Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 19

Mpu Sora menggeleng. Gerahamnya menggertak. Tangannya mengepal. Dalam berbagai situasi Mpu Sora selalu bisa menguasai perasaan hatinya. Namun sekali ini perasaannya bisa terlihat. Mpu Sora menjilat bibirnya yang terasa kering.

“Saya berjanji tidak akan mengutarakan ini. Tetapi saya tak bisa menahan diri. Saya sadar bahwa ini akan membuat Senopati Agung bersedih.”

Tangan Mpu Sora terkepal makin kencang. Dadanya terguncang.

“Senopati Agung bukan sedih karena menolak penunjukan Baginda. Bukan sedih karena kepercayaan yang diberikan para senopati yang lain. Melainkan karena secara tidak langsung menyadari bahwa bumi rengka ada di Keraton. Bahwa sesungguhnya garis pemisah itu ada dengan diangkatnya Senopati Nambi sebagai mahapatih. Bahwa selama ini bumi yang terbelah itu belum kelihatan benar, karena kesetiaan dan pengabdian kepada Baginda Raja. Akan tetapi bisa berubah banyak di waktu mendatang. Kalau Mahapatih Nambi tidak bisa menjalankan kewajibannya dengan adil dan menyelesaikan perkara-perkara yang timbul, tanah yang terbelah itu akan muncul. Bukankah ini yang menyebabkan Senopati Agung bersedih?”

Mpu Sora mengakui bahwa Halayudha bisa menebak jalan pikirannya! Jauh-jauh dalam batinnya tak ada keinginan untuk mengiri kepada jabatan yang begitu terhormat. Baginya mengalir darah seorang prajurit yang berdasarkan pengabdian tunggal. Baginya mengalir darah ksatria yang bersikap jujur secara tulus. Untuk dua hal ini Mpu Sora tak pernah bimbang serambut pun! Itulah sebabnya Mpu Sora sama sekali tidak bisa membenarkan tindakan Adipati Lawe yang meninggalkan pertemuan! Ini tindakan sangat tercela sebagai seorang prajurit sejati!

“Saya mohon beribu maaf kalau kata-kata saya yang lancang ini menambah beban pikiran Senopati Agung.”

Mpu Sora menggeleng lembut. “Tidak, sama sekali tidak, Senopati Halayudha. Saya berterima kasih atas pandangan yang dikemukakan secara terbuka. Saya tak akan pernah melupakan.”

“Ucapan saya tak ada artinya. Kalau ada, pasti Mahapatih tidak menunda-nunda keberangkatan Senopati Agung ke Daha. Akan tetapi nyatanya sampai hari ini Mahapatih seperti sengaja menahan agar Senopati Agung tidak segera mendampingi sang Putra Mahkota. Biarlah lidah saya kaku, kalau saya tidak mengatakan apa yang tidak berada dalam hati saya yang paling dalam.”

Dwidasa di Samudra

HALAYUDHA juga mendatangi Senopati Anabrang. Begitu datang langsung berlutut di depan Senopati Anabrang.

“Saya tak pantas bahkan untuk mencium kaki Senopati yang selama dwidasa warsa menguasai samudra. Dua puluh tahun menguasai lautan, sungguh tak terbandingkan dengan seorang yang hina seperti saya. Kedatangan saya yang pertama-tama untuk meminta hukuman karena telah membuat malu seluruh senopati. Terutama telah melukai Senopati Mahisa Anabrang yang kondang keperwiraannya.”

Senopati Anabrang tersentak. Ia tak menyangka bahwa akhirnya Senopati Halayudha yang begitu dekat dengan Baginda Raja datang kepadanya, mengakui kesalahannya. Kekukuhan hatinya keras bagai baja. Akan tetapi seperti juga baja, justru mudah patah. Agaknya ini yang menjadi perhitungan Halayudha!

Dengan mendatangi, merendahkan diri, justru Halayudha bisa menempatkan diri pada tempat yang tinggi, yaitu kemenangan. Tak ubahnya ketika menyikat ketiga Kama! Apalagi Halayudha sengaja membangkitkan kemenangan Senopati Anabrang. Kemenangan sebagai senopati yang selama dua puluh tahun, meskipun kurang dua tahun mengarungi samudra luas. Menjalankan tugas dengan gemilang di tlatah Melayu.

Halayudha bukan sekadar mengingatkan kebesaran itu, akan tetapi juga menggunakan sebutan Senopati Mahisa Anabrang! Ada kata Mahisa yang diucapkan secara mendasar. Diberi tekanan lebih dalam ketika mengutarakan. Cara yang sangat jitu!

Halayudha mengetahui dengan persis, bahwa pada kelompok tertentu masih terbayangi kekuasaan besar Keraton Singasari. Hal yang tak akan bisa terhapus begitu saja. Keraton Singasari memang pantas dibanggakan karena kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara dalam memperluas cakrawala jagat raya. Di tangan kekuasaan Sri Kertanegara-lah lautan mulai dikuasai, sampai ke negeri seberang. Dengan kata-kata yang membakar semangat: “Di mana ada gunung berdiri, di mana ada sungai mengalir, di situlah panji-panji Singasari akan berkibar.”

Semangat dan jiwa besar itu masih hidup dalam darah dan mimpi semua senopati yang pernah mengenal atau mendengar kisah-kisah Baginda Raja Sri Kertanegara. Dengan menyebutkan nama Mahisa, Halayudha mengembalikan semua gagasan Senopati Anabrang kepada masa Keraton Singasari. Di mana nama-nama Mahisa masih banyak dipergunakan. Sebagai senopati yang berpandangan luas, Senopati Anabrang tidak gampang termakan pujian. Walaupun kata-kata Halayudha bisa masuk dan meresap.

Pertimbangan utama Senopati Anabrang adalah bahwa sifat licik Halayudha pada akhirnya tertuju pada penyelamatan Keraton. Berarti suatu bentuk pengabdian. Berbeda dari para senopati yang lain, Senopati Anabrang boleh dikatakan hidupnya murni dihabiskan sebagai prajurit. Didikan sifat-sifat keprajuritan dihirup bersama tarikan napas yang pertama. Dan dalam perjalanan hidupnya, Senopati Anabrang hanya mengenal satu kata: pengabdian total kepada Keraton.

Senopati Anabrang tak begitu banyak bergerak dalam kehidupan para ksatria atau para pendekar silat. Dunia persilatan cukup diketahui, akan tetapi tak digeluti seperti senopati lain. Di saat dirinya tumbuh sebagai prajurit yang dipercaya menjadi senopati, sudah langsung dikirim ke negeri seberang. Praktis agak buta mengenai situasi dunia persilatan. Karena ketika ia kembali lagi, pertarungan para ksatria sudah selesai. Bahkan pasukan Tartar sudah berhasil diusir ke tengah laut. Dan kemudian ia sendiri lebih banyak berdiam di sekitar Keraton. Hanya muncul sebentar ke Perguruan Awan.

Perbedaan latar belakang inilah yang membuat Senopati Anabrang sedikit canggung bergaul dalam dunia para ksatria. Baginya ada satu tugas yang terus dijalani: mengabdi sepenuhnya kepada Keraton. Tanpa dibebani intrik-intrik, atau keinginan menjajal ilmu silatnya. Itu pula yang menyebabkan begitu kembali, Senopati Anabrang mempersembahkan kepada Baginda Raja dua putri yang dibawanya sebagai tanda pengakuan kekuasaan Keraton. Baginya tak menjadi masalah kalau dulunya masih Singasari dan sekarang Majapahit. Toh ini sama artinya: Keraton!

Maka hati Senopati Anabrang menjadi berang dan terbakar kalau mendengar sindiran bahwa dirinya hanyalah prajurit yang membawa pulang perempuan! Seperti yang diteriakkan Adipati Lawe. Sungguh tak masuk akal, telinganya mendengar cacian yang mungkin agak terbiasa di kalangan persilatan. Bagi Senopati Anabrang, hal itu diterima dengan perasaan terluka yang dalam. Tak bakal dilupakan seumur hidup.

“Maafkan tindakan saya yang lebih rendah daripada anjing tanah busuk, Senopati Mahisa Anabrang.”

Senopati Anabrang menunduk, mengangkat Halayudha. “Kita masing-masing mempunyai cara untuk mengabdi kepada Keraton, jangan terlalu dipikirkan hal itu.”

“Terima kasih atas penjelasan Senopati Mahisa Anabrang. Namun rasanya berat bagi saya menghadapi Senopati. Setiap kali saya teringat kembali, saya merasa bersalah dan sangat hina. Duh, Senopati, rasanya kalau saya mendapat hukuman dari Senopati, hati saya akan terasa lebih ringan. Walaupun hukuman itu berupa kematian atau cacat anggota badan.”

“Kita masing-masing bisa berbuat salah. Kalau kita menyadari kesalahan itu dan tak akan mengulang lagi, rasa tobat itu lebih bermakna dari sekadar hukuman.”

Halayudha menunduk. “Saya sadar bahwa saya sama hinanya dengan Adipati Lawe, akan tetapi sungguh berat beban yang saya tanggung.”

Senopati Anabrang termakan kalimat yang menyebut-nyebut Adipati Lawe! Darah samudra yang mengalir dalam dirinya adalah darah panas yang tak bisa bersandiwara. “Senopati Halayudha keliru kalau mempersamakan diri dengan Lawe! Lawe terlalu kurang ajar. Itu yang bisa dikatakan: perbuatan terkutuk dan hina! Bukan yang Senopati lakukan.”

“Bukankah jatuhnya sama saja? Membuat malu semua Senopati? Duh, Senopati Mahisa Anabrang yang telah menaklukkan samudra, janganlah hati saya diperingan oleh hiburan kosong.”

“Tidak,” Senopati Anabrang menggertak. “Tetap ada bedanya. Apa yang dilakukan Lawe bisa merusak pengabdian murni kepada Keraton. Lawe bisa dikatakan mbalela, membangkang perintah Raja. Itu sama saja dengan pembangkangan atau pemberontakan!”

Halayudha membelalak. Sama sekali tak menduga bahwa Senopati Anabrang menjadi galak. Beringas pandangannya. Buas wajahnya.

“Seorang prajurit sejati adalah pengabdi tanpa ragu. Makin jauh saya mengembara, makin yakin akan bukti-bukti besar itu. Tak ada keraton yang mencapai kebesaran tanpa pengabdian. Apa yang dilakukan Lawe bisa merontokkan citra prajurit sejati jika dibiarkan. Baginda harus tegas. Kalau tidak, saya sendiri yang akan bertindak.”

Halayudha terperangah. Tubuhnya gemetar. “Untuk pertama kalinya saya masih diberi anugerah Dewa yang Maha bijak untuk mendengarkan suara lelaki sejati. Selama ini saya hanya mendengarkan tenggang rasa, timbang rasa untuk tidak melukai hati yang lain.”

Senopati Anabrang tidak sadar bahwa ia masuk perangkap. Perangkap gelap yang menyeret kemarahannya. “Saya tidak dibesarkan dalam tradisi tenggang rasa yang akan meruntuhkan ketegaran batin kita. Saya dibesarkan dalam tradisi kehidupan laut yang mengatakan apa adanya. Saya tidak buta, bahwa Lawe adalah putra kandung Senopati Agung Aria Wiraraja yang banyak jasanya dan besar wibawanya. Saya tidak buta, bahwa Lawe adalah keponakan Senopati Sora yang perkasa dan bijaksana. Saya tahu itu. Tapi saya juga tahu, bahwa kewajiban prajurit sejati adalah mengatakan yang benar dan berani pula mengatakan yang salah. Hanya Baginda Raja yang bebas dari penilaian. Tetapi, bahkan Mahapatih pun harus diberitahu secara terus terang apabila keliru. Inilah jalan samudra! Inilah hukum lautan yang perkasa, yang ksatria!”

Halayudha merunduk dalam. “Perasaan semacam ini tentulah dirasakan senopati-senopati yang lain. Hanya Senopati Mahisa yang berani mengemukakan secara terbuka. Sungguh luar biasa tradisi Keraton Singasari. Sayang saya tak mengalami secara langsung. Ah, kalaupun saya mengalami, apakah saya yang pada dasarnya telah hina bisa lebih baik? Maafkan saya. Beribu maaf saya minta dari Senopati Mahisa. Saya tahu di mana Lawe berada, akan tetapi satu kata pun saya tak berani menghaturkan kepada Baginda. Duh, betapa nista.”

Pedang Panjang bagi Mahisa Taruna

HALAYUDHA tak menduga bahwa tangisnya, kekecutan wajahnya, bisa membuat Senopati Anabrang meluap. Dan kalap.

“Sejahat-jahatnya Senopati Halayudha, masih bisa meminta maaf. Akan tetapi perbuatan Lawe sudah sangat keterlaluan. Hal ini tak bisa dibiarkan.”

“Duh, Senopati Anabrang, janganlah berbuat sembrono. Maksud baik belum tentu mendatangkan angin segar.”

“Saya tak peduli.”

“Akan lebih baik jika maksud Senopati Mahisa direstui Baginda Raja. Sehingga kalau ada suara-suara sumbang, akan terbungkam karenanya.”

“Itu lebih baik.”

“Kalau Senopati Mahisa berkenan, saya akan sowan kepada Baginda dan mengutarakan bahwa Senopati Anabrang ingin menghadap.”

Senopati Anabrang ragu. Apakah orang laut seperti dirinya pantas meminta waktu khusus kepada Raja?

Halayudha bisa menebak jalan pikiran Senopati Anabrang. “Saya hanya sekadar menghaturkan. Kalau Baginda menerima, itu bukan karena saya. Karena Baginda melihat jasa besar Senopati Mahisa yang perkasa.”

“Jasa? Apa yang bisa dikatakan jasa? Semua prajurit mengabdi. Bukan memperhitungkan jasa!”

“Saya tahu jiwa luhur Senopati Anabrang. Akan tetapi sesungguhnya jasa terbesar dari semua senopati yang mengabdi diri, Senopati Anabrang-lah yang paling terpandang. Maaf ini bukan pendapat saya yang picik. Inilah yang hamba dengar dari para senopati lainnya. Inilah yang hamba dengar dari Baginda.”

“Saya tak merasa melakukan jasa yang istimewa.”

“Inilah tanda jiwa besar. Tangan kanan berjasa, tangan kiri tak diberitahu. Bahkan kalau tangan kiri bertanya, tangan kanan tetap tak menjawab. Tapi semua mencatat bahwa Senopati Mahisa-lah yang menjadi penerus Keraton. Wibawa dan kebesaran Keraton akan berlanjut atas jasa besar Senopati Mahisa.”

“Itu berlebihan.”

“Senopati Mahisa-lah yang membawa Permaisuri Indreswari. Dan Permaisuri Indreswari-lah yang dipilih Baginda menjadi permaisuri utama, sehingga putranya sekarang menjadi putra mahkota.”

Senopati Anabrang terbatuk. Ia tidak biasa dengan pujian seperti ini.

“Saya hanya mengatakan apa adanya. Sehingga kalaupun Baginda berkenan, itu karena pribadi Senopati Mahisa.”

Senopati Anabrang tak menduga bahwa Baginda, melalui Halayudha, akhirnya betul-betul memanggilnya. Saat menyampaikan panggilan dari Baginda, Halayudha menyerahkan tiga pedang panjang kepada Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang.

“Saya tidak pantas menyerahkan ini pada Anakmas Taruna. Sebab pedang panjang ini bukan milik saya. Akan tetapi karena saya melihat Anakmas Taruna sangat giat berlatih, barangkali pedang dari Jepun ini bisa dipakai untuk latihan.”

Mahisa Taruna menyembah sebagai tanda hormat dan terima kasih. Siapa yang tidak berharap mendapat pedang panjang pusaka Kama Kangkam, Kama Kalacakra, dan Kama Kalandara? Pemberian Halayudha juga sangat tepat. Karena Mahisa Taruna memang berlatih mempergunakan pedang, seperti juga ayahnya.

“Terima kasih, Paman Halayudha.”

“Anggap ini hadiah Senopati Mahisa Anabrang dari tanah seberang, yang tak sempat memikirkan untuk kepentingan sendiri.”

Setiap kata-kata Halayudha mengandung sayap-sayap pengertian yang menyeret ke arah pemikiran tertentu. Dengan mengucapkan itu, seakan Halayudha ingin menekankan bahwa selama ini Senopati Anabrang memang tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Bahkan juga kepentingan putranya. Dan Halayudha bisa menggantikan peranan itu.

Memang bagi Senopati Anabrang pengabdian sebagai prajurit sejati tanpa cacat sedikit pun. Bahkan sedemikian banyak waktu dicurahkan untuk mengabdi, pengawasan kepada putranya sendiri terlewatkan. Dibandingkan dengan dirinya, Mahisa Taruna masih terlalu rendah ilmu silatnya. Ini semua hanya karena ia menelantarkan. Senopati Anabrang merasa bersalah. Maka dalam hati sangat berterima kasih kepada Halayudha yang membesarkan hati putranya. Yang dengan tekun dan sabar melatih Mahisa Taruna. Kalau tidak mendampingi Baginda, Halayudha menyempatkan diri untuk melatih Mahisa Taruna yang menjadi sangat giat. Belum pernah selama ini ada guru yang secara khusus menangani.

“Saya tidak menganggap diri lebih pintar, Putra Senopati yang gagah. Akan tetapi sedikit-banyak saya mendengar tentang kitab yang banyak diperebutkan. Mungkin kita akan berlatih bersama.”

“Sungguh, budi baik Paman tak akan saya lupakan.”

“Tak ada utang budi di sini. Kalau ayahmu begitu sibuk mengabdi, sudah semestinya saya menggantikan. Meskipun saya tak bisa dibandingkan dengan kehebatan Senopati Mahisa Anabrang yang perkasa.”

Mahisa Taruna terlalu polos menduga maksud-maksud Halayudha. Jangan kata ia yang masih hijau, Senopati Anabrang pun termakan oleh Halayudha. Sehingga di depan Baginda, Senopati Anabrang mengatakan bahwa apakah Baginda tidak perlu menegakkan tata tertib para prajurit yang terang-terangan membangkang. Dan Senopati Anabrang tidak mengetahui, bahwa sebelum ia dipanggil menghadap, Halayudha telah menyampaikan hal ini kepada Baginda Raja.

“Begitu berani Anabrang meminta menghadapku?”

“Beribu maaf hamba meminta ke Baginda. Biar bagaimanapun, Anabrang dibesarkan di atas gelombang samudra, sehingga adatnya berbeda dari yang mengenal kehalusan budi Keraton. Bisa dimengerti kalau Anabrang berani mengajukan diri menghadap Baginda.”

“Apa maksudnya mengetengahkan soal Lawe?”

“Dengan diangkatnya Mahapatih Nambi, para senopati yang lain berlomba merebut hati Paduka Baginda. Tak terkecuali senopati laut yang dibesarkan sisa Keraton Singasari. Barangkali saja, Anabrang ingin menjajal kelebihan senopati Majapahit. Kebetulan saat-saat pertempuran yang menentukan, Senopati Anabrang tidak ada di tempat ini.”

“Apa pendapatmu?”

Halayudha menghaturkan sembah sambil mencium lantai. “Hamba yang picik tak mampu berpikir serumit itu, Baginda. Namun sesungguhnya Anabrang ada benarnya. Ia hanya ingin agar Adipati Lawe meminta maaf keharibaan Baginda.”

“Ini bisa menjadi salah paham.”

“Kalau Baginda berkenan, biarlah hamba yang mendampingi Anabrang.”

Anggukan Baginda berarti lebih dari segalanya. Halayudha mengatur siasat. Dengan diam-diam ia melarikan kudanya ke tempat peristirahatan Adipati Lawe sambil membawa tiga pedang pendek milik ketiga Kama.

“Maaf, Adipati Lawe, senopati sejati yang gagah berani. Saya hanya bisa mengantarkan pedang yang pendek, karena Mahisa Taruna telah mengambil pedang panjang.”

Adipati Lawe menggelengkan kepalanya. “Ambil saja. Aku tak peduli pisau mainan seperti ini.”

“Saya sadar bahwa pedang kecil atau pedang panjang tak ada artinya bagi Adipati. Akan tetapi sesungguhnya Adipati-lah yang lebih berhak menyimpan. Karena pedang matahari ini pedang keberanian, pedang lelaki sejati, pedang para ksatria utama, hanya pantas dimiliki yang memiliki sifat itu. Bukan yang sengaja mencari kesalahan.”

Dengan caranya yang tepat, Halayudha mengatakan bahwa Senopati Anabrang dan para prajurit pilihan yang dulu ke tlatah Melayu sedang bersiap untuk menemui Adipati Lawe. Untuk memaksakan kehendaknya agar Adipati Lawe meminta ampun kepada Senopati Anabrang!

“Saya bisa membenarkan tindakan Adipati Lawe. Karena siapa pun bisa menyetujui pandangan Adipati Lawe yang terus terang. Sesungguhnya pandangan Adipati Lawe mewakili pandangan semua senopati yang ada di Keraton. Tetapi entah kenapa, Senopati Anabrang merasa tindakan Adipati menentangnya. Senopati Anabrang bahkan menyebut-nyebut bahwa Adipati hanya menguasai pantai Tuban. Bukan samudra luas yang pernah ditaklukkan Senopati Anabrang. Sungguh tak pantas saya yang tua melaporkan hal-hal yang remeh seperti ini, tetapi hati kecil saya tak bisa menerima cara-cara bicara di belakang punggung seperti ini.”

Adipati Lawe tersentak. “Anabrang tak perlu datang. Aku yang akan menemui. Sekarang.”

Persimpangan Jalan Budha-Syiwa

HALAYUDHA segera menyemplak kudanya. Kembali ke Keraton tanpa berhenti sedikit pun. Di benaknya sudah tersusun kerangka siasat yang bakal lebih ramai dari yang direncanakan. Saat itu juga langsung menghadap Mahapatih Nambi, dan memberikan laporan bahwa telah terjadi pertentangan terbuka antara Adipati Lawe dan Senopati Anabrang.

“Yang membuat saya merasa sedih, duh Mahapatih perkasa, ialah bahwa kedua senopati unggulan Keraton ini mulai mencampuradukkan masalah keagamaan. Kalau ini benar terjadi, bisa dibayangkan bahwa tanah yang terbelah makin luas dan tak bisa diperkirakan kapan berhentinya.”

Mahapatih Nambi tersentak perhatiannya. Sebagai penanggung jawab masalah keamanan dan ketenteraman Keraton, Mahapatih mengetahui kabar yang paling kecil mengenai kemungkinan-kemungkinan pertentangan yang bisa menyebabkan kekacauan. Semua hal yang bisa menjadi ancaman Keraton boleh dikatakan dihafal, seakan berada dalam genggamannya. Justru dengan cara itu Halayudha masuk.

Kalau ia hanya mempersoalkan pertentangan Adipati Lawe dengan Senopati Anabrang dari sisi keduanya sama keras, Mahapatih masih bisa berpangku tangan dalam artian menganggap ini persoalan pribadi yang bersinggungan. Akan tetapi kalau yang dikatakan Halayudha benar, ini ancaman ketenteraman yang harus segera diatasi.

“Belum kering keringat saya dari tempat peristirahatan Adipati Lawe setelah mencoba mendekati Senopati Anabrang. Akan tetapi semuanya sia-sia. Dari hal yang kecil dijadikan persoalan besar. Pertama, soal pedang ketiga Kama dari Jepun. Kedua Senopati menghendaki. Terpaksa saya membagi dua. Tiga pedang panjang untuk Senopati Anabrang dan tiga pedang pendek untuk Adipati Lawe.”

“Lawe tidak menghendaki yang pendek?”

“Sungguh tepat perhitungan Mahapatih.”

“Lawe menghendaki yang panjang?”

“Begitulah adanya. Walaupun sesungguhnya yang lebih berhak atas semua pedang itu adalah Mahapatih.”

“Hmmm…”

“Yang membuat saya prihatin, duh Mahapatih… entah bagaimana saya harus menceritakan ini semua. Saya tak melihat senopati lain untuk menceritakan hal ini. Sebab kalau sampai Baginda Raja mendengar dan menitahkan suatu keputusan, kedua senopati akan mendapatkan murka.”

“Apa yang membuat kuatir Paman?”

“Dalam memperebutkan pedang, Senopati Anabrang merasa lebih berhak. Karena pedang panjang dari Jepun itu sesungguhnya adalah pedang dari ajaran Budha. Ksatria Jepun ini dari aliran Budha. Maaf, Mahapatih, memang warisan yang agak membingungkan dari Keraton Singasari di bawah Baginda Raja Sri Kertanegara adalah rangkulan Baginda Raja Singasari kepada aliran agama Syiwa dan agama Budha. Dua-duanya dirangkul dan mendapat tempat dalam tata pemerintahan Keraton Singasari. Sementara sejak awal, Baginda Raja Kertarajasa Jayawardhana menetapkan ajaran Syiwa yang lebih bisa diterima. Semenjak Baginda naik takhta, sudah dititahkan bahwa agama Budha tak boleh menyebar di arah barat Keraton, hanya boleh di arah timur. Sementara agama Syiwa boleh menyebar ke mana saja. Menurut pandangan saya yang picik, jelas bahwa pilihan kepada Dewa Syiwa sudah ditetapkan Baginda Raja, mengingat sejarah para leluhur Keraton sejak sebelum Singasari adalah pemujaan kepada Dewa Syiwa. Yang membuat saya lebih prihatin lagi, duh Mahapatih, ialah kalau pertentangan antara Dewa Syiwa dan Jalan Budha ini terbuka, akan membangkitkan pertentangan yang lebih luas. Karena para pengikut yang menempuh Jalan Budha tak sedikit jumlahnya. Menurut perkiraan saya, meskipun ajaran Dewa Syiwa yang terbesar, akan tetapi pemeluk Budha yang nomor dua. Ini berarti peperangan habis-habisan yang bisa menjatuhkan pamor Keraton. Hanya oleh sebab yang tak berarti. Kalau pertentangan ini pecah, berarti para pendeta agama Wisnu dan Brahma juga merasa tidak aman. Jikalau keempat agama yang direstui Baginda Raja sampai terlibat dalam pertikaian, sungguh tak ada lagi tanah damai yang tersisa di Majapahit.”

“Benar semua yang Paman katakan. Masalah agama adalah masalah yang bahkan Baginda Raja berpesan wanti-wanti agar tidak ditangani secara gegabah. Kadang ini menyenangkan di satu pihak. Karena Baginda memberi kesempatan berkembang para pengikut Syiwa, Budha, Brahma, dan Wisnu. Akan tetapi dari segi keamanan, saya ini yang paling kikuk.”

“Warisan Keraton Singasari akhir…”

“Itu salah satu sebab. Sesungguhnya, di antara para raja gung binatara, raja yang besar dan berwibawa, Baginda Raja Sri Kertanegara satu-satunya raja yang mencoba menggabungkan kekuatan Dewa Syiwa dengan Jalan Budha. Baginda Raja meraih keduanya. Sampai ke dalam tata pemerintahan Keraton. Ada pendeta Syiwa, selalu ada pendeta Budha. Kini ketika peranan Dewa Syiwa lebih diberi angin, penganut Jalan Budha sudah mulai memperlihatkan taringnya. Bahkan menurut dugaan saya, para ksatria Jepun muncul untuk memperlihatkan bahwa sesungguhnya Jalan Budha adalah jalan yang terbaik untuk dilalui.”

“Sungguh tepat penilaian Mahapatih. Saya tak mampu sekuku hitam pun memperkirakan hal itu.”

Mahapatih Nambi menggelengkan kepalanya. Seakan menolak pujian Halayudha. “Pertentangan pengikut Dewa Syiwa dengan penganut Jalan Budha akan berakibat panjang. Karena ini seperti juga mempertentangkan Keraton yang sekarang ini dengan sisa-sisa Keraton Singasari.”

“Sangat tepat, Mahapatih.”

“Ditambah munculnya ksatria dan pendeta pengikut Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, sempurnalah sudah kekacauan yang bakal terjadi. Jalan keluar terbaik barangkali…”

“Sungguh tepat, Mahapatih!” Halayudha merasa terlalu cepat bicara. Mahapatih belum mengeluarkan pendapatnya, ia sudah mengeluarkan pujian.

“Maaf, saya mengira Mahapatih akan menyempitkan persoalan ini menjadi persoalan pribadi antara Senopati Lawe dan Senopati Anabrang. Bukan antara prajurit Tuban dan Keraton. Bukan antara pengikut Dewa Syiwa dan pengikut Budha.”

“Kalau itu jalan yang kuambil, berarti juga membiarkan Lawe dan Anabrang berhadapan muka.”

“Sungguh besar jiwa Mahapatih. Tetap memperhatikan para senopati bawahannya. Akan tetapi ini lebih baik bagi Keraton dibandingkan dengan tumpahnya darah yang lebih banyak lagi.”

“Bagaimana dengan Kakang Sora? Apakah ia tak tergerak jika melihat pertentangan ini?”

Halayudha menghela napas. Wajahnya menunjukkan rasa bingung. “Dengan jujur saya haturkan, saya tak mengerti di mana Senopati Sora berdiri. Karena agaknya Senopati Sora masih mencoba bertahan di Keraton. Masih ingin dekat dengan pusat kekuasaan daripada menempati Dahanapura seperti yang telah diisyaratkan oleh Baginda Raja.”

“Dengan kata lain ia tidak segera menjalankan perintah. Apakah ia akan memata-matai diriku?”

“Saya tak mempunyai dugaan seburuk itu, Mahapatih. Walau mungkin itulah kenyataannya.”

Halayudha makin merasa bahwa caranya mengutarakan “tidak mempunyai dugaan seburuk itu, walaupun itulah kenyataannya” termakan oleh Mahapatih. Dengan berkata seperti itu Halayudha ingin menegaskan bahwa jalan pikiran Mpu Sora memang buruk, bahkan tak terbayangkan pikiran biasa.

“Kakang Sora. Aku tak menduga bisa sepicik itu pikirannya. Padahal aku termasuk yang hormat padanya.”

“Banyak yang terkelabui sikap Senopati Sora. Kita semua tak mengetahui sifat aslinya.”

“Agaknya teka-teki juga. Sewaktu mengawal Permaisuri Rajapatni, Kakang Sora juga justru menyembunyikan serangan ganas Jurus Lebah. Aku masih bertanya-tanya apakah ini disengaja sehingga Permaisuri Rajapatni dibiarkan terculik? Bahkan sampai sekarang aku tak mendengar lagi jejak Klikamuka.”

“Segalanya akan menjadi terang, kalau pertarungan antara Lawe dan Anabrang terbuka. Pada saat itu, sifat yang disembunyikan akan luntur. Maaf, Mahapatih. Barangkali malah lebih baik kalau pertarungan Lawe-Anabrang dibiarkan. Kita bisa melihat kekuatan-kekuatan yang tak tampak selama ini.”

Enam Dharma Pendeta

MAHAPATIH NAMBI tak bisa menahan diri untuk memuji cara berpikir Halayudha. Dengan mengorbankan kemungkinan ada yang kalah dan menang antara Adipati Lawe dan Senopati Anabrang, peristiwa ini bisa memancing kekuatan yang tersembunyi. Kekuatan gelap yang selama ini kurang terbaca di mana berkiblat, akan dengan mudah diketahui!

Berarti Mahapatih bisa menemukan peta kekuatan golongan yang sekarang ini tersembunyi di bawah permukaan. Memang patut disayangkan, karena ada kemungkinan terjadi pertumpahan darah. Salah satu, atau dua-duanya senopati Keraton!

Memang benar, ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan campur tangan para pengikutnya. Kalau segera bisa diatasi sebelum menjalar, Mahapatih Nambi merasa menemukan banyak hal yang perlu diketahui. Luar biasa, pikir Mahapatih. Senopati Halayudha selalu menunjukkan cara berpikir yang luar biasa hebat dan tepat. Ataukah barangkali karena ia tidak mempunyai beban pikiran seperti diriku? Ataukah justru baginya pengabdian kepada Keraton dan Raja adalah yang terutama dan satu-satunya?

Apa pun alasannya, Mahapatih seperti melihat suatu petunjuk. Berdasarkan itu pula kemudian Mahapatih menyiapkan langkah-langkah penjagaan yang tidak dianggap mengagetkan masyarakat. Maka sewaktu diadakan upacara penyucian tirta di sumber air di desa Kudadu, Mahapatih datang. Sesuatu yang tak pernah terjadi. Seorang mahapatih bersedia menghadiri penyucian sumber air yang bukan merupakan upacara besar. Sangat berbeda dari upacara penyucian candi atau makam.

“Saya datang sebagai utusan resmi Baginda Raja,” demikian Mahapatih mulai memberikan kata pembuka.

“Ini untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya Baginda Raja selalu menaruh perhatian utama pada setiap upacara keagamaan di wilayah kekuasaan Keraton Majapahit.nHanya karena kesibukan Baginda Raja, tak bisa hadir di desa Kudadu yang mempunyai riwayat panjang dalam mendirikan Keraton. Akan tetapi restu dan doa Baginda datang selalu.”

“Semoga Baginda Raja bersama para Dewa, selamanya,” terdengar jawaban serentak disertai sembah.

“Baginda mendengar doa yang tulus. Saya tak ingin menerangkan ulang mengenai kewajiban kita sebagai manusia yang memilih jalan hidup seperti yang kita jalani sekarang. Saya merasa sangat kagum kepada para pendeta. Dari kelompok Syiwa, Budha, Brahma, dan Wisnu. Sebab mereka inilah yang menjadi kekuatan batin, menjadi tiang utama kehidupan Keraton. Para pendeta sangat dimuliakan oleh Baginda Raja, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mulia hidupnya. Orang yang dalam setiap tarikan napasnya, dalam tidur dan terjaga, mendoakan kesempurnaan hidup dalam dunia yang sementara maupun dalam keabadian di kelak kemudian hari. Para pendeta lebih dari para ksatria, para waisya, terlebih lagi dari kasta sudra, adalah pilihan Dewa yang Mahabrahman. Para pendeta yang menjaga roh Keraton dengan melakukan enam dharma utama. Mengajar, dan belajar. Melakukan persajian untuk dirinya dan untuk masyarakat. Membagi dan menerima derma. Enam dharma. Ketiga yang pertama mengajar, melakukan persajian bagi masyarakat, membagi derma dari masyarakat yang halus budinya, merupakan sarana hidup di dunia ini. Pendeta, dengan segala hormatku pada penjaga batin kita, sangat mulia. Saya adalah Mahapatih Keraton Majapahit, tangan kanan Baginda Raja, akan tetapi untuk menyucikan sumber air ini, saya tak mempunyai wewenang. Untuk membina tanah-tanah perdikan, tanah-tanah untuk pendidikan, tempat-tempat suci, saya terlalu kotor untuk menangani. Saya dan para prajurit hanyalah kelompok ksatria. Kalau pendeta menjaga roh, para ksatria menjadi badan wadag. Tugas utama para ksatria ialah mengabdi kepada Raja, yang berarti juga mengabdi dunia, mengabdi tanah yang memberikan kehidupan. Pengabdian kepada Raja adalah mutlak, tak peduli apakah ia prajurit penjaga gerbang ataupun tingkat senopati. Karena tanpa pengabdian, yang ada adalah kekacauan. Baginda Raja telah menggariskan tingkat di mana kita berada. Baik bagi para pendeta, para ksatria, maupun para waisya. Golongan waisya adalah para pedagang dan petani. Mengerti tentang cara berdagang mutu manikam, buah-buahan, serta bisa menanamnya dengan baik. Golongan yang tidak mempunyai kemungkinan untuk dwija adalah golongan sudra. Mereka tak akan dilahirkan untuk kedua kalinya. Tugas golongan sudra yang terutama ialah mengabdi kepada para brahmana, para pendeta, agar menemukan kesempurnaan dunia dan nirwana. Para sudra yang mengabdi kepada ksatria dan waisya hanya akan menemukan ketenteraman dunia saja.”

Suara Mahapatih makin meninggi. “Semua telah mempunyai tempat sendiri-sendiri. Sehingga tak terjadi kekisruhan. Sebab kalau kita semua bisa memahami kitab-kitab yang memuat aturan dan tata krama itu, tak ada golongan waisya atau ksatria yang mencampuradukkan dengan persoalan para pendeta. Saya sebagai pelaksana takhta mengingatkan bahwa di saat-saat tertentu kita bisa lupa di mana kaki kita berdiri, dan terseret arus yang menyesatkan. “Saya tidak mengada-ada. Ketika kami semua membuka sawah di desa Tarik, di desa Kudadu ini, dan di tempat lain, kami sudah lahir sebagai ksatria, sebagai prajurit! Sekarang ini terasakan bahwa banyak tumbuh keinginan mengubah tata krama peraturan yang sudah jelas dan gamblang. Ada sebagian kecil yang ingin membuka perselisihan dengan menyeret golongan yang lebih sakti di atasnya. Saya akan mengambil tindakan tegas.”

Pandangan Mahapatih menyapu semua yang hadir. “Dalam Kitab Kutara Manawa sudah jelas diuraikan. Itulah kitab yang mengatur tata krama kita semua, tanpa kecuali. Termasuk saya, termasuk para pendeta, para waisya yang sekarang ada di sini. Saya tahu, dari Perguruan Awan ditiupkan angin yang ingin mengubah tatanan ini semua. Perguruan Awan pun, saya tegaskan, tak akan memperoleh keistimewaan. Para pendeta lebih tahu, bahwa di Perguruan Awan tata krama itu sengaja ditiadakan. Tak ada perbedaan guru dan murid, tak ada perbedaan ksatria atau waisya atau sudra. Di sana ada ajaran bahwa sang guru juga belajar silat, berdoa, tetapi juga menanam pohon dan memetik buahnya. Saya tak peduli jika itu terjadi di dalam hutan. Akan tetapi saya tak akan membiarkan jika mau ditularkan kepada kehidupan di luar hutan. Saya dan seluruh senopati Keraton akan menghadapi.”

Kalimat Mahapatih meninggi dan menurun, akan tetapi dengan pandangan yang galak, berwibawa.

Tanpa peduli apakah pendengarnya menyadari apa yang dikatakan, Mahapatih melanjutkan, “Di antara golongan-golongan ini, golongan ksatria yang paling ruwet dan ribut selalu. Yang prajurit merasa dirinya senopati, yang senopati merasa bisa berbuat semaunya. Dengan mengagungkan sikap ksatria, merasa menjadi pendekar, menjadi jawara, menjadi yang tak perlu diatur. Kalau memang tak bisa diatur, jangan menganggap diri ksatria. Tempat yang paling tepat ialah menjadi kawula, menjadi hamba. Mereka bisa memilih menjadi kawula di bagian mana. Mau disebut grehaja, yang berarti memang lahir sudah dalam masa penghambaan. Mau disebut dwajaherta, kalau mereka menjadi tawanan perang. Seperti ksatria Jepun, atau seperti ksatria mana pun yang kalah! Apa mau disebut bhaktadasa yang menghamba karena untuk mengisi perutnya. Atau mau disebut dandadasa, menjadi hamba karena tak mampu membayar pajak Keraton. Apa pun sebutannya, mereka adalah kawula, hamba yang mempunyai tuan, dan tuannya inilah yang berkuasa. Ini peringatan pertama dan terakhir.”

Pidato Mahapatih pada upacara peresmian penyucian sumber air di Kudadu bergema luas. Halayudha memakai kalimat-kalimat Mahapatih untuk membakar Senopati Anabrang.

“Jelas sekali, Mahapatih ingin menunjukkan kekuasaannya. Tak seharusnya Mahapatih mengatakan itu. Kesempatan itu tidak sesuai. Lagi pula kesannya justru menghalangi Senopati Mahisa Anabrang yang jelas-jelas mendapat restu dari Baginda untuk memberi peringatan Adipati Lawe.”

“Saya tak akan mundur karena ada peringatan atau tidak.”

Jawaban Senopati Anabrang sama dengan Adipati Lawe.

“Aku tak pernah mencabut kata-kataku. Kalau Anabrang tak datang, aku yang datang menjelang. Selama ini aku hanya merasa sungkan kepada Paman Sora yang kuhormati. Bukan karena takut. Pun kalau Nambi berada di belakangnya. Paman Halayudha, sampaikan tantanganku. Aku menunggu di Brantas. Di sana akan dibuktikan darah siapa yang lebih merah.”

Gema di Perguruan Awan

KETIKA Halayudha sibuk mengatur angin yang membesarkan bara di mana bisa panas, saat itulah Nyai Demang dan Galih Kaliki kembali ke Perguruan Awan. Jaghana yang menyambut mereka pertama.

“Angin gunung, betapapun jauhnya mengembara, pasti akan kembali juga. Selamat tiba, Nyai Demang dan Galih Kaliki.”

“Bagus, aku sudah lama tidak mendengar suara seperti ini.” Galih Kaliki segera mengambil tempat duduk di salah satu sudut, di atas rumput. Matanya mengawasi keliling.

Wilanda sedang duduk bersemadi. Upasara Wulung nampak duduk termenung, hanya memperlihatkan senyum tipis. Sementara Gendhuk Tri seperti tak mau peduli.

“Banyak hal telah terjadi di luar, Paman Jaghana.”

“Angin Keraton tak bertiup ke tempat sepi ini, sehingga saya tak mengetahui apa yang terjadi.”

“Paman Jaghana kenal dengan Kama Kangkam, dengan dua muridnya yang bernama Kama Kalandara dan Kama Kalacakra?”

Jaghana menarik napas dalam. Dadanya yang telanjang nampak penuh berisi angin. “Pernah saya dengar, mereka datang bersama pasukan Tartar. Apakah sekarang sudah kelihatan, Nyai?”

“Sudah muncul untuk meminta Kitab Bumi di Keraton.”

Gendhuk Tri mengeluarkan suara dingin. Lalu mempermainkan batang hidungnya. Seakan tak sengaja.

“Kitab itu lebih banyak diperebutkan daripada didalami isinya. Itulah takdir yang buruk.”

“Ah, segala apa dipikirkan. Biar saja mereka rebutan Kitab Bumi atau Kitab Langit. Selama mereka tidak mengganggu kita, biar saja jungkir-balik sendirian.”

Ucapan Gendhuk Tri membuat Nyai Demang tertawa. “Anak kecil, kamu tahu apa tentang dunia ini? Kamu tak mendengar Mahapatih Nambi sudah menyinggung bahwa Perguruan Awan adalah sarang para sudra yang membangkang?”

“Biar saja, ia punya mulut dan punya kuasa.”

“Kita tak bisa membiarkan begitu saja. Aku kembali hanya untuk menyampaikan dan melihat apakah gema itu terdengar sampai di sini. Gendhuk, aku tak bisa seperti kamu yang bisanya hanya mengekor apa yang dilakukan Adimas Upasara! Aku berkepentingan dengan nama Perguruan Awan, dengan Permaisuri Rajapatni, dengan Kakang Dewa Maut!”

Upasara menahan gelora di dadanya. Gendhuk Tri langsung berdiri. Wilanda menyelesaikan semadinya. Hanya Jaghana yang tenang seperti semula.

“Aku tak peduli dengan Gayatri! Aku tak peduli apa yang mereka katakan tentang Perguruan Awan! Aku cuma mau tahu di mana Dewa Maut!”

Di balik kata-katanya yang keras dan patah-patah, nyata bahwa Gendhuk Tri terusik hatinya. Terampas perhatiannya. Karena biar bagaimanapun juga Dewa Maut paling dekat dengannya. Walaupun Gendhuk Tri selalu menunjukkan sikap jengkel setiap kali bertemu, akan tetapi ini semua tak mengurangi perhatiannya.

“Sejak kapan kamu bisa memaksaku? Kalau aku mau cerita tentang Permaisuri Rajapatni lebih dulu, kamu bisa apa?”

Gendhuk Tri menggerakkan selendangnya dengan kesal. “Memangnya kalau kamu bercerita tentang Gayatri, apa kepentingannya?”

“Permaisuri Rajapatni adalah wanita, seperti aku. Kalau kamu mempunyai hati wanita pasti bisa merasakan yang sebenarnya.”

“Perasaan apa?”

Nyai Demang tertawa senang. Bukan merasa menang. Melainkan merasa bisa mempermainkan Gendhuk Tri. Setelah mengalami berbagai pengalaman yang menegangkan, bercanda dengan Gendhuk Tri merupakan selingan yang menghibur.

“Sewaktu Permaisuri Rajapatni masih dipanggil Gayatri, ia pernah berkenalan dengan Upasara Wulung. Hubungan ini terputus karena Baginda Raja mengatakan bahwa Gayatri dan Sanggrama Wijaya diibaratkan Uma dengan Syiwa. Bahwa di kelak kemudian hari, sesuai ramalan para pendeta, turunan Dewi Uma dan Dewa Syiwa akan melahirkan raja yang meneruskan kebesaran Keraton. Akan tetapi nyatanya ini hanya siasat belaka. Nyatanya putri dari Permaisuri tak digubris. Malah putra dari seberang yang diresmikan sebagai putra mahkota.”

“Lalu apa hubungannya?”

“Hati wanita mana yang tak tersentuh mendengar pengkhianatan ini?”

Upasara menggeleng lemah. “Rasanya masih saja begitu banyak yang memperhatikan saya. Mbakyu Demang, terima kasih atas pemberitahuan ini. Saya bisa mengerti kalau Tuanku Permaisuri bersedih. Akan tetapi sebenarnya tak ada gunanya. Perjalanan hidup ini panjang. Kalau bukan putrinya, bukankah masih ada cucunya? Kalau bukan cucunya, bukankah masih ada cicitnya? Kalau memang keinginannya adalah meneruskan takhta? Kehidupan sungguh panjang. Kesedihan tak perlu ada.”

“Nah, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan Adimas Upasara? Jadi untuk apa sedih kalau aku tidak bercerita mengenai Dewa Maut?”

“Baik, kalau tidak mau bicara. Paman Galih, di mana Dewa Maut?”

Galih Kaliki membelalak. “Mana aku tahu?”

Gendhuk Tri mencibirkan bibirnya. “Lelaki macam apa yang tak berani berada di luar bayangan wanita ini?”

Gendhuk Tri menduga bahwa Galih Kaliki tak berani membocorkan rahasia. Padahal sesungguhnya Galih Kaliki tak mengetahui Dewa Maut masih berada di kurungan bawah Keraton!

“Aku tak tahu.”

“Di mana dia, Nyai?” Suara Wilanda sangat rendah nadanya, akan tetapi kuat rasa ingin tahunya.

Nyai Demang tak bisa memperlama menahan rahasia. Nyai Demang menceritakan apa adanya. Bahwa ia berhasil menyusup ke kamar peraduan Baginda, akan tetapi terkena Aji Sirep Laron Halayudha, dan akhirnya disekap dalam kurungan bawah Keraton. Dan di situ bertemu dengan Dewa Maut yang tak mau diajak pergi.

“Aneh sekali. Bagaimana ia bisa sampai di tempat itu?”

“Mana kamu tahu, Gendhuk. Untuk masuk ke situ jalannya hampir tak mungkin kecuali masuk ke dalam Keraton. Berarti ia ada hubungan dengan selir-selir Baginda.”

Wajah Gendhuk Tri menjadi merah. “Heran, bibir selalu nista begitu masih awet melekat di situ.”

“Begini-begini banyak yang memperebutkan, Gendhuk. Rajamu sampai terpesona.”

“Siapa bilang rajaku?”

“Nyatanya ia menguasai kehidupan kita. Dan kita tak bisa apa-apa.”

“Omong kosong! Aku akan datang ke Keraton untuk menjemput Dewa Maut!”

Wilanda memberi tanda agar tidak tergesa. “Kita masih bisa memikirkan cara yang baik, anak manis.”

Gendhuk Tri cemberut. “Aku sudah tahu jalan pikiran Paman semua atau Kakang Upasara. Jalan terbaik adalah berada di sini, bersemadi, melihat matahari terbit dan tenggelam.”

“Baru saja kamu bilang sendiri Keraton mau jungkir-balik tak peduli, sekarang jadi sewot.”

Mendadak Nyai Demang berubah suaranya. “Yang saya herankan, Dewa Maut bisa membaca lorong-lorong dalam tahanan bawah Keraton. Bahkan saya tertolong dan bisa lolos karena kidungan dalam Kitab Bumi. Itulah sebabnya saya kembali. Barangkali selama ini kita salah membaca kidungan. Tak ada yang menunjukkan bahwa kita harus berdiam di dalam Perguruan Awan sampai jadi tanah. Barangkali menikmati matahari terbit bisa juga berarti memerangi ksatria yang nakal, membungkam mulut Mahapatih yang ngawur, atau menggempur Halayudha. Saya makin sadar ketika ketemu Kama Kangkam, guru dari Jepun, yang luar biasa tinggi ilmunya. Yang mengaku pemilik sah ilmu Jalan Budha. Jepun bukan Negeri Cina. Jepun bukan Tartar. Jepun bukan Hindia. Jepun akan menghancurkan pohon untuk membuat sawah. Jepun akan mencabut pedang panjang untuk menciptakan kebahagiaan. Kalau benar itu persamaannya dengan Kitab Bumi, saya percaya sepenuhnya Eyang Sepuh selama ini tidak pernah menyembunyikan diri! Tidak mengasingkan diri dan bunuh diri seperti Adimas Upasara yang pengecut! Saya datang untuk pamit dari kalian.”

Tiga Langkah, Tiga Jagat

JAGHANA yang selama ini paling tenang, paling bisa menahan diri dari omongan yang tak keruan juntrungannya, jadi mendongak. Nada ucapan Nyai Demang berbeda dari biasanya. Melengking dan sarat oleh kekesalan.

“Saya, Nyai Demang, mulai hari ini juga tak akan menginjak tanah Perguruan Awan untuk menyembunyikan diri. Hari ini saya telah puas bisa mengatakan isi hati saya. Paman Jaghana, Paman Wilanda, Kakang Galih, Adimas Upasara, dan juga Gendhuk, kita tak mempunyai ikatan batin dengan Perguruan Awan. Kalau suatu hari kelak kita bertemu, tak usah mengikat dan mengingat bahwa kita pernah bersama-sama di tempat ini.”

Galih Kaliki meloncat bangun. “Nyai, aku boleh ikut kamu atau tidak?”

“Kakang Galih, di sinilah tempatmu. Sarang persembunyian yang empuk. Yang menganggap membunuh nyamuk adalah melakukan dosa, yang membiarkan dunia jungkir-balik, yang menganggap menikmati sinar matahari adalah jalan ke surga.”

“Tunggu.” Jaghana meloncat menghadang.

"Kalau Paman merintangi jalanku, jangan salahkan kalau aku main kasar.”

“Nyai, aku hanya ingin mendengar kenapa Nyai tiba-tiba berkata seperti itu.”

Nyai Demang menggeleng. “Tak ada gunanya berteriak di depan orang tuli. Tak ada bedanya menembang kidungan atau merintih.” Tangan Nyai Demang terulur cepat.

Dada Jaghana terdorong. Tenaga Nyai Demang seperti mengenai karung kosong. Tanpa peduli, Nyai Demang menyusuli dengan pukulan kedua. Jaghana menghindar dengan menjatuhkan diri secara berguling. Di luar dugaan, Nyai Demang maju menerkam. Tubuhnya diayun, menjatuhi tubuh Jaghana dengan cengkeraman langsung ke arah jakun.

Gendhuk Tri berteriak keras. “Awas!”

Wilanda pun tak menduga bahwa Nyai Demang menyerang secara ganas. Bahkan ketika tiba-tiba merentangkan tangan dan menghantam dada, Wilanda menduga ini hanya sekadar pelampiasan kejengkelan saja. Sungguh tak terduga bahwa Nyai Demang menyerang dengan jurus-jurus mematikan.

Jaghana bergulung bagai gasing. Kepalanya yang gundul pelontos seperti membenam ke dalam dada. Namun tak urung, pipinya terkena serempetan cengkeraman. Mengakibatkan luka panjang dan darah merah. Sewaktu menubruk tadi, Nyai Demang menjatuhkan diri ke rumput. Namun dalam seketika tubuhnya terayun kembali dengan kekuatan tangan, dan kedua kakinya menggunting Jaghana yang mau tidak mau terpaksa menangkis.

Nyai Demang mendahului dengan tamparan telapak tangan terbuka, sehingga Jaghana memiliki jalan mundur. Begitu kakinya menginjak tanah, membuat gerakan cepat. Maju selangkah, mundur selangkah, dan maju lagi. Gerakan kaki yang demikian ini tidak pada satu titik sumbu, sehingga meskipun kelihatannya seperti maju-mundur di tempat, akan tetapi mengurung gerak Jaghana.

Dengan ilmu memutar tubuh bagai gasing, sebenarnya Jaghana tidak sekadar bertahan, akan tetapi juga memberikan perlawanan. Karena dalam memutar tubuh pada kecepatan tinggi, kemungkinan untuk mengatur tenaga serangan tak bisa dikendalikan mana keras mana lunak. Jaghana menyadari bahwa serangan Nyai Demang bukan serangan main-main. Kaki kiri Nyai Demang mengurung maju satu langkah, Jaghana terpaksa mundur, tetapi justru pada saat itu Nyai Demang mundur selangkah menjauh. Ketika Jaghana ragu, gerakan kaki Nyai Demang sudah maju selangkah!

Secepat kakinya mematok, secepat itu pula tangannya menggaplok. Jaghana yang berputar, menangkis serangan tangan dan kaki, jadi mengeluarkan seruan tertahan. Kekuatan kaki Nyai Demang jadi luar biasa mengagetkan. Seperti sepuluh tenaga yang biasa dikenalnya. Jaghana tak bisa menahan tubuhnya untuk tidak melorot turun. Saat itulah telapak tangan Nyai Demang mematok gundul Jaghana.

Galih Kaliki berteriak nyaring sambil mengangsurkan tongkatnya yang disentakkan ke atas menahan getokan Nyai Demang. Tapi Nyai Demang hanya mengeluarkan suara dingin. Tangannya berubah menjadi cengkeraman. Menggenggam tongkat, saling tarik dengan Galih Kaliki. Sekali membetot, merenggangkan, dan kemudian menyentak keras.

“Lepas!”

Gendhuk Tri masih menduga bahwa tongkat akan dilepaskan Galih Kaliki. Karena tak mungkin Galih Kaliki bertahan dengan tetap memegangi, sebab ini berarti adu tenaga dan akan membahayakan Nyai Demang. Dugaan Gendhuk Tri berdasarkan perhitungan bahwa Galih Kaliki terlalu menyayangi Nyai Demang. Justru dugaannya meleset!

Galih Kaliki tidak ingin melukai Nyai Demang, memang. Akan tetapi ia tak melepaskan tongkatnya begitu saja, justru karena menyadari tenaga Nyai Demang sangat besar. Bisa-bisa tongkat itu mengemplang kepala Jaghana yang gundul pelontos. Galih Kaliki lebih suka tetap menahan. Dan hatinya mencelos, ketika terisap tenaga keras hingga tubuhnya terlontar ke angkasa. Dan masih ngotot memegangi tongkat. Nyai Demang menggenjot tubuhnya melayang. Satu pukulan tangan kanan dilemparkan, sebelum menyentuh lawan ditarik kembali dan diganti dengan pukulan tangan kiri.

Buk!

Tubuh Galih Kaliki berdebuk di tanah. Jaghana yang kini bisa berdiri tegak, berusaha melindungi. Akan tetapi untuk kedua kalinya, dengan serangan yang sama, Jaghana kena tendang. Kali ini Gendhuk Tri yang menerjang.

“Hati-hati, Gendhuk. Ini jurus Tiga Langkah Kresna.”

Suara peringatan Wilanda terlambat. Siku Nyai Demang mengenai ulu hati Gendhuk Tri yang langsung membuatnya melorot!

Nyai Demang berdiri garang! “Dengan sepenuh hati kalian belum tentu menang. Apalagi kalau separuh-separuh seperti ini.”

Dengan kaki terpincang-pincang, Jaghana menggulung kembali tubuhnya dan maju menerjang. Aba-aba peringatan dari Wilanda membuatnya berhati-hati menghadapi Nyai Demang yang menjadi galak. Tiga Langkah Kresna atau lebih lengkap disebut Tiga Langkah Kresna Menguasai Tiga Jagat, juga disebut tiwikrama. Kata ini lebih dikenal dari sebutan aslinya yaitu triwikrama atau tiga langkah.

Dalam pengertian dari kata-katanya memang bisa berarti tiga langkah. Langkah maju, mundur, dan maju lagi menggempur. Akan tetapi sesungguhnya artinya lebih besar dari itu. Tiwikrama bukan hanya berarti tiga langkah, akan tetapi tiga langkah Kresna. Tokoh pewayangan titisan Dewa Wisnu yang ketika tiwikrama tubuhnya berubah menjadi raksasa, yang kalau berbaring sanggup membendung Kali Brantas. Digambarkan mempunyai kepala sepuluh yang siap menerkam.

Tiwikrama sebenarnya tak bisa disebut jurus, karena ini hanya bertumpu kepada pengaturan tenaga dalam. Tiwikrama baru bisa memberikan tenaga bila digabungkan dengan jurus lain. Konon, jurus yang sering digabungkan adalah jurus garuda, sehingga menjadi Garuda Tiwikrama, yang pernah dipakai oleh Raja Airlangga dalam menaklukkan tokoh misteri Mbok Randa Dirah.

Akan tetapi selama ini Jaghana tak pernah mendengar lagi latihan pernapasan Tiwikrama. Hanya Eyang Sepuh pernah menyebut-nyebut sebagai cara berlatih napas yang unggul. Akan tetapi juga berbahaya, karena pengaturan napasnya bertentangan dengan irama yang wajar. Tidak dimulai dengan menarik napas, akan tetapi dengan mengembuskan napas lebih dulu.

Menurut penuturan Eyang Sepuh, latihan pernapasan Tiwikrama sudah lama ditinggalkan para ksatria karena banyak mengandung pertentangan di dalam otot dan urat tubuh. Agak mencengangkan juga bahwa Nyai Demang secara tiba-tiba memakai pengerahan tenaga dalam Tiwikrama. Dan memainkan secara murni dengan tiga langkah serangan. Tanpa digabungkan dengan jurus yang lain. Hanya karena dasar-dasar tenaga dalam Nyai Demang tak terlalu istimewa, pelipatan tenaga dalam tidak menjadi serangan maut. Karena kalau benar begitu, Galih Kaliki maupun Gendhuk Tri pasti tak sempat merintih.

Peringatan Wilanda membuat Jaghana sangat berhati-hati. Gendhuk Tri pernah terkubur dalam Gua Lawang Sewu yang menyesakkan napas, akan tetapi tetap tidak seseram kenyataan yang dialami sekarang ini.

"Naga Alit, inilah takdir."

Tangan Naga Nareswara menyentuh tubuh Gendhuk Tri, menghilangkan kebekuan urat-urat tubuh dan bibirnya.

"Percuma. Lebih enak beku, Kakek Guru. Bergerak juga susah."

"Nyalimu gede."

"Lebih baik tetap bernyali Naga, daripada bergelar Naga tapi nyalinya lebih kecil dari tikus. Setidaknya Kakek Guru masih bisa hidup lebih lama dari saya. Tubuh saya bisa dimakan untuk memperpanjang usia."

Naga Nareswara menggelengkan kepalanya. "Hebat. Kamu ini hebat. Sekali tarik napas, aku bisa membunuhmu. Tapi kamu tak gentar. Hebat. Oho, ternyata tanah Jawa ini penuh dengan tikus licik dan Naga hebat. Kenangan akhir yang kubawa ke kehidupan nanti."

Pengembaraan Bersahaja

KETIKA itu, Upasara Wulung sudah jauh meninggalkan Perguruan Awan. Berjalan tanpa tujuan di awalnya. Mengikuti suara hatinya. Baru kemudian sadar, bahwa masih ada yang ingin dilakukan dalam hidupnya. Masih ada dharma yang bisa dilakukan. Yaitu membalas budi Pak Toikromo. Seorang penduduk biasa, yang dalam perjalanan takdir dipertemukan dengannya. Seorang kusir pedati bersahaja dengan keinginan yang membuat Upasara merasa begitu mulia. Mengangkat sebagai menantu.

Akan tetapi justru dari keinginan yang begitu sederhana, Pak Toikromo terseret sampai ke Perguruan Awan, sebagai tawanan. Selama ini Upasara merasa sangat berdosa kepada Pak Toikromo. Maka keinginannya adalah menemui Pak Toikromo untuk meminta maaf. Setidaknya ini akan membuat hatinya lebih ringan. Upasara merasa banyak kekeliruan yang dilakukan dalam hidupnya, akan tetapi kekeliruan yang membuatnya menyesal adalah menyeret kehidupan Pak Toikromo.

Dengan mengandalkan ingatan masa lampau, dan bertanya kiri-kanan, Upasara berusaha mencari tempat tinggal Pak Toikromo yang belum diketahui. Maka cukup melegakan bahwa akhirnya rumah itu bisa ditemukan. Sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah dari tanah, dengan atap daun kelapa. Di kesunyian rimbunan pepohonan. Upasara berdebar ketika mencoba masuk ke halaman. Rumah itu tertutup. Pedati yang dulu ada di pekarangan sebelah. Tanpa sapi. Upasara ragu. Termangu.

"Nak Upa..." Suara bersahaja yang mampu menggetarkan sukmanya.

Upasara menoleh ke arah datangnya suara. Wajah seorang lelaki tua, sebagian tertutup caping daun kelapa kering yang sobek-sobek di bagian pinggir. Dada telanjang, hitam oleh cahaya matahari, dengan urat-urat yang mirip tanah tanggul di persawahan. Wajah penduduk biasa. Wajah sangat sederhana.

"Bapak..."

Entah dari mana datangnya kemampuan Upasara untuk mengucapkan kata itu. Sesuatu yang tidak dimengerti. Terlontar begitu saja. Meluncur begitu saja. Dan membuat Upasara seperti dirobek ulu hatinya! Seumur hidupnya, ia belum pernah mengucapkan sebutan "Bapak". Tidak juga kepada Ngabehi Pandu yang mendidik dan mengajarinya ilmu silat! Ucapan yang biasa itu mempunyai makna yang dalam, justru karena Upasara tak mengenal siapa bapak kandungnya yang sesungguhnya. Apakah Ngabehi Pandu, atau Baginda Raja Sri Kertanegara!

"Akhirnya kamu datang juga, Nak Upa. Masuklah, duduklah di dalam. Rumah ini sejak lama tak pernah dibuka."

Upasara menunggu. Pak Toikromo membuka pintu dari dalam. Upasara masuk. Duduk di bambu tua yang sudah kehilangan warna. Tertutup debu. Entah berapa lama pintu depan tak dibuka. Entah berapa lama bambu ini tak diduduki.

"Saya datang untuk ngabekti."

"Saya terima pangabektenmu, Nak Upa. Ya, begini ini gubuk bapakmu. Gubuk paling gagah di dusun ini. Bapak sudah tua, tak bisa memanjat pohon kelapa."

Napas Upasara tersengal. Air matanya menggumpal. Inilah tangisnya yang pertama yang disadari. Dan Upasara merasa ikhlas, lega, meneteskan air mata. Apa lagi yang akan dikatakan atau akan didengar? Yang dialami sekarang ini lebih jelas dari segala kata, lebih nyata dari segala penjelasan. Sebuah rumah sederhana. Di tengah pedusunan sederhana. Jauh dari intrik Keraton. Udara, tanah, yang sederhana, seadanya.

Seorang lelaki, penduduk Majapahit atau Singasari yang tak pernah terlibat langsung dengan pergantian kekuasaan, tak pernah terikat dengan ayunan pedang siapa lebih tajam, keris siapa yang lebih mengiris. Tetapi yang tak bisa melepaskan diri dari terkaman kejadian. Inilah gambaran kenyataan!

Apa artinya ilmu segala ilmu yang dipelajari, kalau ternyata seorang seperti Pak Toikromo yang jumlahnya banyak sekali tak pernah merasakan artinya? Apa artinya pembangunan Keraton yang megah dan dahsyat, kalau ternyata Toikromo tak menikmati? Apa artinya peperangan demi peperangan bagi seorang Toikromo selain memperpanjang penderitaan? Apa artinya disesali, kalau bagi Toikromo sendiri ini semua bukan sesuatu yang harus disalahkan?

Tak ada tuduhan. Tak ada pertanyaan yang menggugat dalam penampilan Pak Toikromo. Wajah itu, di mata Upasara, tak menyembunyikan apa-apa. Bersahaja. Seperti juga ceritanya, yang disuarakan dengan sikap menerima, dan bahagia.

"Sapi bapakmu ini sudah tak ada, Nak Upa. Diambil yang punya. Anak bapakmu yang dulu saya janjikan untuk dikawini Nak Upa, sudah ketemu jodohnya. Anggota keluarga juga sudah tak ada. Tinggal bapakmu ini. Makin tua."

"Bapak..."

"Syukur, kamu tetap mau memanggil dan mengakuiku sebagai bapakmu. Tenangkan hatimu di sini, Nak Upa."

Tak ada pertanyaan apa-apa dari Pak Toikromo. Tidak juga mengenai peristiwa di Perguruan Awan dulu itu. Hanya Pak Toikromo merasakan ada kegelisahan dalam diri Upasara. Itu sebabnya ada kata untuk "menenangkan". Itu yang kemudian dirasakan Upasara...

BAGIAN 18CERSIL LAINNYABAGIAN 20

Senopati Pamungkas Bagian 19

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 19

Mpu Sora menggeleng. Gerahamnya menggertak. Tangannya mengepal. Dalam berbagai situasi Mpu Sora selalu bisa menguasai perasaan hatinya. Namun sekali ini perasaannya bisa terlihat. Mpu Sora menjilat bibirnya yang terasa kering.

“Saya berjanji tidak akan mengutarakan ini. Tetapi saya tak bisa menahan diri. Saya sadar bahwa ini akan membuat Senopati Agung bersedih.”

Tangan Mpu Sora terkepal makin kencang. Dadanya terguncang.

“Senopati Agung bukan sedih karena menolak penunjukan Baginda. Bukan sedih karena kepercayaan yang diberikan para senopati yang lain. Melainkan karena secara tidak langsung menyadari bahwa bumi rengka ada di Keraton. Bahwa sesungguhnya garis pemisah itu ada dengan diangkatnya Senopati Nambi sebagai mahapatih. Bahwa selama ini bumi yang terbelah itu belum kelihatan benar, karena kesetiaan dan pengabdian kepada Baginda Raja. Akan tetapi bisa berubah banyak di waktu mendatang. Kalau Mahapatih Nambi tidak bisa menjalankan kewajibannya dengan adil dan menyelesaikan perkara-perkara yang timbul, tanah yang terbelah itu akan muncul. Bukankah ini yang menyebabkan Senopati Agung bersedih?”

Mpu Sora mengakui bahwa Halayudha bisa menebak jalan pikirannya! Jauh-jauh dalam batinnya tak ada keinginan untuk mengiri kepada jabatan yang begitu terhormat. Baginya mengalir darah seorang prajurit yang berdasarkan pengabdian tunggal. Baginya mengalir darah ksatria yang bersikap jujur secara tulus. Untuk dua hal ini Mpu Sora tak pernah bimbang serambut pun! Itulah sebabnya Mpu Sora sama sekali tidak bisa membenarkan tindakan Adipati Lawe yang meninggalkan pertemuan! Ini tindakan sangat tercela sebagai seorang prajurit sejati!

“Saya mohon beribu maaf kalau kata-kata saya yang lancang ini menambah beban pikiran Senopati Agung.”

Mpu Sora menggeleng lembut. “Tidak, sama sekali tidak, Senopati Halayudha. Saya berterima kasih atas pandangan yang dikemukakan secara terbuka. Saya tak akan pernah melupakan.”

“Ucapan saya tak ada artinya. Kalau ada, pasti Mahapatih tidak menunda-nunda keberangkatan Senopati Agung ke Daha. Akan tetapi nyatanya sampai hari ini Mahapatih seperti sengaja menahan agar Senopati Agung tidak segera mendampingi sang Putra Mahkota. Biarlah lidah saya kaku, kalau saya tidak mengatakan apa yang tidak berada dalam hati saya yang paling dalam.”

Dwidasa di Samudra

HALAYUDHA juga mendatangi Senopati Anabrang. Begitu datang langsung berlutut di depan Senopati Anabrang.

“Saya tak pantas bahkan untuk mencium kaki Senopati yang selama dwidasa warsa menguasai samudra. Dua puluh tahun menguasai lautan, sungguh tak terbandingkan dengan seorang yang hina seperti saya. Kedatangan saya yang pertama-tama untuk meminta hukuman karena telah membuat malu seluruh senopati. Terutama telah melukai Senopati Mahisa Anabrang yang kondang keperwiraannya.”

Senopati Anabrang tersentak. Ia tak menyangka bahwa akhirnya Senopati Halayudha yang begitu dekat dengan Baginda Raja datang kepadanya, mengakui kesalahannya. Kekukuhan hatinya keras bagai baja. Akan tetapi seperti juga baja, justru mudah patah. Agaknya ini yang menjadi perhitungan Halayudha!

Dengan mendatangi, merendahkan diri, justru Halayudha bisa menempatkan diri pada tempat yang tinggi, yaitu kemenangan. Tak ubahnya ketika menyikat ketiga Kama! Apalagi Halayudha sengaja membangkitkan kemenangan Senopati Anabrang. Kemenangan sebagai senopati yang selama dua puluh tahun, meskipun kurang dua tahun mengarungi samudra luas. Menjalankan tugas dengan gemilang di tlatah Melayu.

Halayudha bukan sekadar mengingatkan kebesaran itu, akan tetapi juga menggunakan sebutan Senopati Mahisa Anabrang! Ada kata Mahisa yang diucapkan secara mendasar. Diberi tekanan lebih dalam ketika mengutarakan. Cara yang sangat jitu!

Halayudha mengetahui dengan persis, bahwa pada kelompok tertentu masih terbayangi kekuasaan besar Keraton Singasari. Hal yang tak akan bisa terhapus begitu saja. Keraton Singasari memang pantas dibanggakan karena kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara dalam memperluas cakrawala jagat raya. Di tangan kekuasaan Sri Kertanegara-lah lautan mulai dikuasai, sampai ke negeri seberang. Dengan kata-kata yang membakar semangat: “Di mana ada gunung berdiri, di mana ada sungai mengalir, di situlah panji-panji Singasari akan berkibar.”

Semangat dan jiwa besar itu masih hidup dalam darah dan mimpi semua senopati yang pernah mengenal atau mendengar kisah-kisah Baginda Raja Sri Kertanegara. Dengan menyebutkan nama Mahisa, Halayudha mengembalikan semua gagasan Senopati Anabrang kepada masa Keraton Singasari. Di mana nama-nama Mahisa masih banyak dipergunakan. Sebagai senopati yang berpandangan luas, Senopati Anabrang tidak gampang termakan pujian. Walaupun kata-kata Halayudha bisa masuk dan meresap.

Pertimbangan utama Senopati Anabrang adalah bahwa sifat licik Halayudha pada akhirnya tertuju pada penyelamatan Keraton. Berarti suatu bentuk pengabdian. Berbeda dari para senopati yang lain, Senopati Anabrang boleh dikatakan hidupnya murni dihabiskan sebagai prajurit. Didikan sifat-sifat keprajuritan dihirup bersama tarikan napas yang pertama. Dan dalam perjalanan hidupnya, Senopati Anabrang hanya mengenal satu kata: pengabdian total kepada Keraton.

Senopati Anabrang tak begitu banyak bergerak dalam kehidupan para ksatria atau para pendekar silat. Dunia persilatan cukup diketahui, akan tetapi tak digeluti seperti senopati lain. Di saat dirinya tumbuh sebagai prajurit yang dipercaya menjadi senopati, sudah langsung dikirim ke negeri seberang. Praktis agak buta mengenai situasi dunia persilatan. Karena ketika ia kembali lagi, pertarungan para ksatria sudah selesai. Bahkan pasukan Tartar sudah berhasil diusir ke tengah laut. Dan kemudian ia sendiri lebih banyak berdiam di sekitar Keraton. Hanya muncul sebentar ke Perguruan Awan.

Perbedaan latar belakang inilah yang membuat Senopati Anabrang sedikit canggung bergaul dalam dunia para ksatria. Baginya ada satu tugas yang terus dijalani: mengabdi sepenuhnya kepada Keraton. Tanpa dibebani intrik-intrik, atau keinginan menjajal ilmu silatnya. Itu pula yang menyebabkan begitu kembali, Senopati Anabrang mempersembahkan kepada Baginda Raja dua putri yang dibawanya sebagai tanda pengakuan kekuasaan Keraton. Baginya tak menjadi masalah kalau dulunya masih Singasari dan sekarang Majapahit. Toh ini sama artinya: Keraton!

Maka hati Senopati Anabrang menjadi berang dan terbakar kalau mendengar sindiran bahwa dirinya hanyalah prajurit yang membawa pulang perempuan! Seperti yang diteriakkan Adipati Lawe. Sungguh tak masuk akal, telinganya mendengar cacian yang mungkin agak terbiasa di kalangan persilatan. Bagi Senopati Anabrang, hal itu diterima dengan perasaan terluka yang dalam. Tak bakal dilupakan seumur hidup.

“Maafkan tindakan saya yang lebih rendah daripada anjing tanah busuk, Senopati Mahisa Anabrang.”

Senopati Anabrang menunduk, mengangkat Halayudha. “Kita masing-masing mempunyai cara untuk mengabdi kepada Keraton, jangan terlalu dipikirkan hal itu.”

“Terima kasih atas penjelasan Senopati Mahisa Anabrang. Namun rasanya berat bagi saya menghadapi Senopati. Setiap kali saya teringat kembali, saya merasa bersalah dan sangat hina. Duh, Senopati, rasanya kalau saya mendapat hukuman dari Senopati, hati saya akan terasa lebih ringan. Walaupun hukuman itu berupa kematian atau cacat anggota badan.”

“Kita masing-masing bisa berbuat salah. Kalau kita menyadari kesalahan itu dan tak akan mengulang lagi, rasa tobat itu lebih bermakna dari sekadar hukuman.”

Halayudha menunduk. “Saya sadar bahwa saya sama hinanya dengan Adipati Lawe, akan tetapi sungguh berat beban yang saya tanggung.”

Senopati Anabrang termakan kalimat yang menyebut-nyebut Adipati Lawe! Darah samudra yang mengalir dalam dirinya adalah darah panas yang tak bisa bersandiwara. “Senopati Halayudha keliru kalau mempersamakan diri dengan Lawe! Lawe terlalu kurang ajar. Itu yang bisa dikatakan: perbuatan terkutuk dan hina! Bukan yang Senopati lakukan.”

“Bukankah jatuhnya sama saja? Membuat malu semua Senopati? Duh, Senopati Mahisa Anabrang yang telah menaklukkan samudra, janganlah hati saya diperingan oleh hiburan kosong.”

“Tidak,” Senopati Anabrang menggertak. “Tetap ada bedanya. Apa yang dilakukan Lawe bisa merusak pengabdian murni kepada Keraton. Lawe bisa dikatakan mbalela, membangkang perintah Raja. Itu sama saja dengan pembangkangan atau pemberontakan!”

Halayudha membelalak. Sama sekali tak menduga bahwa Senopati Anabrang menjadi galak. Beringas pandangannya. Buas wajahnya.

“Seorang prajurit sejati adalah pengabdi tanpa ragu. Makin jauh saya mengembara, makin yakin akan bukti-bukti besar itu. Tak ada keraton yang mencapai kebesaran tanpa pengabdian. Apa yang dilakukan Lawe bisa merontokkan citra prajurit sejati jika dibiarkan. Baginda harus tegas. Kalau tidak, saya sendiri yang akan bertindak.”

Halayudha terperangah. Tubuhnya gemetar. “Untuk pertama kalinya saya masih diberi anugerah Dewa yang Maha bijak untuk mendengarkan suara lelaki sejati. Selama ini saya hanya mendengarkan tenggang rasa, timbang rasa untuk tidak melukai hati yang lain.”

Senopati Anabrang tidak sadar bahwa ia masuk perangkap. Perangkap gelap yang menyeret kemarahannya. “Saya tidak dibesarkan dalam tradisi tenggang rasa yang akan meruntuhkan ketegaran batin kita. Saya dibesarkan dalam tradisi kehidupan laut yang mengatakan apa adanya. Saya tidak buta, bahwa Lawe adalah putra kandung Senopati Agung Aria Wiraraja yang banyak jasanya dan besar wibawanya. Saya tidak buta, bahwa Lawe adalah keponakan Senopati Sora yang perkasa dan bijaksana. Saya tahu itu. Tapi saya juga tahu, bahwa kewajiban prajurit sejati adalah mengatakan yang benar dan berani pula mengatakan yang salah. Hanya Baginda Raja yang bebas dari penilaian. Tetapi, bahkan Mahapatih pun harus diberitahu secara terus terang apabila keliru. Inilah jalan samudra! Inilah hukum lautan yang perkasa, yang ksatria!”

Halayudha merunduk dalam. “Perasaan semacam ini tentulah dirasakan senopati-senopati yang lain. Hanya Senopati Mahisa yang berani mengemukakan secara terbuka. Sungguh luar biasa tradisi Keraton Singasari. Sayang saya tak mengalami secara langsung. Ah, kalaupun saya mengalami, apakah saya yang pada dasarnya telah hina bisa lebih baik? Maafkan saya. Beribu maaf saya minta dari Senopati Mahisa. Saya tahu di mana Lawe berada, akan tetapi satu kata pun saya tak berani menghaturkan kepada Baginda. Duh, betapa nista.”

Pedang Panjang bagi Mahisa Taruna

HALAYUDHA tak menduga bahwa tangisnya, kekecutan wajahnya, bisa membuat Senopati Anabrang meluap. Dan kalap.

“Sejahat-jahatnya Senopati Halayudha, masih bisa meminta maaf. Akan tetapi perbuatan Lawe sudah sangat keterlaluan. Hal ini tak bisa dibiarkan.”

“Duh, Senopati Anabrang, janganlah berbuat sembrono. Maksud baik belum tentu mendatangkan angin segar.”

“Saya tak peduli.”

“Akan lebih baik jika maksud Senopati Mahisa direstui Baginda Raja. Sehingga kalau ada suara-suara sumbang, akan terbungkam karenanya.”

“Itu lebih baik.”

“Kalau Senopati Mahisa berkenan, saya akan sowan kepada Baginda dan mengutarakan bahwa Senopati Anabrang ingin menghadap.”

Senopati Anabrang ragu. Apakah orang laut seperti dirinya pantas meminta waktu khusus kepada Raja?

Halayudha bisa menebak jalan pikiran Senopati Anabrang. “Saya hanya sekadar menghaturkan. Kalau Baginda menerima, itu bukan karena saya. Karena Baginda melihat jasa besar Senopati Mahisa yang perkasa.”

“Jasa? Apa yang bisa dikatakan jasa? Semua prajurit mengabdi. Bukan memperhitungkan jasa!”

“Saya tahu jiwa luhur Senopati Anabrang. Akan tetapi sesungguhnya jasa terbesar dari semua senopati yang mengabdi diri, Senopati Anabrang-lah yang paling terpandang. Maaf ini bukan pendapat saya yang picik. Inilah yang hamba dengar dari para senopati lainnya. Inilah yang hamba dengar dari Baginda.”

“Saya tak merasa melakukan jasa yang istimewa.”

“Inilah tanda jiwa besar. Tangan kanan berjasa, tangan kiri tak diberitahu. Bahkan kalau tangan kiri bertanya, tangan kanan tetap tak menjawab. Tapi semua mencatat bahwa Senopati Mahisa-lah yang menjadi penerus Keraton. Wibawa dan kebesaran Keraton akan berlanjut atas jasa besar Senopati Mahisa.”

“Itu berlebihan.”

“Senopati Mahisa-lah yang membawa Permaisuri Indreswari. Dan Permaisuri Indreswari-lah yang dipilih Baginda menjadi permaisuri utama, sehingga putranya sekarang menjadi putra mahkota.”

Senopati Anabrang terbatuk. Ia tidak biasa dengan pujian seperti ini.

“Saya hanya mengatakan apa adanya. Sehingga kalaupun Baginda berkenan, itu karena pribadi Senopati Mahisa.”

Senopati Anabrang tak menduga bahwa Baginda, melalui Halayudha, akhirnya betul-betul memanggilnya. Saat menyampaikan panggilan dari Baginda, Halayudha menyerahkan tiga pedang panjang kepada Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang.

“Saya tidak pantas menyerahkan ini pada Anakmas Taruna. Sebab pedang panjang ini bukan milik saya. Akan tetapi karena saya melihat Anakmas Taruna sangat giat berlatih, barangkali pedang dari Jepun ini bisa dipakai untuk latihan.”

Mahisa Taruna menyembah sebagai tanda hormat dan terima kasih. Siapa yang tidak berharap mendapat pedang panjang pusaka Kama Kangkam, Kama Kalacakra, dan Kama Kalandara? Pemberian Halayudha juga sangat tepat. Karena Mahisa Taruna memang berlatih mempergunakan pedang, seperti juga ayahnya.

“Terima kasih, Paman Halayudha.”

“Anggap ini hadiah Senopati Mahisa Anabrang dari tanah seberang, yang tak sempat memikirkan untuk kepentingan sendiri.”

Setiap kata-kata Halayudha mengandung sayap-sayap pengertian yang menyeret ke arah pemikiran tertentu. Dengan mengucapkan itu, seakan Halayudha ingin menekankan bahwa selama ini Senopati Anabrang memang tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Bahkan juga kepentingan putranya. Dan Halayudha bisa menggantikan peranan itu.

Memang bagi Senopati Anabrang pengabdian sebagai prajurit sejati tanpa cacat sedikit pun. Bahkan sedemikian banyak waktu dicurahkan untuk mengabdi, pengawasan kepada putranya sendiri terlewatkan. Dibandingkan dengan dirinya, Mahisa Taruna masih terlalu rendah ilmu silatnya. Ini semua hanya karena ia menelantarkan. Senopati Anabrang merasa bersalah. Maka dalam hati sangat berterima kasih kepada Halayudha yang membesarkan hati putranya. Yang dengan tekun dan sabar melatih Mahisa Taruna. Kalau tidak mendampingi Baginda, Halayudha menyempatkan diri untuk melatih Mahisa Taruna yang menjadi sangat giat. Belum pernah selama ini ada guru yang secara khusus menangani.

“Saya tidak menganggap diri lebih pintar, Putra Senopati yang gagah. Akan tetapi sedikit-banyak saya mendengar tentang kitab yang banyak diperebutkan. Mungkin kita akan berlatih bersama.”

“Sungguh, budi baik Paman tak akan saya lupakan.”

“Tak ada utang budi di sini. Kalau ayahmu begitu sibuk mengabdi, sudah semestinya saya menggantikan. Meskipun saya tak bisa dibandingkan dengan kehebatan Senopati Mahisa Anabrang yang perkasa.”

Mahisa Taruna terlalu polos menduga maksud-maksud Halayudha. Jangan kata ia yang masih hijau, Senopati Anabrang pun termakan oleh Halayudha. Sehingga di depan Baginda, Senopati Anabrang mengatakan bahwa apakah Baginda tidak perlu menegakkan tata tertib para prajurit yang terang-terangan membangkang. Dan Senopati Anabrang tidak mengetahui, bahwa sebelum ia dipanggil menghadap, Halayudha telah menyampaikan hal ini kepada Baginda Raja.

“Begitu berani Anabrang meminta menghadapku?”

“Beribu maaf hamba meminta ke Baginda. Biar bagaimanapun, Anabrang dibesarkan di atas gelombang samudra, sehingga adatnya berbeda dari yang mengenal kehalusan budi Keraton. Bisa dimengerti kalau Anabrang berani mengajukan diri menghadap Baginda.”

“Apa maksudnya mengetengahkan soal Lawe?”

“Dengan diangkatnya Mahapatih Nambi, para senopati yang lain berlomba merebut hati Paduka Baginda. Tak terkecuali senopati laut yang dibesarkan sisa Keraton Singasari. Barangkali saja, Anabrang ingin menjajal kelebihan senopati Majapahit. Kebetulan saat-saat pertempuran yang menentukan, Senopati Anabrang tidak ada di tempat ini.”

“Apa pendapatmu?”

Halayudha menghaturkan sembah sambil mencium lantai. “Hamba yang picik tak mampu berpikir serumit itu, Baginda. Namun sesungguhnya Anabrang ada benarnya. Ia hanya ingin agar Adipati Lawe meminta maaf keharibaan Baginda.”

“Ini bisa menjadi salah paham.”

“Kalau Baginda berkenan, biarlah hamba yang mendampingi Anabrang.”

Anggukan Baginda berarti lebih dari segalanya. Halayudha mengatur siasat. Dengan diam-diam ia melarikan kudanya ke tempat peristirahatan Adipati Lawe sambil membawa tiga pedang pendek milik ketiga Kama.

“Maaf, Adipati Lawe, senopati sejati yang gagah berani. Saya hanya bisa mengantarkan pedang yang pendek, karena Mahisa Taruna telah mengambil pedang panjang.”

Adipati Lawe menggelengkan kepalanya. “Ambil saja. Aku tak peduli pisau mainan seperti ini.”

“Saya sadar bahwa pedang kecil atau pedang panjang tak ada artinya bagi Adipati. Akan tetapi sesungguhnya Adipati-lah yang lebih berhak menyimpan. Karena pedang matahari ini pedang keberanian, pedang lelaki sejati, pedang para ksatria utama, hanya pantas dimiliki yang memiliki sifat itu. Bukan yang sengaja mencari kesalahan.”

Dengan caranya yang tepat, Halayudha mengatakan bahwa Senopati Anabrang dan para prajurit pilihan yang dulu ke tlatah Melayu sedang bersiap untuk menemui Adipati Lawe. Untuk memaksakan kehendaknya agar Adipati Lawe meminta ampun kepada Senopati Anabrang!

“Saya bisa membenarkan tindakan Adipati Lawe. Karena siapa pun bisa menyetujui pandangan Adipati Lawe yang terus terang. Sesungguhnya pandangan Adipati Lawe mewakili pandangan semua senopati yang ada di Keraton. Tetapi entah kenapa, Senopati Anabrang merasa tindakan Adipati menentangnya. Senopati Anabrang bahkan menyebut-nyebut bahwa Adipati hanya menguasai pantai Tuban. Bukan samudra luas yang pernah ditaklukkan Senopati Anabrang. Sungguh tak pantas saya yang tua melaporkan hal-hal yang remeh seperti ini, tetapi hati kecil saya tak bisa menerima cara-cara bicara di belakang punggung seperti ini.”

Adipati Lawe tersentak. “Anabrang tak perlu datang. Aku yang akan menemui. Sekarang.”

Persimpangan Jalan Budha-Syiwa

HALAYUDHA segera menyemplak kudanya. Kembali ke Keraton tanpa berhenti sedikit pun. Di benaknya sudah tersusun kerangka siasat yang bakal lebih ramai dari yang direncanakan. Saat itu juga langsung menghadap Mahapatih Nambi, dan memberikan laporan bahwa telah terjadi pertentangan terbuka antara Adipati Lawe dan Senopati Anabrang.

“Yang membuat saya merasa sedih, duh Mahapatih perkasa, ialah bahwa kedua senopati unggulan Keraton ini mulai mencampuradukkan masalah keagamaan. Kalau ini benar terjadi, bisa dibayangkan bahwa tanah yang terbelah makin luas dan tak bisa diperkirakan kapan berhentinya.”

Mahapatih Nambi tersentak perhatiannya. Sebagai penanggung jawab masalah keamanan dan ketenteraman Keraton, Mahapatih mengetahui kabar yang paling kecil mengenai kemungkinan-kemungkinan pertentangan yang bisa menyebabkan kekacauan. Semua hal yang bisa menjadi ancaman Keraton boleh dikatakan dihafal, seakan berada dalam genggamannya. Justru dengan cara itu Halayudha masuk.

Kalau ia hanya mempersoalkan pertentangan Adipati Lawe dengan Senopati Anabrang dari sisi keduanya sama keras, Mahapatih masih bisa berpangku tangan dalam artian menganggap ini persoalan pribadi yang bersinggungan. Akan tetapi kalau yang dikatakan Halayudha benar, ini ancaman ketenteraman yang harus segera diatasi.

“Belum kering keringat saya dari tempat peristirahatan Adipati Lawe setelah mencoba mendekati Senopati Anabrang. Akan tetapi semuanya sia-sia. Dari hal yang kecil dijadikan persoalan besar. Pertama, soal pedang ketiga Kama dari Jepun. Kedua Senopati menghendaki. Terpaksa saya membagi dua. Tiga pedang panjang untuk Senopati Anabrang dan tiga pedang pendek untuk Adipati Lawe.”

“Lawe tidak menghendaki yang pendek?”

“Sungguh tepat perhitungan Mahapatih.”

“Lawe menghendaki yang panjang?”

“Begitulah adanya. Walaupun sesungguhnya yang lebih berhak atas semua pedang itu adalah Mahapatih.”

“Hmmm…”

“Yang membuat saya prihatin, duh Mahapatih… entah bagaimana saya harus menceritakan ini semua. Saya tak melihat senopati lain untuk menceritakan hal ini. Sebab kalau sampai Baginda Raja mendengar dan menitahkan suatu keputusan, kedua senopati akan mendapatkan murka.”

“Apa yang membuat kuatir Paman?”

“Dalam memperebutkan pedang, Senopati Anabrang merasa lebih berhak. Karena pedang panjang dari Jepun itu sesungguhnya adalah pedang dari ajaran Budha. Ksatria Jepun ini dari aliran Budha. Maaf, Mahapatih, memang warisan yang agak membingungkan dari Keraton Singasari di bawah Baginda Raja Sri Kertanegara adalah rangkulan Baginda Raja Singasari kepada aliran agama Syiwa dan agama Budha. Dua-duanya dirangkul dan mendapat tempat dalam tata pemerintahan Keraton Singasari. Sementara sejak awal, Baginda Raja Kertarajasa Jayawardhana menetapkan ajaran Syiwa yang lebih bisa diterima. Semenjak Baginda naik takhta, sudah dititahkan bahwa agama Budha tak boleh menyebar di arah barat Keraton, hanya boleh di arah timur. Sementara agama Syiwa boleh menyebar ke mana saja. Menurut pandangan saya yang picik, jelas bahwa pilihan kepada Dewa Syiwa sudah ditetapkan Baginda Raja, mengingat sejarah para leluhur Keraton sejak sebelum Singasari adalah pemujaan kepada Dewa Syiwa. Yang membuat saya lebih prihatin lagi, duh Mahapatih, ialah kalau pertentangan antara Dewa Syiwa dan Jalan Budha ini terbuka, akan membangkitkan pertentangan yang lebih luas. Karena para pengikut yang menempuh Jalan Budha tak sedikit jumlahnya. Menurut perkiraan saya, meskipun ajaran Dewa Syiwa yang terbesar, akan tetapi pemeluk Budha yang nomor dua. Ini berarti peperangan habis-habisan yang bisa menjatuhkan pamor Keraton. Hanya oleh sebab yang tak berarti. Kalau pertentangan ini pecah, berarti para pendeta agama Wisnu dan Brahma juga merasa tidak aman. Jikalau keempat agama yang direstui Baginda Raja sampai terlibat dalam pertikaian, sungguh tak ada lagi tanah damai yang tersisa di Majapahit.”

“Benar semua yang Paman katakan. Masalah agama adalah masalah yang bahkan Baginda Raja berpesan wanti-wanti agar tidak ditangani secara gegabah. Kadang ini menyenangkan di satu pihak. Karena Baginda memberi kesempatan berkembang para pengikut Syiwa, Budha, Brahma, dan Wisnu. Akan tetapi dari segi keamanan, saya ini yang paling kikuk.”

“Warisan Keraton Singasari akhir…”

“Itu salah satu sebab. Sesungguhnya, di antara para raja gung binatara, raja yang besar dan berwibawa, Baginda Raja Sri Kertanegara satu-satunya raja yang mencoba menggabungkan kekuatan Dewa Syiwa dengan Jalan Budha. Baginda Raja meraih keduanya. Sampai ke dalam tata pemerintahan Keraton. Ada pendeta Syiwa, selalu ada pendeta Budha. Kini ketika peranan Dewa Syiwa lebih diberi angin, penganut Jalan Budha sudah mulai memperlihatkan taringnya. Bahkan menurut dugaan saya, para ksatria Jepun muncul untuk memperlihatkan bahwa sesungguhnya Jalan Budha adalah jalan yang terbaik untuk dilalui.”

“Sungguh tepat penilaian Mahapatih. Saya tak mampu sekuku hitam pun memperkirakan hal itu.”

Mahapatih Nambi menggelengkan kepalanya. Seakan menolak pujian Halayudha. “Pertentangan pengikut Dewa Syiwa dengan penganut Jalan Budha akan berakibat panjang. Karena ini seperti juga mempertentangkan Keraton yang sekarang ini dengan sisa-sisa Keraton Singasari.”

“Sangat tepat, Mahapatih.”

“Ditambah munculnya ksatria dan pendeta pengikut Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, sempurnalah sudah kekacauan yang bakal terjadi. Jalan keluar terbaik barangkali…”

“Sungguh tepat, Mahapatih!” Halayudha merasa terlalu cepat bicara. Mahapatih belum mengeluarkan pendapatnya, ia sudah mengeluarkan pujian.

“Maaf, saya mengira Mahapatih akan menyempitkan persoalan ini menjadi persoalan pribadi antara Senopati Lawe dan Senopati Anabrang. Bukan antara prajurit Tuban dan Keraton. Bukan antara pengikut Dewa Syiwa dan pengikut Budha.”

“Kalau itu jalan yang kuambil, berarti juga membiarkan Lawe dan Anabrang berhadapan muka.”

“Sungguh besar jiwa Mahapatih. Tetap memperhatikan para senopati bawahannya. Akan tetapi ini lebih baik bagi Keraton dibandingkan dengan tumpahnya darah yang lebih banyak lagi.”

“Bagaimana dengan Kakang Sora? Apakah ia tak tergerak jika melihat pertentangan ini?”

Halayudha menghela napas. Wajahnya menunjukkan rasa bingung. “Dengan jujur saya haturkan, saya tak mengerti di mana Senopati Sora berdiri. Karena agaknya Senopati Sora masih mencoba bertahan di Keraton. Masih ingin dekat dengan pusat kekuasaan daripada menempati Dahanapura seperti yang telah diisyaratkan oleh Baginda Raja.”

“Dengan kata lain ia tidak segera menjalankan perintah. Apakah ia akan memata-matai diriku?”

“Saya tak mempunyai dugaan seburuk itu, Mahapatih. Walau mungkin itulah kenyataannya.”

Halayudha makin merasa bahwa caranya mengutarakan “tidak mempunyai dugaan seburuk itu, walaupun itulah kenyataannya” termakan oleh Mahapatih. Dengan berkata seperti itu Halayudha ingin menegaskan bahwa jalan pikiran Mpu Sora memang buruk, bahkan tak terbayangkan pikiran biasa.

“Kakang Sora. Aku tak menduga bisa sepicik itu pikirannya. Padahal aku termasuk yang hormat padanya.”

“Banyak yang terkelabui sikap Senopati Sora. Kita semua tak mengetahui sifat aslinya.”

“Agaknya teka-teki juga. Sewaktu mengawal Permaisuri Rajapatni, Kakang Sora juga justru menyembunyikan serangan ganas Jurus Lebah. Aku masih bertanya-tanya apakah ini disengaja sehingga Permaisuri Rajapatni dibiarkan terculik? Bahkan sampai sekarang aku tak mendengar lagi jejak Klikamuka.”

“Segalanya akan menjadi terang, kalau pertarungan antara Lawe dan Anabrang terbuka. Pada saat itu, sifat yang disembunyikan akan luntur. Maaf, Mahapatih. Barangkali malah lebih baik kalau pertarungan Lawe-Anabrang dibiarkan. Kita bisa melihat kekuatan-kekuatan yang tak tampak selama ini.”

Enam Dharma Pendeta

MAHAPATIH NAMBI tak bisa menahan diri untuk memuji cara berpikir Halayudha. Dengan mengorbankan kemungkinan ada yang kalah dan menang antara Adipati Lawe dan Senopati Anabrang, peristiwa ini bisa memancing kekuatan yang tersembunyi. Kekuatan gelap yang selama ini kurang terbaca di mana berkiblat, akan dengan mudah diketahui!

Berarti Mahapatih bisa menemukan peta kekuatan golongan yang sekarang ini tersembunyi di bawah permukaan. Memang patut disayangkan, karena ada kemungkinan terjadi pertumpahan darah. Salah satu, atau dua-duanya senopati Keraton!

Memang benar, ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan campur tangan para pengikutnya. Kalau segera bisa diatasi sebelum menjalar, Mahapatih Nambi merasa menemukan banyak hal yang perlu diketahui. Luar biasa, pikir Mahapatih. Senopati Halayudha selalu menunjukkan cara berpikir yang luar biasa hebat dan tepat. Ataukah barangkali karena ia tidak mempunyai beban pikiran seperti diriku? Ataukah justru baginya pengabdian kepada Keraton dan Raja adalah yang terutama dan satu-satunya?

Apa pun alasannya, Mahapatih seperti melihat suatu petunjuk. Berdasarkan itu pula kemudian Mahapatih menyiapkan langkah-langkah penjagaan yang tidak dianggap mengagetkan masyarakat. Maka sewaktu diadakan upacara penyucian tirta di sumber air di desa Kudadu, Mahapatih datang. Sesuatu yang tak pernah terjadi. Seorang mahapatih bersedia menghadiri penyucian sumber air yang bukan merupakan upacara besar. Sangat berbeda dari upacara penyucian candi atau makam.

“Saya datang sebagai utusan resmi Baginda Raja,” demikian Mahapatih mulai memberikan kata pembuka.

“Ini untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya Baginda Raja selalu menaruh perhatian utama pada setiap upacara keagamaan di wilayah kekuasaan Keraton Majapahit.nHanya karena kesibukan Baginda Raja, tak bisa hadir di desa Kudadu yang mempunyai riwayat panjang dalam mendirikan Keraton. Akan tetapi restu dan doa Baginda datang selalu.”

“Semoga Baginda Raja bersama para Dewa, selamanya,” terdengar jawaban serentak disertai sembah.

“Baginda mendengar doa yang tulus. Saya tak ingin menerangkan ulang mengenai kewajiban kita sebagai manusia yang memilih jalan hidup seperti yang kita jalani sekarang. Saya merasa sangat kagum kepada para pendeta. Dari kelompok Syiwa, Budha, Brahma, dan Wisnu. Sebab mereka inilah yang menjadi kekuatan batin, menjadi tiang utama kehidupan Keraton. Para pendeta sangat dimuliakan oleh Baginda Raja, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mulia hidupnya. Orang yang dalam setiap tarikan napasnya, dalam tidur dan terjaga, mendoakan kesempurnaan hidup dalam dunia yang sementara maupun dalam keabadian di kelak kemudian hari. Para pendeta lebih dari para ksatria, para waisya, terlebih lagi dari kasta sudra, adalah pilihan Dewa yang Mahabrahman. Para pendeta yang menjaga roh Keraton dengan melakukan enam dharma utama. Mengajar, dan belajar. Melakukan persajian untuk dirinya dan untuk masyarakat. Membagi dan menerima derma. Enam dharma. Ketiga yang pertama mengajar, melakukan persajian bagi masyarakat, membagi derma dari masyarakat yang halus budinya, merupakan sarana hidup di dunia ini. Pendeta, dengan segala hormatku pada penjaga batin kita, sangat mulia. Saya adalah Mahapatih Keraton Majapahit, tangan kanan Baginda Raja, akan tetapi untuk menyucikan sumber air ini, saya tak mempunyai wewenang. Untuk membina tanah-tanah perdikan, tanah-tanah untuk pendidikan, tempat-tempat suci, saya terlalu kotor untuk menangani. Saya dan para prajurit hanyalah kelompok ksatria. Kalau pendeta menjaga roh, para ksatria menjadi badan wadag. Tugas utama para ksatria ialah mengabdi kepada Raja, yang berarti juga mengabdi dunia, mengabdi tanah yang memberikan kehidupan. Pengabdian kepada Raja adalah mutlak, tak peduli apakah ia prajurit penjaga gerbang ataupun tingkat senopati. Karena tanpa pengabdian, yang ada adalah kekacauan. Baginda Raja telah menggariskan tingkat di mana kita berada. Baik bagi para pendeta, para ksatria, maupun para waisya. Golongan waisya adalah para pedagang dan petani. Mengerti tentang cara berdagang mutu manikam, buah-buahan, serta bisa menanamnya dengan baik. Golongan yang tidak mempunyai kemungkinan untuk dwija adalah golongan sudra. Mereka tak akan dilahirkan untuk kedua kalinya. Tugas golongan sudra yang terutama ialah mengabdi kepada para brahmana, para pendeta, agar menemukan kesempurnaan dunia dan nirwana. Para sudra yang mengabdi kepada ksatria dan waisya hanya akan menemukan ketenteraman dunia saja.”

Suara Mahapatih makin meninggi. “Semua telah mempunyai tempat sendiri-sendiri. Sehingga tak terjadi kekisruhan. Sebab kalau kita semua bisa memahami kitab-kitab yang memuat aturan dan tata krama itu, tak ada golongan waisya atau ksatria yang mencampuradukkan dengan persoalan para pendeta. Saya sebagai pelaksana takhta mengingatkan bahwa di saat-saat tertentu kita bisa lupa di mana kaki kita berdiri, dan terseret arus yang menyesatkan. “Saya tidak mengada-ada. Ketika kami semua membuka sawah di desa Tarik, di desa Kudadu ini, dan di tempat lain, kami sudah lahir sebagai ksatria, sebagai prajurit! Sekarang ini terasakan bahwa banyak tumbuh keinginan mengubah tata krama peraturan yang sudah jelas dan gamblang. Ada sebagian kecil yang ingin membuka perselisihan dengan menyeret golongan yang lebih sakti di atasnya. Saya akan mengambil tindakan tegas.”

Pandangan Mahapatih menyapu semua yang hadir. “Dalam Kitab Kutara Manawa sudah jelas diuraikan. Itulah kitab yang mengatur tata krama kita semua, tanpa kecuali. Termasuk saya, termasuk para pendeta, para waisya yang sekarang ada di sini. Saya tahu, dari Perguruan Awan ditiupkan angin yang ingin mengubah tatanan ini semua. Perguruan Awan pun, saya tegaskan, tak akan memperoleh keistimewaan. Para pendeta lebih tahu, bahwa di Perguruan Awan tata krama itu sengaja ditiadakan. Tak ada perbedaan guru dan murid, tak ada perbedaan ksatria atau waisya atau sudra. Di sana ada ajaran bahwa sang guru juga belajar silat, berdoa, tetapi juga menanam pohon dan memetik buahnya. Saya tak peduli jika itu terjadi di dalam hutan. Akan tetapi saya tak akan membiarkan jika mau ditularkan kepada kehidupan di luar hutan. Saya dan seluruh senopati Keraton akan menghadapi.”

Kalimat Mahapatih meninggi dan menurun, akan tetapi dengan pandangan yang galak, berwibawa.

Tanpa peduli apakah pendengarnya menyadari apa yang dikatakan, Mahapatih melanjutkan, “Di antara golongan-golongan ini, golongan ksatria yang paling ruwet dan ribut selalu. Yang prajurit merasa dirinya senopati, yang senopati merasa bisa berbuat semaunya. Dengan mengagungkan sikap ksatria, merasa menjadi pendekar, menjadi jawara, menjadi yang tak perlu diatur. Kalau memang tak bisa diatur, jangan menganggap diri ksatria. Tempat yang paling tepat ialah menjadi kawula, menjadi hamba. Mereka bisa memilih menjadi kawula di bagian mana. Mau disebut grehaja, yang berarti memang lahir sudah dalam masa penghambaan. Mau disebut dwajaherta, kalau mereka menjadi tawanan perang. Seperti ksatria Jepun, atau seperti ksatria mana pun yang kalah! Apa mau disebut bhaktadasa yang menghamba karena untuk mengisi perutnya. Atau mau disebut dandadasa, menjadi hamba karena tak mampu membayar pajak Keraton. Apa pun sebutannya, mereka adalah kawula, hamba yang mempunyai tuan, dan tuannya inilah yang berkuasa. Ini peringatan pertama dan terakhir.”

Pidato Mahapatih pada upacara peresmian penyucian sumber air di Kudadu bergema luas. Halayudha memakai kalimat-kalimat Mahapatih untuk membakar Senopati Anabrang.

“Jelas sekali, Mahapatih ingin menunjukkan kekuasaannya. Tak seharusnya Mahapatih mengatakan itu. Kesempatan itu tidak sesuai. Lagi pula kesannya justru menghalangi Senopati Mahisa Anabrang yang jelas-jelas mendapat restu dari Baginda untuk memberi peringatan Adipati Lawe.”

“Saya tak akan mundur karena ada peringatan atau tidak.”

Jawaban Senopati Anabrang sama dengan Adipati Lawe.

“Aku tak pernah mencabut kata-kataku. Kalau Anabrang tak datang, aku yang datang menjelang. Selama ini aku hanya merasa sungkan kepada Paman Sora yang kuhormati. Bukan karena takut. Pun kalau Nambi berada di belakangnya. Paman Halayudha, sampaikan tantanganku. Aku menunggu di Brantas. Di sana akan dibuktikan darah siapa yang lebih merah.”

Gema di Perguruan Awan

KETIKA Halayudha sibuk mengatur angin yang membesarkan bara di mana bisa panas, saat itulah Nyai Demang dan Galih Kaliki kembali ke Perguruan Awan. Jaghana yang menyambut mereka pertama.

“Angin gunung, betapapun jauhnya mengembara, pasti akan kembali juga. Selamat tiba, Nyai Demang dan Galih Kaliki.”

“Bagus, aku sudah lama tidak mendengar suara seperti ini.” Galih Kaliki segera mengambil tempat duduk di salah satu sudut, di atas rumput. Matanya mengawasi keliling.

Wilanda sedang duduk bersemadi. Upasara Wulung nampak duduk termenung, hanya memperlihatkan senyum tipis. Sementara Gendhuk Tri seperti tak mau peduli.

“Banyak hal telah terjadi di luar, Paman Jaghana.”

“Angin Keraton tak bertiup ke tempat sepi ini, sehingga saya tak mengetahui apa yang terjadi.”

“Paman Jaghana kenal dengan Kama Kangkam, dengan dua muridnya yang bernama Kama Kalandara dan Kama Kalacakra?”

Jaghana menarik napas dalam. Dadanya yang telanjang nampak penuh berisi angin. “Pernah saya dengar, mereka datang bersama pasukan Tartar. Apakah sekarang sudah kelihatan, Nyai?”

“Sudah muncul untuk meminta Kitab Bumi di Keraton.”

Gendhuk Tri mengeluarkan suara dingin. Lalu mempermainkan batang hidungnya. Seakan tak sengaja.

“Kitab itu lebih banyak diperebutkan daripada didalami isinya. Itulah takdir yang buruk.”

“Ah, segala apa dipikirkan. Biar saja mereka rebutan Kitab Bumi atau Kitab Langit. Selama mereka tidak mengganggu kita, biar saja jungkir-balik sendirian.”

Ucapan Gendhuk Tri membuat Nyai Demang tertawa. “Anak kecil, kamu tahu apa tentang dunia ini? Kamu tak mendengar Mahapatih Nambi sudah menyinggung bahwa Perguruan Awan adalah sarang para sudra yang membangkang?”

“Biar saja, ia punya mulut dan punya kuasa.”

“Kita tak bisa membiarkan begitu saja. Aku kembali hanya untuk menyampaikan dan melihat apakah gema itu terdengar sampai di sini. Gendhuk, aku tak bisa seperti kamu yang bisanya hanya mengekor apa yang dilakukan Adimas Upasara! Aku berkepentingan dengan nama Perguruan Awan, dengan Permaisuri Rajapatni, dengan Kakang Dewa Maut!”

Upasara menahan gelora di dadanya. Gendhuk Tri langsung berdiri. Wilanda menyelesaikan semadinya. Hanya Jaghana yang tenang seperti semula.

“Aku tak peduli dengan Gayatri! Aku tak peduli apa yang mereka katakan tentang Perguruan Awan! Aku cuma mau tahu di mana Dewa Maut!”

Di balik kata-katanya yang keras dan patah-patah, nyata bahwa Gendhuk Tri terusik hatinya. Terampas perhatiannya. Karena biar bagaimanapun juga Dewa Maut paling dekat dengannya. Walaupun Gendhuk Tri selalu menunjukkan sikap jengkel setiap kali bertemu, akan tetapi ini semua tak mengurangi perhatiannya.

“Sejak kapan kamu bisa memaksaku? Kalau aku mau cerita tentang Permaisuri Rajapatni lebih dulu, kamu bisa apa?”

Gendhuk Tri menggerakkan selendangnya dengan kesal. “Memangnya kalau kamu bercerita tentang Gayatri, apa kepentingannya?”

“Permaisuri Rajapatni adalah wanita, seperti aku. Kalau kamu mempunyai hati wanita pasti bisa merasakan yang sebenarnya.”

“Perasaan apa?”

Nyai Demang tertawa senang. Bukan merasa menang. Melainkan merasa bisa mempermainkan Gendhuk Tri. Setelah mengalami berbagai pengalaman yang menegangkan, bercanda dengan Gendhuk Tri merupakan selingan yang menghibur.

“Sewaktu Permaisuri Rajapatni masih dipanggil Gayatri, ia pernah berkenalan dengan Upasara Wulung. Hubungan ini terputus karena Baginda Raja mengatakan bahwa Gayatri dan Sanggrama Wijaya diibaratkan Uma dengan Syiwa. Bahwa di kelak kemudian hari, sesuai ramalan para pendeta, turunan Dewi Uma dan Dewa Syiwa akan melahirkan raja yang meneruskan kebesaran Keraton. Akan tetapi nyatanya ini hanya siasat belaka. Nyatanya putri dari Permaisuri tak digubris. Malah putra dari seberang yang diresmikan sebagai putra mahkota.”

“Lalu apa hubungannya?”

“Hati wanita mana yang tak tersentuh mendengar pengkhianatan ini?”

Upasara menggeleng lemah. “Rasanya masih saja begitu banyak yang memperhatikan saya. Mbakyu Demang, terima kasih atas pemberitahuan ini. Saya bisa mengerti kalau Tuanku Permaisuri bersedih. Akan tetapi sebenarnya tak ada gunanya. Perjalanan hidup ini panjang. Kalau bukan putrinya, bukankah masih ada cucunya? Kalau bukan cucunya, bukankah masih ada cicitnya? Kalau memang keinginannya adalah meneruskan takhta? Kehidupan sungguh panjang. Kesedihan tak perlu ada.”

“Nah, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan Adimas Upasara? Jadi untuk apa sedih kalau aku tidak bercerita mengenai Dewa Maut?”

“Baik, kalau tidak mau bicara. Paman Galih, di mana Dewa Maut?”

Galih Kaliki membelalak. “Mana aku tahu?”

Gendhuk Tri mencibirkan bibirnya. “Lelaki macam apa yang tak berani berada di luar bayangan wanita ini?”

Gendhuk Tri menduga bahwa Galih Kaliki tak berani membocorkan rahasia. Padahal sesungguhnya Galih Kaliki tak mengetahui Dewa Maut masih berada di kurungan bawah Keraton!

“Aku tak tahu.”

“Di mana dia, Nyai?” Suara Wilanda sangat rendah nadanya, akan tetapi kuat rasa ingin tahunya.

Nyai Demang tak bisa memperlama menahan rahasia. Nyai Demang menceritakan apa adanya. Bahwa ia berhasil menyusup ke kamar peraduan Baginda, akan tetapi terkena Aji Sirep Laron Halayudha, dan akhirnya disekap dalam kurungan bawah Keraton. Dan di situ bertemu dengan Dewa Maut yang tak mau diajak pergi.

“Aneh sekali. Bagaimana ia bisa sampai di tempat itu?”

“Mana kamu tahu, Gendhuk. Untuk masuk ke situ jalannya hampir tak mungkin kecuali masuk ke dalam Keraton. Berarti ia ada hubungan dengan selir-selir Baginda.”

Wajah Gendhuk Tri menjadi merah. “Heran, bibir selalu nista begitu masih awet melekat di situ.”

“Begini-begini banyak yang memperebutkan, Gendhuk. Rajamu sampai terpesona.”

“Siapa bilang rajaku?”

“Nyatanya ia menguasai kehidupan kita. Dan kita tak bisa apa-apa.”

“Omong kosong! Aku akan datang ke Keraton untuk menjemput Dewa Maut!”

Wilanda memberi tanda agar tidak tergesa. “Kita masih bisa memikirkan cara yang baik, anak manis.”

Gendhuk Tri cemberut. “Aku sudah tahu jalan pikiran Paman semua atau Kakang Upasara. Jalan terbaik adalah berada di sini, bersemadi, melihat matahari terbit dan tenggelam.”

“Baru saja kamu bilang sendiri Keraton mau jungkir-balik tak peduli, sekarang jadi sewot.”

Mendadak Nyai Demang berubah suaranya. “Yang saya herankan, Dewa Maut bisa membaca lorong-lorong dalam tahanan bawah Keraton. Bahkan saya tertolong dan bisa lolos karena kidungan dalam Kitab Bumi. Itulah sebabnya saya kembali. Barangkali selama ini kita salah membaca kidungan. Tak ada yang menunjukkan bahwa kita harus berdiam di dalam Perguruan Awan sampai jadi tanah. Barangkali menikmati matahari terbit bisa juga berarti memerangi ksatria yang nakal, membungkam mulut Mahapatih yang ngawur, atau menggempur Halayudha. Saya makin sadar ketika ketemu Kama Kangkam, guru dari Jepun, yang luar biasa tinggi ilmunya. Yang mengaku pemilik sah ilmu Jalan Budha. Jepun bukan Negeri Cina. Jepun bukan Tartar. Jepun bukan Hindia. Jepun akan menghancurkan pohon untuk membuat sawah. Jepun akan mencabut pedang panjang untuk menciptakan kebahagiaan. Kalau benar itu persamaannya dengan Kitab Bumi, saya percaya sepenuhnya Eyang Sepuh selama ini tidak pernah menyembunyikan diri! Tidak mengasingkan diri dan bunuh diri seperti Adimas Upasara yang pengecut! Saya datang untuk pamit dari kalian.”

Tiga Langkah, Tiga Jagat

JAGHANA yang selama ini paling tenang, paling bisa menahan diri dari omongan yang tak keruan juntrungannya, jadi mendongak. Nada ucapan Nyai Demang berbeda dari biasanya. Melengking dan sarat oleh kekesalan.

“Saya, Nyai Demang, mulai hari ini juga tak akan menginjak tanah Perguruan Awan untuk menyembunyikan diri. Hari ini saya telah puas bisa mengatakan isi hati saya. Paman Jaghana, Paman Wilanda, Kakang Galih, Adimas Upasara, dan juga Gendhuk, kita tak mempunyai ikatan batin dengan Perguruan Awan. Kalau suatu hari kelak kita bertemu, tak usah mengikat dan mengingat bahwa kita pernah bersama-sama di tempat ini.”

Galih Kaliki meloncat bangun. “Nyai, aku boleh ikut kamu atau tidak?”

“Kakang Galih, di sinilah tempatmu. Sarang persembunyian yang empuk. Yang menganggap membunuh nyamuk adalah melakukan dosa, yang membiarkan dunia jungkir-balik, yang menganggap menikmati sinar matahari adalah jalan ke surga.”

“Tunggu.” Jaghana meloncat menghadang.

"Kalau Paman merintangi jalanku, jangan salahkan kalau aku main kasar.”

“Nyai, aku hanya ingin mendengar kenapa Nyai tiba-tiba berkata seperti itu.”

Nyai Demang menggeleng. “Tak ada gunanya berteriak di depan orang tuli. Tak ada bedanya menembang kidungan atau merintih.” Tangan Nyai Demang terulur cepat.

Dada Jaghana terdorong. Tenaga Nyai Demang seperti mengenai karung kosong. Tanpa peduli, Nyai Demang menyusuli dengan pukulan kedua. Jaghana menghindar dengan menjatuhkan diri secara berguling. Di luar dugaan, Nyai Demang maju menerkam. Tubuhnya diayun, menjatuhi tubuh Jaghana dengan cengkeraman langsung ke arah jakun.

Gendhuk Tri berteriak keras. “Awas!”

Wilanda pun tak menduga bahwa Nyai Demang menyerang secara ganas. Bahkan ketika tiba-tiba merentangkan tangan dan menghantam dada, Wilanda menduga ini hanya sekadar pelampiasan kejengkelan saja. Sungguh tak terduga bahwa Nyai Demang menyerang dengan jurus-jurus mematikan.

Jaghana bergulung bagai gasing. Kepalanya yang gundul pelontos seperti membenam ke dalam dada. Namun tak urung, pipinya terkena serempetan cengkeraman. Mengakibatkan luka panjang dan darah merah. Sewaktu menubruk tadi, Nyai Demang menjatuhkan diri ke rumput. Namun dalam seketika tubuhnya terayun kembali dengan kekuatan tangan, dan kedua kakinya menggunting Jaghana yang mau tidak mau terpaksa menangkis.

Nyai Demang mendahului dengan tamparan telapak tangan terbuka, sehingga Jaghana memiliki jalan mundur. Begitu kakinya menginjak tanah, membuat gerakan cepat. Maju selangkah, mundur selangkah, dan maju lagi. Gerakan kaki yang demikian ini tidak pada satu titik sumbu, sehingga meskipun kelihatannya seperti maju-mundur di tempat, akan tetapi mengurung gerak Jaghana.

Dengan ilmu memutar tubuh bagai gasing, sebenarnya Jaghana tidak sekadar bertahan, akan tetapi juga memberikan perlawanan. Karena dalam memutar tubuh pada kecepatan tinggi, kemungkinan untuk mengatur tenaga serangan tak bisa dikendalikan mana keras mana lunak. Jaghana menyadari bahwa serangan Nyai Demang bukan serangan main-main. Kaki kiri Nyai Demang mengurung maju satu langkah, Jaghana terpaksa mundur, tetapi justru pada saat itu Nyai Demang mundur selangkah menjauh. Ketika Jaghana ragu, gerakan kaki Nyai Demang sudah maju selangkah!

Secepat kakinya mematok, secepat itu pula tangannya menggaplok. Jaghana yang berputar, menangkis serangan tangan dan kaki, jadi mengeluarkan seruan tertahan. Kekuatan kaki Nyai Demang jadi luar biasa mengagetkan. Seperti sepuluh tenaga yang biasa dikenalnya. Jaghana tak bisa menahan tubuhnya untuk tidak melorot turun. Saat itulah telapak tangan Nyai Demang mematok gundul Jaghana.

Galih Kaliki berteriak nyaring sambil mengangsurkan tongkatnya yang disentakkan ke atas menahan getokan Nyai Demang. Tapi Nyai Demang hanya mengeluarkan suara dingin. Tangannya berubah menjadi cengkeraman. Menggenggam tongkat, saling tarik dengan Galih Kaliki. Sekali membetot, merenggangkan, dan kemudian menyentak keras.

“Lepas!”

Gendhuk Tri masih menduga bahwa tongkat akan dilepaskan Galih Kaliki. Karena tak mungkin Galih Kaliki bertahan dengan tetap memegangi, sebab ini berarti adu tenaga dan akan membahayakan Nyai Demang. Dugaan Gendhuk Tri berdasarkan perhitungan bahwa Galih Kaliki terlalu menyayangi Nyai Demang. Justru dugaannya meleset!

Galih Kaliki tidak ingin melukai Nyai Demang, memang. Akan tetapi ia tak melepaskan tongkatnya begitu saja, justru karena menyadari tenaga Nyai Demang sangat besar. Bisa-bisa tongkat itu mengemplang kepala Jaghana yang gundul pelontos. Galih Kaliki lebih suka tetap menahan. Dan hatinya mencelos, ketika terisap tenaga keras hingga tubuhnya terlontar ke angkasa. Dan masih ngotot memegangi tongkat. Nyai Demang menggenjot tubuhnya melayang. Satu pukulan tangan kanan dilemparkan, sebelum menyentuh lawan ditarik kembali dan diganti dengan pukulan tangan kiri.

Buk!

Tubuh Galih Kaliki berdebuk di tanah. Jaghana yang kini bisa berdiri tegak, berusaha melindungi. Akan tetapi untuk kedua kalinya, dengan serangan yang sama, Jaghana kena tendang. Kali ini Gendhuk Tri yang menerjang.

“Hati-hati, Gendhuk. Ini jurus Tiga Langkah Kresna.”

Suara peringatan Wilanda terlambat. Siku Nyai Demang mengenai ulu hati Gendhuk Tri yang langsung membuatnya melorot!

Nyai Demang berdiri garang! “Dengan sepenuh hati kalian belum tentu menang. Apalagi kalau separuh-separuh seperti ini.”

Dengan kaki terpincang-pincang, Jaghana menggulung kembali tubuhnya dan maju menerjang. Aba-aba peringatan dari Wilanda membuatnya berhati-hati menghadapi Nyai Demang yang menjadi galak. Tiga Langkah Kresna atau lebih lengkap disebut Tiga Langkah Kresna Menguasai Tiga Jagat, juga disebut tiwikrama. Kata ini lebih dikenal dari sebutan aslinya yaitu triwikrama atau tiga langkah.

Dalam pengertian dari kata-katanya memang bisa berarti tiga langkah. Langkah maju, mundur, dan maju lagi menggempur. Akan tetapi sesungguhnya artinya lebih besar dari itu. Tiwikrama bukan hanya berarti tiga langkah, akan tetapi tiga langkah Kresna. Tokoh pewayangan titisan Dewa Wisnu yang ketika tiwikrama tubuhnya berubah menjadi raksasa, yang kalau berbaring sanggup membendung Kali Brantas. Digambarkan mempunyai kepala sepuluh yang siap menerkam.

Tiwikrama sebenarnya tak bisa disebut jurus, karena ini hanya bertumpu kepada pengaturan tenaga dalam. Tiwikrama baru bisa memberikan tenaga bila digabungkan dengan jurus lain. Konon, jurus yang sering digabungkan adalah jurus garuda, sehingga menjadi Garuda Tiwikrama, yang pernah dipakai oleh Raja Airlangga dalam menaklukkan tokoh misteri Mbok Randa Dirah.

Akan tetapi selama ini Jaghana tak pernah mendengar lagi latihan pernapasan Tiwikrama. Hanya Eyang Sepuh pernah menyebut-nyebut sebagai cara berlatih napas yang unggul. Akan tetapi juga berbahaya, karena pengaturan napasnya bertentangan dengan irama yang wajar. Tidak dimulai dengan menarik napas, akan tetapi dengan mengembuskan napas lebih dulu.

Menurut penuturan Eyang Sepuh, latihan pernapasan Tiwikrama sudah lama ditinggalkan para ksatria karena banyak mengandung pertentangan di dalam otot dan urat tubuh. Agak mencengangkan juga bahwa Nyai Demang secara tiba-tiba memakai pengerahan tenaga dalam Tiwikrama. Dan memainkan secara murni dengan tiga langkah serangan. Tanpa digabungkan dengan jurus yang lain. Hanya karena dasar-dasar tenaga dalam Nyai Demang tak terlalu istimewa, pelipatan tenaga dalam tidak menjadi serangan maut. Karena kalau benar begitu, Galih Kaliki maupun Gendhuk Tri pasti tak sempat merintih.

Peringatan Wilanda membuat Jaghana sangat berhati-hati. Gendhuk Tri pernah terkubur dalam Gua Lawang Sewu yang menyesakkan napas, akan tetapi tetap tidak seseram kenyataan yang dialami sekarang ini.

"Naga Alit, inilah takdir."

Tangan Naga Nareswara menyentuh tubuh Gendhuk Tri, menghilangkan kebekuan urat-urat tubuh dan bibirnya.

"Percuma. Lebih enak beku, Kakek Guru. Bergerak juga susah."

"Nyalimu gede."

"Lebih baik tetap bernyali Naga, daripada bergelar Naga tapi nyalinya lebih kecil dari tikus. Setidaknya Kakek Guru masih bisa hidup lebih lama dari saya. Tubuh saya bisa dimakan untuk memperpanjang usia."

Naga Nareswara menggelengkan kepalanya. "Hebat. Kamu ini hebat. Sekali tarik napas, aku bisa membunuhmu. Tapi kamu tak gentar. Hebat. Oho, ternyata tanah Jawa ini penuh dengan tikus licik dan Naga hebat. Kenangan akhir yang kubawa ke kehidupan nanti."

Pengembaraan Bersahaja

KETIKA itu, Upasara Wulung sudah jauh meninggalkan Perguruan Awan. Berjalan tanpa tujuan di awalnya. Mengikuti suara hatinya. Baru kemudian sadar, bahwa masih ada yang ingin dilakukan dalam hidupnya. Masih ada dharma yang bisa dilakukan. Yaitu membalas budi Pak Toikromo. Seorang penduduk biasa, yang dalam perjalanan takdir dipertemukan dengannya. Seorang kusir pedati bersahaja dengan keinginan yang membuat Upasara merasa begitu mulia. Mengangkat sebagai menantu.

Akan tetapi justru dari keinginan yang begitu sederhana, Pak Toikromo terseret sampai ke Perguruan Awan, sebagai tawanan. Selama ini Upasara merasa sangat berdosa kepada Pak Toikromo. Maka keinginannya adalah menemui Pak Toikromo untuk meminta maaf. Setidaknya ini akan membuat hatinya lebih ringan. Upasara merasa banyak kekeliruan yang dilakukan dalam hidupnya, akan tetapi kekeliruan yang membuatnya menyesal adalah menyeret kehidupan Pak Toikromo.

Dengan mengandalkan ingatan masa lampau, dan bertanya kiri-kanan, Upasara berusaha mencari tempat tinggal Pak Toikromo yang belum diketahui. Maka cukup melegakan bahwa akhirnya rumah itu bisa ditemukan. Sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah dari tanah, dengan atap daun kelapa. Di kesunyian rimbunan pepohonan. Upasara berdebar ketika mencoba masuk ke halaman. Rumah itu tertutup. Pedati yang dulu ada di pekarangan sebelah. Tanpa sapi. Upasara ragu. Termangu.

"Nak Upa..." Suara bersahaja yang mampu menggetarkan sukmanya.

Upasara menoleh ke arah datangnya suara. Wajah seorang lelaki tua, sebagian tertutup caping daun kelapa kering yang sobek-sobek di bagian pinggir. Dada telanjang, hitam oleh cahaya matahari, dengan urat-urat yang mirip tanah tanggul di persawahan. Wajah penduduk biasa. Wajah sangat sederhana.

"Bapak..."

Entah dari mana datangnya kemampuan Upasara untuk mengucapkan kata itu. Sesuatu yang tidak dimengerti. Terlontar begitu saja. Meluncur begitu saja. Dan membuat Upasara seperti dirobek ulu hatinya! Seumur hidupnya, ia belum pernah mengucapkan sebutan "Bapak". Tidak juga kepada Ngabehi Pandu yang mendidik dan mengajarinya ilmu silat! Ucapan yang biasa itu mempunyai makna yang dalam, justru karena Upasara tak mengenal siapa bapak kandungnya yang sesungguhnya. Apakah Ngabehi Pandu, atau Baginda Raja Sri Kertanegara!

"Akhirnya kamu datang juga, Nak Upa. Masuklah, duduklah di dalam. Rumah ini sejak lama tak pernah dibuka."

Upasara menunggu. Pak Toikromo membuka pintu dari dalam. Upasara masuk. Duduk di bambu tua yang sudah kehilangan warna. Tertutup debu. Entah berapa lama pintu depan tak dibuka. Entah berapa lama bambu ini tak diduduki.

"Saya datang untuk ngabekti."

"Saya terima pangabektenmu, Nak Upa. Ya, begini ini gubuk bapakmu. Gubuk paling gagah di dusun ini. Bapak sudah tua, tak bisa memanjat pohon kelapa."

Napas Upasara tersengal. Air matanya menggumpal. Inilah tangisnya yang pertama yang disadari. Dan Upasara merasa ikhlas, lega, meneteskan air mata. Apa lagi yang akan dikatakan atau akan didengar? Yang dialami sekarang ini lebih jelas dari segala kata, lebih nyata dari segala penjelasan. Sebuah rumah sederhana. Di tengah pedusunan sederhana. Jauh dari intrik Keraton. Udara, tanah, yang sederhana, seadanya.

Seorang lelaki, penduduk Majapahit atau Singasari yang tak pernah terlibat langsung dengan pergantian kekuasaan, tak pernah terikat dengan ayunan pedang siapa lebih tajam, keris siapa yang lebih mengiris. Tetapi yang tak bisa melepaskan diri dari terkaman kejadian. Inilah gambaran kenyataan!

Apa artinya ilmu segala ilmu yang dipelajari, kalau ternyata seorang seperti Pak Toikromo yang jumlahnya banyak sekali tak pernah merasakan artinya? Apa artinya pembangunan Keraton yang megah dan dahsyat, kalau ternyata Toikromo tak menikmati? Apa artinya peperangan demi peperangan bagi seorang Toikromo selain memperpanjang penderitaan? Apa artinya disesali, kalau bagi Toikromo sendiri ini semua bukan sesuatu yang harus disalahkan?

Tak ada tuduhan. Tak ada pertanyaan yang menggugat dalam penampilan Pak Toikromo. Wajah itu, di mata Upasara, tak menyembunyikan apa-apa. Bersahaja. Seperti juga ceritanya, yang disuarakan dengan sikap menerima, dan bahagia.

"Sapi bapakmu ini sudah tak ada, Nak Upa. Diambil yang punya. Anak bapakmu yang dulu saya janjikan untuk dikawini Nak Upa, sudah ketemu jodohnya. Anggota keluarga juga sudah tak ada. Tinggal bapakmu ini. Makin tua."

"Bapak..."

"Syukur, kamu tetap mau memanggil dan mengakuiku sebagai bapakmu. Tenangkan hatimu di sini, Nak Upa."

Tak ada pertanyaan apa-apa dari Pak Toikromo. Tidak juga mengenai peristiwa di Perguruan Awan dulu itu. Hanya Pak Toikromo merasakan ada kegelisahan dalam diri Upasara. Itu sebabnya ada kata untuk "menenangkan". Itu yang kemudian dirasakan Upasara...

BAGIAN 18CERSIL LAINNYABAGIAN 20