Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 34

Gendhuk Tri menoleh ke arah datangnya suara. Tak salah lihat. Yang berada di depannya memang Pangeran Anom! Di sebelahnya berdiri Senopati Pangsa dan Senopati Banyak, dua dari tujuh dharmaputra.

“Yayi, Adik Tri, kamu datang juga akhirnya….”

Nada suaranya mengandung harapan yang besar, akan tetapi sekaligus juga keputusasaan. Gendhuk Tri menenangkan hatinya. Ia maju selangkah, menunduk hormat.

“Ketiwasan, Adik Tri… Tak ada lagi yang tersisa….”

Pangeran Anom maju terhuyung-huyung. Tiga langkah tubuhnya jatuh terguling. Gendhuk Tri sigap meloncat maju, menyambar tubuh yang terasa mengalirkan hawa panas. Senopati Pangsa membaringkannya di tempat yang teduh.

“Biarkan saja, Pangeran Anom butuh istirahat….”

Sesungguhnya Senopati Pangsa sendiri butuh istirahat. Juga Senopati Banyak yang tubuhnya bergoyang-goyang. Barulah kemudian Senopati Pangsa bisa menceritakan dengan sedikit runtut.

Dugaan Gendhuk Tri tak terlalu keliru. Desa Simping kedatangan dua pendekar dari negeri Tartar bersama dengan sekitar lima belas prajuritnya. Mereka menyerbu ke Gua Kencana, mengobrak-abrik isinya sebelum sampai ke Simping, langsung menjarah Baginda. Perlawanan yang diberikan tak imbang, karena dalam sekejap saja semua bisa ditewaskan tanpa kecuali.

“Termasuk siapa pun yang mencoba menahan serangan tersebut.”

Dalam hati Gendhuk Tri sedikit dongkol, karena nama Wilanda tidak terang-terangan disebutkan.

“Kami berusaha mempertahankan sekuat tenaga, tapi kalah. Rombongan Pangeran Anom yang menyusul dari Keraton juga berusaha mencegat, akan tetapi tak ada gunanya. Pasukan Tartar yang tidak seberapa jumlahnya bisa menawan Baginda, dan membawanya ke Brantas. Kentong titir telah dibunyikan di seluruh wilayah, sehingga tak ada gunung dan lembah yang tak mendengar adanya bahaya. Kini seluruh prajurit, seluruh senopati, seluruh ksatria sedang menuju Brantas untuk merebut Baginda.”

“Kecuali Raja.”

Senopati Pangsa mengangguk. “Kecuali Raja. Tapi semua sudah bergerak. Pasukan yang dipimpin Mahapatih Nambi bersama ayahandanya dan Senopati Halayudha juga menuju ke sana. Masih dalam perjalanan. Kami tak bisa melanjutkan karena tak mampu berjalan jauh. Akan tetapi sebisa kaki kami melangkah, selebar itulah kami menuju ke sana. Jangan hiraukan kami, berangkatlah segera!”

Gendhuk Tri mengelus rambutnya. Dadanya menyimpan udara yang tertahan. “Sedemikian hebatnyakah ksatria Tartar sehingga semua tak ada yang mampu menahan?”

“Kami malu, akan tetapi kenyataannya begitu.nBarangkali hanya pasangan seperti kamu dengan Pangeran Anom, atau Maha Singanada, atau Upasara Wulung yang sanggup mengimbangi mereka.”

Gendhuk Tri berusaha menahan diri untuk tidak memberi komentar atau jawaban.

Kehormatan Tertambat di Perahu
BAGI Gendhuk Tri mengenang Upasara, Singanada, atau Pangeran Anom hanya meng-goreh-kan perasaannya. Tanpa menemukan pegangan yang menguatkan landasan gerak hatinya. Karena kegelisahannya tak bisa diselesaikan dengan cepat. Semakin dipikir, semakin tenggelam, semakin terseret, tanpa tahu bagaimana menghentikannya. Maka Gendhuk Tri segera menghapus pertimbangan batinnya. Segera memutuskan menuju ke pinggiran Brantas.

Perjalanan yang menggetarkan hati. Karena sepanjang jalan menemukan pemandangan yang memilukan. Wajah-wajah yang ditikam kecemasan, ketakutan tanpa bisa berbuat suatu apa dari beberapa prajurit dan sebagian besar masyarakat setempat yang menyempatkan diri untuk melihat langsung. Bisa dimengerti, bisa dipahami.

Baginda tokoh pujaan, pemegang kekuasaan atas kehidupan Keraton. Kalaupun sekarang ini Baginda tidak memegang tata pemerintahan secara langsung, setitik pun tak mengurangi rasa hormat. Betapa menggetarkan, karena sekarang ini Baginda berada dalam tawanan lawan.

Lawan lama yang mempunyai dendam sejak Baginda Raja Kertanegara. Lawan yang selama ini kondang kasusra ing jagat, terkenal di seluruh jagat raya sebagai penakluk dunia. Pasukan Tartar yang pernah ditekuk habis kehormatan dan keperkasaannya oleh Sri Baginda Raja, dan yang kemudian bahkan bisa disingkirkan oleh Baginda kembali ke samudra. Lawan yang tetap ditakuti karena menimbulkan ancaman yang diakui kehebatannya.

Dan sekarang hal itu terjadi. Sekarang kengerian itu menemukan bentuknya. Baginda, bersama para permaisuri dan beberapa pengikutnya, ditawan! Menjadi korban untuk dipersembahkan ke Keraton Tartar, di tlatah yang tanahnya menyatu dengan langit. Kalau ini benar terjadi, apa lagi yang tersisa di Keraton ini? Kehormatan, kebanggaan, kejayaan yang didorong habis semasa Sri Baginda Raja, akan meninggalkan bekas kotor yang tak terhapus sepanjang keturunan.

Maka sebelum itu terjadi, segala apa pun akan dilakukan untuk mencegahnya. Dalam hal ini, ketakutan itu yang terasakan memadat. Justru karena usaha ke arah itu tampaknya tidak memberikan hasil sedikit pun. Jalan pikiran Gendhuk Tri tidak berbeda jauh dari apa yang berada dalam pikiran yang lain, ketika melihat jelas perahu bertiang tinggi tertambat di pinggir bengawan. Bukan perahu yang besar sekali, akan tetapi tampak kukuh. Tiang utamanya menjulang tinggi, seakan memamerkan kemenangan yang menyentuh langit.

Di dalam perahu itulah segala kehormatan Keraton berada. Di sekitar perahu itulah ratusan prajurit bersiap dengan senjata mengepung. Beberapa puluh yang lain berada di sungai, dengan batang kayu, rakit seadanya, bersiap menghadang kepergian perahu. Sesuatu yang agak mustahil bisa dilakukan.

Karena dengan melihat sekilas saja terasakan, bahwa sekali perahu bertiang tinggi dengan ukiran naga di ujungnya bergerak, rakit-rakit itu akan tersapu dengan sendirinya. Gendhuk Tri berdeham keras.

“Jangan bergerak tanpa perintah!” teriaknya keras mengatasi kebisingan suara-suara. “Kita tidak boleh bertindak sembrono. Urus para prajurit yang terluka. Barisan yang siap berada di depan. Siapa yang menjadi pemimpin di sini?”

“Gendhuk Tri, kamu datang juga akhirnya.” Nyai Demang bersuara keras. Tubuhnya melayang dari tengah rakit menuju ke bagian tepi. Tubuhnya tetap molek, walau wajahnya tampak lebih pucat.

“Mbakyu Demang…”

“Masih ada waktu untuk mengatur siasat. Kita pergunakan prajurit yang ada, kita harus membebaskan Baginda.”

“Begitu perahu berlalu, kita akan kehilangan buruan.”

Nyai Demang mengangguk. “Ya.”

“Aneh, kenapa mereka tak segera berangkat?”

“Aku juga berpikir demikian pada mulanya. Kalau tujuan mereka menawan dan membawa Baginda, sekarang saatnya membawa pergi. Prajurit kita masih tercerai-berai…”

“Ataukah mereka menunggu untuk mengadu ilmu?”

Nyai Demang tersenyum tipis. “Tidak, rombongan Tartar yang datang kali ini jauh berbeda dengan rombongan-rombongan sebelumnya. Berbeda, bahkan dengan rombongan Raja Segala Naga. Rombongan yang datang ini dipimpin langsung oleh Pangeran Hiang, salah satu putra mahkota calon pengantin Raja Tartar yang pernah menaklukkan Jepun dan tlatah Koreyea. Pangeran Hiang satu-satunya putra mahkota Kaisar Tartar yang berani memakai umbul-umbul, bendera tersendiri berlambang taring naga. Itu tanda kekuasaan yang akan datang, karena semua putra mahkota, semua pangeran mengikuti umbul-umbul utama. Dengan kata lain, urusannya di sini tidak tertarik untuk mengadu ilmu. Akan tetapi menjalankan tugas semata. Apalagi kalau belajar dari rombongan terdahulu, yang justru kalah dan gagal ketika mencoba mengadu ilmu. Pangeran Hiang tak akan menempuh risiko itu.”

“Jadi apa lagi yang mereka tunggu?”

“Saat yang tepat.”

Gendhuk Tri mengernyitkan keningnya.

“Angin. Sekarang belum saat yang baik. Karena kalau berangkat sekarang di samudra luas menuju Tartar, nanti badai akan menyambut.”

Gendhuk Tri mengangguk. Memuji dengan sorot matanya.

“Aku berusaha memahami dari aliran sungai sekarang ini.”

“Mbakyu, berarti kita masih ada waktu untuk berusaha.”

Kali ini wajah Nyai Demang berubah. Sebagian rambut yang tergerai di kening dan pelipis tampak memberi kesan muram. “Semua usaha telah dicoba, akan tetapi bahkan untuk mendekati perahu saja tak ada yang mampu. Para senopati, para dharmaputra, bahkan Pangeran Anom pun sudah mencoba. Akan tetapi semua terlempar ke sungai sebelum menyentuh dinding perahu. Semua prajurit di sini siap menyetor nyawa demi kehormatan Baginda. Akan tetapi agaknya hanya itu yang terjadi. Dan masih akan terjadi.”

Gendhuk Tri mengawasi sekitar. Makin diamati, makin kuat bukti-bukti yang dikatakan Nyai Demang. “Apakah Pangeran Hiang begitu sempurna dan tak terkalahkan?”

Nyai Demang berdeham. Berjalan perlahan menuju tempat yang agak teduh. Lalu berusaha duduk. Disusul helaan napas yang panjang. “Dalam ilmu silat, tak ada yang tak terkalahkan. Sakti bisa terbang seperti rajawali, sakti bisa berenang seperti ikan, beringas seperti kijang, akan bisa dikalahkan. Akan tetapi sekali ini lain. Adik Tri mengetahui sendiri. Kekuatan yang ada pada kita tidak seberapa. Para prajurit pilihan yang utama justru tidak berada di tempat. Para ksatria sudah cerai-berai. Di samping kita tak ada lagi…”

Nyai Demang tak melanjutkan. Tangan Gendhuk Tri menggenggam tangan Nyai Demang. Tanpa dilanjutkan pun, kalimat berikutnya pasti akan menyebut-nyebut nama Upasara Wulung. Keduanya sudah saling mengetahui dan merasakan. “Apakah rombongan Pangeran Hiang kali ini memang pasukan istimewa?” Gendhuk Tri mengalihkan pertanyaan.

“Kukira memang demikian. Sejauh yang aku ketahui-dan kamu pasti juga mendengar sedikit-banyak dari Naga Nareswara, nama besar Pangeran Hiang bukan nama kosong. Kalau Keraton Matahari di Jepun bisa ditaklukkan, bisa dikuasai, kita bisa mengukur kemampuannya. Ketika tlatah Koreyea juga dilindas, kita tak meragukan lagi. Selama ini Jepun dan Koreyea adalah wilayah yang kelewat angker bagi Tartar. Karena sumber ilmu silat kedua wilayah itu sama dengan di daratan Cina yang sekarang dikuasai Tartar. Kemenangan ilmu silat Tartar yang mendasarkan diri pada kekuatan dan kecerdikan menjadi sempurna. Karena setelah membuktikan mampu menguasai ilmu silat Cina yang tiada tandingannya itu, mampu pula mengalahkan permainan silat Jepun dan Koreyea. Berarti dasar-dasar ilmu silat Cina dan kembangan-nya bisa dikuasai dan dikalahkan. Lebih dari itu, sewaktu aku mencoba mengadakan pembicaraan, aku mengakui keunggulan mereka. Sekitar dua belas atau tiga belas pengikutnya merupakan pendekar-pendekar pilihan. Selain Pangeran Hiang dan istrinya yang berasal dari Koreyea, rombongan ini memang luar biasa hebat. Bahkan hanya dengan mengandalkan sedikit orang saja berani datang dengan tujuan besar, membuktikan kepecayaan diri yang mantap. Gambaran umum yang diketahui, di sana ada tiga lawan utama yang sangat sakti. Pangeran Hiang, Putri Koreyea, dan seorang yang masih belum kuketahui namanya. Selebihnya para prajurit atau pendekar biasa. Akan tetapi kemampuan mereka jauh di atas para senopati kita. Aku tidak tahu persis, apakah kalau melawan mereka kita berdua bisa unggul atau tidak.”

Prajurit Tua Sina
KALI ini Gendhuk Tri yang menghela napas.

“Aku tidak mengecilkan arti kita. Hanya sedikit gambaran bahwa kita berada dalam kondisi terburuk sementara lawan berada dalam kondisi puncak.”

Gendhuk Tri mengangguk. “Berapa lama kira-kira mereka menunggu angin?”

“Sepekan. Lebih dari itu kita harus melihat arah angin dan arus sungai lagi.”

“Apa yang Mbakyu rencanakan?”

Nyai Demang memandang Gendhuk Tri. “Berdoa. Tak ada jalan lain.”

“Apakah Baginda dan para permaisuri berada dalam keadaan baik-baik?”

“Tak ada yang tahu. Belum ada yang bisa menyentuh perahu.”

Gendhuk Tri menggenggam tangan Nyai Demang. “Sekarang kita coba.”

Gendhuk Tri langsung berdiri. Ia memberi perintah kepada prajurit agar bersiaga di pinggir dan tidak bergerak kalau tidak ada yang memerintah. Secepat itu pula Gendhuk Tri meloncat ke tengah bengawan. Tubuhnya melayang enteng sekali. Disusul bayangan tubuh Nyai Demang yang berkelebat. Lompatan Gendhuk Tri sampai sepertiga lebar sungai, dan dengan menotol rakit yang ada, tubuhnya mengapung kembali ke angkasa. Menuju perahu Siung Naga!

Yang sunyi. Tanpa ada bayangan atau tubuh orang. Nyai Demang menyusul. Kini semua perhatian tertuju ke tengah perahu besar. Tubuh Gendhuk Tri yang melayang turun mendadak saja berputar keras, membentuk gulungan, ketika tiba-tiba dari lantai perahu menyembur semacam anak panah dan tombak secara berturut-turut. Gendhuk Tri tidak hinggap di dasar perahu, melainkan di tiang utama. Seperti juga Nyai Demang.

“Inikah Pangeran Hiang yang perkasa, yang menyambut tamunya dengan sapu lidi?” Teriakan Gendhuk Tri menggema keras.

Nyai Demang mengakui bahwa Gendhuk Tri yang sekarang ini sama sekali tidak meninggalkan sisa sebutan gendhuk. Cara berpikir dan bertindaknya jauh lebih dewasa dari yang selama ini dikenal. Bahwa dengan hinggap di tiang utama sebagai satu-satunya pilihan, menunjukkan kehebatan itu. Meskipun tadi tubuhnya melayang ke arah geladak, akan tetapi tujuan yang sebenarnya adalah tiang utama. Sehingga sejak semula mudah memutar. Dan dengan meloncat lebih dulu, Gendhuk Tri memberi kesempatan Nyai Demang untuk membaca apa yang dilakukannya. Dan bisa mengikuti.

Yang tetap sama adalah ketajaman lidahnya, dan kecepatan memanfaatkan situasi. Nyai Demang mengakui kehebatan ini. Karena memang sejak dulu hanya Gendhuk Tri yang mampu melukai Ugrawe-yang saat itu bahkan bayangan tubuhnya saja tak bisa disentuh. Juga dengan kepintarannya memanfaatkan situasi. Seperti sekarang ini. Dengan menyebut nama Pangeran Hiang, seolah Gendhuk Tri sudah mengetahui siapa yang dihadapi. Dan memilih menjadi lawan utamanya dengan memancing kegusaran. Karena menyebut Pangeran Hiang menyambut tamunya dengan sapu lidi! Ini gaya Gendhuk Tri.

Sejak di Pesanggrahan Simping, Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hati, senjata apa yang dipakai oleh pasukan Tartar yang bisa menyapu lawan dalam sekejap dan seketika. Bahkan Paman Wilanda juga terluka seketika oleh banyak tusukan secara sekaligus. Ternyata itu semacam senjata anak panah yang dilepaskan sekaligus. Senjata itulah yang disebut sebagai sapu lidi. Yang ketika dilepaskan bersamaan tak bisa menemui sasarannya.

“Pangeran Hiang… Apa masih perlu saya turun menjemputmu? Apakah tidak akan membuat bayi di perut Putri Koreyea kaget?”

Serangan kedua dengan menyebut-nyebut Putri Koreyea. Perhitungan semata-mata yang membuat Gendhuk Tri meneriakkan soal bayi dalam kandungan. Jawabannya adalah sunyi. Tak ada apa-apa. Gendhuk Tri melihat sekilas ke arah Nyai Demang, lalu meloncat turun Nyai Demang bergerak cepat. Ia mengibaskan kedua tangannya dan meloncat turun ke arah lain.

Kelihatannya. Karena tubuhnya berputar dan kembali hinggap di tiang. Seperti juga Gendhuk Tri. Yang menekuk tubuhnya membelok kembali. Dari lantai perahu mendadak menjeplak kembali luncuran anak “lidi” yang berbentuk anak panah. Menyambar dari segala sudut!

Sehingga kalau benar Nyai Demang atau Gendhuk Tri menginjak lantai akan dihujani dengan tusukan. Puluhan jumlahnya. Dari segala arah. Masih disusul dengan tembakan berikutnya. Yang agaknya dilepaskan dari tali busur raksasa, kalau dilihat betapa anak panah itu melesat dengan cepat dan keras. Bisa dimengerti kalau selama ini tak ada yang bisa menyentuh perahu. Karena sudah diperlengkapi dengan berbagai senjata rahasia yang gawat.

“Mbakyu Demang, mari kita bermain-main ke atas….” Gendhuk Tri mendaki tiang. Dengan dua loncatan saja.

Nyai Demang berteriak kegirangan seperti anak kecil yang menemukan permainan menarik. “Aku juga tertarik barang itu.”

Benar! Tujuan Gendhuk Tri adalah mengambil simbol naga bertaring yang dipajang di tiang utama! Dengan perhitungan, kalau bagian yang menjadi simbol perahu ini diganggu, si pemilik akan terpaksa keluar! Perhitungan yang jitu. Tapi meleset. Pangeran Hiang maupun pengikutnya sama sekali tak terpengaruh oleh itu. Tak ada reaksi apa-apa dari perahu.

Gendhuk Tri menjadi dongkol. Selama ini boleh dikatakan hampir semua lawan bisa diakali. Bisa dipaksa menuruti kehendaknya. Kali ini lain. Benar yang dikatakan Nyai Demang, bahwa Pangeran Hiang berbeda dari semua rombongan Tartar yang pernah datang.

“Karena mereka tak mau datang, biar kita yang masuk, Nyai."

“Ayo…!”

Dua tubuh melayang ke bawah. Nyai Demang berhenti di bagian bawah sekitar dua tombak dari lantai. Sementara Gendhuk Tri terus meluncur ke bawah! Serentak dengan itu terdengar teriakan kaget dari mereka yang menyaksikan di pinggir sungai. Serentak dengan itu ratusan anak panah menyebar keras, menghujani dari segala penjuru, disertai kepulan asap.

“Awas!”

Teriakan peringatan Nyai Demang menandakan kekuatiran yang dalam. Karena posisi Gendhuk Tri sangat tidak menguntungkan. Dalam keadaan melayang ke bawah, disambut dengan lepasan anak panah dan asap yang memercikkan api, Asap yang melumpuhkan dan membuat Pangeran Anom menjadi panas sekujur badannya.

Lebih berbahaya lagi, karena selama ini belum ada bayangan di mana lawan bersembunyi. Kalau senjata rahasia saja sudah begitu menyulitkan, apalagi tokoh yang bersembunyi. Yang bisa muncul setiap saat dan akan menggasak. Tanpa perhitungan ksatria atau tidak. Itu sebabnya Nyai Demang kuatir akan kenekatan Gendhuk Tri.

Gendhuk Tri sendiri masih sangsi. Antara betul-betul mendarat di lantai perahu atau berhenti di tengah seperti Nyai Demang. Dua-duanya tidak dilakukan. Karena Gendhuk Tri menjatuhkan kepala naga bertaring, dan dengan satu kaki menginjak, tubuhnya membal kembali ke atas. Melayang naik. Satu tombak di atas tubuh Nyai Demang. Pertunjukan mengatur tenaga dalam yang hebat. Karena Gendhuk Tri memakai pijakan untuk kekuatan dari barang yang dijatuhkan!

Dengan cara begitu, bukan saja puluhan anak panah lidi tak menemui sasaran untuk kesekian kalinya, akan tetapi Gendhuk Tri telah membuat Pangeran Hiang merah padam wajahnya. Karena simbol naga bertaring itu yang menjadi sasaran panah lidi dan semburan asap yang mendadak saja menghanguskan.

“Aku Prajurit Tua Sina, perlu turun tangan.”

Dari daratan terdengar teriakan keras. Disusul, atau bersamaan dengan itu, sesosok tubuh melayang ke atas perahu. Langsung. Berdiri di lantai. Inilah hebat.

Panggilan Prajurit Tua
UNTUK pertama kalinya ada orang luar yang mampu menginjakkan kaki di lantai perahu Siung Naga. Dan orang itu adalah lelaki yang cukup berumur, yang menamakan dirinya Prajurit Tua Sina. Sejenak Gendhuk Tri termangu karena tidak segera mengenali siapa yang begitu berani mati tapi juga penuh perhitungan masuk ke perahu.

Perhitungan Gendhuk Tri berdasarkan pengamatan bahwa Prajurit Tua Sina sudah sejak awal memperhatikan situasi, dan pada saat yang tepat masuk ke dalam. Saat yang tepat, karena setelah hamburan batang panah ia menerobos masuk. Jalan pikiran Nyai Demang tak jauh berbeda. Hanya lamat-lamat ia seperti mengenali sosok di bawahnya. Walau belum pasti siapa dia. Gerak-gerik dan gerakan ilmu silatnya seperti dikenali.

“Hamba Prajurit Tua Sina, meminta izin Baginda untuk kembali menerima panggilan jiwa sebagai ksatria.” Suaranya lantang. Caranya menunduk dan menyembah menunjukkan rasa hormat yang dalam. “Maafkan kelancangan hamba selama ini, dan sekali ini.”

Nyai Demang menggeleng. Sudah jelas suasana perang sangat sempit dan tidak memberi kesempatan untuk berbasa-basi, akan tetapi prajurit tua ini malah menyembah dan menghormat. Nyai Demang kurang memahami. Bisa dimengerti, karena tidak tahu persis siapa yang sekarang berani mati berada di perahu. Kalaupun sedikit mengenali gerak-geriknya, ia juga tidak segera bisa menemukan hubungannya dengan Mahapatih Nambi.

Memang yang sekarang berdiri gagah dengan rambut diikat selembar kain putih adalah ayahanda Mahapatih Nambi. Mpu Sina! Senopati Keraton Singasari yang gagah perkasa di masa pemerintahan Baginda Raja Sri Kertanegara. Akan tetapi sejak Raja Muda Jayakatwang merebut kekuasaan dengan cara yang hina, Senopati Sina lebih suka menyingkirkan diri ke Lumajang. Selama itu, apa yang dilakukan tak diketahui orang lain.

Senopati Sina seolah menenggelamkan dirinya, surut dari percaturan tata pemerintahan. Adalah putranya yang tetap mewarisi darah prajurit meneruskan pengabdiannya di Keraton dengan sama gagah dan beraninya. Dari prajurit kawal, diangkat menjadi senopati, dan akhirnya mengemban tugas mulia sebagai mahapatih.

Seperti telah diceritakan di bagian awal, Senopati Sina tetap tak terguncang sedikit pun. Tak bergeser satu jari pun untuk kembali menengok ke Keraton. Apalagi terjun sebagai prajurit. Bahkan ketika putranya diangkat dengan upacara kebesaran Keraton, Senopati Sina yang biasa disebut dengan panggilan menghormat Mpu Sina tetap tak keluar dari kamarnya.

Sejak itu pula makin santer warta bahwa Mpu Sina tidak mau mengakui kekuasaan Baginda. Seperti semua senopati di masa pemerintahan Sri Baginda Raja, yang merasa bahwa selama ini belum ada yang pantas menggantikan takhta Keraton. Ketidakjelasan sikap yang memancing warta ngayawara, berlebihan, inilah yang sebenarnya dipakai oleh Senopati Halayudha ketika menemui Mahapatih Nambi.

Bahwa sesungguhnya ganjalan utama yang menyebabkan Mahapatih Nambi diterima palapa karya, atau cuti dari tugas, karena secara halus Baginda kurang menyukai kekeraskepalaan Mpu Sina yang terlalu mengagungkan Sri Baginda Raja. Singgungan kalimat itu yang menyebabkan Mahapatih Nambi segera saja terlibat perdebatan dengan Halayudha. Di tengah perdebatan itulah kabar santer menggema lewat kentong titir yang bertalu-talu tanpa putus. Mengabarkan bahwa Baginda ditawan musuh dan kini dibawa pergi.

Pada saat itu pula Mpu Sina mengambil lagi keris yang selama ini tak pernah disentuh. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, berjalan ke luar pintu. Melewati Mahapatih Nambi dan Halayudha yang masih berdebat kata. Dengan mengambil dua kuda, Senopati Tua Sina menempuh perjalanan terus-menerus langsung menuju Kali Brantas.

Halayudha saat itu terkesima. Tak percaya pada apa yang dilihatnya sendiri. Seorang senopati yang berada di derajat dan kepangkatan yang tinggi, yang tiba-tiba mengundurkan diri, mendadak kembali menyandang keris untuk maju ke medan perang. Membela kehormatan Baginda yang selama ini bahkan tak dilirik dengan sebelah mata. Tak dihormati dengan satu jari sekali pun.

Mahapatih Nambi merasa mengetahui jiwa prajurit yang luhur, prajurit yang sesungguhnya, yang diwarisinya. Akan tetapi tetap sulit mempercayai bahwa dalam seketika ayahandanya bergegas pergi. Memang luar biasa. Mpu Sina memberikan tindakan nyata sebagai prajurit yang sesungguhnya Prajurit yang akan membela kehormatan Keraton, tanah airnya, dengan mengalahkan pertimbangan apa pun juga.

Bahwa selama belasan tahun menyembunyikan diri dari kegiatan apa pun, sampai dengan puncak pengangkatan putranya sebagai yang paling berkuasa sesudah Raja, bisa diperkirakan kekecewaan yang tak terobati. Akan tetapi toh justru pada saat yang menentukan itulah Mpu Sina turun kembali ke gelanggang. Tetap sebagai prajurit. Prajurit sejati. Prajurit tua sejati. Itulah yang melesatkan dirinya di tengah medan pertarungan.

Dan masih sempat meminta maaf atas apa yang dilakukan pada masa lalu, maupun sekarang ini. Jiwa luhur. Jiwa sejati. Tanpa mengetahui masalah pribadi yang berkecamuk di dalam hati Mpu Sina sekalipun, Gendhuk Tri bisa menangkap kegagahan dan keberanian seseorang yang berani menerobos masuk ke perahu.

Dari atas Gendhuk Tri hanya menangkap sosok tua yang wajah dan seluruh kulitnya pucat seperti tak pernah tersentuh sinar matahari. Mpu Sina selesai menyembah, meletakkan tangan di dasar lantai, dan mendadak tubuhnya melayang ke atas dengan jungkir-balik. Kedua kakinya terulur ke atas, lurus. Seolah ditarik dengan tali, tubuhnya naik tegak lurus.

Kalau tadi Nyai Demang dan Gendhuk Tri lepas dari lantai perahu dengan meliukkan tubuh untuk mencari kekuatan, kali ini Mpu Sina dengan tubuh kaku lurus. Bahwa tenaga yang dipakai sebagai pijakan adalah telapak tangan yang menyentuh lantai, tetap tak mengurangi kekaguman. Apalagi hanya dengan satu tangan. Tangan kiri. Bersamaan dengan tubuh Mpu Sina yang naik, lantai perahu yang diinjak membuka.

Jeblak! Menganga. Suatu jebakan. Dengan cara yang tepat Mpu Sina meloloskan diri. Dan tubuhnya seperti bisa berbalik. Turun di pinggir perahu. Berdiri dengan gagah di bibir pinggiran perahu. Gagah. Sebentar. Karena mendadak pinggiran dinding perahu itu tiba-tiba juga membuka! Menjeblak ke samping! Tanpa bisa dicegah lagi tubuh Mpu Sina terjungkal ke bawah. Masuk ke dalam air sungai.

Gendhuk Tri berteriak keras. Tubuhnya meluncur turun, selendangnya lepas dan bergantung lurus ke bawah. Dalam keadaan kaget, tangan Mpu Sina masih sempat meraup selendang yang diulurkan Gendhuk Tri. Akan tetapi tetap saja tubuhnya melorot ke bawah.

“Tarik!”

Teriakan Gendhuk Tri seperti kurang ajar karena memberi perintah kepada orang yang lebih tua. Akan tetapi dalam keadaan kepepet, tak ada pikiran lain yang muncul seketika. Mpu Sina agaknya mengerti apa yang dimaksud Gendhuk Tri. Serta-merta ia menarik keras, dan tubuhnya mengangkasa. Tapi dengan demikian tubuh Gendhuk Tri yang makin cepat tertarik ke bawah. Ke air sungai, atau entah jebakan apa lagi di bawah. Inilah bahaya.

Seperti mengorbankan dirinya untuk keselamatan Mpu Sina. Ini kalau Mpu Sina melepaskan selendang yang ditarik. Nyatanya tidak. Jadi ketika itulah Gendhuk Tri masih bisa menyendal selendang dan tubuhnya naik ke atas. Memang dengan demikian tubuh Mpu Sina kembali turun. Akan tetapi dengan cara yang sama, bisa menarik dan naik kembali.

Nyai Demang yang berada di dekat kejadian bersinar pandangannya. Pujian dalam hatinya sesaat membuatnya lupa bahwa di sekitarnya masih banyak bahaya mengancam. Pujian itu terutama karena pada saat yang tepat Gendhuk Tri mampu mengambil tindakan yang sangat besar risikonya.

Apa yang dilakukan Gendhuk Tri bukan hanya sekadar pameran bagaimana menyalurkan tenaga dalam, mengontrol, menguasai, akan tetapi sekaligus juga menyeimbangkan dengan orang yang ditolong, yang belum dikenal. Inilah hebat.

Keseimbangan Air
APA yang diperlihatkan Gendhuk Tri mengundang decak kagum. Bahkan Pangeran Anom yang menyusul di pinggiran sungai kemudian dalam keadaan masih setengah sadar seperti melihat dirinya yang memainkan permainan indah tapi berbahaya itu. Apa yang digambarkan Pangeran Anom tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Gendhuk Tri.

Ketika melihat dinding perahu di lambung yang bisa menjeblak dengan sendirinya, gerakan seketikanya adalah menolong Mpu Sina. Yang dalam keadaan seperti terjegal tak mampu menguasai tenaga dalamnya untuk meloncat atau menuju sasaran yang diinginkan. Karena tubuh Mpu Sina berada di bawah, tubuh Gendhuk Tri tak mungkin bisa mengejar. Makanya ia mengulurkan selendangnya. Yang segera bisa disaut oleh Mpu Sina, dan memakai sebagai tenaga untuk pijakan melontarkan tubuhnya ke atas.

Kalau saat itu Mpu Sina melepaskan selendang, Gendhuk Tri yang mencelos amblas ke bawah. Kenapa itu tidak dilakukan Mpu Sina, itu yang membuat Nyai Demang bertanya-tanya dalam hati. Dugaan pertama, Gendhuk Tri dan Mpu Sina, yang menamakan diri sebagai Prajurit Tua Sina, sudah lama saling mengenal. Sehingga sangat mungkin sekali dalam waktu kritis terjadi kerja sama.

Dugaan kedua, tenaga dalam yang dimainkan Gendhuk Tri memberi isyarat bahwa selendang tak boleh dilepaskan. Kedua dugaan ini paling masuk akal, akan tetapi justru rasanya terbantah dengan sendirinya. Pertama, Gendhuk Tri tak begitu mengenal, atau malah baru sekarang bertemu wajah dengan Mpu Sina. Hal yang kedua, sedahsyat apa pun tenaga dalam Gendhuk Tri maupun Mpu Sina, kalau belum saling mengenal akan sulit, atau bahkan tidak mungkin, bisa mengenali isyarat dari tenaga dalam.

Dugaan yang lain adalah bahwa semua ini terjadi secara kebetulan saja. Ada benarnya. Walau tidak tepat bulat. Karena untuk jago silat setingkat Gendhuk Tri atau Mpu Sina, kebetulan bukan tidak diperhitungkan sama sekali. Sewaktu Gendhuk Tri berusaha menolong tadi, yang pertama-tama adalah keinginan untuk menolong. Tanpa memedulikan dirinya bakal bagaimana. Juga ketika Mpu Sina tertarik ke atas, Gendhuk Tri tetap belum tahu bagaimana dengan dirinya sendiri.

Hanya saja nalurinya mengatakan bahwa Mpu Sina tokoh yang baik, yang tidak mau mencari keselamatan di atas kecelakaan orang lain. Di sini yang lebih berbicara adalah nurani. Akal budi yang mempercayai sesama manusia. Bahwa pada dasarnya manusia berhati baik, mempunyai akal budi, dan bisa tolong-menolong. Itulah yang terjadi.

Ketika Gendhuk Tri bisa menggenjot tubuhnya ke atas, ketika itu pula Mpu Sina memahami ke mana arah jalan pikiran Gendhuk Tri. Karenanya, Mpu Sina tinggal menyesuaikan tenaga tarikan dan tenaga menahan. Dengan demikian keduanya selamat, bisa hinggap di tiang utama. Bukan sesuatu yang luar biasa kalau Pangeran Anom membayangkan dirinya yang melayang dan menari sambil memegang ujung selendang bersama Gendhuk Tri.

Karena inti gerakan dan pengaturan tenaga dalam Gendhuk Tri adalah memakai tenaga air. Sejak timbul kesadaran dan kejelasan sumber tenaga dalamnya, Gendhuk Tri bisa maju dengan pesat. Maka tak terlalu sulit mengatur tenaga turun untuk naik silih berganti. Gendhuk Tri mempergunakan pengaturan tenaga dalam Keseimbangan Air. Di mana air yang permukaannya lebih tinggi akan menurun ke arah yang lebih rendah.

Yang luar biasa adalah Mpu Sina yang bisa segera menyatukan diri dalam Keseimbangan Air. Begitu tenaganya sendiri berlebih ia memberikan kepada Gendhuk Tri, yang kemudian menerimanya. Inilah kunci keberhasilan bagaimana kedua tubuh yang meluncur turun bisa kembali naik.

“Kesuwun….” Ucapan terima kasih Mpu Sina tenggelam dalam suara keras.

Suara dinding perahu yang menghantam air bengawan dengan keras. Dan begitu terbanting ke air, bagian dinding yang tadinya halus dari kayu bersusun itu mendadak mengeluarkan ratusan ujung tombak. Bisa dibayangkan jika orang jatuh di tengahnya. Nyawa rangkap tujuh pun tak akan menolong.

Nyai Demang sedikit ngeri menyaksikan perubahan dinding perahu. Kalau bagian itu bisa membuka dan menutup, bukan tidak mungkin bagian lain pun bisa berubah. Termasuk tiang utama. Tiang yang besarnya satu pelukan ini, siapa tahu bisa juga membuka dan atau ditarik amblas ke dalam. Nyai Demang sudah memperhitungkan bahwa kekuatan Pangeran Hiang demikian besar, akan tetapi tetap tak menduga bahwa banyak sekali jebakan yang tersedia.

Perahu ini tidak terlalu besar. Panjangnya sekitar enam atau tujuh tombak. Lebar dua tombak. Dari atas semua tampak tertutup. Mendadak telinga Nyai Demang mendengar desisan suara binatang. Sewaktu matanya melihat ke bawah, batinnya benar-benar mencelos. Dari bagian bawah tiang, bergerak naik seekor ular yang berwarna hijau, gesit. Lidahnya terjulur.

Seluruh kulitnya mengilat memantulkan sinar surya. Berbeda dengan ular yang biasa dilihat, ular hijau ini mendaki ke atas dengan cara tegak lurus. Tidak melilitkan badannya. Dengan satu tangan memegang tali, satu tangan yang lain menjentik ke bawah, Nyai Demang membidik. Tak. Ular itu berkelit. Nyai Demang menarik tubuhnya ke atas.

Mpu Sina mendeham perlahan. Tangannya terulur ke bawah, memapak datangnya ular hijau. Dalam jarak setengah tombak dua jarinya menuding. Satu pancaran tenaga panas menembak langsung. Kembali ular hijau itu berkelit. Berputar sebentar, kemudian mendaki. Tanpa menunggu kesempatan bagi ular hijau itu untuk lebih dekat, Mpu Sina melepaskan pengikat rambutnya. Kain putih di tangannya mengedut keras. Bergerak bagai kepala ular yang langsung mematok kepala ular hijau. Ketika ular itu mencoba berkelit, Mpu Sina mengubah gerakannya. Aneh sekali. Ular itu menggeliat, menggulung tubuhnya, dan kemudian dengan pesat terbang ke arah Mpu Sina!

Nyai Demang menjerit. Akan tetapi dengan tenang Mpu Sina membuka telapak tangan kirinya, dan memapak dengan serangan tenaga dalam. Di tengah udara ular itu tertahan sebelum akhirnya jatuh ke lantai perahu. Terbanting. Hancur tulang tubuhnya! Sesaat. Disusul kemudian munculnya ular yang sama dari bawah. Kali ini sekelebatan saja ada tiga ekor yang merayap naik dengan cepat. Disusul lagi lima ekor yang mengiringi dari bawah. Sesaat kemudian barisan ular menjadi sangat banyak. Seakan tiang utama yang satu pelukan lebih itu berubah warnanya menjadi hijau mengilat.

“Rasanya kita perlu ke darat…,” Nyai Demang berbisik ke arah Gendhuk Tri.

“Rasanya demikian, Mbakyu. Tapi permainan ini menarik. Di tempat sesempit ini ternyata penuh dengan mainan kanak-kanak. Saya jadi ragu, apakah Pangeran Hiang bukannya kanak-kanak abadi. Seperti umumnya pangeran yang biasa dimanja dan diperbodoh.”

Perlahan suara Gendhuk Tri, akan tetapi cukup jelas bagi telinga yang menghuni perahu. Sebaliknya dari kuatir, Mpu Sina melepaskan satu tali yang menggelantung di kapal dan diikatkan di kakinya. Cepat dan sebat sekali. Bersamaan dengan itu tubuhnya meluncur ke bawah, menyongsong ke arah ular. Sewaktu meluncur, tangan kirinya mencabut keris di bagian bawah punggung.

Akibatnya mengenaskan. Puluhan ular yang merayap ke atas seperti kena tebas. Menggeliat sebentar, lalu saling gigit di antara mereka dan akibatnya berteplokan jatuh ke bawah. Bagai segumpal tali yang bergulung. Makin lama makin banyak. Apalagi ular yang baru keluar dari bawah, bukannya merayap ke atas, melainkan saling gigit di antara mereka.

“Hebat sekali, Paman Sina,” kata Nyai Demang lirih.

Mpu Sina tidak menjawab. Pandangannya menyapu seluruh lantai. Mendadak pandangannya mengecil. Nyai Demang menduga bahwa akan muncul lagi binatang aneh atau serangan yang tak terduga. Dugaannya meleset. Karena yang terlihat bayangan seorang wanita yang menaiki rakit kecil, merapat ke arah perahu.

“Edan. Bukankah itu Permaisuri Rajapatni?”

Gendhuk Tri mengangguk. “Apa yang dilakukannya?”

Menyatu Pralaya
PERTANYAAN Nyai Demang bergema dalam hatinya sendiri. Ia sama sekali tak menemukan jawaban kenapa Permaisuri Rajapatni merapat ke arah perahu. Sendirian! Permaisuri satu ini selalu menjadi teka-teki, pikir Nyai Demang dalam hati. Di satu pihak kadang menunjukkan sikap perlawanan kepada Baginda dan berani mendengarkan suara hatinya, di lain pihak seolah tidak mempunyai pegangan. Satu kali begitu merasa dekat dengan Upasara, pada kali yang lain justru mencincang tubuh Upasara!

Apa yang dilakukannya sekarang ini? Ingin bergabung dengan Baginda? Ingin membuktikan dan membaktikan bahwa dalam pralaya, kematian, Permaisuri tetap menyatu? Itu satu-satunya kemungkinan. Kalau benar begitu alangkah tololnya. Alangkah tak bisa dimengerti hatinya, Nyai Demang meralat dalam hati.

Gendhuk Tri juga bertanya-tanya. Ketika berada di Simping, Permaisuri Rajapatni tiba-tiba saja menghilang. Kini begitu muncul lagi, pastilah telah melakukan perjalanan jauh dan menyulitkan, masuk ke pertarungan dengan cara seperti ingin bunuh diri. Rakit yang ditumpangi Permaisuri bergoyang. Mpu Sina berteriak keras. Untuk pertama kalinya mengeluarkan teriakan. Tubuhnya melorot ke bawah, akan tetapi jaraknya sangat jauh.

Nyai Demang baru sadar bahwa bahaya yang mengancam sangat besar. Karena di permukaan sungai mendadak seperti muncul batang kayu hidup yang jumlahnya cukup banyak. Buaya! Sekurangnya ada tiga ekor buaya besar yang menggoyangkan rakit. Dan sebentar lagi tubuh Permaisuri akan menjadi santapan hidup-hidup. Tanpa ada yang bisa menolong.

Memang tak ada. Karena ketika seekor buaya merayap naik, rakit itu oleng dan tubuh Permaisuri terayun ke samping. Hanya saja, sebelum air sungai menelan dan atau mulut buaya menelannya, sesosok tubuh melesat dari bawah air.

JILID 33BUKU PERTAMAJILID 35

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 34

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 34

Gendhuk Tri menoleh ke arah datangnya suara. Tak salah lihat. Yang berada di depannya memang Pangeran Anom! Di sebelahnya berdiri Senopati Pangsa dan Senopati Banyak, dua dari tujuh dharmaputra.

“Yayi, Adik Tri, kamu datang juga akhirnya….”

Nada suaranya mengandung harapan yang besar, akan tetapi sekaligus juga keputusasaan. Gendhuk Tri menenangkan hatinya. Ia maju selangkah, menunduk hormat.

“Ketiwasan, Adik Tri… Tak ada lagi yang tersisa….”

Pangeran Anom maju terhuyung-huyung. Tiga langkah tubuhnya jatuh terguling. Gendhuk Tri sigap meloncat maju, menyambar tubuh yang terasa mengalirkan hawa panas. Senopati Pangsa membaringkannya di tempat yang teduh.

“Biarkan saja, Pangeran Anom butuh istirahat….”

Sesungguhnya Senopati Pangsa sendiri butuh istirahat. Juga Senopati Banyak yang tubuhnya bergoyang-goyang. Barulah kemudian Senopati Pangsa bisa menceritakan dengan sedikit runtut.

Dugaan Gendhuk Tri tak terlalu keliru. Desa Simping kedatangan dua pendekar dari negeri Tartar bersama dengan sekitar lima belas prajuritnya. Mereka menyerbu ke Gua Kencana, mengobrak-abrik isinya sebelum sampai ke Simping, langsung menjarah Baginda. Perlawanan yang diberikan tak imbang, karena dalam sekejap saja semua bisa ditewaskan tanpa kecuali.

“Termasuk siapa pun yang mencoba menahan serangan tersebut.”

Dalam hati Gendhuk Tri sedikit dongkol, karena nama Wilanda tidak terang-terangan disebutkan.

“Kami berusaha mempertahankan sekuat tenaga, tapi kalah. Rombongan Pangeran Anom yang menyusul dari Keraton juga berusaha mencegat, akan tetapi tak ada gunanya. Pasukan Tartar yang tidak seberapa jumlahnya bisa menawan Baginda, dan membawanya ke Brantas. Kentong titir telah dibunyikan di seluruh wilayah, sehingga tak ada gunung dan lembah yang tak mendengar adanya bahaya. Kini seluruh prajurit, seluruh senopati, seluruh ksatria sedang menuju Brantas untuk merebut Baginda.”

“Kecuali Raja.”

Senopati Pangsa mengangguk. “Kecuali Raja. Tapi semua sudah bergerak. Pasukan yang dipimpin Mahapatih Nambi bersama ayahandanya dan Senopati Halayudha juga menuju ke sana. Masih dalam perjalanan. Kami tak bisa melanjutkan karena tak mampu berjalan jauh. Akan tetapi sebisa kaki kami melangkah, selebar itulah kami menuju ke sana. Jangan hiraukan kami, berangkatlah segera!”

Gendhuk Tri mengelus rambutnya. Dadanya menyimpan udara yang tertahan. “Sedemikian hebatnyakah ksatria Tartar sehingga semua tak ada yang mampu menahan?”

“Kami malu, akan tetapi kenyataannya begitu.nBarangkali hanya pasangan seperti kamu dengan Pangeran Anom, atau Maha Singanada, atau Upasara Wulung yang sanggup mengimbangi mereka.”

Gendhuk Tri berusaha menahan diri untuk tidak memberi komentar atau jawaban.

Kehormatan Tertambat di Perahu
BAGI Gendhuk Tri mengenang Upasara, Singanada, atau Pangeran Anom hanya meng-goreh-kan perasaannya. Tanpa menemukan pegangan yang menguatkan landasan gerak hatinya. Karena kegelisahannya tak bisa diselesaikan dengan cepat. Semakin dipikir, semakin tenggelam, semakin terseret, tanpa tahu bagaimana menghentikannya. Maka Gendhuk Tri segera menghapus pertimbangan batinnya. Segera memutuskan menuju ke pinggiran Brantas.

Perjalanan yang menggetarkan hati. Karena sepanjang jalan menemukan pemandangan yang memilukan. Wajah-wajah yang ditikam kecemasan, ketakutan tanpa bisa berbuat suatu apa dari beberapa prajurit dan sebagian besar masyarakat setempat yang menyempatkan diri untuk melihat langsung. Bisa dimengerti, bisa dipahami.

Baginda tokoh pujaan, pemegang kekuasaan atas kehidupan Keraton. Kalaupun sekarang ini Baginda tidak memegang tata pemerintahan secara langsung, setitik pun tak mengurangi rasa hormat. Betapa menggetarkan, karena sekarang ini Baginda berada dalam tawanan lawan.

Lawan lama yang mempunyai dendam sejak Baginda Raja Kertanegara. Lawan yang selama ini kondang kasusra ing jagat, terkenal di seluruh jagat raya sebagai penakluk dunia. Pasukan Tartar yang pernah ditekuk habis kehormatan dan keperkasaannya oleh Sri Baginda Raja, dan yang kemudian bahkan bisa disingkirkan oleh Baginda kembali ke samudra. Lawan yang tetap ditakuti karena menimbulkan ancaman yang diakui kehebatannya.

Dan sekarang hal itu terjadi. Sekarang kengerian itu menemukan bentuknya. Baginda, bersama para permaisuri dan beberapa pengikutnya, ditawan! Menjadi korban untuk dipersembahkan ke Keraton Tartar, di tlatah yang tanahnya menyatu dengan langit. Kalau ini benar terjadi, apa lagi yang tersisa di Keraton ini? Kehormatan, kebanggaan, kejayaan yang didorong habis semasa Sri Baginda Raja, akan meninggalkan bekas kotor yang tak terhapus sepanjang keturunan.

Maka sebelum itu terjadi, segala apa pun akan dilakukan untuk mencegahnya. Dalam hal ini, ketakutan itu yang terasakan memadat. Justru karena usaha ke arah itu tampaknya tidak memberikan hasil sedikit pun. Jalan pikiran Gendhuk Tri tidak berbeda jauh dari apa yang berada dalam pikiran yang lain, ketika melihat jelas perahu bertiang tinggi tertambat di pinggir bengawan. Bukan perahu yang besar sekali, akan tetapi tampak kukuh. Tiang utamanya menjulang tinggi, seakan memamerkan kemenangan yang menyentuh langit.

Di dalam perahu itulah segala kehormatan Keraton berada. Di sekitar perahu itulah ratusan prajurit bersiap dengan senjata mengepung. Beberapa puluh yang lain berada di sungai, dengan batang kayu, rakit seadanya, bersiap menghadang kepergian perahu. Sesuatu yang agak mustahil bisa dilakukan.

Karena dengan melihat sekilas saja terasakan, bahwa sekali perahu bertiang tinggi dengan ukiran naga di ujungnya bergerak, rakit-rakit itu akan tersapu dengan sendirinya. Gendhuk Tri berdeham keras.

“Jangan bergerak tanpa perintah!” teriaknya keras mengatasi kebisingan suara-suara. “Kita tidak boleh bertindak sembrono. Urus para prajurit yang terluka. Barisan yang siap berada di depan. Siapa yang menjadi pemimpin di sini?”

“Gendhuk Tri, kamu datang juga akhirnya.” Nyai Demang bersuara keras. Tubuhnya melayang dari tengah rakit menuju ke bagian tepi. Tubuhnya tetap molek, walau wajahnya tampak lebih pucat.

“Mbakyu Demang…”

“Masih ada waktu untuk mengatur siasat. Kita pergunakan prajurit yang ada, kita harus membebaskan Baginda.”

“Begitu perahu berlalu, kita akan kehilangan buruan.”

Nyai Demang mengangguk. “Ya.”

“Aneh, kenapa mereka tak segera berangkat?”

“Aku juga berpikir demikian pada mulanya. Kalau tujuan mereka menawan dan membawa Baginda, sekarang saatnya membawa pergi. Prajurit kita masih tercerai-berai…”

“Ataukah mereka menunggu untuk mengadu ilmu?”

Nyai Demang tersenyum tipis. “Tidak, rombongan Tartar yang datang kali ini jauh berbeda dengan rombongan-rombongan sebelumnya. Berbeda, bahkan dengan rombongan Raja Segala Naga. Rombongan yang datang ini dipimpin langsung oleh Pangeran Hiang, salah satu putra mahkota calon pengantin Raja Tartar yang pernah menaklukkan Jepun dan tlatah Koreyea. Pangeran Hiang satu-satunya putra mahkota Kaisar Tartar yang berani memakai umbul-umbul, bendera tersendiri berlambang taring naga. Itu tanda kekuasaan yang akan datang, karena semua putra mahkota, semua pangeran mengikuti umbul-umbul utama. Dengan kata lain, urusannya di sini tidak tertarik untuk mengadu ilmu. Akan tetapi menjalankan tugas semata. Apalagi kalau belajar dari rombongan terdahulu, yang justru kalah dan gagal ketika mencoba mengadu ilmu. Pangeran Hiang tak akan menempuh risiko itu.”

“Jadi apa lagi yang mereka tunggu?”

“Saat yang tepat.”

Gendhuk Tri mengernyitkan keningnya.

“Angin. Sekarang belum saat yang baik. Karena kalau berangkat sekarang di samudra luas menuju Tartar, nanti badai akan menyambut.”

Gendhuk Tri mengangguk. Memuji dengan sorot matanya.

“Aku berusaha memahami dari aliran sungai sekarang ini.”

“Mbakyu, berarti kita masih ada waktu untuk berusaha.”

Kali ini wajah Nyai Demang berubah. Sebagian rambut yang tergerai di kening dan pelipis tampak memberi kesan muram. “Semua usaha telah dicoba, akan tetapi bahkan untuk mendekati perahu saja tak ada yang mampu. Para senopati, para dharmaputra, bahkan Pangeran Anom pun sudah mencoba. Akan tetapi semua terlempar ke sungai sebelum menyentuh dinding perahu. Semua prajurit di sini siap menyetor nyawa demi kehormatan Baginda. Akan tetapi agaknya hanya itu yang terjadi. Dan masih akan terjadi.”

Gendhuk Tri mengawasi sekitar. Makin diamati, makin kuat bukti-bukti yang dikatakan Nyai Demang. “Apakah Pangeran Hiang begitu sempurna dan tak terkalahkan?”

Nyai Demang berdeham. Berjalan perlahan menuju tempat yang agak teduh. Lalu berusaha duduk. Disusul helaan napas yang panjang. “Dalam ilmu silat, tak ada yang tak terkalahkan. Sakti bisa terbang seperti rajawali, sakti bisa berenang seperti ikan, beringas seperti kijang, akan bisa dikalahkan. Akan tetapi sekali ini lain. Adik Tri mengetahui sendiri. Kekuatan yang ada pada kita tidak seberapa. Para prajurit pilihan yang utama justru tidak berada di tempat. Para ksatria sudah cerai-berai. Di samping kita tak ada lagi…”

Nyai Demang tak melanjutkan. Tangan Gendhuk Tri menggenggam tangan Nyai Demang. Tanpa dilanjutkan pun, kalimat berikutnya pasti akan menyebut-nyebut nama Upasara Wulung. Keduanya sudah saling mengetahui dan merasakan. “Apakah rombongan Pangeran Hiang kali ini memang pasukan istimewa?” Gendhuk Tri mengalihkan pertanyaan.

“Kukira memang demikian. Sejauh yang aku ketahui-dan kamu pasti juga mendengar sedikit-banyak dari Naga Nareswara, nama besar Pangeran Hiang bukan nama kosong. Kalau Keraton Matahari di Jepun bisa ditaklukkan, bisa dikuasai, kita bisa mengukur kemampuannya. Ketika tlatah Koreyea juga dilindas, kita tak meragukan lagi. Selama ini Jepun dan Koreyea adalah wilayah yang kelewat angker bagi Tartar. Karena sumber ilmu silat kedua wilayah itu sama dengan di daratan Cina yang sekarang dikuasai Tartar. Kemenangan ilmu silat Tartar yang mendasarkan diri pada kekuatan dan kecerdikan menjadi sempurna. Karena setelah membuktikan mampu menguasai ilmu silat Cina yang tiada tandingannya itu, mampu pula mengalahkan permainan silat Jepun dan Koreyea. Berarti dasar-dasar ilmu silat Cina dan kembangan-nya bisa dikuasai dan dikalahkan. Lebih dari itu, sewaktu aku mencoba mengadakan pembicaraan, aku mengakui keunggulan mereka. Sekitar dua belas atau tiga belas pengikutnya merupakan pendekar-pendekar pilihan. Selain Pangeran Hiang dan istrinya yang berasal dari Koreyea, rombongan ini memang luar biasa hebat. Bahkan hanya dengan mengandalkan sedikit orang saja berani datang dengan tujuan besar, membuktikan kepecayaan diri yang mantap. Gambaran umum yang diketahui, di sana ada tiga lawan utama yang sangat sakti. Pangeran Hiang, Putri Koreyea, dan seorang yang masih belum kuketahui namanya. Selebihnya para prajurit atau pendekar biasa. Akan tetapi kemampuan mereka jauh di atas para senopati kita. Aku tidak tahu persis, apakah kalau melawan mereka kita berdua bisa unggul atau tidak.”

Prajurit Tua Sina
KALI ini Gendhuk Tri yang menghela napas.

“Aku tidak mengecilkan arti kita. Hanya sedikit gambaran bahwa kita berada dalam kondisi terburuk sementara lawan berada dalam kondisi puncak.”

Gendhuk Tri mengangguk. “Berapa lama kira-kira mereka menunggu angin?”

“Sepekan. Lebih dari itu kita harus melihat arah angin dan arus sungai lagi.”

“Apa yang Mbakyu rencanakan?”

Nyai Demang memandang Gendhuk Tri. “Berdoa. Tak ada jalan lain.”

“Apakah Baginda dan para permaisuri berada dalam keadaan baik-baik?”

“Tak ada yang tahu. Belum ada yang bisa menyentuh perahu.”

Gendhuk Tri menggenggam tangan Nyai Demang. “Sekarang kita coba.”

Gendhuk Tri langsung berdiri. Ia memberi perintah kepada prajurit agar bersiaga di pinggir dan tidak bergerak kalau tidak ada yang memerintah. Secepat itu pula Gendhuk Tri meloncat ke tengah bengawan. Tubuhnya melayang enteng sekali. Disusul bayangan tubuh Nyai Demang yang berkelebat. Lompatan Gendhuk Tri sampai sepertiga lebar sungai, dan dengan menotol rakit yang ada, tubuhnya mengapung kembali ke angkasa. Menuju perahu Siung Naga!

Yang sunyi. Tanpa ada bayangan atau tubuh orang. Nyai Demang menyusul. Kini semua perhatian tertuju ke tengah perahu besar. Tubuh Gendhuk Tri yang melayang turun mendadak saja berputar keras, membentuk gulungan, ketika tiba-tiba dari lantai perahu menyembur semacam anak panah dan tombak secara berturut-turut. Gendhuk Tri tidak hinggap di dasar perahu, melainkan di tiang utama. Seperti juga Nyai Demang.

“Inikah Pangeran Hiang yang perkasa, yang menyambut tamunya dengan sapu lidi?” Teriakan Gendhuk Tri menggema keras.

Nyai Demang mengakui bahwa Gendhuk Tri yang sekarang ini sama sekali tidak meninggalkan sisa sebutan gendhuk. Cara berpikir dan bertindaknya jauh lebih dewasa dari yang selama ini dikenal. Bahwa dengan hinggap di tiang utama sebagai satu-satunya pilihan, menunjukkan kehebatan itu. Meskipun tadi tubuhnya melayang ke arah geladak, akan tetapi tujuan yang sebenarnya adalah tiang utama. Sehingga sejak semula mudah memutar. Dan dengan meloncat lebih dulu, Gendhuk Tri memberi kesempatan Nyai Demang untuk membaca apa yang dilakukannya. Dan bisa mengikuti.

Yang tetap sama adalah ketajaman lidahnya, dan kecepatan memanfaatkan situasi. Nyai Demang mengakui kehebatan ini. Karena memang sejak dulu hanya Gendhuk Tri yang mampu melukai Ugrawe-yang saat itu bahkan bayangan tubuhnya saja tak bisa disentuh. Juga dengan kepintarannya memanfaatkan situasi. Seperti sekarang ini. Dengan menyebut nama Pangeran Hiang, seolah Gendhuk Tri sudah mengetahui siapa yang dihadapi. Dan memilih menjadi lawan utamanya dengan memancing kegusaran. Karena menyebut Pangeran Hiang menyambut tamunya dengan sapu lidi! Ini gaya Gendhuk Tri.

Sejak di Pesanggrahan Simping, Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hati, senjata apa yang dipakai oleh pasukan Tartar yang bisa menyapu lawan dalam sekejap dan seketika. Bahkan Paman Wilanda juga terluka seketika oleh banyak tusukan secara sekaligus. Ternyata itu semacam senjata anak panah yang dilepaskan sekaligus. Senjata itulah yang disebut sebagai sapu lidi. Yang ketika dilepaskan bersamaan tak bisa menemui sasarannya.

“Pangeran Hiang… Apa masih perlu saya turun menjemputmu? Apakah tidak akan membuat bayi di perut Putri Koreyea kaget?”

Serangan kedua dengan menyebut-nyebut Putri Koreyea. Perhitungan semata-mata yang membuat Gendhuk Tri meneriakkan soal bayi dalam kandungan. Jawabannya adalah sunyi. Tak ada apa-apa. Gendhuk Tri melihat sekilas ke arah Nyai Demang, lalu meloncat turun Nyai Demang bergerak cepat. Ia mengibaskan kedua tangannya dan meloncat turun ke arah lain.

Kelihatannya. Karena tubuhnya berputar dan kembali hinggap di tiang. Seperti juga Gendhuk Tri. Yang menekuk tubuhnya membelok kembali. Dari lantai perahu mendadak menjeplak kembali luncuran anak “lidi” yang berbentuk anak panah. Menyambar dari segala sudut!

Sehingga kalau benar Nyai Demang atau Gendhuk Tri menginjak lantai akan dihujani dengan tusukan. Puluhan jumlahnya. Dari segala arah. Masih disusul dengan tembakan berikutnya. Yang agaknya dilepaskan dari tali busur raksasa, kalau dilihat betapa anak panah itu melesat dengan cepat dan keras. Bisa dimengerti kalau selama ini tak ada yang bisa menyentuh perahu. Karena sudah diperlengkapi dengan berbagai senjata rahasia yang gawat.

“Mbakyu Demang, mari kita bermain-main ke atas….” Gendhuk Tri mendaki tiang. Dengan dua loncatan saja.

Nyai Demang berteriak kegirangan seperti anak kecil yang menemukan permainan menarik. “Aku juga tertarik barang itu.”

Benar! Tujuan Gendhuk Tri adalah mengambil simbol naga bertaring yang dipajang di tiang utama! Dengan perhitungan, kalau bagian yang menjadi simbol perahu ini diganggu, si pemilik akan terpaksa keluar! Perhitungan yang jitu. Tapi meleset. Pangeran Hiang maupun pengikutnya sama sekali tak terpengaruh oleh itu. Tak ada reaksi apa-apa dari perahu.

Gendhuk Tri menjadi dongkol. Selama ini boleh dikatakan hampir semua lawan bisa diakali. Bisa dipaksa menuruti kehendaknya. Kali ini lain. Benar yang dikatakan Nyai Demang, bahwa Pangeran Hiang berbeda dari semua rombongan Tartar yang pernah datang.

“Karena mereka tak mau datang, biar kita yang masuk, Nyai."

“Ayo…!”

Dua tubuh melayang ke bawah. Nyai Demang berhenti di bagian bawah sekitar dua tombak dari lantai. Sementara Gendhuk Tri terus meluncur ke bawah! Serentak dengan itu terdengar teriakan kaget dari mereka yang menyaksikan di pinggir sungai. Serentak dengan itu ratusan anak panah menyebar keras, menghujani dari segala penjuru, disertai kepulan asap.

“Awas!”

Teriakan peringatan Nyai Demang menandakan kekuatiran yang dalam. Karena posisi Gendhuk Tri sangat tidak menguntungkan. Dalam keadaan melayang ke bawah, disambut dengan lepasan anak panah dan asap yang memercikkan api, Asap yang melumpuhkan dan membuat Pangeran Anom menjadi panas sekujur badannya.

Lebih berbahaya lagi, karena selama ini belum ada bayangan di mana lawan bersembunyi. Kalau senjata rahasia saja sudah begitu menyulitkan, apalagi tokoh yang bersembunyi. Yang bisa muncul setiap saat dan akan menggasak. Tanpa perhitungan ksatria atau tidak. Itu sebabnya Nyai Demang kuatir akan kenekatan Gendhuk Tri.

Gendhuk Tri sendiri masih sangsi. Antara betul-betul mendarat di lantai perahu atau berhenti di tengah seperti Nyai Demang. Dua-duanya tidak dilakukan. Karena Gendhuk Tri menjatuhkan kepala naga bertaring, dan dengan satu kaki menginjak, tubuhnya membal kembali ke atas. Melayang naik. Satu tombak di atas tubuh Nyai Demang. Pertunjukan mengatur tenaga dalam yang hebat. Karena Gendhuk Tri memakai pijakan untuk kekuatan dari barang yang dijatuhkan!

Dengan cara begitu, bukan saja puluhan anak panah lidi tak menemui sasaran untuk kesekian kalinya, akan tetapi Gendhuk Tri telah membuat Pangeran Hiang merah padam wajahnya. Karena simbol naga bertaring itu yang menjadi sasaran panah lidi dan semburan asap yang mendadak saja menghanguskan.

“Aku Prajurit Tua Sina, perlu turun tangan.”

Dari daratan terdengar teriakan keras. Disusul, atau bersamaan dengan itu, sesosok tubuh melayang ke atas perahu. Langsung. Berdiri di lantai. Inilah hebat.

Panggilan Prajurit Tua
UNTUK pertama kalinya ada orang luar yang mampu menginjakkan kaki di lantai perahu Siung Naga. Dan orang itu adalah lelaki yang cukup berumur, yang menamakan dirinya Prajurit Tua Sina. Sejenak Gendhuk Tri termangu karena tidak segera mengenali siapa yang begitu berani mati tapi juga penuh perhitungan masuk ke perahu.

Perhitungan Gendhuk Tri berdasarkan pengamatan bahwa Prajurit Tua Sina sudah sejak awal memperhatikan situasi, dan pada saat yang tepat masuk ke dalam. Saat yang tepat, karena setelah hamburan batang panah ia menerobos masuk. Jalan pikiran Nyai Demang tak jauh berbeda. Hanya lamat-lamat ia seperti mengenali sosok di bawahnya. Walau belum pasti siapa dia. Gerak-gerik dan gerakan ilmu silatnya seperti dikenali.

“Hamba Prajurit Tua Sina, meminta izin Baginda untuk kembali menerima panggilan jiwa sebagai ksatria.” Suaranya lantang. Caranya menunduk dan menyembah menunjukkan rasa hormat yang dalam. “Maafkan kelancangan hamba selama ini, dan sekali ini.”

Nyai Demang menggeleng. Sudah jelas suasana perang sangat sempit dan tidak memberi kesempatan untuk berbasa-basi, akan tetapi prajurit tua ini malah menyembah dan menghormat. Nyai Demang kurang memahami. Bisa dimengerti, karena tidak tahu persis siapa yang sekarang berani mati berada di perahu. Kalaupun sedikit mengenali gerak-geriknya, ia juga tidak segera bisa menemukan hubungannya dengan Mahapatih Nambi.

Memang yang sekarang berdiri gagah dengan rambut diikat selembar kain putih adalah ayahanda Mahapatih Nambi. Mpu Sina! Senopati Keraton Singasari yang gagah perkasa di masa pemerintahan Baginda Raja Sri Kertanegara. Akan tetapi sejak Raja Muda Jayakatwang merebut kekuasaan dengan cara yang hina, Senopati Sina lebih suka menyingkirkan diri ke Lumajang. Selama itu, apa yang dilakukan tak diketahui orang lain.

Senopati Sina seolah menenggelamkan dirinya, surut dari percaturan tata pemerintahan. Adalah putranya yang tetap mewarisi darah prajurit meneruskan pengabdiannya di Keraton dengan sama gagah dan beraninya. Dari prajurit kawal, diangkat menjadi senopati, dan akhirnya mengemban tugas mulia sebagai mahapatih.

Seperti telah diceritakan di bagian awal, Senopati Sina tetap tak terguncang sedikit pun. Tak bergeser satu jari pun untuk kembali menengok ke Keraton. Apalagi terjun sebagai prajurit. Bahkan ketika putranya diangkat dengan upacara kebesaran Keraton, Senopati Sina yang biasa disebut dengan panggilan menghormat Mpu Sina tetap tak keluar dari kamarnya.

Sejak itu pula makin santer warta bahwa Mpu Sina tidak mau mengakui kekuasaan Baginda. Seperti semua senopati di masa pemerintahan Sri Baginda Raja, yang merasa bahwa selama ini belum ada yang pantas menggantikan takhta Keraton. Ketidakjelasan sikap yang memancing warta ngayawara, berlebihan, inilah yang sebenarnya dipakai oleh Senopati Halayudha ketika menemui Mahapatih Nambi.

Bahwa sesungguhnya ganjalan utama yang menyebabkan Mahapatih Nambi diterima palapa karya, atau cuti dari tugas, karena secara halus Baginda kurang menyukai kekeraskepalaan Mpu Sina yang terlalu mengagungkan Sri Baginda Raja. Singgungan kalimat itu yang menyebabkan Mahapatih Nambi segera saja terlibat perdebatan dengan Halayudha. Di tengah perdebatan itulah kabar santer menggema lewat kentong titir yang bertalu-talu tanpa putus. Mengabarkan bahwa Baginda ditawan musuh dan kini dibawa pergi.

Pada saat itu pula Mpu Sina mengambil lagi keris yang selama ini tak pernah disentuh. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, berjalan ke luar pintu. Melewati Mahapatih Nambi dan Halayudha yang masih berdebat kata. Dengan mengambil dua kuda, Senopati Tua Sina menempuh perjalanan terus-menerus langsung menuju Kali Brantas.

Halayudha saat itu terkesima. Tak percaya pada apa yang dilihatnya sendiri. Seorang senopati yang berada di derajat dan kepangkatan yang tinggi, yang tiba-tiba mengundurkan diri, mendadak kembali menyandang keris untuk maju ke medan perang. Membela kehormatan Baginda yang selama ini bahkan tak dilirik dengan sebelah mata. Tak dihormati dengan satu jari sekali pun.

Mahapatih Nambi merasa mengetahui jiwa prajurit yang luhur, prajurit yang sesungguhnya, yang diwarisinya. Akan tetapi tetap sulit mempercayai bahwa dalam seketika ayahandanya bergegas pergi. Memang luar biasa. Mpu Sina memberikan tindakan nyata sebagai prajurit yang sesungguhnya Prajurit yang akan membela kehormatan Keraton, tanah airnya, dengan mengalahkan pertimbangan apa pun juga.

Bahwa selama belasan tahun menyembunyikan diri dari kegiatan apa pun, sampai dengan puncak pengangkatan putranya sebagai yang paling berkuasa sesudah Raja, bisa diperkirakan kekecewaan yang tak terobati. Akan tetapi toh justru pada saat yang menentukan itulah Mpu Sina turun kembali ke gelanggang. Tetap sebagai prajurit. Prajurit sejati. Prajurit tua sejati. Itulah yang melesatkan dirinya di tengah medan pertarungan.

Dan masih sempat meminta maaf atas apa yang dilakukan pada masa lalu, maupun sekarang ini. Jiwa luhur. Jiwa sejati. Tanpa mengetahui masalah pribadi yang berkecamuk di dalam hati Mpu Sina sekalipun, Gendhuk Tri bisa menangkap kegagahan dan keberanian seseorang yang berani menerobos masuk ke perahu.

Dari atas Gendhuk Tri hanya menangkap sosok tua yang wajah dan seluruh kulitnya pucat seperti tak pernah tersentuh sinar matahari. Mpu Sina selesai menyembah, meletakkan tangan di dasar lantai, dan mendadak tubuhnya melayang ke atas dengan jungkir-balik. Kedua kakinya terulur ke atas, lurus. Seolah ditarik dengan tali, tubuhnya naik tegak lurus.

Kalau tadi Nyai Demang dan Gendhuk Tri lepas dari lantai perahu dengan meliukkan tubuh untuk mencari kekuatan, kali ini Mpu Sina dengan tubuh kaku lurus. Bahwa tenaga yang dipakai sebagai pijakan adalah telapak tangan yang menyentuh lantai, tetap tak mengurangi kekaguman. Apalagi hanya dengan satu tangan. Tangan kiri. Bersamaan dengan tubuh Mpu Sina yang naik, lantai perahu yang diinjak membuka.

Jeblak! Menganga. Suatu jebakan. Dengan cara yang tepat Mpu Sina meloloskan diri. Dan tubuhnya seperti bisa berbalik. Turun di pinggir perahu. Berdiri dengan gagah di bibir pinggiran perahu. Gagah. Sebentar. Karena mendadak pinggiran dinding perahu itu tiba-tiba juga membuka! Menjeblak ke samping! Tanpa bisa dicegah lagi tubuh Mpu Sina terjungkal ke bawah. Masuk ke dalam air sungai.

Gendhuk Tri berteriak keras. Tubuhnya meluncur turun, selendangnya lepas dan bergantung lurus ke bawah. Dalam keadaan kaget, tangan Mpu Sina masih sempat meraup selendang yang diulurkan Gendhuk Tri. Akan tetapi tetap saja tubuhnya melorot ke bawah.

“Tarik!”

Teriakan Gendhuk Tri seperti kurang ajar karena memberi perintah kepada orang yang lebih tua. Akan tetapi dalam keadaan kepepet, tak ada pikiran lain yang muncul seketika. Mpu Sina agaknya mengerti apa yang dimaksud Gendhuk Tri. Serta-merta ia menarik keras, dan tubuhnya mengangkasa. Tapi dengan demikian tubuh Gendhuk Tri yang makin cepat tertarik ke bawah. Ke air sungai, atau entah jebakan apa lagi di bawah. Inilah bahaya.

Seperti mengorbankan dirinya untuk keselamatan Mpu Sina. Ini kalau Mpu Sina melepaskan selendang yang ditarik. Nyatanya tidak. Jadi ketika itulah Gendhuk Tri masih bisa menyendal selendang dan tubuhnya naik ke atas. Memang dengan demikian tubuh Mpu Sina kembali turun. Akan tetapi dengan cara yang sama, bisa menarik dan naik kembali.

Nyai Demang yang berada di dekat kejadian bersinar pandangannya. Pujian dalam hatinya sesaat membuatnya lupa bahwa di sekitarnya masih banyak bahaya mengancam. Pujian itu terutama karena pada saat yang tepat Gendhuk Tri mampu mengambil tindakan yang sangat besar risikonya.

Apa yang dilakukan Gendhuk Tri bukan hanya sekadar pameran bagaimana menyalurkan tenaga dalam, mengontrol, menguasai, akan tetapi sekaligus juga menyeimbangkan dengan orang yang ditolong, yang belum dikenal. Inilah hebat.

Keseimbangan Air
APA yang diperlihatkan Gendhuk Tri mengundang decak kagum. Bahkan Pangeran Anom yang menyusul di pinggiran sungai kemudian dalam keadaan masih setengah sadar seperti melihat dirinya yang memainkan permainan indah tapi berbahaya itu. Apa yang digambarkan Pangeran Anom tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Gendhuk Tri.

Ketika melihat dinding perahu di lambung yang bisa menjeblak dengan sendirinya, gerakan seketikanya adalah menolong Mpu Sina. Yang dalam keadaan seperti terjegal tak mampu menguasai tenaga dalamnya untuk meloncat atau menuju sasaran yang diinginkan. Karena tubuh Mpu Sina berada di bawah, tubuh Gendhuk Tri tak mungkin bisa mengejar. Makanya ia mengulurkan selendangnya. Yang segera bisa disaut oleh Mpu Sina, dan memakai sebagai tenaga untuk pijakan melontarkan tubuhnya ke atas.

Kalau saat itu Mpu Sina melepaskan selendang, Gendhuk Tri yang mencelos amblas ke bawah. Kenapa itu tidak dilakukan Mpu Sina, itu yang membuat Nyai Demang bertanya-tanya dalam hati. Dugaan pertama, Gendhuk Tri dan Mpu Sina, yang menamakan diri sebagai Prajurit Tua Sina, sudah lama saling mengenal. Sehingga sangat mungkin sekali dalam waktu kritis terjadi kerja sama.

Dugaan kedua, tenaga dalam yang dimainkan Gendhuk Tri memberi isyarat bahwa selendang tak boleh dilepaskan. Kedua dugaan ini paling masuk akal, akan tetapi justru rasanya terbantah dengan sendirinya. Pertama, Gendhuk Tri tak begitu mengenal, atau malah baru sekarang bertemu wajah dengan Mpu Sina. Hal yang kedua, sedahsyat apa pun tenaga dalam Gendhuk Tri maupun Mpu Sina, kalau belum saling mengenal akan sulit, atau bahkan tidak mungkin, bisa mengenali isyarat dari tenaga dalam.

Dugaan yang lain adalah bahwa semua ini terjadi secara kebetulan saja. Ada benarnya. Walau tidak tepat bulat. Karena untuk jago silat setingkat Gendhuk Tri atau Mpu Sina, kebetulan bukan tidak diperhitungkan sama sekali. Sewaktu Gendhuk Tri berusaha menolong tadi, yang pertama-tama adalah keinginan untuk menolong. Tanpa memedulikan dirinya bakal bagaimana. Juga ketika Mpu Sina tertarik ke atas, Gendhuk Tri tetap belum tahu bagaimana dengan dirinya sendiri.

Hanya saja nalurinya mengatakan bahwa Mpu Sina tokoh yang baik, yang tidak mau mencari keselamatan di atas kecelakaan orang lain. Di sini yang lebih berbicara adalah nurani. Akal budi yang mempercayai sesama manusia. Bahwa pada dasarnya manusia berhati baik, mempunyai akal budi, dan bisa tolong-menolong. Itulah yang terjadi.

Ketika Gendhuk Tri bisa menggenjot tubuhnya ke atas, ketika itu pula Mpu Sina memahami ke mana arah jalan pikiran Gendhuk Tri. Karenanya, Mpu Sina tinggal menyesuaikan tenaga tarikan dan tenaga menahan. Dengan demikian keduanya selamat, bisa hinggap di tiang utama. Bukan sesuatu yang luar biasa kalau Pangeran Anom membayangkan dirinya yang melayang dan menari sambil memegang ujung selendang bersama Gendhuk Tri.

Karena inti gerakan dan pengaturan tenaga dalam Gendhuk Tri adalah memakai tenaga air. Sejak timbul kesadaran dan kejelasan sumber tenaga dalamnya, Gendhuk Tri bisa maju dengan pesat. Maka tak terlalu sulit mengatur tenaga turun untuk naik silih berganti. Gendhuk Tri mempergunakan pengaturan tenaga dalam Keseimbangan Air. Di mana air yang permukaannya lebih tinggi akan menurun ke arah yang lebih rendah.

Yang luar biasa adalah Mpu Sina yang bisa segera menyatukan diri dalam Keseimbangan Air. Begitu tenaganya sendiri berlebih ia memberikan kepada Gendhuk Tri, yang kemudian menerimanya. Inilah kunci keberhasilan bagaimana kedua tubuh yang meluncur turun bisa kembali naik.

“Kesuwun….” Ucapan terima kasih Mpu Sina tenggelam dalam suara keras.

Suara dinding perahu yang menghantam air bengawan dengan keras. Dan begitu terbanting ke air, bagian dinding yang tadinya halus dari kayu bersusun itu mendadak mengeluarkan ratusan ujung tombak. Bisa dibayangkan jika orang jatuh di tengahnya. Nyawa rangkap tujuh pun tak akan menolong.

Nyai Demang sedikit ngeri menyaksikan perubahan dinding perahu. Kalau bagian itu bisa membuka dan menutup, bukan tidak mungkin bagian lain pun bisa berubah. Termasuk tiang utama. Tiang yang besarnya satu pelukan ini, siapa tahu bisa juga membuka dan atau ditarik amblas ke dalam. Nyai Demang sudah memperhitungkan bahwa kekuatan Pangeran Hiang demikian besar, akan tetapi tetap tak menduga bahwa banyak sekali jebakan yang tersedia.

Perahu ini tidak terlalu besar. Panjangnya sekitar enam atau tujuh tombak. Lebar dua tombak. Dari atas semua tampak tertutup. Mendadak telinga Nyai Demang mendengar desisan suara binatang. Sewaktu matanya melihat ke bawah, batinnya benar-benar mencelos. Dari bagian bawah tiang, bergerak naik seekor ular yang berwarna hijau, gesit. Lidahnya terjulur.

Seluruh kulitnya mengilat memantulkan sinar surya. Berbeda dengan ular yang biasa dilihat, ular hijau ini mendaki ke atas dengan cara tegak lurus. Tidak melilitkan badannya. Dengan satu tangan memegang tali, satu tangan yang lain menjentik ke bawah, Nyai Demang membidik. Tak. Ular itu berkelit. Nyai Demang menarik tubuhnya ke atas.

Mpu Sina mendeham perlahan. Tangannya terulur ke bawah, memapak datangnya ular hijau. Dalam jarak setengah tombak dua jarinya menuding. Satu pancaran tenaga panas menembak langsung. Kembali ular hijau itu berkelit. Berputar sebentar, kemudian mendaki. Tanpa menunggu kesempatan bagi ular hijau itu untuk lebih dekat, Mpu Sina melepaskan pengikat rambutnya. Kain putih di tangannya mengedut keras. Bergerak bagai kepala ular yang langsung mematok kepala ular hijau. Ketika ular itu mencoba berkelit, Mpu Sina mengubah gerakannya. Aneh sekali. Ular itu menggeliat, menggulung tubuhnya, dan kemudian dengan pesat terbang ke arah Mpu Sina!

Nyai Demang menjerit. Akan tetapi dengan tenang Mpu Sina membuka telapak tangan kirinya, dan memapak dengan serangan tenaga dalam. Di tengah udara ular itu tertahan sebelum akhirnya jatuh ke lantai perahu. Terbanting. Hancur tulang tubuhnya! Sesaat. Disusul kemudian munculnya ular yang sama dari bawah. Kali ini sekelebatan saja ada tiga ekor yang merayap naik dengan cepat. Disusul lagi lima ekor yang mengiringi dari bawah. Sesaat kemudian barisan ular menjadi sangat banyak. Seakan tiang utama yang satu pelukan lebih itu berubah warnanya menjadi hijau mengilat.

“Rasanya kita perlu ke darat…,” Nyai Demang berbisik ke arah Gendhuk Tri.

“Rasanya demikian, Mbakyu. Tapi permainan ini menarik. Di tempat sesempit ini ternyata penuh dengan mainan kanak-kanak. Saya jadi ragu, apakah Pangeran Hiang bukannya kanak-kanak abadi. Seperti umumnya pangeran yang biasa dimanja dan diperbodoh.”

Perlahan suara Gendhuk Tri, akan tetapi cukup jelas bagi telinga yang menghuni perahu. Sebaliknya dari kuatir, Mpu Sina melepaskan satu tali yang menggelantung di kapal dan diikatkan di kakinya. Cepat dan sebat sekali. Bersamaan dengan itu tubuhnya meluncur ke bawah, menyongsong ke arah ular. Sewaktu meluncur, tangan kirinya mencabut keris di bagian bawah punggung.

Akibatnya mengenaskan. Puluhan ular yang merayap ke atas seperti kena tebas. Menggeliat sebentar, lalu saling gigit di antara mereka dan akibatnya berteplokan jatuh ke bawah. Bagai segumpal tali yang bergulung. Makin lama makin banyak. Apalagi ular yang baru keluar dari bawah, bukannya merayap ke atas, melainkan saling gigit di antara mereka.

“Hebat sekali, Paman Sina,” kata Nyai Demang lirih.

Mpu Sina tidak menjawab. Pandangannya menyapu seluruh lantai. Mendadak pandangannya mengecil. Nyai Demang menduga bahwa akan muncul lagi binatang aneh atau serangan yang tak terduga. Dugaannya meleset. Karena yang terlihat bayangan seorang wanita yang menaiki rakit kecil, merapat ke arah perahu.

“Edan. Bukankah itu Permaisuri Rajapatni?”

Gendhuk Tri mengangguk. “Apa yang dilakukannya?”

Menyatu Pralaya
PERTANYAAN Nyai Demang bergema dalam hatinya sendiri. Ia sama sekali tak menemukan jawaban kenapa Permaisuri Rajapatni merapat ke arah perahu. Sendirian! Permaisuri satu ini selalu menjadi teka-teki, pikir Nyai Demang dalam hati. Di satu pihak kadang menunjukkan sikap perlawanan kepada Baginda dan berani mendengarkan suara hatinya, di lain pihak seolah tidak mempunyai pegangan. Satu kali begitu merasa dekat dengan Upasara, pada kali yang lain justru mencincang tubuh Upasara!

Apa yang dilakukannya sekarang ini? Ingin bergabung dengan Baginda? Ingin membuktikan dan membaktikan bahwa dalam pralaya, kematian, Permaisuri tetap menyatu? Itu satu-satunya kemungkinan. Kalau benar begitu alangkah tololnya. Alangkah tak bisa dimengerti hatinya, Nyai Demang meralat dalam hati.

Gendhuk Tri juga bertanya-tanya. Ketika berada di Simping, Permaisuri Rajapatni tiba-tiba saja menghilang. Kini begitu muncul lagi, pastilah telah melakukan perjalanan jauh dan menyulitkan, masuk ke pertarungan dengan cara seperti ingin bunuh diri. Rakit yang ditumpangi Permaisuri bergoyang. Mpu Sina berteriak keras. Untuk pertama kalinya mengeluarkan teriakan. Tubuhnya melorot ke bawah, akan tetapi jaraknya sangat jauh.

Nyai Demang baru sadar bahwa bahaya yang mengancam sangat besar. Karena di permukaan sungai mendadak seperti muncul batang kayu hidup yang jumlahnya cukup banyak. Buaya! Sekurangnya ada tiga ekor buaya besar yang menggoyangkan rakit. Dan sebentar lagi tubuh Permaisuri akan menjadi santapan hidup-hidup. Tanpa ada yang bisa menolong.

Memang tak ada. Karena ketika seekor buaya merayap naik, rakit itu oleng dan tubuh Permaisuri terayun ke samping. Hanya saja, sebelum air sungai menelan dan atau mulut buaya menelannya, sesosok tubuh melesat dari bawah air.

JILID 33BUKU PERTAMAJILID 35