Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 09

Belasan kali Upasara melakukan dengan cepat sekali. “Ada…”

Upasara mengulurkan setagen Gayatri ke bawah lubang yang dibuatnya, dan dengan sekali sentak, setagen itu tertarik ke atas. Basah. Gayatri tertawa sambil menutupi bibirnya. Air dari sumbernya terasa segar.

“Terima kasih, Kakang…” Gayatri memeras untuk Upasara. Yang segera meminum dengan lahap. “Kalau begini caranya, kita bisa meloloskan diri lewat lubang bawah tanah.”

Upasara mengangguk. “Lewat pintu depan pun bisa.”

Rembulan Tak Bersisa
GAYATRI memegang tangan Upasara. Membersihkan tangannya yang kotor.

“Lewat mana pun bisa, Kakang. Tapi pertanyaannya, apakah kita mau keluar bersama atau tidak.”

“Ya,” jawab Upasara pendek seperti kehabisan kata-kata.

“Itulah kodrat. Itulah nasib kita. Tapi sekali lagi, Kakang, aku tak ingin menangis untuk selamanya. Biarlah malam ini saja, kita bisa berdua-dua. Hanya untuk kita berdua.”

Upasara mengikuti pandangan Gayatri yang menembus ke arah luar.

“Aku yakin sekali, di luar purnama bersinar sempurna. Selama masih ada sisa-sisa rembulan, selama itu kita masih bisa berdua di sini. Malam ini milik kita berdua. Atau Kakang ingin pergi sekarang?”

“Kalau Yayi menghendaki kita pergi bersama, sekarang ini pun kita bisa berangkat."

“Kakang, aku senang mendengar kata-kata Kakang. Lebih dari air yang diambil dari sumbernya, menyebabkan jiwaku segar kembali. Lebih baik kujawab tidak, walau aku merindukan. Karena aku tahu, Kakang akan repot dan dibebani perasaan bersalah kalau kita pergi sekarang ini. Pergi meninggalkan urusan Keraton, pergi meninggalkan semua urusan yang ada. Tidak, Kakang tak bisa mengabaikan semuanya. Seperti juga diriku. Kita telah dicencang kodrat dan nasib. Perlu keberanian dan waktu untuk mengalahkannya. Mungkin kita bisa mengalami, mungkin juga tidak. Tak apa, Kakang. Tak apa. Malam ini aku bahagia.”

Upasara tepekur. Semua kalimat Gayatri bergema jelas dalam hatinya. Upasara menyadari bahwa jika Gayatri mengajaknya pergi ke puncak gunung atau ke lembah dan hidup berdua seperti Pak Toikromo, dirinya tak sanggup menolak. Akan menerima dengan senang hati. Meskipun tetap ada kerisauan. Ada beban yang masih terbawa. Itu yang tak dikehendaki. Upasara mencium punggung tangan Gayatri.

“Di luar masih ada purnama, Kakang…”

“Ya, Yayi…”

“Selama itu pula Kakang menjadi milikku. Dan aku milik Kakang.”

“Ya, dan setiap kali ada purnama.”

“Tapi sekali ini purnama milik kita. Aku tak tahu, apakah setelah ini aku masih bisa melihat purnama lagi. Kehormatanku sebagai permaisuri, harga diriku sebagai wanita, telah rata dengan tanah. Tak ada yang tidak menyesali perbuatanku. Saudara-saudaraku, atau bahkan arwah Baginda Raja mungkin menyesali apa yang kulakukan sekarang ini. Barangkali saja, ini harga yang harus kutebus seumur hidup. Tapi aku tak pernah menyesali.”

“Yayi, apakah aku yang menyebabkan ini semua?”

“Kakang tak perlu menyesali. Sebab aku merasa bahagia.”

Air mata Gayatri menetes. Dalam gelap, Upasara tak bisa melihat. Tapi bisa merasakan. Perlahan tangannya mengusap sudut mata Gayatri. Dengan cepat Gayatri menggenggam tangan itu dan memegang erat-erat. Darah menggeliat. Udara menjadi padat. Napas tertarik ketat. Seakan susah menerobos lubang hidung. Sesaat. Gayatri melepaskan cekalannya. Darah Upasara mengendur kembali. Hawa panas di ujung hidungnya mendingin.

“Ah, aneh sekali. Tahu apa yang aku bayangkan, Kakang?”

Upasara menggeleng dalam gelap.

“Kalau saja malam ini kita berada di kamar peraduanku, kamar yang selalu ditata untuk menunggu kedatangan Kakang. Lalu kita bicara panjang-lebar. Tentang ilmu silat, tentang kidungan, tentang Keraton, hingga fajar yang berikutnya. Aneh sekali. Kenapa aku berpikir begitu? Apakah Kakang pernah membayangkan begitu?”

“Mestinya iya. Tapi aku tak tahu.”

“Kakang, apakah waktu kecil dulu kita pernah bertemu?”

“Mungkin saja, Yayi.”

“Kenapa Kakang selalu ragu menjawab iya atau tidak?”

“Sebab memang tidak tahu. Aku tak bisa mengingat. Tapi bukan tidak mungkin. Karena sejak bayi aku berada di Keraton. Yayi berada di Keraton. Dalam masa dua puluh tahun, besar kemungkinannya kita telah saling melihat.”

“Tapi kalau sudah, harusnya ingat.”

“Ya.”

“Kakang ingat?”

“Tidak.”

“Yayi ingat?”

“Tidak. Lalu kenapa kita bisa saling tergetar oleh daya asmara?”

“Kodrat.”

“Ah, Kakang! Sejak kapan Kakang bisa mengucap itu dengan enteng?”

“Aku tak mengerti jawaban yang sebenarnya."

“Aku juga tidak. Tapi apakah bukan karena kita dalam titisan sebelumnya adalah pasangan yang selalu bersama-sama? Pada titisan sebelumnya kita selalu bahagia? Hanya pada sekali ini tidak dipertemukan. Bukan Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang selalu berjodohan, pada suatu ketika menjadi kakak dan adik? Hanya satu kali. Kakang percaya hal itu?”

Upasara mendengar napas Gayatri yang teratur. Tanpa menyentuh, Upasara mengetahui bahwa Gayatri kini terbaring. Mungkin setengah tertidur. Kejadian yang berlangsung sejak siang sangat menegangkan dan melelahkan untuk seorang permaisuri. Kini dalam kegelapan, dalam amukan rasa yang mulai mereda, kelelahan yang pasrah merayapi dan menguasai. Hanya karena keinginan untuk bercakap-cakap yang besar, yang membuat Gayatri masih bisa bertahan.

“Kakang…”

“Aku di sini, Yayi…”

“Kakang jangan pergi selama masih ada bulan.”

“Kakang masih di sini.”

Tangan Gayatri memegang tangan Upasara. “Kurasakan dengus napas Kakang. Kurasakan tangan Kakang yang kasar. Berceritalah, Kakang, agar aku yakin Kakang masih terus menemani.”

“Cerita apa?”

“Apa saja. Aku tak mau tidur. Waktu hanya beberapa kejap. Sebentar lagi bulan lenyap. Berceritalah, Kakang…”

“Seumur hidup, rasanya aku tak pernah bercerita. Aneh, tak ada yang mendongengiku. Para emban yang menanak nasi juga tidak. Ngabehi Pandu, guruku yang mulia, juga tidak. Aku tak tahu indahnya rembulan, sebelum Yayi katakan. Aku tak pernah cemas rembulan bakal lenyap atau tidak, sampai saat ini. Tak ada yang bisa kuceritakan. Kujalani hidup, meluncur sebagaimana adanya. Mungkin Yayi benar sekali, aku bergerak, mencari-cari yang tak kuketahui. Sampai sekarang ini. Tiba-tiba timbul keinginanku bercerita, keinginanku menulis guritan, merasakan setiap tarikan napas mempercepat jalannya rembulan. Perasaan yang menjadi bermakna. Yayi…”

Upasara tidak melanjutkan lagi. Suara napas Gayatri makin lama makin teratur. Pegangannya mengendur. Tapi begitu Upasara berhenti, Gayatri bersuara lirih.

“Lalu, bagaimana lanjutannya, Kakang?”

Sisa Angin Pagebluk
UPASARA kembali menggenggam erat. “Istirahatlah, Yayi. Jangan memaksa diri.”

Gayatri membalas genggaman Upasara dengan keras. Tapi kemudian mengendur. Napasnya teratur. “Kakang, berbaringlah di sisiku! Sesekali tengoklah ke luar. Kalau-kalau bulan tak bersisa lagi. Itulah saat kita berpisah. Malam ini milik kita sepenuhnya. Kakang, kamu masih di sisiku?”

“Masih, Yayi.”

Suara Gayatri melemah. Seperti berbisik, terputus-putus. “Ah, inilah kebiasaan buruk di kaputren. Seumur hidup tak pernah melihat rembulan. Seumur hidup harus masuk ranjang peraduan, menutup mata bersama gelapnya malam. Padahal rembulan bisa indah sekali. Indah sekali. Sinarnya samar tapi terbaca. Getarnya samar tapi terasa. Bayangnya samar tapi tereja. Mataku mengantuk sekali. Mengantuk sekali.”

Dalam gelap Upasara merasakan makin lama wajah Gayatri makin mengendur. Seakan terseret oleh kekuatan yang tak bisa ditahan. Kelelahan yang tak bisa dilawan. “Yayi…”

“Hmmm…”

“Yayi tak apa-apa?”

“Tidak. Aku bisa merasakan semuanya, Kakang. Aku bisa mendengar, merasa, tapi rasanya mengantuk sekali. Tubuhku terasa melayang.”

Upasara hanya memperkirakan satu hal. Bahwa rasa kantuk yang menguasai Gayatri bukan kantuk sebagaimana biasanya. Reaksinya sesekali keras untuk menahan, akan tetapi beberapa kali mengendur. Membiarkan larut. Satu dan lain hal, Upasara menguatirkan pengaruh bubuk beracun! Kalau ini yang terjadi, Upasara akan melakukan apa saja. Saat ini juga pun bisa saja ia menggebrak ke luar.

“Yayi…”

“…Hmmmmm.”

Disusul suara yang tak begitu jelas. Upasara menunduk. Dengus napasnya dekat sekali dengan napas Gayatri. Terasakan udara panas dari lubang hidung Gayatri. Pernapasan yang wajar. Normal. Upasara berpikir keras. Bubuk beracun yang disebut bubuk pagebluk bukan hanya sangat luar biasa pengaruhnya, tetapi juga tak begitu dikenal.

Sebagai tokoh yang menguasai ilmu silat dan melatih dengan keras, Upasara sudah sampai pada tingkat mengetahui pengaruh segala macam racun. Walau belum mengenali jenis-jenisnya, akan tetapi bisa memperkirakan kekuatannya. Ketika Gendhuk Tri dikuasai darah beracun yang dahsyat, tanpa mengenali jenis racunnya, Upasara bisa memperkirakan bagaimana melawannya.

Akan tetapi sekali ini menjadi gamang. Napas Gayatri teratur, normal. Tidak menunjukkan kelainan. Juga peredaran darahnya. Akan tetapi seperti tak bisa menguasai diri. Jelas sekali ini berbeda keadaannya dari yang dialami Nyai Demang. Ketidakmampuan menguasai dirinya karena pengaruh tenaga lain. Dalam diri Gayatri jelas tak terasakan pengaruh lain sama sekali.

“Yayi…”

Erangan kecil sebagai jawaban.

“Yayi…”

“Kakang tahu, aku melakukan ini semua demi kamu, Kakang. Kakang-ku Upasara.”

Makin tak terbantah bahwa Gayatri turun kesadarannya. Seperti seorang yang mabuk. Kata-katanya meluncur begitu saja. Bukan tidak mungkin sejak pertama tadi, dengan berbicara tak keruan juntrungannya. Menanyakan ini dan itu, merangkul, mengelus bibir Upasara. Bahwa itu juga merupakan dorongan batinnya tak bisa ditolak. Akan tetapi bahwa keberanian untuk berbuat itu karena dorongan pengaruh bubuk beracun, sangat mungkin sekali.

Betapapun besar kerinduannya, Gayatri adalah putri Baginda Raja yang ketat oleh tata krama dan kemudian menjadi permaisuri, tak nanti berbuat begitu berani dan terbuka. Upasara bisa mengerti kalau Gayatri terkena pengaruh. Angin yang menyebarkan bubuk itu meluas. Meskipun sebelumnya ia telah menutup diri bukan tidak mungkin sepersekian isapan masuk ke dalam tubuh Gayatri.

Untuk seorang yang tidak pernah melatih tenaga dalam, bubuk yang sangat sedikit pun bisa mempengaruhi. Hanya karena dorongan untuk bersama Upasara demikian besar, sampai waktu tertentu Gayatri masih bisa memaksa menguasai dirinya. Meskipun makin lama makin lemah. Upasara benar-benar gegetun.

Benar-benar menyesali apa yang terjadi. Malam purnama Palguna yang dinikmati berdua, barangkali akan hilang separuhnya. Lebih daripada itu, Gayatri seperti tak bisa menikmati secara sempurna. Karena batas kesadarannya menipis. Sehingga tak bisa membedakan apakah ini mimpi atau kenyataan. Inilah yang membuat Upasara gegetun.

Di samping itu, kini perhatiannya terpecah. Kalau Gayatri yang bisa terlindungi nyaris sempurna menderita seperti ini, bagaimana halnya dengan Gendhuk Tri dan Singanada? Bagaimana nasib mereka? Apakah tidak mungkin justru sekarang ini saat-saat yang menentukan untuk menyelamatkan?

“Yayi…”

“Awasi bulan itu, Kakang! Jangan-jangan Dewi yang menjaga rembulan iri pada kita dan mempercepat jalannya. Awasi, Kakang!”

Upasara memandang ke arah luar. Telunjuknya menuding dan tenaga dalam yang disalurkan menggeser jendela. Tanpa suara.

“Awasi, Kakang…”

“Ya, Yayi…”

“Apa yang kelihatan?”

“Dupa dari sanggar pamujan.”

Lidah Upasara terjulur pendek. Selintas terbersit keinginan untuk masuk ke sanggar pamujan. Barangkali tak memerlukan waktu lama untuk bisa menerobos masuk. Dan memaksa Baginda memintakan obat penangkal bubuk beracun. Jalan yang singkat. Tapi Upasara ragu. Hati kecilnya tak ingin meninggalkan Gayatri barang sesaat. Kalau ia setengah tersadar dan mengetahui dirinya ditinggal, bisa jadi lain masalahnya. Penjaga akan mengetahuinya. Kalau ini terjadi, sisa rembulan yang bersinar dengan sendirinya habis.

“Aku melakukan semua ini demi Kakang…”

“Ya, Yayi.”

“Demi katresnan-ku pada Kakang…”

“Aku merasakan sepenuhnya, Yayi…”

“Tidak, Kakang tidak merasakan. Kakang malah menjadi ksatria tanpa tanding. Menjadi ksatria lelananging jagat. Apa kelebihannya, kalau itu hanya menempatkan Kakang menjadi ksatria yang tak bisa dilawan siapa pun juga? Kalau sudah menjadi yang paling menang, apa lagi yang Kakang cari? Tidak, Kakang tidak merasakan. Kakang malah menjadi pengantin tanpa tanding. Menjadi mempelai ratu yang paling ayu di seluruh kolong langit. Apa kelebihannya, kalau itu hanya menghapus katresnan Kakang padaku? Bukankah lebih baik Kakang berkawan dengan Nyai Demang atau Gendhuk Tri? Tidak, Kakang tidak merasakan. Kakang malah sengaja menghapus hubungan kita. Ratu Ayu Azeri Baijani adalah wanita yang sempurna kecantikannya, luhur budi, dan mempunyai kecintaan luar biasa pada tanah airnya. Aku tak bisa dibandingkan dengannya. Aku tak bisa ilmu silat, aku tak bisa membuktikan dharma bakti pada tanah kelahiran, aku tidak seayu dia. Tidak, Kakang tidak merasakan betapa hatiku menjadi sakit sekali.”

“Yayi Gayatri…”

“Air dari sumbernya itu sangat segar, Kakang. Awasi rembulan itu. Bukan dupa dari sanggar pamujan. Baginda sering menipu diri. Pura-pura membakar dupa, tapi sembunyi entah di mana…”

Asap Dupa Pamujan
UPASARA justru memandang ke asap dupa yang mengepul dari sanggar pamujan. Seperti para prajurit jaga yang lain, melirik secara diam-diam. Dan menemukan jawaban yang sama. Sejak tadi asap itu tak pernah bisa lurus. Selalu buyar. Padahal angin tak terasa meniup. Kebetulan atau tidak, kegelisahan itu juga melanda Baginda. Sejak pertama membakar dupa dan mencoba bersemadi, pemusatan pikirannya beberapa kali buyar kembali. Bukan keheningan yang dirasakan.

Melainkan justru gambaran-gambaran yang kian lama kian jelas, muncul berganti-ganti. Gambaran ketika dirinya masih bertelanjang dada, mengendarai kuda, dan memimpin langsung pertarungan yang menentukan. Bersama para senopati menggempur prajurit Singasari yang dipimpin Raja Muda Jayakatwang. Gagah, muda, bersemangat, seolah memancarkan cahaya.

Gambaran ketika menggempur mundur pasukan Tartar. Menyerang terus hingga mereka terbirit-birit ke arah laut. Sorak-sorai membahana. Mengelukan kemenangan. Disusul pesta pora yang panjang. Kemeriahan, kemenangan, kejayaan yang membanggakan hati. Sampai kemudian sabda-nya mengenai pengangkatan mahapatih yang menjadi pertentangan. Disusul gambaran munculnya Upasara Wulung yang berdiri lebih gagah, lebih bersemangat, dan lebih bercahaya.

Baginda berusaha membunuh bayangan Upasara. Berganti dengan kemenangan, kebahagiaan, dan saat-saat menikmati puncak kekuasaan. Saat begitu terpesona melihat putranya, Bagus Kala Gemet, yang tubuhnya bercahaya. Kulitnya lebih bersih dari semua pangeran dan bangsawan. Sejak kelahirannya, Baginda sudah jatuh hati. Apalagi Permaisuri Indreswari, putri sabrang yang jelita itu, bisa melayani hampir dalam segala hal.

“Akulah raja. Aku yang memutuskan semua.”

Bayangan yang muncul di depannya ialah wajahnya sendiri, saat masih bertelanjang dada, tanpa tanda-tanda kebesaran.

“Aku sekarang raja. Aku bukan Sanggrama Wijaya, ksatria berkuda tanpa mahkota.”

Bayangan di depannya seperti menuding langsung. Di belakangnya wajah Adipati Lawe, Senopati Sora, dan beberapa senopati yang telah gugur. Baginda menghentikan semadinya. Berdiri perlahan. Berjalan mondar-mandir. Kini pertanyaan-pertanyaan yang tadi mengganggu masih terus berlanjut.

“Aku tidak bersalah. Aku tidak melakukan kesalahan sedikit pun, karena aku adalah raja. Karena aku yang memerintah. Yang diberi kekuasaan oleh Dewa. Dewa yang menunjukku, memilihku. Kekuasaanku adalah kekuasaan Dewa. Dewa tak bisa salah, tak bisa keliru.”

Baginda berusaha duduk kembali. Membakar dupa. Merangkapkan tangan, menyembah. Matanya tertutup rapat, mencoba menemukan rang, keheningan yang sejati. Menyepi. Mengosong. Tapi baru dua tarikan napas, tampak kembali wajah Upasara Wulung yang menggendong permaisurinya, yang berjalan berdampingan, dengan kemesraan, di bawah sinar rembulan. Masuk ke pustaka raja, dan keduanya membaca Kidungan Para Raja, satu demi satu. Menembangkan kidungan itu.

Sampai kemudian permaisurinya tergeletak di bangku panjang. Tergeletak bagai mayat beku. Upasara masih menembangkan kidungan di sampingnya. Mendadak Baginda merasa terluka hatinya. Permaisurinya mati di samping Upasara tanpa dipedulikan. Dirinya hanya memandang saja. Kedua tangan Baginda turun dari sikap menyembah. Menghela napas. Membasuh wajahnya dengan telapak tangan. Lalu mulai bersemadi kembali.

Yang kembali terlihat adalah Upasara Wulung, sedang menggali kubur. Dengan kedua tangannya. Dengan gagah. Ketika akan dimasukkan ke dalam lubang, mayat Rajapatni bergerak-gerak terkena semburan air.

“Aku hidup lagi, Kakang.”

“Itulah air kehidupan.”

“Tapi aku ingin mati bersama Kakang.”

“Kita kubur diri kita sama-sama.”

Tanah kembali menutup. Mengubur keduanya. Baginda kembali berdiri. Berjalan bolak-balik di ruangan yang sempit. Ada beberapa tanda, ada beberapa isyarat yang berbunyi di hatinya yang dalam, akan tetapi tidak jelas. Tidak mudah ditangkap apa sebenarnya yang terjadi. Justru dalam keadaan berdiri, dalam keadaan berjalan bolak-balik, bayangan Indreswari yang muncul. Yang berlutut di depannya. Yang menciumi telapak kaki Baginda.

“Segala kenikmatan bagi Baginda yang mulia. Hamba tak bisa menyamai Maha Dewi, permaisuri Paduka yang selalu dipuji dalam melayani Paduka, akan tetapi hamba bersedia melakukan apa saja. Demi Baginda. Demi kenikmatan Baginda.”

Bagus Kala Gemet ikut merayap, menyembah. “Baginda, beristirahatlah dengan tenang. Sudah saatnya Baginda menikmati segala jerih perjuangan. Menikmati dan mensyukuri karunia Dewa Yang Maha agung. Karena Baginda telah membebaskan angkara murka. Telah menyapu bersih segala kejahatan dan kebatilan. Biarlah putramu ini yang memikul tanggung jawab. Istirahatlah, Baginda. Pujilah, Dewa.”

Asap telah lenyap. Dupa mati. Baginda berjongkok, meniup kembali. Gumpalan asap meliuk kembali, membentuk wajah Halayudha yang kelihatan sangat tua, terluka di semua tubuhnya. Jari-jarinya yang kutung, perutnya yang robek tertikam keris, dan kedua kakinya tak bisa digerakkan, sehingga ketika bergerak mendekat bagai ular yang menjijikkan. Baginda menyingkirkan dengan gerakan kaki yang keras. Menyentak. Mengenai wajah Halayudha.

“Kamu tak mungkin diampuni, Halayudha. Kamu terlalu lancang membaca Kidungan Para Raja. Dosamu tak bisa diampuni.”

“Kitab itu tak terbaca di kapustakan. Baginda tidak membaca. Anai-anai juga tak membaca.”

Baginda menyentak sekali lagi. Menendang keras. Hingga api pedupaan terguling. Seperti sadar kembali, Baginda mengumpulkan lagi. Dengan tangan telanjang. Dan berusaha meniup lagi. Agar bara yang sudah cerai-berai itu bisa memancarkan panas dan membakar dupa. Akan tetapi karena terlalu bernafsu, yang terjadi justru kobaran api. Baginda menghela napas. Keringatnya meleleh.

Kembali diusahakannya bersemadi. Mencari ning, mencoba larut dalam satu pemusatan pemikiran, dan lenyap bersamanya. Bayangan-bayangan yang datang dan pergi dibiarkan. Tak dilawan. Kosong. Hening. Ning. Perlahan, suara gemercik air terdengar. Entah dari mana. Alam di dalam pikirannya kosong. Luas bagai langit. Tanpa ujung. Kosong. Hanya mega. Yang minggir karenanya. Hening. Ning.

Tak ada siapa-siapa. Tak ada Indreswari, Rajapatni, Kala Gemet, Halayudha, Upasara. Tak ada siapa-siapa. Hanya awan. Abu-abu. Hening. Di luar, para prajurit secara bersamaan mengucapkan doa dalam hati, melihat asap lurus ke angkasa. Menuju langit.

Rerasan Dua Mahapatih
SEJAK Baginda meninggalkan halaman Keraton yang menjadi ajang pertarungan, Mahapatih Nambi yang merasa menderita kekalahan secara utuh. Sebagai mahapatih, ia telah mengecewakan Baginda yang memberi wewenang penuh. Sehingga Baginda menitahkan, barang siapa pun menangkap Upasara akan diangkat sebagai mahapatih. Nyatanya yang maju ke medan pertarungan seketika itu juga Senopati Halayudha.

Walaupun tidak berhasil menundukkan Upasara, Halayudha berhasil tampil dan memperlihatkan keunggulannya. Kemudian muncul Permaisuri Indreswari dan Putra Mahkota yang langsung memegang komando. Bersama para pendeta Syangka yang bergelar Barisan Padatala, mampu memorak-porandakan lawan. Termasuk prajurit Keraton sendiri. Dengan jatuhnya korban begitu banyak di kalangan prajurit Keraton, Mahapatih Nambi semakin yakin bahwa kepemimpinannya telah rontok.

Kabar bahwa Baginda menuju sanggar pamujan mempunyai makna simbolis yang dalam. Dalam pengertian Mahapatih Nambi, Baginda mencari wangsit, mencari petunjuk dari Dewa Yang Mahakuasa untuk mencari pengganti Mahapatih. Dalam keadaan pikiran terombang-ambing, Mahapatih Nambi mengunjungi Senopati Halayudha. Yang meskipun seakan bisa menebak jalan pikiran Mahapatih Nambi, berpura-pura terkejut.

“Angin kebahagiaan apa yang membawa keberuntungan bagi hamba, sehingga Mahapatih yang terhormat sudi menginjakkan kaki kemari?”

Tampak sekali Mahapatih letih wajahnya. Bahkan caranya bersila seakan mau meletakkan semua kelelahan batin yang diderita.

“Paman Halayudha, segalanya telah gamblang dan jelas. Tak ada yang perlu dirahasiakan lagi antara kita berdua. Mari kita buang tata krama yang menghambat. Saya ingin rerasan, ingin berbicara dari hati ke hati.”

Halayudha memerintahkan para prajurit segera menyingkir. Pintu ruangan dalam ditutup dari luar. Keduanya duduk berhadapan. Halayudha menunggu. Sambil menyembah.

“Tidakkah Mahapatih meminum seteguk air atau menikmati sirih dan…”

“Ada saat tersendiri, Paman. Saya datang kemari pertama, menghaturkan terima kasih yang dalam. Menghaturkan pujian yang tulus atas sikap Paman Halayudha yang gagah berani dalam pertarungan yang baru saja terjadi. Tanpa Paman Halayudha, entah bagaimana nasib para prajurit kita semua, termasuk saya…”

“Aduh, Mahapatih terlalu memuji hamba.”

“Perasaan saya yang sesungguhnya mengatakan begitu. Ketahuilah, Paman Halayudha, sejak peristiwa sore tadi, saya menyadari bahwa sesungguhnya pangkat dan derajat mahapatih yang saya sandang terlalu berat. Tubuh saya yang ringkih tak mampu memikul. Beban itu terlalu berat, kehormatan itu tidak pas untuk saya. Rasanya Paman Halayudha lebih pantas.”

Halayudha bercekat hatinya. Seumur-umur, jabatan mahapatih adalah yang menjadi incaran utama. Karena dengan begitu bisa menguasai Keraton. Langkah awal untuk melanjutkan ke langkah berikut yang lebih menentukan. Keinginan yang begitu keras dan diusahakan dengan berbagai cara sampai itu merasuki dan meracuni tubuhnya. Sampai ketika akhirnya membaca Kidungan Para Raja yang menyadarkan bahwa langkah tertinggi yang bisa diraih adalah menjadi mahapatih. Dan bukan takhta.

Krenteg atau ambisi yang selalu berkobar itu tak pernah hilang, meskipun ada pasang-surutnya. Maka tawaran Mahapatih Nambi sangat mengejutkan. Di balik otaknya, seketika itu tersusun beberapa kemungkinan. Kenapa Mahapatih Nambi justru mengatakan hal itu. Ada siasat apa yang terjadi? Apakah ini jebakan? Apakah justru bukan Putra Mahkota, yang kini memegang komando, yang menjalankan siasat tertentu?

“Paman Halayudha pasti terkejut. Sejak semula, saya sudah mengatakan saya datang untuk rerasan, untuk mengumbar perasaan. Hati kecil saya mengatakan Paman Halayudha lebih pantas menjadi mahapatih. Paman Halayudha lebih sakti, lebih tegas, dan mempunyai siasat yang jitu. Paman Halayudha pasti kaget. Karena saya tidak mempunyai hak untuk mengatakan itu. Pilihan utama untuk menentukan mahapatih semata-mata di tangan Baginda. Saya datang kemari untuk meminta pendapat Paman Halayudha. Mohon kiranya Paman sudi mengutarakan secara jujur.”

Halayudha menyembah perlahan.

“Selama ini saya mencurigai Paman. Lebih dari semua senopati yang ada. Lebih dari Senopati Agung sekalipun. Karena hanya Paman Halayudha yang mampu menggeser pangkat dan derajat saya. Paman sakti, punya siasat, dan dekat dengan Baginda, Putra Mahkota, ataupun Permaisuri Indreswari. Segala kemungkinan Paman miliki, segala kekuasaan bisa Paman jalankan.”

“Duh, Mahapatih yang perkasa, apakah hamba tidak salah dengar? Kaki hamba yang pincang menjadi saksi, bahwa hamba tak mampu berbuat apa-apa. Mahapatih Nambi seakan tidak menggubris kata-kata Halayudha. Selama ini saya mencurigai Paman. Sampai saat ini. Akan tetapi dari peristiwa yang baru saja terjadi, saya memperoleh keyakinan baru, bahwa Paman memang lebih pantas. Dan barangkali ketenteraman dan keamanan Keraton akan lebih baik. Kalau begitu, kenapa tidak itu saja yang dipilih Baginda? Bagi saya ini pencerahan. Hati saya tinarbuka. Saya menerima ini semua sebagai bagian sejarah yang ditulis Dewa dan digariskan lewat sabda Baginda. Saya mengatakan apa adanya, Paman. Saya tidak berhak apa-apa. Tetapi sebagai mahapatih, saya berhak memberikan bahan pertimbangan, seandainya Baginda menanyakan. Sekarang, saya minta kejujuran Paman Halayudha. Apakah Paman bersedia saya usulkan kepada Baginda?”

Halayudha meluruskan punggungnya. Pandangannya tajam. Suaranya memberat. “Adalah kehormatan yang besar hamba dipilih untuk diajak rerasan oleh Mahapatih Nambi yang terhormat. Seribu sembah dan pujian tak bisa menggambarkan rasa syukur hamba. Karena Mahapatih menganggap hamba pantas diajak rerasan secara pribadi, hamba akan mengutarakan sebagaimana adanya. Mohon Mahapatih tidak menganggap hamba terlalu lancang.”

“Katakan, Paman.”

Halayudha meremas tangannya. Wajahnya yang keras berubah menjadi dingin. “Hamba hanyalah prajurit. Jiwa-raga hamba adalah jiwa-raga abdi dalem. Tugas utama hamba hanyalah mengabdi. Ditempatkan di mana pun, hamba akan bersedia. Sejak perebutan takhta di Kediri atau pengusiran pasukan Tartar, hamba tak pernah menolak ditempatkan di barisan belakang. Ketika Baginda memegang tampuk kendali pemerintahan, hamba ditugaskan sebagai prajurit di dalam, dengan pangkat luhur senopati. Sejak itu pula, hamba menyadari bahwa pangkat yang hamba sandang terlalu besar, terlalu memancing perhatian di antara sesama senopati dan manggalaning praja, para pembesar Keraton. Termasuk sang Mahapatih. Ini semua beban yang tak bisa hamba terima. Tapi karena hamba prajurit, karena sifat pengabdian semata, hamba jalankan semua titah Baginda. Tak ada sedikit pun…”

“Maaf saya potong sebentar, Paman Halayudha. Kalau Baginda memilih Paman, berarti Paman akan menerima juga? Sebagai prajurit, sebagai abdi dalem?”

Ini pertanyaan yang rumit. Kalau Halayudha mengangguk, ia merasa seperti menyerahkan kepalanya bulat-bulat. Sebab jika pertanyaan ini merupakan jebakan yang membuat Mahapatih atau Putra Mahkota yang menyuruh mengetahui bahwa dirinya masih mempunyai niat menduduki jabatan tertinggi sesudah Raja, bisa berakibat fatal. Kalau menggeleng, berarti mengingkari kalimatnya terdahulu. Otak Halayudha bergerak cepat sekali. Mengatur rangkaian ke depan. Satu langkah yang diayun sekarang ini seharusnya bisa membaca sepuluh langkah yang akan datang.

“Bagaimana, Paman?”

Tata Krama Tugas
HALAYUDHA memandang Mahapatih Nambi. Lurus. Tak berkedip. “Barangkali Mahapatih keliru menanyakan hal itu kepada hamba.” Tangkisan pertanyaan yang jitu. Jawaban yang jika saja Mahapatih berusaha menjebak Halayudha, menggagalkan perangkap.

“Pertama, Mahapatih tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan. Dalam Kitab Tata Krama Tugas dan Wewenang Mahapatih, disebutkan bahwa kekuasaan dan wewenang mahapatih tak bisa dilimpahkan atau diwakilkan. Bila sang pengemban tugas dianggap tidak mampu menjalankan tugas, wewenang dan tugas kembali ke telapak kaki Baginda.”

Kali ini wajah Mahapatih yang berubah. Pucat.

“Kedua, Mahapatih bisa didakwa menghasut hamba. Atau setidaknya Mahapatih bisa didakwa ingin menanamkan pengaruh pada diri hamba, sehingga kelak kemudian hari meskipun Mahapatih Nambi tidak memegang jabatan dan kehormatan, masih bisa menyalurkan kepentingannya melalui hamba. Yang dalam hal ini naik derajat karena budi Mahapatih. Maaf, Mahapatih, hamba tidak menuduh seperti itu. Karena hamba percaya sampai rumangsuk dalam hati, Mahapatih sedikit pun tiada mempunyai niatan seperti itu. Bahwa ini semua karena Mahapatih Nambi ingin melaksanakan tugas sebaik-baiknya, seperti juga kepercayaan Baginda yang dilimpahkan selama ini. Hamba yakin, seyakin-yakinnya, Baginda pasti akan menanyai Mahapatih, akan meminta pertimbangan lepas didengar atau tidak. Akan tetapi situasinya sekarang ini berbeda.”

Halayudha menahan kata-katanya. Wajahnya menunduk. Kemampuannya mengubah wajah dan memberi tekanan pada nada suara untuk menggambarkan perasaan seperti yang ditonjolkan, selama ini mampu mengelabui orang lain. Halayudha percaya sekarang ini pun demikian juga. Yang sedikit di luar perhitungan yang paling menggembirakan sekalipun, ialah bahwa Mahapatih Nambi memerlukan datang kepadanya untuk meminta pertimbangan!

Dulunya, ia harus merayap ke sana-kemari untuk bisa didengar usulannya! Sekarang yang memegang kunci pembicaraan adalah dirinya. Betapa mudah mengarahkan. Ini yang di luar dugaannya. Kalaupun bisa begitu, tak secepat ini waktunya. Sekarang Halayudha bisa menekan Mahapatih Nambi, tanpa perlu menjabat secara langsung. Kalau saja ini terjadi pertengahan tahun lalu, Halayudha akan mengambil putusan cepat. Akan tetapi justru sekarang ini Halayudha sedikit berhati-hati. Karena kini medan pertarungan kekuasaan sudah berbeda perimbangan kekuatannya.

“Seberapa jauh bedanya, Paman?”

“Mahapatih lebih mengetahui dari hamba.”

“Pandangan Paman benar, dari segi yang wadak. Yang nampak di permukaan. Akan tetapi, dari segi lain Paman bisa melihat lebih luas.”

“Beberapa kali Mahapatih memuji hamba secara berlebihan.”

“Katakan, Paman. Aku ingin mengetahui. Apakah dengan munculnya Putra Mahkota akan mengubah seluruh kebijaksanaan Keraton?”

Halayudha menyembah. “Hamba berani mengatakan demikian adanya. Akan tetapi sebelum lebih jauh, hamba ingin menghaturkan sesuatu agar Mahapatih tidak keliru memilih. Hamba sangat tidak pantas memegang jabatan dan derajat sebagai mahapatih. Bahkan sebagai senopati pun tidak. Juga di saat Baginda masih memegang kekuasaan secara langsung. Bukan karena badan hamba penuh dengan cacat mulai dari jari, perut, dan kaki. Bukan karena hamba suka kasak-kusuk. Tetapi ada satu noda yang tak pernah akan diampuni oleh Baginda. Hamba ikut membaca Kidungan Para Raja. Baginda masih welas asih, masih berbelas kasihan, tidak membunuh saat itu juga. Tapi kalau Putra Mahkota yang memakai takhta dan menduduki kursi emas, barangkali perhitungannya bisa lain. Maaf, Mahapatih… Hamba tidak memperburuk angin timur. Akan tetapi segala sesuatunya masih serba samar sekarang ini.”

“Justru pertimbangan itulah yang ingin kudengar. Katakan, Paman.”

“Semua sudah hamba haturkan, Mahapatih.”

“Apakah dengan kata lain Paman ingin mengatakan, bahwa kemahapatihan saya pun bisa dicopot begitu saja oleh Putra Mahkota tanpa perlu Baginda sendiri yang bersabda?”

JILID 08BUKU PERTAMAJILID 10

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 09

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 09

Belasan kali Upasara melakukan dengan cepat sekali. “Ada…”

Upasara mengulurkan setagen Gayatri ke bawah lubang yang dibuatnya, dan dengan sekali sentak, setagen itu tertarik ke atas. Basah. Gayatri tertawa sambil menutupi bibirnya. Air dari sumbernya terasa segar.

“Terima kasih, Kakang…” Gayatri memeras untuk Upasara. Yang segera meminum dengan lahap. “Kalau begini caranya, kita bisa meloloskan diri lewat lubang bawah tanah.”

Upasara mengangguk. “Lewat pintu depan pun bisa.”

Rembulan Tak Bersisa
GAYATRI memegang tangan Upasara. Membersihkan tangannya yang kotor.

“Lewat mana pun bisa, Kakang. Tapi pertanyaannya, apakah kita mau keluar bersama atau tidak.”

“Ya,” jawab Upasara pendek seperti kehabisan kata-kata.

“Itulah kodrat. Itulah nasib kita. Tapi sekali lagi, Kakang, aku tak ingin menangis untuk selamanya. Biarlah malam ini saja, kita bisa berdua-dua. Hanya untuk kita berdua.”

Upasara mengikuti pandangan Gayatri yang menembus ke arah luar.

“Aku yakin sekali, di luar purnama bersinar sempurna. Selama masih ada sisa-sisa rembulan, selama itu kita masih bisa berdua di sini. Malam ini milik kita berdua. Atau Kakang ingin pergi sekarang?”

“Kalau Yayi menghendaki kita pergi bersama, sekarang ini pun kita bisa berangkat."

“Kakang, aku senang mendengar kata-kata Kakang. Lebih dari air yang diambil dari sumbernya, menyebabkan jiwaku segar kembali. Lebih baik kujawab tidak, walau aku merindukan. Karena aku tahu, Kakang akan repot dan dibebani perasaan bersalah kalau kita pergi sekarang ini. Pergi meninggalkan urusan Keraton, pergi meninggalkan semua urusan yang ada. Tidak, Kakang tak bisa mengabaikan semuanya. Seperti juga diriku. Kita telah dicencang kodrat dan nasib. Perlu keberanian dan waktu untuk mengalahkannya. Mungkin kita bisa mengalami, mungkin juga tidak. Tak apa, Kakang. Tak apa. Malam ini aku bahagia.”

Upasara tepekur. Semua kalimat Gayatri bergema jelas dalam hatinya. Upasara menyadari bahwa jika Gayatri mengajaknya pergi ke puncak gunung atau ke lembah dan hidup berdua seperti Pak Toikromo, dirinya tak sanggup menolak. Akan menerima dengan senang hati. Meskipun tetap ada kerisauan. Ada beban yang masih terbawa. Itu yang tak dikehendaki. Upasara mencium punggung tangan Gayatri.

“Di luar masih ada purnama, Kakang…”

“Ya, Yayi…”

“Selama itu pula Kakang menjadi milikku. Dan aku milik Kakang.”

“Ya, dan setiap kali ada purnama.”

“Tapi sekali ini purnama milik kita. Aku tak tahu, apakah setelah ini aku masih bisa melihat purnama lagi. Kehormatanku sebagai permaisuri, harga diriku sebagai wanita, telah rata dengan tanah. Tak ada yang tidak menyesali perbuatanku. Saudara-saudaraku, atau bahkan arwah Baginda Raja mungkin menyesali apa yang kulakukan sekarang ini. Barangkali saja, ini harga yang harus kutebus seumur hidup. Tapi aku tak pernah menyesali.”

“Yayi, apakah aku yang menyebabkan ini semua?”

“Kakang tak perlu menyesali. Sebab aku merasa bahagia.”

Air mata Gayatri menetes. Dalam gelap, Upasara tak bisa melihat. Tapi bisa merasakan. Perlahan tangannya mengusap sudut mata Gayatri. Dengan cepat Gayatri menggenggam tangan itu dan memegang erat-erat. Darah menggeliat. Udara menjadi padat. Napas tertarik ketat. Seakan susah menerobos lubang hidung. Sesaat. Gayatri melepaskan cekalannya. Darah Upasara mengendur kembali. Hawa panas di ujung hidungnya mendingin.

“Ah, aneh sekali. Tahu apa yang aku bayangkan, Kakang?”

Upasara menggeleng dalam gelap.

“Kalau saja malam ini kita berada di kamar peraduanku, kamar yang selalu ditata untuk menunggu kedatangan Kakang. Lalu kita bicara panjang-lebar. Tentang ilmu silat, tentang kidungan, tentang Keraton, hingga fajar yang berikutnya. Aneh sekali. Kenapa aku berpikir begitu? Apakah Kakang pernah membayangkan begitu?”

“Mestinya iya. Tapi aku tak tahu.”

“Kakang, apakah waktu kecil dulu kita pernah bertemu?”

“Mungkin saja, Yayi.”

“Kenapa Kakang selalu ragu menjawab iya atau tidak?”

“Sebab memang tidak tahu. Aku tak bisa mengingat. Tapi bukan tidak mungkin. Karena sejak bayi aku berada di Keraton. Yayi berada di Keraton. Dalam masa dua puluh tahun, besar kemungkinannya kita telah saling melihat.”

“Tapi kalau sudah, harusnya ingat.”

“Ya.”

“Kakang ingat?”

“Tidak.”

“Yayi ingat?”

“Tidak. Lalu kenapa kita bisa saling tergetar oleh daya asmara?”

“Kodrat.”

“Ah, Kakang! Sejak kapan Kakang bisa mengucap itu dengan enteng?”

“Aku tak mengerti jawaban yang sebenarnya."

“Aku juga tidak. Tapi apakah bukan karena kita dalam titisan sebelumnya adalah pasangan yang selalu bersama-sama? Pada titisan sebelumnya kita selalu bahagia? Hanya pada sekali ini tidak dipertemukan. Bukan Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang selalu berjodohan, pada suatu ketika menjadi kakak dan adik? Hanya satu kali. Kakang percaya hal itu?”

Upasara mendengar napas Gayatri yang teratur. Tanpa menyentuh, Upasara mengetahui bahwa Gayatri kini terbaring. Mungkin setengah tertidur. Kejadian yang berlangsung sejak siang sangat menegangkan dan melelahkan untuk seorang permaisuri. Kini dalam kegelapan, dalam amukan rasa yang mulai mereda, kelelahan yang pasrah merayapi dan menguasai. Hanya karena keinginan untuk bercakap-cakap yang besar, yang membuat Gayatri masih bisa bertahan.

“Kakang…”

“Aku di sini, Yayi…”

“Kakang jangan pergi selama masih ada bulan.”

“Kakang masih di sini.”

Tangan Gayatri memegang tangan Upasara. “Kurasakan dengus napas Kakang. Kurasakan tangan Kakang yang kasar. Berceritalah, Kakang, agar aku yakin Kakang masih terus menemani.”

“Cerita apa?”

“Apa saja. Aku tak mau tidur. Waktu hanya beberapa kejap. Sebentar lagi bulan lenyap. Berceritalah, Kakang…”

“Seumur hidup, rasanya aku tak pernah bercerita. Aneh, tak ada yang mendongengiku. Para emban yang menanak nasi juga tidak. Ngabehi Pandu, guruku yang mulia, juga tidak. Aku tak tahu indahnya rembulan, sebelum Yayi katakan. Aku tak pernah cemas rembulan bakal lenyap atau tidak, sampai saat ini. Tak ada yang bisa kuceritakan. Kujalani hidup, meluncur sebagaimana adanya. Mungkin Yayi benar sekali, aku bergerak, mencari-cari yang tak kuketahui. Sampai sekarang ini. Tiba-tiba timbul keinginanku bercerita, keinginanku menulis guritan, merasakan setiap tarikan napas mempercepat jalannya rembulan. Perasaan yang menjadi bermakna. Yayi…”

Upasara tidak melanjutkan lagi. Suara napas Gayatri makin lama makin teratur. Pegangannya mengendur. Tapi begitu Upasara berhenti, Gayatri bersuara lirih.

“Lalu, bagaimana lanjutannya, Kakang?”

Sisa Angin Pagebluk
UPASARA kembali menggenggam erat. “Istirahatlah, Yayi. Jangan memaksa diri.”

Gayatri membalas genggaman Upasara dengan keras. Tapi kemudian mengendur. Napasnya teratur. “Kakang, berbaringlah di sisiku! Sesekali tengoklah ke luar. Kalau-kalau bulan tak bersisa lagi. Itulah saat kita berpisah. Malam ini milik kita sepenuhnya. Kakang, kamu masih di sisiku?”

“Masih, Yayi.”

Suara Gayatri melemah. Seperti berbisik, terputus-putus. “Ah, inilah kebiasaan buruk di kaputren. Seumur hidup tak pernah melihat rembulan. Seumur hidup harus masuk ranjang peraduan, menutup mata bersama gelapnya malam. Padahal rembulan bisa indah sekali. Indah sekali. Sinarnya samar tapi terbaca. Getarnya samar tapi terasa. Bayangnya samar tapi tereja. Mataku mengantuk sekali. Mengantuk sekali.”

Dalam gelap Upasara merasakan makin lama wajah Gayatri makin mengendur. Seakan terseret oleh kekuatan yang tak bisa ditahan. Kelelahan yang tak bisa dilawan. “Yayi…”

“Hmmm…”

“Yayi tak apa-apa?”

“Tidak. Aku bisa merasakan semuanya, Kakang. Aku bisa mendengar, merasa, tapi rasanya mengantuk sekali. Tubuhku terasa melayang.”

Upasara hanya memperkirakan satu hal. Bahwa rasa kantuk yang menguasai Gayatri bukan kantuk sebagaimana biasanya. Reaksinya sesekali keras untuk menahan, akan tetapi beberapa kali mengendur. Membiarkan larut. Satu dan lain hal, Upasara menguatirkan pengaruh bubuk beracun! Kalau ini yang terjadi, Upasara akan melakukan apa saja. Saat ini juga pun bisa saja ia menggebrak ke luar.

“Yayi…”

“…Hmmmmm.”

Disusul suara yang tak begitu jelas. Upasara menunduk. Dengus napasnya dekat sekali dengan napas Gayatri. Terasakan udara panas dari lubang hidung Gayatri. Pernapasan yang wajar. Normal. Upasara berpikir keras. Bubuk beracun yang disebut bubuk pagebluk bukan hanya sangat luar biasa pengaruhnya, tetapi juga tak begitu dikenal.

Sebagai tokoh yang menguasai ilmu silat dan melatih dengan keras, Upasara sudah sampai pada tingkat mengetahui pengaruh segala macam racun. Walau belum mengenali jenis-jenisnya, akan tetapi bisa memperkirakan kekuatannya. Ketika Gendhuk Tri dikuasai darah beracun yang dahsyat, tanpa mengenali jenis racunnya, Upasara bisa memperkirakan bagaimana melawannya.

Akan tetapi sekali ini menjadi gamang. Napas Gayatri teratur, normal. Tidak menunjukkan kelainan. Juga peredaran darahnya. Akan tetapi seperti tak bisa menguasai diri. Jelas sekali ini berbeda keadaannya dari yang dialami Nyai Demang. Ketidakmampuan menguasai dirinya karena pengaruh tenaga lain. Dalam diri Gayatri jelas tak terasakan pengaruh lain sama sekali.

“Yayi…”

Erangan kecil sebagai jawaban.

“Yayi…”

“Kakang tahu, aku melakukan ini semua demi kamu, Kakang. Kakang-ku Upasara.”

Makin tak terbantah bahwa Gayatri turun kesadarannya. Seperti seorang yang mabuk. Kata-katanya meluncur begitu saja. Bukan tidak mungkin sejak pertama tadi, dengan berbicara tak keruan juntrungannya. Menanyakan ini dan itu, merangkul, mengelus bibir Upasara. Bahwa itu juga merupakan dorongan batinnya tak bisa ditolak. Akan tetapi bahwa keberanian untuk berbuat itu karena dorongan pengaruh bubuk beracun, sangat mungkin sekali.

Betapapun besar kerinduannya, Gayatri adalah putri Baginda Raja yang ketat oleh tata krama dan kemudian menjadi permaisuri, tak nanti berbuat begitu berani dan terbuka. Upasara bisa mengerti kalau Gayatri terkena pengaruh. Angin yang menyebarkan bubuk itu meluas. Meskipun sebelumnya ia telah menutup diri bukan tidak mungkin sepersekian isapan masuk ke dalam tubuh Gayatri.

Untuk seorang yang tidak pernah melatih tenaga dalam, bubuk yang sangat sedikit pun bisa mempengaruhi. Hanya karena dorongan untuk bersama Upasara demikian besar, sampai waktu tertentu Gayatri masih bisa memaksa menguasai dirinya. Meskipun makin lama makin lemah. Upasara benar-benar gegetun.

Benar-benar menyesali apa yang terjadi. Malam purnama Palguna yang dinikmati berdua, barangkali akan hilang separuhnya. Lebih daripada itu, Gayatri seperti tak bisa menikmati secara sempurna. Karena batas kesadarannya menipis. Sehingga tak bisa membedakan apakah ini mimpi atau kenyataan. Inilah yang membuat Upasara gegetun.

Di samping itu, kini perhatiannya terpecah. Kalau Gayatri yang bisa terlindungi nyaris sempurna menderita seperti ini, bagaimana halnya dengan Gendhuk Tri dan Singanada? Bagaimana nasib mereka? Apakah tidak mungkin justru sekarang ini saat-saat yang menentukan untuk menyelamatkan?

“Yayi…”

“Awasi bulan itu, Kakang! Jangan-jangan Dewi yang menjaga rembulan iri pada kita dan mempercepat jalannya. Awasi, Kakang!”

Upasara memandang ke arah luar. Telunjuknya menuding dan tenaga dalam yang disalurkan menggeser jendela. Tanpa suara.

“Awasi, Kakang…”

“Ya, Yayi…”

“Apa yang kelihatan?”

“Dupa dari sanggar pamujan.”

Lidah Upasara terjulur pendek. Selintas terbersit keinginan untuk masuk ke sanggar pamujan. Barangkali tak memerlukan waktu lama untuk bisa menerobos masuk. Dan memaksa Baginda memintakan obat penangkal bubuk beracun. Jalan yang singkat. Tapi Upasara ragu. Hati kecilnya tak ingin meninggalkan Gayatri barang sesaat. Kalau ia setengah tersadar dan mengetahui dirinya ditinggal, bisa jadi lain masalahnya. Penjaga akan mengetahuinya. Kalau ini terjadi, sisa rembulan yang bersinar dengan sendirinya habis.

“Aku melakukan semua ini demi Kakang…”

“Ya, Yayi.”

“Demi katresnan-ku pada Kakang…”

“Aku merasakan sepenuhnya, Yayi…”

“Tidak, Kakang tidak merasakan. Kakang malah menjadi ksatria tanpa tanding. Menjadi ksatria lelananging jagat. Apa kelebihannya, kalau itu hanya menempatkan Kakang menjadi ksatria yang tak bisa dilawan siapa pun juga? Kalau sudah menjadi yang paling menang, apa lagi yang Kakang cari? Tidak, Kakang tidak merasakan. Kakang malah menjadi pengantin tanpa tanding. Menjadi mempelai ratu yang paling ayu di seluruh kolong langit. Apa kelebihannya, kalau itu hanya menghapus katresnan Kakang padaku? Bukankah lebih baik Kakang berkawan dengan Nyai Demang atau Gendhuk Tri? Tidak, Kakang tidak merasakan. Kakang malah sengaja menghapus hubungan kita. Ratu Ayu Azeri Baijani adalah wanita yang sempurna kecantikannya, luhur budi, dan mempunyai kecintaan luar biasa pada tanah airnya. Aku tak bisa dibandingkan dengannya. Aku tak bisa ilmu silat, aku tak bisa membuktikan dharma bakti pada tanah kelahiran, aku tidak seayu dia. Tidak, Kakang tidak merasakan betapa hatiku menjadi sakit sekali.”

“Yayi Gayatri…”

“Air dari sumbernya itu sangat segar, Kakang. Awasi rembulan itu. Bukan dupa dari sanggar pamujan. Baginda sering menipu diri. Pura-pura membakar dupa, tapi sembunyi entah di mana…”

Asap Dupa Pamujan
UPASARA justru memandang ke asap dupa yang mengepul dari sanggar pamujan. Seperti para prajurit jaga yang lain, melirik secara diam-diam. Dan menemukan jawaban yang sama. Sejak tadi asap itu tak pernah bisa lurus. Selalu buyar. Padahal angin tak terasa meniup. Kebetulan atau tidak, kegelisahan itu juga melanda Baginda. Sejak pertama membakar dupa dan mencoba bersemadi, pemusatan pikirannya beberapa kali buyar kembali. Bukan keheningan yang dirasakan.

Melainkan justru gambaran-gambaran yang kian lama kian jelas, muncul berganti-ganti. Gambaran ketika dirinya masih bertelanjang dada, mengendarai kuda, dan memimpin langsung pertarungan yang menentukan. Bersama para senopati menggempur prajurit Singasari yang dipimpin Raja Muda Jayakatwang. Gagah, muda, bersemangat, seolah memancarkan cahaya.

Gambaran ketika menggempur mundur pasukan Tartar. Menyerang terus hingga mereka terbirit-birit ke arah laut. Sorak-sorai membahana. Mengelukan kemenangan. Disusul pesta pora yang panjang. Kemeriahan, kemenangan, kejayaan yang membanggakan hati. Sampai kemudian sabda-nya mengenai pengangkatan mahapatih yang menjadi pertentangan. Disusul gambaran munculnya Upasara Wulung yang berdiri lebih gagah, lebih bersemangat, dan lebih bercahaya.

Baginda berusaha membunuh bayangan Upasara. Berganti dengan kemenangan, kebahagiaan, dan saat-saat menikmati puncak kekuasaan. Saat begitu terpesona melihat putranya, Bagus Kala Gemet, yang tubuhnya bercahaya. Kulitnya lebih bersih dari semua pangeran dan bangsawan. Sejak kelahirannya, Baginda sudah jatuh hati. Apalagi Permaisuri Indreswari, putri sabrang yang jelita itu, bisa melayani hampir dalam segala hal.

“Akulah raja. Aku yang memutuskan semua.”

Bayangan yang muncul di depannya ialah wajahnya sendiri, saat masih bertelanjang dada, tanpa tanda-tanda kebesaran.

“Aku sekarang raja. Aku bukan Sanggrama Wijaya, ksatria berkuda tanpa mahkota.”

Bayangan di depannya seperti menuding langsung. Di belakangnya wajah Adipati Lawe, Senopati Sora, dan beberapa senopati yang telah gugur. Baginda menghentikan semadinya. Berdiri perlahan. Berjalan mondar-mandir. Kini pertanyaan-pertanyaan yang tadi mengganggu masih terus berlanjut.

“Aku tidak bersalah. Aku tidak melakukan kesalahan sedikit pun, karena aku adalah raja. Karena aku yang memerintah. Yang diberi kekuasaan oleh Dewa. Dewa yang menunjukku, memilihku. Kekuasaanku adalah kekuasaan Dewa. Dewa tak bisa salah, tak bisa keliru.”

Baginda berusaha duduk kembali. Membakar dupa. Merangkapkan tangan, menyembah. Matanya tertutup rapat, mencoba menemukan rang, keheningan yang sejati. Menyepi. Mengosong. Tapi baru dua tarikan napas, tampak kembali wajah Upasara Wulung yang menggendong permaisurinya, yang berjalan berdampingan, dengan kemesraan, di bawah sinar rembulan. Masuk ke pustaka raja, dan keduanya membaca Kidungan Para Raja, satu demi satu. Menembangkan kidungan itu.

Sampai kemudian permaisurinya tergeletak di bangku panjang. Tergeletak bagai mayat beku. Upasara masih menembangkan kidungan di sampingnya. Mendadak Baginda merasa terluka hatinya. Permaisurinya mati di samping Upasara tanpa dipedulikan. Dirinya hanya memandang saja. Kedua tangan Baginda turun dari sikap menyembah. Menghela napas. Membasuh wajahnya dengan telapak tangan. Lalu mulai bersemadi kembali.

Yang kembali terlihat adalah Upasara Wulung, sedang menggali kubur. Dengan kedua tangannya. Dengan gagah. Ketika akan dimasukkan ke dalam lubang, mayat Rajapatni bergerak-gerak terkena semburan air.

“Aku hidup lagi, Kakang.”

“Itulah air kehidupan.”

“Tapi aku ingin mati bersama Kakang.”

“Kita kubur diri kita sama-sama.”

Tanah kembali menutup. Mengubur keduanya. Baginda kembali berdiri. Berjalan bolak-balik di ruangan yang sempit. Ada beberapa tanda, ada beberapa isyarat yang berbunyi di hatinya yang dalam, akan tetapi tidak jelas. Tidak mudah ditangkap apa sebenarnya yang terjadi. Justru dalam keadaan berdiri, dalam keadaan berjalan bolak-balik, bayangan Indreswari yang muncul. Yang berlutut di depannya. Yang menciumi telapak kaki Baginda.

“Segala kenikmatan bagi Baginda yang mulia. Hamba tak bisa menyamai Maha Dewi, permaisuri Paduka yang selalu dipuji dalam melayani Paduka, akan tetapi hamba bersedia melakukan apa saja. Demi Baginda. Demi kenikmatan Baginda.”

Bagus Kala Gemet ikut merayap, menyembah. “Baginda, beristirahatlah dengan tenang. Sudah saatnya Baginda menikmati segala jerih perjuangan. Menikmati dan mensyukuri karunia Dewa Yang Maha agung. Karena Baginda telah membebaskan angkara murka. Telah menyapu bersih segala kejahatan dan kebatilan. Biarlah putramu ini yang memikul tanggung jawab. Istirahatlah, Baginda. Pujilah, Dewa.”

Asap telah lenyap. Dupa mati. Baginda berjongkok, meniup kembali. Gumpalan asap meliuk kembali, membentuk wajah Halayudha yang kelihatan sangat tua, terluka di semua tubuhnya. Jari-jarinya yang kutung, perutnya yang robek tertikam keris, dan kedua kakinya tak bisa digerakkan, sehingga ketika bergerak mendekat bagai ular yang menjijikkan. Baginda menyingkirkan dengan gerakan kaki yang keras. Menyentak. Mengenai wajah Halayudha.

“Kamu tak mungkin diampuni, Halayudha. Kamu terlalu lancang membaca Kidungan Para Raja. Dosamu tak bisa diampuni.”

“Kitab itu tak terbaca di kapustakan. Baginda tidak membaca. Anai-anai juga tak membaca.”

Baginda menyentak sekali lagi. Menendang keras. Hingga api pedupaan terguling. Seperti sadar kembali, Baginda mengumpulkan lagi. Dengan tangan telanjang. Dan berusaha meniup lagi. Agar bara yang sudah cerai-berai itu bisa memancarkan panas dan membakar dupa. Akan tetapi karena terlalu bernafsu, yang terjadi justru kobaran api. Baginda menghela napas. Keringatnya meleleh.

Kembali diusahakannya bersemadi. Mencari ning, mencoba larut dalam satu pemusatan pemikiran, dan lenyap bersamanya. Bayangan-bayangan yang datang dan pergi dibiarkan. Tak dilawan. Kosong. Hening. Ning. Perlahan, suara gemercik air terdengar. Entah dari mana. Alam di dalam pikirannya kosong. Luas bagai langit. Tanpa ujung. Kosong. Hanya mega. Yang minggir karenanya. Hening. Ning.

Tak ada siapa-siapa. Tak ada Indreswari, Rajapatni, Kala Gemet, Halayudha, Upasara. Tak ada siapa-siapa. Hanya awan. Abu-abu. Hening. Di luar, para prajurit secara bersamaan mengucapkan doa dalam hati, melihat asap lurus ke angkasa. Menuju langit.

Rerasan Dua Mahapatih
SEJAK Baginda meninggalkan halaman Keraton yang menjadi ajang pertarungan, Mahapatih Nambi yang merasa menderita kekalahan secara utuh. Sebagai mahapatih, ia telah mengecewakan Baginda yang memberi wewenang penuh. Sehingga Baginda menitahkan, barang siapa pun menangkap Upasara akan diangkat sebagai mahapatih. Nyatanya yang maju ke medan pertarungan seketika itu juga Senopati Halayudha.

Walaupun tidak berhasil menundukkan Upasara, Halayudha berhasil tampil dan memperlihatkan keunggulannya. Kemudian muncul Permaisuri Indreswari dan Putra Mahkota yang langsung memegang komando. Bersama para pendeta Syangka yang bergelar Barisan Padatala, mampu memorak-porandakan lawan. Termasuk prajurit Keraton sendiri. Dengan jatuhnya korban begitu banyak di kalangan prajurit Keraton, Mahapatih Nambi semakin yakin bahwa kepemimpinannya telah rontok.

Kabar bahwa Baginda menuju sanggar pamujan mempunyai makna simbolis yang dalam. Dalam pengertian Mahapatih Nambi, Baginda mencari wangsit, mencari petunjuk dari Dewa Yang Mahakuasa untuk mencari pengganti Mahapatih. Dalam keadaan pikiran terombang-ambing, Mahapatih Nambi mengunjungi Senopati Halayudha. Yang meskipun seakan bisa menebak jalan pikiran Mahapatih Nambi, berpura-pura terkejut.

“Angin kebahagiaan apa yang membawa keberuntungan bagi hamba, sehingga Mahapatih yang terhormat sudi menginjakkan kaki kemari?”

Tampak sekali Mahapatih letih wajahnya. Bahkan caranya bersila seakan mau meletakkan semua kelelahan batin yang diderita.

“Paman Halayudha, segalanya telah gamblang dan jelas. Tak ada yang perlu dirahasiakan lagi antara kita berdua. Mari kita buang tata krama yang menghambat. Saya ingin rerasan, ingin berbicara dari hati ke hati.”

Halayudha memerintahkan para prajurit segera menyingkir. Pintu ruangan dalam ditutup dari luar. Keduanya duduk berhadapan. Halayudha menunggu. Sambil menyembah.

“Tidakkah Mahapatih meminum seteguk air atau menikmati sirih dan…”

“Ada saat tersendiri, Paman. Saya datang kemari pertama, menghaturkan terima kasih yang dalam. Menghaturkan pujian yang tulus atas sikap Paman Halayudha yang gagah berani dalam pertarungan yang baru saja terjadi. Tanpa Paman Halayudha, entah bagaimana nasib para prajurit kita semua, termasuk saya…”

“Aduh, Mahapatih terlalu memuji hamba.”

“Perasaan saya yang sesungguhnya mengatakan begitu. Ketahuilah, Paman Halayudha, sejak peristiwa sore tadi, saya menyadari bahwa sesungguhnya pangkat dan derajat mahapatih yang saya sandang terlalu berat. Tubuh saya yang ringkih tak mampu memikul. Beban itu terlalu berat, kehormatan itu tidak pas untuk saya. Rasanya Paman Halayudha lebih pantas.”

Halayudha bercekat hatinya. Seumur-umur, jabatan mahapatih adalah yang menjadi incaran utama. Karena dengan begitu bisa menguasai Keraton. Langkah awal untuk melanjutkan ke langkah berikut yang lebih menentukan. Keinginan yang begitu keras dan diusahakan dengan berbagai cara sampai itu merasuki dan meracuni tubuhnya. Sampai ketika akhirnya membaca Kidungan Para Raja yang menyadarkan bahwa langkah tertinggi yang bisa diraih adalah menjadi mahapatih. Dan bukan takhta.

Krenteg atau ambisi yang selalu berkobar itu tak pernah hilang, meskipun ada pasang-surutnya. Maka tawaran Mahapatih Nambi sangat mengejutkan. Di balik otaknya, seketika itu tersusun beberapa kemungkinan. Kenapa Mahapatih Nambi justru mengatakan hal itu. Ada siasat apa yang terjadi? Apakah ini jebakan? Apakah justru bukan Putra Mahkota, yang kini memegang komando, yang menjalankan siasat tertentu?

“Paman Halayudha pasti terkejut. Sejak semula, saya sudah mengatakan saya datang untuk rerasan, untuk mengumbar perasaan. Hati kecil saya mengatakan Paman Halayudha lebih pantas menjadi mahapatih. Paman Halayudha lebih sakti, lebih tegas, dan mempunyai siasat yang jitu. Paman Halayudha pasti kaget. Karena saya tidak mempunyai hak untuk mengatakan itu. Pilihan utama untuk menentukan mahapatih semata-mata di tangan Baginda. Saya datang kemari untuk meminta pendapat Paman Halayudha. Mohon kiranya Paman sudi mengutarakan secara jujur.”

Halayudha menyembah perlahan.

“Selama ini saya mencurigai Paman. Lebih dari semua senopati yang ada. Lebih dari Senopati Agung sekalipun. Karena hanya Paman Halayudha yang mampu menggeser pangkat dan derajat saya. Paman sakti, punya siasat, dan dekat dengan Baginda, Putra Mahkota, ataupun Permaisuri Indreswari. Segala kemungkinan Paman miliki, segala kekuasaan bisa Paman jalankan.”

“Duh, Mahapatih yang perkasa, apakah hamba tidak salah dengar? Kaki hamba yang pincang menjadi saksi, bahwa hamba tak mampu berbuat apa-apa. Mahapatih Nambi seakan tidak menggubris kata-kata Halayudha. Selama ini saya mencurigai Paman. Sampai saat ini. Akan tetapi dari peristiwa yang baru saja terjadi, saya memperoleh keyakinan baru, bahwa Paman memang lebih pantas. Dan barangkali ketenteraman dan keamanan Keraton akan lebih baik. Kalau begitu, kenapa tidak itu saja yang dipilih Baginda? Bagi saya ini pencerahan. Hati saya tinarbuka. Saya menerima ini semua sebagai bagian sejarah yang ditulis Dewa dan digariskan lewat sabda Baginda. Saya mengatakan apa adanya, Paman. Saya tidak berhak apa-apa. Tetapi sebagai mahapatih, saya berhak memberikan bahan pertimbangan, seandainya Baginda menanyakan. Sekarang, saya minta kejujuran Paman Halayudha. Apakah Paman bersedia saya usulkan kepada Baginda?”

Halayudha meluruskan punggungnya. Pandangannya tajam. Suaranya memberat. “Adalah kehormatan yang besar hamba dipilih untuk diajak rerasan oleh Mahapatih Nambi yang terhormat. Seribu sembah dan pujian tak bisa menggambarkan rasa syukur hamba. Karena Mahapatih menganggap hamba pantas diajak rerasan secara pribadi, hamba akan mengutarakan sebagaimana adanya. Mohon Mahapatih tidak menganggap hamba terlalu lancang.”

“Katakan, Paman.”

Halayudha meremas tangannya. Wajahnya yang keras berubah menjadi dingin. “Hamba hanyalah prajurit. Jiwa-raga hamba adalah jiwa-raga abdi dalem. Tugas utama hamba hanyalah mengabdi. Ditempatkan di mana pun, hamba akan bersedia. Sejak perebutan takhta di Kediri atau pengusiran pasukan Tartar, hamba tak pernah menolak ditempatkan di barisan belakang. Ketika Baginda memegang tampuk kendali pemerintahan, hamba ditugaskan sebagai prajurit di dalam, dengan pangkat luhur senopati. Sejak itu pula, hamba menyadari bahwa pangkat yang hamba sandang terlalu besar, terlalu memancing perhatian di antara sesama senopati dan manggalaning praja, para pembesar Keraton. Termasuk sang Mahapatih. Ini semua beban yang tak bisa hamba terima. Tapi karena hamba prajurit, karena sifat pengabdian semata, hamba jalankan semua titah Baginda. Tak ada sedikit pun…”

“Maaf saya potong sebentar, Paman Halayudha. Kalau Baginda memilih Paman, berarti Paman akan menerima juga? Sebagai prajurit, sebagai abdi dalem?”

Ini pertanyaan yang rumit. Kalau Halayudha mengangguk, ia merasa seperti menyerahkan kepalanya bulat-bulat. Sebab jika pertanyaan ini merupakan jebakan yang membuat Mahapatih atau Putra Mahkota yang menyuruh mengetahui bahwa dirinya masih mempunyai niat menduduki jabatan tertinggi sesudah Raja, bisa berakibat fatal. Kalau menggeleng, berarti mengingkari kalimatnya terdahulu. Otak Halayudha bergerak cepat sekali. Mengatur rangkaian ke depan. Satu langkah yang diayun sekarang ini seharusnya bisa membaca sepuluh langkah yang akan datang.

“Bagaimana, Paman?”

Tata Krama Tugas
HALAYUDHA memandang Mahapatih Nambi. Lurus. Tak berkedip. “Barangkali Mahapatih keliru menanyakan hal itu kepada hamba.” Tangkisan pertanyaan yang jitu. Jawaban yang jika saja Mahapatih berusaha menjebak Halayudha, menggagalkan perangkap.

“Pertama, Mahapatih tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan. Dalam Kitab Tata Krama Tugas dan Wewenang Mahapatih, disebutkan bahwa kekuasaan dan wewenang mahapatih tak bisa dilimpahkan atau diwakilkan. Bila sang pengemban tugas dianggap tidak mampu menjalankan tugas, wewenang dan tugas kembali ke telapak kaki Baginda.”

Kali ini wajah Mahapatih yang berubah. Pucat.

“Kedua, Mahapatih bisa didakwa menghasut hamba. Atau setidaknya Mahapatih bisa didakwa ingin menanamkan pengaruh pada diri hamba, sehingga kelak kemudian hari meskipun Mahapatih Nambi tidak memegang jabatan dan kehormatan, masih bisa menyalurkan kepentingannya melalui hamba. Yang dalam hal ini naik derajat karena budi Mahapatih. Maaf, Mahapatih, hamba tidak menuduh seperti itu. Karena hamba percaya sampai rumangsuk dalam hati, Mahapatih sedikit pun tiada mempunyai niatan seperti itu. Bahwa ini semua karena Mahapatih Nambi ingin melaksanakan tugas sebaik-baiknya, seperti juga kepercayaan Baginda yang dilimpahkan selama ini. Hamba yakin, seyakin-yakinnya, Baginda pasti akan menanyai Mahapatih, akan meminta pertimbangan lepas didengar atau tidak. Akan tetapi situasinya sekarang ini berbeda.”

Halayudha menahan kata-katanya. Wajahnya menunduk. Kemampuannya mengubah wajah dan memberi tekanan pada nada suara untuk menggambarkan perasaan seperti yang ditonjolkan, selama ini mampu mengelabui orang lain. Halayudha percaya sekarang ini pun demikian juga. Yang sedikit di luar perhitungan yang paling menggembirakan sekalipun, ialah bahwa Mahapatih Nambi memerlukan datang kepadanya untuk meminta pertimbangan!

Dulunya, ia harus merayap ke sana-kemari untuk bisa didengar usulannya! Sekarang yang memegang kunci pembicaraan adalah dirinya. Betapa mudah mengarahkan. Ini yang di luar dugaannya. Kalaupun bisa begitu, tak secepat ini waktunya. Sekarang Halayudha bisa menekan Mahapatih Nambi, tanpa perlu menjabat secara langsung. Kalau saja ini terjadi pertengahan tahun lalu, Halayudha akan mengambil putusan cepat. Akan tetapi justru sekarang ini Halayudha sedikit berhati-hati. Karena kini medan pertarungan kekuasaan sudah berbeda perimbangan kekuatannya.

“Seberapa jauh bedanya, Paman?”

“Mahapatih lebih mengetahui dari hamba.”

“Pandangan Paman benar, dari segi yang wadak. Yang nampak di permukaan. Akan tetapi, dari segi lain Paman bisa melihat lebih luas.”

“Beberapa kali Mahapatih memuji hamba secara berlebihan.”

“Katakan, Paman. Aku ingin mengetahui. Apakah dengan munculnya Putra Mahkota akan mengubah seluruh kebijaksanaan Keraton?”

Halayudha menyembah. “Hamba berani mengatakan demikian adanya. Akan tetapi sebelum lebih jauh, hamba ingin menghaturkan sesuatu agar Mahapatih tidak keliru memilih. Hamba sangat tidak pantas memegang jabatan dan derajat sebagai mahapatih. Bahkan sebagai senopati pun tidak. Juga di saat Baginda masih memegang kekuasaan secara langsung. Bukan karena badan hamba penuh dengan cacat mulai dari jari, perut, dan kaki. Bukan karena hamba suka kasak-kusuk. Tetapi ada satu noda yang tak pernah akan diampuni oleh Baginda. Hamba ikut membaca Kidungan Para Raja. Baginda masih welas asih, masih berbelas kasihan, tidak membunuh saat itu juga. Tapi kalau Putra Mahkota yang memakai takhta dan menduduki kursi emas, barangkali perhitungannya bisa lain. Maaf, Mahapatih… Hamba tidak memperburuk angin timur. Akan tetapi segala sesuatunya masih serba samar sekarang ini.”

“Justru pertimbangan itulah yang ingin kudengar. Katakan, Paman.”

“Semua sudah hamba haturkan, Mahapatih.”

“Apakah dengan kata lain Paman ingin mengatakan, bahwa kemahapatihan saya pun bisa dicopot begitu saja oleh Putra Mahkota tanpa perlu Baginda sendiri yang bersabda?”

JILID 08BUKU PERTAMAJILID 10