Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 76

Nyai Demang bersuit keras. Selendangnya berkibar, tubuhnya yang montok bagai menggelorakan tenaga bergelombang. Dua tangannya ditarik ke belakang, sebelum secara bersamaan melontarkan pukulan. Benar perhitungannya. Tubuh Ngwang terdesak, dan kemudian akan berbalik ke arahnya!

Hingga untuk sementara Jaghana terbebas dari blap yang berikut secara berturut-turut. Karena kini sasaran beralih ke Nyai Demang. Yang bersiap dengan pukulan berikutnya. Tapi kecele. Ketika pukulan dilancarkan, tubuh Ngwang tertolak sambil meraih selendang. Sehingga tanpa sadar, tubuh Nyai Demang terbetot! Dan terlontar ke angkasa.

Pandangan Nyai Demang hilang seketika. Yang terlihat hanya langit sangat terang di mana tubuhnya mendekat dengan sangat cepat. Mendekat ke arah langit terang. Ngwang memperlihatkan kemampuan yang sesungguhnya. Dengan melemparkan Nyai Demang ke angkasa, tubuhnya sendiri melayang ke atas, sekali lagi menyendal tubuh Nyai Demang ke atas. Tiga kali menyendal ke atas, Nyai Demang benar-benar seolah bisa menyentuh awan.

Nyai Demang tak kuasa menjerit. Sewaktu tubuhnya amblas ke bumi, tenaganya tak mampu dikerahkan. Yang disaksikan adalah ujung pohon yang makin dekat, tanah yang makin menatapnya. Tubuh Nyai Demang meluncur turun dari ketinggian tiga kali pohon yang paling tinggi. Meskipun limbung, Jaghana tak membiarkan tubuh Nyai Demang amblas ke tanah. Dengan sisa tenaganya, Jaghana meloncat ke atas. Pada saat itu pula, Ngwang menyelinap dan sikunya masuk ke ulu hati Jaghana.

Tidak keras, tapi ganas. Karena akibat sodokan itu, tubuh Jaghana seakan berpuntir, dan melesat ke atas tanpa penguasaan diri. Ini sama saja mengadu tubuh Nyai Demang yang amblas ke bawah dengan tubuh Jaghana yang melaju ke atas. Terlambat. Nyai Demang maupun Jaghana baru menyadari kekuatan ilmu Ngwang yang sesungguhnya. Tapi terlambat.

Nyai Demang menyadari sewaktu tubuhnya disendal ke atas beberapa kali. Bahwa kekuatan utama Ngwang justru permainan di udara telah terbukti jauh sebelumnya. Karena dengan ilmu mengentengkan tubuh yang nyaris sempurna seakan tak menginjak bumi, bahkan Upasara Wulung sendiri tak segera bisa mengenali persembunyiannya. Juga Nyai Demang. Kalau ada bentuk kecurigaan hanyalah lambang-lambang huruf. Selebihnya perkiraan belaka.

Akan tetapi terbukti, kesadaran saja tidak cukup. Perlawanan yang diberikan ternyata tak cukup kuat. Dan dengan terpancing ke pertarungan atas, Nyai Demang seakan menjadi mainan. Jaghana juga menyadari bahwa ilmu yang dimainkan Ngwang justru merupakan kebalikan dari ajaran Kitab Bumi. Ini yang menimbulkan tanda tanya besar. Apakah ilmu itu sejak dahulu diciptakan, ataukah sengaja diciptakan untuk memberangus ajaran Kitab Bumi?

Karena dari segala sisi, permainan Ngwang justru seperti mematahkan tenaga bumi. Cara paling jelas yang ditunjukkan ialah dengan berdiri tidak di atas bumi. Seakan mengambang, seakan melayang. Padahal justru dalam Kitab Bumi, pengambilan tenaga berasal dari bumi!

Dilihat dari posisi ini, keunggulan Ngwang terutama sekali karena jurus-jurus ilmu silatnya sengaja membenam dan meredam kemampuan kekuatan bumi. Dengan mengerahkan tenaga bumi, semua tenaga yang tersalur seperti muspra, tanpa guna. Desakan pukulan hanya membuat tubuh Ngwang melayang mundur untuk maju kembali. Semakin didesak, semakin lawan yang terjebak. Apalagi ketika mencoba memainkan jurus Banjir Bandang Segara Asat, pembalikan tenaga yang bertentangan menyebabkan Ngwang menyelusup.

Justru pada saat pengerahan inti tenaga bumi, Ngwang bisa lebih cepat menghabisi. Bukti yang lain adalah ketika terjadi pertukaran pukulan jarak pendek. Pada saat itu terasakan oleh Jaghana bahwa kekuatan pukulan Ngwang tidak terlalu istimewa. Hanya merupakan pukulan-pukulan kecil yang tidak mematikan.

Seperti Mada yang menyamakan dengan kabur kleyang kanginan, Jaghana bisa menukik lebih dalam. Kekuatan Ngwang bukan kekuatan yang mengikuti arus, melainkan kekuatan angin. Angin! Maruta. Sepanjang hidupnya Jaghana tidak pernah mengenal adanya Kitab Angin, atau ajaran seperti itu. Dalam Kitab Bumi, disebutkan mengenai sumber-sumber kekuatan alam, terutama bumi, dan intinya dari pergerakan dan pergeseran bintang.

Sehingga pada bagian awal disebut dengan Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Kekuatan yang disinggung adalah kekuatan air, kekuatan bulan, kekuatan matahari, serta kekuatan angin. Hanya saja kalau kekuatan bumi diuraikan secara habis-habisan, kekuatan bintang sebagai inti bergerak untuk alam yang lain hanya diberikan secara garis besar.

Semuanya ini masuk ke benak Jaghana dalam waktu singkat, karena penguasaan Kitab Bumi yang sempurna. Maka begitu melihat tingkah dan gerakan dasar Ngwang, yang masuk ke perhitungan Jaghana ialah kekuatan angin. Bukan benda tipis yang tertiup, melainkan kekuatan angin itu sendiri. Itu pula sebabnya Ngwang bisa menerjang maju kembali, ketika lawan mengeluarkan tenaga. Ketika lawan berdiam, Ngwang boleh dikatakan tidak mendahului. Kalau hanya ada mereka berdua, barangkali pertarungan menjadi batal.

Akan tetapi bila ada kekuatan lain, yang saat itu adalah gerakan Nyai Demang, Ngwang bisa meminjam tenaga yang keluar dan mendesakkan tenaganya sendiri. Keanekaragaman jurus-jurus serta ajaran silat, sebenarnya bisa diterangkan dari sumbernya. Dan Jaghana cepat menangkap. Akan tetapi ternyata tetap terlambat. Tubuhnya melesat ke atas, menabrak tubuh Nyai Demang.

Tengah: Atas dan Bawah
PERHITUNGAN jitu. Ngwang bisa memaksakan tubuh Nyai Demang dan Jaghana bertabrakan. Tak meleset sedikit pun, tak bisa ditahan oleh yang bersangkutan. Nyai Demang yang merasa lebih ngeri. Karena jatuhnya dengan posisi kepala di bawah, menyaksikan bumi makin dekat. Lebih dekat lagi karena tubuh Jaghana mumbul ke atas, dengan kepalanya yang pelontos.

Jaghana sadar sepenuhnya apa yang akan terjadi. Akan tetapi tak mampu menggeser tubuhnya ke sebelah kiri atau kanan, karena mengikuti irama putaran yang membelit. Kalaupun Jaghana berusaha mengurangi pengerahan tenaga dalamnya, geraknya sedikit tertahan, juga tak banyak artinya. Tak banyak artinya karena kecepatan tubuh Nyai Demang makin kencang.

Ngwang memandang tanpa berkedip. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Hanya napasnya dihela, dan matanya terpejam. Karena saat itu seperti ada bayangan, atau memang bayangan, menyeruak masuk. Seperti ada tenaga, atau memang tenaga, yang memotong tepat di bagian tengah sebelum kepala Nyai Demang beradu dengan kepala Jaghana.

Nyai Demang sendiri merasa ada tenaga yang menahan laju kepalanya. Tenaga yang lembut, yang menggumpal, yang terasakan mengucur lewat jari-jari yang terangkap. Tubuhnya terhenti mendadak, seakan semua darahnya memuncak di kaki. Dalam kejapan berikutnya, kakinya tertarik ke samping dalam gerakan yang patah.

Jaghana juga mengalami hal yang sama. Ada tenaga yang mengikuti putaran kepalanya, yang meredam dengan lembut tapi perkasa, yang membuat tubuhnya menjadi segar. Hanya dengan mengerahkan sedikit tenaga, Jaghana mampu menggeser tubuhnya dan dengan kedua tangannya menangkap tubuh Nyai Demang. Untuk diturunkan dengan perlahan. Keduanya berdiri berdampingan. Di sebelah Upasara Wulung yang berdiri tegap sambil masih memanggul Gendhuk Tri.

“Om, sembah puji bagi Syiwa-Buddha. Om, Om, Om.” Kedua tangan Ngwang mengikuti anggukan kepalanya. Tubuhnya melesak dan berdiri di atas tanah. Pandangan matanya memancarkan sebersit rasa kagum.

Nyai Demang masih belum bisa mengerti sepenuhnya. Bagaimana mungkin Upasara bisa menyeruak masuk di tengah, menahan tenaga dari atas dan dari bawah, sementara pundaknya masih dibebani tubuh Gendhuk Tri. Tenaga dalam apa lagi yang bisa menahan perbenturan dengan cara yang begitu sempurna?

Jaghana bisa memahami bahwa apa yang diperlihatkan Upasara adalah perpaduan yang luar biasa. Menghapus tenaga jatuh dan tenaga mumbul, meredam tenaga meluncur dan tenaga berputar. Tenaga dalam yang bisa dikendalikan dengan sangat sempurna, sangat berbeda, atau juga sangat bertentangan.

“Om, sembah puji…” Sewaktu Ngwang melanjutkan kalimatnya, hanya Nyai Demang yang memahami.

“Om, sembah puji bagi Dewa Mahadewa. Tanah Jawa tak pernah bisa ditaklukkan. Karena tanah Jawa bukan hanya tanah. Karena tanah bisa berubah.”

“Pujian akan mencapai langit, Ngwang. Meninggalkan bumi.” Suara Nyai Demang dalam bahasa yang dimengerti Ngwang membuat anggukan lebih dalam.

“Nyai Demang, bolehkah aku yang rendah ini mengetahui apa yang diperlihatkan oleh ksatria lelananging jagat ini?”

“Aku tidak akan menanyakan untuk kamu.”

“Baik, baik. Saya menghaturkan selamat yang besar.” Ngwang bersoja, memberikan penghormatan kepada Upasara. “Saya kagum akan kehebatan ksatria lelananging jagat.”

“Akhirnya Bapa Pendita tampil juga. Saya merasa masih terlalu rendah menerima kehormatan ini.” Suara Upasara terdengar dingin nadanya.

“Kenapa ditetas di tengah, kalau saya boleh bertanya?”

Upasara menggeleng perlahan. “Tengah itu atas dan bawah. Tengah itu kiri dan kanan. Tanah dan air. Tengah itu tanah air.”

“Saya sangat mengagumi. Selamat. Saya ingin meminta pelajaran lebih jauh. Untuk membuktikan apa yang saya lakukan selama puluhan tahun ini hanya kesia-siaan belaka.”

Upasara menggeleng. “Bapa Pendita, masih ada waktu yang lebih baik. Pertemuan setiap lima puluh tahun sebagai pertemuan para ksatria sejati lebih tepat. Di situ akan diuji keunggulan dan Jalan Terang yang sesungguhnya. Di luar itu adalah nafsu pembunuhan, nafsu mengalahkan, nafsu kemenangan. Kalau itu yang Bapa Pendita inginkan, saya akan meladeni.”

Jaghana menunduk. Hatinya yang tak terpengaruh perasaan sekali ini diguncang oleh puji syukur yang tulus. Puji bagi Dewa Yang Mahadewa! Kalimat singkat Upasara seakan menjelaskan semuanya. Bahwa pertarungan yang terjadi setiap lima puluh tahun sekali, yang dicetuskan Eyang Sepuh, masih berlaku. Saat diadakannya pertemuan dan pertarungan jago-jago seluruh jagat untuk membuktikan mana ajaran yang lebih benar. Itulah pertarungan suci yang sesungguhnya.

Di luar itu, para jago silat hanya memamerkan keunggulan untuk membunuh, untuk tujuan yang tidak suci. Tepat sekali Upasara menentukan tempat yang sesungguhnya bagi ilmu dan jurus silat. Meskipun demikian, Upasara tidak akan menolak tantangan Ngwang yang disebut dengan Bapa Pendita. Bagi Jaghana ucapan Ngwang lebih memperjelas ilmu yang baru saja dipamerkan. Bahwa ia sengaja datang untuk menciptakan ilmu yang berasal dari Kitab Bumi.

Kalau tadi disebutkan sebagai puluhan tahun, barangkali memang itulah yang terjadi. Ngwang telah mengetahui keunggulan Kitab Bumi, dan ia bergulat untuk mementahkan jurus-jurus di dalamnya. Celakanya, atau anehnya, justru ketika ilmu yang dipelajari telah rampung, telah terkuasai, Ngwang menemukan “tanah yang berubah”‘ menghadapi “bukan bumi yang dulu”. Yang oleh Upasara disebut sebagai tanah air.

“Maaf, Bapa Pendita Ngwang, kenapa Bapa datang terlambat ke Trowulan?” Suara Jaghana yang lembut membuat perkataan Ngwang berikutnya seakan membelah udara.

“Maaf, Pendita Jaghana…”

“Saya bukan pendita….”

“Saya juga bukan pendita. Karena setiap pendita pada dasarnya bukan untuk dipanggil pendita. Itulah ajaran Tanah Jawa. Maaf, saya yang tak tahu-menahu ini memerlukan waktu lebih lama untuk mempelajari Kitab Bumi yang tersohor. Puluhan tahun tidak cukup untuk memahami. Sehingga datang terlambat.”

“Apa hubungan Bapa dengan Pangeran Hiang?”

Ngwang mendeham perlahan. Pandangannya tidak tertuju ke arah Nyai Demang yang bertanya dengan suara lebih keras. “Maaf, Nyai. Saya tidak berhak menyebut hubungan apa-apa. Saya ini hambanya pun bukan. Maaf. Mohon Pangeran Sang Hiang, Putra Mahkota Khan, berkenan menghapuskan dosa saya.”

“Kalau bukan apa-apanya, bagaimana mungkin Bapa memakai pakaian Pangeran Hiang? Dan kenapa selama ini selalu bersembunyi seperti bukan layaknya seorang pendita?”

Nyai Demang memuntahkan seluruh ganjalan hatinya. Meskipun sebenarnya masih ada yang ditahan. Yaitu pertanyaan: Di mana Pangeran Hiang sekarang ini?

Terdengar helaan napas. Upasara yang menghela napas. Lalu bersila di tanah. Membaringkan tubuh Gendhuk Tri. Kedua tangannya terangkat sejajar dengan pusar, dengan telapak menengadah ke atas. Perlahan kedua tangan naik ke atas, siku mengarah ke belakang. Tubuh Gendhuk Tri menggelinjang.

Ngwang seperti akan bergerak, ketika Jaghana menutup arah langkahnya. Jaghana berjaga-jaga untuk kemungkinan yang paling buruk. Karena masih ada yang membuatnya bertanya dalam hati, apa yang akan dilakukan Ngwang. Perasaan was-was ini tetap tinggal tersembunyi. Walau muncul rasa hormat.

Perasaan was-was, terutama karena menyadari bahwa Gendhuk Tri sedang berada dalam bahaya. Irama napasnya maupun getar darahnya berdesakan. Wajahnya pucat, hitam. Kulit di bagian pundak dan mungkin sekujur tubuhnya memperlihatkan hal yang sama. Ada bagian yang sangat putih, tetapi ada juga titik kelabu di beberapa tempat. Ini menandakan bahwa Gendhuk Tri terluka berat di dalam. Luka berat yang, agaknya, belum sepenuhnya diatasi Upasara.

Lumpur yang Luhur
RASA was-was Jaghana juga berawal dari pertemuan pertama dengan Pendita Ngwang, yang bertarung melawan Mada. Kalau tidak ada alasan yang kuat, rasanya Ngwang tetap akan menyembunyikan dirinya. Dan alasan yang kuat itu menyangkut Keraton. Makanya kini Jaghana berjaga-jaga.

Pendita Ngwang menggosok-gosokkan tangannya. Kakinya terangkat dari tanah. Nyai Demang berlutut. Menyentuh tangan Gendhuk Tri. Dan merasa kaget sendiri. Selama ini Nyai Demang menyadari bahwa tubuh anak angkatnya ini penuh dengan maut. Ada saat di mana ia terkubur dalam Gua Pintu Seribu, bercampur dengan mayat tokoh silat berbisa. Sehingga tubuhnya penuh dengan racun. Sehingga bahkan binatang yang paling berbisa pun menjauh.

Demikian juga halnya dengan lawan tandingnya. Karena setitik darah yang menetes dari tubuh Gendhuk Tri adalah racun ganas bagi lawannya. Keadaan seperti itu saja sebenarnya sudah merupakan penderitaan yang berkepanjangan. Barangkali lebih merasa terasing dari kematian itu sendiri. Tapi Gendhuk Tri tidak mati.

Waktu itu tak ada yang bisa menerangkan kenapa. Kenapa racun yang bisa memangsa setiap orang itu hanya bersemayam dalam tubuh Gendhuk Tri? Barulah kemudian diketahui bahwa sumber utama tenaga dalam Gendhuk Tri berdasarkan Kitab Air. Yang intinya bisa meredam bisa. Dapat melarutkan bisa yang masuk. Akan tetapi agaknya kini tenaga dalam yang sama yang membuatnya menderita.

Nyai Demang merasa dirujit, disayat-sayat perasaannya. Sepanjang ingatannya, Gendhuk Tri sudah lola sejak kecil, tanpa pengasuh. Sepanjang hidupnya dilewati dari satu pertarungan ke pertarungan yang lain. Dengan pembawaan yang mengikuti selera hatinya, Gendhuk Tri selalu tampil riang penuh canda.

Hanya pada saat-saat tertentu, Gendhuk Tri memperlihatkan perasaannya sebagai wanita. Nyai Demang mulai merasa sangat dekat semenjak untuk pertama kalinya Gendhuk Tri mengakui pilihan hatinya yang mantap adalah Maha Singanada. Seorang ksatria sejati, yang kemudian lebih suka mengorbankan dirinya untuk Upasara Wulung.

Peristiwa itu pun berakhir dengan penderitaan. Cabar, atau bubarnya impian-impian ketenteraman membina keluarga. Dalam keadaan seperti itu, Gendhuk Tri malah kemudian menolak lamaran Upasara. Betapa berat sesungguhnya penderitaan yang disandang Gendhuk Tri. Sebagai sesama wanita, Nyai Demang bisa merasakan semua kepedihan itu. Sebagai wanita, Nyai Demang merasakan betapa Gendhuk Tri menghabiskan usianya, kemanjaannya, yang terampas dalam pertarungan.

Untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki. Untuk sesuatu yang tak pernah bisa memberi imbalan kebahagiaan balik. Seperti juga langkahnya yang terakhir, ketika menghadapi Halayudha. Tak ada yang menyuruh, tak ada yang meminta. Nuraninya sebagai cucu murid Mpu Raganata dan jiwa ksatrianyalah yang menyebabkan Gendhuk Tri menentang maut. Dan kalau sudah terbaring seperti ini, adakah yang datang dan mengucapkan terima kasih? Adakah yang prihatin padanya? Tidak.

Dan Gendhuk Tri sendiri mungkin tak pernah mengharapkan itu. Kemuliaan yang tulus. Kalau selama ini Gendhuk Tri dibicarakan secara bisik-bisik sebagai wanita yang tidak jelas sosoknya, yang melewati usia pernikahan, sebagai sesuatu yang kurang, karena tak pernah menangkap sosok yang sebenarnya. Nyai Demang benar-benar trenyuh, haru sekaligus pilu. Ada rasa yang mengelusi kesedihannya, manakala jemarinya menyentuh kulit Gendhuk Tri.

Bercak-bercak hitam di berbagai tempat, kulitnya yang menjadi putih pada bagian lain, adalah penderitaan yang mengerikan untuk dibayangkan. Apalagi dirasakan. Itulah yang kini dialami Gendhuk Tri. Itu pula yang menyebabkan Jaghana sangat prihatin. Penderitaan Gendhuk Tri sekali ini berbeda dengan penderitaan ketika seluruh tubuhnya mengandung racun. Apa yang diderita Gendhuk Tri sekarang ini lebih mengancam kelangsungan hidupnya. Jaghana bisa mengetahui.

Sejak secara tekun mempelajari Kitab Air, merasuk ke dalamnya, kekuatan tenaga dalam Gendhuk Tri telah menyatu dan menemukan bentuknya. Ketika itulah tenaga dalam yang berasal dari Kitab Bumi, yang dimainkan Halayudha, menembus pertahanannya dan tersisa. Seperti sebongkah tanah yang dilemparkan ke air bersih. Yang membuat air menjadi keruh. Yang membuat noktah-noktah bagai gumpalan lumpur kental.

Seakan semua cairan di dalam tubuhnya, baik darah maupun air, telah ternoda. Kalau itu disamakan dengan tenaga dalam, bercak-bercak itu akan selalu mengganggu hidupnya. Sampai penderitaan itu tak terasakan lagi. Jaghana mengakui bahwa kemungkinan besar hanya Upasara yang bisa mengobati. Karena Upasara-lah yang mampu memadukan kekuatan tanah dengan kekuatan air, dengan menyatukan sebagai kekuatan tanah air.

Akan tetapi bukti yang terlihat lebih jelas menggambarkan betapa sesungguhnya Upasara sendiri masih mencari-cari. Karena pemecahan akan penyatuan tenaga dalam itu belum sepenuhnya bisa dikuasai. Karena sampai sekarang Gendhuk Tri masih menderita. Bahkan lebih dari itu, keadaannya menuntut pengobatan secepatnya.

Kalau dulu Upasara bisa membebaskan racun dalam tubuh Gendhuk Tri dengan mengorbankan seluruh tenaga dalamnya hingga menyebabkan ia menjadi jago silat tanpa tenaga dalam, hal itu rasanya tak mungkin lagi. Bukan tidak mungkin percobaan seperti itu akan membuat Gendhuk Tri tambah parah, atau Upasara sendiri terluka.

Jika dalam situasi semacam itu, Ngwang mengambil kesempatan, akan lebih berbahaya. Sebab di saat Upasara memusatkan konsentrasi sepenuhnya, boleh dikatakan sedang dalam keadaan kosong. Pertimbangan itulah yang menyebabkan Jaghana berjaga-jaga.

Pendita Ngwang memejamkan mata sambil menggeleng. “Aneh, sangat aneh.”

Nyai Demang yang bisa menangkap makna ucapannya melirik dan bertanya. “Apanya yang aneh, Pendita Ngwang?”

“Aneh. Ganjil. Bercak hitam itu menandakan pertentangan tenaga dalam yang ada. Aneh dan ganjilnya, bagaimana mungkin hal itu terjadi jika sumber kekuatan itu sebenarnya sangat mirip dasar-dasarnya. Bagaimana mungkin semua itu terjadi kalau tidak disengaja?”

“Kenapa disengaja?”

“Itulah ganjilnya.”

“Disengaja?”

“Om, sembah puji Syiwa-Buddha. Disengaja. Tak mungkin pukulan atau desakan tenaga dari luar bisa bercampur di dalam tubuh. Yang wajar terjadi ialah penolakan di luar. Seperti terluka, atau hancur tenaga dalamnya. Tapi yang saya lihat ini lain sekali.”

Ngwang tidak mengetahui. Juga Nyai Demang tidak mengetahui bahwa ini semua adalah polah Halayudha. Yang ingin memecahkan rahasia permainan silat Upasara. Yang memakai tubuh Gendhuk Tri sebagai percobaan. Sehingga memang lebih tepat dikatakan ada kesengajaan dari Gendhuk Tri menerima risiko itu. Padahal sesungguhnya, yang terjadi saat itu adalah bahwa Gendhuk Tri sudah terluka lebih dulu.

“Nyai pasti mengetahui.”

“Tidak….”

“Tapi rasanya seperti pergumulan tenaga bumi dengan tenaga air. Yang menggumpal jadi lumpur, yang mengeruhkan simpanan tenaga dalamnya. Yang seperti itu tidak terjadi pada Upasara, ksatria lelananging jagat. Saya melihat, merasakan betul ketika memisahkan Nyai dengan Pendita Jaghana.”

“Lalu, apa kesimpulan Pendita?”

“Tenaga yang sama yang berpadu, pada Upasara Wulung menjadi lumpur yang luhur, yang mulia, yang bisa menjadi sumber tenaga baru. Akan tetapi pada wanita itu penderitaan.”

“Apakah Pendita mengetahui cara pengobatan Tartar?”

“Saya takut saya tak pernah menemukan hal ini di tanah Tartar. Atau di mana pun.”

“Apa yang Pendita lakukan jika menghadapi situasi semacam ini?”

“Om.”

“Apa artinya? Saya tak bisa menangkap.”

“Nasib ada di tangan Dewa Yang Mahadewa.”

“Dan apa yang ada di tangan Pendita sekarang?”

Helaan napas terdengar sangat berat. “Nyai, Nyai adalah permaisuri utama Pangeran Sang Hiang. Saya…”

“Saya tak suka kalimat itu.”

“Maaf.”

“Saya bertanya, apakah Pendita akan mengambil keuntungan dengan keadaan seperti ini?” Jaghana memotong dengan cepat, seakan mengetahui dengan tepat apa yang dibicarakan. “Nyai, kita tak perlu mengemis pada Pendita Ngwang.”

Perpecahan Senopati Utama
SEBENARNYA ketika Mada dan rombongannya meninggalkan tempat, Jurang Grawah dan rombongannya juga mengikuti jejak dalam waktu yang tak berbeda jauh. Meskipun dua tangannya lunglai, Senopati Jurang Grawah tidak kehilangan semangat. Dengan kekuatan yang ada, dengan barisan kuda yang sambung-menyambung, Jurang Grawah melindas rasa sakit untuk melaporkan apa yang ditemukan di perjalanan. Melaporkan bahwa Raja masih leluasa bergerak, meskipun keadaannya sudah sangat runyam.

Jurang Grawah berharap besar, dengan laporannya Senopati Kuti akan melihat jasa-jasanya dan dirinya bisa mengerahkan tenaga lebih besar untuk melakukan pembersihan. Dengan prajurit-prajurit baru yang tegar, kalau perlu menggeledah semua wilayah sekitar Keraton. Kalau rencana ini berhasil, derajat dan pangkatnya akan mendaki tiga atau empat tingkat dalam sekali loncatan. Sesuatu yang selalu didambakan.

Hanya saja Jurang Grawah tidak segera bisa melaporkan dan diberi wewenang besar. Karena ternyata di Keraton terjadi sedikit perkembangan yang tak diduga. Dengan munculnya Senopati Kuti sebagai pemenang dan bisa menguasai Keraton, dengan sendirinya kekuatan yang berada di belakangnya ikut terangkat naik. Memegang jabatan kembali dan pulih nama besarnya.

Dengan kata lain, Tujuh Senopati Utama yang selama ini dikenal sebagai pemberontak atau paling tidak diragukan kesetiaannya kepada Raja, tampil dengan wewenang penuh. Itu pula yang dilakukan Senopati Kuti di hari kedua menduduki Keraton. Enam senopati utama yang lain dipulihkan nama baiknya dan dikembalikan kepada kedudukan terhormat semula. Yang menjadi ganjalan ternyata Senopati Tanca.

Sewaktu diundang menghadiri pertemuan di Keraton, Senopati Tanca menolak hadir. Ia memilih berdiam bersama istrinya, Senopati Kuti yang akhirnya memutuskan mengunjungi secara pribadi.

“Kakang Tanca, Mbakyu Makacaru, apa yang menyebabkan kalian berdua tidak memenuhi undangan saya?”

“Sebegitu pentingkah kedatangan dan ketidakdatangan itu?” Tatapan mata Makacaru tetap bening walau menunjukkan sikapnya yang keras. Tatapan mata yang tak ditemui pada wanita yang lain.

“Saya yang mengundang Kakang.”

“Apakah mengganggu kehormatan Adik Kuti karena sekarang menguasai Keraton? Saya tidak bersedia datang, karena saya tidak mau datang.”

“Kakang bisa mengatakan apa sebabnya?” Mata Senopati Kuti berkedip.

“Segalanya harus berada di tempat yang terang. Adik Kuti, dari dulu kamu selalu sama. Tak berbeda seujung rambut pun.”

“Kakang, saya ini orang kasar. Tak bisa mengartikan kata-kata indah. Utarakan dengan jelas tanpa perlambang.”

Nyai Makacaru menyodorkan sirih. “Tak ada yang perlu diperlambangkan, adikku. Kakangmu Tanca tidak menghadap ke Keraton, karena tidak ingin menjamah Keraton. Karena bagi kakangmu, bukan Keraton tujuannya.”

“Mbakyu… Jadi apa sebenarnya yang Mbakyu dan Kakang kehendaki?”

“Adikku, klilip kecil yang mengganjal rasa manusia kami adalah perbuatan Raja yang merusak tatanan keluarga, tata kemanusiaan.”

Senopati Kuti tampak berusaha menahan sabar. “Mbakyu, saya mengetahui bahwa Kakang dan Mbakyu sepenuhnya tak bisa menerima tindakan Raja yang ingin mempersunting saudarinya. Dan yang saya lakukan kurang-lebih sama. Lalu di mana kelirunya?”

“Tak ada yang keliru. Adikku telah melakukan yang seharusnya dilakukan. Bagi kami, bukan Keraton yang harus dibenahi dan diselesaikan dan diusadani atau diobati. Sebab dengan melibatkan diri dalam Keraton, adikku akan mengulang kekeliruan, atau malah lebih dari itu. Begitu adikku berada dalam Keraton, tata krama dan tata aturannya berbeda. Seperti juga kehadiran kami berdua. Selama ini, kita selalu saling mengundang. Kadang datang, kadang tidak. Tapi ini tak menjadi masalah. Tak perlu diterima dengan jiwa tegang, seperti sekarang.”

“Hanya itukah masalahnya? Kakang Tanca, bicaralah.”

Senopati Tanca mengelus dagunya. “Apa yang saya katakan, sudah dikatakan mbakyumu.”

“Kakang Tanca. Saya orangnya kasar. Tak mengenal tata krama. Maunya blaka suta, blak-blakan apa adanya. Kalau Kakang tidak setuju dengan apa yang saya lakukan, katakanlah. Kalau Kakang menyesali perhitungan Kakang, bahwa ternyata saya berhasil menduduki Keraton, bagi saya semua itu tidak perlu. Kita menjadi dharmaputra secara bersama. Kita sudah bersumpah mati bersama, hidup bersama. Susah bersama, menderita bersama. Kakang masih ingat?”

“Kalau ada yang masih bisa saya ingat, kesetiaan kita bersama itulah yang tersisa.”

“Apakah Kakang Tanca melihat saya berubah? Apakah saya menjadi gila takhta? Apakah saya mempergunakan kepentingan pribadi atas nama Keraton?”

“Saya percaya itu tak akan terjadi pada adikku.”

“Nah, lalu apa masalahnya, Kakang? Apa masalahnya, Mbakyu?”

“Memang tidak ada. Hanya karena kamu, adikku, berada di Keraton, dianggap ada masalah.”

“Saya tetap tak mengerti.”

Senopati Tanca mendoyongkan tubuhnya. Tangannya mencekal dua tangan Senopati Kuti. “Adikku, lakukan apa yang menurutmu baik. Kami mempunyai jalan sendiri, dan itu tidak selalu harus diartikan bertentangan. Saya tidak menyembunyikan apa-apa. Tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa. Hanya pandangan saya berdasarkan pengalaman yang selama ini terjadi tidak ingin bergabung di Keraton. Adikku. Mungkin kakangmu ini salah. Mungkin mbakyumu keliru. Karena sejak Baginda memindahkan kita bertujuh ke Keraton, saya menjadi tidak tenang. Saya tak bisa dan tak akan biasa mendengar percakapan hati, siapa yang menjadi mahapatih. Apakah satu dari antara kita bertujuh? Percakapan yang biasa. Tetapi kami berdua tak bisa mendengarkan. Karena telinga kami lebih terbiasa mendengarkan daun-daun jamu, akar-akar umbi jamu, batang-batang jamu. Itu saja perbedaannya. Dan kamu tak bisa menerima sebagai perbedaan, karena terkesan sebagai perpisahan. Adikku, apa yang sedang kita perbincangkan ini “seolah rerasan, membicarakan bersama, akan tetapi sebenarnya saling berbicara sendiri. Kita bisa bersama-sama ketika dilereni, dipecat, dan disingkirkan. Tetapi bisa berbeda ketika di Keraton.”

Senopati Kuti menepuk lututnya. “Kalau itu pendirian Kakang Tanca, saya mohon pamit.”

Senopati Kuti mundur dengan membawa sejumlah pertanyaan. Yang makin melengkung ketika dicoba dirembuk bersama Senopati Banyak. Berbagai kemungkinan berkembang. Sampai dengan kesimpulan yang bukan tidak mungkin Senopati Tanca ingin bergerak sendiri. Ingin menumpas Raja dengan tangannya sendiri, seperti yang selama ini selalu diperlihatkan. Ini bisa berarti, Senopati Tanca yang menyembunyikan Raja. Atau menyelesaikan sendiri.

Kemungkinan kedua yang terasa lebih masuk nalar, ketika terdengar kabar bahwa ada rombongan prajurit bhayangkara yang dihabisi oleh Senopati Tanca. Laporan dari Jurang Grawah lebih menghangatkan. Jurang Grawah mengatakan bahwa ia sudah menemukan Raja di antara beberapa prajurit kawal setianya, akan tetapi kemudian muncul tokoh yang mengacau. Tokoh itu dikenali sebagai Pangeran Hiang.

“Selama ini Pangeran Hiang dekat dengan ksatria dari Perguruan Awan. Kalaupun terjadi perselisihan di antara mereka, tetap saja mereka lebih dekat ke Kakang Tanca daripada senopati utama yang lain. Jurang Grawah, kamu kuanggap sebagai tangan kananku. Kamu mulai mendengar banyak hal yang tak terdengar orang lain. Banyak hal yang lebih baik kamu sendiri yang mengetahui. Apa pendapatmu?”

“Duh, Senopati Kuti yang perkasa. Kalau kita bisa membongkar tanah pendaman prajurit yang dikabarkan pralaya, tewas, di kediaman Senopati Tanca, kita semua lega.”

“Dan itu berarti menampar kehormatan Kakang Tanca.”

“Biarlah saya yang melalukan, seolah tanpa restu dari Senopati Kuti.”

Kuasa Sukma Sejati
KALAU Senopati Kuti berada pada titik persimpangan di mana tindakan yang diputuskan berarti membuka pertentangan dengan Senopati Tanca, perasaan yang kurang-lebih sama mengeram dalam hati Nyai Demang. Ngwang mengetahui perasaan yang mengganggu di wajah Nyai Demang, juga pada sikap kaku Jaghana. Yang barangkali tidak diperhitungkan, Ngwang sendiri terseret dalam beberapa pertimbangan.

Pertama, Ngwang merasa dirinya sebagai tokoh yang disegani di negerinya. Yang secara khusus memilih mendalami Kitab Bumi untuk mengalahkan, dalam pertarungan utama. Sedemikian larut Ngwang mempelajari, sehingga tugas-tugas utamanya dilepaskan. Satu-satunya yang masih berhubungan dengannya, atau yang dihubungi, hanyalah Pangeran Sang Hiang.

Sebagai penasihat rohani, Ngwang selalu dimintai pendapat oleh Pangeran Hiang. Terutama ketika memutuskan datang ke tanah Jawa. Tujuan utama rombongan Pangeran Sang Hiang adalah menaklukkan raja tanah Jawa. Itulah tujuannya. Yang bersifat kenegaraan.

Kedua, Ngwang memberi nasihat agar sedapat mungkin menghindari pertarungan. Karena dalam perhitungan sebelumnya, jika mencoba melarutkan diri dalam pertempuran dengan para jago silat, kemungkinan urusan menjadi panjang. Akan tetapi terbukti kini, bahwa urusan yang kedua ini tak bisa dilepaskan begitu saja. Ngwang menyadari bahwa rombongan Tartar selalu terseret arus ini. Tujuan kedua ini selalu menggoda.

Dua kepentingan ini seolah bertentangan. Ngwang sudah memastikan bahwa tujuan utama adalah mendampingi Pangeran Hiang. Menaklukkan raja tanah Jawa, dan membawanya ke negeri Tartar. Akan tetapi telah terbukti bahwa rombongan Pangeran Hiang pun kandas. Bahkan Gemuka yang tanpa tanding itu bisa dikalahkan, bisa dimusnahkan. Bahkan Barisan Api yang selama ini belum pernah dikalahkan lawan, musnah seluruhnya.

Sementara Pangeran Hiang sendiri diliputi keraguan. Apakah melanjutkan keinginannya semula atau justru sebaliknya. Tanpa sadar Pangeran Sang Hiang masuk ke lingkaran yang menjebaknya. Dengan mengangkat saudara Upasara Wulung, serta melamar Nyai Demang. Kebimbangan itu menjadi gangguan besar, manakala Ngwang berusaha menghubungi. Lewat tanda-tanda tulisan, Ngwang mencoba mengingatkan kembali tujuan Pangeran Sang Hiang. Tetapi jawabannya adalah penundaan.

JILID 75BUKU PERTAMAJILID 77

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 76

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 76

Nyai Demang bersuit keras. Selendangnya berkibar, tubuhnya yang montok bagai menggelorakan tenaga bergelombang. Dua tangannya ditarik ke belakang, sebelum secara bersamaan melontarkan pukulan. Benar perhitungannya. Tubuh Ngwang terdesak, dan kemudian akan berbalik ke arahnya!

Hingga untuk sementara Jaghana terbebas dari blap yang berikut secara berturut-turut. Karena kini sasaran beralih ke Nyai Demang. Yang bersiap dengan pukulan berikutnya. Tapi kecele. Ketika pukulan dilancarkan, tubuh Ngwang tertolak sambil meraih selendang. Sehingga tanpa sadar, tubuh Nyai Demang terbetot! Dan terlontar ke angkasa.

Pandangan Nyai Demang hilang seketika. Yang terlihat hanya langit sangat terang di mana tubuhnya mendekat dengan sangat cepat. Mendekat ke arah langit terang. Ngwang memperlihatkan kemampuan yang sesungguhnya. Dengan melemparkan Nyai Demang ke angkasa, tubuhnya sendiri melayang ke atas, sekali lagi menyendal tubuh Nyai Demang ke atas. Tiga kali menyendal ke atas, Nyai Demang benar-benar seolah bisa menyentuh awan.

Nyai Demang tak kuasa menjerit. Sewaktu tubuhnya amblas ke bumi, tenaganya tak mampu dikerahkan. Yang disaksikan adalah ujung pohon yang makin dekat, tanah yang makin menatapnya. Tubuh Nyai Demang meluncur turun dari ketinggian tiga kali pohon yang paling tinggi. Meskipun limbung, Jaghana tak membiarkan tubuh Nyai Demang amblas ke tanah. Dengan sisa tenaganya, Jaghana meloncat ke atas. Pada saat itu pula, Ngwang menyelinap dan sikunya masuk ke ulu hati Jaghana.

Tidak keras, tapi ganas. Karena akibat sodokan itu, tubuh Jaghana seakan berpuntir, dan melesat ke atas tanpa penguasaan diri. Ini sama saja mengadu tubuh Nyai Demang yang amblas ke bawah dengan tubuh Jaghana yang melaju ke atas. Terlambat. Nyai Demang maupun Jaghana baru menyadari kekuatan ilmu Ngwang yang sesungguhnya. Tapi terlambat.

Nyai Demang menyadari sewaktu tubuhnya disendal ke atas beberapa kali. Bahwa kekuatan utama Ngwang justru permainan di udara telah terbukti jauh sebelumnya. Karena dengan ilmu mengentengkan tubuh yang nyaris sempurna seakan tak menginjak bumi, bahkan Upasara Wulung sendiri tak segera bisa mengenali persembunyiannya. Juga Nyai Demang. Kalau ada bentuk kecurigaan hanyalah lambang-lambang huruf. Selebihnya perkiraan belaka.

Akan tetapi terbukti, kesadaran saja tidak cukup. Perlawanan yang diberikan ternyata tak cukup kuat. Dan dengan terpancing ke pertarungan atas, Nyai Demang seakan menjadi mainan. Jaghana juga menyadari bahwa ilmu yang dimainkan Ngwang justru merupakan kebalikan dari ajaran Kitab Bumi. Ini yang menimbulkan tanda tanya besar. Apakah ilmu itu sejak dahulu diciptakan, ataukah sengaja diciptakan untuk memberangus ajaran Kitab Bumi?

Karena dari segala sisi, permainan Ngwang justru seperti mematahkan tenaga bumi. Cara paling jelas yang ditunjukkan ialah dengan berdiri tidak di atas bumi. Seakan mengambang, seakan melayang. Padahal justru dalam Kitab Bumi, pengambilan tenaga berasal dari bumi!

Dilihat dari posisi ini, keunggulan Ngwang terutama sekali karena jurus-jurus ilmu silatnya sengaja membenam dan meredam kemampuan kekuatan bumi. Dengan mengerahkan tenaga bumi, semua tenaga yang tersalur seperti muspra, tanpa guna. Desakan pukulan hanya membuat tubuh Ngwang melayang mundur untuk maju kembali. Semakin didesak, semakin lawan yang terjebak. Apalagi ketika mencoba memainkan jurus Banjir Bandang Segara Asat, pembalikan tenaga yang bertentangan menyebabkan Ngwang menyelusup.

Justru pada saat pengerahan inti tenaga bumi, Ngwang bisa lebih cepat menghabisi. Bukti yang lain adalah ketika terjadi pertukaran pukulan jarak pendek. Pada saat itu terasakan oleh Jaghana bahwa kekuatan pukulan Ngwang tidak terlalu istimewa. Hanya merupakan pukulan-pukulan kecil yang tidak mematikan.

Seperti Mada yang menyamakan dengan kabur kleyang kanginan, Jaghana bisa menukik lebih dalam. Kekuatan Ngwang bukan kekuatan yang mengikuti arus, melainkan kekuatan angin. Angin! Maruta. Sepanjang hidupnya Jaghana tidak pernah mengenal adanya Kitab Angin, atau ajaran seperti itu. Dalam Kitab Bumi, disebutkan mengenai sumber-sumber kekuatan alam, terutama bumi, dan intinya dari pergerakan dan pergeseran bintang.

Sehingga pada bagian awal disebut dengan Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Kekuatan yang disinggung adalah kekuatan air, kekuatan bulan, kekuatan matahari, serta kekuatan angin. Hanya saja kalau kekuatan bumi diuraikan secara habis-habisan, kekuatan bintang sebagai inti bergerak untuk alam yang lain hanya diberikan secara garis besar.

Semuanya ini masuk ke benak Jaghana dalam waktu singkat, karena penguasaan Kitab Bumi yang sempurna. Maka begitu melihat tingkah dan gerakan dasar Ngwang, yang masuk ke perhitungan Jaghana ialah kekuatan angin. Bukan benda tipis yang tertiup, melainkan kekuatan angin itu sendiri. Itu pula sebabnya Ngwang bisa menerjang maju kembali, ketika lawan mengeluarkan tenaga. Ketika lawan berdiam, Ngwang boleh dikatakan tidak mendahului. Kalau hanya ada mereka berdua, barangkali pertarungan menjadi batal.

Akan tetapi bila ada kekuatan lain, yang saat itu adalah gerakan Nyai Demang, Ngwang bisa meminjam tenaga yang keluar dan mendesakkan tenaganya sendiri. Keanekaragaman jurus-jurus serta ajaran silat, sebenarnya bisa diterangkan dari sumbernya. Dan Jaghana cepat menangkap. Akan tetapi ternyata tetap terlambat. Tubuhnya melesat ke atas, menabrak tubuh Nyai Demang.

Tengah: Atas dan Bawah
PERHITUNGAN jitu. Ngwang bisa memaksakan tubuh Nyai Demang dan Jaghana bertabrakan. Tak meleset sedikit pun, tak bisa ditahan oleh yang bersangkutan. Nyai Demang yang merasa lebih ngeri. Karena jatuhnya dengan posisi kepala di bawah, menyaksikan bumi makin dekat. Lebih dekat lagi karena tubuh Jaghana mumbul ke atas, dengan kepalanya yang pelontos.

Jaghana sadar sepenuhnya apa yang akan terjadi. Akan tetapi tak mampu menggeser tubuhnya ke sebelah kiri atau kanan, karena mengikuti irama putaran yang membelit. Kalaupun Jaghana berusaha mengurangi pengerahan tenaga dalamnya, geraknya sedikit tertahan, juga tak banyak artinya. Tak banyak artinya karena kecepatan tubuh Nyai Demang makin kencang.

Ngwang memandang tanpa berkedip. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Hanya napasnya dihela, dan matanya terpejam. Karena saat itu seperti ada bayangan, atau memang bayangan, menyeruak masuk. Seperti ada tenaga, atau memang tenaga, yang memotong tepat di bagian tengah sebelum kepala Nyai Demang beradu dengan kepala Jaghana.

Nyai Demang sendiri merasa ada tenaga yang menahan laju kepalanya. Tenaga yang lembut, yang menggumpal, yang terasakan mengucur lewat jari-jari yang terangkap. Tubuhnya terhenti mendadak, seakan semua darahnya memuncak di kaki. Dalam kejapan berikutnya, kakinya tertarik ke samping dalam gerakan yang patah.

Jaghana juga mengalami hal yang sama. Ada tenaga yang mengikuti putaran kepalanya, yang meredam dengan lembut tapi perkasa, yang membuat tubuhnya menjadi segar. Hanya dengan mengerahkan sedikit tenaga, Jaghana mampu menggeser tubuhnya dan dengan kedua tangannya menangkap tubuh Nyai Demang. Untuk diturunkan dengan perlahan. Keduanya berdiri berdampingan. Di sebelah Upasara Wulung yang berdiri tegap sambil masih memanggul Gendhuk Tri.

“Om, sembah puji bagi Syiwa-Buddha. Om, Om, Om.” Kedua tangan Ngwang mengikuti anggukan kepalanya. Tubuhnya melesak dan berdiri di atas tanah. Pandangan matanya memancarkan sebersit rasa kagum.

Nyai Demang masih belum bisa mengerti sepenuhnya. Bagaimana mungkin Upasara bisa menyeruak masuk di tengah, menahan tenaga dari atas dan dari bawah, sementara pundaknya masih dibebani tubuh Gendhuk Tri. Tenaga dalam apa lagi yang bisa menahan perbenturan dengan cara yang begitu sempurna?

Jaghana bisa memahami bahwa apa yang diperlihatkan Upasara adalah perpaduan yang luar biasa. Menghapus tenaga jatuh dan tenaga mumbul, meredam tenaga meluncur dan tenaga berputar. Tenaga dalam yang bisa dikendalikan dengan sangat sempurna, sangat berbeda, atau juga sangat bertentangan.

“Om, sembah puji…” Sewaktu Ngwang melanjutkan kalimatnya, hanya Nyai Demang yang memahami.

“Om, sembah puji bagi Dewa Mahadewa. Tanah Jawa tak pernah bisa ditaklukkan. Karena tanah Jawa bukan hanya tanah. Karena tanah bisa berubah.”

“Pujian akan mencapai langit, Ngwang. Meninggalkan bumi.” Suara Nyai Demang dalam bahasa yang dimengerti Ngwang membuat anggukan lebih dalam.

“Nyai Demang, bolehkah aku yang rendah ini mengetahui apa yang diperlihatkan oleh ksatria lelananging jagat ini?”

“Aku tidak akan menanyakan untuk kamu.”

“Baik, baik. Saya menghaturkan selamat yang besar.” Ngwang bersoja, memberikan penghormatan kepada Upasara. “Saya kagum akan kehebatan ksatria lelananging jagat.”

“Akhirnya Bapa Pendita tampil juga. Saya merasa masih terlalu rendah menerima kehormatan ini.” Suara Upasara terdengar dingin nadanya.

“Kenapa ditetas di tengah, kalau saya boleh bertanya?”

Upasara menggeleng perlahan. “Tengah itu atas dan bawah. Tengah itu kiri dan kanan. Tanah dan air. Tengah itu tanah air.”

“Saya sangat mengagumi. Selamat. Saya ingin meminta pelajaran lebih jauh. Untuk membuktikan apa yang saya lakukan selama puluhan tahun ini hanya kesia-siaan belaka.”

Upasara menggeleng. “Bapa Pendita, masih ada waktu yang lebih baik. Pertemuan setiap lima puluh tahun sebagai pertemuan para ksatria sejati lebih tepat. Di situ akan diuji keunggulan dan Jalan Terang yang sesungguhnya. Di luar itu adalah nafsu pembunuhan, nafsu mengalahkan, nafsu kemenangan. Kalau itu yang Bapa Pendita inginkan, saya akan meladeni.”

Jaghana menunduk. Hatinya yang tak terpengaruh perasaan sekali ini diguncang oleh puji syukur yang tulus. Puji bagi Dewa Yang Mahadewa! Kalimat singkat Upasara seakan menjelaskan semuanya. Bahwa pertarungan yang terjadi setiap lima puluh tahun sekali, yang dicetuskan Eyang Sepuh, masih berlaku. Saat diadakannya pertemuan dan pertarungan jago-jago seluruh jagat untuk membuktikan mana ajaran yang lebih benar. Itulah pertarungan suci yang sesungguhnya.

Di luar itu, para jago silat hanya memamerkan keunggulan untuk membunuh, untuk tujuan yang tidak suci. Tepat sekali Upasara menentukan tempat yang sesungguhnya bagi ilmu dan jurus silat. Meskipun demikian, Upasara tidak akan menolak tantangan Ngwang yang disebut dengan Bapa Pendita. Bagi Jaghana ucapan Ngwang lebih memperjelas ilmu yang baru saja dipamerkan. Bahwa ia sengaja datang untuk menciptakan ilmu yang berasal dari Kitab Bumi.

Kalau tadi disebutkan sebagai puluhan tahun, barangkali memang itulah yang terjadi. Ngwang telah mengetahui keunggulan Kitab Bumi, dan ia bergulat untuk mementahkan jurus-jurus di dalamnya. Celakanya, atau anehnya, justru ketika ilmu yang dipelajari telah rampung, telah terkuasai, Ngwang menemukan “tanah yang berubah”‘ menghadapi “bukan bumi yang dulu”. Yang oleh Upasara disebut sebagai tanah air.

“Maaf, Bapa Pendita Ngwang, kenapa Bapa datang terlambat ke Trowulan?” Suara Jaghana yang lembut membuat perkataan Ngwang berikutnya seakan membelah udara.

“Maaf, Pendita Jaghana…”

“Saya bukan pendita….”

“Saya juga bukan pendita. Karena setiap pendita pada dasarnya bukan untuk dipanggil pendita. Itulah ajaran Tanah Jawa. Maaf, saya yang tak tahu-menahu ini memerlukan waktu lebih lama untuk mempelajari Kitab Bumi yang tersohor. Puluhan tahun tidak cukup untuk memahami. Sehingga datang terlambat.”

“Apa hubungan Bapa dengan Pangeran Hiang?”

Ngwang mendeham perlahan. Pandangannya tidak tertuju ke arah Nyai Demang yang bertanya dengan suara lebih keras. “Maaf, Nyai. Saya tidak berhak menyebut hubungan apa-apa. Saya ini hambanya pun bukan. Maaf. Mohon Pangeran Sang Hiang, Putra Mahkota Khan, berkenan menghapuskan dosa saya.”

“Kalau bukan apa-apanya, bagaimana mungkin Bapa memakai pakaian Pangeran Hiang? Dan kenapa selama ini selalu bersembunyi seperti bukan layaknya seorang pendita?”

Nyai Demang memuntahkan seluruh ganjalan hatinya. Meskipun sebenarnya masih ada yang ditahan. Yaitu pertanyaan: Di mana Pangeran Hiang sekarang ini?

Terdengar helaan napas. Upasara yang menghela napas. Lalu bersila di tanah. Membaringkan tubuh Gendhuk Tri. Kedua tangannya terangkat sejajar dengan pusar, dengan telapak menengadah ke atas. Perlahan kedua tangan naik ke atas, siku mengarah ke belakang. Tubuh Gendhuk Tri menggelinjang.

Ngwang seperti akan bergerak, ketika Jaghana menutup arah langkahnya. Jaghana berjaga-jaga untuk kemungkinan yang paling buruk. Karena masih ada yang membuatnya bertanya dalam hati, apa yang akan dilakukan Ngwang. Perasaan was-was ini tetap tinggal tersembunyi. Walau muncul rasa hormat.

Perasaan was-was, terutama karena menyadari bahwa Gendhuk Tri sedang berada dalam bahaya. Irama napasnya maupun getar darahnya berdesakan. Wajahnya pucat, hitam. Kulit di bagian pundak dan mungkin sekujur tubuhnya memperlihatkan hal yang sama. Ada bagian yang sangat putih, tetapi ada juga titik kelabu di beberapa tempat. Ini menandakan bahwa Gendhuk Tri terluka berat di dalam. Luka berat yang, agaknya, belum sepenuhnya diatasi Upasara.

Lumpur yang Luhur
RASA was-was Jaghana juga berawal dari pertemuan pertama dengan Pendita Ngwang, yang bertarung melawan Mada. Kalau tidak ada alasan yang kuat, rasanya Ngwang tetap akan menyembunyikan dirinya. Dan alasan yang kuat itu menyangkut Keraton. Makanya kini Jaghana berjaga-jaga.

Pendita Ngwang menggosok-gosokkan tangannya. Kakinya terangkat dari tanah. Nyai Demang berlutut. Menyentuh tangan Gendhuk Tri. Dan merasa kaget sendiri. Selama ini Nyai Demang menyadari bahwa tubuh anak angkatnya ini penuh dengan maut. Ada saat di mana ia terkubur dalam Gua Pintu Seribu, bercampur dengan mayat tokoh silat berbisa. Sehingga tubuhnya penuh dengan racun. Sehingga bahkan binatang yang paling berbisa pun menjauh.

Demikian juga halnya dengan lawan tandingnya. Karena setitik darah yang menetes dari tubuh Gendhuk Tri adalah racun ganas bagi lawannya. Keadaan seperti itu saja sebenarnya sudah merupakan penderitaan yang berkepanjangan. Barangkali lebih merasa terasing dari kematian itu sendiri. Tapi Gendhuk Tri tidak mati.

Waktu itu tak ada yang bisa menerangkan kenapa. Kenapa racun yang bisa memangsa setiap orang itu hanya bersemayam dalam tubuh Gendhuk Tri? Barulah kemudian diketahui bahwa sumber utama tenaga dalam Gendhuk Tri berdasarkan Kitab Air. Yang intinya bisa meredam bisa. Dapat melarutkan bisa yang masuk. Akan tetapi agaknya kini tenaga dalam yang sama yang membuatnya menderita.

Nyai Demang merasa dirujit, disayat-sayat perasaannya. Sepanjang ingatannya, Gendhuk Tri sudah lola sejak kecil, tanpa pengasuh. Sepanjang hidupnya dilewati dari satu pertarungan ke pertarungan yang lain. Dengan pembawaan yang mengikuti selera hatinya, Gendhuk Tri selalu tampil riang penuh canda.

Hanya pada saat-saat tertentu, Gendhuk Tri memperlihatkan perasaannya sebagai wanita. Nyai Demang mulai merasa sangat dekat semenjak untuk pertama kalinya Gendhuk Tri mengakui pilihan hatinya yang mantap adalah Maha Singanada. Seorang ksatria sejati, yang kemudian lebih suka mengorbankan dirinya untuk Upasara Wulung.

Peristiwa itu pun berakhir dengan penderitaan. Cabar, atau bubarnya impian-impian ketenteraman membina keluarga. Dalam keadaan seperti itu, Gendhuk Tri malah kemudian menolak lamaran Upasara. Betapa berat sesungguhnya penderitaan yang disandang Gendhuk Tri. Sebagai sesama wanita, Nyai Demang bisa merasakan semua kepedihan itu. Sebagai wanita, Nyai Demang merasakan betapa Gendhuk Tri menghabiskan usianya, kemanjaannya, yang terampas dalam pertarungan.

Untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki. Untuk sesuatu yang tak pernah bisa memberi imbalan kebahagiaan balik. Seperti juga langkahnya yang terakhir, ketika menghadapi Halayudha. Tak ada yang menyuruh, tak ada yang meminta. Nuraninya sebagai cucu murid Mpu Raganata dan jiwa ksatrianyalah yang menyebabkan Gendhuk Tri menentang maut. Dan kalau sudah terbaring seperti ini, adakah yang datang dan mengucapkan terima kasih? Adakah yang prihatin padanya? Tidak.

Dan Gendhuk Tri sendiri mungkin tak pernah mengharapkan itu. Kemuliaan yang tulus. Kalau selama ini Gendhuk Tri dibicarakan secara bisik-bisik sebagai wanita yang tidak jelas sosoknya, yang melewati usia pernikahan, sebagai sesuatu yang kurang, karena tak pernah menangkap sosok yang sebenarnya. Nyai Demang benar-benar trenyuh, haru sekaligus pilu. Ada rasa yang mengelusi kesedihannya, manakala jemarinya menyentuh kulit Gendhuk Tri.

Bercak-bercak hitam di berbagai tempat, kulitnya yang menjadi putih pada bagian lain, adalah penderitaan yang mengerikan untuk dibayangkan. Apalagi dirasakan. Itulah yang kini dialami Gendhuk Tri. Itu pula yang menyebabkan Jaghana sangat prihatin. Penderitaan Gendhuk Tri sekali ini berbeda dengan penderitaan ketika seluruh tubuhnya mengandung racun. Apa yang diderita Gendhuk Tri sekarang ini lebih mengancam kelangsungan hidupnya. Jaghana bisa mengetahui.

Sejak secara tekun mempelajari Kitab Air, merasuk ke dalamnya, kekuatan tenaga dalam Gendhuk Tri telah menyatu dan menemukan bentuknya. Ketika itulah tenaga dalam yang berasal dari Kitab Bumi, yang dimainkan Halayudha, menembus pertahanannya dan tersisa. Seperti sebongkah tanah yang dilemparkan ke air bersih. Yang membuat air menjadi keruh. Yang membuat noktah-noktah bagai gumpalan lumpur kental.

Seakan semua cairan di dalam tubuhnya, baik darah maupun air, telah ternoda. Kalau itu disamakan dengan tenaga dalam, bercak-bercak itu akan selalu mengganggu hidupnya. Sampai penderitaan itu tak terasakan lagi. Jaghana mengakui bahwa kemungkinan besar hanya Upasara yang bisa mengobati. Karena Upasara-lah yang mampu memadukan kekuatan tanah dengan kekuatan air, dengan menyatukan sebagai kekuatan tanah air.

Akan tetapi bukti yang terlihat lebih jelas menggambarkan betapa sesungguhnya Upasara sendiri masih mencari-cari. Karena pemecahan akan penyatuan tenaga dalam itu belum sepenuhnya bisa dikuasai. Karena sampai sekarang Gendhuk Tri masih menderita. Bahkan lebih dari itu, keadaannya menuntut pengobatan secepatnya.

Kalau dulu Upasara bisa membebaskan racun dalam tubuh Gendhuk Tri dengan mengorbankan seluruh tenaga dalamnya hingga menyebabkan ia menjadi jago silat tanpa tenaga dalam, hal itu rasanya tak mungkin lagi. Bukan tidak mungkin percobaan seperti itu akan membuat Gendhuk Tri tambah parah, atau Upasara sendiri terluka.

Jika dalam situasi semacam itu, Ngwang mengambil kesempatan, akan lebih berbahaya. Sebab di saat Upasara memusatkan konsentrasi sepenuhnya, boleh dikatakan sedang dalam keadaan kosong. Pertimbangan itulah yang menyebabkan Jaghana berjaga-jaga.

Pendita Ngwang memejamkan mata sambil menggeleng. “Aneh, sangat aneh.”

Nyai Demang yang bisa menangkap makna ucapannya melirik dan bertanya. “Apanya yang aneh, Pendita Ngwang?”

“Aneh. Ganjil. Bercak hitam itu menandakan pertentangan tenaga dalam yang ada. Aneh dan ganjilnya, bagaimana mungkin hal itu terjadi jika sumber kekuatan itu sebenarnya sangat mirip dasar-dasarnya. Bagaimana mungkin semua itu terjadi kalau tidak disengaja?”

“Kenapa disengaja?”

“Itulah ganjilnya.”

“Disengaja?”

“Om, sembah puji Syiwa-Buddha. Disengaja. Tak mungkin pukulan atau desakan tenaga dari luar bisa bercampur di dalam tubuh. Yang wajar terjadi ialah penolakan di luar. Seperti terluka, atau hancur tenaga dalamnya. Tapi yang saya lihat ini lain sekali.”

Ngwang tidak mengetahui. Juga Nyai Demang tidak mengetahui bahwa ini semua adalah polah Halayudha. Yang ingin memecahkan rahasia permainan silat Upasara. Yang memakai tubuh Gendhuk Tri sebagai percobaan. Sehingga memang lebih tepat dikatakan ada kesengajaan dari Gendhuk Tri menerima risiko itu. Padahal sesungguhnya, yang terjadi saat itu adalah bahwa Gendhuk Tri sudah terluka lebih dulu.

“Nyai pasti mengetahui.”

“Tidak….”

“Tapi rasanya seperti pergumulan tenaga bumi dengan tenaga air. Yang menggumpal jadi lumpur, yang mengeruhkan simpanan tenaga dalamnya. Yang seperti itu tidak terjadi pada Upasara, ksatria lelananging jagat. Saya melihat, merasakan betul ketika memisahkan Nyai dengan Pendita Jaghana.”

“Lalu, apa kesimpulan Pendita?”

“Tenaga yang sama yang berpadu, pada Upasara Wulung menjadi lumpur yang luhur, yang mulia, yang bisa menjadi sumber tenaga baru. Akan tetapi pada wanita itu penderitaan.”

“Apakah Pendita mengetahui cara pengobatan Tartar?”

“Saya takut saya tak pernah menemukan hal ini di tanah Tartar. Atau di mana pun.”

“Apa yang Pendita lakukan jika menghadapi situasi semacam ini?”

“Om.”

“Apa artinya? Saya tak bisa menangkap.”

“Nasib ada di tangan Dewa Yang Mahadewa.”

“Dan apa yang ada di tangan Pendita sekarang?”

Helaan napas terdengar sangat berat. “Nyai, Nyai adalah permaisuri utama Pangeran Sang Hiang. Saya…”

“Saya tak suka kalimat itu.”

“Maaf.”

“Saya bertanya, apakah Pendita akan mengambil keuntungan dengan keadaan seperti ini?” Jaghana memotong dengan cepat, seakan mengetahui dengan tepat apa yang dibicarakan. “Nyai, kita tak perlu mengemis pada Pendita Ngwang.”

Perpecahan Senopati Utama
SEBENARNYA ketika Mada dan rombongannya meninggalkan tempat, Jurang Grawah dan rombongannya juga mengikuti jejak dalam waktu yang tak berbeda jauh. Meskipun dua tangannya lunglai, Senopati Jurang Grawah tidak kehilangan semangat. Dengan kekuatan yang ada, dengan barisan kuda yang sambung-menyambung, Jurang Grawah melindas rasa sakit untuk melaporkan apa yang ditemukan di perjalanan. Melaporkan bahwa Raja masih leluasa bergerak, meskipun keadaannya sudah sangat runyam.

Jurang Grawah berharap besar, dengan laporannya Senopati Kuti akan melihat jasa-jasanya dan dirinya bisa mengerahkan tenaga lebih besar untuk melakukan pembersihan. Dengan prajurit-prajurit baru yang tegar, kalau perlu menggeledah semua wilayah sekitar Keraton. Kalau rencana ini berhasil, derajat dan pangkatnya akan mendaki tiga atau empat tingkat dalam sekali loncatan. Sesuatu yang selalu didambakan.

Hanya saja Jurang Grawah tidak segera bisa melaporkan dan diberi wewenang besar. Karena ternyata di Keraton terjadi sedikit perkembangan yang tak diduga. Dengan munculnya Senopati Kuti sebagai pemenang dan bisa menguasai Keraton, dengan sendirinya kekuatan yang berada di belakangnya ikut terangkat naik. Memegang jabatan kembali dan pulih nama besarnya.

Dengan kata lain, Tujuh Senopati Utama yang selama ini dikenal sebagai pemberontak atau paling tidak diragukan kesetiaannya kepada Raja, tampil dengan wewenang penuh. Itu pula yang dilakukan Senopati Kuti di hari kedua menduduki Keraton. Enam senopati utama yang lain dipulihkan nama baiknya dan dikembalikan kepada kedudukan terhormat semula. Yang menjadi ganjalan ternyata Senopati Tanca.

Sewaktu diundang menghadiri pertemuan di Keraton, Senopati Tanca menolak hadir. Ia memilih berdiam bersama istrinya, Senopati Kuti yang akhirnya memutuskan mengunjungi secara pribadi.

“Kakang Tanca, Mbakyu Makacaru, apa yang menyebabkan kalian berdua tidak memenuhi undangan saya?”

“Sebegitu pentingkah kedatangan dan ketidakdatangan itu?” Tatapan mata Makacaru tetap bening walau menunjukkan sikapnya yang keras. Tatapan mata yang tak ditemui pada wanita yang lain.

“Saya yang mengundang Kakang.”

“Apakah mengganggu kehormatan Adik Kuti karena sekarang menguasai Keraton? Saya tidak bersedia datang, karena saya tidak mau datang.”

“Kakang bisa mengatakan apa sebabnya?” Mata Senopati Kuti berkedip.

“Segalanya harus berada di tempat yang terang. Adik Kuti, dari dulu kamu selalu sama. Tak berbeda seujung rambut pun.”

“Kakang, saya ini orang kasar. Tak bisa mengartikan kata-kata indah. Utarakan dengan jelas tanpa perlambang.”

Nyai Makacaru menyodorkan sirih. “Tak ada yang perlu diperlambangkan, adikku. Kakangmu Tanca tidak menghadap ke Keraton, karena tidak ingin menjamah Keraton. Karena bagi kakangmu, bukan Keraton tujuannya.”

“Mbakyu… Jadi apa sebenarnya yang Mbakyu dan Kakang kehendaki?”

“Adikku, klilip kecil yang mengganjal rasa manusia kami adalah perbuatan Raja yang merusak tatanan keluarga, tata kemanusiaan.”

Senopati Kuti tampak berusaha menahan sabar. “Mbakyu, saya mengetahui bahwa Kakang dan Mbakyu sepenuhnya tak bisa menerima tindakan Raja yang ingin mempersunting saudarinya. Dan yang saya lakukan kurang-lebih sama. Lalu di mana kelirunya?”

“Tak ada yang keliru. Adikku telah melakukan yang seharusnya dilakukan. Bagi kami, bukan Keraton yang harus dibenahi dan diselesaikan dan diusadani atau diobati. Sebab dengan melibatkan diri dalam Keraton, adikku akan mengulang kekeliruan, atau malah lebih dari itu. Begitu adikku berada dalam Keraton, tata krama dan tata aturannya berbeda. Seperti juga kehadiran kami berdua. Selama ini, kita selalu saling mengundang. Kadang datang, kadang tidak. Tapi ini tak menjadi masalah. Tak perlu diterima dengan jiwa tegang, seperti sekarang.”

“Hanya itukah masalahnya? Kakang Tanca, bicaralah.”

Senopati Tanca mengelus dagunya. “Apa yang saya katakan, sudah dikatakan mbakyumu.”

“Kakang Tanca. Saya orangnya kasar. Tak mengenal tata krama. Maunya blaka suta, blak-blakan apa adanya. Kalau Kakang tidak setuju dengan apa yang saya lakukan, katakanlah. Kalau Kakang menyesali perhitungan Kakang, bahwa ternyata saya berhasil menduduki Keraton, bagi saya semua itu tidak perlu. Kita menjadi dharmaputra secara bersama. Kita sudah bersumpah mati bersama, hidup bersama. Susah bersama, menderita bersama. Kakang masih ingat?”

“Kalau ada yang masih bisa saya ingat, kesetiaan kita bersama itulah yang tersisa.”

“Apakah Kakang Tanca melihat saya berubah? Apakah saya menjadi gila takhta? Apakah saya mempergunakan kepentingan pribadi atas nama Keraton?”

“Saya percaya itu tak akan terjadi pada adikku.”

“Nah, lalu apa masalahnya, Kakang? Apa masalahnya, Mbakyu?”

“Memang tidak ada. Hanya karena kamu, adikku, berada di Keraton, dianggap ada masalah.”

“Saya tetap tak mengerti.”

Senopati Tanca mendoyongkan tubuhnya. Tangannya mencekal dua tangan Senopati Kuti. “Adikku, lakukan apa yang menurutmu baik. Kami mempunyai jalan sendiri, dan itu tidak selalu harus diartikan bertentangan. Saya tidak menyembunyikan apa-apa. Tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa. Hanya pandangan saya berdasarkan pengalaman yang selama ini terjadi tidak ingin bergabung di Keraton. Adikku. Mungkin kakangmu ini salah. Mungkin mbakyumu keliru. Karena sejak Baginda memindahkan kita bertujuh ke Keraton, saya menjadi tidak tenang. Saya tak bisa dan tak akan biasa mendengar percakapan hati, siapa yang menjadi mahapatih. Apakah satu dari antara kita bertujuh? Percakapan yang biasa. Tetapi kami berdua tak bisa mendengarkan. Karena telinga kami lebih terbiasa mendengarkan daun-daun jamu, akar-akar umbi jamu, batang-batang jamu. Itu saja perbedaannya. Dan kamu tak bisa menerima sebagai perbedaan, karena terkesan sebagai perpisahan. Adikku, apa yang sedang kita perbincangkan ini “seolah rerasan, membicarakan bersama, akan tetapi sebenarnya saling berbicara sendiri. Kita bisa bersama-sama ketika dilereni, dipecat, dan disingkirkan. Tetapi bisa berbeda ketika di Keraton.”

Senopati Kuti menepuk lututnya. “Kalau itu pendirian Kakang Tanca, saya mohon pamit.”

Senopati Kuti mundur dengan membawa sejumlah pertanyaan. Yang makin melengkung ketika dicoba dirembuk bersama Senopati Banyak. Berbagai kemungkinan berkembang. Sampai dengan kesimpulan yang bukan tidak mungkin Senopati Tanca ingin bergerak sendiri. Ingin menumpas Raja dengan tangannya sendiri, seperti yang selama ini selalu diperlihatkan. Ini bisa berarti, Senopati Tanca yang menyembunyikan Raja. Atau menyelesaikan sendiri.

Kemungkinan kedua yang terasa lebih masuk nalar, ketika terdengar kabar bahwa ada rombongan prajurit bhayangkara yang dihabisi oleh Senopati Tanca. Laporan dari Jurang Grawah lebih menghangatkan. Jurang Grawah mengatakan bahwa ia sudah menemukan Raja di antara beberapa prajurit kawal setianya, akan tetapi kemudian muncul tokoh yang mengacau. Tokoh itu dikenali sebagai Pangeran Hiang.

“Selama ini Pangeran Hiang dekat dengan ksatria dari Perguruan Awan. Kalaupun terjadi perselisihan di antara mereka, tetap saja mereka lebih dekat ke Kakang Tanca daripada senopati utama yang lain. Jurang Grawah, kamu kuanggap sebagai tangan kananku. Kamu mulai mendengar banyak hal yang tak terdengar orang lain. Banyak hal yang lebih baik kamu sendiri yang mengetahui. Apa pendapatmu?”

“Duh, Senopati Kuti yang perkasa. Kalau kita bisa membongkar tanah pendaman prajurit yang dikabarkan pralaya, tewas, di kediaman Senopati Tanca, kita semua lega.”

“Dan itu berarti menampar kehormatan Kakang Tanca.”

“Biarlah saya yang melalukan, seolah tanpa restu dari Senopati Kuti.”

Kuasa Sukma Sejati
KALAU Senopati Kuti berada pada titik persimpangan di mana tindakan yang diputuskan berarti membuka pertentangan dengan Senopati Tanca, perasaan yang kurang-lebih sama mengeram dalam hati Nyai Demang. Ngwang mengetahui perasaan yang mengganggu di wajah Nyai Demang, juga pada sikap kaku Jaghana. Yang barangkali tidak diperhitungkan, Ngwang sendiri terseret dalam beberapa pertimbangan.

Pertama, Ngwang merasa dirinya sebagai tokoh yang disegani di negerinya. Yang secara khusus memilih mendalami Kitab Bumi untuk mengalahkan, dalam pertarungan utama. Sedemikian larut Ngwang mempelajari, sehingga tugas-tugas utamanya dilepaskan. Satu-satunya yang masih berhubungan dengannya, atau yang dihubungi, hanyalah Pangeran Sang Hiang.

Sebagai penasihat rohani, Ngwang selalu dimintai pendapat oleh Pangeran Hiang. Terutama ketika memutuskan datang ke tanah Jawa. Tujuan utama rombongan Pangeran Sang Hiang adalah menaklukkan raja tanah Jawa. Itulah tujuannya. Yang bersifat kenegaraan.

Kedua, Ngwang memberi nasihat agar sedapat mungkin menghindari pertarungan. Karena dalam perhitungan sebelumnya, jika mencoba melarutkan diri dalam pertempuran dengan para jago silat, kemungkinan urusan menjadi panjang. Akan tetapi terbukti kini, bahwa urusan yang kedua ini tak bisa dilepaskan begitu saja. Ngwang menyadari bahwa rombongan Tartar selalu terseret arus ini. Tujuan kedua ini selalu menggoda.

Dua kepentingan ini seolah bertentangan. Ngwang sudah memastikan bahwa tujuan utama adalah mendampingi Pangeran Hiang. Menaklukkan raja tanah Jawa, dan membawanya ke negeri Tartar. Akan tetapi telah terbukti bahwa rombongan Pangeran Hiang pun kandas. Bahkan Gemuka yang tanpa tanding itu bisa dikalahkan, bisa dimusnahkan. Bahkan Barisan Api yang selama ini belum pernah dikalahkan lawan, musnah seluruhnya.

Sementara Pangeran Hiang sendiri diliputi keraguan. Apakah melanjutkan keinginannya semula atau justru sebaliknya. Tanpa sadar Pangeran Sang Hiang masuk ke lingkaran yang menjebaknya. Dengan mengangkat saudara Upasara Wulung, serta melamar Nyai Demang. Kebimbangan itu menjadi gangguan besar, manakala Ngwang berusaha menghubungi. Lewat tanda-tanda tulisan, Ngwang mencoba mengingatkan kembali tujuan Pangeran Sang Hiang. Tetapi jawabannya adalah penundaan.

JILID 75BUKU PERTAMAJILID 77