Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 16

Gendhuk Tri tak biasa berdusta, makanya tak bisa menyusun alasan dengan urut. Tapi ia tak mungkin menceritakan bahwa sesungguhnya pikirannya sedang tertuju kepada Upasara. Agak kurang waras menurut perhitungan Gendhuk Tri. Justru di saat Singanada menggeletak antara mati dan hidup, ia masih memikirkan keselamatan Upasara!

Ah! Ah, jangan kata kala Upasara sedang menderita seperti sekarang ini. Ketika sedang segar bugar dan hanya bergandengan tangan dengan Nyai Demang saja ia menjadi gusar.

“Kalau begitu, kita tenangkan dulu…”

“Pangeran Anom, Pangeran begitu menguasai ilmu untuk mengobati. Bahkan bisa menciptakan buah untuk melawan racun pagebluk. Apakah Pangeran mempelajari secara khusus?”

“Saya mempelajari dari Rama. Apa yang Rama ajarkan, saya ikuti.”

“Bagaimana mungkin Pangeran bisa langsung membuat jampi penawar racun pagebluk?”

“Tidak secara khusus, Adik Tri. Saya mempelajari sesuatu yang dibuat dari bahan murni alam, seperti juga terciptanya embun, terutama di bagian ujungnya. Semua itu diajarkan di dalam Kitab Air maupun Kitab Bumi. Hanya karena kebetulan saja cocok untuk menawarkan racun pagebluk.”

“Pangeran tahu kenapa Pendeta Manmathaba begitu sakti?”

Janaka Rajendra menggeleng. “Pengalaman saya kosong melompong. Kemampuan saya hanya mengenai yang diajarkan Rama. Pendeta Manmathaba sungguh luar biasa. Ilmu silatnya sangat luar biasa tingginya, senjata andalannya betul-betul maut yang tak bisa ditolak. Luar biasa.”

“Saya rasa tak begitu hebat. Ilmu silatnya masih jauh di bawah Kakang Upasara. Senjata andalannya, Bandring Cluring, boleh dikatakan luar biasa, akan tetapi saya percaya Kakang Upasara sanggup menandingi, bahkan menundukkan. Bagi saya yang menjadi tanda tanya besar adalah penguasaan akan ilmu kebal. Jelas-jelas keris pusaka Senopati Agung bisa dipakai Kakang Upasara untuk menusuk, dan nyatanya bisa, tetapi rasanya tak ada guratan yang tersisa. Bukankah ini luar biasa?”

“Ya, Ya. Mengherankan. Saya banyak membaca mengenai ilmu kebal…”

“Saya sering menyaksikan dan menjajal. Akan tetapi tak ada yang mampu menyamai Manmathaba. Saya heran sendiri. Dengan penguasaan ilmu kebal semacam itu, tak akan ada yang bisa mengalahkan.”

Janaka Rajendra menggeleng keras sekali. “Tidak betul. Semua ilmu di jagat ini tak ada yang paling unggul. Tidak juga Kitab Bumi atau Kitab Air. Jurus apa pun, latihan pernapasan macam apa pun rasanya bukanlah yang paling sempurna. Demikian juga ilmu kebal Pendeta Manmathaba. Hanya saja hasilnya memang luar biasa. Kulit ari, kulit bagian luar, tidak tergores sedikit pun.”

“Bagaimana dengan Nenek atau Kakek Puspamurti? Kelihatannya ia menguasai ilmu yang lain, yang cukup berani menggertak Manmathaba.”

”Iya.”

Bagaimana pendapat Pangeran?”

“Seperti tadi saya katakan, saya tak begitu mengerti aliran yang lain dari kisah-kisah air. Maaf, Adik…”

“Siapa dia sebenarnya?”

“Maaf…”

Gendhuk Tri mengusap wajahnya. “Maaf, saya mungkin lancang dan asal bertanya saja. Semuanya tidak penting. Hanya untuk mengendorkan ketegangan saja. Pangeran, bagaimana kalau kita jajal sekali lagi?”

Janaka Rajendra mengangguk. Memusatkan pikiran sebentar, lalu tangannya bergerak bagai membentuk lengkungan busur. Gendhuk Tri tak mau menunggu lama-lama, segera mengikuti gerakannya secara persis.

Tembang Duka
YANG tidak diperhitungkan oleh Gendhuk Tri adalah perasaan Maha Singanada. Senopati gagah perkasa yang lahir dalam perjalanan ke tanah seberang, yang besar oleh ombak laut dengan akar Keraton Singasari ini tumbuh dengan tata krama yang berbeda. Justru ketika berada di tanah asing, keinginan untuk menjadi orang Singasari lebih menjadi-jadi. Lebih-lebih dengan pengalaman dan perjalanan hidup yang membuatnya bersikap keras, atau sangat keras, Singanada tumbuh dengan kemauan yang susah diterka.

Kekecewaan yang utama ialah ketika pulang kembali ke tanah Singasari dan menemukan bahwa keagungan dan kebesaran Keraton yang dipuja para leluhur, tak seperti yang ditemui. Justru serba bertentangan dengan yang tertanam dan tumbuh dalam akal budinya. Kekecewaan yang makin mendalam, sehingga Singanada merasa tak ada tempat bernaung lagi. Dan memutuskan untuk mengembara ke tanah seberang, tanpa tujuan yang jelas. Dengan tujuan: meninggalkan Keraton Singasari.

Pada saat-saat yang menentukan pilihan hidupnya, hatinya tersambar oleh kepolosan Gendhuk Tri. Gadis yang sedang tumbuh, yang berbeda dari putri-putri Keraton yang dikenal. Segera saja Singanada menentukan bahwa ia akan hidup bersama sampai akhir hayatnya. Jalan pikirannya sangat polos dan sederhana. Tanpa lekuk-liku, tanpa renda-renda.

Segala apa akan dihadapi dengan gagah berani. Tak ada pertimbangan lain yang memberati. Baginya, sesama ksatria saling menolong, sesama orang jahat harus dibasmi, bersama kekasih hidup selamanya dan hanya dengan kekasihnya. Tidak dengan orang lain.

Kini dalam keadaan setengah sadar, Singanada melihat bahwa Gendhuk Tri masih tetap menunggui, masih sangat memperhatikan. Baginya, itulah nilai yang utama. Akan tetapi juga dalam keadaan samar itulah dilihatnya ada bayangan lelaki lain. Yang begitu dekat dengan Gendhuk Tri. Bahkan melakukan latihan pernapasan bersama. Dalam alam pikiran Singanada, hal semacam ini tak masuk akal.

Bagi Gendhuk Tri, sama sekali tak ada bayangan apa-apa selain berusaha menolong Singanada. Kalaupun, hanya kalaupun sebagai pengandaian, Pangeran Anom menaruh perhatian padanya, tak nanti ia tega bermain mata dengannya. Tetapi memang Gendhuk Tri tak bisa menduga apa yang menjadi jalan pikiran Singanada. Tak mungkin mengetahui, karena selama ini Singanada juga tidak membuka diri. Hanya Singanada yang merasakan sendiri.

Betapa menyakitkan pengalaman hidupnya selama ini. Menanggung semacam beban yang tak dimengerti kenapa bisa terjadi. Dan tak mengerti harus membicarakan dengan siapa. Selain menerima sebagai nasib dan diam-diam menelan pribadinya, menjadi sosok yang ganjil tanpa diketahui sendiri.

Semuanya berangkat dari masa kanak-kanaknya. Seingatnya, itulah masa-masa ia berada di atas perahu besar yang lama sekali. Hampir setiap saat ia melihat ombak ketika bangun dan masuk kembali ke kamar tidur. Ia sudah mulai berlatih silat, dan mengetahui bahwa dirinya adalah rombongan yang mengemban tugas suci Keraton.

Ayah dan ibunya adalah senopati utama yang memimpin utusan Baginda Raja menuju tlatah Campa. Tak ada aral melintang sampai ketika mendarat, dan masuk ke daratan. Ujian dan pertarungan para senopati dengan Keraton Caban dengan mudah dapat dimenangkan. Lalu pada suatu malam, ia mengetahui ada sesuatu yang menampar kesadarannya. Untuk pertama kalinya ia tak menjumpai ibunya. Tak ada yang memberitahukan apa-apa, selain ayahnya mengatakan pendek bahwa ibunya kembali ke tanah Jawa sendirian.

“Itu yang terbaik, Singanada. Kamu tak usah memikirkan.”

Ia ternyata justru sangat memikirkan. Dan dari pembicaraan kiri-kanan yang sempat terdengar tidak langsung, ia mengetahui bahwa ibunya sangat kecewa pada ayahnya, sehingga memutuskan kembali ke tanah Jawa, hanya dengan beberapa pengikut. Kekecewaan itu dikarenakan ayahnya lebih dekat dengan Dyah Ayu Tapasi!

Singanada yang mulai menginjak masa remaja tak mengetahui secara persis, dan tak ingin mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi. Hanya saja telinganya menjadi merah manakala ada yang membicarakan hal itu. Jiwanya terobek dan terombang-ambing untuk mengambil pilihan. Meliar mencari jawaban apakah ayahnya yang benar, atau ibunya, atau Dyah Ayu Tapasi, atau siapa. Tak ada pegangan. Pandangan yang hormat sangat terhadap ayahnya tak luntur, akan tetapi serentak dengan itu tumbuh kebencian yang luar biasa

Rasa hormatnya yang dalam terhadap Dyah Ayu Tapasi sebagai junjungan tak berkurang, akan tetapi juga tumbuh semacam kebencian yang membakar setiap kali melihat putri Keraton. Semua dirasakan sendiri. Mengendap bertahun-tahun. Tumbuh bersama kedewasaan dan keahlian ilmu silatnya.

Singanada tak pernah mau membuka pembicaraan mengenai hal ini kepada siapa saja. Malah menjadi murka bila ada yang menyebut-nyebut soal Campa. Seolah menyindir dan merendahkan ayahnya, yang membuat ibunya pulang kembali ke tanah Jawa dan tidak ketahuan ceritanya. Apakah kembali dengan selamat atau hilang di tengah gelombang lautan. Beberapa orang yang mengetahui, memang tak pernah menanyakan dan menyinggung persoalan itu. Karena sedikit saja Singanada mendengar hal itu, ia akan mendatangi dan membunuhnya!

Jiwa yang tumbuh dalam diri Singanada mengenai tata krama lelaki-perempuan menemukan bentuknya sendiri yang berbeda dari ksatria lain, karena ia dibesarkan dalam situasi yang sangat khusus. Itu sebabnya hatinya bisa menjadi sakit, terluka sangat dalam. Karena dengan mudah, kepekaannya mengembang manakala melihat Gendhuk Tri yang dikasihi berduaan dengan Pangeran Anom.

Alam berpikirnya akan kembali lagi: bahwa Dyah Ayu Tapasi, putri Keraton yang sangat dipuja bagai dewi surga, juga mau berbuat yang tercela dengan ayahnya. Apalagi seorang Gendhuk Tri. Dan kesimpulannya: semua wanita pada akhirnya sama, demikian juga Pangeran Anom, tak berbeda dari ayahnya. Sifat-sifat culas yang ingin dilibas habis. Akan tetapi justru dialami sendiri.

Andai saja Singanada bisa mengutarakan isi hatinya mengenai masalah ini, persoalannya menjadi lain. Akan tetapi selama ini Singanada tak mengenal siapa yang bisa menjadi curahan hatinya. Selama ini, hatinya makin lama makin tertutup. Tak ada yang mengetahui apa yang dirasakan.Ketertutupan yang berkembang, menjadi payung yang makin lama makin keras.

Tak bisa dipungkiri hati Singanada yang terobek ketika itu. Akan tetapi Singanada tak berbuat apa-apa. Ia malah membiarkan semuanya terjadi. Tidak mengerang, tidak mendesis. Semua keperihan dan penderitaan ditanggung sendiri. Makin terasa betapa dirinya tak berharga ketika kaki kanannya dipotong oleh Pangeran Anom dan Gendhuk Tri.

Sewaktu keduanya tenggelam dalam keletihan yang panjang dan menyeretnya tertidur, Singanada menyeret tubuhnya keluar dari ruangan. Dengan mengeraskan hati dan kekuatan, Singanada merangkak keluar dari ruangan untuk kemudian menembus kegelapan malam. Duka yang sarat membebani seluruh tubuhnya. Duka yang terseret setiap langkah gontainya. Ia mengambil tombak yang dipatahkan seperti senjata andalannya, kantar, untuk menopang langkah kakinya.

Tak tahu mau pergi ke mana dan akan apa.bApa yang dimiliki telah hancur. Apa yang ditakutkan telah terjadi Mengalami nasib yang sama. Mengagumi dan membenci wanita. Seperti pandangannya terhadap ibunya sendiri. Yang disalahkan begitu picik melarikan diri. Seperti pandangannya terhadap Dyah Ayu Tapasi. Yang dipuja akan tetapi melakukan perbuatan tercela.

Singanada mengerang. Tanpa suara. Beberapa kali ia pingsan dan sadar kembali, beberapa kali disadari bahwa darah masih terus mengucur dari bagian kakinya yang terpotong, akan tetapi dipaksakan untuk terus berjalan. Untuk terus berloncatan. Ada dorongan kekuatan yang luar biasa untuk melarikan diri. Melarikan diri dari bayangan Gendhuk Tri.

Singanada tak peduli dan sama sekali tak memperhatikan bahwa justru Gendhuk Tri yang merasa kelabakan dan tak mengerti sama sekali apa yang dipikirkan oleh Singanada. Setelah mengirim tenaga dalam dan membantu Janaka Rajendra, ia seperti tenggelam dalam kelelahan dan rasa mengantuk yang hebat.

Kalaupun ia terbangun, karena kepalanya berdenyut-denyut dan ada sesuatu yang diinginkan, yang menyebabkan tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Apakah ia ketagihan racun pagebluk?

Kembalinya Kiai Kiamat
GENDHUK TRI baru menyadari ada sesuatu yang tak di tempatnya semula. Yaitu Pangeran Anom, dan Singanada. Yang terpikir pertama ialah bahwa Singanada dirawat di ruang lain. Akan tetapi ketika Pangeran Anom muncul sambil membawa jamu dalam batok kelapa, Gendhuk Tri tak bisa menahan pertanyaan dengan suara tinggi.

“Kakang Singanada lebih memerlukan perawatan dari saya.”

“Kakang Singanada telah pergi.”

“Pergi? Dan Pangeran membiarkan saja?”

“Kakang Singanada dalam keadaan terluka parah, akan tetapi memaksakan diri pergi. Pasti ada sesuatu yang besar yang akan dilakukan. Dan sebaiknya saya tidak menahannya.”

“Saya tak mengerti!” teriak Gendhuk Tri, kali ini malah lebih keras. “Bagaimana mungkin dibiarkan begitu saja?”

“Air hanya mengantarkan, tak pernah menahan. Kalau memang mau pergi, untuk apa ditahan? Kakang Singanada mempunyai alasan untuk pergi.”

“Tapi… tapi… kita tak tahu ke mana…”

“Kalau memang merasa perlu memberitahukan, pastilah sudah diberitahukan.”

“Pangeran, apa yang sebenarnya Pangeran inginkan?”

“Yang saya inginkan saat ini Adik Tri meminum jamu yang saya buat. Agar kekuatan racun pagebluk tak mempengaruhi lagi.”

“Apa yang Pangeran inginkan, selain itu?”

“Tak ada. Air tak boleh memiliki keinginan sendiri. Keinginannya adalah keinginan alam. Air akan berdiam diri selamanya. Kalau alam membedakan tanah dan rendah, air akan mengalir ke tempat yang rendah. Sebab merendah itu sikap yang baik. Kalau angin bergerak, air akan mengikuti. Ia bergerak, digerakkan bersama alam. Atas kemauan alam.”

“Susah dimengerti. Pangeran masih muda begini, tapi cara ngomongnya sudah seperti kakek-kakek. Kita membicarakan Kakang Singanada yang kehilangan kaki dan belum pulih kembali, akan tetapi malah dijawab dengan sifat air. Apakah memang semua orang sekarang menjadi linglung semacam ini?”

“Adik Tri, orang bisa linglung, bisa kehilangan sifatnya. Tapi air tidak pernah. Air adalah diam, tenang, adalah alam. Adik Tri, saya tahu bahwa Rama berangkat ke tanah seberang, karena perintah Raja. Saya sedang dicari-cari. Tetapi biar saja. Kalau Rama memang mau ke negeri seberang, kenapa harus ditahan? Kalau Raja memerintahkan begitu, untuk apa dibantah? Biarlah semua mengalir sebagaimana kodratnya.”

“Kalau semua dibiarkan begitu, untuk apa sejak semula Pangeran menolong saya? Kenapa mengobati saya, membuat jamu segala macam? Bukankah lebih mudah membiarkan saja?”

“Pertanyaan yang salah menemukan jawaban yang salah. Menolong atau tidak menolong, tak ada bedanya. Mengobati atau tidak mengobati, sama saja. Saya tidak menolong, tidak sengaja mengobati.”

“Tidak sengaja?”

“Tidak sengaja melakukan itu. Air memang selalu mengalir. Kalau ada tanah yang kering, ia akan merembes ke dalamnya, meresap, karena itu kodratnya. Ia tak akan lebih suka berkumpul dengan sesama air, meskipun masuk di tanah kering ia akan lenyap. Bagi air tak berarti ia menolong atau tidak menolong. Ia menjalani kodratnya sebagaimana alam menjalani kodratnya. Air yang terisap tanah tak menjadi hilang, karena ia akan tetap menjadi air, dan akan kembali menjadi air. Tak ada yang bisa menahan. Ia bisa menjadi air sungai, air laut, air hujan, atau banjir. Tapi ia tetap air. Ia bisa disebut kotor, bersih, dan suci. Padahal yang kotor dan bersih adalah yang lain. Air tetap air.”

Gendhuk Tri memiringkan bibirnya hingga mencong. Ia segera menenggak habis isi batok kelapa. Terasa sedikit lebih segar. “Terima kasih, Pangeran…”

“Saya akan membuat minuman berikutnya…”

“Setiap kali Pangeran akan melakukan itu.”

“Karena jamu itu hanya bisa menawarkan racun ketagihan selama setengah hari.”

Gendhuk Tri mengusap matanya. Lalu duduk. Menatap kosong. Banyak sekali tokoh yang perangainya sangat aneh dan ganjil. Bahkan dilihat dari penampilan pertama saja bisa langsung diketahui. Dewa Maut, tokoh yang kurang aneh apanya. Dijuluki Dewa Maut karena kalau ketemu lawan tanding pasti membunuhnya. Hidup menyendiri di atas rakit dengan sesama lelaki. Ia juga mengenal Jaghana yang sedemikian lugunya sehingga namanya saja sama dengan bagian tubuh yang paling rendah dan terletak di belakang- Pakaian dan cara hidupnya sehari-hari serba seadanya. Tak memiliki apa-apa selama hidupnya.

Di pihak yang lain juga ada tokoh semacam Halayudha. Dan kini dikenal satu jenis yang lain lagi. Pangeran Anom Janaka Rajendra. Yang penampilannya gagah menunjukkan asal-usulnya, yang merasa tidak tahu ilmu silat orang lain, dan merasa dirinya adalah air, air yang merupakan bagian dari alam.

Perlahan menyusup kesadaran lain dalam diri Gendhuk Tri. Bahwa Kitab Air ataupun Kitab Bumi, atau juga kitab pusaka yang lain, mempunyai pengaruh yang lebih dalam dari sekadar cara memainkan ilmu silat, atau cara melatih pernapasan. Secara langsung dan telak, pengaruh itu menjadi sikap hidup. Satu-satunya pandangan hidup.

Dalam hal ini, Gendhuk Tri melihat dirinya tumbuh dengan cara yang berbeda dari Upasara atau Pangeran Anom. Dirinya tumbuh tidak dari kitab yang dipelajari lengkap dengan kidungan. Dirinya mempelajari ilmu silat dalam artian langsung berlatih, hanya kadang mendengar rangkaian-rangkaian yang melatar belakangi. Lebih asing lagi, karena dirinya tidak mengetahui nama dasar ilmu silatnya dan induk kitab yang dipelajari.

Belakangan baru diketahui ada hubungan langsung dengan Kitab Air yang diciptakan oleh Eyang Putri Pulangsih, yang ternyata juga menjadi sumber utama kitab-kitab dari negeri Syangka. Betapa jauh bedanya bila dibandingkan dengan Pangeran Anom. Yang menekuni dari tembang-tembang yang ada, yang mendapatkan guru yang tepat seperti Senopati Agung Brahma.

“Apa yang Adik lamunkan?”

Yang dilamunkan Gendhuk Tri, sekilas lagi, ialah Upasara Wulung. Kakangnya yang satu ini, juga merupakan cerminan dari intisari Kitab Bum yang sesungguhnya. Sikap pasrah, manembah, yang menjadi sumber kekuatan. Sikap yang menyebabkan Upasara menjadi ragu untuk merebut Gayatri. Semangat dan daya asmaranya yang besar, dikalahkan oleh sikap pasrah dalam pengertian menerima perhitungan para pendeta bahwa Gayatri dan Raden Wijaya sudah dijodohkan oleh para Dewa. Dibandingkan itu semua, di mana kakinya berdiri? Bagaimana dengan Nyai Demang?

“Siapa yang Pangeran ajak kemari?”

“Saya tidak mengajak. Sejak tadi ia bersembuyi di sini, Adik Tri…”

Satu bayangan bergerak, menampakkan diri. Ternyata sejak semula Pangeran Anom juga telah mengetahui bahwa ada seseorang yang berada dalam ruangan secara sembunyi-sembunyi. Gendhuk Tri berusaha tetap tenang, walaupun hatinya bercekat luar biasa. Karena yang muncul di depannya adalah tokoh yang membuat debaran darah mengalir deras. Kiai Sambartaka. Yang secara telengas melukai Eyang Sepuh dan mencurangi Upasara Wulung. Tokoh yang ikut memperebutkan gelar lelananging jagat, yang bisa lenyap dan muncul secara tiba-tiba.

“Aku sudah tahu siapa kalian dan apa keinginan kalian. Rasanya untuk sementara kita bisa bekerja sama demi tujuan yang berbeda. Gendhuk Tri, kamu sangat cerdik. Pasti bisa membaca kemauanku. Untuk ini aku tak akan menyembunyikan keinginanku yang sesungguhnya. Mengetahui inti ajaran Kitab Air dari kalian berdua. Sebagai imbalannya, aku akan membebaskan Upasara Wulung.”

Nada suaranya yang tenang, menunjukkan bahwa kini Kiai Sambartaka telah banyak berubah. Tak ada lagi terlihat kepongahan yang luar biasa. Kepercayaan diri yang menjurus pada meremehkan orang lain sama sekali tak terlihat. Bahkan guratan yang bersinar dari matanya tak lagi tidak memandang sebelah mata lawan bicara.

Dari nada suaranya yang urut, Kiai Sambartaka memberi kesan bahwa ia mengetahui bagaimana harus menampilkan diri. Tanpa ditandai dengan basa-basi, melainkan mengatakan apa yang diinginkan dari situasi yang ada. Perubahan yang sulit dibayangkan pada diri Kiai Sambartaka. Dalam kedudukannya yang sekarang, Gendhuk Tri merasa dirinya dan Pangeran Anom tetap bukan tandingan Kiai Sambartaka, yang kalau mau bisa membekuk dan memaksakan kehendaknya.

Perlawanan Mahamanusia (1)
AGAKNYA itu yang tidak dilakukan Kiai Sambartaka. Agaknya sekarang Kiai Sambartaka menjadi lebih cerdik dalam memperhitungkan suasana. Tidak hanya sekadar mengandalkan ilmu silatnya, yang ternyata juga bukan yang paling unggul. Benak Gendhuk Tri juga melihat persoalan yang dihadapi Kiai Sambartaka.

Tokoh kelas utama yang menduduki peringkat paling atas dari tlatah Hindia ini khusus datang ke tanah Jawa untuk membuktikan sebagai yang paling hebat. Akan tetapi justru ketika menghadapi Upasara Wulung, ia bisa dikalahkan. Berarti ambisinya menjadi ksatria utama yang tak terkalahkan gagal total.

Ambisinya yang kedua, menanamkan pengaruh ajarannya di tanah Jawa, seperti yang telah berjalan sekian lama, mendadak runtuh dengan naiknya Putra Mahkota Kala Gemet yang memakai gelar dari tanah Syangka. Negeri dengan siapa Kiai Sambartaka selalu bermusuhan hingga ke keturunan yang akan datang. Pukulan kedua yang sangat menyakitkan. Yang menghancurkan seluruh kebanggaan dan harga dirinya. Baik sebagai jago silat maupun tetua keagamaan.

Jalan terbaik yang masih bisa dilakukan ialah mencoba menyusun kembali rencana untuk kembali. Mau tidak mau harus mengadakan pendekatan dari dalam. Pilihan jatuh ke Gendhuk Tri dan Pangeran Anom, yang secara jelas mempunyai banyak persamaan dengan ilmu silat dari Syangka.

Menurut dugaan Gendhuk Tri, pastilah Kiai Sambartaka sudah mengetahui semua yang terjadi belakangan ini. Pasti juga sudah berada di Keraton saat terjadi pertarungan. Hanya saja Kiai Sambartaka merasa perlu tetap menyembunyikan diri. Hanya mau muncul pada saat yang dianggap tepat. Dilihat dari keadaan itu, Gendhuk Tri sadar bahwa kalau sejak semula Kiai Sambartaka ingin menurunkan tangan jahat, boleh dikata sangat gampang sekali.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Gendhuk Tri. Dan semuanya benar. Itu sebabnya aku mengajukan tawaran. Kalau kalian berdua bersedia memberi kesempatan padaku untuk bersama-sama mempelajari Kitab Air aku akan membebaskan Upasara Wulung.”

Gendhuk Tri tersenyum tipis. Ia tak mau ditebak begitu saja bahwa Upasara sangat besar artinya bagi dirinya. Mendapat pikiran begitu, Gendhuk Tri membalik dengan bertanya,

“Kakang Upasara keadaannya tak memungkinkan lagi untuk diselamatkan. Pundak kirinya telah tertusuk keris pusaka. Urat nadi utamanya telah terkena sabetan tenaga Halayudha. Di samping itu, sebagai tawanan utama tak nanti bisa diambil begitu saja. Saya kira tawar-menawar yang berat sebelah, Kiai…”

Kiai Sambartaka melirik ke arah Pangeran Anom. “Kalau begitu, apa yang bisa saya tawarkan sebagai pengganti kesediaan kalian berdua?”

“Maaf,” suara Janaka Rajendra terdengar sangat sopan. “Kenapa Kiai ingin mempelajari ilmu silat kami? Bukankah Kiai sudah melihat dengan jelas, dan bisa mendapatkan kitabnya?”

“Maaf, Pangeran Anom yang tampan. Saya tak menemukan kesulitan sedikit pun untuk mempelajari Kitab Air. Seluruh kidungan yang ada sudah saya pelajari habis. Juga yang berasal dari Syangka, sejak Pendeta Sidateka. Akan tetapi bagi saya masih ada beberapa teka-teki, yang secara tidak langsung telah Pangeran jawab ketika memainkan gerakan secara bersamaan dengan Gendhuk Tri. Dari sekilas saja semua bisa menyaksikan bahwa ada kemungkinan besar yang selama ini tak terduga, bisa mencuat dari kekuatan air. Barangkali kalau kita mempelajari secara bersama, masih ada kemungkinan lain yang bisa kita keduk, kita rengkuh, kita kuras habis-habisan. Karena mungkin yang selama ini kita ketahui tentang kitab itu barulah kulit permukaannya saja.”

“Apa maksud Kiai mempelajari?”

Pertanyaan yang kelewat polos. Yang membuat Gendhuk Tri merasa geli. Akan tetapi Kiai Sambartaka menjawab dengan bersungguh-sungguh,

“Saya mempunyai permusuhan dengan para pendeta Syangka yang susah diterangkan dalam kalimat yang singkat. Ketika Pendeta Sidateka datang, dan disusul kemunculan Barisan Padatala, saya masih menganggap mereka anak-anak yang bisa ditundukkan pada saat saya menghendaki. Akan tetapi dengan munculnya Pendeta Manmathaba yang merupakan pemimpin tertinggi di negerinya, saya merasa sudah seharusnya saya tampil sendiri juga. Hanya saja, rasanya sekarang ini belum saatnya bertanding sebagai sesama ksatria. Karena Manmathaba melibatkan banyak ksatria dan senopati, dalam kaitan dengan tata pemerintahan Keraton. Sambil menunggu saat tepat, saya ingin menyiapkan lebih dalam cara menghadapi. Pangeran, dendam dan permusuhan saya tertuju kepada Manmathaba. Tidak ada kaitannya dengan Keraton.”

Janaka Rajendra mengangguk. “Bisa dimengerti. Tetapi rasanya saya tak mungkin memberikan ilmu, kalau tujuannya untuk menghancurkan orang lain.”

“Saya ingin mempelajari bersama Pangeran dan Adik Tri... Kalau memang saya tidak mampu, saya akan pulang ke negeri saya…”

Gendhuk Tri memainkan bibirnya. Banyak lagi perubahan Kiai Sambartaka. Bukan hanya menjadi rendah hati tetapi mulai memperhatikan dengan siapa ia berbicara, dan bagaimana cara menyusun kata-kata. Dari cara menyebutkan “mempelajari bersama, dan kalau merasa tak mampu akan mundur” jelas menunjukkan ingin memberi kesan tidak untuk menyerang lawan. Dengan menyebut “Adik Tri” secara tidak langsung ingin lebih akrab lagi.

“Kalau itu alasannya, saya bisa menerima. Tetapi terserah apakah Adik Tri bersedia atau tidak.”

Gendhuk Tri mengedipkan matanya. “Aha, sekarang kita bisa bicara lebih enak, Kiai. Begini saja. Saya dan Pangeran Anom menyetujui usul Kiai. Akan tetapi kalau selama kita berlatih atau bercakap-cakap saya menemukan satu dusta yang disengaja oleh Kiai, saya akan menghentikan ini semua..."

"Dusta macam apa, Adik Tri? Kenapa kita mencurigai?”

“Biar saya yang memutuskan. Karena Pangeran telah menyerahkan kepada saya untuk memutuskan menerima atau tidak.”

“Maaf, Adik Tri…”

“Saya, Kiai Sambartaka, dengan ini mengatakan akan berkata apa adanya, sejujurnya, terhadap setiap pertanyaan atau percakapan, selama berlatih dan mempelajari bersama Kitab Air…”

Gendhuk Tri tertawa. “Ya, hanya selama kita mempelajari. Setelah itu boleh berdusta dan mungkin kita akan berhadapan. Nah, Kiai, sekarang saya ingin mendengar beberapa jawaban Kiai. Karena selama ini Kiai sudah mendengar dan melihat sendiri kami berlatih, saya ingin mulai dengan pertanyaan. Ingat, setiap kali saya tahu Kiai sengaja berdusta, apa pun yang terjadi, persetujuan kita batal.”

Janaka Rajendra menunjukkan wajah kurang setuju. Karena Gendhuk Tri terlihat seperti ingin mencari menang sendiri. Gendhuk Tri bukannya tidak tahu apa yang dipikirkan Pangeran Anom, akan tetapi ia tak peduli.

Perlawanan Mahamanusia (2)
“MENURUT perhitungan Kiai, siapa yang paling hebat sekarang ini?”

Kiai Sambartaka sepenuhnya menyadari bahwa pertanyaan Gendhuk Tri bukan hanya didorong rasa ingin tahu, akan tetapi sekaligus juga menguji. Jika jawaban yang dikemukakan tidak semestinya, Gendhuk Tri mungkin bisa mengetahui. Jika ini terjadi, Gendhuk Tri akan membatalkan semua rencana. Kiai Sambartaka tahu betul mengenai hal ini.

“Masih perlu dibuktikan secara terbuka. Secara ilmu silat murni, hanya beberapa nama. Eyang Sepuh, Eyang Putri Pulangsih, serta Upasara Wulung. Eyang Sepuh tak bisa diketahui bakal muncul lagi atau tidak sama sekali. Kemungkinan kedua lebih masuk akal. Tokoh kedua, pencipta Kitab Air kurang-lebihnya sama. Ataupun kalau muncul kembali, agaknya tidak berurusan dengan masalah ilmu silat atau tata pemerintahan Keraton. Secara murni, memang hanya Upasara. Tenaga dalamnya luar biasa, pengerahannya sempurna, dan penguasaannya istimewa. Akan tetapi, sekarang terbukti bahwa Upasara Wulung juga bisa dikalahkan. Dengan cara apa pun, betapapun tidak ksatrianya, nyatanya Upasara Wulung bisa ditaklukkan. Berarti memang memperhitungkan dari ilmu silat murni tidaklah tepat. Deretan tokoh yang ada segaris tipis di belakangnya, tak banyak. Hanya ada Kiai Sambartaka dan setingkat dengan itu Kakek Berune, yang masih hinggap di tubuh Nyai Demang. Yang ini agak susah diperhitungkan sejauh mana bisa hebat atau tidak. Deretan lain ialah Pendeta Manmathaba karena kemampuannya yang luar biasa memainkan bandring, ditambah ilmu kebal yang sangat sempurna. Lalu bisa diperhitungkan pula Halayudha. Senopati satu ini memang di luar perhitungan. Ia berhasil mempelajari semua dasar ilmu silat, mempunyai bakat hebat, dibesarkan dan dididik tokoh yang sakti, akan tetapi perhatiannya terpecah antara menjadi ksatria atau orang berpangkat. Di belakang hari, tokoh ini bisa menjadi manusia yang tak bisa dikalahkan telak. Mengerikan. Maaf kalau belum menjawab semuanya.”

“Bagaimana dengan Ratu Ayu?”

“Ilmunya aneh, apalagi kalau dengan barisan lompat yang rumit. Akan tetapi, sulit diperhitungkan untuk menjadi yang paling hebat, mengingat keinginan yang lain. Semua tadi perhitungan yang bisa dibuat dengan melihat kenyataan yang ada. Dalam pertandingan, sering lain hasilnya. Saya tak perlu mengulang bahwa Upasara pun bisa kalah.”

“Kenapa Kiai tidak memperhitungkan Puspamurti?”

Pandangan Kiai Sambartaka menjadi keras. Matanya memancarkan kebencian. “Banyak orang mengatakan bahwa ilmu negeri Hindia, terutama yang saya pelajari, adalah ilmu sesat. Ilmu hitam. Akan tetapi sesungguh-sungguhnyalah, ilmu yang dipelajari Puspamurti ilmu yang paling sesat di jagat.”

“Ilmu satu jurus itu ilmu sesat?”

“Ilmu yang mendasari jurus-jurus Puspamurti berawal pada sikap pengertian mahamanusia yang ada dalam Kidungan Pamungkas. Saya mungkin harus bercerita sedikit. Pada saat seluruh jagat terguncang dengan ilmu yang dinamai Jalan Buddha atau di sini dikenal dengan Kitab Bumi, terjadi pergolakan besar. Eyang Sepuh yang memprakarsai pertemuan setiap lima puluh tahun untuk saling menguji, siapa yang paling mewarisi ilmu jagat itu. Pada saat puncak pembicaraan mengenai Kitab Bumi, terdengar kabar santer mengenai Kidungan Pamungkas, yang di beberapa negeri mempunyai nama yang berbeda-beda, dengan dasar yang kurang-lebih sama. Kidungan ini pada dasarnya tidak mengajarkan ilmu silat atau latihan pernapasan sebagaimana kitab yang lain, melainkan mengajarkan bahwa manusia itu sebenarnya mahamanusia. Sehingga tak perlu mempelajari ilmu silat, mempelajari pernapasan, tak perlu mempelajari jurus-jurus. Kidungan Pamungkas tak percaya kekuatan bumi, kekuatan air, kekuatan alam, bahkan para Dewa. Mereka mempercayai bahwa sumber segala sumber adalah manusia. Tanpa manusia, tak ada artinya semua alam ini. Sebutannya ialah mahamanusia. Pemikiran yang ganjil sekali, dan lain daripada yang ada. Hampir semua perguruan mempunyai ilmu andalannya. Jenisnya bisa ratusan atau bahkan ribuan. Salah satu yang sangat menonjol adalah Perguruan Awan, di mana Eyang Sepuh berhasil menanamkan ajarannya. Demikian juga di negeri lain, selalu ada satu yang lebih menonjol dibandingkan perguruan yang lain. Akan tetapi baik Perguruan Awan atau yang lain, masih mempunyai sumber alam. Bahkan penamaan Awan, mempunyai simbol dan makna tertentu. Sementara ajaran Kidungan Pamungkas tak mengakui semua itu. Titik dasarnya berbeda sekali. Bukan kekuatan tangan, kaki, pancaindria, sembilan lubang tubuh, empat penjuru angin. Bukan semuanya. Sejauh yang saya tahu, tak ada perguruan resmi yang bisa berdiri. Mungkin juga tak akan ada.”

“Kalau Kiai diadu dengan Puspamurti, siapa yang bakal menang?”

“Saat ini pasti saya. Akan tetapi saya tidak berani memastikan setelah satu perjalanan waktu tertentu. Bisa bulan depan atau lima puluh tahun yang akan datang. Mempelajari ilmu silat seperti mencari wahyu. Mencari pencerahan diri dengan cara penyerahan diri. Upasara Wulung bisa tiba-tiba mencuat dan mengalahkan lawan-lawannya karena pencerahan yang diperoleh dari mempelajari Kitab Bumi, yang dipelajari sekian banyak ksatria di tanah Jawa ini. Dan hanya Upasara yang agaknya sampai sekarang mampu menangkap intisari, dan memperoleh pencerahan itu. Hal yang sama sebenarnya bisa terjadi pada Adik Tri. Atau yang sudah diperoleh Pangeran Anom. Sekian banyak yang mempelajari Kitab Air, akan tetapi hanya Pangeran Anom yang mendapat pencerahan bahwa gabungan kembar dari jurus yang sama bisa menghasilkan sesuatu yang tak terduga. Kalau kita tanyai, barangkali Pangeran Anom akan susah menerangkan dari mana diperoleh pencerahan semacam itu. Seperti tiba-tiba, seperti tarikan yang tak dikuasai yang menyeret ke arah itu. Kalau tidak mempelajari secara bersungguh-sungguh, rasanya tak mungkin ada pencerahan semacam itu. Itulah yang ingin saya jajal bersama kalian berdua.”

Kiai Sambartaka mengembuskan udara agak lama.

“Kenapa bukan Manmathaba yang memperoleh pencerahan memainkan bersama? Bukankah justru ia yang membentuk Barisan Padatala? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan kata-kata, akan tetapi bisa dirasakan. Karena Manmathaba mendapat pencerahan yang lain, yaitu ilmu kulit kentang yang kebal. Kalau kita menukik ke dalam, mempelajari dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin kita bisa mengetahui caranya. Karena tingkat pencerahan hanya terjadi sekali secara tak bisa dimengerti. Sesudah itu semua bisa mengikuti. Setelah melihat Pangeran Anom dan Adik Tri memainkan bersama, semua yang mempelajari Kitab Air bisa ikut memainkan dengan cara itu.”

“Saya bisa menerima keterangan Kiai. Baiklah, kalau mau berlatih kita bisa mulai sekarang.”

Kiai Sambartaka mengangguk. “Melatih adalah gampang. Mengikuti apa yang tertulis. Akan tetapi kalau hati kita tidak bersatu dengan rasa dan pikiran, agak susah. Adik Tri tak akan mencapai hasil yang sempurna, kalau masih ada perasaan bahwa Pangeran Anom bukan air yang sama. Yang bisa menyatu tanpa perasaan apa-apa. Tetes air di laut, bisa bercampur begitu saja dengan tetes air pegunungan atau keringat. Semuanya air. Dan air itu satu. Rasanya saya tidak salah bicara…”

“Saya mengerti. Tetapi dalam batas tertentu, saya tak bisa menjalani.”

“Saya juga tidak berharap itu terjadi di depan mata saya. Akan tetapi kalau Adik Tri masih terbelenggu ganjalan-ganjalan tertentu, agak sulit bisa terbangun jalinan tetes air. Kecuali kalau Adik Tri mau menceritakan, dan kemudian Pangeran Anom bisa memahami. Air laut berbeda dari air gunung. Persatuan air laut dengan air gunung, berbeda dibandingkan persatuan antara air gunung dan air gunung. Akan tetapi karena mengetahui perbedaan, percampurannya juga menghasilkan yang berbeda. Namun di atas semua itu, menyatu. Air laut yang digabung dengan air gunung, bisa berkurang rasa asinnya. Akan tetapi begitu keduanya digabungkan, tak lagi bisa dipisahkan yang mana tadi air laut yang asin dan mana air gunung yang tawar. Kalau kondisi ini bisa diterima, kita sebenarnya sudah melangkah setengah jalan.”

Air Tak Bisa Ditandai
JANAKA RAJENDRA mengangguk, membenarkan. Gendhuk Tri mengikuti. Hanya bedanya ia menambahi,

“Kiai Sambartaka, katakan sejujurnya, apa yang membuat Kiai merasa sulit menangkap isi Kitab Air!”

Sejenak Kiai Sambartaka mengurut dagunya. “Sebenarnya tak ada. Kidungan lengkap, rinciannya jelas. Tak ada yang samar. Akan tetapi yang menjadi masalah ialah penyerapan hakikat. Saya bisa dengan mudah dan lancar menjelaskan sifat-sifat air, akan tetap saja tak bisa menangkap secara keseluruhan. Kemungkinan ilmu kebal yang dimainkan Manmathaba tetap saja tak terpikirkan sebelumnya, bahwa itu juga bersumber dari Kitab Air. Adik Tri punya gambaran yang lain?”

“Entahlah, Kiai. Tapi karena kita sudah bertekad saling jujur, saya akan menceritakan sesuatu. Kiai masih ingat tokoh dari negeri Tartar yang bernama Naga Nareswara? Kami berdua pernah terkurung dalam gua bawah tanah. Rasanya tak mungkin ada jalan keluar, karena jalan keluar tertimbun. Waktu itu saya berusaha sendiri, mengeduk terus menerus, mencari jalan keluar asal-asalan. Sampai hampir habis tenaga saya. Naga Nareswara yang tadinya melihat saja atau sama sekali tidak menggubris, lalu ikut membantu. Hingga akhirnya kami bisa menemukan jalan keluar, yang membawa kami ke Trowulan. Dalam perjalanan itu, saya bertanya mengapa Naga Nareswara tiba-tiba mau membantu saya, padahal sebelumnya hanya memandang sebelah mata. Ia menjawab, ‘Yu Gong yi shan.’ Belakangan baru ia bercerita bahwa dulu kala ada orang tua bernama Yu Gong yang berdiam di desa yang dikelilingi gunung. Yu Gong ingin membuat jalan menerobos gunung. Ia terus-menerus bekerja, membongkar batu gunung. Suatu kerja keras tanpa harapan. Tapi Dewa kemudian menolongnya dan gunung yang menghalangi kampungnya sekarang mudah dicapai orang lain, dan penduduk desa itu bisa dengan mudah bepergian ke tempat lain. Apa yang saya lakukan tak ubahnya Yu Gong yang memahat gunung.”

“Adik Tri ingin menyamakan usaha kita seperti itu?"

Gendhuk Tri menggeleng. Pandangan meneropong jauh. “Selama kami sama-sama terkurung dalam gua, saya banyak berlatih. Tidak jarang Naga Nareswara ikut berlatih, memberi petunjuk sedikit, bertanya banyak, dan manggut-manggut. Sekarang saya ingat kembali betapa ia sangat mengagumi ilmu Kitab Air yang dikenali dari sifat-sifatnya. Ia mengatakan bahwa ia tak gentar menghadapi jurus-jurus ilmu Kitab Bumi, namun akan berpikir dua kali kalau menghadapi orang yang mampu menguasai ilmu saya yang bahkan saat itu saya belum menyadari sumbernya dari sifat air. Saya kira ia hanya sekadar memuji. Tapi melihat sifatnya yang tinggi hati seperti Kiai-atau seperti setiap tokoh yang merasa tak tertandingi, saya jadi bertanya-tanya: Di mana hebatnya ilmu saya, dibandingkan dengan Kitab Bumi? Jawabannya, lagi-lagi membuat saya tak mengerti. Ia mengatakan, ‘Ke zhou iu jian.’"

Janaka Rajendra mengerutkan keningnya, akan tetapi Kiai Sambartaka mengangguk-angguk. “Apa yang dikatakan Naga Nareswara sangat tepat.”

“Apa artinya, Adik Tri?”

Kiai Sambartaka yang menjawab perlahan, “Artinya kira-kira, menandai perahu untuk mencari pedang. Dengan kata lain, susah mengenali sifat air. Semakin kita yakin, sebenarnya kita semakin keliru. Air yang kita kenal itu bukan ditandai dengan benda lain, melainkan dengan air itu sendiri. Kalau saya tidak salah, ada dongengan mengenai hal itu. Di zaman dulu, di Keraton Chu ada orang yang menyeberangi danau. Di tengah perjalanan, pedangnya terjatuh. Ia kemudian memberi tanda di perahunya, tempat di mana pedang itu jatuh. Ketika sampai ke tepi, ia mencari-cari persis di bawah tanda yang dibuat di perahu.”

Janaka Rajendra tersenyum geli. Akan tetapi Gendhuk Tri yang biasanya mengumbar tawa, malah tampak bersungguh-sungguh. Demikian juga Kiai Sambartaka.

“Kisah semacam ini banyak jumlahnya, banyak juga ragam dan artinya. Dengan sangat mudah kita mengatakan betapa tololnya orang yang kehilangan pedang itu. Mana mungkin dicari di pantai kalau jatuhnya di tengah. Akan tetapi sesungguhnya, kita sering melakukan kesalahan yang sama. Melakukan kekeliruan yang tidak kita sadari. Dalam kaitan dengan ilmu yang bersumber dari Kitab Air, kita semua merasa menguasai, akan tetapi ternyata yang kita kuasai belum yang sesungguhnya. Kemunculan ilmu kebal, pelipatgandaan tenaga, hanya salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang bisa digali dari tenaga dan sifat air. Benar yang dikatakan Raja Segala Naga itu. Ia akan berpikir dua kali kalau menghadapi pencipta atau yang menguasai sifat air. Karena titik tolaknya berbeda dari ilmu Kitab Bumi. Seperti orang yang kehilangan pedang. Kalau ia memakai patokan kejadian di darat, pedang itu akan ditemukan kembali. Akan tetapi ia tak bisa menyamakan sifat air dengan sifat bumi. Air tak bisa ditandai.”

JILID 15BUKU PERTAMAJILID 17

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 16

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 16

Gendhuk Tri tak biasa berdusta, makanya tak bisa menyusun alasan dengan urut. Tapi ia tak mungkin menceritakan bahwa sesungguhnya pikirannya sedang tertuju kepada Upasara. Agak kurang waras menurut perhitungan Gendhuk Tri. Justru di saat Singanada menggeletak antara mati dan hidup, ia masih memikirkan keselamatan Upasara!

Ah! Ah, jangan kata kala Upasara sedang menderita seperti sekarang ini. Ketika sedang segar bugar dan hanya bergandengan tangan dengan Nyai Demang saja ia menjadi gusar.

“Kalau begitu, kita tenangkan dulu…”

“Pangeran Anom, Pangeran begitu menguasai ilmu untuk mengobati. Bahkan bisa menciptakan buah untuk melawan racun pagebluk. Apakah Pangeran mempelajari secara khusus?”

“Saya mempelajari dari Rama. Apa yang Rama ajarkan, saya ikuti.”

“Bagaimana mungkin Pangeran bisa langsung membuat jampi penawar racun pagebluk?”

“Tidak secara khusus, Adik Tri. Saya mempelajari sesuatu yang dibuat dari bahan murni alam, seperti juga terciptanya embun, terutama di bagian ujungnya. Semua itu diajarkan di dalam Kitab Air maupun Kitab Bumi. Hanya karena kebetulan saja cocok untuk menawarkan racun pagebluk.”

“Pangeran tahu kenapa Pendeta Manmathaba begitu sakti?”

Janaka Rajendra menggeleng. “Pengalaman saya kosong melompong. Kemampuan saya hanya mengenai yang diajarkan Rama. Pendeta Manmathaba sungguh luar biasa. Ilmu silatnya sangat luar biasa tingginya, senjata andalannya betul-betul maut yang tak bisa ditolak. Luar biasa.”

“Saya rasa tak begitu hebat. Ilmu silatnya masih jauh di bawah Kakang Upasara. Senjata andalannya, Bandring Cluring, boleh dikatakan luar biasa, akan tetapi saya percaya Kakang Upasara sanggup menandingi, bahkan menundukkan. Bagi saya yang menjadi tanda tanya besar adalah penguasaan akan ilmu kebal. Jelas-jelas keris pusaka Senopati Agung bisa dipakai Kakang Upasara untuk menusuk, dan nyatanya bisa, tetapi rasanya tak ada guratan yang tersisa. Bukankah ini luar biasa?”

“Ya, Ya. Mengherankan. Saya banyak membaca mengenai ilmu kebal…”

“Saya sering menyaksikan dan menjajal. Akan tetapi tak ada yang mampu menyamai Manmathaba. Saya heran sendiri. Dengan penguasaan ilmu kebal semacam itu, tak akan ada yang bisa mengalahkan.”

Janaka Rajendra menggeleng keras sekali. “Tidak betul. Semua ilmu di jagat ini tak ada yang paling unggul. Tidak juga Kitab Bumi atau Kitab Air. Jurus apa pun, latihan pernapasan macam apa pun rasanya bukanlah yang paling sempurna. Demikian juga ilmu kebal Pendeta Manmathaba. Hanya saja hasilnya memang luar biasa. Kulit ari, kulit bagian luar, tidak tergores sedikit pun.”

“Bagaimana dengan Nenek atau Kakek Puspamurti? Kelihatannya ia menguasai ilmu yang lain, yang cukup berani menggertak Manmathaba.”

”Iya.”

Bagaimana pendapat Pangeran?”

“Seperti tadi saya katakan, saya tak begitu mengerti aliran yang lain dari kisah-kisah air. Maaf, Adik…”

“Siapa dia sebenarnya?”

“Maaf…”

Gendhuk Tri mengusap wajahnya. “Maaf, saya mungkin lancang dan asal bertanya saja. Semuanya tidak penting. Hanya untuk mengendorkan ketegangan saja. Pangeran, bagaimana kalau kita jajal sekali lagi?”

Janaka Rajendra mengangguk. Memusatkan pikiran sebentar, lalu tangannya bergerak bagai membentuk lengkungan busur. Gendhuk Tri tak mau menunggu lama-lama, segera mengikuti gerakannya secara persis.

Tembang Duka
YANG tidak diperhitungkan oleh Gendhuk Tri adalah perasaan Maha Singanada. Senopati gagah perkasa yang lahir dalam perjalanan ke tanah seberang, yang besar oleh ombak laut dengan akar Keraton Singasari ini tumbuh dengan tata krama yang berbeda. Justru ketika berada di tanah asing, keinginan untuk menjadi orang Singasari lebih menjadi-jadi. Lebih-lebih dengan pengalaman dan perjalanan hidup yang membuatnya bersikap keras, atau sangat keras, Singanada tumbuh dengan kemauan yang susah diterka.

Kekecewaan yang utama ialah ketika pulang kembali ke tanah Singasari dan menemukan bahwa keagungan dan kebesaran Keraton yang dipuja para leluhur, tak seperti yang ditemui. Justru serba bertentangan dengan yang tertanam dan tumbuh dalam akal budinya. Kekecewaan yang makin mendalam, sehingga Singanada merasa tak ada tempat bernaung lagi. Dan memutuskan untuk mengembara ke tanah seberang, tanpa tujuan yang jelas. Dengan tujuan: meninggalkan Keraton Singasari.

Pada saat-saat yang menentukan pilihan hidupnya, hatinya tersambar oleh kepolosan Gendhuk Tri. Gadis yang sedang tumbuh, yang berbeda dari putri-putri Keraton yang dikenal. Segera saja Singanada menentukan bahwa ia akan hidup bersama sampai akhir hayatnya. Jalan pikirannya sangat polos dan sederhana. Tanpa lekuk-liku, tanpa renda-renda.

Segala apa akan dihadapi dengan gagah berani. Tak ada pertimbangan lain yang memberati. Baginya, sesama ksatria saling menolong, sesama orang jahat harus dibasmi, bersama kekasih hidup selamanya dan hanya dengan kekasihnya. Tidak dengan orang lain.

Kini dalam keadaan setengah sadar, Singanada melihat bahwa Gendhuk Tri masih tetap menunggui, masih sangat memperhatikan. Baginya, itulah nilai yang utama. Akan tetapi juga dalam keadaan samar itulah dilihatnya ada bayangan lelaki lain. Yang begitu dekat dengan Gendhuk Tri. Bahkan melakukan latihan pernapasan bersama. Dalam alam pikiran Singanada, hal semacam ini tak masuk akal.

Bagi Gendhuk Tri, sama sekali tak ada bayangan apa-apa selain berusaha menolong Singanada. Kalaupun, hanya kalaupun sebagai pengandaian, Pangeran Anom menaruh perhatian padanya, tak nanti ia tega bermain mata dengannya. Tetapi memang Gendhuk Tri tak bisa menduga apa yang menjadi jalan pikiran Singanada. Tak mungkin mengetahui, karena selama ini Singanada juga tidak membuka diri. Hanya Singanada yang merasakan sendiri.

Betapa menyakitkan pengalaman hidupnya selama ini. Menanggung semacam beban yang tak dimengerti kenapa bisa terjadi. Dan tak mengerti harus membicarakan dengan siapa. Selain menerima sebagai nasib dan diam-diam menelan pribadinya, menjadi sosok yang ganjil tanpa diketahui sendiri.

Semuanya berangkat dari masa kanak-kanaknya. Seingatnya, itulah masa-masa ia berada di atas perahu besar yang lama sekali. Hampir setiap saat ia melihat ombak ketika bangun dan masuk kembali ke kamar tidur. Ia sudah mulai berlatih silat, dan mengetahui bahwa dirinya adalah rombongan yang mengemban tugas suci Keraton.

Ayah dan ibunya adalah senopati utama yang memimpin utusan Baginda Raja menuju tlatah Campa. Tak ada aral melintang sampai ketika mendarat, dan masuk ke daratan. Ujian dan pertarungan para senopati dengan Keraton Caban dengan mudah dapat dimenangkan. Lalu pada suatu malam, ia mengetahui ada sesuatu yang menampar kesadarannya. Untuk pertama kalinya ia tak menjumpai ibunya. Tak ada yang memberitahukan apa-apa, selain ayahnya mengatakan pendek bahwa ibunya kembali ke tanah Jawa sendirian.

“Itu yang terbaik, Singanada. Kamu tak usah memikirkan.”

Ia ternyata justru sangat memikirkan. Dan dari pembicaraan kiri-kanan yang sempat terdengar tidak langsung, ia mengetahui bahwa ibunya sangat kecewa pada ayahnya, sehingga memutuskan kembali ke tanah Jawa, hanya dengan beberapa pengikut. Kekecewaan itu dikarenakan ayahnya lebih dekat dengan Dyah Ayu Tapasi!

Singanada yang mulai menginjak masa remaja tak mengetahui secara persis, dan tak ingin mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi. Hanya saja telinganya menjadi merah manakala ada yang membicarakan hal itu. Jiwanya terobek dan terombang-ambing untuk mengambil pilihan. Meliar mencari jawaban apakah ayahnya yang benar, atau ibunya, atau Dyah Ayu Tapasi, atau siapa. Tak ada pegangan. Pandangan yang hormat sangat terhadap ayahnya tak luntur, akan tetapi serentak dengan itu tumbuh kebencian yang luar biasa

Rasa hormatnya yang dalam terhadap Dyah Ayu Tapasi sebagai junjungan tak berkurang, akan tetapi juga tumbuh semacam kebencian yang membakar setiap kali melihat putri Keraton. Semua dirasakan sendiri. Mengendap bertahun-tahun. Tumbuh bersama kedewasaan dan keahlian ilmu silatnya.

Singanada tak pernah mau membuka pembicaraan mengenai hal ini kepada siapa saja. Malah menjadi murka bila ada yang menyebut-nyebut soal Campa. Seolah menyindir dan merendahkan ayahnya, yang membuat ibunya pulang kembali ke tanah Jawa dan tidak ketahuan ceritanya. Apakah kembali dengan selamat atau hilang di tengah gelombang lautan. Beberapa orang yang mengetahui, memang tak pernah menanyakan dan menyinggung persoalan itu. Karena sedikit saja Singanada mendengar hal itu, ia akan mendatangi dan membunuhnya!

Jiwa yang tumbuh dalam diri Singanada mengenai tata krama lelaki-perempuan menemukan bentuknya sendiri yang berbeda dari ksatria lain, karena ia dibesarkan dalam situasi yang sangat khusus. Itu sebabnya hatinya bisa menjadi sakit, terluka sangat dalam. Karena dengan mudah, kepekaannya mengembang manakala melihat Gendhuk Tri yang dikasihi berduaan dengan Pangeran Anom.

Alam berpikirnya akan kembali lagi: bahwa Dyah Ayu Tapasi, putri Keraton yang sangat dipuja bagai dewi surga, juga mau berbuat yang tercela dengan ayahnya. Apalagi seorang Gendhuk Tri. Dan kesimpulannya: semua wanita pada akhirnya sama, demikian juga Pangeran Anom, tak berbeda dari ayahnya. Sifat-sifat culas yang ingin dilibas habis. Akan tetapi justru dialami sendiri.

Andai saja Singanada bisa mengutarakan isi hatinya mengenai masalah ini, persoalannya menjadi lain. Akan tetapi selama ini Singanada tak mengenal siapa yang bisa menjadi curahan hatinya. Selama ini, hatinya makin lama makin tertutup. Tak ada yang mengetahui apa yang dirasakan.Ketertutupan yang berkembang, menjadi payung yang makin lama makin keras.

Tak bisa dipungkiri hati Singanada yang terobek ketika itu. Akan tetapi Singanada tak berbuat apa-apa. Ia malah membiarkan semuanya terjadi. Tidak mengerang, tidak mendesis. Semua keperihan dan penderitaan ditanggung sendiri. Makin terasa betapa dirinya tak berharga ketika kaki kanannya dipotong oleh Pangeran Anom dan Gendhuk Tri.

Sewaktu keduanya tenggelam dalam keletihan yang panjang dan menyeretnya tertidur, Singanada menyeret tubuhnya keluar dari ruangan. Dengan mengeraskan hati dan kekuatan, Singanada merangkak keluar dari ruangan untuk kemudian menembus kegelapan malam. Duka yang sarat membebani seluruh tubuhnya. Duka yang terseret setiap langkah gontainya. Ia mengambil tombak yang dipatahkan seperti senjata andalannya, kantar, untuk menopang langkah kakinya.

Tak tahu mau pergi ke mana dan akan apa.bApa yang dimiliki telah hancur. Apa yang ditakutkan telah terjadi Mengalami nasib yang sama. Mengagumi dan membenci wanita. Seperti pandangannya terhadap ibunya sendiri. Yang disalahkan begitu picik melarikan diri. Seperti pandangannya terhadap Dyah Ayu Tapasi. Yang dipuja akan tetapi melakukan perbuatan tercela.

Singanada mengerang. Tanpa suara. Beberapa kali ia pingsan dan sadar kembali, beberapa kali disadari bahwa darah masih terus mengucur dari bagian kakinya yang terpotong, akan tetapi dipaksakan untuk terus berjalan. Untuk terus berloncatan. Ada dorongan kekuatan yang luar biasa untuk melarikan diri. Melarikan diri dari bayangan Gendhuk Tri.

Singanada tak peduli dan sama sekali tak memperhatikan bahwa justru Gendhuk Tri yang merasa kelabakan dan tak mengerti sama sekali apa yang dipikirkan oleh Singanada. Setelah mengirim tenaga dalam dan membantu Janaka Rajendra, ia seperti tenggelam dalam kelelahan dan rasa mengantuk yang hebat.

Kalaupun ia terbangun, karena kepalanya berdenyut-denyut dan ada sesuatu yang diinginkan, yang menyebabkan tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Apakah ia ketagihan racun pagebluk?

Kembalinya Kiai Kiamat
GENDHUK TRI baru menyadari ada sesuatu yang tak di tempatnya semula. Yaitu Pangeran Anom, dan Singanada. Yang terpikir pertama ialah bahwa Singanada dirawat di ruang lain. Akan tetapi ketika Pangeran Anom muncul sambil membawa jamu dalam batok kelapa, Gendhuk Tri tak bisa menahan pertanyaan dengan suara tinggi.

“Kakang Singanada lebih memerlukan perawatan dari saya.”

“Kakang Singanada telah pergi.”

“Pergi? Dan Pangeran membiarkan saja?”

“Kakang Singanada dalam keadaan terluka parah, akan tetapi memaksakan diri pergi. Pasti ada sesuatu yang besar yang akan dilakukan. Dan sebaiknya saya tidak menahannya.”

“Saya tak mengerti!” teriak Gendhuk Tri, kali ini malah lebih keras. “Bagaimana mungkin dibiarkan begitu saja?”

“Air hanya mengantarkan, tak pernah menahan. Kalau memang mau pergi, untuk apa ditahan? Kakang Singanada mempunyai alasan untuk pergi.”

“Tapi… tapi… kita tak tahu ke mana…”

“Kalau memang merasa perlu memberitahukan, pastilah sudah diberitahukan.”

“Pangeran, apa yang sebenarnya Pangeran inginkan?”

“Yang saya inginkan saat ini Adik Tri meminum jamu yang saya buat. Agar kekuatan racun pagebluk tak mempengaruhi lagi.”

“Apa yang Pangeran inginkan, selain itu?”

“Tak ada. Air tak boleh memiliki keinginan sendiri. Keinginannya adalah keinginan alam. Air akan berdiam diri selamanya. Kalau alam membedakan tanah dan rendah, air akan mengalir ke tempat yang rendah. Sebab merendah itu sikap yang baik. Kalau angin bergerak, air akan mengikuti. Ia bergerak, digerakkan bersama alam. Atas kemauan alam.”

“Susah dimengerti. Pangeran masih muda begini, tapi cara ngomongnya sudah seperti kakek-kakek. Kita membicarakan Kakang Singanada yang kehilangan kaki dan belum pulih kembali, akan tetapi malah dijawab dengan sifat air. Apakah memang semua orang sekarang menjadi linglung semacam ini?”

“Adik Tri, orang bisa linglung, bisa kehilangan sifatnya. Tapi air tidak pernah. Air adalah diam, tenang, adalah alam. Adik Tri, saya tahu bahwa Rama berangkat ke tanah seberang, karena perintah Raja. Saya sedang dicari-cari. Tetapi biar saja. Kalau Rama memang mau ke negeri seberang, kenapa harus ditahan? Kalau Raja memerintahkan begitu, untuk apa dibantah? Biarlah semua mengalir sebagaimana kodratnya.”

“Kalau semua dibiarkan begitu, untuk apa sejak semula Pangeran menolong saya? Kenapa mengobati saya, membuat jamu segala macam? Bukankah lebih mudah membiarkan saja?”

“Pertanyaan yang salah menemukan jawaban yang salah. Menolong atau tidak menolong, tak ada bedanya. Mengobati atau tidak mengobati, sama saja. Saya tidak menolong, tidak sengaja mengobati.”

“Tidak sengaja?”

“Tidak sengaja melakukan itu. Air memang selalu mengalir. Kalau ada tanah yang kering, ia akan merembes ke dalamnya, meresap, karena itu kodratnya. Ia tak akan lebih suka berkumpul dengan sesama air, meskipun masuk di tanah kering ia akan lenyap. Bagi air tak berarti ia menolong atau tidak menolong. Ia menjalani kodratnya sebagaimana alam menjalani kodratnya. Air yang terisap tanah tak menjadi hilang, karena ia akan tetap menjadi air, dan akan kembali menjadi air. Tak ada yang bisa menahan. Ia bisa menjadi air sungai, air laut, air hujan, atau banjir. Tapi ia tetap air. Ia bisa disebut kotor, bersih, dan suci. Padahal yang kotor dan bersih adalah yang lain. Air tetap air.”

Gendhuk Tri memiringkan bibirnya hingga mencong. Ia segera menenggak habis isi batok kelapa. Terasa sedikit lebih segar. “Terima kasih, Pangeran…”

“Saya akan membuat minuman berikutnya…”

“Setiap kali Pangeran akan melakukan itu.”

“Karena jamu itu hanya bisa menawarkan racun ketagihan selama setengah hari.”

Gendhuk Tri mengusap matanya. Lalu duduk. Menatap kosong. Banyak sekali tokoh yang perangainya sangat aneh dan ganjil. Bahkan dilihat dari penampilan pertama saja bisa langsung diketahui. Dewa Maut, tokoh yang kurang aneh apanya. Dijuluki Dewa Maut karena kalau ketemu lawan tanding pasti membunuhnya. Hidup menyendiri di atas rakit dengan sesama lelaki. Ia juga mengenal Jaghana yang sedemikian lugunya sehingga namanya saja sama dengan bagian tubuh yang paling rendah dan terletak di belakang- Pakaian dan cara hidupnya sehari-hari serba seadanya. Tak memiliki apa-apa selama hidupnya.

Di pihak yang lain juga ada tokoh semacam Halayudha. Dan kini dikenal satu jenis yang lain lagi. Pangeran Anom Janaka Rajendra. Yang penampilannya gagah menunjukkan asal-usulnya, yang merasa tidak tahu ilmu silat orang lain, dan merasa dirinya adalah air, air yang merupakan bagian dari alam.

Perlahan menyusup kesadaran lain dalam diri Gendhuk Tri. Bahwa Kitab Air ataupun Kitab Bumi, atau juga kitab pusaka yang lain, mempunyai pengaruh yang lebih dalam dari sekadar cara memainkan ilmu silat, atau cara melatih pernapasan. Secara langsung dan telak, pengaruh itu menjadi sikap hidup. Satu-satunya pandangan hidup.

Dalam hal ini, Gendhuk Tri melihat dirinya tumbuh dengan cara yang berbeda dari Upasara atau Pangeran Anom. Dirinya tumbuh tidak dari kitab yang dipelajari lengkap dengan kidungan. Dirinya mempelajari ilmu silat dalam artian langsung berlatih, hanya kadang mendengar rangkaian-rangkaian yang melatar belakangi. Lebih asing lagi, karena dirinya tidak mengetahui nama dasar ilmu silatnya dan induk kitab yang dipelajari.

Belakangan baru diketahui ada hubungan langsung dengan Kitab Air yang diciptakan oleh Eyang Putri Pulangsih, yang ternyata juga menjadi sumber utama kitab-kitab dari negeri Syangka. Betapa jauh bedanya bila dibandingkan dengan Pangeran Anom. Yang menekuni dari tembang-tembang yang ada, yang mendapatkan guru yang tepat seperti Senopati Agung Brahma.

“Apa yang Adik lamunkan?”

Yang dilamunkan Gendhuk Tri, sekilas lagi, ialah Upasara Wulung. Kakangnya yang satu ini, juga merupakan cerminan dari intisari Kitab Bum yang sesungguhnya. Sikap pasrah, manembah, yang menjadi sumber kekuatan. Sikap yang menyebabkan Upasara menjadi ragu untuk merebut Gayatri. Semangat dan daya asmaranya yang besar, dikalahkan oleh sikap pasrah dalam pengertian menerima perhitungan para pendeta bahwa Gayatri dan Raden Wijaya sudah dijodohkan oleh para Dewa. Dibandingkan itu semua, di mana kakinya berdiri? Bagaimana dengan Nyai Demang?

“Siapa yang Pangeran ajak kemari?”

“Saya tidak mengajak. Sejak tadi ia bersembuyi di sini, Adik Tri…”

Satu bayangan bergerak, menampakkan diri. Ternyata sejak semula Pangeran Anom juga telah mengetahui bahwa ada seseorang yang berada dalam ruangan secara sembunyi-sembunyi. Gendhuk Tri berusaha tetap tenang, walaupun hatinya bercekat luar biasa. Karena yang muncul di depannya adalah tokoh yang membuat debaran darah mengalir deras. Kiai Sambartaka. Yang secara telengas melukai Eyang Sepuh dan mencurangi Upasara Wulung. Tokoh yang ikut memperebutkan gelar lelananging jagat, yang bisa lenyap dan muncul secara tiba-tiba.

“Aku sudah tahu siapa kalian dan apa keinginan kalian. Rasanya untuk sementara kita bisa bekerja sama demi tujuan yang berbeda. Gendhuk Tri, kamu sangat cerdik. Pasti bisa membaca kemauanku. Untuk ini aku tak akan menyembunyikan keinginanku yang sesungguhnya. Mengetahui inti ajaran Kitab Air dari kalian berdua. Sebagai imbalannya, aku akan membebaskan Upasara Wulung.”

Nada suaranya yang tenang, menunjukkan bahwa kini Kiai Sambartaka telah banyak berubah. Tak ada lagi terlihat kepongahan yang luar biasa. Kepercayaan diri yang menjurus pada meremehkan orang lain sama sekali tak terlihat. Bahkan guratan yang bersinar dari matanya tak lagi tidak memandang sebelah mata lawan bicara.

Dari nada suaranya yang urut, Kiai Sambartaka memberi kesan bahwa ia mengetahui bagaimana harus menampilkan diri. Tanpa ditandai dengan basa-basi, melainkan mengatakan apa yang diinginkan dari situasi yang ada. Perubahan yang sulit dibayangkan pada diri Kiai Sambartaka. Dalam kedudukannya yang sekarang, Gendhuk Tri merasa dirinya dan Pangeran Anom tetap bukan tandingan Kiai Sambartaka, yang kalau mau bisa membekuk dan memaksakan kehendaknya.

Perlawanan Mahamanusia (1)
AGAKNYA itu yang tidak dilakukan Kiai Sambartaka. Agaknya sekarang Kiai Sambartaka menjadi lebih cerdik dalam memperhitungkan suasana. Tidak hanya sekadar mengandalkan ilmu silatnya, yang ternyata juga bukan yang paling unggul. Benak Gendhuk Tri juga melihat persoalan yang dihadapi Kiai Sambartaka.

Tokoh kelas utama yang menduduki peringkat paling atas dari tlatah Hindia ini khusus datang ke tanah Jawa untuk membuktikan sebagai yang paling hebat. Akan tetapi justru ketika menghadapi Upasara Wulung, ia bisa dikalahkan. Berarti ambisinya menjadi ksatria utama yang tak terkalahkan gagal total.

Ambisinya yang kedua, menanamkan pengaruh ajarannya di tanah Jawa, seperti yang telah berjalan sekian lama, mendadak runtuh dengan naiknya Putra Mahkota Kala Gemet yang memakai gelar dari tanah Syangka. Negeri dengan siapa Kiai Sambartaka selalu bermusuhan hingga ke keturunan yang akan datang. Pukulan kedua yang sangat menyakitkan. Yang menghancurkan seluruh kebanggaan dan harga dirinya. Baik sebagai jago silat maupun tetua keagamaan.

Jalan terbaik yang masih bisa dilakukan ialah mencoba menyusun kembali rencana untuk kembali. Mau tidak mau harus mengadakan pendekatan dari dalam. Pilihan jatuh ke Gendhuk Tri dan Pangeran Anom, yang secara jelas mempunyai banyak persamaan dengan ilmu silat dari Syangka.

Menurut dugaan Gendhuk Tri, pastilah Kiai Sambartaka sudah mengetahui semua yang terjadi belakangan ini. Pasti juga sudah berada di Keraton saat terjadi pertarungan. Hanya saja Kiai Sambartaka merasa perlu tetap menyembunyikan diri. Hanya mau muncul pada saat yang dianggap tepat. Dilihat dari keadaan itu, Gendhuk Tri sadar bahwa kalau sejak semula Kiai Sambartaka ingin menurunkan tangan jahat, boleh dikata sangat gampang sekali.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Gendhuk Tri. Dan semuanya benar. Itu sebabnya aku mengajukan tawaran. Kalau kalian berdua bersedia memberi kesempatan padaku untuk bersama-sama mempelajari Kitab Air aku akan membebaskan Upasara Wulung.”

Gendhuk Tri tersenyum tipis. Ia tak mau ditebak begitu saja bahwa Upasara sangat besar artinya bagi dirinya. Mendapat pikiran begitu, Gendhuk Tri membalik dengan bertanya,

“Kakang Upasara keadaannya tak memungkinkan lagi untuk diselamatkan. Pundak kirinya telah tertusuk keris pusaka. Urat nadi utamanya telah terkena sabetan tenaga Halayudha. Di samping itu, sebagai tawanan utama tak nanti bisa diambil begitu saja. Saya kira tawar-menawar yang berat sebelah, Kiai…”

Kiai Sambartaka melirik ke arah Pangeran Anom. “Kalau begitu, apa yang bisa saya tawarkan sebagai pengganti kesediaan kalian berdua?”

“Maaf,” suara Janaka Rajendra terdengar sangat sopan. “Kenapa Kiai ingin mempelajari ilmu silat kami? Bukankah Kiai sudah melihat dengan jelas, dan bisa mendapatkan kitabnya?”

“Maaf, Pangeran Anom yang tampan. Saya tak menemukan kesulitan sedikit pun untuk mempelajari Kitab Air. Seluruh kidungan yang ada sudah saya pelajari habis. Juga yang berasal dari Syangka, sejak Pendeta Sidateka. Akan tetapi bagi saya masih ada beberapa teka-teki, yang secara tidak langsung telah Pangeran jawab ketika memainkan gerakan secara bersamaan dengan Gendhuk Tri. Dari sekilas saja semua bisa menyaksikan bahwa ada kemungkinan besar yang selama ini tak terduga, bisa mencuat dari kekuatan air. Barangkali kalau kita mempelajari secara bersama, masih ada kemungkinan lain yang bisa kita keduk, kita rengkuh, kita kuras habis-habisan. Karena mungkin yang selama ini kita ketahui tentang kitab itu barulah kulit permukaannya saja.”

“Apa maksud Kiai mempelajari?”

Pertanyaan yang kelewat polos. Yang membuat Gendhuk Tri merasa geli. Akan tetapi Kiai Sambartaka menjawab dengan bersungguh-sungguh,

“Saya mempunyai permusuhan dengan para pendeta Syangka yang susah diterangkan dalam kalimat yang singkat. Ketika Pendeta Sidateka datang, dan disusul kemunculan Barisan Padatala, saya masih menganggap mereka anak-anak yang bisa ditundukkan pada saat saya menghendaki. Akan tetapi dengan munculnya Pendeta Manmathaba yang merupakan pemimpin tertinggi di negerinya, saya merasa sudah seharusnya saya tampil sendiri juga. Hanya saja, rasanya sekarang ini belum saatnya bertanding sebagai sesama ksatria. Karena Manmathaba melibatkan banyak ksatria dan senopati, dalam kaitan dengan tata pemerintahan Keraton. Sambil menunggu saat tepat, saya ingin menyiapkan lebih dalam cara menghadapi. Pangeran, dendam dan permusuhan saya tertuju kepada Manmathaba. Tidak ada kaitannya dengan Keraton.”

Janaka Rajendra mengangguk. “Bisa dimengerti. Tetapi rasanya saya tak mungkin memberikan ilmu, kalau tujuannya untuk menghancurkan orang lain.”

“Saya ingin mempelajari bersama Pangeran dan Adik Tri... Kalau memang saya tidak mampu, saya akan pulang ke negeri saya…”

Gendhuk Tri memainkan bibirnya. Banyak lagi perubahan Kiai Sambartaka. Bukan hanya menjadi rendah hati tetapi mulai memperhatikan dengan siapa ia berbicara, dan bagaimana cara menyusun kata-kata. Dari cara menyebutkan “mempelajari bersama, dan kalau merasa tak mampu akan mundur” jelas menunjukkan ingin memberi kesan tidak untuk menyerang lawan. Dengan menyebut “Adik Tri” secara tidak langsung ingin lebih akrab lagi.

“Kalau itu alasannya, saya bisa menerima. Tetapi terserah apakah Adik Tri bersedia atau tidak.”

Gendhuk Tri mengedipkan matanya. “Aha, sekarang kita bisa bicara lebih enak, Kiai. Begini saja. Saya dan Pangeran Anom menyetujui usul Kiai. Akan tetapi kalau selama kita berlatih atau bercakap-cakap saya menemukan satu dusta yang disengaja oleh Kiai, saya akan menghentikan ini semua..."

"Dusta macam apa, Adik Tri? Kenapa kita mencurigai?”

“Biar saya yang memutuskan. Karena Pangeran telah menyerahkan kepada saya untuk memutuskan menerima atau tidak.”

“Maaf, Adik Tri…”

“Saya, Kiai Sambartaka, dengan ini mengatakan akan berkata apa adanya, sejujurnya, terhadap setiap pertanyaan atau percakapan, selama berlatih dan mempelajari bersama Kitab Air…”

Gendhuk Tri tertawa. “Ya, hanya selama kita mempelajari. Setelah itu boleh berdusta dan mungkin kita akan berhadapan. Nah, Kiai, sekarang saya ingin mendengar beberapa jawaban Kiai. Karena selama ini Kiai sudah mendengar dan melihat sendiri kami berlatih, saya ingin mulai dengan pertanyaan. Ingat, setiap kali saya tahu Kiai sengaja berdusta, apa pun yang terjadi, persetujuan kita batal.”

Janaka Rajendra menunjukkan wajah kurang setuju. Karena Gendhuk Tri terlihat seperti ingin mencari menang sendiri. Gendhuk Tri bukannya tidak tahu apa yang dipikirkan Pangeran Anom, akan tetapi ia tak peduli.

Perlawanan Mahamanusia (2)
“MENURUT perhitungan Kiai, siapa yang paling hebat sekarang ini?”

Kiai Sambartaka sepenuhnya menyadari bahwa pertanyaan Gendhuk Tri bukan hanya didorong rasa ingin tahu, akan tetapi sekaligus juga menguji. Jika jawaban yang dikemukakan tidak semestinya, Gendhuk Tri mungkin bisa mengetahui. Jika ini terjadi, Gendhuk Tri akan membatalkan semua rencana. Kiai Sambartaka tahu betul mengenai hal ini.

“Masih perlu dibuktikan secara terbuka. Secara ilmu silat murni, hanya beberapa nama. Eyang Sepuh, Eyang Putri Pulangsih, serta Upasara Wulung. Eyang Sepuh tak bisa diketahui bakal muncul lagi atau tidak sama sekali. Kemungkinan kedua lebih masuk akal. Tokoh kedua, pencipta Kitab Air kurang-lebihnya sama. Ataupun kalau muncul kembali, agaknya tidak berurusan dengan masalah ilmu silat atau tata pemerintahan Keraton. Secara murni, memang hanya Upasara. Tenaga dalamnya luar biasa, pengerahannya sempurna, dan penguasaannya istimewa. Akan tetapi, sekarang terbukti bahwa Upasara Wulung juga bisa dikalahkan. Dengan cara apa pun, betapapun tidak ksatrianya, nyatanya Upasara Wulung bisa ditaklukkan. Berarti memang memperhitungkan dari ilmu silat murni tidaklah tepat. Deretan tokoh yang ada segaris tipis di belakangnya, tak banyak. Hanya ada Kiai Sambartaka dan setingkat dengan itu Kakek Berune, yang masih hinggap di tubuh Nyai Demang. Yang ini agak susah diperhitungkan sejauh mana bisa hebat atau tidak. Deretan lain ialah Pendeta Manmathaba karena kemampuannya yang luar biasa memainkan bandring, ditambah ilmu kebal yang sangat sempurna. Lalu bisa diperhitungkan pula Halayudha. Senopati satu ini memang di luar perhitungan. Ia berhasil mempelajari semua dasar ilmu silat, mempunyai bakat hebat, dibesarkan dan dididik tokoh yang sakti, akan tetapi perhatiannya terpecah antara menjadi ksatria atau orang berpangkat. Di belakang hari, tokoh ini bisa menjadi manusia yang tak bisa dikalahkan telak. Mengerikan. Maaf kalau belum menjawab semuanya.”

“Bagaimana dengan Ratu Ayu?”

“Ilmunya aneh, apalagi kalau dengan barisan lompat yang rumit. Akan tetapi, sulit diperhitungkan untuk menjadi yang paling hebat, mengingat keinginan yang lain. Semua tadi perhitungan yang bisa dibuat dengan melihat kenyataan yang ada. Dalam pertandingan, sering lain hasilnya. Saya tak perlu mengulang bahwa Upasara pun bisa kalah.”

“Kenapa Kiai tidak memperhitungkan Puspamurti?”

Pandangan Kiai Sambartaka menjadi keras. Matanya memancarkan kebencian. “Banyak orang mengatakan bahwa ilmu negeri Hindia, terutama yang saya pelajari, adalah ilmu sesat. Ilmu hitam. Akan tetapi sesungguh-sungguhnyalah, ilmu yang dipelajari Puspamurti ilmu yang paling sesat di jagat.”

“Ilmu satu jurus itu ilmu sesat?”

“Ilmu yang mendasari jurus-jurus Puspamurti berawal pada sikap pengertian mahamanusia yang ada dalam Kidungan Pamungkas. Saya mungkin harus bercerita sedikit. Pada saat seluruh jagat terguncang dengan ilmu yang dinamai Jalan Buddha atau di sini dikenal dengan Kitab Bumi, terjadi pergolakan besar. Eyang Sepuh yang memprakarsai pertemuan setiap lima puluh tahun untuk saling menguji, siapa yang paling mewarisi ilmu jagat itu. Pada saat puncak pembicaraan mengenai Kitab Bumi, terdengar kabar santer mengenai Kidungan Pamungkas, yang di beberapa negeri mempunyai nama yang berbeda-beda, dengan dasar yang kurang-lebih sama. Kidungan ini pada dasarnya tidak mengajarkan ilmu silat atau latihan pernapasan sebagaimana kitab yang lain, melainkan mengajarkan bahwa manusia itu sebenarnya mahamanusia. Sehingga tak perlu mempelajari ilmu silat, mempelajari pernapasan, tak perlu mempelajari jurus-jurus. Kidungan Pamungkas tak percaya kekuatan bumi, kekuatan air, kekuatan alam, bahkan para Dewa. Mereka mempercayai bahwa sumber segala sumber adalah manusia. Tanpa manusia, tak ada artinya semua alam ini. Sebutannya ialah mahamanusia. Pemikiran yang ganjil sekali, dan lain daripada yang ada. Hampir semua perguruan mempunyai ilmu andalannya. Jenisnya bisa ratusan atau bahkan ribuan. Salah satu yang sangat menonjol adalah Perguruan Awan, di mana Eyang Sepuh berhasil menanamkan ajarannya. Demikian juga di negeri lain, selalu ada satu yang lebih menonjol dibandingkan perguruan yang lain. Akan tetapi baik Perguruan Awan atau yang lain, masih mempunyai sumber alam. Bahkan penamaan Awan, mempunyai simbol dan makna tertentu. Sementara ajaran Kidungan Pamungkas tak mengakui semua itu. Titik dasarnya berbeda sekali. Bukan kekuatan tangan, kaki, pancaindria, sembilan lubang tubuh, empat penjuru angin. Bukan semuanya. Sejauh yang saya tahu, tak ada perguruan resmi yang bisa berdiri. Mungkin juga tak akan ada.”

“Kalau Kiai diadu dengan Puspamurti, siapa yang bakal menang?”

“Saat ini pasti saya. Akan tetapi saya tidak berani memastikan setelah satu perjalanan waktu tertentu. Bisa bulan depan atau lima puluh tahun yang akan datang. Mempelajari ilmu silat seperti mencari wahyu. Mencari pencerahan diri dengan cara penyerahan diri. Upasara Wulung bisa tiba-tiba mencuat dan mengalahkan lawan-lawannya karena pencerahan yang diperoleh dari mempelajari Kitab Bumi, yang dipelajari sekian banyak ksatria di tanah Jawa ini. Dan hanya Upasara yang agaknya sampai sekarang mampu menangkap intisari, dan memperoleh pencerahan itu. Hal yang sama sebenarnya bisa terjadi pada Adik Tri. Atau yang sudah diperoleh Pangeran Anom. Sekian banyak yang mempelajari Kitab Air, akan tetapi hanya Pangeran Anom yang mendapat pencerahan bahwa gabungan kembar dari jurus yang sama bisa menghasilkan sesuatu yang tak terduga. Kalau kita tanyai, barangkali Pangeran Anom akan susah menerangkan dari mana diperoleh pencerahan semacam itu. Seperti tiba-tiba, seperti tarikan yang tak dikuasai yang menyeret ke arah itu. Kalau tidak mempelajari secara bersungguh-sungguh, rasanya tak mungkin ada pencerahan semacam itu. Itulah yang ingin saya jajal bersama kalian berdua.”

Kiai Sambartaka mengembuskan udara agak lama.

“Kenapa bukan Manmathaba yang memperoleh pencerahan memainkan bersama? Bukankah justru ia yang membentuk Barisan Padatala? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan kata-kata, akan tetapi bisa dirasakan. Karena Manmathaba mendapat pencerahan yang lain, yaitu ilmu kulit kentang yang kebal. Kalau kita menukik ke dalam, mempelajari dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin kita bisa mengetahui caranya. Karena tingkat pencerahan hanya terjadi sekali secara tak bisa dimengerti. Sesudah itu semua bisa mengikuti. Setelah melihat Pangeran Anom dan Adik Tri memainkan bersama, semua yang mempelajari Kitab Air bisa ikut memainkan dengan cara itu.”

“Saya bisa menerima keterangan Kiai. Baiklah, kalau mau berlatih kita bisa mulai sekarang.”

Kiai Sambartaka mengangguk. “Melatih adalah gampang. Mengikuti apa yang tertulis. Akan tetapi kalau hati kita tidak bersatu dengan rasa dan pikiran, agak susah. Adik Tri tak akan mencapai hasil yang sempurna, kalau masih ada perasaan bahwa Pangeran Anom bukan air yang sama. Yang bisa menyatu tanpa perasaan apa-apa. Tetes air di laut, bisa bercampur begitu saja dengan tetes air pegunungan atau keringat. Semuanya air. Dan air itu satu. Rasanya saya tidak salah bicara…”

“Saya mengerti. Tetapi dalam batas tertentu, saya tak bisa menjalani.”

“Saya juga tidak berharap itu terjadi di depan mata saya. Akan tetapi kalau Adik Tri masih terbelenggu ganjalan-ganjalan tertentu, agak sulit bisa terbangun jalinan tetes air. Kecuali kalau Adik Tri mau menceritakan, dan kemudian Pangeran Anom bisa memahami. Air laut berbeda dari air gunung. Persatuan air laut dengan air gunung, berbeda dibandingkan persatuan antara air gunung dan air gunung. Akan tetapi karena mengetahui perbedaan, percampurannya juga menghasilkan yang berbeda. Namun di atas semua itu, menyatu. Air laut yang digabung dengan air gunung, bisa berkurang rasa asinnya. Akan tetapi begitu keduanya digabungkan, tak lagi bisa dipisahkan yang mana tadi air laut yang asin dan mana air gunung yang tawar. Kalau kondisi ini bisa diterima, kita sebenarnya sudah melangkah setengah jalan.”

Air Tak Bisa Ditandai
JANAKA RAJENDRA mengangguk, membenarkan. Gendhuk Tri mengikuti. Hanya bedanya ia menambahi,

“Kiai Sambartaka, katakan sejujurnya, apa yang membuat Kiai merasa sulit menangkap isi Kitab Air!”

Sejenak Kiai Sambartaka mengurut dagunya. “Sebenarnya tak ada. Kidungan lengkap, rinciannya jelas. Tak ada yang samar. Akan tetapi yang menjadi masalah ialah penyerapan hakikat. Saya bisa dengan mudah dan lancar menjelaskan sifat-sifat air, akan tetap saja tak bisa menangkap secara keseluruhan. Kemungkinan ilmu kebal yang dimainkan Manmathaba tetap saja tak terpikirkan sebelumnya, bahwa itu juga bersumber dari Kitab Air. Adik Tri punya gambaran yang lain?”

“Entahlah, Kiai. Tapi karena kita sudah bertekad saling jujur, saya akan menceritakan sesuatu. Kiai masih ingat tokoh dari negeri Tartar yang bernama Naga Nareswara? Kami berdua pernah terkurung dalam gua bawah tanah. Rasanya tak mungkin ada jalan keluar, karena jalan keluar tertimbun. Waktu itu saya berusaha sendiri, mengeduk terus menerus, mencari jalan keluar asal-asalan. Sampai hampir habis tenaga saya. Naga Nareswara yang tadinya melihat saja atau sama sekali tidak menggubris, lalu ikut membantu. Hingga akhirnya kami bisa menemukan jalan keluar, yang membawa kami ke Trowulan. Dalam perjalanan itu, saya bertanya mengapa Naga Nareswara tiba-tiba mau membantu saya, padahal sebelumnya hanya memandang sebelah mata. Ia menjawab, ‘Yu Gong yi shan.’ Belakangan baru ia bercerita bahwa dulu kala ada orang tua bernama Yu Gong yang berdiam di desa yang dikelilingi gunung. Yu Gong ingin membuat jalan menerobos gunung. Ia terus-menerus bekerja, membongkar batu gunung. Suatu kerja keras tanpa harapan. Tapi Dewa kemudian menolongnya dan gunung yang menghalangi kampungnya sekarang mudah dicapai orang lain, dan penduduk desa itu bisa dengan mudah bepergian ke tempat lain. Apa yang saya lakukan tak ubahnya Yu Gong yang memahat gunung.”

“Adik Tri ingin menyamakan usaha kita seperti itu?"

Gendhuk Tri menggeleng. Pandangan meneropong jauh. “Selama kami sama-sama terkurung dalam gua, saya banyak berlatih. Tidak jarang Naga Nareswara ikut berlatih, memberi petunjuk sedikit, bertanya banyak, dan manggut-manggut. Sekarang saya ingat kembali betapa ia sangat mengagumi ilmu Kitab Air yang dikenali dari sifat-sifatnya. Ia mengatakan bahwa ia tak gentar menghadapi jurus-jurus ilmu Kitab Bumi, namun akan berpikir dua kali kalau menghadapi orang yang mampu menguasai ilmu saya yang bahkan saat itu saya belum menyadari sumbernya dari sifat air. Saya kira ia hanya sekadar memuji. Tapi melihat sifatnya yang tinggi hati seperti Kiai-atau seperti setiap tokoh yang merasa tak tertandingi, saya jadi bertanya-tanya: Di mana hebatnya ilmu saya, dibandingkan dengan Kitab Bumi? Jawabannya, lagi-lagi membuat saya tak mengerti. Ia mengatakan, ‘Ke zhou iu jian.’"

Janaka Rajendra mengerutkan keningnya, akan tetapi Kiai Sambartaka mengangguk-angguk. “Apa yang dikatakan Naga Nareswara sangat tepat.”

“Apa artinya, Adik Tri?”

Kiai Sambartaka yang menjawab perlahan, “Artinya kira-kira, menandai perahu untuk mencari pedang. Dengan kata lain, susah mengenali sifat air. Semakin kita yakin, sebenarnya kita semakin keliru. Air yang kita kenal itu bukan ditandai dengan benda lain, melainkan dengan air itu sendiri. Kalau saya tidak salah, ada dongengan mengenai hal itu. Di zaman dulu, di Keraton Chu ada orang yang menyeberangi danau. Di tengah perjalanan, pedangnya terjatuh. Ia kemudian memberi tanda di perahunya, tempat di mana pedang itu jatuh. Ketika sampai ke tepi, ia mencari-cari persis di bawah tanda yang dibuat di perahu.”

Janaka Rajendra tersenyum geli. Akan tetapi Gendhuk Tri yang biasanya mengumbar tawa, malah tampak bersungguh-sungguh. Demikian juga Kiai Sambartaka.

“Kisah semacam ini banyak jumlahnya, banyak juga ragam dan artinya. Dengan sangat mudah kita mengatakan betapa tololnya orang yang kehilangan pedang itu. Mana mungkin dicari di pantai kalau jatuhnya di tengah. Akan tetapi sesungguhnya, kita sering melakukan kesalahan yang sama. Melakukan kekeliruan yang tidak kita sadari. Dalam kaitan dengan ilmu yang bersumber dari Kitab Air, kita semua merasa menguasai, akan tetapi ternyata yang kita kuasai belum yang sesungguhnya. Kemunculan ilmu kebal, pelipatgandaan tenaga, hanya salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang bisa digali dari tenaga dan sifat air. Benar yang dikatakan Raja Segala Naga itu. Ia akan berpikir dua kali kalau menghadapi pencipta atau yang menguasai sifat air. Karena titik tolaknya berbeda dari ilmu Kitab Bumi. Seperti orang yang kehilangan pedang. Kalau ia memakai patokan kejadian di darat, pedang itu akan ditemukan kembali. Akan tetapi ia tak bisa menyamakan sifat air dengan sifat bumi. Air tak bisa ditandai.”

JILID 15BUKU PERTAMAJILID 17