Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Petaka Kuil Tua
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

MALAM kian merambah. Kepekatan makin kental menyelimuti bumi. Suara nyanyian binatang-binatang malam saling bersahutan. Desir angin mengalun perlahan mempermainkan daun-daun pohon, sehingga menimbulkan gemerisik lembut di telinga. Rembulan tersenyum malu di balik gumpalan awan kelabu. Semua itu makin menambah keindahan suasana malam.

“Hm..., hari sudah semakin bertambah malam, Darmi. Rasanya sudah waktunya aku pulang....”

Ucapan perlahan yang terasa agak berat itu meluncur dari bibir seorang pemuda tampan. Meskipun wajahnya tampak agak kehitaman, namun sosoknya cukup menarik. Sepasang matanya menatap lembut gadis manis berambut panjang yang duduk di sebelahnya.

Gadis manis berusia sembilan belas tahun yang dipanggil Darmi itu tampak menunduk. Duduknya digeser semakin merapat. Bangku bambu yang mereka duduki berderit perlahan, saat Darmi menggeser tubuhnya.

“Yahhh..., hari memang semakin bertambah malam, dan Kakang harus segera pulang. Tapi, bagaimana dengan pertanyaanku tadi, Kang? Kapan kau akan melamarku...?” tanya Darmi perlahan, mirip bisikan. Wajah yang semula tertunduk itu perlahan terangkat, dan menatap wajah kekasihnya.

“Akan kuusahakan secepatnya, Darmi...,” sahut pemuda tampan berkulit coklat itu seraya melingkarkan lengannya ke tubuh kekasihnya. Darmi pun segera merebahkan kepalanya di dada pemuda itu.

“Aku takut, Kang...,” desah Darmi bernada cemas. “Tuan Muda Wintarsa selalu menggangguku. Aku khawatir pemuda jahat yang sombong itu akan berbuat yang tidak-tidak terhadap diriku. Hal itu tercermin dari cara ia memandangku. Sepertinya aku bukan lagi melihat sosok manusia. Tapi, binatang buas yang kelaparan...”

“Hm..., pemuda mata keranjang itu memang tak ubahnya setan berwajah manusia...!” geram pemuda tampan itu sambil mengepalkan tinjunya erat-erat. Sepasang matanya mencorong penuh kemarahan. Ia tahu persis, siapa yang dimaksudkan kekasihnya. “Baiklah, aku pulang dulu, Darmi. Tentang pernikahan kita, akan kubicarakan nanti dengan ayahku....”

“Betul...?” tanya Darmi agak ragu sambil mengikuti kekasihnya bangkit. Sepasang mata gadis desa yang sederhana itu tampak berpijar penuh kebahagiaan.

“Tentu saja betul...,” sahut pemuda itu melangkah dan merangkul tubuh Darmi. Keduanya berjalan menuju pondok yang berada di depan mereka.

“Kutunggu kabar darimu, Kakang...,” ucap Darmi seraya menatap wajah kekasihnya, ketika ia berada di ambang pintu belakang rumahnya. Tapi, pemuda tampan itu sama sekali tidak menyahut, sebab ia telah memeluk tubuh kekasihnya erat-erat, dan melumat bibir merekah yang menantang itu.

“Aku pulang dulu...,” pamit pemuda itu seraya melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan Darmi yang tersipu dengan napas agak sesak. Namun, tampak seulas senyum bahagia terukir di bibirnya.

Dengan obor di tangan kanan, pemuda kekasih Darmi itu melangkah menerobos kegelapan malam. Sebentar saja rumah kekasihnya telah tertinggal cukup jauh di belakang. Melihat dari gerak-geriknya, jelas pemuda itu bukanlah orang lemah. Sepertinya, ia pun memiliki ilmu meringankan tubuh yang lumayan.

“Hm..., kau benar-benar bandel, Suminta...!” tiba-tiba terdengar suara teguran bernada penuh kegeraman.

Pemuda tampan itu pun menahan langkahnya dan menoleh ke arah asal suara. Kakinya melangkah ke belakang ketika melihat tiga sosok tubuh muncul dari semak-semak di pinggir jalan.

“Kau..., Wintarsa...?!” desis pemuda tampan bernama Suminta itu. Ia terkejut ketika obornya diangkat untuk mengenali wajah ketiga lelaki yang menghadangnya.

“Hm..., dari mana kau malam-malam begini, Suminta? Apakah kau sudah lupa dengan peringatanku tempo hari...?” tegur pemuda pesolek berwajah tampan, yang tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Suminta. Sepasang mata Wintarsa tampak menyiratkan kemarahan yang masih ditahan.

“Apa hakmu melarangku berhubungan dengan Darmi, Wintarsa? Sedangkan Darmi sendiri menyukaiku. Dan, ia tidak suka kepadamu!” jawab Suminta dengan menyebut Wintarsa begitu saja, tanpa embel-embel tuan muda. Hal itu membuat kening Wintarsa menjadi berkerut tak senang.

“Keparat! Kau semakin besar kepala saja, Suminta! Sudah berani melanggar laranganku, kau pun sudah tidak lagi menaruh hormat kepadaku! Semua itu akan membuat kau sekeluarga menjadi celaka, Suminta!” bentak Suminta. Pemuda pesolek itu menjadi geram ketika mendengar bantahan Suminta yang tidak menaruh hormat lagi kepadanya. Wintarsa kemudian berpaling kepada dua orang di kiri dan kanannya, dan memberikan isyarat.

Tanpa banyak cakap lagi, kedua orang lelaki kekar berpakaian serba hitam, yang menjadi tukang pukul Wintarsa, segera melompat dan mengepung Suminta.

Melihat hal itu, Suminta cepat bergerak mundur seraya mengebutkan obor di tangannya ke kiri dan kanan. Perbuatannya itu membuat kedua orang tukang pukul Wintarsa bergerak menghindar.

“Hm..., kau memang harus diberi peringatan keras, Kerbau Dungu!” ujar salah seorang tukang pukul Wintarsa, geram. Kemudian laki-laki kasar itu pun segera menyiapkan jurusnya guna menghadapi Suminta.

“Haaat...!”

Orang yang berada di sebelah kanan Suminta berteriak sambil melompat dan melontarkan pukulan keras ke arah kepalanya. Suminta melangkah ke belakang, kemudian membalas dengan sebuah tendangan kilat. Sebentar saja, ketiga orang itu telah terlibat dalam sebuah pertarungan seru. Suminta berjuang keras untuk menghadapi kedua orang lawannya yang memang terkenal sebagai jagoan-jagoan di Desa Margaluyu itu.

“Heaaah...!”

Wrrr...!

Lidah api kembali berkobar ketika Suminta mengebutkan obornya, guna menghadapi serangan dari sebelah kanan. Sayang pemuda tampan itu kalah gesit, sehingga sebuah tendangan keras dari sebelah kiri tidak dapat dihindarinya, dan menghajar telak iganya.

Bukkk!

“Akh...!” Suminta bergulingan menjauhi kedua orang lawannya. Meskipun dengan wajah agak menyeringai, pemuda itu bergerak bangkit dan siap melakukan perlawanan kembali. Sedangkan obor dalam genggamannya telah terlepas, dan berada dalam genggaman Wintarsa yang mengangkatnya ke atas sebagai penerangan

“Rasakan kepalanku...!” bentak lelaki berkumis tebal yang menjadi tukang pukul Wintarsa sambil melontarkan kepalannya yang menimbulkan desiran angin tajam.

Whuttt...!

Suminta merundukkan kepala, sehingga kepalan lawan lewat di atas kepalanya. Sayang, ia tidak menduga sama sekali kalau serangan susulan lawan datang demikian cepat. Akibatnya, tubuh Suminta kembali terpelanting ke belakang. Dan belum lagi sempat bangkit dan merasakan akibat tendangan itu, tahu-tahu lawan di sebelah kanannya sudah menendang iganya kuat-kuat.

“Aaakh...!” Suminta kembali memekik kesakitan. Darah segar mulai menetes dari sudut bibirnya. Meskipun demikian, pemuda bertubuh gagah itu berusaha merangkak bangkit untuk melakukan perlawanan kembali.

“Hm...,” kali ini Wintarsa sendiri yang sudah melangkah maju. Kaki kanannya langsung mencelat ke wajah Suminta yang tengah merangkak maju itu.

Desss!

“Highhh...!” Untuk kesekian kalinya, tubuh Suminta kembali terlempar akibat tendangan kuat itu. Beberapa buah pukulan dan tendangan masih menerpa wajahnya. Tampak wajah tampan itu babak belur berbaur dengan darah. Sehingga, sulit untuk mengenalinya.

Suminta merintih kesakitan tanpa mampu bangkit lagi. Sepertinya, Wintarsa dan kedua orang tukang pukulnya sama sekali tidak menginginkan kematian pemuda itu. Dalam penyiksaan mereka sengaja tidak mengerahkan tenaga terlalu kuat, agar Suminta tidak jatuh pingsan. Sehingga pemuda itu dapat merasakan penderitaan akibat pukulan dan tendangan mereka. Hal itu menandakan bahwa Wintarsa dan kedua tukang pukulnya merupakan orang-orang kejam yang tidak berperikemanusiaan.

“Hm..., ini merupakan peringatan terakhir, Suminta. Sekali lagi kau berani mendekati Darmi, kepalamu akan kupatahkan...!” ancam Wintarsa sambil menarik rambut Suminta ke atas. Sedangkan kakinya menekan punggung pemuda itu dengan kasar.

Suminta hanya bisa merintih menahan sakit pada kepalanya yang dipaksa terangkat ke belakang. Setelah berkata demikian, Wintarsa melepaskan kepala Suminta begitu saja, sehingga wajah pemuda itu membentur tanah, membuat Suminta mengerang kesakitan. Dari lubang hidungnya, darah segar kembali mengalir.

Wintarsa dan kedua orang tukang pukulnya bergerak meninggalkan tubuh Suminta yang tergeletak di tanah. Pemuda tampan pesolek itu melemparkan obor di tangannya, persis di depan wajah Suminta. Pemuda malang itu menyeret tubuhnya ke belakang, karena wajahnya yang berada dekat api obor terasa panas bagai terbakar.

Dengan susah payah, Suminta bergerak bangkit berdiri. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, pemuda itu bergerak menerobos kepekatan malam dengan langkah tertatih-tatih.

********************

“Ohhh...,” Suminta mengerang seraya menyandarkan tubuhnya di dinding rumah.

Saat ini sudah lewat tengah malam. Hembusan angin sudah semakin dingin ketika Suminta tiba di rumahnya. Pemuda malang itu langsung bergerak ke belakang rumah untuk membersihkan wajahnya dengan air sumur.

“Akh...?!” Suminta menahan jeritannya ketika wajahnya dirasakan perih. Lalu kakinya melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Sinar pelita yang temaram menerpa tubuhnya ketika ia berada di dalam rumah. Suminta langsung menuju kamarnya, dan membaringkan tubuhnya disertai helaan napas berat.

“Keparat kau, Wintarsa...!” umpat Suminta sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat.

Suminta benar-benar geram sekali terhadap pemuda kaya yang sombong dan kejam itu. Hatinya mengeluh bila mengingat perbedaan kehidupannya dengan Wintarsa yang laksana bumi dan langit.

Pemuda putra tunggal seorang juragan terkaya di Desa Margaluyu itu memang seringkali memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Apa yang diinginkannya harus tercapai, meskipun dengan jalan kekerasan. Tidak sedikit orang yang telah menjadi korban tindak kesewenang-wenangan pemuda jahat itu. Tapi, orangtua Wintarsa selalu membela putranya, dan membungkam mulut orang-orang desa yang menjadi korban putranya dengan sekantung uang.

Orang-orang desa tidak berani menuntut karena sudah ada beberapa penduduk yang kedapatan tewas. Hal itu disebabkan karena mereka tidak mau menerima uang pembungkam dari juragan kaya itu. Sedangkan Kepala Desa Margaluyu tidak berani mengambil tindakan. Ia lebih suka menutup mata, dan tak mau melihat kejadian di sekelilingnya.

“Hhh...,” Suminta kembali mengeluh bila teringat akan keadaan dirinya.

Suminta tahu, yang menjadi incaran Wintarsa adalah Darmi, kekasihnya. Dan juga diketahuinya, Wintarsa tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan Darmi. Ingatan itu membuat Suminta bangkit dari tidurnya. Otaknya bekerja cepat untuk mencari jalan keluar dari persoalan ini.

“Hm..., satu-satunya jalan, aku harus membawa lari Darmi meninggalkan desa ini...,” gumam Suminta mengambil keputusan, setelah mempertimbangkan segala akibatnya. Semua itu dilakukan karena ia sangat mencintai kekasihnya, dan tidak rela kalau Darmi jatuh ke tangan Wintarsa.

Berpikir demikian, Suminta bangkit dan mem-buntal beberapa pakaiannya. Kemudian bergegas keluar dari dalam kamar. Sebelum meninggalkan rumah, kakinya melangkah ke ruangan depan untuk melihat kedua orangtuanya yang menurut pikirannya pasti masih terlelap.

“Eh...?!” Kening Suminta berkerut ketika melihat ruangan depan berantakan. Meja kursi tampak terbalik, seperti sengaja diobrak-abrik orang!

“Ayah...?!” Suminta tercekat ketika di dalam keremangan sinar pelita, dilihatnya sesosok tubuh berlumuran darah tengah tergeletak di dekat meja yang terbalik. Pemuda itu langsung melompat, dan memeriksa keadaan ayahnya.

Bukan main sedihnya hati Suminta ketika ia mendapat kenyataan bahwa lelaki tua itu telah tewas. Beberapa luka bekas pukulan tampak membiru di sekujur tubuh ayahnya. Jelas orang tua itu telah disiksa sampai tewas!

“Ibu...?!”

Seperti disengat kalajengking, Suminta melepaskan tubuh ayahnya. Cepat ia melesat ke dalam ketika teringat akan ibunya. Dan, apa yang disaksikannya benar-benar membuat hati pemuda itu hancur luluh. Suminta meraung bagaikan seekor singa luka. Wajahnya pucat. Kedua kakinya serasa gemetar karena tidak sanggup menyaksikan pemandangan di depan matanya. Suminta jatuh dengan bertelekan kedua lututnya. Lalu, sambil menangis sesenggukan, pemuda itu menekap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Ibu...!” Suminta menguatkan hatinya untuk bergerak bangkit dan memasuki kamar orangtuanya. Wajah pemuda yang sembab oleh bekas luka-luka pukulan, tampak pucat berlinang air mata. Hatinya benar-benar hancur melihat tubuh ibunya tergantung di tiang rumah dengan lidah terjulur!

Dengan kedua tangan gemetar, Suminta menurunkan tubuh ibunya. Angkin yang biasanya melingkar di pinggang perempuan yang melahirkannya itu, tampak menjerat leher. Sekilas pemuda itu menyangka kalau ibunya sengaja menggantung diri. Tapi Suminta dapat meraba, apa yang membuat ibunya sampai gantung diri. Dan, ia pun sudah mulai menduga apa yang menyebabkan kematian ayahnya.

“Hm..., tidak salah lagi. Ini pasti perbuatan si keparat Wintarsa. Mungkin ia datang ke tempat ini untuk mencariku. Tapi, karena ayah tidak memberitahukannya, maka ia pun menyiksanya sampai tewas. Sedangkan ibu, mungkin sengaja bunuh diri ketika melihat ayah tewas! Benar-benar biadab sekali pemuda laknat itu! Ia sepantasnya menjadi iblis...!” geram Suminta dengan hati terselimut dendam membara.

Teringat akan Wintarsa, Suminta langsung saja melesat keluar dengan maksud untuk meminta tanggung jawab Wintarsa atas kematian kedua orangtuanya. Tapi, langkah pemuda itu tertahan ketika di depan rumahnya telah berkumpul beberapa orang penduduk yang rumahnya tidak berjauhan dengan tempat tinggal pemuda itu.

“Suminta, kau hendak ke mana...?” tanya salah seorang pemuda sambil melangkah menghampiri Suminta yang berdiri dengan wajah pucat, dan sepasang mata merah menyala terbakar api dendam.

“Akan kubunuh keparat keji itu...!” desis Suminta yang membuat tetangganya bergetar ketika mendengar ucapan pemuda itu.

“Percuma, Suminta. Kalau kau pergi juga, itu sama saja dengan bunuh diri! Sebaiknya tinggalkan saja desa ini. Bawa kekasihmu pergi jauh-jauh. Kami tidak bisa berbuat lain kecuali menasihatimu. Kau tahu sendiri, apa akibatnya orang yang berani mencampuri urusan pemuda mata keranjang yang jahat itu...,” ujar seorang lelaki setengah baya.

Menilik dari ucapan lelaki setengah baya itu, dapat diketahui kalau para tetangga Suminta telah tahu tentang kematian orangtuanya. Hanya saja mereka tidak bisa berbuat lain, kecuali mengutuk Wintarsa yang berhati iblis itu. Kalaupun mereka kini memergoki Suminta, itu karena mereka sempat mendengar raungan pemuda itu di saat melihat ibunya yang tewas tergantung.

“Tidak! Biarpun harus mati, aku tetap akan mendatangi pemuda iblis itu! Ia sudah tidak pantas lagi untuk disebut sebagai manusia, Ki. Pemuda itu jelas merupakan iblis berkedok manusia...!” bantah Suminta, tetap berkeras hendak membalas kematian kedua orangtuanya.

“Kalau kau berkeras hendak membalas kematian orangtuamu sekarang juga, terserahlah. Tapi, perlu kau ingat! Siapakah yang kelak akan membalaskan sakit hati mereka, bila kau sampai tewas sebelum sempat menyentuh tubuh pemuda iblis itu? Sampai hatikah kau membiarkan arwah kedua orangtuamu menjadi setan-setan penasaran karena dendamnya tak terbalaskan? Hanya karena kecerobohan dan ketololan putranya. Sadarlah, Suminta. Agar dendammu itu terlaksana, sebaiknya menyingkirlah untuk sementara waktu. Ajaklah kekasihmu meninggalkan desa ini. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekalmu membalas kematian orang tuamu. Mengenai mayat kedua orangtuamu, biarlah kami yang urus.”

Ucapan lelaki tua itu membuat hati Suminta lumer. Kepalanya bagaikan tersiram air dingin. Kesadarannya pun pulih kembali ketika orang tua itu menyebut-nyebut tentang setan-setan penasaran jelmaan ayah ibunya.

“Terima kasih, Ki. Juga saudara-saudara semua. Baiklah, aku akan menyingkir dari desa ini sesuai anjuran kalian. Tolong urus mayat kedua orangtuaku baik-baik. Mudah-mudahan kelak aku bisa membalas kematian mereka. Agar arwah-arwah mereka dapat tenang, dan tidak menjadi setan-setan penasaran...,” ujar Suminta, setelah terdiam beberapa saat lamanya. Kemudian, setelah berpamitan kepada para tetangga, Suminta segera berlari menerobos kegelapan malam menjelang fajar.

“Hhh...! Satu lagi korban kekejaman pemuda laknat itu. Entah keluarga mana yang menjadi korban selanjutnya...?” desah lelaki tua berusia lima puluh tahun yang baru saja menasihati Suminta.

Para penduduk Desa Margaluyu baru bergerak mengurus mayat kedua orangtua Suminta, setelah bayangan pemuda malang itu lenyap ditelan kegelapan malam.

********************

DUA

Tok, tok, tok...!

Ketukan di pintu kayu itu demikian kuat, sehingga membangunkan penghuninya yang sedang terlelap tidur. Seorang lelaki setengah baya bergerak ke pintu, setelah menyambar sebilah golok yang terselip di dinding rumah.

“Siapa...?” tanya lelaki setengah baya itu dengan wajah tegang. Meskipun Desa Margaluyu tidak pemah dijarah perampok atau sebangsanya, namun lelaki setengah baya itu tetap saja curiga.

“Aku, Ki. Suminta...,” sahut suara di balik pintu yang kedengarannya tegang dan terburu-buru.

Mendengar nama Suminta dan suaranya yang telah dikenal baik, lelaki setengah baya itu segera membukakan pintu. Seketika wajahnya tampak kaget ketika melihat wajah Suminta yang masih sembab, seperti habis berkelahi.

“Apa yang terjadi, Suminta...? Mengapa wajahmu penuh luka bekas pukulan...?” tanya lelaki setengah baya yang bernama Ki Pawaka itu dengan wajah cemas. Diajaknya Suminta masuk, namun pemuda itu menolak.

“Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya, Ki. Aku harus segera membawa Darmi meninggalkan desa ini. Kedua orangtuaku telah tewas terbunuh. Sedangkan aku dihajar habis-habisan oleh si keparat Wintarsa dan tukang pukulnya. Dugaanku, pemuda keparat itulah yang telah membunuh kedua orangtuaku. Itulah sebabnya, aku datang malam-malam begini hendak membawa Darmi pergi. Mana Darmi, Ki...?” jelas Suminta terburu-buru seraya menorehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Seolah-olah ia khawatir kedatangannya diketahui orang lain.

“Kakang...! Ada apa...?!” Seraut wajah manis yang tampak masih kusut, datang menghampiri kedua orang lelaki itu. Suminta langsung saja menarik tangan Darmi yang tampak keheranan itu.

“Kita harus segera meninggalkan desa ini, Darmi. Kalau tidak, cepat atau lambat Wintarsa pasti akan menculikmu. Ayolah kita pergi...!” ajak Suminta.

Wajah Darmi langsung pucat mendengar ucapan kekasihnya. Apalagi ketika dilihatnya wajah Suminta yang biru sembab seperti habis dipukuli orang.

“Tapi...”

“Nanti kujelaskan di perjalanan. Cepat berkemaslah! Kita harus meninggalkan desa ini sebelum fajar...!” potong Suminta tanpa memberi kesempatan kepada kekasihnya untuk bertanya-tanya lagi.

“Cepatlah, Darmi. Menurutku, ini memang merupakan jalan satu-satunya untuk menghindari pemuda keparat itu...!” Ki Pawaka ikut pula menyuruh putrinya untuk berkemas. Jelas orang tua itu setuju dengan tindakan Suminta. Karena ia sendiri sudah merasa putus asa ketika mengetahui bahwa Wintarsa mengincar putrinya.

Tanpa banyak cakap lagi, Darmi segera berkemas. Kemudian, keduanya berpamitan kepada Ki Pawaka yang mengantarkan kepergian putrinya dengan mata berair.

“Hati-hatilah, semoga kalian bisa mendapatkan ketenangan di tempat lain...,” ucap Ki Pawaka. Hati lelaki setengah baya itu sebenarnya sedih karena bagaimanapun juga, ia merasa berat melepas kepergian putrinya.

“Mudahan-mudahan kita dapat bertemu lagi, Ki...,” ujar Suminta yang diam-diam merasa terharu mendapat kepercayaan dari Ki Pawaka untuk membawa pergi putri tunggalnya.

Ki Pawaka baru menutup daun pintu rumahnya ketika bayangan Suminta dan Darmi lenyap ditelan kegelapan. Kini lelaki setengah baya itu harus memikirkan jalan keluar untuk selamat dari tumpahan kemarahan Wintarsa, bila pemuda itu datang mencari Darmi.

********************

Matahari belum begitu tinggi ketika lima orang penunggang kuda berpacu cepat meninggalkan Desa Margaluyu. Sikap mereka tampak terburu-buru seperti tengah mengejar sesuatu. Hal itu terlihat dari cara mereka memacu binatang tunggangan masing-masing, yang berlari cepat bagaikan dikejar setan.

“Hea..., heaaa...!”

Penunggang kuda yang terdepan adalah seorang pemuda tampan pesolek. Melihat dari raut wajahnya, usianya paling tidak sekitar dua puluh tahun lebih. Sepasang matanya tampak seringkali meredup, membayangkan kelicikan dan kekejaman. Siapa lagi pemuda tampan pesolek itu kalau bukan orang yang dipanggil sebagai Tuan Muda Wintarsa oleh penduduk Desa Margaluyu.

Sedangkan empat orang lelaki penunggang kuda lainnya, rata-rata bertubuh kekar dan bermata tajam menyeramkan. Wajah mereka membayangkan sifat yang kasar dan bengis. Keempat orang itu adalah tukang pukul Wintarsa. Mereka selalu menyertai ke mana pemuda itu pergi. Meskipun tidak jarang pemuda itu hanya membawa dua orang dari mereka. Kalau kali ini keempat tukang pukulnya dibawa, tentu ada sesuatu hal yang membuat pemuda itu marah.

Kelima ekor kuda yang tampak kekar dan kuat itu melesat bagaikan anak panah membelah semak-semak yang menghalangi jalan. Mereka telah cukup jauh meninggalkan Desa Margaluyu, dan mulai memasuki jalan berbatu yang tidak rata. Meskipun demikian, kelima penunggang kuda itu sama sekali tidak memperlambat lari kudanya.

“Itu mereka, Tuan Muda...!” tiba-tiba salah seorang di antara tukang pukul Wintarsa berseru sambil menudingkan jari telunjuknya ke depan, ke arah dua orang yang tengah berjalan terburu-buru.

“Hm..., sudah kuduga mereka pasti belum pergi jauh...,” gumam Wintarsa menggeram, menekan kemarahan yang siap meledak

“Celaka...!” Pemuda tampan berkulit kecoklatan yang berjalan sambil menggenggam tangan gadis di sampingnya, berseru dengan wajah pucat. Jelas para penunggang kuda yang berada di belakang mereka telah diketahuinya.

“Bagaimana ini, Kakang...?” terdengar suara gadis manis berkulit kuning langsat itu penuh kecemasan.

Ternyata mereka adalah Suminta dan Darmi yang meninggalkan Desa Margaluyu untuk menghindari kekejaman Wintarsa. Sayang, mereka dapat ditemui oleh orang yang dikhawatirkan itu.

“Berhenti...!” seru Wintarsa keras ketika melihat Suminta dan Darmi berlari menerobos hutan lebat di sebelah kanan mereka.

Sambil berkata demikian, pemuda itu cepat membedal kudanya yang langsung melesat dengan kecepatan kilat. Di belakang, empat orang tukang pukulnya bergegas mengejar dengan jalan menyebar. Jelas mereka menghadang dua orang itu dari depan.

Meskipun Suminta dan Darmi berusaha berlari secepatnya, tapi mereka tak mampu berpacu dengan kuda-kuda yang kokoh itu. Sebentar saja, dua orang tukang pukul Wintarsa telah menghadang langkah mereka.

“He he he...! Mau lari ke mana kau, heh...?!” ujar salah seorang tukang pukul Wintarsa yang berwajah brewok dengan bekas luka di pipi kanannya. Kemudian ia segera melompat turun dari punggung kudanya, diikuti rekannya.

“Keparat! Kalian benar-benar iblis!” maki Suminta sambil mencabut senjata, siap melindungi kekasihnya dari ancaman orang-orang kasar itu.

“Hm..., jangan sok berpura-pura sebagai pahlawan, Suminta! Berani sekali kau membawa lari perempuan yang telah menjadi pilihan tuan muda kami! Rupanya kau memang patut dibikin mampus...!” geram salah sseorang dari kedua tukang pukul Wintarsa.

“Surgala, tahan...!”

Tiba-tiba terdengar teriakan keras yang mencegah tindakan kedua orang tukang pukul itu. Wintarsa langsung melompat turun dari atas punggung kudanya. Kemudian, melangkah lebar dengan sikap sombong menghampiri Suminta dan Darmi.

“Kau benar-benar iblis berkedok manusia, Wintarsa! Mengapa kau masih juga mengejar kami? Apakah nyawa kedua orangtuaku masih belum membuatmu puas...?!” geram Suminta yang benar-benar merasa benci sekali kepada pemuda pesolek di depannya itu.

“Kurang ajar! Apa maksudmu, Suminta? Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan itu. Sebaiknya cepat kau serahkan Darmi kepadaku. Dan, kau boleh pergi ke mana kau suka...!” bentak Wintarsa yang menjadi berang ketika mendengar perkataan Suminta yang memang tidak dimengerti olehnya, atau Wintarsa berpura-pura bodoh?

“Huh! Sandiwaramu sudah basi, Wintarsa! Semua orang Desa Margaluyu sudah tahu akan sifatmu yang selalu ingin memiliki apa yang kau inginkan. Kau tidak peduli apakah caramu itu kotor atau tidak, yang penting keinginanmu terlaksana. Sekarang kau coba memungkiri perbuatanmu yang telah membunuh kedua orangtuaku secara biadab!” ujar Suminta tidak kalah gertak.

Suminta kini kelihatan tidak lagi gentar terhadap Wintarsa dan tukang-tukang pukulnya. Hal itu dikarenakan ia sadar kalau dirinya tak mungkin dapat selamat lagi. Sehingga, rasa takut yang ada di hatinya segera ditepiskan.

“Keparat! Hajar pemuda bermulut besar itu...!” perintah Wintarsa dengan wajah berang. Sebentar saja, dua di antara empat orang tukang pukul pemuda itu telah menerjang Suminta.

“Heaaah...!”

Suminta tidak mau menyerah begitu saja. Cepat pedangnya dikibaskan memberi perlawanan. Sebentar saja, ketiganya telah terlibat dalam pertarungan yang sengit, tapi berat sebelah!

Bukkk!

Sebuah pukulan keras mendarat tepat di dada Suminta! Tubuh pemuda itu langsung terjengkang, dan dari mulutnya keluar darah segar! Meskipun demikian, Suminta bergegas bangkit dan siap melanjutkan pertarungan.

“Kakang...!” seru Darmi seraya memburu tubuh Suminta yang tampak tengah berdiri bergoyang-goyang merasakan dadanya yang sesak dan seperti remuk itu.

Wintarsa yang melihat gerakan Darmi, segera melesat dan menangkap tubuh gadis desa itu. Kemudian, memeluknya erat-erat. Dara manis itu hanya bisa menangis sedih melihat kekasihnya dihajar habis-habisan oleh dua orang tukang pukul Wintarsa.

“Jangan...! Lepaskan Kakang Suminta, biarkan dia pergi! Aku akan menuruti perintahmu kalau kau mau melepaskannya, Wintarsa...!” seru Darmi di antara isak tangisnya yang memilukan. Jelas Darmi tidak ingin melihat kekasihnya disiksa sampai mati. Gadis itu lebih suka mengorbankan dirinya ketimbang melihat kematian pemuda yang dicintainya.

“Betulkah ucapanmu itu, Darmi...?” tanya Wintarsa seraya mendekatkan wajahnya ke wajah gadis manis itu. “Aku memang sudah lama merindukanmu, Darmi. Dan, sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Untuk apa kau pilih Suminta yang bodoh dan miskin itu...?”

“Bebaskan dia, dan aku akan menuruti semua keinginanmu...,” ujar Darmi sambil menghindari ciuman pemuda yang sepertinya sudah kerasukan setan itu.

Sementara itu, Suminta sudah jatuh bangun dipermainkan oleh dua orang tukang pukul Wintarsa. Darah segar bercucuran dari mulut dan hidungnya. Meskipun demikian, kedua orang tukang pukul itu belum juga berhenti menyiksanya.

Desss...!

“Huakh...!”

Sebuah tendangan keras kembali menghantam tubuh Suminta. Tubuh pemuda itu langsung terjengkang dan memuntahkan darah segar. Suminta terkapar tanpa mampu bangkit lagi.

“Hiaaa...!”

Desss...!

Kembali sebuah tendangan keras menerpa wajah Suminta. Tubuh pemuda itu tersentak ke atas, dan jatuh berdebuk ke tanah dengan suara keras. Terdengar suaranya merintih lirih. Tubuhnya bergerak-gerak lemah, tidak mampu untuk berdiri.

“Kakang...!” Darmi menjerit keras ketika melihat tubuh Suminta terkapar berlumuran darah. Gadis itu berontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari dekapan Wintarsa. Tapi, tenaga Wintarsa yang kuat membuatnya tak berdaya. Darmi akhirnya hanya bisa merintih pilu melihat Suminta yang masih bergerak-gerak lemah di atas tanah.

“Habisi dia...!” Wintarsa kembali memerintah tukang pukulnya, sambil membawa Darmi yang hanya mampu berteriak-teriak dengan wajah bersimbah air mata.

“Hm..., manusia-manusia kejam...!” Tiba-tiba terdengar teguran halus. Dan bersamaan dengan itu, muncul sesosok pemuda tampan mengenakan jubah putih panjang. Sepasang mata pemuda itu menyorot tajam menggetarkan jantung kedua orang tukang pukul yang hendak menyelesaikan perintah tuannya.

“Siapa kau, Kisanak?! Harap jangan mencampuri urusan kami...!” bentak tukang pukul berwajah brewok, seraya mengepalkan tinjunya yang besar dan tampak kuat. Sepertinya ia hendak menggertak pemuda tampan itu, yang menurutnya akan segera lari ketakutan.

Sayang, pemuda itu sama sekali tidak gentar. Kakinya malah melangkah perlahan mendekati kedua tukang pukul Wintarsa yang menjadi marah melihat kebandelan pemuda itu.

“Hm..., rupanya kau pun ingin merasakan kerasnya kepalanku...!” geram lelaki brewok yang bernama Surgala itu. Kemudian, ia melangkah menghampiri pemuda itu, dan kepalannya langsung dilayangkan dengan separuh tenaga.

Bukkk!

“Uuugh...!” Pukulan keras Surgala mendarat telak di dada lawannya. Tapi, bukannya tubuh pemuda itu yang terjengkang, melainkan tubuhnya sendiri yang terjajar mundur. Lelaki kekar itu tampak memijat-mijat kepalan tangannya yang terasa sakit. Wajahnya tampak dihantui keheranan besar. Belum lagi keterkejutan Surgala hilang, tiba-tiba terdengar jerit kesakitan, yang disusul melayangnya sesosok tubuh tegap ke arah mereka.

Brukkk!

“Tuan Muda...?!” seru Suminta dan ketiga orang kawannya.

Mereka terkejut sekali ketika mengenali sosok tubuh yang terbanting di dekat mereka itu. Cepat kepala mereka menoleh ke arah semak-semak, di mana majikan mereka tadi menghilang. Dan, dari tempat itu muncul seorang dara jelita berpakaian serba hijau sambil membimbing Darmi. Jelas dara jelita itulah yang melemparkan tubuh Wintarsa.

“Siapa kalian sebenarnya...?” tanya Surgala bernada menuntut jawaban dari pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau, yang telah berdiri berdampingan mengapit Darmi.

“Hm..., mengenai jati diri kami tidaklah perlu. Yang jelas, kami adalah orang-orang yang membenci tindakan sewenang-wenang!” tegas pemuda tampan berjubah putih itu dengan suara mantap.

Wintarsa yang baru saja bangkit berdiri, cepat mengebut-ngebutkan pakaiannya yang terkena debu. Wajahnya terangkat menatap seraut wajah jelita berpakaian serba hijau. Pemuda pesolek itu tidak lagi melihat daya tarik Darmi ketika kedua wanita itu berdiri berjejer. Sampai-sampai Wintarsa menelan air liurnya melihat dara jelita yang sama sekali belum pernah dijumpainya dalam mimpi sekalipun. Tak mengherankan kalau pemuda mata keranjang itu tidak bisa berbicara untuk beberapa saat lamanya. Sepasang matanya yang berminyak, bergerak liar menjelajahi sekujur tubuh dara jelita berpakaian serba hijau itu.

“Hm...,” dara jelita berpakaian serba hijau itu tampak marah. Sepasang matanya yang besar dan indah itu menyorot tajam. Agaknya ia tidak suka dengan sikap Wintarsa yang dianggapnya tidak sopan. Dan, tahu-tahu saja tubuhnya melesat ke arah Wintarsa dengan tamparan keras ke wajah pemuda pesolek itu.

Plakkk!

Surgala yang melihat majikannya terancam, segera melesat menyambut datangnya serangan dara jelita itu. Akibatnya, tubuhnya terpental balik dan hampir terpelanting. Untunglah salah seorang di antara kawannya bergerak menyelamatkannya.

“Gila! Kalian ini setan atau manusia...?!” pekik Surgala yang baru kali ini merasa dipecundangi oleh seorang wanita dengan sekali gebrak! Dan ia sama sekali tidak bisa mencegah ketika gadis itu melanjutkan serangannya ke arah Wintarsa.

Whuuut...!

Tamparan keras yang mendatangkan angin berkesiutan itu luput ketika Wintarsa menggeser langkahnya ke kiri, dan terus melompat ke belakang. Tentu saja gadis berpakaian serba hijau itu menjadi penasaran. Maka, ia pun kembali mengejar dengan serangan berikutnya.

Meskipun merasa gentar, Surgala segera memerintahkan kawan-kawannya untuk melindungi majikan mereka. Cepat keempat orang tukang pukul itu menghunus senjata, dan langsung mengeroyok dara jelita itu. Namun, pemuda tampan berjubah putih itu rupanya tidak tinggal diam. Tubuhnya langsung melayang, menghadang keempat orang tukang pukul Wintarsa.

“Biarkan mereka bermain-main sebentar. Kalau kalian merasa sudah gatal tangan, biarlah aku yang akan menghadapi kalian...,” ujar pemuda tampan yang berdiri tegak dan menunggu datangnya serangan lawan.

“Keparat! Kucincang tubuhmu...!” pekik Surgala yang benar-benar jengkel melihat pemuda tampan itu meng-hadangnya. Cepat pedangnya dibabatkan secara mendatar dengan maksud hendak membabat putus tubuh pemuda itu.

Sementara itu, tiga orang tukang pukul lainnya tidak tinggal diam. Mereka langsung bergerak mengeroyok pemuda tampan berjubah putih itu, yang berloncatan menghindari sambaran empat pedang lawannya.

Plakkk! Desss...!

Salah seorang lawan yang membacokkan pedangnya dari atas ke bawah, dipapaki telapak tangan pemuda itu. Dan ia pun langsung mengirimkan hantaman telapak tangan kanannya ke dada lawan. Akibatnya, tubuh orang itu terjengkang dan memuntahkan darah segar. Kemudian, diam tak bergerak lagi. Pingsan!

Surgala dan ketiga orang kawannya menjadi marah bukan main. Mereka menerjang pemuda tampan itu dengan serangan yang cepat dan kuat. Tapi, lagi-lagi salah seorang dari pengeroyok itu terpaksa keluar dari arena pertarungan. Tendangan pemuda tampan itu membuat lawannya langsung pingsan. Melihat dari gerakannya, kelihatan sekali kalau pemuda itu sengaja tidak menurunkan tangan kejam kepada lawan-lawannya.

Setelah tiga jurus berlalu, kedua orang lawan terjungkal. Surgala dan seorang kawannya itu langsung terlempar akibat tamparan keras yang menghantam pelipis dan perut mereka. Sebentar saja, keempat orang tukang pukul Wintarsa itu sudah bergeletakan tak berdaya.

TIGA

Setelah menundukkan keempat orang lawannya, pemuda tampan berjubah putih yang tak lain dari Panji, atau yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Naga Putih itu menoleh sekilas ke arah pertarungan lainnya. Menyaksikan betapa dara jelita berpakaian hijau itu tengah menghajar lawannya hingga jatuh bangun, Panji melangkah ke arah Suminta yang tengah ditangisi Darmi.

Darmi menyingkir sedikit, seolah-olah hendak memberikan peluang kepada penolongnya untuk memeriksa kekasihnya. Tanpa banyak cakap lagi, Panji segera memeriksa Suminta. Namun, pemuda tampan itu hanya bisa menghela napas ketika mengetahui bahwa Suminta sudah tidak bernyawa lagi. Rupanya luka-luka di sekujur tubuh pemuda desa itu telah banyak mengeluarkan darah. Akibatnya, Suminta menghembuskan napasnya yang terakhir sebelum Panji sempat menolongnya.

“Menyesal sekali, Nisanak. Kawanmu ini tidak bisa tertolong lagi. Relakanlah kepergiannya...,” ucap Panji seraya mengusap wajah Suminta yang tampak sepasang matanya masih terbuka seperti menyimpan penasaran dan kebencian yang dalam.

“Kakang...,” desis Darmi. Air matanya serasa telah habis karena terlalu banyak menangis. Gadis itu hanya bisa merintih pilu menyaksikan kekasihnya tewas.

“Tabahkan hatimu, Nisanak...,” ucap Panji perlahan.

Pendekar Naga Putih yang semula hendak mengangkat mayat Suminta, menjadi terkejut ketika mendengar pekik kaget di belakangnya. Tentu saja Panji kenal betul dengan suara kekasihnya. Maka, pemuda berjubah putih itu cepat membalikkan badan, hendak mengetahui apa yang terjadi dengan kekasihnya.

“Eh?!” Panji menahan seruannya ketika melihat kekasihnya tampak tersunat mundur dengan wajah agak pucat. Cepat pemuda itu melesat ke arah pertempuran yang tengah terhenti.

“Hei...! Apa yang terjadi dengan pemuda itu...?” desis Panji yang juga menjadi terkejut ketika telah berada di dekat Kenanga, yang saat itu tengah berhadapan dengan Wintarsa.

“Aku tidak tahu, Kakang. Ketika ia terjatuh oleh pukulanku yang keras, tahu-tahu saja pemuda itu menggereng seperti singa luka. Dan.., wajahnya berubah mengerikan...!” desis Kenanga dengan wajah agak pucat. Kelihatan sekali kalau dara jelita itu sangat terkejut melihat perubahan pada lawannya, yang sama sekali tidak pernah diduganya.

Wajar kalau Kenanga yang semula menghajar habis-habisan pemuda pesolek itu menjadi terkejut. Ia memang merasa benci melihat perbuatan pemuda itu terhadap gadis lemah yang ditolongnya. Karena itu, ia sengaja tidak memukul roboh Wintarsa, tapi menjadikan tubuh pemuda itu bulan-bulanan agar ia kapok. Sungguh tidak disangka kalau tiba-tiba pemuda pesolek itu berubah menakutkan!

“Grrrrg...!”

Kembali terdengar suara gerengan yang menggetarkan jantung. Suara itu keluar dari kerongkongan Wintarsa. Wajah pemuda itu tampak gelap seperti orang yang kehilangan ingatan. Bahkan, sepasang matanya memancar-kan sorot yang demikian menggetarkan jantung. Entah apa yang sudah terjadi dengan pemuda pesolek itu.

“Hm..., jelas ada sesuatu yang tidak wajar pada diri pemuda itu. Aku belum tahu apa penyebabnya. Yang pasti, kurasa ia sangat berbahaya sekali. Kau menyingkir dulu, Kenanga. Biar aku yang akan mengatasinya...,” ujar Panji yang sempat tergetar juga hatinya melihat sorot wajah dan tatapan pemuda pesolek itu.

Namun, yang diincar Wintarsa ternyata bukan Panji. Terbukti sepasang mata yang merah menyala itu bergerak mengikuti langkah Kenanga, yang meninggalkan arena pertarungan. Kembali terdengar gerengannya yang meng-getarkan tempat itu.

Meskipun sadar bahwa dirinyalah yang diincar pemuda itu, Kenanga tetap saja melanjutkan langkahnya. Dara jelita itu sama sekali tidak merasa khawatir kalau tiba-tiba pemuda itu menyerangnya. Sebab, ia merasa yakin Panji tidak akan tinggal diam.

“Kreaaagh...!”

Mendadak Wintarsa memekik laksana binatang buas yang kesakitan. Berbarengan dengan itu, tubuhnya yang tegap melayang ke arah Kenanga dengan jari-jari terkembang, siap mencengkeram tubuh dara jelita ber-pakaian hijau itu.

“Hm...,” Panji tentu saja tidak tinggal diam. Bagai kilat, tubuh pemuda tampan itu melesat cepat memotong gerak lawan yang hendak mencelakai kekasihnya.

Plakkk! Plakkk!

“Heh...?!”

Terdengar benturan keras dua kali berturut-turut yang memekakkan telinga. Dan, kedua sosok tubuh yang saling berbenturan lengan itu sama-sama terdorong ke belakang. Tentu saja Panji tidak menduga sama sekali kalau lawannya memiliki kekuatan yang hebat.

Dengan gerakan yang indah, tubuh Pendekar Naga Putih berputar dua kali di udara, kemudian mendarat ringan di atas tanah. Namun, pemuda itu menjadi terkejut ketika melihat tubuh lawannya kembali sudah melayang mengejar Kenanga.

“Gila...! Hebat sekali pemuda itu...!” desis Panji yang tentu saja jadi tidak habis pikir. Kalau memang pemuda itu benar-benar memiliki kepandaian tinggi, mengapa ketika Kenanga menolong Darmi, ia bisa dihajar dengan mudah?

Tapi, Panji tidak sempat lagi memikirkan keanehan itu lebih jauh. Sebab, saat itu Kenanga telah bertarung dengan Wintarsa. Tampak Kenanga terdesak oleh serangan-serangan ngawur, tapi berbahaya dari pemuda itu. Cepat Panji melesat memasuki arena pertempuran.

“Hait...!”

Plakkk, plakkk.... Desss...!

Begitu memasuki arena pertarungan, Pendekar Naga Putih langsung memapaki tamparan Wintarsa dan mengirimkan sebuah pukulan keras yang telak menghantam dada kiri pemuda itu. Akibatnya, tubuh pemuda pesolek itu terpental ke belakang sejauh satu tombak lebih.

Namun, kembali Panji diliputi keheranan besar. Hantaman telapak tangannya yang mampu meremukkan batu karang itu, ternyata sama sekali tidak membuat tubuh lawannya luka. Bahkan, saat telapak tangannya menyentuh dada pemuda aneh itu, Panji merasakan dari tubuh pemuda itu ada sebuah kekuatan yang menolak hantaman telapak tangannya. Tentu saja Pendekar Naga Putih menjadi semakin terkejut dan heran!

“Tahan...!” tiba-tiba Panji mengeluarkan bentakan nyaring ketika melihat pemuda aneh itu sudah bersiap hendak menerjangnya kembali.

Pendekar Naga Putih memang sengaja mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya melalui bentakan itu. Hal itu dilakukannya untuk melenyapkan pengaruh kekuatan sihir yang mungkin berada dalam diri pemuda pesolek itu. Tapi, bentakan itu sama sekali tidak membuat Wintarsa berubah. Sosoknya tetap menggetarkan dengan sorot mata memerah!

Kenanga sendiri yang mendengar bentakan kekasihnya, terjajar limbung. Untunglah tenaga saktinya cukup untuk melindungi isi dadanya dari guncangan hebat akibat bentakan itu. Kalau tidak, gadis ini mungkin sudah jatuh pingsan.

Darmi, gadis desa yang tidak memiliki ilmu silat itu, merasakan akibat bentakan yang dikeluarkan Panji. Gadis berwajah manis itu seperti diangkat dari tempat duduknya. Sehingga, ia jatuh dan tak sadarkan diri. Untung saja jarak Darmi dan Panji terpisah tiga tombak lebih. Kalau tidak sejauh itu, mungkin Darmi terpaksa harus merelakan nyawanya melayang dari badan.

Wintarsa sendiri menjawab bentakan Panji dengan sebuah gerengan yang tidak kalah kuatnya. Bahkan angin berhembus keras ketika pemuda itu mengeluarkan gerengannya yang panjang. Sehingga, Panji sendiri terpaksa mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi dada.

“Kenanga, bawa gadis itu menjauhi tempat ini...!” seru Panji mengingatkan kekasihnya akan bahaya yang menimpa Darmi. Untunglah gadis itu telah jatuh pingsan. Kalau tidak, nasibnya tidak akan tertolong lagi!

Kenanga yang merasakan kedua kakinya hampir lumpuh akibat gerengan Wintarsa, segera bergerak mendekati Darmi. Kemudian membawa tubuh gadis desa itu menjauhi arena pertarungan yang benar-benar mengerikan itu.

“Hm..., kalau didiamkan, pemuda ini jelas sangat berbahaya. Ia sepertinya tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Satu-satunya jalan, aku harus menundukkannya...,” gumam Panji seraya mengerahkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.

Wintarsa kembali mengeluarkan gerengan menggetarkan ketika merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, berhembus menerpa tubuhnya. Kemudian, kaki-nya bergerak maju dengan langkah-langkah aneh seperti orang mabuk. Bahkan gerakan kedua lengannya terlihat sangat kacau dan tidak beraturan. Meskipun demikian, angin yang ditimbulkan terdengar bercicitan menulikan telinga. Jelas, pada sepasang lengan pemuda itu menyembunyikan kekuatan yang hebat.

“Gila...! Ilmu apa yang dipergunakannya...? Tampaknya demikian kacau dan tidak beraturan. Tapi, kekuatan-nya jelas sangat berbahaya. Semua itu mudah ditebak dari sambaran angin yang tercipta dari putaran lengannya. Benar-benar aneh pemuda ini...!” gumam Panji sambil bergerak memutar ketika melihat lawannya semakin mendekat.

“Keeekh...!”

Diiringi pekikan aneh yang sama sekali belum pernah didengar Panji sebelumnya, tubuh pemuda aneh itu melayang ke arah lawannya dengan cakaran-cakaran yang bercicitan merobek udara. Jelas, sambaran yang menimbulkan angin dan menyakitkan gendang telinga itu sangat berbahaya. Bahkan, samar-samar tercium bau racun keluar dari sambaran tangannya.

“Heah...!” Pendekar Naga Putih bergerak ke kanan dengan lompatan kecil, sehingga sambaran cakar lawan dapat dielakkan. Kemudian, ia langsung membalas dengan sebuah tamparan keras ke arah pelipis lawannya. Namun, ketika serangannya dapat dihindari, Panji segera mengirimkan sebuah tendangan kilat ke arah perut lawannya.

Plakkk!

Kembali keduanya terjajar ke belakang ketika tendangan Panji ditepiskan telapak tangan lawannya. Keduanya kembali saling terjang dengan hebatnya, membuat sekitar arena pertarungan seperti dilanda angin topan yang keras. Pepohonan di sekitar tempat itu berderak-derak bagaikan hendak patah.

Kenanga yang menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan, menjadi tegang hatinya. Dara jelita itu benar-benar tidak mengerti, mengapa pemuda tampan yang semula seperti tidak berdaya menghadapi serangannya tadi, kini terlihat sangat tangguh sekali. Bahkan Panji sendiri kelihatan cukup sulit untuk menundukkannya cepat-cepat. Kejadian itu benar-benar membuat Kenanga tidak mengerti.

Sementara itu, pertarungan sengit antara Panji dan Wintarsa masih terus berlanjut. Panji sendiri menjadi penasaran ketika lewat dari enam puluh jurus, ia belum juga mampu menundukkan lawannya. Bahkan, untuk mendesak pun sangat sulit. Karena jurus-jurus aneh lawannya benar-benar sangat tangguh, dan merupakan benteng pertahanan yang sangat kuat.

“Yeaaah...!”

Ketika pertarungan menginjak jurus kedelapan puluh, Pendekar Naga Putih mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah' yang sangat jarang dipergunakannya. Karena hanya dengan suara pekikannya saja, Panji dapat membunuh lawannya. Lantaran pembuluh darah lawannya bisa pecah, akibat pekikan maut itu.

Tapi, untuk kesekian kalinya, Panji kembali harus memuji kehebatan lawan. 'Pekikan Naga Marah'nya sama sekali tidak menimbulkan pengaruh apa-apa pada Wintarsa, yang juga mengeluarkan pekikan menggetar-kan. Jelas, kali ini Pendekar Naga Putih benar-benar menemui lawan yang sangat tangguh!

“Eaaarghhh...!” Ketika pertarungan menginjak jurus yang kedelapan puluh lima, mendadak Wintarsa mengeluarkan gerengan aneh mirip raung singa yang sekarat. Berbarengan dengan itu, ia segera menerjang lawan dengan gerakan-gerakan yang semakin bertambah cepat Dan Panji sendiri menjadi repot dibuatnya.

Desss...!

“Hukkkh...!” Panji tidak sempat lagi mengelakkan sebuah tendangan kuat yang singgah di perutnya. Akibatnya, tubuh pemuda tampan berjubah putih itu terpental ke belakang, sejauh satu setengah tombak.

Untunglah tubuhnya telah dilindungi lapisan kabut bersinar putih keperakan, sehingga tidak membuat pemuda itu terluka parah. Dan, ketika tubuh lawan sudah meluncur dengan kecepatan kilat hendak menghabisi nyawanya, Panji bergerak ke kiri sambil memutar tubuhnya setengah lingkaran. Dari sebelah bawah, sepasang telapak tangannya yang berisikan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', langsung menghantam tubuh Wintarsa dengan telak!

Desss...!

“Huakhhh...!” Kali ini Panji yakin bahwa lawannya tidak mungkin selamat lagi. Sebab, pukulannya itu dikerahkan dengan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Tapi, apa yang diduga Pendekar Naga Putih ternyata meleset. Meskipun lawannya memuntahkan darah segar, namun tetap saja belum mampu membuat pemuda aneh itu tewas. Dan, Panji hampir tidak mempercayai kenyataan yang berada di hadapannya itu.

“Gila...! Bagaimana mungkin ia masih dapat selamat dari pukulanku...? Seberapa kebal pun tubuhnya, paling tidak tulang-tulangnya pasti remuk...?!” desis Panji sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh kekaguman. Tapi, sebelum Pendekar Naga Putih sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba Wintarsa berseru seraya mengibaskan kedua tangan kearahnya.

“Heh...?!” Panji berseru kaget ketika dari kedua telapak tangan Wintarsa menyebar bubuk-bubuk beracun berwarna merah muda.

Pendekar Naga Putih cepat melompat ke belakang sambil memutar sepasang lengannya untuk menghalau bubuk-bubuk beracun, yang menutupi pandangannya. Panji terpaksa harus berhati-hati dengan racun yang ditebarkan lawannya. Sebab, dengan kepandaian lawannya yang sangat tinggi, bukan tidak mungkin racun yang digunakannya dapat mematikan.

“Keparat...!” geram Panji ketika tidak melihat sosok lawannya. Memang, pada saat Pendekar Naga Putih sibuk menghalau bubuk-bubuk beracun itu, Wintarsa telah lenyap. Bahkan, keempat sosok lelaki berpakaian hitam yang menjadi tukang pukul pemuda pesolek itu pun lenyap entah ke mana.

“Ke mana perginya pemuda aneh itu, Kakang...?” tegur Kenanga yang melangkah menghampiri Panji ketika melihat pertempuran telah berakhir. Gadis itu heran ketika tidak menemukan sosok pemuda aneh yang menjadi lawan kekasihnya.

“Hhh..., aku sendiri tidak tahu. Karena khawatir dengan bubuk beracun yang berbahaya itu, maka aku melompat menjauhi racun yang menuju ke arahku. Apakah kau tidak sempat melihatnya tadi...?” Panji balik bertanya karena mungkin saja dara jelita itu melihatnya.

“Arena pertarungan terlalu gelap dipehuni asap merah muda. Sehingga aku tidak bisa melihatnya...,” jawab Kenanga yang juga tidak sempat melihat sosok pemuda aneh itu.

“Hm..., kalau begitu, tinggal satu-satunya orang yang tahu siapa sebenarnya pemuda itu. Dan, kita harus menanyakan kepadanya...,” gumam Panji setelah berpikir beberapa saat lamanya. Kemudian, kakinya melangkah bersama Kenanga ke arah tempat di mana gadis itu meninggalkan Darmi.

Namun, setibanya di tempat persembunyian Kenanga tadi, keduanya tidak menemukan sosok Darmi. Tentu saja kenyataan itu membuat Panji dan Kenanga menjadi kebingungan. Sebab mereka sama sekali tidak melihat ataupun mendengar langkah kaki orang yang melarikan diri.

“Aneh..., ke mana perginya gadis desa yang malang itu...?” desis Panji yang menjadi tidak mengerti dengan apa yang telah dialaminya. Sebab, mana mungkin keduanya dikecoh oleh seorang gadis desa yang lemah itu.

“Mayat pemuda kawannya itu pun sudah tidak ada di tempatnya semula, Kakang...,” ujar Kenanga setelah mengedarkan pandangannya, dan tidak menemukan mayat pemuda desa yang disiksa empat orang berpakaian hitam tadi. “Apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat ini...?”

Panji termenung seolah hendak mencari jawaban dari semua kejadian aneh yang dialaminya barusan. Namun, meskipun telah memeras otaknya, tetap saja apa yang baru saja dialaminya itu belum terpecahkan. Sehingga, pemuda tampan itu hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan kekasihnya.

“Apakah semua ini hanya merupakan tipuan dari seorang ahli sihir, Kakang...?” tanya Kenanga lagi yang sepertinya belum bisa melenyapkan semua keanehan itu dari pikirannya.

“Tidak mungkin, Kenanga. Kalau benar semua ini hanya permainan sihir, pasti sudah punah ketika aku berteriak dengan menggunakan tenaga dalam tadi. Tapi, nyatanya tidak. Bahkan pemuda aneh itu sanggup membalas pekikanku dengan tidak kalah hebatnya. Hanya yang menjadi pertanyaan bagiku sekarang, mengapa gadis desa dan mayat pemuda itu juga lenyap? Apakah mungkin kalau gadis desa yang kelihatan lemah dan hanya bisa menangis itu sanggup membawa mayat pemuda itu? Atau..., mungkin juga ada seorang tokoh sakti yang telah menyelamatkannya tanpa setahu kita...,” hanya itu yang terpikirkan oleh Panji. Sebab, memang tidak ada jalan lain yang bisa digunakan sebagai pemecahan masalah itu.

“Yahhh..., mungkin dugaan itulah yang paling benar untuk saat ini, Kakang...,” desah Kenanga, menyetujui dugaan Panji.

“Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini, Kenanga. Dan, kita harus dapat mencari jawaban dari semua kejadian aneh ini...,” ujar Panji, mengajak Kenanga meninggalkan tempat itu untuk mencari kunci jawaban dari semua keanehan yang baru saja dialami mereka.

********************

EMPAT

Hari masih pagi. Matahari baru saja menampakkan cahayanya yang kuning keemasan. Kehangatan segera menyapu permukaan bumi. Namun, penduduk Desa Margaluyu tampak berduyun-duyun menuju balai desa. Wajah mereka tampak diliputi tanda tanya besar.

Apa yang menimbulkan rasa penasaran di hati para penduduk desa barulah terjawab setelah mereka tiba di balai desa. Sebab, di depan pintu gerbang bangunan itu terdapat dua sosok mayat manusia yang digantung secara biadab.

“Iblis...!” desis seorang lelaki setengah baya dengan wajah membayangkan kengerian yang amat sangat. “Hanya iblislah yang tega melakukannya....”

“Hei...! Bukankah itu Suminta dan Darmi...?!” seru seorang laki-laki bertubuh gemuk, berusia sekitar empat puluh tahun. Jari telunjuknya ditudingkan ke arah dua sosok mayat itu. Jelas, mayat-mayat yang digantung di depan gerbang balai desa itu dikenalinya.

Beberapa orang lelaki yang tampaknya kawan dari lelaki gemuk itu tidak berani menyahut sama sekali. Wajah-wajah mereka tampak pucat karena merasa ketakutan ketika mendengar ucapan kawannya yang agak keras itu.

“Jangan mencari perkara. Sebaiknya, kita berpura-pura tidak mengenali mayat-mayat itu. Apa kau ingin bernasib seperti mereka...?” bisik salah seorang kawannya, yang rupanya mengkhawatirkan nasib lelaki gemuk itu. Sehingga, lelaki gemuk itu menjadi bungkam seperti baru menyadari kesalahannya.

Saat itu matahari semakin naik tinggi. Penduduk Desa Margaluyu tampak semakin banyak yang berdatangan. Desa itu pun menjadi gempar menyaksikan kejadian yang benar-benar membuat hati mereka resah itu.

Seorang lelaki kekar berusia sekitar empat puluh tahun tampak berusaha mendekat dengan jalan menyeruak kerumunan para penduduk desa. Melihat dari sikapnya yang tegas dan gagah, serta beberapa orang berseragam hitam yang menyertainya, jelas lelaki gagah itu merupakan seorang yang berpengaruh di Desa Margaluyu.

“Hayo..., hayo menyingkir! Beri jalan untuk Ki Dungkala...!” terdengar salah seorang dari enam lelaki berseragam hitam itu berteriak-teriak sambil mengibaskan lengannya ke kiri dan kanan. Orang-orang desa yang berkerumun itu pun segera menyisih, memberi jalan kepada lelaki gagah yang bernama Ki Dungkala itu.

“Hm..., benar-benar keji sekali... Entah siapa yang demikian tega melakukan hal ini...?” desis lelaki gagah itu seraya menatap mayat yang tergantung di atas pintu gerbang balai desa.

Kepala Ki Dungkala menggeleng-geleng melihat keadaan mayat wanita muda yang pakaiannya tidak karuan itu. Sekali pandang saja, dapat diduga apa yang telah terjadi dengan gadis itu sebelum terbunuh. Sedangkan mayat lelaki muda di sebelahnya tampak seperti telah menerima siksaan sebelum kematiannya. Benar-benar sebuah perbuatan yang sangat keji dan tidak ber-perikemanusiaan.

Setelah memperhatikan kedua sosok mayat itu, Ki Dungkala menatap kerumunan penduduk. Kemudian, pandangannya beredar ke sekeliling. “Saudara-saudara sekalian, siapa di antara kalian yang mengenali kedua mayat yang malang ini...?!” terdengar suara Ki Dungkala mengatasi suara bising yang bagaikan dengungan lebah itu.

Sebentar saja suasana menjadi sunyi. Para penduduk desa itu saling berpandangan satu sama lain. Seolah hendak mencari siapa di antara mereka yang bisa mengenali mayat-mayat itu.

Cukup lama Ki Dungkala menunggu jawaban dari para penduduk desa. Namun, tak seorang pun yang terlihat dapat mengenali kedua sosok mayat itu. Melihat hal itu, Ki Dungkala kembali mengulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih keras.

“Saudara-saudara sekalian! Kalau kejadian ini kita biarkan, bukan mustahil bisa terulang lagi. Dan, bukan tidak mungkin kalau yang menjadi korban selanjutnya adalah diri saudara ataupun putra dan putri kalian. Kuharap kalian jangan merasa takut untuk mengadu bagi siapa yang mengenali kedua mayat ini. Aku yang akan bertanggung jawab atas keselamatan kalian. Sebagai kepala keamanan di Desa Margaluyu ini, aku mengharapkan bantuan dari kalian semua...!” ujar Ki Dungkala, yang rupanya dapat menduga mengapa tidak ada seorang penduduk pun yang berani menyahuti pertanyaannya.

Ki Dungkala menunggu beberapa saat lamanya seraya mengedarkan pandang matanya berkeliling. Sepertinya ia tidak perlu lagi menunggu lama, karena seorang lelaki berusia enam puluh lima tahun tampak menyeruak kerumunan penduduk. Lelaki itu kemudian mendekati tempat Ki Dungkala berada.

“Tuan. Aku sudah tua, dan tinggal menunggu mati saja. Untuk itu aku tidak lagi merasa takut terhadap ancaman ataupun siksaan. Aku kenal kedua mayat itu. Mereka adalah Suminta dan Darmi. Keduanya semalam melarikan diri dari desa ini untuk menyelamatkan diri. Karena gadis yang bernama Darmi itu diincar oleh putra tunggal Ki Sama Tungga, orang paling kaya dan berpengaruh di Desa Margaluyu ini. Sedangkan mengenai siapa yang melakukan hal ini, aku tidak tahu persis. Tapi, semalam kedua orangtua Suminta telah tewas terbunuh...,” bisik lelaki tua itu perlahan. Rupanya ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar keterangannya itu.

“Maksudmu..., Tuan Muda Wintarsa...?!” tegas Ki Dungkala dengan kening berkerut.

Lelaki gagah itu memang sering mendengar selentingan tentang perbuatan Wintarsa. Tapi, karena tidak pernah mendapatkan bukti yang kuat, Ki Dungkala tidak bisa bertindak untuk menangkap pemuda itu. Sedangkan seluruh anggota keluarga sampai para pembantu keluarga Ki Sama Tungga selalu bisa memberikan kesaksian tentang keberadaan pemuda itu di rumah, saat peristiwa terjadi. Sehingga Ki Dungkala tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi kepala desanya selalu memperingatkan agar ia tidak mengganggu keluarga Ki Sama Tungga

“Hm....” Ki Dungkala terdengar menggumam perlahan ketika melihat anggukan kepala kakek itu. Wajahnya tampak memerah. Jelas lelaki gagah itu tengah dilanda kemarahan hebat.

“Terima kasih atas keteranganmu, Ki. Aku akan berusaha untuk menangani kejadian ini sebaik-baiknya...,” ujar Ki Dungkala seraya menepuk-nepuk bahu lelaki tua itu perlahan. Kemudian, kepala keamanan desa itu memerintah para pembantunya untuk menurunkan dan menguburkan kedua mayat Suminta dan Darmi.

Para penduduk desa mulai meninggalkan tempat itu satu persatu. Mereka saling berbicara satu sama lain. Seolah masih mempertanyakan tentang siapa mayat yang malang itu. Namun, suasana menjadi semakin gaduh ketika terdengar jerit kematian yang melengking tinggi bagaikan merobek angkasa. Teriakan kematian itu membuat sebagian penduduk melarikan diri berserabutan tanpa arah. Sedangkan sebagian yang lain menoleh ke arah asal jeritan melengking tinggi itu.

Ki Dungkala yang mendengar teriakan itu segera berkelebat cepat ke arah asal suara. Hati lelaki gagah itu terkejut bukan main ketika melihat lelaki tua yang barusan berbicara kepadanya, telah tergeletak tewas. Tubuh lelaki tua itu tampak menghitam seperti keracunan. Di perutnya tampak tertancap sebilah belati. Jelas senjata itulah yang telah merenggut nyawanya.

“Biadab...!” desis Ki Dungkala seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seolah hendak mencari orang yang dicurigainya.

Sepasang mata Kepala Keamanan Desa Margaluyu ini kemudian kembali tertuju kepada mayat lelaki tua yang malang itu. Perlahan tangannya terulur, mencabut belati yang tertancap di perut mayat itu. Digunakannya sehelai kain agar telapak tangannya tidak terkena racun, yang mungkin terdapat pada gagang belati itu.

“Urus mayat ini...,” perintah Ki Dungkala kepada dua orang lelaki berpakaian serba hitam yang menjadi bawahannya.

Kemudian, kepala keamanan desa itu melangkah sambil mengamati balati di tangannya. Keningnya tampak berkerut dalam. Sepertinya ia ingin mengenali belati itu. Namun, meskipun Ki Dungkala memeras otaknya, tetap saja ia tidak bisa mengenali belati yang tidak mempunyai tanda-tanda khusus itu. Kemudian, Ki Dungkala membungkus belati itu dengan kain hitam, dan menyimpannya. Sepertinya ia merasa belati itu mungkin ada gunanya kelak.

********************

Seorang pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau, melangkah lebar memasuki mulut Desa Margaluyu. Keduanya sama sekali tidak mempedulikan pandangan orang-orang desa yang berpapasan dengan mereka. Keduanya tetap melangkah tenang, meski pun orang-orang desa itu menatap mereka dengan rasa curiga.

“Hm..., mereka tampaknya seperti tidak menyukai kehadiran kita, Kakang...,” bisik dara jelita berpakaian hijau, tanpa menolehkan kepalanya. Pandangan matanya tertuju lurus ke depan. Sehingga tidak seorang pun yang menyangka ia berbicara. Apalagi bibirnya tidak kelihatan bergerak.

“Sepertinya begitu,” sahut pemuda tampan berjubah putih, juga tanpa menoleh. Langkahnya tenang dan tetap terayun perlahan. “Tapi, kita tidak perlu mempedulikannya. Itu hak mereka....”

Setelah agak jauh berjalan, keduanya membelok memasuki sebuah kedai makan yang menyediakan tempat untuk menginap. Saat itu senja telah datang. Perlahan keremangan mulai menyelimuti Desa Margaluyu.

Kedua orang muda itu sama sekali tidak mempedulikan tatapan curiga dari beberapa orang pengunjung kedai, yang menoleh serentak saat keduanya masuk. Delapan pasang mata itu baru beralih ketika pemuda tampan dan dara jelita itu mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling ruangan. Keduanya duduk dengan tenang, lalu memesan makanan dan minuman kepada seorang pelayan yang datang menghampiri.

“Penduduk desa ini benar-benar aneh. Lama-lama aku bisa jengkel dengan sikap mereka yang tidak menyenangkan itu...,” gerutu dara jelita berpakaian hijau itu. Rupanya, ia mulai merasa terganggu dengan pandangan penduduk desa yang jelas-jelas menaruh rasa curiga dan tidak senang terhadap kehadiran mereka.

Pemuda tampan berjubah putih itu hanya tersenyum mendengar gerutuan kawannya, yang meskipun pelan namun terdengar cukup jelas. Pemuda itu tampak menghela napas panjang.

“Kenanga..., kita tidak tahu apa yang menyebabkan sikap mereka demikian aneh dan menjengkelkan. Menurut firasatku, sepertinya di desa ini telah terjadi sesuatu yang membuat mereka resah. Sehingga, setiap orang asing yang datang ke sini selalu dicurigai. Jadi, kuharap kau bisa menahan kemarahanmu dan memaklumi sikap mereka. Biarlah nanti kutanyakan kepada pelayan kedai ini, agar kau tidak penasaran...,” janji pemuda tampan berjubah putih yang tak lain dari Panji itu. Suaranya agak berbisik, agar tidak sampai terdengar orang lain.

“Hhh..., terserah Kakang sajalah...,” sahut Kenanga seraya melemparkan senyum untuk menyenangkan hati kekasihnya.

Tidak berapa lama kemudian, pelayan pun datang membawakan pesanan mereka. Kemudian, menatanya di atas meja dengan rapi. Namun, ketika hendak meninggalkan meja, Panji menahannya dengan halus.

“Maaf, Paman. Kami ada perlu sebentar...,” ujar Panji seraya menatap wajah pelayan yang sepertinya agak kurang senang. Namun, Panji tidak mempedulikannya dan melanjutkan ucapannya. “Kami memerlukan dua buah kamar untuk menginap. Dapatkah Paman menyediakannya?”

“Bisa. Kisanak lihat sendiri tulisan di depan kedai ini, bukan?” sahut pelayan bertubuh kurus itu, tanpa menampakkan kesan yang ramah, sebagaimana seorang pelayan. Setelah berkata demikian, pelayan itu kembali hendak meninggalkan Panji. Namun, pemuda itu menahannya.

“Mmm..., ada satu hal lagi yang hendak kami tanyakan, Paman. Nampaknya ada sesuatu yang meresahkan penduduk desa ini, dapatkah Paman menjelaskannya...?” tanya Panji lagi.

Pertanyaan pemuda tampan berjubah putih itu ternyata membuat sikap pelayan itu berubah. Wajahnya yang kurus tampak pucat. Sepasang matanya bergerak liar, seolah ada sesuatu yang sangat ditakutinya. Bahkan, pada keningnya mulai menitik butir-butir keringat. Jelas, pelayan itu sangat ketakutan.

“Maaf, aku masih banyak pekerjaan...,” ujarnya dengan suara gemetar. Kemudian, pelayan itu langsung beranjak meninggalkan Panji dan Kenanga yang menjadi keheranan. Pemuda itu tidak berusaha mencegah. Karena ia bisa memaklumi rasa takut yang menyelimuti diri pelayan itu.

“Hm..., jelas ada sesuatu yang aneh di desa ini. Kita harus menyelidikinya, Kakang...,” bisik Kenanga sepeninggal pelayan kedai itu. Sepertinya dara jelita ini penasaran ketika melihat sikap pelayan itu benar-benar mencurigakan.

“Yah..., sepertinya memang begitu. Tapi, entah apa yang telah membuat pelayan itu demikian ketakutan...?” sahut Panji dengan nada rendah.

Sesaat kemudian, mereka segera menikmati makanan yang telah terhidang di atas meja. Sesekali, Kenanga mencuri pandang ke sekelilingnya, seolah hendak menangkap basah bilamana ada orang yang memperhati-kannya. Namun, ternyata tak seorang pun yang mem-perhatikan mereka lagi.

Baru saja Panji dan Kenanga menyelesaikan makannya, masuk seorang lelaki gagah yang ditemani empat orang lelaki berseragam hitam. Sikap lelaki gagah itu tampak angker dan berwibawa. Ditambah lagi wajahnya terhias kumis lebat, yang membuat wajahnya semakin berwibawa bagi orang-orang yang memandangnya.

Baik Panji maupun Kenanga hanya menoleh sekilas ke arah rombongan kecil itu. Mereka tidak menaruh curiga sama sekali terhadap kelima orang lelaki yang tampaknya sangat dihormati oleh penduduk setempat. Terbukti pelayan kedai yang ketakutan tadi, terlihat membungkuk hormat kepada lelaki itu. Demikian pula dengan beberapa orang pengunjung kedai yang lain. Rata-rata mereka menyapa dengan nada hormat. Tentu saja hal itu membuat Panji dan Kenanga menjadi tertarik.

Tapi, rupanya Kenanga dan Panji tidak perlu mencari tahu tentang jati diri lelaki gagah itu. Sebab, mereka langsung melangkah ke meja pasangan pendekar muda itu.

“Maaf, kalau kedatanganku mengganggu Kisanak berdua,” ujar lelaki gagah yang tak lain dari Ki Dungkala. “Boleh aku duduk bersama kalian...?”

“Tidak mengapa, Paman. Silakan...,” sambut Panji yang sedikit heran, dan mulai menduga-duga apa kira-kira maksud kedatangan lelaki gagah yang langsung menemuinya itu.

“Aku adalah Ki Dungkala, kepala keamanan desa ini. Kalau boleh kutahu, siapakah Kisanak berdua ini?” tanya Ki Dungkala seraya memperkenalkan dirinya kepada Panji dan Kenanga.

“Namaku Panji. Sedang kawanku ini bernama Kenanga. Kami berdua adalah orang-orang yang biasa melakukan perjalanan jauh, sekadar untuk meluaskan pengalaman. Harap maafkan kalau kehadiran kami telah merepotkan Paman...,” jawab Panji memperkenalkan diri kepada lelaki gagah itu.

“Hm..., apakah kalian berdua tidak mempunyai keluarga di desa ini...?” tanya Ki Dungkala lagi sambil menatap wajah Panji, seolah hendak menilai pemuda tampan berjubah putih itu.

Pendekar Naga Putih hanya tersenyum ditatap seperti itu. Pemuda berjubah putih ini tidak merasa tersinggung atas pertanyaan Ki Dungkala yang jelas-jelas bersifat menyelidik. “Sama sekali tidak, Paman. Kami kebetulan singgah dan akan menginap di desa ini karena tidak ingin kemalaman di jalan. Apakah Paman merasa keberatan dengan keberadaan kami di desa ini...?” tanya Panji langsung membuka diri, membuat Ki Dungkala terpaksa memperlihatkan senyumnya sambil menggelengkan kepala perlahan.

“Sama sekali tidak, Panji. Tapi..., maaf kalau kemungkinan ada sesuatu yang tidak enak di desa ini. Karena desa kami tengah menghadapi masalah misterius. Harap kalian bisa memaklumi sikapku maupun sikap penduduk desa yang mungkin kurang berkenan di hati kalian. Pagi tadi, baru saja ada peristiwa yang meng-gemparkan desa ini. Dua orang penduduk desa kami kedapatan tewas tergantung di atas pintu gerbang balai desa. Meskipun kejadian-kejadian aneh telah banyak yang kudengar, tapi baru kali ini ada kejadian yang demikian jelas. Sepertinya orang-orang jahat itu mulai bertambah berani dalam menteror penduduk desa ini. Entah apa maksud dari semua ini...?” ujar Ki Dungkala yang sepertinya sudah mempercayai Panji dan Kenanga.

“Hm..., jadi benar dugaan kami kalau penduduk desa ini tengah dilanda kegelisahan. Siapa kira-kira orang jahat itu, Paman? Apakah tidak pernah ada yang memergokinya...?” tanya Panji. Pendekar Naga Putih langsung saja memanfaatkan kesempatan itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di Desa Margaluyu.

“Hhh..., itulah yang sampai saat ini membuat hatiku penasaran, Panji. Selama ini, tak ada seorang pun yang berani melaporkan apa yang mereka alami. Sebab, penjahat itu sepertinya berada di sekitar desa ini, atau paling tidak banyak menyusupkan anggotanya ke dalam desa. Pagi tadi, di depan mataku ada seorang warga desa yang mati terbunuh. Orang itu baru saja memberi keterangan padaku mengenai keberadaan mayat laki-laki dan perempuan yang digantung di gerbang balai desa. Hm..., benar-benar membuat hatiku penasaran...!” geram Ki Dungkala mengakhiri ceritanya.

“Ah..., sayang kami tiba agak terlambat. Kalau boleh kami tahu, berapakah kira-kira usia kedua mayat yang digantung itu?” tanya Panji hati-hati. Kemudian, Pendekar Naga Putih menceritakan kejadian yang pernah dialaminya di luar desa itu. Sehingga, Ki Dungkala menjadi terkejut setengah mati.

“Hm..., tidak salah lagi. Pastilah pemuda dan gadis itu yang kalian lihat. Sedangkan pemuda pesolek yang ditemani empat orang laki-laki berseragam hitam, jelas Wintarsa. Ia adalah putra tunggal juragan kaya itu. Kali ini mereka tidak bisa mungkir lagi. Hm..., bersediakah kalian berdua memberikan kesaksian, dan menunjukkan pemuda pesolek yang kalian maksud itu...?” tanya Ki Dungkala penuh harap.

“Kalau memang diperlukan, kami siap membantu...,” Kenanga langsung saja menyanggupi, sebelum Panji menjawabnya. Sepertinya dara jelita itu memang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran di hatinya.

“Kalau begitu, marilah ikut aku...,” sambut Ki Dungkala dengan wajah cerah.

Hati Ki Dungkala menjadi gembira bukan main. Selama ini tidak pernah ada orang yang berani membantunya untuk mengungkap keanehan-keanehan yang terjadi di desa itu. Maka, tanpa banyak cakap lagi, ia pun segera mengajak Panji dan Kenanga meninggalkan kedai.

********************

LIMA

“Paman, apakah tidak sebaiknya kita tunda dulu rencana ini...?” ujar Panji tiba-tiba, saat mereka tengah melangkah menuju tempat kediaman Ki Sama Tungga.

Ki Dungkala menahan langkahnya ketika mendengar ucapan Panji. Kenanga serta empat orang berseragam hitam yang menjadi pengikut Ki Dungkala menghentikan pula langkahnya. Mereka menatap ke arah pemuda tampan berjubah putih itu dengan kening berkerut.

“Mengapa, Panji...? Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Ki Dungkala seraya menatap wajah pemuda itu lekat-lekat. Seolah lelaki gagah itu hendak membaca apa yang ada dalam pikiran pemuda tampan yang baru saja dikenalnya itu.

Sedangkan Panji sendiri hanya tersenyum, tanpa mengalihkan tatapan matanya dari wajah Ki Dungkala. “Apakah perbuatan kita ini tidak terlalu terburu-buru, Paman? Tidakkah sebaiknya kita pergoki saja pembunuh itu di saat tengah melakukan aksinya? Dengan begitu, kita bisa menangkapnya langsung, dan sekaligus menghukumnya...,” jelas Panji, mengajukan alasan.

“Tidak bisa, Panji. Dengan adanya kau dan Kenanga, sudah cukup sebagai saksi hidup atas kejahatan pemuda sombong itu. Kalau mereka melawan, aku akan mengerahkan seluruh anak buahku untuk membekuknya, dan sekaligus menghancurkan tempat tinggal mereka...!

Perbuatan mereka sudah keterlaluan, dan kita tidak bisa mengulur waktu lagi...!” ujar Ki Dungkala yang sepertinya telah bulat mengambil keputusan untuk membekuk penjahat yang selama ini menteror desanya.

“Hm... Begini, Paman. Kalau benar dugaan Paman bahwa mereka banyak memiliki anak buah yang menjadi mata-mata, bukan tidak mungkin rencana kita diketahui oleh mereka. Dan, kemungkinan kita tidak akan berjumpa dengan pemuda yang bernama Wintarsa itu. Bisa saja mereka mengatakan pemuda itu tengah pergi mengunjungi sanak keluarganya di desa lain. Kalau sudah begitu, apa yang bisa kita lakukan? Apalagi kepandaian pemuda itu sangat tinggi, dan pandai dalam menggunakan racun. Siapa tahu mereka telah bersiap menyambut kedatangan kita. Menghadapi pemuda itu saja sudah sangat sulit, apalagi kalau di tempat itu masih ada ayahnya, yang bukan tidak mungkin memiliki kesaktian lebih tinggi dari Wintarsa. Nah, bukankah hal itu akan berbahaya...?” bantah Panji yang rupanya tengah menimbang-nimbang langkah mereka sepanjang perjalanan. Dan, baru menyampaikannya setelah diperhitungkan masak-masak.

“Wintarsa memiliki kepandaian yang sangat tinggi...? Aneh? Mungkin kau salah melihat orang, Panji. Setahuku, meskipun Wintarsa memiliki kepandaian, tapi rasanya tidak mungkin lebih tinggi dari kepandaianku. Sedangkan Ki Sama Tungga masih lebih tinggi sedikit dari kepandaian putranya. Itu pun mungkin hanya setingkat di atasku. Dan, kalau selama ini Wintarsa berbuat sesuka hatinya, itu karena kepala desa merasa segan terhadap keluarga kaya yang selalu memberikan bantuan, baik berupa uang atau hal-hal lainnya. Itulah yang membuat aku selama ini belum bisa mengambil tindakan. Karena kepala desa selalu menyarankan agar aku tidak mengganggu keluarga itu. Jadi, jelas kau mungkin salah mengenali orang, Panji...,” jelas Ki Dungkala. Laki-laki gagah ini menjadi ragu ketika mendengar keterangan Panji tentang kesaktian Wintarsa. Diketahuinya betul sampai di mana kepandaian yang dimiliki pemuda pesolek itu.

Panji tampak mengerutkan keningnya. Mungkin saja ia memang telah salah melihat orang, karena belum pernah melihat Wintarsa. Kalaupun ciri-ciri yang ditunjukkannya mungkin ada persamaan dengan pemuda kaya itu, bisa saja ada orang lain lagi yang memiliki beberapa persamaan. Tak aneh kalau Panji dan Kenanga pun menjadi ragu.

“Hm..., mungkinkah ada orang lain yang melakukan semua kejahatan di desa ini...? Pemuda yang kutemui di luar desa ini jelas sangat sakti, Paman. Jadi, bagaimana langkah kita selanjutnya...?” ujar Panji yang akhirnya menyerahkan keputusan di tangan Ki Dungkala. Karena biar bagaimanapun juga, lelaki gagah itulah yang berkuasa di desa ini.

“Kalau kita harus menunggu penjahat itu kembali beraksi, jelas sangat berbahaya, Panji. Kau sudah dengar sendiri ceritaku, bukan? Di depan mataku sendiri ia dapat membunuh, tanpa dapat kuketahui kapan dan siapa yang melakukannya. Selain itu, ia tidak setiap hari melakukan aksinya. Kalau melihat dari korban-korban terdahulu, jelas Wintarsalah yang patut dicurigai. Sebab, orang-orang yang menjadi korban pembunuhan itu adalah mereka yang berani menentang keinginan pemuda kaya itu. Tidak jarang mereka disiksa terlebih dahulu sebelum dibunuh. Aku jadi belum bisa memutuskan, langkah apa yang seharusnya kita ambil sekarang...,” desah lelaki gagah itu. Raut wajahnya kelihatan kecewa sekali.

“Hm..., rasanya tidak terlalu sulit, Paman. Kita tinggal mencari saja, siapa yang saat ini berani menentang pemuda kaya itu. Dengan demikian, kita bisa melakukan pengintaian kalau-kalau penjahat itu akan datang melakukan aksinya. Setelah itu, kita bisa menyergapnya bersama-sama...,” usul Panji setelah berpikir beberapa saat lamanya.

Wajah Ki Dungkala yang semula kelam, kini berubah cerah. Lelaki gagah itu tampaknya menyambut baik usul Pendekar Naga Putih.

“Benar, Paman. Menurutku, hanya itulah satu-satunya jalan agar kita dapat menangkap basah pembunuh keji itu...,” timpal Kenanga, mendukung usul kekasihnya.

“Yah..., rasanya usul itu cukup baik. Malam ini sebaiknya kalian berdua menginap di rumahku. Besok baru kita mencari tahu, siapa penduduk yang saat ini diincar Wintarsa...,” ujar Ki Dungkala mengajak Panji dan Kenanga untuk bermalam di rumahnya.

Panji yang mendengar tawaran Ki Dungkala tersenyum lebar. Pemuda tampan itu menatap wajah kekasihnya sekilas, seolah hendak meminta persetujuan. Meskipun Ki Dungkala menawarkan kebaikan terhadap mereka berdua, tapi Panji tahu kalau lelaki gagah itu masih menaruh kecurigaan terhadap mereka berdua. Maka, ketika melihat Kenanga menyerahkan keputusan kepadanya, Panji segera menerima tawaran Ki Dungkala.

“Baiklah, Paman. Maaf kalau kami telah merepotkanmu...,” ujar Panji yang segera mengikuti langkah lelaki gagah itu menuju tempat tinggalnya.

“Kalian kembalilah ke pos mulut desa. Bergabunglah dengan penjaga-penjaga di sana...,” perintah Ki Dungkala kepada empat orang anak buahnya. Setelah itu, barulah lelaki itu mengajak Panji dan Kenanga kerumahnya.

********************

Malam semakin larut. Bulan sepotong tampak tersembul memancarkan sinarnya yang temaram. Hembusan angin bersilir lembut, membuat dedaunan bergemerisik perlahan. Suara burung malam terdengar saling bersahutan mendirikan bulu roma.

Saat itu, di tengah kepekatan malam, tampak sesosok bayangan putih bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan. Tubuhnya berloncatan dari atap rumah yang satu ke atap lainnya. Terkadang sosok bayangan putih itu bergerak dari pohon ke pohon, ketika tidak melintasi sebuah rumah pun. Melihat dari gerakannya yang demikian gesit dan ringan, jelas sosok bayangan putih itu seorang tokoh persilatan yang berkepandaian tinggi.

Tok, tok, tok...!

Terdengar suara kentongan peronda desa yang dipukul berkali-kali. Sosok bayangan putih itu tampaknya tidak ingin berpapasan dengan para peronda. Buktinya ia langsung melesat mengambil jalan lain, agar tidak terlihat para peronda yang tengah mengitari desa ini.

Sosok bayangan putih itu bergerak ke arah selatan desa, berlawanan arah dengan jalan yang dilalui para peronda. Dengan lincahnya, tubuhnya berloncatan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sehingga, tidak membuat ketenangan penduduk terganggu oleh suara langkahnya.

“Hm...,” tiba-tiba sosok bayangan putih itu merandek ketika melihat tiga sosok tubuh yang bergerak beberapa tombak di bawahnya. Saat itu, ia sendiri tengah bertengger di atas sebatang pohon besar. Sehingga, ketiga sosok bayangan itu sama sekali tidak mengetahui kehadirannya.

Pada saat ketiga sosok tubuh itu bergerak semakin jauh, bayangan putih itu langsung meluncur turun dan membayangi ketiga sosok tubuh itu dari kejauhan. Tampak sosok bayangan putih itu menghentikan langkahnya, dan bersembunyi di balik sebatang pohon. Dilihatnya dua di antara ketiga orang itu tampak bergerak ke depan, setelah mengenakan topeng dari kain hitam untuk menutupi wajahnya. Sedangkan sosok bayangan yang satunya lagi berdiri seperti menanti hasil pekerjaan temannya.

“Hm....” Sosok bayangan putih itu bergumam perlahan. Tubuh-nya disembunyikan, menanti kedatangan kedua sosok bayangan hitam yang sepertinya hendak melakukan kejahatan itu.

“Mana mungkin ada orang baik datang malam-malam dengan mengenakan topeng pada wajahnya,” pikir sosok bayangan putih yang terus mengintai itu.

Rupanya si pengintai itu tidak menunggu lama. Beberapa saat kemudian, sosok bayangan hitam itu pun sudah kembali. Salah seorang di antaranya tampak memondong sosok tubuh ramping yang telah tidak sadarkan diri. Meskipun demikian, sosok bayangan putih itu belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk menghadang. Bahkan, tubuhnya disembunyikan saat ketika sosok tubuh itu melintas beberapa langkah di depannya. Kemudian, melesat pergi setelah ketiga sosok tubuh penculik itu berada cukup jauh dari tempatnya sembunyi. Kemudian, ia melesat dan lenyap dari tempat itu.

Sedangkan ketiga sosok tubuh itu terus bergerak menerobos kegelapan malam. Tidak lama kemudian, mereka mengambil sebatang obor, yang mereka tinggalkan di satu tempat. Namun, sebelum mereka kembali bergerak, tiba-tiba terdengar teguran bernada halus, tapi membuat ketiga sosok tubuh itu berjingkat kaget.

“Hm..., ternyata kalian masih juga berani melakukan kejahatan seperti ini...!” ujar sosok tubuh yang mengenakan jubah panjang berwarna putih. Wajahnya yang tampan menyiratkan perbawa yang menggetarkan jantung. Terutama sekali tatapan matanya yang mencorong tajam, laksana mata naga yang sedang marah!

“Kau...?!” desis lelaki brewok berpakaian serba hitam yang menatap pemuda tampan di depannya dengan mata terbelalak lebar. Ia kaget bagaikan melihat hantu di siang hari bolong. Suaranya terdengar bergetar menyiratkan kegentaran. Jelas, sosok pemuda tampan berjubah putih yang menghadangnya itu telah dikenalnya.

Bukan hanya lelaki brewok bertubuh kekar itu saja yang menjadi terkejut. Dua orang lainnya pun tidak kalah kaget ketika melihat dan mengenali si penghadang berjubah putih itu. Jelas, mereka bertiga telah mengenali penghadang itu.

“Ya, aku...,” ucap pemuda tampan berjubah putih itu. Ia kemudian melangkah maju menghampiri salah satu dari mereka. Seorang pemuda tampan pesolek. “Kau pastilah yang bernama Wintarsa, bukan...?”

“Bangsat! Dari mana kau tahu namaku...?! Dan, mengapa kau masih juga mencampuri urusanku...?!” bentak pemuda yang ternyata Wintarsa itu dengan wajah berang. Meskipun begitu, ia tidak bisa menyembunyikan kegentaran yang terpancar di wajahnya. Kelihatan sekali kalau ia merasa cemas dan hendak mencari jalan untuk lolos.

Sosok pemuda tampan berjubah putih yang tak lain dari Panji itu, kelihatan agak heran melihat tingkah Wintarsa yang tampak cemas dan gentar. “Hm..., pemuda itu benar-benar aneh? Dengan kesaktiannya yang sangat tinggi, mengapa ia harus merasa gentar?” gumam Panji dalam hati. Kali ini Pendekar Naga Putih berjanji untuk dapat menangkap pemuda tampan pesolek itu hidup-hidup dan menyerahkannya kepada Ki Dungkala.

Wintarsa pun rupanya tidak ingin menunggu lama. Cepat ia memerintahkan lelaki brewok yang bernama Surgala, dan temannya untuk segera mengeroyok pemuda tampan berjubah putih itu. Tanpa banyak cakap lagi, kedua orang lelaki berseragam hitam itu langsung menghunus senjata dan mengepung Panji. Sedangkan pemuda tampan berjubah putih itu melangkah terus tanpa mempe-dulikan kedua tukang pukul Wintarsa yang siap menerjangnya. Pendekar Naga Putih rupanya lebih tertarik kepada Wintarsa, ketimbang kedua orang tukang pukul itu.

“Haaat...!”.Lelaki brewok bertubuh kekar itu berseru keras memulai serangannya. Pedang di tangan kanannya berputaran menimbulkan suara berdesing tajam. Demikian pula tukang pukul yang satunya lagi, mereka langsung saja mengeroyok Panji dengan serangan-serangan yang ganas dan kuat.

Namun kali ini Panji tidak ingin berlama-lama. Ketika serangan kedua batang pedang itu tiba, pemuda itu langsung menggeser tubuhnya dan mengirimkan serangan balasan yang cepat dan kuat. Sehingga, kedua pengeroyok-nya itu terpaksa melompat mundur karena tidak ingin celaka.

Tapi, gerakan kedua orang tukang pukul Wintarsa itu jelas kalah jauh dalam hal kecepatan dan kekuatan. Sehingga, Panji tidak memerlukan waktu yang lama untuk merobohkan lawan-lawannya. Dalam lima jurus saja pukulan dan tendangan Pendekar Naga Putih telah membuat kedua orang pengeroyoknya terjungkal tewas. Rupanya Panji kali ini tidak ingin memberi hati kepada orang-orang jahat itu. Maka, ia langsung saja menurunkan tangan kejam kepada tukang-tukang pukul Wintarsa yang ternyata masih belum jera untuk berbuat jahat

“Keparat...!” Wintarsa membentak marah ketika melihat dua orang tukang pukulnya menggeletak tanpa nyawa. Tanpa banyak cakap lagi, pemuda pesolek itu langsung melepaskan tubuh ramping yang ada dalam pondongannya. Kemudian senjatanya dihunus, siap untuk bertempur!

Panji sudah menggeser langkahnya dengan sepasang mata tak lepas dari wajah Wintarsa. Sadar kalau lawannya tidak bisa dipandang ringan, Panji langsung mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya. Sebentar saja, tubuh Pendekar Naga Putih telah terselimut lapisan kabut bersinar putih keperakan.

Wintarsa yang melihat tubuh lawannya tampak terselimut sinar putih keperakan, menjadi terkejut bukan main. Namun, karena merasa tidak ada jalan untuk lolos, maka pemuda itu segera memutar pedangnya dengan sepenuh tenaga. Terbentuklah lingkaran putih yang bergulung-gulung menimbulkan suara menderu-deru.

“Haaat..!” Disertai sebuah pekikan nyaring, tubuh Wintarsa melayang ke arah Panji. Pedang di tangannya bergerak-gerak dan meliuk mengancam tubuh Pendekar Naga Putih.

Bettt! Bettt!

Berkali-kali pedang di tangan Wintarsa bergerak kian kemari mengancam tubuh Panji. Namun, semua itu dengan mudah dapat dielakkan pemuda berjubah putih itu. Serangan Wintarsa sama sakali tidak membayangkan kekuatan maupun kecepatan yang hebat, bahkan terlihat sangat lambat bagi Panji. Tentu saja kenyataan itu membuat Pendekar Naga Putih mengerutkan keningnya.

“Hm..., mengapa gerakannya terkesan biasa dan tidak berbahaya? Mungkinkah ia sengaja menyembunyikan kepandaiannya dan berpura-pura bodoh? Tapi..., rasanya tidak mungkin. Melihat dari wajah dan gerakannya, ia tampak sungguh-sungguh? Lalu, mengapa ia tidak langsung mengeluarkan kesaktiannya yang hebat itu...?” gumam Panji yang benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan ketika melihat gerakan Wintarsa yang jauh dari apa yang dibayangkannya.

Merasa penasaran, Panji tidak berusaha menghindari sebuah tebasan pedang yang dilakukan Wintarsa dengan gerakan mendatar, mengancam perutnya. Hanya dengan sedikit egosan, Pendekar Naga Putih langsung meng-gerakkan tangan kanannya, menangkis pedang yang mengancam tubuhnya.

Plakkk!

Sengaja Panji memperlambat gerakannya ketika menangkis bacokan pedang lawan. Bahkan tenaganya tidak dikerahkan terlalu banyak. Karena melihat serangan Wintarsa tampaknya tidak terlalu berbahaya. Dan, apa yang dilihatnya benar-benar membuat hati Panji menjadi penasaran bukan main! Tangkisannya membuat tubuh Wintarsa terpelanting ke belakang. Seolah-olah pemuda itu memang tak sanggup mengimbangi kekuatan tangkisan Panji.

“Kurang ajar...! Mengapa kekuatannya tidak sehebat beberapa hari yang lalu...? Apakah ia sengaja hendak mempermainkan aku...?” desis Panji, geram. Maka, tanpa menunggu lawannya bangkit, Pendekar Naga Putih langsung melesat dan mengirimkan totokan guna melumpuhkan Wintarsa.

“Heh...?!”

Plak, plak... Desss...!

“Akh...!” Panji terkejut bukan kepalang ketika serangannya hampir tiba, tahu-tahu muncul sesosok bayangan putih yang langsung memapaki serangannya. Bahkan, sebuah pukulannya sempat menghantam dada Pendekar Naga Putih. Sehingga, membuat tubuh Panji terpental balik. Untunglah pemuda tampan itu sempat mengatur keseimbangan tubuhnya. Dengan berputaran di udara, Panji dapat mendarat ringan di atas tanah dengan kedua kakinya.

Panji menatap tajam sosok tinggi kurus di depannya. Keadaan malam yang gelap dan rambut yang menyembunyikan wajahnya, membuat Panji tidak bisa mengenali orang yang telah menyelamatkan Wintarsa. Sedangkan sosok tinggi kurus yang tampak gesit dan lincah itu bergerak ke kanan, tanpa berusaha untuk membantu Wintarsa bangkit. Cepat Panji menggeser langkahnya ketika melihat sosok tinggi kurus itu mulai membuka jurus serangannya.

ENAM

Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, sosok tinggi kurus berjubah putih itu langsung menerjang Panji. Gerakannya nampak demikian cepat laksana kilat Bahkan decitan angin yang ditimbulkan lontaran pukulannya terdengar sangat tajam dan menyakitkan telinga. Jelas, sosok tinggi kurus berjubah putih itu memang merupakan lawan yang sangat tangguh bagi Pendekar Naga Putih.

Melihat lawannya sudah mulai menyerang, Panji langsung mempersiapkan jurus andalannya. Sekali pandang saja, Pendekar Naga Putih langsung tahu kalau lawannya ini tidak bisa dipandang enteng. Itu sebabnya Panji tidak mau mengambil resiko, dan langsung menggunakan jurus 'Naga Sakti'nya untuk menghadapi serangan lawan. Sebentar saja, keduanya telah terlibat dalam sebuah pertarungan yang sengit dan mendebarkan.

Panji bertempur sambil mengawasi permainan jurus lawan. Pendekar Naga Putih terkejut ketika mengetahui jurus-jurus yang dimainkan sosok tinggi kurus itu mempunyai kesamaan dengan jurus-jurus yang dimainkan Wintarsa sewaktu pertama kali bertarung dengannya. Bedanya, gerakan sosok tinggi kurus itu tampak sangat teratur, dan memiliki kekuatan yang jauh lebih hebat dari Wintarsa. Karena terus memikirkan perihal lawannya, pikiran Panji jadi terpecah. Sehingga ia tidak bisa lagi menghindari sebuah tamparan lawannya. Meskipun berusaha mengelak, tetap saja bahunya terkena hantaman lawan.

Bukkk!

“Akh...!” Panji mengeluh tertahan. Tubuhnya langsung limbung karena tamparan itu sangat kuat, dan sanggup meng-hancurkan sebuah batu karang yang besar. Untungnya, tubuh pemuda itu telah terlindungi lapisan kabut bersinar putih keperakan. Kalau tidak, bukan mustahil bahunya akan remuk akibat tamparan lawan.

“Yeaaah...!” Sosok tinggi kurus berjubah putih itu sepertinya sangat bernafsu merobohkan Panji secepat mungkin. Tanpa memberikan kesempatan kepada lawannya untuk memperbaiki kuda-kuda, sosok tinggi kurus itu langsung menyusuli serangannya dengan serangan-serangan yang berbahaya dan bisa mendatangkan kematian! Apalagi yang diincarnya adalah bagian-bagian jalan darah kematian di tubuh Panji. Sudah barang tentu pemuda tampan berjubah putih itu tidak mau menyerahkan nyawanya begitu saja.

“Hiaaah...!” Sambil mengempos semangat dan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga mukjizatnya, Pendekar Naga Putih menggerakkan kedua tangannya untuk memapaki serangan lawan.

Plak! Plak!

Bentrokan pun tak dapat dihindari lagi. Kedua pasangan lengan yang sama-sama terlindungi tenaga sakti tingkat tinggi itu saling berbenturan keras. Akibatnya, kedua tubuh mereka sama-sama terdorong mundur sejauh empat langkah. Jelas, dalam bentrokan itu keduanya terlihat sama kuat.

Begitu kedua kakinya kembali menginjak tanah dengan kokoh, sosok tinggi kurus itu kembali melesat dengan serangan yang lebih habat lagi. Jurus yang kali ini digunakannya tampak berbeda dari yang pertama. Meskipun demikian, kehebatannya jauh berbeda di atas jurus-jurus pertama tadi. Sehingga, Pendekar Naga Putih benar-benar harus menguras semua ilmunya untuk menundukkan lawan yang sangat misterius itu.

“Hmh...!” Panji mendengus gusar melihat kehebatan dan kekuatan lawan. Cepat pemuda itu mengeluarkan jurus-jurus pamungkas dari rangkaian terakhir 'Ilmu Silat Naga Sakti'.

“Yeaaah...!” Diiringi 'Pekikan Naga Marah', tubuh Panji melesat dengan kecepatan menggetarkan ke arah lawannya. Angin dingin bertiup semakin keras mengiringi setiap gerakan yang dilakukan Pendekar Naga Putih.

Wueeet...! Wueeet...!

Dua buah sambaran cakar Pendekar Naga Putih berhasil dielakkan lawannya dengan menggeser tubuh ke kanan, seraya merendahkan kuda-kudanya. Tapi, serangan Panji tidak berhenti sampai di situ saja. Kaki dan tangannya terus bergerak dengan lontaran serangan yang susul-menyusul, disertai tiupan angin dingin yang menusuk tulang laksana badai salju!

Rupanya gempuran Pendekar Naga Putih kali ini cukup membuat lawannya kerepotan. Berkali-kali cakaran serta tamparan Panji nyaris mengenai tubuh lawannya. Hanya karena lawan memiliki ilmu langkah-langkah aneh sajalah, yang membuatnya masih dapat menghindar dari sergapan Panji. Meskipun demikian, kelihatan sekali kalau sosok tinggi kurus itu mulai terdesak oleh serangan-serangan Pendekar Naga Putih.

Entah sudah berapa belas kali dua pasang lengan mereka saling berbenturan keras. Dan setiap berbenturan, tubuh keduanya tampak terdorong ke belakang. Jelas kalau tenaga yang mereka miliki berimbang. Sehingga, meskipun pertarungan sudah berlangsung selama delapan puluh jurus, belum ada tanda-tanda salah seorang di antara mereka akan keluar sebagai pemenang. Tampaknya memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan kepastian siapa pemenang dalam pertarungan itu.

Sekitar arena pertarungan terlihat sudah porak-poranda bagaikan tersapu badai topan yang mengerikan. Belasan batang pohon tampak saling tumpang tindih berpatahan. Bahkan ada beberapa di antaranya yang tercabut hingga ke akar-akarnya. Dedaunan pohon sudah menumpuk bagaikan anak bukit. Jelas, pertarungan kedua tokoh sakti itu telah membuat alam di sekitarnya rusak.

Sementara itu, Wintarsa sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Bahkan kedua mayat tukang pukul pemuda itu pun ikut lenyap. Jelas, pemuda tampan pesolek itu telah mengambil kesempatan untuk melarikan diri selagi Panji bertarung dengan sosok tinggi kurus berjubah putih itu. Sedangkan yang masih tertinggal di tempat itu hanyalah sosok tubuh gadis desa yang semula hendak diculik Wintarsa.

Minat Wintarsa untuk memiliki gadis yang diincarnya itu sepertinya lenyap ketika dipergoki pemuda berjubah putih, yang diketahuinya memiliki kepandaian tinggi. Sehingga, ia meninggalkannya begitu saja di bawah sebatang pohon kecil. Untungnya pertarungan kedua orang sakti itu telah bergeser jauh dari tempat semula. Maka, terhindarlah sosok gadis desa yang tengah tergolek tak sadarkan diri itu dari pukulan-pukulan yang dilontarkan dalam pertempuran maut itu.

Saat itu kokok ayam jantan telah terdengar sesekali. Pertanda sebentar lagi fajar akan segera muncul. Hembusan angin malam tampak terasa semakin bertambah dingin. Bulan yang muncul separuh, seperti resah menyaksikan pertarungan yang belum juga usai itu.

“Yeaaah...!” Panji yang semula sudah berhasil mendesak, kembali dibuat terkejut dan kagum oleh keuletan lawannya. Bahkan kali ini sosok tinggi kurus itu tampak mulai dapat menguasai pertempuran. Dan Panji malah terdesak oleh gempuran-gempuran lawan. Amukan sosok tinggi kurus itu sepertinya terpengaruh oleh suara kokoh ayam jantan yang mulai terdengar menyambut datangnya fajar.

Plak! Plak! Plak...!

Kedua pasang lengan kembali saling berbenturan keras. Tubuh mereka kembali terdorong mundur sejauh delapan langkah. Jelas, kedua tokoh itu sudah mulai merasa lelah, setelah bertarung selama hampir dua ratus jurus.

Panji yang kembali tengah mempersiapkan, ilmunya, tersentak kaget ketika melihat lawannya bergerak seperti mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Cepat pemuda itu melompat mundur ketika sosok tinggi kurus itu mengibaskan lengannya yang menimbulkan asap merah muda berbau harum.

“Hiaaah...!” Sadar kalau asap itu pastilah merupakan racun ganas, Panji langsung mendorongkan sepasang telapak tangannya dengan pukulan jarak jauh. Seketika itu juga, ber-hembuslah angin dingin yang sangat kuat, membuat asap berwarna merah muda itu langsung buyar dan menipis. Namun, saat itu sosok lawannya ternyata telah lenyap dari arena pertarungan. Tentu saja hal itu membuat hati Pendekar Naga Putih menjadi penasaran.

“Kurang ajar! Ke mana perginya sosok misterius itu...?” geram Panji sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu. Namun, yang dilihatnya hanyalah sosok tubuh gadis desa yang masih menggeletak pingsan.

“Pendekar Naga Putih...! Kau harus meninggalkan desa ini secepatnya...! Kalau tidak, bencana yang lebih hebat dan lebih mengerikan akan datang kepada seluruh penduduk Desa Margaluyu...!” tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud. Suara itu bagaikan datang dari empat penjuru. Panji sendiri merasa sulit untuk mengetahui asal suara itu. Tapi, ia tahu kalau suara itu pasti berasal dari sosok tinggi kurus berjubah putih yang menjadi lawannya barusan.

“Hm..., menurutku kau adalah seorang pengecut, Kisanak! Sangat kusesalkan kalau kepandaianmu yang tinggi itu digunakan untuk jalan sesat! Kalau benar-benar jantan, kutantang kau bertarung sampai salah seorang di antara kita menggeletak jadi mayat...!” Panji yang merasa jengkel, langsung saja berseru menyahuti suara tanpa wujud itu. Namun, setelah menanti agak lama, tak terdengar jawaban sepatah kata pun.

Pendekar Naga Putih yakin kalau lawannya tadi benar-benar telah meninggalkan tempat itu. Kemudian, kakinya segera melangkah mendekati sosok gadis desa yang masih tergeletak pingsan. Hanya dengan mengusap bagian jalan darah untuk melancarkan peredaran darah di tubuh gadis itu, tampak sosok ramping itu mengeluh dan menggeliat perlahan. Terlihat gadis itu mulai sadar dari pingsannya.

“Kau siapa...? Mengapa aku berada di tempat ini...?” tanya dara cantik berambut panjang sebahu itu seraya menatap wajah tampan di hadapannya dengan wajah pucat ketakutan.

Panji mencoba tersenyum dengan maksud untuk membuat hati gadis itu menjadi tenang. Kemudian ia menerangkan dengan nada perlahan bahwa gadis itu baru saja ditolong dari cengkeraman pemuda yang dipanggil dengan nama Tuan Muda Wintarsa.

”Ya! Aku ingat sekarang. Ada dua orang lelaki berpakaian hitam memasuki kamarku, dan menyergapku. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi. Lalu, ke manakah mereka sekarang?” tanya gadis cantik itu sambil mengedarkan pandang matanya ke sekitar tempat itu. Namun, di sekelilingnya yang terlihat hanyalah kegelapan yang menyeramkan. Menyadari keadaan itu, gadis itu pun melangkah agak terburu-buru mendekati pemuda tampan yang menjadi penolongnya. Tanpa sadar ia memegang lengan Panji dengan wajah agak pucat.

“Aku..., takut..,” kata gadis itu tanpa malu-malu lagi. Bahkan tubuhnya semakin dirapatkan ke tubuh Panji.

“Tidak ada yang perlu ditakuti lagi, Nisanak. Sekarang, marilah kau kuantar pulang...,” ujar Panji seraya melangkah perlahan. Sedangkan gadis desa yang cantik itu hanya mengangguk. Kemudian ia mengikuti Panji tanpa melepaskan pegangan tangannya pada lengan pemuda itu.

********************

Panji tertegun dengan wajah geram ketika tiba di tempat kediaman gadis cantik yang ditolongnya. Di dalam rumah itu dilihatnya dua sosok mayat laki-laki dan perempuan berusia setengah baya yang kepalanya retak. Melihat dari ceceran darah yang masih agak basah, Panji dapat menduga kalau pembunuhan itu belum lama terjadi.

“Hm..., mungkinkah semua ini perbuatan kedua orang lelaki berpakaian hitam yang menjadi tukang pukul Wintarsa? Kejam sekali kalau mereka sampai membunuh kedua orang tua ini, hanya karena hendak menculik putrinya...,” desis Panji. Dalam hati, Pendekar Naga Putih merasa bersyukur telah melenyapkan 'kedua orang tukang pukul Wintarsa itu.

“Ayah..., Ibu...!”

Gadis cantik yang ditolong Panji menangis dengan hati hancur melihat keadaan orangtuanya. Panji tersadar dari lamunannya, segera kakinya melangkah dan menghibur gadis desa yang tengah dirundung malang itu. Ia bahkan membiarkan gadis itu menumpahkan air mata di dada bidangnya.

“Tahukah kau, siapa kira-kira yang telah membunuh kedua orangtuamu...?” tanya Panji ketika isak tangis gadis itu sudah mulai reda. Meskipun telah dapat menduga, tapi Panji ingin meyakini dugaannya.

“Siapa lagi kalau bukan manusia jahat yang bernama Wintarsa itu?! Ia memang sudah lama mengincarku! Tapi, ayah dan ibuku tidak mau membiarkan aku jatuh ke dalam pelukannya. Mungkin hal itu diketahuinya, dan merasa dendam terhadap ayah dan ibuku. Dua orang yang menculikku, pastilah tukang-tukang pukulnya yang galak dan kejam!” jawab gadis desa itu dengan nada menyiratkan dendam yang dalam. Kemudian, tangisnya kembali meledak ketika teringat bahwa dirinya kini sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

“Harap kau bisa tabah dalam menghadapi semua ini, Nisanak. Aku akan melaporkan kejadian ini kepada Ki Dungkala. Pemuda jahat yang bernama Wintarsa itu memang harus ditangkap, agar tidak lagi berani mengganggu gadis-gadis dan penduduk di desa ini...,” ujar Panji, menenangkan hati gadis cantik itu.

“Tapi, selama ini tidak pernah ada orang yang berani menentang Wintarsa dan keluarganya. Bahkan kepala desa sendiri tidak berani berbuat apa-apa. Sudah banyak orang yang menjadi korban kejahatan pemuda itu, tapi tak satu pun yang berani melaporkannya. Sebab, apabila ada yang berani melapor, sudah pasti akan mengalami kematian, tanpa ada yang tahu siapa pelakunya...,” bantah gadis cantik itu di antara isak tangisnya.

“Hm..., pada waktu-waktu yang lalu memang belum ada orang berani menentangnya. Tapi percayalah, Nisanak. Aku akan menghentikan kejahatan pemuda bejat itu untuk selamanya...!” janji Panji dengan suara yang tegas dan mantap.

Wajah gadis desa yang cantik itu terangkat, seperti hendak mengetahui kebenaran ucapan pemuda tampan berjubah putih yang telah menyelamatkannya itu. “Betulkah itu, Kakang...?” tanyanya seraya menatap tepat di kedua bola mata Panji yang memang sedang menatap wajah gadis desa yang cantik itu.

“Tentu saja benar. Dan, besok aku dan Ki Dungkala akan mendatangi keluarga Ki Sama Tungga. Aku akan membalaskan dendam semua orang desa yang telah disakiti dan dibunuhnya...,” lanjut Panji lagi.

“Terima kasih, Kakang...,” ucap gadis cantik itu. Hati gadis cantik itu merasa senang mendengar janji penolongnya. Ia pun kembali merebahkan wajahnya ke dada Panji. Tentu saja Panji agak sedikit bingung melihat sikap gadis desa itu. Tapi, karena tidak ingin menyinggung perasaan, Panji terpaksa mendiamkannya.

Tanpa terasa saat itu malam telah berganti pagi. Meskipun cuaca masih agak gelap, namun para penduduk desa telah banyak berdatangan ke rumah tempat di mana terjadi pembunuhan. Kedatangan orang-orang desa itu tentu saja atas pemberitahuan Panji. Pemuda itu kemudian meminta agar para tetangga yang berdekatan, mau membantu dan mengurus kedua mayat orangtua gadis yang ditolongnya. Sedangkan ia sendiri hendak melapor-kan kejadian itu kepada Ki Dungkala.

Kedatangan Panji disambut Ki Dungkala dengan wajah menyiratkan kecurigaan. Namun, ketika Panji menceritakan kejadian yang dialaminya semalam, lelaki gagah itu langsung saja memintanya untuk membawa ke tempat kejadian. Orang-orang desa yang berkerumun langsung menyisih ketika kepala keamanan desa mereka tiba. Setelah memeriksa kedua mayat yang menjadi korban pem-bunuhan itu, Ki Dungkala mengajak Panji menjauhi orang-orang desa, dan meminta keterangan lebih rinci dari pemuda itu.

“Hm..., jadi benar bahwa orang yang kau hadang semalam itu adalah Wintarsa? Lalu, siapa pula laki-laki tinggi kurus berjubah putih yang bertarung denganmu dan menyelamatkan pemuda jahat itu...?” tanya Ki Dungkala setelah mendengar cerita Panji lebih lengkap dan jelas. Ada bayang kecurigaan pada sepasang mata lelaki gagah itu, yang membuat Panji memakluminya. Selain ia merupakan orang asing di Desa Margaluyu, Ki Dungkala pun belum mengenalnya sama sekali.

“Ki Dungkala, kuharap kau suka melenyapkan kecurigaanmu...,” ujar Kenanga. Gadis ini juga menangkap sorot kecurigaan di mata lelaki gagah itu. Ia mengatakan itu, karena tidak suka melihat kekasihnya dicurigai. “Perlu kau ketahui, Ki. Pemuda yang berdiri di hadapanmu ini adalah seorang pendekar besar yang telah menggemparkan rimba persilatan. Jadi, kecurigaanmu jelas tidak beralasan....”

“Ah...?!” Ki Dungkala nampak terkejut sekali ketika mendengar perkataan Kenanga. Lelaki gagah itu memandangi sosok Panji secara lebih teliti. Sepasang mata Ki Dungkala semakin membelalak ketika mendapati ciri-ciri yang sering didengarnya terdapat pada seorang pendekar muda yang mendatangkan kekaguman di hatinya selama ini.

“Kau..., benarkah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?!” ucap Ki Dungkala dengan suara bergetar penuh harapan.

“Begitulah orang-orang memberikan julukan kepadaku, Paman...,” jawab Panji. Pendekar Naga Putih kini merasa tidak perlu lagi menyembunyikan jati dirinya. Apalagi nama besarnya memang sangat dibutuhkan untuk melenyapkan kecurigaan Ki Dungkala terhadap dirinya.

Sadar bahwa yang dihadapinya adalah benar Pendekar Naga Putih, Ki Dungkala langsung saja menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di depan Panji. Tentu saja Panji tidak ingin mendapatkan kehormatan yang berlebihan itu. Apalagi saat itu beberapa warga desa dan anak buah Ki Dungkala tengah menatap penuh keheranan. Kemudian, segera tubuh lelaki gagah itu diangkatnya.

“Maafkan sikapku yang telah lancang menuduhmu secara tak langsung, Pendekar Naga Putih. Aku benar-benar bodoh tidak bisa melihat siapa sesungguhnya orang yang berada bersamaku. Dengan kehadiranmu di desa ini, bukan mustahil kalau teror yang selama ini meresahkan penduduk desa akan segera berakhir...,” ujar Ki Dungkala. Dari kata-katanya, dapat dipastikan kalau lelaki gagah itu mengharapkan bantuan Pendekar Naga Putih untuk menenteramkan desanya.

“Harapanku pun demikian, Paman. Sekarang sebaiknya kita segera mendatangi kediaman keluarga Ki Sama Tungga. Biarlah mayat kedua orang tua itu anak buahmu yang mengurusnya...,” usul Panji yang merasa tidak enak melihat pandangan beberapa warga desa yang tampak masih keheranan melihat sikap kepala keamanan desa mereka.

Setelah berpesan kepada warga desa dan anak buahnya untuk mengurus mayat-mayat itu, Ki Dungkala langsung membawa Panji ke tempat kediaman Ki Sama Tungga.

********************

TUJUH

Kedatangan Ki Dungkala, Panji, dan Kenanga tidak mendapat sambutan baik dari pihak Ki Sama Tungga. Bahkan mereka harus menunggu agak lama untuk menemui juragan yang kaya raya itu. Meskipun demikian, ketiganya berusaha menahan diri dan menyabarkan hatinya yang mulai jengkel.

Setelah terasa pegal duduk menanti di ruang tengah, muncullah seorang lelaki tinggi kurus yang berusia sekitar lima puluh tahun lebih. Rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan pita berwarna biru. Wajah dan sinar matanya mengesankan keangkuhan. Jelas, lelaki tinggi kurus yang bernama Ki Sama Tungga itu merupakan seorang yang tinggi hati, dan memandang rendah orang lain yang tidak sederajat dengannya.

“Hm..., kau rupanya Dungkala...,” sambut Ki Sama Tungga, angkuh.

Sepertinya juragan kaya itu menganggap Ki Dungkala bukanlah seorang tamu penting. Kecuali Kepala Desa Margaluyu, tampaknya tidak ada lagi yang dihormati Ki Sama Tungga. Tentu saja, Ki Dungkala yang memang baru pertama kali berkunjung ke rumah keluarga kaya itu menjadi jengkel. Namun, lelaki gagah itu ternyata dapat menekan kejengkelannya, dan mampu bersikap wajar.

“Benar, Juragan. Perkenalkan kedua orang sahabatku, Panji dan Kenanga,” ujar Ki Dungkala memperkenalkan kedua orang muda yang datang bersamanya. Ketiganya bangkit dan membungkukkan tubuh sedikit menghormati tuan rumah. Kemudian, mereka kembali duduk setelah Ki Sama Tungga mempersilakan.

“Ada keperluan apa kau datang sepagi ini, Dungkala?” tanya Ki Sama Tungga seraya mengisap pipa tembakau di tangan kanannya. Sikapnya terlihat sangat angkuh dan tanpa basa-basi.

“Maaf, Juragan. Sebenarnya kami ingin bertemu dengan Tuan Muda Wintarsa, karena suatu keperluan yang sangat penting. Untuk itu, kumohon agar kami dapat dipertemukan dengannya...,” sahut Ki Dungkala tanpa mempedulikan sikap angkuh Ki Sama Tungga. Lelaki gagah itu langsung saja ke pokok persoalan. Karena ucapan Ki Sama Tungga pun tanpa basa-basi.

“Hm..., ada keperluan apa kau ingin berjumpa dengan putraku? Sekarang ia tidak berada di rumah, sejak kemarin ia belum kembali dari rumah pamannya di kadipaten. Jadi, maaf kalau kedatanganmu sia-sia. Tunggulah beberapa hari lagi, mungkin ia sudah kembali...,” jawab Ki Sama Tungga seraya menyipitkan sepasang matanya seperti tidak senang dengan permintaan Ki Dungkala yang dianggapnya terlalu lancang.

“Juragan...,” tandas Ki Dungkala yang sepertinya tidak mau lagi berbasa-basi. “Malam tadi telah terjadi penculikan dan pembunuhan di Selatan desa ini. Dan, pemuda ini memergoki penculik dan pembunuh itu. Apakah Juragan tidak ingin mengetahui, siapa penculik dan pembunuh itu...?”

“Dungkala...!” desis Ki Sama Tungga yang segera bangkit dari tempat duduknya dengan wajah gelap. “Seharusnya kau laporkan semua itu kepada Ki Samparan, dan bukan kepadaku! Mengapa aku harus memusingkan segala persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan diriku? Cepatlah pergi dari sini, sebelum aku bertindak kasar, atau mengadukan perbuatanmu ini kepada Ki Samparan agar kau dipecat karena telah berani datang dengan sikap tidak sopan ke tempatku...!” bentak Ki Sama Tungga, marah.

Tapi, Ki Dungkala tidak kalah gertak. Lelaki gagah itu ikut pula bangkit dengan wajah merah padam. Ia memang sudah lama merasa tidak suka dengan keluarga kaya yang sombong itu. Maka, sekarang ia ingin menumpahkan semua ketidaksenangannya itu. Selain merasa tersinggung karena tidak dipandang oleh Ki Sama Tungga, ia pun merasa bertanggung jawab penuh atas kejadian, yang menimpa warga desanya. Apalagi sekarang ia mendapat dukungan dari Pendekar Naga Putih. Maka, Ki Dungkala seperti harimau yang tumbuh sayap. Ia tidak lagi merasa takut atau segan kepada juragan yang sangat sombong itu.

“Ki Sama Tungga...!” geram Ki Dungkala yang tidak lagi menyebut Ki Sama Tungga dengan sebutan juragan. “Ketahuilah, bahwa orang yang telah melakukan penculikan dan pembunuhan itu adalah putramu! Untuk itu, aku datang kemari hendak menangkapnya, agar lain kali tidak lagi berbuat sesuka hatinya! Sekarang juga kami ingin membawa Wintarsa. Kalau tidak, rumah ini terpaksa kami geledah!”

“Keparat kau, Dungkala! Berani kau berbuat kurang sopan di rumahku ini! Kau memang pantas diberi pelajaran...!” geram Ki Sama Tungga. Laki-laki tinggi kurus itu sangat marah ketika mendengar tuduhan Ki Dungkala terhadap putra tunggal yang sangat disayanginya. Setelah berkata demikian, Ki Sama Tungga bertepuk tangan tiga kali. Sebentar saja, telah bermunculan belasan orang berseragam hitam yang merupakan tukang pukul keluarga kaya itu.

“Lemparkan mereka keluar! Beri pelajaran kepada keamanan desa yang tidak becus itu...!” perintah Ki Sama Tungga sambil melangkah meninggalkan ruangan itu.

Tanpa diperintah dua kali, tiga belas orang lelaki kekar yang menjadi tukang pukul keluarga Ki Sama Tungga, langsung saja berlompatan mengepung Ki Dungkala, Panji dan Kenanga.

Ki Dungkala sudah mencabut pedangnya, siap untuk bertarung mati-matian. Sedangkan Panji, sejak pertama kali melihat orang yang bernama Ki Sama Tungga itu, ingatannya langsung tertuju kepada sosok tinggi kurus berjubah putih yang semalam bertarung dengannya. Maka, ketika dilihatnya Ki Sama Tungga hendak meninggalkan tempat itu, Panji langsung melayang hendak mencegahnya. Sekali lompatan saja, tubuh Pendekar Naga Putih telah melayang, dan mendarat tepat di depan Ki Sama Tungga.

Lelaki tinggi kurus itu langsung terkejut melihat pemuda tampan berjubah putih yang datang bersama Ki Dungkala tahu-tahu telah menghadang jalannya. Kemarahan Ki Sama Tungga seketika meledak,

“Mau apa kau, Pemuda Asing?! Kau kira bisa berbuat sesukamu di tempat ini...? Lebih baik menyingkirlah, sebelum kesabaranku hilang...!” ujar Ki Sama Tungga bernada mengancam.

Namun, Panji tetap tidak mempedulikannya. Pemuda itu malah melangkah dua tindak ke depan, dan meneliti sosok di depannya. “Hm..., pertarungan kita semalam belum usai, Ki Sama Tungga. Tidakkah kau ingin melanjutkannya sekarang...?” ujar Panji sambil menatap tajam wajah lelaki tua di depannya. Sadar kalau orang yang dihadapinya memiliki kepandaian tinggi, Pendekar Naga Putih segera menyiapkan kuda-kuda yang kokoh.

“Keparat! Kau rupanya sudah gila, Anak Muda! Apa maksud ucapanmu itu, aku sama sekali tidak mengerti...?” bentak Ki Sama Tungga, heran. Jelas, lelaki tinggi kurus itu tidak mengerti apa yang diucapkan Panji.

“Huh! Tidak perlu berpura-pura lagi, Ki Sama Tungga. Sebaiknya bersiaplah untuk menerima seranganku! Jangan salahkan aku, kalau kau sampai celaka...!” ujar Panji seraya membuka jurusnya untuk memancing Ki Sama Tungga agar mempersiapkan ilmunya.

“Bedebah! Kau pikir hanya kau saja yang memiliki kepandaian! Nah, sambutlah seranganku...!” bentak Ki Sama Tungga karena merasa jengkel atas sikap pemuda tampan berjubah putih itu. Tubuh tinggi kurus itu meluruk ke arah Panji sambil melancarkan totokan dengan ujung pipanya yang panjangnya satu setengah jengkal itu.

Bettt! Bettt...!

Totokan ujung pipa yang datang bertubi-tubi itu dielakkan Pendekar Naga Putih tanpa banyak mengalami kesukaran. Namun, Pendekar Naga Putih mengerutkan keningnya ketika melihat gerakan lawannya. Meskipun serangan Ki Sama Tungga cukup kuat dan berbahaya, namun menurutnya masih terlalu lamban. Gerakan Ki Sama Tungga sama sekali sangat jauh berbeda dengan gerakan lawannya semalam. Tentu saja Panji menduga kalau orang tua itu masih hendak menyembunyikan kepandaian guna mengecohnya.

“Hm..., keluarkan seluruh kesaktianmu, Ki Sama Tungga. Kalau tidak, kau akan menyesal...!” pancing Panji memanasi lawan, dan mulai membalas serangan orang tua itu dengan tamparan dan tendangan kilat yang menggetarkan hati lawan. Namun, Panji kembali menjadi heran ketika melihat Ki Sama Tungga benar-benar kerepotan menghadapi serangannya yang cepat dan susul-menyusul itu.

Desss...!

Sebuah tendangan yang dilontarkan Panji dengan mengerahkan sebagian dari tenaganya, menghantam telak tubuh Ki Sama Tungga. Untunglah Panji sempat mengurangi kekuatan tendangannya, ketika merasakan betapa tubuh lawan tidak mempunyai perlindungan sama sekali. Tentu saja, Pendekar Naga Putih semakin tak mengerti, mengapa orang tua itu lebih suka terkena tendangan ketimbang mempergunakan kesaktiannya untuk melawan.

“Hm..., sudah kukatakan, keluarkan seluruh kemampuanmu, Ki Sama Tungga. Kalau tidak, kau pasti bisa terbunuh oleh pukulan mautku!” ancam Panji lagi. Walau bagaimanapun, Pendekar Naga Putih merasa tidak enak untuk menjatuhkan lawan yang sepertinya tidak mau melayaninya bertarung dengan sungguh-sungguh.

“Bocah sombong! Hanya sebuah tendangan tak berarti seperti itu kau sudah menganggap dirimu menang? Huh! Lihatlah, aku bisa membuatmu menangis minta ampun atas kesalahan dan kelancanganmu kepadaku...!” geram Ki Sama Tungga. “Yeaaat...!”

Diiringi sebuah pekikan nyaring, Ki Sama Tungga menerjang Panji. Pipa di tangannya berputaran cepat membentuk gulungan sinar hitam yang menderu-deru. Meskipun demikian, Panji tetap saja kecewa. Sebab, serangan itu tidaklah sehebat dugaannya. Bahkan masih terhitung lamban bagi ukurannya. Sehingga, dengan mudah ia dapat mengelakkannya, bahkan langsung melontarkan serangan balasan yang diiringi hembusan hawa dingin menusuk tulang!

Plakkk! Desss...!

Untuk kedua kalinya, telapak tangan Panji bersarang di tubuh Ki Sama Tungga. Akibatnya, tubuh lelaki tinggi kurus itu terjungkal hingga satu tombak lebih ke belakang, la tampak terhuyung ketika mencoba bangkit berdiri. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar. Bahkan wajahnya tampak agak pucat. Jelas, Ki Sama Tungga tidak mampu untuk menahan serbuan hawa dingin yang meresap ke dalam tubuhnya.

“Gila...! Mungkin sosok tinggi kurus berjubah putih yang kuhadapi semalam bukan Ki Sama Tungga? Kalau begitu, siapa dia? Mengapa Wintarsa diselamatkannya...? Dan, mengapa ilmu silatnya sangat mirip dengan pemuda pesolek itu...?” gumam Panji.

Pendekar Naga Putih merasa ragu ketika untuk kedua kalinya Ki Sama Tungga sama sekali tidak bisa mengelakkan pukulannya. Bahkan tampaknya lelaki tua itu menderita luka dalam yang cukup parah.

“Mengapa kau berhenti, Pemuda Setan?! Apakah kau kira aku sudah menyerah kalah...?” geram Ki Sama Tungga yang sepertinya masih hendak melanjutkan pertarungan.

“Sebentar, Ki Sama Tungga, aku hendak bertanya. Kuharap kau mau menjawabnya dengan jujur. Benarkah kau belum pernah bertemu denganku sebelum ini? Dan, benarkah kau belum pernah bertarung denganku sebelumnya...?” tanya Panji.

Pendekar Naga Putih mulai ragu setelah melihat ilmu silat yang dimiliki Ki Sama Tungga sama sekali tidak berbahaya baginya. Meskipun ilmu silat lelaki tua itu cukup tinggi, tapi jelas tidak bisa disamakan dengan kesaktian sosok tinggi kurus berjubah putih yang semalam bertarung dengannya. Hal itu membuat Panji menjadi bimbang.

“Hm..., aku memang belum pernah bertarung dan berjumpa denganmu sebelum ini, Anak Muda! Tapi, hal itu bukan berarti aku takut menghadapimu! Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataanmu yang aneh itu...?” jawab Ki Sama Tungga bersungguh-sungguh.

Panji pun tahu kalau orang tua itu tidak membohonginya. Lagi pula, untuk apa lelaki tua itu menyembunyikan kesaktiannya, dan mau menerima pukulan yang membuatnya terluka dalam?

“Hm..., baiklah. Aku percaya dengan jawabanmu. Sekarang aku minta agar kau menyerahkan putramu yang bernama Wintarsa itu. Karena ia telah melakukan pembunuhan serta penculikan. Meskipun aku berhasil memergokinya saat hendak melarikan seorang gadis, tapi ia telah melakukan pembunuhan terhadap orangtua gadis yang diculiknya itu. Apakah kau memang hendak membela putramu yang nyata-nyata telah berbuat jahat itu...?” ujar Panji. Pemuda tampan berjubah putih ini kini ganti mencari Wintarsa. Karena sangat diyakininya kalau Ki Sama Tungga bukanlah orang yang dimaksudkan.

“Benar, Ki Sama Tungga! Sebaiknya kau serahkan putramu yang jahat itu! Ia telah terlalu banyak melakukan kejahatan di desa ini! Kuharap kau mau menyerahkannya kepada kami...!”

Ki Dungkala yang rupanya sudah berhasil menundukkan lawan-lawannya bersama Kenanga, ikut menimpali ucapan Panji. Kini lelaki tinggi kurus itu telah terkepung oleh ketiga lawannya, yang mempunyai tujuan sama. Yaitu, hendak menangkap putra tunggalnya.

“Hm..., sejahat apa pun Wintarsa, ia tetap putraku. Karena itu aku harus membelanya dengan taruhan nyawaku! Mungkin ia memang seringkali berbuat jahat, tapi kalau sampai telah banyak membunuh orang, aku tidak percaya. Untuk itu, aku tidak akan sudi menyerahkan putraku kepada kalian...!” Ki Sama Tungga tetap berkeras hendak melindungi putranya. Dari sorot matanya yang tajam, Ki Dungkala, Panji, dan Kenanga tahu kalau Ki Sama Tungga bersungguh-sungguh, dan tidak bisa dibujuk kecuali dengan jalan kekerasan.

“Hm..., kalau kau tetap berkeras, kami akan memaksamu! Dan, kau pun akan mendapat hukuman berat karena telah melindungi seorang pembunuh keji seperti putramu itu...!” geram Ki Dungkala.

Sambil berkata demikian, lelaki gagah itu segera memutar pedangnya dan menerjang Ki Sama Tungga. Sebentar saja, keduanya telah terlibat dalam sebuah pertarungan yang sengit.

“Kenanga, kau tetaplah di sini mengawasi pertarungan. Aku akan mencari Wintarsa yang mungkin tengah ber-sembunyi di salah satu ruangan di rumah besar ini...,” ujar Panji.

Tanpa menunggu jawaban kekasihnya, Pendekar Naga Putih segera berkelebat cepat dari tempat itu. Kenanga sendiri hanya mengangguk, meskipun Panji tidak sempat lagi melihat anggukan kepalanya. Dara jelita itu mengikuti jalannya pertarungan, dan siap turun tangan bila Ki Dungkala terdesak oleh lawannya.

Pertarungan antara Ki Dungkala dan Ki Sama Tungga memang terlihat seru. Keduanya tampak sama-sama gesit, dan memiliki tenaga sakti yang hampir berimbang. Kalaupun Ki Sama Tungga masih lebih unggul sedikit dalam hal kecepatan gerak dan kekuatan tenaga dalam, tapi luka dalam akibat pukulan Panji telah membuat gerakannya sedikit terhambat. Sehingga, kelebihannya yang hanya sedikit itu telah tertutup.

“Haittt...!” Ki Dungkala yang memang merasa tidak suka dan ingin memberi pelajaran kepada juragan yang sombong itu, menerjang dengan seluruh kepandaian yang dimilikinya. Maka, tidaklah mengherankan bila dalam tiga puluh jurus, Ki Dungkala terlihat mulai berada di atas angin. Gerakan lelaki gagah itu terlihat penuh semangat dan memiliki perhitungan yang matang. Sehingga, lawannya yang memang sudah tidak tenang pikirannya itu semakin kerepotan dalam menghadapi serangannya.

Memasuki jurus yang keempat puluh tiga, gerakan Ki Sama Tungga terlihat semakin lamban. Jelas kekuatan serta kegesitan lelaki tinggi kurus itu sudah mulai berkurang. Sehingga, Ki Dungkala berhasil menyarangkan sebuah tendangan keras ke lambung lawannya.

Bukkk!

“Huakhhh...!” Tanpa ampun lagi, tubuh Ki Sama Tungga langsung terjengkang memuntahkan darah segar. Meskipun demikian, jurangan kaya itu masih berusaha bangkit untuk melanjutkan pertarungan. Tapi, Ki Dungkala sepertinya tidak ingin memberikan kesempatan lagi kepada lawannya. Saat itu juga, ia langsung melesat dengan babatan pedangnya yang mengancam tubuh Ki Sama Tungga.

“Akh...?!” Lelaki tinggi kurus yang biasanya sombong itu memucat wajahnya. Sadar kalau tidak mungkin dapat selamat dari pedang lawan, Ki Sama Tungga hanya bisa pasrah menerima kematian di tangan kepala keamanan desa itu. Tapi, pada saat kematian hampir menjemput Ki Sama Tungga, tiba-tiba melesat sesosok bayangan dari samping. Dan langsung memapaki datangnya serangan pedang Ki Dungkala! Dan...

Plak!

“Aaakh...!” Hebat sekali akibat tangkisan sosok bayangan yang baru muncul itu. Bukan saja ia telah berhasil menyelamatkan nyawa Ki Sama Tungga dari kematian, tetapi tubuh Ki Dungkala terpelanting deras menghantam dinding di belakangnya.

“Paman...!” seru Kenanga terkejut melihat perubahan yang sama sekali tidak diduganya itu.

Cepat gadis jelita itu berlari memburu tubuh Ki Dungkala yang tampak tengah terduduk sambil memuntahkan darah segar. Kemudian, kepalanya menoleh ke arah sosok bayangan yang telah menyelamatkan nyawa Ki Sama Tungga. Wajah Kenanga tampak menegang ketika melihat dan mengenali sosok yang berdiri angker di depannya.

DELAPAN

“Kau...?!” desis Kenanga, terkejut. Urat syaraf dara jelita itu seketika menjadi tegang ketika melihat seraut wajah menyeramkan, tengah menatapnya dengan sorot mata semerah darah!

“Wintarsa...?!” Ki Dungkala pun tidak kalah terkejutnya ketika melihat siapa orang yang telah memapaki serangan pedangnya tadi.

Lelaki gagah itu benar-benar tidak percaya kalau yang mematahkan serangannya adalah Wintarsa, pemuda yang dikenalnya dengan baik. Yang membuat Ki Dungkala heran, bagaimana Wintarsa mampu menghalau serangan-nya. Padahal setahunya, kepandaian pemuda itu tidak terlalu tinggi. Meskipun untuk mengalahkannya tidaklah begitu mudah, namun Ki Dungkala yakin kalau ia masih dapat menang melawan Wintarsa. Tapi, mengapa ia dengan mudah terluka oleh pemuda itu hanya dengan sekali gebrak saja? Padahal, pemuda pesolek itu hanya menangkis serangannya, tanpa menyarangkan pukulan ke tubuhnya. Kenyataan ini, membuat Ki Dungkala tak habis pikir.

“Hmrrr...! Kalian berdua telah berani melukai ayahku! Untuk itu, kalian harus mampus di tanganku...!” geram Wintarsa dengan suara yang mampu membuat jantung seorang lelaki penakut copot.

“Benarkah dia adalah Wintarsa yang selama ini kukenal...?” gumam Ki Dungkala yang merasa bulu tengkuknya meremang melihat tatapan mata yang terasa bagaikan mengiris-iris jantungnya itu. Sebab, wajah pemuda itu berubah jauh dari biasanya. Suaranya pun terdengar menyeramkan seperti suara iblis pencabut nyawa. Tentu saja hal ini membuat Ki Dungkala menjadi gemetar.

Melihat sikap dan perbawa yang menyeramkan terpancar dari wajah pemuda itu, Kenanga segera teringat akan peristiwa beberapa waktu yang lalu, di luar Desa Margaluyu. Ia pun sempat melihat bagaimana Panji kerepotan menghadapi pemuda itu yang sepertinya telah kerasukan setan. Sadar kalau keadaan mereka sangat berbahaya, dara jelita itu pun bangkit sambil menghunus pedangnya.

“Yeaaarkh....!” Wintarsa yang sepertinya telah berubah menjadi iblis haus darah itu, kembali menggeram dengan suara aneh. Pemuda itu melangkah perlahan menghampiri Kenanga yang berdiri di depan Ki Dungkala. Dan, ketika Wintarsa melompat menerjang dengan ganasnya, Kenanga segera memutar Pedang Sinar Rembulan. Seketika itu, terbentuklah gulungan sinar putih keperakan yang berpendar menyilaukan mata.

Bettt...!

Sinar putih keperakan berkeredep ketika Kenanga membabatkan senjatanya untuk menyambut datangnya serangan lawan. Tapi, bukan main terkejutnya hati dara jelita itu ketika melihat Wintarsa menyambut mata pedangnya dengan telapak tangan!

Plakkk!

“Aihhh...?!” Hati dara jelita itu bukan main kaget ketika tamparan telapak tangan Wintarsa membuat senjatanya hampir terlepas dari genggaman tangan. Sedangkan telapak tangan pemuda itu telah berputar cepat dan meluncur ke arah tenggorokannya. Cepat Kenanga melempar tubuhnya ke belakang, dan berputaran beberapa kali, sebelum mendaratkan kedua kakinya di tanah.

Wintarsa yang telah kerasukan setan itu, rupanya tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk mempersiapkan jurus baru. Tubuh pemuda aneh itu kembali meluncur dengan cengkeraman-cengkeraman mautnya, yang menimbulkan suara berdecitan tajam. Jelas, serangan pemuda itu sangat berbahaya dan mematikan!

Trang...!

Kenanga yang mencoba memapaki cengkeraman Wintarsa dengan sabetan pedangnya, kembali terkejut setengah mati. Sebab, Wintarsa sama sekali tidak berusaha menyelamatkan tangannya. Malah sengaja menyambut datangnya sambaran pedang dengan cengkeramannya. Untunglah pedang dara jelita itu bukan senjata sembarangan. Kalau tidak, mungkin sudah patah-patah akibat cengkeraman yang sangat kuat dari lawannya. Sebentar saja, dara jelita itu terdesak deh gem-puran-gempuran Wintarsa yang aneh, namun sangat berbahaya itu.

“Haiiit...!”

Pada saat Kenanga tengah sibuk mempertahankan dirinya dari gempuran Wintarsa, tiba-tiba terdengar pekikan nyaring yang disusul masuknya sesosok bayangan putih bersinar putih keperakan ke dalam kancah pertarungan. Begitu tiba, sosok bayangan bersinar putih keperakan yang tak lain dari Panji itu, langsung memapaki serangan Wintarsa.

Plak, plak.... Desss...!

Kedatangan Panji yang secara tiba-tiba itu di luar perhitungan Wintarsa. Sehingga, pemuda itu tidak sempat lagi mengelak. Dan, sebuah pukulan telapak tangan Panji pun singgah di dada pemuda aneh itu. Akibatnya, tubuh Wintarsa terdorong mundur sejauh satu tombak. Terlihat dari sudut bibirnya menetes darah segar. Jelas, pukulan yang sangat kuat itu telah membuat Wintarsa menderita.

“Hm..., akhirnya kau muncul juga, Wintarsa! Sekarang kita tentukan, siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan kari ini...,” desis Panji dingin.

Pendekar Naga Putih kemudian menyilangkan kedua lengannya di depan dada dengan kedua mata terpejam. Dan sebentar kemudian, muncullah sinar kuning keemasan yang menyelimuti sebelah kanan tubuh pemuda itu. Sedangkan tubuh bagian kirinya, diselimuti lapisan kabut bersinar putih keperakan. Jelas, Pendekar Naga Putih telah menggabungkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' dengan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'. Sehingga, tubuhnya mengeluarkan dua buah sinar yang mempunyai dua unsur berbeda. Panas dan dingin!

Sinar kuning keemasan yang terpancar dari sebelah kanan tubuh Panji tampak menimbulkan pengaruh bagi Wintarsa. Terbukti pemuda itu melangkah mundur seraya menghalangi pandangan matanya dengan sepasang lengannya. Jelas, Wintarsa merasa agak terganggu dengan sinar kuning keemasan itu.

“Hm...,” Panji yang melihat tingkah laku Wintarsa, yang merasa terganggu dengan sinar tenaga jelmaan Pedang Naga Langit itu, segera dapat menduga kalau ada sesuatu yang tidak beres dalam diri pemuda itu. Maka, untuk meyakinkan dirinya, Pendekar Naga Putih bergerak maju dengan menggunakan jurus-jurus andalannya yang sangat terkenal.

“Haaat...!” Kali ini Panji lebih dahulu membuka serangan. Sepasang tangannya bergerak cepat dengan cakar naga yang siap mengoyak tubuh lawannya.

Wintarsa tampak tidak lagi seganas semula. Kelihatan sekali kalau pemuda itu selalu menghindari gempuran tangan kanan Panji. Ia selalu bermain di sebelah kiri lawannya. Seolah serangan tangan kanan pemuda itu sanggup membuat kesaktiannya lenyap.

Panji bukan tidak mengetahui hal itu. Maka, ia pun semakin mempergencar serangan-serangannya. Sepasang lengannya bergerak cepat dan sukar diikuti mata biasa. Tubuh pemuda itu sendiri berkelebat cepat laksana seekor naga yang tengah bermain-main di angkasa.

Plakkk!

Tusukan jari tangan kanan Wintarsa yang meluncur ke tenggorokan Panji, langsung dipapaki dengan tangan kanannya. Akibatnya, kedua lengan itu saling berbenturan keras. Kali ini, tubuh Wintarsa tampak terhuyung-huyung. Keadaan itu dipergunakan Panji untuk mengirimkan hantaman telapak tangan kanannya. Tak ayal lagi, pukulannya telak menghajar tubuh Wintarsa.

Desss...!

Akibatnya benar-benar mengejutkan sekali! Tubuh pemuda tampan pesolek itu terjengkang dan berkelojotan bagaikan ayam disembelih! Sekujur tubuhnya mengeluarkan sinar kuning keemasan. Jelas, kekuatan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' seperti terserap ke dalam tubuh pemuda itu. Lama-kelamaan sinar kuning keemasan itu semakin mengecil, kemudian lenyap sama sekali setelah berdiam agak lama di sekitar kepala Wintarsa. Pemuda itu pun menggeletak tak sadarkan diri.

“Hm..., jelas ada sesuatu yang tidak beres dalam diri pemuda itu. Entah apa! Aku belum begitu jelas. Tapi, mungkin ia memerlukan sedikit pengobatan. Sebaiknya kita bawa saja dia ke dalam...,” ujar Panji sambil menghampiri dan mengangkat tubuh Wintarsa.

Sementara itu, Ki Dungkala, Ki Sama Tungga, dan Kenanga sama sekali belum bisa mengeluarkan kata-kata. Sepertinya mereka masih merasa terkesima dengan kejadian yang baru saja disaksikan tadi. Mereka hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Panji.

********************

“Wintarsa, ceritakanlah! Dari mana kau mempelajari ilmu-ilmu aneh yang sangat berbahaya itu? Menurut keterangan ayahmu, ia sama sekali tidak pernah mengajarkan dan memiliki ilmu seperti itu? Dan, benarkah kau yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan di desa ini...?” tanya Panji setelah Wintarsa sadar dari pingsannya.

Sebelumnya, pemuda tampan berjubah putih itu telah menanyakan kepada Ki Sama Tungga yang tampaknya telah sadar akan kekeliruannya selama ini. Ki Dungkala, Kenanga, dan Ki Sama Tungga duduk berkumpul di tempat itu. Mereka ingin mendengar penjelasan dari pemuda pesolek itu.

“Hhh..., sebelumnya aku memang jahat, dan sangat sombong. Aku sering menyakiti para penduduk desa yang berani menentang kemauanku. Banyak gadis-gadis dan istri orang yang kuganggu. Hal itu mungkin dikarenakan ayah selalu menuruti apa yang menjadi kehendakku. Tapi..., mengenai pembunuhan-pembunuhan yang kau tanyakan itu, aku sama sekali tidak pernah melakukannya. Mungkin ada satu-dua orang yang pernah tewas oleh tukang-tukang pukulku.”

Wintarsa menghentikan ucapannya untuk mengambil napas. Pemuda itu merasakan dadanya agak sesak, walaupun tadi telah diobati oleh Pendekar Naga Putih.

“Semua itu ku akui sebagai kesalahanku. Sedangkan mengenai ilmu-ilmu itu, kupelajari dari sebuah sumur tua yang terdapat di belakang kuil tua di sebelah Barat desa ini. Kuil rusak itu sudah lama tidak terpakai lagi. Ketika itu aku tengah beristirahat bersama kedua orang pengawalku, setelah berburu di hutan. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa tertarik dengan sebuah sumur tua di belakang kuil itu. Karena dasar sumur itu terlihat dari atas, aku merasa penasaran, dan langsung turun ke dalamnya.”

Wintarsa kembali menghentikan ceritanya. Ditatapnya wajah orang-orang yang berada di sekelilingnya, seakan ingin mengetahui tanggapan mereka akan ceritanya.

“Ternyata sumur tua itu berlubang pada dindingnya, dan mirip sebuah gua. Aku pun langsung masuk ke dalamnya. Di sana aku menemukan gambar-gambar orang yang tengah bersilat, lalu aku mempelajarinya. Dan sejak saat itu, aku hampir setiap hari datang untuk mempelajari ilmu silat yang ada di dalam gua itu,” Wintarsa kembali menghentikan ceritanya, dan menarik napas dalam-dalam mengenang peristiwa itu.

“Hm..., gambar-gambar itu jelas peninggalan seorang tokoh sakti. Sayang, kau mempelajarinya tidak berurutan. Sehingga, hawa sakti yang kau himpun, telah merusak syaraf di kepalamu. Untunglah, masih belum terlambat untuk menyembuhkanmu. Kalau tidak, mungkin kau akan tewas bila jalan darah di kepalamu telah pecah akibat terlalu sering melatih ilmu yang salah itu...,” jelas Panji.

Pendekar Naga Putih kini mulai mengerti mengapa ilmu silat pemuda itu menjadi sangat hebat bila kesadarannya lenyap. Rupanya hal itu disebabkan tersumbatnya aliran darah di kepalanya, sehingga membuat ingatan pemuda itu lenyap, dan berganti ingatan tentang ilmu silat yang dipelajarinya secara terbalik.

“Hm..., tahulah aku sekarang, siapa yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan di desa ini...,” tiba-tiba Ki Dungkala bergumam, membuat yang lainnya segera menoleh ke arahnya.

“Apa maksud Paman...?” tanya Panji seraya mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Ki Dungkala.

“Panji, coba kau katakan, apakah Wintarsa bisa berubah menjadi gila seterusnya? Dan mungkinkah ia akan melakukan pembunuhan-pembunuhan, apabila ia telah mempelajari ilmu itu selama bertahun-tahun...?” tanya Ki Dungkala sebelum menjawab pertanyaan Pendekar Naga Putih.

“Begitulah kira-kira, Paman. Perbuatan yang selama ini dilakukannya kebanyakan didorong oleh pengaruh ilmu sesat itu. Sebab, menurutku Wintarsa tidak jahat. Mungkin ia melakukan kejahatan-kejahatan itu setelah mempelajari ilmu yang ditemukannya di dasar sumur tua di belakang kuil itu. Jadi, apabila Wintarsa telah lima tahun lebih mempelajarinya, bisa jadi ia akan berubah gila. Kendatipun ia masih bisa mengenali orang, dan berbicara seperti biasa. Kegilaan yang kumaksudkan di sini adalah timbulnya pikiran-pikiran jahat akibat semakin tingginya tenaga sakti yang dipelajarinya. Sebab, bila kita mempelajari ilmu tenaga dalam secara terbalik, akan merusak jaringan syaraf pada otak kita...,” tutur Panji yang membuat Ki Dungkala mengangguk-anggukkan kepala.

“Kalau begitu, marilah kalian ikuti aku. Sebab, yang mempelajari ilmu itu mungkin bukan hanya Wintarsa seorang. Ada lagi orang lain yang telah mempelajarinya, sebelum Wintarsa menjadi pemuda dewasa seperti sekarang ini. Semula aku tidak begitu memperhatikannya ketika ia seringkali pergi dan sampai menginap berhari-hari di kuil tua itu. Dua tahun belakangan ini, ia seringkali menyepi di satu tempat. Diam-diam aku pernah mengintainya. Dan, ia memang tengah melatih ilmu silatnya secara sembunyi-sembunyi. Karena ia seperti merahasiakannya, maka aku pun tidak berani membicarakannya. Hanya saja tingkah dan sikapnya memang agak aneh. Mungkin karena ia memiliki dasar yang lebih kuat ketimbang Wintarsa, maka ia tidak terlalu merasakan perubahan itu...,” jelas Ki Dungkala.

Panji dan yang lainnya menjadi tegang mendengar penjelasan kepala keamanan desa itu. Orang yang diceritakan Ki Dungkala itu jelas lebih berbahaya daripada Wintarsa. Kalau pemuda itu mempelajarinya baru satu tahun saja sudah sedemikian hebat, entah bagaimana dengan orang yang diceritakan Ki Dungkala yang telah mempelajarinya lebih dari lima tahun!

“Hm..., apakah orang itu memiliki tinggi tubuh seperti Ki Sama Tungga...?” tanya Panji setelah terdiam beberapa saat lamanya. Rupanya Pendekar Naga Putih kembali teringat kepada sosok tinggi kurus berjubah putih yang pemah bertarung dengannya. Dan, lawannya itu memang memiliki gerakan serupa dengan Wintarsa. Bahkan kelihatan jauh lebih kuat dan lebih mantap.

“Yah..., mungkin dia orang yang kau ceritakan itu, Panji. Marilah kalian ikuti aku. Ia ada di suatu tempat yang tersembunyi. Dan ia sudah berbulan-bulan menyepi di sana. Aku sendiri tidak tahu, apa yang membuat dia bertindak seperti itu...,” ujar Ki Dungkala sambil bergerak bangkit dan mengajak Panji dan yang lainnya untuk segera mengikutinya.

********************

Dengan Ki Dungkala sebagai penunjuk jalan, tidaklah sulit bagi mereka untuk menemukan tempat yang dimaksud lelaki gagah itu. Tidak berapa lama kemudian, tibalah mereka di dekat sebuah pondok tua yang berada jauh di bagian Utara Desa Margaluyu. Bahkan sudah berada di luar desa.

“Hm.., di sinikah orang itu tinggal...?” tanya Panji sambil melangkah mendekati pondok itu.

“Betul. Kuharap kalian semua berhati-hati. Sebab, bukan mustahil kalau dia telah mengetahui kedatangan kita..,” Ki Dungkala mengingatkan dengan wajah sedikit tegang.

Namun, saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara tawa berkepanjangan yang mendirikan bulu roma. Bahkan, suara tawa itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat dahsyat. Sehingga, Panji harus mengerahkan tenaga saktinya guna melindungi dada dan pendengarannya dari pengaruh suara tawa itu.

“Kalian semua menyingkirlah jauh-jauh...!” seru Panji ketika melihat yang lainnya tampak limbung, karena mereka tidak sanggup menahan getaran suara tawa itu.

“Ki Samparan, keluarlah! Kami sudah mengetahui bahwa semua yang terjadi di desa ini adalah perbuatanmu...!” teriak Ki Dungkala seraya melangkah mundur menjauhi pondok.

“Ki Samparan...?!” desis Ki Sama Tungga dan Wintarsa bersamaan. Jelas, keduanya telah mengenal baik orang yang namanya disebut Ki Dungkala tadi.

“Ki Samparan...?! Kau maksudkan yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu adalah Kepala Desa Margaluyu sendiri...?” tanya Panji dengan wajah terkejut. Karena ia telah mendengar tentang Kepala Desa Margaluyu itu. Tapi, tidak menduga sama sekali kalau justru orang tua itulah yang melakukan kejahatan di dalam desanya. Sebab, selama berada di desa itu Panji sama sekali belum pernah berjumpa dengan Ki Samparan. Pemuda itu tidak ingat untuk menanyakannya, karena Ki Dungkala pun tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang kepala desanya itu.

“Benar, Panji. Ki Samparanlah yang kumaksudkan...” jawab Ki Dungkala yang tampaknya merasa berduka mengingat orang yang selama ini menteror warga desa justru orang yang seharusnya melindungi penduduk desa itu.

Percakapan mereka terhenti ketika tiba-tiba hembusan angin bertiup keras diiringi suara tawa yang menggetarkan jantung. Begitu hembusan angin itu lenyap, muncullah sesosok tubuh tinggi kurus yang mengenakan jubah panjang berwarna putih. Sosok itu berdiri angker menatapi wajah-wajah di hadapannya.

“Hm..., apa maksudmu membawa mereka kemari, Dungkala? Apakah kau hendak mengandalkan Pendekar Naga Putih untuk menghentikan kesenanganku...?” tegur lelaki tinggi kurus berusia sekitar enam puluh tahun itu. Rambut dan wajahnya tampak tidak terurus, persis seperti orang gila. Sorot matanya demikian tajam, tertuju kepada Ki Dungkala yang badannya langsung menjadi gemetar.

“Benar! Akulah yang akan menghentikan kegilaanmu, Ki Samparan! Kau telah tersesat terlalu jauh...,” ujar Panji yang langsung saja bergerak melindungi Ki Dungkala, ketika melihat tangan kanan Ki Samparan siap bergerak untuk menghabisi nyawa kepala keamanan desa itu.

“He he he...! Kalau begitu, kaulah yang lebih dulu harus kukirim ke neraka, Pendekar Naga Putih..!” Baru saja ucapan itu selesai, tubuh Ki Samparan telah melayang dengan pukulan-pukulan mautnya yang menimbulkan angin bercuitan.

Whuuut! Whuuut!

Cepat Pendekar Naga Putih menyuruh yang lainnya untuk menjauhi tempat itu. Sedangkan ia sendiri sudah bergerak dengan lompatan ke samping, guna menghindari serangan yang menebarkan bau amis dan harum yang memabukkan. Jelas, serangan Ki Samparan mengandung racun yang mematikan.

“Hm...,” Panji yang telah mengetahui kelemahan lawan, segera mengerahkan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'. Sebab, Wintarsa pun lumpuh dengan tenaga mukjizat itu.

Apa yang diduga Panji terbukti. Ki Samparan tampak sangat takut sekali ketika melihat tubuh pemuda itu mengeluarkan sinar kuning keemasan. Hal itu tidaklah aneh. Sebab, tenaga mukjizat jelmaan Pedang Naga Langit itu mampu melumpuhkan ilmu sihir ataupun segala jenis racun yang paling jahat sekalipun.

Dan, karena Ki Samparan maupun Wintarsa tengah menderita keracunan, maka mereka pun takut melihat sinar keemasan yang membuat tubuh mereka seperti lemas. Sadar akan kelemahan lawan, Panji tidak mau membuang-buang waktu lagi. Cepat bagai kilat, pemuda itu langsung melesat menerjang lawannya.

Whuttt! Plakkk!

“Aaakh...!” Ki Samparan menjerit kesakitan, karena ia terpaksa harus menangkis serangan pemuda yang tidak mungkin dapat dielakkannya itu. Tubuh lelaki tua itu terjajar mundur. Wajahnya tampak agak pucat. Sepasang matanya bergerak liar seperti hendak mencari jalan untuk selamat.

“Hm..., hendak lari ke mana kau...?!” bentak Panji ketika melihat lawannya melesat ke arah Ki Dungkala dan yang lainnya. Jelas Ki Samparan hendak mencari korban yang lebih mudah untuk dilenyapkan.

Namun, lelaki tua itu tidak sempat untuk mencapai sasaran yang ditujunya. Karena Panji lebih dulu menyambut serangan lelaki tua yang telah gila itu. Merasa tidak ada jalan lain, Ki Samparan pun segera mengeluarkan seluruh kesaktiannya untuk melenyapkan Pendekar Naga Putih. Sehingga, keduanya segera terlibat dalam sebuah pertarungan sengit.

Sebenarnya, kalau saja Panji tidak mempergunakan tenaga mukjizat itu, rasanya sangat sulit untuk dapat mengalahkan Ki Samparan. Tapi, karena tenaga mukjizat yang mengeluarkan sinar kuning keemasan itu mempengaruhi kekuatannya, maka Ki Samparan dengan mudah dapat didesak Panji dengan gempuran-gempuran yang cepat dan kuat. Apalagi jurus yang digunakan Panji adalah jurus andalan yang sukar dicari bandingannya.

Maka, setelah lewat dari enam puluh jurus, tampak Ki Samparan mulai kewalahan. Berkali-kali lelaki gila itu berteriak-teriak kesakitan, saat lengan mereka saling berbenturan keras. Dan ketika Pendekar Naga Putih mengerahkan tenaganya sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan, lelaki tua itu menjerit ngeri.

Blarrr...!

Seberkas sinar kuning keemasan yang meluncur keluar dari sepasang telapak tangan Pendekar Naga Putih, menghajar telak tubuh Ki Samparan. Akibatnya, tubuh tinggi kurus itu terpental deras sejauh dua tombak lebih. Tubuhnya terus meluncur menabrak dinding pondok yang kayunya memang telah lapuk. Cepat Panji berlari memburu ke arah tubuh lawannya.

“Hhh...,” Panji hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat tubuh Ki Samparan diam dan tak bergerak-gerak lagi.

Kepala desa yang telah menjadi gila itu tewas akibat hantaman dahsyat yang mengandung kekuatan mukjizat. Panji memang terpaksa menghabisi lawannya. Karena ia sadar bahwa tidak ada kemungkinan lagi untuk menyembuhkan Ki Samparan. Hanya kematianlah jalan yang terbaik bagi lelaki tua itu.

Ki Dungkala tampak menunduk sedih melihat tubuh Ki Samparan yang sudah tak bernyawa lagi itu. “Semoga arwahmu di alam baka dapat tenang, Ki...,” ucap Ki Dungkala seraya mengangkat tubuh tinggi kurus itu dan membawanya ke desa.

Panji dan yang lainnya mengikuti tanpa berkata-kata. Mereka pun bersyukur bahwa teror yang selama ini melanda penduduk Desa Margaluyu telah dapat di lenyapkan.

S E L E S A I

Petaka Kuil Tua

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Petaka Kuil Tua
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

MALAM kian merambah. Kepekatan makin kental menyelimuti bumi. Suara nyanyian binatang-binatang malam saling bersahutan. Desir angin mengalun perlahan mempermainkan daun-daun pohon, sehingga menimbulkan gemerisik lembut di telinga. Rembulan tersenyum malu di balik gumpalan awan kelabu. Semua itu makin menambah keindahan suasana malam.

“Hm..., hari sudah semakin bertambah malam, Darmi. Rasanya sudah waktunya aku pulang....”

Ucapan perlahan yang terasa agak berat itu meluncur dari bibir seorang pemuda tampan. Meskipun wajahnya tampak agak kehitaman, namun sosoknya cukup menarik. Sepasang matanya menatap lembut gadis manis berambut panjang yang duduk di sebelahnya.

Gadis manis berusia sembilan belas tahun yang dipanggil Darmi itu tampak menunduk. Duduknya digeser semakin merapat. Bangku bambu yang mereka duduki berderit perlahan, saat Darmi menggeser tubuhnya.

“Yahhh..., hari memang semakin bertambah malam, dan Kakang harus segera pulang. Tapi, bagaimana dengan pertanyaanku tadi, Kang? Kapan kau akan melamarku...?” tanya Darmi perlahan, mirip bisikan. Wajah yang semula tertunduk itu perlahan terangkat, dan menatap wajah kekasihnya.

“Akan kuusahakan secepatnya, Darmi...,” sahut pemuda tampan berkulit coklat itu seraya melingkarkan lengannya ke tubuh kekasihnya. Darmi pun segera merebahkan kepalanya di dada pemuda itu.

“Aku takut, Kang...,” desah Darmi bernada cemas. “Tuan Muda Wintarsa selalu menggangguku. Aku khawatir pemuda jahat yang sombong itu akan berbuat yang tidak-tidak terhadap diriku. Hal itu tercermin dari cara ia memandangku. Sepertinya aku bukan lagi melihat sosok manusia. Tapi, binatang buas yang kelaparan...”

“Hm..., pemuda mata keranjang itu memang tak ubahnya setan berwajah manusia...!” geram pemuda tampan itu sambil mengepalkan tinjunya erat-erat. Sepasang matanya mencorong penuh kemarahan. Ia tahu persis, siapa yang dimaksudkan kekasihnya. “Baiklah, aku pulang dulu, Darmi. Tentang pernikahan kita, akan kubicarakan nanti dengan ayahku....”

“Betul...?” tanya Darmi agak ragu sambil mengikuti kekasihnya bangkit. Sepasang mata gadis desa yang sederhana itu tampak berpijar penuh kebahagiaan.

“Tentu saja betul...,” sahut pemuda itu melangkah dan merangkul tubuh Darmi. Keduanya berjalan menuju pondok yang berada di depan mereka.

“Kutunggu kabar darimu, Kakang...,” ucap Darmi seraya menatap wajah kekasihnya, ketika ia berada di ambang pintu belakang rumahnya. Tapi, pemuda tampan itu sama sekali tidak menyahut, sebab ia telah memeluk tubuh kekasihnya erat-erat, dan melumat bibir merekah yang menantang itu.

“Aku pulang dulu...,” pamit pemuda itu seraya melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan Darmi yang tersipu dengan napas agak sesak. Namun, tampak seulas senyum bahagia terukir di bibirnya.

Dengan obor di tangan kanan, pemuda kekasih Darmi itu melangkah menerobos kegelapan malam. Sebentar saja rumah kekasihnya telah tertinggal cukup jauh di belakang. Melihat dari gerak-geriknya, jelas pemuda itu bukanlah orang lemah. Sepertinya, ia pun memiliki ilmu meringankan tubuh yang lumayan.

“Hm..., kau benar-benar bandel, Suminta...!” tiba-tiba terdengar suara teguran bernada penuh kegeraman.

Pemuda tampan itu pun menahan langkahnya dan menoleh ke arah asal suara. Kakinya melangkah ke belakang ketika melihat tiga sosok tubuh muncul dari semak-semak di pinggir jalan.

“Kau..., Wintarsa...?!” desis pemuda tampan bernama Suminta itu. Ia terkejut ketika obornya diangkat untuk mengenali wajah ketiga lelaki yang menghadangnya.

“Hm..., dari mana kau malam-malam begini, Suminta? Apakah kau sudah lupa dengan peringatanku tempo hari...?” tegur pemuda pesolek berwajah tampan, yang tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Suminta. Sepasang mata Wintarsa tampak menyiratkan kemarahan yang masih ditahan.

“Apa hakmu melarangku berhubungan dengan Darmi, Wintarsa? Sedangkan Darmi sendiri menyukaiku. Dan, ia tidak suka kepadamu!” jawab Suminta dengan menyebut Wintarsa begitu saja, tanpa embel-embel tuan muda. Hal itu membuat kening Wintarsa menjadi berkerut tak senang.

“Keparat! Kau semakin besar kepala saja, Suminta! Sudah berani melanggar laranganku, kau pun sudah tidak lagi menaruh hormat kepadaku! Semua itu akan membuat kau sekeluarga menjadi celaka, Suminta!” bentak Suminta. Pemuda pesolek itu menjadi geram ketika mendengar bantahan Suminta yang tidak menaruh hormat lagi kepadanya. Wintarsa kemudian berpaling kepada dua orang di kiri dan kanannya, dan memberikan isyarat.

Tanpa banyak cakap lagi, kedua orang lelaki kekar berpakaian serba hitam, yang menjadi tukang pukul Wintarsa, segera melompat dan mengepung Suminta.

Melihat hal itu, Suminta cepat bergerak mundur seraya mengebutkan obor di tangannya ke kiri dan kanan. Perbuatannya itu membuat kedua orang tukang pukul Wintarsa bergerak menghindar.

“Hm..., kau memang harus diberi peringatan keras, Kerbau Dungu!” ujar salah seorang tukang pukul Wintarsa, geram. Kemudian laki-laki kasar itu pun segera menyiapkan jurusnya guna menghadapi Suminta.

“Haaat...!”

Orang yang berada di sebelah kanan Suminta berteriak sambil melompat dan melontarkan pukulan keras ke arah kepalanya. Suminta melangkah ke belakang, kemudian membalas dengan sebuah tendangan kilat. Sebentar saja, ketiga orang itu telah terlibat dalam sebuah pertarungan seru. Suminta berjuang keras untuk menghadapi kedua orang lawannya yang memang terkenal sebagai jagoan-jagoan di Desa Margaluyu itu.

“Heaaah...!”

Wrrr...!

Lidah api kembali berkobar ketika Suminta mengebutkan obornya, guna menghadapi serangan dari sebelah kanan. Sayang pemuda tampan itu kalah gesit, sehingga sebuah tendangan keras dari sebelah kiri tidak dapat dihindarinya, dan menghajar telak iganya.

Bukkk!

“Akh...!” Suminta bergulingan menjauhi kedua orang lawannya. Meskipun dengan wajah agak menyeringai, pemuda itu bergerak bangkit dan siap melakukan perlawanan kembali. Sedangkan obor dalam genggamannya telah terlepas, dan berada dalam genggaman Wintarsa yang mengangkatnya ke atas sebagai penerangan

“Rasakan kepalanku...!” bentak lelaki berkumis tebal yang menjadi tukang pukul Wintarsa sambil melontarkan kepalannya yang menimbulkan desiran angin tajam.

Whuttt...!

Suminta merundukkan kepala, sehingga kepalan lawan lewat di atas kepalanya. Sayang, ia tidak menduga sama sekali kalau serangan susulan lawan datang demikian cepat. Akibatnya, tubuh Suminta kembali terpelanting ke belakang. Dan belum lagi sempat bangkit dan merasakan akibat tendangan itu, tahu-tahu lawan di sebelah kanannya sudah menendang iganya kuat-kuat.

“Aaakh...!” Suminta kembali memekik kesakitan. Darah segar mulai menetes dari sudut bibirnya. Meskipun demikian, pemuda bertubuh gagah itu berusaha merangkak bangkit untuk melakukan perlawanan kembali.

“Hm...,” kali ini Wintarsa sendiri yang sudah melangkah maju. Kaki kanannya langsung mencelat ke wajah Suminta yang tengah merangkak maju itu.

Desss!

“Highhh...!” Untuk kesekian kalinya, tubuh Suminta kembali terlempar akibat tendangan kuat itu. Beberapa buah pukulan dan tendangan masih menerpa wajahnya. Tampak wajah tampan itu babak belur berbaur dengan darah. Sehingga, sulit untuk mengenalinya.

Suminta merintih kesakitan tanpa mampu bangkit lagi. Sepertinya, Wintarsa dan kedua orang tukang pukulnya sama sekali tidak menginginkan kematian pemuda itu. Dalam penyiksaan mereka sengaja tidak mengerahkan tenaga terlalu kuat, agar Suminta tidak jatuh pingsan. Sehingga pemuda itu dapat merasakan penderitaan akibat pukulan dan tendangan mereka. Hal itu menandakan bahwa Wintarsa dan kedua tukang pukulnya merupakan orang-orang kejam yang tidak berperikemanusiaan.

“Hm..., ini merupakan peringatan terakhir, Suminta. Sekali lagi kau berani mendekati Darmi, kepalamu akan kupatahkan...!” ancam Wintarsa sambil menarik rambut Suminta ke atas. Sedangkan kakinya menekan punggung pemuda itu dengan kasar.

Suminta hanya bisa merintih menahan sakit pada kepalanya yang dipaksa terangkat ke belakang. Setelah berkata demikian, Wintarsa melepaskan kepala Suminta begitu saja, sehingga wajah pemuda itu membentur tanah, membuat Suminta mengerang kesakitan. Dari lubang hidungnya, darah segar kembali mengalir.

Wintarsa dan kedua orang tukang pukulnya bergerak meninggalkan tubuh Suminta yang tergeletak di tanah. Pemuda tampan pesolek itu melemparkan obor di tangannya, persis di depan wajah Suminta. Pemuda malang itu menyeret tubuhnya ke belakang, karena wajahnya yang berada dekat api obor terasa panas bagai terbakar.

Dengan susah payah, Suminta bergerak bangkit berdiri. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, pemuda itu bergerak menerobos kepekatan malam dengan langkah tertatih-tatih.

********************

“Ohhh...,” Suminta mengerang seraya menyandarkan tubuhnya di dinding rumah.

Saat ini sudah lewat tengah malam. Hembusan angin sudah semakin dingin ketika Suminta tiba di rumahnya. Pemuda malang itu langsung bergerak ke belakang rumah untuk membersihkan wajahnya dengan air sumur.

“Akh...?!” Suminta menahan jeritannya ketika wajahnya dirasakan perih. Lalu kakinya melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Sinar pelita yang temaram menerpa tubuhnya ketika ia berada di dalam rumah. Suminta langsung menuju kamarnya, dan membaringkan tubuhnya disertai helaan napas berat.

“Keparat kau, Wintarsa...!” umpat Suminta sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat.

Suminta benar-benar geram sekali terhadap pemuda kaya yang sombong dan kejam itu. Hatinya mengeluh bila mengingat perbedaan kehidupannya dengan Wintarsa yang laksana bumi dan langit.

Pemuda putra tunggal seorang juragan terkaya di Desa Margaluyu itu memang seringkali memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Apa yang diinginkannya harus tercapai, meskipun dengan jalan kekerasan. Tidak sedikit orang yang telah menjadi korban tindak kesewenang-wenangan pemuda jahat itu. Tapi, orangtua Wintarsa selalu membela putranya, dan membungkam mulut orang-orang desa yang menjadi korban putranya dengan sekantung uang.

Orang-orang desa tidak berani menuntut karena sudah ada beberapa penduduk yang kedapatan tewas. Hal itu disebabkan karena mereka tidak mau menerima uang pembungkam dari juragan kaya itu. Sedangkan Kepala Desa Margaluyu tidak berani mengambil tindakan. Ia lebih suka menutup mata, dan tak mau melihat kejadian di sekelilingnya.

“Hhh...,” Suminta kembali mengeluh bila teringat akan keadaan dirinya.

Suminta tahu, yang menjadi incaran Wintarsa adalah Darmi, kekasihnya. Dan juga diketahuinya, Wintarsa tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan Darmi. Ingatan itu membuat Suminta bangkit dari tidurnya. Otaknya bekerja cepat untuk mencari jalan keluar dari persoalan ini.

“Hm..., satu-satunya jalan, aku harus membawa lari Darmi meninggalkan desa ini...,” gumam Suminta mengambil keputusan, setelah mempertimbangkan segala akibatnya. Semua itu dilakukan karena ia sangat mencintai kekasihnya, dan tidak rela kalau Darmi jatuh ke tangan Wintarsa.

Berpikir demikian, Suminta bangkit dan mem-buntal beberapa pakaiannya. Kemudian bergegas keluar dari dalam kamar. Sebelum meninggalkan rumah, kakinya melangkah ke ruangan depan untuk melihat kedua orangtuanya yang menurut pikirannya pasti masih terlelap.

“Eh...?!” Kening Suminta berkerut ketika melihat ruangan depan berantakan. Meja kursi tampak terbalik, seperti sengaja diobrak-abrik orang!

“Ayah...?!” Suminta tercekat ketika di dalam keremangan sinar pelita, dilihatnya sesosok tubuh berlumuran darah tengah tergeletak di dekat meja yang terbalik. Pemuda itu langsung melompat, dan memeriksa keadaan ayahnya.

Bukan main sedihnya hati Suminta ketika ia mendapat kenyataan bahwa lelaki tua itu telah tewas. Beberapa luka bekas pukulan tampak membiru di sekujur tubuh ayahnya. Jelas orang tua itu telah disiksa sampai tewas!

“Ibu...?!”

Seperti disengat kalajengking, Suminta melepaskan tubuh ayahnya. Cepat ia melesat ke dalam ketika teringat akan ibunya. Dan, apa yang disaksikannya benar-benar membuat hati pemuda itu hancur luluh. Suminta meraung bagaikan seekor singa luka. Wajahnya pucat. Kedua kakinya serasa gemetar karena tidak sanggup menyaksikan pemandangan di depan matanya. Suminta jatuh dengan bertelekan kedua lututnya. Lalu, sambil menangis sesenggukan, pemuda itu menekap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Ibu...!” Suminta menguatkan hatinya untuk bergerak bangkit dan memasuki kamar orangtuanya. Wajah pemuda yang sembab oleh bekas luka-luka pukulan, tampak pucat berlinang air mata. Hatinya benar-benar hancur melihat tubuh ibunya tergantung di tiang rumah dengan lidah terjulur!

Dengan kedua tangan gemetar, Suminta menurunkan tubuh ibunya. Angkin yang biasanya melingkar di pinggang perempuan yang melahirkannya itu, tampak menjerat leher. Sekilas pemuda itu menyangka kalau ibunya sengaja menggantung diri. Tapi Suminta dapat meraba, apa yang membuat ibunya sampai gantung diri. Dan, ia pun sudah mulai menduga apa yang menyebabkan kematian ayahnya.

“Hm..., tidak salah lagi. Ini pasti perbuatan si keparat Wintarsa. Mungkin ia datang ke tempat ini untuk mencariku. Tapi, karena ayah tidak memberitahukannya, maka ia pun menyiksanya sampai tewas. Sedangkan ibu, mungkin sengaja bunuh diri ketika melihat ayah tewas! Benar-benar biadab sekali pemuda laknat itu! Ia sepantasnya menjadi iblis...!” geram Suminta dengan hati terselimut dendam membara.

Teringat akan Wintarsa, Suminta langsung saja melesat keluar dengan maksud untuk meminta tanggung jawab Wintarsa atas kematian kedua orangtuanya. Tapi, langkah pemuda itu tertahan ketika di depan rumahnya telah berkumpul beberapa orang penduduk yang rumahnya tidak berjauhan dengan tempat tinggal pemuda itu.

“Suminta, kau hendak ke mana...?” tanya salah seorang pemuda sambil melangkah menghampiri Suminta yang berdiri dengan wajah pucat, dan sepasang mata merah menyala terbakar api dendam.

“Akan kubunuh keparat keji itu...!” desis Suminta yang membuat tetangganya bergetar ketika mendengar ucapan pemuda itu.

“Percuma, Suminta. Kalau kau pergi juga, itu sama saja dengan bunuh diri! Sebaiknya tinggalkan saja desa ini. Bawa kekasihmu pergi jauh-jauh. Kami tidak bisa berbuat lain kecuali menasihatimu. Kau tahu sendiri, apa akibatnya orang yang berani mencampuri urusan pemuda mata keranjang yang jahat itu...,” ujar seorang lelaki setengah baya.

Menilik dari ucapan lelaki setengah baya itu, dapat diketahui kalau para tetangga Suminta telah tahu tentang kematian orangtuanya. Hanya saja mereka tidak bisa berbuat lain, kecuali mengutuk Wintarsa yang berhati iblis itu. Kalaupun mereka kini memergoki Suminta, itu karena mereka sempat mendengar raungan pemuda itu di saat melihat ibunya yang tewas tergantung.

“Tidak! Biarpun harus mati, aku tetap akan mendatangi pemuda iblis itu! Ia sudah tidak pantas lagi untuk disebut sebagai manusia, Ki. Pemuda itu jelas merupakan iblis berkedok manusia...!” bantah Suminta, tetap berkeras hendak membalas kematian kedua orangtuanya.

“Kalau kau berkeras hendak membalas kematian orangtuamu sekarang juga, terserahlah. Tapi, perlu kau ingat! Siapakah yang kelak akan membalaskan sakit hati mereka, bila kau sampai tewas sebelum sempat menyentuh tubuh pemuda iblis itu? Sampai hatikah kau membiarkan arwah kedua orangtuamu menjadi setan-setan penasaran karena dendamnya tak terbalaskan? Hanya karena kecerobohan dan ketololan putranya. Sadarlah, Suminta. Agar dendammu itu terlaksana, sebaiknya menyingkirlah untuk sementara waktu. Ajaklah kekasihmu meninggalkan desa ini. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekalmu membalas kematian orang tuamu. Mengenai mayat kedua orangtuamu, biarlah kami yang urus.”

Ucapan lelaki tua itu membuat hati Suminta lumer. Kepalanya bagaikan tersiram air dingin. Kesadarannya pun pulih kembali ketika orang tua itu menyebut-nyebut tentang setan-setan penasaran jelmaan ayah ibunya.

“Terima kasih, Ki. Juga saudara-saudara semua. Baiklah, aku akan menyingkir dari desa ini sesuai anjuran kalian. Tolong urus mayat kedua orangtuaku baik-baik. Mudah-mudahan kelak aku bisa membalas kematian mereka. Agar arwah-arwah mereka dapat tenang, dan tidak menjadi setan-setan penasaran...,” ujar Suminta, setelah terdiam beberapa saat lamanya. Kemudian, setelah berpamitan kepada para tetangga, Suminta segera berlari menerobos kegelapan malam menjelang fajar.

“Hhh...! Satu lagi korban kekejaman pemuda laknat itu. Entah keluarga mana yang menjadi korban selanjutnya...?” desah lelaki tua berusia lima puluh tahun yang baru saja menasihati Suminta.

Para penduduk Desa Margaluyu baru bergerak mengurus mayat kedua orangtua Suminta, setelah bayangan pemuda malang itu lenyap ditelan kegelapan malam.

********************

DUA

Tok, tok, tok...!

Ketukan di pintu kayu itu demikian kuat, sehingga membangunkan penghuninya yang sedang terlelap tidur. Seorang lelaki setengah baya bergerak ke pintu, setelah menyambar sebilah golok yang terselip di dinding rumah.

“Siapa...?” tanya lelaki setengah baya itu dengan wajah tegang. Meskipun Desa Margaluyu tidak pemah dijarah perampok atau sebangsanya, namun lelaki setengah baya itu tetap saja curiga.

“Aku, Ki. Suminta...,” sahut suara di balik pintu yang kedengarannya tegang dan terburu-buru.

Mendengar nama Suminta dan suaranya yang telah dikenal baik, lelaki setengah baya itu segera membukakan pintu. Seketika wajahnya tampak kaget ketika melihat wajah Suminta yang masih sembab, seperti habis berkelahi.

“Apa yang terjadi, Suminta...? Mengapa wajahmu penuh luka bekas pukulan...?” tanya lelaki setengah baya yang bernama Ki Pawaka itu dengan wajah cemas. Diajaknya Suminta masuk, namun pemuda itu menolak.

“Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya, Ki. Aku harus segera membawa Darmi meninggalkan desa ini. Kedua orangtuaku telah tewas terbunuh. Sedangkan aku dihajar habis-habisan oleh si keparat Wintarsa dan tukang pukulnya. Dugaanku, pemuda keparat itulah yang telah membunuh kedua orangtuaku. Itulah sebabnya, aku datang malam-malam begini hendak membawa Darmi pergi. Mana Darmi, Ki...?” jelas Suminta terburu-buru seraya menorehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Seolah-olah ia khawatir kedatangannya diketahui orang lain.

“Kakang...! Ada apa...?!” Seraut wajah manis yang tampak masih kusut, datang menghampiri kedua orang lelaki itu. Suminta langsung saja menarik tangan Darmi yang tampak keheranan itu.

“Kita harus segera meninggalkan desa ini, Darmi. Kalau tidak, cepat atau lambat Wintarsa pasti akan menculikmu. Ayolah kita pergi...!” ajak Suminta.

Wajah Darmi langsung pucat mendengar ucapan kekasihnya. Apalagi ketika dilihatnya wajah Suminta yang biru sembab seperti habis dipukuli orang.

“Tapi...”

“Nanti kujelaskan di perjalanan. Cepat berkemaslah! Kita harus meninggalkan desa ini sebelum fajar...!” potong Suminta tanpa memberi kesempatan kepada kekasihnya untuk bertanya-tanya lagi.

“Cepatlah, Darmi. Menurutku, ini memang merupakan jalan satu-satunya untuk menghindari pemuda keparat itu...!” Ki Pawaka ikut pula menyuruh putrinya untuk berkemas. Jelas orang tua itu setuju dengan tindakan Suminta. Karena ia sendiri sudah merasa putus asa ketika mengetahui bahwa Wintarsa mengincar putrinya.

Tanpa banyak cakap lagi, Darmi segera berkemas. Kemudian, keduanya berpamitan kepada Ki Pawaka yang mengantarkan kepergian putrinya dengan mata berair.

“Hati-hatilah, semoga kalian bisa mendapatkan ketenangan di tempat lain...,” ucap Ki Pawaka. Hati lelaki setengah baya itu sebenarnya sedih karena bagaimanapun juga, ia merasa berat melepas kepergian putrinya.

“Mudahan-mudahan kita dapat bertemu lagi, Ki...,” ujar Suminta yang diam-diam merasa terharu mendapat kepercayaan dari Ki Pawaka untuk membawa pergi putri tunggalnya.

Ki Pawaka baru menutup daun pintu rumahnya ketika bayangan Suminta dan Darmi lenyap ditelan kegelapan. Kini lelaki setengah baya itu harus memikirkan jalan keluar untuk selamat dari tumpahan kemarahan Wintarsa, bila pemuda itu datang mencari Darmi.

********************

Matahari belum begitu tinggi ketika lima orang penunggang kuda berpacu cepat meninggalkan Desa Margaluyu. Sikap mereka tampak terburu-buru seperti tengah mengejar sesuatu. Hal itu terlihat dari cara mereka memacu binatang tunggangan masing-masing, yang berlari cepat bagaikan dikejar setan.

“Hea..., heaaa...!”

Penunggang kuda yang terdepan adalah seorang pemuda tampan pesolek. Melihat dari raut wajahnya, usianya paling tidak sekitar dua puluh tahun lebih. Sepasang matanya tampak seringkali meredup, membayangkan kelicikan dan kekejaman. Siapa lagi pemuda tampan pesolek itu kalau bukan orang yang dipanggil sebagai Tuan Muda Wintarsa oleh penduduk Desa Margaluyu.

Sedangkan empat orang lelaki penunggang kuda lainnya, rata-rata bertubuh kekar dan bermata tajam menyeramkan. Wajah mereka membayangkan sifat yang kasar dan bengis. Keempat orang itu adalah tukang pukul Wintarsa. Mereka selalu menyertai ke mana pemuda itu pergi. Meskipun tidak jarang pemuda itu hanya membawa dua orang dari mereka. Kalau kali ini keempat tukang pukulnya dibawa, tentu ada sesuatu hal yang membuat pemuda itu marah.

Kelima ekor kuda yang tampak kekar dan kuat itu melesat bagaikan anak panah membelah semak-semak yang menghalangi jalan. Mereka telah cukup jauh meninggalkan Desa Margaluyu, dan mulai memasuki jalan berbatu yang tidak rata. Meskipun demikian, kelima penunggang kuda itu sama sekali tidak memperlambat lari kudanya.

“Itu mereka, Tuan Muda...!” tiba-tiba salah seorang di antara tukang pukul Wintarsa berseru sambil menudingkan jari telunjuknya ke depan, ke arah dua orang yang tengah berjalan terburu-buru.

“Hm..., sudah kuduga mereka pasti belum pergi jauh...,” gumam Wintarsa menggeram, menekan kemarahan yang siap meledak

“Celaka...!” Pemuda tampan berkulit kecoklatan yang berjalan sambil menggenggam tangan gadis di sampingnya, berseru dengan wajah pucat. Jelas para penunggang kuda yang berada di belakang mereka telah diketahuinya.

“Bagaimana ini, Kakang...?” terdengar suara gadis manis berkulit kuning langsat itu penuh kecemasan.

Ternyata mereka adalah Suminta dan Darmi yang meninggalkan Desa Margaluyu untuk menghindari kekejaman Wintarsa. Sayang, mereka dapat ditemui oleh orang yang dikhawatirkan itu.

“Berhenti...!” seru Wintarsa keras ketika melihat Suminta dan Darmi berlari menerobos hutan lebat di sebelah kanan mereka.

Sambil berkata demikian, pemuda itu cepat membedal kudanya yang langsung melesat dengan kecepatan kilat. Di belakang, empat orang tukang pukulnya bergegas mengejar dengan jalan menyebar. Jelas mereka menghadang dua orang itu dari depan.

Meskipun Suminta dan Darmi berusaha berlari secepatnya, tapi mereka tak mampu berpacu dengan kuda-kuda yang kokoh itu. Sebentar saja, dua orang tukang pukul Wintarsa telah menghadang langkah mereka.

“He he he...! Mau lari ke mana kau, heh...?!” ujar salah seorang tukang pukul Wintarsa yang berwajah brewok dengan bekas luka di pipi kanannya. Kemudian ia segera melompat turun dari punggung kudanya, diikuti rekannya.

“Keparat! Kalian benar-benar iblis!” maki Suminta sambil mencabut senjata, siap melindungi kekasihnya dari ancaman orang-orang kasar itu.

“Hm..., jangan sok berpura-pura sebagai pahlawan, Suminta! Berani sekali kau membawa lari perempuan yang telah menjadi pilihan tuan muda kami! Rupanya kau memang patut dibikin mampus...!” geram salah sseorang dari kedua tukang pukul Wintarsa.

“Surgala, tahan...!”

Tiba-tiba terdengar teriakan keras yang mencegah tindakan kedua orang tukang pukul itu. Wintarsa langsung melompat turun dari atas punggung kudanya. Kemudian, melangkah lebar dengan sikap sombong menghampiri Suminta dan Darmi.

“Kau benar-benar iblis berkedok manusia, Wintarsa! Mengapa kau masih juga mengejar kami? Apakah nyawa kedua orangtuaku masih belum membuatmu puas...?!” geram Suminta yang benar-benar merasa benci sekali kepada pemuda pesolek di depannya itu.

“Kurang ajar! Apa maksudmu, Suminta? Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan itu. Sebaiknya cepat kau serahkan Darmi kepadaku. Dan, kau boleh pergi ke mana kau suka...!” bentak Wintarsa yang menjadi berang ketika mendengar perkataan Suminta yang memang tidak dimengerti olehnya, atau Wintarsa berpura-pura bodoh?

“Huh! Sandiwaramu sudah basi, Wintarsa! Semua orang Desa Margaluyu sudah tahu akan sifatmu yang selalu ingin memiliki apa yang kau inginkan. Kau tidak peduli apakah caramu itu kotor atau tidak, yang penting keinginanmu terlaksana. Sekarang kau coba memungkiri perbuatanmu yang telah membunuh kedua orangtuaku secara biadab!” ujar Suminta tidak kalah gertak.

Suminta kini kelihatan tidak lagi gentar terhadap Wintarsa dan tukang-tukang pukulnya. Hal itu dikarenakan ia sadar kalau dirinya tak mungkin dapat selamat lagi. Sehingga, rasa takut yang ada di hatinya segera ditepiskan.

“Keparat! Hajar pemuda bermulut besar itu...!” perintah Wintarsa dengan wajah berang. Sebentar saja, dua di antara empat orang tukang pukul pemuda itu telah menerjang Suminta.

“Heaaah...!”

Suminta tidak mau menyerah begitu saja. Cepat pedangnya dikibaskan memberi perlawanan. Sebentar saja, ketiganya telah terlibat dalam pertarungan yang sengit, tapi berat sebelah!

Bukkk!

Sebuah pukulan keras mendarat tepat di dada Suminta! Tubuh pemuda itu langsung terjengkang, dan dari mulutnya keluar darah segar! Meskipun demikian, Suminta bergegas bangkit dan siap melanjutkan pertarungan.

“Kakang...!” seru Darmi seraya memburu tubuh Suminta yang tampak tengah berdiri bergoyang-goyang merasakan dadanya yang sesak dan seperti remuk itu.

Wintarsa yang melihat gerakan Darmi, segera melesat dan menangkap tubuh gadis desa itu. Kemudian, memeluknya erat-erat. Dara manis itu hanya bisa menangis sedih melihat kekasihnya dihajar habis-habisan oleh dua orang tukang pukul Wintarsa.

“Jangan...! Lepaskan Kakang Suminta, biarkan dia pergi! Aku akan menuruti perintahmu kalau kau mau melepaskannya, Wintarsa...!” seru Darmi di antara isak tangisnya yang memilukan. Jelas Darmi tidak ingin melihat kekasihnya disiksa sampai mati. Gadis itu lebih suka mengorbankan dirinya ketimbang melihat kematian pemuda yang dicintainya.

“Betulkah ucapanmu itu, Darmi...?” tanya Wintarsa seraya mendekatkan wajahnya ke wajah gadis manis itu. “Aku memang sudah lama merindukanmu, Darmi. Dan, sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Untuk apa kau pilih Suminta yang bodoh dan miskin itu...?”

“Bebaskan dia, dan aku akan menuruti semua keinginanmu...,” ujar Darmi sambil menghindari ciuman pemuda yang sepertinya sudah kerasukan setan itu.

Sementara itu, Suminta sudah jatuh bangun dipermainkan oleh dua orang tukang pukul Wintarsa. Darah segar bercucuran dari mulut dan hidungnya. Meskipun demikian, kedua orang tukang pukul itu belum juga berhenti menyiksanya.

Desss...!

“Huakh...!”

Sebuah tendangan keras kembali menghantam tubuh Suminta. Tubuh pemuda itu langsung terjengkang dan memuntahkan darah segar. Suminta terkapar tanpa mampu bangkit lagi.

“Hiaaa...!”

Desss...!

Kembali sebuah tendangan keras menerpa wajah Suminta. Tubuh pemuda itu tersentak ke atas, dan jatuh berdebuk ke tanah dengan suara keras. Terdengar suaranya merintih lirih. Tubuhnya bergerak-gerak lemah, tidak mampu untuk berdiri.

“Kakang...!” Darmi menjerit keras ketika melihat tubuh Suminta terkapar berlumuran darah. Gadis itu berontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari dekapan Wintarsa. Tapi, tenaga Wintarsa yang kuat membuatnya tak berdaya. Darmi akhirnya hanya bisa merintih pilu melihat Suminta yang masih bergerak-gerak lemah di atas tanah.

“Habisi dia...!” Wintarsa kembali memerintah tukang pukulnya, sambil membawa Darmi yang hanya mampu berteriak-teriak dengan wajah bersimbah air mata.

“Hm..., manusia-manusia kejam...!” Tiba-tiba terdengar teguran halus. Dan bersamaan dengan itu, muncul sesosok pemuda tampan mengenakan jubah putih panjang. Sepasang mata pemuda itu menyorot tajam menggetarkan jantung kedua orang tukang pukul yang hendak menyelesaikan perintah tuannya.

“Siapa kau, Kisanak?! Harap jangan mencampuri urusan kami...!” bentak tukang pukul berwajah brewok, seraya mengepalkan tinjunya yang besar dan tampak kuat. Sepertinya ia hendak menggertak pemuda tampan itu, yang menurutnya akan segera lari ketakutan.

Sayang, pemuda itu sama sekali tidak gentar. Kakinya malah melangkah perlahan mendekati kedua tukang pukul Wintarsa yang menjadi marah melihat kebandelan pemuda itu.

“Hm..., rupanya kau pun ingin merasakan kerasnya kepalanku...!” geram lelaki brewok yang bernama Surgala itu. Kemudian, ia melangkah menghampiri pemuda itu, dan kepalannya langsung dilayangkan dengan separuh tenaga.

Bukkk!

“Uuugh...!” Pukulan keras Surgala mendarat telak di dada lawannya. Tapi, bukannya tubuh pemuda itu yang terjengkang, melainkan tubuhnya sendiri yang terjajar mundur. Lelaki kekar itu tampak memijat-mijat kepalan tangannya yang terasa sakit. Wajahnya tampak dihantui keheranan besar. Belum lagi keterkejutan Surgala hilang, tiba-tiba terdengar jerit kesakitan, yang disusul melayangnya sesosok tubuh tegap ke arah mereka.

Brukkk!

“Tuan Muda...?!” seru Suminta dan ketiga orang kawannya.

Mereka terkejut sekali ketika mengenali sosok tubuh yang terbanting di dekat mereka itu. Cepat kepala mereka menoleh ke arah semak-semak, di mana majikan mereka tadi menghilang. Dan, dari tempat itu muncul seorang dara jelita berpakaian serba hijau sambil membimbing Darmi. Jelas dara jelita itulah yang melemparkan tubuh Wintarsa.

“Siapa kalian sebenarnya...?” tanya Surgala bernada menuntut jawaban dari pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau, yang telah berdiri berdampingan mengapit Darmi.

“Hm..., mengenai jati diri kami tidaklah perlu. Yang jelas, kami adalah orang-orang yang membenci tindakan sewenang-wenang!” tegas pemuda tampan berjubah putih itu dengan suara mantap.

Wintarsa yang baru saja bangkit berdiri, cepat mengebut-ngebutkan pakaiannya yang terkena debu. Wajahnya terangkat menatap seraut wajah jelita berpakaian serba hijau. Pemuda pesolek itu tidak lagi melihat daya tarik Darmi ketika kedua wanita itu berdiri berjejer. Sampai-sampai Wintarsa menelan air liurnya melihat dara jelita yang sama sekali belum pernah dijumpainya dalam mimpi sekalipun. Tak mengherankan kalau pemuda mata keranjang itu tidak bisa berbicara untuk beberapa saat lamanya. Sepasang matanya yang berminyak, bergerak liar menjelajahi sekujur tubuh dara jelita berpakaian serba hijau itu.

“Hm...,” dara jelita berpakaian serba hijau itu tampak marah. Sepasang matanya yang besar dan indah itu menyorot tajam. Agaknya ia tidak suka dengan sikap Wintarsa yang dianggapnya tidak sopan. Dan, tahu-tahu saja tubuhnya melesat ke arah Wintarsa dengan tamparan keras ke wajah pemuda pesolek itu.

Plakkk!

Surgala yang melihat majikannya terancam, segera melesat menyambut datangnya serangan dara jelita itu. Akibatnya, tubuhnya terpental balik dan hampir terpelanting. Untunglah salah seorang di antara kawannya bergerak menyelamatkannya.

“Gila! Kalian ini setan atau manusia...?!” pekik Surgala yang baru kali ini merasa dipecundangi oleh seorang wanita dengan sekali gebrak! Dan ia sama sekali tidak bisa mencegah ketika gadis itu melanjutkan serangannya ke arah Wintarsa.

Whuuut...!

Tamparan keras yang mendatangkan angin berkesiutan itu luput ketika Wintarsa menggeser langkahnya ke kiri, dan terus melompat ke belakang. Tentu saja gadis berpakaian serba hijau itu menjadi penasaran. Maka, ia pun kembali mengejar dengan serangan berikutnya.

Meskipun merasa gentar, Surgala segera memerintahkan kawan-kawannya untuk melindungi majikan mereka. Cepat keempat orang tukang pukul itu menghunus senjata, dan langsung mengeroyok dara jelita itu. Namun, pemuda tampan berjubah putih itu rupanya tidak tinggal diam. Tubuhnya langsung melayang, menghadang keempat orang tukang pukul Wintarsa.

“Biarkan mereka bermain-main sebentar. Kalau kalian merasa sudah gatal tangan, biarlah aku yang akan menghadapi kalian...,” ujar pemuda tampan yang berdiri tegak dan menunggu datangnya serangan lawan.

“Keparat! Kucincang tubuhmu...!” pekik Surgala yang benar-benar jengkel melihat pemuda tampan itu meng-hadangnya. Cepat pedangnya dibabatkan secara mendatar dengan maksud hendak membabat putus tubuh pemuda itu.

Sementara itu, tiga orang tukang pukul lainnya tidak tinggal diam. Mereka langsung bergerak mengeroyok pemuda tampan berjubah putih itu, yang berloncatan menghindari sambaran empat pedang lawannya.

Plakkk! Desss...!

Salah seorang lawan yang membacokkan pedangnya dari atas ke bawah, dipapaki telapak tangan pemuda itu. Dan ia pun langsung mengirimkan hantaman telapak tangan kanannya ke dada lawan. Akibatnya, tubuh orang itu terjengkang dan memuntahkan darah segar. Kemudian, diam tak bergerak lagi. Pingsan!

Surgala dan ketiga orang kawannya menjadi marah bukan main. Mereka menerjang pemuda tampan itu dengan serangan yang cepat dan kuat. Tapi, lagi-lagi salah seorang dari pengeroyok itu terpaksa keluar dari arena pertarungan. Tendangan pemuda tampan itu membuat lawannya langsung pingsan. Melihat dari gerakannya, kelihatan sekali kalau pemuda itu sengaja tidak menurunkan tangan kejam kepada lawan-lawannya.

Setelah tiga jurus berlalu, kedua orang lawan terjungkal. Surgala dan seorang kawannya itu langsung terlempar akibat tamparan keras yang menghantam pelipis dan perut mereka. Sebentar saja, keempat orang tukang pukul Wintarsa itu sudah bergeletakan tak berdaya.

TIGA

Setelah menundukkan keempat orang lawannya, pemuda tampan berjubah putih yang tak lain dari Panji, atau yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Naga Putih itu menoleh sekilas ke arah pertarungan lainnya. Menyaksikan betapa dara jelita berpakaian hijau itu tengah menghajar lawannya hingga jatuh bangun, Panji melangkah ke arah Suminta yang tengah ditangisi Darmi.

Darmi menyingkir sedikit, seolah-olah hendak memberikan peluang kepada penolongnya untuk memeriksa kekasihnya. Tanpa banyak cakap lagi, Panji segera memeriksa Suminta. Namun, pemuda tampan itu hanya bisa menghela napas ketika mengetahui bahwa Suminta sudah tidak bernyawa lagi. Rupanya luka-luka di sekujur tubuh pemuda desa itu telah banyak mengeluarkan darah. Akibatnya, Suminta menghembuskan napasnya yang terakhir sebelum Panji sempat menolongnya.

“Menyesal sekali, Nisanak. Kawanmu ini tidak bisa tertolong lagi. Relakanlah kepergiannya...,” ucap Panji seraya mengusap wajah Suminta yang tampak sepasang matanya masih terbuka seperti menyimpan penasaran dan kebencian yang dalam.

“Kakang...,” desis Darmi. Air matanya serasa telah habis karena terlalu banyak menangis. Gadis itu hanya bisa merintih pilu menyaksikan kekasihnya tewas.

“Tabahkan hatimu, Nisanak...,” ucap Panji perlahan.

Pendekar Naga Putih yang semula hendak mengangkat mayat Suminta, menjadi terkejut ketika mendengar pekik kaget di belakangnya. Tentu saja Panji kenal betul dengan suara kekasihnya. Maka, pemuda berjubah putih itu cepat membalikkan badan, hendak mengetahui apa yang terjadi dengan kekasihnya.

“Eh?!” Panji menahan seruannya ketika melihat kekasihnya tampak tersunat mundur dengan wajah agak pucat. Cepat pemuda itu melesat ke arah pertempuran yang tengah terhenti.

“Hei...! Apa yang terjadi dengan pemuda itu...?” desis Panji yang juga menjadi terkejut ketika telah berada di dekat Kenanga, yang saat itu tengah berhadapan dengan Wintarsa.

“Aku tidak tahu, Kakang. Ketika ia terjatuh oleh pukulanku yang keras, tahu-tahu saja pemuda itu menggereng seperti singa luka. Dan.., wajahnya berubah mengerikan...!” desis Kenanga dengan wajah agak pucat. Kelihatan sekali kalau dara jelita itu sangat terkejut melihat perubahan pada lawannya, yang sama sekali tidak pernah diduganya.

Wajar kalau Kenanga yang semula menghajar habis-habisan pemuda pesolek itu menjadi terkejut. Ia memang merasa benci melihat perbuatan pemuda itu terhadap gadis lemah yang ditolongnya. Karena itu, ia sengaja tidak memukul roboh Wintarsa, tapi menjadikan tubuh pemuda itu bulan-bulanan agar ia kapok. Sungguh tidak disangka kalau tiba-tiba pemuda pesolek itu berubah menakutkan!

“Grrrrg...!”

Kembali terdengar suara gerengan yang menggetarkan jantung. Suara itu keluar dari kerongkongan Wintarsa. Wajah pemuda itu tampak gelap seperti orang yang kehilangan ingatan. Bahkan, sepasang matanya memancar-kan sorot yang demikian menggetarkan jantung. Entah apa yang sudah terjadi dengan pemuda pesolek itu.

“Hm..., jelas ada sesuatu yang tidak wajar pada diri pemuda itu. Aku belum tahu apa penyebabnya. Yang pasti, kurasa ia sangat berbahaya sekali. Kau menyingkir dulu, Kenanga. Biar aku yang akan mengatasinya...,” ujar Panji yang sempat tergetar juga hatinya melihat sorot wajah dan tatapan pemuda pesolek itu.

Namun, yang diincar Wintarsa ternyata bukan Panji. Terbukti sepasang mata yang merah menyala itu bergerak mengikuti langkah Kenanga, yang meninggalkan arena pertarungan. Kembali terdengar gerengannya yang meng-getarkan tempat itu.

Meskipun sadar bahwa dirinyalah yang diincar pemuda itu, Kenanga tetap saja melanjutkan langkahnya. Dara jelita itu sama sekali tidak merasa khawatir kalau tiba-tiba pemuda itu menyerangnya. Sebab, ia merasa yakin Panji tidak akan tinggal diam.

“Kreaaagh...!”

Mendadak Wintarsa memekik laksana binatang buas yang kesakitan. Berbarengan dengan itu, tubuhnya yang tegap melayang ke arah Kenanga dengan jari-jari terkembang, siap mencengkeram tubuh dara jelita ber-pakaian hijau itu.

“Hm...,” Panji tentu saja tidak tinggal diam. Bagai kilat, tubuh pemuda tampan itu melesat cepat memotong gerak lawan yang hendak mencelakai kekasihnya.

Plakkk! Plakkk!

“Heh...?!”

Terdengar benturan keras dua kali berturut-turut yang memekakkan telinga. Dan, kedua sosok tubuh yang saling berbenturan lengan itu sama-sama terdorong ke belakang. Tentu saja Panji tidak menduga sama sekali kalau lawannya memiliki kekuatan yang hebat.

Dengan gerakan yang indah, tubuh Pendekar Naga Putih berputar dua kali di udara, kemudian mendarat ringan di atas tanah. Namun, pemuda itu menjadi terkejut ketika melihat tubuh lawannya kembali sudah melayang mengejar Kenanga.

“Gila...! Hebat sekali pemuda itu...!” desis Panji yang tentu saja jadi tidak habis pikir. Kalau memang pemuda itu benar-benar memiliki kepandaian tinggi, mengapa ketika Kenanga menolong Darmi, ia bisa dihajar dengan mudah?

Tapi, Panji tidak sempat lagi memikirkan keanehan itu lebih jauh. Sebab, saat itu Kenanga telah bertarung dengan Wintarsa. Tampak Kenanga terdesak oleh serangan-serangan ngawur, tapi berbahaya dari pemuda itu. Cepat Panji melesat memasuki arena pertempuran.

“Hait...!”

Plakkk, plakkk.... Desss...!

Begitu memasuki arena pertarungan, Pendekar Naga Putih langsung memapaki tamparan Wintarsa dan mengirimkan sebuah pukulan keras yang telak menghantam dada kiri pemuda itu. Akibatnya, tubuh pemuda pesolek itu terpental ke belakang sejauh satu tombak lebih.

Namun, kembali Panji diliputi keheranan besar. Hantaman telapak tangannya yang mampu meremukkan batu karang itu, ternyata sama sekali tidak membuat tubuh lawannya luka. Bahkan, saat telapak tangannya menyentuh dada pemuda aneh itu, Panji merasakan dari tubuh pemuda itu ada sebuah kekuatan yang menolak hantaman telapak tangannya. Tentu saja Pendekar Naga Putih menjadi semakin terkejut dan heran!

“Tahan...!” tiba-tiba Panji mengeluarkan bentakan nyaring ketika melihat pemuda aneh itu sudah bersiap hendak menerjangnya kembali.

Pendekar Naga Putih memang sengaja mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya melalui bentakan itu. Hal itu dilakukannya untuk melenyapkan pengaruh kekuatan sihir yang mungkin berada dalam diri pemuda pesolek itu. Tapi, bentakan itu sama sekali tidak membuat Wintarsa berubah. Sosoknya tetap menggetarkan dengan sorot mata memerah!

Kenanga sendiri yang mendengar bentakan kekasihnya, terjajar limbung. Untunglah tenaga saktinya cukup untuk melindungi isi dadanya dari guncangan hebat akibat bentakan itu. Kalau tidak, gadis ini mungkin sudah jatuh pingsan.

Darmi, gadis desa yang tidak memiliki ilmu silat itu, merasakan akibat bentakan yang dikeluarkan Panji. Gadis berwajah manis itu seperti diangkat dari tempat duduknya. Sehingga, ia jatuh dan tak sadarkan diri. Untung saja jarak Darmi dan Panji terpisah tiga tombak lebih. Kalau tidak sejauh itu, mungkin Darmi terpaksa harus merelakan nyawanya melayang dari badan.

Wintarsa sendiri menjawab bentakan Panji dengan sebuah gerengan yang tidak kalah kuatnya. Bahkan angin berhembus keras ketika pemuda itu mengeluarkan gerengannya yang panjang. Sehingga, Panji sendiri terpaksa mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi dada.

“Kenanga, bawa gadis itu menjauhi tempat ini...!” seru Panji mengingatkan kekasihnya akan bahaya yang menimpa Darmi. Untunglah gadis itu telah jatuh pingsan. Kalau tidak, nasibnya tidak akan tertolong lagi!

Kenanga yang merasakan kedua kakinya hampir lumpuh akibat gerengan Wintarsa, segera bergerak mendekati Darmi. Kemudian membawa tubuh gadis desa itu menjauhi arena pertarungan yang benar-benar mengerikan itu.

“Hm..., kalau didiamkan, pemuda ini jelas sangat berbahaya. Ia sepertinya tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Satu-satunya jalan, aku harus menundukkannya...,” gumam Panji seraya mengerahkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.

Wintarsa kembali mengeluarkan gerengan menggetarkan ketika merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, berhembus menerpa tubuhnya. Kemudian, kaki-nya bergerak maju dengan langkah-langkah aneh seperti orang mabuk. Bahkan gerakan kedua lengannya terlihat sangat kacau dan tidak beraturan. Meskipun demikian, angin yang ditimbulkan terdengar bercicitan menulikan telinga. Jelas, pada sepasang lengan pemuda itu menyembunyikan kekuatan yang hebat.

“Gila...! Ilmu apa yang dipergunakannya...? Tampaknya demikian kacau dan tidak beraturan. Tapi, kekuatan-nya jelas sangat berbahaya. Semua itu mudah ditebak dari sambaran angin yang tercipta dari putaran lengannya. Benar-benar aneh pemuda ini...!” gumam Panji sambil bergerak memutar ketika melihat lawannya semakin mendekat.

“Keeekh...!”

Diiringi pekikan aneh yang sama sekali belum pernah didengar Panji sebelumnya, tubuh pemuda aneh itu melayang ke arah lawannya dengan cakaran-cakaran yang bercicitan merobek udara. Jelas, sambaran yang menimbulkan angin dan menyakitkan gendang telinga itu sangat berbahaya. Bahkan, samar-samar tercium bau racun keluar dari sambaran tangannya.

“Heah...!” Pendekar Naga Putih bergerak ke kanan dengan lompatan kecil, sehingga sambaran cakar lawan dapat dielakkan. Kemudian, ia langsung membalas dengan sebuah tamparan keras ke arah pelipis lawannya. Namun, ketika serangannya dapat dihindari, Panji segera mengirimkan sebuah tendangan kilat ke arah perut lawannya.

Plakkk!

Kembali keduanya terjajar ke belakang ketika tendangan Panji ditepiskan telapak tangan lawannya. Keduanya kembali saling terjang dengan hebatnya, membuat sekitar arena pertarungan seperti dilanda angin topan yang keras. Pepohonan di sekitar tempat itu berderak-derak bagaikan hendak patah.

Kenanga yang menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan, menjadi tegang hatinya. Dara jelita itu benar-benar tidak mengerti, mengapa pemuda tampan yang semula seperti tidak berdaya menghadapi serangannya tadi, kini terlihat sangat tangguh sekali. Bahkan Panji sendiri kelihatan cukup sulit untuk menundukkannya cepat-cepat. Kejadian itu benar-benar membuat Kenanga tidak mengerti.

Sementara itu, pertarungan sengit antara Panji dan Wintarsa masih terus berlanjut. Panji sendiri menjadi penasaran ketika lewat dari enam puluh jurus, ia belum juga mampu menundukkan lawannya. Bahkan, untuk mendesak pun sangat sulit. Karena jurus-jurus aneh lawannya benar-benar sangat tangguh, dan merupakan benteng pertahanan yang sangat kuat.

“Yeaaah...!”

Ketika pertarungan menginjak jurus kedelapan puluh, Pendekar Naga Putih mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah' yang sangat jarang dipergunakannya. Karena hanya dengan suara pekikannya saja, Panji dapat membunuh lawannya. Lantaran pembuluh darah lawannya bisa pecah, akibat pekikan maut itu.

Tapi, untuk kesekian kalinya, Panji kembali harus memuji kehebatan lawan. 'Pekikan Naga Marah'nya sama sekali tidak menimbulkan pengaruh apa-apa pada Wintarsa, yang juga mengeluarkan pekikan menggetar-kan. Jelas, kali ini Pendekar Naga Putih benar-benar menemui lawan yang sangat tangguh!

“Eaaarghhh...!” Ketika pertarungan menginjak jurus yang kedelapan puluh lima, mendadak Wintarsa mengeluarkan gerengan aneh mirip raung singa yang sekarat. Berbarengan dengan itu, ia segera menerjang lawan dengan gerakan-gerakan yang semakin bertambah cepat Dan Panji sendiri menjadi repot dibuatnya.

Desss...!

“Hukkkh...!” Panji tidak sempat lagi mengelakkan sebuah tendangan kuat yang singgah di perutnya. Akibatnya, tubuh pemuda tampan berjubah putih itu terpental ke belakang, sejauh satu setengah tombak.

Untunglah tubuhnya telah dilindungi lapisan kabut bersinar putih keperakan, sehingga tidak membuat pemuda itu terluka parah. Dan, ketika tubuh lawan sudah meluncur dengan kecepatan kilat hendak menghabisi nyawanya, Panji bergerak ke kiri sambil memutar tubuhnya setengah lingkaran. Dari sebelah bawah, sepasang telapak tangannya yang berisikan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', langsung menghantam tubuh Wintarsa dengan telak!

Desss...!

“Huakhhh...!” Kali ini Panji yakin bahwa lawannya tidak mungkin selamat lagi. Sebab, pukulannya itu dikerahkan dengan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Tapi, apa yang diduga Pendekar Naga Putih ternyata meleset. Meskipun lawannya memuntahkan darah segar, namun tetap saja belum mampu membuat pemuda aneh itu tewas. Dan, Panji hampir tidak mempercayai kenyataan yang berada di hadapannya itu.

“Gila...! Bagaimana mungkin ia masih dapat selamat dari pukulanku...? Seberapa kebal pun tubuhnya, paling tidak tulang-tulangnya pasti remuk...?!” desis Panji sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh kekaguman. Tapi, sebelum Pendekar Naga Putih sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba Wintarsa berseru seraya mengibaskan kedua tangan kearahnya.

“Heh...?!” Panji berseru kaget ketika dari kedua telapak tangan Wintarsa menyebar bubuk-bubuk beracun berwarna merah muda.

Pendekar Naga Putih cepat melompat ke belakang sambil memutar sepasang lengannya untuk menghalau bubuk-bubuk beracun, yang menutupi pandangannya. Panji terpaksa harus berhati-hati dengan racun yang ditebarkan lawannya. Sebab, dengan kepandaian lawannya yang sangat tinggi, bukan tidak mungkin racun yang digunakannya dapat mematikan.

“Keparat...!” geram Panji ketika tidak melihat sosok lawannya. Memang, pada saat Pendekar Naga Putih sibuk menghalau bubuk-bubuk beracun itu, Wintarsa telah lenyap. Bahkan, keempat sosok lelaki berpakaian hitam yang menjadi tukang pukul pemuda pesolek itu pun lenyap entah ke mana.

“Ke mana perginya pemuda aneh itu, Kakang...?” tegur Kenanga yang melangkah menghampiri Panji ketika melihat pertempuran telah berakhir. Gadis itu heran ketika tidak menemukan sosok pemuda aneh yang menjadi lawan kekasihnya.

“Hhh..., aku sendiri tidak tahu. Karena khawatir dengan bubuk beracun yang berbahaya itu, maka aku melompat menjauhi racun yang menuju ke arahku. Apakah kau tidak sempat melihatnya tadi...?” Panji balik bertanya karena mungkin saja dara jelita itu melihatnya.

“Arena pertarungan terlalu gelap dipehuni asap merah muda. Sehingga aku tidak bisa melihatnya...,” jawab Kenanga yang juga tidak sempat melihat sosok pemuda aneh itu.

“Hm..., kalau begitu, tinggal satu-satunya orang yang tahu siapa sebenarnya pemuda itu. Dan, kita harus menanyakan kepadanya...,” gumam Panji setelah berpikir beberapa saat lamanya. Kemudian, kakinya melangkah bersama Kenanga ke arah tempat di mana gadis itu meninggalkan Darmi.

Namun, setibanya di tempat persembunyian Kenanga tadi, keduanya tidak menemukan sosok Darmi. Tentu saja kenyataan itu membuat Panji dan Kenanga menjadi kebingungan. Sebab mereka sama sekali tidak melihat ataupun mendengar langkah kaki orang yang melarikan diri.

“Aneh..., ke mana perginya gadis desa yang malang itu...?” desis Panji yang menjadi tidak mengerti dengan apa yang telah dialaminya. Sebab, mana mungkin keduanya dikecoh oleh seorang gadis desa yang lemah itu.

“Mayat pemuda kawannya itu pun sudah tidak ada di tempatnya semula, Kakang...,” ujar Kenanga setelah mengedarkan pandangannya, dan tidak menemukan mayat pemuda desa yang disiksa empat orang berpakaian hitam tadi. “Apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat ini...?”

Panji termenung seolah hendak mencari jawaban dari semua kejadian aneh yang dialaminya barusan. Namun, meskipun telah memeras otaknya, tetap saja apa yang baru saja dialaminya itu belum terpecahkan. Sehingga, pemuda tampan itu hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan kekasihnya.

“Apakah semua ini hanya merupakan tipuan dari seorang ahli sihir, Kakang...?” tanya Kenanga lagi yang sepertinya belum bisa melenyapkan semua keanehan itu dari pikirannya.

“Tidak mungkin, Kenanga. Kalau benar semua ini hanya permainan sihir, pasti sudah punah ketika aku berteriak dengan menggunakan tenaga dalam tadi. Tapi, nyatanya tidak. Bahkan pemuda aneh itu sanggup membalas pekikanku dengan tidak kalah hebatnya. Hanya yang menjadi pertanyaan bagiku sekarang, mengapa gadis desa dan mayat pemuda itu juga lenyap? Apakah mungkin kalau gadis desa yang kelihatan lemah dan hanya bisa menangis itu sanggup membawa mayat pemuda itu? Atau..., mungkin juga ada seorang tokoh sakti yang telah menyelamatkannya tanpa setahu kita...,” hanya itu yang terpikirkan oleh Panji. Sebab, memang tidak ada jalan lain yang bisa digunakan sebagai pemecahan masalah itu.

“Yahhh..., mungkin dugaan itulah yang paling benar untuk saat ini, Kakang...,” desah Kenanga, menyetujui dugaan Panji.

“Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini, Kenanga. Dan, kita harus dapat mencari jawaban dari semua kejadian aneh ini...,” ujar Panji, mengajak Kenanga meninggalkan tempat itu untuk mencari kunci jawaban dari semua keanehan yang baru saja dialami mereka.

********************

EMPAT

Hari masih pagi. Matahari baru saja menampakkan cahayanya yang kuning keemasan. Kehangatan segera menyapu permukaan bumi. Namun, penduduk Desa Margaluyu tampak berduyun-duyun menuju balai desa. Wajah mereka tampak diliputi tanda tanya besar.

Apa yang menimbulkan rasa penasaran di hati para penduduk desa barulah terjawab setelah mereka tiba di balai desa. Sebab, di depan pintu gerbang bangunan itu terdapat dua sosok mayat manusia yang digantung secara biadab.

“Iblis...!” desis seorang lelaki setengah baya dengan wajah membayangkan kengerian yang amat sangat. “Hanya iblislah yang tega melakukannya....”

“Hei...! Bukankah itu Suminta dan Darmi...?!” seru seorang laki-laki bertubuh gemuk, berusia sekitar empat puluh tahun. Jari telunjuknya ditudingkan ke arah dua sosok mayat itu. Jelas, mayat-mayat yang digantung di depan gerbang balai desa itu dikenalinya.

Beberapa orang lelaki yang tampaknya kawan dari lelaki gemuk itu tidak berani menyahut sama sekali. Wajah-wajah mereka tampak pucat karena merasa ketakutan ketika mendengar ucapan kawannya yang agak keras itu.

“Jangan mencari perkara. Sebaiknya, kita berpura-pura tidak mengenali mayat-mayat itu. Apa kau ingin bernasib seperti mereka...?” bisik salah seorang kawannya, yang rupanya mengkhawatirkan nasib lelaki gemuk itu. Sehingga, lelaki gemuk itu menjadi bungkam seperti baru menyadari kesalahannya.

Saat itu matahari semakin naik tinggi. Penduduk Desa Margaluyu tampak semakin banyak yang berdatangan. Desa itu pun menjadi gempar menyaksikan kejadian yang benar-benar membuat hati mereka resah itu.

Seorang lelaki kekar berusia sekitar empat puluh tahun tampak berusaha mendekat dengan jalan menyeruak kerumunan para penduduk desa. Melihat dari sikapnya yang tegas dan gagah, serta beberapa orang berseragam hitam yang menyertainya, jelas lelaki gagah itu merupakan seorang yang berpengaruh di Desa Margaluyu.

“Hayo..., hayo menyingkir! Beri jalan untuk Ki Dungkala...!” terdengar salah seorang dari enam lelaki berseragam hitam itu berteriak-teriak sambil mengibaskan lengannya ke kiri dan kanan. Orang-orang desa yang berkerumun itu pun segera menyisih, memberi jalan kepada lelaki gagah yang bernama Ki Dungkala itu.

“Hm..., benar-benar keji sekali... Entah siapa yang demikian tega melakukan hal ini...?” desis lelaki gagah itu seraya menatap mayat yang tergantung di atas pintu gerbang balai desa.

Kepala Ki Dungkala menggeleng-geleng melihat keadaan mayat wanita muda yang pakaiannya tidak karuan itu. Sekali pandang saja, dapat diduga apa yang telah terjadi dengan gadis itu sebelum terbunuh. Sedangkan mayat lelaki muda di sebelahnya tampak seperti telah menerima siksaan sebelum kematiannya. Benar-benar sebuah perbuatan yang sangat keji dan tidak ber-perikemanusiaan.

Setelah memperhatikan kedua sosok mayat itu, Ki Dungkala menatap kerumunan penduduk. Kemudian, pandangannya beredar ke sekeliling. “Saudara-saudara sekalian, siapa di antara kalian yang mengenali kedua mayat yang malang ini...?!” terdengar suara Ki Dungkala mengatasi suara bising yang bagaikan dengungan lebah itu.

Sebentar saja suasana menjadi sunyi. Para penduduk desa itu saling berpandangan satu sama lain. Seolah hendak mencari siapa di antara mereka yang bisa mengenali mayat-mayat itu.

Cukup lama Ki Dungkala menunggu jawaban dari para penduduk desa. Namun, tak seorang pun yang terlihat dapat mengenali kedua sosok mayat itu. Melihat hal itu, Ki Dungkala kembali mengulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih keras.

“Saudara-saudara sekalian! Kalau kejadian ini kita biarkan, bukan mustahil bisa terulang lagi. Dan, bukan tidak mungkin kalau yang menjadi korban selanjutnya adalah diri saudara ataupun putra dan putri kalian. Kuharap kalian jangan merasa takut untuk mengadu bagi siapa yang mengenali kedua mayat ini. Aku yang akan bertanggung jawab atas keselamatan kalian. Sebagai kepala keamanan di Desa Margaluyu ini, aku mengharapkan bantuan dari kalian semua...!” ujar Ki Dungkala, yang rupanya dapat menduga mengapa tidak ada seorang penduduk pun yang berani menyahuti pertanyaannya.

Ki Dungkala menunggu beberapa saat lamanya seraya mengedarkan pandang matanya berkeliling. Sepertinya ia tidak perlu lagi menunggu lama, karena seorang lelaki berusia enam puluh lima tahun tampak menyeruak kerumunan penduduk. Lelaki itu kemudian mendekati tempat Ki Dungkala berada.

“Tuan. Aku sudah tua, dan tinggal menunggu mati saja. Untuk itu aku tidak lagi merasa takut terhadap ancaman ataupun siksaan. Aku kenal kedua mayat itu. Mereka adalah Suminta dan Darmi. Keduanya semalam melarikan diri dari desa ini untuk menyelamatkan diri. Karena gadis yang bernama Darmi itu diincar oleh putra tunggal Ki Sama Tungga, orang paling kaya dan berpengaruh di Desa Margaluyu ini. Sedangkan mengenai siapa yang melakukan hal ini, aku tidak tahu persis. Tapi, semalam kedua orangtua Suminta telah tewas terbunuh...,” bisik lelaki tua itu perlahan. Rupanya ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar keterangannya itu.

“Maksudmu..., Tuan Muda Wintarsa...?!” tegas Ki Dungkala dengan kening berkerut.

Lelaki gagah itu memang sering mendengar selentingan tentang perbuatan Wintarsa. Tapi, karena tidak pernah mendapatkan bukti yang kuat, Ki Dungkala tidak bisa bertindak untuk menangkap pemuda itu. Sedangkan seluruh anggota keluarga sampai para pembantu keluarga Ki Sama Tungga selalu bisa memberikan kesaksian tentang keberadaan pemuda itu di rumah, saat peristiwa terjadi. Sehingga Ki Dungkala tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi kepala desanya selalu memperingatkan agar ia tidak mengganggu keluarga Ki Sama Tungga

“Hm....” Ki Dungkala terdengar menggumam perlahan ketika melihat anggukan kepala kakek itu. Wajahnya tampak memerah. Jelas lelaki gagah itu tengah dilanda kemarahan hebat.

“Terima kasih atas keteranganmu, Ki. Aku akan berusaha untuk menangani kejadian ini sebaik-baiknya...,” ujar Ki Dungkala seraya menepuk-nepuk bahu lelaki tua itu perlahan. Kemudian, kepala keamanan desa itu memerintah para pembantunya untuk menurunkan dan menguburkan kedua mayat Suminta dan Darmi.

Para penduduk desa mulai meninggalkan tempat itu satu persatu. Mereka saling berbicara satu sama lain. Seolah masih mempertanyakan tentang siapa mayat yang malang itu. Namun, suasana menjadi semakin gaduh ketika terdengar jerit kematian yang melengking tinggi bagaikan merobek angkasa. Teriakan kematian itu membuat sebagian penduduk melarikan diri berserabutan tanpa arah. Sedangkan sebagian yang lain menoleh ke arah asal jeritan melengking tinggi itu.

Ki Dungkala yang mendengar teriakan itu segera berkelebat cepat ke arah asal suara. Hati lelaki gagah itu terkejut bukan main ketika melihat lelaki tua yang barusan berbicara kepadanya, telah tergeletak tewas. Tubuh lelaki tua itu tampak menghitam seperti keracunan. Di perutnya tampak tertancap sebilah belati. Jelas senjata itulah yang telah merenggut nyawanya.

“Biadab...!” desis Ki Dungkala seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seolah hendak mencari orang yang dicurigainya.

Sepasang mata Kepala Keamanan Desa Margaluyu ini kemudian kembali tertuju kepada mayat lelaki tua yang malang itu. Perlahan tangannya terulur, mencabut belati yang tertancap di perut mayat itu. Digunakannya sehelai kain agar telapak tangannya tidak terkena racun, yang mungkin terdapat pada gagang belati itu.

“Urus mayat ini...,” perintah Ki Dungkala kepada dua orang lelaki berpakaian serba hitam yang menjadi bawahannya.

Kemudian, kepala keamanan desa itu melangkah sambil mengamati balati di tangannya. Keningnya tampak berkerut dalam. Sepertinya ia ingin mengenali belati itu. Namun, meskipun Ki Dungkala memeras otaknya, tetap saja ia tidak bisa mengenali belati yang tidak mempunyai tanda-tanda khusus itu. Kemudian, Ki Dungkala membungkus belati itu dengan kain hitam, dan menyimpannya. Sepertinya ia merasa belati itu mungkin ada gunanya kelak.

********************

Seorang pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau, melangkah lebar memasuki mulut Desa Margaluyu. Keduanya sama sekali tidak mempedulikan pandangan orang-orang desa yang berpapasan dengan mereka. Keduanya tetap melangkah tenang, meski pun orang-orang desa itu menatap mereka dengan rasa curiga.

“Hm..., mereka tampaknya seperti tidak menyukai kehadiran kita, Kakang...,” bisik dara jelita berpakaian hijau, tanpa menolehkan kepalanya. Pandangan matanya tertuju lurus ke depan. Sehingga tidak seorang pun yang menyangka ia berbicara. Apalagi bibirnya tidak kelihatan bergerak.

“Sepertinya begitu,” sahut pemuda tampan berjubah putih, juga tanpa menoleh. Langkahnya tenang dan tetap terayun perlahan. “Tapi, kita tidak perlu mempedulikannya. Itu hak mereka....”

Setelah agak jauh berjalan, keduanya membelok memasuki sebuah kedai makan yang menyediakan tempat untuk menginap. Saat itu senja telah datang. Perlahan keremangan mulai menyelimuti Desa Margaluyu.

Kedua orang muda itu sama sekali tidak mempedulikan tatapan curiga dari beberapa orang pengunjung kedai, yang menoleh serentak saat keduanya masuk. Delapan pasang mata itu baru beralih ketika pemuda tampan dan dara jelita itu mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling ruangan. Keduanya duduk dengan tenang, lalu memesan makanan dan minuman kepada seorang pelayan yang datang menghampiri.

“Penduduk desa ini benar-benar aneh. Lama-lama aku bisa jengkel dengan sikap mereka yang tidak menyenangkan itu...,” gerutu dara jelita berpakaian hijau itu. Rupanya, ia mulai merasa terganggu dengan pandangan penduduk desa yang jelas-jelas menaruh rasa curiga dan tidak senang terhadap kehadiran mereka.

Pemuda tampan berjubah putih itu hanya tersenyum mendengar gerutuan kawannya, yang meskipun pelan namun terdengar cukup jelas. Pemuda itu tampak menghela napas panjang.

“Kenanga..., kita tidak tahu apa yang menyebabkan sikap mereka demikian aneh dan menjengkelkan. Menurut firasatku, sepertinya di desa ini telah terjadi sesuatu yang membuat mereka resah. Sehingga, setiap orang asing yang datang ke sini selalu dicurigai. Jadi, kuharap kau bisa menahan kemarahanmu dan memaklumi sikap mereka. Biarlah nanti kutanyakan kepada pelayan kedai ini, agar kau tidak penasaran...,” janji pemuda tampan berjubah putih yang tak lain dari Panji itu. Suaranya agak berbisik, agar tidak sampai terdengar orang lain.

“Hhh..., terserah Kakang sajalah...,” sahut Kenanga seraya melemparkan senyum untuk menyenangkan hati kekasihnya.

Tidak berapa lama kemudian, pelayan pun datang membawakan pesanan mereka. Kemudian, menatanya di atas meja dengan rapi. Namun, ketika hendak meninggalkan meja, Panji menahannya dengan halus.

“Maaf, Paman. Kami ada perlu sebentar...,” ujar Panji seraya menatap wajah pelayan yang sepertinya agak kurang senang. Namun, Panji tidak mempedulikannya dan melanjutkan ucapannya. “Kami memerlukan dua buah kamar untuk menginap. Dapatkah Paman menyediakannya?”

“Bisa. Kisanak lihat sendiri tulisan di depan kedai ini, bukan?” sahut pelayan bertubuh kurus itu, tanpa menampakkan kesan yang ramah, sebagaimana seorang pelayan. Setelah berkata demikian, pelayan itu kembali hendak meninggalkan Panji. Namun, pemuda itu menahannya.

“Mmm..., ada satu hal lagi yang hendak kami tanyakan, Paman. Nampaknya ada sesuatu yang meresahkan penduduk desa ini, dapatkah Paman menjelaskannya...?” tanya Panji lagi.

Pertanyaan pemuda tampan berjubah putih itu ternyata membuat sikap pelayan itu berubah. Wajahnya yang kurus tampak pucat. Sepasang matanya bergerak liar, seolah ada sesuatu yang sangat ditakutinya. Bahkan, pada keningnya mulai menitik butir-butir keringat. Jelas, pelayan itu sangat ketakutan.

“Maaf, aku masih banyak pekerjaan...,” ujarnya dengan suara gemetar. Kemudian, pelayan itu langsung beranjak meninggalkan Panji dan Kenanga yang menjadi keheranan. Pemuda itu tidak berusaha mencegah. Karena ia bisa memaklumi rasa takut yang menyelimuti diri pelayan itu.

“Hm..., jelas ada sesuatu yang aneh di desa ini. Kita harus menyelidikinya, Kakang...,” bisik Kenanga sepeninggal pelayan kedai itu. Sepertinya dara jelita ini penasaran ketika melihat sikap pelayan itu benar-benar mencurigakan.

“Yah..., sepertinya memang begitu. Tapi, entah apa yang telah membuat pelayan itu demikian ketakutan...?” sahut Panji dengan nada rendah.

Sesaat kemudian, mereka segera menikmati makanan yang telah terhidang di atas meja. Sesekali, Kenanga mencuri pandang ke sekelilingnya, seolah hendak menangkap basah bilamana ada orang yang memperhati-kannya. Namun, ternyata tak seorang pun yang mem-perhatikan mereka lagi.

Baru saja Panji dan Kenanga menyelesaikan makannya, masuk seorang lelaki gagah yang ditemani empat orang lelaki berseragam hitam. Sikap lelaki gagah itu tampak angker dan berwibawa. Ditambah lagi wajahnya terhias kumis lebat, yang membuat wajahnya semakin berwibawa bagi orang-orang yang memandangnya.

Baik Panji maupun Kenanga hanya menoleh sekilas ke arah rombongan kecil itu. Mereka tidak menaruh curiga sama sekali terhadap kelima orang lelaki yang tampaknya sangat dihormati oleh penduduk setempat. Terbukti pelayan kedai yang ketakutan tadi, terlihat membungkuk hormat kepada lelaki itu. Demikian pula dengan beberapa orang pengunjung kedai yang lain. Rata-rata mereka menyapa dengan nada hormat. Tentu saja hal itu membuat Panji dan Kenanga menjadi tertarik.

Tapi, rupanya Kenanga dan Panji tidak perlu mencari tahu tentang jati diri lelaki gagah itu. Sebab, mereka langsung melangkah ke meja pasangan pendekar muda itu.

“Maaf, kalau kedatanganku mengganggu Kisanak berdua,” ujar lelaki gagah yang tak lain dari Ki Dungkala. “Boleh aku duduk bersama kalian...?”

“Tidak mengapa, Paman. Silakan...,” sambut Panji yang sedikit heran, dan mulai menduga-duga apa kira-kira maksud kedatangan lelaki gagah yang langsung menemuinya itu.

“Aku adalah Ki Dungkala, kepala keamanan desa ini. Kalau boleh kutahu, siapakah Kisanak berdua ini?” tanya Ki Dungkala seraya memperkenalkan dirinya kepada Panji dan Kenanga.

“Namaku Panji. Sedang kawanku ini bernama Kenanga. Kami berdua adalah orang-orang yang biasa melakukan perjalanan jauh, sekadar untuk meluaskan pengalaman. Harap maafkan kalau kehadiran kami telah merepotkan Paman...,” jawab Panji memperkenalkan diri kepada lelaki gagah itu.

“Hm..., apakah kalian berdua tidak mempunyai keluarga di desa ini...?” tanya Ki Dungkala lagi sambil menatap wajah Panji, seolah hendak menilai pemuda tampan berjubah putih itu.

Pendekar Naga Putih hanya tersenyum ditatap seperti itu. Pemuda berjubah putih ini tidak merasa tersinggung atas pertanyaan Ki Dungkala yang jelas-jelas bersifat menyelidik. “Sama sekali tidak, Paman. Kami kebetulan singgah dan akan menginap di desa ini karena tidak ingin kemalaman di jalan. Apakah Paman merasa keberatan dengan keberadaan kami di desa ini...?” tanya Panji langsung membuka diri, membuat Ki Dungkala terpaksa memperlihatkan senyumnya sambil menggelengkan kepala perlahan.

“Sama sekali tidak, Panji. Tapi..., maaf kalau kemungkinan ada sesuatu yang tidak enak di desa ini. Karena desa kami tengah menghadapi masalah misterius. Harap kalian bisa memaklumi sikapku maupun sikap penduduk desa yang mungkin kurang berkenan di hati kalian. Pagi tadi, baru saja ada peristiwa yang meng-gemparkan desa ini. Dua orang penduduk desa kami kedapatan tewas tergantung di atas pintu gerbang balai desa. Meskipun kejadian-kejadian aneh telah banyak yang kudengar, tapi baru kali ini ada kejadian yang demikian jelas. Sepertinya orang-orang jahat itu mulai bertambah berani dalam menteror penduduk desa ini. Entah apa maksud dari semua ini...?” ujar Ki Dungkala yang sepertinya sudah mempercayai Panji dan Kenanga.

“Hm..., jadi benar dugaan kami kalau penduduk desa ini tengah dilanda kegelisahan. Siapa kira-kira orang jahat itu, Paman? Apakah tidak pernah ada yang memergokinya...?” tanya Panji. Pendekar Naga Putih langsung saja memanfaatkan kesempatan itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di Desa Margaluyu.

“Hhh..., itulah yang sampai saat ini membuat hatiku penasaran, Panji. Selama ini, tak ada seorang pun yang berani melaporkan apa yang mereka alami. Sebab, penjahat itu sepertinya berada di sekitar desa ini, atau paling tidak banyak menyusupkan anggotanya ke dalam desa. Pagi tadi, di depan mataku ada seorang warga desa yang mati terbunuh. Orang itu baru saja memberi keterangan padaku mengenai keberadaan mayat laki-laki dan perempuan yang digantung di gerbang balai desa. Hm..., benar-benar membuat hatiku penasaran...!” geram Ki Dungkala mengakhiri ceritanya.

“Ah..., sayang kami tiba agak terlambat. Kalau boleh kami tahu, berapakah kira-kira usia kedua mayat yang digantung itu?” tanya Panji hati-hati. Kemudian, Pendekar Naga Putih menceritakan kejadian yang pernah dialaminya di luar desa itu. Sehingga, Ki Dungkala menjadi terkejut setengah mati.

“Hm..., tidak salah lagi. Pastilah pemuda dan gadis itu yang kalian lihat. Sedangkan pemuda pesolek yang ditemani empat orang laki-laki berseragam hitam, jelas Wintarsa. Ia adalah putra tunggal juragan kaya itu. Kali ini mereka tidak bisa mungkir lagi. Hm..., bersediakah kalian berdua memberikan kesaksian, dan menunjukkan pemuda pesolek yang kalian maksud itu...?” tanya Ki Dungkala penuh harap.

“Kalau memang diperlukan, kami siap membantu...,” Kenanga langsung saja menyanggupi, sebelum Panji menjawabnya. Sepertinya dara jelita itu memang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran di hatinya.

“Kalau begitu, marilah ikut aku...,” sambut Ki Dungkala dengan wajah cerah.

Hati Ki Dungkala menjadi gembira bukan main. Selama ini tidak pernah ada orang yang berani membantunya untuk mengungkap keanehan-keanehan yang terjadi di desa itu. Maka, tanpa banyak cakap lagi, ia pun segera mengajak Panji dan Kenanga meninggalkan kedai.

********************

LIMA

“Paman, apakah tidak sebaiknya kita tunda dulu rencana ini...?” ujar Panji tiba-tiba, saat mereka tengah melangkah menuju tempat kediaman Ki Sama Tungga.

Ki Dungkala menahan langkahnya ketika mendengar ucapan Panji. Kenanga serta empat orang berseragam hitam yang menjadi pengikut Ki Dungkala menghentikan pula langkahnya. Mereka menatap ke arah pemuda tampan berjubah putih itu dengan kening berkerut.

“Mengapa, Panji...? Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Ki Dungkala seraya menatap wajah pemuda itu lekat-lekat. Seolah lelaki gagah itu hendak membaca apa yang ada dalam pikiran pemuda tampan yang baru saja dikenalnya itu.

Sedangkan Panji sendiri hanya tersenyum, tanpa mengalihkan tatapan matanya dari wajah Ki Dungkala. “Apakah perbuatan kita ini tidak terlalu terburu-buru, Paman? Tidakkah sebaiknya kita pergoki saja pembunuh itu di saat tengah melakukan aksinya? Dengan begitu, kita bisa menangkapnya langsung, dan sekaligus menghukumnya...,” jelas Panji, mengajukan alasan.

“Tidak bisa, Panji. Dengan adanya kau dan Kenanga, sudah cukup sebagai saksi hidup atas kejahatan pemuda sombong itu. Kalau mereka melawan, aku akan mengerahkan seluruh anak buahku untuk membekuknya, dan sekaligus menghancurkan tempat tinggal mereka...!

Perbuatan mereka sudah keterlaluan, dan kita tidak bisa mengulur waktu lagi...!” ujar Ki Dungkala yang sepertinya telah bulat mengambil keputusan untuk membekuk penjahat yang selama ini menteror desanya.

“Hm... Begini, Paman. Kalau benar dugaan Paman bahwa mereka banyak memiliki anak buah yang menjadi mata-mata, bukan tidak mungkin rencana kita diketahui oleh mereka. Dan, kemungkinan kita tidak akan berjumpa dengan pemuda yang bernama Wintarsa itu. Bisa saja mereka mengatakan pemuda itu tengah pergi mengunjungi sanak keluarganya di desa lain. Kalau sudah begitu, apa yang bisa kita lakukan? Apalagi kepandaian pemuda itu sangat tinggi, dan pandai dalam menggunakan racun. Siapa tahu mereka telah bersiap menyambut kedatangan kita. Menghadapi pemuda itu saja sudah sangat sulit, apalagi kalau di tempat itu masih ada ayahnya, yang bukan tidak mungkin memiliki kesaktian lebih tinggi dari Wintarsa. Nah, bukankah hal itu akan berbahaya...?” bantah Panji yang rupanya tengah menimbang-nimbang langkah mereka sepanjang perjalanan. Dan, baru menyampaikannya setelah diperhitungkan masak-masak.

“Wintarsa memiliki kepandaian yang sangat tinggi...? Aneh? Mungkin kau salah melihat orang, Panji. Setahuku, meskipun Wintarsa memiliki kepandaian, tapi rasanya tidak mungkin lebih tinggi dari kepandaianku. Sedangkan Ki Sama Tungga masih lebih tinggi sedikit dari kepandaian putranya. Itu pun mungkin hanya setingkat di atasku. Dan, kalau selama ini Wintarsa berbuat sesuka hatinya, itu karena kepala desa merasa segan terhadap keluarga kaya yang selalu memberikan bantuan, baik berupa uang atau hal-hal lainnya. Itulah yang membuat aku selama ini belum bisa mengambil tindakan. Karena kepala desa selalu menyarankan agar aku tidak mengganggu keluarga itu. Jadi, jelas kau mungkin salah mengenali orang, Panji...,” jelas Ki Dungkala. Laki-laki gagah ini menjadi ragu ketika mendengar keterangan Panji tentang kesaktian Wintarsa. Diketahuinya betul sampai di mana kepandaian yang dimiliki pemuda pesolek itu.

Panji tampak mengerutkan keningnya. Mungkin saja ia memang telah salah melihat orang, karena belum pernah melihat Wintarsa. Kalaupun ciri-ciri yang ditunjukkannya mungkin ada persamaan dengan pemuda kaya itu, bisa saja ada orang lain lagi yang memiliki beberapa persamaan. Tak aneh kalau Panji dan Kenanga pun menjadi ragu.

“Hm..., mungkinkah ada orang lain yang melakukan semua kejahatan di desa ini...? Pemuda yang kutemui di luar desa ini jelas sangat sakti, Paman. Jadi, bagaimana langkah kita selanjutnya...?” ujar Panji yang akhirnya menyerahkan keputusan di tangan Ki Dungkala. Karena biar bagaimanapun juga, lelaki gagah itulah yang berkuasa di desa ini.

“Kalau kita harus menunggu penjahat itu kembali beraksi, jelas sangat berbahaya, Panji. Kau sudah dengar sendiri ceritaku, bukan? Di depan mataku sendiri ia dapat membunuh, tanpa dapat kuketahui kapan dan siapa yang melakukannya. Selain itu, ia tidak setiap hari melakukan aksinya. Kalau melihat dari korban-korban terdahulu, jelas Wintarsalah yang patut dicurigai. Sebab, orang-orang yang menjadi korban pembunuhan itu adalah mereka yang berani menentang keinginan pemuda kaya itu. Tidak jarang mereka disiksa terlebih dahulu sebelum dibunuh. Aku jadi belum bisa memutuskan, langkah apa yang seharusnya kita ambil sekarang...,” desah lelaki gagah itu. Raut wajahnya kelihatan kecewa sekali.

“Hm..., rasanya tidak terlalu sulit, Paman. Kita tinggal mencari saja, siapa yang saat ini berani menentang pemuda kaya itu. Dengan demikian, kita bisa melakukan pengintaian kalau-kalau penjahat itu akan datang melakukan aksinya. Setelah itu, kita bisa menyergapnya bersama-sama...,” usul Panji setelah berpikir beberapa saat lamanya.

Wajah Ki Dungkala yang semula kelam, kini berubah cerah. Lelaki gagah itu tampaknya menyambut baik usul Pendekar Naga Putih.

“Benar, Paman. Menurutku, hanya itulah satu-satunya jalan agar kita dapat menangkap basah pembunuh keji itu...,” timpal Kenanga, mendukung usul kekasihnya.

“Yah..., rasanya usul itu cukup baik. Malam ini sebaiknya kalian berdua menginap di rumahku. Besok baru kita mencari tahu, siapa penduduk yang saat ini diincar Wintarsa...,” ujar Ki Dungkala mengajak Panji dan Kenanga untuk bermalam di rumahnya.

Panji yang mendengar tawaran Ki Dungkala tersenyum lebar. Pemuda tampan itu menatap wajah kekasihnya sekilas, seolah hendak meminta persetujuan. Meskipun Ki Dungkala menawarkan kebaikan terhadap mereka berdua, tapi Panji tahu kalau lelaki gagah itu masih menaruh kecurigaan terhadap mereka berdua. Maka, ketika melihat Kenanga menyerahkan keputusan kepadanya, Panji segera menerima tawaran Ki Dungkala.

“Baiklah, Paman. Maaf kalau kami telah merepotkanmu...,” ujar Panji yang segera mengikuti langkah lelaki gagah itu menuju tempat tinggalnya.

“Kalian kembalilah ke pos mulut desa. Bergabunglah dengan penjaga-penjaga di sana...,” perintah Ki Dungkala kepada empat orang anak buahnya. Setelah itu, barulah lelaki itu mengajak Panji dan Kenanga kerumahnya.

********************

Malam semakin larut. Bulan sepotong tampak tersembul memancarkan sinarnya yang temaram. Hembusan angin bersilir lembut, membuat dedaunan bergemerisik perlahan. Suara burung malam terdengar saling bersahutan mendirikan bulu roma.

Saat itu, di tengah kepekatan malam, tampak sesosok bayangan putih bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan. Tubuhnya berloncatan dari atap rumah yang satu ke atap lainnya. Terkadang sosok bayangan putih itu bergerak dari pohon ke pohon, ketika tidak melintasi sebuah rumah pun. Melihat dari gerakannya yang demikian gesit dan ringan, jelas sosok bayangan putih itu seorang tokoh persilatan yang berkepandaian tinggi.

Tok, tok, tok...!

Terdengar suara kentongan peronda desa yang dipukul berkali-kali. Sosok bayangan putih itu tampaknya tidak ingin berpapasan dengan para peronda. Buktinya ia langsung melesat mengambil jalan lain, agar tidak terlihat para peronda yang tengah mengitari desa ini.

Sosok bayangan putih itu bergerak ke arah selatan desa, berlawanan arah dengan jalan yang dilalui para peronda. Dengan lincahnya, tubuhnya berloncatan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sehingga, tidak membuat ketenangan penduduk terganggu oleh suara langkahnya.

“Hm...,” tiba-tiba sosok bayangan putih itu merandek ketika melihat tiga sosok tubuh yang bergerak beberapa tombak di bawahnya. Saat itu, ia sendiri tengah bertengger di atas sebatang pohon besar. Sehingga, ketiga sosok bayangan itu sama sekali tidak mengetahui kehadirannya.

Pada saat ketiga sosok tubuh itu bergerak semakin jauh, bayangan putih itu langsung meluncur turun dan membayangi ketiga sosok tubuh itu dari kejauhan. Tampak sosok bayangan putih itu menghentikan langkahnya, dan bersembunyi di balik sebatang pohon. Dilihatnya dua di antara ketiga orang itu tampak bergerak ke depan, setelah mengenakan topeng dari kain hitam untuk menutupi wajahnya. Sedangkan sosok bayangan yang satunya lagi berdiri seperti menanti hasil pekerjaan temannya.

“Hm....” Sosok bayangan putih itu bergumam perlahan. Tubuh-nya disembunyikan, menanti kedatangan kedua sosok bayangan hitam yang sepertinya hendak melakukan kejahatan itu.

“Mana mungkin ada orang baik datang malam-malam dengan mengenakan topeng pada wajahnya,” pikir sosok bayangan putih yang terus mengintai itu.

Rupanya si pengintai itu tidak menunggu lama. Beberapa saat kemudian, sosok bayangan hitam itu pun sudah kembali. Salah seorang di antaranya tampak memondong sosok tubuh ramping yang telah tidak sadarkan diri. Meskipun demikian, sosok bayangan putih itu belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk menghadang. Bahkan, tubuhnya disembunyikan saat ketika sosok tubuh itu melintas beberapa langkah di depannya. Kemudian, melesat pergi setelah ketiga sosok tubuh penculik itu berada cukup jauh dari tempatnya sembunyi. Kemudian, ia melesat dan lenyap dari tempat itu.

Sedangkan ketiga sosok tubuh itu terus bergerak menerobos kegelapan malam. Tidak lama kemudian, mereka mengambil sebatang obor, yang mereka tinggalkan di satu tempat. Namun, sebelum mereka kembali bergerak, tiba-tiba terdengar teguran bernada halus, tapi membuat ketiga sosok tubuh itu berjingkat kaget.

“Hm..., ternyata kalian masih juga berani melakukan kejahatan seperti ini...!” ujar sosok tubuh yang mengenakan jubah panjang berwarna putih. Wajahnya yang tampan menyiratkan perbawa yang menggetarkan jantung. Terutama sekali tatapan matanya yang mencorong tajam, laksana mata naga yang sedang marah!

“Kau...?!” desis lelaki brewok berpakaian serba hitam yang menatap pemuda tampan di depannya dengan mata terbelalak lebar. Ia kaget bagaikan melihat hantu di siang hari bolong. Suaranya terdengar bergetar menyiratkan kegentaran. Jelas, sosok pemuda tampan berjubah putih yang menghadangnya itu telah dikenalnya.

Bukan hanya lelaki brewok bertubuh kekar itu saja yang menjadi terkejut. Dua orang lainnya pun tidak kalah kaget ketika melihat dan mengenali si penghadang berjubah putih itu. Jelas, mereka bertiga telah mengenali penghadang itu.

“Ya, aku...,” ucap pemuda tampan berjubah putih itu. Ia kemudian melangkah maju menghampiri salah satu dari mereka. Seorang pemuda tampan pesolek. “Kau pastilah yang bernama Wintarsa, bukan...?”

“Bangsat! Dari mana kau tahu namaku...?! Dan, mengapa kau masih juga mencampuri urusanku...?!” bentak pemuda yang ternyata Wintarsa itu dengan wajah berang. Meskipun begitu, ia tidak bisa menyembunyikan kegentaran yang terpancar di wajahnya. Kelihatan sekali kalau ia merasa cemas dan hendak mencari jalan untuk lolos.

Sosok pemuda tampan berjubah putih yang tak lain dari Panji itu, kelihatan agak heran melihat tingkah Wintarsa yang tampak cemas dan gentar. “Hm..., pemuda itu benar-benar aneh? Dengan kesaktiannya yang sangat tinggi, mengapa ia harus merasa gentar?” gumam Panji dalam hati. Kali ini Pendekar Naga Putih berjanji untuk dapat menangkap pemuda tampan pesolek itu hidup-hidup dan menyerahkannya kepada Ki Dungkala.

Wintarsa pun rupanya tidak ingin menunggu lama. Cepat ia memerintahkan lelaki brewok yang bernama Surgala, dan temannya untuk segera mengeroyok pemuda tampan berjubah putih itu. Tanpa banyak cakap lagi, kedua orang lelaki berseragam hitam itu langsung menghunus senjata dan mengepung Panji. Sedangkan pemuda tampan berjubah putih itu melangkah terus tanpa mempe-dulikan kedua tukang pukul Wintarsa yang siap menerjangnya. Pendekar Naga Putih rupanya lebih tertarik kepada Wintarsa, ketimbang kedua orang tukang pukul itu.

“Haaat...!”.Lelaki brewok bertubuh kekar itu berseru keras memulai serangannya. Pedang di tangan kanannya berputaran menimbulkan suara berdesing tajam. Demikian pula tukang pukul yang satunya lagi, mereka langsung saja mengeroyok Panji dengan serangan-serangan yang ganas dan kuat.

Namun kali ini Panji tidak ingin berlama-lama. Ketika serangan kedua batang pedang itu tiba, pemuda itu langsung menggeser tubuhnya dan mengirimkan serangan balasan yang cepat dan kuat. Sehingga, kedua pengeroyok-nya itu terpaksa melompat mundur karena tidak ingin celaka.

Tapi, gerakan kedua orang tukang pukul Wintarsa itu jelas kalah jauh dalam hal kecepatan dan kekuatan. Sehingga, Panji tidak memerlukan waktu yang lama untuk merobohkan lawan-lawannya. Dalam lima jurus saja pukulan dan tendangan Pendekar Naga Putih telah membuat kedua orang pengeroyoknya terjungkal tewas. Rupanya Panji kali ini tidak ingin memberi hati kepada orang-orang jahat itu. Maka, ia langsung saja menurunkan tangan kejam kepada tukang-tukang pukul Wintarsa yang ternyata masih belum jera untuk berbuat jahat

“Keparat...!” Wintarsa membentak marah ketika melihat dua orang tukang pukulnya menggeletak tanpa nyawa. Tanpa banyak cakap lagi, pemuda pesolek itu langsung melepaskan tubuh ramping yang ada dalam pondongannya. Kemudian senjatanya dihunus, siap untuk bertempur!

Panji sudah menggeser langkahnya dengan sepasang mata tak lepas dari wajah Wintarsa. Sadar kalau lawannya tidak bisa dipandang ringan, Panji langsung mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya. Sebentar saja, tubuh Pendekar Naga Putih telah terselimut lapisan kabut bersinar putih keperakan.

Wintarsa yang melihat tubuh lawannya tampak terselimut sinar putih keperakan, menjadi terkejut bukan main. Namun, karena merasa tidak ada jalan untuk lolos, maka pemuda itu segera memutar pedangnya dengan sepenuh tenaga. Terbentuklah lingkaran putih yang bergulung-gulung menimbulkan suara menderu-deru.

“Haaat..!” Disertai sebuah pekikan nyaring, tubuh Wintarsa melayang ke arah Panji. Pedang di tangannya bergerak-gerak dan meliuk mengancam tubuh Pendekar Naga Putih.

Bettt! Bettt!

Berkali-kali pedang di tangan Wintarsa bergerak kian kemari mengancam tubuh Panji. Namun, semua itu dengan mudah dapat dielakkan pemuda berjubah putih itu. Serangan Wintarsa sama sakali tidak membayangkan kekuatan maupun kecepatan yang hebat, bahkan terlihat sangat lambat bagi Panji. Tentu saja kenyataan itu membuat Pendekar Naga Putih mengerutkan keningnya.

“Hm..., mengapa gerakannya terkesan biasa dan tidak berbahaya? Mungkinkah ia sengaja menyembunyikan kepandaiannya dan berpura-pura bodoh? Tapi..., rasanya tidak mungkin. Melihat dari wajah dan gerakannya, ia tampak sungguh-sungguh? Lalu, mengapa ia tidak langsung mengeluarkan kesaktiannya yang hebat itu...?” gumam Panji yang benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan ketika melihat gerakan Wintarsa yang jauh dari apa yang dibayangkannya.

Merasa penasaran, Panji tidak berusaha menghindari sebuah tebasan pedang yang dilakukan Wintarsa dengan gerakan mendatar, mengancam perutnya. Hanya dengan sedikit egosan, Pendekar Naga Putih langsung meng-gerakkan tangan kanannya, menangkis pedang yang mengancam tubuhnya.

Plakkk!

Sengaja Panji memperlambat gerakannya ketika menangkis bacokan pedang lawan. Bahkan tenaganya tidak dikerahkan terlalu banyak. Karena melihat serangan Wintarsa tampaknya tidak terlalu berbahaya. Dan, apa yang dilihatnya benar-benar membuat hati Panji menjadi penasaran bukan main! Tangkisannya membuat tubuh Wintarsa terpelanting ke belakang. Seolah-olah pemuda itu memang tak sanggup mengimbangi kekuatan tangkisan Panji.

“Kurang ajar...! Mengapa kekuatannya tidak sehebat beberapa hari yang lalu...? Apakah ia sengaja hendak mempermainkan aku...?” desis Panji, geram. Maka, tanpa menunggu lawannya bangkit, Pendekar Naga Putih langsung melesat dan mengirimkan totokan guna melumpuhkan Wintarsa.

“Heh...?!”

Plak, plak... Desss...!

“Akh...!” Panji terkejut bukan kepalang ketika serangannya hampir tiba, tahu-tahu muncul sesosok bayangan putih yang langsung memapaki serangannya. Bahkan, sebuah pukulannya sempat menghantam dada Pendekar Naga Putih. Sehingga, membuat tubuh Panji terpental balik. Untunglah pemuda tampan itu sempat mengatur keseimbangan tubuhnya. Dengan berputaran di udara, Panji dapat mendarat ringan di atas tanah dengan kedua kakinya.

Panji menatap tajam sosok tinggi kurus di depannya. Keadaan malam yang gelap dan rambut yang menyembunyikan wajahnya, membuat Panji tidak bisa mengenali orang yang telah menyelamatkan Wintarsa. Sedangkan sosok tinggi kurus yang tampak gesit dan lincah itu bergerak ke kanan, tanpa berusaha untuk membantu Wintarsa bangkit. Cepat Panji menggeser langkahnya ketika melihat sosok tinggi kurus itu mulai membuka jurus serangannya.

ENAM

Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, sosok tinggi kurus berjubah putih itu langsung menerjang Panji. Gerakannya nampak demikian cepat laksana kilat Bahkan decitan angin yang ditimbulkan lontaran pukulannya terdengar sangat tajam dan menyakitkan telinga. Jelas, sosok tinggi kurus berjubah putih itu memang merupakan lawan yang sangat tangguh bagi Pendekar Naga Putih.

Melihat lawannya sudah mulai menyerang, Panji langsung mempersiapkan jurus andalannya. Sekali pandang saja, Pendekar Naga Putih langsung tahu kalau lawannya ini tidak bisa dipandang enteng. Itu sebabnya Panji tidak mau mengambil resiko, dan langsung menggunakan jurus 'Naga Sakti'nya untuk menghadapi serangan lawan. Sebentar saja, keduanya telah terlibat dalam sebuah pertarungan yang sengit dan mendebarkan.

Panji bertempur sambil mengawasi permainan jurus lawan. Pendekar Naga Putih terkejut ketika mengetahui jurus-jurus yang dimainkan sosok tinggi kurus itu mempunyai kesamaan dengan jurus-jurus yang dimainkan Wintarsa sewaktu pertama kali bertarung dengannya. Bedanya, gerakan sosok tinggi kurus itu tampak sangat teratur, dan memiliki kekuatan yang jauh lebih hebat dari Wintarsa. Karena terus memikirkan perihal lawannya, pikiran Panji jadi terpecah. Sehingga ia tidak bisa lagi menghindari sebuah tamparan lawannya. Meskipun berusaha mengelak, tetap saja bahunya terkena hantaman lawan.

Bukkk!

“Akh...!” Panji mengeluh tertahan. Tubuhnya langsung limbung karena tamparan itu sangat kuat, dan sanggup meng-hancurkan sebuah batu karang yang besar. Untungnya, tubuh pemuda itu telah terlindungi lapisan kabut bersinar putih keperakan. Kalau tidak, bukan mustahil bahunya akan remuk akibat tamparan lawan.

“Yeaaah...!” Sosok tinggi kurus berjubah putih itu sepertinya sangat bernafsu merobohkan Panji secepat mungkin. Tanpa memberikan kesempatan kepada lawannya untuk memperbaiki kuda-kuda, sosok tinggi kurus itu langsung menyusuli serangannya dengan serangan-serangan yang berbahaya dan bisa mendatangkan kematian! Apalagi yang diincarnya adalah bagian-bagian jalan darah kematian di tubuh Panji. Sudah barang tentu pemuda tampan berjubah putih itu tidak mau menyerahkan nyawanya begitu saja.

“Hiaaah...!” Sambil mengempos semangat dan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga mukjizatnya, Pendekar Naga Putih menggerakkan kedua tangannya untuk memapaki serangan lawan.

Plak! Plak!

Bentrokan pun tak dapat dihindari lagi. Kedua pasangan lengan yang sama-sama terlindungi tenaga sakti tingkat tinggi itu saling berbenturan keras. Akibatnya, kedua tubuh mereka sama-sama terdorong mundur sejauh empat langkah. Jelas, dalam bentrokan itu keduanya terlihat sama kuat.

Begitu kedua kakinya kembali menginjak tanah dengan kokoh, sosok tinggi kurus itu kembali melesat dengan serangan yang lebih habat lagi. Jurus yang kali ini digunakannya tampak berbeda dari yang pertama. Meskipun demikian, kehebatannya jauh berbeda di atas jurus-jurus pertama tadi. Sehingga, Pendekar Naga Putih benar-benar harus menguras semua ilmunya untuk menundukkan lawan yang sangat misterius itu.

“Hmh...!” Panji mendengus gusar melihat kehebatan dan kekuatan lawan. Cepat pemuda itu mengeluarkan jurus-jurus pamungkas dari rangkaian terakhir 'Ilmu Silat Naga Sakti'.

“Yeaaah...!” Diiringi 'Pekikan Naga Marah', tubuh Panji melesat dengan kecepatan menggetarkan ke arah lawannya. Angin dingin bertiup semakin keras mengiringi setiap gerakan yang dilakukan Pendekar Naga Putih.

Wueeet...! Wueeet...!

Dua buah sambaran cakar Pendekar Naga Putih berhasil dielakkan lawannya dengan menggeser tubuh ke kanan, seraya merendahkan kuda-kudanya. Tapi, serangan Panji tidak berhenti sampai di situ saja. Kaki dan tangannya terus bergerak dengan lontaran serangan yang susul-menyusul, disertai tiupan angin dingin yang menusuk tulang laksana badai salju!

Rupanya gempuran Pendekar Naga Putih kali ini cukup membuat lawannya kerepotan. Berkali-kali cakaran serta tamparan Panji nyaris mengenai tubuh lawannya. Hanya karena lawan memiliki ilmu langkah-langkah aneh sajalah, yang membuatnya masih dapat menghindar dari sergapan Panji. Meskipun demikian, kelihatan sekali kalau sosok tinggi kurus itu mulai terdesak oleh serangan-serangan Pendekar Naga Putih.

Entah sudah berapa belas kali dua pasang lengan mereka saling berbenturan keras. Dan setiap berbenturan, tubuh keduanya tampak terdorong ke belakang. Jelas kalau tenaga yang mereka miliki berimbang. Sehingga, meskipun pertarungan sudah berlangsung selama delapan puluh jurus, belum ada tanda-tanda salah seorang di antara mereka akan keluar sebagai pemenang. Tampaknya memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan kepastian siapa pemenang dalam pertarungan itu.

Sekitar arena pertarungan terlihat sudah porak-poranda bagaikan tersapu badai topan yang mengerikan. Belasan batang pohon tampak saling tumpang tindih berpatahan. Bahkan ada beberapa di antaranya yang tercabut hingga ke akar-akarnya. Dedaunan pohon sudah menumpuk bagaikan anak bukit. Jelas, pertarungan kedua tokoh sakti itu telah membuat alam di sekitarnya rusak.

Sementara itu, Wintarsa sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Bahkan kedua mayat tukang pukul pemuda itu pun ikut lenyap. Jelas, pemuda tampan pesolek itu telah mengambil kesempatan untuk melarikan diri selagi Panji bertarung dengan sosok tinggi kurus berjubah putih itu. Sedangkan yang masih tertinggal di tempat itu hanyalah sosok tubuh gadis desa yang semula hendak diculik Wintarsa.

Minat Wintarsa untuk memiliki gadis yang diincarnya itu sepertinya lenyap ketika dipergoki pemuda berjubah putih, yang diketahuinya memiliki kepandaian tinggi. Sehingga, ia meninggalkannya begitu saja di bawah sebatang pohon kecil. Untungnya pertarungan kedua orang sakti itu telah bergeser jauh dari tempat semula. Maka, terhindarlah sosok gadis desa yang tengah tergolek tak sadarkan diri itu dari pukulan-pukulan yang dilontarkan dalam pertempuran maut itu.

Saat itu kokok ayam jantan telah terdengar sesekali. Pertanda sebentar lagi fajar akan segera muncul. Hembusan angin malam tampak terasa semakin bertambah dingin. Bulan yang muncul separuh, seperti resah menyaksikan pertarungan yang belum juga usai itu.

“Yeaaah...!” Panji yang semula sudah berhasil mendesak, kembali dibuat terkejut dan kagum oleh keuletan lawannya. Bahkan kali ini sosok tinggi kurus itu tampak mulai dapat menguasai pertempuran. Dan Panji malah terdesak oleh gempuran-gempuran lawan. Amukan sosok tinggi kurus itu sepertinya terpengaruh oleh suara kokoh ayam jantan yang mulai terdengar menyambut datangnya fajar.

Plak! Plak! Plak...!

Kedua pasang lengan kembali saling berbenturan keras. Tubuh mereka kembali terdorong mundur sejauh delapan langkah. Jelas, kedua tokoh itu sudah mulai merasa lelah, setelah bertarung selama hampir dua ratus jurus.

Panji yang kembali tengah mempersiapkan, ilmunya, tersentak kaget ketika melihat lawannya bergerak seperti mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Cepat pemuda itu melompat mundur ketika sosok tinggi kurus itu mengibaskan lengannya yang menimbulkan asap merah muda berbau harum.

“Hiaaah...!” Sadar kalau asap itu pastilah merupakan racun ganas, Panji langsung mendorongkan sepasang telapak tangannya dengan pukulan jarak jauh. Seketika itu juga, ber-hembuslah angin dingin yang sangat kuat, membuat asap berwarna merah muda itu langsung buyar dan menipis. Namun, saat itu sosok lawannya ternyata telah lenyap dari arena pertarungan. Tentu saja hal itu membuat hati Pendekar Naga Putih menjadi penasaran.

“Kurang ajar! Ke mana perginya sosok misterius itu...?” geram Panji sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu. Namun, yang dilihatnya hanyalah sosok tubuh gadis desa yang masih menggeletak pingsan.

“Pendekar Naga Putih...! Kau harus meninggalkan desa ini secepatnya...! Kalau tidak, bencana yang lebih hebat dan lebih mengerikan akan datang kepada seluruh penduduk Desa Margaluyu...!” tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud. Suara itu bagaikan datang dari empat penjuru. Panji sendiri merasa sulit untuk mengetahui asal suara itu. Tapi, ia tahu kalau suara itu pasti berasal dari sosok tinggi kurus berjubah putih yang menjadi lawannya barusan.

“Hm..., menurutku kau adalah seorang pengecut, Kisanak! Sangat kusesalkan kalau kepandaianmu yang tinggi itu digunakan untuk jalan sesat! Kalau benar-benar jantan, kutantang kau bertarung sampai salah seorang di antara kita menggeletak jadi mayat...!” Panji yang merasa jengkel, langsung saja berseru menyahuti suara tanpa wujud itu. Namun, setelah menanti agak lama, tak terdengar jawaban sepatah kata pun.

Pendekar Naga Putih yakin kalau lawannya tadi benar-benar telah meninggalkan tempat itu. Kemudian, kakinya segera melangkah mendekati sosok gadis desa yang masih tergeletak pingsan. Hanya dengan mengusap bagian jalan darah untuk melancarkan peredaran darah di tubuh gadis itu, tampak sosok ramping itu mengeluh dan menggeliat perlahan. Terlihat gadis itu mulai sadar dari pingsannya.

“Kau siapa...? Mengapa aku berada di tempat ini...?” tanya dara cantik berambut panjang sebahu itu seraya menatap wajah tampan di hadapannya dengan wajah pucat ketakutan.

Panji mencoba tersenyum dengan maksud untuk membuat hati gadis itu menjadi tenang. Kemudian ia menerangkan dengan nada perlahan bahwa gadis itu baru saja ditolong dari cengkeraman pemuda yang dipanggil dengan nama Tuan Muda Wintarsa.

”Ya! Aku ingat sekarang. Ada dua orang lelaki berpakaian hitam memasuki kamarku, dan menyergapku. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi. Lalu, ke manakah mereka sekarang?” tanya gadis cantik itu sambil mengedarkan pandang matanya ke sekitar tempat itu. Namun, di sekelilingnya yang terlihat hanyalah kegelapan yang menyeramkan. Menyadari keadaan itu, gadis itu pun melangkah agak terburu-buru mendekati pemuda tampan yang menjadi penolongnya. Tanpa sadar ia memegang lengan Panji dengan wajah agak pucat.

“Aku..., takut..,” kata gadis itu tanpa malu-malu lagi. Bahkan tubuhnya semakin dirapatkan ke tubuh Panji.

“Tidak ada yang perlu ditakuti lagi, Nisanak. Sekarang, marilah kau kuantar pulang...,” ujar Panji seraya melangkah perlahan. Sedangkan gadis desa yang cantik itu hanya mengangguk. Kemudian ia mengikuti Panji tanpa melepaskan pegangan tangannya pada lengan pemuda itu.

********************

Panji tertegun dengan wajah geram ketika tiba di tempat kediaman gadis cantik yang ditolongnya. Di dalam rumah itu dilihatnya dua sosok mayat laki-laki dan perempuan berusia setengah baya yang kepalanya retak. Melihat dari ceceran darah yang masih agak basah, Panji dapat menduga kalau pembunuhan itu belum lama terjadi.

“Hm..., mungkinkah semua ini perbuatan kedua orang lelaki berpakaian hitam yang menjadi tukang pukul Wintarsa? Kejam sekali kalau mereka sampai membunuh kedua orang tua ini, hanya karena hendak menculik putrinya...,” desis Panji. Dalam hati, Pendekar Naga Putih merasa bersyukur telah melenyapkan 'kedua orang tukang pukul Wintarsa itu.

“Ayah..., Ibu...!”

Gadis cantik yang ditolong Panji menangis dengan hati hancur melihat keadaan orangtuanya. Panji tersadar dari lamunannya, segera kakinya melangkah dan menghibur gadis desa yang tengah dirundung malang itu. Ia bahkan membiarkan gadis itu menumpahkan air mata di dada bidangnya.

“Tahukah kau, siapa kira-kira yang telah membunuh kedua orangtuamu...?” tanya Panji ketika isak tangis gadis itu sudah mulai reda. Meskipun telah dapat menduga, tapi Panji ingin meyakini dugaannya.

“Siapa lagi kalau bukan manusia jahat yang bernama Wintarsa itu?! Ia memang sudah lama mengincarku! Tapi, ayah dan ibuku tidak mau membiarkan aku jatuh ke dalam pelukannya. Mungkin hal itu diketahuinya, dan merasa dendam terhadap ayah dan ibuku. Dua orang yang menculikku, pastilah tukang-tukang pukulnya yang galak dan kejam!” jawab gadis desa itu dengan nada menyiratkan dendam yang dalam. Kemudian, tangisnya kembali meledak ketika teringat bahwa dirinya kini sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

“Harap kau bisa tabah dalam menghadapi semua ini, Nisanak. Aku akan melaporkan kejadian ini kepada Ki Dungkala. Pemuda jahat yang bernama Wintarsa itu memang harus ditangkap, agar tidak lagi berani mengganggu gadis-gadis dan penduduk di desa ini...,” ujar Panji, menenangkan hati gadis cantik itu.

“Tapi, selama ini tidak pernah ada orang yang berani menentang Wintarsa dan keluarganya. Bahkan kepala desa sendiri tidak berani berbuat apa-apa. Sudah banyak orang yang menjadi korban kejahatan pemuda itu, tapi tak satu pun yang berani melaporkannya. Sebab, apabila ada yang berani melapor, sudah pasti akan mengalami kematian, tanpa ada yang tahu siapa pelakunya...,” bantah gadis cantik itu di antara isak tangisnya.

“Hm..., pada waktu-waktu yang lalu memang belum ada orang berani menentangnya. Tapi percayalah, Nisanak. Aku akan menghentikan kejahatan pemuda bejat itu untuk selamanya...!” janji Panji dengan suara yang tegas dan mantap.

Wajah gadis desa yang cantik itu terangkat, seperti hendak mengetahui kebenaran ucapan pemuda tampan berjubah putih yang telah menyelamatkannya itu. “Betulkah itu, Kakang...?” tanyanya seraya menatap tepat di kedua bola mata Panji yang memang sedang menatap wajah gadis desa yang cantik itu.

“Tentu saja benar. Dan, besok aku dan Ki Dungkala akan mendatangi keluarga Ki Sama Tungga. Aku akan membalaskan dendam semua orang desa yang telah disakiti dan dibunuhnya...,” lanjut Panji lagi.

“Terima kasih, Kakang...,” ucap gadis cantik itu. Hati gadis cantik itu merasa senang mendengar janji penolongnya. Ia pun kembali merebahkan wajahnya ke dada Panji. Tentu saja Panji agak sedikit bingung melihat sikap gadis desa itu. Tapi, karena tidak ingin menyinggung perasaan, Panji terpaksa mendiamkannya.

Tanpa terasa saat itu malam telah berganti pagi. Meskipun cuaca masih agak gelap, namun para penduduk desa telah banyak berdatangan ke rumah tempat di mana terjadi pembunuhan. Kedatangan orang-orang desa itu tentu saja atas pemberitahuan Panji. Pemuda itu kemudian meminta agar para tetangga yang berdekatan, mau membantu dan mengurus kedua mayat orangtua gadis yang ditolongnya. Sedangkan ia sendiri hendak melapor-kan kejadian itu kepada Ki Dungkala.

Kedatangan Panji disambut Ki Dungkala dengan wajah menyiratkan kecurigaan. Namun, ketika Panji menceritakan kejadian yang dialaminya semalam, lelaki gagah itu langsung saja memintanya untuk membawa ke tempat kejadian. Orang-orang desa yang berkerumun langsung menyisih ketika kepala keamanan desa mereka tiba. Setelah memeriksa kedua mayat yang menjadi korban pem-bunuhan itu, Ki Dungkala mengajak Panji menjauhi orang-orang desa, dan meminta keterangan lebih rinci dari pemuda itu.

“Hm..., jadi benar bahwa orang yang kau hadang semalam itu adalah Wintarsa? Lalu, siapa pula laki-laki tinggi kurus berjubah putih yang bertarung denganmu dan menyelamatkan pemuda jahat itu...?” tanya Ki Dungkala setelah mendengar cerita Panji lebih lengkap dan jelas. Ada bayang kecurigaan pada sepasang mata lelaki gagah itu, yang membuat Panji memakluminya. Selain ia merupakan orang asing di Desa Margaluyu, Ki Dungkala pun belum mengenalnya sama sekali.

“Ki Dungkala, kuharap kau suka melenyapkan kecurigaanmu...,” ujar Kenanga. Gadis ini juga menangkap sorot kecurigaan di mata lelaki gagah itu. Ia mengatakan itu, karena tidak suka melihat kekasihnya dicurigai. “Perlu kau ketahui, Ki. Pemuda yang berdiri di hadapanmu ini adalah seorang pendekar besar yang telah menggemparkan rimba persilatan. Jadi, kecurigaanmu jelas tidak beralasan....”

“Ah...?!” Ki Dungkala nampak terkejut sekali ketika mendengar perkataan Kenanga. Lelaki gagah itu memandangi sosok Panji secara lebih teliti. Sepasang mata Ki Dungkala semakin membelalak ketika mendapati ciri-ciri yang sering didengarnya terdapat pada seorang pendekar muda yang mendatangkan kekaguman di hatinya selama ini.

“Kau..., benarkah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?!” ucap Ki Dungkala dengan suara bergetar penuh harapan.

“Begitulah orang-orang memberikan julukan kepadaku, Paman...,” jawab Panji. Pendekar Naga Putih kini merasa tidak perlu lagi menyembunyikan jati dirinya. Apalagi nama besarnya memang sangat dibutuhkan untuk melenyapkan kecurigaan Ki Dungkala terhadap dirinya.

Sadar bahwa yang dihadapinya adalah benar Pendekar Naga Putih, Ki Dungkala langsung saja menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di depan Panji. Tentu saja Panji tidak ingin mendapatkan kehormatan yang berlebihan itu. Apalagi saat itu beberapa warga desa dan anak buah Ki Dungkala tengah menatap penuh keheranan. Kemudian, segera tubuh lelaki gagah itu diangkatnya.

“Maafkan sikapku yang telah lancang menuduhmu secara tak langsung, Pendekar Naga Putih. Aku benar-benar bodoh tidak bisa melihat siapa sesungguhnya orang yang berada bersamaku. Dengan kehadiranmu di desa ini, bukan mustahil kalau teror yang selama ini meresahkan penduduk desa akan segera berakhir...,” ujar Ki Dungkala. Dari kata-katanya, dapat dipastikan kalau lelaki gagah itu mengharapkan bantuan Pendekar Naga Putih untuk menenteramkan desanya.

“Harapanku pun demikian, Paman. Sekarang sebaiknya kita segera mendatangi kediaman keluarga Ki Sama Tungga. Biarlah mayat kedua orang tua itu anak buahmu yang mengurusnya...,” usul Panji yang merasa tidak enak melihat pandangan beberapa warga desa yang tampak masih keheranan melihat sikap kepala keamanan desa mereka.

Setelah berpesan kepada warga desa dan anak buahnya untuk mengurus mayat-mayat itu, Ki Dungkala langsung membawa Panji ke tempat kediaman Ki Sama Tungga.

********************

TUJUH

Kedatangan Ki Dungkala, Panji, dan Kenanga tidak mendapat sambutan baik dari pihak Ki Sama Tungga. Bahkan mereka harus menunggu agak lama untuk menemui juragan yang kaya raya itu. Meskipun demikian, ketiganya berusaha menahan diri dan menyabarkan hatinya yang mulai jengkel.

Setelah terasa pegal duduk menanti di ruang tengah, muncullah seorang lelaki tinggi kurus yang berusia sekitar lima puluh tahun lebih. Rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan pita berwarna biru. Wajah dan sinar matanya mengesankan keangkuhan. Jelas, lelaki tinggi kurus yang bernama Ki Sama Tungga itu merupakan seorang yang tinggi hati, dan memandang rendah orang lain yang tidak sederajat dengannya.

“Hm..., kau rupanya Dungkala...,” sambut Ki Sama Tungga, angkuh.

Sepertinya juragan kaya itu menganggap Ki Dungkala bukanlah seorang tamu penting. Kecuali Kepala Desa Margaluyu, tampaknya tidak ada lagi yang dihormati Ki Sama Tungga. Tentu saja, Ki Dungkala yang memang baru pertama kali berkunjung ke rumah keluarga kaya itu menjadi jengkel. Namun, lelaki gagah itu ternyata dapat menekan kejengkelannya, dan mampu bersikap wajar.

“Benar, Juragan. Perkenalkan kedua orang sahabatku, Panji dan Kenanga,” ujar Ki Dungkala memperkenalkan kedua orang muda yang datang bersamanya. Ketiganya bangkit dan membungkukkan tubuh sedikit menghormati tuan rumah. Kemudian, mereka kembali duduk setelah Ki Sama Tungga mempersilakan.

“Ada keperluan apa kau datang sepagi ini, Dungkala?” tanya Ki Sama Tungga seraya mengisap pipa tembakau di tangan kanannya. Sikapnya terlihat sangat angkuh dan tanpa basa-basi.

“Maaf, Juragan. Sebenarnya kami ingin bertemu dengan Tuan Muda Wintarsa, karena suatu keperluan yang sangat penting. Untuk itu, kumohon agar kami dapat dipertemukan dengannya...,” sahut Ki Dungkala tanpa mempedulikan sikap angkuh Ki Sama Tungga. Lelaki gagah itu langsung saja ke pokok persoalan. Karena ucapan Ki Sama Tungga pun tanpa basa-basi.

“Hm..., ada keperluan apa kau ingin berjumpa dengan putraku? Sekarang ia tidak berada di rumah, sejak kemarin ia belum kembali dari rumah pamannya di kadipaten. Jadi, maaf kalau kedatanganmu sia-sia. Tunggulah beberapa hari lagi, mungkin ia sudah kembali...,” jawab Ki Sama Tungga seraya menyipitkan sepasang matanya seperti tidak senang dengan permintaan Ki Dungkala yang dianggapnya terlalu lancang.

“Juragan...,” tandas Ki Dungkala yang sepertinya tidak mau lagi berbasa-basi. “Malam tadi telah terjadi penculikan dan pembunuhan di Selatan desa ini. Dan, pemuda ini memergoki penculik dan pembunuh itu. Apakah Juragan tidak ingin mengetahui, siapa penculik dan pembunuh itu...?”

“Dungkala...!” desis Ki Sama Tungga yang segera bangkit dari tempat duduknya dengan wajah gelap. “Seharusnya kau laporkan semua itu kepada Ki Samparan, dan bukan kepadaku! Mengapa aku harus memusingkan segala persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan diriku? Cepatlah pergi dari sini, sebelum aku bertindak kasar, atau mengadukan perbuatanmu ini kepada Ki Samparan agar kau dipecat karena telah berani datang dengan sikap tidak sopan ke tempatku...!” bentak Ki Sama Tungga, marah.

Tapi, Ki Dungkala tidak kalah gertak. Lelaki gagah itu ikut pula bangkit dengan wajah merah padam. Ia memang sudah lama merasa tidak suka dengan keluarga kaya yang sombong itu. Maka, sekarang ia ingin menumpahkan semua ketidaksenangannya itu. Selain merasa tersinggung karena tidak dipandang oleh Ki Sama Tungga, ia pun merasa bertanggung jawab penuh atas kejadian, yang menimpa warga desanya. Apalagi sekarang ia mendapat dukungan dari Pendekar Naga Putih. Maka, Ki Dungkala seperti harimau yang tumbuh sayap. Ia tidak lagi merasa takut atau segan kepada juragan yang sangat sombong itu.

“Ki Sama Tungga...!” geram Ki Dungkala yang tidak lagi menyebut Ki Sama Tungga dengan sebutan juragan. “Ketahuilah, bahwa orang yang telah melakukan penculikan dan pembunuhan itu adalah putramu! Untuk itu, aku datang kemari hendak menangkapnya, agar lain kali tidak lagi berbuat sesuka hatinya! Sekarang juga kami ingin membawa Wintarsa. Kalau tidak, rumah ini terpaksa kami geledah!”

“Keparat kau, Dungkala! Berani kau berbuat kurang sopan di rumahku ini! Kau memang pantas diberi pelajaran...!” geram Ki Sama Tungga. Laki-laki tinggi kurus itu sangat marah ketika mendengar tuduhan Ki Dungkala terhadap putra tunggal yang sangat disayanginya. Setelah berkata demikian, Ki Sama Tungga bertepuk tangan tiga kali. Sebentar saja, telah bermunculan belasan orang berseragam hitam yang merupakan tukang pukul keluarga kaya itu.

“Lemparkan mereka keluar! Beri pelajaran kepada keamanan desa yang tidak becus itu...!” perintah Ki Sama Tungga sambil melangkah meninggalkan ruangan itu.

Tanpa diperintah dua kali, tiga belas orang lelaki kekar yang menjadi tukang pukul keluarga Ki Sama Tungga, langsung saja berlompatan mengepung Ki Dungkala, Panji dan Kenanga.

Ki Dungkala sudah mencabut pedangnya, siap untuk bertarung mati-matian. Sedangkan Panji, sejak pertama kali melihat orang yang bernama Ki Sama Tungga itu, ingatannya langsung tertuju kepada sosok tinggi kurus berjubah putih yang semalam bertarung dengannya. Maka, ketika dilihatnya Ki Sama Tungga hendak meninggalkan tempat itu, Panji langsung melayang hendak mencegahnya. Sekali lompatan saja, tubuh Pendekar Naga Putih telah melayang, dan mendarat tepat di depan Ki Sama Tungga.

Lelaki tinggi kurus itu langsung terkejut melihat pemuda tampan berjubah putih yang datang bersama Ki Dungkala tahu-tahu telah menghadang jalannya. Kemarahan Ki Sama Tungga seketika meledak,

“Mau apa kau, Pemuda Asing?! Kau kira bisa berbuat sesukamu di tempat ini...? Lebih baik menyingkirlah, sebelum kesabaranku hilang...!” ujar Ki Sama Tungga bernada mengancam.

Namun, Panji tetap tidak mempedulikannya. Pemuda itu malah melangkah dua tindak ke depan, dan meneliti sosok di depannya. “Hm..., pertarungan kita semalam belum usai, Ki Sama Tungga. Tidakkah kau ingin melanjutkannya sekarang...?” ujar Panji sambil menatap tajam wajah lelaki tua di depannya. Sadar kalau orang yang dihadapinya memiliki kepandaian tinggi, Pendekar Naga Putih segera menyiapkan kuda-kuda yang kokoh.

“Keparat! Kau rupanya sudah gila, Anak Muda! Apa maksud ucapanmu itu, aku sama sekali tidak mengerti...?” bentak Ki Sama Tungga, heran. Jelas, lelaki tinggi kurus itu tidak mengerti apa yang diucapkan Panji.

“Huh! Tidak perlu berpura-pura lagi, Ki Sama Tungga. Sebaiknya bersiaplah untuk menerima seranganku! Jangan salahkan aku, kalau kau sampai celaka...!” ujar Panji seraya membuka jurusnya untuk memancing Ki Sama Tungga agar mempersiapkan ilmunya.

“Bedebah! Kau pikir hanya kau saja yang memiliki kepandaian! Nah, sambutlah seranganku...!” bentak Ki Sama Tungga karena merasa jengkel atas sikap pemuda tampan berjubah putih itu. Tubuh tinggi kurus itu meluruk ke arah Panji sambil melancarkan totokan dengan ujung pipanya yang panjangnya satu setengah jengkal itu.

Bettt! Bettt...!

Totokan ujung pipa yang datang bertubi-tubi itu dielakkan Pendekar Naga Putih tanpa banyak mengalami kesukaran. Namun, Pendekar Naga Putih mengerutkan keningnya ketika melihat gerakan lawannya. Meskipun serangan Ki Sama Tungga cukup kuat dan berbahaya, namun menurutnya masih terlalu lamban. Gerakan Ki Sama Tungga sama sekali sangat jauh berbeda dengan gerakan lawannya semalam. Tentu saja Panji menduga kalau orang tua itu masih hendak menyembunyikan kepandaian guna mengecohnya.

“Hm..., keluarkan seluruh kesaktianmu, Ki Sama Tungga. Kalau tidak, kau akan menyesal...!” pancing Panji memanasi lawan, dan mulai membalas serangan orang tua itu dengan tamparan dan tendangan kilat yang menggetarkan hati lawan. Namun, Panji kembali menjadi heran ketika melihat Ki Sama Tungga benar-benar kerepotan menghadapi serangannya yang cepat dan susul-menyusul itu.

Desss...!

Sebuah tendangan yang dilontarkan Panji dengan mengerahkan sebagian dari tenaganya, menghantam telak tubuh Ki Sama Tungga. Untunglah Panji sempat mengurangi kekuatan tendangannya, ketika merasakan betapa tubuh lawan tidak mempunyai perlindungan sama sekali. Tentu saja, Pendekar Naga Putih semakin tak mengerti, mengapa orang tua itu lebih suka terkena tendangan ketimbang mempergunakan kesaktiannya untuk melawan.

“Hm..., sudah kukatakan, keluarkan seluruh kemampuanmu, Ki Sama Tungga. Kalau tidak, kau pasti bisa terbunuh oleh pukulan mautku!” ancam Panji lagi. Walau bagaimanapun, Pendekar Naga Putih merasa tidak enak untuk menjatuhkan lawan yang sepertinya tidak mau melayaninya bertarung dengan sungguh-sungguh.

“Bocah sombong! Hanya sebuah tendangan tak berarti seperti itu kau sudah menganggap dirimu menang? Huh! Lihatlah, aku bisa membuatmu menangis minta ampun atas kesalahan dan kelancanganmu kepadaku...!” geram Ki Sama Tungga. “Yeaaat...!”

Diiringi sebuah pekikan nyaring, Ki Sama Tungga menerjang Panji. Pipa di tangannya berputaran cepat membentuk gulungan sinar hitam yang menderu-deru. Meskipun demikian, Panji tetap saja kecewa. Sebab, serangan itu tidaklah sehebat dugaannya. Bahkan masih terhitung lamban bagi ukurannya. Sehingga, dengan mudah ia dapat mengelakkannya, bahkan langsung melontarkan serangan balasan yang diiringi hembusan hawa dingin menusuk tulang!

Plakkk! Desss...!

Untuk kedua kalinya, telapak tangan Panji bersarang di tubuh Ki Sama Tungga. Akibatnya, tubuh lelaki tinggi kurus itu terjungkal hingga satu tombak lebih ke belakang, la tampak terhuyung ketika mencoba bangkit berdiri. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar. Bahkan wajahnya tampak agak pucat. Jelas, Ki Sama Tungga tidak mampu untuk menahan serbuan hawa dingin yang meresap ke dalam tubuhnya.

“Gila...! Mungkin sosok tinggi kurus berjubah putih yang kuhadapi semalam bukan Ki Sama Tungga? Kalau begitu, siapa dia? Mengapa Wintarsa diselamatkannya...? Dan, mengapa ilmu silatnya sangat mirip dengan pemuda pesolek itu...?” gumam Panji.

Pendekar Naga Putih merasa ragu ketika untuk kedua kalinya Ki Sama Tungga sama sekali tidak bisa mengelakkan pukulannya. Bahkan tampaknya lelaki tua itu menderita luka dalam yang cukup parah.

“Mengapa kau berhenti, Pemuda Setan?! Apakah kau kira aku sudah menyerah kalah...?” geram Ki Sama Tungga yang sepertinya masih hendak melanjutkan pertarungan.

“Sebentar, Ki Sama Tungga, aku hendak bertanya. Kuharap kau mau menjawabnya dengan jujur. Benarkah kau belum pernah bertemu denganku sebelum ini? Dan, benarkah kau belum pernah bertarung denganku sebelumnya...?” tanya Panji.

Pendekar Naga Putih mulai ragu setelah melihat ilmu silat yang dimiliki Ki Sama Tungga sama sekali tidak berbahaya baginya. Meskipun ilmu silat lelaki tua itu cukup tinggi, tapi jelas tidak bisa disamakan dengan kesaktian sosok tinggi kurus berjubah putih yang semalam bertarung dengannya. Hal itu membuat Panji menjadi bimbang.

“Hm..., aku memang belum pernah bertarung dan berjumpa denganmu sebelum ini, Anak Muda! Tapi, hal itu bukan berarti aku takut menghadapimu! Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataanmu yang aneh itu...?” jawab Ki Sama Tungga bersungguh-sungguh.

Panji pun tahu kalau orang tua itu tidak membohonginya. Lagi pula, untuk apa lelaki tua itu menyembunyikan kesaktiannya, dan mau menerima pukulan yang membuatnya terluka dalam?

“Hm..., baiklah. Aku percaya dengan jawabanmu. Sekarang aku minta agar kau menyerahkan putramu yang bernama Wintarsa itu. Karena ia telah melakukan pembunuhan serta penculikan. Meskipun aku berhasil memergokinya saat hendak melarikan seorang gadis, tapi ia telah melakukan pembunuhan terhadap orangtua gadis yang diculiknya itu. Apakah kau memang hendak membela putramu yang nyata-nyata telah berbuat jahat itu...?” ujar Panji. Pemuda tampan berjubah putih ini kini ganti mencari Wintarsa. Karena sangat diyakininya kalau Ki Sama Tungga bukanlah orang yang dimaksudkan.

“Benar, Ki Sama Tungga! Sebaiknya kau serahkan putramu yang jahat itu! Ia telah terlalu banyak melakukan kejahatan di desa ini! Kuharap kau mau menyerahkannya kepada kami...!”

Ki Dungkala yang rupanya sudah berhasil menundukkan lawan-lawannya bersama Kenanga, ikut menimpali ucapan Panji. Kini lelaki tinggi kurus itu telah terkepung oleh ketiga lawannya, yang mempunyai tujuan sama. Yaitu, hendak menangkap putra tunggalnya.

“Hm..., sejahat apa pun Wintarsa, ia tetap putraku. Karena itu aku harus membelanya dengan taruhan nyawaku! Mungkin ia memang seringkali berbuat jahat, tapi kalau sampai telah banyak membunuh orang, aku tidak percaya. Untuk itu, aku tidak akan sudi menyerahkan putraku kepada kalian...!” Ki Sama Tungga tetap berkeras hendak melindungi putranya. Dari sorot matanya yang tajam, Ki Dungkala, Panji, dan Kenanga tahu kalau Ki Sama Tungga bersungguh-sungguh, dan tidak bisa dibujuk kecuali dengan jalan kekerasan.

“Hm..., kalau kau tetap berkeras, kami akan memaksamu! Dan, kau pun akan mendapat hukuman berat karena telah melindungi seorang pembunuh keji seperti putramu itu...!” geram Ki Dungkala.

Sambil berkata demikian, lelaki gagah itu segera memutar pedangnya dan menerjang Ki Sama Tungga. Sebentar saja, keduanya telah terlibat dalam sebuah pertarungan yang sengit.

“Kenanga, kau tetaplah di sini mengawasi pertarungan. Aku akan mencari Wintarsa yang mungkin tengah ber-sembunyi di salah satu ruangan di rumah besar ini...,” ujar Panji.

Tanpa menunggu jawaban kekasihnya, Pendekar Naga Putih segera berkelebat cepat dari tempat itu. Kenanga sendiri hanya mengangguk, meskipun Panji tidak sempat lagi melihat anggukan kepalanya. Dara jelita itu mengikuti jalannya pertarungan, dan siap turun tangan bila Ki Dungkala terdesak oleh lawannya.

Pertarungan antara Ki Dungkala dan Ki Sama Tungga memang terlihat seru. Keduanya tampak sama-sama gesit, dan memiliki tenaga sakti yang hampir berimbang. Kalaupun Ki Sama Tungga masih lebih unggul sedikit dalam hal kecepatan gerak dan kekuatan tenaga dalam, tapi luka dalam akibat pukulan Panji telah membuat gerakannya sedikit terhambat. Sehingga, kelebihannya yang hanya sedikit itu telah tertutup.

“Haittt...!” Ki Dungkala yang memang merasa tidak suka dan ingin memberi pelajaran kepada juragan yang sombong itu, menerjang dengan seluruh kepandaian yang dimilikinya. Maka, tidaklah mengherankan bila dalam tiga puluh jurus, Ki Dungkala terlihat mulai berada di atas angin. Gerakan lelaki gagah itu terlihat penuh semangat dan memiliki perhitungan yang matang. Sehingga, lawannya yang memang sudah tidak tenang pikirannya itu semakin kerepotan dalam menghadapi serangannya.

Memasuki jurus yang keempat puluh tiga, gerakan Ki Sama Tungga terlihat semakin lamban. Jelas kekuatan serta kegesitan lelaki tinggi kurus itu sudah mulai berkurang. Sehingga, Ki Dungkala berhasil menyarangkan sebuah tendangan keras ke lambung lawannya.

Bukkk!

“Huakhhh...!” Tanpa ampun lagi, tubuh Ki Sama Tungga langsung terjengkang memuntahkan darah segar. Meskipun demikian, jurangan kaya itu masih berusaha bangkit untuk melanjutkan pertarungan. Tapi, Ki Dungkala sepertinya tidak ingin memberikan kesempatan lagi kepada lawannya. Saat itu juga, ia langsung melesat dengan babatan pedangnya yang mengancam tubuh Ki Sama Tungga.

“Akh...?!” Lelaki tinggi kurus yang biasanya sombong itu memucat wajahnya. Sadar kalau tidak mungkin dapat selamat dari pedang lawan, Ki Sama Tungga hanya bisa pasrah menerima kematian di tangan kepala keamanan desa itu. Tapi, pada saat kematian hampir menjemput Ki Sama Tungga, tiba-tiba melesat sesosok bayangan dari samping. Dan langsung memapaki datangnya serangan pedang Ki Dungkala! Dan...

Plak!

“Aaakh...!” Hebat sekali akibat tangkisan sosok bayangan yang baru muncul itu. Bukan saja ia telah berhasil menyelamatkan nyawa Ki Sama Tungga dari kematian, tetapi tubuh Ki Dungkala terpelanting deras menghantam dinding di belakangnya.

“Paman...!” seru Kenanga terkejut melihat perubahan yang sama sekali tidak diduganya itu.

Cepat gadis jelita itu berlari memburu tubuh Ki Dungkala yang tampak tengah terduduk sambil memuntahkan darah segar. Kemudian, kepalanya menoleh ke arah sosok bayangan yang telah menyelamatkan nyawa Ki Sama Tungga. Wajah Kenanga tampak menegang ketika melihat dan mengenali sosok yang berdiri angker di depannya.

DELAPAN

“Kau...?!” desis Kenanga, terkejut. Urat syaraf dara jelita itu seketika menjadi tegang ketika melihat seraut wajah menyeramkan, tengah menatapnya dengan sorot mata semerah darah!

“Wintarsa...?!” Ki Dungkala pun tidak kalah terkejutnya ketika melihat siapa orang yang telah memapaki serangan pedangnya tadi.

Lelaki gagah itu benar-benar tidak percaya kalau yang mematahkan serangannya adalah Wintarsa, pemuda yang dikenalnya dengan baik. Yang membuat Ki Dungkala heran, bagaimana Wintarsa mampu menghalau serangan-nya. Padahal setahunya, kepandaian pemuda itu tidak terlalu tinggi. Meskipun untuk mengalahkannya tidaklah begitu mudah, namun Ki Dungkala yakin kalau ia masih dapat menang melawan Wintarsa. Tapi, mengapa ia dengan mudah terluka oleh pemuda itu hanya dengan sekali gebrak saja? Padahal, pemuda pesolek itu hanya menangkis serangannya, tanpa menyarangkan pukulan ke tubuhnya. Kenyataan ini, membuat Ki Dungkala tak habis pikir.

“Hmrrr...! Kalian berdua telah berani melukai ayahku! Untuk itu, kalian harus mampus di tanganku...!” geram Wintarsa dengan suara yang mampu membuat jantung seorang lelaki penakut copot.

“Benarkah dia adalah Wintarsa yang selama ini kukenal...?” gumam Ki Dungkala yang merasa bulu tengkuknya meremang melihat tatapan mata yang terasa bagaikan mengiris-iris jantungnya itu. Sebab, wajah pemuda itu berubah jauh dari biasanya. Suaranya pun terdengar menyeramkan seperti suara iblis pencabut nyawa. Tentu saja hal ini membuat Ki Dungkala menjadi gemetar.

Melihat sikap dan perbawa yang menyeramkan terpancar dari wajah pemuda itu, Kenanga segera teringat akan peristiwa beberapa waktu yang lalu, di luar Desa Margaluyu. Ia pun sempat melihat bagaimana Panji kerepotan menghadapi pemuda itu yang sepertinya telah kerasukan setan. Sadar kalau keadaan mereka sangat berbahaya, dara jelita itu pun bangkit sambil menghunus pedangnya.

“Yeaaarkh....!” Wintarsa yang sepertinya telah berubah menjadi iblis haus darah itu, kembali menggeram dengan suara aneh. Pemuda itu melangkah perlahan menghampiri Kenanga yang berdiri di depan Ki Dungkala. Dan, ketika Wintarsa melompat menerjang dengan ganasnya, Kenanga segera memutar Pedang Sinar Rembulan. Seketika itu, terbentuklah gulungan sinar putih keperakan yang berpendar menyilaukan mata.

Bettt...!

Sinar putih keperakan berkeredep ketika Kenanga membabatkan senjatanya untuk menyambut datangnya serangan lawan. Tapi, bukan main terkejutnya hati dara jelita itu ketika melihat Wintarsa menyambut mata pedangnya dengan telapak tangan!

Plakkk!

“Aihhh...?!” Hati dara jelita itu bukan main kaget ketika tamparan telapak tangan Wintarsa membuat senjatanya hampir terlepas dari genggaman tangan. Sedangkan telapak tangan pemuda itu telah berputar cepat dan meluncur ke arah tenggorokannya. Cepat Kenanga melempar tubuhnya ke belakang, dan berputaran beberapa kali, sebelum mendaratkan kedua kakinya di tanah.

Wintarsa yang telah kerasukan setan itu, rupanya tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk mempersiapkan jurus baru. Tubuh pemuda aneh itu kembali meluncur dengan cengkeraman-cengkeraman mautnya, yang menimbulkan suara berdecitan tajam. Jelas, serangan pemuda itu sangat berbahaya dan mematikan!

Trang...!

Kenanga yang mencoba memapaki cengkeraman Wintarsa dengan sabetan pedangnya, kembali terkejut setengah mati. Sebab, Wintarsa sama sekali tidak berusaha menyelamatkan tangannya. Malah sengaja menyambut datangnya sambaran pedang dengan cengkeramannya. Untunglah pedang dara jelita itu bukan senjata sembarangan. Kalau tidak, mungkin sudah patah-patah akibat cengkeraman yang sangat kuat dari lawannya. Sebentar saja, dara jelita itu terdesak deh gem-puran-gempuran Wintarsa yang aneh, namun sangat berbahaya itu.

“Haiiit...!”

Pada saat Kenanga tengah sibuk mempertahankan dirinya dari gempuran Wintarsa, tiba-tiba terdengar pekikan nyaring yang disusul masuknya sesosok bayangan putih bersinar putih keperakan ke dalam kancah pertarungan. Begitu tiba, sosok bayangan bersinar putih keperakan yang tak lain dari Panji itu, langsung memapaki serangan Wintarsa.

Plak, plak.... Desss...!

Kedatangan Panji yang secara tiba-tiba itu di luar perhitungan Wintarsa. Sehingga, pemuda itu tidak sempat lagi mengelak. Dan, sebuah pukulan telapak tangan Panji pun singgah di dada pemuda aneh itu. Akibatnya, tubuh Wintarsa terdorong mundur sejauh satu tombak. Terlihat dari sudut bibirnya menetes darah segar. Jelas, pukulan yang sangat kuat itu telah membuat Wintarsa menderita.

“Hm..., akhirnya kau muncul juga, Wintarsa! Sekarang kita tentukan, siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan kari ini...,” desis Panji dingin.

Pendekar Naga Putih kemudian menyilangkan kedua lengannya di depan dada dengan kedua mata terpejam. Dan sebentar kemudian, muncullah sinar kuning keemasan yang menyelimuti sebelah kanan tubuh pemuda itu. Sedangkan tubuh bagian kirinya, diselimuti lapisan kabut bersinar putih keperakan. Jelas, Pendekar Naga Putih telah menggabungkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' dengan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'. Sehingga, tubuhnya mengeluarkan dua buah sinar yang mempunyai dua unsur berbeda. Panas dan dingin!

Sinar kuning keemasan yang terpancar dari sebelah kanan tubuh Panji tampak menimbulkan pengaruh bagi Wintarsa. Terbukti pemuda itu melangkah mundur seraya menghalangi pandangan matanya dengan sepasang lengannya. Jelas, Wintarsa merasa agak terganggu dengan sinar kuning keemasan itu.

“Hm...,” Panji yang melihat tingkah laku Wintarsa, yang merasa terganggu dengan sinar tenaga jelmaan Pedang Naga Langit itu, segera dapat menduga kalau ada sesuatu yang tidak beres dalam diri pemuda itu. Maka, untuk meyakinkan dirinya, Pendekar Naga Putih bergerak maju dengan menggunakan jurus-jurus andalannya yang sangat terkenal.

“Haaat...!” Kali ini Panji lebih dahulu membuka serangan. Sepasang tangannya bergerak cepat dengan cakar naga yang siap mengoyak tubuh lawannya.

Wintarsa tampak tidak lagi seganas semula. Kelihatan sekali kalau pemuda itu selalu menghindari gempuran tangan kanan Panji. Ia selalu bermain di sebelah kiri lawannya. Seolah serangan tangan kanan pemuda itu sanggup membuat kesaktiannya lenyap.

Panji bukan tidak mengetahui hal itu. Maka, ia pun semakin mempergencar serangan-serangannya. Sepasang lengannya bergerak cepat dan sukar diikuti mata biasa. Tubuh pemuda itu sendiri berkelebat cepat laksana seekor naga yang tengah bermain-main di angkasa.

Plakkk!

Tusukan jari tangan kanan Wintarsa yang meluncur ke tenggorokan Panji, langsung dipapaki dengan tangan kanannya. Akibatnya, kedua lengan itu saling berbenturan keras. Kali ini, tubuh Wintarsa tampak terhuyung-huyung. Keadaan itu dipergunakan Panji untuk mengirimkan hantaman telapak tangan kanannya. Tak ayal lagi, pukulannya telak menghajar tubuh Wintarsa.

Desss...!

Akibatnya benar-benar mengejutkan sekali! Tubuh pemuda tampan pesolek itu terjengkang dan berkelojotan bagaikan ayam disembelih! Sekujur tubuhnya mengeluarkan sinar kuning keemasan. Jelas, kekuatan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' seperti terserap ke dalam tubuh pemuda itu. Lama-kelamaan sinar kuning keemasan itu semakin mengecil, kemudian lenyap sama sekali setelah berdiam agak lama di sekitar kepala Wintarsa. Pemuda itu pun menggeletak tak sadarkan diri.

“Hm..., jelas ada sesuatu yang tidak beres dalam diri pemuda itu. Entah apa! Aku belum begitu jelas. Tapi, mungkin ia memerlukan sedikit pengobatan. Sebaiknya kita bawa saja dia ke dalam...,” ujar Panji sambil menghampiri dan mengangkat tubuh Wintarsa.

Sementara itu, Ki Dungkala, Ki Sama Tungga, dan Kenanga sama sekali belum bisa mengeluarkan kata-kata. Sepertinya mereka masih merasa terkesima dengan kejadian yang baru saja disaksikan tadi. Mereka hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Panji.

********************

“Wintarsa, ceritakanlah! Dari mana kau mempelajari ilmu-ilmu aneh yang sangat berbahaya itu? Menurut keterangan ayahmu, ia sama sekali tidak pernah mengajarkan dan memiliki ilmu seperti itu? Dan, benarkah kau yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan di desa ini...?” tanya Panji setelah Wintarsa sadar dari pingsannya.

Sebelumnya, pemuda tampan berjubah putih itu telah menanyakan kepada Ki Sama Tungga yang tampaknya telah sadar akan kekeliruannya selama ini. Ki Dungkala, Kenanga, dan Ki Sama Tungga duduk berkumpul di tempat itu. Mereka ingin mendengar penjelasan dari pemuda pesolek itu.

“Hhh..., sebelumnya aku memang jahat, dan sangat sombong. Aku sering menyakiti para penduduk desa yang berani menentang kemauanku. Banyak gadis-gadis dan istri orang yang kuganggu. Hal itu mungkin dikarenakan ayah selalu menuruti apa yang menjadi kehendakku. Tapi..., mengenai pembunuhan-pembunuhan yang kau tanyakan itu, aku sama sekali tidak pernah melakukannya. Mungkin ada satu-dua orang yang pernah tewas oleh tukang-tukang pukulku.”

Wintarsa menghentikan ucapannya untuk mengambil napas. Pemuda itu merasakan dadanya agak sesak, walaupun tadi telah diobati oleh Pendekar Naga Putih.

“Semua itu ku akui sebagai kesalahanku. Sedangkan mengenai ilmu-ilmu itu, kupelajari dari sebuah sumur tua yang terdapat di belakang kuil tua di sebelah Barat desa ini. Kuil rusak itu sudah lama tidak terpakai lagi. Ketika itu aku tengah beristirahat bersama kedua orang pengawalku, setelah berburu di hutan. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa tertarik dengan sebuah sumur tua di belakang kuil itu. Karena dasar sumur itu terlihat dari atas, aku merasa penasaran, dan langsung turun ke dalamnya.”

Wintarsa kembali menghentikan ceritanya. Ditatapnya wajah orang-orang yang berada di sekelilingnya, seakan ingin mengetahui tanggapan mereka akan ceritanya.

“Ternyata sumur tua itu berlubang pada dindingnya, dan mirip sebuah gua. Aku pun langsung masuk ke dalamnya. Di sana aku menemukan gambar-gambar orang yang tengah bersilat, lalu aku mempelajarinya. Dan sejak saat itu, aku hampir setiap hari datang untuk mempelajari ilmu silat yang ada di dalam gua itu,” Wintarsa kembali menghentikan ceritanya, dan menarik napas dalam-dalam mengenang peristiwa itu.

“Hm..., gambar-gambar itu jelas peninggalan seorang tokoh sakti. Sayang, kau mempelajarinya tidak berurutan. Sehingga, hawa sakti yang kau himpun, telah merusak syaraf di kepalamu. Untunglah, masih belum terlambat untuk menyembuhkanmu. Kalau tidak, mungkin kau akan tewas bila jalan darah di kepalamu telah pecah akibat terlalu sering melatih ilmu yang salah itu...,” jelas Panji.

Pendekar Naga Putih kini mulai mengerti mengapa ilmu silat pemuda itu menjadi sangat hebat bila kesadarannya lenyap. Rupanya hal itu disebabkan tersumbatnya aliran darah di kepalanya, sehingga membuat ingatan pemuda itu lenyap, dan berganti ingatan tentang ilmu silat yang dipelajarinya secara terbalik.

“Hm..., tahulah aku sekarang, siapa yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan di desa ini...,” tiba-tiba Ki Dungkala bergumam, membuat yang lainnya segera menoleh ke arahnya.

“Apa maksud Paman...?” tanya Panji seraya mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Ki Dungkala.

“Panji, coba kau katakan, apakah Wintarsa bisa berubah menjadi gila seterusnya? Dan mungkinkah ia akan melakukan pembunuhan-pembunuhan, apabila ia telah mempelajari ilmu itu selama bertahun-tahun...?” tanya Ki Dungkala sebelum menjawab pertanyaan Pendekar Naga Putih.

“Begitulah kira-kira, Paman. Perbuatan yang selama ini dilakukannya kebanyakan didorong oleh pengaruh ilmu sesat itu. Sebab, menurutku Wintarsa tidak jahat. Mungkin ia melakukan kejahatan-kejahatan itu setelah mempelajari ilmu yang ditemukannya di dasar sumur tua di belakang kuil itu. Jadi, apabila Wintarsa telah lima tahun lebih mempelajarinya, bisa jadi ia akan berubah gila. Kendatipun ia masih bisa mengenali orang, dan berbicara seperti biasa. Kegilaan yang kumaksudkan di sini adalah timbulnya pikiran-pikiran jahat akibat semakin tingginya tenaga sakti yang dipelajarinya. Sebab, bila kita mempelajari ilmu tenaga dalam secara terbalik, akan merusak jaringan syaraf pada otak kita...,” tutur Panji yang membuat Ki Dungkala mengangguk-anggukkan kepala.

“Kalau begitu, marilah kalian ikuti aku. Sebab, yang mempelajari ilmu itu mungkin bukan hanya Wintarsa seorang. Ada lagi orang lain yang telah mempelajarinya, sebelum Wintarsa menjadi pemuda dewasa seperti sekarang ini. Semula aku tidak begitu memperhatikannya ketika ia seringkali pergi dan sampai menginap berhari-hari di kuil tua itu. Dua tahun belakangan ini, ia seringkali menyepi di satu tempat. Diam-diam aku pernah mengintainya. Dan, ia memang tengah melatih ilmu silatnya secara sembunyi-sembunyi. Karena ia seperti merahasiakannya, maka aku pun tidak berani membicarakannya. Hanya saja tingkah dan sikapnya memang agak aneh. Mungkin karena ia memiliki dasar yang lebih kuat ketimbang Wintarsa, maka ia tidak terlalu merasakan perubahan itu...,” jelas Ki Dungkala.

Panji dan yang lainnya menjadi tegang mendengar penjelasan kepala keamanan desa itu. Orang yang diceritakan Ki Dungkala itu jelas lebih berbahaya daripada Wintarsa. Kalau pemuda itu mempelajarinya baru satu tahun saja sudah sedemikian hebat, entah bagaimana dengan orang yang diceritakan Ki Dungkala yang telah mempelajarinya lebih dari lima tahun!

“Hm..., apakah orang itu memiliki tinggi tubuh seperti Ki Sama Tungga...?” tanya Panji setelah terdiam beberapa saat lamanya. Rupanya Pendekar Naga Putih kembali teringat kepada sosok tinggi kurus berjubah putih yang pemah bertarung dengannya. Dan, lawannya itu memang memiliki gerakan serupa dengan Wintarsa. Bahkan kelihatan jauh lebih kuat dan lebih mantap.

“Yah..., mungkin dia orang yang kau ceritakan itu, Panji. Marilah kalian ikuti aku. Ia ada di suatu tempat yang tersembunyi. Dan ia sudah berbulan-bulan menyepi di sana. Aku sendiri tidak tahu, apa yang membuat dia bertindak seperti itu...,” ujar Ki Dungkala sambil bergerak bangkit dan mengajak Panji dan yang lainnya untuk segera mengikutinya.

********************

Dengan Ki Dungkala sebagai penunjuk jalan, tidaklah sulit bagi mereka untuk menemukan tempat yang dimaksud lelaki gagah itu. Tidak berapa lama kemudian, tibalah mereka di dekat sebuah pondok tua yang berada jauh di bagian Utara Desa Margaluyu. Bahkan sudah berada di luar desa.

“Hm.., di sinikah orang itu tinggal...?” tanya Panji sambil melangkah mendekati pondok itu.

“Betul. Kuharap kalian semua berhati-hati. Sebab, bukan mustahil kalau dia telah mengetahui kedatangan kita..,” Ki Dungkala mengingatkan dengan wajah sedikit tegang.

Namun, saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara tawa berkepanjangan yang mendirikan bulu roma. Bahkan, suara tawa itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat dahsyat. Sehingga, Panji harus mengerahkan tenaga saktinya guna melindungi dada dan pendengarannya dari pengaruh suara tawa itu.

“Kalian semua menyingkirlah jauh-jauh...!” seru Panji ketika melihat yang lainnya tampak limbung, karena mereka tidak sanggup menahan getaran suara tawa itu.

“Ki Samparan, keluarlah! Kami sudah mengetahui bahwa semua yang terjadi di desa ini adalah perbuatanmu...!” teriak Ki Dungkala seraya melangkah mundur menjauhi pondok.

“Ki Samparan...?!” desis Ki Sama Tungga dan Wintarsa bersamaan. Jelas, keduanya telah mengenal baik orang yang namanya disebut Ki Dungkala tadi.

“Ki Samparan...?! Kau maksudkan yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu adalah Kepala Desa Margaluyu sendiri...?” tanya Panji dengan wajah terkejut. Karena ia telah mendengar tentang Kepala Desa Margaluyu itu. Tapi, tidak menduga sama sekali kalau justru orang tua itulah yang melakukan kejahatan di dalam desanya. Sebab, selama berada di desa itu Panji sama sekali belum pernah berjumpa dengan Ki Samparan. Pemuda itu tidak ingat untuk menanyakannya, karena Ki Dungkala pun tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang kepala desanya itu.

“Benar, Panji. Ki Samparanlah yang kumaksudkan...” jawab Ki Dungkala yang tampaknya merasa berduka mengingat orang yang selama ini menteror warga desa justru orang yang seharusnya melindungi penduduk desa itu.

Percakapan mereka terhenti ketika tiba-tiba hembusan angin bertiup keras diiringi suara tawa yang menggetarkan jantung. Begitu hembusan angin itu lenyap, muncullah sesosok tubuh tinggi kurus yang mengenakan jubah panjang berwarna putih. Sosok itu berdiri angker menatapi wajah-wajah di hadapannya.

“Hm..., apa maksudmu membawa mereka kemari, Dungkala? Apakah kau hendak mengandalkan Pendekar Naga Putih untuk menghentikan kesenanganku...?” tegur lelaki tinggi kurus berusia sekitar enam puluh tahun itu. Rambut dan wajahnya tampak tidak terurus, persis seperti orang gila. Sorot matanya demikian tajam, tertuju kepada Ki Dungkala yang badannya langsung menjadi gemetar.

“Benar! Akulah yang akan menghentikan kegilaanmu, Ki Samparan! Kau telah tersesat terlalu jauh...,” ujar Panji yang langsung saja bergerak melindungi Ki Dungkala, ketika melihat tangan kanan Ki Samparan siap bergerak untuk menghabisi nyawa kepala keamanan desa itu.

“He he he...! Kalau begitu, kaulah yang lebih dulu harus kukirim ke neraka, Pendekar Naga Putih..!” Baru saja ucapan itu selesai, tubuh Ki Samparan telah melayang dengan pukulan-pukulan mautnya yang menimbulkan angin bercuitan.

Whuuut! Whuuut!

Cepat Pendekar Naga Putih menyuruh yang lainnya untuk menjauhi tempat itu. Sedangkan ia sendiri sudah bergerak dengan lompatan ke samping, guna menghindari serangan yang menebarkan bau amis dan harum yang memabukkan. Jelas, serangan Ki Samparan mengandung racun yang mematikan.

“Hm...,” Panji yang telah mengetahui kelemahan lawan, segera mengerahkan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'. Sebab, Wintarsa pun lumpuh dengan tenaga mukjizat itu.

Apa yang diduga Panji terbukti. Ki Samparan tampak sangat takut sekali ketika melihat tubuh pemuda itu mengeluarkan sinar kuning keemasan. Hal itu tidaklah aneh. Sebab, tenaga mukjizat jelmaan Pedang Naga Langit itu mampu melumpuhkan ilmu sihir ataupun segala jenis racun yang paling jahat sekalipun.

Dan, karena Ki Samparan maupun Wintarsa tengah menderita keracunan, maka mereka pun takut melihat sinar keemasan yang membuat tubuh mereka seperti lemas. Sadar akan kelemahan lawan, Panji tidak mau membuang-buang waktu lagi. Cepat bagai kilat, pemuda itu langsung melesat menerjang lawannya.

Whuttt! Plakkk!

“Aaakh...!” Ki Samparan menjerit kesakitan, karena ia terpaksa harus menangkis serangan pemuda yang tidak mungkin dapat dielakkannya itu. Tubuh lelaki tua itu terjajar mundur. Wajahnya tampak agak pucat. Sepasang matanya bergerak liar seperti hendak mencari jalan untuk selamat.

“Hm..., hendak lari ke mana kau...?!” bentak Panji ketika melihat lawannya melesat ke arah Ki Dungkala dan yang lainnya. Jelas Ki Samparan hendak mencari korban yang lebih mudah untuk dilenyapkan.

Namun, lelaki tua itu tidak sempat untuk mencapai sasaran yang ditujunya. Karena Panji lebih dulu menyambut serangan lelaki tua yang telah gila itu. Merasa tidak ada jalan lain, Ki Samparan pun segera mengeluarkan seluruh kesaktiannya untuk melenyapkan Pendekar Naga Putih. Sehingga, keduanya segera terlibat dalam sebuah pertarungan sengit.

Sebenarnya, kalau saja Panji tidak mempergunakan tenaga mukjizat itu, rasanya sangat sulit untuk dapat mengalahkan Ki Samparan. Tapi, karena tenaga mukjizat yang mengeluarkan sinar kuning keemasan itu mempengaruhi kekuatannya, maka Ki Samparan dengan mudah dapat didesak Panji dengan gempuran-gempuran yang cepat dan kuat. Apalagi jurus yang digunakan Panji adalah jurus andalan yang sukar dicari bandingannya.

Maka, setelah lewat dari enam puluh jurus, tampak Ki Samparan mulai kewalahan. Berkali-kali lelaki gila itu berteriak-teriak kesakitan, saat lengan mereka saling berbenturan keras. Dan ketika Pendekar Naga Putih mengerahkan tenaganya sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan, lelaki tua itu menjerit ngeri.

Blarrr...!

Seberkas sinar kuning keemasan yang meluncur keluar dari sepasang telapak tangan Pendekar Naga Putih, menghajar telak tubuh Ki Samparan. Akibatnya, tubuh tinggi kurus itu terpental deras sejauh dua tombak lebih. Tubuhnya terus meluncur menabrak dinding pondok yang kayunya memang telah lapuk. Cepat Panji berlari memburu ke arah tubuh lawannya.

“Hhh...,” Panji hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat tubuh Ki Samparan diam dan tak bergerak-gerak lagi.

Kepala desa yang telah menjadi gila itu tewas akibat hantaman dahsyat yang mengandung kekuatan mukjizat. Panji memang terpaksa menghabisi lawannya. Karena ia sadar bahwa tidak ada kemungkinan lagi untuk menyembuhkan Ki Samparan. Hanya kematianlah jalan yang terbaik bagi lelaki tua itu.

Ki Dungkala tampak menunduk sedih melihat tubuh Ki Samparan yang sudah tak bernyawa lagi itu. “Semoga arwahmu di alam baka dapat tenang, Ki...,” ucap Ki Dungkala seraya mengangkat tubuh tinggi kurus itu dan membawanya ke desa.

Panji dan yang lainnya mengikuti tanpa berkata-kata. Mereka pun bersyukur bahwa teror yang selama ini melanda penduduk Desa Margaluyu telah dapat di lenyapkan.

S E L E S A I