Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 25

“Sejak saya menelusuri dan melatih pernapasan dari Kitab Air, saya merasa lebih tenang. Merasa bahwa semua pergolakan hanya terjadi di atas. Di bagian bawah, akan mengendap.”

“Selamat. Kamu telah maju pesat.”

“Seperti Mbakyu Demang yang sekarang mampu mendengar jarak jauh. Kemajuan yang tak bisa disamai, pun oleh Kakang Upasara….”

"Cukup. Aku telah mendengar semuanya. Aku telah mengetahui. Tapi aku sudah sampai kepada keputusan untuk kembali ke Perguruan Awan...“

Keduanya bertatapan. Mengangguk bersamaan. Menoleh bersamaan, ke arah dua bayangan yang mendekat. Ratu Ayu yang datang bersama Permaisuri Rajapatni.

“Kalau semua yang kecewa harus mengundurkan diri dan tak mau melihat langit, siapa lagi yang tinggal di bumi ini?” Suara Permaisuri Rajapatni sepenuhnya mampu mengontrol emosi. “Kalau ada yang bisa dikenang dari Kakang Upasara Wulung, adalah pengabdian kepada Keraton, kepada raja, kepada sesama manusia. Saat-saat terakhir dalam hidup Kakang, tidak mengubah sikapnya sebagai ksatria. Itulah sesungguhnya keunggulan Kakangmas Upasara Wulung.”

Nyai Demang mencibirkan bibirnya. “Apa yang mau Permaisuri katakan?”

“Keraton Majapahit sekarang ini sedang kosong. Sepi dari kekuasaan dan kekuatan. Baginda telah jengkar, menyingkir ke Simping. Raja Jayanegara tenggelam dalam belaian daya asmara. Senopati Halayudha sedang pergi ke Lumajang. Tak ada yang tersisa….”

“Aha, Permaisuri mau mengatakan bahwa kami mempunyai kewajiban untuk menjaga Keraton? Sejak kapan Permaisuri memikirkan hal itu? Sejak memerintahkan hukum poteng Adimas Upasara?”

“Ya, Mbakyu Demang. Kalau saya bisa memainkan keris, saya akan menjaga. Kalau saya bisa berbuat sesuatu, akan saya lakukan sekarang.”

“Kalau harus menerima hukuman?”

“Akan saya lakukan sekarang.” Pandangan matanya keras. “Saya minta Ratu Ayu melakukan sekarang juga, akan tetapi ia lebih suka minta pendapat kalian. Bagaimana cara menghukum saya. Apa susahnya menjalankan hukum poteng yang sama? Mbakyu Demang, Gendhuk Tri, Ratu Ayu… Bukankah kalian datang untuk mendapat kepastian tentang kematian Kakangmas Upasara? Kenapa sekarang ragu?”

Ratu Ayu mengambil cundrik dari pinggang Permaisuri. Gendhuk Tri memandang tak berkedip. Nyai Demang memandang ke arah lain. Permaisuri Rajapatni menutupkan matanya, menunduk.

“Satu permintaanku, setelah aku selesai menghukum Permaisuri, salah satu di antara kalian berdua melakukan cara yang sama padaku.”

Permintaan Ratu Ayu disuarakan dengan nada memohon yang lebih merupakan rintihan.

“Saya…saya…tak bisa….”

“Saya bisa.” Suara Gendhuk Tri terdengar mantap. Selendangnya dikibaskan. Kedua kakinya sedikit merenggang. “Karena kalian berdua yang menghendaki, biarlah aku yang melakukan. Yang satu permaisuri, yang satu ratu. Semua memilih jalannya sendiri. Mbakyu Demang, apakah Mbakyu juga akan mati bela?”

Tantangan Gendhuk Tri membuat Permaisuri menarik napas lega. Juga Ratu Ayu.

“Silakan, Ratu….”

Ratu Ayu melepaskan cundrik dari sarungnya. Tangan kanannya bergerak cepat. Gendhuk Tri mengawasi dengan sorot mata tajam. Mendadak, Nyai Demang bergerak cepat. Tangan kanan mendorong Permaisuri, tangan kiri mendorong Ratu Ayu. Keduanya terdorong cukup jauh. Bahkan Permaisuri sampai terguling.

“Jangan lakukan sekarang, Ratu. Nanti setelah saya pergi….”

Gendhuk Tri mendesis. “Kalau begitu, silakan pergi, Mbakyu….”

Sebaliknya dari meninggalkan tempat, Nyai Demang malah berdiri kaku, mematung. “Apa sebenarnya yang berada dalam dirimu, Gendhuk? Apakah masih ada sisa racun jahat dalam tubuhmu?”

“Saya akan melakukan apa yang diminta seseorang yang datang kepada saya. Tanpa harus mengetahui apakah itu beracun atau tidak. Seperti dulu Eyang Putri Pulangsih menerima perpisahan dari Eyang Sepuh. Saya tahu bahwa di balik kematian Kakang Upasara masih ada yang disembunyikan. Karena kalian berdua menginginkan membawa rahasia ke alam lain, saya tak akan menghalangi.”

Nyai Demang tertegun. Ada sesuatu yang melintas di otaknya.

Empat Wanita, Empat Rasa
SESUATU yang melintas itu sebenarnya sederhana. Gendhuk Tri bukanlah tokoh yang bodoh. Bahkan kecerdikannya, caranya berpikir, di atas dirinya. Apalagi dengan pengalaman mati-hidup yang dialami berulang kali, membuatnya lebih bijak dan terang serta jernih dalam menimbang persoalan. Ditambah lagi, kini jauh lebih matang setelah sedikit-banyak menguasai Kitab Air secara teratur.

Kalau sampai menduga “ada sesuatu yang disembunyikan”, pastilah ia tengah menduga sesuatu yang terjadi di balik penyerahan Permaisuri. Dugaan itu cukup beralasan. Hanya saja, sekarang ini, Nyai Demang tak bisa menduga apa, dan alasan apa. Tetapi bukannya tak bisa dikira-kira.

Kematian Upasara selama ini masih merupakan teka-teki. Apa betul segampang itu Upasara yang gagah dan sakti mati? Taruh kata memang ia terluka parah, sangat parah. Tangan kiri yang menjadi pusat kekuatan, tertembus keris di bahu. Besar kemungkinan sebagian tenaga dalamnya lenyap. Sementara tangan kanannya belum pulih, ini merupakan hambatan yang besar. Bisa juga Upasara cacat seumur hidup. Tapi mati?

Rasanya tak semudah itu. Apalagi seorang Upasara, apakah mungkin di saat menderita tak tahan dan minta dihabisi begitu saja? Itu yang tidak masuk akal. Namun, Nyai Demang mengakui bahwa dasar berpikirnya sangat rapuh. Dirinya mengandaikan itu semua karena jauh dalam hatinya berharap bahwa Upasara belum meninggal. Upasara masih hidup, segar bugar, di suatu tempat yang untuk sementara belum diketahui di mana.

Kerapuhan itu juga diakui oleh Gendhuk Tri. Ia merasa bahwa kalimatnya yang menyentak mengenai “suatu rahasia” karena lebih berdasarkan keinginannya sendiri. Bahwa ada yang dirahasiakan mengenai kematian Upasara. Bahwa Upasara belum mati, apalagi dipotong-potong anggota tubuhnya!

Banyak kemungkinan bisa terjadi, tapi bukan kematian. Apalagi terjadi pada Upasara. Titik tolak inilah yang membuatnya berpikir bahwa Permaisuri dan Ratu Ayu menyembunyikan rahasia yang hanya diketahui mereka berdua.

Padahal pada saat yang sama Ratu Ayu merasa bahwa Permaisuri tak akan setega itu melakukan hukuman kepada Upasara. Dasar lubuk hatinya mengatakan itu, tak lagi mau mempercayai telinganya. Desakan demi desakan hanya membuat Permaisuri bersedia menerima pembalasan.

Maka di saat semua pegangan luntur, hatinya tak kuat lagi. Cundrik disebut dan dengan sepenuh tenaga ditusukkan ke arah Permaisuri. Yang menunduk tak mengelak sedikit pun! Kalau benar Permaisuri tidak melakukan, bagaimana mungkin ia menerima hukuman kematian setenang itu? Apakah ini bukan pertanda penyesalan yang berat atas apa yang sudah dilakukan?

“Kita berempat berada di sini, dengan rasa dan suara batin masing-masing. Barangkali tak bisa dikatakan ini cara yang baik. Bukan cara yang baik karena kita saling menumpangkan kekuatan kepada lamunan yang kita susun sendiri. Kekuatan Ratu belum pulih sepertiganya. Masih teramat lemah. Mbakyu Demang juga masih belum bisa memusatkan tenaga dalamnya. Sementara Permaisuri sendiri seperti tak waras. Saya sendiri, meskipun bisa bicara seperti ini merasa bahwa semua pertimbangan yang ada menjadi kacau-balau. Bisa ngoceh sendiri. Kalau saya boleh mengajak, marilah kita bersama-sama mengendapkan semua rasa, mengembalikan kepada sumber kegelisahan ke permukaan, dan memulai dengan ketenangan.”

Nyai Demang sadar sepenuhnya bahwa sejak mereka mendengar kematian Upasara, segalanya seperti berjalan dengan kacau. Jalan pikiran bolak-balik tidak menentu. Ajakan Gendhuk Tri sangat tepat. Maka ia tak mau menunggu lama. Segera duduk bersila dengan gerakan lembut, kedua tangannya terkulai. Satu tangan kiri terangkat, dan Ratu Ayu segera menempelkan telapak tangannya, melakukan gerakan semadi yang sama.

Gendhuk Tri, dengan caranya sendiri, juga menyatukan telapak tangannya. Permaisuri Rajapatni mengikuti dengan menempelkan telapak tangannya ke arah Gendhuk Tri, dan menyatukan dalam lingkaran. Segera terasa udara panas menyusup ke dalam tubuhnya. Terasa terbakar. Mendadak saja seluruh tubuhnya mengalirkan keringat.

“Tahan, Permaisuri….” Suara Gendhuk Tri yang lembut menuntun pikirannya.

Permaisuri membiarkan tubuhnya dialiri tenaga dalam yang seperti menerobos masuk, berguncang dan kembali lagi, mengalir ke arah Ratu Ayu. Keempatnya mencoba menyatukan pikiran, perasaan, dan semua kekuatan melarut dalam keheningan. Gendhuk Tri, meskipun bukan yang paling kuat tenaga dalamnya, mampu menyatukan dan menuntun. Hanya Rajapatni yang paling dangkal penguasaan tenaga dalamnya tampak bergoyang-goyang. Kini seluruh tubuhnya kuyup oleh keringat tubuh. Dari ujung rambut hingga ujung telapak kaki.

“Ya, Kakangmas Upasara mengusir pagebluk dengan cara ini… Saya menjadi berkeringat….”

“Permaisuri, kosongkan pikiran. Jangan membayangkan Kakang Upasara jangan merasakan udara panas. Biar saja melalui tubuh Permaisuri, ke arah Ratu Ayu….”

Ratu Ayu yang bisa mengerti arah pembicaraan Gendhuk Tri segera menampung tenaga dalam yang tercurah ke tubuhnya. Dibarengi dengan tenaga dalamnya sendiri, seakan semua panas mengumpul di tubuhnya. Dalam kejapan berikutnya, tubuhnya benar-benar basah dan tenggelam dalam cairan keringat. Karena keringat yang mengucur dari tubuhnya sangat deras. Jauh dalam hatinya terbersit rasa kagum kepada Gendhuk Tri.

Gadis hitam manis ini ternyata mempunyai kemampuan menyatukan tenaga dalam yang luar biasa. Walaupun keempatnya mempunyai dasar ilmu silat yang saling berbeda, tetap bisa disatukan. Inilah luar biasa. Dasar tenaga dalam Ratu Ayu sumbernya sama sekali berbeda dengan yang lain. Cara melatih dan mengerahkan tenaga sangat berbeda.

Apalagi dibandingkan dengan Nyai Demang yang agaknya masih menyimpan satu gumpalan tenaga dalam yang sepenuhnya belum bisa dikerahkan dengan baik. Kadang gumpalan dingin itu membuatnya menggigil kedinginan, kadang malah membeku, menyumbat tenaga yang masuk. Demikian juga Permaisuri yang mencoba menjadi pengantar tenaga dalam. Tubuhnya kosong.

Akan tetapi kekuatan Gendhuk Tri mampu menggiring satu demi satu, mengalirkan ke arah Ratu Ayu. Yang kini bahkan tak mampu membuka mata karena air deras terus mengalir. Pada saat yang tepat pula, Gendhuk Tri menarik kembali tenaga dalamnya, dan mengembalikan ke tempat asalnya.

“Hebat, hebat sekali. Selamat,” kata Nyai Demang terengah-engah. “Tak kusangka kamu sudah sedemikian majunya. Hebat sekali. Eyang Putri Pulangsih betul-betul mahasakti mandraguna. Aku mengakui dengan tulus.”

Suara Nyai Demang seperti mengisyaratkan adanya kekuatan lain yang mempengaruhi. Suara pengakuan Kakek Berune. Bukan sesuatu yang luar biasa. Beberapa waktu lamanya, Nyai Demang terkulai secara sempurna oleh kekuatan Eyang Kebo Berune. Sehingga kalaupun Secara wadag, lahiriah, dirinya telah terbebaskan dari menggendong mayat, akan tetapi pengaruh itu masih ada.

Hanya saja, kini, pengaruh itu dalam pengertian yang baik. Yang bisa diterima dengan lega oleh Gendhuk Tri. Senyuman tipis menandai rasa bangga. Sesuatu yang tak pernah diduga akan sedemikian besar pengaruhnya. Kemampuannya mengalirkan tenaga dalam yang berbeda, dan mengarahkan benar-benar seperti perwujudan tenaga air yang bisa terkuasai.

Sebaliknya Ratu Ayu merasa tubuhnya lebih segar, walau seakan seluruh cairan dalam tubuhnya mengucur keluar. Barulah dimengerti bahwa bubuk pagebluk yang masuk ke tubuhnya, ikut terpompa keluar bersama cucuran keringat. Cara pengobatan yang luar biasa. Yang dilakukan Raja Turkana pada Permaisuri? Ratu Ayu segera membuang kecurigaan jauh-jauh.

“Terima kasih, Gendhuk Tri… Nyai Demang, dan Permaisuri… Saya merasa lebih baik.”

“Saya tidak…”

“Tanpa bantuan Permaisuri, kita semua belum tentu berhasil.” Kalimat Gendhuk Tri seperti menggurui, berbeda dari biasanya.

Baik Nyai Demang maupun Ratu Ayu mengakui bahwa apa yang dikatakan Gendhuk Tri benar adanya. Tanpa bantuan Permaisuri, akan sulit bisa menyatukan tenaga dingin Nyai Demang, tenaga lompat Ratu Ayu, dan tenaga air Gendhuk Tri. Harus ada perantaranya. Dan itu yang dilakukan Permaisuri.

Rahasia Asmara Diam
PAGI terasa. Suara Dalang Memeling tak terdengar lagi, digantikan gending penutup dan kicauan burung pagi. Keempatnya masih duduk melingkar. Ratu Ayu memusatkan semangatnya, melatih untuk mengalirkan tenaga dalamnya sekali lagi. Seperti juga Nyai Demang dan Gendhuk Tri, sementara Permaisuri beristirahat. Pagi mengantarkan bau tanah. Gendhuk Tri membuka matanya.

“Setelah kita merasa lebih segar, rasanya tak ada masalah yang perlu dirisaukan lagi, apa yang akan kita lakukan. Mbakyu Demang masih akan kembali ke Perguruan Awan?”

“Tidak sekarang ini.”

“Ratu Ayu masih…”

“Tidak sekarang ini.”

“Permaisuri…”

“Saya tak mempunyai tujuan apa-apa. Saya hanya nyuwita, mengabdi, kepada Baginda. Kini Baginda sudah jengkar, meninggalkan saya. Kalau salah satu dari kalian mau saya ikuti, saya akan terus mengikuti.”

“Bagaimana rencana Permaisuri kembali ke Keraton?”

Permaisuri Rajapatni menunduk. “Itu mungkin yang terbaik. Selama ini jasad Kakangmas Upasara masih di sana. Sebelum Wong Agung Galgendu memindahkan, rasanya saya ingin melihat untuk yang terakhir kali.”

“Bagaimana dengan keamanan Keraton yang Permaisuri kuatirkan?”

“Saya hanya berpikir selintas. Bahwa Keraton sekarang ini sedang sepi, sedang kosong, sehingga memancing bersemainya bibit kraman, bibit pemberontakan. Kalau saya bisa berbuat sesuatu untuk mencegah, saya akan merasa beban dosa ini berkurang.”

“Kalau memang begitu, mari kita pamit bersama. Tak ada salahnya kita kembali ke Keraton.”

Jalan ketegasan yang dipilih Gendhuk Tri menghemat pemikiran yang berlarut. Ketiganya menyetujui berangkat bersama ke Keraton. Untuk melihat pemindahan jasad Upasara Wulung dan melihat suasana. Wong Agung Galgendu yang kelihatannya tak bisa menerima keputusan. Berulang kali ia membungkukkan badan, memohon dengan suara meratap.

“Duh, Permaisuri yang mulia. Duh, Ratu Ayu. Para pendekar yang mulia. Apa lagi kekurangan saya ini? Gua Kencana pun saya buka buat Paduka semua. Kenapa saya ditinggalkan? Apa kesalahan saya? Saya sudah berjanji akan melaksanakan upacara pencandian….”

“Wong Agung…” Suara Ratu Ayu terdengar sangat lembut. “Ini semua tak ada hubungannya dengan keramahan Wong Agung yang hangat dan semanak. Kami semua merasakan persahabatan ini. Akan tetapi kali ini, kami ingin berangkat lebih dulu. Karena itu yang terbaik bagi perasaan kami.”

“Ratu akan kembali kemari?”

“Saya tak pernah bisa berjanji, Wong Agung….”

Wajah duka menggores dalam, tatapan mata yang kosong mengantarkan keberangkatan keempat wanita yang pernah ditalikan oleh daya yang sama. Ratu Ayu sendiri memerintahkan agar Senopati Sariq tidak berada dalam perjalanan yang sama.

Dua hari pertama perjalanan dilakukan dengan berdiam diri. Tak ada yang membuka pembicaraan. Dua hari perjalanan yang tak bisa tergesa, karena Permaisuri memang tak bisa berjalan cepat. Dua hari yang menyadarkan keempatnya secara bersamaan. Bahwa yang tiga mau menunggu kesanggupan salah satu.

Yang satu memaksakan diri, dan merasa diperhatikan oleh ketiga yang lain. Permaisuri sendiri masih mendapat hormat, sungkem dari Gendhuk Tri maupun Nyai Demang, namun secara halus selalu menolak.

“Saya bisa membayangkan bahwa Kakangmas akan tersenyum bahagia bila melihat kita berempat jalan bersama.”

“Apa yang Permaisuri katakan sangat tepat. Saya tahu Adimas merasa berat hati dan tak bisa memberati orang lain karena mengutamakan salah seorang.”

“Raja Turkana bisa menyatukan kita, mempererat perasaan, tanpa pernah menghancurkan atau melukai perasaan kita.”

“Sudahlah, untuk apa kita selalu mengenang dan membicarakan Kakang? Biarlah Kakang merasakan istirahat dengan tenang, dengan bahagia sepanjang zaman. Sesuatu yang tidak Kakang rasakan sebelumnya….”

Keempatnya terdiam. Sesaat.

“Kenapa Mbakyu Demang tersenyum-senyum?”

“Tidak. Tak ada apa-apa.”

“Apakah kita masih perlu saling menyembunyikan rasa?”

“Gendhuk Tri, barangkali kamu yang paling bahagia saat ini. Tak ada lagi beban penyesalan pada Adimas. Dan Adimas juga merestui hubunganmu dengan Singanada.”

Gendhuk Tri menarik sepasang alisnya. “Apa yang dikatakan Kakang?”

“Adimas menyetujui. Merasa bahwa itu pilihan terbaik. Mendoakan supaya bahagia.”

“Ngawur. Dari mana Mbakyu tahu? Bukankah selama ini Mbakyu terkuasai Kakek Berune?”

Nyai Demang tersenyum. “Saya sempat beberapa saat bersama Adimas… Ah, sudahlah itu. Aneh juga Maha Singanada itu. Kenapa ia begitu mendendam kepada Senopati Agung Brahma, hanya karena menanyakan sesuatu tentang ayahnya? Saya sendiri tak mengetahui. Nanti kita tanyakan.”

Permaisuri terhenti. Menghapus sudut matanya yang basah. Ketiga yang lain tertegun.

“Kisah yang memilukan. Sejauh saya mengetahui….”

Dengan suara masih diseling sedu sedan, Permaisuri menuturkan. Bahwa sesungguhnya Senopati Agung Brahma pada masa dulu menjalin hubungan asmara dengan Dyah Ayu Tapasi, putri Sri Baginda Raja Kertanegara. Yang berarti masih saudara seayah dengan Permaisuri, meskipun perbedaan usianya sangat jauh.

Akan tetapi hubungan mereka terpisahkan, karena Senopati Agung Brahma menunaikan tugas ke negeri seberang. Itu sebabnya Dyah Ayu Tapasi memutuskan berangkat ke negeri seberang, menjadi putri yang diserahkan ke Keraton di tanah Campa.

“Mungkin bingung karena merasa putus asmara?”

“Bisa juga begitu. Akan tetapi, sesungguhnya hati Dyah Ayu Tapasi sudah menyatu dengan Senopati Agung Brahma. Sehingga sebelum diserahkan ke Raja Campa, Dyah Ayu melakukan sesuatu yang sangat hina, yang bisa menyebabkan hancurnya semua kehormatan. Dyah Ayu menyerahkan kehormatannya kepada Senopati Mapanji Paksa yang menjadi pemimpin utusan….”

Terdengar suara “ah” bersamaan dari Gendhuk Tri, Nyai Demang, maupun Ratu Ayu.

“Lalu?”

“Mapanji Paksa sendiri merasa bersalah….”

“Apakah Singanada itu putra Mapanji?”

Permaisuri mengangguk. Kini sepenuhnya tubuhnya menggigil karena sedu sedan. Dada Gendhuk Tri serasa pepat. Matanya dipandangkan ke langit. Merasa kurang enak diketahui bahwa air matanya menggenang. Bisa dimengerti kalau Singanada merasa memanggul beban noda yang tak terpikul, setiap kali diingatkan sesuatu yang nista terjadi pada ayahandanya. Dalam keadaan selalu tersudut, perangainya menjadi sangat aneh.

“Singanada sesungguhnya cucu Sri Baginda Raja….”

Nyai Demang menggigit bibirnya. Ada kilas lain yang membetik dalam pikirannya. Kalau benar demikian, Maha Singanada adalah putra Dyah Ayu Tapasi. Kalau dilihat wajah dan perawakannya sangat mirip Upasara Wulung, bukan tidak mungkin Upasara Wulung pun… dengan kata lain, sebenarnya juga berhak untuk menyanding Permaisuri! Apakah itu yang membuat Permaisuri sangat berduka?

Ratu Ayu paling tidak mengenal dengan baik, akan tetapi ikut larut dalam duka yang sama. Hanya karena ia merasa dirinya orang luar, sempat terucap olehnya, “Permaisuri… Kalau Senopati Agung Brahma ksatria dari Keraton dan Tapasi putri Baginda Raja, kenapa harus terjadi perpisahan?”

“Ratu…”

“Apakah Baginda Raja tidak merestui?”

“Semua ini baru diketahui setelah peristiwa itu terjadi. Sebelumnya tak ada yang memahami dengan jelas, bahwa ada daya asmara yang bersemi di dada Dyah Ayu dan Senopati Agung. Daya asmara yang hanya dirasakan mereka berdua. Dalam diam. Dengan diam.”

Rerasan Empat Wanita
SUARA Permaisuri Rajapatni perlahan. Sebagian malah tertelan keharuan. Nyai Demang juga merasakan sepenuhnya apa yang terjadi di balik hubungan Dyah Tapasi dengan Senopati Brahma. Suatu perjalanan asmara yang tak pernah muncul ke permukaan, yang ditutupi.

Apakah bukan itu yang juga terjadi antara dirinya dan Upasara, yang dipanggil dengan sebutan Adimas? Bukankah sebutan itu untuk menjaga jarak, agar tak muncul daya asmara?

Nyai Demang sepenuhnya mengakui, seperti secara tidak langsung Upasara pun mengakui, bahwa wanita pertama yang menggetarkan hati kelelakian Upasara adalah dirinya. Dengan alasan apa pun, baik karena tertarik bentuk tubuhnya atau bentuk yang lain. Ini termasuk istimewa karena sesungguhnya Upasara jarang sekali tertarik kepada wanita.

Tapi sejak awal, Nyai Demang menenggelamkan perasaan itu. Perasaan kemungkinan tumbuhnya daya asmara. Karena satu dan lain pertimbangan. Di antaranya ia merasa tak pantas mempermainkan anak muda yang begitu tulus, jujur, dan penuh sikap ksatria. Akan terasa janggal bila dibandingkan dengan dirinya yang telah mengenal asam-garamnya dunia asmara.

Hal lain, juga terasakan oleh Nyai Demang, berkembangnya perasaan yang sama pada diri Gendhuk Tri. Gadis kecil itu mulai tumbuh dewasa, dan menemukan getaran yang sesungguhnya pada diri Upasara. Akan tetapi, seperti dirinya, Gendhuk Tri juga menindas daya asmara itu jauh-jauh. Gendhuk Tri menempatkan dirinya sebagai adik.

Apakah ini semua juga bukan asmara diam? Asmara yang sengaja dipendam? Bukankah Permaisuri sesungguhnya juga mengalami hal yang kurang-lebih sama? Penjelasan Permaisuri mengenai lelakon asmara Dyah Tapasi-Senopati Brahma seperti menjelaskan lelakon asmara mereka sendiri.

“Bagaimana kabarnya Dyah Tapasi kemudian?” Suara Nyai Demang memecah kesunyian yang menenggelamkan jalan pikiran masing-masing.

“Raja Campa menerima dengan segala kehormatan. Raja Campa sangat mencintainya….”

“Dan Mapanji Paksa?"

"Hilang tak ada kabar beritanya. Sejak Singanada masih berada dalam kandungan, Senopati Paksa telah kembali dari tanah Campa. Keris pusakanya dikembalikan kepada Sri Baginda Raja, sebagai tanda menjadi manusia biasa, bukan prajurit Keraton lagi. Bukan ksatria lagi.”

“Saya bisa mengerti kemelut hati Senopati Paksa. Ksatria yang hatinya terluka dua kali. Pertama, karena melukai keluarganya sendiri. Kedua, karena daya kasih sayang dan asmara yang dimiliki Dyah Tapasi ternyata daya asmara gadungan. Daya asmara yang sesungguhnya berada dalam diri Senopati Brahma….”

Gendhuk Tri yang sejak tadi terdiam, bersuara perlahan. “Permaisuri, apakah selama ini Senopati Agung Brahma tak pernah bertemu lagi dengan Dyah Tapasi?”

“Rasanya tidak. Sejak berangkat sampai kembali, tak pernah bertemu lagi. Pertemuannya hanya dengan Singanada yang berakibat lain.”

“Itulah aneh. Sekian puluh tahun, ternyata tak bisa menghapus kenangan dan makna asmara. Tidak bagi Eyang Putri Pulangsih, tidak juga bagi Kebo Berune, atau Dyah Tapasi. Permaisuri, bolehkah saya menanyakan sesuatu?”

“Saya tahu apa yang akan kamu tanyakan, gadis manis. Kamu ingin menanyakan bagaimana kenangan dan makna asmara itu bagiku?”

“Ya….” Gendhuk Tri menunduk tersipu.

“Kamu bisa menjawab sendiri.”

“Tidak. Saya tak tahu….”

“Kamu sudah bisa mengerti, gadis manis. Sejak pertemuan sebelum Kakangmas Upasara Wulung menjadi Senopati Pamungkas, kamu telah melihat sendiri. Kamu masih kecil, masih berlepotan ingus, tapi saat itu pun aku tahu pandangan matamu yang bersinar keras. Apa bedanya?”

“Kalau benar Permaisuri menyimpan daya asmara terhadap Kakang, kenapa Permaisuri bisa bersenang-senang dengan Baginda? Bisa meladeni Baginda, dan memberikan putri-putri mungil?”

Nyai Demang mengangkat tangannya, memberi tanda agar Gendhuk Tri tidak berbuat lancang. Akan tetapi Permaisuri Rajapatni juga menggerakkan tangan ke arah Nyai. “Biar, Nyai… Sangat jarang, sangat langka, kesempatan kita kaum wanita membuka perasaan hati seperti sekarang ini. Betapa sesungguhnya selama ini kita selalu memendam rasa, menyembunyikan jauh-jauh di dalam mimpi. Pertanyaan gadis manis Gendhuk Tri adalah pertanyaanku juga. Wanita seperti apa aku ini sebenarnya? Yang meratapi Kakangmas Upasara akan tetapi bersanding dan melayani lelaki lain? Gadis manis… Adalah sangat gampang bagiku untuk menemukan alasan. Aku putri Keraton yang harus berbakti kepada Sri Baginda Raja. Aku permaisuri yang harus berbakti kepada Baginda. Aku harus menjaga kewibawaan Keraton, nilai, harga diri. Akan tetapi tetap saja pertanyaan itu terdengar. Sama dengan yang dialami Pamanda Senopati Agung Brahma. Seperti Mbakyu Ayu Tapasi yang kini berada di Campa. Kadang aku merasa lebih memiliki Kakangmas Upasara, kalau ia masih selalu sendirian. Tapi itu ketololan dan mau mencari menang sendiri. Tak ada bedanya apakah Kakangmas sendirian atau beristri…”

Ratu Ayu menggeleng. “Memang ganjil. Kalian membicarakan Raja Turkana yang telah memiliki dan dimiliki orang lain. Aku. Aku yang paling berhak membicarakan. Aku sadar bahwa aku memiliki secara resmi. Tetapi aku tak pernah betul-betul mengenalnya. Tak pernah melihat punggungnya, kakinya, secara utuh. Bahkan mungkin, aku… aku… tak percaya kalau Raja Turkana telah hafal dengan wajahku…” Suaranya menjadi parau. “Tapi itu tak mengurangi kebahagiaanku…”

Ketiga wanita yang mendengarkan mengangguk bersamaan. Seakan membenarkan kata hatinya masing-masing, bahwa mereka pun tak berkurang rasa bahagianya.

“Karena sebentar lagi kita akan memasuki gerbang Keraton, ada baiknya kita bersiap-siap lebih dulu. Siapa tahu tenaga dan pikiran kita masih akan diperlukan…”

Gendhuk Tri memimpin ketiga wanita itu beristirahat dan mengumpulkan kembali tenaga dalam mereka. Ratu Ayu yang memang dasar-dasar ilmunya kuat, kini tanpa bantuan pun bisa mengerahkan kekuatannya untuk mengusir racun pagebluk dalam tubuhnya. Gendhuk Tri sendiri menemukan rasa lega yang lapang setiap kali selesai melakukan latihan. Yang tampaknya masih belum menguasai sepenuhnya adalah Nyai Demang. Beberapa kali mencoba, bisa dimulai dengan baik, akan tetapi di bagian tengah selalu menjadi tersengal-sengal. Sehingga terpaksa menghentikan latihan di tengah jalan.

”Aku tidak paham dengan kekuatan dingin yang ada dalam tubuh Nyai,” kata Ratu Ayu. “Sewaktu tenaga dalam tersalur ke arahku, bisa sepenuhnya aku mengerti. Tetapi ketika Nyai berlatih, tampaknya ada sesuatu yang tak bisa dikendalikan.”

“Apa mungkin memang latihan pernapasan itu sesat, seperti yang dikatakan Kakek Berune?”

“Tak mungkin, Mbakyu. Bagaimanapun, rasanya Eyang Sepuh atau Mpu Raganata tidak secara sengaja memberi salinan Kitab Bumi yang dibuat keliru.”

“Mungkin aku sendiri yang tolol.”

“Itu bisa jadi,” kata Gendhuk Tri tersenyum lebar. “Mbakyu sejak dulu memang tolol. Ditaksir Baginda saja…”

“Jangan omong sembarangan…”

Gendhuk Tri tertawa. “Apakah itu termasuk rahasia?”

“Bagaimana mungkin kamu masih ngomong sembarangan, di saat kita begini sedih karena…”

Gendhuk Tri berdiri. “Ayo, kita lanjutkan perjalanan.

“Sedih atau tidak, apakah Kakang bisa hidup lagi? Apakah kalau hidup juga akan bisa lebih bahagia? Apa kita juga bisa rerasan seperti sekarang? Begitu nanti melihat tulang Kakang, barangkali kita akan saling berebut, saling merasa berhak. Bukankah itu semua hanya membuat Kakang lebih menderita?”

Tetap pedas, agak sembrono. Itulah Gendhuk Tri. Yang sedikit membedakan hanyalah bahwa kini ia bisa memimpin, bisa menjadi orang pertama yang menentukan perjalanan dan pertama melangkah.

Kidung Pambagya
MENJELANG memasuki gerbang, Gendhuk Tri merasa heran karena ada serombongan lelaki yang menjemput. Yang segera menyembah, seolah rata dengan tanah.

“Silakan, Tuan Putri yang terhormat…”

Gendhuk Tri pasti sudah berteriak dan tertawa jika ini terjadi saat lalu. Kini ia hanya mengangguk, mengikuti ketua rombongan, dengan tetap waspada. Ternyata mereka dibawa ke rumah yang agaknya telah dipersiapkan secara istimewa. Lengkap dengan dayang-dayang yang jumlahnya mencapai empat puluh orang. Siap melayani mandi, keramas, menyisir, menggunting kuku, sampai makan.

“Siapa yang menyuruh kalian?”

“Adalah kehormatan bagi kami bisa melayani Paduka Putri…”

Nyai Demang menarik tangan Gendhuk Tri. “Jangan paksa mereka, agaknya mereka sendiri tak tahu.”

“Lalu, menurut perkiraan Mbakyu, siapa yang melakukan ini semua?”

“Rasa-rasanya orang yang tahu keinginan kita. Barangkali saja kalau kita melewati jalan utama, sudah sejak lama ada penyambutan seperti ini. Tapi dilihat selintas mereka bukan jago silat. Beberapa bahkan tak pernah belajar silat sama sekali.”

“Apakah mungkin Wong Agung Galgendu yang menyiapkan ini semua?”

“Rasa-rasanya begitu. Tetapi saya tak yakin ia berani melanggar permintaan Ratu Ayu. Bahkan Senopati Sariq saja sejak pertama kita tak melihat bayangannya.”

“Bagaimana rencana kita, Mbakyu? Apakah kita langsung masuk ke kebun kaputren dan membongkar kuburan Kakang, atau minta restu Raja?”

“Sebaiknya kita menyelidiki lebih dulu.”

“Mbakyu tunggu saja di sini, menjaga Permaisuri. Saya akan menerobos masuk dengan Ratu Ayu.”

Nyai Demang tersenyum tipis. “Aku tahu…”

“Hanya Mbakyu Demang yang bisa melayani Permaisuri dengan baik.”

Tanpa menunggu pertimbangan lebih jauh. Gendhuk Tri segera berangkat bersama Ratu Ayu. Tak terlalu sulit bagi keduanya untuk bisa menyusup masuk. Gendhuk Tri sangat hafal dengan lekuk-liku Keraton dan bisa dengan mudah langsung menuju kaputren. Dengan ilmu yang tinggi, bagi Ratu Ayu tak ada persoalan yang berarti. Hanya saja ketika mendekat ke arah tempat yang ditunjukkan Permaisuri, mereka menjadi tertegun.

Di salah satu pohon yang mengelilingi makam, ada guratan-guratan yang agaknya baru dibuat beberapa saat sebelumnya. Karena terlihat bahwa sebagian kulit pohon masih meneteskan getah.

Salam pambagya
selamat datang
terima kasih atas perhatian
salam pambagya
salam bahagia…


Ratu Ayu menyentuh pundak Gendhuk Tri. “Apa maksudnya?”

“Belum jelas ditujukan kepada siapa. Rasanya tak ada sesuatu yang luar biasa. Kata-kata itu sendiri tak menyembunyikan sesuatu selain semacam ucapan selamat datang.”

Keduanya berjongkok. Kemudian bersila. Menyembah ke arah tanah di bawah pohon. Agak lama. Kemudian secara bersamaan pula berdiri, saling pandang dan segera meloncat Ke luar. Tak ada siapa-siapa. Gendhuk Tri agak sangsi melihat bahwa suasana dalam Keraton tampak sangat lengang. Baru di bagian depan kelihatan beberapa prajurit jaga hilir-mudik. Gendhuk Tri segera menyelinap dan kembali ke tempat beristirahat. Ada bersitan rasa kuatir.

Jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa Nyai Demang atau Permaisuri. Perasaan was-was hilang dengan sendirinya ketika Nyai Demang menyambut dengan wajah tenang. Gendhuk Tri menceritakan apa yang dilihatnya.

“Kalau begitu, jelas itu ditujukan kepada kita. Lihat saja…” Nyai Demang menunjuk ke arah tiang utama.

Baru Gendhuk Tri sadar bahwa di tiang juga ada tulisan yang sama. “Mbakyu Demang paling pintar mengenai tata bahasa. Apa maksud salam bahagia itu?”

“Tak ada arti apa-apa selain mengucapkan salam bahagia. Sejauh saya tahu seperti itu agak lumrah di zaman Sri Baginda Raja.”

“Mungkinkah seseorang yang menaruh simpati kepada kita?”

“Kalau benar begitu, untuk apa menyembunyikan diri?” Ratu Ayu memotong pembicaraan. “Sudah, biar saja. Maksud kita sejak semula ingin memindahkan kerangka Raja Turkana. Kalau memang maksudnya mengucapkan selamat datang, ya kita terima. Kalau nanti merepotkan, kita semua siap menghadapi.”

“Baik juga. Bagaimana rencana Ratu?”

“Kita langsung ke Keraton. Mengutarakan maksud kita dengan baik. Kalau ditolak, kita bisa memaksa.”

“Kalau itu sudah menjadi kesepakatan, mari kita kerjakan sekarang.”

Merasa bahwa semua persiapan telah dilakukan, segera Gendhuk Tri memimpin rombongan menuju Keraton. Di gerbang tak ada yang menyambut. Baru ketika di depan pintu utama, beberapa prajurit jaga menghadang.

“Sampaikan kepada yang berwenang mengatur, kami datang untuk mengambil Kakang Upasara….”

“Siapa kalian?”

“Buka mata yang lebar. Kalau melihat bayangan Permaisuri Rajapatni kalian tidak menyembah sampai dagu kalian menempel tanah, itu namanya keterlaluan. Mana Senopati Utama atau Mahapatih?”

“Maaf, kami hanya menjalankan perintah….”

Agak lama mereka berunding. Lalu salah seorang pemimpin maju, memberi sembah hormat, dan dengan suara lembut menyilakan keempatnya masuk.

“Hati-hati…,” bisik Gendhuk Tri.

Tanpa pemberitahuan itu pun semua sudah berjaga-jaga. Di luar dugaan keempatnya bahwa mereka akan diizinkan dengan mudah. Dalam bayangan semula, pasti akan repot. Bahkan bisa-bisa harus menunggu dawuh dari Raja. Atau ini jebakan? Apa pun juga, Gendhuk Tri memang tak akan mundur lagi. Dalam pengawalan sederhana, keempatnya menuju kaputren. Baru saja tiba di halaman bagian luar, tubuh Permaisuri Rajapatni terjatuh. Lunglai. Terpaksa Nyai Demang yang menggotong dan membawa ke pinggir.

“Paman prajurit, apakah benar di sini dikuburkan Kakang Upasara?”

“Demikian adanya….”

Gendhuk Tri merasa bahwa jawaban yang didengar bukan keluar dari hati yang mantap yakin.

“Silakan….”

“Apa Paman bersedia membantu kami membongkar?”

“Kalau diperintahkan….”

Ratu Ayu tak sabar. Setelah memejamkan matanya sekejap, kedua tangannya terulur ke depan. Meraup tanah dan dengan gerakan sangat cepat, kedua tangannya mengeduk tanah. Bagai tikus yang sedang menggangsir. Cepat sekali. Sehingga para prajurit yang mengawal terbengong melihatnya. Gendhuk Tri juga melakukan hal yang sama. Cepat kedua tangannya menggali dengan mempergunakan tombak yang dibawa para prajurit. Dalam waktu singkat, keduanya sudah membuat lubang sedalam lutut.

Nyai Demang kemudian turun membantu. Sehingga pekerjaan menggali bisa berjalan lebih cepat. Apalagi Nyai Demang bisa mengarahkan ke bagian tanah yang lebih lunak dari biasanya. Sepenanak nasi, sebuah lubang sebesar kolam telah tergali. Gundukan tanah sekitarnya meninggi. Gendhuk Tri terus bekerja bagai kesetanan, sementara sejak semula Ratu Ayu seakan memamerkan kemampuannya yang luar biasa. Kedua tangannya bergerak bagai baling-baling.

“Tahan…!”

JILID 24BUKU PERTAMAJILID 26

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 25

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 25

“Sejak saya menelusuri dan melatih pernapasan dari Kitab Air, saya merasa lebih tenang. Merasa bahwa semua pergolakan hanya terjadi di atas. Di bagian bawah, akan mengendap.”

“Selamat. Kamu telah maju pesat.”

“Seperti Mbakyu Demang yang sekarang mampu mendengar jarak jauh. Kemajuan yang tak bisa disamai, pun oleh Kakang Upasara….”

"Cukup. Aku telah mendengar semuanya. Aku telah mengetahui. Tapi aku sudah sampai kepada keputusan untuk kembali ke Perguruan Awan...“

Keduanya bertatapan. Mengangguk bersamaan. Menoleh bersamaan, ke arah dua bayangan yang mendekat. Ratu Ayu yang datang bersama Permaisuri Rajapatni.

“Kalau semua yang kecewa harus mengundurkan diri dan tak mau melihat langit, siapa lagi yang tinggal di bumi ini?” Suara Permaisuri Rajapatni sepenuhnya mampu mengontrol emosi. “Kalau ada yang bisa dikenang dari Kakang Upasara Wulung, adalah pengabdian kepada Keraton, kepada raja, kepada sesama manusia. Saat-saat terakhir dalam hidup Kakang, tidak mengubah sikapnya sebagai ksatria. Itulah sesungguhnya keunggulan Kakangmas Upasara Wulung.”

Nyai Demang mencibirkan bibirnya. “Apa yang mau Permaisuri katakan?”

“Keraton Majapahit sekarang ini sedang kosong. Sepi dari kekuasaan dan kekuatan. Baginda telah jengkar, menyingkir ke Simping. Raja Jayanegara tenggelam dalam belaian daya asmara. Senopati Halayudha sedang pergi ke Lumajang. Tak ada yang tersisa….”

“Aha, Permaisuri mau mengatakan bahwa kami mempunyai kewajiban untuk menjaga Keraton? Sejak kapan Permaisuri memikirkan hal itu? Sejak memerintahkan hukum poteng Adimas Upasara?”

“Ya, Mbakyu Demang. Kalau saya bisa memainkan keris, saya akan menjaga. Kalau saya bisa berbuat sesuatu, akan saya lakukan sekarang.”

“Kalau harus menerima hukuman?”

“Akan saya lakukan sekarang.” Pandangan matanya keras. “Saya minta Ratu Ayu melakukan sekarang juga, akan tetapi ia lebih suka minta pendapat kalian. Bagaimana cara menghukum saya. Apa susahnya menjalankan hukum poteng yang sama? Mbakyu Demang, Gendhuk Tri, Ratu Ayu… Bukankah kalian datang untuk mendapat kepastian tentang kematian Kakangmas Upasara? Kenapa sekarang ragu?”

Ratu Ayu mengambil cundrik dari pinggang Permaisuri. Gendhuk Tri memandang tak berkedip. Nyai Demang memandang ke arah lain. Permaisuri Rajapatni menutupkan matanya, menunduk.

“Satu permintaanku, setelah aku selesai menghukum Permaisuri, salah satu di antara kalian berdua melakukan cara yang sama padaku.”

Permintaan Ratu Ayu disuarakan dengan nada memohon yang lebih merupakan rintihan.

“Saya…saya…tak bisa….”

“Saya bisa.” Suara Gendhuk Tri terdengar mantap. Selendangnya dikibaskan. Kedua kakinya sedikit merenggang. “Karena kalian berdua yang menghendaki, biarlah aku yang melakukan. Yang satu permaisuri, yang satu ratu. Semua memilih jalannya sendiri. Mbakyu Demang, apakah Mbakyu juga akan mati bela?”

Tantangan Gendhuk Tri membuat Permaisuri menarik napas lega. Juga Ratu Ayu.

“Silakan, Ratu….”

Ratu Ayu melepaskan cundrik dari sarungnya. Tangan kanannya bergerak cepat. Gendhuk Tri mengawasi dengan sorot mata tajam. Mendadak, Nyai Demang bergerak cepat. Tangan kanan mendorong Permaisuri, tangan kiri mendorong Ratu Ayu. Keduanya terdorong cukup jauh. Bahkan Permaisuri sampai terguling.

“Jangan lakukan sekarang, Ratu. Nanti setelah saya pergi….”

Gendhuk Tri mendesis. “Kalau begitu, silakan pergi, Mbakyu….”

Sebaliknya dari meninggalkan tempat, Nyai Demang malah berdiri kaku, mematung. “Apa sebenarnya yang berada dalam dirimu, Gendhuk? Apakah masih ada sisa racun jahat dalam tubuhmu?”

“Saya akan melakukan apa yang diminta seseorang yang datang kepada saya. Tanpa harus mengetahui apakah itu beracun atau tidak. Seperti dulu Eyang Putri Pulangsih menerima perpisahan dari Eyang Sepuh. Saya tahu bahwa di balik kematian Kakang Upasara masih ada yang disembunyikan. Karena kalian berdua menginginkan membawa rahasia ke alam lain, saya tak akan menghalangi.”

Nyai Demang tertegun. Ada sesuatu yang melintas di otaknya.

Empat Wanita, Empat Rasa
SESUATU yang melintas itu sebenarnya sederhana. Gendhuk Tri bukanlah tokoh yang bodoh. Bahkan kecerdikannya, caranya berpikir, di atas dirinya. Apalagi dengan pengalaman mati-hidup yang dialami berulang kali, membuatnya lebih bijak dan terang serta jernih dalam menimbang persoalan. Ditambah lagi, kini jauh lebih matang setelah sedikit-banyak menguasai Kitab Air secara teratur.

Kalau sampai menduga “ada sesuatu yang disembunyikan”, pastilah ia tengah menduga sesuatu yang terjadi di balik penyerahan Permaisuri. Dugaan itu cukup beralasan. Hanya saja, sekarang ini, Nyai Demang tak bisa menduga apa, dan alasan apa. Tetapi bukannya tak bisa dikira-kira.

Kematian Upasara selama ini masih merupakan teka-teki. Apa betul segampang itu Upasara yang gagah dan sakti mati? Taruh kata memang ia terluka parah, sangat parah. Tangan kiri yang menjadi pusat kekuatan, tertembus keris di bahu. Besar kemungkinan sebagian tenaga dalamnya lenyap. Sementara tangan kanannya belum pulih, ini merupakan hambatan yang besar. Bisa juga Upasara cacat seumur hidup. Tapi mati?

Rasanya tak semudah itu. Apalagi seorang Upasara, apakah mungkin di saat menderita tak tahan dan minta dihabisi begitu saja? Itu yang tidak masuk akal. Namun, Nyai Demang mengakui bahwa dasar berpikirnya sangat rapuh. Dirinya mengandaikan itu semua karena jauh dalam hatinya berharap bahwa Upasara belum meninggal. Upasara masih hidup, segar bugar, di suatu tempat yang untuk sementara belum diketahui di mana.

Kerapuhan itu juga diakui oleh Gendhuk Tri. Ia merasa bahwa kalimatnya yang menyentak mengenai “suatu rahasia” karena lebih berdasarkan keinginannya sendiri. Bahwa ada yang dirahasiakan mengenai kematian Upasara. Bahwa Upasara belum mati, apalagi dipotong-potong anggota tubuhnya!

Banyak kemungkinan bisa terjadi, tapi bukan kematian. Apalagi terjadi pada Upasara. Titik tolak inilah yang membuatnya berpikir bahwa Permaisuri dan Ratu Ayu menyembunyikan rahasia yang hanya diketahui mereka berdua.

Padahal pada saat yang sama Ratu Ayu merasa bahwa Permaisuri tak akan setega itu melakukan hukuman kepada Upasara. Dasar lubuk hatinya mengatakan itu, tak lagi mau mempercayai telinganya. Desakan demi desakan hanya membuat Permaisuri bersedia menerima pembalasan.

Maka di saat semua pegangan luntur, hatinya tak kuat lagi. Cundrik disebut dan dengan sepenuh tenaga ditusukkan ke arah Permaisuri. Yang menunduk tak mengelak sedikit pun! Kalau benar Permaisuri tidak melakukan, bagaimana mungkin ia menerima hukuman kematian setenang itu? Apakah ini bukan pertanda penyesalan yang berat atas apa yang sudah dilakukan?

“Kita berempat berada di sini, dengan rasa dan suara batin masing-masing. Barangkali tak bisa dikatakan ini cara yang baik. Bukan cara yang baik karena kita saling menumpangkan kekuatan kepada lamunan yang kita susun sendiri. Kekuatan Ratu belum pulih sepertiganya. Masih teramat lemah. Mbakyu Demang juga masih belum bisa memusatkan tenaga dalamnya. Sementara Permaisuri sendiri seperti tak waras. Saya sendiri, meskipun bisa bicara seperti ini merasa bahwa semua pertimbangan yang ada menjadi kacau-balau. Bisa ngoceh sendiri. Kalau saya boleh mengajak, marilah kita bersama-sama mengendapkan semua rasa, mengembalikan kepada sumber kegelisahan ke permukaan, dan memulai dengan ketenangan.”

Nyai Demang sadar sepenuhnya bahwa sejak mereka mendengar kematian Upasara, segalanya seperti berjalan dengan kacau. Jalan pikiran bolak-balik tidak menentu. Ajakan Gendhuk Tri sangat tepat. Maka ia tak mau menunggu lama. Segera duduk bersila dengan gerakan lembut, kedua tangannya terkulai. Satu tangan kiri terangkat, dan Ratu Ayu segera menempelkan telapak tangannya, melakukan gerakan semadi yang sama.

Gendhuk Tri, dengan caranya sendiri, juga menyatukan telapak tangannya. Permaisuri Rajapatni mengikuti dengan menempelkan telapak tangannya ke arah Gendhuk Tri, dan menyatukan dalam lingkaran. Segera terasa udara panas menyusup ke dalam tubuhnya. Terasa terbakar. Mendadak saja seluruh tubuhnya mengalirkan keringat.

“Tahan, Permaisuri….” Suara Gendhuk Tri yang lembut menuntun pikirannya.

Permaisuri membiarkan tubuhnya dialiri tenaga dalam yang seperti menerobos masuk, berguncang dan kembali lagi, mengalir ke arah Ratu Ayu. Keempatnya mencoba menyatukan pikiran, perasaan, dan semua kekuatan melarut dalam keheningan. Gendhuk Tri, meskipun bukan yang paling kuat tenaga dalamnya, mampu menyatukan dan menuntun. Hanya Rajapatni yang paling dangkal penguasaan tenaga dalamnya tampak bergoyang-goyang. Kini seluruh tubuhnya kuyup oleh keringat tubuh. Dari ujung rambut hingga ujung telapak kaki.

“Ya, Kakangmas Upasara mengusir pagebluk dengan cara ini… Saya menjadi berkeringat….”

“Permaisuri, kosongkan pikiran. Jangan membayangkan Kakang Upasara jangan merasakan udara panas. Biar saja melalui tubuh Permaisuri, ke arah Ratu Ayu….”

Ratu Ayu yang bisa mengerti arah pembicaraan Gendhuk Tri segera menampung tenaga dalam yang tercurah ke tubuhnya. Dibarengi dengan tenaga dalamnya sendiri, seakan semua panas mengumpul di tubuhnya. Dalam kejapan berikutnya, tubuhnya benar-benar basah dan tenggelam dalam cairan keringat. Karena keringat yang mengucur dari tubuhnya sangat deras. Jauh dalam hatinya terbersit rasa kagum kepada Gendhuk Tri.

Gadis hitam manis ini ternyata mempunyai kemampuan menyatukan tenaga dalam yang luar biasa. Walaupun keempatnya mempunyai dasar ilmu silat yang saling berbeda, tetap bisa disatukan. Inilah luar biasa. Dasar tenaga dalam Ratu Ayu sumbernya sama sekali berbeda dengan yang lain. Cara melatih dan mengerahkan tenaga sangat berbeda.

Apalagi dibandingkan dengan Nyai Demang yang agaknya masih menyimpan satu gumpalan tenaga dalam yang sepenuhnya belum bisa dikerahkan dengan baik. Kadang gumpalan dingin itu membuatnya menggigil kedinginan, kadang malah membeku, menyumbat tenaga yang masuk. Demikian juga Permaisuri yang mencoba menjadi pengantar tenaga dalam. Tubuhnya kosong.

Akan tetapi kekuatan Gendhuk Tri mampu menggiring satu demi satu, mengalirkan ke arah Ratu Ayu. Yang kini bahkan tak mampu membuka mata karena air deras terus mengalir. Pada saat yang tepat pula, Gendhuk Tri menarik kembali tenaga dalamnya, dan mengembalikan ke tempat asalnya.

“Hebat, hebat sekali. Selamat,” kata Nyai Demang terengah-engah. “Tak kusangka kamu sudah sedemikian majunya. Hebat sekali. Eyang Putri Pulangsih betul-betul mahasakti mandraguna. Aku mengakui dengan tulus.”

Suara Nyai Demang seperti mengisyaratkan adanya kekuatan lain yang mempengaruhi. Suara pengakuan Kakek Berune. Bukan sesuatu yang luar biasa. Beberapa waktu lamanya, Nyai Demang terkulai secara sempurna oleh kekuatan Eyang Kebo Berune. Sehingga kalaupun Secara wadag, lahiriah, dirinya telah terbebaskan dari menggendong mayat, akan tetapi pengaruh itu masih ada.

Hanya saja, kini, pengaruh itu dalam pengertian yang baik. Yang bisa diterima dengan lega oleh Gendhuk Tri. Senyuman tipis menandai rasa bangga. Sesuatu yang tak pernah diduga akan sedemikian besar pengaruhnya. Kemampuannya mengalirkan tenaga dalam yang berbeda, dan mengarahkan benar-benar seperti perwujudan tenaga air yang bisa terkuasai.

Sebaliknya Ratu Ayu merasa tubuhnya lebih segar, walau seakan seluruh cairan dalam tubuhnya mengucur keluar. Barulah dimengerti bahwa bubuk pagebluk yang masuk ke tubuhnya, ikut terpompa keluar bersama cucuran keringat. Cara pengobatan yang luar biasa. Yang dilakukan Raja Turkana pada Permaisuri? Ratu Ayu segera membuang kecurigaan jauh-jauh.

“Terima kasih, Gendhuk Tri… Nyai Demang, dan Permaisuri… Saya merasa lebih baik.”

“Saya tidak…”

“Tanpa bantuan Permaisuri, kita semua belum tentu berhasil.” Kalimat Gendhuk Tri seperti menggurui, berbeda dari biasanya.

Baik Nyai Demang maupun Ratu Ayu mengakui bahwa apa yang dikatakan Gendhuk Tri benar adanya. Tanpa bantuan Permaisuri, akan sulit bisa menyatukan tenaga dingin Nyai Demang, tenaga lompat Ratu Ayu, dan tenaga air Gendhuk Tri. Harus ada perantaranya. Dan itu yang dilakukan Permaisuri.

Rahasia Asmara Diam
PAGI terasa. Suara Dalang Memeling tak terdengar lagi, digantikan gending penutup dan kicauan burung pagi. Keempatnya masih duduk melingkar. Ratu Ayu memusatkan semangatnya, melatih untuk mengalirkan tenaga dalamnya sekali lagi. Seperti juga Nyai Demang dan Gendhuk Tri, sementara Permaisuri beristirahat. Pagi mengantarkan bau tanah. Gendhuk Tri membuka matanya.

“Setelah kita merasa lebih segar, rasanya tak ada masalah yang perlu dirisaukan lagi, apa yang akan kita lakukan. Mbakyu Demang masih akan kembali ke Perguruan Awan?”

“Tidak sekarang ini.”

“Ratu Ayu masih…”

“Tidak sekarang ini.”

“Permaisuri…”

“Saya tak mempunyai tujuan apa-apa. Saya hanya nyuwita, mengabdi, kepada Baginda. Kini Baginda sudah jengkar, meninggalkan saya. Kalau salah satu dari kalian mau saya ikuti, saya akan terus mengikuti.”

“Bagaimana rencana Permaisuri kembali ke Keraton?”

Permaisuri Rajapatni menunduk. “Itu mungkin yang terbaik. Selama ini jasad Kakangmas Upasara masih di sana. Sebelum Wong Agung Galgendu memindahkan, rasanya saya ingin melihat untuk yang terakhir kali.”

“Bagaimana dengan keamanan Keraton yang Permaisuri kuatirkan?”

“Saya hanya berpikir selintas. Bahwa Keraton sekarang ini sedang sepi, sedang kosong, sehingga memancing bersemainya bibit kraman, bibit pemberontakan. Kalau saya bisa berbuat sesuatu untuk mencegah, saya akan merasa beban dosa ini berkurang.”

“Kalau memang begitu, mari kita pamit bersama. Tak ada salahnya kita kembali ke Keraton.”

Jalan ketegasan yang dipilih Gendhuk Tri menghemat pemikiran yang berlarut. Ketiganya menyetujui berangkat bersama ke Keraton. Untuk melihat pemindahan jasad Upasara Wulung dan melihat suasana. Wong Agung Galgendu yang kelihatannya tak bisa menerima keputusan. Berulang kali ia membungkukkan badan, memohon dengan suara meratap.

“Duh, Permaisuri yang mulia. Duh, Ratu Ayu. Para pendekar yang mulia. Apa lagi kekurangan saya ini? Gua Kencana pun saya buka buat Paduka semua. Kenapa saya ditinggalkan? Apa kesalahan saya? Saya sudah berjanji akan melaksanakan upacara pencandian….”

“Wong Agung…” Suara Ratu Ayu terdengar sangat lembut. “Ini semua tak ada hubungannya dengan keramahan Wong Agung yang hangat dan semanak. Kami semua merasakan persahabatan ini. Akan tetapi kali ini, kami ingin berangkat lebih dulu. Karena itu yang terbaik bagi perasaan kami.”

“Ratu akan kembali kemari?”

“Saya tak pernah bisa berjanji, Wong Agung….”

Wajah duka menggores dalam, tatapan mata yang kosong mengantarkan keberangkatan keempat wanita yang pernah ditalikan oleh daya yang sama. Ratu Ayu sendiri memerintahkan agar Senopati Sariq tidak berada dalam perjalanan yang sama.

Dua hari pertama perjalanan dilakukan dengan berdiam diri. Tak ada yang membuka pembicaraan. Dua hari perjalanan yang tak bisa tergesa, karena Permaisuri memang tak bisa berjalan cepat. Dua hari yang menyadarkan keempatnya secara bersamaan. Bahwa yang tiga mau menunggu kesanggupan salah satu.

Yang satu memaksakan diri, dan merasa diperhatikan oleh ketiga yang lain. Permaisuri sendiri masih mendapat hormat, sungkem dari Gendhuk Tri maupun Nyai Demang, namun secara halus selalu menolak.

“Saya bisa membayangkan bahwa Kakangmas akan tersenyum bahagia bila melihat kita berempat jalan bersama.”

“Apa yang Permaisuri katakan sangat tepat. Saya tahu Adimas merasa berat hati dan tak bisa memberati orang lain karena mengutamakan salah seorang.”

“Raja Turkana bisa menyatukan kita, mempererat perasaan, tanpa pernah menghancurkan atau melukai perasaan kita.”

“Sudahlah, untuk apa kita selalu mengenang dan membicarakan Kakang? Biarlah Kakang merasakan istirahat dengan tenang, dengan bahagia sepanjang zaman. Sesuatu yang tidak Kakang rasakan sebelumnya….”

Keempatnya terdiam. Sesaat.

“Kenapa Mbakyu Demang tersenyum-senyum?”

“Tidak. Tak ada apa-apa.”

“Apakah kita masih perlu saling menyembunyikan rasa?”

“Gendhuk Tri, barangkali kamu yang paling bahagia saat ini. Tak ada lagi beban penyesalan pada Adimas. Dan Adimas juga merestui hubunganmu dengan Singanada.”

Gendhuk Tri menarik sepasang alisnya. “Apa yang dikatakan Kakang?”

“Adimas menyetujui. Merasa bahwa itu pilihan terbaik. Mendoakan supaya bahagia.”

“Ngawur. Dari mana Mbakyu tahu? Bukankah selama ini Mbakyu terkuasai Kakek Berune?”

Nyai Demang tersenyum. “Saya sempat beberapa saat bersama Adimas… Ah, sudahlah itu. Aneh juga Maha Singanada itu. Kenapa ia begitu mendendam kepada Senopati Agung Brahma, hanya karena menanyakan sesuatu tentang ayahnya? Saya sendiri tak mengetahui. Nanti kita tanyakan.”

Permaisuri terhenti. Menghapus sudut matanya yang basah. Ketiga yang lain tertegun.

“Kisah yang memilukan. Sejauh saya mengetahui….”

Dengan suara masih diseling sedu sedan, Permaisuri menuturkan. Bahwa sesungguhnya Senopati Agung Brahma pada masa dulu menjalin hubungan asmara dengan Dyah Ayu Tapasi, putri Sri Baginda Raja Kertanegara. Yang berarti masih saudara seayah dengan Permaisuri, meskipun perbedaan usianya sangat jauh.

Akan tetapi hubungan mereka terpisahkan, karena Senopati Agung Brahma menunaikan tugas ke negeri seberang. Itu sebabnya Dyah Ayu Tapasi memutuskan berangkat ke negeri seberang, menjadi putri yang diserahkan ke Keraton di tanah Campa.

“Mungkin bingung karena merasa putus asmara?”

“Bisa juga begitu. Akan tetapi, sesungguhnya hati Dyah Ayu Tapasi sudah menyatu dengan Senopati Agung Brahma. Sehingga sebelum diserahkan ke Raja Campa, Dyah Ayu melakukan sesuatu yang sangat hina, yang bisa menyebabkan hancurnya semua kehormatan. Dyah Ayu menyerahkan kehormatannya kepada Senopati Mapanji Paksa yang menjadi pemimpin utusan….”

Terdengar suara “ah” bersamaan dari Gendhuk Tri, Nyai Demang, maupun Ratu Ayu.

“Lalu?”

“Mapanji Paksa sendiri merasa bersalah….”

“Apakah Singanada itu putra Mapanji?”

Permaisuri mengangguk. Kini sepenuhnya tubuhnya menggigil karena sedu sedan. Dada Gendhuk Tri serasa pepat. Matanya dipandangkan ke langit. Merasa kurang enak diketahui bahwa air matanya menggenang. Bisa dimengerti kalau Singanada merasa memanggul beban noda yang tak terpikul, setiap kali diingatkan sesuatu yang nista terjadi pada ayahandanya. Dalam keadaan selalu tersudut, perangainya menjadi sangat aneh.

“Singanada sesungguhnya cucu Sri Baginda Raja….”

Nyai Demang menggigit bibirnya. Ada kilas lain yang membetik dalam pikirannya. Kalau benar demikian, Maha Singanada adalah putra Dyah Ayu Tapasi. Kalau dilihat wajah dan perawakannya sangat mirip Upasara Wulung, bukan tidak mungkin Upasara Wulung pun… dengan kata lain, sebenarnya juga berhak untuk menyanding Permaisuri! Apakah itu yang membuat Permaisuri sangat berduka?

Ratu Ayu paling tidak mengenal dengan baik, akan tetapi ikut larut dalam duka yang sama. Hanya karena ia merasa dirinya orang luar, sempat terucap olehnya, “Permaisuri… Kalau Senopati Agung Brahma ksatria dari Keraton dan Tapasi putri Baginda Raja, kenapa harus terjadi perpisahan?”

“Ratu…”

“Apakah Baginda Raja tidak merestui?”

“Semua ini baru diketahui setelah peristiwa itu terjadi. Sebelumnya tak ada yang memahami dengan jelas, bahwa ada daya asmara yang bersemi di dada Dyah Ayu dan Senopati Agung. Daya asmara yang hanya dirasakan mereka berdua. Dalam diam. Dengan diam.”

Rerasan Empat Wanita
SUARA Permaisuri Rajapatni perlahan. Sebagian malah tertelan keharuan. Nyai Demang juga merasakan sepenuhnya apa yang terjadi di balik hubungan Dyah Tapasi dengan Senopati Brahma. Suatu perjalanan asmara yang tak pernah muncul ke permukaan, yang ditutupi.

Apakah bukan itu yang juga terjadi antara dirinya dan Upasara, yang dipanggil dengan sebutan Adimas? Bukankah sebutan itu untuk menjaga jarak, agar tak muncul daya asmara?

Nyai Demang sepenuhnya mengakui, seperti secara tidak langsung Upasara pun mengakui, bahwa wanita pertama yang menggetarkan hati kelelakian Upasara adalah dirinya. Dengan alasan apa pun, baik karena tertarik bentuk tubuhnya atau bentuk yang lain. Ini termasuk istimewa karena sesungguhnya Upasara jarang sekali tertarik kepada wanita.

Tapi sejak awal, Nyai Demang menenggelamkan perasaan itu. Perasaan kemungkinan tumbuhnya daya asmara. Karena satu dan lain pertimbangan. Di antaranya ia merasa tak pantas mempermainkan anak muda yang begitu tulus, jujur, dan penuh sikap ksatria. Akan terasa janggal bila dibandingkan dengan dirinya yang telah mengenal asam-garamnya dunia asmara.

Hal lain, juga terasakan oleh Nyai Demang, berkembangnya perasaan yang sama pada diri Gendhuk Tri. Gadis kecil itu mulai tumbuh dewasa, dan menemukan getaran yang sesungguhnya pada diri Upasara. Akan tetapi, seperti dirinya, Gendhuk Tri juga menindas daya asmara itu jauh-jauh. Gendhuk Tri menempatkan dirinya sebagai adik.

Apakah ini semua juga bukan asmara diam? Asmara yang sengaja dipendam? Bukankah Permaisuri sesungguhnya juga mengalami hal yang kurang-lebih sama? Penjelasan Permaisuri mengenai lelakon asmara Dyah Tapasi-Senopati Brahma seperti menjelaskan lelakon asmara mereka sendiri.

“Bagaimana kabarnya Dyah Tapasi kemudian?” Suara Nyai Demang memecah kesunyian yang menenggelamkan jalan pikiran masing-masing.

“Raja Campa menerima dengan segala kehormatan. Raja Campa sangat mencintainya….”

“Dan Mapanji Paksa?"

"Hilang tak ada kabar beritanya. Sejak Singanada masih berada dalam kandungan, Senopati Paksa telah kembali dari tanah Campa. Keris pusakanya dikembalikan kepada Sri Baginda Raja, sebagai tanda menjadi manusia biasa, bukan prajurit Keraton lagi. Bukan ksatria lagi.”

“Saya bisa mengerti kemelut hati Senopati Paksa. Ksatria yang hatinya terluka dua kali. Pertama, karena melukai keluarganya sendiri. Kedua, karena daya kasih sayang dan asmara yang dimiliki Dyah Tapasi ternyata daya asmara gadungan. Daya asmara yang sesungguhnya berada dalam diri Senopati Brahma….”

Gendhuk Tri yang sejak tadi terdiam, bersuara perlahan. “Permaisuri, apakah selama ini Senopati Agung Brahma tak pernah bertemu lagi dengan Dyah Tapasi?”

“Rasanya tidak. Sejak berangkat sampai kembali, tak pernah bertemu lagi. Pertemuannya hanya dengan Singanada yang berakibat lain.”

“Itulah aneh. Sekian puluh tahun, ternyata tak bisa menghapus kenangan dan makna asmara. Tidak bagi Eyang Putri Pulangsih, tidak juga bagi Kebo Berune, atau Dyah Tapasi. Permaisuri, bolehkah saya menanyakan sesuatu?”

“Saya tahu apa yang akan kamu tanyakan, gadis manis. Kamu ingin menanyakan bagaimana kenangan dan makna asmara itu bagiku?”

“Ya….” Gendhuk Tri menunduk tersipu.

“Kamu bisa menjawab sendiri.”

“Tidak. Saya tak tahu….”

“Kamu sudah bisa mengerti, gadis manis. Sejak pertemuan sebelum Kakangmas Upasara Wulung menjadi Senopati Pamungkas, kamu telah melihat sendiri. Kamu masih kecil, masih berlepotan ingus, tapi saat itu pun aku tahu pandangan matamu yang bersinar keras. Apa bedanya?”

“Kalau benar Permaisuri menyimpan daya asmara terhadap Kakang, kenapa Permaisuri bisa bersenang-senang dengan Baginda? Bisa meladeni Baginda, dan memberikan putri-putri mungil?”

Nyai Demang mengangkat tangannya, memberi tanda agar Gendhuk Tri tidak berbuat lancang. Akan tetapi Permaisuri Rajapatni juga menggerakkan tangan ke arah Nyai. “Biar, Nyai… Sangat jarang, sangat langka, kesempatan kita kaum wanita membuka perasaan hati seperti sekarang ini. Betapa sesungguhnya selama ini kita selalu memendam rasa, menyembunyikan jauh-jauh di dalam mimpi. Pertanyaan gadis manis Gendhuk Tri adalah pertanyaanku juga. Wanita seperti apa aku ini sebenarnya? Yang meratapi Kakangmas Upasara akan tetapi bersanding dan melayani lelaki lain? Gadis manis… Adalah sangat gampang bagiku untuk menemukan alasan. Aku putri Keraton yang harus berbakti kepada Sri Baginda Raja. Aku permaisuri yang harus berbakti kepada Baginda. Aku harus menjaga kewibawaan Keraton, nilai, harga diri. Akan tetapi tetap saja pertanyaan itu terdengar. Sama dengan yang dialami Pamanda Senopati Agung Brahma. Seperti Mbakyu Ayu Tapasi yang kini berada di Campa. Kadang aku merasa lebih memiliki Kakangmas Upasara, kalau ia masih selalu sendirian. Tapi itu ketololan dan mau mencari menang sendiri. Tak ada bedanya apakah Kakangmas sendirian atau beristri…”

Ratu Ayu menggeleng. “Memang ganjil. Kalian membicarakan Raja Turkana yang telah memiliki dan dimiliki orang lain. Aku. Aku yang paling berhak membicarakan. Aku sadar bahwa aku memiliki secara resmi. Tetapi aku tak pernah betul-betul mengenalnya. Tak pernah melihat punggungnya, kakinya, secara utuh. Bahkan mungkin, aku… aku… tak percaya kalau Raja Turkana telah hafal dengan wajahku…” Suaranya menjadi parau. “Tapi itu tak mengurangi kebahagiaanku…”

Ketiga wanita yang mendengarkan mengangguk bersamaan. Seakan membenarkan kata hatinya masing-masing, bahwa mereka pun tak berkurang rasa bahagianya.

“Karena sebentar lagi kita akan memasuki gerbang Keraton, ada baiknya kita bersiap-siap lebih dulu. Siapa tahu tenaga dan pikiran kita masih akan diperlukan…”

Gendhuk Tri memimpin ketiga wanita itu beristirahat dan mengumpulkan kembali tenaga dalam mereka. Ratu Ayu yang memang dasar-dasar ilmunya kuat, kini tanpa bantuan pun bisa mengerahkan kekuatannya untuk mengusir racun pagebluk dalam tubuhnya. Gendhuk Tri sendiri menemukan rasa lega yang lapang setiap kali selesai melakukan latihan. Yang tampaknya masih belum menguasai sepenuhnya adalah Nyai Demang. Beberapa kali mencoba, bisa dimulai dengan baik, akan tetapi di bagian tengah selalu menjadi tersengal-sengal. Sehingga terpaksa menghentikan latihan di tengah jalan.

”Aku tidak paham dengan kekuatan dingin yang ada dalam tubuh Nyai,” kata Ratu Ayu. “Sewaktu tenaga dalam tersalur ke arahku, bisa sepenuhnya aku mengerti. Tetapi ketika Nyai berlatih, tampaknya ada sesuatu yang tak bisa dikendalikan.”

“Apa mungkin memang latihan pernapasan itu sesat, seperti yang dikatakan Kakek Berune?”

“Tak mungkin, Mbakyu. Bagaimanapun, rasanya Eyang Sepuh atau Mpu Raganata tidak secara sengaja memberi salinan Kitab Bumi yang dibuat keliru.”

“Mungkin aku sendiri yang tolol.”

“Itu bisa jadi,” kata Gendhuk Tri tersenyum lebar. “Mbakyu sejak dulu memang tolol. Ditaksir Baginda saja…”

“Jangan omong sembarangan…”

Gendhuk Tri tertawa. “Apakah itu termasuk rahasia?”

“Bagaimana mungkin kamu masih ngomong sembarangan, di saat kita begini sedih karena…”

Gendhuk Tri berdiri. “Ayo, kita lanjutkan perjalanan.

“Sedih atau tidak, apakah Kakang bisa hidup lagi? Apakah kalau hidup juga akan bisa lebih bahagia? Apa kita juga bisa rerasan seperti sekarang? Begitu nanti melihat tulang Kakang, barangkali kita akan saling berebut, saling merasa berhak. Bukankah itu semua hanya membuat Kakang lebih menderita?”

Tetap pedas, agak sembrono. Itulah Gendhuk Tri. Yang sedikit membedakan hanyalah bahwa kini ia bisa memimpin, bisa menjadi orang pertama yang menentukan perjalanan dan pertama melangkah.

Kidung Pambagya
MENJELANG memasuki gerbang, Gendhuk Tri merasa heran karena ada serombongan lelaki yang menjemput. Yang segera menyembah, seolah rata dengan tanah.

“Silakan, Tuan Putri yang terhormat…”

Gendhuk Tri pasti sudah berteriak dan tertawa jika ini terjadi saat lalu. Kini ia hanya mengangguk, mengikuti ketua rombongan, dengan tetap waspada. Ternyata mereka dibawa ke rumah yang agaknya telah dipersiapkan secara istimewa. Lengkap dengan dayang-dayang yang jumlahnya mencapai empat puluh orang. Siap melayani mandi, keramas, menyisir, menggunting kuku, sampai makan.

“Siapa yang menyuruh kalian?”

“Adalah kehormatan bagi kami bisa melayani Paduka Putri…”

Nyai Demang menarik tangan Gendhuk Tri. “Jangan paksa mereka, agaknya mereka sendiri tak tahu.”

“Lalu, menurut perkiraan Mbakyu, siapa yang melakukan ini semua?”

“Rasa-rasanya orang yang tahu keinginan kita. Barangkali saja kalau kita melewati jalan utama, sudah sejak lama ada penyambutan seperti ini. Tapi dilihat selintas mereka bukan jago silat. Beberapa bahkan tak pernah belajar silat sama sekali.”

“Apakah mungkin Wong Agung Galgendu yang menyiapkan ini semua?”

“Rasa-rasanya begitu. Tetapi saya tak yakin ia berani melanggar permintaan Ratu Ayu. Bahkan Senopati Sariq saja sejak pertama kita tak melihat bayangannya.”

“Bagaimana rencana kita, Mbakyu? Apakah kita langsung masuk ke kebun kaputren dan membongkar kuburan Kakang, atau minta restu Raja?”

“Sebaiknya kita menyelidiki lebih dulu.”

“Mbakyu tunggu saja di sini, menjaga Permaisuri. Saya akan menerobos masuk dengan Ratu Ayu.”

Nyai Demang tersenyum tipis. “Aku tahu…”

“Hanya Mbakyu Demang yang bisa melayani Permaisuri dengan baik.”

Tanpa menunggu pertimbangan lebih jauh. Gendhuk Tri segera berangkat bersama Ratu Ayu. Tak terlalu sulit bagi keduanya untuk bisa menyusup masuk. Gendhuk Tri sangat hafal dengan lekuk-liku Keraton dan bisa dengan mudah langsung menuju kaputren. Dengan ilmu yang tinggi, bagi Ratu Ayu tak ada persoalan yang berarti. Hanya saja ketika mendekat ke arah tempat yang ditunjukkan Permaisuri, mereka menjadi tertegun.

Di salah satu pohon yang mengelilingi makam, ada guratan-guratan yang agaknya baru dibuat beberapa saat sebelumnya. Karena terlihat bahwa sebagian kulit pohon masih meneteskan getah.

Salam pambagya
selamat datang
terima kasih atas perhatian
salam pambagya
salam bahagia…


Ratu Ayu menyentuh pundak Gendhuk Tri. “Apa maksudnya?”

“Belum jelas ditujukan kepada siapa. Rasanya tak ada sesuatu yang luar biasa. Kata-kata itu sendiri tak menyembunyikan sesuatu selain semacam ucapan selamat datang.”

Keduanya berjongkok. Kemudian bersila. Menyembah ke arah tanah di bawah pohon. Agak lama. Kemudian secara bersamaan pula berdiri, saling pandang dan segera meloncat Ke luar. Tak ada siapa-siapa. Gendhuk Tri agak sangsi melihat bahwa suasana dalam Keraton tampak sangat lengang. Baru di bagian depan kelihatan beberapa prajurit jaga hilir-mudik. Gendhuk Tri segera menyelinap dan kembali ke tempat beristirahat. Ada bersitan rasa kuatir.

Jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa Nyai Demang atau Permaisuri. Perasaan was-was hilang dengan sendirinya ketika Nyai Demang menyambut dengan wajah tenang. Gendhuk Tri menceritakan apa yang dilihatnya.

“Kalau begitu, jelas itu ditujukan kepada kita. Lihat saja…” Nyai Demang menunjuk ke arah tiang utama.

Baru Gendhuk Tri sadar bahwa di tiang juga ada tulisan yang sama. “Mbakyu Demang paling pintar mengenai tata bahasa. Apa maksud salam bahagia itu?”

“Tak ada arti apa-apa selain mengucapkan salam bahagia. Sejauh saya tahu seperti itu agak lumrah di zaman Sri Baginda Raja.”

“Mungkinkah seseorang yang menaruh simpati kepada kita?”

“Kalau benar begitu, untuk apa menyembunyikan diri?” Ratu Ayu memotong pembicaraan. “Sudah, biar saja. Maksud kita sejak semula ingin memindahkan kerangka Raja Turkana. Kalau memang maksudnya mengucapkan selamat datang, ya kita terima. Kalau nanti merepotkan, kita semua siap menghadapi.”

“Baik juga. Bagaimana rencana Ratu?”

“Kita langsung ke Keraton. Mengutarakan maksud kita dengan baik. Kalau ditolak, kita bisa memaksa.”

“Kalau itu sudah menjadi kesepakatan, mari kita kerjakan sekarang.”

Merasa bahwa semua persiapan telah dilakukan, segera Gendhuk Tri memimpin rombongan menuju Keraton. Di gerbang tak ada yang menyambut. Baru ketika di depan pintu utama, beberapa prajurit jaga menghadang.

“Sampaikan kepada yang berwenang mengatur, kami datang untuk mengambil Kakang Upasara….”

“Siapa kalian?”

“Buka mata yang lebar. Kalau melihat bayangan Permaisuri Rajapatni kalian tidak menyembah sampai dagu kalian menempel tanah, itu namanya keterlaluan. Mana Senopati Utama atau Mahapatih?”

“Maaf, kami hanya menjalankan perintah….”

Agak lama mereka berunding. Lalu salah seorang pemimpin maju, memberi sembah hormat, dan dengan suara lembut menyilakan keempatnya masuk.

“Hati-hati…,” bisik Gendhuk Tri.

Tanpa pemberitahuan itu pun semua sudah berjaga-jaga. Di luar dugaan keempatnya bahwa mereka akan diizinkan dengan mudah. Dalam bayangan semula, pasti akan repot. Bahkan bisa-bisa harus menunggu dawuh dari Raja. Atau ini jebakan? Apa pun juga, Gendhuk Tri memang tak akan mundur lagi. Dalam pengawalan sederhana, keempatnya menuju kaputren. Baru saja tiba di halaman bagian luar, tubuh Permaisuri Rajapatni terjatuh. Lunglai. Terpaksa Nyai Demang yang menggotong dan membawa ke pinggir.

“Paman prajurit, apakah benar di sini dikuburkan Kakang Upasara?”

“Demikian adanya….”

Gendhuk Tri merasa bahwa jawaban yang didengar bukan keluar dari hati yang mantap yakin.

“Silakan….”

“Apa Paman bersedia membantu kami membongkar?”

“Kalau diperintahkan….”

Ratu Ayu tak sabar. Setelah memejamkan matanya sekejap, kedua tangannya terulur ke depan. Meraup tanah dan dengan gerakan sangat cepat, kedua tangannya mengeduk tanah. Bagai tikus yang sedang menggangsir. Cepat sekali. Sehingga para prajurit yang mengawal terbengong melihatnya. Gendhuk Tri juga melakukan hal yang sama. Cepat kedua tangannya menggali dengan mempergunakan tombak yang dibawa para prajurit. Dalam waktu singkat, keduanya sudah membuat lubang sedalam lutut.

Nyai Demang kemudian turun membantu. Sehingga pekerjaan menggali bisa berjalan lebih cepat. Apalagi Nyai Demang bisa mengarahkan ke bagian tanah yang lebih lunak dari biasanya. Sepenanak nasi, sebuah lubang sebesar kolam telah tergali. Gundukan tanah sekitarnya meninggi. Gendhuk Tri terus bekerja bagai kesetanan, sementara sejak semula Ratu Ayu seakan memamerkan kemampuannya yang luar biasa. Kedua tangannya bergerak bagai baling-baling.

“Tahan…!”

JILID 24BUKU PERTAMAJILID 26