Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Pasukan Pembunuh
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih

SATU

KEGELAPAN malam perlahan menyelimuti permukaan bumi. Bintang-bintang tampak berkerlip jenaka, menghiasi langit kelam. Rembulan juga muncul penuh, sehingga menambah semaraknya suasana malam. Semilir angin lembut yang mempermainkan dedaunan pohon, sepertinya ingin ikut melengkapi indahnya malam.

"Bulan purnama kembali datang...," desis sosok tubuh terbungkus pakaian berwarna putih. Dia menengadahkan kepalanya, menatap bulatan gemerlap yang menggantung menghias langit. Sesaat kemudian, kepalanya kembali merunduk. Kali ini tatapannya tertuju lurus ke depan, seolah ingin menembus keremangan malam.

"Mengapa Guru kelihatan gelisah...?" tegur sosok lainnya. Dia adalah seorang pemuda tampan, berusia sekitar dua puluh tahun. Sepasang matanya yang bulat dan bersinar tajam, tampak mengawasi wajah laki-laki berpakaian putih di samping kanannya.

"Hm.... Pada waktu aku masih muda dulu, bulan purnama biasanya menjadi perlambang adanya suatu kejadian mengerikan. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat peristiwa-peristiwa dulu...," ujar sosok berpakaian putih yang dipanggil guru.

Dia ternyata seorang lelaki tua berusia sekitar lima puluh lima tahun. Sepasang mata tuanya yang semula menerawang jauh itu, berpaling sejenak. Ditatapnya wajah pemuda tampan yang merupakan murid tunggalnya. Terdengar helaan napas beratnya, sebelum wajahnya kembali berpaling menatap kejauhan.

"Tapi..., bukankah malam bulan purnama kali ini sangat indah, Guru? Rasanya aku belum bisa percaya kalau malam yang indah ini adalah perlambang tidak baik? Bolehkah aku tahu kejadian mengerikan semasa Guru masih muda dulu...?" tanya pemuda tampan itu lagi dengan wajah ingin tahu.

"Hhh.... Peristiwa itu sudah lama berlalu, Praba. Lagi pula, aku sudah tidak ingin mengingatnya. Tapi..., biarlah kali ini aku akan menceritakannya padamu...," ujar orang tua itu lagi. Tatapannya masih saja tertuju pada keremangan malam, menembus bayang-bayang dedaunan pohon yang menari-nari ditiup angin.

"Ceritakanlah, Guru. Aku ingin sekali mendengarnya...," desak pemuda tampan yang ternyata bernama Praba. Sepertinya, dia sudah tidak sabar melihat gurunya masih saja bungkam disertai helaan napas berat.

"Beberapa belas tahun yang lalu, aku adalah orang yang berbahagia. Istriku cantik dan penuh pengertian. Saat itu, kami baru saja dikaruniai seorang putra yang tampan. Tapi..., siapa sangka malapetaka itu tiba-tiba datang merenggutkan kebahagiaan kami. Dan..., peristiwa itu tepat terjadi pada saat bulan purnama"

Orang tua itu menghentikan ceritanya disertai tarikan napas berat. Keningnya tampak berkerut dalam, seperti hendak mengingat semua kejadian yang telah lama ingin dilupakannya itu. Sementara Praba sama sekali tidak bersuara. Sepertinya gurunya sengaja dibiarkan untuk mengingat-ingat kembali semua peristiwa itu.

"Saat itu, aku sedang berada di kebun yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalku. Entah mengapa, hatiku merasa tidak enak dan gelisah. Maka, ku putuskan untuk pulang, karena pikiranku selalu saja tertuju pada anak dan istriku di rumah. Rupanya perasaanku tidak berlebihan. Begitu tiba di rumah, ternyata istriku tengah dinodai seorang lelaki kasar. Sementara, kawannya tengah memegangi kaki anakku dengan kepala di bawah. Bahkan di tangan kanan lelaki itu tergenggam sebilah pedang terhunus...," tutur lelaki tua itu.

Kembali ceritanya terhenti. Wajahnya tampak kelam, menyimpan kedukaan. Rupanya, ia tengah berusaha menenteramkan hatinya yang terguncang, teringat peristiwa pahit masa lalunya.

"Maafkan aku. Guru. Biarlah cerita itu tidak perlu dilanjutkan. Itu sama saja hanya akan membangkitkan luka lama di hati Guru" Praba yang rupanya menangkap adanya raut kesedihan di wajah gurunya, segera saja meminta maaf. Langsung dicegahnya orang tua itu agar ceritanya tidak dilanjutkan.

"Tidak apa, Praba. Peristiwa itu telah lama berlalu. Luka hatiku sudah sembuh, meskipun dendam di hatiku belum lagi terlampiaskan," sergah lelaki tua itu mencoba tersenyum kepada muridnya.

Sementara Praba mencoba menafsirkan arti senyum gurunya. Walau kelihatan penuh kelembutan, tapi tetap seperti dipaksakan. Namun, Praba membalas senyuman itu dengan tatapan penuh rasa terenyuh mendengar cerita gurunya.

"Melihat kejadian itu, aku langsung mengambil keputusan untuk menyelamatkan nyawa putra ku terlebih dahulu. Namun, ternyata orang itu memiliki kekejaman melebihi iblis! Putra ku yang baru berusia dua tahun itu dipenggal kepalanya, tanpa rasa kasihan sedikit pun! Aku memang terlambat, dan hanya bisa mengangkat mayat putra ku ketika lelaki itu melemparkannya. Meskipun begitu, aku melukai wajah pembunuh putra ku itu dengan senjata yang telah terhunus. Kemudian, aku segera menyelamatkan kehormatan istriku. Tapi..., dia juga telah tewas akibat pukulan lelaki yang menodainya. Bahkan, dadaku sempat terkena sambaran senjata manusia terkutuk itu."

Orang tua itu berhenti bercerita sebentar. Matanya menatap ke atas, menerawang jauh pada kenangan-kenangan pahitnya.

"Rasanya, saat itu langit di atas kepalaku runtuh! Aku menjadi gelap mata. Dengan penuh kemarahan, ku terjang lelaki terkutuk itu. Setelah bertarung sekian puluh jurus, aku berhasil membabat putus lengan kirinya. Liciknya, tiba-tiba mereka menebarkan bubuk beracun, hingga aku terpaksa melompat jauh ke belakang. Dan kesempatan itu digunakan mereka, untuk melarikan diri"

"Lalu, apakah Guru tidak mencari kedua orang manusia keparat itu untuk membalaskan kematian istri serta putra Guru...?" tanya Praba yang amarahnya kontan bangkit, mendengar cerita gurunya yang benar-benar menyedihkan.

"Tentu saja aku berusaha mencari kedua orang itu. Sayang, usahaku sia-sia. Dan yang kutemukan hanya dirimu, ketika kau kehilangan kedua orangtua mu saat terjadi bencana alam. Akhirnya, aku menyepi di tempat ini dan mendidikmu sampai sekarang...," lelaki tua itu mengakhiri ceritanya dengan sebuah tarikan napas panjang.

"Hm.... Siapakah manusia-manusia keparat itu, Guru? Biarlah aku yang akan mencarinya untuk membalaskan dendam itu...!" geram Praba sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Sepasang mata pemuda tampan itu tampak menyiratkan api dendam yang mulai membakar dadanya.

"Ha ha ha...! Tidak perlu bersusah-payah mencari kami, Bocah ingusan ..! Hei, Tua Bangka Janala...! Kami berdua datang untuk menagih hutang-hutangmu...!"

Tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar menyahuti tantangan Praba. Suara itu jelas dikirimkan melalui kekuatan tenaga dalam yang tinggi, sehingga terdengar seperti dari empat penjuru. Mendengar suara itu, lelaki tua yang ternyata bernama Ki Janala segera bangkit dari bangku bambunya. Sepasang matanya berputar kesekeliling, mencari sumber suara.

"Hm.... Sepasang Tikus Bumi! Kalau kau memang hendak menemui aku, mengapa tidak langsung keluar? Untuk apa selama ini menyembunyikan diri, Tikus-tikus Pengecut?! Bertahan-tahun aku mencarimu yang ternyata mendekam dalam lubang mu! Mengapa baru sekarang muncul...?!" seru Ki Janata sambil mengerahkan tenaga saktinya. Hingga gema suaranya terdengar sampai belasan tombak jauhnya.

Ki Janala dan Praba tidak perlu menunggu lama untuk melihat si pengirim suara yang ternyata merupakan musuh lamanya. Dua sosok bertubuh sedang muncul dari kegelapan bayang-bayang pohon di sebelah depan Ki Janala dan Praba. Mulut mereka monyong dengan kumis jarang. Kedua orang lelaki itulah yang berjuluk Sepasang Tikus Bumi. Mereka kini melangkah lebar mendatangi Ki Janala dan Praba yang sudah bersiap menghadapi pertarungan.

"Ha ha ha...! Kami bukan orang bodoh untuk menyerahkan diri begitu saja kepadamu, Ki Janala. Selama ini, kami memang bersembunyi. Tapi, itu untuk mengobati tanganku, sekaligus melatihnya secara sempurna. Setelah itu, baru kami keluar untuk mencarimu. Nah, sekarang mari kita selesaikan hutang-hutang itu...!" tantang lelaki yang tubuhnya lebih tinggi sedikit ketimbang kawannya.

Rupanya bukan hanya Ki Janala saja yang memendam dendam atas kematian istri dan putranya. Kedua orang itu ternyata juga menyimpan dendam atas kehilangan lengan dan cacat wajah akibat tindakan Ki Janala.

"Hm.... Sebenarnya aku sudah tidak bernafsu lagi untuk mencari kalian. Tapi karena kalian sendiri yang datang, maka tidak ada salahnya kalau dendam itu ku penuhi sekarang...," geram Ki Janala. Segera saja, pedangnya dicabut begitu melihat lawan telah menghunus senjata.

"Guru, izinkanlah aku membantumu...," pinta Praba. Pemuda itu juga telah menghunus senjata, dan menatap penuh dendam kedua orang yang telah membuat gurunya menderita. Tapi, Praba terpaksa harus menelan kekecewaan ketika melihat gelengan kepala gurunya. Jelas, orang tua itu tidak ingin melibatkan muridnya dalam persoalan dendam lamanya.

"Menyingkirlah, Praba. Biar aku saja yang akan menyelesaikan persoalan ini...," ujar Ki Janala tanpa ingin dibantah lagi. Dan Praba terpaksa menyingkir dari arena pertarungan yang segera akan berlangsung.

"He he he…!"

Sepasang Tikus Bumi hanya terkekeh mendengar ucapan Ki Janala. Kedua tokoh sesat itu sudah merenggang, mengepung lawannya dari dua arah. Sedangkan Ki Janala sendiri telah memutar senjatanya membentuk gulungan sinar putih yang bergerak melindungi sekujur tubuhnya.

"Haaat..!"

Dibarengi sebuah teriakan nyaring, orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi melesat cepat ke arah Ki Janala. Tangan kirinya yang telah berupa lengan palsu, menyambar dengan cakar-cakar besi yang menyeramkan.

Bettt! Bettt..!

Ki Janala menggeser kakinya ke samping sambil mengibaskan senjatanya ke tubuh lawan. Namun, gerakan orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi ternyata sangat gesit. Cakar bajanya bergerak berputar, dan langsung menyampok tebasan pedang Ki Janala.

Trakkk!

Bentrokan keras itu membuat tubuh keduanya terjajar mundur beberapa langkah. Dari sini bisa dibuktikan kalau kekuatan mereka berimbang. Diam-diam, Ki Janala terkejut juga melihat pesatnya kemajuan lawan. Sepertinya, kedua tokoh sesat itu tidak sia-sia menyembunyikan diri dalam menambah kesaktian. Dan itu dapat dirasakan melalui bentrokan barusan. Meskipun belum mengerahkan tenaga sepenuhnya, tapi Ki Janala cukup sadar kalau lawannya benar-benar tidak bisa diremehkan lagi.

"Hm...".Ki Janala menggeram gusar. Pedang di tangannya bergerak menyilang, menimbulkan decitan angin tajam. Seketika, tubuhnya merunduk saat orang termuda dari Sepasang Tikus Bumi menerjang dengan pedangnya yang berbentuk arit. Maka, langsung dibalasnya serangan itu dengan tidak kalah cepat.

Tapi Ki Janala harus menunda serangannya, ketika pada saat itu juga datang serangan lainnya dari lawan yang seorang lagi. Maka, serangan orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi terpaksa dilayaninya. Kini, pertarungan pun berlangsung semakin seru, ketika kedua orang tokoh sesat itu saling bantu dalam menggempur Ki Janala.

Praba duduk dengan wajah cemas menyaksikan gurunya dikeroyok dua orang tokoh sesat itu. Pemuda tampan itu meremas-remas jemari tangannya dengan hati tegang. Kalau saja gurunya mengizinkan, rasanya saat itu juga ia sudah terjun ke dalam kancah pertarungan. Tapi, perintah itu tidak berani dibantah, kecuali kalau orang tua itu telah benar-benar dalam keadaan berbahaya. Dan kini, ia hanya dapat mengikuti jalannya pertempuran dengan hati tak karuan.

"Bangsat! Keparat tua ini benar-benar alot..!" Orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi itu tak henti-hentinya menyumpah. Rupanya, ia merasa penasaran sekali setelah bertarung selama empat puluh jurus, ternyata lawannya masih belum dapat didesak. Kenyataan itu membuatnya menjadi jengkel!

Ki Janala sendiri pun merasa penasaran melihat ketangguhan lawan-lawannya. Padahal, belasan tahun yang lalu kedua orang tokoh sesat itu sama sekali bukan lawan yang pantas diperhitungkan. Tapi sekarang, ia benar-benar dibuat kerepotan. Bahkan seluruh ke- pandaiannya harus dikerahkan untuk menundukkan kedua orang lawannya.

"Hiaaah...!"

Memasuki jurus yang kelima puluh, Ki Janala cepat menggunakan kesempatan baiknya. Langsung dilontarkannya sebuah tendangan keras ke tubuh orang termuda dari Sepasang Tikus Bumi!

Desss...!

"Hugkhhh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh orang itu langsung terjengkang sejauh satu tombak ke belakang. Cepat-cepat orang tua itu mengayunkan pedangnya, siap menghabisi riwayat lawan.

Whuuut… tranggg...!

Mata pedang Ki Janala yang siap menghunjam tubuh lawan, tiba-tiba tertahan oleh cakar orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi. Namun, orang tua itu tidak menjadi kehilangan akal. Pedangnya segera diputar sedemikian rupa, dan langsung menusuk ke arah lambung orang tertua Sepasang Tikus Bumi.

Bukan main terkejutnya orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi. Sadar kalau kesempatan untuk menghindar jelas sudah tidak mungkin, maka tokoh sesat itu nekat mengadu nyawa! Cakar bajanya diputar ke luar, dan langsung mengancam kepala lawannya. Gerakan itu tentu saja sangat berbahaya dan mematikan.

Ki Janala bukan tidak tahu akan maksud lawan. Dan tentu saja ia tak sudi untuk mengadu nyawa dengan lawan. Maka kepalanya segera ditarik mundur tanpa mengurangi tusukan pedangnya. Dan...

Cappp! Brettt!

"Aaakh...?!"

Kedua tokoh itu sama-sama menjerit kaget! Mereka satu sama lain terjajar mundur sejauh satu tombak. Darah tampak mengucur dari luka di lambung orang tertua Sepasang Tikus Bumi. Meskipun tusukan pedang Ki Janala tidak mendatangkan kematian, namun cukup membuatnya menderita luka.

Sedangkan Ki Janala sendiri juga tidak bisa menyelamatkan tubuhnya dari sambaran cakar baja lawan. Meskipun kepalanya dapat selamat, namun masih juga harus menerima cakar baja lawan di pangkal lengan kirinya. Tampak cairan merah merembes keluar dari luka di pangkal lengan yang terkoyak cukup dalam. Luka yang terasa perih dan panas itu membuat tubuh Ki Janala terjajar limbung. Sadarlah tokoh tua itu kalau senjata lawan ternyata mengandung racun ganas. Terbukti, lengan kirinya agak membengkak kaku, dan sukar digerakkan.

"Guru...!" Praba yang melihat tubuh gurunya terjajar limbung sambil meringis kesakitan, segera saja berlari memburu. Pemuda itu tidak peduli lagi bila gurunya akan marah nanti. Segera saja tubuh gurunya dipeluk.

"Praba, menyingkirlah! Aku tidak apa-apa. Biar kutuntaskan kedua manusia jahanam itu...!" ujar Ki Janala, tidak ingin melibatkan muridnya ke dalam persoalan itu. Kekerasan hatinya jelas tidak menguntungkan, karena keadaan tubuhnya terasa mulai melemah. Ru- panya, racun itu semakin cepat menjalar ke seluruh tubuh Ki Janala.

"He he he..! Bergeraklah terus, Ki Janala. Dengan demikian, kematianmu akan semakin cepat datang...," ejek orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi tergelak penuh kemenangan.

Ucapan itu jelas mengisyaratkan kalau racun akibat cakar baja lawan akan semakin cepat menyebar, apabila Ki Janala semakin banyak bergerak. Mendengar hal ini, tentu saja Ki Janala menjadi terkejut. Terpaksa langkahnya dihentikan dengan wajah bingung.

"Hm.... Aku tidak takut mati, Tikus-tikus Kotor! Sekarang, aku akan membawa kalian berdua ke akhirat untuk mengantarkan arwahku...!" geram Ki Janala.

Setelah terdiam sesaat, Ki Janala segera mengambil keputusan yang mengejutkan kedua orang lawannya. Sedangkan Praba yang mendengar ucapan kedua orang lawan gurunya, segera saja melolos senjatanya. Sepertinya sudah tidak dipedulikan lagi perintah gurunya. Maka, langsung diterjangnya Sepasang Tikus Bumi yang sudah bergabung itu.

"Hiaaat..! Mampus kalian, Manusia-manusia Laknat..!" bentak Praba sambil mengayunkan pedang sepenuh tenaga. Melihat kecepatan dan angin pedang yang ditimbulkan, jelas kalau pemuda itu telah cukup matang dalam meyakini ilmunya. Sehingga, Sepasang Tikus Bumi tidak berani memandang remeh.

Trang! Trang!

Orang termuda dari kedua tokoh sesat itu sepertinya merasa penasaran, ingin menjajal kekuatan tenaga dalam pemuda tampan itu. Maka begitu sambaran pedang Praba datang, langsung dipapaknya sekuat tenaga. Akibatnya, tubuh keduanya terdorong ke belakang. Melihat betapa tubuh Praba agak terhuyung, jelas kalau tenaganya masih kalah sedikit. Buktinya, lawan hanya terjajar beberapa langkah, dengan kuda-kuda tetap kokoh.

"Tahan, Adi...!" Tiba-tiba, orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi memegang bahu adiknya yang telah siap melanjutkan pertarungan. Keduanya saling berpandangan sesaat. Kemudian mereka mengangguk seperti mengambil kata sepakat.

"Suiiit..!" Tiba-tiba, orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi mengeluarkan suitan nyaring bernada aneh. Di tangannya, sudah terjepit sebuah benda kecil berbentuk pipih yang melekat di bibir. Benda itu bisa mengeluarkan suara aneh dan tidak tetap.

Sementara itu, Ki Janala dan Praba hanya memandang dengan wajah bingung melihat perbuatan lawan. Dan beberapa saat kemudian, barulah mereka mengerti apa arti irama siulan aneh itu. Guru dan murid itu menjadi tegang ketika mendengar suara gemerisik riuh dari sekelilingnya.

"Ahhh...?!".Ki Janala dan Praba berseru kaget menyaksikan makhluk-makhluk kecil dan besar datang dari segala penjuru. Dan kini makhluk-makhluk itu mulai berdesak-desakan mengepung mereka. Rupanya, makhluk- makhluk yang ternyata ratusan ekor tikus itulah yang barusan mendatangkan suara-suara riuh-rendah ketika melewati pohon dan semak-semak ilalang.

DUA

"Gila...?!" pekik Ki Janala. Laki-laki tua itu menjadi pias wajahnya ketika melihat ratusan ekor tikus besar dan kecil tengah berdesak-desakan hendak mengeroyok mereka berdua.

Sementara itu, Praba pun merasa jijik melihat tikus-tikus yang berdatangan dari segala penjuru. Binatang-binatang kotor itu tampak memandang marah ke arahnya dan gurunya. Mata yang kecil dan mencorong kemerahan, jelas merupakan pertanda kalau tikus-tikus itu telah menjadi liar dan buas. Air liurnya tampak menetes-netes, menimbulkan pemandangan yang memualkan. Taring-taring yang kecil runcing dan berkilat, diperlihatkan sambil memperdengarkan suara mencicit bising.

"Rencah tubuh mereka...!"

Tiba-tiba orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi memerintah dengan suara aneh menggeletar. Bagaikan diberi aba-aba, ratusan ekor tikus itu bergerak saling mendahului untuk mengoyak tubuh kedua korbannya.

"Haaat…!"

Praba seketika merasa bulu kuduknya meremang, melihat ratusan ekor tikus meluruk ke arahnya. Maka segera dia berteriak sambil mengibaskan pedang ke sekeliling tubuhnya. Dan meskipun belasan ekor telah menjadi korban, namun sepertinya tikus-tikus itu sama sekali tidak gentar. Bahkan semakin bertambah buas, ketika irama aneh dari benda pipih di mulut Sepasang Tikus Bumi kembali mengalun turun-naik. Tentu saja Praba semakin bertambah kewalahan menghadapi serbuan binatang-binatang yang telah semakin liar dan buas itu.

Demikian pula halnya Ki Janala. Lelaki tua itu mengibaskan pedang ke kiri dan kanan dengan sisa-sisa tenaganya. Gerakannya yang semakin melemah, membuat beberapa ekor tikus mulai dapat mencapai dan menggigit tubuhnya. Darah yang semakin banyak mengalir, justru membuat binatang-binatang itu semakin kesetanan!

Namun, pada saat Ki Janala dan Praba merasa kalau kematian sudah berada di ambang pintu, tiba-tiba terdengar lengkingan panjang. Tak lama kemudian, melayang dua sosok bayangan putih dan hijau, yang langsung menghantamkan pukulan ke arah kawanan tikus-tikus buas itu. Akibatnya, belasan ekor tikus terpental ke kiri dan kanan dalam keadaan hancur. Rupanya, kedua sosok bayangan yang baru tiba itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang tinggi.

"Hiaaa...!" Kembali terdengar pekikan tinggi dari sosok bayan- gan putih yang baru tiba. Kedua tangannya didorongkan ke depan, dan....

Blarrr!

Mengerikan sekali akibat yang ditimbulkannya. Puluhan ekor tikus seketika berhamburan seiring ledakan keras yang membuat tanah berlubang sebesar kubangan kerbau.

"Gila!"

Sepasang Tikus Bumi sama-sama terpekik kaget melihat perubahan yang sama sekali tidak disangka. Mata mereka terbelalak, menyaksikan hasil pukulan dahsyat yang dilontarkan sosok berjubah putih tadi. Sadarlah mereka kalau Ki Janala dan muridnya tadi telah ditolong seorang tokoh sakti luar biasa!

Sementara itu, yang dilakukan sosok berpakaian hijau pun tidak kalah mengejutkan. Kilatan sinar putih keperakan berkelebatan kian kemari. Setiap kali sinar itu bergerak, selalu saja ada belasan ekor tikus yang terpental dengan tubuh terbelah. Maka semakin bertambahlah rasa terkejut kedua orang tokoh sesat itu. Sepasang Tikus Bumi tidak bisa lagi mengendalikan tikus-tikusnya. Rupanya, binatang-binatang itu pun memiliki rasa gentar juga terhadap dua pendekar muda yang baru datang itu. Makhluk-makhluk itu terlihat menghentikan gerakannya, dan menyurut mundur saling berdesak-desakan. Mata-mata yang menyala kemerahan, terlihat menyiratkan kegentaran terhadap kedua orang lawannya.

Melihat kenyataan itu, Sepasang Tikus Bumi kembali memperdengarkan irama aneh yang lebih membawa pengaruh lagi. Sehingga, binatang-binatang menjijikkan itu merasa resah dan bingung. Dan kini, tanpa mempedulikan siulan majikannya, tikus-tikus buas itu pun saling berlompatan lari!

"Keparat…!" maki kedua orang tokoh sesat itu, marah dan jengkel sambil membanting-banting kaki ke tanah.

"Hm..., Sepasang Tikus Bumi. Rupanya kalian kembali menyebar kejahatan di tempat ini...! Rasanya, cukup pantas kalau kalian berdua sekarang kuberi hukuman setimpal...," kata sosok berjubah panjang warna putih. Sosok itu ternyata seorang pemuda tampan. Sinar matanya tajam menggetarkan jantung, memancarkan tingginya tenaga sakti yang dimilikinya.

"Pendekar Naga Putih...?!" desis orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi, ketika mengenali sosok berjubah putih itu. Sekilas terlihat sinar kegentaran di matanya. Bisa ditebak kalau kedua orang tokoh sesat itu menjadi ciut nyalinya terhadap sosok yang ternyata Pendekar Naga Putih.

"Benar! Dan aku akan segera mengakhiri petualangan kalian hari ini juga...," ancam Pendekar Naga Putih. Sorot matanya langsung menusuk ke wajah kedua orang tokoh sesat itu. Seketika, Sepasang Tikus Bumi menyurut mundur tatkala melihat pemuda itu melangkah maju perlahan.

"Tunggu...!" Orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi menjulurkan lengan kanannya mencegah Panji untuk maju. Sedangkan pemuda itu hanya bergumam perlahan. Langkahnya juga segera dihentikan dalam jarak satu tombak dari kedua tokoh sesat itu.

"Apakah kau mempunyai permintaan terakhir, sebelum kukirim ke akhirat...?" tanya Panji, tenang dan datar nada suaranya.

"Pendekar Naga Putih! Kalau kau benar-benar jantan, kami menantangmu bertarung tanpa bantuan orang lain! Kami akan menunggumu di luar hutan ini...!" tantang orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi. Jelas-jelas, dia hendak membuat siasat licik.

Panji sendiri hanya tersenyum mendengar tantangan lawannya. Pemuda tampan itu menoleh sejenak ke belakang, ketika mendengar suara langkah menghampirinya.

"Kakang! Untuk apa meladeni omong kosong dan siasat licik mereka? Sebaiknya ringkus saja mereka sekarang! Kita tidak perlu lagi menerima segala macam tantangan yang hanya siasat busuk mereka," ujar data jelita berpakaian hijau yang memang Kenanga.

Dara jelita itu tak lepas menatap wajah kekasihnya. Pandangannya segera dilemparkan ke arah Sepasang Tikus Bumi, yang menjadi pucat ketika mendengar ucapannya tadi. Rupanya, gadis jelita itu baru datang menghampiri begitu mendengar tantangan Sepasang Tikus Bumi yang ditujukan kepada Panji. Malahan, Ki Janala langsung ditinggalkan setelah luka akibat racun Sepasang Tikus Bumi diobati.

"Hm.... Siapa bilang aku akan meladeni tantangan kedua orang manusia tikus itu, Kenanga? Jangan khawatir, mereka tidak akan kulepaskan kali ini. Orang-orang kejam seperti mereka, harus segera dikirim ke neraka, agar tidak menimbulkan malapetaka lagi di atas muka bumi ini...," sergah Panji.

Pendekar Naga Putih memang tidak ingin melepaskan kedua orang tokoh sesat itu. Apalagi, dia telah banyak mendengar tentang kejahatan Sepasang Tikus Bumi selama dalam pengembaraan. Maka, tentu saja pertemuan itu tidak akan disia-sia-kan begitu saja.

Ucapan Panji itu tentu saja membuat Sepasang Tikus Bumi menjadi pucat. Mereka melangkah mundur ketika melihat Pendekar Naga Putih bergerak maju. Kemudian tanpa mempedulikan rasa malu, keduanya langsung saja berbalik dan kabur.

"Hm..." Panji hanya bergumam melihat perbuatan kedua orang tokoh sesat itu. Kedua kakinya langsung saja menjejak tanah, sehingga tubuhnya langsung melayang ke depan mengejar lawannya.

Jleg!

"Hahhh?!"

Sepasang Tikus Bumi terbelalak pucat ketika tahu-tahu saja sosok tubuh berjubah putih telah mendarat dan berdiri membelakangi, setengah tombak di depan mereka.

"Keparat! Haaat..!"

Dengan kemarahan yang amat sangat, Sepasang Tikus Bumi menerjang. Kini mereka harus melupakan rasa takutnya, karena sadar kalau untuk melepaskan diri dari pendekar kosen itu memang jelas mustahil. Maka, diambillah keputusan untuk menerjang maju.

Bettt! Whuttt!

Kilatan sinar pedang dan cakar baja itu bergerak menyambar saling mendahului. Namun, sasaran mereka ternyata telah lenyap. Sepasang Tikus Bumi hanya sempat melihat kelebatan sinar putih yang melayang di atas kepala mereka. Dan, serangan mereka hanya mengenai angin kosong.

"Kalian mencari siapa...?" tegur suara di belakang Sepasang Tikus Bumi.

Seketika wajah kedua orang tokoh sesat itu semakin pucat! Cepat-cepat mereka berbalik dan kembali melancarkan serangan tanpa menoleh lebih dulu. Dan....

"Hahhh?!"

Untuk kedua kalinya, senjata mereka hanya mengenai angin kosong! Kedua orang tokoh sesat itu hanya celingukan mencari lawannya yang kembali telah lenyap, tanpa sempat melihat gerakannya.

"Keparat kau, Pendekar Naga Putih! Mengapa kau hanya bisa menghilang bagai orang pengecut? Ayo, lawan kami!" Rasa gentar, marah, jengkel, dan penasaran, membuat Sepasang Tikus Bumi memaki kalap. Mereka mencari-cari sosok pemuda tampan berjubah putih itu yang kali ini benar-benar lenyap entah ke mana.

"Aku di sini, Kisanak...!"

Terdengar sebuah suara dibelakang kedua orang tokoh sesat itu. Seketika Sepasang Tikus Bumi berbalik. Dan lagi-lagi mereka hanya menemukan tempat kosong tanpa terlihat sosok yang tengah dicari.

"Aku di belakangmu...." Kembali terdengar suara Panji. Sepertinya, Pendekar Naga Putih memang sengaja hendak mempermainkan lawannya. Hal ini sengaja dilakukan, agar Sepasang Tikus Bumi dapat mengalami bagaimana rasanya menderita ketakutan dalam menghadapi kematian. Memang, kedua orang tokoh sesat itu biasanya menganggap rasa takut korban mereka sebagai suatu kenikmatan tersendiri.

Tapi, kali ini Sepasang Tikus Bumi sama sekali tidak menoleh. Mereka langsung saja melesat meninggalkan tempat itu. Jelas, maksud mereka hendak melarikan diri.

"Hm Ke mana pun kalian pergi, jangan harap bisa lepas dari tanganku...," ancam Panji. Pemuda itu hanya menatap kepergian Sepasang Tikus Bumi yang kelihatan semakin menjauh.

Sepasang Tikus Bumi sama sekali tidak mempedulikan ucapan lawannya. Lari mereka terus dipercepat dengan mengerahkan seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuh. Sehingga, sebentar saja mereka telah berada di mulut hutan.

"Ahhh?!"

Ketika hampir mencapai bibir hutan, langkah kedua orang tokoh sesat itu jadi tertahan. Mereka kontan berseru dengan wajah pucat, begitu di depan tampak sosok bertubuh sedang, mengenakan jubah panjang berwarna putih, telah berdiri menanti. Tentu saja keduanya menjadi ketakutan setengah mati, karena sosok tubuh itu tak lain dari Panji yang berjuluk Pendekar Naga Putih!

"Hm.... Sudah kukatakan sejak semula, kalian tidak akan terlepas dari tanganku. Nan, sekarang bersiaplah menerima kematian," desis Panji seraya berbalik ke arah Sepasang Tikus Bumi.

"Haaat..!"

Tanpa banyak bicara lagi, Sepasang Tikus Bumi langsung bergerak menerjang Pendekar Naga Putih. Namun, kali ini Panji tidak lagi berniat main-main. Cepat tubuhnya melesat, menyambut serangan kedua orang lawannya.

Plak! Plak!

"Akh!"

Sepasang Tikus Bumi berteriak tertahan ketika serangan mereka dipapak pemuda itu. Tanpa ampun lagi, tubuh kedua orang tokoh sesat itu terpelanting. Dengan gerakan cepat, mereka bergegas bangkit berdiri. Dan sebelum mereka sempat menyerang kembali, Panji kembali melayang dengan tamparan-tamparan keras yang menimbulkan deru angin dingin menusuk tulang! Akibatnya, Sepasang Tikus Bumi menjadi sadar akan datangnya bahaya. Cepat mereka melempar tubuh ke belakang, dan terus bergulingan menjauhi tempat itu.

"Heaaah...!"

Namun, kecepatan gerak kedua orang tokoh sesat itu tentu saja tidak mampu menandingi Pendekar Naga Putih. Maka, tidak heran ketika Sepasang Tikus Bumi melenting bangkit, Panji telah berada dekat dengan kedua orang lawannya, dan langsung melontarkan tamparan keras.

Plak! Plak!

"Hugkhhh...!"

Karuan saja tubuh Sepasang Tikus Bumi terpelanting ketika tamparan Panji mendarat di wajah mereka. Darah segar tampak mengalir dari sudut bibir mereka. Meskipun tamparan itu tidak mematikan, namun mampu membuat Sepasang Tikus Bumi harus menderita luka dalam yang parah.

"Hm.... Sekarang, terimalah kematian kalian dengan ikhlas...," desis Panji, seraya mengirimkan tamparan maut ke kepala kedua orang lawannya.

"Haaat..!"

Pada saat kematian sudah di ambang pintu bagi Sepasang Tikus Bumi, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring yang disusul melesatnya sesosok bayangan merah ke tengah arena pertempuran. Sayangnya, gerakan sosok bayangan merah itu masih kalah cepat dibanding gerakan Pendekar Naga Putih. Sehingga, tamparan pemuda tampan berjubah putih itu tetap mengenai sasaran.

Prakkk! Prakkk!

Tanpa ampun lagi, kepala Sepasang Tikus Bumi langsung berderak keras ketika bertemu telapak tangan Panji yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Tubuh kedua tokoh sesat itu kontan ambruk ke tanah dengan kepala pecah!

"Bedebah kau, Pendekar Naga Putih...!" pekik sosok bayangan merah yang segera saja memutar gerakannya, menerjang Pendekar Naga Putih!

Dukkk! Dukkk... Plak...!

Terdengar suara benturan keras berturut-turut ketika dua pasang lengan saling bertemu di udara. Akibatnya, sosok bayangan merah itu terpental balik. Namun, ia bisa menarik napas lega, setelah mendarat ringan di atas tanah.

"Hm..." Panji sendiri terdengar menggeram gusar. Tubuhnya pun sempat terdorong akibat benturan keras tadi. Memang, Panji tadi tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya. Sebaliknya, sosok bayangan merah itu seperti telah mengetahui kelihaiannya. Sehingga, tenaga dalamnya dikerahkan sekuatnya ketika pukulan mereka saling berbenturan.

"Raja Iblis Jubah Merah...?!" desis Panji dengan kening berkerut ketika mengenali sosok berpakaian merah itu. Ada kilatan penasaran dalam tatapan mata Panji.

"Hm.... Kau kembali menanamkan bibit permusuhan denganku, Pendekar Naga Putih. Kedua orang yang telah kau bunuh itu adalah muridku. Maka kau harus menebusnya dengan nyawamu" desis Raja Iblis Jubah Merah, murka.

Jelas sekali kalau sepasang mata tokoh sesat itu menyimpan dendam yang dalam kepada Pendekar Naga Putih. Raja Iblis Jubah Merah adalah salah seorang datuk sesat berkepandaian tinggi. Tentu saja Panji telah cukup mengenal lelaki pendek gemuk berjubah merah itu. Demikian pula tentang kesaktiannya. Dan mereka memang pernah bertemu ketika Panji menyelamatkan takhta Kerajaan Mulawarta dari ancaman Malaikat Gerbang Neraka, yang hendak merebut negeri itu.

Bagi yang ingin mengetahui asal-usul Raja Iblis Jubah Me- rah, silakan mengikuti episode Rahasia Pedang Naga Langit dan Malaikat Gerbang Neraka

Kemunculan Raja Iblis Jubah Merah ternyata tidak hanya seorang diri. Karena tak lama kemudian, berturut-turut muncul datuk-datuk sesat lain yang juga pernah terlibat dalam pemberontakan bersama Malaikat Gerbang Neraka. Dan para datuk sesat itu pergi menyelamatkan diri, setelah melihat kegagalan usaha Malaikat Gerbang Neraka. Tentu saja kemunculan para datuk sesat itu membuat Panji bergerak mundur, dan siap menghadapi pertarungan.

"Datuk Panglima Sesat, Memedi Karang Api, dan… Kuntilanak Bukit Mandau...?" desis Panji mengenali ketiga orang datuk sesat yang tahu-tahu saja telah berkumpul, seperti tengah mempunyai suatu rencana. "Hm..., kemunculan mereka pasti akan mendatangkan bencana bagi dunia persilatan"

"He he he.... Kau masih mengenali kami rupanya, Pendekar Naga Putih? Kau tentu terkejut melihat kami dapat muncul bersama-sama, bukan?" tegur seorang lelaki tinggi besar berwajah kelimis. Dia mengenakan pakaian seperti seorang senapati. Tokoh itulah yang berjuluk Datuk Panglima Sesat. Seperti biasanya, tokoh menggiriskan itu selalu ditemani selusin laki-laki gagah berpakaian prajurit.

"Hm.... Tentu saja aku masih mengenali kalian, Pemberontak-pemberontak Hina! Dan kewajibanku adalah membekuk kalian agar negeri ini menjadi aman dari gangguan penjahat-penjahat keji macam kalian!" sahut Panji tanpa rasa gentar sedikit pun.

Walaupun Pendekar Naga Putih pernah bertarung dan dikeroyok datuk-datuk sesat itu, tapi sama sekali tidak merasa gentar. Bahkan, ia ingin menebus kekalahannya beberapa waktu yang lalu.

"He he he.... Bocah itu ternyata masih tetap saja sombong! Ia benar-benar patut diberi pelajaran seperti tempo hari, agar tidak sesumbar lagi...," Terdengar suara melengking tinggi, yang berasal dari Kuntilanak Bukit Mandau. Nenek berpakaian serba hijau itu melangkah sambil menudingkan tongkatnya ke wajah Panji.

"Kakang...!" Tiba-tiba perdebatan itu terhenti ketika terdengar seruan halus, yang disusul munculnya sosok ramping berpakaian serba hijau. Dara jelita itu adalah Kenanga yang menyusul Panji dengan meninggalkan Ki Janala serta Praba, setelah yakin kalau kedua orang itu tidak mendapatkan luka yang mengkhawatirkan. Kini Kenanga menatap tajam keempat sosok tubuh itu, sambil mencekal lengan kekasihnya.

"Kakang. Bukankah mereka..." Kenanga tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat anggukan kepala Panji. Dara jelita itu menjadi terkejut bukan main, karena kali ini yang dihadapi adalah datuk-datuk sesat dan empat penjuru. Tentu saja hatinya menjadi tegang.

Sementara itu, Kuntilanak Bukit Mandau melangkah mundur ketika melihat kemunculan dara jelita berpakaian serba hijau ini. Rupanya, nenek itu pun dapat mengenali Kenanga, dan tahu sampai di mana kesaktiannya. Maka, tentu saja ia tidak berani gegabah untuk langsung turun tangan, begitu mengingat kemunculan dara jelita yang pernah membuat geger dengan julukan Bidadari Iblis itu. Dan tentu saja, dengan kemunculan kekasihnya, membuat Panji semakin bertambah kuat. Alasan itulah yang membuat Kuntilanak Bukit Mandau terpaksa surut ke belakang, dan memandang rekan-rekannya meminta pendapat.

"Kita hajar saja mereka sekarang, Kakang. Lalu, kita serahkan ke Istana Mulawarta...," bisik Kenanga tanpa melepaskan tatapan matanya dari keempat so- sok datuk sesat itu.

"Tenanglah, Kenanga. Kita tunggu dulu apa kemauan mereka...," bisik Panji dengan sikap tenang. Kenanga terpaksa bungkam, dan menyerahkan keputusan kepada kekasihnya.

TIGA

Panji dan Kenanga menggeser langkahnya ketika melihat keempat datuk itu bergerak merenggang. Menghadapi tokoh-tokoh sakti seperti mereka, Pendekar Naga Putih tidak ingin gegabah. Maka, langsung saja 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan-nya dikerahkan, siap dipergunakan sewaktu-waktu.

Kenanga sendiri sudah menghunus Pedang Sinar Rembulan. Dara jelita itu pun sadar, yang kali ini dihadapi bukanlah tokoh-tokoh sembarangan. Oleh karena itu, senjatanya telah disiapkan dalam menghadapi serbuan lawan-lawannya.

"Hm..." Raja Iblis Jubah Merah yang menaruh dendam atas kematian kedua orang muridnya, menggeram gusar. Datuk sesat yang mengepalai tokoh-tokoh sesat wilayah selatan itu, melangkah berputar mendekati Pendekar Naga Putih dan Kenanga. Dari sorot matanya yang tajam, dapat ditebak kalau kematian Panji sangat diinginkannya.

Demikian pula halnya Kuntilanak Bukit Mandau. Nenek bungkuk udang yang menjadi pimpinan tokoh sesat di wilayah utara itu juga bergerak dari sebelah kanan Pendekar Naga Putih. Tongkat hitam di tangannya sudah diputar, membentuk gulungan sinar hitam yang menimbulkan angin menderu-deru. Daun dan rerumputan kering seketika beterbangan akibat putaran angin yang ditimbulkan tongkat hitamnya. Hal itu membuktikan, kekuatan tenaga dalam Kuntilanak Bukit Mandau tidak bisa diremehkan.

Memedi Karang Api dan Datuk Panglima Sesat pun tidak mau ketinggalan. Kedua tokoh puncak golongan sesat di wilayah timur dan barat itu sama-sama bergerak dari arah berlawanan, mengepung Panji dan Kenanga. Tampaknya, pertarungan dahsyat akan segera terjadi.

"Yeaaat...!" Dengan sebuah pekikan parau, tubuh cebol Raja Iblis Jubah Merah melayang dengan cengkeraman mautnya yang menyambar-nyambar.

Wuttt! Wuttt!

Panji yang membelakangi Kenanga, langsung saja memiringkan tubuhnya pada saat serangan lawan datang. Kemudian, disertai 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya, serangan itu dibalas dengan terjangan yang tidak kalah cepat dan ganasnya.

Sebentar saja, angin dingin telah berhembus seiring sambaran cakar naga Pendekar Naga Putih. Dan tentu saja Raja Iblis Jubah Merah tidak berani mengadu kekuatan secara langsung. Karena disadari tenaga sakti lawannya masih sangat tinggi. Maka cepat-cepat tubuhnya bergeser dengan lompatan pendek sambil mengirimkan tendangan kilat ke arah lambung Pendekar Naga Putih.

Pada saat yang bersamaan, Kuntilanak Bukit Mandau pun telah datang dengan serangan tongkatnya. Hembusan angin keras menderu-deru, membuat Panji sadar akan bahaya dari belakangnya. Dan untuk menghadapi dua serangan sekaligus, tubuhnya segera melenting ke udara dan berputaran beberapa kali. La-llu, sepasang telapak tangannya cepat didorong ke bawah, ke arah Raja Iblis Jubah Merah yang berada di bawahnya.

Whusss...!

Tentu saja pukulan jarak jauh Pendekar Naga Putih sangat berbahaya! Raja Iblis Jubah Merah sadar betul akan bahaya maut itu. Maka segera saja dia bergulingan sambil menyambut serangan dengan kibasan tangan kanannya.

Bresssh!

"Aihhh...?!"

Akibat pertemuan dua gelombang tenaga sakti itu, Raja Iblis Jubah Merah tidak bisa menahan pekikan. Tubuhnya yang cebol dan gemuk itu kontan mengge-llinding bagai bola, menjauhi arena pertempuran. Jelas, tokoh cebol itu merasa terkejut ketika lengannya terasa bagai lumpuh setelah berbenturan dengan sepasang telapak tangan Pendekar Naga Putih.

Bettt..!

Tiba-tiba sambaran angin tajam mengaung, datang mengiringi hantaman tongkat hitam Kuntilanak Bukit Mandau. Panji cepat mengegoskan tubuhnya ke samping, seraya mengulurkan tangannya hendak menghancurkan tongkat di tangan lawan. Namun, nenek itu ternyata sangat cerdik dalam memperhitungkan serangannya. Sebelum tercengkeram cakar naga Panji, tongkatnya sudah diputar setengah lingkaran. Bahkan langsung mengancam kepala lawan.

Tapi, yang kali ini dihadapi Kuntilanak Bukit Mandau adalah seorang pemuda yang telah digembleng oleh pengalaman-pengalaman mengerikan. Sehingga tidak heran kalau sabetan tongkat yang mampu menghancurkan batu karang sebesar kerbau itu mampu dielakkan dengan memutar tubuhnya menggunakan tenaga pinggang. Lalu, Panji berbalik memutar kakinya, menyapu kuda-kuda lawan.

Breeet..!

Sapuan kaki Panji ternyata hanya menyambar rerumputan kering, karena tubuh Kuntilanak Bukit Mandau telah berputaran melompat ke udara. Kesempatan baik itu tidak disia-siakan Panji. Cepat tubuhnya melesat ke arah pertempuran. Kenanga yang harus menghadapi keroyokan dua orang datuk sesat lainnya. Melihat kekasihnya telah terdesak hebat, Pendekar Naga Putih langsung terjun dan menerjang salah seorang dari pengeroyok.

Plak! Plak!

"Aihhh...!” Lelaki tinggi besar berpakaian senapati yang tak lain dari Datuk Panglima Sesat, memekik ketika dua buah pukulannya yang hampir dipastikan akan merobohkan Kenanga, terpental balik akibat papakan Pendekar Naga Putih. Bahkan lelaki tinggi besar itu terhuyung limbung beberapa langkah ke belakang, karena Panji mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya.

Kenanga yang saat itu telah merasa lelah menghadapi dua orang lawan, sempat menarik napas lega. Meskipun saat itu ia masih harus menyelamatkan diri dari gempuran Memedi Karang Api yang mencecarnya dengan serangan-serangan dahsyat.

Buggg!

"Aaakh...?!" Karena gerakannya semakin lambat, akhirnya Kenanga tidak mampu menghindari sebuah tendangan Memedi Karang Api yang singgah di lambung kanannya. Dan meskipun tenaga dalamnya sudah dikerahkan untuk melindungi, tetap saja tubuhnya terjengkang tak sanggup menerima tendangan keras dari datuk sesat itu.

"Yeaaah...!

Memedi Karang Api yang sepertinya sangat bernafsu untuk segera dapat melumpuhkan Kenanga, langsung menyusuli serangannya tanpa membuang-buang waktu lagi. Sepasang tangannya bergerak cepat, siap melumpuhkan dara jelita yang tengah berusaha bangkit itu.

Tapi, Panji tentu saja tidak sudi melihat kekasihnya sampai tewas di tangan datuk sesat itu. Maka dengan sebuah teriakan nyaring, tubuhnya sudah melesat mencegah tindakan Memedi Karang Api.

Dukkk, dukkk... Bukkk!

"Aaa...!"

Kecepatan gerak Pendekar Naga Putih benar-benar sangat mengagumkan! Sehingga, meskipun Memedi Karang Api telah mengerahkan kesaktian, tak urung sebuah tebasan sisi telapak tangan miring Panji bersarang di iganya. Akibatnya, tubuh kakek tinggi kurus itu terdorong dan hampir jatuh terpelanting. Untung saja kuda-kudanya segera dapat dikuasai. Meskipun begitu, tampak juga lelehan darah di sudut bibirnya. Rupanya, pukulan Panji telah membuat dada bagian dalam kakek itu terguncang!

"Kenanga! Kau tidak apa-apa...?" tanya Panji khawatir sambil memegang bahu kekasihnya yang tampak kelelahan.

"Aku tidak apa-apa, Kakang...," desah Kenanga sambil memijat lambungnya yang terasa nyeri. Dara jelita itu menatap wajah kekasihnya penuh kekhawatiran. Jelas, Kenanga lebih mencemaskan keselamatan pemuda itu ketimbang dirinya sendiri.

"Hm.... Rasanya aku harus bertarung mati-matian menghadapi mereka...!" geram Panji. Pendekar Naga Putih segera berbalik menghadapi keempat orang datuk sesat yang sudah bergerak maju mengepung.

"Kakang...," desah Kenanga.

Gadis itu merasa cemas ketika mendengar ucapan Panji. Meskipun disadari kalau kematian setiap saat bisa datang bagi orang-orang yang selalu bermain-main dengan maut seperti mereka, tapi hati kecil dara jelita itu tetap saja merasa khawatir.

"Menyingkirlah, Kenanga. Atau sebaiknya, tinggalkanlah tempat ini. Kalau masih bisa selamat, aku akan segera menemuimu di desa depan sana. Mudah-mudahan, letak desa itu tidak terlalu jauh, dan kau bisa mencapainya...," ujar Panji sambil menatap wajah kekasihnya yang tampak sangat mempesona di bawah siraman cahaya purnama.

"Tidak, Kakang. Mati atau hidup, kita harus tetap bersama. Aku tidak akan tahan menunggu dengan hati selalu gelisah. Lebih baik aku di sini saja bersamamu...," bantah Kenanga yang kali ini tidak menuruti permintaan Panji.

Melihat sinar mata yang menyimpan tekad bulat itu, Panji hanya menghela napas. Disadari kalau memaksa Kenanga untuk meninggalkan tempat itu tentu akan percuma saja. "Hm.... Terserah kaulah, Kenanga. Tapi untuk sekali ini, kuminta agar kau menyingkir saja dari sini. Apabila dalam enam puluh jurus dua orang dari mereka masih belum bisa ku robohkan, kau baru boleh membantu...," ujar Panji.

Kali ini, saran Panji dituruti oleh dara jelita itu. Dan kini, Kenanga segera menyingkir, menyaksikan dari kejauhan.

"He he he.... Rupanya kau masih sayang dengan nyawa dara jelita itu, Pendekar Naga Putih? Kau pasti takut kalau kulitnya yang putih halus itu akan lecet apabila bertarung dengan kami. Tapi, jangan khawatir. Aku akan senang sekali bila dapat membawanya pulang ke istanaku, dan akan kuangkat menjadi permaisuri ku...," kata Datuk Panglima Sesat, mengumbar kesombongannya.

Namun, Panji sendiri sama sekali tidak menyahut. Malah, matanya sudah dipejamkan sejenak, untuk memancing keluar 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’. Sebentar kemudian, terciptalah lapisan sinar kuning keemasan di sebelah kanan tubuh Pendekar Naga Putih. Sedangkan pada tubuh sebelah kirinya, terlapis kabut putih keperakan. Jelas sudah kalau saat itu Panji telah mengerahkan kedua tenaga dahsyatnya, dan menggabungkannya untuk menghadapi keroyokan empat orang datuk sesat dari empat penjuru angin.

"Gila...?!" Datuk Panglima Sesat sampai melangkah mundur melihat perubahan yang terjadi dalam diri pendekar muda itu. Hatinya sempat bergetar menyaksikan betapa pendekar yang masih berusia muda itu telah mampu menggabungkan dua unsur tenaga sakti berlainan sifat.

"Mustahil...?!"

"Ilmu sihir...?!"

Tiga orang datuk lainnya pun tidak kalah terkejut menyaksikan perubahan lawannya. Mereka benar-benar takjub dan semakin bertambah kagum terhadap pemuda tampan yang berjuluk Pendekar Naga Putih.

"Hm.... Tidak perlu gentar, Sahabat-sahabat. Meskipun seluruh kesaktiannya digunakan, mustahil dapat mengalahkan kita berempat. Mari kita lenyapkan pendekar celaka itu...," tegas Raja Iblis Jubah Merah, lantang.

Tentu saja ia khawatir melihat kawan-kawannya seperti gentar ketika melihat tindakan pemuda tampan berjubah putih itu. Maka, segera saja kakinya melangkah maju, untuk membuktikan ketidakgentaran terhadap lawannya. Memang, ia sendirilah yang lebih menaruh dendam terhadap Pendekar Naga Putih.

Mendengar ucapan Raja Iblis Jubah Merah, tentu saja ketiga orang datuk lainnya segera menyadari kekeliruan sikap mereka. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka kembali menyebar, mengepung Pendekar Naga Putih.

"Hiaaat..!" Raja Iblis Jubah Merah kembali membuka serangan, mendahului rekan-rekannya. Tubuh lelaki gemuk pendek itu bergerak maju dengan langkah-langkah bersilangan. Sepasang tangannya bergerak cepat, saling mendahului untuk menyarangkannya ke tubuh lawan.

Memedi Karang Api pun tidak ketinggalan. Tokoh tinggi kurus berjubah putih kumal itu bergerak maju dengan jurus 'Ular Beracun Menembus Kabut'. Sepasang tangannya bergerak silih berganti, dengan kecepatan luar biasa. Bahkan terkadang lengannya terlihat memanjang melebihi ukuran biasa. Jelas, datuk tinggi kurus itu telah mengeluarkan ilmu andalan yang jarang digunakan.

Datuk Panglima Sesat dan Kuntilanak Bukit Mandau seolah bergerak saling mendahului. Mereka juga telah menggunakan ilmu andalannya, ketika melihat Panji telah mengeluarkan ilmu-ilmu aneh yang dahsyat. Sehingga, Pendekar Naga Putih sendiri sempat merasa tegang menghadapi serbuan empat gembong kaum sesat yang berkepandaian menggiriskan itu.

"Haiiit..!"

Ketika empat orang pengeroyok itu sudah semakin dekat, Panji mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah'nya yang menggetarkan jantung. Bersamaan dengan itu, tubuhnya bergerak cepat sambil mengerahkan jurus 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya yang luar biasa. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, tubuhnya berkelebatan menyambut serbuan empat orang lawannya.

Pertarungan yang terjadi kali ini benar-benar dahsyat. Kenanga sendiri sampai berdebar melihatnya. Betapa tidak? Angin pukulan berhawa maut yang silih berganti bertebaran ke sekitar arena pertarungan, telah membuat pohon-pohon besar di sekelilingnya rebah. Bahkan dara jelita itu harus bergerak lebih menjauh, karena ada serangkum angin pukulan yang nyaris melukainya.

Untunglah Kenanga sudah cepat melesat menghindar, sehingga pohon dibelakangnyalah yang berderak roboh terkena pukulan maut yang nyasar. Belum lagi datangnya bebatuan yang tersepak kaki-kaki tokoh-tokoh sakti itu. Padahal, lontaran batu itu sanggup memecahkan kepala seorang tokoh yang belum memiliki tenaga dalam tinggi. Benar-benar mengerikan pertarungan lima tokoh dahsyat itu!

Panji sendiri dalam menghadapi pertarungan mati-matian itu harus menguras seluruh kesaktiannya. Jadi wajar saja kalau merasa sedikit kewalahan, karena lawan-lawannya bukan tokoh sembarangan. Mereka adalah gembong kaum sesat yang memiliki kesaktian luar biasa. Sehingga, tidak mudah bagi Pendekar Naga Putih untuk dapat merobohkan dalam waktu singkat. Bahkan, terkadang harus bergerak mundur untuk menghindari gempuran-gempuran hebat dari lawan-lawannya.

"Heaaah...!"

Ketika pertarungan menginjak jurus ketiga puluh, Panji kembali mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah'nya. Tubuh pemuda itu kini berkelebatan laksana sambaran kilat. Kemudian tubuhnya melenting ke udara, bagaikan seekor naga perkasa yang terbang ke langit. Dan dari atas, tubuhnya berputaran beberapa kali, sebelum meluncur turun melepaskan jurus 'Naga Sakti Meluruk ke Dalam Bumi’.

Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api yang menjadi sasaran, terkejut bukan main! Mata mereka begitu silau melihat lingkaran sinar kuning keemasan yang berbaur dengan sinar putih keperakan yang berputaran. Serbuan hawa dingin dan panas yang berganti-ganti, membuat tubuh mereka bagaikan tengah dilanda demam hebat. Sadar akan bahaya yang tidak mungkin sanggup diatasi, maka kedua datuk sesat ini segera melempar tubuhnya dan bergulingan menjauhi tempat itu.

Rupanya, mereka belum memahami sifat jurus yang kali ini digunakan Panji. Buktinya, meskipun mereka berusaha menghindar sejauh-jauhnya, serangan pemuda itu terus mengejar kedua orang sasaran, seperti memiliki mata saja. Sehingga, baik Raja Iblis Jubah Merah maupun Memedi Karang Api terpaksa menangkis serangan lawan disertai pengerahan seluruh kekuatan tenaga saktinya.

Lagi-lagi, mereka tidak tahu akan sifat jurus pamungkas dan Pendekar Naga Putih. Ternyata baik menghindar atau menangkis, sama-sama berbahaya. Serangan yang sukar dihalau itu meluncur disertai sambaran angin bercicit tajam. Dan...

Plak! Desss...!

Meskipun pada hantaman pertama kedua orang datuk sesat itu masih bisa memapak, namun gerakan melingkar lengan pemuda itu benar-benar tak terduga dan sulit dihindari lagi. Akibatnya, tubuh kedua orang pentolan kaum sesat itu seketika terjungkal memuntahkan darah segar. Kedua datuk sesat itu terus terguling-guling, hingga sejauh empat tombak dari tempat berdiri semula.

Meski demikian, mereka masih berusaha bergerak bangkit sambil menyeringai kesakitan. Mereka baru terkejut ketika merasakan sekujur tubuh sukar digerakkan. Hawa panas dan dingin yang berganti-ganti, membuat mereka terkadang menggigil kedinginan, dan terkadang mendesis-desis kepanasan. Jelas, akibat pukulan pada tubuh mereka tidak bisa lenyap untuk beberapa saat. Sehingga, kedua datuk sesat itu hanya bisa pasrah menanti kematian.

Sementara itu, Datuk Panglima Sesat dan Kuntilanak Bukit Mandau seperti sadar akan keadaan kedua orang rekan mereka. Tampak keduanya berusaha menggempur Pendekar Naga Putih, agar menjauhi kedua orang rekan mereka.

Panji sendiri yang baru saja menjejakkan kedua kaki di atas tanah, mau tak mau harus berlompatan menghindari hujan serangan Datuk Panglima Sesat dan Kuntilanak Bukit Mandau. Dan saat yang sedikit itu digunakan sebaik-baiknya oleh kedua datuk sesat itu untuk segera melompat jauh ke belakang. Setelah menyambar tubuh kedua orang rekannya yang masih belum mampu bangkit, mereka pun langsung mencelat jauh, melarikan diri.

Sementara itu, dua belas orang pengawal Datuk Panglima Sesat segera saja menghambur ketika melihat pimpinannya telah melesat pergi meninggalkan tempat ini.

Panji sendiri tidak berusaha mengejar, karena lebih mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya. Dugaannya, bisa saja para datuk itu mengambil jalan berputar selagi ia mengejar. Dan mereka bisa saja tiba kembali di tempat semula, untuk membekuk Kenanga. Alasan itulah yang membuat Panji tidak berusaha mengejar.

"Kau tidak apa-apa, Kakang...," tanya Kenanga seraya memeluk tubuh kekasihnya dengan helaan napas lega. Panji sendiri hanya menggelengkan kepala. Kemudian, diajaknya dara jelita itu untuk segera meninggalkan hutan ini

********************

EMPAT

"Hm.... Kesaktian Pendekar Naga Putih memang sangat luar biasa! Rasanya, hanya gabungan ilmu kita berempat sajalah yang mungkin bisa melumpuhkannya. Makanya, kita harus segera menyelesaikan rencana yang telah disepakati bersama...," kata seorang lelaki tinggi besar.

Orang itu berwajah kelimis, karena kumis danjenggotnya telah tercukur bersih. Menilik dari pakaiannya yang seperti senapati, sudah bisa dipastikan kalau lelaki tinggi besar itu adalah Datuk Panglima Sesat, seorang gembong golongan hitam di wilayah timur.

Tiga orang lainnya saling bertukar pandangan sejenak. Mereka kini duduk mengelilingi sebuah meja kayu bulat. Dua di antara keempat datuk sesat itu tampak masih agak pucat wajahnya. Rupanya kesehatan mereka berdua belum pulih setelah bertarung melawan Pendekar Naga Putih kemarin.

"Hm..." Lelaki pendek gemuk brewok yang mengenakan jubah berwarna merah itu bergumam. Pandangannya tampak dilayangkan ke arah Datuk Panglima Sesat. "Persiapan kita telah berjalan cukup lama, dan hampir sempurna. Tapi melihat kesaktian Pendekar Naga Putih yang telah maju sangat pesat, kita masih harus banyak berbenah diri. Begitu semuanya telah sempurna, barulah pemuda yang merupakan penghalang besar bagi setiap kaum kita digempur...," tandas Raja Iblis Jubah Merah setelah berpikir beberapa saat.

Datuk Panglima Sesat, Memedi Karang Api, dan Kuntilanak Bukit Mandau sama-sama menganggukkan kepala. Mereka semua maklum setelah merasakan kesaktian Pendekar Naga Putih, yang memang telah maju pesat. Untuk ini, rupanya mereka harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri apabila hendak melenyapkan Pendekar Naga Putih.

"Ada baiknya bila kita sekarang menengok pasukan yang telah dipersiapkan itu. Kemudian, mereka harus dicoba sebelum dilepaskan untuk menggempur Pendekar Naga Putih. Bagaimana...?" usul Kuntilanak Bukit Mandau, setelah mendengar ucapan kawan-kawannya.

"Aku setuju...," sahut Memedi Karang Api, langsung.

Sedangkan dua orang lainnya ikut menyatakan persetujuannya. Keempat datuk golongan hitam itu pun sama-sama bergerak bangkit, dan meninggalkan ruang pertemuan yang berlangsung di kediaman Datuk Panglima Sesat. Kemudian, mereka melangkah ke belakang bangunan besar dan megah ini.

Tidak berapa lama kemudian, keempat orang datuk sesat itu tiba di bagian belakang bangunan yang berupa sebuah tanah lapang luas. Di tempat itu, terlihat delapan orang yang rata-rata berperawakan tegap tengah sibuk berlatih. Gerakan-gerakan mereka terlihat sangat gesit dan mantap. Bisa dilihat kalau ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam mereka tidak bisa dipandang remeh.

Setelah memperhatikan sejenak, Datuk Panglima Sesat bertepuk tangan perlahan sebanyak tiga kali. Karena dilakukan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi, tentu saja pengaruh tepukan itu segera terlihat.

Delapan orang lelaki muda berperawakan tegap itu serentak menghentikan gerakan dan berbalik menghadap keempat orang datuk sesat ini. Wajah mereka rata-rata dingin tanpa perasaan. Meski demikian, sorot mata mereka nampak demikian tajam dan menimbulkan rasa seram bagi yang memandang. Terlihat kedelapan sosok tubuh berpakaian warna-warni itu sama-sama membungkukkan kepala dengan sikap kaku. Sikap mereka jelas tidak wajar, dan seperti berada dalam pengaruh sihir.

"Hmhhh..." Datuk Panglima Sesat mengibaskan kedua tangannya ke kiri dan kanan, seperti memerintahkan mereka untuk berpencar. Kemudian, lelaki tinggi besar berpakaian senapati kerajaan itu melangkah maju ke tengah lapangan.

"Panglima Sesat! Rasanya terlalu berbahaya apabila kau hendak menghadapi mereka seorang diri. Meskipun ilmu gabungan yang kita ciptakan untuk mereka belum seluruhnya dikuasai, tapi tetap saja aku merasa kalau mereka tidak bisa dihadapi seorang diri...," Raja Iblis Jubah Merah memperingatkan rekannya yang rupanya hendak menjajal kemampuan delapan lelaki muda berwajah dingin itu.

"Hm.... Jangan khawatir, Iblis Jubah Merah. Jika dalam sepuluh jurus salah seorang dari mereka belum bisa kujatuhkan, barulah kalian boleh turun tangan...," sahut Datuk Panglima Sesat mengabaikan peringatan rekannya. Setelah berkata demikian, lelaki tinggi besar itu kembali bertepuk tangan dua kali. Sepertinya, tepukan itu merupakan isyarat bagi kedelapan orang itu untuk mulai menyerang.

Kedelapan lelaki muda yang terbentuk dalam satu pasukan yang telah terlatih baik itu, segera saja bergerak mengepung dari delapan penjuru. Mereka belum memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang, namun sebaliknya malah berputaran saling berpindah-pindah tempat.

"Hm..." Datuk Panglima Sesat hanya bergumam perlahan meskipun saat itu putaran lawan-lawannya semakin bertambah cepat, hingga yang terlihat hanyalah bayangan berwarna-warni mengelilinginya. Baru saja datuk sesat itu hendak memulai serangan, tiba-tiba saja gerakan berputar kedelapan orang itu terhenti dan berbalik arah. Semua itu dilakukan dengan sangat cepat dan tanpa kesulitan. Mau tak mau, Datuk Panglima Sesat diam-diam harus mengagumi tindakan lawan-lawannya.

"Haaat…"

Dengan sebuah lengkingan nyaring yang panjang, kedelapan orang itu pun mulai membuka serangan. Dua orang berseragam biru muda yang berada di depan Datuk Panglima Sesat, melesat ke depan sambil melancarkan tusukan jari-jari tangan yang menimbulkan suara angin berdecitan. Kelihatannya, serangan itu sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian. Atau, paling tidak luka dalam yang parah.

Serangan dua orang berseragam biru muda itu belum lagi tiba, namun dua orang lawan berseragam merah darah dari sebelah kanan Datuk Panglima Sesat juga telah menerjang dalam waktu hampir bersamaan. Bahkan serangan mereka juga tidak kalah berbahayanya!

"Haaat..!"

Datuk Panglima Sesat segera saja menggeser tubuhnya, menghindari serangan dua orang berseragam biru muda dari depan. Namun, justru dua orang berseragam merah yang menyerang dari kanannya itulah yang lebih berbahaya. Padahal serangan pertama tadi hanya sekadar memancing perhatian Datuk Panglima Sesat.

Bettt! Bettt!

Dua buah pukulan yang menimbulkan suara angin tajam, datang mengancam tubuh Datuk Panglima Sesat. Cepat tokoh sakti itu mengangkat kedua tangannya, untuk memapak serangan lawan. Dan...

Plak! Plak!

"Aihhh,..?!” Terdengar seruan tertahan dari lelaki gagah itu ketika merasakan kuatnya gelombang tenaga pukulan kedua orang pengeroyoknya. Akibatnya, ia yang semula menganggap enteng serangan itu, hampir terjungkal dibuatnya. Jelas, Datuk Panglima Sesat tidak mengetahui kemajuan yang diperoleh kedelapan lelaki muda yang digembleng oleh Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api. Di lain pihak, Datuk Panglima Sesat dan Kuntilanak Bukit Mandau tidak terlalu memperhatikan. Maka, wajar saja kalau lelaki tinggi besar itu jadi terkejut ketika merasakan kekuatan pukulan lawan-lawannya.

Pertarungan berjalan semakin seru dan cepat. Datuk Panglima Sesat tampak mulai merasakan tekanan berat, setelah bertarung lebih dari lima jurus. Hal itu merupakan bukti kalau ilmu gabungan yang diciptakan empat orang datuk itu memang hebat sekali. Buktinya, Datuk Panglima Sesat yang tentu saja telah mengenal ilmu yang digunakan para pengeroyoknya, masih harus kerepotan menghindari hujan serangan. Bahkan setelah sepuluh jurus lebih, dia beberapa kali nyaris celaka. Mendapat kenyataan ini, karuan saja hati datuk tinggi besar ini menjadi tegang.

Kuntilanak Bukit Mandau yang melihat rekannya mulai kewalahan, segera terjun ke arena pertempuran. Begitu memasuki arena, tongkat hitam di tangannya langsung bergerak berputaran dengan suara menderu-deru laksana ratusan lebah marah.

Tapi, delapan orang laki-laki muda berwajah dingin dan bersikap kaku itu sama sekali tidak menjadi mundur. Bahkan desakan mereka pun tidak berkurang, meski Datuk Panglima Sesat telah dibantu Kuntilanak Bukit Mandau yang juga memiliki kesaktian menggiriskan. Malah mereka masih saja dapat didesak kedelapan lelaki muda itu. Melihat hal ini, tentu saja hati nenek bungkuk udang itu menjadi gemas, meski ada rasa kebanggaan melihat hasil jerih payahnya.

Plakkk! Bukkk!

"Uuugh...!" Datuk Panglima Sesat yang berusaha mati-matian menghindari dan membalas serangan lawan, terpaksa harus merelakan tubuhnya terkena hantaman salah seorang pengeroyoknya. Akibatnya, tubuhnya terpental beberapa langkah ke belakang. Kemudian, dia bergerak bangkit secepat kilat dan kembali melakukan perlawanan hebat. Dari lelehan darah di sudut bibirnya, jelas kalau Datuk Panglima Sesat agak terguncang bagian dalam tubuhnya, akibat pukulan lawan yang singgah di lambung kirinya.

Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api yang mengetahui betul akan kehebatan pasukan itu, segera saja melayang ke dalam arena pertarungan. Sehingga, kali ini kedelapan lelaki muda itu harus menghadapi empat orang datuk sesat yang rata-rata memiliki kesaktian sangat dahsyat.

Turunnya Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api, ternyata tidak juga merubah keadaan. Dengan gerakan-gerakan yang semakin hebat dan berbahaya, kedelapan lelaki muda berwajah dingin itu terus mendesak. Akibatnya, empat orang datuk sesat itu jadi kelabakan. Kini, mereka semakin sadar kalau pasukan yang telah dipersiapkan itu benar-benar tangguh.

"Haiiit..!"

Dibarengi pekikan nyaring, Memedi Karang Api melesat keluar dari gelanggang pertempuran. Kemudian, disusul berturut-turut ketiga orang datuk lainnya. Dengan beberapa kali lompatan saja, keempat orang datuk sesat itu telah berada sejauh tiga tombak dari lawan-lawannya.

"Bagus..., bagus...! Kalian betul-betul tidak mengecewakan...," puji Memedi Karang Api sambil bertepuk tangan dengan wajah berseri.

Sementara itu, delapan orang lelaki muda yang menjadi lawan mereka tadi sama sekali tidak menunjukkan tanggapannya. Mereka hanya membungkuk dengan wajah sedingin es. Meskipun begitu, bibir mereka terlihat menggerimit mengucapkan sesuatu.

"Terima kasih, Tuan ku...," suara delapan orang laki-laki berpakaian warna-warni itu bergaung jelas. Ternyata, gerakan bibir yang sepertinya hanya berupa bisikan itu terdengar sangat jelas. Pasti hal itu dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam.

"Hm.... Meskipun mereka memang tidak bisa kita taklukkan, tapi.... Rasanya mereka belum cukup kuat untuk menghadapi Pendekar Naga Putih. Paling tidak, mereka harus dipersiapkan beberapa waktu lagi. Setelah itu, barulah mereka bisa melaksanakan tugas yangteramat penting itu...," kata Kuntilanak Bukit Mandau.

Sepertinya, nenek ini masih belum puas, meskipun memang harus diakui kehebatan pasukan itu. Tapi karena telah beberapa kali bentrok dengan Pendekar Naga Putih, maka dia masih kurang yakin kalau pasukanyang tengah dipersiapkan itu belum mampu menghadapi Pendekar Naga Putih. Apalagi, setelah ia sendiri menyaksikan kemajuan pendekar muda yang digdaya itu.

"Sejak pertama tadi sudah kukatakan, kita masih harus mempersiapkan mereka lebih sempurna. Kelak setelah mereka sudah menguasai ilmu ciptaan kita bersama, barulah ditugaskan untuk melenyapkan Pendekar Naga Putih," timpal Memedi Karang Api.

"Benar, Kuntilanak Bukit Mandau. Oleh karena itu, mulai sekarang mereka harus dipersiapkan bersama-sama. Setelah itu, aku yakin Pasukan Pembunuh ini akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dan tidak perlu diragukan lagi...," tambah Raja Iblis Jubah Merah. Nada suaranya terdengar penuh kebanggaan dan keyakinan.

"Hm.... Hal itu memang tidak kuragukan lagi. Tapi..., bagaimana dengan kemungkinan kalau mereka berkhianat? Seperti kita semua sudah tahu, Pendekar Naga Putih memiliki ilmu pengobatan yang tidak kalah dibanding Raja Obat Nah! Hal itulah yang masih mengganggu pikiranku...," ungkap Datuk Panglima Sesat, tentang kekhawatirannya.

Kuntilanak Bukit Mandau yang sepertinya juga memiliki pemikiran serupa mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya, dia menyetujui juga kekhawatiran Datuk Panglima Sesat.

"He he he! Hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Obat-obat ramuan yang ku jejali, telah membuat otak mereka tidak dapat bekerja lagi. Kecuali, oleh perintah kita berempat. Pokoknya, mereka tidak akan bisa terpengaruh lagi. Dan, aku telah memperhitungkannya jauh-jauh hari mengenai hal itu. Mereka memang bisa menjadi ancaman bagi kita, apabila dibiarkan hidup lama-lama. Itulah sebabnya, aku menjejalkan sejenis racun mematikan, yang membuat umur mereka tidak akan lebih dari dua bulan. Setelah itu, mereka akan tewas dengan pembuluh darah pecah, dan tidak mungkin bisa diobati lagi. Jadi, kalian tidak perlu lagi mengkhawatirkannya," jelas Memedi Karang Api.

Rupanya dia telah mempersiapkan segalanya dengan cermat dan teliti. Sehingga, baik Datuk Panglima Sesat maupun Kuntilanak Bukit Mandau sama-sama mengangguk penuh kepuasan. Keraguan mereka pun pupus setelah mendengar penjelasan yang melegakan hati itu.

"Hm Kalau begitu, apa lagi yang ditunggu? Marilah kita segera menyelesaikan pekerjaan ini. Setelah itu, mereka kita kirim untuk membunuh Pendekar Naga Putih. Dan apabila pendekar muda itu telah tewas, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Maka, kita berempat akan menguasai dunia persilatan. Ha ha ha !" kata Datuk Panglima Sesat seraya tertawa. Sepertinya, dia memiliki keinginan untuk menjadi raja dunia persilatan.

"He he he. Mengapa kau berpikiran sempit sekali, Sahabat? Rencanaku justru jauh lebih besar lagi. Sebelum membunuh Pendekar Naga Putih, aku akan menugaskan Pasukan Pembunuh ini untuk membunuh Prabu Pungga Lawa. Ini merupakan ujian berat bagi mereka, karena istana merupakan gudangnya tokoh-tokoh sakti. Nah! Apabila berhasil, mereka harus melenyapkan Pendekar Naga Putih. Bagaimana? Apakah rencanaku itu jauh lebih baik dari keinginanmu, Datuk Panglima Sesat..?" usul Memedi Karang Api.

Sepertinya, datuk itu masih mendendam terhadap penguasa Kerajaan Mulawarta. Dan dia memang ingin melanjutkan cita-cita Malaikat Gerbang Neraka, yang pernah dibantunya dalam merebut kerajaan itu dari tangan Prabu Pungga Lawa.

Untuk lebih jelasnya, silakan ikuti episode Malaikat Gerbang Neraka dan Rahasia Pedang Naga Langit

"Hei?! Itu sangat berbahaya, Memedi Karang Api! Bagaimana kalau pasukan kecil yang telah dipersiapkan ini sampai tertangkap, atau terbunuh? Bukankah jerih payah kita selama ini akan sia-sia saja? Rasanya, aku kurang setuju pada rencanamu itu! Terlalu berbahaya!" bantah Datuk Panglima Sesat.

Jelas, dia kurang setuju terhadap rencana Memedi Karang Api, karena khawatir kalau Pasukan Pembunuh yang telah dipersiapkan untuk melenyapkan Pendekar Naga Putih akan tewas atau tertangkap oleh prajurit istana. Tentu saja hal itu tidak diinginkannya.

"Jangan bodoh, Panglima Sesat! Meskipun Pasukan Pembunuh dipersiapkan untuk melenyapkan Pendekar Naga Putih, tetapi kita harus mengujinya terlebih dahulu. Dan satu-satunya ujian yang paling baik hanyalah dengan mengacaukan istana. Itu sebabnya aku telah merencanakannya dengan baik...!" bantah Memedi Karang Api, tidak mau kalah.

Kakek itu memang tetap pada rencananya semula, dan tidak mempedulikan bantahan Datuk Panglima Sesat. Sehingga, lelaki gagah bertubuh tinggi besar itu menggeram marah. Maka, suasana pun semakin bertambah tegang ketika kedua orang datuk itu telah siap saling gempur!

"Bodoh! Hentikan pertengkaran tak berguna ini...!" sentak Raja Iblis Jubah Merah, berusaha menengahi. Lelaki gemuk berwajah brewok itu tentu saja tidak ingin rencana yang telah disusun dengan susah-payah, hancur karena perpecahan di antara mereka.

Namun, campur tangan Raja Iblis Jubah Merah ditanggapi lain oleh Datuk Panglima Sesat. Lelaki tinggi besar itu menggeram, mengira Raja Iblis Jubah Merah hendak membantu Memedi Karang Api. Maka Datuk Panglima Sesat segera mundur beberapa langkah, seperti bersiap menghadapi keroyokan Memedi Karang Api dan Raja Iblis Jubah Merah.

"Hm Meskipun harus menghadapi keroyokan kalian, jangan dikira aku akan gentar. Mari kita mengadu nyawa...!" dengus Datuk Panglima Sesat, geram. Langsung saja jurus-jurus ampuhnya disiapkan. Sehingga, baik Raja iblis Jubah Merah maupun Memedi Karang Api sama-sama melompat ke belakang.

"Tahan amarah mu, Panglima Sesat! Aku tidak berpihak kepada siapa pun. Tapi, perlu diingat musuh akan tertawa apabila mendengar kita saling berbunuhan di antara rekan sendiri. Bahkan, dunia persilatan akan menertawai kita. Hm... Apakah kalian berdua ingin mendapatkan cemoohan seperti itu? Kalau memang itu yang diinginkan, silakan kalian bertarung sampai mati! Aku tidak peduli lagi!" bentak Raja Iblis Jubah Merah. Laki-laki berjubah merah itu memang menjadi jengkel melihat gelagat kalau pertarungan seperti sulit dihindari lagi.

"Hm.... Tapi aku tidak sudi mengikuti rencana Memedi Karang Api yang sangat berbahaya! Untuk apa jerih payah kita selama ini kalau akhirnya hanya untuk mengantarkan Pasukan Pembunuh itu ke akhirat, sebelum melenyapkan Pendekar Naga Putih?!" tandas Datuk Panglima Sesat, tetap pada pendiriannya semula.

"Aku juga tidak suka dengan rencanamu yang sempit dan tidak mendatangkan keuntungan itu!" sergah Memedi Karang Api, juga tak mau kalah. Ia tetap menganggap kalau rencana Datuk Panglima Sesat tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu saja.

"Hm... Mengenai rencana itu, biarlah kita rundingkan belakangan. Sekarang yang penting, Pasukan Pembunuh harus disiapkan secara lebih sempurna. Setelah itu, barulah kita adakan mufakat. Siapa yang mendapatkan suara terbanyak dari kita berempat, maka rencana itulah yang harus disetujui. Bagaimana...?" usul Raja Iblis Jubah Merah.

Jalan tengah itu ternyata membuat Datuk Panglima Sesat dan Memedi Karang Api saling berpandangan sejenak. Terlihat mereka saling mengangguk setuju, dan tertawa terbahak-bahak.

"Aku setuju...," sambut Datuk Panglima Sesat. Datuk itu tampak kembali sudah bersikap biasa dan wajar. Sedikit pun tidak kelihatan kalau di antara mereka pernah hampir saling bentrok.

Raja Iblis Jubah Merah dan Kuntilanak Bukit Mandau sama-sama menarik nafas lega. Mereka pun kembali ke tujuan semula, menyempurnakan ilmu Pasukan Pembunuh yang telah dibentuk itu.

********************

LIMA

Malam sudah cukup larut. Cahaya sang dewi malam yang temaram, tak mampu menerobos kegelapan. Bintang yang bertaburan bagaikan lampu-lampu penghias malam, membiaskan cahayanya untuk membantu sang rembulan menerangi permukaan bumi.

Para peronda yang berjaga di sekitar bangunan induk Kerajaan Mulawarta, telah berganti. Rombongan pertama segera berputar ke sekeliling bangunan induk. Sedangkan rombongan yang bertugas menggantikan, berjaga di pos yang telah tersedia.

Belum berapa lama rombongan kedua itu beristirahat, tiba-tiba muncul seorang lelaki gagah berusia lima puluh tahun yang mendatangi pos. Serentak delapan orang prajurit itu bangkit, dan membungkuk hormat kepada lelaki gagah berpakaian senapati itu.

"Hm.... Ada apa Tuan Senapati Jagaraksa malam-malam begini mendatangi pos penjagaan? Tidak biasanya beliau berbuat seperti ini...," desis kepala jaga yang berpangkat perwira. Memang, kedatangan panglima gagah itu tentu saja membuat para penjaga menjadi tegang, takut-takut kalau telah berbuat salah.

"Hm..." Lelaki gagah bernama Senapati Jagaraksa itu hanya menggumam seperti balasan penghormatan para prajuritnya. Sepasang matanya yang tajam mengawasi wajah-wajah tertunduk di depannya. Sehingga, delapan orang prajurit, termasuk perwira jaga itu semakin berdebar. Mereka seperti menanti ucapan yang bakal keluar dari mulut panglima gagah itu.

Senapati Jagaraksa belum lama menjabat sebagai Panglima Kerajaan Mulawarta. Semula, ia adalah seorang pendekar besar yang tangguh. Julukannya, Pendekar Pedang Perak. Jabatan itu diperoleh setelah turut membantu dalam menghancurkan pemberontak yang hampir-hampir berhasil merebut Kerajaan Mulawarta. Mengingat jasa-jasa serta kesaktiannya yang tinggi, maka Prabu Pungga Lawa menganugerahkan jabatan senapati.

Meskipun demikian, Senapati Jagaraksa tidak menjadi tinggi hati dan berbuat sewenang-wenang terhadap bawahan. Sikapnya yang tegas dan memperhatikan bawahan, membuat para prajurit dan perwira merasa hormat dan segan terhadapnya. Jadi wajar saja kalau para prajurit jaga malam itu merasa tegang ketika melihat Senapati Jagaraksa datang dan tiba-tiba memeriksa.

"Maafkan kami, Tuan Panglima. Kedatangan Tuan benar-benar membuat kami terkejut dan bertanya-tanya. Kami takut kalau-kalau telah berbuat kesalahan. Mohon Tuan menjelaskan...," pinta perwira berusia empat puluh tahun yang tubuhnya tinggi tegap. Kepala perwira itu tertunduk dalam, menanti jawaban atasannya. Demikian pula ketujuh orang prajurit lainnya. Mereka sama-sama menanti dengan dada berdebar.

"Hm..., kalian sama sekali tidak berbuat salah. Aku hanya ingin berjalan-jalan sambil memeriksa sekitar tempat ini. Aku merasa gembira melihat kalian yang penuh semangat dalam melaksanakan tugas. Nah, Tenangkanlah hati kalian, dan selamat bertugas...," ucap lelaki gagah itu. Senapati Jagaraksa segera melangkah meninggalkan kedelapan peronda yang sama-sama menghela napas lega. Mereka kembali membungkuk hormat, saat senapati gagah itu berjalan pergi.

"Hm.... Kalau sampai Senapati Jagaraksa keluar seorang diri dan memeriksa sekeliling bangunan induk ini, pasti bakal ada sesuatu yang terjadi. Meskipun hal itu belum pasti, tapi kewaspadaan harus lebih ditingkatkan...," pesan perwira kepala jaga itu. Rupanya, dia cepat dapat meraba gelagat dari sikap atasannya yang menurutnya agak aneh. Dan perasaan itu membuatnya harus mengingatkan kawan-kawannya agar lebih bersiaga.

Dan, apa yang diperkirakan perwira jaga itu memang tidak berlebihan. Saat itu, tidak jauh dari pos penjagaan, tampak beberapa sosok bayangan hitam berkelebat menuju bangunan induk. Gerakan mereka terlihat sangat gesit dan terlatih baik. Sehingga, sedikit pun tidak menimbulkan suara mencurigakan saat melangkah. Jelas, ilmu meringankan tubuh mereka telah mencapai tingkat tinggi.

Sebagai seorang senapati dan bekas pendekar petualang, Senapati Jagaraksa sepertinya merasakan ketidakwajaran suasana malam ini. Senapati Jagaraksa tahu kebiasaan orang-orang persilatan, apabila ingin menyatroni istana selalu melewati jalan atas. Maka kepalanya seringkali menengadah ke atap-atap bangunan. Dan suatu ketika ia sempat menangkap sosok-sosok hitam yang berkelebatan di atas atap bangunan.

"Hm.... Perasaanku rupanya tidak salah. Siapa pula yang berani mati mendatangi istana ini? Dan apa pula tujuan mereka...?" desis Senapati Jagaraksa bergumam seorang diri.

Lelaki gagah itu mendekam, merendahkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh sosok-sosok tubuh di atas atap. Dan kalau tidak salah hitung, jumlahnya sekitar delapan orang. Melihat cara mereka bergerak, dada Senapati Jagaraksa seketika berdebar tegang. Ia sadar, kedelapan sosok bayangan hitam itu rata-rata memiliki ilmu meringankan tubuh yang beberapa tingkat di atas kepandaiannya! Tidak heran kalau lelaki gagah itu menjadi terkejut.

"Gila! Hal ini tidak boleh dibiarkan! Aku harus memberitahukan yang lain untuk bersiap siaga...," gumam Senapati Jagaraksa yang segera berlari menuju pos penjagaan semula yang didatanginya.

"Hahhh...?!" Betapa terkejutnya hati senapati gagah itu ketika melihat para penjaga di pos telah bergeletakan tewas. Hal itu diketahuinya setelah memeriksa kedelapan prajurit jaga yang rata-rata telah tertembus sebatang jarum merah pada bagian leher.

"Keparat! Mereka jelas pembunuh-pembunuh keji...!" geram Senapati Jagaraksa. Langsung saja laki-laki gagah itu memukul kentongan tanda bahaya dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Suara kentongan terdengar bertalu-talu memecah keheningan malam. Kemudian, Senapati Jaga- raksa telah melesat naik ke atap bangunan, mengejar sosok-sosok bayangan hitam yang diduga pasti menuju istana tempat kediaman Prabu Pungga Lawa.

"Heaaat..! Hendak lari ke mana kalian, Penjahat- penjahat Busuk...?!" bentak Senapati Jagaraksa, seraya mencabut pedang peraknya dan langsung menyerang orang-orang di bawahnya.

Bettt! Trang...!

"Akhhh...?!" Senapati Jagaraksa berteriak kaget ketika pedang- nya dipapaki salah seorang berpakaian hitam. Bahkan tubuhnya hampir terpelanting ke tanah. Untung saja, ia masih bisa mengimbangi tubuhnya. Sehingga, tubuhnya melenting ke udara, lalu mendarat dengan kuda-kuda kokoh.

Sementara itu, belasan orang prajurit yang memergoki delapan lelaki terbungkus pakaian serba hitam, langsung mengeroyok. Namun, tak lama terdengar jeritan susul-menyusul. Sebentar saja, nyawa belasan prajurit itu telah melayang akibat pukulan hebat yang dilontarkan tujuh orang lelaki berseragam serba hitam itu. Sementara orang berseragam hitam yang satu lagi, telah melesat menyerang Senapati Jagaraksa.

"Gila! Siapa orang-orang ini...? Kepandaian mereka benar-benar hebat! Rasanya aku bukan tandingan mereka...!" desis Senapati Jagaraksa. Laki-laki itu menjadi terkejut bukan main, menyaksikan belasan orang prajurit pilihan yang bertugas meronda istana induk, dapat dilumpuhkan hanya dalam beberapa gebrakan saja. Betul-betul sukar dapat dipercaya!

Tapi, senapati gagah itu tidak bisa berpikir lama- lama, karena saat itu serangan lawan telah datang bagaikan gelombang angin topan yang menggiriskan! Sadar kalau serangan lawan terlalu sukar dibendung, Senapati Jagaraksa langsung saja berlompatan menjauh. Namun, gerakan sosok berpakaian serba hitam itu benar-benar membuat Senapati Jagaraksa terbelalak ngeri. Dengan kecepatan menggetarkan, sosok berpakaian hitam itu terus melesat memperhebat serangannya. Sehingga, lelaki gagah yang terkenal sebagai Pendekar Pedang Perak itu merasa kewalahan menghadapinya.

"Hahhh...!" Senapati Jagaraksa yang sudah tidak punya kesempatan berkelit, mencoba memapak cengkeraman lawan dengan mata pedangnya.

Trang!

"Aaakh...!" Untuk kesekian kalinya, Senapati Jagaraksa memekik kesakitan. Kali ini, rupanya lawan telah menambah kekuatan tenaganya. Buktinya, senapati gagah itu sampai terpelanting dengan lengan terasa lumpuh dan ngilu.

Plak!

"Uuugh...!" Meskipun masih berusaha mengelak, tak urung bahu kanan Senapati Jagaraksa terkena hantaman telapak tangan lawan. Akibatnya, tubuh lelaki gagah itu kembali terpelanting mencium tanah. Darah segar tampak meleleh keluar dari sudut bibirnya. Senapati Jagaraksa merasakan bahunya bagaikan remuk akibat tamparan lawan. Dan rasanya, ia tidak mungkin lagi bisa menyelamatkan diri dari ancaman pukulan lawan yang kembali tiba mengancam.

"Yiaaat..!"

Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Senapati Jagaraksa, tiba-tiba sesosok tubuh jangkung melayang dan langsung menusukkan pedangnya ke tubuh orang berpakaian hitam yang tengah meluncur ke arah Senapati Jagaraksa. Dan....

Trakkk! Buggg!

"Huagkhhh!"

Bukan main hebatnya gerakan yang dilakukan sosok orang berpakaian hitam itu. Dengan kecepatan yang tidak terlihat mata, sepasang tangannya yang berbentuk cakar bergerak memapak serangan sosok tubuh jangkung. Bahkan langsung dikirimkannya hantaman telapak tangan secara telak ke tubuh jangkung itu.

Sebagai akibatnya, sosok tubuh jangkung yang menyelamatkan Senapati Jagaraksa itu harus menerima kenyataan pahit. Tubuhnya kontan terjungkal kebelakang, kemudian disambut tamparan keras oleh salah seorang dari sosok berseragam hitam lainnya.

Brukkk!

Tanpa ampun lagi, sosok jangkung yang juga berpangkat senapati itu langsung ambruk ke tanah dengan kepala pecah. Tentu saja kejadian itu membuat Senapati Jagaraksa terpukul.

Untunglah saat itu para prajurit telah banyak berdatangan. Sehingga, delapan sosok tubuh tegap berpakaian serba hitam yang kini berkumpul, terperangkap dalam kepungan dua ratus lebih prajurit kerajaan. Belasan senapati, perwira, dan punggawa tampak berada di depan. Obor-obor ditancapkan di pohon dan tembok di sekeliling tempat itu untuk menerangi arena pertempuran yang akan berlangsung sengit.

Senapati Jagaraksa yang juga telah bergabung dengan senapati lainnya, menatap tajam delapan sosok tubuh itu. Sepertinya, dia hendak mencoba mengetahui orang-orang yang berani mati mendatangi istana ini. Namun, tak satu pun dari mereka yang dapat dikenali. Wajah-wajah mereka yang pucat, dingin, dan kaku, menimbulkan kesan seram bagi siapa saja yang mencoba menentang pandangan mata mereka.

"Hm.... Siapa kalian sebenarnya, Pembunuh-pembunuh Keji?! Apa maksud kalian menyatroni istana kediaman Gusti Prabu Pungga Lawa ini?" bentak Senapati Jagaraksa. Jelas-jelas dia merasa penasaran terhadap delapan sosok berpakaian serba hitam yang tampak demikian aneh itu.

Namun setelah agak lama menunggu, tak juga terdengar jawaban sepatah pun. Akibatnya, Senapati Jagaraksa dan para senapati lain menjadi jengkel. Maka segera saja para prajurit yang semakin bertambah banyak itu diperintahkan untuk menyerbu. Biarpun mereka sangat sakti bagai dewa, namun pasti ada batasnya. Dan untuk melawan ratusan orang prajurit yang mengepung rapat, tentu saja mereka tidak akan lolos. Meskipun, korban yang jatuh sudah pasti tidak sedikit.

"Serbuuu...!"

Tanpa diperintah dua kali, ratusan prajurit Kerajaan Mulawarta itu langsung saja bergerak maju. Mereka menerjang delapan orang lelaki tegap berpakaian serba hitam dengan teriakan-teriakan pertempuran yang membahana. Sebentar saja, pertempuran berdarah pun pecah.

Senapati Jagaraksa dan para senapati lain segera bergerak maju di depan dengan senjata terhunus. Para pembesar Kerajaan Mulawarta itu benar-benar merasa terkejut ketika melihat akibat amukan delapan orang lelaki berpakaian hitam. Sebentar saja, belasan orang prajurit beterbangan ke sana kemari, laksana laron- laron yang menghampiri api. Teriakan-teriakan ngeri terdengar sahut-menyahut, diiringi percikan darah segar yang membuat halaman istana berubah menjadi lautan darah!

Bahkan, bukan hanya para prajurit saja yang jatuh menjadi korban amukan pembunuh-pembunuh keji itu. Beberapa orang perwira pun tampak tergeletak tak berdaya terkena sambaran jari-jari tangan yang mampu memukul pecah sebongkah batu karang besar! Akibatnya, keadaan pun semakin bertambah kacau.

Saat pembantaian besar-besaran itu tengah berlangsung, tiba-tiba terdengar suara sangkala meningkahi riuhnya teriakan kematian. Senapati Jagaraksa yang tahu betul tanda itu, segera saja memberi perintah untuk mundur bagi para prajuritnya.

Sementara, delapan lelaki tegap berwajah dingin seperti mayat hidup itu sama sekali tidak berusaha mendesak ketika lawan-lawannya bergerak mundur. Ternyata suara sangkala itu berasal dari rombongan orang berkuda yang baru tiba. Sikap mereka yang tampak gagah dan berwibawa, tampak diawasi oleh empat pasang mata dingin dan menyeramkan.

"Hm..." Sosok bertubuh tinggi kokoh yang merupakan pimpinan delapan sosok tubuh itu bergumam sambil meneliti tiga rombongan yang mengenakan seragam berbeda.

Rombongan sebelah kanan berseragam merah darah. Mereka membawa bendera besar bergambar seekor naga merah. Tampaknya rombongan itu merupakan pasukan inti Kerajaan Mulawarta yang bernama Pasukan Naga Merah. Sedangkan dua pasukan lain adalah Pasukan Naga Hijau dan Pasukan Naga Hitam.

Melihat munculnya pasukan-pasukan inti yang jarang menampakkan diri itu, membuat para prajurit bergerak menyingkir untuk memberi jalan. Meskipun agak heran melihat pasukan tersembunyi itu keluar dan ingin menangani, namun tak seorang pun dari mereka yang berani bertanya. Para prajurit itu hanya menatap penuh kagum ke arah rombongan inti Kerajaan Mulawarta.

Senapati Jagaraksa pun tidak kalah heran melihat munculnya pasukan inti itu. Ia juga tahu, para anggota pasukan itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi, hanya beberapa tingkat di bawahnya. Selain itu, setiap kelompok mempunyai sebuah ilmu khusus yang bisa diterapkan secara berkelompok. Dan ternyata hasilnya sangat hebat..Ia sendiri pernah mencoba kehebatannya. Biasanya, pasukan inti itu hanya digunakan untuk menggempur musuh kerajaan yang sangat berbahaya.

Maka tentu saja Senapati Jagaraksa jadi heran melihat pasukan itu muncul hendak menangani delapan orang pembunuh ini. Walaupun kedelapan lelaki tegap berpakaian serba hitam itu memiliki kesaktian tinggi, tapi menurutnya tidak perlu menggunakan pasukan khusus untuk melumpuhkan mereka.

"Maaf, Tuan Panglima...," ucap pimpinan Pasukan Naga Merah kepada Senapati Jagaraksa. "Sebenarnya, ini memang bukan tugas kami. Tapi, mendengar laporan kalau mereka sangat berbahaya dan memiliki ilmu yang sangat tinggi, Tuan Patih Argadipta memerintahkan agar kami segera turun untuk menanganinya. Menurutnya, hal ini untuk mencegah agar korban di pihak kita tidak terlalu banyak. Kuharap, Tuan Senapati dapat memakluminya."

"Hm..." Senapati Jagaraksa hanya bergumam mendengar alasan yang dikemukakan Pimpinan Pasukan Naga Merah itu. Kepalanya tampak mengangguk perlahan, memaklumi dan membenarkan apa yang diucapkan Patih Argadipta. Lalu, ia pun segera memberi jalan kepada pasukan itu untuk maju dan meringkus delapan orang berseragam hitam yang kini sudah menanti.

Namun, sebelum ketiga pasukan inti dari Kerajaan Mulawarta maju lebih dekat, delapan lelaki tegap berwajah pucat tanpa perasaan itu sama-sama mendorongkan telapak tangan ke depan!

Bummm!

Seketika terdengar ledakan keras yang bagaikan hendak mengguncang bumi. Suasana di sekitar tempat itu pun menjadi pekat dalam sekejap, oleh debu dan tanah yang beterbangan.

"Tutup semua jalan keluar...!" perintah Senapati Jagaraksa.

Rupanya senapati ini langsung menyadari siasat kedelapan pembunuh itu. Namun karena suasana gelap belum reda, para prajurit tidak dapat menentukan arah yang harus dituju. Sehingga, banyak di antara mereka yang saling bertabrakan. Tentu saja keadaan itu membuat suasana semakin bertambah kacau. Bahkan tak ada yang menyadari kalau kedelapan orang itu telah bergerak menyingkir.

"Diam di tempat masing-masing...!" terpaksa Senapati Jagaraksa merubah perintahnya, untuk meredakan kegaduhan.

Seketika suasana kembali tenang. Setelah gumpalan debu itu lenyap, barulah disadari kalau delapan orang berseragam hitam itu telah lenyap. Maka, Senapati Jagaraksa memerintahkan para prajuritnya untuk memeriksa sekitar bangunan istana induk.

"Hm.... Menurutku, mereka pasti sudah pergi meninggalkan tempat ini, Tuan Panglima. Tapi, memang tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga dan memeriksa sekitar istana."

Setelah berkata demikian, Pimpinan Pasukan Naga Merah itu pun bergerak meninggalkan tempat ini. Demikian pula dua pasukan inti lain. Mereka bergerak meninggalkan tempat itu, setelah terlebih dahulu memeriksa sekeliling istana untuk memastikan keadaan. Namun, delapan orang lelaki berwajah pucat dan berpakaian serba hitam itu seperti lenyap di telan bumi saja. Seputar istana telah teliti diperiksa. Tapi, sosok berseragam hitam yang telah meninggalkan puluhan korban itu memang hilang tanpa jejak.

"Hm... Lenyapnya mereka, bukan berarti kita boleh merasa aman! Perketat penjagaan. Mungkin suatu saat mereka akan muncul kembali dan membuat keonaran di istana," ujar Senapati Jagaraksa, mengingatkan. Dalam hatinya, ia berjanji untuk mencari tahu tentang kedelapan orang berseragam hitam dari kawan-kawannya di rimba hijau. Senapati gagah itu segera membubarkan pasukannya, setelah menekankan pesan-pesannya untuk diingat anggota pasukan.

********************

ENAM

"Kita singgah dulu di kedai itu, Praba...," ajak seorang lelaki separuh baya, kepada pemuda gagah yang berjalan di sebelahnya. Saat itu mereka tengah melangkah menyusuri jalan utama sebuah desa yang cukup ramai dan padat penduduknya.

"Baik, Guru...," sahut pemuda gagah berusia sekitar dua puluh dua tahun, yang dipanggil Praba.

Bergegas, mereka melangkah memasuki kedai makan yang siang itu tampak agak ramai oleh pengunjung. Praba berjalan di belakang laki-laki separuh baya yang menjadi gurunya ketika memasuki pintu kedai. Laki-laki yang tak lain bernama Ki Janala itu berhenti sejenak, menyapu ruangan dengan pandangan matanya yang setajam elang. Kemudian kakinya kembali melangkah ketika telah menemukan sebuah meja kosong yang terletak agak ke sudut.

Praba berjalan mengikuti langkah kaki Ki Janala. Pemuda gagah itu memang tidak banyak bicara, dan selalu patuh kepada lelaki setengah baya yang mendidik dan memeliharanya sejak kecil. Kasih sayang dan ketekunan Ki Janala dalam mendidiknya, membuat Praba tahu diri dan tidak banyak menuntut.

Tiba-tiba saja lelaki setengah baya itu menghentikan langkahnya saat melewati sebuah meja. Sepasang matanya terbelalak lebar menegasi pemuda tampan berjubah putih yang tengah menikmati hidangan bersama seorang dara jelita berpakaian hijau.

"Pendekar Naga Putih...!" seru Ki Janala setengah berbisik dengan wajah gembira. Sehingga, pemuda tampan dan dara cantik jelita itu sama-sama memalingkan wajah ke arah suara yang memanggilnya.

"Ki Janala...!" seru pemuda tampan berjubah putih yang memang Panji. Segera saja Pendekar Naga Putih bangkit dan menyalami lelaki setengah baya yang masih kelihatan sehat itu.

"Praba...," lanjut Panji ketika melihat pemuda gagah yang berada di belakang Ki Janala.

"Ah! Sungguh gembira aku bisa bertemu lagi denganmu, Pendekar Naga Putih. Waktu itu, aku belum sempat mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Aku benar-benar gembira...," ucap Ki Janala dengan wajah berseri-seri. Tampak sekali kalau kegembiraannya tidak dapat disembunyikan begitu berjumpa Pendekar Naga Putih.

Sementara itu, Kenanga juga bangkit menyalami kedua orang guru dan murid itu. Lalu, diajaknya bergabung, karena di tempat itu masih tersisa dua kursi lain yang kosong.

"Terima kasih..., terima kasih,..," sambut Ki Janala. Segera diajaknya Praba untuk menerima tawaran itu.

"Hm.... Sepertinya kalian berdua telah melakukan perjalanan cukup melelahkan. Kalau boleh tahu, hendak ke manakah kalian berdua...?" tanya Panji lagi, setelah memesan makanan kepada pelayan kedai untuk Ki Janala dan Praba.

"Sebenarnya sungguh suatu kebetulan yang sangat kami harapkan, sehingga dapat berjumpa denganmu di tempat ini, Pendekar Naga Putih. Apakah kau sudah mendengar tentang kejadian yang menimpa Istana Mulawarta...?" kata Ki Janala sambil meneguk minuman yang telah disediakan pelayan kedai.

"Kejadian yang menimpa Istana Mulawarta? Apa itu, Ki? Kami sama sekali belum mendengarnya...," sentak Panji, menjadi heran ketika mendengar ucapan KiJanala.

"Seorang utusan Ki Jagaraksa mendatangi kediamanku. Dia meminta bantuanku untuk menyelidiki delapan orang aneh yang telah memasuki istana beberapa hari yang lalu. Maksud mereka belum jelas. Tapi menurut Ki Jagaraksa, mereka pasti hendak berbuat jahat. Kedelapan orang itu disebut sebagai Pasukan Pembunuh, karena pada saat dipergoki membantai banyak prajurit dan perwira kerajaan di malam kejadian," jelas Ki Janala dengan nada perlahan. Ia memang tidak ingin kalau berita itu sampai tersebar di luar, seperti yang dipesankan Ki Jagaraksa melalui utusannya.

"Maksudmu, Ki Jagaraksa yang berjuluk Pendekar Pedang Perak?" tegas Panji dengan kening berkerut. Tentu saja Pendekar Naga Putih merasa heran, karena pernah bahu-membahu menumpas pemberontak Malaikat Gerbang Neraka bersama Pendekar Pedang Perak. Dan juga telah didengarnya kalau tokoh itu telah mendapat kedudukan yang terhormat di Kerajaan Mulawarta bersama Pendekar Laut Selatan.

"Benar! Ki Jagaraksa telah menjabat sebagai salah satu senapati kepercayaan Gusti Prabu Pungga Lawa. Sebenarnya, beliau hendak menghubungimu. Tapi karena kau tidak mempunyai tempat tinggal tetap, akhirnya Ki Jagaraksa meminta bantuanku, sekaligus untuk mencarimu dan menjelaskan kejadian itu," jawab Ki Janala lagi.

Sedangkan Kenanga dan Praba hanya menjadi pendengar saja.

"Pasukan Pembunuh...?! Rasanya nama itu baru sekarang ini kudengar, Ki. Apakah Ki Jagaraksa tidak menceritakan ciri-ciri mereka...?" tanya Panji. Pendekar Naga Putih berusaha memutar otaknya untuk mencari tahu, siapa orang-orang yang dijuluki Pasukan Pembunuh itu. Tapi setelah sekian lamanya memutar otak, tetap saja tidak menemukannya. Maka, Panji pun mengerti kalau nama itu pasti belum lama muncul.

"Itulah yang masih menjadi tanda-tanya bagiku. Ki Jagaraksa hanya mengatakan kalau jumlah mereka delapan orang. Wajah mereka rata-rata dingin dan tidak berperasaan dengan tatapan mata kejam seperti pembunuh berdarah dingin. Dan, yang membuatku terkejut, ternyata Ki Jagaraksa dapat dikalahkan hanya dalam waktu kurang dari lima puluh jurus oleh seorang dari mereka. Bahkan beliau nyaris tewas di tangan Pasukan Pembunuh itu," jawab Ki Janala lagi, meyakinkan.

"Eh...?! Sampai demikian hebatkah kesaktian mereka?" gumam Panji, seolah tak percaya. Memang, Pendekar Naga Putih tahu betul, sampai di mana kesaktian Pendekar Pedang Perak. Dan kalau sampai tokoh itu memuji-muji lawannya, jelas kalau kepandaian Pasukan Pembunuh tidak bisa diremehkan. Paling tidak, tentu setingkat dengan Kenanga.

"Bukan hanya itu saja. Dalam suratnya, Ki Jagaraksa pun mengatakan kalau kesaktian mereka secara berkelompok sangat luar biasa! Bahkan mungkin para datuk di empat penjuru pun tidak akan sanggup menghadapi mereka...," tegas Ki Janala melanjutkan keterangannya. Sehingga, membuat Panji jadi termenung sesaat lamanya.

"Hm..., baiklah. Aku akan mencoba untuk menyelidiki orang-orang yang dijuluki Pasukan Pembunuh itu. Mudah-mudahan aku bisa menemukan mereka...," tegas Pendekar Naga Putih.

"Mmm.... Bagaimana kalau kita mencari bersama-sama, Pendekar Naga Putih? Mungkin kita bisa saling bantu...," usul Ki Janala, agak ragu.

"Kurasa itu lebih baik...," jawab Panji. Tentu saja Pendekar Naga Putih merasa tidak enak untuk menolak. Ia tidak ingin kalau Ki Janala menjadi tersinggung. Walaupun, dalam hal kepandaian Ki Janala masih jauh di bawah Pendekar Naga Putih. Dan hal itulah yang membuat Panji tidak berani menolak.

"Kita berangkat sekarang...?" tanya Ki Janala sambil melihat semua hidangan di atas meja yang telah tak tersisa sedikit pun. Panji hanya mengangguk. Setelah membayar harga makanan, mereka pun beranjak meninggalkan kedai itu.

"Kira-kira ke mana tujuan pertama dalam mencari Pasukan Pembunuh itu, Panji...?" tanya Ki Janala. Kini, laki-laki setengah baya itu menyebut Pendekar Naga Putih dengan nama saja, sesuai permintaan Panji.

"Hm.... Menurutku, sebaiknya kita datangi datuk sesat yang menguasai wilayah timur ini. Di sana kita selidiki, bagaimana tanggapan datuk sesat itu setelah mendengar kemunculan Pasukan Pembunuh. Kalau mereka tidak tahu, berarti para datuk itu akan muncul dan kemungkinan akan mencari Pasukan Pembunuh. Entah untuk bergabung, atau hanya sekadar ingin menjajal kepandaian mereka. Dengan begitu, kita akan mudah menemukan orang-orang aneh itu...," ungkap Panji tentang rencananya.

"Aku setuju. Rasanya, rencana itu merupakan satu-satunya yang terbaik saat ini...," sambut Ki Janala, berseri.

"Ha ha ha...!"

Pendekar Naga Putih dan yang lainnya menahan langkah ketika tiba-tiba terdengar suara tawa yang berkumandang dari empat penjuru. Sadar kalau suara itu dikirim lewat pengerahan tenaga dalam tinggi, maka cepat-cepat tenaga dalamnya dikerahkan untuk melindungi dada agar tidak berguncang.

Dan, baik Pendekar Naga Putih maupun yang lain tidak perlu menunggu lama. Beberapa saat setelah suara gelak tawa itu lenyap, tahu-tahu bermunculan delapan sosok tubuh tegap terbungkus pakaian warna-warni. Tiap dua orang mengenakan seragam serupa, sehingga sekali pandang saja segera diketahui kalau mereka itulah yang mungkin disebut sebagai Pasukan Pembunuh. Bukti yang menguatkan dugaan Panji, sinar wajah yang dingin beku dan sorot mata yang tajam liar.

"Mungkinkah mereka yang disebut sebagai Pasukan Pembunuh...?" desis Ki Janala, memperhatikan delapan sosok tubuh yang kini telah membentuk lingkaran, mengurung keempat tokoh persilatan itu.

"Mungkin saja, Ki, menilik dari langkah mereka, jelas kalau kepandaian mereka sangat tinggi. Selain itu, pakaian yang dikenakan, seperti sengaja dibentuk agar terlihat seperti pasukan kecil. Jadi, besar kemungkinan kalau mereka inilah yang disebut sebagai Pasukan Pembunuh," jelas Panji. Tentu saja Pendekar Naga Putih hanya sekadar menduga-duga meskipun ada keyakinan kalau perkiraannya tidak meleset.

"Lalu, mengapa mereka sepertinya bermusuhan kepada kita...?" tanya Ki Janala lagi. Pertanyaan itu seperti terdengar bodoh sekali, karena telah diutarakan sebelumnya. Tapi, Panji hanya tersenyum tanpa bermaksud melecehkannya.

"Hm.... Cobalah ajak Praba menyingkir. Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang mereka tuju," ujar Panji lagi. Pendekar Naga Putih memang ingin mengetahui, siapa yang diinginkan Pasukan Pembunuh itu.

"Kau juga, Kenanga," lanjut Panji kepada kekasihnya.

"Tidak, Kakang. Sebaiknya mereka dihadapi bersama-sama. Kalaupun hanya satu orang yang diinginkan, tapi kita harus menghadapi mereka bersama-sama," bantah Kenanga. Memang, gadis itu belum mengerti arah ucapan Panji.

"Tenang dulu," sergah Panji menyabarkan dara jelita itu. "Aku hanya ingin tahu, siapa sebenarnya yang mereka musuhi. Dengan begitu, kita bisa menebak orang yang berdiri di belakang mereka. Karena melihat dari gelagatnya, mereka seperti telah dicekoki oleh racun yang membuat otak lumpuh"

Kini dara jelita itu sadar akan kekeliruannya. Maka, kakinya pun melangkah ke belakang. Perkiraan Panji ternyata tidak meleset. Kedelapan orang itu sama sekali tidak mempedulikan mundurnya ketiga orang itu. Mereka kini bergerak mengepung Pendekar Naga Putih. Jelas sudah, yang diinginkan mereka ternyata Pendekar Naga Putih!

Melihat hal itu, Kenanga, Ki Janala, dan Praba kembali bergerak maju. Tapi, kedelapan orang berwajah dingin itu sama sekali tidak peduli. Mereka terus melangkah semakin dekat dan menyebar membentuk lingkaran lebar.

"Hm... Jelas sudah sekarang, akulah yang diinginkan. Tapi, orang yang berdiri di belakang mereka aku belum bisa menduganya...," gumam Panji, setelah mengetahui secara jelas kalau Pasukan Pembunuh itu pasti menginginkan kematiannya.

"Kita gempur saja mereka, Kakang...," usul Kenanga. Saat itu, Kenanga sudah hendak melepaskan Pedang Sinar Rembulan yang melingkari pinggangnya. Namun, gerakannya tertahan karena dicegah Panji.

"Kisanak sekalian! Siapakah kalian? Seingatku, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Kalau boleh ku tahu, apa maksud kalian mencariku...?" tanya Panji, lantang. Dirayapinya delapan wajah dingin itu dengan sinar mata tajam, seolah-olah ingin membaca pikiran mereka.

"Kami adalah Pasukan Pembunuh yang ditugaskan untuk melenyapkanmu dari muka bumi ini...!" sahut sosok terdepan yang berpakaian serba merah.

Suara orang itu terdengar demikian datar dan dingin, tanpa irama. Dan segera saja dapat diduga kalau ucapan itu seperti memang telah lama ditanamkan dalam benak kedelapan lelaki muda bertubuh tegap itu.

Seluruh tubuh Panji menegang ketika delapan orang pembunuh itu melangkah semakin dekat. Bahkan, 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya telah bergolak melindungi sekujur tubuh. Sehingga, terciptalah kabut bersinar putih keperakan yang menebarkan hawa dingin menusuk tulang.

"Haaak..!" Mendadak salah seorang yang berada di samping kanan Panji memekik aneh. Kemudian, kedelapan orang aneh itu berputaran mengelilingi Panji dan kawan-kawannya. Melihat serangan aneh dan belum pernah dilihatnya, kening Panji berkerut dalam. Tapi ia tidak bisa berpikir lama, karena lingkaran yang dibuat kedelapan orang itu terlihat semakin mengecil.

"Awaaas...!" Panji berseru mengingatkan kawan-kawannya ketika melihat salah satu dari kedelapan sosok tubuh itu mencelat keluar dari dalam lingkaran. Dan orang itu langsung melontarkan serangan yang menimbulkan suara mencicit tajam, ke arah Kenanga!

"Yeaaah...!"

Kenanga tentu saja tidak tinggal diam. Cepat pedangnya berkelebat menebas. Sayang, gerakan orang itu jauh lebih cepat. Tangan yang semula hendak mencengkeram, tiba-tiba berputar aneh dengan kecepatan mengejutkan. Dan tahu-tahu, Kenanga merasakan adanya sambaran angin tajam yang mengancam kepalanya!

Wuttt..!

Dengan gerakan indah, Kenanga memutar tubuhnya dengan kuda-kuda rendah. Saat itu, kaki kanannya mencelat naik menuju ulu hati lawan. Tapi, tendangannya ternyata hanya berupa tipuan. Buktinya sebelum menyentuh sasaran, kakinya telah ditarik pulang. Bahkan kini digantikan dengan sambaran pedang ke leher lawan.

Plakkk!

Hebat dan cepat sekali gerakan menangkis yang dilakukan sosok berpakaian biru tua itu. Dan tahu-tahu saja, Kenanga terpekik mundur beberapa langkah ke belakang. Bahkan pergelangan tangannya terasa nyeri akibat terbentur sisi telapak tangan lawan. Maka cepat-cepat tubuhnya berjumpalitan ke belakang, ketika lawannya telah kembali menerjang dengan tusukan jari-jari tangan yang membentuk paruh ular.

"Haiiit..!"

Kenanga terus melenting dan berputaran beberapa kali untuk menghindari kejaran tangan lawan yang seperti ular hidup itu. Dan kakinya baru mendarat, setelah yakin telah terbebas dari ancaman serangan maut lawan.

Panji yang akan melesat untuk melindungi Kenanga, terpaksa menahan langkahnya. Karena, sosok berpakaian biru tua itu telah melesat kembali ke dalam barisan, dan ikut berputaran bersama tujuh orang lainnya.

"Hm..," gumam Panji lirih, melihat cara-cara penyerangan lawannya yang aneh itu.

Pendekar Naga Putih sudah bisa meraba, dari mana asal kepandaian delapan orang aneh itu. Hanya saja hatinya merasa khawatir akan keselamatan Kenanga, Ki Janala, dan Praba. Memang, setelah melihat gerakan salah satu dari mereka yang berhasil membuat Kenanga kelabakan, Panji sadar kalau kepandaian lawan-lawannya rata-rata berada di atas kepandaian kekasihnya. Tentu saja kenyataan itu membuat hatinya cemas.

"Kenanga! Ajaklah Ki Janala dan Praba keluar dari lingkaran ini, setelah aku dapat memecah barisan mereka. Hm.... Rasanya mereka harus dihadapi dengan tenaga gabungan. Dan itu sangat berbahaya bagi kalian, karena bukan tidak mungkin akan terpengaruh dan tersiksa oleh hawa panas dan dingin berganti-ganti yang keluar dari tubuhku. Kuharap, kau bisa memakluminya...," bisik Panji.

Kenanga mengangguk maklum. Karena, sedikit banyak sudah bisa dirasakan kehebatan salah seorang lawannya. Semula, Ki Janala dan Praba merasa keberatan atas usul yang diajukan Kenanga. Tapi setelah dara jelita itu memberikan alasan yang dikatakan Panji, kedua orang itu mau mengerti. Dan kini, mereka bersiap menanti isyarat dari Pendekar NagaPutih.

Setelah melihat kedua orang tokoh itu setuju dengan rencananya, Panji mulai mempersiapkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Apalagi, saat itu gerakan lawan semakin bertambah cepat, dan membuat pandangan agak kabur. Menyadari hal itu, Panji menggoyangkan kepala untuk menetapkan kembali pandangan matanya.

Namun, hatinya agak terkejut ketika melihat tubuh Kenanga, Ki Janala, dan Praba yang tampak bergoyang-goyang. Jelas, semua itu akibat pengaruh gerakan lawan. Dan kini, Panji baru mengerti akan kegunaan gerak berputar lawan-lawannya. Khawatir pengaruh itu akan semakin menjadi, maka Pendekar Naga Putih bersiap untuk menggempur!

“Haiiit…!”

Dengan sebuah lengkingan tinggi, tubuh Panji melesat ke arah samping kanannya. Sepasang telapak tangannya yang terbuka, mendorong ke depan dengan kekuatan penuh.

Blarrr...!

Terdengar ledakan keras saat dorongan sepasang telapak tangan Panji yang bagaikan badai salju itu menghantam sebatang pohon besar! Sedangkan, kedelapan sosok tubuh itu telah berlompatan ke kiri dan kanan menyelamatkan diri. Dan saat itulah, Kenanga, Ki Janala, dan Praba melesat lolos dari lingkaran kepungan Pasukan Pembunuh.

Tapi, kedelapan orang itu sama sekali tidak mempedulikan ketiga orang lawan yang meninggalkan arena pertempuran. Sebaliknya, mereka berlompatan laksana sambaran kilat di angkasa, menuju Pendekar Naga Putih yang tegak di tengah arena.

"Yeaaat..!"

"Haaat..!"

Seiring pekikan-pekikan nyaring yang memekakkan telinga, kedelapan sosok tubuh itu melesat ke arah Pendekar Naga Putih secara berturut-turut. Sambaran tamparan dan pukulan terdengar bercicitan, menandakan betapa hebatnya tenaga yang terkandung di dalam serangan-serangan mereka.

"Ahhh...?!"

Kenanga tak bisa menahan seruan kagetnya ketika melihat kejadian itu. Hatinya kontan berdebar tegang melihat keadaan kekasihnya yang tampak benar-benar dalam incaran bahaya maut. Tapi, baik Kenanga maupun Ki Janala dan Praba hanya bisa memandang dan berdoa demi keselamatan Panji. Mereka sadar betul, betapa dahsyatnya gempuran kedelapan orang yang dijuluki sebagai Pasukan Pembunuh itu.

Panji sendiri sangat terkejut melihat perubahan yang mendadak itu, tapi sama sekali tidak gentar. Cepat semangatnya dikempos dan tenaga gabungan yang maha dahsyat dikerahkannya.

"Hiaaat..!"

Seiring 'Pekikan Naga Marah' yang merontokkan jantung, tubuh Pendekar Naga Putih berkelebat laksana sambaran kilat di antara serangan lawan-lawannya. Kemudian, 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya dikerahkan untuk menghadapi Pasukan Pembunuh. Sebentar saja, terjadilah pertempuran maut yang mendebarkan jantung.

Setelah lewat dua puluh jurus, Panji semakin menyadari kehebatan kedelapan orang itu. Dan hatinya pun mulai percaya, kalau Pasukan Pembunuh tidak segera dilenyapkan, mereka pasti akan menguasai dunia persilatan! Buktinya, jangankan tokoh-tokoh pertengahan, bahkan tokoh-tokoh puncak di empat penjuru pun rasanya tidak mungkin sanggup menghadapi mereka.

"Hiaaat..!"

Plakkk! Plakkk!

Serangan dua orang lawan yang mengancam tubuh disertai decitan angin tajam, terpaksa disambut Panji dengan kedua telapak tangan terbuka. Karena kalau tidak berbuat demikian, bukan mustahil kalau Pendekar Naga Putih akan celaka oleh serangan lain yang juga berdatangan mengincar tubuhnya. Benturan itu membuat kedua orang lawannya terjajar mundur sejauh setengah tombak. Sedangkan Panji sendiri sudah bergulingan menghindari sambaran kepala dan tamparan maut dari enam orang lawan yang lain.

"Yiaaah...!"

Secara tiba-tiba, tubuh Pendekar Naga Putih yang tengah bergulingan, melenting ke udara sambil melepaskan tendangan kilat yang menderu tajam. Kemudian, telapak tangan kanannya mengibas menerbitkan sambaran angin panas yang menyengat kulit.

Bresssh...!

Tendangan yang dilakukan Panji dapat dielakkan lawan. Sedangkan kibasan tangan kanannya, disambut dorongan pukulan jarak jauh dari lawan yang disebelah kanannya. Akibatnya, tubuh orang itu melesak ke dalam tanah, hingga melewati mata kaki. Sementara Panji sendiri terangkat ke atas akibat kuatnya tenaga sakti yang dikerahkan lawan. Namun, kesempatan itu cepat digunakannya untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya.

"Hiaaa...!" Seiring pekikan melengking tinggi, tubuh Pendekar Naga Putih meluncur turun disertai jurus 'Naga Sakti Meluruk ke Dalam Bumi'.

Ternyata, kedelapan orang pengeroyok itu sadar akan kedahsyatan serangan Pendekar Naga Putih kali ini. Terbukti, mereka semua tampak saling berpegangan tangan satu sama lain. Lalu dua orang dari mereka yang berada di kanan dan kiri, mendorongkan sebelah telapak tangan, menyambut gempuran Pendekar Naga Putih. Akibatnya....

Blarrr!

Ledakan keras pun bergaung, seiring kepulan debu dan bebatuan kecil, serta percikan bunga api. Dari sini bisa terlihat, betapa dahsyatnya ledakan yang terjadi.

"Aaakh?!" Tubuh Pendekar Naga Putih sendiri terdorong balik, sejauh dua tombak lebih. Luncurannya baru berhenti setelah merobohkan pohon sebesar dua pelukan orang dewasa. Tubuh Panji kemudian melorot jatuh, dengan wajah agak pucat. Dia berusaha berdiri, meskipun agak goyah! Sebenarnya hal itu wajar saja. Memang, meskipun tenaga saktinya sangat tinggi dan sukar diukur, tapi menghadapi tenaga gabungan delapan orang yang rata-rata bertenaga hebat, tentu saja Panji tidak mungkin menang!

Namun yang dialami delapan orang lawannya pun tidak kalah hebat. Meski mereka telah menggabungkan tenaga sakti untuk menahan gempuran lawan, tetap saja harus merasakan tenaga dalam Pendekar Naga Putih. Walaupun tidak sampai terpental karena Panji melakukan gempuran dari udara, tapi tubuh mereka telah tertanam hampir sebatas lutut di dalam tanah. Jelas, hal itu membuktikan kalau kekuatan tenaga gempuran Pendekar Naga Putih memang benar-benar luar biasa!

"Kakang...!" Kenanga yang menyaksikan tubuh pemuda pujaannya terpental dan membentur pohon besar hingga tumbang, segera saja berlari memburu dengan hati cemas.

Demikian pula halnya Ki Janala dan Praba. Mereka bergegas mendekati Pendekar Naga Putih yang tampak mengalami luka dalam cukup parah. Untung saja obat- obatan yang selalu dibawa Panji sangat manjur. Buktinya setelah pil-pil berwarna putih ditelan, Panji tidak perlu khawatir lagi terhadap luka dalamnya.

"Kenanga. Lawan-lawan kita kali ini terlalu tangguh. Rasanya, aku tidak akan mampu menghadapi mereka sekaligus. Sebaiknya, kalian bertiga segera tinggalkan tempat ini. Tunggulah aku di kedai tempat kita berjumpa semula. Setelah berhasil mengecoh mereka, aku akan menemui kalian untuk mengatur rencana. Kalau menggunakan kepandaian saja, rasanya tidak mungkin mereka dapat dikalahkan. Kita harus mencari siasat dengan menggunakan otak. Dan kuharap, kalian semua jangan membantah. Semua ini kulakukan demi kebaikan bersama. Nah, sekarang pergilah," ujar Panji, agak perlahan. Keputusan pemuda itu jelas sudah tidak bisa dibantah lagi.

"Tapi, bagaimana denganmu, Kakang...?" bantah Kenanga. Tentu saja gadis itu tidak ingin kehilangan kekasihnya. Jelas, keputusan Panji belum bisa diterima sepenuhnya. Malah sepasang mata dara jelita itu tampak mulai terselimut mendung.

"Percayalah, Kenanga. Aku akan menemui kalian nanti. Pergilah, sebelum terlambat...," ujar Panji lagi sambil mengelus wajah jelita yang tampak mendung itu.

Karena keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah, maka Kenanga dengan berat hati menuruti ucapan kekasihnya. Bersama Ki Janala dan Praba, dara jelita itu bergerak meninggalkan kekasihnya yang akan menghadapi maut seorang diri!

TUJUH

Sepeninggal Kenanga, Ki Janala, dan Praba, Panji bergegas bangkit sambil mengempos semangatnya. Dengan sorot mata tajam, dirayapinya sosok Pasukan Pembunuh yang telah siap melanjutkan pertarungan. Dan Panji tidak bisa menyembunyikan keheranannya ketika melihat kedelapan orang lawannya kelihatan tidak terluka sama sekali.

"Gila! Sepertinya, orang-orang ini memang sengaja dipersiapkan untuk menghadapi lawan tangguh. Mereka pandai sekali membaca gelagat, dan dapat bertindak cepat dalam menghalau serangan yang bagaimanapun. Satu-satunya cara untuk melumpuhkan, hanya dengan memisahkan mereka. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu, tidak akan sulit menghadapi mereka...," gumam Panji, memutar otaknya dalam mencari cara untuk menghadapi Pasukan Pembunuh. Karena disadari kalau kepandaiannya tidak akan mampu menghadapi keroyokan mereka.

Berpikir demikian, Panji segera menggeser langkahnya ke kanan dengan lompatan-lompatan pendek. Sementara, otaknya berpikir keras mencari cara tersebut. Saat itu juga, terlintas dalam pikiran untuk menciptakan 'Naga Langit' untuk menarik perhatian Pasukan Pembunuh. Sayang, sebelum hal itu sempat dilakukan, lawan-lawannya telah berlompatan menerjang.

"Heaaat..!"

Panji bergegas memutar dan memiringkan tubuhnya, ketika sebuah kepalan lawan datang mengancam. Kemudian, langsung dibalasnya dengan sodokan siku. Namun serangan balasan itu terpaksa ditunda, karena saat itu juga serangan lawan-lawannya yang lain datang menyusuli secara berturut-turut.

Whuuut! Whuuut!

Dengan melempar tubuh ke samping, Pendekar Naga Putih berhasil menghindari tamparan dan tendangan dua orang pengeroyoknya. Tapi baru saja kaki kanannya menyentuh tanah, sebuah tendangan keras telah mengancam. Mau tak mau, tendangan itu terpaksa harus dipapak dengan telapak tangan kirinya.

Plakkk!

Selagi tubuh lawan berputar akibat tangkisannya yang amat kuat, Panji langsung mengirimkan tendangan berputar dengan kekuatan hebat. Sayang, kerjasama Pasukan Pembunuh demikian kompak dan rapi. Sehingga pada waktu tendangannya luput, dua buah telapak tangan lawan datang menggedor dadanya.

Bukkk! Desss!

“Hugkhhh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh Pendekar Naga Putih terjungkal ke belakang. Dengan napas sesak Panji segera menghapus tetesan darah yang mengalir di ujung bibirnya. Cepat kuda-kudanya diperbaiki dan bersiap menerima serangan berikut dari para pengeroyok yang memang sangat tangguh.

Pertarungan pun kembali berlanjut sengit. Meskipun dadanya agak sesak, namun gerakan Pendekar Naga Putih masih belum berkurang. Lesatan tubuhnya dalam menghindari serangan lawan dan memberikan balasan, membuat pertarungan kembali menjadi sengit. Tapi biar bagaimanapun, Panji harus mengakui kehebatan lawan-lawannya. Mereka benar-benar telah dipersiapkan secara sempurna, sehingga Pendekar Naga Putih benar-benar harus menguras semua kesaktiannya.

Jurus demi jurus berlangsung cepat. Tanpa terasa, seratus jurus kembali telah dilalui. Panji yang telah banyak mengeluarkan tenaga, mulai merasakan tekanan berat dari lawan-lawannya. Maka ketika pertarungan memasuki jurus yang keseratus lima puluh, Panji kembali harus merelakan tubuhnya menjadi sasaran pukulan dan tendangan dua orang lawannya. Tubuh Pendekar Naga Putih kembali terjengkang dan jatuh bergulingan. Darah segar kembali menetes dari ujung bibirnya, menodai jubahnya yang berwarna putih.

"Hhh.... Mungkinkah di sini akhir petualanganku? Mereka memang terlalu tangguh bagiku. Melihat dari gerakan-gerakan mereka, aku yakin kalau mereka telah dipersiapkan oleh datuk-datuk di empat penjuru untuk melenyapkan aku. Buktinya, dasar-dasar gerakan mereka sangat mirip dengan yang dimiliki keempat datuk sesat itu. Sepertinya, mereka akan berhasil untuk melenyapkan aku...," gumam Panji.

Pendekar Naga Putih segera bangkit dengan tubuh lemas, karena telah banyak kehilangan tenaga. Sementara itu, Pasukan Pembunuh telah berada semakin mendekati Panji. Sepertinya, mereka pun dapat mengetahui keadaan Pendekar Naga Putih. Terbukti, langkah mereka tidak terburu-buru dalam menghampiri. Jelas, mereka telah sangat yakin akan segera dapat melenyapkan Pendekar Naga Putih.

Melihat gerak langkah Pasukan Pembunuh yang seperti sengaja bergerak lambat, Panji pun tidak ingin membuang kesempatan baik ini. Cepat matanya dipejamkan dan pikirannya disatukan dengan Pedang Naga Langit yang menyatu ke dalam tubuhnya. Tak berapa lama kemudian,

"Naga Langit...'"

Terdengar bentakan mengguntur seiring terbukanya sepasang mata pemuda gagah itu. Dan.., yang terjadi kemudian benar-benar membuat Pasukan Pembunuh tersentak bagaikan disengat lebah! Memang, hampir bersamaan dengan bentakan Pendekar Naga Putih, terdengar ledakan petir yang sambung-menyambung. Bahkan langit seperti tertutup mendung, gelap untuk beberapa saat lamanya. Pasukan Pembunuh bergerak mundur ketika melihat pijaran cahaya keemasan memenuhi arena pertarungan. Ketika kepala mereka tengadah ke arah pijaran sinar itu, terdengarlah pekikan laksana ratusan guntur di angkasa!

"Kreaaaaghhh...!" Tiba-tiba sesosok makhluk mengerikan yang hanya ada dalam dongeng, muncul dengan segala perbawanya.

Tentu saja, pemandangan itu membuat Pasukan Pembunuh tersurut mundur. Tanpa sadar, mereka terpisah begitu menatap ke arah binatang raksasa yang mengerikan itu. Melihat kenyataan itu, Panji melesat ke arah empat orang anggota Pasukan Pembunuh yang telah terpisah.

"Haaat..!"

Disertai sebuah pekikan nyaring, Pendekar Naga Putih menerjang keempat orang lawannya mempergunakan 'Ilmu Silat Naga Sakti' yang menjadi andalannya. Sepasang tangannya yang membentuk cakar naga bergerak susul-menyusul disertai hembusan angin dingin menusuk tulang.

Tentu saja serangan itu membuat keempat orang lawan terkejut, dan cepat bergerak melakukan perlawanan. Kali ini, Panji tidak merasa khawatir kalau empat orang Pasukan Pembunuh lain akan datang membantu. Memang, Naga Langit telah diperintahkan untuk menghadapi keempat orang lawannya yang lain. Sehingga, kini pertempuran pun terpecah menjadi dua.

Panji sendiri telah memusatkan seluruh perhatian untuk melenyapkan keempat orang lawannya selekas mungkin. Karena biar bagaimana pun, keempat orang lawannya tetap masih sangat tangguh, dan tidak mudah ditundukkan dalam waktu singkat.

"Haiiit..!"

Ketika pertarungan telah berlangsung selama lima puluh jurus, tiba-tiba Pendekar Naga Putih memekik tinggi. Tubuhnya bergerak bagai sambaran kilat di angkasa mengincar dua orang lawannya.

Desss! Breeet!

"Auuughhh...!"

"Aaakh...!"

Tanpa ampun lagi, tubuh kedua orang pengeroyok itu terjungkal ke tanah. Bahkan seorang di antaranya langsung menggelepar kedinginan akibat hantaman telapak tangan Pendekar Naga Putih yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' sepenuhnya. Akibatnya, tentu saja orang itu langsung tewas dengan urat-urat tubuh membeku. Sedangkan lawan yang seorang lagi tampak berusaha bangkit, meski dengan tubuh berlumuran darah. Memang, lambung orang itu telah terkena cakar naga Panji. Dan kini, orang itu berusaha hendak melakukan perlawanan membantu kawan-kawannya.

Panji tidak sudi menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Meskipun dua orang lawannya yang lain telah bergerak menggempur, pemuda itu sama sekali tidak kelihatan gentar lagi. Karena, kini mereka tidak bisa lagi menggunakan ilmu gabungan secara sempurna. Dan hal itu membuat Panji dapat bergerak leluasa untuk menghadapi gempuran kedua lawannya.

"Heaaah...!"

Bettt! Bettt!

Sambaran cakar-cakar lawannya dengan mudah dielakkan Pendekar Naga Putih. Bahkan langsung dapat membalasnya dengan kibasan lengan kanan ke tengkuk salah seorang lawan. Akibatnya, orang itu langsung terjerunuk dan tewas dengan tulang leher patah. Sementara yang seorang lagi punggungnya telah dihantam dengan telapak tangan kiri, kemudian disusul tendangan berputar yang telak singgah di rahang.

Kraaak...!

Terdengar bunyi tulang rahang patah akibat tendangan maut Pendekar Naga Putih! Tanpa ampun lagi tubuh orang itu langsung ambruk dan tewas, dengan tulang rahang patah, dan bagian dalam tubuh rusak.

Begitu kedua orang lawan ambruk, Panji yang merasakan adanya angin keras dari arah belakang segera merunduk. Sehingga, cengkeraman yang siap meremukkan batok kepalanya luput dari sasaran. Lalu, cepat-cepat tubuhnya berbalik dan mengirimkan kedua telapak tangannya ke dada lawan yang telah terluka oleh cakarannya.

Bresssh...!

Tubuh orang yang malang itu langsung melambung ke udara, dan terbanting jatuh ke tanah. Orang itu kontan tewas dengan tulang dada remuk! Darah segar tampak mengalir keluar dari mulutnya.

"Hm...," Panji bergumam datar sambil menghembuskan napas penuh kelegaan.

Di pertarungan lain, ternyata Naga Langit telah membereskan empat orang Pasukan Pembunuh lainnya. Terbukti, Panji melihat adanya empat sosok mayat yang hangus bagaikan terbakar. Pemuda itu pun mengerti kalau kematian mereka karena semburan api dari mulut Naga Langit.

Melihat adanya sebilah pedang yang tergeletak di rerumputan, Panji pun tahu kalau Naga Langit telah kembali berubah wujud setelah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kembali, pedang mukjizat itu disatukan ke dalam tubuhnya. Lalu, Pendekar Naga Putih bergerak hendak menemui Kenanga serta dua orang tokoh sahabatnya.

********************

"Sudahlah, Kenanga. Tidak perlu terlalu mencemaskan keselamatan Panji. Aku percaya, pemuda seperkasa dan semulia dia akan dapat selamat dan dilindungi Tuhan. Sebaiknya, kita berdoa saja untuk keselamatannya...," hibur lelaki setengah baya kepada data jelita berpakaian serba hijau yang berjalan di sebelah kiri. Siapa lagi mereka kalau bukan Ki Janala dan Kenanga.

"Benar, Kenanga. Aku pun percaya akan kesaktian Pendekar Naga Putih. Ia pasti akan menemukan cara untuk menghadapi Pasukan Pembunuh yang sangat tangguh itu. Kalaupun belum menemukan cara, Kakang Panji pasti bisa meloloskan diri untuk menemui kita...," timpal Praba yang berjalan di sebelah kanan Ki Janala. Ia pun merasa suka dan kagum terhadap Pendekar Naga Putih. Dia mengharapkan agar pemuda itu dapat selamat.

"Hhh..." Kenanga hanya menghela napas dengan wajah masih terselimut kecemasan. Rupanya, ia belum bisa tenang kalau kekasihnya belum muncul.

Sehingga, Ki Janala dan Praba pun memaklumi apa yang dirasakan dara jelita itu. Memang, dalam hati mereka berdua pun terbersit kekhawatiran terhadap nasib Pendekar Naga Putih. Hanya saja, hal itu berusaha disembunyikan agar tidak terlihat Kenanga.

"Yahhh.... Mudah-mudahan saja Kakang Panji selamat, dan bisa menemui kita..." Akhirnya, hanya ucapan lirih itu yang keluar dari bibir indah milik Kenanga.

"Kami berdua pun berharap demikian...," desah Ki Janala dengan tatapan mata menerawang jauh ke depan. Namun tiba-tiba lelaki tua itu mengerutkan keningnya. Langkahnya terhenti sambil tetap memandang ke depan.

"Ada apa, Guru?" tanya Praba. Rupanya, pemuda itu sempat heran melihat Ki Janala yang berhenti tanpa sebab. Tapi begitu mengikuti pandang mata gurunya, pemuda itu pun mengerutkan kening. Seketika pandangan matanya dipertajam.

Kenanga yang melihat sikap Ki Janala dan muridnya jadi heran. Tanpa berkata-kata, matanya menatap lurus ke depan, mengikuti pandangan mata guru dan murid itu. Dan jantung dara jelita itu seketika berdegup kencang saat melihat adanya empat sosok tubuh yang tampak berdiri terlindung pohon besar yang berjarak delapan tombak dari tempat mereka berdiri. Darah di tubuhnya kini mengalir cepat ketika secara samar-samar mengenali empat sosok tubuh yang jelas-jelas hendak menghadang perjalanan mereka.

"Celaka...!" desis dara jelita itu, tegang. Rupanya, keempat sosok tubuh yang tengah menanti mereka itu dapat dikenalinya.

"Siapa mereka, Kenanga...?" tanya Ki Janala. Rupanya lelaki setengah baya itu belum mengenal keempat sosok tubuh yang berdiri menghadang. Sedangkan Praba hanya menatap wajah gadis jelita itu dengan sorot mata minta penjelasan.

"Mereka..., empat datuk sesat yang mendendam kepadaku dan Kakang Panji. Hm..., tahulah aku sekarang. Rupanya Pasukan Pembunuh mempunyai hubungan dengan mereka. Itu sebabnya mengapa hanya Kakang Panji yang diincar...," gumam Kenanga, sekaligus menjawab pertanyaan Ki Janala. Sehingga, tokoh tua itu tersentak kaget dan menjadi tegang wajahnya.

"Maksudmu, mereka itu gembong-gembong kaum sesat dari empat penjuru...?" desis Ki Janala. Tampaknya, orang tua ini masih belum bisa percaya dengan keterangan Kenanga yang memang kurang jelas. Dan setahunya, keempat orang datuk sesat itu hampir tidak pernah terlihat bersama-sama. Hal itulah yang membuatnya merasa ragu dan belum bisa mempercayai keterangan Kenanga.

"Pandanganku pasti tidak salah, Ki. Aku dan Kakang Panji telah beberapa kali berjumpa dan bentrok dengan mereka. Dan melihat bentuk tubuh dan pakaiannya, jelas mereka adalah Raja Iblis Jubah Merah, Datuk Panglima Sesat, Memedi Karang Api, dan Kuntilanak Bukit Mandau...," urai Kenanga, benar-benar merasa yakin pandangannya tidak salah.

"Tapi, apa maksud mereka menanti kedatangan kita...?" tanya Ki Janala, lagi-lagi mengeluarkan pertanyaan bodoh. Memang, orang-orang sesat seperti keempat orang datuk itu, tentu tidak mempunyai maksud lain kecuali berbuat kejahatan.

"Hm... Pasti akulah yang dituju, dan bukan kalian. Tapi, aku tidak akan gentar menghadapi mereka!" tegas Kenanga dengan sepasang mata berkilat penuh amarah. Tangan kanan gadis itu segera meraba gagang pedang ketika melihat empat calon lawannya bergerak menghampiri. Rupanya, mereka tidak sabar menunggu kedatangan Kenanga, Ki Janala, dan Praba.

"Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapi bersama-sama, Kenanga. Kalau memang harus tewas, apa boleh buat..," timpal Ki Janala. Seketika seluruh otot tubuhnya mengejang, siap menghadapi pertarungan mati-matian.

Demikian pula halnya Praba. Pemuda tampan bertubuh tegap dan berkulit coklat itu juga telah siap bertarung. Meski disadari kalau kepandaiannya tidak mungkin sanggup melindunginya dari empat orang datuk sesat itu, tapi hatinya sama sekali tidak gentar. Sebagai pemuda gemblengan Ki Janala yang telah dijejali sifat-sifat kependekaran, Praba pun siap untuk mati demi membela kebenaran.

"Ha ha ha...! Kau lihat, Panglima Sesat. Meskipun tanpa naga jantan, tapi naga betina itu masih saja bersikap garang. Kasihan, ia sama sekali tidak tahu kalau pemuda pujaannya telah tewas direncah pasukan kecil kita...," kata lelaki pendek gemuk yang mengenakan jubah merah sambil tertawa terbahak-bahak, begitu tiba di depan Kenanga dan kedua orang temannya. Lelaki gemuk brewok itu dikenal sebagai Raja Iblis Jubah Merah.

"Benar, Raja Iblis. Tapi, aku bersedia menggantikan naga jantan untuk menemani naga betina yang cantik seperti bidadari itu. Aku memang telah lama menginginkannya untuk menjadi permaisuri ku. Dan rasa- rasanya, hari ini keinginanku itu akan segera terlaksana...," timpal lelaki tinggi kekar berpakaian panglima kerajaan.

Orang itu adalah Datuk Panglima Sesat, yang memang sudah lama menyukai Kenanga. Tentu saja hatinya menjadi gembira melihat dara jelita itu telah berada di depan matanya. Bahkan sebentar lagi akan segera menjadi miliknya.

Dua orang lainnya yang tak lain dari Memedi Karang Api dan Kuntilanak Bukit Mandau hanya tertawa mendengar ucapan kedua orang kawannya. Jelas, mereka telah merasa yakin kalau Pendekar Naga Putih tidak akan selamat dari tangan Pasukan Pembunuh yang telah dipersiapkan secara sempurna.

"Hm.... Sudah kuduga, manusia-manusia busuk seperti kalianlah yang menjadi biang keladi dari semua ini. Tapi, mengapa kalian mengirim Pasukan Pembunuh itu ke istana?! Apakah kalian masih ingin membunuh Gusti Prabu Pungga Lawa...?!" geram Kenanga, yang sudah menghunus senjatanya.

"He he he...! Mengapa kau masih saja galak, Bidadari ku? Tindakan kami itu hanya sekadar coba-coba. Tapi kalau bisa, memang kami hendak membunuh raja yang tak becus memerintah itu. Selain itu, juga untuk mengundang munculnya Pendekar Naga Putih. Karena biasanya, pemuda sombong itu akan muncul apabila mendengar peristiwa-peristiwa yang mengundang jiwa pendekarnya yang sok itu...," sahut Memedi Karang Api sambil melangkah maju tiga tindak. Tindakannya membuat Kenanga, Ki Janala, dan muridnya bergerak mundur dengan otot-otot semakin menegang.

"Hm.... Kalian memang manusia-manusia jahanam yang pengecut dan tidak tahu malu. Tapi, jangan harap akan dapat berbuat sesuka hati, selagi aku dan Kakang Panji masih berdiri tegak. Sampai mati pun, kami akan tetap menentang manusia-manusia jahat seperti kalian...!" sahut Kenanga tanpa rasa gentar sedikit pun. Bisa diduga kalau dara jelita itu telah bertekad untuk melawan sampai titik darah penghabisan.

"Hm.... Seharusnya sebagai tokoh terpandang, kalian merasa malu. Rasanya para tokoh persilatan akan menertawakan perbuatan kalian, apabila sampai tersebar di luaran kalau empat datuk yang berkepandaian tinggi harus mengeroyok, hanya untuk menghadapi kami bertiga. Benar-benar menggelikan...!" kata Ki Janala. Rupanya dia sadar kalau tidak mungkin sanggup menghadapi ketiga orang datuk itu. Makanya, dicobanya untuk mengadu kecerdikan, dengan memancing harga diri para datuk itu.

Tapi orang-orang golongan sesat seperti keempat datuk itu, mana peduli segala macam aturan. Sehingga, ucapan Ki Janala hanya disambut tawa mereka. Jelas, pancingan Ki Janala tidak berhasil. Bahkan keempat datuk itu mulai bergerak mendekat. Maka, Kenanga dan kawan-kawannya segera melintangkan pedang di depan dada, siap menghadapi serangan lawan

DELAPAN

"Hm... Biar aku yang menangkap naga betina yang cantik seperti bidadari itu...," pinta Datuk Panglima Sesat sambil memperdengarkan tawanya yang menggetarkan jantung. Sedangkan ketiga orang datuk lainnya hanya tertawa.

"Kalau begitu, bagianku adalah pemuda tampan gagah itu. He he he.... Pasti menyenangkan mempunyai sahabat baik seperti pemuda gagah yang akan menemaniku sepanjang hari...," kata Kuntilanak Bukit Mandau sambil terkekeh genit, ketika menegasi wajah dan sosok murid Ki Janala. Sehingga, wajah Praba menjadi merah, karena sudah tahu maksud nenek cabul itu.

"Hm Kau boleh memiliki mayatku, Nenek Cabul" geram Praba yang menjadi marah mendengar ucapan Kuntilanak Bukit Mandau. Jelas, pemuda itu harus melawan mati-matian kalau tidak ingin jatuh ke dalam pelukan nenek berwatak cabul ini.

Kenanga sendiri merasa ngeri membayangkan dirinya akan jatuh ke dalam pelukan Datuk Panglima Sesat. Karena biarpun sosoknya tidak terlalu menakutkan dan bisa dibilang cukup gagah, tapi hatinya jelas merasa ngeri kalau harus melayani manusia bengis seperti datuk sesat itu. Tentu saja gadis itu lebih rela mati ketimbang harus menerima hinaan dari gembong kaum sesat ini.

Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api yang merasa tidak mendapat bagian sama-sama melangkah mundur, karena Ki Janala telah menghadapi Kuntilanak Bukit Mandau. Rupanya, orang tua itu ingin membantu muridnya untuk menghadapi nenek bertubuh bungkuk udang yang ternyata memiliki watak cabul.

"Heaaah...!"

Datuk Panglima Sesat yang sudah tidak sabar ingin segera menangkap tubuh ramping Kenanga, segera melompat dengan lengan terkembang. Kenanga tentu saja tidak tinggal diam. Pedang Sinar Rembulan di tangan kanannya segera bergerak menyambut sergapan lawan.

Bettt..!

Terdengar suara berdesing ketika pedang pusaka itu mengibas, hendak membabat putus lengan Datuk Panglima Sesat. Tapi, tokoh bertubuh raksasa itu kelihatannya sama sekali tidak peduli. Tangan kanannya yang mengibas, bermaksud memapak tebasan pedang dara jelita itu. Kenanga yang tahu kalau kekuatannya pasti kalah, tidak mau bertindak bodoh. Pedangnya diputar sedemikian rupa, dan langsung meluncur ke arah tenggorokan lawan.

Plakkk!

Gerakan Datuk Panglima Sesat memang benar-benar luar biasa! Tangan kanannya yang semula mengibas, bergerak cepat dan menepiskan tusukan pedang lawannya. Akibatnya, tubuh Kenanga terdorong beberapa langkah ke belakang. Memang, tenaganya masih beberapa tingkat di bawah datuk sesat itu. Sehingga, benturan itu membuatnya rugi.

Tapi, gadis jelita yang gagah itu sama sekali tidak kehilangan akal. Cepat kuda-kudanya diperbaiki, dan kembali menerjang dengan jurus-jurus ampuh. Jurus- jurus pedang gabungannya memang tidak bisa dipandang remeh. Akibatnya, Datuk Panglima Sesat harus sungguh-sungguh melayani gempuran dara jelita itu. Dan kini, pertempuran pun semakin seru.

Di bagian lain, Ki Janala dan Praba harus menguras seluruh kepandaian dalam menghadapi gempuran-gempuran Kuntilanak Bukit Mandau. Untungnya, nenek sakti itu hanya ingin menangkap Praba hidup-hidup. Dan tentu saja hal itu tidak mudah dilakukan, apalagi Ki Janala dan Praba bertarung mati-matian bagaikan banteng terluka.

"Haiiit..!"

Pada suatu kesempatan, Praba menusukkan pedang ke arah ulu hati nenek bungkuk udang itu. Sayang, kecepatan gerak pemuda itu masih kalah jauh. Sehingga, ketika Kuntilanak Bukit Mandau memapak dengan tongkat hitamnya, Praba tidak sempat menarik pulang serangannya.

Trakkk!

"Aaah...!" Karuan saja tubuh pemuda itu terpelanting dan tidak sanggup mempertahankan kuda-kudanya. Tubuhnya kontan terbanting, jatuh ke tanah.

Sedangkan saat itu, Kuntilanak Bukit Mandau sudah menyusuli tangkisannya dengan totokan ujung tongkat yang siap melumpuhkan. Ki Janala yang tidak ingin muridnya tertawan Kuntilanak Bukit Mandau, segera melesat dengan sambaran pedang yang menimbulkan suara mengaung tajam. Tapi, ternyata nenek bertubuh bungkuk udang itu bertindak lebih cekatan. Tongkat hitamnya diputar-putar membentuk lingkaran yang menimbulkan putaran angin keras! Belum lagi Ki Janala dapat menyadarinya, tahu-tahu saja ujung tongkat hitam itu telah meluncur ke arah tenggorokannya!

"Aihhh...?!" Sebisa-bisanya, Ki Janala menghindar dengan melempar tubuhnya ke samping. Sayang, gerakannya masih kalah cepat dengan ujung tongkat Kuntilanak Bukit Mandau. Meskipun nyawanya dapat diselamatkan, tapi terpaksa harus menerima hantaman ujung tongkat pada bahu kanannya.

Tukkk!

"Akhhh...!" Ki Janala kontan memekik kesakitan. Tubuhnya terlempar dan terbanting jatuh. Bahkan pedangnya sudah terlepas dari genggaman, karena totokan ujung tongkat lawan telah melumpuhkan tangan kanannya.

"Yiaaa...! Mampus kau...!" bentak Kuntilanak Bukit Mandau sambil mengayunkan tongkat hitamnya, siap meremukkan tubuh Ki Janala yang saat itu masih berusaha bangkit!

Plakkk!

Namun tiba-tiba saja, sesosok bayangan bersinar putih keperakan melayang dan langsung memapaki hantaman tongkat yang mengancam jiwa Ki Janala. Akibatnya, hebat sekali. Tubuh Kuntilanak Bukit Mandau terlempar ke belakang. Untunglah nenek itu masih sempat bertindak cepat, dengan melenting ke udara dan berputaran. Kemudian, kakinya mendarat ringan tanpa menderita apa-apa.

"Pendekar Naga Putih...!"

Sebuah seruan terdengar dari mulut Kuntilanak Bukit Mandau, Raja Iblis Jubah Merah, dan Memedi Karang Api. Enam pasang mata itu membelalak seperti tengah melihat hantu di siang bolong! Jelas, mereka sangat terkejut melihat kemunculan pemuda sakti itu. Sedangkan Datuk Panglima Sesat tidak ikut berseru, karena harus menghadapi Kenanga.

Sosok bersinar putih keperakan yang tak lain dari Panji, sama sekali tidak mempedulikan keterkejutan tiga orang datuk sesat itu. Kini, tubuhnya telah melayang ke arah pertarungan lain. Bahkan langsung dikirimkannya sebuah pukulan jarak jauh ke arah Datuk Panglima Sesat yang saat itu tengah mendesak Kenanga.

Whusss...!

Merasakan adanya sambaran angin tajam dari samping kiri, Datuk Panglima Sesat cepat mengibaskan lengan menyambut datangnya pukulan jarak jauh itu. Tokoh bertubuh raksasa itu pun sepertinya memahami terhadap serangan berkekuatan hebat. Maka separuh lebih dari tenaganya telah dikerahkan untuk memapaknya. Namun sayang, ia tidak tahu kalau penyerangnya adalah Pendekar Naga Putih. Sehingga, rugilah datuk sesat itu.

Plarrr...!

Dua gelombang tenaga dalam itu pun saling berbenturan di udara, menimbulkan ledakan keras. Bahkan, Datuk Panglima Sesat hampir terpelanting, karena kecerobohannya. Untung saja kuda-kudanya bisa dikuasai, sehingga tubuhnya hanya agak terhuyung akibat benturan keras tadi. Merasa penasaran dengan kenyataan yang dialami, Datuk Panglima Sesat mengangkat kepala hendak melihat orang yang berani mati menyerangnya.

"Pendekar Naga Putih,..?!" desis Datuk Panglima Sesat. Rupanya, dia terkejut bukan kepalang ketika mengenali sosok yang menyerangnya tadi. Hampir-hampir pandangan matanya tidak dipercayai. Sebab menurut pikirannya, Pendekar Naga Putih pasti telah tewas di tangan Pasukan Pembunuh.

"Hm.... Mengapa kau terkejut melihatku, Datuk Panglima Sesat? Aku masih hidup, dan bukan hantu...," ledek Panji, sambil tersenyum melihat wajah tokoh yang seperti orang bodoh itu.

Kenanga yang mendengar seruan Datuk Panglima Sesat, segera saja menoleh ke arah Panji. Dan langsung disambutnya kedatangan pemuda tampan berjubah putih itu dengan penuh kegembiraan. Kecemasannya seketika lenyap, begitu sosok kekasihnya telah muncul tanpa menderita apa-apa.

"Kakang.... Syukurlah kau selamat..," ucap Kenanga sambil memegang lengan Panji. Pendekar Naga Putih hanya tersenyum sambil membelai rambut dara jelita itu.

"Seperti yang kau lihat, Kenanga. Sekarang, menyingkirlah. Manusia-manusia sesat itu memang harus dilenyapkan demi ketenangan umat manusia...," ujar Panji.

Kenanga menuruti kata-kata Panji tanpa membantah. Dara jelita itu segera berkumpul bersama Ki Janala dan Praba yang bergegas menjauhi arena.

Panji sendiri telah berdiri tegak berhadapan dengan keempat datuk sesat itu. Tangan kanannya tampak telah menggenggam Pedang Naga Langit. Rupanya, Pendekar Naga Putih hendak melawan datuk-datuk sesat itu dengan menggunakan pedang mukjizatnya.

"Hm.... Apakah kalian kira Pasukan Pembunuh itu dapat melenyapkanku...?" kata Panji, ketika melihat tatapan mata keempat orang lawannya yang seperti belum percaya akan penglihatan mereka. "Pasukan Pembunuh yang kalian ciptakan telah melayat ke akhirat. Jadi, sebaiknya kalian bersiaplah menyusul..."

Keempat orang datuk itu saling berpandangan satu sama lain. Jelas sekali, ada pancaran kegentaran di mata mereka. Betapa tidak? Kalau sampai Pasukan Pembunuh tidak mampu melenyapkan Pendekar Naga Putih, apalagi mereka yang jelas-jelas tidak mampu untuk menghadapi pasukan ciptaan mereka.

"Hm.... Tapi jangan menepuk dada dulu, PendekarNaga Putih! Kalau Pasukan Pembunuh tidak sanggup melenyapkanmu, kami berempat akan menyelesaikan tugas itu...!" geram Datuk Panglima Sesat, seraya mencabut sebilah golok besar yang terselip dipinggangnya. Demikian pula ketiga orang datuk sesat lainnya. Mereka juga bersiap mengeroyok Pendekar Naga Putih. Dan kini, keempat datuk sesat itu tampak mengepung lawannya.

"Hm...!" Panji hanya bergumam lirih melihat gerakan lawannya. Perlahan, pedang di tangan kanannya bergerak melintang naik ke atas kepala, menerbitkan sinar berkeredep yang menyilaukan mata. Sekujur tubuhnya pun telah terbungkus kabut bersinar putih keperakan yang membentengi diri dalam jarak tiga jengkal. Jelas, Pendekar Naga Putih telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga saktinya dalam menghadapi keempat orang datuk sesat itu.

"Hiaaat..!" Datuk Panglima Sesat membuka serangan dengan sambaran golok besarnya yang mengerikan. Terdengar suara mengaung bagaikan ratusan lebah marah, ketika senjata itu datang mengancam tubuh Pendekar Naga Putih.

Panji cepat-cepat berkelit dengan egosan tubuhnya. Dan begitu serangan pertama lawan luput, tubuhnya cepat melesat ke samping menyambut Raja Iblis Jubah Merah. Tentu saja tokoh itu menjadi terkejut, karena tidak menyangka sama sekali kalau Pendekar Naga Putih akan menyerang dirinya, dan bukan Datuk Panglima Sesat. Tapi sebagai tokoh kawakan, ia tidak menjadi gugup. Cepat-cepat tubuhnya melesat ke samping dengan lompatan panjang, karena sambaran pedang lawan menebarkan hawa panas yang menyengat kulit.

Saat itu, tongkat hitam Kuntilanak Bukit Mandau datang hendak menotok jalan darah kematian di tengkuk lawan. Dan tentu saja Pendekar Naga Putih tidak sudi menyerahkan tengkuknya jadi sasaran totokan ujung tongkat lawan Cepat senjatanya diputar, langsung memalangi tengkuk.

Trang...!

“Uhhh...!” Kuntilanak Bukit Mandau berseru tertahan. Tubuhnya kontan terjajar mundur akibat tangkisan Panji yang mengandung tenaga dalam tinggi. Belum lagi nenek bertubuh bungkuk udang itu sempat memperbaiki kuda-kudanya, tahu-tahu saja pedang di tangan Pendekar Naga Putih telah menyambar dengan kecepatan menggetarkan jantung!

"Aihhh...!" Tentu saja serangan itu membuat Kuntilanak Bukit Mandau memekik kaget. Cepat tubuhnya dilempar dan bergulingan menjauh. Sehingga, sambaran pedang Panji hanya mengenai angin kosong.

"Heaaat..!"

"Yeaaat..!"

Datuk Panglima Sesat, Memedi Karang Api, dan Raja Iblis Jubah Merah, kembali bergerak susul-menyusul menerjang Pendekar Naga Putih. Sementara Kuntilanak Bukit Mandau sudah kembali memasuki arena pertempuran yang semakin seru dan menegangkan. Keempat datuk sesat itu tampaknya sudah mengerahkan segenap kesaktian untuk menggempur Pendekar Naga Putih. Sedangkan Panji pun kelihatannya tidak ingin bermain-main lagi. Hal itu terbaca dari gerakan pedang di tangannya yang bagaikan tangan-tangan maut, siap mencabut nyawa lawan-lawannya.

"Yeaaa...!"

Saat pertarungan menginjak jurus yang keseratus sepuluh, Panji mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah'. Seketika tubuhnya melenting ke udara, dan berputaran cepat luar biasa. Dan dari atas, tubuhnya meluncur turun disertai putaran pedang yang membentuk lingkaran keemasan menyilaukan mata.

"Heaaah...!" Seketika Kuntilanak Bukit Mandau memekik nyaring sambil menusukkan ujung tongkat hitamnya untuk menyambut serangan lawan. Sepertinya, nenek itu lupa akan keistimewaan jurus pamungkas Pendekar Naga Putih. Maka akibatnya....

Breeet! Breeet!

"Aaargh !" Kuntilanak Bukit Mandau kontan meraung keras saat ujung pedang Pendekar Naga Putih merobek-robek tubuhnya. Sedangkan tongkat hitamnya telah terlepas dari genggaman dan terpental jauh dari tempatnya berdiri. Tubuh kurus bungkuk itu pun ambruk disertai semburan darah segar yang melumuri tubuhnya.

Gerakan Panji tidak berhenti sampai di situ saja. Datuk Panglima Sesat yang tengah menghindar dari serangan maut, harus menerima bagian yang serupa dengan Kuntilanak Bukit Mandau. Dan sepertinya, dia menjadi agak gugup melihat ketiadaan kawannya. Sehingga ketika pedang Panji meluncur datang, dia mencoba memapaknya. Sayang, gerakannya terlihat kacau. Sehingga, terpaksa tenggorokannya harus direlakan jadi sasaran ujung pedang lawan.

Crappp!

"Hikhhh !" Terdengar keluhan seperti orang tercekik ketika ujung pedang Pendekar Naga Putih menancap, hingga tembus ke leher belakang tokoh bertubuh raksasa itu. Darah segar memancur saat Panji mencabut senja- tanya dari tenggorokan lawan. Lalu, tubuh datuk sesat itu pun ambruk ke tanah dengan nyawa terlepas dari raga.

Memedi Karang Api dan Raja Iblis Jubah Merah tentu saja terkejut melihat kedua orang kawannya tewas secara berturut-turut. Mereka seketika bergerak mundur dan menggabungkan sebelah tangan masing-masing. Sedang tangan yang lain langsung didorongkan ke depan.

Whusss...!

Serangkum angin keras yang berasal dari tenaga gabungan kedua orang datuk sesat itu meluncur ke arah Panji.

"Hm...!" Panji yang sadar akan kehebatan serangan gabungan itu, segera melesat ke samping. Sehingga, batu sebesar kerbau yang berada satu tombak di belakangnya kontan hancur berantakan disertai suara hingar-bingar. Serpihan-serpihannya pun beterbangan kian kemari, bagaikan hujan batu saja. Tapi, Panji tidak mempedulikannya. Tubuhnya telah melesat maju dengan putaran pedang yang bergulung-gulung bagaikan angin puyuh!

Tentu saja, baik Raja Iblis Jubah Merah maupun Memedi Karang Api menjadi kaget bukan main. Mereka berusaha menghindar mencari selamat, namun Panji tidak memberi kesempatan. Kemana pun mereka bergerak, ujung pedangnya selalu saja mengikuti bagaikan bayangan tubuh kedua orang datuk sesat itu. Akhirnya....

"Aaa...!" Raja Iblis Jubah Merah langsung menjerit keras saat Pedang Naga Langit tertancap di ulu hati, hingga tembus ke punggung! Tubuh tokoh sesat berwajah brewok itu langsung tersungkur mencium tanah, bermandikan darah! Raja Iblis Jubah Merah pun tewas menyusul kawan-kawannya, setelah meregang nyawa beberapa saat.

Sekarang, hanya Memedi Karang Api yang masih tertinggal. Wajah datuk sesat itu nampak pucat pasi. Sosok Pendekar Naga Putih baginya seperti bayangan malaikat maut yang siap menjemput nyawanya!

"Sekarang giliranmu, Memedi Karang Api..!" desis Panji. Seketika Pendekar Naga Putih melesat ke depan. Ujung pedangnya meluncur cepat menimbulkan desing angin tajam yang menyakitkan telinga.

Maka, cepat-cepat Memedi Karang Api melompat jauh ke belakang. Namun, Panji tidak ingin membiarkannya lolos. Lawan terus dikejar dengan sambaran senjata yang bercuitan.

Bettt..!

"Ahhh...?!" Memedi Karang Api menjerit ketika pedang Panji nyaris menikam lambungnya. Untunglah tubuhnya masih bisa dimiringkan, sehingga ujung pedang lawan hanya lewat dua jari di samping lambung.

Tapi, gerakan Pendekar Naga Putih selanjutnya benar-benar tidak diduga Memedi Karang Api. Tiba-tiba saja, senjata pemuda tampan itu ditarik pulang sambil digoyang-goyangkan seperti gerak seekor ular. Akibatnya, bagian samping tubuh datuk sesat itu tersayat-sayat dengan cepat. Darah pun langsung mengucur dari luka-luka yang ditimbulkan pedang lawannya. Dan sebelum kekagetannya lenyap, tahu-tahu saja pedang Pendekar Naga Putih telah bergerak kembali den- gan kecepatan luar biasa!

Cappp!

Sepasang mata Memedi Karang Api kontan terbelalak bagaikan hendak keluar, saat pedang Panji amblas menembus jantungnya. Tubuh kakek tinggi kurus itu pun ambruk saat Pedang Naga Langit telah tercabut keluar. Darah segar kembali membasahi bumi. Kini, Memedi Karang Api pun tewas menyusul kawan-kawannya, setelah menggelepar beberapa saat.

"Kakang..."

Kenanga langsung saja berlari dan memeluk tubuh kekasihnya dari belakang. Hatinya langsung merasa lega, karena musuh-musuh yang berbahaya telah dapat dilenyapkan.

Ki Janala dan Praba saling berpandangan sambil tersenyum. Jelas, guru dan murid itu pun merasa gembira melihat kematian datuk-datuk sesat di empat penjuru itu.

S E L E S A I

Pasukan Pembunuh

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Pasukan Pembunuh
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih

SATU

KEGELAPAN malam perlahan menyelimuti permukaan bumi. Bintang-bintang tampak berkerlip jenaka, menghiasi langit kelam. Rembulan juga muncul penuh, sehingga menambah semaraknya suasana malam. Semilir angin lembut yang mempermainkan dedaunan pohon, sepertinya ingin ikut melengkapi indahnya malam.

"Bulan purnama kembali datang...," desis sosok tubuh terbungkus pakaian berwarna putih. Dia menengadahkan kepalanya, menatap bulatan gemerlap yang menggantung menghias langit. Sesaat kemudian, kepalanya kembali merunduk. Kali ini tatapannya tertuju lurus ke depan, seolah ingin menembus keremangan malam.

"Mengapa Guru kelihatan gelisah...?" tegur sosok lainnya. Dia adalah seorang pemuda tampan, berusia sekitar dua puluh tahun. Sepasang matanya yang bulat dan bersinar tajam, tampak mengawasi wajah laki-laki berpakaian putih di samping kanannya.

"Hm.... Pada waktu aku masih muda dulu, bulan purnama biasanya menjadi perlambang adanya suatu kejadian mengerikan. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat peristiwa-peristiwa dulu...," ujar sosok berpakaian putih yang dipanggil guru.

Dia ternyata seorang lelaki tua berusia sekitar lima puluh lima tahun. Sepasang mata tuanya yang semula menerawang jauh itu, berpaling sejenak. Ditatapnya wajah pemuda tampan yang merupakan murid tunggalnya. Terdengar helaan napas beratnya, sebelum wajahnya kembali berpaling menatap kejauhan.

"Tapi..., bukankah malam bulan purnama kali ini sangat indah, Guru? Rasanya aku belum bisa percaya kalau malam yang indah ini adalah perlambang tidak baik? Bolehkah aku tahu kejadian mengerikan semasa Guru masih muda dulu...?" tanya pemuda tampan itu lagi dengan wajah ingin tahu.

"Hhh.... Peristiwa itu sudah lama berlalu, Praba. Lagi pula, aku sudah tidak ingin mengingatnya. Tapi..., biarlah kali ini aku akan menceritakannya padamu...," ujar orang tua itu lagi. Tatapannya masih saja tertuju pada keremangan malam, menembus bayang-bayang dedaunan pohon yang menari-nari ditiup angin.

"Ceritakanlah, Guru. Aku ingin sekali mendengarnya...," desak pemuda tampan yang ternyata bernama Praba. Sepertinya, dia sudah tidak sabar melihat gurunya masih saja bungkam disertai helaan napas berat.

"Beberapa belas tahun yang lalu, aku adalah orang yang berbahagia. Istriku cantik dan penuh pengertian. Saat itu, kami baru saja dikaruniai seorang putra yang tampan. Tapi..., siapa sangka malapetaka itu tiba-tiba datang merenggutkan kebahagiaan kami. Dan..., peristiwa itu tepat terjadi pada saat bulan purnama"

Orang tua itu menghentikan ceritanya disertai tarikan napas berat. Keningnya tampak berkerut dalam, seperti hendak mengingat semua kejadian yang telah lama ingin dilupakannya itu. Sementara Praba sama sekali tidak bersuara. Sepertinya gurunya sengaja dibiarkan untuk mengingat-ingat kembali semua peristiwa itu.

"Saat itu, aku sedang berada di kebun yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalku. Entah mengapa, hatiku merasa tidak enak dan gelisah. Maka, ku putuskan untuk pulang, karena pikiranku selalu saja tertuju pada anak dan istriku di rumah. Rupanya perasaanku tidak berlebihan. Begitu tiba di rumah, ternyata istriku tengah dinodai seorang lelaki kasar. Sementara, kawannya tengah memegangi kaki anakku dengan kepala di bawah. Bahkan di tangan kanan lelaki itu tergenggam sebilah pedang terhunus...," tutur lelaki tua itu.

Kembali ceritanya terhenti. Wajahnya tampak kelam, menyimpan kedukaan. Rupanya, ia tengah berusaha menenteramkan hatinya yang terguncang, teringat peristiwa pahit masa lalunya.

"Maafkan aku. Guru. Biarlah cerita itu tidak perlu dilanjutkan. Itu sama saja hanya akan membangkitkan luka lama di hati Guru" Praba yang rupanya menangkap adanya raut kesedihan di wajah gurunya, segera saja meminta maaf. Langsung dicegahnya orang tua itu agar ceritanya tidak dilanjutkan.

"Tidak apa, Praba. Peristiwa itu telah lama berlalu. Luka hatiku sudah sembuh, meskipun dendam di hatiku belum lagi terlampiaskan," sergah lelaki tua itu mencoba tersenyum kepada muridnya.

Sementara Praba mencoba menafsirkan arti senyum gurunya. Walau kelihatan penuh kelembutan, tapi tetap seperti dipaksakan. Namun, Praba membalas senyuman itu dengan tatapan penuh rasa terenyuh mendengar cerita gurunya.

"Melihat kejadian itu, aku langsung mengambil keputusan untuk menyelamatkan nyawa putra ku terlebih dahulu. Namun, ternyata orang itu memiliki kekejaman melebihi iblis! Putra ku yang baru berusia dua tahun itu dipenggal kepalanya, tanpa rasa kasihan sedikit pun! Aku memang terlambat, dan hanya bisa mengangkat mayat putra ku ketika lelaki itu melemparkannya. Meskipun begitu, aku melukai wajah pembunuh putra ku itu dengan senjata yang telah terhunus. Kemudian, aku segera menyelamatkan kehormatan istriku. Tapi..., dia juga telah tewas akibat pukulan lelaki yang menodainya. Bahkan, dadaku sempat terkena sambaran senjata manusia terkutuk itu."

Orang tua itu berhenti bercerita sebentar. Matanya menatap ke atas, menerawang jauh pada kenangan-kenangan pahitnya.

"Rasanya, saat itu langit di atas kepalaku runtuh! Aku menjadi gelap mata. Dengan penuh kemarahan, ku terjang lelaki terkutuk itu. Setelah bertarung sekian puluh jurus, aku berhasil membabat putus lengan kirinya. Liciknya, tiba-tiba mereka menebarkan bubuk beracun, hingga aku terpaksa melompat jauh ke belakang. Dan kesempatan itu digunakan mereka, untuk melarikan diri"

"Lalu, apakah Guru tidak mencari kedua orang manusia keparat itu untuk membalaskan kematian istri serta putra Guru...?" tanya Praba yang amarahnya kontan bangkit, mendengar cerita gurunya yang benar-benar menyedihkan.

"Tentu saja aku berusaha mencari kedua orang itu. Sayang, usahaku sia-sia. Dan yang kutemukan hanya dirimu, ketika kau kehilangan kedua orangtua mu saat terjadi bencana alam. Akhirnya, aku menyepi di tempat ini dan mendidikmu sampai sekarang...," lelaki tua itu mengakhiri ceritanya dengan sebuah tarikan napas panjang.

"Hm.... Siapakah manusia-manusia keparat itu, Guru? Biarlah aku yang akan mencarinya untuk membalaskan dendam itu...!" geram Praba sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Sepasang mata pemuda tampan itu tampak menyiratkan api dendam yang mulai membakar dadanya.

"Ha ha ha...! Tidak perlu bersusah-payah mencari kami, Bocah ingusan ..! Hei, Tua Bangka Janala...! Kami berdua datang untuk menagih hutang-hutangmu...!"

Tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar menyahuti tantangan Praba. Suara itu jelas dikirimkan melalui kekuatan tenaga dalam yang tinggi, sehingga terdengar seperti dari empat penjuru. Mendengar suara itu, lelaki tua yang ternyata bernama Ki Janala segera bangkit dari bangku bambunya. Sepasang matanya berputar kesekeliling, mencari sumber suara.

"Hm.... Sepasang Tikus Bumi! Kalau kau memang hendak menemui aku, mengapa tidak langsung keluar? Untuk apa selama ini menyembunyikan diri, Tikus-tikus Pengecut?! Bertahan-tahun aku mencarimu yang ternyata mendekam dalam lubang mu! Mengapa baru sekarang muncul...?!" seru Ki Janata sambil mengerahkan tenaga saktinya. Hingga gema suaranya terdengar sampai belasan tombak jauhnya.

Ki Janala dan Praba tidak perlu menunggu lama untuk melihat si pengirim suara yang ternyata merupakan musuh lamanya. Dua sosok bertubuh sedang muncul dari kegelapan bayang-bayang pohon di sebelah depan Ki Janala dan Praba. Mulut mereka monyong dengan kumis jarang. Kedua orang lelaki itulah yang berjuluk Sepasang Tikus Bumi. Mereka kini melangkah lebar mendatangi Ki Janala dan Praba yang sudah bersiap menghadapi pertarungan.

"Ha ha ha...! Kami bukan orang bodoh untuk menyerahkan diri begitu saja kepadamu, Ki Janala. Selama ini, kami memang bersembunyi. Tapi, itu untuk mengobati tanganku, sekaligus melatihnya secara sempurna. Setelah itu, baru kami keluar untuk mencarimu. Nah, sekarang mari kita selesaikan hutang-hutang itu...!" tantang lelaki yang tubuhnya lebih tinggi sedikit ketimbang kawannya.

Rupanya bukan hanya Ki Janala saja yang memendam dendam atas kematian istri dan putranya. Kedua orang itu ternyata juga menyimpan dendam atas kehilangan lengan dan cacat wajah akibat tindakan Ki Janala.

"Hm.... Sebenarnya aku sudah tidak bernafsu lagi untuk mencari kalian. Tapi karena kalian sendiri yang datang, maka tidak ada salahnya kalau dendam itu ku penuhi sekarang...," geram Ki Janala. Segera saja, pedangnya dicabut begitu melihat lawan telah menghunus senjata.

"Guru, izinkanlah aku membantumu...," pinta Praba. Pemuda itu juga telah menghunus senjata, dan menatap penuh dendam kedua orang yang telah membuat gurunya menderita. Tapi, Praba terpaksa harus menelan kekecewaan ketika melihat gelengan kepala gurunya. Jelas, orang tua itu tidak ingin melibatkan muridnya dalam persoalan dendam lamanya.

"Menyingkirlah, Praba. Biar aku saja yang akan menyelesaikan persoalan ini...," ujar Ki Janala tanpa ingin dibantah lagi. Dan Praba terpaksa menyingkir dari arena pertarungan yang segera akan berlangsung.

"He he he…!"

Sepasang Tikus Bumi hanya terkekeh mendengar ucapan Ki Janala. Kedua tokoh sesat itu sudah merenggang, mengepung lawannya dari dua arah. Sedangkan Ki Janala sendiri telah memutar senjatanya membentuk gulungan sinar putih yang bergerak melindungi sekujur tubuhnya.

"Haaat..!"

Dibarengi sebuah teriakan nyaring, orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi melesat cepat ke arah Ki Janala. Tangan kirinya yang telah berupa lengan palsu, menyambar dengan cakar-cakar besi yang menyeramkan.

Bettt! Bettt..!

Ki Janala menggeser kakinya ke samping sambil mengibaskan senjatanya ke tubuh lawan. Namun, gerakan orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi ternyata sangat gesit. Cakar bajanya bergerak berputar, dan langsung menyampok tebasan pedang Ki Janala.

Trakkk!

Bentrokan keras itu membuat tubuh keduanya terjajar mundur beberapa langkah. Dari sini bisa dibuktikan kalau kekuatan mereka berimbang. Diam-diam, Ki Janala terkejut juga melihat pesatnya kemajuan lawan. Sepertinya, kedua tokoh sesat itu tidak sia-sia menyembunyikan diri dalam menambah kesaktian. Dan itu dapat dirasakan melalui bentrokan barusan. Meskipun belum mengerahkan tenaga sepenuhnya, tapi Ki Janala cukup sadar kalau lawannya benar-benar tidak bisa diremehkan lagi.

"Hm...".Ki Janala menggeram gusar. Pedang di tangannya bergerak menyilang, menimbulkan decitan angin tajam. Seketika, tubuhnya merunduk saat orang termuda dari Sepasang Tikus Bumi menerjang dengan pedangnya yang berbentuk arit. Maka, langsung dibalasnya serangan itu dengan tidak kalah cepat.

Tapi Ki Janala harus menunda serangannya, ketika pada saat itu juga datang serangan lainnya dari lawan yang seorang lagi. Maka, serangan orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi terpaksa dilayaninya. Kini, pertarungan pun berlangsung semakin seru, ketika kedua orang tokoh sesat itu saling bantu dalam menggempur Ki Janala.

Praba duduk dengan wajah cemas menyaksikan gurunya dikeroyok dua orang tokoh sesat itu. Pemuda tampan itu meremas-remas jemari tangannya dengan hati tegang. Kalau saja gurunya mengizinkan, rasanya saat itu juga ia sudah terjun ke dalam kancah pertarungan. Tapi, perintah itu tidak berani dibantah, kecuali kalau orang tua itu telah benar-benar dalam keadaan berbahaya. Dan kini, ia hanya dapat mengikuti jalannya pertempuran dengan hati tak karuan.

"Bangsat! Keparat tua ini benar-benar alot..!" Orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi itu tak henti-hentinya menyumpah. Rupanya, ia merasa penasaran sekali setelah bertarung selama empat puluh jurus, ternyata lawannya masih belum dapat didesak. Kenyataan itu membuatnya menjadi jengkel!

Ki Janala sendiri pun merasa penasaran melihat ketangguhan lawan-lawannya. Padahal, belasan tahun yang lalu kedua orang tokoh sesat itu sama sekali bukan lawan yang pantas diperhitungkan. Tapi sekarang, ia benar-benar dibuat kerepotan. Bahkan seluruh ke- pandaiannya harus dikerahkan untuk menundukkan kedua orang lawannya.

"Hiaaah...!"

Memasuki jurus yang kelima puluh, Ki Janala cepat menggunakan kesempatan baiknya. Langsung dilontarkannya sebuah tendangan keras ke tubuh orang termuda dari Sepasang Tikus Bumi!

Desss...!

"Hugkhhh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh orang itu langsung terjengkang sejauh satu tombak ke belakang. Cepat-cepat orang tua itu mengayunkan pedangnya, siap menghabisi riwayat lawan.

Whuuut… tranggg...!

Mata pedang Ki Janala yang siap menghunjam tubuh lawan, tiba-tiba tertahan oleh cakar orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi. Namun, orang tua itu tidak menjadi kehilangan akal. Pedangnya segera diputar sedemikian rupa, dan langsung menusuk ke arah lambung orang tertua Sepasang Tikus Bumi.

Bukan main terkejutnya orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi. Sadar kalau kesempatan untuk menghindar jelas sudah tidak mungkin, maka tokoh sesat itu nekat mengadu nyawa! Cakar bajanya diputar ke luar, dan langsung mengancam kepala lawannya. Gerakan itu tentu saja sangat berbahaya dan mematikan.

Ki Janala bukan tidak tahu akan maksud lawan. Dan tentu saja ia tak sudi untuk mengadu nyawa dengan lawan. Maka kepalanya segera ditarik mundur tanpa mengurangi tusukan pedangnya. Dan...

Cappp! Brettt!

"Aaakh...?!"

Kedua tokoh itu sama-sama menjerit kaget! Mereka satu sama lain terjajar mundur sejauh satu tombak. Darah tampak mengucur dari luka di lambung orang tertua Sepasang Tikus Bumi. Meskipun tusukan pedang Ki Janala tidak mendatangkan kematian, namun cukup membuatnya menderita luka.

Sedangkan Ki Janala sendiri juga tidak bisa menyelamatkan tubuhnya dari sambaran cakar baja lawan. Meskipun kepalanya dapat selamat, namun masih juga harus menerima cakar baja lawan di pangkal lengan kirinya. Tampak cairan merah merembes keluar dari luka di pangkal lengan yang terkoyak cukup dalam. Luka yang terasa perih dan panas itu membuat tubuh Ki Janala terjajar limbung. Sadarlah tokoh tua itu kalau senjata lawan ternyata mengandung racun ganas. Terbukti, lengan kirinya agak membengkak kaku, dan sukar digerakkan.

"Guru...!" Praba yang melihat tubuh gurunya terjajar limbung sambil meringis kesakitan, segera saja berlari memburu. Pemuda itu tidak peduli lagi bila gurunya akan marah nanti. Segera saja tubuh gurunya dipeluk.

"Praba, menyingkirlah! Aku tidak apa-apa. Biar kutuntaskan kedua manusia jahanam itu...!" ujar Ki Janala, tidak ingin melibatkan muridnya ke dalam persoalan itu. Kekerasan hatinya jelas tidak menguntungkan, karena keadaan tubuhnya terasa mulai melemah. Ru- panya, racun itu semakin cepat menjalar ke seluruh tubuh Ki Janala.

"He he he..! Bergeraklah terus, Ki Janala. Dengan demikian, kematianmu akan semakin cepat datang...," ejek orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi tergelak penuh kemenangan.

Ucapan itu jelas mengisyaratkan kalau racun akibat cakar baja lawan akan semakin cepat menyebar, apabila Ki Janala semakin banyak bergerak. Mendengar hal ini, tentu saja Ki Janala menjadi terkejut. Terpaksa langkahnya dihentikan dengan wajah bingung.

"Hm.... Aku tidak takut mati, Tikus-tikus Kotor! Sekarang, aku akan membawa kalian berdua ke akhirat untuk mengantarkan arwahku...!" geram Ki Janala.

Setelah terdiam sesaat, Ki Janala segera mengambil keputusan yang mengejutkan kedua orang lawannya. Sedangkan Praba yang mendengar ucapan kedua orang lawan gurunya, segera saja melolos senjatanya. Sepertinya sudah tidak dipedulikan lagi perintah gurunya. Maka, langsung diterjangnya Sepasang Tikus Bumi yang sudah bergabung itu.

"Hiaaat..! Mampus kalian, Manusia-manusia Laknat..!" bentak Praba sambil mengayunkan pedang sepenuh tenaga. Melihat kecepatan dan angin pedang yang ditimbulkan, jelas kalau pemuda itu telah cukup matang dalam meyakini ilmunya. Sehingga, Sepasang Tikus Bumi tidak berani memandang remeh.

Trang! Trang!

Orang termuda dari kedua tokoh sesat itu sepertinya merasa penasaran, ingin menjajal kekuatan tenaga dalam pemuda tampan itu. Maka begitu sambaran pedang Praba datang, langsung dipapaknya sekuat tenaga. Akibatnya, tubuh keduanya terdorong ke belakang. Melihat betapa tubuh Praba agak terhuyung, jelas kalau tenaganya masih kalah sedikit. Buktinya, lawan hanya terjajar beberapa langkah, dengan kuda-kuda tetap kokoh.

"Tahan, Adi...!" Tiba-tiba, orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi memegang bahu adiknya yang telah siap melanjutkan pertarungan. Keduanya saling berpandangan sesaat. Kemudian mereka mengangguk seperti mengambil kata sepakat.

"Suiiit..!" Tiba-tiba, orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi mengeluarkan suitan nyaring bernada aneh. Di tangannya, sudah terjepit sebuah benda kecil berbentuk pipih yang melekat di bibir. Benda itu bisa mengeluarkan suara aneh dan tidak tetap.

Sementara itu, Ki Janala dan Praba hanya memandang dengan wajah bingung melihat perbuatan lawan. Dan beberapa saat kemudian, barulah mereka mengerti apa arti irama siulan aneh itu. Guru dan murid itu menjadi tegang ketika mendengar suara gemerisik riuh dari sekelilingnya.

"Ahhh...?!".Ki Janala dan Praba berseru kaget menyaksikan makhluk-makhluk kecil dan besar datang dari segala penjuru. Dan kini makhluk-makhluk itu mulai berdesak-desakan mengepung mereka. Rupanya, makhluk- makhluk yang ternyata ratusan ekor tikus itulah yang barusan mendatangkan suara-suara riuh-rendah ketika melewati pohon dan semak-semak ilalang.

DUA

"Gila...?!" pekik Ki Janala. Laki-laki tua itu menjadi pias wajahnya ketika melihat ratusan ekor tikus besar dan kecil tengah berdesak-desakan hendak mengeroyok mereka berdua.

Sementara itu, Praba pun merasa jijik melihat tikus-tikus yang berdatangan dari segala penjuru. Binatang-binatang kotor itu tampak memandang marah ke arahnya dan gurunya. Mata yang kecil dan mencorong kemerahan, jelas merupakan pertanda kalau tikus-tikus itu telah menjadi liar dan buas. Air liurnya tampak menetes-netes, menimbulkan pemandangan yang memualkan. Taring-taring yang kecil runcing dan berkilat, diperlihatkan sambil memperdengarkan suara mencicit bising.

"Rencah tubuh mereka...!"

Tiba-tiba orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi memerintah dengan suara aneh menggeletar. Bagaikan diberi aba-aba, ratusan ekor tikus itu bergerak saling mendahului untuk mengoyak tubuh kedua korbannya.

"Haaat…!"

Praba seketika merasa bulu kuduknya meremang, melihat ratusan ekor tikus meluruk ke arahnya. Maka segera dia berteriak sambil mengibaskan pedang ke sekeliling tubuhnya. Dan meskipun belasan ekor telah menjadi korban, namun sepertinya tikus-tikus itu sama sekali tidak gentar. Bahkan semakin bertambah buas, ketika irama aneh dari benda pipih di mulut Sepasang Tikus Bumi kembali mengalun turun-naik. Tentu saja Praba semakin bertambah kewalahan menghadapi serbuan binatang-binatang yang telah semakin liar dan buas itu.

Demikian pula halnya Ki Janala. Lelaki tua itu mengibaskan pedang ke kiri dan kanan dengan sisa-sisa tenaganya. Gerakannya yang semakin melemah, membuat beberapa ekor tikus mulai dapat mencapai dan menggigit tubuhnya. Darah yang semakin banyak mengalir, justru membuat binatang-binatang itu semakin kesetanan!

Namun, pada saat Ki Janala dan Praba merasa kalau kematian sudah berada di ambang pintu, tiba-tiba terdengar lengkingan panjang. Tak lama kemudian, melayang dua sosok bayangan putih dan hijau, yang langsung menghantamkan pukulan ke arah kawanan tikus-tikus buas itu. Akibatnya, belasan ekor tikus terpental ke kiri dan kanan dalam keadaan hancur. Rupanya, kedua sosok bayangan yang baru tiba itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang tinggi.

"Hiaaa...!" Kembali terdengar pekikan tinggi dari sosok bayan- gan putih yang baru tiba. Kedua tangannya didorongkan ke depan, dan....

Blarrr!

Mengerikan sekali akibat yang ditimbulkannya. Puluhan ekor tikus seketika berhamburan seiring ledakan keras yang membuat tanah berlubang sebesar kubangan kerbau.

"Gila!"

Sepasang Tikus Bumi sama-sama terpekik kaget melihat perubahan yang sama sekali tidak disangka. Mata mereka terbelalak, menyaksikan hasil pukulan dahsyat yang dilontarkan sosok berjubah putih tadi. Sadarlah mereka kalau Ki Janala dan muridnya tadi telah ditolong seorang tokoh sakti luar biasa!

Sementara itu, yang dilakukan sosok berpakaian hijau pun tidak kalah mengejutkan. Kilatan sinar putih keperakan berkelebatan kian kemari. Setiap kali sinar itu bergerak, selalu saja ada belasan ekor tikus yang terpental dengan tubuh terbelah. Maka semakin bertambahlah rasa terkejut kedua orang tokoh sesat itu. Sepasang Tikus Bumi tidak bisa lagi mengendalikan tikus-tikusnya. Rupanya, binatang-binatang itu pun memiliki rasa gentar juga terhadap dua pendekar muda yang baru datang itu. Makhluk-makhluk itu terlihat menghentikan gerakannya, dan menyurut mundur saling berdesak-desakan. Mata-mata yang menyala kemerahan, terlihat menyiratkan kegentaran terhadap kedua orang lawannya.

Melihat kenyataan itu, Sepasang Tikus Bumi kembali memperdengarkan irama aneh yang lebih membawa pengaruh lagi. Sehingga, binatang-binatang menjijikkan itu merasa resah dan bingung. Dan kini, tanpa mempedulikan siulan majikannya, tikus-tikus buas itu pun saling berlompatan lari!

"Keparat…!" maki kedua orang tokoh sesat itu, marah dan jengkel sambil membanting-banting kaki ke tanah.

"Hm..., Sepasang Tikus Bumi. Rupanya kalian kembali menyebar kejahatan di tempat ini...! Rasanya, cukup pantas kalau kalian berdua sekarang kuberi hukuman setimpal...," kata sosok berjubah panjang warna putih. Sosok itu ternyata seorang pemuda tampan. Sinar matanya tajam menggetarkan jantung, memancarkan tingginya tenaga sakti yang dimilikinya.

"Pendekar Naga Putih...?!" desis orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi, ketika mengenali sosok berjubah putih itu. Sekilas terlihat sinar kegentaran di matanya. Bisa ditebak kalau kedua orang tokoh sesat itu menjadi ciut nyalinya terhadap sosok yang ternyata Pendekar Naga Putih.

"Benar! Dan aku akan segera mengakhiri petualangan kalian hari ini juga...," ancam Pendekar Naga Putih. Sorot matanya langsung menusuk ke wajah kedua orang tokoh sesat itu. Seketika, Sepasang Tikus Bumi menyurut mundur tatkala melihat pemuda itu melangkah maju perlahan.

"Tunggu...!" Orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi menjulurkan lengan kanannya mencegah Panji untuk maju. Sedangkan pemuda itu hanya bergumam perlahan. Langkahnya juga segera dihentikan dalam jarak satu tombak dari kedua tokoh sesat itu.

"Apakah kau mempunyai permintaan terakhir, sebelum kukirim ke akhirat...?" tanya Panji, tenang dan datar nada suaranya.

"Pendekar Naga Putih! Kalau kau benar-benar jantan, kami menantangmu bertarung tanpa bantuan orang lain! Kami akan menunggumu di luar hutan ini...!" tantang orang tertua dari Sepasang Tikus Bumi. Jelas-jelas, dia hendak membuat siasat licik.

Panji sendiri hanya tersenyum mendengar tantangan lawannya. Pemuda tampan itu menoleh sejenak ke belakang, ketika mendengar suara langkah menghampirinya.

"Kakang! Untuk apa meladeni omong kosong dan siasat licik mereka? Sebaiknya ringkus saja mereka sekarang! Kita tidak perlu lagi menerima segala macam tantangan yang hanya siasat busuk mereka," ujar data jelita berpakaian hijau yang memang Kenanga.

Dara jelita itu tak lepas menatap wajah kekasihnya. Pandangannya segera dilemparkan ke arah Sepasang Tikus Bumi, yang menjadi pucat ketika mendengar ucapannya tadi. Rupanya, gadis jelita itu baru datang menghampiri begitu mendengar tantangan Sepasang Tikus Bumi yang ditujukan kepada Panji. Malahan, Ki Janala langsung ditinggalkan setelah luka akibat racun Sepasang Tikus Bumi diobati.

"Hm.... Siapa bilang aku akan meladeni tantangan kedua orang manusia tikus itu, Kenanga? Jangan khawatir, mereka tidak akan kulepaskan kali ini. Orang-orang kejam seperti mereka, harus segera dikirim ke neraka, agar tidak menimbulkan malapetaka lagi di atas muka bumi ini...," sergah Panji.

Pendekar Naga Putih memang tidak ingin melepaskan kedua orang tokoh sesat itu. Apalagi, dia telah banyak mendengar tentang kejahatan Sepasang Tikus Bumi selama dalam pengembaraan. Maka, tentu saja pertemuan itu tidak akan disia-sia-kan begitu saja.

Ucapan Panji itu tentu saja membuat Sepasang Tikus Bumi menjadi pucat. Mereka melangkah mundur ketika melihat Pendekar Naga Putih bergerak maju. Kemudian tanpa mempedulikan rasa malu, keduanya langsung saja berbalik dan kabur.

"Hm..." Panji hanya bergumam melihat perbuatan kedua orang tokoh sesat itu. Kedua kakinya langsung saja menjejak tanah, sehingga tubuhnya langsung melayang ke depan mengejar lawannya.

Jleg!

"Hahhh?!"

Sepasang Tikus Bumi terbelalak pucat ketika tahu-tahu saja sosok tubuh berjubah putih telah mendarat dan berdiri membelakangi, setengah tombak di depan mereka.

"Keparat! Haaat..!"

Dengan kemarahan yang amat sangat, Sepasang Tikus Bumi menerjang. Kini mereka harus melupakan rasa takutnya, karena sadar kalau untuk melepaskan diri dari pendekar kosen itu memang jelas mustahil. Maka, diambillah keputusan untuk menerjang maju.

Bettt! Whuttt!

Kilatan sinar pedang dan cakar baja itu bergerak menyambar saling mendahului. Namun, sasaran mereka ternyata telah lenyap. Sepasang Tikus Bumi hanya sempat melihat kelebatan sinar putih yang melayang di atas kepala mereka. Dan, serangan mereka hanya mengenai angin kosong.

"Kalian mencari siapa...?" tegur suara di belakang Sepasang Tikus Bumi.

Seketika wajah kedua orang tokoh sesat itu semakin pucat! Cepat-cepat mereka berbalik dan kembali melancarkan serangan tanpa menoleh lebih dulu. Dan....

"Hahhh?!"

Untuk kedua kalinya, senjata mereka hanya mengenai angin kosong! Kedua orang tokoh sesat itu hanya celingukan mencari lawannya yang kembali telah lenyap, tanpa sempat melihat gerakannya.

"Keparat kau, Pendekar Naga Putih! Mengapa kau hanya bisa menghilang bagai orang pengecut? Ayo, lawan kami!" Rasa gentar, marah, jengkel, dan penasaran, membuat Sepasang Tikus Bumi memaki kalap. Mereka mencari-cari sosok pemuda tampan berjubah putih itu yang kali ini benar-benar lenyap entah ke mana.

"Aku di sini, Kisanak...!"

Terdengar sebuah suara dibelakang kedua orang tokoh sesat itu. Seketika Sepasang Tikus Bumi berbalik. Dan lagi-lagi mereka hanya menemukan tempat kosong tanpa terlihat sosok yang tengah dicari.

"Aku di belakangmu...." Kembali terdengar suara Panji. Sepertinya, Pendekar Naga Putih memang sengaja hendak mempermainkan lawannya. Hal ini sengaja dilakukan, agar Sepasang Tikus Bumi dapat mengalami bagaimana rasanya menderita ketakutan dalam menghadapi kematian. Memang, kedua orang tokoh sesat itu biasanya menganggap rasa takut korban mereka sebagai suatu kenikmatan tersendiri.

Tapi, kali ini Sepasang Tikus Bumi sama sekali tidak menoleh. Mereka langsung saja melesat meninggalkan tempat itu. Jelas, maksud mereka hendak melarikan diri.

"Hm Ke mana pun kalian pergi, jangan harap bisa lepas dari tanganku...," ancam Panji. Pemuda itu hanya menatap kepergian Sepasang Tikus Bumi yang kelihatan semakin menjauh.

Sepasang Tikus Bumi sama sekali tidak mempedulikan ucapan lawannya. Lari mereka terus dipercepat dengan mengerahkan seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuh. Sehingga, sebentar saja mereka telah berada di mulut hutan.

"Ahhh?!"

Ketika hampir mencapai bibir hutan, langkah kedua orang tokoh sesat itu jadi tertahan. Mereka kontan berseru dengan wajah pucat, begitu di depan tampak sosok bertubuh sedang, mengenakan jubah panjang berwarna putih, telah berdiri menanti. Tentu saja keduanya menjadi ketakutan setengah mati, karena sosok tubuh itu tak lain dari Panji yang berjuluk Pendekar Naga Putih!

"Hm.... Sudah kukatakan sejak semula, kalian tidak akan terlepas dari tanganku. Nan, sekarang bersiaplah menerima kematian," desis Panji seraya berbalik ke arah Sepasang Tikus Bumi.

"Haaat..!"

Tanpa banyak bicara lagi, Sepasang Tikus Bumi langsung bergerak menerjang Pendekar Naga Putih. Namun, kali ini Panji tidak lagi berniat main-main. Cepat tubuhnya melesat, menyambut serangan kedua orang lawannya.

Plak! Plak!

"Akh!"

Sepasang Tikus Bumi berteriak tertahan ketika serangan mereka dipapak pemuda itu. Tanpa ampun lagi, tubuh kedua orang tokoh sesat itu terpelanting. Dengan gerakan cepat, mereka bergegas bangkit berdiri. Dan sebelum mereka sempat menyerang kembali, Panji kembali melayang dengan tamparan-tamparan keras yang menimbulkan deru angin dingin menusuk tulang! Akibatnya, Sepasang Tikus Bumi menjadi sadar akan datangnya bahaya. Cepat mereka melempar tubuh ke belakang, dan terus bergulingan menjauhi tempat itu.

"Heaaah...!"

Namun, kecepatan gerak kedua orang tokoh sesat itu tentu saja tidak mampu menandingi Pendekar Naga Putih. Maka, tidak heran ketika Sepasang Tikus Bumi melenting bangkit, Panji telah berada dekat dengan kedua orang lawannya, dan langsung melontarkan tamparan keras.

Plak! Plak!

"Hugkhhh...!"

Karuan saja tubuh Sepasang Tikus Bumi terpelanting ketika tamparan Panji mendarat di wajah mereka. Darah segar tampak mengalir dari sudut bibir mereka. Meskipun tamparan itu tidak mematikan, namun mampu membuat Sepasang Tikus Bumi harus menderita luka dalam yang parah.

"Hm.... Sekarang, terimalah kematian kalian dengan ikhlas...," desis Panji, seraya mengirimkan tamparan maut ke kepala kedua orang lawannya.

"Haaat..!"

Pada saat kematian sudah di ambang pintu bagi Sepasang Tikus Bumi, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring yang disusul melesatnya sesosok bayangan merah ke tengah arena pertempuran. Sayangnya, gerakan sosok bayangan merah itu masih kalah cepat dibanding gerakan Pendekar Naga Putih. Sehingga, tamparan pemuda tampan berjubah putih itu tetap mengenai sasaran.

Prakkk! Prakkk!

Tanpa ampun lagi, kepala Sepasang Tikus Bumi langsung berderak keras ketika bertemu telapak tangan Panji yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Tubuh kedua tokoh sesat itu kontan ambruk ke tanah dengan kepala pecah!

"Bedebah kau, Pendekar Naga Putih...!" pekik sosok bayangan merah yang segera saja memutar gerakannya, menerjang Pendekar Naga Putih!

Dukkk! Dukkk... Plak...!

Terdengar suara benturan keras berturut-turut ketika dua pasang lengan saling bertemu di udara. Akibatnya, sosok bayangan merah itu terpental balik. Namun, ia bisa menarik napas lega, setelah mendarat ringan di atas tanah.

"Hm..." Panji sendiri terdengar menggeram gusar. Tubuhnya pun sempat terdorong akibat benturan keras tadi. Memang, Panji tadi tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya. Sebaliknya, sosok bayangan merah itu seperti telah mengetahui kelihaiannya. Sehingga, tenaga dalamnya dikerahkan sekuatnya ketika pukulan mereka saling berbenturan.

"Raja Iblis Jubah Merah...?!" desis Panji dengan kening berkerut ketika mengenali sosok berpakaian merah itu. Ada kilatan penasaran dalam tatapan mata Panji.

"Hm.... Kau kembali menanamkan bibit permusuhan denganku, Pendekar Naga Putih. Kedua orang yang telah kau bunuh itu adalah muridku. Maka kau harus menebusnya dengan nyawamu" desis Raja Iblis Jubah Merah, murka.

Jelas sekali kalau sepasang mata tokoh sesat itu menyimpan dendam yang dalam kepada Pendekar Naga Putih. Raja Iblis Jubah Merah adalah salah seorang datuk sesat berkepandaian tinggi. Tentu saja Panji telah cukup mengenal lelaki pendek gemuk berjubah merah itu. Demikian pula tentang kesaktiannya. Dan mereka memang pernah bertemu ketika Panji menyelamatkan takhta Kerajaan Mulawarta dari ancaman Malaikat Gerbang Neraka, yang hendak merebut negeri itu.

Bagi yang ingin mengetahui asal-usul Raja Iblis Jubah Me- rah, silakan mengikuti episode Rahasia Pedang Naga Langit dan Malaikat Gerbang Neraka

Kemunculan Raja Iblis Jubah Merah ternyata tidak hanya seorang diri. Karena tak lama kemudian, berturut-turut muncul datuk-datuk sesat lain yang juga pernah terlibat dalam pemberontakan bersama Malaikat Gerbang Neraka. Dan para datuk sesat itu pergi menyelamatkan diri, setelah melihat kegagalan usaha Malaikat Gerbang Neraka. Tentu saja kemunculan para datuk sesat itu membuat Panji bergerak mundur, dan siap menghadapi pertarungan.

"Datuk Panglima Sesat, Memedi Karang Api, dan… Kuntilanak Bukit Mandau...?" desis Panji mengenali ketiga orang datuk sesat yang tahu-tahu saja telah berkumpul, seperti tengah mempunyai suatu rencana. "Hm..., kemunculan mereka pasti akan mendatangkan bencana bagi dunia persilatan"

"He he he.... Kau masih mengenali kami rupanya, Pendekar Naga Putih? Kau tentu terkejut melihat kami dapat muncul bersama-sama, bukan?" tegur seorang lelaki tinggi besar berwajah kelimis. Dia mengenakan pakaian seperti seorang senapati. Tokoh itulah yang berjuluk Datuk Panglima Sesat. Seperti biasanya, tokoh menggiriskan itu selalu ditemani selusin laki-laki gagah berpakaian prajurit.

"Hm.... Tentu saja aku masih mengenali kalian, Pemberontak-pemberontak Hina! Dan kewajibanku adalah membekuk kalian agar negeri ini menjadi aman dari gangguan penjahat-penjahat keji macam kalian!" sahut Panji tanpa rasa gentar sedikit pun.

Walaupun Pendekar Naga Putih pernah bertarung dan dikeroyok datuk-datuk sesat itu, tapi sama sekali tidak merasa gentar. Bahkan, ia ingin menebus kekalahannya beberapa waktu yang lalu.

"He he he.... Bocah itu ternyata masih tetap saja sombong! Ia benar-benar patut diberi pelajaran seperti tempo hari, agar tidak sesumbar lagi...," Terdengar suara melengking tinggi, yang berasal dari Kuntilanak Bukit Mandau. Nenek berpakaian serba hijau itu melangkah sambil menudingkan tongkatnya ke wajah Panji.

"Kakang...!" Tiba-tiba perdebatan itu terhenti ketika terdengar seruan halus, yang disusul munculnya sosok ramping berpakaian serba hijau. Dara jelita itu adalah Kenanga yang menyusul Panji dengan meninggalkan Ki Janala serta Praba, setelah yakin kalau kedua orang itu tidak mendapatkan luka yang mengkhawatirkan. Kini Kenanga menatap tajam keempat sosok tubuh itu, sambil mencekal lengan kekasihnya.

"Kakang. Bukankah mereka..." Kenanga tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat anggukan kepala Panji. Dara jelita itu menjadi terkejut bukan main, karena kali ini yang dihadapi adalah datuk-datuk sesat dan empat penjuru. Tentu saja hatinya menjadi tegang.

Sementara itu, Kuntilanak Bukit Mandau melangkah mundur ketika melihat kemunculan dara jelita berpakaian serba hijau ini. Rupanya, nenek itu pun dapat mengenali Kenanga, dan tahu sampai di mana kesaktiannya. Maka, tentu saja ia tidak berani gegabah untuk langsung turun tangan, begitu mengingat kemunculan dara jelita yang pernah membuat geger dengan julukan Bidadari Iblis itu. Dan tentu saja, dengan kemunculan kekasihnya, membuat Panji semakin bertambah kuat. Alasan itulah yang membuat Kuntilanak Bukit Mandau terpaksa surut ke belakang, dan memandang rekan-rekannya meminta pendapat.

"Kita hajar saja mereka sekarang, Kakang. Lalu, kita serahkan ke Istana Mulawarta...," bisik Kenanga tanpa melepaskan tatapan matanya dari keempat so- sok datuk sesat itu.

"Tenanglah, Kenanga. Kita tunggu dulu apa kemauan mereka...," bisik Panji dengan sikap tenang. Kenanga terpaksa bungkam, dan menyerahkan keputusan kepada kekasihnya.

TIGA

Panji dan Kenanga menggeser langkahnya ketika melihat keempat datuk itu bergerak merenggang. Menghadapi tokoh-tokoh sakti seperti mereka, Pendekar Naga Putih tidak ingin gegabah. Maka, langsung saja 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan-nya dikerahkan, siap dipergunakan sewaktu-waktu.

Kenanga sendiri sudah menghunus Pedang Sinar Rembulan. Dara jelita itu pun sadar, yang kali ini dihadapi bukanlah tokoh-tokoh sembarangan. Oleh karena itu, senjatanya telah disiapkan dalam menghadapi serbuan lawan-lawannya.

"Hm..." Raja Iblis Jubah Merah yang menaruh dendam atas kematian kedua orang muridnya, menggeram gusar. Datuk sesat yang mengepalai tokoh-tokoh sesat wilayah selatan itu, melangkah berputar mendekati Pendekar Naga Putih dan Kenanga. Dari sorot matanya yang tajam, dapat ditebak kalau kematian Panji sangat diinginkannya.

Demikian pula halnya Kuntilanak Bukit Mandau. Nenek bungkuk udang yang menjadi pimpinan tokoh sesat di wilayah utara itu juga bergerak dari sebelah kanan Pendekar Naga Putih. Tongkat hitam di tangannya sudah diputar, membentuk gulungan sinar hitam yang menimbulkan angin menderu-deru. Daun dan rerumputan kering seketika beterbangan akibat putaran angin yang ditimbulkan tongkat hitamnya. Hal itu membuktikan, kekuatan tenaga dalam Kuntilanak Bukit Mandau tidak bisa diremehkan.

Memedi Karang Api dan Datuk Panglima Sesat pun tidak mau ketinggalan. Kedua tokoh puncak golongan sesat di wilayah timur dan barat itu sama-sama bergerak dari arah berlawanan, mengepung Panji dan Kenanga. Tampaknya, pertarungan dahsyat akan segera terjadi.

"Yeaaat...!" Dengan sebuah pekikan parau, tubuh cebol Raja Iblis Jubah Merah melayang dengan cengkeraman mautnya yang menyambar-nyambar.

Wuttt! Wuttt!

Panji yang membelakangi Kenanga, langsung saja memiringkan tubuhnya pada saat serangan lawan datang. Kemudian, disertai 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya, serangan itu dibalas dengan terjangan yang tidak kalah cepat dan ganasnya.

Sebentar saja, angin dingin telah berhembus seiring sambaran cakar naga Pendekar Naga Putih. Dan tentu saja Raja Iblis Jubah Merah tidak berani mengadu kekuatan secara langsung. Karena disadari tenaga sakti lawannya masih sangat tinggi. Maka cepat-cepat tubuhnya bergeser dengan lompatan pendek sambil mengirimkan tendangan kilat ke arah lambung Pendekar Naga Putih.

Pada saat yang bersamaan, Kuntilanak Bukit Mandau pun telah datang dengan serangan tongkatnya. Hembusan angin keras menderu-deru, membuat Panji sadar akan bahaya dari belakangnya. Dan untuk menghadapi dua serangan sekaligus, tubuhnya segera melenting ke udara dan berputaran beberapa kali. La-llu, sepasang telapak tangannya cepat didorong ke bawah, ke arah Raja Iblis Jubah Merah yang berada di bawahnya.

Whusss...!

Tentu saja pukulan jarak jauh Pendekar Naga Putih sangat berbahaya! Raja Iblis Jubah Merah sadar betul akan bahaya maut itu. Maka segera saja dia bergulingan sambil menyambut serangan dengan kibasan tangan kanannya.

Bresssh!

"Aihhh...?!"

Akibat pertemuan dua gelombang tenaga sakti itu, Raja Iblis Jubah Merah tidak bisa menahan pekikan. Tubuhnya yang cebol dan gemuk itu kontan mengge-llinding bagai bola, menjauhi arena pertempuran. Jelas, tokoh cebol itu merasa terkejut ketika lengannya terasa bagai lumpuh setelah berbenturan dengan sepasang telapak tangan Pendekar Naga Putih.

Bettt..!

Tiba-tiba sambaran angin tajam mengaung, datang mengiringi hantaman tongkat hitam Kuntilanak Bukit Mandau. Panji cepat mengegoskan tubuhnya ke samping, seraya mengulurkan tangannya hendak menghancurkan tongkat di tangan lawan. Namun, nenek itu ternyata sangat cerdik dalam memperhitungkan serangannya. Sebelum tercengkeram cakar naga Panji, tongkatnya sudah diputar setengah lingkaran. Bahkan langsung mengancam kepala lawan.

Tapi, yang kali ini dihadapi Kuntilanak Bukit Mandau adalah seorang pemuda yang telah digembleng oleh pengalaman-pengalaman mengerikan. Sehingga tidak heran kalau sabetan tongkat yang mampu menghancurkan batu karang sebesar kerbau itu mampu dielakkan dengan memutar tubuhnya menggunakan tenaga pinggang. Lalu, Panji berbalik memutar kakinya, menyapu kuda-kuda lawan.

Breeet..!

Sapuan kaki Panji ternyata hanya menyambar rerumputan kering, karena tubuh Kuntilanak Bukit Mandau telah berputaran melompat ke udara. Kesempatan baik itu tidak disia-siakan Panji. Cepat tubuhnya melesat ke arah pertempuran. Kenanga yang harus menghadapi keroyokan dua orang datuk sesat lainnya. Melihat kekasihnya telah terdesak hebat, Pendekar Naga Putih langsung terjun dan menerjang salah seorang dari pengeroyok.

Plak! Plak!

"Aihhh...!” Lelaki tinggi besar berpakaian senapati yang tak lain dari Datuk Panglima Sesat, memekik ketika dua buah pukulannya yang hampir dipastikan akan merobohkan Kenanga, terpental balik akibat papakan Pendekar Naga Putih. Bahkan lelaki tinggi besar itu terhuyung limbung beberapa langkah ke belakang, karena Panji mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya.

Kenanga yang saat itu telah merasa lelah menghadapi dua orang lawan, sempat menarik napas lega. Meskipun saat itu ia masih harus menyelamatkan diri dari gempuran Memedi Karang Api yang mencecarnya dengan serangan-serangan dahsyat.

Buggg!

"Aaakh...?!" Karena gerakannya semakin lambat, akhirnya Kenanga tidak mampu menghindari sebuah tendangan Memedi Karang Api yang singgah di lambung kanannya. Dan meskipun tenaga dalamnya sudah dikerahkan untuk melindungi, tetap saja tubuhnya terjengkang tak sanggup menerima tendangan keras dari datuk sesat itu.

"Yeaaah...!

Memedi Karang Api yang sepertinya sangat bernafsu untuk segera dapat melumpuhkan Kenanga, langsung menyusuli serangannya tanpa membuang-buang waktu lagi. Sepasang tangannya bergerak cepat, siap melumpuhkan dara jelita yang tengah berusaha bangkit itu.

Tapi, Panji tentu saja tidak sudi melihat kekasihnya sampai tewas di tangan datuk sesat itu. Maka dengan sebuah teriakan nyaring, tubuhnya sudah melesat mencegah tindakan Memedi Karang Api.

Dukkk, dukkk... Bukkk!

"Aaa...!"

Kecepatan gerak Pendekar Naga Putih benar-benar sangat mengagumkan! Sehingga, meskipun Memedi Karang Api telah mengerahkan kesaktian, tak urung sebuah tebasan sisi telapak tangan miring Panji bersarang di iganya. Akibatnya, tubuh kakek tinggi kurus itu terdorong dan hampir jatuh terpelanting. Untung saja kuda-kudanya segera dapat dikuasai. Meskipun begitu, tampak juga lelehan darah di sudut bibirnya. Rupanya, pukulan Panji telah membuat dada bagian dalam kakek itu terguncang!

"Kenanga! Kau tidak apa-apa...?" tanya Panji khawatir sambil memegang bahu kekasihnya yang tampak kelelahan.

"Aku tidak apa-apa, Kakang...," desah Kenanga sambil memijat lambungnya yang terasa nyeri. Dara jelita itu menatap wajah kekasihnya penuh kekhawatiran. Jelas, Kenanga lebih mencemaskan keselamatan pemuda itu ketimbang dirinya sendiri.

"Hm.... Rasanya aku harus bertarung mati-matian menghadapi mereka...!" geram Panji. Pendekar Naga Putih segera berbalik menghadapi keempat orang datuk sesat yang sudah bergerak maju mengepung.

"Kakang...," desah Kenanga.

Gadis itu merasa cemas ketika mendengar ucapan Panji. Meskipun disadari kalau kematian setiap saat bisa datang bagi orang-orang yang selalu bermain-main dengan maut seperti mereka, tapi hati kecil dara jelita itu tetap saja merasa khawatir.

"Menyingkirlah, Kenanga. Atau sebaiknya, tinggalkanlah tempat ini. Kalau masih bisa selamat, aku akan segera menemuimu di desa depan sana. Mudah-mudahan, letak desa itu tidak terlalu jauh, dan kau bisa mencapainya...," ujar Panji sambil menatap wajah kekasihnya yang tampak sangat mempesona di bawah siraman cahaya purnama.

"Tidak, Kakang. Mati atau hidup, kita harus tetap bersama. Aku tidak akan tahan menunggu dengan hati selalu gelisah. Lebih baik aku di sini saja bersamamu...," bantah Kenanga yang kali ini tidak menuruti permintaan Panji.

Melihat sinar mata yang menyimpan tekad bulat itu, Panji hanya menghela napas. Disadari kalau memaksa Kenanga untuk meninggalkan tempat itu tentu akan percuma saja. "Hm.... Terserah kaulah, Kenanga. Tapi untuk sekali ini, kuminta agar kau menyingkir saja dari sini. Apabila dalam enam puluh jurus dua orang dari mereka masih belum bisa ku robohkan, kau baru boleh membantu...," ujar Panji.

Kali ini, saran Panji dituruti oleh dara jelita itu. Dan kini, Kenanga segera menyingkir, menyaksikan dari kejauhan.

"He he he.... Rupanya kau masih sayang dengan nyawa dara jelita itu, Pendekar Naga Putih? Kau pasti takut kalau kulitnya yang putih halus itu akan lecet apabila bertarung dengan kami. Tapi, jangan khawatir. Aku akan senang sekali bila dapat membawanya pulang ke istanaku, dan akan kuangkat menjadi permaisuri ku...," kata Datuk Panglima Sesat, mengumbar kesombongannya.

Namun, Panji sendiri sama sekali tidak menyahut. Malah, matanya sudah dipejamkan sejenak, untuk memancing keluar 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’. Sebentar kemudian, terciptalah lapisan sinar kuning keemasan di sebelah kanan tubuh Pendekar Naga Putih. Sedangkan pada tubuh sebelah kirinya, terlapis kabut putih keperakan. Jelas sudah kalau saat itu Panji telah mengerahkan kedua tenaga dahsyatnya, dan menggabungkannya untuk menghadapi keroyokan empat orang datuk sesat dari empat penjuru angin.

"Gila...?!" Datuk Panglima Sesat sampai melangkah mundur melihat perubahan yang terjadi dalam diri pendekar muda itu. Hatinya sempat bergetar menyaksikan betapa pendekar yang masih berusia muda itu telah mampu menggabungkan dua unsur tenaga sakti berlainan sifat.

"Mustahil...?!"

"Ilmu sihir...?!"

Tiga orang datuk lainnya pun tidak kalah terkejut menyaksikan perubahan lawannya. Mereka benar-benar takjub dan semakin bertambah kagum terhadap pemuda tampan yang berjuluk Pendekar Naga Putih.

"Hm.... Tidak perlu gentar, Sahabat-sahabat. Meskipun seluruh kesaktiannya digunakan, mustahil dapat mengalahkan kita berempat. Mari kita lenyapkan pendekar celaka itu...," tegas Raja Iblis Jubah Merah, lantang.

Tentu saja ia khawatir melihat kawan-kawannya seperti gentar ketika melihat tindakan pemuda tampan berjubah putih itu. Maka, segera saja kakinya melangkah maju, untuk membuktikan ketidakgentaran terhadap lawannya. Memang, ia sendirilah yang lebih menaruh dendam terhadap Pendekar Naga Putih.

Mendengar ucapan Raja Iblis Jubah Merah, tentu saja ketiga orang datuk lainnya segera menyadari kekeliruan sikap mereka. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka kembali menyebar, mengepung Pendekar Naga Putih.

"Hiaaat..!" Raja Iblis Jubah Merah kembali membuka serangan, mendahului rekan-rekannya. Tubuh lelaki gemuk pendek itu bergerak maju dengan langkah-langkah bersilangan. Sepasang tangannya bergerak cepat, saling mendahului untuk menyarangkannya ke tubuh lawan.

Memedi Karang Api pun tidak ketinggalan. Tokoh tinggi kurus berjubah putih kumal itu bergerak maju dengan jurus 'Ular Beracun Menembus Kabut'. Sepasang tangannya bergerak silih berganti, dengan kecepatan luar biasa. Bahkan terkadang lengannya terlihat memanjang melebihi ukuran biasa. Jelas, datuk tinggi kurus itu telah mengeluarkan ilmu andalan yang jarang digunakan.

Datuk Panglima Sesat dan Kuntilanak Bukit Mandau seolah bergerak saling mendahului. Mereka juga telah menggunakan ilmu andalannya, ketika melihat Panji telah mengeluarkan ilmu-ilmu aneh yang dahsyat. Sehingga, Pendekar Naga Putih sendiri sempat merasa tegang menghadapi serbuan empat gembong kaum sesat yang berkepandaian menggiriskan itu.

"Haiiit..!"

Ketika empat orang pengeroyok itu sudah semakin dekat, Panji mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah'nya yang menggetarkan jantung. Bersamaan dengan itu, tubuhnya bergerak cepat sambil mengerahkan jurus 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya yang luar biasa. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, tubuhnya berkelebatan menyambut serbuan empat orang lawannya.

Pertarungan yang terjadi kali ini benar-benar dahsyat. Kenanga sendiri sampai berdebar melihatnya. Betapa tidak? Angin pukulan berhawa maut yang silih berganti bertebaran ke sekitar arena pertarungan, telah membuat pohon-pohon besar di sekelilingnya rebah. Bahkan dara jelita itu harus bergerak lebih menjauh, karena ada serangkum angin pukulan yang nyaris melukainya.

Untunglah Kenanga sudah cepat melesat menghindar, sehingga pohon dibelakangnyalah yang berderak roboh terkena pukulan maut yang nyasar. Belum lagi datangnya bebatuan yang tersepak kaki-kaki tokoh-tokoh sakti itu. Padahal, lontaran batu itu sanggup memecahkan kepala seorang tokoh yang belum memiliki tenaga dalam tinggi. Benar-benar mengerikan pertarungan lima tokoh dahsyat itu!

Panji sendiri dalam menghadapi pertarungan mati-matian itu harus menguras seluruh kesaktiannya. Jadi wajar saja kalau merasa sedikit kewalahan, karena lawan-lawannya bukan tokoh sembarangan. Mereka adalah gembong kaum sesat yang memiliki kesaktian luar biasa. Sehingga, tidak mudah bagi Pendekar Naga Putih untuk dapat merobohkan dalam waktu singkat. Bahkan, terkadang harus bergerak mundur untuk menghindari gempuran-gempuran hebat dari lawan-lawannya.

"Heaaah...!"

Ketika pertarungan menginjak jurus ketiga puluh, Panji kembali mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah'nya. Tubuh pemuda itu kini berkelebatan laksana sambaran kilat. Kemudian tubuhnya melenting ke udara, bagaikan seekor naga perkasa yang terbang ke langit. Dan dari atas, tubuhnya berputaran beberapa kali, sebelum meluncur turun melepaskan jurus 'Naga Sakti Meluruk ke Dalam Bumi’.

Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api yang menjadi sasaran, terkejut bukan main! Mata mereka begitu silau melihat lingkaran sinar kuning keemasan yang berbaur dengan sinar putih keperakan yang berputaran. Serbuan hawa dingin dan panas yang berganti-ganti, membuat tubuh mereka bagaikan tengah dilanda demam hebat. Sadar akan bahaya yang tidak mungkin sanggup diatasi, maka kedua datuk sesat ini segera melempar tubuhnya dan bergulingan menjauhi tempat itu.

Rupanya, mereka belum memahami sifat jurus yang kali ini digunakan Panji. Buktinya, meskipun mereka berusaha menghindar sejauh-jauhnya, serangan pemuda itu terus mengejar kedua orang sasaran, seperti memiliki mata saja. Sehingga, baik Raja Iblis Jubah Merah maupun Memedi Karang Api terpaksa menangkis serangan lawan disertai pengerahan seluruh kekuatan tenaga saktinya.

Lagi-lagi, mereka tidak tahu akan sifat jurus pamungkas dan Pendekar Naga Putih. Ternyata baik menghindar atau menangkis, sama-sama berbahaya. Serangan yang sukar dihalau itu meluncur disertai sambaran angin bercicit tajam. Dan...

Plak! Desss...!

Meskipun pada hantaman pertama kedua orang datuk sesat itu masih bisa memapak, namun gerakan melingkar lengan pemuda itu benar-benar tak terduga dan sulit dihindari lagi. Akibatnya, tubuh kedua orang pentolan kaum sesat itu seketika terjungkal memuntahkan darah segar. Kedua datuk sesat itu terus terguling-guling, hingga sejauh empat tombak dari tempat berdiri semula.

Meski demikian, mereka masih berusaha bergerak bangkit sambil menyeringai kesakitan. Mereka baru terkejut ketika merasakan sekujur tubuh sukar digerakkan. Hawa panas dan dingin yang berganti-ganti, membuat mereka terkadang menggigil kedinginan, dan terkadang mendesis-desis kepanasan. Jelas, akibat pukulan pada tubuh mereka tidak bisa lenyap untuk beberapa saat. Sehingga, kedua datuk sesat itu hanya bisa pasrah menanti kematian.

Sementara itu, Datuk Panglima Sesat dan Kuntilanak Bukit Mandau seperti sadar akan keadaan kedua orang rekan mereka. Tampak keduanya berusaha menggempur Pendekar Naga Putih, agar menjauhi kedua orang rekan mereka.

Panji sendiri yang baru saja menjejakkan kedua kaki di atas tanah, mau tak mau harus berlompatan menghindari hujan serangan Datuk Panglima Sesat dan Kuntilanak Bukit Mandau. Dan saat yang sedikit itu digunakan sebaik-baiknya oleh kedua datuk sesat itu untuk segera melompat jauh ke belakang. Setelah menyambar tubuh kedua orang rekannya yang masih belum mampu bangkit, mereka pun langsung mencelat jauh, melarikan diri.

Sementara itu, dua belas orang pengawal Datuk Panglima Sesat segera saja menghambur ketika melihat pimpinannya telah melesat pergi meninggalkan tempat ini.

Panji sendiri tidak berusaha mengejar, karena lebih mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya. Dugaannya, bisa saja para datuk itu mengambil jalan berputar selagi ia mengejar. Dan mereka bisa saja tiba kembali di tempat semula, untuk membekuk Kenanga. Alasan itulah yang membuat Panji tidak berusaha mengejar.

"Kau tidak apa-apa, Kakang...," tanya Kenanga seraya memeluk tubuh kekasihnya dengan helaan napas lega. Panji sendiri hanya menggelengkan kepala. Kemudian, diajaknya dara jelita itu untuk segera meninggalkan hutan ini

********************

EMPAT

"Hm.... Kesaktian Pendekar Naga Putih memang sangat luar biasa! Rasanya, hanya gabungan ilmu kita berempat sajalah yang mungkin bisa melumpuhkannya. Makanya, kita harus segera menyelesaikan rencana yang telah disepakati bersama...," kata seorang lelaki tinggi besar.

Orang itu berwajah kelimis, karena kumis danjenggotnya telah tercukur bersih. Menilik dari pakaiannya yang seperti senapati, sudah bisa dipastikan kalau lelaki tinggi besar itu adalah Datuk Panglima Sesat, seorang gembong golongan hitam di wilayah timur.

Tiga orang lainnya saling bertukar pandangan sejenak. Mereka kini duduk mengelilingi sebuah meja kayu bulat. Dua di antara keempat datuk sesat itu tampak masih agak pucat wajahnya. Rupanya kesehatan mereka berdua belum pulih setelah bertarung melawan Pendekar Naga Putih kemarin.

"Hm..." Lelaki pendek gemuk brewok yang mengenakan jubah berwarna merah itu bergumam. Pandangannya tampak dilayangkan ke arah Datuk Panglima Sesat. "Persiapan kita telah berjalan cukup lama, dan hampir sempurna. Tapi melihat kesaktian Pendekar Naga Putih yang telah maju sangat pesat, kita masih harus banyak berbenah diri. Begitu semuanya telah sempurna, barulah pemuda yang merupakan penghalang besar bagi setiap kaum kita digempur...," tandas Raja Iblis Jubah Merah setelah berpikir beberapa saat.

Datuk Panglima Sesat, Memedi Karang Api, dan Kuntilanak Bukit Mandau sama-sama menganggukkan kepala. Mereka semua maklum setelah merasakan kesaktian Pendekar Naga Putih, yang memang telah maju pesat. Untuk ini, rupanya mereka harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri apabila hendak melenyapkan Pendekar Naga Putih.

"Ada baiknya bila kita sekarang menengok pasukan yang telah dipersiapkan itu. Kemudian, mereka harus dicoba sebelum dilepaskan untuk menggempur Pendekar Naga Putih. Bagaimana...?" usul Kuntilanak Bukit Mandau, setelah mendengar ucapan kawan-kawannya.

"Aku setuju...," sahut Memedi Karang Api, langsung.

Sedangkan dua orang lainnya ikut menyatakan persetujuannya. Keempat datuk golongan hitam itu pun sama-sama bergerak bangkit, dan meninggalkan ruang pertemuan yang berlangsung di kediaman Datuk Panglima Sesat. Kemudian, mereka melangkah ke belakang bangunan besar dan megah ini.

Tidak berapa lama kemudian, keempat orang datuk sesat itu tiba di bagian belakang bangunan yang berupa sebuah tanah lapang luas. Di tempat itu, terlihat delapan orang yang rata-rata berperawakan tegap tengah sibuk berlatih. Gerakan-gerakan mereka terlihat sangat gesit dan mantap. Bisa dilihat kalau ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam mereka tidak bisa dipandang remeh.

Setelah memperhatikan sejenak, Datuk Panglima Sesat bertepuk tangan perlahan sebanyak tiga kali. Karena dilakukan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi, tentu saja pengaruh tepukan itu segera terlihat.

Delapan orang lelaki muda berperawakan tegap itu serentak menghentikan gerakan dan berbalik menghadap keempat orang datuk sesat ini. Wajah mereka rata-rata dingin tanpa perasaan. Meski demikian, sorot mata mereka nampak demikian tajam dan menimbulkan rasa seram bagi yang memandang. Terlihat kedelapan sosok tubuh berpakaian warna-warni itu sama-sama membungkukkan kepala dengan sikap kaku. Sikap mereka jelas tidak wajar, dan seperti berada dalam pengaruh sihir.

"Hmhhh..." Datuk Panglima Sesat mengibaskan kedua tangannya ke kiri dan kanan, seperti memerintahkan mereka untuk berpencar. Kemudian, lelaki tinggi besar berpakaian senapati kerajaan itu melangkah maju ke tengah lapangan.

"Panglima Sesat! Rasanya terlalu berbahaya apabila kau hendak menghadapi mereka seorang diri. Meskipun ilmu gabungan yang kita ciptakan untuk mereka belum seluruhnya dikuasai, tapi tetap saja aku merasa kalau mereka tidak bisa dihadapi seorang diri...," Raja Iblis Jubah Merah memperingatkan rekannya yang rupanya hendak menjajal kemampuan delapan lelaki muda berwajah dingin itu.

"Hm.... Jangan khawatir, Iblis Jubah Merah. Jika dalam sepuluh jurus salah seorang dari mereka belum bisa kujatuhkan, barulah kalian boleh turun tangan...," sahut Datuk Panglima Sesat mengabaikan peringatan rekannya. Setelah berkata demikian, lelaki tinggi besar itu kembali bertepuk tangan dua kali. Sepertinya, tepukan itu merupakan isyarat bagi kedelapan orang itu untuk mulai menyerang.

Kedelapan lelaki muda yang terbentuk dalam satu pasukan yang telah terlatih baik itu, segera saja bergerak mengepung dari delapan penjuru. Mereka belum memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang, namun sebaliknya malah berputaran saling berpindah-pindah tempat.

"Hm..." Datuk Panglima Sesat hanya bergumam perlahan meskipun saat itu putaran lawan-lawannya semakin bertambah cepat, hingga yang terlihat hanyalah bayangan berwarna-warni mengelilinginya. Baru saja datuk sesat itu hendak memulai serangan, tiba-tiba saja gerakan berputar kedelapan orang itu terhenti dan berbalik arah. Semua itu dilakukan dengan sangat cepat dan tanpa kesulitan. Mau tak mau, Datuk Panglima Sesat diam-diam harus mengagumi tindakan lawan-lawannya.

"Haaat…"

Dengan sebuah lengkingan nyaring yang panjang, kedelapan orang itu pun mulai membuka serangan. Dua orang berseragam biru muda yang berada di depan Datuk Panglima Sesat, melesat ke depan sambil melancarkan tusukan jari-jari tangan yang menimbulkan suara angin berdecitan. Kelihatannya, serangan itu sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian. Atau, paling tidak luka dalam yang parah.

Serangan dua orang berseragam biru muda itu belum lagi tiba, namun dua orang lawan berseragam merah darah dari sebelah kanan Datuk Panglima Sesat juga telah menerjang dalam waktu hampir bersamaan. Bahkan serangan mereka juga tidak kalah berbahayanya!

"Haaat..!"

Datuk Panglima Sesat segera saja menggeser tubuhnya, menghindari serangan dua orang berseragam biru muda dari depan. Namun, justru dua orang berseragam merah yang menyerang dari kanannya itulah yang lebih berbahaya. Padahal serangan pertama tadi hanya sekadar memancing perhatian Datuk Panglima Sesat.

Bettt! Bettt!

Dua buah pukulan yang menimbulkan suara angin tajam, datang mengancam tubuh Datuk Panglima Sesat. Cepat tokoh sakti itu mengangkat kedua tangannya, untuk memapak serangan lawan. Dan...

Plak! Plak!

"Aihhh,..?!” Terdengar seruan tertahan dari lelaki gagah itu ketika merasakan kuatnya gelombang tenaga pukulan kedua orang pengeroyoknya. Akibatnya, ia yang semula menganggap enteng serangan itu, hampir terjungkal dibuatnya. Jelas, Datuk Panglima Sesat tidak mengetahui kemajuan yang diperoleh kedelapan lelaki muda yang digembleng oleh Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api. Di lain pihak, Datuk Panglima Sesat dan Kuntilanak Bukit Mandau tidak terlalu memperhatikan. Maka, wajar saja kalau lelaki tinggi besar itu jadi terkejut ketika merasakan kekuatan pukulan lawan-lawannya.

Pertarungan berjalan semakin seru dan cepat. Datuk Panglima Sesat tampak mulai merasakan tekanan berat, setelah bertarung lebih dari lima jurus. Hal itu merupakan bukti kalau ilmu gabungan yang diciptakan empat orang datuk itu memang hebat sekali. Buktinya, Datuk Panglima Sesat yang tentu saja telah mengenal ilmu yang digunakan para pengeroyoknya, masih harus kerepotan menghindari hujan serangan. Bahkan setelah sepuluh jurus lebih, dia beberapa kali nyaris celaka. Mendapat kenyataan ini, karuan saja hati datuk tinggi besar ini menjadi tegang.

Kuntilanak Bukit Mandau yang melihat rekannya mulai kewalahan, segera terjun ke arena pertempuran. Begitu memasuki arena, tongkat hitam di tangannya langsung bergerak berputaran dengan suara menderu-deru laksana ratusan lebah marah.

Tapi, delapan orang laki-laki muda berwajah dingin dan bersikap kaku itu sama sekali tidak menjadi mundur. Bahkan desakan mereka pun tidak berkurang, meski Datuk Panglima Sesat telah dibantu Kuntilanak Bukit Mandau yang juga memiliki kesaktian menggiriskan. Malah mereka masih saja dapat didesak kedelapan lelaki muda itu. Melihat hal ini, tentu saja hati nenek bungkuk udang itu menjadi gemas, meski ada rasa kebanggaan melihat hasil jerih payahnya.

Plakkk! Bukkk!

"Uuugh...!" Datuk Panglima Sesat yang berusaha mati-matian menghindari dan membalas serangan lawan, terpaksa harus merelakan tubuhnya terkena hantaman salah seorang pengeroyoknya. Akibatnya, tubuhnya terpental beberapa langkah ke belakang. Kemudian, dia bergerak bangkit secepat kilat dan kembali melakukan perlawanan hebat. Dari lelehan darah di sudut bibirnya, jelas kalau Datuk Panglima Sesat agak terguncang bagian dalam tubuhnya, akibat pukulan lawan yang singgah di lambung kirinya.

Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api yang mengetahui betul akan kehebatan pasukan itu, segera saja melayang ke dalam arena pertarungan. Sehingga, kali ini kedelapan lelaki muda itu harus menghadapi empat orang datuk sesat yang rata-rata memiliki kesaktian sangat dahsyat.

Turunnya Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api, ternyata tidak juga merubah keadaan. Dengan gerakan-gerakan yang semakin hebat dan berbahaya, kedelapan lelaki muda berwajah dingin itu terus mendesak. Akibatnya, empat orang datuk sesat itu jadi kelabakan. Kini, mereka semakin sadar kalau pasukan yang telah dipersiapkan itu benar-benar tangguh.

"Haiiit..!"

Dibarengi pekikan nyaring, Memedi Karang Api melesat keluar dari gelanggang pertempuran. Kemudian, disusul berturut-turut ketiga orang datuk lainnya. Dengan beberapa kali lompatan saja, keempat orang datuk sesat itu telah berada sejauh tiga tombak dari lawan-lawannya.

"Bagus..., bagus...! Kalian betul-betul tidak mengecewakan...," puji Memedi Karang Api sambil bertepuk tangan dengan wajah berseri.

Sementara itu, delapan orang lelaki muda yang menjadi lawan mereka tadi sama sekali tidak menunjukkan tanggapannya. Mereka hanya membungkuk dengan wajah sedingin es. Meskipun begitu, bibir mereka terlihat menggerimit mengucapkan sesuatu.

"Terima kasih, Tuan ku...," suara delapan orang laki-laki berpakaian warna-warni itu bergaung jelas. Ternyata, gerakan bibir yang sepertinya hanya berupa bisikan itu terdengar sangat jelas. Pasti hal itu dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam.

"Hm.... Meskipun mereka memang tidak bisa kita taklukkan, tapi.... Rasanya mereka belum cukup kuat untuk menghadapi Pendekar Naga Putih. Paling tidak, mereka harus dipersiapkan beberapa waktu lagi. Setelah itu, barulah mereka bisa melaksanakan tugas yangteramat penting itu...," kata Kuntilanak Bukit Mandau.

Sepertinya, nenek ini masih belum puas, meskipun memang harus diakui kehebatan pasukan itu. Tapi karena telah beberapa kali bentrok dengan Pendekar Naga Putih, maka dia masih kurang yakin kalau pasukanyang tengah dipersiapkan itu belum mampu menghadapi Pendekar Naga Putih. Apalagi, setelah ia sendiri menyaksikan kemajuan pendekar muda yang digdaya itu.

"Sejak pertama tadi sudah kukatakan, kita masih harus mempersiapkan mereka lebih sempurna. Kelak setelah mereka sudah menguasai ilmu ciptaan kita bersama, barulah ditugaskan untuk melenyapkan Pendekar Naga Putih," timpal Memedi Karang Api.

"Benar, Kuntilanak Bukit Mandau. Oleh karena itu, mulai sekarang mereka harus dipersiapkan bersama-sama. Setelah itu, aku yakin Pasukan Pembunuh ini akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dan tidak perlu diragukan lagi...," tambah Raja Iblis Jubah Merah. Nada suaranya terdengar penuh kebanggaan dan keyakinan.

"Hm.... Hal itu memang tidak kuragukan lagi. Tapi..., bagaimana dengan kemungkinan kalau mereka berkhianat? Seperti kita semua sudah tahu, Pendekar Naga Putih memiliki ilmu pengobatan yang tidak kalah dibanding Raja Obat Nah! Hal itulah yang masih mengganggu pikiranku...," ungkap Datuk Panglima Sesat, tentang kekhawatirannya.

Kuntilanak Bukit Mandau yang sepertinya juga memiliki pemikiran serupa mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya, dia menyetujui juga kekhawatiran Datuk Panglima Sesat.

"He he he! Hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Obat-obat ramuan yang ku jejali, telah membuat otak mereka tidak dapat bekerja lagi. Kecuali, oleh perintah kita berempat. Pokoknya, mereka tidak akan bisa terpengaruh lagi. Dan, aku telah memperhitungkannya jauh-jauh hari mengenai hal itu. Mereka memang bisa menjadi ancaman bagi kita, apabila dibiarkan hidup lama-lama. Itulah sebabnya, aku menjejalkan sejenis racun mematikan, yang membuat umur mereka tidak akan lebih dari dua bulan. Setelah itu, mereka akan tewas dengan pembuluh darah pecah, dan tidak mungkin bisa diobati lagi. Jadi, kalian tidak perlu lagi mengkhawatirkannya," jelas Memedi Karang Api.

Rupanya dia telah mempersiapkan segalanya dengan cermat dan teliti. Sehingga, baik Datuk Panglima Sesat maupun Kuntilanak Bukit Mandau sama-sama mengangguk penuh kepuasan. Keraguan mereka pun pupus setelah mendengar penjelasan yang melegakan hati itu.

"Hm Kalau begitu, apa lagi yang ditunggu? Marilah kita segera menyelesaikan pekerjaan ini. Setelah itu, mereka kita kirim untuk membunuh Pendekar Naga Putih. Dan apabila pendekar muda itu telah tewas, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Maka, kita berempat akan menguasai dunia persilatan. Ha ha ha !" kata Datuk Panglima Sesat seraya tertawa. Sepertinya, dia memiliki keinginan untuk menjadi raja dunia persilatan.

"He he he. Mengapa kau berpikiran sempit sekali, Sahabat? Rencanaku justru jauh lebih besar lagi. Sebelum membunuh Pendekar Naga Putih, aku akan menugaskan Pasukan Pembunuh ini untuk membunuh Prabu Pungga Lawa. Ini merupakan ujian berat bagi mereka, karena istana merupakan gudangnya tokoh-tokoh sakti. Nah! Apabila berhasil, mereka harus melenyapkan Pendekar Naga Putih. Bagaimana? Apakah rencanaku itu jauh lebih baik dari keinginanmu, Datuk Panglima Sesat..?" usul Memedi Karang Api.

Sepertinya, datuk itu masih mendendam terhadap penguasa Kerajaan Mulawarta. Dan dia memang ingin melanjutkan cita-cita Malaikat Gerbang Neraka, yang pernah dibantunya dalam merebut kerajaan itu dari tangan Prabu Pungga Lawa.

Untuk lebih jelasnya, silakan ikuti episode Malaikat Gerbang Neraka dan Rahasia Pedang Naga Langit

"Hei?! Itu sangat berbahaya, Memedi Karang Api! Bagaimana kalau pasukan kecil yang telah dipersiapkan ini sampai tertangkap, atau terbunuh? Bukankah jerih payah kita selama ini akan sia-sia saja? Rasanya, aku kurang setuju pada rencanamu itu! Terlalu berbahaya!" bantah Datuk Panglima Sesat.

Jelas, dia kurang setuju terhadap rencana Memedi Karang Api, karena khawatir kalau Pasukan Pembunuh yang telah dipersiapkan untuk melenyapkan Pendekar Naga Putih akan tewas atau tertangkap oleh prajurit istana. Tentu saja hal itu tidak diinginkannya.

"Jangan bodoh, Panglima Sesat! Meskipun Pasukan Pembunuh dipersiapkan untuk melenyapkan Pendekar Naga Putih, tetapi kita harus mengujinya terlebih dahulu. Dan satu-satunya ujian yang paling baik hanyalah dengan mengacaukan istana. Itu sebabnya aku telah merencanakannya dengan baik...!" bantah Memedi Karang Api, tidak mau kalah.

Kakek itu memang tetap pada rencananya semula, dan tidak mempedulikan bantahan Datuk Panglima Sesat. Sehingga, lelaki gagah bertubuh tinggi besar itu menggeram marah. Maka, suasana pun semakin bertambah tegang ketika kedua orang datuk itu telah siap saling gempur!

"Bodoh! Hentikan pertengkaran tak berguna ini...!" sentak Raja Iblis Jubah Merah, berusaha menengahi. Lelaki gemuk berwajah brewok itu tentu saja tidak ingin rencana yang telah disusun dengan susah-payah, hancur karena perpecahan di antara mereka.

Namun, campur tangan Raja Iblis Jubah Merah ditanggapi lain oleh Datuk Panglima Sesat. Lelaki tinggi besar itu menggeram, mengira Raja Iblis Jubah Merah hendak membantu Memedi Karang Api. Maka Datuk Panglima Sesat segera mundur beberapa langkah, seperti bersiap menghadapi keroyokan Memedi Karang Api dan Raja Iblis Jubah Merah.

"Hm Meskipun harus menghadapi keroyokan kalian, jangan dikira aku akan gentar. Mari kita mengadu nyawa...!" dengus Datuk Panglima Sesat, geram. Langsung saja jurus-jurus ampuhnya disiapkan. Sehingga, baik Raja iblis Jubah Merah maupun Memedi Karang Api sama-sama melompat ke belakang.

"Tahan amarah mu, Panglima Sesat! Aku tidak berpihak kepada siapa pun. Tapi, perlu diingat musuh akan tertawa apabila mendengar kita saling berbunuhan di antara rekan sendiri. Bahkan, dunia persilatan akan menertawai kita. Hm... Apakah kalian berdua ingin mendapatkan cemoohan seperti itu? Kalau memang itu yang diinginkan, silakan kalian bertarung sampai mati! Aku tidak peduli lagi!" bentak Raja Iblis Jubah Merah. Laki-laki berjubah merah itu memang menjadi jengkel melihat gelagat kalau pertarungan seperti sulit dihindari lagi.

"Hm.... Tapi aku tidak sudi mengikuti rencana Memedi Karang Api yang sangat berbahaya! Untuk apa jerih payah kita selama ini kalau akhirnya hanya untuk mengantarkan Pasukan Pembunuh itu ke akhirat, sebelum melenyapkan Pendekar Naga Putih?!" tandas Datuk Panglima Sesat, tetap pada pendiriannya semula.

"Aku juga tidak suka dengan rencanamu yang sempit dan tidak mendatangkan keuntungan itu!" sergah Memedi Karang Api, juga tak mau kalah. Ia tetap menganggap kalau rencana Datuk Panglima Sesat tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu saja.

"Hm... Mengenai rencana itu, biarlah kita rundingkan belakangan. Sekarang yang penting, Pasukan Pembunuh harus disiapkan secara lebih sempurna. Setelah itu, barulah kita adakan mufakat. Siapa yang mendapatkan suara terbanyak dari kita berempat, maka rencana itulah yang harus disetujui. Bagaimana...?" usul Raja Iblis Jubah Merah.

Jalan tengah itu ternyata membuat Datuk Panglima Sesat dan Memedi Karang Api saling berpandangan sejenak. Terlihat mereka saling mengangguk setuju, dan tertawa terbahak-bahak.

"Aku setuju...," sambut Datuk Panglima Sesat. Datuk itu tampak kembali sudah bersikap biasa dan wajar. Sedikit pun tidak kelihatan kalau di antara mereka pernah hampir saling bentrok.

Raja Iblis Jubah Merah dan Kuntilanak Bukit Mandau sama-sama menarik nafas lega. Mereka pun kembali ke tujuan semula, menyempurnakan ilmu Pasukan Pembunuh yang telah dibentuk itu.

********************

LIMA

Malam sudah cukup larut. Cahaya sang dewi malam yang temaram, tak mampu menerobos kegelapan. Bintang yang bertaburan bagaikan lampu-lampu penghias malam, membiaskan cahayanya untuk membantu sang rembulan menerangi permukaan bumi.

Para peronda yang berjaga di sekitar bangunan induk Kerajaan Mulawarta, telah berganti. Rombongan pertama segera berputar ke sekeliling bangunan induk. Sedangkan rombongan yang bertugas menggantikan, berjaga di pos yang telah tersedia.

Belum berapa lama rombongan kedua itu beristirahat, tiba-tiba muncul seorang lelaki gagah berusia lima puluh tahun yang mendatangi pos. Serentak delapan orang prajurit itu bangkit, dan membungkuk hormat kepada lelaki gagah berpakaian senapati itu.

"Hm.... Ada apa Tuan Senapati Jagaraksa malam-malam begini mendatangi pos penjagaan? Tidak biasanya beliau berbuat seperti ini...," desis kepala jaga yang berpangkat perwira. Memang, kedatangan panglima gagah itu tentu saja membuat para penjaga menjadi tegang, takut-takut kalau telah berbuat salah.

"Hm..." Lelaki gagah bernama Senapati Jagaraksa itu hanya menggumam seperti balasan penghormatan para prajuritnya. Sepasang matanya yang tajam mengawasi wajah-wajah tertunduk di depannya. Sehingga, delapan orang prajurit, termasuk perwira jaga itu semakin berdebar. Mereka seperti menanti ucapan yang bakal keluar dari mulut panglima gagah itu.

Senapati Jagaraksa belum lama menjabat sebagai Panglima Kerajaan Mulawarta. Semula, ia adalah seorang pendekar besar yang tangguh. Julukannya, Pendekar Pedang Perak. Jabatan itu diperoleh setelah turut membantu dalam menghancurkan pemberontak yang hampir-hampir berhasil merebut Kerajaan Mulawarta. Mengingat jasa-jasa serta kesaktiannya yang tinggi, maka Prabu Pungga Lawa menganugerahkan jabatan senapati.

Meskipun demikian, Senapati Jagaraksa tidak menjadi tinggi hati dan berbuat sewenang-wenang terhadap bawahan. Sikapnya yang tegas dan memperhatikan bawahan, membuat para prajurit dan perwira merasa hormat dan segan terhadapnya. Jadi wajar saja kalau para prajurit jaga malam itu merasa tegang ketika melihat Senapati Jagaraksa datang dan tiba-tiba memeriksa.

"Maafkan kami, Tuan Panglima. Kedatangan Tuan benar-benar membuat kami terkejut dan bertanya-tanya. Kami takut kalau-kalau telah berbuat kesalahan. Mohon Tuan menjelaskan...," pinta perwira berusia empat puluh tahun yang tubuhnya tinggi tegap. Kepala perwira itu tertunduk dalam, menanti jawaban atasannya. Demikian pula ketujuh orang prajurit lainnya. Mereka sama-sama menanti dengan dada berdebar.

"Hm..., kalian sama sekali tidak berbuat salah. Aku hanya ingin berjalan-jalan sambil memeriksa sekitar tempat ini. Aku merasa gembira melihat kalian yang penuh semangat dalam melaksanakan tugas. Nah, Tenangkanlah hati kalian, dan selamat bertugas...," ucap lelaki gagah itu. Senapati Jagaraksa segera melangkah meninggalkan kedelapan peronda yang sama-sama menghela napas lega. Mereka kembali membungkuk hormat, saat senapati gagah itu berjalan pergi.

"Hm.... Kalau sampai Senapati Jagaraksa keluar seorang diri dan memeriksa sekeliling bangunan induk ini, pasti bakal ada sesuatu yang terjadi. Meskipun hal itu belum pasti, tapi kewaspadaan harus lebih ditingkatkan...," pesan perwira kepala jaga itu. Rupanya, dia cepat dapat meraba gelagat dari sikap atasannya yang menurutnya agak aneh. Dan perasaan itu membuatnya harus mengingatkan kawan-kawannya agar lebih bersiaga.

Dan, apa yang diperkirakan perwira jaga itu memang tidak berlebihan. Saat itu, tidak jauh dari pos penjagaan, tampak beberapa sosok bayangan hitam berkelebat menuju bangunan induk. Gerakan mereka terlihat sangat gesit dan terlatih baik. Sehingga, sedikit pun tidak menimbulkan suara mencurigakan saat melangkah. Jelas, ilmu meringankan tubuh mereka telah mencapai tingkat tinggi.

Sebagai seorang senapati dan bekas pendekar petualang, Senapati Jagaraksa sepertinya merasakan ketidakwajaran suasana malam ini. Senapati Jagaraksa tahu kebiasaan orang-orang persilatan, apabila ingin menyatroni istana selalu melewati jalan atas. Maka kepalanya seringkali menengadah ke atap-atap bangunan. Dan suatu ketika ia sempat menangkap sosok-sosok hitam yang berkelebatan di atas atap bangunan.

"Hm.... Perasaanku rupanya tidak salah. Siapa pula yang berani mati mendatangi istana ini? Dan apa pula tujuan mereka...?" desis Senapati Jagaraksa bergumam seorang diri.

Lelaki gagah itu mendekam, merendahkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh sosok-sosok tubuh di atas atap. Dan kalau tidak salah hitung, jumlahnya sekitar delapan orang. Melihat cara mereka bergerak, dada Senapati Jagaraksa seketika berdebar tegang. Ia sadar, kedelapan sosok bayangan hitam itu rata-rata memiliki ilmu meringankan tubuh yang beberapa tingkat di atas kepandaiannya! Tidak heran kalau lelaki gagah itu menjadi terkejut.

"Gila! Hal ini tidak boleh dibiarkan! Aku harus memberitahukan yang lain untuk bersiap siaga...," gumam Senapati Jagaraksa yang segera berlari menuju pos penjagaan semula yang didatanginya.

"Hahhh...?!" Betapa terkejutnya hati senapati gagah itu ketika melihat para penjaga di pos telah bergeletakan tewas. Hal itu diketahuinya setelah memeriksa kedelapan prajurit jaga yang rata-rata telah tertembus sebatang jarum merah pada bagian leher.

"Keparat! Mereka jelas pembunuh-pembunuh keji...!" geram Senapati Jagaraksa. Langsung saja laki-laki gagah itu memukul kentongan tanda bahaya dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Suara kentongan terdengar bertalu-talu memecah keheningan malam. Kemudian, Senapati Jaga- raksa telah melesat naik ke atap bangunan, mengejar sosok-sosok bayangan hitam yang diduga pasti menuju istana tempat kediaman Prabu Pungga Lawa.

"Heaaat..! Hendak lari ke mana kalian, Penjahat- penjahat Busuk...?!" bentak Senapati Jagaraksa, seraya mencabut pedang peraknya dan langsung menyerang orang-orang di bawahnya.

Bettt! Trang...!

"Akhhh...?!" Senapati Jagaraksa berteriak kaget ketika pedang- nya dipapaki salah seorang berpakaian hitam. Bahkan tubuhnya hampir terpelanting ke tanah. Untung saja, ia masih bisa mengimbangi tubuhnya. Sehingga, tubuhnya melenting ke udara, lalu mendarat dengan kuda-kuda kokoh.

Sementara itu, belasan orang prajurit yang memergoki delapan lelaki terbungkus pakaian serba hitam, langsung mengeroyok. Namun, tak lama terdengar jeritan susul-menyusul. Sebentar saja, nyawa belasan prajurit itu telah melayang akibat pukulan hebat yang dilontarkan tujuh orang lelaki berseragam serba hitam itu. Sementara orang berseragam hitam yang satu lagi, telah melesat menyerang Senapati Jagaraksa.

"Gila! Siapa orang-orang ini...? Kepandaian mereka benar-benar hebat! Rasanya aku bukan tandingan mereka...!" desis Senapati Jagaraksa. Laki-laki itu menjadi terkejut bukan main, menyaksikan belasan orang prajurit pilihan yang bertugas meronda istana induk, dapat dilumpuhkan hanya dalam beberapa gebrakan saja. Betul-betul sukar dapat dipercaya!

Tapi, senapati gagah itu tidak bisa berpikir lama- lama, karena saat itu serangan lawan telah datang bagaikan gelombang angin topan yang menggiriskan! Sadar kalau serangan lawan terlalu sukar dibendung, Senapati Jagaraksa langsung saja berlompatan menjauh. Namun, gerakan sosok berpakaian serba hitam itu benar-benar membuat Senapati Jagaraksa terbelalak ngeri. Dengan kecepatan menggetarkan, sosok berpakaian hitam itu terus melesat memperhebat serangannya. Sehingga, lelaki gagah yang terkenal sebagai Pendekar Pedang Perak itu merasa kewalahan menghadapinya.

"Hahhh...!" Senapati Jagaraksa yang sudah tidak punya kesempatan berkelit, mencoba memapak cengkeraman lawan dengan mata pedangnya.

Trang!

"Aaakh...!" Untuk kesekian kalinya, Senapati Jagaraksa memekik kesakitan. Kali ini, rupanya lawan telah menambah kekuatan tenaganya. Buktinya, senapati gagah itu sampai terpelanting dengan lengan terasa lumpuh dan ngilu.

Plak!

"Uuugh...!" Meskipun masih berusaha mengelak, tak urung bahu kanan Senapati Jagaraksa terkena hantaman telapak tangan lawan. Akibatnya, tubuh lelaki gagah itu kembali terpelanting mencium tanah. Darah segar tampak meleleh keluar dari sudut bibirnya. Senapati Jagaraksa merasakan bahunya bagaikan remuk akibat tamparan lawan. Dan rasanya, ia tidak mungkin lagi bisa menyelamatkan diri dari ancaman pukulan lawan yang kembali tiba mengancam.

"Yiaaat..!"

Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Senapati Jagaraksa, tiba-tiba sesosok tubuh jangkung melayang dan langsung menusukkan pedangnya ke tubuh orang berpakaian hitam yang tengah meluncur ke arah Senapati Jagaraksa. Dan....

Trakkk! Buggg!

"Huagkhhh!"

Bukan main hebatnya gerakan yang dilakukan sosok orang berpakaian hitam itu. Dengan kecepatan yang tidak terlihat mata, sepasang tangannya yang berbentuk cakar bergerak memapak serangan sosok tubuh jangkung. Bahkan langsung dikirimkannya hantaman telapak tangan secara telak ke tubuh jangkung itu.

Sebagai akibatnya, sosok tubuh jangkung yang menyelamatkan Senapati Jagaraksa itu harus menerima kenyataan pahit. Tubuhnya kontan terjungkal kebelakang, kemudian disambut tamparan keras oleh salah seorang dari sosok berseragam hitam lainnya.

Brukkk!

Tanpa ampun lagi, sosok jangkung yang juga berpangkat senapati itu langsung ambruk ke tanah dengan kepala pecah. Tentu saja kejadian itu membuat Senapati Jagaraksa terpukul.

Untunglah saat itu para prajurit telah banyak berdatangan. Sehingga, delapan sosok tubuh tegap berpakaian serba hitam yang kini berkumpul, terperangkap dalam kepungan dua ratus lebih prajurit kerajaan. Belasan senapati, perwira, dan punggawa tampak berada di depan. Obor-obor ditancapkan di pohon dan tembok di sekeliling tempat itu untuk menerangi arena pertempuran yang akan berlangsung sengit.

Senapati Jagaraksa yang juga telah bergabung dengan senapati lainnya, menatap tajam delapan sosok tubuh itu. Sepertinya, dia hendak mencoba mengetahui orang-orang yang berani mati mendatangi istana ini. Namun, tak satu pun dari mereka yang dapat dikenali. Wajah-wajah mereka yang pucat, dingin, dan kaku, menimbulkan kesan seram bagi siapa saja yang mencoba menentang pandangan mata mereka.

"Hm.... Siapa kalian sebenarnya, Pembunuh-pembunuh Keji?! Apa maksud kalian menyatroni istana kediaman Gusti Prabu Pungga Lawa ini?" bentak Senapati Jagaraksa. Jelas-jelas dia merasa penasaran terhadap delapan sosok berpakaian serba hitam yang tampak demikian aneh itu.

Namun setelah agak lama menunggu, tak juga terdengar jawaban sepatah pun. Akibatnya, Senapati Jagaraksa dan para senapati lain menjadi jengkel. Maka segera saja para prajurit yang semakin bertambah banyak itu diperintahkan untuk menyerbu. Biarpun mereka sangat sakti bagai dewa, namun pasti ada batasnya. Dan untuk melawan ratusan orang prajurit yang mengepung rapat, tentu saja mereka tidak akan lolos. Meskipun, korban yang jatuh sudah pasti tidak sedikit.

"Serbuuu...!"

Tanpa diperintah dua kali, ratusan prajurit Kerajaan Mulawarta itu langsung saja bergerak maju. Mereka menerjang delapan orang lelaki tegap berpakaian serba hitam dengan teriakan-teriakan pertempuran yang membahana. Sebentar saja, pertempuran berdarah pun pecah.

Senapati Jagaraksa dan para senapati lain segera bergerak maju di depan dengan senjata terhunus. Para pembesar Kerajaan Mulawarta itu benar-benar merasa terkejut ketika melihat akibat amukan delapan orang lelaki berpakaian hitam. Sebentar saja, belasan orang prajurit beterbangan ke sana kemari, laksana laron- laron yang menghampiri api. Teriakan-teriakan ngeri terdengar sahut-menyahut, diiringi percikan darah segar yang membuat halaman istana berubah menjadi lautan darah!

Bahkan, bukan hanya para prajurit saja yang jatuh menjadi korban amukan pembunuh-pembunuh keji itu. Beberapa orang perwira pun tampak tergeletak tak berdaya terkena sambaran jari-jari tangan yang mampu memukul pecah sebongkah batu karang besar! Akibatnya, keadaan pun semakin bertambah kacau.

Saat pembantaian besar-besaran itu tengah berlangsung, tiba-tiba terdengar suara sangkala meningkahi riuhnya teriakan kematian. Senapati Jagaraksa yang tahu betul tanda itu, segera saja memberi perintah untuk mundur bagi para prajuritnya.

Sementara, delapan lelaki tegap berwajah dingin seperti mayat hidup itu sama sekali tidak berusaha mendesak ketika lawan-lawannya bergerak mundur. Ternyata suara sangkala itu berasal dari rombongan orang berkuda yang baru tiba. Sikap mereka yang tampak gagah dan berwibawa, tampak diawasi oleh empat pasang mata dingin dan menyeramkan.

"Hm..." Sosok bertubuh tinggi kokoh yang merupakan pimpinan delapan sosok tubuh itu bergumam sambil meneliti tiga rombongan yang mengenakan seragam berbeda.

Rombongan sebelah kanan berseragam merah darah. Mereka membawa bendera besar bergambar seekor naga merah. Tampaknya rombongan itu merupakan pasukan inti Kerajaan Mulawarta yang bernama Pasukan Naga Merah. Sedangkan dua pasukan lain adalah Pasukan Naga Hijau dan Pasukan Naga Hitam.

Melihat munculnya pasukan-pasukan inti yang jarang menampakkan diri itu, membuat para prajurit bergerak menyingkir untuk memberi jalan. Meskipun agak heran melihat pasukan tersembunyi itu keluar dan ingin menangani, namun tak seorang pun dari mereka yang berani bertanya. Para prajurit itu hanya menatap penuh kagum ke arah rombongan inti Kerajaan Mulawarta.

Senapati Jagaraksa pun tidak kalah heran melihat munculnya pasukan inti itu. Ia juga tahu, para anggota pasukan itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi, hanya beberapa tingkat di bawahnya. Selain itu, setiap kelompok mempunyai sebuah ilmu khusus yang bisa diterapkan secara berkelompok. Dan ternyata hasilnya sangat hebat..Ia sendiri pernah mencoba kehebatannya. Biasanya, pasukan inti itu hanya digunakan untuk menggempur musuh kerajaan yang sangat berbahaya.

Maka tentu saja Senapati Jagaraksa jadi heran melihat pasukan itu muncul hendak menangani delapan orang pembunuh ini. Walaupun kedelapan lelaki tegap berpakaian serba hitam itu memiliki kesaktian tinggi, tapi menurutnya tidak perlu menggunakan pasukan khusus untuk melumpuhkan mereka.

"Maaf, Tuan Panglima...," ucap pimpinan Pasukan Naga Merah kepada Senapati Jagaraksa. "Sebenarnya, ini memang bukan tugas kami. Tapi, mendengar laporan kalau mereka sangat berbahaya dan memiliki ilmu yang sangat tinggi, Tuan Patih Argadipta memerintahkan agar kami segera turun untuk menanganinya. Menurutnya, hal ini untuk mencegah agar korban di pihak kita tidak terlalu banyak. Kuharap, Tuan Senapati dapat memakluminya."

"Hm..." Senapati Jagaraksa hanya bergumam mendengar alasan yang dikemukakan Pimpinan Pasukan Naga Merah itu. Kepalanya tampak mengangguk perlahan, memaklumi dan membenarkan apa yang diucapkan Patih Argadipta. Lalu, ia pun segera memberi jalan kepada pasukan itu untuk maju dan meringkus delapan orang berseragam hitam yang kini sudah menanti.

Namun, sebelum ketiga pasukan inti dari Kerajaan Mulawarta maju lebih dekat, delapan lelaki tegap berwajah pucat tanpa perasaan itu sama-sama mendorongkan telapak tangan ke depan!

Bummm!

Seketika terdengar ledakan keras yang bagaikan hendak mengguncang bumi. Suasana di sekitar tempat itu pun menjadi pekat dalam sekejap, oleh debu dan tanah yang beterbangan.

"Tutup semua jalan keluar...!" perintah Senapati Jagaraksa.

Rupanya senapati ini langsung menyadari siasat kedelapan pembunuh itu. Namun karena suasana gelap belum reda, para prajurit tidak dapat menentukan arah yang harus dituju. Sehingga, banyak di antara mereka yang saling bertabrakan. Tentu saja keadaan itu membuat suasana semakin bertambah kacau. Bahkan tak ada yang menyadari kalau kedelapan orang itu telah bergerak menyingkir.

"Diam di tempat masing-masing...!" terpaksa Senapati Jagaraksa merubah perintahnya, untuk meredakan kegaduhan.

Seketika suasana kembali tenang. Setelah gumpalan debu itu lenyap, barulah disadari kalau delapan orang berseragam hitam itu telah lenyap. Maka, Senapati Jagaraksa memerintahkan para prajuritnya untuk memeriksa sekitar bangunan istana induk.

"Hm.... Menurutku, mereka pasti sudah pergi meninggalkan tempat ini, Tuan Panglima. Tapi, memang tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga dan memeriksa sekitar istana."

Setelah berkata demikian, Pimpinan Pasukan Naga Merah itu pun bergerak meninggalkan tempat ini. Demikian pula dua pasukan inti lain. Mereka bergerak meninggalkan tempat itu, setelah terlebih dahulu memeriksa sekeliling istana untuk memastikan keadaan. Namun, delapan orang lelaki berwajah pucat dan berpakaian serba hitam itu seperti lenyap di telan bumi saja. Seputar istana telah teliti diperiksa. Tapi, sosok berseragam hitam yang telah meninggalkan puluhan korban itu memang hilang tanpa jejak.

"Hm... Lenyapnya mereka, bukan berarti kita boleh merasa aman! Perketat penjagaan. Mungkin suatu saat mereka akan muncul kembali dan membuat keonaran di istana," ujar Senapati Jagaraksa, mengingatkan. Dalam hatinya, ia berjanji untuk mencari tahu tentang kedelapan orang berseragam hitam dari kawan-kawannya di rimba hijau. Senapati gagah itu segera membubarkan pasukannya, setelah menekankan pesan-pesannya untuk diingat anggota pasukan.

********************

ENAM

"Kita singgah dulu di kedai itu, Praba...," ajak seorang lelaki separuh baya, kepada pemuda gagah yang berjalan di sebelahnya. Saat itu mereka tengah melangkah menyusuri jalan utama sebuah desa yang cukup ramai dan padat penduduknya.

"Baik, Guru...," sahut pemuda gagah berusia sekitar dua puluh dua tahun, yang dipanggil Praba.

Bergegas, mereka melangkah memasuki kedai makan yang siang itu tampak agak ramai oleh pengunjung. Praba berjalan di belakang laki-laki separuh baya yang menjadi gurunya ketika memasuki pintu kedai. Laki-laki yang tak lain bernama Ki Janala itu berhenti sejenak, menyapu ruangan dengan pandangan matanya yang setajam elang. Kemudian kakinya kembali melangkah ketika telah menemukan sebuah meja kosong yang terletak agak ke sudut.

Praba berjalan mengikuti langkah kaki Ki Janala. Pemuda gagah itu memang tidak banyak bicara, dan selalu patuh kepada lelaki setengah baya yang mendidik dan memeliharanya sejak kecil. Kasih sayang dan ketekunan Ki Janala dalam mendidiknya, membuat Praba tahu diri dan tidak banyak menuntut.

Tiba-tiba saja lelaki setengah baya itu menghentikan langkahnya saat melewati sebuah meja. Sepasang matanya terbelalak lebar menegasi pemuda tampan berjubah putih yang tengah menikmati hidangan bersama seorang dara jelita berpakaian hijau.

"Pendekar Naga Putih...!" seru Ki Janala setengah berbisik dengan wajah gembira. Sehingga, pemuda tampan dan dara cantik jelita itu sama-sama memalingkan wajah ke arah suara yang memanggilnya.

"Ki Janala...!" seru pemuda tampan berjubah putih yang memang Panji. Segera saja Pendekar Naga Putih bangkit dan menyalami lelaki setengah baya yang masih kelihatan sehat itu.

"Praba...," lanjut Panji ketika melihat pemuda gagah yang berada di belakang Ki Janala.

"Ah! Sungguh gembira aku bisa bertemu lagi denganmu, Pendekar Naga Putih. Waktu itu, aku belum sempat mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Aku benar-benar gembira...," ucap Ki Janala dengan wajah berseri-seri. Tampak sekali kalau kegembiraannya tidak dapat disembunyikan begitu berjumpa Pendekar Naga Putih.

Sementara itu, Kenanga juga bangkit menyalami kedua orang guru dan murid itu. Lalu, diajaknya bergabung, karena di tempat itu masih tersisa dua kursi lain yang kosong.

"Terima kasih..., terima kasih,..," sambut Ki Janala. Segera diajaknya Praba untuk menerima tawaran itu.

"Hm.... Sepertinya kalian berdua telah melakukan perjalanan cukup melelahkan. Kalau boleh tahu, hendak ke manakah kalian berdua...?" tanya Panji lagi, setelah memesan makanan kepada pelayan kedai untuk Ki Janala dan Praba.

"Sebenarnya sungguh suatu kebetulan yang sangat kami harapkan, sehingga dapat berjumpa denganmu di tempat ini, Pendekar Naga Putih. Apakah kau sudah mendengar tentang kejadian yang menimpa Istana Mulawarta...?" kata Ki Janala sambil meneguk minuman yang telah disediakan pelayan kedai.

"Kejadian yang menimpa Istana Mulawarta? Apa itu, Ki? Kami sama sekali belum mendengarnya...," sentak Panji, menjadi heran ketika mendengar ucapan KiJanala.

"Seorang utusan Ki Jagaraksa mendatangi kediamanku. Dia meminta bantuanku untuk menyelidiki delapan orang aneh yang telah memasuki istana beberapa hari yang lalu. Maksud mereka belum jelas. Tapi menurut Ki Jagaraksa, mereka pasti hendak berbuat jahat. Kedelapan orang itu disebut sebagai Pasukan Pembunuh, karena pada saat dipergoki membantai banyak prajurit dan perwira kerajaan di malam kejadian," jelas Ki Janala dengan nada perlahan. Ia memang tidak ingin kalau berita itu sampai tersebar di luar, seperti yang dipesankan Ki Jagaraksa melalui utusannya.

"Maksudmu, Ki Jagaraksa yang berjuluk Pendekar Pedang Perak?" tegas Panji dengan kening berkerut. Tentu saja Pendekar Naga Putih merasa heran, karena pernah bahu-membahu menumpas pemberontak Malaikat Gerbang Neraka bersama Pendekar Pedang Perak. Dan juga telah didengarnya kalau tokoh itu telah mendapat kedudukan yang terhormat di Kerajaan Mulawarta bersama Pendekar Laut Selatan.

"Benar! Ki Jagaraksa telah menjabat sebagai salah satu senapati kepercayaan Gusti Prabu Pungga Lawa. Sebenarnya, beliau hendak menghubungimu. Tapi karena kau tidak mempunyai tempat tinggal tetap, akhirnya Ki Jagaraksa meminta bantuanku, sekaligus untuk mencarimu dan menjelaskan kejadian itu," jawab Ki Janala lagi.

Sedangkan Kenanga dan Praba hanya menjadi pendengar saja.

"Pasukan Pembunuh...?! Rasanya nama itu baru sekarang ini kudengar, Ki. Apakah Ki Jagaraksa tidak menceritakan ciri-ciri mereka...?" tanya Panji. Pendekar Naga Putih berusaha memutar otaknya untuk mencari tahu, siapa orang-orang yang dijuluki Pasukan Pembunuh itu. Tapi setelah sekian lamanya memutar otak, tetap saja tidak menemukannya. Maka, Panji pun mengerti kalau nama itu pasti belum lama muncul.

"Itulah yang masih menjadi tanda-tanya bagiku. Ki Jagaraksa hanya mengatakan kalau jumlah mereka delapan orang. Wajah mereka rata-rata dingin dan tidak berperasaan dengan tatapan mata kejam seperti pembunuh berdarah dingin. Dan, yang membuatku terkejut, ternyata Ki Jagaraksa dapat dikalahkan hanya dalam waktu kurang dari lima puluh jurus oleh seorang dari mereka. Bahkan beliau nyaris tewas di tangan Pasukan Pembunuh itu," jawab Ki Janala lagi, meyakinkan.

"Eh...?! Sampai demikian hebatkah kesaktian mereka?" gumam Panji, seolah tak percaya. Memang, Pendekar Naga Putih tahu betul, sampai di mana kesaktian Pendekar Pedang Perak. Dan kalau sampai tokoh itu memuji-muji lawannya, jelas kalau kepandaian Pasukan Pembunuh tidak bisa diremehkan. Paling tidak, tentu setingkat dengan Kenanga.

"Bukan hanya itu saja. Dalam suratnya, Ki Jagaraksa pun mengatakan kalau kesaktian mereka secara berkelompok sangat luar biasa! Bahkan mungkin para datuk di empat penjuru pun tidak akan sanggup menghadapi mereka...," tegas Ki Janala melanjutkan keterangannya. Sehingga, membuat Panji jadi termenung sesaat lamanya.

"Hm..., baiklah. Aku akan mencoba untuk menyelidiki orang-orang yang dijuluki Pasukan Pembunuh itu. Mudah-mudahan aku bisa menemukan mereka...," tegas Pendekar Naga Putih.

"Mmm.... Bagaimana kalau kita mencari bersama-sama, Pendekar Naga Putih? Mungkin kita bisa saling bantu...," usul Ki Janala, agak ragu.

"Kurasa itu lebih baik...," jawab Panji. Tentu saja Pendekar Naga Putih merasa tidak enak untuk menolak. Ia tidak ingin kalau Ki Janala menjadi tersinggung. Walaupun, dalam hal kepandaian Ki Janala masih jauh di bawah Pendekar Naga Putih. Dan hal itulah yang membuat Panji tidak berani menolak.

"Kita berangkat sekarang...?" tanya Ki Janala sambil melihat semua hidangan di atas meja yang telah tak tersisa sedikit pun. Panji hanya mengangguk. Setelah membayar harga makanan, mereka pun beranjak meninggalkan kedai itu.

"Kira-kira ke mana tujuan pertama dalam mencari Pasukan Pembunuh itu, Panji...?" tanya Ki Janala. Kini, laki-laki setengah baya itu menyebut Pendekar Naga Putih dengan nama saja, sesuai permintaan Panji.

"Hm.... Menurutku, sebaiknya kita datangi datuk sesat yang menguasai wilayah timur ini. Di sana kita selidiki, bagaimana tanggapan datuk sesat itu setelah mendengar kemunculan Pasukan Pembunuh. Kalau mereka tidak tahu, berarti para datuk itu akan muncul dan kemungkinan akan mencari Pasukan Pembunuh. Entah untuk bergabung, atau hanya sekadar ingin menjajal kepandaian mereka. Dengan begitu, kita akan mudah menemukan orang-orang aneh itu...," ungkap Panji tentang rencananya.

"Aku setuju. Rasanya, rencana itu merupakan satu-satunya yang terbaik saat ini...," sambut Ki Janala, berseri.

"Ha ha ha...!"

Pendekar Naga Putih dan yang lainnya menahan langkah ketika tiba-tiba terdengar suara tawa yang berkumandang dari empat penjuru. Sadar kalau suara itu dikirim lewat pengerahan tenaga dalam tinggi, maka cepat-cepat tenaga dalamnya dikerahkan untuk melindungi dada agar tidak berguncang.

Dan, baik Pendekar Naga Putih maupun yang lain tidak perlu menunggu lama. Beberapa saat setelah suara gelak tawa itu lenyap, tahu-tahu bermunculan delapan sosok tubuh tegap terbungkus pakaian warna-warni. Tiap dua orang mengenakan seragam serupa, sehingga sekali pandang saja segera diketahui kalau mereka itulah yang mungkin disebut sebagai Pasukan Pembunuh. Bukti yang menguatkan dugaan Panji, sinar wajah yang dingin beku dan sorot mata yang tajam liar.

"Mungkinkah mereka yang disebut sebagai Pasukan Pembunuh...?" desis Ki Janala, memperhatikan delapan sosok tubuh yang kini telah membentuk lingkaran, mengurung keempat tokoh persilatan itu.

"Mungkin saja, Ki, menilik dari langkah mereka, jelas kalau kepandaian mereka sangat tinggi. Selain itu, pakaian yang dikenakan, seperti sengaja dibentuk agar terlihat seperti pasukan kecil. Jadi, besar kemungkinan kalau mereka inilah yang disebut sebagai Pasukan Pembunuh," jelas Panji. Tentu saja Pendekar Naga Putih hanya sekadar menduga-duga meskipun ada keyakinan kalau perkiraannya tidak meleset.

"Lalu, mengapa mereka sepertinya bermusuhan kepada kita...?" tanya Ki Janala lagi. Pertanyaan itu seperti terdengar bodoh sekali, karena telah diutarakan sebelumnya. Tapi, Panji hanya tersenyum tanpa bermaksud melecehkannya.

"Hm.... Cobalah ajak Praba menyingkir. Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang mereka tuju," ujar Panji lagi. Pendekar Naga Putih memang ingin mengetahui, siapa yang diinginkan Pasukan Pembunuh itu.

"Kau juga, Kenanga," lanjut Panji kepada kekasihnya.

"Tidak, Kakang. Sebaiknya mereka dihadapi bersama-sama. Kalaupun hanya satu orang yang diinginkan, tapi kita harus menghadapi mereka bersama-sama," bantah Kenanga. Memang, gadis itu belum mengerti arah ucapan Panji.

"Tenang dulu," sergah Panji menyabarkan dara jelita itu. "Aku hanya ingin tahu, siapa sebenarnya yang mereka musuhi. Dengan begitu, kita bisa menebak orang yang berdiri di belakang mereka. Karena melihat dari gelagatnya, mereka seperti telah dicekoki oleh racun yang membuat otak lumpuh"

Kini dara jelita itu sadar akan kekeliruannya. Maka, kakinya pun melangkah ke belakang. Perkiraan Panji ternyata tidak meleset. Kedelapan orang itu sama sekali tidak mempedulikan mundurnya ketiga orang itu. Mereka kini bergerak mengepung Pendekar Naga Putih. Jelas sudah, yang diinginkan mereka ternyata Pendekar Naga Putih!

Melihat hal itu, Kenanga, Ki Janala, dan Praba kembali bergerak maju. Tapi, kedelapan orang berwajah dingin itu sama sekali tidak peduli. Mereka terus melangkah semakin dekat dan menyebar membentuk lingkaran lebar.

"Hm... Jelas sudah sekarang, akulah yang diinginkan. Tapi, orang yang berdiri di belakang mereka aku belum bisa menduganya...," gumam Panji, setelah mengetahui secara jelas kalau Pasukan Pembunuh itu pasti menginginkan kematiannya.

"Kita gempur saja mereka, Kakang...," usul Kenanga. Saat itu, Kenanga sudah hendak melepaskan Pedang Sinar Rembulan yang melingkari pinggangnya. Namun, gerakannya tertahan karena dicegah Panji.

"Kisanak sekalian! Siapakah kalian? Seingatku, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Kalau boleh ku tahu, apa maksud kalian mencariku...?" tanya Panji, lantang. Dirayapinya delapan wajah dingin itu dengan sinar mata tajam, seolah-olah ingin membaca pikiran mereka.

"Kami adalah Pasukan Pembunuh yang ditugaskan untuk melenyapkanmu dari muka bumi ini...!" sahut sosok terdepan yang berpakaian serba merah.

Suara orang itu terdengar demikian datar dan dingin, tanpa irama. Dan segera saja dapat diduga kalau ucapan itu seperti memang telah lama ditanamkan dalam benak kedelapan lelaki muda bertubuh tegap itu.

Seluruh tubuh Panji menegang ketika delapan orang pembunuh itu melangkah semakin dekat. Bahkan, 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya telah bergolak melindungi sekujur tubuh. Sehingga, terciptalah kabut bersinar putih keperakan yang menebarkan hawa dingin menusuk tulang.

"Haaak..!" Mendadak salah seorang yang berada di samping kanan Panji memekik aneh. Kemudian, kedelapan orang aneh itu berputaran mengelilingi Panji dan kawan-kawannya. Melihat serangan aneh dan belum pernah dilihatnya, kening Panji berkerut dalam. Tapi ia tidak bisa berpikir lama, karena lingkaran yang dibuat kedelapan orang itu terlihat semakin mengecil.

"Awaaas...!" Panji berseru mengingatkan kawan-kawannya ketika melihat salah satu dari kedelapan sosok tubuh itu mencelat keluar dari dalam lingkaran. Dan orang itu langsung melontarkan serangan yang menimbulkan suara mencicit tajam, ke arah Kenanga!

"Yeaaah...!"

Kenanga tentu saja tidak tinggal diam. Cepat pedangnya berkelebat menebas. Sayang, gerakan orang itu jauh lebih cepat. Tangan yang semula hendak mencengkeram, tiba-tiba berputar aneh dengan kecepatan mengejutkan. Dan tahu-tahu, Kenanga merasakan adanya sambaran angin tajam yang mengancam kepalanya!

Wuttt..!

Dengan gerakan indah, Kenanga memutar tubuhnya dengan kuda-kuda rendah. Saat itu, kaki kanannya mencelat naik menuju ulu hati lawan. Tapi, tendangannya ternyata hanya berupa tipuan. Buktinya sebelum menyentuh sasaran, kakinya telah ditarik pulang. Bahkan kini digantikan dengan sambaran pedang ke leher lawan.

Plakkk!

Hebat dan cepat sekali gerakan menangkis yang dilakukan sosok berpakaian biru tua itu. Dan tahu-tahu saja, Kenanga terpekik mundur beberapa langkah ke belakang. Bahkan pergelangan tangannya terasa nyeri akibat terbentur sisi telapak tangan lawan. Maka cepat-cepat tubuhnya berjumpalitan ke belakang, ketika lawannya telah kembali menerjang dengan tusukan jari-jari tangan yang membentuk paruh ular.

"Haiiit..!"

Kenanga terus melenting dan berputaran beberapa kali untuk menghindari kejaran tangan lawan yang seperti ular hidup itu. Dan kakinya baru mendarat, setelah yakin telah terbebas dari ancaman serangan maut lawan.

Panji yang akan melesat untuk melindungi Kenanga, terpaksa menahan langkahnya. Karena, sosok berpakaian biru tua itu telah melesat kembali ke dalam barisan, dan ikut berputaran bersama tujuh orang lainnya.

"Hm..," gumam Panji lirih, melihat cara-cara penyerangan lawannya yang aneh itu.

Pendekar Naga Putih sudah bisa meraba, dari mana asal kepandaian delapan orang aneh itu. Hanya saja hatinya merasa khawatir akan keselamatan Kenanga, Ki Janala, dan Praba. Memang, setelah melihat gerakan salah satu dari mereka yang berhasil membuat Kenanga kelabakan, Panji sadar kalau kepandaian lawan-lawannya rata-rata berada di atas kepandaian kekasihnya. Tentu saja kenyataan itu membuat hatinya cemas.

"Kenanga! Ajaklah Ki Janala dan Praba keluar dari lingkaran ini, setelah aku dapat memecah barisan mereka. Hm.... Rasanya mereka harus dihadapi dengan tenaga gabungan. Dan itu sangat berbahaya bagi kalian, karena bukan tidak mungkin akan terpengaruh dan tersiksa oleh hawa panas dan dingin berganti-ganti yang keluar dari tubuhku. Kuharap, kau bisa memakluminya...," bisik Panji.

Kenanga mengangguk maklum. Karena, sedikit banyak sudah bisa dirasakan kehebatan salah seorang lawannya. Semula, Ki Janala dan Praba merasa keberatan atas usul yang diajukan Kenanga. Tapi setelah dara jelita itu memberikan alasan yang dikatakan Panji, kedua orang itu mau mengerti. Dan kini, mereka bersiap menanti isyarat dari Pendekar NagaPutih.

Setelah melihat kedua orang tokoh itu setuju dengan rencananya, Panji mulai mempersiapkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Apalagi, saat itu gerakan lawan semakin bertambah cepat, dan membuat pandangan agak kabur. Menyadari hal itu, Panji menggoyangkan kepala untuk menetapkan kembali pandangan matanya.

Namun, hatinya agak terkejut ketika melihat tubuh Kenanga, Ki Janala, dan Praba yang tampak bergoyang-goyang. Jelas, semua itu akibat pengaruh gerakan lawan. Dan kini, Panji baru mengerti akan kegunaan gerak berputar lawan-lawannya. Khawatir pengaruh itu akan semakin menjadi, maka Pendekar Naga Putih bersiap untuk menggempur!

“Haiiit…!”

Dengan sebuah lengkingan tinggi, tubuh Panji melesat ke arah samping kanannya. Sepasang telapak tangannya yang terbuka, mendorong ke depan dengan kekuatan penuh.

Blarrr...!

Terdengar ledakan keras saat dorongan sepasang telapak tangan Panji yang bagaikan badai salju itu menghantam sebatang pohon besar! Sedangkan, kedelapan sosok tubuh itu telah berlompatan ke kiri dan kanan menyelamatkan diri. Dan saat itulah, Kenanga, Ki Janala, dan Praba melesat lolos dari lingkaran kepungan Pasukan Pembunuh.

Tapi, kedelapan orang itu sama sekali tidak mempedulikan ketiga orang lawan yang meninggalkan arena pertempuran. Sebaliknya, mereka berlompatan laksana sambaran kilat di angkasa, menuju Pendekar Naga Putih yang tegak di tengah arena.

"Yeaaat..!"

"Haaat..!"

Seiring pekikan-pekikan nyaring yang memekakkan telinga, kedelapan sosok tubuh itu melesat ke arah Pendekar Naga Putih secara berturut-turut. Sambaran tamparan dan pukulan terdengar bercicitan, menandakan betapa hebatnya tenaga yang terkandung di dalam serangan-serangan mereka.

"Ahhh...?!"

Kenanga tak bisa menahan seruan kagetnya ketika melihat kejadian itu. Hatinya kontan berdebar tegang melihat keadaan kekasihnya yang tampak benar-benar dalam incaran bahaya maut. Tapi, baik Kenanga maupun Ki Janala dan Praba hanya bisa memandang dan berdoa demi keselamatan Panji. Mereka sadar betul, betapa dahsyatnya gempuran kedelapan orang yang dijuluki sebagai Pasukan Pembunuh itu.

Panji sendiri sangat terkejut melihat perubahan yang mendadak itu, tapi sama sekali tidak gentar. Cepat semangatnya dikempos dan tenaga gabungan yang maha dahsyat dikerahkannya.

"Hiaaat..!"

Seiring 'Pekikan Naga Marah' yang merontokkan jantung, tubuh Pendekar Naga Putih berkelebat laksana sambaran kilat di antara serangan lawan-lawannya. Kemudian, 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya dikerahkan untuk menghadapi Pasukan Pembunuh. Sebentar saja, terjadilah pertempuran maut yang mendebarkan jantung.

Setelah lewat dua puluh jurus, Panji semakin menyadari kehebatan kedelapan orang itu. Dan hatinya pun mulai percaya, kalau Pasukan Pembunuh tidak segera dilenyapkan, mereka pasti akan menguasai dunia persilatan! Buktinya, jangankan tokoh-tokoh pertengahan, bahkan tokoh-tokoh puncak di empat penjuru pun rasanya tidak mungkin sanggup menghadapi mereka.

"Hiaaat..!"

Plakkk! Plakkk!

Serangan dua orang lawan yang mengancam tubuh disertai decitan angin tajam, terpaksa disambut Panji dengan kedua telapak tangan terbuka. Karena kalau tidak berbuat demikian, bukan mustahil kalau Pendekar Naga Putih akan celaka oleh serangan lain yang juga berdatangan mengincar tubuhnya. Benturan itu membuat kedua orang lawannya terjajar mundur sejauh setengah tombak. Sedangkan Panji sendiri sudah bergulingan menghindari sambaran kepala dan tamparan maut dari enam orang lawan yang lain.

"Yiaaah...!"

Secara tiba-tiba, tubuh Pendekar Naga Putih yang tengah bergulingan, melenting ke udara sambil melepaskan tendangan kilat yang menderu tajam. Kemudian, telapak tangan kanannya mengibas menerbitkan sambaran angin panas yang menyengat kulit.

Bresssh...!

Tendangan yang dilakukan Panji dapat dielakkan lawan. Sedangkan kibasan tangan kanannya, disambut dorongan pukulan jarak jauh dari lawan yang disebelah kanannya. Akibatnya, tubuh orang itu melesak ke dalam tanah, hingga melewati mata kaki. Sementara Panji sendiri terangkat ke atas akibat kuatnya tenaga sakti yang dikerahkan lawan. Namun, kesempatan itu cepat digunakannya untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya.

"Hiaaa...!" Seiring pekikan melengking tinggi, tubuh Pendekar Naga Putih meluncur turun disertai jurus 'Naga Sakti Meluruk ke Dalam Bumi'.

Ternyata, kedelapan orang pengeroyok itu sadar akan kedahsyatan serangan Pendekar Naga Putih kali ini. Terbukti, mereka semua tampak saling berpegangan tangan satu sama lain. Lalu dua orang dari mereka yang berada di kanan dan kiri, mendorongkan sebelah telapak tangan, menyambut gempuran Pendekar Naga Putih. Akibatnya....

Blarrr!

Ledakan keras pun bergaung, seiring kepulan debu dan bebatuan kecil, serta percikan bunga api. Dari sini bisa terlihat, betapa dahsyatnya ledakan yang terjadi.

"Aaakh?!" Tubuh Pendekar Naga Putih sendiri terdorong balik, sejauh dua tombak lebih. Luncurannya baru berhenti setelah merobohkan pohon sebesar dua pelukan orang dewasa. Tubuh Panji kemudian melorot jatuh, dengan wajah agak pucat. Dia berusaha berdiri, meskipun agak goyah! Sebenarnya hal itu wajar saja. Memang, meskipun tenaga saktinya sangat tinggi dan sukar diukur, tapi menghadapi tenaga gabungan delapan orang yang rata-rata bertenaga hebat, tentu saja Panji tidak mungkin menang!

Namun yang dialami delapan orang lawannya pun tidak kalah hebat. Meski mereka telah menggabungkan tenaga sakti untuk menahan gempuran lawan, tetap saja harus merasakan tenaga dalam Pendekar Naga Putih. Walaupun tidak sampai terpental karena Panji melakukan gempuran dari udara, tapi tubuh mereka telah tertanam hampir sebatas lutut di dalam tanah. Jelas, hal itu membuktikan kalau kekuatan tenaga gempuran Pendekar Naga Putih memang benar-benar luar biasa!

"Kakang...!" Kenanga yang menyaksikan tubuh pemuda pujaannya terpental dan membentur pohon besar hingga tumbang, segera saja berlari memburu dengan hati cemas.

Demikian pula halnya Ki Janala dan Praba. Mereka bergegas mendekati Pendekar Naga Putih yang tampak mengalami luka dalam cukup parah. Untung saja obat- obatan yang selalu dibawa Panji sangat manjur. Buktinya setelah pil-pil berwarna putih ditelan, Panji tidak perlu khawatir lagi terhadap luka dalamnya.

"Kenanga. Lawan-lawan kita kali ini terlalu tangguh. Rasanya, aku tidak akan mampu menghadapi mereka sekaligus. Sebaiknya, kalian bertiga segera tinggalkan tempat ini. Tunggulah aku di kedai tempat kita berjumpa semula. Setelah berhasil mengecoh mereka, aku akan menemui kalian untuk mengatur rencana. Kalau menggunakan kepandaian saja, rasanya tidak mungkin mereka dapat dikalahkan. Kita harus mencari siasat dengan menggunakan otak. Dan kuharap, kalian semua jangan membantah. Semua ini kulakukan demi kebaikan bersama. Nah, sekarang pergilah," ujar Panji, agak perlahan. Keputusan pemuda itu jelas sudah tidak bisa dibantah lagi.

"Tapi, bagaimana denganmu, Kakang...?" bantah Kenanga. Tentu saja gadis itu tidak ingin kehilangan kekasihnya. Jelas, keputusan Panji belum bisa diterima sepenuhnya. Malah sepasang mata dara jelita itu tampak mulai terselimut mendung.

"Percayalah, Kenanga. Aku akan menemui kalian nanti. Pergilah, sebelum terlambat...," ujar Panji lagi sambil mengelus wajah jelita yang tampak mendung itu.

Karena keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah, maka Kenanga dengan berat hati menuruti ucapan kekasihnya. Bersama Ki Janala dan Praba, dara jelita itu bergerak meninggalkan kekasihnya yang akan menghadapi maut seorang diri!

TUJUH

Sepeninggal Kenanga, Ki Janala, dan Praba, Panji bergegas bangkit sambil mengempos semangatnya. Dengan sorot mata tajam, dirayapinya sosok Pasukan Pembunuh yang telah siap melanjutkan pertarungan. Dan Panji tidak bisa menyembunyikan keheranannya ketika melihat kedelapan orang lawannya kelihatan tidak terluka sama sekali.

"Gila! Sepertinya, orang-orang ini memang sengaja dipersiapkan untuk menghadapi lawan tangguh. Mereka pandai sekali membaca gelagat, dan dapat bertindak cepat dalam menghalau serangan yang bagaimanapun. Satu-satunya cara untuk melumpuhkan, hanya dengan memisahkan mereka. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu, tidak akan sulit menghadapi mereka...," gumam Panji, memutar otaknya dalam mencari cara untuk menghadapi Pasukan Pembunuh. Karena disadari kalau kepandaiannya tidak akan mampu menghadapi keroyokan mereka.

Berpikir demikian, Panji segera menggeser langkahnya ke kanan dengan lompatan-lompatan pendek. Sementara, otaknya berpikir keras mencari cara tersebut. Saat itu juga, terlintas dalam pikiran untuk menciptakan 'Naga Langit' untuk menarik perhatian Pasukan Pembunuh. Sayang, sebelum hal itu sempat dilakukan, lawan-lawannya telah berlompatan menerjang.

"Heaaat..!"

Panji bergegas memutar dan memiringkan tubuhnya, ketika sebuah kepalan lawan datang mengancam. Kemudian, langsung dibalasnya dengan sodokan siku. Namun serangan balasan itu terpaksa ditunda, karena saat itu juga serangan lawan-lawannya yang lain datang menyusuli secara berturut-turut.

Whuuut! Whuuut!

Dengan melempar tubuh ke samping, Pendekar Naga Putih berhasil menghindari tamparan dan tendangan dua orang pengeroyoknya. Tapi baru saja kaki kanannya menyentuh tanah, sebuah tendangan keras telah mengancam. Mau tak mau, tendangan itu terpaksa harus dipapak dengan telapak tangan kirinya.

Plakkk!

Selagi tubuh lawan berputar akibat tangkisannya yang amat kuat, Panji langsung mengirimkan tendangan berputar dengan kekuatan hebat. Sayang, kerjasama Pasukan Pembunuh demikian kompak dan rapi. Sehingga pada waktu tendangannya luput, dua buah telapak tangan lawan datang menggedor dadanya.

Bukkk! Desss!

“Hugkhhh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh Pendekar Naga Putih terjungkal ke belakang. Dengan napas sesak Panji segera menghapus tetesan darah yang mengalir di ujung bibirnya. Cepat kuda-kudanya diperbaiki dan bersiap menerima serangan berikut dari para pengeroyok yang memang sangat tangguh.

Pertarungan pun kembali berlanjut sengit. Meskipun dadanya agak sesak, namun gerakan Pendekar Naga Putih masih belum berkurang. Lesatan tubuhnya dalam menghindari serangan lawan dan memberikan balasan, membuat pertarungan kembali menjadi sengit. Tapi biar bagaimanapun, Panji harus mengakui kehebatan lawan-lawannya. Mereka benar-benar telah dipersiapkan secara sempurna, sehingga Pendekar Naga Putih benar-benar harus menguras semua kesaktiannya.

Jurus demi jurus berlangsung cepat. Tanpa terasa, seratus jurus kembali telah dilalui. Panji yang telah banyak mengeluarkan tenaga, mulai merasakan tekanan berat dari lawan-lawannya. Maka ketika pertarungan memasuki jurus yang keseratus lima puluh, Panji kembali harus merelakan tubuhnya menjadi sasaran pukulan dan tendangan dua orang lawannya. Tubuh Pendekar Naga Putih kembali terjengkang dan jatuh bergulingan. Darah segar kembali menetes dari ujung bibirnya, menodai jubahnya yang berwarna putih.

"Hhh.... Mungkinkah di sini akhir petualanganku? Mereka memang terlalu tangguh bagiku. Melihat dari gerakan-gerakan mereka, aku yakin kalau mereka telah dipersiapkan oleh datuk-datuk di empat penjuru untuk melenyapkan aku. Buktinya, dasar-dasar gerakan mereka sangat mirip dengan yang dimiliki keempat datuk sesat itu. Sepertinya, mereka akan berhasil untuk melenyapkan aku...," gumam Panji.

Pendekar Naga Putih segera bangkit dengan tubuh lemas, karena telah banyak kehilangan tenaga. Sementara itu, Pasukan Pembunuh telah berada semakin mendekati Panji. Sepertinya, mereka pun dapat mengetahui keadaan Pendekar Naga Putih. Terbukti, langkah mereka tidak terburu-buru dalam menghampiri. Jelas, mereka telah sangat yakin akan segera dapat melenyapkan Pendekar Naga Putih.

Melihat gerak langkah Pasukan Pembunuh yang seperti sengaja bergerak lambat, Panji pun tidak ingin membuang kesempatan baik ini. Cepat matanya dipejamkan dan pikirannya disatukan dengan Pedang Naga Langit yang menyatu ke dalam tubuhnya. Tak berapa lama kemudian,

"Naga Langit...'"

Terdengar bentakan mengguntur seiring terbukanya sepasang mata pemuda gagah itu. Dan.., yang terjadi kemudian benar-benar membuat Pasukan Pembunuh tersentak bagaikan disengat lebah! Memang, hampir bersamaan dengan bentakan Pendekar Naga Putih, terdengar ledakan petir yang sambung-menyambung. Bahkan langit seperti tertutup mendung, gelap untuk beberapa saat lamanya. Pasukan Pembunuh bergerak mundur ketika melihat pijaran cahaya keemasan memenuhi arena pertarungan. Ketika kepala mereka tengadah ke arah pijaran sinar itu, terdengarlah pekikan laksana ratusan guntur di angkasa!

"Kreaaaaghhh...!" Tiba-tiba sesosok makhluk mengerikan yang hanya ada dalam dongeng, muncul dengan segala perbawanya.

Tentu saja, pemandangan itu membuat Pasukan Pembunuh tersurut mundur. Tanpa sadar, mereka terpisah begitu menatap ke arah binatang raksasa yang mengerikan itu. Melihat kenyataan itu, Panji melesat ke arah empat orang anggota Pasukan Pembunuh yang telah terpisah.

"Haaat..!"

Disertai sebuah pekikan nyaring, Pendekar Naga Putih menerjang keempat orang lawannya mempergunakan 'Ilmu Silat Naga Sakti' yang menjadi andalannya. Sepasang tangannya yang membentuk cakar naga bergerak susul-menyusul disertai hembusan angin dingin menusuk tulang.

Tentu saja serangan itu membuat keempat orang lawan terkejut, dan cepat bergerak melakukan perlawanan. Kali ini, Panji tidak merasa khawatir kalau empat orang Pasukan Pembunuh lain akan datang membantu. Memang, Naga Langit telah diperintahkan untuk menghadapi keempat orang lawannya yang lain. Sehingga, kini pertempuran pun terpecah menjadi dua.

Panji sendiri telah memusatkan seluruh perhatian untuk melenyapkan keempat orang lawannya selekas mungkin. Karena biar bagaimana pun, keempat orang lawannya tetap masih sangat tangguh, dan tidak mudah ditundukkan dalam waktu singkat.

"Haiiit..!"

Ketika pertarungan telah berlangsung selama lima puluh jurus, tiba-tiba Pendekar Naga Putih memekik tinggi. Tubuhnya bergerak bagai sambaran kilat di angkasa mengincar dua orang lawannya.

Desss! Breeet!

"Auuughhh...!"

"Aaakh...!"

Tanpa ampun lagi, tubuh kedua orang pengeroyok itu terjungkal ke tanah. Bahkan seorang di antaranya langsung menggelepar kedinginan akibat hantaman telapak tangan Pendekar Naga Putih yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' sepenuhnya. Akibatnya, tentu saja orang itu langsung tewas dengan urat-urat tubuh membeku. Sedangkan lawan yang seorang lagi tampak berusaha bangkit, meski dengan tubuh berlumuran darah. Memang, lambung orang itu telah terkena cakar naga Panji. Dan kini, orang itu berusaha hendak melakukan perlawanan membantu kawan-kawannya.

Panji tidak sudi menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Meskipun dua orang lawannya yang lain telah bergerak menggempur, pemuda itu sama sekali tidak kelihatan gentar lagi. Karena, kini mereka tidak bisa lagi menggunakan ilmu gabungan secara sempurna. Dan hal itu membuat Panji dapat bergerak leluasa untuk menghadapi gempuran kedua lawannya.

"Heaaah...!"

Bettt! Bettt!

Sambaran cakar-cakar lawannya dengan mudah dielakkan Pendekar Naga Putih. Bahkan langsung dapat membalasnya dengan kibasan lengan kanan ke tengkuk salah seorang lawan. Akibatnya, orang itu langsung terjerunuk dan tewas dengan tulang leher patah. Sementara yang seorang lagi punggungnya telah dihantam dengan telapak tangan kiri, kemudian disusul tendangan berputar yang telak singgah di rahang.

Kraaak...!

Terdengar bunyi tulang rahang patah akibat tendangan maut Pendekar Naga Putih! Tanpa ampun lagi tubuh orang itu langsung ambruk dan tewas, dengan tulang rahang patah, dan bagian dalam tubuh rusak.

Begitu kedua orang lawan ambruk, Panji yang merasakan adanya angin keras dari arah belakang segera merunduk. Sehingga, cengkeraman yang siap meremukkan batok kepalanya luput dari sasaran. Lalu, cepat-cepat tubuhnya berbalik dan mengirimkan kedua telapak tangannya ke dada lawan yang telah terluka oleh cakarannya.

Bresssh...!

Tubuh orang yang malang itu langsung melambung ke udara, dan terbanting jatuh ke tanah. Orang itu kontan tewas dengan tulang dada remuk! Darah segar tampak mengalir keluar dari mulutnya.

"Hm...," Panji bergumam datar sambil menghembuskan napas penuh kelegaan.

Di pertarungan lain, ternyata Naga Langit telah membereskan empat orang Pasukan Pembunuh lainnya. Terbukti, Panji melihat adanya empat sosok mayat yang hangus bagaikan terbakar. Pemuda itu pun mengerti kalau kematian mereka karena semburan api dari mulut Naga Langit.

Melihat adanya sebilah pedang yang tergeletak di rerumputan, Panji pun tahu kalau Naga Langit telah kembali berubah wujud setelah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kembali, pedang mukjizat itu disatukan ke dalam tubuhnya. Lalu, Pendekar Naga Putih bergerak hendak menemui Kenanga serta dua orang tokoh sahabatnya.

********************

"Sudahlah, Kenanga. Tidak perlu terlalu mencemaskan keselamatan Panji. Aku percaya, pemuda seperkasa dan semulia dia akan dapat selamat dan dilindungi Tuhan. Sebaiknya, kita berdoa saja untuk keselamatannya...," hibur lelaki setengah baya kepada data jelita berpakaian serba hijau yang berjalan di sebelah kiri. Siapa lagi mereka kalau bukan Ki Janala dan Kenanga.

"Benar, Kenanga. Aku pun percaya akan kesaktian Pendekar Naga Putih. Ia pasti akan menemukan cara untuk menghadapi Pasukan Pembunuh yang sangat tangguh itu. Kalaupun belum menemukan cara, Kakang Panji pasti bisa meloloskan diri untuk menemui kita...," timpal Praba yang berjalan di sebelah kanan Ki Janala. Ia pun merasa suka dan kagum terhadap Pendekar Naga Putih. Dia mengharapkan agar pemuda itu dapat selamat.

"Hhh..." Kenanga hanya menghela napas dengan wajah masih terselimut kecemasan. Rupanya, ia belum bisa tenang kalau kekasihnya belum muncul.

Sehingga, Ki Janala dan Praba pun memaklumi apa yang dirasakan dara jelita itu. Memang, dalam hati mereka berdua pun terbersit kekhawatiran terhadap nasib Pendekar Naga Putih. Hanya saja, hal itu berusaha disembunyikan agar tidak terlihat Kenanga.

"Yahhh.... Mudah-mudahan saja Kakang Panji selamat, dan bisa menemui kita..." Akhirnya, hanya ucapan lirih itu yang keluar dari bibir indah milik Kenanga.

"Kami berdua pun berharap demikian...," desah Ki Janala dengan tatapan mata menerawang jauh ke depan. Namun tiba-tiba lelaki tua itu mengerutkan keningnya. Langkahnya terhenti sambil tetap memandang ke depan.

"Ada apa, Guru?" tanya Praba. Rupanya, pemuda itu sempat heran melihat Ki Janala yang berhenti tanpa sebab. Tapi begitu mengikuti pandang mata gurunya, pemuda itu pun mengerutkan kening. Seketika pandangan matanya dipertajam.

Kenanga yang melihat sikap Ki Janala dan muridnya jadi heran. Tanpa berkata-kata, matanya menatap lurus ke depan, mengikuti pandangan mata guru dan murid itu. Dan jantung dara jelita itu seketika berdegup kencang saat melihat adanya empat sosok tubuh yang tampak berdiri terlindung pohon besar yang berjarak delapan tombak dari tempat mereka berdiri. Darah di tubuhnya kini mengalir cepat ketika secara samar-samar mengenali empat sosok tubuh yang jelas-jelas hendak menghadang perjalanan mereka.

"Celaka...!" desis dara jelita itu, tegang. Rupanya, keempat sosok tubuh yang tengah menanti mereka itu dapat dikenalinya.

"Siapa mereka, Kenanga...?" tanya Ki Janala. Rupanya lelaki setengah baya itu belum mengenal keempat sosok tubuh yang berdiri menghadang. Sedangkan Praba hanya menatap wajah gadis jelita itu dengan sorot mata minta penjelasan.

"Mereka..., empat datuk sesat yang mendendam kepadaku dan Kakang Panji. Hm..., tahulah aku sekarang. Rupanya Pasukan Pembunuh mempunyai hubungan dengan mereka. Itu sebabnya mengapa hanya Kakang Panji yang diincar...," gumam Kenanga, sekaligus menjawab pertanyaan Ki Janala. Sehingga, tokoh tua itu tersentak kaget dan menjadi tegang wajahnya.

"Maksudmu, mereka itu gembong-gembong kaum sesat dari empat penjuru...?" desis Ki Janala. Tampaknya, orang tua ini masih belum bisa percaya dengan keterangan Kenanga yang memang kurang jelas. Dan setahunya, keempat orang datuk sesat itu hampir tidak pernah terlihat bersama-sama. Hal itulah yang membuatnya merasa ragu dan belum bisa mempercayai keterangan Kenanga.

"Pandanganku pasti tidak salah, Ki. Aku dan Kakang Panji telah beberapa kali berjumpa dan bentrok dengan mereka. Dan melihat bentuk tubuh dan pakaiannya, jelas mereka adalah Raja Iblis Jubah Merah, Datuk Panglima Sesat, Memedi Karang Api, dan Kuntilanak Bukit Mandau...," urai Kenanga, benar-benar merasa yakin pandangannya tidak salah.

"Tapi, apa maksud mereka menanti kedatangan kita...?" tanya Ki Janala, lagi-lagi mengeluarkan pertanyaan bodoh. Memang, orang-orang sesat seperti keempat orang datuk itu, tentu tidak mempunyai maksud lain kecuali berbuat kejahatan.

"Hm... Pasti akulah yang dituju, dan bukan kalian. Tapi, aku tidak akan gentar menghadapi mereka!" tegas Kenanga dengan sepasang mata berkilat penuh amarah. Tangan kanan gadis itu segera meraba gagang pedang ketika melihat empat calon lawannya bergerak menghampiri. Rupanya, mereka tidak sabar menunggu kedatangan Kenanga, Ki Janala, dan Praba.

"Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapi bersama-sama, Kenanga. Kalau memang harus tewas, apa boleh buat..," timpal Ki Janala. Seketika seluruh otot tubuhnya mengejang, siap menghadapi pertarungan mati-matian.

Demikian pula halnya Praba. Pemuda tampan bertubuh tegap dan berkulit coklat itu juga telah siap bertarung. Meski disadari kalau kepandaiannya tidak mungkin sanggup melindunginya dari empat orang datuk sesat itu, tapi hatinya sama sekali tidak gentar. Sebagai pemuda gemblengan Ki Janala yang telah dijejali sifat-sifat kependekaran, Praba pun siap untuk mati demi membela kebenaran.

"Ha ha ha...! Kau lihat, Panglima Sesat. Meskipun tanpa naga jantan, tapi naga betina itu masih saja bersikap garang. Kasihan, ia sama sekali tidak tahu kalau pemuda pujaannya telah tewas direncah pasukan kecil kita...," kata lelaki pendek gemuk yang mengenakan jubah merah sambil tertawa terbahak-bahak, begitu tiba di depan Kenanga dan kedua orang temannya. Lelaki gemuk brewok itu dikenal sebagai Raja Iblis Jubah Merah.

"Benar, Raja Iblis. Tapi, aku bersedia menggantikan naga jantan untuk menemani naga betina yang cantik seperti bidadari itu. Aku memang telah lama menginginkannya untuk menjadi permaisuri ku. Dan rasa- rasanya, hari ini keinginanku itu akan segera terlaksana...," timpal lelaki tinggi kekar berpakaian panglima kerajaan.

Orang itu adalah Datuk Panglima Sesat, yang memang sudah lama menyukai Kenanga. Tentu saja hatinya menjadi gembira melihat dara jelita itu telah berada di depan matanya. Bahkan sebentar lagi akan segera menjadi miliknya.

Dua orang lainnya yang tak lain dari Memedi Karang Api dan Kuntilanak Bukit Mandau hanya tertawa mendengar ucapan kedua orang kawannya. Jelas, mereka telah merasa yakin kalau Pendekar Naga Putih tidak akan selamat dari tangan Pasukan Pembunuh yang telah dipersiapkan secara sempurna.

"Hm.... Sudah kuduga, manusia-manusia busuk seperti kalianlah yang menjadi biang keladi dari semua ini. Tapi, mengapa kalian mengirim Pasukan Pembunuh itu ke istana?! Apakah kalian masih ingin membunuh Gusti Prabu Pungga Lawa...?!" geram Kenanga, yang sudah menghunus senjatanya.

"He he he...! Mengapa kau masih saja galak, Bidadari ku? Tindakan kami itu hanya sekadar coba-coba. Tapi kalau bisa, memang kami hendak membunuh raja yang tak becus memerintah itu. Selain itu, juga untuk mengundang munculnya Pendekar Naga Putih. Karena biasanya, pemuda sombong itu akan muncul apabila mendengar peristiwa-peristiwa yang mengundang jiwa pendekarnya yang sok itu...," sahut Memedi Karang Api sambil melangkah maju tiga tindak. Tindakannya membuat Kenanga, Ki Janala, dan muridnya bergerak mundur dengan otot-otot semakin menegang.

"Hm.... Kalian memang manusia-manusia jahanam yang pengecut dan tidak tahu malu. Tapi, jangan harap akan dapat berbuat sesuka hati, selagi aku dan Kakang Panji masih berdiri tegak. Sampai mati pun, kami akan tetap menentang manusia-manusia jahat seperti kalian...!" sahut Kenanga tanpa rasa gentar sedikit pun. Bisa diduga kalau dara jelita itu telah bertekad untuk melawan sampai titik darah penghabisan.

"Hm.... Seharusnya sebagai tokoh terpandang, kalian merasa malu. Rasanya para tokoh persilatan akan menertawakan perbuatan kalian, apabila sampai tersebar di luaran kalau empat datuk yang berkepandaian tinggi harus mengeroyok, hanya untuk menghadapi kami bertiga. Benar-benar menggelikan...!" kata Ki Janala. Rupanya dia sadar kalau tidak mungkin sanggup menghadapi ketiga orang datuk itu. Makanya, dicobanya untuk mengadu kecerdikan, dengan memancing harga diri para datuk itu.

Tapi orang-orang golongan sesat seperti keempat datuk itu, mana peduli segala macam aturan. Sehingga, ucapan Ki Janala hanya disambut tawa mereka. Jelas, pancingan Ki Janala tidak berhasil. Bahkan keempat datuk itu mulai bergerak mendekat. Maka, Kenanga dan kawan-kawannya segera melintangkan pedang di depan dada, siap menghadapi serangan lawan

DELAPAN

"Hm... Biar aku yang menangkap naga betina yang cantik seperti bidadari itu...," pinta Datuk Panglima Sesat sambil memperdengarkan tawanya yang menggetarkan jantung. Sedangkan ketiga orang datuk lainnya hanya tertawa.

"Kalau begitu, bagianku adalah pemuda tampan gagah itu. He he he.... Pasti menyenangkan mempunyai sahabat baik seperti pemuda gagah yang akan menemaniku sepanjang hari...," kata Kuntilanak Bukit Mandau sambil terkekeh genit, ketika menegasi wajah dan sosok murid Ki Janala. Sehingga, wajah Praba menjadi merah, karena sudah tahu maksud nenek cabul itu.

"Hm Kau boleh memiliki mayatku, Nenek Cabul" geram Praba yang menjadi marah mendengar ucapan Kuntilanak Bukit Mandau. Jelas, pemuda itu harus melawan mati-matian kalau tidak ingin jatuh ke dalam pelukan nenek berwatak cabul ini.

Kenanga sendiri merasa ngeri membayangkan dirinya akan jatuh ke dalam pelukan Datuk Panglima Sesat. Karena biarpun sosoknya tidak terlalu menakutkan dan bisa dibilang cukup gagah, tapi hatinya jelas merasa ngeri kalau harus melayani manusia bengis seperti datuk sesat itu. Tentu saja gadis itu lebih rela mati ketimbang harus menerima hinaan dari gembong kaum sesat ini.

Raja Iblis Jubah Merah dan Memedi Karang Api yang merasa tidak mendapat bagian sama-sama melangkah mundur, karena Ki Janala telah menghadapi Kuntilanak Bukit Mandau. Rupanya, orang tua itu ingin membantu muridnya untuk menghadapi nenek bertubuh bungkuk udang yang ternyata memiliki watak cabul.

"Heaaah...!"

Datuk Panglima Sesat yang sudah tidak sabar ingin segera menangkap tubuh ramping Kenanga, segera melompat dengan lengan terkembang. Kenanga tentu saja tidak tinggal diam. Pedang Sinar Rembulan di tangan kanannya segera bergerak menyambut sergapan lawan.

Bettt..!

Terdengar suara berdesing ketika pedang pusaka itu mengibas, hendak membabat putus lengan Datuk Panglima Sesat. Tapi, tokoh bertubuh raksasa itu kelihatannya sama sekali tidak peduli. Tangan kanannya yang mengibas, bermaksud memapak tebasan pedang dara jelita itu. Kenanga yang tahu kalau kekuatannya pasti kalah, tidak mau bertindak bodoh. Pedangnya diputar sedemikian rupa, dan langsung meluncur ke arah tenggorokan lawan.

Plakkk!

Gerakan Datuk Panglima Sesat memang benar-benar luar biasa! Tangan kanannya yang semula mengibas, bergerak cepat dan menepiskan tusukan pedang lawannya. Akibatnya, tubuh Kenanga terdorong beberapa langkah ke belakang. Memang, tenaganya masih beberapa tingkat di bawah datuk sesat itu. Sehingga, benturan itu membuatnya rugi.

Tapi, gadis jelita yang gagah itu sama sekali tidak kehilangan akal. Cepat kuda-kudanya diperbaiki, dan kembali menerjang dengan jurus-jurus ampuh. Jurus- jurus pedang gabungannya memang tidak bisa dipandang remeh. Akibatnya, Datuk Panglima Sesat harus sungguh-sungguh melayani gempuran dara jelita itu. Dan kini, pertempuran pun semakin seru.

Di bagian lain, Ki Janala dan Praba harus menguras seluruh kepandaian dalam menghadapi gempuran-gempuran Kuntilanak Bukit Mandau. Untungnya, nenek sakti itu hanya ingin menangkap Praba hidup-hidup. Dan tentu saja hal itu tidak mudah dilakukan, apalagi Ki Janala dan Praba bertarung mati-matian bagaikan banteng terluka.

"Haiiit..!"

Pada suatu kesempatan, Praba menusukkan pedang ke arah ulu hati nenek bungkuk udang itu. Sayang, kecepatan gerak pemuda itu masih kalah jauh. Sehingga, ketika Kuntilanak Bukit Mandau memapak dengan tongkat hitamnya, Praba tidak sempat menarik pulang serangannya.

Trakkk!

"Aaah...!" Karuan saja tubuh pemuda itu terpelanting dan tidak sanggup mempertahankan kuda-kudanya. Tubuhnya kontan terbanting, jatuh ke tanah.

Sedangkan saat itu, Kuntilanak Bukit Mandau sudah menyusuli tangkisannya dengan totokan ujung tongkat yang siap melumpuhkan. Ki Janala yang tidak ingin muridnya tertawan Kuntilanak Bukit Mandau, segera melesat dengan sambaran pedang yang menimbulkan suara mengaung tajam. Tapi, ternyata nenek bertubuh bungkuk udang itu bertindak lebih cekatan. Tongkat hitamnya diputar-putar membentuk lingkaran yang menimbulkan putaran angin keras! Belum lagi Ki Janala dapat menyadarinya, tahu-tahu saja ujung tongkat hitam itu telah meluncur ke arah tenggorokannya!

"Aihhh...?!" Sebisa-bisanya, Ki Janala menghindar dengan melempar tubuhnya ke samping. Sayang, gerakannya masih kalah cepat dengan ujung tongkat Kuntilanak Bukit Mandau. Meskipun nyawanya dapat diselamatkan, tapi terpaksa harus menerima hantaman ujung tongkat pada bahu kanannya.

Tukkk!

"Akhhh...!" Ki Janala kontan memekik kesakitan. Tubuhnya terlempar dan terbanting jatuh. Bahkan pedangnya sudah terlepas dari genggaman, karena totokan ujung tongkat lawan telah melumpuhkan tangan kanannya.

"Yiaaa...! Mampus kau...!" bentak Kuntilanak Bukit Mandau sambil mengayunkan tongkat hitamnya, siap meremukkan tubuh Ki Janala yang saat itu masih berusaha bangkit!

Plakkk!

Namun tiba-tiba saja, sesosok bayangan bersinar putih keperakan melayang dan langsung memapaki hantaman tongkat yang mengancam jiwa Ki Janala. Akibatnya, hebat sekali. Tubuh Kuntilanak Bukit Mandau terlempar ke belakang. Untunglah nenek itu masih sempat bertindak cepat, dengan melenting ke udara dan berputaran. Kemudian, kakinya mendarat ringan tanpa menderita apa-apa.

"Pendekar Naga Putih...!"

Sebuah seruan terdengar dari mulut Kuntilanak Bukit Mandau, Raja Iblis Jubah Merah, dan Memedi Karang Api. Enam pasang mata itu membelalak seperti tengah melihat hantu di siang bolong! Jelas, mereka sangat terkejut melihat kemunculan pemuda sakti itu. Sedangkan Datuk Panglima Sesat tidak ikut berseru, karena harus menghadapi Kenanga.

Sosok bersinar putih keperakan yang tak lain dari Panji, sama sekali tidak mempedulikan keterkejutan tiga orang datuk sesat itu. Kini, tubuhnya telah melayang ke arah pertarungan lain. Bahkan langsung dikirimkannya sebuah pukulan jarak jauh ke arah Datuk Panglima Sesat yang saat itu tengah mendesak Kenanga.

Whusss...!

Merasakan adanya sambaran angin tajam dari samping kiri, Datuk Panglima Sesat cepat mengibaskan lengan menyambut datangnya pukulan jarak jauh itu. Tokoh bertubuh raksasa itu pun sepertinya memahami terhadap serangan berkekuatan hebat. Maka separuh lebih dari tenaganya telah dikerahkan untuk memapaknya. Namun sayang, ia tidak tahu kalau penyerangnya adalah Pendekar Naga Putih. Sehingga, rugilah datuk sesat itu.

Plarrr...!

Dua gelombang tenaga dalam itu pun saling berbenturan di udara, menimbulkan ledakan keras. Bahkan, Datuk Panglima Sesat hampir terpelanting, karena kecerobohannya. Untung saja kuda-kudanya bisa dikuasai, sehingga tubuhnya hanya agak terhuyung akibat benturan keras tadi. Merasa penasaran dengan kenyataan yang dialami, Datuk Panglima Sesat mengangkat kepala hendak melihat orang yang berani mati menyerangnya.

"Pendekar Naga Putih,..?!" desis Datuk Panglima Sesat. Rupanya, dia terkejut bukan kepalang ketika mengenali sosok yang menyerangnya tadi. Hampir-hampir pandangan matanya tidak dipercayai. Sebab menurut pikirannya, Pendekar Naga Putih pasti telah tewas di tangan Pasukan Pembunuh.

"Hm.... Mengapa kau terkejut melihatku, Datuk Panglima Sesat? Aku masih hidup, dan bukan hantu...," ledek Panji, sambil tersenyum melihat wajah tokoh yang seperti orang bodoh itu.

Kenanga yang mendengar seruan Datuk Panglima Sesat, segera saja menoleh ke arah Panji. Dan langsung disambutnya kedatangan pemuda tampan berjubah putih itu dengan penuh kegembiraan. Kecemasannya seketika lenyap, begitu sosok kekasihnya telah muncul tanpa menderita apa-apa.

"Kakang.... Syukurlah kau selamat..," ucap Kenanga sambil memegang lengan Panji. Pendekar Naga Putih hanya tersenyum sambil membelai rambut dara jelita itu.

"Seperti yang kau lihat, Kenanga. Sekarang, menyingkirlah. Manusia-manusia sesat itu memang harus dilenyapkan demi ketenangan umat manusia...," ujar Panji.

Kenanga menuruti kata-kata Panji tanpa membantah. Dara jelita itu segera berkumpul bersama Ki Janala dan Praba yang bergegas menjauhi arena.

Panji sendiri telah berdiri tegak berhadapan dengan keempat datuk sesat itu. Tangan kanannya tampak telah menggenggam Pedang Naga Langit. Rupanya, Pendekar Naga Putih hendak melawan datuk-datuk sesat itu dengan menggunakan pedang mukjizatnya.

"Hm.... Apakah kalian kira Pasukan Pembunuh itu dapat melenyapkanku...?" kata Panji, ketika melihat tatapan mata keempat orang lawannya yang seperti belum percaya akan penglihatan mereka. "Pasukan Pembunuh yang kalian ciptakan telah melayat ke akhirat. Jadi, sebaiknya kalian bersiaplah menyusul..."

Keempat orang datuk itu saling berpandangan satu sama lain. Jelas sekali, ada pancaran kegentaran di mata mereka. Betapa tidak? Kalau sampai Pasukan Pembunuh tidak mampu melenyapkan Pendekar Naga Putih, apalagi mereka yang jelas-jelas tidak mampu untuk menghadapi pasukan ciptaan mereka.

"Hm.... Tapi jangan menepuk dada dulu, PendekarNaga Putih! Kalau Pasukan Pembunuh tidak sanggup melenyapkanmu, kami berempat akan menyelesaikan tugas itu...!" geram Datuk Panglima Sesat, seraya mencabut sebilah golok besar yang terselip dipinggangnya. Demikian pula ketiga orang datuk sesat lainnya. Mereka juga bersiap mengeroyok Pendekar Naga Putih. Dan kini, keempat datuk sesat itu tampak mengepung lawannya.

"Hm...!" Panji hanya bergumam lirih melihat gerakan lawannya. Perlahan, pedang di tangan kanannya bergerak melintang naik ke atas kepala, menerbitkan sinar berkeredep yang menyilaukan mata. Sekujur tubuhnya pun telah terbungkus kabut bersinar putih keperakan yang membentengi diri dalam jarak tiga jengkal. Jelas, Pendekar Naga Putih telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga saktinya dalam menghadapi keempat orang datuk sesat itu.

"Hiaaat..!" Datuk Panglima Sesat membuka serangan dengan sambaran golok besarnya yang mengerikan. Terdengar suara mengaung bagaikan ratusan lebah marah, ketika senjata itu datang mengancam tubuh Pendekar Naga Putih.

Panji cepat-cepat berkelit dengan egosan tubuhnya. Dan begitu serangan pertama lawan luput, tubuhnya cepat melesat ke samping menyambut Raja Iblis Jubah Merah. Tentu saja tokoh itu menjadi terkejut, karena tidak menyangka sama sekali kalau Pendekar Naga Putih akan menyerang dirinya, dan bukan Datuk Panglima Sesat. Tapi sebagai tokoh kawakan, ia tidak menjadi gugup. Cepat-cepat tubuhnya melesat ke samping dengan lompatan panjang, karena sambaran pedang lawan menebarkan hawa panas yang menyengat kulit.

Saat itu, tongkat hitam Kuntilanak Bukit Mandau datang hendak menotok jalan darah kematian di tengkuk lawan. Dan tentu saja Pendekar Naga Putih tidak sudi menyerahkan tengkuknya jadi sasaran totokan ujung tongkat lawan Cepat senjatanya diputar, langsung memalangi tengkuk.

Trang...!

“Uhhh...!” Kuntilanak Bukit Mandau berseru tertahan. Tubuhnya kontan terjajar mundur akibat tangkisan Panji yang mengandung tenaga dalam tinggi. Belum lagi nenek bertubuh bungkuk udang itu sempat memperbaiki kuda-kudanya, tahu-tahu saja pedang di tangan Pendekar Naga Putih telah menyambar dengan kecepatan menggetarkan jantung!

"Aihhh...!" Tentu saja serangan itu membuat Kuntilanak Bukit Mandau memekik kaget. Cepat tubuhnya dilempar dan bergulingan menjauh. Sehingga, sambaran pedang Panji hanya mengenai angin kosong.

"Heaaat..!"

"Yeaaat..!"

Datuk Panglima Sesat, Memedi Karang Api, dan Raja Iblis Jubah Merah, kembali bergerak susul-menyusul menerjang Pendekar Naga Putih. Sementara Kuntilanak Bukit Mandau sudah kembali memasuki arena pertempuran yang semakin seru dan menegangkan. Keempat datuk sesat itu tampaknya sudah mengerahkan segenap kesaktian untuk menggempur Pendekar Naga Putih. Sedangkan Panji pun kelihatannya tidak ingin bermain-main lagi. Hal itu terbaca dari gerakan pedang di tangannya yang bagaikan tangan-tangan maut, siap mencabut nyawa lawan-lawannya.

"Yeaaa...!"

Saat pertarungan menginjak jurus yang keseratus sepuluh, Panji mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah'. Seketika tubuhnya melenting ke udara, dan berputaran cepat luar biasa. Dan dari atas, tubuhnya meluncur turun disertai putaran pedang yang membentuk lingkaran keemasan menyilaukan mata.

"Heaaah...!" Seketika Kuntilanak Bukit Mandau memekik nyaring sambil menusukkan ujung tongkat hitamnya untuk menyambut serangan lawan. Sepertinya, nenek itu lupa akan keistimewaan jurus pamungkas Pendekar Naga Putih. Maka akibatnya....

Breeet! Breeet!

"Aaargh !" Kuntilanak Bukit Mandau kontan meraung keras saat ujung pedang Pendekar Naga Putih merobek-robek tubuhnya. Sedangkan tongkat hitamnya telah terlepas dari genggaman dan terpental jauh dari tempatnya berdiri. Tubuh kurus bungkuk itu pun ambruk disertai semburan darah segar yang melumuri tubuhnya.

Gerakan Panji tidak berhenti sampai di situ saja. Datuk Panglima Sesat yang tengah menghindar dari serangan maut, harus menerima bagian yang serupa dengan Kuntilanak Bukit Mandau. Dan sepertinya, dia menjadi agak gugup melihat ketiadaan kawannya. Sehingga ketika pedang Panji meluncur datang, dia mencoba memapaknya. Sayang, gerakannya terlihat kacau. Sehingga, terpaksa tenggorokannya harus direlakan jadi sasaran ujung pedang lawan.

Crappp!

"Hikhhh !" Terdengar keluhan seperti orang tercekik ketika ujung pedang Pendekar Naga Putih menancap, hingga tembus ke leher belakang tokoh bertubuh raksasa itu. Darah segar memancur saat Panji mencabut senja- tanya dari tenggorokan lawan. Lalu, tubuh datuk sesat itu pun ambruk ke tanah dengan nyawa terlepas dari raga.

Memedi Karang Api dan Raja Iblis Jubah Merah tentu saja terkejut melihat kedua orang kawannya tewas secara berturut-turut. Mereka seketika bergerak mundur dan menggabungkan sebelah tangan masing-masing. Sedang tangan yang lain langsung didorongkan ke depan.

Whusss...!

Serangkum angin keras yang berasal dari tenaga gabungan kedua orang datuk sesat itu meluncur ke arah Panji.

"Hm...!" Panji yang sadar akan kehebatan serangan gabungan itu, segera melesat ke samping. Sehingga, batu sebesar kerbau yang berada satu tombak di belakangnya kontan hancur berantakan disertai suara hingar-bingar. Serpihan-serpihannya pun beterbangan kian kemari, bagaikan hujan batu saja. Tapi, Panji tidak mempedulikannya. Tubuhnya telah melesat maju dengan putaran pedang yang bergulung-gulung bagaikan angin puyuh!

Tentu saja, baik Raja Iblis Jubah Merah maupun Memedi Karang Api menjadi kaget bukan main. Mereka berusaha menghindar mencari selamat, namun Panji tidak memberi kesempatan. Kemana pun mereka bergerak, ujung pedangnya selalu saja mengikuti bagaikan bayangan tubuh kedua orang datuk sesat itu. Akhirnya....

"Aaa...!" Raja Iblis Jubah Merah langsung menjerit keras saat Pedang Naga Langit tertancap di ulu hati, hingga tembus ke punggung! Tubuh tokoh sesat berwajah brewok itu langsung tersungkur mencium tanah, bermandikan darah! Raja Iblis Jubah Merah pun tewas menyusul kawan-kawannya, setelah meregang nyawa beberapa saat.

Sekarang, hanya Memedi Karang Api yang masih tertinggal. Wajah datuk sesat itu nampak pucat pasi. Sosok Pendekar Naga Putih baginya seperti bayangan malaikat maut yang siap menjemput nyawanya!

"Sekarang giliranmu, Memedi Karang Api..!" desis Panji. Seketika Pendekar Naga Putih melesat ke depan. Ujung pedangnya meluncur cepat menimbulkan desing angin tajam yang menyakitkan telinga.

Maka, cepat-cepat Memedi Karang Api melompat jauh ke belakang. Namun, Panji tidak ingin membiarkannya lolos. Lawan terus dikejar dengan sambaran senjata yang bercuitan.

Bettt..!

"Ahhh...?!" Memedi Karang Api menjerit ketika pedang Panji nyaris menikam lambungnya. Untunglah tubuhnya masih bisa dimiringkan, sehingga ujung pedang lawan hanya lewat dua jari di samping lambung.

Tapi, gerakan Pendekar Naga Putih selanjutnya benar-benar tidak diduga Memedi Karang Api. Tiba-tiba saja, senjata pemuda tampan itu ditarik pulang sambil digoyang-goyangkan seperti gerak seekor ular. Akibatnya, bagian samping tubuh datuk sesat itu tersayat-sayat dengan cepat. Darah pun langsung mengucur dari luka-luka yang ditimbulkan pedang lawannya. Dan sebelum kekagetannya lenyap, tahu-tahu saja pedang Pendekar Naga Putih telah bergerak kembali den- gan kecepatan luar biasa!

Cappp!

Sepasang mata Memedi Karang Api kontan terbelalak bagaikan hendak keluar, saat pedang Panji amblas menembus jantungnya. Tubuh kakek tinggi kurus itu pun ambruk saat Pedang Naga Langit telah tercabut keluar. Darah segar kembali membasahi bumi. Kini, Memedi Karang Api pun tewas menyusul kawan-kawannya, setelah menggelepar beberapa saat.

"Kakang..."

Kenanga langsung saja berlari dan memeluk tubuh kekasihnya dari belakang. Hatinya langsung merasa lega, karena musuh-musuh yang berbahaya telah dapat dilenyapkan.

Ki Janala dan Praba saling berpandangan sambil tersenyum. Jelas, guru dan murid itu pun merasa gembira melihat kematian datuk-datuk sesat di empat penjuru itu.

S E L E S A I