha masih memainkan pedang dari tangan kiri ke tangan kanan. Karena Ngwang masih menggeletar. Perlahan sekali Upasara menurunkan Cubluk, akan tetapi gadis kecil itu seakan tak menyimpan tenaga sedikit pun. Sehingga begitu kakinya menyentuh tanah, seluruh tubuhnya ambruk seperti selembar kain.

Nyai Demang mengeluarkan suara tertahan. Klobot masih bersujud. Mendadak Nyai Demang berteriak keras. “Katakan sesuatu kepada mereka berdua. Agar tak perlu bersujud seperti itu. Katakan!”

“Ingsun tak kenal siapa kalian. Untuk apa menerima sembah sungkem seperti ini.”

Nyai Demang benar-benar gusar. "Masih bagus ada yang menghormat begitu dalam. Tapi masih bisa bertingkah." Tenaga Nyai Demang tersalur ke tangan. Siap memukul. Hanya saja pinggangnya masih kaku dan menimbulkan rasa sakit. "Raja, bersabdalah, agar Klobot dan Cubluk bisa mengakhiri sembah mereka.” Gendhuk Tri bersuara keras, akan tetapi sikapnya sangat hormat. Bersila dan menyembah.

“Kalian orang perguruan mursal, perguruan rusak. Sejak kapan ada raja diperintah?”

Belum habis suaranya, terdengar bunyi keras. Pohon sebesar dua pemeluk condong, karena bagian bawahnya kena tebas. Luar biasa. Halayudha hanya menggerakkan Kangkam Galih dan angin kesiurannya mampu menggores dalam. Dengan sekali sabet. Ketika Halayudha mengayun untuk kedua kalinya, disusul sekali lagi, pohon raksasa itu benar-benar roboh. Menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga. Raja Jayanegara melayang turun. Masih dengan senyum yang keras. Mada meloncat, dan menubruk cepat. Hingga keduanya bergulingan.

“Baik, baik, berdirilah kalian berdua.” Suara yang serak tertahan terdengar.

Klobot menyembah lagi, dan kini bersila. Cubluk ditarik kembali oleh Upasara. Dipanggul di pundak. Lehernya tertekuk, seolah memang tak memiliki sisa kekuatan sedikit pun. Apa yang dilakukan Mada, tak mungkin bisa dilakukan orang lain. Dengan menubruk, Mada menyelamatkan Raja. Tapi juga sekaligus membuat Raja terjatuh. Dan saat itu terdengar suara mengiyakan.

Masih menjadi tanda tanya, apakah itu perintah Raja, ataukah suara Mada yang menirukan. Namun siapa pun yang berbicara telah menyebabkan, terutama Cubluk, merasa tenang dalam rangkulan Upasara. Bisa dibayangkan betapa ruwetnya persoalan, jika Raja tetap tak mau mengatakan sepatah kata pun. Mahapatih Jabung Krewes segera maju melindungi. Tapi belum lima langkah tubuhnya terjungkal kaku. Setiap kali Halayudha menggerakkan tangannya, tiga atau lima prajurit jatuh keras.

“Jangan mengacaukan suasana. Di sini hanya para ksatria yang berhak berdiri.”

“Halayudha!”

Mada segera menarik Raja menjauh. Setengah menyeretnya.

“Tidak akan terulang dua kali!” teriak Raja gusar.

“Maaf, Raja Sesembahan. Para ksatria sedang mengadu ilmu.”

“Kamu kira Ingsun ini siapa atau apa?” Raja mengentak, dan tubuh Mada terlempar kembali ke tengah pertarungan.

Ngwang mendesis. Klobot berlutut. Nyai Demang mendampingi. Tangan kanan Upasara masih mengurut punggung Cubluk dengan lembut. Dengan getaran kasih yang mengalir dari seluruh jemarinya. Hanya Pangeran Hiang yang berdiri kaku. Ngwang sedang merencanakan sesuatu.

Anak Raja, Cucu Halayudha
GENDHUK TRI merasa serba susah. Kalau mengikuti adatnya, meskipun pikirannya terpantek pada Cubluk, tangannya yang jail bisa mempermainkan Raja. Akan tetapi kalau itu dilakukan, bisa melukai hati dan perasaan Cubluk serta Klobot sekaligus. Membiarkan Raja mengumbar kesombongan, membuat darahnya mendidih. Yang dalam pertarungan penentuan, bisa mengganggu.

“Klobot, berdiri yang gagah! Di sini Halayudha. Eyangmu. Memerintahmu.”

Klobot ragu.

“Kalau kamu putra Tenggala Seta, kamu adalah cucuku. Sekarang kamu telanjang agar semua mata bisa melihat plananganmu, kelelakianmu.” Ganjil, seakan tak keruan juntrungannya omongan Halayudha bagi yang tidak memahami.

“Hamba menunggu perintah Rama Ingkang Sinuwun…”

“Kamu ini bagaimana? Kalau kamu cucu Halayudha, mana mungkin putra Raja? Tapi begitu juga tak apa. Asal kalian tak mengganggu. Kami sedang menentukan siapa yang paling unggul. Minggir!” Tangan Halayudha bergerak. Kangkam Galih berpindah dari tangan kiri ke tangan kanan. Desiran anginnya mengiris tajam.

Mada bersila di kaki Raja. Di antara para prajurit kawal raja, Mada boleh dibilang sangat dekat, walau bukan prajurit yang kinasih, atau dicintai, atau diistimewakan. Bahkan boleh dikatakan biasa-biasa saja. Bahkan dikirim ke Daha sebagai tanda dibuang. Namun Mada adalah prajurit sejati. Apa pun perlakuan yang diterima, semuanya dijalani dengan tulus, dengan ikhlas dan rasa bahagia.

Hanya sekarang ini tak pernah bisa mengerti kenapa Raja bersama Mahapatih menuju ke Perguruan Awan. Dan belum-belum sudah temangsang, tersangkut di pohon. Alangkah aib dan hinanya. Maka kini Mada ingin melindungi sepenuhnya. Segala kehormatan dan pengabdiannya dipertaruhkan. Siapa pun yang bermaksud kurang ajar apalagi mencelakai, akan dihadapi dengan taruhan jiwa-raga. Dadanya membusung. Terisi penuh udara keprajuritan.

Raja memandangi sekitar dengan tajam. Dirinya pernah berkelana ketika Kuti memberontak. Masuk ke semak belukar. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Di mana semua yang ada tegak berdiri, tidak menoleh, tidak menyapa ke arahnya. Sungguh suatu kehinaan yang nista yang dioleskan ke wajahnya. Halayudha pernah membuatnya berlutut. Akan tetapi tidak di alam terbuka.

Mendadak berkelebat bayangan aneh dalam pikiran Raja. Selalu bisa muncul kelebatan pemikiran yang lain. Seperti ketika mendadak ingin mengangkat Praba Raga Karana menjadi permaisuri. Yang kini membuat pikirannya berkelebat adalah Klobot serta gadis kecil di pundak Upasara Wulung.

“Klobot, dan kamu gadis kecil, mari kemari. Ingsun mau melihat lebih dekat.” Suaranya biasa.

Tetapi pengaruhnya terasa. Klobot berjalan laku dodok, setengah merangkak ke depan. Demikian juga Cubluk yang menggeliat di pundak Upasara. Upasara tak bisa berbuat lain, selain laku dodok juga, agar Cubluk di pangkuannya merasa melakukan hal yang sama.

Saat yang tepat! Ngwang melihat adanya kesempatan terbaik. Sakti seperti tujuh dewa, mempunyai nyawa rangkap tujuh, tak nanti Upasara bisa lolos dari tangannya. Dengan sekali sergap, Ngwang akan memperoleh kemenangan. Saat yang tepat. Tetapi juga membuat Ngwang ragu. Gendhuk Tri bisa menyambar dengan nekat. Sementara Pangeran Hiang mungkin juga tak akan membiarkan begitu saja. Kecuali kalau dirinya memiliki senjata rahasia.

Kedua tangan Ngwang masuk ke dalam pakaian yang gedombrongan. Menganyam seblak, semacam sapu pembersih, yang terbuat dari helai rambut yang telah disusupi racun ganas. Dengan menyentak dan melepaskan mendadak ratusan rambut, pasti ada yang menyangkut dan menyusup. Saat yang tepat! Tinggal melaksanakan. Tangan Ngwang gemetar. Tubuhnya yang tak menyentuh tanah turun beberapa jari.

Pangeran Hiang melirik. Bersamaan dengan Halayudha. Semua napas seperti tertahan. Karena masing-masing dapat menduga kemungkinan yang bisa muncul secara sangat tiba-tiba. Bisa memperkirakan serangan yang sedang direncanakan. Klobot terus ngesot ke depan. Dalam jarak lima tombak berhenti, bersila, dan menyembah. Juga Cubluk dalam pangkuan Upasara Wulung.

“Tidak semua bibir di jagat ini berani memanggil Ingsun dengan sebutan rama. Tidak juga Dewa di langit ketujuh. Tapi kalian berani menyebut. Dari mana asal kalian dan kenapa kalian berada di sini?”

Dari mata Cubluk yang kuyu menetes air. Hangat tapi pedih. Mulut Klobot terkunci.

“Barangkali kalian memang salah satu dari putraku yang begitu banyak dan tak kukenali. Barangkali juga anak yang berkeliaran dan biasa bermimpi paling ganjil. Kalau kalian benar putraku, ikat tangan semua yang ada di sini. Paksa mereka menyembah kepada Ingsun”

Perintah yang paling gila yang pernah didengar Nyai Demang. Tapi Klobot menyembah dalam.

“Sendika dawuh, Rama Ingkang Sinuwun…” Klobot membalik. Menarik tangan Upasara ke belakang. “Menyembah, Rama Wulung! Rama Wulung harus menyembah!”

Upasara mendongak ke arah langit. Helaan napasnya terdengar berat. “Bagaimana mungkin mengikat tangan sekaligus memerintahkan menyembah? Sudah begini susahkah manusia mengucapkan kata-kata?”

Tangan Upasara yang berada di belakang bergerak. Menyembah. Tubuhnya sedikit membungkuk, pundaknya tertarik ke atas. Jabung Krewes yang pertama bereaksi. Tangannya seperti akan bergerak, sebelum lututnya bisa lurus. Tenaga tangan yang dirangkapkan mengalir, memancar bagai sinar. Lurus menghantam Raja, tepat di bagian ulu hati. Raja menahan kekuatan di perutnya. Akan tetapi apa yang dialami tak berbeda banyak.

Pangeran Hiang sedikit mengerutkan alisnya. Agak di luar dugaannya bahwa Upasara akan bertindak seperti itu. Rasa-rasanya agak kasar dan tak mungkin dilakukan seorang yang selama ini dikenalnya. Pangeran Hiang sadar ucapan Upasara tentang “seorang yang diikat tangannya sekaligus disuruh menyembah” merupakan puncak kejengkelan. Siapa pun yang mendengar bisa sebal akan kesewenang-wenangan perintah yang tak mungkin bisa dilaksanakan. Akan tetapi sekali lagi tetap tersisa pertanyaan, kenapa Upasara bisa melakukan hal itu?

Pertanyaan kecil ini menjadi sangat penting bagi Pangeran Hiang untuk bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tanah Jawa ini. Bagaimana perilaku yang hidup dalam diri para ksatria sehingga mereka kondang, dikenal di seluruh jagat. Salah satunya seperti yang diperlihatkan Upasara Wulung. Ksatria yang berbakti, yang mengabdi sepenuh jiwa-raga tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun baik pangkat maupun derajat, yang akan menerima penghinaan dengan kepala tunduk, tapi ada saatnya juga bisa memperlihatkan sikap yang kasar.

Yang masih menjadi pertanyaan Pangeran Hiang, apa yang menyebabkan Pangeran Upasara menjadi kasar? Apa yang menyebabkan Upasara begitu gusar? Upasara mampu menguasai pergolakan emosi, perasaan, dengan sikap pendita. Pastilah ada sesuatu yang lebih mendasar yang membuat Upasara melepaskan tenaga membungkam. Gadis kecil di pangkuannya? Mungkin. Tapi kalau itu sebabnya, pasti sejak tadi sudah dilakukan.

Agar tak mengganggu jalannya pertarungan? Mungkin. Tapi kalau itu sebabnya, apa bedanya dengan Halayudha? Pertanyaan kecil yang mengasyikkan. Karena bisa menyelam jauh ke dalam. Hanya saja bukan sekarang saatnya. Karena Upasara sudah membalik, memanggul gadis kecil itu. Sementara Halayudha mulai teratur napasnya. Tangan Ngwang sepenuhnya masuk ke saku. Angin berhenti mengalir. Seakan tak ada napas.

Pertarungan Perjaka
SITUASI lengang tak berlangsung lama. Boleh dikatakan lebih lama mata berkejap atau kilat menyambar. Begitu Upasara tegak, begitu pedang bergerak dari tangan kanan ke tangan kiri, begitu pula Halayudha sudah melancarkan serangan. Yang bergerak bersamaan adalah Gendhuk Tri. Dalam membaca situasi, Gendhuk Tri bisa bergerak cepat. Kalau menunggu sedikit saja, pertarungan pasti akan terserap kepada Upasara. Baik Halayudha maupun Ngwang, lebih ngincim, mengancam, Upasara. Yang saat ini justru sedang direpotkan dengan memanggul Cubluk.

Serangannya memotong kemungkinan gebrakan yang diduga bakal dilancarkan Halayudha begitu Raja berhasil dibungkam. Namun ternyata pada saat yang bersamaan, Halayudha juga bergerak. Kalau tadi keduanya bersatu menggempur Ngwang, sekarang pertarungan justru berawal dari Halayudha dengan Gendhuk Tri. Hanya bedanya, Halayudha tidak memilih satu lawan. Kejemawaannya terlihat jelas. Cakaran tangan kiri kembali mengarah ke Ngwang, sementara sabetan pedangnya ke arah Gendhuk Tri maupun Nyai Demang.

Nyai Demang memang paling lemah posisinya. Keunggulannya membaca situasi yang sedang berlangsung seakan tak ada gunanya. Sementara ilmu silatnya tak seberapa dibandingkan para jawara yang terkemuka. Beban lain, jalan pikirannya masih ngacak tidak menentu. Baik karena kehadiran kembali Pangeran Hiang, ataupun memprihatinkan Klobot yang kini berada di tempat jauh darinya. Masih harus ditambah bagian bawah tubuhnya tak bisa digerakkan leluasa.

Sabetan pedang Halayudha bisa melukai, meskipun hanya sambaran anginnya. Dua-tiga kali Halayudha menebas, tubuh Nyai Demang bisa menjadi daging cincang, tanpa pernah tersentuh pedang. Apa yang bisa dilakukan hanyalah bergulingan, menggulung diri. Namun tak urung pundaknya terasa panas, dan kekakuan di pinggang mulai merayap ke atas. Yang pertama terasa kaku adalah tengkuknya. Celaka berat, pikirnya.

Kalau keadaannya makin parah, dirinya akan menjadi beban bagi Upasara maupun Gendhuk Tri. Tak ubahnya dengan Cubluk. Dalam keadaan terjepit, Nyai Demang mengertakkan gigi. Dirinya tak mau menjadi si lumpuh yang tak berguna. Apalagi menjadi halangan. Rasa bersalah dalam hatinya tak bisa dihapus, jika itu berkelanjutan.

“Mada, kamu maju!” Suara Nyai Demang lebih memerintah dari meminta.

Anehnya, Mada seperti mendengar panggilan yang sudah ditunggu. Kedua tangannya terkepal, dan mulai menggeliat. Getaran tubuhnya mengguncang medan pertarungan. Sebuah persiapan pengerahan tenaga dalam, yang bagi Halayudha tak perlu memakai waktu dan sikap khusus seperti itu. Perhitungan Nyai Demang, meskipun kedengarannya asal-asalan, sebenarnya mempunyai akar yang kuat. Lejitan pikirannya masih mampu mengambil jarak dari persoalan yang ada. Dan menemukan jalan keluar.

Dengan melihat, di antara sekian orang yang bertarung, dirinya yang paling lemah. Bukan kebetulan kalau keadaan dirinya berbeda dari yang lain. Dirinya sudah berkeluarga. Sementara yang lainnya, rasanya masih perjaka tulen. Selama ini Upasara Wulung tak pernah berhubungan dekat dengan wanita. Bahkan hubungannya yang menyatu dalam batin dengan Permaisuri Rajapatni, sebenarnya tak lebih dari sentuhan tangan. Tidak sampai hubungan badani. Daya asmara masih tersimpan murni.

Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri. Meskipun usianya sudah jauh melewati masa remaja, Gendhuk Tri malah boleh dikatakan bersikap dingin jika berhubungan dengan para ksatria. Satu-satunya keikhlasan menyerahkan pilihan adalah kepada Maha Singanada. Tapi itu pun baru terbatas menyatakan kesediaan, ketika kemudian ksatria gagah berani itu mengorbankan diri menggantikan posisi Upasara.

Tokoh yang lain, rasanya demikian juga. Halayudha, meskipun menurut kabar pernah berhubungan dengan Dewi Renuka di masa remaja, sekarang malah tidak memiliki apa-apa. Barangkali demikian juga halnya dengan Pangeran Hiang. Meskipun resminya memiliki calon permaisuri Putri Koreyea, tetapi menurut kabar cerita, Putri Koreyea menderita sakit parah sejak dinikahi resmi.

Tak jauh berbeda dari Ngwang. Gelaran pendita pastilah diterapkan dengan benar. Itu sebabnya Nyai Demang kemudian meneriakkan nama Mada. Yang dari sisi ini, bisalah dianggap tetap perjaka. Kemungkinan perhitungan Nyai Demang bisa keliru, dan itu akan bisa dibuktikan dengan siapa yang lebih dulu tertindih.

Akan tetapi lepas dari tepat atau meleset sedikit, teriakan Nyai Demang ada gunanya. Dengan masuknya Mada ke dalam pertarungan, seakan membebaskan Mada dari “kewajiban” menunggui Raja yang kaku, di samping untuk sementara sodokannya mempunyai pengaruh terhadap gerakan Halayudha. Dilihat sepintas memang kurang masuk akal. Mada hanyalah prajurit biasa.

Sementara Halayudha adalah mahapatih. Dari segi penguasaan ilmu silat, Mada boleh dikatakan masih bau pupuk bawang di ubun-ubunnya, sementara Halayudha sudah terlalu kenyang dengan berbagai ilmu. Dari segi taktik dan strategi, Mada hanya mengenal satu garis lurus, sementara Halayudha dengan lingkaran dan cabang-cabang. Akan tetapi dalam dua jurus awal, Mada bahkan mampu mengimbangi Halayudha. Sabetan ganas Kangkam Galih yang selama ini selalu menyembelih dan dihindari lawan-lawannya, bisa disusupi Mada. Bahkan beberapa kali sikunya menyerempet dada.

Kepercayaan diri Nyai Demang tumbuh lagi. Apa yang membersit dalam alam pikirannya ternyata tidak sepenuhnya keliru. Meskipun Nyai Demang tidak tahu persis bahwa hubungan Mada dengan Halayudha memang berbeda dari yang biasa. Hubungan antar manusia, hubungan sesama mahamanusia, meniadakan jarak pangkat dan derajat, serta penguasaan ilmu. Karena Halayudha dalam banyak hal bisa merasa cocok dan terjawab oleh Mada. Begitu juga sebaliknya.

Sentuhan persamaan getaran inilah yang membuat Mada seolah bisa menebak apa yang dilakukan Halayudha. Bahkan sejak pergelangannya berputar, Mada bisa mengetahui arahnya. Memasuki jurus ketiga, benar-benar suatu keajaiban. Halayudha bahkan bisa didesak Mada, dan hanya melayani Mada.

“Paduka keliru, bukan ditahan di perut, tapi sedikit ke bawah.”

“Tutup mulutmu!”

“Tak bisa. Paduka jangan memaksa. Lambung diserang, tapi jidat tak boleh tertutup. Getarkan seperti ketika Paduka mendorong tenaga Bibi Jagattri. Dorongan tenaga memaksa.”

Halayudha makin blingsatan. Pemusatan pikirannya menjadi buyar tak menentu. Masuk di tataran kebimbangan, Mada makin bisa menguasai jalan pikiran. Dan terus mengatakan apa yang sebaiknya dilakukan, dan apa yang sebaiknya jangan dilakukan. Halayudha menggerung keras. Bukan Halayudha kalau kena didikte begitu saja. Tekanan yang berat justru memberikan perlawanan yang lebih dahsyat lagi. Gerungan keras disertai auman membuat Kangkam Galih tergetar. Karena secara mendadak Halayudha mengubah cara bersilatnya. Mengubah total.

Kangkam Galih digigit! Sodokan Mada tertahan. Matanya membelalak. Nalarnya tak bisa menerima bagaimana pedang sakti yang kelewat tajam itu digigit. Bukan hanya tidak bisa dilakukan untuk menyerang, tapi sangat membahayakan dirinya. Apalagi Halayudha menarik kedua tangannya. Menggebuk Mada dengan pedang yang tergigit.

“Mundur!”

Teriakan Nyai Demang terlambat. Pundak Mada kena gempur, hingga tubuhnya terbalik bagai kena dorongan keras dari depan dan tarikan kuat dari belakang. Akibatnya terpuntir.

“Balik!”

Kalimat Nyai Demang tidak jelas. Tetapi sebenarnya Mada bisa menangkap apa maunya. Bahwa Halayudha menukar cara berpikir dan cara bersilatnya. Membalikkan jalan pikiran yang ada. Kalau pedang biasa dipegang, kini digigit. Kalau tangan untuk memukul, kini ditelikung sendiri. Kalau tenaga dikerahkan sewaktu memukul, kini justru disimpan. Mada yang terjebak. Penguasaan jalan pikirannya menjadi keliru. Itu sebabnya kena sampok.

Kalaupun Mada sadar, tak bisa segera mengubah diri. Karena sampokannya mengena cukup keras. Dan membuat pandangannya berkunang-kunang. Napasnya menjadi sesak. Hanya karena Halayudha kemudian mengarah kembali ke Gendhuk Tri dan Nyai Demang, Mada terhindar.

Pasangan Tanah air
HALAYUDHA harus menukar kembali cara bersilatnya. Karena kalau menghadapi Gendhuk Tri memakai cara yang sama, belum-belum Kangkam Galih akan menyobek bibirnya sendiri. Itulah Halayudha. Yang mampu mengubah pribadi dalam waktu beberapa kejap. Itulah mahamanusia. Yang dalam sikap Halayudha adalah manusia yang tak mengenal baik-buruk, benar-salah, atas-bawah. Dengan demikian pertarungan kembali seperti di bagian awal, sebelum masuknya Mada.

Ngwang tengah ngleyang, menyambar bagai angin, ke arah Upasara, dengan dua tangan masih tersimpan di saku. Baru di tengah perjalanan, tangannya terangkat ke luar dan menyapu dengan seblak, atau kemucing bertangkai panjang yang pada bagian ujungnya diikatkan segepok rambut. Rajutan dalam saku telah selesai sejak tadi. Ngwang sedang mencari saat yang tepat untuk menyergap. Hanya saja dalam hal ini, Gendhuk Tri yang lebih dulu mengambil peranan.

Dengan memegang seblak, tangan Ngwang terlihat lebih panjang. Seblak itu bisa menjulur setengah panjang tangannya. Ditambah cara bergeraknya yang cepat, serta pengerahan kemampuannya yang terakhir, angin bahaya tercium seketika. Yang belum terduga lagi, terutama karena seblak itu ternyata bisa dipendekkan, seperti ketika berada dalam saku pakaiannya yang gedombrangan.

Tangan kanan Upasara masih mengelus punggung Cubluk. Tangan kirinya menangkis keras, membelit dengan putaran. Memutar pergelangan tangan Ngwang yang memegang senjata. Kalau Ngwang mampu menggerakkan sedikit saja pergelangan tangan, berarti rambut seblak-nya akan menusuk masuk ke kulit tangan Upasara. Dan itu kemungkinan besar sangat bisa terjadi, dengan risiko yang tinggi bagi Upasara. Seolah adu keras dengan mengorbankan kekuatan.

Tapi Ngwang menarik diri. Dengan mudah Ngwang menghindari benturan tenaga. Benturan yang menguntungkan justru ditolak. Karena Ngwang mengincar Cubluk. Seluruh serangannya tertuju ke arah itu. Dalam hal ini Ngwang sebenarnya tidak terlalu cerdik. Malah boleh dikatakan menjadi sangat hati-hati. Jelas dalam benturan tenaga, Ngwang menang secara materi. Akan tetapi nyalinya telanjur keder dengan nama besar Upasara Wulung. Yang ketika dalam keadaan terluka masih mampu mengimbanginya.

Apalagi kini kekuatan Upasara seperti menyatu. Walau tetap tak sempurna, karena menjaga Cubluk. Titik lemah ini yang digempur habis-habisan. Kedutannya mengarah ke Cubluk, sementara tangannya yang kosong mencuri kesempatan menyambar, dan kakinya merobek serta merobohkan pertahanan Upasara.

Napas Mada naik-turun. Ia tak bisa berbuat apa-apa, karena pikirannya seakan blong, jebol entah ke mana. Cara Halayudha mengubah pribadinya, watak bertarungnya, susah dipahami sehingga masih menjadi gangguan. Jalan pikirannya sederhana. Ketika mencoba merenungkan apa yang berlangsung, yang muncul justru kemungkinan yang lain. Mengenai cara bertarung Upasara, Gendhuk Tri, bukan hanya Halayudha.

Sebenarnya kedudukan yang bertarung sekarang ini sangat aneh. Di satu pihak jelas ada Upasara Wulung, Gendhuk Tri, serta Nyai Demang. Kalau mereka bersatu, akan merupakan kekuatan utama. Sementara lawan yang dihadapi, Halayudha berdiri sendiri. Ngwang di pihak lain lagi. Serta Pangeran Hiang yang bisa dikatakan berdiri sendiri. Kalau saja dirinya bisa membuat semua yang ada mengeroyok atau paling tidak menghadapi Ngwang, pertarungan akan lebih cepat berakhir. Atau bahkan, misalnya saja, menghabisi Halayudha.

Mada menarik-narik rambutnya karena kesal. Karena menyadari penuh bahwa jalan pikirannya terlalu ngayawara, terlalu dibuat-buat dan berbeda dari kenyataan yang ada. Karena kini Pangeran Hiang menyerbu ke arah pertarungan melawan Halayudha. Kelihatannya sekilas seperti mengeroyok bersama Gendhuk Tri, akan tetapi pada suatu saat keduanya juga saling bertempur sendiri. Ini baru pertarungan yang paling ganjil yang pernah dilihat Mada.

Selama ini matanya selalu menyaksikan dua atau tiga kubu secara jelas terbedakan. Namun sekarang justru terpecah-pecah. Bahkan Upasara Wulung serta Gendhuk Tri tidak berada dalam tempat yang sama. Bukankah keduanya bisa bersatu-padu, sebagai pasangan yang tanpa tanding? Bukankah tubuh anak perempuan kecil di pundak Upasara bisa dititipkan sementara ke Nyai Demang?

Yang membuat Mada heran sebenarnya bukan pertanyaan itu sendiri. Melainkan bahwa di balik pertanyaan itu pasti ada jawabannya. Kalau sampai mereka berdua tak perlu bersatu, kalau sampai gadis kecil itu digendong, pasti ada penyebabnya. Yang masih gelap baginya, tapi tidak bagi yang bersangkutan.

Sama dengan keadaan dirinya sendiri saat ini. Sehubungan dengan perintah Patih Tilam untuk menangkap Upasara Wulung. Benarkah seperti yang diutarakan, meneruskan peranan sebagai perantara wangsit, suara dari kegaiban, ataukah ada sesuatu yang lain?

Atau juga Raja yang tertegun seperti seonggok kayu tua. Atau seperti dirinya yang keletihan karena mencoba memahami dan menandingi Halayudha yang dengan enak bisa mencla-mencle, tanpa kepribadian. Mada mengibaskan pikirannya yang meliar tanpa bisa diarahkan kepada sesuatu yang lebih bermanfaat.

Karena pertarungan makin meninggi. Gempuran Ngwang yang bertubi-tubi, memaksa Upasara memindahkan tubuh Cubluk dari pundak kiri ke pundak kanan. Kadang kala bahkan perlu memutar tubuhnya, sehingga Cubluk berada dalam gendongannya. Kadang seperti diemban di bagian depan. Dalam pertarungan seperti ini terlihat jelas bahwa Upasara bisa mengungguli Ngwang.

Sekurangnya Ngwang tak bisa berbuat banyak. Serangannya ke arah kuda-kuda Upasara sudah lama ditarik. Karena Ngwang mengetahui kekuatan utama Upasara justru pada pijakan kaki. Yang kukuh, keras, tak tergoyahkan. Benturan keras lawan keras hanya membuat tubuhnya melesak ke dalam tanah, tak bisa mengambang.

Namun keunggulan tak menghasilkan apa-apa untuk menandai kemenangan. Karena Ngwang bisa melayang pergi dan datang, menyambar dan mengeleyang, sementara gerakan Upasara sangat terbatas. Lebih mengandalkan keunggulan tenaga dalam, dan kesiagaannya untuk mengambil risiko.

Nyai Demang yang terbebas dari serangan untuk sementara, hanya bisa membuat perhitungan dalam hati. Bahwa daya gempur Ngwang yang menggunakan seblak tak berbeda dengan ketika menggunakan kipas. Serangan banaspati, serangan dengan arah memenggal leher masih terlihat. Kadang diseling atau ditambahi dengan kedutan lampor, di mana ujung-ujung rambut berdiri tegak dan menjadi keras menyapu, seakan teriakan ratusan bocah. Yang mengakibatkan Cubluk tergerak mengikuti arah gerakan seblak.

Ini termasuk jurus yang paling berbahaya bagi Upasara. Karena Ngwang mempergunakan keunggulan untuk mempengaruhi Cubluk. Lampor adalah jenis hantu yang dipercaya muncul siang hari dan mengajak anak-anak pergi. Sekali muncul, lampor bisa menarik puluhan anak. Dalam dongengan yang dipercaya, anak-anak sangat tertarik dan akan mengikuti tanpa peduli orang tuanya menahan dengan tangis ataupun jerit.

Inilah yang diketahui Nyai Demang. Justru karena Ngwang mampu memahami kekuatan semacam itu, ditambah dengan penguasaannya akan ilmu sirep. Inilah bahaya yang sesungguhnya. Karena Upasara pun tak mampu menahan gerakan Cubluk. Ternyata Ngwang berhasil. Tubuh yang selama ini diam tertidur, bergerak mengikuti arah yang dituding Ngwang. Diseling dengan jurus yang mengandalkan sirep cepet, sejenis dengan lampor yang keluar sore hari-yang berarti tenaga pancingan hawa dingin, Ngwang mulai bisa memaksakan gerakan Upasara.

Yang walaupun gagah perkasa dan bisa mengimbangi Ngwang, akan tetapi tak bisa membiarkan Cubluk bergerak begitu saja. Tangan dan kaki Cubluk yang lemah, yang bergerak mengikuti gerakan Ngwang, hanya membuat Upasara makin repot melindungi. Gerakannya menjadi makin keras, tetapi sekaligus terseret makin cepat. Baik menghindarkan serangan ataupun membalas.

JILID 91BUKU PERTAMAJILID 93

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 92

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 92

Ksatria sejati, lelananging jagat yang dengan kepala tegak menghadapi bahaya untuk menolong sesama, tetapi juga masih manusia biasa yang keras menolak menemui Permaisuri Rajapatni. Lelaki sejati. Upasara Wulung. Kakang Upasara!

Hanya saja Gendhuk Tri merasa pemunculan kali ini bukan saat yang tepat. Gendhuk Tri merasa yakin bisa mengatasi pertarungan, dengan cara apa pun, meskipun harus mengerahkan seluruh kemampuannya. Upasara bisa sedikitnya menunggu sampai situasi lebih jelas. Atau seperti yang disindirkan Halayudha. Barangkali Upasara memang baru saja datang. Barangkali sudah sejak tadi.

Tetapi sifat mencari keuntungan untuk kepentingan diri sendiri bukanlah sifat Upasara. Lagi pula tak ada saat yang tepat untuk ikut bertarung. Sampai kapan pun situasi tetap mengandung bahaya dan tak menentu. Terutama bagi Cubluk. Cubluk yang murni, gadis kecil yang matanya bagai mata rusa. Yang berpandangan jernih. Entah kenapa emosi Gendhuk Tri memuai dan merayap liar. Bisa jadi karena beban pikirannya selama ini menjadi lepas dari ketegangan dengan munculnya Upasara Wulung. Seolah Upasara adalah penyelesai segalanya.

Padahal Mada saja mengetahui bahwa siapa pun di antara ksatria utama, tak akan menyelesaikan seorang diri. Upasara Wulung berdiri tegak. Tangan kanannya mengurut lembut punggung Cubluk, sementara bibirnya berkomat-kamit seakan membisikkan sesuatu yang menenteramkan hati. Ditantang dengan penghinaan yang paling buruk sekalipun, tak akan membuat Upasara muncul. Akan tetapi ketika mengetahui bahwa jiwa Pangeran Hiang terancam bahaya, kakinya menjejak bumi. Tubuhnya bergerak cepat, dua tangannya membuka, dan serta-merta memancarkan hawa keras, panas, menyambar ke arah kipas Ngwang yang membuka.

Menjadikan pecahnya senjata rahasia sebagai kekuatan kepet kemamang, yaitu mengubah arah semua serangan ke bagian pangkal kepala menjadi kekuatan api. Kemamang adalah salah satu dari sebelas hantu yang menampilkan diri dalam bentuk api menyala. Tanpa pemberitahuan Nyai Demang yang meneriakkan nama kepet banaspati, Upasara sudah menangkap arah dan maksud serangan. Makanya dengan sama mudahnya bisa mengubah menjadi serangan api.

Dengan mengubah menjadi kepet kemamang, arah luncuran lempengan kipas tidak hanya mengarah ke leher, melainkan menyebar ke segala penjuru, seperti berkobarnya api. Kelihatannya perbedaannya kecil, akan tetapi sangat besar artinya bagi para jago silat. Terutama bagi Pangeran Hiang yang untuk sepersekian kejap bisa menyelamatkan diri. Perubahan arah yang sekejap, memberi cukup waktu untuk mengubah jalan hidupnya dari kematian.

Sebaliknya yang terjadi pada diri Naka. Tidak tepat benar demikian. Karena kalaupun tidak diubah, lempengan kipas itu tetap akan memutuskan lehernya. Hanya arahnya yang berubah dan menembus tepat di tengah dadanya. Pekikan kematian dan muncratnya darah segar, yang menyadarkan Mada bahwa maut sudah mulai menggerayangi satu demi satu. Dan agaknya tak akan berhenti.

Halayudha sudah mengangkat tinggi-tinggi Kangkam Galih. Memindahkan dari tangan kanan ke tangan kiri. Pandangannya liar menyapu. Pangeran Hiang melirik ke Upasara dalam kejapan pandangan mata yang cepat, sebelum bersiaga. Tangannya yang masih utuh terkepal dengan siku tertekuk.

Tega Lara…
DALAM putaran pertama, yang paling menderita adalah Ngwang. Pendita Tartar yang memiliki beberapa keunggulan, dan tidak terlalu kalah dalam bidang yang lain, ternyata ditabrakkan pada dinding kekalahan. Satu-satunya lawan yang bisa dijungkirbalikkan hanyalah Klobot. Selebihnya, dirinya yang menjadi korban.

Semua senjata andalan yang dikeluarkan ternyata sia-sia. Pecahan tasbih yang memancarkan bau wangi penyirep tak banyak gunanya. Hanya mampu membuat barisan prajurit kawal Keraton, serta Raja Jayanegara, dan Mahapatih tidak melakukan perlawanan. Pecahan tasbih yang merupakan salah satu dari senjata andalannya yang bisa membungkam seluruh petarung, bisa dimentahkan oleh Pangeran Hiang. Bahkan juga bagian kedua yang berbentuk pasir, musnah begitu saja.

Kemudian kipas logam tipis yang biasa menyodet leher hingga memutus kepala, dengan rahasia terbesar bisa dilepas sebagai senjata rahasia, juga tak banyak berbicara. Kalaupun ada hasilnya, hanyalah menjatuhkan seorang prajurit yang sama sekali tak dikenal. Keunggulannya dalam bermain silat dengan tendangan maut hanya mengenai Nyai Demang, yang juga boleh dikatakan tidak bersiaga. Apa yang diharapkan bisa menjadikan kemenangan besar, ternyata membuahkan kesia-siaan. Ini semua masih harus ditambah bahwa hubungannya dengan Pangeran Sang Hiang makin rapuh. Makin patah arang.

Dan kini posisinya sudah tersudut. Tak bisa mundur atau mengelak lagi. Karena ketahuan bahwa lepasan kipasnya termasuk untuk menghajar Pangeran Hiang. Lautan dendam, murka, kebencian, menggelegak di seluruh pembuluh. Wajahnya tampak membeku, kering terbakar nafsu. Hangus oleh amarah. Bibir Ngwang mendesis bagai jeritan barisan ular yang dilindas derap kaki kuda.

Dari kejauhan, Nyai Demang menahan napas. Pergolakan batin Ngwang bisa dirasakan. Dalam hubungan dengan Pangeran Hiang, Ngwang dua kali dipermalukan. Pertama, saat pemutusan hubungan tali kandungan, punahnya rasa persaudaraan. Kedua, ketika tadi Ngwang melepas lempengan kipas tipis, justru pada saat Pangeran Hiang bergerak menolong.

Ini tak berbeda jauh dari apa yang menjadi budaya di mana Nyai Demang hidup. Peribahasa kata, hubungan Pangeran Hiang dengan Ngwang masih bersifat tega larane, ora tega patine. Tega melihat sakit, tapi tidak tega membiarkan mati.

Dengan kata lain, meskipun sudah putus hubungan persaudaraan, Pangeran Hiang masih tetap tak akan membiarkan Ngwang mati mengenaskan. Gondok, kesal, dongkol, berdentuman dalam dadanya. Dengan demikian pengaruh sirep Ngwang menjadi pudar. Kuncian yang membuat Raja, Jabung Krewes, serta para prajurit membisu tak sadarkan diri, menjadi buyar.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara-suara. Para prajurit terbangun dan dalam bingungnya lebih membuat kegaduhan. Sementara Mahapatih Jabung Krewes bahkan terjatuh dari dahan di mana ia tertidur. Hanya Raja yang merasa lebih tenang. Berpegangan di dahan, menggelantung, sambil melihat ke bawah. Melihat begitu banyak ksatria yang tampak aneh, melihat prajurit kawalnya serabutan tak berirama dalam barisan.

“Rama Ingkang Sinuwun…” Teriakan Klobot yang menggema lebih dulu.

Nyai Demang mendongak ke atas. Dan bercekat karena memang yang dilihatnya tak lain dan tak bukan adalah Raja Majapahit. Raja yang bergelantungan di atas pohon. Hal lain yang tak terduga ialah dengan teriakan Klobot, Cubluk yang berada di pundak Upasara Wulung menggeliat.

“Rama…”

“Ya, saya di sini, Anak Ayu…” Jawaban Upasara Wulung terdengar antara haru dan berpengharapan. Haru melihat wajah Cubluk yang pasi, berpengharapan karena setelah sekian lama bibir pucat itu terkancing rapat kini membuka. Biarpun sangat lirih. Cubluk menggeleng. Jakun Upasara turun dan tertahan.

“Rama…” Suara Cubluk lirih.

Gendhuk Tri mendekat. Rapat. Upasara menahan napas. Cubluk menyebutkan “rama”, akan tetapi yang dimaksudkan bukan dirinya.

“Rama Ingkang Sinuwun. Hamba menghaturkan sembah pangabekti. Mudah-mudahan diterima di telapak kaki Sinuwun…”

Klobot melepaskan diri dari rangkulan Nyai Demang. Bersujud di tanah. Cubluk ikut melorot. Perlahan Upasara menurunkan ke tanah, sementara Gendhuk Tri berjaga, karena Halayudha masih memainkan pedang dari tangan kiri ke tangan kanan. Karena Ngwang masih menggeletar. Perlahan sekali Upasara menurunkan Cubluk, akan tetapi gadis kecil itu seakan tak menyimpan tenaga sedikit pun. Sehingga begitu kakinya menyentuh tanah, seluruh tubuhnya ambruk seperti selembar kain.

Nyai Demang mengeluarkan suara tertahan. Klobot masih bersujud. Mendadak Nyai Demang berteriak keras. “Katakan sesuatu kepada mereka berdua. Agar tak perlu bersujud seperti itu. Katakan!”

“Ingsun tak kenal siapa kalian. Untuk apa menerima sembah sungkem seperti ini.”

Nyai Demang benar-benar gusar. "Masih bagus ada yang menghormat begitu dalam. Tapi masih bisa bertingkah." Tenaga Nyai Demang tersalur ke tangan. Siap memukul. Hanya saja pinggangnya masih kaku dan menimbulkan rasa sakit. "Raja, bersabdalah, agar Klobot dan Cubluk bisa mengakhiri sembah mereka.” Gendhuk Tri bersuara keras, akan tetapi sikapnya sangat hormat. Bersila dan menyembah.

“Kalian orang perguruan mursal, perguruan rusak. Sejak kapan ada raja diperintah?”

Belum habis suaranya, terdengar bunyi keras. Pohon sebesar dua pemeluk condong, karena bagian bawahnya kena tebas. Luar biasa. Halayudha hanya menggerakkan Kangkam Galih dan angin kesiurannya mampu menggores dalam. Dengan sekali sabet. Ketika Halayudha mengayun untuk kedua kalinya, disusul sekali lagi, pohon raksasa itu benar-benar roboh. Menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga. Raja Jayanegara melayang turun. Masih dengan senyum yang keras. Mada meloncat, dan menubruk cepat. Hingga keduanya bergulingan.

“Baik, baik, berdirilah kalian berdua.” Suara yang serak tertahan terdengar.

Klobot menyembah lagi, dan kini bersila. Cubluk ditarik kembali oleh Upasara. Dipanggul di pundak. Lehernya tertekuk, seolah memang tak memiliki sisa kekuatan sedikit pun. Apa yang dilakukan Mada, tak mungkin bisa dilakukan orang lain. Dengan menubruk, Mada menyelamatkan Raja. Tapi juga sekaligus membuat Raja terjatuh. Dan saat itu terdengar suara mengiyakan.

Masih menjadi tanda tanya, apakah itu perintah Raja, ataukah suara Mada yang menirukan. Namun siapa pun yang berbicara telah menyebabkan, terutama Cubluk, merasa tenang dalam rangkulan Upasara. Bisa dibayangkan betapa ruwetnya persoalan, jika Raja tetap tak mau mengatakan sepatah kata pun. Mahapatih Jabung Krewes segera maju melindungi. Tapi belum lima langkah tubuhnya terjungkal kaku. Setiap kali Halayudha menggerakkan tangannya, tiga atau lima prajurit jatuh keras.

“Jangan mengacaukan suasana. Di sini hanya para ksatria yang berhak berdiri.”

“Halayudha!”

Mada segera menarik Raja menjauh. Setengah menyeretnya.

“Tidak akan terulang dua kali!” teriak Raja gusar.

“Maaf, Raja Sesembahan. Para ksatria sedang mengadu ilmu.”

“Kamu kira Ingsun ini siapa atau apa?” Raja mengentak, dan tubuh Mada terlempar kembali ke tengah pertarungan.

Ngwang mendesis. Klobot berlutut. Nyai Demang mendampingi. Tangan kanan Upasara masih mengurut punggung Cubluk dengan lembut. Dengan getaran kasih yang mengalir dari seluruh jemarinya. Hanya Pangeran Hiang yang berdiri kaku. Ngwang sedang merencanakan sesuatu.

Anak Raja, Cucu Halayudha
GENDHUK TRI merasa serba susah. Kalau mengikuti adatnya, meskipun pikirannya terpantek pada Cubluk, tangannya yang jail bisa mempermainkan Raja. Akan tetapi kalau itu dilakukan, bisa melukai hati dan perasaan Cubluk serta Klobot sekaligus. Membiarkan Raja mengumbar kesombongan, membuat darahnya mendidih. Yang dalam pertarungan penentuan, bisa mengganggu.

“Klobot, berdiri yang gagah! Di sini Halayudha. Eyangmu. Memerintahmu.”

Klobot ragu.

“Kalau kamu putra Tenggala Seta, kamu adalah cucuku. Sekarang kamu telanjang agar semua mata bisa melihat plananganmu, kelelakianmu.” Ganjil, seakan tak keruan juntrungannya omongan Halayudha bagi yang tidak memahami.

“Hamba menunggu perintah Rama Ingkang Sinuwun…”

“Kamu ini bagaimana? Kalau kamu cucu Halayudha, mana mungkin putra Raja? Tapi begitu juga tak apa. Asal kalian tak mengganggu. Kami sedang menentukan siapa yang paling unggul. Minggir!” Tangan Halayudha bergerak. Kangkam Galih berpindah dari tangan kiri ke tangan kanan. Desiran anginnya mengiris tajam.

Mada bersila di kaki Raja. Di antara para prajurit kawal raja, Mada boleh dibilang sangat dekat, walau bukan prajurit yang kinasih, atau dicintai, atau diistimewakan. Bahkan boleh dikatakan biasa-biasa saja. Bahkan dikirim ke Daha sebagai tanda dibuang. Namun Mada adalah prajurit sejati. Apa pun perlakuan yang diterima, semuanya dijalani dengan tulus, dengan ikhlas dan rasa bahagia.

Hanya sekarang ini tak pernah bisa mengerti kenapa Raja bersama Mahapatih menuju ke Perguruan Awan. Dan belum-belum sudah temangsang, tersangkut di pohon. Alangkah aib dan hinanya. Maka kini Mada ingin melindungi sepenuhnya. Segala kehormatan dan pengabdiannya dipertaruhkan. Siapa pun yang bermaksud kurang ajar apalagi mencelakai, akan dihadapi dengan taruhan jiwa-raga. Dadanya membusung. Terisi penuh udara keprajuritan.

Raja memandangi sekitar dengan tajam. Dirinya pernah berkelana ketika Kuti memberontak. Masuk ke semak belukar. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Di mana semua yang ada tegak berdiri, tidak menoleh, tidak menyapa ke arahnya. Sungguh suatu kehinaan yang nista yang dioleskan ke wajahnya. Halayudha pernah membuatnya berlutut. Akan tetapi tidak di alam terbuka.

Mendadak berkelebat bayangan aneh dalam pikiran Raja. Selalu bisa muncul kelebatan pemikiran yang lain. Seperti ketika mendadak ingin mengangkat Praba Raga Karana menjadi permaisuri. Yang kini membuat pikirannya berkelebat adalah Klobot serta gadis kecil di pundak Upasara Wulung.

“Klobot, dan kamu gadis kecil, mari kemari. Ingsun mau melihat lebih dekat.” Suaranya biasa.

Tetapi pengaruhnya terasa. Klobot berjalan laku dodok, setengah merangkak ke depan. Demikian juga Cubluk yang menggeliat di pundak Upasara. Upasara tak bisa berbuat lain, selain laku dodok juga, agar Cubluk di pangkuannya merasa melakukan hal yang sama.

Saat yang tepat! Ngwang melihat adanya kesempatan terbaik. Sakti seperti tujuh dewa, mempunyai nyawa rangkap tujuh, tak nanti Upasara bisa lolos dari tangannya. Dengan sekali sergap, Ngwang akan memperoleh kemenangan. Saat yang tepat. Tetapi juga membuat Ngwang ragu. Gendhuk Tri bisa menyambar dengan nekat. Sementara Pangeran Hiang mungkin juga tak akan membiarkan begitu saja. Kecuali kalau dirinya memiliki senjata rahasia.

Kedua tangan Ngwang masuk ke dalam pakaian yang gedombrongan. Menganyam seblak, semacam sapu pembersih, yang terbuat dari helai rambut yang telah disusupi racun ganas. Dengan menyentak dan melepaskan mendadak ratusan rambut, pasti ada yang menyangkut dan menyusup. Saat yang tepat! Tinggal melaksanakan. Tangan Ngwang gemetar. Tubuhnya yang tak menyentuh tanah turun beberapa jari.

Pangeran Hiang melirik. Bersamaan dengan Halayudha. Semua napas seperti tertahan. Karena masing-masing dapat menduga kemungkinan yang bisa muncul secara sangat tiba-tiba. Bisa memperkirakan serangan yang sedang direncanakan. Klobot terus ngesot ke depan. Dalam jarak lima tombak berhenti, bersila, dan menyembah. Juga Cubluk dalam pangkuan Upasara Wulung.

“Tidak semua bibir di jagat ini berani memanggil Ingsun dengan sebutan rama. Tidak juga Dewa di langit ketujuh. Tapi kalian berani menyebut. Dari mana asal kalian dan kenapa kalian berada di sini?”

Dari mata Cubluk yang kuyu menetes air. Hangat tapi pedih. Mulut Klobot terkunci.

“Barangkali kalian memang salah satu dari putraku yang begitu banyak dan tak kukenali. Barangkali juga anak yang berkeliaran dan biasa bermimpi paling ganjil. Kalau kalian benar putraku, ikat tangan semua yang ada di sini. Paksa mereka menyembah kepada Ingsun”

Perintah yang paling gila yang pernah didengar Nyai Demang. Tapi Klobot menyembah dalam.

“Sendika dawuh, Rama Ingkang Sinuwun…” Klobot membalik. Menarik tangan Upasara ke belakang. “Menyembah, Rama Wulung! Rama Wulung harus menyembah!”

Upasara mendongak ke arah langit. Helaan napasnya terdengar berat. “Bagaimana mungkin mengikat tangan sekaligus memerintahkan menyembah? Sudah begini susahkah manusia mengucapkan kata-kata?”

Tangan Upasara yang berada di belakang bergerak. Menyembah. Tubuhnya sedikit membungkuk, pundaknya tertarik ke atas. Jabung Krewes yang pertama bereaksi. Tangannya seperti akan bergerak, sebelum lututnya bisa lurus. Tenaga tangan yang dirangkapkan mengalir, memancar bagai sinar. Lurus menghantam Raja, tepat di bagian ulu hati. Raja menahan kekuatan di perutnya. Akan tetapi apa yang dialami tak berbeda banyak.

Pangeran Hiang sedikit mengerutkan alisnya. Agak di luar dugaannya bahwa Upasara akan bertindak seperti itu. Rasa-rasanya agak kasar dan tak mungkin dilakukan seorang yang selama ini dikenalnya. Pangeran Hiang sadar ucapan Upasara tentang “seorang yang diikat tangannya sekaligus disuruh menyembah” merupakan puncak kejengkelan. Siapa pun yang mendengar bisa sebal akan kesewenang-wenangan perintah yang tak mungkin bisa dilaksanakan. Akan tetapi sekali lagi tetap tersisa pertanyaan, kenapa Upasara bisa melakukan hal itu?

Pertanyaan kecil ini menjadi sangat penting bagi Pangeran Hiang untuk bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tanah Jawa ini. Bagaimana perilaku yang hidup dalam diri para ksatria sehingga mereka kondang, dikenal di seluruh jagat. Salah satunya seperti yang diperlihatkan Upasara Wulung. Ksatria yang berbakti, yang mengabdi sepenuh jiwa-raga tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun baik pangkat maupun derajat, yang akan menerima penghinaan dengan kepala tunduk, tapi ada saatnya juga bisa memperlihatkan sikap yang kasar.

Yang masih menjadi pertanyaan Pangeran Hiang, apa yang menyebabkan Pangeran Upasara menjadi kasar? Apa yang menyebabkan Upasara begitu gusar? Upasara mampu menguasai pergolakan emosi, perasaan, dengan sikap pendita. Pastilah ada sesuatu yang lebih mendasar yang membuat Upasara melepaskan tenaga membungkam. Gadis kecil di pangkuannya? Mungkin. Tapi kalau itu sebabnya, pasti sejak tadi sudah dilakukan.

Agar tak mengganggu jalannya pertarungan? Mungkin. Tapi kalau itu sebabnya, apa bedanya dengan Halayudha? Pertanyaan kecil yang mengasyikkan. Karena bisa menyelam jauh ke dalam. Hanya saja bukan sekarang saatnya. Karena Upasara sudah membalik, memanggul gadis kecil itu. Sementara Halayudha mulai teratur napasnya. Tangan Ngwang sepenuhnya masuk ke saku. Angin berhenti mengalir. Seakan tak ada napas.

Pertarungan Perjaka
SITUASI lengang tak berlangsung lama. Boleh dikatakan lebih lama mata berkejap atau kilat menyambar. Begitu Upasara tegak, begitu pedang bergerak dari tangan kanan ke tangan kiri, begitu pula Halayudha sudah melancarkan serangan. Yang bergerak bersamaan adalah Gendhuk Tri. Dalam membaca situasi, Gendhuk Tri bisa bergerak cepat. Kalau menunggu sedikit saja, pertarungan pasti akan terserap kepada Upasara. Baik Halayudha maupun Ngwang, lebih ngincim, mengancam, Upasara. Yang saat ini justru sedang direpotkan dengan memanggul Cubluk.

Serangannya memotong kemungkinan gebrakan yang diduga bakal dilancarkan Halayudha begitu Raja berhasil dibungkam. Namun ternyata pada saat yang bersamaan, Halayudha juga bergerak. Kalau tadi keduanya bersatu menggempur Ngwang, sekarang pertarungan justru berawal dari Halayudha dengan Gendhuk Tri. Hanya bedanya, Halayudha tidak memilih satu lawan. Kejemawaannya terlihat jelas. Cakaran tangan kiri kembali mengarah ke Ngwang, sementara sabetan pedangnya ke arah Gendhuk Tri maupun Nyai Demang.

Nyai Demang memang paling lemah posisinya. Keunggulannya membaca situasi yang sedang berlangsung seakan tak ada gunanya. Sementara ilmu silatnya tak seberapa dibandingkan para jawara yang terkemuka. Beban lain, jalan pikirannya masih ngacak tidak menentu. Baik karena kehadiran kembali Pangeran Hiang, ataupun memprihatinkan Klobot yang kini berada di tempat jauh darinya. Masih harus ditambah bagian bawah tubuhnya tak bisa digerakkan leluasa.

Sabetan pedang Halayudha bisa melukai, meskipun hanya sambaran anginnya. Dua-tiga kali Halayudha menebas, tubuh Nyai Demang bisa menjadi daging cincang, tanpa pernah tersentuh pedang. Apa yang bisa dilakukan hanyalah bergulingan, menggulung diri. Namun tak urung pundaknya terasa panas, dan kekakuan di pinggang mulai merayap ke atas. Yang pertama terasa kaku adalah tengkuknya. Celaka berat, pikirnya.

Kalau keadaannya makin parah, dirinya akan menjadi beban bagi Upasara maupun Gendhuk Tri. Tak ubahnya dengan Cubluk. Dalam keadaan terjepit, Nyai Demang mengertakkan gigi. Dirinya tak mau menjadi si lumpuh yang tak berguna. Apalagi menjadi halangan. Rasa bersalah dalam hatinya tak bisa dihapus, jika itu berkelanjutan.

“Mada, kamu maju!” Suara Nyai Demang lebih memerintah dari meminta.

Anehnya, Mada seperti mendengar panggilan yang sudah ditunggu. Kedua tangannya terkepal, dan mulai menggeliat. Getaran tubuhnya mengguncang medan pertarungan. Sebuah persiapan pengerahan tenaga dalam, yang bagi Halayudha tak perlu memakai waktu dan sikap khusus seperti itu. Perhitungan Nyai Demang, meskipun kedengarannya asal-asalan, sebenarnya mempunyai akar yang kuat. Lejitan pikirannya masih mampu mengambil jarak dari persoalan yang ada. Dan menemukan jalan keluar.

Dengan melihat, di antara sekian orang yang bertarung, dirinya yang paling lemah. Bukan kebetulan kalau keadaan dirinya berbeda dari yang lain. Dirinya sudah berkeluarga. Sementara yang lainnya, rasanya masih perjaka tulen. Selama ini Upasara Wulung tak pernah berhubungan dekat dengan wanita. Bahkan hubungannya yang menyatu dalam batin dengan Permaisuri Rajapatni, sebenarnya tak lebih dari sentuhan tangan. Tidak sampai hubungan badani. Daya asmara masih tersimpan murni.

Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri. Meskipun usianya sudah jauh melewati masa remaja, Gendhuk Tri malah boleh dikatakan bersikap dingin jika berhubungan dengan para ksatria. Satu-satunya keikhlasan menyerahkan pilihan adalah kepada Maha Singanada. Tapi itu pun baru terbatas menyatakan kesediaan, ketika kemudian ksatria gagah berani itu mengorbankan diri menggantikan posisi Upasara.

Tokoh yang lain, rasanya demikian juga. Halayudha, meskipun menurut kabar pernah berhubungan dengan Dewi Renuka di masa remaja, sekarang malah tidak memiliki apa-apa. Barangkali demikian juga halnya dengan Pangeran Hiang. Meskipun resminya memiliki calon permaisuri Putri Koreyea, tetapi menurut kabar cerita, Putri Koreyea menderita sakit parah sejak dinikahi resmi.

Tak jauh berbeda dari Ngwang. Gelaran pendita pastilah diterapkan dengan benar. Itu sebabnya Nyai Demang kemudian meneriakkan nama Mada. Yang dari sisi ini, bisalah dianggap tetap perjaka. Kemungkinan perhitungan Nyai Demang bisa keliru, dan itu akan bisa dibuktikan dengan siapa yang lebih dulu tertindih.

Akan tetapi lepas dari tepat atau meleset sedikit, teriakan Nyai Demang ada gunanya. Dengan masuknya Mada ke dalam pertarungan, seakan membebaskan Mada dari “kewajiban” menunggui Raja yang kaku, di samping untuk sementara sodokannya mempunyai pengaruh terhadap gerakan Halayudha. Dilihat sepintas memang kurang masuk akal. Mada hanyalah prajurit biasa.

Sementara Halayudha adalah mahapatih. Dari segi penguasaan ilmu silat, Mada boleh dikatakan masih bau pupuk bawang di ubun-ubunnya, sementara Halayudha sudah terlalu kenyang dengan berbagai ilmu. Dari segi taktik dan strategi, Mada hanya mengenal satu garis lurus, sementara Halayudha dengan lingkaran dan cabang-cabang. Akan tetapi dalam dua jurus awal, Mada bahkan mampu mengimbangi Halayudha. Sabetan ganas Kangkam Galih yang selama ini selalu menyembelih dan dihindari lawan-lawannya, bisa disusupi Mada. Bahkan beberapa kali sikunya menyerempet dada.

Kepercayaan diri Nyai Demang tumbuh lagi. Apa yang membersit dalam alam pikirannya ternyata tidak sepenuhnya keliru. Meskipun Nyai Demang tidak tahu persis bahwa hubungan Mada dengan Halayudha memang berbeda dari yang biasa. Hubungan antar manusia, hubungan sesama mahamanusia, meniadakan jarak pangkat dan derajat, serta penguasaan ilmu. Karena Halayudha dalam banyak hal bisa merasa cocok dan terjawab oleh Mada. Begitu juga sebaliknya.

Sentuhan persamaan getaran inilah yang membuat Mada seolah bisa menebak apa yang dilakukan Halayudha. Bahkan sejak pergelangannya berputar, Mada bisa mengetahui arahnya. Memasuki jurus ketiga, benar-benar suatu keajaiban. Halayudha bahkan bisa didesak Mada, dan hanya melayani Mada.

“Paduka keliru, bukan ditahan di perut, tapi sedikit ke bawah.”

“Tutup mulutmu!”

“Tak bisa. Paduka jangan memaksa. Lambung diserang, tapi jidat tak boleh tertutup. Getarkan seperti ketika Paduka mendorong tenaga Bibi Jagattri. Dorongan tenaga memaksa.”

Halayudha makin blingsatan. Pemusatan pikirannya menjadi buyar tak menentu. Masuk di tataran kebimbangan, Mada makin bisa menguasai jalan pikiran. Dan terus mengatakan apa yang sebaiknya dilakukan, dan apa yang sebaiknya jangan dilakukan. Halayudha menggerung keras. Bukan Halayudha kalau kena didikte begitu saja. Tekanan yang berat justru memberikan perlawanan yang lebih dahsyat lagi. Gerungan keras disertai auman membuat Kangkam Galih tergetar. Karena secara mendadak Halayudha mengubah cara bersilatnya. Mengubah total.

Kangkam Galih digigit! Sodokan Mada tertahan. Matanya membelalak. Nalarnya tak bisa menerima bagaimana pedang sakti yang kelewat tajam itu digigit. Bukan hanya tidak bisa dilakukan untuk menyerang, tapi sangat membahayakan dirinya. Apalagi Halayudha menarik kedua tangannya. Menggebuk Mada dengan pedang yang tergigit.

“Mundur!”

Teriakan Nyai Demang terlambat. Pundak Mada kena gempur, hingga tubuhnya terbalik bagai kena dorongan keras dari depan dan tarikan kuat dari belakang. Akibatnya terpuntir.

“Balik!”

Kalimat Nyai Demang tidak jelas. Tetapi sebenarnya Mada bisa menangkap apa maunya. Bahwa Halayudha menukar cara berpikir dan cara bersilatnya. Membalikkan jalan pikiran yang ada. Kalau pedang biasa dipegang, kini digigit. Kalau tangan untuk memukul, kini ditelikung sendiri. Kalau tenaga dikerahkan sewaktu memukul, kini justru disimpan. Mada yang terjebak. Penguasaan jalan pikirannya menjadi keliru. Itu sebabnya kena sampok.

Kalaupun Mada sadar, tak bisa segera mengubah diri. Karena sampokannya mengena cukup keras. Dan membuat pandangannya berkunang-kunang. Napasnya menjadi sesak. Hanya karena Halayudha kemudian mengarah kembali ke Gendhuk Tri dan Nyai Demang, Mada terhindar.

Pasangan Tanah air
HALAYUDHA harus menukar kembali cara bersilatnya. Karena kalau menghadapi Gendhuk Tri memakai cara yang sama, belum-belum Kangkam Galih akan menyobek bibirnya sendiri. Itulah Halayudha. Yang mampu mengubah pribadi dalam waktu beberapa kejap. Itulah mahamanusia. Yang dalam sikap Halayudha adalah manusia yang tak mengenal baik-buruk, benar-salah, atas-bawah. Dengan demikian pertarungan kembali seperti di bagian awal, sebelum masuknya Mada.

Ngwang tengah ngleyang, menyambar bagai angin, ke arah Upasara, dengan dua tangan masih tersimpan di saku. Baru di tengah perjalanan, tangannya terangkat ke luar dan menyapu dengan seblak, atau kemucing bertangkai panjang yang pada bagian ujungnya diikatkan segepok rambut. Rajutan dalam saku telah selesai sejak tadi. Ngwang sedang mencari saat yang tepat untuk menyergap. Hanya saja dalam hal ini, Gendhuk Tri yang lebih dulu mengambil peranan.

Dengan memegang seblak, tangan Ngwang terlihat lebih panjang. Seblak itu bisa menjulur setengah panjang tangannya. Ditambah cara bergeraknya yang cepat, serta pengerahan kemampuannya yang terakhir, angin bahaya tercium seketika. Yang belum terduga lagi, terutama karena seblak itu ternyata bisa dipendekkan, seperti ketika berada dalam saku pakaiannya yang gedombrangan.

Tangan kanan Upasara masih mengelus punggung Cubluk. Tangan kirinya menangkis keras, membelit dengan putaran. Memutar pergelangan tangan Ngwang yang memegang senjata. Kalau Ngwang mampu menggerakkan sedikit saja pergelangan tangan, berarti rambut seblak-nya akan menusuk masuk ke kulit tangan Upasara. Dan itu kemungkinan besar sangat bisa terjadi, dengan risiko yang tinggi bagi Upasara. Seolah adu keras dengan mengorbankan kekuatan.

Tapi Ngwang menarik diri. Dengan mudah Ngwang menghindari benturan tenaga. Benturan yang menguntungkan justru ditolak. Karena Ngwang mengincar Cubluk. Seluruh serangannya tertuju ke arah itu. Dalam hal ini Ngwang sebenarnya tidak terlalu cerdik. Malah boleh dikatakan menjadi sangat hati-hati. Jelas dalam benturan tenaga, Ngwang menang secara materi. Akan tetapi nyalinya telanjur keder dengan nama besar Upasara Wulung. Yang ketika dalam keadaan terluka masih mampu mengimbanginya.

Apalagi kini kekuatan Upasara seperti menyatu. Walau tetap tak sempurna, karena menjaga Cubluk. Titik lemah ini yang digempur habis-habisan. Kedutannya mengarah ke Cubluk, sementara tangannya yang kosong mencuri kesempatan menyambar, dan kakinya merobek serta merobohkan pertahanan Upasara.

Napas Mada naik-turun. Ia tak bisa berbuat apa-apa, karena pikirannya seakan blong, jebol entah ke mana. Cara Halayudha mengubah pribadinya, watak bertarungnya, susah dipahami sehingga masih menjadi gangguan. Jalan pikirannya sederhana. Ketika mencoba merenungkan apa yang berlangsung, yang muncul justru kemungkinan yang lain. Mengenai cara bertarung Upasara, Gendhuk Tri, bukan hanya Halayudha.

Sebenarnya kedudukan yang bertarung sekarang ini sangat aneh. Di satu pihak jelas ada Upasara Wulung, Gendhuk Tri, serta Nyai Demang. Kalau mereka bersatu, akan merupakan kekuatan utama. Sementara lawan yang dihadapi, Halayudha berdiri sendiri. Ngwang di pihak lain lagi. Serta Pangeran Hiang yang bisa dikatakan berdiri sendiri. Kalau saja dirinya bisa membuat semua yang ada mengeroyok atau paling tidak menghadapi Ngwang, pertarungan akan lebih cepat berakhir. Atau bahkan, misalnya saja, menghabisi Halayudha.

Mada menarik-narik rambutnya karena kesal. Karena menyadari penuh bahwa jalan pikirannya terlalu ngayawara, terlalu dibuat-buat dan berbeda dari kenyataan yang ada. Karena kini Pangeran Hiang menyerbu ke arah pertarungan melawan Halayudha. Kelihatannya sekilas seperti mengeroyok bersama Gendhuk Tri, akan tetapi pada suatu saat keduanya juga saling bertempur sendiri. Ini baru pertarungan yang paling ganjil yang pernah dilihat Mada.

Selama ini matanya selalu menyaksikan dua atau tiga kubu secara jelas terbedakan. Namun sekarang justru terpecah-pecah. Bahkan Upasara Wulung serta Gendhuk Tri tidak berada dalam tempat yang sama. Bukankah keduanya bisa bersatu-padu, sebagai pasangan yang tanpa tanding? Bukankah tubuh anak perempuan kecil di pundak Upasara bisa dititipkan sementara ke Nyai Demang?

Yang membuat Mada heran sebenarnya bukan pertanyaan itu sendiri. Melainkan bahwa di balik pertanyaan itu pasti ada jawabannya. Kalau sampai mereka berdua tak perlu bersatu, kalau sampai gadis kecil itu digendong, pasti ada penyebabnya. Yang masih gelap baginya, tapi tidak bagi yang bersangkutan.

Sama dengan keadaan dirinya sendiri saat ini. Sehubungan dengan perintah Patih Tilam untuk menangkap Upasara Wulung. Benarkah seperti yang diutarakan, meneruskan peranan sebagai perantara wangsit, suara dari kegaiban, ataukah ada sesuatu yang lain?

Atau juga Raja yang tertegun seperti seonggok kayu tua. Atau seperti dirinya yang keletihan karena mencoba memahami dan menandingi Halayudha yang dengan enak bisa mencla-mencle, tanpa kepribadian. Mada mengibaskan pikirannya yang meliar tanpa bisa diarahkan kepada sesuatu yang lebih bermanfaat.

Karena pertarungan makin meninggi. Gempuran Ngwang yang bertubi-tubi, memaksa Upasara memindahkan tubuh Cubluk dari pundak kiri ke pundak kanan. Kadang kala bahkan perlu memutar tubuhnya, sehingga Cubluk berada dalam gendongannya. Kadang seperti diemban di bagian depan. Dalam pertarungan seperti ini terlihat jelas bahwa Upasara bisa mengungguli Ngwang.

Sekurangnya Ngwang tak bisa berbuat banyak. Serangannya ke arah kuda-kuda Upasara sudah lama ditarik. Karena Ngwang mengetahui kekuatan utama Upasara justru pada pijakan kaki. Yang kukuh, keras, tak tergoyahkan. Benturan keras lawan keras hanya membuat tubuhnya melesak ke dalam tanah, tak bisa mengambang.

Namun keunggulan tak menghasilkan apa-apa untuk menandai kemenangan. Karena Ngwang bisa melayang pergi dan datang, menyambar dan mengeleyang, sementara gerakan Upasara sangat terbatas. Lebih mengandalkan keunggulan tenaga dalam, dan kesiagaannya untuk mengambil risiko.

Nyai Demang yang terbebas dari serangan untuk sementara, hanya bisa membuat perhitungan dalam hati. Bahwa daya gempur Ngwang yang menggunakan seblak tak berbeda dengan ketika menggunakan kipas. Serangan banaspati, serangan dengan arah memenggal leher masih terlihat. Kadang diseling atau ditambahi dengan kedutan lampor, di mana ujung-ujung rambut berdiri tegak dan menjadi keras menyapu, seakan teriakan ratusan bocah. Yang mengakibatkan Cubluk tergerak mengikuti arah gerakan seblak.

Ini termasuk jurus yang paling berbahaya bagi Upasara. Karena Ngwang mempergunakan keunggulan untuk mempengaruhi Cubluk. Lampor adalah jenis hantu yang dipercaya muncul siang hari dan mengajak anak-anak pergi. Sekali muncul, lampor bisa menarik puluhan anak. Dalam dongengan yang dipercaya, anak-anak sangat tertarik dan akan mengikuti tanpa peduli orang tuanya menahan dengan tangis ataupun jerit.

Inilah yang diketahui Nyai Demang. Justru karena Ngwang mampu memahami kekuatan semacam itu, ditambah dengan penguasaannya akan ilmu sirep. Inilah bahaya yang sesungguhnya. Karena Upasara pun tak mampu menahan gerakan Cubluk. Ternyata Ngwang berhasil. Tubuh yang selama ini diam tertidur, bergerak mengikuti arah yang dituding Ngwang. Diseling dengan jurus yang mengandalkan sirep cepet, sejenis dengan lampor yang keluar sore hari-yang berarti tenaga pancingan hawa dingin, Ngwang mulai bisa memaksakan gerakan Upasara.

Yang walaupun gagah perkasa dan bisa mengimbangi Ngwang, akan tetapi tak bisa membiarkan Cubluk bergerak begitu saja. Tangan dan kaki Cubluk yang lemah, yang bergerak mengikuti gerakan Ngwang, hanya membuat Upasara makin repot melindungi. Gerakannya menjadi makin keras, tetapi sekaligus terseret makin cepat. Baik menghindarkan serangan ataupun membalas.

JILID 91BUKU PERTAMAJILID 93