Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 08

“Alangkah bahagianya, damainya, agungnya, jika inilah akhir segalanya. Di surga kita bisa bersama-sama. Apa yang terjadi, Kakang?”

“Tiga pendeta dari Syangka menebarkan bubuk racun yang sangat berbahaya. Aku segera meninggalkan gelanggang. Membawa Yayi…”

“Gendhuk Tri?” Upasara menggeleng. “Bisa kutengok sebentar lagi.”

Permaisuri Rajapatni menggenggam tangan Upasara. “Tinggallah di tempat ini agak sekejap. Kepada Kakang aku tak ragu-ragu, tak sungkan-sungkan. Dewa telah mempertemukan kita. Aku keliru kalau masih malu-malu kepada Kakang. Kakang, kenapa tanganmu dingin? Kakang terkena racun?”

Upasara menggeleng. “Tidak, Yayi.”

“Tanganmu dingin sekali, Kakang.”

“Tangan Yayi juga sama dinginnya.”

Permaisuri Rajapatni bangun perlahan. Punggungnya menyandar di dinding. Bersila. Upasara tepekur di dekatnya.

“Pandanglah aku, Kakang! Pandanglah aku dan katakan bahwa Kakang juga kangen padaku.”

Upasara tak bergerak. Melirik pun tak berani.

“Sejak ada guritan di dinding Keraton, sejak sanjak itu terbaca, aku yakin sekali Kakang merindukanku. Kangen padaku. Seperti yang kurasakan selalu. Meskipun Kakang tak pernah mengucapkan…”

“Yayi…”

“Aku tahu. Aku tahu apa yang akan Kakang katakan. Di luar masih ada pertarungan, masih banyak korban. Masih ada yang harus diselesaikan. Masih banyak tugas menunggu. Aku tahu, Kakang. Aku tahu panggilan seorang ksatria. Tetapi tidakkah kita mempunyai waktu, sejenak sekalipun, untuk diri kita sendiri? Berapa puluh tahun kita saling memendam kangen, saling mengalahkan keinginan sendiri, saling sungkan, dan saling tak mau mengganggu? Sejak semula aku memberanikan diri. Melangkah dengan langkah lebar. Mendatangi Kakang. Sejak ke Keraton Singasari yang dulu, aku sudah mengisyaratkan menerima Kakang. Tetapi Kakang tak mau menerima uluran tangan. Juga sewaktu aku datang ke Perguruan Awan sebagai utusan Baginda. Kakang sama sekali tak mau menemuiku. Sekarang Kakang datang. Menjemput dengan gagah. Sebagaimana sikap lelaki. Apakah harus ditinggal pergi begitu saja? Apa yang sebenarnya Kakang cari?”

Dada Upasara panas. Kalimat yang tenang, lembut, itu bagai membanting tubuhnya berkeping-keping.

“Apa yang Kakang cari?”

Upasara menunduk. Memegang tangan Permaisuri Rajapatni dengan gemetar. Mencium lembut.

Kidungan Asmara Sejati
ANGIN tak bergerak. Tak ada bau dupa. Tak ada siapa-siapa. Selain dengus napas tertahan. Rintihan kerinduan. Pertemuan rasa kangen yang panjang tak bertepi. Gulungan ombak dari tengah lautan bergolak yang akhirnya mencium pantai berlumut. Permaisuri Rajapatni membiarkan tangannya tersentuh bibir hangat Upasara. Hangat oleh bibir dan air mata.

“Kakang menangis?”

Upasara menggeleng. Air matanya makin membasah.

“Menangislah, Kakang! Aku pun akan menguras air mata, andai masih ada yang tersisa. Menangislah, Kakang, untuk pertemuan ini!”

Dua tangan Permaisuri Rajapatni mengelus lembut. Mengelap air mata Upasara. “Tak ada permaisuri. Tak ada putri Sri Baginda Raja. Yang ada di sini adalah Gayatri. Gayatri Kakang.”

Upasara mengangguk-angguk.

“Katakanlah sesuatu, Kakang…”

Upasara menatap Permaisuri Rajapatni. “Yayi masih Gayatri yang pernah menjadi milik Kakang. Hanya milik Kakang seorang. Kakang percaya?” Mata Upasara memandang tak berkedip.

“Lihatlah, Kakang! Rabalah! Peganglah! Temukan hati Gayatri yang kosong, yang telah diberikan kepada Kakang. Kakang akan bisa merasakan semua. Membuktikan semua perasaanku.”

“Aku percaya, Yayi.”

Permaisuri menghela napas. Berat. Dalam. “Aku bertanya-tanya, sejak perpisahan kita. Apa yang sebenarnya Kakang cari? Pertarungan demi pertarungan, ilmu demi ilmu, jurus demi jurus, sehingga Kakang seperti jatuh-bangun. Seperti mengisi kekosongan yang tak bisa diisi. Hatiku sedih. Kenapa Kakang tidak mau menyadari apa yang sebenarnya Kakang cari? Kenapa Kakang tak mau melihat, menatap, dan merenggut apa yang ada di hadapan Kakang sekarang ini?”

Upasara mendongak ke atas. Wajahnya mengeras. “Yayi... Kakang mau menyadari sekarang ini. Menghimpun tenaga dalam, memusnahkan, membiarkan keracunan, mempelajari lagi, sungsang-sumbel mencari mati, karena jiwa yang kosong. Karena Kakang…”

“…kesepian.”

“Barangkali, Yayi.”

“Seperti yang kurasakan sepenuhnya, Kakang. Karena aku masih selalu menunggu Kakang. Karena Dewa menunjukku memberi keturunan yang kelak akan menjadi raja terbesar di tanah Jawa yang belum pernah ada, aku jalani kewajibanku. Tapi jiwaku bersama Kakang. Bahkan aku berdoa siang dan malam, agar Kakang segera datang menjemput. Mengambilku. Karena tugas muliaku sudah selesai. Tapi Kakang tak pernah datang. Sampai anak-anak besar. Kakang… katakan terus terang, apakah aku tak pantas menyanding Kakang?”

Upasara menggeleng cepat. “Kakang tak pernah mempunyai bayangan itu.”

“Kakang masih mau menerima pengabdian Yayi-mu ini?”

Genggaman tangan Upasara mengeras. Menggenggam kencang. “Aneh sekali….” Permaisuri Rajapatni memandang Upasara lekat sekali. Seakan menghitung bulu alis dan bulu hidung satu demi satu secara perlahan. "Aneh sekali. Kamu sama sekali tidak tampan, Kakang. Tidak bagus. Tidak gagah. Tak bisa disandingkan dengan Baginda, bahkan dengan kukunya yang terawat sempurna. Rambut Kakang kasar sekali…”

Upasara merasakan getaran tangan Permaisuri Rajapatni di rambutnya yang membuat tergetar. Membuat kulitnya merinding. Peka.

“Hidungmu bagai arca bersila… "Ah, Pak Toikromo pun menyesal mengambil menantu.”

“Yayi tahu tentang Pak Toikromo?” Cepat-cepat Upasara mengalihkan pembicaraan.

“Aku tahu semua yang terjadi dengan Kakang.”

“Semua? Juga pernikahan Kakang dengan Ratu Ayu Bawah Langit?”

Upasara menjilat bibirnya yang mendadak kering.

“Aneh. Kenapa aku bisa kangen pada Kakang? Kenapa aku merindukan Kakang? Jampi apa yang Kakang pakai?”

Wajah Upasara nampak lugu ketika menjawab bahwa ia tidak memakai jampi apa-apa, dan tak mengetahui hal semacam itu.

Permaisuri Rajapatni tersenyum lebar. “Aku tahu soal itu, Kakang. Kakang… Kakang! Jagat Dewa Batara, siapa yang dulu menciptakan daya asmara itu? Alangkah indahnya. Alangkah agungnya.”

“Yayi…”

Tangan Permaisuri Rajapatni menutup bibir Upasara. Jemarinya menelusuri dari sudut ke sudut. “Bibirmu sangat lebar, Kakang… Jangan bicara yang lain. Jangan singgung Ratu Ayu Azeri Baijani, jangan singgung Baginda, atau membicarakan Tunggadewi. Atau apa saja. Kita bicara mengenai diri kita. Ruangan ini menjadi pustaka asmara, kidungan kerinduan yang akan terus menggeletar sepanjang jagat masih berputar. Bibirmu lebar. Tetapi aku mengagumi. Aku merindukan.”

Upasara menangkap tangan Permaisuri Rajapatni.

“Kenapa? Kakang tidak suka?”

Upasara menggeleng.

“Kakang malu?”

“Mungkin.”

Tangan yang lembut itu mencowel pipi. “Kakang tak perlu malu. Inilah perasaan yang sesungguhnya. Tak ada siapa-siapa di sini. Dewa pun menyingkir memberi kesempatan kepada kita berdua. Jagat berhenti berputar sekarang ini. Katakan apa yang ingin Kakang katakan! Teriakkan apa yang ingin Kakang teriakkan! Cekik leherku kalau Kakang menganggap jijik! Tampar bibirku kalau Kakang anggap lancang! Rangkul tubuhku kalau Kakang mau! Jagat Dewa Batara, kenapa Kakang malah terdiam?”

Upasara menutup matanya. Kepalanya menggeleng berkali-kali. “Yayi…”

Tak ada jawaban. Hanya sorot mata saling pandang.

“Yayi…”

Dagu Permaisuri Rajapatni bergerak turun sedikit. Mengangguk. Menyilakan Upasara meneruskan kalimatnya.

“Apakah yang kita lakukan ini benar?”

“Maksud Kakang…?”

“Kita berdua di sini. Yayi adalah permaisuri Keraton. Aku sendiri…”

“Benar atau tidak, apa bedanya? Kita saling menyimpan kerinduan. Kita saling menginginkan, mengharapkan, mendoakan pertemuan ini. Kakang takut berdosa?”

“Mungkin tidak. Tapi apakah kita tidak berdosa berada berdua di sini?”

Permaisuri Rajapatni menarik tangannya. Duduk tepekur. Sejenak. “Apa Kakang menghendaki saya pergi dari ruang ini?”

Guritan Katresnan
UPASARA terperangah. Ia tak menduga bahwa Permaisuri Rajapatni benar-benar berniat melangkah ke luar. “Yayi akan keluar?”

“Kalau Kakang tidak menghendaki ditemani.”

“Tidak.”

Kaki Permaisuri Rajapatni turun ke lantai.

“Yayi Gayatri, maksudku, maksudku jangan pergi…” Sehabis mengucapkan “Yayi Gayatri”, wajah Upasara bersemu merah.

Diam-diam Gayatri geli sendiri. Upasara yang ditemui sekarang ini sama sekali tak ada bedanya dengan belasan tahun yang lalu. Ketika masih muda. Mudah kikuk, tak menentu geraknya, canggung dan serbasalah. Gayatri tahu, jika ia menanyakan kenapa Upasara memanggil dengan sebutan Yayi Gayatri, Upasara akan merasa salah dan minta maaf. Dan serba keliru lagi sikapnya.

“Kenapa Kakang memikirkan dosa?”

“Entahlah, Yayi.”

“Kakang tidak merasa bahagia sekarang ini?”

“Bahagia sekali. Tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Tapi kenapa kita bisa bersama-sama? Kenapa kita dibebani pertanyaan dan rasa bersalah?” Suara Upasara terdengar mengharukan di telinga Gayatri.

“Kakang, marilah kita mensyukuri pertemuan ini. Tanpa beban pikiran yang merisaukan. Bagaimana kalau Kakang menuliskan guritan…”

Kepala Upasara tertarik ke belakang karena herannya. Seumur-umur rasanya Upasara tak pernah menuliskan sanjak. Kecuali…

“Seperti yang terukir di dinding Keraton itu.”

“Apa itu bisa disebut guritan?”

“Kenapa tidak?”

“Kakang asal mencoret saja. Tidak tahu bagaimana tata aturannya yang benar. Yayi yang pintar tata aksara. Jangan membuat Kakang sungkan. Kalau sekarang Yayi minta Kakang maju ke medan pertarungan, Kakang akan berangkat. Tapi menulis guritan…”

“Tuliskan, Kakang! Apa Kakang menolak satu-satunya permintaanku?”

Upasara memandang kiri-kanan. Ke arah susunan kitab-kitab pusaka. “Di sini banyak kidungan yang luhur dan apik. Kita ambil salah satu pasti sudah bagus sekali. Diciptakan para empu yang sakti.”

“Aku menginginkan ciptaan Kakang. Untuk diriku.”

“Baik. Kapan-kapan, Yayi.”

“Sekarang.”

“Sekarang?”

“Sekarang. Kapan lagi?”

Upasara menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.

“Kakang Upasara Wulung. Selama menunggu Kakang, aku belajar menanak nasi, belajar membuat sajian makanan. Aku mencoba mengerti bagaimana menanam padi satu per satu, menanam bunga, memelihara ayam, ikan. Aku selalu membayangkan suatu ketika nanti kita akan hidup bersama-sama. Kakang pergi ke sawah, dan aku membantu sedikit-sedikit, lalu memasak buat Kakang. Di tengah malam, saat gerimis atau panas, saat ada rembulan atau gelap, Kakang bercerita tentang sawah, burung, dan menuliskan guritan katresnan. Hanya sesekali bercerita tentang ilmu silat. Kalau kebetulan ada penjahat. Kakang menuliskan dan menembangkan keras-keras sehingga anak-anak kita terbangun, menertawakan ayahnya yang tersipu-sipu membacakan sanjak cinta.”

Mata Upasara berkejap-kejap. Kata demi kata diucapkan Gayatri seperti hidup. Membayang jelas. Di suatu desa, mirip desa yang didiami Pak Toikromo, dirinya berkeringat, dan Gayatri membuatkan sambal serta menyiapkan nasi. Mungkin ada ayam, tikus, burung yang lewat. Tapi bayangan itu pupus tatkala teringat mengenai guritan katresnan.

“Kakang tahu berapa jumlah anak kita?”

“Tidak.”

“Tebak.”

“Berapa?”

“Kakang yang menebak.”

“Tujuh.”

“Kenapa tujuh?”

“Mana aku tahu, Yayi. Aku hanya menebak.”

“Salah.”

“Tadinya aku mau menebak delapan.”

“Salah.”

“Yang benar berapa?”

“Satu.”

“Kenapa satu?”

“Satu sudah cukup. Karena begitu lahir perangainya seperti Kakang. Mudah kikuk. Tak bisa mengutarakan perasaannya.”

Upasara tertawa lebar.

“Dan suatu hari ketika kita sudah tua, kita saling bercerita. Bahwa Kakang sebenarnya paling suka kerak nasi.”

Upasara memandang heran.

“Begini ceritanya. Kakang mau mendengarkan? Ketika kita hidup di desa, aku yang menanak nasi. Karena tak becus menanak nasi, jadi yang tersisa lebih banyak kerak nasi. Karena takut mengecewakan Kakang, kerak nasi itu aku buang setiap kali. Yang selalu kuhidangkan adalah nasi putih yang bagus. Begitu selalu setiap kali, sampai kita tua. Baru saat itu, kita saling mengetahui bahwa Kakang sebenarnya suka kerak nasi. Hanya karena kita saling coba memperhatikan, kita jadi kehilangan kesempatan yang baik. Karena Kakang terlalu sungkan mengatakan apa yang sebenarnya Kakang inginkan.”

Upasara tersenyum lebar.

“Sekarang Kakang ganti cerita.”

“Aku tak punya cerita.”

“Aku juga mendengarkan para emban yang menanak nasi.”

“Lain kali aku akan mendengarkan.”

“Kalau begitu buatkan guritan katresnan?"

Upasara menunduk. Jarinya tergetar. Bangku kayu yang dipakai duduk tergetar, karena jari-jari Upasara menoreh tajam. Gayatri menunggu.

Guritan katresnan ini
bukan ditulis tangan tapi dengan hati
guritan katresnan ini
hanya bisa dibaca
oleh rasa
Dewa keliru
ketika memisahkan
kita keliru
ketika menggambarkan
Yayi, inilah guritan katresnan
dari Kakang yang menyukai kerak nasi
Yayi, inilah kerinduan bumi…


Upasara menggelengkan kepalanya. “Rasanya malah tak bisa, Yayi.”

Wajah Gayatri berubah.

“Yayi tak suka?”

Jawabannya hanya helaan napas.

“Kalau begitu Kakang hapus saja.”

Gayatri mengangguk. “Hapus saja. Nadanya begitu sedih, begitu pasrah.”

Dengan sekali menggerakkan tangan, cukilan huruf lenyap seketika.

Angin Palguna
GAYATRI terisak.

“Kenapa, Yayi?”

“Tak apa-apa, Kakang. Tapi kenapa guritan Kakang begitu menyedihkan?”

“Aku malah tak mengerti. Sudahlah, Yayi, aku memang tak bisa. Tak becus.”

Keduanya terdiam. Bungkam.

“Kakang, bagaimana kalau Kakang bercerita tentang istri Kakang? Ratu Ayu Azeri Baijani?”

“Kakang tak tahu harus bercerita bagaimana….”

“Di mana ia berada?”

“Kakang juga tidak tahu.”

“Kakang mencintainya?”

Upasara memandang tajam ke arah Gayatri. Lalu mengangguk. “Rasanya iya. Aku mengawininya.”

“Syukur kepada Dewa. Kakang harus menyayanginya.”

“Ya, aku akan mencarinya. Pasti terjadi sesuatu yang besar sehingga ia tidak muncul lagi.”

“Gendhuk Tri?”

Upasara tak segera menangkap maksud Gayatri.

“Bagaimana dengan Gendhuk Tri?”

“Ia baik-baik saja. Barangkali tertawan, atau… ah, rasanya tak mungkin terkena racun bubuk hingga meninggal.”

“Kekasihnya mirip Kakang.”

“Ya. Tapi lebih gagah.”

“Tahukah Kakang, bahwa Gendhuk Tri mencintai Kakang?”

Upasara menggeleng.

“Kalau tidak, ia tak akan memilih Singanada yang mirip Kakang.”

“Aku tak mengerti.”

“Nyai Demang?”

“Kasihan, ia menjadi korban Eyang Berune…”

“Bukan itu. Aku menanyakan perasaan Kakang pada Nyai Demang.”

Upasara tak menjawab.

“Kakang pernah merasakan daya asmara Nyai Demang?”

Upasara mengangguk.

“Siapa lagi wanita yang Kakang kenal?”

“Kenapa Yayi bertanya yang aneh-aneh?”

“Ini bukan Palguna…”

Upasara mengerti bahwa Palguna adalah bulan hitungan kedelapan. Seperti setiap bulan ada sebutannya sendiri. Akan tetapi tak bisa menangkap maksud Gayatri.

“Pada bulan Palguna, angin meniupkan getaran asmara. Sehingga banyak perbuatan yang aneh, janggal, lucu, mengecutkan hati tapi menggetarkan, bisa terjadi.”

“Yayi percaya hal itu?”

“Bintang pun menemukan jodohnya pada Palguna.”

“Yayi percaya hal itu?”

“Sejak kecil aku diajari mempercayai hal-hal semacam itu. Alam telah memberi firasat jauh sebelum kita lahir…” Di ujung kalimatnya, suara Gayatri menjadi sember. “Itulah nasib yang dituliskan Dewa. Nasib kita, Kakang. Nasibku. Nasib Kakang. Para pendeta menemukan ramalan, menemukan firasat dari alam bahwa dari kandunganku akan lahir seorang raja terbesar yang belum ada di tanah Jawa. Bukankah itu nasib, Kakang? Bukankah setelah melahirkan anak-anak pun Kakang tak mau datang? Apakah dengan begitu, aku tak mempercayai nasib?”

Upasara mengangguk. Tangannya menggenggam tangan Gayatri dengan berani. “Kakang juga percaya, Yayi. Percaya bahwa Dewa itu Maha welas Asih. Maha asmara. Kalau tidak, kita tak akan dipertemukan. Kalau tidak, hati kita tak tergetar oleh daya asmara. Begitu banyak ksatria, begitu banyak pangeran yang menghendaki Yayi. Yang mulutnya tidak lebar, yang rambutnya tidak kasar…”

“Kakang…”

“Tapi bukankah Yayi memilih Kakang? Bukankah itu nasib Kakang yang baik?”

“Tapi bukan akhir yang bahagia?”

Upasara termenung. Matanya menerawang jauh. “Apa iya, Yayi? Aku ragu. Pertemuan seperti sekarang ini pun tak terbayangkan sebelumnya. Kalau Dewa Mahaasih mengetahui, mendengar suara hati dan keinginan kita, apa mungkin kita tidak dipersatukan?”

“Nyatanya tidak.”

Upasara menggeleng.

“Kakang, kenapa Kakang begitu baik? Kenapa nasib yang mengenaskan begini malah Kakang syukuri? Kenapa Kakang menuliskan guritan yang menyedihkan sebagai tanda katresnan?"

Tak ada jawaban. Sejak tadi Upasara hanya bisa mengangguk, menggeleng, dan tidak menjawab.

“Kenapa Kakang tidak mengubah nasib yang digariskan Dewa? Kita lari dari tempat ini. Ke ujung gunung atau ke tengah lembah. Atau mengangkat pedang sebagai ksatria. Mengumandangkan sebagai pasangan bersama. Kenapa, Kakang?”

“Karena Yayi sendiri ragu. Karena Yayi mempertanyakan apa yang Kakang risaukan. Apakah Dewa merestui hubungan kita sekarang ini? Pertanyaan itu saja menandakan keraguan pada apa yang kita lakukan.”

Gayatri menelan ludahnya. Upasara, Upasara-nya yang kikuk, yang merah padam wajahnya jika bertatapan, yang tangannya dingin dan bibirnya gemetar, adalah Upasara yang bisa mengatakan secara terus terang. Yang tidak ragu mengatakan secara jujur apa yang dirasakan.

“Nasib kita buruk sekali, Kakang. Kalau kita tak pernah tergetar asmara sebelumnya, perjalanan kita masing-masing pastilah bahagia. Aku menjadi permaisuri yang bakal menurunkan raja terbesar yang belum ada, dan Kakang bisa tenang bersama Ratu Ayu Bawah Langit.”

“Nasib kita bahagia sekali, Yayi. Tanpa bertemu Yayi, aku tak bisa mengetahui apa arti sawah, apa arti kerak nasi, apa arti guritan, apa arti asmara, apa arti mensyukuri nasib. Tanpa Yayi, aku tak mengerti apa yang kucari.”

Gayatri merebahkan kepalanya di dada Upasara yang telanjang. Menarik tangan Upasara hingga memeluk tubuhnya. “Rengkuhlah aku, Kakang! Masukkan aku ke dalam tubuhmu!”

Upasara memeluk kencang.

“Angin Palguna, jangan cepat berlalu. Biarkan aku dan Kakang Upasara menikmati selalu.”

Akan tetapi justru saat itu Gayatri melihat bahwa cahaya dari luar telah lenyap. Alam telah berubah. Tak ada lagi matahari. Angin malam terasakan.

“Sudah malam, Kakang…”

“Perutmu berbunyi, Yayi. Pasti tidak biasanya Yayi belum makan…”

Gayatri tertawa. “Kenapa Kakang bicara soal makan?”

“Karena Yayi bercerita tentang kerak nasi.”

“Ah! Sebenarnya banyak cerita yang lain. Para emban mempunyai cerita yang banyak sekali. Yang ingin kuceritakan kembali. Sengaja kucatat dan kuingat-ingat untuk kuceritakan kembali kepada Kakang. Ah! Sebenarnya banyak guritan yang kutulis. Sengaja kusimpan rapat-rapat, agar suatu kali Kakang membacanya. Mengetahui bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Tapi justru semuanya terlupa.”

“Kalau kita bersama, apa semua itu perlu?”

Gayatri merangkul, memeluk, merengkuh erat sekali. “Kakang, kalau suatu ketika kita berpisah lagi, pertemuan ini akan menjadi kenangan yang paling berharga.”

“Pun andai kita tak berpisah, kenangan ini masih tetap berharga.”

“Kakang… benarkah kamu Kakang-ku?”

Kawruh Kodrat
KEDUANYA masih berangkulan. Tenggelam dalam lamunan.

“Apa yang Kakang pikirkan?”

“Banyak sekali. Gendhuk Tri yang sudah menjadi perawan ayu. Singanada yang bahagia. Barisan Padatala yang mengganas. Nyai Demang yang dikuasai Eyang Berune. Putra Mahkota yang kini memegang tata pemerintahan…”

“Apakah Kakang selalu memikirkan itu?”

“Entahlah, Yayi. Akan tetapi kadang tak bisa melepaskan begitu saja.”

“Apakah itu yang disebut sebagai dharma ksatria?”

“Ya, Yayi. Dan aku dibesarkan dalam tata nilai begitu. Tradisi yang kuterima sejak kecil, sejak belajar berjalan, adalah tradisi berbuat kebaikan demi Keraton.”

“Nasib Kakang lebih menarik. Dilahirkan sebagai ksatria lebih jelas apa yang dilakukan. Apa yang harus dilakukan. Sedangkan aku? Kodratku sebagai sekar kedaton, sebagai bunga keraton, tak memungkinkan berbuat yang lain. Seperti juga kedua putriku. Hanya bisa menunggu. Sampai suatu hari kelak, ada lelaki yang datang meminang. Pertarungan atau perdamaian, tak akan pernah mengguncang diriku. Ah, andai aku dilahirkan sebagai ksatria, mau tak mau aku harus belajar ilmu silat. Dan barangkali ada gunanya untuk penduduk. Kakang, apakah sulit belajar ilmu silat?”

“Rasanya tidak. Siapa saja yang mempelajari bisa melakukan.”

“Kalau aku belajar sekarang ini?”

“Kenapa tidak? Di ruangan ini tersedia semua kitab ilmu silat yang ada. Tinggal membaca, memahami, dan melatih.”

“Aku tak pernah mengetahui. Bagaimana mungkin Kakang bisa menguasai semuanya?”

Upasara merasa dadanya mekar. Untuk pertama kalinya terasa kebanggaan yang membengkak. “Bukan semuanya. Dasar ilmu silat sebenarnya sama sumbernya. Yaitu cara pengerahan tenaga, cara mengatur keluar atau tertahannya tenaga. Pengendaliannya dengan melatih pernapasan. Gerakan-gerakan yang ada disesuaikan dengan apa yang dilatih selama ini. Yang kemudian ada kembangan yang beraneka warna.”

“Kalau semua belajar dari Kitab Bumi, kenapa Kakang lebih unggul?”

“Dalam ilmu silat, keunggulan hanya bersifat sementara. Di atas langit masih ada langit. Di atas atas langit masih ada matahari. Di atas matahari masih ada langit yang lain. Tak bisa dikatakan Kakang ini yang paling jago. Kakang malah merisaukan gelaran lelananging jagat yang Kakang sandang. Semua mempelajari Kitab Bumi, akan tetapi kitab utama yang menjadi babon semua ilmu silat itu hanya membuat kidungan dasar. Terutama delapan kidungan atau delapan jurus yang dinamakan Tumbal Bantala Parwa. Isinya pekat, padat, dan harus ditafsirkan kembali. Barangkali penafsiran kembali ini yang membedakan satu sama lainnya. Persiapan batin kita yang membedakan pada akhirnya. Seperti yang Kakang mainkan dengan Putaran Bumi. Jauh sebelum ini Kakang telah mencoba, telah menguasai. Akan tetapi dengan pengaturan napas yang tepat, hasilnya juga berbeda.”

“Kalau kita sama-sama mempelajari, apakah tetap berbeda hasilnya?”

“Mungkin saja, Yayi. Kenapa Yayi bertanya soal ilmu silat?”

“Aku hanya ingin membandingkan, bahkan dalam mempelajari ilmu silat pun, kodrat turut menentukan nasib seseorang. Sejak awal sudah ada pembedaan. Jadi, apa artinya kawruh, apa artinya ngelmu, apa artinya pengetahuan dan segala usaha kalau pada akhirnya bermuara kepada kodrat?”

“Terus terang aku tak bisa menjawab, Yayi. Aku menjalani tanpa risau. Tanpa mempertanyakan.”

Gayatri melepaskan diri dari rangkulan. Duduk bersila. Upasara juga bersila.

“Berarti sejak semula sudah digariskan oleh kodrat. Oleh nasib. Kemenangan dan kekalahan, mati dan hidup. Kita tinggal pasrah saja.”

“Pasrah yang tidak menyerah.”

“Itu hanya untuk menghibur diri saja, Kakang. Pasrah dalam artian yang sesungguhnya. Pasrah karena kita dikuasai kodrat. Dikuasai nasib sejak masih kecil. Pengaruh itu telah mendarah daging, dan membuat kita ketakutan. Kita terbelenggu. Sehingga kalau kita akan keluar bersama dari tempat ini, berlari ke lembah atau puncak gunung, kita tak berani melakukan. Karena kita disadarkan akan kodrat sejak awal. Karena kita dikodratkan menerima nasib. Yang satu putri keraton dan satunya ksatria tanpa ketahuan siapa orangtua nya. Kodrat sebagai permaisuri. Sehingga merasa tercela melepaskan diri dari Baginda. Sehingga Kakang perlu bertanya, apa benar yang kita lakukan saat ini? Apakah kita tak berdosa berdua sekarang ini?”

“Ya.”

“Padahal kenyataannya bisa kita balik. Apakah justru bukan melakukan suatu dosa jika aku menjalani hidup seperti sekarang ini? Apakah justru kehidupanku sebagai permaisuri ini bisa dibenarkan? Siapa yang bisa membenarkan atau menyalahkan, Kakang? Dewa? Adakah Dewa yang memberikan kodrat tertentu? Dewa? Kenapa kita selalu lari kepada Dewa sebagai kata akhir? Sebagai penentu nasib?”

“Yayi, kata-katamu membuatku gelisah. Aku tak pernah mempertanyakan itu.”

“Kakang… Kakang menderita. Tetapi aku juga lebih menderita karena kerinduan ini. Sehingga dalam doa dan semadi aku sering menggugat, sering bertanya. Tapi Dewa tak pernah menjawab. Tak pernah memberi isyarat. Tak ada perlambang. Tak ada tanda-tanda. Tak ada, Kakang. Tak ada apa-apa.”

“Hati kita yang menjawab, Yayi.”

“Benarkah? Apakah hati kita sendiri, atau hati kita rasa yang percaya kepada kodrat? Yang telah tunduk mengikuti aturan nasib?”

Upasara terdiam. Gayatri menghela napas. “Aku bisa letih, Kakang. Letih memikirkan ini semua. Tapi tak apa. Tak apa. Malam ini aku begitu bahagia. Bertemu dengan Kakang. Berbincang dengan Kakang. Aku sudah bahagia bisa merasa memiliki Kakang. Dan mengetahui bahwa Kakang masih menyimpan kerinduan yang sama. Tak apa.”

Gayatri menutup matanya. “Aku haus, Kakang…”

Upasara mengangguk. Beringsut.

“Tapi Kakang tak usah pergi. Biarlah setiap kejap kurasakan, Kakang.”

Kaki Upasara menjejak ke lantai. Keras. Sehingga terbelah. Tangan kanannya mencaruk tanah. Amblas sampai siku. Disusul tangan kiri dengan sama kerasnya. Setiap kali amblas ditarik ke atas bersama gumpalan tanah. Hingga menggunduk.

JILID 07BUKU PERTAMAJILID 09

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 08

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 08

“Alangkah bahagianya, damainya, agungnya, jika inilah akhir segalanya. Di surga kita bisa bersama-sama. Apa yang terjadi, Kakang?”

“Tiga pendeta dari Syangka menebarkan bubuk racun yang sangat berbahaya. Aku segera meninggalkan gelanggang. Membawa Yayi…”

“Gendhuk Tri?” Upasara menggeleng. “Bisa kutengok sebentar lagi.”

Permaisuri Rajapatni menggenggam tangan Upasara. “Tinggallah di tempat ini agak sekejap. Kepada Kakang aku tak ragu-ragu, tak sungkan-sungkan. Dewa telah mempertemukan kita. Aku keliru kalau masih malu-malu kepada Kakang. Kakang, kenapa tanganmu dingin? Kakang terkena racun?”

Upasara menggeleng. “Tidak, Yayi.”

“Tanganmu dingin sekali, Kakang.”

“Tangan Yayi juga sama dinginnya.”

Permaisuri Rajapatni bangun perlahan. Punggungnya menyandar di dinding. Bersila. Upasara tepekur di dekatnya.

“Pandanglah aku, Kakang! Pandanglah aku dan katakan bahwa Kakang juga kangen padaku.”

Upasara tak bergerak. Melirik pun tak berani.

“Sejak ada guritan di dinding Keraton, sejak sanjak itu terbaca, aku yakin sekali Kakang merindukanku. Kangen padaku. Seperti yang kurasakan selalu. Meskipun Kakang tak pernah mengucapkan…”

“Yayi…”

“Aku tahu. Aku tahu apa yang akan Kakang katakan. Di luar masih ada pertarungan, masih banyak korban. Masih ada yang harus diselesaikan. Masih banyak tugas menunggu. Aku tahu, Kakang. Aku tahu panggilan seorang ksatria. Tetapi tidakkah kita mempunyai waktu, sejenak sekalipun, untuk diri kita sendiri? Berapa puluh tahun kita saling memendam kangen, saling mengalahkan keinginan sendiri, saling sungkan, dan saling tak mau mengganggu? Sejak semula aku memberanikan diri. Melangkah dengan langkah lebar. Mendatangi Kakang. Sejak ke Keraton Singasari yang dulu, aku sudah mengisyaratkan menerima Kakang. Tetapi Kakang tak mau menerima uluran tangan. Juga sewaktu aku datang ke Perguruan Awan sebagai utusan Baginda. Kakang sama sekali tak mau menemuiku. Sekarang Kakang datang. Menjemput dengan gagah. Sebagaimana sikap lelaki. Apakah harus ditinggal pergi begitu saja? Apa yang sebenarnya Kakang cari?”

Dada Upasara panas. Kalimat yang tenang, lembut, itu bagai membanting tubuhnya berkeping-keping.

“Apa yang Kakang cari?”

Upasara menunduk. Memegang tangan Permaisuri Rajapatni dengan gemetar. Mencium lembut.

Kidungan Asmara Sejati
ANGIN tak bergerak. Tak ada bau dupa. Tak ada siapa-siapa. Selain dengus napas tertahan. Rintihan kerinduan. Pertemuan rasa kangen yang panjang tak bertepi. Gulungan ombak dari tengah lautan bergolak yang akhirnya mencium pantai berlumut. Permaisuri Rajapatni membiarkan tangannya tersentuh bibir hangat Upasara. Hangat oleh bibir dan air mata.

“Kakang menangis?”

Upasara menggeleng. Air matanya makin membasah.

“Menangislah, Kakang! Aku pun akan menguras air mata, andai masih ada yang tersisa. Menangislah, Kakang, untuk pertemuan ini!”

Dua tangan Permaisuri Rajapatni mengelus lembut. Mengelap air mata Upasara. “Tak ada permaisuri. Tak ada putri Sri Baginda Raja. Yang ada di sini adalah Gayatri. Gayatri Kakang.”

Upasara mengangguk-angguk.

“Katakanlah sesuatu, Kakang…”

Upasara menatap Permaisuri Rajapatni. “Yayi masih Gayatri yang pernah menjadi milik Kakang. Hanya milik Kakang seorang. Kakang percaya?” Mata Upasara memandang tak berkedip.

“Lihatlah, Kakang! Rabalah! Peganglah! Temukan hati Gayatri yang kosong, yang telah diberikan kepada Kakang. Kakang akan bisa merasakan semua. Membuktikan semua perasaanku.”

“Aku percaya, Yayi.”

Permaisuri menghela napas. Berat. Dalam. “Aku bertanya-tanya, sejak perpisahan kita. Apa yang sebenarnya Kakang cari? Pertarungan demi pertarungan, ilmu demi ilmu, jurus demi jurus, sehingga Kakang seperti jatuh-bangun. Seperti mengisi kekosongan yang tak bisa diisi. Hatiku sedih. Kenapa Kakang tidak mau menyadari apa yang sebenarnya Kakang cari? Kenapa Kakang tak mau melihat, menatap, dan merenggut apa yang ada di hadapan Kakang sekarang ini?”

Upasara mendongak ke atas. Wajahnya mengeras. “Yayi... Kakang mau menyadari sekarang ini. Menghimpun tenaga dalam, memusnahkan, membiarkan keracunan, mempelajari lagi, sungsang-sumbel mencari mati, karena jiwa yang kosong. Karena Kakang…”

“…kesepian.”

“Barangkali, Yayi.”

“Seperti yang kurasakan sepenuhnya, Kakang. Karena aku masih selalu menunggu Kakang. Karena Dewa menunjukku memberi keturunan yang kelak akan menjadi raja terbesar di tanah Jawa yang belum pernah ada, aku jalani kewajibanku. Tapi jiwaku bersama Kakang. Bahkan aku berdoa siang dan malam, agar Kakang segera datang menjemput. Mengambilku. Karena tugas muliaku sudah selesai. Tapi Kakang tak pernah datang. Sampai anak-anak besar. Kakang… katakan terus terang, apakah aku tak pantas menyanding Kakang?”

Upasara menggeleng cepat. “Kakang tak pernah mempunyai bayangan itu.”

“Kakang masih mau menerima pengabdian Yayi-mu ini?”

Genggaman tangan Upasara mengeras. Menggenggam kencang. “Aneh sekali….” Permaisuri Rajapatni memandang Upasara lekat sekali. Seakan menghitung bulu alis dan bulu hidung satu demi satu secara perlahan. "Aneh sekali. Kamu sama sekali tidak tampan, Kakang. Tidak bagus. Tidak gagah. Tak bisa disandingkan dengan Baginda, bahkan dengan kukunya yang terawat sempurna. Rambut Kakang kasar sekali…”

Upasara merasakan getaran tangan Permaisuri Rajapatni di rambutnya yang membuat tergetar. Membuat kulitnya merinding. Peka.

“Hidungmu bagai arca bersila… "Ah, Pak Toikromo pun menyesal mengambil menantu.”

“Yayi tahu tentang Pak Toikromo?” Cepat-cepat Upasara mengalihkan pembicaraan.

“Aku tahu semua yang terjadi dengan Kakang.”

“Semua? Juga pernikahan Kakang dengan Ratu Ayu Bawah Langit?”

Upasara menjilat bibirnya yang mendadak kering.

“Aneh. Kenapa aku bisa kangen pada Kakang? Kenapa aku merindukan Kakang? Jampi apa yang Kakang pakai?”

Wajah Upasara nampak lugu ketika menjawab bahwa ia tidak memakai jampi apa-apa, dan tak mengetahui hal semacam itu.

Permaisuri Rajapatni tersenyum lebar. “Aku tahu soal itu, Kakang. Kakang… Kakang! Jagat Dewa Batara, siapa yang dulu menciptakan daya asmara itu? Alangkah indahnya. Alangkah agungnya.”

“Yayi…”

Tangan Permaisuri Rajapatni menutup bibir Upasara. Jemarinya menelusuri dari sudut ke sudut. “Bibirmu sangat lebar, Kakang… Jangan bicara yang lain. Jangan singgung Ratu Ayu Azeri Baijani, jangan singgung Baginda, atau membicarakan Tunggadewi. Atau apa saja. Kita bicara mengenai diri kita. Ruangan ini menjadi pustaka asmara, kidungan kerinduan yang akan terus menggeletar sepanjang jagat masih berputar. Bibirmu lebar. Tetapi aku mengagumi. Aku merindukan.”

Upasara menangkap tangan Permaisuri Rajapatni.

“Kenapa? Kakang tidak suka?”

Upasara menggeleng.

“Kakang malu?”

“Mungkin.”

Tangan yang lembut itu mencowel pipi. “Kakang tak perlu malu. Inilah perasaan yang sesungguhnya. Tak ada siapa-siapa di sini. Dewa pun menyingkir memberi kesempatan kepada kita berdua. Jagat berhenti berputar sekarang ini. Katakan apa yang ingin Kakang katakan! Teriakkan apa yang ingin Kakang teriakkan! Cekik leherku kalau Kakang menganggap jijik! Tampar bibirku kalau Kakang anggap lancang! Rangkul tubuhku kalau Kakang mau! Jagat Dewa Batara, kenapa Kakang malah terdiam?”

Upasara menutup matanya. Kepalanya menggeleng berkali-kali. “Yayi…”

Tak ada jawaban. Hanya sorot mata saling pandang.

“Yayi…”

Dagu Permaisuri Rajapatni bergerak turun sedikit. Mengangguk. Menyilakan Upasara meneruskan kalimatnya.

“Apakah yang kita lakukan ini benar?”

“Maksud Kakang…?”

“Kita berdua di sini. Yayi adalah permaisuri Keraton. Aku sendiri…”

“Benar atau tidak, apa bedanya? Kita saling menyimpan kerinduan. Kita saling menginginkan, mengharapkan, mendoakan pertemuan ini. Kakang takut berdosa?”

“Mungkin tidak. Tapi apakah kita tidak berdosa berada berdua di sini?”

Permaisuri Rajapatni menarik tangannya. Duduk tepekur. Sejenak. “Apa Kakang menghendaki saya pergi dari ruang ini?”

Guritan Katresnan
UPASARA terperangah. Ia tak menduga bahwa Permaisuri Rajapatni benar-benar berniat melangkah ke luar. “Yayi akan keluar?”

“Kalau Kakang tidak menghendaki ditemani.”

“Tidak.”

Kaki Permaisuri Rajapatni turun ke lantai.

“Yayi Gayatri, maksudku, maksudku jangan pergi…” Sehabis mengucapkan “Yayi Gayatri”, wajah Upasara bersemu merah.

Diam-diam Gayatri geli sendiri. Upasara yang ditemui sekarang ini sama sekali tak ada bedanya dengan belasan tahun yang lalu. Ketika masih muda. Mudah kikuk, tak menentu geraknya, canggung dan serbasalah. Gayatri tahu, jika ia menanyakan kenapa Upasara memanggil dengan sebutan Yayi Gayatri, Upasara akan merasa salah dan minta maaf. Dan serba keliru lagi sikapnya.

“Kenapa Kakang memikirkan dosa?”

“Entahlah, Yayi.”

“Kakang tidak merasa bahagia sekarang ini?”

“Bahagia sekali. Tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Tapi kenapa kita bisa bersama-sama? Kenapa kita dibebani pertanyaan dan rasa bersalah?” Suara Upasara terdengar mengharukan di telinga Gayatri.

“Kakang, marilah kita mensyukuri pertemuan ini. Tanpa beban pikiran yang merisaukan. Bagaimana kalau Kakang menuliskan guritan…”

Kepala Upasara tertarik ke belakang karena herannya. Seumur-umur rasanya Upasara tak pernah menuliskan sanjak. Kecuali…

“Seperti yang terukir di dinding Keraton itu.”

“Apa itu bisa disebut guritan?”

“Kenapa tidak?”

“Kakang asal mencoret saja. Tidak tahu bagaimana tata aturannya yang benar. Yayi yang pintar tata aksara. Jangan membuat Kakang sungkan. Kalau sekarang Yayi minta Kakang maju ke medan pertarungan, Kakang akan berangkat. Tapi menulis guritan…”

“Tuliskan, Kakang! Apa Kakang menolak satu-satunya permintaanku?”

Upasara memandang kiri-kanan. Ke arah susunan kitab-kitab pusaka. “Di sini banyak kidungan yang luhur dan apik. Kita ambil salah satu pasti sudah bagus sekali. Diciptakan para empu yang sakti.”

“Aku menginginkan ciptaan Kakang. Untuk diriku.”

“Baik. Kapan-kapan, Yayi.”

“Sekarang.”

“Sekarang?”

“Sekarang. Kapan lagi?”

Upasara menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.

“Kakang Upasara Wulung. Selama menunggu Kakang, aku belajar menanak nasi, belajar membuat sajian makanan. Aku mencoba mengerti bagaimana menanam padi satu per satu, menanam bunga, memelihara ayam, ikan. Aku selalu membayangkan suatu ketika nanti kita akan hidup bersama-sama. Kakang pergi ke sawah, dan aku membantu sedikit-sedikit, lalu memasak buat Kakang. Di tengah malam, saat gerimis atau panas, saat ada rembulan atau gelap, Kakang bercerita tentang sawah, burung, dan menuliskan guritan katresnan. Hanya sesekali bercerita tentang ilmu silat. Kalau kebetulan ada penjahat. Kakang menuliskan dan menembangkan keras-keras sehingga anak-anak kita terbangun, menertawakan ayahnya yang tersipu-sipu membacakan sanjak cinta.”

Mata Upasara berkejap-kejap. Kata demi kata diucapkan Gayatri seperti hidup. Membayang jelas. Di suatu desa, mirip desa yang didiami Pak Toikromo, dirinya berkeringat, dan Gayatri membuatkan sambal serta menyiapkan nasi. Mungkin ada ayam, tikus, burung yang lewat. Tapi bayangan itu pupus tatkala teringat mengenai guritan katresnan.

“Kakang tahu berapa jumlah anak kita?”

“Tidak.”

“Tebak.”

“Berapa?”

“Kakang yang menebak.”

“Tujuh.”

“Kenapa tujuh?”

“Mana aku tahu, Yayi. Aku hanya menebak.”

“Salah.”

“Tadinya aku mau menebak delapan.”

“Salah.”

“Yang benar berapa?”

“Satu.”

“Kenapa satu?”

“Satu sudah cukup. Karena begitu lahir perangainya seperti Kakang. Mudah kikuk. Tak bisa mengutarakan perasaannya.”

Upasara tertawa lebar.

“Dan suatu hari ketika kita sudah tua, kita saling bercerita. Bahwa Kakang sebenarnya paling suka kerak nasi.”

Upasara memandang heran.

“Begini ceritanya. Kakang mau mendengarkan? Ketika kita hidup di desa, aku yang menanak nasi. Karena tak becus menanak nasi, jadi yang tersisa lebih banyak kerak nasi. Karena takut mengecewakan Kakang, kerak nasi itu aku buang setiap kali. Yang selalu kuhidangkan adalah nasi putih yang bagus. Begitu selalu setiap kali, sampai kita tua. Baru saat itu, kita saling mengetahui bahwa Kakang sebenarnya suka kerak nasi. Hanya karena kita saling coba memperhatikan, kita jadi kehilangan kesempatan yang baik. Karena Kakang terlalu sungkan mengatakan apa yang sebenarnya Kakang inginkan.”

Upasara tersenyum lebar.

“Sekarang Kakang ganti cerita.”

“Aku tak punya cerita.”

“Aku juga mendengarkan para emban yang menanak nasi.”

“Lain kali aku akan mendengarkan.”

“Kalau begitu buatkan guritan katresnan?"

Upasara menunduk. Jarinya tergetar. Bangku kayu yang dipakai duduk tergetar, karena jari-jari Upasara menoreh tajam. Gayatri menunggu.

Guritan katresnan ini
bukan ditulis tangan tapi dengan hati
guritan katresnan ini
hanya bisa dibaca
oleh rasa
Dewa keliru
ketika memisahkan
kita keliru
ketika menggambarkan
Yayi, inilah guritan katresnan
dari Kakang yang menyukai kerak nasi
Yayi, inilah kerinduan bumi…


Upasara menggelengkan kepalanya. “Rasanya malah tak bisa, Yayi.”

Wajah Gayatri berubah.

“Yayi tak suka?”

Jawabannya hanya helaan napas.

“Kalau begitu Kakang hapus saja.”

Gayatri mengangguk. “Hapus saja. Nadanya begitu sedih, begitu pasrah.”

Dengan sekali menggerakkan tangan, cukilan huruf lenyap seketika.

Angin Palguna
GAYATRI terisak.

“Kenapa, Yayi?”

“Tak apa-apa, Kakang. Tapi kenapa guritan Kakang begitu menyedihkan?”

“Aku malah tak mengerti. Sudahlah, Yayi, aku memang tak bisa. Tak becus.”

Keduanya terdiam. Bungkam.

“Kakang, bagaimana kalau Kakang bercerita tentang istri Kakang? Ratu Ayu Azeri Baijani?”

“Kakang tak tahu harus bercerita bagaimana….”

“Di mana ia berada?”

“Kakang juga tidak tahu.”

“Kakang mencintainya?”

Upasara memandang tajam ke arah Gayatri. Lalu mengangguk. “Rasanya iya. Aku mengawininya.”

“Syukur kepada Dewa. Kakang harus menyayanginya.”

“Ya, aku akan mencarinya. Pasti terjadi sesuatu yang besar sehingga ia tidak muncul lagi.”

“Gendhuk Tri?”

Upasara tak segera menangkap maksud Gayatri.

“Bagaimana dengan Gendhuk Tri?”

“Ia baik-baik saja. Barangkali tertawan, atau… ah, rasanya tak mungkin terkena racun bubuk hingga meninggal.”

“Kekasihnya mirip Kakang.”

“Ya. Tapi lebih gagah.”

“Tahukah Kakang, bahwa Gendhuk Tri mencintai Kakang?”

Upasara menggeleng.

“Kalau tidak, ia tak akan memilih Singanada yang mirip Kakang.”

“Aku tak mengerti.”

“Nyai Demang?”

“Kasihan, ia menjadi korban Eyang Berune…”

“Bukan itu. Aku menanyakan perasaan Kakang pada Nyai Demang.”

Upasara tak menjawab.

“Kakang pernah merasakan daya asmara Nyai Demang?”

Upasara mengangguk.

“Siapa lagi wanita yang Kakang kenal?”

“Kenapa Yayi bertanya yang aneh-aneh?”

“Ini bukan Palguna…”

Upasara mengerti bahwa Palguna adalah bulan hitungan kedelapan. Seperti setiap bulan ada sebutannya sendiri. Akan tetapi tak bisa menangkap maksud Gayatri.

“Pada bulan Palguna, angin meniupkan getaran asmara. Sehingga banyak perbuatan yang aneh, janggal, lucu, mengecutkan hati tapi menggetarkan, bisa terjadi.”

“Yayi percaya hal itu?”

“Bintang pun menemukan jodohnya pada Palguna.”

“Yayi percaya hal itu?”

“Sejak kecil aku diajari mempercayai hal-hal semacam itu. Alam telah memberi firasat jauh sebelum kita lahir…” Di ujung kalimatnya, suara Gayatri menjadi sember. “Itulah nasib yang dituliskan Dewa. Nasib kita, Kakang. Nasibku. Nasib Kakang. Para pendeta menemukan ramalan, menemukan firasat dari alam bahwa dari kandunganku akan lahir seorang raja terbesar yang belum ada di tanah Jawa. Bukankah itu nasib, Kakang? Bukankah setelah melahirkan anak-anak pun Kakang tak mau datang? Apakah dengan begitu, aku tak mempercayai nasib?”

Upasara mengangguk. Tangannya menggenggam tangan Gayatri dengan berani. “Kakang juga percaya, Yayi. Percaya bahwa Dewa itu Maha welas Asih. Maha asmara. Kalau tidak, kita tak akan dipertemukan. Kalau tidak, hati kita tak tergetar oleh daya asmara. Begitu banyak ksatria, begitu banyak pangeran yang menghendaki Yayi. Yang mulutnya tidak lebar, yang rambutnya tidak kasar…”

“Kakang…”

“Tapi bukankah Yayi memilih Kakang? Bukankah itu nasib Kakang yang baik?”

“Tapi bukan akhir yang bahagia?”

Upasara termenung. Matanya menerawang jauh. “Apa iya, Yayi? Aku ragu. Pertemuan seperti sekarang ini pun tak terbayangkan sebelumnya. Kalau Dewa Mahaasih mengetahui, mendengar suara hati dan keinginan kita, apa mungkin kita tidak dipersatukan?”

“Nyatanya tidak.”

Upasara menggeleng.

“Kakang, kenapa Kakang begitu baik? Kenapa nasib yang mengenaskan begini malah Kakang syukuri? Kenapa Kakang menuliskan guritan yang menyedihkan sebagai tanda katresnan?"

Tak ada jawaban. Sejak tadi Upasara hanya bisa mengangguk, menggeleng, dan tidak menjawab.

“Kenapa Kakang tidak mengubah nasib yang digariskan Dewa? Kita lari dari tempat ini. Ke ujung gunung atau ke tengah lembah. Atau mengangkat pedang sebagai ksatria. Mengumandangkan sebagai pasangan bersama. Kenapa, Kakang?”

“Karena Yayi sendiri ragu. Karena Yayi mempertanyakan apa yang Kakang risaukan. Apakah Dewa merestui hubungan kita sekarang ini? Pertanyaan itu saja menandakan keraguan pada apa yang kita lakukan.”

Gayatri menelan ludahnya. Upasara, Upasara-nya yang kikuk, yang merah padam wajahnya jika bertatapan, yang tangannya dingin dan bibirnya gemetar, adalah Upasara yang bisa mengatakan secara terus terang. Yang tidak ragu mengatakan secara jujur apa yang dirasakan.

“Nasib kita buruk sekali, Kakang. Kalau kita tak pernah tergetar asmara sebelumnya, perjalanan kita masing-masing pastilah bahagia. Aku menjadi permaisuri yang bakal menurunkan raja terbesar yang belum ada, dan Kakang bisa tenang bersama Ratu Ayu Bawah Langit.”

“Nasib kita bahagia sekali, Yayi. Tanpa bertemu Yayi, aku tak bisa mengetahui apa arti sawah, apa arti kerak nasi, apa arti guritan, apa arti asmara, apa arti mensyukuri nasib. Tanpa Yayi, aku tak mengerti apa yang kucari.”

Gayatri merebahkan kepalanya di dada Upasara yang telanjang. Menarik tangan Upasara hingga memeluk tubuhnya. “Rengkuhlah aku, Kakang! Masukkan aku ke dalam tubuhmu!”

Upasara memeluk kencang.

“Angin Palguna, jangan cepat berlalu. Biarkan aku dan Kakang Upasara menikmati selalu.”

Akan tetapi justru saat itu Gayatri melihat bahwa cahaya dari luar telah lenyap. Alam telah berubah. Tak ada lagi matahari. Angin malam terasakan.

“Sudah malam, Kakang…”

“Perutmu berbunyi, Yayi. Pasti tidak biasanya Yayi belum makan…”

Gayatri tertawa. “Kenapa Kakang bicara soal makan?”

“Karena Yayi bercerita tentang kerak nasi.”

“Ah! Sebenarnya banyak cerita yang lain. Para emban mempunyai cerita yang banyak sekali. Yang ingin kuceritakan kembali. Sengaja kucatat dan kuingat-ingat untuk kuceritakan kembali kepada Kakang. Ah! Sebenarnya banyak guritan yang kutulis. Sengaja kusimpan rapat-rapat, agar suatu kali Kakang membacanya. Mengetahui bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Tapi justru semuanya terlupa.”

“Kalau kita bersama, apa semua itu perlu?”

Gayatri merangkul, memeluk, merengkuh erat sekali. “Kakang, kalau suatu ketika kita berpisah lagi, pertemuan ini akan menjadi kenangan yang paling berharga.”

“Pun andai kita tak berpisah, kenangan ini masih tetap berharga.”

“Kakang… benarkah kamu Kakang-ku?”

Kawruh Kodrat
KEDUANYA masih berangkulan. Tenggelam dalam lamunan.

“Apa yang Kakang pikirkan?”

“Banyak sekali. Gendhuk Tri yang sudah menjadi perawan ayu. Singanada yang bahagia. Barisan Padatala yang mengganas. Nyai Demang yang dikuasai Eyang Berune. Putra Mahkota yang kini memegang tata pemerintahan…”

“Apakah Kakang selalu memikirkan itu?”

“Entahlah, Yayi. Akan tetapi kadang tak bisa melepaskan begitu saja.”

“Apakah itu yang disebut sebagai dharma ksatria?”

“Ya, Yayi. Dan aku dibesarkan dalam tata nilai begitu. Tradisi yang kuterima sejak kecil, sejak belajar berjalan, adalah tradisi berbuat kebaikan demi Keraton.”

“Nasib Kakang lebih menarik. Dilahirkan sebagai ksatria lebih jelas apa yang dilakukan. Apa yang harus dilakukan. Sedangkan aku? Kodratku sebagai sekar kedaton, sebagai bunga keraton, tak memungkinkan berbuat yang lain. Seperti juga kedua putriku. Hanya bisa menunggu. Sampai suatu hari kelak, ada lelaki yang datang meminang. Pertarungan atau perdamaian, tak akan pernah mengguncang diriku. Ah, andai aku dilahirkan sebagai ksatria, mau tak mau aku harus belajar ilmu silat. Dan barangkali ada gunanya untuk penduduk. Kakang, apakah sulit belajar ilmu silat?”

“Rasanya tidak. Siapa saja yang mempelajari bisa melakukan.”

“Kalau aku belajar sekarang ini?”

“Kenapa tidak? Di ruangan ini tersedia semua kitab ilmu silat yang ada. Tinggal membaca, memahami, dan melatih.”

“Aku tak pernah mengetahui. Bagaimana mungkin Kakang bisa menguasai semuanya?”

Upasara merasa dadanya mekar. Untuk pertama kalinya terasa kebanggaan yang membengkak. “Bukan semuanya. Dasar ilmu silat sebenarnya sama sumbernya. Yaitu cara pengerahan tenaga, cara mengatur keluar atau tertahannya tenaga. Pengendaliannya dengan melatih pernapasan. Gerakan-gerakan yang ada disesuaikan dengan apa yang dilatih selama ini. Yang kemudian ada kembangan yang beraneka warna.”

“Kalau semua belajar dari Kitab Bumi, kenapa Kakang lebih unggul?”

“Dalam ilmu silat, keunggulan hanya bersifat sementara. Di atas langit masih ada langit. Di atas atas langit masih ada matahari. Di atas matahari masih ada langit yang lain. Tak bisa dikatakan Kakang ini yang paling jago. Kakang malah merisaukan gelaran lelananging jagat yang Kakang sandang. Semua mempelajari Kitab Bumi, akan tetapi kitab utama yang menjadi babon semua ilmu silat itu hanya membuat kidungan dasar. Terutama delapan kidungan atau delapan jurus yang dinamakan Tumbal Bantala Parwa. Isinya pekat, padat, dan harus ditafsirkan kembali. Barangkali penafsiran kembali ini yang membedakan satu sama lainnya. Persiapan batin kita yang membedakan pada akhirnya. Seperti yang Kakang mainkan dengan Putaran Bumi. Jauh sebelum ini Kakang telah mencoba, telah menguasai. Akan tetapi dengan pengaturan napas yang tepat, hasilnya juga berbeda.”

“Kalau kita sama-sama mempelajari, apakah tetap berbeda hasilnya?”

“Mungkin saja, Yayi. Kenapa Yayi bertanya soal ilmu silat?”

“Aku hanya ingin membandingkan, bahkan dalam mempelajari ilmu silat pun, kodrat turut menentukan nasib seseorang. Sejak awal sudah ada pembedaan. Jadi, apa artinya kawruh, apa artinya ngelmu, apa artinya pengetahuan dan segala usaha kalau pada akhirnya bermuara kepada kodrat?”

“Terus terang aku tak bisa menjawab, Yayi. Aku menjalani tanpa risau. Tanpa mempertanyakan.”

Gayatri melepaskan diri dari rangkulan. Duduk bersila. Upasara juga bersila.

“Berarti sejak semula sudah digariskan oleh kodrat. Oleh nasib. Kemenangan dan kekalahan, mati dan hidup. Kita tinggal pasrah saja.”

“Pasrah yang tidak menyerah.”

“Itu hanya untuk menghibur diri saja, Kakang. Pasrah dalam artian yang sesungguhnya. Pasrah karena kita dikuasai kodrat. Dikuasai nasib sejak masih kecil. Pengaruh itu telah mendarah daging, dan membuat kita ketakutan. Kita terbelenggu. Sehingga kalau kita akan keluar bersama dari tempat ini, berlari ke lembah atau puncak gunung, kita tak berani melakukan. Karena kita disadarkan akan kodrat sejak awal. Karena kita dikodratkan menerima nasib. Yang satu putri keraton dan satunya ksatria tanpa ketahuan siapa orangtua nya. Kodrat sebagai permaisuri. Sehingga merasa tercela melepaskan diri dari Baginda. Sehingga Kakang perlu bertanya, apa benar yang kita lakukan saat ini? Apakah kita tak berdosa berdua sekarang ini?”

“Ya.”

“Padahal kenyataannya bisa kita balik. Apakah justru bukan melakukan suatu dosa jika aku menjalani hidup seperti sekarang ini? Apakah justru kehidupanku sebagai permaisuri ini bisa dibenarkan? Siapa yang bisa membenarkan atau menyalahkan, Kakang? Dewa? Adakah Dewa yang memberikan kodrat tertentu? Dewa? Kenapa kita selalu lari kepada Dewa sebagai kata akhir? Sebagai penentu nasib?”

“Yayi, kata-katamu membuatku gelisah. Aku tak pernah mempertanyakan itu.”

“Kakang… Kakang menderita. Tetapi aku juga lebih menderita karena kerinduan ini. Sehingga dalam doa dan semadi aku sering menggugat, sering bertanya. Tapi Dewa tak pernah menjawab. Tak pernah memberi isyarat. Tak ada perlambang. Tak ada tanda-tanda. Tak ada, Kakang. Tak ada apa-apa.”

“Hati kita yang menjawab, Yayi.”

“Benarkah? Apakah hati kita sendiri, atau hati kita rasa yang percaya kepada kodrat? Yang telah tunduk mengikuti aturan nasib?”

Upasara terdiam. Gayatri menghela napas. “Aku bisa letih, Kakang. Letih memikirkan ini semua. Tapi tak apa. Tak apa. Malam ini aku begitu bahagia. Bertemu dengan Kakang. Berbincang dengan Kakang. Aku sudah bahagia bisa merasa memiliki Kakang. Dan mengetahui bahwa Kakang masih menyimpan kerinduan yang sama. Tak apa.”

Gayatri menutup matanya. “Aku haus, Kakang…”

Upasara mengangguk. Beringsut.

“Tapi Kakang tak usah pergi. Biarlah setiap kejap kurasakan, Kakang.”

Kaki Upasara menjejak ke lantai. Keras. Sehingga terbelah. Tangan kanannya mencaruk tanah. Amblas sampai siku. Disusul tangan kiri dengan sama kerasnya. Setiap kali amblas ditarik ke atas bersama gumpalan tanah. Hingga menggunduk.

JILID 07BUKU PERTAMAJILID 09