Social Items

Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto
Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 32

“Penguasaanmu paling sempurna. Lebih dari Mada yang memang tak bergoyang, lebih dari Genter, tapi kamu bisa menguasai diri. Bagus, bagus. Ketiganya bagus sekali. O-oo. Senggek menyusul sahabatnya. Sayang….”

Suaranya mengandung nada sedih. Sesuatu yang tak terdengar selama pembicaraan berlangsung.

“Tapi tak apa. Sampai kapan pun, Halayudha tetap terpenjara oleh kekuatannya sendiri. Tahu kamu?”

“Bunuh saja saya, Eyang.”

“Sekarang ini aku masih tidur. O-oo. Apa yang akan kamu tanyakan, Mada?”

“Apakah Dua Belas Gempa Bumi itu bisa disamakan dengan Dua Belas Jurus Nujum Bintang yang kesohor itu?”

“Bisa. Tapi juga tidak. Dua Belas Jurus Nujum Bintang, lebih menyandarkan kekuatannya kepada bintang di langit, kepada alam. Pengaturan tenaga dalam pada Lintang Sapi Gumarang berbeda dengan tenaga dalam pada Lintang Tagih, karena musim Kasa berbeda usianya dengan musim Karo. Begitu seterusnya. Sedangkan Dua Belas Gempa Bumi tidak mengenal musim, tidak terpengaruh karena kekuatannya pada manusia itu sendiri. Pada Urip. Pada Sejatining Urip, inti kehidupan yang paling sejati. Tanda-tanda itu sudah bisa dimengerti sejak awal, sehingga tak ada dan tak perlu penamaan jurus-jurusnya. Hanya dibedakan Gempa kesatu, Gempa kedua, dan seterusnya. Yang lebih penting…”

Mendadak suara Eyang Puspamurti terhenti.

Ajaran Kidung Pamungkas
SAAT itu Mada telah tersadar. Demikian juga Genter dan Kwowogen yang terputus “tidurnya” kala Eyang Puspamurti menghentikan hubungan batin. Mada membelalak. Karena sesaat ia sadar, ia melihat bahwa tubuh Halayudha bergerak, bangkit, dan bersiaga. Pada saat yang sama, Eyang Puspamurti sudah berdiri gagah. Sekejap. Karena kemudian Eyang Puspamurti terhuyung-huyung. Tangannya meraup kain Halayudha yang sejak tadi tergeletak.

“Pergilah! Aku pantas membunuhmu karena kamu sudah membunuh dua muridku. Tapi pergilah, Halayudha! Semoga Dewa bisa kamu hancurkan.”

Wajah Halayudha tampak pias. Kain dirangkupkan ke tubuhnya, dan dalam satu loncatan saja, tubuhnya menghilang. Eyang Puspamurti masih tertegun. Menghela napas.

“O-oo. Ladlahom! Itulah semuanya….”

Lalu diulangi lagi menghela napas. Terdiam agak lama. Baru kemudian melambaikan tangan, pelan.

“Mari kita berlatih lagi. Jangan pikirkan yang lain.”

“Saya harus merawat dua sahabat saya, Eyang….”

"Itu juga baik, Mada.”

“Kenapa Eyang membebaskan Halayudha?”

“Itu yang terbaik. Kamu akan menemukan jawabannya nanti. Kalau nasibmu baik.”

“Eyang…”

“Tak ada hubungannya dengan ajaran Kidung Pamungkas. O-oo. Kita tak bicara itu lagi. Memang, Halayudha menemukan pemecahan dengan baik. Aku mengatakan bahwa kekuatan lindhu dalam tubuh tidaklah digerakkan, akan tetapi dibiarkan bergerak sendiri. Inilah inti ajaran Kidung Pamungkas. Inilah bedanya dengan ajaran yang lain. Laku Lindhu yang dua belas macam, semuanya tak perlu dipilih dan digerakkan, seperti kita menggerakkan pedang atau tangan. Yang menggerakkan adalah sumber tenaga urip, yang menjalar ke cahya, rasa, berahi, atau mana saja. Semakin kalian mendalami dan hanyut, semakin kalian mengerti, merasai, dan menyatu. Aku bisa membunuhnya. Tapi tak perlu. Lebih dari cukup.”

Dengan tertatih-tatih, Eyang Puspamurti berjalan. Kwowogen menggandeng setengah memanggul.

“Berlatihlah. Aku akan menunggui, sambil berpacu dengan usiaku. Kalian harus segera menjadi prajurit.”

Mereka menuju ke bawah pepohonan, dan kemudian beristirahat. Mada mencari buah-buahan, sementara Genter menjaga. Begitu seterusnya saling ganti, menjaga, dan berlatih. Eyang Puspamurti terus melantunkan kidungan, mengajak berlatih tanpa mengenal lelah. Sehingga sampai bulan purnama, Mada dan kedua temannya jatuh kelelahan tanpa pernah bangun hingga sore hari berikutnya. Akan tetapi Eyang Puspamurti tak berhenti. Terus-menerus berkidung, terus memberikan wejangan.

“Tenaga untuk hidup itu awal dan akhirnya. Dalam keadaan yang bagaimana pun, menghadapi apa pun. Lawan boleh perkasa, boleh hebat, tetapi tak perlu takut sebelum bertarung. Tenaga untuk hidup, namanya juga urip. Semakin banyak godaan, semakin banyak tantangan, semakin sempurna keberadaan daya hidup. Dalam ilmu silat, itu yang dinamai tenaga dalam. Tenaga yang berada di dalam tubuh. Yang tak kelihatan. Yang bisa dimuntahkan, ditahan, dipakai untuk kesehatan dan kedigdayaan. Jangan biarkan rasa yang menguasai dirimu. Jangan biarkan tanganmu bergerak karena ingin memukul. Biarkanlah ia bergerak sendiri untuk memukul atau menangkis. Sekali kamu bergerak, jangan pernah ditarik mundur. Sekali kamu mengambil keputusan, jangan ragu, jangan menyesal. Apa pun yang terjadi. Karena kalah dan menang bukan perhitungan terakhir. Risiko itulah tanggung jawab. Itulah sifat ksatria. Itulah mahamanusia.”

Didesaki ajaran yang begitu berat, ketiga pemuda itu mau tak mau terpaksa terus mengikuti. Sedapat mungkin ditelan, diikuti tanpa pernah bertanya. Kalaupun ada yang mengganjal dalam hati Kwowogen, itu adalah masalah dilepaskannya Halayudha. Begitu saja kesempatan pergi diberikan, ketika dendam sudah melampaui batas.

“Itu keberatanmu, Kwowogen?”

“Ya, Eyang.”

“Nalarmu paling jalan. Beda dengan Mada yang bisa menyatukan pikiran dan menjadi ketegasan. Lain dengan Genter yang membungkam diam. Kenapa kamu tanyakan?”

“Apakah itu bagian ajaran Eyang?”

“Tidak.”

“Apakah tidak layak membunuh Halayudha?”

“Tidak olehku. Kalian belum bisa memenangkan. Sekarang, atau seterusnya.”

“Kalau tidak ada kaitan dengan ajaran, kenapa Eyang lepaskan?”

“Karena dosa yang ditanggung Halayudha sudah sedemikian besarnya. Dewa telah menghukum secara nista.”

“Saya tak mengerti, Eyang.”

“Kamu tak akan mengerti penderitaan Halayudha. Kalau kamu punya kaki, kamu masih bisa membayangkan penderitaan mereka yang buntung kakinya. Kalau kamu punya mata, kamu masih bisa merasakan penderitaan orang buta. Tapi kamu tak bisa membayangkan penderitaan orang yang tidak memiliki kejantanan. Yang tak memiliki kelelakian. O-oo. Itu penderitaan yang berat. Tak akan pernah kamu bayangkan.”

Kwowogen menunduk.

“Aku baru menyadari ketika Halayudha berdiri. Aku menyadari ada yang hilang dari bagian tubuhnya. Hilang secara mengerikan kalau dilihat dari bekas-bekas luka yang ditinggalkan. Pernahkah kalian membayangkan itu? Apakah tak cukup rasa iba terhadap penderitaannya?”

“Apakah membunuhnya tak cukup untuk melenyapkan penderitaannya?”

“Tidak. Daya hidupnya besar. Dia berbakat mewarisi ajaran Pamungkas. Paling alami menerima ajaran luhur ini. Ingatlah baik-baik. Suatu hari kelak, kalian akan menjadi prajurit. Dengan bekal kesetiaan dan pengabdian, kalian akan menduduki pangkat dan derajat yang terpandang. Aku bisa bercerita karena aku pernah menjadi senopati. Suatu hari kelak, kalian akan menemui banyak sekali tantangan yang menghancurkan. Baik karena pangkat dan derajat kalian melorot, baik karena kalian disalahkan untuk sesuatu yang tidak kalian lakukan. Apa pun juga, kalian harus tetap memiliki semangat hidup. Kalian harus tetap hidup, tetap urip. Aku tetap hidup, sampai seterusnya. Apa pun penderitaan dan kebahagiaan yang kualami. Tahu hal itu, Kwowogen?”

“Ya, Eyang.”

“Mada?”

“Ya, Eyang.”

“Genter?”

“Ya, Eyang.”

“Biarkan daya hidup kalian yang menjawab. O-oo. Juga kalau raja kalian memutuskan hal lain. Kalau raja kalian memerintahkan kalian bertiga berbunuhan, kalian harus mempertahankan hidup. Juga kalau aku memerintahkan kalian berlatih sepenuhnya, itu yang kalian lakukan. O-oo. Jangan mati untuk alasan apa pun, baik kemuliaan atau tempat di sisi Dewa. O-oo. Hiduplah selalu. Seperti aku.”

Kembali Eyang Puspamurti seperti memaksakan diri melatih, menyempurnakan latihan pernapasan, pukulan, gerakan tangan dan kaki.

Perintah Panglong
PERJALANAN Halayudha kembali ke Keraton tidak sangat tergesa, bahkan terkadang berlambat-lambat. Di wajahnya tak tersimpan perasaan duka atau ada sesuatu yang memberati. Dengan satu atau dua tarikan napas, Halayudha merasa kembali ke dunianya, jagatnya, sebagai senopati yang tenggelam dalam menjalankan baktinya.

Langkahnya tetap lebar ketika memasuki halaman Keraton. Beberapa prajurit menyembah hormat. Begitu juga ketika masuk ke Keraton. Perasaan yang tajam membuatnya cepat sadar bahwa para prajurit kawal istana sedang membicarakan sesuatu dan mendadak terdiam ketika dirinya lewat. Halayudha berhenti, memandang lima prajurit yang tetap menyembah dan menunduk.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Maaf beribu maaf, Senopati yang mulia, hamba memang bermulut lancang….”

“Kenapa kamu bicarakan segala macam payung Keraton?”

Salah seorang memberanikan diri berbicara dengan nada yang sangat menghormat. “Hamba menjalankan perintah Raja, bahwa segala macam payung kebesaran Keraton agar dipajang di alun-alun….”

“Raja yang memerintahkan?”

“Inggih, Senopati yang mulia….”

“Hmmm, jadi kalian sudah berani lancang membicarakan perintah Raja? Kalian tahu bahwa hukuman mati pun masih terlalu ringan?”

“Hamba, hamba, hamba…”

“Hamba apa?”

“Hamba kuatir, sebab perintah Raja sesembahan sekalian manusia adalah perintah panglong…”

Jalan pikiran Halayudha menangkap dua pengertian sekaligus. Yang pertama, adalah pengertian perintah panglong. Panglong adalah istilah untuk menyebut waktu pagi setelah matahari terbit, dan sebelum lingsir wetan, atau sebelum beranjak tinggi dari timur. Saat-saat yang dianggap mempunyai arti kurang baik untuk memutuskan sesuatu. Selama ini memang jarang atau boleh dikatakan tidak pernah seorang raja menjatuhkan putusan pada saat panglong.

Bahwa keputusan seorang raja bisa terjadi saat sirep, lewat tengah malam menjelang dini hari, bukan sesuatu yang mustahil. Malah sebaliknya dianggap sangat tepat. Sampai dengan raina, atau matahari bersinar. Tetapi tidak di antara matahari sudah sepenggalah namun belum tepat di atas. Halayudha bisa mengerti, keraguan itu menjadi tebal karena merasa perintah itu tidak pada tempatnya. Memasang payung kebesaran di alun-alun!

Sesuatu yang bertolak belakang. Payung kebesaran yang sesungguhnya tetap tertutup, dan selalu di samping Raja. Kalau Raja meninggalkan tempat, barulah payung itu menyertai. Maka termasuk aneh, kalau payung itu dibuka di lapangan. Yang kedua, Halayudha menemukan bahwa Raja masih tetap sama dengan ketika ditinggalkan. Tak mampu menguasai dirinya. Guncangan batinnya belum juga mereda. Kalau perlu, bangunan Keraton ini diratakan.

“Di mana Praba Raga Karana?”

“Berada di kamar prameswaren, Senopati….”

“Di kamar permaisuri? Apakah Raja masuk ke sana?”

“Putri Praba mengunci dari dalam….”

Halayudha mengangguk. Tarikan napasnya menyebabkan udara tertahan di dadanya. Otaknya cepat berjalan. “Aku ampuni kalian, sekali ini….”

Kelimanya menyembah seakan tak pernah bangkit lagi.

“Cukup. Selain perintah membongkar pohon beringin, dan ingin menggelar payung kebesaran, apa lagi perintah Raja?”

“Menghancurkan taman di kaputren….”

“Apa lagi?”

“Semua anak perawan harap dikumpulkan di kaputren….”

“Itu saja? Bagaimana dengan tata keprajuritan? Apakah Raja menyebut namaku?”

“Mohon beribu maaf, telinga hamba tidak mendengar….”

“Sama sekali?”

Tak ada jawaban. Itu artinya mengiya.

“Ada disebut-sebut nama Mahapatih Nambi?”

“Maaf, Senopati yang mulia. Raja meminta Mahapatih Nambi sowan ke Keraton dengan membawa semua anak perawan dari Lumajang….”

Tangan Halayudha terkepal. Baginya, yang terakhir ini lebih bergema. Jika sampai Mahapatih Nambi ditarik kembali ke pusat, Keraton akan berada dalam pengawasannya lagi. Berarti keinginannya menduduki jabatan yang sudah di depan mata bisa urung. Lebih buruk lagi, nasibnya bisa berbalik!

“Panglong…”

Halayudha mendesis, sambil melangkah ke dalam. Kini tak ada alasan lain untuk menunda. Jalan pikirannya sudah menemukan jalan keluar. Ia harus melakukan secepatnya. Langkah Halayudha berputar menuju gedung prameswaren, tempat para permaisuri-atau juga calon permaisuri. Tak terlalu sulit baginya mengendap masuk, melewati barisan penjagaan. Bahkan di depan pintu yang dikawal ketat, Halayudha hanya memerlukan satu loncatan pendek sambil mengembangkan kedua tangannya.

Dua prajurit yang berjaga tak sadar apa yang menyebabkan mereka tertidur seketika. Pintu yang tertutup dari dalam, bukan sesuatu yang sulit bagi Halayudha untuk mendobrak dan menarik, tanpa banyak menimbulkan suara. Halayudha melangkah ke dalam. Ke dalam sumber permasalahan. Unggul atau hancur. Hanya itu kemungkinannya sekarang ini. Jika Raja mengetahui dirinya masuk ke kamar Praba Raga Karana, langit pun akan diruntuhkan dan bumi akan digali untuk menghukumnya. Dosa yang tak akan diampuni sampai turunan terakhir!

Halayudha sadar akan hal itu. Akan tetapi otaknya cukup cerdik. Bahwa saat-saat di mana Raja masih murka, pastilah tak akan berkunjung ke kamar peraduan. Hatinya masih panas. Sesuatu yang menurut Halayudha justru disebabkan oleh Praba Raga Karana. Yang mendadak membuat Raja bingung. Segala macam tindakannya yang serba aneh, serba berlawanan dengan akal dan rasa sehat, karena sedang kisruh, karena tak tahu harus berbuat apa terhadap Praba Raga Karana. Kini saatnya!

Halayudha melangkah masuk. Seluruh kemampuan indrianya dikerahkan untuk mencari tahu di mana Praba Raga Karana berada, begitu ia masuk dan menutup pintu. Begitu perasaannya mengatakan di mana Praba berada, tangan kanannya terulur. Langsung jakun Praba terjepit di antara jempol dan telunjuknya. Praba Raga Karana tak mungkin melawan, pun andai tahu bahwa akan ada orang yang berani mendobrak masuk ke kamarnya. Kemampuannya jauh di bawah Halayudha yang sedang dalam siaga penuh.

Apalagi saat itu sebenarnya Praba sedang pati geni, tidak melakukan gerak, tidak makan, tidak minum, tidak melihat cahaya. Sedang bergumul dengan batinnya. Sedang melarutkan diri dalam pertanyaan yang paling dalam untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dirinya. Sejak Raja mencampakkan dan meninggalkan dalam keadaan tanpa busana dan basah, Praba merasa tanah yang diinjak bagai mega yang melambungkan tubuh dan sukmanya. Tak ada pegangan. Tak ada kekuatan.

Dalam saat terguncang itulah ia kembali ke akar keprihatinannya. Masuk ke kamar dan bertapa. Menanyakan kepada Dewa Yang Maha dewa. Apa yang sesungguhnya tengah terjadi dengan dirinya. Dan bukan Dewa yang memberi jawaban, melainkan Halayudha. Mata Praba yang mendelik, hanya mendapat jawaban senyuman tipis, dingin, dari Halayudha.

“Aku tahu kamu membenciku dan menghalangiku menjadi mahapatih. Jempolku jijik menyentuh kulitmu. Praba, tahukah kamu bahwa aku merasa menang melihat wajahmu yang murka, batinmu yang mendidih, perutmu yang bergolak mau muntah? Sekarang kamu puaskan mencaci dalam hati, dalam batinmu. Sekarang dan seterusnya.”

Jari-jari tangan Halayudha bergerak bersama, kanan dan kiri. Sangat cepat. Di kepala, leher, dada, perut, dan di bagian belakang. Halayudha tersenyum. Matanya bersinar.

Tujuh Sumbatan Hidup
HALAYUDHA meregangkan kedua tangannya. Melepaskan semua kekesalan, beban yang ada di seluruh pori-pori tubuhnya. Sementara Praba Raga Karana masih bersimpuh di bawah.

“Semestinya aku melakukan sejak dulu. Atau paling baik justru sekarang ini, Praba. Sehingga aku mengetahui bahwa kamu membenciku? Tidak, aku tidak menyalahkanmu kenapa kamu membenciku. Kamu harus menyalahkan dirimu sendiri karena aku bisa lebih sakti darimu. Kamu bisa mendengar, tapi kamu tak bisa komentar. Kamu bisa melihat, tapi untuk apa, kalau menggeliat saja tak mampu? Anggaplah ini nasib buruk.”

Halayudha berbalik. Tapi langkahnya terhenti. Berbalik lagi. Mendekat ke Praba Raga Karana. Seakan bersikap lembut, ia duduk di dekatnya dan berbisik.

“Aku ingin pamer padamu, dan kamu bisa mengerti kenapa kamu tak bisa bergerak, tak bisa mengeluh, tak bisa merintih atau tersenyum. Tak ada yang mengetahui bahwa aku telah menyumbat tujuh jalan hidupmu. Tujuh jalan darahmu yang terutama, pusat kegiatan dan gerak hidupmu sudah kututup, dan tak ada yang mengetahui. Dengar baik-baik, Praba. Ketika aku menyentuh atas sanggulmu, aku mematikan aliran darah sahasraya, sehingga darah yang mengalir dalam otakmu tak memberikan kekuatan untuk berteriak. Untuk mematikan gerak mata seperti yang kamu kehendaki untuk memberikan sandi, kode untuk menceritakan keadaanmu, aku telah menotok jalan darah di antara alis, yaitu ayana. Jalan darah di tenggorokan pun telah kumatikan, wisudi tak mampu membuatmu menelan jampi dan obat-obatan. Jalur di pulung hati, anahata, serta di pusar, manipura, membuatmu tak akan bisa bergerak, bahkan jika ada kalajengking berjalan di tubuhmu. Aku tidak minta maaf kalau aku menotok jalan hidup adara, sedikit di atas lubang tubuhmu yang paling bawah, serta menotok jalan darah adistara, antara pusar dan kewanitaanmu. Maaf, aku tidak minta maaf. Karena ini untuk menjaga agar nanti kalau Raja memaksamu melakukan pergumulan asmara, tubuhmu tak akan memberi rasa apa-apa. Menjadi dingin beku, seumpama batang pisang yang terendam air. Praba, aku tahu kamu akan memakiku dengan kata-kata yang paling kotor. Meskipun bibirmu tak bergerak, matamu tak bisa mendelik, kamu menistaiku. Itulah yang membuatku bahagia, menang, dan menikmati sampai puas setiap kali mengingatnya. Aku lebih puas bisa menceritakan padamu. Kamu bisa mendengar, bisa mengingat, tapi tak bisa apa-apa. Di jagat ini hanya kita berdua yang tahu apa sebenarnya yang terjadi. Inilah lakon yang sempurna….”

Halayudha berdiri. Tersenyum. “Tanca yang paling mumpuni tak akan bisa mengerti apa yang terjadi padamu. Kalau bukan aku yang melakukan, mungkin aku sendiri tak mengerti. Praba, kamu melicinkan kakiku yang kotor ini, membasuh segala nista yang menempel, sehingga aku bisa melangkah dengan gagah ksatria.”

Halayudha memuji dirinya. Apa yang dikatakan memang pujian yang bisa diterima. Keunggulannya menyumbat jalan hidup, pada tujuh tempat yang berbeda untuk mematikan rasa dan kepekaan tertentu, tak bakal diimbangi oleh yang lain. Apalagi kali ini perpaduan bagian yang disumbat tak akan diperhitungkan. Menyumbat jalan hidup untuk membuat kaku sekujur tubuh bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi hanya bagian-bagian tertentu, itu memerlukan penguasaan dan latihan. Itulah sebabnya Halayudha memuji dirinya sendiri.

Setelah puas menikmati keunggulannya, Halayudha melangkah ke luar dan menutup kembali pintu. Mengusap prajurit kawal, yang akan segera terbebas dari pengaruh sirep dalam beberapa saat mendatang. Tanpa mengetahui apa yang terjadi! Barulah kemudian Halayudha memberanikan diri menghadap Raja.

“Aku tak mau menerima,” jawab Raja kepada prajurit yang melapor.

“Senopati Halayudha ingin ngunjuk atur melapor dengan hormat, mengenai Gusti Ayu Praba Raga Karana….”

“Suruh segera menghadap….”

Halayudha menikmati kepuasan lanjutan. Seakan ia bisa melihat dirinya sendiri sedang melaporkan dengan fasih, dengan kalimat merendah, seakan semua gerakannya sudah dilatih sempurna sebelumnya. Bahwa bukan tidak mungkin kekasih Raja yang mulia, Praba Raga Karana, sedang menderita sakit tertentu.

Karena dari jauh Halayudha mendengar tarikan napas yang berbeda dari tarikan napas orang yang sedang bertapa, sedang mengkhusyukkan diri. Halayudha menambahkan bahwa perhitungannya bisa keliru, akan tetapi ia memberanikan diri menghadap untuk menyampaikan hal ini.

“Aku tak peduli, Halayudha….”

“Hamba yang peduli, Raja sesembahan seluruh Keraton. Karena sakitnya Gusti Praba Raga Karana ingin membaktikan seluruh hidupnya bagi Raja.”

“Aku tetap tak peduli.”

“Mohon ampun, Raja… Ilmu silat hamba masih permulaan. Akan tetapi hamba bisa merasakan bahwa jika seseorang berniat pati geni tanpa dibekali persiapan batin, perjalanan batinnya bisa tersesat.”

“Aku tak peduli.”

“Mohon Raja tidak menghalangi tabib Keraton menjenguknya.”

“Halayudha, kamu ini aneh. Kamu dihalangi Praba, tapi kamu justru paling memikirkan keselamatannya.”

“Mohon ampun. Semuanya berasal dari keinginan mengabdi secara tulus….”

Halayudha seakan mampu menebak jalan berikutnya. Raja Jayanegara memerintahkan para tabib masuk gedung prameswaren. Dan begitu mendengar laporan, Baginda segera menemui. Dan seketika itu juga diumumkan agar dipanggil semua ahli yang ada.

“Senopati Tanca panggil sekarang juga!”

Halayudha mulai menyiapkan langkah berikutnya. Setelah semuanya gagal, Halayudha mengajukan diri untuk menjajal. Dengan bersemadi, Halayudha mulai menyentuh jalan hidup wisudi, meskipun tidak sempurna membebaskan totokan. Sehingga Praba Raga Karana untuk sesaat bisa merintih.

“Dewa Jagat! Rasanya kalau Praba kembali seperti sediakala, kedudukan mahapatih pun masih terlalu rendah untukmu.”

“Hamba hanya bisa mencoba, duh Raja… Hanya karena kemampuan hamba terbatas, mungkin memerlukan waktu….”

“Tak apa, Halayudha. Kamu rawat Praba. Tugas Keraton bisa dilakukan Nambi.”

Inilah yang dinamakan jagat terbalik! Halayudha tak akan pernah bermimpi bahwa Praba Raga Karana sedemikian berartinya sehingga bisa mengubah apa saja. Namun sebagaimana biasanya, Halayudha tak memperlihatkan perubahan wajah sedikit pun yang menggambarkan isi hatinya.

“Kalau Raja mengizinkan, hamba akan mencari obat-obatan.”

“Hari ini juga berangkat!”

Inilah yang dinamakan jagat telah kembali tegak. Halayudha tak mau menunda waktu. Ia memerintah rombongan kecil dengan beberapa kuda pilihan, dan segera meninggalkan Keraton. Tujuannya mencari obat. Obat untuk dirinya. Yaitu ke Lumajang. Halayudha seperti tak sabar berkejaran dengan waktu. Rombongan yang mengikuti bisa tertinggal satu pandangan mata di padang luas. Tetapi tak ada pilihan lain. Lumajang. Mahapatih Nambi!

Kalau ia berhasil mengamankan, rasanya tak ada lagi yang menghalangi. Tak ada lagi. Halayudha memacu kudanya makin cepat. Tidak sampai pergantian matahari berikutnya, Halayudha telah sampai di Lumajang dan segera menggeprak kudanya menuju kediaman Mahapatih Nambi.

“Hamba menghaturkan sembah, Mahapatih….”

“Saya sudah menduga Senopati akan datang….”

Suara Mahapatih Nambi tetap menunjukkan kewibawaan, kegagahan, yang membuat Halayudha bagai disiram air dingin. Karena biar bagaimanapun, dirinya adalah bawahan Mahapatih Nambi. Sehingga pengaruh itu terasakan.

Purus Puspa Lembong
YANG tak pernah diperhitungkan Halayudha adalah kehadiran Permaisuri Indreswari. Cerdik, teliti, penuh perhitungan, akan tetapi justru Permaisuri Indreswari terlupakan. Padahal justru yang sepele ini bisa membuyarkan semua rencana. Sewaktu Keraton menjadi geger tak menentu, Permaisuri Indreswari mendapat laporan lengkap. Bahwa Praba Raga Karana menderita gering. Tubuhnya lemas tak mampu bergerak, sehingga untuk memalingkan wajah pun perlu dibantu. Pandangan matanya nanar, tetapi seperti tak melihat apa-apa.

Saat itu juga Permaisuri Indreswari memerlukan mengunjungi untuk melihat sendiri. Raja Jayanegara tak melarang, meskipun juga tak memperlihatkan bisa menerima rasa iba. Ada sesuatu yang menggerakkan Permaisuri Indreswari sehingga memerlukan datang sendiri. Yang pertama terlintas ialah bahwa Praba Raga Karana kena. Bahwa Praba kalah kuat sehingga bisa kesambet. Terkena serangan ilmu hitam. Sesuatu yang sangat wajar.

Sebagai permaisuri, Indreswari menyadari dan hidup di dalam pertikaian dan persaingan batin dengan wanita lain. Baik secara terang-terangan, apa-lagi secara diam-diam. Masing-masing wanita berusaha memuaskan, mengabdi Baginda, dengan segala macam cara. Dengan merawat tubuh dari ujung kuku hingga ujung rambut, dengan melatih suara, cara bernapas maupun melirik, dengan segala macam ramuan obat-obatan, maupun dengan kekuatan lain.

Kekuatan lain itu berupa mantra, baik untuk menguatkan diri maupun untuk menyerang lawan. Permaisuri Indreswari sadar akan lekuk-liku dunia perdukunan yang berkaitan dengan perebutan daya asmara untuk menarik sebesar mungkin perhatian Baginda. Permaisuri Indreswari sadar karena dirinya larut dalam kehidupan semacam itu terus-menerus.

Makanya yang terpikir pertama adalah bahwa Praba Raga Karana terkena pengaruh itu. Karena tak mungkin tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga, telinganya tak bisa mendengar, dan mulutnya membisu. Masalahnya adalah dukun mana dan ilmu apa yang menyebabkan, serta bagaimana cara mengatasinya.

“Semua usaha telah dikerahkan, Gusti Permaisuri. Semua dukun, orang tua, telah dipanggil.”

Permaisuri mengangguk. Ia meminta semua yang ada di dalam ruangan meninggalkan tempat. Kemudian secara perlahan Permaisuri Indreswari membuka selimut, meraba pusar dan sedikit bagian bawah perut Praba Raga Karana. Kepalanya menggeleng. Kemudian memerintahkan memanggil Senopati Tanca yang dikenal mempunyai ilmu dalam penyembuhan berbagai lelara, berbagai penyakit.

“Tanca, haturkan terus terang, apakah Praba kena pengaruh tenung asmara?”

“Besar kemungkinannya demikian, Gusti Permaisuri. Hamba tak berani memastikan, karena caranya amat sangat halus. Beberapa kali hamba mencoba mengetahui dan masuk, akan tetapi pengaruhnya sangat samar. Besar kemungkinannya ilmu tenung yang selama ini tak dikenal.”

“Aku merasakan ada sesuatu yang kejang pada tempat antara pusar dan purus.”

Senopati Tanca mengangguk dalam dan menyembah. Dalam hatinya memuji kelebihan Permaisuri. Tanpa mempelajari secara khusus, Permaisuri Indreswari bisa segera mengetahui adanya kelainan pada bagian tubuh Praba Raga Karana. Ia sendiri memang menemukan ada bagian yang mengejang, akan tetapi tak bisa memastikan sumbernya antara pusar dan purus-istilah yang sebenarnya untuk menyebutkan nama anggota tubuh yang paling laki-laki.

Dengan menyebutkan purus, Permaisuri Indreswari memakai bahasa lain yang halus, meskipun masih tak terhindarkan penunjukan yang langsung. Senopati Tanca boleh heran, akan tetapi bagi Permaisuri Indreswari, itu semua bukan sesuatu yang luar biasa. Karena memang sejak semula para permaisuri Keraton sadar bagaimana merawat bagian-bagian tubuh terus-menerus.

“Tanca, apakah Praba sering menggunakan jamu-jamu dan ramuan untuk memperhebat kewanitaannya?”

Wajah Tanca menjadi merah. Tetap tak tersembunyikan meskipun menunduk. Hatinya terasa gerah.

“Aku harus membicarakan ini untuk mengetahui keadaannya sebenarnya. Kalau benar ia diserang dengan ilmu tenung, rasanya kamu bisa mengetahui. Kalau tidak, pasti karena ulahnya sendiri. Yang paling mungkin adalah cara merawat diri yang sangat keterlaluan sehingga menghancurkan tubuhnya sendiri. Itu sebabnya aku bertanya begitu.”

“Gusti Permaisuri sangat tepat.”

“Apa karena itu?”

“Hamba tak bisa matur. Sekarang ini tak bisa ditanyai. Para dayang yang dekat tak bisa memberi laporan yang tepat.”

“Kamu sudah meneliti hal itu?”

“Sebisa mungkin, Gusti Permaisuri….”

“Berarti titik tolak kita sama. Yang diarah adalah kewanitaan. Rasanya tak usah terlalu jauh. Kita bisa mencari Purus Puspa Lembong… Kalau ini tak bisa, berarti kita semua harus bersiaga. Ada musuh besar yang leluasa bergerak dalam Keraton.”

Dalam hati, Senopati Tanca kurang tulus menghormat Permaisuri Indreswari. Apalagi dengan beberapa kejadian terakhir yang menyangkut Baginda Kertarajasa ke Simping. Akan tetapi sekali ini tak ada alasan untuk tidak memuji secara tulus. Sebagai tabib Keraton, Tanca boleh dikatakan sangat menguasai segala jenis lelara bangsawan Keraton. Termasuk yang satu ini.

Purus Puspa Lembong adalah sejenis tanaman seperti keladi yang menempel pada tumbuh-tumbuhan tertentu. Jurus Puspa Lembong sangat banyak, akan tetapi yang memakai nama Purus sangat sulit ditemukan. Sehingga akhirnya Baginda Raja Sri Kertanegara membangun hutan tersendiri untuk menyemai tanaman tersebut. Tanaman yang mempunyai kesaktian dalam pergulatan daya asmara.

Kalau Permaisuri Indreswari sampai kepada kesimpulan penggunaan Purus Puspa Lembong, ini berarti pengetahuan mengenai pengobatan sangat mendalam. Sekurangnya dengan cara itu Permaisuri Indreswari ingin menjajal kemungkinan terakhir. Yaitu menyembuhkan, atau memperparah keadaan Praba.

Kelebihan tanaman Purus Puspa Lembong adalah memperkuat kekuatan asmara yang biasanya digunakan kaum lelaki. Kini akan dicobakan ke tubuh Praba untuk menawarkan pengaruh. Semakin banyak dan terbiasa, semakin tidak mempunyai pengaruh apa pun. Itu pengobatan yang juga dipakai sebagai jalan terakhir. Dasar-dasarnya seperti yang selama ini dipelajari Senopati Tanca. Bahwa untuk melawan bisa, untuk melawan racun, adalah dengan membiasakan tubuh terkena racun. Sehingga menjadi kebal.

Suatu pemikiran yang mendalam. Yang sudah dipikirkan oleh Tanca, akan tetapi tak berani mengutarakan. Terutama karena alasan tata susila. Dan itu yang dikatakan oleh Permaisuri Indreswari. Yang lebih luar biasa adalah kesimpulan yang kedua. Kalau pengobatan dengan Purus Puspa Lembong tidak berhasil, berarti ada cara lain yang dipakai untuk membuat Praba Raga Karana menderita gering seperti sekarang ini.

Dan itu hanya dimungkinkan oleh orang yang bisa leluasa keluar-masuk prameswaren, yang bisa menyusup tanpa dicurigai. Di sinilah bahaya yang sesungguhnya. Kalau kamar Praba yang dijaga sangat ketat bisa dimasuki orang yang berbuat kurang ajar, berarti kamar siapa pun bisa digerayangi. Tak ada lagi yang tersembunyi di Keraton ini.

“Apa lagi yang kamu tunggu, Tanca?”

“Hamba menjalankan perintah Permaisuri…”

“Apakah penilaianku keliru?”

“Tepat, Gusti…”

“Sebentar… Sebelum kamu berangkat, apakah kamu melihat kira-kira siapa yang berbuat kurang ajar di Keraton?”

“Hamba tak mengetahui, Gusti.”

“Atau tak berani?”

“Bagi hamba tak ada untungnya menyembunyikan musuh Keraton.”

Permaisuri mengangguk. “Benar. Siapa menurutmu yang beruntung dengan sakitnya Praba?”

Pertanyaan itu menggema. Tanpa jawaban. Karena Permaisuri Indreswari segera berlalu.

Persaingan Asmara
YANG juga tak diperhitungkan Halayudha adalah bahwa Mahapatih Nambi sangat dingin sikapnya.

“Senopati Halayudha. Aku mendengar semuanya. Semuanya. Juga kabar geringnya Praba Raga Karana.”

“Mahapatih mempunyai pendengaran seratus kali lebih tajam dari seratus ekor gajah.”

“Pujian yang berlebihan biasanya tidak tulus. Sayang….”

Halayudha mengertakkan giginya. Ia menahan kegusarannya yang bergolak. Pada saat sekarang ini, bahkan rasanya Halayudha berani memutuskan untuk menantang. Akan tetapi ditahannya desakan yang bisa mengeruhkan suasana. Meskipun Raja telah dekat dan menjanjikan, ia tak ingin meninggalkan kesan buruk yang bisa menimbulkan bibit-bibit permusuhan di belakang hari.

“Sayang… Tapi itu yang bisa terjadi. Geringnya Praba bisa membangkitkan dugaan yang berlebihan. Apalagi perubahan tubuhnya yang tak bisa bergerak, menyebabkan dugaan bahwa persaingan merebutkan asmara Raja yang menjadi alasannya. Dengan demikian, Putri Tunggadewi dan Putri Rajadewi bisa menjadi sasaran. Bisa lebih menderita, karena perlakuan yang hina. Segala kehinaan bisa terjadi. Sayang…"

Sayang bagi Mahapatih Nambi, tapi perasaan Halayudha justru melayang. Ia tak menduga bahwa ini bisa mengakibatkan langkah yang lebih menyeluruh. Tunggadewi, dan terutama Tunggadewi, lebih daripada Rajadewi, adalah pujaan para abdi dan senopati Keraton. Karena masih turunan langsung Baginda dengan Permaisuri Rajapatni, yang sejak sebelum lahir sudah diramalkan bakal menjadi raja yang membawa kebesaran Keraton yang belum pernah terjadi selama ini!

Betapa hebat kebesaran dan kekaguman yang menyertai Tunggadewi! Bagi Mahapatih Nambi, ia merupakan junjungan yang sangat dihormati. Dan sekarang ikut tersudut, ikut terguncang.

JILID 31BUKU PERTAMAJILID 33

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 32

Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto
Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 32

“Penguasaanmu paling sempurna. Lebih dari Mada yang memang tak bergoyang, lebih dari Genter, tapi kamu bisa menguasai diri. Bagus, bagus. Ketiganya bagus sekali. O-oo. Senggek menyusul sahabatnya. Sayang….”

Suaranya mengandung nada sedih. Sesuatu yang tak terdengar selama pembicaraan berlangsung.

“Tapi tak apa. Sampai kapan pun, Halayudha tetap terpenjara oleh kekuatannya sendiri. Tahu kamu?”

“Bunuh saja saya, Eyang.”

“Sekarang ini aku masih tidur. O-oo. Apa yang akan kamu tanyakan, Mada?”

“Apakah Dua Belas Gempa Bumi itu bisa disamakan dengan Dua Belas Jurus Nujum Bintang yang kesohor itu?”

“Bisa. Tapi juga tidak. Dua Belas Jurus Nujum Bintang, lebih menyandarkan kekuatannya kepada bintang di langit, kepada alam. Pengaturan tenaga dalam pada Lintang Sapi Gumarang berbeda dengan tenaga dalam pada Lintang Tagih, karena musim Kasa berbeda usianya dengan musim Karo. Begitu seterusnya. Sedangkan Dua Belas Gempa Bumi tidak mengenal musim, tidak terpengaruh karena kekuatannya pada manusia itu sendiri. Pada Urip. Pada Sejatining Urip, inti kehidupan yang paling sejati. Tanda-tanda itu sudah bisa dimengerti sejak awal, sehingga tak ada dan tak perlu penamaan jurus-jurusnya. Hanya dibedakan Gempa kesatu, Gempa kedua, dan seterusnya. Yang lebih penting…”

Mendadak suara Eyang Puspamurti terhenti.

Ajaran Kidung Pamungkas
SAAT itu Mada telah tersadar. Demikian juga Genter dan Kwowogen yang terputus “tidurnya” kala Eyang Puspamurti menghentikan hubungan batin. Mada membelalak. Karena sesaat ia sadar, ia melihat bahwa tubuh Halayudha bergerak, bangkit, dan bersiaga. Pada saat yang sama, Eyang Puspamurti sudah berdiri gagah. Sekejap. Karena kemudian Eyang Puspamurti terhuyung-huyung. Tangannya meraup kain Halayudha yang sejak tadi tergeletak.

“Pergilah! Aku pantas membunuhmu karena kamu sudah membunuh dua muridku. Tapi pergilah, Halayudha! Semoga Dewa bisa kamu hancurkan.”

Wajah Halayudha tampak pias. Kain dirangkupkan ke tubuhnya, dan dalam satu loncatan saja, tubuhnya menghilang. Eyang Puspamurti masih tertegun. Menghela napas.

“O-oo. Ladlahom! Itulah semuanya….”

Lalu diulangi lagi menghela napas. Terdiam agak lama. Baru kemudian melambaikan tangan, pelan.

“Mari kita berlatih lagi. Jangan pikirkan yang lain.”

“Saya harus merawat dua sahabat saya, Eyang….”

"Itu juga baik, Mada.”

“Kenapa Eyang membebaskan Halayudha?”

“Itu yang terbaik. Kamu akan menemukan jawabannya nanti. Kalau nasibmu baik.”

“Eyang…”

“Tak ada hubungannya dengan ajaran Kidung Pamungkas. O-oo. Kita tak bicara itu lagi. Memang, Halayudha menemukan pemecahan dengan baik. Aku mengatakan bahwa kekuatan lindhu dalam tubuh tidaklah digerakkan, akan tetapi dibiarkan bergerak sendiri. Inilah inti ajaran Kidung Pamungkas. Inilah bedanya dengan ajaran yang lain. Laku Lindhu yang dua belas macam, semuanya tak perlu dipilih dan digerakkan, seperti kita menggerakkan pedang atau tangan. Yang menggerakkan adalah sumber tenaga urip, yang menjalar ke cahya, rasa, berahi, atau mana saja. Semakin kalian mendalami dan hanyut, semakin kalian mengerti, merasai, dan menyatu. Aku bisa membunuhnya. Tapi tak perlu. Lebih dari cukup.”

Dengan tertatih-tatih, Eyang Puspamurti berjalan. Kwowogen menggandeng setengah memanggul.

“Berlatihlah. Aku akan menunggui, sambil berpacu dengan usiaku. Kalian harus segera menjadi prajurit.”

Mereka menuju ke bawah pepohonan, dan kemudian beristirahat. Mada mencari buah-buahan, sementara Genter menjaga. Begitu seterusnya saling ganti, menjaga, dan berlatih. Eyang Puspamurti terus melantunkan kidungan, mengajak berlatih tanpa mengenal lelah. Sehingga sampai bulan purnama, Mada dan kedua temannya jatuh kelelahan tanpa pernah bangun hingga sore hari berikutnya. Akan tetapi Eyang Puspamurti tak berhenti. Terus-menerus berkidung, terus memberikan wejangan.

“Tenaga untuk hidup itu awal dan akhirnya. Dalam keadaan yang bagaimana pun, menghadapi apa pun. Lawan boleh perkasa, boleh hebat, tetapi tak perlu takut sebelum bertarung. Tenaga untuk hidup, namanya juga urip. Semakin banyak godaan, semakin banyak tantangan, semakin sempurna keberadaan daya hidup. Dalam ilmu silat, itu yang dinamai tenaga dalam. Tenaga yang berada di dalam tubuh. Yang tak kelihatan. Yang bisa dimuntahkan, ditahan, dipakai untuk kesehatan dan kedigdayaan. Jangan biarkan rasa yang menguasai dirimu. Jangan biarkan tanganmu bergerak karena ingin memukul. Biarkanlah ia bergerak sendiri untuk memukul atau menangkis. Sekali kamu bergerak, jangan pernah ditarik mundur. Sekali kamu mengambil keputusan, jangan ragu, jangan menyesal. Apa pun yang terjadi. Karena kalah dan menang bukan perhitungan terakhir. Risiko itulah tanggung jawab. Itulah sifat ksatria. Itulah mahamanusia.”

Didesaki ajaran yang begitu berat, ketiga pemuda itu mau tak mau terpaksa terus mengikuti. Sedapat mungkin ditelan, diikuti tanpa pernah bertanya. Kalaupun ada yang mengganjal dalam hati Kwowogen, itu adalah masalah dilepaskannya Halayudha. Begitu saja kesempatan pergi diberikan, ketika dendam sudah melampaui batas.

“Itu keberatanmu, Kwowogen?”

“Ya, Eyang.”

“Nalarmu paling jalan. Beda dengan Mada yang bisa menyatukan pikiran dan menjadi ketegasan. Lain dengan Genter yang membungkam diam. Kenapa kamu tanyakan?”

“Apakah itu bagian ajaran Eyang?”

“Tidak.”

“Apakah tidak layak membunuh Halayudha?”

“Tidak olehku. Kalian belum bisa memenangkan. Sekarang, atau seterusnya.”

“Kalau tidak ada kaitan dengan ajaran, kenapa Eyang lepaskan?”

“Karena dosa yang ditanggung Halayudha sudah sedemikian besarnya. Dewa telah menghukum secara nista.”

“Saya tak mengerti, Eyang.”

“Kamu tak akan mengerti penderitaan Halayudha. Kalau kamu punya kaki, kamu masih bisa membayangkan penderitaan mereka yang buntung kakinya. Kalau kamu punya mata, kamu masih bisa merasakan penderitaan orang buta. Tapi kamu tak bisa membayangkan penderitaan orang yang tidak memiliki kejantanan. Yang tak memiliki kelelakian. O-oo. Itu penderitaan yang berat. Tak akan pernah kamu bayangkan.”

Kwowogen menunduk.

“Aku baru menyadari ketika Halayudha berdiri. Aku menyadari ada yang hilang dari bagian tubuhnya. Hilang secara mengerikan kalau dilihat dari bekas-bekas luka yang ditinggalkan. Pernahkah kalian membayangkan itu? Apakah tak cukup rasa iba terhadap penderitaannya?”

“Apakah membunuhnya tak cukup untuk melenyapkan penderitaannya?”

“Tidak. Daya hidupnya besar. Dia berbakat mewarisi ajaran Pamungkas. Paling alami menerima ajaran luhur ini. Ingatlah baik-baik. Suatu hari kelak, kalian akan menjadi prajurit. Dengan bekal kesetiaan dan pengabdian, kalian akan menduduki pangkat dan derajat yang terpandang. Aku bisa bercerita karena aku pernah menjadi senopati. Suatu hari kelak, kalian akan menemui banyak sekali tantangan yang menghancurkan. Baik karena pangkat dan derajat kalian melorot, baik karena kalian disalahkan untuk sesuatu yang tidak kalian lakukan. Apa pun juga, kalian harus tetap memiliki semangat hidup. Kalian harus tetap hidup, tetap urip. Aku tetap hidup, sampai seterusnya. Apa pun penderitaan dan kebahagiaan yang kualami. Tahu hal itu, Kwowogen?”

“Ya, Eyang.”

“Mada?”

“Ya, Eyang.”

“Genter?”

“Ya, Eyang.”

“Biarkan daya hidup kalian yang menjawab. O-oo. Juga kalau raja kalian memutuskan hal lain. Kalau raja kalian memerintahkan kalian bertiga berbunuhan, kalian harus mempertahankan hidup. Juga kalau aku memerintahkan kalian berlatih sepenuhnya, itu yang kalian lakukan. O-oo. Jangan mati untuk alasan apa pun, baik kemuliaan atau tempat di sisi Dewa. O-oo. Hiduplah selalu. Seperti aku.”

Kembali Eyang Puspamurti seperti memaksakan diri melatih, menyempurnakan latihan pernapasan, pukulan, gerakan tangan dan kaki.

Perintah Panglong
PERJALANAN Halayudha kembali ke Keraton tidak sangat tergesa, bahkan terkadang berlambat-lambat. Di wajahnya tak tersimpan perasaan duka atau ada sesuatu yang memberati. Dengan satu atau dua tarikan napas, Halayudha merasa kembali ke dunianya, jagatnya, sebagai senopati yang tenggelam dalam menjalankan baktinya.

Langkahnya tetap lebar ketika memasuki halaman Keraton. Beberapa prajurit menyembah hormat. Begitu juga ketika masuk ke Keraton. Perasaan yang tajam membuatnya cepat sadar bahwa para prajurit kawal istana sedang membicarakan sesuatu dan mendadak terdiam ketika dirinya lewat. Halayudha berhenti, memandang lima prajurit yang tetap menyembah dan menunduk.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Maaf beribu maaf, Senopati yang mulia, hamba memang bermulut lancang….”

“Kenapa kamu bicarakan segala macam payung Keraton?”

Salah seorang memberanikan diri berbicara dengan nada yang sangat menghormat. “Hamba menjalankan perintah Raja, bahwa segala macam payung kebesaran Keraton agar dipajang di alun-alun….”

“Raja yang memerintahkan?”

“Inggih, Senopati yang mulia….”

“Hmmm, jadi kalian sudah berani lancang membicarakan perintah Raja? Kalian tahu bahwa hukuman mati pun masih terlalu ringan?”

“Hamba, hamba, hamba…”

“Hamba apa?”

“Hamba kuatir, sebab perintah Raja sesembahan sekalian manusia adalah perintah panglong…”

Jalan pikiran Halayudha menangkap dua pengertian sekaligus. Yang pertama, adalah pengertian perintah panglong. Panglong adalah istilah untuk menyebut waktu pagi setelah matahari terbit, dan sebelum lingsir wetan, atau sebelum beranjak tinggi dari timur. Saat-saat yang dianggap mempunyai arti kurang baik untuk memutuskan sesuatu. Selama ini memang jarang atau boleh dikatakan tidak pernah seorang raja menjatuhkan putusan pada saat panglong.

Bahwa keputusan seorang raja bisa terjadi saat sirep, lewat tengah malam menjelang dini hari, bukan sesuatu yang mustahil. Malah sebaliknya dianggap sangat tepat. Sampai dengan raina, atau matahari bersinar. Tetapi tidak di antara matahari sudah sepenggalah namun belum tepat di atas. Halayudha bisa mengerti, keraguan itu menjadi tebal karena merasa perintah itu tidak pada tempatnya. Memasang payung kebesaran di alun-alun!

Sesuatu yang bertolak belakang. Payung kebesaran yang sesungguhnya tetap tertutup, dan selalu di samping Raja. Kalau Raja meninggalkan tempat, barulah payung itu menyertai. Maka termasuk aneh, kalau payung itu dibuka di lapangan. Yang kedua, Halayudha menemukan bahwa Raja masih tetap sama dengan ketika ditinggalkan. Tak mampu menguasai dirinya. Guncangan batinnya belum juga mereda. Kalau perlu, bangunan Keraton ini diratakan.

“Di mana Praba Raga Karana?”

“Berada di kamar prameswaren, Senopati….”

“Di kamar permaisuri? Apakah Raja masuk ke sana?”

“Putri Praba mengunci dari dalam….”

Halayudha mengangguk. Tarikan napasnya menyebabkan udara tertahan di dadanya. Otaknya cepat berjalan. “Aku ampuni kalian, sekali ini….”

Kelimanya menyembah seakan tak pernah bangkit lagi.

“Cukup. Selain perintah membongkar pohon beringin, dan ingin menggelar payung kebesaran, apa lagi perintah Raja?”

“Menghancurkan taman di kaputren….”

“Apa lagi?”

“Semua anak perawan harap dikumpulkan di kaputren….”

“Itu saja? Bagaimana dengan tata keprajuritan? Apakah Raja menyebut namaku?”

“Mohon beribu maaf, telinga hamba tidak mendengar….”

“Sama sekali?”

Tak ada jawaban. Itu artinya mengiya.

“Ada disebut-sebut nama Mahapatih Nambi?”

“Maaf, Senopati yang mulia. Raja meminta Mahapatih Nambi sowan ke Keraton dengan membawa semua anak perawan dari Lumajang….”

Tangan Halayudha terkepal. Baginya, yang terakhir ini lebih bergema. Jika sampai Mahapatih Nambi ditarik kembali ke pusat, Keraton akan berada dalam pengawasannya lagi. Berarti keinginannya menduduki jabatan yang sudah di depan mata bisa urung. Lebih buruk lagi, nasibnya bisa berbalik!

“Panglong…”

Halayudha mendesis, sambil melangkah ke dalam. Kini tak ada alasan lain untuk menunda. Jalan pikirannya sudah menemukan jalan keluar. Ia harus melakukan secepatnya. Langkah Halayudha berputar menuju gedung prameswaren, tempat para permaisuri-atau juga calon permaisuri. Tak terlalu sulit baginya mengendap masuk, melewati barisan penjagaan. Bahkan di depan pintu yang dikawal ketat, Halayudha hanya memerlukan satu loncatan pendek sambil mengembangkan kedua tangannya.

Dua prajurit yang berjaga tak sadar apa yang menyebabkan mereka tertidur seketika. Pintu yang tertutup dari dalam, bukan sesuatu yang sulit bagi Halayudha untuk mendobrak dan menarik, tanpa banyak menimbulkan suara. Halayudha melangkah ke dalam. Ke dalam sumber permasalahan. Unggul atau hancur. Hanya itu kemungkinannya sekarang ini. Jika Raja mengetahui dirinya masuk ke kamar Praba Raga Karana, langit pun akan diruntuhkan dan bumi akan digali untuk menghukumnya. Dosa yang tak akan diampuni sampai turunan terakhir!

Halayudha sadar akan hal itu. Akan tetapi otaknya cukup cerdik. Bahwa saat-saat di mana Raja masih murka, pastilah tak akan berkunjung ke kamar peraduan. Hatinya masih panas. Sesuatu yang menurut Halayudha justru disebabkan oleh Praba Raga Karana. Yang mendadak membuat Raja bingung. Segala macam tindakannya yang serba aneh, serba berlawanan dengan akal dan rasa sehat, karena sedang kisruh, karena tak tahu harus berbuat apa terhadap Praba Raga Karana. Kini saatnya!

Halayudha melangkah masuk. Seluruh kemampuan indrianya dikerahkan untuk mencari tahu di mana Praba Raga Karana berada, begitu ia masuk dan menutup pintu. Begitu perasaannya mengatakan di mana Praba berada, tangan kanannya terulur. Langsung jakun Praba terjepit di antara jempol dan telunjuknya. Praba Raga Karana tak mungkin melawan, pun andai tahu bahwa akan ada orang yang berani mendobrak masuk ke kamarnya. Kemampuannya jauh di bawah Halayudha yang sedang dalam siaga penuh.

Apalagi saat itu sebenarnya Praba sedang pati geni, tidak melakukan gerak, tidak makan, tidak minum, tidak melihat cahaya. Sedang bergumul dengan batinnya. Sedang melarutkan diri dalam pertanyaan yang paling dalam untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dirinya. Sejak Raja mencampakkan dan meninggalkan dalam keadaan tanpa busana dan basah, Praba merasa tanah yang diinjak bagai mega yang melambungkan tubuh dan sukmanya. Tak ada pegangan. Tak ada kekuatan.

Dalam saat terguncang itulah ia kembali ke akar keprihatinannya. Masuk ke kamar dan bertapa. Menanyakan kepada Dewa Yang Maha dewa. Apa yang sesungguhnya tengah terjadi dengan dirinya. Dan bukan Dewa yang memberi jawaban, melainkan Halayudha. Mata Praba yang mendelik, hanya mendapat jawaban senyuman tipis, dingin, dari Halayudha.

“Aku tahu kamu membenciku dan menghalangiku menjadi mahapatih. Jempolku jijik menyentuh kulitmu. Praba, tahukah kamu bahwa aku merasa menang melihat wajahmu yang murka, batinmu yang mendidih, perutmu yang bergolak mau muntah? Sekarang kamu puaskan mencaci dalam hati, dalam batinmu. Sekarang dan seterusnya.”

Jari-jari tangan Halayudha bergerak bersama, kanan dan kiri. Sangat cepat. Di kepala, leher, dada, perut, dan di bagian belakang. Halayudha tersenyum. Matanya bersinar.

Tujuh Sumbatan Hidup
HALAYUDHA meregangkan kedua tangannya. Melepaskan semua kekesalan, beban yang ada di seluruh pori-pori tubuhnya. Sementara Praba Raga Karana masih bersimpuh di bawah.

“Semestinya aku melakukan sejak dulu. Atau paling baik justru sekarang ini, Praba. Sehingga aku mengetahui bahwa kamu membenciku? Tidak, aku tidak menyalahkanmu kenapa kamu membenciku. Kamu harus menyalahkan dirimu sendiri karena aku bisa lebih sakti darimu. Kamu bisa mendengar, tapi kamu tak bisa komentar. Kamu bisa melihat, tapi untuk apa, kalau menggeliat saja tak mampu? Anggaplah ini nasib buruk.”

Halayudha berbalik. Tapi langkahnya terhenti. Berbalik lagi. Mendekat ke Praba Raga Karana. Seakan bersikap lembut, ia duduk di dekatnya dan berbisik.

“Aku ingin pamer padamu, dan kamu bisa mengerti kenapa kamu tak bisa bergerak, tak bisa mengeluh, tak bisa merintih atau tersenyum. Tak ada yang mengetahui bahwa aku telah menyumbat tujuh jalan hidupmu. Tujuh jalan darahmu yang terutama, pusat kegiatan dan gerak hidupmu sudah kututup, dan tak ada yang mengetahui. Dengar baik-baik, Praba. Ketika aku menyentuh atas sanggulmu, aku mematikan aliran darah sahasraya, sehingga darah yang mengalir dalam otakmu tak memberikan kekuatan untuk berteriak. Untuk mematikan gerak mata seperti yang kamu kehendaki untuk memberikan sandi, kode untuk menceritakan keadaanmu, aku telah menotok jalan darah di antara alis, yaitu ayana. Jalan darah di tenggorokan pun telah kumatikan, wisudi tak mampu membuatmu menelan jampi dan obat-obatan. Jalur di pulung hati, anahata, serta di pusar, manipura, membuatmu tak akan bisa bergerak, bahkan jika ada kalajengking berjalan di tubuhmu. Aku tidak minta maaf kalau aku menotok jalan hidup adara, sedikit di atas lubang tubuhmu yang paling bawah, serta menotok jalan darah adistara, antara pusar dan kewanitaanmu. Maaf, aku tidak minta maaf. Karena ini untuk menjaga agar nanti kalau Raja memaksamu melakukan pergumulan asmara, tubuhmu tak akan memberi rasa apa-apa. Menjadi dingin beku, seumpama batang pisang yang terendam air. Praba, aku tahu kamu akan memakiku dengan kata-kata yang paling kotor. Meskipun bibirmu tak bergerak, matamu tak bisa mendelik, kamu menistaiku. Itulah yang membuatku bahagia, menang, dan menikmati sampai puas setiap kali mengingatnya. Aku lebih puas bisa menceritakan padamu. Kamu bisa mendengar, bisa mengingat, tapi tak bisa apa-apa. Di jagat ini hanya kita berdua yang tahu apa sebenarnya yang terjadi. Inilah lakon yang sempurna….”

Halayudha berdiri. Tersenyum. “Tanca yang paling mumpuni tak akan bisa mengerti apa yang terjadi padamu. Kalau bukan aku yang melakukan, mungkin aku sendiri tak mengerti. Praba, kamu melicinkan kakiku yang kotor ini, membasuh segala nista yang menempel, sehingga aku bisa melangkah dengan gagah ksatria.”

Halayudha memuji dirinya. Apa yang dikatakan memang pujian yang bisa diterima. Keunggulannya menyumbat jalan hidup, pada tujuh tempat yang berbeda untuk mematikan rasa dan kepekaan tertentu, tak bakal diimbangi oleh yang lain. Apalagi kali ini perpaduan bagian yang disumbat tak akan diperhitungkan. Menyumbat jalan hidup untuk membuat kaku sekujur tubuh bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi hanya bagian-bagian tertentu, itu memerlukan penguasaan dan latihan. Itulah sebabnya Halayudha memuji dirinya sendiri.

Setelah puas menikmati keunggulannya, Halayudha melangkah ke luar dan menutup kembali pintu. Mengusap prajurit kawal, yang akan segera terbebas dari pengaruh sirep dalam beberapa saat mendatang. Tanpa mengetahui apa yang terjadi! Barulah kemudian Halayudha memberanikan diri menghadap Raja.

“Aku tak mau menerima,” jawab Raja kepada prajurit yang melapor.

“Senopati Halayudha ingin ngunjuk atur melapor dengan hormat, mengenai Gusti Ayu Praba Raga Karana….”

“Suruh segera menghadap….”

Halayudha menikmati kepuasan lanjutan. Seakan ia bisa melihat dirinya sendiri sedang melaporkan dengan fasih, dengan kalimat merendah, seakan semua gerakannya sudah dilatih sempurna sebelumnya. Bahwa bukan tidak mungkin kekasih Raja yang mulia, Praba Raga Karana, sedang menderita sakit tertentu.

Karena dari jauh Halayudha mendengar tarikan napas yang berbeda dari tarikan napas orang yang sedang bertapa, sedang mengkhusyukkan diri. Halayudha menambahkan bahwa perhitungannya bisa keliru, akan tetapi ia memberanikan diri menghadap untuk menyampaikan hal ini.

“Aku tak peduli, Halayudha….”

“Hamba yang peduli, Raja sesembahan seluruh Keraton. Karena sakitnya Gusti Praba Raga Karana ingin membaktikan seluruh hidupnya bagi Raja.”

“Aku tetap tak peduli.”

“Mohon ampun, Raja… Ilmu silat hamba masih permulaan. Akan tetapi hamba bisa merasakan bahwa jika seseorang berniat pati geni tanpa dibekali persiapan batin, perjalanan batinnya bisa tersesat.”

“Aku tak peduli.”

“Mohon Raja tidak menghalangi tabib Keraton menjenguknya.”

“Halayudha, kamu ini aneh. Kamu dihalangi Praba, tapi kamu justru paling memikirkan keselamatannya.”

“Mohon ampun. Semuanya berasal dari keinginan mengabdi secara tulus….”

Halayudha seakan mampu menebak jalan berikutnya. Raja Jayanegara memerintahkan para tabib masuk gedung prameswaren. Dan begitu mendengar laporan, Baginda segera menemui. Dan seketika itu juga diumumkan agar dipanggil semua ahli yang ada.

“Senopati Tanca panggil sekarang juga!”

Halayudha mulai menyiapkan langkah berikutnya. Setelah semuanya gagal, Halayudha mengajukan diri untuk menjajal. Dengan bersemadi, Halayudha mulai menyentuh jalan hidup wisudi, meskipun tidak sempurna membebaskan totokan. Sehingga Praba Raga Karana untuk sesaat bisa merintih.

“Dewa Jagat! Rasanya kalau Praba kembali seperti sediakala, kedudukan mahapatih pun masih terlalu rendah untukmu.”

“Hamba hanya bisa mencoba, duh Raja… Hanya karena kemampuan hamba terbatas, mungkin memerlukan waktu….”

“Tak apa, Halayudha. Kamu rawat Praba. Tugas Keraton bisa dilakukan Nambi.”

Inilah yang dinamakan jagat terbalik! Halayudha tak akan pernah bermimpi bahwa Praba Raga Karana sedemikian berartinya sehingga bisa mengubah apa saja. Namun sebagaimana biasanya, Halayudha tak memperlihatkan perubahan wajah sedikit pun yang menggambarkan isi hatinya.

“Kalau Raja mengizinkan, hamba akan mencari obat-obatan.”

“Hari ini juga berangkat!”

Inilah yang dinamakan jagat telah kembali tegak. Halayudha tak mau menunda waktu. Ia memerintah rombongan kecil dengan beberapa kuda pilihan, dan segera meninggalkan Keraton. Tujuannya mencari obat. Obat untuk dirinya. Yaitu ke Lumajang. Halayudha seperti tak sabar berkejaran dengan waktu. Rombongan yang mengikuti bisa tertinggal satu pandangan mata di padang luas. Tetapi tak ada pilihan lain. Lumajang. Mahapatih Nambi!

Kalau ia berhasil mengamankan, rasanya tak ada lagi yang menghalangi. Tak ada lagi. Halayudha memacu kudanya makin cepat. Tidak sampai pergantian matahari berikutnya, Halayudha telah sampai di Lumajang dan segera menggeprak kudanya menuju kediaman Mahapatih Nambi.

“Hamba menghaturkan sembah, Mahapatih….”

“Saya sudah menduga Senopati akan datang….”

Suara Mahapatih Nambi tetap menunjukkan kewibawaan, kegagahan, yang membuat Halayudha bagai disiram air dingin. Karena biar bagaimanapun, dirinya adalah bawahan Mahapatih Nambi. Sehingga pengaruh itu terasakan.

Purus Puspa Lembong
YANG tak pernah diperhitungkan Halayudha adalah kehadiran Permaisuri Indreswari. Cerdik, teliti, penuh perhitungan, akan tetapi justru Permaisuri Indreswari terlupakan. Padahal justru yang sepele ini bisa membuyarkan semua rencana. Sewaktu Keraton menjadi geger tak menentu, Permaisuri Indreswari mendapat laporan lengkap. Bahwa Praba Raga Karana menderita gering. Tubuhnya lemas tak mampu bergerak, sehingga untuk memalingkan wajah pun perlu dibantu. Pandangan matanya nanar, tetapi seperti tak melihat apa-apa.

Saat itu juga Permaisuri Indreswari memerlukan mengunjungi untuk melihat sendiri. Raja Jayanegara tak melarang, meskipun juga tak memperlihatkan bisa menerima rasa iba. Ada sesuatu yang menggerakkan Permaisuri Indreswari sehingga memerlukan datang sendiri. Yang pertama terlintas ialah bahwa Praba Raga Karana kena. Bahwa Praba kalah kuat sehingga bisa kesambet. Terkena serangan ilmu hitam. Sesuatu yang sangat wajar.

Sebagai permaisuri, Indreswari menyadari dan hidup di dalam pertikaian dan persaingan batin dengan wanita lain. Baik secara terang-terangan, apa-lagi secara diam-diam. Masing-masing wanita berusaha memuaskan, mengabdi Baginda, dengan segala macam cara. Dengan merawat tubuh dari ujung kuku hingga ujung rambut, dengan melatih suara, cara bernapas maupun melirik, dengan segala macam ramuan obat-obatan, maupun dengan kekuatan lain.

Kekuatan lain itu berupa mantra, baik untuk menguatkan diri maupun untuk menyerang lawan. Permaisuri Indreswari sadar akan lekuk-liku dunia perdukunan yang berkaitan dengan perebutan daya asmara untuk menarik sebesar mungkin perhatian Baginda. Permaisuri Indreswari sadar karena dirinya larut dalam kehidupan semacam itu terus-menerus.

Makanya yang terpikir pertama adalah bahwa Praba Raga Karana terkena pengaruh itu. Karena tak mungkin tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga, telinganya tak bisa mendengar, dan mulutnya membisu. Masalahnya adalah dukun mana dan ilmu apa yang menyebabkan, serta bagaimana cara mengatasinya.

“Semua usaha telah dikerahkan, Gusti Permaisuri. Semua dukun, orang tua, telah dipanggil.”

Permaisuri mengangguk. Ia meminta semua yang ada di dalam ruangan meninggalkan tempat. Kemudian secara perlahan Permaisuri Indreswari membuka selimut, meraba pusar dan sedikit bagian bawah perut Praba Raga Karana. Kepalanya menggeleng. Kemudian memerintahkan memanggil Senopati Tanca yang dikenal mempunyai ilmu dalam penyembuhan berbagai lelara, berbagai penyakit.

“Tanca, haturkan terus terang, apakah Praba kena pengaruh tenung asmara?”

“Besar kemungkinannya demikian, Gusti Permaisuri. Hamba tak berani memastikan, karena caranya amat sangat halus. Beberapa kali hamba mencoba mengetahui dan masuk, akan tetapi pengaruhnya sangat samar. Besar kemungkinannya ilmu tenung yang selama ini tak dikenal.”

“Aku merasakan ada sesuatu yang kejang pada tempat antara pusar dan purus.”

Senopati Tanca mengangguk dalam dan menyembah. Dalam hatinya memuji kelebihan Permaisuri. Tanpa mempelajari secara khusus, Permaisuri Indreswari bisa segera mengetahui adanya kelainan pada bagian tubuh Praba Raga Karana. Ia sendiri memang menemukan ada bagian yang mengejang, akan tetapi tak bisa memastikan sumbernya antara pusar dan purus-istilah yang sebenarnya untuk menyebutkan nama anggota tubuh yang paling laki-laki.

Dengan menyebutkan purus, Permaisuri Indreswari memakai bahasa lain yang halus, meskipun masih tak terhindarkan penunjukan yang langsung. Senopati Tanca boleh heran, akan tetapi bagi Permaisuri Indreswari, itu semua bukan sesuatu yang luar biasa. Karena memang sejak semula para permaisuri Keraton sadar bagaimana merawat bagian-bagian tubuh terus-menerus.

“Tanca, apakah Praba sering menggunakan jamu-jamu dan ramuan untuk memperhebat kewanitaannya?”

Wajah Tanca menjadi merah. Tetap tak tersembunyikan meskipun menunduk. Hatinya terasa gerah.

“Aku harus membicarakan ini untuk mengetahui keadaannya sebenarnya. Kalau benar ia diserang dengan ilmu tenung, rasanya kamu bisa mengetahui. Kalau tidak, pasti karena ulahnya sendiri. Yang paling mungkin adalah cara merawat diri yang sangat keterlaluan sehingga menghancurkan tubuhnya sendiri. Itu sebabnya aku bertanya begitu.”

“Gusti Permaisuri sangat tepat.”

“Apa karena itu?”

“Hamba tak bisa matur. Sekarang ini tak bisa ditanyai. Para dayang yang dekat tak bisa memberi laporan yang tepat.”

“Kamu sudah meneliti hal itu?”

“Sebisa mungkin, Gusti Permaisuri….”

“Berarti titik tolak kita sama. Yang diarah adalah kewanitaan. Rasanya tak usah terlalu jauh. Kita bisa mencari Purus Puspa Lembong… Kalau ini tak bisa, berarti kita semua harus bersiaga. Ada musuh besar yang leluasa bergerak dalam Keraton.”

Dalam hati, Senopati Tanca kurang tulus menghormat Permaisuri Indreswari. Apalagi dengan beberapa kejadian terakhir yang menyangkut Baginda Kertarajasa ke Simping. Akan tetapi sekali ini tak ada alasan untuk tidak memuji secara tulus. Sebagai tabib Keraton, Tanca boleh dikatakan sangat menguasai segala jenis lelara bangsawan Keraton. Termasuk yang satu ini.

Purus Puspa Lembong adalah sejenis tanaman seperti keladi yang menempel pada tumbuh-tumbuhan tertentu. Jurus Puspa Lembong sangat banyak, akan tetapi yang memakai nama Purus sangat sulit ditemukan. Sehingga akhirnya Baginda Raja Sri Kertanegara membangun hutan tersendiri untuk menyemai tanaman tersebut. Tanaman yang mempunyai kesaktian dalam pergulatan daya asmara.

Kalau Permaisuri Indreswari sampai kepada kesimpulan penggunaan Purus Puspa Lembong, ini berarti pengetahuan mengenai pengobatan sangat mendalam. Sekurangnya dengan cara itu Permaisuri Indreswari ingin menjajal kemungkinan terakhir. Yaitu menyembuhkan, atau memperparah keadaan Praba.

Kelebihan tanaman Purus Puspa Lembong adalah memperkuat kekuatan asmara yang biasanya digunakan kaum lelaki. Kini akan dicobakan ke tubuh Praba untuk menawarkan pengaruh. Semakin banyak dan terbiasa, semakin tidak mempunyai pengaruh apa pun. Itu pengobatan yang juga dipakai sebagai jalan terakhir. Dasar-dasarnya seperti yang selama ini dipelajari Senopati Tanca. Bahwa untuk melawan bisa, untuk melawan racun, adalah dengan membiasakan tubuh terkena racun. Sehingga menjadi kebal.

Suatu pemikiran yang mendalam. Yang sudah dipikirkan oleh Tanca, akan tetapi tak berani mengutarakan. Terutama karena alasan tata susila. Dan itu yang dikatakan oleh Permaisuri Indreswari. Yang lebih luar biasa adalah kesimpulan yang kedua. Kalau pengobatan dengan Purus Puspa Lembong tidak berhasil, berarti ada cara lain yang dipakai untuk membuat Praba Raga Karana menderita gering seperti sekarang ini.

Dan itu hanya dimungkinkan oleh orang yang bisa leluasa keluar-masuk prameswaren, yang bisa menyusup tanpa dicurigai. Di sinilah bahaya yang sesungguhnya. Kalau kamar Praba yang dijaga sangat ketat bisa dimasuki orang yang berbuat kurang ajar, berarti kamar siapa pun bisa digerayangi. Tak ada lagi yang tersembunyi di Keraton ini.

“Apa lagi yang kamu tunggu, Tanca?”

“Hamba menjalankan perintah Permaisuri…”

“Apakah penilaianku keliru?”

“Tepat, Gusti…”

“Sebentar… Sebelum kamu berangkat, apakah kamu melihat kira-kira siapa yang berbuat kurang ajar di Keraton?”

“Hamba tak mengetahui, Gusti.”

“Atau tak berani?”

“Bagi hamba tak ada untungnya menyembunyikan musuh Keraton.”

Permaisuri mengangguk. “Benar. Siapa menurutmu yang beruntung dengan sakitnya Praba?”

Pertanyaan itu menggema. Tanpa jawaban. Karena Permaisuri Indreswari segera berlalu.

Persaingan Asmara
YANG juga tak diperhitungkan Halayudha adalah bahwa Mahapatih Nambi sangat dingin sikapnya.

“Senopati Halayudha. Aku mendengar semuanya. Semuanya. Juga kabar geringnya Praba Raga Karana.”

“Mahapatih mempunyai pendengaran seratus kali lebih tajam dari seratus ekor gajah.”

“Pujian yang berlebihan biasanya tidak tulus. Sayang….”

Halayudha mengertakkan giginya. Ia menahan kegusarannya yang bergolak. Pada saat sekarang ini, bahkan rasanya Halayudha berani memutuskan untuk menantang. Akan tetapi ditahannya desakan yang bisa mengeruhkan suasana. Meskipun Raja telah dekat dan menjanjikan, ia tak ingin meninggalkan kesan buruk yang bisa menimbulkan bibit-bibit permusuhan di belakang hari.

“Sayang… Tapi itu yang bisa terjadi. Geringnya Praba bisa membangkitkan dugaan yang berlebihan. Apalagi perubahan tubuhnya yang tak bisa bergerak, menyebabkan dugaan bahwa persaingan merebutkan asmara Raja yang menjadi alasannya. Dengan demikian, Putri Tunggadewi dan Putri Rajadewi bisa menjadi sasaran. Bisa lebih menderita, karena perlakuan yang hina. Segala kehinaan bisa terjadi. Sayang…"

Sayang bagi Mahapatih Nambi, tapi perasaan Halayudha justru melayang. Ia tak menduga bahwa ini bisa mengakibatkan langkah yang lebih menyeluruh. Tunggadewi, dan terutama Tunggadewi, lebih daripada Rajadewi, adalah pujaan para abdi dan senopati Keraton. Karena masih turunan langsung Baginda dengan Permaisuri Rajapatni, yang sejak sebelum lahir sudah diramalkan bakal menjadi raja yang membawa kebesaran Keraton yang belum pernah terjadi selama ini!

Betapa hebat kebesaran dan kekaguman yang menyertai Tunggadewi! Bagi Mahapatih Nambi, ia merupakan junjungan yang sangat dihormati. Dan sekarang ikut tersudut, ikut terguncang.

JILID 31BUKU PERTAMAJILID 33