Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 31

Bagai kerasukan Halayudha menjajal, melatih, dan mempelajari ulang. Setiap kali mencoba menyalin, Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya sehingga berkeringat dan sesudahnya menjadi keletihan.

Kenyataan ini justru membuat Putra Mahkota Kala Gemet sangat menghargai. Karena disangkanya Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyembuhkan Pendeta Sidateka yang sangat dihormati.

“Sebentar Paman Sidateka akan sembuh kembali,” kata Putra Mahkota dengan wajah berseri.

“Rasanya begitu, duh sang Calon Raja. Hamba ingin segera sembuh, akan tetapi tujuh hari mulai hari ini, biarlah hamba sendiri yang menjajal. Hamba tak ingin merepotkan Senopati Halayudha.”

“Tak apa, Paman Sidateka.”

“Maaf, tetapi hamba tak bisa menerima kebaikan ini. Hamba mohon sudilah, duh Sang Calon Raja.”

“Kalau itu permintaan Paman, itu yang menjadi keputusan.”

Halayudha menerima perintah dengan menyembah hormat. Apa yang menjadi perasaan hatinya sama sekali tak tergambar dalam wajahnya, dan sikapnya. Kegalauan Halayudha terutama sekali karena munculnya perhitungan bahwa Pendeta Sidateka mulai mengendus ada sesuatu yang mencurigakan. Dengan kata lain, Pendeta Sidateka mulai tahu bahwa sebagian ilmu yang disimpannya tercuri.

Halayudha tidak kuatir mengenai hal ini. Akan tetapi ia tak mau berhenti di tengah jalan. Apalagi ketika mulai bisa melatih, Halayudha menemukan perubahan dalam dirinya. Ada semacam keleluasaan dalam mengendalikan jurus-jurus yang dimainkan. Bahkan ketika melatih jari-jarinya, Halayudha merasa bahwa keempat jari kanannya yang kutung seperti ada kembali!

Bisa menyalurkan tenaga. Bisa tergetar. Bisa digetarkan! Bagi Halayudha itu hanya sedikit memutar akal untuk menemukan jalan, bagaimana merampas atau mengetahui isi Matirta Parwa. Jalan yang paling sederhana adalah meminjam tangan Baginda.

Jamu Asmara

HANYA masalahnya sekarang ini, Keraton masih dilanda kemelut. Suasana kurang menyenangkan. Ternyata kematian Senopati Sora dan seluruh pengikutnya sangat memukul perhatian Baginda. Sehingga resmi Baginda tidak mau ditemui siapa pun. Baik oleh semua permaisuri, maupun Halayudha. Bagi Halayudha ini sedikit aneh, karena selama ini tak pernah masuk dalam akalnya bahwa dirinya akan dijauhi. Selama ini Halayudha merasa bisa berada di dekat Baginda dalam keadaan apa pun.

“Semua kesalahan saya, Mahapatih,” kata Halayudha merendah ketika Mahapatih Nambi menghubungi. “Kesalahan saya yang utama, karena saya berlaku begitu kejam pada Senopati Sora.”

“Bukan Paman Halayudha yang berbuat itu, tetapi saya.”

“Mahapatih, tangan kanan Baginda… Bukan kesalahan Mahapatih. Inilah salah hamba, yang tak bisa menangkap maksud Baginda yang sesungguhnya. Baginda kurang berkenan pelenyapan Senopati Sora terjadi di samping Keraton.”

“Saya yang menyergapnya.”

“Betul, akan tetapi hambalah yang…”

“Paman Halayudha, kalau ini kesalahan, biarlah saya yang menanggung. Bukan Paman. Silakan Baginda menjatuhkan hukuman, saya akan menerima dengan sikap prajurit sejati.”

“Duh, Mahapatih… Kalau sekiranya Baginda bersabda apa yang menjadi salah kita, hamba tak akan serepot sekarang ini.”

“Cobalah ketahui apa kehendak Baginda. Lewat Permaisuri Indreswari…”

“Maaf, barangkali hamba lancang. Akan tetapi sesungguhnya Permaisuri Indreswari kurang berkenan dengan Mahapatih.”

Sejenak keduanya terdiam. Halayudha menunduk lesu. Merasa salah. Malu. Menyesal.

“Saya sudah merasa, Paman.”

“Permaisuri Indreswari sengaja memberi hadiah kepada Mahapatih, agar Mahapatih merasa tak menduga isi hati Permaisuri Indreswari yang sesungguhnya. Hamba hanya abdi Baginda. Keset kaki Baginda. Tak mempunyai hak untuk mendengar apalagi menceritakan.”

“Katakan saja, Paman. Adalah menjadi sikap prajurit untuk ditegur dan dipuji.”

“Mahapatih sungguh bijaksana. Luas pengetahuannya. Hanya sekali ini Mahapatih berhadapan dengan Permaisuri Indreswari yang berasal dari tanah seberang, yang kurang mengenal tata krama Keraton. Permaisuri Indreswari merasa bahwa Mahapatih di belakang hari bisa menjadi penghalang bagi takhta Putra Mahkota Kala Gemet.”

Mahapatih terdiam lama.

“Hanya karena Putra Mahkota mencalonkan Pendeta Syangka sebagai mahapatih di kelak kemudian hari. Duh, Mahapatih Nambi… sejelek dan seburuk apa pun, hamba bisa menjunjung tinggi jasa-jasa Mahapatih dalam mengabdi Keraton. Dan dalam hal ini Pendeta Sidateka bukan tandingan apa-apa. Akan tetapi dengan ilmu tenungnya, Putra Mahkota bisa dikuasai dan diarahkan. Maaf kalau hamba berbicara agak panjang-lebar, Mahapatih… Bagi hamba tak menjadi masalah kalau itu pikiran Putra Mahkota atau bahkan Permaisuri Indreswari. Akan tetapi kalau sampai terdengar Baginda, akan lain soalnya.”

Mahapatih Nambi mengangguk perlahan.

“Kadang hamba berpikir buruk untuk tak mau menyembuhkan Pendeta Sidateka… agar tak menimbulkan persoalan di belakang hari…”

“Jangan lakukan itu, Paman! Itu bukan jiwa ksatria.”

Dalam hati Halayudha menertawakan Mahapatih Nambi setengah mati. Ia merasa bisa memasukkan hasutan yang di kelak kemudian hari akan membara, dan membakar semua hubungan baik yang ada. Kalau ini sesuai dengan rencana, berarti jalan yang dirintis berhasil. Dirinyalah yang akan keluar sebagai pemenang. Bukan Nambi atau Sidateka. Melainkan Mahapatih Halayudha!

Itu berarti tinggal satu langkah saja untuk menggeser takhta Kala Gemet ke atas kepalanya sendiri. Tanpa pendukung yang kuat, Kala Gemet bukan apa-apa baginya. Terlalu gampang untuk melenyapkan.

Hari kedua Pendeta Sidateka mengurung diri, Halayudha sengaja berdandan sebagus mungkin. Sisiran dan gelungan rambutnya dibuat sedemikian rupa sehingga aneh, dan wajahnya selalu berseri-seri. Begitulah yang dilakukan selama menunggu di depan kamar Baginda. Dan seperti jebakannya, umpan ini tercium Baginda yang segera memanggilnya ke dalam kamar. Halayudha bersujud, seakan menenggelamkan wajahnya ke lantai.

“Tubuhmu bau kesturi… pakaianmu bau melati. Ada apa sebenarnya kamu ini?”

Halayudha menunduk malu-malu. “Segala dosa, biarlah hamba tanggung sendiri, Baginda. Karena tidak becus menjalankan perintah dan menjaga keluhuran Baginda, sehingga membuat Baginda berduka, hamba yang tak berguna ini…”

“Halayudha!”

“Hamba tak bisa bersembunyi dari bayangan Baginda. Selama ini hamba menjalin hubungan asmara dengan salah seorang dayang hamba sendiri.”

Bibir Baginda tertarik sedikit. “Hmmm.”

“Hamba memang sudah tua. Sudah loyo. Akan tetapi sejak hamba minum ramuan jamu asmara… rasanya menjadi muda kembali.”

Dugaan Halayudha tepat. Umpan yang tercium itu mulai diendus.

“Jamu asmara?”

“Sembah bagi Baginda. Selama ini hamba minum jamu asmara, akan tetapi hasilnya biasa-biasa saja. Akan tetapi sejak minum ramuan jamu asmara Mpu Suwanda… rasanya agak berbeda.”

“Mpu Suwanda?”

“Hamya bagian tumbuh-tumbuhan, tetuwuhan…”

Umpan yang terendus ini mulai disentuh dengan bibir. Dengan gigi. Meskipun sambil lalu, Baginda menanyakan siapa Mpu Suwanda. Dan dengan rendah hati, Halayudha menjelaskan abdi dalem bagian tetuwuhan ini tak pernah diperhitungkan sebelumnya. Malah dijauhi oleh para tabit Keraton. Para tabit atau tabib Keraton menganggap selama ini Mpu Suwanda hanya mempelajari pengobatan yang kasar dan rendah.

Sesuai dengan namanya suwanda yang artinya badan atau tubuh. Yang bersifat badani. Tapi justru berhasil menemukan ramuan jamu asmara yang khasiatnya membuat Halayudha merasa kembali muda. Secara tidak langsung Baginda mengatakan keheranannya. Bagi Halayudha ini sudah berarti Baginda telah memakan umpan. Secara bulat-bulat.

“Barangkali Baginda ingin melihat hasil yang dibuat oleh Mpu Suwanda. Sebagai abdi dalem, akan merasa sangat terhormat sekali kalau Baginda berkenan melihat apa yang diperbuat. Hamba seharusnya melaporkan semua yang terjadi… tetapi hal ini terlalu sepele di hadapan Baginda…”

Secara tidak langsung pula Halayudha meninggalkan contoh akar-akar yang bila diseduh memberikan kekuatan asmara. Perhitungan Halayudha, Baginda sedikit-banyak akan sungkan kalau diketahui menggunakan jamu asmara. Karena sudah ada tabit Keraton yang diam-diam menyediakan. Maka dengan meninggalkan contoh, pasti Baginda dengan diam-diam akan mencoba. Perhitungan Halayudha sangat sederhana. Bahwa Baginda juga seorang lelaki. Lebih dari dirinya, Baginda mempunyai pilihan dan kesibukan yang lebih beragam. Nyatanya begitu.

“Tapi dari mana Tabit Suwanda menemukan ramuan yang begitu khusus?”

“Menurut pengakuannya, diperoleh dari Pendeta Sidateka, dari kitab yang disebut Prawita Parwa, yang disimpan secara diam-diam. Hanya saja belum seluruhnya terpelajari, karena Pendeta Sidateka sengaja merahasiakan. Malah, kalau hamba tidak salah, sekarang tak mau dijenguk siapa pun.”

Baginda mengeluarkan suara dingin. “Panggil Kala Gemet kemari. Biar ia yang membawa kitab itu kemari. Sekarang juga.”

Tirta Haruna

RASANYA, sebelum kata-kata Baginda selesai, kitab yang dimaksudkan sudah bisa diambil. Tak ayal lagi segera Halayudha mengambil salah seorang untuk dipaksa mengaku sebagai Tabit Suwanda, yang kemudian membuat jamu asmara. Halayudha sendiri lebih memikirkan Matirta Parwa. Beberapa yang sudah dihafal dan dicatat dicocokkan kembali. Tak ada satu patah kata pun yang meleset.

Namun ini tidak membuat Halayudha bergembira. Justru sebaliknya. Hatinya menjadi was was. Karena merasa bahwa Pendeta Sidateka sengaja memasang jebakan untuknya. Dengan sengaja kitab itu diberikan, akan tetapi sebenarnya telah diubah! Telah dibuatkan catatan yang baru, yang justru akan mencelakakan Halayudha! Pasti. Tak bisa lain.

Pendeta Sidateka bukan orang yang bodoh, bukan tokoh yang begitu saja menyerahkan kitab pusaka. Apalagi kepada seseorang yang sama sekali tak bisa dipercayai. Jalan pikiran Halayudha menggambarkan siapa dirinya. Kalau dirinya adalah Pendeta Sidateka, hal yang sama inilah yang dilakukan. Karena tak mungkin menolak perintah Raja, kitab diserahkan setelah diubah sedemikian rupa. Agar si penerima tidak curiga, bagian yang telah disalin tetap dibuat sedemikian rupa sama persis. Yang lainnya diubah susunannya. Sehingga kalau berlatih dengan urutan yang berbeda, hasilnya akan berbalik.

Itu sebabnya Pendeta Sidateka meminta waktu satu pekan agar tidak diganggu sama sekali. Apa lagi yang diperbuatnya kalau tidak berusaha mengelabui? Apa lagi selain waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan perubahan? Hal yang sangat mudah dilakukan karena lembaran kain sutra itu memang tidak memakai urutan.

“Ia bisa mengelabui Raja, tetapi tidak seorang Halayudha,” kata Halayudha pada dirinya sendiri.

Jalan terbaik yang akan ditempuh ialah mencoba mengurutkan sendiri, sesuai dengan kemampuannya. Dengan cara ini, ia akan berpura-pura teracuni, dan pada saat itu justru akan bangkit menyikat lawan-lawan atau penghalangnya. Karena tidak mempunyai lawan bicara yang bisa mendengarkan dengan baik, Halayudha lebih suka berkata pada dirinya sendiri, dan menjawab sendiri.

Kidungan kedua, bisa disebut Tirta Haruna
Tirta itu air, Haruna itu kijang
Air Kijang, ialah kijang yang menjadi air
hanyut tapi tak bisa larut
hanyut kala tak melawan
berarti harus bisa surut
berarti berani berkorban
kijang akan melompat
tetapi Air Kijang mengikuti arus
tenaga melompat menjadi tenaga arus
tenaga berlari empat kaki
tenaga lurus
walau ada rumput
bukan makanan
walau ada air
tak merasa haus
Air Kijang terus
terus-menerus tanpa putus…


Benar sekali. Halayudha bisa mengalirkan semua tenaganya mengikuti gerakan air. Ilmu silat yang dimiliki selama ini bisa diubah sedemikian rupa sehingga menyerupai tenaga air. Mengalir, tenang tanpa beriak. Bahwa masih ada gangguan dalam penyaluran, ia percaya itu pada mulanya. Kalau ia bisa mengubah sikap “kijang” dalam dirinya, pasti akan menemukan sesuatu. Kijang yang bisa hanyut adalah kijang larut. Seumpama kijang yang mati.

Agak mengherankan, tetapi terbukti hasilnya. Halayudha makin penasaran dan makin larut dalam latihan. Bahkan kemudian terbersit dalam pikirannya bahwa gerakan-gerakan seperti yang dilatih ini rasa-rasanya pernah dijumpai. Ada yang pernah dikenali. Dalam waktu yang belum terlalu lama. Siapa yang mempraktekkan selama ini? Jelas bukan Pendeta Sidateka yang cara-cara menggali dan melatih pernapasannya sangat berbeda. Juga bukan Upasara Wulung atau dari Perguruan Awan. Juga bukan dari ilmu dasarnya sendiri.

Mengalami berbagai pertarungan, Halayudha memeras otaknya untuk menemukan yang paling tepat. Selama ini telah disaksikannya sekian banyak jurus ilmu silat dari berbagai penjuru jagat. Yang agak aneh dan berbeda dan tidak segera bisa diketahui sumbernya ialah jurus-jurus Galih Kaliki. Jurus-jurus itu bahkan tidak mempunyai nama yang bisa dikenali. Baru kemudian sekali, diketahui bahwa sumber utamanya tak berbeda jauh dengan jurus-jurus dari Jepun.

Yang sama anehnya dan selama ini boleh dikatakan tidak dikenal namanya adalah jurus-jurus yang dimainkan oleh… Gendhuk Tri! Bocah kecil itu memang mempelajari banyak ilmu dari berbagai sumber. Akan tetapi gerakan dasar yang pertama diterima dengan memainkan selendang warna-warni, sampai sekarang masih merupakan teka-teki. Hanya menurut kabar, Gendhuk Tri murid seorang penari Keraton Singasari yang bernama Jagaddhita. Dan penari itu menjadi murid tidak langsung Mpu Raganata.

Apakah ini berarti Kitab Air ini berasal dari Mpu Raganata? Harusnya iya. Akan tetapi nyatanya tidak sesederhana itu. Mpu Raganata justru dikenal karena ilmu Weruh Sadurunging Winarah yang sudah kondang. Mana mungkin seorang seperti Mpu Raganata menciptakan ilmu yang sama sekali berbeda dasarnya?

“Tak bisa lain, jurus-jurus dari kitab ini ada hubungannya dengan air. Ada hubungannya dengan wanita. Kalau Kitab Bumi bisa diumpamakan lelaki, Kitab Air justru bisa disejajarkan dengan wanita. Lalu siapa penciptanya?”

Pertanyaan Halayudha tak menemukan jawaban. Dibaca dari awal sampai akhir, tak ada nama atau singgungan nama seseorang. Baik tersamar maupun terang-terangan.

“Satu-satunya jalan ialah dengan menyelidiki dari Gendhuk Tri.”

Pertanyaan dan sekaligus jawaban ini, membuat Halayudha bertekad menemukan Gendhuk Tri. Ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyebar dan mencari tahu di mana Gendhuk Tri. Yang pasti hanya ada di sekitar Keraton. Perhitungan Halayudha didasarkan pada sifat bocah yang masih serba ingin tahu, dan sedang berlangsung kejadian di Keraton. Ini sama sekali tidak meleset.

Gendhuk Tri memang masih berada di sekitar Keraton. Sejak ia kena ilmu membisu dari Ratu Ayu Bawah Langit, Gendhuk Tri hanya bisa bengong melompong. Juga ketika matanya melihat sendiri bagaimana Upasara Wulung menggandeng Nyai Demang meloncati dinding Keraton. Hatinya gondok luar biasa. Tapi tak bisa berbuat suatu apa. Karena masih terkena ilmu semacam totokan jalan darah yang membuat Gendhuk Tri mematung. Dendamnya segunung. Baik kepada Ratu Ayu Bawah Langit, kepada Nyai Demang, maupun kepada Upasara Wulung.

Baginya ini tindakan Upasara yang paling tak bisa diterima. Upasara Wulung adalah kakaknya, gambaran terbaiknya akan seorang lelaki. Maka sungguh tak masuk akal sama sekali seorang Upasara menggandeng Mbakyu Demang-nya! Lewat tengah malam, barulah tubuh Gendhuk Tri yang kaku bisa digerakkan kembali. Agaknya pengaruh aji sirep Ratu Turkana memang tidak dimaksudkan untuk membunuhnya. Hanya sekadar membungkam geraknya untuk sementara waktu.

Tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Gendhuk Tri untuk menerjang dan menuntut balas. Hanya saja ketika ia berindap menuju ke tempat peristirahatan rombongan dari Turkana, yang ditemui itu berlalu tanpa ketahuan ke mana perginya. Tanpa diketahui kepada siapa ia akan bertanya. Juga tak bisa melampiaskan kesalnya kepada orang lain. Jadinya Gendhuk Tri merasa serbasalah.

Dalam keadaan seperti itu, segala apa bisa dilakukan. Segala tindakan kecil yang membuatnya tidak suka, bisa membuat tangannya melayang dengan kasar. Selendang yang warna-warni bisa mengedut untuk mencabut nyawa.

Pertemuan Jinalaya

SEBENARNYA sewaktu Senopati Sora dan pengikutnya dikepung Mahapatih Nambi, Gendhuk Tri mengetahui. Andai saja ia masuk ke dalam pertarungan, ia bisa mengetahui kehadiran Upasara. Hanya saja belum tentu juga menjadi lilih atau berkurang gusarnya. Karena pada dasarnya, Gendhuk Tri sangat memuja Upasara Wulung. Lebih dari siapa pun di jagat ini. Baik sebagai kakak, sebagai ayah, sebagai guru, atau bahkan sesembahan dalam arti yang luas.

Dalam alam pikiran Gendhuk Tri, Upasara adalah ksatria sejati. Satu-satunya tokoh yang putih bersih dan baik hati. Bahwa kemudian hati kecilnya sangat kecewa karena Upasara menerima tawaran lamaran Ratu Ayu Bawah Langit, itu tak mengubah pemujaan kepada Upasara. Kejadian semacam ini masih bisa masuk dalam akalnya. Akan tetapi tidak kalau menggandeng Nyai Demang. Itu semacam pengkhianat tanpa ampun. Dunia akhirat akan mencatat kedurhakaan semacam ini.

Kalaupun ini semua karena jalan pikiran Gendhuk Tri yang masih serba kekanak-kanakan, belum tentu bisa berubah pada perjalanan hidupnya nanti. Saat sekarang ini, yang ada dalam hati Gendhuk Tri hanyalah kekesalan yang luar biasa sengitnya. Segala apa yang dipercayai menjadi goyah. Maka ketika ia mendengar ada pertemuan Jinalaya, ia langsung berangkat, tanpa perlu banyak bertanya.

“Siapa tahu wanita tak tahu diri itu ada di sana,” pikir Gendhuk Tri sambil menuju ke bekas tempat bersemadi Baginda Raja Sri Kertanegara.

Gendhuk Tri tahu bahwa Jinalaya adalah istilah yang dulu digunakan untuk menyebut bahwa Baginda Raja wafat. Jina bisa berarti gelas Sang Budha, atau cawan Sang Budha. Sedangkan laya bisa berarti tempat tinggal, rusak, mati, atau musnah. Kata sandi Jinalaya digunakan bagi para pengikut setia yang menggambarkan bahwa Baginda Raja kini kembali ke tempat tinggal asal mulanya, yaitu ke dalam gelas Sang Budha. Walau Baginda Raja telah lama wafat, ini semua tak mengurangi pemujaan yang selalu dilakukan oleh pengikutnya yang setia.

Raja yang sekarang memerintah Keraton Majapahit tidak secara terang-terangan melarang, walau juga tidak secara terang-terangan merestui pemujaan pada saat-saat tertentu. Hanya saja, sejak Putra Mahkota Kala Gemet memaklumkan gelaran yang tidak lagi menunjukkan keturunan langsung dari Baginda Raja, kegiatan pertemuan Jinalaya dianggap menentang Keraton. Sehingga pengikut-pengikut setia Baginda Raja Sri Kertanegara menjadi ketakutan. Karena bisa menemukan kesulitan suatu ketika. Namun, walaupun banyak larangan dan hambatan, nyatanya pertemuan Jinalaya, memperingati hari-hari terakhir Baginda Raja, masih tetap berlangsung.

Ke sanalah Gendhuk Tri datang, dan langsung bergabung. Berada dalam kerumunan di antara orang-orang yang tak dikenalnya, yang mengadakan upacara doa bagi Baginda Raja. Sambil satu per satu memuji kebesaran Baginda Raja. Ada semacam panggung di mana setiap orang berhak maju dan memuji. Kurang dari setengah penanak nasi, Gendhuk Tri sudah merasa sebal. Telinganya menjadi gatal. Demikian juga bibirnya.

“Jagat ini tadinya gelap gulita,” tutur seorang pembicara yang memegang tombak panjang. “Matahari belum ada. Dunia dalam kegelapan, sampai lahirlah Baginda Raja yang perkasa. Sejak saat itu matahari bisa bersinar. Bulan mau muncul. Padi bisa ditanam. Manusia tak lagi bergayutan di pohon seperti kera. Sungguh besar jasa Baginda Raja.”

Lalu yang hadir menggumamkan nama Baginda Raja sambil menyembah. Gendhuk Tri terbatuk karena tak bisa menguasai perasaannya. Apalagi ketika pembicara kedua, yang membawa dua golok panjang, mulai maju ke tengah.

“Ketika Baginda Raja memerintah, Keraton menjadi aman dan makmur, seadil-adilnya. Sedemikian tenteram dan bahagianya, sehingga mampu mengalahkan ketenteraman Jonggring Saloka, tempat bersemayam para Dewa. Sehingga karena iri, para Dewa turun ke bumi. Menggoda Baginda Raja agar Baginda Raja berkenan memerintah Dewa. Tapi Baginda Raja menganggap bahwa para Dewa lebih susah diatur daripada rakyat Singasari. Dengan kata lain, Dewa pun kalah pamornya. Apa yang saya ceritakan ini, berdasarkan penuturan para Dewa sendiri.”

Kembali terdengar gumam pujian. Giliran pembicara ketiga maju, Gendhuk Tri berteriak,

“Para tikus busuk, tanpa membuka mulut pun kalian sudah bau tengik. Jangan memperburuk keadaan. Mendengar omongan kalian, Baginda Raja bisa sakit perut.”

Suara Gendhuk Tri luar biasa nyaringnya. Semua yang mendengarnya menoleh ke arahnya dengan wajah gusar. Apa yang diucapkan Gendhuk Tri memang menyentak pada sasaran. Ia mengatakan ini pertemuan tikus busuk, sesuatu perasaan. Karena Gendhuk Tri mengucapkan kata jina seolah terdengar sebagai jinada. Jina adalah gelas Sang Budha, sedangkan jinada artinya tikus. Jelas sangat kurang ajar.

Lebih dari itu, dengan kalimat enteng Gendhuk Tri menyebutkan Baginda Raja bisa sakit perut. Dalam anggapan para pemujanya, Baginda Raja lebih hebat dari Dewa. Mana mungkin disamakan begitu saja dengan orang biasa yang bisa sakit perut?

“Kisanak semua, harap tenang… Kalau ada setan yang menyusup kemari, itu sudah biasa. Tikus yang kegerahan akan keluar dari sarangnya untuk mencari seseorang yang mau membunuhnya. Ajaran Baginda Raja adalah kasih sayang…”

Pembicara pertama yang memegang tombak mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Tombaknya menjadi garang.

“Tikus tersesat yang tidak melihat cahaya suci Baginda Raja Sri Kertanegara, apa maksudmu mengatakan dengan mulut kotor?”

“Kalian semua tikus tersesat yang kotor, bau, tengik. Kalian pikir apa gunanya memakai sebutan pertemuan Jinalaya kalau isinya cuma ocehan mabuk begini?”

Semua yang hadir menggerung serentak. Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya. Kedua kakinya menyepak kiri-kanan secara serentak. Lima orang mengerang serentak. Termasuk yang memegang tombak. Kalau tadinya Gendhuk Tri menduga pertemuan ini hanya dihadiri anggota-anggota yang ilmu silatnya masih pasaran, kini merasa bahwa dugaannya terlalu tinggi. Kumpulan manusia ini ternyata hanya bisa mengumbar kata-kata, gagah dalam penampilan dan senjata hebat. Tapi ternyata ilmu silat mereka masih jauh dari persyaratan.

Sehingga dengan sekali gebrak saja seluruh kepungan jebol. Gendhuk Tri mengedut selendangnya sekali lagi. Kali ini dengan gerakan kedua tangan dan kedua kaki sekaligus berjumpalitan di udara. Setiap gerakan membuat dua pengepung merintih kesakitan. Ada yang lepas genggaman senjatanya, ada yang memegangi tulang keringnya yang serasa retak. Gendhuk Tri meludah ke tanah.

“Tengik dan kecing. Yang begini kalian namakan memuja Baginda Raja? Hari ini akan saya sembelih kalian semua.”

Di luar dugaan Gendhuk Tri, ternyata yang mengepungnya tidak lari ketakutan. Malah berdiri berjajar. Dan bersuara secara bersama. Bagai koor.

“Mari kita mati bersama, Saudara. Demi Baginda Raja. Lebih dari Dewa Syiwa. Lebih dari Budha. Mari, Saudara…”

Mereka malah bergerak mendekati Gendhuk Tri. Yang kalau mau dengan sekali mengebutkan selendangnya, pasti jatuh dua korban sekaligus.

“Tengik! Kalian ini apa maunya?”

Si pemegang golok berat mendongak. “Kalau kami mau disembelih karena Baginda Raja, kami akan bahagia. Lakukan, setan kecil.”

Gendhuk Tri menggerakkan selendangnya. Menggulung golok berat dan menyentakkan. Golok itu berubah arah, menuju leher pemiliknya! Yang bergeming.

Cebol Kepalang

GENDHUK TRI merinding sendiri. Dan arah golok berat itu dialihkan ke ruang kosong. Berkelontangan ketika saling beradu. Menunjukkan bahan yang dipakai untuk membuat bukan besi utama.

“Aduh!” Justru jeritan itu terdengar dari pemilik golok yang segera menjatuhkan diri seolah mati.

“Kalian ini benar-benar tengik. Biar aku bunuh semua. Agar tak mengganggu pemandangan dan merusakkan pendengaran dengan omongan yang kacau.”

Gendhuk Tri bersiap.

“Akhirnya ada juga yang mau berbuat baik dan berbudi luhur.”

Gerakan tangan Gendhuk Tri justru terhenti karenanya. Pandangannya bisa menemukan arah suara. Yang tadi tak diduga karena berasal dari seorang yang berkulit sangat hitam, dan terus duduk sejak tadi.

“Ya, kamu yang mati lebih dulu.”

Gendhuk Tri menyampok dengan selendangnya. Ujung selendang memancarkan tenaga pukulan. Tubuh membungkuk hitam itu terlempar ke atas. Kali ini Gendhuk Tri yang bengong. Rasanya tak percaya apa yang dilihat. Bukan karena ilmunya menjadi mentah. Bukan karena lawan memiliki daya tangkis. Justru sebaliknya. Tubuh hitam kecil itu benar-benar terpental. Yang tak diduga Gendhuk Tri, tubuh itu benar-benar kecil, pendek, bagai segumpal arang.

Kembali Gendhuk Tri mengubah kedutannya. Kali ini memakai tenaga menarik, sehingga tubuh kecil itu terbanting tepat di depan kakinya. Dan memang kecil, pendek, hitam. Terduduk tak bergerak.

“Cebol kepalang, apa maumu?”

Cebol kepalang adalah istilah untuk menyebut seorang yang kerdil, akan tetapi nampak biasa kala duduk, dan kelihatan lebih pendek kala berdiri.

“Mauku, maulah berbuat baik padaku.” Tenang sekali suaranya.

“Membunuhmu?”

“Itulah budi baik.”

“Tunggu dulu. Siapa namamu?”

“Kamu sudah menyebut Cebol. Apa pun namaku, apa bedanya?”

“Cebol kan sebutan, bukan nama.”

“Itulah namaku. Cebol. Bisa ditambahi hitam. Bisa diperhalus, tapi tetap Cebol.”

Di balik ucapan yang seolah penuh pemikiran itu, ternyata tak ada apa-apanya. Dari sentakan tadi, Gendhuk Tri yakin bahwa Cebol ini memang tak memiliki ilmu silat apa-apa. Juga yang lainnya.

“Tengik. Sungguh tak bisa kumengerti. Kedengarannya saja gagah. Pertemuan Jinalaya, tak tahunya hanya comberan seperti lumpur busuk yang berkumpul.”

“Kami memang comberan, memang lumpur, memang busuk. Kenapa tidak dihilangkan saja agar tak mengganggu?”

“Kalian bisa cari mati sendiri.”

“Itu mendurhaka ajaran Baginda Raja.”

“Siapa bilang?”

Jawabannya ternyata koor bersamaan.

“Tunggu dulu. Tunggu dulu. Aku berjanji akan menyembelih kalian satu per satu, atau bersamaan. Tetapi jelaskan dulu, apa mau kalian dan apa gunanya kalian berkumpul di sini?”

“Meneruskan ajaran Baginda Raja,” jawab Cebol.

“Jadi kalian menganggap diri kalian ini ksatria, pendekar, atau bahkan pendeta?”

“Tidak semuanya.”

“Lalu?”

“Kami adalah kami.”

“Kenapa memakai nama pertemuan Jinalaya segala?”

“Gadis berbudi luhur. Siapa yang mengatakan bahwa Baginda Raja yang bijak bestari hanya milik para ksatria, para senopati, para prajurit, para pendeta? Kami juga rakyat Baginda Raja yang dikasihi. Zaman Baginda Raja bertakhta, kami dihargai. Tidak peduli pendek atau panjang. Tidak pandang cebol atau jangkung. Tidak peduli ksatria atau pendeta.”

Lalu terdengar suara bersama.

“Begitulah Baginda Raja… Sumber segala cahaya… Di jagat…”

Lirik berikutnya tak bisa terdengar sempurna. Gendhuk Tri menggelengkan kepalanya.

“Cebol Jinalaya… Baiklah kamu kupanggil begitu saja. Karena kelihatannya kamu paling waras… Apa tujuan kalian sebenarnya?”

“Menunggu perkenan Baginda Raja memanggil kami. Di alam sana lebih baik, lebih damai, lebih adil, sebab di sana ada Baginda Raja.”

“Itulah yang tidak waras.”

“Gadis baik budi, kamu sudah berjanji mau menyembelih kami. Kami menagih janji.”

Belum pernah Gendhuk Tri menjadi pusing hingga memegangi kepalanya yang pening. Ini aneh! Di suatu tempat bisa berkumpul begitu banyak orang. Semua memuja kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara. Berbeda dengan pemujaan para ksatria, para senopati yang kembali dari mancanegara, mereka ini asal berucap saja. Dan sangat berlebihan. Tapi bukan salah sama sekali.

Siapa yang mengharuskan bahwa Baginda Raja hanya boleh menjadi pujaan bagi para ksatria? Siapa berhak melarang bahwa Cebol kepalang atau yang lainnya ini memuja? Bukankah mereka ini yang dulu merasakan tenang dan tenteram serta tidak dipermalukan hanya karena tubuhnya cebol dan kulitnya hitam?

“Saya tidak meminta, tetapi saya mau disembelih lebih dulu,” kata pemegang tombak.

“Setelah itu saya,” kata yang memegang golok.

“Atau kita bertiga bersama-sama,” kata Cebol Jinalaya.

“Itu mudah sekali. Kalau bukan aku, pasti ada yang lainnya. Prajurit Keraton akan senang sekali menangkap dan membunuh kalian.”

“Sekarang tak ada lagi. Bahkan beberapa prajurit Keraton bergabung bersama kami.”

Dagu Gendhuk Tri tertarik. Memang terlihat ada beberapa wajah dan badan yang penuh dengan otot terlatih. Setidaknya lebih berisi dari yang lainnya.

“Cebol, berapa umurmu? Apa aku harus memanggil Paman atau Kakek Cebol?”

“Panggil Eyang Cebol juga boleh, asal segera disembelih.”

Gendhuk Tri menemukan dirinya berada di tengah kerumunan. Alih-alih ia sendiri yang menjadi repot karenanya. Karena kalau mereka semua mendesak ingin disembelih bisa memuakkan. Kalau tadi karena murka, sekarang justru iba.

“Aku sudah janji. Tak nanti aku menarik apa yang kukatakan. Hanya saja sebelum aku membunuh kalian semua, aku akan menanyakan sesuatu kepada Cebol Jinalaya. Nah, sekarang dengar baik-baik.”

Semua terdiam. Gendhuk Tri berniat meloncat dan segera melarikan diri. Seluruh bulu tubuhnya berdiri. Kini, seluruh perasaannya justru dibalut perasaan takut dan ngeri.nGendhuk Tri pernah berada dalam Gua Pintu Seribu yang ditimbuni dan ditutup. Dikubur hidup-hidup. Akan tetapi saat itu, meskipun menyaksikan mayat membusuk, Gendhuk Tri tak merasa ngeri seperti sekarang ini. Maka cara yang terbaik adalah segera melarikan diri.

“Yang masuk tak bisa keluar. Yang keluar bisa masuk.”

Gendhuk Tri membelalak. Dari keremangan di ujung, muncul sosok tubuh Nyai Demang! Ya, Nyai Demang yang sangat dibenci. Lebih memuakkan lagi Nyai Demang tengah menggendong seorang lelaki tua yang merangkul kencang.

“Nyai!”

Nyai Demang menoleh ke arah Gendhuk Tri. Gendhuk Tri lebih merasa ngeri karena pandangan Nyai Demang seolah kosong.

“Hei, kamu Nyai Demang… Mbakyu Demang, kan?”

“Rasanya nama itu pernah kudengar. Siapa kamu?”

Ini maha aneh! Masa Nyai Demang menanyakan siapa Gendhuk Tri?

“Di mana Kakang?”

Manusia Delahan

BARU kemudian Gendhuk Tri menyadari omongannya sendiri melantur tak keruan. Karena pada pertemuan pertama sudah langsung menanyakan di mana Upasara!

“Kakang… Kakang siapa?”

“Kakangku. Yang menggandeng Nyai di luar pagar Keraton.”

Nyai Demang tertawa. “Ini kakangmu. Sudah jadi manusia delahan, masih juga merangkulku.”

Tubuh Gendhuk Tri lemas. Matanya berkunang-kunang. Kakinya kesemutan, hingga tanpa terasa berlutut. Kalau tadi merasa sangat ngeri, sekarang lebih lagi. Sedemikian keras hantaman menonjok kesadarannya, sehingga kedua kakinya tak mampu menyangga tubuhnya. Kalau bisa memilih mati, Gendhuk Tri merasa lebih lega. Nyai Demang menjadi seorang yang sangat menakutkan. Belum lama disaksikan ketika Nyai Demang masih digandeng mesra oleh Upasara Wulung. Kini sudah seperti orang linglung. Kehilangan pikiran. Rambutnya terurai, matanya kosong tanpa makna.

Puncak dari kengerian yang paling melipat habis keberanian Gendhuk Tri ialah kenyataan Nyai Demang menggendong seorang lelaki tua yang merangkulnya, yang disebut manusia delahan. Manusia delahan, bisa berarti manusia akhirat, manusia yang telah berakhir, alias mayat. Berarti Nyai Demang selalu menggendong mayat yang tak bisa dilepaskan! Apalagi yang lebih mengerikan dari ini semua?

“Manusia delahan ini namanya Kakek Berune. Katanya ahli Pukulan Pu-Ni. Tapi sejak kugendong tak bergerak tak bernapas. Tapi terus merangkul. Bagus, ya?”

Air mata Gendhuk Tri mengembeng. Beku. Setelah sedikit bisa menata perasaannya, Gendhuk Tri berbisik kepada Cebol Jinalaya.

“Sejak kapan Mbakyu Demang berada di sini?”

“Tak ada gunanya dihitung. Ini tempat terbuka. Siapa saja bisa masuk menjadi anggota dan tak keluar lagi.”

“Peraturan siapa?”

“Peraturan begitu. Siapa keluar dari kerumunan akan didekati, agar membunuh kami lebih dulu.”

Napas Gendhuk Tri tertahan.

“Kamulah gadis berbudi yang mau menyembelih kami tanpa diminta.”

Gendhuk Tri mengangguk perlahan. Tubuhnya masih gemetar. Kaki dan tangannya masih gemetar seperti kesemutan. Akan tetapi tekadnya mulai tumbuh.

“Cebol, kamu akan kubunuh lebih dulu. Akan tetapi bagaimana mungkin aku bisa membunuh yang ada di sini semua? Bagaimana kalau kita jalan bersama menuju Keraton Majapahit?”

“Di sini Baginda Raja mangkat, dari tempat ini pula kami mengikuti…”

“Baik, baik, Cebol… Rasanya hanya perlu waktu sedikit…”

Gendhuk Tri menoleh ke arah Nyai Demang yang tetap berjalan kian-kemari sambil menggendong Kakek Berune.

“Nyai…”

“Aku?”

“Ya… Mbakyu. Mbakyu ingat kidungan Kitab Bumi?”

“Kitab Bumi? Ingat.”

“Coba kidungkan.”

Gendhuk Tri menatap sambil berdebar. Mulutnya berkomat-kamit. “Kidungan awal, kidungan pembuka…”

Nyai Demang mengangguk-angguk. Yang masuk tak bisa keluar Yang keluar tidak ada Baginda Raja lebih dari Dewa karena Dewa berguru padanya…

Gendhuk Tri benar-benar putus asa. Kondisi Nyai Demang sangat gawat. Ingatannya sudah tak bisa dikontrol lagi. Dengan mengingatkan Kitab Bumi, tadinya Gendhuk Tri yakin bisa membimbing pikiran Nyai Demang. Karena justru Nyai Demang-lah yang dulu berhasil menumbuhkan semangat hidup Upasara.

“Bukan itu, Nyai.”

“Memang Kitab Bumi dimulai dengan bukan, dengan tidak, tiada…”

“Nyai…”

“Aku?”

“Nyai ingat Kakang Upasara Wulung?”

“Upasara?”

“Ya, Adimas Upasara Wulung.”

“Adimas… Adimas… Ya, ya… ada Kiai Sambartaka, Pendeta Sidateka, Kakek Berune, tubuhnya berkelojotan, aku yang menggendong, lalu aku menggendong, lalu…”

Gendhuk Tri berusaha mendekati Nyai Demang. Akan tetapi seluruh yang hadir juga bergerak.

“Begini saja,” kata Gendhuk Tri mendadak karena mendapat bersitan pikiran. “Kalian meneruskan pujian kebesaran Baginda Raja… Ayo kita mulai lagi…” Gendhuk Tri membujuk Cebol Jinalaya.

“Paman Demeng… coba Paman mulai…” Gendhuk Tri memohon dengan menyebut Paman Demeng, atau Paman Hitam, tanpa menyebut Cebol.

Begitu Cebol Jinalaya menuju ke bagian tengah, semua perhatian tertuju padanya. Napas Gendhuk Tri berangsur tenang. Perlahan ia mulai menyurutkan diri menuju ke bagian tepi. Agar bisa meloloskan diri. Setidaknya ini yang paling selamat. Satu-satunya yang mengganjal hatinya ialah bahwa ia tak bisa mengajak Nyai Demang. Namun dalam hatinya, Gendhuk Tri berjanji akan segera kembali untuk membawanya.

Biar bagaimanapun benci dan dendamnya, Gendhuk Tri tetap merasa tak tega. Ternyata pertemuan Jinalaya ini seperti adonan lumpur yang bisa dibentuk semaunya. Karena kini semua memandang dan mendengarkan omongan pujian Cebol Jinalaya. Yang segera disusul yang lainnya. Tanpa memedulikan betul di mana dan bagaimana janji Gendhuk Tri.

Sampai di bagian pinggir, Gendhuk Tri bersiap meloncat pergi. Akan tetapi Cebol Jinalaya sudah berdiri di sampingnya. Tak mencapai pinggang Gendhuk Tri, akan tetapi suaranya begitu jelas di telinga Gendhuk Tri.

“Kamu mau tinggalkan kami, gadis berbudi luhur?”

“Membunuh orang lain tanpa sebab, bukan ajaran Baginda Raja.”

“Ke mana kamu mau pergi?”

“Paman Demeng boleh ikut kalau mau.”

Tanpa menunggu persetujuan, Gendhuk Tri mencekal tangan Cebol Jinalaya. Begitu menjejakkan kaki, tubuhnya melayang dengan cepat. Bebas sudah. Bahkan tak ada yang menduga. Hanya saja begitu kakinya hinggap di tanah, terdengar suara yang bernada gembira.

“Bagus sekali. Itulah gerakan air mengikuti angin.”

Gendhuk Tri melepaskan cekalan Cebol Jinalaya. Langsung membuat gerakan bersiaga. Empat helai selendangnya bergerak naik terjepit jari-jarinya.

“Tidak. Tidak terlalu tepat. Gerakan menjepit tidak selalu telunjuk dan ibu jari. Semua jari bisa digunakan. Jari tengah dan kelingking pun bisa. Sayang saya tidak memiliki lagi.”

Halayudha memperlihatkan tangan kanannya. Yang keempat jarinya kutung. “Aku sudah mencarimu, Gendhuk Tri. Dugaanku tak keliru. Kamu pasti datang ke pertemuan manusia cacat dan sakit ini.”

“Ayolah kita jalan sama-sama.”

Halayudha membusungkan dadanya. “Kini saatnya kita kuasai jagat. Ayolah…”

Tangan Halayudha terulur maju. Cepat, tetapi seolah tanpa gerakan. Gendhuk Tri tak menduga bahwa Halayudha berusaha menariknya. Cepat Gendhuk Tri membuang tubuhnya, akan tetapi tangan kiri Halayudha menangkap pundaknya. Gendhuk Tri menjatuhkan dirinya. Salah satu jurus andalan yang selalu bisa menyesatkan lawan. Tapi justru Halayudha membungkuk, dan menangkap kaki Gendhuk Tri.

“Air selalu ke bawah, mencari tempat yang kosong. Tepat sekali. Begitu tersentuh pundak, kamu menjatuhkan diri. Hebat. Dugaanku hebat. Kamulah pewaris ilmu Tirta Parwa."

Air Mengalir dari Sumbernya

GENDHUK TRI mengetahui bahwa Halayudha termasuk tokoh yang luar biasa. Bukan hanya karena kelicikan dan keculasannya yang mampu mengubah total penampilannya, melainkan juga karena ilmu silat yang dikuasai beraneka ragam. Meskipun demikian, Gendhuk Tri juga bisa menilai dirinya bukan contoh yang bisa ditekuk habis dalam sekali gebrak. Kalaupun tingkat ilmu mereka berbeda, masih diperlukan waktu untuk mengalahkan. Akan tetapi kenyataannya justru dalam satu gerakan saja kedua kaki Gendhuk Tri dapat ditangkap. Tanpa bisa berkutik.

Karena tepat di pergelangan kaki dan menekan urat nadi. Sehingga dengan sekali tekan, akan putus semuanya. Setidaknya Gendhuk Tri akan menderita cacat seumur hidupnya. Dalam keadaan terdesak, Gendhuk Tri bisa menjadi nekat. Akan tetapi, sekarang ini akal sehatnya bisa bekerja. Apa pun yang dilakukan, sia-sia. Tak mengubah perlawanan. Anehnya, justru pada saat kemenangan di tangan, Halayudha melepaskan begitu saja. Dan berdiri tegak sambil tersenyum.

Sebat luar biasa Gendhuk Tri menyapu dengan kedua kakinya. Kedua kakinya terjulur di antara kaki Halayudha, dan dengan satu sentakan kuat memotong dari dalam. Halayudha berjingkrakan.

“Luar biasa! Aku yang luar biasa. Itulah tenaga air. Mengalir dari sela-sela. Begitu kekuatan air yang sesungguhnya. Menerobos dari sisi kecil, mengalir, masuk dan menenggelamkan yang bisa dimasuki, atau menghancurkan jalan masuknya sehingga semakin melebar.”

Gendhuk Tri tidak memedulikan ocehan Halayudha. Sebat gerakannya, seakan menyentuh lutut bagian dalam Halayudha. Hanya saja beberapa kejap sebelum menyentuh, Halayudha sudah meloncat ke atas, dengan masih berjingkrakan. Gendhuk Tri mempergunakan kesempatan untuk meloncat ke atas, dengan kedua tangan terulur ke depan, sementara selendang warna-warni menyabet ke arah tenggorokan dan kedua kakinya pun mencegat arah mundur. Dicecar dengan serangan gencar, Halayudha makin liar gerakannya berjingkrakan.

“Bagus, bagus. Aku yang bagus. Ayo teruskan. Kamu mau menyerang bagian yang mana? Kelihatannya sekilas mataku akan kau cungkil dengan tangan, leherku akan kau libat dengan selendang. Tetapi sebenarnya yang paling berbahaya adalah gerakan kaki. Serangan yang berasal dari bawah itulah sifat air. Bagus. Bagus, aku bisa mengerti. Lihat, aku akan bisa menghindarimu.”

Gendhuk Tri merasa makin jengkel karena dipermainkan. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya, akan tetapi dengan cara berjingkrakan, enteng sekali Halayudha bergerak. Setiap kali Gendhuk Tri mengejar, Halayudha bisa menghindar dengan cara leluasa. Sambil tertawa-tawa dan berkomentar. Makin cepat Gendhuk Tri mengejar, makin cepat pula Halayudha berloncatan menghindar.

“Kalau air datang, kamu tak bisa melawan. Sebab tenaga air makin lama makin kuat. Jangan ikut arus, kalau tak ingin hanyut. Jalan satu-satunya adalah dengan meloncat. Tenaga air tak akan menghantam telak. Bukan begitu?”

Gendhuk Tri terkesima. Semua ilmunya ternyata bisa terbaca secara sempurna. Seumpama seorang yang tengah membaca buku.

“Ayo, serang lagi.”

Gendhuk Tri menggeleng. “Sejak kapan air suci perguruan kami kamu kotori?” Terang Gendhuk Tri hanya main gertak saja. Ia sendiri tak mengetahui asal-usul ilmu silatnya. Juga tak mengenal perguruannya secara resmi. Karena hanya belajar dari Jagaddhita, yang mendapatkan ilmunya dari Mpu Raganata.

“Ha… ha, bukankah kamu yang mencuri Tirta Parwa yang kuwarisi?” Halayudha bisa dengan cepat membalikkan persoalan. Dan bukan hanya omongan kosong. Kalau dilihat dari penguasaan, jelas Halayudha jauh lebih menguasai dibandingkan dengan Gendhuk Tri.

Sementara itu kerumunan yang menonton pertarungan masih memperhatikan, seolah menunggu kesempatan untuk dilenyapkan. Gendhuk Tri termangu. Sesungguhnya ia tak begitu mengerti apa nama ilmu silatnya dan apakah mempunyai kitab pusaka yang disebut Tirta Parwa, atau Kitab Air. Rasa ingin tahunya jadi melambung tinggi.

“Air selalu mengalir dari sumbernya. Mana mungkin manusia busuk macam kamu menjadi pewaris Tirta Parwa? Orang seperti kamu lebih pantas menjadi Tumbal Tirta Parwa.”

Gendhuk Tri menjawab angin-anginan saja. Karena kalau disebut Kitab Air, ingatannya adalah Kitab Bumi. Kitab itu mempunyai bagian yang disebut Kitab Penolak Bumi. Jadi kalau ada Kitab Air, tentunya ada pula bagian Kitab Penolak Air.

“Jangan-jangan ini bagian dari Kitab Penolak Air. Air… Kalau benar begitu, berarti Pendeta Sidateka memang sengaja memutar balik! Mana mungkin isi Tumbal ditulis lebih dulu…”

“Apa yang kau katakan?”

“Kamu benar, anak kecil. Aku tak bisa diakali. Marilah kita kembali ke Keraton. Aku akan memeliharamu. Untuk melihat ilmu silatmu sejauh mana.”

Berada dalam tawanan Halayudha, Gendhuk Tri tak akan bisa bernapas dengan bebas. Ia mengetahui bahwa jago di antara para jago seperti Naga Nareswara atau Kama Kangkam pun bisa diisap habis-habisan ilmunya. “Untuk apa aku ikut kamu? Aku lebih suka mati.”

“Tak akan kubiarkan…”

Halayudha mendengus perlahan. Kedua tangannya bergerak seolah menepuk air, dan tubuhnya berputar mengelilingi Gendhuk Tri, yang tiba-tiba merasa terkepung, terseret, mengikuti ke arah mana tubuh Halayudha berputar.

“Air lebih mudah membawa air yang lain. Pusaran arus lebih mudah menggandeng air tenang.”

Masih dengan berhaha-hehe, Halayudha mampu menjinakkan Gendhuk Tri yang benar-benar tak bisa melawan. Sehingga dalam satu putaran berikutnya, kedua tangannya sudah terikat dengan selendangnya sendiri!

Gendhuk Tri tak mampu mengadakan perlawanan. Benar-benar seperti terseret dalam arus, dan terjerumus ke dalam pusaran. Hebatnya lagi, Halayudha dapat melepaskan ikatan itu dan sebelum Gendhuk Tri bisa meloloskan diri, ikatan itu sudah erat lagi. Seperti main-main.

“Beginilah cara memainkan tenaga air. Jadilah pusaran, bukan gelombang. Tariklah sesuai dengan tenaga putarmu, jangan sebaliknya. Kalau kamu mau membaca baik-baik, kamu tak akan seceroboh ini.”

Pikiran Gendhuk Tri bermuara pada kesimpulan, bahwa Kitab Air itu benar-benar ada, dan Halayudha telah atau tengah mempelajari.

“Satu guru satu ilmu sebaiknya tidak saling mengganggu. Anak kecil nakal, kamu masih tak mau mengakuiku?”

“Sepanjang hidupku, tak pernah ada nama lain yang mempelajari Kitab Air yang tak kukenal. Makanya kamu jangan ngaco dan sembarangan buka mulut.”

“Jagaddhita ngerti apa?”

“Eyang guruku tak akan sembarangan mengangkat murid.”

“Kamu kira Mpu Raganata yang loyo itu bisa menciptakan ilmu silat yang begini dahsyat? Kamu mimpi apa selama ini?”

“Kalau begitu siapa yang mengajarimu?”

Inilah pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Halayudha. Sebab memang itu yang ingin diketahui. Jelas bahwa Gendhuk Tri murid Jagaddhita, dan Jagaddhita murid Mpu Raganata. Akan tetapi dasar-dasar ilmu yang dipelajari sangat berbeda.

“Katakan kalau kamu tidak mencuri.”

Halayudha tersenyum. “Apa perlunya menyebut nama? Kalau aku sudah menguasai, apa bedanya ini ajaran cacing atau kucing?” Hanya Halayudha yang menganggap rendah seorang guru!

Kalimat yang sangat kurang ajar dan tidak mengenal sopan santun sedikit pun ini membuat Nyai Demang berteriak. “Mana ada manusia yang berhati iblis dan berdarah setan seperti kunyuk satu ini? Sudah jelas penciptanya tokoh yang paling suci, wanita yang paling bijak di seluruh jagat, masih juga disamakan cacing atau kucing? Sungguh ucapanmu kelewat batas.”

Kali ini Halayudha yang tersentak kaget. Nyai Demang yang sudah mirip orang kehilangan akal sehatnya, justru bisa bicara dengan urut. Aneh. “Dari mana kamu tahu?”

Bumi Itu Tanah dan Tanah Itu Air

NYAI DEMANG tertawa ngakak. Badannya bergoyang-goyang sehingga Kakek Berune yang berada dalamngendongannya seperti mau jatuh. “Dari mana aku tahu? Bagaimana aku tidak tahu, kalau itu diciptakan untukku?”

Di telinga Gendhuk Tri, ucapan Nyai Demang terdengar ngawur. Akan tetapi Halayudha melihat dari sisi yang lain. Sejak tadi Nyai Demang tak ikut bicara sepatah kata pun yang agak urut. Lalu ketika disinggung mengenai Tirta Parwa menjadi “waras”. Berarti ada sesuatu yang bisa menunjukkan arah yang sama. Berarti ada hubungan antara Tirta Parwa dan bawah sadar atau suara batin Nyai Demang.

“Ya, ya, aku lupa Kitab Air diciptakan untuk kamu. Jadi siapa kamu sebenarnya?”

“Astaga. Kamu pura-pura tak mengenal diriku? Apakah Bejujag itu sudah demikian jahat mencuci otakmu?”

“Kalau begitu siapa aku?”

“Batok tengkorakmu pun kukenali, apalagi tubuhmu. Meskipun suaramu sangat jelek sekarang ini.”

Meskipun tidak tahu persis hubungannya, Gendhuk Tri juga bisa meraba-raba. Bahwa yang bicara sekarang ini bukan jalan pikiran Nyai Demang. Melainkan suara atau jalan pikiran orang yang digendong, yang sudah menjadi mayat, yang disebut sebagai Eyang Berune! Sangat masuk akal. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Nyai Demang hanyalah tubuhnya saja. Sedangkan detak jantung dan naluri yang dimiliki adalah orang yang digendongnya. Hal seperti ini bukan sesuatu yang luar biasa.

Gendhuk Tri juga pernah mengalami dalam hidupnya. Ia pernah kemasukan racun yang luar biasa ganasnya. Sehingga tak ada manusia atau binatang yang mau didekati. Sejak itu Gendhuk Tri merasa menderita lahir dan batin. Baru kemudian hawa racun yang mengalir dalam darahnya tersapu bersih sewaktu Upasara Wulung meminjamkan tenaganya. Menguras tenaga dalamnya untuk disalurkan ke dalam tubuh Gendhuk Tri. Apa yang dialami Nyai Demang kurang-lebihnya sama. Hanya lebih seram.

Kakek Berune yang berada dalam gendongan Nyai Demang termasuk tokoh sakti, karena nyatanya masih bisa lengket terus. Barangkali saja saat-saat terakhir, Kakek Berune mencoba memindahkan dirinya ke dalam tubuh Nyai Demang! Juga bukan sesuatu yang mustahil...

BAGIAN 30CERSIL LAINNYABAGIAN 32

Senopati Pamungkas Bagian 31

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 31

Bagai kerasukan Halayudha menjajal, melatih, dan mempelajari ulang. Setiap kali mencoba menyalin, Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya sehingga berkeringat dan sesudahnya menjadi keletihan.

Kenyataan ini justru membuat Putra Mahkota Kala Gemet sangat menghargai. Karena disangkanya Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyembuhkan Pendeta Sidateka yang sangat dihormati.

“Sebentar Paman Sidateka akan sembuh kembali,” kata Putra Mahkota dengan wajah berseri.

“Rasanya begitu, duh sang Calon Raja. Hamba ingin segera sembuh, akan tetapi tujuh hari mulai hari ini, biarlah hamba sendiri yang menjajal. Hamba tak ingin merepotkan Senopati Halayudha.”

“Tak apa, Paman Sidateka.”

“Maaf, tetapi hamba tak bisa menerima kebaikan ini. Hamba mohon sudilah, duh Sang Calon Raja.”

“Kalau itu permintaan Paman, itu yang menjadi keputusan.”

Halayudha menerima perintah dengan menyembah hormat. Apa yang menjadi perasaan hatinya sama sekali tak tergambar dalam wajahnya, dan sikapnya. Kegalauan Halayudha terutama sekali karena munculnya perhitungan bahwa Pendeta Sidateka mulai mengendus ada sesuatu yang mencurigakan. Dengan kata lain, Pendeta Sidateka mulai tahu bahwa sebagian ilmu yang disimpannya tercuri.

Halayudha tidak kuatir mengenai hal ini. Akan tetapi ia tak mau berhenti di tengah jalan. Apalagi ketika mulai bisa melatih, Halayudha menemukan perubahan dalam dirinya. Ada semacam keleluasaan dalam mengendalikan jurus-jurus yang dimainkan. Bahkan ketika melatih jari-jarinya, Halayudha merasa bahwa keempat jari kanannya yang kutung seperti ada kembali!

Bisa menyalurkan tenaga. Bisa tergetar. Bisa digetarkan! Bagi Halayudha itu hanya sedikit memutar akal untuk menemukan jalan, bagaimana merampas atau mengetahui isi Matirta Parwa. Jalan yang paling sederhana adalah meminjam tangan Baginda.

Jamu Asmara

HANYA masalahnya sekarang ini, Keraton masih dilanda kemelut. Suasana kurang menyenangkan. Ternyata kematian Senopati Sora dan seluruh pengikutnya sangat memukul perhatian Baginda. Sehingga resmi Baginda tidak mau ditemui siapa pun. Baik oleh semua permaisuri, maupun Halayudha. Bagi Halayudha ini sedikit aneh, karena selama ini tak pernah masuk dalam akalnya bahwa dirinya akan dijauhi. Selama ini Halayudha merasa bisa berada di dekat Baginda dalam keadaan apa pun.

“Semua kesalahan saya, Mahapatih,” kata Halayudha merendah ketika Mahapatih Nambi menghubungi. “Kesalahan saya yang utama, karena saya berlaku begitu kejam pada Senopati Sora.”

“Bukan Paman Halayudha yang berbuat itu, tetapi saya.”

“Mahapatih, tangan kanan Baginda… Bukan kesalahan Mahapatih. Inilah salah hamba, yang tak bisa menangkap maksud Baginda yang sesungguhnya. Baginda kurang berkenan pelenyapan Senopati Sora terjadi di samping Keraton.”

“Saya yang menyergapnya.”

“Betul, akan tetapi hambalah yang…”

“Paman Halayudha, kalau ini kesalahan, biarlah saya yang menanggung. Bukan Paman. Silakan Baginda menjatuhkan hukuman, saya akan menerima dengan sikap prajurit sejati.”

“Duh, Mahapatih… Kalau sekiranya Baginda bersabda apa yang menjadi salah kita, hamba tak akan serepot sekarang ini.”

“Cobalah ketahui apa kehendak Baginda. Lewat Permaisuri Indreswari…”

“Maaf, barangkali hamba lancang. Akan tetapi sesungguhnya Permaisuri Indreswari kurang berkenan dengan Mahapatih.”

Sejenak keduanya terdiam. Halayudha menunduk lesu. Merasa salah. Malu. Menyesal.

“Saya sudah merasa, Paman.”

“Permaisuri Indreswari sengaja memberi hadiah kepada Mahapatih, agar Mahapatih merasa tak menduga isi hati Permaisuri Indreswari yang sesungguhnya. Hamba hanya abdi Baginda. Keset kaki Baginda. Tak mempunyai hak untuk mendengar apalagi menceritakan.”

“Katakan saja, Paman. Adalah menjadi sikap prajurit untuk ditegur dan dipuji.”

“Mahapatih sungguh bijaksana. Luas pengetahuannya. Hanya sekali ini Mahapatih berhadapan dengan Permaisuri Indreswari yang berasal dari tanah seberang, yang kurang mengenal tata krama Keraton. Permaisuri Indreswari merasa bahwa Mahapatih di belakang hari bisa menjadi penghalang bagi takhta Putra Mahkota Kala Gemet.”

Mahapatih terdiam lama.

“Hanya karena Putra Mahkota mencalonkan Pendeta Syangka sebagai mahapatih di kelak kemudian hari. Duh, Mahapatih Nambi… sejelek dan seburuk apa pun, hamba bisa menjunjung tinggi jasa-jasa Mahapatih dalam mengabdi Keraton. Dan dalam hal ini Pendeta Sidateka bukan tandingan apa-apa. Akan tetapi dengan ilmu tenungnya, Putra Mahkota bisa dikuasai dan diarahkan. Maaf kalau hamba berbicara agak panjang-lebar, Mahapatih… Bagi hamba tak menjadi masalah kalau itu pikiran Putra Mahkota atau bahkan Permaisuri Indreswari. Akan tetapi kalau sampai terdengar Baginda, akan lain soalnya.”

Mahapatih Nambi mengangguk perlahan.

“Kadang hamba berpikir buruk untuk tak mau menyembuhkan Pendeta Sidateka… agar tak menimbulkan persoalan di belakang hari…”

“Jangan lakukan itu, Paman! Itu bukan jiwa ksatria.”

Dalam hati Halayudha menertawakan Mahapatih Nambi setengah mati. Ia merasa bisa memasukkan hasutan yang di kelak kemudian hari akan membara, dan membakar semua hubungan baik yang ada. Kalau ini sesuai dengan rencana, berarti jalan yang dirintis berhasil. Dirinyalah yang akan keluar sebagai pemenang. Bukan Nambi atau Sidateka. Melainkan Mahapatih Halayudha!

Itu berarti tinggal satu langkah saja untuk menggeser takhta Kala Gemet ke atas kepalanya sendiri. Tanpa pendukung yang kuat, Kala Gemet bukan apa-apa baginya. Terlalu gampang untuk melenyapkan.

Hari kedua Pendeta Sidateka mengurung diri, Halayudha sengaja berdandan sebagus mungkin. Sisiran dan gelungan rambutnya dibuat sedemikian rupa sehingga aneh, dan wajahnya selalu berseri-seri. Begitulah yang dilakukan selama menunggu di depan kamar Baginda. Dan seperti jebakannya, umpan ini tercium Baginda yang segera memanggilnya ke dalam kamar. Halayudha bersujud, seakan menenggelamkan wajahnya ke lantai.

“Tubuhmu bau kesturi… pakaianmu bau melati. Ada apa sebenarnya kamu ini?”

Halayudha menunduk malu-malu. “Segala dosa, biarlah hamba tanggung sendiri, Baginda. Karena tidak becus menjalankan perintah dan menjaga keluhuran Baginda, sehingga membuat Baginda berduka, hamba yang tak berguna ini…”

“Halayudha!”

“Hamba tak bisa bersembunyi dari bayangan Baginda. Selama ini hamba menjalin hubungan asmara dengan salah seorang dayang hamba sendiri.”

Bibir Baginda tertarik sedikit. “Hmmm.”

“Hamba memang sudah tua. Sudah loyo. Akan tetapi sejak hamba minum ramuan jamu asmara… rasanya menjadi muda kembali.”

Dugaan Halayudha tepat. Umpan yang tercium itu mulai diendus.

“Jamu asmara?”

“Sembah bagi Baginda. Selama ini hamba minum jamu asmara, akan tetapi hasilnya biasa-biasa saja. Akan tetapi sejak minum ramuan jamu asmara Mpu Suwanda… rasanya agak berbeda.”

“Mpu Suwanda?”

“Hamya bagian tumbuh-tumbuhan, tetuwuhan…”

Umpan yang terendus ini mulai disentuh dengan bibir. Dengan gigi. Meskipun sambil lalu, Baginda menanyakan siapa Mpu Suwanda. Dan dengan rendah hati, Halayudha menjelaskan abdi dalem bagian tetuwuhan ini tak pernah diperhitungkan sebelumnya. Malah dijauhi oleh para tabit Keraton. Para tabit atau tabib Keraton menganggap selama ini Mpu Suwanda hanya mempelajari pengobatan yang kasar dan rendah.

Sesuai dengan namanya suwanda yang artinya badan atau tubuh. Yang bersifat badani. Tapi justru berhasil menemukan ramuan jamu asmara yang khasiatnya membuat Halayudha merasa kembali muda. Secara tidak langsung Baginda mengatakan keheranannya. Bagi Halayudha ini sudah berarti Baginda telah memakan umpan. Secara bulat-bulat.

“Barangkali Baginda ingin melihat hasil yang dibuat oleh Mpu Suwanda. Sebagai abdi dalem, akan merasa sangat terhormat sekali kalau Baginda berkenan melihat apa yang diperbuat. Hamba seharusnya melaporkan semua yang terjadi… tetapi hal ini terlalu sepele di hadapan Baginda…”

Secara tidak langsung pula Halayudha meninggalkan contoh akar-akar yang bila diseduh memberikan kekuatan asmara. Perhitungan Halayudha, Baginda sedikit-banyak akan sungkan kalau diketahui menggunakan jamu asmara. Karena sudah ada tabit Keraton yang diam-diam menyediakan. Maka dengan meninggalkan contoh, pasti Baginda dengan diam-diam akan mencoba. Perhitungan Halayudha sangat sederhana. Bahwa Baginda juga seorang lelaki. Lebih dari dirinya, Baginda mempunyai pilihan dan kesibukan yang lebih beragam. Nyatanya begitu.

“Tapi dari mana Tabit Suwanda menemukan ramuan yang begitu khusus?”

“Menurut pengakuannya, diperoleh dari Pendeta Sidateka, dari kitab yang disebut Prawita Parwa, yang disimpan secara diam-diam. Hanya saja belum seluruhnya terpelajari, karena Pendeta Sidateka sengaja merahasiakan. Malah, kalau hamba tidak salah, sekarang tak mau dijenguk siapa pun.”

Baginda mengeluarkan suara dingin. “Panggil Kala Gemet kemari. Biar ia yang membawa kitab itu kemari. Sekarang juga.”

Tirta Haruna

RASANYA, sebelum kata-kata Baginda selesai, kitab yang dimaksudkan sudah bisa diambil. Tak ayal lagi segera Halayudha mengambil salah seorang untuk dipaksa mengaku sebagai Tabit Suwanda, yang kemudian membuat jamu asmara. Halayudha sendiri lebih memikirkan Matirta Parwa. Beberapa yang sudah dihafal dan dicatat dicocokkan kembali. Tak ada satu patah kata pun yang meleset.

Namun ini tidak membuat Halayudha bergembira. Justru sebaliknya. Hatinya menjadi was was. Karena merasa bahwa Pendeta Sidateka sengaja memasang jebakan untuknya. Dengan sengaja kitab itu diberikan, akan tetapi sebenarnya telah diubah! Telah dibuatkan catatan yang baru, yang justru akan mencelakakan Halayudha! Pasti. Tak bisa lain.

Pendeta Sidateka bukan orang yang bodoh, bukan tokoh yang begitu saja menyerahkan kitab pusaka. Apalagi kepada seseorang yang sama sekali tak bisa dipercayai. Jalan pikiran Halayudha menggambarkan siapa dirinya. Kalau dirinya adalah Pendeta Sidateka, hal yang sama inilah yang dilakukan. Karena tak mungkin menolak perintah Raja, kitab diserahkan setelah diubah sedemikian rupa. Agar si penerima tidak curiga, bagian yang telah disalin tetap dibuat sedemikian rupa sama persis. Yang lainnya diubah susunannya. Sehingga kalau berlatih dengan urutan yang berbeda, hasilnya akan berbalik.

Itu sebabnya Pendeta Sidateka meminta waktu satu pekan agar tidak diganggu sama sekali. Apa lagi yang diperbuatnya kalau tidak berusaha mengelabui? Apa lagi selain waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan perubahan? Hal yang sangat mudah dilakukan karena lembaran kain sutra itu memang tidak memakai urutan.

“Ia bisa mengelabui Raja, tetapi tidak seorang Halayudha,” kata Halayudha pada dirinya sendiri.

Jalan terbaik yang akan ditempuh ialah mencoba mengurutkan sendiri, sesuai dengan kemampuannya. Dengan cara ini, ia akan berpura-pura teracuni, dan pada saat itu justru akan bangkit menyikat lawan-lawan atau penghalangnya. Karena tidak mempunyai lawan bicara yang bisa mendengarkan dengan baik, Halayudha lebih suka berkata pada dirinya sendiri, dan menjawab sendiri.

Kidungan kedua, bisa disebut Tirta Haruna
Tirta itu air, Haruna itu kijang
Air Kijang, ialah kijang yang menjadi air
hanyut tapi tak bisa larut
hanyut kala tak melawan
berarti harus bisa surut
berarti berani berkorban
kijang akan melompat
tetapi Air Kijang mengikuti arus
tenaga melompat menjadi tenaga arus
tenaga berlari empat kaki
tenaga lurus
walau ada rumput
bukan makanan
walau ada air
tak merasa haus
Air Kijang terus
terus-menerus tanpa putus…


Benar sekali. Halayudha bisa mengalirkan semua tenaganya mengikuti gerakan air. Ilmu silat yang dimiliki selama ini bisa diubah sedemikian rupa sehingga menyerupai tenaga air. Mengalir, tenang tanpa beriak. Bahwa masih ada gangguan dalam penyaluran, ia percaya itu pada mulanya. Kalau ia bisa mengubah sikap “kijang” dalam dirinya, pasti akan menemukan sesuatu. Kijang yang bisa hanyut adalah kijang larut. Seumpama kijang yang mati.

Agak mengherankan, tetapi terbukti hasilnya. Halayudha makin penasaran dan makin larut dalam latihan. Bahkan kemudian terbersit dalam pikirannya bahwa gerakan-gerakan seperti yang dilatih ini rasa-rasanya pernah dijumpai. Ada yang pernah dikenali. Dalam waktu yang belum terlalu lama. Siapa yang mempraktekkan selama ini? Jelas bukan Pendeta Sidateka yang cara-cara menggali dan melatih pernapasannya sangat berbeda. Juga bukan Upasara Wulung atau dari Perguruan Awan. Juga bukan dari ilmu dasarnya sendiri.

Mengalami berbagai pertarungan, Halayudha memeras otaknya untuk menemukan yang paling tepat. Selama ini telah disaksikannya sekian banyak jurus ilmu silat dari berbagai penjuru jagat. Yang agak aneh dan berbeda dan tidak segera bisa diketahui sumbernya ialah jurus-jurus Galih Kaliki. Jurus-jurus itu bahkan tidak mempunyai nama yang bisa dikenali. Baru kemudian sekali, diketahui bahwa sumber utamanya tak berbeda jauh dengan jurus-jurus dari Jepun.

Yang sama anehnya dan selama ini boleh dikatakan tidak dikenal namanya adalah jurus-jurus yang dimainkan oleh… Gendhuk Tri! Bocah kecil itu memang mempelajari banyak ilmu dari berbagai sumber. Akan tetapi gerakan dasar yang pertama diterima dengan memainkan selendang warna-warni, sampai sekarang masih merupakan teka-teki. Hanya menurut kabar, Gendhuk Tri murid seorang penari Keraton Singasari yang bernama Jagaddhita. Dan penari itu menjadi murid tidak langsung Mpu Raganata.

Apakah ini berarti Kitab Air ini berasal dari Mpu Raganata? Harusnya iya. Akan tetapi nyatanya tidak sesederhana itu. Mpu Raganata justru dikenal karena ilmu Weruh Sadurunging Winarah yang sudah kondang. Mana mungkin seorang seperti Mpu Raganata menciptakan ilmu yang sama sekali berbeda dasarnya?

“Tak bisa lain, jurus-jurus dari kitab ini ada hubungannya dengan air. Ada hubungannya dengan wanita. Kalau Kitab Bumi bisa diumpamakan lelaki, Kitab Air justru bisa disejajarkan dengan wanita. Lalu siapa penciptanya?”

Pertanyaan Halayudha tak menemukan jawaban. Dibaca dari awal sampai akhir, tak ada nama atau singgungan nama seseorang. Baik tersamar maupun terang-terangan.

“Satu-satunya jalan ialah dengan menyelidiki dari Gendhuk Tri.”

Pertanyaan dan sekaligus jawaban ini, membuat Halayudha bertekad menemukan Gendhuk Tri. Ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyebar dan mencari tahu di mana Gendhuk Tri. Yang pasti hanya ada di sekitar Keraton. Perhitungan Halayudha didasarkan pada sifat bocah yang masih serba ingin tahu, dan sedang berlangsung kejadian di Keraton. Ini sama sekali tidak meleset.

Gendhuk Tri memang masih berada di sekitar Keraton. Sejak ia kena ilmu membisu dari Ratu Ayu Bawah Langit, Gendhuk Tri hanya bisa bengong melompong. Juga ketika matanya melihat sendiri bagaimana Upasara Wulung menggandeng Nyai Demang meloncati dinding Keraton. Hatinya gondok luar biasa. Tapi tak bisa berbuat suatu apa. Karena masih terkena ilmu semacam totokan jalan darah yang membuat Gendhuk Tri mematung. Dendamnya segunung. Baik kepada Ratu Ayu Bawah Langit, kepada Nyai Demang, maupun kepada Upasara Wulung.

Baginya ini tindakan Upasara yang paling tak bisa diterima. Upasara Wulung adalah kakaknya, gambaran terbaiknya akan seorang lelaki. Maka sungguh tak masuk akal sama sekali seorang Upasara menggandeng Mbakyu Demang-nya! Lewat tengah malam, barulah tubuh Gendhuk Tri yang kaku bisa digerakkan kembali. Agaknya pengaruh aji sirep Ratu Turkana memang tidak dimaksudkan untuk membunuhnya. Hanya sekadar membungkam geraknya untuk sementara waktu.

Tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Gendhuk Tri untuk menerjang dan menuntut balas. Hanya saja ketika ia berindap menuju ke tempat peristirahatan rombongan dari Turkana, yang ditemui itu berlalu tanpa ketahuan ke mana perginya. Tanpa diketahui kepada siapa ia akan bertanya. Juga tak bisa melampiaskan kesalnya kepada orang lain. Jadinya Gendhuk Tri merasa serbasalah.

Dalam keadaan seperti itu, segala apa bisa dilakukan. Segala tindakan kecil yang membuatnya tidak suka, bisa membuat tangannya melayang dengan kasar. Selendang yang warna-warni bisa mengedut untuk mencabut nyawa.

Pertemuan Jinalaya

SEBENARNYA sewaktu Senopati Sora dan pengikutnya dikepung Mahapatih Nambi, Gendhuk Tri mengetahui. Andai saja ia masuk ke dalam pertarungan, ia bisa mengetahui kehadiran Upasara. Hanya saja belum tentu juga menjadi lilih atau berkurang gusarnya. Karena pada dasarnya, Gendhuk Tri sangat memuja Upasara Wulung. Lebih dari siapa pun di jagat ini. Baik sebagai kakak, sebagai ayah, sebagai guru, atau bahkan sesembahan dalam arti yang luas.

Dalam alam pikiran Gendhuk Tri, Upasara adalah ksatria sejati. Satu-satunya tokoh yang putih bersih dan baik hati. Bahwa kemudian hati kecilnya sangat kecewa karena Upasara menerima tawaran lamaran Ratu Ayu Bawah Langit, itu tak mengubah pemujaan kepada Upasara. Kejadian semacam ini masih bisa masuk dalam akalnya. Akan tetapi tidak kalau menggandeng Nyai Demang. Itu semacam pengkhianat tanpa ampun. Dunia akhirat akan mencatat kedurhakaan semacam ini.

Kalaupun ini semua karena jalan pikiran Gendhuk Tri yang masih serba kekanak-kanakan, belum tentu bisa berubah pada perjalanan hidupnya nanti. Saat sekarang ini, yang ada dalam hati Gendhuk Tri hanyalah kekesalan yang luar biasa sengitnya. Segala apa yang dipercayai menjadi goyah. Maka ketika ia mendengar ada pertemuan Jinalaya, ia langsung berangkat, tanpa perlu banyak bertanya.

“Siapa tahu wanita tak tahu diri itu ada di sana,” pikir Gendhuk Tri sambil menuju ke bekas tempat bersemadi Baginda Raja Sri Kertanegara.

Gendhuk Tri tahu bahwa Jinalaya adalah istilah yang dulu digunakan untuk menyebut bahwa Baginda Raja wafat. Jina bisa berarti gelas Sang Budha, atau cawan Sang Budha. Sedangkan laya bisa berarti tempat tinggal, rusak, mati, atau musnah. Kata sandi Jinalaya digunakan bagi para pengikut setia yang menggambarkan bahwa Baginda Raja kini kembali ke tempat tinggal asal mulanya, yaitu ke dalam gelas Sang Budha. Walau Baginda Raja telah lama wafat, ini semua tak mengurangi pemujaan yang selalu dilakukan oleh pengikutnya yang setia.

Raja yang sekarang memerintah Keraton Majapahit tidak secara terang-terangan melarang, walau juga tidak secara terang-terangan merestui pemujaan pada saat-saat tertentu. Hanya saja, sejak Putra Mahkota Kala Gemet memaklumkan gelaran yang tidak lagi menunjukkan keturunan langsung dari Baginda Raja, kegiatan pertemuan Jinalaya dianggap menentang Keraton. Sehingga pengikut-pengikut setia Baginda Raja Sri Kertanegara menjadi ketakutan. Karena bisa menemukan kesulitan suatu ketika. Namun, walaupun banyak larangan dan hambatan, nyatanya pertemuan Jinalaya, memperingati hari-hari terakhir Baginda Raja, masih tetap berlangsung.

Ke sanalah Gendhuk Tri datang, dan langsung bergabung. Berada dalam kerumunan di antara orang-orang yang tak dikenalnya, yang mengadakan upacara doa bagi Baginda Raja. Sambil satu per satu memuji kebesaran Baginda Raja. Ada semacam panggung di mana setiap orang berhak maju dan memuji. Kurang dari setengah penanak nasi, Gendhuk Tri sudah merasa sebal. Telinganya menjadi gatal. Demikian juga bibirnya.

“Jagat ini tadinya gelap gulita,” tutur seorang pembicara yang memegang tombak panjang. “Matahari belum ada. Dunia dalam kegelapan, sampai lahirlah Baginda Raja yang perkasa. Sejak saat itu matahari bisa bersinar. Bulan mau muncul. Padi bisa ditanam. Manusia tak lagi bergayutan di pohon seperti kera. Sungguh besar jasa Baginda Raja.”

Lalu yang hadir menggumamkan nama Baginda Raja sambil menyembah. Gendhuk Tri terbatuk karena tak bisa menguasai perasaannya. Apalagi ketika pembicara kedua, yang membawa dua golok panjang, mulai maju ke tengah.

“Ketika Baginda Raja memerintah, Keraton menjadi aman dan makmur, seadil-adilnya. Sedemikian tenteram dan bahagianya, sehingga mampu mengalahkan ketenteraman Jonggring Saloka, tempat bersemayam para Dewa. Sehingga karena iri, para Dewa turun ke bumi. Menggoda Baginda Raja agar Baginda Raja berkenan memerintah Dewa. Tapi Baginda Raja menganggap bahwa para Dewa lebih susah diatur daripada rakyat Singasari. Dengan kata lain, Dewa pun kalah pamornya. Apa yang saya ceritakan ini, berdasarkan penuturan para Dewa sendiri.”

Kembali terdengar gumam pujian. Giliran pembicara ketiga maju, Gendhuk Tri berteriak,

“Para tikus busuk, tanpa membuka mulut pun kalian sudah bau tengik. Jangan memperburuk keadaan. Mendengar omongan kalian, Baginda Raja bisa sakit perut.”

Suara Gendhuk Tri luar biasa nyaringnya. Semua yang mendengarnya menoleh ke arahnya dengan wajah gusar. Apa yang diucapkan Gendhuk Tri memang menyentak pada sasaran. Ia mengatakan ini pertemuan tikus busuk, sesuatu perasaan. Karena Gendhuk Tri mengucapkan kata jina seolah terdengar sebagai jinada. Jina adalah gelas Sang Budha, sedangkan jinada artinya tikus. Jelas sangat kurang ajar.

Lebih dari itu, dengan kalimat enteng Gendhuk Tri menyebutkan Baginda Raja bisa sakit perut. Dalam anggapan para pemujanya, Baginda Raja lebih hebat dari Dewa. Mana mungkin disamakan begitu saja dengan orang biasa yang bisa sakit perut?

“Kisanak semua, harap tenang… Kalau ada setan yang menyusup kemari, itu sudah biasa. Tikus yang kegerahan akan keluar dari sarangnya untuk mencari seseorang yang mau membunuhnya. Ajaran Baginda Raja adalah kasih sayang…”

Pembicara pertama yang memegang tombak mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Tombaknya menjadi garang.

“Tikus tersesat yang tidak melihat cahaya suci Baginda Raja Sri Kertanegara, apa maksudmu mengatakan dengan mulut kotor?”

“Kalian semua tikus tersesat yang kotor, bau, tengik. Kalian pikir apa gunanya memakai sebutan pertemuan Jinalaya kalau isinya cuma ocehan mabuk begini?”

Semua yang hadir menggerung serentak. Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya. Kedua kakinya menyepak kiri-kanan secara serentak. Lima orang mengerang serentak. Termasuk yang memegang tombak. Kalau tadinya Gendhuk Tri menduga pertemuan ini hanya dihadiri anggota-anggota yang ilmu silatnya masih pasaran, kini merasa bahwa dugaannya terlalu tinggi. Kumpulan manusia ini ternyata hanya bisa mengumbar kata-kata, gagah dalam penampilan dan senjata hebat. Tapi ternyata ilmu silat mereka masih jauh dari persyaratan.

Sehingga dengan sekali gebrak saja seluruh kepungan jebol. Gendhuk Tri mengedut selendangnya sekali lagi. Kali ini dengan gerakan kedua tangan dan kedua kaki sekaligus berjumpalitan di udara. Setiap gerakan membuat dua pengepung merintih kesakitan. Ada yang lepas genggaman senjatanya, ada yang memegangi tulang keringnya yang serasa retak. Gendhuk Tri meludah ke tanah.

“Tengik dan kecing. Yang begini kalian namakan memuja Baginda Raja? Hari ini akan saya sembelih kalian semua.”

Di luar dugaan Gendhuk Tri, ternyata yang mengepungnya tidak lari ketakutan. Malah berdiri berjajar. Dan bersuara secara bersama. Bagai koor.

“Mari kita mati bersama, Saudara. Demi Baginda Raja. Lebih dari Dewa Syiwa. Lebih dari Budha. Mari, Saudara…”

Mereka malah bergerak mendekati Gendhuk Tri. Yang kalau mau dengan sekali mengebutkan selendangnya, pasti jatuh dua korban sekaligus.

“Tengik! Kalian ini apa maunya?”

Si pemegang golok berat mendongak. “Kalau kami mau disembelih karena Baginda Raja, kami akan bahagia. Lakukan, setan kecil.”

Gendhuk Tri menggerakkan selendangnya. Menggulung golok berat dan menyentakkan. Golok itu berubah arah, menuju leher pemiliknya! Yang bergeming.

Cebol Kepalang

GENDHUK TRI merinding sendiri. Dan arah golok berat itu dialihkan ke ruang kosong. Berkelontangan ketika saling beradu. Menunjukkan bahan yang dipakai untuk membuat bukan besi utama.

“Aduh!” Justru jeritan itu terdengar dari pemilik golok yang segera menjatuhkan diri seolah mati.

“Kalian ini benar-benar tengik. Biar aku bunuh semua. Agar tak mengganggu pemandangan dan merusakkan pendengaran dengan omongan yang kacau.”

Gendhuk Tri bersiap.

“Akhirnya ada juga yang mau berbuat baik dan berbudi luhur.”

Gerakan tangan Gendhuk Tri justru terhenti karenanya. Pandangannya bisa menemukan arah suara. Yang tadi tak diduga karena berasal dari seorang yang berkulit sangat hitam, dan terus duduk sejak tadi.

“Ya, kamu yang mati lebih dulu.”

Gendhuk Tri menyampok dengan selendangnya. Ujung selendang memancarkan tenaga pukulan. Tubuh membungkuk hitam itu terlempar ke atas. Kali ini Gendhuk Tri yang bengong. Rasanya tak percaya apa yang dilihat. Bukan karena ilmunya menjadi mentah. Bukan karena lawan memiliki daya tangkis. Justru sebaliknya. Tubuh hitam kecil itu benar-benar terpental. Yang tak diduga Gendhuk Tri, tubuh itu benar-benar kecil, pendek, bagai segumpal arang.

Kembali Gendhuk Tri mengubah kedutannya. Kali ini memakai tenaga menarik, sehingga tubuh kecil itu terbanting tepat di depan kakinya. Dan memang kecil, pendek, hitam. Terduduk tak bergerak.

“Cebol kepalang, apa maumu?”

Cebol kepalang adalah istilah untuk menyebut seorang yang kerdil, akan tetapi nampak biasa kala duduk, dan kelihatan lebih pendek kala berdiri.

“Mauku, maulah berbuat baik padaku.” Tenang sekali suaranya.

“Membunuhmu?”

“Itulah budi baik.”

“Tunggu dulu. Siapa namamu?”

“Kamu sudah menyebut Cebol. Apa pun namaku, apa bedanya?”

“Cebol kan sebutan, bukan nama.”

“Itulah namaku. Cebol. Bisa ditambahi hitam. Bisa diperhalus, tapi tetap Cebol.”

Di balik ucapan yang seolah penuh pemikiran itu, ternyata tak ada apa-apanya. Dari sentakan tadi, Gendhuk Tri yakin bahwa Cebol ini memang tak memiliki ilmu silat apa-apa. Juga yang lainnya.

“Tengik. Sungguh tak bisa kumengerti. Kedengarannya saja gagah. Pertemuan Jinalaya, tak tahunya hanya comberan seperti lumpur busuk yang berkumpul.”

“Kami memang comberan, memang lumpur, memang busuk. Kenapa tidak dihilangkan saja agar tak mengganggu?”

“Kalian bisa cari mati sendiri.”

“Itu mendurhaka ajaran Baginda Raja.”

“Siapa bilang?”

Jawabannya ternyata koor bersamaan.

“Tunggu dulu. Tunggu dulu. Aku berjanji akan menyembelih kalian satu per satu, atau bersamaan. Tetapi jelaskan dulu, apa mau kalian dan apa gunanya kalian berkumpul di sini?”

“Meneruskan ajaran Baginda Raja,” jawab Cebol.

“Jadi kalian menganggap diri kalian ini ksatria, pendekar, atau bahkan pendeta?”

“Tidak semuanya.”

“Lalu?”

“Kami adalah kami.”

“Kenapa memakai nama pertemuan Jinalaya segala?”

“Gadis berbudi luhur. Siapa yang mengatakan bahwa Baginda Raja yang bijak bestari hanya milik para ksatria, para senopati, para prajurit, para pendeta? Kami juga rakyat Baginda Raja yang dikasihi. Zaman Baginda Raja bertakhta, kami dihargai. Tidak peduli pendek atau panjang. Tidak pandang cebol atau jangkung. Tidak peduli ksatria atau pendeta.”

Lalu terdengar suara bersama.

“Begitulah Baginda Raja… Sumber segala cahaya… Di jagat…”

Lirik berikutnya tak bisa terdengar sempurna. Gendhuk Tri menggelengkan kepalanya.

“Cebol Jinalaya… Baiklah kamu kupanggil begitu saja. Karena kelihatannya kamu paling waras… Apa tujuan kalian sebenarnya?”

“Menunggu perkenan Baginda Raja memanggil kami. Di alam sana lebih baik, lebih damai, lebih adil, sebab di sana ada Baginda Raja.”

“Itulah yang tidak waras.”

“Gadis baik budi, kamu sudah berjanji mau menyembelih kami. Kami menagih janji.”

Belum pernah Gendhuk Tri menjadi pusing hingga memegangi kepalanya yang pening. Ini aneh! Di suatu tempat bisa berkumpul begitu banyak orang. Semua memuja kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara. Berbeda dengan pemujaan para ksatria, para senopati yang kembali dari mancanegara, mereka ini asal berucap saja. Dan sangat berlebihan. Tapi bukan salah sama sekali.

Siapa yang mengharuskan bahwa Baginda Raja hanya boleh menjadi pujaan bagi para ksatria? Siapa berhak melarang bahwa Cebol kepalang atau yang lainnya ini memuja? Bukankah mereka ini yang dulu merasakan tenang dan tenteram serta tidak dipermalukan hanya karena tubuhnya cebol dan kulitnya hitam?

“Saya tidak meminta, tetapi saya mau disembelih lebih dulu,” kata pemegang tombak.

“Setelah itu saya,” kata yang memegang golok.

“Atau kita bertiga bersama-sama,” kata Cebol Jinalaya.

“Itu mudah sekali. Kalau bukan aku, pasti ada yang lainnya. Prajurit Keraton akan senang sekali menangkap dan membunuh kalian.”

“Sekarang tak ada lagi. Bahkan beberapa prajurit Keraton bergabung bersama kami.”

Dagu Gendhuk Tri tertarik. Memang terlihat ada beberapa wajah dan badan yang penuh dengan otot terlatih. Setidaknya lebih berisi dari yang lainnya.

“Cebol, berapa umurmu? Apa aku harus memanggil Paman atau Kakek Cebol?”

“Panggil Eyang Cebol juga boleh, asal segera disembelih.”

Gendhuk Tri menemukan dirinya berada di tengah kerumunan. Alih-alih ia sendiri yang menjadi repot karenanya. Karena kalau mereka semua mendesak ingin disembelih bisa memuakkan. Kalau tadi karena murka, sekarang justru iba.

“Aku sudah janji. Tak nanti aku menarik apa yang kukatakan. Hanya saja sebelum aku membunuh kalian semua, aku akan menanyakan sesuatu kepada Cebol Jinalaya. Nah, sekarang dengar baik-baik.”

Semua terdiam. Gendhuk Tri berniat meloncat dan segera melarikan diri. Seluruh bulu tubuhnya berdiri. Kini, seluruh perasaannya justru dibalut perasaan takut dan ngeri.nGendhuk Tri pernah berada dalam Gua Pintu Seribu yang ditimbuni dan ditutup. Dikubur hidup-hidup. Akan tetapi saat itu, meskipun menyaksikan mayat membusuk, Gendhuk Tri tak merasa ngeri seperti sekarang ini. Maka cara yang terbaik adalah segera melarikan diri.

“Yang masuk tak bisa keluar. Yang keluar bisa masuk.”

Gendhuk Tri membelalak. Dari keremangan di ujung, muncul sosok tubuh Nyai Demang! Ya, Nyai Demang yang sangat dibenci. Lebih memuakkan lagi Nyai Demang tengah menggendong seorang lelaki tua yang merangkul kencang.

“Nyai!”

Nyai Demang menoleh ke arah Gendhuk Tri. Gendhuk Tri lebih merasa ngeri karena pandangan Nyai Demang seolah kosong.

“Hei, kamu Nyai Demang… Mbakyu Demang, kan?”

“Rasanya nama itu pernah kudengar. Siapa kamu?”

Ini maha aneh! Masa Nyai Demang menanyakan siapa Gendhuk Tri?

“Di mana Kakang?”

Manusia Delahan

BARU kemudian Gendhuk Tri menyadari omongannya sendiri melantur tak keruan. Karena pada pertemuan pertama sudah langsung menanyakan di mana Upasara!

“Kakang… Kakang siapa?”

“Kakangku. Yang menggandeng Nyai di luar pagar Keraton.”

Nyai Demang tertawa. “Ini kakangmu. Sudah jadi manusia delahan, masih juga merangkulku.”

Tubuh Gendhuk Tri lemas. Matanya berkunang-kunang. Kakinya kesemutan, hingga tanpa terasa berlutut. Kalau tadi merasa sangat ngeri, sekarang lebih lagi. Sedemikian keras hantaman menonjok kesadarannya, sehingga kedua kakinya tak mampu menyangga tubuhnya. Kalau bisa memilih mati, Gendhuk Tri merasa lebih lega. Nyai Demang menjadi seorang yang sangat menakutkan. Belum lama disaksikan ketika Nyai Demang masih digandeng mesra oleh Upasara Wulung. Kini sudah seperti orang linglung. Kehilangan pikiran. Rambutnya terurai, matanya kosong tanpa makna.

Puncak dari kengerian yang paling melipat habis keberanian Gendhuk Tri ialah kenyataan Nyai Demang menggendong seorang lelaki tua yang merangkulnya, yang disebut manusia delahan. Manusia delahan, bisa berarti manusia akhirat, manusia yang telah berakhir, alias mayat. Berarti Nyai Demang selalu menggendong mayat yang tak bisa dilepaskan! Apalagi yang lebih mengerikan dari ini semua?

“Manusia delahan ini namanya Kakek Berune. Katanya ahli Pukulan Pu-Ni. Tapi sejak kugendong tak bergerak tak bernapas. Tapi terus merangkul. Bagus, ya?”

Air mata Gendhuk Tri mengembeng. Beku. Setelah sedikit bisa menata perasaannya, Gendhuk Tri berbisik kepada Cebol Jinalaya.

“Sejak kapan Mbakyu Demang berada di sini?”

“Tak ada gunanya dihitung. Ini tempat terbuka. Siapa saja bisa masuk menjadi anggota dan tak keluar lagi.”

“Peraturan siapa?”

“Peraturan begitu. Siapa keluar dari kerumunan akan didekati, agar membunuh kami lebih dulu.”

Napas Gendhuk Tri tertahan.

“Kamulah gadis berbudi yang mau menyembelih kami tanpa diminta.”

Gendhuk Tri mengangguk perlahan. Tubuhnya masih gemetar. Kaki dan tangannya masih gemetar seperti kesemutan. Akan tetapi tekadnya mulai tumbuh.

“Cebol, kamu akan kubunuh lebih dulu. Akan tetapi bagaimana mungkin aku bisa membunuh yang ada di sini semua? Bagaimana kalau kita jalan bersama menuju Keraton Majapahit?”

“Di sini Baginda Raja mangkat, dari tempat ini pula kami mengikuti…”

“Baik, baik, Cebol… Rasanya hanya perlu waktu sedikit…”

Gendhuk Tri menoleh ke arah Nyai Demang yang tetap berjalan kian-kemari sambil menggendong Kakek Berune.

“Nyai…”

“Aku?”

“Ya… Mbakyu. Mbakyu ingat kidungan Kitab Bumi?”

“Kitab Bumi? Ingat.”

“Coba kidungkan.”

Gendhuk Tri menatap sambil berdebar. Mulutnya berkomat-kamit. “Kidungan awal, kidungan pembuka…”

Nyai Demang mengangguk-angguk. Yang masuk tak bisa keluar Yang keluar tidak ada Baginda Raja lebih dari Dewa karena Dewa berguru padanya…

Gendhuk Tri benar-benar putus asa. Kondisi Nyai Demang sangat gawat. Ingatannya sudah tak bisa dikontrol lagi. Dengan mengingatkan Kitab Bumi, tadinya Gendhuk Tri yakin bisa membimbing pikiran Nyai Demang. Karena justru Nyai Demang-lah yang dulu berhasil menumbuhkan semangat hidup Upasara.

“Bukan itu, Nyai.”

“Memang Kitab Bumi dimulai dengan bukan, dengan tidak, tiada…”

“Nyai…”

“Aku?”

“Nyai ingat Kakang Upasara Wulung?”

“Upasara?”

“Ya, Adimas Upasara Wulung.”

“Adimas… Adimas… Ya, ya… ada Kiai Sambartaka, Pendeta Sidateka, Kakek Berune, tubuhnya berkelojotan, aku yang menggendong, lalu aku menggendong, lalu…”

Gendhuk Tri berusaha mendekati Nyai Demang. Akan tetapi seluruh yang hadir juga bergerak.

“Begini saja,” kata Gendhuk Tri mendadak karena mendapat bersitan pikiran. “Kalian meneruskan pujian kebesaran Baginda Raja… Ayo kita mulai lagi…” Gendhuk Tri membujuk Cebol Jinalaya.

“Paman Demeng… coba Paman mulai…” Gendhuk Tri memohon dengan menyebut Paman Demeng, atau Paman Hitam, tanpa menyebut Cebol.

Begitu Cebol Jinalaya menuju ke bagian tengah, semua perhatian tertuju padanya. Napas Gendhuk Tri berangsur tenang. Perlahan ia mulai menyurutkan diri menuju ke bagian tepi. Agar bisa meloloskan diri. Setidaknya ini yang paling selamat. Satu-satunya yang mengganjal hatinya ialah bahwa ia tak bisa mengajak Nyai Demang. Namun dalam hatinya, Gendhuk Tri berjanji akan segera kembali untuk membawanya.

Biar bagaimanapun benci dan dendamnya, Gendhuk Tri tetap merasa tak tega. Ternyata pertemuan Jinalaya ini seperti adonan lumpur yang bisa dibentuk semaunya. Karena kini semua memandang dan mendengarkan omongan pujian Cebol Jinalaya. Yang segera disusul yang lainnya. Tanpa memedulikan betul di mana dan bagaimana janji Gendhuk Tri.

Sampai di bagian pinggir, Gendhuk Tri bersiap meloncat pergi. Akan tetapi Cebol Jinalaya sudah berdiri di sampingnya. Tak mencapai pinggang Gendhuk Tri, akan tetapi suaranya begitu jelas di telinga Gendhuk Tri.

“Kamu mau tinggalkan kami, gadis berbudi luhur?”

“Membunuh orang lain tanpa sebab, bukan ajaran Baginda Raja.”

“Ke mana kamu mau pergi?”

“Paman Demeng boleh ikut kalau mau.”

Tanpa menunggu persetujuan, Gendhuk Tri mencekal tangan Cebol Jinalaya. Begitu menjejakkan kaki, tubuhnya melayang dengan cepat. Bebas sudah. Bahkan tak ada yang menduga. Hanya saja begitu kakinya hinggap di tanah, terdengar suara yang bernada gembira.

“Bagus sekali. Itulah gerakan air mengikuti angin.”

Gendhuk Tri melepaskan cekalan Cebol Jinalaya. Langsung membuat gerakan bersiaga. Empat helai selendangnya bergerak naik terjepit jari-jarinya.

“Tidak. Tidak terlalu tepat. Gerakan menjepit tidak selalu telunjuk dan ibu jari. Semua jari bisa digunakan. Jari tengah dan kelingking pun bisa. Sayang saya tidak memiliki lagi.”

Halayudha memperlihatkan tangan kanannya. Yang keempat jarinya kutung. “Aku sudah mencarimu, Gendhuk Tri. Dugaanku tak keliru. Kamu pasti datang ke pertemuan manusia cacat dan sakit ini.”

“Ayolah kita jalan sama-sama.”

Halayudha membusungkan dadanya. “Kini saatnya kita kuasai jagat. Ayolah…”

Tangan Halayudha terulur maju. Cepat, tetapi seolah tanpa gerakan. Gendhuk Tri tak menduga bahwa Halayudha berusaha menariknya. Cepat Gendhuk Tri membuang tubuhnya, akan tetapi tangan kiri Halayudha menangkap pundaknya. Gendhuk Tri menjatuhkan dirinya. Salah satu jurus andalan yang selalu bisa menyesatkan lawan. Tapi justru Halayudha membungkuk, dan menangkap kaki Gendhuk Tri.

“Air selalu ke bawah, mencari tempat yang kosong. Tepat sekali. Begitu tersentuh pundak, kamu menjatuhkan diri. Hebat. Dugaanku hebat. Kamulah pewaris ilmu Tirta Parwa."

Air Mengalir dari Sumbernya

GENDHUK TRI mengetahui bahwa Halayudha termasuk tokoh yang luar biasa. Bukan hanya karena kelicikan dan keculasannya yang mampu mengubah total penampilannya, melainkan juga karena ilmu silat yang dikuasai beraneka ragam. Meskipun demikian, Gendhuk Tri juga bisa menilai dirinya bukan contoh yang bisa ditekuk habis dalam sekali gebrak. Kalaupun tingkat ilmu mereka berbeda, masih diperlukan waktu untuk mengalahkan. Akan tetapi kenyataannya justru dalam satu gerakan saja kedua kaki Gendhuk Tri dapat ditangkap. Tanpa bisa berkutik.

Karena tepat di pergelangan kaki dan menekan urat nadi. Sehingga dengan sekali tekan, akan putus semuanya. Setidaknya Gendhuk Tri akan menderita cacat seumur hidupnya. Dalam keadaan terdesak, Gendhuk Tri bisa menjadi nekat. Akan tetapi, sekarang ini akal sehatnya bisa bekerja. Apa pun yang dilakukan, sia-sia. Tak mengubah perlawanan. Anehnya, justru pada saat kemenangan di tangan, Halayudha melepaskan begitu saja. Dan berdiri tegak sambil tersenyum.

Sebat luar biasa Gendhuk Tri menyapu dengan kedua kakinya. Kedua kakinya terjulur di antara kaki Halayudha, dan dengan satu sentakan kuat memotong dari dalam. Halayudha berjingkrakan.

“Luar biasa! Aku yang luar biasa. Itulah tenaga air. Mengalir dari sela-sela. Begitu kekuatan air yang sesungguhnya. Menerobos dari sisi kecil, mengalir, masuk dan menenggelamkan yang bisa dimasuki, atau menghancurkan jalan masuknya sehingga semakin melebar.”

Gendhuk Tri tidak memedulikan ocehan Halayudha. Sebat gerakannya, seakan menyentuh lutut bagian dalam Halayudha. Hanya saja beberapa kejap sebelum menyentuh, Halayudha sudah meloncat ke atas, dengan masih berjingkrakan. Gendhuk Tri mempergunakan kesempatan untuk meloncat ke atas, dengan kedua tangan terulur ke depan, sementara selendang warna-warni menyabet ke arah tenggorokan dan kedua kakinya pun mencegat arah mundur. Dicecar dengan serangan gencar, Halayudha makin liar gerakannya berjingkrakan.

“Bagus, bagus. Aku yang bagus. Ayo teruskan. Kamu mau menyerang bagian yang mana? Kelihatannya sekilas mataku akan kau cungkil dengan tangan, leherku akan kau libat dengan selendang. Tetapi sebenarnya yang paling berbahaya adalah gerakan kaki. Serangan yang berasal dari bawah itulah sifat air. Bagus. Bagus, aku bisa mengerti. Lihat, aku akan bisa menghindarimu.”

Gendhuk Tri merasa makin jengkel karena dipermainkan. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya, akan tetapi dengan cara berjingkrakan, enteng sekali Halayudha bergerak. Setiap kali Gendhuk Tri mengejar, Halayudha bisa menghindar dengan cara leluasa. Sambil tertawa-tawa dan berkomentar. Makin cepat Gendhuk Tri mengejar, makin cepat pula Halayudha berloncatan menghindar.

“Kalau air datang, kamu tak bisa melawan. Sebab tenaga air makin lama makin kuat. Jangan ikut arus, kalau tak ingin hanyut. Jalan satu-satunya adalah dengan meloncat. Tenaga air tak akan menghantam telak. Bukan begitu?”

Gendhuk Tri terkesima. Semua ilmunya ternyata bisa terbaca secara sempurna. Seumpama seorang yang tengah membaca buku.

“Ayo, serang lagi.”

Gendhuk Tri menggeleng. “Sejak kapan air suci perguruan kami kamu kotori?” Terang Gendhuk Tri hanya main gertak saja. Ia sendiri tak mengetahui asal-usul ilmu silatnya. Juga tak mengenal perguruannya secara resmi. Karena hanya belajar dari Jagaddhita, yang mendapatkan ilmunya dari Mpu Raganata.

“Ha… ha, bukankah kamu yang mencuri Tirta Parwa yang kuwarisi?” Halayudha bisa dengan cepat membalikkan persoalan. Dan bukan hanya omongan kosong. Kalau dilihat dari penguasaan, jelas Halayudha jauh lebih menguasai dibandingkan dengan Gendhuk Tri.

Sementara itu kerumunan yang menonton pertarungan masih memperhatikan, seolah menunggu kesempatan untuk dilenyapkan. Gendhuk Tri termangu. Sesungguhnya ia tak begitu mengerti apa nama ilmu silatnya dan apakah mempunyai kitab pusaka yang disebut Tirta Parwa, atau Kitab Air. Rasa ingin tahunya jadi melambung tinggi.

“Air selalu mengalir dari sumbernya. Mana mungkin manusia busuk macam kamu menjadi pewaris Tirta Parwa? Orang seperti kamu lebih pantas menjadi Tumbal Tirta Parwa.”

Gendhuk Tri menjawab angin-anginan saja. Karena kalau disebut Kitab Air, ingatannya adalah Kitab Bumi. Kitab itu mempunyai bagian yang disebut Kitab Penolak Bumi. Jadi kalau ada Kitab Air, tentunya ada pula bagian Kitab Penolak Air.

“Jangan-jangan ini bagian dari Kitab Penolak Air. Air… Kalau benar begitu, berarti Pendeta Sidateka memang sengaja memutar balik! Mana mungkin isi Tumbal ditulis lebih dulu…”

“Apa yang kau katakan?”

“Kamu benar, anak kecil. Aku tak bisa diakali. Marilah kita kembali ke Keraton. Aku akan memeliharamu. Untuk melihat ilmu silatmu sejauh mana.”

Berada dalam tawanan Halayudha, Gendhuk Tri tak akan bisa bernapas dengan bebas. Ia mengetahui bahwa jago di antara para jago seperti Naga Nareswara atau Kama Kangkam pun bisa diisap habis-habisan ilmunya. “Untuk apa aku ikut kamu? Aku lebih suka mati.”

“Tak akan kubiarkan…”

Halayudha mendengus perlahan. Kedua tangannya bergerak seolah menepuk air, dan tubuhnya berputar mengelilingi Gendhuk Tri, yang tiba-tiba merasa terkepung, terseret, mengikuti ke arah mana tubuh Halayudha berputar.

“Air lebih mudah membawa air yang lain. Pusaran arus lebih mudah menggandeng air tenang.”

Masih dengan berhaha-hehe, Halayudha mampu menjinakkan Gendhuk Tri yang benar-benar tak bisa melawan. Sehingga dalam satu putaran berikutnya, kedua tangannya sudah terikat dengan selendangnya sendiri!

Gendhuk Tri tak mampu mengadakan perlawanan. Benar-benar seperti terseret dalam arus, dan terjerumus ke dalam pusaran. Hebatnya lagi, Halayudha dapat melepaskan ikatan itu dan sebelum Gendhuk Tri bisa meloloskan diri, ikatan itu sudah erat lagi. Seperti main-main.

“Beginilah cara memainkan tenaga air. Jadilah pusaran, bukan gelombang. Tariklah sesuai dengan tenaga putarmu, jangan sebaliknya. Kalau kamu mau membaca baik-baik, kamu tak akan seceroboh ini.”

Pikiran Gendhuk Tri bermuara pada kesimpulan, bahwa Kitab Air itu benar-benar ada, dan Halayudha telah atau tengah mempelajari.

“Satu guru satu ilmu sebaiknya tidak saling mengganggu. Anak kecil nakal, kamu masih tak mau mengakuiku?”

“Sepanjang hidupku, tak pernah ada nama lain yang mempelajari Kitab Air yang tak kukenal. Makanya kamu jangan ngaco dan sembarangan buka mulut.”

“Jagaddhita ngerti apa?”

“Eyang guruku tak akan sembarangan mengangkat murid.”

“Kamu kira Mpu Raganata yang loyo itu bisa menciptakan ilmu silat yang begini dahsyat? Kamu mimpi apa selama ini?”

“Kalau begitu siapa yang mengajarimu?”

Inilah pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Halayudha. Sebab memang itu yang ingin diketahui. Jelas bahwa Gendhuk Tri murid Jagaddhita, dan Jagaddhita murid Mpu Raganata. Akan tetapi dasar-dasar ilmu yang dipelajari sangat berbeda.

“Katakan kalau kamu tidak mencuri.”

Halayudha tersenyum. “Apa perlunya menyebut nama? Kalau aku sudah menguasai, apa bedanya ini ajaran cacing atau kucing?” Hanya Halayudha yang menganggap rendah seorang guru!

Kalimat yang sangat kurang ajar dan tidak mengenal sopan santun sedikit pun ini membuat Nyai Demang berteriak. “Mana ada manusia yang berhati iblis dan berdarah setan seperti kunyuk satu ini? Sudah jelas penciptanya tokoh yang paling suci, wanita yang paling bijak di seluruh jagat, masih juga disamakan cacing atau kucing? Sungguh ucapanmu kelewat batas.”

Kali ini Halayudha yang tersentak kaget. Nyai Demang yang sudah mirip orang kehilangan akal sehatnya, justru bisa bicara dengan urut. Aneh. “Dari mana kamu tahu?”

Bumi Itu Tanah dan Tanah Itu Air

NYAI DEMANG tertawa ngakak. Badannya bergoyang-goyang sehingga Kakek Berune yang berada dalamngendongannya seperti mau jatuh. “Dari mana aku tahu? Bagaimana aku tidak tahu, kalau itu diciptakan untukku?”

Di telinga Gendhuk Tri, ucapan Nyai Demang terdengar ngawur. Akan tetapi Halayudha melihat dari sisi yang lain. Sejak tadi Nyai Demang tak ikut bicara sepatah kata pun yang agak urut. Lalu ketika disinggung mengenai Tirta Parwa menjadi “waras”. Berarti ada sesuatu yang bisa menunjukkan arah yang sama. Berarti ada hubungan antara Tirta Parwa dan bawah sadar atau suara batin Nyai Demang.

“Ya, ya, aku lupa Kitab Air diciptakan untuk kamu. Jadi siapa kamu sebenarnya?”

“Astaga. Kamu pura-pura tak mengenal diriku? Apakah Bejujag itu sudah demikian jahat mencuci otakmu?”

“Kalau begitu siapa aku?”

“Batok tengkorakmu pun kukenali, apalagi tubuhmu. Meskipun suaramu sangat jelek sekarang ini.”

Meskipun tidak tahu persis hubungannya, Gendhuk Tri juga bisa meraba-raba. Bahwa yang bicara sekarang ini bukan jalan pikiran Nyai Demang. Melainkan suara atau jalan pikiran orang yang digendong, yang sudah menjadi mayat, yang disebut sebagai Eyang Berune! Sangat masuk akal. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Nyai Demang hanyalah tubuhnya saja. Sedangkan detak jantung dan naluri yang dimiliki adalah orang yang digendongnya. Hal seperti ini bukan sesuatu yang luar biasa.

Gendhuk Tri juga pernah mengalami dalam hidupnya. Ia pernah kemasukan racun yang luar biasa ganasnya. Sehingga tak ada manusia atau binatang yang mau didekati. Sejak itu Gendhuk Tri merasa menderita lahir dan batin. Baru kemudian hawa racun yang mengalir dalam darahnya tersapu bersih sewaktu Upasara Wulung meminjamkan tenaganya. Menguras tenaga dalamnya untuk disalurkan ke dalam tubuh Gendhuk Tri. Apa yang dialami Nyai Demang kurang-lebihnya sama. Hanya lebih seram.

Kakek Berune yang berada dalam gendongan Nyai Demang termasuk tokoh sakti, karena nyatanya masih bisa lengket terus. Barangkali saja saat-saat terakhir, Kakek Berune mencoba memindahkan dirinya ke dalam tubuh Nyai Demang! Juga bukan sesuatu yang mustahil...

BAGIAN 30CERSIL LAINNYABAGIAN 32