Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Sang Penghancur
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih karya T. Hidayat

SATU

MATAHARI sudah semakin naik, saat dua sosok tubuh melangkah menyusuri jalanan lebar. Di kiri dan kanan jalan, terbentang persawahan luas, dengan padi-padi yang telah mulai menguning. Tampaknya sebentar lagi para petani akan segera menikmati panen. Sesekali mereka melayangkan pandangan sambil terus melangkah perlahan. Sapaan ramah para penduduk yang kebetulan berpapasan, disambut ramah disertai senyum manis menghias wajah.

“Hm.... Penduduk Desa Mandala Sari ini ramah-ramah sekali, Kakang. Aku merasa senang sekali...,” kata sosok ramping yang terbungkus pakaian berwarna hijau, perlahan.

Melihat dari penampilannya, jelas dia adalah seorang wanita. Suaranya terdengar bening dan enak terdengar telinga. Apalagi, juga dibarengi untaian senyum manis. Sehingga wajah yang memang sangat cantik itu, tampak semakin mempesona.

Sosok satu lagi yang tidak kalah menariknya dari dara jelita itu tampak mengangguk seraya tersenyum. Tubuhnya sedang, namun padat berisi. Bahkan seperti menyimpan suatu kekuatan hebat. Wajahnya bersih dan tampan. Bagian kepalanya diikat oleh kain berwarna putih. Demikian pula pakaian dan jubah yang dikenakannya yang juga berwarna putih.

Bagi kaum rimba persilatan, sepasang anak muda itu memang sudah sangat dikenal. Mereka tidak lain dari Kenanga dan Pendekar Naga Putih. Sedangkan gadis yang bernama Kenanga sendiri pernah menggetarkan dunia persilatan dengan julukannya yang terkenal, Bidadari Iblis.

Kini kedua pendekar muda itu tengah memasuki Desa Mandala Sari. Desa kecil yang penduduknya kebanyakan adalah petani itu, tentu saja tidak mengenalinya. Sehingga mereka merasa bebas bergerak.

“Hei! Mau lari ke mana kau, Keparat...!”

Panji dan Kenanga yang hendak membelokkan langkahnya menuju sebuah kedai seketika merandek. Mereka melihat seorang lelaki tinggi besar melebihi ukuran manusia biasa, tampak melesat keluar dari kedai. Di belakang orang itu, tampak pula seorang lelaki yang tidak kalah menyeramkan. Dia muncul dari ambang pintu kedai. Setelah menoleh ke kanan kiri, ia lalu mengejar lelaki tinggi besar tadi.

Kening sepasang pendekar muda itu berkerut heran. Mereka tidak bisa memutuskan untuk bertindak, karena belum mengetahui persoalannya. Baik Panji maupun Kenanga hanya bertukar pandangan sambil mengangkat bahu. Baru saja keduanya hendak melangkah masuk ke dalam kedai, muncul seorang lelaki tinggi kurus. Laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun itu langsung menghadang jalan Panji dan Kenanga.

“Tuan muda, tolong pisahkan mereka...! Jangan sampai mereka saling bunuh sesama saudara sendiri. Kasihan, Tuan Muda. Mereka bukanlah orang jahat...” pinta lelaki tinggi kurus itu sambil menjatuhkan tubuhnya di depan kaki Panji. Suaranya terdengar terputus-putus dan napasnya memburu.

Pendekar Naga Putih cepat menangkap bahu lelaki itu, dan mengangkatnya. Ia memang tidak suka melihat sikap yang dianggapnya berlebihan. “Mengapa kau tidak meminta tolong kepada orang-orang di dalam kedai itu, Paman? Mengapa harus kepadaku?” tanya Panji, merasa agak curiga pada lelaki tua itu.

“Ah! Jangan salah sangka, Tuan Muda. Aku sudah meminta tolong kepada mereka, tapi tak seorang pun yang berani melakukannya. Dan begitu melihat Tuan Muda, aku yakin kalau Tuan Muda bersedia memisahkan mereka. Cepatlah, Tuan Muda. Aku khawatir kalau mereka sudah berkelahi satu sama lain...,” jelas lelaki itu.

Panji mengangguk-anggukkan kepala. Kalau tadi agak curiga, itu karena Panji memang selalu berhati-hati dalam bertindak. Setelah mendengar penjelasan lelaki setengah baya itu, Kenanga langsung diajaknya mengejar kedua lelaki bertubuh tinggi besar tadi.

“Hah...?!” lelaki setengah baya itu terbelalak bagaikan melihat hantu di siang bolong. Baru saja selesai bicara, tiba-tiba tubuh Panji lenyap dari pandangan. Itulah yang menyebabkan laki-laki setengah baya itu terbelalak. Bahkan tubuhnya menggigil.

“Mereka pasti bukan manusia...,” desis laki-laki itu dengan suara gemetar. Ucapan itu jelas menandakan kalau ia sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Sehingga, bayangan Panji dan Kenanga yang tidak tertangkap mata tuanya, dianggap pandai menghilang seperti hantu.

Panji dan Kenanga sama sekali tidak peduli dengan penilaian orang tua itu. Mereka terus melesat menggunakan ilmu lari cepat. Bahkan penduduk yang kebetulan ada di jalan-jalan, hanya merasakan adanya sambaran angin keras, saat kedua pendekar muda itu melewati mereka.

“Hihhh.... Mungkinkah yang lewat barusan setan...?” gumam seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun. Saat Panjidan Kenanga lewat, ia berdiri agak di tengah jalan sambil memberi makan kudanya.

“Ke mana mereka pergi, Kakang...?” tanya Kenanga, seraya mengerahkan kepandaiannya mengimbangi lari Pendekar Naga Putih.

Dan tentu saja Panji tidak ingin kekasihnya kehabisan napas. Maka ilmu larinya tidak dikerahkan seluruhnya, agar Kenanga lebih mudah menjajari langkahnya. “Hm Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, kulihat mereka saling berkejaran melewati batas desa ini...,” sahut Panji, sambil tetap berlari dan mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan. Hebatnya, meskipun sambil berlari cepat, pemuda itu dapat melihat jelas keadaan sekitarnya. Tentu saja hal itu tidak terlalu aneh bagi yang telah tahu kehebatan tenaga sakti yang dimiliki pemuda itu.

“Itu mereka, Kakang...!” seru Kenanga, seraya menunjuk ke arah kanan Panji.

Pendekar Naga Putih mengangguk, meskipun sebenarnya telah tahu lebih dulu. Namun, Kenanga tidak melihat anggukan Panji. Gadis itu hanya melihat kekasihnya berbelok menuju arah yang ditunjukannya.

“Hm.... Tampaknya mereka telah bertarung sengit. Aneh! Apa yang menyebkan sesama saudara itu sampai hendak saling bunuh...?” gumam Panji, setelah memperlambat larinya.

Tidak lama kemudian, sepasang pendekar muda itu pun tiba di dekat kedua lelaki bertubuh raksasa yang sedang bertarung mati-matian.

“Tahan!” Begitu mendekat, Panji langsung melesat sambil berseru nyaring. Tubuhnya tiga kali berjumpalitan di udara, sebelum meluncur turun dengan kedua tangan terkembang.

Plak! Plak!

“Uhhh...?!”

Terdengar benturan nyaring saat sepasang telapak tangan Panji memapak kepalan kedua orang itu. Akibatnya, tubuh pemuda tampan berjubah putih itu kembali melenting ke udara. Sedangkan kedua lelaki tinggi besar itu terjajar beberapa langkah yang disertai seruan kaget. Kedua lelaki tinggi besar yang otot-ototnya melingkar bagaikan akar pohon itu menggeram marah. Keduanya menatap sosok pemuda berjubah putih yang sudah meluncur turun itu dengan sinar mata berapi. Jelas, mereka tidak senang melihat campur tangan pemuda itu.

“Hmm.... Siapa kau, Anak Muda?! Apa kau sudah bosan hidup berani mencampuri urusan kami...?” geram salah seorang dari kedua lelaki itu. Ia mengenakan selempang kulit harimau, seperti yang biasa dikenakan seorang pemburu. Sepasang tangannya tampak mengepal kuat, hingga memperdengarkan bunyi berkerotokan.

Ketika beralih kepada Kenanga, tampak laki-laki tinggi besar yang wajahnya bercambang bauk itu mencoba tersenyum. Sayang, senyum yang mungkin merupakan senyum termanis yang pernah dimilikinya, tak ubahnya sebuah seringai harimau lapar. Tentu saja bukan wajahnya tambah menarik, tapi malah semakin mengerikan.

“Aneh. Tenaga mereka bukan hanya tenaga kasar saja. Sepertinya kedua orang ini bukan tokoh sembarangan. Entah siapa sebenarnya mereka...?” bisik Panji ketika Kenanga datang mendekati. Sedangkan sepasang matanya tetap tidak lepas dari wajah kedua orang bertubuh raksasa di depannya.

“Latungga! Persoalan kita belum selesai. Ayo cari tempat lain untuk menyelesaikannya...!” kata lelaki bertubuh raksasa kepada laki-laki yang juga bertubuh tinggi besar dengan suara berat. Orang yang bernama Latungga itu wajahnya hanya terhias cambang. Sedangkan laki-laki yang satu lagi wajahnya dipenuhi brewok, sehingga tampak lebih menyeramkan ketimbang Latungga.

“Hm.... Siapa yang takut kepadamu, Lagonta! Baik, mari kita cari tempat lain...,” sahut laki-laki berselempang kulit harimau yang bernama Latungga. Dia juga menggeram marah mendengar tantangan itu. Kemudian tubuhnya segera melesat cepat, mengikuti langkah lawannya yang bernama Lagonta.

“Tunggu...!”

Kedua lelaki bertubuh raksasa yang bernama Latungga dan Lagonta itu sama-sama menahan langkah. Mereka berbalik menatap ke arah pemuda berjubah putih yang tengah menghampiri. Kembali mereka menggeram jengkel, menatap sosok Pendekar Naga Putih. Rasanya tubuh pemuda itu akan ditelan bulat-bulat, lewat tatapan mata.

“Maaf! Terpaksa urusan kalian kucampuri. Hal ini karena permintaan seorang lelaki tinggi kurus di kedai tempat kalian makan tadi. Menurutnya, kalian adalah...” Panji tidak sempat lagi melanjutkan ucapan, begitu Latungga dan Lagonta telah menerkam dari kiri dan kanan. Anehnya, gerakan mereka ternyata cukup cepat Sehingga, Panji jadi kagum dibuatnya.

Wuuut! Wuuut!

“Hait..!”

Pendekar Naga Putih melenting ke udara, dan kembali meluncur turun satu tombak dari kedua lawannya yang hanya menangkap angin kosong. Kegagalan itu membuat Latungga dan Lagonta semakin murka. Mereka kembali menggeram, dan siap menerjang Panji.

“Nah! Kalau menghadapi aku, kalian bisa bersatu bahu-membahu, mengapa harus bertempur hanya untuk saling mencelakai diri sendiri? Apa sebenarnya yang diperebutkan...?” tanya Panji tetap berusaha menenangkan dan mendamaikan kedua lelaki bertubuh raksasa, yang menurut keterangan lelaki tinggi kurus di kedai tadi adalah saudara sekandung.

“Tidak perlu banyak mulut! Kau telah berani mencampuri urusan kami! Untuk itu, terimalah ganjarannya...!” geram Latungga. Kali ini, laki-laki berselempang kulit harimau itu siap menerjang menggunakan jurus-jurus dahsyat. “Heaaa...!”

Dibarengi bentakan parau, Latungga mengirimkan pukulan lurus ke depan. Meskipun kelihatan agak kaku, namun kecepatannya sempat membuat kening Panji berkerut penuh keheranan.

“Hm...,” Panji yang menjadi penasaran, hanya bergumam tak jelas. Pemuda itu sama sekali tidak terlihat mengelak. Malah ada kesan kalau sengaja ingin mengukur kekuatan pukulan Latungga. Dan begitu pukulan lurus lawan datang, lengannya dikibaskan.

Dukkk!

“Hei...?!” Panji berseru kaget ketika membentur lengan lawan yang besar dan berbulu itu. Ternyata lengan lawan sangat keras sekali, bagaikan sebatang besi! Maka, Pendekar Naga Putih terpaksa menggeser mundur langkahnya. Jelas sudah, Latungga atau mungkin juga Lagonta, bukan hanya dua laki-laki bertubuh raksasa yang bertenaga kasar. Tapi mereka memiliki kekuatan tenaga dalam yang tidak bisa dipandang remeh. Tentu saja hal itu cukup mengejutkan Panji. Memang sulit diduga, siapa sebenarnya kedua orang lihai itu.

“Mengapa, Kakang...?” Kenanga yang terkejut ketika mendengar seruan Panji, cepat menghampiri. Tampak Kenanga merasa khawatir terhadap keselamatan kekasihnya. Meskipun disadari kalau kesaktian Panji sangat sukar dicari tandingannya, namun ia tetap mengkhawatirkannya.

“Tidak apa-apa, Kenanga. Aku tadi hanya mencoba, sampai di mana kekuatan tenaga mereka. Tapi, hasilnya benar-benar mengejutkan. Rasanya, kekuatan yang mereka miliki tidak kalah dengan kekuatan tenaga saktimu,” jelas Panji.

“Apakah kau tidak keliru, Kakang...?” Kenanga yang terkejut dan setengah tak percaya, menatap Panji dengan mulut ternganga.

Memang sulit bagi Kenanga untuk percaya kalau kedua orang bertubuh raksasa yang nampak kasar itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang sebanding dengan kekuatannya. Dan keterangan Panji belum bisa diterimanya. Bukannya tidak percaya, tapi ia menjadi penasaran. Bahkan ingin mencobanya sendiri.

“Kenanga, jangan ceroboh...!” Panji mencoba mencegah niat kekasihnya yang merasa penasaran. Cepat pergelangan tangan gadis jelita itu dicekalnya.

“Jangan khawatir, Kakang. Aku hanya ingin mencobanya...,” bantah Kenanga sambil tersenyum dan sinar mata menuntut agar diperbolehkan mencoba tenaga kedua orang itu.

“Hati-hatilah...,” pesan Panji. Pendekar Naga Putih terpaksa mengalah ketika sepasang mata bening itu menatapnya. Pendekar Naga Putih pun melepaskan cekalannya dan melangkah mundur beberapa tindak. Dan pemuda itu siap menolong apabila kekasihnya terancam.

“Hm.... Majulah kalian, manusia tidak tahu diuntung!” ejek Kenanga. Dan gadis itu sudah mengerahkan tenaga dalamnya, hingga menyebar ke kedua lengannya.

“Hmm...!” Latungga yang tadi tampak tertarik dengan dara jelita itu, menjadi jengkel. Rupanya, ia tidak bisa menerima ucapan yang mengandung makian bagi dirinya. Maka sambil memperdengarkan suara menggeram, mulai dilancarkannya sebuah serangan dahsyat

“Hm...,” Kenanga hanya bergumam melihat datangnya serangan lawan. Dengan gerakan lincah, kedua kaki gadis itu melangkah ke kiri dan kanan, menghindari datangnya pukulan yang menimbulkan angin menderu-deru. Namun ketika gerakan lawan semakin bertambah cepat, tangan kanannya cepat diangkat, memapak sebuah tebasan yang mengancam perutnya.

Plakkk!

Terdengar benturan keras seperti ledakan kecil yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Sedangkan tubuh keduanya tampak tersurut mundur sejauh enam langkah. Apa yang diperkirakan Pendekar Naga Putih memang tidak meleset. Tenaga Latungga ternyata seimbang dengan tenaga kekasihnya.

Setelah merasakan sendiri, barulah Kenanga percaya bahwa tenaga kedua raksasa itu jelas sangat kuat. Bahkan sampai bisa menyamai tenaganya.

“Bagaimana? Apakah kau sudah percaya...?” bisik Panji yang tiba-tiba sudah berada disamping Kenanga.

Dara jelita itu tersenyum pahit. Meskipun begitu, daya tariknya tetap tak sirna. Masih cantik dan ayu. “Aku yakin mereka bukan berasal dari Desa Mandala Sari. Meskipun aku tidak bisa menduga, tapi jelas mereka adalah pendatang di desa itu, seperti halnya kita,” ujar Kenanga.

Gadis itu tidak yakin kalau Latungga dan Lagonta adalah penduduk asli Desa Mandala Sari. Selain logat bicara yang kaku dan kasar, raut wajah mereka juga sangat jauh berbeda dibanding penduduk asli desa itu.

“Itu sudah jelas, Kenanga. Kalau tidak salah, mereka lebih mirip penduduk asli wilayah Utara. Daerah yang gersang dan keras itu rasanya lebih tepat bagi mereka. Selain itu, nama mereka juga sangat asing bagi telinga kita. Tapi, mengapa lelaki tinggi kurus itu tahu kalau mereka saudara kandung?” desah Panji mengerutkan keningnya. Ia langsung teringat lelaki setengah baya yang meminta pertolongannya agar memisahkan Latungga dan Lagonta.

“Mungkin saja orang tua itu hanya menduga-duga saja, Kakang. Sebab, selain wajah mereka hampir serupa, tubuh mereka pun tidak berbeda. Jadi, tidak terlalu sulit mengetahui kalau mereka itu saudara kandung,” timpal Kenanga.

Gadis itu segera melepaskan pandangan ke arah Latungga dan Lagonta yang tengah melangkah dan siap melanjutkan perkelahian. Bahkan kali ini bergerak ke kiri dan kanan, seperti hendak menangkap Panji dan Kenanga.

“Sabar dulu, Kisanak. Kalau boleh tahu, siapakah kalian ini sebenarnya? Dan, apa yang membuat kalian berkelahi?” tanya Pendekar Naga Putih, mencoba mengetahui tentang dua lelaki bertubuh raksasa itu.

Tapi, Latungga dan Lagonta sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Panji. Mereka terus bergerak dan siap menerjang.

“Yeaaah...!”

Latungga berteriak parau membuka serangannya. Sepasang tangannya yang besar dan berbulu lebat itu bergerak susul-menyusul, disertai deru angin berkesiutan. Sasaran serangannya adalah Kenanga.

“Hait..!” Kenanga tidak sedikit pun gentar, meski telah mengetahui kekuatan lawan tidak kalah dengan kekuatannya sendiri. Disertai teriakan melengking, tubuh dara jelita itu bergerak menyambut serangan lawan. Sebentar saja, keduanya telah terlibat perkelahian seru.

“Hmrrr...!” Lagonta menggeram bagaikan macan lapar. Lelaki bertubuh raksasa dengan wajah ditumbuhi brewok lebat itu sama sekali tidak mau peduli. Apalagi mendengar pertanyaan Panji.

Padahal Pendekar Naga Putih masih penasaran ingin mengetahui, apa yang menyebabkan Latungga dan Lagonta berkelahi mati-matian. Tapi karena pertanyaannya tak terjawab, akhirnya Panji melayani serangan Lagonta.

Wuuut..!

Kepalan sebesar buah kelapa itu meluncur deras ke arah Panji. Sedangkan Panji yang merasa penasaran dan ingin memberikan pelajaran agar mata Lagonta terbuka, segera mengangkat tangannya yang sudah terlapisi kabut bersinar putih keperakan. Dan....

Desss!

“Aaakh?!” Lagonta memekik kesakitan. Tubuhnya seketika itu juga terpelanting ke tanah. Dan kenyataan itu membuat Lagonta terbelalak tak percaya apa yang dialaminya tadi. Ia kembali menggeram untuk mengusir hawa dingin yang meresap melalui pergelangan tangannya.

“Hmrrr...! Kulumat hancur tubuhmu...!” geram Lagonta.

Kelihatan kalau laki-laki brewok itu semakin murka akibat tangkisan Panji yang terasa menyesakkan dadanya. Tapi rasa sesak itu hanya sekejap, untuk kemudian lenyap tanpa bekas. Sehingga Lagonta belum percaya kalau pemuda bertubuh sedang itu memiliki kekuatan sampai demikian hebatnya. Ia menghibur diri dengan menganggap kalau hal itu terjadi akibat kecerobohannya. Maka, kali ini Lagonta kelihatan agak hati-hati dalam membuka serangan. Jurus-jurus pilihannya pun mulai dipersiapkan untuk menggempur Pendekar Naga Putih.

DUA

“Haaat..!”

Lagonta kembali membuka serangan. Kali ini gerakannya jauh lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya. Sehingga, hati Panji semakin penasaran dibuatnya. Dan Pendekar Naga Putih pun mulai menunjukkan kebolehannya. Tubuhnya yang telah terselimut lapisan kabut bersinar putih keperakan, bergerak cepat laksana sambaran kilat di angkasa.

“Hiaaah...!”

Pendekar Naga Putih menggeser tubuhnya ke samping, menghindari sebuah tendangan yang mengincar lambung. Kemudian tangan kanannya bergerak cepat melakukan tebasan miring, mengancam pelipis lawan. Gerakan itu ternyata hanya tipuan saja. Begitu Lagonta mencoba mengelak, tiba-tiba telapak tangan kirinya menghajar dada lawan.

Desss...!

“Akh...!” Lagonta kontan memekik kesakitan. Tubuh lelaki bertubuh raksasa itu terhuyung limbung hingga satu setengah tombak. Melihat tetesan darah di sudut bibir Lagonta, jelas kalau hantaman telapak tangan Panji telah mengguncangkan isi dadanya.

“Brrrh...!” Lelaki tinggi besar dan berwajah brewok itu menggigil kedinginan. Cepat kedua tangannya disilangkan di depan dada. Kemudian, dia membentak seraya mengibaskan kedua lengannya ke kiri dan kanan untuk mengusir pengaruh hawa dingin yang merasuki tulang sumsumnya. Untung, Pendekar Naga Putih tidak berniat membunuh lawannya. Padahal kalau mau, rasanya tidak terlalu sulit. Terbukti dalam dua puluh jurus saja, pukulannya telah berhasil bersarang di tubuh lawan.

Lagonta yang menyadari kalau lawannya benar-benar memiliki kepandaian tinggi, terlihat mulai gentar. Sekilas matanya melirik ke arah pertarungan disebelahnya. Kembali hatinya merasa terkejut melihat Latungga terdesak oleh sinar pedang gadis jelita yang menjadi lawannya.

“Hm...,” gumam Panji perlahan ketika melihat Kenanga telah menggunakan Pedang Sinar Rembulan.

Pendekar Naga Putih tahu, mengapa kekasihnya menggunakan pedang. Memang, tubuh kedua orang bertubuh raksasa itu memiliki kekebalan terhadap pukulan. Kalau tadi lawannya bisa dibuat kesakitan, itu karena tenaga saktinya memang jauh lebih tinggi. Lain halnya Kenanga yang memiliki kekuatan seimbang dibanding lawannya. Tentu gadis jelita itu telah mengetahui kekebalan tubuh Latungga. Terbukti, senjatanya telah digunakan untuk menggempur lelaki itu.

Brettt!

“Akh...?!” Tiba-tiba Latungga menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terjajar limbung. Darah segar tampak membasahi bagian iganya. Jelas, Latungga telah termakan tajamnya senjata lawan.

Lagonta mendekati saudaranya. Mereka tampak saling bertukar pandang sejenak, lalu menganggukkan kepala. Meski hanya melalui pertukaran pandangan saja, keduanya tampak seperti telah bersepakat

“Yeaaa...!”

Tiba-tiba saja Latungga dan Lagonta memekik sambil meluncur bersama-sama ke arah Panji. Terdengar deru angin berkesiutan mengiringi datangnya serangan kedua manusia tangguh itu.

Bwettt!

Panji menarik mundur tubuhnya saat cengkeraman Latungga datang menyambar lambung kiri. Dan sebelum sempat melontarkan serangan balasan, pukulan Lagonta datang mengancam dada. Cepat tubuhnya diputar setengah lingkaran. Lalu kaki kanannya langsung bergerak menyambar kepala Lagonta dengan kecepatan kilat

Zebbb!

Melihat tendangan kilat yang mengancam kepala, Lagonta memutar tubuhnya menggunakan tenaga pinggang. Begitu tendangan lawan luput, kembali dilontarkannya serangan balasan yang menimbulkan desingan angin. Demikian pula Latungga. Laki-laki tinggi besar dengan selempang kulit harimau itu ikut menerjang lewat cengkeraman-cengkeraman mautnya yang sanggup meremas hancur sebuah batu sebesar kepala kerbau.

Sebentar saja, ketiga tokoh sakti itu terlibat perkelahian yang lebih seru dan mendebarkan daripada pertarungan pertama tadi.

Kenanga nampak siap bergerak membantu, ketika kedua raksasa itu mengeroyok kekasihnya. Tapi, niat itu diurungkan begitu melihat Panji sama sekali tidak mampu didesak kedua lawannya. Ia hanya berdiri menonton perkelahian seru itu. Sepertinya, hatinya merasa yakin kalau kekasihnya akan bisa menundukkan lawan-lawannya.

Perkiraan Kenanga memang tidak meleset. Meskipun Lagonta dan Latungga mati-matian menggempur Pendekar Naga Putih, tapi tetap saja tidak mampu mendesaknya. Bahkan lama-kelamaan mereka sendiri yang mulai terjebak oleh gelombang hawa dingin yang memancar dari pukulan maupun tubuh pemuda itu.

“Bangsat..!” Lagonta memaki gusar ketika merasakan gerakannya mulai terhambat dan kaku. Akibatnya perhatiannya jadi terganggu. Serangannya pun terlihat kacau, tidak lagi beraturan.

Ternyata bukan hanya Lagonta saja yang mengalami hal menjengkelkan. Latungga pun merasakan hal yang sama. Sambaran gelombang hawa dingin yang menusuk tulang, membuat gempurannya mulai mengendur. Akibatnya, kedua manusia bertubuh raksasa itu mulai terdesak oleh serangan lawan. Kenyataan itu membuat mereka semakin penasaran.

“Hait..!”

Panji yang memang hendak melihat kekuatan tubuh lawan dalam menghadapi pengaruh hawa dingin ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’nya, mulai melancarkan serangan gencar. Pemuda itu berniat menawan kedua lawannya hidup-hidup. Itu sebabnya, Panji semenjak tadi hanya sesekali membalas serangan lawan. Ketika pertempuran menginjak jurus keempat puluh, ilmu silat lawan belum juga dikenalinya. Sehingga pemuda sakti itu pun mulai melakukan tekanan-tekanan berat

Lagonta dan Latungga kelabakan setengah mati ketika Pendekar Naga Putih mulai melancarkan serangan-serangan maut. Mereka sekarang hanya bisa bergerak mundur, tanpa mampu melakukan serangan balasan. Kenyataan itu membuat mereka semakin sadar akan kesaktian lawan.

Bukkk!

“Hukhhh...!”

Tubuh Latungga terpental satu tombak lebih begitu tiba-tiba sebuah pukulan mendarat telak di dadanya. Darah segar tampak menyembur membasahi tubuhnya. Kendati demikian, ia masih berusaha bangkit dan mencoba mengusir hawa dingin yang meresap ke dalam tubuh.

Desss!

“Aaa...!” Hantaman telapak tangan kiri Panji yang mengandung ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ kembali mendarat di dada kanan Lagonta. Tanpa ampun lagi, tubuh laki- laki brewok itu terbanting keras sejauh hampir dua tombak dari tempat semula.

“Ukhhh...” Lagonta kontan terbatuk mengeluarkan darah segar dari mulut. Untuk beberapa saat, dia hanya bisa terduduk sambil mendekap dada kanannya yang terasa sesak. Kemudian, tubuhnya baru bergerak bangkit perlahan-lahan, setelah sesaknya agak berkurang.

Latungga segera melangkah mendekati saudaranya. Mereka kini berdiri tegak menatap Panji yang juga balas menatap. Kedua lelaki tinggi besar itu bergerak mundur ketika melihat pemuda berjubah putih itu melangkah mendekat

“Hm.... Bagaimana? Apakah kalian masih ingin melanjutkan perkelahian tanpa sebab ini?” tantang Panji. Pendekar Naga Putih segera menghentikan langkah ketika melihat lawan bergerak mundur.

Jelas sekali kalau Latungga dan Lagonta sudah jera terhadap Pendekar Naga Putih. Tapi mendadak, Lagonta dan Latungga melemparkan sebuah benda bulat ke arah Panji dan Kenanga berdiri.

Darrr...!

Panji yang menyadari benda itu adalah sejenis senjata peledak tersentak kaget Ia segera melontarkan tubuhnya sambil menarik lengan kekasihnya untuk melompat jauh ke belakang. Sehingga, asap tebal yang disertai gumpalan tanah itu tidak sampai mengotori tubuh mereka. Sejurus setelah ledakan terjadi, Panji dan Kenanga bergerak menyebar ke kiri dan kanan. Mereka kemudian melesat ke tempat yang tidak tertutup gumpalan asap, untuk menangkap kedua manusia bertubuh raksasa itu.

“Hm.... Sudah kuduga mereka akan melarikan diri dengan cara licik...,” gumam Panji ketika tidak menemukan Latungga dan Lagonta di tempat semula.

“Itu mereka, Kakang...!” seru Kenanga tiba-tiba, sambil menudingkan telunjuknya ke arah hutan.

Tanpa membuang waktu lagi, Panji yang sempat melihat bayangan kedua lawannya, langsung bergerak mengejar. Bagaikan bayangan hantu yang tengah bercanda, kedua sosok pendekar muda itu bergerak cepat menuju hutan. Sebentar saja, mereka telah tiba di tempat Kenanga pertama kali melihat bayangan Latungga dan Lagonta. Tapi begitu tiba, bayangan kedua orang bertubuh raksasa itu kembali lenyap bagai ditelan bumi.

“Itu...!”

Tiba-tiba Panji yang tengah mencari-cari, melihat dua sosok bayangan bergerak sekitar enam tombak dari tempatnya berdiri. Cepat dikejarnya bayangan itu dengan mengerahkan ilmu lari cepatnya.

“Kurang ajar...!” maki Kenanga penuh kegeraman. Meskipun mereka telah berlari cukup jauh, ternyata bayangan Lagonta dan Latungga tidak juga ditemukan. Sehingga, dara jelita itu menjadi jengkel dibuatnya.

“Hm.... Kita jelajahi seluruh pelosok hutan ini. Aku yakin, mereka pasti belum jauh...,” usul Panji yang disambut anggukan kepala oleh Kenanga.

Kemudian mereka memulai pencarian. Tapi meskipun setiap pelosok hutan itu telah dijelajahi, sosok Lagonta dan Latungga tetap tidak berhasil ditemukan. Mereka terpaksa menginap di dalam hutan lebat itu, karena hari sudah menjelang malam, saat pencarian dihentikan.

“Hm.... Benar-benar aneh. Entah apa sebenarnya maksud mereka? Mengapa mereka begitu cepat menghilang? Padahal menurut perhitunganku, mereka akan dapat kita ringkus. Aneh...?” gumam Panji sambil merebahkan tubuhnya di atas rerumputan tebal dengan kepala beralaskan buntalan pakaiannya.

Kenanga hanya menghela napas berat Jelas hatinya sama penasarannya dengan Panji. “Sebaiknya, besok kita cari mereka lagi, Kakang. Siapa tahu masih bersembunyi di tempat yang tidak diketahui di dalam hutan ini,” usul Kenanga, sebelum memejamkan matanya.

Panji hanya bergumam pelan menjawab usul kekasihnya. Kemudian, matanya segera dipejamkan rapat-rapat.

*******************

Malam baru saja berganti pagi, saat serombongan orang bergerak memasuki Desa Mandala Sari. Melihat langkah serta pakaiannya, jelas kalau rombongan itu terdiri dari orang-orang persilatan yang tergabung dalam sebuah partai. Semua itu mudah diterka, karena mereka rata-rata mengenakan warna pakaian serupa. Bahkan pada bagian kiri dada terlihat sebuah lambang kepala harimau yang disulam oleh benang putih. Siapa lagi rombongan itu kalau bukan dari Perguruan Macan Putih yang sudah terkenal.

Para penduduk Desa Mandala Sari yang menyaksikan, jadi memandang heran. Apalagi, rombongan itu terus saja bergerak tanpa ada tanda-tanda hendak singgah. Tentu saja semua itu semakin menimbulkan tanda tanya besar dalam benak mereka. Walaupun begitu, tak seorang pun yang berani bertanya. Semua pertanyaan itu dipendam dalam hati.

Tidak lama setelah rombongan itu lenyap dari pandangan, datang rombongan lain yang jumlahnya lebih sedikit. Dan melihat pakaian yang berbeda-beda, dapat diduga kalau mereka bukanlah orang partai tertentu. Dari langkah yang ringan, bisa diketahui kalau mereka adalah kaum rimba persilatan. Tapi kelihatan sekali bahwa mereka itu datang dan berkelompok dengan satu tujuan. Para penduduk yang sejak tadi sudah masuk ke rumah, kembali bermunculan. Rasa heran kembali menyelimuti hati mereka. Semua itu terpancar jelas dari pandangan maupun wajah mereka.

“Aneh. Mengapa hari ini banyak sekali orang gagah melalui desa kita? Hendak ke mana tujuan mereka sebenarnya...?”

Terdengar bisikan perlahan yang membicarakan rombongan-rombongan kaum persilatan itu. Tapi orang yang diajak bicara hanya menggelengkan kepala dengan wajah bodoh. Sebab ia sendiri pun tidak tahu, ke mana tujuan rombongan orang-orang gagah itu.

“Tanyakan sendiri kalau memang ingin tahu...,” salah seorang penduduk yang berwajah kehitaman, langsung nyeletuk.

Rupanya ia sempat mendengar bisik-bisik kawannya. Tapi orang yang bertanya tadi hanya mengangkat bahu tanda menyerah. Sebentar saja, mereka kembali terdiam tanpa kata. Penduduk Desa Mandala Sari semakin merasa penasaran ketika masih banyak lagi rombongan orang rimba persilatan yang melalui desa mereka. Rasa penasaran membuat beberapa orang pemuda mengikuti rombongan terakhir, secara diam-diam. Bahkan ikut dan membaurkan diri dalam rombongan itu.

Jauh di luar Desa Mandala Sari, para tokoh persilatan telah berkumpul memadati sebuah lapangan rumput luas. Di tengah lapangan telah berdiri sebuah panggung yang cukup luas. Dan menurut kabar, panggung itu akan digunakan untuk berlaga.

“Sahabat-sahabat sekalian...!”

Seorang lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun yang tampil ke atas panggung, membuka suaranya yang lantang. Sebentar saja, suasana yang semula bagaikan pasar ayam, jadi senyap. Kini semua mata tertuju ke atas panggung.

“Seperti yang telah disepakati para tokoh persilatan di daerah Timur ini, kita berkumpul dengan satu tujuan mulia. Yaitu, mencari pemimpin kaum persilatan golongan putih. Semua itu untuk menyatukan semua tokoh atau partai yang ada di wilayah Timur ini. Untuk itu, para tokoh yang telah mengajukan diri menjadi pimpinan telah berkumpul dan siap mengadu kesaktian di atas panggung terbuka ini,” lelaki berusia setengah baya itu menghentikan kata-katanya.

Saat itu, orang-orang yang berada di bawah panggung bersorak riuh-rendah. Baru setelah laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan meminta perhatian, suasana jadi hening kembali.

“Saudara-saudara sekalian...,” lanjut lelaki setengah baya itu, setelah terdiam beberapa saat. “Sampai saat ini, telah tercatat enam calon yang telah mendaftarkan diri untuk memperebutkan jabatan itu. Mereka ini akan dipertemukan, setelah ditentukan melalui undian. Kemudian, ketiga orang pemenang pada babak pertama, kembali akan diundi untuk menentukan siapa-siapa yang akan bertarung. Karena pada babak kedua nanti akan terjadi tiga orang pemenang, maka sudah tentu , akan ada seorang peserta yang beruntung tidak menjalani pertarungan pada babak kedua. Ia akan bertarung pada babak ketiga, melawan pemenang babak kedua. Demikianlah ketentuan pertandingan ini, yang telah disetujui peserta-peserta yang bersangkutan.”

Usai mengumumkan peraturan pertandingan, lelaki gagah itu pun melangkah turun dari atas panggung. Sebentar kemudian, suasana pun hening seketika. Rupa-rupanya, para penonton yang berada di bawah panggung merasa sedikit tegang menantikan munculnya dua orang peserta di babak pertama itu.

“Hait...!”

Tiba-tiba para penonton dikejutkan satu bentakan halus yang disusul melesatnya sesosok bayangan merah ke atas panggung. Sebelum mendaratkan kedua kakinya di lantai panggung, bayangan itu berputar lebih dulu sebanyak empat kali di udara. Gerakannya demikian indah dan mengagumkan, sehingga para penonton langsung menyambutnya dengan tempik sorak gegap-gempita. Lelaki gagah berpakaian serba merah yang berusia sekitar lima puluh tahun itu tersenyum lebar. Tubuhnya membungkuk ke empat penjuru sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian, kakinya melangkah ke sudut kanan panggung, menanti calon lawannya.

Rupanya sosok bayangan merah itu tidak perlu menunggu terlalu lama. Dari barisan penonton di sebelah kanan panggung, terdengar tempik sorak riuh-rendah, mengiringi langkah seorang lelaki gemuk terbungkus pakaian serba putih. Dia terus melangkah ke arah panggung tanpa terburu-buru.

“Hidup Cakar Macan Putih...!”

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang penonton dari tempat lelaki gemuk itu muncul yang mengelu-elukan jagoannya. Kemudian, teriakan tadi disambut teriakan kawan-kawannya. Sehingga suasana jadi semakin ribut.

Lelaki gagah berjuluk Cakar Macan Putih itu bergerak melesat ke atas panggung. Gerakannya terlihat mantap dan ringan, pertanda ilmu meringankan tubuhnya tidak rendah. Meskipun gerakannya terlihat sederhana, namun saat tubuhnya meluncur turun ke lantai panggung, kembali terdengar tepuk tangan yang gegap-gempita. Kebisingan baru reda saat lelaki gagah itu mengangkat kedua tangannya ke atas.

Sebelum berhadapan dengan lawannya, lelaki berpakaian serba putih itu memutar tubuhnya ke empat penjuru sambil membungkukkan tubuh. Kemudian, tubuhnya berbalik memandang ke arah lelaki setengah baya berpakaian serba merah yang menanti sejak tadi di sudut kanan panggung. Mereka berdiri berhadapan, siap bertarung.

TIGA

“Cakar Macan Putih, silakan...,” ujar lelaki setengah baya berpakaian serba merah sembari tersenyum lebar. Ketika berdiri berhadapan, perbedaan warna pakaian mereka tampak menyolok sekali. Sehingga suasana di atas panggung terlihat semarak, membuat tepuk tangan orang-orang di bawah panggung semakin keras menyambut kedua tokoh yang telah terkenal itu.

“Harap kau sudi memberi pelajaran kepadaku, Pendekar Tapak Bara...,” sahut Cakar Macan Putih.

Cakar Macan Putih menarik kaki kanannya ke samping, kemudian meliukkan tubuhnya dengan menggunakan tenaga pinggang. Gerakannya persis seperti harimau yang menggeliat bermalas-malasan. Sepasang tangannya yang telah membentuk cakar harimau, bergerak ke depan hingga menimbulkan sambaran angin keras.

“Hm.... Jangan terlalu merendah, Adi. Jurus ‘Cakar Macan’mu telah dikenal tokoh-tokoh daerah Timur ini. Harap jangan terlalu sungkan...,” timpal lelaki yang berjuluk Pendekar Tapak Bara kembali tersenyum lebar.

Lawan Pendekar Tapak Bara memang lebih muda sekitar lima tahun dibanding dirinya. Sehingga diberikannya kesempatan kepada Cakar Macan Putih untuk memulai serangan.

“Bersiaplah, Pendekar Tapak Bara...! Haaat..!” seru Cakar Macan Putih, nyaring seraya memulai serangan.Kedua kaki Cakar Macan Putih yang kokoh itu melakukan langkah-langkah panjang dan kadang bersilangan. Sepasang cakarnya berputaran,menyambar-nyambar disertai hembusan angin keras. Jelas, lelakiberpakaian serba putih itu langsung menggunakan ilmu andalannya untuk menundukkan lawan.

Pendekar Tapak Bara bergumam perlahan. Tubuhnya segera bergerak ke samping, saat sambaran cakar lawan datang bertubi-tubi. Kemudian, tubuhnya langsung berputar mengirimkan sebuah tendangan kilat yang menderu mengancam batang leher lawan.

Plak!

Masing-masing terjajar mundur sejauh empat langkah. Dalam pertemuan tenaga yang pertama, tampak tenaga dalam mereka seimbang. Pertarungan pun kembali berlanjut lebih seru.

Cakar Macan Putih dengan gerakan laksana seekor harimau jantan, terus mendesak lawan dengan sambaran-sambaran cakarnya yang sanggup meremas hancur sebuah batu besar. Sepasang cakarnya bergerak silih berganti, disertai lengkingan yang merobek udara. Melihat betapa gencarnya serangan yang dilakukan, jelas kalau Cakar Macan Putih ingin segera menyelesaikan pertarungan babak pertama itu.

Sama halnya seperti Cakar Macan Putih, Pendekar Tapak Bara terkenal karena ilmu tangan kosongnya. Tentu saja pertempuran dua tokoh persilatan yang sama-sama mengandalkan ilmu tangan kosong itu sangat seru. Pendekar Tapak Bara sendiri terlihat agak berhati- hati dalam menghadapi lawan. Dia tampak lebih banyak menghindar ketimbang melakukan serangan balasan. Sepertinya, ingin dilihatnya, sampai di mana kekuatan lawan yang gencar mendesaknya itu. Meskipun demikian, sepasang mata lelaki tua itu menyorot tajam, mencari peluang untuk dapat melontarkan pukulan secara tepat

“Hiaaah...!”

Ketika pertempuran memasuki jurus kedua puluh, tiba-tiba Pendekar Tapak Bara membentak nyaring hingga mengejutkan lawannya. Berbarengan dengan itu, telapak tangan kanannya bergerak cepat menuju dada lawan yang terbuka. Sementara pada saat itu, Cakar Macan Putih melakukan serangan dengan kedua tangan ke arah kepala lawan.

Desss...!

Tanpa ampun lagi, pukulan telapak tangan Pendekar Tapak Bara telak menghajar dada kiri lawannya. Namun dengan gerakan kokoh, Cakar Macan Putih menghentakkan kaki kanannya ke lantai panggung untuk menahan daya dorong yang ditimbulkan han- taman telapak tangan lawan. Tampak wajah lelaki gemuk itu agak menyeringai sambil mengusap-usap dadanya yang terasa agak panas, hingga membuat kerongkongannya seperti kering.

“Hmhhh” Cakar Macan Putih menggeram keras, menggetarkan lantai panggung. Kemudian, disertai sebuah lengkingan panjang laksana raung harimau luka, lawannya kembali diterjang.

Tapi kali ini Pendekar Tapak Bara mulai memperlihatkan kehebatan ilmu ‘Tapak Bara’nya yang terkenal. Asap tipis tampak mengepul ketika telapak tangannya digosok-gosokkan, hingga sebentar kemudian berubah menjadi merah seperti bara api. Jelaslah sekarang, mengapa lelaki setengah baya itu sampai mendapat julukan Pendekar Tapak Bara. Rupa-rupanya, semua itu karena ilmu tangan kosong yang dimilikinya.

“Heaaat..!”

Sepasang telapak tangan lelaki berpakaian merah itu menyambar-nyambar diiringi hawa panas, yang membuat tubuh lawan menjadi bersimbah peluh setelah bertarung selama lima belas jurus lebih. Bahkan wajah Cakar Macan Putih terlihat agak kemerahan, seperti terbakar hawa panas yang menebar lewat sambaran telapak tangan lawan. Tentu saja hawa panas itu membuat gerakannya menjadi kacau tak beraturan, dan perhatiannya tidak bisa lagi terpusatkan.

Itulah salah satu keistimewaan ilmu ‘Tapak Bara’ yang dimiliki lawan. Akibatnya, setelah bertarung kembali selama sepuluh jurus lebih, Cakar Macan Putih tidak sempat lagi mengelakkan sebuah tamparan pada bahu kanannya.

Desss...!

“Aaakh...!” Cakar Macan Putih memekik kesakitan. Tubuhnya terpelanting dan jatuh ke bawah panggung. Pada bagian bahu yang terkena tamparan tangan lawannya tampak terbakar, hingga kulitnya melepuh kehitaman. Bahkan pada sudut bibirnya terlihat ada aliran darah segar. Jelas, tamparan tadi membuat Cakar Macan Putih mengalami luka dalam.

Jatuhnya tubuh Cakar Macan Putih ke bawah panggung, disambut tempik sorak yang berkepanjangan. Hal itu berarti kemenangan buat Pendekar Tapak Bara. Lelaki setengah baya itu kembali memperlihatkan senyum lebarnya, kemudian melangkah turun menghampiri Cakar Macan Putih yang telah dipapah kawan-kawannya.

“Terimalah obat ini, Adi. Kalau tidak, luka pukulan itu akan membusuk dalam beberapa hari. Maafkan keteledoranku...,” ucap Pendekar Tapak Bara sambil menyodorkan obat bubuk.

Cakar Macan Putih langsung menerimanya tanpa ragu-ragu lagi. Sepertinya, lelaki gemuk itu pun telah mengetahui akan akibat pukulan telapak tangan lawannya. “Terima kasih, Kakang. Apa yang kau lakukan tadi memang sudah lumrah dalam pertandingan. Aku pun sama sekali tidak sakit hati,” sahut Cakar Macan Putih sambil tersenyum lebar.

Pendekar Tapak Bara kemudian pamit untuk kembali ke tempat duduknya.

Sosok Pendekar Tapak Bara dan Cakar Macan Putih tidak lagi jadi perhatian. Sebab, saat itu di atas pang- gung telah berdiri berhadapan dua peserta lainnya. Kedua lelaki gagah itu pun saling menunjukkan kebolehan untuk mencari kemenangan.

Pertarungan yang tidak kalah serunya dengan pertarungan pertama membuat para penonton sama sekali tidak bersuara. Semua mata tertuju ke arah panggung, tanpa berkedip sedikit pun. Memang dua orang yang tengah berlaga itu, jauh lebih ganas daripada Pendekar Tapak Bara atau Cakar Macan Putih. Sehingga para penonton pun menjadi tegang menyaksikannya.

“Haaat...!”

Lelaki tinggi besar itu membentak keras, disertai uluran tangan yang membentuk cakar naga. Untung lawannya yang bertubuh tinggi sedang itu cukup gesit. Ia bisa mengelakkan cengkeraman pada kedua bahunya itu dengan menarik tubuhnya ke belakang. Bahkan, masih sempat pula melepaskan sebuah tendangan yang mengancam perut lawannya.

Desss...!

“Akh...!?”

Aneh! Tubuh lelaki tinggi besar itu tak bergeming dari tempatnya. Malah sebaliknya, lelaki tinggi sedang itulah yang memekik kesakitan. Ia merasakan ujung sepatunya seperti bertemu dengan benda kenyal yang membuat tenaga tendangannya berbalik. Tentu saja kenyataan itu membuatnya agak terkejut.

“Ha ha ha...!”

Lelaki tinggi besar itu tertawa bergelak. Kemudian, dilayangkannya sebuah tendangan ke arah lawan yang saat itu masih belum hilang keheranan dan kepenasarannya.

Bukkk!

Telapak kaki yang besar dan berat itu telak menghajar dada kanan lawannya. Akibatnya, tubuh tinggi sedang itu terpental ke bawah panggung, dan jatuh berdebuk keras. Darah segar menyembur ketika ia terbatuk. Jelas tendangan keras itu telah mengguncang- kan bagian dalam dadanya.

“Hidup Pendekar Naga Besi...!”

Terdengar pekik para pendukung lelaki tinggi besar yang berjuluk Pendekar Naga Besi itu. Kemudian, lelaki tinggi besar yang nampak kokoh bagai batu karang itu, melangkah turun dari atas panggung, setelah memberi hormat keempat penjuru.

Pendekar Tapak Bara mengerutkan keningnya dalam-dalam. Tampak kalau ia memperhitungkan kehadiran Pendekar Naga Besi, yang memiliki kekebalan tubuh mengagumkan hatinya itu. Pendekar Tapak Bara kembali menatap ke arah panggung. Saat itu dua peserta terakhir sudah saling terjang dengan hebatnya.

“Hm...” Pendekar Tapak Bara bergumam perlahan ketika melihat jalan pertarungan yang kurang menarik. Lelaki setengah baya itu melihat kalau pertandingan yang tengah berlangsung di atas panggung itu berat sebelah. Sehingga, ia menilai bahwa pertarungan itu tidak akan berlangsung lama.

Penilaian Pendekar Tapak Bara tidak meleset jauh. Seorang lelaki tinggi kurus yang bertarung dengan lelaki gemuk berwajah brewok, tampak sudah semakin mendekati kemenangan. Hanya orang-orang yang memiliki tingkat rendah sajalah yang belum mengerti, kenapa lelaki gemuk itu dapat didesak habis-habisan oleh seorang lelaki tinggi kurus berwajah pucat seperti orang penyakitan.

Orang-orang yang tidak begitu tinggi ilmu silatnya, terutama tenaga dalamnya, memang sulit untuk melakukan penilaian. Meskipun bentuk lahiriahnya tampak jauh berbeda, tapi lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu adalah seorang ahli ilmu tenaga dalam. Pukulan dan tendangannya selalu disertai desingan angin tajam. Sehingga lelaki gemuk berwajah brewok yang biasanya kebal terhadap pukulan itu, terpaksa dibuat jatuh-bangun oleh lawannya.

Desss...!

Untuk kesekian kalinya sebuah kepalan lelaki tinggi kurus itu mendarat telak di perut lawan. Akibatnya lelaki berwajah brewok itu terhuyung limbung. Belum lagi sempat memperbaiki kuda-kudanya, sebuah tendangan keras membuat tubuhnya terjengkang disertai cairan darah yang menyembur dari mulutnya.

Meskipun tendangan dan pukulan lawan telah mendatangkan luka yang cukup parah, namun lelaki berwajah brewok itu masih berusaha untuk berdiri tegak. Tapi sebelum kedua kakinya sempat membentuk kuda-kuda, serangan lawan kembali meluncur mengancam tubuhnya.

“Hait...!”

Desss...!

Kali ini lelaki berwajah brewok itu tidak mungkin dapat bangkit lagi. Hantaman telapak tangan lawan yang mengandung kekuatan hebat itu, langsung membuat tubuhnya melambung dan jatuh ke bawah panggung.

“Hidup Telapak Tangan Dewa...!”

Seketika, belasan orang penonton pendukung lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu langsung mengelu-elukan jagoannya.

Lelaki yang dijuluki Telapak Tangan Dewa itu kemudian beranjak turun dari atas panggung, setelah menghormat keempat penjuru. Ia tidak merasa cemas akan nasib lawannya, karena pukulan yang dilakukannya tidak mengakibatkan kematian. Itu sebabnya, ia sama sekali tidak peduli ketika melihat tubuh lelaki brewok yang ternyata hanya pingsan itu, telah digotong oleh kawan-kawannya.

Suasana pun kembali riuh seperti dalam pasar. Masing-masing penonton saling membicarakan pertarungan-pertarungan selanjutnya, yang menurut mereka jelas akan lebih seru dan mendebarkan. Suara-suara seperti dengung lebah marah itu baru berhenti saat seorang lelaki gagah telah berdiri di atas panggung.

“Sahabat-sahabat sekalian, harap tenang...!” Lelaki gagah itu mengerahkan tenaga melalui suaranya. Sebentar saja, perhatian para penonton pun kembali beralih ke atas panggung.

“Kita semua tahu, dalam babak pertama tadi, Pendekar Tapak Bara, Pendekar Naga Besi, dan Telapak Tangan Dewa adalah pemenang-pemenangnya. Sebagaimana telah disebutkan tadi, dalam babak kedua ini yang akan tampil adalah Pendekar Tapak Bara melawan Pendekar Naga Besi. Sedangkan Telapak Tangan Dewa mendapatkan keberuntungan tidak turun dalam pertarungan babak kedua ini. Ia baru akan bertarung pada babak ketiga nanti melawan pemenang babak kedua,” jelas lelaki gagah itu lagi. Usai menyampaikan peraturan pertandingan, ia pun melangkah turun diiringi tepuk tangan yang riuh.

Suasana bising kembali sunyi saat kedua tokoh yang akan bertarung telah saling berhadapan. Para penonton semakin bertambah tegang, ketika Pendekar Tapak Bara dan Pendekar Naga Besi sudah mulai bergerak saling mendekati.

“Sambutlah seranganku, Naga Besi...!” Pendekar Tapak Bara berseru memperingatkan lawannya seraya bergerak maju dengan gerakan cepat. Sepasang tangannya berputaran menimbulkan deruan angin keras.

Bettt..!

Pendekar Naga Besi menggeser langkah ke samping menghindari tusukan jari-jari tangan lawan yang menimbulkan suara desingan tajam itu. Kemudian lang- sung memutar tubuh setengah lingkaran, sambil melepaskan tendangan yang mengancam pelipis lawannya.

Plak! Tubuh kedua tokoh sakti itu sama-sama terjajar mundur tiga langkah. Pendekar Tapak Bara yang mengangkat tangan kanannya memapaki tendangan lawan, agak terkejut ketika merasakan lengannya tergetar akibat benturan yang cukup keras itu. Tapi tokoh berpakaian merah darah itu tidak sempat lagi berpikir lebih jauh. Sebab, saat itu Pendekar Naga Besi telah melesat maju dengan serangan-serangan gencarnya.

“Hait..!”

Pendekar Tapak Bara langsung memutar kedua tangannya sambil menggeser langkah ke kiri dan kanan. Sepasang telapak tangannya bergerak menyambar-nyambar, menimbulkan sambaran angin yang menderu-deru. Keduanya kembali saling terjang dengan mengandalkan jurus-jurus pilihan. Sehingga pertarungan semakin bertambah seru dan menegangkan.

Lawan Pendekar Tapak Bara kali ini, tidaklah dapat disamakan dengan lawan sebelumnya. Pendekar Naga Besi yang dihadapinya benar-benar tangguh dan sukar ditundukkan. Kenyataan itu membuat Pendekar Tapak Bara harus bekerja keras untuk mengimbangi lawannya.

“Hiaaah...!”

Pendekar Naga Besi membentak nyaring sambil mengangkat tangannya memapak sebuah hantaman telapak tangan lawan yang mengancam pelipis kirinya.

Plak!

“Uhhh...?!”

Untuk kesekian kalinya, kembali terdengar suara nyaring saat kedua lengan yang berisi kekuatan hebat itu berbenturan. Tapi kali ini Pendekar Tapak Bara harus menerima kenyataan pahit. Pertemuan tenaga itu membuatnya hampir terpelanting jatuh. Sedangkan lawannya hanya terjajar mundur sejauh lima langkah.

Jelas sudah kalau tenaga sakti Pendekar Naga Besi lebih baik setingkat dari lawannya. Tentu saja kenyataan itu membuat Pendekar Tapak Bara semakin penasaran. Ia mencoba menghibur diri dengan alasan bahwa kedudukannya saat itu memang tidak memungkinkan. Maka serangan-serangannya pun semakin dipergencar.

Lelaki tinggi besar yang dikenal sebagai Pendekar Naga Besi itu memang tangguh sekali. Meskipun dalam hal kecepatan, masih kalah dengaan lawannya, namun dapat ditutupinya dengan kekebalan tubuhnya yang memang sangat hebat itu. Sehingga Pendekar Tapak Bara agak kewalahan menghadapinya.

Bukkk!

Ketika pertarungan menginjak pada jurus keempat puluh, sebuah hantaman telapak tangan Pendekar Tapak Bara, sempat singgah di dada kiri lawannya. Akibatnya, tubuh lelaki tinggi besar itu terjajar mundur sejauh delapan langkah. Tentu saja hal ini membuat lawannya penasaran.

“Gila! Bagaimana mungkin ia bisa memiliki ilmu kekebalan tubuh sehebat itu...? Padahal biasanya tak seorang pun yang sanggup menahan pukulan ilmu ‘Tapak Bara’ku...,” desis Pendekar Tapak Bara dengan mata membelalak setelah hantaman telapak tangannya ternyata seperti tidak dirasakan oleh lawannya.

“He he he...! Pukulanmu memang hebat sekali, Pendekar Tapak Bara. Tapi sayang, hawa panas tenagamu belum sanggup menembus kekebalan kulit tubuhku...,” ujar Pendekar Naga Besi. Lelaki tinggi besar itu memang memiliki sejenis ilmu kebal yang dinamakan ‘Baju Kulit Naga’. Ilmu yang termasuk langka itu telah dilatih dan diyakininya dengan sempurna. Sehingga tokoh bertubuh tinggi besar itu sukar dilukai. Jangankan pukulan tangan kosong, senjata tajam pun belum tentu sanggup menembus kekebalan ilmu ‘Baju Kulit Naga’nya.

“Hm.... Jangan sombong dulu, Pendekar Naga Besi. Kalau kau bisa melemparku ke bawah panggung, barulah kau boleh sesumbar,” sambut Pendekar Tapak Bara sedikit jengkel mendengar ucapan lawannya.

“Haiiit..!”

Dengan sebuah bentakan keras, Pendekar Tapak Bara menyilangkan sepasang lengannya di atas kepala. Terdengar suara napasnya yang mirip dengusan kerbau liar. Beberapa saat kemudian, sepasang lengan to- koh sakti itu telah berubah merah, hingga ke siku. Tampak Pendekar Tapak Bara telah mengerahkan seluruh kekuatan ilmu andalannya untuk bisa menembus kekebalan tubuh lawan.

“Hm...,” Pendekar Naga Besi bergumam perlahan menyaksikan perbuatan lawannya. Tokoh tinggi besar itu bergerak menggeser langkah- nya ke kanan, sambil memutar sepasang lengannya yang menimbulkan deru angin tajam. Keduanya saling berdiri berhadapan, siap untuk saling terjang kembali.

EMPAT

“Haaat..!”

Pendekar Tapak Bara kembali bergerak maju disertai sambaran sepasang tangannya yang menimbulkan angin berdesingan. Bahkan setiap kali telapak tangannya menyambar, selalu didahului hawa panas menyengat. Tentu saja serangan-serangan maut itu membuat para penonton semakin bertambah tegang menyaksikannya.

Namun, dengan penuh ketenangan dan rasa percaya diri yang tinggi, Pendekar Naga Besi bergerak mengimbangi permainan lawannya. Kakinya yang panjang dan kokoh, bergerak melakukan geseran-geseran yang menimbulkan suara berdecitan. Sepertinya tokoh tinggi besar itu memang sengaja menggesekkan telapak kakinya ke lantai panggung, guna membuyarkan pemusatan pikiran lawan. Sesekali ia melepaskan cengkeraman dan tendangan, membalas serangan lawannya.

Pertarungan terlihat masih berimbang. Keduanya berusaha keras untuk saling menjatuhkan lawannya. Pertarungan kedua tokoh sakti itu semakin cepat berjalan. Jurus-jurus andalan telah digunakan untuk memperoleh kemenangan. Sayangnya, sampai saat ini tak satu orang pun yang bisa menebak siapa yang akan menjadi pemenang. Sebab kedua tokoh itu memang sama-sama gesit dan tangguh. Sehingga sangat sulit untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemenang pada pertarungan babak kedua itu.

“Hmh...!” Pendekar Naga Besi rupanya agak jengkel juga me- lihat kekuatan lawannya. Ketika memasuki jurus yang keenam puluh tujuh, lelaki tinggi kekar itu melompat ke belakang. Kemudian melipat sepasang tangannya yang saling membelit. Tubuhnya meliuk-liuk ke kiri dan kanan dengan posisi lengan yang masih berbelitan.

“Hm.... Sambutlah jurus ‘Dewa Naga Bercengkerama’, Pendekar Tapak Bara...!” desis Pendekar Naga Besi yang kembali menggeser langkahnya dengan suara berdecitan akibat bergesekan dengan lantai panggung. Sepasang tangannya terkadang mengembang ke kiri dan kanan, menyambar-nyambar menimbulkan deru angin tajam.

Whuuut..!

Pendekar Tapak Bara terkejut bukan main ketika merasa terkepung dari dua arah ia pun semakin menyadari kehebatan serangan lawannya. Apalagi sepasang tangan lawannya bergerak bagaikan seekor ular hidup yang bekerjasama untuk mencelakakannya. Lelaki gagah itu cepat memutar sepasang tangannya dan balas menyerang dengan sambaran-sambaran jurus ‘Tapak Bara’nya.

Whusss...!

Sambaran cakar yang dilontarkan Pendekar Naga Besi mengenai tempat kosong, karena lawannya lebih dahulu bergerak ke samping sambil mengirimkan hantaman telapak tangannya. Luncuran telapak tangan itu diiringi serbuan hawa panas menyengat

Plakkk!

“Akh...?!”

Para penonton memekik kaget ketika Pendekar Naga Besi mengangkat tangan kanannya memapaki hantaman telapak tangan yang memerah seperti bara api itu.Para penonton kembali menarik napas dengan wajah agak lega ketika melihat tubuh kedua tokoh itu hanya terhuyung beberapa langkah ke belakang.

Pendekar Tapak Bara benar-benar penasaran bukan main ketika melihat lawannya sama sekali tidak cidera. Bahkan lengan kanannya terasa ngilu akibat pertemuan tenaga yang amat kuat itu. Jelas, tenaga dalam lawan masih berada di atasnya.

“Heaaah...!”

Pendekar Naga Besi yang hanya terjajar empat langkah, kembali membentak keras. Cakar tangan kanannya bergerak menyambar dengan kecepatan mengejutkan. Tentu saja serangan kilat itu membuat Pendekar Tapak Bara yang masih terhuyung mundur menjadi sangat terkejut. Akibatnya....

Desss!

“Aaakh?!” Lelaki gagah berpakaian serba merah itu memekik kesakitan saat jari-jari tangan lawan yang keras, merobek dada kirinya. Tanpa ampun lagi, tubuh Pendekar Tapak Bara terlempar deras disertai semburan darah segar dari mulutnya. Kemudian, tubuh lelaki gagah itu terbanting jatuh ke bawah panggung!

Para pendukung Pendekar Tapak Bara segera bergerak memburu. Mereka sangat terkejut melihat kulit dan daging bagian dada jagoan mereka, terobek dalam bagaikan terkena cakar seekor beruang besar. Darah segar tampak meleleh membasahi pakaiannya.

Tanpa banyak cakap lagi, mereka langsung menggotong tubuh pendekar yang separuh pingsan itu dan bergerak meninggalkan arena. Sepertinya mereka kehilangan hasrat untuk mengetahui siapa yang bakal menjadi pemenang dalam babak ketiga nanti.

Pendekar Naga Besi berdiri gagah di atas panggung. Ia hanya tersenyum tipis melihat rombongan Perguruan Tapak Maut bergerak meninggalkan tempat itu. Setelah rombongan berpakaian serba merah itu lenyap, Pendekar Naga Besi melangkah ke sudut panggung untuk menanti lawan berikutnya.

Tidak lama kemudian, seorang lelaki tinggi kurus bergerak naik ke atas panggung. Dengan gerakan indah, tubuh lelaki itu bergerak berputar beberapa kali sebelum kedua kakinya menyentuh lantai panggung. Dia adalah Telapak Tangan Dewa yang menjadi lawan terakhir bagi Pendekar Naga Besi.

“Kepandaianmu benar-benar hebat, Pendekar Naga Besi. Terutama sekali ilmu ‘Baju Kulit Naga’ yang telah kau yakini secara sempurna itu. Kuharap kau tidak memberikan pelajaran terlalu keras kepadaku...,” puji Telapak Tangan Dewa, tanpa bermaksud mengejek ataupun merendahkan. Memang, apa yang dikatakan Telapak Tangan Dewa merupakan suatu bukti yang telah disaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Usai berkata demikian, lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu melangkah ke samping beberapa langkah, dengan sorot mata tajam.

“Jangan terlalu merendah, Telapak Tangan Dewa,” timpal Pendekar Naga Besi. “Ilmu ‘Telapak Tangan Dewa’mu telah lama kudengar. Mudah-mudahan kulit tubuhku bisa menahan kerasnya pukulan mautmu yang terkenal itu. Marilah kita mulai...!”

Tepuk tangan penonton menyambut kedua tokoh sakti yang telah berhadapan dalam jarak satu tombak itu. Ketegangan para penonton kian memuncak, karena pada pertarungan babak ketiga inilah yang paling menentukan. Siapa yang menjadi pemenangnya, dialah yang terpilih menjadi pimpinan tokoh persilatan golongan putih di wilayah Timur. Suasana pun mereda saat kedua tokoh itu sudah bergerak mempersiapkan serangannya masing-masing.

“Haaat..!” Pendekar Naga Besi yang sangat bernafsu untuk memperoleh kemenangan, segera saja melesat ke depan. Tokoh tinggi besar itu rupanya tidak sabar melihat lawannya yang hanya berputar-putar tanpa terlihat tanda-tanda akan menyerang. Sehingga ia pun segera memulainya.

Pertarungan pun kembali berlangsung. Bahkan kali ini lebih seru dan menegangkan daripada pertandingan sebelumnya. Keduanya terlihat mengerahkan seluruh kemampuannya untuk keluar sebagai pemenang. Wajar saja, sebab pertarungan terakhir ini merupakan babak penentuan yang sangat menegangkan. Baik bagi mereka yang tengah bertarung, ataupun para penonton yang semakin terkesima melihat penampilan kedua tokoh sakti itu.

Sekali ini, Pendekar Naga Besi benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya. Meskipun begitu, tokoh bertubuh tinggi besar yang nampak kokoh itu, jelas masih kalah setingkat dalam hal kecepatan dengan lawannya. Terlihat beberapa pukulan lawan mengenai bagian tubuhnya. Untunglah lelaki tinggi besar itu memiliki ilmu kebal yang tangguh. Kalau tidak, pasti Pendekar Naga Besi telah tergeletak di lantai panggung.

“Yeaaat...!”

Untuk kesekian kalinya, Telapak Tangan Dewa kembali melontarkan telapak tangan ke tubuh lawan. Kali ini ia mengerahkan tenaga yang langsung dipusatkan sepenuhnya pada telapak tangan kanan.

Desss!

“Higggh...!”

Hebat sekali hantaman telapak tangan lelaki tinggi kurus bermuka pucat itu. Pendekar Naga Besi yang biasanya kokoh itu, sampai terlempar sejauh satu tombak. Namun, tepuk tangan kembali menggema saat tubuh lelaki tinggi besar itu berputar sebanyak tiga kali di udara, dan mendaratkan kedua kakinya di bibir panggung. Terlihat tokoh itu mengangkat kedua tangannya ke atas disertai hembusan napas berat yang bersambungan.

“Gila...! Telapak Tangan Dewa benar-benar hebat sekali. Hampir saja kekebalan tubuhku dapat ditembus oleh pukulannya...!” desis Pendekar Naga Besi, setelah berhasil menghilangkan sedikit rasa sesak di dalam dadanya. Terlihat wajah gagah dan seram itu sedikit pucat. Pukulan lawannya kali ini benar-benar hebat dan hampir tidak bisa ditahan dengan ilmu ‘Baju Kulit Naga’nya.

“Heaaat..!”

Pendekar Naga Besi tidak sempat berpikir panjang lagi. Saat itu lawan telah kembali menyusun serangan- serangan mautnya. Sehingga, ia kembali harus berhadapan dan mengerahkan kemampuannya untuk melindungi diri dari gempuran lawan.

Pertarungan berlanjut lagi. Pendekar Naga Besi kali ini terlihat bergerak lamban. Namun, setiap Hentakan pukulannya selalu diiringi hembusan angin menderu. Tampak lelaki tinggi besar itu hendak menggunakan kekuatannya menghadapi gempuran lawan yang se- makin bertambah cepat itu.

Ketika pertarungan telah menginjak pada jurus yang keseratus lima, Telapak Tangan Dewa kembali memanfaatkan pertahanan lawan yang terbuka. Ia langsung melontarkan hantaman telapak tangannya sekuat tenaga. Tapi Pendekar Naga Besi rupanya memang sengaja memancing pukulan lawan untuk masuk. Terbukti tokoh tinggi besar itu langsung memapaki pukulan lawan pada saat yang sama.

Bukkk! Desss!

Beberapa penonton sampai tersentak kaget melihat kejadian yang mengejutkan itu. Dalam waktu yang bersamaan, kedua tokoh sakti itu saling menyarangkan pukulannya ke tubuh lawan.

“Uhhh...!” Tubuh Telapak Tangan Dewa terlempar deras ke belakang. Hantaman kepalan lawan pada dada kirinya, membuat tokoh sakti itu mengalami luka dalam yang parah. Hal itu terlihat dari tetesan darah segar yang tak henti mengalir dari sudut bibirnya. Lelaki tinggi kurus itu langsung duduk bersila guna menenangkan guncangan dalam dadanya akibat pukulan keras lawan.

Sedangkan Pendekar Naga Besi yang mengandalkan ilmu ‘Baju Kulit Naga’nya, hanya terdorong sejauh satu tombak. Pukulan lawan yang menghantam dada kiri atasnya, tidaklah separah pukulan keras yang pertama kali dirasakannya. Bahkan tokoh tinggi besar itu sudah dapat mengatasi sedikit rasa nyeri pada bagian yang terpukul telapak tangan lawan. Jelaslah sudah kalau Pendekar Naga Besi keluar sebagai pemenang dalam memperebutkan pimpinan golongan putih di wilayah Timur itu.

Sesaat kemudian, seorang lelaki gagah yang bertugas sebagai penilai, bergerak naik ke atas panggung. Sedangkan Pendekar Naga Besi melangkah dan berdiri di samping kanan lelaki gagah itu.

“Saudara-saudara sekalian. Dengan keluarnya Pendekar Naga Besi sebagai pemenang, maka sudah tentu beliaulah yang akan memimpin seluruh partai persilatan golongan putih di daerah Timur ini. Sedangkan, Telapak Tangan Dewa terpilih sebagai wakilnya. Untuk itu, marilah kita sambut pemimpin-pemimpin besar kita yang akan melindungi seluruh partai dan golongan putih di daerah Timur ini,” ujar lelaki gagah itu seraya bertepuk tangan. Dan ajakannya itu disambut teriakan-teriakan ribut para tokoh persilatan dan penonton yang menyaksikan pertandingan jujur ini.

“Hidup Pendekar Naga Besi...!”

“Hidup pemimpin besar kita...!”

Teriakan-teriakan yang riuh itu membuat Pendekar Naga Besi membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum lebar. Kemudian tokoh itu mengangkat lengan Telapak Tangan Dewa yang sudah berdiri di sebelahnya.bTanpa ada yang menyadari, tidak jauh dari arena pertandingan tampak sosok tubuh tengah berdiri memperhatikan. Lalu....

“Ha ha ha!”

Tiba-tiba suara teriakan-teriakan dan tepuk tangan semua orang yang riuh rendah itu tertekan oleh gema tawa yang bagaikan datang mengelilingi tempat itu. Suara tawa yang mengandung kekuatan maha dahsyat itu membuat belasan orang tokoh berkepandaian lumayan kontan bergulingan sambil menutup lubang telinga. Bahkan beberapa orang yang memiliki tenaga dalam rendah, langsung tergeletak tewas dengan lelehan darah dari lubang hidung, mulut, dan kedua telinga. Tentu saja suasana gembira itu berubah menjadi lengking kematian yang susul-menyusul.

Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa yang berada di atas panggung juga menjadi terkejut bukan kepalang. Suara tawa yang bergema panjang di setiap penjuru itu membuat mereka memejamkan mata. Langsung mereka mengerahkan tenaga sakti untuk melawan pengaruh suara yang luar biasa itu. Tubuh kedua tokoh sakti itu sampai bergetar, dengan butirbutir keringat membasahi wajah dantubuh.

“Heaaa...!”

Bagaikan telah sepakat, tiba-tiba Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa mengeluarkan pekik melengking untuk melawan pengaruh tawa mengerikan yang menyerang. Hembusan angin bertiup keras diiringi derak pepohonan kontan tercipta akibat pengaruh dua lengkingan yang saling tindih-menindih. Tentu saja yang paling tersiksa adalah mereka yang memiliki tenaga dalam rendah. Pengaruh dua suara yang saling tindih-menindih itu, membuat belasan tokoh persilatan berkepandaian rendah terjatuh dengan isi dada pecah.

Tidak lama kemudian, tawa yang menggetarkan sekitar daerah itu pun lenyap seketika. Maka Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa ikut menghentikan lengkingan panjangnya. Keduanya tampak mengatur napas yang memburu, karena harus mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk melawan pengaruh tawa yang benar-benar dahsyat tadi.

“Hai, Manusia Pengecut! Siapakah kau? Kalau memang ingin mengacau di tempat ini, tunjukkan rupamu! Kalau tidak, kembalilah pulang ke pangkuan ibumu! Kami tidak punya banyak waktu untuk mengurusi manusia pengecut yang beraninya hanya bersembunyi!”

Pendekar Naga Besi yang merasa bertanggung jawab atas kematian kawan-kawannya segera saja membuka suara, menantang si empunya suara yang belum menampakkan batang hidungnya. Pendekar Naga Besi dan para tokoh lain yang masih selamat, tidak perlu menunggu lama. Buktinya dari sebelah kanan panggung dalam jarak lima tombak lebih, tampak empat lelaki yang rata-rata bertubuh tinggi tengah melangkah menghampiri.

Seorang yang paling depan tampak mengenakan pakaian dari benang emas murni. Sehingga tubuhnya tampak berkilauan saat tertimpa sinar matahari. Sehingga membuat orang sukar mengenali wajah orang itu. Di sebelah kiri sosok berpakaian emas itu berjalan seorang lelaki tua bertubuh tinggi kurus. Sedangkan di belakang mereka terlihat dua lelaki bertubuh raksasa mengiringi.bSementara para tokoh golongan putih terus menanti kedatangan empat orang aneh itu dengan hati tegang.

LIMA

“Hm.... Pertandingan ini tidak sah sebelum aku menguji pemenangnya. Untuk itu, dua orang pemenang yang ingin menjabat sebagai ketua dan wakilnya, harus berhadapan denganku...,” kata lelaki tinggi tegap berpakaian kuning emas, dengan nada sangat sombong. Sedangkan tiga orang yang mengiringinya mengangguk, seperti membenarkan.

Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa mengerutkan kening tak senang. Mereka menatap tajam lelaki berpakaian kurung emas dan berwajah gagah yang berusia sekitar tiga puluh tahun. Bibirnya terlihat selalu menyunggingkan senyum mengejek dan memandang rendah orang lain. Sepasang matanya tampak menyorot tajam, menyiratkan kekuatan yang sukar diukur. Meskipun demikian, Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa sama sekali tidak gentar. Sejenak kedua tokoh sakti itu saling bertukar pandang, seolah ingin meminta pendapat

“Hm.... Siapakah kau, Kisanak? Menilik dari logatmu, jelas kau bukan orang wilayah Timur. Dari mana asalmu, dan apa tujuanmu membuat keributan di tempat ini...?” tegur Pendekar Naga Besi dengan suara tegas mengandung perbawa kuat. Sepasang matanya menyorot tajam menyiratkan kejengkelan hatinya.

“Hei, Pendekar Naga Besi! Bersikaplah sedikit sopan terhadap ketua kami!” dengus lelaki tinggi kurus berusia setengah baya dengan lagak sombong. “Ketahuilah! Ketua kami dijuluki sebagai Sang Penghancur. Mengenai asal kami, silakan terka sendiri. Karena aku yakin kau pasti bisa mengenali logat bicara kami”

Ucapan bernada sombong itu membuat beberapa orang tokoh menjadi marah. Tanpa dapat dicegah Pendekar Naga Besi, dua orang tokoh yang paling dekat langsung saja melompat sambil melontarkan pukulan ke arah tubuh lelaki kurus itu.

Beeet! Beeet!

Dua buah pukulan yang datangnya dari samping, sama sekali tidak membuat lelaki setengah baya itu terkejut. Kaki kanannya segera melangkah ke samping sambil memiringkan tubuh sedikit. Kemudian kaki kanan itu kembali bergerak, melepaskan sebuah tendangan kilat mengejutkan!

Desss! Desss!

Tanpa ampun lagi, tubuh kedua tokoh persilatan itu terjengkang. Maka keadaan pun menjadi semakin kacau ketika dua tokoh itu ternyata langsung pingsan, hanya dengan sekali gebrak! Padahal tingkat kepandaian mereka tidaklah terlalu rendah. Tentu saja kejadian itu membuat yang lain bergerak mundur sambil mencabut senjata masing-masing.

“Tahan...!” Pendekar Naga Besi langsung berteriak mencegah. Tubuh Pendekar Naga Besi kemudian melayang turun dari atas panggung, dan berdiri menghadapi rombongan kecil yang datang langsung mengacau itu. Serentak para tokoh persilatan yang marah itu bergerak mundur ke belakang Pendekar Naga Besi.

“Kisanak sekalian! Apa sebenarnya yang diinginkan dari kami?! Bukankah di antara kita tidak ada perselisihan? Mengapa datang-datang langsung membunuh belasan orang kawan kami?! Apa sebenarnya maksud kalian...?” tegur Pendekar Naga Besi. Pendekar itu diam-diam telah mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi tubuh kalau sewaktu-waktu diserang secara mendadak.

“Hm.... Yang diinginkan ketua kami adalah jabatan pimpinan di daerah Timur ini. Bahkan bukan hanya daerah Timur saja, tapi seluruh negeri ini harus berada di bawah kepemimpinan ketua kami. Kalau kalian tidak senang, silakan berhadapan dengan ketua kami,” sahut lelaki tinggi kurus berusia setengah baya itu kembali. Sepertinya, dia memang bertindak sebagai juru bicara dari lelaki tinggi tegap berpakaian kuning emas itu.

“Keparat! Rupanya kedatangan kalian memang sengaja mencari keributan...!” bentak Pendekar Naga Besi yang memang tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Langsung saja tubuhnya bergerak mundur, menyiapkan serangan.

Sebelum Pendekar Naga Besi bergerak, tiba-tiba melayang dua sosok tubuh yang langsung mendarat di kiri dan kanannya. Mereka tak lain adalah Telapak Tangan Dewa dan Cakar Macan Putih.

Pendekar Naga Besi mengisyaratkan kepada kedua rekannya untuk mundur. Sepertinya, tanggung jawabnya hendak diperlihatkan di hadapan para tokoh persilatan yang telah mengangkatnya sebagai pimpinan semua golongan putih di daerah Timur ini.

“Ketua tidak perlu turun tangan untuk menghadapi pengacau-pengacau rendah ini. Sebaiknya Ketua menyaksikan saja, bagaimana kami menghajar orang-orang sombong itu...,” bantah Pendekar Cakar Macan Putih, dengan nada hormat. Lelaki gemuk berpakaian serba putih itu sudah menganggap Pendekar Naga Besi sebagai pemimpin yang harus dihormati. Bahkan Pendekar Naga Besi sudah dipanggil dengan sebutan ketua.

“Benar apa yang dikatakan Cakar Macan Putih, Ketua...,” timpal Telapak Tangan Dewa. Lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu pun memanggil Pendekar Naga Besi dengan sebutan ketua. Sikapnya juga sudah seperti bawahan terhadap pimpinannya. Maka, Pendekar Naga Besi terpaksa mengalah, lalu melangkah mundur. Dibiarkannya saja kedua orang rekannya untuk membereskan pengacau-pengacau itu.

“Hm...” Lelaki tegap yang tinggi tubuhnya hampir menyamai kedua orang pengawalnya, melangkah maju dengan sikap angkuh. Kedua lengannya dikibaskan sebagai pertanda agar ketiga orang pengikutnya menjauh. Sambil melangkah, jubah panjangnya yang berwarna kuning keemasan dilepaskan begitu saja. Kemudian jubahnya disambut lelaki tinggi kurus yang bertindak sebagai pelayannya.

“Hm... Mengapa kau tidak maju sekalian, Pendekar Naga Besi? Apakah kau takut dipermalukan di depan pengikut-pengikut barumu?” ejek lelaki tinggi tegap yang disebut sebagai Sang Penghancur itu. Nadanya sangat menghina, sehingga wajah Pendekar Naga Besi menjadi merah karenanya.

“Hm.... Jangan mengumbar kesombongan, Sang Penghancur. Kalau memang sanggup menghadapi kami berdua, bersiaplah. Jangan banyak bicara lagi...!” geram Cakar Macan Putih yang sudah tidak sabar untuk segera memberi pelajaran kepada lelaki tinggi tegap berpakaian kuning keemasan itu.

“Kalau begitu, mengapa kalian tidak segera maju...?” tantang Sang Penghancur seraya melipat kedua tangan dengan lagak jumawa. Tentu saja sikap yang nyata-nyata memandang rendah itu membuat Cakar Macan Putih menjadi geram bukan main.

“Jaga seranganku...!” Tanpa membuang-buang waktu lagi, Cakar Macan Putih menyerang dengan pukulan lurus disertai pengerahan tenaga dalam sepenuhnya. Sepertinya, lawan ingin dirobohkannya dengan sekali pukul saja.

Bukkk!

“Akh...?!” Terjadilah hal yang membuat para tokoh persilatan, termasuk Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa, menjadi terkejut dengan wajah berubah. Pukulan yang telak menghantam dada Sang Penghancur malah membuat Cakar Macan Putih berteriak kesakitan. Bahkan lelaki bertubuh gemuk itu terjungkal deras ke belakang. Tangan kanannya yang digunakan untuk memukul tampak bengkak, berwarna kemerahan seperti tersengat lidah api. Tentu saja kejadian itu menimbulkan kegemparan dikalangan tokoh aliran putih yang berkumpul di tempat ini.

“Ilmu iblis...!” desis Telapak Tangan Dewa yang tahu kekuatan pukulan rekannya. Tanpa sadar, tokoh bertubuh tinggi kurus itu bergerak mundur dengan wajah tegang.

Pendekar Naga Besi sendiri yang juga memiliki ilmu ‘Baju Kulit Naga’ merasa terkejut melihat akibat yang diderita rekannya. Meskipun tubuhnya sendiri sanggup menahan pukulan Cakar Macan Putih, namun tidak bisa membuat lengan yang memukul akan membengkak seperti itu. Kecuali, apabila tenaga lawan jauh di bawahnya. Apalagi sampai membuat lengan lawan sampai terbakar. Kecemasan pun membayang pada wajah yang gagah dan keras itu. Tentu saja, hatinya merasa terkejut melihat kesaktian tokoh muda yang berjuluk Sang Penghancur itu.

“Hm.... Hanya itukah kesaktian orang-orang yang ingin menjadi pimpinan kaum persilatan...?” ejek Sang Penghancur disertai senyum sinis yang menyakitkan.

“Bangsat! Jangan sesumbar dulu, Sang Penghancur! Kalau benar-benar memiliki kekebalan, tahanlah pedangku ini...!”

Tiba-tiba seorang lelaki brewok bertubuh kekar melesat maju dengan tebasan pedangnya. Kepandaiannya pun tidak bisa dipandang rendah. Ia adalah salah seorang calon pemimpin yang dikalahkan Telapak Tangan Dewa pada babak kedua pertandingan perebutan pimpinan persilatan. Tidak heran kalau sambaran pedangnya sangat berbahaya.

Klang...!

Lagi-lagi para tokoh persilatan golongan putih terbelalak takjub! Tebasan pedang lelaki brewok yang sangat kuat itu ternyata sama sekali tidak dielakkan lawan. Malah tubuh lelaki brewok itu sendirilah yang terjengkang ke belakang. Meskipun langsung dapat bangkit, namun jelas sekali kalau ia menderita rasa sakit yang hebat pada tulang lengannya.

“Hm.... Sambutlah seranganku...!” Pendekar Naga Besi yang sudah tidak bisa menahan rasa marahnya, segera saja melesat maju. Langsung dikirimkannya pukulan, yang menimbulkan deru angin tajam.

Bersamaan dengan itu, Telapak Tangan Dewa ikut menyertai. Rupanya setelah melihat kehebatan tokoh berjuluk Sang Penghancur itu, ia tidak ragu lagi mengeroyok.

“Hm.... Begitu baru benar...,” gumam Sang Penghancur sambil melebarkan senyum mengejek. Kali ini Sang Penghancur menggeser langkahnya ke samping, sehingga serangan kedua tokoh sakti itu hanya mengenai angin kosong. Hal itu dilakukan bukan karena takut, tapi karena ingin menunjukkan kehebatannya di depan tokoh-tokoh persilatan yang menyaksikan pertarungan. Maka, mulai dibalasnya serangan para pengeroyoknya.

“Hiahhh!”

Bettt! Bettt!

Sang Penghancur melontarkan hantaman kedua telapak tangan ke kiri dan kanan. Kemudian dilanjutkannya dengan tendangan kilat yang berputar ketika kedua lawannya menghindari hantaman telapak tangannya.

Plak! Plak!

“Uaaah...?!”

“Haiii...?!”

Baik Pendekar Naga Besi maupun Telapak Tangan Dewa terlempar ke belakang, dan hampir terjatuh akibat menangkis tendangan lawan. Bahkan Pendekar Naga Besi merasa kaget, merasakan getaran pada lengannya yang digunakan untuk menangkis tendangan lawan tadi.

“Gila...! Bagaimana mungkin ia bisa memiliki tenaga dalam sedemikian kuatnya? Siapakah sebenarnya tokoh yang berjuluk Sang Penghancur itu...?” gumam Pendekar Naga Besi.

Pendekar Naga Besi benar-benar merasa kaget karena kekebalannya dapat ditembus oleh tendangan lawan. Padahal, itu hanya melalui tangkisan saja. Entah apa jadinya bila tendangan tokoh tinggi tegap yang hampir menyamai tinggi tubuhnya itu sampai mengenai sasaran. Bergetar hati lelaki tinggi besar itu membayangkannya.

“Hm.... Apakah kalian sudah merasa takluk kepadaku...?” ejek Sang Penghancur sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Benar-benar sombong tokoh berpakaian kuning emas itu.

Aliran darah Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa menggelegak naik ke kepala, hingga wajah mereka menjadi kemerahan.

“Bedebah sombong...!” umpat Telapak Tangan Dewa. Segera Telapak Tangan Dewa menggeser langkahnya ke sebelah kiri. Sedangkan Pendekar Naga Besi bergerak ke sebelah kanan. Tampak mereka hendak menerjang lawan dari dua arah.

“Hiaaat..!”

Diiring pekik melengking tinggi, tubuh Pendekar Naga Besi melayang menerjang lawan. Dari udara, sepasang cakarnya menyambar susul-menyusul. Dari sini bisa diketahui kalau jurus ‘Dewa Naga Bercengkeram’ tengah dikeluarkannya. Dan ini adalah merupalkan ilmu pamungkasnya. Tentu saja kehebatan serangannya tidak bisa dianggap ringan. Demikian pula halnya Telapak Tangan Dewa. Tokoh bertubuh tinggi kurus berwajah kepucatan itu sudah pula mengeluarkan ilmu pamungkas dari jurus ‘Telapak Dewa’nya.

Bettt! Bettt!

Dada Telapak Tangan Dewa tampak remuk akibat gedoran dahsyat Sang Penghancur. Lain halnya dengan Pendekar Naga Besi. Tokoh yang memiliki ilmu kekebalan tubuh tangguh itu tidak sampai tewas oleh pukulan keras lawan. Meskipun begitu, bukan berarti tidak mengalami luka dalam. Dari lelehan darah segar di sudut bibirnya, tampak Pendekar Naga Besi cukup menderita akibat hantaman keras pada tubuhnya.

“Hm.... Kau benar-benar mengagumkan, Pendekar Naga Besi. Rupanya pukulanku belum mampu mengusir arwahmu ke akhirat sana. Orang-orang kuat sepertimulah yang kuharapkan untuk menjadi pembantuku...,” puji Sang Penghancur dengan tarikan bibir mengandung ejekan. Ucapan terakhirnya lebih merupakan tawaran bagi Pendekar Naga Besi untuk bergabung.

“Hm.... Jangan harap aku sudi bersekutu dengan manusia laknat yang telah begitu kejam membunuh kawan-kawanku. Lebih baik mati sebagai pendekar daripada harus ikut kepada orang-orang pengecut berhati keji seperti kau dan kawan-kawanmu itu, Sang Penghancur!” tolak Pendekar Naga Besi dengan berangnya. Usai berkata demikian, Pendekar Naga Besi memalingkan wajahnya ke belakang, ke arah pengikut-pengikutnya.

“Lebih baik kita semua mati sebagai pendekar-pendekar yang selalu menjunjung tinggi kegagahan! Ayo, maju...!” perintah Pendekar Naga Besi. Segera Pendekar Naga Besi mencabut sebilah golok besar yang selama ini tergantung di punggungnya. Kemudian tubuhnya langsung melesat menerjang Sang Penghancur, dibantu beberapa orang tokoh yang kepandaiannya tidak berselisih jauh.

“Heaaa...!”

Pendekar Naga Besi bersama pengikut-pengikutnya segera menyerbu Sang Penghancur. Sedangkan tokoh sakti bertubuh tegap dan berpakaian kuning keemasan itu hanya menggumam perlahan. Kemudian kedua tangannya dikembangkan dengan kedudukan kaki menyilang. Sikapnya mirip seekor garuda yang tengah bermalasan. Namun, hembusan angin yang ditimbulkannya benar-benar hebat. Sehingga, membuat debu dan dedaunan kering beterbangan bagai terlanda angin topan dahsyat

“Heaaat..!”

Dibarengi bentakan nyaring, Sang Penghancur mengibaskan sepasang lengannya ke kiri dan kanan seraya melesat menyambut datangnya para pengeroyok. Hebat bukan main akibat yang ditimbulkan gerakan tokoh muda bertubuh tinggi tegap itu. Begitu lincah tubuhnya berkelebat di antara sambaran sinar pedang lawan. Sebentar saja, empat orang lawan telah terpelanting tewas dengan kepala remuk. Tentu saja sepak terjang yang mengerikan dari Sang Penghancur itu membuat para pengeroyok menjadi gentar.

“Hm.... Mengapa harus mundur? Bukankah kalian sendiri yang menginginkan kematian...?” ejek Sang Penghancur ketika melihat pengeroyoknya tinggal enam orang, termasuk Pendekar Naga Besi Usai berkata demikian, sepasang tangan Sang Penghancur dengan telapak terbuka langsung didorongkan ke depan. Dan....

Whusss! Blarrr!

“Aaa...!”

Terdengar ledakan mengguntur yang diselingi pekik kematian melengking merobek angkasa. Empat orang pengeroyok kontan terlempar ke kiri dan kanan dengan tubuh cerai-berai. Untunglah, Pendekar Naga Besi dan seorang lelaki brewok berhasil melompat jauh, menghindari ledakan akibat pukulan jarak jauh yang luar biasa itu.

“Ha ha ha...! Benar-benar menggelikan! Seorang pemimpin persilatan dari banyak partai dan golongan yang semula membusungkan dada, terpaksa harus lari terbirit-birit oleh pukulan jarak jauhku! Lucu... lucu” ledek Sang Penghancur.

Mendengar ucapan bernada menghina itu, dada Pendekar Naga Besi bagaikan hendak meledak. “Hm.... Ilmu silatmu memang sangat dahsyat, Sang Penghancur. Tapi perlu kau ketahui, perbuatanmu hari ini akan mendatangkan murka kaum golongan putih di seluruh pelosok negeri. Suatu saat kelak, kau pasti akan lari ketakutan seperti seekor anjing yang dipukuli majikannya. Aku yakin, pasti akan ada seseorang yang bisa membuatmu jungkir balik dan lari terbirit-birit ketakutan!”

Karena merah, Pendekar Naga Besi membalas hinaan lawannya dengan kata-kata yang tepat mengenai sasaran. Sehingga wajah Sang Penghancur kontan berubah kuning keemasan seperti pakaian yang dikenakannya. Hal ini pertanda Sang Penghancur mulai dilanda kemurkaan.

“Hm.... Hendak kulihat, siapa orang yang sanggup mencegah Sang Penghancur...,” desis tokoh sakti menyeramkan itu dengan gigi bergemeretak penuh kegeraman. Sepasang matanya yang tajam, melotot penuh nafsu dendam.

Pendekar Naga Besi dan seorang pengikutnya bersiap menghadapi gempuran dahsyat yang mungkin akan mendatangkan kematian bagi mereka. Keduanya bergerak ke kiri dan kanan, memecah perhatian lawan yang sangat sakti itu.

ENAM

“Bersiaplah melayat ke neraka...! Haaat..!” Dibarengi pekik laksana ledakan petir di angkasa, tokoh sakti berpakaian kuning emas itu melesat cepat bagai kilat mengincar Pendekar Naga Besi. Rupanya, lelaki tinggi besar itu lebih dipilih untuk dijadikan korban berikutnya.

Bettt..!

“Haihhh...!” Pendekar Naga Besi berseru nyaring sambil melesat ke udara dan berjumpalitan. Dan begitu mendarat di tanah, tubuhnya langsung berguling menjauh dari lawannya.

Sang Penghancur benar-benar telah menjadi kalap ketika pukulan mautnya berhasil dihindari lawan. Maka ketika lelaki brewok yang ikut mengeroyoknya menerjang maju dengan kibasan pedang, tubuhnya langsung melayang menyambut datangnya senjata lawan. Untuk kesekian kalinya, Sang Penghancur kembali membuat kejutan baru. Mata pedang yang meluncur ke tubuhnya, langsung dipapak dengan cengkeraman jemari tangannya!

Krappp!

Pedang lelaki brewok itu berhasil ditangkap dan dipatahkan jari-jari tangan sekeras baja itu. Belum juga lawan menyadari apa yang telah menimpa senjatanya, tiba-tiba jari-jari mengerikan itu menerjang dan mencengkeram leher.

“Aaa...!” Lelaki brewok itu menjerit ngeri ketika tubuhnya telah terangkat naik ke udara. Jeritannya lenyap seketika, begitu jari-jari tangan Sang Penghancur meremas tenggorokannya dengan pengerahan tenaga saktinya.

“Sambut mayat kawanmu ini...!” bentak Sang Penghancur sambil melemparkan tubuh korbannya ke arah Pendekar Naga Besi.

Melihat hal ini, Pendekar Naga Besi semakin geram. Lelaki tinggi besar itu cepat melompat ke samping menghindari mayat kawannya. Kemudian pedangnya siap diputar-putar begitu melihat lawan sudah akan menerjangnya. Namun langkah kaki Sang Penghancur tertunda ketika mendengar seruan-seruan kaget yang ternyata berasal dari para pengikutnya. Cepat wajahnya menoleh ke arah ketiga pengikutnya yang tengah dikeroyok puluhan tokoh persilatan. Kening lelaki tegap berpakaian kuning emas itu agak berkerut ketika melihat dua orang bertubuh tinggi besar yang merupakan pengawalnya tengah terpental hingga beberapa tombak jauhnya. Sedangkan lelaki tinggi kurus yang merupakan pelayannya, tengah berlari ke arahnya dengan napas memburu dan wajah tegang.

“Pendekar Naga Putih...! Pemuda sakti itu mengamuk menghajar Lagonta dan Latungga. Mereka..., terdesak...,” lapor lelaki setengah baya itu dengan suara terputus-putus.

Melihat raut wajahnya yang gelisah, jelas kalau lelaki tinggi kurus itu merasa tegang atas kemunculan Pendekar Naga Putih. “Pendekar Naga Putih...?! Bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini? Bukankah Latungga dan Lagonta telah kuperintahkan untuk memancingnya, menjauhi Desa Mandala Sari? Kau pun bodoh sekali, Labinta...? Apa saja yang kau kerjakan selama ini...?” Sang Penghancur tampak terkejut mendengar laporan orang bernama Labinta itu.

Bentakan lelaki tinggi tegap yang berjuluk Sang Penghancur itu terhenti saat Latungga dan Lagonta datang berlari-lari menghampirinya. Wajah kedua orang bertubuh raksasa itu tampak agak pucat. Jelas, mereka telah melarikan diri dari pertempuran untuk bergabung bersama pimpinannya.

“Ha ha ha...! Belum kering ludahku mengucapkannya, ternyata apa yang kuharapkan telah menjadi kenyataan! Hei, Sang Penghancur! Mengapa kelihatan wajahmu pucat mendengar nama Pendekar Naga Putih? Ke mana perginya kesombongan dan kegaranganmu?“ Pendekar Naga Besi yang melihat perubahan sikap Sang Penghancur ketika mendengar munculnya Pendekar Naga Putih, segera tertawa terbahak-bahak. Hatinya menjadi puas karena bisa membalas semua penghinaan dan sakit hatinya terhadap tokoh sakti itu.

“Hm.... Keparat! Kubunuh kau, Pecundang...!” bentak Sang Penghancur. Laki-laki berpakaian keemasan itu merasa geram bukan main ketika melihat Pendekar Naga Besi menertawakan dirinya. Segera saja tubuhnya melayang ke arah lawan, siap mencabut nyawa Pendekar Naga Besi.

“Haiiit..!”

Namun sebelum serangannya sempat menyentuh tubuh Pendekar Naga Besi, terdengar teriakan melengking yang disusul berkelebatnya sesosok bayangan putih keperakan yang menebarkan hawa dingin menusuk tulang.

Plarrr...!

Terdengarlah suara letupan kecil, diiringi kepulan asap tipis yang menandakan adanya pertemuan dua gelombang tenaga sakti berlainan sifat. Kedua sosok tubuh itu sama-sama terdorong mundur dan berjumpalitan beberapa kali, sebelum menyentuh permukaan tanah.

“Hm.... Kini aku baru sadar akan kelakuan aneh pengikutmu yang bernama Latungga dan Lagonta. Rupanya mereka sengaja membawaku pergi jauh dari Desa Mandala Sari, agar kau dan pengikut-pengikutmu bisa berbuat sesuka hati menebarkan bencana. Sayang, kedatanganku agak terlambat. Sehingga, siasat kalian bisa dianggap berhasil...,” desis pemuda tampan berjubah putih yang sekujur tubuhnya masih terselimuti kabut putih keperakan.

Pemuda itu tak lain dari Pendekar Naga Putih, yang ketika memasuki Desa Mandala Sari dapat dipancing dua orang bertubuh raksasa bernama Latungga dan Lagonta untuk menjauhi desa itu. Meskipun pertemuan para tokoh persilatan berada cukup jauh di luar desa, tapi Panji telah melihat rombongan tokoh persilatan yang melewati Desa Mandala Sari yang pergi ke tempat pertemuan ini. Namun karena harus mencari Latungga dan Lagonta yang dianggap masih bersembunyi di dalam hutan, maka kedatangan pemuda itu agak terlambat.

Padahal orang yang dikira masih bersembunyi didalam hutan telah pergi secara diam-diam keluar dari dalam hutan, saat malam tiba. Itulah sebabnya, ketika keesokan paginya Panji dan Kenanga mencari, namun tidak juga berhasil menemukan Latungga dan Lagonta. Sementara itu, para tokoh persilatan yang semula diamuk Lagonta, Latungga, dan Labinta telah berkumpul di belakang Pendekar Naga Besi. Diantara mereka terlihat seorang dara jelita yang tidak lain dari Kenanga.

Rupanya, pasangan pendekar muda itulah yang telah menyelamatkan para pengikut Pendekar Naga Besi. Sang Penghancur yang merasakan betapa kuatnya tenaga sakti pemuda berjubah putih itu menatap dengan mata redup. Meski demikian, mulutnya tetap saja membentuk senyum mengejek yang memandang rendah orang lain. Sesaat kemudian, mata yang semula redup itu terbuka lebar dan melotot tajam. Rupanya Sang Penghancur seperti hendak menilai kesaktian pemuda di hadapannya yang nama besarnya telah didengarnya.

“Hm..., Pendekar Naga Putih. Sebenarnya aku tidak ingin kau turut campur dalam masalah ini. Aku sengaja memancingmu, menjauhi tempat ini melalui dua pembantuku. Hal itu kulakukan, karena aku merasa kasihan padamu. Dalam usia yang masih muda, kau terpaksa harus tewas di tanganku. Itulah sebabnya, mengapa aku belum ingin bentrok denganmu,” ujar Sang Penghancur.

Secara tidak langsung, sebenarnya Sang Penghancur ingin mengatakan kalau kepandaiannya masih jauh di atas Pendekar Naga Putih. Tentu saja ucapan itu memancing kegeraman para tokoh persilatan yang mendengarnya. Sedang Panji sendiri hanya tersenyum saja.

“Tapi, dengan membuat kekacauan dan membunuh orang-orang tak berdosa di tempat ini, kau sama saja telah membuat permusuhan denganku, Kisanak. Dan aku wajib menghentikannya. Kalau kau memang tidak menghendaki pertarungan, sebaiknya menyerahlah dengan baik-baik untuk diadili di hadapan tokoh-tokoh persilatan yang ada di tempat ini,” sahut Panji. Sikapnya tetap tenang, meskipun disadari kalau lawannya memiliki kesaktian yang mengagumkan.

“Ha ha ha...! Kau kira aku begitu tolol untuk menyerah tanpa bertarung lebih dulu? Jangan harap, Pendekar Naga Putih. Aku pun sama sekali tidak gentar menghadapimu. Hanya saja, aku merasa kau belum saatnya mati di tanganku,” sahut Sang Penghancur bernada tantangan seraya memperdengarkan suara tawanya yang berkepanjangan.

“Lebih baik manusia kejam sepertinya harus segera dilenyapkan, Pendekar Naga Putih. Kalau tidak, kelak akan mencelakai orang-orang tak berdosa seperti yang baru saja dilakukannya...,” bisik Pendekar Naga Besi yang memang dendam terhadap tokoh berjuluk Sang Penghancur itu. Sedangkan Panji menanggapinya dengan senyum tenang.

“Kalau kau tidak suka menyerah, aku terpaksa menangkapmu dengan jalan kekerasan, Kisanak...,” ujar Panji. Pendekar Naga Putih segera melangkah maju empat tindak. Sehingga, Sang Penghancur bergerak mundur sambil mengibaskan kedua tangannya. Disuruhnya para pengikutnya untuk menyingkir.

“Kalian pergilah. Aku akan menyusul...,” biak Sang Penghancur tanpa menolehkan kepalanya.

Berbarengan dengan bergeraknya ketiga orang pengikutnya meninggalkan tempat itu, Sang Penghancur memasang kuda-kudanya. Rupanya dia siap bertarung melawan Pendekar Naga Putih.

“Hm.... Sebaiknya kalian menyingkir. Aku khawatir pukulan-pukulan jarak jauh tokoh itu akan mengenai kalian...,” Panji mengingatkan yang lain agar menyingkir.

Pendekar Naga Putih memang menduga kalau orang yang kali ini dihadapinya tentu memiliki kesaktian yang tinggi. Buktinya, dari beberapa mayat tokoh yang dikenalnya memiliki kepandaian tinggi, telah bergeletakan. Bahkan ada beberapa di antaranya tewas dengan anggota tubuh cerai-berai. Panji menduga, hal ini disebabkan pukulan maut lelaki tinggi tegap berpakaian kuning emas itu. Maka tanpa banyak bicara lagi, langkahnya segera digeser dengan kuda-kuda kokoh dan kuat.

“Sambut seranganku, Pendekar Naga Putih...!” Belum lagi gema suaranya lenyap,tubuh Sang Penghancur telah melesat cepat bagai kilat Langsung diterjangnya Pendekar Naga Putih. Sepasang tangannya bergerak cepat menyambar-nyambar, disertai deru angin mencicit hingga menyakitkan telinga.

Whusss...!

Sebuah tamparan yang mendatangkan deru angin kuat berhawa panas menyengat, meluncur mengarah ke kepala Pendekar Naga Putih. Namun pemuda itu pun dapat cepat bergerak mengelak, dan langsung melontarkan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Akibatnya terjadilah pertarungan seru dan mendebarkan.

Sadar akan kesaktian lawannya, Panji langsung menggunakan ilmu ‘Naga Sakti’nya untuk mengimbangi permainan lawan. Sepasang tangannya menyambar-nyambar diiringi tiupan angin dingin yang menusuk tulang. Bahkan sesekali kakinya melayang, melakukan tendangan kilat yang sama sekali tidak terduga. Akibatnya, beberapa kali tendangan kilatnya nyaris mengenai sasarannya. Untunglah gerakan Sang Penghancur demikian gesit, sehingga selalu saja mampu mengelak.

“Hiaaah...!”

Ketika pertarungan menginjak jurus yang keempat puluh, Panji yang melihat pertahanan lawan terbuka langsung saja menyarangkan telapak tangan ke dada lawan. Meskipun kesempatan itu hanya sekejap saja, Panji cepat dapat memanfaatkannya.

Desss...!

“Hei...?!” Hantaman telapak tangan Pendekar Naga Putih memang telak mengenai dada lawan. Tapi bukan main terkejutnya pemuda itu ketika merasakan adanya daya tolak yang membuat telapak tangannya berbalik bagai menghantam segumpal karet kenyal. Maka, kesempatan baik itu tidak disia-siakan oleh Sang Penghancur. Langsung tinjunya dilontarkan ke tubuh lawan.

Bukkk!

“Ugkhhh...!” Tubuh Panji terjajar mundur akibat hantaman telak mengandung tenaga dalam yang amat kuat. Untunglah lapisan kabut bersinar putih keperakan yang menyelimuti tubuhnya sanggup meredam kerasnya pukulan lawan. Sehingga tubuhnya hanya terdorong ke belakang, dengan sedikit rasa nyeri yang menggigit pada bagian yang terkena pukulan.

Sebenarnya, Sang Penghancur juga cukup tertegun ketika merasakan kepalannya seperti amblas ke dalam samudera es yang tidak berdasar. Hal itu menyadarkannya kalau lawan pun memiliki ilmu kekebalan tubuh yang sangat aneh. Bahkan belum pernah ditemuinya selama ini. Tentu saja hal itu membuatnya semakin berhati-hati dalam menghadapi pemuda yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu.

Kedua tokoh sakti itu kembali saling tatap dengan sinar mata tajam. Setelah satu sama lain menyarangkan sebuah pukulan, kini baru diyakini kalau tubuh lawan masing-masing kebal terhadap pukulan. Dan kini, baik Pendekar Naga Putih maupun Sang Penghancur semakin berhati-hati untuk pertarungan selanjutnya.

“Heahhh...!”

Tiba-tiba Sang Penghancur membentak keras, laksana ledakan guntur di siang bolong. Seiring dengan itu, sepasang tangannya bergerak ke atas, kemudian berputar secara aneh dan tidak beraturan. Sesaat kemudian, terlihatlah sebuah pemandangan yang membuat takjub Panji maupun tokoh-tokoh persilatan yang menyaksikannya. Betapa tidak?

Tubuh Sang Penghancur tiba-tiba telah mengeluarkan sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata. Apalagi, pakaian yang dikenakannya sangat menunjang sinar yang keluar dari tubuhnya. Maka semakin kuatlah daya pancar yang menyilaukan mata. Dan akibatnya, Panji sulit sekali melihat wajah lawannya. Bahkan, tubuh lawan pun tampak seperti bayangan mentari yang membuatnya tidak kuat memandang berlama-lama.

“Gila! Pantas pakaiannya terbuat dari benang emas! Bahkan masih dilengkapi dengan benda-benda sebesar lempengan uang di lingkar dadanya. Tentu hal itu untuk menambah kuatnya pancaran keemasan yang menyilaukan mata. Benar-benar seorang tokoh yang cerdik dan berbahaya,” desis Panji seraya bergerak mundur dan memalingkan wajahnya dari pancaran sinar kuning keemasan yang membuat matanya perih.

“Heaaat..!”

Sang Penghancur membentak nyaring, dan langsung menerjang Panji. Ia memang sengaja mengenakan pakaian kuning emas dan hiasan di lingkar dadanya yang terbuat dari emas murni. Rupanya semua itu dapat membantunya, agar kekuatan daya pancar kuning keemasan yang muncul dari tubuhnya bisa mempengaruhi pandangan dan pikiran lawan. Seperti halnya yang saat ini dialami Pendekar Naga Putih.

Panji kini terpaksa harus memejamkan matanya untuk mengelakkan serangan lawan. Dia berloncatan menghindari pukulan dan tamparan Sang Penghancur yang bisa diketahui dari sambaran angin yang datang menuju tubuhnya. Untuk beberapa jurus lamanya, Pendekar Naga Putih hanya bisa mengelak tanpa mampu melontarkan serangan balasan.

Duk! Duk...! Plak!

Dua kali Panji berhasil memapak pukulan lawan. Namun untuk yang ketiga kali ia tidak sempat lagi menangkis atau menghindar! Meskipun demikian, tubuhnya masih sempat dimiringkan. Sehingga bukan kepalanya yang terkena tamparan, tapi bahu kanan yang telah terlindung tenaga sakti. Tubuh Pendekar Naga Putih langsung terjajar limbung. Sadar kalau serangan lawan pasti masih terus berkelanjutan, Panji cepat melambung ke udara dan berjumpalitan beberapa kali menjauhi lawannya. Kemudian tubuhnya baru meluncur turun dengan gerakan ringan.

“Kakang...?!” Kenanga yang sempat melihat tubuh kekasihnya terkena tamparan lawan, segera berlari memburu. Namun Panji cepat mencegah, demi keselamatan gadis itu sendiri.

“Kenanga, menyingkirlah...! Orang ini sangat berbahaya...!” ujar Panji memperingatkan.

Akhirnya meski dengan hati berat, dara jelita itu mau juga mengikuti perintah Panji. Kenanga melangkah mundur dengan wajah agak pucat. Sebagai seorang wanita, tentu saja tidak bisa menahan kekhawatiran melihat nyawa kekasihnya terancam. Saat ini dia benar-benar hanya memikirkan keselamatan Panji. Meski ada terbersit kesadaran kalau kekasihnya dapat menjaga diri, namun tetap saja dicekam kecemasan dan kegelisahan.

Sang Penghancur kembali menerjang Panji dengan serangan-serangan mautnya. Maka cepat Panji mengerahkan semangat dan seluruh kekuatan dahsyat ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ yang telah dilatihnya hingga mencapai titik kesempurnaan. Sesaat kemudian, lapisan kabut yang menyelimuti sekujur tubuh Pendekar Naga Putih semakin melebar disertai hembusan hawa dingin. Sehingga, membuat udara di sekitar arena pertarungan bagai tengah dilanda badai salju.

“Heaaah...!”

Dibarengi bentakan nyaring yang merontokkan jantung, tubuh Pendekar Naga Putih mengelak ke samping. Langsung cakar naganya diayunkan, disertai hembusan angin dingin yang bisa membekukan urat-urat di tubuh lawan. Untungnya, Sang Penghancur memiliki tenaga sakti luar biasa. Sehingga dengan hawa panas yang keluar dari tubuh, tokoh itu mampu untuk bertahan dari hembusan hawa dingin yang menebar dari tubuh Pendekar Naga Putih.

“Luar biasa...! Benar-benar sukar dipercaya kalau ada manusia yang memiliki kesaktian yang demikian langka! Sepertinya, selama hidupku tidak akan pernah menemukan pertarungan seperti ini...!” gumam Pendekar Naga Besi, terbelalak takjub menyaksikan pertarungan yang benar-benar mirip dongeng itu.

Pendekar bertubuh tinggi besar itu menggelengkan kepala sambil tak henti-hentinya berdecak penuh kekaguman. Yang disaksikannya saat itu bukan lagi dua sosok bayangan sedang bertarung, melainkan dua berkas sinar emas dan putih keperakan. Kedua sinar itu terlihat saling libat dan saling terjang disertai sambaran hawa panas dan dingin berganti-ganti. Kadang, tokoh itu melihat sinar putih keperakan nampak terdesak oleh sinar kuning keemasan yang memancar garang. Pemandangan seperti itu, tentu saja membuat para tokoh persilatan menahan napas dengan wajah tegang. Karena mereka tahu, Pendekar Naga Putih telah terdesak.

Di lain saat, terdengar helaan napas lega serta wajah penuh senyum ketika sinar putih keperakan dapat mendesak sinar kuning emas yang terlihat terus bergerak mundur. Hal itu menandakan, Pendekar Naga Putih tengah berada di atas angin dan berhasil mendesak lawan.

Blarrr...!

Tiba-tiba saja terdengar ledakan dahsyat laksana gemuruh petir di siang bolong. Kemudian, disusul berpencarnya kedua gunduk sinar yang semula saling libat. Bahkan, beberapa orang tokoh sampai jatuh terduduk, akibat ledakan yang mengguncang dada. Ledakan mengguntur itu membuat lutut mereka gemetar, hingga tidak mampu menahan tubuhnya. Dapat dibayangkan, betapa hebatnya benturan yang baru saja terjadi. Padahal, jarak pertarungan dengan para tokoh persilatan terpisah sekitar empat tombak lebih.

“Haiiit..!”

Panji berseru nyaring sambil berputaran sebanyak lima kali di udara. Hal itu dilakukan untuk menahan daya dorong yang amat kuat akibat benturan dahsyat itu. Dan dengan indahnya, tubuh pemuda berjubah putih itu dapat mendarat ringan di atas tanah.

Lain halnya yang dilakukan Sang Penghancur. Pada saat tubuhnya terlontar deras ke belakang, ia langsung berputaran dan melarikan diri meninggalkan arena pertarungan. Tak seorang pun yang menyangka tokoh itu bakal melarikan diri. Karena masih terkesima oleh benturan dahsyat itu. Kini Sang Penghancur telah lenyap di saat orang-orang tersadar dari pengaruh ledakan laksana gemuruh petir tadi.

Panji berkelebat mengejar. Tapi karena jaraknya telah terpisah cukup jauh, akhirnya pemuda itu kembali dengan tangan hampa. Wajahnya pun tampak agak menyesal.

TUJUH

Kenanga berlari menyongsong kekasihnya dengan wajah agak cemas. Panji sendiri menyambut kedatangan dara jelita itu dengan senyumnya. Paling tidak, agar hati dara jelita yang tengah diliputi kecemasan itu menjadi lega.

“Kakang...!” Kenanga langsung memeluk, yang disambut Panji dengan tangan terbuka. Kemudian mereka melangkah ke arah Pendekar Naga Besi dan para pengikutnya yang rupanya tidak ingin mengganggu. Sehingga mereka hanya berdiri menanti, agak jauh dari sepasang pendekar muda itu.

“Maaf, Paman. Tokoh itu memang luar biasa. Hari ini aku terpaksa gagal membekuknya. Tapi mudah-mudahan, lain kali tidak akan terulang lagi. Harap Paman memaklumi kalau aku tidak bisa membantu untuk membereskan tempat ini. Aku dan kawanku ini akan mengejar orang-orang telengas itu. Doakan kami, Paman...,” ucap Panji. Pendekar Naga Putih langsung meminta diri untuk mengejar Sang Penghancur. Dia memang khawatir kalau tokoh sesat itu akan mengulangi lagi kejahatannya di tempat lain.

“Kami mengerti, Pendekar Naga Putih. Biar bagaimanapun juga, kami tetap mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Kalau tidak, mungkin saat ini kami semua telah jadi bangkai akibat ulah tokoh yang mengaku berjuluk Sang Penghancur itu,” sahut Pendekar Naga Besi.

Diiringi pandangan mata penuh kagum dari para tokoh persilatan, Panji dan Kenanga bergerak meninggalkan tempat itu. Setelah bayangan pasangan pendekar muda itu lenyap, barulah Pendekar Naga Besi dan para pengikutnya membereskan tempat itu untuk menguburkan kawan-kawannya yang tewas. Sedangkan yang terluka dipapah, meninggalkan tempat pertemuan yang berubah menjadi arena pemakaman. Alam pun kembali hening setelah para tokoh persilatan meninggalkan tempat itu.

******************************

Pendekar Naga Putih dan Kenanga melangkah agak lambat, meninggalkan batas desa di belakangnya. Dari tempat mereka berjalan, masih terlihat atap-atap rumah penduduk. Satu dua orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka, hanya bisa menatap iri. Karena baik yang pria maupun yang wanita, sama-sama menimbulkan kekaguman bagi siapa saja yang melihatnya.

“Kita harus segera menemukan tokoh-tokoh jahat itu, Kakang. Kalau dibiarkan terlalu lama, bisa lebih banyak menimbulkan korban,” kata Kenanga. Gadis itu melangkah tanpa melepaskan genggaman jemari tangannya dari tangan Pendekar Naga Putih. Dan dalam nada ucapannya, terkandung rasa penasaran dan kegeraman yang dalam.

“Sabarlah, Kenanga. Bukankah saat ini pun kita tengah berusaha menemukan jejak mereka. Tapi selama tiga hari ini, kita belum juga dapat menemukan tanda-tanda tempat persembunyian mereka. Sedangkan yang kita temui hanyalah bekas-bekas kejahatan mereka saja. Contohnya yang kita temukan kemarin. Sebuah perguruan habis mereka musnahkan tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Sepertinya, tokoh itu ingin menghancurkan apa saja yang ditemuinya sesuai julukannya. Sang Penghancur..,” sahut Panji.

Memang Pendekar Naga Putih semakin bertambah geram kepada tokoh yang berjuluk Sang Penghancur itu. Beberapa kali, Panji menemukan bekas-bekas kejahatan tokoh sesat berkepandaian tinggi itu. Meskipun selama tiga hari itu mereka tidak mene- mukan petunjuk sedikit pun, namun sama sekali tidak putus asa. Bahkan semangat untuk dapat menemukan tokoh sesat itu semakin menggebu-gebu. Hal itu timbul, selain karena merasa ikut bertanggung jawab, Panji dan Kenanga sadar kalau tokoh berjuluk Sang Penghancur itu sukar sekali dilawan.

Sangat jarang ada tokoh persilatan dari golongan putih yang sanggup menandingi tokoh sesat itu. Bahkan kebanyakan dari para tokoh tua, hanya mementingkan untuk bertapa dan mengasingkan diri, tanpa sudi ikut campur dalam segala urusan dunia ramai yang dianggap hanya memusingkan kepala dan menambah dosa saja. Dan, semua itu mereka timpakan ke pundak tokoh-tokoh muda seperti Pendekar Naga Putih.

“Hm.... Apakah kita harus berpencar, Kakang...?” usul Kenanga.

Namun Panji menggeleng tidak menyetujui usul yang menurutnya sangat berbahaya itu. “Tidak mungkin, Kenanga. Selain kepandaian Sang Penghancur masih belum bisa diukur, tiga orang pengikutnya pun bukan orang lemah. Bahkan kalau dua orang pengawal bertubuh raksasa itu maju secara bersama-sama, belum tentu kau sanggup menandinginya. Usulmu sangat berbahaya...,” jelas Panji sejujurnya, tanpa bermaksud merendahkan kepandaian kekasihnya.

“Hm.... Kalaupun mereka maju secara bersama-sama, rasanya aku masih bisa mengalahkan mereka, Kakang. Meskipun tidak mudah, tapi bisa menggunakan ilmu ‘Pedang Naga Sakti’ yang pernah kau ajarkan kepadaku. Bahkan sekarang, telah ku gabung dengan jurus ‘Bidadari Menabur Bunga’ yang merupakan jurus ilmu pedang andalanku,” bantah dara jelita itu.

Panji mengangguk-angguk ketika mendengar penjelasan kekasihnya. Ia pun segera teringat kedua ilmu pedang tingkat tinggi yang telah digabungkan Kenanga dengan sedikit petunjuk darinya. Meskipun demikian, Panji tetap saja merasa khawatir.

“Hm.... Selama ini, kita selalu melakukan perjalanan melewati desa-desa dan hutan-hutan kecil. Sebaiknya, mulai saat ini kita menjauhi desa dan harus mengambil jalan-jalan tersembunyi. Kita harus mendahului mereka. Bukankah selama ini kita hanya menemukan bekas-bekas kejahatan mereka? Itu sama artinya jalan yang kita lewati, telah lebih dulu dilalui mereka. Ya, benar! Kita harus mendahului dan menghadang mereka di depan,” ujar Panji, tiba-tiba mendapatkan pemikiran bagus untuk menemukan Sang Penghancur dan kawan-kawannya.

“Tapi, bagaimana kita bisa tahu kalau mereka belum lewat, Kakang?” tanya Kenanga.

“Hm.... Kalau kita terus melakukan perjalanan tanpa henti ke arah Barat, bukan mustahil akan bisa mendahului mereka. Biasanya dalam melakukan kejahatan, mereka pasti akan menunda perjalanan. Nah! Setelah yakin kalau mereka telah tertinggal, baru kita mengambil jalan membalik ke desa. Dengan begitu, kemungkinan besar kita bisa berpapasan dengan Sang Penghancur dan kawan-kawannya,” jelas Panji.

Penjelasan itu seketika membuat wajah Kenanga berseri-seri. Memang besar sekali kemungkinannya dapat berpapasan dengan tokoh-tokoh sesat itu, seperti yang dijelaskan kekasihnya.

“Kalau begitu, kita harus memulainya sekarang, Kakang...,” ujar dara jelita itu, penuh semangat. Sepasang mata bintangnya tampak berbinar-binar. Tampak ia sangat mengharapkan untuk segera bertemu orang- orang jahat itu.

“Ayolah...,” ajak Panji.

Pendekar Naga Putih segera melesat mengerahkan ilmu lari cepatnya. Tanpa banyak cakap lagi, Kenanga pun segera mengejar kekasihnya. Mereka berbarengan meninggalkan tempat itu, melintasi tempat-tempat sukar yang jarang dijamah manusia. Kebulatan tekad untuk segera dapat membasmi Sang Penghancur, membuat pasangan pendekar muda itu tidak pernah merasa lelah. Mereka hanya beristirahat apabila perut benar-benar lapar. Dan terpaksa menginap di dalam hutan, apabila telah betul-betul sulit melawan rasa kantuk.

********************

“Tolooong...! Lepaskan aku, Manusia Jahat..!”

Gadis manis berkulit kuning langsat dengan bentuk tubuh mengundang hasrat itu meronta-ronta dalam pondongan seorang lelaki tinggi besar. Pada bagian atas tubuh laki-laki itu hanya mengenakan selempang kulit harimau. Dia terus saja melangkah sambil tertawa-tawa.

Di sebelah lelaki bertubuh raksasa itu, berjalan lelaki lain yang sama besarnya. Hanya bedanya, wajahnya ditumbuhi brewok. Sehingga semakin menambah keseraman wajahnya. Tubuhnya pun dihiasi otot melingkar-lingkar bagaikan akar pohon. Dan dia juga memondong seorang gadis yang hanya mengenakan kain sebatas dada. Sementara gadis desa itu terus meronta-ronta, berusaha melepaskan diri

“Ha ha ha...! Kau tidak membawa gadis cantik untuk menemanimu malam nanti, Labinta...?” tanya lelaki bertubuh raksasa yang wajahnya ditumbuhi brewok. Dia tak lain adalah Lagonta.

Sedangkan dua orang lainnya tentu saja Latungga, dan Labinta. Ketiganya adalah pembantu setia Sang Penghancur, yang selama ini merajalela tanpa ada yang berani mencegah.

“Hm.... Manusia-manusia liar dari mana kalian, berani mengganggu gadis-gadis desa kami...?!”

Teguran itu demikian tenang, namun mengandung wibawa yang cukup kuat Sehingga membuat Lagonta, Latungga, dan Labinta serentak mengangkat kepala.

“He he he...! Lebih baik kalian menyingkir saja, daripada mengantarkan nyawa percuma...,” sahut Labinta sambil tertawa-tawa, melihat delapan orang keamanan desa tahu-tahu sudah menghadang jalan. Kemudian Labinta melangkah maju.

“Berhenti! Lepaskan gadis-gadis itu, atau terpaksa kami menggunakan kekerasan...!” bentak seorang lelaki gagah yang menjadi pimpinan tujuh orang kawannya.

Tapi, peringatan itu sama sekali tidak digubris Labinta. Lelaki tinggi kurus berusia lima puluh tahun itu terus saja melangkah, tanpa mempedulikan ancaman kedelapan lelaki berseragam hitam yang menghadang.

“Bangsat! Tangkap mereka...!” Karena peringatannya tidak dipedulikan, lelaki gagah itu memerintahkan tujuh orang kawannya. Sedang, ia sendiri sudah melangkah maju seraya mencabut senjatanya.

“Hm.... Tikus-tikus busuk banyak lagak...!” umpat Labinta, sehingga membuat keamanan desa itu semakin bertambah marah.

Sebentar saja, Labinta telah terkurung delapan orang lelaki berseragam hitam. Maka tanpa dapat dicegah, pertempuran kecil pun pecah. Dan tentu saja sebagai tokoh berkepandaian tinggi, dengan mudah Labinta dapat menghindari setiap sambaran pedang yang mengancam tubuhnya. Sekali tangannya bergerak, dua orang pengeroyok roboh dengan kepala pecah. Tentu saja hal itu membuat yang lain menjadi terkejut

“Keparat! Kau harus membayar mahal nyawa kawan-kawan kami...!” bentak lelaki gagah itu murka, seraya melompat dengan sabetan pedangnya.

Bettt..!

Labinta hanya memiringkan tubuhnya sedikit, kemudian tangannya langsung bergerak melipat lengan yang memegang pedang itu.

Krekkk!

“Aaa...!” Lelaki gagah itu menjerit kesakitan ketika Labinta dengan mudah mematahkan lengannya. Belum lagi kejadian yang berlangsung terlalu cepat itu disadari, tahu-tahu saja jemari tangan Labinta meluncur ke tenggorokannya. Sekali tekan saja, tewaslah lelaki gagah yang menjadi pimpinan keamanan desa itu.

“Keparat kau, Manusia Laknat...!” Tiba-tiba terdengar teriakan melengking, yang disusul berkelebatannya sesosok bayangan hijau. Bahkan langsung menampar kepala Labinta.

Desss...!

“Ughhh...!” Meskipun Labinta telah memiringkan tubuhnya, tak urung bahunya terkena tamparan sosok bayangan hijau itu. Akibatnya, tubuh tinggi kurus itu pun terhuyung ke belakang.

“Terimalah hukumanmu...!” Kembali sosok bayangan hijau bertubuh ramping itu melesat dengan serangan mautnya.

Tapi, Labinta sudah dapat menguasai keseimbangannya. Maka, segera dia melompat menghindar, kemudian membalas dengan gerakan cepat dan kuat Sebentar saja, keduanya telah terlibat pertarungan sengit Sedangkan lima orang keamanan desa yang masih tersisa segera bergerak menjauh dan berdiri menonton.

Lagonta dan Latungga segera dapat mengenali, siapa adanya sosok bayangan hijau itu. Mereka segera menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah berubah tegang. Rupanya, ada sesuatu yang dikhawatirkan mereka.

“Apa yang kalian cari, Raksasa-raksasa Tolol...?!”

Terdengar teguran bernada mengejek, yang membuat Lagonta dan Latungga menoleh ke arah asal suara. Dan keduanya kontan terhenyak mundur, saat melihat seorang pemuda berjubah putih tengah duduk tenang di sebuah cabang pohon di tepi jalan. Karuan saja wajah mereka menjadi berubah. Nyata sekali pancaran kegentaran pada wajah kedua orang bertubuh raksasa itu.

“Pendekar Naga Putih...?!” desis keduanya hampir bersamaan.

Bagai diberi aba-aba, langsung saja gadis yang berada dalam pondongan masing-masing dilemparkan. Karena saat itu, Panji telah melayang turun dari atas pohon.

Melihat kalau gadis desa itu dilemparkan begitu saja ke tanah, cepat Pendekar Naga Putih melesat dan menyambar. Sedangkan Lagonta dan Latungga hanya berdiri bengong, menyaksikan perbuatan pemuda berjubah putih itu. Setelah menyelamatkan kedua gadis itu dan menyuruhnya pergi, Panji berbalik menatap Lagonta dan Latungga berganti-ganti dengan sorot mata tajam.

“Hm Bersiaplah menerima hukuman atas perbuatan kalian...!” desis Panji yang memang telah geram terhadap manusia-manusia liar itu.

Mendengar ucapan mengandung maut itu, Lagonta dan Latungga segera mencabut golok besar di pinggang masing-masing. Kemudian mereka menyilangkannya didepan dada, siap menyambut serangan Pendekar Naga Putih.

DELAPAN

“Heaaat..!”

Dibarengi teriakan mengguntur, Lagonta dan Latungga segera melesat mengeroyok Pendekar Naga Putih. Dapat dibayangkan, betapa mengerikannya serangan kedua orang bertubuh raksasa itu. Sambaran senjata mereka menimbulkan suara mengaung tajam, membuat orang jadi gemetar. Bahkan bisa kalah, sebelum bertanding melawan mereka.

Tapi tidak demikian halnya bagi Panji. Kalaupun pada pertemuan pertama di Desa Mandala Sari Panji sempat dibuat terkejut, itu karena bertarung tidak sungguh-sungguh. Pendekar Naga Putih mengira mereka adalah orang baik-baik. Sekarang, setelah mengetahui betapa jahatnya kedua orang bertubuh raksasa yang bersaudara itu, Panji pun tidak sudi bertindak setengah-setengah lagi. Maka begitu bertarung, langsung digunakannya ilmu ‘Naga Sakti’nya.

Wreeeet! Wreeet!

Lagonta dan Latungga yang telah mengetahui kehebatan pemuda berjubah putih itu, segera saja melompat mundur menghindari sambaran cakar naga lawan. Apalagi, sambaran cakar itu masih diiringi serbuan hawa dingin yang membuat tubuh menggigil. Maka, semakin gentarlah hati Lagonta dan Latungga.

Panji benar-benar tidak sudi memberi hati kepada kedua orang bertubuh raksasa yang liar itu. Dan begitu kedua orang lawannya melompat mundur menghindari serangan, pemuda itu sudah melepaskan tendangan dan tamparan kilat. Akibatnya kedua orang bertubuh raksasa itu harus mati-matian menyelamatkan diri dari ancaman serangan Pendekar Naga Putih yang jelas-jelas ingin menghukum atas perbuatan mereka.

Sadar kalau menyerah pun tidak ada gunanya, Lagonta dan Latungga sepakat untuk bertarung mati-matian. Maka mereka mulai melontarkan serangan dengan kelebatan golok besar yang mengerikan.

Bwettt! Bwettt!

Dua batang golok besar dan berat itu menyambar cepat dari dua arah yang berlawanan. Namun, Panji hanya merendahkan kuda-kudanya sambil mengibaskan kedua tangannya ke kiri dan kanan.

Plak! Plak!

Lagonta dan Latungga berteriak kaget. Tubuh mereka kontan terpelanting dan hampir jatuh, kalau tidak segera menguasai diri. Sementara Pendekar Naga Putih yang tidak sudi memberi kesempatan lagi, sudah kembali menerjang dengan tendangan berputar.

Desss!

“Hugkh...!” Lagonta langsung memuntahkan darah segar dan terpelanting keras ke tanah, hingga menimbulkan suara berdebum. Sedangkan Panji cepat mengirimkan tamparan keras ke pelipis Latungga.

Plakkk!

Latungga langsung menjerit ngeri. Tubuhnya yang tinggi besar melintir bagaikan layangan putus. Setelah sempoyongan sesaat, dia terbanting jatuh dan tewas dengan mata mendelik. Kepalanya retak akibat tamparan keras yang mengandung ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’.

“Latungga...!” Lagonta menjerit keras memanggil nama adiknya. Wajah lelaki bertubuh raksasa itu berubah beringas, melihat tubuh adiknya telah tergeletak menjadi mayat. Bagaikan telah menjadi gila, Lagonta menerkam Panji dengan cengkeraman tangannya yang besar dan kuat

Wuttt..!

Pendekar Naga Putih cepat melompat menghindari terkaman Lagonta. Dan dari atas, ujung kakinya cepat menotok tepat di tengah kening lawannya.

Tukkk...!

“Aaargh...!” Lagonta kontan meraung keras ketika tendangan yang amat kuat itu telak menghantam keningnya. Tanpa ampun lagi, tubuh raksasa berwajah brewok itu terbanting ke tanah. Bagian kening yang terkena totokan maut itu tampak berlubang. Otaknya pun berceceran keluar. Setelah meregang sesaat, Lagonta tewas menyusul adiknya.

Setelah menyelesaikan lawannya, Panji menoleh ke arah pertarungan Kenanga melawan Labinta. Dia adalah lelaki tinggi kurus berusia setengah baya, yang pernah menipu Panji ketika berada di Desa Mandala Sari. Pemuda itu melangkah ke arah lima orang berseragam hitam yang merupakan keamanan desa. Tampaknya, Panji tidak perlu mengkhawatirkan Kenanga yang diyakini bisa mengatasi lawan.

“Kalian tolong urus mayat kedua raksasa ini. Aku akan mencari majikan mereka...,” ujar Panji kepada keamanan desa itu.

Dan keamanan desa itu hanya bisa mengangguk. Sepertinya, mereka masih belum terbebas dari ketegangan melihat, pertarungan Pendekar Naga Putih melawan dua orang bertubuh raksasa yang menyeramkan itu.

“Kenanga, tahan...!”

Panji yang sudah membalikkan tubuhnya, cepat berseru mencegah ketika melihat Kenanga sudah berhasil menundukkan lawannya, dan hendak membunuh lelaki tinggi kurus itu. Cepat bagai kilat, tubuh Pendekar Naga Putih melesat ke arena pertempuran yang telah selesai.

“Rasanya, aku ingin meremukkan batok kepala manusia keji ini, Kakang...,” dengus gadis itu, tanpa melepaskan tatapan matanya kepada Labinta yang sudah tidak berdaya.

“Kita masih memerlukannya untuk dapat menemukan Sang Penghancur. Dialah biang keladi dari semua kejahatan yang dilakukan mereka,” jelas Panji. Dan Kenanga langsung menurut

“Nah, cepat katakan! Di mana ketuamu yang sombong itu bersembunyi...?” bentak Kenanga sambil mengangkat tangannya, mengancam akan meremukkan batok kepala lelaki setengah baya itu.

Labinta yang sadar kalau petualangannya sudah berakhir, menjawab dengan suara pelan. Mirip sebuah bisikan. Sepertinya, semangat lelaki itu lenyap setelah melihat Latungga dan Lagonta telah tewas di tangan Pendekar Naga Putih.

“Sang Penghancur tengah bersemadi di dalam Hutan Klaren yang terletak di sebelah Timur desa ini...,” jawab Labinta lesu. Namun setelah itu, Labinta mengangkat tangannya yang langsung dihantamkan ke kepalanya.

Kragh!

Panji dan Kenanga yang tengah melayangkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Labinta, menjadi terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara keras. Mereka kontan tertegun melihat Labinta roboh. Darah segar tampak menggenang di sekitar kepalanya yang remuk akibat pukulannya sendiri.

“Hm.... Dia telah mengambil jalannya sendiri. Sebaiknya, kita segera menemui Sang Penghancur, agar masalah ini segera tuntas...,” ajak Panji.

Segera sepasang pendekar muda itu berkelebat menuju Hutan Klaren, tempat Sang Penghancur berada. Sebentar saja, tubuh mereka lenyap. Hanya bayangan samar di kejauhan saja yang terlihat, untuk kemudian menghilang. Sementara, mayat Labinta pun diurus para keamanan desa.

**********************

Panji dan Kenanga berdiri tegak dalam jarak tiga tombak dari sebuah gubuk sederhana, yang biasa digunakan para pemburu sebagai tempat beristirahat. Setelah berpesan agar Kenanga menunggu di tempatnya, Panji melangkah mendekati pondok.

“Hei, Sang Penghancur! Keluarlah! Petualanganmu sudah berakhir! Aku datang untuk menghentikan kebiadabanmu...!” teriak Panji, disertai pengerahan tenaga dalam. Sehingga, suaranya bergema dan seperti datang dari setiap sudut Hutan Klaren.

Sang Penghancur yang tengah tenggelam dalam semadinya, tentu saja menjadi terkejut ketika mendengar teriakan bertenaga dalam tinggi itu. Karena dugaannya yang datang hanya orang-orang yang sengaja berlagak pahlawan untuk mengantarkan nyawa, Sang Penghancur pun melesat keluar dengan wajah berang. Namun setibanya di luar pondok, tokoh berpakaian kuning emas itu pun terkejut. Ternyata sosok yang berdiri di depan pondok adalah Pendekar Naga Putih!

“Kau..., Pendekar Naga Putih...?!” desis Sang Penghancur. Wajah tokoh berpakaian kuning keemasan itu tampak sedikit tegang. Sebentar kemudian, wajahnya berubah seperti biasanya, angkuh dengan senyum mengejek.

“Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini, Pendekar Naga Putih...?” tanya Sang Penghancur dengan kening berkerut. Tentu ia merasa heran melihat kedatangan Pendekar Naga Putih yang telah mengetahui tempat bersemadinya.

“Hm.... tidak perlu heran, Sang Penghancur. Labinta-lah yang memberitahukan kepadaku, sesaat sebelum kepalanya sendiri diremukkan. Dan Latungga dan Lagonta telah pula pergi ke alam baka. Sepertinya, mereka sudah bosan hidup di dunia ini...,” sahut Panji, sehingga membuat wajah Sang Penghancur seketika berubah beringas.

“Keparat! Kau harus menebus ketiga pembantuku dengan nyawamu, Pendekar Naga Putih. Bersiaplah untuk mati!” geram Sang Penghancur. Kemarahan tokoh sesat itu bangkit begitu mendengar kematian ketiga pembantunya yang setia.

“Hm.... Kaulah yang harus bertanggung jawab atas kematian orang-orang tak berdosa yang telah kau bunuh, Sang Penghancur! Kedatanganku menjadi wakil mereka untuk mencabut nyawamu,” sahut Panji tidak kalah berangnya. Pemuda itu menggeser langkahnya ke kanan, ketika melihat Sang Penghancur telah mempersiapkan serangannya.

“Haaat..!”

Tanpa banyak bicara lagi, Sang Penghancur langsung melesat dengan serangan-serangan mautnya. Cahaya emas menyilaukan mata sudah memancar dari tubuhnya, disertai menebarnya hawa panas menyengat. Semua itu sangat berpengaruh dan bisa mengacaukan perhatian lawan. Tidak heran kalau musuh-musuh yang kurang pengalaman bertempur dan tidak memiliki tenaga dalam tinggi akan mudah dijatuhkan Sang Penghancur. Bahkan Pendekar Naga Putih sendiri pun nyaris celaka di tangan tokoh sakti itu. Dan untungnya, tubuh pemuda itu terlindung lapisan kabut bersinar putih keperakan, sehingga tidak mudah dilukai.

Panji yang sadar akan kesaktian lawan dan pengaruh pancaran sinar emas yang mengganggu pandang matanya, segera mengerahkan tenaga gabungan. Hawa mukjizat ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ dan ‘Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ membuat tubuhnya terselimut kabut putih bersinar keperakan dan sinar kuning keemasan yang berasal dari Pedang Naga Langit. Dengan menyatukan kedua tenaga mukjizat itulah, Pendekar Naga Putih menghadapi gempuran Sang Penghancur.

Wueeet!

Dengan menggeser langkah sambil memiringkan tubuh, Pendekar Naga Putih mengelakkan hantaman telapak tangan lawan yang menebarkan hawa panas menyengat. Kemudian, dia balas menggempur dengan sambaran cakar naganya. Akibatnya, Sang Penghancur menjadi kelabakan, karena sergapan cakar naga lawannya mengandung hawa berlainan. Hal itu tentu saja membuatnya menjadi kewalahan. Cepat ia melompat mundur, menghindari sambaran cakar naga lawannya, seraya mengirimkan tendangan kilat tak terduga.

Plakkk!

Panji yang ingin segera menyelesaikan pertarungan, mengangkat tangannya untuk memapak tendangan lawan. Akibatnya, tubuh kedua tokoh sakti itu sama-sama terjajar ke belakang. Melihat lawannya agak terhuyung, Panji kembali melesat sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya yang mengandung dua unsur tenaga berlainan sifat. Sang Penghancur yang merasa tidak mempunyai kesempatan mengelak, segera menyambut dengan dorongan sepasang tangannya. Bahkan, juga mengerahkan seluruh kekuatan tenaga saktinya.

Blarrr!

Benar-benar mengerikan benturan dua gelombang tenaga raksasa itu. Akibatnya, tubuh Sang Penghancur terlempar deras ke belakang, hingga menjebol dinding pondok yang terbuat dari kayu.

Pendekar Naga Putih sendiri terlempar ke belakang, seperti halnya Sang Penghancur. Namun dengan kegesitannya, daya luncur itu dapat dipatahkan dengan berputaran di udara. Kemudian kedua kakinya mendarat ringan di atas rerumputan kering.

“Yaaah...!”

Seiring teriakan membahana, kayu pondok yang luruh itu beterbangan ke segala penjuru. Tak lama kemudian, sosok Sang Penghancur muncul dengan segala keangkerannya. Bahkan wajahnya telah berubah kekuningan seperti disepuh emas. Tampak sekali kalau hatinya benar-benar telah murka. Di sudut bibirnya tampak lelehan darah yang menandakan kalau telah menderita luka dalam yang cukup parah.

Seperti tidak merasakan luka dalamnya, lelaki tinggi kokoh itu kembali menerjang Pendekar Naga Putih. Serangan itu segera disambut Pendekar Naga Putih dengan sambaran cakar naganya yang berdecit-decit merobek udara. Kini kedua tokoh sakti itu kembali saling gempur dengan hebatnya.

Plak! Plak!

Terdengar ledakan kecil dua kali berturut-turut ketika dua pasang lengan satu sama lain bertemu. Kemudian mereka kembali saling terjang bagaikan banteng luka!

Seratus jurus telah cepat terlewat. Dan sampai sejauh itu, belum kelihatan tanda-tanda pemenangnya. Meskipun serangan Panji demikian gencar, tapi kegesitan lawannya benar-benar mengagumkan. Apalagi, tubuh Sang Penghancur terlindung pakaian berwarna emas yang ternyata mampu meredam pukulan Pendekar Naga Putih. Maka tak heran kalau Pendekar Naga Putih menjadi cukup repot dan harus mengerahkan kemampuannya untuk menundukkan tokoh sakti itu.

Desss...!

Pendekar Naga Putih langsung menyarangkan tendangan, ketika melihat pertahanan lawan terbuka. Tanpa ampun lagi, tubuh Sang Penghancur terjengkang ke belakang hingga satu tombak lebih. Namun, tokoh sakti itu kembali bangkit meski terlihat agak menyeringai menahan rasa sesak. Kemudian Sang Penghancur kembali membangun serangan yang masih tetap ganas dan berbahaya.

“Yeaaat..!”

Panji yang merasa jengkel melihat kekuatan daya tahan tubuh lawan, segera mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’. Dan akibatnya, Sang Penghancur tersentak mundur seraya mengerahkan hawa sakti untuk melin- dungi bagian dalam dadanya yang terguncang. Maka, Panji tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Cepat tubuhnya melesat, diikuti dorongan sepasang telapak tangannya ke depan.

Whusss! Blarrr!

“Aaarghhh...! Sang Penghancur berteriak membelah langit begitu sepasang telapak tangan Panji telah menggedor dadanya. Akibatnya, tubuh tokoh sakti itu terlempar deras hingga hampir tiga tombak. Kemudian, tubuhnya terbanting jatuh menimbulkan suara berdebuk keras.

Panji segera melesat menghampiri lawannya yang tengah berusaha bangkit, namun selalu terjatuh kembali. Tampak sekali Sang Penghancur telah sekarat akibat hantaman yang meremukkan dada bagian dalamnya. Bahkan tulang-tulang dadanya pun terlihat melesak ke dalam. Jelas, tulang-tulang dada tokoh itu remuk akibat gempuran telapak tangan Pendekar Naga Putih yang memang luar biasa.

“Bunuhlah aku, Pendekar Naga Putih...! Jangan siksa aku seperti ini...,” erang Sang Penghancur dengan mulut tak henti-hentinya mengalirkan darah.

Melihat hal ini, Panji menjadi tak tega. Kemudian tangannya segera digerakkan dengan telapak terbuka,

Prakkk!

Kepala Sang Penghancur pun langsung pecah akibat tamparan keras Pendekar Naga Putih yang mengandung kekuatan hebat. Tamatlah riwayat Sang Penghancur yang menggiriskan itu. Kemudian Panji menguburkan mayatnya di dekat pondok, dibantu Kenanga.

Angin senja bertiup lembut mempermainkan anak rambut Kenanga yang berjalan meninggalkan Hutan Klaren bersama kekasihnya. Gadis jelita itu melingkarkan lengannya ke pinggang Panji yang merangkul pundaknya. Dedaunan pohon melambai, seperti mengucapkan selamat jalan kepada sepasang pendekar muda yang telah menyelesaikan tugasnya.

S E L E S A I

Sang Penghancur

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Sang Penghancur
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih karya T. Hidayat

SATU

MATAHARI sudah semakin naik, saat dua sosok tubuh melangkah menyusuri jalanan lebar. Di kiri dan kanan jalan, terbentang persawahan luas, dengan padi-padi yang telah mulai menguning. Tampaknya sebentar lagi para petani akan segera menikmati panen. Sesekali mereka melayangkan pandangan sambil terus melangkah perlahan. Sapaan ramah para penduduk yang kebetulan berpapasan, disambut ramah disertai senyum manis menghias wajah.

“Hm.... Penduduk Desa Mandala Sari ini ramah-ramah sekali, Kakang. Aku merasa senang sekali...,” kata sosok ramping yang terbungkus pakaian berwarna hijau, perlahan.

Melihat dari penampilannya, jelas dia adalah seorang wanita. Suaranya terdengar bening dan enak terdengar telinga. Apalagi, juga dibarengi untaian senyum manis. Sehingga wajah yang memang sangat cantik itu, tampak semakin mempesona.

Sosok satu lagi yang tidak kalah menariknya dari dara jelita itu tampak mengangguk seraya tersenyum. Tubuhnya sedang, namun padat berisi. Bahkan seperti menyimpan suatu kekuatan hebat. Wajahnya bersih dan tampan. Bagian kepalanya diikat oleh kain berwarna putih. Demikian pula pakaian dan jubah yang dikenakannya yang juga berwarna putih.

Bagi kaum rimba persilatan, sepasang anak muda itu memang sudah sangat dikenal. Mereka tidak lain dari Kenanga dan Pendekar Naga Putih. Sedangkan gadis yang bernama Kenanga sendiri pernah menggetarkan dunia persilatan dengan julukannya yang terkenal, Bidadari Iblis.

Kini kedua pendekar muda itu tengah memasuki Desa Mandala Sari. Desa kecil yang penduduknya kebanyakan adalah petani itu, tentu saja tidak mengenalinya. Sehingga mereka merasa bebas bergerak.

“Hei! Mau lari ke mana kau, Keparat...!”

Panji dan Kenanga yang hendak membelokkan langkahnya menuju sebuah kedai seketika merandek. Mereka melihat seorang lelaki tinggi besar melebihi ukuran manusia biasa, tampak melesat keluar dari kedai. Di belakang orang itu, tampak pula seorang lelaki yang tidak kalah menyeramkan. Dia muncul dari ambang pintu kedai. Setelah menoleh ke kanan kiri, ia lalu mengejar lelaki tinggi besar tadi.

Kening sepasang pendekar muda itu berkerut heran. Mereka tidak bisa memutuskan untuk bertindak, karena belum mengetahui persoalannya. Baik Panji maupun Kenanga hanya bertukar pandangan sambil mengangkat bahu. Baru saja keduanya hendak melangkah masuk ke dalam kedai, muncul seorang lelaki tinggi kurus. Laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun itu langsung menghadang jalan Panji dan Kenanga.

“Tuan muda, tolong pisahkan mereka...! Jangan sampai mereka saling bunuh sesama saudara sendiri. Kasihan, Tuan Muda. Mereka bukanlah orang jahat...” pinta lelaki tinggi kurus itu sambil menjatuhkan tubuhnya di depan kaki Panji. Suaranya terdengar terputus-putus dan napasnya memburu.

Pendekar Naga Putih cepat menangkap bahu lelaki itu, dan mengangkatnya. Ia memang tidak suka melihat sikap yang dianggapnya berlebihan. “Mengapa kau tidak meminta tolong kepada orang-orang di dalam kedai itu, Paman? Mengapa harus kepadaku?” tanya Panji, merasa agak curiga pada lelaki tua itu.

“Ah! Jangan salah sangka, Tuan Muda. Aku sudah meminta tolong kepada mereka, tapi tak seorang pun yang berani melakukannya. Dan begitu melihat Tuan Muda, aku yakin kalau Tuan Muda bersedia memisahkan mereka. Cepatlah, Tuan Muda. Aku khawatir kalau mereka sudah berkelahi satu sama lain...,” jelas lelaki itu.

Panji mengangguk-anggukkan kepala. Kalau tadi agak curiga, itu karena Panji memang selalu berhati-hati dalam bertindak. Setelah mendengar penjelasan lelaki setengah baya itu, Kenanga langsung diajaknya mengejar kedua lelaki bertubuh tinggi besar tadi.

“Hah...?!” lelaki setengah baya itu terbelalak bagaikan melihat hantu di siang bolong. Baru saja selesai bicara, tiba-tiba tubuh Panji lenyap dari pandangan. Itulah yang menyebabkan laki-laki setengah baya itu terbelalak. Bahkan tubuhnya menggigil.

“Mereka pasti bukan manusia...,” desis laki-laki itu dengan suara gemetar. Ucapan itu jelas menandakan kalau ia sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Sehingga, bayangan Panji dan Kenanga yang tidak tertangkap mata tuanya, dianggap pandai menghilang seperti hantu.

Panji dan Kenanga sama sekali tidak peduli dengan penilaian orang tua itu. Mereka terus melesat menggunakan ilmu lari cepat. Bahkan penduduk yang kebetulan ada di jalan-jalan, hanya merasakan adanya sambaran angin keras, saat kedua pendekar muda itu melewati mereka.

“Hihhh.... Mungkinkah yang lewat barusan setan...?” gumam seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun. Saat Panjidan Kenanga lewat, ia berdiri agak di tengah jalan sambil memberi makan kudanya.

“Ke mana mereka pergi, Kakang...?” tanya Kenanga, seraya mengerahkan kepandaiannya mengimbangi lari Pendekar Naga Putih.

Dan tentu saja Panji tidak ingin kekasihnya kehabisan napas. Maka ilmu larinya tidak dikerahkan seluruhnya, agar Kenanga lebih mudah menjajari langkahnya. “Hm Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, kulihat mereka saling berkejaran melewati batas desa ini...,” sahut Panji, sambil tetap berlari dan mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan. Hebatnya, meskipun sambil berlari cepat, pemuda itu dapat melihat jelas keadaan sekitarnya. Tentu saja hal itu tidak terlalu aneh bagi yang telah tahu kehebatan tenaga sakti yang dimiliki pemuda itu.

“Itu mereka, Kakang...!” seru Kenanga, seraya menunjuk ke arah kanan Panji.

Pendekar Naga Putih mengangguk, meskipun sebenarnya telah tahu lebih dulu. Namun, Kenanga tidak melihat anggukan Panji. Gadis itu hanya melihat kekasihnya berbelok menuju arah yang ditunjukannya.

“Hm.... Tampaknya mereka telah bertarung sengit. Aneh! Apa yang menyebkan sesama saudara itu sampai hendak saling bunuh...?” gumam Panji, setelah memperlambat larinya.

Tidak lama kemudian, sepasang pendekar muda itu pun tiba di dekat kedua lelaki bertubuh raksasa yang sedang bertarung mati-matian.

“Tahan!” Begitu mendekat, Panji langsung melesat sambil berseru nyaring. Tubuhnya tiga kali berjumpalitan di udara, sebelum meluncur turun dengan kedua tangan terkembang.

Plak! Plak!

“Uhhh...?!”

Terdengar benturan nyaring saat sepasang telapak tangan Panji memapak kepalan kedua orang itu. Akibatnya, tubuh pemuda tampan berjubah putih itu kembali melenting ke udara. Sedangkan kedua lelaki tinggi besar itu terjajar beberapa langkah yang disertai seruan kaget. Kedua lelaki tinggi besar yang otot-ototnya melingkar bagaikan akar pohon itu menggeram marah. Keduanya menatap sosok pemuda berjubah putih yang sudah meluncur turun itu dengan sinar mata berapi. Jelas, mereka tidak senang melihat campur tangan pemuda itu.

“Hmm.... Siapa kau, Anak Muda?! Apa kau sudah bosan hidup berani mencampuri urusan kami...?” geram salah seorang dari kedua lelaki itu. Ia mengenakan selempang kulit harimau, seperti yang biasa dikenakan seorang pemburu. Sepasang tangannya tampak mengepal kuat, hingga memperdengarkan bunyi berkerotokan.

Ketika beralih kepada Kenanga, tampak laki-laki tinggi besar yang wajahnya bercambang bauk itu mencoba tersenyum. Sayang, senyum yang mungkin merupakan senyum termanis yang pernah dimilikinya, tak ubahnya sebuah seringai harimau lapar. Tentu saja bukan wajahnya tambah menarik, tapi malah semakin mengerikan.

“Aneh. Tenaga mereka bukan hanya tenaga kasar saja. Sepertinya kedua orang ini bukan tokoh sembarangan. Entah siapa sebenarnya mereka...?” bisik Panji ketika Kenanga datang mendekati. Sedangkan sepasang matanya tetap tidak lepas dari wajah kedua orang bertubuh raksasa di depannya.

“Latungga! Persoalan kita belum selesai. Ayo cari tempat lain untuk menyelesaikannya...!” kata lelaki bertubuh raksasa kepada laki-laki yang juga bertubuh tinggi besar dengan suara berat. Orang yang bernama Latungga itu wajahnya hanya terhias cambang. Sedangkan laki-laki yang satu lagi wajahnya dipenuhi brewok, sehingga tampak lebih menyeramkan ketimbang Latungga.

“Hm.... Siapa yang takut kepadamu, Lagonta! Baik, mari kita cari tempat lain...,” sahut laki-laki berselempang kulit harimau yang bernama Latungga. Dia juga menggeram marah mendengar tantangan itu. Kemudian tubuhnya segera melesat cepat, mengikuti langkah lawannya yang bernama Lagonta.

“Tunggu...!”

Kedua lelaki bertubuh raksasa yang bernama Latungga dan Lagonta itu sama-sama menahan langkah. Mereka berbalik menatap ke arah pemuda berjubah putih yang tengah menghampiri. Kembali mereka menggeram jengkel, menatap sosok Pendekar Naga Putih. Rasanya tubuh pemuda itu akan ditelan bulat-bulat, lewat tatapan mata.

“Maaf! Terpaksa urusan kalian kucampuri. Hal ini karena permintaan seorang lelaki tinggi kurus di kedai tempat kalian makan tadi. Menurutnya, kalian adalah...” Panji tidak sempat lagi melanjutkan ucapan, begitu Latungga dan Lagonta telah menerkam dari kiri dan kanan. Anehnya, gerakan mereka ternyata cukup cepat Sehingga, Panji jadi kagum dibuatnya.

Wuuut! Wuuut!

“Hait..!”

Pendekar Naga Putih melenting ke udara, dan kembali meluncur turun satu tombak dari kedua lawannya yang hanya menangkap angin kosong. Kegagalan itu membuat Latungga dan Lagonta semakin murka. Mereka kembali menggeram, dan siap menerjang Panji.

“Nah! Kalau menghadapi aku, kalian bisa bersatu bahu-membahu, mengapa harus bertempur hanya untuk saling mencelakai diri sendiri? Apa sebenarnya yang diperebutkan...?” tanya Panji tetap berusaha menenangkan dan mendamaikan kedua lelaki bertubuh raksasa, yang menurut keterangan lelaki tinggi kurus di kedai tadi adalah saudara sekandung.

“Tidak perlu banyak mulut! Kau telah berani mencampuri urusan kami! Untuk itu, terimalah ganjarannya...!” geram Latungga. Kali ini, laki-laki berselempang kulit harimau itu siap menerjang menggunakan jurus-jurus dahsyat. “Heaaa...!”

Dibarengi bentakan parau, Latungga mengirimkan pukulan lurus ke depan. Meskipun kelihatan agak kaku, namun kecepatannya sempat membuat kening Panji berkerut penuh keheranan.

“Hm...,” Panji yang menjadi penasaran, hanya bergumam tak jelas. Pemuda itu sama sekali tidak terlihat mengelak. Malah ada kesan kalau sengaja ingin mengukur kekuatan pukulan Latungga. Dan begitu pukulan lurus lawan datang, lengannya dikibaskan.

Dukkk!

“Hei...?!” Panji berseru kaget ketika membentur lengan lawan yang besar dan berbulu itu. Ternyata lengan lawan sangat keras sekali, bagaikan sebatang besi! Maka, Pendekar Naga Putih terpaksa menggeser mundur langkahnya. Jelas sudah, Latungga atau mungkin juga Lagonta, bukan hanya dua laki-laki bertubuh raksasa yang bertenaga kasar. Tapi mereka memiliki kekuatan tenaga dalam yang tidak bisa dipandang remeh. Tentu saja hal itu cukup mengejutkan Panji. Memang sulit diduga, siapa sebenarnya kedua orang lihai itu.

“Mengapa, Kakang...?” Kenanga yang terkejut ketika mendengar seruan Panji, cepat menghampiri. Tampak Kenanga merasa khawatir terhadap keselamatan kekasihnya. Meskipun disadari kalau kesaktian Panji sangat sukar dicari tandingannya, namun ia tetap mengkhawatirkannya.

“Tidak apa-apa, Kenanga. Aku tadi hanya mencoba, sampai di mana kekuatan tenaga mereka. Tapi, hasilnya benar-benar mengejutkan. Rasanya, kekuatan yang mereka miliki tidak kalah dengan kekuatan tenaga saktimu,” jelas Panji.

“Apakah kau tidak keliru, Kakang...?” Kenanga yang terkejut dan setengah tak percaya, menatap Panji dengan mulut ternganga.

Memang sulit bagi Kenanga untuk percaya kalau kedua orang bertubuh raksasa yang nampak kasar itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang sebanding dengan kekuatannya. Dan keterangan Panji belum bisa diterimanya. Bukannya tidak percaya, tapi ia menjadi penasaran. Bahkan ingin mencobanya sendiri.

“Kenanga, jangan ceroboh...!” Panji mencoba mencegah niat kekasihnya yang merasa penasaran. Cepat pergelangan tangan gadis jelita itu dicekalnya.

“Jangan khawatir, Kakang. Aku hanya ingin mencobanya...,” bantah Kenanga sambil tersenyum dan sinar mata menuntut agar diperbolehkan mencoba tenaga kedua orang itu.

“Hati-hatilah...,” pesan Panji. Pendekar Naga Putih terpaksa mengalah ketika sepasang mata bening itu menatapnya. Pendekar Naga Putih pun melepaskan cekalannya dan melangkah mundur beberapa tindak. Dan pemuda itu siap menolong apabila kekasihnya terancam.

“Hm.... Majulah kalian, manusia tidak tahu diuntung!” ejek Kenanga. Dan gadis itu sudah mengerahkan tenaga dalamnya, hingga menyebar ke kedua lengannya.

“Hmm...!” Latungga yang tadi tampak tertarik dengan dara jelita itu, menjadi jengkel. Rupanya, ia tidak bisa menerima ucapan yang mengandung makian bagi dirinya. Maka sambil memperdengarkan suara menggeram, mulai dilancarkannya sebuah serangan dahsyat

“Hm...,” Kenanga hanya bergumam melihat datangnya serangan lawan. Dengan gerakan lincah, kedua kaki gadis itu melangkah ke kiri dan kanan, menghindari datangnya pukulan yang menimbulkan angin menderu-deru. Namun ketika gerakan lawan semakin bertambah cepat, tangan kanannya cepat diangkat, memapak sebuah tebasan yang mengancam perutnya.

Plakkk!

Terdengar benturan keras seperti ledakan kecil yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Sedangkan tubuh keduanya tampak tersurut mundur sejauh enam langkah. Apa yang diperkirakan Pendekar Naga Putih memang tidak meleset. Tenaga Latungga ternyata seimbang dengan tenaga kekasihnya.

Setelah merasakan sendiri, barulah Kenanga percaya bahwa tenaga kedua raksasa itu jelas sangat kuat. Bahkan sampai bisa menyamai tenaganya.

“Bagaimana? Apakah kau sudah percaya...?” bisik Panji yang tiba-tiba sudah berada disamping Kenanga.

Dara jelita itu tersenyum pahit. Meskipun begitu, daya tariknya tetap tak sirna. Masih cantik dan ayu. “Aku yakin mereka bukan berasal dari Desa Mandala Sari. Meskipun aku tidak bisa menduga, tapi jelas mereka adalah pendatang di desa itu, seperti halnya kita,” ujar Kenanga.

Gadis itu tidak yakin kalau Latungga dan Lagonta adalah penduduk asli Desa Mandala Sari. Selain logat bicara yang kaku dan kasar, raut wajah mereka juga sangat jauh berbeda dibanding penduduk asli desa itu.

“Itu sudah jelas, Kenanga. Kalau tidak salah, mereka lebih mirip penduduk asli wilayah Utara. Daerah yang gersang dan keras itu rasanya lebih tepat bagi mereka. Selain itu, nama mereka juga sangat asing bagi telinga kita. Tapi, mengapa lelaki tinggi kurus itu tahu kalau mereka saudara kandung?” desah Panji mengerutkan keningnya. Ia langsung teringat lelaki setengah baya yang meminta pertolongannya agar memisahkan Latungga dan Lagonta.

“Mungkin saja orang tua itu hanya menduga-duga saja, Kakang. Sebab, selain wajah mereka hampir serupa, tubuh mereka pun tidak berbeda. Jadi, tidak terlalu sulit mengetahui kalau mereka itu saudara kandung,” timpal Kenanga.

Gadis itu segera melepaskan pandangan ke arah Latungga dan Lagonta yang tengah melangkah dan siap melanjutkan perkelahian. Bahkan kali ini bergerak ke kiri dan kanan, seperti hendak menangkap Panji dan Kenanga.

“Sabar dulu, Kisanak. Kalau boleh tahu, siapakah kalian ini sebenarnya? Dan, apa yang membuat kalian berkelahi?” tanya Pendekar Naga Putih, mencoba mengetahui tentang dua lelaki bertubuh raksasa itu.

Tapi, Latungga dan Lagonta sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Panji. Mereka terus bergerak dan siap menerjang.

“Yeaaah...!”

Latungga berteriak parau membuka serangannya. Sepasang tangannya yang besar dan berbulu lebat itu bergerak susul-menyusul, disertai deru angin berkesiutan. Sasaran serangannya adalah Kenanga.

“Hait..!” Kenanga tidak sedikit pun gentar, meski telah mengetahui kekuatan lawan tidak kalah dengan kekuatannya sendiri. Disertai teriakan melengking, tubuh dara jelita itu bergerak menyambut serangan lawan. Sebentar saja, keduanya telah terlibat perkelahian seru.

“Hmrrr...!” Lagonta menggeram bagaikan macan lapar. Lelaki bertubuh raksasa dengan wajah ditumbuhi brewok lebat itu sama sekali tidak mau peduli. Apalagi mendengar pertanyaan Panji.

Padahal Pendekar Naga Putih masih penasaran ingin mengetahui, apa yang menyebabkan Latungga dan Lagonta berkelahi mati-matian. Tapi karena pertanyaannya tak terjawab, akhirnya Panji melayani serangan Lagonta.

Wuuut..!

Kepalan sebesar buah kelapa itu meluncur deras ke arah Panji. Sedangkan Panji yang merasa penasaran dan ingin memberikan pelajaran agar mata Lagonta terbuka, segera mengangkat tangannya yang sudah terlapisi kabut bersinar putih keperakan. Dan....

Desss!

“Aaakh?!” Lagonta memekik kesakitan. Tubuhnya seketika itu juga terpelanting ke tanah. Dan kenyataan itu membuat Lagonta terbelalak tak percaya apa yang dialaminya tadi. Ia kembali menggeram untuk mengusir hawa dingin yang meresap melalui pergelangan tangannya.

“Hmrrr...! Kulumat hancur tubuhmu...!” geram Lagonta.

Kelihatan kalau laki-laki brewok itu semakin murka akibat tangkisan Panji yang terasa menyesakkan dadanya. Tapi rasa sesak itu hanya sekejap, untuk kemudian lenyap tanpa bekas. Sehingga Lagonta belum percaya kalau pemuda bertubuh sedang itu memiliki kekuatan sampai demikian hebatnya. Ia menghibur diri dengan menganggap kalau hal itu terjadi akibat kecerobohannya. Maka, kali ini Lagonta kelihatan agak hati-hati dalam membuka serangan. Jurus-jurus pilihannya pun mulai dipersiapkan untuk menggempur Pendekar Naga Putih.

DUA

“Haaat..!”

Lagonta kembali membuka serangan. Kali ini gerakannya jauh lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya. Sehingga, hati Panji semakin penasaran dibuatnya. Dan Pendekar Naga Putih pun mulai menunjukkan kebolehannya. Tubuhnya yang telah terselimut lapisan kabut bersinar putih keperakan, bergerak cepat laksana sambaran kilat di angkasa.

“Hiaaah...!”

Pendekar Naga Putih menggeser tubuhnya ke samping, menghindari sebuah tendangan yang mengincar lambung. Kemudian tangan kanannya bergerak cepat melakukan tebasan miring, mengancam pelipis lawan. Gerakan itu ternyata hanya tipuan saja. Begitu Lagonta mencoba mengelak, tiba-tiba telapak tangan kirinya menghajar dada lawan.

Desss...!

“Akh...!” Lagonta kontan memekik kesakitan. Tubuh lelaki bertubuh raksasa itu terhuyung limbung hingga satu setengah tombak. Melihat tetesan darah di sudut bibir Lagonta, jelas kalau hantaman telapak tangan Panji telah mengguncangkan isi dadanya.

“Brrrh...!” Lelaki tinggi besar dan berwajah brewok itu menggigil kedinginan. Cepat kedua tangannya disilangkan di depan dada. Kemudian, dia membentak seraya mengibaskan kedua lengannya ke kiri dan kanan untuk mengusir pengaruh hawa dingin yang merasuki tulang sumsumnya. Untung, Pendekar Naga Putih tidak berniat membunuh lawannya. Padahal kalau mau, rasanya tidak terlalu sulit. Terbukti dalam dua puluh jurus saja, pukulannya telah berhasil bersarang di tubuh lawan.

Lagonta yang menyadari kalau lawannya benar-benar memiliki kepandaian tinggi, terlihat mulai gentar. Sekilas matanya melirik ke arah pertarungan disebelahnya. Kembali hatinya merasa terkejut melihat Latungga terdesak oleh sinar pedang gadis jelita yang menjadi lawannya.

“Hm...,” gumam Panji perlahan ketika melihat Kenanga telah menggunakan Pedang Sinar Rembulan.

Pendekar Naga Putih tahu, mengapa kekasihnya menggunakan pedang. Memang, tubuh kedua orang bertubuh raksasa itu memiliki kekebalan terhadap pukulan. Kalau tadi lawannya bisa dibuat kesakitan, itu karena tenaga saktinya memang jauh lebih tinggi. Lain halnya Kenanga yang memiliki kekuatan seimbang dibanding lawannya. Tentu gadis jelita itu telah mengetahui kekebalan tubuh Latungga. Terbukti, senjatanya telah digunakan untuk menggempur lelaki itu.

Brettt!

“Akh...?!” Tiba-tiba Latungga menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terjajar limbung. Darah segar tampak membasahi bagian iganya. Jelas, Latungga telah termakan tajamnya senjata lawan.

Lagonta mendekati saudaranya. Mereka tampak saling bertukar pandang sejenak, lalu menganggukkan kepala. Meski hanya melalui pertukaran pandangan saja, keduanya tampak seperti telah bersepakat

“Yeaaa...!”

Tiba-tiba saja Latungga dan Lagonta memekik sambil meluncur bersama-sama ke arah Panji. Terdengar deru angin berkesiutan mengiringi datangnya serangan kedua manusia tangguh itu.

Bwettt!

Panji menarik mundur tubuhnya saat cengkeraman Latungga datang menyambar lambung kiri. Dan sebelum sempat melontarkan serangan balasan, pukulan Lagonta datang mengancam dada. Cepat tubuhnya diputar setengah lingkaran. Lalu kaki kanannya langsung bergerak menyambar kepala Lagonta dengan kecepatan kilat

Zebbb!

Melihat tendangan kilat yang mengancam kepala, Lagonta memutar tubuhnya menggunakan tenaga pinggang. Begitu tendangan lawan luput, kembali dilontarkannya serangan balasan yang menimbulkan desingan angin. Demikian pula Latungga. Laki-laki tinggi besar dengan selempang kulit harimau itu ikut menerjang lewat cengkeraman-cengkeraman mautnya yang sanggup meremas hancur sebuah batu sebesar kepala kerbau.

Sebentar saja, ketiga tokoh sakti itu terlibat perkelahian yang lebih seru dan mendebarkan daripada pertarungan pertama tadi.

Kenanga nampak siap bergerak membantu, ketika kedua raksasa itu mengeroyok kekasihnya. Tapi, niat itu diurungkan begitu melihat Panji sama sekali tidak mampu didesak kedua lawannya. Ia hanya berdiri menonton perkelahian seru itu. Sepertinya, hatinya merasa yakin kalau kekasihnya akan bisa menundukkan lawan-lawannya.

Perkiraan Kenanga memang tidak meleset. Meskipun Lagonta dan Latungga mati-matian menggempur Pendekar Naga Putih, tapi tetap saja tidak mampu mendesaknya. Bahkan lama-kelamaan mereka sendiri yang mulai terjebak oleh gelombang hawa dingin yang memancar dari pukulan maupun tubuh pemuda itu.

“Bangsat..!” Lagonta memaki gusar ketika merasakan gerakannya mulai terhambat dan kaku. Akibatnya perhatiannya jadi terganggu. Serangannya pun terlihat kacau, tidak lagi beraturan.

Ternyata bukan hanya Lagonta saja yang mengalami hal menjengkelkan. Latungga pun merasakan hal yang sama. Sambaran gelombang hawa dingin yang menusuk tulang, membuat gempurannya mulai mengendur. Akibatnya, kedua manusia bertubuh raksasa itu mulai terdesak oleh serangan lawan. Kenyataan itu membuat mereka semakin penasaran.

“Hait..!”

Panji yang memang hendak melihat kekuatan tubuh lawan dalam menghadapi pengaruh hawa dingin ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’nya, mulai melancarkan serangan gencar. Pemuda itu berniat menawan kedua lawannya hidup-hidup. Itu sebabnya, Panji semenjak tadi hanya sesekali membalas serangan lawan. Ketika pertempuran menginjak jurus keempat puluh, ilmu silat lawan belum juga dikenalinya. Sehingga pemuda sakti itu pun mulai melakukan tekanan-tekanan berat

Lagonta dan Latungga kelabakan setengah mati ketika Pendekar Naga Putih mulai melancarkan serangan-serangan maut. Mereka sekarang hanya bisa bergerak mundur, tanpa mampu melakukan serangan balasan. Kenyataan itu membuat mereka semakin sadar akan kesaktian lawan.

Bukkk!

“Hukhhh...!”

Tubuh Latungga terpental satu tombak lebih begitu tiba-tiba sebuah pukulan mendarat telak di dadanya. Darah segar tampak menyembur membasahi tubuhnya. Kendati demikian, ia masih berusaha bangkit dan mencoba mengusir hawa dingin yang meresap ke dalam tubuh.

Desss!

“Aaa...!” Hantaman telapak tangan kiri Panji yang mengandung ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ kembali mendarat di dada kanan Lagonta. Tanpa ampun lagi, tubuh laki- laki brewok itu terbanting keras sejauh hampir dua tombak dari tempat semula.

“Ukhhh...” Lagonta kontan terbatuk mengeluarkan darah segar dari mulut. Untuk beberapa saat, dia hanya bisa terduduk sambil mendekap dada kanannya yang terasa sesak. Kemudian, tubuhnya baru bergerak bangkit perlahan-lahan, setelah sesaknya agak berkurang.

Latungga segera melangkah mendekati saudaranya. Mereka kini berdiri tegak menatap Panji yang juga balas menatap. Kedua lelaki tinggi besar itu bergerak mundur ketika melihat pemuda berjubah putih itu melangkah mendekat

“Hm.... Bagaimana? Apakah kalian masih ingin melanjutkan perkelahian tanpa sebab ini?” tantang Panji. Pendekar Naga Putih segera menghentikan langkah ketika melihat lawan bergerak mundur.

Jelas sekali kalau Latungga dan Lagonta sudah jera terhadap Pendekar Naga Putih. Tapi mendadak, Lagonta dan Latungga melemparkan sebuah benda bulat ke arah Panji dan Kenanga berdiri.

Darrr...!

Panji yang menyadari benda itu adalah sejenis senjata peledak tersentak kaget Ia segera melontarkan tubuhnya sambil menarik lengan kekasihnya untuk melompat jauh ke belakang. Sehingga, asap tebal yang disertai gumpalan tanah itu tidak sampai mengotori tubuh mereka. Sejurus setelah ledakan terjadi, Panji dan Kenanga bergerak menyebar ke kiri dan kanan. Mereka kemudian melesat ke tempat yang tidak tertutup gumpalan asap, untuk menangkap kedua manusia bertubuh raksasa itu.

“Hm.... Sudah kuduga mereka akan melarikan diri dengan cara licik...,” gumam Panji ketika tidak menemukan Latungga dan Lagonta di tempat semula.

“Itu mereka, Kakang...!” seru Kenanga tiba-tiba, sambil menudingkan telunjuknya ke arah hutan.

Tanpa membuang waktu lagi, Panji yang sempat melihat bayangan kedua lawannya, langsung bergerak mengejar. Bagaikan bayangan hantu yang tengah bercanda, kedua sosok pendekar muda itu bergerak cepat menuju hutan. Sebentar saja, mereka telah tiba di tempat Kenanga pertama kali melihat bayangan Latungga dan Lagonta. Tapi begitu tiba, bayangan kedua orang bertubuh raksasa itu kembali lenyap bagai ditelan bumi.

“Itu...!”

Tiba-tiba Panji yang tengah mencari-cari, melihat dua sosok bayangan bergerak sekitar enam tombak dari tempatnya berdiri. Cepat dikejarnya bayangan itu dengan mengerahkan ilmu lari cepatnya.

“Kurang ajar...!” maki Kenanga penuh kegeraman. Meskipun mereka telah berlari cukup jauh, ternyata bayangan Lagonta dan Latungga tidak juga ditemukan. Sehingga, dara jelita itu menjadi jengkel dibuatnya.

“Hm.... Kita jelajahi seluruh pelosok hutan ini. Aku yakin, mereka pasti belum jauh...,” usul Panji yang disambut anggukan kepala oleh Kenanga.

Kemudian mereka memulai pencarian. Tapi meskipun setiap pelosok hutan itu telah dijelajahi, sosok Lagonta dan Latungga tetap tidak berhasil ditemukan. Mereka terpaksa menginap di dalam hutan lebat itu, karena hari sudah menjelang malam, saat pencarian dihentikan.

“Hm.... Benar-benar aneh. Entah apa sebenarnya maksud mereka? Mengapa mereka begitu cepat menghilang? Padahal menurut perhitunganku, mereka akan dapat kita ringkus. Aneh...?” gumam Panji sambil merebahkan tubuhnya di atas rerumputan tebal dengan kepala beralaskan buntalan pakaiannya.

Kenanga hanya menghela napas berat Jelas hatinya sama penasarannya dengan Panji. “Sebaiknya, besok kita cari mereka lagi, Kakang. Siapa tahu masih bersembunyi di tempat yang tidak diketahui di dalam hutan ini,” usul Kenanga, sebelum memejamkan matanya.

Panji hanya bergumam pelan menjawab usul kekasihnya. Kemudian, matanya segera dipejamkan rapat-rapat.

*******************

Malam baru saja berganti pagi, saat serombongan orang bergerak memasuki Desa Mandala Sari. Melihat langkah serta pakaiannya, jelas kalau rombongan itu terdiri dari orang-orang persilatan yang tergabung dalam sebuah partai. Semua itu mudah diterka, karena mereka rata-rata mengenakan warna pakaian serupa. Bahkan pada bagian kiri dada terlihat sebuah lambang kepala harimau yang disulam oleh benang putih. Siapa lagi rombongan itu kalau bukan dari Perguruan Macan Putih yang sudah terkenal.

Para penduduk Desa Mandala Sari yang menyaksikan, jadi memandang heran. Apalagi, rombongan itu terus saja bergerak tanpa ada tanda-tanda hendak singgah. Tentu saja semua itu semakin menimbulkan tanda tanya besar dalam benak mereka. Walaupun begitu, tak seorang pun yang berani bertanya. Semua pertanyaan itu dipendam dalam hati.

Tidak lama setelah rombongan itu lenyap dari pandangan, datang rombongan lain yang jumlahnya lebih sedikit. Dan melihat pakaian yang berbeda-beda, dapat diduga kalau mereka bukanlah orang partai tertentu. Dari langkah yang ringan, bisa diketahui kalau mereka adalah kaum rimba persilatan. Tapi kelihatan sekali bahwa mereka itu datang dan berkelompok dengan satu tujuan. Para penduduk yang sejak tadi sudah masuk ke rumah, kembali bermunculan. Rasa heran kembali menyelimuti hati mereka. Semua itu terpancar jelas dari pandangan maupun wajah mereka.

“Aneh. Mengapa hari ini banyak sekali orang gagah melalui desa kita? Hendak ke mana tujuan mereka sebenarnya...?”

Terdengar bisikan perlahan yang membicarakan rombongan-rombongan kaum persilatan itu. Tapi orang yang diajak bicara hanya menggelengkan kepala dengan wajah bodoh. Sebab ia sendiri pun tidak tahu, ke mana tujuan rombongan orang-orang gagah itu.

“Tanyakan sendiri kalau memang ingin tahu...,” salah seorang penduduk yang berwajah kehitaman, langsung nyeletuk.

Rupanya ia sempat mendengar bisik-bisik kawannya. Tapi orang yang bertanya tadi hanya mengangkat bahu tanda menyerah. Sebentar saja, mereka kembali terdiam tanpa kata. Penduduk Desa Mandala Sari semakin merasa penasaran ketika masih banyak lagi rombongan orang rimba persilatan yang melalui desa mereka. Rasa penasaran membuat beberapa orang pemuda mengikuti rombongan terakhir, secara diam-diam. Bahkan ikut dan membaurkan diri dalam rombongan itu.

Jauh di luar Desa Mandala Sari, para tokoh persilatan telah berkumpul memadati sebuah lapangan rumput luas. Di tengah lapangan telah berdiri sebuah panggung yang cukup luas. Dan menurut kabar, panggung itu akan digunakan untuk berlaga.

“Sahabat-sahabat sekalian...!”

Seorang lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun yang tampil ke atas panggung, membuka suaranya yang lantang. Sebentar saja, suasana yang semula bagaikan pasar ayam, jadi senyap. Kini semua mata tertuju ke atas panggung.

“Seperti yang telah disepakati para tokoh persilatan di daerah Timur ini, kita berkumpul dengan satu tujuan mulia. Yaitu, mencari pemimpin kaum persilatan golongan putih. Semua itu untuk menyatukan semua tokoh atau partai yang ada di wilayah Timur ini. Untuk itu, para tokoh yang telah mengajukan diri menjadi pimpinan telah berkumpul dan siap mengadu kesaktian di atas panggung terbuka ini,” lelaki berusia setengah baya itu menghentikan kata-katanya.

Saat itu, orang-orang yang berada di bawah panggung bersorak riuh-rendah. Baru setelah laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan meminta perhatian, suasana jadi hening kembali.

“Saudara-saudara sekalian...,” lanjut lelaki setengah baya itu, setelah terdiam beberapa saat. “Sampai saat ini, telah tercatat enam calon yang telah mendaftarkan diri untuk memperebutkan jabatan itu. Mereka ini akan dipertemukan, setelah ditentukan melalui undian. Kemudian, ketiga orang pemenang pada babak pertama, kembali akan diundi untuk menentukan siapa-siapa yang akan bertarung. Karena pada babak kedua nanti akan terjadi tiga orang pemenang, maka sudah tentu , akan ada seorang peserta yang beruntung tidak menjalani pertarungan pada babak kedua. Ia akan bertarung pada babak ketiga, melawan pemenang babak kedua. Demikianlah ketentuan pertandingan ini, yang telah disetujui peserta-peserta yang bersangkutan.”

Usai mengumumkan peraturan pertandingan, lelaki gagah itu pun melangkah turun dari atas panggung. Sebentar kemudian, suasana pun hening seketika. Rupa-rupanya, para penonton yang berada di bawah panggung merasa sedikit tegang menantikan munculnya dua orang peserta di babak pertama itu.

“Hait...!”

Tiba-tiba para penonton dikejutkan satu bentakan halus yang disusul melesatnya sesosok bayangan merah ke atas panggung. Sebelum mendaratkan kedua kakinya di lantai panggung, bayangan itu berputar lebih dulu sebanyak empat kali di udara. Gerakannya demikian indah dan mengagumkan, sehingga para penonton langsung menyambutnya dengan tempik sorak gegap-gempita. Lelaki gagah berpakaian serba merah yang berusia sekitar lima puluh tahun itu tersenyum lebar. Tubuhnya membungkuk ke empat penjuru sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian, kakinya melangkah ke sudut kanan panggung, menanti calon lawannya.

Rupanya sosok bayangan merah itu tidak perlu menunggu terlalu lama. Dari barisan penonton di sebelah kanan panggung, terdengar tempik sorak riuh-rendah, mengiringi langkah seorang lelaki gemuk terbungkus pakaian serba putih. Dia terus melangkah ke arah panggung tanpa terburu-buru.

“Hidup Cakar Macan Putih...!”

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang penonton dari tempat lelaki gemuk itu muncul yang mengelu-elukan jagoannya. Kemudian, teriakan tadi disambut teriakan kawan-kawannya. Sehingga suasana jadi semakin ribut.

Lelaki gagah berjuluk Cakar Macan Putih itu bergerak melesat ke atas panggung. Gerakannya terlihat mantap dan ringan, pertanda ilmu meringankan tubuhnya tidak rendah. Meskipun gerakannya terlihat sederhana, namun saat tubuhnya meluncur turun ke lantai panggung, kembali terdengar tepuk tangan yang gegap-gempita. Kebisingan baru reda saat lelaki gagah itu mengangkat kedua tangannya ke atas.

Sebelum berhadapan dengan lawannya, lelaki berpakaian serba putih itu memutar tubuhnya ke empat penjuru sambil membungkukkan tubuh. Kemudian, tubuhnya berbalik memandang ke arah lelaki setengah baya berpakaian serba merah yang menanti sejak tadi di sudut kanan panggung. Mereka berdiri berhadapan, siap bertarung.

TIGA

“Cakar Macan Putih, silakan...,” ujar lelaki setengah baya berpakaian serba merah sembari tersenyum lebar. Ketika berdiri berhadapan, perbedaan warna pakaian mereka tampak menyolok sekali. Sehingga suasana di atas panggung terlihat semarak, membuat tepuk tangan orang-orang di bawah panggung semakin keras menyambut kedua tokoh yang telah terkenal itu.

“Harap kau sudi memberi pelajaran kepadaku, Pendekar Tapak Bara...,” sahut Cakar Macan Putih.

Cakar Macan Putih menarik kaki kanannya ke samping, kemudian meliukkan tubuhnya dengan menggunakan tenaga pinggang. Gerakannya persis seperti harimau yang menggeliat bermalas-malasan. Sepasang tangannya yang telah membentuk cakar harimau, bergerak ke depan hingga menimbulkan sambaran angin keras.

“Hm.... Jangan terlalu merendah, Adi. Jurus ‘Cakar Macan’mu telah dikenal tokoh-tokoh daerah Timur ini. Harap jangan terlalu sungkan...,” timpal lelaki yang berjuluk Pendekar Tapak Bara kembali tersenyum lebar.

Lawan Pendekar Tapak Bara memang lebih muda sekitar lima tahun dibanding dirinya. Sehingga diberikannya kesempatan kepada Cakar Macan Putih untuk memulai serangan.

“Bersiaplah, Pendekar Tapak Bara...! Haaat..!” seru Cakar Macan Putih, nyaring seraya memulai serangan.Kedua kaki Cakar Macan Putih yang kokoh itu melakukan langkah-langkah panjang dan kadang bersilangan. Sepasang cakarnya berputaran,menyambar-nyambar disertai hembusan angin keras. Jelas, lelakiberpakaian serba putih itu langsung menggunakan ilmu andalannya untuk menundukkan lawan.

Pendekar Tapak Bara bergumam perlahan. Tubuhnya segera bergerak ke samping, saat sambaran cakar lawan datang bertubi-tubi. Kemudian, tubuhnya langsung berputar mengirimkan sebuah tendangan kilat yang menderu mengancam batang leher lawan.

Plak!

Masing-masing terjajar mundur sejauh empat langkah. Dalam pertemuan tenaga yang pertama, tampak tenaga dalam mereka seimbang. Pertarungan pun kembali berlanjut lebih seru.

Cakar Macan Putih dengan gerakan laksana seekor harimau jantan, terus mendesak lawan dengan sambaran-sambaran cakarnya yang sanggup meremas hancur sebuah batu besar. Sepasang cakarnya bergerak silih berganti, disertai lengkingan yang merobek udara. Melihat betapa gencarnya serangan yang dilakukan, jelas kalau Cakar Macan Putih ingin segera menyelesaikan pertarungan babak pertama itu.

Sama halnya seperti Cakar Macan Putih, Pendekar Tapak Bara terkenal karena ilmu tangan kosongnya. Tentu saja pertempuran dua tokoh persilatan yang sama-sama mengandalkan ilmu tangan kosong itu sangat seru. Pendekar Tapak Bara sendiri terlihat agak berhati- hati dalam menghadapi lawan. Dia tampak lebih banyak menghindar ketimbang melakukan serangan balasan. Sepertinya, ingin dilihatnya, sampai di mana kekuatan lawan yang gencar mendesaknya itu. Meskipun demikian, sepasang mata lelaki tua itu menyorot tajam, mencari peluang untuk dapat melontarkan pukulan secara tepat

“Hiaaah...!”

Ketika pertempuran memasuki jurus kedua puluh, tiba-tiba Pendekar Tapak Bara membentak nyaring hingga mengejutkan lawannya. Berbarengan dengan itu, telapak tangan kanannya bergerak cepat menuju dada lawan yang terbuka. Sementara pada saat itu, Cakar Macan Putih melakukan serangan dengan kedua tangan ke arah kepala lawan.

Desss...!

Tanpa ampun lagi, pukulan telapak tangan Pendekar Tapak Bara telak menghajar dada kiri lawannya. Namun dengan gerakan kokoh, Cakar Macan Putih menghentakkan kaki kanannya ke lantai panggung untuk menahan daya dorong yang ditimbulkan han- taman telapak tangan lawan. Tampak wajah lelaki gemuk itu agak menyeringai sambil mengusap-usap dadanya yang terasa agak panas, hingga membuat kerongkongannya seperti kering.

“Hmhhh” Cakar Macan Putih menggeram keras, menggetarkan lantai panggung. Kemudian, disertai sebuah lengkingan panjang laksana raung harimau luka, lawannya kembali diterjang.

Tapi kali ini Pendekar Tapak Bara mulai memperlihatkan kehebatan ilmu ‘Tapak Bara’nya yang terkenal. Asap tipis tampak mengepul ketika telapak tangannya digosok-gosokkan, hingga sebentar kemudian berubah menjadi merah seperti bara api. Jelaslah sekarang, mengapa lelaki setengah baya itu sampai mendapat julukan Pendekar Tapak Bara. Rupa-rupanya, semua itu karena ilmu tangan kosong yang dimilikinya.

“Heaaat..!”

Sepasang telapak tangan lelaki berpakaian merah itu menyambar-nyambar diiringi hawa panas, yang membuat tubuh lawan menjadi bersimbah peluh setelah bertarung selama lima belas jurus lebih. Bahkan wajah Cakar Macan Putih terlihat agak kemerahan, seperti terbakar hawa panas yang menebar lewat sambaran telapak tangan lawan. Tentu saja hawa panas itu membuat gerakannya menjadi kacau tak beraturan, dan perhatiannya tidak bisa lagi terpusatkan.

Itulah salah satu keistimewaan ilmu ‘Tapak Bara’ yang dimiliki lawan. Akibatnya, setelah bertarung kembali selama sepuluh jurus lebih, Cakar Macan Putih tidak sempat lagi mengelakkan sebuah tamparan pada bahu kanannya.

Desss...!

“Aaakh...!” Cakar Macan Putih memekik kesakitan. Tubuhnya terpelanting dan jatuh ke bawah panggung. Pada bagian bahu yang terkena tamparan tangan lawannya tampak terbakar, hingga kulitnya melepuh kehitaman. Bahkan pada sudut bibirnya terlihat ada aliran darah segar. Jelas, tamparan tadi membuat Cakar Macan Putih mengalami luka dalam.

Jatuhnya tubuh Cakar Macan Putih ke bawah panggung, disambut tempik sorak yang berkepanjangan. Hal itu berarti kemenangan buat Pendekar Tapak Bara. Lelaki setengah baya itu kembali memperlihatkan senyum lebarnya, kemudian melangkah turun menghampiri Cakar Macan Putih yang telah dipapah kawan-kawannya.

“Terimalah obat ini, Adi. Kalau tidak, luka pukulan itu akan membusuk dalam beberapa hari. Maafkan keteledoranku...,” ucap Pendekar Tapak Bara sambil menyodorkan obat bubuk.

Cakar Macan Putih langsung menerimanya tanpa ragu-ragu lagi. Sepertinya, lelaki gemuk itu pun telah mengetahui akan akibat pukulan telapak tangan lawannya. “Terima kasih, Kakang. Apa yang kau lakukan tadi memang sudah lumrah dalam pertandingan. Aku pun sama sekali tidak sakit hati,” sahut Cakar Macan Putih sambil tersenyum lebar.

Pendekar Tapak Bara kemudian pamit untuk kembali ke tempat duduknya.

Sosok Pendekar Tapak Bara dan Cakar Macan Putih tidak lagi jadi perhatian. Sebab, saat itu di atas pang- gung telah berdiri berhadapan dua peserta lainnya. Kedua lelaki gagah itu pun saling menunjukkan kebolehan untuk mencari kemenangan.

Pertarungan yang tidak kalah serunya dengan pertarungan pertama membuat para penonton sama sekali tidak bersuara. Semua mata tertuju ke arah panggung, tanpa berkedip sedikit pun. Memang dua orang yang tengah berlaga itu, jauh lebih ganas daripada Pendekar Tapak Bara atau Cakar Macan Putih. Sehingga para penonton pun menjadi tegang menyaksikannya.

“Haaat...!”

Lelaki tinggi besar itu membentak keras, disertai uluran tangan yang membentuk cakar naga. Untung lawannya yang bertubuh tinggi sedang itu cukup gesit. Ia bisa mengelakkan cengkeraman pada kedua bahunya itu dengan menarik tubuhnya ke belakang. Bahkan, masih sempat pula melepaskan sebuah tendangan yang mengancam perut lawannya.

Desss...!

“Akh...!?”

Aneh! Tubuh lelaki tinggi besar itu tak bergeming dari tempatnya. Malah sebaliknya, lelaki tinggi sedang itulah yang memekik kesakitan. Ia merasakan ujung sepatunya seperti bertemu dengan benda kenyal yang membuat tenaga tendangannya berbalik. Tentu saja kenyataan itu membuatnya agak terkejut.

“Ha ha ha...!”

Lelaki tinggi besar itu tertawa bergelak. Kemudian, dilayangkannya sebuah tendangan ke arah lawan yang saat itu masih belum hilang keheranan dan kepenasarannya.

Bukkk!

Telapak kaki yang besar dan berat itu telak menghajar dada kanan lawannya. Akibatnya, tubuh tinggi sedang itu terpental ke bawah panggung, dan jatuh berdebuk keras. Darah segar menyembur ketika ia terbatuk. Jelas tendangan keras itu telah mengguncang- kan bagian dalam dadanya.

“Hidup Pendekar Naga Besi...!”

Terdengar pekik para pendukung lelaki tinggi besar yang berjuluk Pendekar Naga Besi itu. Kemudian, lelaki tinggi besar yang nampak kokoh bagai batu karang itu, melangkah turun dari atas panggung, setelah memberi hormat keempat penjuru.

Pendekar Tapak Bara mengerutkan keningnya dalam-dalam. Tampak kalau ia memperhitungkan kehadiran Pendekar Naga Besi, yang memiliki kekebalan tubuh mengagumkan hatinya itu. Pendekar Tapak Bara kembali menatap ke arah panggung. Saat itu dua peserta terakhir sudah saling terjang dengan hebatnya.

“Hm...” Pendekar Tapak Bara bergumam perlahan ketika melihat jalan pertarungan yang kurang menarik. Lelaki setengah baya itu melihat kalau pertandingan yang tengah berlangsung di atas panggung itu berat sebelah. Sehingga, ia menilai bahwa pertarungan itu tidak akan berlangsung lama.

Penilaian Pendekar Tapak Bara tidak meleset jauh. Seorang lelaki tinggi kurus yang bertarung dengan lelaki gemuk berwajah brewok, tampak sudah semakin mendekati kemenangan. Hanya orang-orang yang memiliki tingkat rendah sajalah yang belum mengerti, kenapa lelaki gemuk itu dapat didesak habis-habisan oleh seorang lelaki tinggi kurus berwajah pucat seperti orang penyakitan.

Orang-orang yang tidak begitu tinggi ilmu silatnya, terutama tenaga dalamnya, memang sulit untuk melakukan penilaian. Meskipun bentuk lahiriahnya tampak jauh berbeda, tapi lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu adalah seorang ahli ilmu tenaga dalam. Pukulan dan tendangannya selalu disertai desingan angin tajam. Sehingga lelaki gemuk berwajah brewok yang biasanya kebal terhadap pukulan itu, terpaksa dibuat jatuh-bangun oleh lawannya.

Desss...!

Untuk kesekian kalinya sebuah kepalan lelaki tinggi kurus itu mendarat telak di perut lawan. Akibatnya lelaki berwajah brewok itu terhuyung limbung. Belum lagi sempat memperbaiki kuda-kudanya, sebuah tendangan keras membuat tubuhnya terjengkang disertai cairan darah yang menyembur dari mulutnya.

Meskipun tendangan dan pukulan lawan telah mendatangkan luka yang cukup parah, namun lelaki berwajah brewok itu masih berusaha untuk berdiri tegak. Tapi sebelum kedua kakinya sempat membentuk kuda-kuda, serangan lawan kembali meluncur mengancam tubuhnya.

“Hait...!”

Desss...!

Kali ini lelaki berwajah brewok itu tidak mungkin dapat bangkit lagi. Hantaman telapak tangan lawan yang mengandung kekuatan hebat itu, langsung membuat tubuhnya melambung dan jatuh ke bawah panggung.

“Hidup Telapak Tangan Dewa...!”

Seketika, belasan orang penonton pendukung lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu langsung mengelu-elukan jagoannya.

Lelaki yang dijuluki Telapak Tangan Dewa itu kemudian beranjak turun dari atas panggung, setelah menghormat keempat penjuru. Ia tidak merasa cemas akan nasib lawannya, karena pukulan yang dilakukannya tidak mengakibatkan kematian. Itu sebabnya, ia sama sekali tidak peduli ketika melihat tubuh lelaki brewok yang ternyata hanya pingsan itu, telah digotong oleh kawan-kawannya.

Suasana pun kembali riuh seperti dalam pasar. Masing-masing penonton saling membicarakan pertarungan-pertarungan selanjutnya, yang menurut mereka jelas akan lebih seru dan mendebarkan. Suara-suara seperti dengung lebah marah itu baru berhenti saat seorang lelaki gagah telah berdiri di atas panggung.

“Sahabat-sahabat sekalian, harap tenang...!” Lelaki gagah itu mengerahkan tenaga melalui suaranya. Sebentar saja, perhatian para penonton pun kembali beralih ke atas panggung.

“Kita semua tahu, dalam babak pertama tadi, Pendekar Tapak Bara, Pendekar Naga Besi, dan Telapak Tangan Dewa adalah pemenang-pemenangnya. Sebagaimana telah disebutkan tadi, dalam babak kedua ini yang akan tampil adalah Pendekar Tapak Bara melawan Pendekar Naga Besi. Sedangkan Telapak Tangan Dewa mendapatkan keberuntungan tidak turun dalam pertarungan babak kedua ini. Ia baru akan bertarung pada babak ketiga nanti melawan pemenang babak kedua,” jelas lelaki gagah itu lagi. Usai menyampaikan peraturan pertandingan, ia pun melangkah turun diiringi tepuk tangan yang riuh.

Suasana bising kembali sunyi saat kedua tokoh yang akan bertarung telah saling berhadapan. Para penonton semakin bertambah tegang, ketika Pendekar Tapak Bara dan Pendekar Naga Besi sudah mulai bergerak saling mendekati.

“Sambutlah seranganku, Naga Besi...!” Pendekar Tapak Bara berseru memperingatkan lawannya seraya bergerak maju dengan gerakan cepat. Sepasang tangannya berputaran menimbulkan deruan angin keras.

Bettt..!

Pendekar Naga Besi menggeser langkah ke samping menghindari tusukan jari-jari tangan lawan yang menimbulkan suara desingan tajam itu. Kemudian lang- sung memutar tubuh setengah lingkaran, sambil melepaskan tendangan yang mengancam pelipis lawannya.

Plak! Tubuh kedua tokoh sakti itu sama-sama terjajar mundur tiga langkah. Pendekar Tapak Bara yang mengangkat tangan kanannya memapaki tendangan lawan, agak terkejut ketika merasakan lengannya tergetar akibat benturan yang cukup keras itu. Tapi tokoh berpakaian merah darah itu tidak sempat lagi berpikir lebih jauh. Sebab, saat itu Pendekar Naga Besi telah melesat maju dengan serangan-serangan gencarnya.

“Hait..!”

Pendekar Tapak Bara langsung memutar kedua tangannya sambil menggeser langkah ke kiri dan kanan. Sepasang telapak tangannya bergerak menyambar-nyambar, menimbulkan sambaran angin yang menderu-deru. Keduanya kembali saling terjang dengan mengandalkan jurus-jurus pilihan. Sehingga pertarungan semakin bertambah seru dan menegangkan.

Lawan Pendekar Tapak Bara kali ini, tidaklah dapat disamakan dengan lawan sebelumnya. Pendekar Naga Besi yang dihadapinya benar-benar tangguh dan sukar ditundukkan. Kenyataan itu membuat Pendekar Tapak Bara harus bekerja keras untuk mengimbangi lawannya.

“Hiaaah...!”

Pendekar Naga Besi membentak nyaring sambil mengangkat tangannya memapak sebuah hantaman telapak tangan lawan yang mengancam pelipis kirinya.

Plak!

“Uhhh...?!”

Untuk kesekian kalinya, kembali terdengar suara nyaring saat kedua lengan yang berisi kekuatan hebat itu berbenturan. Tapi kali ini Pendekar Tapak Bara harus menerima kenyataan pahit. Pertemuan tenaga itu membuatnya hampir terpelanting jatuh. Sedangkan lawannya hanya terjajar mundur sejauh lima langkah.

Jelas sudah kalau tenaga sakti Pendekar Naga Besi lebih baik setingkat dari lawannya. Tentu saja kenyataan itu membuat Pendekar Tapak Bara semakin penasaran. Ia mencoba menghibur diri dengan alasan bahwa kedudukannya saat itu memang tidak memungkinkan. Maka serangan-serangannya pun semakin dipergencar.

Lelaki tinggi besar yang dikenal sebagai Pendekar Naga Besi itu memang tangguh sekali. Meskipun dalam hal kecepatan, masih kalah dengaan lawannya, namun dapat ditutupinya dengan kekebalan tubuhnya yang memang sangat hebat itu. Sehingga Pendekar Tapak Bara agak kewalahan menghadapinya.

Bukkk!

Ketika pertarungan menginjak pada jurus keempat puluh, sebuah hantaman telapak tangan Pendekar Tapak Bara, sempat singgah di dada kiri lawannya. Akibatnya, tubuh lelaki tinggi besar itu terjajar mundur sejauh delapan langkah. Tentu saja hal ini membuat lawannya penasaran.

“Gila! Bagaimana mungkin ia bisa memiliki ilmu kekebalan tubuh sehebat itu...? Padahal biasanya tak seorang pun yang sanggup menahan pukulan ilmu ‘Tapak Bara’ku...,” desis Pendekar Tapak Bara dengan mata membelalak setelah hantaman telapak tangannya ternyata seperti tidak dirasakan oleh lawannya.

“He he he...! Pukulanmu memang hebat sekali, Pendekar Tapak Bara. Tapi sayang, hawa panas tenagamu belum sanggup menembus kekebalan kulit tubuhku...,” ujar Pendekar Naga Besi. Lelaki tinggi besar itu memang memiliki sejenis ilmu kebal yang dinamakan ‘Baju Kulit Naga’. Ilmu yang termasuk langka itu telah dilatih dan diyakininya dengan sempurna. Sehingga tokoh bertubuh tinggi besar itu sukar dilukai. Jangankan pukulan tangan kosong, senjata tajam pun belum tentu sanggup menembus kekebalan ilmu ‘Baju Kulit Naga’nya.

“Hm.... Jangan sombong dulu, Pendekar Naga Besi. Kalau kau bisa melemparku ke bawah panggung, barulah kau boleh sesumbar,” sambut Pendekar Tapak Bara sedikit jengkel mendengar ucapan lawannya.

“Haiiit..!”

Dengan sebuah bentakan keras, Pendekar Tapak Bara menyilangkan sepasang lengannya di atas kepala. Terdengar suara napasnya yang mirip dengusan kerbau liar. Beberapa saat kemudian, sepasang lengan to- koh sakti itu telah berubah merah, hingga ke siku. Tampak Pendekar Tapak Bara telah mengerahkan seluruh kekuatan ilmu andalannya untuk bisa menembus kekebalan tubuh lawan.

“Hm...,” Pendekar Naga Besi bergumam perlahan menyaksikan perbuatan lawannya. Tokoh tinggi besar itu bergerak menggeser langkah- nya ke kanan, sambil memutar sepasang lengannya yang menimbulkan deru angin tajam. Keduanya saling berdiri berhadapan, siap untuk saling terjang kembali.

EMPAT

“Haaat..!”

Pendekar Tapak Bara kembali bergerak maju disertai sambaran sepasang tangannya yang menimbulkan angin berdesingan. Bahkan setiap kali telapak tangannya menyambar, selalu didahului hawa panas menyengat. Tentu saja serangan-serangan maut itu membuat para penonton semakin bertambah tegang menyaksikannya.

Namun, dengan penuh ketenangan dan rasa percaya diri yang tinggi, Pendekar Naga Besi bergerak mengimbangi permainan lawannya. Kakinya yang panjang dan kokoh, bergerak melakukan geseran-geseran yang menimbulkan suara berdecitan. Sepertinya tokoh tinggi besar itu memang sengaja menggesekkan telapak kakinya ke lantai panggung, guna membuyarkan pemusatan pikiran lawan. Sesekali ia melepaskan cengkeraman dan tendangan, membalas serangan lawannya.

Pertarungan terlihat masih berimbang. Keduanya berusaha keras untuk saling menjatuhkan lawannya. Pertarungan kedua tokoh sakti itu semakin cepat berjalan. Jurus-jurus andalan telah digunakan untuk memperoleh kemenangan. Sayangnya, sampai saat ini tak satu orang pun yang bisa menebak siapa yang akan menjadi pemenang. Sebab kedua tokoh itu memang sama-sama gesit dan tangguh. Sehingga sangat sulit untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemenang pada pertarungan babak kedua itu.

“Hmh...!” Pendekar Naga Besi rupanya agak jengkel juga me- lihat kekuatan lawannya. Ketika memasuki jurus yang keenam puluh tujuh, lelaki tinggi kekar itu melompat ke belakang. Kemudian melipat sepasang tangannya yang saling membelit. Tubuhnya meliuk-liuk ke kiri dan kanan dengan posisi lengan yang masih berbelitan.

“Hm.... Sambutlah jurus ‘Dewa Naga Bercengkerama’, Pendekar Tapak Bara...!” desis Pendekar Naga Besi yang kembali menggeser langkahnya dengan suara berdecitan akibat bergesekan dengan lantai panggung. Sepasang tangannya terkadang mengembang ke kiri dan kanan, menyambar-nyambar menimbulkan deru angin tajam.

Whuuut..!

Pendekar Tapak Bara terkejut bukan main ketika merasa terkepung dari dua arah ia pun semakin menyadari kehebatan serangan lawannya. Apalagi sepasang tangan lawannya bergerak bagaikan seekor ular hidup yang bekerjasama untuk mencelakakannya. Lelaki gagah itu cepat memutar sepasang tangannya dan balas menyerang dengan sambaran-sambaran jurus ‘Tapak Bara’nya.

Whusss...!

Sambaran cakar yang dilontarkan Pendekar Naga Besi mengenai tempat kosong, karena lawannya lebih dahulu bergerak ke samping sambil mengirimkan hantaman telapak tangannya. Luncuran telapak tangan itu diiringi serbuan hawa panas menyengat

Plakkk!

“Akh...?!”

Para penonton memekik kaget ketika Pendekar Naga Besi mengangkat tangan kanannya memapaki hantaman telapak tangan yang memerah seperti bara api itu.Para penonton kembali menarik napas dengan wajah agak lega ketika melihat tubuh kedua tokoh itu hanya terhuyung beberapa langkah ke belakang.

Pendekar Tapak Bara benar-benar penasaran bukan main ketika melihat lawannya sama sekali tidak cidera. Bahkan lengan kanannya terasa ngilu akibat pertemuan tenaga yang amat kuat itu. Jelas, tenaga dalam lawan masih berada di atasnya.

“Heaaah...!”

Pendekar Naga Besi yang hanya terjajar empat langkah, kembali membentak keras. Cakar tangan kanannya bergerak menyambar dengan kecepatan mengejutkan. Tentu saja serangan kilat itu membuat Pendekar Tapak Bara yang masih terhuyung mundur menjadi sangat terkejut. Akibatnya....

Desss!

“Aaakh?!” Lelaki gagah berpakaian serba merah itu memekik kesakitan saat jari-jari tangan lawan yang keras, merobek dada kirinya. Tanpa ampun lagi, tubuh Pendekar Tapak Bara terlempar deras disertai semburan darah segar dari mulutnya. Kemudian, tubuh lelaki gagah itu terbanting jatuh ke bawah panggung!

Para pendukung Pendekar Tapak Bara segera bergerak memburu. Mereka sangat terkejut melihat kulit dan daging bagian dada jagoan mereka, terobek dalam bagaikan terkena cakar seekor beruang besar. Darah segar tampak meleleh membasahi pakaiannya.

Tanpa banyak cakap lagi, mereka langsung menggotong tubuh pendekar yang separuh pingsan itu dan bergerak meninggalkan arena. Sepertinya mereka kehilangan hasrat untuk mengetahui siapa yang bakal menjadi pemenang dalam babak ketiga nanti.

Pendekar Naga Besi berdiri gagah di atas panggung. Ia hanya tersenyum tipis melihat rombongan Perguruan Tapak Maut bergerak meninggalkan tempat itu. Setelah rombongan berpakaian serba merah itu lenyap, Pendekar Naga Besi melangkah ke sudut panggung untuk menanti lawan berikutnya.

Tidak lama kemudian, seorang lelaki tinggi kurus bergerak naik ke atas panggung. Dengan gerakan indah, tubuh lelaki itu bergerak berputar beberapa kali sebelum kedua kakinya menyentuh lantai panggung. Dia adalah Telapak Tangan Dewa yang menjadi lawan terakhir bagi Pendekar Naga Besi.

“Kepandaianmu benar-benar hebat, Pendekar Naga Besi. Terutama sekali ilmu ‘Baju Kulit Naga’ yang telah kau yakini secara sempurna itu. Kuharap kau tidak memberikan pelajaran terlalu keras kepadaku...,” puji Telapak Tangan Dewa, tanpa bermaksud mengejek ataupun merendahkan. Memang, apa yang dikatakan Telapak Tangan Dewa merupakan suatu bukti yang telah disaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Usai berkata demikian, lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu melangkah ke samping beberapa langkah, dengan sorot mata tajam.

“Jangan terlalu merendah, Telapak Tangan Dewa,” timpal Pendekar Naga Besi. “Ilmu ‘Telapak Tangan Dewa’mu telah lama kudengar. Mudah-mudahan kulit tubuhku bisa menahan kerasnya pukulan mautmu yang terkenal itu. Marilah kita mulai...!”

Tepuk tangan penonton menyambut kedua tokoh sakti yang telah berhadapan dalam jarak satu tombak itu. Ketegangan para penonton kian memuncak, karena pada pertarungan babak ketiga inilah yang paling menentukan. Siapa yang menjadi pemenangnya, dialah yang terpilih menjadi pimpinan tokoh persilatan golongan putih di wilayah Timur. Suasana pun mereda saat kedua tokoh itu sudah bergerak mempersiapkan serangannya masing-masing.

“Haaat..!” Pendekar Naga Besi yang sangat bernafsu untuk memperoleh kemenangan, segera saja melesat ke depan. Tokoh tinggi besar itu rupanya tidak sabar melihat lawannya yang hanya berputar-putar tanpa terlihat tanda-tanda akan menyerang. Sehingga ia pun segera memulainya.

Pertarungan pun kembali berlangsung. Bahkan kali ini lebih seru dan menegangkan daripada pertandingan sebelumnya. Keduanya terlihat mengerahkan seluruh kemampuannya untuk keluar sebagai pemenang. Wajar saja, sebab pertarungan terakhir ini merupakan babak penentuan yang sangat menegangkan. Baik bagi mereka yang tengah bertarung, ataupun para penonton yang semakin terkesima melihat penampilan kedua tokoh sakti itu.

Sekali ini, Pendekar Naga Besi benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya. Meskipun begitu, tokoh bertubuh tinggi besar yang nampak kokoh itu, jelas masih kalah setingkat dalam hal kecepatan dengan lawannya. Terlihat beberapa pukulan lawan mengenai bagian tubuhnya. Untunglah lelaki tinggi besar itu memiliki ilmu kebal yang tangguh. Kalau tidak, pasti Pendekar Naga Besi telah tergeletak di lantai panggung.

“Yeaaat...!”

Untuk kesekian kalinya, Telapak Tangan Dewa kembali melontarkan telapak tangan ke tubuh lawan. Kali ini ia mengerahkan tenaga yang langsung dipusatkan sepenuhnya pada telapak tangan kanan.

Desss!

“Higggh...!”

Hebat sekali hantaman telapak tangan lelaki tinggi kurus bermuka pucat itu. Pendekar Naga Besi yang biasanya kokoh itu, sampai terlempar sejauh satu tombak. Namun, tepuk tangan kembali menggema saat tubuh lelaki tinggi besar itu berputar sebanyak tiga kali di udara, dan mendaratkan kedua kakinya di bibir panggung. Terlihat tokoh itu mengangkat kedua tangannya ke atas disertai hembusan napas berat yang bersambungan.

“Gila...! Telapak Tangan Dewa benar-benar hebat sekali. Hampir saja kekebalan tubuhku dapat ditembus oleh pukulannya...!” desis Pendekar Naga Besi, setelah berhasil menghilangkan sedikit rasa sesak di dalam dadanya. Terlihat wajah gagah dan seram itu sedikit pucat. Pukulan lawannya kali ini benar-benar hebat dan hampir tidak bisa ditahan dengan ilmu ‘Baju Kulit Naga’nya.

“Heaaat..!”

Pendekar Naga Besi tidak sempat berpikir panjang lagi. Saat itu lawan telah kembali menyusun serangan- serangan mautnya. Sehingga, ia kembali harus berhadapan dan mengerahkan kemampuannya untuk melindungi diri dari gempuran lawan.

Pertarungan berlanjut lagi. Pendekar Naga Besi kali ini terlihat bergerak lamban. Namun, setiap Hentakan pukulannya selalu diiringi hembusan angin menderu. Tampak lelaki tinggi besar itu hendak menggunakan kekuatannya menghadapi gempuran lawan yang se- makin bertambah cepat itu.

Ketika pertarungan telah menginjak pada jurus yang keseratus lima, Telapak Tangan Dewa kembali memanfaatkan pertahanan lawan yang terbuka. Ia langsung melontarkan hantaman telapak tangannya sekuat tenaga. Tapi Pendekar Naga Besi rupanya memang sengaja memancing pukulan lawan untuk masuk. Terbukti tokoh tinggi besar itu langsung memapaki pukulan lawan pada saat yang sama.

Bukkk! Desss!

Beberapa penonton sampai tersentak kaget melihat kejadian yang mengejutkan itu. Dalam waktu yang bersamaan, kedua tokoh sakti itu saling menyarangkan pukulannya ke tubuh lawan.

“Uhhh...!” Tubuh Telapak Tangan Dewa terlempar deras ke belakang. Hantaman kepalan lawan pada dada kirinya, membuat tokoh sakti itu mengalami luka dalam yang parah. Hal itu terlihat dari tetesan darah segar yang tak henti mengalir dari sudut bibirnya. Lelaki tinggi kurus itu langsung duduk bersila guna menenangkan guncangan dalam dadanya akibat pukulan keras lawan.

Sedangkan Pendekar Naga Besi yang mengandalkan ilmu ‘Baju Kulit Naga’nya, hanya terdorong sejauh satu tombak. Pukulan lawan yang menghantam dada kiri atasnya, tidaklah separah pukulan keras yang pertama kali dirasakannya. Bahkan tokoh tinggi besar itu sudah dapat mengatasi sedikit rasa nyeri pada bagian yang terpukul telapak tangan lawan. Jelaslah sudah kalau Pendekar Naga Besi keluar sebagai pemenang dalam memperebutkan pimpinan golongan putih di wilayah Timur itu.

Sesaat kemudian, seorang lelaki gagah yang bertugas sebagai penilai, bergerak naik ke atas panggung. Sedangkan Pendekar Naga Besi melangkah dan berdiri di samping kanan lelaki gagah itu.

“Saudara-saudara sekalian. Dengan keluarnya Pendekar Naga Besi sebagai pemenang, maka sudah tentu beliaulah yang akan memimpin seluruh partai persilatan golongan putih di daerah Timur ini. Sedangkan, Telapak Tangan Dewa terpilih sebagai wakilnya. Untuk itu, marilah kita sambut pemimpin-pemimpin besar kita yang akan melindungi seluruh partai dan golongan putih di daerah Timur ini,” ujar lelaki gagah itu seraya bertepuk tangan. Dan ajakannya itu disambut teriakan-teriakan ribut para tokoh persilatan dan penonton yang menyaksikan pertandingan jujur ini.

“Hidup Pendekar Naga Besi...!”

“Hidup pemimpin besar kita...!”

Teriakan-teriakan yang riuh itu membuat Pendekar Naga Besi membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum lebar. Kemudian tokoh itu mengangkat lengan Telapak Tangan Dewa yang sudah berdiri di sebelahnya.bTanpa ada yang menyadari, tidak jauh dari arena pertandingan tampak sosok tubuh tengah berdiri memperhatikan. Lalu....

“Ha ha ha!”

Tiba-tiba suara teriakan-teriakan dan tepuk tangan semua orang yang riuh rendah itu tertekan oleh gema tawa yang bagaikan datang mengelilingi tempat itu. Suara tawa yang mengandung kekuatan maha dahsyat itu membuat belasan orang tokoh berkepandaian lumayan kontan bergulingan sambil menutup lubang telinga. Bahkan beberapa orang yang memiliki tenaga dalam rendah, langsung tergeletak tewas dengan lelehan darah dari lubang hidung, mulut, dan kedua telinga. Tentu saja suasana gembira itu berubah menjadi lengking kematian yang susul-menyusul.

Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa yang berada di atas panggung juga menjadi terkejut bukan kepalang. Suara tawa yang bergema panjang di setiap penjuru itu membuat mereka memejamkan mata. Langsung mereka mengerahkan tenaga sakti untuk melawan pengaruh suara yang luar biasa itu. Tubuh kedua tokoh sakti itu sampai bergetar, dengan butirbutir keringat membasahi wajah dantubuh.

“Heaaa...!”

Bagaikan telah sepakat, tiba-tiba Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa mengeluarkan pekik melengking untuk melawan pengaruh tawa mengerikan yang menyerang. Hembusan angin bertiup keras diiringi derak pepohonan kontan tercipta akibat pengaruh dua lengkingan yang saling tindih-menindih. Tentu saja yang paling tersiksa adalah mereka yang memiliki tenaga dalam rendah. Pengaruh dua suara yang saling tindih-menindih itu, membuat belasan tokoh persilatan berkepandaian rendah terjatuh dengan isi dada pecah.

Tidak lama kemudian, tawa yang menggetarkan sekitar daerah itu pun lenyap seketika. Maka Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa ikut menghentikan lengkingan panjangnya. Keduanya tampak mengatur napas yang memburu, karena harus mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk melawan pengaruh tawa yang benar-benar dahsyat tadi.

“Hai, Manusia Pengecut! Siapakah kau? Kalau memang ingin mengacau di tempat ini, tunjukkan rupamu! Kalau tidak, kembalilah pulang ke pangkuan ibumu! Kami tidak punya banyak waktu untuk mengurusi manusia pengecut yang beraninya hanya bersembunyi!”

Pendekar Naga Besi yang merasa bertanggung jawab atas kematian kawan-kawannya segera saja membuka suara, menantang si empunya suara yang belum menampakkan batang hidungnya. Pendekar Naga Besi dan para tokoh lain yang masih selamat, tidak perlu menunggu lama. Buktinya dari sebelah kanan panggung dalam jarak lima tombak lebih, tampak empat lelaki yang rata-rata bertubuh tinggi tengah melangkah menghampiri.

Seorang yang paling depan tampak mengenakan pakaian dari benang emas murni. Sehingga tubuhnya tampak berkilauan saat tertimpa sinar matahari. Sehingga membuat orang sukar mengenali wajah orang itu. Di sebelah kiri sosok berpakaian emas itu berjalan seorang lelaki tua bertubuh tinggi kurus. Sedangkan di belakang mereka terlihat dua lelaki bertubuh raksasa mengiringi.bSementara para tokoh golongan putih terus menanti kedatangan empat orang aneh itu dengan hati tegang.

LIMA

“Hm.... Pertandingan ini tidak sah sebelum aku menguji pemenangnya. Untuk itu, dua orang pemenang yang ingin menjabat sebagai ketua dan wakilnya, harus berhadapan denganku...,” kata lelaki tinggi tegap berpakaian kuning emas, dengan nada sangat sombong. Sedangkan tiga orang yang mengiringinya mengangguk, seperti membenarkan.

Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa mengerutkan kening tak senang. Mereka menatap tajam lelaki berpakaian kurung emas dan berwajah gagah yang berusia sekitar tiga puluh tahun. Bibirnya terlihat selalu menyunggingkan senyum mengejek dan memandang rendah orang lain. Sepasang matanya tampak menyorot tajam, menyiratkan kekuatan yang sukar diukur. Meskipun demikian, Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa sama sekali tidak gentar. Sejenak kedua tokoh sakti itu saling bertukar pandang, seolah ingin meminta pendapat

“Hm.... Siapakah kau, Kisanak? Menilik dari logatmu, jelas kau bukan orang wilayah Timur. Dari mana asalmu, dan apa tujuanmu membuat keributan di tempat ini...?” tegur Pendekar Naga Besi dengan suara tegas mengandung perbawa kuat. Sepasang matanya menyorot tajam menyiratkan kejengkelan hatinya.

“Hei, Pendekar Naga Besi! Bersikaplah sedikit sopan terhadap ketua kami!” dengus lelaki tinggi kurus berusia setengah baya dengan lagak sombong. “Ketahuilah! Ketua kami dijuluki sebagai Sang Penghancur. Mengenai asal kami, silakan terka sendiri. Karena aku yakin kau pasti bisa mengenali logat bicara kami”

Ucapan bernada sombong itu membuat beberapa orang tokoh menjadi marah. Tanpa dapat dicegah Pendekar Naga Besi, dua orang tokoh yang paling dekat langsung saja melompat sambil melontarkan pukulan ke arah tubuh lelaki kurus itu.

Beeet! Beeet!

Dua buah pukulan yang datangnya dari samping, sama sekali tidak membuat lelaki setengah baya itu terkejut. Kaki kanannya segera melangkah ke samping sambil memiringkan tubuh sedikit. Kemudian kaki kanan itu kembali bergerak, melepaskan sebuah tendangan kilat mengejutkan!

Desss! Desss!

Tanpa ampun lagi, tubuh kedua tokoh persilatan itu terjengkang. Maka keadaan pun menjadi semakin kacau ketika dua tokoh itu ternyata langsung pingsan, hanya dengan sekali gebrak! Padahal tingkat kepandaian mereka tidaklah terlalu rendah. Tentu saja kejadian itu membuat yang lain bergerak mundur sambil mencabut senjata masing-masing.

“Tahan...!” Pendekar Naga Besi langsung berteriak mencegah. Tubuh Pendekar Naga Besi kemudian melayang turun dari atas panggung, dan berdiri menghadapi rombongan kecil yang datang langsung mengacau itu. Serentak para tokoh persilatan yang marah itu bergerak mundur ke belakang Pendekar Naga Besi.

“Kisanak sekalian! Apa sebenarnya yang diinginkan dari kami?! Bukankah di antara kita tidak ada perselisihan? Mengapa datang-datang langsung membunuh belasan orang kawan kami?! Apa sebenarnya maksud kalian...?” tegur Pendekar Naga Besi. Pendekar itu diam-diam telah mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi tubuh kalau sewaktu-waktu diserang secara mendadak.

“Hm.... Yang diinginkan ketua kami adalah jabatan pimpinan di daerah Timur ini. Bahkan bukan hanya daerah Timur saja, tapi seluruh negeri ini harus berada di bawah kepemimpinan ketua kami. Kalau kalian tidak senang, silakan berhadapan dengan ketua kami,” sahut lelaki tinggi kurus berusia setengah baya itu kembali. Sepertinya, dia memang bertindak sebagai juru bicara dari lelaki tinggi tegap berpakaian kuning emas itu.

“Keparat! Rupanya kedatangan kalian memang sengaja mencari keributan...!” bentak Pendekar Naga Besi yang memang tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Langsung saja tubuhnya bergerak mundur, menyiapkan serangan.

Sebelum Pendekar Naga Besi bergerak, tiba-tiba melayang dua sosok tubuh yang langsung mendarat di kiri dan kanannya. Mereka tak lain adalah Telapak Tangan Dewa dan Cakar Macan Putih.

Pendekar Naga Besi mengisyaratkan kepada kedua rekannya untuk mundur. Sepertinya, tanggung jawabnya hendak diperlihatkan di hadapan para tokoh persilatan yang telah mengangkatnya sebagai pimpinan semua golongan putih di daerah Timur ini.

“Ketua tidak perlu turun tangan untuk menghadapi pengacau-pengacau rendah ini. Sebaiknya Ketua menyaksikan saja, bagaimana kami menghajar orang-orang sombong itu...,” bantah Pendekar Cakar Macan Putih, dengan nada hormat. Lelaki gemuk berpakaian serba putih itu sudah menganggap Pendekar Naga Besi sebagai pemimpin yang harus dihormati. Bahkan Pendekar Naga Besi sudah dipanggil dengan sebutan ketua.

“Benar apa yang dikatakan Cakar Macan Putih, Ketua...,” timpal Telapak Tangan Dewa. Lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu pun memanggil Pendekar Naga Besi dengan sebutan ketua. Sikapnya juga sudah seperti bawahan terhadap pimpinannya. Maka, Pendekar Naga Besi terpaksa mengalah, lalu melangkah mundur. Dibiarkannya saja kedua orang rekannya untuk membereskan pengacau-pengacau itu.

“Hm...” Lelaki tegap yang tinggi tubuhnya hampir menyamai kedua orang pengawalnya, melangkah maju dengan sikap angkuh. Kedua lengannya dikibaskan sebagai pertanda agar ketiga orang pengikutnya menjauh. Sambil melangkah, jubah panjangnya yang berwarna kuning keemasan dilepaskan begitu saja. Kemudian jubahnya disambut lelaki tinggi kurus yang bertindak sebagai pelayannya.

“Hm... Mengapa kau tidak maju sekalian, Pendekar Naga Besi? Apakah kau takut dipermalukan di depan pengikut-pengikut barumu?” ejek lelaki tinggi tegap yang disebut sebagai Sang Penghancur itu. Nadanya sangat menghina, sehingga wajah Pendekar Naga Besi menjadi merah karenanya.

“Hm.... Jangan mengumbar kesombongan, Sang Penghancur. Kalau memang sanggup menghadapi kami berdua, bersiaplah. Jangan banyak bicara lagi...!” geram Cakar Macan Putih yang sudah tidak sabar untuk segera memberi pelajaran kepada lelaki tinggi tegap berpakaian kuning keemasan itu.

“Kalau begitu, mengapa kalian tidak segera maju...?” tantang Sang Penghancur seraya melipat kedua tangan dengan lagak jumawa. Tentu saja sikap yang nyata-nyata memandang rendah itu membuat Cakar Macan Putih menjadi geram bukan main.

“Jaga seranganku...!” Tanpa membuang-buang waktu lagi, Cakar Macan Putih menyerang dengan pukulan lurus disertai pengerahan tenaga dalam sepenuhnya. Sepertinya, lawan ingin dirobohkannya dengan sekali pukul saja.

Bukkk!

“Akh...?!” Terjadilah hal yang membuat para tokoh persilatan, termasuk Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa, menjadi terkejut dengan wajah berubah. Pukulan yang telak menghantam dada Sang Penghancur malah membuat Cakar Macan Putih berteriak kesakitan. Bahkan lelaki bertubuh gemuk itu terjungkal deras ke belakang. Tangan kanannya yang digunakan untuk memukul tampak bengkak, berwarna kemerahan seperti tersengat lidah api. Tentu saja kejadian itu menimbulkan kegemparan dikalangan tokoh aliran putih yang berkumpul di tempat ini.

“Ilmu iblis...!” desis Telapak Tangan Dewa yang tahu kekuatan pukulan rekannya. Tanpa sadar, tokoh bertubuh tinggi kurus itu bergerak mundur dengan wajah tegang.

Pendekar Naga Besi sendiri yang juga memiliki ilmu ‘Baju Kulit Naga’ merasa terkejut melihat akibat yang diderita rekannya. Meskipun tubuhnya sendiri sanggup menahan pukulan Cakar Macan Putih, namun tidak bisa membuat lengan yang memukul akan membengkak seperti itu. Kecuali, apabila tenaga lawan jauh di bawahnya. Apalagi sampai membuat lengan lawan sampai terbakar. Kecemasan pun membayang pada wajah yang gagah dan keras itu. Tentu saja, hatinya merasa terkejut melihat kesaktian tokoh muda yang berjuluk Sang Penghancur itu.

“Hm.... Hanya itukah kesaktian orang-orang yang ingin menjadi pimpinan kaum persilatan...?” ejek Sang Penghancur disertai senyum sinis yang menyakitkan.

“Bangsat! Jangan sesumbar dulu, Sang Penghancur! Kalau benar-benar memiliki kekebalan, tahanlah pedangku ini...!”

Tiba-tiba seorang lelaki brewok bertubuh kekar melesat maju dengan tebasan pedangnya. Kepandaiannya pun tidak bisa dipandang rendah. Ia adalah salah seorang calon pemimpin yang dikalahkan Telapak Tangan Dewa pada babak kedua pertandingan perebutan pimpinan persilatan. Tidak heran kalau sambaran pedangnya sangat berbahaya.

Klang...!

Lagi-lagi para tokoh persilatan golongan putih terbelalak takjub! Tebasan pedang lelaki brewok yang sangat kuat itu ternyata sama sekali tidak dielakkan lawan. Malah tubuh lelaki brewok itu sendirilah yang terjengkang ke belakang. Meskipun langsung dapat bangkit, namun jelas sekali kalau ia menderita rasa sakit yang hebat pada tulang lengannya.

“Hm.... Sambutlah seranganku...!” Pendekar Naga Besi yang sudah tidak bisa menahan rasa marahnya, segera saja melesat maju. Langsung dikirimkannya pukulan, yang menimbulkan deru angin tajam.

Bersamaan dengan itu, Telapak Tangan Dewa ikut menyertai. Rupanya setelah melihat kehebatan tokoh berjuluk Sang Penghancur itu, ia tidak ragu lagi mengeroyok.

“Hm.... Begitu baru benar...,” gumam Sang Penghancur sambil melebarkan senyum mengejek. Kali ini Sang Penghancur menggeser langkahnya ke samping, sehingga serangan kedua tokoh sakti itu hanya mengenai angin kosong. Hal itu dilakukan bukan karena takut, tapi karena ingin menunjukkan kehebatannya di depan tokoh-tokoh persilatan yang menyaksikan pertarungan. Maka, mulai dibalasnya serangan para pengeroyoknya.

“Hiahhh!”

Bettt! Bettt!

Sang Penghancur melontarkan hantaman kedua telapak tangan ke kiri dan kanan. Kemudian dilanjutkannya dengan tendangan kilat yang berputar ketika kedua lawannya menghindari hantaman telapak tangannya.

Plak! Plak!

“Uaaah...?!”

“Haiii...?!”

Baik Pendekar Naga Besi maupun Telapak Tangan Dewa terlempar ke belakang, dan hampir terjatuh akibat menangkis tendangan lawan. Bahkan Pendekar Naga Besi merasa kaget, merasakan getaran pada lengannya yang digunakan untuk menangkis tendangan lawan tadi.

“Gila...! Bagaimana mungkin ia bisa memiliki tenaga dalam sedemikian kuatnya? Siapakah sebenarnya tokoh yang berjuluk Sang Penghancur itu...?” gumam Pendekar Naga Besi.

Pendekar Naga Besi benar-benar merasa kaget karena kekebalannya dapat ditembus oleh tendangan lawan. Padahal, itu hanya melalui tangkisan saja. Entah apa jadinya bila tendangan tokoh tinggi tegap yang hampir menyamai tinggi tubuhnya itu sampai mengenai sasaran. Bergetar hati lelaki tinggi besar itu membayangkannya.

“Hm.... Apakah kalian sudah merasa takluk kepadaku...?” ejek Sang Penghancur sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Benar-benar sombong tokoh berpakaian kuning emas itu.

Aliran darah Pendekar Naga Besi dan Telapak Tangan Dewa menggelegak naik ke kepala, hingga wajah mereka menjadi kemerahan.

“Bedebah sombong...!” umpat Telapak Tangan Dewa. Segera Telapak Tangan Dewa menggeser langkahnya ke sebelah kiri. Sedangkan Pendekar Naga Besi bergerak ke sebelah kanan. Tampak mereka hendak menerjang lawan dari dua arah.

“Hiaaat..!”

Diiring pekik melengking tinggi, tubuh Pendekar Naga Besi melayang menerjang lawan. Dari udara, sepasang cakarnya menyambar susul-menyusul. Dari sini bisa diketahui kalau jurus ‘Dewa Naga Bercengkeram’ tengah dikeluarkannya. Dan ini adalah merupalkan ilmu pamungkasnya. Tentu saja kehebatan serangannya tidak bisa dianggap ringan. Demikian pula halnya Telapak Tangan Dewa. Tokoh bertubuh tinggi kurus berwajah kepucatan itu sudah pula mengeluarkan ilmu pamungkas dari jurus ‘Telapak Dewa’nya.

Bettt! Bettt!

Dada Telapak Tangan Dewa tampak remuk akibat gedoran dahsyat Sang Penghancur. Lain halnya dengan Pendekar Naga Besi. Tokoh yang memiliki ilmu kekebalan tubuh tangguh itu tidak sampai tewas oleh pukulan keras lawan. Meskipun begitu, bukan berarti tidak mengalami luka dalam. Dari lelehan darah segar di sudut bibirnya, tampak Pendekar Naga Besi cukup menderita akibat hantaman keras pada tubuhnya.

“Hm.... Kau benar-benar mengagumkan, Pendekar Naga Besi. Rupanya pukulanku belum mampu mengusir arwahmu ke akhirat sana. Orang-orang kuat sepertimulah yang kuharapkan untuk menjadi pembantuku...,” puji Sang Penghancur dengan tarikan bibir mengandung ejekan. Ucapan terakhirnya lebih merupakan tawaran bagi Pendekar Naga Besi untuk bergabung.

“Hm.... Jangan harap aku sudi bersekutu dengan manusia laknat yang telah begitu kejam membunuh kawan-kawanku. Lebih baik mati sebagai pendekar daripada harus ikut kepada orang-orang pengecut berhati keji seperti kau dan kawan-kawanmu itu, Sang Penghancur!” tolak Pendekar Naga Besi dengan berangnya. Usai berkata demikian, Pendekar Naga Besi memalingkan wajahnya ke belakang, ke arah pengikut-pengikutnya.

“Lebih baik kita semua mati sebagai pendekar-pendekar yang selalu menjunjung tinggi kegagahan! Ayo, maju...!” perintah Pendekar Naga Besi. Segera Pendekar Naga Besi mencabut sebilah golok besar yang selama ini tergantung di punggungnya. Kemudian tubuhnya langsung melesat menerjang Sang Penghancur, dibantu beberapa orang tokoh yang kepandaiannya tidak berselisih jauh.

“Heaaa...!”

Pendekar Naga Besi bersama pengikut-pengikutnya segera menyerbu Sang Penghancur. Sedangkan tokoh sakti bertubuh tegap dan berpakaian kuning keemasan itu hanya menggumam perlahan. Kemudian kedua tangannya dikembangkan dengan kedudukan kaki menyilang. Sikapnya mirip seekor garuda yang tengah bermalasan. Namun, hembusan angin yang ditimbulkannya benar-benar hebat. Sehingga, membuat debu dan dedaunan kering beterbangan bagai terlanda angin topan dahsyat

“Heaaat..!”

Dibarengi bentakan nyaring, Sang Penghancur mengibaskan sepasang lengannya ke kiri dan kanan seraya melesat menyambut datangnya para pengeroyok. Hebat bukan main akibat yang ditimbulkan gerakan tokoh muda bertubuh tinggi tegap itu. Begitu lincah tubuhnya berkelebat di antara sambaran sinar pedang lawan. Sebentar saja, empat orang lawan telah terpelanting tewas dengan kepala remuk. Tentu saja sepak terjang yang mengerikan dari Sang Penghancur itu membuat para pengeroyok menjadi gentar.

“Hm.... Mengapa harus mundur? Bukankah kalian sendiri yang menginginkan kematian...?” ejek Sang Penghancur ketika melihat pengeroyoknya tinggal enam orang, termasuk Pendekar Naga Besi Usai berkata demikian, sepasang tangan Sang Penghancur dengan telapak terbuka langsung didorongkan ke depan. Dan....

Whusss! Blarrr!

“Aaa...!”

Terdengar ledakan mengguntur yang diselingi pekik kematian melengking merobek angkasa. Empat orang pengeroyok kontan terlempar ke kiri dan kanan dengan tubuh cerai-berai. Untunglah, Pendekar Naga Besi dan seorang lelaki brewok berhasil melompat jauh, menghindari ledakan akibat pukulan jarak jauh yang luar biasa itu.

“Ha ha ha...! Benar-benar menggelikan! Seorang pemimpin persilatan dari banyak partai dan golongan yang semula membusungkan dada, terpaksa harus lari terbirit-birit oleh pukulan jarak jauhku! Lucu... lucu” ledek Sang Penghancur.

Mendengar ucapan bernada menghina itu, dada Pendekar Naga Besi bagaikan hendak meledak. “Hm.... Ilmu silatmu memang sangat dahsyat, Sang Penghancur. Tapi perlu kau ketahui, perbuatanmu hari ini akan mendatangkan murka kaum golongan putih di seluruh pelosok negeri. Suatu saat kelak, kau pasti akan lari ketakutan seperti seekor anjing yang dipukuli majikannya. Aku yakin, pasti akan ada seseorang yang bisa membuatmu jungkir balik dan lari terbirit-birit ketakutan!”

Karena merah, Pendekar Naga Besi membalas hinaan lawannya dengan kata-kata yang tepat mengenai sasaran. Sehingga wajah Sang Penghancur kontan berubah kuning keemasan seperti pakaian yang dikenakannya. Hal ini pertanda Sang Penghancur mulai dilanda kemurkaan.

“Hm.... Hendak kulihat, siapa orang yang sanggup mencegah Sang Penghancur...,” desis tokoh sakti menyeramkan itu dengan gigi bergemeretak penuh kegeraman. Sepasang matanya yang tajam, melotot penuh nafsu dendam.

Pendekar Naga Besi dan seorang pengikutnya bersiap menghadapi gempuran dahsyat yang mungkin akan mendatangkan kematian bagi mereka. Keduanya bergerak ke kiri dan kanan, memecah perhatian lawan yang sangat sakti itu.

ENAM

“Bersiaplah melayat ke neraka...! Haaat..!” Dibarengi pekik laksana ledakan petir di angkasa, tokoh sakti berpakaian kuning emas itu melesat cepat bagai kilat mengincar Pendekar Naga Besi. Rupanya, lelaki tinggi besar itu lebih dipilih untuk dijadikan korban berikutnya.

Bettt..!

“Haihhh...!” Pendekar Naga Besi berseru nyaring sambil melesat ke udara dan berjumpalitan. Dan begitu mendarat di tanah, tubuhnya langsung berguling menjauh dari lawannya.

Sang Penghancur benar-benar telah menjadi kalap ketika pukulan mautnya berhasil dihindari lawan. Maka ketika lelaki brewok yang ikut mengeroyoknya menerjang maju dengan kibasan pedang, tubuhnya langsung melayang menyambut datangnya senjata lawan. Untuk kesekian kalinya, Sang Penghancur kembali membuat kejutan baru. Mata pedang yang meluncur ke tubuhnya, langsung dipapak dengan cengkeraman jemari tangannya!

Krappp!

Pedang lelaki brewok itu berhasil ditangkap dan dipatahkan jari-jari tangan sekeras baja itu. Belum juga lawan menyadari apa yang telah menimpa senjatanya, tiba-tiba jari-jari mengerikan itu menerjang dan mencengkeram leher.

“Aaa...!” Lelaki brewok itu menjerit ngeri ketika tubuhnya telah terangkat naik ke udara. Jeritannya lenyap seketika, begitu jari-jari tangan Sang Penghancur meremas tenggorokannya dengan pengerahan tenaga saktinya.

“Sambut mayat kawanmu ini...!” bentak Sang Penghancur sambil melemparkan tubuh korbannya ke arah Pendekar Naga Besi.

Melihat hal ini, Pendekar Naga Besi semakin geram. Lelaki tinggi besar itu cepat melompat ke samping menghindari mayat kawannya. Kemudian pedangnya siap diputar-putar begitu melihat lawan sudah akan menerjangnya. Namun langkah kaki Sang Penghancur tertunda ketika mendengar seruan-seruan kaget yang ternyata berasal dari para pengikutnya. Cepat wajahnya menoleh ke arah ketiga pengikutnya yang tengah dikeroyok puluhan tokoh persilatan. Kening lelaki tegap berpakaian kuning emas itu agak berkerut ketika melihat dua orang bertubuh tinggi besar yang merupakan pengawalnya tengah terpental hingga beberapa tombak jauhnya. Sedangkan lelaki tinggi kurus yang merupakan pelayannya, tengah berlari ke arahnya dengan napas memburu dan wajah tegang.

“Pendekar Naga Putih...! Pemuda sakti itu mengamuk menghajar Lagonta dan Latungga. Mereka..., terdesak...,” lapor lelaki setengah baya itu dengan suara terputus-putus.

Melihat raut wajahnya yang gelisah, jelas kalau lelaki tinggi kurus itu merasa tegang atas kemunculan Pendekar Naga Putih. “Pendekar Naga Putih...?! Bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini? Bukankah Latungga dan Lagonta telah kuperintahkan untuk memancingnya, menjauhi Desa Mandala Sari? Kau pun bodoh sekali, Labinta...? Apa saja yang kau kerjakan selama ini...?” Sang Penghancur tampak terkejut mendengar laporan orang bernama Labinta itu.

Bentakan lelaki tinggi tegap yang berjuluk Sang Penghancur itu terhenti saat Latungga dan Lagonta datang berlari-lari menghampirinya. Wajah kedua orang bertubuh raksasa itu tampak agak pucat. Jelas, mereka telah melarikan diri dari pertempuran untuk bergabung bersama pimpinannya.

“Ha ha ha...! Belum kering ludahku mengucapkannya, ternyata apa yang kuharapkan telah menjadi kenyataan! Hei, Sang Penghancur! Mengapa kelihatan wajahmu pucat mendengar nama Pendekar Naga Putih? Ke mana perginya kesombongan dan kegaranganmu?“ Pendekar Naga Besi yang melihat perubahan sikap Sang Penghancur ketika mendengar munculnya Pendekar Naga Putih, segera tertawa terbahak-bahak. Hatinya menjadi puas karena bisa membalas semua penghinaan dan sakit hatinya terhadap tokoh sakti itu.

“Hm.... Keparat! Kubunuh kau, Pecundang...!” bentak Sang Penghancur. Laki-laki berpakaian keemasan itu merasa geram bukan main ketika melihat Pendekar Naga Besi menertawakan dirinya. Segera saja tubuhnya melayang ke arah lawan, siap mencabut nyawa Pendekar Naga Besi.

“Haiiit..!”

Namun sebelum serangannya sempat menyentuh tubuh Pendekar Naga Besi, terdengar teriakan melengking yang disusul berkelebatnya sesosok bayangan putih keperakan yang menebarkan hawa dingin menusuk tulang.

Plarrr...!

Terdengarlah suara letupan kecil, diiringi kepulan asap tipis yang menandakan adanya pertemuan dua gelombang tenaga sakti berlainan sifat. Kedua sosok tubuh itu sama-sama terdorong mundur dan berjumpalitan beberapa kali, sebelum menyentuh permukaan tanah.

“Hm.... Kini aku baru sadar akan kelakuan aneh pengikutmu yang bernama Latungga dan Lagonta. Rupanya mereka sengaja membawaku pergi jauh dari Desa Mandala Sari, agar kau dan pengikut-pengikutmu bisa berbuat sesuka hati menebarkan bencana. Sayang, kedatanganku agak terlambat. Sehingga, siasat kalian bisa dianggap berhasil...,” desis pemuda tampan berjubah putih yang sekujur tubuhnya masih terselimuti kabut putih keperakan.

Pemuda itu tak lain dari Pendekar Naga Putih, yang ketika memasuki Desa Mandala Sari dapat dipancing dua orang bertubuh raksasa bernama Latungga dan Lagonta untuk menjauhi desa itu. Meskipun pertemuan para tokoh persilatan berada cukup jauh di luar desa, tapi Panji telah melihat rombongan tokoh persilatan yang melewati Desa Mandala Sari yang pergi ke tempat pertemuan ini. Namun karena harus mencari Latungga dan Lagonta yang dianggap masih bersembunyi di dalam hutan, maka kedatangan pemuda itu agak terlambat.

Padahal orang yang dikira masih bersembunyi didalam hutan telah pergi secara diam-diam keluar dari dalam hutan, saat malam tiba. Itulah sebabnya, ketika keesokan paginya Panji dan Kenanga mencari, namun tidak juga berhasil menemukan Latungga dan Lagonta. Sementara itu, para tokoh persilatan yang semula diamuk Lagonta, Latungga, dan Labinta telah berkumpul di belakang Pendekar Naga Besi. Diantara mereka terlihat seorang dara jelita yang tidak lain dari Kenanga.

Rupanya, pasangan pendekar muda itulah yang telah menyelamatkan para pengikut Pendekar Naga Besi. Sang Penghancur yang merasakan betapa kuatnya tenaga sakti pemuda berjubah putih itu menatap dengan mata redup. Meski demikian, mulutnya tetap saja membentuk senyum mengejek yang memandang rendah orang lain. Sesaat kemudian, mata yang semula redup itu terbuka lebar dan melotot tajam. Rupanya Sang Penghancur seperti hendak menilai kesaktian pemuda di hadapannya yang nama besarnya telah didengarnya.

“Hm..., Pendekar Naga Putih. Sebenarnya aku tidak ingin kau turut campur dalam masalah ini. Aku sengaja memancingmu, menjauhi tempat ini melalui dua pembantuku. Hal itu kulakukan, karena aku merasa kasihan padamu. Dalam usia yang masih muda, kau terpaksa harus tewas di tanganku. Itulah sebabnya, mengapa aku belum ingin bentrok denganmu,” ujar Sang Penghancur.

Secara tidak langsung, sebenarnya Sang Penghancur ingin mengatakan kalau kepandaiannya masih jauh di atas Pendekar Naga Putih. Tentu saja ucapan itu memancing kegeraman para tokoh persilatan yang mendengarnya. Sedang Panji sendiri hanya tersenyum saja.

“Tapi, dengan membuat kekacauan dan membunuh orang-orang tak berdosa di tempat ini, kau sama saja telah membuat permusuhan denganku, Kisanak. Dan aku wajib menghentikannya. Kalau kau memang tidak menghendaki pertarungan, sebaiknya menyerahlah dengan baik-baik untuk diadili di hadapan tokoh-tokoh persilatan yang ada di tempat ini,” sahut Panji. Sikapnya tetap tenang, meskipun disadari kalau lawannya memiliki kesaktian yang mengagumkan.

“Ha ha ha...! Kau kira aku begitu tolol untuk menyerah tanpa bertarung lebih dulu? Jangan harap, Pendekar Naga Putih. Aku pun sama sekali tidak gentar menghadapimu. Hanya saja, aku merasa kau belum saatnya mati di tanganku,” sahut Sang Penghancur bernada tantangan seraya memperdengarkan suara tawanya yang berkepanjangan.

“Lebih baik manusia kejam sepertinya harus segera dilenyapkan, Pendekar Naga Putih. Kalau tidak, kelak akan mencelakai orang-orang tak berdosa seperti yang baru saja dilakukannya...,” bisik Pendekar Naga Besi yang memang dendam terhadap tokoh berjuluk Sang Penghancur itu. Sedangkan Panji menanggapinya dengan senyum tenang.

“Kalau kau tidak suka menyerah, aku terpaksa menangkapmu dengan jalan kekerasan, Kisanak...,” ujar Panji. Pendekar Naga Putih segera melangkah maju empat tindak. Sehingga, Sang Penghancur bergerak mundur sambil mengibaskan kedua tangannya. Disuruhnya para pengikutnya untuk menyingkir.

“Kalian pergilah. Aku akan menyusul...,” biak Sang Penghancur tanpa menolehkan kepalanya.

Berbarengan dengan bergeraknya ketiga orang pengikutnya meninggalkan tempat itu, Sang Penghancur memasang kuda-kudanya. Rupanya dia siap bertarung melawan Pendekar Naga Putih.

“Hm.... Sebaiknya kalian menyingkir. Aku khawatir pukulan-pukulan jarak jauh tokoh itu akan mengenai kalian...,” Panji mengingatkan yang lain agar menyingkir.

Pendekar Naga Putih memang menduga kalau orang yang kali ini dihadapinya tentu memiliki kesaktian yang tinggi. Buktinya, dari beberapa mayat tokoh yang dikenalnya memiliki kepandaian tinggi, telah bergeletakan. Bahkan ada beberapa di antaranya tewas dengan anggota tubuh cerai-berai. Panji menduga, hal ini disebabkan pukulan maut lelaki tinggi tegap berpakaian kuning emas itu. Maka tanpa banyak bicara lagi, langkahnya segera digeser dengan kuda-kuda kokoh dan kuat.

“Sambut seranganku, Pendekar Naga Putih...!” Belum lagi gema suaranya lenyap,tubuh Sang Penghancur telah melesat cepat bagai kilat Langsung diterjangnya Pendekar Naga Putih. Sepasang tangannya bergerak cepat menyambar-nyambar, disertai deru angin mencicit hingga menyakitkan telinga.

Whusss...!

Sebuah tamparan yang mendatangkan deru angin kuat berhawa panas menyengat, meluncur mengarah ke kepala Pendekar Naga Putih. Namun pemuda itu pun dapat cepat bergerak mengelak, dan langsung melontarkan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Akibatnya terjadilah pertarungan seru dan mendebarkan.

Sadar akan kesaktian lawannya, Panji langsung menggunakan ilmu ‘Naga Sakti’nya untuk mengimbangi permainan lawan. Sepasang tangannya menyambar-nyambar diiringi tiupan angin dingin yang menusuk tulang. Bahkan sesekali kakinya melayang, melakukan tendangan kilat yang sama sekali tidak terduga. Akibatnya, beberapa kali tendangan kilatnya nyaris mengenai sasarannya. Untunglah gerakan Sang Penghancur demikian gesit, sehingga selalu saja mampu mengelak.

“Hiaaah...!”

Ketika pertarungan menginjak jurus yang keempat puluh, Panji yang melihat pertahanan lawan terbuka langsung saja menyarangkan telapak tangan ke dada lawan. Meskipun kesempatan itu hanya sekejap saja, Panji cepat dapat memanfaatkannya.

Desss...!

“Hei...?!” Hantaman telapak tangan Pendekar Naga Putih memang telak mengenai dada lawan. Tapi bukan main terkejutnya pemuda itu ketika merasakan adanya daya tolak yang membuat telapak tangannya berbalik bagai menghantam segumpal karet kenyal. Maka, kesempatan baik itu tidak disia-siakan oleh Sang Penghancur. Langsung tinjunya dilontarkan ke tubuh lawan.

Bukkk!

“Ugkhhh...!” Tubuh Panji terjajar mundur akibat hantaman telak mengandung tenaga dalam yang amat kuat. Untunglah lapisan kabut bersinar putih keperakan yang menyelimuti tubuhnya sanggup meredam kerasnya pukulan lawan. Sehingga tubuhnya hanya terdorong ke belakang, dengan sedikit rasa nyeri yang menggigit pada bagian yang terkena pukulan.

Sebenarnya, Sang Penghancur juga cukup tertegun ketika merasakan kepalannya seperti amblas ke dalam samudera es yang tidak berdasar. Hal itu menyadarkannya kalau lawan pun memiliki ilmu kekebalan tubuh yang sangat aneh. Bahkan belum pernah ditemuinya selama ini. Tentu saja hal itu membuatnya semakin berhati-hati dalam menghadapi pemuda yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu.

Kedua tokoh sakti itu kembali saling tatap dengan sinar mata tajam. Setelah satu sama lain menyarangkan sebuah pukulan, kini baru diyakini kalau tubuh lawan masing-masing kebal terhadap pukulan. Dan kini, baik Pendekar Naga Putih maupun Sang Penghancur semakin berhati-hati untuk pertarungan selanjutnya.

“Heahhh...!”

Tiba-tiba Sang Penghancur membentak keras, laksana ledakan guntur di siang bolong. Seiring dengan itu, sepasang tangannya bergerak ke atas, kemudian berputar secara aneh dan tidak beraturan. Sesaat kemudian, terlihatlah sebuah pemandangan yang membuat takjub Panji maupun tokoh-tokoh persilatan yang menyaksikannya. Betapa tidak?

Tubuh Sang Penghancur tiba-tiba telah mengeluarkan sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata. Apalagi, pakaian yang dikenakannya sangat menunjang sinar yang keluar dari tubuhnya. Maka semakin kuatlah daya pancar yang menyilaukan mata. Dan akibatnya, Panji sulit sekali melihat wajah lawannya. Bahkan, tubuh lawan pun tampak seperti bayangan mentari yang membuatnya tidak kuat memandang berlama-lama.

“Gila! Pantas pakaiannya terbuat dari benang emas! Bahkan masih dilengkapi dengan benda-benda sebesar lempengan uang di lingkar dadanya. Tentu hal itu untuk menambah kuatnya pancaran keemasan yang menyilaukan mata. Benar-benar seorang tokoh yang cerdik dan berbahaya,” desis Panji seraya bergerak mundur dan memalingkan wajahnya dari pancaran sinar kuning keemasan yang membuat matanya perih.

“Heaaat..!”

Sang Penghancur membentak nyaring, dan langsung menerjang Panji. Ia memang sengaja mengenakan pakaian kuning emas dan hiasan di lingkar dadanya yang terbuat dari emas murni. Rupanya semua itu dapat membantunya, agar kekuatan daya pancar kuning keemasan yang muncul dari tubuhnya bisa mempengaruhi pandangan dan pikiran lawan. Seperti halnya yang saat ini dialami Pendekar Naga Putih.

Panji kini terpaksa harus memejamkan matanya untuk mengelakkan serangan lawan. Dia berloncatan menghindari pukulan dan tamparan Sang Penghancur yang bisa diketahui dari sambaran angin yang datang menuju tubuhnya. Untuk beberapa jurus lamanya, Pendekar Naga Putih hanya bisa mengelak tanpa mampu melontarkan serangan balasan.

Duk! Duk...! Plak!

Dua kali Panji berhasil memapak pukulan lawan. Namun untuk yang ketiga kali ia tidak sempat lagi menangkis atau menghindar! Meskipun demikian, tubuhnya masih sempat dimiringkan. Sehingga bukan kepalanya yang terkena tamparan, tapi bahu kanan yang telah terlindung tenaga sakti. Tubuh Pendekar Naga Putih langsung terjajar limbung. Sadar kalau serangan lawan pasti masih terus berkelanjutan, Panji cepat melambung ke udara dan berjumpalitan beberapa kali menjauhi lawannya. Kemudian tubuhnya baru meluncur turun dengan gerakan ringan.

“Kakang...?!” Kenanga yang sempat melihat tubuh kekasihnya terkena tamparan lawan, segera berlari memburu. Namun Panji cepat mencegah, demi keselamatan gadis itu sendiri.

“Kenanga, menyingkirlah...! Orang ini sangat berbahaya...!” ujar Panji memperingatkan.

Akhirnya meski dengan hati berat, dara jelita itu mau juga mengikuti perintah Panji. Kenanga melangkah mundur dengan wajah agak pucat. Sebagai seorang wanita, tentu saja tidak bisa menahan kekhawatiran melihat nyawa kekasihnya terancam. Saat ini dia benar-benar hanya memikirkan keselamatan Panji. Meski ada terbersit kesadaran kalau kekasihnya dapat menjaga diri, namun tetap saja dicekam kecemasan dan kegelisahan.

Sang Penghancur kembali menerjang Panji dengan serangan-serangan mautnya. Maka cepat Panji mengerahkan semangat dan seluruh kekuatan dahsyat ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ yang telah dilatihnya hingga mencapai titik kesempurnaan. Sesaat kemudian, lapisan kabut yang menyelimuti sekujur tubuh Pendekar Naga Putih semakin melebar disertai hembusan hawa dingin. Sehingga, membuat udara di sekitar arena pertarungan bagai tengah dilanda badai salju.

“Heaaah...!”

Dibarengi bentakan nyaring yang merontokkan jantung, tubuh Pendekar Naga Putih mengelak ke samping. Langsung cakar naganya diayunkan, disertai hembusan angin dingin yang bisa membekukan urat-urat di tubuh lawan. Untungnya, Sang Penghancur memiliki tenaga sakti luar biasa. Sehingga dengan hawa panas yang keluar dari tubuh, tokoh itu mampu untuk bertahan dari hembusan hawa dingin yang menebar dari tubuh Pendekar Naga Putih.

“Luar biasa...! Benar-benar sukar dipercaya kalau ada manusia yang memiliki kesaktian yang demikian langka! Sepertinya, selama hidupku tidak akan pernah menemukan pertarungan seperti ini...!” gumam Pendekar Naga Besi, terbelalak takjub menyaksikan pertarungan yang benar-benar mirip dongeng itu.

Pendekar bertubuh tinggi besar itu menggelengkan kepala sambil tak henti-hentinya berdecak penuh kekaguman. Yang disaksikannya saat itu bukan lagi dua sosok bayangan sedang bertarung, melainkan dua berkas sinar emas dan putih keperakan. Kedua sinar itu terlihat saling libat dan saling terjang disertai sambaran hawa panas dan dingin berganti-ganti. Kadang, tokoh itu melihat sinar putih keperakan nampak terdesak oleh sinar kuning keemasan yang memancar garang. Pemandangan seperti itu, tentu saja membuat para tokoh persilatan menahan napas dengan wajah tegang. Karena mereka tahu, Pendekar Naga Putih telah terdesak.

Di lain saat, terdengar helaan napas lega serta wajah penuh senyum ketika sinar putih keperakan dapat mendesak sinar kuning emas yang terlihat terus bergerak mundur. Hal itu menandakan, Pendekar Naga Putih tengah berada di atas angin dan berhasil mendesak lawan.

Blarrr...!

Tiba-tiba saja terdengar ledakan dahsyat laksana gemuruh petir di siang bolong. Kemudian, disusul berpencarnya kedua gunduk sinar yang semula saling libat. Bahkan, beberapa orang tokoh sampai jatuh terduduk, akibat ledakan yang mengguncang dada. Ledakan mengguntur itu membuat lutut mereka gemetar, hingga tidak mampu menahan tubuhnya. Dapat dibayangkan, betapa hebatnya benturan yang baru saja terjadi. Padahal, jarak pertarungan dengan para tokoh persilatan terpisah sekitar empat tombak lebih.

“Haiiit..!”

Panji berseru nyaring sambil berputaran sebanyak lima kali di udara. Hal itu dilakukan untuk menahan daya dorong yang amat kuat akibat benturan dahsyat itu. Dan dengan indahnya, tubuh pemuda berjubah putih itu dapat mendarat ringan di atas tanah.

Lain halnya yang dilakukan Sang Penghancur. Pada saat tubuhnya terlontar deras ke belakang, ia langsung berputaran dan melarikan diri meninggalkan arena pertarungan. Tak seorang pun yang menyangka tokoh itu bakal melarikan diri. Karena masih terkesima oleh benturan dahsyat itu. Kini Sang Penghancur telah lenyap di saat orang-orang tersadar dari pengaruh ledakan laksana gemuruh petir tadi.

Panji berkelebat mengejar. Tapi karena jaraknya telah terpisah cukup jauh, akhirnya pemuda itu kembali dengan tangan hampa. Wajahnya pun tampak agak menyesal.

TUJUH

Kenanga berlari menyongsong kekasihnya dengan wajah agak cemas. Panji sendiri menyambut kedatangan dara jelita itu dengan senyumnya. Paling tidak, agar hati dara jelita yang tengah diliputi kecemasan itu menjadi lega.

“Kakang...!” Kenanga langsung memeluk, yang disambut Panji dengan tangan terbuka. Kemudian mereka melangkah ke arah Pendekar Naga Besi dan para pengikutnya yang rupanya tidak ingin mengganggu. Sehingga mereka hanya berdiri menanti, agak jauh dari sepasang pendekar muda itu.

“Maaf, Paman. Tokoh itu memang luar biasa. Hari ini aku terpaksa gagal membekuknya. Tapi mudah-mudahan, lain kali tidak akan terulang lagi. Harap Paman memaklumi kalau aku tidak bisa membantu untuk membereskan tempat ini. Aku dan kawanku ini akan mengejar orang-orang telengas itu. Doakan kami, Paman...,” ucap Panji. Pendekar Naga Putih langsung meminta diri untuk mengejar Sang Penghancur. Dia memang khawatir kalau tokoh sesat itu akan mengulangi lagi kejahatannya di tempat lain.

“Kami mengerti, Pendekar Naga Putih. Biar bagaimanapun juga, kami tetap mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Kalau tidak, mungkin saat ini kami semua telah jadi bangkai akibat ulah tokoh yang mengaku berjuluk Sang Penghancur itu,” sahut Pendekar Naga Besi.

Diiringi pandangan mata penuh kagum dari para tokoh persilatan, Panji dan Kenanga bergerak meninggalkan tempat itu. Setelah bayangan pasangan pendekar muda itu lenyap, barulah Pendekar Naga Besi dan para pengikutnya membereskan tempat itu untuk menguburkan kawan-kawannya yang tewas. Sedangkan yang terluka dipapah, meninggalkan tempat pertemuan yang berubah menjadi arena pemakaman. Alam pun kembali hening setelah para tokoh persilatan meninggalkan tempat itu.

******************************

Pendekar Naga Putih dan Kenanga melangkah agak lambat, meninggalkan batas desa di belakangnya. Dari tempat mereka berjalan, masih terlihat atap-atap rumah penduduk. Satu dua orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka, hanya bisa menatap iri. Karena baik yang pria maupun yang wanita, sama-sama menimbulkan kekaguman bagi siapa saja yang melihatnya.

“Kita harus segera menemukan tokoh-tokoh jahat itu, Kakang. Kalau dibiarkan terlalu lama, bisa lebih banyak menimbulkan korban,” kata Kenanga. Gadis itu melangkah tanpa melepaskan genggaman jemari tangannya dari tangan Pendekar Naga Putih. Dan dalam nada ucapannya, terkandung rasa penasaran dan kegeraman yang dalam.

“Sabarlah, Kenanga. Bukankah saat ini pun kita tengah berusaha menemukan jejak mereka. Tapi selama tiga hari ini, kita belum juga dapat menemukan tanda-tanda tempat persembunyian mereka. Sedangkan yang kita temui hanyalah bekas-bekas kejahatan mereka saja. Contohnya yang kita temukan kemarin. Sebuah perguruan habis mereka musnahkan tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Sepertinya, tokoh itu ingin menghancurkan apa saja yang ditemuinya sesuai julukannya. Sang Penghancur..,” sahut Panji.

Memang Pendekar Naga Putih semakin bertambah geram kepada tokoh yang berjuluk Sang Penghancur itu. Beberapa kali, Panji menemukan bekas-bekas kejahatan tokoh sesat berkepandaian tinggi itu. Meskipun selama tiga hari itu mereka tidak mene- mukan petunjuk sedikit pun, namun sama sekali tidak putus asa. Bahkan semangat untuk dapat menemukan tokoh sesat itu semakin menggebu-gebu. Hal itu timbul, selain karena merasa ikut bertanggung jawab, Panji dan Kenanga sadar kalau tokoh berjuluk Sang Penghancur itu sukar sekali dilawan.

Sangat jarang ada tokoh persilatan dari golongan putih yang sanggup menandingi tokoh sesat itu. Bahkan kebanyakan dari para tokoh tua, hanya mementingkan untuk bertapa dan mengasingkan diri, tanpa sudi ikut campur dalam segala urusan dunia ramai yang dianggap hanya memusingkan kepala dan menambah dosa saja. Dan, semua itu mereka timpakan ke pundak tokoh-tokoh muda seperti Pendekar Naga Putih.

“Hm.... Apakah kita harus berpencar, Kakang...?” usul Kenanga.

Namun Panji menggeleng tidak menyetujui usul yang menurutnya sangat berbahaya itu. “Tidak mungkin, Kenanga. Selain kepandaian Sang Penghancur masih belum bisa diukur, tiga orang pengikutnya pun bukan orang lemah. Bahkan kalau dua orang pengawal bertubuh raksasa itu maju secara bersama-sama, belum tentu kau sanggup menandinginya. Usulmu sangat berbahaya...,” jelas Panji sejujurnya, tanpa bermaksud merendahkan kepandaian kekasihnya.

“Hm.... Kalaupun mereka maju secara bersama-sama, rasanya aku masih bisa mengalahkan mereka, Kakang. Meskipun tidak mudah, tapi bisa menggunakan ilmu ‘Pedang Naga Sakti’ yang pernah kau ajarkan kepadaku. Bahkan sekarang, telah ku gabung dengan jurus ‘Bidadari Menabur Bunga’ yang merupakan jurus ilmu pedang andalanku,” bantah dara jelita itu.

Panji mengangguk-angguk ketika mendengar penjelasan kekasihnya. Ia pun segera teringat kedua ilmu pedang tingkat tinggi yang telah digabungkan Kenanga dengan sedikit petunjuk darinya. Meskipun demikian, Panji tetap saja merasa khawatir.

“Hm.... Selama ini, kita selalu melakukan perjalanan melewati desa-desa dan hutan-hutan kecil. Sebaiknya, mulai saat ini kita menjauhi desa dan harus mengambil jalan-jalan tersembunyi. Kita harus mendahului mereka. Bukankah selama ini kita hanya menemukan bekas-bekas kejahatan mereka? Itu sama artinya jalan yang kita lewati, telah lebih dulu dilalui mereka. Ya, benar! Kita harus mendahului dan menghadang mereka di depan,” ujar Panji, tiba-tiba mendapatkan pemikiran bagus untuk menemukan Sang Penghancur dan kawan-kawannya.

“Tapi, bagaimana kita bisa tahu kalau mereka belum lewat, Kakang?” tanya Kenanga.

“Hm.... Kalau kita terus melakukan perjalanan tanpa henti ke arah Barat, bukan mustahil akan bisa mendahului mereka. Biasanya dalam melakukan kejahatan, mereka pasti akan menunda perjalanan. Nah! Setelah yakin kalau mereka telah tertinggal, baru kita mengambil jalan membalik ke desa. Dengan begitu, kemungkinan besar kita bisa berpapasan dengan Sang Penghancur dan kawan-kawannya,” jelas Panji.

Penjelasan itu seketika membuat wajah Kenanga berseri-seri. Memang besar sekali kemungkinannya dapat berpapasan dengan tokoh-tokoh sesat itu, seperti yang dijelaskan kekasihnya.

“Kalau begitu, kita harus memulainya sekarang, Kakang...,” ujar dara jelita itu, penuh semangat. Sepasang mata bintangnya tampak berbinar-binar. Tampak ia sangat mengharapkan untuk segera bertemu orang- orang jahat itu.

“Ayolah...,” ajak Panji.

Pendekar Naga Putih segera melesat mengerahkan ilmu lari cepatnya. Tanpa banyak cakap lagi, Kenanga pun segera mengejar kekasihnya. Mereka berbarengan meninggalkan tempat itu, melintasi tempat-tempat sukar yang jarang dijamah manusia. Kebulatan tekad untuk segera dapat membasmi Sang Penghancur, membuat pasangan pendekar muda itu tidak pernah merasa lelah. Mereka hanya beristirahat apabila perut benar-benar lapar. Dan terpaksa menginap di dalam hutan, apabila telah betul-betul sulit melawan rasa kantuk.

********************

“Tolooong...! Lepaskan aku, Manusia Jahat..!”

Gadis manis berkulit kuning langsat dengan bentuk tubuh mengundang hasrat itu meronta-ronta dalam pondongan seorang lelaki tinggi besar. Pada bagian atas tubuh laki-laki itu hanya mengenakan selempang kulit harimau. Dia terus saja melangkah sambil tertawa-tawa.

Di sebelah lelaki bertubuh raksasa itu, berjalan lelaki lain yang sama besarnya. Hanya bedanya, wajahnya ditumbuhi brewok. Sehingga semakin menambah keseraman wajahnya. Tubuhnya pun dihiasi otot melingkar-lingkar bagaikan akar pohon. Dan dia juga memondong seorang gadis yang hanya mengenakan kain sebatas dada. Sementara gadis desa itu terus meronta-ronta, berusaha melepaskan diri

“Ha ha ha...! Kau tidak membawa gadis cantik untuk menemanimu malam nanti, Labinta...?” tanya lelaki bertubuh raksasa yang wajahnya ditumbuhi brewok. Dia tak lain adalah Lagonta.

Sedangkan dua orang lainnya tentu saja Latungga, dan Labinta. Ketiganya adalah pembantu setia Sang Penghancur, yang selama ini merajalela tanpa ada yang berani mencegah.

“Hm.... Manusia-manusia liar dari mana kalian, berani mengganggu gadis-gadis desa kami...?!”

Teguran itu demikian tenang, namun mengandung wibawa yang cukup kuat Sehingga membuat Lagonta, Latungga, dan Labinta serentak mengangkat kepala.

“He he he...! Lebih baik kalian menyingkir saja, daripada mengantarkan nyawa percuma...,” sahut Labinta sambil tertawa-tawa, melihat delapan orang keamanan desa tahu-tahu sudah menghadang jalan. Kemudian Labinta melangkah maju.

“Berhenti! Lepaskan gadis-gadis itu, atau terpaksa kami menggunakan kekerasan...!” bentak seorang lelaki gagah yang menjadi pimpinan tujuh orang kawannya.

Tapi, peringatan itu sama sekali tidak digubris Labinta. Lelaki tinggi kurus berusia lima puluh tahun itu terus saja melangkah, tanpa mempedulikan ancaman kedelapan lelaki berseragam hitam yang menghadang.

“Bangsat! Tangkap mereka...!” Karena peringatannya tidak dipedulikan, lelaki gagah itu memerintahkan tujuh orang kawannya. Sedang, ia sendiri sudah melangkah maju seraya mencabut senjatanya.

“Hm.... Tikus-tikus busuk banyak lagak...!” umpat Labinta, sehingga membuat keamanan desa itu semakin bertambah marah.

Sebentar saja, Labinta telah terkurung delapan orang lelaki berseragam hitam. Maka tanpa dapat dicegah, pertempuran kecil pun pecah. Dan tentu saja sebagai tokoh berkepandaian tinggi, dengan mudah Labinta dapat menghindari setiap sambaran pedang yang mengancam tubuhnya. Sekali tangannya bergerak, dua orang pengeroyok roboh dengan kepala pecah. Tentu saja hal itu membuat yang lain menjadi terkejut

“Keparat! Kau harus membayar mahal nyawa kawan-kawan kami...!” bentak lelaki gagah itu murka, seraya melompat dengan sabetan pedangnya.

Bettt..!

Labinta hanya memiringkan tubuhnya sedikit, kemudian tangannya langsung bergerak melipat lengan yang memegang pedang itu.

Krekkk!

“Aaa...!” Lelaki gagah itu menjerit kesakitan ketika Labinta dengan mudah mematahkan lengannya. Belum lagi kejadian yang berlangsung terlalu cepat itu disadari, tahu-tahu saja jemari tangan Labinta meluncur ke tenggorokannya. Sekali tekan saja, tewaslah lelaki gagah yang menjadi pimpinan keamanan desa itu.

“Keparat kau, Manusia Laknat...!” Tiba-tiba terdengar teriakan melengking, yang disusul berkelebatannya sesosok bayangan hijau. Bahkan langsung menampar kepala Labinta.

Desss...!

“Ughhh...!” Meskipun Labinta telah memiringkan tubuhnya, tak urung bahunya terkena tamparan sosok bayangan hijau itu. Akibatnya, tubuh tinggi kurus itu pun terhuyung ke belakang.

“Terimalah hukumanmu...!” Kembali sosok bayangan hijau bertubuh ramping itu melesat dengan serangan mautnya.

Tapi, Labinta sudah dapat menguasai keseimbangannya. Maka, segera dia melompat menghindar, kemudian membalas dengan gerakan cepat dan kuat Sebentar saja, keduanya telah terlibat pertarungan sengit Sedangkan lima orang keamanan desa yang masih tersisa segera bergerak menjauh dan berdiri menonton.

Lagonta dan Latungga segera dapat mengenali, siapa adanya sosok bayangan hijau itu. Mereka segera menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah berubah tegang. Rupanya, ada sesuatu yang dikhawatirkan mereka.

“Apa yang kalian cari, Raksasa-raksasa Tolol...?!”

Terdengar teguran bernada mengejek, yang membuat Lagonta dan Latungga menoleh ke arah asal suara. Dan keduanya kontan terhenyak mundur, saat melihat seorang pemuda berjubah putih tengah duduk tenang di sebuah cabang pohon di tepi jalan. Karuan saja wajah mereka menjadi berubah. Nyata sekali pancaran kegentaran pada wajah kedua orang bertubuh raksasa itu.

“Pendekar Naga Putih...?!” desis keduanya hampir bersamaan.

Bagai diberi aba-aba, langsung saja gadis yang berada dalam pondongan masing-masing dilemparkan. Karena saat itu, Panji telah melayang turun dari atas pohon.

Melihat kalau gadis desa itu dilemparkan begitu saja ke tanah, cepat Pendekar Naga Putih melesat dan menyambar. Sedangkan Lagonta dan Latungga hanya berdiri bengong, menyaksikan perbuatan pemuda berjubah putih itu. Setelah menyelamatkan kedua gadis itu dan menyuruhnya pergi, Panji berbalik menatap Lagonta dan Latungga berganti-ganti dengan sorot mata tajam.

“Hm Bersiaplah menerima hukuman atas perbuatan kalian...!” desis Panji yang memang telah geram terhadap manusia-manusia liar itu.

Mendengar ucapan mengandung maut itu, Lagonta dan Latungga segera mencabut golok besar di pinggang masing-masing. Kemudian mereka menyilangkannya didepan dada, siap menyambut serangan Pendekar Naga Putih.

DELAPAN

“Heaaat..!”

Dibarengi teriakan mengguntur, Lagonta dan Latungga segera melesat mengeroyok Pendekar Naga Putih. Dapat dibayangkan, betapa mengerikannya serangan kedua orang bertubuh raksasa itu. Sambaran senjata mereka menimbulkan suara mengaung tajam, membuat orang jadi gemetar. Bahkan bisa kalah, sebelum bertanding melawan mereka.

Tapi tidak demikian halnya bagi Panji. Kalaupun pada pertemuan pertama di Desa Mandala Sari Panji sempat dibuat terkejut, itu karena bertarung tidak sungguh-sungguh. Pendekar Naga Putih mengira mereka adalah orang baik-baik. Sekarang, setelah mengetahui betapa jahatnya kedua orang bertubuh raksasa yang bersaudara itu, Panji pun tidak sudi bertindak setengah-setengah lagi. Maka begitu bertarung, langsung digunakannya ilmu ‘Naga Sakti’nya.

Wreeeet! Wreeet!

Lagonta dan Latungga yang telah mengetahui kehebatan pemuda berjubah putih itu, segera saja melompat mundur menghindari sambaran cakar naga lawan. Apalagi, sambaran cakar itu masih diiringi serbuan hawa dingin yang membuat tubuh menggigil. Maka, semakin gentarlah hati Lagonta dan Latungga.

Panji benar-benar tidak sudi memberi hati kepada kedua orang bertubuh raksasa yang liar itu. Dan begitu kedua orang lawannya melompat mundur menghindari serangan, pemuda itu sudah melepaskan tendangan dan tamparan kilat. Akibatnya kedua orang bertubuh raksasa itu harus mati-matian menyelamatkan diri dari ancaman serangan Pendekar Naga Putih yang jelas-jelas ingin menghukum atas perbuatan mereka.

Sadar kalau menyerah pun tidak ada gunanya, Lagonta dan Latungga sepakat untuk bertarung mati-matian. Maka mereka mulai melontarkan serangan dengan kelebatan golok besar yang mengerikan.

Bwettt! Bwettt!

Dua batang golok besar dan berat itu menyambar cepat dari dua arah yang berlawanan. Namun, Panji hanya merendahkan kuda-kudanya sambil mengibaskan kedua tangannya ke kiri dan kanan.

Plak! Plak!

Lagonta dan Latungga berteriak kaget. Tubuh mereka kontan terpelanting dan hampir jatuh, kalau tidak segera menguasai diri. Sementara Pendekar Naga Putih yang tidak sudi memberi kesempatan lagi, sudah kembali menerjang dengan tendangan berputar.

Desss!

“Hugkh...!” Lagonta langsung memuntahkan darah segar dan terpelanting keras ke tanah, hingga menimbulkan suara berdebum. Sedangkan Panji cepat mengirimkan tamparan keras ke pelipis Latungga.

Plakkk!

Latungga langsung menjerit ngeri. Tubuhnya yang tinggi besar melintir bagaikan layangan putus. Setelah sempoyongan sesaat, dia terbanting jatuh dan tewas dengan mata mendelik. Kepalanya retak akibat tamparan keras yang mengandung ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’.

“Latungga...!” Lagonta menjerit keras memanggil nama adiknya. Wajah lelaki bertubuh raksasa itu berubah beringas, melihat tubuh adiknya telah tergeletak menjadi mayat. Bagaikan telah menjadi gila, Lagonta menerkam Panji dengan cengkeraman tangannya yang besar dan kuat

Wuttt..!

Pendekar Naga Putih cepat melompat menghindari terkaman Lagonta. Dan dari atas, ujung kakinya cepat menotok tepat di tengah kening lawannya.

Tukkk...!

“Aaargh...!” Lagonta kontan meraung keras ketika tendangan yang amat kuat itu telak menghantam keningnya. Tanpa ampun lagi, tubuh raksasa berwajah brewok itu terbanting ke tanah. Bagian kening yang terkena totokan maut itu tampak berlubang. Otaknya pun berceceran keluar. Setelah meregang sesaat, Lagonta tewas menyusul adiknya.

Setelah menyelesaikan lawannya, Panji menoleh ke arah pertarungan Kenanga melawan Labinta. Dia adalah lelaki tinggi kurus berusia setengah baya, yang pernah menipu Panji ketika berada di Desa Mandala Sari. Pemuda itu melangkah ke arah lima orang berseragam hitam yang merupakan keamanan desa. Tampaknya, Panji tidak perlu mengkhawatirkan Kenanga yang diyakini bisa mengatasi lawan.

“Kalian tolong urus mayat kedua raksasa ini. Aku akan mencari majikan mereka...,” ujar Panji kepada keamanan desa itu.

Dan keamanan desa itu hanya bisa mengangguk. Sepertinya, mereka masih belum terbebas dari ketegangan melihat, pertarungan Pendekar Naga Putih melawan dua orang bertubuh raksasa yang menyeramkan itu.

“Kenanga, tahan...!”

Panji yang sudah membalikkan tubuhnya, cepat berseru mencegah ketika melihat Kenanga sudah berhasil menundukkan lawannya, dan hendak membunuh lelaki tinggi kurus itu. Cepat bagai kilat, tubuh Pendekar Naga Putih melesat ke arena pertempuran yang telah selesai.

“Rasanya, aku ingin meremukkan batok kepala manusia keji ini, Kakang...,” dengus gadis itu, tanpa melepaskan tatapan matanya kepada Labinta yang sudah tidak berdaya.

“Kita masih memerlukannya untuk dapat menemukan Sang Penghancur. Dialah biang keladi dari semua kejahatan yang dilakukan mereka,” jelas Panji. Dan Kenanga langsung menurut

“Nah, cepat katakan! Di mana ketuamu yang sombong itu bersembunyi...?” bentak Kenanga sambil mengangkat tangannya, mengancam akan meremukkan batok kepala lelaki setengah baya itu.

Labinta yang sadar kalau petualangannya sudah berakhir, menjawab dengan suara pelan. Mirip sebuah bisikan. Sepertinya, semangat lelaki itu lenyap setelah melihat Latungga dan Lagonta telah tewas di tangan Pendekar Naga Putih.

“Sang Penghancur tengah bersemadi di dalam Hutan Klaren yang terletak di sebelah Timur desa ini...,” jawab Labinta lesu. Namun setelah itu, Labinta mengangkat tangannya yang langsung dihantamkan ke kepalanya.

Kragh!

Panji dan Kenanga yang tengah melayangkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Labinta, menjadi terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara keras. Mereka kontan tertegun melihat Labinta roboh. Darah segar tampak menggenang di sekitar kepalanya yang remuk akibat pukulannya sendiri.

“Hm.... Dia telah mengambil jalannya sendiri. Sebaiknya, kita segera menemui Sang Penghancur, agar masalah ini segera tuntas...,” ajak Panji.

Segera sepasang pendekar muda itu berkelebat menuju Hutan Klaren, tempat Sang Penghancur berada. Sebentar saja, tubuh mereka lenyap. Hanya bayangan samar di kejauhan saja yang terlihat, untuk kemudian menghilang. Sementara, mayat Labinta pun diurus para keamanan desa.

**********************

Panji dan Kenanga berdiri tegak dalam jarak tiga tombak dari sebuah gubuk sederhana, yang biasa digunakan para pemburu sebagai tempat beristirahat. Setelah berpesan agar Kenanga menunggu di tempatnya, Panji melangkah mendekati pondok.

“Hei, Sang Penghancur! Keluarlah! Petualanganmu sudah berakhir! Aku datang untuk menghentikan kebiadabanmu...!” teriak Panji, disertai pengerahan tenaga dalam. Sehingga, suaranya bergema dan seperti datang dari setiap sudut Hutan Klaren.

Sang Penghancur yang tengah tenggelam dalam semadinya, tentu saja menjadi terkejut ketika mendengar teriakan bertenaga dalam tinggi itu. Karena dugaannya yang datang hanya orang-orang yang sengaja berlagak pahlawan untuk mengantarkan nyawa, Sang Penghancur pun melesat keluar dengan wajah berang. Namun setibanya di luar pondok, tokoh berpakaian kuning emas itu pun terkejut. Ternyata sosok yang berdiri di depan pondok adalah Pendekar Naga Putih!

“Kau..., Pendekar Naga Putih...?!” desis Sang Penghancur. Wajah tokoh berpakaian kuning keemasan itu tampak sedikit tegang. Sebentar kemudian, wajahnya berubah seperti biasanya, angkuh dengan senyum mengejek.

“Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini, Pendekar Naga Putih...?” tanya Sang Penghancur dengan kening berkerut. Tentu ia merasa heran melihat kedatangan Pendekar Naga Putih yang telah mengetahui tempat bersemadinya.

“Hm.... tidak perlu heran, Sang Penghancur. Labinta-lah yang memberitahukan kepadaku, sesaat sebelum kepalanya sendiri diremukkan. Dan Latungga dan Lagonta telah pula pergi ke alam baka. Sepertinya, mereka sudah bosan hidup di dunia ini...,” sahut Panji, sehingga membuat wajah Sang Penghancur seketika berubah beringas.

“Keparat! Kau harus menebus ketiga pembantuku dengan nyawamu, Pendekar Naga Putih. Bersiaplah untuk mati!” geram Sang Penghancur. Kemarahan tokoh sesat itu bangkit begitu mendengar kematian ketiga pembantunya yang setia.

“Hm.... Kaulah yang harus bertanggung jawab atas kematian orang-orang tak berdosa yang telah kau bunuh, Sang Penghancur! Kedatanganku menjadi wakil mereka untuk mencabut nyawamu,” sahut Panji tidak kalah berangnya. Pemuda itu menggeser langkahnya ke kanan, ketika melihat Sang Penghancur telah mempersiapkan serangannya.

“Haaat..!”

Tanpa banyak bicara lagi, Sang Penghancur langsung melesat dengan serangan-serangan mautnya. Cahaya emas menyilaukan mata sudah memancar dari tubuhnya, disertai menebarnya hawa panas menyengat. Semua itu sangat berpengaruh dan bisa mengacaukan perhatian lawan. Tidak heran kalau musuh-musuh yang kurang pengalaman bertempur dan tidak memiliki tenaga dalam tinggi akan mudah dijatuhkan Sang Penghancur. Bahkan Pendekar Naga Putih sendiri pun nyaris celaka di tangan tokoh sakti itu. Dan untungnya, tubuh pemuda itu terlindung lapisan kabut bersinar putih keperakan, sehingga tidak mudah dilukai.

Panji yang sadar akan kesaktian lawan dan pengaruh pancaran sinar emas yang mengganggu pandang matanya, segera mengerahkan tenaga gabungan. Hawa mukjizat ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ dan ‘Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ membuat tubuhnya terselimut kabut putih bersinar keperakan dan sinar kuning keemasan yang berasal dari Pedang Naga Langit. Dengan menyatukan kedua tenaga mukjizat itulah, Pendekar Naga Putih menghadapi gempuran Sang Penghancur.

Wueeet!

Dengan menggeser langkah sambil memiringkan tubuh, Pendekar Naga Putih mengelakkan hantaman telapak tangan lawan yang menebarkan hawa panas menyengat. Kemudian, dia balas menggempur dengan sambaran cakar naganya. Akibatnya, Sang Penghancur menjadi kelabakan, karena sergapan cakar naga lawannya mengandung hawa berlainan. Hal itu tentu saja membuatnya menjadi kewalahan. Cepat ia melompat mundur, menghindari sambaran cakar naga lawannya, seraya mengirimkan tendangan kilat tak terduga.

Plakkk!

Panji yang ingin segera menyelesaikan pertarungan, mengangkat tangannya untuk memapak tendangan lawan. Akibatnya, tubuh kedua tokoh sakti itu sama-sama terjajar ke belakang. Melihat lawannya agak terhuyung, Panji kembali melesat sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya yang mengandung dua unsur tenaga berlainan sifat. Sang Penghancur yang merasa tidak mempunyai kesempatan mengelak, segera menyambut dengan dorongan sepasang tangannya. Bahkan, juga mengerahkan seluruh kekuatan tenaga saktinya.

Blarrr!

Benar-benar mengerikan benturan dua gelombang tenaga raksasa itu. Akibatnya, tubuh Sang Penghancur terlempar deras ke belakang, hingga menjebol dinding pondok yang terbuat dari kayu.

Pendekar Naga Putih sendiri terlempar ke belakang, seperti halnya Sang Penghancur. Namun dengan kegesitannya, daya luncur itu dapat dipatahkan dengan berputaran di udara. Kemudian kedua kakinya mendarat ringan di atas rerumputan kering.

“Yaaah...!”

Seiring teriakan membahana, kayu pondok yang luruh itu beterbangan ke segala penjuru. Tak lama kemudian, sosok Sang Penghancur muncul dengan segala keangkerannya. Bahkan wajahnya telah berubah kekuningan seperti disepuh emas. Tampak sekali kalau hatinya benar-benar telah murka. Di sudut bibirnya tampak lelehan darah yang menandakan kalau telah menderita luka dalam yang cukup parah.

Seperti tidak merasakan luka dalamnya, lelaki tinggi kokoh itu kembali menerjang Pendekar Naga Putih. Serangan itu segera disambut Pendekar Naga Putih dengan sambaran cakar naganya yang berdecit-decit merobek udara. Kini kedua tokoh sakti itu kembali saling gempur dengan hebatnya.

Plak! Plak!

Terdengar ledakan kecil dua kali berturut-turut ketika dua pasang lengan satu sama lain bertemu. Kemudian mereka kembali saling terjang bagaikan banteng luka!

Seratus jurus telah cepat terlewat. Dan sampai sejauh itu, belum kelihatan tanda-tanda pemenangnya. Meskipun serangan Panji demikian gencar, tapi kegesitan lawannya benar-benar mengagumkan. Apalagi, tubuh Sang Penghancur terlindung pakaian berwarna emas yang ternyata mampu meredam pukulan Pendekar Naga Putih. Maka tak heran kalau Pendekar Naga Putih menjadi cukup repot dan harus mengerahkan kemampuannya untuk menundukkan tokoh sakti itu.

Desss...!

Pendekar Naga Putih langsung menyarangkan tendangan, ketika melihat pertahanan lawan terbuka. Tanpa ampun lagi, tubuh Sang Penghancur terjengkang ke belakang hingga satu tombak lebih. Namun, tokoh sakti itu kembali bangkit meski terlihat agak menyeringai menahan rasa sesak. Kemudian Sang Penghancur kembali membangun serangan yang masih tetap ganas dan berbahaya.

“Yeaaat..!”

Panji yang merasa jengkel melihat kekuatan daya tahan tubuh lawan, segera mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’. Dan akibatnya, Sang Penghancur tersentak mundur seraya mengerahkan hawa sakti untuk melin- dungi bagian dalam dadanya yang terguncang. Maka, Panji tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Cepat tubuhnya melesat, diikuti dorongan sepasang telapak tangannya ke depan.

Whusss! Blarrr!

“Aaarghhh...! Sang Penghancur berteriak membelah langit begitu sepasang telapak tangan Panji telah menggedor dadanya. Akibatnya, tubuh tokoh sakti itu terlempar deras hingga hampir tiga tombak. Kemudian, tubuhnya terbanting jatuh menimbulkan suara berdebuk keras.

Panji segera melesat menghampiri lawannya yang tengah berusaha bangkit, namun selalu terjatuh kembali. Tampak sekali Sang Penghancur telah sekarat akibat hantaman yang meremukkan dada bagian dalamnya. Bahkan tulang-tulang dadanya pun terlihat melesak ke dalam. Jelas, tulang-tulang dada tokoh itu remuk akibat gempuran telapak tangan Pendekar Naga Putih yang memang luar biasa.

“Bunuhlah aku, Pendekar Naga Putih...! Jangan siksa aku seperti ini...,” erang Sang Penghancur dengan mulut tak henti-hentinya mengalirkan darah.

Melihat hal ini, Panji menjadi tak tega. Kemudian tangannya segera digerakkan dengan telapak terbuka,

Prakkk!

Kepala Sang Penghancur pun langsung pecah akibat tamparan keras Pendekar Naga Putih yang mengandung kekuatan hebat. Tamatlah riwayat Sang Penghancur yang menggiriskan itu. Kemudian Panji menguburkan mayatnya di dekat pondok, dibantu Kenanga.

Angin senja bertiup lembut mempermainkan anak rambut Kenanga yang berjalan meninggalkan Hutan Klaren bersama kekasihnya. Gadis jelita itu melingkarkan lengannya ke pinggang Panji yang merangkul pundaknya. Dedaunan pohon melambai, seperti mengucapkan selamat jalan kepada sepasang pendekar muda yang telah menyelesaikan tugasnya.

S E L E S A I