Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 24

“Sumangga, Sinuwun…”

Pilihan akhir di tangan Baginda. Melindungi sendiri atau melindungi dengan bantuan para senopati.

Pengakuan Permaisuri Rajapatni
BAGINDA menggerakkan dagunya. “Ingsun bisa menghadapi sendiri.”

“Kalau itu memang kemauan Baginda, jangan menyesal di belakang hari.” Ratu Ayu kembali bersiap.

Galgendu memukuli lantai rumahnya. “Bunuh saya lebih dulu. Saya sungguh durhaka kepada siapa saja…” Rasa bersalah yang menyayati kesadarannya membuat ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyesali. Karena kejadian ini berlangsung di tempat kediamannya. Atas undangannya.

“Saya yang bersalah…”

Terdengar suara lirih dari ujung ruangan. Bersamaan dengan itu muncul bayangan tubuh Permaisuri Rajapatni yang berjalan jongkok, mendekat. Caranya menyembah tetap menunjukkan rasa hormat yang dalam. Sejarak lima tombak, Permaisuri Rajapatni duduk bersila, menunduk.

“Permaisuri Rajapatni, saya Ratu Ayu dari Negeri Turkana. Sejak lama saya mengagumi Permaisuri yang cantik jelita. Saya sengaja menemui untuk mencari tahu kabar kebenaran tentang Raja Turkana.”

Permaisuri Rajapatni menatap. Pandangan matanya kosong. “Saya sudah mengatakan semuanya….”

Hening. Tak ada suara nyamuk atau angin.

“Sayalah yang durhaka, yang melakukan semua itu…” Suaranya mengambang. Ringan seperti tanpa perasaan apa-apa. Seperti digetarkan oleh kekosongan. Suwung.

Nyai Demang seperti menebak-nebak pandangan mata Permaisuri Rajapatni yang melompong. Ada sesuatu yang menggetarkan perasaannya, perasaan kewanitaannya. Apa yang menyebabkan Permaisuri Rajapatni memerintahkan tindakan yang sangat kejam itu?

Selama ini. Rajapatni bukanlah seorang yang tega. Seekor lalat pun akan diperintahkan untuk diusir dan bukan dibunuh. Selama hidupnya tak pernah memperlihatkan sikap yang ganjil. Apalagi tindakan yang kasar. Tetapi mengapa, justru saat Upasara tertawan, terluka, diperintahkan untuk dipenggal kepalanya, kedua kaki dan tangannya? Dendam asmara?

Sangat mungkin sekali. Meskipun masih perlu diragukan bahwa itu yang membuat Rajapatni bertindak kejam. Hubungannya dengan Upasara, sejauh Nyai Demang mengetahui, hubungan daya asmara yang dijalin dengan benang asmara yang halus, yang tulus, yang murni. Lalu apa?

Karena Rajapatni ingin memperlihatkan bahwa ia bisa memerintahkan hal itu agar Baginda menjadi yakin bahwa Rajapatni tak mempunyai ikatan apa pun dengan Upasara? Ini masih mungkin. Atau lebih mendekati kebenaran. Karena bagi seorang permaisuri, bekti dan pengabdian adalah yang utama, dan satu-satunya.

Kalau sampai teragukan, rasa berdosa akan ditanggung sampai turunan yang terakhir. Selama ini Baginda tidak meragukan kesetiaan dan pengabdian Permaisuri Rajapatni. Akan tetapi memang Upasara menjadi ganjalan dalam hati. Sejak sebelum menyerbu Raja Jayakatwang!

“Dosa saya semuanya….”

Ratu Ayu merangkapkan kedua tangannya. Tubuhnya bersandar ke tiang. Pandangannya sama kosongnya. Pengakuan Rajapatni sangat sederhana diucapkan. Apa yang membuatnya terbanting-banting oleh alunan perasaan tak menentu, kini telah menemukan jawaban. Bahwa Upasara Wulung memang benar mangkat secara mengerikan. Bahwa yang memerintahkan adalah Permaisuri Rajapatni sendiri.

Sekarang semua telah jelas. Gamblang. Kalau ingin menuntut balas, ya sekarang ini waktunya. Kalau ingin membuat perhitungan tak ada yang menghalangi. Rajapatni telah bersila, pasrah, menerima akibatnya.

“Kenapa… kenapa…” Nyai Demang terbatuk, gugup, tak bisa melanjutkan pertanyaannya.

“Kakangmas Upasara… tidak tahan akan penderitaan. Sakit tak tertahankan. Malu tak tertahankan. Kalah tak tertahankan. Menderita tak tertahankan. Hanya dengan memutus anggota badannya, semua bisa bebas, dan tak ada lagi penderitaan. Kakangmas Upasara… tidak meminta apa-apa. Saya yang memerintahkan.”

Wajah Baginda berubah dingin. “Jadi benar Yayi yang memberi restu?”

Galgendu melengak. Meskipun masih terus menunduk, telinganya mendengar semua pembicaraan. Tumbuh perasaan kagum dan hormat. Bahwa Baginda yang tidak menduga permaisurinya memerintahkan hal itu, sudah bersiap melindungi. Melindungi sebagai ksatria.

“Inggih, Sinuwun…”

“Kamu merasa lega sekarang ini? Lega karena telah mengatakan? Jagat Dewa Batara! Lalu apa maumu sekarang?”

“Sumangga, Ingkang Sinuwun…” Rajapatni menyerahkan tubuh dan jiwanya! Apa pun akibatnya akan ditanggung.

“Hebat, sungguh hebat. Upasara, sesungguhnya kamu ini manusia macam apa? Di saat kamu hidup menebarkan asmara yang menjaring banyak hati wanita. Sehingga kamu membuat banyak penderitaan. Di saat kamu mati pun, masih meninggalkan bekas-bekas yang menimbulkan keonaran. Sungguh aku tak mengerti. Apa yang kamu peroleh dari ini semua? Satu pun tak ada.”

Dada Nyai Demang bergerak turun-naik. Kedua tangannya gemetar. Rajapatni mengeluarkan cundrik, keris kecil, dari balik kembennya. Diletakkan di depan tubuhnya.

“Sumangga kersa Dalem….”

Terserah kemauan Baginda. Rajapatni sudah memutuskan menerima hukuman mati. Tetapi tetap menunjukkan hormat dan pengabdian, bahwa yang berkuasa atas mati dan hidupnya adalah Baginda.

“Yayi, karena kamu sudah mengetahui salah dan dosamu. Ingsun tak ragu menjatuhkan keputusan.” Tangan Baginda bergerak cepat, menyambar cundrik. Pandangannya menyapu ruangan.

“Ratu, ini adalah urusan kami. Karena Yayi Permaisuri bersalah, aku yang menghukum. Kalau kamu masih kurang puas, akan tetap kuhadapi.”

Sikap Baginda sangat tegas dan berwibawa. Di satu pihak ingin menghukum Permaisuri Rajapatni yang dianggap bersalah, di pihak lain tetap akan menghadapi tantangan.

“Apa… apa Adimas Upasara waktu itu masih hidup?”

Rajapatni menunduk. Air matanya menetes. Membasahi kain di lututnya.

“Permaisuri… apa Adimas Upasara masih hidup ketika dipotong-potong?”

Air mata Rajapatni membanjir. “Saya tak tahu… Kakangmas… tak bergerak, saya…”

Mendadak Nyai Demang menjerit keras. Tubuhnya berdiri, bergoyang-goyang melesat ke arah luar. “Gendhuuuk…!”

Hanya kata itu yang terdengar bagai lengkingan pita rebab yang putus. Teriakan tinggi itu yang terdengar oleh Gendhuk Tri yang berada di jalan menuju Gua Kencana. Bersama dengan Senopati Sariq dan Senopati Kuti, ketiga tubuh melayang bersamaan menuju ke arah bangunan rumah Galgendu.

Di bagian depan rumah ada penjagaan yang luar biasa ketatnya. Semua prajurit yang ada dalam keadaan siap siaga. Baik prajurit dari Keraton yang mengiringi Baginda, maupun prajurit yang sejak semula menjaga. Bersamaan dengan datangnya Nyai Demang, Gendhuk Tri juga melayang masuk.

“Apa… apa…” Gendhuk Tri menjadi gugup.

Nyai Demang hanya bisa menubruk Gendhuk Tri, memeluk kencang, menuding ke dalam rumah, sebelum ambruk. Gendhuk Tri memandang ke dalam rumah. Serentak dengan itu, semua prajurit bersiaga.

“Tak ada yang bisa masuk, selain perintah dari Sodagar Galgendu.”

Gendhuk Tri berdiri dengan pandangan bingung. Sambil memanggul Nyai Demang, Gendhuk Tri berkata dengan gagah, “Kalian prajurit yang tak tahu diri. Bagiku tak ada hubungannya untuk masuk ke dalam. Tapi pasti ada bahaya yang mengancam di dalam.”

“Kami hanya menjalankan satu perintah.”

“Bagaimana keadaan Baginda?” Senopati Kuti segera mendekat ke arah Nyai Demang yang masih dalam panggulan Gendhuk Tri. Senopati Kuti segera bergerak menolong. Tiga sodokan tenaga dalamnya dikirimkan ke tubuh Nyai Demang.

Permaisuri yang Ditinggalkan
SENOPATI KUTI terperanjat. Tenaga dalam yang dikirimkan lewat sodokan membal kembali. Pada sodokan pertama, tenaganya seperti mengempas karang. Pada sodokan kedua, tangannya terasa sakit. Pada sodokan ketiga, sebelum tenaganya berhasil dikerahkan, tenaga dalam Nyai Demang lebih dulu menyodok. Sedemikian keras rasanya, sehingga Senopati Kuti terhuyung-huyung dan muntah darah seketika!

Gendhuk Tri mengetahui bahwa dalam tubuh Nyai Demang masih bersarang tenaga dalam Eyang Berune. Akan tetapi tak menduga bahwa masih sedemikian kuatnya sehingga bisa melukai Senopati Kuti. Pukulan Pu-Ni yang menghancurkan masih luar biasa kekuatannya, walau seperti tak ada. Nyai Demang sendiri sebenarnya tak merasakan sesuatu yang ganjil. Dalam keadaan lemas, sodokan Senopati Kuti dirasakan tak lebih dari pijitan saja. Ia tak merasa memberikan perlawanan.

Para prajurit yang mengepung tetap bersiaga. Agaknya mereka mendapat perintah, selama tidak memaksa masuk, tidak menjadi perhatian mereka sama sekali.

“Bagaimana, Paman Kuti?”

Senopati Kuti tak menjawab. Segera memusatkan kekuatannya untuk melawan guncangan dalam dadanya. Yang terasa sangat sakit, seolah ada serpihan dari tenaga dalamnya yang hancur di dalam.

“Apa yang terjadi di dalam?”

Nyai Demang memandang dengan sorot mata kosong. “Semuanya benar….”

Gendhuk Tri berdeham keras. “Jadi Gayatri yang memerintahkan?”

Nyai Demang mengangguk.

“Apa maunya wanita tua tak berbudi itu?” Suara Gendhuk Tri sangat keras. Dengan gagah ia bersiap melangkah ke dalam.

Akan tetapi pada saat yang bersamaan, dari dalam muncul rombongan yang mendapat pengawalan ketat. Gendhuk Tri bersiap-siap. Rombongan Baginda yang agaknya terburu-buru meninggalkan tempat. Seluruh prajurit disiagakan seketika, dan tanpa menunggu persiapan sempurna segera meninggalkan tempat. Hanya satu yang menahan langkah Gendhuk Tri. Pemunculan Ratu Ayu yang melangkah gontai ke dekatnya.

“Ratu biarkan mereka pergi begitu saja?”

“Baginda pergi bersama ketiga permaisurinya. Rajapatni ditinggal di dalam.”

“Apa maunya Baginda?"

Hanya satu kalimat: Selama Rajapatni masih memikirkan Upasara, selama itu tak berhak meladeni Baginda.”

“Apa yang akan Ratu lakukan?”

“Kita semua bisa menjatuhkan hukuman apa saja. Rajapatni siap menerimanya. Ia sedang menunggu di dalam.”

Gendhuk Tri ragu. Apa yang akan dilakukan? Hukuman apa yang akan dijatuhkan? Setelah membakar dan menghanguskan kemarahan, keinginan murka meranggas dengan sendirinya. Tadinya ia berharap Permaisuri Gayatri akan menolak, dan Baginda serta para senopati akan melindungi. Dengan demikian akan terjadi pertarungan untuk melampiaskan dendam. Tapi keadaannya sekarang lain. Rajapatni mengakui, dan menerima hukuman.

Terbersit rasa iba dalam hati Gendhuk Tri. Alangkah buruk nasib Rajapatni. Putri sekar kedaton Keraton Singasari ini menyimpan daya asmara terhadap Upasara. Lebih hebat lagi, sesungguhnyalah Upasara juga menyimpan daya asmara yang sama. Akan tetapi perjalanan asmara tak bisa sempurna, karena Rajapatni ditakdirkan melahirkan keturunan dari Baginda, yang kelak akan memimpin kebesaran Keraton!

Sejak saat itu daya asmara menjadi bungkam dan tersumbat. Namun justru berkobar, membakar hati dan perasaan. Baik Upasara Wulung maupun Rajapatni. Dua-duanya seperti hidup dalam alam impian. Upasara bahkan memutuskan tidak mau menemui, memutuskan untuk surut dari gelanggang. Semua ini pasti memberati rasa batin Rajapatni yang masih merasakan getar dan gema hati Upasara.

Kemudian terjadi pertemuan yang masih misteri bagi Gendhuk Tri. Upasara dalam keadaan luka parah. Dan Rajapatni mengambil keputusan hukuman. Untuk memotong tubuh Upasara. Karena ingin memperlihatkan rasa bekti dan setia kepada Baginda? Kalau benar begitu, kenapa sekarang menyesali dan siap menerima hukuman? Sesungguhnya rasa iba Gendhuk Tri karena menyadari bahwa Permaisuri Rajapatni sekarang ini sudah menjalani hukuman yang paling berat.

Hukuman dikebonake, hukuman ditinggalkan, hukuman dibuang! Hukuman yang paling hina bagi seorang istri. Bagi seorang permaisuri! Sementara yang sekarang merayapi batin Rajapatni adalah perasan berdosa yang besar. Telah melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas. Ataukah ketika itu Rajapatni berada dalam pengaruh Manmathaba? Pertanyaan dan jawaban silih berganti memenuhi isi kepala Gendhuk Tri. Ratu Ayu masih tetap memandangi, menunggu.

“Mari kita ke dalam….”

“Ratu…”

“Ya….”

“Apa yang akan Ratu lakukan?”

Sambil masih memanggul Nyai Demang, Gendhuk Tri melangkah perlahan di samping Ratu Ayu. Para prajurit yang menjaga menyibak dengan hormat.

“Menunggu sampai pencandian Raja Turkana….”

“Maksud saya, hukuman apa yang akan dijatuhkan untuk Rajapatni?”

“Aku kasihan padanya. Tetapi karena ia memotong tubuh Raja Turkana ia akan mengalami nasib yang sama. Tubuhnya akan dipotong, dijadikan tumbal bagi Candi Senopaten Pamungkas.”

“Ratu akan melakukan sendiri?”

“Ya. Gendhuk Tri, aku tahu bagaimana perasaanmu. Sebagai sesama wanita, kita dipersatukan karena Raja Turkana. Demikian juga Rajapatni. Akan tetapi tetap harus bisa dipisahkan mana yang berhubungan dengan keadilan. Sekarang ini kita berjalan bersama. Akan tetapi kalau suatu hari kelak aku mengetahui kamu berbuat jahat kepada Raja Turkana, aku akan membalas sakit hati dan dendam ini.”

“Saya bisa mengerti, Ratu….”

“Gendhuk Tri, bukankah kamu juga akan melakukan hal yang sama?”

“Bisa jadi. Saya agak berbeda hubungannya dengan Kakang Upasara. Demikian juga Nyai Demang. Yang paling berkepentingan adalah Ratu. Karena Ratu secara resmi adalah istri Kakang….”

Wajah Ratu Ayu berubah. Ada kilasan warna tertentu yang meronai pipinya. “Itulah yang paling membahagiakan dalam hidupku yang singkat ini. Sangat indah seperti di kayangan, tempat para dewa dan dewi… Walau kami tak pernah bersentuhan, tak pernah berpegangan tangan sekali pun. Ini semua tak mengurangi kebahagiaan yang ada, yang telah kuhirup sampai ke tulang sumsum…”

Keduanya melewati bagian utama di ruang tengah.

“Bagaimana kabar Singanada?”

“Sampai sekarang saya belum tahu.”

“Pangeran Anom?”

Gendhuk Tri membuat gerakan menggeleng kecil. “Apakah Nyai Demang telah menceritakan semuanya?”

“Sesama wanita selalu mempunyai waktu untuk saling bercerita. Seperti ketika kalian sedang berdua, aku akan menjadi bahan cerita. Kamu sudah pantas bersuami, Gendhuk…”

“Saya tak ingin membicarakan itu.”

“Maaf.”

Keduanya terdiam. Nyai Demang mengerang kecil sebelum minta diturunkan. Saat itu muncul seorang lelaki yang gemuk, yang berkeringat luar biasa dari dalam ruangan. Sodagar Galgendu berhenti, menyambut dengan hormat.

“Duh Ratu dan para ksatria sejati, silakan beristirahat… Saya akan menyelesaikan persiapan pelaksanaan pembuatan candi. Kebetulan sekarang ini ada utusan dari Keraton, utusan khusus Raja Jayanegara…”

“Apa lagi? Minta upeti lebih besar?”

Galgendu tersenyum tipis. Tubuhnya yang gemuk berusaha membungkuk lebih dalam. “Tidak. Menurut yang disampaikan kepada saya, utusan khusus Raja datang untuk memberikan gelar Wong Agung Galgendu. Saya tak bisa tidak menyambutnya. Ratu dan para pendekar sejati, saya akan merasa sangat bahagia, bila kalian semua masih berkenan tinggal satu-dua malam sampai upacara peresmian candi….”

“Di mana Permaisuri Rajapatni?”

“Di dalam kamar, sedang menenteramkan diri, mandi keramas dan membersihkan tubuh, sehingga siap sewaktu-waktu menerima hukuman.”

Wayang, Warisan Sukma
Di luar terjadi upacara yang megah. Utusan dari Keraton diterima dengan segala kebesaran dan perjamuan yang sangat istimewa. Utusan Raja menyampaikan lempengan emas yang bertuliskan bahwa karena jasa-jasanya kepada Keraton, Galgendu berhak memakai gelar Wong Agung, sehingga sejak sekarang bisa memakai nama Wong Agung Galgendu, dan bukan lagi Sodagar Galgendu.

“Maha terima kasih atas kemurahan hati Raja.”

“Semoga Wong Agung Galgendu bisa menjalani hidup lebih baik atas perkenan Raja…”

“Sembah kagem Sinuwun…”

Bersamaan dengan penyerahan, gendang ditabuh bertalu-talu. Suaranya menggema ke seluruh bagian, merambah seluruh Desa Kedung Dawa. Menjelang larut, suasana makin meriah. Pesta merayakan pemberian gelar disusul dengan dimulainya pembangunan Candi Senopaten Pamungkas.

Malam itu Gendhuk Tri meninggalkan kamarnya, menuju ke arah lapangan, di mana kegembiraan berlangsung. Untuk pertama kalinya, hatinya merasa sunyi. Di tengah segala kegalauan, perasaannya kosong. Apa lagi yang akan dilakukan kini? Rasanya tak ada pegangan.

Singanada tak jelas di mana berada. Tak jelas nanti bagaimana meneruskan hidup bersamanya. Pangeran Anom tak jelas di mana. Juga tak tahu, apa yang terjadi nanti. Upasara sudah tak ada. Betapapun menyakitkan dan sulit diterima, akan tetapi itulah kenyataannya.

Di masa-masa terakhir, Gendhuk Tri tidak bersama dengan Upasara. Akan tetapi sekarang ini terasa betul kehilangan. Makin terasakan betapa tak mungkin lagi bertemu dengan Kakang, sampai ia menyusul ke alam yang berbeda. Begitu gampangkah kematian? Apakah sebenarnya kematian itu?

“Kematian itu tak ada kalau kita percaya hidup yang diberkati Dewa. Kematian tak berbeda dengan orang tidur. Tak perlu dirisaukan.”

Gendhuk Tri baru menyadari bahwa suara itu berasal dari Ki Dalang yang sedang memainkan wayang kulit. “Tetapi kenapa orang yang saya sayangi yang meninggal, dan bukan orang lain? Bukan saya?”

“Hoho kamu merasa owel, merasa sayang karena mempunyai pengharapan besar karena kamu mementingkan dirimu sendiri. Itu cara berpikir yang angkuh, deksiya, mau menang dan enaknya sendiri….”

Gendhuk Tri tak bisa mendesak maju karena lautan manusia memenuhi lapangan. Hanya dari kejauhan, Gendhuk Tri bisa melihat jelas wayang kulit yang sedang dimainkan. Percakapan antara dua tokoh yang rasanya sangat dikenal. Gendhuk Tri merasa ganjil karena apa yang dikatakan Ki Dalang Memeling seperti secara langsung ditujukan ke arahnya.

“Relakan kematian, jangan ditangisi. Apalagi yang kamu tangisi adalah ksatria luhur, pembela Keraton yang tidak meminta pamrih. Banyak contoh ksatria agung yang tak meminta apa-apa semasa hidupnya. Baik Raden Gatutkaca maupun Upasara Wulung yang luhur….”

Terdengar tepuk tangan yang keras, bersamaan. Gendhuk Tri mengangkat alisnya. Sudah lama ia mendengar bahwa Dalang Memeling dalang wayang kulit yang sangat terkenal, baik dalam memainkan wayang maupun dalam mengatur kalimat-kalimatnya. Itu pula sebabnya, semasa Baginda berkuasa tak mendapat restu. Kali ini disaksikannya sendiri, bagaimana Ki Dalang memasukkan nama Upasara dalam lakonnya.

“Siapa itu Upasara, rasanya saya tak mengenal. Tak ada dalam pakem, tak ada dalam buku pewayangan….”

“Hoho, kamu tak mengetahui. Wayang itu bukan hanya Ramayana dan Mahabharata saja. Itu kan yang dibawa-bawa orang hitam dari tlatah Hindia. Kita telah mempunyai tokoh, telah mempunyai cerita sendiri, yang dianggit, dikarang para empu dan pujangga negeri ini, negeri Jawa yang menjadi pusat alam semesta.”

“Mana mungkin?”

“Kenapa tidak? Dalam bahasa wayang kulit ini, semua perlengkapan, semua nama tabuhan, nama gamelan, tidak ada yang berasal dari bahasa Hindia. Semua milik kita sendiri.”

“Benarkah wayang kulit milik kita?”

“Sejak zaman Raja Airlangga, sudah begitu. Di zaman Sri Baginda Raja Kertanegara yang menjadi pamor segala pamor, cahaya dari semua cahaya, hal itu sudah jelas. Kalau tadi saya katakan Upasara Wulung itu ksatria, siapa yang mendidik? Zaman apa yang melahirkan pahlawan perkasa seperti Upasara Wulung kang kinurmatan, yang terhormat itu? Apa zaman sekarang ini? Zaman di mana gua emas menjadi sumber kekuatan? Zaman di mana raja bisa begitu saja memberi gelar terhormat? Kok murah amat. Hoho, ketahuilah, bahwa gelar itu hanya sandang. Seperti kain yang tersampir di pundak. Yang menentukan adalah pundak siapa. Apa artinya gelar Wong Agung? Kenapa masih ragu dengan menyebut wong yang artinya manusia biasa-biasa, rakyat biasa, kalau memang mau memakai kata agung, di belakangnya? Ini bisa berarti pemberian gelar itu tidak rela, atau pujangga di Keraton sudah tak mengerti tata krama berbahasa….”

Suasana menjadi sunyi. Penonton berpandangan dengan wajah waswas. Gendhuk Tri yang mulai mengikuti pembicaraan tokoh wayang juga merasa bahwa apa yang dikatakan Ki Dalang bukan hanya melenceng jauh tetapi mulai menyinggung Keraton.

“Ketahuilah, bahwa wayang yang sekarang ini diadakan untuk melengkapi pencandian ksatria titisan Dewa, Upasara Wulung. Tapi titisan Dewa atau lebih dari itu, mana pernah ada kuburan bagi senopati? Seumur-umur saya belum pernah tahu. Makam pepujan untuk raja dan keluarganya. Tapi kenapa sekarang ini Upasara Wulung mendapat kehormatan yang sangat besar? Karena jasa-jasanya yang tak tertandingi, bahkan oleh semua senopati yang ada dikumpulkan menjadi satu! Upasara Wulung yang terhormat, sangat pantas menerima kehormatan ini. Lebih pantas lagi saat masih hidup.”

Ketokan di kotak wayang yang menggeretak, menjadikan suasana menjadi panas. Seolah menggaris bawahi apa yang diucapkan.

“Saya tanya padamu, apa yang kamu berikan kepada Upasara Wulung? Apa? Apa gelar agung? Tidak. Apa wanita yang dikehendaki? Tidak. Apa rumah, apa tanah, apa sawah, apa berkah? Tidak. Apa harta, apa pusaka, apa banda? Tidak. Tak ada. Tak ada. Kalau sekarang ini begitu dihormati, disanjung tinggi, tak ada gunanya lagi. Sukma Upasara Wulung tidak perlu yang serba kebendaan. Sukma Upasara Wulung memerlukan doa, memerlukan ketulusan hati. Itulah wejanganku. Demikian juga wayang ini. Ini sukma budaya yang tak terhingga. Sukma batin para empu, para pujangga yang linuwih, yang memiliki pancaindria lebih. Yang wajib kita tengkarkan, kita kembangkan terus. Bukan malah takut-takut. Memangnya para prajurit Keraton itu yang lebih berhak atas sukma budaya? Memangnya kekeliruan dan keterlambatan menghormati Upasara Wulung diselesaikan dengan cara begini?”

Suasana bertambah panas. Beberapa prajurit mulai bergerak maju.

“Saya ini dalang. Kerjanya juga mendalang. Bisa ngomong yang enak dan baik. Bayaran saya sama. Tapi kalau saya hanya bisa menjilat yang di atas dan menyumbat yang di bawah, apa bedanya Ki Dalang dengan kodok? Kalau saya mau ditangkap, silakan. Saya mau lihat apakah mereka berani menangkap saya.”

Suasana berubah gaduh. Para prajurit yang mencoba bergerak maju mendapat hambatan dari penonton yang tak mau minggir sedikit pun. Akan tetapi karena para prajurit terus mendesak, yang terjadi adalah keributan.

Gendhuk Tri tak tahu harus berpihak ke mana. Akan tetapi sebelum keributan memuncak, mendadak semua perhatian tertuju ke geber, layar tempat Ki Dalang Memeling memainkan wayang. Tepat di tengah geber, terlihat wayang kulit yang bergerak-gerak dengan sendirinya!

Biasanya wayang digerakkan oleh tangan Ki Dalang. Tapi sekarang ternyata bisa berada di tengah udara, menempel di geber, bergerak tanpa digerakkan langsung. Inilah yang menyerap seluruh perhatian.

“Ini hanya kulit binatang, tetapi mempunyai sukma. Siapa yang mengganggu pertunjukan, akan kutancapi batok kepalanya.”

Gendhuk Tri mengakui kehebatan Dalang Memeling. Terutama dari caranya menghentikan keributan. Karena wayang kulit yang menempel di geber, bisa bergerak ke tengah, ke arah penonton, sebelum akhirnya kembali ke tengah, dan turun perlahan menancap pada debog, batang pisang.

Lakon Upasara Krama
APA yang diperlihatkan Dalang Memeling memang menarik perhatian. Bagi Gendhuk Tri sendiri merupakan pameran tenaga dalam yang cukup berarti. Kalau itu memakai tenaga dalam yang murni. Akan tetapi, bagi para dalang, kekuatan yang diperlihatkan sering berasal dari tenaga dalam yang dilatih secara khusus. Untuk menghadapi dalang lain yang akan mengganggu jalannya pertunjukan. Bisa jadi semacam ilmu hitam yang dipakai untuk menangkis gangguan.

Tapi, biar bagaimanapun, Dalang Memeling berhasil memperlihatkan keunggulannya. Memainkan wayang di tengah udara, perlu pemusatan kekuatan yang tak bisa diperoleh dari latihan satu atau dua tahun.

“Dalang gombal,” mendadak terdengar teriakan keras. Seorang prajurit berdiri di atas dua pundak prajurit yang lain. “Kalau mau memberontak jangan menghasut rakyat kecil yang tak tahu apa-apa. Apa maksudmu mengecam pemberian gelar Wong Agung Galgendu? Apakah kamu mau menyangsikan Raja?”

“Jangan menghalangi pandangan orang lain,” teriak Dalang Memeling tak kalah keras.

Mendadak dari kaki Dalang Memeling melayang cempala atau alat pemukul kotak yang biasa dijepit dengan kaki kanan. Bungkah kayu berukir itu menghantam keras. Sebelum prajurit yang berteriak bisa menghindar, cempala itu telah menghantam. Dan melayang kembali, ke arah kaki.

Kali ini Gendhuk Tri mengejapkan matanya. Ini jelas bukan karena keahlian. Ini penggunaan tenaga dalam yang kuat. Menyambit dengan menggunakan kaki bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi bahwa cempala itu bisa melayang kembali, jelas penguasaan yang sempurna. Karena cempala termasuk benda yang berat, dan bentuknya tidak ramping.

“Mari kita lanjutkan tontonan ini. Kita masih berbicara tentang sukma wayang kulit. Wayang yang diukir, dihias dari kulit binatang. Tak beda dengan kulit lain, berbau dan harganya bisa dinilai dengan uang Akan tetapi setelah dimainkan, ia mempunyai sukma. Mempunyai roh. Memiliki kelanggengan, keabadian. Lakon Upasara Wulung bisa diciptakan untuk mengabadikan, selain membuatkan candi. Sebagai dalang saya bisa memainkan lakon Upasara Krama, kawinnya Upasara. Kecap kacarita, adalah seorang ksatria yang sakti mandraguna, tidak mempan ditusuk senjata apa pun, gagah perkasa melewati Dewa, yang sedang gundah gulana. Karena sedang risau hatinya, ksatria yang tiada lain bernama Upasara Wulung berangkat ke tengah hutan. Di tempat itu Upasara bersemadi, memohon petunjuk Dewa yang Maha Mengetahui. Upasara bertanya. Siapakah sebenarnya wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya? Apakah Permaisuri yang keturunan murni Keraton Singasari yang ayu dan jelita bak bidadari? Ataukah seorang gadis yang tumbuh dewasa mempunyai jiwa ksatria yang manis bak bidadari? Ataukah seorang nyai yang bisa mengetahui apa keinginannya, yang juga menawan bak bidadari? Ataukah ratu yang keayuannya mengguncangkan jagat, yang mempunyai takhta di negeri seberang? Ataukah putri Pak Toikromo yang belum dikenalnya? Kerisauan Upasara Wulung adalah kerisauan ksatria sejati. Yang tidak menghendaki adanya pilihan satu dan menyebabkan penderitaan bagi yang lain. Sebagai dalang, saya bisa membuat wayang Upasara Wulung. Tak ada yang berani melarang. Tidak juga para pujangga dan pendeta dari tlatah Hindia, yang merasa lebih unggul dan merasa lebih kampiun. Karena ini wayang kita, sukma kita sendiri.”

Gendhuk Tri mengeluarkan suara tertahan. Kini hatinya makin yakin bahwa Ki Dalang Memeling bukan tokoh sembarangan. Agaknya memiliki pengetahuan yang luar biasa mengenai Upasara, sampai ke hal yang paling kecil. Bahwa Upasara telah menjadi tokoh di hati masyarakat, tidak berarti bahwa nama wanita yang berhubungan dengannya diketahui secara jelas. Termasuk putri Pak Toikromo. Gendhuk Tri berbalik langkah. Kembali ke dalam rumah untuk menemui Wong Agung Galgendu.

“Siapa sebenarnya Dalang Memeling?”

“Saya bertemu dengannya di tempat ini, ketika ayah saya mengusahakan penambangan emas di Gua Kencana. Kenapa tiba-tiba hal itu ditanyakan?”

“Wong Agung…”

“Maaf, marilah kita memakai sebutan yang selama ini kita pergunakan. Saya pun tetap memanggil Gendhuk Tri…”

“Baik, baik, Paman Galgendu. Apakah ada alasan lain Paman meminta dan memilih Dalang Memeling?”

“Ia sendiri yang minta main. Yang saya tahu ia dalang yang aneh. Belum tentu mau main, dibayar berapa pun. Akan tetapi kalau lagi mau, tidak dibayar pun bersedia.”

“Apakah ia sangat berarti bagi Paman?”

“Sangat. Di seluruh jagat ini, hanya saya dan Ki Dalang yang bisa keluar-masuk Gua Kencana. Selebihnya, hanya atas persetujuan kami berdua.”

“Kenapa?”

“Maaf, saya tak bisa mengatakan. Tetapi tak ada hubungannya dengan para ksatria atau maksud jahat.”

“Kenapa orang lain tidak diperbolehkan masuk?”

“Gua Kencana adalah gua emas. Segalanya berkilau di sana. Yang berkilau bisa membuat mata menjadi silau. Saya tak ingin memancing huru-hara. Anakmas Tri, kalau berniat ke sana, sekarang ini pun akan saya antarkan…”

Gendhuk Tri menunjukkan rasa terima kasih dengan senyum lebar. “Tidak sekarang ini, Paman. Saya hanya ingin mengetahui mengenai Ki Dalang…”

“Segera setelah pertunjukan selesai, fajar nanti, bisa ditemui…”

Gendhuk Tri minta pamit. Melangkah kembali menuju kamarnya. Tak terlalu heran melihat Nyai Demang masih duduk di luar, menengadah ke arah bulan.

“Alangkah bagusnya jika ada lakon Upasara Krama…”

“Rupanya Mbakyu Demang nonton juga…”

“Saya bisa mendengar dengan jelas dari tempat ini. Aneh, akan tetapi tenaga dalam saya berubah. Sekarang baru saya sadari bahwa yang membuat saya repot karena bisa mendengarkan suara dari kejauhan. Bahkan kalau saya tidak menghendaki pun, suara itu terdengar jelas.”

Gendhuk Tri duduk di sebelahnya. Memandang ke arah bulan. “Kenapa Mbakyu cemas? Bukankah Mbakyu bisa mempelajari kelebihan tenaga dalam Eyang Berune? Bukankah Mbakyu bisa memahami berbagai bahasa?”

“Untuk apa?” Suaranya mengandung kegetiran yang dalam. “Untuk apa lagi sekarang ini? Adikku seumur hidup mbakyumu hanya pernah bercerita satu kali, dan itu kepadamu, adikku. Saya mendapat semangat hidup untuk membalas dendam keluarga dan suami saya pak Demang yang malang. Ketika semuanya boleh dikatakan berdamai dengan hati saya, pegangan itu lenyap. Syukurlah, berkat pertemuan dengan saudara-saudara dari Perguruan Awan, semangat itu muncul lagi. Akan tetapi, sekarang ini setelah…”

Kalimatnya tak selesai. Tak perlu diselesaikan, karena Gendhuk Tri sudah menangkap bagian akhir. Setelah Upasara tak ada…

“Kepercayaan, pada sesama manusia hilang. Kepercayaan saya kepada Dewa berkurang karenanya. Kepercayaan bahwa hidup ini hanya kesia-siaan dan duka makin kuat. Kenapa Pak Demang yang baik dan berbakti harus mengalami nasib yang malang? Kenapa anak-anakku yang tak berdosa ikut menanggung beban? Kenapa Adimas Upasara harus meninggal dengan cara seperti itu? Adikku… Mbakyumu ini sudah tua. Mungkin tak perlu lagi mendengar jawaban itu. Baru saja saya katakan alangkah baiknya kalau bisa menonton lakon Upasara Krama. Tapi sebenarnya itu tipuan, hiburan yang tidak menenteramkan untuk waktu yang lama. Karena saya sadar itu semu. Adikku, besok pagi saya akan kembali ke Perguruan Awan. Barangkali di sana masih ada secuil tempat untuk menenteramkan hati. Entah untuk sementara atau selamanya. Tolong pamitkan kepada Wong Agung, Ratu Ayu, dan kepada Adimas Upasara…”

Air Tenang Mengendapkan
GENDHUK TRI tidak menghela napas. Tidak merapatkan bibirnya. Wajahnya bahkan tidak menunjukkan perubahan. Juga nada suaranya.

“Kalau memang itu kemauan Mbakyu Demang, siapa lagi yang bisa menahan? Kalau menahan, siapa yang bisa? Seekor kuda bisa dihela, tapi kemauan akan menerobos terus-menerus. Akan meloncati penghalang dari luar. Saya bisa menyayangkan, akan tetapi mangga…”

Nyai Demang mengangguk. “Sebenarnya…”

“Sebenarnya justru mengherankan. Sewaktu Kakang Upasara hilang semua tenaga dalamnya karena membantu saya, orang yang bisa menghidupkan kembali semangatnya adalah Mbakyu. Yang bertindak secara luar biasa menerjang, sehingga Kakang Upasara berkelana, sehingga akhirnya bisa bertemu Paman Sepuh Dodot Bintulu, yang menyebabkan tenaga dalamnya pulih kembali. Entah apa yang terjadi kalau saat itu Mbakyu Demang tidak melakukan hal tersebut.”

“Barangkali Adimas Upasara malah menjadi orang biasa, tanpa harus mengalami kematian yang sia-sia…”

“Mungkin sekali, Mbakyu. Tapi mungkin tak ada lelananging jagat, mungkin pertumpahan darah lebih membanjir…”

“Apa ada bedanya? Apa ada bedanya bagi Adimas Upasara? Marilah sekarang bicara terus terang. Apa yang diperoleh Adimas Upasara dengan pengabdian ini semua? Nama besar? Nama peninggalan yang harum? Candi? Apa itu semua artinya?”

“Memang tak ada. Kalau kita hanya memikirkan diri kita sendiri. Mbakyu Demang, kita ini nasibnya kurang-lebih sama. Malah mungkin Mbakyu Demang pernah merasakan bahagianya hidup berkeluarga. Mengenal suami, mengenal anak, mertua, tetangga, kakek-nenek, atau malah cucu? Saya dan Kakang Upasara, bahkan orangtua pun kami tak kenal. Adik atau kakak juga tidak. Nasib kita sama sekarang ini. Kalau hanya memikirkan diri sendiri, alangkah enaknya kita ini. Seperti juga Eyang Raganata. Yang merasa tak perlu melarikan Jagaddhita, tak perlu menyembunyikan saya. Tetapi selalu ada dorongan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik, apa pun keadaannya saat itu.”

Nyai Demang tersenyum tipis, wajahnya sedikit merah. “Omonganmu lebih tajam kala kamu bersungguh-sungguh. Kamu ingin mengatakan aku tak memiliki tanggung jawab lagi? Aku hanya memikirkan diriku?”

Di luar dugaan Nyai Demang, Gendhuk Tri mengangguk. “Ya. Tetapi tak akan ada yang menyalahkan Mbakyu. Bahkan Keraton pun akan berterima kasih atas jasa Mbakyu selama ini."

“Kamu akan menyalahkan aku?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu bicara seolah orang yang sudah tua dan memegang pangkat?”

“Karena saya tak berhak menyalahkan Mbakyu. Tak ada yang berhak menyalahkan, selain Mbakyu sendiri. Seperti juga saya tak akan menyalahkan Ratu Ayu yang akan menghukum Permaisuri Rajapatni. Seperti Baginda yang kecewa atas perlakuan permaisurinya, seperti Wong Agung Galgendu yang ingin memiliki Ratu Ayu…”

“Gendhuk Tri… apa sebenarnya yang akan kamu katakan?”

“Sederhana sekali, Mbakyu. Kalau Mbakyu ingin kembali ke Perguruan Awan, mangga mawon, silakan. Tak ada yang menghalangi. Bukankah kita juga tak menghalangi niatan Dewa Maut yang sampai sekarang mengurung diri dalam gua bawah tanah? Kita para ksatria disatukan oleh keinginan, oleh tautan Perguruan Awan. Kalau kemudian satu demi satu memilih jalannya sendiri, tak bisa disalahkan. Tak akan disalahkan.”

“Ada yang berubah dalam dirimu…”

JILID 23BUKU PERTAMAJILID 25

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 24

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 24

“Sumangga, Sinuwun…”

Pilihan akhir di tangan Baginda. Melindungi sendiri atau melindungi dengan bantuan para senopati.

Pengakuan Permaisuri Rajapatni
BAGINDA menggerakkan dagunya. “Ingsun bisa menghadapi sendiri.”

“Kalau itu memang kemauan Baginda, jangan menyesal di belakang hari.” Ratu Ayu kembali bersiap.

Galgendu memukuli lantai rumahnya. “Bunuh saya lebih dulu. Saya sungguh durhaka kepada siapa saja…” Rasa bersalah yang menyayati kesadarannya membuat ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyesali. Karena kejadian ini berlangsung di tempat kediamannya. Atas undangannya.

“Saya yang bersalah…”

Terdengar suara lirih dari ujung ruangan. Bersamaan dengan itu muncul bayangan tubuh Permaisuri Rajapatni yang berjalan jongkok, mendekat. Caranya menyembah tetap menunjukkan rasa hormat yang dalam. Sejarak lima tombak, Permaisuri Rajapatni duduk bersila, menunduk.

“Permaisuri Rajapatni, saya Ratu Ayu dari Negeri Turkana. Sejak lama saya mengagumi Permaisuri yang cantik jelita. Saya sengaja menemui untuk mencari tahu kabar kebenaran tentang Raja Turkana.”

Permaisuri Rajapatni menatap. Pandangan matanya kosong. “Saya sudah mengatakan semuanya….”

Hening. Tak ada suara nyamuk atau angin.

“Sayalah yang durhaka, yang melakukan semua itu…” Suaranya mengambang. Ringan seperti tanpa perasaan apa-apa. Seperti digetarkan oleh kekosongan. Suwung.

Nyai Demang seperti menebak-nebak pandangan mata Permaisuri Rajapatni yang melompong. Ada sesuatu yang menggetarkan perasaannya, perasaan kewanitaannya. Apa yang menyebabkan Permaisuri Rajapatni memerintahkan tindakan yang sangat kejam itu?

Selama ini. Rajapatni bukanlah seorang yang tega. Seekor lalat pun akan diperintahkan untuk diusir dan bukan dibunuh. Selama hidupnya tak pernah memperlihatkan sikap yang ganjil. Apalagi tindakan yang kasar. Tetapi mengapa, justru saat Upasara tertawan, terluka, diperintahkan untuk dipenggal kepalanya, kedua kaki dan tangannya? Dendam asmara?

Sangat mungkin sekali. Meskipun masih perlu diragukan bahwa itu yang membuat Rajapatni bertindak kejam. Hubungannya dengan Upasara, sejauh Nyai Demang mengetahui, hubungan daya asmara yang dijalin dengan benang asmara yang halus, yang tulus, yang murni. Lalu apa?

Karena Rajapatni ingin memperlihatkan bahwa ia bisa memerintahkan hal itu agar Baginda menjadi yakin bahwa Rajapatni tak mempunyai ikatan apa pun dengan Upasara? Ini masih mungkin. Atau lebih mendekati kebenaran. Karena bagi seorang permaisuri, bekti dan pengabdian adalah yang utama, dan satu-satunya.

Kalau sampai teragukan, rasa berdosa akan ditanggung sampai turunan yang terakhir. Selama ini Baginda tidak meragukan kesetiaan dan pengabdian Permaisuri Rajapatni. Akan tetapi memang Upasara menjadi ganjalan dalam hati. Sejak sebelum menyerbu Raja Jayakatwang!

“Dosa saya semuanya….”

Ratu Ayu merangkapkan kedua tangannya. Tubuhnya bersandar ke tiang. Pandangannya sama kosongnya. Pengakuan Rajapatni sangat sederhana diucapkan. Apa yang membuatnya terbanting-banting oleh alunan perasaan tak menentu, kini telah menemukan jawaban. Bahwa Upasara Wulung memang benar mangkat secara mengerikan. Bahwa yang memerintahkan adalah Permaisuri Rajapatni sendiri.

Sekarang semua telah jelas. Gamblang. Kalau ingin menuntut balas, ya sekarang ini waktunya. Kalau ingin membuat perhitungan tak ada yang menghalangi. Rajapatni telah bersila, pasrah, menerima akibatnya.

“Kenapa… kenapa…” Nyai Demang terbatuk, gugup, tak bisa melanjutkan pertanyaannya.

“Kakangmas Upasara… tidak tahan akan penderitaan. Sakit tak tertahankan. Malu tak tertahankan. Kalah tak tertahankan. Menderita tak tertahankan. Hanya dengan memutus anggota badannya, semua bisa bebas, dan tak ada lagi penderitaan. Kakangmas Upasara… tidak meminta apa-apa. Saya yang memerintahkan.”

Wajah Baginda berubah dingin. “Jadi benar Yayi yang memberi restu?”

Galgendu melengak. Meskipun masih terus menunduk, telinganya mendengar semua pembicaraan. Tumbuh perasaan kagum dan hormat. Bahwa Baginda yang tidak menduga permaisurinya memerintahkan hal itu, sudah bersiap melindungi. Melindungi sebagai ksatria.

“Inggih, Sinuwun…”

“Kamu merasa lega sekarang ini? Lega karena telah mengatakan? Jagat Dewa Batara! Lalu apa maumu sekarang?”

“Sumangga, Ingkang Sinuwun…” Rajapatni menyerahkan tubuh dan jiwanya! Apa pun akibatnya akan ditanggung.

“Hebat, sungguh hebat. Upasara, sesungguhnya kamu ini manusia macam apa? Di saat kamu hidup menebarkan asmara yang menjaring banyak hati wanita. Sehingga kamu membuat banyak penderitaan. Di saat kamu mati pun, masih meninggalkan bekas-bekas yang menimbulkan keonaran. Sungguh aku tak mengerti. Apa yang kamu peroleh dari ini semua? Satu pun tak ada.”

Dada Nyai Demang bergerak turun-naik. Kedua tangannya gemetar. Rajapatni mengeluarkan cundrik, keris kecil, dari balik kembennya. Diletakkan di depan tubuhnya.

“Sumangga kersa Dalem….”

Terserah kemauan Baginda. Rajapatni sudah memutuskan menerima hukuman mati. Tetapi tetap menunjukkan hormat dan pengabdian, bahwa yang berkuasa atas mati dan hidupnya adalah Baginda.

“Yayi, karena kamu sudah mengetahui salah dan dosamu. Ingsun tak ragu menjatuhkan keputusan.” Tangan Baginda bergerak cepat, menyambar cundrik. Pandangannya menyapu ruangan.

“Ratu, ini adalah urusan kami. Karena Yayi Permaisuri bersalah, aku yang menghukum. Kalau kamu masih kurang puas, akan tetap kuhadapi.”

Sikap Baginda sangat tegas dan berwibawa. Di satu pihak ingin menghukum Permaisuri Rajapatni yang dianggap bersalah, di pihak lain tetap akan menghadapi tantangan.

“Apa… apa Adimas Upasara waktu itu masih hidup?”

Rajapatni menunduk. Air matanya menetes. Membasahi kain di lututnya.

“Permaisuri… apa Adimas Upasara masih hidup ketika dipotong-potong?”

Air mata Rajapatni membanjir. “Saya tak tahu… Kakangmas… tak bergerak, saya…”

Mendadak Nyai Demang menjerit keras. Tubuhnya berdiri, bergoyang-goyang melesat ke arah luar. “Gendhuuuk…!”

Hanya kata itu yang terdengar bagai lengkingan pita rebab yang putus. Teriakan tinggi itu yang terdengar oleh Gendhuk Tri yang berada di jalan menuju Gua Kencana. Bersama dengan Senopati Sariq dan Senopati Kuti, ketiga tubuh melayang bersamaan menuju ke arah bangunan rumah Galgendu.

Di bagian depan rumah ada penjagaan yang luar biasa ketatnya. Semua prajurit yang ada dalam keadaan siap siaga. Baik prajurit dari Keraton yang mengiringi Baginda, maupun prajurit yang sejak semula menjaga. Bersamaan dengan datangnya Nyai Demang, Gendhuk Tri juga melayang masuk.

“Apa… apa…” Gendhuk Tri menjadi gugup.

Nyai Demang hanya bisa menubruk Gendhuk Tri, memeluk kencang, menuding ke dalam rumah, sebelum ambruk. Gendhuk Tri memandang ke dalam rumah. Serentak dengan itu, semua prajurit bersiaga.

“Tak ada yang bisa masuk, selain perintah dari Sodagar Galgendu.”

Gendhuk Tri berdiri dengan pandangan bingung. Sambil memanggul Nyai Demang, Gendhuk Tri berkata dengan gagah, “Kalian prajurit yang tak tahu diri. Bagiku tak ada hubungannya untuk masuk ke dalam. Tapi pasti ada bahaya yang mengancam di dalam.”

“Kami hanya menjalankan satu perintah.”

“Bagaimana keadaan Baginda?” Senopati Kuti segera mendekat ke arah Nyai Demang yang masih dalam panggulan Gendhuk Tri. Senopati Kuti segera bergerak menolong. Tiga sodokan tenaga dalamnya dikirimkan ke tubuh Nyai Demang.

Permaisuri yang Ditinggalkan
SENOPATI KUTI terperanjat. Tenaga dalam yang dikirimkan lewat sodokan membal kembali. Pada sodokan pertama, tenaganya seperti mengempas karang. Pada sodokan kedua, tangannya terasa sakit. Pada sodokan ketiga, sebelum tenaganya berhasil dikerahkan, tenaga dalam Nyai Demang lebih dulu menyodok. Sedemikian keras rasanya, sehingga Senopati Kuti terhuyung-huyung dan muntah darah seketika!

Gendhuk Tri mengetahui bahwa dalam tubuh Nyai Demang masih bersarang tenaga dalam Eyang Berune. Akan tetapi tak menduga bahwa masih sedemikian kuatnya sehingga bisa melukai Senopati Kuti. Pukulan Pu-Ni yang menghancurkan masih luar biasa kekuatannya, walau seperti tak ada. Nyai Demang sendiri sebenarnya tak merasakan sesuatu yang ganjil. Dalam keadaan lemas, sodokan Senopati Kuti dirasakan tak lebih dari pijitan saja. Ia tak merasa memberikan perlawanan.

Para prajurit yang mengepung tetap bersiaga. Agaknya mereka mendapat perintah, selama tidak memaksa masuk, tidak menjadi perhatian mereka sama sekali.

“Bagaimana, Paman Kuti?”

Senopati Kuti tak menjawab. Segera memusatkan kekuatannya untuk melawan guncangan dalam dadanya. Yang terasa sangat sakit, seolah ada serpihan dari tenaga dalamnya yang hancur di dalam.

“Apa yang terjadi di dalam?”

Nyai Demang memandang dengan sorot mata kosong. “Semuanya benar….”

Gendhuk Tri berdeham keras. “Jadi Gayatri yang memerintahkan?”

Nyai Demang mengangguk.

“Apa maunya wanita tua tak berbudi itu?” Suara Gendhuk Tri sangat keras. Dengan gagah ia bersiap melangkah ke dalam.

Akan tetapi pada saat yang bersamaan, dari dalam muncul rombongan yang mendapat pengawalan ketat. Gendhuk Tri bersiap-siap. Rombongan Baginda yang agaknya terburu-buru meninggalkan tempat. Seluruh prajurit disiagakan seketika, dan tanpa menunggu persiapan sempurna segera meninggalkan tempat. Hanya satu yang menahan langkah Gendhuk Tri. Pemunculan Ratu Ayu yang melangkah gontai ke dekatnya.

“Ratu biarkan mereka pergi begitu saja?”

“Baginda pergi bersama ketiga permaisurinya. Rajapatni ditinggal di dalam.”

“Apa maunya Baginda?"

Hanya satu kalimat: Selama Rajapatni masih memikirkan Upasara, selama itu tak berhak meladeni Baginda.”

“Apa yang akan Ratu lakukan?”

“Kita semua bisa menjatuhkan hukuman apa saja. Rajapatni siap menerimanya. Ia sedang menunggu di dalam.”

Gendhuk Tri ragu. Apa yang akan dilakukan? Hukuman apa yang akan dijatuhkan? Setelah membakar dan menghanguskan kemarahan, keinginan murka meranggas dengan sendirinya. Tadinya ia berharap Permaisuri Gayatri akan menolak, dan Baginda serta para senopati akan melindungi. Dengan demikian akan terjadi pertarungan untuk melampiaskan dendam. Tapi keadaannya sekarang lain. Rajapatni mengakui, dan menerima hukuman.

Terbersit rasa iba dalam hati Gendhuk Tri. Alangkah buruk nasib Rajapatni. Putri sekar kedaton Keraton Singasari ini menyimpan daya asmara terhadap Upasara. Lebih hebat lagi, sesungguhnyalah Upasara juga menyimpan daya asmara yang sama. Akan tetapi perjalanan asmara tak bisa sempurna, karena Rajapatni ditakdirkan melahirkan keturunan dari Baginda, yang kelak akan memimpin kebesaran Keraton!

Sejak saat itu daya asmara menjadi bungkam dan tersumbat. Namun justru berkobar, membakar hati dan perasaan. Baik Upasara Wulung maupun Rajapatni. Dua-duanya seperti hidup dalam alam impian. Upasara bahkan memutuskan tidak mau menemui, memutuskan untuk surut dari gelanggang. Semua ini pasti memberati rasa batin Rajapatni yang masih merasakan getar dan gema hati Upasara.

Kemudian terjadi pertemuan yang masih misteri bagi Gendhuk Tri. Upasara dalam keadaan luka parah. Dan Rajapatni mengambil keputusan hukuman. Untuk memotong tubuh Upasara. Karena ingin memperlihatkan rasa bekti dan setia kepada Baginda? Kalau benar begitu, kenapa sekarang menyesali dan siap menerima hukuman? Sesungguhnya rasa iba Gendhuk Tri karena menyadari bahwa Permaisuri Rajapatni sekarang ini sudah menjalani hukuman yang paling berat.

Hukuman dikebonake, hukuman ditinggalkan, hukuman dibuang! Hukuman yang paling hina bagi seorang istri. Bagi seorang permaisuri! Sementara yang sekarang merayapi batin Rajapatni adalah perasan berdosa yang besar. Telah melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas. Ataukah ketika itu Rajapatni berada dalam pengaruh Manmathaba? Pertanyaan dan jawaban silih berganti memenuhi isi kepala Gendhuk Tri. Ratu Ayu masih tetap memandangi, menunggu.

“Mari kita ke dalam….”

“Ratu…”

“Ya….”

“Apa yang akan Ratu lakukan?”

Sambil masih memanggul Nyai Demang, Gendhuk Tri melangkah perlahan di samping Ratu Ayu. Para prajurit yang menjaga menyibak dengan hormat.

“Menunggu sampai pencandian Raja Turkana….”

“Maksud saya, hukuman apa yang akan dijatuhkan untuk Rajapatni?”

“Aku kasihan padanya. Tetapi karena ia memotong tubuh Raja Turkana ia akan mengalami nasib yang sama. Tubuhnya akan dipotong, dijadikan tumbal bagi Candi Senopaten Pamungkas.”

“Ratu akan melakukan sendiri?”

“Ya. Gendhuk Tri, aku tahu bagaimana perasaanmu. Sebagai sesama wanita, kita dipersatukan karena Raja Turkana. Demikian juga Rajapatni. Akan tetapi tetap harus bisa dipisahkan mana yang berhubungan dengan keadilan. Sekarang ini kita berjalan bersama. Akan tetapi kalau suatu hari kelak aku mengetahui kamu berbuat jahat kepada Raja Turkana, aku akan membalas sakit hati dan dendam ini.”

“Saya bisa mengerti, Ratu….”

“Gendhuk Tri, bukankah kamu juga akan melakukan hal yang sama?”

“Bisa jadi. Saya agak berbeda hubungannya dengan Kakang Upasara. Demikian juga Nyai Demang. Yang paling berkepentingan adalah Ratu. Karena Ratu secara resmi adalah istri Kakang….”

Wajah Ratu Ayu berubah. Ada kilasan warna tertentu yang meronai pipinya. “Itulah yang paling membahagiakan dalam hidupku yang singkat ini. Sangat indah seperti di kayangan, tempat para dewa dan dewi… Walau kami tak pernah bersentuhan, tak pernah berpegangan tangan sekali pun. Ini semua tak mengurangi kebahagiaan yang ada, yang telah kuhirup sampai ke tulang sumsum…”

Keduanya melewati bagian utama di ruang tengah.

“Bagaimana kabar Singanada?”

“Sampai sekarang saya belum tahu.”

“Pangeran Anom?”

Gendhuk Tri membuat gerakan menggeleng kecil. “Apakah Nyai Demang telah menceritakan semuanya?”

“Sesama wanita selalu mempunyai waktu untuk saling bercerita. Seperti ketika kalian sedang berdua, aku akan menjadi bahan cerita. Kamu sudah pantas bersuami, Gendhuk…”

“Saya tak ingin membicarakan itu.”

“Maaf.”

Keduanya terdiam. Nyai Demang mengerang kecil sebelum minta diturunkan. Saat itu muncul seorang lelaki yang gemuk, yang berkeringat luar biasa dari dalam ruangan. Sodagar Galgendu berhenti, menyambut dengan hormat.

“Duh Ratu dan para ksatria sejati, silakan beristirahat… Saya akan menyelesaikan persiapan pelaksanaan pembuatan candi. Kebetulan sekarang ini ada utusan dari Keraton, utusan khusus Raja Jayanegara…”

“Apa lagi? Minta upeti lebih besar?”

Galgendu tersenyum tipis. Tubuhnya yang gemuk berusaha membungkuk lebih dalam. “Tidak. Menurut yang disampaikan kepada saya, utusan khusus Raja datang untuk memberikan gelar Wong Agung Galgendu. Saya tak bisa tidak menyambutnya. Ratu dan para pendekar sejati, saya akan merasa sangat bahagia, bila kalian semua masih berkenan tinggal satu-dua malam sampai upacara peresmian candi….”

“Di mana Permaisuri Rajapatni?”

“Di dalam kamar, sedang menenteramkan diri, mandi keramas dan membersihkan tubuh, sehingga siap sewaktu-waktu menerima hukuman.”

Wayang, Warisan Sukma
Di luar terjadi upacara yang megah. Utusan dari Keraton diterima dengan segala kebesaran dan perjamuan yang sangat istimewa. Utusan Raja menyampaikan lempengan emas yang bertuliskan bahwa karena jasa-jasanya kepada Keraton, Galgendu berhak memakai gelar Wong Agung, sehingga sejak sekarang bisa memakai nama Wong Agung Galgendu, dan bukan lagi Sodagar Galgendu.

“Maha terima kasih atas kemurahan hati Raja.”

“Semoga Wong Agung Galgendu bisa menjalani hidup lebih baik atas perkenan Raja…”

“Sembah kagem Sinuwun…”

Bersamaan dengan penyerahan, gendang ditabuh bertalu-talu. Suaranya menggema ke seluruh bagian, merambah seluruh Desa Kedung Dawa. Menjelang larut, suasana makin meriah. Pesta merayakan pemberian gelar disusul dengan dimulainya pembangunan Candi Senopaten Pamungkas.

Malam itu Gendhuk Tri meninggalkan kamarnya, menuju ke arah lapangan, di mana kegembiraan berlangsung. Untuk pertama kalinya, hatinya merasa sunyi. Di tengah segala kegalauan, perasaannya kosong. Apa lagi yang akan dilakukan kini? Rasanya tak ada pegangan.

Singanada tak jelas di mana berada. Tak jelas nanti bagaimana meneruskan hidup bersamanya. Pangeran Anom tak jelas di mana. Juga tak tahu, apa yang terjadi nanti. Upasara sudah tak ada. Betapapun menyakitkan dan sulit diterima, akan tetapi itulah kenyataannya.

Di masa-masa terakhir, Gendhuk Tri tidak bersama dengan Upasara. Akan tetapi sekarang ini terasa betul kehilangan. Makin terasakan betapa tak mungkin lagi bertemu dengan Kakang, sampai ia menyusul ke alam yang berbeda. Begitu gampangkah kematian? Apakah sebenarnya kematian itu?

“Kematian itu tak ada kalau kita percaya hidup yang diberkati Dewa. Kematian tak berbeda dengan orang tidur. Tak perlu dirisaukan.”

Gendhuk Tri baru menyadari bahwa suara itu berasal dari Ki Dalang yang sedang memainkan wayang kulit. “Tetapi kenapa orang yang saya sayangi yang meninggal, dan bukan orang lain? Bukan saya?”

“Hoho kamu merasa owel, merasa sayang karena mempunyai pengharapan besar karena kamu mementingkan dirimu sendiri. Itu cara berpikir yang angkuh, deksiya, mau menang dan enaknya sendiri….”

Gendhuk Tri tak bisa mendesak maju karena lautan manusia memenuhi lapangan. Hanya dari kejauhan, Gendhuk Tri bisa melihat jelas wayang kulit yang sedang dimainkan. Percakapan antara dua tokoh yang rasanya sangat dikenal. Gendhuk Tri merasa ganjil karena apa yang dikatakan Ki Dalang Memeling seperti secara langsung ditujukan ke arahnya.

“Relakan kematian, jangan ditangisi. Apalagi yang kamu tangisi adalah ksatria luhur, pembela Keraton yang tidak meminta pamrih. Banyak contoh ksatria agung yang tak meminta apa-apa semasa hidupnya. Baik Raden Gatutkaca maupun Upasara Wulung yang luhur….”

Terdengar tepuk tangan yang keras, bersamaan. Gendhuk Tri mengangkat alisnya. Sudah lama ia mendengar bahwa Dalang Memeling dalang wayang kulit yang sangat terkenal, baik dalam memainkan wayang maupun dalam mengatur kalimat-kalimatnya. Itu pula sebabnya, semasa Baginda berkuasa tak mendapat restu. Kali ini disaksikannya sendiri, bagaimana Ki Dalang memasukkan nama Upasara dalam lakonnya.

“Siapa itu Upasara, rasanya saya tak mengenal. Tak ada dalam pakem, tak ada dalam buku pewayangan….”

“Hoho, kamu tak mengetahui. Wayang itu bukan hanya Ramayana dan Mahabharata saja. Itu kan yang dibawa-bawa orang hitam dari tlatah Hindia. Kita telah mempunyai tokoh, telah mempunyai cerita sendiri, yang dianggit, dikarang para empu dan pujangga negeri ini, negeri Jawa yang menjadi pusat alam semesta.”

“Mana mungkin?”

“Kenapa tidak? Dalam bahasa wayang kulit ini, semua perlengkapan, semua nama tabuhan, nama gamelan, tidak ada yang berasal dari bahasa Hindia. Semua milik kita sendiri.”

“Benarkah wayang kulit milik kita?”

“Sejak zaman Raja Airlangga, sudah begitu. Di zaman Sri Baginda Raja Kertanegara yang menjadi pamor segala pamor, cahaya dari semua cahaya, hal itu sudah jelas. Kalau tadi saya katakan Upasara Wulung itu ksatria, siapa yang mendidik? Zaman apa yang melahirkan pahlawan perkasa seperti Upasara Wulung kang kinurmatan, yang terhormat itu? Apa zaman sekarang ini? Zaman di mana gua emas menjadi sumber kekuatan? Zaman di mana raja bisa begitu saja memberi gelar terhormat? Kok murah amat. Hoho, ketahuilah, bahwa gelar itu hanya sandang. Seperti kain yang tersampir di pundak. Yang menentukan adalah pundak siapa. Apa artinya gelar Wong Agung? Kenapa masih ragu dengan menyebut wong yang artinya manusia biasa-biasa, rakyat biasa, kalau memang mau memakai kata agung, di belakangnya? Ini bisa berarti pemberian gelar itu tidak rela, atau pujangga di Keraton sudah tak mengerti tata krama berbahasa….”

Suasana menjadi sunyi. Penonton berpandangan dengan wajah waswas. Gendhuk Tri yang mulai mengikuti pembicaraan tokoh wayang juga merasa bahwa apa yang dikatakan Ki Dalang bukan hanya melenceng jauh tetapi mulai menyinggung Keraton.

“Ketahuilah, bahwa wayang yang sekarang ini diadakan untuk melengkapi pencandian ksatria titisan Dewa, Upasara Wulung. Tapi titisan Dewa atau lebih dari itu, mana pernah ada kuburan bagi senopati? Seumur-umur saya belum pernah tahu. Makam pepujan untuk raja dan keluarganya. Tapi kenapa sekarang ini Upasara Wulung mendapat kehormatan yang sangat besar? Karena jasa-jasanya yang tak tertandingi, bahkan oleh semua senopati yang ada dikumpulkan menjadi satu! Upasara Wulung yang terhormat, sangat pantas menerima kehormatan ini. Lebih pantas lagi saat masih hidup.”

Ketokan di kotak wayang yang menggeretak, menjadikan suasana menjadi panas. Seolah menggaris bawahi apa yang diucapkan.

“Saya tanya padamu, apa yang kamu berikan kepada Upasara Wulung? Apa? Apa gelar agung? Tidak. Apa wanita yang dikehendaki? Tidak. Apa rumah, apa tanah, apa sawah, apa berkah? Tidak. Apa harta, apa pusaka, apa banda? Tidak. Tak ada. Tak ada. Kalau sekarang ini begitu dihormati, disanjung tinggi, tak ada gunanya lagi. Sukma Upasara Wulung tidak perlu yang serba kebendaan. Sukma Upasara Wulung memerlukan doa, memerlukan ketulusan hati. Itulah wejanganku. Demikian juga wayang ini. Ini sukma budaya yang tak terhingga. Sukma batin para empu, para pujangga yang linuwih, yang memiliki pancaindria lebih. Yang wajib kita tengkarkan, kita kembangkan terus. Bukan malah takut-takut. Memangnya para prajurit Keraton itu yang lebih berhak atas sukma budaya? Memangnya kekeliruan dan keterlambatan menghormati Upasara Wulung diselesaikan dengan cara begini?”

Suasana bertambah panas. Beberapa prajurit mulai bergerak maju.

“Saya ini dalang. Kerjanya juga mendalang. Bisa ngomong yang enak dan baik. Bayaran saya sama. Tapi kalau saya hanya bisa menjilat yang di atas dan menyumbat yang di bawah, apa bedanya Ki Dalang dengan kodok? Kalau saya mau ditangkap, silakan. Saya mau lihat apakah mereka berani menangkap saya.”

Suasana berubah gaduh. Para prajurit yang mencoba bergerak maju mendapat hambatan dari penonton yang tak mau minggir sedikit pun. Akan tetapi karena para prajurit terus mendesak, yang terjadi adalah keributan.

Gendhuk Tri tak tahu harus berpihak ke mana. Akan tetapi sebelum keributan memuncak, mendadak semua perhatian tertuju ke geber, layar tempat Ki Dalang Memeling memainkan wayang. Tepat di tengah geber, terlihat wayang kulit yang bergerak-gerak dengan sendirinya!

Biasanya wayang digerakkan oleh tangan Ki Dalang. Tapi sekarang ternyata bisa berada di tengah udara, menempel di geber, bergerak tanpa digerakkan langsung. Inilah yang menyerap seluruh perhatian.

“Ini hanya kulit binatang, tetapi mempunyai sukma. Siapa yang mengganggu pertunjukan, akan kutancapi batok kepalanya.”

Gendhuk Tri mengakui kehebatan Dalang Memeling. Terutama dari caranya menghentikan keributan. Karena wayang kulit yang menempel di geber, bisa bergerak ke tengah, ke arah penonton, sebelum akhirnya kembali ke tengah, dan turun perlahan menancap pada debog, batang pisang.

Lakon Upasara Krama
APA yang diperlihatkan Dalang Memeling memang menarik perhatian. Bagi Gendhuk Tri sendiri merupakan pameran tenaga dalam yang cukup berarti. Kalau itu memakai tenaga dalam yang murni. Akan tetapi, bagi para dalang, kekuatan yang diperlihatkan sering berasal dari tenaga dalam yang dilatih secara khusus. Untuk menghadapi dalang lain yang akan mengganggu jalannya pertunjukan. Bisa jadi semacam ilmu hitam yang dipakai untuk menangkis gangguan.

Tapi, biar bagaimanapun, Dalang Memeling berhasil memperlihatkan keunggulannya. Memainkan wayang di tengah udara, perlu pemusatan kekuatan yang tak bisa diperoleh dari latihan satu atau dua tahun.

“Dalang gombal,” mendadak terdengar teriakan keras. Seorang prajurit berdiri di atas dua pundak prajurit yang lain. “Kalau mau memberontak jangan menghasut rakyat kecil yang tak tahu apa-apa. Apa maksudmu mengecam pemberian gelar Wong Agung Galgendu? Apakah kamu mau menyangsikan Raja?”

“Jangan menghalangi pandangan orang lain,” teriak Dalang Memeling tak kalah keras.

Mendadak dari kaki Dalang Memeling melayang cempala atau alat pemukul kotak yang biasa dijepit dengan kaki kanan. Bungkah kayu berukir itu menghantam keras. Sebelum prajurit yang berteriak bisa menghindar, cempala itu telah menghantam. Dan melayang kembali, ke arah kaki.

Kali ini Gendhuk Tri mengejapkan matanya. Ini jelas bukan karena keahlian. Ini penggunaan tenaga dalam yang kuat. Menyambit dengan menggunakan kaki bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi bahwa cempala itu bisa melayang kembali, jelas penguasaan yang sempurna. Karena cempala termasuk benda yang berat, dan bentuknya tidak ramping.

“Mari kita lanjutkan tontonan ini. Kita masih berbicara tentang sukma wayang kulit. Wayang yang diukir, dihias dari kulit binatang. Tak beda dengan kulit lain, berbau dan harganya bisa dinilai dengan uang Akan tetapi setelah dimainkan, ia mempunyai sukma. Mempunyai roh. Memiliki kelanggengan, keabadian. Lakon Upasara Wulung bisa diciptakan untuk mengabadikan, selain membuatkan candi. Sebagai dalang saya bisa memainkan lakon Upasara Krama, kawinnya Upasara. Kecap kacarita, adalah seorang ksatria yang sakti mandraguna, tidak mempan ditusuk senjata apa pun, gagah perkasa melewati Dewa, yang sedang gundah gulana. Karena sedang risau hatinya, ksatria yang tiada lain bernama Upasara Wulung berangkat ke tengah hutan. Di tempat itu Upasara bersemadi, memohon petunjuk Dewa yang Maha Mengetahui. Upasara bertanya. Siapakah sebenarnya wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya? Apakah Permaisuri yang keturunan murni Keraton Singasari yang ayu dan jelita bak bidadari? Ataukah seorang gadis yang tumbuh dewasa mempunyai jiwa ksatria yang manis bak bidadari? Ataukah seorang nyai yang bisa mengetahui apa keinginannya, yang juga menawan bak bidadari? Ataukah ratu yang keayuannya mengguncangkan jagat, yang mempunyai takhta di negeri seberang? Ataukah putri Pak Toikromo yang belum dikenalnya? Kerisauan Upasara Wulung adalah kerisauan ksatria sejati. Yang tidak menghendaki adanya pilihan satu dan menyebabkan penderitaan bagi yang lain. Sebagai dalang, saya bisa membuat wayang Upasara Wulung. Tak ada yang berani melarang. Tidak juga para pujangga dan pendeta dari tlatah Hindia, yang merasa lebih unggul dan merasa lebih kampiun. Karena ini wayang kita, sukma kita sendiri.”

Gendhuk Tri mengeluarkan suara tertahan. Kini hatinya makin yakin bahwa Ki Dalang Memeling bukan tokoh sembarangan. Agaknya memiliki pengetahuan yang luar biasa mengenai Upasara, sampai ke hal yang paling kecil. Bahwa Upasara telah menjadi tokoh di hati masyarakat, tidak berarti bahwa nama wanita yang berhubungan dengannya diketahui secara jelas. Termasuk putri Pak Toikromo. Gendhuk Tri berbalik langkah. Kembali ke dalam rumah untuk menemui Wong Agung Galgendu.

“Siapa sebenarnya Dalang Memeling?”

“Saya bertemu dengannya di tempat ini, ketika ayah saya mengusahakan penambangan emas di Gua Kencana. Kenapa tiba-tiba hal itu ditanyakan?”

“Wong Agung…”

“Maaf, marilah kita memakai sebutan yang selama ini kita pergunakan. Saya pun tetap memanggil Gendhuk Tri…”

“Baik, baik, Paman Galgendu. Apakah ada alasan lain Paman meminta dan memilih Dalang Memeling?”

“Ia sendiri yang minta main. Yang saya tahu ia dalang yang aneh. Belum tentu mau main, dibayar berapa pun. Akan tetapi kalau lagi mau, tidak dibayar pun bersedia.”

“Apakah ia sangat berarti bagi Paman?”

“Sangat. Di seluruh jagat ini, hanya saya dan Ki Dalang yang bisa keluar-masuk Gua Kencana. Selebihnya, hanya atas persetujuan kami berdua.”

“Kenapa?”

“Maaf, saya tak bisa mengatakan. Tetapi tak ada hubungannya dengan para ksatria atau maksud jahat.”

“Kenapa orang lain tidak diperbolehkan masuk?”

“Gua Kencana adalah gua emas. Segalanya berkilau di sana. Yang berkilau bisa membuat mata menjadi silau. Saya tak ingin memancing huru-hara. Anakmas Tri, kalau berniat ke sana, sekarang ini pun akan saya antarkan…”

Gendhuk Tri menunjukkan rasa terima kasih dengan senyum lebar. “Tidak sekarang ini, Paman. Saya hanya ingin mengetahui mengenai Ki Dalang…”

“Segera setelah pertunjukan selesai, fajar nanti, bisa ditemui…”

Gendhuk Tri minta pamit. Melangkah kembali menuju kamarnya. Tak terlalu heran melihat Nyai Demang masih duduk di luar, menengadah ke arah bulan.

“Alangkah bagusnya jika ada lakon Upasara Krama…”

“Rupanya Mbakyu Demang nonton juga…”

“Saya bisa mendengar dengan jelas dari tempat ini. Aneh, akan tetapi tenaga dalam saya berubah. Sekarang baru saya sadari bahwa yang membuat saya repot karena bisa mendengarkan suara dari kejauhan. Bahkan kalau saya tidak menghendaki pun, suara itu terdengar jelas.”

Gendhuk Tri duduk di sebelahnya. Memandang ke arah bulan. “Kenapa Mbakyu cemas? Bukankah Mbakyu bisa mempelajari kelebihan tenaga dalam Eyang Berune? Bukankah Mbakyu bisa memahami berbagai bahasa?”

“Untuk apa?” Suaranya mengandung kegetiran yang dalam. “Untuk apa lagi sekarang ini? Adikku seumur hidup mbakyumu hanya pernah bercerita satu kali, dan itu kepadamu, adikku. Saya mendapat semangat hidup untuk membalas dendam keluarga dan suami saya pak Demang yang malang. Ketika semuanya boleh dikatakan berdamai dengan hati saya, pegangan itu lenyap. Syukurlah, berkat pertemuan dengan saudara-saudara dari Perguruan Awan, semangat itu muncul lagi. Akan tetapi, sekarang ini setelah…”

Kalimatnya tak selesai. Tak perlu diselesaikan, karena Gendhuk Tri sudah menangkap bagian akhir. Setelah Upasara tak ada…

“Kepercayaan, pada sesama manusia hilang. Kepercayaan saya kepada Dewa berkurang karenanya. Kepercayaan bahwa hidup ini hanya kesia-siaan dan duka makin kuat. Kenapa Pak Demang yang baik dan berbakti harus mengalami nasib yang malang? Kenapa anak-anakku yang tak berdosa ikut menanggung beban? Kenapa Adimas Upasara harus meninggal dengan cara seperti itu? Adikku… Mbakyumu ini sudah tua. Mungkin tak perlu lagi mendengar jawaban itu. Baru saja saya katakan alangkah baiknya kalau bisa menonton lakon Upasara Krama. Tapi sebenarnya itu tipuan, hiburan yang tidak menenteramkan untuk waktu yang lama. Karena saya sadar itu semu. Adikku, besok pagi saya akan kembali ke Perguruan Awan. Barangkali di sana masih ada secuil tempat untuk menenteramkan hati. Entah untuk sementara atau selamanya. Tolong pamitkan kepada Wong Agung, Ratu Ayu, dan kepada Adimas Upasara…”

Air Tenang Mengendapkan
GENDHUK TRI tidak menghela napas. Tidak merapatkan bibirnya. Wajahnya bahkan tidak menunjukkan perubahan. Juga nada suaranya.

“Kalau memang itu kemauan Mbakyu Demang, siapa lagi yang bisa menahan? Kalau menahan, siapa yang bisa? Seekor kuda bisa dihela, tapi kemauan akan menerobos terus-menerus. Akan meloncati penghalang dari luar. Saya bisa menyayangkan, akan tetapi mangga…”

Nyai Demang mengangguk. “Sebenarnya…”

“Sebenarnya justru mengherankan. Sewaktu Kakang Upasara hilang semua tenaga dalamnya karena membantu saya, orang yang bisa menghidupkan kembali semangatnya adalah Mbakyu. Yang bertindak secara luar biasa menerjang, sehingga Kakang Upasara berkelana, sehingga akhirnya bisa bertemu Paman Sepuh Dodot Bintulu, yang menyebabkan tenaga dalamnya pulih kembali. Entah apa yang terjadi kalau saat itu Mbakyu Demang tidak melakukan hal tersebut.”

“Barangkali Adimas Upasara malah menjadi orang biasa, tanpa harus mengalami kematian yang sia-sia…”

“Mungkin sekali, Mbakyu. Tapi mungkin tak ada lelananging jagat, mungkin pertumpahan darah lebih membanjir…”

“Apa ada bedanya? Apa ada bedanya bagi Adimas Upasara? Marilah sekarang bicara terus terang. Apa yang diperoleh Adimas Upasara dengan pengabdian ini semua? Nama besar? Nama peninggalan yang harum? Candi? Apa itu semua artinya?”

“Memang tak ada. Kalau kita hanya memikirkan diri kita sendiri. Mbakyu Demang, kita ini nasibnya kurang-lebih sama. Malah mungkin Mbakyu Demang pernah merasakan bahagianya hidup berkeluarga. Mengenal suami, mengenal anak, mertua, tetangga, kakek-nenek, atau malah cucu? Saya dan Kakang Upasara, bahkan orangtua pun kami tak kenal. Adik atau kakak juga tidak. Nasib kita sama sekarang ini. Kalau hanya memikirkan diri sendiri, alangkah enaknya kita ini. Seperti juga Eyang Raganata. Yang merasa tak perlu melarikan Jagaddhita, tak perlu menyembunyikan saya. Tetapi selalu ada dorongan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik, apa pun keadaannya saat itu.”

Nyai Demang tersenyum tipis, wajahnya sedikit merah. “Omonganmu lebih tajam kala kamu bersungguh-sungguh. Kamu ingin mengatakan aku tak memiliki tanggung jawab lagi? Aku hanya memikirkan diriku?”

Di luar dugaan Nyai Demang, Gendhuk Tri mengangguk. “Ya. Tetapi tak akan ada yang menyalahkan Mbakyu. Bahkan Keraton pun akan berterima kasih atas jasa Mbakyu selama ini."

“Kamu akan menyalahkan aku?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu bicara seolah orang yang sudah tua dan memegang pangkat?”

“Karena saya tak berhak menyalahkan Mbakyu. Tak ada yang berhak menyalahkan, selain Mbakyu sendiri. Seperti juga saya tak akan menyalahkan Ratu Ayu yang akan menghukum Permaisuri Rajapatni. Seperti Baginda yang kecewa atas perlakuan permaisurinya, seperti Wong Agung Galgendu yang ingin memiliki Ratu Ayu…”

“Gendhuk Tri… apa sebenarnya yang akan kamu katakan?”

“Sederhana sekali, Mbakyu. Kalau Mbakyu ingin kembali ke Perguruan Awan, mangga mawon, silakan. Tak ada yang menghalangi. Bukankah kita juga tak menghalangi niatan Dewa Maut yang sampai sekarang mengurung diri dalam gua bawah tanah? Kita para ksatria disatukan oleh keinginan, oleh tautan Perguruan Awan. Kalau kemudian satu demi satu memilih jalannya sendiri, tak bisa disalahkan. Tak akan disalahkan.”

“Ada yang berubah dalam dirimu…”

JILID 23BUKU PERTAMAJILID 25