Social Items

Serial Joko Sableng Episode Kutuk Sang Angkara

Cerita silat serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131


SATU

TEMPAT itu seketika hening laksana kuburan. Pitaloka, Setan Liang Makam, serta Kiai Laras hampir bersamaan gerakkan kepala berpaling. Dayang Sepuh pun ikut menoleh. Hanya Datuk Wahing yang tidak hadapkan wajahnya ke arah suara yang tiba-tiba menyahut. Kakek ini tetap saja gerakkan kepala pulang balik ke depan ke belakang dengan mimik seperti orang hendak perdengarkan bersinan. Namun sejauh ini suara bersinannya tidak juga terdengar!

Semua orang selain Datuk Wahing melihat seorang laki-laki berusia lanjut bertubuh tambun besar. Rambutnya yang putih digelung tinggi ke atas. Kakek ini mengenakan pakaian gombrong warna hijau. Pada pinggangnya yang bengkak besar tampak melilit sebuah ikat pinggang besar dari kulit yang di bagian depannya tepat di perut dihias dengan sebuah cermin bulat. Sepasang matanya terpejam rapat.

Pitaloka dan Setan Liang Makam pandangi laki-laki bertubuh tambun besar dari kepala sampai mata kaki dengan mulut terkancing. Kedua orang ini tidak bisa mengenali siapa adanya orang. Sementara Kiai Laras yang belum menyadari kalau sosoknya tidak kelihatan, sipitkan mata seraya berdesis.

“Gendeng Panuntun! Dari ciri-cirinya pasti dia! Meski aku belum pernah berjumpa....”

Di seberang lain, begitu melihat siapa adanya kakek bertubuh tambun besar, ketegangan pada paras wajah Dayang Sepuh serta-merta lenyap. Bibirnya yang merah menyala sedikit membuat sebuah senyum lebar. Namun nenek berdandan seronok ini belum juga perdengarkan suara. Sebaliknya angkat kedua tangannya. Tangan kiri mengambil satu kelabangan rambutnya dan dipilin-pilin, sedangkan tangan kanan rapikan geraian poni pada keningnya!

Mendadak kakek bertubuh tambun besar buka mulut perdengarkan tawa ngakak. Tangan kanannya bergerak mengusap cermin bulat di depan perutnya. Bersamaan dengan itu sepasang matanya membuka. Ternyata sepasang mata itu berwarna putih. Pertanda jika si empunya mata adalah orang buta! Namun seolah bisa melihat di mana orang tegak berdiri, kepala si kakek bergerak menghadap ke arah satu persatu orang yang ada di tempat itu! Kejap lain si kakek buka mulut berujar.

“Hem.... Ku rasakan langit cerah. Tidak ada hujan. Angin pun sangat bersahabat. Adalah aneh kalau aku di sini merasakan wajah-wajah tegang. Apa yang membuat ketegangan ini?! Jangan-jangan bukan hanya wajah-wajahnya yang tegang. Tapi yang lainnya ikut-ikutan tegang....”

“Bruss! Bruss! Kuharap jangan merasa aneh apalagi heran, Sahabat! Isyarat alam tidak selamanya pertanda baik!” Datuk Wahing menyahut.

Kakek bertubuh tambun bermata putih mendongak ke langit. “Bersinan mu tidak ku lupa! Senang berjumpa denganmu lagi sahabatku, Datuk Wahing....”

Datuk Wahing hentikan gerakan kepalanya lalu berpaling ke arah kakek bertubuh tambun. Mulutnya sudah membuka hendak bersuara. Namun bersinannya keburu mendahului. Hingga untuk beberapa saat Datuk Wahing harus tunda ucapannya. Namun begitu bersinannya selesai dan belum sempat perdengarkan suara, Setan Liang Makam telah membentak garang.

“Manusia buta tak dikenal! Kuperintahkan kau segera enyah dari tempat ini! Atau kubuat kau tidak bisa lagi merasakan keadaan alam!”

“Bruss! Bruss! Sahabatku, Gendeng Panuntun. Kebalikan isyarat alam baru saja kau dengar. Sekali lagi harap tidak heran, apalagi ikut-ikutan tegang!”

“Bagi orang buta sepertiku, mana bisa tegang jika tidak disentuh?!” sahut kakek bertubuh tambun bermata putih yang tidak lain adalah Gendeng Panuntun, lalu tertawa gelak-gelak. “Jadi jangan mengherankan mu kalau aku tidak mungkin ikut tegang!”

Habis berkata begitu, Gendeng Panuntun kembang-kempiskan hidung. Wajahnya bergerak menghadap pada Dayang Sepuh. “Datuk Wahing. Ternyata kau bernasib bagus. Di usiamu yang telah lanjut masih juga menggandeng seorang perempuan cantik nan jelita. Aku dapat merasakan gemulai kedua tangannya yang selalu bergerak-gerak. Senyum yang merebak di bibirnya yang merah menyala. Dandanan serta pakaian yang bikin deg-degan! Apa dia kekasih barumu?!”

Datuk Wahing bersin beberapa kali. Namun kali ini tidak disusuli dengan ucapan. Sementara Dayang Sepuh tampak makin lebarkan sunggingan senyumnya. Lalu mengerling pada Pitaloka. Pitaloka membuang muka seraya menyeringai. Dayang Sepuh melangkah perlahan dengan lemah gemulai ke arah Gendeng Panuntun. Senyum di bibirnya terus mengembang. Namun begitu tegak tiga langkah di hadapan Gendeng Panuntun, sekonyong-konyong si nenek pupuskan senyumnya. Tangan kanannya sibakkan poni di depan kening. Kini tampaklah wajahnya yang angker. Saat lain tiba-tiba dia membentak.

“Dari dulu mulutmu selalu bersuara tidak enak di telingaku setiap kali bertemu! Apa kau ingin aku mendahului ancaman manusia kerangka itu, hah?!” Seolah bicara dengan orang yang bisa melihat, tangan kiri Dayang Sepuh menunjuk pada Setan Liang Makam.

“Eh.... Mana suaraku yang tidak enak?!” tanya Gendeng Panuntun. Matanya yang putih mengerjap beberapa kali. “Suaramu... Astaga! Aku tadi salah lihat! Sungguh... Aku tidak menyangka kalau perempuan itu kau adanya! Habis dandanan mu membuat dadaku deg-degan hingga sampai aku salah lihat....”

Tampang garang Dayang Sepuh mendadak berubah. Kejap lain nenek ini tertawa terbahak-bahak hingga geraian poni rambutnya bersibakan. Kepalanya dihadapkan pada Datuk Wahing lalu berkata.

“Kau dengar itu, Datuk Wahing?! Sahabatmu yang buta ini mengatakan salah lihat...!”

“Gendeng Panuntun.... Hem.... Aku pernah dengar ceritanya manusia itu! Selain ilmunya sulit dijajaki, dia juga memiliki keahlian aneh! Matanya buta, namun seolah bisa melihat. Urusan di tempat ini akan makin kacau dengan kehadirannya! Bagaimana sekarang? Manusia setan serta manusia yang tidak terlihat di balik jubah hitam itu nyata-nyata menginginkan Pedang Tumpul 131! Dan melihat gelagatnya, nenek slebor dan kakek bersin-bersin itu juga menginginkannya! Sialan benar! Tidak kusangka akan jadi begini akhirnya. Padahal ku tancapkan pedang itu semata-mata untuk menipu Setan Liang Makam agar mau memberi keterangan!”

Pitaloka diam-diam membatin seraya terus melirik pada Pedang Tumpul 131 yang masih menancap di atastanah. Seperti diketahui, Pitaloka, saudara kembar Beda Kumala alias Putri Kayangan berhasil memperdayai murid Pendeta Sinting. Gadis cantik ini pada mulanya menduga Pendekar 131 membawa Kembang Darah Setan. Namun begitu bisa membuat murid Pendeta Sinting lemas laksana pingsan, ternyata Pitaloka tidak menemukan Kembang Darah Setan walau telah menggerayangi sekujur tubuh Joko.

Saat itulah mendadak dia dikejutkan dengan terdengarnya suara bersinan. Takut diketahui orang, Pitaloka segera berkelebat seraya mencabut Pedang Tumpul 131. Pada akhirnya Pitaloka meneruskan perjalanan. Karena telah tahu bahwa Kembang Darah Setan tidak di tangan murid Pendeta Sinting seperti apa yang tersiar dalam rimba persilatan, Pitaloka memutuskan pergi ke Kampung Setan. Tapi karena belum tahu di mana Kampung Setan berada, seraya terus berjalan Pitaloka selalu bertanya pada setiap orang yang dijumpainya. Tentu saja setelah menyelidik siapa adanya orang yang hendak ditanya.

Pada satu kesempatan, Pitaloka bertemu dengan Setan Liang Makam. Kali ini rupanya Pitaloka bertemu dengan orang yang benar-benar bisa memberi keterangan. Hanya saja Setan Liang Makam minta syarat. Pitaloka memenuhi persyaratan yang diajukan Setan Liang Makam. Namun di balik itu sebenarnya Pitaloka telah punya rencana sendiri. Yang jelas dia tidak akan begitu saja memenuhi permintaan Setan Liang Makam. Apalagi yang diminta adalah Pedang Tumpul 131 yang baru saja diambilnya dari murid Pendeta Sinting.

Ketika Setan Liang Makam hendak mengambil Pedang Tumpul 131 seperti persyaratan yang dimintanya pada Pitaloka dan di lain pihak Pitaloka sendiri hendak pertahankan pedang dari jamahan tangan Setan Liang Makam, muncullah Kiai Laras yang saat itu telah mengenakan Jubah Tanpa Jasad hingga sosoknya tidak kelihatan. Tampaknya Kiai Laras juga menginginkan Pedang Tumpul 131. Saat itulah datang Datuk Wahing dan Dayang Sepuh. Ketika terjadi adu mulut antara Pitaloka dan Dayang Sepuh, tiba-tiba ada suara orang menyahut. Yang muncul ternyata adalah Gendeng Panuntun.

“Bruss! Bruss! Jangan membuatku heran dengan berucap begitu, Sahabatku Dayang Sepuh,” ujar Datuk Wahing sambuti kata-kata si nenek. “Tidak jarang orang buta bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat! Dan kalaupun dia tadi berkata salah lihat dan salah duga terhadapmu, kau harus maklum dan jangan heran. Karena dia memang buta!”

Mendengar ucapan Datuk Wahing, Gendeng Panuntun geleng kepala. “Jangan percaya pada ucapannya, Nenek Cantik! Mana mungkin orang buta macam aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang bermata. Buktinya aku salah menduga mu....”

Gendeng Panuntun arahkan wajahnya menghadap Kiai Laras yang saat itu sosoknya tidak kelihatan karena mengenakan Jubah Tanpa Jasad. Agak lama si kakek ini terdiam sebelum akhirnya berkata. “Rasanya aku pernah bertemu muka dengan sahabatku ini. Sayang aku lupa kapan dan di mana! Mau mengingatkan padaku, Sahabat?!” Gendeng Panuntun bertanya pada Kiai Laras.

Kiai Laras palingkan kepala sambil mendengus. Namun dia tidak buka mulut menjawab. Kejap lain orang tua ini arahkan pandang matanya pada satu persatu orang di tempat itu. Lalu perdengarkan suara keras membahana di Seantero tempat itu.

“Kuperingatkan pada kalian semua! Kalau masih sayang pada nyawa masing-masing jangan ada yang berani lancang menghadang langkahku! Jangan ada yang kurang ajar berani buka mulut! Tetap di tempat kalian masing-masing!”

“Eh.... Memangnya ada apa ini?! Orang tidak boleh bersuara dan bergerak. Sepertinya ada sesuatu yang luar biasa! Jangan-jangan gadis cantik itu. Ah.... Gadis cantik di mana-mana memang sering jadi persoalan! Padahal tidak jarang justru tanpa disadari, gadis cantik itu yang membuka urusan!”

Habis berucap begitu, Gendeng Panuntun luruskan wajahnya ke arah Pitaloka dan lanjutkan ucapan. “Kuharap kau tidak marah, Gadis Rupawan. Aku tadi hanya mengatakan kebiasaannya. Sekali-kali tidak bermaksud menyinggung apalagi membuat persoalan denganmu...!”

“Hem.... Berarti dia bisa melihat meski matanya tampak buta!” gumam Pitaloka. Pandang matanya menatap tajam pada Gendeng Panuntun. Namun cuma sekejap. Dia lantas arahkan pandang matanya pada jubah hitam tanpa sosok yang mulai bergerak maju, “Manusia di balik jubah itu akan mengambil Pedang Tumpul 131!”

Pitaloka kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Walau dia maklum kalau kepandaiannya masih di bawah orang, namun dia sudah memutuskan mempertahankan Pedang Tumpul 131 dari jamahan tangan orang lain. Keputusan hatinya makin kuat setelah dia mendengar keterangan Setan Liang Makam tentang di mana Kampung Setan serta cerita Kembang Darah Setan. Karena dengan senjata sakti di tangannya, setidaknya kekuatannya akan bertambah. Apalagi dia kini tahu, banyak sekali beberapa tokoh berilmu tinggi yang belum dikenalnya telah bermunculan.

Di lain pihak, Setan Liang Makam tampak pula memperhatikan gerakan jubah hitam. Laki-laki cucu Nyai Suri Agung ini tampak bimbang dan gelisah. Dia kini yakin kalau sosok tidak kelihatan di balik jubah hitam juga membekal Kembang Darah Setan asli. Jubah Tanpa Jasad adalah bukti akan keyakinannya. Karena menurut Nyai Suri Agung, dinding tidak tembus pandang yang memagari Jubah Tanpa Jasad bisa terbongkar hanya dengan Kembang Darah Setan.

Hanya Dayang Sepuh dan Datuk Wahing yang tampak tenang-tenang saja. Dayang Sepuh terus memilin-milin kepangan rambutnya, sementara Datuk Wahing tetap gerakkan kepala pulang balik ke depan ke belakang dengan mimik orang hendak bersin.

Sementara di sebelah Dayang Sepuh, Gendeng Panuntun alihkan wajahnya dari Pitaloka pada Kiai Laras yang terus melangkah perlahan mendekati Pedang Tumpul 131. Suasana mendadak mencekam ketika gerakan jubah hitam sudah berjarak tujuh langkah dari Pedang Tumpul 131 yang menancap di tanah. Semua orang sama kancingkan mulut dan tidak ada yang membuat gerakan seolah menuruti perintah Kiai Laras.

Hanya mata Pitaloka dan Setan Liang Makam yang sama saling lontar berpindah-pindah. Sepasang bola mata Pitaloka bergerak liar. Dari Pedang Tumpul 131, gerakan Jubah Tanpa Jasad serta sosok Setan Liang Makam. Sementara sepasang mata besar milik Setan Liang Makam melotot dari gerakan Jubah Tanpa Jasad, Pedang Tumpul 131, serta sosok Pitaloka.

Di lain pihak, justru Kiai Laras tidak melirik pada Pitaloka maupun Setan Liang Makam. Sebaliknya sepasang matanya terus melirik pada Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun. Kiai Laras rupanya sadar. Dengan Kembang Darah Setan serta jubah yang dikenakannya, hadangan Pitaloka dan Setan Liang Makam dapat diatasi. Namun dia masih belum yakin benar jika hadangan itu datang dari Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun. Karena dia telah paham siapa adanya ketiga orang itu. Tapi dengan peristiwa yang dialaminya saat berhadapan dengan Nyai Suri Agung serta Setan Liang Makam, keyakinannya perlahan-lahan timbul. Hingga dia teruskan saja langkahnya mendekati Pedang Tumpul 131.

“Sahabat sekalian... Kenapa kalian diam saja?! Tidak ada yang bersuara, tidak ada yang bergerak!” Tiba-tiba Gendeng Panuntun angkat bicara.

Pitaloka tidak hiraukan ucapan orang karena diam-diam dia telah siap lepaskan satu pukulan jarak jauh. Demikian juga Setan Liang Makam. Pada puncak kegelisahannya, cucu Nyai Suri Agung ini akhirnya memutuskan untuk menghadang gerakan Jubah Tanpa Jasad dengan siapkan satu pukulan. Selain untuk menghalangi orang mengambil pedang, sekaligus untuk menghantam orang dan mengambil Jubah Tanpa Jasad.

Di depan sana, begitu Gendeng Panuntun angkat bicara, Kiai Laras hentikan gerakan kakinya. Kepalanya berpaling sesaat memandang pada Pitaloka dan Setan Liang Makam. Bibirnya menyeringai buruk.

“Rupanya kalian manusia-manusia bodoh! Sudah tahu tingginya langit dalamnya lautan yang tak mungkin kalian jangkau, namun kalian hendak coba-coba menjajakinya! Kalian akan mampus penasaran!”

Kiai Laras teruskan pandang matanya ke arah Gendeng Panuntun. Lalu membentak. “Kau telah kuperingatkan! Namun kau ingin unjuk kebolehan! Kau mau maju sendirian atau bersama teman-temanmu itu?!”

“Ah.... Kau salah menangkap ucapanku, Sahabat!” ujar Gendeng Panuntun. “Bukannya aku mengajak mereka untuk bergerak atau berkata. Aku hanya ingin tahu mengapa mereka tidak bersuara, tidak bergerak!”

“Itu karena mereka telah tahu tingginya langit dalamnya laut! Mereka masih sayang hidup daripada mati percuma!”

Gendeng Panuntun arahkan wajahnya pada Dayang Sepuh dan Datuk Wahing. “Apa betul demikian, Sahabat-sahabatku...?!”

Dayang Sepuh geleng kepala. “Tidak demikian!”

“Bruss! Bruss! Memang tidak demikian!” sahut Datuk Wahing.

“Kalau aku belum berkata apalagi membuat gerakan, kupikir saatnya belum sampai! Kita harus yakin dahulu sebelum tahu sebenarnya!” kata Dayang Sepuh.

“Bruss! Bruss! Benar. Kita tidak boleh melakukan hal-hal yang mengherankan sebelum tahu pasti apa yang akan dilakukan orang!”

“Kalian benar.... Kita tidak boleh berprasangka jelek. Siapa tahu meski tampaknya melangkah ke sana namun tujuannya lain?!” Gendeng Panuntun menimpali.

“Siapa tahu.... Itulah memang pertimbangannya!” ujar Dayang Sepuh.

“Bruss! Bruss! Betul sekali! Siapa tahu.... Itulah yang menjadikan kami belum berani melakukan hal-hal yang mengherankan!”

Kiai Laras menyeringai mendengar ucapan-ucapan orang. Seraya pasang tangan di atas pinggang kanan kiri dia menggumam. “Aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan!” Kiai Laras tengadah lalu teruskan langkah.

Baru saja Jubah Tanpa Jasad bergerak, pertanda Kiai Laras melangkah, mendadak Pitaloka telah gerakkan kedua tangannya melepas satu pukulan dahsyat jarak jauh.

Wuutt! Wuutt!

Dua gelombang ganas menerjang ke arah Kiai Laras. Hampir bersamaan dengan melesatnya dua gelombang dari kedua tangan Pitaloka, Setan Liang Makam telah pula sentakkan kedua tangannya. Laki-laki cucu Nyai Suri Agung ini berpikir jika gabungan antara pukulannya dengan pukulan Pitaloka setidaknya akan menambah daya gedor pada sosok di balik Jubah Tanpa Jasad. Hingga untuk sesaat tempat itu laksana di buncah gempuran gelombang luar biasa yang menuju satu titik arah. Yakni jubah hitam tanpa sosok yang sudah berada lima langkah dari tempat tertancapnya Pedang Tumpul 131.

Kiai Laras mendengus marah. Dia rupanya merasa, tidak mungkin menghadang dua pukulan orang sekaligus dengan kekuatan tenaga dalamnya sendiri. Apalagi begitu melihat ganasnya pukulan dari kedua tangan Setan Liang Makam yang menunjukkan jika pukulan itu dengan pengerahan tenaga dalam sangat kuat.

Laksana kilat, tangan kanan Kiai Laras segera menyelinap ke balik pakaiannya. Laki-laki itu berpikir hanya dengan Kembang Darah Setan pukulan orang bisa dihadang. Begitu tangan kanan Kiai Laras keluar, semua orang di tempat itu melihat cahaya berkilau tiga warna. Merah, hitam, dan putih dari setangkai bunga yang terapung di atas udara sejajar bagian dada Jubah Tanpa Jasad. Saat lain kembang tiga warna yang tidak lain adalah Kembang Darah Setan, berkelebat.

Wuutt! Wuuttt!

Satu gelombang disertai berkiblatnya sinar tiga warna melesat angker.

DUA

TEMPAT itu laksana dihantam petir. Keadaan seketika terang benderang berwarna merah, hitam, dan putih. Sinar tiga warna menembus gelombang. Terdengar ledakan hebat. Gelombang yang datang dari kedua tangan Pitaloka dan Setan Liang Makam serta-merta buyar berantakan lalu membubung tinggi ke udara. Sinar tiga warna pecah. Hebatnya pecahan sinar tiga warna menebar datar di atas udara lalu melaju deras ke arah Pitaloka dan Setan Liang Makam.

Di seberang, Pitaloka perdengarkan seruan tertahan bersamaan dengan buyarnya gelombang tertembus sinar tiga warna. Sosoknya terdorong amblas ke belakang sebelum akhirnya terbanting keras di atas tanah. Di lain pihak, sosok Setan Liang Makam terpental sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan sekujur tubuh yang hanya merupakan susunan kerangka bergerak-gerak keras. Sepasang matanya melotot dan mulut menganga tanpa adanya suara yang terdengar.

Kiai Laras sendiri hanya terdorong tiga langkah. Sesaat Jubah Tanpa Jasad memang bergerak-gerak oleng. Tapi saat lain telah tegak mengapung di atas udara. Kembang Darah Setan terlihat pula mengapung sejajar bagian perut Jubah Tanpa Jasad.

“Dugaanku tidak salah!” desis Setan Liang Makam begitu melihat terapungnya Kembang Darah Setan. Laksana hendak terbang, Setan Liang Makam cepat bergerak bangkit. Di seberang samping sana, Dayang Sepuh cepat pula melompat ke arah Datuk Wahing. Dengan mata memperhatikan Kembang Darah Setan dia berbisik.

“Manusia tanpa sosok berjubah hitam itu memegang dua senjata sakti! Aku tahu kau adalah orang paling mengerti tentang Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad! Katakan padaku bagaimana cara menghadapinya!”

“Bruss! Ucapanmu benar! Namun adalah mengherankan kalau kau menduga aku tahu bagaimana cara menghadapinya! Aku tidak tahu.... Aku tidak tahu!” gumam Datuk Wahing seraya geleng-gelengkan kepala.

Kali ini mimik wajahnya tidak membayangkan seperti orang ingin bersin, sebaliknya berubah tegang. “Mungkin sahabat buta itu tahu! Coba tanyakan padanya!”

Dayang Sepuh menggerendeng. Tapi cepat melompat ke arah Gendeng Panuntun yang kini duduk menjeplok di atas tanah.

“Aku juga kesulitan menjawab pertanyaan yang hendak kau ajukan!” Gendeng Panuntun sudah buka mulut sebelum Dayang Sepuh angkat bicara. “Ada penghalang yang membuat aku laksana berjalan di tengah malam buta! Gelap.... Itu jawabannya!”

“Hem.... Maksudmu kita bisa menghadapi dengan menunggu datangnya malam, begitu? Apa mungkin kita bisa bertahan sampai malam. Padahal saat ini matahari baru saja condong!”

Gendeng Panuntun geleng kepala. “Bukan. Aku tidak mengatakan kita bisa menghadapinya dengan menunggu sampai datangnya malam. Namun aku menemui jalan buntu! Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya....”

“Celaka! Kita tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Padahal dia hendak mengambil juga pedang milik pemuda geblek itu!” gumam Dayang Sepuh.

“Memang celaka! Tapi apa hendak dikata...,” sahut Gendeng Panuntun pula.

“Kau memiliki ilmu yang tidak dimiliki orang lain! Coba sekali lagi kau lihat! Siapa tahu kita menemukan jawaban!” desak Dayang Sepuh.

“Apa pun yang dimiliki makhluk bernama manusia, semuanya serba terbatas! Jika kita paksakan diri, kita akan mendapat celaka dua kali!”

“Setan! Ini bukan urusan paksakan diri atau tidak! Ini usaha!” hardik Dayang Sepuh mulai tidak sabaran.

“Usaha pun ada batasnya!” ujar Gendeng Panuntun dengan tenang.

“Sialan! Lalu apakah kita akan berdiam diri? Hah...?!”

Gendeng Panuntun tidak segera sambuti ucapan Dayang Sepuh. Sebaliknya dia berpaling. Karena saat itu Datuk Wahing tampak bergerak bangkit lalu membuat gerakan satu kali. Tahu-tahu sosoknya telah duduk bersimpuh di samping Gendeng Panuntun.

“Kau juga tua bangka sialan!” Dayang Sepuh sudah menyemprot begitu Datuk Wahing duduk bersimpuh. “Bagaimana bisa tidak tahu bagaimana cara menghadapi sesuatu yang bertahun-tahun ditongkronginya?!”

Datuk Wahing bersin-bersin lalu tertawa panjang. Gendeng Panuntun mendehem lalu berkata.

“Itulah rahasia alam, Sahabatku.... Bahkan kita kadangkala tidak tahu sesuatu yang ada di tangan kita sendiri!”

“Hanya orang tidak bisa melihat sepertimu yang tidak tahu sesuatu di tangannya!” sergah si nenek dengan ketus karena makin tidak sabar.

“Bruss! Bruss! Kau tak usah marah-marah....”

“Sialan! Siapa yang marah?!” tukas Dayang Sepuh. Belum sampai ada yang menyahut ucapan Dayang Sepuh, di depan sana terdengar bentakan keras.

“Anjing jahanam! Serahkan Kembang Darah Setan dan Jubah Tanpa Jasad padaku! Akulah pemilik sah keduanya!” Yang perdengarkan bentakan dahsyat ternyata Setan Liang Makam. Seraya membentak, tangan kirinya terulur ke depan, tangan kanan ditarik ke belakang. Lalu kakinya bergerak melangkah maju.

Kiai Laras tersenyum dingin. “Di atas dunia, hanya anjing tolol yang menyatakan diri sebagai pemilik sah sesuatu benda! Anjing tolol seperti itu tidak layak diberi hidup lebih lama! Dunia tidak membutuhkannya!” Baru saja ucapan Kiai Laras selesai, tiba-tiba Kembang Darah Setan yang terlihat mengapung diudara berkelebat.

Wusss!

Terdengar deruan dahsyat. Tiga sinar berwarna merah, hitam, dan putih untuk kedua kalinya berkiblat angker ke arah Setan Liang Makam. Setan Liang Makam tidak terkejut karena telah waspada. Namun demikian ketegangan di wajahnya tampak nyata. Dan tanpa membuang waktu, laki-laki yang pernah terkubur dalam makam batu puluhan tahun ini berkelebat ke samping. Kedua tangannya didorong seraya perdengarkan bentakan keras.

Wuutt! Wuutt!

Dua gelombang angin yang disertai kabut hitam menderu laksana amukan ombak, lurus menghadang berkiblatnya sinar tiga warna. Saat kedua tangan Setan Liang Makam mendorong, dari arah samping terlihat Datuk Wahing angkat tangan kanannya yang memegang tongkat kayu. Kepalanya bergerak ke depan untuk perdengarkan bersinan. Bersamaan dengan itu tongkat kayu disentakkan kedepan.

Tongkat kayu butut melesat berputar-putar di udara menimbulkan desingan tajam dan sapuan-sapuan gelombang dahsyat. Saat lain tongkat kayu yang kini hampir tidak terlihat itu menjajari gelombang yang dilepas Setan Liang Makam lalu bersama-sama melabrak ke arah sinar tiga warna yang datang.

Blaarr! Blaarr!

Dua kali gelegar keras terdengar. Sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan menebar ambyar. Namun ambyarnya sebagian tetap lurus mengarah pada Setan Liang Makam! Di lain pihak, gelombang yang keluar dari kedua tangan Setan Liang Makam serta-merta amblas buyar. Tongkat kayu milik Datuk Wahing mencelat tinggi ke udara. Ketika luruh kembali telah berubah menjadi serpihan dan hangus serta bertabur di udara sebelum akhirnya lenyap terbawa bias gelombang gelegaran.

Setan Liang Makam lagi-lagi terpental. Namun karena sudah tahu apa yang hendak terjadi, begitu sosoknya dirasakan melambung ke belakang, cucu Nyai Suri Agung ini cepat kerahkan tenaga dalam untuk kuasai diri. Tapi dia terlengak. Karena baru saja hendak kerahkan tenaga dalam, ambyaran sinar tiga warna telah menyongsong kearahnya.

Setan Liang Makam serba salah. Kalau dia menyambut ambyaran sinar tiga warna, tentu dia tidak bisa lagi kuasai diri dan tak ampun sosoknya akan terbanting menghantam tanah. Sedang kalau teruskan untuk kuasai diri, niscaya ambyaran sinar tiga warna akan menghajarnya! Sinar tiga warna itu memang telah ambyar, namun Setan Liang Makam sadar, jika ambyaran itu masih mampu memporak-porandakan sesuatu yang terhajar.

Kebimbangan Setan Liang Makam membuat dia lengah. Hingga begitu bisa mengambil keputusan apa yang harus dilakukan, ambyaran sinar tiga warna telah setengah tombak di hadapannya. Kali ini apa pun keputusan yang diambil Setan Liang Makam tidak akan bisa menyelamatkan dirinya!

Sesaat lagi ambyaran sinar tiga warna menghajar sosok Setan Liang Makam yang hanya bisa mendelik saking terkejutnya, tiba-tiba saja tanpa diduga satu gelombang angin deras melesat. Bukan menghadang pada ambyaran sinar yang hendak menghajar sosok Setan Liang Makam, melainkan menghantam ke arah Setan Liang Makam yang masih berada di atas udara.

Bukkkk!

Mentalan sosok Setan Liang Makam berubah arah. Kalau tadi terdorong keras ke belakang. Kali ini sosoknya terpental deras ke samping lalu jatuh bergedebukan di samping sana. Namun perubahan arah ini menyelamatkan Setan Liang Makam dari hajaran ambyaran sinar tiga warna. Ambyaran sinar tiga warna menerabas terus lalu menghajar beberapa jajaran pohon di depan sana. Beberapa batangan pohon perdengarkan derakan lalu satu persatu tumbang dengan patah-patah dan hangus! Daunnya langsung bertabur dan berubah menghitam!

Setan Liang Makam tampaknya tahu gelagat. Begitu sosoknya jatuh dia cepat kerahkan tenaga dalam meski rasakan sekujur tubuhnya laksana hancur dan lidahnya rasakan asin pertanda mulutnya telah kucurkan darah. Di lain saat cucu Nyai Suri Agung ini bangkit tegak. Dia tahu siapa gerangan yang baru saja menghantamnya namun membuatnyaselamat. Setan Liang Makam berpaling pada Datuk Wahing. Walau dia tidak buka mulut namun diam-diam dia membatin.

“Galaga...! Jangan berharap tindakanmu yang menyelamatkan diriku akan menghapus urusan di antara kita! Aku juga curiga jangan-jangan kaulah yang membocorkan rahasia Kampung Setan! Karena hanya kau satu-satunya manusia di atas bumi ini yang tahu rahasia Kampung Setan! Mungkin kau juga yang memberitahukan pada anjing pemegang Kembang Darah Setan serta pemakai Jubah Tanpa Jasad itu, mengenai bagaimana bisa mengeluarkan aku dari makam celaka itu! Lalu kau sekarang berpura-pura di hadapanku!”

Datuk Wahing sendiri yang tampak bergoyang- goyang dan duduknya bergeser akibat bias bentroknya pukulan yang disalurkan lewat tongkatnya untuk menghadang kiblatan sinar dari Kembang Darah Setan, hentikan gerakan kepalanya. Dia balas memandang pada Setan Liang Makam yang bukan lain memang saudara seperguruannya. Kakek yang selalu bersin ini hendak buka mulut. Namun diurungkan begitu melihat Setan Liang Makam alihkan pandang matanya ke arah Kiai Laras yang masih tampak jubahnya saja.

Jubah Tanpa Jasad itu sejenak tadi tampak bergerak deras ke belakang dan hampir saja jatuh ketika terdengar gelegar. Namun belum sampai menyentuh tanah, Jubah Tanpa Jasad itu telah bergerak lagi terangkat ke atas dan tak lama kemudian tegak mengapung diam. Kejap lain terdengar batuk dua kali. Lalu terlihat ludah bercampur darah melesat dari atas jubah hitam. Meski orang tidak bisa melihat bagaimana paras wajah si pemakai Jubah Tanpa Jasad, tapi orang sudah bisa menebak jika terjadinya bentrok pukulan membuat si pemakai kucurkan darah dari mulutnya.

Sementara di seberang sana, sebenarnya Pitaloka sudah berkelebat ke arah tertancapnya Pedang Tumpul 131 begitu tahu kalau Kiai Laras dan Setan Liang Makam saling baku hantam. Namun kelebatan sosok gadis ini bersamaan saatnya dengan bentroknya pukulan. Hingga meski kedua tangannya terus bergerak hendak menyambar pedang, namun gagal. Karena begitu terdengar gelegaran, Pedang Tumpul 131 kembali bergerak pulang balik, membuat Pitaloka bukan saja kesulitan, namun kalau saja dia tidak segera batalkan maksudnya, niscaya dia sendiri akan mendapat celaka. Karena gerakan pedang akibat gelegaran menimbulkan gelombang dan melesatnya cahaya kekuningan berhawa panas luar biasa!

Kiai Laras rupanya dapat melihat apa yang tadi hendak dilakukan oleh Pitaloka. Hingga begitu tegak kembali, sosoknya langsung berputar menghadap Pitaloka. “Kau memang punya hak untuk mengambil benda itu! Tapi itu melanggar apa yang kuperintahkan! Dan itu akan mengubah jalan takdirmu!” kata Kiai Laras.

Pitaloka melihat Kembang Darah Setan bergerak. Kuduk gadis cantik ini menjadi dingin. Dia kini telah tahu sedang berhadapan dengan siapa. Kalau pukulan Setan Liang Makam yang dibantu dengan Datuk Wahing tidak mampu membuat sosok di balik jubah jatuh terjengkang, adalah satu keanehan kalau dia dapat menghadapinya! Tapi di balik semua itu Pitaloka juga maklum, sosok tidak kelihatan di balik Jubah Tanpa Jasad tentu tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja. Hal inilah yang perlahan-lahan membuat Pitaloka menjadi nekat. Hingga begitu melihat gerakan pada Kembang Darah Setan, dia cepat kerahkan segenap tenaga dalam yang dimiliki.

“Anak bodoh.... Apakah dia pikir bisa menghadapi setan berjubah itu?!” ujar Dayang Sepuh melihat apa yang dilakukan Pitaloka.

“Brusss! Memang mengherankan dan mustahil! Tapi itu adalah satu-satunya jalan yang harus dilakukan! Atau kau bisa melakukan satu hal yang tidak mengherankan?!” sahut Datuk Wahing.

“Kau hanya bisa heran-heran melulu!” bentak Dayang Sepuh. Lalu alihkan pandangannya pada Gendeng Panuntun. “Kita tidak usah pedulikan siapa adanya gadis itu! Yang jelas kita cegah terjadi pertumpahan darah di sini! Kita gebuk sama-sama setan berjubah hitam itu!”

“Itu hanya akan membawa darah makin banyak tumpah, Sahabatku!” kata Gendeng Panuntun.

“Setan! Kalian berdua setan! Hanya bisa omong dan mencegah tapi tidak bisa memberi jalan keluar!” Dayang Sepuh berteriak sambil bantingkan kaki. Lalu bergerak hadapkan tubuh ke arah Pitaloka. Kemudian berteriak. “Hai, Gadis Setan! Jangan berlagak di sini! Cepat menyingkir!”

“Tidak ada yang akan tinggalkan tempat ini!” Kiai Laras menyahut.

“Jangan percaya! Cepat lari!” Kembali Dayang Sepuh berteriak. Saking tak sabar dia gerakkan kedua tangannya ke depan membuat gerakan seperti orang mengusir.

Pitaloka bimbang. Walau tadi telah nekat, namun begitu mendengar teriakan Dayang Sepuh, hatinya jadi ragu-ragu.

Dayang Sepuh terlihat gemas. “Gadis setan! Masih banyak kenikmatan yang belum kau rasakan! Apa kau benar-benar tak ingin menikmatinya, hah?!”

Datuk Wahing perdengarkan bersinan mendengar teriakan Dayang Sepuh. Di sampingnya, Gendeng Panuntun tertawa bergelak-gelak. Pitaloka terdiam sesaat. Kejap lain mendadak kedua tangan gadis ini telah bergerak lepaskan pukulan mendahului kelebatan Kembang Darah Setan. Saat bersamaan, sosoknya melesat hendak tinggalkan tempat itu.

“Jangan mimpi bisa tinggalkan tempat ini dengan nyawa utuh!” bentak Kiai Laras. Kembang Darah Setan di tangan kanannya berkelebat. Tiga sinar berkiblat menggidikkan, menyongsong gelombang yang melesat dari kedua tangan Pitaloka.

Dayang Sepuh menggerendeng panjang pendek. Lalu kedua tangannya bergerak menghantam ke depan memotong lesatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan. Kembali terdengar ledakan tatkala gelombang dari kedua tangan Dayang Sepuh memotong sinar tiga warna. Saat bersamaan, gelombang dari kedua tangan Pitaloka melabrak. Hingga ledakan kedua terdengar. Sosok Dayang Sepuh terhuyung-huyung dan...

"Plukk!" Sosok si nenek jatuh terduduk di atas pangkuan Gendeng Panuntun yang ada di belakangnya!

Sementara di depan sana, sosok Pitaloka yang berkelebat terlihat oleng. Lalu terputar hendak menghantam tanah. Gadis cantik ini menjerit tinggi. Namun sejengkal lagi sosoknya beradu dengan tanah, satu bayangan merah berkelebat.

TIGA

SOSOK Pitaloka tertahan satu jengkal di atas tanah. Saat lain sosok gadis cantik ini terangkat lalu tegak dengan bergetar keras. Dari mulutnya terlihat kucuran darah. Dadanya bergerak-gerak turun naik tak karuan. Paras wajahnya berubah pucat pasi dan tegang. Setelah agak lama dan baru menyadari kalau lengannya dicekal orang, Pitaloka segera berpaling. Tampang gadis ini makin berubah. Mulutnya yang masih kucurkan darah bergerak membuka namun tak ada suara yang terdengar.

Sementara di depan sana, sosok Kiai Laras tersurut tiga langkah. Dan begitu tahu kalau ada orang yang ikut lepaskan pukulan memotong kiblatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan, orang tua ini cepat berpaling. Dia tahu siapa yang baru memotong pukulan Kembang Darah Setan. Hingga sepasang matanya mendelik angker pada Dayang Sepuh yang masih terduduk di atas pangkuan Gendeng Panuntun. Di lain pihak, begitu sosok Dayang Sepuh terhuyung dan jatuh di atas pangkuan Gendeng Panuntun.

Datuk Wahing perdengarkan bersinan beberapa kali lalu tawanya meledak. “Sahabat.... Kurasa di sini banyak mata melihat. Mengapa kau bercanda dengan minta dipangku segala?!” Gendeng Panuntun berujar. Sepasang mata putihnya mengerjap beberapa kali. Lalu hidungnya mendengus. Kepalanya terangkat dan...

“Bruss! Bruss!” Gendeng Panuntun bersin dua kali. “Sebagian rambutmu masuk kehidungku...!” kata Gendeng Panuntun.

Bersinan dua kali membuat sosok Dayang Sepuh yang berada di pangkuannya terlonjak-lonjak balik ke atas ke bawah. Tanpa disadari lonjakan sosoknya membuat kelabangan rambutnya bergerak-gerak dan kembali menerpa wajah Gendeng Panuntun. Gendeng Panuntun kelabakan. Saat lain dia kembali perdengarkan bersinan karena sebagian rambut itu masuk ke hidungnya. Hal ini membuat sosok Dayang Sepuh kembali terlonjak pulang balik ke atas ke bawah.

Tawa Datuk Wahing makin meledak. Dan disela-sela tawanya dia beberapa kali bersin-bersin. Hingga untuk beberapa saat tempat itu disemaraki dengan suara bersinan yang ditingkah dengan gelakan tawa berderai. Dayang Sepuh sendiri sepertinya keenakan karena sosoknya bergerak pulang balik ke atas ke bawah. Sosok tambun Gendeng Panuntun membuat si nenek tidak merasakan sakit tatkala berbenturan dengan anggota tubuh Gendeng Panuntun.

Pada satu kesempatan, tiba-tiba Gendeng Panuntun menggeser duduknya ke samping. Si nenek yang keenakan sampai sepasang matanya terpejam-pejam tidak menduga. Hingga ketika sosoknya meluncur ke bawah, bukan lagi menumbuk pangkuan Gendeng Panuntun, melainkan menghantam tanah!

"Bukkk!" Dayang Sepuh mengeluh. Lalu cepat bangkit. Tangan kanannya berkelebat ke arah Gendeng Panuntun.

“Bruss! Mengherankan kalau kau menyalahkan orang lain, Nenek!”

Dayang Sepuh tarik pulang tangan kanannya. Lalu arahkan pandang matanya ke arah Pitaloka. Sementara baik Kiai Laras maupun Setan Liang Makam sudah agak lama memandang tajam kearah yang sama. Namun baik Dayang Sepuh, Kiai Laras, maupun Setan Liang Makam bukannya memandang pada Pitaloka. Tapi pada satu sosok di sampingnya yang tegak dengan tangan satunya mencekal lengan Pitaloka. Dayang Sepuh kucek-kucek sepasang matanya. Lalu disodorkan ke depan seolah belum percaya dengan apa yang dilihat.

“Brusss! Harap tidak heran dengan apa yang kau lihat, Nenek....”

Dayang Sepuh tidak menyahut. Sebaliknya terus memandang pada sosok yang tegak di samping Pitaloka. Dia adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita. Rambutnya panjang sebahu mengenakan pakaian warna merah. Tapi bukan kecantikan atau pakaian si gadis yang membuat Dayang Sepuh, Kiai Laras, serta Setan Liang Makam memandang tak berkedip. Ketiga orang ini hampir tidak bisa membedakan di antara Pitaloka dan gadis yang tegak di sampingnya! Wajah kedua gadis ini sama!

“Beda Kumala...,” gumam Pitaloka setelah agak lama hanya bisa menganga tanpa perdengarkan suara.

Gadis cantik yang tegak di samping Pitaloka dan memiliki wajah yang sama persis, sunggingkan senyum seraya anggukkan kepala. Lalu berbisik perlahan. “Pitaloka.... Kita harus cepat tinggalkan tempat ini! Orang-orang itu bukan tandingan kita!”

“Aku tidak berurusan dengannya! Mereka sendiri yang cari urusan!” kata Pitaloka.

Gadis di sampingnya yang tadi dipanggil dengan Beda Kumala dan bukan lain adalah Putri Kayangan, kembali sunggingkan senyum. “Lupakan dulu semua itu. Yang jelas kita harus segera tinggalkan tempat ini!”

“Aku tak akan pergi tanpa pedang itu!” Pitaloka arahkan pandang matanya pada Pedang Tumpul 131 yang masih menancap di atas tanah.

Putri Kayangan menghela napas panjang. Kepalanya menggeleng perlahan lalu berucap perlahan. “Tak ada untungnya mempertahankan benda yang bukan milikmu!”

Habis berkata begitu, Putri Kayangan arahkan pandang matanya pada Jubah Tanpa Jasad dan Kembang Darah Setan yang mengapung di udara. Wajahnya berubah tegang. “Aku belum pernah melihat. Tapi aku yakin itulah Kembang Darah Setan! Aneh.... Bagaimana mungkin jubah dan kembang itu bisa mengapung di udara?!” Membatin Beda Kumala alias Putri Kayangan.

Saat muncul menyelamatkan saudara kembarnya Pitaloka, gadis ini memang belum sempat edarkan pandangan karena terburu memperhatikan saudaranya. Kalaupun dia sempat mengenali salah seorang yang ada di tempat itu, itu adalah keberadaan Datuk Wahing. Dan melihat bagaimana Pitaloka sampai hendak terbanting di atas tanah, cukup membuat Putri Kayangan paham jika orang yang dihadapi Pitaloka bukan orang yang berilmu di bawahnya. Maka tanpa melihat dulu siapa orang yang dihadapi Pitaloka, buru-buru Putri Kayangan mengajak saudara kembarnya untuk segera tinggalkan tempat itu.

Belum sempat lenyap rasa kesima melihat terapungnya Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad, kembali Putri Kayangan dibuat tersentak kala pandang matanya menumbuk pada sosok Setan Liang Makam. Namun gadis ini segera dapat kuasai diri dan dengan cepat arahkan pandang matanya jauh ke de- pan di mana tampak Datuk Wahing, Dayang Sepuh, serta Gendeng Panuntun.

“Hem.... Yang sempat ku kenali cuma Datuk Wahing di antara ketiga orang itu. Tapi melihat sikapnya, si nenek dan kakek bertubuh gemuk itu adalah sahabat Datuk Wahing. Hem... Urusanku hanya mencari Pitaloka dan membawanya menghadap Eyang Guru. Sekarang dia telah kutemukan. Aku tak ingin terlibat da-llam urusan di sini!”

Berpikir begitu, akhirnya Putri Kayangan berbisik pada Pitaloka. “Kita harus segera pergi!”

“Kau telah dengar ucapanku. Aku tak akan pergi tanpa pedang itu!” Pitaloka menyahut.

“Kau tahu siapa yang tengah kau hadapi?”

“Persetan siapa mereka! Setan sekalipun aku tidak takut! Kau tahu, pedang yang menancap di tanah itu adalah senjata pusaka! Pedang Tumpul 131 milik Pendekar 131 Joko Sableng!”

Paras wajah Putri Kayangan tiba-tiba bersemu merah. Lalu cepat-cepat berpaling ketika Pitaloka menoleh. Namun Pitaloka masih sempat melihat perubahan pada raut muka saudara kembarnya.

“Wajahmu berubah. Ada apa?! Kau mengenal Pendekar 131!”

“Pitaloka.... Waktu kita tidak banyak! Kita harus segera tinggalkan tempat ini!” seraya berkata Putri Kayangan tarik lengan Pitaloka.

Namun Pitaloka segera tepiskan tangan Putri Kayangan. “Kau saudaraku. Tapi bukan berarti kau bisa memaksakan kehendakmu atas diriku! Aku tanya. Kau hendak mengajakku ke mana?!”

“Pitaloka.... Eyang Guru memerintahkan ku untuk menjemput dan membawamu menghadap!”

Tampang Pitaloka berubah berang. “Sudah kuduga!” desisnya dingin. “Beda Kumala! Urusanku belum selesai. Kau tak usah menjemputku. Begitu urusanku selesai, aku akan datang sendiri menghadap Eyang Guru...!”

Putri Kayangan gelengkan kepala. “Kau terlibat dalam urusan yang tak akan pernah ada selesainya, Pitaloka! Dan kalaupun kau ingin tuntaskan urusanmu, kuharap kau penuhi dahulu permintaan Eyang Guru...”

“Tidak! Aku akan selesaikan dahulu urusanku!”

“Pitaloka...! Kuharap kau mengerti. Untuk sekali ini penuhi dahulu permintaan Eyang Guru. Setelah itu terserah kau!”

Pitaloka mendengus marah. “Sekali aku bilang tidak, tidak! Dan cepat angkat kaki dari sini!”

Putri Kayangan lagi-lagi masih sunggingkan senyum sembari berujar kalem. “Pitaloka. Aku tidak akan tinggalkan tempat ini tanpa mu! Dan harap kau mengerti. Kali ini urusannya bukan lagi masalah saudara. Tapi kita berdua sebagai murid dari seorang guru!”

“Hem.... Begitu?! Kalau aku tak mau, kau mau apa?!” Pitaloka menantang.

Putri Kayangan geleng kepala. “Pitaloka. Aku tak bisa memberi jawaban apa-apa atas pertanyaanmu! Yang pasti aku harus membawamu pada Eyang Guru!”

“Beda Kumala! Simpan dulu keinginanmu! Dan kalau kau menganggap urusan ini sebagai urusan antara murid, hanya ada dua pilihan antara kita. Kau yang menghadap Eyang Guru dengan membawa mayatku, atau kau tak akan pernah menghadap Eyang Guru untuk selamanya!”

“Pitaloka....”

“Cukup!” tukas Pitaloka. “Urusan kita akan kita selesaikan setelah aku tuntaskan persoalan di sini!”

Walau hatinya mulai panas, namun Putri Kayangan masih coba tersenyum dan berkata. “Kau sadar siapa yang sedang kau hadapi saat ini, Pitaloka?! Kembang Darah Setan bukan benda sembarangan! Belum lagi dia memiliki ilmu aneh dengan tanpa bisa dikenali siapa sosok orang di balik jubahnya!”

Saking jengkelnya Pitaloka menyahut. “Biar dia punya seribu Kembang Darah Setan dan memiliki seribu ilmu aneh. Tapi dia tidak akan punya dua nyawa!”

Putri Kayangan hendak buka mulut lagi. Tapi sebe-llum suaranya terdengar, tiba-tiba di seberang sana Dayang Sepuh telah berteriak.

“Hai, Gadis-gadis Setan! Di sini bukan tempatnya ngobrol! Minggat jauh-jauh dari sini dan cari tempat yang enak kalau ingin adu mulut!”

Pitaloka dan Putri Kayangan sama menoleh. Diam-diam Pitaloka membatin dalam hati. “Nenek aneh.... Dia tadi menolongku dengan memotong pukulan Kembang Darah Setan! Hem.... Sekarang aku tidak akan tinggalkan tempat ini! Siapa pun nenek itu adanya serta dua sahabatnya, yang pasti dia tidak akan membiarkan aku celaka! Aku tak peduli apa maksud mereka menolongku! Yang jelas setidaknya aku baru akan tinggalkan tempat ini dengan Pedang Tumpul 131!”

Niat semula Pitaloka yang hendak menyelamatkan diri tiba-tiba berubah begitu menangkap gelagat jika sebagian orang di situ tidak akan tinggal diam seandainya terjadi bentrok antara dia dengan sosok di balik Jubah Tanpa Jasad. Kalau Pitaloka membatin begitu, diam-diam Putri Kayangan juga berkata sendiri dalam hati.

“Kalau dia tidak mau kuajak dengan baik-baik, terpaksa aku mengajaknya dengan sedikit kasar! Tempat ini sangat berbahaya. Keselamatannya harus ku jaga sampai dihadapan Eyang Guru...”

Sementara mendapati dua gadis berbaju merah belum juga beranjak dari tempatnya, Dayang Sepuh makin jengkel. Sekali lagi dia berteriak dengan keras. “Gadis-gadis setan! Kalau kalian....”

Dayang Sepuh putuskan teriakannya. Mulutnya terkancing rapat. Matanya mendelik besar tatkala sekonyong-konyong dia melihat bagaimana Jubah Tanpa Jasad bergerak memutar menghadap ke arahnya. Dan bersamaan dengan itu Kembang Darah Setan berkelebat.

Wuusss!

Kiblatan tiga sinar berwarna merah, hitam, dan putih menderu dahsyat. Bukan itu saja. Begitu sinar tiga warna telah melesat, Kembang Darah Setan kembali bergerak ke belakang. Kejap lain kembali berkelebat. Hingga untuk kedua kalinya terlihat lagi kiblatan melesatnya tiga sinar tiga warna menyusuli sinar yang pertama!

Dayang Sepuh menggerendeng tak karuan. Namun bersamaan itu dia melompat ke arah samping. Lututnya ditekuk sedikit. Sepasang matanya dipejamkan. Kedua tangannya ditakupkan di depan kening. Lalu perlahan-lahan kedua tangannya dibuka dan didorong ke depan dengan pelan.

Wusss! Wusss!

Dari kedua telapak tangan Dayang Sepuh menyembur jilatan api. Jilatan api itu mula-mula melarik lurus. Setengah jalan mendadak larikan jilatan api mengembang datar dan saat lain telah menyungkup tempat Itu! Hingga untuk beberapa saat udara di tempat itu laksana tenggelam dalam lautan api!

Hampir bersamaan dengan bergeraknya kedua tangan Dayang Sepuh, terdengar suara bersinan tiga kali. Lalu dua gelombang luar biasa dahsyat menggebrak dari kedua tangan Datuk Wahing. Hebatnya, gelombang itu perdengarkan deruan yang seolah diperden- garkan dari delapan penjuru mata angin! Anehnya, deruan itu terus memantul tiada hentinya! Datuk Wahing tampaknya telah melepas jurus ‘Pantulan Tabir’. Ilmu warisan dari Nyai Suri Agung nenek Setan Liang Makam dari KampungSetan.

Mungkin merasa sinar yang melesat dari Kembang Darah Setan sangat berbahaya, begitu Datuk Wahing perdengarkan bersinan, di sampingnya Gendeng Panuntun gerakkan tangan kiri kanan mengusap cermin bulat di depan perutnya.

Blapp! Blaapp!

Dua cahaya putih terang mencuat laksana kilat. Begitu cepat lesatan cahaya putih dari cermin kakek tambun itu, cahaya putih itu berkiblat mendahului jilatan api dari kedua telapak tangan Dayang Sepuh! Hingga kiblatan sinar tiga warna yang datang pertama kali bukannya disongsong oleh jilatan kobaran api, melainkan oleh cahaya putih terang.

Blaarr!

Dentuman menggelegar mengguncang tempat itu. Dan gelegar belum sirna, kembali terdengar dentuman luar biasa kala sinar tiga warna yang kedua menghantam kobaran api! Cahaya putih dan sinar tiga warna yang menimbulkan ledakan pertama sama muncrat ke udara setinggi delapan tombak. Disusul dengan berhamburnya jilatan api ke udara dan pecahnya sinar tiga warna. Hebatnya pecahan sinar tiga warna masih mampu menerobos pekatnya suasana dan menerabas langsung ke arah Dayang Sepuh!

Namun terabasan pecahan sinar tiga warna tidak berlangsung lama. Karena begitu melesat ke arah Dayang Sepuh, gelombang yang perdengarkan deru pantul memantul sudah menggebrak menghadang! Hadangan gelombang yang terus memantul yang bukan lain dilepas oleh Datuk Wahing serta-merta timbulkan letupan-letupan. Hingga gelegar kedua belum lenyap, tempat itu kembali telah diguncang dengan letupan-letupan keras beberapa kali!

Guncangan dahsyat mau tak mau membuat tempat itu bergetar hebat. Hal ini membuat Pedang Tumpul 131 yang masih menancap di atas tanah bergerak pulang balik dengan keras. Gerakan pedang sakti itu perdengarkan deruan luar biasa dan lesatkan cahaya kekuningan yang membawa gelombang serta hawa panas menyengat!

Hadangan yang dilakukan Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun membuat sosok Kiai Laras mencelat tiga kali dan jatuh terkapar di atas tanah setelah menghantam satu batangan pohon hingga berderak tumbang.

Namun Kiai Laras seolah tidak merasakan pukulan berat. Kalaupun dia mengeluh dan berseru tertahan, itu pada saat sosoknya menghantam batangan pohon yang membuat tubuhnya terhenti. Orang tua itu merasakan ada tabir penghalang di hadapannya saat lesatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan dihadang orang. Hingga begitu sosoknya terkapar, dia bisa segera kuasai diri dan bergerak bangkit. Dia hanya merasakan sedikit sesak pada dadanya. Lalu tangan kanannya yang memegang Kembang Darah Setan terasa ngilu. Selebihnya, dia tidak mengalami cedera!

Sementara di depan sana, begitu cahaya putih dari cerminnya menghadang sinar tiga warna, sosok Gendeng Panuntun bergoyang-goyang keras. Saat lain sosok tambun kakek ini tersapu satu tombak ke belakang. Namun posisinya belum juga berubah. Tetap duduk di atas tanah meski paras wajahnya berubah dan sepasang mata putihnya mengerjap beberapa kali.

Di sebelah sampingnya, begitu ledakan kedua terdengar, sosok Dayang Sepuh terhuyung sampai satu tombak. Sebelum tubuhnya jatuh, si nenek cepat tekuk kedua lututnya lalu jatuhkan diri duduk berlutut dengan kedua tangan segera ditarik dan dirangkapkan di depan dada. Sepasang matanya makin dipejamkan dan mulutnya berkemik.

Si nenek berusaha kuasai diri dan mengatur jalan darahnya yang terasa menyentak-nyentak. Untuk beberapa lama sosoknya bergetar keras. Kelabangan rambutnya tergerai lepas dan tampak berkibar-kibar. Bedak putih tebal pada raut mukanya perlahan-lahan luntur oleh keringat yang membanjir. Hingga dalam beberapa saat terlihat mukanya yang tadi putih beru- bah menjadi hitam legam! Bibirnya yang tadi dipoles warna merah belepotan luntur di sekitar mulutnya. Hingga paras nenek ini berubah makin menakutkan!

Sedangkan Datuk Wahing tampak terseret lima langkah namun posisinya tetap duduk bersimpuh. Walau paras mukanya berubah dan sosoknya bergetar, tapi kakek ini dalam beberapa saat sudah gerakkan kepala pulang balik ke depan ke belakang lalu perdengarkan bersinan beberapa kali!

Di lain pihak, meski Pitaloka dan Putri Kayangan, serta Setan Liang Makam tidak terlibat dalam bentrok pukulan, namun bias beradunya beberapa pukulan membuat sosok masing-masing orang ini terdorong deras ke belakang. Seandainya mereka tidak segera kuasai diri dengan kerahkan tenaga dalam, niscaya mereka akan jatuh terjengkang di atas tanah!

Kiai Laras yang sudah tegak dan kuasai diri pertama kali segera hadapkan tubuh pada Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun. Kalau tadi dia masih bimbang dalam menghadapi ketiga orang itu, setelah tahu apa yang baru saja terjadi, kebimban- gan sang Kiai sirna. Dia kini yakin akan kekuatan di tangannya. Hingga seraya hadapkan tubuh, kedua tangannya diangkat diletakkan pada pinggang kanan kirinya. Namun karena semua orang di tempat itu tidak bisa melihat pada sosoknya, mereka hanya bisa melihat pada gerakan Jubah Tanpa Jasad yang terangkat sedikit pada bagian lengan kanan kirinya.

“Kalian bertiga!” seru Kiai Laras lantang. “Hanya satu jalan yang akan menyelamatkan nyawa kalian masing-masing!” Kiai Laras tertawa pendek dahulu lalu melanjutkan. “Mendekatlah kemari dengan merangkak dan bersuaralah seperti gonggongan anjing! Lalu berlututlah dihadapanku!”

Dayang Sepuh mendengus. Sepasang matanya dibuka lalu bangkit berdiri dengan kedua tangan masih merangkap di depan dada. Sebelum nenek ini bersuara, Datuk Wahing telah perdengarkan bersinan dua kali lalu angkat bicara.

“Sahabat sekalian.... Apa kita harus melakukan perintah mengherankan itu?!”

“Ah.... Mungkin perintah itu hanya bercanda...,” Gendeng Panuntun menyahut.

“Bercanda atau tidak, tapi mulut setan itu sudah terlalu!” Dayang Sepuh menimpali dengan pasang tampang garang.

Saat orang lain adu mulut, diam-diam Setan Liang Makam yang sedari tadi hanya diam kerahkan segenap tenaga dalamnya. Walau dia telah tahu bagaimana kedahsyatan Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad, namun cucu Nyai Suri Agung ini seakan tidak ambil peduli. Yang tertanam dalam benaknya adalah bagaimana caranya bisa mengambil kembali dua senjata pusaka milik leluhurnya itu. Tapi Setan Liang Makam tidak bodoh apalagi bertindak ayal. Dia menunggu kesempatan baik. Dan begitu melihat orang sedang adu mulut, dirasa itulah kesempatan yang harus tidak disia-siakan. Maka laki-laki ini segera kerahkan segenap tenaga dalamnya. Kejap lain dia melesat ke arah Kiai Laras. Kedua tangannya disentakkan.

Wuutt! Wuutt!

Dua gelombang dahsyat yang disertai hamparan warna hitam menggidikkan menderu ganas ke arah Kiai Laras. Kiai Laras tersentak kaget. Namun kepercayaan diri membuat laki-laki ini segera dapat kuasai rasa kejutnya. Bahkan kini menghadapi pukulan lawan dengan tertawa bergelak panjang! Bersamaan itu tangan kanannya yang memegang Kembang Darah Setan dikelebatkan seraya menyingkir ke samping dengan melompat.

Setan Liang Makam kini balik tersentak. Dia sama sekali tidak menduga jika gerakan lawan begitu cepat. Dia tadi sudah mengukur jarak. Dan yakin kalau orang yang dihantamnya tidak mungkin lagi punya kesempatan untuk laksanakan hadangan pukulan.

Blaarr!

Dua gelombang yang menderu ke arah Kiai Laras semburat berantakan. Kiai Laras terhuyung-huyung tapi tidak sampai jatuh. Di lain pihak, Setan Liang Makam langsung terjerembab di atas tanah dengan mulut keluarkan darah.

Sementara sebelum Kiai Laras kelebatkan Kembang Darah Setan, Pitaloka yang secara diam-diam juga menunggu kesempatan tidak mau lagi mengulangi kesalahan. Dia kini tidak mau menunggu sampai terjadi bentrok pukulan yang mengakibatkan Pedang Tumpul 131 sukar didekati. Hingga begitu Kembang Darah Setan berkelebat menghadang pukulan Setan Liang Makam, Pitaloka cepat berkelebat ke arah Pedang Tumpul 131!

“Pitaloka! Jangan lakukan itu!” Putri Kayangan berteriak mencegah. Namun terlambat.

Pitaloka teruskan kelebatannya. Sejengkal lagi tangan Pitaloka menyentuh Pedang Tumpul 131, tiba-tiba dari arah samping satu sambaran angin menggebrak. Pitaloka berseru tertahan. Kedua tangannya segera ditarik lalu disentakkan menghadang gebrakan angin. Namun datangnya gerakan angin lebih cepat dari sentakan kedua tangan si gadis. Hingga tanpa ampun lagi sosok Pitaloka tersapu mental ke belakang. Saat itulah satu bayangan putih melesat ke arah Pedang Tumpul 131.

EMPAT

BEGITU sosok Pitaloka yang tersapuhendak menghantam tanah, ledakan keras akibat benturan pukulan Setan Liang Makam dan Kembang Darah Setan terjadi. Hingga sosok Pitaloka kembali terpental. Putri Kayangan pentangkan mata memperhatikan arah mentalan sosok Pitaloka. Lalu melesat dan menyambar tubuh saudara kembarnya tanpa menunggu sosok Pitaloka melayang jauh kebawah.

Kiai Laras tampaknya dapat menangkap gelagat apa yang baru saja dilakukan Pitaloka. Hingga begitu dapat kuasai diri, dia cepat putar tubuh. Mendadak orang ini bantingkan kaki dengan mulut perdengarkan makian. Matanya membelalak ke tempat di mana tadi Pedang Tumpul 131 menancap. Ternyata pedang itu sudah lenyap!

Kiai Laras angkat sedikit mukanya yang berubah garang. Matanya makin membeliak tak berkesip. Sosoknya bergetar tanda hawa amarahnya telah menggelegak ketika melihat satu sosok tubuh berpakaian putih tegak di depan sana dan tengah memperhatikan Pedang Tumpul 131 yang ada ditangan kanannya.

“Pendekar 131!” seru Pitaloka dan Putri Kayangan hampir berbarengan ketika turun di atas tanah dan matanya melihat seorang pemuda berwajah tampan berambut panjang sedikit acak-acakan yang tengah memperhatikan pedang di tangan kanannya.

“Hem.... Untung tidak dipalsu!” gumam si pemuda berpakaian putih yang tidak lain memang Pendekar 131 Joko Sableng. Tanpa acuhkan berpasang-pasang mata yang kini memandang ke arahnya, murid Pendeta Sinting arahkan pandang matanya menyusur tanah.

“Sarungnya ada di sana!” ujar Joko. Masih tanpa angkat kepala memandang siapa saja yang ada di tempat itu, dia melangkah ke arah sarung pedang yang tergeletak di atas tanah.

“Setan geblek! Apa dia tidak melihat ada setan dihadapannya?!” ujar Dayang Sepuh mendapati apa yang dilakukan murid Pendeta Sinting.

“Pendekar 131! Lihat ke depan!” Putri Kayangan mendadak berteriak tatkala melihat bagaimana Joko terus melangkah tanpa mengangkat kepala. Padahal lurus didepannya Kembang Darah Setan sudah bergerak terangkat ke atas.

Pendekar 131 berpaling ke arah suara yang baru terdengar. Sesaat sepasang matanya melebar menyipit perhatikan Pitaloka dan Putri Kayangan. “Kini baru aku merasa yakin kalau ada dua Putri Kayangan! Namun sulit bagiku mengatakan mana yang mengambil pedangku tempo hari!” kata Joko lalu anggukkan kepala dan berujar.

“Mau mengaku siapa di antara kalian yang mengambil milikku tempo hari?!”

Paras muka Pitaloka dan Putri Kayangan sama berubah. Sulit diartikan perubahan pada wajah keduanya. Namun sejauh ini kedua gadis yang sama berparas cantik ini tidak ada yang buka mulut menjawab pertanyaan murid Pendeta Sinting. Sebaliknya mereka berdua sama saling pandang.

“Sebelum kudapatkan kembali pedangku, rasanya tanganku sudah gatal hendak menggebuk jika kutemukan. Tapi begitu benar-benar bertemu, rasanya tanganku tak kuasa melakukannya! Nyatanya perempuan cantik bukan hanya menambah persoalan, tapi juga dapat merubah niat!” kata Joko dalam hati. Lalu berpaling lagi ke depan.

Saat itulah matanya melihat jubah hitam serta Kembang Darah Setan yang terapung di atas udara. Murid Pendeta Sinting melongo dengan mata mendelik. Tangan kirinya berulang kali diusap-usapkan pada matanya. Lalu kepalanya disorongkan kedepan.

“Setan atau apa ini?!” gumamnya dalam hati. Tanpa sadar kedua kakinya bergerak. Bukan melangkah mundur melainkan maju! Namun begitu sadar, kembali kakinya mundur ke tempat semula. Belum lenyap rasa kaget Pendekar 131, di depan sana Datuk Wahing telah perdengarkan bersinan dua kali. Lalu disusul dengan ucapan.

“Harap tidak merasa heran dan ingat akan keteranganku, Anak Muda!”

“Datuk Wahing!” seru Joko lalu alihkan pandang matanya. Ketika dilihatnya si kakek memandang ke arahnya, Joko menjura hormat. Mata murid Pendeta Sinting terus melebar ke samping. Saat menumbuk sosok Dayang Sepuh, kembali Joko menjura seraya berucap. “Nenek Dayang Sepuh....”

Dayang Sepuh mendelik. Lalu menukas ucapan Joko. “Dasar setan! Sudah berkali-kali ku ingatkan, tapi kau tidak mau mengerti juga!”

Joko buru-buru sadar. Kembali dia mengulangi menjura seraya berkata. “Bibi nan Cantik, Dayang Sepuh...!”

Mata Dayang Sepuh terpejam-pejam dengan bibir tersenyum. Lalu rapikan geraian poni rambutnya yang tadi bersibakan. Rambutnya yang kini terlepas bergerai cepat-cepat disanggul sekenanya. Bajunya yang cingkrang sedikit ditarik-tarik ke bawah.

Pendekar 131 segera alihkan pandang matanya, takut kalau si nenek tahu jika dia sedang menahan tawa. Ketika matanya melihat sosok Gendeng Panuntun, kembali Joko membuat gerakan menjura. Namun kali ini sebelum sempat bersuara, Gendeng Panuntun sudah mendahului.

“Selamat jumpa lagi, Anak Muda... Bagaimana kabar gadis-gadismu?!”

Pendekar 131 sudah hendak menjawab. Namun mendengar lanjutan ucapan Gendeng Panuntun, dia jadi kancingkan mulut. Sebaliknya hanya menjawab dalam hati. “Urusannya jadi repot kalau menghadapi orang-orang begini....”

Di antara semua orang di situ, yang paling terkejut dengan kemunculan murid Pendeta Sinting adalah Setan Liang Makam. Hingga meski masih merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, laksana terbang dia beranjak bangkit. Seraya mengusap kucuran darah pada mulutnya, sepasang matanya mendelik.

“Pendekar 131 Joko Sableng! Bagaimana bisa begini?! Lalu siapa sebenarnya pemegang Kembang Darah Setan dan pemakai Jubah Tanpa Jasad itu?!”

Selagi Setan Liang Makam menduga-duga, murid Pendeta Sinting tepat sedang memandang ke arahnya. Kembali Joko terkesiap kaget. “Dugaan Datuk Wahing tepat.... Setan Liang Makam masih hidup! Dan jubah hitam yang mengapung di udara itu pastilah yang disebut-sebutnya Jubah Tanpa Jasad! Sebuah jubah yang bila dikenakan, maka sosok si pemakai tidak akan kelihatan! Mungkin saat inilah waktunya mengetahui siapa gerangan di balik peristiwa ini! Dan kepastian itu akan terbukti dengan jalan mengenali siapa sebenarnya sosok tak kelihatan di balik Jubah Tanpa Jasad itu!”

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting segera alihkan pandang matanya pada Jubah Tanpa Jasad dan berkata. “Siapa kau sebenarnya?! Mengapa hal ini kau lakukan dengan melibatkan diriku yang tak tahu apa-apa?!”

Untuk kesekian kalinya Kiai Laras terkejut. “Aneh.... Rupanya ada yang tak beres begitu aku mengenakan jubah ini! Semua orang seakan tidak mengenaliku! Padahal aku yakin pasti dia tidak akan lupa pada wajahku! Hem.... Keanehan apa sebenarnya ini?! Kalau benar mereka sekarang tidak bisa mengenaliku, itu akan lebih baik! Mereka akan kubuat penasaran sampai masuk liang neraka! Ha Ha Ha...!” Kiai Laras tertawa dalam hati.

Namun seakan belum percaya pada diri sendiri, Kiai Laras angkat tangan kirinya lalu mengusap-usap pada wajahnya. Kepalanya pun bergerak memperhatikan dirinya sendiri. “Tidak ada yang berubah...,” gumamnya masih merasa aneh. “Tapi persetan dengan semua itu! Mereka mengenaliku atau tidak, yang jelas mereka harus mampus saat ini juga!”

Mendapati pertanyaannya tidak dijawab orang, malah terlihat gerakan-gerakan pada Jubah Tanpa Jasad, Joko waspada dan cepat kerahkan tenaga dalam pada tangannya. Lalu kembali berkata. “Kau telah dengar pertanyaanku, harap suka menjawab!”

“Jawaban itu kelak akan kau peroleh di neraka!” Kiai Laras perdengarkan suara.

“Hem.... Aku sepertinya pernah mendengar suara orang ini! Berarti aku yakin mengenalnya, atau setidaknya pernah bicara dengannya!” Murid Pendeta Sinting dongakkan kepala seolah mengingat. Tapi tak lama kemudian dia geleng kepala. “Mengenali orang lewat suaranya sulit. Ah, bukankah Kakek Gendeng Panuntun ada di sana. Kurasa dia bisa mengetahui....”

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting segera saja berkelebat. Dan tahu-tahu sosoknya telah tegak di samping Gendeng Panuntun. Namun begitu Joko tegak, Gendeng Panuntun sudah gerakkan kepala menggeleng seraya berkata.

“Jangan tanya padaku, Anak Muda....”

Joko menghela napas lalu berpaling pada Datuk Wahing. Lagi-lagi sebelum Joko sempat angkat suara, Datuk Wahing telah bersin dua kali sembari berucap. “Adalah satu hal yang mengherankan kalau aku lebih tahu dari dia!” Tangan kanan Datuk Wahing menunjuk pada Gendeng Panuntun.

Kini murid Pendeta Sinting alihkan pandangannya pada Dayang Sepuh. Si nenek sudah tersenyum dahulu lalu berkata. “Yang jelas dia adalah seorang laki-laki! Soal siapa orangnya, bisa kau tanyakan pada setan gentayangan!”

Walau sudah merasa pasti tidak tahu juga, tapi murid Pendeta Sinting coba arahkan pandangannya pada Pitaloka dan Putri Kayangan. Yang dipandang sama saling pandang satu sama lain. Lalu Pitaloka berpaling pada jurusan lain. Sementara Putri Kayangan gelengkan kepala dengan raut bersemu merah.

“Aku masih sulit mengenali. Siapa yang menggeleng dan siapa yang berpaling!” gumam murid Pendeta Sinting.

Di lain pihak, begitu mendapati apa yang dilakukan Pendekar 131, Kiai Laras makin yakin jika semua orang di tempat itu tidak bisa mengetahui siapa dia sebenarnya. Maka saat itu juga dia berkata dengan kepala mendongak.

“Dengar semua! Agar kalian tidak mati penasaran, akan kukatakan siapa aku!”

Tempat itu seketika hening. Semua orang sama arahkan mata pada Jubah Tanpa Jasad kecuali Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. Datuk Wahing tetap gerakkan kepala pulang balik ke depan ke belakang dengan mimik orang hendak bersin, sedang Gendeng Panuntun pejamkan matanya yang putih sambil tengadah. Tangan kiri kanannya bergantian mengusap cermin bulat pada depan perutnya.

“Aku adalah Penguasa Kampung Setan!” Kiai Laras lanjutkan ucapan. “Dan sejak hari ini semua orang harus tunduk di bawah telapak kakiku!” Sesaat Kiai Laras hentikan ucapannya dengan kepala digerakkan menyapu ke seantero tempat itu. Seraya sunggingkan senyum laki-laki ini lanjutkan ucapannya. “Ini memang bukan paksaan, tapi siapa yang membangkang maka takdirnya buruk!”

“Siapa percaya!” Tiba-tiba satu suara menyahut. Ternyata yang bersuara adalah Setan Liang Makam. “Akulah Penguasa Kampung Setan! Aku generasi terakhir Kampung Setan!”

Kiai Laras tidak berpaling pada Setan Liang Makam meski dia segera menyahut. “Hem... Begitu?! Mau tunjukkan padaku kalau ucapanmu tadi bisa dipercaya?!”

Setan Liang Makam terdiam. Namun tak lama kemudian sudah buka suara. “Hanya karena kelicikanmu, lambang Kampung Setan lepas dari tanganku!”

Kiai Laras tertawa. “Itu bukan jawaban pertanyaanku, Manusia Setan! Aku tanya tunjukkan kalau kau Penguasa Kampung Setan!”

Dada Setan Liang Makam laksana meledak saking geramnya. Namun laki-laki cucu Nyai Suri Agung ini hanya bisa diam, membuat Kiai Laras berucap lagi.

“Kau mengaku sebagai Penguasa Kampung Setan. Tapi tidak dapat tunjukkan bukti ucapanmu! Sekarang aku tanya padamu. Apa kau ingin bukti kalau akulah Penguasa Kampung Setan?!”

Setan Liang Makam lagi-lagi tidak menjawab. Kiai Laras tertawa ngakak. “Bertahun-tahun Kampung Setan menjadi legenda karena kesaktian penguasanya. Adalah manusia dungu kalau mengaku sebagai Penguasa Kampung Setan dengan bekal ilmu sejengkal!”

Kini Kiai Laras putar tubuh menghadap Setan Liang Makam. “Aku tanya sekali lagi.... Kau ingin bukti dariku bahwa akulah sang Penguasa Kampung Setan?!” seraya berkata begitu Kiai Laras mengangkat Kembang Darah Setan di tangan kanannya.

Setan Liang Makam tercekat. Mulutnya terkancing. Cucu Nyai Suri Agung ini sudah merasa tidak akan mampu menahan jika sosok di balik Jubah Tanpa Jasad benar-benar hantamkan Kembang Darah Setan. Selain dirinya telah terluka dalam, kesaktian Jubah Tanpa Jasad akan membuatnya sia-sia melakukan pukulan. Namun Kiai Laras perlahan-lahan turunkan Kembang Darah Setan. Lalu berkata.

“Membunuhmu semudah ini!” Semua orang yang memandang melihat percikan air mencuat dari bagian atas Jubah Tanpa Jasad. Jelas kalau semua orang tidak bisa melihat sosok di balik jubah, namun mereka bisa memastikan jika cuatan air itu adalah air ludah!

“Namun sebagai penguasa, aku tidak akan mudah turunkan tangan maut! Asal kau segera lakukan apa yang kuperintahkan! Kau dengar, Manusia Setan?!”

Dada Setan Liang Makam makin bergemuruh. Namun maklum akan posisinya, cucu dari Nyai Suri Agung ini hanya bisa memandang tanpa menyahut.

“Manusia setan! Merangkaklah ke hadapanku dengan mengembik! Tirukan suara kambing keras-keras lalu berlutut di hadapanku!”

Setan Liang Makam laksana disambar petir. Sosoknya yang hanya merupakan susunan kerangka bergetar keras. Tulang sekujur wajahnya bergerak-gerak.

“Aku tak akan mengulangi perintah! Lakukan sekarang! Cepat!” Kiai Laras membentak.

Saat yang sama Kembang Darah Setan kembali diangkat. Setan Liang Makam menghela napas dalam. Entah apa pertimbangannya, perlahan-lahan laki-laki ini tekuk kedua lututnya lalu duduk bersimpuh di atas tanah. Sepasang matanya terus memperhatikan pada Kembang Darah Setan. Dan begitu melihat Kembang Darah Setan hendak berkelebat, dia cepat tarik tubuhnya ke depan membuat gerakan menungging!

“Jangan membuat kesabaranku habis! Tirukan suara kambing dan merangkak ke hadapanku!” Kiai Laras menghardik.

Dengan dada di buncah perasaan tak karuan, Setan Liang Makam buka mulut. Lalu terdengarlah cucu Nyai Suri Agung ini perdengarkan suara kambing seraya merangkak!

“Kau laki-laki, Manusia Setan! Jangan bersuara seperti perempuan! Yang keras!” bentak Kiai Laras ketika didengarnya suara Setan Liang Makam sangat pelan.

“Kau akan rasakan batasanku nanti, Jahanam Bangsat! Saat ini kau menang! Tapi itu hanya untuk sementara! Kau nanti akan merasakan lebih dari semua ini!” Setan Liang Makam memaki dalam hati. Dan dengan menindih segala perasaan serta tabahkan hati, akhirnya dia tirukan suara kambing dengan keras-keras.

“Bagus! Bagus!” Kiai Laras anggukkan kepala berulang kali lalu tertawa ngakak. Sementara sepasang matanya melirik pada Dayang Sepuh, Datuk Wahing, Gendeng Panuntun, serta Pendekar 131. “Kalian juga akan melakukan hal yang sama!”

Saat itulah mendadak ekor mata Kiai Laras menangkap berkelebatnya satu bayangan. Laksana disentak setan, kepala Kiai Laras cepat berpaling. “Kau datang pada saat yang salah!” desis Kiai Laras. Lalu alihkan pandangannya. Bersamaan dengan itu satu sosok tubuh berkelebat dan tegak tidak jauh dari tempat berdirinya Pitaloka dan Putri Kayangan.

LIMA

DIA adalah seorang laki-laki berusia lanjut mengenakan pakaian warna putih. Rambutnya putih panjang. Sepasang matanya sedikit sayu. Pada cuping hidungnya melingkar sebuah anting-anting.

“Kiai Laras.... Atau Kiai Lidah Wetan?!” Pendekar 131 bergumam sendiri. Lalu perhatikan orang yang baru muncul sekali lagi. “Yang ini pasti Kiai Lidah Wetan!” Murid Pendeta Sinting meyakinkan. Lalu perlahan-lahan Pedang Tumpul 131 dimasukkan ke balik pakaiannya dengan hati-hati karena pedang itu tanpa sarung.

“Kurasa ada seorang sahabat yang baru muncul...,” Gendeng Panuntun angkat suara.

“Bruss! Kuharap kehadirannya tidak menambah suasana heran di tempat ini!” Datuk Wahing menyahut.

Dayang Sepuh yang tegak tidak jauh dari murid Pendeta Sinting tidak buka mulut. Dia hanya memandang sekilas lalu melangkah ke arah Gendeng Panuntun. Di seberang sana, Pitaloka dan Putri Kayangan sempat terkejut dengan kemunculan orang yang bukan lain memang Kiai Lidah Wetan adanya. Kedua gadis ini sejenak berpaling pada Kiai Lidah Wetan.

“Pitaloka.... Tempat ini makin tidak aman! Tidak tertutup kemungkinan sebentar lagi akan muncul orang baru! Kita sebaiknya segera pergi!” Putri Kayangan berbisik.

Pitaloka melotot pada saudara kembarnya. “Kalau kau takut, pergilah sendirian!”

“Aku bukannya takut.... Tapi ini demi perintah Eyang Guru! Lagi pula pedang itu sudah diambil pemiliknya!Tak ada lagi bukan urusannya ditempat ini?!”

Pitaloka tertawa pendek. “Bukan pedang itu yang kuinginkan! Tapi Kembang Darah Setan itu!”

“Pitaloka.... Kau boleh punya keinginan. Tapi kau harus ukur dahulu kemampuan! Kau tadi telah melihat bagaimana peristiwa di tempat ini!”

“Aku memang tidak punya kemampuan tinggi untuk mengalahkan mereka! Tapi aku punya cara untuk bisa mendapatkannya!”

“Tapi caramu salah...!”

Pitaloka angkat tangannya. Telunjuk jarinya diluruskan ke arah wajah Putri Kayangan. “Kau tidak berhak menilai caraku! Kau dengar itu?!”

“Tapi apa yang kau lakukan setidaknya membuat aku ikut terlibat! Orang yang tidak tahu pasti menduga akulah yang melakukannya!”

“Persetan dengan semua itu! Yang penting aku tidak melibatkan dirimu! Hanya orang tolol dan buta yang tidak bisa membedakan!”

“Pitaloka! Jangan membuatku melakukan perintah Eyang Guru dengan caraku sendiri!” Putri Kayangan membentak dengan suara keras.

“Tadi sudah kukatakan, kau mau apa kalau aku tidak mau turuti perintah, hah?!”

Putri Kayangan menghela napas panjang. Untuk beberapa saat dia edarkan pandang matanya menindih kegeraman yang mulai melanda dadanya. “Gadis-gadis setan!” gumam Dayang Sepuh. “Apa mereka kira ini tempat yang cocok untuk adu mulut!”

“Harap mengerti.... Sebagai orang muda jalan pikirannya tentu belum sepanjang apa yang kau pikirkan, Nek....” Gendeng Panuntun sambuti ucapan Dayang Sepuh.

“Kau tidak bisa melihat mereka! Jadi aku maklum kalau gadis-gadis segede setan itu masih kau katakan sebagai orang muda!”

Gendeng Panuntun tertawa seraya gelengkan kepala. “Aku memang tidak bisa melihat mereka. Tapi aku dapat merasakan dari ucapan-ucapan mereka!”

“Ah, persetan dengan semua itu!” sahut Dayang Sepuh. “Sekarang aku ingin tanya. Kau tahu siapa setan yang kau katakan sebagai sahabat dan tegak di depan sana itu?!” Dayang Sepuh arahkan pandangannya ke arah Kiai Lidah Wetan.

“Kau yang bisa melihat. Mengapa bertanya padaku?”

“Setan! Aku memang bisa melihat! Tapi aku tidak mengenalinya!”

“Kalau yang bisa melihat tidak dapat mengenali, apa berarti yang buta bisa mengenalinya?!”

“Kau benar-benar setan! Bukankah kau tadi sudah mengatakan setan yang baru datang itu adalah seorang sahabat! Berarti kau mengenalinya!”

“Aku hanya mengatakan sahabat. Jadi belum pasti aku mengenalinya. Karena semua orang kuanggap sebagai sahabat. Tidak terkecuali setan sekalipun....”

“Aku mengenal siapa dia, Bibi Cantik....” Joko ikut ambil suara. “Dia adalah Kiai Lidah Wetan.”

“Setan! Itu aku sudah tahu!”

“Lalu?!” Joko bertanya. “Siapa dia sebenarnya?!”

“Ah, kalau itu persoalannya, sebaiknya kita tanyakan saja padanya!”

Dayang Sepuh sudah hendak menghardik. Namun diurungkan ketika dari arah depan terdengar Kiai Laras angkat bicara. “Orang yang baru datang! Kau lihat apa yang terjadi di depanku! Sebelum kau nanti mengalami hal yang sama, kuperingatkan kau untuk segera angkat kaki darisini!”

Kiai Lidah Wetan terkejut. Laki-laki kakak kandung dari Kiai Laras ini sesaat tadi masih terkesima dengan pemandangan di hadapannya. Dia tak habis pikir bagaimana sebuah jubah menggantung tegak di udara. Dan dia pun makin terkesima melihat Kembang Darah Setan yang juga terapung di atas udara. Mula-mula Kiai Lidah Wetan menduga orang berjubah hitam adalah Setan Liang Makam. Namun begitu melihat Setan Liang Makam merangkak dan tadi perdengarkan suara kambing, orang ini jadi bertanyatanya dan makin heran.

Sementara melihat kemunculan orang, Setan Liang Makam hentikan rangkakannya. Mulutnya yang perdengarkan suara kambing pun dihentikan. Dia angkat kepalanya lalu memandang ke arah Kiai Lidah Wetan.

“Aku pernah melihat orang ini.... Tapi aku lupa di mana...,” kata Setan Liang Makam dalam hati. Lalu kembali tundukkan kepala.

“Mungkinkah orang yang baru bersuara tapi tidak kelihatan wujudnya tadi adalah Laras?!” Kiai Lidah Wetan menduga. “Suaranya memang hampir mirip. Tapi bagaimana mungkin?! Bukankah Kembang Darah Setan sudah diberikan pada Setan Liang Makam saat di teluk tempo hari?! Hem.... Apa sebenarnya yang telah terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan berantakannya tempat di Kampung Setan itu?!”

Seperti diketahui, Kiai Lidah Wetan dan Kiai Laras yang menyamar sebagai murid Pendeta Sinting datang ke teluk. Di sana Kiai Laras menyerahkan Kembang Darah Setan pada Setan Liang Makam. Lalu keduanya mengikuti jejak Setan Liang Makam yang ternyata menuju ke Kampung Setan. Kiai Lidah Wetan tidak tahu apa maksud Kiai Laras memberikan Kembang Darah Setan dan mengikuti jejak Setan Liang Makam.

Begitu meninggalkan Kampung Setan, di tengah jalan Kiai Lidah Wetan dan Kiai Laras berpencar. Karena mereka merasa diikuti orang yang ternyata adalah Kiai Tung-Tung alias Pendekar 131 Joko Sableng. Namun Kiai Lidah Wetan agak tidak beruntung, karena ternyata Kiai Tung-Tung mengejarnya. Sempat terjadi bentrok antara Kiai Lidah Wetan dan Kiai Tung-Tung. Maklum kalau lawan memiliki ilmu di atasnya, akhirnya Kiai Lidah Wetan melarikan diri. Kiai Tung-Tung mengejar. Saat itulah tiba-tiba ada seseorang yang lepaskan pukulan menghadang Kiai Tung-Tung hingga Kiai Lidah Wetan selamat.

Begitu bisa lolos dari kejaran orang, Kiai Lidah Wetan mulai berpikir apa yang baru saja dilakukan Kiai Laras. Akhirnya dia memutuskan untuk menyelidik ke Kampung Setan. Kiai Lidah Wetan sempat masuk ke Istana Sekar Jagat. Namun setelah agak lama berada di Istana Sekar Jagat, dia tidak menemukan siapa-siapa. Dia hanya bisa melihat porak-porandanya bangunan bagian atas yang berbentuk kerucut. Dan dia hanya bisa menduga jika tidak berselang lama telah terjadi bentrokan hebat di tempat itu. Namun sejauh ini dia tidak bisa menentukan siapa orangnya.

Pada akhirnya, Kiai Lidah Wetan keluar dari Kampung Setan dan berkelebat ke arah barat. Agak jauh meninggalkan Kampung Setan, tiba-tiba Kiai Lidah Wetan mendengar suara ledakan lalu ditingkah dengan terdengarnya gelakan tawa. Terakhir sayup-sayup telinganya mendengar suara kambing. Yang membuat Kiai Lidah Wetan memutuskan untuk melihat apa yang terjadi, suara kambing itu sangat keras dan terus menerus! Hingga tanpa pikir panjang lagi Kiai Lidah Wetan berkelebat kearah datangnya suara kambing.

“Baik! Kau tak mau mendengar peringatanku! Tunggulah di tempatmu sampai giliranmu sampai!” Kiai Laras buka suara lagi. Jubah Tanpa Jasad bergerak memutar menghadap Setan Liang Makam.

“Aku tak memerintah mu berhenti! Atau kau ingin mampus sekarang?!”

Hardikan Kiai Laras belum selesai, Setan Liang Makam telah bergerak merangkak lagi sambil buka mulut tirukan suara kambing. Kiai Laras kembali tertawa bergelak. “Bagus! Cukup!” kata Kiai Laras saat Setan Liang Makam berjarak lima langkah di hadapannya. “Sekarang berlutut dan tempelkan keningmu di atas tanah! Jangan berani angkat kepala sebelum aku perintah!”

Masih dengan sosok bergetar Setan Liang Makam lakukan yang dikatakan Kiai Laras. Kiai Laras makin keraskan gelakan tawanya. Tapi kali ini tiba-tiba dia putuskan tawanya. Jubah Tanpa Jasad memutar ke arah Pitaloka dan Putri Kayangan. Kedua gadis ini serentak tergagu. Tapi Putri Kayangan cepat berbisik.

“Masih ada kesempatan, Pitaloka!”

“Tidak! Kau saja yang tinggalkan tempat ini! Justru saat inilah yang kutunggu!” sahut Pitaloka.

“Kau jangan gila! Tak mungkin kita mampu!”

“Kau jangan mengukur segalanya dengan kemampuan! Tapi gunakan otak!”

Belum sampai Pitaloka selesai berucap, Putri Kayangan sudah menarik tangan saudara kembarnya. Tapi belum sempat Putri Kayangan bergerak lebih jauh, Kiai Laras telah angkat suara.

“Kalian berdua! Kuperintahkan kalian untuk mendekat dengan merangkak!”

Putri Kayangan tidak hiraukan ucapan Kiai Laras. Dia kembali menarik tangan Pitaloka. Namun Pitaloka segera sentakkan tangannya hingga tarikan Putri Kayangan lepas. Tanpa diduga-duga Pitaloka segera jatuhkan diri lalu merangkak kearah Kiai Laras.

“Pitaloka! Kau melakukan tindakan bodoh!” seraya berkata Putri Kayangan segera berkelebat ke depan. Kembali tangannya menarik tubuh Pitaloka.

“Setan! Apa yang ada dalam benak gadis setan itu?!” Dayang Sepuh sudah menggerendeng melihat apa yang dilakukan Pitaloka.

Di sebelahnya Datuk Wahing bersin-bersin beberapa kali. Gendeng Panuntun tengadahkan kepala. Sementara Pendekar 131 Joko Sableng hanya melihat dengan mulut terkancing. Baru saja tangan Putri Kayangan hendak menarik tubuh Pitaloka, tiba-tiba dari arah Jubah Tanpa Jasad menderu satu gelombang dahsyat. Putri Kayangan urungkan niat. Kedua tangannya ditarik pulang. Lalu disentakkan ke depan.

Blaamm!

Terdengar ledakan dahsyat. Sosok Putri Kayangan terjajar dua langkah. Pitaloka cepat selamatkan diri dengan jatuhkan diri berguling di atas tanah. Namun gadis ini cepat bangkit dan membuat gerakan merang- kak.

“Pitaloka! Kau membangkang perintah Eyang Guru, sebaliknya enak saja menuruti perintah orang! Daripada gagal membawamu ke hadapan Eyang Guru, lebih baik kau mati di tanganku!”

Baru saja Putri Kayangan berucap begitu, Pitaloka angkat tubuhnya. Kedua tangannya sekonyong-konyong didorong ke arah Putri Kayangan.

“Kau terlambat, Beda Kumala! Dan lebih dari itu kau selalu merecoki urusanku! Bukan aku yang mati di tanganmu, tapi kau yang akan mampus di tanganku!”

Satu gelombang angin deras menghantam ke arah Beda Kumala alias Putri Kayangan. Saat yang sama kembali dari arah Jubah Tanpa Jasad menggebrak deruan gelombang. Melihat hal ini murid Pendeta Sinting segera hendak melompat. Namun Datuk Wahing sudah perdengarkan bersinan dan berkata.

“Jangan melakukan tindakan yang mengherankan, Anak Muda! Sebaiknya kita tunggu dulu agar kita tahu mengapa gadis cantik itu melakukan hal yang mengherankan!”

“Dasar setan sableng! Kalau lihat gadis-gadis setan berantem, maunya nimbrung cari muka! Tapi kalau yang berantem nenek-nenek akan ngeloyor pergi!” Dayang Sepuh menyemprot tanpa menoleh pada murid Pendeta Sinting.

Di depan sana Putri Kayangan hendak menyingkir melihat Pitaloka lepaskan pukulan ke arahnya. Dia sebenarnya hendak menyingkir menghindar. Tapi begitu mendapati pukulan juga menderu dari Jubah Tanpa Jasad, Putri Kayangan urungkan niat. Sebaliknya cepat angkat kedua tangannya. Lalu disertai bentakan keras, kedua tangannya dihantamkan.

Untuk kedua kalinya kembali terdengar ledakan. Sosok Putri Kayangan terhuyung dua langkah ke belakang karena harus menghadang dua pukulan. Sementara Pitaloka hanya terjajar dua tindak. Di seberang depannya, Jubah Tanpa Jasad tidak bergeming dari tempatnya.

“Itu adalah peringatan kalau aku benar-benar tak segan membunuhmu jika kau menghalangi niatku!” Pitaloka berteriak lalu kembali bungkukkan tubuh membuat sikap merangkak.

“Bagus! Lakukan apa yang ku perintah, Anak Cantik!” kata Kiai Laras. “Untuk pembangkang itu biar ku tangani sendiri!”

Pitaloka berpaling sesaat pada Putri Kayangan. Lalu mulai merangkak ke arah Kiai Laras. Putri Kayangan hendak bergerak. Tapi dia urungkan tatkala matanya menangkap gerakan pada Kembang Darah Setan.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?! Tak mungkin aku mampu menghadapi Kembang Darah Setan! Pitaloka. Apa sebenarnya yang hendak kau lakukan?!”

Selagi Putri Kayangan membatin begitu, tiba-tiba Kiai Laras sudah menghardik. “Kau berlaku bodoh berani menentang perintah Penguasa Kampung Setan! Tapi aku masih memberimu kesempatan! Lakukan apa yang dilakukan temanmu itu!”

Putri Kayangan tercengang. Perlahan-lahan ekor matanya melirik jauh ke arah murid Pendeta Sinting. Saat lain gadis berparas cantik jelita ini balikkan tubuh dan hendak tinggalkan tempat itu. Kiai Laras tidak banyak bicara. Bersamaan dengan berputarnya sosok Putri Kayangan, tangan kanannya yang memegang Kembang Darah Setan segera dikelebatkan.

Wuutt!

Sinar tiga warna, merah, hitam, dan putih berkiblat ganas ke arah Putri Kayangan. Rupanya sang Putri telah waspada. Hingga dia cepat melompat jauh ke depan. Kejap lain seraya putar tubuh, kedua tangannya diangkat ditakupkan di depan dada.

Di seberang sana, melihat Putri Kayangan hanya takupkan kedua tangannya tanpa membuat gerakan apa-apa lagi, murid Pendeta Sinting segera berkelebat. Karena dia tahu bagaimana kedahsyatan Kembang Darah Setan, dia segera lepaskan pukulan ‘Lembur Kuning’!

ENAM

TEMPAT itu seketika berubah menjadi terang benderang diselimuti cahaya merah, hitam, dan putih serta kuning. Warna merah, hitam, dan putih mencuat dari Kembang Darah Setan di tangan Kiai Laras, sementara warna kuning berasal dari dorongan kedua tangan murid Pendeta Sinting.

Sepuluh jengkal lagi sinar dari Kembang Darah Setan bentrok dengan pukulan Pendekar 131, mendadak saja sosok Putri Kayangan laksana dibungkus cahaya warna merah berkilau. Kejap lain dari tubuh gadis cantik ini melesat kilauan warna merah lurus ke arah kiblatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan.

Terdengar benturan keras beberapa kali. Saat yang sama tempat itu laksana dihantam gempa raksasa serta petir maha dahsyat. Udara diterpa cahaya yang membuat semua mata terpejam karena silau. Hawa panas luar biasa menyengat tajam laksana matahari hanya beberapa tombak di atas hamparan bumi. Kejap lain terdengar ledakan keras menggelegar.

Sosok murid Pendeta Sinting yang melepas pukulan ‘Lembur Kuning’ dengan melompat di atas udara, tampak tersapu mental dan turun dari atas tanah dengan lutut menekuk terhuyung-huyung. Joko coba kuasai diri. Namun huyungan tubuhnya terlalu cepat. Hingga tanpa ampun lagi sosoknya melorot jatuh. Namun dua jengkal lagi pantatnya menghantam tanah, tiba-tiba terdengar bersinan dua kali.

Pendekar 131 rasakan ada desiran angin dari bawah pantatnya. Gerakan pantatnya terhenti malah terangkat! Dan saat lain sosok murid Pendeta Sinting telah tegak dengan kedua kaki laksana dipaku! Di seberang sana, sosok Putri Kayangan terjengkang. Saat tubuhnya hampir saja melabrak tanah, satu bayangan merah berkelebat dan langsung menyambar tubuh si gadis. Melayang beberapa tombak ke udara lalu menukik deras dan menjejak di atas tanah. Si bayangan turunkan sosok Putri Kayangan yang berada dipundaknya. Putri Kayangan cepat berpaling. Terlihat Dayang Sepuh cemberut dan berkata.

“Kau benar-benar gadis setan! Sudah kuperingatkan malah adu mulut disini!”

“Nek.... Terima kasih atas pertolonganmu! Kuharap kau mengerti. Bukannya aku tidak mau dengar perintahmu. Tapi aku harus pergi bersama saudaraku itu!”

“Saudaramu sudah kerasukan setan! Sekarang kau pergilah sendirian dari tempat ini!”

Putri Kayangan geleng kepala. “Aku baru tinggalkan tempat ini jika bersamanya! Aku tak akan menghadap Eyang Guru dengan tangan hampa....”

“Kalau itu keinginanmu, kau bukannya akan menghadap eyang gurumu dengan tangan hampa namun dengan tanpa nyawa!”

“Itu lebih baik daripada pulang dengan tidak bisa laksanakan tugas yang diberikan padaku...!”

“Setan keras kepala!” sentak Dayang Sepuh. “Bicara seenak perutnya sendiri! Harusnya kau berpikir. Untuk sementara tinggalkan tempat ini. Dan kau punya kesempatan untuk sadarkan saudaramu dari kesetanan!”

“Waktu hanya akan menambah saudaraku berbuat makin gila, Nek...!”

“Kalau begitu kau mampus saja!” seru Dayang Sepuh saking jengkelnya mendengar jawaban-jawaban Putri Kayangan.

“Nenek aneh.... Tapi aku tahu hatinya baik meski nada bicaranya kasar...,” kata Putri Kayangan dalam hati. “Nek....”

“Aku bukan nenekmu! Aku tak mau bicara dengan gadis setan sepertimu!”

Putri Kayangan kancingkan mulut dengan menghela napas panjang. Saat itulah ia baru merasakan dadanya sesak dan berdenyut nyeri. Mulutnya terasa hangat dan asin. Saat si gadis usapkan tangan pada mulutnya, ternyata mulutnya telah alirkan darah, pertanda bentroknya pukulan tadi telah membuatnya terluka dalam.

Sementara di depan sana, Kiai Laras tampak tegak dengan seringai buas. Sesaat tadi dia terhuyung namun tidak sampai terjatuh. Dia pun hanya merasakan sentakan pelan pada dadanya tatkala terjadi benturan antar pukulan. Hingga dia bukan saja tidak mengalami cedera, namun segera dapat kuasai diri.

Di hadapan Kiai Laras, Setan Liang Makam tampak angkat kepalanya. Namun sebelum kepalanya benar-benar terangkat, Kiai Laras sudah menghardik. “Berani angkat kepalamu dari tanah, kepalamu akan kutanggalkan!”

Setan Liang Makam cepat sentakkan kembali kepalanya dan ditempelkan di atas tanah. Tidak jauh dari Setan Liang Makam, Pitaloka tampak menungging dengan mata melirik ke arah Jubah Tanpa Jasad. Mungkin saking jengkelnya mendapati apa yang baru saja terjadi, Kiai Laras segera pula menghardik pada Pitaloka seakan hendak tumpahkan semua kegeramannya.

“Kau juga! Letakkan keningmu di atas tanah!” Pitaloka tersenyum. Lalu lakukan apa yang dikatakan Kiai Laras. Kiai Laras putar tubuh menghadap Putri Kayangan dan Dayang Sepuh.

“Gadis setan! Kau masih juga ingin mampus?!” tanya Dayang Sepuh.

“Kau sendiri bagaimana, Nek?!” Putri Kayangan balik bertanya membuat si nenek berpaling dengan pasang tampang angker.

“Itu urusanku, Gadis Setan!”

“Semua urusan di sini aku yang tentukan!” Tiba-tiba Kiai Laras menyahut. “Dan untuk kalian berdua ku tentukan mampus saat ini juga!”

Bersamaan dengan selesainya bentakan, Kembang Darah Setan di tangan kanan Kiai Laras sudah berkelebat. Dayang Sepuh dan Putri Kayangan sempat terkesiap. Namun keduanya buru-buru gerakkan tangan masing-masing. Dayang Sepuh takupkan kedua tan- gan di depan kening lalu dibuka dan didorong perlahan kedepan.

Di sampingnya, Putri Kayangan takupkan kedua tangannya di depan dada. Sepasang matanya dipejamkan. Entah karena tak mau melihat Dayang Sepuh dan Putri Kayangan terluka, Pendekar 131 segera berkelebat ke depan. Kembali kedua tangannya didorong melepas pukulan sakti ‘Lembur Kuning’.

Untuk kedua kalinya tempat itu laksana ditelan cahaya menyilaukan. Tebaran hawa panas menyengat menyungkup. Saat lain gelegaran keras terdengar. Tiga sosok tubuh tampak bermentalan. Yang pertama adalah sosok Dayang Sepuh. Disusul Putri Kayangan dan murid Pendeta Sinting. Dayang Sepuh mental satu tombak dan jatuh terduduk dengan mulut menganga hembuskan napas karena dadanya laksana baru saja dihantam tembok. Satu setengah tombak di samping Dayang Sepuh, Putri Kayangan terkapar dengan mulut kucurkan darah. Parasnya yang cantik berubah seperti tidak berdarah. Sebagian pakaian yang dikenakan hangus.

Tidak jauh dari tempat terkaparnya Putri Kayangan, murid Pendeta Sinting jatuh terjengkang dengan mulut megap-megap dan kedua tangan bergetar hebat. Di seberang, Jubah Tanpa Jasad bergerak deras kebelakang. Lalu terjungkal di atas tanah dengan perdengarkan dengusan marah. Namun dalam beberapa saat Jubah Tanpa Jasad telah bergerak bangkit. Kiai Laras merasakan aliran darahnya terbalik-balik.

Walau tadi telah kelebatkan Kembang Darah Setan dengan alirkan tenaga dalam pada tangan kanannya hingga lesatan sinar tiga warna berkiblat makin menggidikkan, namun hadangan tiga pukulan sekaligus mau tak mau membuat Kiai Laras tak mampu kuasai huyungan tubuhnya. Hanya saja dia kembali masih merasakan laksana ada tabir penghalang didepan tubuhnya saat bentrokan terjadi. Hingga meski sempat terjungkal, namun dia tidak mengalami cedera yang cukup berarti.

Begitu mendapati Jubah Tanpa Jasad telah bangkit, baik Putri Kayangan, Dayang Sepuh, dan murid Pendeta Sinting segera pula berusaha berdiri. Pendekar 131 segera melompat dan tegak di samping Dayang Sepuh.

“Ada yang ingin kau bicarakan, Cucu Setan?!” Dayang Sepuh telah mendahului.

“Kurasa dia terlalu berbahaya. Apakah Bibi tahu bagaimana cara menghadapi orang itu?!”

“Kalau tahu, tak mungkin aku sampai begini rupa!”

Murid Pendeta Sinting berpaling pada Gendeng Panuntun. Rupanya Dayang Sepuh dapat menangkap arti pandangan Pendekar 131. Hingga si nenek kembali buka suara. “Manusia buta itu juga tak tahu apa-apa!”

“Kakek Datuk Wahing?!” tanya Joko.

“Setan tua itu tahunya cuma heran dan bersin!”

Joko alihkan pandang matanya pada Jubah Tanpa Jasad. “Hem.... Pukulan ‘Lembur Kuning’ digabung dengan pukulan Dayang Sepuh dan Putri Kayangan tidak mampu berbuat banyak! Akan ku coba dengan pukulan ‘Serat Biru’! Aku harus segera tahu siapa gerangan manusia di balik jubah itu!”

Berpikir sampai ke sana, Joko cepat kerahkan tenaga dalam pada tangan kirinya. Saat itu juga tangan kirinya berubah menjadi biru.

Dayang Sepuh mencibir. “Kau kira pukulanmu akan bisa menekuknya?!”

“Setidaknya aku berusaha!”

“Jangan terlalu mengumbar tenaga percuma! Tiga pukulan sekaligus tidak dapat membuatnya bertekuk lutut. Kita harus cari jalan lain!”

“Jalan lain bagaimana?!”

“Bukan di sini tempatnya membicarakan! Kita tinggalkan tempat ini segera!”

“Tapi dia tak mungkin membiarkan kita pergi begitu saja!”

“Kita gebuk sama-sama! Lalu kita segera angkat kaki!”

Baru saja Dayang Sepuh berkata begitu, tiba-tiba dari arah seberang sana Datuk Wahing angkat tangan kanannya. Di sampingnya, Gendeng Panuntun beranjak bangkit.

“Bruss! Brusss! Bruss!”

Datuk Wahing perdengarkan bersinan tiga kali. Namun bersinan itu laksana diperdengarkan dari delapan penjuru mata angin dan suaranya terus memantul tiada putus-putus. Saat bersamaan tangan kanan Datuk Wahing bergerak mendorong. Satu gelombang menderu ganas ke arah Jubah Tanpa Jasad. Seperti halnya suara bersinan, suara deru gelombang itu terus memantul! Begitu tangan kanan Datuk Wahing bergerak, Gendeng Panuntun usap cermin bulatnya. Satu cahaya putih berkiblat menyilaukan mata menghampar ke arah Jubah Tanpa Jasad.

“Apa lagi yang ditunggu?!” teriak Dayang Sepuh. Kedua tangannya ditakupkan di depan kening. Lalu dibuka dan didorong perlahan ke depan.

Putri Kayangan seakan tahu apa maksud semua orang. Dia tidak tinggal diam. Kedua tangannya cepat ditakupkan di depan dada. Sepasang matanya dipejamkan. Murid Pendeta Sinting sesaat terdiam. Namun di kejap lain tangan kirinya yang telah berubah biru tanda dia siap lepaskan pukulan ‘Serat Biru’ cepat dikelebatkan kedepan.

Karena yang melepas pukulan saat itu bukan orang sembarangan, tempat ini laksana neraka saking panasnya. Suara deruan yang memantul ditambah dengan cahaya berkilau dan serat-serat biru laksana benang terang bertabur. Belum lagi cahaya merah yang melesat dari tubuh Putri Kayangan serta gelombang luar biasa dari dorongan kedua tangan Dayang Sepuh.

Kiai Laras yang sesaat tadi hadapkan diri pada Dayang Sepuh dan murid Pendeta Sinting segera berpaling begitu mendengar suara bersinan Datuk Wahing. Dia terkesiap melihat tiba-tiba sang Datuk telah lepas pukulan disusul dengan Gendeng Panuntun. Rasa kaget sang Kiai belum sirna, dia dikejutkan dengan lepasnya pukulan dari kedua tangan Dayang Sepuh yang disusul dengan Putri Kayangan serta Pendekar 131. Pada puncak keterkejutannya, Kiai Laras bukannya takut, melainkan tertawa bergelak!

Karena dengan cara yang dilakukan oleh beberapa orang di situ, Kiai Laras kini merasa maklum kalau dirinya tidak bisa dihadapi hanya oleh seorang atau dua orang. Dan itu berarti dirinya bukan lagi orang yang bisa dipandang remeh! Apalagi dia tahu, orang-orang yang melepaskan pukulan saat itu adalah tokoh rimba persilatan yang ketinggian ilmunya tidak diragukan lagi.

Dalam hujanan pukulan yang kini mengarah padanya, Kiai Laras masih berpikir cepat. Bukan saja dia harus menghadang pukulan, namun setidaknya dia harus selamatkan Setan Liang Makam dan Pitaloka serta Kiai Lidah Wetan yang sejak tadi hanya diam dan makin tergagu tatkala mengetahui bagaimana pukulan-pukulan yang sekarang membuncah tempat itu.

Pada mulanya Kiai Laras memang tidak tahu apa yang hendak dilakukan pada Setan Liang Makam, Pitaloka, serta Kiai Lidah Wetan. Namun begitu mulai sadar kalau kekuatan yang dimilikinya sangat dahsyat, dia mulai bisa berpikir apa yang kelak bisa dilakukan pada ketiga orang itu. Hingga dia kini berniat menyelamatkan juga ketiga orang itu.

Karena pukulan yang kini melabrak pada Kiai Laras sangat luar biasa dan tidak mungkin bagi sang Kiai untuk lakukan penghadangan sekaligus menyelamatkan ketiga orang, maka tanpa pikir panjang lagi Kiai Laras melompat ke depan. Belum sampai kedua kakinya menginjak tanah, dia lakukan gerakan menendang ke samping kiri kanan ke arah sosok Setan Liang Makam dan Pitaloka yang merangkak. Saat bersamaan tangan kirinya kelebatkan jubah hitamnya.

Bukkk! Bukkk!

Setan Liang Makam dan Pitaloka tersentak. Begitu cepatnya gerakan Kiai Laras, belum sampai keduanya sempat membuat gerakan, sosok keduanya telah mental. Saat yang sama Jubah Tanpa Jasad menderu angker. Kiai Lidah Wetan rupanya tahu gelagat. Dia berkelebat. Namun terlambat. Sambaran Jubah Tanpa Jasad yang keluarkan sambaran angin dahsyat telah menggebrak. Hingga bukan saja membuat sosok Kiai Laras terhenti, namun jubah terpelanting dan terbanting jatuh dengan punggung di atas tanah, satu setengah tombak dari tempatnya tadi berdiri!

Setelah membuat tiga sosok mental, Kiai Laras cepat kerahkan tenaga dalam pada tangan kiri kanannya. Saat lain tangan kanan yang memegang Kembang Darah Setan disentakkan ke depan. Tangan kiri mengambil Jubah Tanpa Jasad di bagian tengahnya lalu dikelebatkan. Sinar tiga warna mencuat menggidikkan ditingkah dengan menderunya gelombang raksasa.

Terdengar ledakan menggelegar. Di udara tampak bertaburan kilauan cahaya pecah dan muncrat. Gelombang angin bermentalan dan mengambang di udara dengan arah tak bisa ditentukan. Tanahnya tersapu dan mengangkasa membungkus suasana, hingga kilauan cahaya dan berkiblatnya sinar yang tadi menghampar laksana disabet setan dan tiba-tiba lenyap ditelan hamburan tanah. Tempat itu sekonyong-konyong gelap gulita!

Ketika suasana kembali terang dengan lurunya tanah, sosok Kiai Laras terlihat terkapar di atas tanah. Demikian juga sosok Setan Liang Makam, Pitaloka, serta Kiai Lidah Wetan. Sesaat Kiai Laras perhatikan dirinya. Lalu bangkit terhuyung-huyung. Sepasang matanya liar memandang berkeliling. Dari mulutnya terdengar makian panjang pendek. Karena ternyata Putri Kayangan, Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun sudah tidak kelihatan lagi!

TUJUH

SELAGI Kiai Laras dibungkus dengan kemarahan akibat lenyapnya beberapa orang di tempat itu, mendadak satu bayangan berkelebat dan tegak di depan sana dengan memperhatikan pada sosok Setan Liang Makam, Kiai Laras, serta Pitaloka yang sama masih berkaparan di atas tanah. Tendangan kaki kanan kiri serta kelebatan jubah yang dilakukan Kiai Laras menyelamatkan ketiganya dari bertaburnya beberapa pukulan yang baru saja menggebrak di tempat itu meski tak urung ketiganya harus terpental dan terkapar diatas tanah.

“Hem.... Gadis jahanam itu!” desis orang yang baru muncul kala pandang matanya melihat sosok Pitaloka yang bergerak-gerak bangkit. “Beberapa kali aku gagal membunuhnya. Mungkin saat ini niatku baru kesampaian! Tempo hari dia selamat karena ada Pendekar 131. Sekarang tidak akan ada yang menghalangi niatku!”

Orang yang baru muncul membuat gerakan satu kali. Gerakannya membawa dirinya tahu-tahu telah tegak di samping Pitaloka. Tanpa memandang kanan kiri, dia langsung membentak. “Putri Kayangan! Saat hidupmu telah berakhir!”

Pitaloka tersentak. Memandang ke samping dia melihat seorang perempuan berusia lanjut. Raut wajahnya cekung dengan kulit mengeriput. Sepasang matanya besar. Rambutnya putih lebat dibiarkan jatuh bergerai menutupi sebagian bahu dan punggungnya. Nenek ini mengenakan kain panjang besar berwarna biru bersaku dua. Pada saku sebelah kanan terlihat sebuah sapu tangan besar berwarna merah menyala.

Inilah satu tanda jika si nenek adalah seorang tokoh rimba persilatan yang dikenal dengan julukan Ratu Pewaris Iblis. Seorang nenek yang di tangannya tergenggam sebuah sapu tangan yang juga sangat dikenal dalam dunia persilatan dengan Sapu Tangan Iblis.

“Ratu Pewaris Iblis!” seru Pitaloka mengenali siapa adanya si nenek. Dia cepat bangkit. “Dia pasti meneruskan urusan lama! Hem.... Apa matanya tidak tahu siapa saja yang ada di tempat ini?!”

“Beberapa kali kau selamat dari tangan maut ku! Namun saat ini siapa lagi yang bisa menghalangi?!” Si nenek tertawa bergelak.

“Kau sentuh kulit gadis itu, nyawamu akan putus!” Tiba-tiba satu suara menyahut.

Ratu Pewaris Iblis putuskan tawanya. Kepalanya berpaling. Sepasang matanya serentak mendelik besar-besar. Kuduknya meremang. Tanpa sadar kedua kakinya tersurut dua tindak ke belakang.

“Mustahil.... Mustahil! Bagaimana mungkin ada jubah dan setangkai bunga mengambang di udara?!” Dada si nenek dilanda keheranan begitu melihat Jubah Tanpa Jasad dan Kembang Darah Setan mengapung di atas udara. Tiba-tiba dahi Ratu Pewaris Iblis mengernyit.

“Dari ciri-cirinya.... Tak salah! Pasti itu Kembang Darah Setan! Tapi.... Siapa manusia yang baru saja bicara?! Dan bagaimana tentang berita yang selama ini tersiar jika Kembang Darah Setan berada ditangan Pendekar 131 Joko Sableng?! Atau mungkinkah manusia yang baru saja bicara adalah pemuda keparat itu?!”

Selagi Ratu Pewaris Iblis menduga-duga, Setan Liang Makam bergerak bangkit. Kembali untuk kedua kalinya Ratu Pewaris Iblis terkesiap kaget kala pandang matanya melihat tampang angker Setan Liang Makam. “Susunan tubuhnya hanya merupakan kerangka.Tapi....”

Sebelum Ratu Pewaris Iblis sempat teruskan kata hatinya, Kiai Laras sudah buka suara. “Aku tahu siapa kau, Perempuan Tua! Sekarang aku ingin tahu jawabanmu....”

Sesaat Kiai Laras hentikan ucapannya dengan gerakkan kepala ke samping. Jubah Tanpa Jasad bergerak sedikit. “Kau ingin teruskan urusanmu dengan gadis itu atau kau akan melupakannya?!”

Belum sampai Ratu Pewaris Iblis angkat bicara, Kiai Laras sudah sambung ucapannya. “Harus kau ingat. Jika kau memilih yang pertama, maka nyawamu hanya tinggal sesaat lagi!”

“Apa hubunganmu dengan gadis itu?!” Ratu Pewaris Iblis mulai angkat suara.

“Aku ingin jawabanmu, Perempuan Tua!”

“Aku tak akan menjawab sebelum ku tahu siapa kau adanya!” Ratu Pewaris Iblis menyahut dengan suara agak keras meski dadanya masih berdegup kencang karena ngeri.

“Kau akan tahu siapa aku! Tapi begitu keinginanmu kesampaian, maka ajalmu tiba! Kau mau itu?!”

Ratu Pewaris Iblis melirik pada Pitaloka yang masih disangkanya sebagai Putri Kayangan. Yang dilirik sunggingkan seringai dingin.

“Apa maumu sebenarnya?!” Akhirnya Ratu Pewaris iblis ajukan tanya setelah agak lama berpikir.

Kiai Laras tidak segera menjawab. Jubah Tanpa Jasad bergerak menghadap ke arah Kiai Lidah Wetan yang kini juga telah tegak. Lalu bergerak lagi ke arah Setan Liang Makam dan terakhir pada Pitaloka. Bersamaan itu terdengar suara.

“Kalian bertiga! Merangkaklah kembali ke hadapanku!”

Setan Liang Makam lontarkan pandangan pada Pitaloka dan Kiai Lidah Wetan. Saat lain dia tekuk tubuhnya membuat gerakan merangkak. Mendapati hal demikian, Pitaloka tak menunggu lama. Dia cepat lakukan seperti apa yang dilakukan Setan Liang Makam. Kiai Lidah Wetan sesaat gerakkan kepala memandang silih berganti pada Setan Liang Makam dan Pitaloka. Entah apa yang ada dalam benaknya, laki-laki saudara Kiai Laras ini segera pula lorotkan tubuh lalu merangkak ke arah Jubah Tanpa Jasad. Setan Liang Makam, Pitaloka, dan Kiai Lidah Wetan hentikan rangkakan masing-masing empat tindak di hadapan Jubah Tanpa Jasad. Kiai Laras tertawa panjang.

“Kalian bertiga kini berada di tangan Penguasa Kampung Setan! Nyawa kalian akan ku lindungi dari setiap tangan yang berani menjamah! Setiap orang yang membuat urusan dengan kalian bertiga berarti membuka sengketa dengan Penguasa Kampung Setan! Tapi kalian harus lakukan apa yang kukatakan! Jangan berani membantah atau bertanya! Kalian mengerti?!”

Ketiga orang di hadapan Kiai Laras sama anggukkan kepala. Kiai Laras makin keraskan gelakan tawanya. Lalu putar diri setengah lingkaran menghadap Ratu Pewaris Iblis. “Matamu melihat apa yang dilakukan ketiga orang itu! Sekarang giliranmu untuk melakukannya!”

Dada Ratu Pewaris Iblis bergemuruh. Perintah orang membuat dia tidak pedulikan lagi siapa yang kini ada di hadapannya. Apalagi dia belum tahu bagaimana kedahsyatan Kembang Darah Setan. “Bukan aku yang harus merangkak! Tapi kau yang harus berlutut mencium telapak kakiku!”

Ucapan si nenek belum selesai, Kembang Darah Setan di tangan kanan Kiai Laras sudah berkelebat. Ratu Pewaris Iblis terlengak. Namun nenek ini cepat sadar. Dia segera berkelebat ke belakang. Saat lain tangan kanannya mengambil Sapu Tangan Iblis di saku pakaiannya. Lalu diangkat tinggi-tinggi dan dikebutkan menyongsong datangnya tiga sinar merah, hitam, dan putih dari kelebatan Kembang Darah Setan.

"Weerr!" Sapu Tangan Iblis berkelebat ganas perdengarkan desingan tajam. Sinar merah bertabur.

"Blammm!" Taburan sinar merah dari kelebatan Sapu Tangan Iblis pecah berantakan perdengarkan ledakan keras. Sinar tiga warna semburat. Hebatnya sebagian masih melesat ganas lurus ke arah Ratu Pewaris Iblis!

Ratu Pewaris Iblis tersentak. Saat itu dia belum bisa kuasai diri dari huyungan tubuh. Hingga meski dia masih bisa selamatkan diri namun pecahan sinar putih tak urung menghantam pundak kanannya. Ratu Pewaris Iblis berseru tertahan. Sosoknya lang- sung terbanting ke kanan. Sapu Tangan Iblis lepas dari genggaman tangannya.

Jubah Tanpa Jasad berkelebat dan tegak dua langkah di hadapan Ratu Pewaris Iblis. Si nenek tercekat tegang. Tangan kanannya berkelebat. Bukan lakukan hantaman, melainkan hendak menyambar pada Sapu Tangan Iblis. Sejengkal lagi Sapu Tangan Iblis tergapai tangan kanan si nenek, tiba-tiba si nenek menjerit. Jubah Tanpa Jasad sudah mengapung di atas tangannya. Dan dia merasakan tangan kanannya diinjak telapak kaki. Ratu Pewaris Iblis putar tubuhnya. Kaki kiri kanannya membuat gerakan menendang ke arah Jubah Tanpa Jasad.

Jubah Tanpa Jasad melenting ke udara. Tendangan Ratu Pewaris Iblis menghantam tempat kosong. Namun injakan kaki orang pada tangan si nenek lepas. Si nenek cepat bangkit. Tapi pada saat yang sama Jubah Tanpa Jasad telah berkelebat. Si nenek kebingungan. Karena dia tidak bisa melihat gerakan orang, maka dia menghantamkan kedua tangannya lurus ke arah bagian dada dan di atas leher Jubah Tanpa Jasad.

Namun si nenek terkesiap. Setengah jalan hantaman kedua tangannya, tiba-tiba dia merasakan tendangan menghadang kedua tangannya hingga tangannya terpental. Saat lain dia merasakan siuran angin pada pundaknya. Ratu Pewaris Iblis cepat kelebatkan tangan. Namun satu tendangan telah menggebrak dadanya.

"Bukkk!" Kembali Ratu Pewaris Iblis berseru. Sosoknya terjengkang roboh di atas tanah dengan mulut semburkan darah. Tampangnya pias dengan sosok menggigil antara kesakitan dan ngeri. Dalam keadaan seperti itu si nenek masih melirik pada Sapu Tangan Iblis yang terhampar di tanah. Namun dia mengumpat dalam hati karena jarak antara dirinya dengan Sapu Tangan Iblis mengharuskan dia melompat. Padahal Jubah Tanpa Jasad kini sudah bergerak kearahnya.

“Aku tanya sekali lagi!” Kiai Laras perdengarkan suara. “Kau ingin mampus sekarang atau melakukan seperti teman-temanmu itu!”

Ratu Pewaris Iblis pentangkan kedua matanya seolah ingin mengetahui sosok di balik jubah hitam. Sementara di depannya Kembang Darah Setan sudah bergerak terangkat. “Baik...,” kata Ratu Pewaris Iblis dengan suara bergetar.

“Cepat! Lakukan!” hardik Kiai Laras.

Si nenek angkat tubuhnya lalu merangkak mendekati Jubah Tanpa Jasad dengan hati menyumpah-nyumpah.

“Bagus! Hidup matimu kini berada di tanganku! Dan kau harus lakukan semua perintahku!”

Habis berkata begitu, Kiai Laras berkelebat dan tegak di antara Ratu Pewaris Iblis dan Setan Liang Makam, Pitaloka, serta Kiai Lidah Wetan.

“Buka telinga kalian lebar-lebar! Kalian kutugaskan untuk menjemput Putri Kayangan, Dayang Sepuh, Datuk Wahing, Gendeng Panuntun, dan Pendekar 131! Bawa mereka hidup-hidup atau penggalan kepalanya! Kutunggu kedatangan kalian di Bukit Kalingga! Berhasil atau tidak, kalian harus ke Bukit Kalingga setengah purnama mendatang! Ingat, aku adalah Penguasa Kampung Setan. Aku tahu setiap gerak-gerik kalian! Sekali kalian melakukan kesalahan, kalian membuka jalan menuju neraka!”

Habis berkata begitu, Kiai Laras putar diri lalu berkelebat tinggalkan tempat itu. Ratu Pewaris Iblis memperhatikan gerakan Jubah Tanpa Jasad. Lalu melompat ke arah Sapu Tangan Iblis yang terhampar di tanah. Setelah memandang satu persatu pada Setan Liang Makam, Pitaloka, dan Kiai Lidah Wetan, tanpa berkata apa-apa si nenek berkelebat pergi.

Setan Liang Makam, Pitaloka, dan Kiai Lidah Wetan beranjak bangkit. Tanpa berpaling pada yang lainnya dan tanpa ada yang buka suara, ketiga orang ini sama melangkah tinggalkan tempat itu dengan mengambil arah berlawanan.

DELAPAN

SEBELUM terdengar gelegar ledakan akibat bentroknya beberapa pukulan yang dilepas Datuk Wahing, Gendeng Panuntun, Dayang Sepuh, Putri Kayangan, dan Pendekar 131 dengan lesatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan di tangan Kiai Laras, Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun berkelebat ke arah Dayang Sepuh lalu memberi isyarat untuk tinggalkan tempat itu.

Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun cepat melompat dan berlari. Di samping Dayang Sepuh, murid Pendeta Sinting sesaat perhatikan isyarat Datuk Wahing. Dia pun segera hendak melompat mengikuti gerakan Dayang Sepuh. Namun niatnya diurungkan demi melihat Putri Kayangan yang saat itu tidak melihat isyarat karena sepasang matanya terpejam.

“Putri.... Lekas lari!” teriak Joko.

Entah karena saat keadaan sangat bising dengan menderunya beberapa gelombang pukulan atau Putri Kayangan sendiri sedang tenggelam kerahkan tenaga dalam, gadis cantik ini seolah tidak mendengar teriakan Pendekar 131. Dia tetap tegak dengan mata terpejam dan kedua tangan saling menakup di depan dada.

“Celaka.... Dia tadi telah terluka. Jika masih bertahan di sini, akibatnya akan lebih berbahaya!”

Berpikir begitu, seolah tidak sabar, Joko segera berkelebat ke arah Putri Kayangan. Tanpa berkata apa-apa dia menarik lengan si gadis. Putri Kayangan terkejut dan segera menoleh seraya pentangkan mata karena suasana sangat menyilaukan. Begitu tahu siapa adanya orang yang menarik lengannya, Putri Kayangan tampak gugup. Belum sampai gadis ini buka mulut, Pendekar 131 sudah mendahului.

“Kita tinggalkan tempat ini!” Tangan murid Pendeta Sinting yang masih mencekal lengan Putri Kayangan segera bergerak.

Putri Kayangan tidak berusaha lepaskan cekalan tangan Joko pada lengannya. Dan tanpa berkata apa-apa dia mengikuti gerakan Joko. Namun baru saja kedua orang ini melompat, gelegar keras telah terdengar. Sosok Pendekar 131 mental. Namun dia tak mau lepaskan cekalannya pada lengan sang Putri. Hingga sosok keduanya mental bersamaan. Karena Putri Kayangan telah terluka, dia tak mampu kuasai mentalan tubuhnya. Sosoknya oleng di atas udara. Murid Pendeta Sinting terkesiap. Dia tidak lagi berusaha kuasai dirinya sendiri, melainkan berusaha menahan olengan tubuh Putri Kayangan.

Hal ini membuat sosok Joko ikut oleng. Saat lain keduanya jatuh terbanting diatas tanah! Putri Kayangan berseru kesakitan. Seruan si gadis membuat murid Pendeta Sinting lagi-lagi tak hiraukan dirinya. Dengan sekujur tubuh masih merasakan nyeri dan dada sesak, Joko segera bangkit lalu melompat ke arah Putri Kayangan yang lepas dari cekalan tangannya saat terbanting.

“Kucuran darah dari mulutnya makin banyak...,” gumam Joko memperhatikan Putri Kayangan. Dengan cepat dia ulurkan kedua tangannya ke bawah. Sosok Putri Kayangan segera diangkat lalu diletakkan di atas pundaknya.

Putri Kayangan yang saat itu tengah kerahkan tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit pada sekujur tubuhnya terkejut mendapati dirinya tahu-tahu telah berada di pundak orang. Tanpa melihat siapa adanya orang yang memanggulnya, gadis ini rupanya sudah bisa menebak. Hingga begitu sosoknya berada di pundak orang, dia segera berucap pelan.

“Harap suka turunkan. Aku tidak apa-apa....”

Murid Pendeta Sinting tidak hiraukan ucapan Putri Kayangan. Sebaliknya cepat berkelebat tinggalkan tempat itu karena di depan sana Dayang Sepuh, datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun hampir-hampir tidak kelihatan lagi batang hidungnya.

“Pendekar 131.... Harap turunkan....” Putri Kayangan kembali meminta.

Murid Pendeta Sinting seolah tak acuh. Malah dia percepat kelebatannya. Dia baru memperlambat larinya tatkala sepasang matanya tidak lagi menangkap sosok Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun.

“Heran.... Ke mana mereka?” Joko edarkan pandang matanya. Saat itu dia berada di satu tempat yang banyak ditumbuhi semak belukar dan jalan berkelok-kelok.

“Pendekar 131....” Putri Kayangan kembali bersuara. Namun sebelum dia lanjutkan ucapan, murid Pendeta Sinting telah menyahut.

“Kau yakin tak apa-apa?!”

“Aku memang terluka. Tapi masih mampu kalau hanya berlari....”

Pendekar 131 segera turunkan Putri Kayangan dari pundaknya. Lalu memandangnya dari atas sampai bawah, hingga yang dipandang jadi salah tingkah dan cepat berpaling seraya mengusap darah pada mulutnya.

“Terima kasih...,” ujar Putri Kayangan tanpa memandang.

“Gila! Benar-benar cantik!” kata murid Pendeta Sinting dalam hati. Dia sebenarnya ingin bicara banyak, tapi ingat akan Dayang Sepuh dan kedua kakek yang telah berkelebat mendahului dan kini batang hidungnya tidak kelihatan lagi, Joko buru-buru alihkan pandang matanya. “Tentu mereka belum jauh dari sini!” ujarnya dalam hati.

“Bibi Cantik, Kakek! Di mana kalian?! Aku tahu kalian bersembunyi! Jangan membuatku bingung! Ini bukan waktunya main sembunyi-sembunyian!” Pendekar 131 berteriak.

Tidak ada sahutan atau isyarat. Putri Kayangan ikut edarkan pandangannya meski dadanya masih terasa sesak dan nyeri. Dia seolah hendak menutupi apa yang kini dirasakan.

“Hai! Kalian ada di mana?!” Kembali Joko berteriak.

“Setan!” tiba-tiba terdengar makian dari serumpun semak belukar di dekat kelokan jalan disamping sana.

Murid Pendeta Sinting dan Putri Kayangan segera berpaling ke samping kanan, di mana sumber makian terdengar. Baik Joko maupun Putri Kayangan tahu siapa adanya orang yang baru saja perdengarkan makian. Hingga tanpa pikir panjang lagi keduanya segera melompat. Baru saja kedua orang ini injakkan kaki masing-masing, kembali terdengar makian. Murid Pendeta Sinting dan Putri Kayangan saling pandang dengan raut muka sama-sama kaget. Makian itu bukannya terdengar dari arah di mana mereka kini berada, melainkan dari arah di depan sana!

“Setan!” Joko ikut-ikutan memaki dengan suara pelan. “Tega-teganya dia permainkan orang!”

Putri Kayangan hanya tersenyum lalu arahkan pandang matanya ke arah dari mana suara makian kedua terdengar. Joko ikut pula gerakkan kepala. Namun mungkin karena khawatir dipermainkan orang lagi, keduanya belum juga melompat. Malah keduanya saling pandang. Namun cuma sekejap karena Putri Kayangan buru-buru alihkan pandangannya dengan muka bersemu merah. Gadis ini rasakan dadanya berdebar dan tak kuasa beradu pandang dengan murid Pendeta Sinting.

“Setan! Kalian kira ini tempatnya berpandang-pandangan hah?!” Terdengar suara lagi.

Dengan raut sama berubah malah Putri Kayangan tampak tegang, kepala keduanya bergerak lagi. Sejarak dua belas langkah dari tempat mereka, rumpunan semak belukar tampak bergerak menyibak. Lalu tampak kepala berambut putih yang bagian depan diponi. Lalu seraut wajah hitam milik seorang nenek muncul menyeringai. Pendekar 131 dan Putri Kayangan segera berkelebat lalu menyelinap di semak belukar di mana tadi muncul wajah nenek yang bukan lain adalah Dayang Sepuh.

“Kau!” bentak Dayang Sepuh dengan tangan menunjuk pada Putri Kayangan. “Mendekatlah kesini!”

Putri Kayangan laksana sirap darahnya mendengar bentakan si nenek. Dia tidak bisa menduga apa kemauan si nenek. Sementara murid Pendeta Sinting melirik ke samping kiri kanan. Berjarak lima langkah, terlihat Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun sama duduk di atas tanah.

“Setan! Kau dengar tidak ucapanku?!” Kembali Dayang Sepuh perdengarkan bentakan tatkala mendapati Putri Kayangan tidak juga beranjak dari tempatnya.

Putri Kayangan melirik sesaat pada Pendekar 131. Kuduknya dingin dan kedua kakinya goyah. Bukan hanya karena belum tahu apa maksud ucapan Dayang Sepuh, melainkan dia mulai merasakan dadanya sangat nyeri dan pandangannya berkunang-kunang. Namun sang Putri tabahkan diri.

“Jangan khawatirkan cucu setan itu! Kau harus pikirkan diri sendiri dahulu!” Dayang Sepuh sudah perdengarkan suara lagi. Putri Kayangan mulai dapat menangkap maksud si nenek. Hingga tanpa pikir panjang dia melangkah ke arah Dayang Sepuh. Dayang Sepuh selinapkan tangan kanannya ke balik pakaiannya yang cingkrang. Saat Putri Kayangan tepat di hadapannya, tangan kanan si nenek ditarik keluar. Digenggamannya terlihat dua butiran sebesar ujung jari kelingking berwarna merah dan kuning.

“Telan ini!” perintah Dayang Sepuh seraya ulurkan tangannya.

Tanpa ragu-ragu Putri Kayangan mengambil dua butiran di tangan si nenek lalu ditelannya. Mula-mula dia merasakan hawa panas menyengat sekujur tubuhnya begitu dua butiran tadi lewat tenggorokan. Dan mendadak dadanya laksana meledak. Kepalanya seperti diputar-putar. Pandangannya berubah menghitam. Saat lain kedua kakinya menekuk lalu sosoknya jatuh menggelosoh di atas tanah.

“Bibi....”

“Tutup mulutmu, Cucu Setan! Dari tadi kau berteriak-teriak melulu!” Dayang Sepuh menukas ucapan Joko seraya melirik pada sosok Putri Kayangan. “Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan dia! Tapi adalah tindakan tolol kalau hanya khawatir tanpa berbuat sesuatu! Dia terluka dalam! Apa kau ingin melihat dia mampus, hah...?!”

Pendekar 131 hanya bisa kancingkan mulut dan angkat bahu sambil melirik ke arah Putri Kayangan. Dayang Sepuh tertawa pendek lalu berujar.

“Kau suka padanya, bukan?!”

Tampang murid Pendeta Sinting berubah. Dia kembali melirik pada Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun.

“Brusss! Persoalan jatuh cinta, tidak mengherankan jika perempuan yang tahu terlebih dahulu, Anak Muda! Karena perempuan membaca dengan perasaan....” Tiba-tiba Datuk Wahing berucap.

“Dan kadangkala perasaan cinta tidak disangka- sangka datangnya! Ada yang puluhan tahun menunggu, ada pula yang begitu ketemu langsung saja ketiban cinta!” Gendeng Panuntun menyahuti ucapan Datuk Wahing. Lalu tertawa.

Paras murid Pendeta Sinting makin berubah. Terlebih ketika dia melirik, dilihatnya Putri Kayangan telah bergerak-gerak dan sepasang matanya sudah terbuka. Saat lain gadis ini telah bangkit dan menjura pada Dayang Sepuh seraya berkata.

“Nek....”

“Sudah! Jangan memakai peradatan!” Dayang Seepuh ternyata sudah memotong ucapan Putri Kayangan. “Sekarang kita mulai pembicaraan!” Kepala si nenek berpaling pada Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun.

“Harap maafkan.... Aku tidak bisa mengikuti pembicaraan ini. Aku harus menemui seseorang....” Putri Kayangan angkat suara.

“Setan! Siapa yang akan kau temui?!” tanya Dayang Sepuh dengan pasang tampang galak. Sepasang matanya melotot besar-besar.

“Bagaimanapun juga aku harus membawa saudaraku menghadap Eyang Guru! Harap kalian mengerti. Dan sekali lagi kuucapkan terima kasih atas pertolongannya....” Putri Kayangan anggukkan kepala pada Dayang Sepuh dan Pendekar 131.

“Kau benar-benar setan keras kepala!” sentak Dayang Sepuh. “Kau bukannya akan membawa saudaramu tapi menyerahkan nyawamu! Kau tahu, saudaramu bersama siapa saat ini!”

Putri Kayangan anggukkan kepala. “Tapi aku harus lakukan tugas Eyang Guru, Nek! Kalau aku harus menunggu lebih lama, aku khawatir tak dapat menyelamatkan saudaraku....”

“Kau kira bekal yang kau miliki mampu menyelamatkan dan membawa saudaramu, hah?! Kau kira enak melakukan apa yang baru kau katakan, hah?!”

“Bekal ku memang tidak banyak. Apa yang kukatakan memang berat melakukannya. Tapi ini adalah perintah yang harus kulaksanakan, Nek!”

“Hem.... Begitu?! Daripada kau mampus di tangan setan berjubah hitam itu, lebih baik kau ke neraka melalui tanganku!” Dayang Sepuh angkat tangannya.

“Bibi! Tahan!” teriak murid Pendeta Sinting. Lalu melompat ke hadapan Putri Kayangan dan tegak menghalangi si gadis dan Dayang Sepuh. “Putri.... Untuk sementara ini, tunda dulu keinginanmu! Perintah memang harus dilakukan. Tapi tidak berarti harus tanpa perhitungan! Kau tahu, aku menduga mereka akan membicarakan bagaimana menghadapi manusia tanpa sosok itu!” Joko berbisik.

“Apa yang kalian bicarakan?!” Dayang Sepuh membentak. “Kau juga hendak ikut-ikutan pergi bersama gadis setan itu?!”

Pendekar 131 putar diri menghadap si nenek. Belum sampai Joko buka mulut, Dayang Sepuh sudah mendahului.

“Kau juga akan mampus di tanganku kalau berani ikut-ikutan pergi!”

“Brusss! Sudahlah.... Jangan bertindak yang macam-macam dan mengherankan! Kita semua tahu siapa orang yang kita hadapi saat ini!” Datuk Wahing menengahi.

“Jadi kau sudah tahu, Kek?!” tanya murid Pendeta Sinting. “Siapa dia, Kek?!”

“Brusss! Sungguh mengherankan kalau aku tahu orangnya, Anak Muda! Yang ku maksud, kita tahu sampai di mana kedahsyatan dua benda di tangan orang itu!”

Baru saja Datuk Wahing berucap begitu, tiba-tiba Gendeng Panuntun gerakkan kepala tengadah. Tangan kanannya mengusap cermin bulatnya lalu berujar pelan. “Ada dua orang hendak lewat di sekitar tempat kita!”

Tanpa sadar, semua kepala bergerak merunduk. Lalu mata masing-masing orang sama terpentang tak berkesip perhatikan ke arah jalanan di depan sana. Sebagian memperhatikan dari jurusan barat, sebagian lagi dari jurusan timur. Mereka tidak ada yang buka suara atau membuat gerakan.

“Setan! Mana orang itu?!” desis Dayang Sepuh kala matanya tidak juga melihat adanya orang. “Jangan-jangan dia bercanda!”

Tidak ada yang menyahuti ucapan Dayang Sepuh. Mereka masih terpaku dengan mata nyalang. Sementara Gendeng Panuntun mengerjap beberapa kali.

“Setan buta sialan! Kau hanya bikin hati deg-degan saja!” Kembali Sayang Sepuh memaki setelah agak lama tidak juga melihat siapa-siapa. Dia orang pertama yang angkat kepalanya. Disusul dengan murid Pendeta Sinting dan Putri Kayangan.

“Di sini bukan tempatnya bergurau, se....”

Makian Dayang Sepuh terputus. Sekonyong-konyong dia sentakkan kepala merunduk. Demikian pula Joko dan Putri Kayangan. Mata mereka menangkap kelebatan bayangan yang berlari cepat dari jurusan timur.

“Ucapannya benar! Tapi perhitungannya meleset!” gumam Dayang Sepuh kala pentangan matanya bukan melihat dua orang melainkan satu orang. Namun begitu ketegangan pada wajah si nenek mereda tatkala dia bisa mengenali kalau si bayangan bukanlah Jubah Tanpa Jasad. Karena sosok orang yang berkelebat terlihat nyata.

“Setan! Gerakannya laksana orang kesetanan! Tak bisa ku kenali sosoknya!” desis si nenek ketika matanya tidak bisa mengenali sosok bayangan yang berlari kencang. Dan lewat begitu saja tidak jauh dari tempat di mana Dayang Sepuh dan teman-temannya berada.

“Kau bisa melihat orangnya?!” tanya Dayang Sepuh berpaling pada Pendekar 131 dan Putri Kayangan.

Yang ditanya sama gelengkan kepala. Saat bersamaan ketiga orang ini sama angkat kepalanya. Baru saja kepala mereka terangkat, tiba-tiba dari arah barat satu sosok bayangan berkelebat dan tegak lurus dari tempat Dayang Sepuh berada. Karena terburu tegak, terlambat bagi si nenek dan murid Pendeta Sinting serta Putri Kayangan untuk rundukkan kepala. Apalagi sosok bayangan di depan sana sudah menghadap ke arah mereka dan seolah sudah tahu!

SEMBILAN

KARENA tak mungkin lagi sembunyikan kepala, Dayang Sepuh, Pendekar 131, serta Putri Kayangan terpaksa urungkan niat untuk tarik kepala masing-masing merunduk. Dan karena telanjur, Dayang Sepuh malah segera longokkan kepala ke depan dengan mata makin dipentangkan. Tapi yang paling tampak tersentak adalah murid Pendeta Sinting.

“Rupanya setan buta itu lebih bermata daripada aku! Orang di depan itu tidak satu, tapi dua!” gumam Dayang Sepuh ketika matanya melihat seorang laki-laki berusia setengah baya mengenakan pakaian warna biru gelap. Sosoknya kurus tinggi dengan wajah cekung. Rambutnya yang putih dan panjang tampak berkibar-kibar.

Di antara kibaran rambutnya terlihat satu wajah seorang kakek lanjut usia. Rambutnya yang putih sangat tipis hingga batok kepalanya terlihat jelas. Sepasang matanya terpejam rapat dengan mulut komat-kamit perdengarkan gumaman tak jelas. Kakek ini mengenakan pakaian warna putih besar dan panjang. Begitu panjangnya pakaian itu, sebagian tampak menyapu tanah sepanjang setengah tombak di belakang!

Si kakek tampak lingkarkan kedua tangannya pada bagian bawah leher laki-laki setengah baya. Kedua kakinya yang ternyata tidak lebih besar dari dua kali ibu jari dan berwarna hitam legam tampak digelungkan pada pinggang laki-laki setengah baya, hingga wajahnya berada di punggung orang dan terlihat di antara kibaran rambut.

“Siapa manusia-manusia tua yang masih main gendong-gendongan ini?!” Dayang Sepuh bertanya-tanya. Dan seolah tidak sabaran dia segera buka mulut. “Siapa kalian adanya?!”

Sementara di sampingnya Putri Kayangan seakan terkesima dan hanya terdiam. Murid Pendeta Sinting mengernyit. “Raja Tua Segala Dewa!” desisnya pelan.

“Setan! Siapa kalian?!” Untuk kedua kalinya Dayang Sepuh perdengarkan bentakan tatkala orang di depan sana tidak ada yang sambuti ucapan si nenek.

Laki-laki setengah baya berpakaian biru gelap yang dipunggungnya menggendong kakek berpakaian putih panjang gerakkan kepala berpaling pada wajah di belakangnya. Si kakek yang digendong perlahan-lahan buka matanya. Tapi belum sampai setengahnya, orang tua ini kembali pejamkan matanya. Laki-laki setengah baya tampak gelisah. Dia melirik takut-takut pada Dayang Sepuh yang saat itu juga pasang tampang angker.

Pendekar 131 melompat ke samping Dayang Sepuh dan berujar kalem. “Bibi.... Aku mengenal mereka....”

Dayang Sepuh melotot. “Aku tidak tanya padamu! Aku ingin jawaban dari mulut salah seorang di antaranya!”

Laki-laki setengah baya yang menggendong si kakek makin cemas ketika mendapati orang yang digendong tidak juga perdengarkan suara. Dia pulang balik memandang pada Dayang Sepuh lalu pada orang yang digendong. Mungkin karena takut melihat tampang angker Dayang Sepuh, akhirnya laki-laki setengah baya buka mulut.

“Aku....” Belum sampai laki-laki setengah baya teruskan ucapan, si kakek yang digendong lepaskan lingkaran tangannya pada leher orang. Tangan kanannya mengetuk punggung laki-laki setengah baya seraya bergumam.

“Biar aku yang menjawab....”

Kakek yang digendong arahkan wajahnya pada Dayang Sepuh dengan mata tetap terpejam. Saat lain mulutnya bergerak membuka. “Boleh kami berdua ikut kumpul di sini?!”

“Setan! Aku tanya siapa kalian adanya!”

“Aku adalah seorang sahabat.... Dan aku lihat beberapa orang sahabatku berada di sini!”

“Senang jumpa denganmu lagi, Sahabatku.... Kuharap kau mengerti kecurigaan sahabatku itu....” Gendeng Panuntun menyahut. Sepasang matanya yang putih mengerjap.

“Brusss! Brusss! Terimalah hormatku.... Harap tidak heran dengan sambutan sahabat cantik ku itu....” Datuk Wahing menyambuti sahutan Gendeng Panuntun.

“Terima kasih kalian tidak lupa padaku.... Aku juga bahagia bisa bertemu dengan kalian kembali....” Kakek di gendongan orang berujar. Kepalanya digerakkan mengangguk pada Gendeng Panuntun dan Datuk Wahing. Lalu masih dengan mata terpejam, si kakek hadapkan wajahnya pada murid Pendeta Sinting seraya lanjutkan ucapan. “Bagaimana kabarmu, Anak Muda?!”

“Aku baik-baik saja, Kek....”

Si kakek tersenyum. Wajahnya bergerak ke arah Putri Kayangan. Tapi kali ini tidak perdengarkan suara hingga beralih menghadap Dayang Sepuh. “Nenek nan cantik.... Sekarang boleh aku ikut kumpul-kumpul?!”

“Di sini bukan tempatnya kumpul-kumpul! Kalau kau tidak mau katakan siapa dirimu, aku tak segan mengusirmu dengan tanganku!”

“Bibi....”

“Jangan ikut bicara, Cucu Setan! Silakan kau dan dua temanmu itu kenal padanya! Tapi aku tak akan membiarkan orang yang tidak kukenal berada disini!”

“Bibi.... Dia adalah....”

“Sekali lagi kau bicara, mulutmu akan kutampar!” Dayang Sepuh angkat tangannya seraya menukas ucapan murid Pendeta Sinting.

Kakek di atas gendongan orang ketukkan lagi tangannya pada punggung orang yang menggendong. Laki-laki setengah baya anggukkan kepala lalu berkata. “Aku adalah Gulurawa.... Kakek di punggungku ini Kiai Geger Panulung. Tapi lebih dikenal dengan Raja Tua Segala Dewa....”

“Hem....” Dayang Sepuh menggumam panjang. Lalu menoleh pada Pendekar 131. “Benar apa yang diucapkan?!”

Murid Pendeta Sinting jawab dengan anggukkan kepala. Namun seolah belum percaya, Dayang Sepuh berpaling pada Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. “Benar begitu?!”

“Bruss! Ucapannya tidak mengherankan dan benar!” jawab Datuk Wahing.

Sementara Gendeng Panuntun hanya angguk-anggukkan kepala. Dayang Sepuh hadapkan wajahnya ke depan pada kakek yang digendong dan bukan lain memang Kiai Geger Panulung, seorang tokoh rimba persilatan yang jarang muncul dan dikenal dengan gelaran Raja Tua Segala Dewa. Kalau tadi tampang Dayang Sepuh dibuat angker, kini si nenek tampak sunggingkan senyum. Tangan kirinya rapikan poni di depan keningnya. Tangan kanan sibakkan helaian rambutnya yang ada di pundak.

“Harap maafkan sikapku tadi...,” kata Dayang Sepuh. “Selama ini aku hanya tahu namamu tanpa pernah bertemu. Sementara kami baru saja mengalami kejadian tidak enak....”

Kiai Geger Panulung alias Raja Tua Segala Dewa balik tersenyum. “Seharusnya kami yang minta maaf. Datang tanpa diundang.... Memaksakan diri untuk ikut kumpul, padahal kalian akan membicarakan sesuatu yang mungkin orang luar tidak boleh mendengarnya....”

“Bruss! Adalah mengherankan kalau memandang mu sebagai orang luar, Sahabat.... Justru kehadiranmu yang kami syukuri!”

“Benar.... Kami sedang menghadapi urusan pelik. Kami butuh bantuanmu, Sahabat!” Gendeng Panuntun menyahuti.

Raja Tua Segala Dewa tersenyum dengan mata masih terpejam. Kepalanya perlahan menghadap pada murid Pendeta Sinting. Bersamaan itu tangan kanannya menyelinap ke balik pakaiannya. Saat tangannya ditarik keluar terlihat sebuah sarung pedang berwarna kuning.

“Anak muda.... Mungkin ini milikmu. Sahabatku Gulurawa menemukannya tergeletak di sana!” Raja Tua Segala Dewa menunjukkan ke satu arah.

“Sarung Pedang Tumpul 131!” gumam Joko. “Apa dia jumpa pula dengan orang di balik Jubah Tanpa Jasad itu?!Sarung pedang itu tertinggal disana....”

Seraya berpikir begitu, murid Pendeta Sinting melangkah mendekat. Sarung Pedang Tumpul 131 diambilnya dari tangan Raja Tua Segala Dewa. “Kek.... Apa kau juga bertemu dengan beberapa orang di tempat sarung pedang ini ditemukan?!”

Raja Tua Segala Dewa gelengkan kepala. Lalu memberi isyarat pada laki-laki setengah baya yang menggendongnya dan dipanggil dengan Gulurawa untuk melangkah mendekati Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun.

“Sahabat-sahabat.... Dari orang tua sepertiku ini bantuan apa yang bisa kuberikan? Kurasa tenaga-tenaga muda seperti murid Pendeta Sinting itu lebih bisa dimintai bantuan daripada tubuh renta sepertiku....”

Mendadak Dayang Sepuh tertawa mendengar ucapan Raja Tua Segala Dewa. “Orangnya memang masih muda. Wajahnya pun lumayan. Banyak gadis-gadis cantik terpikat. Cuma soal bantu membantu, bukan dia tempatnya untuk dimintai! Apalagi dalam keadaan jatuh cinta seperti saat ini....”

Tampang Joko berubah merah padam. Raut Putri Kayangan pun ikut berubah. Namun keduanya tidak ada yang buka suara.

“Betul kau sedang jatuh cinta, Anak Muda?!” tanya Raja Tua Segala Dewa.

“Nenek satu ini benar-benar sialan!” Murid Pendeta Sinting menggerendeng dalam hati. Tapi dia tidak menjawab pertanyaan Raja Tua Segala Dewa.

Dayang Sepuh cekikikan lalu melompat ke dekat Raja Tua Segala Dewa dan berbisik. “Mungkin dia malu... Dia jatuh cinta pada gadis disampingnya itu!”

“Hem.... Gadis cantik. Siapa dia, Nek?!” tanya Raja Tua Segala Dewa.

“Gadis setan bergelar Putri Kayangan!”

Raja Tua Segala Dewa buka kelopak matanya. Lalu memandang beberapa lama pada Putri Kayangan. “Seperti dia.... Tapi bukan dia....” Mendadak Raja Tua Segala Dewa bergumam.

Dayang Sepuh dan Putri Kayangan serta murid Pendeta Sinting sama kerutkan dahi. Namun mendengar gumaman si kakek, Putri Kayangan adalah orang yang paling tidak enak.

“Apa maksudmu.... Seperti dia tapi bukan dia?!”vtanya Dayang Sepuh. “Kau mengenalinya sebelum ini?!”

“Aku tidak mengenalinya. Tapi aku yakin pernah melihatnya! Cuma....”

“Cuma apa?!” Tak sabar Dayang Sepuh menyahut. “Cuma itu tadi. Seperti dia tapi bukan dia!”

“Aneh.... Kau mengatakan tidak mengenalnya tapi pernah melihatnya. Seperti dia tapi bukan dia! Teka-teki setan apa yang kau katakan ini?!”

“Itulah.... Aku sendiri tak mampu menjawabnya....”

“Sahabatku, Datuk Wahing.... Harap simak semua ucapannya!” Gendeng Panuntun berbisik pada Datuk Wahing.

“Brusss! Ucapannya membuatku heran...,” gumam sang Datuk.

“Raja Tua Segala Dewa!” kata Dayang Sepuh. “Terus terang saja. Kami baru saja terlibat bentrok dengan manusia yang kini mentasbihkan diri sebagai Penguasa Kampung Setan! Sialnya kami tidak mampu menghadapinya! Di tangannya tergenggam Kembang Darah Setan. Sementara dia sendiri mengenakan Jubah Tanpa Jasad, hingga manusianya tidak bisa dikenali. Selama ini kudengar kau memiliki ilmu aneh.... Kau bisa menduga siapa sebenarnya manusia pemakai Jubah Tanpa Jasad itu?!”

“Apa yang kau dengar selama ini mungkin hanya berita yang tidak benar. Aku tidak memiliki apa-apa, apalagi yang dikatakan ilmu aneh.... Maka dari itu, rasanya sulit aku menjawab pertanyaanmu.... Mungkin sahabatku Gendeng Panuntun tahu jawabannya....”

Mulut Dayang Sepuh mencibir. Lalu kepalanya digelengkan. Raja Tua Segala Dewa tersenyum. “Mungkin sahabatku Datuk Wahing bisa membantu....”

“Pada manusia nyata saja setan itu masih heran. Bagaimana mungkin dia bisa membantu?!”

“Hem.... Mungkin sahabat muda Pendekar 131....” Dayang Sepuh tertawa. “Urusan perempuan dia ahlinya. Bukan urusan aneh-aneh begini!”

“Kek! Kalau kau tidak bisa menduga siapa adanya orang di balik Jubah Tanpa Jasad, apa kau tahu bagaimana cara menghadapinya?!” Kali ini yang angkat suara adalah murid Pendeta Sinting.

Raja Tua Segala Dewa dongakkan kepala. Tiba-tiba dahinya berkerut. Lalu kepalanya yang tengadah bergerak-gerak ke samping kanan kiri. Telinganya terangkat tanda orang ini tengah tajamkan pendengaran. Semua yang melihat tanpa sadar ikut-ikutan mengernyit. Dan ikut-ikutan pula tajamkan telinga. Namun sebegitu jauh, tidak satu pun di antara mereka yang mendengar sesuatu!

Selagi semua orang bertanya-tanya, mendadak Raja Tua Segala Dewa berucap pelan. “Aku mendengar suara tangisan bayi... Ah, sayang cuma sejenak! Hai! Aku bisa melihatnya... Astaga! Pada pusarnya terlihat mata merah... Dan darah... Kulihat banyak darah... Dan bulan di atas sana tampak terang benderang...”

Raja Tua Segala Dewa usap wajahnya. Lalu menghela napas panjang. Saat lain kepalanya lurus menghadap Putri Kayangan. “Bukan... Bukan dia!”

Putri Kayangan tersentak. Dia makin tidak enak dan penasaran dengan ucapan orang. Hingga dia beranikan diri buka mulut. Tapi sebelum suaranya terdengar, Dayang Sepuh sudah mendahului.

“Aku tidak mendengar apa-apa! Juga tidak melihat apa-apa! Bisa kau jelaskan apa yang baru kau dengar dan kau lihat?!”

Raja Tua Segala Dewa geleng kepala. “Aku hanya bisa mengatakan apa yang kudengar dan kulihat. Tapi aku tak bisa menjelaskannya! Karena hanya itulah yang kudengar dan kulihat!”

Habis berkata begitu, Raja Tua Segala Dewa arahkan pandang matanya pada Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. Setelah menghela napas dia berucap. “Sahabat.... Aku tidak bisa membantu banyak! Mungkin sahabat muda murid Pendeta Sinting bisa melakukan semuanya! Sekarang aku harus pergi....”

Gendeng Panuntun anggukkan kepala. “Terimakasih atas bantuanmu, Sahabat.... Jika kelak bertemu lagi, aku ingin kita ngobrol lebih lama....”

“Mudah-mudahan kita sama diberi umur panjang...,” ucap Raja Tua Segala Dewa. Lalu memandang ke arah Dayang Sepuh. “Nek.... Harap tidak berprasangka akan jawabanku tadi.... Seandainya aku tahu, pasti sudah kukatakan....”

Tanpa menunggu sahutan dari si nenek, Raja Tua Segala Dewa alihkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting. “Sahabat muda.... Tugas di depanmu berat.... Tapi kuharap kau dapat menyelesaikannya dengan baik! Ingat.... Bukan dia, tapi seperti kekasihmu itu!”

Lagi-lagi tanpa menunggu sahutan dari orang, Raja Tua Segala Dewa telah alihkan pandang matanya pada Putri Kayangan. “Kau harus tabah, Sahabatku Cantik....”

Habis berkata begitu, Raja Tua Segala Dewa ketuk- kan tangannya pada punggung Gulurawa. Saat bersamaan Gulurawa melompat. Dan berkelebat lenyap di depan sana.

SEPULUH

BERSAMAAN dengan lenyapnya sosok Raja Tua Segala Dewa, Dayang Sepuh langsung buka mulut dengan kepala berpaling pada Gendeng Panuntun. “Kau terlalu banyak basa-basi dan peradatan! Bantuan apa yang diberikan hingga kau mengucapkan terima kasih, he?! Dia bukannya memberi bantuan, tapi malah membuat otak puyeng! Bicara tak tentu juntrungan!”

“Brusss! Aku juga heran mendengar ucapannya! Tapi aku lebih heran lagi dengan ucapanmu, Nenek Cantik....” Datuk Wahing sambuti kata-kata Dayang Sepuh.

“Bisa mu hanya heran dan heran!” semprot Dayang Sepuh.

“Tenang, Nenek...,” ujar Gendeng Panuntun kalem. “Kelihatannya sahabat Raja Tua Segala Dewa memang tidak banyak membantu! Tapi justru di sinilah jawa- ban yang kita cari saat ini!”

“Jawaban apa?! Mendengar tangisan bayi dan melihat pusar bermata merah itu kau katakan jawaban?!”

“Betul! Kalau kita dapat menjabarkan apa yang di- ucapkannya, kita akan mendapatkan jawaban yang kita cari saatini....”

Pendekar 131 melompat ke dekat Gendeng Panuntun. Namun belum sampai dia buka mulut, Dayang Sepuh telah membentak. “Kau juga akan ikut berpikir gila seperti mereka?!”

“Bibi.... Apa yang dikatakan Kakek Gendeng Panun- tun benar. Dua kali aku bertemu dengan Raja Tua Segala Dewa. Aku telah membuktikan bahwa semua ucapannya benar dan jadi kenyataan! Meski pada mulanya aku juga masih merasa ragu-ragu dan tidak mengerti!”

Si nenek terdiam. Joko menoleh pada Gendeng Panuntun. “Kek.... Suara tangisan bayi jelas maksudnya adalah seorang bayi. Namun kau bisa menjabarkan maksud daripada ucapan ‘cuma sejenak’ yang dikatakan Kakek Raja Tua Segala Dewa?!”

Gendeng Panuntun mengerjap dengan mata mengusap cermin bulatnya. Lalu berkata. “Biasanya, seorang bayi yang dilahirkan dan panjang umur, maka dia akan menangis lama....”

“Hem.... Maksudmu bayi itu tidak berumur panjang?!” tanya Joko.

Kepala Gendeng Panuntun bergerak mengangguk. “Dan biasanya, bayi yang tidak berumur panjang adalah seorang bayi yang dilahirkan belum genap bulannya!”

Dayang Sepuh tersenyum setengah mencibir, “itu mungkin masih masuk akal! Lalu apakah masuk akal jika dia melihat pada pusar bayi itu ada mata merah?! Pusar apa yang bermata merah, hah?!”

“Brusss! Itu mungkin hanya satu tanda, Nenek Cantik. Untuk membedakan bayi itu dari bayi lainnya! Memang mengherankan, tapi siapa tahu hal itu memang akanada...!”

“Bulan di atas sana terang benderang...,” kata Joko tirukan ucapan Raja Tua Segala Dewa. “Pasti itu adalah saat purnama!”

“Brusss! Untuk yang satu itu baru aku tidak merasa heran....!”

“Jadi, bayi itu akan lahir pada malam purnama. Kelahirannya belum genap bulan. Dan pada pusarnya terdapat mata berwarna merah....” Pendekar 131 berkata sambil arahkan pandang matanya pada Putri Kayangan.

Karena merasa tidak enak, Putri Kayangan kali ini menantang pandangan murid Pendeta Sinting hingga Joko urungkan lanjutkan ucapannya meski mulutnya telah menganga.

“Aku harus pergi...!” Tiba-tiba Putri Kayangan buka suara. Kejap lain gadis cantik ini membuat satu gerakan dan sosoknya melesat tinggalkan tempat itu.

“Tunggu!” tahan murid Pendeta Sinting seraya melompat dan berkelebat menyusul. Tapi bersamaan dengan itu Dayang Sepuh telah melompat memotong gerakan Joko dan tegak menghadang dengan berkacak pinggang seraya membentak.

“Ini urusanmu, Setan Geblek! Jangan hanya karena perempuan maka urusan yang belum selesai kau tinggal begitu saja!”

“Brusss! Kuharap ucapannya tidak mengherankan mu, Anak Muda!” Datuk Wahing sambung ucapan Dayang Sepuh.

“Benar.... Kelak kau pasti akan bertemu dengannya lagi! Apalagi jika dikaitkan dengan ucapan sahabat Raja Tua Segala Dewa yang beberapa kali mengatakan ‘seperti dia tapi bukan dia’....” Gendeng Panuntun ikut menyahut.

Murid Pendeta Sinting akhirnya hanya bisa pandangi sosok Putri Kayangan yang terus berkelebat kemudian lenyap di tikungan jalan. Setelah menghela napas panjang Pendekar 131 balikkan tubuh menghadap Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. “Aku tidak tahu apa maksud di balik ucapan Raja Tua Segala Dewa itu.... Kalian tahu?!”

Datuk Wahing bersin satu kali lalu geleng kepala. Sementara Gendeng Panuntun tengadahkan kepala dengan tangan usap-usap cermin bulatnya. Namun dia tidak juga berucap.

“Bibi.... Mungkin kau tahu maksud ucapan itu?!” Joko ajukan tanya pada Dayang Sepuh yang tegak di belakangnya.

Tidak terdengar sahutan dari si nenek. Namun sete-llah agak lama si nenek melangkah lewat di samping murid Pendeta Sinting seraya berkata. “Itu ada hubungannya dengan perempuan! Kau sendirilah yang memecahkannya!”

Dayang Sepuh teruskan langkah ke arah Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. Lalu berucap lagi. “Datuk Wahing.... Kita sudah lama bersama-sama cucu setan itu! Sekarang kita lanjutkan saja urusan kita....”

“Brusss! Brusss! Memang sudah waktunya kita pergi...,” kata Datuk Wahing lalu berpaling pada Gendeng Panuntun. “Sahabat.... Kalau kau tak punya urusan mengherankan, aku tawarkan untuk pergi bersama-sama kita!”

“Ah.... Sebenarnya tawaran menarik, apalagi jalan bersama dengan perempuan cantik. Tapi sayangnya aku masih punya sesuatu yang harus kulakukan! Kuharap kalian akan tawarkan lagi hal ini kelak kalau urusanku sudah selesai....”

Dayang Sepuh tertawa panjang mendengar ucapan Gendeng Panuntun. Puas tertawa seraya mencibir dia berujar. “Kau layaknya orang penting saja. Selalu dan selalu dirundung urusan!”

“Aku sendiri tak tahu mengapa harus begini. Tapi dalam urusan saat ini, kurasa aku tidak bisa membantu banyak. Kau simak tadi ucapan sahabat Raja Tua Segala Dewa. Urusan ini hanya sahabat muda Pendekar 131 yang bisa melakukannya!”

Habis berkata begitu, Gendeng Panuntun arahkan kepalanya pada murid Pendeta Sinting. “Sahabat muda... Kau telah menemukan jawaban meski belum semuanya. Urusan ini sebenarnya tanggung jawab semua orang yang terlibat dalam kancah dunia persilatan. Namun menyimak ucapan Raja Tua Segala Dewa, rasanya percuma kalau bukan kau yang menyelesaikannya! Jadi harap kau maklum kalau aku dan mungkin beberapa sahabat yang lain tak bisa membantu banyak!”

Tanpa menunggu lama, Gendeng Panuntun beranjak bangkit. Lalu melangkah hendak tinggalkan tempat itu.

“Kek.... Tunggu!” teriak Joko lalu melompat ke arah Gendeng Panuntun. Mungkin tak mau Gendeng Panuntun mendahului berkata, Joko cepat angkat bicara.“Kau dapat menentukan kira-kira purnama kapan bayi itu akan lahir?!”

“Ada kemungkinan aku bisa jawab seribu pertanyaanmu. Tapi untuk urusan waktu, aku tidak mau mendahului kehendak Yang Maha Menentukan!”

“Ini bukan mendahului kehendak. Aku hanya ingin tahu kira-kiranya!”

Gendeng Panuntun gelengkan kepala. “Aku tidak berani meski hanya mengatakan kira-kiranya, Sahabat Muda! Tapi firasat ku mengatakan, kau bakal menemukan jawaban itu!”

Gendeng Panuntun usap cerminnya berulang kali. Lalu teruskan langkah. Di sebelah depan sana, tiba-tiba Gendeng Panuntun berhenti. Kepalanya tengadah. Lalu terdengar suaranya. “Jawaban itu sebentar lagi akan kau temukan, Sahabat Muda....” Suaranya belum lenyap, sosok Gendeng Panuntun sudah tidak kelihatan lagi!

“Hem.... Mungkin jawaban itu akan kudengar dari Dayang Sepuh atau Datuk Wahing. Bukankah Kakek Gendeng Panuntun mengatakan sebentar lagi. Sementara hanya ada mereka yang tinggal di sini!”

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting segera melangkah mendekati Dayang Sepuh dan Datuk Wahing. Namun baru saja dia gerakkan kaki, Dayang Sepuh telah gerakkan tangan menarik lengan Datuk Wahing hingga si kakek bergerak bangkit. Dan seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Joko, begitu sosok Datuk Wahing tegak, Dayang Sepuh sudah berkata.

“Jawaban itu tidak akan kau dengar dari mulutku dan mulut setan tua ini! Karena aku atau setan bersin ini bukan ahli ramal-meramal kelahiran bayi! Apalagi belum ketahuan siapa manusianya yang akan melahirkan!”

Ucapan Dayang Sepuh membuat murid Pendeta Sinting hentikan langkahnya. Sementara Dayang Sepuh segera menarik kembali lengan Datuk Wahing. Saat lain kedua orang ini melangkah tinggalkan tempat Ku tanpa berkata apa-apa lagi!

Begitu sosok Dayang Sepuh dan Datuk Wahing lenyap, Joko menghela napas dalam. Lalu melangkah dan duduk di antara kerapatan semak belukar. “Rasanya sulit menemukan apa yang dikatakan Raja Tua Segala Dewa! Belum lagi apa yang harus kulakukan pada bayi itu jika benar-benar kutemukan!”

Murid Pendeta Sinting arahkan pandang matanya pada rimbun semak belukar yang banyak di sekitar tempat dia berada. Mendadak muncul bayangan paras wajah cantik Putri Kayangan. Hal ini membuat Joko teringat akan ucapan Raja Tua Segala Dewa.

“Seperti dia tapi bukan dia. Hem.... Apa maksud ucapan orang tua itu?! Apa ada hubungannya dengan urusan bayi itu...?!” Joko tengadahkan kepala dengan mata memejam.

Tiba-tiba dia laksana tersentak dan buka kedua ma- tanya. “Astaga! Jangan-jangan bayi itu akan lahir dari Putri Kayangan! Bukankah hanya perempuan yang bisa lahirkan seorang bayi? Tapi bagaimana mungkin?! Bukankah Putri Kayangan masih belum bersuami?! Tapi.... Siapa tahu sebenarnya dia telah bersuami....” Air muka murid Pendeta Sinting berubah. “Apa benar dia telah bersuami?! Tapi ah.... Raja Tua Segala Dewa mengatakan bukan dia! Berarti bayi itu tidak akan lahir dari Putri Kayangan. Ucapan Raja Tua Segala Dewa mungkin hanya menyamakan soal jenis perempuannya yang akan melahirkan bayi itu! Tapi siapa...?!”

"Krakkkk!" Tiba-tiba terdengar ranting patah. Pendekar 131 cepat berpaling. Sepasang matanya menyipit lalu membelalak saat melihat gerakan pada rumpun semak belukar berjarak lima belas langkah dari tempatnya. Joko cepat bangkit. Rumpun semak belukar makin bergerak-gerak.

Saat lain satu sosok tubuh mencuat ke udara setinggi tiga tombak. Pendekar 131 mengikuti gerakan sosok yang melayang di atas udara. Tiba-tiba sosok di atas udara membuat gerakan jungkir balik dua kali dan sekonyong-konyong meluncur deras ke arah murid Pendeta Sinting! Walau si sosok tidak mendorong kedua tangannya melepas pukulan, namun Joko merasakan sambaran gelombang dahsyat menghampar!

Melihat gelagat kurang baik, murid Pendeta Sinting cepat kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Lalu melompat ke samping kanan dengan tangan diangkat. Sosok yang meluncur merubah arah dan meluncur tepat ke arah Joko. Belum sempat murid Pendeta Sinting membuat gerakan, tahu-tahu si sosok telah tegak empat tindak dihadapannya!

SEBELAS

DIA adalah seorang pemuda berwajah tampan. Kumisnya lebat hitam. Hidungnya agak mancung. Rahangnya kokoh. Namun ada sedikit keanehan. Meski dia seorang pemuda tampan, rambutnya ternyata putih dan dibiarkan awut-awutan! Sepasang matanya agak sayu. Dan pakaian warna biru yang dikenakan terlihat amat tebal! Kedua telapak tangannya dibungkus dengan kaos tangan dari kulit. Sementara sepasang kakinya memakai kasut juga dari kulit! Sesaat pemuda berwajah tampan yang baru muncul memandang pada murid Pendeta Sinting. Tiba-tiba dia tertawa ngakak seraya angkat tangan kanannya dan menunjuk-nunjuk pada Joko.

Pendekar 131 kerutkan dahi. Cuma sekejap. Saat lain tangan kirinya diluruskan menunjuk pada orang dihadapannya. Pada saat yang sama mulutnya membuka perdengarkan tawa bergelak! Si pemuda di hadapan Joko putuskan tawanya. Tangan kanannya ditarik pulang. Kepalanya didorong ke depan dengan mata dibeliakkan. Murid Pendeta Sinting luruhkan tangan kirinya. Gelakan tawanya diputus. Saat bersamaan kepalanya digerakkan ke depan dengan mata dipentang besar-besar!

Si pemuda di depan murid Pendeta Sinting tarik kembali kepalanya. Joko ikut-ikutan tarik pulang kepalanya. Si pemuda kembali angkat tangan kanannya menunjuk pada Joko lalu menunjuk pada dirinya dengan kepala mengangguk-angguk. Pendekar 131 tidak tinggal diam. Tangan kirinya segera ditunjukkan pada orang lalu ditarik dan ditunjukkan pada dirinya sendiri dengan kepala membuat gerakan mengangguk-angguk. Si pemuda tertawa lagi. Joko ikut pula tertawa.

Si pemuda kerutkan dahi. Tangan kanannya diangkat ke mulutnya. Lalu telapak tangannya dihadapkan pada Joko dengan digerakkan mengembang menutup berulang kali. Joko segera pula kernyitkan kening. Tangan kirinya juga diangkat ke mulutnya lalu dihadapkan pada si pemuda dengan telapak dikembangkan lalu ditutup beberapa kali. Si pemuda makin kerutkan dahi. Seraya terus kembang tutupkan telapak tangan kanannya, kepalanya menggeleng dan mengangguk.

“Gila! Aku bisa ikut-ikutan gila kalau terus tirukan orang ini!” gumam Pendekar 131 pada akhirnya. “Dari gerakannya, pemuda ini mungkin bisu.... Repot jika berhadapan dengan orang bisu! Biasanya orang bisu akan diikuti dengan tuli....”

“Kau tidak bisa bicara?!” tanya Joko seraya membuat isyarat dengan tangan kiri dikembang-kembangkan.

Si pemuda tertawa terbahak-bahak. Lalu tunjuk-tunjuk telinganya dan tangannya membuat gerakan melingkar besar.

“Tepat dugaanku! Dia tuli dan isyarat tangannya memberi petunjuk agar aku bicara keras-keras! Hem.... Apa yang akan kubicarakan dengannya?! Rasanya tidak ada perlunya.... Tapi, kehadirannya di tempat itu tanpa bisa kuketahui memberi tanda kalau dia orang berilmu.... Ah, lebih baik aku segera saja tinggalkan tempat ini! Teka-teki ucapan Raja Tua Segala Dewa akan makin memusingkan jika ditambah dengan menghadapi orang sepertidia....”

Berpikir begitu, setelah tersenyum dan anggukkan kepala pada si pemuda di hadapannya, murid Pendeta Sinting putar diri. Namun mendadak gerakannya ditahan.

“Astaga! Bukankah Gendeng Panuntun tadi mengatakan....” Joko tidak lanjutkan kata hatinya. Dia cepat putar kembali tubuhnya menghadap si pemuda. “Hai!” teriak Joko ketika dilihatnya si pemuda telah balikkan tubuh dan hendak melangkah pergi.

Namun seolah tak mendengar teriakan orang, si pemuda teruskan gerakan kakinya. Murid Pendeta Sinting berkelebat ke depan dan tegak di hadapan si pemuda. Memandang sejurus lalu buka suara.

“Boleh tahu siapa kau adanya?!”

Si pemuda mengernyit. Langkahnya dihentikan. Tangannya bergerak ke depan dan telapak tangannya bergerak-gerak membuka menutup lalu menunjuk pada Joko dan dirinya. Pendekar 131 tersenyum lalu angguk-anggukkan kepala. Di hadapannya si pemuda ikut tersenyum. Lalu kembali gerakkan telapak tangannya membuka menutup. Sementara tangan satunya membuat lingkaran besar dan tunjuk-tunjuk kedua telinganya. Murid Pendeta Sinting dapat menangkap maksud orang. Dia segera kerahkan sedikit tenaga dalamnya lalu berteriak.

“Boleh tahu siapa kau adanya?!”

Si pemuda tadangkan kedua tangannya pada bagian belakang telinganya. Lalu kepalanya menggeleng. Saat bersamaan tangan satunya membuat lingkaran besar.

“Busyet! Dia masih belum bisa mendengar!” Joko menghela napas. Dia lipat gandakan tenaga dalam dan berteriak lagi.

“Siapa kau?!”

Si pemuda anggukkan kepala. Bibirnya tersenyum. Joko menunggu. Namun tiba-tiba dia ingat. “Dia bisu.... Bagaimana dia bisa jawab pertanyaanku?! Tapi.... Mungkin dia bisa menulis....”

Ingat hal itu, Joko segera jongkok lalu telunjuknya digores-goreskan ke tanah. Namun si pemuda tampak gelengkan kepala. Lalu menunjuk pada murid Pendeta Sinting dan dirinya. Karena Joko tidak mengerti, akhirnya dia hanya memandang dan menunggu. Si pemuda tertawa. Kedua tangannya perlahan-lahan bergerak melepas pakaian birunya. Joko sedikit besarkan matanya. Ternyata di balik pakaian biru terlihat lagi pakaian warna putih. Namun saat lain mata murid Pendeta Sinting terbelalak ketika pakaian warna biru luruh ke bawah. Ternyata pakaian itu adalah pakaian panjang milik seorang perempuan!

“Busyet! Dia mengenakan pakaian perempuan! Apa maksudnya?!”

Selagi Joko terheran-heran, si pemuda yang kini mengenakan pakaian putih milik perempuan balikkan tubuh. Tangan kanannya diangkat. Terdengar seperti kain tersobek. Tangan si pemuda campakkan selembar kulit tipis. Lalu putar diri. Murid Pendeta Sinting pentangkan mata. Di hadapannya kini tegak seorang gadis muda berparas cantik jelita.

“Kalau saja rambutnya tidak putih dan awut- awutan....”

Si pemuda yang kini berubah menjadi seorang gadis berparas jelita liukkan tubuh dengan pantat digoyang-goyang. Saat bersamaan dari mulutnya terdengar suara uuukk! Ukkkk! Ukkkk! berulang kali. Lalu si gadis cantik ini bergerak-gerak kian kemari, menari diiringi suara uukk! Ukkkk! Ukkkk! tiada henti.

Joko hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Namun tiba-tiba gerakan kepalanya terhenti. Senyum di bibirnya pupus laksana disentak setan ketika melihat si gadis membuat gerakan berputar-putar dengan tangan terangkat. Dan ketika dia hentikan putaran tubuhnya dan menghadap ke arah Joko, ternyata wajahnya telah berganti menjadi seorang nenek!

Si nenek tertawa panjang. Lalu dengan cepat tangannya bergerak lepas kancing-kancing pakaian putihnya. Karena menduga di baliknya tidak mengenakan pakaian lagi, dengan dada masih terheran-heran, murid Pendeta Sinting segera palingkan kepala.

“Ukkk! Ukkkk! Ukkkk!” Si nenek perdengarkan suara.

Perlahan-lahan kepala Joko bergerak dengan mata setengah disipitkan. Namun mendadak matanya bergerak membuka besar-besar. Di hadapannya tegak seorang laki-laki berusia lanjut mengenakan pakaian lusuh berwarna putih. Kumisnya tebal berwarna putih. Di bawahnya terhampar pakaian warna putih milik seorang perempuan. Di sebelah pakaian putih tergeletak kulit tipis membentuk wajah seorang nenek!

Si kakek menunjuk pada dirinya berkali-kali. Lalu melepas kaos di kedua tangan dan kakinya. Di balik kaos tangan dan kaki itu terlihat kulit yang telah mengeriput.

“Dia seakan menunjukkan kalau saat ini adalah bentuknya yang asli!” Joko rupanya dapat menangkap isyarat orang. Lalu anggukkan kepala dan tersenyum.

“Sekarang mau tuliskan siapa kau adanya?!” Joko segera bertanya.

Si kakek gelengkan kepala dengan kedua tangan ditadangkan di belakang kedua telinganya. Memberi tanda jika dia belum mendengar suara Joko. Meski kesal akhirnya Pendekar 131 kerahkan tenaga dalam lalu ulangi ucapannya. Si kakek tertawa seraya gelengkan kepala.

“Hem.... Mungkin bukan dari orang ini jawaban itu akan ku peroleh!” gumam Joko mulai ragu-ragu melihat sikap orang. Dia sudah putuskan hendak meninggalkan tempat itu. Lalu berkata dengan suara keras.

“Aku harus pergi.... Kelak mudah-mudahan kita jumpa lagi dan bisa bicara lebih lama!”

“Ukkkk! Ukkkk! Ukkkk!” Si kakek buka mulut. Tangan kiri kanannya bergerak-gerak ke samping kiri kanan memberi isyarat mencegah kepergian Joko.

Joko urungkan niat. Si kakek tersenyum. Lalu menunjuk pada Joko. Tangan kanannya ditarik dan diletakkan di atas jidatnya. Lalu diangkat diputar-putar di atas kepala. Saat lain tangannya ditarik ke bawah. Di atas perutnya dia membuat lingkaran besar dari atas ke bawah dengan perut disorongkan ke depan. Murid Pendeta Sinting sesaat memperhatikan. Kejap lain dia melompat ke depan.

“Betul! Betul! Aku tengah dibuat pusing dengan kandungan seseorang!”

Si kakek gelengkan kepala seraya tadangkan kembali kedua tangannya di belakang telinga. Rupanya karena senang gerakan orang mengisyaratkan orang hamil, Joko jadi lupa dan angkat suara dengan pelan.

“Betul, Kek! Aku sedang pusing dengan kandungan seseorang!” kata Joko dengan suara keras. “Kau tahu kapan bayi itu akan lahir?!”

Si kakek arahkan pandang matanya ke langit. Kedua tangannya diangkat dan bergerak membuat bentuk bundaran. Lalu menunjuk ke langit.

“Betul! Bulan purnama! Tapi purnama kapan?!” tanya murid pendeta Sinting dengan suara tetap dikerahkan.

Si kakek memandang pada Joko. Mulutnya membuka perdengarkan suara ukkk! Ukkk! berulang kali. Lalu tangan kanannya diangkat. Dua jarinya dikembangkan. Sementara tangan kiri menunjuk jauh.

“Hem.... Maksudmu dua bulan mendatang?!”

Si kakek dekatkan telinganya ke depan seraya dihadapkan ke arah Pendekar 131.

“Dua bulan di depan!” teriak Joko keras-keras.

Lagi-lagi si kakek kerutkan kening. Lalu geleng- geleng kepala dengan tangan ditusuk-tusukkan pada telinganya. Kepalanya ditarik menjauh. Murid Pendeta Sinting tertawa dalam hati. Karena isyarat si kakek menunjukkan jika telinganya berdengung sakit akibat suara Joko yang terlalu keras. Apalagi suara itu dengan pengerahan tenaga dalam.

“Hem.... Dua bulan mendatang.... Kini teka-teki itu tinggal dari perempuan mana bayi akan lahir! Kakek itu tahu kapan si bayi akan lahir, mungkin dia juga tahu dari perempuan mana bayi itu akan lahir!”

Berpikir begitu murid Pendeta Sinting segera kerahkan kembali tenaga dalamnya. Saat lain dia buka mulut. “Kek! Kau tahu dari perempuan mana bayi itu kelak akan lahir?! Setidaknya kau bisa memberikan tanda-tandanya perempuan itu?!”

Si kakek angkat kedua tangannya sejajar dada. Tangan kanannya diangkat sedikit lagi ke arah mukanya. Lalu digerakkan berputar. Saat lain dia acungkan ibu jarinya. Sesaat kemudian, tangan kiri diangkat, diputarkan pada wajahnya lalu ibu jarinya diacungkan ke depan menjajari ibu jari tangan kanan.

“Hem.... Perempuan cantik...,” gumam Pendekar 131. Lalu anggukkan kepala memberi isyarat kalau dia mengerti apa maksud si kakek.

Si kakek tersenyum. Lalu menunjuk pada Joko kemudian ditunjukkan pada ibu jarinya. Joko kernyitkan dahi coba menangkap isyarat. Namun kali ini dia masih ragu-ragu. Hingga dia gelengkan kepala.

“Ukkk! Ukkkkk! Ukkk!” Si kakek buka mulut. Lalu saling hadapkan kedua tangannya. Saat lain menunjuk pada murid Pendeta Sinting dandirinya.

“Ah.... Aku tahu.... Maksudnya aku pernah bertemu dengan perempuan itu!” gumam Joko. Namun karena belum yakin benar, Joko segera mendekat dan berteriak. “Maksudmu aku pernah bertemu dengan perempuan yang akan melahirkan itu?!”

Si kakek tertawa seraya acungkan ibu jarinya. Murid Pendeta Sinting ikut tersenyum meski dadanya mulai di buncah perasaan tak karuan. Sekilas terbayang wajah-wajah cantik milik Dewi Seribu Bunga, Saraswati, Puspa Ratri, Putri Kayangan, Pitaloka, dan terakhir justru Dayang Sepuh. Puas tertawa si kakek kembali gerakkan tangan kiri kanan ke wajahnya dan diputar. Lalu ibu jari tangan kanan kiri diacungkan ke depan. Saat lain ibu jari tangan kiri diangkat lebih tinggi dari ibu jari tangan kanan. Ibu jari tangan kiri digoyang-goyangkan lalu kepalanya bergerak mengangguk. Saat lain dia goyang-goyangkan ibu jari tangan kanan dengan kepala menggeleng.

Pendekar 131 coba berpikir. Namun setelah agak lama tampaknya dia belum tahu apa maksud isyarat orang. Hingga dia segera berteriak. “Aku belum tahu apa maksudmu!”

Si kakek gelengkan kepala dengan mata cemberut. Lalu kembali membuat gerakan seperti tadi dan diakhiri dengan goyangan pada ibu jari tangan kanan dengan kepala menggeleng.

“Hem.... Sulit menjabarkan apa maksudnya...,” ujar Joko. Lalu gelengkan kepala sambil berteriak. “Aku tak bisa menangkap isyarat mu!”

Si kakek menghela napas panjang. Lalu mencibir sambil menepuk keningnya dan tangannya membuat bundaran.

“Jangkrik! Dia mengejek ku tidak bisa berpikir dan bodoh!” desis murid Pendeta Sinting mengerti apa yang dilakukan si kakek. Namun Joko tidak mau bertindak lebih jauh karena bagaimanapun juga si kakek telah banyak membantu.

“Apa yang harus kulakukan untuk dapat mengetahui apa maksudnya?! Hem.... Mungkin dia dapat menulis....” Joko memberi isyarat dengan gerakkan tangan seperti orang menulis. Dan khawatir si kakek belum mengerti, Joko segera berucap.

“Kau bisa menulis?!”

Si kakek gelengkan kepala. Namun sesaat kemudian tangannya bergerak-gerak di udara.

“Hem.... Gerakannya ruwet. Tapi sepertinya aku bisa menduga....”

Pendekar 131 sorongkan kepalanya ke depan lalu buka mulut. “Kau hendak menggambar?!” Si kakek tertawa sembari anggukkan kepala. Joko cepat berkelebat mematahkan sebuah ranting agak besar lalu diberikan pada si kakek.

Si kakek memandang sesaat pada murid Pendeta Sinting lalu sambuti patahan ranting yang disodorkan padanya. Kejap lain dia bergerak jongkok. Patahan ranting di tangannya mulai digoreskan di atas tanah. Si kakek membuat gambar dua wajah perempuan. Di atasnya diberi angka satu dan dua. Lalu memandang pada Joko seraya membuat gerakan saling hadapkan kedua tangannya kemudian menunjuk pada dua gambar di tanah. Joko anggukkan kepala. Si kakek tertawa lalu tunjuk gambar nomor satu dengan kepala mengangguk. Saat lain menunjuk pada gambar nomor dua dengan kepala menggeleng.

“Waduh.... Apa maksudnya...?! Aku pernah bertemu dengannya. Tapi apa maksud anggukan dan gelengan kepalanya?! Dan mengapa dia membuat dua gambar?! Adakah dua orang perempuan yang hendak melahirkan...?!”

“Kek!” kata Joko. “Maksudmu akan ada dua perempuan yang mengandung?!”

Si kakek menjawab dengan tunjukkan patahan ranting pada gambar nomor satu. Kemudian berikan tanda silang pada gambar nomor dua. “Berarti cuma ada satu perempuan yang mengandung.... Anehnya mengapa dia membuat dua gambar?!”

Belum sampai Joko utarakan apa yang masih mengganjal dalam dadanya, si kakek telah bergerak bangkit. Patahan ranting dicampakkan ke tanah lalu menunjuk silih berganti pada dua gambar di tanah. Saat lain menunjuk pada Joko dengan tangan satunya menunjuk pada dadanya sendiri, lalu mulutnya menguncup. Tangan kiri diangkat didekatkan pada mulutnya lalu dia meniup.

“Ukkkkkk!” Si kakek bergumam panjang dengan tangan kiri disentakkan ke depan seolah tersembur oleh hembusan mulutnya.

“Busyet! Aku makin bingung dengan isyaratnya!” gumam Joko tak mengerti. Lalu berteriak. “Kek! Aku tak mengerti! Bisa terangkan dengan cara lain?!”

Si kakek lagi-lagi mencibir. Saat lain dia berkelebat. Joko tersentak. Dia cepat mengejar. Namun si kakek gerakkan kakinya ke belakang. Satu gelombang dahsyat melesat. Gerakan murid Pendeta Sinting bukan saja tertahan, namun jika dia tidak segera kerahkan tenaga dalam untuk kuasai diri, niscaya sosoknya akan terjajar dan terjengkang di atas tanah!

Pendekar 131 gelengkan kepala. Saat lain dia segera berkelebat hendak mengejar. Namun belum sempat sosoknya bergerak, satu bayangan meluncur deras. Tahu-tahu si kakek telah tegak lima langkah di hadapannya. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Joko memperhatikan dengan seksama. Ternyata di tangan si kakek tergenggam setangkai bunga mawar merah.

“Ukkk! Ukkkk! Ukkkk!” Si kakek buka mulut. Lalu tangan kanannya yang menggenggam mawar merah didekatkan pada dua gambar di tanah silih berganti. Saat lain diberikan pada Joko.

Murid Pendeta Sinting sambuti bunga mawar merah. Si kakek tersenyum sambil anggukkan kepala. Saat lain dia gerakkan tangan melambai-lambai. Bersamaan dengan itu sosoknya berkelebat tinggalkan tempat itu.

“Kek! Tunggu!” teriak Joko keras-keras seraya berkelebat. Namun sekuat tenaga dia kerahkan ilmu peringan tubuh serta tenaga dalam dan luarnya, dia gagal mengejar malah tak lama kemudian kehilangan jejak! Dengan mulut megap-megap, Joko angkat tangannya yang menggenggam mawar pemberian si kakek. Dia teringat akan tindakan si kakek yang dekatkan mawar pada dua gambar di tanah lalu diberikan padanya.

“Hem.... Mawar merah adalah lambang cinta.... Jangan-jangan.... Ah! Apa maksudnya perempuan itu mencintai ku.... Tapi bagaimana mungkin?! Kalau hamil berarti dia sudah punya suami! Apa mungkin dia masih jatuh cinta lagi, apalagi padaku?! Ah.... Itu urusan nanti. Yang penting, siapa perempuan itu?! Dan mengapa dua?!”

Karena tidak bisa menemukan jawabannya, murid Pendeta Sinting melompat ke bawah sebatang pohon besar. “Memikirkan terus menerus bisa membuatku gila! Aku akan istirahat dahulu! Siapa tahu aku bisa mendapatkan jawabannya di alam mimpi!”

Dengan cengar-cengir Pendekar 131 rebahkan diri di bawah pohon. Saat lain terdengar dengkurannya!

DUA BELAS

JUBAH hitam tanpa kelihatan sosok pemakainya itu berkelebat dengan perdengarkan suara deruan angker. Saat sepuluh tombak di depan sana tampak sebuah aliran sungai, jubah hitam yang bukan lain Jubah Tanpa Jasad yang dikenakan Kiai Laras berhenti.

“Aku ingin tahu bagaimana tampangku saat mengenakan Jubah Tanpa Jasad ini hingga semua orang tidak mengenaliku lagi!” gumam Kiai Laras seraya perhatikan dirinya. Bibirnya sunggingkan senyum. “Tidak kuduga sama sekali akan begini akhirnya! Sekarang aku bukan saja dapat membalaskan semua rasa sakitku pada orang-orang yang membuatku kecewa pada puluhan tahun silam, namun aku sekarang pantas pula menyandang sebagai tokoh tanpa tanding di kolong jagat! Ha Ha Ha...!” Kiai Laras tertawa ngakak. Lalu teruskan kelebatannya.

Kiai Laras hentikan larinya di pinggir aliran sungai. “Mungkinkah tampangku memang berubah?!” Kiai Laras kembali menggumam. Dia arahkan pandang matanya ke seantero tempat itu.

Seperti diketahui, Kiai Laras sempat terkejut mendapati Datuk Wahing, Dayang Sepuh bahkan kakak kandungnya sendiri Kiai Lidah Wetan tidak mengenali siapa dirinya. Selain hal itu mendatangkan rasa gembira pada Kiai Laras karena dia tidak diketahui, sebenarnya dia merasa penasaran. Maka dia sengaja pergi ke aliran sungai ingin melihat di permukaan air mengapa orang-orang yang diyakininya pasti mengenalnya sampai tidak bisa mengenali. Perlahan-lahan Kiai Laras gerakkan kepalanya ke depan untuk berkaca di permukaan air. Sesaat mata Kiai Laras menyipit dengan dahi mengernyit. Karena dia tidak bisa melihat pantulan tubuhnya di permukaan air.

“Aneh.... Atau karena airnya kotor?!” Kiai Laras tarik kembali kepalanya. Lalu perhatikan aliran air. “Air ini bersih.... Tapi mengapa bayangan ku tidak kelihatan?”

Untuk yakinkan diri, kembali Kiai Laras gerakkan kepalanya ke depan, berkaca di permukaan air. “Ah.... Aku memang tidak melihat pantulan kepalaku!” Kiai Laras angkat kedua tangannya dan diluruskan ke depan dengan kepala melongok ke bawah. "Telapak kedua tanganku tidak kelihatan. Yang terlihat hanya lengan jubah ini! Jadi....” Kiai Laras berjingkrak. “Jubah hebat.... Inilah jawabannya mengapa manusia-manusia itu tidak bisa mengenaliku! Ternyata tubuhku tidak kelihatan!”

Kiai Laras mundur beberapa tindak. Kepalanya bergerak memutar. Saat lain dia melepas Jubah Tanpa Jasad. Jubah Tanpa Jasad diletakkan di atas tanah. Setelah perhatikan berkeliling sekali lagi, dia maju ke pinggiran sungai. Kepala dan kedua tangannya digerakkan kedepan. Kali ini di atas permukaan air, sang Kiai bisa melihat pantulan kepala serta kedua tangannya. Kiai Laras manggut-manggut seraya tersenyum. Lalu melompat ke belakang dan cepat-cepat mengenakan kembali Jubah Tanpa Jasad. Kiai Laras tengadahkan kepala memandang langit. Mulutnya membuka.

“Aku akan menguasai bumi! Semua manusia di kolong jagat harus tunduk pada kakiku! Dan aku akan mendirikan sebuah kerajaan! Ha Ha Ha...!”

Sembari terus tertawa bergelak, Kiai Laras berkelebat tinggalkan pinggiran sungai. Dia berkelebat ke arah selatan. Jubah Tanpa Jasad kembali perdengarkan deruan angker. Ketika matahari sudah condong dan hampir jatuh di kaki langit, Kiai Laras baru hentikan larinya. Saat itu dia telah tegak di bibir jurang. Kiai Laras putar pandangan. Lalu melongok ke jurang di bawahnya.

“Hem.... Suasana gelap membuat jurang ini terlalu hitam untuk dilihat! Apa aku harus terjun?!” Kiai Laras bimbang. Namun paras wajahnya tampak tegang. Bukan takut melihat kedalaman jurang, melainkan membayangkan hawa kemarahan!

“Aku telah sampai di sini! Tidak ada gunanya membuang waktu! Jahanam itu harus mampus sekarang juga!”

Baru saja Kiai Laras mendesis begitu, mendadak satu bayangan mencuat ke udara di sebelah belakang. Kiai Laras sedikit tersentak. Dia cepat putar diri. Tahu-tahu di hadapannya telah tegak seorang kakek berusia amat lanjut. Tangan kanannya memegang tongkat. Rambutnya yang tipis disanggul ke atas. Tubuhnya hanya tinggal tulang-belulang. Dari kedua matanya yang sayu tampak air yang terus menerus merembes. Tanda orang ini sudah demikian tuanya.

“Kala Marica! Beruntung kau belum mampus ditangan orang lain!” Kiai Laras buka mulut membentak.

Kakek di hadapan Kiai Laras yang disebut Kala Mrica terkesiap. Untuk beberapa lama dia pandangi jubah tanpa sosok yang mengapung di udara. “Jubah Tanpa Jasad!” seru Kala Marica dengan bibir bergetar.

“Bagus! Nama besarmu rupanya tidak cuma nama. Terbukti kau telah mengenali jubah di depan matamu! Ha Ha Ha...! Tapi nama besarmu hari ini akan terkubur selamanya!”

“Siapa kau, Sahabat?!” Kala Marica bertanya dengan suara kalem.

“Selama ini kau dikenal sebagai manusia yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain! Apakah kemampuanmu telah lenyap, Jahanam Kala Marica?!”

Kala Marica tidak menjawab. Diam-diam dalam hati kakek ini berkata. “Apakah mungkin dia Penguasa Kampung Setan?! Tapi bukankah dia telah meninggal puluhan tahun silam dan hanya tinggal kerangkanya saja?! Atau barangkali anak turunannya?! Kalau benar, mengapa dia punya niat hendak membunuhku?! Selama ini aku tidak pernah membuat urusan dengan orang lain. Kalau orang ini mengenakan Jubah Tanpa Jasad, berarti dia membekal pula Kembang Darah Setan. Hem.... Sulit bagiku menduga siapa adanya orang ini!”

“Kala Marica! Takdir kematianmu sudah tidak bisa ditunda lagi! Namun aku masih memberi pilihan atas takdir kematianmu! Tanganku sendiri yang akan melakukannya atau tongkat di tanganmu yang akan bicara pada tuannya sendiri!”

“Sahabat.... Rasanya selama ini aku tidak pernah punya silang sengketa dengan seseorang! Adalah aneh kalau kau kali ini datang hendak membunuhku! Bisa jelaskan apa masalahnya?!”

Kiai Laras tertawa dahulu sebelum akhirnya berkata. “Puluhan tahun silam kau pernah menolak seorang kere yang hendak berguru padamu! Kau mentang-mentang seorang tokoh yang bernama besar dan disegani hingga seenak perutmu kau menolak!”

Kala Marica usap rembesan air matanya. Dahinya yang amat mengeriput bergerak mengernyit. Dia coba mengingat. Namun tampaknya dia gagal. Hingga pada akhirnya ia berucap. “Sahabat.... Saat puluhan tahun silam memang banyak pemuda yang hendak berguru padaku. Bukan kau saja sebenarnya yang ku cegah. Tapi semua yang datang dengan niat sama sepertimu.... Kau tahu, Sahabat.... Penolakan ku bukan karena aku bernama besar atau disegani. Sama sekali bukan karena itu. Justru aku sadar kalau aku tidak pantas disebut guru dan maklum aku tidak memiliki ilmu seperti yang didengar orang. Lain daripada itu, karena aku tidak mau menciptakan dunia ini makin parah seandainya aku mengangkat murid dan ternyata murid itu tidak pergunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan! Itulah pertimbangan ku mengapa aku mencegah beberapa orang yang berniat mengangkat ku sebagai guru....”

“Sudah cukup bicara omong kosong mu, Kala Marica?!” tanya Kiai Laras dengan suara dingin.

“Sahabat.... Kau memang berhak menilai ucapanku! Tapi aku bicara apa adanya!”

Kiai Laras tertawa pendek. “Silakan kau bicara bermacam alasan! Yang jelas kau telah kecewakan hati seseorang! Dan hari ini dia minta imbalan atas rasa kecewanya! Tidak banyak yang kuminta! Cuma selembar nyawamu! Dan kau telah dengar pilihannya! Dengan tanganku atau dengan tongkat di tanganmu sendiri!”

“Sahabat... Kematian adalah satu hal yang pasti. Tapi aku tak ingin memilih jalan kematianku...”

“Bagus! Jika begitu aku yang akan memilihkan jalan kematian itu!”

Habis berkata begitu, Kiai Laras masukkan tangan kanan ke balik pakaiannya. Saat ditarik keluar, Kala Marica melihat setangkai kembang berdaun tiga warna yang pancarkan sinar mengapung di udara.

“Kembang Darah Setan!” Kala Marica menggumam pelan dengan dada berdebar keras dan tangan bergetar. “Melihat apa yang diucapkan tadi dan hubungannya dengan Jubah Tanpa Jasad serta Kembang Darah Setan, kurasa orang ini bukan dari keluarga Kampung Setan. Lalu siapa?!”

“Kala Marica! Aku dulu seorang pecundang! Tapi takdir kini telah berkata lain! Saat ini bumi berada di genggaman tanganku! Dan karena kau tempo dulu membuatku sebagai pecundang, saat ini aku ingin buktikan jika bumi di genggaman tanganku!”

"Wuuuutt!" Kembang Darah Setan berkelebat. Sinar tiga warna. Merah, hitam, dan putih berkiblat angker.

“Sahabat.... Kau membuatku terpaksa melakukan sesuatu.... Maaf, bukan aku mencari urusan, namun....” Kala Marica tidak bisa lanjutkan ucapannya karena saat itu kiblatan Kembang Darah Setan telah makin dekat.

Kala Marica berkelebat ke belakang. Tongkat di tangan kanannya disentakkan ke depan. Sementara tangan kirinya bergerak mendorong. Satu nyala laksana bara mencuat dari kelebatan tongkat Kala Marica menembus kiblatan sinar tiga warna. Sinar tiga warna pecah bertabur di udara. Sementara bara yang melesat dari tongkat langsung buyar berentakan perdengarkan ledakan keras!

Kala Marica langsung mental satu tombak. Tongkat di tangannya mencelat ke udara. Kala Marica coba kuasai diri di atas udara dengan cepat kerahkan tenaga dalamnya. Namun baru saja si kakek kerahkan tenaga dalam, dari arah depan kembali telah berkiblat sinar tiga warna, malah kini disertai gelombang dahsyat. Kala Marica terkesiap. Dia teruskan pengerahan tenaga dalamnya. Bukan untuk kuasai diri lagi, namun disalurkan pada kedua tangannya. Hingga kakek ini tidak bisa kuasai diri lagi. Sosoknya terbanting di udara lalu meluncur deras ke bawah. Dalam keadaan seperti itu, hebatnya Kala Marica masih sempat hantamkan kedua tangannya!

Wuuttt! Wuuuutt! Bukkk!

Terdengar deruan luar biasa. Disusul suara bergedebukan menghantam sosok Kala Marica di atas tanah. Sinar tiga warna terus berkiblat. Saat lain terdengar gelegar hebat tatkala kiblatan Kembang Darah Setan itu menghantam dua gelombang dahsyat dari kedua tangan Kala Marica. Tanah bertabur mengangkasa menutupi pemandangan hingga suasana yang agak gelap berubah menjadi pekat!

Bibir jurang di sebelah kanan kiri tampak ambrol. Sosok Kala Marica tersapu mencelat dua tombak lalu kembali jatuh tunggang langgang di atas tanah dengan mulut kucurkan darah kehitaman. Di depan sana, Jubah Tanpa Jasad hanya terjajar beberapa langkah. Saat lain ia telah menerobos kepekatan tanah dan tahu-tahu telah tegak terapung di depan sosok Kala Marica!

“Kala Marica! Aku telah katakan. Bumi ini sekarang berada di genggaman tanganku. Puluhan tahun silam kau boleh bangga dengan ilmumu! Tapi saat ini di hadapanku kau tidak memiliki apa-apa!”

Kala Marica berusaha bangkit duduk. “Sahabat.... Sejak dahulu aku tidak pernah merasa punya ilmu...,” ucap Kala Marica dengan suara tersendat dan bergetar.

“Hem.... Kau berani berkata begitu karena kau telah melihat apa yang kulakukan padamu! Ha Ha Ha...! Tapi jangan mimpi ucapanmu akan membuatku menarik niat!”

Kala Marica geleng kepala. “Sahabat... Kau salah! Tidak ada niat di hatiku agar kau menarik niatmu! Aku tahu... Aku memang tak mampu menghadapimu dengan Kembang Darah Setan di tanganmu! Tapi perlu kau tahu, Sahabat. Benda curian itu hanya buatan manusia. Sementara manusia itu diciptakan Yang Maha Pencipta... Jadi jangan kau terlalu mengandalkan ciptaan manusia selagi manusia itu sendiri ada yang menciptakan...!”

“Khotbah mu sungguh menarik! Kau juga pandai menduga tentang benda yang ada di tanganku! Tapi sayang takdirmu sudah tiba hingga kau tidak bisa membuktikan kebalikan dari khotbah mu!”

Habis berkata begitu, tangan kiri Kiai Laras berkelebat lepaskan pukulan tangan kosong jarak jauh bertenaga dalam tinggi. Mendadak Kiai Laras terkejut. Dia semula menduga jika Kala Marica sudah tidak mungkin mampu menghadang pukulannya. Tapi dugaannya meleset. Karena bersamaan dengan bergeraknya tangan kiri Kiai Laras, Kala Marica jatuhkan diri bergulingan di atas tanah. Pada gulingan ketiga sekonyong-konyong kedua tangan Kala Marica menyentak. Bukan hanya itu, kedua kakinya pun ikut bergerak membuat gerakan menendang!

Empat gelombang ganas sekaligus melesat menghadang pukulan Kiai Laras. Terdengar lagi letusan. Namun karena empat gelombang itu lebih kuat, begitu terdengar letusan, gelombang itu terus menerabas ke arah Kiai Laras. Kiai Laras tercekat. Terlambat baginya untuk kelebatkan Kembang Darah Setan di tangan kanannya. Hingga tanpa ampun lagi gelombang ganas menghantam ke tubuhnya!

Namun setengah jengkal lagi gelombang ganas itu menggebrak, tiba-tiba Jubah Tanpa Jasad laksana dilapis tembok besar, hingga bukan saja gelombang ganas itu seketika seperti membentur tembok raksasa, namun mental balik ke arah Kala Marica! Kali ini Kala Marica yang tercengang tegang. Belum sempat lenyap rasa kesimanya gelombang yang mental telah melabrak!

Kala Marica perdengarkan seruan tertahan. Sosok- nya terseret di atas tanah sejauh tiga tombak. Dari hidung dan mulutnya alirkan darah. Saat lain sosok orang tua ini diam tak bergerak-gerak. Kiai Laras tersenyum. Karena tadi terkejut, dia lupa jika Jubah Tanpa Jasad mampu menghadang setiap serangan! Dan begitu mendapati Kala Marica diam tak bergerak-gerak, Kiai Laras cepat berkelebat dan tegak di samping sosok Kala Marica.

“Sahabat... Kau puas?!” Tiba-tiba Kala Marica perdengarkan suara.

Kiai Laras tersentak. “Jahanam ini belum mampus!” gumam sang Kiai. Lalu mendongak. “Aku ingin tahu apakah tanah benar-benar tak mau menerima tubuhmu! Lebih dari itu aku ingin kau mampus tanpa kubur!”

Habis berkata begitu, enak saja tangan kiri Kiai Laras mencekal pundak Kala Marica lalu menyeretnya ke arah jurang. Karena sudah tidak berdaya, Kala Marica tidak berusaha memberontak. Malah sunggingkan senyum! Kiai Laras letakkan sosok Kala Marica di bibir jurang. Saat itu suasana sudah gelap karena matahari sudah jatuh. Sang Kiai pandangi sesaat sosok si kakek. Lalu berkata. “Selamat jalan, Kala Marica!”

Bersamaan dengan terdengarnya ucapan, kaki kanan Kiai Laras bergerak lakukan tendangan. Sosok Kala Marica terdorong amblas masuk ke dalam jurang! Kiai Laras melangkah dua tindak. Meski suasana gelap dan tidak bisa melihat bagian bawah jurang, namun Kiai Laras longokkan juga kepalanya ke jurang dibawahnya. Saat itulah mendadak terdengar suara dari bagian bawah jurang. Kiai Laras tahu benar, jika suara itu adalah suara Kala Marica.

“Siapa pun adanya kau.... Kelak kau akan mengambil buah dari perbuatanmu! Kau boleh punya senjata Kembang Darah Setan dan Jubah Tanpa Jasad! Tapi Sang Pencipta akan menciptakan pamungkasnya! Dan pamungkas itu akan hadir dari darahmu sendiri!”

Untuk beberapa lama Kiai Laras tercekat. Namun saat lain dia tertawa panjang. “Jahanam yang hendak mampus kadangkala ucapannya seperti orang gila! Bumi telah ada di tanganku! Tidak ada manusia yang bisa menandingiku!”

Sambil terus tertawa ngakak, Kiai Laras melangkah perlahan tinggalkan bibir jurang yang seketika disentak keheningan...!

S E L E S A I

Kutuk Sang Angkara

Serial Joko Sableng Episode Kutuk Sang Angkara

Cerita silat serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131


SATU

TEMPAT itu seketika hening laksana kuburan. Pitaloka, Setan Liang Makam, serta Kiai Laras hampir bersamaan gerakkan kepala berpaling. Dayang Sepuh pun ikut menoleh. Hanya Datuk Wahing yang tidak hadapkan wajahnya ke arah suara yang tiba-tiba menyahut. Kakek ini tetap saja gerakkan kepala pulang balik ke depan ke belakang dengan mimik seperti orang hendak perdengarkan bersinan. Namun sejauh ini suara bersinannya tidak juga terdengar!

Semua orang selain Datuk Wahing melihat seorang laki-laki berusia lanjut bertubuh tambun besar. Rambutnya yang putih digelung tinggi ke atas. Kakek ini mengenakan pakaian gombrong warna hijau. Pada pinggangnya yang bengkak besar tampak melilit sebuah ikat pinggang besar dari kulit yang di bagian depannya tepat di perut dihias dengan sebuah cermin bulat. Sepasang matanya terpejam rapat.

Pitaloka dan Setan Liang Makam pandangi laki-laki bertubuh tambun besar dari kepala sampai mata kaki dengan mulut terkancing. Kedua orang ini tidak bisa mengenali siapa adanya orang. Sementara Kiai Laras yang belum menyadari kalau sosoknya tidak kelihatan, sipitkan mata seraya berdesis.

“Gendeng Panuntun! Dari ciri-cirinya pasti dia! Meski aku belum pernah berjumpa....”

Di seberang lain, begitu melihat siapa adanya kakek bertubuh tambun besar, ketegangan pada paras wajah Dayang Sepuh serta-merta lenyap. Bibirnya yang merah menyala sedikit membuat sebuah senyum lebar. Namun nenek berdandan seronok ini belum juga perdengarkan suara. Sebaliknya angkat kedua tangannya. Tangan kiri mengambil satu kelabangan rambutnya dan dipilin-pilin, sedangkan tangan kanan rapikan geraian poni pada keningnya!

Mendadak kakek bertubuh tambun besar buka mulut perdengarkan tawa ngakak. Tangan kanannya bergerak mengusap cermin bulat di depan perutnya. Bersamaan dengan itu sepasang matanya membuka. Ternyata sepasang mata itu berwarna putih. Pertanda jika si empunya mata adalah orang buta! Namun seolah bisa melihat di mana orang tegak berdiri, kepala si kakek bergerak menghadap ke arah satu persatu orang yang ada di tempat itu! Kejap lain si kakek buka mulut berujar.

“Hem.... Ku rasakan langit cerah. Tidak ada hujan. Angin pun sangat bersahabat. Adalah aneh kalau aku di sini merasakan wajah-wajah tegang. Apa yang membuat ketegangan ini?! Jangan-jangan bukan hanya wajah-wajahnya yang tegang. Tapi yang lainnya ikut-ikutan tegang....”

“Bruss! Bruss! Kuharap jangan merasa aneh apalagi heran, Sahabat! Isyarat alam tidak selamanya pertanda baik!” Datuk Wahing menyahut.

Kakek bertubuh tambun bermata putih mendongak ke langit. “Bersinan mu tidak ku lupa! Senang berjumpa denganmu lagi sahabatku, Datuk Wahing....”

Datuk Wahing hentikan gerakan kepalanya lalu berpaling ke arah kakek bertubuh tambun. Mulutnya sudah membuka hendak bersuara. Namun bersinannya keburu mendahului. Hingga untuk beberapa saat Datuk Wahing harus tunda ucapannya. Namun begitu bersinannya selesai dan belum sempat perdengarkan suara, Setan Liang Makam telah membentak garang.

“Manusia buta tak dikenal! Kuperintahkan kau segera enyah dari tempat ini! Atau kubuat kau tidak bisa lagi merasakan keadaan alam!”

“Bruss! Bruss! Sahabatku, Gendeng Panuntun. Kebalikan isyarat alam baru saja kau dengar. Sekali lagi harap tidak heran, apalagi ikut-ikutan tegang!”

“Bagi orang buta sepertiku, mana bisa tegang jika tidak disentuh?!” sahut kakek bertubuh tambun bermata putih yang tidak lain adalah Gendeng Panuntun, lalu tertawa gelak-gelak. “Jadi jangan mengherankan mu kalau aku tidak mungkin ikut tegang!”

Habis berkata begitu, Gendeng Panuntun kembang-kempiskan hidung. Wajahnya bergerak menghadap pada Dayang Sepuh. “Datuk Wahing. Ternyata kau bernasib bagus. Di usiamu yang telah lanjut masih juga menggandeng seorang perempuan cantik nan jelita. Aku dapat merasakan gemulai kedua tangannya yang selalu bergerak-gerak. Senyum yang merebak di bibirnya yang merah menyala. Dandanan serta pakaian yang bikin deg-degan! Apa dia kekasih barumu?!”

Datuk Wahing bersin beberapa kali. Namun kali ini tidak disusuli dengan ucapan. Sementara Dayang Sepuh tampak makin lebarkan sunggingan senyumnya. Lalu mengerling pada Pitaloka. Pitaloka membuang muka seraya menyeringai. Dayang Sepuh melangkah perlahan dengan lemah gemulai ke arah Gendeng Panuntun. Senyum di bibirnya terus mengembang. Namun begitu tegak tiga langkah di hadapan Gendeng Panuntun, sekonyong-konyong si nenek pupuskan senyumnya. Tangan kanannya sibakkan poni di depan kening. Kini tampaklah wajahnya yang angker. Saat lain tiba-tiba dia membentak.

“Dari dulu mulutmu selalu bersuara tidak enak di telingaku setiap kali bertemu! Apa kau ingin aku mendahului ancaman manusia kerangka itu, hah?!” Seolah bicara dengan orang yang bisa melihat, tangan kiri Dayang Sepuh menunjuk pada Setan Liang Makam.

“Eh.... Mana suaraku yang tidak enak?!” tanya Gendeng Panuntun. Matanya yang putih mengerjap beberapa kali. “Suaramu... Astaga! Aku tadi salah lihat! Sungguh... Aku tidak menyangka kalau perempuan itu kau adanya! Habis dandanan mu membuat dadaku deg-degan hingga sampai aku salah lihat....”

Tampang garang Dayang Sepuh mendadak berubah. Kejap lain nenek ini tertawa terbahak-bahak hingga geraian poni rambutnya bersibakan. Kepalanya dihadapkan pada Datuk Wahing lalu berkata.

“Kau dengar itu, Datuk Wahing?! Sahabatmu yang buta ini mengatakan salah lihat...!”

“Gendeng Panuntun.... Hem.... Aku pernah dengar ceritanya manusia itu! Selain ilmunya sulit dijajaki, dia juga memiliki keahlian aneh! Matanya buta, namun seolah bisa melihat. Urusan di tempat ini akan makin kacau dengan kehadirannya! Bagaimana sekarang? Manusia setan serta manusia yang tidak terlihat di balik jubah hitam itu nyata-nyata menginginkan Pedang Tumpul 131! Dan melihat gelagatnya, nenek slebor dan kakek bersin-bersin itu juga menginginkannya! Sialan benar! Tidak kusangka akan jadi begini akhirnya. Padahal ku tancapkan pedang itu semata-mata untuk menipu Setan Liang Makam agar mau memberi keterangan!”

Pitaloka diam-diam membatin seraya terus melirik pada Pedang Tumpul 131 yang masih menancap di atastanah. Seperti diketahui, Pitaloka, saudara kembar Beda Kumala alias Putri Kayangan berhasil memperdayai murid Pendeta Sinting. Gadis cantik ini pada mulanya menduga Pendekar 131 membawa Kembang Darah Setan. Namun begitu bisa membuat murid Pendeta Sinting lemas laksana pingsan, ternyata Pitaloka tidak menemukan Kembang Darah Setan walau telah menggerayangi sekujur tubuh Joko.

Saat itulah mendadak dia dikejutkan dengan terdengarnya suara bersinan. Takut diketahui orang, Pitaloka segera berkelebat seraya mencabut Pedang Tumpul 131. Pada akhirnya Pitaloka meneruskan perjalanan. Karena telah tahu bahwa Kembang Darah Setan tidak di tangan murid Pendeta Sinting seperti apa yang tersiar dalam rimba persilatan, Pitaloka memutuskan pergi ke Kampung Setan. Tapi karena belum tahu di mana Kampung Setan berada, seraya terus berjalan Pitaloka selalu bertanya pada setiap orang yang dijumpainya. Tentu saja setelah menyelidik siapa adanya orang yang hendak ditanya.

Pada satu kesempatan, Pitaloka bertemu dengan Setan Liang Makam. Kali ini rupanya Pitaloka bertemu dengan orang yang benar-benar bisa memberi keterangan. Hanya saja Setan Liang Makam minta syarat. Pitaloka memenuhi persyaratan yang diajukan Setan Liang Makam. Namun di balik itu sebenarnya Pitaloka telah punya rencana sendiri. Yang jelas dia tidak akan begitu saja memenuhi permintaan Setan Liang Makam. Apalagi yang diminta adalah Pedang Tumpul 131 yang baru saja diambilnya dari murid Pendeta Sinting.

Ketika Setan Liang Makam hendak mengambil Pedang Tumpul 131 seperti persyaratan yang dimintanya pada Pitaloka dan di lain pihak Pitaloka sendiri hendak pertahankan pedang dari jamahan tangan Setan Liang Makam, muncullah Kiai Laras yang saat itu telah mengenakan Jubah Tanpa Jasad hingga sosoknya tidak kelihatan. Tampaknya Kiai Laras juga menginginkan Pedang Tumpul 131. Saat itulah datang Datuk Wahing dan Dayang Sepuh. Ketika terjadi adu mulut antara Pitaloka dan Dayang Sepuh, tiba-tiba ada suara orang menyahut. Yang muncul ternyata adalah Gendeng Panuntun.

“Bruss! Bruss! Jangan membuatku heran dengan berucap begitu, Sahabatku Dayang Sepuh,” ujar Datuk Wahing sambuti kata-kata si nenek. “Tidak jarang orang buta bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat! Dan kalaupun dia tadi berkata salah lihat dan salah duga terhadapmu, kau harus maklum dan jangan heran. Karena dia memang buta!”

Mendengar ucapan Datuk Wahing, Gendeng Panuntun geleng kepala. “Jangan percaya pada ucapannya, Nenek Cantik! Mana mungkin orang buta macam aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang bermata. Buktinya aku salah menduga mu....”

Gendeng Panuntun arahkan wajahnya menghadap Kiai Laras yang saat itu sosoknya tidak kelihatan karena mengenakan Jubah Tanpa Jasad. Agak lama si kakek ini terdiam sebelum akhirnya berkata. “Rasanya aku pernah bertemu muka dengan sahabatku ini. Sayang aku lupa kapan dan di mana! Mau mengingatkan padaku, Sahabat?!” Gendeng Panuntun bertanya pada Kiai Laras.

Kiai Laras palingkan kepala sambil mendengus. Namun dia tidak buka mulut menjawab. Kejap lain orang tua ini arahkan pandang matanya pada satu persatu orang di tempat itu. Lalu perdengarkan suara keras membahana di Seantero tempat itu.

“Kuperingatkan pada kalian semua! Kalau masih sayang pada nyawa masing-masing jangan ada yang berani lancang menghadang langkahku! Jangan ada yang kurang ajar berani buka mulut! Tetap di tempat kalian masing-masing!”

“Eh.... Memangnya ada apa ini?! Orang tidak boleh bersuara dan bergerak. Sepertinya ada sesuatu yang luar biasa! Jangan-jangan gadis cantik itu. Ah.... Gadis cantik di mana-mana memang sering jadi persoalan! Padahal tidak jarang justru tanpa disadari, gadis cantik itu yang membuka urusan!”

Habis berucap begitu, Gendeng Panuntun luruskan wajahnya ke arah Pitaloka dan lanjutkan ucapan. “Kuharap kau tidak marah, Gadis Rupawan. Aku tadi hanya mengatakan kebiasaannya. Sekali-kali tidak bermaksud menyinggung apalagi membuat persoalan denganmu...!”

“Hem.... Berarti dia bisa melihat meski matanya tampak buta!” gumam Pitaloka. Pandang matanya menatap tajam pada Gendeng Panuntun. Namun cuma sekejap. Dia lantas arahkan pandang matanya pada jubah hitam tanpa sosok yang mulai bergerak maju, “Manusia di balik jubah itu akan mengambil Pedang Tumpul 131!”

Pitaloka kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Walau dia maklum kalau kepandaiannya masih di bawah orang, namun dia sudah memutuskan mempertahankan Pedang Tumpul 131 dari jamahan tangan orang lain. Keputusan hatinya makin kuat setelah dia mendengar keterangan Setan Liang Makam tentang di mana Kampung Setan serta cerita Kembang Darah Setan. Karena dengan senjata sakti di tangannya, setidaknya kekuatannya akan bertambah. Apalagi dia kini tahu, banyak sekali beberapa tokoh berilmu tinggi yang belum dikenalnya telah bermunculan.

Di lain pihak, Setan Liang Makam tampak pula memperhatikan gerakan jubah hitam. Laki-laki cucu Nyai Suri Agung ini tampak bimbang dan gelisah. Dia kini yakin kalau sosok tidak kelihatan di balik jubah hitam juga membekal Kembang Darah Setan asli. Jubah Tanpa Jasad adalah bukti akan keyakinannya. Karena menurut Nyai Suri Agung, dinding tidak tembus pandang yang memagari Jubah Tanpa Jasad bisa terbongkar hanya dengan Kembang Darah Setan.

Hanya Dayang Sepuh dan Datuk Wahing yang tampak tenang-tenang saja. Dayang Sepuh terus memilin-milin kepangan rambutnya, sementara Datuk Wahing tetap gerakkan kepala pulang balik ke depan ke belakang dengan mimik orang hendak bersin.

Sementara di sebelah Dayang Sepuh, Gendeng Panuntun alihkan wajahnya dari Pitaloka pada Kiai Laras yang terus melangkah perlahan mendekati Pedang Tumpul 131. Suasana mendadak mencekam ketika gerakan jubah hitam sudah berjarak tujuh langkah dari Pedang Tumpul 131 yang menancap di tanah. Semua orang sama kancingkan mulut dan tidak ada yang membuat gerakan seolah menuruti perintah Kiai Laras.

Hanya mata Pitaloka dan Setan Liang Makam yang sama saling lontar berpindah-pindah. Sepasang bola mata Pitaloka bergerak liar. Dari Pedang Tumpul 131, gerakan Jubah Tanpa Jasad serta sosok Setan Liang Makam. Sementara sepasang mata besar milik Setan Liang Makam melotot dari gerakan Jubah Tanpa Jasad, Pedang Tumpul 131, serta sosok Pitaloka.

Di lain pihak, justru Kiai Laras tidak melirik pada Pitaloka maupun Setan Liang Makam. Sebaliknya sepasang matanya terus melirik pada Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun. Kiai Laras rupanya sadar. Dengan Kembang Darah Setan serta jubah yang dikenakannya, hadangan Pitaloka dan Setan Liang Makam dapat diatasi. Namun dia masih belum yakin benar jika hadangan itu datang dari Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun. Karena dia telah paham siapa adanya ketiga orang itu. Tapi dengan peristiwa yang dialaminya saat berhadapan dengan Nyai Suri Agung serta Setan Liang Makam, keyakinannya perlahan-lahan timbul. Hingga dia teruskan saja langkahnya mendekati Pedang Tumpul 131.

“Sahabat sekalian... Kenapa kalian diam saja?! Tidak ada yang bersuara, tidak ada yang bergerak!” Tiba-tiba Gendeng Panuntun angkat bicara.

Pitaloka tidak hiraukan ucapan orang karena diam-diam dia telah siap lepaskan satu pukulan jarak jauh. Demikian juga Setan Liang Makam. Pada puncak kegelisahannya, cucu Nyai Suri Agung ini akhirnya memutuskan untuk menghadang gerakan Jubah Tanpa Jasad dengan siapkan satu pukulan. Selain untuk menghalangi orang mengambil pedang, sekaligus untuk menghantam orang dan mengambil Jubah Tanpa Jasad.

Di depan sana, begitu Gendeng Panuntun angkat bicara, Kiai Laras hentikan gerakan kakinya. Kepalanya berpaling sesaat memandang pada Pitaloka dan Setan Liang Makam. Bibirnya menyeringai buruk.

“Rupanya kalian manusia-manusia bodoh! Sudah tahu tingginya langit dalamnya lautan yang tak mungkin kalian jangkau, namun kalian hendak coba-coba menjajakinya! Kalian akan mampus penasaran!”

Kiai Laras teruskan pandang matanya ke arah Gendeng Panuntun. Lalu membentak. “Kau telah kuperingatkan! Namun kau ingin unjuk kebolehan! Kau mau maju sendirian atau bersama teman-temanmu itu?!”

“Ah.... Kau salah menangkap ucapanku, Sahabat!” ujar Gendeng Panuntun. “Bukannya aku mengajak mereka untuk bergerak atau berkata. Aku hanya ingin tahu mengapa mereka tidak bersuara, tidak bergerak!”

“Itu karena mereka telah tahu tingginya langit dalamnya laut! Mereka masih sayang hidup daripada mati percuma!”

Gendeng Panuntun arahkan wajahnya pada Dayang Sepuh dan Datuk Wahing. “Apa betul demikian, Sahabat-sahabatku...?!”

Dayang Sepuh geleng kepala. “Tidak demikian!”

“Bruss! Bruss! Memang tidak demikian!” sahut Datuk Wahing.

“Kalau aku belum berkata apalagi membuat gerakan, kupikir saatnya belum sampai! Kita harus yakin dahulu sebelum tahu sebenarnya!” kata Dayang Sepuh.

“Bruss! Bruss! Benar. Kita tidak boleh melakukan hal-hal yang mengherankan sebelum tahu pasti apa yang akan dilakukan orang!”

“Kalian benar.... Kita tidak boleh berprasangka jelek. Siapa tahu meski tampaknya melangkah ke sana namun tujuannya lain?!” Gendeng Panuntun menimpali.

“Siapa tahu.... Itulah memang pertimbangannya!” ujar Dayang Sepuh.

“Bruss! Bruss! Betul sekali! Siapa tahu.... Itulah yang menjadikan kami belum berani melakukan hal-hal yang mengherankan!”

Kiai Laras menyeringai mendengar ucapan-ucapan orang. Seraya pasang tangan di atas pinggang kanan kiri dia menggumam. “Aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan!” Kiai Laras tengadah lalu teruskan langkah.

Baru saja Jubah Tanpa Jasad bergerak, pertanda Kiai Laras melangkah, mendadak Pitaloka telah gerakkan kedua tangannya melepas satu pukulan dahsyat jarak jauh.

Wuutt! Wuutt!

Dua gelombang ganas menerjang ke arah Kiai Laras. Hampir bersamaan dengan melesatnya dua gelombang dari kedua tangan Pitaloka, Setan Liang Makam telah pula sentakkan kedua tangannya. Laki-laki cucu Nyai Suri Agung ini berpikir jika gabungan antara pukulannya dengan pukulan Pitaloka setidaknya akan menambah daya gedor pada sosok di balik Jubah Tanpa Jasad. Hingga untuk sesaat tempat itu laksana di buncah gempuran gelombang luar biasa yang menuju satu titik arah. Yakni jubah hitam tanpa sosok yang sudah berada lima langkah dari tempat tertancapnya Pedang Tumpul 131.

Kiai Laras mendengus marah. Dia rupanya merasa, tidak mungkin menghadang dua pukulan orang sekaligus dengan kekuatan tenaga dalamnya sendiri. Apalagi begitu melihat ganasnya pukulan dari kedua tangan Setan Liang Makam yang menunjukkan jika pukulan itu dengan pengerahan tenaga dalam sangat kuat.

Laksana kilat, tangan kanan Kiai Laras segera menyelinap ke balik pakaiannya. Laki-laki itu berpikir hanya dengan Kembang Darah Setan pukulan orang bisa dihadang. Begitu tangan kanan Kiai Laras keluar, semua orang di tempat itu melihat cahaya berkilau tiga warna. Merah, hitam, dan putih dari setangkai bunga yang terapung di atas udara sejajar bagian dada Jubah Tanpa Jasad. Saat lain kembang tiga warna yang tidak lain adalah Kembang Darah Setan, berkelebat.

Wuutt! Wuuttt!

Satu gelombang disertai berkiblatnya sinar tiga warna melesat angker.

DUA

TEMPAT itu laksana dihantam petir. Keadaan seketika terang benderang berwarna merah, hitam, dan putih. Sinar tiga warna menembus gelombang. Terdengar ledakan hebat. Gelombang yang datang dari kedua tangan Pitaloka dan Setan Liang Makam serta-merta buyar berantakan lalu membubung tinggi ke udara. Sinar tiga warna pecah. Hebatnya pecahan sinar tiga warna menebar datar di atas udara lalu melaju deras ke arah Pitaloka dan Setan Liang Makam.

Di seberang, Pitaloka perdengarkan seruan tertahan bersamaan dengan buyarnya gelombang tertembus sinar tiga warna. Sosoknya terdorong amblas ke belakang sebelum akhirnya terbanting keras di atas tanah. Di lain pihak, sosok Setan Liang Makam terpental sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan sekujur tubuh yang hanya merupakan susunan kerangka bergerak-gerak keras. Sepasang matanya melotot dan mulut menganga tanpa adanya suara yang terdengar.

Kiai Laras sendiri hanya terdorong tiga langkah. Sesaat Jubah Tanpa Jasad memang bergerak-gerak oleng. Tapi saat lain telah tegak mengapung di atas udara. Kembang Darah Setan terlihat pula mengapung sejajar bagian perut Jubah Tanpa Jasad.

“Dugaanku tidak salah!” desis Setan Liang Makam begitu melihat terapungnya Kembang Darah Setan. Laksana hendak terbang, Setan Liang Makam cepat bergerak bangkit. Di seberang samping sana, Dayang Sepuh cepat pula melompat ke arah Datuk Wahing. Dengan mata memperhatikan Kembang Darah Setan dia berbisik.

“Manusia tanpa sosok berjubah hitam itu memegang dua senjata sakti! Aku tahu kau adalah orang paling mengerti tentang Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad! Katakan padaku bagaimana cara menghadapinya!”

“Bruss! Ucapanmu benar! Namun adalah mengherankan kalau kau menduga aku tahu bagaimana cara menghadapinya! Aku tidak tahu.... Aku tidak tahu!” gumam Datuk Wahing seraya geleng-gelengkan kepala.

Kali ini mimik wajahnya tidak membayangkan seperti orang ingin bersin, sebaliknya berubah tegang. “Mungkin sahabat buta itu tahu! Coba tanyakan padanya!”

Dayang Sepuh menggerendeng. Tapi cepat melompat ke arah Gendeng Panuntun yang kini duduk menjeplok di atas tanah.

“Aku juga kesulitan menjawab pertanyaan yang hendak kau ajukan!” Gendeng Panuntun sudah buka mulut sebelum Dayang Sepuh angkat bicara. “Ada penghalang yang membuat aku laksana berjalan di tengah malam buta! Gelap.... Itu jawabannya!”

“Hem.... Maksudmu kita bisa menghadapi dengan menunggu datangnya malam, begitu? Apa mungkin kita bisa bertahan sampai malam. Padahal saat ini matahari baru saja condong!”

Gendeng Panuntun geleng kepala. “Bukan. Aku tidak mengatakan kita bisa menghadapinya dengan menunggu sampai datangnya malam. Namun aku menemui jalan buntu! Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya....”

“Celaka! Kita tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Padahal dia hendak mengambil juga pedang milik pemuda geblek itu!” gumam Dayang Sepuh.

“Memang celaka! Tapi apa hendak dikata...,” sahut Gendeng Panuntun pula.

“Kau memiliki ilmu yang tidak dimiliki orang lain! Coba sekali lagi kau lihat! Siapa tahu kita menemukan jawaban!” desak Dayang Sepuh.

“Apa pun yang dimiliki makhluk bernama manusia, semuanya serba terbatas! Jika kita paksakan diri, kita akan mendapat celaka dua kali!”

“Setan! Ini bukan urusan paksakan diri atau tidak! Ini usaha!” hardik Dayang Sepuh mulai tidak sabaran.

“Usaha pun ada batasnya!” ujar Gendeng Panuntun dengan tenang.

“Sialan! Lalu apakah kita akan berdiam diri? Hah...?!”

Gendeng Panuntun tidak segera sambuti ucapan Dayang Sepuh. Sebaliknya dia berpaling. Karena saat itu Datuk Wahing tampak bergerak bangkit lalu membuat gerakan satu kali. Tahu-tahu sosoknya telah duduk bersimpuh di samping Gendeng Panuntun.

“Kau juga tua bangka sialan!” Dayang Sepuh sudah menyemprot begitu Datuk Wahing duduk bersimpuh. “Bagaimana bisa tidak tahu bagaimana cara menghadapi sesuatu yang bertahun-tahun ditongkronginya?!”

Datuk Wahing bersin-bersin lalu tertawa panjang. Gendeng Panuntun mendehem lalu berkata.

“Itulah rahasia alam, Sahabatku.... Bahkan kita kadangkala tidak tahu sesuatu yang ada di tangan kita sendiri!”

“Hanya orang tidak bisa melihat sepertimu yang tidak tahu sesuatu di tangannya!” sergah si nenek dengan ketus karena makin tidak sabar.

“Bruss! Bruss! Kau tak usah marah-marah....”

“Sialan! Siapa yang marah?!” tukas Dayang Sepuh. Belum sampai ada yang menyahut ucapan Dayang Sepuh, di depan sana terdengar bentakan keras.

“Anjing jahanam! Serahkan Kembang Darah Setan dan Jubah Tanpa Jasad padaku! Akulah pemilik sah keduanya!” Yang perdengarkan bentakan dahsyat ternyata Setan Liang Makam. Seraya membentak, tangan kirinya terulur ke depan, tangan kanan ditarik ke belakang. Lalu kakinya bergerak melangkah maju.

Kiai Laras tersenyum dingin. “Di atas dunia, hanya anjing tolol yang menyatakan diri sebagai pemilik sah sesuatu benda! Anjing tolol seperti itu tidak layak diberi hidup lebih lama! Dunia tidak membutuhkannya!” Baru saja ucapan Kiai Laras selesai, tiba-tiba Kembang Darah Setan yang terlihat mengapung diudara berkelebat.

Wusss!

Terdengar deruan dahsyat. Tiga sinar berwarna merah, hitam, dan putih untuk kedua kalinya berkiblat angker ke arah Setan Liang Makam. Setan Liang Makam tidak terkejut karena telah waspada. Namun demikian ketegangan di wajahnya tampak nyata. Dan tanpa membuang waktu, laki-laki yang pernah terkubur dalam makam batu puluhan tahun ini berkelebat ke samping. Kedua tangannya didorong seraya perdengarkan bentakan keras.

Wuutt! Wuutt!

Dua gelombang angin yang disertai kabut hitam menderu laksana amukan ombak, lurus menghadang berkiblatnya sinar tiga warna. Saat kedua tangan Setan Liang Makam mendorong, dari arah samping terlihat Datuk Wahing angkat tangan kanannya yang memegang tongkat kayu. Kepalanya bergerak ke depan untuk perdengarkan bersinan. Bersamaan dengan itu tongkat kayu disentakkan kedepan.

Tongkat kayu butut melesat berputar-putar di udara menimbulkan desingan tajam dan sapuan-sapuan gelombang dahsyat. Saat lain tongkat kayu yang kini hampir tidak terlihat itu menjajari gelombang yang dilepas Setan Liang Makam lalu bersama-sama melabrak ke arah sinar tiga warna yang datang.

Blaarr! Blaarr!

Dua kali gelegar keras terdengar. Sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan menebar ambyar. Namun ambyarnya sebagian tetap lurus mengarah pada Setan Liang Makam! Di lain pihak, gelombang yang keluar dari kedua tangan Setan Liang Makam serta-merta amblas buyar. Tongkat kayu milik Datuk Wahing mencelat tinggi ke udara. Ketika luruh kembali telah berubah menjadi serpihan dan hangus serta bertabur di udara sebelum akhirnya lenyap terbawa bias gelombang gelegaran.

Setan Liang Makam lagi-lagi terpental. Namun karena sudah tahu apa yang hendak terjadi, begitu sosoknya dirasakan melambung ke belakang, cucu Nyai Suri Agung ini cepat kerahkan tenaga dalam untuk kuasai diri. Tapi dia terlengak. Karena baru saja hendak kerahkan tenaga dalam, ambyaran sinar tiga warna telah menyongsong kearahnya.

Setan Liang Makam serba salah. Kalau dia menyambut ambyaran sinar tiga warna, tentu dia tidak bisa lagi kuasai diri dan tak ampun sosoknya akan terbanting menghantam tanah. Sedang kalau teruskan untuk kuasai diri, niscaya ambyaran sinar tiga warna akan menghajarnya! Sinar tiga warna itu memang telah ambyar, namun Setan Liang Makam sadar, jika ambyaran itu masih mampu memporak-porandakan sesuatu yang terhajar.

Kebimbangan Setan Liang Makam membuat dia lengah. Hingga begitu bisa mengambil keputusan apa yang harus dilakukan, ambyaran sinar tiga warna telah setengah tombak di hadapannya. Kali ini apa pun keputusan yang diambil Setan Liang Makam tidak akan bisa menyelamatkan dirinya!

Sesaat lagi ambyaran sinar tiga warna menghajar sosok Setan Liang Makam yang hanya bisa mendelik saking terkejutnya, tiba-tiba saja tanpa diduga satu gelombang angin deras melesat. Bukan menghadang pada ambyaran sinar yang hendak menghajar sosok Setan Liang Makam, melainkan menghantam ke arah Setan Liang Makam yang masih berada di atas udara.

Bukkkk!

Mentalan sosok Setan Liang Makam berubah arah. Kalau tadi terdorong keras ke belakang. Kali ini sosoknya terpental deras ke samping lalu jatuh bergedebukan di samping sana. Namun perubahan arah ini menyelamatkan Setan Liang Makam dari hajaran ambyaran sinar tiga warna. Ambyaran sinar tiga warna menerabas terus lalu menghajar beberapa jajaran pohon di depan sana. Beberapa batangan pohon perdengarkan derakan lalu satu persatu tumbang dengan patah-patah dan hangus! Daunnya langsung bertabur dan berubah menghitam!

Setan Liang Makam tampaknya tahu gelagat. Begitu sosoknya jatuh dia cepat kerahkan tenaga dalam meski rasakan sekujur tubuhnya laksana hancur dan lidahnya rasakan asin pertanda mulutnya telah kucurkan darah. Di lain saat cucu Nyai Suri Agung ini bangkit tegak. Dia tahu siapa gerangan yang baru saja menghantamnya namun membuatnyaselamat. Setan Liang Makam berpaling pada Datuk Wahing. Walau dia tidak buka mulut namun diam-diam dia membatin.

“Galaga...! Jangan berharap tindakanmu yang menyelamatkan diriku akan menghapus urusan di antara kita! Aku juga curiga jangan-jangan kaulah yang membocorkan rahasia Kampung Setan! Karena hanya kau satu-satunya manusia di atas bumi ini yang tahu rahasia Kampung Setan! Mungkin kau juga yang memberitahukan pada anjing pemegang Kembang Darah Setan serta pemakai Jubah Tanpa Jasad itu, mengenai bagaimana bisa mengeluarkan aku dari makam celaka itu! Lalu kau sekarang berpura-pura di hadapanku!”

Datuk Wahing sendiri yang tampak bergoyang- goyang dan duduknya bergeser akibat bias bentroknya pukulan yang disalurkan lewat tongkatnya untuk menghadang kiblatan sinar dari Kembang Darah Setan, hentikan gerakan kepalanya. Dia balas memandang pada Setan Liang Makam yang bukan lain memang saudara seperguruannya. Kakek yang selalu bersin ini hendak buka mulut. Namun diurungkan begitu melihat Setan Liang Makam alihkan pandang matanya ke arah Kiai Laras yang masih tampak jubahnya saja.

Jubah Tanpa Jasad itu sejenak tadi tampak bergerak deras ke belakang dan hampir saja jatuh ketika terdengar gelegar. Namun belum sampai menyentuh tanah, Jubah Tanpa Jasad itu telah bergerak lagi terangkat ke atas dan tak lama kemudian tegak mengapung diam. Kejap lain terdengar batuk dua kali. Lalu terlihat ludah bercampur darah melesat dari atas jubah hitam. Meski orang tidak bisa melihat bagaimana paras wajah si pemakai Jubah Tanpa Jasad, tapi orang sudah bisa menebak jika terjadinya bentrok pukulan membuat si pemakai kucurkan darah dari mulutnya.

Sementara di seberang sana, sebenarnya Pitaloka sudah berkelebat ke arah tertancapnya Pedang Tumpul 131 begitu tahu kalau Kiai Laras dan Setan Liang Makam saling baku hantam. Namun kelebatan sosok gadis ini bersamaan saatnya dengan bentroknya pukulan. Hingga meski kedua tangannya terus bergerak hendak menyambar pedang, namun gagal. Karena begitu terdengar gelegaran, Pedang Tumpul 131 kembali bergerak pulang balik, membuat Pitaloka bukan saja kesulitan, namun kalau saja dia tidak segera batalkan maksudnya, niscaya dia sendiri akan mendapat celaka. Karena gerakan pedang akibat gelegaran menimbulkan gelombang dan melesatnya cahaya kekuningan berhawa panas luar biasa!

Kiai Laras rupanya dapat melihat apa yang tadi hendak dilakukan oleh Pitaloka. Hingga begitu tegak kembali, sosoknya langsung berputar menghadap Pitaloka. “Kau memang punya hak untuk mengambil benda itu! Tapi itu melanggar apa yang kuperintahkan! Dan itu akan mengubah jalan takdirmu!” kata Kiai Laras.

Pitaloka melihat Kembang Darah Setan bergerak. Kuduk gadis cantik ini menjadi dingin. Dia kini telah tahu sedang berhadapan dengan siapa. Kalau pukulan Setan Liang Makam yang dibantu dengan Datuk Wahing tidak mampu membuat sosok di balik jubah jatuh terjengkang, adalah satu keanehan kalau dia dapat menghadapinya! Tapi di balik semua itu Pitaloka juga maklum, sosok tidak kelihatan di balik Jubah Tanpa Jasad tentu tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja. Hal inilah yang perlahan-lahan membuat Pitaloka menjadi nekat. Hingga begitu melihat gerakan pada Kembang Darah Setan, dia cepat kerahkan segenap tenaga dalam yang dimiliki.

“Anak bodoh.... Apakah dia pikir bisa menghadapi setan berjubah itu?!” ujar Dayang Sepuh melihat apa yang dilakukan Pitaloka.

“Brusss! Memang mengherankan dan mustahil! Tapi itu adalah satu-satunya jalan yang harus dilakukan! Atau kau bisa melakukan satu hal yang tidak mengherankan?!” sahut Datuk Wahing.

“Kau hanya bisa heran-heran melulu!” bentak Dayang Sepuh. Lalu alihkan pandangannya pada Gendeng Panuntun. “Kita tidak usah pedulikan siapa adanya gadis itu! Yang jelas kita cegah terjadi pertumpahan darah di sini! Kita gebuk sama-sama setan berjubah hitam itu!”

“Itu hanya akan membawa darah makin banyak tumpah, Sahabatku!” kata Gendeng Panuntun.

“Setan! Kalian berdua setan! Hanya bisa omong dan mencegah tapi tidak bisa memberi jalan keluar!” Dayang Sepuh berteriak sambil bantingkan kaki. Lalu bergerak hadapkan tubuh ke arah Pitaloka. Kemudian berteriak. “Hai, Gadis Setan! Jangan berlagak di sini! Cepat menyingkir!”

“Tidak ada yang akan tinggalkan tempat ini!” Kiai Laras menyahut.

“Jangan percaya! Cepat lari!” Kembali Dayang Sepuh berteriak. Saking tak sabar dia gerakkan kedua tangannya ke depan membuat gerakan seperti orang mengusir.

Pitaloka bimbang. Walau tadi telah nekat, namun begitu mendengar teriakan Dayang Sepuh, hatinya jadi ragu-ragu.

Dayang Sepuh terlihat gemas. “Gadis setan! Masih banyak kenikmatan yang belum kau rasakan! Apa kau benar-benar tak ingin menikmatinya, hah?!”

Datuk Wahing perdengarkan bersinan mendengar teriakan Dayang Sepuh. Di sampingnya, Gendeng Panuntun tertawa bergelak-gelak. Pitaloka terdiam sesaat. Kejap lain mendadak kedua tangan gadis ini telah bergerak lepaskan pukulan mendahului kelebatan Kembang Darah Setan. Saat bersamaan, sosoknya melesat hendak tinggalkan tempat itu.

“Jangan mimpi bisa tinggalkan tempat ini dengan nyawa utuh!” bentak Kiai Laras. Kembang Darah Setan di tangan kanannya berkelebat. Tiga sinar berkiblat menggidikkan, menyongsong gelombang yang melesat dari kedua tangan Pitaloka.

Dayang Sepuh menggerendeng panjang pendek. Lalu kedua tangannya bergerak menghantam ke depan memotong lesatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan. Kembali terdengar ledakan tatkala gelombang dari kedua tangan Dayang Sepuh memotong sinar tiga warna. Saat bersamaan, gelombang dari kedua tangan Pitaloka melabrak. Hingga ledakan kedua terdengar. Sosok Dayang Sepuh terhuyung-huyung dan...

"Plukk!" Sosok si nenek jatuh terduduk di atas pangkuan Gendeng Panuntun yang ada di belakangnya!

Sementara di depan sana, sosok Pitaloka yang berkelebat terlihat oleng. Lalu terputar hendak menghantam tanah. Gadis cantik ini menjerit tinggi. Namun sejengkal lagi sosoknya beradu dengan tanah, satu bayangan merah berkelebat.

TIGA

SOSOK Pitaloka tertahan satu jengkal di atas tanah. Saat lain sosok gadis cantik ini terangkat lalu tegak dengan bergetar keras. Dari mulutnya terlihat kucuran darah. Dadanya bergerak-gerak turun naik tak karuan. Paras wajahnya berubah pucat pasi dan tegang. Setelah agak lama dan baru menyadari kalau lengannya dicekal orang, Pitaloka segera berpaling. Tampang gadis ini makin berubah. Mulutnya yang masih kucurkan darah bergerak membuka namun tak ada suara yang terdengar.

Sementara di depan sana, sosok Kiai Laras tersurut tiga langkah. Dan begitu tahu kalau ada orang yang ikut lepaskan pukulan memotong kiblatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan, orang tua ini cepat berpaling. Dia tahu siapa yang baru memotong pukulan Kembang Darah Setan. Hingga sepasang matanya mendelik angker pada Dayang Sepuh yang masih terduduk di atas pangkuan Gendeng Panuntun. Di lain pihak, begitu sosok Dayang Sepuh terhuyung dan jatuh di atas pangkuan Gendeng Panuntun.

Datuk Wahing perdengarkan bersinan beberapa kali lalu tawanya meledak. “Sahabat.... Kurasa di sini banyak mata melihat. Mengapa kau bercanda dengan minta dipangku segala?!” Gendeng Panuntun berujar. Sepasang mata putihnya mengerjap beberapa kali. Lalu hidungnya mendengus. Kepalanya terangkat dan...

“Bruss! Bruss!” Gendeng Panuntun bersin dua kali. “Sebagian rambutmu masuk kehidungku...!” kata Gendeng Panuntun.

Bersinan dua kali membuat sosok Dayang Sepuh yang berada di pangkuannya terlonjak-lonjak balik ke atas ke bawah. Tanpa disadari lonjakan sosoknya membuat kelabangan rambutnya bergerak-gerak dan kembali menerpa wajah Gendeng Panuntun. Gendeng Panuntun kelabakan. Saat lain dia kembali perdengarkan bersinan karena sebagian rambut itu masuk ke hidungnya. Hal ini membuat sosok Dayang Sepuh kembali terlonjak pulang balik ke atas ke bawah.

Tawa Datuk Wahing makin meledak. Dan disela-sela tawanya dia beberapa kali bersin-bersin. Hingga untuk beberapa saat tempat itu disemaraki dengan suara bersinan yang ditingkah dengan gelakan tawa berderai. Dayang Sepuh sendiri sepertinya keenakan karena sosoknya bergerak pulang balik ke atas ke bawah. Sosok tambun Gendeng Panuntun membuat si nenek tidak merasakan sakit tatkala berbenturan dengan anggota tubuh Gendeng Panuntun.

Pada satu kesempatan, tiba-tiba Gendeng Panuntun menggeser duduknya ke samping. Si nenek yang keenakan sampai sepasang matanya terpejam-pejam tidak menduga. Hingga ketika sosoknya meluncur ke bawah, bukan lagi menumbuk pangkuan Gendeng Panuntun, melainkan menghantam tanah!

"Bukkk!" Dayang Sepuh mengeluh. Lalu cepat bangkit. Tangan kanannya berkelebat ke arah Gendeng Panuntun.

“Bruss! Mengherankan kalau kau menyalahkan orang lain, Nenek!”

Dayang Sepuh tarik pulang tangan kanannya. Lalu arahkan pandang matanya ke arah Pitaloka. Sementara baik Kiai Laras maupun Setan Liang Makam sudah agak lama memandang tajam kearah yang sama. Namun baik Dayang Sepuh, Kiai Laras, maupun Setan Liang Makam bukannya memandang pada Pitaloka. Tapi pada satu sosok di sampingnya yang tegak dengan tangan satunya mencekal lengan Pitaloka. Dayang Sepuh kucek-kucek sepasang matanya. Lalu disodorkan ke depan seolah belum percaya dengan apa yang dilihat.

“Brusss! Harap tidak heran dengan apa yang kau lihat, Nenek....”

Dayang Sepuh tidak menyahut. Sebaliknya terus memandang pada sosok yang tegak di samping Pitaloka. Dia adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita. Rambutnya panjang sebahu mengenakan pakaian warna merah. Tapi bukan kecantikan atau pakaian si gadis yang membuat Dayang Sepuh, Kiai Laras, serta Setan Liang Makam memandang tak berkedip. Ketiga orang ini hampir tidak bisa membedakan di antara Pitaloka dan gadis yang tegak di sampingnya! Wajah kedua gadis ini sama!

“Beda Kumala...,” gumam Pitaloka setelah agak lama hanya bisa menganga tanpa perdengarkan suara.

Gadis cantik yang tegak di samping Pitaloka dan memiliki wajah yang sama persis, sunggingkan senyum seraya anggukkan kepala. Lalu berbisik perlahan. “Pitaloka.... Kita harus cepat tinggalkan tempat ini! Orang-orang itu bukan tandingan kita!”

“Aku tidak berurusan dengannya! Mereka sendiri yang cari urusan!” kata Pitaloka.

Gadis di sampingnya yang tadi dipanggil dengan Beda Kumala dan bukan lain adalah Putri Kayangan, kembali sunggingkan senyum. “Lupakan dulu semua itu. Yang jelas kita harus segera tinggalkan tempat ini!”

“Aku tak akan pergi tanpa pedang itu!” Pitaloka arahkan pandang matanya pada Pedang Tumpul 131 yang masih menancap di atas tanah.

Putri Kayangan menghela napas panjang. Kepalanya menggeleng perlahan lalu berucap perlahan. “Tak ada untungnya mempertahankan benda yang bukan milikmu!”

Habis berkata begitu, Putri Kayangan arahkan pandang matanya pada Jubah Tanpa Jasad dan Kembang Darah Setan yang mengapung di udara. Wajahnya berubah tegang. “Aku belum pernah melihat. Tapi aku yakin itulah Kembang Darah Setan! Aneh.... Bagaimana mungkin jubah dan kembang itu bisa mengapung di udara?!” Membatin Beda Kumala alias Putri Kayangan.

Saat muncul menyelamatkan saudara kembarnya Pitaloka, gadis ini memang belum sempat edarkan pandangan karena terburu memperhatikan saudaranya. Kalaupun dia sempat mengenali salah seorang yang ada di tempat itu, itu adalah keberadaan Datuk Wahing. Dan melihat bagaimana Pitaloka sampai hendak terbanting di atas tanah, cukup membuat Putri Kayangan paham jika orang yang dihadapi Pitaloka bukan orang yang berilmu di bawahnya. Maka tanpa melihat dulu siapa orang yang dihadapi Pitaloka, buru-buru Putri Kayangan mengajak saudara kembarnya untuk segera tinggalkan tempat itu.

Belum sempat lenyap rasa kesima melihat terapungnya Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad, kembali Putri Kayangan dibuat tersentak kala pandang matanya menumbuk pada sosok Setan Liang Makam. Namun gadis ini segera dapat kuasai diri dan dengan cepat arahkan pandang matanya jauh ke de- pan di mana tampak Datuk Wahing, Dayang Sepuh, serta Gendeng Panuntun.

“Hem.... Yang sempat ku kenali cuma Datuk Wahing di antara ketiga orang itu. Tapi melihat sikapnya, si nenek dan kakek bertubuh gemuk itu adalah sahabat Datuk Wahing. Hem... Urusanku hanya mencari Pitaloka dan membawanya menghadap Eyang Guru. Sekarang dia telah kutemukan. Aku tak ingin terlibat da-llam urusan di sini!”

Berpikir begitu, akhirnya Putri Kayangan berbisik pada Pitaloka. “Kita harus segera pergi!”

“Kau telah dengar ucapanku. Aku tak akan pergi tanpa pedang itu!” Pitaloka menyahut.

“Kau tahu siapa yang tengah kau hadapi?”

“Persetan siapa mereka! Setan sekalipun aku tidak takut! Kau tahu, pedang yang menancap di tanah itu adalah senjata pusaka! Pedang Tumpul 131 milik Pendekar 131 Joko Sableng!”

Paras wajah Putri Kayangan tiba-tiba bersemu merah. Lalu cepat-cepat berpaling ketika Pitaloka menoleh. Namun Pitaloka masih sempat melihat perubahan pada raut muka saudara kembarnya.

“Wajahmu berubah. Ada apa?! Kau mengenal Pendekar 131!”

“Pitaloka.... Waktu kita tidak banyak! Kita harus segera tinggalkan tempat ini!” seraya berkata Putri Kayangan tarik lengan Pitaloka.

Namun Pitaloka segera tepiskan tangan Putri Kayangan. “Kau saudaraku. Tapi bukan berarti kau bisa memaksakan kehendakmu atas diriku! Aku tanya. Kau hendak mengajakku ke mana?!”

“Pitaloka.... Eyang Guru memerintahkan ku untuk menjemput dan membawamu menghadap!”

Tampang Pitaloka berubah berang. “Sudah kuduga!” desisnya dingin. “Beda Kumala! Urusanku belum selesai. Kau tak usah menjemputku. Begitu urusanku selesai, aku akan datang sendiri menghadap Eyang Guru...!”

Putri Kayangan gelengkan kepala. “Kau terlibat dalam urusan yang tak akan pernah ada selesainya, Pitaloka! Dan kalaupun kau ingin tuntaskan urusanmu, kuharap kau penuhi dahulu permintaan Eyang Guru...”

“Tidak! Aku akan selesaikan dahulu urusanku!”

“Pitaloka...! Kuharap kau mengerti. Untuk sekali ini penuhi dahulu permintaan Eyang Guru. Setelah itu terserah kau!”

Pitaloka mendengus marah. “Sekali aku bilang tidak, tidak! Dan cepat angkat kaki dari sini!”

Putri Kayangan lagi-lagi masih sunggingkan senyum sembari berujar kalem. “Pitaloka. Aku tidak akan tinggalkan tempat ini tanpa mu! Dan harap kau mengerti. Kali ini urusannya bukan lagi masalah saudara. Tapi kita berdua sebagai murid dari seorang guru!”

“Hem.... Begitu?! Kalau aku tak mau, kau mau apa?!” Pitaloka menantang.

Putri Kayangan geleng kepala. “Pitaloka. Aku tak bisa memberi jawaban apa-apa atas pertanyaanmu! Yang pasti aku harus membawamu pada Eyang Guru!”

“Beda Kumala! Simpan dulu keinginanmu! Dan kalau kau menganggap urusan ini sebagai urusan antara murid, hanya ada dua pilihan antara kita. Kau yang menghadap Eyang Guru dengan membawa mayatku, atau kau tak akan pernah menghadap Eyang Guru untuk selamanya!”

“Pitaloka....”

“Cukup!” tukas Pitaloka. “Urusan kita akan kita selesaikan setelah aku tuntaskan persoalan di sini!”

Walau hatinya mulai panas, namun Putri Kayangan masih coba tersenyum dan berkata. “Kau sadar siapa yang sedang kau hadapi saat ini, Pitaloka?! Kembang Darah Setan bukan benda sembarangan! Belum lagi dia memiliki ilmu aneh dengan tanpa bisa dikenali siapa sosok orang di balik jubahnya!”

Saking jengkelnya Pitaloka menyahut. “Biar dia punya seribu Kembang Darah Setan dan memiliki seribu ilmu aneh. Tapi dia tidak akan punya dua nyawa!”

Putri Kayangan hendak buka mulut lagi. Tapi sebe-llum suaranya terdengar, tiba-tiba di seberang sana Dayang Sepuh telah berteriak.

“Hai, Gadis-gadis Setan! Di sini bukan tempatnya ngobrol! Minggat jauh-jauh dari sini dan cari tempat yang enak kalau ingin adu mulut!”

Pitaloka dan Putri Kayangan sama menoleh. Diam-diam Pitaloka membatin dalam hati. “Nenek aneh.... Dia tadi menolongku dengan memotong pukulan Kembang Darah Setan! Hem.... Sekarang aku tidak akan tinggalkan tempat ini! Siapa pun nenek itu adanya serta dua sahabatnya, yang pasti dia tidak akan membiarkan aku celaka! Aku tak peduli apa maksud mereka menolongku! Yang jelas setidaknya aku baru akan tinggalkan tempat ini dengan Pedang Tumpul 131!”

Niat semula Pitaloka yang hendak menyelamatkan diri tiba-tiba berubah begitu menangkap gelagat jika sebagian orang di situ tidak akan tinggal diam seandainya terjadi bentrok antara dia dengan sosok di balik Jubah Tanpa Jasad. Kalau Pitaloka membatin begitu, diam-diam Putri Kayangan juga berkata sendiri dalam hati.

“Kalau dia tidak mau kuajak dengan baik-baik, terpaksa aku mengajaknya dengan sedikit kasar! Tempat ini sangat berbahaya. Keselamatannya harus ku jaga sampai dihadapan Eyang Guru...”

Sementara mendapati dua gadis berbaju merah belum juga beranjak dari tempatnya, Dayang Sepuh makin jengkel. Sekali lagi dia berteriak dengan keras. “Gadis-gadis setan! Kalau kalian....”

Dayang Sepuh putuskan teriakannya. Mulutnya terkancing rapat. Matanya mendelik besar tatkala sekonyong-konyong dia melihat bagaimana Jubah Tanpa Jasad bergerak memutar menghadap ke arahnya. Dan bersamaan dengan itu Kembang Darah Setan berkelebat.

Wuusss!

Kiblatan tiga sinar berwarna merah, hitam, dan putih menderu dahsyat. Bukan itu saja. Begitu sinar tiga warna telah melesat, Kembang Darah Setan kembali bergerak ke belakang. Kejap lain kembali berkelebat. Hingga untuk kedua kalinya terlihat lagi kiblatan melesatnya tiga sinar tiga warna menyusuli sinar yang pertama!

Dayang Sepuh menggerendeng tak karuan. Namun bersamaan itu dia melompat ke arah samping. Lututnya ditekuk sedikit. Sepasang matanya dipejamkan. Kedua tangannya ditakupkan di depan kening. Lalu perlahan-lahan kedua tangannya dibuka dan didorong ke depan dengan pelan.

Wusss! Wusss!

Dari kedua telapak tangan Dayang Sepuh menyembur jilatan api. Jilatan api itu mula-mula melarik lurus. Setengah jalan mendadak larikan jilatan api mengembang datar dan saat lain telah menyungkup tempat Itu! Hingga untuk beberapa saat udara di tempat itu laksana tenggelam dalam lautan api!

Hampir bersamaan dengan bergeraknya kedua tangan Dayang Sepuh, terdengar suara bersinan tiga kali. Lalu dua gelombang luar biasa dahsyat menggebrak dari kedua tangan Datuk Wahing. Hebatnya, gelombang itu perdengarkan deruan yang seolah diperden- garkan dari delapan penjuru mata angin! Anehnya, deruan itu terus memantul tiada hentinya! Datuk Wahing tampaknya telah melepas jurus ‘Pantulan Tabir’. Ilmu warisan dari Nyai Suri Agung nenek Setan Liang Makam dari KampungSetan.

Mungkin merasa sinar yang melesat dari Kembang Darah Setan sangat berbahaya, begitu Datuk Wahing perdengarkan bersinan, di sampingnya Gendeng Panuntun gerakkan tangan kiri kanan mengusap cermin bulat di depan perutnya.

Blapp! Blaapp!

Dua cahaya putih terang mencuat laksana kilat. Begitu cepat lesatan cahaya putih dari cermin kakek tambun itu, cahaya putih itu berkiblat mendahului jilatan api dari kedua telapak tangan Dayang Sepuh! Hingga kiblatan sinar tiga warna yang datang pertama kali bukannya disongsong oleh jilatan kobaran api, melainkan oleh cahaya putih terang.

Blaarr!

Dentuman menggelegar mengguncang tempat itu. Dan gelegar belum sirna, kembali terdengar dentuman luar biasa kala sinar tiga warna yang kedua menghantam kobaran api! Cahaya putih dan sinar tiga warna yang menimbulkan ledakan pertama sama muncrat ke udara setinggi delapan tombak. Disusul dengan berhamburnya jilatan api ke udara dan pecahnya sinar tiga warna. Hebatnya pecahan sinar tiga warna masih mampu menerobos pekatnya suasana dan menerabas langsung ke arah Dayang Sepuh!

Namun terabasan pecahan sinar tiga warna tidak berlangsung lama. Karena begitu melesat ke arah Dayang Sepuh, gelombang yang perdengarkan deru pantul memantul sudah menggebrak menghadang! Hadangan gelombang yang terus memantul yang bukan lain dilepas oleh Datuk Wahing serta-merta timbulkan letupan-letupan. Hingga gelegar kedua belum lenyap, tempat itu kembali telah diguncang dengan letupan-letupan keras beberapa kali!

Guncangan dahsyat mau tak mau membuat tempat itu bergetar hebat. Hal ini membuat Pedang Tumpul 131 yang masih menancap di atas tanah bergerak pulang balik dengan keras. Gerakan pedang sakti itu perdengarkan deruan luar biasa dan lesatkan cahaya kekuningan yang membawa gelombang serta hawa panas menyengat!

Hadangan yang dilakukan Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun membuat sosok Kiai Laras mencelat tiga kali dan jatuh terkapar di atas tanah setelah menghantam satu batangan pohon hingga berderak tumbang.

Namun Kiai Laras seolah tidak merasakan pukulan berat. Kalaupun dia mengeluh dan berseru tertahan, itu pada saat sosoknya menghantam batangan pohon yang membuat tubuhnya terhenti. Orang tua itu merasakan ada tabir penghalang di hadapannya saat lesatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan dihadang orang. Hingga begitu sosoknya terkapar, dia bisa segera kuasai diri dan bergerak bangkit. Dia hanya merasakan sedikit sesak pada dadanya. Lalu tangan kanannya yang memegang Kembang Darah Setan terasa ngilu. Selebihnya, dia tidak mengalami cedera!

Sementara di depan sana, begitu cahaya putih dari cerminnya menghadang sinar tiga warna, sosok Gendeng Panuntun bergoyang-goyang keras. Saat lain sosok tambun kakek ini tersapu satu tombak ke belakang. Namun posisinya belum juga berubah. Tetap duduk di atas tanah meski paras wajahnya berubah dan sepasang mata putihnya mengerjap beberapa kali.

Di sebelah sampingnya, begitu ledakan kedua terdengar, sosok Dayang Sepuh terhuyung sampai satu tombak. Sebelum tubuhnya jatuh, si nenek cepat tekuk kedua lututnya lalu jatuhkan diri duduk berlutut dengan kedua tangan segera ditarik dan dirangkapkan di depan dada. Sepasang matanya makin dipejamkan dan mulutnya berkemik.

Si nenek berusaha kuasai diri dan mengatur jalan darahnya yang terasa menyentak-nyentak. Untuk beberapa lama sosoknya bergetar keras. Kelabangan rambutnya tergerai lepas dan tampak berkibar-kibar. Bedak putih tebal pada raut mukanya perlahan-lahan luntur oleh keringat yang membanjir. Hingga dalam beberapa saat terlihat mukanya yang tadi putih beru- bah menjadi hitam legam! Bibirnya yang tadi dipoles warna merah belepotan luntur di sekitar mulutnya. Hingga paras nenek ini berubah makin menakutkan!

Sedangkan Datuk Wahing tampak terseret lima langkah namun posisinya tetap duduk bersimpuh. Walau paras mukanya berubah dan sosoknya bergetar, tapi kakek ini dalam beberapa saat sudah gerakkan kepala pulang balik ke depan ke belakang lalu perdengarkan bersinan beberapa kali!

Di lain pihak, meski Pitaloka dan Putri Kayangan, serta Setan Liang Makam tidak terlibat dalam bentrok pukulan, namun bias beradunya beberapa pukulan membuat sosok masing-masing orang ini terdorong deras ke belakang. Seandainya mereka tidak segera kuasai diri dengan kerahkan tenaga dalam, niscaya mereka akan jatuh terjengkang di atas tanah!

Kiai Laras yang sudah tegak dan kuasai diri pertama kali segera hadapkan tubuh pada Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun. Kalau tadi dia masih bimbang dalam menghadapi ketiga orang itu, setelah tahu apa yang baru saja terjadi, kebimban- gan sang Kiai sirna. Dia kini yakin akan kekuatan di tangannya. Hingga seraya hadapkan tubuh, kedua tangannya diangkat diletakkan pada pinggang kanan kirinya. Namun karena semua orang di tempat itu tidak bisa melihat pada sosoknya, mereka hanya bisa melihat pada gerakan Jubah Tanpa Jasad yang terangkat sedikit pada bagian lengan kanan kirinya.

“Kalian bertiga!” seru Kiai Laras lantang. “Hanya satu jalan yang akan menyelamatkan nyawa kalian masing-masing!” Kiai Laras tertawa pendek dahulu lalu melanjutkan. “Mendekatlah kemari dengan merangkak dan bersuaralah seperti gonggongan anjing! Lalu berlututlah dihadapanku!”

Dayang Sepuh mendengus. Sepasang matanya dibuka lalu bangkit berdiri dengan kedua tangan masih merangkap di depan dada. Sebelum nenek ini bersuara, Datuk Wahing telah perdengarkan bersinan dua kali lalu angkat bicara.

“Sahabat sekalian.... Apa kita harus melakukan perintah mengherankan itu?!”

“Ah.... Mungkin perintah itu hanya bercanda...,” Gendeng Panuntun menyahut.

“Bercanda atau tidak, tapi mulut setan itu sudah terlalu!” Dayang Sepuh menimpali dengan pasang tampang garang.

Saat orang lain adu mulut, diam-diam Setan Liang Makam yang sedari tadi hanya diam kerahkan segenap tenaga dalamnya. Walau dia telah tahu bagaimana kedahsyatan Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad, namun cucu Nyai Suri Agung ini seakan tidak ambil peduli. Yang tertanam dalam benaknya adalah bagaimana caranya bisa mengambil kembali dua senjata pusaka milik leluhurnya itu. Tapi Setan Liang Makam tidak bodoh apalagi bertindak ayal. Dia menunggu kesempatan baik. Dan begitu melihat orang sedang adu mulut, dirasa itulah kesempatan yang harus tidak disia-siakan. Maka laki-laki ini segera kerahkan segenap tenaga dalamnya. Kejap lain dia melesat ke arah Kiai Laras. Kedua tangannya disentakkan.

Wuutt! Wuutt!

Dua gelombang dahsyat yang disertai hamparan warna hitam menggidikkan menderu ganas ke arah Kiai Laras. Kiai Laras tersentak kaget. Namun kepercayaan diri membuat laki-laki ini segera dapat kuasai rasa kejutnya. Bahkan kini menghadapi pukulan lawan dengan tertawa bergelak panjang! Bersamaan itu tangan kanannya yang memegang Kembang Darah Setan dikelebatkan seraya menyingkir ke samping dengan melompat.

Setan Liang Makam kini balik tersentak. Dia sama sekali tidak menduga jika gerakan lawan begitu cepat. Dia tadi sudah mengukur jarak. Dan yakin kalau orang yang dihantamnya tidak mungkin lagi punya kesempatan untuk laksanakan hadangan pukulan.

Blaarr!

Dua gelombang yang menderu ke arah Kiai Laras semburat berantakan. Kiai Laras terhuyung-huyung tapi tidak sampai jatuh. Di lain pihak, Setan Liang Makam langsung terjerembab di atas tanah dengan mulut keluarkan darah.

Sementara sebelum Kiai Laras kelebatkan Kembang Darah Setan, Pitaloka yang secara diam-diam juga menunggu kesempatan tidak mau lagi mengulangi kesalahan. Dia kini tidak mau menunggu sampai terjadi bentrok pukulan yang mengakibatkan Pedang Tumpul 131 sukar didekati. Hingga begitu Kembang Darah Setan berkelebat menghadang pukulan Setan Liang Makam, Pitaloka cepat berkelebat ke arah Pedang Tumpul 131!

“Pitaloka! Jangan lakukan itu!” Putri Kayangan berteriak mencegah. Namun terlambat.

Pitaloka teruskan kelebatannya. Sejengkal lagi tangan Pitaloka menyentuh Pedang Tumpul 131, tiba-tiba dari arah samping satu sambaran angin menggebrak. Pitaloka berseru tertahan. Kedua tangannya segera ditarik lalu disentakkan menghadang gebrakan angin. Namun datangnya gerakan angin lebih cepat dari sentakan kedua tangan si gadis. Hingga tanpa ampun lagi sosok Pitaloka tersapu mental ke belakang. Saat itulah satu bayangan putih melesat ke arah Pedang Tumpul 131.

EMPAT

BEGITU sosok Pitaloka yang tersapuhendak menghantam tanah, ledakan keras akibat benturan pukulan Setan Liang Makam dan Kembang Darah Setan terjadi. Hingga sosok Pitaloka kembali terpental. Putri Kayangan pentangkan mata memperhatikan arah mentalan sosok Pitaloka. Lalu melesat dan menyambar tubuh saudara kembarnya tanpa menunggu sosok Pitaloka melayang jauh kebawah.

Kiai Laras tampaknya dapat menangkap gelagat apa yang baru saja dilakukan Pitaloka. Hingga begitu dapat kuasai diri, dia cepat putar tubuh. Mendadak orang ini bantingkan kaki dengan mulut perdengarkan makian. Matanya membelalak ke tempat di mana tadi Pedang Tumpul 131 menancap. Ternyata pedang itu sudah lenyap!

Kiai Laras angkat sedikit mukanya yang berubah garang. Matanya makin membeliak tak berkesip. Sosoknya bergetar tanda hawa amarahnya telah menggelegak ketika melihat satu sosok tubuh berpakaian putih tegak di depan sana dan tengah memperhatikan Pedang Tumpul 131 yang ada ditangan kanannya.

“Pendekar 131!” seru Pitaloka dan Putri Kayangan hampir berbarengan ketika turun di atas tanah dan matanya melihat seorang pemuda berwajah tampan berambut panjang sedikit acak-acakan yang tengah memperhatikan pedang di tangan kanannya.

“Hem.... Untung tidak dipalsu!” gumam si pemuda berpakaian putih yang tidak lain memang Pendekar 131 Joko Sableng. Tanpa acuhkan berpasang-pasang mata yang kini memandang ke arahnya, murid Pendeta Sinting arahkan pandang matanya menyusur tanah.

“Sarungnya ada di sana!” ujar Joko. Masih tanpa angkat kepala memandang siapa saja yang ada di tempat itu, dia melangkah ke arah sarung pedang yang tergeletak di atas tanah.

“Setan geblek! Apa dia tidak melihat ada setan dihadapannya?!” ujar Dayang Sepuh mendapati apa yang dilakukan murid Pendeta Sinting.

“Pendekar 131! Lihat ke depan!” Putri Kayangan mendadak berteriak tatkala melihat bagaimana Joko terus melangkah tanpa mengangkat kepala. Padahal lurus didepannya Kembang Darah Setan sudah bergerak terangkat ke atas.

Pendekar 131 berpaling ke arah suara yang baru terdengar. Sesaat sepasang matanya melebar menyipit perhatikan Pitaloka dan Putri Kayangan. “Kini baru aku merasa yakin kalau ada dua Putri Kayangan! Namun sulit bagiku mengatakan mana yang mengambil pedangku tempo hari!” kata Joko lalu anggukkan kepala dan berujar.

“Mau mengaku siapa di antara kalian yang mengambil milikku tempo hari?!”

Paras muka Pitaloka dan Putri Kayangan sama berubah. Sulit diartikan perubahan pada wajah keduanya. Namun sejauh ini kedua gadis yang sama berparas cantik ini tidak ada yang buka mulut menjawab pertanyaan murid Pendeta Sinting. Sebaliknya mereka berdua sama saling pandang.

“Sebelum kudapatkan kembali pedangku, rasanya tanganku sudah gatal hendak menggebuk jika kutemukan. Tapi begitu benar-benar bertemu, rasanya tanganku tak kuasa melakukannya! Nyatanya perempuan cantik bukan hanya menambah persoalan, tapi juga dapat merubah niat!” kata Joko dalam hati. Lalu berpaling lagi ke depan.

Saat itulah matanya melihat jubah hitam serta Kembang Darah Setan yang terapung di atas udara. Murid Pendeta Sinting melongo dengan mata mendelik. Tangan kirinya berulang kali diusap-usapkan pada matanya. Lalu kepalanya disorongkan kedepan.

“Setan atau apa ini?!” gumamnya dalam hati. Tanpa sadar kedua kakinya bergerak. Bukan melangkah mundur melainkan maju! Namun begitu sadar, kembali kakinya mundur ke tempat semula. Belum lenyap rasa kaget Pendekar 131, di depan sana Datuk Wahing telah perdengarkan bersinan dua kali. Lalu disusul dengan ucapan.

“Harap tidak merasa heran dan ingat akan keteranganku, Anak Muda!”

“Datuk Wahing!” seru Joko lalu alihkan pandang matanya. Ketika dilihatnya si kakek memandang ke arahnya, Joko menjura hormat. Mata murid Pendeta Sinting terus melebar ke samping. Saat menumbuk sosok Dayang Sepuh, kembali Joko menjura seraya berucap. “Nenek Dayang Sepuh....”

Dayang Sepuh mendelik. Lalu menukas ucapan Joko. “Dasar setan! Sudah berkali-kali ku ingatkan, tapi kau tidak mau mengerti juga!”

Joko buru-buru sadar. Kembali dia mengulangi menjura seraya berkata. “Bibi nan Cantik, Dayang Sepuh...!”

Mata Dayang Sepuh terpejam-pejam dengan bibir tersenyum. Lalu rapikan geraian poni rambutnya yang tadi bersibakan. Rambutnya yang kini terlepas bergerai cepat-cepat disanggul sekenanya. Bajunya yang cingkrang sedikit ditarik-tarik ke bawah.

Pendekar 131 segera alihkan pandang matanya, takut kalau si nenek tahu jika dia sedang menahan tawa. Ketika matanya melihat sosok Gendeng Panuntun, kembali Joko membuat gerakan menjura. Namun kali ini sebelum sempat bersuara, Gendeng Panuntun sudah mendahului.

“Selamat jumpa lagi, Anak Muda... Bagaimana kabar gadis-gadismu?!”

Pendekar 131 sudah hendak menjawab. Namun mendengar lanjutan ucapan Gendeng Panuntun, dia jadi kancingkan mulut. Sebaliknya hanya menjawab dalam hati. “Urusannya jadi repot kalau menghadapi orang-orang begini....”

Di antara semua orang di situ, yang paling terkejut dengan kemunculan murid Pendeta Sinting adalah Setan Liang Makam. Hingga meski masih merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, laksana terbang dia beranjak bangkit. Seraya mengusap kucuran darah pada mulutnya, sepasang matanya mendelik.

“Pendekar 131 Joko Sableng! Bagaimana bisa begini?! Lalu siapa sebenarnya pemegang Kembang Darah Setan dan pemakai Jubah Tanpa Jasad itu?!”

Selagi Setan Liang Makam menduga-duga, murid Pendeta Sinting tepat sedang memandang ke arahnya. Kembali Joko terkesiap kaget. “Dugaan Datuk Wahing tepat.... Setan Liang Makam masih hidup! Dan jubah hitam yang mengapung di udara itu pastilah yang disebut-sebutnya Jubah Tanpa Jasad! Sebuah jubah yang bila dikenakan, maka sosok si pemakai tidak akan kelihatan! Mungkin saat inilah waktunya mengetahui siapa gerangan di balik peristiwa ini! Dan kepastian itu akan terbukti dengan jalan mengenali siapa sebenarnya sosok tak kelihatan di balik Jubah Tanpa Jasad itu!”

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting segera alihkan pandang matanya pada Jubah Tanpa Jasad dan berkata. “Siapa kau sebenarnya?! Mengapa hal ini kau lakukan dengan melibatkan diriku yang tak tahu apa-apa?!”

Untuk kesekian kalinya Kiai Laras terkejut. “Aneh.... Rupanya ada yang tak beres begitu aku mengenakan jubah ini! Semua orang seakan tidak mengenaliku! Padahal aku yakin pasti dia tidak akan lupa pada wajahku! Hem.... Keanehan apa sebenarnya ini?! Kalau benar mereka sekarang tidak bisa mengenaliku, itu akan lebih baik! Mereka akan kubuat penasaran sampai masuk liang neraka! Ha Ha Ha...!” Kiai Laras tertawa dalam hati.

Namun seakan belum percaya pada diri sendiri, Kiai Laras angkat tangan kirinya lalu mengusap-usap pada wajahnya. Kepalanya pun bergerak memperhatikan dirinya sendiri. “Tidak ada yang berubah...,” gumamnya masih merasa aneh. “Tapi persetan dengan semua itu! Mereka mengenaliku atau tidak, yang jelas mereka harus mampus saat ini juga!”

Mendapati pertanyaannya tidak dijawab orang, malah terlihat gerakan-gerakan pada Jubah Tanpa Jasad, Joko waspada dan cepat kerahkan tenaga dalam pada tangannya. Lalu kembali berkata. “Kau telah dengar pertanyaanku, harap suka menjawab!”

“Jawaban itu kelak akan kau peroleh di neraka!” Kiai Laras perdengarkan suara.

“Hem.... Aku sepertinya pernah mendengar suara orang ini! Berarti aku yakin mengenalnya, atau setidaknya pernah bicara dengannya!” Murid Pendeta Sinting dongakkan kepala seolah mengingat. Tapi tak lama kemudian dia geleng kepala. “Mengenali orang lewat suaranya sulit. Ah, bukankah Kakek Gendeng Panuntun ada di sana. Kurasa dia bisa mengetahui....”

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting segera saja berkelebat. Dan tahu-tahu sosoknya telah tegak di samping Gendeng Panuntun. Namun begitu Joko tegak, Gendeng Panuntun sudah gerakkan kepala menggeleng seraya berkata.

“Jangan tanya padaku, Anak Muda....”

Joko menghela napas lalu berpaling pada Datuk Wahing. Lagi-lagi sebelum Joko sempat angkat suara, Datuk Wahing telah bersin dua kali sembari berucap. “Adalah satu hal yang mengherankan kalau aku lebih tahu dari dia!” Tangan kanan Datuk Wahing menunjuk pada Gendeng Panuntun.

Kini murid Pendeta Sinting alihkan pandangannya pada Dayang Sepuh. Si nenek sudah tersenyum dahulu lalu berkata. “Yang jelas dia adalah seorang laki-laki! Soal siapa orangnya, bisa kau tanyakan pada setan gentayangan!”

Walau sudah merasa pasti tidak tahu juga, tapi murid Pendeta Sinting coba arahkan pandangannya pada Pitaloka dan Putri Kayangan. Yang dipandang sama saling pandang satu sama lain. Lalu Pitaloka berpaling pada jurusan lain. Sementara Putri Kayangan gelengkan kepala dengan raut bersemu merah.

“Aku masih sulit mengenali. Siapa yang menggeleng dan siapa yang berpaling!” gumam murid Pendeta Sinting.

Di lain pihak, begitu mendapati apa yang dilakukan Pendekar 131, Kiai Laras makin yakin jika semua orang di tempat itu tidak bisa mengetahui siapa dia sebenarnya. Maka saat itu juga dia berkata dengan kepala mendongak.

“Dengar semua! Agar kalian tidak mati penasaran, akan kukatakan siapa aku!”

Tempat itu seketika hening. Semua orang sama arahkan mata pada Jubah Tanpa Jasad kecuali Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. Datuk Wahing tetap gerakkan kepala pulang balik ke depan ke belakang dengan mimik orang hendak bersin, sedang Gendeng Panuntun pejamkan matanya yang putih sambil tengadah. Tangan kiri kanannya bergantian mengusap cermin bulat pada depan perutnya.

“Aku adalah Penguasa Kampung Setan!” Kiai Laras lanjutkan ucapan. “Dan sejak hari ini semua orang harus tunduk di bawah telapak kakiku!” Sesaat Kiai Laras hentikan ucapannya dengan kepala digerakkan menyapu ke seantero tempat itu. Seraya sunggingkan senyum laki-laki ini lanjutkan ucapannya. “Ini memang bukan paksaan, tapi siapa yang membangkang maka takdirnya buruk!”

“Siapa percaya!” Tiba-tiba satu suara menyahut. Ternyata yang bersuara adalah Setan Liang Makam. “Akulah Penguasa Kampung Setan! Aku generasi terakhir Kampung Setan!”

Kiai Laras tidak berpaling pada Setan Liang Makam meski dia segera menyahut. “Hem... Begitu?! Mau tunjukkan padaku kalau ucapanmu tadi bisa dipercaya?!”

Setan Liang Makam terdiam. Namun tak lama kemudian sudah buka suara. “Hanya karena kelicikanmu, lambang Kampung Setan lepas dari tanganku!”

Kiai Laras tertawa. “Itu bukan jawaban pertanyaanku, Manusia Setan! Aku tanya tunjukkan kalau kau Penguasa Kampung Setan!”

Dada Setan Liang Makam laksana meledak saking geramnya. Namun laki-laki cucu Nyai Suri Agung ini hanya bisa diam, membuat Kiai Laras berucap lagi.

“Kau mengaku sebagai Penguasa Kampung Setan. Tapi tidak dapat tunjukkan bukti ucapanmu! Sekarang aku tanya padamu. Apa kau ingin bukti kalau akulah Penguasa Kampung Setan?!”

Setan Liang Makam lagi-lagi tidak menjawab. Kiai Laras tertawa ngakak. “Bertahun-tahun Kampung Setan menjadi legenda karena kesaktian penguasanya. Adalah manusia dungu kalau mengaku sebagai Penguasa Kampung Setan dengan bekal ilmu sejengkal!”

Kini Kiai Laras putar tubuh menghadap Setan Liang Makam. “Aku tanya sekali lagi.... Kau ingin bukti dariku bahwa akulah sang Penguasa Kampung Setan?!” seraya berkata begitu Kiai Laras mengangkat Kembang Darah Setan di tangan kanannya.

Setan Liang Makam tercekat. Mulutnya terkancing. Cucu Nyai Suri Agung ini sudah merasa tidak akan mampu menahan jika sosok di balik Jubah Tanpa Jasad benar-benar hantamkan Kembang Darah Setan. Selain dirinya telah terluka dalam, kesaktian Jubah Tanpa Jasad akan membuatnya sia-sia melakukan pukulan. Namun Kiai Laras perlahan-lahan turunkan Kembang Darah Setan. Lalu berkata.

“Membunuhmu semudah ini!” Semua orang yang memandang melihat percikan air mencuat dari bagian atas Jubah Tanpa Jasad. Jelas kalau semua orang tidak bisa melihat sosok di balik jubah, namun mereka bisa memastikan jika cuatan air itu adalah air ludah!

“Namun sebagai penguasa, aku tidak akan mudah turunkan tangan maut! Asal kau segera lakukan apa yang kuperintahkan! Kau dengar, Manusia Setan?!”

Dada Setan Liang Makam makin bergemuruh. Namun maklum akan posisinya, cucu dari Nyai Suri Agung ini hanya bisa memandang tanpa menyahut.

“Manusia setan! Merangkaklah ke hadapanku dengan mengembik! Tirukan suara kambing keras-keras lalu berlutut di hadapanku!”

Setan Liang Makam laksana disambar petir. Sosoknya yang hanya merupakan susunan kerangka bergetar keras. Tulang sekujur wajahnya bergerak-gerak.

“Aku tak akan mengulangi perintah! Lakukan sekarang! Cepat!” Kiai Laras membentak.

Saat yang sama Kembang Darah Setan kembali diangkat. Setan Liang Makam menghela napas dalam. Entah apa pertimbangannya, perlahan-lahan laki-laki ini tekuk kedua lututnya lalu duduk bersimpuh di atas tanah. Sepasang matanya terus memperhatikan pada Kembang Darah Setan. Dan begitu melihat Kembang Darah Setan hendak berkelebat, dia cepat tarik tubuhnya ke depan membuat gerakan menungging!

“Jangan membuat kesabaranku habis! Tirukan suara kambing dan merangkak ke hadapanku!” Kiai Laras menghardik.

Dengan dada di buncah perasaan tak karuan, Setan Liang Makam buka mulut. Lalu terdengarlah cucu Nyai Suri Agung ini perdengarkan suara kambing seraya merangkak!

“Kau laki-laki, Manusia Setan! Jangan bersuara seperti perempuan! Yang keras!” bentak Kiai Laras ketika didengarnya suara Setan Liang Makam sangat pelan.

“Kau akan rasakan batasanku nanti, Jahanam Bangsat! Saat ini kau menang! Tapi itu hanya untuk sementara! Kau nanti akan merasakan lebih dari semua ini!” Setan Liang Makam memaki dalam hati. Dan dengan menindih segala perasaan serta tabahkan hati, akhirnya dia tirukan suara kambing dengan keras-keras.

“Bagus! Bagus!” Kiai Laras anggukkan kepala berulang kali lalu tertawa ngakak. Sementara sepasang matanya melirik pada Dayang Sepuh, Datuk Wahing, Gendeng Panuntun, serta Pendekar 131. “Kalian juga akan melakukan hal yang sama!”

Saat itulah mendadak ekor mata Kiai Laras menangkap berkelebatnya satu bayangan. Laksana disentak setan, kepala Kiai Laras cepat berpaling. “Kau datang pada saat yang salah!” desis Kiai Laras. Lalu alihkan pandangannya. Bersamaan dengan itu satu sosok tubuh berkelebat dan tegak tidak jauh dari tempat berdirinya Pitaloka dan Putri Kayangan.

LIMA

DIA adalah seorang laki-laki berusia lanjut mengenakan pakaian warna putih. Rambutnya putih panjang. Sepasang matanya sedikit sayu. Pada cuping hidungnya melingkar sebuah anting-anting.

“Kiai Laras.... Atau Kiai Lidah Wetan?!” Pendekar 131 bergumam sendiri. Lalu perhatikan orang yang baru muncul sekali lagi. “Yang ini pasti Kiai Lidah Wetan!” Murid Pendeta Sinting meyakinkan. Lalu perlahan-lahan Pedang Tumpul 131 dimasukkan ke balik pakaiannya dengan hati-hati karena pedang itu tanpa sarung.

“Kurasa ada seorang sahabat yang baru muncul...,” Gendeng Panuntun angkat suara.

“Bruss! Kuharap kehadirannya tidak menambah suasana heran di tempat ini!” Datuk Wahing menyahut.

Dayang Sepuh yang tegak tidak jauh dari murid Pendeta Sinting tidak buka mulut. Dia hanya memandang sekilas lalu melangkah ke arah Gendeng Panuntun. Di seberang sana, Pitaloka dan Putri Kayangan sempat terkejut dengan kemunculan orang yang bukan lain memang Kiai Lidah Wetan adanya. Kedua gadis ini sejenak berpaling pada Kiai Lidah Wetan.

“Pitaloka.... Tempat ini makin tidak aman! Tidak tertutup kemungkinan sebentar lagi akan muncul orang baru! Kita sebaiknya segera pergi!” Putri Kayangan berbisik.

Pitaloka melotot pada saudara kembarnya. “Kalau kau takut, pergilah sendirian!”

“Aku bukannya takut.... Tapi ini demi perintah Eyang Guru! Lagi pula pedang itu sudah diambil pemiliknya!Tak ada lagi bukan urusannya ditempat ini?!”

Pitaloka tertawa pendek. “Bukan pedang itu yang kuinginkan! Tapi Kembang Darah Setan itu!”

“Pitaloka.... Kau boleh punya keinginan. Tapi kau harus ukur dahulu kemampuan! Kau tadi telah melihat bagaimana peristiwa di tempat ini!”

“Aku memang tidak punya kemampuan tinggi untuk mengalahkan mereka! Tapi aku punya cara untuk bisa mendapatkannya!”

“Tapi caramu salah...!”

Pitaloka angkat tangannya. Telunjuk jarinya diluruskan ke arah wajah Putri Kayangan. “Kau tidak berhak menilai caraku! Kau dengar itu?!”

“Tapi apa yang kau lakukan setidaknya membuat aku ikut terlibat! Orang yang tidak tahu pasti menduga akulah yang melakukannya!”

“Persetan dengan semua itu! Yang penting aku tidak melibatkan dirimu! Hanya orang tolol dan buta yang tidak bisa membedakan!”

“Pitaloka! Jangan membuatku melakukan perintah Eyang Guru dengan caraku sendiri!” Putri Kayangan membentak dengan suara keras.

“Tadi sudah kukatakan, kau mau apa kalau aku tidak mau turuti perintah, hah?!”

Putri Kayangan menghela napas panjang. Untuk beberapa saat dia edarkan pandang matanya menindih kegeraman yang mulai melanda dadanya. “Gadis-gadis setan!” gumam Dayang Sepuh. “Apa mereka kira ini tempat yang cocok untuk adu mulut!”

“Harap mengerti.... Sebagai orang muda jalan pikirannya tentu belum sepanjang apa yang kau pikirkan, Nek....” Gendeng Panuntun sambuti ucapan Dayang Sepuh.

“Kau tidak bisa melihat mereka! Jadi aku maklum kalau gadis-gadis segede setan itu masih kau katakan sebagai orang muda!”

Gendeng Panuntun tertawa seraya gelengkan kepala. “Aku memang tidak bisa melihat mereka. Tapi aku dapat merasakan dari ucapan-ucapan mereka!”

“Ah, persetan dengan semua itu!” sahut Dayang Sepuh. “Sekarang aku ingin tanya. Kau tahu siapa setan yang kau katakan sebagai sahabat dan tegak di depan sana itu?!” Dayang Sepuh arahkan pandangannya ke arah Kiai Lidah Wetan.

“Kau yang bisa melihat. Mengapa bertanya padaku?”

“Setan! Aku memang bisa melihat! Tapi aku tidak mengenalinya!”

“Kalau yang bisa melihat tidak dapat mengenali, apa berarti yang buta bisa mengenalinya?!”

“Kau benar-benar setan! Bukankah kau tadi sudah mengatakan setan yang baru datang itu adalah seorang sahabat! Berarti kau mengenalinya!”

“Aku hanya mengatakan sahabat. Jadi belum pasti aku mengenalinya. Karena semua orang kuanggap sebagai sahabat. Tidak terkecuali setan sekalipun....”

“Aku mengenal siapa dia, Bibi Cantik....” Joko ikut ambil suara. “Dia adalah Kiai Lidah Wetan.”

“Setan! Itu aku sudah tahu!”

“Lalu?!” Joko bertanya. “Siapa dia sebenarnya?!”

“Ah, kalau itu persoalannya, sebaiknya kita tanyakan saja padanya!”

Dayang Sepuh sudah hendak menghardik. Namun diurungkan ketika dari arah depan terdengar Kiai Laras angkat bicara. “Orang yang baru datang! Kau lihat apa yang terjadi di depanku! Sebelum kau nanti mengalami hal yang sama, kuperingatkan kau untuk segera angkat kaki darisini!”

Kiai Lidah Wetan terkejut. Laki-laki kakak kandung dari Kiai Laras ini sesaat tadi masih terkesima dengan pemandangan di hadapannya. Dia tak habis pikir bagaimana sebuah jubah menggantung tegak di udara. Dan dia pun makin terkesima melihat Kembang Darah Setan yang juga terapung di atas udara. Mula-mula Kiai Lidah Wetan menduga orang berjubah hitam adalah Setan Liang Makam. Namun begitu melihat Setan Liang Makam merangkak dan tadi perdengarkan suara kambing, orang ini jadi bertanyatanya dan makin heran.

Sementara melihat kemunculan orang, Setan Liang Makam hentikan rangkakannya. Mulutnya yang perdengarkan suara kambing pun dihentikan. Dia angkat kepalanya lalu memandang ke arah Kiai Lidah Wetan.

“Aku pernah melihat orang ini.... Tapi aku lupa di mana...,” kata Setan Liang Makam dalam hati. Lalu kembali tundukkan kepala.

“Mungkinkah orang yang baru bersuara tapi tidak kelihatan wujudnya tadi adalah Laras?!” Kiai Lidah Wetan menduga. “Suaranya memang hampir mirip. Tapi bagaimana mungkin?! Bukankah Kembang Darah Setan sudah diberikan pada Setan Liang Makam saat di teluk tempo hari?! Hem.... Apa sebenarnya yang telah terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan berantakannya tempat di Kampung Setan itu?!”

Seperti diketahui, Kiai Lidah Wetan dan Kiai Laras yang menyamar sebagai murid Pendeta Sinting datang ke teluk. Di sana Kiai Laras menyerahkan Kembang Darah Setan pada Setan Liang Makam. Lalu keduanya mengikuti jejak Setan Liang Makam yang ternyata menuju ke Kampung Setan. Kiai Lidah Wetan tidak tahu apa maksud Kiai Laras memberikan Kembang Darah Setan dan mengikuti jejak Setan Liang Makam.

Begitu meninggalkan Kampung Setan, di tengah jalan Kiai Lidah Wetan dan Kiai Laras berpencar. Karena mereka merasa diikuti orang yang ternyata adalah Kiai Tung-Tung alias Pendekar 131 Joko Sableng. Namun Kiai Lidah Wetan agak tidak beruntung, karena ternyata Kiai Tung-Tung mengejarnya. Sempat terjadi bentrok antara Kiai Lidah Wetan dan Kiai Tung-Tung. Maklum kalau lawan memiliki ilmu di atasnya, akhirnya Kiai Lidah Wetan melarikan diri. Kiai Tung-Tung mengejar. Saat itulah tiba-tiba ada seseorang yang lepaskan pukulan menghadang Kiai Tung-Tung hingga Kiai Lidah Wetan selamat.

Begitu bisa lolos dari kejaran orang, Kiai Lidah Wetan mulai berpikir apa yang baru saja dilakukan Kiai Laras. Akhirnya dia memutuskan untuk menyelidik ke Kampung Setan. Kiai Lidah Wetan sempat masuk ke Istana Sekar Jagat. Namun setelah agak lama berada di Istana Sekar Jagat, dia tidak menemukan siapa-siapa. Dia hanya bisa melihat porak-porandanya bangunan bagian atas yang berbentuk kerucut. Dan dia hanya bisa menduga jika tidak berselang lama telah terjadi bentrokan hebat di tempat itu. Namun sejauh ini dia tidak bisa menentukan siapa orangnya.

Pada akhirnya, Kiai Lidah Wetan keluar dari Kampung Setan dan berkelebat ke arah barat. Agak jauh meninggalkan Kampung Setan, tiba-tiba Kiai Lidah Wetan mendengar suara ledakan lalu ditingkah dengan terdengarnya gelakan tawa. Terakhir sayup-sayup telinganya mendengar suara kambing. Yang membuat Kiai Lidah Wetan memutuskan untuk melihat apa yang terjadi, suara kambing itu sangat keras dan terus menerus! Hingga tanpa pikir panjang lagi Kiai Lidah Wetan berkelebat kearah datangnya suara kambing.

“Baik! Kau tak mau mendengar peringatanku! Tunggulah di tempatmu sampai giliranmu sampai!” Kiai Laras buka suara lagi. Jubah Tanpa Jasad bergerak memutar menghadap Setan Liang Makam.

“Aku tak memerintah mu berhenti! Atau kau ingin mampus sekarang?!”

Hardikan Kiai Laras belum selesai, Setan Liang Makam telah bergerak merangkak lagi sambil buka mulut tirukan suara kambing. Kiai Laras kembali tertawa bergelak. “Bagus! Cukup!” kata Kiai Laras saat Setan Liang Makam berjarak lima langkah di hadapannya. “Sekarang berlutut dan tempelkan keningmu di atas tanah! Jangan berani angkat kepala sebelum aku perintah!”

Masih dengan sosok bergetar Setan Liang Makam lakukan yang dikatakan Kiai Laras. Kiai Laras makin keraskan gelakan tawanya. Tapi kali ini tiba-tiba dia putuskan tawanya. Jubah Tanpa Jasad memutar ke arah Pitaloka dan Putri Kayangan. Kedua gadis ini serentak tergagu. Tapi Putri Kayangan cepat berbisik.

“Masih ada kesempatan, Pitaloka!”

“Tidak! Kau saja yang tinggalkan tempat ini! Justru saat inilah yang kutunggu!” sahut Pitaloka.

“Kau jangan gila! Tak mungkin kita mampu!”

“Kau jangan mengukur segalanya dengan kemampuan! Tapi gunakan otak!”

Belum sampai Pitaloka selesai berucap, Putri Kayangan sudah menarik tangan saudara kembarnya. Tapi belum sempat Putri Kayangan bergerak lebih jauh, Kiai Laras telah angkat suara.

“Kalian berdua! Kuperintahkan kalian untuk mendekat dengan merangkak!”

Putri Kayangan tidak hiraukan ucapan Kiai Laras. Dia kembali menarik tangan Pitaloka. Namun Pitaloka segera sentakkan tangannya hingga tarikan Putri Kayangan lepas. Tanpa diduga-duga Pitaloka segera jatuhkan diri lalu merangkak kearah Kiai Laras.

“Pitaloka! Kau melakukan tindakan bodoh!” seraya berkata Putri Kayangan segera berkelebat ke depan. Kembali tangannya menarik tubuh Pitaloka.

“Setan! Apa yang ada dalam benak gadis setan itu?!” Dayang Sepuh sudah menggerendeng melihat apa yang dilakukan Pitaloka.

Di sebelahnya Datuk Wahing bersin-bersin beberapa kali. Gendeng Panuntun tengadahkan kepala. Sementara Pendekar 131 Joko Sableng hanya melihat dengan mulut terkancing. Baru saja tangan Putri Kayangan hendak menarik tubuh Pitaloka, tiba-tiba dari arah Jubah Tanpa Jasad menderu satu gelombang dahsyat. Putri Kayangan urungkan niat. Kedua tangannya ditarik pulang. Lalu disentakkan ke depan.

Blaamm!

Terdengar ledakan dahsyat. Sosok Putri Kayangan terjajar dua langkah. Pitaloka cepat selamatkan diri dengan jatuhkan diri berguling di atas tanah. Namun gadis ini cepat bangkit dan membuat gerakan merang- kak.

“Pitaloka! Kau membangkang perintah Eyang Guru, sebaliknya enak saja menuruti perintah orang! Daripada gagal membawamu ke hadapan Eyang Guru, lebih baik kau mati di tanganku!”

Baru saja Putri Kayangan berucap begitu, Pitaloka angkat tubuhnya. Kedua tangannya sekonyong-konyong didorong ke arah Putri Kayangan.

“Kau terlambat, Beda Kumala! Dan lebih dari itu kau selalu merecoki urusanku! Bukan aku yang mati di tanganmu, tapi kau yang akan mampus di tanganku!”

Satu gelombang angin deras menghantam ke arah Beda Kumala alias Putri Kayangan. Saat yang sama kembali dari arah Jubah Tanpa Jasad menggebrak deruan gelombang. Melihat hal ini murid Pendeta Sinting segera hendak melompat. Namun Datuk Wahing sudah perdengarkan bersinan dan berkata.

“Jangan melakukan tindakan yang mengherankan, Anak Muda! Sebaiknya kita tunggu dulu agar kita tahu mengapa gadis cantik itu melakukan hal yang mengherankan!”

“Dasar setan sableng! Kalau lihat gadis-gadis setan berantem, maunya nimbrung cari muka! Tapi kalau yang berantem nenek-nenek akan ngeloyor pergi!” Dayang Sepuh menyemprot tanpa menoleh pada murid Pendeta Sinting.

Di depan sana Putri Kayangan hendak menyingkir melihat Pitaloka lepaskan pukulan ke arahnya. Dia sebenarnya hendak menyingkir menghindar. Tapi begitu mendapati pukulan juga menderu dari Jubah Tanpa Jasad, Putri Kayangan urungkan niat. Sebaliknya cepat angkat kedua tangannya. Lalu disertai bentakan keras, kedua tangannya dihantamkan.

Untuk kedua kalinya kembali terdengar ledakan. Sosok Putri Kayangan terhuyung dua langkah ke belakang karena harus menghadang dua pukulan. Sementara Pitaloka hanya terjajar dua tindak. Di seberang depannya, Jubah Tanpa Jasad tidak bergeming dari tempatnya.

“Itu adalah peringatan kalau aku benar-benar tak segan membunuhmu jika kau menghalangi niatku!” Pitaloka berteriak lalu kembali bungkukkan tubuh membuat sikap merangkak.

“Bagus! Lakukan apa yang ku perintah, Anak Cantik!” kata Kiai Laras. “Untuk pembangkang itu biar ku tangani sendiri!”

Pitaloka berpaling sesaat pada Putri Kayangan. Lalu mulai merangkak ke arah Kiai Laras. Putri Kayangan hendak bergerak. Tapi dia urungkan tatkala matanya menangkap gerakan pada Kembang Darah Setan.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?! Tak mungkin aku mampu menghadapi Kembang Darah Setan! Pitaloka. Apa sebenarnya yang hendak kau lakukan?!”

Selagi Putri Kayangan membatin begitu, tiba-tiba Kiai Laras sudah menghardik. “Kau berlaku bodoh berani menentang perintah Penguasa Kampung Setan! Tapi aku masih memberimu kesempatan! Lakukan apa yang dilakukan temanmu itu!”

Putri Kayangan tercengang. Perlahan-lahan ekor matanya melirik jauh ke arah murid Pendeta Sinting. Saat lain gadis berparas cantik jelita ini balikkan tubuh dan hendak tinggalkan tempat itu. Kiai Laras tidak banyak bicara. Bersamaan dengan berputarnya sosok Putri Kayangan, tangan kanannya yang memegang Kembang Darah Setan segera dikelebatkan.

Wuutt!

Sinar tiga warna, merah, hitam, dan putih berkiblat ganas ke arah Putri Kayangan. Rupanya sang Putri telah waspada. Hingga dia cepat melompat jauh ke depan. Kejap lain seraya putar tubuh, kedua tangannya diangkat ditakupkan di depan dada.

Di seberang sana, melihat Putri Kayangan hanya takupkan kedua tangannya tanpa membuat gerakan apa-apa lagi, murid Pendeta Sinting segera berkelebat. Karena dia tahu bagaimana kedahsyatan Kembang Darah Setan, dia segera lepaskan pukulan ‘Lembur Kuning’!

ENAM

TEMPAT itu seketika berubah menjadi terang benderang diselimuti cahaya merah, hitam, dan putih serta kuning. Warna merah, hitam, dan putih mencuat dari Kembang Darah Setan di tangan Kiai Laras, sementara warna kuning berasal dari dorongan kedua tangan murid Pendeta Sinting.

Sepuluh jengkal lagi sinar dari Kembang Darah Setan bentrok dengan pukulan Pendekar 131, mendadak saja sosok Putri Kayangan laksana dibungkus cahaya warna merah berkilau. Kejap lain dari tubuh gadis cantik ini melesat kilauan warna merah lurus ke arah kiblatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan.

Terdengar benturan keras beberapa kali. Saat yang sama tempat itu laksana dihantam gempa raksasa serta petir maha dahsyat. Udara diterpa cahaya yang membuat semua mata terpejam karena silau. Hawa panas luar biasa menyengat tajam laksana matahari hanya beberapa tombak di atas hamparan bumi. Kejap lain terdengar ledakan keras menggelegar.

Sosok murid Pendeta Sinting yang melepas pukulan ‘Lembur Kuning’ dengan melompat di atas udara, tampak tersapu mental dan turun dari atas tanah dengan lutut menekuk terhuyung-huyung. Joko coba kuasai diri. Namun huyungan tubuhnya terlalu cepat. Hingga tanpa ampun lagi sosoknya melorot jatuh. Namun dua jengkal lagi pantatnya menghantam tanah, tiba-tiba terdengar bersinan dua kali.

Pendekar 131 rasakan ada desiran angin dari bawah pantatnya. Gerakan pantatnya terhenti malah terangkat! Dan saat lain sosok murid Pendeta Sinting telah tegak dengan kedua kaki laksana dipaku! Di seberang sana, sosok Putri Kayangan terjengkang. Saat tubuhnya hampir saja melabrak tanah, satu bayangan merah berkelebat dan langsung menyambar tubuh si gadis. Melayang beberapa tombak ke udara lalu menukik deras dan menjejak di atas tanah. Si bayangan turunkan sosok Putri Kayangan yang berada dipundaknya. Putri Kayangan cepat berpaling. Terlihat Dayang Sepuh cemberut dan berkata.

“Kau benar-benar gadis setan! Sudah kuperingatkan malah adu mulut disini!”

“Nek.... Terima kasih atas pertolonganmu! Kuharap kau mengerti. Bukannya aku tidak mau dengar perintahmu. Tapi aku harus pergi bersama saudaraku itu!”

“Saudaramu sudah kerasukan setan! Sekarang kau pergilah sendirian dari tempat ini!”

Putri Kayangan geleng kepala. “Aku baru tinggalkan tempat ini jika bersamanya! Aku tak akan menghadap Eyang Guru dengan tangan hampa....”

“Kalau itu keinginanmu, kau bukannya akan menghadap eyang gurumu dengan tangan hampa namun dengan tanpa nyawa!”

“Itu lebih baik daripada pulang dengan tidak bisa laksanakan tugas yang diberikan padaku...!”

“Setan keras kepala!” sentak Dayang Sepuh. “Bicara seenak perutnya sendiri! Harusnya kau berpikir. Untuk sementara tinggalkan tempat ini. Dan kau punya kesempatan untuk sadarkan saudaramu dari kesetanan!”

“Waktu hanya akan menambah saudaraku berbuat makin gila, Nek...!”

“Kalau begitu kau mampus saja!” seru Dayang Sepuh saking jengkelnya mendengar jawaban-jawaban Putri Kayangan.

“Nenek aneh.... Tapi aku tahu hatinya baik meski nada bicaranya kasar...,” kata Putri Kayangan dalam hati. “Nek....”

“Aku bukan nenekmu! Aku tak mau bicara dengan gadis setan sepertimu!”

Putri Kayangan kancingkan mulut dengan menghela napas panjang. Saat itulah ia baru merasakan dadanya sesak dan berdenyut nyeri. Mulutnya terasa hangat dan asin. Saat si gadis usapkan tangan pada mulutnya, ternyata mulutnya telah alirkan darah, pertanda bentroknya pukulan tadi telah membuatnya terluka dalam.

Sementara di depan sana, Kiai Laras tampak tegak dengan seringai buas. Sesaat tadi dia terhuyung namun tidak sampai terjatuh. Dia pun hanya merasakan sentakan pelan pada dadanya tatkala terjadi benturan antar pukulan. Hingga dia bukan saja tidak mengalami cedera, namun segera dapat kuasai diri.

Di hadapan Kiai Laras, Setan Liang Makam tampak angkat kepalanya. Namun sebelum kepalanya benar-benar terangkat, Kiai Laras sudah menghardik. “Berani angkat kepalamu dari tanah, kepalamu akan kutanggalkan!”

Setan Liang Makam cepat sentakkan kembali kepalanya dan ditempelkan di atas tanah. Tidak jauh dari Setan Liang Makam, Pitaloka tampak menungging dengan mata melirik ke arah Jubah Tanpa Jasad. Mungkin saking jengkelnya mendapati apa yang baru saja terjadi, Kiai Laras segera pula menghardik pada Pitaloka seakan hendak tumpahkan semua kegeramannya.

“Kau juga! Letakkan keningmu di atas tanah!” Pitaloka tersenyum. Lalu lakukan apa yang dikatakan Kiai Laras. Kiai Laras putar tubuh menghadap Putri Kayangan dan Dayang Sepuh.

“Gadis setan! Kau masih juga ingin mampus?!” tanya Dayang Sepuh.

“Kau sendiri bagaimana, Nek?!” Putri Kayangan balik bertanya membuat si nenek berpaling dengan pasang tampang angker.

“Itu urusanku, Gadis Setan!”

“Semua urusan di sini aku yang tentukan!” Tiba-tiba Kiai Laras menyahut. “Dan untuk kalian berdua ku tentukan mampus saat ini juga!”

Bersamaan dengan selesainya bentakan, Kembang Darah Setan di tangan kanan Kiai Laras sudah berkelebat. Dayang Sepuh dan Putri Kayangan sempat terkesiap. Namun keduanya buru-buru gerakkan tangan masing-masing. Dayang Sepuh takupkan kedua tan- gan di depan kening lalu dibuka dan didorong perlahan kedepan.

Di sampingnya, Putri Kayangan takupkan kedua tangannya di depan dada. Sepasang matanya dipejamkan. Entah karena tak mau melihat Dayang Sepuh dan Putri Kayangan terluka, Pendekar 131 segera berkelebat ke depan. Kembali kedua tangannya didorong melepas pukulan sakti ‘Lembur Kuning’.

Untuk kedua kalinya tempat itu laksana ditelan cahaya menyilaukan. Tebaran hawa panas menyengat menyungkup. Saat lain gelegaran keras terdengar. Tiga sosok tubuh tampak bermentalan. Yang pertama adalah sosok Dayang Sepuh. Disusul Putri Kayangan dan murid Pendeta Sinting. Dayang Sepuh mental satu tombak dan jatuh terduduk dengan mulut menganga hembuskan napas karena dadanya laksana baru saja dihantam tembok. Satu setengah tombak di samping Dayang Sepuh, Putri Kayangan terkapar dengan mulut kucurkan darah. Parasnya yang cantik berubah seperti tidak berdarah. Sebagian pakaian yang dikenakan hangus.

Tidak jauh dari tempat terkaparnya Putri Kayangan, murid Pendeta Sinting jatuh terjengkang dengan mulut megap-megap dan kedua tangan bergetar hebat. Di seberang, Jubah Tanpa Jasad bergerak deras kebelakang. Lalu terjungkal di atas tanah dengan perdengarkan dengusan marah. Namun dalam beberapa saat Jubah Tanpa Jasad telah bergerak bangkit. Kiai Laras merasakan aliran darahnya terbalik-balik.

Walau tadi telah kelebatkan Kembang Darah Setan dengan alirkan tenaga dalam pada tangan kanannya hingga lesatan sinar tiga warna berkiblat makin menggidikkan, namun hadangan tiga pukulan sekaligus mau tak mau membuat Kiai Laras tak mampu kuasai huyungan tubuhnya. Hanya saja dia kembali masih merasakan laksana ada tabir penghalang didepan tubuhnya saat bentrokan terjadi. Hingga meski sempat terjungkal, namun dia tidak mengalami cedera yang cukup berarti.

Begitu mendapati Jubah Tanpa Jasad telah bangkit, baik Putri Kayangan, Dayang Sepuh, dan murid Pendeta Sinting segera pula berusaha berdiri. Pendekar 131 segera melompat dan tegak di samping Dayang Sepuh.

“Ada yang ingin kau bicarakan, Cucu Setan?!” Dayang Sepuh telah mendahului.

“Kurasa dia terlalu berbahaya. Apakah Bibi tahu bagaimana cara menghadapi orang itu?!”

“Kalau tahu, tak mungkin aku sampai begini rupa!”

Murid Pendeta Sinting berpaling pada Gendeng Panuntun. Rupanya Dayang Sepuh dapat menangkap arti pandangan Pendekar 131. Hingga si nenek kembali buka suara. “Manusia buta itu juga tak tahu apa-apa!”

“Kakek Datuk Wahing?!” tanya Joko.

“Setan tua itu tahunya cuma heran dan bersin!”

Joko alihkan pandang matanya pada Jubah Tanpa Jasad. “Hem.... Pukulan ‘Lembur Kuning’ digabung dengan pukulan Dayang Sepuh dan Putri Kayangan tidak mampu berbuat banyak! Akan ku coba dengan pukulan ‘Serat Biru’! Aku harus segera tahu siapa gerangan manusia di balik jubah itu!”

Berpikir sampai ke sana, Joko cepat kerahkan tenaga dalam pada tangan kirinya. Saat itu juga tangan kirinya berubah menjadi biru.

Dayang Sepuh mencibir. “Kau kira pukulanmu akan bisa menekuknya?!”

“Setidaknya aku berusaha!”

“Jangan terlalu mengumbar tenaga percuma! Tiga pukulan sekaligus tidak dapat membuatnya bertekuk lutut. Kita harus cari jalan lain!”

“Jalan lain bagaimana?!”

“Bukan di sini tempatnya membicarakan! Kita tinggalkan tempat ini segera!”

“Tapi dia tak mungkin membiarkan kita pergi begitu saja!”

“Kita gebuk sama-sama! Lalu kita segera angkat kaki!”

Baru saja Dayang Sepuh berkata begitu, tiba-tiba dari arah seberang sana Datuk Wahing angkat tangan kanannya. Di sampingnya, Gendeng Panuntun beranjak bangkit.

“Bruss! Brusss! Bruss!”

Datuk Wahing perdengarkan bersinan tiga kali. Namun bersinan itu laksana diperdengarkan dari delapan penjuru mata angin dan suaranya terus memantul tiada putus-putus. Saat bersamaan tangan kanan Datuk Wahing bergerak mendorong. Satu gelombang menderu ganas ke arah Jubah Tanpa Jasad. Seperti halnya suara bersinan, suara deru gelombang itu terus memantul! Begitu tangan kanan Datuk Wahing bergerak, Gendeng Panuntun usap cermin bulatnya. Satu cahaya putih berkiblat menyilaukan mata menghampar ke arah Jubah Tanpa Jasad.

“Apa lagi yang ditunggu?!” teriak Dayang Sepuh. Kedua tangannya ditakupkan di depan kening. Lalu dibuka dan didorong perlahan ke depan.

Putri Kayangan seakan tahu apa maksud semua orang. Dia tidak tinggal diam. Kedua tangannya cepat ditakupkan di depan dada. Sepasang matanya dipejamkan. Murid Pendeta Sinting sesaat terdiam. Namun di kejap lain tangan kirinya yang telah berubah biru tanda dia siap lepaskan pukulan ‘Serat Biru’ cepat dikelebatkan kedepan.

Karena yang melepas pukulan saat itu bukan orang sembarangan, tempat ini laksana neraka saking panasnya. Suara deruan yang memantul ditambah dengan cahaya berkilau dan serat-serat biru laksana benang terang bertabur. Belum lagi cahaya merah yang melesat dari tubuh Putri Kayangan serta gelombang luar biasa dari dorongan kedua tangan Dayang Sepuh.

Kiai Laras yang sesaat tadi hadapkan diri pada Dayang Sepuh dan murid Pendeta Sinting segera berpaling begitu mendengar suara bersinan Datuk Wahing. Dia terkesiap melihat tiba-tiba sang Datuk telah lepas pukulan disusul dengan Gendeng Panuntun. Rasa kaget sang Kiai belum sirna, dia dikejutkan dengan lepasnya pukulan dari kedua tangan Dayang Sepuh yang disusul dengan Putri Kayangan serta Pendekar 131. Pada puncak keterkejutannya, Kiai Laras bukannya takut, melainkan tertawa bergelak!

Karena dengan cara yang dilakukan oleh beberapa orang di situ, Kiai Laras kini merasa maklum kalau dirinya tidak bisa dihadapi hanya oleh seorang atau dua orang. Dan itu berarti dirinya bukan lagi orang yang bisa dipandang remeh! Apalagi dia tahu, orang-orang yang melepaskan pukulan saat itu adalah tokoh rimba persilatan yang ketinggian ilmunya tidak diragukan lagi.

Dalam hujanan pukulan yang kini mengarah padanya, Kiai Laras masih berpikir cepat. Bukan saja dia harus menghadang pukulan, namun setidaknya dia harus selamatkan Setan Liang Makam dan Pitaloka serta Kiai Lidah Wetan yang sejak tadi hanya diam dan makin tergagu tatkala mengetahui bagaimana pukulan-pukulan yang sekarang membuncah tempat itu.

Pada mulanya Kiai Laras memang tidak tahu apa yang hendak dilakukan pada Setan Liang Makam, Pitaloka, serta Kiai Lidah Wetan. Namun begitu mulai sadar kalau kekuatan yang dimilikinya sangat dahsyat, dia mulai bisa berpikir apa yang kelak bisa dilakukan pada ketiga orang itu. Hingga dia kini berniat menyelamatkan juga ketiga orang itu.

Karena pukulan yang kini melabrak pada Kiai Laras sangat luar biasa dan tidak mungkin bagi sang Kiai untuk lakukan penghadangan sekaligus menyelamatkan ketiga orang, maka tanpa pikir panjang lagi Kiai Laras melompat ke depan. Belum sampai kedua kakinya menginjak tanah, dia lakukan gerakan menendang ke samping kiri kanan ke arah sosok Setan Liang Makam dan Pitaloka yang merangkak. Saat bersamaan tangan kirinya kelebatkan jubah hitamnya.

Bukkk! Bukkk!

Setan Liang Makam dan Pitaloka tersentak. Begitu cepatnya gerakan Kiai Laras, belum sampai keduanya sempat membuat gerakan, sosok keduanya telah mental. Saat yang sama Jubah Tanpa Jasad menderu angker. Kiai Lidah Wetan rupanya tahu gelagat. Dia berkelebat. Namun terlambat. Sambaran Jubah Tanpa Jasad yang keluarkan sambaran angin dahsyat telah menggebrak. Hingga bukan saja membuat sosok Kiai Laras terhenti, namun jubah terpelanting dan terbanting jatuh dengan punggung di atas tanah, satu setengah tombak dari tempatnya tadi berdiri!

Setelah membuat tiga sosok mental, Kiai Laras cepat kerahkan tenaga dalam pada tangan kiri kanannya. Saat lain tangan kanan yang memegang Kembang Darah Setan disentakkan ke depan. Tangan kiri mengambil Jubah Tanpa Jasad di bagian tengahnya lalu dikelebatkan. Sinar tiga warna mencuat menggidikkan ditingkah dengan menderunya gelombang raksasa.

Terdengar ledakan menggelegar. Di udara tampak bertaburan kilauan cahaya pecah dan muncrat. Gelombang angin bermentalan dan mengambang di udara dengan arah tak bisa ditentukan. Tanahnya tersapu dan mengangkasa membungkus suasana, hingga kilauan cahaya dan berkiblatnya sinar yang tadi menghampar laksana disabet setan dan tiba-tiba lenyap ditelan hamburan tanah. Tempat itu sekonyong-konyong gelap gulita!

Ketika suasana kembali terang dengan lurunya tanah, sosok Kiai Laras terlihat terkapar di atas tanah. Demikian juga sosok Setan Liang Makam, Pitaloka, serta Kiai Lidah Wetan. Sesaat Kiai Laras perhatikan dirinya. Lalu bangkit terhuyung-huyung. Sepasang matanya liar memandang berkeliling. Dari mulutnya terdengar makian panjang pendek. Karena ternyata Putri Kayangan, Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun sudah tidak kelihatan lagi!

TUJUH

SELAGI Kiai Laras dibungkus dengan kemarahan akibat lenyapnya beberapa orang di tempat itu, mendadak satu bayangan berkelebat dan tegak di depan sana dengan memperhatikan pada sosok Setan Liang Makam, Kiai Laras, serta Pitaloka yang sama masih berkaparan di atas tanah. Tendangan kaki kanan kiri serta kelebatan jubah yang dilakukan Kiai Laras menyelamatkan ketiganya dari bertaburnya beberapa pukulan yang baru saja menggebrak di tempat itu meski tak urung ketiganya harus terpental dan terkapar diatas tanah.

“Hem.... Gadis jahanam itu!” desis orang yang baru muncul kala pandang matanya melihat sosok Pitaloka yang bergerak-gerak bangkit. “Beberapa kali aku gagal membunuhnya. Mungkin saat ini niatku baru kesampaian! Tempo hari dia selamat karena ada Pendekar 131. Sekarang tidak akan ada yang menghalangi niatku!”

Orang yang baru muncul membuat gerakan satu kali. Gerakannya membawa dirinya tahu-tahu telah tegak di samping Pitaloka. Tanpa memandang kanan kiri, dia langsung membentak. “Putri Kayangan! Saat hidupmu telah berakhir!”

Pitaloka tersentak. Memandang ke samping dia melihat seorang perempuan berusia lanjut. Raut wajahnya cekung dengan kulit mengeriput. Sepasang matanya besar. Rambutnya putih lebat dibiarkan jatuh bergerai menutupi sebagian bahu dan punggungnya. Nenek ini mengenakan kain panjang besar berwarna biru bersaku dua. Pada saku sebelah kanan terlihat sebuah sapu tangan besar berwarna merah menyala.

Inilah satu tanda jika si nenek adalah seorang tokoh rimba persilatan yang dikenal dengan julukan Ratu Pewaris Iblis. Seorang nenek yang di tangannya tergenggam sebuah sapu tangan yang juga sangat dikenal dalam dunia persilatan dengan Sapu Tangan Iblis.

“Ratu Pewaris Iblis!” seru Pitaloka mengenali siapa adanya si nenek. Dia cepat bangkit. “Dia pasti meneruskan urusan lama! Hem.... Apa matanya tidak tahu siapa saja yang ada di tempat ini?!”

“Beberapa kali kau selamat dari tangan maut ku! Namun saat ini siapa lagi yang bisa menghalangi?!” Si nenek tertawa bergelak.

“Kau sentuh kulit gadis itu, nyawamu akan putus!” Tiba-tiba satu suara menyahut.

Ratu Pewaris Iblis putuskan tawanya. Kepalanya berpaling. Sepasang matanya serentak mendelik besar-besar. Kuduknya meremang. Tanpa sadar kedua kakinya tersurut dua tindak ke belakang.

“Mustahil.... Mustahil! Bagaimana mungkin ada jubah dan setangkai bunga mengambang di udara?!” Dada si nenek dilanda keheranan begitu melihat Jubah Tanpa Jasad dan Kembang Darah Setan mengapung di atas udara. Tiba-tiba dahi Ratu Pewaris Iblis mengernyit.

“Dari ciri-cirinya.... Tak salah! Pasti itu Kembang Darah Setan! Tapi.... Siapa manusia yang baru saja bicara?! Dan bagaimana tentang berita yang selama ini tersiar jika Kembang Darah Setan berada ditangan Pendekar 131 Joko Sableng?! Atau mungkinkah manusia yang baru saja bicara adalah pemuda keparat itu?!”

Selagi Ratu Pewaris Iblis menduga-duga, Setan Liang Makam bergerak bangkit. Kembali untuk kedua kalinya Ratu Pewaris Iblis terkesiap kaget kala pandang matanya melihat tampang angker Setan Liang Makam. “Susunan tubuhnya hanya merupakan kerangka.Tapi....”

Sebelum Ratu Pewaris Iblis sempat teruskan kata hatinya, Kiai Laras sudah buka suara. “Aku tahu siapa kau, Perempuan Tua! Sekarang aku ingin tahu jawabanmu....”

Sesaat Kiai Laras hentikan ucapannya dengan gerakkan kepala ke samping. Jubah Tanpa Jasad bergerak sedikit. “Kau ingin teruskan urusanmu dengan gadis itu atau kau akan melupakannya?!”

Belum sampai Ratu Pewaris Iblis angkat bicara, Kiai Laras sudah sambung ucapannya. “Harus kau ingat. Jika kau memilih yang pertama, maka nyawamu hanya tinggal sesaat lagi!”

“Apa hubunganmu dengan gadis itu?!” Ratu Pewaris Iblis mulai angkat suara.

“Aku ingin jawabanmu, Perempuan Tua!”

“Aku tak akan menjawab sebelum ku tahu siapa kau adanya!” Ratu Pewaris Iblis menyahut dengan suara agak keras meski dadanya masih berdegup kencang karena ngeri.

“Kau akan tahu siapa aku! Tapi begitu keinginanmu kesampaian, maka ajalmu tiba! Kau mau itu?!”

Ratu Pewaris Iblis melirik pada Pitaloka yang masih disangkanya sebagai Putri Kayangan. Yang dilirik sunggingkan seringai dingin.

“Apa maumu sebenarnya?!” Akhirnya Ratu Pewaris iblis ajukan tanya setelah agak lama berpikir.

Kiai Laras tidak segera menjawab. Jubah Tanpa Jasad bergerak menghadap ke arah Kiai Lidah Wetan yang kini juga telah tegak. Lalu bergerak lagi ke arah Setan Liang Makam dan terakhir pada Pitaloka. Bersamaan itu terdengar suara.

“Kalian bertiga! Merangkaklah kembali ke hadapanku!”

Setan Liang Makam lontarkan pandangan pada Pitaloka dan Kiai Lidah Wetan. Saat lain dia tekuk tubuhnya membuat gerakan merangkak. Mendapati hal demikian, Pitaloka tak menunggu lama. Dia cepat lakukan seperti apa yang dilakukan Setan Liang Makam. Kiai Lidah Wetan sesaat gerakkan kepala memandang silih berganti pada Setan Liang Makam dan Pitaloka. Entah apa yang ada dalam benaknya, laki-laki saudara Kiai Laras ini segera pula lorotkan tubuh lalu merangkak ke arah Jubah Tanpa Jasad. Setan Liang Makam, Pitaloka, dan Kiai Lidah Wetan hentikan rangkakan masing-masing empat tindak di hadapan Jubah Tanpa Jasad. Kiai Laras tertawa panjang.

“Kalian bertiga kini berada di tangan Penguasa Kampung Setan! Nyawa kalian akan ku lindungi dari setiap tangan yang berani menjamah! Setiap orang yang membuat urusan dengan kalian bertiga berarti membuka sengketa dengan Penguasa Kampung Setan! Tapi kalian harus lakukan apa yang kukatakan! Jangan berani membantah atau bertanya! Kalian mengerti?!”

Ketiga orang di hadapan Kiai Laras sama anggukkan kepala. Kiai Laras makin keraskan gelakan tawanya. Lalu putar diri setengah lingkaran menghadap Ratu Pewaris Iblis. “Matamu melihat apa yang dilakukan ketiga orang itu! Sekarang giliranmu untuk melakukannya!”

Dada Ratu Pewaris Iblis bergemuruh. Perintah orang membuat dia tidak pedulikan lagi siapa yang kini ada di hadapannya. Apalagi dia belum tahu bagaimana kedahsyatan Kembang Darah Setan. “Bukan aku yang harus merangkak! Tapi kau yang harus berlutut mencium telapak kakiku!”

Ucapan si nenek belum selesai, Kembang Darah Setan di tangan kanan Kiai Laras sudah berkelebat. Ratu Pewaris Iblis terlengak. Namun nenek ini cepat sadar. Dia segera berkelebat ke belakang. Saat lain tangan kanannya mengambil Sapu Tangan Iblis di saku pakaiannya. Lalu diangkat tinggi-tinggi dan dikebutkan menyongsong datangnya tiga sinar merah, hitam, dan putih dari kelebatan Kembang Darah Setan.

"Weerr!" Sapu Tangan Iblis berkelebat ganas perdengarkan desingan tajam. Sinar merah bertabur.

"Blammm!" Taburan sinar merah dari kelebatan Sapu Tangan Iblis pecah berantakan perdengarkan ledakan keras. Sinar tiga warna semburat. Hebatnya sebagian masih melesat ganas lurus ke arah Ratu Pewaris Iblis!

Ratu Pewaris Iblis tersentak. Saat itu dia belum bisa kuasai diri dari huyungan tubuh. Hingga meski dia masih bisa selamatkan diri namun pecahan sinar putih tak urung menghantam pundak kanannya. Ratu Pewaris Iblis berseru tertahan. Sosoknya lang- sung terbanting ke kanan. Sapu Tangan Iblis lepas dari genggaman tangannya.

Jubah Tanpa Jasad berkelebat dan tegak dua langkah di hadapan Ratu Pewaris Iblis. Si nenek tercekat tegang. Tangan kanannya berkelebat. Bukan lakukan hantaman, melainkan hendak menyambar pada Sapu Tangan Iblis. Sejengkal lagi Sapu Tangan Iblis tergapai tangan kanan si nenek, tiba-tiba si nenek menjerit. Jubah Tanpa Jasad sudah mengapung di atas tangannya. Dan dia merasakan tangan kanannya diinjak telapak kaki. Ratu Pewaris Iblis putar tubuhnya. Kaki kiri kanannya membuat gerakan menendang ke arah Jubah Tanpa Jasad.

Jubah Tanpa Jasad melenting ke udara. Tendangan Ratu Pewaris Iblis menghantam tempat kosong. Namun injakan kaki orang pada tangan si nenek lepas. Si nenek cepat bangkit. Tapi pada saat yang sama Jubah Tanpa Jasad telah berkelebat. Si nenek kebingungan. Karena dia tidak bisa melihat gerakan orang, maka dia menghantamkan kedua tangannya lurus ke arah bagian dada dan di atas leher Jubah Tanpa Jasad.

Namun si nenek terkesiap. Setengah jalan hantaman kedua tangannya, tiba-tiba dia merasakan tendangan menghadang kedua tangannya hingga tangannya terpental. Saat lain dia merasakan siuran angin pada pundaknya. Ratu Pewaris Iblis cepat kelebatkan tangan. Namun satu tendangan telah menggebrak dadanya.

"Bukkk!" Kembali Ratu Pewaris Iblis berseru. Sosoknya terjengkang roboh di atas tanah dengan mulut semburkan darah. Tampangnya pias dengan sosok menggigil antara kesakitan dan ngeri. Dalam keadaan seperti itu si nenek masih melirik pada Sapu Tangan Iblis yang terhampar di tanah. Namun dia mengumpat dalam hati karena jarak antara dirinya dengan Sapu Tangan Iblis mengharuskan dia melompat. Padahal Jubah Tanpa Jasad kini sudah bergerak kearahnya.

“Aku tanya sekali lagi!” Kiai Laras perdengarkan suara. “Kau ingin mampus sekarang atau melakukan seperti teman-temanmu itu!”

Ratu Pewaris Iblis pentangkan kedua matanya seolah ingin mengetahui sosok di balik jubah hitam. Sementara di depannya Kembang Darah Setan sudah bergerak terangkat. “Baik...,” kata Ratu Pewaris Iblis dengan suara bergetar.

“Cepat! Lakukan!” hardik Kiai Laras.

Si nenek angkat tubuhnya lalu merangkak mendekati Jubah Tanpa Jasad dengan hati menyumpah-nyumpah.

“Bagus! Hidup matimu kini berada di tanganku! Dan kau harus lakukan semua perintahku!”

Habis berkata begitu, Kiai Laras berkelebat dan tegak di antara Ratu Pewaris Iblis dan Setan Liang Makam, Pitaloka, serta Kiai Lidah Wetan.

“Buka telinga kalian lebar-lebar! Kalian kutugaskan untuk menjemput Putri Kayangan, Dayang Sepuh, Datuk Wahing, Gendeng Panuntun, dan Pendekar 131! Bawa mereka hidup-hidup atau penggalan kepalanya! Kutunggu kedatangan kalian di Bukit Kalingga! Berhasil atau tidak, kalian harus ke Bukit Kalingga setengah purnama mendatang! Ingat, aku adalah Penguasa Kampung Setan. Aku tahu setiap gerak-gerik kalian! Sekali kalian melakukan kesalahan, kalian membuka jalan menuju neraka!”

Habis berkata begitu, Kiai Laras putar diri lalu berkelebat tinggalkan tempat itu. Ratu Pewaris Iblis memperhatikan gerakan Jubah Tanpa Jasad. Lalu melompat ke arah Sapu Tangan Iblis yang terhampar di tanah. Setelah memandang satu persatu pada Setan Liang Makam, Pitaloka, dan Kiai Lidah Wetan, tanpa berkata apa-apa si nenek berkelebat pergi.

Setan Liang Makam, Pitaloka, dan Kiai Lidah Wetan beranjak bangkit. Tanpa berpaling pada yang lainnya dan tanpa ada yang buka suara, ketiga orang ini sama melangkah tinggalkan tempat itu dengan mengambil arah berlawanan.

DELAPAN

SEBELUM terdengar gelegar ledakan akibat bentroknya beberapa pukulan yang dilepas Datuk Wahing, Gendeng Panuntun, Dayang Sepuh, Putri Kayangan, dan Pendekar 131 dengan lesatan sinar tiga warna dari Kembang Darah Setan di tangan Kiai Laras, Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun berkelebat ke arah Dayang Sepuh lalu memberi isyarat untuk tinggalkan tempat itu.

Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun cepat melompat dan berlari. Di samping Dayang Sepuh, murid Pendeta Sinting sesaat perhatikan isyarat Datuk Wahing. Dia pun segera hendak melompat mengikuti gerakan Dayang Sepuh. Namun niatnya diurungkan demi melihat Putri Kayangan yang saat itu tidak melihat isyarat karena sepasang matanya terpejam.

“Putri.... Lekas lari!” teriak Joko.

Entah karena saat keadaan sangat bising dengan menderunya beberapa gelombang pukulan atau Putri Kayangan sendiri sedang tenggelam kerahkan tenaga dalam, gadis cantik ini seolah tidak mendengar teriakan Pendekar 131. Dia tetap tegak dengan mata terpejam dan kedua tangan saling menakup di depan dada.

“Celaka.... Dia tadi telah terluka. Jika masih bertahan di sini, akibatnya akan lebih berbahaya!”

Berpikir begitu, seolah tidak sabar, Joko segera berkelebat ke arah Putri Kayangan. Tanpa berkata apa-apa dia menarik lengan si gadis. Putri Kayangan terkejut dan segera menoleh seraya pentangkan mata karena suasana sangat menyilaukan. Begitu tahu siapa adanya orang yang menarik lengannya, Putri Kayangan tampak gugup. Belum sampai gadis ini buka mulut, Pendekar 131 sudah mendahului.

“Kita tinggalkan tempat ini!” Tangan murid Pendeta Sinting yang masih mencekal lengan Putri Kayangan segera bergerak.

Putri Kayangan tidak berusaha lepaskan cekalan tangan Joko pada lengannya. Dan tanpa berkata apa-apa dia mengikuti gerakan Joko. Namun baru saja kedua orang ini melompat, gelegar keras telah terdengar. Sosok Pendekar 131 mental. Namun dia tak mau lepaskan cekalannya pada lengan sang Putri. Hingga sosok keduanya mental bersamaan. Karena Putri Kayangan telah terluka, dia tak mampu kuasai mentalan tubuhnya. Sosoknya oleng di atas udara. Murid Pendeta Sinting terkesiap. Dia tidak lagi berusaha kuasai dirinya sendiri, melainkan berusaha menahan olengan tubuh Putri Kayangan.

Hal ini membuat sosok Joko ikut oleng. Saat lain keduanya jatuh terbanting diatas tanah! Putri Kayangan berseru kesakitan. Seruan si gadis membuat murid Pendeta Sinting lagi-lagi tak hiraukan dirinya. Dengan sekujur tubuh masih merasakan nyeri dan dada sesak, Joko segera bangkit lalu melompat ke arah Putri Kayangan yang lepas dari cekalan tangannya saat terbanting.

“Kucuran darah dari mulutnya makin banyak...,” gumam Joko memperhatikan Putri Kayangan. Dengan cepat dia ulurkan kedua tangannya ke bawah. Sosok Putri Kayangan segera diangkat lalu diletakkan di atas pundaknya.

Putri Kayangan yang saat itu tengah kerahkan tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit pada sekujur tubuhnya terkejut mendapati dirinya tahu-tahu telah berada di pundak orang. Tanpa melihat siapa adanya orang yang memanggulnya, gadis ini rupanya sudah bisa menebak. Hingga begitu sosoknya berada di pundak orang, dia segera berucap pelan.

“Harap suka turunkan. Aku tidak apa-apa....”

Murid Pendeta Sinting tidak hiraukan ucapan Putri Kayangan. Sebaliknya cepat berkelebat tinggalkan tempat itu karena di depan sana Dayang Sepuh, datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun hampir-hampir tidak kelihatan lagi batang hidungnya.

“Pendekar 131.... Harap turunkan....” Putri Kayangan kembali meminta.

Murid Pendeta Sinting seolah tak acuh. Malah dia percepat kelebatannya. Dia baru memperlambat larinya tatkala sepasang matanya tidak lagi menangkap sosok Dayang Sepuh, Datuk Wahing, serta Gendeng Panuntun.

“Heran.... Ke mana mereka?” Joko edarkan pandang matanya. Saat itu dia berada di satu tempat yang banyak ditumbuhi semak belukar dan jalan berkelok-kelok.

“Pendekar 131....” Putri Kayangan kembali bersuara. Namun sebelum dia lanjutkan ucapan, murid Pendeta Sinting telah menyahut.

“Kau yakin tak apa-apa?!”

“Aku memang terluka. Tapi masih mampu kalau hanya berlari....”

Pendekar 131 segera turunkan Putri Kayangan dari pundaknya. Lalu memandangnya dari atas sampai bawah, hingga yang dipandang jadi salah tingkah dan cepat berpaling seraya mengusap darah pada mulutnya.

“Terima kasih...,” ujar Putri Kayangan tanpa memandang.

“Gila! Benar-benar cantik!” kata murid Pendeta Sinting dalam hati. Dia sebenarnya ingin bicara banyak, tapi ingat akan Dayang Sepuh dan kedua kakek yang telah berkelebat mendahului dan kini batang hidungnya tidak kelihatan lagi, Joko buru-buru alihkan pandang matanya. “Tentu mereka belum jauh dari sini!” ujarnya dalam hati.

“Bibi Cantik, Kakek! Di mana kalian?! Aku tahu kalian bersembunyi! Jangan membuatku bingung! Ini bukan waktunya main sembunyi-sembunyian!” Pendekar 131 berteriak.

Tidak ada sahutan atau isyarat. Putri Kayangan ikut edarkan pandangannya meski dadanya masih terasa sesak dan nyeri. Dia seolah hendak menutupi apa yang kini dirasakan.

“Hai! Kalian ada di mana?!” Kembali Joko berteriak.

“Setan!” tiba-tiba terdengar makian dari serumpun semak belukar di dekat kelokan jalan disamping sana.

Murid Pendeta Sinting dan Putri Kayangan segera berpaling ke samping kanan, di mana sumber makian terdengar. Baik Joko maupun Putri Kayangan tahu siapa adanya orang yang baru saja perdengarkan makian. Hingga tanpa pikir panjang lagi keduanya segera melompat. Baru saja kedua orang ini injakkan kaki masing-masing, kembali terdengar makian. Murid Pendeta Sinting dan Putri Kayangan saling pandang dengan raut muka sama-sama kaget. Makian itu bukannya terdengar dari arah di mana mereka kini berada, melainkan dari arah di depan sana!

“Setan!” Joko ikut-ikutan memaki dengan suara pelan. “Tega-teganya dia permainkan orang!”

Putri Kayangan hanya tersenyum lalu arahkan pandang matanya ke arah dari mana suara makian kedua terdengar. Joko ikut pula gerakkan kepala. Namun mungkin karena khawatir dipermainkan orang lagi, keduanya belum juga melompat. Malah keduanya saling pandang. Namun cuma sekejap karena Putri Kayangan buru-buru alihkan pandangannya dengan muka bersemu merah. Gadis ini rasakan dadanya berdebar dan tak kuasa beradu pandang dengan murid Pendeta Sinting.

“Setan! Kalian kira ini tempatnya berpandang-pandangan hah?!” Terdengar suara lagi.

Dengan raut sama berubah malah Putri Kayangan tampak tegang, kepala keduanya bergerak lagi. Sejarak dua belas langkah dari tempat mereka, rumpunan semak belukar tampak bergerak menyibak. Lalu tampak kepala berambut putih yang bagian depan diponi. Lalu seraut wajah hitam milik seorang nenek muncul menyeringai. Pendekar 131 dan Putri Kayangan segera berkelebat lalu menyelinap di semak belukar di mana tadi muncul wajah nenek yang bukan lain adalah Dayang Sepuh.

“Kau!” bentak Dayang Sepuh dengan tangan menunjuk pada Putri Kayangan. “Mendekatlah kesini!”

Putri Kayangan laksana sirap darahnya mendengar bentakan si nenek. Dia tidak bisa menduga apa kemauan si nenek. Sementara murid Pendeta Sinting melirik ke samping kiri kanan. Berjarak lima langkah, terlihat Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun sama duduk di atas tanah.

“Setan! Kau dengar tidak ucapanku?!” Kembali Dayang Sepuh perdengarkan bentakan tatkala mendapati Putri Kayangan tidak juga beranjak dari tempatnya.

Putri Kayangan melirik sesaat pada Pendekar 131. Kuduknya dingin dan kedua kakinya goyah. Bukan hanya karena belum tahu apa maksud ucapan Dayang Sepuh, melainkan dia mulai merasakan dadanya sangat nyeri dan pandangannya berkunang-kunang. Namun sang Putri tabahkan diri.

“Jangan khawatirkan cucu setan itu! Kau harus pikirkan diri sendiri dahulu!” Dayang Sepuh sudah perdengarkan suara lagi. Putri Kayangan mulai dapat menangkap maksud si nenek. Hingga tanpa pikir panjang dia melangkah ke arah Dayang Sepuh. Dayang Sepuh selinapkan tangan kanannya ke balik pakaiannya yang cingkrang. Saat Putri Kayangan tepat di hadapannya, tangan kanan si nenek ditarik keluar. Digenggamannya terlihat dua butiran sebesar ujung jari kelingking berwarna merah dan kuning.

“Telan ini!” perintah Dayang Sepuh seraya ulurkan tangannya.

Tanpa ragu-ragu Putri Kayangan mengambil dua butiran di tangan si nenek lalu ditelannya. Mula-mula dia merasakan hawa panas menyengat sekujur tubuhnya begitu dua butiran tadi lewat tenggorokan. Dan mendadak dadanya laksana meledak. Kepalanya seperti diputar-putar. Pandangannya berubah menghitam. Saat lain kedua kakinya menekuk lalu sosoknya jatuh menggelosoh di atas tanah.

“Bibi....”

“Tutup mulutmu, Cucu Setan! Dari tadi kau berteriak-teriak melulu!” Dayang Sepuh menukas ucapan Joko seraya melirik pada sosok Putri Kayangan. “Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan dia! Tapi adalah tindakan tolol kalau hanya khawatir tanpa berbuat sesuatu! Dia terluka dalam! Apa kau ingin melihat dia mampus, hah...?!”

Pendekar 131 hanya bisa kancingkan mulut dan angkat bahu sambil melirik ke arah Putri Kayangan. Dayang Sepuh tertawa pendek lalu berujar.

“Kau suka padanya, bukan?!”

Tampang murid Pendeta Sinting berubah. Dia kembali melirik pada Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun.

“Brusss! Persoalan jatuh cinta, tidak mengherankan jika perempuan yang tahu terlebih dahulu, Anak Muda! Karena perempuan membaca dengan perasaan....” Tiba-tiba Datuk Wahing berucap.

“Dan kadangkala perasaan cinta tidak disangka- sangka datangnya! Ada yang puluhan tahun menunggu, ada pula yang begitu ketemu langsung saja ketiban cinta!” Gendeng Panuntun menyahuti ucapan Datuk Wahing. Lalu tertawa.

Paras murid Pendeta Sinting makin berubah. Terlebih ketika dia melirik, dilihatnya Putri Kayangan telah bergerak-gerak dan sepasang matanya sudah terbuka. Saat lain gadis ini telah bangkit dan menjura pada Dayang Sepuh seraya berkata.

“Nek....”

“Sudah! Jangan memakai peradatan!” Dayang Seepuh ternyata sudah memotong ucapan Putri Kayangan. “Sekarang kita mulai pembicaraan!” Kepala si nenek berpaling pada Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun.

“Harap maafkan.... Aku tidak bisa mengikuti pembicaraan ini. Aku harus menemui seseorang....” Putri Kayangan angkat suara.

“Setan! Siapa yang akan kau temui?!” tanya Dayang Sepuh dengan pasang tampang galak. Sepasang matanya melotot besar-besar.

“Bagaimanapun juga aku harus membawa saudaraku menghadap Eyang Guru! Harap kalian mengerti. Dan sekali lagi kuucapkan terima kasih atas pertolongannya....” Putri Kayangan anggukkan kepala pada Dayang Sepuh dan Pendekar 131.

“Kau benar-benar setan keras kepala!” sentak Dayang Sepuh. “Kau bukannya akan membawa saudaramu tapi menyerahkan nyawamu! Kau tahu, saudaramu bersama siapa saat ini!”

Putri Kayangan anggukkan kepala. “Tapi aku harus lakukan tugas Eyang Guru, Nek! Kalau aku harus menunggu lebih lama, aku khawatir tak dapat menyelamatkan saudaraku....”

“Kau kira bekal yang kau miliki mampu menyelamatkan dan membawa saudaramu, hah?! Kau kira enak melakukan apa yang baru kau katakan, hah?!”

“Bekal ku memang tidak banyak. Apa yang kukatakan memang berat melakukannya. Tapi ini adalah perintah yang harus kulaksanakan, Nek!”

“Hem.... Begitu?! Daripada kau mampus di tangan setan berjubah hitam itu, lebih baik kau ke neraka melalui tanganku!” Dayang Sepuh angkat tangannya.

“Bibi! Tahan!” teriak murid Pendeta Sinting. Lalu melompat ke hadapan Putri Kayangan dan tegak menghalangi si gadis dan Dayang Sepuh. “Putri.... Untuk sementara ini, tunda dulu keinginanmu! Perintah memang harus dilakukan. Tapi tidak berarti harus tanpa perhitungan! Kau tahu, aku menduga mereka akan membicarakan bagaimana menghadapi manusia tanpa sosok itu!” Joko berbisik.

“Apa yang kalian bicarakan?!” Dayang Sepuh membentak. “Kau juga hendak ikut-ikutan pergi bersama gadis setan itu?!”

Pendekar 131 putar diri menghadap si nenek. Belum sampai Joko buka mulut, Dayang Sepuh sudah mendahului.

“Kau juga akan mampus di tanganku kalau berani ikut-ikutan pergi!”

“Brusss! Sudahlah.... Jangan bertindak yang macam-macam dan mengherankan! Kita semua tahu siapa orang yang kita hadapi saat ini!” Datuk Wahing menengahi.

“Jadi kau sudah tahu, Kek?!” tanya murid Pendeta Sinting. “Siapa dia, Kek?!”

“Brusss! Sungguh mengherankan kalau aku tahu orangnya, Anak Muda! Yang ku maksud, kita tahu sampai di mana kedahsyatan dua benda di tangan orang itu!”

Baru saja Datuk Wahing berucap begitu, tiba-tiba Gendeng Panuntun gerakkan kepala tengadah. Tangan kanannya mengusap cermin bulatnya lalu berujar pelan. “Ada dua orang hendak lewat di sekitar tempat kita!”

Tanpa sadar, semua kepala bergerak merunduk. Lalu mata masing-masing orang sama terpentang tak berkesip perhatikan ke arah jalanan di depan sana. Sebagian memperhatikan dari jurusan barat, sebagian lagi dari jurusan timur. Mereka tidak ada yang buka suara atau membuat gerakan.

“Setan! Mana orang itu?!” desis Dayang Sepuh kala matanya tidak juga melihat adanya orang. “Jangan-jangan dia bercanda!”

Tidak ada yang menyahuti ucapan Dayang Sepuh. Mereka masih terpaku dengan mata nyalang. Sementara Gendeng Panuntun mengerjap beberapa kali.

“Setan buta sialan! Kau hanya bikin hati deg-degan saja!” Kembali Sayang Sepuh memaki setelah agak lama tidak juga melihat siapa-siapa. Dia orang pertama yang angkat kepalanya. Disusul dengan murid Pendeta Sinting dan Putri Kayangan.

“Di sini bukan tempatnya bergurau, se....”

Makian Dayang Sepuh terputus. Sekonyong-konyong dia sentakkan kepala merunduk. Demikian pula Joko dan Putri Kayangan. Mata mereka menangkap kelebatan bayangan yang berlari cepat dari jurusan timur.

“Ucapannya benar! Tapi perhitungannya meleset!” gumam Dayang Sepuh kala pentangan matanya bukan melihat dua orang melainkan satu orang. Namun begitu ketegangan pada wajah si nenek mereda tatkala dia bisa mengenali kalau si bayangan bukanlah Jubah Tanpa Jasad. Karena sosok orang yang berkelebat terlihat nyata.

“Setan! Gerakannya laksana orang kesetanan! Tak bisa ku kenali sosoknya!” desis si nenek ketika matanya tidak bisa mengenali sosok bayangan yang berlari kencang. Dan lewat begitu saja tidak jauh dari tempat di mana Dayang Sepuh dan teman-temannya berada.

“Kau bisa melihat orangnya?!” tanya Dayang Sepuh berpaling pada Pendekar 131 dan Putri Kayangan.

Yang ditanya sama gelengkan kepala. Saat bersamaan ketiga orang ini sama angkat kepalanya. Baru saja kepala mereka terangkat, tiba-tiba dari arah barat satu sosok bayangan berkelebat dan tegak lurus dari tempat Dayang Sepuh berada. Karena terburu tegak, terlambat bagi si nenek dan murid Pendeta Sinting serta Putri Kayangan untuk rundukkan kepala. Apalagi sosok bayangan di depan sana sudah menghadap ke arah mereka dan seolah sudah tahu!

SEMBILAN

KARENA tak mungkin lagi sembunyikan kepala, Dayang Sepuh, Pendekar 131, serta Putri Kayangan terpaksa urungkan niat untuk tarik kepala masing-masing merunduk. Dan karena telanjur, Dayang Sepuh malah segera longokkan kepala ke depan dengan mata makin dipentangkan. Tapi yang paling tampak tersentak adalah murid Pendeta Sinting.

“Rupanya setan buta itu lebih bermata daripada aku! Orang di depan itu tidak satu, tapi dua!” gumam Dayang Sepuh ketika matanya melihat seorang laki-laki berusia setengah baya mengenakan pakaian warna biru gelap. Sosoknya kurus tinggi dengan wajah cekung. Rambutnya yang putih dan panjang tampak berkibar-kibar.

Di antara kibaran rambutnya terlihat satu wajah seorang kakek lanjut usia. Rambutnya yang putih sangat tipis hingga batok kepalanya terlihat jelas. Sepasang matanya terpejam rapat dengan mulut komat-kamit perdengarkan gumaman tak jelas. Kakek ini mengenakan pakaian warna putih besar dan panjang. Begitu panjangnya pakaian itu, sebagian tampak menyapu tanah sepanjang setengah tombak di belakang!

Si kakek tampak lingkarkan kedua tangannya pada bagian bawah leher laki-laki setengah baya. Kedua kakinya yang ternyata tidak lebih besar dari dua kali ibu jari dan berwarna hitam legam tampak digelungkan pada pinggang laki-laki setengah baya, hingga wajahnya berada di punggung orang dan terlihat di antara kibaran rambut.

“Siapa manusia-manusia tua yang masih main gendong-gendongan ini?!” Dayang Sepuh bertanya-tanya. Dan seolah tidak sabaran dia segera buka mulut. “Siapa kalian adanya?!”

Sementara di sampingnya Putri Kayangan seakan terkesima dan hanya terdiam. Murid Pendeta Sinting mengernyit. “Raja Tua Segala Dewa!” desisnya pelan.

“Setan! Siapa kalian?!” Untuk kedua kalinya Dayang Sepuh perdengarkan bentakan tatkala orang di depan sana tidak ada yang sambuti ucapan si nenek.

Laki-laki setengah baya berpakaian biru gelap yang dipunggungnya menggendong kakek berpakaian putih panjang gerakkan kepala berpaling pada wajah di belakangnya. Si kakek yang digendong perlahan-lahan buka matanya. Tapi belum sampai setengahnya, orang tua ini kembali pejamkan matanya. Laki-laki setengah baya tampak gelisah. Dia melirik takut-takut pada Dayang Sepuh yang saat itu juga pasang tampang angker.

Pendekar 131 melompat ke samping Dayang Sepuh dan berujar kalem. “Bibi.... Aku mengenal mereka....”

Dayang Sepuh melotot. “Aku tidak tanya padamu! Aku ingin jawaban dari mulut salah seorang di antaranya!”

Laki-laki setengah baya yang menggendong si kakek makin cemas ketika mendapati orang yang digendong tidak juga perdengarkan suara. Dia pulang balik memandang pada Dayang Sepuh lalu pada orang yang digendong. Mungkin karena takut melihat tampang angker Dayang Sepuh, akhirnya laki-laki setengah baya buka mulut.

“Aku....” Belum sampai laki-laki setengah baya teruskan ucapan, si kakek yang digendong lepaskan lingkaran tangannya pada leher orang. Tangan kanannya mengetuk punggung laki-laki setengah baya seraya bergumam.

“Biar aku yang menjawab....”

Kakek yang digendong arahkan wajahnya pada Dayang Sepuh dengan mata tetap terpejam. Saat lain mulutnya bergerak membuka. “Boleh kami berdua ikut kumpul di sini?!”

“Setan! Aku tanya siapa kalian adanya!”

“Aku adalah seorang sahabat.... Dan aku lihat beberapa orang sahabatku berada di sini!”

“Senang jumpa denganmu lagi, Sahabatku.... Kuharap kau mengerti kecurigaan sahabatku itu....” Gendeng Panuntun menyahut. Sepasang matanya yang putih mengerjap.

“Brusss! Brusss! Terimalah hormatku.... Harap tidak heran dengan sambutan sahabat cantik ku itu....” Datuk Wahing menyambuti sahutan Gendeng Panuntun.

“Terima kasih kalian tidak lupa padaku.... Aku juga bahagia bisa bertemu dengan kalian kembali....” Kakek di gendongan orang berujar. Kepalanya digerakkan mengangguk pada Gendeng Panuntun dan Datuk Wahing. Lalu masih dengan mata terpejam, si kakek hadapkan wajahnya pada murid Pendeta Sinting seraya lanjutkan ucapan. “Bagaimana kabarmu, Anak Muda?!”

“Aku baik-baik saja, Kek....”

Si kakek tersenyum. Wajahnya bergerak ke arah Putri Kayangan. Tapi kali ini tidak perdengarkan suara hingga beralih menghadap Dayang Sepuh. “Nenek nan cantik.... Sekarang boleh aku ikut kumpul-kumpul?!”

“Di sini bukan tempatnya kumpul-kumpul! Kalau kau tidak mau katakan siapa dirimu, aku tak segan mengusirmu dengan tanganku!”

“Bibi....”

“Jangan ikut bicara, Cucu Setan! Silakan kau dan dua temanmu itu kenal padanya! Tapi aku tak akan membiarkan orang yang tidak kukenal berada disini!”

“Bibi.... Dia adalah....”

“Sekali lagi kau bicara, mulutmu akan kutampar!” Dayang Sepuh angkat tangannya seraya menukas ucapan murid Pendeta Sinting.

Kakek di atas gendongan orang ketukkan lagi tangannya pada punggung orang yang menggendong. Laki-laki setengah baya anggukkan kepala lalu berkata. “Aku adalah Gulurawa.... Kakek di punggungku ini Kiai Geger Panulung. Tapi lebih dikenal dengan Raja Tua Segala Dewa....”

“Hem....” Dayang Sepuh menggumam panjang. Lalu menoleh pada Pendekar 131. “Benar apa yang diucapkan?!”

Murid Pendeta Sinting jawab dengan anggukkan kepala. Namun seolah belum percaya, Dayang Sepuh berpaling pada Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. “Benar begitu?!”

“Bruss! Ucapannya tidak mengherankan dan benar!” jawab Datuk Wahing.

Sementara Gendeng Panuntun hanya angguk-anggukkan kepala. Dayang Sepuh hadapkan wajahnya ke depan pada kakek yang digendong dan bukan lain memang Kiai Geger Panulung, seorang tokoh rimba persilatan yang jarang muncul dan dikenal dengan gelaran Raja Tua Segala Dewa. Kalau tadi tampang Dayang Sepuh dibuat angker, kini si nenek tampak sunggingkan senyum. Tangan kirinya rapikan poni di depan keningnya. Tangan kanan sibakkan helaian rambutnya yang ada di pundak.

“Harap maafkan sikapku tadi...,” kata Dayang Sepuh. “Selama ini aku hanya tahu namamu tanpa pernah bertemu. Sementara kami baru saja mengalami kejadian tidak enak....”

Kiai Geger Panulung alias Raja Tua Segala Dewa balik tersenyum. “Seharusnya kami yang minta maaf. Datang tanpa diundang.... Memaksakan diri untuk ikut kumpul, padahal kalian akan membicarakan sesuatu yang mungkin orang luar tidak boleh mendengarnya....”

“Bruss! Adalah mengherankan kalau memandang mu sebagai orang luar, Sahabat.... Justru kehadiranmu yang kami syukuri!”

“Benar.... Kami sedang menghadapi urusan pelik. Kami butuh bantuanmu, Sahabat!” Gendeng Panuntun menyahuti.

Raja Tua Segala Dewa tersenyum dengan mata masih terpejam. Kepalanya perlahan menghadap pada murid Pendeta Sinting. Bersamaan itu tangan kanannya menyelinap ke balik pakaiannya. Saat tangannya ditarik keluar terlihat sebuah sarung pedang berwarna kuning.

“Anak muda.... Mungkin ini milikmu. Sahabatku Gulurawa menemukannya tergeletak di sana!” Raja Tua Segala Dewa menunjukkan ke satu arah.

“Sarung Pedang Tumpul 131!” gumam Joko. “Apa dia jumpa pula dengan orang di balik Jubah Tanpa Jasad itu?!Sarung pedang itu tertinggal disana....”

Seraya berpikir begitu, murid Pendeta Sinting melangkah mendekat. Sarung Pedang Tumpul 131 diambilnya dari tangan Raja Tua Segala Dewa. “Kek.... Apa kau juga bertemu dengan beberapa orang di tempat sarung pedang ini ditemukan?!”

Raja Tua Segala Dewa gelengkan kepala. Lalu memberi isyarat pada laki-laki setengah baya yang menggendongnya dan dipanggil dengan Gulurawa untuk melangkah mendekati Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun.

“Sahabat-sahabat.... Dari orang tua sepertiku ini bantuan apa yang bisa kuberikan? Kurasa tenaga-tenaga muda seperti murid Pendeta Sinting itu lebih bisa dimintai bantuan daripada tubuh renta sepertiku....”

Mendadak Dayang Sepuh tertawa mendengar ucapan Raja Tua Segala Dewa. “Orangnya memang masih muda. Wajahnya pun lumayan. Banyak gadis-gadis cantik terpikat. Cuma soal bantu membantu, bukan dia tempatnya untuk dimintai! Apalagi dalam keadaan jatuh cinta seperti saat ini....”

Tampang Joko berubah merah padam. Raut Putri Kayangan pun ikut berubah. Namun keduanya tidak ada yang buka suara.

“Betul kau sedang jatuh cinta, Anak Muda?!” tanya Raja Tua Segala Dewa.

“Nenek satu ini benar-benar sialan!” Murid Pendeta Sinting menggerendeng dalam hati. Tapi dia tidak menjawab pertanyaan Raja Tua Segala Dewa.

Dayang Sepuh cekikikan lalu melompat ke dekat Raja Tua Segala Dewa dan berbisik. “Mungkin dia malu... Dia jatuh cinta pada gadis disampingnya itu!”

“Hem.... Gadis cantik. Siapa dia, Nek?!” tanya Raja Tua Segala Dewa.

“Gadis setan bergelar Putri Kayangan!”

Raja Tua Segala Dewa buka kelopak matanya. Lalu memandang beberapa lama pada Putri Kayangan. “Seperti dia.... Tapi bukan dia....” Mendadak Raja Tua Segala Dewa bergumam.

Dayang Sepuh dan Putri Kayangan serta murid Pendeta Sinting sama kerutkan dahi. Namun mendengar gumaman si kakek, Putri Kayangan adalah orang yang paling tidak enak.

“Apa maksudmu.... Seperti dia tapi bukan dia?!”vtanya Dayang Sepuh. “Kau mengenalinya sebelum ini?!”

“Aku tidak mengenalinya. Tapi aku yakin pernah melihatnya! Cuma....”

“Cuma apa?!” Tak sabar Dayang Sepuh menyahut. “Cuma itu tadi. Seperti dia tapi bukan dia!”

“Aneh.... Kau mengatakan tidak mengenalnya tapi pernah melihatnya. Seperti dia tapi bukan dia! Teka-teki setan apa yang kau katakan ini?!”

“Itulah.... Aku sendiri tak mampu menjawabnya....”

“Sahabatku, Datuk Wahing.... Harap simak semua ucapannya!” Gendeng Panuntun berbisik pada Datuk Wahing.

“Brusss! Ucapannya membuatku heran...,” gumam sang Datuk.

“Raja Tua Segala Dewa!” kata Dayang Sepuh. “Terus terang saja. Kami baru saja terlibat bentrok dengan manusia yang kini mentasbihkan diri sebagai Penguasa Kampung Setan! Sialnya kami tidak mampu menghadapinya! Di tangannya tergenggam Kembang Darah Setan. Sementara dia sendiri mengenakan Jubah Tanpa Jasad, hingga manusianya tidak bisa dikenali. Selama ini kudengar kau memiliki ilmu aneh.... Kau bisa menduga siapa sebenarnya manusia pemakai Jubah Tanpa Jasad itu?!”

“Apa yang kau dengar selama ini mungkin hanya berita yang tidak benar. Aku tidak memiliki apa-apa, apalagi yang dikatakan ilmu aneh.... Maka dari itu, rasanya sulit aku menjawab pertanyaanmu.... Mungkin sahabatku Gendeng Panuntun tahu jawabannya....”

Mulut Dayang Sepuh mencibir. Lalu kepalanya digelengkan. Raja Tua Segala Dewa tersenyum. “Mungkin sahabatku Datuk Wahing bisa membantu....”

“Pada manusia nyata saja setan itu masih heran. Bagaimana mungkin dia bisa membantu?!”

“Hem.... Mungkin sahabat muda Pendekar 131....” Dayang Sepuh tertawa. “Urusan perempuan dia ahlinya. Bukan urusan aneh-aneh begini!”

“Kek! Kalau kau tidak bisa menduga siapa adanya orang di balik Jubah Tanpa Jasad, apa kau tahu bagaimana cara menghadapinya?!” Kali ini yang angkat suara adalah murid Pendeta Sinting.

Raja Tua Segala Dewa dongakkan kepala. Tiba-tiba dahinya berkerut. Lalu kepalanya yang tengadah bergerak-gerak ke samping kanan kiri. Telinganya terangkat tanda orang ini tengah tajamkan pendengaran. Semua yang melihat tanpa sadar ikut-ikutan mengernyit. Dan ikut-ikutan pula tajamkan telinga. Namun sebegitu jauh, tidak satu pun di antara mereka yang mendengar sesuatu!

Selagi semua orang bertanya-tanya, mendadak Raja Tua Segala Dewa berucap pelan. “Aku mendengar suara tangisan bayi... Ah, sayang cuma sejenak! Hai! Aku bisa melihatnya... Astaga! Pada pusarnya terlihat mata merah... Dan darah... Kulihat banyak darah... Dan bulan di atas sana tampak terang benderang...”

Raja Tua Segala Dewa usap wajahnya. Lalu menghela napas panjang. Saat lain kepalanya lurus menghadap Putri Kayangan. “Bukan... Bukan dia!”

Putri Kayangan tersentak. Dia makin tidak enak dan penasaran dengan ucapan orang. Hingga dia beranikan diri buka mulut. Tapi sebelum suaranya terdengar, Dayang Sepuh sudah mendahului.

“Aku tidak mendengar apa-apa! Juga tidak melihat apa-apa! Bisa kau jelaskan apa yang baru kau dengar dan kau lihat?!”

Raja Tua Segala Dewa geleng kepala. “Aku hanya bisa mengatakan apa yang kudengar dan kulihat. Tapi aku tak bisa menjelaskannya! Karena hanya itulah yang kudengar dan kulihat!”

Habis berkata begitu, Raja Tua Segala Dewa arahkan pandang matanya pada Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. Setelah menghela napas dia berucap. “Sahabat.... Aku tidak bisa membantu banyak! Mungkin sahabat muda murid Pendeta Sinting bisa melakukan semuanya! Sekarang aku harus pergi....”

Gendeng Panuntun anggukkan kepala. “Terimakasih atas bantuanmu, Sahabat.... Jika kelak bertemu lagi, aku ingin kita ngobrol lebih lama....”

“Mudah-mudahan kita sama diberi umur panjang...,” ucap Raja Tua Segala Dewa. Lalu memandang ke arah Dayang Sepuh. “Nek.... Harap tidak berprasangka akan jawabanku tadi.... Seandainya aku tahu, pasti sudah kukatakan....”

Tanpa menunggu sahutan dari si nenek, Raja Tua Segala Dewa alihkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting. “Sahabat muda.... Tugas di depanmu berat.... Tapi kuharap kau dapat menyelesaikannya dengan baik! Ingat.... Bukan dia, tapi seperti kekasihmu itu!”

Lagi-lagi tanpa menunggu sahutan dari orang, Raja Tua Segala Dewa telah alihkan pandang matanya pada Putri Kayangan. “Kau harus tabah, Sahabatku Cantik....”

Habis berkata begitu, Raja Tua Segala Dewa ketuk- kan tangannya pada punggung Gulurawa. Saat bersamaan Gulurawa melompat. Dan berkelebat lenyap di depan sana.

SEPULUH

BERSAMAAN dengan lenyapnya sosok Raja Tua Segala Dewa, Dayang Sepuh langsung buka mulut dengan kepala berpaling pada Gendeng Panuntun. “Kau terlalu banyak basa-basi dan peradatan! Bantuan apa yang diberikan hingga kau mengucapkan terima kasih, he?! Dia bukannya memberi bantuan, tapi malah membuat otak puyeng! Bicara tak tentu juntrungan!”

“Brusss! Aku juga heran mendengar ucapannya! Tapi aku lebih heran lagi dengan ucapanmu, Nenek Cantik....” Datuk Wahing sambuti kata-kata Dayang Sepuh.

“Bisa mu hanya heran dan heran!” semprot Dayang Sepuh.

“Tenang, Nenek...,” ujar Gendeng Panuntun kalem. “Kelihatannya sahabat Raja Tua Segala Dewa memang tidak banyak membantu! Tapi justru di sinilah jawa- ban yang kita cari saat ini!”

“Jawaban apa?! Mendengar tangisan bayi dan melihat pusar bermata merah itu kau katakan jawaban?!”

“Betul! Kalau kita dapat menjabarkan apa yang di- ucapkannya, kita akan mendapatkan jawaban yang kita cari saatini....”

Pendekar 131 melompat ke dekat Gendeng Panuntun. Namun belum sampai dia buka mulut, Dayang Sepuh telah membentak. “Kau juga akan ikut berpikir gila seperti mereka?!”

“Bibi.... Apa yang dikatakan Kakek Gendeng Panun- tun benar. Dua kali aku bertemu dengan Raja Tua Segala Dewa. Aku telah membuktikan bahwa semua ucapannya benar dan jadi kenyataan! Meski pada mulanya aku juga masih merasa ragu-ragu dan tidak mengerti!”

Si nenek terdiam. Joko menoleh pada Gendeng Panuntun. “Kek.... Suara tangisan bayi jelas maksudnya adalah seorang bayi. Namun kau bisa menjabarkan maksud daripada ucapan ‘cuma sejenak’ yang dikatakan Kakek Raja Tua Segala Dewa?!”

Gendeng Panuntun mengerjap dengan mata mengusap cermin bulatnya. Lalu berkata. “Biasanya, seorang bayi yang dilahirkan dan panjang umur, maka dia akan menangis lama....”

“Hem.... Maksudmu bayi itu tidak berumur panjang?!” tanya Joko.

Kepala Gendeng Panuntun bergerak mengangguk. “Dan biasanya, bayi yang tidak berumur panjang adalah seorang bayi yang dilahirkan belum genap bulannya!”

Dayang Sepuh tersenyum setengah mencibir, “itu mungkin masih masuk akal! Lalu apakah masuk akal jika dia melihat pada pusar bayi itu ada mata merah?! Pusar apa yang bermata merah, hah?!”

“Brusss! Itu mungkin hanya satu tanda, Nenek Cantik. Untuk membedakan bayi itu dari bayi lainnya! Memang mengherankan, tapi siapa tahu hal itu memang akanada...!”

“Bulan di atas sana terang benderang...,” kata Joko tirukan ucapan Raja Tua Segala Dewa. “Pasti itu adalah saat purnama!”

“Brusss! Untuk yang satu itu baru aku tidak merasa heran....!”

“Jadi, bayi itu akan lahir pada malam purnama. Kelahirannya belum genap bulan. Dan pada pusarnya terdapat mata berwarna merah....” Pendekar 131 berkata sambil arahkan pandang matanya pada Putri Kayangan.

Karena merasa tidak enak, Putri Kayangan kali ini menantang pandangan murid Pendeta Sinting hingga Joko urungkan lanjutkan ucapannya meski mulutnya telah menganga.

“Aku harus pergi...!” Tiba-tiba Putri Kayangan buka suara. Kejap lain gadis cantik ini membuat satu gerakan dan sosoknya melesat tinggalkan tempat itu.

“Tunggu!” tahan murid Pendeta Sinting seraya melompat dan berkelebat menyusul. Tapi bersamaan dengan itu Dayang Sepuh telah melompat memotong gerakan Joko dan tegak menghadang dengan berkacak pinggang seraya membentak.

“Ini urusanmu, Setan Geblek! Jangan hanya karena perempuan maka urusan yang belum selesai kau tinggal begitu saja!”

“Brusss! Kuharap ucapannya tidak mengherankan mu, Anak Muda!” Datuk Wahing sambung ucapan Dayang Sepuh.

“Benar.... Kelak kau pasti akan bertemu dengannya lagi! Apalagi jika dikaitkan dengan ucapan sahabat Raja Tua Segala Dewa yang beberapa kali mengatakan ‘seperti dia tapi bukan dia’....” Gendeng Panuntun ikut menyahut.

Murid Pendeta Sinting akhirnya hanya bisa pandangi sosok Putri Kayangan yang terus berkelebat kemudian lenyap di tikungan jalan. Setelah menghela napas panjang Pendekar 131 balikkan tubuh menghadap Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. “Aku tidak tahu apa maksud di balik ucapan Raja Tua Segala Dewa itu.... Kalian tahu?!”

Datuk Wahing bersin satu kali lalu geleng kepala. Sementara Gendeng Panuntun tengadahkan kepala dengan tangan usap-usap cermin bulatnya. Namun dia tidak juga berucap.

“Bibi.... Mungkin kau tahu maksud ucapan itu?!” Joko ajukan tanya pada Dayang Sepuh yang tegak di belakangnya.

Tidak terdengar sahutan dari si nenek. Namun sete-llah agak lama si nenek melangkah lewat di samping murid Pendeta Sinting seraya berkata. “Itu ada hubungannya dengan perempuan! Kau sendirilah yang memecahkannya!”

Dayang Sepuh teruskan langkah ke arah Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. Lalu berucap lagi. “Datuk Wahing.... Kita sudah lama bersama-sama cucu setan itu! Sekarang kita lanjutkan saja urusan kita....”

“Brusss! Brusss! Memang sudah waktunya kita pergi...,” kata Datuk Wahing lalu berpaling pada Gendeng Panuntun. “Sahabat.... Kalau kau tak punya urusan mengherankan, aku tawarkan untuk pergi bersama-sama kita!”

“Ah.... Sebenarnya tawaran menarik, apalagi jalan bersama dengan perempuan cantik. Tapi sayangnya aku masih punya sesuatu yang harus kulakukan! Kuharap kalian akan tawarkan lagi hal ini kelak kalau urusanku sudah selesai....”

Dayang Sepuh tertawa panjang mendengar ucapan Gendeng Panuntun. Puas tertawa seraya mencibir dia berujar. “Kau layaknya orang penting saja. Selalu dan selalu dirundung urusan!”

“Aku sendiri tak tahu mengapa harus begini. Tapi dalam urusan saat ini, kurasa aku tidak bisa membantu banyak. Kau simak tadi ucapan sahabat Raja Tua Segala Dewa. Urusan ini hanya sahabat muda Pendekar 131 yang bisa melakukannya!”

Habis berkata begitu, Gendeng Panuntun arahkan kepalanya pada murid Pendeta Sinting. “Sahabat muda... Kau telah menemukan jawaban meski belum semuanya. Urusan ini sebenarnya tanggung jawab semua orang yang terlibat dalam kancah dunia persilatan. Namun menyimak ucapan Raja Tua Segala Dewa, rasanya percuma kalau bukan kau yang menyelesaikannya! Jadi harap kau maklum kalau aku dan mungkin beberapa sahabat yang lain tak bisa membantu banyak!”

Tanpa menunggu lama, Gendeng Panuntun beranjak bangkit. Lalu melangkah hendak tinggalkan tempat itu.

“Kek.... Tunggu!” teriak Joko lalu melompat ke arah Gendeng Panuntun. Mungkin tak mau Gendeng Panuntun mendahului berkata, Joko cepat angkat bicara.“Kau dapat menentukan kira-kira purnama kapan bayi itu akan lahir?!”

“Ada kemungkinan aku bisa jawab seribu pertanyaanmu. Tapi untuk urusan waktu, aku tidak mau mendahului kehendak Yang Maha Menentukan!”

“Ini bukan mendahului kehendak. Aku hanya ingin tahu kira-kiranya!”

Gendeng Panuntun gelengkan kepala. “Aku tidak berani meski hanya mengatakan kira-kiranya, Sahabat Muda! Tapi firasat ku mengatakan, kau bakal menemukan jawaban itu!”

Gendeng Panuntun usap cerminnya berulang kali. Lalu teruskan langkah. Di sebelah depan sana, tiba-tiba Gendeng Panuntun berhenti. Kepalanya tengadah. Lalu terdengar suaranya. “Jawaban itu sebentar lagi akan kau temukan, Sahabat Muda....” Suaranya belum lenyap, sosok Gendeng Panuntun sudah tidak kelihatan lagi!

“Hem.... Mungkin jawaban itu akan kudengar dari Dayang Sepuh atau Datuk Wahing. Bukankah Kakek Gendeng Panuntun mengatakan sebentar lagi. Sementara hanya ada mereka yang tinggal di sini!”

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting segera melangkah mendekati Dayang Sepuh dan Datuk Wahing. Namun baru saja dia gerakkan kaki, Dayang Sepuh telah gerakkan tangan menarik lengan Datuk Wahing hingga si kakek bergerak bangkit. Dan seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Joko, begitu sosok Datuk Wahing tegak, Dayang Sepuh sudah berkata.

“Jawaban itu tidak akan kau dengar dari mulutku dan mulut setan tua ini! Karena aku atau setan bersin ini bukan ahli ramal-meramal kelahiran bayi! Apalagi belum ketahuan siapa manusianya yang akan melahirkan!”

Ucapan Dayang Sepuh membuat murid Pendeta Sinting hentikan langkahnya. Sementara Dayang Sepuh segera menarik kembali lengan Datuk Wahing. Saat lain kedua orang ini melangkah tinggalkan tempat Ku tanpa berkata apa-apa lagi!

Begitu sosok Dayang Sepuh dan Datuk Wahing lenyap, Joko menghela napas dalam. Lalu melangkah dan duduk di antara kerapatan semak belukar. “Rasanya sulit menemukan apa yang dikatakan Raja Tua Segala Dewa! Belum lagi apa yang harus kulakukan pada bayi itu jika benar-benar kutemukan!”

Murid Pendeta Sinting arahkan pandang matanya pada rimbun semak belukar yang banyak di sekitar tempat dia berada. Mendadak muncul bayangan paras wajah cantik Putri Kayangan. Hal ini membuat Joko teringat akan ucapan Raja Tua Segala Dewa.

“Seperti dia tapi bukan dia. Hem.... Apa maksud ucapan orang tua itu?! Apa ada hubungannya dengan urusan bayi itu...?!” Joko tengadahkan kepala dengan mata memejam.

Tiba-tiba dia laksana tersentak dan buka kedua ma- tanya. “Astaga! Jangan-jangan bayi itu akan lahir dari Putri Kayangan! Bukankah hanya perempuan yang bisa lahirkan seorang bayi? Tapi bagaimana mungkin?! Bukankah Putri Kayangan masih belum bersuami?! Tapi.... Siapa tahu sebenarnya dia telah bersuami....” Air muka murid Pendeta Sinting berubah. “Apa benar dia telah bersuami?! Tapi ah.... Raja Tua Segala Dewa mengatakan bukan dia! Berarti bayi itu tidak akan lahir dari Putri Kayangan. Ucapan Raja Tua Segala Dewa mungkin hanya menyamakan soal jenis perempuannya yang akan melahirkan bayi itu! Tapi siapa...?!”

"Krakkkk!" Tiba-tiba terdengar ranting patah. Pendekar 131 cepat berpaling. Sepasang matanya menyipit lalu membelalak saat melihat gerakan pada rumpun semak belukar berjarak lima belas langkah dari tempatnya. Joko cepat bangkit. Rumpun semak belukar makin bergerak-gerak.

Saat lain satu sosok tubuh mencuat ke udara setinggi tiga tombak. Pendekar 131 mengikuti gerakan sosok yang melayang di atas udara. Tiba-tiba sosok di atas udara membuat gerakan jungkir balik dua kali dan sekonyong-konyong meluncur deras ke arah murid Pendeta Sinting! Walau si sosok tidak mendorong kedua tangannya melepas pukulan, namun Joko merasakan sambaran gelombang dahsyat menghampar!

Melihat gelagat kurang baik, murid Pendeta Sinting cepat kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Lalu melompat ke samping kanan dengan tangan diangkat. Sosok yang meluncur merubah arah dan meluncur tepat ke arah Joko. Belum sempat murid Pendeta Sinting membuat gerakan, tahu-tahu si sosok telah tegak empat tindak dihadapannya!

SEBELAS

DIA adalah seorang pemuda berwajah tampan. Kumisnya lebat hitam. Hidungnya agak mancung. Rahangnya kokoh. Namun ada sedikit keanehan. Meski dia seorang pemuda tampan, rambutnya ternyata putih dan dibiarkan awut-awutan! Sepasang matanya agak sayu. Dan pakaian warna biru yang dikenakan terlihat amat tebal! Kedua telapak tangannya dibungkus dengan kaos tangan dari kulit. Sementara sepasang kakinya memakai kasut juga dari kulit! Sesaat pemuda berwajah tampan yang baru muncul memandang pada murid Pendeta Sinting. Tiba-tiba dia tertawa ngakak seraya angkat tangan kanannya dan menunjuk-nunjuk pada Joko.

Pendekar 131 kerutkan dahi. Cuma sekejap. Saat lain tangan kirinya diluruskan menunjuk pada orang dihadapannya. Pada saat yang sama mulutnya membuka perdengarkan tawa bergelak! Si pemuda di hadapan Joko putuskan tawanya. Tangan kanannya ditarik pulang. Kepalanya didorong ke depan dengan mata dibeliakkan. Murid Pendeta Sinting luruhkan tangan kirinya. Gelakan tawanya diputus. Saat bersamaan kepalanya digerakkan ke depan dengan mata dipentang besar-besar!

Si pemuda di depan murid Pendeta Sinting tarik kembali kepalanya. Joko ikut-ikutan tarik pulang kepalanya. Si pemuda kembali angkat tangan kanannya menunjuk pada Joko lalu menunjuk pada dirinya dengan kepala mengangguk-angguk. Pendekar 131 tidak tinggal diam. Tangan kirinya segera ditunjukkan pada orang lalu ditarik dan ditunjukkan pada dirinya sendiri dengan kepala membuat gerakan mengangguk-angguk. Si pemuda tertawa lagi. Joko ikut pula tertawa.

Si pemuda kerutkan dahi. Tangan kanannya diangkat ke mulutnya. Lalu telapak tangannya dihadapkan pada Joko dengan digerakkan mengembang menutup berulang kali. Joko segera pula kernyitkan kening. Tangan kirinya juga diangkat ke mulutnya lalu dihadapkan pada si pemuda dengan telapak dikembangkan lalu ditutup beberapa kali. Si pemuda makin kerutkan dahi. Seraya terus kembang tutupkan telapak tangan kanannya, kepalanya menggeleng dan mengangguk.

“Gila! Aku bisa ikut-ikutan gila kalau terus tirukan orang ini!” gumam Pendekar 131 pada akhirnya. “Dari gerakannya, pemuda ini mungkin bisu.... Repot jika berhadapan dengan orang bisu! Biasanya orang bisu akan diikuti dengan tuli....”

“Kau tidak bisa bicara?!” tanya Joko seraya membuat isyarat dengan tangan kiri dikembang-kembangkan.

Si pemuda tertawa terbahak-bahak. Lalu tunjuk-tunjuk telinganya dan tangannya membuat gerakan melingkar besar.

“Tepat dugaanku! Dia tuli dan isyarat tangannya memberi petunjuk agar aku bicara keras-keras! Hem.... Apa yang akan kubicarakan dengannya?! Rasanya tidak ada perlunya.... Tapi, kehadirannya di tempat itu tanpa bisa kuketahui memberi tanda kalau dia orang berilmu.... Ah, lebih baik aku segera saja tinggalkan tempat ini! Teka-teki ucapan Raja Tua Segala Dewa akan makin memusingkan jika ditambah dengan menghadapi orang sepertidia....”

Berpikir begitu, setelah tersenyum dan anggukkan kepala pada si pemuda di hadapannya, murid Pendeta Sinting putar diri. Namun mendadak gerakannya ditahan.

“Astaga! Bukankah Gendeng Panuntun tadi mengatakan....” Joko tidak lanjutkan kata hatinya. Dia cepat putar kembali tubuhnya menghadap si pemuda. “Hai!” teriak Joko ketika dilihatnya si pemuda telah balikkan tubuh dan hendak melangkah pergi.

Namun seolah tak mendengar teriakan orang, si pemuda teruskan gerakan kakinya. Murid Pendeta Sinting berkelebat ke depan dan tegak di hadapan si pemuda. Memandang sejurus lalu buka suara.

“Boleh tahu siapa kau adanya?!”

Si pemuda mengernyit. Langkahnya dihentikan. Tangannya bergerak ke depan dan telapak tangannya bergerak-gerak membuka menutup lalu menunjuk pada Joko dan dirinya. Pendekar 131 tersenyum lalu angguk-anggukkan kepala. Di hadapannya si pemuda ikut tersenyum. Lalu kembali gerakkan telapak tangannya membuka menutup. Sementara tangan satunya membuat lingkaran besar dan tunjuk-tunjuk kedua telinganya. Murid Pendeta Sinting dapat menangkap maksud orang. Dia segera kerahkan sedikit tenaga dalamnya lalu berteriak.

“Boleh tahu siapa kau adanya?!”

Si pemuda tadangkan kedua tangannya pada bagian belakang telinganya. Lalu kepalanya menggeleng. Saat bersamaan tangan satunya membuat lingkaran besar.

“Busyet! Dia masih belum bisa mendengar!” Joko menghela napas. Dia lipat gandakan tenaga dalam dan berteriak lagi.

“Siapa kau?!”

Si pemuda anggukkan kepala. Bibirnya tersenyum. Joko menunggu. Namun tiba-tiba dia ingat. “Dia bisu.... Bagaimana dia bisa jawab pertanyaanku?! Tapi.... Mungkin dia bisa menulis....”

Ingat hal itu, Joko segera jongkok lalu telunjuknya digores-goreskan ke tanah. Namun si pemuda tampak gelengkan kepala. Lalu menunjuk pada murid Pendeta Sinting dan dirinya. Karena Joko tidak mengerti, akhirnya dia hanya memandang dan menunggu. Si pemuda tertawa. Kedua tangannya perlahan-lahan bergerak melepas pakaian birunya. Joko sedikit besarkan matanya. Ternyata di balik pakaian biru terlihat lagi pakaian warna putih. Namun saat lain mata murid Pendeta Sinting terbelalak ketika pakaian warna biru luruh ke bawah. Ternyata pakaian itu adalah pakaian panjang milik seorang perempuan!

“Busyet! Dia mengenakan pakaian perempuan! Apa maksudnya?!”

Selagi Joko terheran-heran, si pemuda yang kini mengenakan pakaian putih milik perempuan balikkan tubuh. Tangan kanannya diangkat. Terdengar seperti kain tersobek. Tangan si pemuda campakkan selembar kulit tipis. Lalu putar diri. Murid Pendeta Sinting pentangkan mata. Di hadapannya kini tegak seorang gadis muda berparas cantik jelita.

“Kalau saja rambutnya tidak putih dan awut- awutan....”

Si pemuda yang kini berubah menjadi seorang gadis berparas jelita liukkan tubuh dengan pantat digoyang-goyang. Saat bersamaan dari mulutnya terdengar suara uuukk! Ukkkk! Ukkkk! berulang kali. Lalu si gadis cantik ini bergerak-gerak kian kemari, menari diiringi suara uukk! Ukkkk! Ukkkk! tiada henti.

Joko hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Namun tiba-tiba gerakan kepalanya terhenti. Senyum di bibirnya pupus laksana disentak setan ketika melihat si gadis membuat gerakan berputar-putar dengan tangan terangkat. Dan ketika dia hentikan putaran tubuhnya dan menghadap ke arah Joko, ternyata wajahnya telah berganti menjadi seorang nenek!

Si nenek tertawa panjang. Lalu dengan cepat tangannya bergerak lepas kancing-kancing pakaian putihnya. Karena menduga di baliknya tidak mengenakan pakaian lagi, dengan dada masih terheran-heran, murid Pendeta Sinting segera palingkan kepala.

“Ukkk! Ukkkk! Ukkkk!” Si nenek perdengarkan suara.

Perlahan-lahan kepala Joko bergerak dengan mata setengah disipitkan. Namun mendadak matanya bergerak membuka besar-besar. Di hadapannya tegak seorang laki-laki berusia lanjut mengenakan pakaian lusuh berwarna putih. Kumisnya tebal berwarna putih. Di bawahnya terhampar pakaian warna putih milik seorang perempuan. Di sebelah pakaian putih tergeletak kulit tipis membentuk wajah seorang nenek!

Si kakek menunjuk pada dirinya berkali-kali. Lalu melepas kaos di kedua tangan dan kakinya. Di balik kaos tangan dan kaki itu terlihat kulit yang telah mengeriput.

“Dia seakan menunjukkan kalau saat ini adalah bentuknya yang asli!” Joko rupanya dapat menangkap isyarat orang. Lalu anggukkan kepala dan tersenyum.

“Sekarang mau tuliskan siapa kau adanya?!” Joko segera bertanya.

Si kakek gelengkan kepala dengan kedua tangan ditadangkan di belakang kedua telinganya. Memberi tanda jika dia belum mendengar suara Joko. Meski kesal akhirnya Pendekar 131 kerahkan tenaga dalam lalu ulangi ucapannya. Si kakek tertawa seraya gelengkan kepala.

“Hem.... Mungkin bukan dari orang ini jawaban itu akan ku peroleh!” gumam Joko mulai ragu-ragu melihat sikap orang. Dia sudah putuskan hendak meninggalkan tempat itu. Lalu berkata dengan suara keras.

“Aku harus pergi.... Kelak mudah-mudahan kita jumpa lagi dan bisa bicara lebih lama!”

“Ukkkk! Ukkkk! Ukkkk!” Si kakek buka mulut. Tangan kiri kanannya bergerak-gerak ke samping kiri kanan memberi isyarat mencegah kepergian Joko.

Joko urungkan niat. Si kakek tersenyum. Lalu menunjuk pada Joko. Tangan kanannya ditarik dan diletakkan di atas jidatnya. Lalu diangkat diputar-putar di atas kepala. Saat lain tangannya ditarik ke bawah. Di atas perutnya dia membuat lingkaran besar dari atas ke bawah dengan perut disorongkan ke depan. Murid Pendeta Sinting sesaat memperhatikan. Kejap lain dia melompat ke depan.

“Betul! Betul! Aku tengah dibuat pusing dengan kandungan seseorang!”

Si kakek gelengkan kepala seraya tadangkan kembali kedua tangannya di belakang telinga. Rupanya karena senang gerakan orang mengisyaratkan orang hamil, Joko jadi lupa dan angkat suara dengan pelan.

“Betul, Kek! Aku sedang pusing dengan kandungan seseorang!” kata Joko dengan suara keras. “Kau tahu kapan bayi itu akan lahir?!”

Si kakek arahkan pandang matanya ke langit. Kedua tangannya diangkat dan bergerak membuat bentuk bundaran. Lalu menunjuk ke langit.

“Betul! Bulan purnama! Tapi purnama kapan?!” tanya murid pendeta Sinting dengan suara tetap dikerahkan.

Si kakek memandang pada Joko. Mulutnya membuka perdengarkan suara ukkk! Ukkk! berulang kali. Lalu tangan kanannya diangkat. Dua jarinya dikembangkan. Sementara tangan kiri menunjuk jauh.

“Hem.... Maksudmu dua bulan mendatang?!”

Si kakek dekatkan telinganya ke depan seraya dihadapkan ke arah Pendekar 131.

“Dua bulan di depan!” teriak Joko keras-keras.

Lagi-lagi si kakek kerutkan kening. Lalu geleng- geleng kepala dengan tangan ditusuk-tusukkan pada telinganya. Kepalanya ditarik menjauh. Murid Pendeta Sinting tertawa dalam hati. Karena isyarat si kakek menunjukkan jika telinganya berdengung sakit akibat suara Joko yang terlalu keras. Apalagi suara itu dengan pengerahan tenaga dalam.

“Hem.... Dua bulan mendatang.... Kini teka-teki itu tinggal dari perempuan mana bayi akan lahir! Kakek itu tahu kapan si bayi akan lahir, mungkin dia juga tahu dari perempuan mana bayi itu akan lahir!”

Berpikir begitu murid Pendeta Sinting segera kerahkan kembali tenaga dalamnya. Saat lain dia buka mulut. “Kek! Kau tahu dari perempuan mana bayi itu kelak akan lahir?! Setidaknya kau bisa memberikan tanda-tandanya perempuan itu?!”

Si kakek angkat kedua tangannya sejajar dada. Tangan kanannya diangkat sedikit lagi ke arah mukanya. Lalu digerakkan berputar. Saat lain dia acungkan ibu jarinya. Sesaat kemudian, tangan kiri diangkat, diputarkan pada wajahnya lalu ibu jarinya diacungkan ke depan menjajari ibu jari tangan kanan.

“Hem.... Perempuan cantik...,” gumam Pendekar 131. Lalu anggukkan kepala memberi isyarat kalau dia mengerti apa maksud si kakek.

Si kakek tersenyum. Lalu menunjuk pada Joko kemudian ditunjukkan pada ibu jarinya. Joko kernyitkan dahi coba menangkap isyarat. Namun kali ini dia masih ragu-ragu. Hingga dia gelengkan kepala.

“Ukkk! Ukkkkk! Ukkk!” Si kakek buka mulut. Lalu saling hadapkan kedua tangannya. Saat lain menunjuk pada murid Pendeta Sinting dandirinya.

“Ah.... Aku tahu.... Maksudnya aku pernah bertemu dengan perempuan itu!” gumam Joko. Namun karena belum yakin benar, Joko segera mendekat dan berteriak. “Maksudmu aku pernah bertemu dengan perempuan yang akan melahirkan itu?!”

Si kakek tertawa seraya acungkan ibu jarinya. Murid Pendeta Sinting ikut tersenyum meski dadanya mulai di buncah perasaan tak karuan. Sekilas terbayang wajah-wajah cantik milik Dewi Seribu Bunga, Saraswati, Puspa Ratri, Putri Kayangan, Pitaloka, dan terakhir justru Dayang Sepuh. Puas tertawa si kakek kembali gerakkan tangan kiri kanan ke wajahnya dan diputar. Lalu ibu jari tangan kanan kiri diacungkan ke depan. Saat lain ibu jari tangan kiri diangkat lebih tinggi dari ibu jari tangan kanan. Ibu jari tangan kiri digoyang-goyangkan lalu kepalanya bergerak mengangguk. Saat lain dia goyang-goyangkan ibu jari tangan kanan dengan kepala menggeleng.

Pendekar 131 coba berpikir. Namun setelah agak lama tampaknya dia belum tahu apa maksud isyarat orang. Hingga dia segera berteriak. “Aku belum tahu apa maksudmu!”

Si kakek gelengkan kepala dengan mata cemberut. Lalu kembali membuat gerakan seperti tadi dan diakhiri dengan goyangan pada ibu jari tangan kanan dengan kepala menggeleng.

“Hem.... Sulit menjabarkan apa maksudnya...,” ujar Joko. Lalu gelengkan kepala sambil berteriak. “Aku tak bisa menangkap isyarat mu!”

Si kakek menghela napas panjang. Lalu mencibir sambil menepuk keningnya dan tangannya membuat bundaran.

“Jangkrik! Dia mengejek ku tidak bisa berpikir dan bodoh!” desis murid Pendeta Sinting mengerti apa yang dilakukan si kakek. Namun Joko tidak mau bertindak lebih jauh karena bagaimanapun juga si kakek telah banyak membantu.

“Apa yang harus kulakukan untuk dapat mengetahui apa maksudnya?! Hem.... Mungkin dia dapat menulis....” Joko memberi isyarat dengan gerakkan tangan seperti orang menulis. Dan khawatir si kakek belum mengerti, Joko segera berucap.

“Kau bisa menulis?!”

Si kakek gelengkan kepala. Namun sesaat kemudian tangannya bergerak-gerak di udara.

“Hem.... Gerakannya ruwet. Tapi sepertinya aku bisa menduga....”

Pendekar 131 sorongkan kepalanya ke depan lalu buka mulut. “Kau hendak menggambar?!” Si kakek tertawa sembari anggukkan kepala. Joko cepat berkelebat mematahkan sebuah ranting agak besar lalu diberikan pada si kakek.

Si kakek memandang sesaat pada murid Pendeta Sinting lalu sambuti patahan ranting yang disodorkan padanya. Kejap lain dia bergerak jongkok. Patahan ranting di tangannya mulai digoreskan di atas tanah. Si kakek membuat gambar dua wajah perempuan. Di atasnya diberi angka satu dan dua. Lalu memandang pada Joko seraya membuat gerakan saling hadapkan kedua tangannya kemudian menunjuk pada dua gambar di tanah. Joko anggukkan kepala. Si kakek tertawa lalu tunjuk gambar nomor satu dengan kepala mengangguk. Saat lain menunjuk pada gambar nomor dua dengan kepala menggeleng.

“Waduh.... Apa maksudnya...?! Aku pernah bertemu dengannya. Tapi apa maksud anggukan dan gelengan kepalanya?! Dan mengapa dia membuat dua gambar?! Adakah dua orang perempuan yang hendak melahirkan...?!”

“Kek!” kata Joko. “Maksudmu akan ada dua perempuan yang mengandung?!”

Si kakek menjawab dengan tunjukkan patahan ranting pada gambar nomor satu. Kemudian berikan tanda silang pada gambar nomor dua. “Berarti cuma ada satu perempuan yang mengandung.... Anehnya mengapa dia membuat dua gambar?!”

Belum sampai Joko utarakan apa yang masih mengganjal dalam dadanya, si kakek telah bergerak bangkit. Patahan ranting dicampakkan ke tanah lalu menunjuk silih berganti pada dua gambar di tanah. Saat lain menunjuk pada Joko dengan tangan satunya menunjuk pada dadanya sendiri, lalu mulutnya menguncup. Tangan kiri diangkat didekatkan pada mulutnya lalu dia meniup.

“Ukkkkkk!” Si kakek bergumam panjang dengan tangan kiri disentakkan ke depan seolah tersembur oleh hembusan mulutnya.

“Busyet! Aku makin bingung dengan isyaratnya!” gumam Joko tak mengerti. Lalu berteriak. “Kek! Aku tak mengerti! Bisa terangkan dengan cara lain?!”

Si kakek lagi-lagi mencibir. Saat lain dia berkelebat. Joko tersentak. Dia cepat mengejar. Namun si kakek gerakkan kakinya ke belakang. Satu gelombang dahsyat melesat. Gerakan murid Pendeta Sinting bukan saja tertahan, namun jika dia tidak segera kerahkan tenaga dalam untuk kuasai diri, niscaya sosoknya akan terjajar dan terjengkang di atas tanah!

Pendekar 131 gelengkan kepala. Saat lain dia segera berkelebat hendak mengejar. Namun belum sempat sosoknya bergerak, satu bayangan meluncur deras. Tahu-tahu si kakek telah tegak lima langkah di hadapannya. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Joko memperhatikan dengan seksama. Ternyata di tangan si kakek tergenggam setangkai bunga mawar merah.

“Ukkk! Ukkkk! Ukkkk!” Si kakek buka mulut. Lalu tangan kanannya yang menggenggam mawar merah didekatkan pada dua gambar di tanah silih berganti. Saat lain diberikan pada Joko.

Murid Pendeta Sinting sambuti bunga mawar merah. Si kakek tersenyum sambil anggukkan kepala. Saat lain dia gerakkan tangan melambai-lambai. Bersamaan dengan itu sosoknya berkelebat tinggalkan tempat itu.

“Kek! Tunggu!” teriak Joko keras-keras seraya berkelebat. Namun sekuat tenaga dia kerahkan ilmu peringan tubuh serta tenaga dalam dan luarnya, dia gagal mengejar malah tak lama kemudian kehilangan jejak! Dengan mulut megap-megap, Joko angkat tangannya yang menggenggam mawar pemberian si kakek. Dia teringat akan tindakan si kakek yang dekatkan mawar pada dua gambar di tanah lalu diberikan padanya.

“Hem.... Mawar merah adalah lambang cinta.... Jangan-jangan.... Ah! Apa maksudnya perempuan itu mencintai ku.... Tapi bagaimana mungkin?! Kalau hamil berarti dia sudah punya suami! Apa mungkin dia masih jatuh cinta lagi, apalagi padaku?! Ah.... Itu urusan nanti. Yang penting, siapa perempuan itu?! Dan mengapa dua?!”

Karena tidak bisa menemukan jawabannya, murid Pendeta Sinting melompat ke bawah sebatang pohon besar. “Memikirkan terus menerus bisa membuatku gila! Aku akan istirahat dahulu! Siapa tahu aku bisa mendapatkan jawabannya di alam mimpi!”

Dengan cengar-cengir Pendekar 131 rebahkan diri di bawah pohon. Saat lain terdengar dengkurannya!

DUA BELAS

JUBAH hitam tanpa kelihatan sosok pemakainya itu berkelebat dengan perdengarkan suara deruan angker. Saat sepuluh tombak di depan sana tampak sebuah aliran sungai, jubah hitam yang bukan lain Jubah Tanpa Jasad yang dikenakan Kiai Laras berhenti.

“Aku ingin tahu bagaimana tampangku saat mengenakan Jubah Tanpa Jasad ini hingga semua orang tidak mengenaliku lagi!” gumam Kiai Laras seraya perhatikan dirinya. Bibirnya sunggingkan senyum. “Tidak kuduga sama sekali akan begini akhirnya! Sekarang aku bukan saja dapat membalaskan semua rasa sakitku pada orang-orang yang membuatku kecewa pada puluhan tahun silam, namun aku sekarang pantas pula menyandang sebagai tokoh tanpa tanding di kolong jagat! Ha Ha Ha...!” Kiai Laras tertawa ngakak. Lalu teruskan kelebatannya.

Kiai Laras hentikan larinya di pinggir aliran sungai. “Mungkinkah tampangku memang berubah?!” Kiai Laras kembali menggumam. Dia arahkan pandang matanya ke seantero tempat itu.

Seperti diketahui, Kiai Laras sempat terkejut mendapati Datuk Wahing, Dayang Sepuh bahkan kakak kandungnya sendiri Kiai Lidah Wetan tidak mengenali siapa dirinya. Selain hal itu mendatangkan rasa gembira pada Kiai Laras karena dia tidak diketahui, sebenarnya dia merasa penasaran. Maka dia sengaja pergi ke aliran sungai ingin melihat di permukaan air mengapa orang-orang yang diyakininya pasti mengenalnya sampai tidak bisa mengenali. Perlahan-lahan Kiai Laras gerakkan kepalanya ke depan untuk berkaca di permukaan air. Sesaat mata Kiai Laras menyipit dengan dahi mengernyit. Karena dia tidak bisa melihat pantulan tubuhnya di permukaan air.

“Aneh.... Atau karena airnya kotor?!” Kiai Laras tarik kembali kepalanya. Lalu perhatikan aliran air. “Air ini bersih.... Tapi mengapa bayangan ku tidak kelihatan?”

Untuk yakinkan diri, kembali Kiai Laras gerakkan kepalanya ke depan, berkaca di permukaan air. “Ah.... Aku memang tidak melihat pantulan kepalaku!” Kiai Laras angkat kedua tangannya dan diluruskan ke depan dengan kepala melongok ke bawah. "Telapak kedua tanganku tidak kelihatan. Yang terlihat hanya lengan jubah ini! Jadi....” Kiai Laras berjingkrak. “Jubah hebat.... Inilah jawabannya mengapa manusia-manusia itu tidak bisa mengenaliku! Ternyata tubuhku tidak kelihatan!”

Kiai Laras mundur beberapa tindak. Kepalanya bergerak memutar. Saat lain dia melepas Jubah Tanpa Jasad. Jubah Tanpa Jasad diletakkan di atas tanah. Setelah perhatikan berkeliling sekali lagi, dia maju ke pinggiran sungai. Kepala dan kedua tangannya digerakkan kedepan. Kali ini di atas permukaan air, sang Kiai bisa melihat pantulan kepala serta kedua tangannya. Kiai Laras manggut-manggut seraya tersenyum. Lalu melompat ke belakang dan cepat-cepat mengenakan kembali Jubah Tanpa Jasad. Kiai Laras tengadahkan kepala memandang langit. Mulutnya membuka.

“Aku akan menguasai bumi! Semua manusia di kolong jagat harus tunduk pada kakiku! Dan aku akan mendirikan sebuah kerajaan! Ha Ha Ha...!”

Sembari terus tertawa bergelak, Kiai Laras berkelebat tinggalkan pinggiran sungai. Dia berkelebat ke arah selatan. Jubah Tanpa Jasad kembali perdengarkan deruan angker. Ketika matahari sudah condong dan hampir jatuh di kaki langit, Kiai Laras baru hentikan larinya. Saat itu dia telah tegak di bibir jurang. Kiai Laras putar pandangan. Lalu melongok ke jurang di bawahnya.

“Hem.... Suasana gelap membuat jurang ini terlalu hitam untuk dilihat! Apa aku harus terjun?!” Kiai Laras bimbang. Namun paras wajahnya tampak tegang. Bukan takut melihat kedalaman jurang, melainkan membayangkan hawa kemarahan!

“Aku telah sampai di sini! Tidak ada gunanya membuang waktu! Jahanam itu harus mampus sekarang juga!”

Baru saja Kiai Laras mendesis begitu, mendadak satu bayangan mencuat ke udara di sebelah belakang. Kiai Laras sedikit tersentak. Dia cepat putar diri. Tahu-tahu di hadapannya telah tegak seorang kakek berusia amat lanjut. Tangan kanannya memegang tongkat. Rambutnya yang tipis disanggul ke atas. Tubuhnya hanya tinggal tulang-belulang. Dari kedua matanya yang sayu tampak air yang terus menerus merembes. Tanda orang ini sudah demikian tuanya.

“Kala Marica! Beruntung kau belum mampus ditangan orang lain!” Kiai Laras buka mulut membentak.

Kakek di hadapan Kiai Laras yang disebut Kala Mrica terkesiap. Untuk beberapa lama dia pandangi jubah tanpa sosok yang mengapung di udara. “Jubah Tanpa Jasad!” seru Kala Marica dengan bibir bergetar.

“Bagus! Nama besarmu rupanya tidak cuma nama. Terbukti kau telah mengenali jubah di depan matamu! Ha Ha Ha...! Tapi nama besarmu hari ini akan terkubur selamanya!”

“Siapa kau, Sahabat?!” Kala Marica bertanya dengan suara kalem.

“Selama ini kau dikenal sebagai manusia yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain! Apakah kemampuanmu telah lenyap, Jahanam Kala Marica?!”

Kala Marica tidak menjawab. Diam-diam dalam hati kakek ini berkata. “Apakah mungkin dia Penguasa Kampung Setan?! Tapi bukankah dia telah meninggal puluhan tahun silam dan hanya tinggal kerangkanya saja?! Atau barangkali anak turunannya?! Kalau benar, mengapa dia punya niat hendak membunuhku?! Selama ini aku tidak pernah membuat urusan dengan orang lain. Kalau orang ini mengenakan Jubah Tanpa Jasad, berarti dia membekal pula Kembang Darah Setan. Hem.... Sulit bagiku menduga siapa adanya orang ini!”

“Kala Marica! Takdir kematianmu sudah tidak bisa ditunda lagi! Namun aku masih memberi pilihan atas takdir kematianmu! Tanganku sendiri yang akan melakukannya atau tongkat di tanganmu yang akan bicara pada tuannya sendiri!”

“Sahabat.... Rasanya selama ini aku tidak pernah punya silang sengketa dengan seseorang! Adalah aneh kalau kau kali ini datang hendak membunuhku! Bisa jelaskan apa masalahnya?!”

Kiai Laras tertawa dahulu sebelum akhirnya berkata. “Puluhan tahun silam kau pernah menolak seorang kere yang hendak berguru padamu! Kau mentang-mentang seorang tokoh yang bernama besar dan disegani hingga seenak perutmu kau menolak!”

Kala Marica usap rembesan air matanya. Dahinya yang amat mengeriput bergerak mengernyit. Dia coba mengingat. Namun tampaknya dia gagal. Hingga pada akhirnya ia berucap. “Sahabat.... Saat puluhan tahun silam memang banyak pemuda yang hendak berguru padaku. Bukan kau saja sebenarnya yang ku cegah. Tapi semua yang datang dengan niat sama sepertimu.... Kau tahu, Sahabat.... Penolakan ku bukan karena aku bernama besar atau disegani. Sama sekali bukan karena itu. Justru aku sadar kalau aku tidak pantas disebut guru dan maklum aku tidak memiliki ilmu seperti yang didengar orang. Lain daripada itu, karena aku tidak mau menciptakan dunia ini makin parah seandainya aku mengangkat murid dan ternyata murid itu tidak pergunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan! Itulah pertimbangan ku mengapa aku mencegah beberapa orang yang berniat mengangkat ku sebagai guru....”

“Sudah cukup bicara omong kosong mu, Kala Marica?!” tanya Kiai Laras dengan suara dingin.

“Sahabat.... Kau memang berhak menilai ucapanku! Tapi aku bicara apa adanya!”

Kiai Laras tertawa pendek. “Silakan kau bicara bermacam alasan! Yang jelas kau telah kecewakan hati seseorang! Dan hari ini dia minta imbalan atas rasa kecewanya! Tidak banyak yang kuminta! Cuma selembar nyawamu! Dan kau telah dengar pilihannya! Dengan tanganku atau dengan tongkat di tanganmu sendiri!”

“Sahabat... Kematian adalah satu hal yang pasti. Tapi aku tak ingin memilih jalan kematianku...”

“Bagus! Jika begitu aku yang akan memilihkan jalan kematian itu!”

Habis berkata begitu, Kiai Laras masukkan tangan kanan ke balik pakaiannya. Saat ditarik keluar, Kala Marica melihat setangkai kembang berdaun tiga warna yang pancarkan sinar mengapung di udara.

“Kembang Darah Setan!” Kala Marica menggumam pelan dengan dada berdebar keras dan tangan bergetar. “Melihat apa yang diucapkan tadi dan hubungannya dengan Jubah Tanpa Jasad serta Kembang Darah Setan, kurasa orang ini bukan dari keluarga Kampung Setan. Lalu siapa?!”

“Kala Marica! Aku dulu seorang pecundang! Tapi takdir kini telah berkata lain! Saat ini bumi berada di genggaman tanganku! Dan karena kau tempo dulu membuatku sebagai pecundang, saat ini aku ingin buktikan jika bumi di genggaman tanganku!”

"Wuuuutt!" Kembang Darah Setan berkelebat. Sinar tiga warna. Merah, hitam, dan putih berkiblat angker.

“Sahabat.... Kau membuatku terpaksa melakukan sesuatu.... Maaf, bukan aku mencari urusan, namun....” Kala Marica tidak bisa lanjutkan ucapannya karena saat itu kiblatan Kembang Darah Setan telah makin dekat.

Kala Marica berkelebat ke belakang. Tongkat di tangan kanannya disentakkan ke depan. Sementara tangan kirinya bergerak mendorong. Satu nyala laksana bara mencuat dari kelebatan tongkat Kala Marica menembus kiblatan sinar tiga warna. Sinar tiga warna pecah bertabur di udara. Sementara bara yang melesat dari tongkat langsung buyar berentakan perdengarkan ledakan keras!

Kala Marica langsung mental satu tombak. Tongkat di tangannya mencelat ke udara. Kala Marica coba kuasai diri di atas udara dengan cepat kerahkan tenaga dalamnya. Namun baru saja si kakek kerahkan tenaga dalam, dari arah depan kembali telah berkiblat sinar tiga warna, malah kini disertai gelombang dahsyat. Kala Marica terkesiap. Dia teruskan pengerahan tenaga dalamnya. Bukan untuk kuasai diri lagi, namun disalurkan pada kedua tangannya. Hingga kakek ini tidak bisa kuasai diri lagi. Sosoknya terbanting di udara lalu meluncur deras ke bawah. Dalam keadaan seperti itu, hebatnya Kala Marica masih sempat hantamkan kedua tangannya!

Wuuttt! Wuuuutt! Bukkk!

Terdengar deruan luar biasa. Disusul suara bergedebukan menghantam sosok Kala Marica di atas tanah. Sinar tiga warna terus berkiblat. Saat lain terdengar gelegar hebat tatkala kiblatan Kembang Darah Setan itu menghantam dua gelombang dahsyat dari kedua tangan Kala Marica. Tanah bertabur mengangkasa menutupi pemandangan hingga suasana yang agak gelap berubah menjadi pekat!

Bibir jurang di sebelah kanan kiri tampak ambrol. Sosok Kala Marica tersapu mencelat dua tombak lalu kembali jatuh tunggang langgang di atas tanah dengan mulut kucurkan darah kehitaman. Di depan sana, Jubah Tanpa Jasad hanya terjajar beberapa langkah. Saat lain ia telah menerobos kepekatan tanah dan tahu-tahu telah tegak terapung di depan sosok Kala Marica!

“Kala Marica! Aku telah katakan. Bumi ini sekarang berada di genggaman tanganku. Puluhan tahun silam kau boleh bangga dengan ilmumu! Tapi saat ini di hadapanku kau tidak memiliki apa-apa!”

Kala Marica berusaha bangkit duduk. “Sahabat.... Sejak dahulu aku tidak pernah merasa punya ilmu...,” ucap Kala Marica dengan suara tersendat dan bergetar.

“Hem.... Kau berani berkata begitu karena kau telah melihat apa yang kulakukan padamu! Ha Ha Ha...! Tapi jangan mimpi ucapanmu akan membuatku menarik niat!”

Kala Marica geleng kepala. “Sahabat... Kau salah! Tidak ada niat di hatiku agar kau menarik niatmu! Aku tahu... Aku memang tak mampu menghadapimu dengan Kembang Darah Setan di tanganmu! Tapi perlu kau tahu, Sahabat. Benda curian itu hanya buatan manusia. Sementara manusia itu diciptakan Yang Maha Pencipta... Jadi jangan kau terlalu mengandalkan ciptaan manusia selagi manusia itu sendiri ada yang menciptakan...!”

“Khotbah mu sungguh menarik! Kau juga pandai menduga tentang benda yang ada di tanganku! Tapi sayang takdirmu sudah tiba hingga kau tidak bisa membuktikan kebalikan dari khotbah mu!”

Habis berkata begitu, tangan kiri Kiai Laras berkelebat lepaskan pukulan tangan kosong jarak jauh bertenaga dalam tinggi. Mendadak Kiai Laras terkejut. Dia semula menduga jika Kala Marica sudah tidak mungkin mampu menghadang pukulannya. Tapi dugaannya meleset. Karena bersamaan dengan bergeraknya tangan kiri Kiai Laras, Kala Marica jatuhkan diri bergulingan di atas tanah. Pada gulingan ketiga sekonyong-konyong kedua tangan Kala Marica menyentak. Bukan hanya itu, kedua kakinya pun ikut bergerak membuat gerakan menendang!

Empat gelombang ganas sekaligus melesat menghadang pukulan Kiai Laras. Terdengar lagi letusan. Namun karena empat gelombang itu lebih kuat, begitu terdengar letusan, gelombang itu terus menerabas ke arah Kiai Laras. Kiai Laras tercekat. Terlambat baginya untuk kelebatkan Kembang Darah Setan di tangan kanannya. Hingga tanpa ampun lagi gelombang ganas menghantam ke tubuhnya!

Namun setengah jengkal lagi gelombang ganas itu menggebrak, tiba-tiba Jubah Tanpa Jasad laksana dilapis tembok besar, hingga bukan saja gelombang ganas itu seketika seperti membentur tembok raksasa, namun mental balik ke arah Kala Marica! Kali ini Kala Marica yang tercengang tegang. Belum sempat lenyap rasa kesimanya gelombang yang mental telah melabrak!

Kala Marica perdengarkan seruan tertahan. Sosok- nya terseret di atas tanah sejauh tiga tombak. Dari hidung dan mulutnya alirkan darah. Saat lain sosok orang tua ini diam tak bergerak-gerak. Kiai Laras tersenyum. Karena tadi terkejut, dia lupa jika Jubah Tanpa Jasad mampu menghadang setiap serangan! Dan begitu mendapati Kala Marica diam tak bergerak-gerak, Kiai Laras cepat berkelebat dan tegak di samping sosok Kala Marica.

“Sahabat... Kau puas?!” Tiba-tiba Kala Marica perdengarkan suara.

Kiai Laras tersentak. “Jahanam ini belum mampus!” gumam sang Kiai. Lalu mendongak. “Aku ingin tahu apakah tanah benar-benar tak mau menerima tubuhmu! Lebih dari itu aku ingin kau mampus tanpa kubur!”

Habis berkata begitu, enak saja tangan kiri Kiai Laras mencekal pundak Kala Marica lalu menyeretnya ke arah jurang. Karena sudah tidak berdaya, Kala Marica tidak berusaha memberontak. Malah sunggingkan senyum! Kiai Laras letakkan sosok Kala Marica di bibir jurang. Saat itu suasana sudah gelap karena matahari sudah jatuh. Sang Kiai pandangi sesaat sosok si kakek. Lalu berkata. “Selamat jalan, Kala Marica!”

Bersamaan dengan terdengarnya ucapan, kaki kanan Kiai Laras bergerak lakukan tendangan. Sosok Kala Marica terdorong amblas masuk ke dalam jurang! Kiai Laras melangkah dua tindak. Meski suasana gelap dan tidak bisa melihat bagian bawah jurang, namun Kiai Laras longokkan juga kepalanya ke jurang dibawahnya. Saat itulah mendadak terdengar suara dari bagian bawah jurang. Kiai Laras tahu benar, jika suara itu adalah suara Kala Marica.

“Siapa pun adanya kau.... Kelak kau akan mengambil buah dari perbuatanmu! Kau boleh punya senjata Kembang Darah Setan dan Jubah Tanpa Jasad! Tapi Sang Pencipta akan menciptakan pamungkasnya! Dan pamungkas itu akan hadir dari darahmu sendiri!”

Untuk beberapa lama Kiai Laras tercekat. Namun saat lain dia tertawa panjang. “Jahanam yang hendak mampus kadangkala ucapannya seperti orang gila! Bumi telah ada di tanganku! Tidak ada manusia yang bisa menandingiku!”

Sambil terus tertawa ngakak, Kiai Laras melangkah perlahan tinggalkan bibir jurang yang seketika disentak keheningan...!

S E L E S A I