Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 07

Kiai Sangga Langit melompat kembali ke tengah arena. Bibirnya seperti tersenyum penuh kemenangan. Tangannya bergerak meskipun tetap terkepal. Tangannya bergerak-gerak dalam diam. Seperti memeras buah asam. Memang itulah yang dilakukan. Dalam sekejap kulit buah asam berikut buahnya berhamburan ke tanah bagai bubuk. Sedang biji asam yang hitam dilemparkan ke dalam lubang. Setiap lemparan, sembilan biji masuk ke dalam lubang. Begitu terus-menerus diulangi. Hingga delapan belas lubang itu masing-masing berisi sembilan biji asam!

Upasara tahu bahwa dalam dunia ini ada ilmu Bokor Sewu. Yaitu cara latihan setiap malam harus bisa menghancurkan seribu buah bokor, sejenis buah-buahan yang kulitnya sangat keras. Hanya dengan memencet saja hingga hancur. Tapi yang diperlihatkan Kiai Sangga Langit lebih dari itu. Biji asam yang biasa disebut klungsu itu masih utuh.

"Anak dusun, inilah permainan itu. Kau sudah siap?"

"Yang begini anak-anak juga bisa melakukan. Permainan lakon semacam ini apa susahnya?"

Lakon atau congklak memang biasa menjadi mainan dalam Keraton. Upasara merasa lega, karena paling tidak mengenal cara permainan itu. Namun ia juga sadar, bahwa dalam permainan itu ada sesuatu yang harus dilakukan.

"Kiai Sangga Langit di negaranya tadinya adalah imam negara yang sangat dihormati. Beliau datang ke tanah Jawa bersama Meng-ki, yang telah diusir. Karena secara keprajuritan beliau bukan anggota resmi, beliau bisa tinggal di sini. Merasa sayang meninggalkan tanah Jawa begitu saja, padahal di sini banyak jago silat dan permainan. Salah satu permainan yang dikenal adalah permainan lakon. Menurut Kiai Sangga Langit, permainan ini datang ke tanah Cina lewat permainan yang dibawakan oleh Tat Mo Tosu. Imam Besar Tat Mo adalah pendiri Shao Lin yang sangat terkenal hingga sekarang ini. Imam Besar atau Imam Agung Tat Mo menjalankan ajaran Budha. Salah satu ajaran yang diketahui oleh Kiai Sangga Langit adalah Sembilan Jalan Budha. Sembilan jalan itu ditunjukkan oleh sembilan lubang dalam lakon. Bagian yang menghadap ke arah kamu, adalah bagian yang kau jalankan. Sedang bagian yang dihadapi Kiai Sangga Langit adalah miliknya. Kau mengerti, anak dusun?"

"Cukup jelas, Mbakyu. Saya siap bertanding."

"Tidak. Kiai Sangga Langit tidak menghendaki bertanding. Kiai Sangga Langit hanya menghendaki kau memainkan lakon itu. Dalam satu langkah tanpa henti. Kalau kau bisa memasukkan separuh biji yang kau miliki ke dalam lumbung, kau dianggap berhasil memecahkan. Modal yang menjadi milikmu adalah sembilan biji kali sembilan. Atau 81 biji. Nah, kalau kau sekali jalan bisa memperoleh 41 biji, kau sudah dianggap menang. Karena itu berarti kau sudah bisa menempuh separuh dari Sembilan Jalan Budha. Perjalanan berikutnya tak terlalu menentukan. Kalau kau sekali jalan hanya bisa mendapatkan empat puluh biji, kau gagal. Kau tak disinari oleh sifat Budha. Berarti kau kalah. Seperti dalam semua permainan lakon, kau harus memulai dari bagianmu sendiri. Mulai dari lubang sepuluh hingga delapan belas. Setiap kali biji asam yang kau mainkan masuk lumbung, kau harus mulai dari bagianmu sendiri. Apa bisa mulai sekarang?"

Upasara menatap ke langit. Untuk memainkan lakon tidak terlalu Sulit. Anak kecil pun bisa. Akan tetapi untuk mendapatkan biji paling sedikit 41, bukan hal yang mudah. Kalau saja ada Ngabehi Pandu, mungkin bukan hal yang sulit. Tidak, Ngabehi Pandu pun belum tentu bisa memecahkan rahasia dalam waktu cepat. Hanya Mpu Raganata yang mampu!

Ya, Mpu Raganata memiliki Weruh Sadurunging Winarah, yang bisa untuk menguasai segala jenis permainan atau jurus-jurus baru. Hanya Mpu Raganata! Tapi sejauh ini Upasara baru bertemu sekali saja. Upasara hanya mengenal dari penuturan Ngabehi Pandu. Ia pernah sangat penasaran dan menanyakan apa sebenarnya ilmu Weruh Sadurunging Winarah itu, dan kenapa gurunya selalu membanggakan itu?

"Ilmu itu sendiri tak diberi nama apa-apa. Hanya disebut sebagai Weruh Sadurunging Winarah. Saya pernah berguru mengenai hal itu, akan tetapi sulit memahaminya. Mpu Raganata hanya memakai perbandingan: Bahwa bila kau menjadi katak, kaulah yang seharusnya menutupi liang. Bukan liang itu yang menyelimuti dirimu. Tapi kau tak bisa mengatakan ini ilmu Kodok Ngemuli Leng, Katak Menyelimuti Liang, meskipun itu yang dikenal. Dalam dunia silat selalu dikenal nama yang seram-seram untuk memperhebat. Tapi kita terjebak lagi. Terjebak dalam nama jurus, yang padahal itu adalah bungkus. Padahal itu adalah leng, liang, bukan kodok, katak.

"Ngabehi, kita sekarang ini duduk berhadapan. Kalau kutanya kita di mana, kau bisa menjawab di ruang pendopo. Itu betul secara wadag, secara fisik. Tapi salah, sebab bukan itu yang wigati, yang penting. Yang benar ialah ruang pendopo ini berada dalam diri kita.

"Setiap kali kita harus tanggap ing sasmita, peka kepada isyarat. Dengan mengembalikan ke ilmu katak tadi. Katak tidak berada dalam liangnya. Liang itu berada dalam katak. Ketika kau menciptakan jurus-jurus Banteng Ketaton, aku bisa menebak bentuk kasarnya. Kalau kau pamerkan satu jurus saja, pembukaan, aku bisa menebak ke arah mana serangan.

"Ngabehi, ketika Baginda Raja banyak mengirimkan para senopati ke tanah seberang, saya sama sekali bukan tidak menyetujui. Saya ini apalah dibandingkan Baginda Raja yang menerima wahyu. Tapi marilah kita lihat. Kau bisa melihat bahwa Raja Muda Gelang-Gelang sedang menghimpun kekuatan. Ketika ini terdengar oleh Baginda Raja, malahan saya dituduh mencari perkara dengan menebarkan bibit pertengkaran. Baginda Raja sama sekali tak percaya bahwa Raja Muda Gelang-Gelang berniat kraman. Selama ini makanan, pakaian, rumah, kehormatan diberikan padanya atas kebaikan Baginda Raja. Kedurhakaan yang paling keji pun tak akan seperti itu.

"Nah, inilah yang kumaksudkan dengan ilmu katak itu. Kalau Baginda Raja melihat dari pandangannya saja, mengukur dari pribadi Baginda Raja, memang tidak mungkin. Akan tetapi akan berbeda hasil akhirnya, jika saja Baginda Raja menempatkan dirinya sebagai Raja Muda Gelang-Gelang. Susah, susah, tapi juga mudah. Tak ada yang luar biasa. Aku bukan nujum, bukan ahli ramal. Dengan perasaan pun bisa. Semua manusia menerima kodrat bisa memainkan Weruh Sadurunging Winarah asal mau melatihnya,

"Dasarnya cuma satu. Kekosongan pikiran diri sendiri, dan menjadi apa yang dipikirkan. Kalau kau ingin tahu apa yang dilakukan Raja Muda Gelang-Gelang, kau harus membebaskan dirimu sendiri. Kau harus mengosongkan dirimu, sehingga bisa menyelimuti Raja Muda Gelang-Gelang. Menguasai Raja Muda Gelang-Gelang dan tahu apa yang akan dilakukan. Pada saat yang bersamaan kau menjadi dirimu dan mengalahkannya.

"Kita berdua bisa berlatih mengosongkan pikiran. Tetapi kamu terlalu sungkan denganku, Ngabehi. Kau tak akan pernah bisa mengalahkanku. Dalam pertandingan satu lawan satu, semua langkahmu mudah kutebak. Karena kau terlalu menghormat padaku, pun andai aku telah berbuat jahat—amat jahat padamu.

"Di seluruh dunia ini hanya Eyang Sepuh yang sama sekali tak berani kulawan. Membayangkan bertanding pun tak pernah terpikirkan. Karena aku tak berani. Aku kalah dalam mengosongkan pikiran lawan Eyang Sepuh. Ngabehi, apakah kita akan berlatih?"

Saat itu Upasara merasa kelewat penasaran. Begitu seringnya Mpu Raganata disebut-sebut dengan sangat hormat. Dan Mpu Raganata sendiri menyebut-nyebut Eyang Sepuh. Upasara ingin sekali menjajalnya sendiri! Tapi justru karena rasa gusarnya dulu, ia jadi terus teringat. Beberapa kali Ngabehi Pandu membicarakan apa yang dibicarakan dan kadang berusaha memecahkan bersama. Kini Upasara berniat menghadapi beberapa petunjuk tidak langsung itu.

"Mpu Raganata, maafkan hamba...."

Upasara menghaturkan sembah dengan khidmat. Menarik napas dalam-dalam. Memulai. Pertama, mengangkat biji asam di lubang sepuluh. Itulah memang permainan awal. Sehingga dengan demikian akan berakhir di lumbung, dan ia bisa memulai lagi sesukanya. Lalu memulai lagi mengangkat biji asam di lubang delapan belas. Yang sekarang berisi sepuluh biji.

Yang pertama masuk lumbung, lalu masuk lubang satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, dan berakhir di lubang sembilan yang kini isinya menjadi sepuluh. Diangkat lagi, dimasukkan lubang sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, satu demi satu, dan kembali berakhir di lumbung. Langkah ketiga tak terlalu sulit. Dari lubang delapan belas, tinggal memasukkan ke lumbung. Kini berarti lumbungnya sudah berisi empat. Baru empat, dari paling tidak harus bisa mencapai 41 biji.

Kiai Sangga Langit berdehem kecil. Langkah kelima memang mulai mengandung komplikasi. Kalau tadi bisa dengan mudah dihitung, ia harus sangat cermat. Keliru satu biji saja, bisa-bisa hancur berantakan.

Nyai Demang menahan napas. Ia mengenal permainan lakon ini dengan baik. Kalau Upasara mulai dari lubang sepuluh, seperti permulaan tadi memang secara berhitung kasar bisa begitu, sebelum langkah kesembilan belas ia harus mati. Ini berarti lumbungnya baru terisi sepuluh. Tambah yang ada di depannya, karena ditembak, isinya belum mencapai 25.

Ternyata Upasara mulai dari lubang kesebelas sebagai langkah kelima. Lubang kesebelas isinya sebelas, berakhir di lubang tiga yang isinya menjadi sebelas juga, dan berakhir di lubang ketiga belas yang isinya tiga belas, dan ini akan berakhir di lubang ketujuh yang isinya dua belas. Dari sini berakhir di lumbung lagi. Selamat! Berarti kini Upasara menyimpan enam biji di lumbung!

Sampai di sini, Nyai Demang masih bisa memainkan. Karena perkembangan biji asam di setiap lubang masih bisa diperhitungkan. Akan tetapi mulai langkah kesembilan, variasi makin banyak. Kini hampir semua isi dalam lubang sudah tak ada yang sembilan biji lagi! Perubahan ini tak boleh dihitung lebih dulu. Hanya berdasarkan ingatan saja.

Nyai Demang dikenal sangat cerdas dalam menganalisa dan belajar soal seperti ini. Dan ia membanggakan dirinya, karena ia bisa berbicara dengan Kiai Sangga Langit. Banyak kesalahan dalam menangkap arti bisa terjadi, akan tetapi secara keseluruhan ia bisa mengetahui artinya!

Tapi untuk memulai langkah kesembilan dari lubang mana, bukan hal mudah. Kalau Upasara mulai dari lubang sebelas, dalam tiga langkah berikutnya ia akan mati. Tapi bukan Upasara kalau ia memilih lubang sebelas untuk dimainkan. Dalam banyak hal yang berhubungan dengan angka serta cara hitung-menghitung, Upasara seperti menemukan hafalan lama. Selama dua puluh tahun ia dikurung untuk hal-hal seperti ini. Menghafal, berhitung luar kepala, mempraktekkan. Sehingga dibandingkan orang lain, Upasara sudah belajar mengenai hal ini selama dua puluh tahun. Dan tak pernah tersentuh oleh kegiatan lain.

Upasara mulai langkah kesembilan dari lubang tujuh belas. Dan di langkah kesembilan belas, ia masuk lumbung lagi. Langkah dua puluh tinggal menaikkan dari lubang tujuh belas. Di langkah kedua puluh, Upasara telah mengumpulkan dua belas biji. Langkah ke-21, Upasara mulai lubang enam belas. Pikirannya sederhana, karena dari lubang enam belas berisi dua puluh biji, dan dengan demikian akan menutup seluruh putaran, dan ia tak akan mati langkah. Demikianlah dengan kecerdikan dan perhitungan matang, Upasara terus memainkan biji asam. Kiai Sangga Langit berdecak pelan, mengawasi dengan cermat.

Sampai dengan langkah ke-34, Upasara sudah memasukkan ke dalam lumbung sebanyak 22. Bagi Nyai Demang itu sudah suatu prestasi yang hebat. Tapi untuk angka yang ditentukan Kiai Sangga Langit, itu masih separuh. Sampai di sini Kiai Sangga Langit berjalan mendekat. Siapa pun tahu bahwa kini langkah yang paling menentukan.

Upasara mendongak ke arah langit. Bibirnya berkumat-kamit menghafalkan angka di dalam lubang. "Lubang kesepuluh berisi 25, lubang kesebelas berisi enam, lubang kedua belas berisi dua belas, lubang ketiga belas berisi lima belas, lubang keempat belas berisi enam, lubang kelima belas berisi lima, lubang keenam belas berisi empat, lubang ketujuh belas tidak ada isinya alias kosong, lubang kedelapan belas berisi enam.

"Aha, dari mana aku harus mulai? Di depan lubang kesatu berisi tiga, lubang kedua berisi delapan, lubang ketiga berisi sembilan, lubang keempat berisi satu, lubang kelima berisi tiga, lubang keenam berisi 25, lubang ketujuh berisi sepuluh, lubang kedelapan berisi dua, lubang kesembilan tidak ada isinya alias kosong. Yang menjadi petaka yang mematikan bukan hanya lubang kesembilan dan lubang ketujuh belas. Tapi adalah perubahannya. Mulai dengan lubang kelima belas, keenam belas, ketujuh belas sama dengan bunuh diri dalam langkah pertama. Mulai dari lubang kedelapan belas, menguntungkan karena panjang. Akan tetapi itu berakhir di lubang keenam dan mengambil isinya sebanyak 25. Akan tetapi berarti itu dibagi rata. Susah untuk nembaknya. Langkah lainnya penuh risiko. Susah sekali."

Upasara merenggangkan tangannya. Menggeliat. Lalu memandang ke atas lagi. "Ini kesempatan saya mengambil yang terakhir. Entah bisa panjang atau tidak. Tak mungkin bisa berakhir di lumbung lagi. Tak apa. Kalau bisa nembak yang terbesar, itu sudah cukup."

Upasara menggerakkan lubang kesepuluh yang berisi 25 biji. Langkahnya berakhir di langkah ke-41, akan tetapi ia berhasil menyikat biji di depan lubang ketiga belas. Berhasil menyikat lubang di depannya. Isinya paling banyak, yaitu 28 biji. Dengan lumbungnya yang sudah berisi 26, semuanya berjumlah 54 biji! Upasara meloncat ke atas, dan tertawa bergelak.

Nyai Demang berusaha menghitung, akan tetapi Upasara mendiktekan jumlah yang ada.

"Katakan kepada Kiai Sangga Langit. Kalau ia ingin meneruskan permainan, jumlah akhir nanti tak akan pernah bisa dimenangkannya. Kalau tidak percaya, silakan jajal."

Nyai Demang jadi ragu. Kiai Sangga Langit memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya. Tubuhnya tetap tegak. Lalu mengganti dengan menyembah.

"Anak muda, sungguh luar biasa. Imam Tat Mo akan sangat bahagia di nirwana sana. Tak sangka, hari ini ada yang bisa memecahkan permainan yang usianya ratusan tahun dengan sekali gebrak. Luar biasa, luar biasa. Selamat, selamat...," Nyai Demang menerjemahkan per kata. "Kini kau sudah menang mutlak. Nah, katakan apa permintaanmu."

Upasara menggeleng. "Jangan terlalu memuji. Sebenarnya saya yang rendah ini kebetulan bisa menghitung di luar kepala. Itu saja. Mengenai permintaan saya, sampai saat ini saya belum mempunyai permintaan apa-apa. Lupakan saja. Sembah hormat kembali untuk Kiai Sangga Langit."

"Karena anak muda tak meminta apa-apa, apakah Kiai Sangga Langit boleh meminta sesuatu?"

"Asal saya bisa memenuhi, akan saya lakukan."

"Kiai Sangga Langit hanya minta anak dusun menyebutkan asal-usul, nama perguruan, agar di belakang hari bisa mengundang."

Upasara menghela napas. Berat. Kegirangan yang melonjak tinggi ketika merampungkan permainan tadi jadi sirna. "Saya telah mengatakan sesungguhnya. Saya biasa dipanggil Upa. Nama perguruan saya tidak perlu disebutkan karena sudah lama bubar sudah sejak lama. Mengenai asal-usul, saya sendiri tidak tahu. Saya menyebut Bapak Toikromo, karena beliau pernah menolong saya."

"Istri, saudara..."

"Istri saya belum berani memiliki, karena saya masih luntang-lantung seperti ini. Saudara... saya tak pernah tahu. O, tidak, saya mempunyai saudara angkat. Ia seorang senopati dari Gelang-Gelang. Kami baru saja saling mengangkat saudara. Agak susah saya menyebutkan, karena kami saling berjanji untuk tidak membuka kepada orang lain. Kiai Sangga Langit, masih adakah yang Kiai minta?"

Selesai Nyai Demang menerjemahkan, sekali lagi Kiai Sangga Langit memberi hormat dengan dua cara. Ketika itu Bagus Respati mulai membuka matanya. Bersamaan dengan Galih Kaliki. Keduanya berdiri dan melihat Kiai Sangga Langit sedang memberi hormat kepada Upasara. Upasara membalas dengan menundukkan badannya.

"Kiai Sangga Langit mempunyai beberapa hadiah, kalau kau mau menerimanya. Sebuah kitab mengenai ajaran Budha yang bisa digunakan untuk mempertajam keluhuran budi, apakah kau mau menerima?"

"Terima kasih, Nyai Demang, apa gunanya kitab itu kalau saya tidak bisa membaca?"

"Aku akan membacakan untukmu." Kembali sinar mata yang genit mencubit perasaan Upasara.

"Kalau begitu biarlah Nyai Demang yang menerima. Dan mempelajari. Saya masih ada urusan di dusun, mohon pamit."

Upasara berbalik ke arah Galih Kaliki.

"Paman Galih, maafkan semua kelancangan saya. Saya mohon pamit. Jangan lupa mengundang saya ke perkawinan nanti."

Galih Kaliki tertawa bergelak. "Kau masih muda, gagah, dan sedikit congkak. Aku, Galih Kaliki, suka padamu. Selamat, anak muda."

Upasara berbalik ke arah Bagus Respati. "Kakang Raden Mas..."

"Terima kasih, Upa... Tak akan pernah kulupakan kebaikanmu. Datanglah ke dalem kepatihan."

Upasara menghaturkan sembah. Lalu perlahan berjalan turun dari panggung.

Nyai Demang meloncat maju. "Apakah kamu juga akan berlalu kalau saya mengharap tinggal barang sebentar?"

Upasara menunduk. Tak berani menatap mata Nyai Demang.

"Buku silat yang dihadiahkan Kiai Sangga Langit adalah buku pilihan. Juga di negerinya sendiri. Sungguh kurang enak kalau kamu menolak begitu saja."

Upasara mengangguk.

"Kita mengadakan makan malam bersama, dan setelah itu kamu bisa pergi ke mana saja. Menjumpai kekasihmu...."

"Saya akan tinggal sebentar, Mbakyu...."

Malam itu juga diadakan perjamuan sederhana. Bagus Respati hanya menikmati sebentar, lalu berpamitan untuk pergi keesokan harinya. Ia akan segera berangkat bersama Dyah Muning dan mempersiapkan upacara.

Galih Kaliki menepuk-nepuk pundak Upasara. "Pergilah bersama Nyai Demang. Ia akan membacakan isi kitab itu padamu."

Upasara merasa kikuk.

"Di dunia ini semua lelaki pasti tertarik kepada Nyai Demang. Baik diam-diam atau terang-terangan. Akulah yang paling tergila-gila. Aku menyadari ini ketololan yang luar biasa. Tapi aku suka terseret arus perasaan seperti ini. Indah sekali. Anak muda, kamu beruntung malam ini."

"Paman Galih, karena Paman menganggap saya sebagai keluarga sendiri, kenapa kita tidak bersama-sama mendengarkan apa yang dikatakan Nyai Demang?"

Dalam suatu tenda, malam itu Kiai Sangga Langit menjelaskan beberapa bagian yang diterjemahkan oleh Nyai Demang. Upasara berusaha mendengarkan dengan segenap perhatian. Hanya saja beberapa kali perhatian tertuju pada gerak bibir Nyai Demang. Benar juga kalau semua lelaki tertarik kepada Nyai Demang. Cukup beralasan kalau Galih Kaliki, meskipun sudah menyadari ketololannya, masih tetap tergoda. Nyai Demang memang mempunyai daya tarik, dan bisa memanfaatkan kelebihan ini.

"Buku ini mengandung ajaran cara melatih pernapasan. Intinya lebih berguna untuk menjaga agar badan tetap sehat, panjang umur, dan memperoleh kebahagiaan. Kiai Sangga Langit mendapatkan dari orang-orang Cina. Agak bertentangan dengan ilmu Mongol yang mengandalkan kekerasan. Namun cara melatih pernapasan ini ternyata mempunyai manfaat besar. Terbukti dari jago-jago di daratan Cina yang makin tua justru makin perkasa."

Setelah larut, Upasara meminta diri. Sekaligus pamitan besok pagi akan menemui ayahnya, Pak Toikromo. Ia kembali ke tenda. Bagi Upasara yang penting bisa istirahat dan besok pagi melanjutkan perjalanan. Maka setelah bersemadi, Upasara mulai berbaring.

Galih Kaliki yang berada di sampingnya sudah langsung mendengkur. Mungkin karena capek, mungkin karena tadi minum tuak secara berlebihan.

Baru memejamkan mata sekejap, Upasara mendengar satu gerakan. Desir angin yang lain. Sebagai seorang yang terlatih, Upasara melihat ada sesuatu yang tidak beres. Gerakan mengentengkan tubuh dengan perlahan, mencurigakan di larut seperti ini. Apalagi bukan gerakan satu orang. Upasara bangkit. Lalu berjalan perlahan keluar dari tenda. Sesaat masih melihat dua bayangan berkejaran. Cepat sekali Upasara meloncat ke arah dua bayangan. Belum lama mengejar, dua bayangan itu sudah terlibat dalam pertempuran. Upasara tahu bahwa bayangan yang dikejar adalah Nyai Demang.

"Kalau berani kurang ajar padaku, ayo kita jajal di sini."

"Perempuan murahan, untuk apa kamu menolakku? Jangan paksa aku melakukan itu dengan kekasaran. Kita nikmati malam yang indah ini."

Suara yang satunya seperti dikenal oleh Upasara. Hanya saja tidak begitu jelas, karena memakai kain yang dikerudungkan menutup seluruh tubuh.

"Majulah kalau kamu memang ksatria."

"Aku juga laki-laki yang bisa menaklukkanmu. Malam ini. Dan aku ingin menjadi orang senewen seperti Galih Kaliki. Ayo, Nyai Demang, kita bermain-main sebentar."

Bayangan berkerudung itu langsung menyerang Nyai Demang. Nyai Demang menghindar. Dalam beberapa saat keduanya sudah terlibat dalam pertempuran. Meskipun Nyai Demang termasuk unggul, namun masih setingkat di bawah penyerangnya. Kelebihan Nyai Demang ternyata lebih bersifat teori. Gerak pukulannya tepat, bagus, dan mengena. Akan tetapi tenaga pendukungnya tidak cukup membantu. Sehingga dengan mudah ditangkis. Melewati sepuluh jurus, Nyai Demang sudah di bawah angin. Lima jurus berikutnya, kaki Nyai Demang kena serampang, dan tubuhnya terbanting. Dengan satu tangan menotok ke arah pinggang, penyerang berkerudung itu berhasil memeluk Nyai Demang.

"Apa lagi?"

Nyai Demang menggigit bibirnya. Kakinya yang lepas berusaha menendang dari belakang. Sekali lagi, dengan mudah bisa disampok. Dan ketika pegangan dilepaskan, tubuh Nyai Demang terbanting ke tanah.

Upasara tidak merasa perlu turut campur, sebenarnya. Akan tetapi merasa kurang enak melihat Nyai Demang diperlakukan dengan kasar. Maka Upasara melompat ke tengah.

Bayangan berkerudung melihat Upasara.

"Oh, kamu, Upasara."

Upasara melengak. Baru ia sadar siapa yang dihadapi. "Kang Bagus Respati... maaf, mengganggu masalah pribadi... saya kira..." Upasara segera berbalik membuang wajah.

"Haha... di dunia ini masih ada lelaki sejujur kamu. Betul-betul luar biasa...."

Tanpa menoleh kiri-kanan Upasara terus kembali ke tenda. Melihat Galih Kaliki masih tidur mendengkur. Ah, apakah pikirannya akan berubah jika melihat apa yang dilakukan Nyai Demang? Entahlah. Upasara tidak mau berpikir lebih jauh. Hanya ia merasa bersalah mencampuri urusan Nyai Demang dengan Bagus Respati. Mereka berdua ternyata memang lagi "bermain-main".

Tokoh macam apakah Nyai Demang itu? Tak bisa masuk di benak Upasara. Hanya saja sejak melihat kejadian itu, Upasara tidak begitu tertarik lagi dengan Nyai Demang. Hanya saja Upasara juga tidak mengerti bagaimana sikap Bagus Respati sebenarnya. Setelah memperoleh putri Cina dalam sayembara, kenapa masih mengejar Nyai Demang?

Upasara melanjutkan perjalanan, dengan beberapa pikiran yang masih mengganggu. Akan tetapi ia tidak memedulikan. Pikiran itu terbuang dengan sendirinya. Karena memang sejak masih bayi tak pernah terlibat dengan keusilan. Harapannya cuma satu: menyampaikan berita ke Keraton!

Selewat fajar, Upasara sampai di Keraton. Ia merasa bingung karena tak tahu harus menghubungi siapa. Ngabehi Pandu tak ada di tempat. Senamata Karmuka juga tak bisa dihubungi. Maka ketika ia mengatakan akan sowan kepada Baginda Raja, prajurit penjaga hanya melengak saja.

"Kami mengetahui dirimu, anak muda. Kamu dari Ksatria Pingitan. Kamu membawa tanda untuk masuk ke Keraton. Akan tetapi untuk bisa melihat bayangan Baginda Raja, apakah kamu mempunyai alasan untuk itu?"

"Dengan paksa atau baik-baik saya akan sowan kepada Kanjeng Sinuwun."

Mendengar jawaban itu para prajurit bersiap dan mengurungnya. Upasara mendongak. "Kalau kalian memaksa terus, akan terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan." Upasara bertindak maju. Dengan membawa cincin Keraton, Upasara bisa terus melangkah maju ke dalam.

Para prajurit tak ada yang berani menyerang. Hanya sekadar berjaga. Sampai di balairung, tempat menghadap, Upasara duduk bersila. Upasara tetap tidak bergeser. Ia terus bersila di balairung, tertunduk, sama sekali tak beringsut. Dari pagi hingga tengah hari sampai menjelang petang. Beberapa pengawal utama tak berani menegur atau mengusik, hanya mengawasi dari kejauhan.

Ketika penerangan Keraton dinyalakan, dan bayangan tubuh Upasara bergerak-gerak, ketika itulah terdengar langkah kaki memasuki balairung. Beberapa pengawal berjalan membentuk barisan di sebelah kiri dan kanan. Bersila di bawah. Beberapa saat kemudian sebuah langkah ringan menuju ke tengah. Semua yang hadir menghaturkan sembah. Upasara tetap menunduk.

"Anak muda yang keras kepala, apakah kau Ksatria Pingitan?"

Barulah tangan Upasara bergerak, menghaturkan sembah yang khidmat. Sorot matanya tetap menunduk. Akan tetapi sempat menangkap sosok tubuh yang gagah perkasa, yang dadanya telanjang dan berbulu. Dengan kalung panjang berbentuk segi tiga. Melingkari leher secara terbuka, dan bertemu sedikit di atas pusar. Kain yang dikenakan sangat bagus, dan ujung keris menonjol dari belakang. Ditopang dengan sepasang kaki yang bersih kukuh, ditumbuhi bulu-bulu keriting. Rambutnya digelung di atas kepala, memberi kesan sangat gagah.

"Nun inggih... saya yang rendah bernama Upasara Wulung," suaranya penuh rasa hormat, "...saya menghaturkan sembah bekti, Mahapatih yang mulia."

Mahisa Anengah Panji Angragani seperti berdecak bibirnya. "Apa maksudmu memaksa diri bersila di sini?"

"Saya mohon izin Mahapatih yang mulia untuk sowan kepada Baginda Raja. Hanya dengan perkenan Mahapatih yang mulia, saya yang rendah bisa sowan di hadapan Baginda Raja, penguasa tunggal Keraton."

Kembali terdengar decakan suara di bibir. "Sudah lama kudengar makin banyak pemuda yang berbuat kurang ajar dan ugal-ugalan. Hari ini aku menemukan sendiri. Upasara, apakah karena kau merasa bekas Ksatria Pingitan, sehingga bisa begitu mudah meminta izin untuk sowan Baginda Raja? Ksatria Pingitan sudah lama dibubarkan, karena hanya memboroskan keuangan Keraton. Sudah tidak ada artinya lagi. Pun andai masih ada, kau tak bisa leluasa mengajukan usul seperti itu. Apakah ada sesuatu yang luar biasa sehingga merasa perlu sowan Baginda Raja?"

"Maafkan hamba, Mahapatih yang mulia. Maafkan kelancangan hamba, dan ketidaktahuan akan tata krama ini. Keberanian dan keinginan hamba hanya didasari bahwa ada sesuatu yang harus hamba sowan-kan kepada Baginda Raja. Maafkan, Mahapatih yang mulia."

"Sesuatu itu apa? Aku akan mempertimbangkan."

Upasara menghaturkan sembah.

"Katakan."

Upasara menunduk. Pundaknya merunduk menuju satu titik di tanah. Ludahnya seperti tak bisa ditelan. Apakah ia harus memberi laporan kepada Mahapatih Panji Angragani mengenai kejadian di Perguruan Awan? Menurut pesan Jagaddhita, ia harus menyampaikan langsung kepada Baginda Raja. Akan tetapi, untuk bisa sowan, ia tak bisa menghindar dari Mahapatih. Apakah ia harus memperlihatkan dua buah gigi emas Jagaddhita? Apakah ini cukup berarti bagi Mahapatih? Tetapi jika ia tidak mengatakan... Terlambat. Mahapatih sudah berdecak lebih keras.

"Upasara. Sungguh lancang! Bagaimana mungkin kau tidak menghormati dengan berdiam diri seperti itu? Bahkan Baginda Raja mempercayaiku untuk menjadi mahapatih. Untuk menjadi bahu kanan Baginda Raja. Apa yang kau sembunyikan dariku, pasti akan kuketahui. Akan kulihat apakah kau masih berusaha duduk di situ, atau menunggu aku memerintahkan untuk menendangmu."

"Ampun, Mahapatih yang mulia. Sama sekali tak terpikir oleh hamba yang rendah ini untuk tak menghormati Paduka. Mahapatih yang mulia adalah sesembahan kawula, Mahapatih yang mulia adalah bahu kanan Baginda Raja yang terpercaya, akan tetapi saya ingin menyampaikan secara pribadi."

Terdengar decak kecil. "Aku tak punya waktu banyak, Upasara. Kalau kau mau mengatakan, sekarang saatnya. Para pengawal ini adalah pengawal Keraton yang tak perlu diragukan lagi kesetiaannya."

"Maaf, Mahapatih. Masalah ini ada sangkut-pautnya dengan peristiwa di Perguruan Awan."

"Hmmmmm."

"Juga mengenai rombongan Raja Muda Gelang-Gelang, serta pasukan yang dipimpin langsung oleh Maharesi Ugrawe. Mohon Mahapatih yang mulia menyampaikan kepada Baginda Raja."

Terdengar tawa menggeledek.

Para pengawal sempat kaget.

Darah Upasara berdesir sangat cepat.

"Dewa Batara... kukira tentang gempa yang dahsyat atau matahari berbalik arahnya. Tak tahunya tentang urusan begitu sepele. Kalau urusan membunuh nyamuk saja harus di-sowan-kan kepada Baginda Raja, kapan Baginda Raja ada waktu untuk memuja Penguasa Tunggal di jagat ini? Ketahuilah, Ksatria Pingitan. Baginda Raja saat-saat ini sedang bersemadi. Tak bisa diganggu gugat, tak bisa di-sowan-i siapa saja. Dan mengenai kekuatiranmu, Baginda Raja sudah mengetahui jauh lebih dulu. Kuhargai sepenuhnya keberanianmu, tetapi itu tak ada gunanya. Nah, sekarang kembalilah. Mulai sekarang jangan menyebut-nyebut sebagai Ksatria Pingitan lagi, karena sebutan itu sudah dibubarkan. Kembalilah ke desamu, jadilah petani yang baik. Aku telah bermurah hati menemuimu."

Mahapatih mengibaskan tangannya.

"Ampunilah saya yang cubluk, bodoh, ini. Peristiwa di Perguruan Awan sangat memilukan. Saya yang rendah ini berada di sana...."

"Aku adalah mahapatih. Aku menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Aku telah mengetahui dari telik sandi, dari pasukan rahasia, bahwa beberapa pendekar akan mengadakan pertemuan untuk memberontak kepada Keraton. Itu sebabnya Baginda Raja menugaskan Raja Muda Gelang-Gelang untuk menumpas sampai habis. Sampai rata dengan tanah. Aku sendiri yang memerintahkan Senopati Suro, Joyo, Lebur, Pangastuti untuk memimpin pasukan Keraton. Di samping beberapa prajurit pilihan yang lain. Kau berada di sana dengan siapa?"

"Saya diajak Ngabehi Pandu dan Pamanda Wilanda...."

"Hmmmmm, sok tahu."

"Beberapa dari prajurit Keraton ditawan oleh Maharesi Ugrawe. Ngabehi Pandu masih belum ditemukan, demikian juga Senamata Karmuka...."

Kembali terdengar tawa menggeledek. "Lancang sekali omonganmu. Anak lancang. Ajaib sekali. Apa yang diajarkan Ngabehi lancang itu sehingga Ksatria Pingitan begitu kurang ajar dan ngawur? Bagaimana mungkin kaukatakan kalau Senamata Karmuka itu hilang? Selama ini Senamata Karmuka tak pernah meninggalkan Keraton! Omongan edan apa ini?"

"Seribu ampun, Mahapatih yang mulia, saya melihat sendiri...."

"Cukup! Aku tak pernah bicara ngawur. Semua prajurit di Keraton bisa menilai. Bisa mengatakan apakah aku berdusta. Selama ini Senamata Karmuka berada di Keraton. Ia tak ikut ke Perguruan Awan. Aku tidak memerintahkan ke sana. Juga ia hadir dalam pasowanan agung di Keraton. Seluruh pejabat di Keraton melihatnya. Bagaimana mungkin kau edan-edanan seperti itu?

"Bocah kecil, aku tak menyangka kalau kau berani berdusta di depanku. Ketika dalam Sayembara Mantu aku mendengar namamu disebut putraku, aku menyangka kau adalah ksatria yang hebat. Mewarisi keberanian Keraton. Tak tahunya cuma tukang dusta. Tidak adil jika aku tidak menghukummu, walau kau telah menyelamatkan putraku. Prajurit, tangkap dia."

Tiga prajurit memberi hormat, dan langsung menelikung Upasara.

Upasara mendongak. "Saya hanya menyampaikan pesan ini. Kalau saya sengaja berdusta, saya pastilah melakukan suatu kebodohan yang tiada taranya. Saya hanya memberi laporan seperti yang saya lihat. Sebelum Mahapatih menjatuhkan hukuman, perkenankanlah saya memohon sesuatu."

Terdengar decak lidah.

"Di dalam lipatan kain, ada dua buah gigi emas. Bukan senjata rahasia, bukan barang penuh bisa atau ilmu gaib. Saya mohon Mahapatih yang mulia berkenan menghaturkan kepada Baginda Raja."

Seorang prajurit pengawal membuka lipatan kain dan memperlihatkan dua buah gigi emas.

"Untuk apa kau katakan itu?"

"Ini permintaan Bibi Jagaddhita, bekas penari Keraton. Saya berjanji untuk menyampaikan, apa pun yang terjadi. Kalau besok saya tak sempat melihat matahari lagi, saya tidak mengecewakan arwah Bibi Jagaddhita. Untuk kemuliaan Mahapatih menghaturkan dua buah gigi emas ini, saya menghaturkan nyawa saya yang tak berharga ini."

"Masih ada juga jiwa ksatriamu. Memuliakan tugas. Memegang janji. Itulah sifat ksatria sejati. Itulah ciri utama ksatria Keraton Singasari yang besar. Kepandaianmu tidak rendah. Sayang kau banyak bermimpi. Prajurit, penjarakan dia."

Upasara diseret.

"Satu hal lagi, Mahapatih... yang mulia, Raja Muda Gelang-Gelang tidak memadamkan pemberontakan, malah sebaliknya. Maharesi Ugrawe mempunyai dua rencana lain untuk merebut takhta...."

Tapi tubuhnya telah terseret jauh. Dan Mahapatih telah meninggalkan balairung. Tubuh Upasara seluruhnya diikat. Kaki dan tangan, serta badannya diikat erat pada sebuah tonggak, di ruang bawah tanah. Dulu Upasara mengetahui ruangan itu digunakan untuk menawan para penjahat yang berbahaya. Hanya para penjahat yang bakal dihukum mati di tempat itu. Cara pelaksanaan hukuman mati juga tak jauh berbeda. Dibakar hidup-hidup atau diberikan kepada seekor harimau yang menjadi klangenan, atau kesayangan, Baginda Raja.

Untuk itu semua hanya diperlukan waktu lima hari. Jika dalam waktu lima hari Mahapatih tidak berkenan membicarakan masalahnya, dengan sendirinya ia harus menjadi makanan seekor harimau! Dalam keadaan biasa, Upasara bisa melawan dan mempertahankan diri. Akan tetapi dalam keadaan terikat erat, seekor nyamuk yang hinggap di pipi pun tak bisa diusir. Apalagi selama lima hari itu, ia tak dibiarkan meneguk setetes air atau sesuap nasi, atau juga satu kalimat. Para prajurit penjaga tak diperkenankan berkata. Ini semua untuk menghindarkan dari rencana para tersangka mempengaruhi atau mencoba melarikan diri.

Upasara Wulung mengetahui hal ini. Siapa sangka sekarang ini dirinya yang menjadi penghuni penjara? Siapa sangka ia begitu susah melarikan diri akan tetapi malah ditertawakan? Siapa sangka kalau pengorbanan Jagaddhita tak berarti apa-apa?

Upasara termasuk cerdas. Jalan pikirannya cemerlang untuk menangkap suatu masalah yang tak diperhitungkan. Namun kali ini benar-benar mati kutu. Tak bisa memperkirakan kejadian apa yang sebenarnya berlangsung. Baik di Keraton, di Perguruan Awan, atau juga di tempat lain. Rasanya serba tak menentu dan tak jelas ujung-pangkalnya. Yang disangka terang-benderang di siang hari, ternyata gelap-pekat tak bisa dimengerti.

Upasara mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, sejak awal Sejak ia diperam selama dua puluh tahun sebagai Ksatria Pingitan. Suatu usaha untuk melahirkan para prajurit dan bangsawan teladan. Usaha ini agaknya menimbulkan pro dan kontra, sehingga resminya dibubarkan. Beberapa ksatria kembali kepada orangtuanya masing-masing, seperti juga Bagus Respati. Karena dirinya tak mengetahui harus kembali ke siapa, Upasara Wulung terus bersama Ngabehi Pandu. Sampai suatu ketika diajak serta ke Perguruan Awan.

Bertemu dengan para pendekar kelas satu. Terjadi perselisihan paham mengenai Eyang Sepuh serta Tamu dari Seberang. Sampai kemudian munculnya Maharesi Ugrawe dengan prajurit Gelang-Gelang. Dan terjadi petempuran habis-habisan. Upasara melihat sendiri hadirnya Senamata Karmuka. Bahkan bercakap-cakap secara langsung. Tapi baru saja Mahapatih mengatakan bahwa Senamata Karmuka tak pernah menginjakkan kaki ke luar Keraton. Ini aneh.

Lalu siapa yang diketahui? Jelas bukan orang lain. Tapi kalau begitu siapa yang di Keraton? Jelas juga bukan orang lain. Kalau iya, pasti Mahapatih mengenali. Jadi siapa sebenarnya Senamata Karmuka? Ataukah Senamata Karmuka mempunyai ilmu yang bisa hadir di dua tempat yang berbeda secara serentak? Upasara pernah mendengar ilmu semacam itu, namun belum pernah melihat secara langsung.

Yang juga aneh: Pasukan Gelang-Gelang yang secara langsung dipimpin oleh Raja Muda Jayakatwang. Benarkah pasukan ini mau memadamkan pemberontakan? Kalau tidak, memang agak mustahil bisa bergerak begitu leluasa. Akan tetapi bila mau memadamkan pemberontakan, kenapa Maharesi Ugrawe mencoba menyapu bersih semua yang hadir di situ?

Taruhlah ada dendam pribadi antara Maharesi Ugrawe dan Senamata Karmuka atau Ngabehi Pandu, tak nanti mereka akan bertindak sembrono. Dan lagi secara jelas Ugrawe melontarkan kecamannya tentang Baginda Raja yang dikatakan sebagai turunan perampok, maka harus digulingkan dari takhtanya. Sangat gamblang bahwa Raja Muda Gelang-Gelang akan memberontak. Tetapi mengapa justru kenyataan malah berbalik? Kenapa malah disangka Raja Muda Gelang-Gelang yang menumpas pemberontakan para pendekar?

Strategi Ugrawe dengan melenyapkan jalan utama dan menggantikan dengan jalan palsu di Banyu Urip, jelas untuk memutuskan hubungan Perguruan Awan dengan Keraton. Bahwa prajurit Gelang-Gelang menghimpun banyak senjata secara rahasia, ini juga persiapan yang tidak ingin diketahui pihak Keraton. Bagaimana mungkin yang begini ini malah dikatakan membantu Keraton?

Kalau ini semua merupakan bagian dari rencana Ugrawe, ia benar-benar luar biasa. Kepada pihak Keraton ia menyusun laporan seakan para pendekar mau memberontak, sehingga ia mendapat restu untuk menyikat habis. Padahal maksudnya melenyapkan mereka agar kelak di kemudian hari tidak membantu pihak Keraton. Karena, meskipun hidup bebas, para pendekar sangat hormat dan bekti kepada Baginda Raja serta kepada Keraton. Lalu kepada para pendekar, Ugrawe melemparkan isu bahwa Tamu dari Seberang akan muncul. Para pendekar bisa dipancing karena Ugrawe dengan cerdiknya melemparkan berita akan datangnya Tamu dari Seberang.

Semua berjalan sempurna. Karena pihak Keraton sendiri agaknya sama sekali tidak mencurigai. Utusan yang dipimpin oleh Senopati Suro lebih berfungsi sebagai saksi belaka. Sehingga kalaupun rombongan ini bisa disikat habis, tak bakal ada gunjingan. Hanya saja masih ada yang tidak diduga oleh Ugrawe. Ngabehi Pandu serta Senamata Karmuka ikut hadir. Entah intrik apa yang sedang berkecamuk dalam Keraton, sehingga kedua saudara itu muncul di gelanggang, tanpa restu dari Keraton. Kalau kedua tokoh itu sempat meloloskan diri, pastilah akan lain hasil dari rencana busuk Ugrawe.

Ini berarti, masih ada tiga orang yang bisa lolos. Yaitu dirinya sendiri, Ngabehi Pandu, serta Senamata Karmuka. Ngabehi Pandu tidak ketahuan hutan rimbanya. Entah berhasil lolos atau tidak. Sementara Senamata Karmuka, bagi Upasara masih merupakan teka-teki. Tapi kini ia tak bisa berbuat banyak. Malah bisa jadi mati secara menyedihkan. Dibakar hidup-hidup atau jadi santapan harimau!

Kenyataan ini membuat Upasara merasa sangat nelangsa, sangat menderita dan kesal. Rangkaian kejadiannya begitu ganjil, tapi seperti terjalin menjadi satu. Pemunculan Kiai Sangga Langit dengan Sayembara Mantu, ternyata juga mendapat restu dari Mahapatih. Setidaknya Mahapatih membiarkan Kiai Sangga Langit unjuk gigi. Malah secara resmi melibatkan para pembesar Keraton.

Satu-satunya harapan Upasara adalah dua buah gigi geraham Jagaddhita. Ia berharap Mahapatih menyampaikan gigi tersebut kepada Baginda Raja, dan Baginda Raja berkenan untuk mengetahui asal-usulnya. Saat itu ia bisa bercerita panjang-lebar. Kalau Baginda Raja sudah mendengar secara langsung, Upasara akan mati dengan tenang. Ia tidak penasaran lagi. Pun andai Baginda Raja hanya mendengar dan lebih mempercayai apa yang dikatakan Mahapatih!

Soal diikat berdiri dan tak bisa bergerak, bagi Upasara tidak menjadi soal benar. Jangan kata cuma lima hari. Empat puluh hari empat puluh malam secara terus-menerus Upasara sanggup. Berada dalam ruang gelap tanpa melihat seberkas sinar pun, tanpa menyentuh air dan atau makanan tak jadi soal benar. Akan tetapi jika berakhir lain di perut seekor macan, sungguh tidak enak. Sungguh bukan cara mati seorang ksatria. Mudah-mudahan Baginda Raja terbuka sedikit perhatiannya. Itulah harapan yang terakhir.

Jika saja Upasara mengetahui bahwa Mahapatih Panji Angragani sama sekali tidak tertarik soal gigi, ia lebih menderita lagi. Mahapatih yang jijik melihat dua buah gigi segera menyingkirkan begitu saja tanpa peduli.

Setelah kembali ke kepatihan, ia sama sekali tidak mengingat soal gigi. Namun memang tergerak sedikit oleh kehadiran Upasara. Justru karena Upasara memberi laporan yang sangat tidak masuk akal: Senamata Karmuka terlibat dalam penyerbuan ke Perguruan Awan.

"Banyak cara berdusta. Kenapa Upasara mengatakan secara tolol bahwa Karmuka datang ke Perguruan Awan? Kalau ia berdusta dengan cara lain, ada beberapa bagian yang bisa dipercaya. Entahlah, apakah di saat yang damai seperti ini akan muncul gelombang dan amukan badai?"

Tak urung malam itu juga Mahapatih memanggil Senamata Karmuka ke dalem kepatihan. Yang segera menghadap, menghaturkan sembah di ruang dalam.

"Karmuka, pasti engkau kaget kupanggil malam hari begini."

"Sebagai prajurit, sebagai bawahan, saya siap menerima hukuman atas setiap kesalahan yang saya lakukan, Mahapatih."

"Hmmmmm. Aku memanggil tidak untuk memberi hukuman atau menaikkan pangkatmu secara mendadak. Tidak juga aku menanyakan tugas pengamanan di Keraton. Untuk yang terakhir ini, aku percaya sepenuhnya kepadamu."

"Beribu terima kasih atas kepercayaan Mahapatih."

"Malam ini kau kupanggil kemari karena aku kangen padamu. Itu yang pertama. Yang kedua, rasanya kita sudah lama tidak berduaan sambil minum teh. Sedangkan hal yang ketiga, tidak penting benar. Aku ingin tahu, apa yang kau ketahui tentang Upasara Wulung."

"Upasara Wulung dulunya Ksatria Pingitan," jawab Senamata Karmuka cepat sekali. "Termasuk anak muda yang merupakan bibit unggul di antara 25 yang dikumpulkan dalam pendidikan Keraton Singasari. Kebetulan saya diserahi memegang pimpinan pengelolaan itu oleh Baginda Raja sesembahan rakyat Jawa."

"Ya, tapi rencana itu bubar, kan?"

"Mahapatih, semua itu karena kesalahan saya yang tidak becus apa-apa."

"Itu susahnya, Karmuka. Baginda Raja berharap akan lahir ksatria yang bisa meneruskan kejayaan Keraton. Tapi nyatanya susah. Putraku sendiri, akhirnya kutarik dan kuserahkan kepada para empu yang lain. Sudahlah, kita lupakan itu. Tapi bagaimana dengan Upasara ini?"

"Bocah itu seterusnya di bawah pengawasan adik saya, Ngabehi Pandu, karena tak mempunyai keluarga lagi. Hatinya baik, kemauannya keras."

"Waras atau tidak?"

"Saya tak berani memastikan. Mahapatih yang bijak lebih tahu hal ini."

"Memang. Memang aku lebih tahu, Karmuka. Dari putraku Bagus Respati aku mendapat laporan bahwa Upasara menyelamatkan jiwanya dalam Sayembara Mantu. Aku hargai itu. Kalau perlu akan kuberi hadiah besar. Hanya saja ia membikin perbuatan onar. Kau sudah dengar bahwa katanya ia bertemu denganmu di Perguruan Awan?"

"Saya belum mendengar, Mahapatih."

"Kau bertemu dengannya?"

"Tidak pernah, Mahapatih."

"Apakah Upasara mempunyai hubungan langsung dengan Baginda Raja? Ia membawa cincin Keraton."

"Saya tidak tahu, Mahapatih."

"Cincin yang dibawanya memang berasal dari Baginda Raja. Cincin pengenal di Keraton. Tidak palsu. Akan tetapi dari mana ia memperolehnya? Kalau kau tidak tahu, berarti ia tidak menerima langsung dari Baginda Raja. Kamu dan adikmu yang secara langsung mengawasi. Karena ia berbuat kurang ajar dan lancang, aku menghukumnya. Sekarang ia berada di gua bawah tanah. Apa pendapatmu, Karmuka?"

"Saya kurang tahu. Mahapatih lebih bijak dari saya."

"Karena aku tidak tahu asal-usulnya secara pasti, dan kau juga tidak, kita tak perlu menyayangkan. Lebih baik kehilangan daripada tidak yakin ia bakal setia kepada Keraton. Bagaimana pendapatmu?"

"Apa yang Mahapatih utarakan sangat tepat sekali."

"Karmuka?"

"Siap menerima titah, Mahapatih."

"Aku berpikir lain. Ia masuk ke Keraton dengan membawa tanda pengenal cincin. Di dalam Keraton ini, bahkan putraku saja tidak memiliki. Pastilah ia mempunyai hubungan dengan orang dalam sini. Dan kehadirannya pasti diketahui. Aku ingin melihat apakah ada yang akan membebaskannya atau tidak. Pada saat itu aku akan menjebaknya. Apakah aku terlalu mengada-ada?"

"Terima kasih atas kepercayaan Mahapatih saya diizinkan mendengarkan rahasia ini."

"Kalau Baginda Raja mempercayaimu, mana mungkin aku berahasia denganmu? Baiklah, Karmuka, kembalilah beristirahat."

Senamata Karmuka memberi hormat, menundukkan kepalanya, dan berlalu. Seorang prajurit mengawal keluar dari ruangan dalam.

Sejenak Mahapatih termenung di kursinya. Lalu menghela napas. Sebelum tarikan napas dikeluarkan, dari balik senthong, atau kamar di belakang ranjang tidur, muncul seorang kakek tua. Tangannya memegang biji-bijian yang diuntai dengan rambut.

Mahapatih berdecak.

"Karmuka itu masih kuat. Langkah-langkahnya, cara mengatur napas tetap unggul. Aku tak menyangka tenaga dalamnya masih begitu hebat, Mahisa. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, sama sekali tak ada perubahan. Sungguh luar biasa."

Kakek tua itu menggelengkan kepalanya. "Dilihat dari perhitungan kelahiran, Senamata Karmuka mempunyai ketenangan yang lebih. Ia mampu mengendalikan perasaan, menyimpan apa yang dipikirkan. Sulit ditentukan apakah Karmuka mempunyai hubungan langsung dengan Upasara atau tidak. Kalau dilihat sejarah dan awal berdirinya Ksatria Pingitan, tak mungkin Upasara anak turunan rakyat biasa. Hanya keluarga dekat, kerabat Keraton, yang diperkenankan dipilih. Namun ketika semua dikembalikan kepada masing-masing orang tua, Upasara tetap dilatih olehnya. Padahal kalau masih ada hubungannya dengan Upasara, Karmuka pasti tergetar mendengar rencanamu. Tapi nyatanya, suaranya datar saja. Tak dipengaruhi perasaan. Kini tinggal melaksanakan rencana kita selanjutnya."

"Itulah yang saya pikirkan, Paman Waisesa Sagara. Paman adalah penasihat utama saya, yang bisa melihat jarak jauh, yang bisa meramal kejadian yang akan datang. Dengan mengatakan apa yang akan kita lakukan, apakah Karmuka tidak berniat menolong Upasara?"

"Ia akan menolongnya. Pasti,"

Waisesa Sagara menganggukkan kepalanya. Biji-bijian di tangannya bergerak cepat. "Akan tetapi terlambat. Malam ini juga, Upasara harus dilenyapkan. Tak usah menunggu lima hari. Ketika Bagus Respati menceritakan tentang Upasara, aku sudah memperhitungkan. Ketika ia berada di balairung Keraton, aku sudah melihat sendiri. Berdasarkan perhitungan kedatangannya, arah datangnya, bentuk mukanya, potongan tubuhnya: baik telinga, hidung, mulut, rambut, dan terutama sekali matanya, aku memperhitungkan kelak di kemudian hari Upasara Wulung bakal menjadi saingan utama Bagus Respati. Malah kalau dilihat peruntungannya, nilai dasar Upasara Wulung lebih dua buah. Bagus Respati mempunyai nilai peruntungan sebelas, sedang Upasara Wulung tiga belas. Rezekinya tidak sebaik Bagus Respati, akan tetapi perhitungan masa depannya sungguh luar biasa. Kelewat bagus. Soal jodoh agak ruwet."

Mahapatih berdecak. Ia bukannya tidak tahu bagaimana menghitung dan meramalkan nasib seseorang. Akan tetapi selama ini percaya penuh bahwa perhitungan Waisesa Sagara tidak pernah meleset sedikit pun. Sejak ia mengabdi kepada Keraton, Mahapatih selalu mendengarkan nasihat Waisesa Sagara. Salah satu ramalannya yang paling menakjubkan ialah ketika Waisesa Sagara mengatakan bahwa, "Sebuah bulan buta bersinar keemasan jatuh ke pangkuanmu. Dalam waktu lima hari mulai hari ini, kau harus bersiap-siap menerima anugerah besar. Siapkan dirimu sebaik-baiknya. Keramas rambutmu sebersih-bersihnya, cuci badanmu paling bersih, jaga kulit tubuhmu, jangan lupa tersenyum."

Ajaib. Tiga hari kemudian Baginda Raja memanggilnya dan menganugerahi jabatan mahapatih. Sesuatu yang tak pernah berani diimpikannya! Bahkan dalam berdoa pun ia tak berani membayangkan jabatan yang mulia tersebut. Jabatan yang di tangan kanan dan kiri menentukan merah-hijaunya Keraton Singasari.

Akan tetapi siapa berani mengimpikan jabatan itu? Saat itu Mpu Raganata adalah tokoh besar yang tak diragukan lagi. Baik soal kanuragan atau ilmu silat, soal tata pemerintahan, maupun cara mengatur strategi. Bertahun-tahun Mpu Raganata membuktikan cara mengendalikan pemerintahan. Hubungan Mpu Raganata dengan Baginda Raja sangat dekat sekali. Tak pernah beranjak dari sisi Baginda Raja.

Memang saat itu Baginda Raja mengadakan pergeseran besar-besaran. Sejumlah besar para bangsawan ditanggalkan pangkatnya. Kalau tidak diturunkan, juga dibuang ke daerah terpencil. Namun tak pernah terpikir bahwa Baginda Raja bakal menggeser Mpu Raganata. Dari seorang mahapatih yang berkuasa penuh, menjadi semacam penasihat Baginda Raja yang tak mempunyai kekuasaan langsung ke bawah! Waisesa Sagara telah meramalkan hari baiknya. Hari yang kelewat baik!

Sejak itu pula Waisesa Sagara diangkat menjadi penasihat pribadi dalam, hampir, segala hal. Tak pernah ada suatu tindakan yang dilakukan Mahapatih Angragani tanpa persetujuan Waisesa Sagara. Mengenakan motif kain batik, melangkah pertama ke luar rumah, makan, dan menemui seseorang, atau sowan ke Keraton, semuanya berdasarkan saran Waisesa Sagara. Juga ketika Mahapatih Angragani membubarkan Ksatria Pingitan. Saat itu Waisesa Sagara melihat bahwa ada kemungkinan para ksatria yang dipingit kelak di kemudian hari akan menimbulkan malapetaka. Manakala mereka hanya mengenal satu tuan saja: Senamata Karmuka.

"Seekor anjing yang sejak kecil hanya mengenal satu tuan, kelak di kemudian hari bakal menyerang siapa saja atas perintahnya. Bubarkan saja."

"Bagaimana dengan Bagus Respati?"

"Cari guru yang lain. Dengan demikian apa yang diperoleh tidak sama dengan yang diperoleh yang lainnya. Bagus Respati akan memiliki kelebihan."

"Akan tetapi Baginda Raja menghendaki diadakannya Ksatria Pingitan."

"Apa susahnya? Laporkan pada hari Budha nanti, bahwa pengelolaannya mulai tidak terarah. Bahwa hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran kas Keraton. Bahwa sebenarnya ada yang lebih bagus. Yaitu dilatih secara langsung. Dengan demikian, mulai sekarang ini seluruh kekuasaan ada pada dirimu. Senamata Karmuka tidak mempunyai anak buah lagi, selain beberapa prajurit pengawal utama. Itu pun masih di bawah komandomu. Saat ini sebenarnya seluruh kekuasaan sudah berada di dalam genggamanmu. Kamu bisa mulai memperkuat diri. Melanjutkan tradisi Baginda Raja untuk menyingkirkan yang tak menyokong kekuasaanmu. Hanya sedikit ganjalannya. Karmuka, telanjur menjadi Senamata. Dan hubungannya dengan Baginda Raja sangat istimewa, sehingga agak susah digeser. Akan tetapi selama kau bisa terus mengawasi gerak-geriknya, selama kau selalu menyadarkan bahwa kau menjadi atasannya, Karmuka tak akan bisa berbuat banyak."

"Mengenai Mpu Raganata?"

"Praktis beliau tak memegang komando apa-apa. Kalau terjadi sesuatu, beliau tak bisa memerintahkan, tanpa menggunakan tanganmu atau tangan Baginda Raja. Lagi pula kini sudah lanjut usia. Bagi Mpu Raganata, yang selama ini aktif bergerak dalam pemerintahan, hanya menunggu ajal saja kalau tidak lagi menjabat apa-apa. Kau lihat sendiri dalam beberapa kali pasowanan agung, beliau tidak muncul. Tak perlu disingkirkan. Beliau akan tersingkir sendiri. Kalau itu terjadi secara mutlak dan resmi, kaulah yang memegang kendali pemerintahan, atas tanganmu sendiri."

Mahapatih kembali berdecak. "Pamanda Waisesa, bagaimana kalau ternyata Upasara adalah lembu peteng Baginda Raja?"

Lembu peteng adalah istilah untuk menyebut anak tidak resmi, atau anak gelap. Memang lembu peteng sangat banyak jumlahnya. Di antara mereka ini, banyak yang tidak diakui secara resmi, akan tetapi mendapatkan kehormatan dan jabatan, tetapi lebih banyak lagi yang kemudian dilupakan.

"Sangat tidak mungkin. Kalau benar, mana mungkin selama ini Baginda Raja tidak menanyakan? Selama ini nyatanya tak pernah terucapkan atau tertanyakan oleh Baginda Raja. Itulah tadi sebabnya aku menduga Upasara adalah anak gelap Karmuka. Hanya karena caranya bernapas tetap teratur ketika hal itu disinggung aku jadi ragu."

"Akan tetapi dari mana ia memperoleh cincin Keraton?"

"Ia menyebutkan dari Bibi Jagaddhita. Kamu sendiri tahu bahwa dulu banyak sekali selir Baginda Raja. Puluhan atau bahkan ratusan jumlahnya. Salah satu bernama Jagaddhita. Dan kamu mendengar sendiri ceritanya. Taruh kata Jagaddhita dulu mempunyai hubungan yang sangat istimewa dengan Baginda Raja. Akan tetapi itu sudah lama berlalu. Jagaddhita telah lama meninggalkan Keraton. Tak nanti Baginda Raja masih akan mempertanyakan. Mana mungkin Baginda Raja mengingat salah satu selir yang telah pergi di antara puluhan yang lain? Prameswari utama saja bisa-bisa lupa. Hanya yang membuat sedikit ganjalan ialah bahwa beberapa ksatria telah mengenal Upasara. Ia sempat muncul dalam Sayembara Mantu. Sehingga hilangnya bisa menimbulkan pertanyaan."

"Itu tak menjadi soal, Paman Waisesa. Kalau saya mengatakan bahwa Upasara Wulung berbuat kurang ajar, menghina Baginda Raja, siapa yang berani mempersoalkan? Malaikat pun tak akan berani turun dari langit untuk menanyakan hal itu."

"Kau benar. Jadi apa masalahnya?"

"Tetapi tetap menjadi pertanyaan: Apakah Upasara Wulung harus dibunuh?"

"Jawabannya tetap: Perlu dibunuh. Dilihat dari perhitungan hari dan saat ia ditangkap serta tempatnya ditangkap, Upasara bisa meloloskan diri. Dengan mempersingkat waktu penahanan, nasibnya akan lain. Walau menurut perhitungan waktu ditangkap ia bisa lolos, kalau malam ini juga dihabisi, tak akan menjadi soal. Nasib yang ditetapkan oleh langit bisa kita ubah."

Mahapatih menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.

"Satu-dua nyawa, apa artinya? Sekarang ini kau harus yakin bahwa siapa pun yang berdiri di dekatmu bakal membantumu. Kalau ia meragukan sedikit saja, perlu disingkirkan. Ingatlah, jabatan mahapatih bukanlah jabatan sederhana. Dan di Keraton ini terlalu banyak pendapat. Sejak Baginda Raja mengadakan pergeseran, sejak kamu memegang kekuasaan, banyak yang berusaha menggugatmu. Setiap kesempatan akan mereka pergunakan, kamu lebih dulu bertindak. Jangan menunggu sampai mereka siap. Sebenarnya apa yang meragukanmu?"

Mahapatih mengangguk. Menepuk tangannya.

Waisesa Sagara menyelinap ke balik tirai tempat tidur, kembali ke senthong. Arya Bangkong dan Arya Genggong masuk ke dalam dengan laku ndodok. Keduanya bersila dan menghaturkan sembah bersamaan.

"Hamba menunggu titah, Mahapatih...."

"Bangkong, malam ini kau awasi Senamata Karmuka. Kerahkan prajuritmu yang terbaik. Mata-matai, apa pun yang ia lakukan. Kalau ia menemui seseorang, kalau ia melakukan sesuatu, segera laporkan padaku. Juga kalau ia berada dalam kamar, laporkan dengan siapa ia menghabiskan malam. Saat apa pun, kau melaporkan padaku. Semua kekuasaan untuk mengambil tindakan, kuserahkan sepenuhnya padamu."

"Hamba laksanakan perintah, Mahapatih."

"Genggong, malam purnama nanti, kau ambil tawanan di penjara bawah tanah. Tak perlu dilepaskan dari ikatan. Bawa ke kandang Sardula. Adakan persembahan malam ini juga. Semua kekuasaan dan wewenang ada padamu jika ada yang menghalangi. Kalau sampai gagal, kepalamu menjadi ganti."

"Hamba laksanakan perintah, Mahapatih."

"Jangan menunda waktu, berangkatlah sekarang ini."

Arya Bangkong dan Arya Genggong menghaturkan sembah secara bersamaan. Bersamaan dengan kibasan tangan Mahapatih, keduanya berjalan setengah merangkak ke luar setelah menghaturkan sembah. Di luar, sekali lagi menghaturkan sembah, baru berdiri. Keduanya berpandangan.

"Kakang Bangkong..."

"Adik Genggong, kita laksanakan perintah. Tak ada waktu buat berbicara."

"Silakan, Kakang."

"Silakan, Adik."

Di regol, pintu depan, keduanya berpisah. Arya Bangkong segera memilih lima prajurit utama untuk memata-matai rumah Senamata Karmuka. Mereka dengan segera menuju rumah Senamata Karmuka, dan memerintahkan penjaga utama untuk beristirahat. Arya Bangkong sendiri yang menggantikan berjaga. Sampai melihat Senamata Karmuka masuk peraduan dan mendengar dengkur tidurnya. Meskipun demikian, Arya Bangkong tetap menunggui di depan pintu.

Sementara itu Arya Genggong menuju ruangan bawah tanah dengan empat prajurit utama. Dengan kampak sebagai senjatanya, ia segera mengayunkan untuk memutuskan tiang pengikat. Tubuh Upasara yang masih terikat jatuh ke tanah. Sekali lagi Arya Genggong meyakinkan ikatan tangan, kaki, badan. Kemudian memerintahkan untuk mengangkut.

Dalam usungan, Upasara merasa bahwa usahanya sia-sia. Di luar perhitungannya bahwa malam ini ia akan diumpankan harimau. Berteriak atau mengoceh tak ada gunanya. Ia dibawa melalui lorong gelap, yang berakhir di ujung sebelah timur Keraton. Seluruh badannya dilumuri dengan boreh, atau bedak, yang baunya membangkitkan nafsu makan harimau.

Kandang harimau Keraton itu terletak di sebelah timur penjara bawah tanah. Di atas sebidang tanah yang dipagari besi. Letaknya sendiri jauh di bawah permukaan tanah. Ada dua cara memberi makan harimau kesayangan Baginda Raja. Dengan melemparkan dari atas sekali, dari Keraton, atau dari sebelah terowongan penjara bawah tanah.

"Anak muda, siapa pun namamu, apa pun pangkatmu, atas perintah Mahapatih kau akan dipersembahkan ke Sardula. Kalau masih ada kalimat terakhir, katakanlah."

Upasara merasa tawar hatinya. Toh tak mungkin ia menjelaskan seluruh duduk perkaranya. Tak mungkin Arya Genggong mengubah putusan Mahapatih. "Paman, lakukanlah tugasmu."

Arya Genggong sejenak terperanjat. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kalimat itu yang akan keluar dari anak muda yang bakal mati. Bukan sekali-dua ia menjadi jagal utama. Bukan sekali-dua ia menggiring para penjahat untuk diumpankan ke harimau. Bukan sekali-dua kampaknya sendiri memutuskan leher penjahat. Akan tetapi baru sekarang ini, ada kalimat yang begitu bagus dan menyentuh. Tetapi hanya sejenak. Segera ia menjalankan tugasnya. Hatinya telah membatu. Hanya ada satu yang diketahui: Menjalankan tugas. Melakukan perintah. Tak peduli apakah perintah itu sesuai dengan jalan pikirannya atau bertentangan. Segera ia memberi perintah.

Dua prajurit memukul pagar besi dengan keras. Bau boreh yang ditebarkan serta bunyi besi, membuat bayangan bergerak dari kegelapan.

Mata Upasara melihat seekor harimau keluar dari semak kegelapan. Belum Upasara melihat jelas, ia merasa tubuhnya dilemparkan ke depan. Dan pintu kandang ditutup kembali. Kandang tempat harimau Keraton itu cukup luas sebetulnya. Kalaupun mereka tak tergesa, tak nanti harimau itu bisa menyerbu ke arah pintu kandang. Akan tetapi demi amannya, mereka melontarkan begitu saja.

Di tengah udara, Upasara berusaha memindahkan berat tubuhnya agar tubuhnya tidak jatuh dengan menghadap ke bawah. Ia berhasil akan tetapi seluruh tangannya terasa sakit sekali. Dari jarak lima tombak, ia melihat harimau menggeram ke arahnya. Kematian tak pernah ditakuti. Selama ini ia tak pernah memikirkannya. Namun sekali ini, Upasara tak menyerah begitu saja. Ia mengerahkan tenaganya. membalikkan tubuhnya, berikut tiang yang diikat bersama. Dengan bergulingan, ia bukan saja bisa menjauh, akan tetapi mulutnya bisa meraup kerikil kecil dengan giginya. Masih ada satu perhitungan. Dengan kerikil itu ia bisa membidik ke arah kepala harimau. Inilah satu-satunya harapan untuk menunda kematian.

Dan itu yang dijalankan. Begitu harimau melompat mendekat, Upasara menembakkan kerikil. Karena tergesa, kerikil itu hanya menyerempet telinga harimau. Dan ini malah berakibat sebaliknya. Harimau menjadi buas, meraung. Kain di tubuh Upasara diseret oleh harimau. Diseret ke dalam gelap.

Arya Genggong mengawasi dengan obor di tangan. Tapi tak melihat apa-apa lagi. Hanya mendengar auman harimau yang menggerung.

"Kecuali badannya terbuat dari besi, bocah itu tak akan bisa melihat matahari esok pagi. Sudah agak lama Sardula tidak dapat makanan manusia. Sekarang ini saatnya. Anak muda, mudah-mudahan di alam baka kau mendapat pengampunan."

Arya Genggong menghela napas. Lalu memerintahkan prajurit-prajuritnya menunggu sampai fajar nanti. Ia sendiri mengawasi dari kejauhan. Keras hatinya mendengar jeritan, teriakan yang menyayat, serta auman harimau. Pastilah harimau itu melalap perut dan isinya lebih dulu. Kalau meremukkan kepala, pasti tak akan terdengar jeritan menyayat seperti itu.

Malam itu bulan di langit pucat. Sangat pucat sekali. Bau anyir darah tercium....


BAGIAN 06CERSIL LAINNYABAGIAN 08

Senopati Pamungkas Bagian 07

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 07

Kiai Sangga Langit melompat kembali ke tengah arena. Bibirnya seperti tersenyum penuh kemenangan. Tangannya bergerak meskipun tetap terkepal. Tangannya bergerak-gerak dalam diam. Seperti memeras buah asam. Memang itulah yang dilakukan. Dalam sekejap kulit buah asam berikut buahnya berhamburan ke tanah bagai bubuk. Sedang biji asam yang hitam dilemparkan ke dalam lubang. Setiap lemparan, sembilan biji masuk ke dalam lubang. Begitu terus-menerus diulangi. Hingga delapan belas lubang itu masing-masing berisi sembilan biji asam!

Upasara tahu bahwa dalam dunia ini ada ilmu Bokor Sewu. Yaitu cara latihan setiap malam harus bisa menghancurkan seribu buah bokor, sejenis buah-buahan yang kulitnya sangat keras. Hanya dengan memencet saja hingga hancur. Tapi yang diperlihatkan Kiai Sangga Langit lebih dari itu. Biji asam yang biasa disebut klungsu itu masih utuh.

"Anak dusun, inilah permainan itu. Kau sudah siap?"

"Yang begini anak-anak juga bisa melakukan. Permainan lakon semacam ini apa susahnya?"

Lakon atau congklak memang biasa menjadi mainan dalam Keraton. Upasara merasa lega, karena paling tidak mengenal cara permainan itu. Namun ia juga sadar, bahwa dalam permainan itu ada sesuatu yang harus dilakukan.

"Kiai Sangga Langit di negaranya tadinya adalah imam negara yang sangat dihormati. Beliau datang ke tanah Jawa bersama Meng-ki, yang telah diusir. Karena secara keprajuritan beliau bukan anggota resmi, beliau bisa tinggal di sini. Merasa sayang meninggalkan tanah Jawa begitu saja, padahal di sini banyak jago silat dan permainan. Salah satu permainan yang dikenal adalah permainan lakon. Menurut Kiai Sangga Langit, permainan ini datang ke tanah Cina lewat permainan yang dibawakan oleh Tat Mo Tosu. Imam Besar Tat Mo adalah pendiri Shao Lin yang sangat terkenal hingga sekarang ini. Imam Besar atau Imam Agung Tat Mo menjalankan ajaran Budha. Salah satu ajaran yang diketahui oleh Kiai Sangga Langit adalah Sembilan Jalan Budha. Sembilan jalan itu ditunjukkan oleh sembilan lubang dalam lakon. Bagian yang menghadap ke arah kamu, adalah bagian yang kau jalankan. Sedang bagian yang dihadapi Kiai Sangga Langit adalah miliknya. Kau mengerti, anak dusun?"

"Cukup jelas, Mbakyu. Saya siap bertanding."

"Tidak. Kiai Sangga Langit tidak menghendaki bertanding. Kiai Sangga Langit hanya menghendaki kau memainkan lakon itu. Dalam satu langkah tanpa henti. Kalau kau bisa memasukkan separuh biji yang kau miliki ke dalam lumbung, kau dianggap berhasil memecahkan. Modal yang menjadi milikmu adalah sembilan biji kali sembilan. Atau 81 biji. Nah, kalau kau sekali jalan bisa memperoleh 41 biji, kau sudah dianggap menang. Karena itu berarti kau sudah bisa menempuh separuh dari Sembilan Jalan Budha. Perjalanan berikutnya tak terlalu menentukan. Kalau kau sekali jalan hanya bisa mendapatkan empat puluh biji, kau gagal. Kau tak disinari oleh sifat Budha. Berarti kau kalah. Seperti dalam semua permainan lakon, kau harus memulai dari bagianmu sendiri. Mulai dari lubang sepuluh hingga delapan belas. Setiap kali biji asam yang kau mainkan masuk lumbung, kau harus mulai dari bagianmu sendiri. Apa bisa mulai sekarang?"

Upasara menatap ke langit. Untuk memainkan lakon tidak terlalu Sulit. Anak kecil pun bisa. Akan tetapi untuk mendapatkan biji paling sedikit 41, bukan hal yang mudah. Kalau saja ada Ngabehi Pandu, mungkin bukan hal yang sulit. Tidak, Ngabehi Pandu pun belum tentu bisa memecahkan rahasia dalam waktu cepat. Hanya Mpu Raganata yang mampu!

Ya, Mpu Raganata memiliki Weruh Sadurunging Winarah, yang bisa untuk menguasai segala jenis permainan atau jurus-jurus baru. Hanya Mpu Raganata! Tapi sejauh ini Upasara baru bertemu sekali saja. Upasara hanya mengenal dari penuturan Ngabehi Pandu. Ia pernah sangat penasaran dan menanyakan apa sebenarnya ilmu Weruh Sadurunging Winarah itu, dan kenapa gurunya selalu membanggakan itu?

"Ilmu itu sendiri tak diberi nama apa-apa. Hanya disebut sebagai Weruh Sadurunging Winarah. Saya pernah berguru mengenai hal itu, akan tetapi sulit memahaminya. Mpu Raganata hanya memakai perbandingan: Bahwa bila kau menjadi katak, kaulah yang seharusnya menutupi liang. Bukan liang itu yang menyelimuti dirimu. Tapi kau tak bisa mengatakan ini ilmu Kodok Ngemuli Leng, Katak Menyelimuti Liang, meskipun itu yang dikenal. Dalam dunia silat selalu dikenal nama yang seram-seram untuk memperhebat. Tapi kita terjebak lagi. Terjebak dalam nama jurus, yang padahal itu adalah bungkus. Padahal itu adalah leng, liang, bukan kodok, katak.

"Ngabehi, kita sekarang ini duduk berhadapan. Kalau kutanya kita di mana, kau bisa menjawab di ruang pendopo. Itu betul secara wadag, secara fisik. Tapi salah, sebab bukan itu yang wigati, yang penting. Yang benar ialah ruang pendopo ini berada dalam diri kita.

"Setiap kali kita harus tanggap ing sasmita, peka kepada isyarat. Dengan mengembalikan ke ilmu katak tadi. Katak tidak berada dalam liangnya. Liang itu berada dalam katak. Ketika kau menciptakan jurus-jurus Banteng Ketaton, aku bisa menebak bentuk kasarnya. Kalau kau pamerkan satu jurus saja, pembukaan, aku bisa menebak ke arah mana serangan.

"Ngabehi, ketika Baginda Raja banyak mengirimkan para senopati ke tanah seberang, saya sama sekali bukan tidak menyetujui. Saya ini apalah dibandingkan Baginda Raja yang menerima wahyu. Tapi marilah kita lihat. Kau bisa melihat bahwa Raja Muda Gelang-Gelang sedang menghimpun kekuatan. Ketika ini terdengar oleh Baginda Raja, malahan saya dituduh mencari perkara dengan menebarkan bibit pertengkaran. Baginda Raja sama sekali tak percaya bahwa Raja Muda Gelang-Gelang berniat kraman. Selama ini makanan, pakaian, rumah, kehormatan diberikan padanya atas kebaikan Baginda Raja. Kedurhakaan yang paling keji pun tak akan seperti itu.

"Nah, inilah yang kumaksudkan dengan ilmu katak itu. Kalau Baginda Raja melihat dari pandangannya saja, mengukur dari pribadi Baginda Raja, memang tidak mungkin. Akan tetapi akan berbeda hasil akhirnya, jika saja Baginda Raja menempatkan dirinya sebagai Raja Muda Gelang-Gelang. Susah, susah, tapi juga mudah. Tak ada yang luar biasa. Aku bukan nujum, bukan ahli ramal. Dengan perasaan pun bisa. Semua manusia menerima kodrat bisa memainkan Weruh Sadurunging Winarah asal mau melatihnya,

"Dasarnya cuma satu. Kekosongan pikiran diri sendiri, dan menjadi apa yang dipikirkan. Kalau kau ingin tahu apa yang dilakukan Raja Muda Gelang-Gelang, kau harus membebaskan dirimu sendiri. Kau harus mengosongkan dirimu, sehingga bisa menyelimuti Raja Muda Gelang-Gelang. Menguasai Raja Muda Gelang-Gelang dan tahu apa yang akan dilakukan. Pada saat yang bersamaan kau menjadi dirimu dan mengalahkannya.

"Kita berdua bisa berlatih mengosongkan pikiran. Tetapi kamu terlalu sungkan denganku, Ngabehi. Kau tak akan pernah bisa mengalahkanku. Dalam pertandingan satu lawan satu, semua langkahmu mudah kutebak. Karena kau terlalu menghormat padaku, pun andai aku telah berbuat jahat—amat jahat padamu.

"Di seluruh dunia ini hanya Eyang Sepuh yang sama sekali tak berani kulawan. Membayangkan bertanding pun tak pernah terpikirkan. Karena aku tak berani. Aku kalah dalam mengosongkan pikiran lawan Eyang Sepuh. Ngabehi, apakah kita akan berlatih?"

Saat itu Upasara merasa kelewat penasaran. Begitu seringnya Mpu Raganata disebut-sebut dengan sangat hormat. Dan Mpu Raganata sendiri menyebut-nyebut Eyang Sepuh. Upasara ingin sekali menjajalnya sendiri! Tapi justru karena rasa gusarnya dulu, ia jadi terus teringat. Beberapa kali Ngabehi Pandu membicarakan apa yang dibicarakan dan kadang berusaha memecahkan bersama. Kini Upasara berniat menghadapi beberapa petunjuk tidak langsung itu.

"Mpu Raganata, maafkan hamba...."

Upasara menghaturkan sembah dengan khidmat. Menarik napas dalam-dalam. Memulai. Pertama, mengangkat biji asam di lubang sepuluh. Itulah memang permainan awal. Sehingga dengan demikian akan berakhir di lumbung, dan ia bisa memulai lagi sesukanya. Lalu memulai lagi mengangkat biji asam di lubang delapan belas. Yang sekarang berisi sepuluh biji.

Yang pertama masuk lumbung, lalu masuk lubang satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, dan berakhir di lubang sembilan yang kini isinya menjadi sepuluh. Diangkat lagi, dimasukkan lubang sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, satu demi satu, dan kembali berakhir di lumbung. Langkah ketiga tak terlalu sulit. Dari lubang delapan belas, tinggal memasukkan ke lumbung. Kini berarti lumbungnya sudah berisi empat. Baru empat, dari paling tidak harus bisa mencapai 41 biji.

Kiai Sangga Langit berdehem kecil. Langkah kelima memang mulai mengandung komplikasi. Kalau tadi bisa dengan mudah dihitung, ia harus sangat cermat. Keliru satu biji saja, bisa-bisa hancur berantakan.

Nyai Demang menahan napas. Ia mengenal permainan lakon ini dengan baik. Kalau Upasara mulai dari lubang sepuluh, seperti permulaan tadi memang secara berhitung kasar bisa begitu, sebelum langkah kesembilan belas ia harus mati. Ini berarti lumbungnya baru terisi sepuluh. Tambah yang ada di depannya, karena ditembak, isinya belum mencapai 25.

Ternyata Upasara mulai dari lubang kesebelas sebagai langkah kelima. Lubang kesebelas isinya sebelas, berakhir di lubang tiga yang isinya menjadi sebelas juga, dan berakhir di lubang ketiga belas yang isinya tiga belas, dan ini akan berakhir di lubang ketujuh yang isinya dua belas. Dari sini berakhir di lumbung lagi. Selamat! Berarti kini Upasara menyimpan enam biji di lumbung!

Sampai di sini, Nyai Demang masih bisa memainkan. Karena perkembangan biji asam di setiap lubang masih bisa diperhitungkan. Akan tetapi mulai langkah kesembilan, variasi makin banyak. Kini hampir semua isi dalam lubang sudah tak ada yang sembilan biji lagi! Perubahan ini tak boleh dihitung lebih dulu. Hanya berdasarkan ingatan saja.

Nyai Demang dikenal sangat cerdas dalam menganalisa dan belajar soal seperti ini. Dan ia membanggakan dirinya, karena ia bisa berbicara dengan Kiai Sangga Langit. Banyak kesalahan dalam menangkap arti bisa terjadi, akan tetapi secara keseluruhan ia bisa mengetahui artinya!

Tapi untuk memulai langkah kesembilan dari lubang mana, bukan hal mudah. Kalau Upasara mulai dari lubang sebelas, dalam tiga langkah berikutnya ia akan mati. Tapi bukan Upasara kalau ia memilih lubang sebelas untuk dimainkan. Dalam banyak hal yang berhubungan dengan angka serta cara hitung-menghitung, Upasara seperti menemukan hafalan lama. Selama dua puluh tahun ia dikurung untuk hal-hal seperti ini. Menghafal, berhitung luar kepala, mempraktekkan. Sehingga dibandingkan orang lain, Upasara sudah belajar mengenai hal ini selama dua puluh tahun. Dan tak pernah tersentuh oleh kegiatan lain.

Upasara mulai langkah kesembilan dari lubang tujuh belas. Dan di langkah kesembilan belas, ia masuk lumbung lagi. Langkah dua puluh tinggal menaikkan dari lubang tujuh belas. Di langkah kedua puluh, Upasara telah mengumpulkan dua belas biji. Langkah ke-21, Upasara mulai lubang enam belas. Pikirannya sederhana, karena dari lubang enam belas berisi dua puluh biji, dan dengan demikian akan menutup seluruh putaran, dan ia tak akan mati langkah. Demikianlah dengan kecerdikan dan perhitungan matang, Upasara terus memainkan biji asam. Kiai Sangga Langit berdecak pelan, mengawasi dengan cermat.

Sampai dengan langkah ke-34, Upasara sudah memasukkan ke dalam lumbung sebanyak 22. Bagi Nyai Demang itu sudah suatu prestasi yang hebat. Tapi untuk angka yang ditentukan Kiai Sangga Langit, itu masih separuh. Sampai di sini Kiai Sangga Langit berjalan mendekat. Siapa pun tahu bahwa kini langkah yang paling menentukan.

Upasara mendongak ke arah langit. Bibirnya berkumat-kamit menghafalkan angka di dalam lubang. "Lubang kesepuluh berisi 25, lubang kesebelas berisi enam, lubang kedua belas berisi dua belas, lubang ketiga belas berisi lima belas, lubang keempat belas berisi enam, lubang kelima belas berisi lima, lubang keenam belas berisi empat, lubang ketujuh belas tidak ada isinya alias kosong, lubang kedelapan belas berisi enam.

"Aha, dari mana aku harus mulai? Di depan lubang kesatu berisi tiga, lubang kedua berisi delapan, lubang ketiga berisi sembilan, lubang keempat berisi satu, lubang kelima berisi tiga, lubang keenam berisi 25, lubang ketujuh berisi sepuluh, lubang kedelapan berisi dua, lubang kesembilan tidak ada isinya alias kosong. Yang menjadi petaka yang mematikan bukan hanya lubang kesembilan dan lubang ketujuh belas. Tapi adalah perubahannya. Mulai dengan lubang kelima belas, keenam belas, ketujuh belas sama dengan bunuh diri dalam langkah pertama. Mulai dari lubang kedelapan belas, menguntungkan karena panjang. Akan tetapi itu berakhir di lubang keenam dan mengambil isinya sebanyak 25. Akan tetapi berarti itu dibagi rata. Susah untuk nembaknya. Langkah lainnya penuh risiko. Susah sekali."

Upasara merenggangkan tangannya. Menggeliat. Lalu memandang ke atas lagi. "Ini kesempatan saya mengambil yang terakhir. Entah bisa panjang atau tidak. Tak mungkin bisa berakhir di lumbung lagi. Tak apa. Kalau bisa nembak yang terbesar, itu sudah cukup."

Upasara menggerakkan lubang kesepuluh yang berisi 25 biji. Langkahnya berakhir di langkah ke-41, akan tetapi ia berhasil menyikat biji di depan lubang ketiga belas. Berhasil menyikat lubang di depannya. Isinya paling banyak, yaitu 28 biji. Dengan lumbungnya yang sudah berisi 26, semuanya berjumlah 54 biji! Upasara meloncat ke atas, dan tertawa bergelak.

Nyai Demang berusaha menghitung, akan tetapi Upasara mendiktekan jumlah yang ada.

"Katakan kepada Kiai Sangga Langit. Kalau ia ingin meneruskan permainan, jumlah akhir nanti tak akan pernah bisa dimenangkannya. Kalau tidak percaya, silakan jajal."

Nyai Demang jadi ragu. Kiai Sangga Langit memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya. Tubuhnya tetap tegak. Lalu mengganti dengan menyembah.

"Anak muda, sungguh luar biasa. Imam Tat Mo akan sangat bahagia di nirwana sana. Tak sangka, hari ini ada yang bisa memecahkan permainan yang usianya ratusan tahun dengan sekali gebrak. Luar biasa, luar biasa. Selamat, selamat...," Nyai Demang menerjemahkan per kata. "Kini kau sudah menang mutlak. Nah, katakan apa permintaanmu."

Upasara menggeleng. "Jangan terlalu memuji. Sebenarnya saya yang rendah ini kebetulan bisa menghitung di luar kepala. Itu saja. Mengenai permintaan saya, sampai saat ini saya belum mempunyai permintaan apa-apa. Lupakan saja. Sembah hormat kembali untuk Kiai Sangga Langit."

"Karena anak muda tak meminta apa-apa, apakah Kiai Sangga Langit boleh meminta sesuatu?"

"Asal saya bisa memenuhi, akan saya lakukan."

"Kiai Sangga Langit hanya minta anak dusun menyebutkan asal-usul, nama perguruan, agar di belakang hari bisa mengundang."

Upasara menghela napas. Berat. Kegirangan yang melonjak tinggi ketika merampungkan permainan tadi jadi sirna. "Saya telah mengatakan sesungguhnya. Saya biasa dipanggil Upa. Nama perguruan saya tidak perlu disebutkan karena sudah lama bubar sudah sejak lama. Mengenai asal-usul, saya sendiri tidak tahu. Saya menyebut Bapak Toikromo, karena beliau pernah menolong saya."

"Istri, saudara..."

"Istri saya belum berani memiliki, karena saya masih luntang-lantung seperti ini. Saudara... saya tak pernah tahu. O, tidak, saya mempunyai saudara angkat. Ia seorang senopati dari Gelang-Gelang. Kami baru saja saling mengangkat saudara. Agak susah saya menyebutkan, karena kami saling berjanji untuk tidak membuka kepada orang lain. Kiai Sangga Langit, masih adakah yang Kiai minta?"

Selesai Nyai Demang menerjemahkan, sekali lagi Kiai Sangga Langit memberi hormat dengan dua cara. Ketika itu Bagus Respati mulai membuka matanya. Bersamaan dengan Galih Kaliki. Keduanya berdiri dan melihat Kiai Sangga Langit sedang memberi hormat kepada Upasara. Upasara membalas dengan menundukkan badannya.

"Kiai Sangga Langit mempunyai beberapa hadiah, kalau kau mau menerimanya. Sebuah kitab mengenai ajaran Budha yang bisa digunakan untuk mempertajam keluhuran budi, apakah kau mau menerima?"

"Terima kasih, Nyai Demang, apa gunanya kitab itu kalau saya tidak bisa membaca?"

"Aku akan membacakan untukmu." Kembali sinar mata yang genit mencubit perasaan Upasara.

"Kalau begitu biarlah Nyai Demang yang menerima. Dan mempelajari. Saya masih ada urusan di dusun, mohon pamit."

Upasara berbalik ke arah Galih Kaliki.

"Paman Galih, maafkan semua kelancangan saya. Saya mohon pamit. Jangan lupa mengundang saya ke perkawinan nanti."

Galih Kaliki tertawa bergelak. "Kau masih muda, gagah, dan sedikit congkak. Aku, Galih Kaliki, suka padamu. Selamat, anak muda."

Upasara berbalik ke arah Bagus Respati. "Kakang Raden Mas..."

"Terima kasih, Upa... Tak akan pernah kulupakan kebaikanmu. Datanglah ke dalem kepatihan."

Upasara menghaturkan sembah. Lalu perlahan berjalan turun dari panggung.

Nyai Demang meloncat maju. "Apakah kamu juga akan berlalu kalau saya mengharap tinggal barang sebentar?"

Upasara menunduk. Tak berani menatap mata Nyai Demang.

"Buku silat yang dihadiahkan Kiai Sangga Langit adalah buku pilihan. Juga di negerinya sendiri. Sungguh kurang enak kalau kamu menolak begitu saja."

Upasara mengangguk.

"Kita mengadakan makan malam bersama, dan setelah itu kamu bisa pergi ke mana saja. Menjumpai kekasihmu...."

"Saya akan tinggal sebentar, Mbakyu...."

Malam itu juga diadakan perjamuan sederhana. Bagus Respati hanya menikmati sebentar, lalu berpamitan untuk pergi keesokan harinya. Ia akan segera berangkat bersama Dyah Muning dan mempersiapkan upacara.

Galih Kaliki menepuk-nepuk pundak Upasara. "Pergilah bersama Nyai Demang. Ia akan membacakan isi kitab itu padamu."

Upasara merasa kikuk.

"Di dunia ini semua lelaki pasti tertarik kepada Nyai Demang. Baik diam-diam atau terang-terangan. Akulah yang paling tergila-gila. Aku menyadari ini ketololan yang luar biasa. Tapi aku suka terseret arus perasaan seperti ini. Indah sekali. Anak muda, kamu beruntung malam ini."

"Paman Galih, karena Paman menganggap saya sebagai keluarga sendiri, kenapa kita tidak bersama-sama mendengarkan apa yang dikatakan Nyai Demang?"

Dalam suatu tenda, malam itu Kiai Sangga Langit menjelaskan beberapa bagian yang diterjemahkan oleh Nyai Demang. Upasara berusaha mendengarkan dengan segenap perhatian. Hanya saja beberapa kali perhatian tertuju pada gerak bibir Nyai Demang. Benar juga kalau semua lelaki tertarik kepada Nyai Demang. Cukup beralasan kalau Galih Kaliki, meskipun sudah menyadari ketololannya, masih tetap tergoda. Nyai Demang memang mempunyai daya tarik, dan bisa memanfaatkan kelebihan ini.

"Buku ini mengandung ajaran cara melatih pernapasan. Intinya lebih berguna untuk menjaga agar badan tetap sehat, panjang umur, dan memperoleh kebahagiaan. Kiai Sangga Langit mendapatkan dari orang-orang Cina. Agak bertentangan dengan ilmu Mongol yang mengandalkan kekerasan. Namun cara melatih pernapasan ini ternyata mempunyai manfaat besar. Terbukti dari jago-jago di daratan Cina yang makin tua justru makin perkasa."

Setelah larut, Upasara meminta diri. Sekaligus pamitan besok pagi akan menemui ayahnya, Pak Toikromo. Ia kembali ke tenda. Bagi Upasara yang penting bisa istirahat dan besok pagi melanjutkan perjalanan. Maka setelah bersemadi, Upasara mulai berbaring.

Galih Kaliki yang berada di sampingnya sudah langsung mendengkur. Mungkin karena capek, mungkin karena tadi minum tuak secara berlebihan.

Baru memejamkan mata sekejap, Upasara mendengar satu gerakan. Desir angin yang lain. Sebagai seorang yang terlatih, Upasara melihat ada sesuatu yang tidak beres. Gerakan mengentengkan tubuh dengan perlahan, mencurigakan di larut seperti ini. Apalagi bukan gerakan satu orang. Upasara bangkit. Lalu berjalan perlahan keluar dari tenda. Sesaat masih melihat dua bayangan berkejaran. Cepat sekali Upasara meloncat ke arah dua bayangan. Belum lama mengejar, dua bayangan itu sudah terlibat dalam pertempuran. Upasara tahu bahwa bayangan yang dikejar adalah Nyai Demang.

"Kalau berani kurang ajar padaku, ayo kita jajal di sini."

"Perempuan murahan, untuk apa kamu menolakku? Jangan paksa aku melakukan itu dengan kekasaran. Kita nikmati malam yang indah ini."

Suara yang satunya seperti dikenal oleh Upasara. Hanya saja tidak begitu jelas, karena memakai kain yang dikerudungkan menutup seluruh tubuh.

"Majulah kalau kamu memang ksatria."

"Aku juga laki-laki yang bisa menaklukkanmu. Malam ini. Dan aku ingin menjadi orang senewen seperti Galih Kaliki. Ayo, Nyai Demang, kita bermain-main sebentar."

Bayangan berkerudung itu langsung menyerang Nyai Demang. Nyai Demang menghindar. Dalam beberapa saat keduanya sudah terlibat dalam pertempuran. Meskipun Nyai Demang termasuk unggul, namun masih setingkat di bawah penyerangnya. Kelebihan Nyai Demang ternyata lebih bersifat teori. Gerak pukulannya tepat, bagus, dan mengena. Akan tetapi tenaga pendukungnya tidak cukup membantu. Sehingga dengan mudah ditangkis. Melewati sepuluh jurus, Nyai Demang sudah di bawah angin. Lima jurus berikutnya, kaki Nyai Demang kena serampang, dan tubuhnya terbanting. Dengan satu tangan menotok ke arah pinggang, penyerang berkerudung itu berhasil memeluk Nyai Demang.

"Apa lagi?"

Nyai Demang menggigit bibirnya. Kakinya yang lepas berusaha menendang dari belakang. Sekali lagi, dengan mudah bisa disampok. Dan ketika pegangan dilepaskan, tubuh Nyai Demang terbanting ke tanah.

Upasara tidak merasa perlu turut campur, sebenarnya. Akan tetapi merasa kurang enak melihat Nyai Demang diperlakukan dengan kasar. Maka Upasara melompat ke tengah.

Bayangan berkerudung melihat Upasara.

"Oh, kamu, Upasara."

Upasara melengak. Baru ia sadar siapa yang dihadapi. "Kang Bagus Respati... maaf, mengganggu masalah pribadi... saya kira..." Upasara segera berbalik membuang wajah.

"Haha... di dunia ini masih ada lelaki sejujur kamu. Betul-betul luar biasa...."

Tanpa menoleh kiri-kanan Upasara terus kembali ke tenda. Melihat Galih Kaliki masih tidur mendengkur. Ah, apakah pikirannya akan berubah jika melihat apa yang dilakukan Nyai Demang? Entahlah. Upasara tidak mau berpikir lebih jauh. Hanya ia merasa bersalah mencampuri urusan Nyai Demang dengan Bagus Respati. Mereka berdua ternyata memang lagi "bermain-main".

Tokoh macam apakah Nyai Demang itu? Tak bisa masuk di benak Upasara. Hanya saja sejak melihat kejadian itu, Upasara tidak begitu tertarik lagi dengan Nyai Demang. Hanya saja Upasara juga tidak mengerti bagaimana sikap Bagus Respati sebenarnya. Setelah memperoleh putri Cina dalam sayembara, kenapa masih mengejar Nyai Demang?

Upasara melanjutkan perjalanan, dengan beberapa pikiran yang masih mengganggu. Akan tetapi ia tidak memedulikan. Pikiran itu terbuang dengan sendirinya. Karena memang sejak masih bayi tak pernah terlibat dengan keusilan. Harapannya cuma satu: menyampaikan berita ke Keraton!

Selewat fajar, Upasara sampai di Keraton. Ia merasa bingung karena tak tahu harus menghubungi siapa. Ngabehi Pandu tak ada di tempat. Senamata Karmuka juga tak bisa dihubungi. Maka ketika ia mengatakan akan sowan kepada Baginda Raja, prajurit penjaga hanya melengak saja.

"Kami mengetahui dirimu, anak muda. Kamu dari Ksatria Pingitan. Kamu membawa tanda untuk masuk ke Keraton. Akan tetapi untuk bisa melihat bayangan Baginda Raja, apakah kamu mempunyai alasan untuk itu?"

"Dengan paksa atau baik-baik saya akan sowan kepada Kanjeng Sinuwun."

Mendengar jawaban itu para prajurit bersiap dan mengurungnya. Upasara mendongak. "Kalau kalian memaksa terus, akan terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan." Upasara bertindak maju. Dengan membawa cincin Keraton, Upasara bisa terus melangkah maju ke dalam.

Para prajurit tak ada yang berani menyerang. Hanya sekadar berjaga. Sampai di balairung, tempat menghadap, Upasara duduk bersila. Upasara tetap tidak bergeser. Ia terus bersila di balairung, tertunduk, sama sekali tak beringsut. Dari pagi hingga tengah hari sampai menjelang petang. Beberapa pengawal utama tak berani menegur atau mengusik, hanya mengawasi dari kejauhan.

Ketika penerangan Keraton dinyalakan, dan bayangan tubuh Upasara bergerak-gerak, ketika itulah terdengar langkah kaki memasuki balairung. Beberapa pengawal berjalan membentuk barisan di sebelah kiri dan kanan. Bersila di bawah. Beberapa saat kemudian sebuah langkah ringan menuju ke tengah. Semua yang hadir menghaturkan sembah. Upasara tetap menunduk.

"Anak muda yang keras kepala, apakah kau Ksatria Pingitan?"

Barulah tangan Upasara bergerak, menghaturkan sembah yang khidmat. Sorot matanya tetap menunduk. Akan tetapi sempat menangkap sosok tubuh yang gagah perkasa, yang dadanya telanjang dan berbulu. Dengan kalung panjang berbentuk segi tiga. Melingkari leher secara terbuka, dan bertemu sedikit di atas pusar. Kain yang dikenakan sangat bagus, dan ujung keris menonjol dari belakang. Ditopang dengan sepasang kaki yang bersih kukuh, ditumbuhi bulu-bulu keriting. Rambutnya digelung di atas kepala, memberi kesan sangat gagah.

"Nun inggih... saya yang rendah bernama Upasara Wulung," suaranya penuh rasa hormat, "...saya menghaturkan sembah bekti, Mahapatih yang mulia."

Mahisa Anengah Panji Angragani seperti berdecak bibirnya. "Apa maksudmu memaksa diri bersila di sini?"

"Saya mohon izin Mahapatih yang mulia untuk sowan kepada Baginda Raja. Hanya dengan perkenan Mahapatih yang mulia, saya yang rendah bisa sowan di hadapan Baginda Raja, penguasa tunggal Keraton."

Kembali terdengar decakan suara di bibir. "Sudah lama kudengar makin banyak pemuda yang berbuat kurang ajar dan ugal-ugalan. Hari ini aku menemukan sendiri. Upasara, apakah karena kau merasa bekas Ksatria Pingitan, sehingga bisa begitu mudah meminta izin untuk sowan Baginda Raja? Ksatria Pingitan sudah lama dibubarkan, karena hanya memboroskan keuangan Keraton. Sudah tidak ada artinya lagi. Pun andai masih ada, kau tak bisa leluasa mengajukan usul seperti itu. Apakah ada sesuatu yang luar biasa sehingga merasa perlu sowan Baginda Raja?"

"Maafkan hamba, Mahapatih yang mulia. Maafkan kelancangan hamba, dan ketidaktahuan akan tata krama ini. Keberanian dan keinginan hamba hanya didasari bahwa ada sesuatu yang harus hamba sowan-kan kepada Baginda Raja. Maafkan, Mahapatih yang mulia."

"Sesuatu itu apa? Aku akan mempertimbangkan."

Upasara menghaturkan sembah.

"Katakan."

Upasara menunduk. Pundaknya merunduk menuju satu titik di tanah. Ludahnya seperti tak bisa ditelan. Apakah ia harus memberi laporan kepada Mahapatih Panji Angragani mengenai kejadian di Perguruan Awan? Menurut pesan Jagaddhita, ia harus menyampaikan langsung kepada Baginda Raja. Akan tetapi, untuk bisa sowan, ia tak bisa menghindar dari Mahapatih. Apakah ia harus memperlihatkan dua buah gigi emas Jagaddhita? Apakah ini cukup berarti bagi Mahapatih? Tetapi jika ia tidak mengatakan... Terlambat. Mahapatih sudah berdecak lebih keras.

"Upasara. Sungguh lancang! Bagaimana mungkin kau tidak menghormati dengan berdiam diri seperti itu? Bahkan Baginda Raja mempercayaiku untuk menjadi mahapatih. Untuk menjadi bahu kanan Baginda Raja. Apa yang kau sembunyikan dariku, pasti akan kuketahui. Akan kulihat apakah kau masih berusaha duduk di situ, atau menunggu aku memerintahkan untuk menendangmu."

"Ampun, Mahapatih yang mulia. Sama sekali tak terpikir oleh hamba yang rendah ini untuk tak menghormati Paduka. Mahapatih yang mulia adalah sesembahan kawula, Mahapatih yang mulia adalah bahu kanan Baginda Raja yang terpercaya, akan tetapi saya ingin menyampaikan secara pribadi."

Terdengar decak kecil. "Aku tak punya waktu banyak, Upasara. Kalau kau mau mengatakan, sekarang saatnya. Para pengawal ini adalah pengawal Keraton yang tak perlu diragukan lagi kesetiaannya."

"Maaf, Mahapatih. Masalah ini ada sangkut-pautnya dengan peristiwa di Perguruan Awan."

"Hmmmmm."

"Juga mengenai rombongan Raja Muda Gelang-Gelang, serta pasukan yang dipimpin langsung oleh Maharesi Ugrawe. Mohon Mahapatih yang mulia menyampaikan kepada Baginda Raja."

Terdengar tawa menggeledek.

Para pengawal sempat kaget.

Darah Upasara berdesir sangat cepat.

"Dewa Batara... kukira tentang gempa yang dahsyat atau matahari berbalik arahnya. Tak tahunya tentang urusan begitu sepele. Kalau urusan membunuh nyamuk saja harus di-sowan-kan kepada Baginda Raja, kapan Baginda Raja ada waktu untuk memuja Penguasa Tunggal di jagat ini? Ketahuilah, Ksatria Pingitan. Baginda Raja saat-saat ini sedang bersemadi. Tak bisa diganggu gugat, tak bisa di-sowan-i siapa saja. Dan mengenai kekuatiranmu, Baginda Raja sudah mengetahui jauh lebih dulu. Kuhargai sepenuhnya keberanianmu, tetapi itu tak ada gunanya. Nah, sekarang kembalilah. Mulai sekarang jangan menyebut-nyebut sebagai Ksatria Pingitan lagi, karena sebutan itu sudah dibubarkan. Kembalilah ke desamu, jadilah petani yang baik. Aku telah bermurah hati menemuimu."

Mahapatih mengibaskan tangannya.

"Ampunilah saya yang cubluk, bodoh, ini. Peristiwa di Perguruan Awan sangat memilukan. Saya yang rendah ini berada di sana...."

"Aku adalah mahapatih. Aku menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Aku telah mengetahui dari telik sandi, dari pasukan rahasia, bahwa beberapa pendekar akan mengadakan pertemuan untuk memberontak kepada Keraton. Itu sebabnya Baginda Raja menugaskan Raja Muda Gelang-Gelang untuk menumpas sampai habis. Sampai rata dengan tanah. Aku sendiri yang memerintahkan Senopati Suro, Joyo, Lebur, Pangastuti untuk memimpin pasukan Keraton. Di samping beberapa prajurit pilihan yang lain. Kau berada di sana dengan siapa?"

"Saya diajak Ngabehi Pandu dan Pamanda Wilanda...."

"Hmmmmm, sok tahu."

"Beberapa dari prajurit Keraton ditawan oleh Maharesi Ugrawe. Ngabehi Pandu masih belum ditemukan, demikian juga Senamata Karmuka...."

Kembali terdengar tawa menggeledek. "Lancang sekali omonganmu. Anak lancang. Ajaib sekali. Apa yang diajarkan Ngabehi lancang itu sehingga Ksatria Pingitan begitu kurang ajar dan ngawur? Bagaimana mungkin kaukatakan kalau Senamata Karmuka itu hilang? Selama ini Senamata Karmuka tak pernah meninggalkan Keraton! Omongan edan apa ini?"

"Seribu ampun, Mahapatih yang mulia, saya melihat sendiri...."

"Cukup! Aku tak pernah bicara ngawur. Semua prajurit di Keraton bisa menilai. Bisa mengatakan apakah aku berdusta. Selama ini Senamata Karmuka berada di Keraton. Ia tak ikut ke Perguruan Awan. Aku tidak memerintahkan ke sana. Juga ia hadir dalam pasowanan agung di Keraton. Seluruh pejabat di Keraton melihatnya. Bagaimana mungkin kau edan-edanan seperti itu?

"Bocah kecil, aku tak menyangka kalau kau berani berdusta di depanku. Ketika dalam Sayembara Mantu aku mendengar namamu disebut putraku, aku menyangka kau adalah ksatria yang hebat. Mewarisi keberanian Keraton. Tak tahunya cuma tukang dusta. Tidak adil jika aku tidak menghukummu, walau kau telah menyelamatkan putraku. Prajurit, tangkap dia."

Tiga prajurit memberi hormat, dan langsung menelikung Upasara.

Upasara mendongak. "Saya hanya menyampaikan pesan ini. Kalau saya sengaja berdusta, saya pastilah melakukan suatu kebodohan yang tiada taranya. Saya hanya memberi laporan seperti yang saya lihat. Sebelum Mahapatih menjatuhkan hukuman, perkenankanlah saya memohon sesuatu."

Terdengar decak lidah.

"Di dalam lipatan kain, ada dua buah gigi emas. Bukan senjata rahasia, bukan barang penuh bisa atau ilmu gaib. Saya mohon Mahapatih yang mulia berkenan menghaturkan kepada Baginda Raja."

Seorang prajurit pengawal membuka lipatan kain dan memperlihatkan dua buah gigi emas.

"Untuk apa kau katakan itu?"

"Ini permintaan Bibi Jagaddhita, bekas penari Keraton. Saya berjanji untuk menyampaikan, apa pun yang terjadi. Kalau besok saya tak sempat melihat matahari lagi, saya tidak mengecewakan arwah Bibi Jagaddhita. Untuk kemuliaan Mahapatih menghaturkan dua buah gigi emas ini, saya menghaturkan nyawa saya yang tak berharga ini."

"Masih ada juga jiwa ksatriamu. Memuliakan tugas. Memegang janji. Itulah sifat ksatria sejati. Itulah ciri utama ksatria Keraton Singasari yang besar. Kepandaianmu tidak rendah. Sayang kau banyak bermimpi. Prajurit, penjarakan dia."

Upasara diseret.

"Satu hal lagi, Mahapatih... yang mulia, Raja Muda Gelang-Gelang tidak memadamkan pemberontakan, malah sebaliknya. Maharesi Ugrawe mempunyai dua rencana lain untuk merebut takhta...."

Tapi tubuhnya telah terseret jauh. Dan Mahapatih telah meninggalkan balairung. Tubuh Upasara seluruhnya diikat. Kaki dan tangan, serta badannya diikat erat pada sebuah tonggak, di ruang bawah tanah. Dulu Upasara mengetahui ruangan itu digunakan untuk menawan para penjahat yang berbahaya. Hanya para penjahat yang bakal dihukum mati di tempat itu. Cara pelaksanaan hukuman mati juga tak jauh berbeda. Dibakar hidup-hidup atau diberikan kepada seekor harimau yang menjadi klangenan, atau kesayangan, Baginda Raja.

Untuk itu semua hanya diperlukan waktu lima hari. Jika dalam waktu lima hari Mahapatih tidak berkenan membicarakan masalahnya, dengan sendirinya ia harus menjadi makanan seekor harimau! Dalam keadaan biasa, Upasara bisa melawan dan mempertahankan diri. Akan tetapi dalam keadaan terikat erat, seekor nyamuk yang hinggap di pipi pun tak bisa diusir. Apalagi selama lima hari itu, ia tak dibiarkan meneguk setetes air atau sesuap nasi, atau juga satu kalimat. Para prajurit penjaga tak diperkenankan berkata. Ini semua untuk menghindarkan dari rencana para tersangka mempengaruhi atau mencoba melarikan diri.

Upasara Wulung mengetahui hal ini. Siapa sangka sekarang ini dirinya yang menjadi penghuni penjara? Siapa sangka ia begitu susah melarikan diri akan tetapi malah ditertawakan? Siapa sangka kalau pengorbanan Jagaddhita tak berarti apa-apa?

Upasara termasuk cerdas. Jalan pikirannya cemerlang untuk menangkap suatu masalah yang tak diperhitungkan. Namun kali ini benar-benar mati kutu. Tak bisa memperkirakan kejadian apa yang sebenarnya berlangsung. Baik di Keraton, di Perguruan Awan, atau juga di tempat lain. Rasanya serba tak menentu dan tak jelas ujung-pangkalnya. Yang disangka terang-benderang di siang hari, ternyata gelap-pekat tak bisa dimengerti.

Upasara mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, sejak awal Sejak ia diperam selama dua puluh tahun sebagai Ksatria Pingitan. Suatu usaha untuk melahirkan para prajurit dan bangsawan teladan. Usaha ini agaknya menimbulkan pro dan kontra, sehingga resminya dibubarkan. Beberapa ksatria kembali kepada orangtuanya masing-masing, seperti juga Bagus Respati. Karena dirinya tak mengetahui harus kembali ke siapa, Upasara Wulung terus bersama Ngabehi Pandu. Sampai suatu ketika diajak serta ke Perguruan Awan.

Bertemu dengan para pendekar kelas satu. Terjadi perselisihan paham mengenai Eyang Sepuh serta Tamu dari Seberang. Sampai kemudian munculnya Maharesi Ugrawe dengan prajurit Gelang-Gelang. Dan terjadi petempuran habis-habisan. Upasara melihat sendiri hadirnya Senamata Karmuka. Bahkan bercakap-cakap secara langsung. Tapi baru saja Mahapatih mengatakan bahwa Senamata Karmuka tak pernah menginjakkan kaki ke luar Keraton. Ini aneh.

Lalu siapa yang diketahui? Jelas bukan orang lain. Tapi kalau begitu siapa yang di Keraton? Jelas juga bukan orang lain. Kalau iya, pasti Mahapatih mengenali. Jadi siapa sebenarnya Senamata Karmuka? Ataukah Senamata Karmuka mempunyai ilmu yang bisa hadir di dua tempat yang berbeda secara serentak? Upasara pernah mendengar ilmu semacam itu, namun belum pernah melihat secara langsung.

Yang juga aneh: Pasukan Gelang-Gelang yang secara langsung dipimpin oleh Raja Muda Jayakatwang. Benarkah pasukan ini mau memadamkan pemberontakan? Kalau tidak, memang agak mustahil bisa bergerak begitu leluasa. Akan tetapi bila mau memadamkan pemberontakan, kenapa Maharesi Ugrawe mencoba menyapu bersih semua yang hadir di situ?

Taruhlah ada dendam pribadi antara Maharesi Ugrawe dan Senamata Karmuka atau Ngabehi Pandu, tak nanti mereka akan bertindak sembrono. Dan lagi secara jelas Ugrawe melontarkan kecamannya tentang Baginda Raja yang dikatakan sebagai turunan perampok, maka harus digulingkan dari takhtanya. Sangat gamblang bahwa Raja Muda Gelang-Gelang akan memberontak. Tetapi mengapa justru kenyataan malah berbalik? Kenapa malah disangka Raja Muda Gelang-Gelang yang menumpas pemberontakan para pendekar?

Strategi Ugrawe dengan melenyapkan jalan utama dan menggantikan dengan jalan palsu di Banyu Urip, jelas untuk memutuskan hubungan Perguruan Awan dengan Keraton. Bahwa prajurit Gelang-Gelang menghimpun banyak senjata secara rahasia, ini juga persiapan yang tidak ingin diketahui pihak Keraton. Bagaimana mungkin yang begini ini malah dikatakan membantu Keraton?

Kalau ini semua merupakan bagian dari rencana Ugrawe, ia benar-benar luar biasa. Kepada pihak Keraton ia menyusun laporan seakan para pendekar mau memberontak, sehingga ia mendapat restu untuk menyikat habis. Padahal maksudnya melenyapkan mereka agar kelak di kemudian hari tidak membantu pihak Keraton. Karena, meskipun hidup bebas, para pendekar sangat hormat dan bekti kepada Baginda Raja serta kepada Keraton. Lalu kepada para pendekar, Ugrawe melemparkan isu bahwa Tamu dari Seberang akan muncul. Para pendekar bisa dipancing karena Ugrawe dengan cerdiknya melemparkan berita akan datangnya Tamu dari Seberang.

Semua berjalan sempurna. Karena pihak Keraton sendiri agaknya sama sekali tidak mencurigai. Utusan yang dipimpin oleh Senopati Suro lebih berfungsi sebagai saksi belaka. Sehingga kalaupun rombongan ini bisa disikat habis, tak bakal ada gunjingan. Hanya saja masih ada yang tidak diduga oleh Ugrawe. Ngabehi Pandu serta Senamata Karmuka ikut hadir. Entah intrik apa yang sedang berkecamuk dalam Keraton, sehingga kedua saudara itu muncul di gelanggang, tanpa restu dari Keraton. Kalau kedua tokoh itu sempat meloloskan diri, pastilah akan lain hasil dari rencana busuk Ugrawe.

Ini berarti, masih ada tiga orang yang bisa lolos. Yaitu dirinya sendiri, Ngabehi Pandu, serta Senamata Karmuka. Ngabehi Pandu tidak ketahuan hutan rimbanya. Entah berhasil lolos atau tidak. Sementara Senamata Karmuka, bagi Upasara masih merupakan teka-teki. Tapi kini ia tak bisa berbuat banyak. Malah bisa jadi mati secara menyedihkan. Dibakar hidup-hidup atau jadi santapan harimau!

Kenyataan ini membuat Upasara merasa sangat nelangsa, sangat menderita dan kesal. Rangkaian kejadiannya begitu ganjil, tapi seperti terjalin menjadi satu. Pemunculan Kiai Sangga Langit dengan Sayembara Mantu, ternyata juga mendapat restu dari Mahapatih. Setidaknya Mahapatih membiarkan Kiai Sangga Langit unjuk gigi. Malah secara resmi melibatkan para pembesar Keraton.

Satu-satunya harapan Upasara adalah dua buah gigi geraham Jagaddhita. Ia berharap Mahapatih menyampaikan gigi tersebut kepada Baginda Raja, dan Baginda Raja berkenan untuk mengetahui asal-usulnya. Saat itu ia bisa bercerita panjang-lebar. Kalau Baginda Raja sudah mendengar secara langsung, Upasara akan mati dengan tenang. Ia tidak penasaran lagi. Pun andai Baginda Raja hanya mendengar dan lebih mempercayai apa yang dikatakan Mahapatih!

Soal diikat berdiri dan tak bisa bergerak, bagi Upasara tidak menjadi soal benar. Jangan kata cuma lima hari. Empat puluh hari empat puluh malam secara terus-menerus Upasara sanggup. Berada dalam ruang gelap tanpa melihat seberkas sinar pun, tanpa menyentuh air dan atau makanan tak jadi soal benar. Akan tetapi jika berakhir lain di perut seekor macan, sungguh tidak enak. Sungguh bukan cara mati seorang ksatria. Mudah-mudahan Baginda Raja terbuka sedikit perhatiannya. Itulah harapan yang terakhir.

Jika saja Upasara mengetahui bahwa Mahapatih Panji Angragani sama sekali tidak tertarik soal gigi, ia lebih menderita lagi. Mahapatih yang jijik melihat dua buah gigi segera menyingkirkan begitu saja tanpa peduli.

Setelah kembali ke kepatihan, ia sama sekali tidak mengingat soal gigi. Namun memang tergerak sedikit oleh kehadiran Upasara. Justru karena Upasara memberi laporan yang sangat tidak masuk akal: Senamata Karmuka terlibat dalam penyerbuan ke Perguruan Awan.

"Banyak cara berdusta. Kenapa Upasara mengatakan secara tolol bahwa Karmuka datang ke Perguruan Awan? Kalau ia berdusta dengan cara lain, ada beberapa bagian yang bisa dipercaya. Entahlah, apakah di saat yang damai seperti ini akan muncul gelombang dan amukan badai?"

Tak urung malam itu juga Mahapatih memanggil Senamata Karmuka ke dalem kepatihan. Yang segera menghadap, menghaturkan sembah di ruang dalam.

"Karmuka, pasti engkau kaget kupanggil malam hari begini."

"Sebagai prajurit, sebagai bawahan, saya siap menerima hukuman atas setiap kesalahan yang saya lakukan, Mahapatih."

"Hmmmmm. Aku memanggil tidak untuk memberi hukuman atau menaikkan pangkatmu secara mendadak. Tidak juga aku menanyakan tugas pengamanan di Keraton. Untuk yang terakhir ini, aku percaya sepenuhnya kepadamu."

"Beribu terima kasih atas kepercayaan Mahapatih."

"Malam ini kau kupanggil kemari karena aku kangen padamu. Itu yang pertama. Yang kedua, rasanya kita sudah lama tidak berduaan sambil minum teh. Sedangkan hal yang ketiga, tidak penting benar. Aku ingin tahu, apa yang kau ketahui tentang Upasara Wulung."

"Upasara Wulung dulunya Ksatria Pingitan," jawab Senamata Karmuka cepat sekali. "Termasuk anak muda yang merupakan bibit unggul di antara 25 yang dikumpulkan dalam pendidikan Keraton Singasari. Kebetulan saya diserahi memegang pimpinan pengelolaan itu oleh Baginda Raja sesembahan rakyat Jawa."

"Ya, tapi rencana itu bubar, kan?"

"Mahapatih, semua itu karena kesalahan saya yang tidak becus apa-apa."

"Itu susahnya, Karmuka. Baginda Raja berharap akan lahir ksatria yang bisa meneruskan kejayaan Keraton. Tapi nyatanya susah. Putraku sendiri, akhirnya kutarik dan kuserahkan kepada para empu yang lain. Sudahlah, kita lupakan itu. Tapi bagaimana dengan Upasara ini?"

"Bocah itu seterusnya di bawah pengawasan adik saya, Ngabehi Pandu, karena tak mempunyai keluarga lagi. Hatinya baik, kemauannya keras."

"Waras atau tidak?"

"Saya tak berani memastikan. Mahapatih yang bijak lebih tahu hal ini."

"Memang. Memang aku lebih tahu, Karmuka. Dari putraku Bagus Respati aku mendapat laporan bahwa Upasara menyelamatkan jiwanya dalam Sayembara Mantu. Aku hargai itu. Kalau perlu akan kuberi hadiah besar. Hanya saja ia membikin perbuatan onar. Kau sudah dengar bahwa katanya ia bertemu denganmu di Perguruan Awan?"

"Saya belum mendengar, Mahapatih."

"Kau bertemu dengannya?"

"Tidak pernah, Mahapatih."

"Apakah Upasara mempunyai hubungan langsung dengan Baginda Raja? Ia membawa cincin Keraton."

"Saya tidak tahu, Mahapatih."

"Cincin yang dibawanya memang berasal dari Baginda Raja. Cincin pengenal di Keraton. Tidak palsu. Akan tetapi dari mana ia memperolehnya? Kalau kau tidak tahu, berarti ia tidak menerima langsung dari Baginda Raja. Kamu dan adikmu yang secara langsung mengawasi. Karena ia berbuat kurang ajar dan lancang, aku menghukumnya. Sekarang ia berada di gua bawah tanah. Apa pendapatmu, Karmuka?"

"Saya kurang tahu. Mahapatih lebih bijak dari saya."

"Karena aku tidak tahu asal-usulnya secara pasti, dan kau juga tidak, kita tak perlu menyayangkan. Lebih baik kehilangan daripada tidak yakin ia bakal setia kepada Keraton. Bagaimana pendapatmu?"

"Apa yang Mahapatih utarakan sangat tepat sekali."

"Karmuka?"

"Siap menerima titah, Mahapatih."

"Aku berpikir lain. Ia masuk ke Keraton dengan membawa tanda pengenal cincin. Di dalam Keraton ini, bahkan putraku saja tidak memiliki. Pastilah ia mempunyai hubungan dengan orang dalam sini. Dan kehadirannya pasti diketahui. Aku ingin melihat apakah ada yang akan membebaskannya atau tidak. Pada saat itu aku akan menjebaknya. Apakah aku terlalu mengada-ada?"

"Terima kasih atas kepercayaan Mahapatih saya diizinkan mendengarkan rahasia ini."

"Kalau Baginda Raja mempercayaimu, mana mungkin aku berahasia denganmu? Baiklah, Karmuka, kembalilah beristirahat."

Senamata Karmuka memberi hormat, menundukkan kepalanya, dan berlalu. Seorang prajurit mengawal keluar dari ruangan dalam.

Sejenak Mahapatih termenung di kursinya. Lalu menghela napas. Sebelum tarikan napas dikeluarkan, dari balik senthong, atau kamar di belakang ranjang tidur, muncul seorang kakek tua. Tangannya memegang biji-bijian yang diuntai dengan rambut.

Mahapatih berdecak.

"Karmuka itu masih kuat. Langkah-langkahnya, cara mengatur napas tetap unggul. Aku tak menyangka tenaga dalamnya masih begitu hebat, Mahisa. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, sama sekali tak ada perubahan. Sungguh luar biasa."

Kakek tua itu menggelengkan kepalanya. "Dilihat dari perhitungan kelahiran, Senamata Karmuka mempunyai ketenangan yang lebih. Ia mampu mengendalikan perasaan, menyimpan apa yang dipikirkan. Sulit ditentukan apakah Karmuka mempunyai hubungan langsung dengan Upasara atau tidak. Kalau dilihat sejarah dan awal berdirinya Ksatria Pingitan, tak mungkin Upasara anak turunan rakyat biasa. Hanya keluarga dekat, kerabat Keraton, yang diperkenankan dipilih. Namun ketika semua dikembalikan kepada masing-masing orang tua, Upasara tetap dilatih olehnya. Padahal kalau masih ada hubungannya dengan Upasara, Karmuka pasti tergetar mendengar rencanamu. Tapi nyatanya, suaranya datar saja. Tak dipengaruhi perasaan. Kini tinggal melaksanakan rencana kita selanjutnya."

"Itulah yang saya pikirkan, Paman Waisesa Sagara. Paman adalah penasihat utama saya, yang bisa melihat jarak jauh, yang bisa meramal kejadian yang akan datang. Dengan mengatakan apa yang akan kita lakukan, apakah Karmuka tidak berniat menolong Upasara?"

"Ia akan menolongnya. Pasti,"

Waisesa Sagara menganggukkan kepalanya. Biji-bijian di tangannya bergerak cepat. "Akan tetapi terlambat. Malam ini juga, Upasara harus dilenyapkan. Tak usah menunggu lima hari. Ketika Bagus Respati menceritakan tentang Upasara, aku sudah memperhitungkan. Ketika ia berada di balairung Keraton, aku sudah melihat sendiri. Berdasarkan perhitungan kedatangannya, arah datangnya, bentuk mukanya, potongan tubuhnya: baik telinga, hidung, mulut, rambut, dan terutama sekali matanya, aku memperhitungkan kelak di kemudian hari Upasara Wulung bakal menjadi saingan utama Bagus Respati. Malah kalau dilihat peruntungannya, nilai dasar Upasara Wulung lebih dua buah. Bagus Respati mempunyai nilai peruntungan sebelas, sedang Upasara Wulung tiga belas. Rezekinya tidak sebaik Bagus Respati, akan tetapi perhitungan masa depannya sungguh luar biasa. Kelewat bagus. Soal jodoh agak ruwet."

Mahapatih berdecak. Ia bukannya tidak tahu bagaimana menghitung dan meramalkan nasib seseorang. Akan tetapi selama ini percaya penuh bahwa perhitungan Waisesa Sagara tidak pernah meleset sedikit pun. Sejak ia mengabdi kepada Keraton, Mahapatih selalu mendengarkan nasihat Waisesa Sagara. Salah satu ramalannya yang paling menakjubkan ialah ketika Waisesa Sagara mengatakan bahwa, "Sebuah bulan buta bersinar keemasan jatuh ke pangkuanmu. Dalam waktu lima hari mulai hari ini, kau harus bersiap-siap menerima anugerah besar. Siapkan dirimu sebaik-baiknya. Keramas rambutmu sebersih-bersihnya, cuci badanmu paling bersih, jaga kulit tubuhmu, jangan lupa tersenyum."

Ajaib. Tiga hari kemudian Baginda Raja memanggilnya dan menganugerahi jabatan mahapatih. Sesuatu yang tak pernah berani diimpikannya! Bahkan dalam berdoa pun ia tak berani membayangkan jabatan yang mulia tersebut. Jabatan yang di tangan kanan dan kiri menentukan merah-hijaunya Keraton Singasari.

Akan tetapi siapa berani mengimpikan jabatan itu? Saat itu Mpu Raganata adalah tokoh besar yang tak diragukan lagi. Baik soal kanuragan atau ilmu silat, soal tata pemerintahan, maupun cara mengatur strategi. Bertahun-tahun Mpu Raganata membuktikan cara mengendalikan pemerintahan. Hubungan Mpu Raganata dengan Baginda Raja sangat dekat sekali. Tak pernah beranjak dari sisi Baginda Raja.

Memang saat itu Baginda Raja mengadakan pergeseran besar-besaran. Sejumlah besar para bangsawan ditanggalkan pangkatnya. Kalau tidak diturunkan, juga dibuang ke daerah terpencil. Namun tak pernah terpikir bahwa Baginda Raja bakal menggeser Mpu Raganata. Dari seorang mahapatih yang berkuasa penuh, menjadi semacam penasihat Baginda Raja yang tak mempunyai kekuasaan langsung ke bawah! Waisesa Sagara telah meramalkan hari baiknya. Hari yang kelewat baik!

Sejak itu pula Waisesa Sagara diangkat menjadi penasihat pribadi dalam, hampir, segala hal. Tak pernah ada suatu tindakan yang dilakukan Mahapatih Angragani tanpa persetujuan Waisesa Sagara. Mengenakan motif kain batik, melangkah pertama ke luar rumah, makan, dan menemui seseorang, atau sowan ke Keraton, semuanya berdasarkan saran Waisesa Sagara. Juga ketika Mahapatih Angragani membubarkan Ksatria Pingitan. Saat itu Waisesa Sagara melihat bahwa ada kemungkinan para ksatria yang dipingit kelak di kemudian hari akan menimbulkan malapetaka. Manakala mereka hanya mengenal satu tuan saja: Senamata Karmuka.

"Seekor anjing yang sejak kecil hanya mengenal satu tuan, kelak di kemudian hari bakal menyerang siapa saja atas perintahnya. Bubarkan saja."

"Bagaimana dengan Bagus Respati?"

"Cari guru yang lain. Dengan demikian apa yang diperoleh tidak sama dengan yang diperoleh yang lainnya. Bagus Respati akan memiliki kelebihan."

"Akan tetapi Baginda Raja menghendaki diadakannya Ksatria Pingitan."

"Apa susahnya? Laporkan pada hari Budha nanti, bahwa pengelolaannya mulai tidak terarah. Bahwa hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran kas Keraton. Bahwa sebenarnya ada yang lebih bagus. Yaitu dilatih secara langsung. Dengan demikian, mulai sekarang ini seluruh kekuasaan ada pada dirimu. Senamata Karmuka tidak mempunyai anak buah lagi, selain beberapa prajurit pengawal utama. Itu pun masih di bawah komandomu. Saat ini sebenarnya seluruh kekuasaan sudah berada di dalam genggamanmu. Kamu bisa mulai memperkuat diri. Melanjutkan tradisi Baginda Raja untuk menyingkirkan yang tak menyokong kekuasaanmu. Hanya sedikit ganjalannya. Karmuka, telanjur menjadi Senamata. Dan hubungannya dengan Baginda Raja sangat istimewa, sehingga agak susah digeser. Akan tetapi selama kau bisa terus mengawasi gerak-geriknya, selama kau selalu menyadarkan bahwa kau menjadi atasannya, Karmuka tak akan bisa berbuat banyak."

"Mengenai Mpu Raganata?"

"Praktis beliau tak memegang komando apa-apa. Kalau terjadi sesuatu, beliau tak bisa memerintahkan, tanpa menggunakan tanganmu atau tangan Baginda Raja. Lagi pula kini sudah lanjut usia. Bagi Mpu Raganata, yang selama ini aktif bergerak dalam pemerintahan, hanya menunggu ajal saja kalau tidak lagi menjabat apa-apa. Kau lihat sendiri dalam beberapa kali pasowanan agung, beliau tidak muncul. Tak perlu disingkirkan. Beliau akan tersingkir sendiri. Kalau itu terjadi secara mutlak dan resmi, kaulah yang memegang kendali pemerintahan, atas tanganmu sendiri."

Mahapatih kembali berdecak. "Pamanda Waisesa, bagaimana kalau ternyata Upasara adalah lembu peteng Baginda Raja?"

Lembu peteng adalah istilah untuk menyebut anak tidak resmi, atau anak gelap. Memang lembu peteng sangat banyak jumlahnya. Di antara mereka ini, banyak yang tidak diakui secara resmi, akan tetapi mendapatkan kehormatan dan jabatan, tetapi lebih banyak lagi yang kemudian dilupakan.

"Sangat tidak mungkin. Kalau benar, mana mungkin selama ini Baginda Raja tidak menanyakan? Selama ini nyatanya tak pernah terucapkan atau tertanyakan oleh Baginda Raja. Itulah tadi sebabnya aku menduga Upasara adalah anak gelap Karmuka. Hanya karena caranya bernapas tetap teratur ketika hal itu disinggung aku jadi ragu."

"Akan tetapi dari mana ia memperoleh cincin Keraton?"

"Ia menyebutkan dari Bibi Jagaddhita. Kamu sendiri tahu bahwa dulu banyak sekali selir Baginda Raja. Puluhan atau bahkan ratusan jumlahnya. Salah satu bernama Jagaddhita. Dan kamu mendengar sendiri ceritanya. Taruh kata Jagaddhita dulu mempunyai hubungan yang sangat istimewa dengan Baginda Raja. Akan tetapi itu sudah lama berlalu. Jagaddhita telah lama meninggalkan Keraton. Tak nanti Baginda Raja masih akan mempertanyakan. Mana mungkin Baginda Raja mengingat salah satu selir yang telah pergi di antara puluhan yang lain? Prameswari utama saja bisa-bisa lupa. Hanya yang membuat sedikit ganjalan ialah bahwa beberapa ksatria telah mengenal Upasara. Ia sempat muncul dalam Sayembara Mantu. Sehingga hilangnya bisa menimbulkan pertanyaan."

"Itu tak menjadi soal, Paman Waisesa. Kalau saya mengatakan bahwa Upasara Wulung berbuat kurang ajar, menghina Baginda Raja, siapa yang berani mempersoalkan? Malaikat pun tak akan berani turun dari langit untuk menanyakan hal itu."

"Kau benar. Jadi apa masalahnya?"

"Tetapi tetap menjadi pertanyaan: Apakah Upasara Wulung harus dibunuh?"

"Jawabannya tetap: Perlu dibunuh. Dilihat dari perhitungan hari dan saat ia ditangkap serta tempatnya ditangkap, Upasara bisa meloloskan diri. Dengan mempersingkat waktu penahanan, nasibnya akan lain. Walau menurut perhitungan waktu ditangkap ia bisa lolos, kalau malam ini juga dihabisi, tak akan menjadi soal. Nasib yang ditetapkan oleh langit bisa kita ubah."

Mahapatih menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.

"Satu-dua nyawa, apa artinya? Sekarang ini kau harus yakin bahwa siapa pun yang berdiri di dekatmu bakal membantumu. Kalau ia meragukan sedikit saja, perlu disingkirkan. Ingatlah, jabatan mahapatih bukanlah jabatan sederhana. Dan di Keraton ini terlalu banyak pendapat. Sejak Baginda Raja mengadakan pergeseran, sejak kamu memegang kekuasaan, banyak yang berusaha menggugatmu. Setiap kesempatan akan mereka pergunakan, kamu lebih dulu bertindak. Jangan menunggu sampai mereka siap. Sebenarnya apa yang meragukanmu?"

Mahapatih mengangguk. Menepuk tangannya.

Waisesa Sagara menyelinap ke balik tirai tempat tidur, kembali ke senthong. Arya Bangkong dan Arya Genggong masuk ke dalam dengan laku ndodok. Keduanya bersila dan menghaturkan sembah bersamaan.

"Hamba menunggu titah, Mahapatih...."

"Bangkong, malam ini kau awasi Senamata Karmuka. Kerahkan prajuritmu yang terbaik. Mata-matai, apa pun yang ia lakukan. Kalau ia menemui seseorang, kalau ia melakukan sesuatu, segera laporkan padaku. Juga kalau ia berada dalam kamar, laporkan dengan siapa ia menghabiskan malam. Saat apa pun, kau melaporkan padaku. Semua kekuasaan untuk mengambil tindakan, kuserahkan sepenuhnya padamu."

"Hamba laksanakan perintah, Mahapatih."

"Genggong, malam purnama nanti, kau ambil tawanan di penjara bawah tanah. Tak perlu dilepaskan dari ikatan. Bawa ke kandang Sardula. Adakan persembahan malam ini juga. Semua kekuasaan dan wewenang ada padamu jika ada yang menghalangi. Kalau sampai gagal, kepalamu menjadi ganti."

"Hamba laksanakan perintah, Mahapatih."

"Jangan menunda waktu, berangkatlah sekarang ini."

Arya Bangkong dan Arya Genggong menghaturkan sembah secara bersamaan. Bersamaan dengan kibasan tangan Mahapatih, keduanya berjalan setengah merangkak ke luar setelah menghaturkan sembah. Di luar, sekali lagi menghaturkan sembah, baru berdiri. Keduanya berpandangan.

"Kakang Bangkong..."

"Adik Genggong, kita laksanakan perintah. Tak ada waktu buat berbicara."

"Silakan, Kakang."

"Silakan, Adik."

Di regol, pintu depan, keduanya berpisah. Arya Bangkong segera memilih lima prajurit utama untuk memata-matai rumah Senamata Karmuka. Mereka dengan segera menuju rumah Senamata Karmuka, dan memerintahkan penjaga utama untuk beristirahat. Arya Bangkong sendiri yang menggantikan berjaga. Sampai melihat Senamata Karmuka masuk peraduan dan mendengar dengkur tidurnya. Meskipun demikian, Arya Bangkong tetap menunggui di depan pintu.

Sementara itu Arya Genggong menuju ruangan bawah tanah dengan empat prajurit utama. Dengan kampak sebagai senjatanya, ia segera mengayunkan untuk memutuskan tiang pengikat. Tubuh Upasara yang masih terikat jatuh ke tanah. Sekali lagi Arya Genggong meyakinkan ikatan tangan, kaki, badan. Kemudian memerintahkan untuk mengangkut.

Dalam usungan, Upasara merasa bahwa usahanya sia-sia. Di luar perhitungannya bahwa malam ini ia akan diumpankan harimau. Berteriak atau mengoceh tak ada gunanya. Ia dibawa melalui lorong gelap, yang berakhir di ujung sebelah timur Keraton. Seluruh badannya dilumuri dengan boreh, atau bedak, yang baunya membangkitkan nafsu makan harimau.

Kandang harimau Keraton itu terletak di sebelah timur penjara bawah tanah. Di atas sebidang tanah yang dipagari besi. Letaknya sendiri jauh di bawah permukaan tanah. Ada dua cara memberi makan harimau kesayangan Baginda Raja. Dengan melemparkan dari atas sekali, dari Keraton, atau dari sebelah terowongan penjara bawah tanah.

"Anak muda, siapa pun namamu, apa pun pangkatmu, atas perintah Mahapatih kau akan dipersembahkan ke Sardula. Kalau masih ada kalimat terakhir, katakanlah."

Upasara merasa tawar hatinya. Toh tak mungkin ia menjelaskan seluruh duduk perkaranya. Tak mungkin Arya Genggong mengubah putusan Mahapatih. "Paman, lakukanlah tugasmu."

Arya Genggong sejenak terperanjat. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kalimat itu yang akan keluar dari anak muda yang bakal mati. Bukan sekali-dua ia menjadi jagal utama. Bukan sekali-dua ia menggiring para penjahat untuk diumpankan ke harimau. Bukan sekali-dua kampaknya sendiri memutuskan leher penjahat. Akan tetapi baru sekarang ini, ada kalimat yang begitu bagus dan menyentuh. Tetapi hanya sejenak. Segera ia menjalankan tugasnya. Hatinya telah membatu. Hanya ada satu yang diketahui: Menjalankan tugas. Melakukan perintah. Tak peduli apakah perintah itu sesuai dengan jalan pikirannya atau bertentangan. Segera ia memberi perintah.

Dua prajurit memukul pagar besi dengan keras. Bau boreh yang ditebarkan serta bunyi besi, membuat bayangan bergerak dari kegelapan.

Mata Upasara melihat seekor harimau keluar dari semak kegelapan. Belum Upasara melihat jelas, ia merasa tubuhnya dilemparkan ke depan. Dan pintu kandang ditutup kembali. Kandang tempat harimau Keraton itu cukup luas sebetulnya. Kalaupun mereka tak tergesa, tak nanti harimau itu bisa menyerbu ke arah pintu kandang. Akan tetapi demi amannya, mereka melontarkan begitu saja.

Di tengah udara, Upasara berusaha memindahkan berat tubuhnya agar tubuhnya tidak jatuh dengan menghadap ke bawah. Ia berhasil akan tetapi seluruh tangannya terasa sakit sekali. Dari jarak lima tombak, ia melihat harimau menggeram ke arahnya. Kematian tak pernah ditakuti. Selama ini ia tak pernah memikirkannya. Namun sekali ini, Upasara tak menyerah begitu saja. Ia mengerahkan tenaganya. membalikkan tubuhnya, berikut tiang yang diikat bersama. Dengan bergulingan, ia bukan saja bisa menjauh, akan tetapi mulutnya bisa meraup kerikil kecil dengan giginya. Masih ada satu perhitungan. Dengan kerikil itu ia bisa membidik ke arah kepala harimau. Inilah satu-satunya harapan untuk menunda kematian.

Dan itu yang dijalankan. Begitu harimau melompat mendekat, Upasara menembakkan kerikil. Karena tergesa, kerikil itu hanya menyerempet telinga harimau. Dan ini malah berakibat sebaliknya. Harimau menjadi buas, meraung. Kain di tubuh Upasara diseret oleh harimau. Diseret ke dalam gelap.

Arya Genggong mengawasi dengan obor di tangan. Tapi tak melihat apa-apa lagi. Hanya mendengar auman harimau yang menggerung.

"Kecuali badannya terbuat dari besi, bocah itu tak akan bisa melihat matahari esok pagi. Sudah agak lama Sardula tidak dapat makanan manusia. Sekarang ini saatnya. Anak muda, mudah-mudahan di alam baka kau mendapat pengampunan."

Arya Genggong menghela napas. Lalu memerintahkan prajurit-prajuritnya menunggu sampai fajar nanti. Ia sendiri mengawasi dari kejauhan. Keras hatinya mendengar jeritan, teriakan yang menyayat, serta auman harimau. Pastilah harimau itu melalap perut dan isinya lebih dulu. Kalau meremukkan kepala, pasti tak akan terdengar jeritan menyayat seperti itu.

Malam itu bulan di langit pucat. Sangat pucat sekali. Bau anyir darah tercium....


BAGIAN 06CERSIL LAINNYABAGIAN 08