Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 21

Putri Singasari bukan hanya Gayatri. Ada tiga yang lain yang tak kalah elok dan rupawan, malah boleh dikatakan lebih jelita. Akan tetapi Upasara lebih suka mengundurkan diri. Mengurung diri di Perguruan Awan. Sampai kemudian Permaisuri Rajapatni dikirimkan untuk memancing Upasara keluar. Akan tetapi saat itu pun Upasara memilih tidak mau menemui. Upasara telah memutuskan bahwa semua hubungan asmara dengan Gayatri telah selesai. Demi kebahagiaan dan ketenteraman putri yang mencuri hatinya.

Upasara menganggap telah tamat. Meskipun diakui, diam-diam daya asmara itu tak bisa padam sepenuhnya. Bagai bara yang masih meletik, manakala Gendhuk Tri atau Nyai Demang menyindirnya. Mimpi pun Upasara tak menduga bahwa Gayatri masih memperhatikan. Masih mengingatnya! Masih menyempatkan diri untuk memberitahu lewat cundhuk! Betapa sesungguhnya Gayatri juga tak pernah melupakan. Justru di saat-saat yang paling bahagia dengan kelahiran putrinya, Gayatri menitipkan sesuatu yang mengingatkan kembali hubungan mereka.

Daya asmara yang tak bisa musnah. Daya asmara yang tak berkurang panasnya. Bahkan makin terasa terus membara. Upasara menutup matanya. Mencoba memusatkan pikiran, agar tidak mengikuti kenangan yang tiba-tiba merobek kenyataan yang ada. Merajam luka di hatinya yang telah dirapatkan.

"Aku tidak tahu sejauh mana benda ini memberikan makna yang sesungguhnya. Sebuah atau dua buah cundhuk semacam ini bisa ditemukan di mana saja. Akan tetapi barangkali bersangkut-paut dengan kesia-siaan yang dirasakan Permaisuri Rajapatni. Karena nyatanya yang diangkat sebagai putra mahkota adalah Pangeran Muda Kala Gemet, dan bukan keturunan Dewi Uma-Dewa Syiwa. Bukankah ini pengorbanan yang sia-sia? Demung dan Biru, prajuritku. Apa pun alasannya, sebagai prajurit sejati kita menjalankan tugas dan pengabdian. Aku akan menyampaikan, menjalankan tugas Permaisuri. Kalau umurku terlalu pendek, aku memohon kalian berdua yang menyampaikan. Terimalah, seorang satu."

Nujum Pendeta

Juru DEMUNG dan Gajah Biru nampak ragu menerima.

"Demung... Biru, apakah kalian mulai berani membantah?"

Keduanya menjawab bersama setelah menyembah.

"Hamba berdua akan berada di sisi Senopati Sora, dalam keadaan hidup dan mati."

Keduanya menerima cundhuk dan menyimpan di dalam ikat kepala dengan hati-hati.

"Demung, Biru, itu yang tidak kuinginkan. Hari ini aku memanggilmu, justru untuk memberimu tugas, agar kalian berdua tidak mengikuti langkahku. Agar kalian berdua menjauhi bayanganku. Sebentar lagi udara akan terasa sangat gerah. Makin santer berita akan munculnya tokoh-tokoh jagat dari tanah seberang yang jauh. Sejak munculnya Kama Kangkam dengan kedua muridnya, kita sudah bisa membaca tanda-tanda akan adanya gegeran. Sejak Baginda kelihatan gamang dan ragu, akan ada orang kuat yang muncul merebut kesempatan. Demung dan Biru, aku sudah terlalu tua. Sejak Lawe tiada, sejak Kakang Aria Wiraraja mundur ke Lumajang, semangatku telah hilang. Sebentar lagi udara akan bertambah gerah. Saat ini Kitab Bumi sudah menyebar. Semua ksatria, ibarat kata bisa mempelajari dengan leluasa. Pasti akan menimbulkan gelombang pasang yang besar. Hal lain ialah nujuman para pendeta akan datangnya raja yang paling besar dari keturunan Syiwa-Uma. Akan tetapi sekarang ini momonganku Raja Muda Kala Gemet yang menjadi putra mahkota. Kalau Raja Muda naik takhta, berarti semua pendeta tak ada gunanya. Kalau nujuman para pendeta benar, akan terjadi pergantian pemegang utama kekuasaan. Demung dan Biru, sadarkah kalian berdua, kenapa aku meminta kalian tidak mengikuti langkahku?"

Demung dan Biru sekali lagi menyembah secara bersamaan.

"Kami berdusta besar jika menyanggupi kata-kata junjungan sekarang ini untuk meninggalkan Senopati Sora."

"Akulah yang keliru mendidik kalian. Seharusnya kalian lebih mengabdi kepada Keraton dan bukan kepadaku. Keraton tak bisa salah, sedang aku manusia biasa. Hmmm, masih ada waktu untuk keramas dan membersihkan diri. Esok pagi-pagi benar, kalian berdua memintakan pamit kepada Raja Muda. Kalau mau, tinggallah di Dahanapura. Kalau tidak, susullah aku."

"Terima kasih, Senopati Sora, atas perkenannya mengikuti langkah yang benar."

Upasara sebenarnya ingin melangkah keluar. Akan tetapi merasa bersalah karena telah mencuri dengar beberapa bagian yang seharusnya tidak perlu didengarkan. Bagian di mana ada keruwetan mengenai tidak segeranya Baginda menjatuhkan hukuman. Yang bisa menjadi pertanda kelemahan atau diartikan begitu. Yang berarti mengundang munculnya seseorang untuk mengambil alih kepemimpinan.

Hal yang kedua ialah Upasara yakin bahwa seperti yang disebutkan Paman Sepuh Bintulu, akan ada pertemuan para ksatria nomor satu di jagat. Itu yang membuat Paman Sepuh Bintulu merasa perlu keluar dari sarangnya.

Hal yang ketiga, lebih merupakan masalah pribadi Upasara Wulung. Yaitu mengenai putri-putri Permaisuri Rajapatni yang akhirnya tersisih dari pencalonan putra mahkota. Yang tidak pribadi adalah kemungkinan terpecahnya kekuasaan Keraton dengan kekuatan batin para pendeta. Perhitungan nujuman dan kenyataan bisa menimbulkan bibit-bibit perpecahan di kelak kemudian hari.

Raja Muda Kala Gemet pasti tak akan membiarkan adanya perkiraan akan segera muncul Raja Digdaya yang segera mengalahkannya. Ini bisa berarti membatasi kekuasaan putri-putri Permaisuri Rajapatni. Atau bisa lebih buruk lagi! Raja Muda bisa berbuat lebih jahat pada kedua putri Permaisuri Rajapatni. Barangkali inilah yang membuat keesokan harinya, diam-diam Upasara mengikuti perjalanan Mpu Sora ke Keraton. Upasara terpaksa mengambil jarak agak jauh agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Baru setelah sampai di alun-alun Keraton, Upasara bisa bergabung dengan penduduk biasa yang banyak berjajar di kejauhan. Walau keadaan berlangsung dengan tenang, Upasara bisa merasakan ketegangan tengah berlangsung. Karena rombongan Senopati Sora tidak diterima langsung oleh prajurit Keraton! Ini sama juga berarti Baginda menolak kedatangannya! Ini sama juga malapetaka! Karena umbul-umbul atau bendera Mahapatih yang terlihat berkibar ketika ada rombongan muncul dari Keraton. Dan memang Mahapatih Nambi yang muncul. Tanpa turun dari joli. Tanpa membuka tirai penutup.

Senopati Sora berdiri tegak. Juru Demung dan Gajah Biru berdiri agak jauh di belakang. Sementara beberapa prajurit yang mengiringkan berada di kejauhan. Walau nampak biasa, akan tetapi kalau diperhatikan benar, genggaman pada tombak dan perisai sangat kuat.

"Mahapatih Nambi yang perkasa, izinkanlah saya sowan ke Keraton."

"Senopati Sora," terdengar jawaban dari dalam joli. "Kita sama-sama berteman sejak lama. Sebelum menjadi senopati pun kita telah bersama-sama. Kamu pun mengetahui bahwa hari ini tidak ada pasowanan. Baginda tidak berkenan menerimamu."

"Baiklah. Kalau begitu saya akan menunggu di pintu gerbang."

Sejenak Mahapatih Nambi bimbang. Ia tak akan begitu saja menerjang Senopati Sora. Karena Senopati Sora dan pengikutnya tidak berbuat suatu kesalahan. Mau menghadap Baginda. Dan karena tidak ada izin, mereka mau menunggu. Tak bisa disalahkan. Mendadak dari arah timur muncul rombongan beberapa lelaki yang menerjang maju sambil berteriak-teriak.

"Bunuh yang bersalah!"

"Keadilan harus ditegakkan."

"Kitab Kutara Manawa. harus dihormati."

Sekilas saja Upasara Wulung mengetahui bahwa rombongan yang datang bukanlah masyarakat biasa. Dari langkah dan gerakan tubuhnya, jelas mereka adalah prajurit-prajurit yang terlatih dalam olah keprajuritan. Caranya berteriak juga menunjukkan sikap yang sangat mencolok. Penduduk biasa tak akan meneriakkan kata-kata semacam itu. Hanya akan berkumpul di alun-alun sambil melepaskan baju. Sampai ada yang menanyai! Bukan seperti sekarang ini. Jelas bahwa kehendak mereka sudah diatur lebih dulu. Kemarahan yang sudah dipersiapkan.

Dan mendadak saja terjadi perubahan. Begitu rombongan mendesak maju, gegeran tak terhindarkan. Dalam sekejap saja, terjadi pertempuran tak terduga. Semua senjata lepas dari sarungnya, bergemerincing di angkasa, disimbah oleh banjir darah.

Upasara terkesima. Baru sekarang ini disaksikannya sesama prajurit Keraton saling bunuh dengan kejam dan telengas. Upasara menyeruak maju. Akan tetapi beberapa kali terhalang oleh prajurit yang saling bunuh di depannya. Terpaksa Upasara melayang ke atas, menuju ke tengah pertempuran. Mpu Sora berdiri gagah dengan kedua tangan terangkat ke atas, sebagai tanda tidak melawan, ketika tiba-tiba sebatang tombak amblas ke dalam dadanya. Tubuhnya bergoyang-goyang.

Gajah Biru dan Juru Demung meloncat maju, akan tetapi Mahapatih Nambi dan sebuah bayangan menggebrak memapaki. Keduanya terjungkal dalam satu gerakan. Agaknya, baik Gajah Biru maupun Juru Demung tidak bersungguh-sungguh mengadakan perlawanan. Sekadar ingin menolong Mpu Sora. Sehingga keduanya bisa ditusuk seketika.

Upasara menggerung keras. Kedua tangannya berputar cepat. Puluhan senjata yang ditujukan kepadanya ditangkis keras. Dengan gagah, ia berdiri di tengah.

Mahapatih Nambi menghentikan serbuan prajuritnya. Senopati Halayudha berdiri mendengus.

"Upasara..."

Upasara berlutut ke tubuh Mpu Sora yang terbaring di rumput.

"Ada titipan..."

"Saya tahu, Paman Sora yang perkasa. Terima kasih atas budi baik Paman Sora." Upasara tak tahu apakah ucapannya masih terdengar oleh Mpu Sora atau tidak. Karena kemudian tubuh Mpu Sora mengejang sebentar dan kemudian tak bergerak.

Halayudha menyambar dua tombak. Dan dengan gerakan melayang kedua tombak menusuk lambung Upasara dari arah yang berbeda. Sebat, cepat, dan menghunjam tepat.

Upasara menangkis dengan tangannya. Terdengar suara keras. Dua tombak patah. Upasara merasakan pergelangan tangannya pedih. Adalah di luar perhitungannya bahwa tenaga dalam Halayudha sangat besar. Sabetan Satu Tangan Upasara merasa tangan kanannya ngilu. Sampai ke ujung kuku. Di bagian tertentu berubah warnanya menjadi biru. Legam, seakan darahnya membeku.

Halayudha memang hebat. Tak pernah diperhitungkan oleh Upasara bahwa tenaga dalamnya begitu ganas menerobos serta merontokkan urat dan pembuluh darah Upasara, yang seakan dipaksa menahan beban yang lebih berat dari kesanggupannya. Dalam hati Upasara menggelegak darah yang mendidih. Ternyata Halayudha sangat ganas-telengas dalam menyerang. Tanpa sedikit pun mempunyai pertimbangan bahwa yang digempur adalah sesama senopati Keraton. Seakan Halayudha secara sengaja menumpahkan dendam kesumat!

Upasara membalik tubuhnya. Tangan kanannya terkulai. Masih mendenyut rasa sakit yang menggigit sampai ulu hatinya. Akan tetapi, Halayudha tak memberi kesempatan sama sekali. Begitu tombaknya kena disampok lawan, dua keris sudah di kedua tangannya, dan dengan gerakan kilat serta bertenaga, dua keris langsung menusuk ke arah dua mata Upasara! Dibarengi dengan sapuan kaki, yang masuk dari sebelah dalam. Ini berarti Upasara tak bisa mundur. Dengan kata lain, kedua biji matanya bakal menjadi sasaran.

Upasara mencium bau amis dari kedua ujung keris yang menusuk lurus, akan tetapi mendadak membelok bagai hendak mencongkel. Tangan kiri Upasara berputar di pergelangan. Dan dengan berani memapaki serangan. Satu tangan mencoba merampas dua tangan berkeris.

Halayudha tak menduga bahwa tenaga yang mementahkan kerisnya begitu besar. Menggulung dan seakan memusnahkan. Halayudha memindahkan tenaganya ke kaki. Bukan hanya menahan, kali ini berusaha mengait keras. Satu congkelan berkait! Bersamaan dengan itu tangan kiri melemparkan keris! Dan tangan yang kini kosong masih mencoba menusuk telinga Upasara dari arah yang berbeda dari lemparan kerisnya.

Mahapatih Nambi menahan napas. Apa yang diperlihatkan Halayudha bukan hanya luar biasa dari segi gerak. Serangan secara berantai dan beruntun. Lebih dari itu, seakan tak terguncangkan untuk menyerang secara tidak ksatria. Walau tak ada peraturan yang resmi, seorang ksatria tak akan begitu saja melemparkan kerisnya secara licik. Ia akan mempertahankan di tangan. Bukan membidikkan. Apalagi dalam pertempuran jarak dekat. Kemenangan semacam ini tak membuat namanya menjadi harum.

Akan tetapi Halayudha memang tidak memakai pertimbangan ksatria atau tidak. Apa yang ingin dilakukan adalah meringkus Upasara secepat mungkin. Makin awal, makin tak terduga, makin besar kemungkinannya berhasil. Seperti ketika tangan kanan Upasara yang bisa dilumpuhkan!

Upasara masih tetap tak menduga keganasan Halayudha. Akan tetapi kini lebih waspada. Hanya dengan menarik mundur dan miring menyamping, tusukan bisa terhindarkan. Dan serangan ke arah kuda-kuda, juga bakal membuat Halayudha kecele. Halayudha tak memperhitungkan bahwa sejak dulu ilmu andalan Upasara adalah jurus-jurus Banteng Ketaton atau Banteng Terluka. Dengan sendirinya peranan kuda-kudanya sangat kuat. Apalagi sekarang, dengan tenaga dalam yang lebih kuat!

Tapi tusukan jari ke lubang telinga memang tak sempat dihindarkan. Upasara menekuk tangannya, dan dengan sikunya mencoba menangkis tangan Halayudha. Yang mendadak mengubah lagi gerakannya dengan menarik diri sambil menjauh. Sementara kerisnya disabetkan keras. Dibidikkan ke arah dada. Sebat-kelewat-cepat. Sebelum suara desisan angin, ujung keris telah siap mengiris.

Dengan kuda-kuda yang kukuh, Upasara tak bisa menggeser tubuhnya. Tapi Upasara yang sekarang bukan Upasara yang tak mempunyai tenaga dalam. Juga bukan Upasara yang masih berada dalam Ksatria Pingitan. Upasara yang sekarang adalah Upasara yang bangkit kembali semangatnya, yang berkobar dendamnya, dengan latihan pernapasan dari Kitab Bumi. Cepat sambaran keris, lebih cepat lagi tubuh Upasara menekuk secara melengkung. Seakan dari bagian atas pusar dibuang ke belakang, dengan kaki tetap bertumpu. Keris itu hanya lolos sedikit di atas tubuh Upasara. Tak lebih dari dua jari. Dalam tarikan napas yang sama, Upasara telah berdiri tegak kembali dengan tangan kiri mendorong ke depan.

Halayudha sudah meloncat jauh. Sehingga Mahapatih Nambi yang terkena gempuran hawa panas memberat. Sebagai mahapatih yang dibesarkan dalam dunia kanuragan, Nambi berusaha memapaki. Akan tetapi tubuhnya terdorong mundur, hingga menabrak joli yang bergulingan.

"Kepung! Sikat!"

Dua kata dari Halayudha cukup membuat seluruh prajurit Majapahit mengurung dan mengamuk. Walau sebagian besar para prajurit Keraton yang setia tak mengerti persoalan yang terjadi, itu tak menjadi halangan bagi mereka untuk langsung mencincang Upasara. Tubuh Mahapatih yang terdorong mundur hingga membuat joli bergulingan sudah merupakan aba-aba buat menggempur si penyerang.

Bagi Upasara, keroyokan para prajurit tak ubahnya lalat-lalat kecil yang hanya menimbulkan gangguan ringan. Dan sama sekali tidak membahayakan jiwanya. Akan tetapi bagi para prajurit yang mengiringi Senopati Sora menjadi tarian maut. Karena mereka yang kena digempur secara serentak dari pelbagai penjuru. Pertempuran antara sesama prajurit tak terhindarkan.

Darah Upasara makin mendidih karena tak ada aba-aba memundurkan dari Mahapatih Nambi maupun Halayudha. Sementara prajurit dari Dahanapura, karena tak mempunyai pemimpin, juga tak mungkin menahan diri dari gasakan yang makin merapat.

Merasa tangan kanannya masih tak bisa digerakkan, Upasara meraih pedang hitam, Kangkam Galih. Dipegang erat di tangan kiri, Upasara memutar di atas kepala satu sebatan, sebelum menghalau para prajurit yang tengah bertempur. Ayunan pedangnya ternyata berakibat seperti membelah banjir. Serta-merta para prajurit jadi terdorong mundur. Senjata-senjata yang terkena sampokan angin Kangkam Galih jadi terlepas. Yang tersentuh, langsung jatuh. Satu tangan kanan menggantung, Upasara memainkan pedang dengan tangan kiri. Ke arah mana Kangkam Galih terayun, ke arah itu prajurit berlarian dan bubar.

Mahapatih Nambi merasakan getaran yang kuat sedang melanda ke arahnya. Dengan memberi aba-aba, ia maju memapak. Langsung menghadapi Upasara. Mahapatih cukup berhati-hati. Walau Upasara hanya melawan dengan satu tangan dan seorang diri, ternyata tetap tak bisa dikurung. Senjata yang mendekat ke arahnya terlempar atau kutung seketika.

Mahapatih menggerakkan kedua tangannya, dan dua pengawal pribadi menyerahkan dua tombak pusaka. Dengan sepasang tombak Mahapatih mencoba mengimbangi Upasara. Dua tombak di tangan Mahapatih berubah bagai gunting, yang siap melipat tubuh Upasara menjadi dua. Dalam satu gerakan juga bisa berubah menjadi tusukan yang berbeda arah dan sasarannya.

Upasara justru masuk ke arah tengah guntingan. Kangkam Galih dipegang secara terbalik. Dengan ujung menuding ke bawah, dan digerakkan ke atas, Upasara mendobrak maju. Ini berarti adu tenaga. Tenaga dua tangan lawan satu tangan. Sementara beberapa senopati muda juga mencecar dari berbagai arah.

Upasara mengeluarkan desisan, sebelum tubuhnya berputar kencang. Bagai baling-baling, dengan Kangkam Galih menjadi pelindung, Upasara menggasak maju. Cara Upasara merangsek maju membuat satu-dua senopati muda yang ayal-ayalan menjadi korban.

Halayudha mengibaskan salah satu bendera dan dengan serentak semua prajurit pemanah mengurung seluruh alun-alun. Dengan anak panah dibidikkan, siap dilepaskan!

"Mahapatih, mangga mengker."

Seiring dengan teriakan yang mengharap Mahapatih mengker atau memunggungi atau menjauhkan diri, Halayudha menebarkan jerat ke arah tubuh Upasara. Sehingga Mahapatih bisa sedikit longgar. Bersamaan dengan tebaran jala yang memayungi tubuh Upasara, satu tangan yang lain memberi komando. Ribuan anak panah bagai hujan mengarah ke Upasara.

"Beras Wutah!"

Perintah Halayudha bisa diartikan sebagai serangan seumpama beras yang tumpah. Mengucur ke satu arah, dan seakan anak panah itu bersambungan! Padat! Sehingga bagi Upasara dan para prajurit yang tersisa, seakan tak merasakan panasnya sinar matahari yang tertutup anak panah. Akan tetapi akibatnya sungguh parah.

Kedok Klikamuka

MENGERIKAN, karena hujan barisan anak panah yang mengurung dengan siasat perang Beras Wutah ini bukan hanya mengenai Upasara. Melainkan juga prajurit pengikut Senopati Sora. Dan sebagian dari prajurit Keraton Majapahit sendiri! Mereka tak sempat mundur. Dibiarkan dihujani anak panah oleh sesama prajurit. Hanya karena perintah Halayudha.

Puncak kemarahan Upasara sampai ke ujung rambut. Putaran Kangkam Galih-nya makin kencang. Kini bukan hanya sekadar sebagai payung, akan tetapi sesekali menyentak keras, sehingga sebagian anak panah berputar arah. Menancap di dada pemanah!

"Habiskan semua panahmu! Aku, Upasara Wulung, tak akan lari."

Upasara malah melesat maju. Mengarah ke tempat Halayudha dan Mahapatih yang kini berada dekat sitinggil. Apa yang dilakukan Upasara memang tidak mencerminkan sikapnya yang sedikit tenang selama ini. Setidaknya sifat yang dikenal oleh sebagian ksatria.

Untuk pertama kalinya sejak mengasingkan diri, Upasara menunjukkan kemurkaan dan mengumbar nafsunya. Dengan gagah ia terus maju, mengibaskan anak panah yang terus berhamburan ke arah penyerang. Upasara tak peduli yang terkena adalah prajurit Majapahit yang dihormati.

Kekesalan Upasara memang membludak bagai bendungan yang jebol. Semenjak berada di Perguruan Awan yang sunyi, ia telah mengalami beberapa kejadian yang membuatnya sangat kesal. Makin kesal karena tak mampu berbuat apa-apa.

Dan secara berturut-turut ia telah kehilangan Pak Toikromo, Galih Kaliki, dan baru saja menyaksikan Mpu Sora terluka dengan cara yang keji. Ditambah lagi dengan cara Halayudha mengorbankan anak buahnya sendiri.

Jerat yang menutup tubuhnya rantas-terobek oleh sabetan Kangkam Galih. Anak panah tak berarti banyak, walau sedikit merepotkan. Karena kemudian, dengan satu loncatan tinggi, Upasara melayang masuk ke dalam sitinggil.

Mahapatih berusaha memapaki dengan meloncat terbang, akan tetapi kemudian terbanting ke bawah. Tubuhnya sedikit menggigil karena hawa dingin menempel di lehernya. Kalau Upasara sedikit tega, barangkali kepala itu sudah menggelinding di lantai sitinggil.

Sungguh ilmu yang luar biasa tinggi. Baru sekarang Mahapatih mengalami sendiri apa yang selama ini diributkan kalangan persilatan. Apa yang dikuatirkan Baginda. Bahwa dengan menguasai ilmu Tepukan Satu Tangan, Upasara bagaikan banteng yang tumbuh sayap dan keluar taringnya! Mahapatih Nambi bukannya tidak mengenal siapa Upasara.

Pada saat berhadapan dengan pasukan Tartar, Upasara telah diangkat sebagai Senopati Pamungkas oleh Baginda. Namun saat itu, kemampuan Upasara tidak terlalu luar biasa. Setidaknya Mahapatih Nambi masih mampu mengimbangi. Bahkan di saat-saat pertarungan yang menentukan dengan senopati Tartar, Upasara sudah memperlihatkan beberapa bagian dari latihan Tepukan Satu Tangan. Yang nyatanya bisa mempecundangi Naga-Naga Tartar.

Akan tetapi, walaupun hebat, tidak terlalu luar biasa. Masih bisa terbayangkan. Pikiran Mahapatih masih bisa menjangkau. Dan setelah pertarungan itu, praktisbUpasara tak terdengar kabar beritanya lagi. Selain bahwa sekarang makin menguasai Tepukan Satu Tangan, sebagai inti dari Bantala Parwa. Akan tetapi sejauh ini belum dialami sendiri oleh Mahapatih.

Pemunculan Upasara di Perguruan Awan ketika itu hanyalah dalam menyalurkan tenaga dalam. Setelah itu malah seperti orang biasa yang cacat. Yang tak bisa mengelak serangan paling sederhana dari prajurit sembarangan. Sekarang Mahapatih terbuka batinnya. Bahwa nama besar Upasara Wulung selama ini bukan nama yang dilebih-lebihkan. Bahkan agaknya pujian dan kekaguman masih perlu ditambahkan.

Berdiri di tengah sitinggil, Upasara mengangkat tangan kirinya yang memegang Kangkam Galih. "Siapa yang menghendaki kematian lewat pedang hitam ini, silakan maju." Suaranya bergaung dalam ruangan besar.

Tak ada yang berani bergerak.

"Senopati... terima kasih atas kebaikan Senopati padaku."

Suara Mahapatih yang terdengar merendah membuat para prajurit terkesima. Bahwa seorang dan satu-satunya mahapatih Keraton Majapahit, memberi penghormatan begitu mendalam, pasti ada apa-apanya. Apalagi Mahapatih masih menyebut dengan sebutan senopati. Tidak dalam artian mendudukkan Upasara pada tingkat di bawah kekuasaan Mahapatih, melainkan sebagai tanda pengakuan akan pangkat anugerah dari Baginda.

"Mahapatih yang mulia, maafkan kalau aku berlaku kasar di depan Mahapatih. Aku tak bisa membiarkan kekejian terjadi di depan hidungku."

Dibandingkan dengan Mahapatih, usia Upasara masih seperti anak kemarin sore. Upasara lebih menunjukkan wajah seorang perjaka dibandingkan dengan Mahapatih Nambi. Akan tetapi nada bicara Upasara menunjukkan ketinggian hati. Atau kekerasan hati yang kecewa.

"Akulah yang telah berlaku kasar, karena tidak mengetahui Anakmas Senopati di antara pengiring Senopati Sora."

"Mahapatih, kedatanganku kemari tak ada hubungan dengan Senopati Sora. Kebetulan kami berjalan bersama, berkumpul bersama, karena alun-alun milik semua kawula. Akan tetapi, kekejian seorang senopati yang seharusnya dihormati membuat..."

Kalimat Upasara belum selesai ketika Halayudha meloncat maju, sambil melemparkan dua ekor ular. Sekali bergerak, Upasara mengayunkan Kangkam Galih. Dan dua ekor ular berbisa itu terpotong menjadi delapan bagian!

Dengan satu tangan. Dalam satu gerakan. Dengan tangan yang sama dalam gerakan berikutnya, ujung Kangkam Galih menyobek pundak baju Halayudha, yang ketika mencoba mundur tubuhnya tersungkur. Ujung Kangkam Galih satu jari di atas jidat Halayudha.

"Hmmm, ternyata kamulah Klikamuka!"

Kalimat Upasara cukup keras. Kalau saja Mpu Sora dan atau Mpu Renteng mendengar, langsung hatinya tak akan penasaran. Sebab kedua empu itulah yang selama ini telah berhasil dipermainkan Halayudha.

Halayudha-lah yang bisa mematahkan serangan Mpu Renteng dalam sekali gebrak, dan juga mengecoh Mpu Sora. Sangat mungkin sekali itu bisa terjadi, sebab Halayudha mengetahui dengan baik jurus-jurus andalan kedua empu yang tak sedikit pun menyangkanya. Itu semua terjadi ketika Halayudha memakai kedok klika atau kulit kayu. Ketika itu Klikamuka berhasil menculik Permaisuri Rajapatni!

Tak banyak yang mengetahui bahwa Upasara bertemu dan berhasil bertarung, sebelum Klikamuka menjauhkan diri sambil menjatuhkan Permaisuri Rajapatni. Meninggalkan begitu saja! Hanya karena saat itu Upasara mencoba menghindari pertemuan dengan putri yang menggerakkan daya asmara, maka Upasara tidak memperpanjang persoalan. Tapi Upasara tak mungkin melupakan semua peristiwa yang berhubungan dengan Gayatri. Maka tadi bisa segera mengenali Klikamuka dari gerakannya menghindar.

Halayudha tak nyana bahwa kedoknya bisa terbuka dengan cara yang sangat sederhana! Lebih dari itu, Upasara sebenarnya mengetahui bahwa Halayudha atau Klikamuka lebih banyak bersandiwara. Dulu ketika melemparkan cundhuk hingga menancap di ubun-ubun prajurit, sebenarnya cundhuk itu diberi tali halus dari rambut. Sehingga seolah-olah dirinya tokoh yang sakti mandraguna.

Juga ketika melemparkan tombak hingga amblas ke dalam pohon. Sebelumnya memang telah disiapkan pohon yang dilubangi. Hingga sekilas nampaknya seperti mempunyai kekuatan tenaga dalam yang dahsyat. Sekali bisik, tombak bisa amblas ke tengah pohon.bYang lebih luar biasa liciknya juga ditunjukkan. Ketika meremas ujung tombak dan seolah menjadi tanah liat. Hancur berkeping-keping dalam remasannya! Betapapun hebatnya ilmu yang dipelajari, tak begitu saja suatu campuran baja dan besi bisa diremas menjadi pasir!

Seperti yang lainnya, hal ini memang sudah disiapkan oleh Halayudha. Agar rahasianya tidak terbongkar, prajurit yang membawa tombak dengan bagian ujung dari tanah kering dibunuh seketika itu juga!

Upasara mengetahui kemudian, karena Jaghana memeriksa semua rumput dan tanah di Perguruan Awan. Akan tetapi sesuai dengan sifat-sifat Jaghana, hal itu tidak dibicarakan kepada banyak telinga lain.

"Kelakuanmu menjijikkan!"

Titipan Asmara

"TAHAN!"

Seruan tertahan terdengar secara serentak. Mahapatih Nambi maju setindak. Sementara Senopati Kuti, Senopati Semi, Senopati Banyak, yang sejak tadi tak bergerak, juga mengelilingi dari arah yang berbeda.

Kalau ketiga senopati tadi berdiam diri, karena merasa ada semacam jarak yang menghalangi. Bagaimana posisi Senopati Sora yang sebenarnya masih belum jelas tuntas. Mereka bertiga mengetahui kabar bahwa Senopati Sora datang untuk menyatakan sikap mbalela. Akan tetapi, ketiganya merasa tak perlu turun tangan. Pertama, karena Mahapatih sudah mengambil alih persoalan; kedua, karena masih kurang tega dengan kawan seperjuangan.

Sewaktu Upasara muncul dan mengobrak-abrik prajurit Keraton, ketiga senopati masih menahan diri. Akan tetapi sekarang ini tak bisa lagi. Karena kejadiannya berlangsung di sitinggil, yang jelas merupakan wilayah kekuasaan Keraton. Siapa pun yang membuat keonaran di situ, jelas-jelas menantang Baginda. Dan adalah tugas utama prajurit untuk membela rajanya! Kalaupun Upasara menjadi sepuluh kali lebih sakti, mereka tetap akan maju.

Bagi Mahapatih alasan serupa juga yang dirasakan. Dengan tambahan, ia tak bisa membiarkan begitu saja salah seorang senopati yang dekat hubungannya dengan Baginda dalam ancaman bahaya. Sebagai mahapatih, Nambi merasa bertanggung jawab! Maka kini, kesiagaannya adalah merupakan jawaban. Yang bisa berubah menjadi pertarungan.

Karena Senopati Semi, Kuti, dan Senopati Banyak, secara bersamaan meloloskan keris dari sarungnya. Upasara Wulung menoleh dingin.

"Betapa makin tampak tingkah yang menjijikkan kalau dilihat masih begitu tinggi setia-kawan yang dikhianati."

Senopati Banyak mendekat. Upasara membalikkan tubuhnya. Senopati Kuti menggebrak dengan dua keris, di tangan kanan dua-duanya. Senopati Semi meskipun tidak langsung menyerang, melindungi dalam posisi kuda-kuda menutup kemungkinan serangan balasan. Mahapatih Nambi mengambil pedang, untuk mengimbangi pedang hitam tipis Upasara.

Upasara tidak menunggu terlalu lama. Dalam perhitungannya, senopati-senopati yang mengepung adalah ksatria pilihan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi kini ia harus melayani dengan satu tangan. Tangan kiri yang mempergunakan pedang tipis, yang selama ini tak pernah dilatih.

Gerakan Senopati Kuti, diikuti dengan kibasan angin dari pedangnya. Upasara cukup mengerti bahwa serangan Senopati Kuti bukan serangan maut. Lebih merupakan peringatan, atau serangan pendahuluan. Namun begitu Upasara mengelak, Senopati Banyak mengayunkan kerisnya, menutup ruang gerak. Bersamaan dengan itu Mahapatih Nambi pun memotong dengan gerakan menyabit rumput. Dada ke atas terkuasai oleh tebasan.

Upasara tidak mempunyai pilihan lain kecuali mulai memainkan Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Dimulai dengan jurus Lintang Sapi Gumarang, yang di tengah jalan disambungkan dengan jurus Lintang Tagih. Benturan senjata tak terhindarkan lagi. Pedang Mahapatih seperti tersingkir. Kalah sentakan dan kalah tenaga dorongan. Akan tetapi hanya sesaat, karena kemudian kembali maju menebas, sementara Senopati Kuti, Senopati Semi, dan Senopati Banyak, berganti menyerang.

Sampai jurus ketujuh, Lintang Bima Sekti, pertarungan masih terus berlangsung seru. Di sitinggil, para prajurit terpaksa minggir, karena kesiuran angin makin lama makin tajam. Seolah empat keris dan dua pedang menyentuh kulit mereka. Sampai di jurus ketujuh, Upasara tetap bisa mengungguli. Bahkan dengan memainkan jurus Lintang Bima Sekti, atau jurus Bintang Bima Sakti, tenaga dalam yang besar dan datang secara bergelombang membuat keempat senopati yang paling diandalkan terdorong mundur.

Jurus Lintang Bima Sekti memang lebih mengandalkan tenaga serangan secara berulang dan besar. Ibarat kata membuat pohon melengkung tapi tidak roboh, membuat akar-akar pohon terguncang tapi pohon tidak terangkat. Dengan menyambung jurus kedelapan, Lintang Wulanjar, kelihatannya tekanan serangan berkurang. Karena dalam permainan jurus ini sebagian besar tenaga serangan ditarik kembali. Bahkan tekanan di atas dan di bawah diatur seimbang. Sehingga lawan yang terpancing dengan pengenduran penyerangan akan berbalik menjadi ganas.

Saat itulah Upasara menggunakan jurus kesembilan yang disebut Lintang Wuluh, atau tenaga dingin yang menggempur. Seumpama kata tenaga yang digunakan jengkerik menggerakkan sayapnya. Lembut gerakannya, akan tetapi nyaring bunyinya. Lembut gerakan Upasara, akan tetapi pengaruhnya lebih menekan. Sifat dasar serangan ini sama dengan sifat musim Kasanga atau musim kesembilan, yaitu saat bunga berguguran dari pohon.

Kalau lawan masih bisa bertahan, jurus kesepuluh, Lintang Waluku akan cepat menyambung. Jurus ini mengandalkan tenaga cepat dalam menyerang, membalikkan tenaga lawan seperti waluku atau bajak membalik tanah. Seperti tenaga seorang ibu menyerap ke dalam kandungannya. Dalam keadaan pertarungan semacam ini, Upasara seolah bisa memamerkan kebolehannya. Akan tetapi, kenyataannya tak semudah itu.

Sampai jurus kedua belas yang disebut jurus Lintang Tagih dengan tenaga musim kedua belas yang mengguncangkan, Mahapatih Nambi masih bisa bertahan. Bahkan beberapa kali mencuri dengan sabetan yang makin menukik ke arah dada. Sementara tusukan keris dari samping, atas, bawah, semakin gencar. Beberapa kali Upasara terpaksa mengadu tenaga dalam. Hingga pedang hitamnya berbenturan secara keras. Satu keris Senopati Kuti terlepas, akan tetapi tetap bukan pertanda kemenangan atau keunggulan. Sebaliknya, justru tekanan lawan makin kuat.

Upasara dipaksa berada di tengah sitinggil. Gerakannya ke satu sisi saja, berhasil dimentahkan. Sewaktu Upasara melanjutkan dengan jurus-jurus Tumbal Bantala Parwa, hasilnya juga tak mengubah jalannya pertarungan. Memang dalam hal ini lawan tidak berada dalam posisi yang lebih baik. Lawan tidak mampu menekan. Namun setidaknya untuk jarak waktu tertentu tidak berada dalam bahaya.

Upasara mengerti bahwa jurus-jurus yang dimainkan bukan jurus yang asing lagi bagi lawan-lawannya. Sejak Bantala Parwa diserahkan, sejak saat itu pula para ksatria secara luas bisa turut mempelajari secara bebas. Dalam hal ini semua gerakan Upasara bisa terbaca! Yang menyebabkan keunggulan Upasara, karena tenaga dalamnya masih lebih tinggi. Sehingga setiap kali benturan dengan pedang atau keris atau pedang dan keris lawan yang digabung, Upasara masih unggul.

Namun ini berarti juga pertarungan yang panjang. Tidak menentu. Kalau saja Upasara bisa memainkan tangan kanannya! Pikiran itu membersit dalam benaknya. Akan tetapi usahanya untuk menggerakkan tangan kanan malah membuatnya makin ngilu. Mendadak Upasara menarik pedang hitam tipis ke depan dada. Pikirannya dipusatkan ke arah pusar. Mengira lawan mulai kendor, Mahapatih menebas keras.

"Awas!"

Ini hanya semacam peringatan sesama ksatria. Kalau mau licik sedikit, teriakan peringatan ini tak usah diucapkan. Atau diganti dengan "kena!" setelah serangan berhasil. Akan tetapi Mahapatih tak serendah itu jiwanya. Peringatan itu tak ada gunanya.

Karena justru Upasara tidak ingin mendengar. Upasara menyatukan tenaga dalam pusar dengan Kangkam Galih di tangannya. Ketika tebasan Mahapatih masuk, Upasara membiarkan pergolakan tenaga yang menggerakkan pedangnya! vSeperti pengaturan tenaga melawan Paman Sepuh Bintulu!

Justru karena itulah terdengar kerontangan yang keras. Pedang Mahapatih terpotong menjadi dua bagian. Sementara Upasara Wulung terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya. Gerakan sempoyongan ke arah Kuti ini yang menyebabkan benturan kedua, dan keris Senopati Kuti pun kutung!

Terkejut yang melihat. Apalagi yang mengalami. Senopati Semi mencoba meraih perisai dan Senopati Banyak yang ingin memasang kuda-kuda tahu-tahu diserang. Rasanya pedang hitam itu sudah berada di depan hidungnya. Digerakkan dari bawah ke atas. Benturan dengan kerisnya membuatnya melepaskan pegangan. Keris Senopati Banyak tidak kutung karenanya, akan tetapi terlepas dari tangannya!

"Upasara, bunuhlah aku lebih dulu! Sebelum kamu bunuh, biarkan kusampaikan titipan ini padamu."

Meskipun Upasara tidak membagi pemusatan pikirannya, akan tetapi suara Halayudha terdengar jelas. Dan pandangan Upasara bersinar, matanya terbuka lebih lebar, manakala melihat di tangan Halayudha tergenggam sepasang cundhuk! Itu pasti dari Gayatri.

Kalau Tak Bisa Hidup Bersama, Kenapa Tak Mati Bersama

RANGKAIAN serangan Upasara terhenti. Sitinggil menjadi sunyi. Seekor nyamuk terbang pun barangkali akan terdengar bunyinya. Tidak terlalu berlebihan, karena semua yang berada di sitinggil terpaku tanpa gerak. Seluruh prajurit dan juga yang berada di alun-alun bahkan menyatu dengan pepohonan besar yang diam tanpa angin.

Mahapatih, Senopati Kuti, Senopati Semi, dan Senopati Banyak terdiam karena menyadari bahwa dalam satu serangan mendadak, mereka semua tanpa kecuali bisa ditundukkan. Setelah dua puluh jurus lebih mereka bertarung dalam keadaan imbang, mendadak Upasara mengubah serangannya dan berhasil. Ini sungguh luar biasa. Bahkan untuk tingkat para senopati, apa yang dilakukan Upasara tetap menimbulkan kekaguman. Bahwa seorang ksatria mengubah cara bersilat, hal itu sangat lumrah. Makin luas pengalaman dan makin banyak gerakan yang dikuasai, kemungkinan itu bisa terjadi sendirinya.

Namun yang diperlihatkan Upasara berbeda dari kebanyakan para jago silat. Upasara tidak terlalu mengubah gerakannya. Seakan masih bisa dikenali gerakan-gerakan jurus Dwidasa Nujum Kartika. Hanya pengaturan tenaganya yang berbeda. Pengaturan tenaga memang merupakan kunci utama. Pengaturan tepat, tenaga akan berlipat. Seseorang yang sedang meloncat mundur, dengan sedikit tenaga mengait kaki lawan, akan menyebabkan kejatuhan yang lebih keras dan berdentam.

Pengaturan tenaga ini berhubungan dengan keseimbangan tubuh. Baik tubuhnya sendiri maupun tubuh lawannya. Pengetahuan dasar ini diketahui semua ksatria yang belajar ilmu kanuragan. Yang membuat kagum ialah bahwa Upasara dalam seketika bisa menemukan cara pengaturan yang cepat dan tepat. Di tengah pertarungan lagi!

Upasara sendiri tak menduga sebelumnya bahwa dengan cara menyatukan tenaga dalam dan Kangkam Galih akan menundukkan keempat lawan yang mengepung. Ia lebih mendasarkan pada usaha untuk mengubah serangannya yang terjadi menjadi pertempuran yang bertele-tele tak menentu. Satu-satunya jalan yang terlintas dalam benak Upasara adalah mencoba menyatukan Kangkam Galih sebagai bagian tubuhnya. Bukan sebagai senjata. Hal ini sebenarnya juga sesuatu yang luar biasa.

Karena juga diajarkan sejak pertama memasuki perguruan yang mana pun. Bahwa senjata adalah bagian tubuh yang bisa digerakkan secara leluasa seperti menggerakkan jari atau kaki. Bahkan semua anggota tubuh bisa dipakai sebagai senjata. Tak terkecuali rambut yang panjang, ujung kain, ataupun siku. Yang nampak menjadi istimewa hanyalah karena Kangkam Galih agaknya justru lebih cocok dimainkan dengan tenaga yang terpadu dari pusat tenaga, yaitu sedikit di atas pusar. Ini menunjukkan bahwa Kangkam Galih memang senjata pusaka yang tepat bisa dipakai untuk menyalurkan tenaga!

Dan karena penguasaan tenaga dalam Upasara boleh dikatakan di atas lawan-lawannya, maka dalam satu rangkaian gebrakan pedang keris menjadi buntung dan keris yang lain terpaksa dilepaskan pemiliknya kalau tidak ingin kehilangan tangan. Hanya penguasaan Upasara belum sempurna benar.

Belum menjadi ilmu yang sejati. Kalau ia tertegun, karena memang tidak seketika bisa mengatur gelombang tenaga yang seakan masih bergolak mencari penyaluran. Direm secara mendadak, Upasara merasa gempuran tenaga itu mengguncangkan dadanya. Hingga diperlukan beberapa kejap untuk menormalkan, untuk menyeimbangkan kembali. Kalau saat itu diserang, perlawanan Upasara tak akan berarti.

Tetapi para senopati yang mengepungnya tak melakukan itu. Tetap tidak, andaipun tahu pergumulan yang dihadapi Upasara. Kecuali barangkali Halayudha. Cerdik dan licik jalan pikiran Halayudha, akan tetapi tetap tak bisa mengetahui kelemahan tenaga dalam Upasara. Halayudha terpengaruh dengan kemunculan Upasara yang mendadak dan ternyata tetap lebih unggul.

"Bunuhlah aku, Upasara. Akulah yang bersalah. Tetapi terimalah titipan benda ini."

Halayudha mengangsurkan dua cundhuk ke tangan Upasara. Sekilas Halayudha ingin membokong Upasara saat menerima cundhuk. Akan tetapi pikiran itu dibuangnya jauh-jauh. Terlalu mengundang risiko apabila ia mencuri kesempatan. Karena sedikit meleset perhitungan tenaga membokong, akibatnya kepalanya bisa terpenggal oleh Kangkam Galih yang dengan mengeluarkan deringan kecil sudah mampu membuat keris dan pedang menjadi buntung karenanya.

Halayudha lebih percaya taktiknya dengan mempermainkan perasaan Upasara pada kenangannya! Sebagai orang yang bisa menyusup ke sana-kemari, Halayudha mengetahui Permaisuri Rajapatni menitipkan cundhuk kepada Mpu Sora. Sejak itu Halayudha sudah mempersiapkan sesuatu yang sama. Karena akal liciknya membisiki hatinya bahwa suatu saat pasti ada gunanya. Nyatanya perhitungannya benar.

Upasara berhenti sejenak, menerima cundhuk dan menyimpan di balik kain yang disumpalkan di pinggang.

"Bukan hanya aku yang dititipi benda ini, karena pengirimnya berharap salah satu akan sampai ke tanganmu."

Halayudha tetap memainkan kecerdikannya. Dengan sengaja tidak menyebut nama Permaisuri Rajapatni. Kalau di kemudian hari Upasara mengetahui bahwa cundhuk itu bukan berasal dari Gayatri-nya, Halayudha tak bisa disalahkan. Halayudha tak pernah menyebut nama itu.

"Sekarang, kalau kamu menganggap pembunuhan Senopati Sora karena aku, bunuhlah aku. Kumohon, jangan kamu campur adukkan dengan Mahapatih dan para senopati yang lain. Akulah yang bersalah. Dan biarlah aku yang menanggung. Lakukan sekarang juga. Aku tak perlu menyesali lagi, karena semua pesan dan tanggungan telah kusampaikan. Kalau tak bisa hidup bersama, kenapa tidak mati bersama?

Halayudha tak pernah kehilangan akal untuk menyelusupkan segala kemampuan akal bulusnya. Dengan kata-katanya yang diucapkan cukup keras terdengar Mahapatih, Halayudha seakan hanya menanggung satu dosa, yaitu terbunuhnya Senopati Sora. Dengan pengakuan ini, Halayudha malah akan mendapat dukungan dan pengayoman dari sekalian yang hadir. Di samping berhasil memancing rasa hormat, karena seolah Halayudha yang mengambil alih tanggung jawab.

Kening Upasara sedikit berkerut. Bagi Upasara, Halayudha tetap licik. Karena membelokkan pembicaraan mengenai Mpu Sora dari segi yang lain. Di samping menyembunyikan masalah Klikamuka! Upasara sesaat bertanya-tanya dalam hati. Bahwa Halayudha adalah Klikamuka, Upasara tak ragu sedikit pun. Akan tetapi bahwa Halayudha ternyata mempunyai ilmu yang begitu tinggi, itu tak diduganya sama sekali. Justru karena sewaktu menyamar sebagai Klikamuka, yang lebih dimunculkan adalah tipuan-tipuan. Jadi di mana posisi Halayudha sebenarnya? Kenapa agaknya hal ini tidak disadari oleh senopati yang lain? Atau justru oleh Mahapatih sendiri?

Upasara berusaha keras mengesampingkan pikiran yang dianggapnya terlalu mencampuri masalah Keraton. Hanya kaitan dengan Gayatri membuatnya terguncang lagi. Cara berpikir Upasara yang jujur dan lurus memang tak pernah menduga bahwa Halayudha hanya mempermainkan saja. Upasara merasa bahwa Gayatri benar-benar ingin membuktikan adanya daya asmara, lewat berbagai cara. Dan kalau dititipkan pada Halayudha juga masuk akal.

Mengingat Halayudha paling bisa berhubungan dengan Permaisuri. Paling bebas bisa masuk kaputren. Bahkan karena jujurnya, Upasara menduga bahwa penculikan yang dilakukan Klikamuka atas Permaisuri Rajapatni dulu juga cara yang direncanakan Gayatri! Sedikit-banyak perasaan ini membuat niatan Upasara untuk mengobrak-abrik sitinggil menjadi reda.

"Dosa mengenai pembunuhan Mpu Sora, bukan wewenangku. Yang kutanyakan ialah disimpan di mana adikku Gendhuk Tri dan Dewa Maut sahabatku." Nada bicara Upasara terdengar kaku.

"Akulah yang bersalah menghukum mereka. Upasara, kalau kamu ingin mengetahui keadaan mereka berdua, aku akan mengantarkan." Halayudha memberi sembah kepada Mahapatih, lalu menyilakan Upasara berjalan masuk ke dalam Keraton. Setelah menyilakan, Halayudha berjalan lebih dulu.

Mahapatih akhirnya mengetahui bahwa ada yang ditahan dalam kurungan bawah Keraton. Dan kalau sekarang Halayudha mengantarkan ke dalam kurungan, hal itu tak bisa ditahan. Itu masih lebih baik daripada melanjutkan pertarungan. Mahapatih tak menyadari bahwa Halayudha sudah menyiapkan rencana yang tak mungkin diatasi oleh Upasara. Ilmu yang tinggi masih bisa dikalahkan oleh akal.

Kalau Tak Bisa Hidup Bersama, Kenapa Tidak Salah Satu

KALAU Mahapatih saja tak bisa menduga, apalagi Upasara! Setitik pun tak ada bersitan dalam bawah sadar perasaan Upasara, bahwa Halayudha menyiapkan rencana busuknya yang paling akhir jika rencana sebelumnya gagal.

Halayudha merasa sebagian rencana kurungan bawah Keraton gagal sejak diketahui bahwa Nyai Demang ternyata bisa lolos. Dan kurungan di bawah kamarnya juga bisa diterobos Gendhuk Tri. Maka satu-satunya jalan yang terbaik adalah menutup gua bawah tanah. Dengan mengubur hidup-hidup Gendhuk Tri maupun Raja Segala Naga atau Naga Nareswara. Hal yang sama akan dilakukan Halayudha. Tapi ia sendiri tak mau ikut terkubur hidup-hidup. Bukan hal yang gampang. Karena itu ia harus bisa memainkan perannya dengan teliti dan cermat.

Halayudha berjalan mendului tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Langsung menuju kurungan di bawah Keraton. Ia yang melangkah masuk lebih dulu. Upasara mengikuti. Begitu keduanya sampai di dalam, mendadak Halayudha mengentakkan kakinya dengan keras dan tangannya menghantam ke arah pintu dari mana ia datang. Kembali terdengar suara keras. Tanah berguguran, sebagian bagaikan lumpur. Menutup jalan masuk. Upasara menarik napas. Tertahan. Halayudha tertawa lepas. Suaranya dipantulkan oleh gema, seakan lebih ganas.

"Upasara, selesailah sudah tugas kita berdua. Sekarang bunuhlah aku. Makanlah dagingku untuk memperpanjang umurmu."

Barulah Upasara mengetahui bahwa kini mereka berdua terkurung hidup-hidup. Tak mungkin membuka jalan dari arah mereka datang.

"Memang sayang bagimu, Upasara. Kamu masih muda. Umurmu belum ada 25, belum separuhku. Kamu ksatria sejati dengan ilmu yang tak tertandingi. Dicintai Permaisuri. Tapi kamu berada dalam satu kuburan denganku, yang sangat licik, hina, dan suka menipu. Kalau bukan karena takdir, apa lagi namanya?"

Upasara mencengkeram pedangnya lebih erat.

"Aku telah kalah. Kalah dalam segala hal. Kedokku telah kamu buka. Siasatku menjerat Mpu Sora berhasil, tetapi kamu mengetahui. Tak ada tempat aman bagiku. Barangkali cara mati begini lebih baik."

"Di mana Gendhuk Tri dan Dewa Maut?"

Gema tawa Halayudha kembali bersahutan. "Dewa Maut telah lama menjadi debu. Kalau kamu jalan-jalan di sekitar tempat ini, mungkin masih bisa kamu kenali tulang-belulangnya. Dia terkubur lebih dulu, dan lebih lama di sini. Nyai Demang pasti sudah bercerita."

"Gendhuk Tri?"

"Ia kesasar ke dalam gua yang kupersiapkan. Sayang karena akhirnya Naga Nareswara ikut terkubur juga. Sayang aku belum sempat memeras semua ilmunya."

Secara ringkas Halayudha menerangkan bahwa Naga Nareswara atau Raja Segala Naga adalah pemimpin tertinggi seluruh senopati Tartar yang dikirimkan ke tanah Jawa.

"Aku tak akan disebut pahlawan, walaupun musuh yang sakti mandraguna itu berhasil kulenyapkan. Aku tak akan disebut prajurit pengabdi, walau selama ini aku berhasil memperkuat kedudukan Baginda dengan menyingkirkan segala begundal dan cecunguknya. Nasib yang busuk selalu menyertaiku. Tapi aku ingin kamu menemaniku."

Upasara lebih sadar bahwa ia kini berada dalam tempat yang telah tertutup jalan keluarnya. Kurungan bawah Keraton yang rumit. Yang banyak lorong-lorongnya, yang setelah ia mencoba mengitari lewat lapangan terbuka, akhirnya kembali ke tempat semula.

"Kalau Dewa Mahaagung memberkatimu dengan sayap, kamu bisa keluar dari persembunyian ini."

Upasara menggelengkan kepalanya. "Aku tak mengerti apa sebenarnya di balik keinginanmu yang sangat busuk ini."

Halayudha mengangkat tangannya. Seolah putus asa. "Tak ada gunanya kita saling menyimpan rahasia. Sebentar lagi kita akan mati bersama. Atau salah satu lebih dulu. Upasara, dengarlah baik-baik. Kamu tahu siapa yang ada di depanmu ini? Seorang senopati yang cukup sakti. Seorang prajurit yang penuh pengabdian. Seorang yang memberikan jiwa-raga kepada Keraton. Kepada Baginda. Jauh sejak dalam pengabdian kepada Baginda Raja Sri Kertanegara, aku telah mengabdi. Tapi aku tak pernah dipedulikan. Aku selalu diperlakukan sebagai si busuk yang selalu licik. Baginda Raja Sri Kertanegara bahkan tak pernah memperhitungkan diriku. Seolah aku bukan ksatria. Seolah aku bukan laki-laki! Sewaktu Sanggrama Wijaya melarikan diri, akulah yang selalu menyertai. Selalu menemani. Tetapi aku dianggap tidak ada. Sewaktu menggempur Raja Muda Jayakatwang, sewaktu mengusir pasukan Tartar, aku tak pernah mendapat tugas dalam peperangan. Seolah aku tak pernah becus apa-apa! Selain menjadi alas kaki Sanggrama Wijaya! Aku selalu menjadi gedibal, menjadi pesuruh yang hina, justru ketika prajurit yang lain diangkat menjadi senopati agung. Diangkat menjadi mahapatih. Dianugerahi gelar dharmaputra. Aku terlupakan. Halayudha dianggap bukan ksatria. Halayudha bukan laki-laki. Halayudha adalah gedibal, adalah pesuruh, adalah si licik busuk. Kalau aku juga dianugerahi gelar sebagai senopati, aku tak mempunyai prajurit sebagaimana senopati yang lain. Aku tak mempunyai tlatah secuil pun. Aku tetap dianggap tak ada. Dosa apa yang kulakukan sehingga semua orang memandang dan menilaiku begitu hina?"

Halayudha seolah menatap jauh.

"Aku dendam. Aku manusia biasa yang bisa mendendam. Di sinilah timbul keinginanku membuktikan bahwa aku lelaki sejati. Bahwa aku prajurit utama. Bahwa aku sejajar dengan para ksatria. Aku mempelajari ilmu silat dari arah mana pun. Aku menjajal kemampuan otakku yang dikatakan sangat licik dan culas. Aku justru ingin membuktikan diri sebagai si sangat licik yang hina! Nyatanya hampir berhasil. Adipati Lawe bisa lewat. Senopati Anabrang tewas. Pengikut Mpu Sora terberantas. Akan kuhabisi semua dharmaputra seangkatanku. Akan kuliciki semua senopati yang selama ini memandang rendah diriku. Termasuk kamu, Upasara."

"Kesalahan apa yang kulakukan padamu?"

"Banyak sekali. Kamu disanjung semua kawula-bahkan semua senopati, bahkan Baginda. Kamulah lelaki sejati, lelananging jagat. Sedangkan aku yang paling hina. Kenapa Dewa yang Maha bijak membedakan nasib begini jauh berbeda? Terakhir kamu menggagalkan niatku menyapu bersih semua senopati sebagai balas dendam! Masihkah kamu bertanya apa salahmu padaku?"

Upasara termakan nada getir Halayudha. Halayudha memang ingin meyakinkan Upasara bahwa ia tengah berada dalam situasi yang sangat kritis. Seolah perlu menumpahkan segala unek-unek, segala pikiran. Karena sebentar lagi akan mati! Kalau Upasara terpengaruh hal ini, pasti tak akan begitu curiga lagi. Tak akan terlalu mengawasinya. Itu berarti ia bisa meloloskan diri! Karena ia tahu satu-satunya jalan untuk meloloskan diri. Ia menyisakan satu jalan yang lain. Selebihnya telah ditutup. Dan jika ia telah lolos, tinggal menutup mati jalan itu. Berarti Upasara akan terkubur hidup-hidup juga. Kalau tak bisa hidup bersama, kenapa tidak salah satu yang hidup? Kalau tak bisa mati bersama, Halayudha tetap tak mau mati bersama. Halayudha yakin bisa memperalat Upasara. Bisa menyesatkan jalan pikiran. Justru karena Upasara terlalu bersih dan lurus jalan pikirannya

"Halayudha, maaf kalau aku belum sudi menyebut paman atau sebutan lain yang lebih menghormat, siapa sebenarnya gurumu?"

"Aku belajar sendiri."

"Tak mungkin. Kamu tak bisa mendustaiku. Ilmumu cukup tinggi. Bahkan tanpa kelicikan pun kamu bisa mengalahkan ilmu Mahapatih. Apalagi senopati yang lain. Siapa yang mengajarimu awalnya? Pasti juga bukan Naga Nareswara!"

Gajah Mahakrura

PANDANGAN tajam Upasara membuat Halayudha cemas. Sekelebat ia merasa sangat kuatir secara tiba-tiba. Kalau Upasara menghajarnya, ia tak bakal bisa mengimbangi. Dan ini berarti semua kesempatan dan kelicikan yang telah diatur begitu sempurna akan hancur! Tapi bukan Halayudha kalau tidak berdusta.

"Kamu akan mengenal nama besarnya. Kiai Gajah Mahakrura."

Upasara mendesis seperti menelan asap tembakau yang dibakar. Dengan cepat Halayudha melanjutkan kalimatnya.

"Kamu pasti telah mengenal nama besar senopati agung dari tlatah Campa yang terkenal. Kiai Gajah Mahakrura yang sejajar dengan nama besar Naga Nareswara, setingkat dengan Eyang Sepuh, ataupun Kiai Sambartaka dari tlatah Hindia, juga Kama Kangkam, ksatria perkasa dari tlatah Jepun."

Sengaja Halayudha menjajarkan nama-nama yang sebagian sudah dikenal oleh Upasara. Agar tak ketahuan bahwa nama yang disebutkan adalah asal menyebutkan saja. Akan tetapi, Halayudha bukan menyebutkan secara ngawur. Pengetahuan luas yang dimiliki, digabung dengan kelicikan, menyatu bagai jebakan halus yang menjerat.

Naga Nareswara atau Raja Segala Naga, pastilah dikenal namanya oleh Upasara. Karena ia mengenal kesaktian Naga-Naga yang lain. Bahkan secara langsung pernah beradu pikiran dengan Kiai Sangga Langit, sesepuh tiga Naga utusan Raja Tartar. Sedikit-banyak pasti juga sudah mendengar kehebatan Kama Kangkam. Dengan menyebutkan nama Kiai Sambartaka, Halayudha hanya untung-untungan saja. Karena selama ini ia sendiri baru mendengar nama itu dari Naga Nareswara.

Menambahkan nama Gajah Mahakrura, atau gajah yang sangat bengis dari tlatah Campa, juga bukan tanpa perhitungan. Hubungan raja-raja di Jawa dengan penguasa tlatah Campa sangat erat. Beberapa senopati dan ksatria silih berganti berdatangan. Nama para ksatria Campa cukup dikenal. Di antaranya adalah para ksatria yang berasal dari tlatah Mada, suatu wilayah di Keraton Campa. Suku Mada sangat terkenal keberaniannya dan sekaligus juga ketelengasannya. Tidak terlalu sulit bagi Halayudha untuk sekadar mencari nama Gajah Mahakrura! Meskipun dari Campa, para ksatria atau pendekar yang sudah lama berdiam di tlatah Jawa memang sering memakai nama setempat.

"Saya tak begitu mengenal nama besar beliau," suara Upasara merendah nadanya. "Akan tetapi mengingat apa yang kamu lakukan, sangat mungkin nama besar itu sesuai dengan sifat-sifat licik yang kamu perlihatkan. Tangan kanan ini terkena getahnya."

Halayudha menghela napas yang sengaja dibikin-bikin. "Kamu bisa membalas dendammu sekarang."

Upasara mengangguk. "Itu lebih baik. Membunuh orang durjana bukanlah tindak kejahatan. Halayudha, bersiaplah!"

Halayudha menggelengkan kepalanya. "Melawan atau bertahan, akan berakhir sama. Untuk apa membesarkan diri dengan harapan yang jelas sia-sia? Seorang permaisuri masih mempunyai harapan, maka ia menitipkan cundhuk padaku, tetapi melawan kesaktianmu, siapa yang saat ini mampu menahan?"

Dada Upasara terguncang. Halayudha memang tahu bagian mana yang harus diserang. "Akan saya katakan kepada Gajah Mahakrura, bahwa Upasara Wulung yang bertanggung jawab atas pembalasan kematian muridnya."

"Tak ada gunanya. Kamu tak akan mengenali. Guru Gajah Mahakrura sudah lama tak mau mengakui."

Geraham Upasara menyatu. Apakah ada di dunia ini seorang guru tak mengakui muridnya?

"Kamu tak akan mengenal duniaku, Upasara. Kamu murid yang baik. Kamu tak bisa membayangkan di dunia ini ada pertengkaran antara murid dan guru. Pertentangan antara senopati yang tersisih macam diriku. Semua itu bukan duniamu."

Halayudha kembali menghela napas. Nadanya memelas, minta dikasihani.

"Saya tak mengenal siapa Gajah Mahakrura, akan tetapi jelas cara mengerahkan tenaganya bisa saya kenali. Halayudha, katakan terus terang, apakah Ugrawe masih saudara seperguruanmu?"

Mendadak wajah Halayudha pucat. Tubuhnya menggigil. "Jangan sebut-sebut manusia terkutuk itu! Dialah yang telah menghancurkan kami semua. Tak ada semut atau cacing mau mengaku saudara dengannya. Kami dulu sama-sama berguru kepada Gajah Mahakrura, dan Ugrawe manusia laknat itu mencuri kitab-kitab Bapa Guru. Dan akulah yang dituduh."

Ganti Upasara yang menelan ludah. "Apakah Kiai Gajah Mahakrura juga disebut sebagai Paman Bintulu, karena memakai kain belang hitam-putih seperti yang dikenakan tokoh pewayangan Anoman atau Bima?"

Halayudha mengeluarkan jeritan tertahan. "Upasara, apakah benar kamu mengenal Bapa Guru Dodot Bintulu?"

"Saya pernah bertemu dengan Paman Sepuh belum lama ini."

Mendadak Halayudha merebut pedang di tangan Upasara, dan dengan cepat menebaskan pedang itu ke arah lehernya.

Upasara tak menyangka Halayudha akan menjadi begitu nekat. Tangannya masih sempat menarik kembali, dan empat jari Halayudha terpotong ketika berusaha mencengkeram.

"Bunuh aku! Bunuh aku!"

Bagi Upasara apa yang dilakukan Halayudha benar-benar tindakan nekat. Belum pernah dilihatnya Halayudha begitu cemas, ketakutan seperti sekarang. Bahkan ketika berada di ujung pedangnya sewaktu dikalahkan pun, Halayudha tak segemetar sekarang!

"Bunuh aku!"

"Jadi Paman Halayudha adalah murid Paman Sepuh Dodot Bintulu yang juga guru Ugrawe?"

Dugaan Upasara tak jauh meleset. Bahkan sejak tangan kanannya terhantam balik tenaga Halayudha yang kuat dan menyengat, Upasara teringat bahwa ilmu membalik tenaga dalam itu dulu hanya dimiliki tokoh yang bernama Ugrawe. Tokoh sakti mandraguna yang berdiri di belakang Raja Muda Jayakatwang dalam menaklukkan Keraton Singasari.

Ugrawe-lah yang mencuri semua kitab pusaka, termasuk di antaranya Kitab Bumi atau Bantala Parwa. Dari sinilah Ugrawe menciptakan rangkaian jurus-jurus Sindhung Aliwawar, yang puncaknya dinamai jurus maut Banjir Bandang Segara Asat. Jurus Banjir Bah Laut Kering, pada zamannya adalah jurus yang tak tertandingi. Bila ilmu itu dimainkan, dan lawan terkena pukulannya, dengan serta-merta tenaga dalam akan terisap. Lawan menjadi lautan yang terisap, sementara dalam tubuh penyerang terjadi kelebihan tenaga ibarat banjir. Laut yang besar menjadi kering, airnya berpindah ke darat.

Sungguh perumpamaan yang tepat menggambarkan betapa dahsyat pukulan itu. Bisa dibayangkan bahwa saat itu Ugrawe benar-benar bisa merajalela tanpa lawan, karena setiap kali tenaga dalamnya bertambah besar dan semakin kuat. Kelemahan utama jurus Banjir Bandang Segara Asat adalah bila ternyata tenaga dalam lawan lebih kuat. Bisa-bisa tenaga dalamnya sendiri yang terisap. Berbalik menjadi loyo. Salah seorang putra Raja Muda Jayakatwang pernah menjadi korbannya!

Akan tetapi sesungguhnya itu disebabkan oleh penguasaan yang belum mencapai tingkat kasampurnaning ngelmu, atau tingkat sempurna. Karena, menurut Ugrawe justru kalau tingkat penguasaan sudah sempurna, dalam keadaan kalah kuat tenaga dalam pun tetap bisa mengisap. Karena, banjir di darat memang dengan cara menguras air di laut! Sayang, atau bahkan mujur, sebelum menguasai secara sempurna Ugrawe telah gugur di medan laga. Saat-saat terakhir dalam hidupnya, tokoh sakti yang dikutuk semua ksatria itu melakukan tugas yang mulia.

Upasara bisa menelusuri kembali karena kini telah menemukan kunci pemahaman cara pernapasan Tumbal Bantala Parwa. Bahwa tenaga dalam bisa disimpan sebagian, untuk kemudian diubah kembali. Dan bisa dipergunakan. Dalam jurus Banjir Bandang Segara Asat, cara pengaturan mengisap tenaga tak jauh berbeda. Hanya saja, dan inilah yang menjadi biang kejahatan Ugrawe yang ganas, ia mengambil tenaga dalam orang lain. Dengan cara yang sama, mengubah tenaga dalam lawan, menyatukan dengan tenaga dalamnya sendiri, sehingga bisa dikuasai, dan dipergunakan menurut kehendak hatinya!

Pencerahan yang diterima Upasara terutama ketika bisa memulihkan tenaga dalamnya. Ini secara langsung atau tidak, berkat petunjuk Paman Sepuh atau juga Paman Dodot Bintulu! Yang adalah guru Ugrawe dan Halayudha.

Upasara menjadi serbasalah kalau membiarkan Halayudha bunuh diri. Makanya ia menarik pedangnya. Empat jari tangan Halayudha terputus karenanya. Justru di saat Upasara ragu, Halayudha merebut kesempatan!

Kubur Kedua

HALAYUDHA berlari keras. Darah masih mengucur. Cara berlari Halayudha sedemikian rupa sehingga mengesankan sedang bingung atau sangat ketakutan mendengar nama Paman Sepuh Dodot Bintulu. Memang Halayudha lebih berani menghadapi seribu mayat yang hidup kembali daripada mendengar nama gurunya! Itu lebih mengerikan daripada bumi yang terbelah atau langit yang runtuh patah menimpanya! Sejak Halayudha melarikan diri dari gurunya, sejak itu hanya ada satu yang ditakuti. Yaitu bila gurunya hidup kembali.

Upasara tidak mengejar karena menduga toh Halayudha akan berputar-putar dan akhirnya kembali ke tempat semula. Memang nyatanya begitu. Dua kali Upasara melihat Halayudha berputar kembali ke tempatnya. Akan tetapi tidak untuk ketiga kalinya! Inilah Halayudha! Bisa menggabungkan antara kesungguhan dan kelicikannya! Tanpa bisa dibedakan lagi. Sewaktu mendengar nama gurunya disebut-sebut, Halayudha memang ketakutan setengah mati. Baginya lebih baik bunuh diri daripada mati disiksa oleh sang guru yang kejam!

Sejak kecil Halayudha terasing dari lingkungannya. Anak-anak sepermainan tak pernah mengacuhkannya. Ia dianggap anak yang lemah, tak mampu berenang di Kali Brantas, tak mampu mengambil sarang burung di ujung pohon. Nasibnya berubah sewaktu ia bertemu dengan orang tua yang kemudian mengangkatnya sebagai pembantu. Sejak itu Halayudha menjadi abdi setia yang melayani, dan kepadanya diajarkan cara-cara pernapasan. Barulah kemudian Halayudha mendengar bahwa gurunya tokoh sakti mandraguna seangkatan dengan Eyang Sepuh maupun Mpu Ragana Halayudha belajar dengan tekun.

Sampai setahun kemudian ia kembali ke desanya dan membunuh habis semua teman yang dulu mengejeknya! Barulah Halayudha kembali berguru, melayani Dodot Bintulu untuk mencarikan buah segar, mencucikan baju yang dikenakan. Dan diajari cara-cara pernapasan. Segalanya berjalan dengan lancar, sampai kemudian Guru Dodot Bintulu menemukan anak kecil lain yang dianggap lebih berbakat darinya. Anak kecil itu tak lain dan tak bukan kelak kemudian hari dikenal sebagai Ugrawe, mataharinya matahari!

Halayudha begitu dendam melihat kasih sayang gurunya yang berlebihan kepada Ugrawe. Satu-satunya siasat yang dilakukan adalah mencoba mencuri Kitab Bumi! Halayudha ingin bisa mengalahkan Ugrawe yang memang bisa mempelajari sangat cepat. Agaknya Ugrawe mencium keinginan busuk Halayudha. Karena Ugrawe juga merencanakan hal yang sama. Bedanya, Ugrawe berhasil mencuri kitab-kitab pusaka. Dalam kalutnya, Halayudha mengambil sisa-sisa yang tak diambil Ugrawe. Setelah lebih dulu membokong gurunya yang tengah bersemadi.

Gurunya selalu berdiam bagai patung, bagai batu, jika melakukan latihan pernapasan. Itulah saat terbaik bagi Halayudha menjalankan tipu muslihatnya. Halayudha mengerahkan seluruh tenaganya dan memukul hancur wajah sang guru. Kurang puas dengan itu, Halayudha melemparkan batu-batu keras ke wajah gurunya, menimbuni dengan batu keras. Menunggu beberapa hari. Baru kemudian meninggalkannya. Sejak itu Halayudha mengembara dan akhirnya nyuwita atau mengabdi kepada Raden Sanggrama Wijaya.

Kembali kegusaran mencapai ulu hatinya dan mulai menggerogoti dirinya ketika mengetahui bahwa adik-muridnya nyuwita kepada Raja Muda Jayakatwang dan menjadi senopati utama! Sekali lagi ia kalah! Merasa selalu kalah! Karena takut bakal diketahui oleh Ugrawe yang lebih sakti, Halayudha menyembunyikan diri. Makin parah hatinya, karena teman-teman seangkatan dengannya menjadi senopati yang gagah perkasa, sementara ia harus menahan diri menjadi bahan ejekan sebagai senopati utama tanpa memiliki prajurit dan kesaktian.

Justru itulah yang dipakai senjata oleh Halayudha. Ia selalu memperlihatkan diri sebagai si dungu. Sambil menunggu waktu untuk melampiaskan dendam. Sebagaimana ia masih kanak-kanak dulu. Adalah keinginannya untuk menguasai ilmu dan menjadi lebih sakti sehingga lebih mudah membalas dendam. Lebih menggembirakan lagi karena secara diam-diam ia bisa berguru kepada Naga Nareswara.

Hanya saja karena kini ia berada di tengah percaturan Keraton, strategi yang dijalankan juga berbeda. Namun Halayudha tak bisa menahan rasa takutnya. Karena ketika kembali ke tempat perguruannya, ia tak menemukan tulang-tulang gurunya. Setelah batu-batu yang menumpuk disingkirkan, tulang-belulang Kiai Dodot Bintulu tak ada! Tidak juga rambut atau giginya!

Ketakutan utamanya adalah bahwa Kiai Dodot Bintulu atau gurunya ini masih hidup dan kini tengah mencari-carinya. Halayudha tetap merasa tak bisa melawan. Maka ia selalu ketakutan jika nama Kiai Dodot Bintulu disebut-sebut. Tapi Halayudha tetap mempunyai siasat yang membakar darahnya. Pada putaran berikutnya, Halayudha sadar bahwa ini adalah kesempatan untuk melarikan diri. Maka Halayudha mengambil putaran lain, dan membiarkan darahnya mengucur, agar Upasara terjebak ketika mengikuti!

Ia sendiri kemudian mengisap jari-jari yang putus, sehingga darah tak mengalir lagi. Kemudian mengambil jalan yang benar dan keluar dari gua bawah Keraton! Dan tentu saja kemudian menutupnya. Sebagai tutupan terakhir! Yang berarti gua itu tertutup untuk selamanya. Tak mungkin Upasara bisa menembus lapisan tanah. Pun andai dibantu oleh Kiai Dodot Bintulu!

Upasara belum sepenuhnya mengerti bahwa sebenarnya Halayudha telah meninggalkannya. Pikirannya masih dipenuhi dengan Kiai Dodot Bintulu, alias Paman Sepuh. Jadi benar dugaannya selama ini! Paman Sepuh satu angkatan dengan Eyang Sepuh dan Mpu Raganata. Tiga nama yang menjadi cikal bakal dunia kanuragan di sekitar Singasari dan kini Majapahit!

Paman Sepuh Dodot Bintulu dengan dua muridnya, Halayudha dan Ugrawe; Eyang Sepuh mendirikan Perguruan Awan dengan sekian banyak muridnya, di antaranya Jaghana dan Wilanda; sementara Mpu Raganata secara diam-diam mengajarkan ilmunya kepada Jagaddhita dan juga Gendhuk Tri.

Upasara sendiri sebenarnya berada di luar ketiga jalur yang mempengaruhi dunia persilatan. Ia dididik dengan ilmu Keraton yang sebenarnya lebih dekat dengan ajaran Mpu Raganata. Di mana pengolahan kepada raga atau jasmani lebih mendapat perhatian utama. Sesuai dengan keinginan Baginda Raja Sri Kertanegara. Maka jenis dan jurus-jurus yang diajarkan Ngabehi Pandu penuh dengan permainan tenaga keras. Seperti yang dibuktikan dengan jurus-jurus ciptaannya, Banteng Ketaton. Jurus-jurus Banteng Terluka adalah jurus-jurus yang lebih mengandalkan kepada raga, kepada kekuatan lahir.

Yang berbeda adalah perjalanan hidup Upasara. Ia juga mempelajari ilmu-ilmu dari Eyang Sepuh yang berdasarkan pada kekuatan batin, bukan kekuatan raga. Bahkan boleh dikatakan mendalami dari awal sampai akhir kidungan-kidungan Bantala Parwa. Lebih dari itu Upasara juga mempelajari beberapa bagian utama dari cara pernapasan ilmu Kiai Dodot Bintulu atau Paman Sepuh yang lebih murni.

Bagi Upasara hal ini tak menimbulkan kesulitan. Karena walau berbeda cara dan penekanan, dasar-dasar ajaran yang diterima tak jauh berbeda. Karena sesungguhnya Eyang Sepuh, Mpu Raganata, dan Paman Sepuh juga mempelajari dari sumber yang sama. Ditambah dengan pengalaman bertemu Kiai Sangga Langit yang membawa ilmu Jalan Budha, boleh dikatakan saat ini Upasara telah menyerap semua ilmu yang ada. Inti segala ngelmu, banyak atau banyak sekali dikecap dan dipelajari.

Dengan latihan dan penguasaan, Upasara akan masuk ke tahap di mana kasampurnaning ngelmu itu bisa dijadikan bagian dari dirinya. Dalam keadaan seperti ini, sepuluh Halayudha tetap tak akan bisa mengalahkannya. Akan tetapi, ternyata satu Halayudha saja tak bisa dikalahkan. Bahkan berhasil menguburnya hidup-hidup.

Berulang kali Upasara berusaha mencari jalan keluar, dan selalu berakhir di tempat yang sama. Berulang kali Upasara berusaha menggempur ke arah dari mana ia datang, tak ada hasilnya. Tanah lembek yang bercampur putih telur dan tingginya bagai gunung anakan itu tak bergoyang. Makin digali, makin banyak tanah yang berguguran. Berarti tetap saja tak bisa keluar. Hanya langit yang samar bisa dikenali siang hari. Dan kadang bintang atau bulan terlihat sekilas bila malam tiba.

Burung Pun Tak Turun

BEBERAPA malam berlalu. Hanya perubahan terang dan gelap yang menjadi tanda. Selebihnya tak ada tanda-tanda lain. Upasara duduk di ruang terbuka. Saat-saat matanya memandang ke atas, hanya lapisan langit yang menutup. Seakan selimut yang diletakkan persis di mulut gua. Upasara menyadari bahwa tak ada tanda-tanda kehidupan yang lain. Tidak juga seekor burung yang berani terbang rendah, masuk ke dalam gua.

Kalau ada yang harus dipuji, pujian itu diperuntukkan bagi para empu yang telah memanfaatkan gua yang lubangnya bagai tujuh belas sumur bersambungan. Dinding-dinding gua terdiri atas batu yang sangat keras. Hanya di bagian terowongan ada lapisan tanah. Akan tetapi sia-sia kalau ingin menjebolnya. Satu lubang dibuat, tanah di bagian atas akan berguguran. Namun yang akan menyulitkan lagi ialah bahwa bagian lorong yang terdiri atas tanah tak bisa dipastikan mana ujung dan mana pangkalnya. Memang sebuah kurungan yang sangat sempurna!

Upasara tak terlalu menyesali kalau harus terkubur hidup-hidup. Satu-satunya yang masih mengganjal dalam hatinya ialah ternyata segala ilmu yang dipelajari tak mempunyai arti untuk meloloskan diri. Kemampuan untuk meringankan tubuh tetap tak banyak mengubah. Upasara sudah menjajal. Dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, tubuhnya melayang ke atas dua tombak. Mencoba hinggap di salah satu dinding. Dengan memakai tenaga loncatan keras, tubuhnya melayang ke dinding sebelah lain. Dari tempat itu pula mencoba meloncat ke atas lagi.

Akan tetapi dengan lima kali berloncatan, tenaganya makin merosot, dan dengan berjumpalitan keras, Upasara bisa turun ke bawah dengan selamat. Beberapa kali Upasara menjajal, akan tetapi hasilnya sama. Upasara menjajal dengan bantuan Kangkam Galih. Sekali ini ia meloncat ke atas dengan pedang hitam kurus di tangan. Pada loncatan yang tertinggi, tangan kirinya mengayun keras. Berhasil! Kangkam Galih bisa menusuk dinding batu yang keras.

Dengan satu kali tarikan, Upasara berusaha meloncat naik lebih tinggi. Dengan menancapkan Kangkam Galih untuk kedua kalinya. Berhasil! Upasara makin bersemangat. Akan tetapi, Kangkam Galih terlalu tajam. Bisa menusuk dinding batu, akan tetapi seperti menyelusup ke tengahnya! Sehingga diperlukan tambahan tenaga untuk mencabutnya. Agak sulit, karena dengan itu pula harus mengayun tubuh ke atas. Sehingga jarak loncatan ke atas makin lama makin pendek.

Delapan kali loncatan, Upasara sudah kehilangan kekuatan. Sehingga loncatan berikutnya adalah cara paling selamat untuk turun kembali ke dasar gua. Dengan cara yang sama ketika mendaki. Upasara tidak menyerah begitu saja. Pada waktu senggang, Upasara bersemadi untuk memulihkan tenaga dalam ke arah tangan kanannya. Meskipun tak lagi menimbulkan rasa nyeri, akan tetapi belum bisa digunakan secara leluasa. Setelah pulih, kembali Upasara menjajal naik. Tak banyak artinya. Kalau seekor burung pun tak berani menjajal masuk, apalagi yang tak mempunyai sayap!

Upasara mencoba mengukur tingginya lubang gua dengan cara melemparkan batu ke atas. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, batu di tangannya disambitkan ke atas. Batu itu meluncur ke atas dengan dorongan tenaga penuh. Hingga seakan lenyap dari pandangan mata. Berubah menjadi satu titik hitam tak berarti. Namun dalam waktu beberapa kejap, batu itu jatuh kembali ke bawah. Hancur berkeping-keping. Berarti gua ini memang tinggi, seakan tanpa tepi. Berarti satu-satunya jalan harus melalui lorong dari mana ia masuk. Justru itu yang tak mungkin.

Halayudha tak memberi kesempatan yang paling kecil sekalipun. Tak ada cara lain, selain harus menunggu datangnya kilatan pikiran baru. Upasara berusaha pasrah, berusaha menyerahkan pikiran agar membersit suatu petunjuk. Suatu wangsit. Wangsit atau petunjuk atau bersitan pikiran yang bisa pasrah secara total. Karena justru pada saat pikiran bisa dikosongkan, percikan pikiran bisa datang menyusup. Bagi Upasara hal semacam itu tak terlalu sulit dilaksanakan. Maka Upasara bisa tenggelam dalam semadi.

Dan sedikit heran ketika terbangun dari semadinya sudah ada buah-buahan di dekatnya. Semula Upasara merasa bermimpi, akan tetapi ternyata buah yang dipegang, digigit, dan dimakan bukan khayalan.

"Itu buah pertama."

Upasara tak bisa menyembunyikan rasa herannya. Karena yang berada di depannya adalah Dewa Maut!

"Tak sia-sia aku menanamnya. Kalau Tole datang, bisa makan bersama. Upasara, kenapa kamu datang sendirian? Mana Tole-ku?"

Upasara teringat keterangan Nyai Demang, bahwa Dewa Maut terkurung dalam gua. Dan nyatanya masih ada sampai sekarang. Tubuhnya kelihatan segar bugar, seluruh rambutnya yang putih berkibar-kibar.

"Paman Dewa Maut masih mengenali saya?"

"Masih. Kamu kan Upasara yang disegani Tole. Di mana Tole-ku sekarang ini? Ini tempat yang diciptakan Dewa Maha Pencipta untuk didiami. Maka aku lebih suka berada di sini, ketika senopati mabuk itu menutup semua pintu keluar. Kukira tak ada lagi yang datang. Ternyata kamu datang juga, Upasara."

Upasara merasa gembira sekaligus berduka. Gembira karena bisa bertemu dengan Dewa Maut. Gembira karena meskipun Dewa Maut yang selama ini dikenal hilang akal sehatnya, nampak lebih segar dan bergairah. Tapi juga berduka karena Dewa Maut menyukai tempat ini. Dan walau mengetahui Halayudha menutup semua jalan keluar juga jalan yang terakhir, Dewa Maut sama sekali tidak berusaha menghalangi. Atau bahkan sama sekali tidak memedulikan.

Bukan tidak mungkin Dewa Maut mengetahui kedatangan Upasara dan Halayudha sejak pertama kali masuk. Namun Dewa Maut lebih suka menekuni beberapa tanaman yang dikembangkan di bagian lain dari lorong yang ada. Di situ Dewa Maut merawat tanaman, buah-buahan yang bijinya diambil dari luar, sewaktu ia masih bebas bisa keluar-masuk. Upasara makin bisa mengerti kisah yang diceritakan Nyai Demang. Bahwa sesungguhnya Dewa Maut tidak ingin keluar. Merasa telah menemukan dunianya! Itu sebabnya tak peduli sewaktu Halayudha menutup semua jalan keluar.

"Bukankah begitu, Upasara?"

"Paman sangat tepat sekali."

"Aku heran. Kenapa kamu masih bersemadi, bernapas dengan aneh? Di sini kita tak perlu berlatih pernapasan. Di sini kita bisa mengamati tumbuhnya daun, tumbuhnya akar. Seperti bayi yang lahir dan menjadi dewasa.

"Ajaib. Tole-ku pasti senang mendengar cerita ini. Aku cukup sabar menunggu ia datang. Bukankah begitu, Upasara?" Anggukan Upasara melegakan Dewa Maut.

"Paman..."

"Sssttt... jangan berisik. Dengar baik-baik... itulah suara akar yang tumbuh... Dengar... “Sssttt..." Dewa Maut berdiam diri. Memejamkan mata. Mengikuti irama tumbuhnya akar, yang hanya bisa dirasakan sendiri.

Kembali Upasara termenung dan menghela napas dalam. Suara helaan napasnya membuat kepala Dewa Maut menggeleng, seperti terganggu. Merayap kesadaran lain ke dalam tubuh Upasara. Dewa Maut, dalam arti sebenarnya, lebih waras dari dirinya sendiri. Dewa Maut yang dianggap kurang waras, sesungguhnya justru sehat. Justru lebih benar!

Tak ada gunanya melatih pernapasan atau mengatur tenaga dalam. Adalah lebih mulia mendengarkan tumbuhnya akar, yang suaranya dan perubahannya seperti pertumbuhan bayi! Betapa mulianya. Betapa besar jiwa Dewa Maut. Secara tidak langsung Dewa Maut menjalankan semua ajaran Perguruan Awan. Dalam hal menikmati alam secara total. Dalam hal mengambil apa yang ditanam dengan tangannya sendiri. Hidup tanpa dendam. Tanpa kecemburuan. Tanpa nafsu duniawi. Kalau untuk seluruh hidupnya berada di dalam gua, Dewa Maut tidak merasakan sesuatu yang merugikan hidupnya, itu berarti baginya bukan merupakan hukuman. Tapi Upasara tak bisa menahan keinginannya untuk keluar.

Dengan Tanah, dengan Air, Itulah Kehidupan

PERASAAN ingin melepaskan diri dari kurungan itu yang membuat Upasara gelisah. Berusaha keras mencari jalan keluar. Tiap kali menjajal, tiap kali pula gagal.

"Aku bisa memelihara ular atau kelabang di sini. Tetapi aku tak ingin menyakiti mereka. Bukankah itu baik, Upasara?"

"Baik, Paman Dewa Maut."

"Aku selalu baik."

"Paman masih menunggu Tole?"

Alis Dewa Maut yang putih terangkat. Wajahnya menunjukkan kegusaran. "Kalau kamu ikutan menyebut Tole, aku tak mau bicara padamu. Hanya aku yang boleh mengucapkan sebutan itu."

"Maaf, Paman..."

"Enak saja meminta maaf. Kenapa tidak kamu coba menanam sendiri maaf itu sehingga kamu tak usah meminta. Buah-buahan ini juga kutanam sendiri."

Sekilas omongan Dewa Maut seperti ngawur. Melantur ke segala arah, dan salah jawaban dari pertanyaan. Akan tetapi di telinga Upasara terdengar ada benang merah yang bicara tegas mewarnai kebenaran yang diungkapkan.

"Baik, saya akan belajar menanam."

"Nah, begitu."

"Supaya kalau Gendhuk Tri datang, saya bisa memberikan padanya."

"Itu juga baik."

"Kalau Gendhuk Tri tidak datang, saya akan menjemputnya."

Dengan kalimat ini, Upasara bermaksud memancing agar Dewa Maut tergerak hatinya untuk keluar. Sebab, menurut pikiran Upasara, sangat mungkin sekali Dewa Maut melihat jalan keluar itu! Kalau mengingat bahwa ia cukup lama berada di tempat ini. Bukankah Nyai Demang sendiri yang bercerita bahwa pemecahan untuk jalan keluar dulu itu justru dari Dewa Maut? Kalau dihubungkan dengan Tole, sebutan untuk buah hatinya, sangat besar kemungkinan Dewa Maut tergerak hatinya. Nyatanya tidak.

"Buat apa dicari. Kalau datang pasti kelihatan. Kalau pergi pasti tak kembali. Bukankah begitu, Upasara? Bukankah kamu datang begitu saja? Bukankah perempuan yang tubuhnya subur itu pergi begitu saja?"

Upasara mengangguk. "Benar, saya datang kemari untuk mencari Paman dan Gendhuk Tri."

"He, siapa menyuruhmu memanggilku Paman?"

"Maaf, Eyang..."

"Aku masih cukup muda untuk kamu panggil Kakang! Bukankah begitu, Upasara?"

"Ya... ya... tepat sekali, Kakang Dewa Maut."

"Panggil aku Paman saja."

Upasara makin bisa merasakan apa yang diceritakan oleh Nyai Demang. Terkurung berdua dengan Dewa Maut yang tetap berbelit jalan pikirannya. Hanya saja saat itu Nyai Demang bisa keluar.

"Kenapa tidak mau dipanggil Kakang?"

"Perempuan ayu itu sudah memanggilku Kakang. Ia baik hatinya. Hanya saja tubuhnya sering disenggol-senggolkan"

"Kalau begitu kita cari dia, Paman. Lewat jalan yang mana?"

Dewa Maut menggeleng. "Tak usah. Aku malu melihatnya. Aku pernah memeluk tubuhnya. Merangkul lama. Membaui tubuhnya. Aku malu. Bukankah begitu, Upasara?"

"Bukan!"

"Kamu tak tahu. Aku tak pernah memeluk wanita lain. Membaui tubuh wanita lain, selain kekasihku dulu itu, tak pernah! Aku mencintai kekasihku! Tapi nyatanya aku memeluk, dan membaui tubuh wanita itu."

"Tubuh Nyai Demang? Jadi Paman... Paman..."

Wajah Dewa Maut nampak jengah. Kali ini Upasara juga menjadi malu. Merasa kurang enak, melanggar kesopanan yang membuatnya risi. Tak seharusnya ia memperjelas apa yang dilakukan Dewa Maut bersama Nyai Demang! Jelas Dewa Maut tidak berdusta! Ini yang menjadi beban hidupnya...

BAGIAN 20CERSIL LAINNYABAGIAN 22

Senopati Pamungkas Bagian 21

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 21

Putri Singasari bukan hanya Gayatri. Ada tiga yang lain yang tak kalah elok dan rupawan, malah boleh dikatakan lebih jelita. Akan tetapi Upasara lebih suka mengundurkan diri. Mengurung diri di Perguruan Awan. Sampai kemudian Permaisuri Rajapatni dikirimkan untuk memancing Upasara keluar. Akan tetapi saat itu pun Upasara memilih tidak mau menemui. Upasara telah memutuskan bahwa semua hubungan asmara dengan Gayatri telah selesai. Demi kebahagiaan dan ketenteraman putri yang mencuri hatinya.

Upasara menganggap telah tamat. Meskipun diakui, diam-diam daya asmara itu tak bisa padam sepenuhnya. Bagai bara yang masih meletik, manakala Gendhuk Tri atau Nyai Demang menyindirnya. Mimpi pun Upasara tak menduga bahwa Gayatri masih memperhatikan. Masih mengingatnya! Masih menyempatkan diri untuk memberitahu lewat cundhuk! Betapa sesungguhnya Gayatri juga tak pernah melupakan. Justru di saat-saat yang paling bahagia dengan kelahiran putrinya, Gayatri menitipkan sesuatu yang mengingatkan kembali hubungan mereka.

Daya asmara yang tak bisa musnah. Daya asmara yang tak berkurang panasnya. Bahkan makin terasa terus membara. Upasara menutup matanya. Mencoba memusatkan pikiran, agar tidak mengikuti kenangan yang tiba-tiba merobek kenyataan yang ada. Merajam luka di hatinya yang telah dirapatkan.

"Aku tidak tahu sejauh mana benda ini memberikan makna yang sesungguhnya. Sebuah atau dua buah cundhuk semacam ini bisa ditemukan di mana saja. Akan tetapi barangkali bersangkut-paut dengan kesia-siaan yang dirasakan Permaisuri Rajapatni. Karena nyatanya yang diangkat sebagai putra mahkota adalah Pangeran Muda Kala Gemet, dan bukan keturunan Dewi Uma-Dewa Syiwa. Bukankah ini pengorbanan yang sia-sia? Demung dan Biru, prajuritku. Apa pun alasannya, sebagai prajurit sejati kita menjalankan tugas dan pengabdian. Aku akan menyampaikan, menjalankan tugas Permaisuri. Kalau umurku terlalu pendek, aku memohon kalian berdua yang menyampaikan. Terimalah, seorang satu."

Nujum Pendeta

Juru DEMUNG dan Gajah Biru nampak ragu menerima.

"Demung... Biru, apakah kalian mulai berani membantah?"

Keduanya menjawab bersama setelah menyembah.

"Hamba berdua akan berada di sisi Senopati Sora, dalam keadaan hidup dan mati."

Keduanya menerima cundhuk dan menyimpan di dalam ikat kepala dengan hati-hati.

"Demung, Biru, itu yang tidak kuinginkan. Hari ini aku memanggilmu, justru untuk memberimu tugas, agar kalian berdua tidak mengikuti langkahku. Agar kalian berdua menjauhi bayanganku. Sebentar lagi udara akan terasa sangat gerah. Makin santer berita akan munculnya tokoh-tokoh jagat dari tanah seberang yang jauh. Sejak munculnya Kama Kangkam dengan kedua muridnya, kita sudah bisa membaca tanda-tanda akan adanya gegeran. Sejak Baginda kelihatan gamang dan ragu, akan ada orang kuat yang muncul merebut kesempatan. Demung dan Biru, aku sudah terlalu tua. Sejak Lawe tiada, sejak Kakang Aria Wiraraja mundur ke Lumajang, semangatku telah hilang. Sebentar lagi udara akan bertambah gerah. Saat ini Kitab Bumi sudah menyebar. Semua ksatria, ibarat kata bisa mempelajari dengan leluasa. Pasti akan menimbulkan gelombang pasang yang besar. Hal lain ialah nujuman para pendeta akan datangnya raja yang paling besar dari keturunan Syiwa-Uma. Akan tetapi sekarang ini momonganku Raja Muda Kala Gemet yang menjadi putra mahkota. Kalau Raja Muda naik takhta, berarti semua pendeta tak ada gunanya. Kalau nujuman para pendeta benar, akan terjadi pergantian pemegang utama kekuasaan. Demung dan Biru, sadarkah kalian berdua, kenapa aku meminta kalian tidak mengikuti langkahku?"

Demung dan Biru sekali lagi menyembah secara bersamaan.

"Kami berdusta besar jika menyanggupi kata-kata junjungan sekarang ini untuk meninggalkan Senopati Sora."

"Akulah yang keliru mendidik kalian. Seharusnya kalian lebih mengabdi kepada Keraton dan bukan kepadaku. Keraton tak bisa salah, sedang aku manusia biasa. Hmmm, masih ada waktu untuk keramas dan membersihkan diri. Esok pagi-pagi benar, kalian berdua memintakan pamit kepada Raja Muda. Kalau mau, tinggallah di Dahanapura. Kalau tidak, susullah aku."

"Terima kasih, Senopati Sora, atas perkenannya mengikuti langkah yang benar."

Upasara sebenarnya ingin melangkah keluar. Akan tetapi merasa bersalah karena telah mencuri dengar beberapa bagian yang seharusnya tidak perlu didengarkan. Bagian di mana ada keruwetan mengenai tidak segeranya Baginda menjatuhkan hukuman. Yang bisa menjadi pertanda kelemahan atau diartikan begitu. Yang berarti mengundang munculnya seseorang untuk mengambil alih kepemimpinan.

Hal yang kedua ialah Upasara yakin bahwa seperti yang disebutkan Paman Sepuh Bintulu, akan ada pertemuan para ksatria nomor satu di jagat. Itu yang membuat Paman Sepuh Bintulu merasa perlu keluar dari sarangnya.

Hal yang ketiga, lebih merupakan masalah pribadi Upasara Wulung. Yaitu mengenai putri-putri Permaisuri Rajapatni yang akhirnya tersisih dari pencalonan putra mahkota. Yang tidak pribadi adalah kemungkinan terpecahnya kekuasaan Keraton dengan kekuatan batin para pendeta. Perhitungan nujuman dan kenyataan bisa menimbulkan bibit-bibit perpecahan di kelak kemudian hari.

Raja Muda Kala Gemet pasti tak akan membiarkan adanya perkiraan akan segera muncul Raja Digdaya yang segera mengalahkannya. Ini bisa berarti membatasi kekuasaan putri-putri Permaisuri Rajapatni. Atau bisa lebih buruk lagi! Raja Muda bisa berbuat lebih jahat pada kedua putri Permaisuri Rajapatni. Barangkali inilah yang membuat keesokan harinya, diam-diam Upasara mengikuti perjalanan Mpu Sora ke Keraton. Upasara terpaksa mengambil jarak agak jauh agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Baru setelah sampai di alun-alun Keraton, Upasara bisa bergabung dengan penduduk biasa yang banyak berjajar di kejauhan. Walau keadaan berlangsung dengan tenang, Upasara bisa merasakan ketegangan tengah berlangsung. Karena rombongan Senopati Sora tidak diterima langsung oleh prajurit Keraton! Ini sama juga berarti Baginda menolak kedatangannya! Ini sama juga malapetaka! Karena umbul-umbul atau bendera Mahapatih yang terlihat berkibar ketika ada rombongan muncul dari Keraton. Dan memang Mahapatih Nambi yang muncul. Tanpa turun dari joli. Tanpa membuka tirai penutup.

Senopati Sora berdiri tegak. Juru Demung dan Gajah Biru berdiri agak jauh di belakang. Sementara beberapa prajurit yang mengiringkan berada di kejauhan. Walau nampak biasa, akan tetapi kalau diperhatikan benar, genggaman pada tombak dan perisai sangat kuat.

"Mahapatih Nambi yang perkasa, izinkanlah saya sowan ke Keraton."

"Senopati Sora," terdengar jawaban dari dalam joli. "Kita sama-sama berteman sejak lama. Sebelum menjadi senopati pun kita telah bersama-sama. Kamu pun mengetahui bahwa hari ini tidak ada pasowanan. Baginda tidak berkenan menerimamu."

"Baiklah. Kalau begitu saya akan menunggu di pintu gerbang."

Sejenak Mahapatih Nambi bimbang. Ia tak akan begitu saja menerjang Senopati Sora. Karena Senopati Sora dan pengikutnya tidak berbuat suatu kesalahan. Mau menghadap Baginda. Dan karena tidak ada izin, mereka mau menunggu. Tak bisa disalahkan. Mendadak dari arah timur muncul rombongan beberapa lelaki yang menerjang maju sambil berteriak-teriak.

"Bunuh yang bersalah!"

"Keadilan harus ditegakkan."

"Kitab Kutara Manawa. harus dihormati."

Sekilas saja Upasara Wulung mengetahui bahwa rombongan yang datang bukanlah masyarakat biasa. Dari langkah dan gerakan tubuhnya, jelas mereka adalah prajurit-prajurit yang terlatih dalam olah keprajuritan. Caranya berteriak juga menunjukkan sikap yang sangat mencolok. Penduduk biasa tak akan meneriakkan kata-kata semacam itu. Hanya akan berkumpul di alun-alun sambil melepaskan baju. Sampai ada yang menanyai! Bukan seperti sekarang ini. Jelas bahwa kehendak mereka sudah diatur lebih dulu. Kemarahan yang sudah dipersiapkan.

Dan mendadak saja terjadi perubahan. Begitu rombongan mendesak maju, gegeran tak terhindarkan. Dalam sekejap saja, terjadi pertempuran tak terduga. Semua senjata lepas dari sarungnya, bergemerincing di angkasa, disimbah oleh banjir darah.

Upasara terkesima. Baru sekarang ini disaksikannya sesama prajurit Keraton saling bunuh dengan kejam dan telengas. Upasara menyeruak maju. Akan tetapi beberapa kali terhalang oleh prajurit yang saling bunuh di depannya. Terpaksa Upasara melayang ke atas, menuju ke tengah pertempuran. Mpu Sora berdiri gagah dengan kedua tangan terangkat ke atas, sebagai tanda tidak melawan, ketika tiba-tiba sebatang tombak amblas ke dalam dadanya. Tubuhnya bergoyang-goyang.

Gajah Biru dan Juru Demung meloncat maju, akan tetapi Mahapatih Nambi dan sebuah bayangan menggebrak memapaki. Keduanya terjungkal dalam satu gerakan. Agaknya, baik Gajah Biru maupun Juru Demung tidak bersungguh-sungguh mengadakan perlawanan. Sekadar ingin menolong Mpu Sora. Sehingga keduanya bisa ditusuk seketika.

Upasara menggerung keras. Kedua tangannya berputar cepat. Puluhan senjata yang ditujukan kepadanya ditangkis keras. Dengan gagah, ia berdiri di tengah.

Mahapatih Nambi menghentikan serbuan prajuritnya. Senopati Halayudha berdiri mendengus.

"Upasara..."

Upasara berlutut ke tubuh Mpu Sora yang terbaring di rumput.

"Ada titipan..."

"Saya tahu, Paman Sora yang perkasa. Terima kasih atas budi baik Paman Sora." Upasara tak tahu apakah ucapannya masih terdengar oleh Mpu Sora atau tidak. Karena kemudian tubuh Mpu Sora mengejang sebentar dan kemudian tak bergerak.

Halayudha menyambar dua tombak. Dan dengan gerakan melayang kedua tombak menusuk lambung Upasara dari arah yang berbeda. Sebat, cepat, dan menghunjam tepat.

Upasara menangkis dengan tangannya. Terdengar suara keras. Dua tombak patah. Upasara merasakan pergelangan tangannya pedih. Adalah di luar perhitungannya bahwa tenaga dalam Halayudha sangat besar. Sabetan Satu Tangan Upasara merasa tangan kanannya ngilu. Sampai ke ujung kuku. Di bagian tertentu berubah warnanya menjadi biru. Legam, seakan darahnya membeku.

Halayudha memang hebat. Tak pernah diperhitungkan oleh Upasara bahwa tenaga dalamnya begitu ganas menerobos serta merontokkan urat dan pembuluh darah Upasara, yang seakan dipaksa menahan beban yang lebih berat dari kesanggupannya. Dalam hati Upasara menggelegak darah yang mendidih. Ternyata Halayudha sangat ganas-telengas dalam menyerang. Tanpa sedikit pun mempunyai pertimbangan bahwa yang digempur adalah sesama senopati Keraton. Seakan Halayudha secara sengaja menumpahkan dendam kesumat!

Upasara membalik tubuhnya. Tangan kanannya terkulai. Masih mendenyut rasa sakit yang menggigit sampai ulu hatinya. Akan tetapi, Halayudha tak memberi kesempatan sama sekali. Begitu tombaknya kena disampok lawan, dua keris sudah di kedua tangannya, dan dengan gerakan kilat serta bertenaga, dua keris langsung menusuk ke arah dua mata Upasara! Dibarengi dengan sapuan kaki, yang masuk dari sebelah dalam. Ini berarti Upasara tak bisa mundur. Dengan kata lain, kedua biji matanya bakal menjadi sasaran.

Upasara mencium bau amis dari kedua ujung keris yang menusuk lurus, akan tetapi mendadak membelok bagai hendak mencongkel. Tangan kiri Upasara berputar di pergelangan. Dan dengan berani memapaki serangan. Satu tangan mencoba merampas dua tangan berkeris.

Halayudha tak menduga bahwa tenaga yang mementahkan kerisnya begitu besar. Menggulung dan seakan memusnahkan. Halayudha memindahkan tenaganya ke kaki. Bukan hanya menahan, kali ini berusaha mengait keras. Satu congkelan berkait! Bersamaan dengan itu tangan kiri melemparkan keris! Dan tangan yang kini kosong masih mencoba menusuk telinga Upasara dari arah yang berbeda dari lemparan kerisnya.

Mahapatih Nambi menahan napas. Apa yang diperlihatkan Halayudha bukan hanya luar biasa dari segi gerak. Serangan secara berantai dan beruntun. Lebih dari itu, seakan tak terguncangkan untuk menyerang secara tidak ksatria. Walau tak ada peraturan yang resmi, seorang ksatria tak akan begitu saja melemparkan kerisnya secara licik. Ia akan mempertahankan di tangan. Bukan membidikkan. Apalagi dalam pertempuran jarak dekat. Kemenangan semacam ini tak membuat namanya menjadi harum.

Akan tetapi Halayudha memang tidak memakai pertimbangan ksatria atau tidak. Apa yang ingin dilakukan adalah meringkus Upasara secepat mungkin. Makin awal, makin tak terduga, makin besar kemungkinannya berhasil. Seperti ketika tangan kanan Upasara yang bisa dilumpuhkan!

Upasara masih tetap tak menduga keganasan Halayudha. Akan tetapi kini lebih waspada. Hanya dengan menarik mundur dan miring menyamping, tusukan bisa terhindarkan. Dan serangan ke arah kuda-kuda, juga bakal membuat Halayudha kecele. Halayudha tak memperhitungkan bahwa sejak dulu ilmu andalan Upasara adalah jurus-jurus Banteng Ketaton atau Banteng Terluka. Dengan sendirinya peranan kuda-kudanya sangat kuat. Apalagi sekarang, dengan tenaga dalam yang lebih kuat!

Tapi tusukan jari ke lubang telinga memang tak sempat dihindarkan. Upasara menekuk tangannya, dan dengan sikunya mencoba menangkis tangan Halayudha. Yang mendadak mengubah lagi gerakannya dengan menarik diri sambil menjauh. Sementara kerisnya disabetkan keras. Dibidikkan ke arah dada. Sebat-kelewat-cepat. Sebelum suara desisan angin, ujung keris telah siap mengiris.

Dengan kuda-kuda yang kukuh, Upasara tak bisa menggeser tubuhnya. Tapi Upasara yang sekarang bukan Upasara yang tak mempunyai tenaga dalam. Juga bukan Upasara yang masih berada dalam Ksatria Pingitan. Upasara yang sekarang adalah Upasara yang bangkit kembali semangatnya, yang berkobar dendamnya, dengan latihan pernapasan dari Kitab Bumi. Cepat sambaran keris, lebih cepat lagi tubuh Upasara menekuk secara melengkung. Seakan dari bagian atas pusar dibuang ke belakang, dengan kaki tetap bertumpu. Keris itu hanya lolos sedikit di atas tubuh Upasara. Tak lebih dari dua jari. Dalam tarikan napas yang sama, Upasara telah berdiri tegak kembali dengan tangan kiri mendorong ke depan.

Halayudha sudah meloncat jauh. Sehingga Mahapatih Nambi yang terkena gempuran hawa panas memberat. Sebagai mahapatih yang dibesarkan dalam dunia kanuragan, Nambi berusaha memapaki. Akan tetapi tubuhnya terdorong mundur, hingga menabrak joli yang bergulingan.

"Kepung! Sikat!"

Dua kata dari Halayudha cukup membuat seluruh prajurit Majapahit mengurung dan mengamuk. Walau sebagian besar para prajurit Keraton yang setia tak mengerti persoalan yang terjadi, itu tak menjadi halangan bagi mereka untuk langsung mencincang Upasara. Tubuh Mahapatih yang terdorong mundur hingga membuat joli bergulingan sudah merupakan aba-aba buat menggempur si penyerang.

Bagi Upasara, keroyokan para prajurit tak ubahnya lalat-lalat kecil yang hanya menimbulkan gangguan ringan. Dan sama sekali tidak membahayakan jiwanya. Akan tetapi bagi para prajurit yang mengiringi Senopati Sora menjadi tarian maut. Karena mereka yang kena digempur secara serentak dari pelbagai penjuru. Pertempuran antara sesama prajurit tak terhindarkan.

Darah Upasara makin mendidih karena tak ada aba-aba memundurkan dari Mahapatih Nambi maupun Halayudha. Sementara prajurit dari Dahanapura, karena tak mempunyai pemimpin, juga tak mungkin menahan diri dari gasakan yang makin merapat.

Merasa tangan kanannya masih tak bisa digerakkan, Upasara meraih pedang hitam, Kangkam Galih. Dipegang erat di tangan kiri, Upasara memutar di atas kepala satu sebatan, sebelum menghalau para prajurit yang tengah bertempur. Ayunan pedangnya ternyata berakibat seperti membelah banjir. Serta-merta para prajurit jadi terdorong mundur. Senjata-senjata yang terkena sampokan angin Kangkam Galih jadi terlepas. Yang tersentuh, langsung jatuh. Satu tangan kanan menggantung, Upasara memainkan pedang dengan tangan kiri. Ke arah mana Kangkam Galih terayun, ke arah itu prajurit berlarian dan bubar.

Mahapatih Nambi merasakan getaran yang kuat sedang melanda ke arahnya. Dengan memberi aba-aba, ia maju memapak. Langsung menghadapi Upasara. Mahapatih cukup berhati-hati. Walau Upasara hanya melawan dengan satu tangan dan seorang diri, ternyata tetap tak bisa dikurung. Senjata yang mendekat ke arahnya terlempar atau kutung seketika.

Mahapatih menggerakkan kedua tangannya, dan dua pengawal pribadi menyerahkan dua tombak pusaka. Dengan sepasang tombak Mahapatih mencoba mengimbangi Upasara. Dua tombak di tangan Mahapatih berubah bagai gunting, yang siap melipat tubuh Upasara menjadi dua. Dalam satu gerakan juga bisa berubah menjadi tusukan yang berbeda arah dan sasarannya.

Upasara justru masuk ke arah tengah guntingan. Kangkam Galih dipegang secara terbalik. Dengan ujung menuding ke bawah, dan digerakkan ke atas, Upasara mendobrak maju. Ini berarti adu tenaga. Tenaga dua tangan lawan satu tangan. Sementara beberapa senopati muda juga mencecar dari berbagai arah.

Upasara mengeluarkan desisan, sebelum tubuhnya berputar kencang. Bagai baling-baling, dengan Kangkam Galih menjadi pelindung, Upasara menggasak maju. Cara Upasara merangsek maju membuat satu-dua senopati muda yang ayal-ayalan menjadi korban.

Halayudha mengibaskan salah satu bendera dan dengan serentak semua prajurit pemanah mengurung seluruh alun-alun. Dengan anak panah dibidikkan, siap dilepaskan!

"Mahapatih, mangga mengker."

Seiring dengan teriakan yang mengharap Mahapatih mengker atau memunggungi atau menjauhkan diri, Halayudha menebarkan jerat ke arah tubuh Upasara. Sehingga Mahapatih bisa sedikit longgar. Bersamaan dengan tebaran jala yang memayungi tubuh Upasara, satu tangan yang lain memberi komando. Ribuan anak panah bagai hujan mengarah ke Upasara.

"Beras Wutah!"

Perintah Halayudha bisa diartikan sebagai serangan seumpama beras yang tumpah. Mengucur ke satu arah, dan seakan anak panah itu bersambungan! Padat! Sehingga bagi Upasara dan para prajurit yang tersisa, seakan tak merasakan panasnya sinar matahari yang tertutup anak panah. Akan tetapi akibatnya sungguh parah.

Kedok Klikamuka

MENGERIKAN, karena hujan barisan anak panah yang mengurung dengan siasat perang Beras Wutah ini bukan hanya mengenai Upasara. Melainkan juga prajurit pengikut Senopati Sora. Dan sebagian dari prajurit Keraton Majapahit sendiri! Mereka tak sempat mundur. Dibiarkan dihujani anak panah oleh sesama prajurit. Hanya karena perintah Halayudha.

Puncak kemarahan Upasara sampai ke ujung rambut. Putaran Kangkam Galih-nya makin kencang. Kini bukan hanya sekadar sebagai payung, akan tetapi sesekali menyentak keras, sehingga sebagian anak panah berputar arah. Menancap di dada pemanah!

"Habiskan semua panahmu! Aku, Upasara Wulung, tak akan lari."

Upasara malah melesat maju. Mengarah ke tempat Halayudha dan Mahapatih yang kini berada dekat sitinggil. Apa yang dilakukan Upasara memang tidak mencerminkan sikapnya yang sedikit tenang selama ini. Setidaknya sifat yang dikenal oleh sebagian ksatria.

Untuk pertama kalinya sejak mengasingkan diri, Upasara menunjukkan kemurkaan dan mengumbar nafsunya. Dengan gagah ia terus maju, mengibaskan anak panah yang terus berhamburan ke arah penyerang. Upasara tak peduli yang terkena adalah prajurit Majapahit yang dihormati.

Kekesalan Upasara memang membludak bagai bendungan yang jebol. Semenjak berada di Perguruan Awan yang sunyi, ia telah mengalami beberapa kejadian yang membuatnya sangat kesal. Makin kesal karena tak mampu berbuat apa-apa.

Dan secara berturut-turut ia telah kehilangan Pak Toikromo, Galih Kaliki, dan baru saja menyaksikan Mpu Sora terluka dengan cara yang keji. Ditambah lagi dengan cara Halayudha mengorbankan anak buahnya sendiri.

Jerat yang menutup tubuhnya rantas-terobek oleh sabetan Kangkam Galih. Anak panah tak berarti banyak, walau sedikit merepotkan. Karena kemudian, dengan satu loncatan tinggi, Upasara melayang masuk ke dalam sitinggil.

Mahapatih berusaha memapaki dengan meloncat terbang, akan tetapi kemudian terbanting ke bawah. Tubuhnya sedikit menggigil karena hawa dingin menempel di lehernya. Kalau Upasara sedikit tega, barangkali kepala itu sudah menggelinding di lantai sitinggil.

Sungguh ilmu yang luar biasa tinggi. Baru sekarang Mahapatih mengalami sendiri apa yang selama ini diributkan kalangan persilatan. Apa yang dikuatirkan Baginda. Bahwa dengan menguasai ilmu Tepukan Satu Tangan, Upasara bagaikan banteng yang tumbuh sayap dan keluar taringnya! Mahapatih Nambi bukannya tidak mengenal siapa Upasara.

Pada saat berhadapan dengan pasukan Tartar, Upasara telah diangkat sebagai Senopati Pamungkas oleh Baginda. Namun saat itu, kemampuan Upasara tidak terlalu luar biasa. Setidaknya Mahapatih Nambi masih mampu mengimbangi. Bahkan di saat-saat pertarungan yang menentukan dengan senopati Tartar, Upasara sudah memperlihatkan beberapa bagian dari latihan Tepukan Satu Tangan. Yang nyatanya bisa mempecundangi Naga-Naga Tartar.

Akan tetapi, walaupun hebat, tidak terlalu luar biasa. Masih bisa terbayangkan. Pikiran Mahapatih masih bisa menjangkau. Dan setelah pertarungan itu, praktisbUpasara tak terdengar kabar beritanya lagi. Selain bahwa sekarang makin menguasai Tepukan Satu Tangan, sebagai inti dari Bantala Parwa. Akan tetapi sejauh ini belum dialami sendiri oleh Mahapatih.

Pemunculan Upasara di Perguruan Awan ketika itu hanyalah dalam menyalurkan tenaga dalam. Setelah itu malah seperti orang biasa yang cacat. Yang tak bisa mengelak serangan paling sederhana dari prajurit sembarangan. Sekarang Mahapatih terbuka batinnya. Bahwa nama besar Upasara Wulung selama ini bukan nama yang dilebih-lebihkan. Bahkan agaknya pujian dan kekaguman masih perlu ditambahkan.

Berdiri di tengah sitinggil, Upasara mengangkat tangan kirinya yang memegang Kangkam Galih. "Siapa yang menghendaki kematian lewat pedang hitam ini, silakan maju." Suaranya bergaung dalam ruangan besar.

Tak ada yang berani bergerak.

"Senopati... terima kasih atas kebaikan Senopati padaku."

Suara Mahapatih yang terdengar merendah membuat para prajurit terkesima. Bahwa seorang dan satu-satunya mahapatih Keraton Majapahit, memberi penghormatan begitu mendalam, pasti ada apa-apanya. Apalagi Mahapatih masih menyebut dengan sebutan senopati. Tidak dalam artian mendudukkan Upasara pada tingkat di bawah kekuasaan Mahapatih, melainkan sebagai tanda pengakuan akan pangkat anugerah dari Baginda.

"Mahapatih yang mulia, maafkan kalau aku berlaku kasar di depan Mahapatih. Aku tak bisa membiarkan kekejian terjadi di depan hidungku."

Dibandingkan dengan Mahapatih, usia Upasara masih seperti anak kemarin sore. Upasara lebih menunjukkan wajah seorang perjaka dibandingkan dengan Mahapatih Nambi. Akan tetapi nada bicara Upasara menunjukkan ketinggian hati. Atau kekerasan hati yang kecewa.

"Akulah yang telah berlaku kasar, karena tidak mengetahui Anakmas Senopati di antara pengiring Senopati Sora."

"Mahapatih, kedatanganku kemari tak ada hubungan dengan Senopati Sora. Kebetulan kami berjalan bersama, berkumpul bersama, karena alun-alun milik semua kawula. Akan tetapi, kekejian seorang senopati yang seharusnya dihormati membuat..."

Kalimat Upasara belum selesai ketika Halayudha meloncat maju, sambil melemparkan dua ekor ular. Sekali bergerak, Upasara mengayunkan Kangkam Galih. Dan dua ekor ular berbisa itu terpotong menjadi delapan bagian!

Dengan satu tangan. Dalam satu gerakan. Dengan tangan yang sama dalam gerakan berikutnya, ujung Kangkam Galih menyobek pundak baju Halayudha, yang ketika mencoba mundur tubuhnya tersungkur. Ujung Kangkam Galih satu jari di atas jidat Halayudha.

"Hmmm, ternyata kamulah Klikamuka!"

Kalimat Upasara cukup keras. Kalau saja Mpu Sora dan atau Mpu Renteng mendengar, langsung hatinya tak akan penasaran. Sebab kedua empu itulah yang selama ini telah berhasil dipermainkan Halayudha.

Halayudha-lah yang bisa mematahkan serangan Mpu Renteng dalam sekali gebrak, dan juga mengecoh Mpu Sora. Sangat mungkin sekali itu bisa terjadi, sebab Halayudha mengetahui dengan baik jurus-jurus andalan kedua empu yang tak sedikit pun menyangkanya. Itu semua terjadi ketika Halayudha memakai kedok klika atau kulit kayu. Ketika itu Klikamuka berhasil menculik Permaisuri Rajapatni!

Tak banyak yang mengetahui bahwa Upasara bertemu dan berhasil bertarung, sebelum Klikamuka menjauhkan diri sambil menjatuhkan Permaisuri Rajapatni. Meninggalkan begitu saja! Hanya karena saat itu Upasara mencoba menghindari pertemuan dengan putri yang menggerakkan daya asmara, maka Upasara tidak memperpanjang persoalan. Tapi Upasara tak mungkin melupakan semua peristiwa yang berhubungan dengan Gayatri. Maka tadi bisa segera mengenali Klikamuka dari gerakannya menghindar.

Halayudha tak nyana bahwa kedoknya bisa terbuka dengan cara yang sangat sederhana! Lebih dari itu, Upasara sebenarnya mengetahui bahwa Halayudha atau Klikamuka lebih banyak bersandiwara. Dulu ketika melemparkan cundhuk hingga menancap di ubun-ubun prajurit, sebenarnya cundhuk itu diberi tali halus dari rambut. Sehingga seolah-olah dirinya tokoh yang sakti mandraguna.

Juga ketika melemparkan tombak hingga amblas ke dalam pohon. Sebelumnya memang telah disiapkan pohon yang dilubangi. Hingga sekilas nampaknya seperti mempunyai kekuatan tenaga dalam yang dahsyat. Sekali bisik, tombak bisa amblas ke tengah pohon.bYang lebih luar biasa liciknya juga ditunjukkan. Ketika meremas ujung tombak dan seolah menjadi tanah liat. Hancur berkeping-keping dalam remasannya! Betapapun hebatnya ilmu yang dipelajari, tak begitu saja suatu campuran baja dan besi bisa diremas menjadi pasir!

Seperti yang lainnya, hal ini memang sudah disiapkan oleh Halayudha. Agar rahasianya tidak terbongkar, prajurit yang membawa tombak dengan bagian ujung dari tanah kering dibunuh seketika itu juga!

Upasara mengetahui kemudian, karena Jaghana memeriksa semua rumput dan tanah di Perguruan Awan. Akan tetapi sesuai dengan sifat-sifat Jaghana, hal itu tidak dibicarakan kepada banyak telinga lain.

"Kelakuanmu menjijikkan!"

Titipan Asmara

"TAHAN!"

Seruan tertahan terdengar secara serentak. Mahapatih Nambi maju setindak. Sementara Senopati Kuti, Senopati Semi, Senopati Banyak, yang sejak tadi tak bergerak, juga mengelilingi dari arah yang berbeda.

Kalau ketiga senopati tadi berdiam diri, karena merasa ada semacam jarak yang menghalangi. Bagaimana posisi Senopati Sora yang sebenarnya masih belum jelas tuntas. Mereka bertiga mengetahui kabar bahwa Senopati Sora datang untuk menyatakan sikap mbalela. Akan tetapi, ketiganya merasa tak perlu turun tangan. Pertama, karena Mahapatih sudah mengambil alih persoalan; kedua, karena masih kurang tega dengan kawan seperjuangan.

Sewaktu Upasara muncul dan mengobrak-abrik prajurit Keraton, ketiga senopati masih menahan diri. Akan tetapi sekarang ini tak bisa lagi. Karena kejadiannya berlangsung di sitinggil, yang jelas merupakan wilayah kekuasaan Keraton. Siapa pun yang membuat keonaran di situ, jelas-jelas menantang Baginda. Dan adalah tugas utama prajurit untuk membela rajanya! Kalaupun Upasara menjadi sepuluh kali lebih sakti, mereka tetap akan maju.

Bagi Mahapatih alasan serupa juga yang dirasakan. Dengan tambahan, ia tak bisa membiarkan begitu saja salah seorang senopati yang dekat hubungannya dengan Baginda dalam ancaman bahaya. Sebagai mahapatih, Nambi merasa bertanggung jawab! Maka kini, kesiagaannya adalah merupakan jawaban. Yang bisa berubah menjadi pertarungan.

Karena Senopati Semi, Kuti, dan Senopati Banyak, secara bersamaan meloloskan keris dari sarungnya. Upasara Wulung menoleh dingin.

"Betapa makin tampak tingkah yang menjijikkan kalau dilihat masih begitu tinggi setia-kawan yang dikhianati."

Senopati Banyak mendekat. Upasara membalikkan tubuhnya. Senopati Kuti menggebrak dengan dua keris, di tangan kanan dua-duanya. Senopati Semi meskipun tidak langsung menyerang, melindungi dalam posisi kuda-kuda menutup kemungkinan serangan balasan. Mahapatih Nambi mengambil pedang, untuk mengimbangi pedang hitam tipis Upasara.

Upasara tidak menunggu terlalu lama. Dalam perhitungannya, senopati-senopati yang mengepung adalah ksatria pilihan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi kini ia harus melayani dengan satu tangan. Tangan kiri yang mempergunakan pedang tipis, yang selama ini tak pernah dilatih.

Gerakan Senopati Kuti, diikuti dengan kibasan angin dari pedangnya. Upasara cukup mengerti bahwa serangan Senopati Kuti bukan serangan maut. Lebih merupakan peringatan, atau serangan pendahuluan. Namun begitu Upasara mengelak, Senopati Banyak mengayunkan kerisnya, menutup ruang gerak. Bersamaan dengan itu Mahapatih Nambi pun memotong dengan gerakan menyabit rumput. Dada ke atas terkuasai oleh tebasan.

Upasara tidak mempunyai pilihan lain kecuali mulai memainkan Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Dimulai dengan jurus Lintang Sapi Gumarang, yang di tengah jalan disambungkan dengan jurus Lintang Tagih. Benturan senjata tak terhindarkan lagi. Pedang Mahapatih seperti tersingkir. Kalah sentakan dan kalah tenaga dorongan. Akan tetapi hanya sesaat, karena kemudian kembali maju menebas, sementara Senopati Kuti, Senopati Semi, dan Senopati Banyak, berganti menyerang.

Sampai jurus ketujuh, Lintang Bima Sekti, pertarungan masih terus berlangsung seru. Di sitinggil, para prajurit terpaksa minggir, karena kesiuran angin makin lama makin tajam. Seolah empat keris dan dua pedang menyentuh kulit mereka. Sampai di jurus ketujuh, Upasara tetap bisa mengungguli. Bahkan dengan memainkan jurus Lintang Bima Sekti, atau jurus Bintang Bima Sakti, tenaga dalam yang besar dan datang secara bergelombang membuat keempat senopati yang paling diandalkan terdorong mundur.

Jurus Lintang Bima Sekti memang lebih mengandalkan tenaga serangan secara berulang dan besar. Ibarat kata membuat pohon melengkung tapi tidak roboh, membuat akar-akar pohon terguncang tapi pohon tidak terangkat. Dengan menyambung jurus kedelapan, Lintang Wulanjar, kelihatannya tekanan serangan berkurang. Karena dalam permainan jurus ini sebagian besar tenaga serangan ditarik kembali. Bahkan tekanan di atas dan di bawah diatur seimbang. Sehingga lawan yang terpancing dengan pengenduran penyerangan akan berbalik menjadi ganas.

Saat itulah Upasara menggunakan jurus kesembilan yang disebut Lintang Wuluh, atau tenaga dingin yang menggempur. Seumpama kata tenaga yang digunakan jengkerik menggerakkan sayapnya. Lembut gerakannya, akan tetapi nyaring bunyinya. Lembut gerakan Upasara, akan tetapi pengaruhnya lebih menekan. Sifat dasar serangan ini sama dengan sifat musim Kasanga atau musim kesembilan, yaitu saat bunga berguguran dari pohon.

Kalau lawan masih bisa bertahan, jurus kesepuluh, Lintang Waluku akan cepat menyambung. Jurus ini mengandalkan tenaga cepat dalam menyerang, membalikkan tenaga lawan seperti waluku atau bajak membalik tanah. Seperti tenaga seorang ibu menyerap ke dalam kandungannya. Dalam keadaan pertarungan semacam ini, Upasara seolah bisa memamerkan kebolehannya. Akan tetapi, kenyataannya tak semudah itu.

Sampai jurus kedua belas yang disebut jurus Lintang Tagih dengan tenaga musim kedua belas yang mengguncangkan, Mahapatih Nambi masih bisa bertahan. Bahkan beberapa kali mencuri dengan sabetan yang makin menukik ke arah dada. Sementara tusukan keris dari samping, atas, bawah, semakin gencar. Beberapa kali Upasara terpaksa mengadu tenaga dalam. Hingga pedang hitamnya berbenturan secara keras. Satu keris Senopati Kuti terlepas, akan tetapi tetap bukan pertanda kemenangan atau keunggulan. Sebaliknya, justru tekanan lawan makin kuat.

Upasara dipaksa berada di tengah sitinggil. Gerakannya ke satu sisi saja, berhasil dimentahkan. Sewaktu Upasara melanjutkan dengan jurus-jurus Tumbal Bantala Parwa, hasilnya juga tak mengubah jalannya pertarungan. Memang dalam hal ini lawan tidak berada dalam posisi yang lebih baik. Lawan tidak mampu menekan. Namun setidaknya untuk jarak waktu tertentu tidak berada dalam bahaya.

Upasara mengerti bahwa jurus-jurus yang dimainkan bukan jurus yang asing lagi bagi lawan-lawannya. Sejak Bantala Parwa diserahkan, sejak saat itu pula para ksatria secara luas bisa turut mempelajari secara bebas. Dalam hal ini semua gerakan Upasara bisa terbaca! Yang menyebabkan keunggulan Upasara, karena tenaga dalamnya masih lebih tinggi. Sehingga setiap kali benturan dengan pedang atau keris atau pedang dan keris lawan yang digabung, Upasara masih unggul.

Namun ini berarti juga pertarungan yang panjang. Tidak menentu. Kalau saja Upasara bisa memainkan tangan kanannya! Pikiran itu membersit dalam benaknya. Akan tetapi usahanya untuk menggerakkan tangan kanan malah membuatnya makin ngilu. Mendadak Upasara menarik pedang hitam tipis ke depan dada. Pikirannya dipusatkan ke arah pusar. Mengira lawan mulai kendor, Mahapatih menebas keras.

"Awas!"

Ini hanya semacam peringatan sesama ksatria. Kalau mau licik sedikit, teriakan peringatan ini tak usah diucapkan. Atau diganti dengan "kena!" setelah serangan berhasil. Akan tetapi Mahapatih tak serendah itu jiwanya. Peringatan itu tak ada gunanya.

Karena justru Upasara tidak ingin mendengar. Upasara menyatukan tenaga dalam pusar dengan Kangkam Galih di tangannya. Ketika tebasan Mahapatih masuk, Upasara membiarkan pergolakan tenaga yang menggerakkan pedangnya! vSeperti pengaturan tenaga melawan Paman Sepuh Bintulu!

Justru karena itulah terdengar kerontangan yang keras. Pedang Mahapatih terpotong menjadi dua bagian. Sementara Upasara Wulung terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya. Gerakan sempoyongan ke arah Kuti ini yang menyebabkan benturan kedua, dan keris Senopati Kuti pun kutung!

Terkejut yang melihat. Apalagi yang mengalami. Senopati Semi mencoba meraih perisai dan Senopati Banyak yang ingin memasang kuda-kuda tahu-tahu diserang. Rasanya pedang hitam itu sudah berada di depan hidungnya. Digerakkan dari bawah ke atas. Benturan dengan kerisnya membuatnya melepaskan pegangan. Keris Senopati Banyak tidak kutung karenanya, akan tetapi terlepas dari tangannya!

"Upasara, bunuhlah aku lebih dulu! Sebelum kamu bunuh, biarkan kusampaikan titipan ini padamu."

Meskipun Upasara tidak membagi pemusatan pikirannya, akan tetapi suara Halayudha terdengar jelas. Dan pandangan Upasara bersinar, matanya terbuka lebih lebar, manakala melihat di tangan Halayudha tergenggam sepasang cundhuk! Itu pasti dari Gayatri.

Kalau Tak Bisa Hidup Bersama, Kenapa Tak Mati Bersama

RANGKAIAN serangan Upasara terhenti. Sitinggil menjadi sunyi. Seekor nyamuk terbang pun barangkali akan terdengar bunyinya. Tidak terlalu berlebihan, karena semua yang berada di sitinggil terpaku tanpa gerak. Seluruh prajurit dan juga yang berada di alun-alun bahkan menyatu dengan pepohonan besar yang diam tanpa angin.

Mahapatih, Senopati Kuti, Senopati Semi, dan Senopati Banyak terdiam karena menyadari bahwa dalam satu serangan mendadak, mereka semua tanpa kecuali bisa ditundukkan. Setelah dua puluh jurus lebih mereka bertarung dalam keadaan imbang, mendadak Upasara mengubah serangannya dan berhasil. Ini sungguh luar biasa. Bahkan untuk tingkat para senopati, apa yang dilakukan Upasara tetap menimbulkan kekaguman. Bahwa seorang ksatria mengubah cara bersilat, hal itu sangat lumrah. Makin luas pengalaman dan makin banyak gerakan yang dikuasai, kemungkinan itu bisa terjadi sendirinya.

Namun yang diperlihatkan Upasara berbeda dari kebanyakan para jago silat. Upasara tidak terlalu mengubah gerakannya. Seakan masih bisa dikenali gerakan-gerakan jurus Dwidasa Nujum Kartika. Hanya pengaturan tenaganya yang berbeda. Pengaturan tenaga memang merupakan kunci utama. Pengaturan tepat, tenaga akan berlipat. Seseorang yang sedang meloncat mundur, dengan sedikit tenaga mengait kaki lawan, akan menyebabkan kejatuhan yang lebih keras dan berdentam.

Pengaturan tenaga ini berhubungan dengan keseimbangan tubuh. Baik tubuhnya sendiri maupun tubuh lawannya. Pengetahuan dasar ini diketahui semua ksatria yang belajar ilmu kanuragan. Yang membuat kagum ialah bahwa Upasara dalam seketika bisa menemukan cara pengaturan yang cepat dan tepat. Di tengah pertarungan lagi!

Upasara sendiri tak menduga sebelumnya bahwa dengan cara menyatukan tenaga dalam dan Kangkam Galih akan menundukkan keempat lawan yang mengepung. Ia lebih mendasarkan pada usaha untuk mengubah serangannya yang terjadi menjadi pertempuran yang bertele-tele tak menentu. Satu-satunya jalan yang terlintas dalam benak Upasara adalah mencoba menyatukan Kangkam Galih sebagai bagian tubuhnya. Bukan sebagai senjata. Hal ini sebenarnya juga sesuatu yang luar biasa.

Karena juga diajarkan sejak pertama memasuki perguruan yang mana pun. Bahwa senjata adalah bagian tubuh yang bisa digerakkan secara leluasa seperti menggerakkan jari atau kaki. Bahkan semua anggota tubuh bisa dipakai sebagai senjata. Tak terkecuali rambut yang panjang, ujung kain, ataupun siku. Yang nampak menjadi istimewa hanyalah karena Kangkam Galih agaknya justru lebih cocok dimainkan dengan tenaga yang terpadu dari pusat tenaga, yaitu sedikit di atas pusar. Ini menunjukkan bahwa Kangkam Galih memang senjata pusaka yang tepat bisa dipakai untuk menyalurkan tenaga!

Dan karena penguasaan tenaga dalam Upasara boleh dikatakan di atas lawan-lawannya, maka dalam satu rangkaian gebrakan pedang keris menjadi buntung dan keris yang lain terpaksa dilepaskan pemiliknya kalau tidak ingin kehilangan tangan. Hanya penguasaan Upasara belum sempurna benar.

Belum menjadi ilmu yang sejati. Kalau ia tertegun, karena memang tidak seketika bisa mengatur gelombang tenaga yang seakan masih bergolak mencari penyaluran. Direm secara mendadak, Upasara merasa gempuran tenaga itu mengguncangkan dadanya. Hingga diperlukan beberapa kejap untuk menormalkan, untuk menyeimbangkan kembali. Kalau saat itu diserang, perlawanan Upasara tak akan berarti.

Tetapi para senopati yang mengepungnya tak melakukan itu. Tetap tidak, andaipun tahu pergumulan yang dihadapi Upasara. Kecuali barangkali Halayudha. Cerdik dan licik jalan pikiran Halayudha, akan tetapi tetap tak bisa mengetahui kelemahan tenaga dalam Upasara. Halayudha terpengaruh dengan kemunculan Upasara yang mendadak dan ternyata tetap lebih unggul.

"Bunuhlah aku, Upasara. Akulah yang bersalah. Tetapi terimalah titipan benda ini."

Halayudha mengangsurkan dua cundhuk ke tangan Upasara. Sekilas Halayudha ingin membokong Upasara saat menerima cundhuk. Akan tetapi pikiran itu dibuangnya jauh-jauh. Terlalu mengundang risiko apabila ia mencuri kesempatan. Karena sedikit meleset perhitungan tenaga membokong, akibatnya kepalanya bisa terpenggal oleh Kangkam Galih yang dengan mengeluarkan deringan kecil sudah mampu membuat keris dan pedang menjadi buntung karenanya.

Halayudha lebih percaya taktiknya dengan mempermainkan perasaan Upasara pada kenangannya! Sebagai orang yang bisa menyusup ke sana-kemari, Halayudha mengetahui Permaisuri Rajapatni menitipkan cundhuk kepada Mpu Sora. Sejak itu Halayudha sudah mempersiapkan sesuatu yang sama. Karena akal liciknya membisiki hatinya bahwa suatu saat pasti ada gunanya. Nyatanya perhitungannya benar.

Upasara berhenti sejenak, menerima cundhuk dan menyimpan di balik kain yang disumpalkan di pinggang.

"Bukan hanya aku yang dititipi benda ini, karena pengirimnya berharap salah satu akan sampai ke tanganmu."

Halayudha tetap memainkan kecerdikannya. Dengan sengaja tidak menyebut nama Permaisuri Rajapatni. Kalau di kemudian hari Upasara mengetahui bahwa cundhuk itu bukan berasal dari Gayatri-nya, Halayudha tak bisa disalahkan. Halayudha tak pernah menyebut nama itu.

"Sekarang, kalau kamu menganggap pembunuhan Senopati Sora karena aku, bunuhlah aku. Kumohon, jangan kamu campur adukkan dengan Mahapatih dan para senopati yang lain. Akulah yang bersalah. Dan biarlah aku yang menanggung. Lakukan sekarang juga. Aku tak perlu menyesali lagi, karena semua pesan dan tanggungan telah kusampaikan. Kalau tak bisa hidup bersama, kenapa tidak mati bersama?

Halayudha tak pernah kehilangan akal untuk menyelusupkan segala kemampuan akal bulusnya. Dengan kata-katanya yang diucapkan cukup keras terdengar Mahapatih, Halayudha seakan hanya menanggung satu dosa, yaitu terbunuhnya Senopati Sora. Dengan pengakuan ini, Halayudha malah akan mendapat dukungan dan pengayoman dari sekalian yang hadir. Di samping berhasil memancing rasa hormat, karena seolah Halayudha yang mengambil alih tanggung jawab.

Kening Upasara sedikit berkerut. Bagi Upasara, Halayudha tetap licik. Karena membelokkan pembicaraan mengenai Mpu Sora dari segi yang lain. Di samping menyembunyikan masalah Klikamuka! Upasara sesaat bertanya-tanya dalam hati. Bahwa Halayudha adalah Klikamuka, Upasara tak ragu sedikit pun. Akan tetapi bahwa Halayudha ternyata mempunyai ilmu yang begitu tinggi, itu tak diduganya sama sekali. Justru karena sewaktu menyamar sebagai Klikamuka, yang lebih dimunculkan adalah tipuan-tipuan. Jadi di mana posisi Halayudha sebenarnya? Kenapa agaknya hal ini tidak disadari oleh senopati yang lain? Atau justru oleh Mahapatih sendiri?

Upasara berusaha keras mengesampingkan pikiran yang dianggapnya terlalu mencampuri masalah Keraton. Hanya kaitan dengan Gayatri membuatnya terguncang lagi. Cara berpikir Upasara yang jujur dan lurus memang tak pernah menduga bahwa Halayudha hanya mempermainkan saja. Upasara merasa bahwa Gayatri benar-benar ingin membuktikan adanya daya asmara, lewat berbagai cara. Dan kalau dititipkan pada Halayudha juga masuk akal.

Mengingat Halayudha paling bisa berhubungan dengan Permaisuri. Paling bebas bisa masuk kaputren. Bahkan karena jujurnya, Upasara menduga bahwa penculikan yang dilakukan Klikamuka atas Permaisuri Rajapatni dulu juga cara yang direncanakan Gayatri! Sedikit-banyak perasaan ini membuat niatan Upasara untuk mengobrak-abrik sitinggil menjadi reda.

"Dosa mengenai pembunuhan Mpu Sora, bukan wewenangku. Yang kutanyakan ialah disimpan di mana adikku Gendhuk Tri dan Dewa Maut sahabatku." Nada bicara Upasara terdengar kaku.

"Akulah yang bersalah menghukum mereka. Upasara, kalau kamu ingin mengetahui keadaan mereka berdua, aku akan mengantarkan." Halayudha memberi sembah kepada Mahapatih, lalu menyilakan Upasara berjalan masuk ke dalam Keraton. Setelah menyilakan, Halayudha berjalan lebih dulu.

Mahapatih akhirnya mengetahui bahwa ada yang ditahan dalam kurungan bawah Keraton. Dan kalau sekarang Halayudha mengantarkan ke dalam kurungan, hal itu tak bisa ditahan. Itu masih lebih baik daripada melanjutkan pertarungan. Mahapatih tak menyadari bahwa Halayudha sudah menyiapkan rencana yang tak mungkin diatasi oleh Upasara. Ilmu yang tinggi masih bisa dikalahkan oleh akal.

Kalau Tak Bisa Hidup Bersama, Kenapa Tidak Salah Satu

KALAU Mahapatih saja tak bisa menduga, apalagi Upasara! Setitik pun tak ada bersitan dalam bawah sadar perasaan Upasara, bahwa Halayudha menyiapkan rencana busuknya yang paling akhir jika rencana sebelumnya gagal.

Halayudha merasa sebagian rencana kurungan bawah Keraton gagal sejak diketahui bahwa Nyai Demang ternyata bisa lolos. Dan kurungan di bawah kamarnya juga bisa diterobos Gendhuk Tri. Maka satu-satunya jalan yang terbaik adalah menutup gua bawah tanah. Dengan mengubur hidup-hidup Gendhuk Tri maupun Raja Segala Naga atau Naga Nareswara. Hal yang sama akan dilakukan Halayudha. Tapi ia sendiri tak mau ikut terkubur hidup-hidup. Bukan hal yang gampang. Karena itu ia harus bisa memainkan perannya dengan teliti dan cermat.

Halayudha berjalan mendului tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Langsung menuju kurungan di bawah Keraton. Ia yang melangkah masuk lebih dulu. Upasara mengikuti. Begitu keduanya sampai di dalam, mendadak Halayudha mengentakkan kakinya dengan keras dan tangannya menghantam ke arah pintu dari mana ia datang. Kembali terdengar suara keras. Tanah berguguran, sebagian bagaikan lumpur. Menutup jalan masuk. Upasara menarik napas. Tertahan. Halayudha tertawa lepas. Suaranya dipantulkan oleh gema, seakan lebih ganas.

"Upasara, selesailah sudah tugas kita berdua. Sekarang bunuhlah aku. Makanlah dagingku untuk memperpanjang umurmu."

Barulah Upasara mengetahui bahwa kini mereka berdua terkurung hidup-hidup. Tak mungkin membuka jalan dari arah mereka datang.

"Memang sayang bagimu, Upasara. Kamu masih muda. Umurmu belum ada 25, belum separuhku. Kamu ksatria sejati dengan ilmu yang tak tertandingi. Dicintai Permaisuri. Tapi kamu berada dalam satu kuburan denganku, yang sangat licik, hina, dan suka menipu. Kalau bukan karena takdir, apa lagi namanya?"

Upasara mencengkeram pedangnya lebih erat.

"Aku telah kalah. Kalah dalam segala hal. Kedokku telah kamu buka. Siasatku menjerat Mpu Sora berhasil, tetapi kamu mengetahui. Tak ada tempat aman bagiku. Barangkali cara mati begini lebih baik."

"Di mana Gendhuk Tri dan Dewa Maut?"

Gema tawa Halayudha kembali bersahutan. "Dewa Maut telah lama menjadi debu. Kalau kamu jalan-jalan di sekitar tempat ini, mungkin masih bisa kamu kenali tulang-belulangnya. Dia terkubur lebih dulu, dan lebih lama di sini. Nyai Demang pasti sudah bercerita."

"Gendhuk Tri?"

"Ia kesasar ke dalam gua yang kupersiapkan. Sayang karena akhirnya Naga Nareswara ikut terkubur juga. Sayang aku belum sempat memeras semua ilmunya."

Secara ringkas Halayudha menerangkan bahwa Naga Nareswara atau Raja Segala Naga adalah pemimpin tertinggi seluruh senopati Tartar yang dikirimkan ke tanah Jawa.

"Aku tak akan disebut pahlawan, walaupun musuh yang sakti mandraguna itu berhasil kulenyapkan. Aku tak akan disebut prajurit pengabdi, walau selama ini aku berhasil memperkuat kedudukan Baginda dengan menyingkirkan segala begundal dan cecunguknya. Nasib yang busuk selalu menyertaiku. Tapi aku ingin kamu menemaniku."

Upasara lebih sadar bahwa ia kini berada dalam tempat yang telah tertutup jalan keluarnya. Kurungan bawah Keraton yang rumit. Yang banyak lorong-lorongnya, yang setelah ia mencoba mengitari lewat lapangan terbuka, akhirnya kembali ke tempat semula.

"Kalau Dewa Mahaagung memberkatimu dengan sayap, kamu bisa keluar dari persembunyian ini."

Upasara menggelengkan kepalanya. "Aku tak mengerti apa sebenarnya di balik keinginanmu yang sangat busuk ini."

Halayudha mengangkat tangannya. Seolah putus asa. "Tak ada gunanya kita saling menyimpan rahasia. Sebentar lagi kita akan mati bersama. Atau salah satu lebih dulu. Upasara, dengarlah baik-baik. Kamu tahu siapa yang ada di depanmu ini? Seorang senopati yang cukup sakti. Seorang prajurit yang penuh pengabdian. Seorang yang memberikan jiwa-raga kepada Keraton. Kepada Baginda. Jauh sejak dalam pengabdian kepada Baginda Raja Sri Kertanegara, aku telah mengabdi. Tapi aku tak pernah dipedulikan. Aku selalu diperlakukan sebagai si busuk yang selalu licik. Baginda Raja Sri Kertanegara bahkan tak pernah memperhitungkan diriku. Seolah aku bukan ksatria. Seolah aku bukan laki-laki! Sewaktu Sanggrama Wijaya melarikan diri, akulah yang selalu menyertai. Selalu menemani. Tetapi aku dianggap tidak ada. Sewaktu menggempur Raja Muda Jayakatwang, sewaktu mengusir pasukan Tartar, aku tak pernah mendapat tugas dalam peperangan. Seolah aku tak pernah becus apa-apa! Selain menjadi alas kaki Sanggrama Wijaya! Aku selalu menjadi gedibal, menjadi pesuruh yang hina, justru ketika prajurit yang lain diangkat menjadi senopati agung. Diangkat menjadi mahapatih. Dianugerahi gelar dharmaputra. Aku terlupakan. Halayudha dianggap bukan ksatria. Halayudha bukan laki-laki. Halayudha adalah gedibal, adalah pesuruh, adalah si licik busuk. Kalau aku juga dianugerahi gelar sebagai senopati, aku tak mempunyai prajurit sebagaimana senopati yang lain. Aku tak mempunyai tlatah secuil pun. Aku tetap dianggap tak ada. Dosa apa yang kulakukan sehingga semua orang memandang dan menilaiku begitu hina?"

Halayudha seolah menatap jauh.

"Aku dendam. Aku manusia biasa yang bisa mendendam. Di sinilah timbul keinginanku membuktikan bahwa aku lelaki sejati. Bahwa aku prajurit utama. Bahwa aku sejajar dengan para ksatria. Aku mempelajari ilmu silat dari arah mana pun. Aku menjajal kemampuan otakku yang dikatakan sangat licik dan culas. Aku justru ingin membuktikan diri sebagai si sangat licik yang hina! Nyatanya hampir berhasil. Adipati Lawe bisa lewat. Senopati Anabrang tewas. Pengikut Mpu Sora terberantas. Akan kuhabisi semua dharmaputra seangkatanku. Akan kuliciki semua senopati yang selama ini memandang rendah diriku. Termasuk kamu, Upasara."

"Kesalahan apa yang kulakukan padamu?"

"Banyak sekali. Kamu disanjung semua kawula-bahkan semua senopati, bahkan Baginda. Kamulah lelaki sejati, lelananging jagat. Sedangkan aku yang paling hina. Kenapa Dewa yang Maha bijak membedakan nasib begini jauh berbeda? Terakhir kamu menggagalkan niatku menyapu bersih semua senopati sebagai balas dendam! Masihkah kamu bertanya apa salahmu padaku?"

Upasara termakan nada getir Halayudha. Halayudha memang ingin meyakinkan Upasara bahwa ia tengah berada dalam situasi yang sangat kritis. Seolah perlu menumpahkan segala unek-unek, segala pikiran. Karena sebentar lagi akan mati! Kalau Upasara terpengaruh hal ini, pasti tak akan begitu curiga lagi. Tak akan terlalu mengawasinya. Itu berarti ia bisa meloloskan diri! Karena ia tahu satu-satunya jalan untuk meloloskan diri. Ia menyisakan satu jalan yang lain. Selebihnya telah ditutup. Dan jika ia telah lolos, tinggal menutup mati jalan itu. Berarti Upasara akan terkubur hidup-hidup juga. Kalau tak bisa hidup bersama, kenapa tidak salah satu yang hidup? Kalau tak bisa mati bersama, Halayudha tetap tak mau mati bersama. Halayudha yakin bisa memperalat Upasara. Bisa menyesatkan jalan pikiran. Justru karena Upasara terlalu bersih dan lurus jalan pikirannya

"Halayudha, maaf kalau aku belum sudi menyebut paman atau sebutan lain yang lebih menghormat, siapa sebenarnya gurumu?"

"Aku belajar sendiri."

"Tak mungkin. Kamu tak bisa mendustaiku. Ilmumu cukup tinggi. Bahkan tanpa kelicikan pun kamu bisa mengalahkan ilmu Mahapatih. Apalagi senopati yang lain. Siapa yang mengajarimu awalnya? Pasti juga bukan Naga Nareswara!"

Gajah Mahakrura

PANDANGAN tajam Upasara membuat Halayudha cemas. Sekelebat ia merasa sangat kuatir secara tiba-tiba. Kalau Upasara menghajarnya, ia tak bakal bisa mengimbangi. Dan ini berarti semua kesempatan dan kelicikan yang telah diatur begitu sempurna akan hancur! Tapi bukan Halayudha kalau tidak berdusta.

"Kamu akan mengenal nama besarnya. Kiai Gajah Mahakrura."

Upasara mendesis seperti menelan asap tembakau yang dibakar. Dengan cepat Halayudha melanjutkan kalimatnya.

"Kamu pasti telah mengenal nama besar senopati agung dari tlatah Campa yang terkenal. Kiai Gajah Mahakrura yang sejajar dengan nama besar Naga Nareswara, setingkat dengan Eyang Sepuh, ataupun Kiai Sambartaka dari tlatah Hindia, juga Kama Kangkam, ksatria perkasa dari tlatah Jepun."

Sengaja Halayudha menjajarkan nama-nama yang sebagian sudah dikenal oleh Upasara. Agar tak ketahuan bahwa nama yang disebutkan adalah asal menyebutkan saja. Akan tetapi, Halayudha bukan menyebutkan secara ngawur. Pengetahuan luas yang dimiliki, digabung dengan kelicikan, menyatu bagai jebakan halus yang menjerat.

Naga Nareswara atau Raja Segala Naga, pastilah dikenal namanya oleh Upasara. Karena ia mengenal kesaktian Naga-Naga yang lain. Bahkan secara langsung pernah beradu pikiran dengan Kiai Sangga Langit, sesepuh tiga Naga utusan Raja Tartar. Sedikit-banyak pasti juga sudah mendengar kehebatan Kama Kangkam. Dengan menyebutkan nama Kiai Sambartaka, Halayudha hanya untung-untungan saja. Karena selama ini ia sendiri baru mendengar nama itu dari Naga Nareswara.

Menambahkan nama Gajah Mahakrura, atau gajah yang sangat bengis dari tlatah Campa, juga bukan tanpa perhitungan. Hubungan raja-raja di Jawa dengan penguasa tlatah Campa sangat erat. Beberapa senopati dan ksatria silih berganti berdatangan. Nama para ksatria Campa cukup dikenal. Di antaranya adalah para ksatria yang berasal dari tlatah Mada, suatu wilayah di Keraton Campa. Suku Mada sangat terkenal keberaniannya dan sekaligus juga ketelengasannya. Tidak terlalu sulit bagi Halayudha untuk sekadar mencari nama Gajah Mahakrura! Meskipun dari Campa, para ksatria atau pendekar yang sudah lama berdiam di tlatah Jawa memang sering memakai nama setempat.

"Saya tak begitu mengenal nama besar beliau," suara Upasara merendah nadanya. "Akan tetapi mengingat apa yang kamu lakukan, sangat mungkin nama besar itu sesuai dengan sifat-sifat licik yang kamu perlihatkan. Tangan kanan ini terkena getahnya."

Halayudha menghela napas yang sengaja dibikin-bikin. "Kamu bisa membalas dendammu sekarang."

Upasara mengangguk. "Itu lebih baik. Membunuh orang durjana bukanlah tindak kejahatan. Halayudha, bersiaplah!"

Halayudha menggelengkan kepalanya. "Melawan atau bertahan, akan berakhir sama. Untuk apa membesarkan diri dengan harapan yang jelas sia-sia? Seorang permaisuri masih mempunyai harapan, maka ia menitipkan cundhuk padaku, tetapi melawan kesaktianmu, siapa yang saat ini mampu menahan?"

Dada Upasara terguncang. Halayudha memang tahu bagian mana yang harus diserang. "Akan saya katakan kepada Gajah Mahakrura, bahwa Upasara Wulung yang bertanggung jawab atas pembalasan kematian muridnya."

"Tak ada gunanya. Kamu tak akan mengenali. Guru Gajah Mahakrura sudah lama tak mau mengakui."

Geraham Upasara menyatu. Apakah ada di dunia ini seorang guru tak mengakui muridnya?

"Kamu tak akan mengenal duniaku, Upasara. Kamu murid yang baik. Kamu tak bisa membayangkan di dunia ini ada pertengkaran antara murid dan guru. Pertentangan antara senopati yang tersisih macam diriku. Semua itu bukan duniamu."

Halayudha kembali menghela napas. Nadanya memelas, minta dikasihani.

"Saya tak mengenal siapa Gajah Mahakrura, akan tetapi jelas cara mengerahkan tenaganya bisa saya kenali. Halayudha, katakan terus terang, apakah Ugrawe masih saudara seperguruanmu?"

Mendadak wajah Halayudha pucat. Tubuhnya menggigil. "Jangan sebut-sebut manusia terkutuk itu! Dialah yang telah menghancurkan kami semua. Tak ada semut atau cacing mau mengaku saudara dengannya. Kami dulu sama-sama berguru kepada Gajah Mahakrura, dan Ugrawe manusia laknat itu mencuri kitab-kitab Bapa Guru. Dan akulah yang dituduh."

Ganti Upasara yang menelan ludah. "Apakah Kiai Gajah Mahakrura juga disebut sebagai Paman Bintulu, karena memakai kain belang hitam-putih seperti yang dikenakan tokoh pewayangan Anoman atau Bima?"

Halayudha mengeluarkan jeritan tertahan. "Upasara, apakah benar kamu mengenal Bapa Guru Dodot Bintulu?"

"Saya pernah bertemu dengan Paman Sepuh belum lama ini."

Mendadak Halayudha merebut pedang di tangan Upasara, dan dengan cepat menebaskan pedang itu ke arah lehernya.

Upasara tak menyangka Halayudha akan menjadi begitu nekat. Tangannya masih sempat menarik kembali, dan empat jari Halayudha terpotong ketika berusaha mencengkeram.

"Bunuh aku! Bunuh aku!"

Bagi Upasara apa yang dilakukan Halayudha benar-benar tindakan nekat. Belum pernah dilihatnya Halayudha begitu cemas, ketakutan seperti sekarang. Bahkan ketika berada di ujung pedangnya sewaktu dikalahkan pun, Halayudha tak segemetar sekarang!

"Bunuh aku!"

"Jadi Paman Halayudha adalah murid Paman Sepuh Dodot Bintulu yang juga guru Ugrawe?"

Dugaan Upasara tak jauh meleset. Bahkan sejak tangan kanannya terhantam balik tenaga Halayudha yang kuat dan menyengat, Upasara teringat bahwa ilmu membalik tenaga dalam itu dulu hanya dimiliki tokoh yang bernama Ugrawe. Tokoh sakti mandraguna yang berdiri di belakang Raja Muda Jayakatwang dalam menaklukkan Keraton Singasari.

Ugrawe-lah yang mencuri semua kitab pusaka, termasuk di antaranya Kitab Bumi atau Bantala Parwa. Dari sinilah Ugrawe menciptakan rangkaian jurus-jurus Sindhung Aliwawar, yang puncaknya dinamai jurus maut Banjir Bandang Segara Asat. Jurus Banjir Bah Laut Kering, pada zamannya adalah jurus yang tak tertandingi. Bila ilmu itu dimainkan, dan lawan terkena pukulannya, dengan serta-merta tenaga dalam akan terisap. Lawan menjadi lautan yang terisap, sementara dalam tubuh penyerang terjadi kelebihan tenaga ibarat banjir. Laut yang besar menjadi kering, airnya berpindah ke darat.

Sungguh perumpamaan yang tepat menggambarkan betapa dahsyat pukulan itu. Bisa dibayangkan bahwa saat itu Ugrawe benar-benar bisa merajalela tanpa lawan, karena setiap kali tenaga dalamnya bertambah besar dan semakin kuat. Kelemahan utama jurus Banjir Bandang Segara Asat adalah bila ternyata tenaga dalam lawan lebih kuat. Bisa-bisa tenaga dalamnya sendiri yang terisap. Berbalik menjadi loyo. Salah seorang putra Raja Muda Jayakatwang pernah menjadi korbannya!

Akan tetapi sesungguhnya itu disebabkan oleh penguasaan yang belum mencapai tingkat kasampurnaning ngelmu, atau tingkat sempurna. Karena, menurut Ugrawe justru kalau tingkat penguasaan sudah sempurna, dalam keadaan kalah kuat tenaga dalam pun tetap bisa mengisap. Karena, banjir di darat memang dengan cara menguras air di laut! Sayang, atau bahkan mujur, sebelum menguasai secara sempurna Ugrawe telah gugur di medan laga. Saat-saat terakhir dalam hidupnya, tokoh sakti yang dikutuk semua ksatria itu melakukan tugas yang mulia.

Upasara bisa menelusuri kembali karena kini telah menemukan kunci pemahaman cara pernapasan Tumbal Bantala Parwa. Bahwa tenaga dalam bisa disimpan sebagian, untuk kemudian diubah kembali. Dan bisa dipergunakan. Dalam jurus Banjir Bandang Segara Asat, cara pengaturan mengisap tenaga tak jauh berbeda. Hanya saja, dan inilah yang menjadi biang kejahatan Ugrawe yang ganas, ia mengambil tenaga dalam orang lain. Dengan cara yang sama, mengubah tenaga dalam lawan, menyatukan dengan tenaga dalamnya sendiri, sehingga bisa dikuasai, dan dipergunakan menurut kehendak hatinya!

Pencerahan yang diterima Upasara terutama ketika bisa memulihkan tenaga dalamnya. Ini secara langsung atau tidak, berkat petunjuk Paman Sepuh atau juga Paman Dodot Bintulu! Yang adalah guru Ugrawe dan Halayudha.

Upasara menjadi serbasalah kalau membiarkan Halayudha bunuh diri. Makanya ia menarik pedangnya. Empat jari tangan Halayudha terputus karenanya. Justru di saat Upasara ragu, Halayudha merebut kesempatan!

Kubur Kedua

HALAYUDHA berlari keras. Darah masih mengucur. Cara berlari Halayudha sedemikian rupa sehingga mengesankan sedang bingung atau sangat ketakutan mendengar nama Paman Sepuh Dodot Bintulu. Memang Halayudha lebih berani menghadapi seribu mayat yang hidup kembali daripada mendengar nama gurunya! Itu lebih mengerikan daripada bumi yang terbelah atau langit yang runtuh patah menimpanya! Sejak Halayudha melarikan diri dari gurunya, sejak itu hanya ada satu yang ditakuti. Yaitu bila gurunya hidup kembali.

Upasara tidak mengejar karena menduga toh Halayudha akan berputar-putar dan akhirnya kembali ke tempat semula. Memang nyatanya begitu. Dua kali Upasara melihat Halayudha berputar kembali ke tempatnya. Akan tetapi tidak untuk ketiga kalinya! Inilah Halayudha! Bisa menggabungkan antara kesungguhan dan kelicikannya! Tanpa bisa dibedakan lagi. Sewaktu mendengar nama gurunya disebut-sebut, Halayudha memang ketakutan setengah mati. Baginya lebih baik bunuh diri daripada mati disiksa oleh sang guru yang kejam!

Sejak kecil Halayudha terasing dari lingkungannya. Anak-anak sepermainan tak pernah mengacuhkannya. Ia dianggap anak yang lemah, tak mampu berenang di Kali Brantas, tak mampu mengambil sarang burung di ujung pohon. Nasibnya berubah sewaktu ia bertemu dengan orang tua yang kemudian mengangkatnya sebagai pembantu. Sejak itu Halayudha menjadi abdi setia yang melayani, dan kepadanya diajarkan cara-cara pernapasan. Barulah kemudian Halayudha mendengar bahwa gurunya tokoh sakti mandraguna seangkatan dengan Eyang Sepuh maupun Mpu Ragana Halayudha belajar dengan tekun.

Sampai setahun kemudian ia kembali ke desanya dan membunuh habis semua teman yang dulu mengejeknya! Barulah Halayudha kembali berguru, melayani Dodot Bintulu untuk mencarikan buah segar, mencucikan baju yang dikenakan. Dan diajari cara-cara pernapasan. Segalanya berjalan dengan lancar, sampai kemudian Guru Dodot Bintulu menemukan anak kecil lain yang dianggap lebih berbakat darinya. Anak kecil itu tak lain dan tak bukan kelak kemudian hari dikenal sebagai Ugrawe, mataharinya matahari!

Halayudha begitu dendam melihat kasih sayang gurunya yang berlebihan kepada Ugrawe. Satu-satunya siasat yang dilakukan adalah mencoba mencuri Kitab Bumi! Halayudha ingin bisa mengalahkan Ugrawe yang memang bisa mempelajari sangat cepat. Agaknya Ugrawe mencium keinginan busuk Halayudha. Karena Ugrawe juga merencanakan hal yang sama. Bedanya, Ugrawe berhasil mencuri kitab-kitab pusaka. Dalam kalutnya, Halayudha mengambil sisa-sisa yang tak diambil Ugrawe. Setelah lebih dulu membokong gurunya yang tengah bersemadi.

Gurunya selalu berdiam bagai patung, bagai batu, jika melakukan latihan pernapasan. Itulah saat terbaik bagi Halayudha menjalankan tipu muslihatnya. Halayudha mengerahkan seluruh tenaganya dan memukul hancur wajah sang guru. Kurang puas dengan itu, Halayudha melemparkan batu-batu keras ke wajah gurunya, menimbuni dengan batu keras. Menunggu beberapa hari. Baru kemudian meninggalkannya. Sejak itu Halayudha mengembara dan akhirnya nyuwita atau mengabdi kepada Raden Sanggrama Wijaya.

Kembali kegusaran mencapai ulu hatinya dan mulai menggerogoti dirinya ketika mengetahui bahwa adik-muridnya nyuwita kepada Raja Muda Jayakatwang dan menjadi senopati utama! Sekali lagi ia kalah! Merasa selalu kalah! Karena takut bakal diketahui oleh Ugrawe yang lebih sakti, Halayudha menyembunyikan diri. Makin parah hatinya, karena teman-teman seangkatan dengannya menjadi senopati yang gagah perkasa, sementara ia harus menahan diri menjadi bahan ejekan sebagai senopati utama tanpa memiliki prajurit dan kesaktian.

Justru itulah yang dipakai senjata oleh Halayudha. Ia selalu memperlihatkan diri sebagai si dungu. Sambil menunggu waktu untuk melampiaskan dendam. Sebagaimana ia masih kanak-kanak dulu. Adalah keinginannya untuk menguasai ilmu dan menjadi lebih sakti sehingga lebih mudah membalas dendam. Lebih menggembirakan lagi karena secara diam-diam ia bisa berguru kepada Naga Nareswara.

Hanya saja karena kini ia berada di tengah percaturan Keraton, strategi yang dijalankan juga berbeda. Namun Halayudha tak bisa menahan rasa takutnya. Karena ketika kembali ke tempat perguruannya, ia tak menemukan tulang-tulang gurunya. Setelah batu-batu yang menumpuk disingkirkan, tulang-belulang Kiai Dodot Bintulu tak ada! Tidak juga rambut atau giginya!

Ketakutan utamanya adalah bahwa Kiai Dodot Bintulu atau gurunya ini masih hidup dan kini tengah mencari-carinya. Halayudha tetap merasa tak bisa melawan. Maka ia selalu ketakutan jika nama Kiai Dodot Bintulu disebut-sebut. Tapi Halayudha tetap mempunyai siasat yang membakar darahnya. Pada putaran berikutnya, Halayudha sadar bahwa ini adalah kesempatan untuk melarikan diri. Maka Halayudha mengambil putaran lain, dan membiarkan darahnya mengucur, agar Upasara terjebak ketika mengikuti!

Ia sendiri kemudian mengisap jari-jari yang putus, sehingga darah tak mengalir lagi. Kemudian mengambil jalan yang benar dan keluar dari gua bawah Keraton! Dan tentu saja kemudian menutupnya. Sebagai tutupan terakhir! Yang berarti gua itu tertutup untuk selamanya. Tak mungkin Upasara bisa menembus lapisan tanah. Pun andai dibantu oleh Kiai Dodot Bintulu!

Upasara belum sepenuhnya mengerti bahwa sebenarnya Halayudha telah meninggalkannya. Pikirannya masih dipenuhi dengan Kiai Dodot Bintulu, alias Paman Sepuh. Jadi benar dugaannya selama ini! Paman Sepuh satu angkatan dengan Eyang Sepuh dan Mpu Raganata. Tiga nama yang menjadi cikal bakal dunia kanuragan di sekitar Singasari dan kini Majapahit!

Paman Sepuh Dodot Bintulu dengan dua muridnya, Halayudha dan Ugrawe; Eyang Sepuh mendirikan Perguruan Awan dengan sekian banyak muridnya, di antaranya Jaghana dan Wilanda; sementara Mpu Raganata secara diam-diam mengajarkan ilmunya kepada Jagaddhita dan juga Gendhuk Tri.

Upasara sendiri sebenarnya berada di luar ketiga jalur yang mempengaruhi dunia persilatan. Ia dididik dengan ilmu Keraton yang sebenarnya lebih dekat dengan ajaran Mpu Raganata. Di mana pengolahan kepada raga atau jasmani lebih mendapat perhatian utama. Sesuai dengan keinginan Baginda Raja Sri Kertanegara. Maka jenis dan jurus-jurus yang diajarkan Ngabehi Pandu penuh dengan permainan tenaga keras. Seperti yang dibuktikan dengan jurus-jurus ciptaannya, Banteng Ketaton. Jurus-jurus Banteng Terluka adalah jurus-jurus yang lebih mengandalkan kepada raga, kepada kekuatan lahir.

Yang berbeda adalah perjalanan hidup Upasara. Ia juga mempelajari ilmu-ilmu dari Eyang Sepuh yang berdasarkan pada kekuatan batin, bukan kekuatan raga. Bahkan boleh dikatakan mendalami dari awal sampai akhir kidungan-kidungan Bantala Parwa. Lebih dari itu Upasara juga mempelajari beberapa bagian utama dari cara pernapasan ilmu Kiai Dodot Bintulu atau Paman Sepuh yang lebih murni.

Bagi Upasara hal ini tak menimbulkan kesulitan. Karena walau berbeda cara dan penekanan, dasar-dasar ajaran yang diterima tak jauh berbeda. Karena sesungguhnya Eyang Sepuh, Mpu Raganata, dan Paman Sepuh juga mempelajari dari sumber yang sama. Ditambah dengan pengalaman bertemu Kiai Sangga Langit yang membawa ilmu Jalan Budha, boleh dikatakan saat ini Upasara telah menyerap semua ilmu yang ada. Inti segala ngelmu, banyak atau banyak sekali dikecap dan dipelajari.

Dengan latihan dan penguasaan, Upasara akan masuk ke tahap di mana kasampurnaning ngelmu itu bisa dijadikan bagian dari dirinya. Dalam keadaan seperti ini, sepuluh Halayudha tetap tak akan bisa mengalahkannya. Akan tetapi, ternyata satu Halayudha saja tak bisa dikalahkan. Bahkan berhasil menguburnya hidup-hidup.

Berulang kali Upasara berusaha mencari jalan keluar, dan selalu berakhir di tempat yang sama. Berulang kali Upasara berusaha menggempur ke arah dari mana ia datang, tak ada hasilnya. Tanah lembek yang bercampur putih telur dan tingginya bagai gunung anakan itu tak bergoyang. Makin digali, makin banyak tanah yang berguguran. Berarti tetap saja tak bisa keluar. Hanya langit yang samar bisa dikenali siang hari. Dan kadang bintang atau bulan terlihat sekilas bila malam tiba.

Burung Pun Tak Turun

BEBERAPA malam berlalu. Hanya perubahan terang dan gelap yang menjadi tanda. Selebihnya tak ada tanda-tanda lain. Upasara duduk di ruang terbuka. Saat-saat matanya memandang ke atas, hanya lapisan langit yang menutup. Seakan selimut yang diletakkan persis di mulut gua. Upasara menyadari bahwa tak ada tanda-tanda kehidupan yang lain. Tidak juga seekor burung yang berani terbang rendah, masuk ke dalam gua.

Kalau ada yang harus dipuji, pujian itu diperuntukkan bagi para empu yang telah memanfaatkan gua yang lubangnya bagai tujuh belas sumur bersambungan. Dinding-dinding gua terdiri atas batu yang sangat keras. Hanya di bagian terowongan ada lapisan tanah. Akan tetapi sia-sia kalau ingin menjebolnya. Satu lubang dibuat, tanah di bagian atas akan berguguran. Namun yang akan menyulitkan lagi ialah bahwa bagian lorong yang terdiri atas tanah tak bisa dipastikan mana ujung dan mana pangkalnya. Memang sebuah kurungan yang sangat sempurna!

Upasara tak terlalu menyesali kalau harus terkubur hidup-hidup. Satu-satunya yang masih mengganjal dalam hatinya ialah ternyata segala ilmu yang dipelajari tak mempunyai arti untuk meloloskan diri. Kemampuan untuk meringankan tubuh tetap tak banyak mengubah. Upasara sudah menjajal. Dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, tubuhnya melayang ke atas dua tombak. Mencoba hinggap di salah satu dinding. Dengan memakai tenaga loncatan keras, tubuhnya melayang ke dinding sebelah lain. Dari tempat itu pula mencoba meloncat ke atas lagi.

Akan tetapi dengan lima kali berloncatan, tenaganya makin merosot, dan dengan berjumpalitan keras, Upasara bisa turun ke bawah dengan selamat. Beberapa kali Upasara menjajal, akan tetapi hasilnya sama. Upasara menjajal dengan bantuan Kangkam Galih. Sekali ini ia meloncat ke atas dengan pedang hitam kurus di tangan. Pada loncatan yang tertinggi, tangan kirinya mengayun keras. Berhasil! Kangkam Galih bisa menusuk dinding batu yang keras.

Dengan satu kali tarikan, Upasara berusaha meloncat naik lebih tinggi. Dengan menancapkan Kangkam Galih untuk kedua kalinya. Berhasil! Upasara makin bersemangat. Akan tetapi, Kangkam Galih terlalu tajam. Bisa menusuk dinding batu, akan tetapi seperti menyelusup ke tengahnya! Sehingga diperlukan tambahan tenaga untuk mencabutnya. Agak sulit, karena dengan itu pula harus mengayun tubuh ke atas. Sehingga jarak loncatan ke atas makin lama makin pendek.

Delapan kali loncatan, Upasara sudah kehilangan kekuatan. Sehingga loncatan berikutnya adalah cara paling selamat untuk turun kembali ke dasar gua. Dengan cara yang sama ketika mendaki. Upasara tidak menyerah begitu saja. Pada waktu senggang, Upasara bersemadi untuk memulihkan tenaga dalam ke arah tangan kanannya. Meskipun tak lagi menimbulkan rasa nyeri, akan tetapi belum bisa digunakan secara leluasa. Setelah pulih, kembali Upasara menjajal naik. Tak banyak artinya. Kalau seekor burung pun tak berani menjajal masuk, apalagi yang tak mempunyai sayap!

Upasara mencoba mengukur tingginya lubang gua dengan cara melemparkan batu ke atas. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, batu di tangannya disambitkan ke atas. Batu itu meluncur ke atas dengan dorongan tenaga penuh. Hingga seakan lenyap dari pandangan mata. Berubah menjadi satu titik hitam tak berarti. Namun dalam waktu beberapa kejap, batu itu jatuh kembali ke bawah. Hancur berkeping-keping. Berarti gua ini memang tinggi, seakan tanpa tepi. Berarti satu-satunya jalan harus melalui lorong dari mana ia masuk. Justru itu yang tak mungkin.

Halayudha tak memberi kesempatan yang paling kecil sekalipun. Tak ada cara lain, selain harus menunggu datangnya kilatan pikiran baru. Upasara berusaha pasrah, berusaha menyerahkan pikiran agar membersit suatu petunjuk. Suatu wangsit. Wangsit atau petunjuk atau bersitan pikiran yang bisa pasrah secara total. Karena justru pada saat pikiran bisa dikosongkan, percikan pikiran bisa datang menyusup. Bagi Upasara hal semacam itu tak terlalu sulit dilaksanakan. Maka Upasara bisa tenggelam dalam semadi.

Dan sedikit heran ketika terbangun dari semadinya sudah ada buah-buahan di dekatnya. Semula Upasara merasa bermimpi, akan tetapi ternyata buah yang dipegang, digigit, dan dimakan bukan khayalan.

"Itu buah pertama."

Upasara tak bisa menyembunyikan rasa herannya. Karena yang berada di depannya adalah Dewa Maut!

"Tak sia-sia aku menanamnya. Kalau Tole datang, bisa makan bersama. Upasara, kenapa kamu datang sendirian? Mana Tole-ku?"

Upasara teringat keterangan Nyai Demang, bahwa Dewa Maut terkurung dalam gua. Dan nyatanya masih ada sampai sekarang. Tubuhnya kelihatan segar bugar, seluruh rambutnya yang putih berkibar-kibar.

"Paman Dewa Maut masih mengenali saya?"

"Masih. Kamu kan Upasara yang disegani Tole. Di mana Tole-ku sekarang ini? Ini tempat yang diciptakan Dewa Maha Pencipta untuk didiami. Maka aku lebih suka berada di sini, ketika senopati mabuk itu menutup semua pintu keluar. Kukira tak ada lagi yang datang. Ternyata kamu datang juga, Upasara."

Upasara merasa gembira sekaligus berduka. Gembira karena bisa bertemu dengan Dewa Maut. Gembira karena meskipun Dewa Maut yang selama ini dikenal hilang akal sehatnya, nampak lebih segar dan bergairah. Tapi juga berduka karena Dewa Maut menyukai tempat ini. Dan walau mengetahui Halayudha menutup semua jalan keluar juga jalan yang terakhir, Dewa Maut sama sekali tidak berusaha menghalangi. Atau bahkan sama sekali tidak memedulikan.

Bukan tidak mungkin Dewa Maut mengetahui kedatangan Upasara dan Halayudha sejak pertama kali masuk. Namun Dewa Maut lebih suka menekuni beberapa tanaman yang dikembangkan di bagian lain dari lorong yang ada. Di situ Dewa Maut merawat tanaman, buah-buahan yang bijinya diambil dari luar, sewaktu ia masih bebas bisa keluar-masuk. Upasara makin bisa mengerti kisah yang diceritakan Nyai Demang. Bahwa sesungguhnya Dewa Maut tidak ingin keluar. Merasa telah menemukan dunianya! Itu sebabnya tak peduli sewaktu Halayudha menutup semua jalan keluar.

"Bukankah begitu, Upasara?"

"Paman sangat tepat sekali."

"Aku heran. Kenapa kamu masih bersemadi, bernapas dengan aneh? Di sini kita tak perlu berlatih pernapasan. Di sini kita bisa mengamati tumbuhnya daun, tumbuhnya akar. Seperti bayi yang lahir dan menjadi dewasa.

"Ajaib. Tole-ku pasti senang mendengar cerita ini. Aku cukup sabar menunggu ia datang. Bukankah begitu, Upasara?" Anggukan Upasara melegakan Dewa Maut.

"Paman..."

"Sssttt... jangan berisik. Dengar baik-baik... itulah suara akar yang tumbuh... Dengar... “Sssttt..." Dewa Maut berdiam diri. Memejamkan mata. Mengikuti irama tumbuhnya akar, yang hanya bisa dirasakan sendiri.

Kembali Upasara termenung dan menghela napas dalam. Suara helaan napasnya membuat kepala Dewa Maut menggeleng, seperti terganggu. Merayap kesadaran lain ke dalam tubuh Upasara. Dewa Maut, dalam arti sebenarnya, lebih waras dari dirinya sendiri. Dewa Maut yang dianggap kurang waras, sesungguhnya justru sehat. Justru lebih benar!

Tak ada gunanya melatih pernapasan atau mengatur tenaga dalam. Adalah lebih mulia mendengarkan tumbuhnya akar, yang suaranya dan perubahannya seperti pertumbuhan bayi! Betapa mulianya. Betapa besar jiwa Dewa Maut. Secara tidak langsung Dewa Maut menjalankan semua ajaran Perguruan Awan. Dalam hal menikmati alam secara total. Dalam hal mengambil apa yang ditanam dengan tangannya sendiri. Hidup tanpa dendam. Tanpa kecemburuan. Tanpa nafsu duniawi. Kalau untuk seluruh hidupnya berada di dalam gua, Dewa Maut tidak merasakan sesuatu yang merugikan hidupnya, itu berarti baginya bukan merupakan hukuman. Tapi Upasara tak bisa menahan keinginannya untuk keluar.

Dengan Tanah, dengan Air, Itulah Kehidupan

PERASAAN ingin melepaskan diri dari kurungan itu yang membuat Upasara gelisah. Berusaha keras mencari jalan keluar. Tiap kali menjajal, tiap kali pula gagal.

"Aku bisa memelihara ular atau kelabang di sini. Tetapi aku tak ingin menyakiti mereka. Bukankah itu baik, Upasara?"

"Baik, Paman Dewa Maut."

"Aku selalu baik."

"Paman masih menunggu Tole?"

Alis Dewa Maut yang putih terangkat. Wajahnya menunjukkan kegusaran. "Kalau kamu ikutan menyebut Tole, aku tak mau bicara padamu. Hanya aku yang boleh mengucapkan sebutan itu."

"Maaf, Paman..."

"Enak saja meminta maaf. Kenapa tidak kamu coba menanam sendiri maaf itu sehingga kamu tak usah meminta. Buah-buahan ini juga kutanam sendiri."

Sekilas omongan Dewa Maut seperti ngawur. Melantur ke segala arah, dan salah jawaban dari pertanyaan. Akan tetapi di telinga Upasara terdengar ada benang merah yang bicara tegas mewarnai kebenaran yang diungkapkan.

"Baik, saya akan belajar menanam."

"Nah, begitu."

"Supaya kalau Gendhuk Tri datang, saya bisa memberikan padanya."

"Itu juga baik."

"Kalau Gendhuk Tri tidak datang, saya akan menjemputnya."

Dengan kalimat ini, Upasara bermaksud memancing agar Dewa Maut tergerak hatinya untuk keluar. Sebab, menurut pikiran Upasara, sangat mungkin sekali Dewa Maut melihat jalan keluar itu! Kalau mengingat bahwa ia cukup lama berada di tempat ini. Bukankah Nyai Demang sendiri yang bercerita bahwa pemecahan untuk jalan keluar dulu itu justru dari Dewa Maut? Kalau dihubungkan dengan Tole, sebutan untuk buah hatinya, sangat besar kemungkinan Dewa Maut tergerak hatinya. Nyatanya tidak.

"Buat apa dicari. Kalau datang pasti kelihatan. Kalau pergi pasti tak kembali. Bukankah begitu, Upasara? Bukankah kamu datang begitu saja? Bukankah perempuan yang tubuhnya subur itu pergi begitu saja?"

Upasara mengangguk. "Benar, saya datang kemari untuk mencari Paman dan Gendhuk Tri."

"He, siapa menyuruhmu memanggilku Paman?"

"Maaf, Eyang..."

"Aku masih cukup muda untuk kamu panggil Kakang! Bukankah begitu, Upasara?"

"Ya... ya... tepat sekali, Kakang Dewa Maut."

"Panggil aku Paman saja."

Upasara makin bisa merasakan apa yang diceritakan oleh Nyai Demang. Terkurung berdua dengan Dewa Maut yang tetap berbelit jalan pikirannya. Hanya saja saat itu Nyai Demang bisa keluar.

"Kenapa tidak mau dipanggil Kakang?"

"Perempuan ayu itu sudah memanggilku Kakang. Ia baik hatinya. Hanya saja tubuhnya sering disenggol-senggolkan"

"Kalau begitu kita cari dia, Paman. Lewat jalan yang mana?"

Dewa Maut menggeleng. "Tak usah. Aku malu melihatnya. Aku pernah memeluk tubuhnya. Merangkul lama. Membaui tubuhnya. Aku malu. Bukankah begitu, Upasara?"

"Bukan!"

"Kamu tak tahu. Aku tak pernah memeluk wanita lain. Membaui tubuh wanita lain, selain kekasihku dulu itu, tak pernah! Aku mencintai kekasihku! Tapi nyatanya aku memeluk, dan membaui tubuh wanita itu."

"Tubuh Nyai Demang? Jadi Paman... Paman..."

Wajah Dewa Maut nampak jengah. Kali ini Upasara juga menjadi malu. Merasa kurang enak, melanggar kesopanan yang membuatnya risi. Tak seharusnya ia memperjelas apa yang dilakukan Dewa Maut bersama Nyai Demang! Jelas Dewa Maut tidak berdusta! Ini yang menjadi beban hidupnya...

BAGIAN 20CERSIL LAINNYABAGIAN 22