Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Duel Jago Jago Persilatan
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

LANGIT yang itu tampak kelam. Awan hitam berarak membawa titik-titik air. Tak berapa lama kemudian, rintik hujan pun menerpa bumi yang disertai tiupan angin keras. Butiran air hujan itu makin lama makin besar dan deras. Hembusan angin pun bertambah kencang, membuat pepohonan berderak ribut.

Di tengah terpaan hujan lebat itu, tampak tiga sosok tubuh bergerak cepat melintasi jalan yang basah. Kelihatan mereka tidak merasa terganggu dengan cuaca seperti itu. Bahkan, langkah-langkahnya terlihat ringan, meskipun jalan yang dilalui tergenang air hujan dan licin. Agaknya, ketiga sosok tubuh itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.

Tidak berapa lama kemudian, mereka pun tiba di depan sebuah pintu gerbang bangunan perguruan. Dari luasnya bentuk bangunan menunjukkan perguruan itu sangat besar. Dugaan itu memang tidak meleset!

Bangunan yang sangat besar itu milik Perguruan Rimba Kecil. Nama perguruan itu sudah sangat terkenal di kalangan persilatan. Bahkan bisa dikatakan merupakan gudangnya orang-orang sakti. Tidak sedikit murid-murid perguruan itu yang kini jadi tokoh-tokoh terkenal. Sehingga, nama Perguruan Rimba Kecil makin harum dan disegani kaum rimba persilatan.

Kembali pada tiga sosok tubuh yang kini telah berdiri tegak di depan pintu Perguruan Rimba Kecil. Salah seorang dari mereka, yang menggenggam sebatang tongkat baja putih di tangan kanannya melangkah maju dua tindak.

Whuuuttt..!

Dengan kecepatan gerak yang sangat mengagumkan, diputarnya tongkat baja putih itu di atas kepala hingga menerbitkan sambaran angin kuat. Sehingga, air hujan yang berjatuhan ke bumi tidak mengenai sosok tubuhnya.

"Haaahhh...!" Disertai bentakan keras, tongkat baja putih di tangannya digerakkan ke depan. Dan....

Blarrr!

Terdengar ledakan menggelegar ketika tongkat baja putih itu menghantam pintu gerbang. Serpihan kayu tebal bertebaran menandakan betapa hebatnya hantaman tongkat itu. Hingga, terlihat sebagian daun pintu gerbang hancur berantakan menjadi serpihan kecil. Dapat dibayangkan, betapa kuatnya pukulan tongkat baja putih itu!

Tanpa menunggu serpihan-serpihan itu berjatuhan ke tanah, ketiga sosok tubuh itu masuk dengan lompatan panjang dan ringan. Tapi, begitu sosok mereka yang berpakaian serba hitam itu menjejakkan kakinya di halaman Perguruan Rimba Kecil, mereka disambut suara genta yang bertalu-talu.

"Setan mana yang berani mengacau di tempat ini...?!" terdengar bentakan menggema, disusul melayangnya sesosok tubuh tinggi besar yang langsung berdiri menghadang jalan ketiga sosok tubuh itu. Sepasang matanya menyorot tajam meneliti wajah-wajah di depannya. Tanpa mempedulikan air hujan yang jatuh membasahi sekujur tubuhnya. Sosok itu berdiri gagah, siap mengusir ketiga pengacau itu.

Kemunculan lelaki gagah bermata tajam itu segera diikuti dengan puluhan sosok tubuh lainnya, yang langsung berloncatan mengepung. Mereka adalah murid-murid Perguruan Rimba Kecil. Perguruan itu memang memiliki murid yang sangat banyak. Sebab, Perguruan Rimba Kecil merupakan partai persilatan terbesar di antara partai-partai lainnya. Dan, dari jumlah muridnya yang hampir seratus lima puluh orang lebih itu kini muncul setengahnya untuk melakukan pengepungan.

"Tunggu...!" lelaki gagah berpakaian serba putih yang bermata tajam itu berseru sambil mengangkat tangannya. Sehingga, puluhan murid yang melakukan kepungan itu tidak berani membantah perintah yang dikeluarkan dengan dorongan tenaga dalam tinggi itu.

"Hm.... Bukankah kalian Pendekar Tongkat Sakti, Sepasang Golok Kembar, dan Pedang Pemecah Langit..? Apa maksud kalian datang kemari dengan cara menjebol pintu gerbang perguruan kami...?" tegur lelaki gagah itu yang rupanya telah mengenal ketiga orang tamunya.

Ketiga sosok tubuh yang tidak lain Pendekar Tongkat Sakti, Sepasang Golok Kembar, dan Pedang Pemecah Langit terlihat saling bertukar pandang satu sama lain. Seperti telah mendapat kata sepakat, lelaki bertubuh jangkung yang berjuluk Pedang Pemecah Langit melangkah maju menghadapi lelaki gagah berpakaian serba putih.

"Kami datang untuk meminjam kitab dan senjata pusaka perguruan ini. Kabarnya Perguruan Rimba Kecil banyak menyimpan pusaka ampuh dan kitab-kitab ilmu silat tinggi. Kami berharap kau tidak terlalu pelit untuk meminjamkannya kepada kami, Harjana...," ujar Pedang Pemecah Langit dengan sikap sangat angkuh. Seolah bukan hendak meminjam, tapi meminta miliknya yang berada di tangan orang.

Sehingga, lelaki yang bernama Harjana melenggak kaget! Meskipun namanya banyak dikenal orang, Harjana tidak merasa heran. Apalagi, lelaki di hadapannya itu memang bukan orang sembarangan. Bahkan terhitung tokoh persilatan yang punya nama besar, hingga dirinya yang merupakan tokoh tingkat tiga dalam Perguruan Rimba Kecil. Hanya yang membuat lelaki gagah itu kelihatan marah adalah maksud kedatangan Pedang Pemecah Langit yang hendak meminjam pusaka perguruannya.

Jelas permintaan itu tidak mungkin diluluskannya. Sebab pusaka Perguruan Rimba Kecil tidak untuk dipinjamkan kepada siapa pun. Harjana semakin menajamkan pandangannya. Mata lelaki gagah itu tampak berkilat menyiratkan kecurigaan. Harjana dapat meraba ada yang tidak beres pada ketiga tokoh besar itu. Sebab, mereka pasti tahu peraturan yang berlaku di setiap perguruan.

"Hm.... Jika aku tidak salah, kalian telah cukup lama menghilang semasa Penculik-Penculik Misterius berkeliaran? Sangat aneh kalau tiba-tiba kalian muncul membawa maksud yang rasanya tidak mungkin kami kabulkan. Jangan-jangan kalian telah bersekongkol dengan Penculik-Penculik itu...?" ujar Harjana.

"Kami tidak membutuhkan khotbah mu, Harjana! Kalau kau tidak bersedia memenuhi permintaan itu, maka jangan menyesal jika kami terpaksa bertindak keras...!" jawab Ki Adiwarsa yang berjuluk Pendekar Tongkat Sakti. Sepasang mata tokoh itu tampak menyiratkan ancaman maut Bahkan tongkat baja di tangan kanannya sudah bergetar, pertanda siap untuk digunakan.

"Hm.... Kalian rupanya sudah tersesat jauh...! Tapi biar bagaimanapun, aku tidak akan mengabulkan permintaan kalian...," tegas Harjana seraya melangkah mundur sambil meloloskan pedang di punggungnya, mengingat lawan yang dihadapinya tokoh-tokoh terkenal yang berkepandaian tinggi.

"Hmmm...," Pedang Pemecah Langit menggeram gusar. Kakinya bergeser ke kanan. Sedang pedang di tangan kanannya yang entah kapan tercabut dari sarungnya telah bergetar, menimbulkan decitan tajam menusuk telinga.

Pendekar Tongkat Sakti dan Sepasang Golok Kembar pun telah bergerak ke kiri-kanan. Nampaknya mereka hendak menghadapi keroyokan puluhan murid-murid Perguruan Rimba Kecil. Melihat gelagat itu, Harjana langsung menganggukkan kepala memberi isyarat untuk segera menggempur ketiga pengacau itu,

"Heaaattt...!"

Pedang Pemecah Langit kelihatannya sudah tidak sabar lagi. Diiringi teriakan yang melengking tinggi, tubuh jangkung itu langsung melayang disertai kelebatan pedang yang berciutan, mengalahkan suara gemuruh air hujan.

Harjana yang sadar akan kehebatan serangan lawan, segera menggeser tubuhnya ke samping dua langkah. Kemudian mengibaskan pedangnya dengan kecepatan tinggi membabat iga lawan!

Bweeettt..!

Tapi, yang kali ini dihadapinya adalah Pedang Pemecah Langit Seorang jago pedang kawakan yang telah malang-melintang selama puluhan tahun. Ilmu pedangnya sudah sangat matang. Hingga serangan Harjana dapat ditepiskan dengan mudah.

Trangngng...!

Benturan kedua batang pedang yang sama-sama didorong kekuatan tenaga dalam tinggi saling berbenturan keras, menimbulkan percikan bunga api yang menyilaukan mata.

"Aaahhh...?!" Harjana mengeluh tertahan. Tubuhnya terdorong mundur sejauh empat langkah, dan tangan kanannya terasa agak nyeri. Meski demikian, lelaki gagah berpakaian serba putih itu dapat memperbaiki kuda-kudanya dan kembali siap bertempur.

Pedang Pemecah Langit menggeram gusar. Tubuh lelaki jangkung itu pun terdorong mundur. Meski hanya dua langkah, namun benturan tadi mempengaruhi kuda-kudanya. Hingga tergempur mundur.

"Hm..." Harjana kelihatan kaget melihat tokoh jangkung itu tergempur kuda-kudanya. Kenyataan itu membuat Harjana agak lega, meskipun ada bias keheranan di wajahnya.

Setahunya Pedang Pemecah Langit tokoh yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi, dan tenaga dalam yang sangat hebat. Sedangkan ilmu pedang maupun tenaganya tidak sehebat Pedang Pemecah Langit. Tapi, setelah melihat kenyataan itu ia menjadi ragu. Kini dirinya merasa yakin dapat mengimbangi kehebatan Pedang Pemecah Langit. Bahkan mungkin mengalahkannya, mengingat ilmu pedang dan kekuatan pendekar itu sudah mulai menurun.

Kedua tokoh itu kembali saling berhadapan, dan beradu pandang dengan sorot mata tajam. Kaki mereka bergerak perlahan diiringi suara sambaran angin pedang yang menderu-deru, menindih gemuruh hujan yang belum juga reda.

Di tempat lain, Pendekar Tongkat Sakti mengamuk berat, membuat murid-murid Perguruan Rimba Kecil kalang-kabut. Meski demikian, mereka tetap berusaha membendung putaran tongkat baja putih di tangan kakek itu. Kedua ujung tongkat itu bermandikan darah segar setelah memakan beberapa kepala murid-murid Perguruan Rimba Kecil.

"Heeeahhh...!"

Namun, semangat dan kesetiaan murid-murid Perguruan Rimba Kecil memang patut mendapat acungan jempol. Mereka tetap gigih dan pantang mundur. Meskipun untuk itu mereka harus mempertaruhkan selembar nyawa. Sehingga pertarungan tetap berlangsung seru.

Amukan Sepasang Golok Kembar tak kalah hebat. Sepasang senjata yang terbuat dari baja pilihan itu telah hilang warna aslinya. Terbalut lumuran darah lawan. Belasan mayat bergelimpangan menjadi korbannya. Meski demikian, kepungan murid-murid Perguruan Rimba Kecil tidak merenggang. Bahkan terlihat semakin bertambah rapat. Tampaknya makin banyak korban berjatuhan, makin tinggi semangat mereka untuk menggempur lawan.

"Heeeaaattt..!"

Di tengah gemuruh hujan dan ramainya dentang senjata serta teriakan-teriakan, tiba-tiba terdengar lengkingan panjang yang menulikan telinga. Seiring dengan lengkingan itu sesosok tubuh melayang dari dalam bangunan induk perguruan! Bagai seekor burung besar yang melayang-layang di angkasa, sosok tubuh itu berputaran dan langsung terjun ke dalam kancah pertarungan, tempat Pendekar Tongkat Sakti mengamuk hebat!

"Heeeahhh...!"

Begitu tiba, sosok berpakaian serba merah itu langsung melontarkan kepalan kanannya ke dada Pendekar Tongkat Sakti. Gerakannya cepat dan mantap. Hingga membuat kakek itu menarik mundur tubuhnya.

Whuuuttt..!

Pukulan pertama dapat dihindarkan dengan baik. Tapi, betapa terkejutnya tokoh itu ketika melihat serangan lawan masih berlanjut. Bahkan sepasang tangan itu terus mengejarnya tanpa henti. Sehingga, ia terpaksa memutar tongkatnya untuk memapaki dan menghentikan serangan yang bertubi-tubi itu.

Dukkk!

"Aaahhh...?!" Pendekar Tongkat Sakti kembali mengeluarkan pekik tertahan, ketika merasakan kuatnya tenaga pukulan lawan. Tubuhnya sampai tergetar mundur dan tangannya terasa kesemutan! Meski demikian, Ki Adiwarsa boleh bernapas lega. Karena tangkisan tongkatnya telah membuat serangan itu terhenti.

"Hm.... Tidak kusangka seorang tokoh terhormat seperti Pendekar Tongkat Sakti sampai berbuat hal yang sungguh memalukan! Apa yang telah membuatmu meninggalkan jalan lurus dan berpaling ke jalan sesat, Ki Adiwarsa...?" tegur sosok berpakaian serba merah tak senang. Bahkan, tersirat kemarahan dalam ucapannya.

Ki Adiwarsa tak menanggapi ucapan itu. Lelaki itu sudah memutar tongkat di tangannya dengan sepenuh tenaga. Sepasang matanya menyala penuh kemarahan. Sikap Ki Adiwarsa tak ubahnya seekor binatang buas yang diganggu kesenangannya.

"Hmmmhhh...!" Begitu geramannya terdengar, saat itu juga tongkat baja putih di tangannya bergerak membabat secara mendatar!

Whuuukkk...!

Lelaki tinggi kurus berpakaian serba merah pun sadar akan bahaya yang mengancam. Hingga tidak memandang rendah serangan lawan. Maka, lelaki itu memilih mundur daripada memapaki sambaran tongkat baja lawan. Kemudian mencabut sepasang, trisula di kiri-kanan pinggangnya. Dan, menggempur dengan serangan balasan yang sangat cepat!

Cwiiittt! Cwiiittt..!

Kilatan sinar perak memancar, membuat Ki Adiwarsa harus menarik serangannya. Tubuh kakek itu bergerak mundur sambil merendahkan kuda-kudanya. Kemudian tongkat di tangannya bergerak dari atas ke bawah seperti mencongkel.

Tringngng! Tringngng...!

Tubuh Ki Adiwarsa kembali terjajar mundur, ketika benturan keras itu terjadi. Saat itu juga lawan langsung menyusuli serangannya. Agaknya, lelaki berpakaian serba merah tidak memberi kesempatan pada Pendekar Tongkat Sakti untuk membangun serangan baru.

"Yeaaa...!"

Sepasang trisula lawan bersinar menyilaukan mata, mengancam tubuh Ki Adiwarsa. Tampaknya, kali ini dirinya tidak mungkin menghindari serangan maut itu!

"Haaaiiittt..!"

Namun, pada saat yang genting itu, tiba-tiba melayang sesosok tubuh yang langsung menyelamatkannya dari incaran sepasang trisula lawan!

Trangngng! Trangngng!

"Aaaiii...?!" Lelaki berpakaian serba merah memekik tertahan. Tubuhnya terdorong balik terkena tangkisan yang sangat kuat. Untunglah tokoh itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat baik. Sehingga, dapat meluncur turun ke tanah dengan kedua kaki lebih dulu.

"Sepasang Naga Laut..?!" desis lelaki berpakaian serba merah terkejut saat mengenali orang yang menggenggam sepasang pedang kehijauan. Tokoh berpakaian kulit ular hijau hanya tersenyum mengejek.

"Tinggalkan tempat ini...! Kita sudah berhasil mendapatkan benda yang kita cari...!" bisik lelaki berpakaian kulit ular pada Ki Adiwarsa.

Ki Adiwarsa menyunggingkan senyum kepuasan. Sepasang matanya mengerling ke punggung Sepasang Naga Laut, yang menggendong sebuah bungkusan cukup besar.

"Hendak lari ke mana pencuri laknat..!" tiba-tiba terdengar teriakan keras yang membuat Sepasang Naga Laut menoleh. Tampak seorang lelaki tua berusia sekitar lima puluh tahun tengah berlari ke arah mereka. Rupanya, yang dimaksud pencuri itu adalah Sepasang Naga Laut.

Tanpa mengindahkan pengejarnya, Sepasang Naga Laut mengeluarkan suitan panjang melengking mengatasi gemuruh hujan dan suara pertempuran. Kemudian, melesat pergi setelah menganggukkan kepala kepada Ki Adiwarsa yang segera mengikutinya.

Pedang Pemecah Langit yang saat itu telah dapat menekan lawan, tampak tertegun sejenak. Kemudian, menghentikan tekanannya dan melesat pergi meninggalkan Harjana yang jatuh terduduk lemas. Agaknya pertarungan barusan telah menguras seluruh tenaganya.

"Tahan mereka...! Jangan biarkan lolos! Sepasang Naga Laut telah mencuri pusaka perguruan kita...!" lelaki gagah berusia lima puluh tahun itu berteriak-teriak memerintahkan murid-murid Perguruan Rimba. Kecil mencegah kepergian lawan-lawannya.

Mendengar teriakan itu, para murid perguruan yang tengah mengeroyok Sepasang Golok Kembar makin memperhebat serangan mereka. Meskipun untuk itu mereka harus merelakan nyawanya.

"Heeeaaattt..!"

Empat orang murid Perguruan Rimba Kecil memekik keras, menghadang Sepasang Golok Kembar yang hendak melarikan diri. Pedang di tangan mereka berkelebatan mencegah kepergian lawan.

"Setan...!" Sepasang Golok Kembar sangat jengkel melihat perbuatan mereka. Senjatanya bergerak cepat dengan kekuatan hebat. Dan....

Whuuuttt!

Brettt, brettt!

"Aaakhhh!"

"Oughhh!"

Pekik kematian terdengar berturut-turut ketika Sepasang Golok Kembar bergerak membeset tubuh keempat lawannya. Begitu tubuh korban terbanting ke tanah, tokoh itu pun melesat pergi.

"Hiiiaaattt..!"

Melihat pencuri-pencuri itu melarikan diri, Harjana bangkit dan berusaha mencegah kepergian Sepasang Golok Kembar. Sebab, hanya tokoh itu yang tertinggal di halaman perguruan. Sedangkan yang lainnya sudah menghilang dari tempat itu.

Trangngng!

Terdengar benturan keras ketika Sepasang Golok Kembar memapaki serangan pedang Harjana. Tubuh keduanya terlempar balik hampir sejauh satu tombak. Jelas menunjukkan kekuatan mereka berimbang!

"Hm.... Hendak lari ke mana, Maling Hina...!" geram Harjana kembali bergerak maju. Melihat para murid perguruannya telah mengepung Sepasang Golok Kembar, yang mulai dilanda kecemasan.

DUA

Sepasang Golok Kembar memutar senjatanya, membentuk gulungan sinar putih menyelimuti sekujur tubuhnya. Tokoh gemuk itu sadar untuk menerobos kepungan lawan, dirinya harus mengerahkan seluruh kemampuannya. Apalagi, murid-murid Perguruan Rimba Kecil dibantu Harjana yang merupakan tokoh tingkat tiga di perguruan itu.

"Hmmmhhh...!" Sepasang Golok Kembar memutar tubuhnya. Senjata di tangannya bergerak menyilang menimbulkan suara berdecitan tajam, membuat beberapa pengepungnya bergerak mundur.

"Sebaiknya kau menyerah, Manusia Sesat! Mungkin guru kami akan mempertimbangkan kesalahanmu, mengingat jasa-jasamu pada orang banyak...," Harjana mencoba membujuk Sepasang Golok Kembar menyerah. Tokoh Perguruan Rimba Kecil itu masih memandang lawannya sebagai tokoh terhormat, dan baru kali ini berbuat kejahatan.

"Heeeaaattt..!"

Jawaban Sepasang Golok Kembar ternyata tidak seperti yang diharapkan. Bujukan Harjana malah disambutnya dengan sebuah serangan maut!

Beuttt, bwettt..!

Sambaran Sepasang Golok Kembar di tangan tokoh gemuk itu demikian cepat dan kuat. Hingga Harjana yang menyadari dirinya terancam bahaya. Cepat bergerak mundur sambil menyilangkan pedangnya sekuat tenaga.

Trangngng...!

Keduanya terjajar mundur akibat benturan keras itu. Sepasang Golok Kembar tampak semakin ganas. Lelaki gemuk itu kembali menerjang dengan serangan-serangan mautnya. Harjana pun tidak mau kalah. Pedang di tangannya berputaran laksana baling-baling. Disertai gulungan sinar pedang yang menimbulkan suara menderu-deru, tokoh tingkat tiga Perguruan Rimba Kecil itu melesat ke depan menyambut serangan lawan. Sebentar kemudian, kedua tokoh itu sudah terlibat dalam sebuah pertarungan sengit!

Sementara itu, Pendekar Tongkat Sakti, Pedang Pemecah Langit, dan Sepasang Naga Laut ternyata bernasib sama dengan Sepasang Golok Kembar. Dua orang tokoh tingkat dua Perguruan. Rimba Kecil rupanya tidak sudi membiarkan pencuri-pencuri itu melarikan pusaka perguruan mereka. Dengan sepenuh tenaga mereka berusaha melakukan pengejaran. Dan upaya itu tidak sia-sia. Pencuri-pencuri itu dapat disusul setelah beberapa tombak melewati pintu gerbang perguruan.

"Hm.... Jangan harap kalian dapat pergi begitu saja setelah mencuri pusaka perguruan kami...!" geram lelaki tegap berpakaian serba merah dengan tatapan tajam menikam jantung. Di tangan kanan dan kirinya tergenggam sepasang trisula.

Demikian dengan lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun itu. Di tangan kanannya tergenggam sebatang penggada dari baja putih. Senjata berat itu terlihat ringan di tangannya. Membuktikan pemegangnya memiliki tenaga dalam kuat!

Whuuukkk...!

Senjata maut itu mengaung saat pemiliknya mengibaskan ke depan menghalangi jalan pencuri-pencuri itu. Pendekar Tongkat Sakti dan kawan-kawannya semakin terkejut, melihat tiga orang tokoh tingkat dua bergabung dengan para penghadangnya.

"Celaka! Rasanya, kita tidak mungkin dapat melarikan diri tanpa merobohkan mereka lebih dahulu. Sedangkan untuk melakukannya kita membutuhkan waktu yang banyak...!" desis Pendekar Tongkat Sakti cemas. Agaknya, tokoh itu tahu betul siapa lawan-lawannya kali ini.

"Hm.... Sebelum kita sempat merobohkan mereka, Ki Sangga Langit pasti sudah datang. Kalau sampai kakek hebat itu muncul, habislah harapan kita dapat melarikan diri...," timpal Sepasang Naga Laut tidak kalah cemas, melihat tokoh-tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil mengepung mereka.

"Kalau begitu, salah seorang dari kita harus bisa meninggalkan tempat ini dengan membawa pusaka-pusaka itu...," usul Pedang Pemecah Langit Ucapan itu dikeluarkan dengan berbisik. Sedangkan sepasang ma- tanya tetap terarah pada para pengepungnya.

Pendekar Tongkat Sakti dan Sepasang Pedang Naga terlihat menganggukkan. Keduanya langsung menyetujui usul Pedang Pemecah Langit. Mereka bersepakat dan menunjuk Sepasang Naga Laut untuk melarikan pusaka-pusaka itu. Sementara itu, tokoh-tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil sudah kehilangan kesabaran. Mereka mulai bergerak mempersempit kepungan.

"Haaattt..!" Lelaki tegap berpakaian serba merah membuka serangan dengan sepasang trisulanya. Senjata itu berkelebat cepat laksana sambaran kilat di angkasa.

"Yeaaattt..!"

Pedang Pemecah Langit segera melesat menyambut serangan tokoh itu. Pedang di tangannya mengaung tajam bagai hendak merobohkan langit Sebentar saja, keduanya terlibat dalam sebuah pertarungan mati-matian. Sesaat setelah pertarungan itu berlangsung, tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil lainnya segera meluruk ke arah Pendekar Tongkat Sakti dan Sepasang Naga Laut. Sehingga arena pertarungan semakin bertambah ramai!

"Haaattt..!"

Sepasang Naga Laut mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi dua orang tokoh Perguruan Rimba Kecil. Pedang di tangannya yang merupakan pusaka ampuh berkelebat mencari sasaran. Sayang, lawan yang dihadapinya kali ini bukan tokoh sembarangan. Sebagai tokoh puncak perguruan terkenal, mereka telah dibekali ilmu-ilmu tinggi. Meskipun Sepasang Naga Laut telah mengerahkan seluruh kemampuannya, tetap saja ia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ketika pertarungan memasuki jurus kedua puluh tujuh, tokoh itu mulai dapat ditekan lawan-lawannya.

"Hm.... Rupanya kepandaianmu telah banyak menurun, Sepasang Naga Laut. Mana kehebatan 'Ilmu Pedang Sepasang Naga'mu...," ejek lelaki gagah berwajah berewok. Lelaki gagah itu tampaknya cukup mengenal baik ilmu silat lawan. Sehingga kelihatan heran ketika merasakan ilmu pedang Sepasang Naga Laut tak sehebat dan sedahsyat dulu.

"Jangan banyak bicara, Gumaranta! Ayo, robohkan aku kalau memang kau sanggup...!" geram Sepasang Naga Laut mendengar ejekan lawan.

Lelaki tua bertubuh gagah yang wajahnya terhias berewok hanya memperdengarkan kekehnya. Tokoh tingkat dua Perguruan Rimba Kecil itu terus melontarkan serangan-serangannya dibantu kawannya. Sehingga, lawan semakin tak mampu melakukan serangan balasan. Dan, hanya bisa membentengi diri dengan sepasang pedangnya yang ampuh.

Nasib serupa juga dialami Pedang Pemecah Langit Lelaki berpakaian serba merah yang bersenjatakan sepasang trisula ternyata sangat hebat! Dalam jurus ke empat puluh, Pedang Pemecah Langit kelihatan mulai terdesak lawan. Sehingga, lelaki jangkung itu lebih banyak bertahan.

"Eh...?!" Lelaki gagah berpakaian serba merah itu tampak heran melihat permainan lawan yang terkadang melakukan gerak-gerak aneh dan sangat asing baginya. Bahkan, jurus-jurus pedang lelaki jangkung itu sempat membuat keningnya berkerut dalam. Ilmu pedang pendekar jangkung itu banyak memiliki kelemahan. Padahal Pedang Pemecah Langit bukan tokoh kemarin sore. Dan, ilmu pedangnya terkenal sangat tangguh di kalangan luas. Lelaki gagah itu jadi tak mengerti melihat keganjilan jurus-jurus lawannya.

"Pedang Pemecah Langit! Mengapa jurus-jurus ampuh mu seperti sudah tidak bergigi lagi? Apa kau terlalu banyak mengumbar nafsu, hingga kepandaianmu menurun...?" seru lelaki gagah berpakaian serba merah tidak bisa menahan keheranan. hatinya. Perasaan itu pun terlontar dari mulutnya.

Pedang Pemecah Langit seperti tidak peduli dengan ejekan lawan. Kesempatan selagi lawan berbicara dipergunakannya untuk membalas serangan. Sehingga, lelaki gagah berpakaian serba merah terpaksa menelan semua keheranan hatinya. Dan, kembali menekan Pedang Pemecah Langit dengan serangan-serangan mautnya.

"Hua ha ha...!"

Pada saat Sepasang Naga Laut, Pedang Pemecah Langit, dan Pendekar Tongkat Sakti mulai dapat dikuasai lawan-lawannya, tiba-tiba terdengar suara tawa parau yang bergema menggetarkan jantung. Seketika itu juga pertempuran terhenti. Mereka yang bertempur bergerak mundur dan mengerahkan hawa murni untuk melindungi isi dada. Suara tawa itu dikeluarkan dengan mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi. Siapa yang tak sanggup menahannya akan tewas dengan isi dada pecah!

Untung gema tawa itu tidak berlangsung lama. Karena memang hanya digunakan untuk menghentikan pertempuran. Begitu pertempuran terhenti, angin keras pun bertiup. Disusul dengan melayangnya sesosok tubuh tinggi besar berjubah merah, dengan pakaian serba hitam.

Jleggg!

Tanah di sekitar tempat itu bagai terguncang saat sosok tinggi besar itu menjejakkan kakinya ke tanah. Agaknya tokoh itu sengaja hendak memamerkan kekuatan tenaga dalamnya.

"Salam kepada Ketua Yang Perkasa...!"

Begitu melihat siapa yang datang, Pedang Pemecah Langit, Pendekar Tongkat Sakti, dan Sepasang Naga Laut langsung menjatuhkan diri berlutut dihadapan tokoh tinggi besar itu.

"Hua ha ha...! Apakah tugas kalian berhasil dengan baik...?" tegur sosok tinggi besar sambil memperdengarkan tawa yang menggelegar. Sepasang matanya yang besar dan tajam menatap ketiga sosok di bawahnya.

"Nyaris gagal Ketua, meskipun pusaka-pusaka itu sudah berada di tangan kami...," lapor Sepasang Naga Laut seraya membuka bungkusan besar yang tadi tergantung di punggungnya. Kemudian menyerahkannya pada lelaki tinggi besar itu.

Melihat bungkusan besar yang berisi kitab-kitab ilmu silat serta pusaka Perguruan Rimba Kecil, Ki Gumaranta dan lelaki berpakaian serba merah tidak bisa menahan marah. Keduanya langsung melesat berbarengan hendak merebut bungkusan besar itu.

"Hmmm..." Sosok tinggi besar itu memperdengarkan gumaman perlahan. Tangan kanannya dikibaskan ke samping untuk menghalau serangan dua orang tokoh tingkat dua Perguruan Rimba Kecil.

Whusss...!

Gerakan yang kelihatannya sangat perlahan ternyata berakibat parah bagi Ki Gumaranta dan saudara seperguruannya! Serangkum angin keras berhembus membentur tubuh mereka.

"Aaahhh...?!"

"Heiii...?!"

Terkejut bukan main kedua tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil merasakan tubuh mereka terdorong ke belakang. Dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh keduanya jatuh berguling-guling sejauh tiga tombak. Rasanya, mereka tidak pernah bermimpi dapat dirobohkan lawan dalam satu gebrakan saja. Meskipun itu akibat kecerobohan mereka yang menganggap remeh lawan.

"Gila...?!" desis Ki Gumaranta belum dapat percaya dengan kejadian yang baru dialaminya.

"Mustahil...?!" lelaki tegap berpakaian serba merah pun tidak bisa menerima kenyataan itu. Dirinya merasa seperti orang yang tengah bermimpi. Hingga rasa penasarannya bangkit seketika itu juga.

"Sabar Adi Jinggala...!" cegah Ki Gumaranta melihat lelaki berpakaian serba merah itu bersiap hendak menerjang sosok tinggi besar itu.

Lelaki berpakaian serba merah semula hendak membantah. Tapi ketika melihat sinar mata Ki Gumaranta yang penuh permohonan. Jinggala hanya bisa menghela napas panjang. Tubuhnya terasa lemas bagai tak bertenaga. Lelaki itu menyimpan rasa penasaran dalam hatinya.

Dengan sikap tenang, lelaki tinggi besar berjubah merah meneliti isi bungkusan besar. Dan, tawanya kembali terdengar. "Bagus..., bagus...! Kalian telah melaksanakan tugas dengan sangat baik...!" puji lelaki tinggi besar yang kelihatan sangat puas dengan hasil kerja Sepasang Naga Laut dan kawan-kawannya.

"Terima kasih, Ketua...," hormat ketiga pendekar itu seraya menganggukkan kepala bersamaan.

"Hm..., sebaiknya segera kita tinggalkan tempat ini sebelum Ki Sangga Langit muncul dan merebut kembali benda-benda pusaka ini...," lanjut lelaki tinggi besar kemudian membalikkan tubuh hendak meninggalkan tempat itu.

"Tunggu...!" Ki Gumaranta tentu tidak tinggal diam melihat perbuatan lelaki tinggi besar itu. Sambil berteriak mencegah, tubuhnya dan tubuh Ki Jinggala melayang menghadang jalan. Keduanya telah siap dengan senjata masing-masing.

Demikian dengan tiga orang adik seperguruan mereka, yang berdiri berjajar dengan senjata tergenggam dan siap mempertaruhkan nyawa merebut kembali pusaka-pusaka perguruan mereka.

"Hm.... Saat ini aku merasa gembira dengan apa yang ku peroleh. Maka aku tak ingin mengotori tangan dengan membunuh kalian. Tapi jika kalian memaksa, jangan salahkan aku...," gumam lelaki tinggi besar dengan sorot mata tajam, membuat Ki Gumaranta dan kawan-kawannya tergetar mundur.

"Siapa kau sebenarnya berani mencari permusuhan dengan perguruan kami? Sebutkan namamu...?" ujar Ki Gumaranta yang mewakili saudara-saudaranya.

"Hm.... Panggil saja aku Hantu Jubah Merah. Guru kalian, Ki Sangga Langit pasti kenal siapa aku. Nah, sekarang menyingkirlah! Kalian bukan tandinganku...!" sahut lelaki tinggi besar tidak memandang sebelah mata pun pada tokoh-tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil.

Belum lagi Ki Gumaranta menimpali, terdengar langkah berderap. Tak lama kemudian, muncullah Harjana bersama tiga puluh orang murid perguruan. Melihat kemunculan mereka, dapat ditebak kalau Sepasang Golok Kembar sudah mereka robohkan.

"Ketua..., Sepasang Golok Kembar...," desis Pedang Pemecah Langit yang rupanya menyadari kematian kawannya.

"Hm...," Hantu Jubah Merah hanya mendengus perlahan. Kelihatan sekali ia tidak begitu menyesali kematian Sepasang Golok Kembar.

"Ayo, kita pergi...!" ajak lelaki tinggi besar kembali melangkah lebar tanpa peduli di depannya telah berdiri menghadang Ki Gumaranta dan tokoh-tokoh lainnya.

"Seraaang...!" Sadar bahwa tak ada jalan lain kecuali bertempur, Ki Gumaranta segera memerintahkan saudara-saudaranya menerjang lawan.

"Haaattt..!"

Lelaki gagah berwajah berewok itu menggerakkan penggadanya dengan sepenuh tenaga. Sasarannya adalah Hantu Jubah Merah.

Bwettt! Bettt..!

Dua kali serangan lelaki gagah itu dapat dihindari lawan dengan memiringkan tubuhnya ke kanan kiri. Dan, langsung melepaskan hantaman telapak tangannya ke dada Ki Gumaranta.

Deeesss...!

"Hukkkhhh...!" Serangan balasan yang datang laksana sambaran kilat itu tak sempat dielakkan. Akibatnya, tubuh Ki Gumaranta terjengkang memuntahkan darah!

"Heeeahhh...!"

Dua orang tokoh tingkat dua yang datang menyerang kemudian, langsung terpental balik terkena pukulan jarak jauh Hantu Jubah Merah.

Bressshhh...!

Tanpa ampun lagi, pukulan sangat kuat itu memutuskan nyawa mereka dengan dada remuk. Kejadian yang berlangsung dalam beberapa kejapan mata itu membuat gempar murid-murid Perguruan Rimba Kecil. Tanpa diperintah lagi, mereka berlompatan mundur menjauhi Hantu Jubah Merah yang tertawa berkakakan.

"Hm.... Bagus, rupanya kalian sayang dengan nyawa yang selembar itu...," dengus tokoh bertubuh tinggi besar dengan suara berat penuh ejekan.

"Keparat...! Kulumat tubuhmu...!" Ki Jinggala hampir meledak isi dadanya karena melihat kematian saudara-saudaranya, memekik parau. Sepasang trisulanya bergerak melakukan serangan. Harjana dan yang lainnya pun tak mau ketinggalan Mereka ikut menerjang maju dengan senjata di tangan.

"Hm.... Biar kuhadapi cecunguk-cecunguk ini...! Kalian pergilah lebih dulu...," perintah Hantu Jubah Merah kepada Pendekar Tongkat Sakti, Pedang Pemecah Langit, dan Sepasang Naga Laut.

"Baik, Ketua.. ," sahut ketiga tokoh itu segera berkelebat meninggalkan tempat itu. Agaknya, mereka tidak mengkhawatirkan nasib ketuanya.

"Heeeaaattt...!"

Ketika melihat beberapa murid Perguruan Rimba Kecil hendak mencegah kepergian ketiga pembantunya, Hantu Jubah Merah pun membentak keras. Sepasang tangannya berkelebat dan mematuk-matuk bagai seekor ular hidup. Akibatnya....

"Aaa...!"

Dalam segebrakan, enam murid Perguruan Rimba Kecil roboh terpelanting dengan tenggorokan berlubang. Patukan jari-jari tangan tokoh itu membuat nyawa mereka melayang. Bukan main marahnya Ki Jinggala. Bagai orang kesetanan, sepasang trisulanya bergerak cepat dengan serangan-serangan maut!

Plakkk! Plakkk!

"Aaahhh...?!"

Tepisan telapak tangan Hantu Jubah Merah sangat kuat. Akibatnya, tubuh Ki Jinggala melintir seperti sebuah gangsing. Sedangkan murid-murid lainnya yang datang membantu, terpelanting ke kiri-kanan terkena tamparan keras tokoh tinggi besar itu. Karuan saja amukan Hantu Jubah Merah membuat yang lainnya menjadi gentar!

"Hmmm...," Melihat lawan-lawannya berlompatan mundur, Hantu Jubah Merah berkelebat ke depan. Dan lenyap dari pandangan setelah menutupi tubuhnya dengan jubah merahnya.

"Iblis...?!" desis Ki Jinggala yang terkejut melihat tubuh Hantu Jubah Merah lenyap bersama gumpalan asap putih, asap itu muncul seiring dengan lenyapnya sosok tinggi besar itu.

"Bagaimana ini, Kakang...?" Harjana yang merasa tak sanggup mempertanggungjawabkan kejadian ini pada gurunya meminta pendapat Ki Jinggala.

"Biar aku yang akan melaporkannya kepada guru. Sebaiknya kau bereskan tempat ini...," ujar Ki Jinggala kemudian meninggalkan tempat itu.

********************

TIGA

Di bawah siraman sinar matahari yang redup tampak tiga sosok tubuh melangkah menyusuri tanah becek. Genangan air pada tanah berlubang memaksa mereka harus berlompatan menghindarinya. Hingga memperlambat perjalanan ketiga orang itu.

"Hhh.... Untung hujan sudah reda. Kalau tidak, terpaksa kita harus bermalam di dalam hutan...," ujar seorang lelaki kurus berusia sekitar empat puluh lima tahun. Pakaiannya agak basah. Demikian pula dua orang temannya.

"Bukan hanya di dalam hutan, Ki. Kita juga harus mencari tempat berteduh. Paling tidak sebuah goa untuk melewatkan malam dalam keadaan hujan...," timpal pemuda gagah berpakaian kuning cerah. Agaknya, ketiga orang itu baru saja melewati hutan yang kini tertinggal dibelakang. Dan sempat berteduh saat hujan lebat tadi.

"Yahhh.... Mudah-mudahan saja di depan sana kita bisa menjumpai sebuah desa. Dengan begitu, kita bisa mencari tempat penginapan. Tidak enak rasanya bermalam di udara terbuka dalam cuaca sedingin ini...," tambah sosok ketiga yang bertubuh ramping. Tangannya terlipat di depan dada. Seolah ingin menunjukkan bahwa udara saat itu memang sangat dingin.

"Keinginanmu sama denganku, Pujawati. Aku pun enggan jika harus bermalam di alam terbuka dalam cuaca seperti ini...," ucap pemuda gagah berpakaian kuning cerah pada gadis manis disebelahnya.

Tidak sulit untuk mengetahui siapa pemuda gagah dan lelaki kurus yang berjalan bersama Pujawati. Mereka adalah Malela dan Ki Danara. Yang tengah melakukan perjalanan mencari guru dan ayah mereka yang lenyap tanpa jejak. (Baca episode Penculik-Penculik Misterius)

Pujawati, putri tunggal Pedang Pemecah Langit menoleh dan tersenyum. Perjalanan itu tampaknya telah menambah akrab ketiganya. Apalagi mereka merasa senasib dan setujuan. Sehingga setelah berhari-hari melakukan perjalanan bersama, kekakuan di antara mereka berganti dengan keakraban.

Malela, pemuda gagah pewaris Pendekar Tongkat Sakti melebarkan senyumnya. Kemudian membuang pandang ke arah lain. Menyembunyikan getaran hatinya saat melihat senyum Pujawati. Malela tahu diri untuk tidak menunjukkan perasaan hatinya pada gadis manis itu. Menjaga suasana di antara mereka agar tidak menjadi canggung. Itu sebabnya, Malela lebih suka menyembunyikan perasaannya. Meskipun ia menduga gadis manis itu kemungkinan mempunyai perasaan yang sama dengannya.

"Ada orang datang...!" seru Malela perlahan. Kemudian melesat ke semak-semak di tepi jalan, setelah memberi isyarat agar Ki Danara dan Pujawati mengikutinya.

Tanpa banyak tanya lagi, gadis itu langsung bersembunyi di semak-semak. Kemudian diam menunggu dengan hati berdebar. Tapi tidak dengan Ki Danara. Lelaki tua bertubuh kurus yang memiliki kepandaian paling rendah di antara mereka, kelihatan bingung, ketika melihat Malela dan Pujawati menyelinap ke dalam semak-semak. Baru setelah Malela memberikan isyarat, Ki Danara segera mencelat dan bersembunyi. Lelaki tua itu menahan napas agar tidak terdengar orang lain.

Tidak berapa lama kemudian, tampak tiga sosok tubuh berlarian melintasi jalan yang dilalui Ki Danara dan kawan-kawannya. Gerakan mereka yang ringan menunjukkan ketinggian ilmu larinya. Membuat hati ketiga orang yang bersembunyi itu makin berdebar. Dan, ketika ketiga sosok itu semakin dekat...

"Ayaaahhh...?!" Pujawati yang menyelinap di balik alang-alang lebat, mendesis dengan dada berdebar. Gadis manis itu mengenali salah satu dari ketiga sosok itu sebagai ayahnya. Meski agak heran, namun perasaan gembira membuatnya keluar dari tempat persembunyian.

"Ayah...!" seru gadis manis itu dengan mata mulai basah oleh rasa haru yang menghimpit dada. Tanpa ragu-ragu lagi, Pujawati berlari menyongsong ketiga sosok itu.

Ternyata bukan hanya Pujawati yang berbuat demikian. Malela dan Ki Danara pun keluar dari tempat persembunyiannya. Melihat ada Ki Adiwarsa di antara ketiga sosok lelaki tua itu, Malela langsung melesat Seolah berlomba dengan Pujawati yang tengah menyongsong ayahnya.

Mendengar teriakan Pujawati, ketiga sosok tubuh yang tidak lain Pendekar Tongkat Sakti, Pedang Pemecah Langit, dan Sepasang Naga Laut menghentikan larinya. Mereka menoleh ke arah datangnya suara langkah dan panggilan itu.

"Hm...!" Pendekar Tongkat Sakti bergumam perlahan. Sepasang matanya memancarkan kilatan tajam. Kemudian kembali tenang seperti biasa. Lelaki tua itu menunggu kedatangan pemuda gagah berpakaian kuning cerah yang tengah berlari ke arahnya.

Demikian pula Pedang Pemecah Langit. Meski hanya sesaat, terlihat kilatan aneh pada sepasang matanya. Jago pedang kenamaan itu menanti kedatangan Pujawati. Sedangkan Sepasang Naga Laut berdiri di belakang kedua kawannya. Sepasang matanya bergerak-gerak memperhatikan kejadian itu. Sesekali beralih ke arah Ki Danara yang melangkah paling belakang dengan tenang.

"Ayah..." Pujawati mengurungkan niatnya untuk memeluk orangtua yang sangat dicintainya itu. Langkahnya terhenti dalam jarak empat langkah dari tubuh Pedang Pemecah Langit. Sikap dingin lelaki tua itu membuat Pujawati ragu. Karena selama ini ayahnya sangat menyayangi dirinya, maka tidak heran jika melihat perubahan sikap ayahnya. Apalagi mereka baru bertemu kembali setelah berpisah cukup lama. Hal itu menimbulkan rasa curiga di hati gadis itu.

"Hm.... Mengapa tidak memeluk ku, Pujawati? Apa kau sudah tidak sayang pada ayahmu lagi...?" tegur Pedang Pemecah Langit tak senang. Sehingga, kening gadis manis itu tampak semakin berkerut dalam.

"Kau... Dari mana saja, Ayah...?" ucapan bodoh itu meluncur dari bibir Pujawati. Gadis itu sungguh tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat itu. Pujawati tidak bergerak meskipun ayahnya sudah menegur. Dan menoleh ke arah Malela yang tidak bersujud di depan gurunya. Agaknya pemuda berpakaian kuning cerah itu pun tengah dilanda keraguan.

"Hm Mengapa memandangku seperti itu, Malela? Apakah sejak aku hilang kau tak menganggapku lagi sebagai gurumu?" Pendekar Tongkat Sakti menegur perbuatan Malela yang menatapnya penuh selidik.

Entah apa yang dipikirkan Malela saat itu. Wajahnya tidak menunjukkan bias kegembiraan setelah bertemu dengan gurunya. Padahal, perjalanan yang dilakukannya selama ini untuk menemukan guru yang dihormatinya itu.

"Aku... aku...," Malela kelihatan bingung menjawab teguran Pendekar Tongkat Sakti. Rasa hormatnya tidak hilang, meskipun hatinya diselimuti keraguan.

"Berlutut padaku...!" bentak Pendekar Tongkat Sakti dengan wajah merah padam. Orang tua itu kelihatan marah melihat sikap lancang Malela.

"Ampun, Guru..." Tanpa ragu-ragu lagi, Malela langsung menjatuhkan tubuhnya berlutut di depan Pendekar Tongkat Sakti.

Tokoh itu mengangguk-anggukkan kepala sambil mempermainkan jenggotnya yang berwarna dua. Ada rasa senang terbersit di wajahnya. Demikian pula Pujawati. Keraguan gadis manis itu luntur oleh kesayuan pandang mata Pedang Pemecah Langit. Seolah lelaki tua itu merasa sedih melihat sikap Pujawati. Hingga, akhirnya Pujawati berlari memeluk tubuh lelaki tua itu.

"Anakku...," gumam Pedang Pemecah Langit seraya mengelus rambut gadis manis itu. Tapi....

"Aaahhh...?!"

Mendadak Pujawati menyentakkan tubuhnya dari pelukan lelaki tua itu. Gadis manis itu merasakan sikap dan belaian tangan ayahnya mengandung getaran aneh. Merasa berada dalam pelukan lelaki asing yang menyembunyikan hasrat tertentu, Pujawati pun menarik tubuhnya.

"Kau... kau bukan ayahku?" pekik dara manis itu tertahan. Sepasang matanya terbelalak lebar. Gadis itu penasaran. Tidak bisa membuktikan lelaki tua itu bukan Pedang Pemecah Langit yang sebenarnya.

Pedang Pemecah Langit pun tidak tinggal diam. Begitu melihat Pujawati meronta dari pelukannya, tokoh itu segera melancarkan totokan kilat ke tubuh Pujawati.

"Ooohhh...!" Tubuh gadis manis itu jatuh terkulai. Kekalutan hatinya membuat Pujawati tidak bisa menghindari totokan Pedang Pemecah Langit.

"Pujawati...?!" Melihat kejadian itu, Malela tersentak kaget. Apalagi, saat melihat tubuh gadis manis yang diam-diam telah merebut hatinya itu terkulai ke tanah. Dan sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba pemuda itu merasakan ada sambaran angin kuat dari sebelah atas.

"Malela! Awaaasss...!" Ki Danara yang sejak tadi menyaksikan pertemuan itu, berteriak memperingatkan.

Pada saat itu Pendekar Tongkat Sakti tengah melancarkan pukulan telapak tangan miring ke belakang leher Malela. Sambaran angin pukulan itulah yang dirasakan Malela. Menyadari dirinya terancam bahaya, Malela langsung mengangkat tangan kanannya ke atas. Meskipun demikian, tenaganya tidak dikerahkan sepenuhnya. Karena serangan itu begitu tiba-tiba, dan dilakukan dalam jarak dekat. Sehingga....

Dukkk!

"Aaahhh...?!" Kedudukannya yang lemah membuat tubuh pemuda itu terjerembab dan jatuh ke atas tanah basah. Tangan kanannya terasa linu. Malela memang tidak siap menghadapi serangan itu. Kedudukannya pun tidak menguntungkan.

"Heahhh!" Pendekar Tongkat Sakti tidak mau memberi kesempatan pada pemuda itu untuk menyiapkan jurusnya. Tokoh itu segera menyusul serangannya dengan hantaman tongkat baja putih.

Whukkk!

Senjata maut itu meluncur cepat dari atas ke bawah, siap meremukkan batok kepala Malela. Kali ini Pendekar Tongkat Sakti bermaksud membunuh pemuda gagah berpakaian kuning cerah itu.

"Haaattt..!"

Ki Danara tidak bisa tinggal diam melihat Malela terancam maut Tubuh lelaki tua itu melesat ke depan dengan sambaran pedangnya. Ki Danara langsung mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mengimbangi kepandaian Pendekar Tongkat Sakti yang sangat tinggi.

Bwettt... trangngng...!

"Aaahhh...?!" Meskipun berhasil menyelamatkan Malela, tapi tubuh lelaki tua itu terlempar ke belakang. Ternyata tenaga dalam Ki Danara kalah jauh dengan lawan. Pedangnya terlepas dan jatuh entah di mana. Biarpun begitu, tindakan Ki Danara tidak sia-sia. Malela segera bergulingan menjauh saat benturan keras itu terjadi.

"Haaaittt...!"

Begitu melenting bangkit, Malela langsung melesat. ke arah Ki Danara. Ditariknya tubuh orang tua itu bangkit berdiri. Ki Danara mengurut urut lengannya yang terasa linu.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Ki. Bagaimana keadaanmu...?" tanya Malela. Wajah pemuda itu terlihat cemas melihat seringai kesakitan di wajah Ki Danara.

"Tenaga dalam gurumu sungguh hebat sekali, Malela. Rasanya tulang-tulang lenganku patah akibat benturan tadi...," jawab Ki Danara sambil tetap memijat lengannya.

"Aku belum tahu pasti siapa sebenarnya lelaki tua itu, Ki. Kalau ia benar guruku, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Jika tidak, bagaimana mungkin ia demikian tega hendak membunuhku...," tandas Malela seraya memandang sosok gurunya.

"Siapa pun dia, kita harus tetap berhati-hati, Malela...," bisik Ki Danara mengingatkan.

Malela menganggukkan kepala. Lalu melesat ke rumpun bambu kuning yang tumbuh di tepi jalan. Dipilihnya bambu yang terbaik, kemudian ditebas dengan pedangnya.

"Gunakanlah pedangku untuk melindungi diri, Ki. Aku akan menggunakan batang bambu ini sebagai senjata. Meskipun ilmu yang kudapat belum sempurna, tapi Mudah-mudahan bisa kupergunakan untuk menjaga diri...," ujar Malela seraya menyerahkan pedangnya pada Ki Danara. Sebagai murid utama Pendekar Tongkat Sakti, tentu Malela telah mewarisi hampir seluruh ilmu-ilmu silat gurunya.

Tanpa banyak tanya, Ki Danara segera menyambut pedang Malela. Sebab, dirinya memang sangat membutuhkan senjata itu untuk membela diri dari serangan lawan. Maka, keduanya pun bersiap menghadapi lawan-lawannya.

"Hm.... Berani kau melawan gurumu, Malela...?" tegur Ki Adiwarsa dengan wajah merah padam. Sepasang matanya berkilat tajam penuh kemarahan. Kakinya melangkah beberapa tindak menghampiri Malela dan Ki Danara.

"Aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, Orang Tua? Mengapa kau mirip guruku. Dan, apa alasanmu hendak membunuhku tadi...?" tanya Malela penasaran. Sampai saat itu dirinya masih ragu.

Siapa sesungguhnya orang tua itu? Jika bukan gurunya, mengapa wajahnya demikian mirip? Padahal setahunya Ki Adiwarsa tidak mempunyai saudara kembar. Sangat aneh jika lelaki tua itu mengaku berjuluk Pendekar Tongkat Sakti, yang jelas-jelas merupakan julukan gurunya. Malela bingung dibuatnya.

"Jangan dengarkan ucapan busuknya, Malela! Orang tua itu bukan gurumu yang asli. Seperti halnya lelaki tua yang mirip guruku itu. Mana ada seorang guru tega membunuh murid-muridnya. Padahal, sang Murid merupakan pewaris tunggal perguruan serta ilmu-ilmunya itu. Mereka adalah tokoh-tokoh palsu...!" tandas Ki Danara, berusaha mengingatkan Malela agar tidak terpengaruh bujukan lelaki tua itu.

Malela pun lebih mempercayai ucapan Ki Danara. Sehingga, pemuda itu menyiapkan jurus tongkatnya. Siap menghadapi serangan Pendekar Tongkat Sakti dan kawan-kawannya.

Bettt! Bettt!

Tongkat bambu di tangannya dikibaskan hingga menimbulkan suara sambaran angin kuat. Bambu sepanjang lima jengkal dengan bulatan sebesar gagang pedang itu, siap digunakan Malela sebagai senjata.

"Hm..,," Pendekar Tongkat Sakti bergumam lirih. Sepasang matanya bergerak liar. Kemudian, tongkat baja putihnya diputar di depan dada. Terdengar suara menderu-deru yang menerbangkan bebatuan kecil di dekatnya. Ki Adiwarsa tidak tanggung-tanggung untuk mengarahkan segenap tenaganya.

"Majulah, Murid Murtad...!" geram kakek itu. Pandangannya tertuju lurus pada sepasang bola mata Malela.

Pemuda itu segera membuang pandang ke arah lain. Tatapan mata lelaki tua itu tak ubahnya pandangan seorang guru yang hendak menghukum muridnya. Agaknya, itu dilakukan untuk membuat hati Malela gelisah.

"Haaattt...!"

Dengan sebuah teriakan nyaring. Malela melesat ke depan. Tongkat bambu di tangannya bergerak cepat Terkadang hanya dipegang satu tangan saja. Gerakannya yang berubah-ubah itu membuat lawan tertegun sejenak.

Bwettt..!

"Haiiittt..!"

Pendekar Tongkat Sakti memiringkan tubuhnya untuk menghindari sodokan ujung tongkat bambu Malela yang mengarah tenggorokannya. Kemudian, membalas dengan hantaman telapak tangan kirinya. Disusul hantaman tongkatnya dari atas ke bawah. Tapi, semua serangan itu dapat digagalkan Malela dengan mudah. Sebentar kemudian, keduanya terlibat dalam sebuah perkelahian sengit!

Setelah dua puluh jurus lebih, Malela semakin bertambah yakin lelaki tua itu bukan gurunya yang asli. Permainan tongkat orang tua itu dicampur dengan ilmu-ilmu silat lain yang tidak dikenalnya. Apalagi, ternyata dirinya dapat mengimbangi permainan lawan. Keyakinan Malela semakin menjadi-jadi. Hanya saja pemuda itu tidak mengerti. Bagaimana mungkin lelaki tua itu memiliki wajah yang serupa dengan gurunya? Bahkan, ia memiliki ilmu tongkat perguruannya, meski di bawah ilmu Malela.

"Keparat! Sekarang aku yakin. Kaulah yang telah menculik guruku. Ilmu dan tongkat guruku itu buktinya!" seru Malela di tengah hujan serangan lawan. Tubuh pemuda itu berkelit ke kiri-kanan. Sesekali tongkat bambu ditangannya melontarkan serangan balasan yang tidak kalah cepat

Sebagai pewaris Perguruan Tongkat Sakti, pemuda gagah itu telah mewarisi hampir seluruh ilmu Ki Adiwarsa. Selain memiliki sikap gagah dan jujur, Malela pun seorang murid berbakat Hingga tidak aneh bila ia dapat mengimbangi permainan lawan, yang menggunakan ilmu tongkat perguruannya.

Satu keuntungan Malela adalah pemuda itu telah melatihnya sejak kecil. Sehingga, dapat mengenali ilmu lawan dengan baik. Itulah salah satu keuntungan Malela. Maka, pada jurus keenam puluh pemuda itu mulai dapat menekan lawan.

"Haaattt...!"

Seraya membabatkan tongkat bambunya ke leher lawan, pemuda itu berteriak nyaring. Malela ingin memecah perhatian lawan.

Bwettt..!

Ketika sambaran tongkat bambunya gagal, Malela langsung mengirimkan sebuah tendangan miring yang telak mengenai sasaran.

Bukkk!

"Uuuhhh...!" Meskipun tidak terlalu kuat, namun tendangan pemuda itu sempat membuat lawan terdorong dan nyaris terpelanting jatuh. Untung kedudukan tokoh tua itu cukup kuat. Hingga dapat mengimbangi gerak tubuhnya dengan baik.

"Yeeeaaa...!"

Kesempatan itu tidak disia-siakan Malela. Tubuhnya melambung ke udara. Dari atas tongkat bambunya bergerak menghantam tubuh di bawahnya!

Bweeettt..! Trakkk!

"Aaahhh...?!" Malela memekik kaget. Tubuhnya terpental balik. Dan tongkat bambu di tangannya terpotong menjadi dua. Beruntung pemuda itu bertindak sigap dengan melempar tubuh ke belakang. Kalau tidak, bukan mustahil tubuhnya ikut terpotong menjadi dua!

Seorang lelaki yang bersenjatakan sepasang pedang bersinar kehijauan, telah berdiri di depan Pendekar Tongkat Sakti. Orang itu adalah Sepasang Naga Laut!

"Hm...," Malela bergumam sambil memperbaiki kuda-kudanya. Sadar bahwa lawannya kali ini memiliki kepandaian yang jauh lebih hebat, Malela pun lebih bersikap hati-hati. Langkahnya diputar seperti hendak meneliti kelemahan lawan.

"Malela! Pakai pedang ini...!" Melihat Malela tidak bersenjata, Ki Danara segera melemparkan pedang yang tadi diberikan pemuda itu kepadanya. Rupanya, orang tua itu pun tahu kalau lawan Malela berkepandaian lebih tinggi dari Pendekar Tongkat Sakti gadungan.

"Haaaiiittt...!"

Celaka! Saat Ki Danara melemparkan pedangnya, Sepasang Naga Laut langsung melambung ke udara. Sepasang pedang di tangannya berputar cepat mencegah pedang itu sampai di tangan Malela.

Trakkk! Trakkk!

Terdengar benturan keras dua kali. Disusul runtuhnya pedang Malela yang terpotong tiga. Sepasang pedang di tangan lelaki berpakaian kulit ular berwarna hijau itu memang merupakan sebuah pusaka ampuh.

"Gila...!" desis Malela kagum melihat ketajaman dan keampuhan sepasang pedang lawan. Tapi, bukan berarti dirinya gentar bertarung dengan tangan kosong. Tidak! Malela akan tetap menghadapi Sepasang Naga Laut, meskipun dengan ilmu tangan kosongnya!

"Hm...," Sepasang Naga Laut mendengus seraya menatap tajam Malela. Dan pemuda itu membalasnya. Kedua belah pihak sudah siap saling gebrak!

EMPAT

Malela yang sadar akan kepandaian lawan, tidak mau bertindak ceroboh. Ditunggunya lawan mulai menyerang. Dirinya akan bertahan dengan mengandalkan sepasang tangannya. Seluruh kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan. Malela siap bertarung habis-habisan!

Sepasang Naga Laut rupanya dapat membaca jalan pikiran lawan. Tapi tampaknya ia tidak peduli. Tokoh berpakaian kulit ular itu merasa yakin dapat menundukkan murid Pendekar Tongkat Sakti itu. Meskipun dengan menyerang lebih dulu berarti ia memperlihatkan kelemahan pertahanannya.

Bweeettt…! bwettt..!

Sepasang pedang pusaka bersinar kehijauan berkilau saat tokoh itu memutarnya di depan tubuh. Sambaran angin berhawa dingin memenuhi arena pertarungan. Dan....

"Haiiittt..!"

Disertai sebuah bentakan nyaring, tubuh lelaki berpakaian kulit ular itu melesat ke depan dengan sambaran pedang yang berdesingan tajam. Kilatan sinar kehijauan itu bagai tangan-tangan maut yang siap mencabut nyawa lawan.

Bettt! Bettt!

"Hahhh...!" Sambil membentak Malela menghindari sambaran sepasang pedang lawan. Seluruh kelincahannya dikeluarkan untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Dan membalas sesekali dengan pukulan serta bacokan sisi telapak tangannya. Bahkan, tidak jarang kakinya melancarkan tendangan-tendangan kilat yang cepat dan kuat. Sehingga, sebentar saja keduanya telah bertarung sengit!

Tapi julukan Sepasang Naga Laut memang bukan nama kosong. Tokoh itu membuktikan kehebatannya. Setelah lewat dua puluh tiga jurus Malela mulai terdesak. Ruang geraknya semakin sempit, seolah terkurung hujan pedang!

Breeettt..!

"Aaahhh...?!"

Sebuah sambaran senjata lawan membuat pemuda itu memekik kesakitan. Meskipun luka di pangkal lengannya tidak terlalu dalam, namun cukup mengganggu gerakannya. Sehingga, tekanan lawan terasa semakin berat!

"Malela, aku akan membantumu...!" Ki Danara yang sejak tadi hanya sebagai penonton, tak dapat menahan diri lagi ketika melihat pemuda itu terdesak. Tubuhnya segera melayang ke dalam arena pertarungan. Walau kepandaiannya tidak begitu tinggi, tapi Ki Danara bukan seorang pengecut. Ia rela mempertaruhkan nyawa untuk membantu Malela yang terkurung pedang lawan.

Whukkk...!

Begitu memasuki arena pertarungan, Ki Danara langsung melontarkan sebuah pukulan ke arah Sepasang Naga Laut. Melihat sambaran angin yang cukup kuat Ki Danara agaknya telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melancarkan serangan itu.

"Hmmmhhh...!" Sepasang Naga Laut mengeluarkan dengusan mengejek. Tubuhnya berkelit menghindari pukulan lelaki tua itu. Kemudian, mengalihkan serangannya ke arah Ki Danara. Dengan gerakan menggunting, sepasang pedangnya mengancam leher lelaki tua itu!

"Aaahhh...?!" Terkejut bukan main Ki Danara. Ia merasa nyawanya akan segera melayang dengan kepala terpisah dari badan!

"Ki Danara...?!" Wajah Malela pucat melihat serangan maut itu. Nyawa Ki Danara tidak mungkin dapat diselamatkan lagi. Jarak mereka terpisah sekitar satu tombak lebih. Sulit bagi Malela untuk menyelamatkan kawannya. Apalagi, gerakan Sepasang Naga Laut masih berada di atas kecepatannya.

Trangngng! Trangngng!

"Aaaiiihhh...?!"

Pada saat yang sangat gawat itu, mendadak berkelebat sesosok bayangan putih. Sosok itu langsung memapaki sepasang pedang yang nyaris membabat putus leher Ki Danara. Tubuh Sepasang Naga Laut pun terdorong mundur terkena tangkisan sosok bayangan putih. Sepasang Naga Laut segera memperbaiki kuda-kudanya. Lalu menatap sosok pemuda tampan yang mengenakan jubah panjang putih. Yang ditatapnya berdiri tegak dengan sepotong bambu ditangannya. Potongan bambu itu milik Malela yang terpapas putus oleh pedangnya!

"Gila...?! Benarkah potongan bambu itu yang digunakan untuk menyambut pedangku...?" desis Sepasang Naga Laut tak percaya. Tidak masuk di akal jika sepasang pedang pusakanya dapat terpukul mundur oleh sepotong bambu. Jelas itu tidak mungkin!

"Hm.... Tidak kusangka seorang tokoh besar sepertimu demikian mudah mencabut nyawa orang lain...," gumam pemuda tampan berjubah putih yang kelihatan terkejut saat mengenali lawan-lawan orang yang ditolongnya. Sepanjang pengetahuannya mereka adalah tokoh-tokoh besar golongan putih.

"Pendekar Naga Putih...?!" Ki Danara gembira bukan main ketika mengenali sosok pemuda tampan berjubah putih yang telah menyelamatkan nyawanya. Lelaki tua itu telah mengenal siapa penolongnya. (Untuk mengetahui perkenalan Ki Danara, Malela serta Pujawati dengan Panji dan Kenanga, silakan ikuti episode Penculik-Penculik Misterius).

Pemuda tampan berjubah putih yang memang Panji, menganggukkan kepala menyapa Ki Danara dan Malela. Di dekat mereka terlihat seorang dara jelita berpakaian serba hijau. Gadis itu adalah Kenanga yang datang bersama Panji.

Pasangan pendekar muda itu belum lama bertemu. Ketika Kenanga terluka matanya oleh serbuk racun Penculik-Penculik Misterius, gadis itu tinggal bersama Dewa Tangan Salju dipertapaan kakek itu. Dewa Tangan Salju lah yang mengobati luka Kenanga dengan petunjuk Panji. Sedangkan Panji sendiri pergi mencari Penculik-Penculik Misterius. Setelah Kenanga sembuh dan Panji belum kembali, gadis itu mencarinya. Mereka bertemu disebuah desa.

"Mereka... orang-orang jahat yang menyamar sebagai guruku, dan guru Ki Danara, Pendekar Naga Putih...," jelas Malela sebelum pemuda tampan itu bertanya.

Panji tampak kaget mendengar keterangan itu. "Betulkah demikian...?" Panji meminta ketegasan. Pemuda itu merasa heran melihat Sepasang Naga Laut hendak membunuh Ki Danara. Padahal di tempat itu ada Pedang Pemecah Langit, yang merupakan guru lelaki tua bertubuh kurus itu.

"Lalu..., bagaimana dengan Pujawati...?" Kenanga melihat gadis manis itu berada dalam gendongan Pedang Pemecah Langit. Tokoh bertubuh jangkung itu menggenggam sebatang pedang di tangan kanannya.

Malela segera menceritakan kejadiannya yang menimpa Pujawati. Hingga gadis itu berada dalam dekapan Pedang Pemecah Langit. Pasangan pendekar muda itu pun mulai mengerti duduk perkara yang sebenarnya.

"Hm.... Kalau begitu, kita harus menyelamatkan Pujawati dari cengkeraman ayah palsunya itu...," bisik Panji seraya melemparkan pandang ke arah Pedang Pemecah Langit.

Sementara itu, Sepasang Naga Laut, Pedang Pemecah Langit, dan Pendekar Tongkat Sakti telah berkumpul. Mereka tampak gentar melihat pemuda tampan berjubah putih. Agaknya, ketiga tokoh gadungan itu telah mengenal siapa Panji. Mereka pun bersepakat untuk meninggalkan tempat itu dengan membawa lari Pujawati.

"Heiii...!" Panji berusaha mencegah ketika melihat ketiga tokoh gadungan itu hendak melarikan diri. Tubuhnya melesat ke depan, dan berputaran beberapa kali di udara. Kemudian....

Jleggg!

Tubuh pemuda itu mendarat di tanah dalam jarak dua tombak di depan ketiga tokoh gadungan itu. Mereka segera menahan langkah dengan wajah tegang!

"Hm.... Hendak lari ke mana, Manusia-manusia Jahat! Lebih baik serahkan gadis itu, dan menyerahlah secara baik-baik jika tidak ingin terjadi hal-hal buruk menimpakalian!" ancam Panji dengan sinar mata tajam menikam jantung, membuat hati lawan-lawannya berdebar keras.

Ketiga tokoh gadungan itu tidak menanggapi ucapan Pendekar Naga Putih. Mereka malah membalikkan tubuh untuk mencari jalan meloloskan diri. Namun di belakang mereka telah berdiri Kenanga, Malela, dan Ki Danara. Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti segera memutar senjatanya. Lalu, menerjang ketiga penghadang itu. Mereka mengira gadis berpakaian serba hijau itu tidak terlalu berbahaya. Tidak seperti Pendekar Naga Putih. Maka, mereka pun memilih kabur dengan menerjang Kenanga dan kawan-kawannya.

"Haaattt..!"

"Yeeeaaattt..!"

Ketiga senjata yang telah dialiri kekuatan hebat itu, meluruk maju menerjang Kenanga dan kawan-kawannya. Kenanga tidak tinggal diam. Cepat tangannya bergerak meloloskan pedang. Dan dikibaskan ke depan menyambut serangan lawan!

"Yeeeaaa...!"

Trang, trang, trangngng!

"Aiii...?!"

"Aaahhh...?!"

Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti gadungan terpekik kaget. Senjata mereka dapat dipapaki pedang gadis jelita itu. Akibat tangkisan yang sangat kuat itu, keduanya terdorong mundur.

"Gila...! Ternyata gadis itu memiliki kepandaian tinggi...!" desis Sepasang Naga Laut. Harapannya untuk dapat meloloskan diri semakin menipis.

"Hm.... Sebaiknya kalian turuti saja permintaan Pendekar Naga Putih. Dan jangan berharap dapat lepas dari tangan kami...," ujar Kenanga mengejek. Pedang Sinar Bulan melintang di depan dada, siap menghadapi gempuran tokoh-tokoh gadungan itu.

"Kalau kalian tetap bersikeras tidak mau membiarkan kami pergi, nyawa gadis ini terpaksa ku cabut..!"

Pedang Pemecah Langit berkata sambil menekan mata pedangnya ke leher Pujawati. Gadis manis itu masih terkulai pingsan dalam gendongannya. Ancaman Pedang Pemecah Langit sempat membuat Panji dan yang lainnya tertegun sesaat.

"Gadis itu tidak mempunyai hubungan denganku," sahut Panji setelah berpikir sesaat. "Kalau kalian ingin membunuhnya, bunuhlah! Tapi setelah itu, aku tidak akan memberi ampun pada kalian bertiga...," pemuda berjubah putih balas mengancam dengan tatapan mata mencorong tajam, menyiratkan kegeraman hatinya.

Ki Danara dan Malela tentu saja kaget mendengar perkataan Pendekar Naga Putih. Namun, keduanya membungkam setelah Kenanga memberi isyarat diam. Mereka menunggu tanggapan Pedang Pemecah Langit yang kelihatan ragu setelah mendengar ancaman Panji. Di saat itulah Panji segera bertindak cepat memanfaatkan kelengahan lawan. Tubuhnya melesat secepat kilat. Tangan kanannya meluncur ke depan melancarkan totokan jarak jauh dengan mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Dan....

Taaasss!

"Aaakkkhhh?!" Pedang Pemecah Langit yang tidak menyangka Pendekar Naga Putih akan berbuat senekat itu, menjerit kesakitan. Pedang di tangannya terlepas dari genggaman. Lengan kanannya terkena kilatan sinar putih yang sangat kuat. Lengan itu terasa lumpuh seketika.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera menyambar tubuh Pujawati yang melorot ke tanah. Bersamaan dengan itu, telapak tangan kirinya didorong ke depan mengirim pukulan jarak jauh.

Deeesss...!

"Aaaghhh...?!" Pedang Pemecah Langit yang tengah terhuyung mundur, langsung terjengkang dan jatuh terbanting ke tanah! Pukulan jarak jauh Panji menggedor dada kirinya. Tokoh gadungan itu pun memuntahkan darah segar!

"Ooouhhh..." Terdengar rintihan perlahan Pujawati ketika Panji menyerahkan gadis manis itu pada Kenanga, yang segera membebaskan totokan di tubuh gadis manis itu.

"Kenanga...?!" desis Pujawati lemah saat matanya menangkap wajah gadis jelita itu.

"Syukurlah kau tidak terluka, Pujawati...," ucap Kenanga tersenyum lebar kepada gadis manis itu.

Begitu tersadar dari pingsannya, Pujawati langsung bangkit dan menatap berkeliling. Sepasang mata gadis remaja itu tampak berbinar ketika menemukan sosok yang dicarinya.

"Sudah kuduga kau pasti datang bersama Pendekar Naga Putih...," gumam dara remaja itu tidak menyembunyikan rasa gembiranya. Pujawati merasa lega dan gembira melihat sosok pendekar muda yang dikaguminya itu.

"Hhh...," Malela menghela napas panjang. Hingga terdengar Ki Danara yang berada di sebelahnya.

"Ada apa, Malela...?" tanya lelaki tua itu berpura-pura bodoh. Agaknya, Ki Danara sudah dapat membaca perasaan hati pemuda itu terhadap putri tunggal gurunya.

"Tidak apa-apa, Ki. Aku hanya merasa lega melihat Pujawati telah selamat..," sahut Malela sedikit gugup.

Ki Danara tersenyum tipis mendengar jawaban Malela. Dan, perhatiannya kembali dialihkan pada sosok Pendekar Naga Putih yang tengah berhadapan dengan ketiga lawannya. Saat itu Pedang Pemecah Langit telah berdiri. Meski wajah jago pedang itu kelihatan agak pucat, namun pedang di tangannya menandakan ia siap bertempur. Rupanya, kelumpuhan di tangan kanannya telah sembuh. Walau masih sedikit lemah, jago pedang gadungan itu bersatu dengan kawan-kawannya untuk menggempur Pendekar Naga Putih.

Panji tetap tegak di tempatnya, meskipun ketiga lawannya telah mengepung dirinya. Nampaknya ketiga tokoh gadungan itu nekat menghadapi Pendekar Naga Putih. Sebab, untuk meloloskan diri dari tempat itu jelas tidak mungkin. Satu-satunya pilihan bagi mereka adalah menghadapi pendekar muda yang digdaya itu.

LIMA

"Haaattt...!"

Sepasang Naga Laut, yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara mereka bertiga, membuka serangan dengan sepasang pedangnya. Menyusul Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit

Bwettt, bettt, whuttt...!

Panji menyelinap di antara sambaran senjata lawan. Sepasang tangannya bergerak cepat melepaskan serangan balasan yang tidak kalah bahayanya. Sehingga, dalam waktu singkat keempat tokoh persilatan itu telah bertarung sengit!

"Heeeahhh...!" Sepasang Naga Laut tampak paling bernafsu melancarkan serangan. Kelebatan sepasang pedangnya demikian gencar mencari sasaran. Memaksa Panji lebih memperhatikan lelaki gagah berpakaian kulit ular itu daripada dua lawannya yang lain.

Whuttt... Bwettt...!

Dengan kuda-kuda rendah, Panji mengelakkan sambaran sepasang pedang lawan yang mengincar leher dan iganya. Kemudian melompat pendek ke belakang, saat ujung tongkat baja Ki Adiwarsa gadungan mengancam dadanya. Serangan kedua lawannya pun luput dan membentur angin kosong! Saat itu juga Panji bergerak ke depan dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata. Sepasang tangannya bergerak ke kiri-kanan dengan mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya.

Bukkk! Desss...!

"Hukkkhhh...!"

"Aaakhhh...!"

Kecepatan gerak Panji membuat Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti tak sempat mengelak lagi. Akibatnya, tubuh kedua tokoh gadungan itu terjengkang ke belakang memuntahkan darah segar. Hantaman lengan Pendekar Naga Putih yang laksana palu godam telah menghajar telak tubuh mereka.

"Haaattt..!"

Ketika Panji hendak melumpuhkan kedua lawannya, Pedang Pemecah Langit melancarkan serangan. Hingga pemuda itu terpaksa menunda gerakannya.

Bwettt... Bwettt..!

Putaran senjata Pedang Pemecah Langit memang sungguh hebat! Panji harus menarik mundur tubuhnya untuk menghindari serangan itu. Serangan pedang lawan pun lewat di depannya. Panji langsung membalas serangan lawan dengan sambaran tangan kanan yang meliuk cepat menggedor dada Pedang Pemecah Langit!

Buggg!

"Huakhhh...!" Tanpa ampun lagi, tokoh tua itu terpental ke belakang sejauh dua tombak lebih! Hantaman itu membuat Pedang Pemecah Langit tidak sanggup untuk segera bangkit. Darah segar kembali termuntah saat ia terbatuk. Bagian dalam dadanya terasa remuk akibat gedoran telapak tangan pemuda berjubah putih.

Melihat Pedang Pemecah Langit gadungan tidak segera bangkit, Pendekar Naga Putih segera melayang ke arah dua lawan lainnya yang telah bersiap dengan senjata di tangan.

"Haaaiiittt..!"

Laksana seekor naga sakti yang meliuk-liuk di angkasa, tubuh Pendekar Naga Putih melayang ke arah Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti. Tubuh pemuda itu terbungkus sinar putih keperakan yang menebarkan hawa dingin menusuk tulang. Kedua tokoh gadungan itu terpana dan hanya bisa terpaku menanti kedatangan maut yang siap menjemput

"Haaaiii...!"

Saat tubuh Panji tinggal beberapa tindak dari kedua lawannya, tiba-tiba terdengar lengkingan tinggi yang menggetarkan dada. Bersamaan dengan itu, sesosok bayangan hitam melayang datang memotong serangan Panji.

Whusss...!

Sambaran angin keras berhembus mengiringi dorongan sepasang tangan sosok serba hitam. Sehingga....

Blarrr...!

Luar biasa sekali akibat benturan dua gelombang tenaga dalam tingkat tinggi itu. Bumi di sekitar tempat itu bagai diguncang gempa! Hingga pepohonan berderak ribut!

"Aaahhh...?!"

"Aiii...?!"

Akibat yang dirasakan Pendekar Naga Putih dan sosok berpakaian serba hitam pun tak kalah mengejutkan. Keduanya terpental balik dilempar tangan-tangan raksasa yang tak nampak. Seruan-seruan kaget keluar dari mulut mereka.

"Haaattt...!"

Untuk mematahkan daya dorong itu, Panji berteriak keras. Tubuhnya melenting ke udara dan berputaran tujuh kali sebelum mendarat di tanah. Tubuh pemuda itu agak bergoyang saat kedua kakinya menjejak tanah. Daya dorong benturan dahsyat itu ternyata sangat kuat

Demikian pula sosok tinggi besar terbungkus pakaian serba hitam. Tubuh tinggi besar itu terlempar balik dengan deras. Tapi, lagi-lagi sosok berpakaian serba hitam menunjukkan ketangguhannya. Tubuhnya melenting ke udara dan mendarat di tanah setelah berputaran beberapa kali. Kakinya tampak melangkah mundur meski telah mendarat dengan baik. Pada sela-sela bibirnya terlihat cairan merah mengalir turun. Tubuh bagian dalam sosok tinggi besar itu agaknya sempat terguncang oleh benturan dahsyat tadi.

"Hm... Kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" tegur sosok tinggi besar. Matanya menatap tajam sosok pemuda tampan berjubah putih yang juga tengah menatapnya lekat-lekat

"Dugaanmu tidak meleset Kisanak. Demikian orang-orang memberi julukan kepadaku. Siapakah kau? Dan apa hubunganmu dengan tokoh-tokoh gadungan itu...?" tanya Panji. Kening pemuda itu berkerut dalam. Rupanya, Panji tengah berusaha mengenali sosok yang berkepandaian sangat tinggi itu.

"Aku berjuluk Hantu Jubah Merah. Mengenai hubungan dengan mereka, aku rasa kau dapat menerkanya sendiri, Pendekar Naga Putih...," desis sosok tinggi besar dengan dada membusung. Kelihatan sekali ia sangat bangga akan julukan itu.

"Hantu Jubah Merah... ?" gumam Panji mencoba mengingat-ingat julukan itu, "Hm... Sayang aku belum pernah mendengar julukanmu, Hantu Jubah Merah. Tapi, aku sudah dapat menebak. Dirimu adalah biang keladi penculikan-penculikan terhadap tokoh-tokoh persilatan. Apa sebenarnya yang kau inginkan dari tokoh-tokoh itu...?" lanjut Panji seraya meneliti sosok tinggi besar yang sudah melangkah maju. Jarak keduanya kini terpisah dua tombak lebih.

"Sudahlah! Aku tidak ingin memperpanjang kata denganmu, Pendekar Naga Putih! Kunasihatkan agar kau tidak mencampuri urusanku. Jika tidak, kau pasti akan menyesal seumur hidup!" tandas sosok berjubah merah yang berjuluk Hantu Jubah Merah. Tampaknya tokoh itu sudah siap untuk menggempur Pendekar Naga Putih.

"Hm.... Tidak ada kata menyesal untuk meruntuhkan segala bentuk kejahatan, Hantu Jubah Merah...," tegas Panji. Langkahnya digeser saat melihat lawan mulai mempersiapkan jurus-jurus serangannya.

Hantu Jubah Merah terus bergerak perlahan. Didekatinya kedua orang pengikutnya yang masih tampak pucat. "Pergilah kalian dari tempat ini. Dan, bawa kawanmu yang tewas itu," bisik Hantu Jubah Merah pada Pendekar Tongkat Sakti dan Sepasang Naga Laut Kedua tokoh itu menganggukkan kepala. Kemudian, bergerak mendekati tubuh Pedang Pemecah Langit yang tewas oleh pukulan Panji.

"Tahan...!" Panji membentak sambil melesat. Pemuda itu mengejar Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti, yang hendak meninggalkan tempat itu dengan membawa mayat Pedang Pemecah Langit

"Biarkan mereka pergi, Pendekar Naga Putih...!" Hantu Jubah Merah segera menghadang Panji yang hendak mengejar ketiga pengikutnya untuk meninggalkan tempat itu.

Kenanga, Malela, dan Ki Danara pun tidak tinggal diam. Cepat ketiganya mengejar tokoh-tokoh gadungan yang hendak melarikan diri itu. Tapi...

"Heaaahhh...!" Melihat gelagat yang tidak baik, Hantu Jubah Merah segera mengayunkan tangannya ke arah ketiga pendekar itu. Dan....

"Awaaasss.!" Kenanga berteriak memperingatkan Malela dan Ki Danara, ketika merasa ada sambaran angin kuat menghadang mereka. Menyadari pukulan jarak jauh yang dilontarkan Hantu Jubah Merah sangat berbahaya, Kenanga pun segera mengingatkan kawan-kawannya untuk menghindar.

Darrr!

"Aaahhh ?!"

Memang hebat pukulan jarak jauh Hantu Jubah Merah. Tanah di depan ketiga pendekar itu meledak, membentuk sebuah lubang sebesar kubangan kerbau. Untunglah mereka sudah melompat ke belakang lebih dulu. Sehingga meskipun Malela dan Ki Danara sempat terjatuh, tapi tidak mengalami luka yang mengkhawatirkan. Mereka berdua hanya terkejut merasakan ledakan yang menggetarkan itu.

"Ku cabut nyawa kalian...!" geram Hantu Jubah Merah segera melesat ke arah Ki Danara dan Malela yang hendak bangkit

"Akulah lawanmu, Hantu Jubah Merah...!" Panji tentu tidak tinggal diam melihat kedua orang itu dalam bahaya. Cepat tubuh pemuda itu melesat memapaki serangan Hantu Jubah Merah.

Bwettt!

Hantu Jubah Merah terpaksa memutar arah serangan. Pukulannya kini meluncur ke arah Pendekar Naga Putih. Tapi, Panji sudah memperhitungkan gerakannya dengan cermat. Maka begitu pukulan lawan tiba, tubuhnya langsung berputar. Sedangkan tangan kanannya dikibaskan memapaki pukulan lawan.

Plakkk!

Tubuh kedua tokoh hebat itu terjajar mundur. Kemudian, kembali bersiap dengan jurus-jurus andalannya. Kepandaian kedua tokoh itu tampaknya berimbang. Sehingga, mereka sama-sama memperhitungkan serangan-serangan berikutnya.

"Yeaaattt..!"

Kali ini Hantu Jubah Merah melipatgandakan kekuatannya untuk menggempur Pendekar Naga Putih, yang dirasakannya sangat tangguh. Sepasang tangannya berputaran bagai baling-baling. Hingga tangannya tampak demikian banyak dan menimbulkan angin yang menderu-deru.

Dengan menggunakan 'Ilmu Silat Naga Putih'nya, Panji langsung meluncur menyambut serangan lawan. Sebentar kemudian, kedua tokoh itu telah saling terjang dengan jurus-jurus andalannya!

Kenanga, Malela, dan Ki Danara bergegas menyingkir dari arena perkelahian. Mereka tahu akan bahaya pertarungan tingkat tinggi itu. Jangan sampai terkena pukulan. Angin pukulannya saja bisa membuat napas mereka putus seketika. Hal itu terlihat dari robohnya beberapa batang pohon yang tumbuh di dekat arena pertarungan. Bahkan bebatuan kecil pun beterbangan, dan terasa sakit mengenai tubuh mereka.

"Luar biasa...! Selama hidupku baru sekali ini aku melihat pertempuran yang demikian mengerikan...!" desis Malela takjub dan juga gentar melihat pertarungan kedua tokoh puncak itu. Kedua matanya tidak berkedip melihat jalannya pertarungan. Sayang, perkelahian itu berlangsung sangat cepat. Hingga pandangan pemuda gagah itu kadang kabur, dan tidak bisa membedakan satu dengan yang lainnya.

Bukan hanya Malela yang mengalami kesulitan seperti itu. Kenanga pun seringkali terkecoh, dan tidak dapat membedakan mana tubuh Hantu Jubah Merah dan mana sosok kekasihnya. Arena pertarungan agak gelap oleh debu dan rerumputan yang beterbangan. Kenanga hanya bisa berharap, agar kekasihnya dapat segera menundukkan tokoh sesat yang berkepandaian menggetarkan itu.

Sementara Panji mulai dapat menebak secara pasti. Hantu Jubah Merah adalah dalang penculikan-penculikan terhadap tokoh-tokoh persilatan. Terasa dari jurus-jurus yang dimainkan lelaki tinggi besar itu. Pemuda itu menemukan gerakan-gerakan yang pernah dikenalnya. Hantu Jubah Merah melakukan penculikan untuk menyadap ilmu-ilmu andalan korbannya. Kesimpulan itu membuat Panji makin memperhebat serangan. Agaknya, ia sudah tidak sabar ingin segera menundukkan lawan secepatnya.

"Haiittt..!"

Saat pertarungan telah melewati lima puluh jurus, Pendekar Naga Putih tiba-tiba mengeluarkan 'Pekikan Naga Merah'! Bersamaan dengan itu, tubuhnya mencelat tinggi. Kemudian meluncur turun bagai seekor naga sakti yang baru turun dari langit

"Heeeaaattt..!"

Melihat kedahsyatan serangan lawan. Hantu Jubah Merah pun mengeluarkan pekikan melengking tinggi. Jubah merahnya dikibaskan seperti hendak menyelimuti tubuhnya dengan jubah yang panjang dan lebar itu.

Blasss!

Luar biasa sekali! Begitu jubah merah itu menyelimuti sekujur tubuhnya, terdengar suara meletup. Muncullah asap putih yang tebal hingga tubuh tinggi besar itu lenyap di dalamnya. Asap putih itu membuat pandangan Panji terhalang. Meski demikian, serangannya tetap dilanjutkan!

Darrr...!

Sepasang telapak tangan Pendekar Naga Putih yang berputaran kemudian didorong ke depan, menimbulkan ledakan keras yang menggetarkan bumi di sekitarnya. Asap putih itu langsung buyar. Tanah tempat Hantu Jubah Merah berdiri, berlubang besar terkena hantaman telapak tangan pendekar muda itu. Tapi...

"Kurang ajar...! Ke mana manusia licik itu...?!" geram Panji ketika tidak menemukan sosok lawan dalam gumpalan asap putih yang telah buyar. Rupanya Hantu Jubah Merah telah menghilang saat serangan dahsyat Panji tiba. Agaknya, tokoh itu tidak sanggup menghadapi gempuran maut Pendekar Naga Putih. Hingga ia memilih melarikan diri dari tempat itu.

"Hua ha ha...!" Terdengar suara tawa parau yang menggetarkan dada. Cepat Panji menoleh.

"Keparat busuk...!" desis Panji tidak habis mengerti, melihat sosok lawan telah berada jauh dari tempatnya semula.

Hantu Jubah Merah berdiri tegak sambil memperdengarkan tawa yang menggelegar. Sosoknya yang kini berada dalam jarak sekitar sepuluh tombak, terlihat demikian gagah dan menyeramkan. Dan ketika melihat pemuda itu hendak mengejarnya, tokoh jahat itu kembali menutupi sekujur tubuhnya dengan jubah merahnya. Sosoknya kembali lenyap tertelan gumpalan asap tebal putih.

"Pengecut..!" desis Panji. Lawannya ternyata memiliki jubah ajaib yang bisa membuat tubuh pemiliknya lenyap dari pandangan.

"Hua ha ha...! Selamat tinggal, Pendekar Naga Putih! Aku bukan melarikan diri, tapi hanya menunda pertemuan kita. Kelak aku akan datang untuk mencabut nyawamu...!" terdengar suara parau yang seperti datang dari empat penjuru.

Panji hanya bisa menahan kegeraman hatinya. Sedangkan sosok lawannya telah lenyap entah ke mana. Panji berdiri tegak menghela napas panjang. Keningnya tampak berkerut seperti tengah memikirkan sesuatu.

"Kakang...," Kenanga berlari mendatanginya bersama Malela dan Ki Danara.

"Ke mana perginya Hantu Jubah Merah, Pendekar Naga Putih?" tanya Malela.

"Ia telah lari jauh dari tempat ini...," sahut Panji tanpa menoleh.

"Sungguh berbahaya tokoh yang berjuluk Hantu Jubah Merah itu, Kakang. Kita harus menemukan rahasia ilmu melenyapkan diri itu. Kalau tidak, akan sulit sekali untuk mengalahkannya...," ujar Kenanga yang sempat melihat bagaimana cara tokoh sakti itu meninggalkan pertempuran.

"Ya.... Memang sulit menghadapi seorang tokoh yang memiliki ilmu melenyapkan diri demikian sempurna...," sahut Panji mirip sebuah desahan panjang. Pikiran pemuda itu agaknya masih terpaut kepada ilmu aneh yang digunakan lawan.

"Hantu Jubah Merah pasti menggunakan ilmu sihir...," timpal Ki Danara.

"Hhh...," Panji hanya menghela napas panjang. Kemudian melangkah perlahan diikuti Kenanga, Malela, dan Ki Danara.

"Benarkah Hantu Jubah Merah seorang ahli sihir, Kakang...?" tanya Kenanga yang rupanya merasa penasaran mendengar ucapan Ki Danara.

"Rasanya tidak. Biasanya seorang ahli sihir akan mengucapkan mantera bila hendak menggunakan ilmu sihirnya. Hantu Jubah Merah hanya menutupi sekujur tubuhnya dengan jubah. Setelah itu, tubuhnya berubah menjadi gumpalan asap tebal berwarna putih. Menurut dugaanku, jubah merah yang dikenakannya itu pasti bukan jubah sembarangan...," ujar Panji. Pemuda itu tidak sependapat dengan Ki Danara.

"Jubah ajaib...," desis Ki Danara dan Malela. Kenanga hanya mengangguk-angguk. Gadis jelita itu lebih percaya dugaan kekasihnya daripada ucapan Ki Danara.

"Ya. Jubah itu pasti merupakan benda pusaka yang mempunyai keampuhan tersendiri. Dan bukan tidak mungkin jubah itu pun mampu menahan bacokan pedang...," Panji melanjutkan dugaannya, membuat Kenanga dan yang lainnya kagum.

"Bisa menahan bacokan pedang...?!" desis Malela. Pemuda itu tampak terkejut mendengar keterangan Pendekar Naga Putih tentang keampuhan jubah merah yang dikenakan tokoh sesat menggiriskan itu, "Apakah itu mungkin...?" gumamnya perlahan

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Malela. Melihat jubah itu sanggup membuat pemiliknya menghilang, aku menduga kemungkinan besar jubah itu masih memiliki keampuhan lain...," jelas Panji yang merasa yakin dengan dugaannya.

"Termasuk membuat tubuh pemiliknya kebal terhadap segala macam senjata...?" kali ini Ki Danara yang meminta penegasan Pendekar Naga Putih.

"Ya. Termasuk bisa membuat tubuh tokoh tinggi besar itu sanggup menahan bacokan senjata, bila menggunakan jubah merah itu sebagai pelindung tubuhnya...," tandas Panji.

"Jadi..., jubah yang dikenakannya itu semacam Jubah Mustika?" tanya Malela setelah berpikir beberapa saat

"Tepat sekali istilah yang kau pergunakan itu, Malela," tukas Panji, membuat pemuda gagah berpakaian kuning cerah itu menggeleng takjub.

"Kalau benar demikian, akan sulit sekali bagi kita untuk dapat mengalahkannya...," keluh Malela. Pemuda itu seperti merasa putus asa setelah mendengar penjelasan Panji.

"Memang sangat sulit Malela. Biarpun demikian, kita harus berusaha menemukan kelemahannya. Hingga kita bisa merobohkannya...," sahut Panji berusaha membangkitkan semangat pemuda gagah itu, "Sebaiknya sekarang kita mencari tempat beristirahat sambil memikirkan cara merobohkan Hantu Jubah Merah...," ajak Panji lalu melangkah mendahului yang lainnya.

Kenanga, Malela, Ki Danara, dan Pujawati yang telah pulih tenaganya segera mengikuti langkah pendekar muda itu. Sebab, hanya Panji lah satu-satunya harapan mereka untuk menyelamatkan tokoh-tokoh persilatan yang lenyap diculik, termasuk ayah dan guru mereka. Hari sudah mulai gelap ketika kelima sosok tubuh itu melangkah menyusuri tanah becek. Tampaknya mereka akan kemalaman di jalan sebelum menemukan tempat yang cocok untuk bermalam.

"Sebaiknya kita bergegas. Siapa tahu di depan sana ada desa yang bisa kita gunakan untuk bermalam…," usul Panji yang segera disetujui yang lainnya.

Panji langsung melesat setelah melihat anggukan mereka. Pemuda itu tentu saja tidak menggunakan sepenuh tenaganya untuk berlari. Dengan begitu mereka dapat berlari dalam jarak yang tidak terpaut jauh. Apa yang mereka harapkan ternyata terkabul. Tak berapa lama mereka berlari tampak sebuah batu yang merupakan batas desa, berdiri tegak di tepi jalan. Mereka pun mempercepat lari untuk segera tiba di Desa Karapan.

********************

ENAM

Desa Karapan tampak ramai. Hembusan angin masih terasa dingin menyentuh kulit Namun penduduk desa yang kebanyakan bekerja sebagai petani, telah berangkat untuk menggarap sawah ladangnya. Sehingga, pagi itu jalan utama yang membelah Desa Karapan tampak ramai. Bukan hanya jalan-jalan desa saja yang dipenuhi orang yang berlalu-lalang.

Di sebuah kedai yang terletak di pinggir jalan dekat mulut desa pun telah dipadati pengunjung. Pemilik kedai dan pelayannya sibuk melayani pesanan. Di sudut kiri ruangan kedai tampak tiga orang lelaki dan dua orang wanita tengah menikmati hidangan mereka. Sesekali mereka melemparkan pandang ke arah pintu kedai.

"Ada apa, Malela...?" pemuda tampan berjubah putih yang duduk menghadap pintu kedai, bertanya pada pemuda gagah berpakaian kuning cerah. Wajah pemuda gagah bernama Malela itu membiaskan rasa gelisah.

Malela tidak segera menjawab pertanyaan pemuda tampan berjubah putih yang tidak lain Panji. Dihelanya napas panjang dan melemparkan pandang ke sekeliling ruangan kedai. Baru kemudian menoleh ke arah Panji.

"Pendekar Naga Putih. Tidakkah sebaiknya kita melanjutkan perjalanan? Menurutku kita harus segera mencari tempat persembunyian Hantu Jubah Merah dan kawan-kawannya. Bentrokan kemarin membuat hatiku cemas...," jawab Malela.

"Aku mengerti perasaanmu, Malela. Aku menduga gurumu dan ayah Pujawati kemungkinan besar belum mereka bunuh," ujar Panji yang dapat menebak penyebab kegelisahan hati Malela. Ucapan pemuda itu membuat yang lainnya mengangkat kepala dan memandang Panji penuh tanda tanya.

"Benarkah ucapanmu, Pendekar Naga Putih...?" Pujawati yang sangat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya menjadi berdebar hatinya. Gadis manis itu belum yakin akan hal itu.

"Ya. Mengapa kau menduga demikian, Pendekar Naga Putih? Apa alasanmu...?" Ki Danara yang duduk di sebelah Malela melontarkan pertanyaan. Orang tua itu pun belum bisa mempercayai ucapan Panji.

"Jawablah pertanyaan mereka, Malela. Aku ingin mendengar alasanmu?" Panji tidak menjawab dan menyerahkannya kepada Malela. Rupanya, pemuda itu ingin tahu lebih dahulu alasan Malela.

"Alasan ku mungkin tidak begitu kuat. Tapi, aku merasa sangat yakin tokoh-tokoh yang diculik Hantu Jubah Merah masih hidup. Meskipun tidak mustahil mereka tengah menderita," Malela berhenti sebentar seperti hendak melihat tanggapan yang lainnya, "Kita semua sudah tahu, Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit yang kita hadapi kemarin adalah palsu. Tapi, senjata dan ilmu yang mereka gunakan milik guru kita yang sesungguhnya. Dan itu hanya mempunyai satu arti. Mereka telah menyadap ilmu-ilmu andalan tokoh-tokoh yang diculiknya. Tapi, belum sempurna hingga masih banyak kekurangan di sana sini. Itu berarti mereka belum membunuh tokoh-tokoh itu. Karena mereka harus menyerap ilmu-ilmu itu lebih banyak lagi...," jelas Malela kemudian memandang wajah-wajah di hadapannya yang terlihat menganggukkan kepala.

"Alasan Malela sama dengan dugaanku," ujar Panji setelah suasana hening be berapa saat lamanya, "Ketika aku bertarung dengan Hantu Jubah Merah, ia menggunakan beberapa jenis ilmu yang cukup kukenal dasar-dasar gerakannya. Jelas terlihat tokoh itu telah menyadap ilmu pendekar-pendekar yang diculiknya. Berbeda dengan tokoh-tokoh gadungan yang kalian hadapi. Hantu Jubah Merah telah menggabungkan sedemikian rupa ilmu-ilmu para pendekar itu. Sehingga, tercipta sebuah ilmu baru yang sukar dicari bandingannya. Meskipun begitu, aku menemukan beberapa gerakan yang terlihat ragu-ragu. Itu berarti Hantu Jubah Merah belum merampungkan ilmu gabungan itu! Dengan demikian, besar kemungkinan tokoh itu masih memerlukan para pendekar yang diculiknya," lanjut Panji.

Ki Danara, Pujawati, dan Kenanga sama menganggukkan kepala. Agaknya, mereka menerima alasan yang dikemukakan Panji dan Malela.

"Jika benar demikian, memang sebaiknya kita harus bergegas. Sebab, bukan tidak mungkin Hantu Jubah Merah berubah pikiran, dan membunuh tokoh-tokoh itu. Kejadian kemarin jelas akan membuatnya lebih berhati-hati...," Ki Danara akhirnya mengajukan pikiran yang serupa dengan Malela.

"Aku setuju...," sambut Pujawati dengan wajah agak tegang. Perkataan Ki Danara membangkitkan rasa cemas gadis itu.

Mereka pun bersepakat untuk segera melanjutkan perjalanan. Kelimanya bergerak bangkit dan meninggalkan kedai sesudah membayar pesanan mereka.

"Hmmm...," saat kelimanya hendak keluar kedai, terdengar dengusan kasar. Mereka menoleh ke arah asal suara.

Panji dan kawan-kawannya terlihat mengerutkan kening. Yang mengeluarkan dengusan kasar itu adalah salah satu dari lima orang lelaki gagah. Satu di antaranya seorang kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun. Sikap dan pandangan mereka membuat Panji dan kawan-kawannya terkejut. Mereka pun sadar orang-orang itu bukan tokoh sembarangan!

"Orang-orang Perguruan Rimba Kecil...?!" desis Malela yang rupanya mengenali kelima lelaki gagah dan angker itu. Wajah pemuda itu menegang. Sikap tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil jelas tak menunjukkan persahabatan kepada mereka. Mendengar ucapan Malela, Panji segera mengenali kelima sosok lelaki itu.

"Hm.... Dunia benar-benar sudah terbalik! Tokoh-tokoh terkenal dan menjadi sanjungan orang banyak ternyata telah berpaling ke jalan sesat. Sulit dapat kupercaya...," suara kakek berusia tujuh puluh tahun lebih yang bergetar dan mengandung perbawa kuat, membuat Panji menahan langkah. Pemuda itu menunda niatnya untuk menyapa kelima lelaki gagah itu.

"Kalau tidak salah, aku tengah berhadapan dengan Ki Sangga Langit dan orang-orang gagah dari Perguruan Rimba Kecil. Maaf, kalau sambutan ku kurang berkenan di hati kalian...," meski agak heran dengan perkataan Ki Sangga Langit, Panji tetap berusaha menyapa seraya membungkuk hormat.

"Anak Muda. Kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" tanya orang tua itu tanpa menanggapi ucapan Panji. Nada suaranya terdengar tidak bersahabat Bahkan, terkesan menyembunyikan kemarahan.

"Benar, Ki. Demikianlah orang-orang memberi julukan pada diriku yang bodoh ini...," sahut Panji kembali membungkuk hormat, tanpa peduli dengan sikap orang tua itu yang kelihatan sangat sinis dan tidak menyukainya.

"Sungguh sayang sekali...," desah orang tua itu seraya menggeleng dengan wajah sedih.

"Orang Tua...!" Kenanga jengkel melihat sikap sombong Ki Sangga Langit. Gadis jelita itu melangkah maju dan menuding kakek itu dengan sikap yang tidak menunjukkan rasa hormat Kenanga tidak sudi kekasihnya diejek dan dianggap rendah kakek tinggi kurus itu, "Meskipun kau seorang tokoh besar yang dihormati, tapi tidak sepantasnya kau berbuat demikian terhadap Pendekar Naga Putih! Sikapmu tidak bisa kuterima! Apa salah kami hingga kau demikian sinis padanya? Perlu kau ketahui! Sikap hormat Pendekar Naga Putih bukan berarti ia takut kepadamu!" bentak data jelita itu tanpa peduli kekasihnya telah berusaha mencegah.

"Hm...," Ki Sangga Langit kembali memperdengarkan dengusannya yang kasar, "Sikapmu semakin membuatku yakin. Kalian benar-benar telah berpaling dari jalan lurus! Dan, telah bersekongkol dengan Pendekar Tongkat Sakti serta yang lainnya untuk mengganggu perguruan kami...," lanjut Ki Sangga Langit Ucapan itu membuat Panji dan kawan-kawannya semakin tidak mengerti.

"Maaf, Ki Sangga Langit. Selama ini aku sangat menghormatimu sebagai tokoh besar! Tapi karena kau menghina guruku, terpaksa aku melupakan kebodohan ku. Aku akan membela nama guruku dengan taruhan nyawa...!" Mendengar penghinaan Ki Sangga Langit Malela langsung melangkah maju sambil mencabut pedangnya.

Panji cepat mencegah. Pemuda tampan itu ingin mengetahui secara jelas duduk perkaranya. "Ki Sangga Langit. Kami tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Kuharap kau mau menjelaskannya agar kami mengerti duduk persoalannya...," pinta Panji tetap menunjukkan sikap hormat Pemuda itu menduga ada kesalahpahaman di antara. mereka. Itu sebabnya, ia masih bersabar.

"Hm.... Ketahuilah, Pendekar Naga Putih. Pendekar Tongkat Sakti, Pedang Pemecah Langit serta tokoh-tokoh lainnya telah menjadi pengikut Hantu Jubah Merah. Mereka mencuri kitab dan senjata-senjata pusaka dari gedung perpustakaan perguruan kami. Sebagai murid dan anaknya, mereka bertiga pasti mengetahui di mana pusaka-pusaka itu disembunyikan...," Ki Sangga Langit menuding Malela, Pujawati, dan Ki Danara, yang tentu saja terkejut mendengar ucapan itu.

"Tidak mungkin! Itu semua fitnah!" Pujawati tidak bisa menerima tuduhan Ki Sangga Langit. Gadis manis itu langsung membela nama ayahnya. Ia mengenal baik sifat-sifat ayahnya yang tidak mungkin sampai melakukan hal tercela itu.

"Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan semua itu hanya fitnah! Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan bertempur dengan mereka! Salah satu dari mereka, yang berjuluk Pendekar Golok Kembar tewas di tangan murid-murid perguruan kami! Jadi tidak ada gunanya kau membantah!"

Lelaki gagah berusia lima puluh tahun lebih dengan wajah berewok, melangkah maju. Dihampirinya Pujawati yang wajahnya terlihat pucat Suasana semakin menegang! "Tunggu...!" Panji cepat menengahi, "Apa yang dikatakan Pujawati benar. Semua itu hanya fitnah belaka. Kami pun sempat bertempur dengan tokoh-tokoh itu yang ternyata palsu. Ini semua adalah ulah Hantu Jubah Merah yang hendak memecah belah golongan putih. Kuharap kalian mengerti dan mempercayai ucapanku ini..."

"Hua ha ha!" Ucapan Panji malah disambut dengan gelak tawa oleh tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil. Mereka jelas tidak mempercayai bantahan Pendekar Naga Putih.

"Percayalah, Ki Sangga Langit. Semua yang kukatakan benar! Sebagai tokoh tua yang bijaksana, seharusnya kau bisa mempertimbangkan tindakanmu," ujar Panji seraya merentangkan kedua tangannya ke samping. Mencegah keempat kawannya yang telah mencabut senjata untuk menggempur orang-orang Perguruan Rimba Kecil.

"Hmh! Tidak perlu membantah lagi, Pendekar Naga Putih!" tukas lelaki gagah berwajah berewok yang tidak lain Ki Gumaranta, "Sekarang kau tinggal pilih! Menyerahkan diri dan mengembalikan pusaka kami, atau terpaksa kami melenyapkanmu dari muka bumi ini!"

"Keparat sombong!" Kenanga yang sudah tidak bisa menahan sabar, membentak gusar. Tubuh dara jelita itu melesat ke arah Ki Gumaranta. Menurutnya sudah tidak ada gunanya lagi berdebat Maka gadis itu segera membuka serangannya.

Beuttt..!

Pedang bersinar putih keperakan yang memancarkan hawa dingin itu, sempat membuat Ki Gumaranta terkejut! Lelaki berewok itu melompat ke belakang menghindari sambaran Pedang Sinar Bulan. Dicabutnya senjata, lalu balas menerjang Kenanga.

"Heaaattt..!"

Whuttt..!

Suara desingan tajam yang disertai kilatan cahaya putih mengincar tubuh Kenanga. Dara jelita itu mendengus. Senjatanya diputar untuk memapaki serangan pedang lawan.

Trangngng!

"Uuuhhh...!" Kaget bukan main hati Ki Gumaranta. Lengannya terasa nyeri akibat tangkisan lawan. Sadarlah lelaki berewok itu kalau lawannya ternyata memiliki tenaga dalam yang sangat kuat Bahkan, melebihi kekuatannya sendiri. Sungguh tidak pernah diduganya.

"Haaaiiittt..!"

Singngng...!

Pedang di tangan Kenanga menyusuli gerakannya. Senjata ampuh itu meliuk sebentar, kemudian meluncur kurus mengarah ulu hati Ki Gumaranta!

"Aaahhh...?!" Ki Gumaranta terpekik kaget! Dalam keadaan masih terhuyung, tentu sangat sulit baginya untuk menghindar. Untuk menangkis pun rasanya tidak mungkin. Lengan kanannya masih sukar untuk digerakkan karena rasa nyeri yang dideritanya. Wajah lelaki berewok itu langsung berubah pucat! Sedang pedang lawan meluncur dengan kecepatan tinggi. Siap merenggut selembar nyawanya.

"Yiaaahhh...!"

Pada saat yang gawat itu, lelaki tinggi tegap yang berada di belakangnya langsung membentak nyaring. Tubuhnya melejit ke depan disertai tamparan keras sepasang lengannya. Satu mengarah pelipis Kenanga, dan satu lagi tertuju ke pergelangan lengan dara jelita itu. Sebuah serangan yang hebat dan mengagumkan!

Tapi Kenanga bukanlah gadis sembarangan. Serangan yang cepat dan kuat itu tidak membuat nya gugup. Dengan tenang dara jelita itu memiringkan tubuh sambil memutar kepalanya. Bersamaan dengan itu, pedang di tangannya berputar dan berbalik membacok pergelangan lengan lawan.

"Hebat..!" Mau tidak mau lelaki tinggi tegap itu memuji gerakan Kenanga yang memang sangat mengagumkan. Cepat ditariknya pulang tamparan yang mengarah pelipis. Kemudian tangannya diputar menepis bacokan pedang dara jelita itu. Sehingga....

Plakkk!

Lagi-lagi lelaki tinggi tegap itu berseru memuji. Tepisan telapak tangannya pada pergelangan dara jelita itu, membuat sekujur lengannya bergetar. Kekuatan dara jelita berpakaian serba hijau itu memang tidak berada di bawahnya. Kenyataan itu sempat membuatnya terkagum-kagum!

Kenanga yang juga merasakan lengannya bergetar, menarik mundur langkahnya. Gadis jelita itu sadar lawan yang dihadapinya kali ini tidak bisa dipandang ringan.

"Heaaahhh!" Sambil membentak, dara jelita itu memutar pedangnya membuka jurus baru. Kali ini ia tidak mau bertindak ceroboh. Kenanga langsung menggunakan jurus andalannya untuk menghadapi lawan.

Demikian pula lelaki tinggi tegap yang merupakan tokoh tingkat satu Perguruan Rimba Kecil. Meskipun usianya jauh lebih muda dari Ki Gumantara, namun lelaki tinggi tegap yang bernama Warsita itu adalah kakak seperguruan Ki Gumantara. Tentu saja kepandaiannya pun sudah sangat tinggi. Jadi, wajar saja bila Kenanga sempat dibuat terkejut oleh kekuatannya.

"Haaattt..!" Kenanga kembali membuka serangan. Pedang di tangan kanannya bergulung-gulung membentuk kilat sinar putih keperakan. Sekali menyerang, ujung pedangnya langsung mengancam lima titik jalan darah di tubuh lawan!

Warsita tidak bisa membiarkan dan segera mencabut pedang di pinggangnya. Sebentar kemudian, kedua tokoh itu telah bertarung sengit!

Sementara itu, tokoh-tokoh lain dari Perguruan Rimba Kecil telah menghunus senjata. Mereka adalah Ki Gumaranta, Ki Jinggala, dan Harjana. Lawan yang akan dihadapi yaitu Malela, Pujawati, dan Ki Danara, yang juga telah bersiap.

Melihat tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil sudah siap menggempur kawan-kawannya, Panji segera melesat untuk melindungi mereka bertiga.

"Biarkan, Pendekar Naga Putih...!" Tiba-tiba terdengar sebuah seruan perlahan, namun mengandung getaran yang amat kuat. Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh tinggi kurus melayang. Panji terpaksa menunda gerakannya.

"Ki Sangga Langit..?!" Panji berseru kaget ketika melihat pucuk pimpinan Perguruan Rimba Kecil ikut terjun ke arena. Pemuda itu terpaksa membiarkan kawan-kawannya bertarung. Sebab, kakek tua yang hebat itu siap mencegahnya bila dirinya nekat mencampuri pertempuran itu.

"Biarkan mereka bermain-main beberapa puluh jurus. Jika kau keberatan, aku yang akan melayanimu...," ucapan Ki Sangga Langit jelas berbau tantangan. Hingga Panji menghela napas panjang penuh penyesalan.

"Ki, pertempuran ini tidak semestinya terjadi. Sadarlah bahwa kita semua telah menjadi korban kelicikan Hantu Jubah Merah dan kawan-kawannya! Bukan tidak mungkin sekarang mereka tengah tertawa-tawa melihat kita saling bertempur!" Panji masih mencoba menyadarkan Ki Sangga Langit dari kekeliruan itu. Pemuda itu yakin, mereka telah menjadi korban kelicikan Hantu Jubah Merah.

Tapi, tanggapan Ki Sangga Langit benar-benar membuat Panji putus asa. Lelaki tua bertubuh kurus itu hanya tersenyum tipis dengan tatapan dingin. Uca- pan Pendekar Naga Putih tidak dipedulikan. Panji tidak bisa berbuat lain. Apalagi, saat itu ia melihat Ki Danara terdesak hebat oleh salah seorang tokoh Perguruan Rimba Kecil. Jika sepuluh jurus lagi ia tidak bertindak menyelamatkan lelaki tua itu, dapat dipastikan Ki Danara tewas di ujung senjata lawan.

"Maaf, Ki. Aku terpaksa...," desis Panji. Tubuhnya langsung melayang ke arah pertarungan Ki Danara dan Harjana. Ia harus menyelamatkan orang tua kurus itu dari kematian.

"Bagus...!" Ki Sangga Langit memuji kecepatan gerak Pendekar Naga Putih. Saat itu juga tubuh kurusnya melayang hendak mencegah perbuatan pemuda itu.

Whuttt..!

Tamparan Ki Sangga Langit tidak bisa disamakan dengan tamparan tokoh-tokoh persilatan lainnya. Tenaga dalam kakek itu sudah mencapai titik kesempurnaan. Sehingga meskipun kelihatan perlahan, namun menimbulkan sambaran angin yang mencicit tajam. Menunjukkan kekuatan yang tersimpan di telapak tangan kakek itu. Panji pun tahu akan hal itu. Tapi, tak urung terkejut juga ketika mendengar sambaran angin bersiutan datang dari samping kanannya. Cepat lengannya dikibaskan menyambut tamparan itu.

Bressshhh...!

Akibat benturan dua gelombang tenaga dalam itu sungguh dahsyat sekali! Tanah di sekitarnya bergetar. Hingga pertempuran lain terganggu. Sedangkan Pendekar Naga Putih dan Ki Sangga Langit terjajar mundur.

"Kau memang seorang pemuda yang sangat mengagumkan, Pendekar Naga Putih. Sayang kau masih sangat muda, hingga mudah terseret ke jalan sesat..." puji orang tua itu, yang kelihatan sangat menyayangkan sikap Panji yang menurutnya telah menyeberang ke jalan sesat.

"Sudah kukatakan berkali-kali bahwa semua ini hanya kesalahpahaman saja. Tapi, belum terlambat bagi Aki untuk menyadarinya...," tukas Panji berusaha mempergunakan kesempatan itu untuk menyadarkan Ki Sangga Langit dari kekeliruannya.

Lagi-lagi Ki Sangga Langit tidak menanggapi ucapan Pendekar Naga Putih. Kakek itu malah menyiapkan ilmu andalannya untuk pertempuran selanjutnya. Sehingga, Panji terpaksa mengeluarkan 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya untuk menghadapi ilmu lawan yang ia tahu sangat hebat.

TUJUH

"Sambut jurus 'Pengacau Lautan'ku, Pendekar Naga Putih...!" seru Ki Sangga Langit seraya melesat dengan kedua tangan berputaran, hingga menimbulkan deruan angin puyuh.

"Haaattt..!"

Melihat kehebatan ilmu lawan, Panji segera mengerahkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang menerbitkan hawa dingin menusuk tulang. Hawa yang ditimbulkannya menyebar dan memenuhi setengah arena pertarungan. Sedangkan sepasang tangan pemuda itu bergerak cepat laksana sambaran kilat. Dan, meliuk-liuk bagai ular besar yang siap mematuk mangsanya.

Sebentar saja, kedua tokoh hebat itu sudah saling gempur. Pendekar Naga Putih dan Ki Sangga Langit berusaha saling merobohkan satu sama lain. Keduanya menggunakan ilmu-ilmu pilihan yang sebelumnya hampir tidak pernah mereka pergunakan. Hingga pertempuran itu terlihat sangat mengerikan. Sulit untuk dikenali, mana sosok Pendekar Naga Putih dan mana sosok Ki Sangga Langit. Apalagi, keduanya mengenakan jubah panjang putih.

Setelah bertarung selama tujuh puluh jurus, Ki Sangga Langit terlihat semakin bersemangat. Kakek itu merasa gembira menemukan lawan tanding yang tangguh seperti Pendekar Naga Putih. Sehingga, tidak segan-segan mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya untuk merobohkan pemuda itu. Sebagai tokoh yang sejak kecil gemar bermain ilmu silat, tentu hatinya senang mendapat seorang lawan tangguh. Apalagi, selama beberapa belas tahun ini ia tidak pernah menemuinya. Ketangguhan Panji membuat orang tua itu semakin lupa diri.

Berbeda dengan Pendekar Naga Putih. Selama pengembaraannya pemuda itu berkali-kali menemui lawan yang sangat tangguh. Bahkan, beberapa kali nyaris dikalahkan lawan. Sehingga dalam menghadapi Ki Sangga Langit, Panji tidak terlalu kaget. Meskipun kepandaian kakek itu memang harus diakuinya sangat hebat. Kendati demikian, Panji masih dapat mengimbangi permainan lawan sampai jurus keseratus. Sejauh itu, belum terlihat tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

"Yeaaattt..!"

Ketika pertarungan menginjak jurus keseratus sepuluh, Panji mengeluarkan 'Pekikan Naga Merah'! Seketika itu juga tubuhnya melesat naik, dengan sepasang tangan bergerak susul-menyusul. Pemuda itu tak ubahnya seekor naga sakti yang tengah bermain-main di angkasa. Angin dingin yang keluar dari badannya, membuat udara di sekitar arena pertempuran seperti tengah dilanda badai salju. Hingga Ki Sangga Langit sempat berseru kaget!

"Tahaaannn..!"

Tubuh Pendekar Naga Putih tengah meluncur dari atas dengan cakar-cakar yang membawa hawa maut Ketika tiba-tiba terdengar seruan keras menggetarkan udara. Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh berkelebat menyambut serangan Pendekar Naga Putih! Panji segera mengurangi kekuatan serangannya. Pemuda tampan itu tidak ingin mencelakakan orang lain yang belum diketahui jati dirinya. Akibatnya....

Bressshhh!

Baik tubuh Panji maupun sosok jangkung itu terlempar ke belakang. Meski demikian, keduanya dapat berputaran di udara dan meluncur turun dengan selamat.

"Dewa Tangan Salju?!"

Seruan kaget bercampur heran keluar dari mulut Panji dan Ki Sangga Langit Kini perhatian keduanya beralih ke arah sosok jangkung kurus berusia sekitar tujuh puluh tahun lebih. Tokoh itu adalah Dewa Tangan Salju, yang pernah diselamatkan Panji sewaktu didatangi Penculik-Penculik Misterius. (Untuk mengetahui pertemuan Panji dengan Dewa Tangan Salju, silakan baca episode sebelumnya dalam judul Penculik-Penculik Misterius).

"Untung pada saat terakhir tadi kau sempat menarik sebagian tenaga seranganmu, Pendekar Naga Putih. Kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah tidak bernyawa lagi...," ujar Dewa Tangan Salju tersenyum ke arah Panji. Pemuda itu tampak terkejut mendengar ucapan kakek itu. Tokoh itu memang memiliki ketajaman mata luar biasa, hingga tahu tindakannya saat hampir berbentrokan tadi.

"Ah.... Kau terlalu merendah, Dewa Tangan Salju. Aku malah beruntung. Sebab, kau tidak menggunakan seluruh kekuatanmu. Jika ya, niscaya tubuhku sudah berubah kaku...," ujar Panji merendah.

"Siapa bilang aku tidak bersungguh-sungguh tadi?" tukas Dewa Tangan Salju membantah. Ia memang telah menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya untuk memapaki serangan Panji. Namun, kakek itu tidak melanjutkan ucapannya. Rupanya, ia tahu akan sifat Panji yang tidak ingin menonjolkan kelebihannya.

"Dewa Tangan Salju. Apa maksudmu mencampuri urusan ini? Apakah kau pun telah berpaling ke jalan sesat!" teguran Ki Sangga Langit membuat Dewa Tangan Salju menoleh, dan mengangguk sedikit kepada tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil itu.

"Sebenarnya aku belum tahu jelas masalah kalian. Tapi, aku menduga telah terjadi kesalahpahaman di antara kalian berdua. Itu sebabnya, aku langsung mencampuri pertempuran ini. Aku tidak ingin jatuh korban lagi karena kesalahpahaman ini..," sahut Dewa Tangan Salju sambil menoleh kan ke arah pertempuran lain yang terpisah kurang lebih delapan tombak.

Ucapan Dewa Tangan Salju membuat Panji teringat pada kawan-kawannya. Wajah pemuda itu berubah tegang ketika melihat sesosok tubuh terkapar mandi darah. Segera dapat dikenalinya siapa korban kesalah-pahaman itu.

"Ki Danara...!" desis Panji penuh kesedihan dan penyesalan. Kemudian, berpaling ke arah Ki Sangga Langit yang tampak tidak menyesal sedikit pun. Kawan Pendekar Naga Putih itu dikenalinya sebagai murid Pedang Pemecah Langit, salah seorang pencuri pusaka perguruannya.

"Hm... Telah sepantasnya ia menerima hukuman untuk menebus dosa gurunya...," ujar Ki Sangga Langit seolah hendak menjawab tatapan mata Pendekar Naga Putih.

"Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Mengapa kalian sampai bertarung hingga jatuh korban?" tanya Dewa Tangan Salju menatap wajah Panji dan Ki Sangga Langit berganti-ganti.

"Tanyakanlah pada Ki Sangga Langit...?" Panji menyerahkan jawabannya kepada Ketua Perguruan Rimba Kecil. Kakek itulah yang lebih berhak menjawab pertanyaan Dewa Tangan Salju. Sedangkan Panji sendiri sudah bergerak menjauh dan membentak keras?

"Hentikan pertempuran...." seru Panji mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghentikan pertempuran yang masih berlangsung.

Karuan saja seruan yang mengguncangkan dada itu menghentikan pertempuran. Kedua belah pihak tampak saling pandang. Kemudian, bergerak ke arah kawan masing-masing dan berkumpul di dekat ketiga tokoh itu. Sementara itu, Ki Sangga Langit telah menjelaskan perselisihan di antara mereka. Dewa Tangan Salju terlihat sangat menyesali bentrokan yang terjadi. Apalagi, salah seorang dari mereka telah melayang nyawanya menjadi korban

"Jadi, dalam hal ini kau menyalahkan Pendekar Naga Putih. Sedangkan aku sangat yakin dirinya tidak akan pernah berpaling ke jalan sesat Mengapa tidak kau bicarakan masalah ini secara baik-baik, Ki Sangga Langit? Mana kebijaksanaan mu?" ujar Dewa Tangan Salju. Mendengar penuturan Ki Sangga Langit yang menuduh Panji bersekongkol dengan Hantu Jubah Merah Untuk mencuri pusaka Perguruan Rimba Kecil.

"Bagaimana denganmu, Pendekar Naga Putih? Mengapa kau tidak berusaha mencari penyelesaian dengan jalan damai, tanpa harus jatuh korban...?" Dewa Tangan Salju bertanya pada Panji yang kini telah menghadapi kedua kakek itu.

"Kakang Panji sudah berusaha menjelaskan, Eyang. Tapi kakek itu tetap tidak mau mengerti, dan berkeras hendak meminta tanggung jawab kami atas lenyapnya benda-benda pusaka perguruannya. Padahal, semua itu terjadi karena kelalaian dan ketidakbecusan mereka sendiri...!" yang menyahuti ucapan Dewa Tangan Salju adalah Kenanga. Rasa jengkel di hati gadis jelita itu belum lenyap. Apalagi setelah Ki Danara menjadi korban peristiwa itu.

"Hm.... Jadi, kau berpihak kepada Pendekar Naga Putih, Dewa Tangan Salju...?" Ki Sangga Langit tidak mau dipersalahkan. Kakek itu malah menuduh Dewa Tangan Salju yang kelihatan lebih condong membela Pendekar Naga Putih.

"Dengar, Ki Sangga Langit. Aku tidak memihak pada siapa pun. Tapi, berpihak pada kebenaran! Aku pernah diselamatkan Pendekar Naga Putih, saat Penculik-Penculik Misterius mendatangi pertapaanku. Mereka hendak menculik ku. Seperti yang dilakukan mereka terhadap tokoh-tokoh yang kau katakan telah mencuri pusaka perguruanmu. Itu sebabnya, aku merasa yakin Pendekar Naga Putih tidak berpaling ke jalan sesat," tandas Dewa Tangan Salju yang kelihatan mulai jengkel melihat sikap keras kepala Ki Sangga Langit

"Tapi aku sungguh tidak berdusta, Dewa Tangan Salju! Orang-orang yang mencuri pusaka perguruanku memang nama-nama yang kusebutkan tadi!" bantah Ki Sangga Langit membela diri.

"Ya. Kami pun tidak menyangkalnya! Tapi, kami telah menjelaskan sejak awal bahwa orang-orang yang menculik pusaka perguruanmu tokoh-tokoh gadungan! Kau sama sekali tidak percaya, dan tetap meminta pusaka-pusaka itu dikembalikan!" tukas Kenanga kembali menyahuti perkataan Ki Sangga Langit.

Lelaki tua itu jadi serba salah. Tampak ia mulai merasa ragu dengan keyakinan yang sejak awal dipegang teguh. "Hm... Baiklah. Kita lupakan persoalan ini untuk sementara. Sebaiknya kita selidiki dulu kebenaran ucapan Pendekar Naga Putih dan kawan-kawannya. Untuk membuktikannya tidak terlalu sulit Kita tinggal mendatangi markas Hantu Jubah Merah," ujar Dewa Tangan Salju membuat kedua belah pihak tertegun.

"Sayang kami belum menemukan tempat persembunyiannya, Dewa Tangan Salju. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan persembunyian manusia-manusia sesat yang sangat licik itu," sahut Panji seraya menatap Dewa Tangan Salju dengan wajah agak menyesal.

"Hm.... Setelah kepergian Kenanga, aku meninggalkan pertapaan untuk menyelidiki Penculik-Penculik Misterius itu. Syukurlah kalian berdua telah berkumpul kembali dengan selamat. Aku pun telah menemukan markas mereka. Sayang, aku tidak sanggup menggempur manusia-manusia sesat itu. Bahkan nyaris celaka di tangan Hantu Jubah Merah, pimpinan mereka. Untunglah aku berhasil meloloskan diri, dan bertemu dengan kalian di tempat ini...," jelas Dewa Tangan Salju, membuat semua yang mendengarnya terkejut ber- campur gembira.

"Jadi kau telah menemukan markas mereka...?" tanya Panji menegasi.

"Ya. Aku telah menemukan markas Hantu Jubah Merah beberapa hari yang lalu...," jawab Dewa Tangan Salju singkat Meski tahu mereka semua menunggu kelanjutan ucapannya.

"Di mana markas manusia-manusia jahat itu, Dewa Tangan Salju? Kami pun harus segera mengambil pusaka-pusaka kami, sebelum mereka sempat mempelajari dan mempergunakannya...," tanya Ki Sangga Langit yang kelihatan sangat bernafsu untuk mendapatkan pusakanya kembali.

"Karena ini menyangkut kepentingan orang banyak, sebaiknya kita bersama-sama menghancurkan markas itu...," usul Dewa Tangan Salju mengajak kedua belah pihak untuk bersatu.

"Baiklah...," jawab Ki Sangga Langit setelah berpikir sesaat.

Dewa Tangan Salju tersenyum puas. Usahanya untuk menjernihkan perselisihan itu berhasil. Maka, diajaknya mereka untuk segera mendatangi markas Hantu Jubah Merah.

"Tunggu...!" tiba-tiba terdengar seruan halus yang membuat langkah Dewa Tangan Salju terhenti.

Kakek itu menoleh ke arah asal suara. Tampak Pujawati tengah berdiri di dekat mayat Ki Danara. Tangan kanan gadis manis itu menggenggam erat pedangnya. Sedangkan sepasang matanya memancarkan api dendam terhadap tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil.

"Aku hendak meminta tanggung jawab orang-orang Perguruan Rimba Kecil, yang telah membunuh Paman Danara...!" desis gadis itu dingin berbau dendam yang dalam.

"Sabarlah, Pujawati. Kita buktikan dulu bahwa ayahmu benar-benar tidak bersalah. Setelah itu, baru kita minta pertanggungjawaban mereka...," ujar Kenanga, membuat Pujawati mengalihkan pandangannya ke arah dara jelita itu. Dan akhirnya menurut ketika melihat Kenanga mengangguk.

Tak berapa lama kemudian, rombongan itu bergerak meninggalkan Desa Karapan. Baik Panji maupun Ki Sangga Langit serta yang lainnya, bergerak mengikuti langkah Dewa Tangan Salju menuju ke selatan desa itu.

"Kau belum mengatakan di mana letak markas mereka, Dewa Tangan Salju...?" Ki Sangga Langit tidak bisa menyimpan rasa penasaran di hatinya. Ketika menyeberangi sebuah sungai, pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.

Dewa Tangan Salju tidak segera menjawab. Kepalanya ditolehkan ke arah Pendekar Naga Putih. Seolah ingin melihat apakah pemuda itu juga menyimpan rasa penasaran yang sama. "Markas Hantu Jubah Merah terletak di sebuah perbukitan yang bernama Bukit Hitam. Letaknya setengah hari perjalanan dari tempat ini," jawab Dewa Tangan Salju setelah melihat anggukan kepala Pendekar Naga Putih. Pemuda itu pun ingin mengetahui letak markas Hantu Jubah Merah.

"Kalau demikian, sebaiknya kita percepat perjalanan...," usul Ki Sangga Langit. Tampaknya orang tua itu ingin segera tiba di tempat tujuan. Kemudian, merebut kembali benda-benda pusakanya yang tercuri.

Tanpa menyahut lagi, Dewa Tangan Salju langsung melesat mengerahkan ilmu lari cepatnya. Yang lain menyusul di belakang kakek itu. Kecuali, Panji dan Ki Sangga Langit yang berlari di kiri-kanan Dewa Tangan Salju.

********************

DELAPAN

Dengan menggunakan ilmu lari cepatnya, tidak sampai tengah hari. Bukit Hitam sudah terlihat di depan mereka. Para tokoh itu pun memperlambat larinya. Mereka tidak ingin kedatangannya diketahui lawan. Bahkan, Panji mengusulkan agar mereka mengatur rencana terlebih dahulu.

"Apa lagi yang mesti kita tunggu? Dengan kekuatan seperti ini, aku yakin mereka dapat kita hancurkan..." Ki Sangga Langit tidak begitu setuju dengan usul Panji. Kakek itu merasa yakin dapat menghancurkan Hantu Jubah Merah dan para pengikutnya. Mengingat mereka terdiri dari tokoh-tokoh hebat yang sukar dicari tandingannya.

"Itu memang tidak kusangsikan lagi, Ki Sangga Langit Tapi, kita harus memikirkan keselamatan tokoh-tokoh yang telah mereka culik. Tujuan kita bukan hanya sekadar menumpas kejahatan atau mengambil kembali pusaka-pusaka perguruanmu. Tapi juga menyelamatkan para tokoh itu. Apa jadinya bila tokoh-tokoh itu mereka jadikan tameng untuk menghadapi kita? Jika itu sampai terjadi, bukankah kedatangan kita akan sia-sia...?" tukas Panji menjelaskan usulnya. Ki Sangga Langit tampak menyadari kekeliruannya.

"Maafkan aku, Pendekar Naga Putih. Aku merasa bodoh sekali. Yang ku pikirkan hanya mengambil kembali pusaka-pusaka perguruanku. Sama sekali tidak kuingat keselamatan tokoh-tokoh yang ditawan Hantu Jubah Merah...," ucap Ki Sangga Langit meminta maaf.

Panji tersenyum tulus sebagai tanda memaklumi kekeliruan Ki Sangga Langit Kemudian, rencana pun diatur bersama-sama. Setelah agak lama, didapat kata sepakat Panji dan Dewa Tangan Salju akan menyelinap melalui sebelah selatan bukit. Sedangkan Ki Sangga Langit memimpin yang lainnya. Tugas mereka memancing perhatian lawan dengan menyerang dari sebelah utara, yang menjadi pintu gerbang markas Hantu Jubah Merah.

"Kami akan berusaha menyelamatkan tokoh-tokoh itu. Mudah-mudahan Pendekar Tongkat Sakti dan yang lainnya masih hidup...," ujar Panji sebelum mereka berpisah untuk melaksanakan tugas masing-masing.

Ki Sangga Langit dan yang lainnya mengiyakan. Tak lama setelah Panji dan Dewa Tangan Salju berpamitan, Ki Sangga Langit dan kelompoknya mulai bergerak mendekati Bukit Hitam. Dengan gerakan yang lincah dan ringan, Ki Sangga Langit memimpin kawan-kawannya mendekati bukit Mereka mendatangi markas Hantu Jubah Merah dengan terang-terangan. Dengan begitu, seluruh perhatian lawan tercurah kepada mereka. Sehingga, Panji dan Dewa Tangan Salju dapat bergerak leluasa untuk membebaskan para tawanan.

"Berhenti...!"

Saat itu Ki Sangga Langit dan kawan-kawannya tiba di pintu gerbang pertama, yang terletak di punggung bukit. Suara bentakan itu membuat mereka menahan langkah.

"Hm...," Ki Sangga Langit bergumam ketika melihat delapan orang penjaga gerbang pertama berdiri tegak menghadang jalan mereka. Tubuh kakek itu langsung melesat saat mengetahui salah seorang dari penjaga hendak pergi melapor.

"Haaaiiittt..!"

Laksana seekor burung besar, tubuh kakek tinggi kurus itu melayang melewati kepala kawan- kawannya. Kemudian, berputar beberapa kali sebelum menjejakkan kakinya di tanah. Satu tombak lebih dari hadapan penjaga yang hendak melapor.

"Heeeaaahhh...!"

Begitu kedua kakinya menjejak tanah, tubuh Ki Sangga Langit kembali melambung menerjang lawan. Telapak tangan kanannya terulur ke depan, siap menghajar lawan.

Whuttt..!

Kaget juga hati kakek itu ketika serangan pertamanya dapat dihindari. Bahkan, penjaga itu sanggup melepaskan serangan balasan dengan gerak yang aneh dan cukup kuat Sekilas pandang saja Ki Sangga Langit dapat mengenali dasar-dasar gerakan ilmu silat penjaga itu. Hatinya geram bukan main ketika menemukan dasar gerak ilmu silat Pendekar Tongkat Sakti. Kakek itu pun tahu Hantu Jubah Merah telah menyadap ilmu tokoh-tokoh yang diculiknya, untuk memperkuat para pengikutnya.

"Hihhh!"

Rasa geram Ki Sangga Langit membuatnya lupa diri. Tanpa berusaha mengelakkan serangan itu, sebuah tendangan kilat dilepaskan ke dada lawan

Bukkk!

Tubuh penjaga itu langsung terjengkang ke belakang dengan kerasnya. Dan, tewas dengan batok kepala retak. Kepalanya terbentur batu padas. Sementara Kenanga dan para tokoh lainnya sudah bergerak maju Ketujuh penjaga pintu gerbang pertama bergeletakan dengan tubuh bermandikan darah. Ki Sangga Langit segera mengajak mereka menuju bangunan utama markas Hantu Jubah Merah.

********************

Dua sosok tubuh itu bergerak cepat menerobos rimbunan semak. Mereka terus berlari dengan kecepatan yang mengagumkan Tidak jarang keduanya melayang di udara, bagai dua ekor burung besar yang tengah mengangkasa. Kadang terlihat berloncatan melewati bebatuan besar. Hingga, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang bertanah datar.

"Menurut dugaanku, bangunan kecil yang terletak di samping bangunan utama itulah tempat para tahanan...," bisik kakek berusia tujuh puluh tahun yang bertubuh jangkung. Saat itu keduanya bersandar di sebatang pohon, sambil meneliti keadaan sekitar bangunan yang berada sepuluh tombak di depan mereka.

"Kita tunggu saja sampai Ki Sangga Langit dan kawan-kawannya tiba. Setelah keributan terjadi, baru kita bergerak..," ujar sosok pemuda tampan berjubah putih, yang tidak lain Panji. Dewa Tangan Salju menganggukkan kepala. Diam-diam kakek itu semakin bertambah kagum pada Pendekar Naga Putih. Ternyata pemuda itu cukup cermat dalam mengatur rencana.

Setelah agak lama menunggu, samar-samar terdengar suara dentang senjata dan bentakan bentakan nyaring. Dewa Tangan Salju dan Pendekar Naga Putih saling bertukar pandang. Kemudian, melesat ke arah bangunan kecil yang mereka duga sebagai tempat untuk menyembunyikan tawanan.

"Hei..?!"

Dua orang lelaki berseragam hitam yang kebetulan keluar dari bagian belakang bangunan utama, langsung membentak ketika melihat Panji dan Dewa Tangan Salju. Namun sebelum kedua orang itu sempat berbuat sesuatu, sebuah pukulan telak menghajar mereka. Tubuh keduanya terjengkang muntah darah! Dan, belum lagi sempat bangkit, Panji dan Dewa Tangan Salju telah menamatkan riwayat mereka dengan mematahkan tulang lehernya. Kedua tokoh itu kembali bergerak mendekati bangunan kecil. Begitu tiba, Panji langsung melontarkan pukulan ke pintu yang terbuat dari kayu tebal.

Brakkk...!

Sekali hantam pintu bangunan itu pecah berkeping-keping. Tanpa menunggu serpihan kayu berjatuhan ke tanah, tubuh kedua tokoh hebat itu sudah melesat ke dalam bangunan.

"Siapa...?!" salah satu dari empat penjaga yang tengah bertugas, menegur sambil mencabut senjata. Ketika Panji dan Dewa Tangan Salju tidak menjawab, keempat penjaga itu langsung menyerbu dengan senjata di tangan.

"Haaattt...!"

Kilatan dua batang pedang yang mengancam tubuh Pendekar Naga Putih, dielakkan pemuda itu dengan memiringkan tubuhnya sedikit Kemudian, melepaskan dua buah pukulan sekaligus.

Bettt, bettt!

"Ehhh...?!" Panji berseru tertahan melihat serangannya dapat dielakkan lawan. Pemuda itu segera mengenali gerakan kedua lawannya. Itu adalah gerak dasar ilmu Pedang Pemecah Langit yang digabungkan dengan ilmu lain. Panji menjadi geram. Tangannya diputar untuk melancarkan serangan berikutnya. Darah segar termuntah dari mulut lawan ketika kepalan Panji bersarang di tubuh mereka. Dan, gedoran telapak tangan pemuda itu membuat nyawa mereka jalan-jalan ke akherat.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Dewa Tangan Salju telah menamatkan dua orang lawannya. Kemudian, mereka memeriksa kamar tahanan yang berjajar di ruangan itu. Kamar tahanan itu kebanyakan kosong. Akhirnya, mereka menemukan dua orang lelaki gagah yang tampak sangat lemah. Dewa Tangan Salju berbisik kepada Panji. Rupanya, kakek itu mengenali kedua sosok lelaki yang tubuhnya kurus dan tak terawat baik.

"Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit...," ujarnya memberitahukan. Setelah berkata demikian, didobraknya pintu tahanan Pendekar Tongkat Sakti. Kemudian, memutuskan rantai yang mengikat kedua pergelangan tokoh itu dan membawanya keluar.

"Dewa Tangan Salju...?! Benarkah kau yang menyelamatkan aku...?" desis Pendekar Tongkat Sakti lirih, mirip sebuah desahan panjang.

"Tidak salah, Adiwarsa. Ke mana Sepasang Golok Kembar dan Sepasang Naga Laut..?" tanya Dewa Tangan Salju. Kakek itu tidak menemukan kedua tokoh itu di seluruh ruang tahanan.

"Hantu Jubah Merah telah membunuhnya. Karena semua ilmu mereka telah disadap habis..,"jawab Ki Adiwarsa dengan napas terengah-engah.

Dewa Tangan Salju menahan pertanyaan selanjutnya. Saat itu Panji tengah menghampirinya sambil menggendong tubuh kurus Pedang Pemecah Langit.

"Hantu Jubah Merah memaksa mereka bertarung, agar dapat menyadap ilmu-ilmu andalan tokoh-tokoh yang diculiknya. Sungguh keji sekali manusia jahat itu. Ia sama sekali tidak peduli betapa para tawanannya tidak terurus dengan baik...," ujar Panji menjelaskan bagaimana cara Hantu Jubah Merah menyadap ilmu para pendekar itu. Rupanya, pemuda itu telah bertanya cukup banyak kepada Pedang Pemecah Langit yang keadaannya lebih baik dibanding Ki Adiwarsa.

"Hm...," Dewa Tangan Salju bergumam marah, "Sebaiknya kita sembunyikan mereka di tempat yang aman. Setelah itu, kita bantu Ki Sangga Langit dan yang lainnya. Siapa tahu mereka tengah menghadapi musuh-musuh tangguh," usul Dewa Tangan Salju.

Tanpa banyak cakap lagi, Panji segera mengikuti Dewa Tangan Salju. Mereka menuju semak-semak tempat tadi mereka mendatangi markas. Tapi...

"Hua ha ha!" tiba-tiba terdengar suara tawa parau yang menggetarkan jantung. Bersamaan dengan itu, muncullah sesosok tubuh tinggi besar berpakaian hitam dengan jubah merah di belakang tubuhnya.

"Hantu Jubah Merah...!" seru Panji dan Dewa Tangan Salju hampir berbarengan. Kedua tokoh itu tampak agak terkejut melihat kedatangan Hantu Ju- bah Merah. Sungguh tidak disangka tokoh itu akan muncul menghadang.

"Kalian memang cerdik sekali! Sementara kawan-kawanmu menyerang dari depan, kalian menyusup dari belakang seperti maling hina! Benar-benar sebuah rencana yang sangat bagus...!" ejek Hantu Jubah Merah tertawa parau tanpa melepaskan pandang matanya dari sosok Panji dan Dewa Tangan Salju.

"Maaf, Ki. Biarlah aku yang menghadapi Hantu Jubah Merah. Kau bawalah Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit ke tempat yang aman...," bisik Panji segera melepaskan tubuh Pedang Pemecah Langit dari bahunya, dan menyerahkannya kepada Dewa Tangan Salju.

"Hati-hati, Pendekar Naga Putih! Jubah merahnya memiliki mukjizat yang ampuh...," Dewa Tangan Salju mengingatkan sebelum meninggalkan Panji.

Plok! Plok! Plok!

Tiba-tiba Hantu Jubah Merah bertepuk tangan tiga kali. Sesaat kemudian, muncullah tokoh-tokoh gadungan dan beberapa pengikutnya. Mereka langsung menutup jalan Dewa Tangan Salju. Bagi orang yang memiliki kepandaian dan kemampuan ilmu sihir yang tinggi seperti Hantu Jubah Merah, tidak terlalu sulit baginya menciptakan tokoh-tokoh palsu.

Dengan menggunakan kepandaian dan ilmu sihirnya, tokoh itu mengubah wajah pengikutnya hingga mirip dengan tokoh-tokoh yang dipalsukan. Lalu mereka diberi ilmu dan senjata andalan tokoh-tokoh itu. Jadilah, mereka tokoh-tokoh gadungan yang sempat menggemparkan kaum persilatan golongan putih.

"Kau benar-benar iblis licik, Hantu Jubah Merah...!" desis Panji geram menyaksikan kejadian itu. Kakinya melangkah empat tindak dengan sorot mata tajam menikam jantung.

"Haaattt..!"

Mendadak, delapan pengikut Hantu Jubah Merah membuka serangan dan menerjang Dewa Tangan Salju. Kakek itu menjadi sibuk mengelakkan sambaran ujung senjata lawan. Cepat ia berkelit dan membalas dengan tendangan kedua kakinya. Sedangkan kedua tangannya digunakan untuk memegang tubuh Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit Kakek itu agak kewalahan menghadapi gempuran pengeroyoknya.

"Haaaiiittt..!"

Saat Dewa Tangan Salju tengah kerepotan, terdengar pekikan nyaring. Disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan hijau yang langsung menggempur kedelapan pengeroyoknya. Kakek itu menjadi lega. Melihat Dewa Tangan Salju telah mendapat bantuan Kenanga, Panji pun merasa lega. Seluruh perhatiannya kini dapat tercurah kepada Hantu Jubah Merah.

"Hm.... Mari kita lanjutkan pertempuran tempo hari, Pendekar Naga Putih...," tantang Hantu Jubah Merah yang kali ini terlihat agak sering mempermainkan jubahnya untuk menutupi tubuh.

Panji mengerutkan kening melihat tingkah lawan. Pemuda itu segera dapat menduga Hantu Jubah Merah akan menggunakan keampuhan jubahnya. Tanpa banyak cakap lagi, Panji langsung memusatkan pikiran dan memanggil keluar Pedang Pemecah Langit yang mengeram di dalam tubuhnya. Panji percaya bahwa pedang mukjizatnya akan mampu mengatasi jubah mukjizat lawan.

Swingngng...!

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu tangan Pendekar Naga Putih telah menggenggam sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning keemasan. Pedang itu digerakkan ke depan, hingga menimbulkan suara berdesing menggetarkan jantung!

Hantu Jubah Merah agak kaget melihat pedang di tangan Pendekar Naga Putih. Ukuran pedang itu lebih besar dari biasa, serta berhawa aneh yang menggetarkan hati. Tokoh tinggi besar itu melangkah mundur. Wajahnya kelihatan agak tegang!

"Mustahil...!" desis Hantu Jubah Merah. Rupanya, tokoh itu mengenali pedang di tangan lawan.

"Hm.... Bersiaplah, Hantu Jubah Merah...!" ujar Pendekar Naga Putih. Pedangnya dilintangkan di depan dada. Sikapnya itu menunjukkan bahwa Panji telah siap bertarung!

"Hmmmhhh...!"

Hantu Jubah Merah mengeluarkan dengusan kasar. Kemudian, mencabut keluar sebilah pedang tipis lentur. Mirip Pedang Sinar Bulan yang kini dipakai Kenanga. Panji pun tahu kalau senjata itu merupakan pusaka ampuh.

Cwittt, cwittt, cwittt!

Pedang di tangan Hantu Jubah Merah berdecitan saat tokoh itu mencoret-coret udara dengan senjatanya. Kaki kanannya melangkah ke belakang setindak, dan ditekuk rendah. Sedangkan pedangnya melintang di atas kepala.

"Haaattt..!"

Tanpa membuang waktu lagi, Pendekar Naga Putih mengibaskan pedangnya menerjang ke depan. Kilatan sinar kuning keemasan berhawa panas, menyerbu datang. Hantu Jubah Merah menggeser langkahnya, kemudian membalas dengan tidak kalah ganasnya!

Trangngng! Trangngng!

Terdengar benturan nyaring, menimbulkan percikan bunga api yang mewarnai pertarungan kedua tokoh itu. Keduanya tergetar mundur untuk kembali mengatur kuda-kuda masing-masing.

"Hiaaattt..!"

Kali ini Hantu Jubah Merah yang memulai serangan. Senjata di tangannya bersuitan menyakitkan telinga. Kilatan cahaya putih bergulung-gulung turun naik dan mendengung dengung bagai ratusan lebah marah.

Bwettt! Whuttt!

Panji menggeser mundur tubuhnya dengan langkah menyilang. Setelah serangan lawan lolos. pedangnya bergerak dengan kecepatan kilat membabat datar!

Brettt!

"Aaahhh...?!" Untung Hantu Jubah Merah sempat berkelit dengan memiringkan tubuhnya. Hingga hanya jubah ampuhnya yang tersambar pedang lawan. Meski demikian, wajah tokoh sesat itu berubah pucat! Jubahnya dapat disobek senjata Pendekar Naga Putih.

Pendekar Naga Putih pun sempat terkejut ketika merasa ada perlawanan aneh dari jubah mukjizat lawan. Kalau saja senjata di tangannya bukan pusaka langka mungkin sudah patah. Jubah lawan terasa kenyal dan sangat kuat.

"Keparat! Kau telah merobek jubah kesayanganku...!" teriak Hantu Jubah Merah. Lelaki tinggi besar itu murka bukan main melihat jubahnya robek oleh sambaran pedang lawan.

"Haaattt..!"

Dengan sangat bernafsu Hantu Jubah Merah menerjang maju! Pedang di tangannya berkelebat cepat laksana sambaran kilat yang susul menyusul. Sehingga dalam beberapa jurus, Panji terpaksa bermain mundur dan memperkuat pertahanan.

Blasss!

Mendadak. Di saat tokoh sesat itu tengah gencar menerjang Panji, tiba-tiba bayangan Hantu Jubah Merah lenyap. Sosok itu berganti dengan asap putih tebal yang menghalangi pandang mata Panji. Kejadian itu sangat mengejutkan!

Whuuuttt..!

"Heiii...?!" Panji sempat tercekat mendengar desingan senjata tanpa wujud! Dan, bergerak mundur dengan lompatan panjang. Kemudian, membentak keras sambil pedangnya disabetkan ke depan.

Srattt!

Aneh. Kali ini Pedang Naga Langit menyebarkan sinar kuning keemasan yang melebar. Kemudian terdengar letupan kecil. Seolah sinar pedang pusaka itu membentur suatu gelombang yang tak nampak Sosok Hantu Jubah Merah kembali muncul dalam jarak sekitar satu setengah tombak. Pedang pusaka di tangan Pendekar Naga Putih ternyata mampu melawan kekuatan sihir jubah pusaka lawan. Hingga tubuh lawan yang semula lenyap, kini muncul di depan mata.

"Haaattt..!"

Tanpa membuang waktu lagi, Panji langsung menggebrak lawan. Pusaka Naga Langit berkesiutan menyambar-nyambar dengan kecepatan menggetarkan!

Hantu Jubah Merah yang belum sadar dirinya sudah terlihat lawan, sangat kaget mendapati pedang pemuda berjubah putih meluncur deras ke arahnya. Dan....

Brettt!

"Aaakkkhhh?!" Hantu Jubah Merah terpekik kaget bercampur kesakitan. Tubuhnya melintir dan terhuyung sejauh satu setengah tombak Darah segar mengucur keluar dari luka memanjang di atas pusarnya. Sungguh sulit dipercaya! Pendekar Naga Putih tidak memberi kesempatan kepada lawan. Pemuda itu menyusuli serangannya dengan sebuah tusukan kilat yang mengancam jantung Hantu Jubah Merah.

Syuttt... cappp!

"Aaarghhh...!" Jerit kematian yang menggetarkan jantung keluar dari mulut tokoh bertubuh tinggi besar itu. Pedang Naga Langit tertancap di dada kiri tokoh itu, tepat mengenai jantungnya. Tanpa ampun lagi, tubuh tokoh sesat itu pun tersungkur ketika Pedang Naga Langit dicabut.

Setelah menggelepar sesaat, Hantu Jubah Merah yang telah menggemparkan dunia persilatan dengan ulahnya tewas dengan mata mendelik. Kemudian, Pendekar Naga Putih menghela napas lega. Satu lagi kewajibannya untuk melenyapkan manusia yang membahayakan keselamatan orang banyak telah dijalankan. Pemuda itu menoleh ke arah Kenanga yang baru saja menyelesaikan pertarungan.

Panji melihat Ki Sangga Langit dan yang lainnya telah berada di tempat ini. Rupanya, mereka telah berhasil menghancurkan markas Hantu Jubah Merah. Para tokoh persilatan itu kelihatan sangat terharu menyaksikan pertemuan Pujawati dan Malela dengan guru dan ayahnya. Apalagi, keadaan tubuh kedua tokoh persilatan itu sangat menyedihkan.

"Mari kita tinggalkan tempat ini. Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit memerlukan perawatan segera...," ujar Panji kepada kawan-kawannya. Tak seorang pun membantah ucapan pemuda tampan itu. Beberapa saat kemudian, tokoh-tokoh persilatan itu bergerak meninggalkan Bukit Hitam. Saat itu, matahari sudah bergeser jauh ke barat...

S E L E S A I

Duel Jago Jago Persilatan

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Duel Jago Jago Persilatan
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

LANGIT yang itu tampak kelam. Awan hitam berarak membawa titik-titik air. Tak berapa lama kemudian, rintik hujan pun menerpa bumi yang disertai tiupan angin keras. Butiran air hujan itu makin lama makin besar dan deras. Hembusan angin pun bertambah kencang, membuat pepohonan berderak ribut.

Di tengah terpaan hujan lebat itu, tampak tiga sosok tubuh bergerak cepat melintasi jalan yang basah. Kelihatan mereka tidak merasa terganggu dengan cuaca seperti itu. Bahkan, langkah-langkahnya terlihat ringan, meskipun jalan yang dilalui tergenang air hujan dan licin. Agaknya, ketiga sosok tubuh itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.

Tidak berapa lama kemudian, mereka pun tiba di depan sebuah pintu gerbang bangunan perguruan. Dari luasnya bentuk bangunan menunjukkan perguruan itu sangat besar. Dugaan itu memang tidak meleset!

Bangunan yang sangat besar itu milik Perguruan Rimba Kecil. Nama perguruan itu sudah sangat terkenal di kalangan persilatan. Bahkan bisa dikatakan merupakan gudangnya orang-orang sakti. Tidak sedikit murid-murid perguruan itu yang kini jadi tokoh-tokoh terkenal. Sehingga, nama Perguruan Rimba Kecil makin harum dan disegani kaum rimba persilatan.

Kembali pada tiga sosok tubuh yang kini telah berdiri tegak di depan pintu Perguruan Rimba Kecil. Salah seorang dari mereka, yang menggenggam sebatang tongkat baja putih di tangan kanannya melangkah maju dua tindak.

Whuuuttt..!

Dengan kecepatan gerak yang sangat mengagumkan, diputarnya tongkat baja putih itu di atas kepala hingga menerbitkan sambaran angin kuat. Sehingga, air hujan yang berjatuhan ke bumi tidak mengenai sosok tubuhnya.

"Haaahhh...!" Disertai bentakan keras, tongkat baja putih di tangannya digerakkan ke depan. Dan....

Blarrr!

Terdengar ledakan menggelegar ketika tongkat baja putih itu menghantam pintu gerbang. Serpihan kayu tebal bertebaran menandakan betapa hebatnya hantaman tongkat itu. Hingga, terlihat sebagian daun pintu gerbang hancur berantakan menjadi serpihan kecil. Dapat dibayangkan, betapa kuatnya pukulan tongkat baja putih itu!

Tanpa menunggu serpihan-serpihan itu berjatuhan ke tanah, ketiga sosok tubuh itu masuk dengan lompatan panjang dan ringan. Tapi, begitu sosok mereka yang berpakaian serba hitam itu menjejakkan kakinya di halaman Perguruan Rimba Kecil, mereka disambut suara genta yang bertalu-talu.

"Setan mana yang berani mengacau di tempat ini...?!" terdengar bentakan menggema, disusul melayangnya sesosok tubuh tinggi besar yang langsung berdiri menghadang jalan ketiga sosok tubuh itu. Sepasang matanya menyorot tajam meneliti wajah-wajah di depannya. Tanpa mempedulikan air hujan yang jatuh membasahi sekujur tubuhnya. Sosok itu berdiri gagah, siap mengusir ketiga pengacau itu.

Kemunculan lelaki gagah bermata tajam itu segera diikuti dengan puluhan sosok tubuh lainnya, yang langsung berloncatan mengepung. Mereka adalah murid-murid Perguruan Rimba Kecil. Perguruan itu memang memiliki murid yang sangat banyak. Sebab, Perguruan Rimba Kecil merupakan partai persilatan terbesar di antara partai-partai lainnya. Dan, dari jumlah muridnya yang hampir seratus lima puluh orang lebih itu kini muncul setengahnya untuk melakukan pengepungan.

"Tunggu...!" lelaki gagah berpakaian serba putih yang bermata tajam itu berseru sambil mengangkat tangannya. Sehingga, puluhan murid yang melakukan kepungan itu tidak berani membantah perintah yang dikeluarkan dengan dorongan tenaga dalam tinggi itu.

"Hm.... Bukankah kalian Pendekar Tongkat Sakti, Sepasang Golok Kembar, dan Pedang Pemecah Langit..? Apa maksud kalian datang kemari dengan cara menjebol pintu gerbang perguruan kami...?" tegur lelaki gagah itu yang rupanya telah mengenal ketiga orang tamunya.

Ketiga sosok tubuh yang tidak lain Pendekar Tongkat Sakti, Sepasang Golok Kembar, dan Pedang Pemecah Langit terlihat saling bertukar pandang satu sama lain. Seperti telah mendapat kata sepakat, lelaki bertubuh jangkung yang berjuluk Pedang Pemecah Langit melangkah maju menghadapi lelaki gagah berpakaian serba putih.

"Kami datang untuk meminjam kitab dan senjata pusaka perguruan ini. Kabarnya Perguruan Rimba Kecil banyak menyimpan pusaka ampuh dan kitab-kitab ilmu silat tinggi. Kami berharap kau tidak terlalu pelit untuk meminjamkannya kepada kami, Harjana...," ujar Pedang Pemecah Langit dengan sikap sangat angkuh. Seolah bukan hendak meminjam, tapi meminta miliknya yang berada di tangan orang.

Sehingga, lelaki yang bernama Harjana melenggak kaget! Meskipun namanya banyak dikenal orang, Harjana tidak merasa heran. Apalagi, lelaki di hadapannya itu memang bukan orang sembarangan. Bahkan terhitung tokoh persilatan yang punya nama besar, hingga dirinya yang merupakan tokoh tingkat tiga dalam Perguruan Rimba Kecil. Hanya yang membuat lelaki gagah itu kelihatan marah adalah maksud kedatangan Pedang Pemecah Langit yang hendak meminjam pusaka perguruannya.

Jelas permintaan itu tidak mungkin diluluskannya. Sebab pusaka Perguruan Rimba Kecil tidak untuk dipinjamkan kepada siapa pun. Harjana semakin menajamkan pandangannya. Mata lelaki gagah itu tampak berkilat menyiratkan kecurigaan. Harjana dapat meraba ada yang tidak beres pada ketiga tokoh besar itu. Sebab, mereka pasti tahu peraturan yang berlaku di setiap perguruan.

"Hm.... Jika aku tidak salah, kalian telah cukup lama menghilang semasa Penculik-Penculik Misterius berkeliaran? Sangat aneh kalau tiba-tiba kalian muncul membawa maksud yang rasanya tidak mungkin kami kabulkan. Jangan-jangan kalian telah bersekongkol dengan Penculik-Penculik itu...?" ujar Harjana.

"Kami tidak membutuhkan khotbah mu, Harjana! Kalau kau tidak bersedia memenuhi permintaan itu, maka jangan menyesal jika kami terpaksa bertindak keras...!" jawab Ki Adiwarsa yang berjuluk Pendekar Tongkat Sakti. Sepasang mata tokoh itu tampak menyiratkan ancaman maut Bahkan tongkat baja di tangan kanannya sudah bergetar, pertanda siap untuk digunakan.

"Hm.... Kalian rupanya sudah tersesat jauh...! Tapi biar bagaimanapun, aku tidak akan mengabulkan permintaan kalian...," tegas Harjana seraya melangkah mundur sambil meloloskan pedang di punggungnya, mengingat lawan yang dihadapinya tokoh-tokoh terkenal yang berkepandaian tinggi.

"Hmmm...," Pedang Pemecah Langit menggeram gusar. Kakinya bergeser ke kanan. Sedang pedang di tangan kanannya yang entah kapan tercabut dari sarungnya telah bergetar, menimbulkan decitan tajam menusuk telinga.

Pendekar Tongkat Sakti dan Sepasang Golok Kembar pun telah bergerak ke kiri-kanan. Nampaknya mereka hendak menghadapi keroyokan puluhan murid-murid Perguruan Rimba Kecil. Melihat gelagat itu, Harjana langsung menganggukkan kepala memberi isyarat untuk segera menggempur ketiga pengacau itu,

"Heaaattt...!"

Pedang Pemecah Langit kelihatannya sudah tidak sabar lagi. Diiringi teriakan yang melengking tinggi, tubuh jangkung itu langsung melayang disertai kelebatan pedang yang berciutan, mengalahkan suara gemuruh air hujan.

Harjana yang sadar akan kehebatan serangan lawan, segera menggeser tubuhnya ke samping dua langkah. Kemudian mengibaskan pedangnya dengan kecepatan tinggi membabat iga lawan!

Bweeettt..!

Tapi, yang kali ini dihadapinya adalah Pedang Pemecah Langit Seorang jago pedang kawakan yang telah malang-melintang selama puluhan tahun. Ilmu pedangnya sudah sangat matang. Hingga serangan Harjana dapat ditepiskan dengan mudah.

Trangngng...!

Benturan kedua batang pedang yang sama-sama didorong kekuatan tenaga dalam tinggi saling berbenturan keras, menimbulkan percikan bunga api yang menyilaukan mata.

"Aaahhh...?!" Harjana mengeluh tertahan. Tubuhnya terdorong mundur sejauh empat langkah, dan tangan kanannya terasa agak nyeri. Meski demikian, lelaki gagah berpakaian serba putih itu dapat memperbaiki kuda-kudanya dan kembali siap bertempur.

Pedang Pemecah Langit menggeram gusar. Tubuh lelaki jangkung itu pun terdorong mundur. Meski hanya dua langkah, namun benturan tadi mempengaruhi kuda-kudanya. Hingga tergempur mundur.

"Hm..." Harjana kelihatan kaget melihat tokoh jangkung itu tergempur kuda-kudanya. Kenyataan itu membuat Harjana agak lega, meskipun ada bias keheranan di wajahnya.

Setahunya Pedang Pemecah Langit tokoh yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi, dan tenaga dalam yang sangat hebat. Sedangkan ilmu pedang maupun tenaganya tidak sehebat Pedang Pemecah Langit. Tapi, setelah melihat kenyataan itu ia menjadi ragu. Kini dirinya merasa yakin dapat mengimbangi kehebatan Pedang Pemecah Langit. Bahkan mungkin mengalahkannya, mengingat ilmu pedang dan kekuatan pendekar itu sudah mulai menurun.

Kedua tokoh itu kembali saling berhadapan, dan beradu pandang dengan sorot mata tajam. Kaki mereka bergerak perlahan diiringi suara sambaran angin pedang yang menderu-deru, menindih gemuruh hujan yang belum juga reda.

Di tempat lain, Pendekar Tongkat Sakti mengamuk berat, membuat murid-murid Perguruan Rimba Kecil kalang-kabut. Meski demikian, mereka tetap berusaha membendung putaran tongkat baja putih di tangan kakek itu. Kedua ujung tongkat itu bermandikan darah segar setelah memakan beberapa kepala murid-murid Perguruan Rimba Kecil.

"Heeeahhh...!"

Namun, semangat dan kesetiaan murid-murid Perguruan Rimba Kecil memang patut mendapat acungan jempol. Mereka tetap gigih dan pantang mundur. Meskipun untuk itu mereka harus mempertaruhkan selembar nyawa. Sehingga pertarungan tetap berlangsung seru.

Amukan Sepasang Golok Kembar tak kalah hebat. Sepasang senjata yang terbuat dari baja pilihan itu telah hilang warna aslinya. Terbalut lumuran darah lawan. Belasan mayat bergelimpangan menjadi korbannya. Meski demikian, kepungan murid-murid Perguruan Rimba Kecil tidak merenggang. Bahkan terlihat semakin bertambah rapat. Tampaknya makin banyak korban berjatuhan, makin tinggi semangat mereka untuk menggempur lawan.

"Heeeaaattt..!"

Di tengah gemuruh hujan dan ramainya dentang senjata serta teriakan-teriakan, tiba-tiba terdengar lengkingan panjang yang menulikan telinga. Seiring dengan lengkingan itu sesosok tubuh melayang dari dalam bangunan induk perguruan! Bagai seekor burung besar yang melayang-layang di angkasa, sosok tubuh itu berputaran dan langsung terjun ke dalam kancah pertarungan, tempat Pendekar Tongkat Sakti mengamuk hebat!

"Heeeahhh...!"

Begitu tiba, sosok berpakaian serba merah itu langsung melontarkan kepalan kanannya ke dada Pendekar Tongkat Sakti. Gerakannya cepat dan mantap. Hingga membuat kakek itu menarik mundur tubuhnya.

Whuuuttt..!

Pukulan pertama dapat dihindarkan dengan baik. Tapi, betapa terkejutnya tokoh itu ketika melihat serangan lawan masih berlanjut. Bahkan sepasang tangan itu terus mengejarnya tanpa henti. Sehingga, ia terpaksa memutar tongkatnya untuk memapaki dan menghentikan serangan yang bertubi-tubi itu.

Dukkk!

"Aaahhh...?!" Pendekar Tongkat Sakti kembali mengeluarkan pekik tertahan, ketika merasakan kuatnya tenaga pukulan lawan. Tubuhnya sampai tergetar mundur dan tangannya terasa kesemutan! Meski demikian, Ki Adiwarsa boleh bernapas lega. Karena tangkisan tongkatnya telah membuat serangan itu terhenti.

"Hm.... Tidak kusangka seorang tokoh terhormat seperti Pendekar Tongkat Sakti sampai berbuat hal yang sungguh memalukan! Apa yang telah membuatmu meninggalkan jalan lurus dan berpaling ke jalan sesat, Ki Adiwarsa...?" tegur sosok berpakaian serba merah tak senang. Bahkan, tersirat kemarahan dalam ucapannya.

Ki Adiwarsa tak menanggapi ucapan itu. Lelaki itu sudah memutar tongkat di tangannya dengan sepenuh tenaga. Sepasang matanya menyala penuh kemarahan. Sikap Ki Adiwarsa tak ubahnya seekor binatang buas yang diganggu kesenangannya.

"Hmmmhhh...!" Begitu geramannya terdengar, saat itu juga tongkat baja putih di tangannya bergerak membabat secara mendatar!

Whuuukkk...!

Lelaki tinggi kurus berpakaian serba merah pun sadar akan bahaya yang mengancam. Hingga tidak memandang rendah serangan lawan. Maka, lelaki itu memilih mundur daripada memapaki sambaran tongkat baja lawan. Kemudian mencabut sepasang, trisula di kiri-kanan pinggangnya. Dan, menggempur dengan serangan balasan yang sangat cepat!

Cwiiittt! Cwiiittt..!

Kilatan sinar perak memancar, membuat Ki Adiwarsa harus menarik serangannya. Tubuh kakek itu bergerak mundur sambil merendahkan kuda-kudanya. Kemudian tongkat di tangannya bergerak dari atas ke bawah seperti mencongkel.

Tringngng! Tringngng...!

Tubuh Ki Adiwarsa kembali terjajar mundur, ketika benturan keras itu terjadi. Saat itu juga lawan langsung menyusuli serangannya. Agaknya, lelaki berpakaian serba merah tidak memberi kesempatan pada Pendekar Tongkat Sakti untuk membangun serangan baru.

"Yeaaa...!"

Sepasang trisula lawan bersinar menyilaukan mata, mengancam tubuh Ki Adiwarsa. Tampaknya, kali ini dirinya tidak mungkin menghindari serangan maut itu!

"Haaaiiittt..!"

Namun, pada saat yang genting itu, tiba-tiba melayang sesosok tubuh yang langsung menyelamatkannya dari incaran sepasang trisula lawan!

Trangngng! Trangngng!

"Aaaiii...?!" Lelaki berpakaian serba merah memekik tertahan. Tubuhnya terdorong balik terkena tangkisan yang sangat kuat. Untunglah tokoh itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat baik. Sehingga, dapat meluncur turun ke tanah dengan kedua kaki lebih dulu.

"Sepasang Naga Laut..?!" desis lelaki berpakaian serba merah terkejut saat mengenali orang yang menggenggam sepasang pedang kehijauan. Tokoh berpakaian kulit ular hijau hanya tersenyum mengejek.

"Tinggalkan tempat ini...! Kita sudah berhasil mendapatkan benda yang kita cari...!" bisik lelaki berpakaian kulit ular pada Ki Adiwarsa.

Ki Adiwarsa menyunggingkan senyum kepuasan. Sepasang matanya mengerling ke punggung Sepasang Naga Laut, yang menggendong sebuah bungkusan cukup besar.

"Hendak lari ke mana pencuri laknat..!" tiba-tiba terdengar teriakan keras yang membuat Sepasang Naga Laut menoleh. Tampak seorang lelaki tua berusia sekitar lima puluh tahun tengah berlari ke arah mereka. Rupanya, yang dimaksud pencuri itu adalah Sepasang Naga Laut.

Tanpa mengindahkan pengejarnya, Sepasang Naga Laut mengeluarkan suitan panjang melengking mengatasi gemuruh hujan dan suara pertempuran. Kemudian, melesat pergi setelah menganggukkan kepala kepada Ki Adiwarsa yang segera mengikutinya.

Pedang Pemecah Langit yang saat itu telah dapat menekan lawan, tampak tertegun sejenak. Kemudian, menghentikan tekanannya dan melesat pergi meninggalkan Harjana yang jatuh terduduk lemas. Agaknya pertarungan barusan telah menguras seluruh tenaganya.

"Tahan mereka...! Jangan biarkan lolos! Sepasang Naga Laut telah mencuri pusaka perguruan kita...!" lelaki gagah berusia lima puluh tahun itu berteriak-teriak memerintahkan murid-murid Perguruan Rimba. Kecil mencegah kepergian lawan-lawannya.

Mendengar teriakan itu, para murid perguruan yang tengah mengeroyok Sepasang Golok Kembar makin memperhebat serangan mereka. Meskipun untuk itu mereka harus merelakan nyawanya.

"Heeeaaattt..!"

Empat orang murid Perguruan Rimba Kecil memekik keras, menghadang Sepasang Golok Kembar yang hendak melarikan diri. Pedang di tangan mereka berkelebatan mencegah kepergian lawan.

"Setan...!" Sepasang Golok Kembar sangat jengkel melihat perbuatan mereka. Senjatanya bergerak cepat dengan kekuatan hebat. Dan....

Whuuuttt!

Brettt, brettt!

"Aaakhhh!"

"Oughhh!"

Pekik kematian terdengar berturut-turut ketika Sepasang Golok Kembar bergerak membeset tubuh keempat lawannya. Begitu tubuh korban terbanting ke tanah, tokoh itu pun melesat pergi.

"Hiiiaaattt..!"

Melihat pencuri-pencuri itu melarikan diri, Harjana bangkit dan berusaha mencegah kepergian Sepasang Golok Kembar. Sebab, hanya tokoh itu yang tertinggal di halaman perguruan. Sedangkan yang lainnya sudah menghilang dari tempat itu.

Trangngng!

Terdengar benturan keras ketika Sepasang Golok Kembar memapaki serangan pedang Harjana. Tubuh keduanya terlempar balik hampir sejauh satu tombak. Jelas menunjukkan kekuatan mereka berimbang!

"Hm.... Hendak lari ke mana, Maling Hina...!" geram Harjana kembali bergerak maju. Melihat para murid perguruannya telah mengepung Sepasang Golok Kembar, yang mulai dilanda kecemasan.

DUA

Sepasang Golok Kembar memutar senjatanya, membentuk gulungan sinar putih menyelimuti sekujur tubuhnya. Tokoh gemuk itu sadar untuk menerobos kepungan lawan, dirinya harus mengerahkan seluruh kemampuannya. Apalagi, murid-murid Perguruan Rimba Kecil dibantu Harjana yang merupakan tokoh tingkat tiga di perguruan itu.

"Hmmmhhh...!" Sepasang Golok Kembar memutar tubuhnya. Senjata di tangannya bergerak menyilang menimbulkan suara berdecitan tajam, membuat beberapa pengepungnya bergerak mundur.

"Sebaiknya kau menyerah, Manusia Sesat! Mungkin guru kami akan mempertimbangkan kesalahanmu, mengingat jasa-jasamu pada orang banyak...," Harjana mencoba membujuk Sepasang Golok Kembar menyerah. Tokoh Perguruan Rimba Kecil itu masih memandang lawannya sebagai tokoh terhormat, dan baru kali ini berbuat kejahatan.

"Heeeaaattt..!"

Jawaban Sepasang Golok Kembar ternyata tidak seperti yang diharapkan. Bujukan Harjana malah disambutnya dengan sebuah serangan maut!

Beuttt, bwettt..!

Sambaran Sepasang Golok Kembar di tangan tokoh gemuk itu demikian cepat dan kuat. Hingga Harjana yang menyadari dirinya terancam bahaya. Cepat bergerak mundur sambil menyilangkan pedangnya sekuat tenaga.

Trangngng...!

Keduanya terjajar mundur akibat benturan keras itu. Sepasang Golok Kembar tampak semakin ganas. Lelaki gemuk itu kembali menerjang dengan serangan-serangan mautnya. Harjana pun tidak mau kalah. Pedang di tangannya berputaran laksana baling-baling. Disertai gulungan sinar pedang yang menimbulkan suara menderu-deru, tokoh tingkat tiga Perguruan Rimba Kecil itu melesat ke depan menyambut serangan lawan. Sebentar kemudian, kedua tokoh itu sudah terlibat dalam sebuah pertarungan sengit!

Sementara itu, Pendekar Tongkat Sakti, Pedang Pemecah Langit, dan Sepasang Naga Laut ternyata bernasib sama dengan Sepasang Golok Kembar. Dua orang tokoh tingkat dua Perguruan. Rimba Kecil rupanya tidak sudi membiarkan pencuri-pencuri itu melarikan pusaka perguruan mereka. Dengan sepenuh tenaga mereka berusaha melakukan pengejaran. Dan upaya itu tidak sia-sia. Pencuri-pencuri itu dapat disusul setelah beberapa tombak melewati pintu gerbang perguruan.

"Hm.... Jangan harap kalian dapat pergi begitu saja setelah mencuri pusaka perguruan kami...!" geram lelaki tegap berpakaian serba merah dengan tatapan tajam menikam jantung. Di tangan kanan dan kirinya tergenggam sepasang trisula.

Demikian dengan lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun itu. Di tangan kanannya tergenggam sebatang penggada dari baja putih. Senjata berat itu terlihat ringan di tangannya. Membuktikan pemegangnya memiliki tenaga dalam kuat!

Whuuukkk...!

Senjata maut itu mengaung saat pemiliknya mengibaskan ke depan menghalangi jalan pencuri-pencuri itu. Pendekar Tongkat Sakti dan kawan-kawannya semakin terkejut, melihat tiga orang tokoh tingkat dua bergabung dengan para penghadangnya.

"Celaka! Rasanya, kita tidak mungkin dapat melarikan diri tanpa merobohkan mereka lebih dahulu. Sedangkan untuk melakukannya kita membutuhkan waktu yang banyak...!" desis Pendekar Tongkat Sakti cemas. Agaknya, tokoh itu tahu betul siapa lawan-lawannya kali ini.

"Hm.... Sebelum kita sempat merobohkan mereka, Ki Sangga Langit pasti sudah datang. Kalau sampai kakek hebat itu muncul, habislah harapan kita dapat melarikan diri...," timpal Sepasang Naga Laut tidak kalah cemas, melihat tokoh-tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil mengepung mereka.

"Kalau begitu, salah seorang dari kita harus bisa meninggalkan tempat ini dengan membawa pusaka-pusaka itu...," usul Pedang Pemecah Langit Ucapan itu dikeluarkan dengan berbisik. Sedangkan sepasang ma- tanya tetap terarah pada para pengepungnya.

Pendekar Tongkat Sakti dan Sepasang Pedang Naga terlihat menganggukkan. Keduanya langsung menyetujui usul Pedang Pemecah Langit. Mereka bersepakat dan menunjuk Sepasang Naga Laut untuk melarikan pusaka-pusaka itu. Sementara itu, tokoh-tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil sudah kehilangan kesabaran. Mereka mulai bergerak mempersempit kepungan.

"Haaattt..!" Lelaki tegap berpakaian serba merah membuka serangan dengan sepasang trisulanya. Senjata itu berkelebat cepat laksana sambaran kilat di angkasa.

"Yeaaattt..!"

Pedang Pemecah Langit segera melesat menyambut serangan tokoh itu. Pedang di tangannya mengaung tajam bagai hendak merobohkan langit Sebentar saja, keduanya terlibat dalam sebuah pertarungan mati-matian. Sesaat setelah pertarungan itu berlangsung, tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil lainnya segera meluruk ke arah Pendekar Tongkat Sakti dan Sepasang Naga Laut. Sehingga arena pertarungan semakin bertambah ramai!

"Haaattt..!"

Sepasang Naga Laut mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi dua orang tokoh Perguruan Rimba Kecil. Pedang di tangannya yang merupakan pusaka ampuh berkelebat mencari sasaran. Sayang, lawan yang dihadapinya kali ini bukan tokoh sembarangan. Sebagai tokoh puncak perguruan terkenal, mereka telah dibekali ilmu-ilmu tinggi. Meskipun Sepasang Naga Laut telah mengerahkan seluruh kemampuannya, tetap saja ia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ketika pertarungan memasuki jurus kedua puluh tujuh, tokoh itu mulai dapat ditekan lawan-lawannya.

"Hm.... Rupanya kepandaianmu telah banyak menurun, Sepasang Naga Laut. Mana kehebatan 'Ilmu Pedang Sepasang Naga'mu...," ejek lelaki gagah berwajah berewok. Lelaki gagah itu tampaknya cukup mengenal baik ilmu silat lawan. Sehingga kelihatan heran ketika merasakan ilmu pedang Sepasang Naga Laut tak sehebat dan sedahsyat dulu.

"Jangan banyak bicara, Gumaranta! Ayo, robohkan aku kalau memang kau sanggup...!" geram Sepasang Naga Laut mendengar ejekan lawan.

Lelaki tua bertubuh gagah yang wajahnya terhias berewok hanya memperdengarkan kekehnya. Tokoh tingkat dua Perguruan Rimba Kecil itu terus melontarkan serangan-serangannya dibantu kawannya. Sehingga, lawan semakin tak mampu melakukan serangan balasan. Dan, hanya bisa membentengi diri dengan sepasang pedangnya yang ampuh.

Nasib serupa juga dialami Pedang Pemecah Langit Lelaki berpakaian serba merah yang bersenjatakan sepasang trisula ternyata sangat hebat! Dalam jurus ke empat puluh, Pedang Pemecah Langit kelihatan mulai terdesak lawan. Sehingga, lelaki jangkung itu lebih banyak bertahan.

"Eh...?!" Lelaki gagah berpakaian serba merah itu tampak heran melihat permainan lawan yang terkadang melakukan gerak-gerak aneh dan sangat asing baginya. Bahkan, jurus-jurus pedang lelaki jangkung itu sempat membuat keningnya berkerut dalam. Ilmu pedang pendekar jangkung itu banyak memiliki kelemahan. Padahal Pedang Pemecah Langit bukan tokoh kemarin sore. Dan, ilmu pedangnya terkenal sangat tangguh di kalangan luas. Lelaki gagah itu jadi tak mengerti melihat keganjilan jurus-jurus lawannya.

"Pedang Pemecah Langit! Mengapa jurus-jurus ampuh mu seperti sudah tidak bergigi lagi? Apa kau terlalu banyak mengumbar nafsu, hingga kepandaianmu menurun...?" seru lelaki gagah berpakaian serba merah tidak bisa menahan keheranan. hatinya. Perasaan itu pun terlontar dari mulutnya.

Pedang Pemecah Langit seperti tidak peduli dengan ejekan lawan. Kesempatan selagi lawan berbicara dipergunakannya untuk membalas serangan. Sehingga, lelaki gagah berpakaian serba merah terpaksa menelan semua keheranan hatinya. Dan, kembali menekan Pedang Pemecah Langit dengan serangan-serangan mautnya.

"Hua ha ha...!"

Pada saat Sepasang Naga Laut, Pedang Pemecah Langit, dan Pendekar Tongkat Sakti mulai dapat dikuasai lawan-lawannya, tiba-tiba terdengar suara tawa parau yang bergema menggetarkan jantung. Seketika itu juga pertempuran terhenti. Mereka yang bertempur bergerak mundur dan mengerahkan hawa murni untuk melindungi isi dada. Suara tawa itu dikeluarkan dengan mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi. Siapa yang tak sanggup menahannya akan tewas dengan isi dada pecah!

Untung gema tawa itu tidak berlangsung lama. Karena memang hanya digunakan untuk menghentikan pertempuran. Begitu pertempuran terhenti, angin keras pun bertiup. Disusul dengan melayangnya sesosok tubuh tinggi besar berjubah merah, dengan pakaian serba hitam.

Jleggg!

Tanah di sekitar tempat itu bagai terguncang saat sosok tinggi besar itu menjejakkan kakinya ke tanah. Agaknya tokoh itu sengaja hendak memamerkan kekuatan tenaga dalamnya.

"Salam kepada Ketua Yang Perkasa...!"

Begitu melihat siapa yang datang, Pedang Pemecah Langit, Pendekar Tongkat Sakti, dan Sepasang Naga Laut langsung menjatuhkan diri berlutut dihadapan tokoh tinggi besar itu.

"Hua ha ha...! Apakah tugas kalian berhasil dengan baik...?" tegur sosok tinggi besar sambil memperdengarkan tawa yang menggelegar. Sepasang matanya yang besar dan tajam menatap ketiga sosok di bawahnya.

"Nyaris gagal Ketua, meskipun pusaka-pusaka itu sudah berada di tangan kami...," lapor Sepasang Naga Laut seraya membuka bungkusan besar yang tadi tergantung di punggungnya. Kemudian menyerahkannya pada lelaki tinggi besar itu.

Melihat bungkusan besar yang berisi kitab-kitab ilmu silat serta pusaka Perguruan Rimba Kecil, Ki Gumaranta dan lelaki berpakaian serba merah tidak bisa menahan marah. Keduanya langsung melesat berbarengan hendak merebut bungkusan besar itu.

"Hmmm..." Sosok tinggi besar itu memperdengarkan gumaman perlahan. Tangan kanannya dikibaskan ke samping untuk menghalau serangan dua orang tokoh tingkat dua Perguruan Rimba Kecil.

Whusss...!

Gerakan yang kelihatannya sangat perlahan ternyata berakibat parah bagi Ki Gumaranta dan saudara seperguruannya! Serangkum angin keras berhembus membentur tubuh mereka.

"Aaahhh...?!"

"Heiii...?!"

Terkejut bukan main kedua tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil merasakan tubuh mereka terdorong ke belakang. Dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh keduanya jatuh berguling-guling sejauh tiga tombak. Rasanya, mereka tidak pernah bermimpi dapat dirobohkan lawan dalam satu gebrakan saja. Meskipun itu akibat kecerobohan mereka yang menganggap remeh lawan.

"Gila...?!" desis Ki Gumaranta belum dapat percaya dengan kejadian yang baru dialaminya.

"Mustahil...?!" lelaki tegap berpakaian serba merah pun tidak bisa menerima kenyataan itu. Dirinya merasa seperti orang yang tengah bermimpi. Hingga rasa penasarannya bangkit seketika itu juga.

"Sabar Adi Jinggala...!" cegah Ki Gumaranta melihat lelaki berpakaian serba merah itu bersiap hendak menerjang sosok tinggi besar itu.

Lelaki berpakaian serba merah semula hendak membantah. Tapi ketika melihat sinar mata Ki Gumaranta yang penuh permohonan. Jinggala hanya bisa menghela napas panjang. Tubuhnya terasa lemas bagai tak bertenaga. Lelaki itu menyimpan rasa penasaran dalam hatinya.

Dengan sikap tenang, lelaki tinggi besar berjubah merah meneliti isi bungkusan besar. Dan, tawanya kembali terdengar. "Bagus..., bagus...! Kalian telah melaksanakan tugas dengan sangat baik...!" puji lelaki tinggi besar yang kelihatan sangat puas dengan hasil kerja Sepasang Naga Laut dan kawan-kawannya.

"Terima kasih, Ketua...," hormat ketiga pendekar itu seraya menganggukkan kepala bersamaan.

"Hm..., sebaiknya segera kita tinggalkan tempat ini sebelum Ki Sangga Langit muncul dan merebut kembali benda-benda pusaka ini...," lanjut lelaki tinggi besar kemudian membalikkan tubuh hendak meninggalkan tempat itu.

"Tunggu...!" Ki Gumaranta tentu tidak tinggal diam melihat perbuatan lelaki tinggi besar itu. Sambil berteriak mencegah, tubuhnya dan tubuh Ki Jinggala melayang menghadang jalan. Keduanya telah siap dengan senjata masing-masing.

Demikian dengan tiga orang adik seperguruan mereka, yang berdiri berjajar dengan senjata tergenggam dan siap mempertaruhkan nyawa merebut kembali pusaka-pusaka perguruan mereka.

"Hm.... Saat ini aku merasa gembira dengan apa yang ku peroleh. Maka aku tak ingin mengotori tangan dengan membunuh kalian. Tapi jika kalian memaksa, jangan salahkan aku...," gumam lelaki tinggi besar dengan sorot mata tajam, membuat Ki Gumaranta dan kawan-kawannya tergetar mundur.

"Siapa kau sebenarnya berani mencari permusuhan dengan perguruan kami? Sebutkan namamu...?" ujar Ki Gumaranta yang mewakili saudara-saudaranya.

"Hm.... Panggil saja aku Hantu Jubah Merah. Guru kalian, Ki Sangga Langit pasti kenal siapa aku. Nah, sekarang menyingkirlah! Kalian bukan tandinganku...!" sahut lelaki tinggi besar tidak memandang sebelah mata pun pada tokoh-tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil.

Belum lagi Ki Gumaranta menimpali, terdengar langkah berderap. Tak lama kemudian, muncullah Harjana bersama tiga puluh orang murid perguruan. Melihat kemunculan mereka, dapat ditebak kalau Sepasang Golok Kembar sudah mereka robohkan.

"Ketua..., Sepasang Golok Kembar...," desis Pedang Pemecah Langit yang rupanya menyadari kematian kawannya.

"Hm...," Hantu Jubah Merah hanya mendengus perlahan. Kelihatan sekali ia tidak begitu menyesali kematian Sepasang Golok Kembar.

"Ayo, kita pergi...!" ajak lelaki tinggi besar kembali melangkah lebar tanpa peduli di depannya telah berdiri menghadang Ki Gumaranta dan tokoh-tokoh lainnya.

"Seraaang...!" Sadar bahwa tak ada jalan lain kecuali bertempur, Ki Gumaranta segera memerintahkan saudara-saudaranya menerjang lawan.

"Haaattt..!"

Lelaki gagah berwajah berewok itu menggerakkan penggadanya dengan sepenuh tenaga. Sasarannya adalah Hantu Jubah Merah.

Bwettt! Bettt..!

Dua kali serangan lelaki gagah itu dapat dihindari lawan dengan memiringkan tubuhnya ke kanan kiri. Dan, langsung melepaskan hantaman telapak tangannya ke dada Ki Gumaranta.

Deeesss...!

"Hukkkhhh...!" Serangan balasan yang datang laksana sambaran kilat itu tak sempat dielakkan. Akibatnya, tubuh Ki Gumaranta terjengkang memuntahkan darah!

"Heeeahhh...!"

Dua orang tokoh tingkat dua yang datang menyerang kemudian, langsung terpental balik terkena pukulan jarak jauh Hantu Jubah Merah.

Bressshhh...!

Tanpa ampun lagi, pukulan sangat kuat itu memutuskan nyawa mereka dengan dada remuk. Kejadian yang berlangsung dalam beberapa kejapan mata itu membuat gempar murid-murid Perguruan Rimba Kecil. Tanpa diperintah lagi, mereka berlompatan mundur menjauhi Hantu Jubah Merah yang tertawa berkakakan.

"Hm.... Bagus, rupanya kalian sayang dengan nyawa yang selembar itu...," dengus tokoh bertubuh tinggi besar dengan suara berat penuh ejekan.

"Keparat...! Kulumat tubuhmu...!" Ki Jinggala hampir meledak isi dadanya karena melihat kematian saudara-saudaranya, memekik parau. Sepasang trisulanya bergerak melakukan serangan. Harjana dan yang lainnya pun tak mau ketinggalan Mereka ikut menerjang maju dengan senjata di tangan.

"Hm.... Biar kuhadapi cecunguk-cecunguk ini...! Kalian pergilah lebih dulu...," perintah Hantu Jubah Merah kepada Pendekar Tongkat Sakti, Pedang Pemecah Langit, dan Sepasang Naga Laut.

"Baik, Ketua.. ," sahut ketiga tokoh itu segera berkelebat meninggalkan tempat itu. Agaknya, mereka tidak mengkhawatirkan nasib ketuanya.

"Heeeaaattt...!"

Ketika melihat beberapa murid Perguruan Rimba Kecil hendak mencegah kepergian ketiga pembantunya, Hantu Jubah Merah pun membentak keras. Sepasang tangannya berkelebat dan mematuk-matuk bagai seekor ular hidup. Akibatnya....

"Aaa...!"

Dalam segebrakan, enam murid Perguruan Rimba Kecil roboh terpelanting dengan tenggorokan berlubang. Patukan jari-jari tangan tokoh itu membuat nyawa mereka melayang. Bukan main marahnya Ki Jinggala. Bagai orang kesetanan, sepasang trisulanya bergerak cepat dengan serangan-serangan maut!

Plakkk! Plakkk!

"Aaahhh...?!"

Tepisan telapak tangan Hantu Jubah Merah sangat kuat. Akibatnya, tubuh Ki Jinggala melintir seperti sebuah gangsing. Sedangkan murid-murid lainnya yang datang membantu, terpelanting ke kiri-kanan terkena tamparan keras tokoh tinggi besar itu. Karuan saja amukan Hantu Jubah Merah membuat yang lainnya menjadi gentar!

"Hmmm...," Melihat lawan-lawannya berlompatan mundur, Hantu Jubah Merah berkelebat ke depan. Dan lenyap dari pandangan setelah menutupi tubuhnya dengan jubah merahnya.

"Iblis...?!" desis Ki Jinggala yang terkejut melihat tubuh Hantu Jubah Merah lenyap bersama gumpalan asap putih, asap itu muncul seiring dengan lenyapnya sosok tinggi besar itu.

"Bagaimana ini, Kakang...?" Harjana yang merasa tak sanggup mempertanggungjawabkan kejadian ini pada gurunya meminta pendapat Ki Jinggala.

"Biar aku yang akan melaporkannya kepada guru. Sebaiknya kau bereskan tempat ini...," ujar Ki Jinggala kemudian meninggalkan tempat itu.

********************

TIGA

Di bawah siraman sinar matahari yang redup tampak tiga sosok tubuh melangkah menyusuri tanah becek. Genangan air pada tanah berlubang memaksa mereka harus berlompatan menghindarinya. Hingga memperlambat perjalanan ketiga orang itu.

"Hhh.... Untung hujan sudah reda. Kalau tidak, terpaksa kita harus bermalam di dalam hutan...," ujar seorang lelaki kurus berusia sekitar empat puluh lima tahun. Pakaiannya agak basah. Demikian pula dua orang temannya.

"Bukan hanya di dalam hutan, Ki. Kita juga harus mencari tempat berteduh. Paling tidak sebuah goa untuk melewatkan malam dalam keadaan hujan...," timpal pemuda gagah berpakaian kuning cerah. Agaknya, ketiga orang itu baru saja melewati hutan yang kini tertinggal dibelakang. Dan sempat berteduh saat hujan lebat tadi.

"Yahhh.... Mudah-mudahan saja di depan sana kita bisa menjumpai sebuah desa. Dengan begitu, kita bisa mencari tempat penginapan. Tidak enak rasanya bermalam di udara terbuka dalam cuaca sedingin ini...," tambah sosok ketiga yang bertubuh ramping. Tangannya terlipat di depan dada. Seolah ingin menunjukkan bahwa udara saat itu memang sangat dingin.

"Keinginanmu sama denganku, Pujawati. Aku pun enggan jika harus bermalam di alam terbuka dalam cuaca seperti ini...," ucap pemuda gagah berpakaian kuning cerah pada gadis manis disebelahnya.

Tidak sulit untuk mengetahui siapa pemuda gagah dan lelaki kurus yang berjalan bersama Pujawati. Mereka adalah Malela dan Ki Danara. Yang tengah melakukan perjalanan mencari guru dan ayah mereka yang lenyap tanpa jejak. (Baca episode Penculik-Penculik Misterius)

Pujawati, putri tunggal Pedang Pemecah Langit menoleh dan tersenyum. Perjalanan itu tampaknya telah menambah akrab ketiganya. Apalagi mereka merasa senasib dan setujuan. Sehingga setelah berhari-hari melakukan perjalanan bersama, kekakuan di antara mereka berganti dengan keakraban.

Malela, pemuda gagah pewaris Pendekar Tongkat Sakti melebarkan senyumnya. Kemudian membuang pandang ke arah lain. Menyembunyikan getaran hatinya saat melihat senyum Pujawati. Malela tahu diri untuk tidak menunjukkan perasaan hatinya pada gadis manis itu. Menjaga suasana di antara mereka agar tidak menjadi canggung. Itu sebabnya, Malela lebih suka menyembunyikan perasaannya. Meskipun ia menduga gadis manis itu kemungkinan mempunyai perasaan yang sama dengannya.

"Ada orang datang...!" seru Malela perlahan. Kemudian melesat ke semak-semak di tepi jalan, setelah memberi isyarat agar Ki Danara dan Pujawati mengikutinya.

Tanpa banyak tanya lagi, gadis itu langsung bersembunyi di semak-semak. Kemudian diam menunggu dengan hati berdebar. Tapi tidak dengan Ki Danara. Lelaki tua bertubuh kurus yang memiliki kepandaian paling rendah di antara mereka, kelihatan bingung, ketika melihat Malela dan Pujawati menyelinap ke dalam semak-semak. Baru setelah Malela memberikan isyarat, Ki Danara segera mencelat dan bersembunyi. Lelaki tua itu menahan napas agar tidak terdengar orang lain.

Tidak berapa lama kemudian, tampak tiga sosok tubuh berlarian melintasi jalan yang dilalui Ki Danara dan kawan-kawannya. Gerakan mereka yang ringan menunjukkan ketinggian ilmu larinya. Membuat hati ketiga orang yang bersembunyi itu makin berdebar. Dan, ketika ketiga sosok itu semakin dekat...

"Ayaaahhh...?!" Pujawati yang menyelinap di balik alang-alang lebat, mendesis dengan dada berdebar. Gadis manis itu mengenali salah satu dari ketiga sosok itu sebagai ayahnya. Meski agak heran, namun perasaan gembira membuatnya keluar dari tempat persembunyian.

"Ayah...!" seru gadis manis itu dengan mata mulai basah oleh rasa haru yang menghimpit dada. Tanpa ragu-ragu lagi, Pujawati berlari menyongsong ketiga sosok itu.

Ternyata bukan hanya Pujawati yang berbuat demikian. Malela dan Ki Danara pun keluar dari tempat persembunyiannya. Melihat ada Ki Adiwarsa di antara ketiga sosok lelaki tua itu, Malela langsung melesat Seolah berlomba dengan Pujawati yang tengah menyongsong ayahnya.

Mendengar teriakan Pujawati, ketiga sosok tubuh yang tidak lain Pendekar Tongkat Sakti, Pedang Pemecah Langit, dan Sepasang Naga Laut menghentikan larinya. Mereka menoleh ke arah datangnya suara langkah dan panggilan itu.

"Hm...!" Pendekar Tongkat Sakti bergumam perlahan. Sepasang matanya memancarkan kilatan tajam. Kemudian kembali tenang seperti biasa. Lelaki tua itu menunggu kedatangan pemuda gagah berpakaian kuning cerah yang tengah berlari ke arahnya.

Demikian pula Pedang Pemecah Langit. Meski hanya sesaat, terlihat kilatan aneh pada sepasang matanya. Jago pedang kenamaan itu menanti kedatangan Pujawati. Sedangkan Sepasang Naga Laut berdiri di belakang kedua kawannya. Sepasang matanya bergerak-gerak memperhatikan kejadian itu. Sesekali beralih ke arah Ki Danara yang melangkah paling belakang dengan tenang.

"Ayah..." Pujawati mengurungkan niatnya untuk memeluk orangtua yang sangat dicintainya itu. Langkahnya terhenti dalam jarak empat langkah dari tubuh Pedang Pemecah Langit. Sikap dingin lelaki tua itu membuat Pujawati ragu. Karena selama ini ayahnya sangat menyayangi dirinya, maka tidak heran jika melihat perubahan sikap ayahnya. Apalagi mereka baru bertemu kembali setelah berpisah cukup lama. Hal itu menimbulkan rasa curiga di hati gadis itu.

"Hm.... Mengapa tidak memeluk ku, Pujawati? Apa kau sudah tidak sayang pada ayahmu lagi...?" tegur Pedang Pemecah Langit tak senang. Sehingga, kening gadis manis itu tampak semakin berkerut dalam.

"Kau... Dari mana saja, Ayah...?" ucapan bodoh itu meluncur dari bibir Pujawati. Gadis itu sungguh tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat itu. Pujawati tidak bergerak meskipun ayahnya sudah menegur. Dan menoleh ke arah Malela yang tidak bersujud di depan gurunya. Agaknya pemuda berpakaian kuning cerah itu pun tengah dilanda keraguan.

"Hm Mengapa memandangku seperti itu, Malela? Apakah sejak aku hilang kau tak menganggapku lagi sebagai gurumu?" Pendekar Tongkat Sakti menegur perbuatan Malela yang menatapnya penuh selidik.

Entah apa yang dipikirkan Malela saat itu. Wajahnya tidak menunjukkan bias kegembiraan setelah bertemu dengan gurunya. Padahal, perjalanan yang dilakukannya selama ini untuk menemukan guru yang dihormatinya itu.

"Aku... aku...," Malela kelihatan bingung menjawab teguran Pendekar Tongkat Sakti. Rasa hormatnya tidak hilang, meskipun hatinya diselimuti keraguan.

"Berlutut padaku...!" bentak Pendekar Tongkat Sakti dengan wajah merah padam. Orang tua itu kelihatan marah melihat sikap lancang Malela.

"Ampun, Guru..." Tanpa ragu-ragu lagi, Malela langsung menjatuhkan tubuhnya berlutut di depan Pendekar Tongkat Sakti.

Tokoh itu mengangguk-anggukkan kepala sambil mempermainkan jenggotnya yang berwarna dua. Ada rasa senang terbersit di wajahnya. Demikian pula Pujawati. Keraguan gadis manis itu luntur oleh kesayuan pandang mata Pedang Pemecah Langit. Seolah lelaki tua itu merasa sedih melihat sikap Pujawati. Hingga, akhirnya Pujawati berlari memeluk tubuh lelaki tua itu.

"Anakku...," gumam Pedang Pemecah Langit seraya mengelus rambut gadis manis itu. Tapi....

"Aaahhh...?!"

Mendadak Pujawati menyentakkan tubuhnya dari pelukan lelaki tua itu. Gadis manis itu merasakan sikap dan belaian tangan ayahnya mengandung getaran aneh. Merasa berada dalam pelukan lelaki asing yang menyembunyikan hasrat tertentu, Pujawati pun menarik tubuhnya.

"Kau... kau bukan ayahku?" pekik dara manis itu tertahan. Sepasang matanya terbelalak lebar. Gadis itu penasaran. Tidak bisa membuktikan lelaki tua itu bukan Pedang Pemecah Langit yang sebenarnya.

Pedang Pemecah Langit pun tidak tinggal diam. Begitu melihat Pujawati meronta dari pelukannya, tokoh itu segera melancarkan totokan kilat ke tubuh Pujawati.

"Ooohhh...!" Tubuh gadis manis itu jatuh terkulai. Kekalutan hatinya membuat Pujawati tidak bisa menghindari totokan Pedang Pemecah Langit.

"Pujawati...?!" Melihat kejadian itu, Malela tersentak kaget. Apalagi, saat melihat tubuh gadis manis yang diam-diam telah merebut hatinya itu terkulai ke tanah. Dan sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba pemuda itu merasakan ada sambaran angin kuat dari sebelah atas.

"Malela! Awaaasss...!" Ki Danara yang sejak tadi menyaksikan pertemuan itu, berteriak memperingatkan.

Pada saat itu Pendekar Tongkat Sakti tengah melancarkan pukulan telapak tangan miring ke belakang leher Malela. Sambaran angin pukulan itulah yang dirasakan Malela. Menyadari dirinya terancam bahaya, Malela langsung mengangkat tangan kanannya ke atas. Meskipun demikian, tenaganya tidak dikerahkan sepenuhnya. Karena serangan itu begitu tiba-tiba, dan dilakukan dalam jarak dekat. Sehingga....

Dukkk!

"Aaahhh...?!" Kedudukannya yang lemah membuat tubuh pemuda itu terjerembab dan jatuh ke atas tanah basah. Tangan kanannya terasa linu. Malela memang tidak siap menghadapi serangan itu. Kedudukannya pun tidak menguntungkan.

"Heahhh!" Pendekar Tongkat Sakti tidak mau memberi kesempatan pada pemuda itu untuk menyiapkan jurusnya. Tokoh itu segera menyusul serangannya dengan hantaman tongkat baja putih.

Whukkk!

Senjata maut itu meluncur cepat dari atas ke bawah, siap meremukkan batok kepala Malela. Kali ini Pendekar Tongkat Sakti bermaksud membunuh pemuda gagah berpakaian kuning cerah itu.

"Haaattt..!"

Ki Danara tidak bisa tinggal diam melihat Malela terancam maut Tubuh lelaki tua itu melesat ke depan dengan sambaran pedangnya. Ki Danara langsung mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mengimbangi kepandaian Pendekar Tongkat Sakti yang sangat tinggi.

Bwettt... trangngng...!

"Aaahhh...?!" Meskipun berhasil menyelamatkan Malela, tapi tubuh lelaki tua itu terlempar ke belakang. Ternyata tenaga dalam Ki Danara kalah jauh dengan lawan. Pedangnya terlepas dan jatuh entah di mana. Biarpun begitu, tindakan Ki Danara tidak sia-sia. Malela segera bergulingan menjauh saat benturan keras itu terjadi.

"Haaaittt...!"

Begitu melenting bangkit, Malela langsung melesat. ke arah Ki Danara. Ditariknya tubuh orang tua itu bangkit berdiri. Ki Danara mengurut urut lengannya yang terasa linu.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Ki. Bagaimana keadaanmu...?" tanya Malela. Wajah pemuda itu terlihat cemas melihat seringai kesakitan di wajah Ki Danara.

"Tenaga dalam gurumu sungguh hebat sekali, Malela. Rasanya tulang-tulang lenganku patah akibat benturan tadi...," jawab Ki Danara sambil tetap memijat lengannya.

"Aku belum tahu pasti siapa sebenarnya lelaki tua itu, Ki. Kalau ia benar guruku, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Jika tidak, bagaimana mungkin ia demikian tega hendak membunuhku...," tandas Malela seraya memandang sosok gurunya.

"Siapa pun dia, kita harus tetap berhati-hati, Malela...," bisik Ki Danara mengingatkan.

Malela menganggukkan kepala. Lalu melesat ke rumpun bambu kuning yang tumbuh di tepi jalan. Dipilihnya bambu yang terbaik, kemudian ditebas dengan pedangnya.

"Gunakanlah pedangku untuk melindungi diri, Ki. Aku akan menggunakan batang bambu ini sebagai senjata. Meskipun ilmu yang kudapat belum sempurna, tapi Mudah-mudahan bisa kupergunakan untuk menjaga diri...," ujar Malela seraya menyerahkan pedangnya pada Ki Danara. Sebagai murid utama Pendekar Tongkat Sakti, tentu Malela telah mewarisi hampir seluruh ilmu-ilmu silat gurunya.

Tanpa banyak tanya, Ki Danara segera menyambut pedang Malela. Sebab, dirinya memang sangat membutuhkan senjata itu untuk membela diri dari serangan lawan. Maka, keduanya pun bersiap menghadapi lawan-lawannya.

"Hm.... Berani kau melawan gurumu, Malela...?" tegur Ki Adiwarsa dengan wajah merah padam. Sepasang matanya berkilat tajam penuh kemarahan. Kakinya melangkah beberapa tindak menghampiri Malela dan Ki Danara.

"Aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, Orang Tua? Mengapa kau mirip guruku. Dan, apa alasanmu hendak membunuhku tadi...?" tanya Malela penasaran. Sampai saat itu dirinya masih ragu.

Siapa sesungguhnya orang tua itu? Jika bukan gurunya, mengapa wajahnya demikian mirip? Padahal setahunya Ki Adiwarsa tidak mempunyai saudara kembar. Sangat aneh jika lelaki tua itu mengaku berjuluk Pendekar Tongkat Sakti, yang jelas-jelas merupakan julukan gurunya. Malela bingung dibuatnya.

"Jangan dengarkan ucapan busuknya, Malela! Orang tua itu bukan gurumu yang asli. Seperti halnya lelaki tua yang mirip guruku itu. Mana ada seorang guru tega membunuh murid-muridnya. Padahal, sang Murid merupakan pewaris tunggal perguruan serta ilmu-ilmunya itu. Mereka adalah tokoh-tokoh palsu...!" tandas Ki Danara, berusaha mengingatkan Malela agar tidak terpengaruh bujukan lelaki tua itu.

Malela pun lebih mempercayai ucapan Ki Danara. Sehingga, pemuda itu menyiapkan jurus tongkatnya. Siap menghadapi serangan Pendekar Tongkat Sakti dan kawan-kawannya.

Bettt! Bettt!

Tongkat bambu di tangannya dikibaskan hingga menimbulkan suara sambaran angin kuat. Bambu sepanjang lima jengkal dengan bulatan sebesar gagang pedang itu, siap digunakan Malela sebagai senjata.

"Hm..,," Pendekar Tongkat Sakti bergumam lirih. Sepasang matanya bergerak liar. Kemudian, tongkat baja putihnya diputar di depan dada. Terdengar suara menderu-deru yang menerbangkan bebatuan kecil di dekatnya. Ki Adiwarsa tidak tanggung-tanggung untuk mengarahkan segenap tenaganya.

"Majulah, Murid Murtad...!" geram kakek itu. Pandangannya tertuju lurus pada sepasang bola mata Malela.

Pemuda itu segera membuang pandang ke arah lain. Tatapan mata lelaki tua itu tak ubahnya pandangan seorang guru yang hendak menghukum muridnya. Agaknya, itu dilakukan untuk membuat hati Malela gelisah.

"Haaattt...!"

Dengan sebuah teriakan nyaring. Malela melesat ke depan. Tongkat bambu di tangannya bergerak cepat Terkadang hanya dipegang satu tangan saja. Gerakannya yang berubah-ubah itu membuat lawan tertegun sejenak.

Bwettt..!

"Haiiittt..!"

Pendekar Tongkat Sakti memiringkan tubuhnya untuk menghindari sodokan ujung tongkat bambu Malela yang mengarah tenggorokannya. Kemudian, membalas dengan hantaman telapak tangan kirinya. Disusul hantaman tongkatnya dari atas ke bawah. Tapi, semua serangan itu dapat digagalkan Malela dengan mudah. Sebentar kemudian, keduanya terlibat dalam sebuah perkelahian sengit!

Setelah dua puluh jurus lebih, Malela semakin bertambah yakin lelaki tua itu bukan gurunya yang asli. Permainan tongkat orang tua itu dicampur dengan ilmu-ilmu silat lain yang tidak dikenalnya. Apalagi, ternyata dirinya dapat mengimbangi permainan lawan. Keyakinan Malela semakin menjadi-jadi. Hanya saja pemuda itu tidak mengerti. Bagaimana mungkin lelaki tua itu memiliki wajah yang serupa dengan gurunya? Bahkan, ia memiliki ilmu tongkat perguruannya, meski di bawah ilmu Malela.

"Keparat! Sekarang aku yakin. Kaulah yang telah menculik guruku. Ilmu dan tongkat guruku itu buktinya!" seru Malela di tengah hujan serangan lawan. Tubuh pemuda itu berkelit ke kiri-kanan. Sesekali tongkat bambu ditangannya melontarkan serangan balasan yang tidak kalah cepat

Sebagai pewaris Perguruan Tongkat Sakti, pemuda gagah itu telah mewarisi hampir seluruh ilmu Ki Adiwarsa. Selain memiliki sikap gagah dan jujur, Malela pun seorang murid berbakat Hingga tidak aneh bila ia dapat mengimbangi permainan lawan, yang menggunakan ilmu tongkat perguruannya.

Satu keuntungan Malela adalah pemuda itu telah melatihnya sejak kecil. Sehingga, dapat mengenali ilmu lawan dengan baik. Itulah salah satu keuntungan Malela. Maka, pada jurus keenam puluh pemuda itu mulai dapat menekan lawan.

"Haaattt...!"

Seraya membabatkan tongkat bambunya ke leher lawan, pemuda itu berteriak nyaring. Malela ingin memecah perhatian lawan.

Bwettt..!

Ketika sambaran tongkat bambunya gagal, Malela langsung mengirimkan sebuah tendangan miring yang telak mengenai sasaran.

Bukkk!

"Uuuhhh...!" Meskipun tidak terlalu kuat, namun tendangan pemuda itu sempat membuat lawan terdorong dan nyaris terpelanting jatuh. Untung kedudukan tokoh tua itu cukup kuat. Hingga dapat mengimbangi gerak tubuhnya dengan baik.

"Yeeeaaa...!"

Kesempatan itu tidak disia-siakan Malela. Tubuhnya melambung ke udara. Dari atas tongkat bambunya bergerak menghantam tubuh di bawahnya!

Bweeettt..! Trakkk!

"Aaahhh...?!" Malela memekik kaget. Tubuhnya terpental balik. Dan tongkat bambu di tangannya terpotong menjadi dua. Beruntung pemuda itu bertindak sigap dengan melempar tubuh ke belakang. Kalau tidak, bukan mustahil tubuhnya ikut terpotong menjadi dua!

Seorang lelaki yang bersenjatakan sepasang pedang bersinar kehijauan, telah berdiri di depan Pendekar Tongkat Sakti. Orang itu adalah Sepasang Naga Laut!

"Hm...," Malela bergumam sambil memperbaiki kuda-kudanya. Sadar bahwa lawannya kali ini memiliki kepandaian yang jauh lebih hebat, Malela pun lebih bersikap hati-hati. Langkahnya diputar seperti hendak meneliti kelemahan lawan.

"Malela! Pakai pedang ini...!" Melihat Malela tidak bersenjata, Ki Danara segera melemparkan pedang yang tadi diberikan pemuda itu kepadanya. Rupanya, orang tua itu pun tahu kalau lawan Malela berkepandaian lebih tinggi dari Pendekar Tongkat Sakti gadungan.

"Haaaiiittt...!"

Celaka! Saat Ki Danara melemparkan pedangnya, Sepasang Naga Laut langsung melambung ke udara. Sepasang pedang di tangannya berputar cepat mencegah pedang itu sampai di tangan Malela.

Trakkk! Trakkk!

Terdengar benturan keras dua kali. Disusul runtuhnya pedang Malela yang terpotong tiga. Sepasang pedang di tangan lelaki berpakaian kulit ular berwarna hijau itu memang merupakan sebuah pusaka ampuh.

"Gila...!" desis Malela kagum melihat ketajaman dan keampuhan sepasang pedang lawan. Tapi, bukan berarti dirinya gentar bertarung dengan tangan kosong. Tidak! Malela akan tetap menghadapi Sepasang Naga Laut, meskipun dengan ilmu tangan kosongnya!

"Hm...," Sepasang Naga Laut mendengus seraya menatap tajam Malela. Dan pemuda itu membalasnya. Kedua belah pihak sudah siap saling gebrak!

EMPAT

Malela yang sadar akan kepandaian lawan, tidak mau bertindak ceroboh. Ditunggunya lawan mulai menyerang. Dirinya akan bertahan dengan mengandalkan sepasang tangannya. Seluruh kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan. Malela siap bertarung habis-habisan!

Sepasang Naga Laut rupanya dapat membaca jalan pikiran lawan. Tapi tampaknya ia tidak peduli. Tokoh berpakaian kulit ular itu merasa yakin dapat menundukkan murid Pendekar Tongkat Sakti itu. Meskipun dengan menyerang lebih dulu berarti ia memperlihatkan kelemahan pertahanannya.

Bweeettt…! bwettt..!

Sepasang pedang pusaka bersinar kehijauan berkilau saat tokoh itu memutarnya di depan tubuh. Sambaran angin berhawa dingin memenuhi arena pertarungan. Dan....

"Haiiittt..!"

Disertai sebuah bentakan nyaring, tubuh lelaki berpakaian kulit ular itu melesat ke depan dengan sambaran pedang yang berdesingan tajam. Kilatan sinar kehijauan itu bagai tangan-tangan maut yang siap mencabut nyawa lawan.

Bettt! Bettt!

"Hahhh...!" Sambil membentak Malela menghindari sambaran sepasang pedang lawan. Seluruh kelincahannya dikeluarkan untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Dan membalas sesekali dengan pukulan serta bacokan sisi telapak tangannya. Bahkan, tidak jarang kakinya melancarkan tendangan-tendangan kilat yang cepat dan kuat. Sehingga, sebentar saja keduanya telah bertarung sengit!

Tapi julukan Sepasang Naga Laut memang bukan nama kosong. Tokoh itu membuktikan kehebatannya. Setelah lewat dua puluh tiga jurus Malela mulai terdesak. Ruang geraknya semakin sempit, seolah terkurung hujan pedang!

Breeettt..!

"Aaahhh...?!"

Sebuah sambaran senjata lawan membuat pemuda itu memekik kesakitan. Meskipun luka di pangkal lengannya tidak terlalu dalam, namun cukup mengganggu gerakannya. Sehingga, tekanan lawan terasa semakin berat!

"Malela, aku akan membantumu...!" Ki Danara yang sejak tadi hanya sebagai penonton, tak dapat menahan diri lagi ketika melihat pemuda itu terdesak. Tubuhnya segera melayang ke dalam arena pertarungan. Walau kepandaiannya tidak begitu tinggi, tapi Ki Danara bukan seorang pengecut. Ia rela mempertaruhkan nyawa untuk membantu Malela yang terkurung pedang lawan.

Whukkk...!

Begitu memasuki arena pertarungan, Ki Danara langsung melontarkan sebuah pukulan ke arah Sepasang Naga Laut. Melihat sambaran angin yang cukup kuat Ki Danara agaknya telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melancarkan serangan itu.

"Hmmmhhh...!" Sepasang Naga Laut mengeluarkan dengusan mengejek. Tubuhnya berkelit menghindari pukulan lelaki tua itu. Kemudian, mengalihkan serangannya ke arah Ki Danara. Dengan gerakan menggunting, sepasang pedangnya mengancam leher lelaki tua itu!

"Aaahhh...?!" Terkejut bukan main Ki Danara. Ia merasa nyawanya akan segera melayang dengan kepala terpisah dari badan!

"Ki Danara...?!" Wajah Malela pucat melihat serangan maut itu. Nyawa Ki Danara tidak mungkin dapat diselamatkan lagi. Jarak mereka terpisah sekitar satu tombak lebih. Sulit bagi Malela untuk menyelamatkan kawannya. Apalagi, gerakan Sepasang Naga Laut masih berada di atas kecepatannya.

Trangngng! Trangngng!

"Aaaiiihhh...?!"

Pada saat yang sangat gawat itu, mendadak berkelebat sesosok bayangan putih. Sosok itu langsung memapaki sepasang pedang yang nyaris membabat putus leher Ki Danara. Tubuh Sepasang Naga Laut pun terdorong mundur terkena tangkisan sosok bayangan putih. Sepasang Naga Laut segera memperbaiki kuda-kudanya. Lalu menatap sosok pemuda tampan yang mengenakan jubah panjang putih. Yang ditatapnya berdiri tegak dengan sepotong bambu ditangannya. Potongan bambu itu milik Malela yang terpapas putus oleh pedangnya!

"Gila...?! Benarkah potongan bambu itu yang digunakan untuk menyambut pedangku...?" desis Sepasang Naga Laut tak percaya. Tidak masuk di akal jika sepasang pedang pusakanya dapat terpukul mundur oleh sepotong bambu. Jelas itu tidak mungkin!

"Hm.... Tidak kusangka seorang tokoh besar sepertimu demikian mudah mencabut nyawa orang lain...," gumam pemuda tampan berjubah putih yang kelihatan terkejut saat mengenali lawan-lawan orang yang ditolongnya. Sepanjang pengetahuannya mereka adalah tokoh-tokoh besar golongan putih.

"Pendekar Naga Putih...?!" Ki Danara gembira bukan main ketika mengenali sosok pemuda tampan berjubah putih yang telah menyelamatkan nyawanya. Lelaki tua itu telah mengenal siapa penolongnya. (Untuk mengetahui perkenalan Ki Danara, Malela serta Pujawati dengan Panji dan Kenanga, silakan ikuti episode Penculik-Penculik Misterius).

Pemuda tampan berjubah putih yang memang Panji, menganggukkan kepala menyapa Ki Danara dan Malela. Di dekat mereka terlihat seorang dara jelita berpakaian serba hijau. Gadis itu adalah Kenanga yang datang bersama Panji.

Pasangan pendekar muda itu belum lama bertemu. Ketika Kenanga terluka matanya oleh serbuk racun Penculik-Penculik Misterius, gadis itu tinggal bersama Dewa Tangan Salju dipertapaan kakek itu. Dewa Tangan Salju lah yang mengobati luka Kenanga dengan petunjuk Panji. Sedangkan Panji sendiri pergi mencari Penculik-Penculik Misterius. Setelah Kenanga sembuh dan Panji belum kembali, gadis itu mencarinya. Mereka bertemu disebuah desa.

"Mereka... orang-orang jahat yang menyamar sebagai guruku, dan guru Ki Danara, Pendekar Naga Putih...," jelas Malela sebelum pemuda tampan itu bertanya.

Panji tampak kaget mendengar keterangan itu. "Betulkah demikian...?" Panji meminta ketegasan. Pemuda itu merasa heran melihat Sepasang Naga Laut hendak membunuh Ki Danara. Padahal di tempat itu ada Pedang Pemecah Langit, yang merupakan guru lelaki tua bertubuh kurus itu.

"Lalu..., bagaimana dengan Pujawati...?" Kenanga melihat gadis manis itu berada dalam gendongan Pedang Pemecah Langit. Tokoh bertubuh jangkung itu menggenggam sebatang pedang di tangan kanannya.

Malela segera menceritakan kejadiannya yang menimpa Pujawati. Hingga gadis itu berada dalam dekapan Pedang Pemecah Langit. Pasangan pendekar muda itu pun mulai mengerti duduk perkara yang sebenarnya.

"Hm.... Kalau begitu, kita harus menyelamatkan Pujawati dari cengkeraman ayah palsunya itu...," bisik Panji seraya melemparkan pandang ke arah Pedang Pemecah Langit.

Sementara itu, Sepasang Naga Laut, Pedang Pemecah Langit, dan Pendekar Tongkat Sakti telah berkumpul. Mereka tampak gentar melihat pemuda tampan berjubah putih. Agaknya, ketiga tokoh gadungan itu telah mengenal siapa Panji. Mereka pun bersepakat untuk meninggalkan tempat itu dengan membawa lari Pujawati.

"Heiii...!" Panji berusaha mencegah ketika melihat ketiga tokoh gadungan itu hendak melarikan diri. Tubuhnya melesat ke depan, dan berputaran beberapa kali di udara. Kemudian....

Jleggg!

Tubuh pemuda itu mendarat di tanah dalam jarak dua tombak di depan ketiga tokoh gadungan itu. Mereka segera menahan langkah dengan wajah tegang!

"Hm.... Hendak lari ke mana, Manusia-manusia Jahat! Lebih baik serahkan gadis itu, dan menyerahlah secara baik-baik jika tidak ingin terjadi hal-hal buruk menimpakalian!" ancam Panji dengan sinar mata tajam menikam jantung, membuat hati lawan-lawannya berdebar keras.

Ketiga tokoh gadungan itu tidak menanggapi ucapan Pendekar Naga Putih. Mereka malah membalikkan tubuh untuk mencari jalan meloloskan diri. Namun di belakang mereka telah berdiri Kenanga, Malela, dan Ki Danara. Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti segera memutar senjatanya. Lalu, menerjang ketiga penghadang itu. Mereka mengira gadis berpakaian serba hijau itu tidak terlalu berbahaya. Tidak seperti Pendekar Naga Putih. Maka, mereka pun memilih kabur dengan menerjang Kenanga dan kawan-kawannya.

"Haaattt..!"

"Yeeeaaattt..!"

Ketiga senjata yang telah dialiri kekuatan hebat itu, meluruk maju menerjang Kenanga dan kawan-kawannya. Kenanga tidak tinggal diam. Cepat tangannya bergerak meloloskan pedang. Dan dikibaskan ke depan menyambut serangan lawan!

"Yeeeaaa...!"

Trang, trang, trangngng!

"Aiii...?!"

"Aaahhh...?!"

Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti gadungan terpekik kaget. Senjata mereka dapat dipapaki pedang gadis jelita itu. Akibat tangkisan yang sangat kuat itu, keduanya terdorong mundur.

"Gila...! Ternyata gadis itu memiliki kepandaian tinggi...!" desis Sepasang Naga Laut. Harapannya untuk dapat meloloskan diri semakin menipis.

"Hm.... Sebaiknya kalian turuti saja permintaan Pendekar Naga Putih. Dan jangan berharap dapat lepas dari tangan kami...," ujar Kenanga mengejek. Pedang Sinar Bulan melintang di depan dada, siap menghadapi gempuran tokoh-tokoh gadungan itu.

"Kalau kalian tetap bersikeras tidak mau membiarkan kami pergi, nyawa gadis ini terpaksa ku cabut..!"

Pedang Pemecah Langit berkata sambil menekan mata pedangnya ke leher Pujawati. Gadis manis itu masih terkulai pingsan dalam gendongannya. Ancaman Pedang Pemecah Langit sempat membuat Panji dan yang lainnya tertegun sesaat.

"Gadis itu tidak mempunyai hubungan denganku," sahut Panji setelah berpikir sesaat. "Kalau kalian ingin membunuhnya, bunuhlah! Tapi setelah itu, aku tidak akan memberi ampun pada kalian bertiga...," pemuda berjubah putih balas mengancam dengan tatapan mata mencorong tajam, menyiratkan kegeraman hatinya.

Ki Danara dan Malela tentu saja kaget mendengar perkataan Pendekar Naga Putih. Namun, keduanya membungkam setelah Kenanga memberi isyarat diam. Mereka menunggu tanggapan Pedang Pemecah Langit yang kelihatan ragu setelah mendengar ancaman Panji. Di saat itulah Panji segera bertindak cepat memanfaatkan kelengahan lawan. Tubuhnya melesat secepat kilat. Tangan kanannya meluncur ke depan melancarkan totokan jarak jauh dengan mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Dan....

Taaasss!

"Aaakkkhhh?!" Pedang Pemecah Langit yang tidak menyangka Pendekar Naga Putih akan berbuat senekat itu, menjerit kesakitan. Pedang di tangannya terlepas dari genggaman. Lengan kanannya terkena kilatan sinar putih yang sangat kuat. Lengan itu terasa lumpuh seketika.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera menyambar tubuh Pujawati yang melorot ke tanah. Bersamaan dengan itu, telapak tangan kirinya didorong ke depan mengirim pukulan jarak jauh.

Deeesss...!

"Aaaghhh...?!" Pedang Pemecah Langit yang tengah terhuyung mundur, langsung terjengkang dan jatuh terbanting ke tanah! Pukulan jarak jauh Panji menggedor dada kirinya. Tokoh gadungan itu pun memuntahkan darah segar!

"Ooouhhh..." Terdengar rintihan perlahan Pujawati ketika Panji menyerahkan gadis manis itu pada Kenanga, yang segera membebaskan totokan di tubuh gadis manis itu.

"Kenanga...?!" desis Pujawati lemah saat matanya menangkap wajah gadis jelita itu.

"Syukurlah kau tidak terluka, Pujawati...," ucap Kenanga tersenyum lebar kepada gadis manis itu.

Begitu tersadar dari pingsannya, Pujawati langsung bangkit dan menatap berkeliling. Sepasang mata gadis remaja itu tampak berbinar ketika menemukan sosok yang dicarinya.

"Sudah kuduga kau pasti datang bersama Pendekar Naga Putih...," gumam dara remaja itu tidak menyembunyikan rasa gembiranya. Pujawati merasa lega dan gembira melihat sosok pendekar muda yang dikaguminya itu.

"Hhh...," Malela menghela napas panjang. Hingga terdengar Ki Danara yang berada di sebelahnya.

"Ada apa, Malela...?" tanya lelaki tua itu berpura-pura bodoh. Agaknya, Ki Danara sudah dapat membaca perasaan hati pemuda itu terhadap putri tunggal gurunya.

"Tidak apa-apa, Ki. Aku hanya merasa lega melihat Pujawati telah selamat..," sahut Malela sedikit gugup.

Ki Danara tersenyum tipis mendengar jawaban Malela. Dan, perhatiannya kembali dialihkan pada sosok Pendekar Naga Putih yang tengah berhadapan dengan ketiga lawannya. Saat itu Pedang Pemecah Langit telah berdiri. Meski wajah jago pedang itu kelihatan agak pucat, namun pedang di tangannya menandakan ia siap bertempur. Rupanya, kelumpuhan di tangan kanannya telah sembuh. Walau masih sedikit lemah, jago pedang gadungan itu bersatu dengan kawan-kawannya untuk menggempur Pendekar Naga Putih.

Panji tetap tegak di tempatnya, meskipun ketiga lawannya telah mengepung dirinya. Nampaknya ketiga tokoh gadungan itu nekat menghadapi Pendekar Naga Putih. Sebab, untuk meloloskan diri dari tempat itu jelas tidak mungkin. Satu-satunya pilihan bagi mereka adalah menghadapi pendekar muda yang digdaya itu.

LIMA

"Haaattt...!"

Sepasang Naga Laut, yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara mereka bertiga, membuka serangan dengan sepasang pedangnya. Menyusul Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit

Bwettt, bettt, whuttt...!

Panji menyelinap di antara sambaran senjata lawan. Sepasang tangannya bergerak cepat melepaskan serangan balasan yang tidak kalah bahayanya. Sehingga, dalam waktu singkat keempat tokoh persilatan itu telah bertarung sengit!

"Heeeahhh...!" Sepasang Naga Laut tampak paling bernafsu melancarkan serangan. Kelebatan sepasang pedangnya demikian gencar mencari sasaran. Memaksa Panji lebih memperhatikan lelaki gagah berpakaian kulit ular itu daripada dua lawannya yang lain.

Whuttt... Bwettt...!

Dengan kuda-kuda rendah, Panji mengelakkan sambaran sepasang pedang lawan yang mengincar leher dan iganya. Kemudian melompat pendek ke belakang, saat ujung tongkat baja Ki Adiwarsa gadungan mengancam dadanya. Serangan kedua lawannya pun luput dan membentur angin kosong! Saat itu juga Panji bergerak ke depan dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata. Sepasang tangannya bergerak ke kiri-kanan dengan mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya.

Bukkk! Desss...!

"Hukkkhhh...!"

"Aaakhhh...!"

Kecepatan gerak Panji membuat Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti tak sempat mengelak lagi. Akibatnya, tubuh kedua tokoh gadungan itu terjengkang ke belakang memuntahkan darah segar. Hantaman lengan Pendekar Naga Putih yang laksana palu godam telah menghajar telak tubuh mereka.

"Haaattt..!"

Ketika Panji hendak melumpuhkan kedua lawannya, Pedang Pemecah Langit melancarkan serangan. Hingga pemuda itu terpaksa menunda gerakannya.

Bwettt... Bwettt..!

Putaran senjata Pedang Pemecah Langit memang sungguh hebat! Panji harus menarik mundur tubuhnya untuk menghindari serangan itu. Serangan pedang lawan pun lewat di depannya. Panji langsung membalas serangan lawan dengan sambaran tangan kanan yang meliuk cepat menggedor dada Pedang Pemecah Langit!

Buggg!

"Huakhhh...!" Tanpa ampun lagi, tokoh tua itu terpental ke belakang sejauh dua tombak lebih! Hantaman itu membuat Pedang Pemecah Langit tidak sanggup untuk segera bangkit. Darah segar kembali termuntah saat ia terbatuk. Bagian dalam dadanya terasa remuk akibat gedoran telapak tangan pemuda berjubah putih.

Melihat Pedang Pemecah Langit gadungan tidak segera bangkit, Pendekar Naga Putih segera melayang ke arah dua lawan lainnya yang telah bersiap dengan senjata di tangan.

"Haaaiiittt..!"

Laksana seekor naga sakti yang meliuk-liuk di angkasa, tubuh Pendekar Naga Putih melayang ke arah Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti. Tubuh pemuda itu terbungkus sinar putih keperakan yang menebarkan hawa dingin menusuk tulang. Kedua tokoh gadungan itu terpana dan hanya bisa terpaku menanti kedatangan maut yang siap menjemput

"Haaaiii...!"

Saat tubuh Panji tinggal beberapa tindak dari kedua lawannya, tiba-tiba terdengar lengkingan tinggi yang menggetarkan dada. Bersamaan dengan itu, sesosok bayangan hitam melayang datang memotong serangan Panji.

Whusss...!

Sambaran angin keras berhembus mengiringi dorongan sepasang tangan sosok serba hitam. Sehingga....

Blarrr...!

Luar biasa sekali akibat benturan dua gelombang tenaga dalam tingkat tinggi itu. Bumi di sekitar tempat itu bagai diguncang gempa! Hingga pepohonan berderak ribut!

"Aaahhh...?!"

"Aiii...?!"

Akibat yang dirasakan Pendekar Naga Putih dan sosok berpakaian serba hitam pun tak kalah mengejutkan. Keduanya terpental balik dilempar tangan-tangan raksasa yang tak nampak. Seruan-seruan kaget keluar dari mulut mereka.

"Haaattt...!"

Untuk mematahkan daya dorong itu, Panji berteriak keras. Tubuhnya melenting ke udara dan berputaran tujuh kali sebelum mendarat di tanah. Tubuh pemuda itu agak bergoyang saat kedua kakinya menjejak tanah. Daya dorong benturan dahsyat itu ternyata sangat kuat

Demikian pula sosok tinggi besar terbungkus pakaian serba hitam. Tubuh tinggi besar itu terlempar balik dengan deras. Tapi, lagi-lagi sosok berpakaian serba hitam menunjukkan ketangguhannya. Tubuhnya melenting ke udara dan mendarat di tanah setelah berputaran beberapa kali. Kakinya tampak melangkah mundur meski telah mendarat dengan baik. Pada sela-sela bibirnya terlihat cairan merah mengalir turun. Tubuh bagian dalam sosok tinggi besar itu agaknya sempat terguncang oleh benturan dahsyat tadi.

"Hm... Kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" tegur sosok tinggi besar. Matanya menatap tajam sosok pemuda tampan berjubah putih yang juga tengah menatapnya lekat-lekat

"Dugaanmu tidak meleset Kisanak. Demikian orang-orang memberi julukan kepadaku. Siapakah kau? Dan apa hubunganmu dengan tokoh-tokoh gadungan itu...?" tanya Panji. Kening pemuda itu berkerut dalam. Rupanya, Panji tengah berusaha mengenali sosok yang berkepandaian sangat tinggi itu.

"Aku berjuluk Hantu Jubah Merah. Mengenai hubungan dengan mereka, aku rasa kau dapat menerkanya sendiri, Pendekar Naga Putih...," desis sosok tinggi besar dengan dada membusung. Kelihatan sekali ia sangat bangga akan julukan itu.

"Hantu Jubah Merah... ?" gumam Panji mencoba mengingat-ingat julukan itu, "Hm... Sayang aku belum pernah mendengar julukanmu, Hantu Jubah Merah. Tapi, aku sudah dapat menebak. Dirimu adalah biang keladi penculikan-penculikan terhadap tokoh-tokoh persilatan. Apa sebenarnya yang kau inginkan dari tokoh-tokoh itu...?" lanjut Panji seraya meneliti sosok tinggi besar yang sudah melangkah maju. Jarak keduanya kini terpisah dua tombak lebih.

"Sudahlah! Aku tidak ingin memperpanjang kata denganmu, Pendekar Naga Putih! Kunasihatkan agar kau tidak mencampuri urusanku. Jika tidak, kau pasti akan menyesal seumur hidup!" tandas sosok berjubah merah yang berjuluk Hantu Jubah Merah. Tampaknya tokoh itu sudah siap untuk menggempur Pendekar Naga Putih.

"Hm.... Tidak ada kata menyesal untuk meruntuhkan segala bentuk kejahatan, Hantu Jubah Merah...," tegas Panji. Langkahnya digeser saat melihat lawan mulai mempersiapkan jurus-jurus serangannya.

Hantu Jubah Merah terus bergerak perlahan. Didekatinya kedua orang pengikutnya yang masih tampak pucat. "Pergilah kalian dari tempat ini. Dan, bawa kawanmu yang tewas itu," bisik Hantu Jubah Merah pada Pendekar Tongkat Sakti dan Sepasang Naga Laut Kedua tokoh itu menganggukkan kepala. Kemudian, bergerak mendekati tubuh Pedang Pemecah Langit yang tewas oleh pukulan Panji.

"Tahan...!" Panji membentak sambil melesat. Pemuda itu mengejar Sepasang Naga Laut dan Pendekar Tongkat Sakti, yang hendak meninggalkan tempat itu dengan membawa mayat Pedang Pemecah Langit

"Biarkan mereka pergi, Pendekar Naga Putih...!" Hantu Jubah Merah segera menghadang Panji yang hendak mengejar ketiga pengikutnya untuk meninggalkan tempat itu.

Kenanga, Malela, dan Ki Danara pun tidak tinggal diam. Cepat ketiganya mengejar tokoh-tokoh gadungan yang hendak melarikan diri itu. Tapi...

"Heaaahhh...!" Melihat gelagat yang tidak baik, Hantu Jubah Merah segera mengayunkan tangannya ke arah ketiga pendekar itu. Dan....

"Awaaasss.!" Kenanga berteriak memperingatkan Malela dan Ki Danara, ketika merasa ada sambaran angin kuat menghadang mereka. Menyadari pukulan jarak jauh yang dilontarkan Hantu Jubah Merah sangat berbahaya, Kenanga pun segera mengingatkan kawan-kawannya untuk menghindar.

Darrr!

"Aaahhh ?!"

Memang hebat pukulan jarak jauh Hantu Jubah Merah. Tanah di depan ketiga pendekar itu meledak, membentuk sebuah lubang sebesar kubangan kerbau. Untunglah mereka sudah melompat ke belakang lebih dulu. Sehingga meskipun Malela dan Ki Danara sempat terjatuh, tapi tidak mengalami luka yang mengkhawatirkan. Mereka berdua hanya terkejut merasakan ledakan yang menggetarkan itu.

"Ku cabut nyawa kalian...!" geram Hantu Jubah Merah segera melesat ke arah Ki Danara dan Malela yang hendak bangkit

"Akulah lawanmu, Hantu Jubah Merah...!" Panji tentu tidak tinggal diam melihat kedua orang itu dalam bahaya. Cepat tubuh pemuda itu melesat memapaki serangan Hantu Jubah Merah.

Bwettt!

Hantu Jubah Merah terpaksa memutar arah serangan. Pukulannya kini meluncur ke arah Pendekar Naga Putih. Tapi, Panji sudah memperhitungkan gerakannya dengan cermat. Maka begitu pukulan lawan tiba, tubuhnya langsung berputar. Sedangkan tangan kanannya dikibaskan memapaki pukulan lawan.

Plakkk!

Tubuh kedua tokoh hebat itu terjajar mundur. Kemudian, kembali bersiap dengan jurus-jurus andalannya. Kepandaian kedua tokoh itu tampaknya berimbang. Sehingga, mereka sama-sama memperhitungkan serangan-serangan berikutnya.

"Yeaaattt..!"

Kali ini Hantu Jubah Merah melipatgandakan kekuatannya untuk menggempur Pendekar Naga Putih, yang dirasakannya sangat tangguh. Sepasang tangannya berputaran bagai baling-baling. Hingga tangannya tampak demikian banyak dan menimbulkan angin yang menderu-deru.

Dengan menggunakan 'Ilmu Silat Naga Putih'nya, Panji langsung meluncur menyambut serangan lawan. Sebentar kemudian, kedua tokoh itu telah saling terjang dengan jurus-jurus andalannya!

Kenanga, Malela, dan Ki Danara bergegas menyingkir dari arena perkelahian. Mereka tahu akan bahaya pertarungan tingkat tinggi itu. Jangan sampai terkena pukulan. Angin pukulannya saja bisa membuat napas mereka putus seketika. Hal itu terlihat dari robohnya beberapa batang pohon yang tumbuh di dekat arena pertarungan. Bahkan bebatuan kecil pun beterbangan, dan terasa sakit mengenai tubuh mereka.

"Luar biasa...! Selama hidupku baru sekali ini aku melihat pertempuran yang demikian mengerikan...!" desis Malela takjub dan juga gentar melihat pertarungan kedua tokoh puncak itu. Kedua matanya tidak berkedip melihat jalannya pertarungan. Sayang, perkelahian itu berlangsung sangat cepat. Hingga pandangan pemuda gagah itu kadang kabur, dan tidak bisa membedakan satu dengan yang lainnya.

Bukan hanya Malela yang mengalami kesulitan seperti itu. Kenanga pun seringkali terkecoh, dan tidak dapat membedakan mana tubuh Hantu Jubah Merah dan mana sosok kekasihnya. Arena pertarungan agak gelap oleh debu dan rerumputan yang beterbangan. Kenanga hanya bisa berharap, agar kekasihnya dapat segera menundukkan tokoh sesat yang berkepandaian menggetarkan itu.

Sementara Panji mulai dapat menebak secara pasti. Hantu Jubah Merah adalah dalang penculikan-penculikan terhadap tokoh-tokoh persilatan. Terasa dari jurus-jurus yang dimainkan lelaki tinggi besar itu. Pemuda itu menemukan gerakan-gerakan yang pernah dikenalnya. Hantu Jubah Merah melakukan penculikan untuk menyadap ilmu-ilmu andalan korbannya. Kesimpulan itu membuat Panji makin memperhebat serangan. Agaknya, ia sudah tidak sabar ingin segera menundukkan lawan secepatnya.

"Haiittt..!"

Saat pertarungan telah melewati lima puluh jurus, Pendekar Naga Putih tiba-tiba mengeluarkan 'Pekikan Naga Merah'! Bersamaan dengan itu, tubuhnya mencelat tinggi. Kemudian meluncur turun bagai seekor naga sakti yang baru turun dari langit

"Heeeaaattt..!"

Melihat kedahsyatan serangan lawan. Hantu Jubah Merah pun mengeluarkan pekikan melengking tinggi. Jubah merahnya dikibaskan seperti hendak menyelimuti tubuhnya dengan jubah yang panjang dan lebar itu.

Blasss!

Luar biasa sekali! Begitu jubah merah itu menyelimuti sekujur tubuhnya, terdengar suara meletup. Muncullah asap putih yang tebal hingga tubuh tinggi besar itu lenyap di dalamnya. Asap putih itu membuat pandangan Panji terhalang. Meski demikian, serangannya tetap dilanjutkan!

Darrr...!

Sepasang telapak tangan Pendekar Naga Putih yang berputaran kemudian didorong ke depan, menimbulkan ledakan keras yang menggetarkan bumi di sekitarnya. Asap putih itu langsung buyar. Tanah tempat Hantu Jubah Merah berdiri, berlubang besar terkena hantaman telapak tangan pendekar muda itu. Tapi...

"Kurang ajar...! Ke mana manusia licik itu...?!" geram Panji ketika tidak menemukan sosok lawan dalam gumpalan asap putih yang telah buyar. Rupanya Hantu Jubah Merah telah menghilang saat serangan dahsyat Panji tiba. Agaknya, tokoh itu tidak sanggup menghadapi gempuran maut Pendekar Naga Putih. Hingga ia memilih melarikan diri dari tempat itu.

"Hua ha ha...!" Terdengar suara tawa parau yang menggetarkan dada. Cepat Panji menoleh.

"Keparat busuk...!" desis Panji tidak habis mengerti, melihat sosok lawan telah berada jauh dari tempatnya semula.

Hantu Jubah Merah berdiri tegak sambil memperdengarkan tawa yang menggelegar. Sosoknya yang kini berada dalam jarak sekitar sepuluh tombak, terlihat demikian gagah dan menyeramkan. Dan ketika melihat pemuda itu hendak mengejarnya, tokoh jahat itu kembali menutupi sekujur tubuhnya dengan jubah merahnya. Sosoknya kembali lenyap tertelan gumpalan asap tebal putih.

"Pengecut..!" desis Panji. Lawannya ternyata memiliki jubah ajaib yang bisa membuat tubuh pemiliknya lenyap dari pandangan.

"Hua ha ha...! Selamat tinggal, Pendekar Naga Putih! Aku bukan melarikan diri, tapi hanya menunda pertemuan kita. Kelak aku akan datang untuk mencabut nyawamu...!" terdengar suara parau yang seperti datang dari empat penjuru.

Panji hanya bisa menahan kegeraman hatinya. Sedangkan sosok lawannya telah lenyap entah ke mana. Panji berdiri tegak menghela napas panjang. Keningnya tampak berkerut seperti tengah memikirkan sesuatu.

"Kakang...," Kenanga berlari mendatanginya bersama Malela dan Ki Danara.

"Ke mana perginya Hantu Jubah Merah, Pendekar Naga Putih?" tanya Malela.

"Ia telah lari jauh dari tempat ini...," sahut Panji tanpa menoleh.

"Sungguh berbahaya tokoh yang berjuluk Hantu Jubah Merah itu, Kakang. Kita harus menemukan rahasia ilmu melenyapkan diri itu. Kalau tidak, akan sulit sekali untuk mengalahkannya...," ujar Kenanga yang sempat melihat bagaimana cara tokoh sakti itu meninggalkan pertempuran.

"Ya.... Memang sulit menghadapi seorang tokoh yang memiliki ilmu melenyapkan diri demikian sempurna...," sahut Panji mirip sebuah desahan panjang. Pikiran pemuda itu agaknya masih terpaut kepada ilmu aneh yang digunakan lawan.

"Hantu Jubah Merah pasti menggunakan ilmu sihir...," timpal Ki Danara.

"Hhh...," Panji hanya menghela napas panjang. Kemudian melangkah perlahan diikuti Kenanga, Malela, dan Ki Danara.

"Benarkah Hantu Jubah Merah seorang ahli sihir, Kakang...?" tanya Kenanga yang rupanya merasa penasaran mendengar ucapan Ki Danara.

"Rasanya tidak. Biasanya seorang ahli sihir akan mengucapkan mantera bila hendak menggunakan ilmu sihirnya. Hantu Jubah Merah hanya menutupi sekujur tubuhnya dengan jubah. Setelah itu, tubuhnya berubah menjadi gumpalan asap tebal berwarna putih. Menurut dugaanku, jubah merah yang dikenakannya itu pasti bukan jubah sembarangan...," ujar Panji. Pemuda itu tidak sependapat dengan Ki Danara.

"Jubah ajaib...," desis Ki Danara dan Malela. Kenanga hanya mengangguk-angguk. Gadis jelita itu lebih percaya dugaan kekasihnya daripada ucapan Ki Danara.

"Ya. Jubah itu pasti merupakan benda pusaka yang mempunyai keampuhan tersendiri. Dan bukan tidak mungkin jubah itu pun mampu menahan bacokan pedang...," Panji melanjutkan dugaannya, membuat Kenanga dan yang lainnya kagum.

"Bisa menahan bacokan pedang...?!" desis Malela. Pemuda itu tampak terkejut mendengar keterangan Pendekar Naga Putih tentang keampuhan jubah merah yang dikenakan tokoh sesat menggiriskan itu, "Apakah itu mungkin...?" gumamnya perlahan

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Malela. Melihat jubah itu sanggup membuat pemiliknya menghilang, aku menduga kemungkinan besar jubah itu masih memiliki keampuhan lain...," jelas Panji yang merasa yakin dengan dugaannya.

"Termasuk membuat tubuh pemiliknya kebal terhadap segala macam senjata...?" kali ini Ki Danara yang meminta penegasan Pendekar Naga Putih.

"Ya. Termasuk bisa membuat tubuh tokoh tinggi besar itu sanggup menahan bacokan senjata, bila menggunakan jubah merah itu sebagai pelindung tubuhnya...," tandas Panji.

"Jadi..., jubah yang dikenakannya itu semacam Jubah Mustika?" tanya Malela setelah berpikir beberapa saat

"Tepat sekali istilah yang kau pergunakan itu, Malela," tukas Panji, membuat pemuda gagah berpakaian kuning cerah itu menggeleng takjub.

"Kalau benar demikian, akan sulit sekali bagi kita untuk dapat mengalahkannya...," keluh Malela. Pemuda itu seperti merasa putus asa setelah mendengar penjelasan Panji.

"Memang sangat sulit Malela. Biarpun demikian, kita harus berusaha menemukan kelemahannya. Hingga kita bisa merobohkannya...," sahut Panji berusaha membangkitkan semangat pemuda gagah itu, "Sebaiknya sekarang kita mencari tempat beristirahat sambil memikirkan cara merobohkan Hantu Jubah Merah...," ajak Panji lalu melangkah mendahului yang lainnya.

Kenanga, Malela, Ki Danara, dan Pujawati yang telah pulih tenaganya segera mengikuti langkah pendekar muda itu. Sebab, hanya Panji lah satu-satunya harapan mereka untuk menyelamatkan tokoh-tokoh persilatan yang lenyap diculik, termasuk ayah dan guru mereka. Hari sudah mulai gelap ketika kelima sosok tubuh itu melangkah menyusuri tanah becek. Tampaknya mereka akan kemalaman di jalan sebelum menemukan tempat yang cocok untuk bermalam.

"Sebaiknya kita bergegas. Siapa tahu di depan sana ada desa yang bisa kita gunakan untuk bermalam…," usul Panji yang segera disetujui yang lainnya.

Panji langsung melesat setelah melihat anggukan mereka. Pemuda itu tentu saja tidak menggunakan sepenuh tenaganya untuk berlari. Dengan begitu mereka dapat berlari dalam jarak yang tidak terpaut jauh. Apa yang mereka harapkan ternyata terkabul. Tak berapa lama mereka berlari tampak sebuah batu yang merupakan batas desa, berdiri tegak di tepi jalan. Mereka pun mempercepat lari untuk segera tiba di Desa Karapan.

********************

ENAM

Desa Karapan tampak ramai. Hembusan angin masih terasa dingin menyentuh kulit Namun penduduk desa yang kebanyakan bekerja sebagai petani, telah berangkat untuk menggarap sawah ladangnya. Sehingga, pagi itu jalan utama yang membelah Desa Karapan tampak ramai. Bukan hanya jalan-jalan desa saja yang dipenuhi orang yang berlalu-lalang.

Di sebuah kedai yang terletak di pinggir jalan dekat mulut desa pun telah dipadati pengunjung. Pemilik kedai dan pelayannya sibuk melayani pesanan. Di sudut kiri ruangan kedai tampak tiga orang lelaki dan dua orang wanita tengah menikmati hidangan mereka. Sesekali mereka melemparkan pandang ke arah pintu kedai.

"Ada apa, Malela...?" pemuda tampan berjubah putih yang duduk menghadap pintu kedai, bertanya pada pemuda gagah berpakaian kuning cerah. Wajah pemuda gagah bernama Malela itu membiaskan rasa gelisah.

Malela tidak segera menjawab pertanyaan pemuda tampan berjubah putih yang tidak lain Panji. Dihelanya napas panjang dan melemparkan pandang ke sekeliling ruangan kedai. Baru kemudian menoleh ke arah Panji.

"Pendekar Naga Putih. Tidakkah sebaiknya kita melanjutkan perjalanan? Menurutku kita harus segera mencari tempat persembunyian Hantu Jubah Merah dan kawan-kawannya. Bentrokan kemarin membuat hatiku cemas...," jawab Malela.

"Aku mengerti perasaanmu, Malela. Aku menduga gurumu dan ayah Pujawati kemungkinan besar belum mereka bunuh," ujar Panji yang dapat menebak penyebab kegelisahan hati Malela. Ucapan pemuda itu membuat yang lainnya mengangkat kepala dan memandang Panji penuh tanda tanya.

"Benarkah ucapanmu, Pendekar Naga Putih...?" Pujawati yang sangat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya menjadi berdebar hatinya. Gadis manis itu belum yakin akan hal itu.

"Ya. Mengapa kau menduga demikian, Pendekar Naga Putih? Apa alasanmu...?" Ki Danara yang duduk di sebelah Malela melontarkan pertanyaan. Orang tua itu pun belum bisa mempercayai ucapan Panji.

"Jawablah pertanyaan mereka, Malela. Aku ingin mendengar alasanmu?" Panji tidak menjawab dan menyerahkannya kepada Malela. Rupanya, pemuda itu ingin tahu lebih dahulu alasan Malela.

"Alasan ku mungkin tidak begitu kuat. Tapi, aku merasa sangat yakin tokoh-tokoh yang diculik Hantu Jubah Merah masih hidup. Meskipun tidak mustahil mereka tengah menderita," Malela berhenti sebentar seperti hendak melihat tanggapan yang lainnya, "Kita semua sudah tahu, Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit yang kita hadapi kemarin adalah palsu. Tapi, senjata dan ilmu yang mereka gunakan milik guru kita yang sesungguhnya. Dan itu hanya mempunyai satu arti. Mereka telah menyadap ilmu-ilmu andalan tokoh-tokoh yang diculiknya. Tapi, belum sempurna hingga masih banyak kekurangan di sana sini. Itu berarti mereka belum membunuh tokoh-tokoh itu. Karena mereka harus menyerap ilmu-ilmu itu lebih banyak lagi...," jelas Malela kemudian memandang wajah-wajah di hadapannya yang terlihat menganggukkan kepala.

"Alasan Malela sama dengan dugaanku," ujar Panji setelah suasana hening be berapa saat lamanya, "Ketika aku bertarung dengan Hantu Jubah Merah, ia menggunakan beberapa jenis ilmu yang cukup kukenal dasar-dasar gerakannya. Jelas terlihat tokoh itu telah menyadap ilmu pendekar-pendekar yang diculiknya. Berbeda dengan tokoh-tokoh gadungan yang kalian hadapi. Hantu Jubah Merah telah menggabungkan sedemikian rupa ilmu-ilmu para pendekar itu. Sehingga, tercipta sebuah ilmu baru yang sukar dicari bandingannya. Meskipun begitu, aku menemukan beberapa gerakan yang terlihat ragu-ragu. Itu berarti Hantu Jubah Merah belum merampungkan ilmu gabungan itu! Dengan demikian, besar kemungkinan tokoh itu masih memerlukan para pendekar yang diculiknya," lanjut Panji.

Ki Danara, Pujawati, dan Kenanga sama menganggukkan kepala. Agaknya, mereka menerima alasan yang dikemukakan Panji dan Malela.

"Jika benar demikian, memang sebaiknya kita harus bergegas. Sebab, bukan tidak mungkin Hantu Jubah Merah berubah pikiran, dan membunuh tokoh-tokoh itu. Kejadian kemarin jelas akan membuatnya lebih berhati-hati...," Ki Danara akhirnya mengajukan pikiran yang serupa dengan Malela.

"Aku setuju...," sambut Pujawati dengan wajah agak tegang. Perkataan Ki Danara membangkitkan rasa cemas gadis itu.

Mereka pun bersepakat untuk segera melanjutkan perjalanan. Kelimanya bergerak bangkit dan meninggalkan kedai sesudah membayar pesanan mereka.

"Hmmm...," saat kelimanya hendak keluar kedai, terdengar dengusan kasar. Mereka menoleh ke arah asal suara.

Panji dan kawan-kawannya terlihat mengerutkan kening. Yang mengeluarkan dengusan kasar itu adalah salah satu dari lima orang lelaki gagah. Satu di antaranya seorang kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun. Sikap dan pandangan mereka membuat Panji dan kawan-kawannya terkejut. Mereka pun sadar orang-orang itu bukan tokoh sembarangan!

"Orang-orang Perguruan Rimba Kecil...?!" desis Malela yang rupanya mengenali kelima lelaki gagah dan angker itu. Wajah pemuda itu menegang. Sikap tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil jelas tak menunjukkan persahabatan kepada mereka. Mendengar ucapan Malela, Panji segera mengenali kelima sosok lelaki itu.

"Hm.... Dunia benar-benar sudah terbalik! Tokoh-tokoh terkenal dan menjadi sanjungan orang banyak ternyata telah berpaling ke jalan sesat. Sulit dapat kupercaya...," suara kakek berusia tujuh puluh tahun lebih yang bergetar dan mengandung perbawa kuat, membuat Panji menahan langkah. Pemuda itu menunda niatnya untuk menyapa kelima lelaki gagah itu.

"Kalau tidak salah, aku tengah berhadapan dengan Ki Sangga Langit dan orang-orang gagah dari Perguruan Rimba Kecil. Maaf, kalau sambutan ku kurang berkenan di hati kalian...," meski agak heran dengan perkataan Ki Sangga Langit, Panji tetap berusaha menyapa seraya membungkuk hormat.

"Anak Muda. Kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" tanya orang tua itu tanpa menanggapi ucapan Panji. Nada suaranya terdengar tidak bersahabat Bahkan, terkesan menyembunyikan kemarahan.

"Benar, Ki. Demikianlah orang-orang memberi julukan pada diriku yang bodoh ini...," sahut Panji kembali membungkuk hormat, tanpa peduli dengan sikap orang tua itu yang kelihatan sangat sinis dan tidak menyukainya.

"Sungguh sayang sekali...," desah orang tua itu seraya menggeleng dengan wajah sedih.

"Orang Tua...!" Kenanga jengkel melihat sikap sombong Ki Sangga Langit. Gadis jelita itu melangkah maju dan menuding kakek itu dengan sikap yang tidak menunjukkan rasa hormat Kenanga tidak sudi kekasihnya diejek dan dianggap rendah kakek tinggi kurus itu, "Meskipun kau seorang tokoh besar yang dihormati, tapi tidak sepantasnya kau berbuat demikian terhadap Pendekar Naga Putih! Sikapmu tidak bisa kuterima! Apa salah kami hingga kau demikian sinis padanya? Perlu kau ketahui! Sikap hormat Pendekar Naga Putih bukan berarti ia takut kepadamu!" bentak data jelita itu tanpa peduli kekasihnya telah berusaha mencegah.

"Hm...," Ki Sangga Langit kembali memperdengarkan dengusannya yang kasar, "Sikapmu semakin membuatku yakin. Kalian benar-benar telah berpaling dari jalan lurus! Dan, telah bersekongkol dengan Pendekar Tongkat Sakti serta yang lainnya untuk mengganggu perguruan kami...," lanjut Ki Sangga Langit Ucapan itu membuat Panji dan kawan-kawannya semakin tidak mengerti.

"Maaf, Ki Sangga Langit. Selama ini aku sangat menghormatimu sebagai tokoh besar! Tapi karena kau menghina guruku, terpaksa aku melupakan kebodohan ku. Aku akan membela nama guruku dengan taruhan nyawa...!" Mendengar penghinaan Ki Sangga Langit Malela langsung melangkah maju sambil mencabut pedangnya.

Panji cepat mencegah. Pemuda tampan itu ingin mengetahui secara jelas duduk perkaranya. "Ki Sangga Langit. Kami tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Kuharap kau mau menjelaskannya agar kami mengerti duduk persoalannya...," pinta Panji tetap menunjukkan sikap hormat Pemuda itu menduga ada kesalahpahaman di antara. mereka. Itu sebabnya, ia masih bersabar.

"Hm.... Ketahuilah, Pendekar Naga Putih. Pendekar Tongkat Sakti, Pedang Pemecah Langit serta tokoh-tokoh lainnya telah menjadi pengikut Hantu Jubah Merah. Mereka mencuri kitab dan senjata-senjata pusaka dari gedung perpustakaan perguruan kami. Sebagai murid dan anaknya, mereka bertiga pasti mengetahui di mana pusaka-pusaka itu disembunyikan...," Ki Sangga Langit menuding Malela, Pujawati, dan Ki Danara, yang tentu saja terkejut mendengar ucapan itu.

"Tidak mungkin! Itu semua fitnah!" Pujawati tidak bisa menerima tuduhan Ki Sangga Langit. Gadis manis itu langsung membela nama ayahnya. Ia mengenal baik sifat-sifat ayahnya yang tidak mungkin sampai melakukan hal tercela itu.

"Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan semua itu hanya fitnah! Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan bertempur dengan mereka! Salah satu dari mereka, yang berjuluk Pendekar Golok Kembar tewas di tangan murid-murid perguruan kami! Jadi tidak ada gunanya kau membantah!"

Lelaki gagah berusia lima puluh tahun lebih dengan wajah berewok, melangkah maju. Dihampirinya Pujawati yang wajahnya terlihat pucat Suasana semakin menegang! "Tunggu...!" Panji cepat menengahi, "Apa yang dikatakan Pujawati benar. Semua itu hanya fitnah belaka. Kami pun sempat bertempur dengan tokoh-tokoh itu yang ternyata palsu. Ini semua adalah ulah Hantu Jubah Merah yang hendak memecah belah golongan putih. Kuharap kalian mengerti dan mempercayai ucapanku ini..."

"Hua ha ha!" Ucapan Panji malah disambut dengan gelak tawa oleh tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil. Mereka jelas tidak mempercayai bantahan Pendekar Naga Putih.

"Percayalah, Ki Sangga Langit. Semua yang kukatakan benar! Sebagai tokoh tua yang bijaksana, seharusnya kau bisa mempertimbangkan tindakanmu," ujar Panji seraya merentangkan kedua tangannya ke samping. Mencegah keempat kawannya yang telah mencabut senjata untuk menggempur orang-orang Perguruan Rimba Kecil.

"Hmh! Tidak perlu membantah lagi, Pendekar Naga Putih!" tukas lelaki gagah berwajah berewok yang tidak lain Ki Gumaranta, "Sekarang kau tinggal pilih! Menyerahkan diri dan mengembalikan pusaka kami, atau terpaksa kami melenyapkanmu dari muka bumi ini!"

"Keparat sombong!" Kenanga yang sudah tidak bisa menahan sabar, membentak gusar. Tubuh dara jelita itu melesat ke arah Ki Gumaranta. Menurutnya sudah tidak ada gunanya lagi berdebat Maka gadis itu segera membuka serangannya.

Beuttt..!

Pedang bersinar putih keperakan yang memancarkan hawa dingin itu, sempat membuat Ki Gumaranta terkejut! Lelaki berewok itu melompat ke belakang menghindari sambaran Pedang Sinar Bulan. Dicabutnya senjata, lalu balas menerjang Kenanga.

"Heaaattt..!"

Whuttt..!

Suara desingan tajam yang disertai kilatan cahaya putih mengincar tubuh Kenanga. Dara jelita itu mendengus. Senjatanya diputar untuk memapaki serangan pedang lawan.

Trangngng!

"Uuuhhh...!" Kaget bukan main hati Ki Gumaranta. Lengannya terasa nyeri akibat tangkisan lawan. Sadarlah lelaki berewok itu kalau lawannya ternyata memiliki tenaga dalam yang sangat kuat Bahkan, melebihi kekuatannya sendiri. Sungguh tidak pernah diduganya.

"Haaaiiittt..!"

Singngng...!

Pedang di tangan Kenanga menyusuli gerakannya. Senjata ampuh itu meliuk sebentar, kemudian meluncur kurus mengarah ulu hati Ki Gumaranta!

"Aaahhh...?!" Ki Gumaranta terpekik kaget! Dalam keadaan masih terhuyung, tentu sangat sulit baginya untuk menghindar. Untuk menangkis pun rasanya tidak mungkin. Lengan kanannya masih sukar untuk digerakkan karena rasa nyeri yang dideritanya. Wajah lelaki berewok itu langsung berubah pucat! Sedang pedang lawan meluncur dengan kecepatan tinggi. Siap merenggut selembar nyawanya.

"Yiaaahhh...!"

Pada saat yang gawat itu, lelaki tinggi tegap yang berada di belakangnya langsung membentak nyaring. Tubuhnya melejit ke depan disertai tamparan keras sepasang lengannya. Satu mengarah pelipis Kenanga, dan satu lagi tertuju ke pergelangan lengan dara jelita itu. Sebuah serangan yang hebat dan mengagumkan!

Tapi Kenanga bukanlah gadis sembarangan. Serangan yang cepat dan kuat itu tidak membuat nya gugup. Dengan tenang dara jelita itu memiringkan tubuh sambil memutar kepalanya. Bersamaan dengan itu, pedang di tangannya berputar dan berbalik membacok pergelangan lengan lawan.

"Hebat..!" Mau tidak mau lelaki tinggi tegap itu memuji gerakan Kenanga yang memang sangat mengagumkan. Cepat ditariknya pulang tamparan yang mengarah pelipis. Kemudian tangannya diputar menepis bacokan pedang dara jelita itu. Sehingga....

Plakkk!

Lagi-lagi lelaki tinggi tegap itu berseru memuji. Tepisan telapak tangannya pada pergelangan dara jelita itu, membuat sekujur lengannya bergetar. Kekuatan dara jelita berpakaian serba hijau itu memang tidak berada di bawahnya. Kenyataan itu sempat membuatnya terkagum-kagum!

Kenanga yang juga merasakan lengannya bergetar, menarik mundur langkahnya. Gadis jelita itu sadar lawan yang dihadapinya kali ini tidak bisa dipandang ringan.

"Heaaahhh!" Sambil membentak, dara jelita itu memutar pedangnya membuka jurus baru. Kali ini ia tidak mau bertindak ceroboh. Kenanga langsung menggunakan jurus andalannya untuk menghadapi lawan.

Demikian pula lelaki tinggi tegap yang merupakan tokoh tingkat satu Perguruan Rimba Kecil. Meskipun usianya jauh lebih muda dari Ki Gumantara, namun lelaki tinggi tegap yang bernama Warsita itu adalah kakak seperguruan Ki Gumantara. Tentu saja kepandaiannya pun sudah sangat tinggi. Jadi, wajar saja bila Kenanga sempat dibuat terkejut oleh kekuatannya.

"Haaattt..!" Kenanga kembali membuka serangan. Pedang di tangan kanannya bergulung-gulung membentuk kilat sinar putih keperakan. Sekali menyerang, ujung pedangnya langsung mengancam lima titik jalan darah di tubuh lawan!

Warsita tidak bisa membiarkan dan segera mencabut pedang di pinggangnya. Sebentar kemudian, kedua tokoh itu telah bertarung sengit!

Sementara itu, tokoh-tokoh lain dari Perguruan Rimba Kecil telah menghunus senjata. Mereka adalah Ki Gumaranta, Ki Jinggala, dan Harjana. Lawan yang akan dihadapi yaitu Malela, Pujawati, dan Ki Danara, yang juga telah bersiap.

Melihat tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil sudah siap menggempur kawan-kawannya, Panji segera melesat untuk melindungi mereka bertiga.

"Biarkan, Pendekar Naga Putih...!" Tiba-tiba terdengar sebuah seruan perlahan, namun mengandung getaran yang amat kuat. Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh tinggi kurus melayang. Panji terpaksa menunda gerakannya.

"Ki Sangga Langit..?!" Panji berseru kaget ketika melihat pucuk pimpinan Perguruan Rimba Kecil ikut terjun ke arena. Pemuda itu terpaksa membiarkan kawan-kawannya bertarung. Sebab, kakek tua yang hebat itu siap mencegahnya bila dirinya nekat mencampuri pertempuran itu.

"Biarkan mereka bermain-main beberapa puluh jurus. Jika kau keberatan, aku yang akan melayanimu...," ucapan Ki Sangga Langit jelas berbau tantangan. Hingga Panji menghela napas panjang penuh penyesalan.

"Ki, pertempuran ini tidak semestinya terjadi. Sadarlah bahwa kita semua telah menjadi korban kelicikan Hantu Jubah Merah dan kawan-kawannya! Bukan tidak mungkin sekarang mereka tengah tertawa-tawa melihat kita saling bertempur!" Panji masih mencoba menyadarkan Ki Sangga Langit dari kekeliruan itu. Pemuda itu yakin, mereka telah menjadi korban kelicikan Hantu Jubah Merah.

Tapi, tanggapan Ki Sangga Langit benar-benar membuat Panji putus asa. Lelaki tua bertubuh kurus itu hanya tersenyum tipis dengan tatapan dingin. Uca- pan Pendekar Naga Putih tidak dipedulikan. Panji tidak bisa berbuat lain. Apalagi, saat itu ia melihat Ki Danara terdesak hebat oleh salah seorang tokoh Perguruan Rimba Kecil. Jika sepuluh jurus lagi ia tidak bertindak menyelamatkan lelaki tua itu, dapat dipastikan Ki Danara tewas di ujung senjata lawan.

"Maaf, Ki. Aku terpaksa...," desis Panji. Tubuhnya langsung melayang ke arah pertarungan Ki Danara dan Harjana. Ia harus menyelamatkan orang tua kurus itu dari kematian.

"Bagus...!" Ki Sangga Langit memuji kecepatan gerak Pendekar Naga Putih. Saat itu juga tubuh kurusnya melayang hendak mencegah perbuatan pemuda itu.

Whuttt..!

Tamparan Ki Sangga Langit tidak bisa disamakan dengan tamparan tokoh-tokoh persilatan lainnya. Tenaga dalam kakek itu sudah mencapai titik kesempurnaan. Sehingga meskipun kelihatan perlahan, namun menimbulkan sambaran angin yang mencicit tajam. Menunjukkan kekuatan yang tersimpan di telapak tangan kakek itu. Panji pun tahu akan hal itu. Tapi, tak urung terkejut juga ketika mendengar sambaran angin bersiutan datang dari samping kanannya. Cepat lengannya dikibaskan menyambut tamparan itu.

Bressshhh...!

Akibat benturan dua gelombang tenaga dalam itu sungguh dahsyat sekali! Tanah di sekitarnya bergetar. Hingga pertempuran lain terganggu. Sedangkan Pendekar Naga Putih dan Ki Sangga Langit terjajar mundur.

"Kau memang seorang pemuda yang sangat mengagumkan, Pendekar Naga Putih. Sayang kau masih sangat muda, hingga mudah terseret ke jalan sesat..." puji orang tua itu, yang kelihatan sangat menyayangkan sikap Panji yang menurutnya telah menyeberang ke jalan sesat.

"Sudah kukatakan berkali-kali bahwa semua ini hanya kesalahpahaman saja. Tapi, belum terlambat bagi Aki untuk menyadarinya...," tukas Panji berusaha mempergunakan kesempatan itu untuk menyadarkan Ki Sangga Langit dari kekeliruannya.

Lagi-lagi Ki Sangga Langit tidak menanggapi ucapan Pendekar Naga Putih. Kakek itu malah menyiapkan ilmu andalannya untuk pertempuran selanjutnya. Sehingga, Panji terpaksa mengeluarkan 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya untuk menghadapi ilmu lawan yang ia tahu sangat hebat.

TUJUH

"Sambut jurus 'Pengacau Lautan'ku, Pendekar Naga Putih...!" seru Ki Sangga Langit seraya melesat dengan kedua tangan berputaran, hingga menimbulkan deruan angin puyuh.

"Haaattt..!"

Melihat kehebatan ilmu lawan, Panji segera mengerahkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang menerbitkan hawa dingin menusuk tulang. Hawa yang ditimbulkannya menyebar dan memenuhi setengah arena pertarungan. Sedangkan sepasang tangan pemuda itu bergerak cepat laksana sambaran kilat. Dan, meliuk-liuk bagai ular besar yang siap mematuk mangsanya.

Sebentar saja, kedua tokoh hebat itu sudah saling gempur. Pendekar Naga Putih dan Ki Sangga Langit berusaha saling merobohkan satu sama lain. Keduanya menggunakan ilmu-ilmu pilihan yang sebelumnya hampir tidak pernah mereka pergunakan. Hingga pertempuran itu terlihat sangat mengerikan. Sulit untuk dikenali, mana sosok Pendekar Naga Putih dan mana sosok Ki Sangga Langit. Apalagi, keduanya mengenakan jubah panjang putih.

Setelah bertarung selama tujuh puluh jurus, Ki Sangga Langit terlihat semakin bersemangat. Kakek itu merasa gembira menemukan lawan tanding yang tangguh seperti Pendekar Naga Putih. Sehingga, tidak segan-segan mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya untuk merobohkan pemuda itu. Sebagai tokoh yang sejak kecil gemar bermain ilmu silat, tentu hatinya senang mendapat seorang lawan tangguh. Apalagi, selama beberapa belas tahun ini ia tidak pernah menemuinya. Ketangguhan Panji membuat orang tua itu semakin lupa diri.

Berbeda dengan Pendekar Naga Putih. Selama pengembaraannya pemuda itu berkali-kali menemui lawan yang sangat tangguh. Bahkan, beberapa kali nyaris dikalahkan lawan. Sehingga dalam menghadapi Ki Sangga Langit, Panji tidak terlalu kaget. Meskipun kepandaian kakek itu memang harus diakuinya sangat hebat. Kendati demikian, Panji masih dapat mengimbangi permainan lawan sampai jurus keseratus. Sejauh itu, belum terlihat tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

"Yeaaattt..!"

Ketika pertarungan menginjak jurus keseratus sepuluh, Panji mengeluarkan 'Pekikan Naga Merah'! Seketika itu juga tubuhnya melesat naik, dengan sepasang tangan bergerak susul-menyusul. Pemuda itu tak ubahnya seekor naga sakti yang tengah bermain-main di angkasa. Angin dingin yang keluar dari badannya, membuat udara di sekitar arena pertempuran seperti tengah dilanda badai salju. Hingga Ki Sangga Langit sempat berseru kaget!

"Tahaaannn..!"

Tubuh Pendekar Naga Putih tengah meluncur dari atas dengan cakar-cakar yang membawa hawa maut Ketika tiba-tiba terdengar seruan keras menggetarkan udara. Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh berkelebat menyambut serangan Pendekar Naga Putih! Panji segera mengurangi kekuatan serangannya. Pemuda tampan itu tidak ingin mencelakakan orang lain yang belum diketahui jati dirinya. Akibatnya....

Bressshhh!

Baik tubuh Panji maupun sosok jangkung itu terlempar ke belakang. Meski demikian, keduanya dapat berputaran di udara dan meluncur turun dengan selamat.

"Dewa Tangan Salju?!"

Seruan kaget bercampur heran keluar dari mulut Panji dan Ki Sangga Langit Kini perhatian keduanya beralih ke arah sosok jangkung kurus berusia sekitar tujuh puluh tahun lebih. Tokoh itu adalah Dewa Tangan Salju, yang pernah diselamatkan Panji sewaktu didatangi Penculik-Penculik Misterius. (Untuk mengetahui pertemuan Panji dengan Dewa Tangan Salju, silakan baca episode sebelumnya dalam judul Penculik-Penculik Misterius).

"Untung pada saat terakhir tadi kau sempat menarik sebagian tenaga seranganmu, Pendekar Naga Putih. Kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah tidak bernyawa lagi...," ujar Dewa Tangan Salju tersenyum ke arah Panji. Pemuda itu tampak terkejut mendengar ucapan kakek itu. Tokoh itu memang memiliki ketajaman mata luar biasa, hingga tahu tindakannya saat hampir berbentrokan tadi.

"Ah.... Kau terlalu merendah, Dewa Tangan Salju. Aku malah beruntung. Sebab, kau tidak menggunakan seluruh kekuatanmu. Jika ya, niscaya tubuhku sudah berubah kaku...," ujar Panji merendah.

"Siapa bilang aku tidak bersungguh-sungguh tadi?" tukas Dewa Tangan Salju membantah. Ia memang telah menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya untuk memapaki serangan Panji. Namun, kakek itu tidak melanjutkan ucapannya. Rupanya, ia tahu akan sifat Panji yang tidak ingin menonjolkan kelebihannya.

"Dewa Tangan Salju. Apa maksudmu mencampuri urusan ini? Apakah kau pun telah berpaling ke jalan sesat!" teguran Ki Sangga Langit membuat Dewa Tangan Salju menoleh, dan mengangguk sedikit kepada tokoh puncak Perguruan Rimba Kecil itu.

"Sebenarnya aku belum tahu jelas masalah kalian. Tapi, aku menduga telah terjadi kesalahpahaman di antara kalian berdua. Itu sebabnya, aku langsung mencampuri pertempuran ini. Aku tidak ingin jatuh korban lagi karena kesalahpahaman ini..," sahut Dewa Tangan Salju sambil menoleh kan ke arah pertempuran lain yang terpisah kurang lebih delapan tombak.

Ucapan Dewa Tangan Salju membuat Panji teringat pada kawan-kawannya. Wajah pemuda itu berubah tegang ketika melihat sesosok tubuh terkapar mandi darah. Segera dapat dikenalinya siapa korban kesalah-pahaman itu.

"Ki Danara...!" desis Panji penuh kesedihan dan penyesalan. Kemudian, berpaling ke arah Ki Sangga Langit yang tampak tidak menyesal sedikit pun. Kawan Pendekar Naga Putih itu dikenalinya sebagai murid Pedang Pemecah Langit, salah seorang pencuri pusaka perguruannya.

"Hm... Telah sepantasnya ia menerima hukuman untuk menebus dosa gurunya...," ujar Ki Sangga Langit seolah hendak menjawab tatapan mata Pendekar Naga Putih.

"Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Mengapa kalian sampai bertarung hingga jatuh korban?" tanya Dewa Tangan Salju menatap wajah Panji dan Ki Sangga Langit berganti-ganti.

"Tanyakanlah pada Ki Sangga Langit...?" Panji menyerahkan jawabannya kepada Ketua Perguruan Rimba Kecil. Kakek itulah yang lebih berhak menjawab pertanyaan Dewa Tangan Salju. Sedangkan Panji sendiri sudah bergerak menjauh dan membentak keras?

"Hentikan pertempuran...." seru Panji mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghentikan pertempuran yang masih berlangsung.

Karuan saja seruan yang mengguncangkan dada itu menghentikan pertempuran. Kedua belah pihak tampak saling pandang. Kemudian, bergerak ke arah kawan masing-masing dan berkumpul di dekat ketiga tokoh itu. Sementara itu, Ki Sangga Langit telah menjelaskan perselisihan di antara mereka. Dewa Tangan Salju terlihat sangat menyesali bentrokan yang terjadi. Apalagi, salah seorang dari mereka telah melayang nyawanya menjadi korban

"Jadi, dalam hal ini kau menyalahkan Pendekar Naga Putih. Sedangkan aku sangat yakin dirinya tidak akan pernah berpaling ke jalan sesat Mengapa tidak kau bicarakan masalah ini secara baik-baik, Ki Sangga Langit? Mana kebijaksanaan mu?" ujar Dewa Tangan Salju. Mendengar penuturan Ki Sangga Langit yang menuduh Panji bersekongkol dengan Hantu Jubah Merah Untuk mencuri pusaka Perguruan Rimba Kecil.

"Bagaimana denganmu, Pendekar Naga Putih? Mengapa kau tidak berusaha mencari penyelesaian dengan jalan damai, tanpa harus jatuh korban...?" Dewa Tangan Salju bertanya pada Panji yang kini telah menghadapi kedua kakek itu.

"Kakang Panji sudah berusaha menjelaskan, Eyang. Tapi kakek itu tetap tidak mau mengerti, dan berkeras hendak meminta tanggung jawab kami atas lenyapnya benda-benda pusaka perguruannya. Padahal, semua itu terjadi karena kelalaian dan ketidakbecusan mereka sendiri...!" yang menyahuti ucapan Dewa Tangan Salju adalah Kenanga. Rasa jengkel di hati gadis jelita itu belum lenyap. Apalagi setelah Ki Danara menjadi korban peristiwa itu.

"Hm.... Jadi, kau berpihak kepada Pendekar Naga Putih, Dewa Tangan Salju...?" Ki Sangga Langit tidak mau dipersalahkan. Kakek itu malah menuduh Dewa Tangan Salju yang kelihatan lebih condong membela Pendekar Naga Putih.

"Dengar, Ki Sangga Langit. Aku tidak memihak pada siapa pun. Tapi, berpihak pada kebenaran! Aku pernah diselamatkan Pendekar Naga Putih, saat Penculik-Penculik Misterius mendatangi pertapaanku. Mereka hendak menculik ku. Seperti yang dilakukan mereka terhadap tokoh-tokoh yang kau katakan telah mencuri pusaka perguruanmu. Itu sebabnya, aku merasa yakin Pendekar Naga Putih tidak berpaling ke jalan sesat," tandas Dewa Tangan Salju yang kelihatan mulai jengkel melihat sikap keras kepala Ki Sangga Langit

"Tapi aku sungguh tidak berdusta, Dewa Tangan Salju! Orang-orang yang mencuri pusaka perguruanku memang nama-nama yang kusebutkan tadi!" bantah Ki Sangga Langit membela diri.

"Ya. Kami pun tidak menyangkalnya! Tapi, kami telah menjelaskan sejak awal bahwa orang-orang yang menculik pusaka perguruanmu tokoh-tokoh gadungan! Kau sama sekali tidak percaya, dan tetap meminta pusaka-pusaka itu dikembalikan!" tukas Kenanga kembali menyahuti perkataan Ki Sangga Langit.

Lelaki tua itu jadi serba salah. Tampak ia mulai merasa ragu dengan keyakinan yang sejak awal dipegang teguh. "Hm... Baiklah. Kita lupakan persoalan ini untuk sementara. Sebaiknya kita selidiki dulu kebenaran ucapan Pendekar Naga Putih dan kawan-kawannya. Untuk membuktikannya tidak terlalu sulit Kita tinggal mendatangi markas Hantu Jubah Merah," ujar Dewa Tangan Salju membuat kedua belah pihak tertegun.

"Sayang kami belum menemukan tempat persembunyiannya, Dewa Tangan Salju. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan persembunyian manusia-manusia sesat yang sangat licik itu," sahut Panji seraya menatap Dewa Tangan Salju dengan wajah agak menyesal.

"Hm.... Setelah kepergian Kenanga, aku meninggalkan pertapaan untuk menyelidiki Penculik-Penculik Misterius itu. Syukurlah kalian berdua telah berkumpul kembali dengan selamat. Aku pun telah menemukan markas mereka. Sayang, aku tidak sanggup menggempur manusia-manusia sesat itu. Bahkan nyaris celaka di tangan Hantu Jubah Merah, pimpinan mereka. Untunglah aku berhasil meloloskan diri, dan bertemu dengan kalian di tempat ini...," jelas Dewa Tangan Salju, membuat semua yang mendengarnya terkejut ber- campur gembira.

"Jadi kau telah menemukan markas mereka...?" tanya Panji menegasi.

"Ya. Aku telah menemukan markas Hantu Jubah Merah beberapa hari yang lalu...," jawab Dewa Tangan Salju singkat Meski tahu mereka semua menunggu kelanjutan ucapannya.

"Di mana markas manusia-manusia jahat itu, Dewa Tangan Salju? Kami pun harus segera mengambil pusaka-pusaka kami, sebelum mereka sempat mempelajari dan mempergunakannya...," tanya Ki Sangga Langit yang kelihatan sangat bernafsu untuk mendapatkan pusakanya kembali.

"Karena ini menyangkut kepentingan orang banyak, sebaiknya kita bersama-sama menghancurkan markas itu...," usul Dewa Tangan Salju mengajak kedua belah pihak untuk bersatu.

"Baiklah...," jawab Ki Sangga Langit setelah berpikir sesaat.

Dewa Tangan Salju tersenyum puas. Usahanya untuk menjernihkan perselisihan itu berhasil. Maka, diajaknya mereka untuk segera mendatangi markas Hantu Jubah Merah.

"Tunggu...!" tiba-tiba terdengar seruan halus yang membuat langkah Dewa Tangan Salju terhenti.

Kakek itu menoleh ke arah asal suara. Tampak Pujawati tengah berdiri di dekat mayat Ki Danara. Tangan kanan gadis manis itu menggenggam erat pedangnya. Sedangkan sepasang matanya memancarkan api dendam terhadap tokoh-tokoh Perguruan Rimba Kecil.

"Aku hendak meminta tanggung jawab orang-orang Perguruan Rimba Kecil, yang telah membunuh Paman Danara...!" desis gadis itu dingin berbau dendam yang dalam.

"Sabarlah, Pujawati. Kita buktikan dulu bahwa ayahmu benar-benar tidak bersalah. Setelah itu, baru kita minta pertanggungjawaban mereka...," ujar Kenanga, membuat Pujawati mengalihkan pandangannya ke arah dara jelita itu. Dan akhirnya menurut ketika melihat Kenanga mengangguk.

Tak berapa lama kemudian, rombongan itu bergerak meninggalkan Desa Karapan. Baik Panji maupun Ki Sangga Langit serta yang lainnya, bergerak mengikuti langkah Dewa Tangan Salju menuju ke selatan desa itu.

"Kau belum mengatakan di mana letak markas mereka, Dewa Tangan Salju...?" Ki Sangga Langit tidak bisa menyimpan rasa penasaran di hatinya. Ketika menyeberangi sebuah sungai, pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.

Dewa Tangan Salju tidak segera menjawab. Kepalanya ditolehkan ke arah Pendekar Naga Putih. Seolah ingin melihat apakah pemuda itu juga menyimpan rasa penasaran yang sama. "Markas Hantu Jubah Merah terletak di sebuah perbukitan yang bernama Bukit Hitam. Letaknya setengah hari perjalanan dari tempat ini," jawab Dewa Tangan Salju setelah melihat anggukan kepala Pendekar Naga Putih. Pemuda itu pun ingin mengetahui letak markas Hantu Jubah Merah.

"Kalau demikian, sebaiknya kita percepat perjalanan...," usul Ki Sangga Langit. Tampaknya orang tua itu ingin segera tiba di tempat tujuan. Kemudian, merebut kembali benda-benda pusakanya yang tercuri.

Tanpa menyahut lagi, Dewa Tangan Salju langsung melesat mengerahkan ilmu lari cepatnya. Yang lain menyusul di belakang kakek itu. Kecuali, Panji dan Ki Sangga Langit yang berlari di kiri-kanan Dewa Tangan Salju.

********************

DELAPAN

Dengan menggunakan ilmu lari cepatnya, tidak sampai tengah hari. Bukit Hitam sudah terlihat di depan mereka. Para tokoh itu pun memperlambat larinya. Mereka tidak ingin kedatangannya diketahui lawan. Bahkan, Panji mengusulkan agar mereka mengatur rencana terlebih dahulu.

"Apa lagi yang mesti kita tunggu? Dengan kekuatan seperti ini, aku yakin mereka dapat kita hancurkan..." Ki Sangga Langit tidak begitu setuju dengan usul Panji. Kakek itu merasa yakin dapat menghancurkan Hantu Jubah Merah dan para pengikutnya. Mengingat mereka terdiri dari tokoh-tokoh hebat yang sukar dicari tandingannya.

"Itu memang tidak kusangsikan lagi, Ki Sangga Langit Tapi, kita harus memikirkan keselamatan tokoh-tokoh yang telah mereka culik. Tujuan kita bukan hanya sekadar menumpas kejahatan atau mengambil kembali pusaka-pusaka perguruanmu. Tapi juga menyelamatkan para tokoh itu. Apa jadinya bila tokoh-tokoh itu mereka jadikan tameng untuk menghadapi kita? Jika itu sampai terjadi, bukankah kedatangan kita akan sia-sia...?" tukas Panji menjelaskan usulnya. Ki Sangga Langit tampak menyadari kekeliruannya.

"Maafkan aku, Pendekar Naga Putih. Aku merasa bodoh sekali. Yang ku pikirkan hanya mengambil kembali pusaka-pusaka perguruanku. Sama sekali tidak kuingat keselamatan tokoh-tokoh yang ditawan Hantu Jubah Merah...," ucap Ki Sangga Langit meminta maaf.

Panji tersenyum tulus sebagai tanda memaklumi kekeliruan Ki Sangga Langit Kemudian, rencana pun diatur bersama-sama. Setelah agak lama, didapat kata sepakat Panji dan Dewa Tangan Salju akan menyelinap melalui sebelah selatan bukit. Sedangkan Ki Sangga Langit memimpin yang lainnya. Tugas mereka memancing perhatian lawan dengan menyerang dari sebelah utara, yang menjadi pintu gerbang markas Hantu Jubah Merah.

"Kami akan berusaha menyelamatkan tokoh-tokoh itu. Mudah-mudahan Pendekar Tongkat Sakti dan yang lainnya masih hidup...," ujar Panji sebelum mereka berpisah untuk melaksanakan tugas masing-masing.

Ki Sangga Langit dan yang lainnya mengiyakan. Tak lama setelah Panji dan Dewa Tangan Salju berpamitan, Ki Sangga Langit dan kelompoknya mulai bergerak mendekati Bukit Hitam. Dengan gerakan yang lincah dan ringan, Ki Sangga Langit memimpin kawan-kawannya mendekati bukit Mereka mendatangi markas Hantu Jubah Merah dengan terang-terangan. Dengan begitu, seluruh perhatian lawan tercurah kepada mereka. Sehingga, Panji dan Dewa Tangan Salju dapat bergerak leluasa untuk membebaskan para tawanan.

"Berhenti...!"

Saat itu Ki Sangga Langit dan kawan-kawannya tiba di pintu gerbang pertama, yang terletak di punggung bukit. Suara bentakan itu membuat mereka menahan langkah.

"Hm...," Ki Sangga Langit bergumam ketika melihat delapan orang penjaga gerbang pertama berdiri tegak menghadang jalan mereka. Tubuh kakek itu langsung melesat saat mengetahui salah seorang dari penjaga hendak pergi melapor.

"Haaaiiittt..!"

Laksana seekor burung besar, tubuh kakek tinggi kurus itu melayang melewati kepala kawan- kawannya. Kemudian, berputar beberapa kali sebelum menjejakkan kakinya di tanah. Satu tombak lebih dari hadapan penjaga yang hendak melapor.

"Heeeaaahhh...!"

Begitu kedua kakinya menjejak tanah, tubuh Ki Sangga Langit kembali melambung menerjang lawan. Telapak tangan kanannya terulur ke depan, siap menghajar lawan.

Whuttt..!

Kaget juga hati kakek itu ketika serangan pertamanya dapat dihindari. Bahkan, penjaga itu sanggup melepaskan serangan balasan dengan gerak yang aneh dan cukup kuat Sekilas pandang saja Ki Sangga Langit dapat mengenali dasar-dasar gerakan ilmu silat penjaga itu. Hatinya geram bukan main ketika menemukan dasar gerak ilmu silat Pendekar Tongkat Sakti. Kakek itu pun tahu Hantu Jubah Merah telah menyadap ilmu tokoh-tokoh yang diculiknya, untuk memperkuat para pengikutnya.

"Hihhh!"

Rasa geram Ki Sangga Langit membuatnya lupa diri. Tanpa berusaha mengelakkan serangan itu, sebuah tendangan kilat dilepaskan ke dada lawan

Bukkk!

Tubuh penjaga itu langsung terjengkang ke belakang dengan kerasnya. Dan, tewas dengan batok kepala retak. Kepalanya terbentur batu padas. Sementara Kenanga dan para tokoh lainnya sudah bergerak maju Ketujuh penjaga pintu gerbang pertama bergeletakan dengan tubuh bermandikan darah. Ki Sangga Langit segera mengajak mereka menuju bangunan utama markas Hantu Jubah Merah.

********************

Dua sosok tubuh itu bergerak cepat menerobos rimbunan semak. Mereka terus berlari dengan kecepatan yang mengagumkan Tidak jarang keduanya melayang di udara, bagai dua ekor burung besar yang tengah mengangkasa. Kadang terlihat berloncatan melewati bebatuan besar. Hingga, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang bertanah datar.

"Menurut dugaanku, bangunan kecil yang terletak di samping bangunan utama itulah tempat para tahanan...," bisik kakek berusia tujuh puluh tahun yang bertubuh jangkung. Saat itu keduanya bersandar di sebatang pohon, sambil meneliti keadaan sekitar bangunan yang berada sepuluh tombak di depan mereka.

"Kita tunggu saja sampai Ki Sangga Langit dan kawan-kawannya tiba. Setelah keributan terjadi, baru kita bergerak..," ujar sosok pemuda tampan berjubah putih, yang tidak lain Panji. Dewa Tangan Salju menganggukkan kepala. Diam-diam kakek itu semakin bertambah kagum pada Pendekar Naga Putih. Ternyata pemuda itu cukup cermat dalam mengatur rencana.

Setelah agak lama menunggu, samar-samar terdengar suara dentang senjata dan bentakan bentakan nyaring. Dewa Tangan Salju dan Pendekar Naga Putih saling bertukar pandang. Kemudian, melesat ke arah bangunan kecil yang mereka duga sebagai tempat untuk menyembunyikan tawanan.

"Hei..?!"

Dua orang lelaki berseragam hitam yang kebetulan keluar dari bagian belakang bangunan utama, langsung membentak ketika melihat Panji dan Dewa Tangan Salju. Namun sebelum kedua orang itu sempat berbuat sesuatu, sebuah pukulan telak menghajar mereka. Tubuh keduanya terjengkang muntah darah! Dan, belum lagi sempat bangkit, Panji dan Dewa Tangan Salju telah menamatkan riwayat mereka dengan mematahkan tulang lehernya. Kedua tokoh itu kembali bergerak mendekati bangunan kecil. Begitu tiba, Panji langsung melontarkan pukulan ke pintu yang terbuat dari kayu tebal.

Brakkk...!

Sekali hantam pintu bangunan itu pecah berkeping-keping. Tanpa menunggu serpihan kayu berjatuhan ke tanah, tubuh kedua tokoh hebat itu sudah melesat ke dalam bangunan.

"Siapa...?!" salah satu dari empat penjaga yang tengah bertugas, menegur sambil mencabut senjata. Ketika Panji dan Dewa Tangan Salju tidak menjawab, keempat penjaga itu langsung menyerbu dengan senjata di tangan.

"Haaattt...!"

Kilatan dua batang pedang yang mengancam tubuh Pendekar Naga Putih, dielakkan pemuda itu dengan memiringkan tubuhnya sedikit Kemudian, melepaskan dua buah pukulan sekaligus.

Bettt, bettt!

"Ehhh...?!" Panji berseru tertahan melihat serangannya dapat dielakkan lawan. Pemuda itu segera mengenali gerakan kedua lawannya. Itu adalah gerak dasar ilmu Pedang Pemecah Langit yang digabungkan dengan ilmu lain. Panji menjadi geram. Tangannya diputar untuk melancarkan serangan berikutnya. Darah segar termuntah dari mulut lawan ketika kepalan Panji bersarang di tubuh mereka. Dan, gedoran telapak tangan pemuda itu membuat nyawa mereka jalan-jalan ke akherat.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Dewa Tangan Salju telah menamatkan dua orang lawannya. Kemudian, mereka memeriksa kamar tahanan yang berjajar di ruangan itu. Kamar tahanan itu kebanyakan kosong. Akhirnya, mereka menemukan dua orang lelaki gagah yang tampak sangat lemah. Dewa Tangan Salju berbisik kepada Panji. Rupanya, kakek itu mengenali kedua sosok lelaki yang tubuhnya kurus dan tak terawat baik.

"Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit...," ujarnya memberitahukan. Setelah berkata demikian, didobraknya pintu tahanan Pendekar Tongkat Sakti. Kemudian, memutuskan rantai yang mengikat kedua pergelangan tokoh itu dan membawanya keluar.

"Dewa Tangan Salju...?! Benarkah kau yang menyelamatkan aku...?" desis Pendekar Tongkat Sakti lirih, mirip sebuah desahan panjang.

"Tidak salah, Adiwarsa. Ke mana Sepasang Golok Kembar dan Sepasang Naga Laut..?" tanya Dewa Tangan Salju. Kakek itu tidak menemukan kedua tokoh itu di seluruh ruang tahanan.

"Hantu Jubah Merah telah membunuhnya. Karena semua ilmu mereka telah disadap habis..,"jawab Ki Adiwarsa dengan napas terengah-engah.

Dewa Tangan Salju menahan pertanyaan selanjutnya. Saat itu Panji tengah menghampirinya sambil menggendong tubuh kurus Pedang Pemecah Langit.

"Hantu Jubah Merah memaksa mereka bertarung, agar dapat menyadap ilmu-ilmu andalan tokoh-tokoh yang diculiknya. Sungguh keji sekali manusia jahat itu. Ia sama sekali tidak peduli betapa para tawanannya tidak terurus dengan baik...," ujar Panji menjelaskan bagaimana cara Hantu Jubah Merah menyadap ilmu para pendekar itu. Rupanya, pemuda itu telah bertanya cukup banyak kepada Pedang Pemecah Langit yang keadaannya lebih baik dibanding Ki Adiwarsa.

"Hm...," Dewa Tangan Salju bergumam marah, "Sebaiknya kita sembunyikan mereka di tempat yang aman. Setelah itu, kita bantu Ki Sangga Langit dan yang lainnya. Siapa tahu mereka tengah menghadapi musuh-musuh tangguh," usul Dewa Tangan Salju.

Tanpa banyak cakap lagi, Panji segera mengikuti Dewa Tangan Salju. Mereka menuju semak-semak tempat tadi mereka mendatangi markas. Tapi...

"Hua ha ha!" tiba-tiba terdengar suara tawa parau yang menggetarkan jantung. Bersamaan dengan itu, muncullah sesosok tubuh tinggi besar berpakaian hitam dengan jubah merah di belakang tubuhnya.

"Hantu Jubah Merah...!" seru Panji dan Dewa Tangan Salju hampir berbarengan. Kedua tokoh itu tampak agak terkejut melihat kedatangan Hantu Ju- bah Merah. Sungguh tidak disangka tokoh itu akan muncul menghadang.

"Kalian memang cerdik sekali! Sementara kawan-kawanmu menyerang dari depan, kalian menyusup dari belakang seperti maling hina! Benar-benar sebuah rencana yang sangat bagus...!" ejek Hantu Jubah Merah tertawa parau tanpa melepaskan pandang matanya dari sosok Panji dan Dewa Tangan Salju.

"Maaf, Ki. Biarlah aku yang menghadapi Hantu Jubah Merah. Kau bawalah Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit ke tempat yang aman...," bisik Panji segera melepaskan tubuh Pedang Pemecah Langit dari bahunya, dan menyerahkannya kepada Dewa Tangan Salju.

"Hati-hati, Pendekar Naga Putih! Jubah merahnya memiliki mukjizat yang ampuh...," Dewa Tangan Salju mengingatkan sebelum meninggalkan Panji.

Plok! Plok! Plok!

Tiba-tiba Hantu Jubah Merah bertepuk tangan tiga kali. Sesaat kemudian, muncullah tokoh-tokoh gadungan dan beberapa pengikutnya. Mereka langsung menutup jalan Dewa Tangan Salju. Bagi orang yang memiliki kepandaian dan kemampuan ilmu sihir yang tinggi seperti Hantu Jubah Merah, tidak terlalu sulit baginya menciptakan tokoh-tokoh palsu.

Dengan menggunakan kepandaian dan ilmu sihirnya, tokoh itu mengubah wajah pengikutnya hingga mirip dengan tokoh-tokoh yang dipalsukan. Lalu mereka diberi ilmu dan senjata andalan tokoh-tokoh itu. Jadilah, mereka tokoh-tokoh gadungan yang sempat menggemparkan kaum persilatan golongan putih.

"Kau benar-benar iblis licik, Hantu Jubah Merah...!" desis Panji geram menyaksikan kejadian itu. Kakinya melangkah empat tindak dengan sorot mata tajam menikam jantung.

"Haaattt..!"

Mendadak, delapan pengikut Hantu Jubah Merah membuka serangan dan menerjang Dewa Tangan Salju. Kakek itu menjadi sibuk mengelakkan sambaran ujung senjata lawan. Cepat ia berkelit dan membalas dengan tendangan kedua kakinya. Sedangkan kedua tangannya digunakan untuk memegang tubuh Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit Kakek itu agak kewalahan menghadapi gempuran pengeroyoknya.

"Haaaiiittt..!"

Saat Dewa Tangan Salju tengah kerepotan, terdengar pekikan nyaring. Disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan hijau yang langsung menggempur kedelapan pengeroyoknya. Kakek itu menjadi lega. Melihat Dewa Tangan Salju telah mendapat bantuan Kenanga, Panji pun merasa lega. Seluruh perhatiannya kini dapat tercurah kepada Hantu Jubah Merah.

"Hm.... Mari kita lanjutkan pertempuran tempo hari, Pendekar Naga Putih...," tantang Hantu Jubah Merah yang kali ini terlihat agak sering mempermainkan jubahnya untuk menutupi tubuh.

Panji mengerutkan kening melihat tingkah lawan. Pemuda itu segera dapat menduga Hantu Jubah Merah akan menggunakan keampuhan jubahnya. Tanpa banyak cakap lagi, Panji langsung memusatkan pikiran dan memanggil keluar Pedang Pemecah Langit yang mengeram di dalam tubuhnya. Panji percaya bahwa pedang mukjizatnya akan mampu mengatasi jubah mukjizat lawan.

Swingngng...!

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu tangan Pendekar Naga Putih telah menggenggam sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning keemasan. Pedang itu digerakkan ke depan, hingga menimbulkan suara berdesing menggetarkan jantung!

Hantu Jubah Merah agak kaget melihat pedang di tangan Pendekar Naga Putih. Ukuran pedang itu lebih besar dari biasa, serta berhawa aneh yang menggetarkan hati. Tokoh tinggi besar itu melangkah mundur. Wajahnya kelihatan agak tegang!

"Mustahil...!" desis Hantu Jubah Merah. Rupanya, tokoh itu mengenali pedang di tangan lawan.

"Hm.... Bersiaplah, Hantu Jubah Merah...!" ujar Pendekar Naga Putih. Pedangnya dilintangkan di depan dada. Sikapnya itu menunjukkan bahwa Panji telah siap bertarung!

"Hmmmhhh...!"

Hantu Jubah Merah mengeluarkan dengusan kasar. Kemudian, mencabut keluar sebilah pedang tipis lentur. Mirip Pedang Sinar Bulan yang kini dipakai Kenanga. Panji pun tahu kalau senjata itu merupakan pusaka ampuh.

Cwittt, cwittt, cwittt!

Pedang di tangan Hantu Jubah Merah berdecitan saat tokoh itu mencoret-coret udara dengan senjatanya. Kaki kanannya melangkah ke belakang setindak, dan ditekuk rendah. Sedangkan pedangnya melintang di atas kepala.

"Haaattt..!"

Tanpa membuang waktu lagi, Pendekar Naga Putih mengibaskan pedangnya menerjang ke depan. Kilatan sinar kuning keemasan berhawa panas, menyerbu datang. Hantu Jubah Merah menggeser langkahnya, kemudian membalas dengan tidak kalah ganasnya!

Trangngng! Trangngng!

Terdengar benturan nyaring, menimbulkan percikan bunga api yang mewarnai pertarungan kedua tokoh itu. Keduanya tergetar mundur untuk kembali mengatur kuda-kuda masing-masing.

"Hiaaattt..!"

Kali ini Hantu Jubah Merah yang memulai serangan. Senjata di tangannya bersuitan menyakitkan telinga. Kilatan cahaya putih bergulung-gulung turun naik dan mendengung dengung bagai ratusan lebah marah.

Bwettt! Whuttt!

Panji menggeser mundur tubuhnya dengan langkah menyilang. Setelah serangan lawan lolos. pedangnya bergerak dengan kecepatan kilat membabat datar!

Brettt!

"Aaahhh...?!" Untung Hantu Jubah Merah sempat berkelit dengan memiringkan tubuhnya. Hingga hanya jubah ampuhnya yang tersambar pedang lawan. Meski demikian, wajah tokoh sesat itu berubah pucat! Jubahnya dapat disobek senjata Pendekar Naga Putih.

Pendekar Naga Putih pun sempat terkejut ketika merasa ada perlawanan aneh dari jubah mukjizat lawan. Kalau saja senjata di tangannya bukan pusaka langka mungkin sudah patah. Jubah lawan terasa kenyal dan sangat kuat.

"Keparat! Kau telah merobek jubah kesayanganku...!" teriak Hantu Jubah Merah. Lelaki tinggi besar itu murka bukan main melihat jubahnya robek oleh sambaran pedang lawan.

"Haaattt..!"

Dengan sangat bernafsu Hantu Jubah Merah menerjang maju! Pedang di tangannya berkelebat cepat laksana sambaran kilat yang susul menyusul. Sehingga dalam beberapa jurus, Panji terpaksa bermain mundur dan memperkuat pertahanan.

Blasss!

Mendadak. Di saat tokoh sesat itu tengah gencar menerjang Panji, tiba-tiba bayangan Hantu Jubah Merah lenyap. Sosok itu berganti dengan asap putih tebal yang menghalangi pandang mata Panji. Kejadian itu sangat mengejutkan!

Whuuuttt..!

"Heiii...?!" Panji sempat tercekat mendengar desingan senjata tanpa wujud! Dan, bergerak mundur dengan lompatan panjang. Kemudian, membentak keras sambil pedangnya disabetkan ke depan.

Srattt!

Aneh. Kali ini Pedang Naga Langit menyebarkan sinar kuning keemasan yang melebar. Kemudian terdengar letupan kecil. Seolah sinar pedang pusaka itu membentur suatu gelombang yang tak nampak Sosok Hantu Jubah Merah kembali muncul dalam jarak sekitar satu setengah tombak. Pedang pusaka di tangan Pendekar Naga Putih ternyata mampu melawan kekuatan sihir jubah pusaka lawan. Hingga tubuh lawan yang semula lenyap, kini muncul di depan mata.

"Haaattt..!"

Tanpa membuang waktu lagi, Panji langsung menggebrak lawan. Pusaka Naga Langit berkesiutan menyambar-nyambar dengan kecepatan menggetarkan!

Hantu Jubah Merah yang belum sadar dirinya sudah terlihat lawan, sangat kaget mendapati pedang pemuda berjubah putih meluncur deras ke arahnya. Dan....

Brettt!

"Aaakkkhhh?!" Hantu Jubah Merah terpekik kaget bercampur kesakitan. Tubuhnya melintir dan terhuyung sejauh satu setengah tombak Darah segar mengucur keluar dari luka memanjang di atas pusarnya. Sungguh sulit dipercaya! Pendekar Naga Putih tidak memberi kesempatan kepada lawan. Pemuda itu menyusuli serangannya dengan sebuah tusukan kilat yang mengancam jantung Hantu Jubah Merah.

Syuttt... cappp!

"Aaarghhh...!" Jerit kematian yang menggetarkan jantung keluar dari mulut tokoh bertubuh tinggi besar itu. Pedang Naga Langit tertancap di dada kiri tokoh itu, tepat mengenai jantungnya. Tanpa ampun lagi, tubuh tokoh sesat itu pun tersungkur ketika Pedang Naga Langit dicabut.

Setelah menggelepar sesaat, Hantu Jubah Merah yang telah menggemparkan dunia persilatan dengan ulahnya tewas dengan mata mendelik. Kemudian, Pendekar Naga Putih menghela napas lega. Satu lagi kewajibannya untuk melenyapkan manusia yang membahayakan keselamatan orang banyak telah dijalankan. Pemuda itu menoleh ke arah Kenanga yang baru saja menyelesaikan pertarungan.

Panji melihat Ki Sangga Langit dan yang lainnya telah berada di tempat ini. Rupanya, mereka telah berhasil menghancurkan markas Hantu Jubah Merah. Para tokoh persilatan itu kelihatan sangat terharu menyaksikan pertemuan Pujawati dan Malela dengan guru dan ayahnya. Apalagi, keadaan tubuh kedua tokoh persilatan itu sangat menyedihkan.

"Mari kita tinggalkan tempat ini. Pendekar Tongkat Sakti dan Pedang Pemecah Langit memerlukan perawatan segera...," ujar Panji kepada kawan-kawannya. Tak seorang pun membantah ucapan pemuda tampan itu. Beberapa saat kemudian, tokoh-tokoh persilatan itu bergerak meninggalkan Bukit Hitam. Saat itu, matahari sudah bergeser jauh ke barat...

S E L E S A I