Social Items

Serial Joko Sableng Dalam Episode Muslihat Sang Ratu

Cersil Online Serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131

BAB 1

DI dalam ruangan kuil Dewa Orok dan Cucu Dewa sejenak saling lontar pandang. Saat lain kedua guru dan murid ini bergerak bangkit. Cucu Dewa memberi isyarat dengan anggukan kepala. Lalu berkelebat dan lenyap di balik satu-satunya pintu dari batu hitam tidak jauh dari tempatnya tadi duduk. Dewa Orok sendiri kempiskan mulut lalu perlahan-lahan melangkah melalui pintu di mana tadi Cucu Dewa berkelebat lenyap.

Seperti dituturkan dalam episode Titah dari Liang Lahat, ketika Cucu Dewa dan Dewa Orok tengah berbincang-bincang mendadak terdengar satu teriakan membahana dari arah luar.

"Cucu Dewa! Aku datang menjemput nyawamu! Keluarlah!"

Untuk kedua kalinya kembali terdengar suara teriakan keras. Yang keluarkan teriakan ternyata adalah seorang laki-laki mengenakan pakaian putih. Sepasang matanya besar menjorok keluar seolah hendak mencelat dari rongganya. Wajahnya hampir-hampir tidak terhias daging sama sekali. Kepalanya tidak ditumbuhi rambut Orang ini tidak lain adalah Iblis Rangkap Jiwa.

Seperti juga dituturkan dalam episode Titah dari Liang Lahat, begitu dapat bebaskan diri dari totokan Pendekar 131 dan kesaktiannya pulih, iblis Rangkap Jiwa kembali ke puncak Bukit Selamangleng.

Namun dia terkejut saat mendadak muncul Malaikat Penggali Kubur yang baru saja memperoleh Kitab Hitam. Iblis Rangkap Jiwa sama sekali tidak menduga kalau secepat Itu Malaikat Penggali Kubur kembali ke puncak Bukit Selamangleng meski pemuda ini memang mengatakan akan kembali ke puncak bukit itu.

Kembalinya Malaikat Penggali Kubur menemui Iblis Rangkap Jiwa ternyata memberi tugas pada laki-laki berkepala gundul itu untuk mencari Dewa Orok dan membunuhnya. Sekaligus juga membunuh Cucu Dewa, dari mana Malaikat Penggali Kubur memperoleh keterangan tentang asal-usul dan anak keturunan Ken Rakasiwi, orangorang yang harus dimusnahkan seperti yang tertulis dalam dinding tanah liang lahat di mana Datuk Kematian minta dikuburkan.

Karena dua kali teriakannya tidak mendapat sahutan, Iblis Rangkap Jiwa kembali buka mulut. "Percuma kau sembunyi, jahanam Cucu Dewa! Ke lobang semut pun kau tidak akan.lolos dari tanganku!"

Selesai berucap begitu, Iblis Rangkap Jiwa sentakkan sedikit kepalanya tengadah ke atas. Saat lain terdengarlah gelakan tawanya. Karena tawa itu bukan tawa sembarangan, melainkan telah dialiri dengan pengerahan tenaga dalam, maka tempat itu untuk beberapa saat laksana dibuncah suara geledek yang menggidikkan!

Tapi laksana dicabut tangan setan, Iblis Rangkap Jiwa putuskan gelakan tawanya saat dia merasakan ada semilir angin lewat pundaknya. Sebagai orang yang memiliki daya tangkap luar biasa apalagi dia berada di sekitar tempat orang yang dicari, laki-laki yang mengaku berusia lebih dari dua ratus tahun ini maklum kalau ada orang!

Tanpa buka mulut lagi Iblis Rargkap Jiwa luruskan kepalanya. Laksana terbang dia berkelebat ke samping kanan Tanpa berpaling rupanya Iblis Rangkap Jiwa sudah dapat menentukan di mana adanya orang itu!

Begitu berkelebat ke samping kanan, seraya angkat kedua tangannya Iblis Rangkap Jiwa berpaling. Namun kedua tangannya yang terangkat mendadak tertahan tatkala dari tempatnya berdiri sepasang matanya bukan melihat Cucu Dewa melainkan seorang pemuda berwajah tampan yang tidak memiliki tangan dan mulutnya mainkan bundaran karet. Saat si pemuda bertangan buntung kempiskan mulut seolah menyedot, terdengarlah suara duuuttl Duuttt! Duuuutt! Lalu bundaran karet mencuat ke depan dan mengapung di udara.

Sesaat Iblis Rangkap Jiwa pentangkan mata perhatikan dengan saksama ke bagian bawah orang di hadapannya, karena ternyata si pemuda yang tidak lain adalah Dewa Orok tegak dengan, kaki bersila di atas dan kepala di bawah!

"Dewa Orok!" terdengar desisan Iblis Rangkap Jiwa. Raut wajah orang ini seketika berubah. Ada kegembiraan dan keheranan terpancar dari pandangan lakilaki berkepala gundul ini.

"Hem... Nyatanya aku tak perlu mengorek mulut Cucu Dewa untuk minta keterangan orang yang kucari! Orang ini ternyata datang sendiri! Tapi... Mengapa orang ini berada di sini? Apa hubungannya dengan Cucu Dewa jahanam itu? Sahabatnya? Atau keberadaannya di sini untuk menemui Cucu Dewa? Hem... Dia mungkin belum tahu apa tujuanku, sebaiknya aku tanya pada dia dahulu..." iblis Rangkap Jiwa membatin. Lalu sambil sunggingkan senyum dia berkata.

"Tidak disangka kalau selang waktu telah mempertemukan kita kembaii! Kuharap kau tidak lupa dengan diriku!"

Sepasang mata Dewa Orok mengerjap beberapa kali. Saat lain pemuda bertangan buntung ini gerakkan kedua kakinya yang bersila di udara. Wuuuutt! Kini Dewa Orok telah tegak dengan bertumpu pada kedua ibu jari kakinya Sementara bundaran karet terlihat tetap mengapung sejengkal di atas tanah

Dewa Orok sodorkan kepalanya ke depan seakan hendak mengamati tampang orang di hadapannya. Yang dipandang pasang tampang dengan bibir tersenyum, lalu angguk-anggukkan kepalanya yang gundul. Dewa Orok tarik pulang kepalanya dengan sepasang mata menyipit. Bersamaan dengan itu kepalanya bergerak menggeleng-geleng.

"Sepertinya aku tidak pernah jumpa denganmu! Jadi harap jangan marah kalau aku tanya siapa dirimu?!" Dewa Orok buka suara.

"Aku maklum kalau kau mengatakan begitu. Pertemuan kita memang telah lama sekaii Sebelum aku jawab pertanyaanmu, aku tanya. Bukankah kau Dewa Orok?!" kata Iblis Rangkap Jiwa meski dia yakin orang di hadapannya adalah Dewa Orok.

"Aku maklum kau bertanya begitu!" Dewa Orok ikut-ikutan berkata seperti ucapan iblis Rangkap Jiwa. "Sebelum aku jawab pertanyaanmu, kuharap kau jawab dulu pertanyaanku...!"

Meski mulai agak jengkel mendengar ucapan si pemuda yang Ikut-ikutan bicara mirip ucapannya, namun akhirnva iblis Rangkap Jiwa jawab pertanyaan orang. "Aku Iblis Rangkap Jiwa! Kau juga sebutkan diri!"

“Aku Iblis Rangkap Nyawa!" ujar Dewa Orok membuat Iblis Rangkap Jiwa beliakkan sepasang matanya makin besar.

Diam-diam laki-laki gundul ini membatin. "Bagaimna ini? Aku yakin manusia ini Dewa Orok. Tapi mengapa dia mengaku iblis Rangkap Nyawa. Apakah itu gelaran yang baru disandangnya?!"

Menduga begitu, iblis Rangkap Jiwa akhirnya berkata lagi. "Gelaran barumu bagus! Pasti kau telah mendapat ilmu luar biasa hingga bergelar begitu! Kalau kita bergabung, tentu akan membuat rimba persilatan geger! Yang satu Iblis Rangkap Jiwa, satunya lagi Iblis Rangkap Nyawa! Ha Ha Ha...!

"Ha Ha Ha...!" Dewa Orok Ikut-Ikutan tertawa. Hingga tempat Itu seketika dlbuncah dengan tawa bergelak-gelak

"Diam!" Mendadak Iblis Rangkap Jiwa membentak tatkala mendapati Dewa Orok terus tertawa bergelak meski dia sudah hentikan tawanya.

Laksana disambar setan. Dewa Orok putuskan gelakan tawanya. Kini mulutnya terkancing rapat. Namun kejap kemudian mulutnya membuka, bukan perdengarkan suara melainkan membuat gerakan menyedot. Bundaran karet yang terapung sejengkal di atas tanah bergerak-gerak lalu melesat masuk ke mulutnya!

"Dewa Orok! Jangan..."

"Aku Iblis Rangkap Nyawa!" tukas Dewa Orok dengan mulut masih mainkan bundaran karet diputar-putar ke atas ke bawah

"Aku tak peduli siapa kau!" sentak Iblis Rangkap Jiwa.

Dewa Orok pasang tampang terkejut. Mulutnya meniup. Bundaran karet melesat keluar lalu mengapung di depan wajahnya. Kejap lain dia berkata. "Aku juga tak peduli siapa kau!"

Dada Iblis Rangkap Jiwa laksana meledak mendengar ucapan Dewa Orok. Tapi laki-laki ini coba menindih hawa amarahnya. Dia yakin benar kalau pemuda bertangan buntung di hadapannya adalah Dewa Orok. Namun keberadaannya di sekitar kuil tempat tinggai Cucu Dewa yang membuat Iblis Rangkap Jiwa tidak berani segera laksanakan tugas yang diperintah Malaikat Penggali Kubur untuk membunuh Dewa Orok. Laki-laki ini sebenarnya masih ingin meyakinkan bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang perempuan.

Kejadian di puncak Bukit Selamangleng yang membuat kesaktiannya musnah membuat iblis Rangkap Jiwa tidak berani berbuat gegabah. Karena kalau dia sampai gagal lakukan perintah Malaikat Penggali Kubur, apa yang menjadi cita-citanya hanya impian belaka. (Tentang peristiwa musnahnya kesaktian Iblis Rangkap Jiwa silakan baca dalam episode Titah dari Liang Lahat)

"Iblis Rangkap Nyawa!" kata Iblis Rangkap Jiwa. "Jauh sampai di tempat ini pasti kau hendak bertemu dengan Cucu Dewa. Benar?!"

"Iblis Rangkap Jiwa!" ucap Dewa Orok masih menirukan seperti ucapan Iblis Rangkap Jiwa. "Jauh datang ke tempat ini dan mendengar teriakanmu tadi, tentu kau hendak bertemu Cucu Dewa. Benar?!"

"Jahanam! Sekali lagi kau tirukan ucapanku, rangkap berapa pun nyawamu, bukan pekerjaan sulit bagiku mencabut beberapa nyawamu itu! Lekas jawab!"

"Aneh... Kau tadi mengajakku bergabung agar rimba persilatan geger! Sekarang kau malah hendak cabut rangkapan nyawaku! Bagaimana?!”

"Jangan banyak mulut! Jawab. Kau hendak menemui Cucu Dewa, bukan?!" sentak Iblis Rangkap Jiwa.

"Jangan banyak..." Dewa Orok putuskan ucapannya yang hendak berkata seperti ucapan Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tundukkan wajah sembunyikan senyumnya. Sesaat kemudian dia angkat wajah lalu berkata.

"Aku memang hendak bertemu dengannya!"

"Apa urusanmu dengan Cucu Dewa?!" tanya lblis Rangkap Jiwa

"Karena gelarku Iblis Rangkap Nyawa, tentu urusanku adalah nyawa!"

Iblis Rangkap Jiwa anggukkan kepalanya perlahan. Tangannya bergerak mengusap dagunya, lalu berujar. "Cucu Dewa bukan orang sembarangan. Apa kau datang sendirian?!"

"Cucu Dewa memang bukan orang sembarangan. Tapi aku tak butuh teman kalau hanya untuk cabut satu nyawanya!"

Mungkin untuk buktikan ucapan Dewa Orok yang mengisyaratkan bahwa dia datang seorang diri, Iblis Rangkap Jiwa putar kepalanya berkeliling dengan mata menyelidik.

"Kau mencari seseorang?!" tanya Dewa Orok.

Iblis Rangkap Jiwa tidak menyahut. Malah begitu kepalanya lurus ke arah Dewa Orok, sepasang matanya mendelik angker. "Aku memang tidak menangkap adanya orang lain di tempat ini. Hem... Manusia buntung ini harus kuselesaikan dahulu..."

Saat lain dia membentak. "Dengar! Kau tak akan cabut nyawa Cucu Dewa jahanam itu. Karena sebelum kau cabut nyawanya, nyawamu akan kucabut dahulu!"

Dewa Orok terkesiap. "Kau ini bagaimana? Mengapa kau inginkan nyawaku? Kau tahu? Meski aku bergelar Iblis Rangkap Nyawa, kau tidak bisa rangkapkan nyawaku yang telah kau cabut masuk ke jiwamu!"

"Peduli setan! Yang jelas kau harus mampus!" hardik Iblis Rangkap Jiwa.

"Peduli setan!" ucap Dewa Orok ikut-ikutan. "Yang jelas aku tidak mau mampus!"

"Bagus! Kita lihat, Iblis mana yang mampus!" Iblis Rangkap Jiwa angkat kedua tangannya.

"Bagus! Kita lihat, iblis mana yang tidak mampus!" kata Dewa Orok lalu membuat gerakan menyedot pada mulutnya. Bundaran karet melesat masuk ke mulutnya.

Bersamaan dengan itu Iblis Rangkap Jiwa berkelebat ke depan. Kelebatan sosoknya timbulkan suara berdesir keras. Kejap lain kedua tangan laki-laki gundul ini telah lakukan gerakan menghantam dari arah kiri kanan kepala Dewa Orok!

Karena sudah waspada dan sebelumnya telah tahu siapa adanya orang yang dihadapi, sebelum kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa menghantam rengkah kepalanya, pemuda bertangan buntung ini membuat gerakan salto satu kali. Begitu kakinya di udara, sepasang kakinya bergerak ke samping kiri kanan.

Bukkkkk! Bukkkkk!

Sepasang tangan Iblis Rangkap Jiwa beradu keras dengan sepasang kaki Dewa Orok. Saat bersamaan, sosok Dewa Orok terjajar ke belakang. Kakinya yang masih berada di atas udara tampak bergetar hebat. Malah saat lain kaki itu tampak doyong serentak ke arah kiri.

Namun gerakan kaki Dewa Orok mendadak terhenti tiga jengkal di atas tanah. Bersamaan dengan itu bahu Dewa Orok membuat gerakan dua kali.

Wuutt! Wuuutt!

Bagian tubuh atas Dewa Orok yang berada di bawah terangkat. Kejap lain pemuda ini telah tegak di atas ibu jari kakinya. Namun begitu, paras wajahnya tetap berubah.

Di hadapannya, Iblis Rangkap Jiwa menyeringai. Walau sosoknya tidak bergeming dari tempatnya, tapi jelas parasnya membayangkan rasa hampir tidak percaya.

"Hem... Kekuatannya terletak pada kakinya! Tapi untuk apa aku memikirkan itu? Dia tidak mungkin bisa menghindar kalau kuhantam dengan pukulan Jarak Jauh" batin Iblis Rangkap Jiwa.

Dengan cepat Iblis Rangkap Jiwa kerahkan tenaga dalamnya. Namun belum sampai dia membuat gerakan apa-apa, di depan sana Dewa Orok tarik tubuhnya ke belakang. Lalu serta-merta dihentakkan kembali ke depan.

Beettt!

Dari dada Dewa Orok melesat bongkahan awan putih yang keluarkan suara luar biasa keras menusuk gendang telinga. Kejap kemudian tanah di depan Dewa Orok bertabur muncrat ke udara tersapu bongkahan awan putih yang lewat. Tanah di tempat itu pun bergetar laksana dilanda gelombang dahsyat.

Melihat serangan yang datang, Iblis Rangkap Jiwa bukannya cepat membuat gerakan untuk memangkas. Sebaliknya laki-laki ini perdengarkan suara tawa bergelak. Lalu tegak menyongsong pukulan orang dengan kedua tangan kacak pinggang!

Dessss!

Sosok Iblis Rangkap Jiwa mencelat mental terlanggar bongkahan awan putih. Lalu terpuruk di atas tanah tak bergerak-gerak lagi! Namun cuma sekejap. Di lain saat sosok Iblis Rangkap Jiwa membuat gerakan. Kedua tangannya menghentak di atas tanah. Tubuhnya seketika bangkit berdiri. Untuk sesaat Iblis Rangkap Jiwa perhatikan dirinya.

Sementara di depan sana sepasang mata Dewa Orok membelalak. Iblis Rangkap Jiwa tidak mengalami cedera sama sekali! Hanya dadanya yang sedikit bergetar karena terhantam bongkahan awan putih.

"Kau telah lihat. Aku memiliki jiwa rangkap hingga aku bisa bangun lagi. Sekarang aku mau lihat, apakah kau pantas menyandang gelar Iblis Rangkap Nyawa!"

Tengkuk Dewa Orok berubah dingin. Gerakan mulutnya yang menyedot-nyedot bundaran karet mirip dot bayi bertambah keras hingga saat itu juga terdengar suara duutt! Duuuttt! Duuttt! beberapa kali.

Iblis Rangkap Jiwa angkat kedua tangannya. Di seberang sana, Dewa Orok tampak sipitkan sepasang matanya. Sadar bahaya akan mengancam dirinya, meski dia tidak yakin dapat memangkas pukulan iblis Rangkap Jiwa, namun pemuda ini tidak diam begitu saja. Tubuhnya segera ditarik ke belakang. Sepasang matanya memejam. Jelas kalau pemuda ini coba kerahkan segenap tenaga dalamnya.

Iblis Rangkap Jiwa sunggingkan senyum seringai. Kedua tangannya bergerak. Namun gerakan kedua tangan laki-laki gundul ini tertahan di udara tatkala mendadak terdengar suara tawa! Baik Dewa Orok maupun Iblis Rangkap Jiwa tidak dapat menentukan siapa adanya orang. Yang pasti bagi mereka, siapa pun orangnya yang perdengarkan suara, jelas jika suara tawa itu adalah suara perempuan!

BAB 2

KEPARAT! Siapa perempuan yang tertawa ini? Jangan-jangan gadis sableng di puncak bukit tempo hari! Celaka kalau benar-benar dia! Tapi tidak tenang hatiku sebelum tahu sendiri!" Kepala Iblis Rangkap Jiwa berpaling ke arah datangnya suara tawa.

Di sebelah depan, perlahan-lahan Dewa Orok buka kelopak matanya. Dengan dahi berkerut dia juga menoleh ke arah datangnya suara tawa. Kira-kira delapan tombak dari tempatnya berdiri, Iblis Rangkap Jiwa melihat sesosok tubuh tegak dengan kedua tangan saling meremas. Orang ini mengenakan pakaian warna hitam yang disambung-sambung hingga panjang ke bawah membuat tubuh bagian bawahnya tidak kelihatan. Orang ini juga mengenakan cadar menutupi wajahnya. Hingga dari anggota tubuhnya yang kelihatan hanyalah sepasang matanya serta uraian rambutnya yang hitam dan lebat.

Ketegangan di paras wajah Iblis Rangkap Jiwa mereda demi melihat sosok tubuh orang. Dia menghela napas panjang. Diam-diam dia membatin. "Untung bukan gadis sableng berjubah merah itu! Siapa orang ini? Temannya manusia buntung itu...? Tapi dia juga seperti terkejut, berarti bukan temannya..."

Baru saja Iblis Rangkap Jiwa membatin begitu, orang yang mengenakan pakaian hitam disambung-sambung hingga menjulai ke bawah membuat gerakan satu kali. Sosoknya melesat dan tegak tiga langkah disamping Dewa Orok. Orang ini sesaat memandang pada Dewa Orok. Yang dipandang mendelik seolah ingin mengetahui siapa adanya orang. Namun karena sekujur tubuh orang tertutup, Dewa Orok tidak bisa memastikan.

Di seberang sana, Iblis Rangkap Jiwa beliakkan sepasang matanya yang besar, memandang tak berkesip silih berganti pada Dewa Orok dan orang yang baru muncul. Setelah yakin bahwa orang yang datang bukan orang yang pernah ditemuinya di puncak Bukit Selamangleng, Iblis Rangkap Jiwa buka mulut langsung membentak.

"Orang tak dikenal! Kuperintahkan kau tinggalkan tempat ini!"

Orang bercadar dan berpakaian sambung-sambung perdengarkan suara tawa cekikikan. Lalu berkata. "Bahagia rasanya hari ini bisa jumpa dengan seorang tokoh maha sakti bergelar Iblis Rangkap Jiwa. Tapi sayang rupanya kau tidak menyukai kedatanganku di tempat ini...”

Orang ini lantas berpaling pada Dewa Orok dan lanjutkan ucapannya. "Orang muda. Apakah kau juga tidak menyukai kedatanganku di sini?"

Iblis Rangkap Jiwa terlihat sedikit terkejut mendapati orang telah tahu siapa dirinya. Sementara Dewa Orok meski terkejut namun segera semburkan bundaran karetnya hingga mengapung di depannya. Kejap lain terdengarlah ucapannya.

"Bahagia rasanya hari ini bisa jumpa denganmu. Sayang aku tidak bisa melihat raut wajahmu.”

"Ah... Senang sekali aku mendengar jawabanmu. Berarti kau menyukai kehadiranku di sini meski kita belum saling kenai..."

"Ah... Aku juga senang sekali mendengar ucapanmu. Berarti kau..."

Ucapan Dewa Orok yang ikut-ikutan bicara orang belum selesai, Iblis Rangkap Jiwa telah memotong. “Orang tak dikenal! Siapa kau?!"

“Namaku Orang Tak Dikenal!" jawab orang yang baru muncul. Kembali orang ini berpaling pada Dewa Orok dan bertanya.

“Orang muda. Kau sendiri siapa...?!"

“Namaku Orang Terkenal!" jawab Dewa Orok seenaknya lalu tersenyum dan lanjutkan kata-katanya. “itu kalau di daerah barat. Kalau di daerah timur orang memanggilku Iblis Rangkap Nyawa. Di daerah selatan aku dikenal dengan Iblis Tanah Arak. Di daerah utara aku digelari orang Iblis Tangan Dua!"

Orang di samping Dewa Orok tertawa cekikikan. “Wah... Gelarmu banyak serta angker-angker. Ini daerah mana?"

"Ini daerah timur. Maka, kau boleh memanggilku Iblis Rangkap Nyawa!"

“Mendengar gelarmu itu, apakah kau masih saudara Iblis Rangkap Jiwa itu?!"

"Benar! Dia adalah adikku paling bungsu! Kakaknya dia bernama Iblis Rangkap Iblis!" kata Dewa Orok lalu tertawa cekikikan seperti halnya orang di sampingnya tadi.

"Wah... Jadi kalian keluarga Iblis... Lalu ciri-cirinya adikmu yang bernama Iblis Rangkap Iblis itu bagaimana? Apa aneh dan angker mirip kalian berdua ini?!"

Dewa Orok gelengkan kepala. "Sebaliknya dia sepertimu. Seorang perempuan. Wajahnya cantik. Tubuhnya membentuk bagus. Dadanya besar, pinggulnya padat. Hanya sayang..." Dewa Orok tidak lanjutkan ucapannya, membuat orang di sampingnya cepat menyahut seolah penasaran ingin tahu.

"Sayang bagaimana?!"

"Dia tidak pernah mengenakan rangkapan di balik pakaiannya!"

Mendengar keterangan Dewa Orok, orang di sampingnya tertawa melengking. Dewa Orok tidak tinggal diam. Dia ikut-ikutan tertawa melengking.

Tulang rahang Iblis Rangkap Jiwa terangkat. Sepasang matanya membelalak laksana hendak meloncat keluar, "iblis jahanam! Keparat! Kalian berdua akan mampus!"

Orang di samping Dewa Orok putuskan lengkingan tawanya. Lalu bertanya. "Kenapa adik bungsumu marah-marah? Apa karena kau mengatakan adikmu satunya tidak pernah mengenakan rangkapan di balik pakaiannya tadi?!"

Dewa Orok ikut putuskan lengkingan tawanya lalu menjawab. "Kurasa bukan itu masalahnya meski masih ada hubungannya!"

"Hem... Lalu apa masalahnya?!"

"Dia menyuruhku mencarikan rangkapan pakaian dalam untuk kakak perempuannya itu! Tapi aku menolak. Ke mana aku harus cari rangkapan pakaian dalam seorang perempuan? Kalaupun dapat, adik perempuanku itu pasti menolak! Karena dia akan terus garuk-garuk jika mengenakan rangkapan pakaian dalam! Tidak tahu kalau pakaian dalam itu bekas milikmu..."

Seraya tertawa cekikikan, orang di samping Dewa Orok berkata. "Sebenarnya aku mau saja memberikan pakaian dalamku pada adik perempuanmu itu! Dan aku dapat memastikan adikmu tidak akan garuk-garuk Jika mengenakan rangkapan pakaian dalam bekas milikku. Hanya sayang..."

“Sayang bagaimana...?!" tanya Dewa Orok cepat.

"Hari ini aku tidak mengenakan rangkapan pakaian dalam. Maaf, bukannya aku berbohong, kalau tidak percaya kau boleh melihatnya!"

"Jahanam! Jangan-jangan perempuan ini juga tahu kelemahanku! Atau ucapannya itu tanpa sengaja...?" Diam-diam Iblis Rangkap Jiwa gelisah. Dadanya berdebar-debar.

Kegelisahan Iblis Rangkap Jiwa makin terlihat tatkala di depan sana dilihat orang di samping Dewa Orok gerakkan kedua tangannya seolah hendak menyingkap pakaian hitam sambung-sambungannya.

Mungkin karena terlalu ketakutan akibat kejadian di puncak Bukit Selamangleng tempo hari, padahal kesaktiannya baru musnah jika melihat pantat laki-laki dan perempuan bersamaan, maka tanpa sengaja Iblis Rangkap Jiwa berteriak.

"Tahan!"

Dewa Orok dan orang di sampingnya sama-sama berpaling. Dahi Dewa Orok tampak mengernyit. Sepasang mata orang di sampingnya mengerjap beberapa kali.

"Apa yang akan kau lakukan?!" bentak iblis Rangkap Jiwa.

"Kakakmu ini ingin tahu kalau aku benar-benar tidak mengenakan rangkapan pakaian dalam! Apakah kau juga ingin melihatnya?!"

"Jahanam! Dia bukan kakakku! Aku juga tak ingin lihat bagian dalam tubuhmu!"

Orang di samping Dewa Orok menoleh pada Dewa Orok. "Kau ini bagaimana? Kau bilang dia adikmu. Tapi mengapa dia tak mengakui kau kakaknya?"

"Kau tak usah heran, itulah keluarga iblis! Dia tak mau mengakui saudara di depan orang...! Padahal kalau ada kesulitan masih minta bantuan"

“Sebagai saudaranya, kau sedikit banyak tentu tahu. Apakah dia memang tidak suka melihat bagian dalam tubuh perempuan?! Padahal selama ini banyak orang tergila-gila ingin tahu bagian dalam tubuhku. Apalagi pantatku yang besar ini. Hik Hik...!" sambil tertawa orang ini usap-usap pantatnya.

Wajah Iblis Rangkap Jiwa makin tegang. Sebaliknya Dewa Orok tidak menyahut. Sementara orang di sampingnya segera meloncat mendekati Dewa Orok. "Rupanya saudaramu tidak mau diberi rezeki. Kaulah yang akan mendapat rezeki dapat melihat punyaku!” kata orang berpakaian hitam sambung-sambung lalu kedua tangannya bergerak seolah hendak buka pakaiannya.

"He... Nanti lakukan apa yang kuucapkan! Jangan membantah..." bisik orang di samping Dewa Orok.

Belum sampai Dewa Orok dapat mengerti maksud ucapan orang dan belum sampai orang itu buka kancing pakaiannya, terdengar Iblis Rangkap Jiwa membentak.

"Kalian manusia-manusia keparat!” Bersamaan dengan selesainya ucapan, kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa terangkat. Kejap lain satu gelombang luar biasa dahsyat membawa kabut hitam melesat.

Orang di samping Dewa Orok segera dorong tubuh Dewa Orok seraya berbisik. “Jangan dilawan. Menyingkir saja!"

Dewa Orok terjajar tiga langkah. Dan meski belum tahu maksud ucapan orang, pemuda bertangan buntung ini cepat berkelebat menghindar selamatkan diri. Bersamaan itu, orang berpakaian hitam sambung-sambung juga melesat selamatkan diri.

Gelombang dan kabut hitam menggebrak keras. Namun karena Dewa Orok dan orang berpakaian hitam sambung-sambung telah melesat mendahului, serangan Iblis Rangkap Jiwa hanya melanggar tempat kosong. Lalu menghantam bagian samping kuil hingga timbulkan suara berderak keras. Bagian samping kuil langsung ambrol dan bangunannya bergetar keras. Tanah berpasir di sekitar kuil tersapu muncrat.

Iblis Rangkap Jiwa tegak dengan tubuh bergetar. Sepasang matanya menyengat tajam perhatikan sosok Dewa Orok dan orang berpakaian hitam sambung-sambung. Kedua tangannya kembali terangkat. Tubuhnya bergerak memutar menghadap Dewa Orok. Dewa Orok memandang ke depan. Bukan pada Iblis Rangkap Jiwa melainkan pada bundaran karet yang tampak berputarputar keras di udara karena tersambar pukulan Iblis Rangkap Jiwa.

"Dotku...!" seru Dewa Orok.

Orang berpakaian hitam sambung-sambung yang melesat berlawanan arah dengan Dewa Orok terdengar bergumam. Saat lain sosoknya melesat dan tahu-tahu telah tegak di samping Dewa Orok. "Jangan hiraukan dotmu dahulu! Kau dalam bahaya! Lihat ke depan!"

Dewa Orok turuti ucapan orang. Seketika wajahnya berubah. Di depan sana Iblis Rangkap Jiwa telah tarik kedua tangannya ke belakang dan siap lancarkan pukulan.

"Jangan dilawan. Percuma! Balikkan saja tubuhmu memunggungi dia!" kata orang di sampingnya.

"Jangan dilawan bagaimana? Percuma bagaimana? Aku bisa celaka!"

"Ikuti saja ucapanku! Balikkan tubuhmu! Lorotkan sedikit celanamu!"

“Aneh...! Bagaimana aku bisa lorotkan celana? Tanganku buntung!"

"Kalau begitu biar aku yang melakukan! Balikkan tubuhmu!" kata orang di sampingnya. Karena Dewa Orok masih tak lakukan yang dikatakan orang, orang berpakaian hitam sambung-sambung melangkah satu tindak. Tangannya bergerak balikkan tubuh Dewa Orok. Kejap lain tangannya lorotkan celana Dewa Orok sedikit hingga bagian pantatnya terlihat. Meski tidak mengerti maksud orang, Dewa Orok diam saja. Malah saat itu juga bahunya berguncang menahan tawa.

"Rupanya kau ingin melihatku mampus dengan pantat terbuka!" ujar Dewa Orok.

Secara diam-diam Dewa Orok kerahkan tenaga dalamnya. Dia sudah siap berkelebat kalau Iblis Rangkap Jiwa lakukan pukulan. Begitu pantat Dewa Orok sedikit terlihat, orang berpakaian hitam sambung-sambung melompat menjajari Dewa Orok. Kedua tangannya bergerak ke belakang membuat isyarat laksana orang hendak singkirkan pakaian bawahnya.

Di belakang sana, Iblis Rangkap Jiwa pelototkan mata. Sikap orang di depan sana bukan hanya membuat laki-laki ini urungkan niat lancarkan pukulan melainkan juga membuatnya gemetar dan langsung balikan tubuh. Orang di samping Dewa Orok gerakkan kepalanya berpaling. Lalu berbisik.

“Adikmu benar-benar tak mau rezeki. Dia bukan hanya picingkan matanya melainkan balikkan tubuh!"

Dewa Orok putar diri ingin buktikan ucapan orang. Ketika ucapan orang benar, pemuda bertangan buntung ini tertawa terpingkal-pingkal. Lalu berbisik dalam hati. "Mengapa bisa jadi begini?"

Dewa Orok hendak tanyakan apa yang ada dalam hatinya pada orang berpakaian hitam sambung-sambung. Namun sebelum ucapannya terdengar, orang disampingnya telah balikkan tubuh lalu berteriak.

"Jangan kau sentuh pantatku! Lihat saja cukup! Besar bukan?!" selesai berteriak, orang ini menoleh pada Dewa Orok lalu memberi isyarat dengan anggukkan kepalanya.

Seakan tahu isyarat orang, Dewa Orok langsung buka mulut menyahut. "Aduh besar sekali. Padat berisi dan hitam legam! Mananya gatal kakiku ingin mengusapnya...!"

"Hei...! Jangan kau teruskan kakimu! Aku geli!" kata orang di samping Dewa Orok sambil tahan tawanya.

Dewa Orok tidak tinggal diam. Dia segera menyahut. “Kau diam sajalah! Salahmu sendiri kenapa pantat bagus begitu ditunjukkan di depan orang! Aku jadi tak sabaran!"

“Hai...!" kembali orang di samping Dewa Orok berteriak. "Dotmu... Bikin aku tambah geli!"

"Aduh... Aku sampai lupa. Sebentar akan kulepas dulu dotku! Bagaimana sekarang...?! Apa masih geli...?!"

Di depan sana, Iblis Rangkap Jiwa memaki-maki sendiri. Lalu tanpa berpaling lagi dia berkelebat tinggalkan tempat itu. Begitu sosok Iblis Rangkap Jiwa tidak kelihatan, Dewa Orok kuncupkan mulut lalu menyedot bundaran karetnya hingga masuk ke mulutnya. Lalu berpaling pada orang di sampingnya. Sebelum dia berkata, orang di sampingnya gerakkan kedua tangannya singkapkan pakaian sambungan bawahnya.

Dewa Orok sudah siap pejamkan mata. Namun diurungkan tatkala perlahan-lahan yang terlihat di balik pakaian bawah orang bukan sepasang betis mulus, melainkan dua batangan kayu sebesar betis! Kira-kira satu setengah depa ke atas lagi, barulah terlihat sepasang telapak kaki besar yang tegak di atas ujung kayu. Orang di samping Dewa Orok sentakkan kedua tangannya.

Bretttt!

Pakaian hitam sambung-sambung melorot jatuh. Kini tampaklah satu sosok tubuh pendek tegak di atau ujung kayu! Orang bertubuh pendek di atas ujung batangan kayu angkat tangan kanannya sentakkan cadar hitam yang menutupi wajahnya. Tampaklah raut wajah seorang iaki-laki berhidung agak besar bermata sipit. Bentuk wajahnya bulat besar. Dia bukan lain adalah Cucu Dewa!

"Guru...!" seru Dewa Orok. "Penyamaran dan ilmu memindah suaramu hebat! Bagaimana dia bisa ngacir begitu saja?"

“Tempat Ini kurang aman lagi! Kita harus pergi dari sini” kata Cucu Dewa. Lalu meloncat dari ujung kayu. Seraya memberi isyarat dia berkelebat. Tanpa buka mulut Dewa Orok menyusul.

********************

BAB 3

SATU sosok tubuh terlihat duduk ongkang-ongkang kaki di atas batu padas di pinggir sebuah telaga berair jernih. Orang ini sesekali bergumam sendiri lalu meringis. Tak lama kemudian dia perdengarkan dendang nyanyian seraya gerak-gerakkan kakinya. Namun tak iama kemudian dia putuskan dendang nyanyiannya. Kepalanya berputar. Sepasang matanya sedikit dibeliakkan memandang ke arah mana kepalanya berputar. Sikapnya jelas membayangkan hatinya gelisah. Dan kegelisahan itu makin terpancar jelas saat kepalanya tengadah melihat hamparan langit yang telah menghitam karena sudah agak lama matahari terbenam.

"Menyesal aku bersedia mengajaknya dalam urusan ini! Bukannya urusan cepat selesai, tapi malah membuatku bingung sendiri! Belum lagi harus menunggu seperti ini! Kalau saja bukan seorang..."

Orang di atas batu padas putuskan gumamannya. Kepalanya berpaling ke samping kanan. Sepasang matanya mendelik memperhatikan Tapi dia tidak menangkap siapa-siapa.

“Kau telah lama menunggu?!" Tiba-tiba terdengar satu suara.

Orang di atas batu padas putar kepetenya ke kiri. Dari balik samping batu besar muncul itu sosok tubuh. Ternyata ia adalah seorang gadis berparas jelita dengan rambut panjang dikuncir. Sepasang matanya bagus. Bibinya merah ranum, bentuk tubuhnya agak tinggi. Dia mengenakan jubah merah menyala. Gadis berjubah merah melangkah perlahan mendekati orang yang duduk di atas batu padas yang ternyata adalah seorang pemuda berwajah tampan mengenakan pakaian putih-putih. Rambutnya panjang sedikit acak-acakan dibalut ikat kepala berwarna putih.

"Kita berangkat sekarang?!" tanya si gadis begitu dekat dengan si pemuda.

Si pemuda tidak segera buka mulut menjawab. sebaliknya memandang tajam pada si gadis. "Hem... gadis ini benar-benar jelita, melihat gadis cantik begini membuatku teringat pada Dewi Seribu Bunga dan Sitoresmi. Juga kedua gadis anak tokoh bergelar Tengkorak Berdarah. Puspa Ratri dan Saraswati... Bagaimana mereka sekarang? Kaiau urusan ini selesai, aku akan mencari mereka..."

"Kau melamun? Ingat seseorang...?!" tanya gadis berjubah merah.

Yang ditanya angkat bahu. Lalu gelengkan kepala. "Kecantikanmu membuatku tidak ingat siapa-siapa lagi. Bahkan aku lupa pada diriku'"

Dipuji begitu, gadis berjubah merah bukannya palingkan wajah untuk sembunyikan rona merah di pipinya, melainkan tertawa cekikikan. Lalu berkata. "Sayang kau terlambat mengucapkan itu!"

Si pemuda turun dari atas batu padas. "Maksudmu kau telah punya seorang kekasih?!"

Si gadis palingkan kepalanya. "Pacarku memang banyak. Tapi aku belum punya kekasih!"

Si pemuda memandang dengan dahi mengernyit. “Lalu mengapa kau katakan ucapanku terlambat?"

"Karena aku sudah sering mendengarnya dari pemuda sebelum kau! Hik Hik Hik... Kau sendiri bagaimana? Apa sudah punya kekasih ?”

"Hem... Dia pura-pura tanya atau betulan? Dia tahu banyak tentang diriku..." membatin si pemuda. Lalu berkata.

"Seperti halnya dirimu, aku juga punya banyak kenalan gadis-gadis, tapi sejauh ini aku belum punya seorang kekasih..."

"Betul?!" tanya si gadis dengan mimik sungguh-sungguh.

"Sumpah mati!" Si pemuda pasang tampang tak kalah sungguh-sungguhnya.

"Bagaimana kalau kau kukenalkan dengan sahabatku? Aku percaya kau pasti akan tertarik dan kalian nanti tentu akan jadi pasangan kekasih yang sepadan!"

"Jangkrik! Sahabatnya yang ditawarkan! Padahal aku..."

"Bagaimana? Kau setuju? Sahabatku itu cantik. Atau kalau kau tak suka aku masih punya beberapa sahabat lagi..." kata si gadis memutus kata hati si pemuda.

"Coba katakan siapa saja sahabatmu itu!"

"Hem... Ada yang bernama Sekar Jali-jali, Kembang Banteng Ketaton, ada juga yang bergelar Dewi Asap Gantung, Dewi Kabut Berarak, Ratu Langit Tanpa Bumi, Ratu Samudera Tanpa Air serta masih banyak..."

Mendengar nama-nama yang disebut gadis berjubah merah, si pemuda mendelik. Tapi cibirnya tersenyum. Saat lain ia berkata. "Nama dan gelar sahabatmu hebat-hebat. Pasti mereka cantik-cantik! Tapi sayang aku tidak tertarik pada salah satunya...!”

"Ah sayang... Tapi aku masih punya seorang kenalan lagi. Yang ini pasti kau tertarik walau hanya dengar namanya saja..."

"Hem.... Katakan siapa...!"

"Namanya sendiri dia tak pernah mau katakan padaku. Dia selalu perkenalkan diri dengan Ratu Malam...”

Laksana disengat, sepasang kaki si pemuda tersurut satu tindak. Wajahnya langsung berubah. Namun cuma sesaat. Di saat lain tawanya meledak!

"Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu? Hah...?!" Si gadis membentak.

"Kau tahu. Aku kenal Ratu Malam! Nenek tua yang selalu komat-kamit mengunyah tembakau hitam dan ceriwis itu bukan?!"

Tampang gadis berjubah merah berubah. "Ah.... ternyata kau sudah kenal...."

"Siapa tidak kenal nenek itu! Selain terkenal ceriwis, dia juga dikenal sering gonta-ganti kekasih! Hem.... Apa tidak ada lagi yang lebih tua dari dia?!"

Gadis berjubah merah tidak menjawab. Si pemuda gelengkan kepala lalu berucap. "Aku menolak semua nama yang kau tawarkan! Bagaimana kalau sekarang aku yang tawarkan nama pemuda padamu? Siapa tahu salah satunya menarik hatimu?!"

Si gadis meringis, lalu berujar. "Aku tak tertarik. Mungkin yang hendak kau sodorkan padaku gurumu sendiri si Pendeta Sinting itu! Atau temanmu si Iblis Ompong!"

"Edan! Dari mana dia tahu aku hendak tawarkan mereka?!" kata si pemuda dalam hati. Dia hendak angkat bicara, namun si gadis telah memotong.

“Kau hendak mengajakku menyelidik atau hendak mengatur perjodohan?!"

“Ah... Benar ucapanmu. Kita berangkat sekarang!” kata si pemuda lalu mendahului melangkah.

"Ke mana tujuan kita? Kau mengatakan hendak menemui seseorang. Siapa? Di mana?!" tanya si gadis membuat si pemuda hentikan langkahnya.

"Dia bergelar Dewa Orok! Di mananya itu yang membuat kepalaku masih pusing memikirkannya!"

"Dasar sableng! Kalau tidak tahu di mana adanya orang, lalu ke mana kau akan berangkat?! Percuma aku menunggu-nunggu malam datang kalau begini jadinya!" Gadis berjubah merah cemberut. Kaki kanannya dihentakkan keras-keras di atas tanah pinggiran telaga. Tanah itu langsung longsor dan di bawah sana air telaga terlihat muncrat.

"Aku tanya. Mengapa kau ingin menemui orang bergelar Dewa Orok itu?" tanya si gadis masih dengan tampang cemberut.

"Apakah aku harus bercerita terus terang padanya? Apa dia bisa dipercaya...?" Si pemuda diam-diam membatin. Setelah merenung agak lama akhirnya dia berkata.

"Menurut orang yang kupercaya, dia memiliki rahasia yang bisa mengungkap di mana sebenarnya Kitab Hitam itu berada!"

"Bagaimana kalau akhirnya terbukti tempat itu sama dengan yang ditunjukkan si manusia Iblis di puncak bukit itu? Bukankah perjalanan kita sia-sia?!"

Si pemuda garuk-garuk lobang telinganya. "Apa kau yakin jurang di sebelah bukit itu memang tempat Kitab Hitam?!"

"Melihat tanda tandanya aku hampir yakin. Hanya kita terlambat datang dan seseorang telah mendahului kita!"

“Kau juga punya keyakinan kalau Kitab Hitam itu sebenarnya telah diambil oleh Iblis Rangkap Jiwa itu?”

"Mendengar ceritamu tempo hari, aku menduga begitu. Namun ada kejanggalan! Kalau Iblis Rangkap Jiwa benar-benar telah mengambil kitab itu, mengapa dia masih berada di puncak bukit? Padahal jika seseorang telah mendapatkan barang yang dicari, seharusnya dia cepat tinggalkan tempat itu! Dia seharusnya maklum, bagaimanapun juga kabar tentang Kitab Hitam itu lambat laun akan tersebar dalam rimba persilatan. Dengan begitu jiwanya akan terancam setiap saat!"

"Aku sekarang makin bingung.... Aku khawatir dugaanmu benar. Ada orang lain yang mengambil kitab itu! Lalu siapa...?!"

Untuk beberapa saat kedua orang ini sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Saat itulah mendadak sebuah benda bulat sebesar kepalan tangan melayang dan jatuh di tengah air telaga. Air telaga bergolak muncrat. Anehnya walau benda itu melayang pelan, akibat muncratannya laksana ditimpa benda besar! Malah walau gadis berjubah merah dan si pemuda cepat menghindar, muncratan air telaga tak urung mengenai mereka berdua! Hingga keduanya basah!

"Sialan! Siapa berani main air di tengah malam begini? Jelas ini bukan tidak disengaja! Ada anak manusia di sekitar tempat ini!" kata si gadis lalu putar kepalanya.

Si pemuda tidak menyahut ucapan si gadis. Namun melihat putaran kepalanya serta matanya yang jelalatan memandang berkeliling, dia membenarkan ucapan si gadis.

“Kau ke sana! Aku akan ke sana!" kata si pemuda sambil arahkan telunjuk jari tangannya ke arah berlawanan.

Kejap lain kedua orang ini te!ah berkelebat mengambil arah berlawanan. Sang pemuda ambil arah kiri, si gadis arah kanan. Tak berapa lama kemudian si pemuda sudah muncul di tempatnya semula dengan mata nyalang. Dia tidak menemukan siapa-siapa.

"Aku yakin. Lemparan tadi dilakukan seseorang! Lemparan itu bukan lemparan biasa! Hem.... Ke mana gadis sableng itu? Apa dia menemukan orang? Tapi mengapa suaranya tidak terdengar?!”

Si pemuda berpaling ke arah mana tadi si gadis berkelebat. Dia menunggu sesaat. Karena tidak ada tanda-tanda orang akan muncul dari arah itu, tak sabar si pemuda berteriak.

"Putri Sableng! Di mana kau? Apa kau menemukan seseorang?!"

Tidak terdengar suara jawaban. Si pemuda mulai tampak gelisah. Untuk kedua kalinya dia berteriak.

"Putri Sableng! Kau di mana?!"

Karena masih tidak ada suara jawaban, si pemuda berkelebat ke arah mana tadi gadis berjubah merah yang bukan lain adalah Putri Sableng berkelebat. Namun si pemuda serta-merta tahan gerakannya tatkala mendadak terdengar suara tawa cekikikan.

"Dasar gadis kurang ajar! Bikin dada orang deg-degan saja! Kalau tidak cantik mungkin sudah tidak kupedulikan!"

"Eh... Ada yang tidak beres!" wajah si pemuda kembali berubah tegang dan gelisah tatkala tiba-tiba suara tawa cekikikan terputus laksana dibetot setan. Tanpa herpikir panjang lagi, si pemuda berkelebat.

Pada satu tempat tidak jauh dari pinggiran telaga si pemuda hentikan larinya dengan sepasang mata mendelik dan dahi mengernyit. Sejarak lima langkah di hadapannya Putri Sableng tegak dengan kedua tangan ditangkapkan di depan dada. Sepasang matanya membuka memejam.

“Hei! Apa yang kau lakukan di sini?!" kata si pemuda.

"Monyet raksasa!" kata Putri Sableng sambil tunjuk ke satu arah.

Si pemuda arahkan pandangannya pada arah yang ditunjuk Putri Sableng. Pada satu tempat di bawah sebatang pohon, tampak satu sosok besar duduk bersandar punggung.

"Jangan-jangan dia!" gumam si pemuda setelah agak lama memperhatikan.

"Hai! Rupanya kau kenal monyet besar itu?!" tanya Putri Sableng.

"Jaga bicaramu!" kata si pemuda dengan suara agak keras. Kejap lain sosoknya melompat dan tegak tiga langkah di hadapan sosok besar di bawah pohon.

"Benar. Rupanya dia...!" desis si pemuda lalu perhatikan sekali lagi pada sosok di hadapannya.

Sosok besar itu ternyata adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Rambutnya panjang putih disanggul tinggi. Laki-laki mengenakan pakaian gombrong besar berwarna hijau. Pada perutnya tampak melingkar satu ikat pinggang besar yang di bagian depan perutnya terdapat sebuah cermin bulat. Kedua mata orang ini memejam rapat.

"Gendeng Panuntun!" seru si pemuda lalu melangkah mendekat.

"Hai! Kau pandai juga memberi nama monyet besar itu dengan Gendeng Panuntun. Apa dia gendeng betulan?" Putri Sableng berteriak.

Si pemuda hanya gelengkan kepala tanpa menyambuti teriakan Putri Sableng. Sementara begitu tidak mendapat sahutan, kembali Putri Sableng berteriak.

"Monyet besar yang kau beri nama Gendeng Paruntun itu berjenis laki-laki atau perempuan? Kulihat dia membawa cermin. Apa dia jenis monyet yang suka dandan? Hik Hik Hik...! Nyatanya bukan manusia saja yang ingin bergaya. Monyet sekarang pun mulai bisa pasang aksi! Apa dia bisa tari Topeng Monyet?!"

"Gadis sableng! Jangan bicara ngelantur tak karuan! Dia bukan monyet. Dia sahabatku! Kemarilah!"

"Apa?! Dia bukan monyet? Kalau bentuk seperti itu kau bilang bukan monyet, lalu bentuk monyet betulan bagaimana?! Hik Hik Hik...!"

Si pemuda hanya bisa gelengkan kepalanya berulang kali. "Mengajak gadis seperti dia nyatanya makin tambah merusak suasana!" gumamnya lalu menjura hormat pada sosok di hadapannya yang tidak lain Gendeng Panuntun adanya.

"Sobatku, Gendeng Panuntun. Harap maafkan ucapan sahabatku itu!"

Gendeng Panuntun buka kelopak sepasang matanya. Bola matanya yang putih sejenak mengerjap. Lalu terdengarlah ucapannya. "Anak muda.... Tak usah gelisah. Aku tidak apa-apa dikatakan monyet. Karena saat seperti sekarang ini, monyet kadang-kadang lebih manusia daripada makhluk yang bernama manusia! Aku gembira bisa jumpa kau lagi! Hem.... Siapa gadis cantik yang bersamamu itu? Kekasih...? Teman biasa...? Hati-hati, Anak Muda! Kalau dua orang berlainan jenis berada di tempat sepi begini, apalagi dekat telaga, orang ketiganya adalah nafsu! Aku percaya kau bisa menahan. Tapi temanmu itu?"

Meski ucapan manusia bermata putih pertanda dia buta ini perlahan, namun masih terdengar oleh Putri Sableng. Paras gadis ini seketika berubah merah padam. Namun justru yang selanjutnya terdengar adalah tawa cekikikannya. Kejap lain gadis ini berkelebat dan tegak di sebelah si pemuda.

Si pemuda berpaling, lalu sorongkan kepalanya berbisik. "Harap jangan bicara tak karuan! Dia sahabat baikku. Kita sekarang butuh keterangan darinya!"

Putri Sableng sesaat perhatikan Gendeng Panuntun. Lalu balik berbisik. "Kulihat matanya buta. Bagaimana kau mau minta keterangan padanya? Hik Hik Hik...! Jangan-jangan kau salah ucap! Atau barangkali pendengaranku yang keliru?!"

“Kau Ini aneh. Kau banyak mengenal tokoh-tokoh rimba persilatan. Tapi nyatanya kau tidak tahu kehebatan orang satu persatu!" bisik si pemuda.

"Jangan salah sangka. Aku mengenal mereka lewat cerita. Jadi bagaimana aku tahu kehebatan mereka Hik Hik Hik...! Orang buta ini tadi kau beri nama siapa?!"

"Bukan aku yang memberi nama. Sejak dulu namanya sudah Gendeng Panuntun!"

"Kalau kau dengar saranku, jangan minta keterangan padanya! Namanya saja Gendeng. Apa keterangannya nanti tidak malah lebih gendeng? Apalagi dia orang buta"

Meski si pemuda mulai tampak jengkel, namun akhirnya dia berkata lirih. "Tapi yang ini lain!"

“Lain bagaimana? Orang buta ya begitu itu matanya! Kalaupun dia beda dari orang buta lainnya, Itu hanya pada cermin bulatnya itu! Kau pernah tahu bagaimana kalau dia berkaca?!"

Mungkin tak dapat lagi menahan rasa jengkel, si pemuda mendelik dan berbisik. "Harap kau tidak usil! Jangan ikut bicara! Kalau kau ikut-ikutan nimbrung dan suasana kacau, kau nanti yang bertanggung jawab!"

"Hai.... Apa dia suka bikin kacau?!"

"Kau benar-benar gadis sableng!" sentak si pemuda.

"Tapi kau juga Joko Sableng!" si gadis balik membentak, membuat si pemuda yang tidak lain adalah murid Pendeta Sinting, Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng mendelik dengan dada menindih rasa jengkel.

"Hem.... Kalian ini berebut apa?" ujar Gendeng Panuntun.

Sebelum Joko buka mulut menjawab, Putri Sableng telah mendahului. "Kata temanku ini, meski kau telah kakek-kakek dan matamu tidak bisa melihat, tapi kau termasuk kakek-kakek sableng! Apa betul?!"

"Hem.... Aku mencium bau tembakau! Adakah di antara kalian berdua yang membawa tembakau?!" kata Gendeng Panuntun alihkan pembicaraan.

"Apa kubilang! Orang buta biasanya suka sok tahu! Kau dengar. Mana di antara kita yang membawa tembakau?!" bisik Putri Sableng lalu tertawa tertahan.

Murid Pendeta Sinting dekap mulut Putri Sableng dengan tangan kanannya. Lalu maju satu langkah tepat di hadapan si gadis hingga pandangan si gadis terhalangi. "Terus-terusan melayanimu bisa-bisa urusan tak kunjung selesai!" kata Joko lalu memandang pada Gendeng Panuntun dan berkata.

"Kita lupakan dahulu urusan tembakau! Aku sekarang perlu keteranganmu!"

"Aku hanya bisa memberimu satu keterangan. Kitab yang kau cari telah menjadi milik orang! Dia adalah seorang pemuda sebaya denganmu. Tanpa kau cari kelak dia akan mencarimu! Berhati-hatilah menghadapinya. Kitab ditangannya mengandung kekuatan luar biasa dahsyat..."

Untuk sesaat murid Pendeta Sinting jadi terdiam tergugu. Kepalanya silih berganti memandang pada Gendeng Panuntun lalu pada Putri Sableng yang kini telah maju dan tegak di sampingnya. Gendeng Panuntun perlahan-lahan bangkit. Kepalanya menghadap bergantian pada Joko dan Putri Saleng. Lalu tanpa buka suara lagi, kakek bertubuh besar Ini melangkah.

"Kek! Tunggu!" tahan Joko. "Siapa kira-kira pemuda itu?!"

"Saatnya nanti kau akan tahu! Silakan teruskan bersenang-senang. Seandainya saja perempuan cantik itu mau tunjukkan diri, aku mau menemani kalian bersenang-senang di sini! Sayang dia tak mau tunjukkan diri. Padahal kecantikannya tidak kalah dengan gadis berjubah merah kawanmu itu..."

Ucapan Gendeng Panuntun membuat murid Pendeta Sinting kerutkan dahi. Sebaliknya Putri Sableng tampak tenang-tenang saja. Malah mulutnya membuat gerakan mencibir.

"Monyet besar minta diri...” ujar Gendeng Panuntun.

Lalu sekali bergerak, tubuhnya telah berkelebat dan saat Joko dan Putri Sableng berpaling, sosok Gendeng Panuntun sudah melangkah jauh di depan sana. Kejap lain hanya kilatan-kilatan cahaya putih yang keluar dari cermin bulat si kakek yang terlihat sebelum akhirnya sirna.

"Ucapan kakek itu mengisyaratkan ada orang di sekitar tempat ini!" bisik Joko setelah Gendeng Panuntun lenyap.

"Apa perlunya menuruti ucapan orang gendeng! Lebih baik kita mencari tahu benar tidaknya ucapannya yang mengatakan Kitab Hitam telah jatuh pada seorang pemuda!' sahut Putri Sableng.

"Itu benar! Tapi kita harus juga tahu siapa adanya perempuan cantik yang dikatakan Gendeng Panuntun."

"Kalau itu maumu, silakan cari! Aku akan menunggu di sini!" ujar Putri Sableng dengan siratkan ketidak senangan.

"Kau cemburu karena orang itu dikatakan cantik?!"

Putri Sableng menatap pada murid Pendeta Sinting. Lalu tertawa cekikikan. "Pantaskah pemuda sableng sepertimu mendapat rasa cemburu? Hik Hik Hik...! Jangankan hanya mencari, kau berpelukan di hadapanku pun aku tidak akan cemburu!"

"Busyet! Dia benar-benar tidak ada rasa sama sekali padaku! Akan kubuktikan nanti ucapannya! Biasanya seorang perempuan pandai menutupi perasaannya!" Habis membatin begitu, murid Pendeta Sinting berkelebat. Bersamaan dengan itu sejarak lima tombak dari tempatnya Putri Sableng dan Joko tadi berada, satu sosok tubuh yang sedari tadi mengendap-endap membuat gerakan.

"Jangan bergerak dari tempatmu!" teriak Joko lalu arahkan pandangannya pada sosok tubuh yang mulai membuat gerakan seakan hendak berkelebat. Tapi orang yang diteriaki tidak hiraukan ucapan Joko Sebaliknya langsung berkelebat cepat.

"Hai! Tunggu!" Joko kembali berteriak. Lalu lipat gandakan ilmu peringan tubuh dan menyusul pada sosok yang berkelebat. Karena keadaan gelap dan murid Pendeta Sinting tidak mengetahui daerah di sekitar tempat itu, pada akhirnya Joko kehilangan jejak.

"Ucapan Gendeng Panuntun benar. Melihat sosoknya dia adalah seorang perempuan! Tapi mengapa dia mencuri dengar pembicaraan ini?" Joko terus berkata sendiri dalam hati seraya melangkah ke arah di mana Putri Sableng menunggu.

Krakkk!

Terdengar ranting diinjak orang. Joko cepat berpaling lalu berkelebat ke arah tempat terdengarnya suara. “Jangan harap kau bisa lolos! Tetap di tempatmu atau kuhantam!" ancam murid Pendeta Sinting berharap agar orang tidak berkelebat pergi.

Rupanya ancaman Joko berpengaruh. Karena murid Pendeta Sinting tidak melihat adanya sosok yang berkebat. Pendekar 131 hentikan langkah. Sepasang matanya menembusi kegelapan. Nalurinya mengatakan di situ ada orang. Murid Pendeta Sinting tidak berani berniat ayal. Dengan kerahkan tenaga dalam pada tangan kanannya dia berteriak.

"Keluarlah dari tempatmu!"

Tidak ada sahutan atau sosok yang terlihat. “Kau dengar ucapanku! Keluarlah!" kembali murid Pendeta Sinting berteriak.

"Aku malu... Aku takut..." Terdengar suara jawaban halus seorang perempuan.

"Kau tidak malu mencuri dengar pembicaraan orang! Kau tidak takut mengintip orang! Mengapa sekarang kau baru malu? Keluarlah!" seru Joko.

“Aku malu... Aku takut..." Kembali terdengar suara.

“Jangkrik! Jangan-jangan ini hantu perempuan..." Tengkuk murid Pendeta Sinting jadi merinding. "Makhluk bangsa hantu tidak mempan pukulan. Tapi Gendeng Panuntun mengatakan seorang perempuan. Bukan hantu!"

Ingat akan ucapan Gendeng Panuntun, kembali Joko berseru. "Kau tak usah malu. Tak perlu takut!"

"Kau tidak akan menghantamku, bukan?!" kata suara perempuan tadi.

"Aku hanya perlu tahu siapa kau dan apa tujuanmu!"

"Baiklah kalau hanya itu maumu..." kata suara perempuan. Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda munculnya seseorang, membuat Joko hendak berteriak lagi dan mulai jengkel.

Namun belum sampai suaranya terdengar, perlahanlahan semak belukar tujuh langkah di samping murid Pendeta Sinting bergerak-gerak. Murid Pendeta Sinting menunggu dengan mata terpentang. Meski dia tidak angkat tangannya, namun diam-diam telah kerahkan tenaga dalam. Semak belukar bergerak menyibak. Lalu tampaklah satu sosok tubuh!

Murid Pendeta Sinting makin pentangkan matanya. Rahangnya mengambung dengan mulut komat-kamit. Saat lain terdengar dia memaki-maki lalu hentakkan kaki. Bersamaan dengan itu satu sosok tubuh yang baru keluar dari arah semak belukar buka mulut. Bukan perdengarkan suara, melainkan tertawa cekikikan! Ternyata orang ini adalah seorang perempuan muda berparas cantik mengenakan jubah merah dan bukan lain adalah Putri Sableng.

“Kau bercanda tidak ada juntrungan!" maki Joko seraya balikkan tubuh.

“Siapa bercanda? Aku juga mencari perempuan itu tapi juga kehilangan jejak! Hik Hik Hik...!"

“Tapi caramu! Mengapa berbuat begitu?!"

“Salahmu sendiri. Kau terlalu terbawa perasaan!" Putri Sableng seenaknya saja.

“Kepalaku bisa pecah kalau terus-terusan bersamamu” kata murid Pendeta Sinting lalu berkelebat.

“Tunggu!" seru Putri Sableng seraya ikut berkelebat.

“Ingat, sekali lagi kau bercanda tidak pada tempatnya aku tak akan berhubungan lagi denganmu!" ancam Joko begitu Putri Sableng berlari di sampingnya. Yang diancam tidak menyahut. Dia hanya tersenyum-senyum.

********************

BAB 4

LAKI-LAKI mengenakan pakaian hitam-hitam yang raut wajahnya sukar dikenali karena tertutup oleh sebagian caping lebarnya itu melangkah pelan-pelan dengan tubuh sedikit terbungkuk. Pada satu tempat mendadak dia hentikan langkahnya. Sejurus kepalanya menghadap lurus ke depan. Lalu kembali tertunduk. Bersamaan itu kakinya kembali melangkah.

"Hem... Ada orang dari sebelah depan..." gumam si laki-laki bercaping lebar seraya terus melangkah dengan kepala menunduk hingga raut wajahnya makin sulit dikenali.

Baru saja enam langkah, dari arah depan sana tampak satu sosok tubuh berkelebat cepat. Laki-laki bercaping lebar angkat kepalanya. Mungkin pandangannya terhalangi, tangan kanannya bergerak. Caping lebar bagian depan sedikit terangkat.

"Hem... Rasanya aku pernah jumpa dengan orang ini?" desis laki-laki bercaping lalu tarik pulang tangan kanannya hingga caping lebarnya kembali menutup sebagian raut wajahnya.

Sementara orang yang berlari dari arah depan seakan tidak hiraukan si laki-laki. Dia terus berkelebat dan melewati laki-laki bercaping tanpa berpaling.

"Tampaknya kau terburu-buru. Apa ada urusan sangat penting?" si laki-laki bercaping perdengarkan suara begitu sosok yang berkelebat dari arah depan melewatinya.

Mendengar ucapan orang, sosok yang berkelebat berhenti. Lalu tanpa berpaling dia berkata. “Ada atau tidak ada urusan apa pedulimu?!" laki-laki bercaping putar diri. Kepalanya sedikit ditengadahkan agar pandangan matanya tidak terhalang bagian depan capingnya.

“Hem... Bentuk tubuhnya boleh juga! Aku yakin memang pernah menjumpainya. Tapi di mana?"

Lakilaki bercaping lebar berpikir sejenak mengingat-ingat. Sesaat kemudian dia terlihat angguk-anggukkan kepalanya. Lalu berkata sambil tundukkan kepala.

“Memang tak ada pedulinya! Tapi siapa tahu aku bisa membantu?"

Orang di hadapan laki-laki bercaping perdengarkan dengusan pelan. Lalu berujar. Suaranya jelas bernada meremehkan.

“Orang sepertimu, apa yang bisa kau lakukan untukku?”

“Aku tadi bilang, siapa tahu. Semuanya nanti bergantung urusan dan imbalan. Kalau cocok mengapa tidak...?"

“Hem... Begitu? Siapa kau...?!"

Laki-laki bercaping perdengarkan suara tawa pelan “soal aku, itu urusan belakangan! Yang jelas aku tahu siapa kau adanya..."

Orang di hadapan laki-laki bercaping lebar balikan tubuh menghadap. Ternyata dia adalah seorang perempuan berwajah cantik meski usianya tidak muda. Mengenakan pakaian warna biru ketat dan tipis. Pada bagian dadanya dibuat rendah hingga sembulan sepasang payudaranya yang membusung padat terlihat jelas. Rambutnya panjang bergerai dengan bulu mata lentik dan hidung sedikit mancung. Bibirnya merah membentuk bagus.

Si perempuan berpakaian biru sesaat perhatikan orang di hadapannya dengan sepasang mata tak berkesip. Namun karena laki-laki di depannya sengaja masukkan capingnya dalam-dalam pada kepalanya, si perempuan tidak bisa mengenali dengan jelas paras wajah orang. Yang tampak adalah bagian hidung ke bawah. Si perempuan buka mulut. Tapi si laki-laki bercaping sudah mendahului berkata.

"Bukankah kau Ratu Pemikat...?!"

Perempuan di hadapan laki-laki bercaping yang memang Ratu Pemikat adanya kerutkan dahi. Diam-diam dia berkata dalam hati. "Melihat potongannya memang mirip seorang kakek-kakek. Tapi bagian bawah wajahnya jelas menunjukkan kalau usianya masih muda. Siapa dia? Kalau dia mengenalku, pasti dia dari kalangan orang persilatan. Hem... Tak ada salahnya memang sedikit bertanya jawab dengannya. Siapa tahu dia mengetahui urusan yang sedang kuhadapi! Ucapan Gendeng Panuntun di dekat telaga malam itu membuat ku kembali agak bingung. Dia mengatakan Kitab Hitam telah dimiliki orang. Herannya orang itu masih sebaya dengan Pendekar 131. Berarti kitab itu telah jatuh ke tangan seorang pemuda! Sayangnya dia tidak mengatakan siapa adanya pemuda yang telah memiliki Kitab Hitam itu! Padahal aku yakin Gendeng Panuntun tahu siapa pemuda itu. Dan ucapannya pasti benar! Kalau saja Gendeng Panuntun mudah ditaklukkan, aku akan mengorek keterangan dari mulutnya. Untungnya malam itu aku selamat dari kejaran Pendekar 131 dan gadis berjubah merah. Kalau tidak..."

“Kurasa urusanmu sangat penting. Kulihat kau melamun dan bergumam sendiri!" Laki-laki bercaping lebar putuskan kata hati Ratu Pemikat.

"Ah... Urusanku tidaklah begitu penting! Dan aku bersyukur kau telah mengenaliku..." kata Ratu Pemikat.

“Hem... Aku juga bersyukur kalau urusanmu tidak penting, berarti kau tidak memerlukan bantuan orang lain. Hanya kalau sudi, mau jawab tanyaku...?!"

Ratu Pemikat tertawa panjang. "Kau ini aneh. Kau tadi yang tawarkan bantuan. Sekarang kau yang hendak bertanya!"

"Tapi pertanyaanku mungkin masih ada hubungannya denganmu!"

Ratu Pemikat kembali pandangi orang dengan lebih seksama. "Rupanya dia tahu banyak dengan diriku!“ katanya dalam hati. Lalu berkata.

“Sebenarnya aku tak mau jawab pertanyaanmu, tapii akan kudengar dahulu apa yang akan kau tanyakan...“

“Bagaimana akhir dari peristiwa di Pulau Biru?!" tanya laki-laki bercaping.

Sepasang kaki Ratu Pemikat tampak bergerak mundur setengah tindak. Pertanyaan orang membuat hatinya tidak enak dan berdebar-debar. “Siapa kau sebenarnya?!" tanya Ratu Pemikat setelah dapat kuasai diri.

"Itu urusan mudah dan bisa ditangguhkan..."

“Hem... Peristiwa di Pulau Biru hanya beberapa orang yang tahu. Kalau dia sampai tahu peristiwa itu, janganjangan dia salah satu orang yang ada di sana sewaktu peristiwa itu! Tapi siapa..."

Mungkin tak bisa memperoleh jawaban, akhirnya Ratu Pemikat bertanya. "Apa kau salah seorang yang hadir di Pulau Biru itu?!"

Laki-laki bercaping tidak menjawab. Sebaliknya dia malahh ajukan tanya lagi. “Bagaimana kau bisa selamat dari Pulau Biru?!"

"Aku tahu bagaimana caranya lolos! Dan aku tak tahu bagaimana kelanjutan peristiwa itu! Yang jelas, Kitab Serat Biru telah jatuh ke tangan..."

"Pendekar 131!" sahut laki-laki bercaping.

"Hem... Kau ternyata banyak tahu juga. Apa kau juga sudah tahu kalau sebuah kitab lagi jatuh juga ke tangannya?!"

"Kudengar dia memang telah mendapat sebuah kitab dengan adanya peristiwa Tengkorak Berdarah!" kata laki-laki bercaping.

"Ah... Melihat kau tahu banyak seluk beluk orangorang rimba persilatan, pasti kau seorang tokoh dunia persilatan. Mendengar kau tahu tentang Pendekar 131 jangan-jangan kau masih sahabatnya..."

Bibir laki-laki bercaping sunggingkan senyum aneh. "Benar! Aku memang sahabatnya. Seorang sahabat yang akan mengantar nyawanya masuk liang lahat”

Paras wajah Ratu Pemikat tampak berubah. Namun diam-diam perempuan bertubuh bahenol berwajah cantik ini merasa lega. "Kalau dia tahu banyak, tentu orang ini memiliki kepandaian tinggi! Lebih dari itu dia rupanya punya dendam..."

"Kau punya urusan silang sengketa dengan pemuda itu?!" tanya Ratu Pemikat.

"Bukan hanya dengan dia! Siapa pun yang coba-coba menjamahnya berarti berani berurusan denganku. Karena dia telah memotong dendamku!"

Mendengar ucapan laki-laki bercaping, Ratu Pemikat tersenyum. "Apa kau siap menghadapinya? Dengan kedua kitab sakti di tangannya, Pendekar 131 bukan manusia yang mudah dikalahkan..."

Rahang laki-laki bercaping terlihat terangkat. Tubuhnya sedikit bergetar. "Berapa pun kitab di tangannya, bukan menjadi hal yang membuatku takut. Aku punya kekuatan untuk membunuhnya sebanyak nyawa yang dia miliki!"

"Hem... Aku akan terus memancingnya... Mudah mudahan ini ada hubungannya dengan Kitab Hitam..." Ratu Pemikat membatin lalu berkata.

"Siapa pun boleh berkata seperti apa yang kau kakatakan. Tapi menurut apa yang pernah kudengar, kekuatan apa pun yang dimiliki orang, dia tak akan bisa mengalahkan Pendekar 131 kecuali..." Ratu Pemikat sengaja memutus ucapannya.

Laki-laki bercaping tidak menyahut. Dia hanya tersenyum. Ratu Pemikat sejurus memandang lalu lanjutkan ucapannya. "Kecuali kalau orang itu membekal sebuah kitab sakti!"

Laki-laki bercaping masih tetap kancingkan mulut. Malah sejenak kemudian kepalanya berpaling sedikit ke samping kanan.

"Apa kau telah membekal kitab sakti itu?!"

“Aku lebih tahu bagaimana cara membunuh Pendekar 131!"

Ratu Pemikat tertawa panjang hingga dadanya berguncang. "Kau boleh memiliki seribu satu cara. Tapi jangan harap kau bisa lampiaskan dendammu!"

Kini laki-laki bercaping yang perdengarkan tawa panjang bergelak. "Dengar, Ratu Pemikat! Aku hanya punya satu cara untuk membunuh Pendekar 131!"

"Mau tunjukkan bagaimana caramu itu?!"

Laki-laki bercaping tidak menjawab. Namun bersamaan itu sosoknya bergerak memutar memunggungi Ratu Pemikat. Tangan kanannya bergerak setinggi dada lalu mengusap dadanya. Terdengar deruan perlahan. Ratu Pemikat tampak sunggingkan senyum mengejek. Karena bersamaan dengan terdengarnya suara deruan, tidak terlihat adanya gelombang atau sinar yang melesat. Namun senyum Ratu Pemikat terputus. Kepalanya tersentak memandang ke depan dengan mata melotot.

Di depan sana, laksana dihantam kekuatan luar biasa dahsyat, pohon yang tegak berjajar langsung berderak tumbang dan mencelat mental sampai dua tombak dengan berubah jadi serpihan hitam tatkala kembali bertabur di atas tanah! Tanah di sekitar pohon yang mental porak-poranda dan semburat membubung ke udara!

"Luar biasa. Bagaimana dia keluarkan ilmu tadi. Kulihat dia hanya gerakkan tangan kanan. Tapi apakah mungkin dia dapat mengalahkan Pendekar 131?" Ratu Pemikat pandangi bagian belakang sosok laki-laki bercaping.

Laki-laki bercaping sendiri terdengar mendengus pelan. Lalu balikkan tubuh. Sesaat kepalanya menghadap lurus pada Ratu Pemikat. Bersamaan itu kedua tangannya bergerak ke atas. Perlahan-lahan kedua tangannya membuka kancing pakaiannya. Sepasang mata Ratu Pemikat terbelalak besar-besar tatkala bagian atas pakaian laki-laki bercaping lebar terbuka.

"Sebuah kitab!" desis Ratu Pemikat. "Apakah itu Kitab Hitam yang tengah dicari Pendekar 131? Warnanya memang hitam. Tapi apa benar itu Kitab Hitam?!"

Sambil tersenyum aneh, laki-laki bercaping lebar kancingkan kembali pakaiannya. "Apa kau kira Pendekar 131 masih sanggup pertahankan nyawanya?!"

"Aku baru bisa memastikan jawaban kalau kau jawab dulu pertanyaanku. Apakah kitab itu Kitab Hitam?!”

“Dari warnanya kurasa kau tidak usah ajukan tanya” ujar laki-laki bercaping.

“Hem... Warna bisa sama, tapi kadang kala isinya berbeda! Aku tanya lagi. Apa kau pernah mengenal serang tokoh bergelar Iblis Rangkap Jiwa?!"

“Hem... Perempuan ini rupanya tahu hubungan kitab ini dengan iblis Rangkap Jiwa. Iblis Rangkap Jiwa telah menjadi budakku. Aku ingin perempuan ini jadi budakku sekaligus gundikku..." membatin laki-laki bercaping. Lalu berkata.

“Aku bukan hanya mengenal Iblis Rangkap Jiwa, tapi dia adalah pembantuku! Termasuk seorang tokoh lagi yang bergelar Cucu Dewa!"

Ratu Pemikat tampak sedikit terlonjak mendengar jawaban laki-laki bercaping. "Dia telah mengenal tokoh-tokoh yang ada hubungannya dengan Kitab Hitam. Berarti kitab di dadanya itu Kitab Hitam! Hem... Aku harus dapat merebutnya..."

Setelah berpikir begitu Ratu Pemikat tampak tengadahkan sedikit kepalanya hingga lehernya yang panjang dan putih terlihat. “Kau rupanya seorang yang beruntung. Kurasa kau kini dapat membalaskan dendammu pada Pendekar 131. Tapi kuharap kau memberiku kesempatan... seperti halnya kau, aku juga punya dendam pada dia!"

“Aku sudah katakan, siapa pun yang berani menjamah pendekar 131 berarti berani menghadapiku!"

“Aku tahu. Aku tidak menginginkan nyawa Pendekar 131 kalau kau telah menginginkannya. Tapi setidaknya aku dapat melunaskan sakit hati ini!"

Laki-laki bercaping lebar tertawa bergelak panjang mendengar ucapan Ratu Pemikat. "Kau tadi mengatakan tidak ada orang yang bisa mengalahkan Pendekar 131 kecuali orang itu berbekal kitab sakti. Sekarang aku tanya padamu. Apa kau juga telah membekal kitab sakti?!"

Mendengar pertanyaan laki-laki bercaping, Ratu Pemikat tampak terkejut. Perempuan ini lalu gelengkan kepala dan berujar. "Hal itulah yang membuatku pusing! Aku tak membekal apa-apa, padahal dadaku penuh dengan bara dendam! Seandainya kau mau baik hati padaku, aku mau juga jadi pembantumu!"

"Berbaik hati bagaimana maksudmu?!" tanya laki-laki bercaping.

"Sisakan sedikit nyawanya untukku!"

"Hem... Urusan itu mudah, asal imbalannya pantas!"

"Asal ucapanmu benar, imbalan apa yang kau minta akan kuturuti!" kata Ratu Pemikat dengan sedikit busungkan dadanya. Perempuan ini tampaknya maklum ke mana arah ucapan laki-laki bercaping. Ratu Pemikat maju satu langkah.

"Selain itu, aku juga ingin tahu siapa kau sebenarnya..."

Tanpa buka suara, laki-laki bercaping gerakkan tangan kanan. Perlahan-lahan caping lebarnya diangkat tinggitinggi ke atas, hingga kini tampak jelaslah wajahnya. Sesaat Ratu Pemikat perhatikan wajah orang dengan mata tak berkesip. Dahinya berkerut.

"Aku yakin pernah bertemu dengan pemuda ini! Tapi aku lupa dimana! Ah... Bukankah dia tadi sebut-sebut peristiwa Pulau Biru? Astaga! Kalau tidak salah bukankah dia pemuda yang ikut hadir di Pulau Biru yang bergelar Malaikat Penggali Kubur?!" (Tentang peristiwa di Pulau Biru, silakan baca serial Joko Sableng dalam episode: Neraka Pulau Biru)

Laki-laki yang tadi mengenakan caping lebar dan tak lain adalah Malaikat Penggali Kubur sunggingkan senyum aneh. Sepasang matanya menatap tajam belahan dada Ratu Pemikat.

“Kau telah tahu siapa diriku! Apa ada syarat lagi yang hendak kau ajukan?!" tanya Malaikat Penggali Kubur.

Ratu Pemikat tidak menjawab, sebaliknya ajukan tanya balik. “Imbalan apa yang kau inginkan dariku?"

Malaikat Penggali Kubur membuat gerakan satu kali tahu-tahu sosoknya telah tegak di depan Ratu Pemikat. “Aku inginkan dirimu!" kata Malaikat Penggali Kubur pada saat yang sama, kedua tangan pemuda murid Bayu Bajra ini telah bergerak ke depan merengkuh sosok Ratu Pemikat.

Ratu Pemikat tidak berusaha menolak. Malah dia sengaja tengadahkan kepala dengan mata sedikit dipejamkan dan bibir sedikit membuka perdengarkan keluhan pendek. Namun perempuan ini segera menjerit kecil tatkala Malaikat Penggali Kubur menggigit lehernya. Sikap dan jeritan kecil Ratu Pemikat membuat Malaikat Penggali Kubur makin bergelora. Dengan tak sabar kedua tangannya bergerak lepaskan kancing pakaian Ratu Pemikat. Kejap lain sepasang mata pemuda itu terpentang besar tatkala melihat dua buah payudara putih padat. Malaikat Penggali Kubur cepat tekapkan wajahnya ke dada Ratu Pemikat.

Ratu Pemikat tampak pejamkan sepasang matanya. Perlahan-lahan dia menggeliat sambil tarik kedua lengannya ke atas. Kedua tangannya lalu bergerak mengusap tengkuk Malaikat Penggali Kubur. Mendadak Ratu Pemikat membuat gerakan menggeliat sekali lagi. Bersamaan dengan itu laksana kilat kedua tangannya terangkat ke atas dan langsung dihujamkan bagian bawah ketiak Malaikat Penggali Kubur lakukan sebuah Totokan.

Seujung jari lagi totokan Ratu Pemikat bersarang di bagian bawah ketiak Malaikat Penggali Kubur, tiba-tiba perempuan ini berseru tertahan. Sekuat tenaga dia teruskan totokannya namun sia-sia. Malah di lain saat tubuhnya tegang kaku!

Malaikat Penggali Kubur tarik pulang kepalannya dari dada Ratu Pemikat. Sepasang matanya berkiiat-kilat. Rahangnya mengembung besar. Dari hidungnnya keluar dengusan keras.

"Jangan harap bisa mengelabuiku, Perempuan Sundal! Kau salah besar jika menduga Malaikat Penggali Kubur tidak tahu apa yang ada dalam benakmu!"

Ratu Pemikat rasakan nyawanya melayang. Paras wajahnya laksana tidak berdarah. Sepasang matanya mendelik besar membayangkan rasa takut. Dengan suara bergetar akhirnya dia berkata. "Kuharap kau memberi ampun padaku. Beri kesempatan padaku sampai aku dapat membalas sakti hati ini pada Pendekar 131. Apa yang kau katakan akan kulakukan..."

Malaikat Penggali Kubur menyeringai. "Turutkan hati, aku bisa saja membuatmu mampus saat ini. Tapi, Aku masih memberi ampun padamu. Tapi ingat! Ini hanya berlaku satu kali! Sekali lagi kau membuat tindakan bodoh, tubuhmu akan kukuliti dahulu sebelum mampus! Kau dengar?!"

"Aku dengar..."

"Bagus! Kau telah berkata akan lakukan apa yang kukatakan. Dengar apa yang kukatakan! Kau harus menyelidiki di mana Pendekar 131. Atur satu pertemuan denganku! Kau juga harus hubungi beberapa orang yang akan kusebutkan nanti. Jangan sekali-kali jamah dua kitab di tangan Pendekar 131!"

Meski dalam hati masih ragu akan dapat lakukan yang dikatakan Malaikat Penggali Kubur, namun karena jiwanya dalam keadaan tidak berdaya, terpaksa Ratu Pemikat! berkata. “Aku akan berusaha lakukan semua itu..."

”Jahanam! Jangan berusaha! Kau harus berhasil! keselamatan nyawamu tergantung berhasilnya tugasmu atau tidak! Soal caranya aku tak mau tahu. Dan aku yakin kau lebih tahu urusan itu!"

“Tugas ini adalah tugas berat. Harap kau memberiku waktu agak panjang..." ujar Ratu Pemikat dengan rasa masih tampak ketakutan.

“Aku yang atur semua ini! Jangan membantah! Kau harus berhasil mengatur pertemuan pada bulan purnama depan! Kau masih punya waktu satu purnama!"

“Baiklah... Sekarang bebaskan aku..." pinta Ratu Pemikat.

“Kata-kataku belum selesai!" bentak Malaikat Penggali Kubur. "Tiga hari di depan kau harus pergi ke puncak Bukit Selamangleng! Temui Iblis Rangkap Jiwa. Kalau tugas yang kuberikan padanya gagal, tugas itu juga menjadi tugas kalian berdua!"

Paras wajah Ratu Pemikat membayangkan ketakutan. Dengan suara tambah gemetar dia berkata. “Bagaimana aku harus menemuinya? Aku tidak kenal dengannya! Kalau dia tidak percaya?!"

Malaikat Penggali Kubur tertawa bergelak. "Itu urusanmu! Kalau kau sampai tewas di tangan manusia iblis Itu, berarti nyawamu memang ditakdirkan di tangan Iblis Rangkap Jiwa!"

Ratu Pemikat menggumam tak jelas. Sementara sepasang mata Malaikat Penggali Kubur beralih pandangi sepasang payudara Ratu Pemikat yang terbuka. Dada pemuda ini kembali bergemuruh. Malaikat Penggali Kubur maju satu langkah. Tanpa buka mulut, kedua tangannya bergerak.

Breettt!

Pakaian Ratu Pemikat robek hingga bagian dada sampai perutnya terbuka. Ratu Pemikat coba kerahkan tenaga dalam untuk bebaskan diri. Namun tak berhasil. Sementara Malaikat Penggali Kubur perdengarkan tawa pelan bahkan hampir tidak terdengar karena tenggelam dalam suara dengusan napasnya. Malaikat Penggali Kubur putar kepalanya sejenak. Lalu berujar.

"Aku tahu tempat yang enak untuk bersuka ria. Ha Ha Ha...! Dua hari dua malam kau harus layani aku dulu! Setelah itu kau boleh pergi lakukan yang kukatakan...!"

"Aku sudah katakan akan lakukan apa yang kau katakan. Berapa pun malam yang kau inginkan aku akan melayanimu! Tapi bebaskan aku dahulu..."

Plaaakk!

Satu tamparan mendarat di pipi kanan Ratu Pemikat hingga kepala perempuan bertubuh bahenol itu tersentak sedikit ke samping.

"Jangan berani memberi perintah pada Malaikat Penggali Kubur! Aku ingin bersuka ria dengan caraku sendiri!"

Ratu Pemikat gigit bibirnya yang kucurkan darah. Dalam hati perempuan ini memaki-maki. "Kelak kau akan rasakan pembalasanku, Jahanam! Sekarang kau menang dan bisa lakukan apa yang kau inginkan...."

Malaikat Penggali Kubur sorongkan wajahnya ke dada Ratu Pemikat. Namun cuma sekejap. Di lain saat kedua tangannya bergerak. Tahu-tahu sosok Ratu Pemikat telah berada di atas pundak kirinya. Malaikat Penggali Kubur putar diri. Lalu berkelebat dengan tertawa bergelak.

Bersamaan dengan berkebatnya tubuh, tangan kanannya bergerak ke atas. Ratu Pemikat tidak berani buka mulut meski hatinya terus menyumpah-nyumpah, karena tangan Malaikat Penggali Kubur menarik pakaiannya hingga robek disana-sini. Ketika memasuki sebuah goa sepi, tidak selembar kain pun yang tersisa menutupi sosok Ratu Pemikat!

********************

BAB 5

PENDEKAR 131 melangkah berjingkat seraya masukkan jari kelingking ke lobang telinganya. Sepasang matanya terpejam membuka. Kepalanya sedikit tengleng ke kanan.

"Begitu gadis sableng itu minggat, rasanya hilang beban di dada ini. Jalan bersama gadis cantik bukannya gembira yang kudapat, melainkan perasaan khawatir dan dongkol! Tahu begini jadinya, aku tidak akan mengajaknya dalam urusan pelik ini! Tapi bagaimana hendak dikata. Semuanya sudah telanjur. Siapa sebenarnya gadis sableng itu. Setiap kali kutanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan seolah tak ingin diketahui siapa dirinya. Hanya aku menduga, dia bukan gadis yang punya niat jahat meski selama ini dia tak mengatakan apa maksudnya ikut-ikutan menyelidik Kitab Hitam. Mudah-mudahan dugaanku tidak meleset. Tapi kalaupun meleset, apa artinya? Kitab Hitam menurut Gendeng Panuntun sudah didapat oleh seorang pemuda! Hem... Bagaimanapun juga aku harus segera mencari siapa pemuda yang berhasil mendapatkan kitab itu!"

Murid Pendeta Sinting hentikan langkahnya saat di depan sana terlihat sebuah kedai makan agak besar. Tangannya yang terangkat segera bergerak dan kini mengusap perutnya. Sambil bergumam dia teruskan langkah menuju arah kedai. Belum sampai langkahnya menginjak halaman kedai, mendadak dia berhenti. Sepasang matanya mendelik dengan dahi berkerut.

Dari arah sebelah kedai terlihat seorang pemuda berwajah tampan melangkah. Yang menarik perhatian, pemuda ini tidak memiliki kedua tangan alias buntung dan pada mulutnya tampak sebuah bundaran karet yang dikulum.

Pemuda bertangan buntung ini sejurus memandang pada murid Pendeta Sinting yang tegak di sebelah depan sana. Namun cuma sekejap. Seolah tak acuh dia berpaling lalu teruskan langkahnya menuju halaman kedai. Tepat di pintu masuk kedai, si pemuda bertangan buntung hentikan langkahnya. Memandang sejenak ke dalam kedai.

Seorang berusia lanjut tampak longokkan kepala dari dalam kedai, lalu mengangguk dengan bibir tersenyum. Si pemuda tidak balas anggukan orang yang rupanya adalah pemilik kedai. Melainkan putar diri lalu teruskan langkah menjauh!

"Ah... Kenapa aku bodoh betul! Orang tak punya tangan begitu aku harapkan makan di sini! Bagaimana ia akan menyuap nasi...?" Orang tua pemilik kedai gelengkan kepala lalu hendak melangkah masuk. Namun langkahnya tertahan tatkala dilihatnya seorang pemuda lain lewat dan tegak di pintu kedai.

Lagi-lagi orang tua pemilik kedai anggukkan kepala dengan pasang senyum. Tapi orang tua ini kembali gelengkan kepala tatkala orang muda yang diharapkan masuk kedainya hanya memandang lalu melangkah pergi!

"Kalau yang tadi aku maklum. Tapi pemuda yang barusan kulihat memiliki kedua tangan utuh. Pasti dia tidak berbekal uang? Dasar pemuda bengal. Hanya bisa jual tampang tapi kartong kosong!" Orang tua pemilik kedai mengomel sendiri lalu berpaling. Mendadak orang tua ini terperanjat.

"Ke mana pemuda itu tadi?!" Penasaran karena pemuda yang baru tegak di depan pintu kedainya telah lenyap, orang tua ini segera bergegas ke halaman kedai. Sepasang matanya yang kelabu dipelototkan besar-besar memandang ke jurusan timur arah mana dilihatnya si pemuda bertangan buntung dan pemuda satunya melangkah pergi. Namun orang tua ini tidak melihat siapa-siapa.

"Heran... Keduanya lenyap laksana ditelan bumi! Jangan-jangan-kedua pemuda itu hantu.. tapi..." Orang tua pemilik kedai tengadahkan kepala. "Apa mungkin hantu keluar di siang bolong begini? Ah. Jangan-jangan manusia jadi-jadian!" Orang tua ini rasakan tengkuknya dingin. Kedua kakinya gemetar. Tanpa pikir panjang lagi dia segera bergegas dan masuk kedai dengan tubuh sedikit menggigil.

Pendekar 131 terus berkelebat. "Aku yakin dia tadi Dewa Orok! Dan aku juga percaya dia tadi telah melihatku! Yang kuherankan mengapa dia seolah tidak mengenaliku? Dan rupanya dia maklum kalau kuikuti! Dia langsung lari begitu saja laksana melihat setan!"

Sampai di tempat agak sepi, murid Pendeta Sinting hentikan larinya. Dia mendengar suara duutt! Duttt! beberapa kali. Dia cepat berpaling ke kanan dari arah mana suara terdengar. Sekali lompat, murid Pendeta Sinting telah tegak sepuluh langkah di hadapan pemuda bertangan buntung yang mulutnya membuat gerakan menyedot hingga terdengar suara duuuttt! Duuuttt! Duuuttt!

"Mengapa kau mengikutiku, Anak Muda?! Apa ada yang aneh?!" si pemuda bertangan buntung yang tidak lain adakah Dewa Orok adanya telah buka mulut setelah semburkan bundaran karet di mulutnya. Bundaran karet mirip dot bayi itu mengapung berputar-putar di udara.

“Aku mencarimu! Ada hal penting yang harus kau ketahui!" ujar murid Pendeta Sinting lalu melangkah mendekat.

“Tetap di tempatmu, Anak Muda!" sentak Dewa Orok. "Jangan berani bergerak langkahkan kaki!"

“Aneh... Kita sudah saling kenal dan bersahabat! Malah aku telah berbaik hati padamu memberikan apa..."

Belum sampai ucapan murid Pendeta Sinting selesai, Dewa Orok telah memotong. "Aneh... Kapan kita saling berkenalan dan bersahabat? Apa yang pernah kau berikan padaku?! Jangan berani berkata telah menanam budi pada orang!"

"Aku Joko! Joko Sableng...! Kau lupa?!" kata murid Pendeta Sinting seraya tunjuk dadanya sendiri.

"Aku tidak tanya namamu! Aku tanya kapan kita berkenalan. Apa yang pernah kau berikan padaku?!"

"Kau ingat peristiwa Tengkorak Berdarah?! Di sana aku memberikan sebuah mahkota bersusun tiga padamu!"

"Jangan sembarangan bicara! Itu barang milikku!"

"Benar. Tapi aku yang telah menemukan dan memberikannya padamu!"

"Ah...." Dewa Orok berseru seraya gelengkan kepala seolah orang baru Ingat. Murid Pendeta Sinting tersenyum lalu melangkah maju

"Kubilang tetap di tempatmu!" Mendadak Dewa Orok perdengarkan bentakan membuat Joko hentikan kakinya mengapung di atas udara.

"Apa yang hendak kau beritahukan padaku" Dewa Orok bertanya.

Mungkin agak mulai jengkel melihat sikap orang, kaki yang terapung hendak melangkah dihentakkan keras. Dengan sepasang mata sedikit dipentangkan murid Pendeta Sinting berkata dengan suara agak keras.

"Di dalam mahkota bersusun tiga itu ada sebuah rahasia besar!"

"Sebagai pemilik barang, aku lebih tahu darimu! Aku tanya padamu, apa kau telah mendapatkan kitab itu?!"

"Hem.... Berarti orang ini telah mengetahui rahasia kitab yang tersimpan di mahkota miliknya! Gendeng Panuntun mengatakan kitab Itu telah jatuh ke tangan seorang pemuda. Sementara pemuda ini telah mengetahuinya terlebih dahulu dari mahkota yang dikatakan miliknya. Jangan-jangan dia yang telah mendapatkan kitab itu..."

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting segera berujar. "Kau teiah mengetahui rahasia itu sebelum aku. Mengapa kau tanya aku?!"

Dewa Orok sunggingkan senyum. "Kau telah mendahuluiku mengetahui di mana beradanya mahkota dan kitab bersampul kuning! Siapa tahu kau juga telah mendahului mengambil kitab itu?! Bukankah kau telah sampai puncak Bukit Selamangleng?! Lebih dari itu kau telah mengalahkan Iblis Rangkap Jiwa yang pasti telah tunjukkan di mana kitab itu berada"

Pendekar 131 terkejut mendapati Dewa Orok tahu apa yang telah terjadi. Hal itu menambah kuat dugaannya kalau Dewa Orok telah berhasil mendapatkan kitab itu.

"Dewa Orok! Aku memang telah sampai tempat yang ditunjuk Iblis Rangkap Jiwa. Tapi ada seseorang yang mendahuluiku! Sementara kau tahu rahasia dalam mahkota..." Pendekar 131 hentikan sejenak ucapannya seraya berpaling. Lalu melanjutkan. "Kuharap kau rela memberikannya padaku! Jangan salah sangka, aku tidak ingin memilikinya. Kitab itu harus dimusnahkan!”

“Pendekar 131! Aku memang mengetahui rahasia dalam mahkota. Tapi aku terlambat! Sementara kau telah mendahului ke puncak Bukit Selamangleng...." Seperti halnya sikap murid Pendeta Sinting, Dewa Orok sejenak hentikan ucapannya. Lalu ikut-ikutan berpaling. Lalu lanjutkan ucapannya. "Kau musnahkan atau tidak itu urusanmu! Karena apa yang hendak kau musnahkan ada di tanganmu!"

"Kau pandai memutar balik urusan!" sentak murid Pendeta Sinting.

"Kau pandai memutar balik lidah!" Dewa Orok balas menghardik.

"Aku yang akan memutar balik kepala kalian berdua!" Satu suara sekonyong-konyong menyahut. Bersamaan dengan itu satu sosok tubuh berkelebat dan tegak sepuluh langkah di samping kiri kanan Pendekar 131 dan Dewa Orok. Orang yang baru muncul ini langsung perdengarkan tawa bergelak-gelak.

“Iblis Rangkap Jiwa!" seru Pendekar 131 dengan suara tercekat. "Bagaimana ini? Di sini tidak mungkin ada seorang perempuan! Kalaupun ada belum tentu mau melakukan seperti apa yang dilakukan Putri Sableng di puncak Bukit Selamangleng..." Diam-diam murid Pendeta Sinting membatin.

Di depan sana, Dewa Orok juga tak kalah kagetnya. Apa yang ada dalam pikirannya tak jauh berbeda dengan apa yang sedang dipikirkan murid Pendeta Sinting. Seolah tahu apa yang ada dalam benak kedua orang di hadapannya, orang yang baru muncul yang ternyata adalah seorang laki-laki yang raut wajahnya hampir tidak tertutup daging, berkepala gundul, dan bukan lain adalah Iblis Rangkap Jiwa adanya putuskan tawanya.

"Aku sudah berputar tiga kali di tempat ini! Jangan harap kalian akan menemukan yang namanya perempuan! Ha Ha Ha...! Nasibku baik hari ini. Dicari satu-satu yang kudapat dua sekaligus!"

Baik murid Pendeta Sinting maupun Dewa Orok sejurus saling pandang. Kalau Dewa Orok mengetahui bahwa Pendekar 131 pernah membuat Iblis Rangkap Jiwa tak berkutik dari Cucu Dewa, maka sebaliknya Pendekar 131 baru mengetahui kalau Dewa Orok mengetahui kelemahan Iblis Rangkap Jiwa dari ucapan yang barusan dikatakan Iblis Rangkap Jiwa. Namun apalah artinya mengetahui kelemahan orang tanpa bisa melakukannya?

"Iblis Rangkap Jiwa!" kata murid Pendeta Sinting. "Kurasa kau telah tahu kalau aku tidak mendapatkan kitab itu! Dengan begitu di antara kita rasanya tidak ada urusan lagi!"

"Iblis Rangkap Jiwa!" Dewa Orok ikut-ikutan angkat bicara. "Kurasa kau juga telah tahu kalau aku tidak nimbrung urusan kitab! Dengan begitu aneh rasanya kalau kau tiba-tiba terus mencari-cariku!"

Mendengar ucapan kedua orang itu, Iblis Rangkap Jiwa keraskan gelakan tawanya. Tangan kanannya diangkat ditunjukkan lurus ke arah murid Pendeta Sinting. "Kau memang bernasib sial karena tidak menemukan kitab itu! Tapi jangan kira urusan di antara kita tidak ada lagi!"

Habis berkata begitu, tangan kanan Iblis Rangkap Jiwa bergerak dan berhenti tatkala tepat menunjuk lurus ke arah Dewa Orok. "Dan kau! Memang tidak ikut nimbrung urusan kitab sialan itu! Tapi jangan merasa aneh kalau aku tetap akan mencarimu sampai kapan dan di mana pun!"

"Hem... Ucapannya mengisyaratkan dia telah tahu siapa adanya orang yang mendapatkan kitab itu! Dan yang pasti itu bukan Dewa Orok..." Murid Pendeta Sinting menduga-duga ucapan Iblis Rangkap Jiwa.

Kalau murid Pendeta Sinting menduga-duga dalam hati, diam-diam pula Dewa Orok membatin. "Nyatanya Pendekar 131 bukan orang yang mendapatkan kitab itu meski telah tahu tempatnya! Jadi ada yang tidak beres kalau manusia ini terus-terusan mencariku...."

"Iblis Rangkap Jiwa!" kembali murid Pendeta Sinting buka suara. "Kalau bukan urusan kitab, lalu urusan apa lagi? Apa peristiwa di puncak bukit itu masih membuatmu jengkel? Seharusnya kau berterima kasih. Kalau tidak ada aku, mana mungkin kau bisa menikmati pantat bagus, putih, besar, dan padat berisi...?!"

"Iblis Rangkap Jiwa!" kali ini yang buka suara Dewa orok. "Aku akan tetap merasa aneh kalau kau tetap akan mencariku sampai kapan dan di mana pun! Apa peristiwa di depan kuil itu masih membekas di dadamu? Seharusnya kau juga mengucapkan terima kasih padaku meski tempo hari kau tidak berkenan melihatnya. Karena yang kau dapatkan bukan seperti di puncak bukit. Melainkan besar, hitam legam, dan kendor!"

Habis berkata begitu Dewa Orok tampak tertawa. Di depan sana tawa murid Pendeta Sinting sudah meledak lebih dahulu. Iblis Rangkap Jiwa tegak dengan tubuh bergetar. Sepasang matanya yang melotot besar makin terpentang. Tulang rahangnya bergerak terangkat.

"Agar kalian tidak bertanya-tanya di alam kubur nanti, dengar!" bentak Iblis Rangkap Jiwa lalu arahkan pandangannya pada Dewa Orok. "Nyawamu tidak akan kusisakan!" Iblis Rangkap Jiwa lalu arahkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting. "Dan kau masih sedikit beruntung. Karena aku hanya butuh setengah nyawamu!"

Habis berkata begitu, Iblis Rangkap Jiwa mendongak. "Satu setengah nyawa kalian adalah tebusan dari nyawaku! Lebih dari itu, satu setengah nyawa kalian kelak akan kutukar dengan Kitab Hitam itu! Ha Ha Ha...!"

Kembali Dewa Orok dan Pendekar 131 saling pandang. Kejap lain Dewa Orok telah perdengarkan suara. "Ternyata nasibmu lebih baik, Anak Muda! Dia hanya butuh setengah nyawamu! Padahal siapa pun tahu kalau nyawaku lebih baik dari nyawamu! Apa ini karena aku hanya bisa memperlihatkan pantat yang besar, hitam legam, dan kendor?"

"Ah... Kau keliru, Teman Muda!" sahut murid Pendeta Sinting. "Kalau dia ingin setengah nyawaku berarti aku harus merasakan sakit dulu yang bukan alang kepalang. Lebih enak kau. Langsung mati tak merasakan apa-apa lagi! Jangan-jangan ini karena sahabat kita bergelar Iblis Rangkap Jiwa itu memang lebih suka melihat yang besar, hitam gosong, dan kendor!"

Meski murid Pendeta Sinting dan Dewa Orok tampak tersenyum-senyum, namun sebenarnya dada masing-masing orang ini merasa gelisah. Mereka sama maklum kalau Iblis Rangkep Jiwva adalah tokoh yang punya kesaktian luar biasa. Dan walau keduanya tahu bagaimana memusnahkan kesaktian Iblis Rangkap Jlwa, namun rasanya sulit mendapatkan perempuan di tempat seperti sekarang ini.

Sementara itu, begitu mendengar ucapan-ucapan Pendekar 131 dan Dewa Orok, iblis Rangkap Jiwa menggereng keras. Kedua tangannya serta-merta di angkat. Kejap lain kedua tangannya bergerak lepaskan pukulan. Tangan kanan mengarah pada murid Pendeta Sinting, tangan kiri lurus ke arah Dewa Orok!

BAB 6

PENDEKAR 131 dan Dewa Orok sejenak saling berpandangan. Namun belum sempat ada yang buka mulut, dua gelombang luar biasa dahsyat telah menggebrak ke arah keduanya! Meski telah tahu bahwa tidak ada gunanya memangkas pukulan yang dilancarkan Iblis Rangkap Jiwa, namun kalau tidak berusaha bertahan maka pasti akan mengalami nasib lebih buruk lagi.

Berpikir begitu, Joko cepat kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Kejap lain kedua tangannya telah berubah berwarna kuning pertanda murid Pendeta Sinting telah siap lancarkan pukulan 'Lembur Kuning', Di lain pihak, Dewa Orok tidak tinggal diam. Pemuda bertangan buntung murid Cucu Dewa ini tarik tubuh bagian atasnya sedikit ke belakang. Saat lain tubuhnya disentakkan ke depan.

Untuk sesaat cuaca menjadi semburat kekuningan. Lalu terlihat cahaya kuning melesat dengan membawa gelombang dahsyat dan hawa luar biasa panas. Bersamaan itu dari tubuh Dewa Orok bagian atas melesat kabut putih.

Bummm! Bummm!

Dua ledakan keras mengguncang tempat itu. Sinar kuning yang melesat keluar dari tangan Joko semburat ke udara lalu bertabur setelah membuat lidah api. Pada saat yang sama, bongkahan kabut putih dari dada Dewa Orok berhamburan. Sosok Pendekar 131 mencelat sampai satu setengah tombak. Untung murid Pendeta Sinting ini segera sentakkan kedua tangannya untuk imbangi diri, hingga meski sesaat sempat terhuyung-huyung namun tidak sampai roboh. Wajahnya berubah pucat pasi. Kedua tangannya tampak bergetar.

Di seberang, Dewa Orok juga terlihat tersapu akibat bentroknya pukulan yang keluar dari dadanya dengan pukulan Iblis Rangkap Jiwa. Sosoknya terputar lalu melesat jauh ke belakang. Namun sebelum tubuhnya terjerembab di atas tanah, pemuda bertangan buntung ini gerakkan kedua kakinya seakan berselonjor ke atas. Saat lain kedua kakinya membuat gerakan bersila di udara dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Dengan menggoyang kedua bahunya, sosoknya jungkir balik. Lalu mendarat di atas tanah dengan duduk bersila.

Meski mulut Dewa Orok tampak sunggingkan senyum, namun pemuda bertangan buntung ini tidak dapat sembunyikan rasa sakit. Parasnya pias dengan dada bergerak-gerak keras. Sepasang matanya sedikit menyipit dengan kedua alis mata terangkat. Walau iblis Rangkap Jiwa dikenal kalangan rimba persilatan sebagai tokoh yang berkepandaian tinggi dan kebal terhadap pukulan, namun mendapat pukulan secara bersamaan dari murid Pendeta Sinting dan Dewa Orok, tak urung sosoknya tergeret sampai satu tombak dan terhuyung-huyung. Namun kejap lain laki-laki berkepala gundul ini telah tegak dengari mulut perdengarkan suara tawa bergelak.

"Kalian manusia-manusia bernasib malang berani membuat urusan dengan Iblis Rangkap Jiwa! Ha Ha Ha...!"

Meski masih merasakan sakit, Dewa Orok segera buka mulut menyahut. "Kau manusia bernasib malang berani membuat urusan dengan Dewa Orok! Ha Ha Ha...!" Dewa Orok teruskan tawanya seraya mengerling pada murid pendeta Sinting. Lalu edarkan pandangannya berkeliling. Diam-diam pemuda ini didera perasaan gelisah dan cemas.

"Celaka! Di tempat begini tidak mungkin ada seorang perempuan! Dan tak mungkin dia dapat dikelabui lagi seperti tempo hari!"

Seperti halnya Dewa Orok, diam-diam Pendekar 131 juga merasa gelisah dan waswas. Dia maklum Iblis Rangkap Jiwa tidak dapat dikalahkan hanya dengan mengandalkan pukulan. "Apa yang harus kulakukan? Waktu di puncak Bukit Selamangleng beberapa waktu lalu, pukulan 'Serat Biru' tidak membuat dirinya cedera! Hem.... Meski menurut beberapa orang manusia iblis ini kebal pukulan tapi akan kucoba dengan pukulan yang kudapat dari Kitab Sundrik Cakra..."

Pendekar 131 segera alirkan tenaga dalam pada tangan kanan. Jari telunjuk, jari tengah serta jari manis diluruskan. Sementara ibu jari serta jari kelingking ditekuk ke depan saling bertemu. Melihat apa yang dilakukan Joko, Dewa Orok kernyitkan dahi. Seakan tahu apa yang hendak dilakukan orang, pemuda bertangan buntung ini segera kerahkan tenaga dalamnya kembali. Sepasang matanya dipejamkan. Lalu perlahan-lahan tubuh bagian atasnya ditarik ke belakang hingga tubuhnya hampir sejajar dengan tanah.

Mendapati kedua orang di hadapannya membuat gerakan, Iblis Rangkap Jiwa perkeras gelakan tawanya. Namun laksana dirobek setan, mendadak dia putuskan tawanya. Mulutnya menyeringai dengan sepasang mata mendelik angker. Kedua tangannya berkacak pinggang.

"Kalian boleh pilih sebelah mana yang kalian sukai"

Dewa Orok buka kelopak matanya. Mulutnya membuka angkat bicara. "Kau telah memberikan pilihan pada kami. Meski aku tidak memiliki tangan, tapi aku tidak tertarik dengan kedua tanganmu. Justru aku lebih suka pada senjata bawahmu! Dengan punya dua senjata, tanpa tangan pun pasti akan banyak perempuan yang tergila-gila padaku! Lebih dari itu, aku bisa main-main dengan dua perempuan sekaligus! Ha Ha Ha...! Pasti rasanya asyik...!"

Pendekar 131 tidak sahuti ucapan Dewa Orok. Sebaliknya dia cepat dorong tangan kanannya.

Wuuuttt!

Tiga larik sinar kuning melesat keluarkan suara deruan keras. Tanah di depan sana terlihat bertabur tersapu ke udara. Di sebelah samping, Dewa Orok segera sentakkan tubuhnya ke atas.

Wuuutttt!

Tampak gelombang dahsyat menyembur dari dada Dewa Orok disertai melesatnya bongkahan kabut. Iblis Rangkap Jiwa pandangi pukulan yang mengarah padanya dengan tatapan dingin. Orang ini tidak terlihat membuat gerakan. Malah sesaat kemudian mulutnya membuka perdengarkan suara tawa!

Desss! Desss!

Gelakan tawa Iblis Rangkap Jiwa terputus. Bersamaan itu sosoknya tersapu hingga empat tombak ke belakang sebelum akhirnya jatuh terbanting di atas tanah. Pakaian yang dikenakannya tampak robek menganga di sana-sini. Darah mengucur deras dari sudut bibirnya. Tubuhnya diam tak bergerak. Namun sesaat kemudian, laki-laki berkepala gundul ini membuat gerakan. Kedua tangannya menyentak di atas tanah.

Sosoknya bergerak bangkit. Sepasang matanya mendelik angker pandangi silih berganti pada Pendekar 131 dan Dewa Orok. Walau Iblis Rangkap Jiwa dapat tegak kembali, namun jelas kalau laki-laki ini tidak dapat sembunyikan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Hal Ini membuatnya terheran-heran.

"Keparat benar! Selama malang melintang beratusratus tahun dalam dunia persilatan, baru kali ini aku menemukan manusia yang pukulannya membuat dadaku seolah hendak jebol! Aku harus segera membereskan kedua manusia itu! Jika tidak, urusan dengan Malaikat Penggali Kubur akan tertunda! Lebih dari itu aku bisa celaka sendiri kalau terus-terusan meladeninya!"

Iblis Rangkap Jiwa kerahkan tenaga dalamnya. Serta merta kedua tangannya diangkat ke atas. Di seberang depan sana, Pendekar 131 dan Dewa Orok sama pentangkan mata masing-masing dengan mulut terkancing.

"Pukulan 'Sundrik Cakra" hanya membuat mulutnya berdarah! Hem... Aku akan coba gabungkan pukulan 'Serat Biru' dengan 'Sundrik Cakra'!" kata Joko dalam hati. Lalu kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya.

Di sebelah samping, mungkin merasa tidak ada gunanya lagi lancarkan pukulan, Dewa Orok hanya memandang tanpa membuat gerakan apa-apa. Iblis Rangkap Jiwa sentakkan' kedua tangannya. Pada saat yang sama murid Pendeta Sinting dorong kedua tangannya hendak lancarkan gabungan pukulan 'Serat Biru' dengan 'Sundrik Cakra'. Namun belum sampai kedua orang ini lancarkan pukulan masing-masing, satu bayangan berkelebat.

"Tahan serangan!"

Murid Pendeta Sinting urungkan niat tanpa berpaling. Di depan sana Iblis Rangkap Jiwa terlihat melengak kaget malah sepasang kakinya tersurut satu tindak. Seakan disentak tangan setan, kepalanya cepat berpaling dengan paras berubah.

Dewa Orok sendiri terlihat belalakkan sepasang matanya. Bibirnya sunggingkan senyum. Kejap lain pemuda bertangan buntung Ini berkelebat dan tahu-tahu telah tegak sejarak tiga langkah di samping orang yang berseru.

"Jahanam! Siapa makhluk perempuan ini?!" desis Iblis Rangkap Jiwa dengan mata tak berkesip pandangi orang yang baru datang.

Yang dipandang sunggingkan senyum. Sepasang matanya menatap tajam. Bukan ke arah Dewa Orok atau lblis Rangkap Jiwa, melainkan pada Pendekar 131. Dia adalah seorang perempuan berusia lanjut. Raut wajahnya telah mengeriput. Kelopak matanya besar dengan bola mata sipit. Rambutnya putih sebatas tengkuk. Nenek ini mengenakan jubah panjang warna merah menyala. Pada mulutnya tampak segumpal tembakau berwarna hitam yang bergerak-gerak seiring gerakan mulutnya.

Dewa Orok bungkukkan sedikit tubuhnya seraya buka suara. "Selamat jumpa lagi, teman lama... Kuharap keadaanmu baik-baik saja. Dan mudah-mudahan kau tidak lupa denganku..."

Nenek berjubah merah menyala palingkan kepala menghadap Dewa Orok. Sepasang matanya membesar. Lalu terdengarlah suara tawa cekikikannya.

"Heran. Kurasa baru kali ini kita bertemu muka. Adalah satu hal aneh kalau tiba-tiba kau menyebutku teman lama. Hik Hik Hik...! Harap kau tidak kecewa kalau aku bukan saja lupa padamu, tetapi juga tidak mengenalmu!"

Dewa Orok angkat kepalanya. Dahinya mengernyit dengan mulut bergumam tak jelas. "Nenek ini pura-pura lupa atau bagaimana? Aku masih ingat benar pertemuan dengannya! Atau mungkinkah pandangan mataku yang keliru?!" Dewa Orok kerjapkan sepasang matanya. Lalu kepalanya disorongkan ke depan.

"Benar! Memang nenek ini yang sempat kutemui beberapa waktu lalu. Rambut dan tembakau di mulutnya masih kuingat betul!" kata Dewa Orok dalam hati lalu seraya masih sunggingkan senyum, dia berkata.

"Nek! Bukankah kau Ratu Malam...?! Kita pernah jumpa di depan Istana Hantu!"

Nenek berjubah merah pasang tampang angker. Namun justru kejap kemudian yang terdengar adalah suara tawa cekikikannya lagi, membuat Dewa Orok gelengkan kepala. Tapi pemuda bertangan buntung ini segera hentikan gelengan kepalanya. Saat lain dia ikut-ikutan perdengarkan tawa cekikikan!

Pendekar 131 menoleh. Sejurus sepasang matanya memandang tajam ke arah nenek berjubah merah yang tidak lain memang Ratu Malam adanya. "Nek...! Kalau kau lupa dengan temanku itu, kuharap kau tidak lupa denganku...!" ucap Joko lalu menjura.

Ratu Malam hadapkan wajahnya pada murid Pendeta Sinting. "Harapanmu sia-sia, Anak Muda! Seperti halnya pemuda bertangan buntung itu, kurasa aku baru pertama? kali jumpa denganmu...!" Ratu Malam berpaling pada Iblis Rangkap Jiwa lalu teruskan ucapannya.

"Kalau dengan yang satu ini, tentu aku masih ingat benar! Bukankah kau yang dikena! Iblis Rangkap Jiwa?!"

Meski hatinya tidak enak mendapati orang telah mengenali dirinya, namun Iblis Rangkap Jiwa segera menyahut. "Syukur kau telah mengenaliku. Kalau tidak keberatan, harap sudi sebutkan diri!"

Ratu Malam tertawa dahulu sebelum menyahut. “Pertemuan kita memang sudah lama sekali. Jadi aku maklum kalau kau lupa denganku! Hik Hik Hik...!" Ratu Malam arahkan pandangannya ke jurusan lain. Lalu lanjutkan kata-katanya. "Sebelum kujawab tanyamu, aku tanya dahulu. Kau ingin aku sebutkan diri untuk suatu apa bagaimana?!"

Iblis Rangkap Jiwa menatap dingin. "Pendekar 131 mengenalnya dengan Ratu Malam. Hem... Aku memang pernah dengar nama itu dalam rimba persilatan. tapi apa maksud pertanyaannya...?" Diam-diam laki-laki berkepala gundul ini membatin. Lalu buka mulut.

"Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu!"

"Aku punya sebutan banyak! Untuk siang hari aku punya gelar lain dengan malam hari. Demikian juga untuk petang dan dini hari! Kau ingin aku sebutkan satu persatu atau bagaimana? Atau kau hanya ingin aku sebutkan nama yang biasa kusandang di semua suasana?!"

Mungkin mulai dongkol dengan ucapan Ratu Malam, Iblis Rangkap Jiwa cepat menyahut dengan suara keras. "Terserah kau hendak sebutkan yang mana! Aku hanya ingin kau sebutkan diri!"

Ratu Malam mainkan gumpalan tembakau hitam di mulutnya sejenak. Lalu menjawab. "Karena kau menyerahkan padaku, agar tidak terlalu panjang lebar, aku akan sebutkan diri nama yang biasa kupakai di semua suasana. Aku biasa dipanggil Ken Dedes!"

Tawa cekikikan Dewa Orok berubah menjadi ledakan tawa. Di seberang samping murid Pendeta Sinting coba menahan tawa, tapi tak urung suara tawanya meledak juga. Hanya Iblis Rangkap Jiwa yang tampak kancingkan mulut dengan mata makin membeliak. Ratu Malam memandang silih berganti pada Pendekar 131 dan Dewa Orok.

"Kenapa kalian tertawa, hah?! Apa yang kalian anggap lucu?!"

"Harap Ken Dedes tidak salah sangka! Tidak ada yang lucu. Hanya aku merasa heran, mengapa nama kita bisa mirip?!" Yang buka suara adalah murid Pendeta Sinting.

"Betul! Ken Dedes harap tidak salah duga. Kami tertawa bukan karena ada yang lucu! Hal ini semata-mata karena aku juga merasa aneh, mengapa nama kita betul-betul hampir sama...!" sahut Dewa Orok.

"Kalian berdua jangan main-main! Siapa nama-nama kalian hingga kalian berani sebutkan nama hampir sama denganku, hah?!" hardik Ratu Malam.

"Untuk semua suasana orang biasa memanggilku Ken Jaka!" jawab Joko.

Dewa Orok tidak tinggal diam. Pemuda ini segera pula menyahuti. "Sementara untuk semua daerah, aku biasa dikenal dengan Ken Arok...!"

Mendengar murid Pendata Sinting dan Dewa Orok sebutkan nama, Ratu Malam komat-kamitkan mulut. Lalu tertawa cekikikan hingga bahunya berguncang keras. Di sebelah depan sana, Iblis Rangkap Jiwa bantingkan kaki hingga keluarkan suara berdebam. Tanah di bawahnya langsung semburat bertabur.

"Jahanam! Aku tak peduli siapa kalian! Yang jelas Kalian harus mampus bersama!"

Iblis Rangkap Jiwa angkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Tubuhnya terlihat bergetar keras pertanda dia tak dapat lagi menahan gejolak amarah.

"Tunggu!" tahan Ratu Malam seraya hentikan tawanya. Nenek ini melangkah empat tindak ke depan. Lalu lorotkan sedikit tubuhnya dengan kedua tangan berjarak mengangkat bagian bawah jubahnya sedikit membuat gerakan seperti orang memberi hormat.

"Kuharap kau tidak merasa tersinggung. Aku mengatakan yang sebenarnya. Ken Dedes memang nama yang sering kukatakan pada orang-orang untuk semua suasana. Entah kalau kedua orang itu...!" Jari telunjuk Ratu Malam bergerak menunjuk pada murid Pendeta Mnting dan Dewa Orok.

"Aku juga mengatakan yang sebenarnya!" sahut Pendekar 131.

"Aku juga!" timpal Dewa Orok, lalu ikut-ikutan membuat gerakan seperti yang dilakukan oleh Ratu Malam.

Hanya kalau Ratu Malam angkat sedikit bagian bawah jubahnya dengan kedua tangan, Dewa Orok angkat kaki kanannya untuk sibakkan celana kirinya. Lalu angkat kaki kirinya untuk sibakkan sedikit celana kaki kanannya!

Melihat gerakan yang dilakukan Ratu Malam, diamdiam Iblis Rangkap Jiwa rasakan dadanya berdebar. “Jangan-jangan perempuan tua ini tahu kelemahanku. Bangsat benar! Siapa yang telah menebarkan semua ini hingga orang yang baru saja kujumpa seakan sudah tahu kelemahanku?!"

"Terima kasih kau mau mengerti..." kata Ratu Malam melihat iblis Rangkap Jiwa urungkan niat kirimkan serangan, bahkan terlihat tercenung. Seraya berkata begitu, Ratu Malam kembali membuat gerakan hormat sambil singsingkan jubah merahnya sedikit agak tinggi.

Dewa Orok tidak berdiam diri. Dia segera pula menyahut. "Aku juga mengucapkan terima kasih..." Lalu ikut-ikutan membuat gerakan menghormat dengan singsingkan celana kanan kiri silih berganti dengan kakinya.

Seakan tahu apa yang ada dalam benak Iblis Rangkap Jiwa, murid Pendeta Sinting angkat kedua tangannya ke arah pinggang. Iblis Rangkap Jiwa tersentak. Dia seakan maklum apa yang hendak dilakukan oleh orang-orang di hadapannya. Dengan suara bergetar keras dia membentak.

"Ken Dedes! Siapa pun kau adanya, kuharap kau segera tinggalkan tempat ini!"

Ratu Malam gelengkan kepala. "Sayang... Ken Dedes tidak pernah mau menurut perintah orang! Harap kau tidak kecewa. Hik Hik Hik...!"

Iblis Rangkap Jiwa mendengus keras. "Baik. Tapi kuharap kau tidak ikut campur urusanku dengan kedua manusia itu!"

Lagi-lagi Ratu Malam gelengkan kepala. "Sayang... Selama ini Ken Dedes tidak pernah mau menerima syarat orang. Hik Hik Hik...!"

Mungkin karena tertawa cekikikan sementara kedua tangannya masih memegangi bagian bawah jubahnya, maka singkapan jubahnya makin tertarik ke atas, membuat Iblis Rangkap Jiwa makin terbeliak.

"Jahanam! Perempuan ini jangan-jangan memang telah tahu...! Tapi aku belum yakin benar kalau tidak menyaksikan sendiri! Siapa tahu hal itu dilakukan secara tidak sengaja..." Berpikir begitu, Iblis Rangkap Jiwa cepat angkat! Kedua tangannya kembali. Lalu membentak. "Kau tidak mau turuti ucapanku..."

Belum sampai ucapan Iblis Rangkap Jiwa selesai, Ratu Malam telah menukas. "Sayang... Aku tidak mau dengar segala macam bentuk ancaman! Hik Hik Hik...!"

Mendengar ucapan Ratu Malam dan mungkin karena belum merasa yakin kalau si nenek tahu kelemahannya, Iblis Rangkap Jiwa tarik kedua tangannya ke belakang siap lancarkan pukulan.

"Hai... Kau tidak main-main?!" seru Ratu Malam dengan pasang tampang seperti orang ketakutan. Malah dengan mimik seolah ngeri, nenek ini balikkan tubuh dengan kedua tangan tetap pegangi bagian bawah jubahnya.

Melihat gerakan Ratu Malam, Dewa Orok cepat ikut-ikutan putar diri membelakangi Iblis Rangkap Jiwa dengan kaki kanan diangkat dan digaetkan pada ujung Celana kaki kirinya seolah membuat gerakan seperti orang hendak melorotkan celana. Murid Pendeta Sinting anggukkan kepala. Lalu balikkan tubuh dengan kedua tangan siap seolah hendak menarik celananya ke bawah.

Iblis Rangkap Jiwa pandangi punggung ketiga orang di hadapannya dengan kaki bergetar. Sepasang matanya membeliak. Dalam hati laki-laki ini memaki panjang pendek. "Manusia-manusia keparat! Kalian boleh mengetahui kelemahanku, namun aku akan meninggalkan sesuatu yang pantas untuk kalian!"

Iblis Rangkap Jiwa gerakkan kedua tangannya lancarkan pukulan! Dua gelombang hitam luar biasa dahsyat menderu ke arah Pendekar 131, Ratu Malam, serta Dewa Orok. Sesaat Iblis Rangkap Jiwa pentangkan mata memandang ke arah tiga orang di hadapan sana, lalu sentakkan kedua kakinya dan berkelebat pergi.

BAB 7

GERAKAN kedua tangan Ratu Malam yang hendak singkapkan bagian bawah jubah merahnya tertahan. Demikian juga gerakan kaki Dewa Orok serta kedua tangan murid Pendeta Sinting yang hendak tarik celananya.

"Cepat menyingkir!" teriak Pendekar 131 sambil sentakkan kedua tangannya ke belakang. Lalu berkelebat menghindar.

Ratu Malam dan Dewa Orok sejenak saling berpaling. Namun baru saja kedua kepala mereka bergerak, gelombang hitam telah menerjang.

"Celaka!" desis murid Pendeta Sinting. Tanpa pikir pamjang lagi dia segera berkelebat ke arah Ratu Malam.

Brukkk!

Tubuh Ratu Malam tertubruk hingga tubuhnya dan tubuh murid Pendeta Sinting terhuyung ke samping ke arah Dewa Orok.

Brukkk!

Sosok Ratu Malam dan Pendekar 131 kini menubruk sosok Dewa Orok. Saat itulah pukulan Iblis Rangkap Jiwa datang menggebrak. Hingga tak ampun lagi tubuh ketiga orang ini mental dengan saling bergandengan. Sosok Pendekar 131 dan Dewa Orok terlihat berputar di udara. Sementara sosok Ratu Malam hanya melayang tanpa bergerak, karena sosoknya tertahan tubuh murid Pendeta Sinting dan Dewa Orok.

Bukkk! Bukkk! Bukkkk!

Tubuh murid Pendeta Sinting menghantam tanah terlebih dahulu dengan posisi telentang. Disusul dengan tubuh Ratu Malam yang melayang jatuh tengkurap di atas tubuh Pendekar 131. Sesaat kemudian tubuh Dewa Orok terhempas dan tepat menindih tubuh Ratu Malam dengan telungkup!

"Sialan! Kenapa kau menindihku?!" seru Ratu Malam. Sikunya bergerak ke atas.

"Sialan! Kenapa kau menuduhku?!" teriak Dewa Orok. Namun sebelum ucapannya selesai, sosoknya telah melayang ke udara terkena hantaman siku Ratu Malam.

Ratu Malam tertawa cekikikan. Tapi mendadak tawa cekikikannya terputus. Bersamaan dengan itu sosoknya ikut melayang ke udara dengan kaki terjungkal ke atas. Pendekar 131 buka kelopak matanya. Meski la masih merasakan sakit pada bahu kanannya, namun tak urung dia perdengarkan suara tawa bergelak. Karena di atas sana terlihat Dewa Orok melayang dengan kaki menggaet jubah Ratu Malam bagian bawah hingga nenek itu ikut melayang dengan kaki di atas kepala di bawah!

Ratu Malam menggerendeng panjang pendek. Sekali bergerak tubuhnya berputar. Kedua kakinya lakukan tendangan ke arah kaki Dewa Orok yang menggaet bagian bawah jubahnya.

Desss!

Tubuh Dewa Orok terbanting di udara. Gaetan kaki pada jubah Ratu Maiam lepas. Sosoknya melayang jatuh. Namun begitu tubuhnya berada di bawah tubuh Ratu Malam, kaki pemuda ini kembali bergerak menggaet jubah bagian depan si nenek, hingga mau tak mau keduanya melayang jatuh bersamaan!

Bukkk! Bukkkk!

Tubuh Dewa Orok jatuh terlebih dahulu dengan terIentang. Disusul dengan tubuh Ratu Malam yang tengkurap di atas tubuh Dewa Orok!

"Sialan! Kenapa kau menindih bahkan menciumku?!" seru Dewa Orok seraya gerakkan kepalanya ke kiri kanan hindarkan diri dari wajah Ratu Malam.

Ratu Malam angkat tubuhnya. Sepasang matanya mendelik tak berkesip memandang ke arah bola mata Dewa Orok. Mulutnya komat-kamit hingga tembakau hitamnya tampak keluar masuk.

"Sialan! Kau yang sengaja minta supaya dapat di cium!" teriak Ratu Malam. Tangan kiri kanannya diangkat ke samping. Lalu dihantamkan ke arah kepala Dewa Orok.

Karena tertindih tubuh Ratu Malam serta tidak punya tangan, maka Dewa Orok hanya bisa memandang tanpa bisa bergerak menghindar atau menangkis. Murid Pendeta Sinting hendak berteriak menahan gerakan kedua tangan Ratu Malam. Namun sebelum suaranya terdengar satu suara mendahului.

"Nek! Di bawahmu ada pemuda tak memiliki kedua tangan. Mengapa kau masih tega hendak memecahkan kepalanya?"

Ratu Malam tak hiraukan ucapan orang. Kedua tangannya terus bergerak menghantam ke arah kepala Dawa Orok. Sejengkal lagi kedua tangan Ratu Malam menggebrak kepala Dewa Orok, mendadak satu cahaya putih berkiblat. Gerakan kedua tangan Ratu Malam tertahan, malah kajap lain kedua tangan nenek ini terlihat mental balik ke samping. Bersamaan itu sosoknya laksana disapu gelombang dan mencelat dari atas tubuh Dewa Orok.

"Kurang ajar! Siapa berani turun tangan ikut urusanku?!" teriak Ratu Malam lalu berpaling.

Sejarak lima belas langkah dari tempatnya, Ratu Malam melihat seorang laki-laki bertubuh besar mengenakan pakaian gombrong warna hijau. Pada perutnya terlihat melingkar satu ikat pinggang besar yang bagian depannya terdapat sebuah cermin bulat. sepasang mata laki-laki ini berwarna putih dan memandang ke atas dengan bibir tersenyum.

Murid Pendeta Sinting bergerak bangkit. Di seberang sana, Dewa Orok juga menggeliat lalu bangkit duduk. Kedua orang ini sama arahkan pandangannya pada laki-laki berpakaian hijau gombrong yang tidak lain adalah Gendeng Panuntun.

"Ke mana gerangan minggatnya Iblis Rangkap Jiwa?!" Pendekar 131 dan Dewa Orok sama membatin karena Iblis Rangkap Jiwa memang sudah meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan Joko dan Dewa Orok. Baik Joko maupun Dewa Orok sama-sama hendak buka mulut, namun Gendeng Panuntun telah mendahului.

"Kalian jangan bergerak dahulu! Kalian masih dalam keadaan terluka"

Baru saja ucapan Gendeng Panuntun selesai, Pendekar 131 rasakan dadanya sesak. Kedua tangan dan kakinya bergetar. Kejap lain dia melorot jatuh. Di seberang sana, Dewa Orok terlihat megap-megap. Lalu mulutnya menguncup membuat gerakan menyedot. Bundaran karet yang sedari tadi mengapung di udara melesat dan masuk ke dalam mulutnya. Pada saat bersamaan, tubuhnya terjajar rata dengan tanah. Ratu Malam sedikit sipitkan sepasang matanya. Lalu berpaling pada murid Pendeta Sinting dan Dewa Orok. Namun baru saja menoleh dan belum sempat buka suara, sosoknya melorot jatuh!

"Himpun tenaga murni. Salurkan pada dada kalian!" kata Gendeng Panuntun.

Habis berkata begitu, Gendeng Panuntun hadapkan tubuhnya ke arah Ratu Malam. Pantatnya digoyang sedikit. Satu cahaya putih melesat ke arah Ratu Malam. Kejap lain Gendeng Panuntun hadapkan tubuhnya ke arah murid Pendeta Sinting. Pantatnya digoyang. Dari cermin bulat di depan perutnya melesat satu cahaya putih. Lalu sekali lagi pantatnya digoyang dan diarahkan pada Dewa Orok.

Ratu Malam, Pendekar 131, serta Dewa Orok rasakan hawa dingin merasuki sekujur tubuhnya. Namun berrsamaan dengan itu, masing-masing orang rasakan kepalanya berputar-putar. Saat lain ketiganya tidak ingat apa-apa lagi.

Gendeng Panuntun melangkah ke arah Ratu Malam. Tangan kirinya bergerak mengambil tubuh si nenek lalu diletakkan di atas pundak kirinya. Sejenak Gendeng Panuntun tengadah, lalu menghampiri Dewa Orok. Begitu dekat, tangan kanannya bergerak. Tahu-tahu sosok Dewa Orok telah berada di pundak kanannya. Gendeng Panuntun hadapkan wajah ke arah sosok murid Pendeta Sinting, namun cuma sekilas.

Kejap lain dia melangkah perlahan tinggalkan tempat itu dengan tangan kiri kanan terangkat memegangi punggung masing-masing orang yang ada di pundaknya. Beberapa saat berlalu. Mendadak murid Pendeta Sinting membuat gerakan menggeliat. Lalu sepasang matanya terbuka.

"Apa yang telah terjadi?"

Murid Pendeta Sinting bangkit duduk. Lalu edarkan pandangan berkeliling. Dia tersentak. Bukan saja karena dia tidak menemukan Ratu Malam, Dewa Orok, serta Gendeng Panuntun, melainkan sepuluh langkah di hadapannya tampak tegak seorang perempuan berusia lanjut. Rambutnya putih dengan seluruh wajah mengeriput. Sepasang matanya melotot besar dengan bibir tersenyum dingin. Kedua tangannya merangkap di depan dada. Tangan kanannya terlihat memegang sebuah tusuk konde besar berwarna hitam. Nenek ini mengenakan pakaian panjang berwarna coklat.

Murid Pendeta Sinting bergerak bangkit. Baru saja tegak, nenek di hadapannya telah membentak. "Jawab dengan jujur! Bukankah kau anak manusia yang bergelar Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng?!"

Murid Pendeta Sinting pandangi orang di hadapannya dari kaki sampai rambut dengan dahi berkerut.

"Kau punya telinga! Lekas bicara jawab tanyaku!” bentak si nenek.

"Kau ini siapa, Nek?!"

Sambil bertanya diam-diam Joko terus membatin. "Kemana sebenarnya Gendeng Panuntun, Ratu Malam, dan Dewa Orok?! Dari mana nenek ini tiba-tiba muncul?! Apakah dia sempat jumpa dengan mereka?! Atau jangan-jangan..."

Murid Pendeta Sinting tidak lanjutkan kata hatinya karena si nenek telah menyahut pertanyaannya. "Nanti ada saatnya kau tahu siapa diriku! Saat sekarang kau harus jawab dulu tanyaku!"

"Sikapnya tidak bersahabat. Aku tak mau buat urusan!" kata Joko dalam hati lalu berkata. "Aku memang Joko Sableng!"

Si nenek melangkah dua tindak dengan kedua tangan masih merangkap di depan dada. "Bagus! Berarti kau murid manusia jahanam Pendeta Sinting! Betul?!"

Joko tidak segera menjawab. Melainkan balikkan tubuh lalu melangkah hendak tinggalkan tempat itu.

"Namamu memang telah dikenal dalam rimba persilatan. Namun jangan kira langkahmu bisa berlanjut sebelum kau tuntas jawab pertanyaanku!" kata si nenek lalu gerakkan kaki kanannya menyapu ke depan.

Wuuttt!

Terdengar deruan keras. Lalu satu angin dahsyat melesat ke depan. Murid Pendeta Sinting cepat melompat selamatkan diri lalu putar diri. Tapi belum sempat Joko angkat bicara, si nenek telah mendahului.

"Di mana gurumu berada?!"

"Katakan dulu siapa kau dan mengapa tanya-tanya guruku Pendeta Sinting?!"

Nenek berpakaian coklat menyeringai. Dengan arahkan pandangan ke jurusan lain dia menjawab. "Namamu boleh menjulang setinggi langit. Namun sebelum kau mengenal banyak tokoh dunia persilatan, jangan anggap dirimu di atas!" Si nenek arahkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting lalu lanjutkan ucapannya. "Aku Ni Luh Padmi! Takdir telah menuntunku untuk meneruskan urusanku dengan gurumu yang belum selesai!"

"Hem...! Kau punya silang sengketa dengan guruku?!"

Nenek yang sebutkan diri dengan Ni Luh Padmi tertawa pelan. "Urusanku lebih dari sekadar silang sengketa! Dan urusan ini tidak akan terputus sebelum gurumu menemui ajal di tanganku!"

Joko pandangi orang dengan gelengkan kepala. Lalu tanpa berkata sepatah kata dia balikkan tubuh.

"Di mana gurumu berada?!" Ni Luh Padmi menghardik.

Tanpa berpaling murid Pendeta Sinting berkata. "Kau yang punya urusan. Aku tidak mau terlibat di dalamnya! Lebih dari itu karena aku sendiri tidak tahu di mana guruku berada!"

"Hem... Begitu? Dengar, Orang Muda! Aku datang dari jauh! Selama puluhan tahun pula aku mencari tahu. Jadi jangan kira aku akan sia-siakan satu kesempatan lolos dari tanganku! Kau mengerti maksudku bukan?"

"Tapi aku tidak tahu di mana guruku berada!"

Ni Luh Padmi gelengkan kepala. "Satu hal biasa kalau seorang murid lindungi gurunya! Tapi adalah kenyataan aneh jika seorang murid tidak tahu di mana gurunya mendekam! Kau hanya perlu katakan di mana, maka umurmu akan kuperpanjang. Jika tidak..."

Si nenek tidak lanjutkan ucapannya. Sebaliknya dia bergerak satu kali. Tahu-tahu tubuhnya telah tegak di hadapan murid Pendeta Sinting dengan kaki terkembang dan kedua tangan masih merangkap di depan dada.

"Aku tidak akan tawarkan pilihan! Dan kau tidak punya hak memilih! Kau hanya punya hak jawab tanyaku!"

"Aku telah menjawab tanyamu!"

"Benar! Tapi kau berdusta!"

"Terserah! Yang pasti aku telah menjawab!" ucap murid Pendeta Sinting lalu putar diri membelakangi Ni Luh Padmi. Dan enak saja Joko melangkah.

"Kau ternyata memilih jalan salah, Orang Muda!" kata Ni Luh Padmi. Lalu kedua tangannya merentang. Kejap lain tangan kanannya yang menggenggam tusuk konde besar bergerak.

Wuuttt!

Tusuk konde besar berwarna hitam melesat keluarkan suara menderu keras. Murid Pendeta Sinting yang telah waspada sedari tadi cepat berkelebat ke samping. Seraya putar diri kedua tangannya membuat gerakan mendorong. Satu gelombang menghampar ke depan. Namun Joko terperanjat. Tusuk konde yang terlanggar gelombang pukulannya laksana punya kekuatan luar biasa, bukan hanya mampu menahan gelombang dari kedua tangan Joko, melainkan melesat ke arahnya semakin cepat!

"Busyet! Orang ini punya senjata luar biasa!" desis Joko lalu cepat berkelebat seraya dorongkan kembali kedua tangannya ke arah tusuk konde.

Di depan sana, Ni Luh Padmi tertawa sambil gerakkan tangan kanannya. Tusuk konde yang berada di atas udara bergerak ke atas hindarkan diri dari gelombang yang untuk kedua kalinya melesat keluar dari tangan murid Pendeta Sinting. Begitu lepas dari gelombang, tusuk konde menukik deras mengarah pada Pendekar 131!

Joko cepat kerahkah tenaga dalam pada kedua tangannya. Saat lain kedua tangannya berubah menjadi berwarna kekuningan, pertanda dia siap lancarkan pukulan 'Lembur Kuning'. Ni Luh Padmi perkeras tawanya. Namun diam-diam nenek ini lipat gandakan tenaga dalam pada tangan kanannya. Bersamaan dengan bergeraknya kedua tangan Joko lepaskan pukulan 'Lembur Kuning', Ni Luh Padmi membuat gerakan menghantam ke depan.

Gerakan menukik tusuk konde semakin deras dan keluarkan suara makin keras. Sepuluh jengkal lagi tusukan konde menghantam, dari kedua tangan Pendekar 131 melesat dua sinar kuning disertai gelombang dahsyat membawa hawa luar biasa panas. Tusuk konde tertahan di udara, lalu tersapu dan mencelat balik ke arah Ni Luh Padmi!

Baru setengah jalan, Ni Luh Padmi keluarkan bentakan garang. Sosoknya melesat ke depan. Tusuk konde ditangkap dan serta-merta disentakkan ke arah murid Pendeta Sinting. Untuk kedua kalinya tusuk konde menderu ganas. Bersamaan dengan itu Ni Luh Padmi teruskan kelebatan tubuhnya. Sepasang kakinya membuat gerakan lakukan sapuan ke depan.

Joko cepat selinapkan tangan kanannya ke balik pakaiannya. Ketika ditarik kembali, tampaklah sebuah pedang bersarung dan bergagang warna hijau, tangan kiri cepat menarik sarung pedang, maka terlihatlah sebuah pedang tumpul berwarna kuning bertuliskan angka 131. Joko gerakkan tangan kanan babatkan pedangnya. Terdengar suara deruan dahsyat. Pada saat bersamaan murid Pendeta Sinting angkat kaki kanannya.

Tranggg!

Tusuk konde bentrok dengan pedang di tangan Joko perdengarkan suara keras dan semburatkan lidah api. Tangan kanan Joko tampak mental ke belakang Tusuk konde Ni Luh Padmi mencelat balik. Saat itulah sapuan sepasang kaki si nenek bertemundengan kaki kanan Joko.

Bukkkkk!

Sosok Ni Luh Padmi terjajar tiga langkah ke belakang. Di hadapannya, sosok murid Pendeta Sinting terhuyung-huyung. Ni Luh Padmi angkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Lalu membuat gerakan laksana orang menarik dengan sentakkan tangannya ke depan. Tusuk konde yang mental terhenti di udara. Di saat lain tusuk konde itu melesat kembali ke arah tangan si nenek. Dan enak saja Ni Luh Padmi tangkap tusuk kondenya. Sejenak nenek ini tengadahkan kepala meneliti tusuk kondenya. Sepasang matanya tampak mendelik. Tangan kanannya bergetar.

"Jahanam! Tangan kananku laksana dipanggang! Anak manusia itu harus cepat kubereskan! Tapi aku tak mau dia mati! Keterangannya kuperlukan!"

Ni Luh Padmi gerakkan tangan kiri. Namun baru setengah jalan, satu gelombang dahsyat menghampar. Si nenek berseru berang. Kalau dia teruskan gerakkan tangan kiri, maka sebelum gelombang sempat keluar, hamparan gelombang dari Joko pasti akan terlebih dahulu menyapunya!

Maklum akan hal itu, si nenek tidak mau ambil resiko. Karena satu-satunya jalan untuk selamatkan diri dari gelombang adalah berkelebat, maka tanpa pikir panjang lagi, nenek ini hentakkan kaki kanan kirinya. Tubuhnya melesat ke samping. Gelombang yang menghampar lewat dua jengkal di samping tubuhnya.

Begitu sepasang kakinya menginjak tanah kembali, tangan kiri kanannya bergerak. Namun gerakan kedua tangan nenek ini tertahan. Sepasang matanya membeliak angker dengan rahang mengembung. Karena ternyata dia tinggal sendirian di tempat itu!

********************

BAB 8

PUNCAK Bukit Selamangleng masih tertutup kabut dini hari. Di balik sebuah batangan pohon, satu sosok tubuh tampak duduk bersila dengan kedua tangan bersilangan di depan dada. Orang ini tidak sedang bersemadi. Karena sepasang matanya yang besar terlihat mendelik seakan menembusi kegelapan kabut. Hembusan napasnya tidak teratur. Malah sesekali kepalanya tengadah dengan pandangan menerawang.

"Bangsat benar! Apakah nasibku harus begini malang! Beratus tahun aku habiskan waktu untuk menunggu. Tapi begitu saatnya tiba, bukan hasil yang kudapati! Jahanam! Keparat! Siapa sebenarnya yang menebarkan berita hingga semua orang tahu kelemahanku! ini akan membuat rencanaku berantakan! Malaikat Penggali Kubur akan lebih semena-mena memperalat diriku! Sialan benar! Aku harus cari jalan lain! Kitab Hitam harus cepat kurebut dari tangan Malaikat Penggali Kubur!"

Orang yang berkata sendirian dan bukan lain adalah Iblis Rangkap Jiwa adanya menghela napas dalam. Seperti diketahui, saat bertemu dengan Ratu Malam, Pendekar 131, dan Dewa Orok, ketiga orang ini seakan tahu kelemahan Iblis Rangkap Jiwa, hingga laki-laki berkepala gundul ini gagal laksanakan maksudnya. Meski begitu dia masih sempat kirimkan pukulan sebelum berkelebat pergi.

"Tak mungkin aku merebut kitab itu dengan jalan kekerasan. Dengan Kitab Hitam di tangannya, Malaikat Penggali Kubur jadi manusia yang sukar ditaklukkan. Meringkus dan menghabisi Dewa Orok pun bukan lagi pekerjaan mudah! Aku harus dapatkan siasat lain!" Iblis Rangkap Jiwa luruskan kepala. Untuk sekian kalinya laki-laki berusia ratusan tahun ini menghela napas dalam dan panjang. Jeias kalau dadanya dibuncah dengan berbagai hal sulit.

"Malaikat Penggali Kubur tidak dapat kutentukan kapan datangnya ke tempat ini! Bisa saja setahun lagi atau mendadak muncul hari ini juga! Hem..."

Mungkin belum dapat menemukan apa yang harus diperbuat, Iblis Rangkap Jiwa akhirnya bergerak bangkit. Namun mendadak laki-laki ini urungkan niat. Malah dia bungkukkan sedikit tubuhnya dan makin rapatkan ke batangan pohon. Bersamaan dengan itu kepalanya berpaling ke bawah dengan sepasang mata liar berputar.

"Telingaku menangkap gerakan orang mendaki puncak bukit! Jangan-jangan Malaikat Penggali Kubur! Celaka kalau benar-benar dia!" Iblis Rangkap Jiwa makin beliakkan sepasang matanya dengan paras berubah dan tubuh bergetar.

Iblis Rangkap Jiwa tidak menunggu terlalu lama. Satu sosok tubuh terlihat berkelebat dan tahu-tahu tegak tidak jauh dari pohon di mana Iblis Rangkap Jiwa mendekam sembunyi. Untuk sesaat Iblis Rangkap Jiwa pandangi orang dengan mata tak berkesip. Meski orang ini tegak membelakangi pohon, dan iblis Rangkap Jiwa belum mengenali siapa adanya orang, namun ketegangan pada paras wajah laki-laki berkepala gundul ini lenyap.

"Seorang perempuan!" desis Iblis Rangkap Jiwa. Namun sejauh ini dia belum beranjak dari tempatnya. Dia hanya pandangi bagian belakang tubuh orang dengan sepasang mata agak menyipit.

Di depan sana, orang yang baru muncul putar kepala dengan mata menyelidik. Dia adalah seorang perempuan berwajah cantik jelita meski usianya tidak muda. Rambutnya hitam lebat digeraikan menutupi punggung dan sebagian wajahnya. Sepasang matanya bulat tajam. Hidungnya sedikit mancung ditingkah bibir merah ranum. Dadanya membusung padat dengan pinggul besar. Perempuan ini mengenakan pakaian warna biru tipis yang bagian dadanya dibuat rendah, hingga dadanya yang padat tampak mencuat menantang.

"Malaikat Penggali Kubur mengatakan orang itu ada di bukit ini! Dan aku yakin Inilah tempat yang dikatakannya! Tapi tak kulihat adanya orang di tempat ini! Apakah Malaikat Penggali Kubur salah mengatakan? Atau aku yang salah tempat?" Perempuan berbaju biru bergumam sendiri seraya terus memandang berkeliling.

Mungkin merasa kurang yakin, si perempuan melangkah memutari puncak bukit dan berhenti lagi di tempatnya semula. Dia menarik napas. Lalu kembali bergumam sendiri. "Aku harus menemui Malaikat Penggali Kubur kembali..." Si perempuan melangkah hendak menuruni puncak bukit. Namun satu suara teguran membuat langkah si perempuan tertahan."

"Kau mencari sesuatu?!"

Belum sampai si perempuan berpaling ke arah datangnya suara. Iblis Rangkap Jiwa yang baru saja perdengarkan suara telah berkelebat keluar dari balik pohon dan tegak sejarak tiga langkah di belakang si perempuan. Si perempuan putar tubuh. Sepasang matanya yang bulat tajam memperhatikan orang di hadapannya dengan mata mendelik. Yang dipandang balas menatap. Bukan ke arah mata orang, melainkan pada leher dan turun pada dada lalu pada pinggul.

"Adakah ini manusianya yang kucari?” desis si perempuan dalam hati. Lalu angkat bicara.

"Apakah yang ada di hadapanku ini seorang yang dikenal dengan julukan Iblis Rangkap Jiwa?!"

"Di dunia ini hanya ada satu iblis Rangkap Jiwa. Dan yang tegak di hadapanmu adalah orangnya!"

"Tak kusangka kalau orang yang baru kutemui sekaligus harus kuajak bekerja sama adalah begini macamnya! Tapi apa boleh buat! Ini harus kulakukan demi tercapainya cita-citaku..." Diam-diam si perempuan membatin.

"Kau menebak tepat diriku. Apakah kau datang sengaja mencariku?!" Iblis Rangkap Jiwa ajukan tanya dengan bibir sunggingkan senyum.

Si perempuan tidak segera menjawab. Kepalanya berpaling ke samping dengan menghela napas dalam, membuat dadanya tampak makin membusung kencang. Sepasang mata iblis Rangkap Jiwa tambah membelalak. Dadanya bergerak tidak teratur dan jakunnya turun naik.

"Datang dari tempat jauh, aku memang sengaja mencarimu!" kata si perempuan setelah agak lama berdiam diri. Lalu arahkan kembali pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa dan sekali lagi perhatikan orang dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Hem... Apakah tujuannya untuk mengetahui Kitab Hitam seperti beberapa orang sebelum ini? Atau punya tujuan lain...? Hem... Apa pun tujuan perempuan ini, aku tak akan sia-siakan kesempatan..." Iblis Rangkap Jiwa berkata dalam hati. Lalu angkat bicara.

"Kalau kau datang dari tempat jauh dan sengaja mencariku, pasti kau punya maksud"

Si perempuan tertawa perlahan. "Kau mengenal seorang pemuda bergelar Malaikat Penggali Kubur?!"

Iblis Rangkap Jiwa tampak terkesiap. Paras wajahnya berubah tegang dengan tulang dahi bergerak mengernyit. Sesaat laki-laki ini terdiam. Sementara melihat perubahan pada orang di hadapannya, si perempuan tersenyum meski diam-diam dalam hati penuh dengan tanda tanya.

"Orang ini tampak menunjukkan wajah ketakutan ketika kusebut nama Malaikat Penggali Kubur. Hem... Ada apa ini?"

"Apa hubunganmu dengan Malaikat Penggali Kubur?!" tanya Iblis Rangkap Jiwa setelah dapat kuasai diri.

Si perempuan berbaju biru gelengkan kepala masih dengan bibir sunggingkan senyum. "Apa hubunganku tak perlu kau tahu. Tapi perubahan wajahmu menunjukkan kau mengenali Malaikat Penggali Kubur! Aku tanya. Kau menerima tugas dari Malaikat Penggali Kubur?!"

Paras Iblis Rangkap Jiwa makin tegang. Dia tidak menjawab pertanyaan si perempuan, sebaliknya hanya memandang. "Hem Seandainya Kitab Hitam belum jatuh ke tangan Malaikat Penggali Kubur, tentu lebih mudah menaklukkan orang macam begini! Sayang, orang ini kutemui setelah Kitab Hitam jatuh ke tangan pemuda keparat itu! Tapi aku masih punya kesempatan..." membatin si perempuan.

"Menurut Pendekar 131, orang ini memiliki kepandaian sangat tinggi! Setidaknya hal itu bisa kumanfaatkan..."

Si perempuan maju satu tindak. "Pada mulanya aku Memang punya maksud. Namun sesuatu telah membuat maksudku berubah! Aku tahu, kau mengerti seluk-beluk tentang sebuah kitab sakti. Namun rupanya kau bukan manusia yang beruntung karena tidak mendapatkan kitab itu! Hem... Apakah kau masih inginkan kitab itu?!"

Iblis Rangkap Jiwa pandangi orang lebih saksama. "Perempuan ini telah tahu banyak tentang diriku dan kitab itu! Jangan-jangan dia memang sahabat Malaikat Penggali Kubur! Tapi apa maksud ucapannya...?"

Setelah membatin begitu, Iblis Rangkap Jiwa berkata. "Tidak ada seorang pun yang tidak inginkan kitab itu! Dan meski diriku belum beruntung, tapi akan tiba saatnya kitab itu jadi milikku!"

Si perempuan berbaju biru tertawa. "Cita-cita tidak akan tercapai kalau tidak ada tindakan dan usaha! Apakah kau sudah mempunyai satu rencana?!"

"Itu urusanku!"

"Benar! Tapi dalam urusan satu ini, tanpa bantuan orang lain, semua rencanamu hanya sia-sia!"

"Itu juga urusanku!"

"Betul! Tapi adalah tindakan bodoh kalau sudah tahu usaha sia-sia tapi tetap kau laksanakan!"

"Keparat! Siapa kau sebenarnya?!" hardik Iblis Rangkap Jiwa.

Yang dibentak sunggingkan senyum. "Aku memang bukan orang yang banyak dikenal dalam dunia persilatan. Namun setidaknya aku juga punya kemampuan untuk menggenggam rimba persilatan!"

Mendengar ucapan si perempuan, Iblis Rangkap Jiwa pandangi wajah orang dari atas hingga bawah. Kejap lain tawanya meledak. "Bagaimana mungkin, orang yang namanya belum begitu banyak dikenal dunia persilatan akan mampu menggenggam rimba persilatanl Kau terlalu tinggi berangan-angan, Anak Manis...!"

Si perempuan menunggu sampai tawa Iblis Rangkap Jiwa lenyap. Begitu laki-laki berkepala gundul ini hentikan gelakan tawanya, si perempuan angkat bicara. "Kepandaian tinggi bukan satu-satunya alat untuk menggenggam dunia persilatan! Ada hal lain yang lebih dari itu! Buktinya, meski kau memiliki kepandaian tinggi, namun untuk memiliki sebuah kitab, kau tidak berhasil! Bahkan kau harus menjadi budak orang lain!"

Tulang rahang Iblis Rangkap Jiwa mengembang. Sepasang matanya mendelik angker. "Dengar! Semua ini hanya sementara! Dan ini adalah salah satu rencanaku!"

Si perempuan kini ganti perdengarkan tawa bergelak panjang. Lalu berkata dengan sedikit tengadahkan kepalanya. "Ingat. Urusan yang kau hadapi tidak ada istilah sementara! Sekali kau menjadi budak orang, selamanya kau akan jadi budak! Kau mempunyai satu rencana, tapi di lain pihak, tuan besarmu menyimpan seribu rencana!"

"Keparat! Kau tahu apa tentang aku, nah?!"

"Kalau kau mendengar ucapanku sejak tadi, kau tentu tak akan ucapkan pertanyaan itu! Aku tahu siapa kau bahkan siapa yang telah mendapatkan kitab sakti itu!"

"Berarti kau harus mampus!"

"Kau membutuhkan diriku dalam urusanmu!"

Iblis Rangkap Jiwa angkat tangan kanannya seraya mengepal. "Tanganku masih memiliki kekuatan! Aku memang membutuhkan dirimu. Bukan dalam urusanku. Tetapi dalam hal bersenang-senang denganku! Ha Ha Ha...!"

Si perempuan ikut tertawa. "Urusan bersenang-senang, bukan kau saja yang membutuhkan. Aku juga menginginkannya..."

Ucapan si perempuan membuat Iblis Rangkap Jiwa terkesiap. Tanpa sengaja kakinya bergerak melangkah dua tindak dengan kedua tangan mengembang. Di depannya, si perempuan beraju biru surutkan langkah Masih dengan sunggingkan senyum dia berkata.

"Keinginanmu bisa saja kita lakukan di mana dan kapan saja! Itu pekerjaan mudah. Tapi sebenarnya ada pekerjaan sulit yang harus segera kita lakukan! Pekerjaan ini harus kita perhitungkan matang kalau kita tidak ingin mati terlalu cepat!"

"Kau mengajakku bersekongkol untuk merebut kitab itu! Benar?!" tanya Iblis Rangkap Jiwa dengan tersenyum dingin.

"Urusan kitab bukanlah satu-satunya tujuanku!"

"Hem... Lalu apa tujuanmu sebenarnya?!"

"Aku inginkan nyawa Pendekar 131 dan Malaikat Penggali Kubur dan aku ingin nyawa kedua manusia keparat itu putus tanpa aku harus ikut turun tangan"

"Satu keinginan yang mustahil!"

Si perempuan gelengkan kepala. Sambil tertawa perlahan dia berucap. "Aku punya cara tersendiri untuk laksanakan keinginanku. Dan aku yakin perhitungan caraku tidak akan meleset!"

"Hem... Mau katakan apa caramu?!"

"Aku dikenal dengan gelar Ratu Pemikat. Dengan cara itulah aku akan mempertemukan mereka berdua. Aku tahu, diantara mereka berdua terdapat silang sengketa dan dendam! Dari pertemuan mereka, kita bisa mendapatkan hasil tanpa harus turun tangan"

"Hem... Ada benarnya juga ucapan perempuan ini!" kata Iblis Rangkap Jiwa dalam hati.

Laki-laki ini hendak berkata. Tapi si perempuan yang bukan lain adalah Ratu Pemikat adanya telah lanjutkan ucapannya. "Tapi untuk mempertemukan mereka, bukanlah hal mudah. Aku butuh orang sepertimu! Karena tidak tertutup kemungkinan ada orang lain yang ikut campur dan harus dihadapi dengan jalan kekerasan! Untuk Itulah aku menawarkan padamu untuk bergabung denganku! Kita memang punya tujuan berlainan, tapi orang yang kita hadapi adalah sama!"

"Baik! Kita bergabung. Tapi kalau di balik rencanamu kau menyimpan satu rencana lain, kau akan menyesal!"

Ratu Pemikat arahkan pandangannya kejurusan lain. "Kau tidak memiliki apa-apa yang dapat diambil keuntungannya. Kalau ada, itu hanyalah karena kau juga punya dendam pada Malaikat Penggali Kubur! Jika tidak, mungkin aku tadah cari orang lain..."

Iblis Rangkap Jiwa menyumpah-nyumpah dalam hati. Sementara Ratu Pemikat putar tubuhnya sambil berkata. "Aku tak punya waktu banyak! Aku ingin cepat dengar keputusanmu tanpa ancaman!"

Karena ditunggu agak lama Iblis Rangkap Jiwa tidak segera buka suara memberi jawaban, Ratu Pemikat melangkah.

"Tunggu!"

Ratu Pemikat teruskan langkah tanpa hiraukan teriakan Iblis Rangkap Jiwa, membuat laki-laki ini segera berkelebat lalu tegak menghadang di hadapan Ratu Pemikat.

"Syaratmu kuterima! Tapi..."

Ratu Pemikat hentikan langkah. Menatap sejurus pada Iblis Rangkap Jiwa. Seakan tahu apa lanjutan kata-kata yang hendak diucapkan orang, dia berkata.

"Urusan senang-senang pasti akan kita lakukan! Tapi bukan di sini tempatnya!"

Habis berkata begitu, Ratu Pemikat berkelebat menuruni bukit. Iblis Rangkap Jiwa putar diri. Seakan tak sabar dia hentakkan sepasang kakinya lalu menyusul turun puncak Bukit Selamangleng yang mulai terang karena sinar matahari telah unjuk diri.

BAB 9

PADA satu tempat, Iblis Rangkap Jiwa dan Ratu Pemikat hentikan larinya masing-masing. Iblis Rangkap Jiwa putar kepalanya dengan sepasang mata menyelidik berkeliling. Di sebelahnya Ratu Pemikat hanya edarkan pandangannya sejurus lalu berpaling pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Kau tidak lupa bahwa di tempat inilah kau terakhir jumpa dengan Pendekar 131?!"

Tanpa memandang pada Ratu Pemikat, iblis Rangkap Jiwa menyahut. Suaranya keras karena agak jengkel. "ingatanku masih normal. Selang waktunya belum lama! Dan malah aku yakin mereka sempat terkena pukulanku! Dan kau bisa lihat bekas-bekas di tempat ini!" seraya berkata, tangan kiri Iblis Rangkap Jiwa menunjuk pada beberapa tempat yang tampak porak-poranda akibat pukulan.

"Hem... Tapi..."

Belum sampai Ratu Pemikat selesaikan ucapannya, Iblis Rangkap Jiwa telah menukas. "Tak ada gunanya kita berdebat! Terserah kau percaya apa tidak! Yang jelas, di tempat inilah aku jumpa dengan Pendekar 131!"

"Hem... Lalu ke mana kira-kira mereka?!"

Iblis Rangkap Jiwa berpaling memandang pada Ratu Pemikat. "Kalau aku tahu, tak mungkin aku banyak bicara lagi!"

"Tapi setidaknya kau bisa menduga!"

"Aku berlari ke arah timur dan sempat menunggu beberapa saat di suatu tempat. Tapi mereka tidak mengejarku!"

Begitu mendengar jawaban iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat edarkan matanya berkeliling dengan meneliti agak saksama. Lalu matanya berhenti pada sosok iblis Rangkap Jiwa.

"Kita ke arah barat!"

Habis berkata begitu, tanpa menunggu Iblis Rangkap Jiwa buka suara, Ratu Pemikat berkelebat, Iblis Rangkap Jiwa masih termangu sejenak. Namun di kejap lain dia berlari ke arah yang diambil Ratu Pemikat. Saat matahari mulai condong ke arah barat, Ratu Pemikat berhenti. Tangan kanannya diangkat, Iblis Rangkap Jiwa serta-merta hentikan larinya dengan sepasang mata menatap tajam pada sang Ratu.

"Kuharap kau menunggu di sini! Aku akan memberi isyarat kapan saatnya kau harus keluar!"

Lagi-lagi tanpa menunggu sahutan Iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat telah berkelebat. "Jahanam! Dia seakan tidak memberiku kesempatan! Tapi... Aku masih punya waktu banyak untuk dapat menikmati tubuhnya! Hem... Aku memang menangkap adanya seseorang tidak jauh dari tempat ini! Memang sebaiknya aku menunggu. Dengan begitu, aku dapat mengetahui lebih dahulu siapa yang akan kuhadapi!" kata iblis Rangkap Jiwa dalam hati seraya memandang ke arah sosok Ratu Pemikat yang berkelebat dan lenyap di tikungan di depan sana.

Apa yang ditangkap oleh Iblis Rangkap Jiwa dan sebelumnya sudah pula ditangkap Ratu Pemikat benar adanya. Baru saja Ratu Pemikat berkelebat sejarak dua puluh tombak, sepasang matanya membentur pada satu sosok tubuh yang duduk bersila di lamping sebuah tanah yang agak menggugus. Untuk beberapa saat Ratu Pemikat pandangi orang dengan dahi berkerut.

"Seorang pemuda berparas tampan... Sayang, tidak memiliki tangan! Siapa dia? Tapi siapa pun dia adanya, sikap dan tindakannya yang bersemadi menunjukkan kalau dia dari kalangan orang persilatan..."

Ratu Pemikat melangkah mendekat. Kira-kira tujuh langkah di hadapan orang yang duduk bersila dan tampak bersemadi dengan sepasang mata terpejam, perempuan berparas cantik dan bertubuh bahenol ini berhenti. Sekali lagi ditatapinya orang yang duduk dengan lebih saksama.

Saat itulah mendadak orang yang duduk bersila kempotkan kedua pipinya lalu meniup. Bundaran karet yang sedari tadi tampak di mulutnya melesat dan mengapung di udara. Mungkin karena sama sekali tidak menduga dan juga karena menyangka orang lakukan serangan, Ratu Pemikat berseru tertahan. Sosoknya melompat ke samping. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi. Orang yang duduk bersila dan bukan lain adalah Dewa Orok adanya buka kelopak matanya. Meski sepasang matanya memandang pada Ratu Pemikat, namun apa yang ada dalam benak si pemuda adalah lain.

"Heran. Bagaimana aku tahu-tahu berada di sini? Ke mana Pendekar 131 dan Ratu Malam serta manusia buta itu?!"

Seperti diketahui, begitu tersambar pukulan Iblis Rangkap Jiwa, Dewa Orok sempat terkapar. Lalu muncullah Gendeng Panuntun. Dewa Orok tidak tahu apa yang kemudian terjadi, karena begitu kerahkan tenaga murni seperti yang dikatakan Gendeng Panuntun dan satu cahaya putih berkiblat ke arahnya, dia merasakan pandangannya menghitam. Yang sempat dirasakannya saat itu adalah tubuhnya melayang dalam pundak orang. Saat dia buka kelopak matanya, yang dia tahu dia sudah berada di tempat lain. Dewa Orok kerjapkan sepasang matanya. Dan tahu apa yang hendak dilakukan Ratu Pemikat, pemuda bertangan buntung ini cepat buka mulut.

"Kukira kita masih belum kenal. Adakah perkenalan ini harus didahului dengan satu pukulan?!"

Ratu Pemikat urungkan niat. Perlahan-lahan kedua tangannya ditarik kembali ke bawah. Lalu melompat lagi ke tempatnya semula. Begitu sepasang kakinya menginjak tanah, perempuan ini segera berkata.

"Kita memang belum kenal! Jadi katakan siapa kau sebenarnya?!"

Dewa Orok pandangi orang dengan bibir sunggingkan senyum. "Aku telah katakan lebih dahulu kalau kita belum saling kenal! Jadi harap kau katakan dahulu siapa kau sebenarnya!"

Mendengar orang yang ditanya malah balik ajukan tanya, Ratu Pemikat kelihatan belalakkan sepasang matanya. Kalau perturutkan hati, mungkin perempuan ini sudah tidak sabaran. Namun mengingat saat ini dia tengah menjalankan satu urusan besar yang selain harus bertindak hati-hati dan waspada seperti menjauhi silang sengketa baru dengan orang lain, maka Ratu Pemikat coba menindih perasaan. Seraya tersenyum dia berkata menjawab.

"Aku digelari orang Ratu Pemikat!"

"Ah..." Dewa Orok perdengarkan keluhan. "Gelar yang sesuai dengan orangnya... Cantik, bertubuh bagus dan memang memikat... Tapi apakah..."

"Sekarang katakan siapa kau sebenarnya!" Ratu Pemikat menukas ucapan Dewa Orok.

“Heem... Aku digelari orang Pendekar 131" ucap Dewa Orok seenaknya malah sambil alihkan pandangannya.

Ratu Pemikat semakin beliakkan sepasang matanya. Diam-diam dalam hati perempuan ini membatin. "Dia perkenalkan diri dengan menggunakan nama Pendekar 131. Pasti dia mengenal Pendekar 131! Hem... Apa dikira aku tidak kenal dengan Pendekar 131?!"

Ratu Pemikat masih coba menahan perasaan meski makin tambah dongkol. Malah dengan maju satu tindak dan kembangkan senyum dia angkat bicara. "Senang jumpa dengan seorang tokoh yang namanya banyak dikenal dunia persilatan. Berada di tempat begini sendirian apa kau menunggu seseorang?"

"Ucapanmu tidak salah! Sayang, lain yang ditunggu lain pula yang muncul! Tapi aku bersyukur. Yang muncul seorang perempuan yang memikat! Lewat di tempat begini sendirian, apa kau tengah mencari seseorang?!"

"Dugaanmu benar! Sayang, lain yang dicari lain pula yang ditemui! Tapi aku bersyukur... yang kutemui seorang pemuda tampan dan sudah dikenal orang dengan nama menjulang!" Ratu Pemikat ikut-ikutan tirukan ucapan Dewa Orok.

Dewa Orok bergerak bangkit. Mulutnya membuat gerakan menyedot. Bundaran karet yang mengapung di udara melesat masuk ke dalam mulutnya. Sejenak pemuda bertangan buntung ini kempotkan kedua pipinya. Terdengar suara duut! Duuttt! Duuttt! Saat berikutnya Dewa Orok anggukkan kepala. Lalu tanpa berkata lagi dia putar tubuh setengah lingkaran. Kejap lain dia melangkah meninggalkan tempat itu.

"Boleh aku tahu. Hendak ke mana kau?!" teriak Ratu Pemikat.

Dewa Orok hentikan langkahnya. "Kau bukan orang yang kutunggu! Jadi harap tidak kecewa kalau aku tidak bisa jawab pertanyaanmu!"

"Hem... Begitu? Boleh aku tahu siapa orang yang kau tunggu?!"

Masih tanpa putar tubuh menghadap Ratu Pemikat, Dewa Orok menyahut. "Sebenarnya aku bisa katakan siapa saja padamu. Tapi aku tidak mau berkata dusta padamu. Jadi terus terang aku juga merasa menyesal tidak bisa jawab lagi pertanyaanmu! Malah kalau tidak keberatan, bisa katakan padaku siapa orang yang tengah kau cari?!"

Dengan menyeringai karena tidak dapat kuasai perasaan, Ratu Pemikat menjawab dengan suara keras. "Kau! Kaulah orang yang kucari!"

Dengan agak terkejut, Dewa Orok balikkan tubuh. Sesaat dipandanginya Ratu Pemikat. Namun saat lain sepasang mata pemuda ini terpejam seraya berkata. "Heran. Kau tadi mengatakan lain yang dicari lain pula yang ditemui. Bukankah itu berarti bahwa bukan aku orang yang tengah kau cari?! Lagi pula perempuan cantik sepertimu mengapa mencari pemuda seperti ku? Aku tidak memiliki kedua tangan. Pasti kau nanti akan menyesal seumur-umur!"

"Dengar! Aku memang tidak butuh pemuda tidak memiliki tangan sepertimu!"

"Kalau begitu, aku bisa pergi..." ucap Dewa Orok dengan suara agak mendesis karena mulutnya tertutup oleh bundaran karet. Masih dengan sepasang mata terpejam, pemuda ini kembali balikkan tubuh.

Namun sebelum kaki Dewa Orok bergerak melangkah, Ratu Pemikat telah angkat bicara. "Kau bisa pergi, tapi tinggalkan keterangan padaku!"

Dewa Orok gelengkan kepala. "Dari pemuda sepertiku, keterangan apa yang bisa kuberikan padamu?!"

"Di mana beradanya Pendekar 131?!"

Sesaat Dewa Orok tampak terkejut. Sepasang matanya kontan membuka dengan mulut komat-kamit. Saat lain dia meniup. Bundaran karet mencuat ke udara. "Kau benar-benar mencariku?!"

"Aku mencari Pendekar 131! Bukan kau!"

"Tapi aku adalah..."

"Aku tahu luar dalam siapa Pendekar 131! Jadi jangan banyak mulut bicara tak karuan!" hardik Ratu Pemikat.

"Ah... Kau tentu salah lihat! Atau jangan-jangan kau telah dikelabui orang..."

Mungkin tidak sabar, Ratu Pemikat meloncat ke depan dan tegak sejarak empat langkah di depan Dewa Orok. "Aku tidak dapat dikelabui orang! Apalagi orang sepertimu!"

"Aku juga tidak dapat dikelabui orang! Apalagi orang cantik sepertimu!" Dewa Orok mulai ikut-ikutan bicara seperti ucapan Ratu Pemikat.

"Persetan dengan ucapanmu! Kau mengaku-ngaku sebagai Pendekar 131, berarti kau kenal Pendekar 131. Dan tentu kau tahu di mana dia!"

"Kalau kau bisa mengatakan persetan dengan ucapanku. Jangan menyesal kalau aku juga bisa mengatakan persetan dengan pertanyaan dan dugaanmu!"

"Siapa menduga!" sentak Ratu Pemikat.

"Siapa menduga?" tanya Dewa Orok sambil tertawa mengekeh. "Kau jelas telah tahu kalau di sini hanya kita berdua! Kau tadi mengatakan aku tahu di mana orang yang tengah kau cari dan menurutmu bernama sepertiku! Bukankah itu sebuah dugaan?!"

"Hem... Kau pintar bicara!"

Dewa Orok gelengkan kepala. "Sebagai orang yang bergelar Ratu Pemikat, pasti kau lebih pintar bicara daripada aku! Dan aku khawatir, jangan-jangan kau..." Dewa Orok tidak lanjutkan ucapannya.

"Jangan-jangan apa, hah?!" sahut Ratu Pemikat.

"Semua pembicaraanmu tadi hanya untuk memikatku..."

Tampang Ratu Pemikat berubah merah padam. Perempuan ini sudah tidak dapat lagi menindih perasannya. Tubuhnya tampak bergetar. "Dengar! Aku tak peduli siapa kau sebenarnya! Tapi jika kau tidak mengatakan di mana Pendekar 131, aku tak segan membuatmu tidak hidup juga tidak mati! Kau dengar?!"

"Aku dengar, Ratu... Tapi harap kau dengar juga. Aku memang sejak lama sudah tidak peduli orang memandangku siapa! Yang jelas aku adalah Pendekar 131!"

"Bagus! Rupanya kau lebih suka hidup tidak mati juga tidak!" Belum habis kata-kata Ratu Pemikat, perempuan ini sudah berkelebat ke depan. Kedua tangannya diangkat tinggi Bersamaan dengan itu kaki kanannya bergerak menendang dengan menyamping

Dewa Orok sedot bundaran karet masuk ke dalam mulutnya, pemuda melakukan gerakan satu kali. Kejap lain sepasang kakinya telah berada di atas udara sementara kepalanya berada di bawah. Begitu sepasang tangan Ratu Pemikat dan tendangan kaki kanannya menggebrak, Dewa Orok tekuk kedua kakinya lalu serentak disentakkan lurus ke depan.

Bukkkkk!

Terdengar seruan tertahan dari mulut Ratu Pemikat. Kedua tangannya mental deras ke samping. Sosoknya terhuyung beberapa tindak ke belakang. Malah kaki kanannya yang menendang sudah tersapu terlebih dahulu sebelum mencapai sasaran! Pada mulanya Ratu Pemikat hanya memandang sebelah mata pada Dewa Orok hingga saat lakukan pukulan dan tendangan, perempuan ini hanya sedikit kerahkan tenaga dalamnya. Dia lebih andalkan tenaga luar.

"Keparat! Siapa pemuda ini?" Ratu Pemikat perhatikan orang di hadapannya dengan rahang mengembang. Diam-diam dia kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Kali ini dia tidak mau bertindak ayal. Bentrok yang baru saja terjadi membuat dirinya maklum kalau orang yang dihadapi bukan orang yang bisa dipandang sebelah mata. Sementara di depan sana, Dewa Orok tetap tegak dengan bertumpu pada kepalanya. Malah pemuda ini tampak sunggingkan senyum lalu buka mulut.

"Ratu... Kau telah temui orang yang tengah kau cari. Harap katakan apa tujuanmu mencariku “

Ratu Pemikat tidak menjawab pertanyaan itu dan mengeluarkan dengusan keras. Saat bersamaan dengan sosoknya berkelebat ke depan. Kedua tangannya menyambar ke arah selangkangan Dewa Orok. Dewa Orok pejamkan sepasang matanya. Kedua kakinya sambil ditekuk dengan lutut disilangkan tepat di depan selangkangan.

Bukkk!

Untuk kedua kalinya kedua tangan Ratu Pemikat bentrok dengan kedua kaki Dewa Orok. Meski Ratu Pemikat telah kerahkan tenaga dalamnya dua kali lipat dari yang semula, namun tak urung juga sosoknya terlihat surut satu tindak. Tapi sebelum sosoknya terseret lebih jauh, perempuan berparas cantik ini cepat sentakkan tubuhnya ke bawah. Saat bersamaan sosoknya terhenti lalu kedua kakinya laksana kilat menggebrak lurus ke arah kepala Dewa Orok!

Dewa Orok buka kelopak matanya. Sesaat matanya mendelik. Dengan perdengarkan seruan, pemuda bertangan buntung ini tarik kepalanya ke belakang. Bersamaan itu kedua kakinya diluruskan lalu dihempaskan ke depan.

Seeett!

Gerakan sepasang kaki Ratu Pemikat tertahan. Perempuan ini tampak menjerit Karena sepasang kaki Dewa Orok menjepit pinggulnya!

"Kurang ajar!" Kedua tangan Ratu Pernikat bergerak menghantam punggung Dewa Orok yang kini setengah tegak di atas tubuhnya dengan posisi membelakangi. Bukan hanya sampai di situ. Ratu Pemikat serentak juga gerakkan kedua kakinya ke atas menghantam ke arah dada lawan.

Mendapat serangan dari depan dan belakang, Dewa Orok tampak terkesiap. Namun pemuda ini tidak hilang akal. Sejengkal lagi kedua tangan dan kaki Ratu Pemikat menghantam telak punggung dan dadanya, dia gerakkan tubuhnya ke samping dengan kedua kaki menggapit pinggul Ratu Pemikat.

Ratu Pemikat menggeram. Kedua tangannya digerakkan berbelok mengikuti arah gerakan tubuh Dewa Orok. Pada saat yang sama, kaki kirinya juga bergerak searah gerakan dada Dewa Orok. Namun lagi-lagi Ratu Pemikat mendengus marah. Karena Dewa Orok telah terlebih dahulu menggerakkan tubuhnya dengan cepat ke samping kanan. Hingga baik kedua tangan dan kaki Ratu Pemikat hanya menghantam tempat kosong!

Mungkin merasa dipermainkan orang, dengari lipat gandakan tenaga dalamnya, Ratu Pemikat tekuk kedua tangan dan kakinya. Kejap kemudian siku serta lututnya menghantam sekaligus ke arah kaki dan perut Dewa Orok.

Dewa Orok tidak tinggal diam. Laksana disentakkan tangan setan, pemuda ini angkat tubuhnya sedikit ke atas. Lalu serta-merta pantatnya didorong ke belakang.

Bukkk! Bukkk!

Kedua siku Ratu Pemikat menghantam telak kaki Dewa Orok hingga jepitan kakinya pada pinggul sang Ratu lepas. Namun bersamaan dengan itu pantat Dewa Orok menghantam tepat wajah Ratu Pemikat membuat perempuan ini terjengkang telentang di atas tanah. Sementara Dewa Orok jatuh terduduk di atasnya dengan kedua kaki merentang di atas bahu kiri dan kanan Ratu Pemikat.

"Bangsat keparat!" teriak Ratu Pemikat. Kedua tangannya cepat bergerak menggaet kedua kaki Dewa Orok. Kedua kakinya pun segera menghentak tanah.

Saat lain sosoknya bergerak bangkit. Karena kedua kaki Dewa Orok berada di atas bahu Ratu Pemikat, maka tubuh Dewa Orok tampak terangkat ke atas. Melihat hal demikian, Ratu Pemikat tidak sia-siakan kesempatan. Kaki kanannya cepat dihantamkan ke belakang. Namun terlambat. Karena Dewa Orok telah terlebih dahulu tubrukkan tubuhnya ke arah paha kaki kiri Ratu Pemikat yang dibuat sebagai tumpuan tubuhnya.

Dessss!

Ratu Pemikat menjerit tinggi. Sosoknya terhuyung-huyung. Dewa Orok tarik tubuhnya ke depan, lalu kembali ditubrukkan ke arah paha Ratu Pemikat.

Dessss!

Kedua kaki Ratu Pemikat menekuk. Lalu perempuan ini jatuh terduduk. Dewa Orok cepat angkat tubuhnya ke atas. Laiu kedua kakinya yang masih dipegang Ratu Pemikat dilorotkan ke bawah, hingga tubuh pemuda bertangan buntung ini nongkrong di atas tengkuk Ratu Pemikat.

"Kalau begini rasanya tidak hidup tidak mati, aku ingin seumur-umur begini saja!" ujar Dewa Orok seraya kempotkan pipinya menyedot hingga saat itu juga terdengar suara duutt! Duutt! beberapa kali.

Ratu Pemikat memaki dengan kedua tangan lepaskan gaetannya pada kedua kaki Dewa Orok. Serta-merta kedua tangannya bergerak menghantam ke atas. Namun sebelum kedua tangan Ratu Pemikat menghantam, satu gelombang luar biasa dahsyat menggebrak

BAB 10

MESKI Ratu Pemikat adalah orang yang paling terkejut karena baginya tidak mungkin dapat hindarkan diri selagi tubuh Dewa Orok masih nongkrong di tengkuknya, namun Dewa Orok juga tampak tak kalah terkejut. Namun pemuda ini cepat berpikir. Kejap lain kedua kakinya yang teiah lepas dari gaetan Ratu Pemikat ditarik ke atas menggaet lengan si perempuan yang tengah terangkat.

Dewa Orok kerahkan tenaga dalamnya. Tubuh bagian atasnya disentakkan ke atas. Bersamaan dengan itu tubuhnya terangkat. Karena kedua kakinya menggaet kedua lengan Ratu Pemikat, maka tak urung sosok Ratu Pemikat juga ikut terangkat. Lima jengkal lagi gelombang dahsyat melanggar, Dewa Orok gerakkan kedua kakinya ke arah lambung kiri kanan Ratu Pemikat. Dengan sedikit sentakkan kaki, sosoknya melesat.

Di lain pihak, Ratu Pemikat cepat sentakkan kedua kakinya. Sosoknya berkelebat. Tapi kelebatan tubuh Ratu Pemikat bersamaan dengan datangnya gelombang, hingga meski tubuhnya selamat, namun tak urung kaki kanannya masih juga tersambar gelombang. Tak ampun lagi tubuhnya sempat terbanting di udara sebelum akhirnya jatuh terkapar.

Dewa Orok cepat balikkan tubuh. Bersamaan dengan itu Ratu Pemikat cepat sentakkan kedua tangannya. Sosoknya bergerak duduk. Sejenak perempuan ini meneliti bagian kakinya. Parasnya seketika berubah. Karena kaki kanannya tampak mengembung hitam dan terasa panas luar biasa.

"Bangsat siapa yang berani lakukan serangan dari belakang ini?!" Laksana disentak setan, kepalanya cepat berpaling kebelakang dari mana gelombang yang sempat menghajar kaki kanannya datang.

Kali ini meski Ratu Pemikat sempat terkesiap, tapi yang terlihat paling tersentak kaget adalah Dewa Orok. Kedua orang ini melihat seorang laki-laki berkepala gundu! tegak dengan kedua tangan mengembang ke belakang dan bibir sunggingkan senyum dingin.

"Sialan! Mengapa kau menyerangku?!" seru Ratu Pemikat dengan suara keras bergetar.

"Betul! Sialan! Mengapa dia juga menyerangku?” Dewa Orok ikut-ikutan memaki meski raut wajahnya tak dapat sembunyikan rasa khawatir.

Laki-laki berkepala gundul dan bukan lain adalah Iblis Rangkap Jiwa adanya tanggapi makian orang dengan mulut terkancing. Namun tubuhnya terlihat sedikit bergetar tanda laki-laki ini telah dilanda amarah. Iblis Rangkap Jiwa memandang pada Dewa Orok dengan tampang beringas.

"Kali ini kau tak akan lolos, Jahanam" teriaknya sambil kerahkan tenaga dalam.

"Astaga! Jadi Iblis Rangkap Jiwa telah mengenal pemuda itu! jangan-jangan pemuda itu salah satu orang yang diceritakan bersama-sama Pendekar 131! Jadi dia adalah Dewa Orok..." Ratu Pemikat membatin dalam hati seraya pandangi Dewa Orok. Lalu berpaling lagi pada iblis Rangkap Jiwa.

Sebenarnya Iblis Rangkap Jiwa sudah sejak tadi mengintai dan mendengar adu mulut antara Dewa Orok dan Ratu Pemikat. Namun sejauh ini dia belum berani unjuk diri. Dia masih khawatir kalau Pendekar 131 dan Ratu Malam ada di sekitar tempat ini, karena pada pertemuan kemarin Dewa Orok memang bersama-sama dengan Pendekar 131 dan Ratu Malam.

Begitu ditunggu agak lama dan yakin kalau tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, Iblis Rangkap Jiwa segera kirimkan pukulan saat Ratu Pemikat hendak lakukan pukulan ke arah Dewa Orok yang tengah nongkrong di atas tengkuknya.

Sementara melihat siapa adanya orang, Dewa Orok terlihat gelisah. Untuk beberapa saat dia tampak tercenung berpikir. "Di sini memang ada seorang perempuan. Tapi tak mungkin dia mau kuajak bekerja sama. Bagaimana sekarang...?!"

Selagi Dewa Orok tengah berpikir, Ratu Pemikat telah bangkit berdiri meski sesaat tampak terhuyung-huyung.

"Kau bernasib malang! Di tempat ini tidak ada lagi orang yang dapat membantumu, Jahanam! Dan nyawamu seperti pernah kukatakan adalah telah diperuntukkan untukku sebagai imbalan!" kata Iblis Rangkap Jiwa lalu angkat kedua tangannya.

"Tunggu!" tahan Ratu Pemikat.

Iblis Rangkap Jiwa tidak hiraukan seruan Ratu Pemikat. Kedua tangannya terus diangkat tinggi-tinggi ke atas. Maklum akan apa yang hendak dilakukan iblis Rangkap Jiwa dan yakin jika Iblis Rangkap Jiwa tidak main-main dengan ucapannya, Ratu Pemikat cepat berkelebat ke arah Iblis Rangkap Jiwa. Ratu Pemikat angkat tangannya menahan kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa yang hendak kirimkan pukulan ke arah Dewa Orok.

"Jangan bikin dia mampus! Keterangannya kita butuhkan! Menurut ucapan-ucapannya dan ceritamu, aku hampir yakin kalau dia tahu di mana Pendekar 131! Kalau dia sampai mampus, pencarian kita tambah sukar”

"Tapi dia harus mampus di tanganku! Kalau tidak, urusan dengan Malaikat Penggali Kubur tidak cepat selesai!" sahut Iblis Rangkap Jiwa dengan mata terus pandangi Dewa Orok. Laki-laki berkepala gundul ini seakan tidak mau lagi kehilangan orang yang harus dibunuh seperti yang diperintahkan Malaikat Penggali Kubur.

"Dia memang harus mampus! Tapi bukan untuk saat sekarang! Setelah dia beri keterangan, nyawanya terserah padamu!"

Iblis Rangkap Jiwa gelengkan kepala. "Jejak Pendekar 131 dapat kita cari! Tapi kalau aku kehilangan jejak manusia buntung itu, urusanku akan jadi berantakan! Bahkan nyawaku tidak dapat kuselamatkan!"

"Urusanmu dengan MalaiKat Penggali Kubur nanti bisa kita atur lagi. Bukankah tujuan utamamu kitab itu? Dengan keterangan dari pemuda bertangan buntung itu, kita akan tahu di mana Pendekar 131. Kalau kita berhasil mempertemukan Pendekar 131 dengan Malaikat Penggali Kubur, urusan kitab sakti itu akan juga selesai! Bukankah begitu?"

"Tapi urusanku dengan Malaikat Penggali Kubur lain! Nyawaku tergantung pada nyawa pemuda itu!"

Ratu Pemikat tertawa perlahan. "Urusan Malaikat Penggali Kubur dengan Pendekar 131 kurasa lebih berarti bagi Malaikat Penggali Kubur dibanding urusan nyawa pemuda buntung itu dan kau!"

"Tapi..."

"Nyawanya hanya kita tahan sementara sampai dia beri keterangan! Malah mungkin Malaikat Penggali Kubur tentu dapat mengerti apa yang kita lakukan jika dia kelak tahu!" potong Ratu Pemikat lalu lepaskan kedua tangannya pada kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa.

"Bikin dia tidak berdaya!"

Sesaat Iblis, Rangkap Jiwa terdiam. Namun saat lain kepalanya mengangguk. Bersamaan dengan itu kedua tangannya bergerak lakukan pukulan. Namun tenaga dalam yang dikerahkan sudah jauh berkurang dari apa yang hendak dilakukan semula

Di depan sana Dewa Orok tampak tarik sedikit tubuhnya ke belakang. Pemuda itu maklum akan tingkat ilmu Iblis Rangkap Jiwa. Hingga dia tak berani bertindak sembarangan. Ketika gelombang angin dahsyat melesat dari kedua tangan iblis Rangkap Jiwa, Dewa Orok cepat sentakkan tubuhnya ke depan.

Wuuttt!

Gelombang kabut putih menghampar dan dada Dewa Orok memangkas gelombang angin yang keluar dari kedua tangan iblis Rangkap Jiwa. Karena Iblis Rangkap Jiwa hanya kerahkan sedikit tenaga dalamnya, sementara Dewa Orok kerahkan segenap tenaga dalamnya, maka begitu kedua pukulan mereka bentrok di udara, sosok iblis Rangkap Jiwa tampak mencelat mental sampai satu setengah tombak ke belakang. Di lain pihak, sosok Dewa Orok hanya terseret beberapa langkah. Meski demikian, paras pemuda bertangan buntung ini tampak berubah. Dadanya bergetar keras. Malah kedua pijakan kakinya sedikit menekuk.

Sementara sosok Iblis Rangkap Jiwa tampak jatuh terkapar di atas tanah. Namun karena laki-laki ini dikenal sebagai tokoh berilmu tinggi yang tahan pukul, maka begitu sosoknya terkapar di atas tanah, dia cepat bergerak bangkit. Kejap kemudian dia berkelebat dan tahu-tahu telah tegak di hadapan Dewa Orok dengan senyum seringai.

"Wah... Benar-benar celaka kali ini!" desis Dewa Orok. Wajahnya tegang dengan mulut komat-kamit. Namun kali ini bundaran karet pada mulutnya tidak perdengarkan suara.

"Hem... Manusia ini benar-benar luar biasa! Dia memang tidak mempan pukulan! Aku harus dapat memanfaatkan tenaganya..." Diam-diam Ratu Pemikat membatin. "Dia tampaknya melakukan apa yang kuucapkan. Dengan begitu apa yang kurencanakan akan segera menjadi kenyataan..."

Habis membatin begitu, Ratu Pemikat ikut berkelebat, dan tegak di samping Iblis Rangkap Jiwa. Sejurus dia memandang pada Dewa Orok, lalu beralih pada Iblis Rangkap Jiwa. Bibirnya sunggingkan senyum. Kepalanya bergerak mendekat. Dia lalu berbisik.

"Buat dia tidak berkutik! Setelah itu kita bersenang-senang..."

Iblis Rangkap Jiwa tersenyum. Dipandanginya dada dan pinggul Ratu Pemikat. "Tidak sulit lakukan apa yang kau minta..." bisiknya.

"Kalian berbisik-bisik apa...?!" teriak Dewa Orok.

Pemuda ini sengaja mencari bahan pembicaraan untuk mengulur waktu sambil berpikir untuk dapat selamatkan diri, karena dia sadar tidak ada gunanya melayani Iblis Rangkap Jiwa yang tahan terhadap pukulan. Malah hal itu akan membuatnya celaka sendiri.

Mendengar teriakan Dewa Orok, Iblis Rangkap Jiwa sentakkan kepalanya menghadap. Sepasang matanya berkilat. Seakan tahu apa yang ada dalam benak Dewa Orok, Iblis Rangkap Jiwa tertawa bergelak lalu berkata.

"Jangan harap kau bisa memancingku untuk berdebat. Ha Ha...!"

Gelakan tawa Iblis Rangkap Jiwa belum lenyap, kedua tangannya telah lakukan pukulan ke arah Dewa Orok. Mungkin takut kalau Iblis Rangkap Jiwa hanya kerahkan sedikit tenaga dalamnya, Ratu Pemikat segera pula lakukan pukulan. Yang diarah adalah bagian kaki Dewa Orok.

"Benar-benar akan tamat riwayatku..." gumam Dewa Orok. Namun meski sudah merasa maklum tak ada artinya lagi memangkas pukulan kedua orang di hadapannya, pemuda bertangan buntung ini tidak mau berdiam diri. Tubuhnya cepat disentakkan ke belakang lalu dihempaskan ke depan.

Pukulan dari Iblis Rangkap Jiwa dan Ratu Pemikat tampak semburat kian kemari. Namun karena harus bentrok dengan dua pukulan, mau tak mau sosok Dewa Orok tampak mencelat deras ke beiakang meski di depan sana Ratu Pemikat dan iblis Rangkap Jiwa juga terlihat mental.

Kali ini rupanya Iblis Rangkap Jiwa sudah tidak sabaran lagi, apalagi setelah mendapat janji dari Ratu Pemikat. Hingga begitu tubuhnya mental ke belakang, dia cepat kuasai diri lalu sekonyong-konyong melesat balik ke arah Dewa Orok yang masih terhuyung-huyung. Belum sampai Dewa Orok tegak kuasai diri, tendangan sepasang kaki Iblis Rangkap Jiwa telah berkelebat angker ke arah kakinya! Dewa Orok masih tidak tinggal diam. Kaki kanannya diangkat.

Bukkkk!

Tubuh Dewa Orok terputar. Saat itulah Ratu Pemikat melabrak dengan lakukan tendangan.

Bukkk!

Putaran tubuh Dewa Orok semakin kencang. Dan belum sempat Dewa Orok hentikan diri, kaki kiri Iblis Rangkap Jiwa telah pula menggebrak! Dewa Orok mengeluh tinggi hingga bundaran karet di mulutnya melesat keluar dan mengapung di udara. Bersamaan dengan itu putaran tubuhnya berbalik arah!

Ratu Pemikat bergerak lagi. Namun Iblis Rangkap Jiwa telah mendahului gerakkan tangan kanannya. Serta merta putaran tubuh Dewa Orok terhenti! Malah pemuda ini tidak bisa gerakkan lagi anggota tubuhnya! Ratu Pemikat urungkan niat. Matanya melirik pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Sialan! Dia mendahului gerakanku. Berarti dia akan menagih janji yang tadi kuucapkan..." Ratu Pemikat membatin. "Seandainya aku tadi berhasil mendahului, aku masih bisa membuat alasan! Tapi sekarang..."

"Aku telah lakukan apa yang kau minta! Apa acara kita bisa segera dimulai sekarang juga?!" Iblis Rangkap Jiwa berkata dengan sunggingkan senyum.

Ratu Pemikat sempat tersentak. Namun perempuan ini tidak mau menunjukkan keterkejutannya. Dia balas memandang dengan bibir mengembang senyum. "Janjiku akan selalu kutepati. Tapi kita harus minta keterangan dahulu dari pemuda itu! Bukankah acara kita akan lebih tenang kalau kita sudah tahu di mana beradanya orang yang kita cari...?"

Tampang Iblis Rangkap Jiwa berubah. Jelas laki-laki ini tampak dongkol dengan ucapan Ratu Pemikat. Ratu Pemikat tahu apa yang harus dilakukan menghadapi orang macam Iblis Rangkap Jiwa. Tanpa buka suara lagi, Ratu Pemikat melangkah mendekati Iblis Rangkap Jiwa. Kedua tangannya mengembang dengan dada dibusungkan. Mulutnya setengah dibuka. Lalu seraya sipitkan sedikit matanya, kedua tangannya dilingkarkan pada tengkuk Iblis Rangkap Jiwa. Bersamaan itu, kepalanya didorong ke depan.

Iblis Rangkap Jiwa yang semula hanya diam dengan mulut terkancing rapat cepat kembangkan kedua tangannya lalu dilingkarkan pada pinggang Ratu Pemikat. Saat bersamaan kepalanya bergerak menyambut wajah sang Ratu yang mendekat ke wajahnya. Untuk beberapa saat kedua orang ini tenggelam dalam peluk cium mesra. Malah kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa sudah bergerak dari lingkaran pinggang Ratu Pemikat dan kini merambat ke arah dadanya.

Di depan sana, Dewa Orok yang tegang tak bisa bergerak karena tertotok Iblis Rangkap Jiwa hanya memandang melongo dengan mata membelalak. "Busyet! Dadaku jadi ikut berdebar-debar! Mereka sungguh tega hati berbuat begitu di depan mataku! Apa dikira aku sudah tidak punya keinginan...? Sialan betul!" kata Dewa Orok dalam hati. Dia lalu alihkan pandangannya pada jurusan lain. Saat itulah sepasang matanya melihat bundaran karatnya yang masih mengapung di udara.

Entah untuk menaik perhatian orang atau secara tidak sengaja, Dewa Orok berteriak. "Dotku... Mana dotku! Tolong ambilkan!"

Mungkin karena sudah tenggelam dalam kemesraan, baik Ratu Pemikat maupun Iblis Rangkap Jiwa tidak hiraukan teriakan Dewa Orok, membuat pemuda ini kembali berteriak. Tapi meski teriakan Dewa Orok begitu keras, Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa tetap teruskan peluk ciumnya.

"Setan! Mereka pura-pura tidak atau..." Dewa Orok kerjapkan sepasang matanya. Saat lain dia coba kerahkan tenaga dalamnya. Lalu mulutnya menguncup.

Wuuuutt!

Dari mulut Dewa Orok melesat angin tidak begitu keras. Namun anehnya mampu membuat pakaian Ratu Pemikat tersingkap. Menduga yang lakukan singkapkan pakaiannya adalah tangan iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat cepat tarik wajahnya. Kedua tangannya bergerak ke belakang untuk tutup pakaiannya yang terbuka. Namun perempuan ini jadi terkesiap. Karena bagaimanapun dia coba tutupkan pakaiannya, pakaiannya tetap berkibar-kibar terbuka!

Sementara Iblis Rangkap Jiwa yang tahu akan tindakan Dewa Orok, segera lepaskan rabaannya pada dada Ratu Pemikat. "Jahanam itu mengganggu kesenangan orang!" desisnya. Serta-merta sosoknya melesat ke arah Dewa Orok. Saat lain tangan kanan kirinya bergerak terangkat.

"Tunggu!" teriak Ratu Pemikat. "Biar dia aku yang mengurus!"

Entah karena sudah tidak dapat lagi menahan gejolak amarahnya karena kesenangannya terganggu, Iblis Rangkap Jiwa tidak pedulikan lagi teriakan Ratu Pemikat. Kedua tangannya terus bergerak lakukan hantaman ke arah kepala Dewa Orok. Di hadapannya, Dewa Orok hanya dapat buka mulutnya tanpa keluarkan suara. Malah bersamaan dengan itu sepasang matanya terpejam rapat. Pemuda ini seakan sudah pasrah.

"Celaka kalau dia benar-benar lakukan itu!" gumam dengan tercekat. Sosoknya berkelebat. Lalu mendorong Dewa Orok hingga sosoknya jatuh tersungkur di atas tanah. Tapi hal itu menyelamatkannya dari hantaman kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa.

"Dotku... Dotku...!" seru Dewa Orok begitu buka kelopak matanya serta melihat dirinya selamat dari hantaman kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa.

Plaaakk! Plaaakk!

Kepala Dewa Orok sedikit tersentak kesamping kiri kanan terkena tamparan kedua tangan Ratu Pemikat. "Manusia edan! Dot bulukan begitu rasanya lebih berharga dari nyawanya!" desis Ratu Pemikat. Serta merta perempuan ini melompat. Tangan kanannya menyambar bundaran karet milik Dewa Orok yang mengapung di udara.

Melihat hal itu, Dewa Orok yang terkapar di atas tanah segera berteriak. "Kalau kau sampai merusak dotku, kau tak akan mendapat keterangan apa-apa dariku!"

Ratu Pemikat pandangi Dewa Orok dengan senyum dingin. Lalu melangkah ke arah Dewa Orok. Namun langkah perempuan ini tertahan karena iblis Rangkap Jiwa telah tegak di hadapannya dengan kedua tangan mengembang.

"Acara bisa kita lanjutkan nanti!" ucap Ratu Pemikat seraya tepis kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa. Namun mungkin agar tidak membuat Iblis Rangkap Jiwa tersinggung, Ratu Pemikat sorongkan wajahnya dan mencium wajah iblis Rangkap Jiwa.

Iblis Rangkap Jiwa kembali hendak lingkarkan kedua tangannya. Namun sebelum sempat menyentuh pinggang Ratu Pemikat, perempuan bertubuh bahenol ini telah berkelebat ke arah Dewa Orok. Tanpa berkata lagi, Ratu Pemikat angkat tubuh Dewa Orok lalu diletakkan di atas pundaknya. Kejap lain dia berkelebat.

BAB 11

MEMASUKI sebuah kawasan dataran berbatu, Ratu Pemikat mulai memperlambat larinya. Lalu enak saja tubuh Dewa Orok disentakkan hingga jatuh menghantam salah satu gundukan batu, membuat keningnya berdarah.

"Dotku! Berikan padaku...!" ujar Dewa Orok dengan mengerjap beberapa kali dan meringis.

“Bukan hanya dot, tapi nyawamu akan kuselamatkan jika kau mengatakan di mana Pendekar 131!" Ratu Pemikat membentak.

"Nyawanya milikku, tidak akan kubiarkan siapa pun selamatkan nyawanya sekali pun setan!" Yang berteriak menyahut adalah Iblis Rangkap Jiwa yang kini telah tegak di belakang Ratu Pemikat.

"Dasar manusia tolol!" desis Ratu Pemikat dalam hati. Perempuan ini segera berpaling pada Iblis Rangkap Jiwa. Lalu memberi isyarat dengan kerdipkan sebelah matanya. Kejap lain, tanpa menunggu Iblis Rangkap Jiwa buka mulut, Ratu Pemikat telah menoleh kembali menghadap Dewa Orok.

"Membunuhmu saat ini, tidak lebih sulit dari kerjapkan mata! Tapi aku akan membuatmu mati perlahan-lahan kalau kau tetap keras kepala!"

"Baiklah..." ujar Dewa Orok pada akhirnya setelah beberapa saat terdiam.

"Bagus! Kau telah memiiih jalan yang benar!" kata Ratu Pemikat seraya tersenyum. "Sekarang katakanlah!"

"Pergilah ke pantai timur. Di sana ada sebuah kuil!"

"Ucapanmu bisa dipercaya?!"

Dewa Orok kancingkan mulut tidak menjawabnya pandangannya kini beralih pada iblis Rangkap Jiwa. Yang dipandang menyeringai lalu berkata.

"Di pantai timur memang ada sebuah kuil! Aku tahu tempatnya!"

Iblis Rangkap Jiwa sengaja berkata karena sebenarnya laki-laki ini ingin segera urusan dengan Dewa Orok cepat selesai dan bisa bersenang-senang kembali dengan Ratu Pemikat.

Ratu Pemikat palingkan kepala pada Iblis Rangkap Jiwa. "Tapi apakah benar orang yang kita cari pergi ke sana?!"

"Pendekar 131 adalah sahabat pemuda buntung itu! Sedangkan aku pernah menemukannya di kuil itu! Jadi benar kemungkinan orang yang kita cari memang pergi ke sana!"

Habis berkata begitu, Iblis Rangkap Jiwa melangkah dan berhenti di samping Ratu Pemikat. "Urusanmu dengan dirinya sudah selesai! Sekarang biar aku selesaikan urusanku dengannya!"

Ratu Pemikat mendebat lalu berbisik. "Harap tahan dahulu urusanmu. Tidak tertutup kemungkinan ucapan pemuda itu dusta...!"

"Keparat! Rencana busuk apa yang ada dalam benakmu?!" teriak Iblis Rangkap Jiwa.

"Kau masih terlalu menaruh curiga padaku! Dengar. Dia kita buat tidak bisa ke mana-mana sebelum kita buktikan kebenarannya ucapannya! Dia adalah sahabat Pendekar 131. Dengan tidak munculnya dia, setidaknya Pendekar 131 akan mencari! Apalagi dia berkata menunggu seseorang. Besar kemungkinan yang ditunggu adalah Pendekar 131!"

"Benar atau tidak ucapannya, Pendekar 131 atau bukan orang yang ditunggu, tak ada hubungannya denganku, sedang jelas aku harus membawa penggalan kepalanya “

"Kau salah besar! Justru di sinilah hubunganmu dengan urusan kitab itu!"

"Aku tak mengerti maksudmu!" kata Iblis Rangkap Jiwa masih dengan suara keras.

"Di sini bukan tempat yang baik untuk menerangkan! Harap kau tidak terlalu berburuk sangka padaku. Untuk sementara ini biar aku urus pemuda itu!"

Setelah tersenyum pada Iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat mendadak hentakkan kedua tangannya di atas tanah. Tanah itu langsung muncrat bertabur ke udara tinggalkan lobang menganga. Ratu Pemikat angkat kedua tangannya. Serta-merta disentakkan pada lobang yang menganga. Untuk kedua kalinya dari lobang yang telah menganga terlihat hamburan tanah, membuat lobang di atas tanah makin besar dan dalam.

Belum sampai hamburan tanah lenyap, Ratu Pemikat telah berkelebat ke arah Dewa Orok. Dengan enak saja perempuan ini cekal kaki kanan Dewa Orok lalu diseretnya mendekati lobang yang menganga. Begitu tepat di hadapan lobang, Ratu Pemikat sentakkan cekatannya pada kaki Dewa Orok. Maka tak ampun lagi tubuh Dewa Orok jatuh ke dalam lobang.

"Gila! Apa yang akan kau lakukan padaku?! Bukankah aku telah katakan apa yang kau tanyakan?!" seru Dewa Orok. Tubuh pemuda ini sekarang tidak kelihatan lagi. Yang terlihat di atas tanah adalah bagian leher dan kepalanya!

Ratu Pemikat tidak menyahut ucapan Dewa Orok. Sebaliknya perempuan ini cepat gerakkan kakinya menutup lobang dengan tanah yang ia di sekitarnya. Begitu tubuh Dewa Orok telah tertanam dalam tanah dan hanya menyisakan leher dan kepalanya. Ratu Pemikat angkat bicara.

"Pertama kali jumpa sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak mudah dikelabui orang sepertimu! Selamat tinggal!"

Ratu Pemikat putar tubuh. Lalu melompat ke arah Iblis Rangkap Jiwa yang sedari tadi hanya memandang apa yang dilakukan Ratu Pemikat.

"Kita segera menuju pantai timur!"

Iblis Rangkap Jiwa tidak menyahut juga tidak membuat gerakan apa-apa.

"Kau tak perlu khawatir. Kalaupun kita terlambat datang ke tempat ini lagi, mungkin nyawanya sudah putus!"

"Kalau ada orang yang menolong?!" Iblis Rangkap Jiwa akhirnya buka mulut.

"Tempat ini sepi. Kalaupun ada yang lewat, kebanyakan adalah binatang buas. Lain daripada itu, kalau tidak lewat di sekitar lobang itu, tidak mungkin orang dapat melihatnya, karena di sekitar tempat ini banyak batu-batu besar!"

"Tapi dia masih bisa berteriak!"

Ratu Pemikat sunggingkan senyum. "Sengaja jalan suaranya tidak kututup. Tapi kau tak perlu cemas, sekuat apa pun tenaga yang dimiliki, tidak mungkin dia kuasa berteriak terus menerus sehari semalam!"

Sebenarnya iblis Rangkap Jiwa masih hendak angkat bicara. Namun sebelum suaranya terdengar, Ratu Pemikat telah menarik tangannya hingga mau tak mau sosok iblis Rangkap Jiwa ikut bergerak.

"Tunggu!" teriak Dewa Orok. "Dotku! Kembalikan dahulu dotku!"

Tapi Ratu Pemikat seolah tidak mendengar teriakan Dewa Orok. Dia terus berkelebat sambil menarik tangan Iblis Rangkap Jiwa.

"Dotku! Dotku! mana dotku!" Dewa Orok terus berteriak meski sosok Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa sudah tidak kelihatan lagi...!

S E L E S A I

Muslihat Sang Ratu

Serial Joko Sableng Dalam Episode Muslihat Sang Ratu

Cersil Online Serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131

BAB 1

DI dalam ruangan kuil Dewa Orok dan Cucu Dewa sejenak saling lontar pandang. Saat lain kedua guru dan murid ini bergerak bangkit. Cucu Dewa memberi isyarat dengan anggukan kepala. Lalu berkelebat dan lenyap di balik satu-satunya pintu dari batu hitam tidak jauh dari tempatnya tadi duduk. Dewa Orok sendiri kempiskan mulut lalu perlahan-lahan melangkah melalui pintu di mana tadi Cucu Dewa berkelebat lenyap.

Seperti dituturkan dalam episode Titah dari Liang Lahat, ketika Cucu Dewa dan Dewa Orok tengah berbincang-bincang mendadak terdengar satu teriakan membahana dari arah luar.

"Cucu Dewa! Aku datang menjemput nyawamu! Keluarlah!"

Untuk kedua kalinya kembali terdengar suara teriakan keras. Yang keluarkan teriakan ternyata adalah seorang laki-laki mengenakan pakaian putih. Sepasang matanya besar menjorok keluar seolah hendak mencelat dari rongganya. Wajahnya hampir-hampir tidak terhias daging sama sekali. Kepalanya tidak ditumbuhi rambut Orang ini tidak lain adalah Iblis Rangkap Jiwa.

Seperti juga dituturkan dalam episode Titah dari Liang Lahat, begitu dapat bebaskan diri dari totokan Pendekar 131 dan kesaktiannya pulih, iblis Rangkap Jiwa kembali ke puncak Bukit Selamangleng.

Namun dia terkejut saat mendadak muncul Malaikat Penggali Kubur yang baru saja memperoleh Kitab Hitam. Iblis Rangkap Jiwa sama sekali tidak menduga kalau secepat Itu Malaikat Penggali Kubur kembali ke puncak Bukit Selamangleng meski pemuda ini memang mengatakan akan kembali ke puncak bukit itu.

Kembalinya Malaikat Penggali Kubur menemui Iblis Rangkap Jiwa ternyata memberi tugas pada laki-laki berkepala gundul itu untuk mencari Dewa Orok dan membunuhnya. Sekaligus juga membunuh Cucu Dewa, dari mana Malaikat Penggali Kubur memperoleh keterangan tentang asal-usul dan anak keturunan Ken Rakasiwi, orangorang yang harus dimusnahkan seperti yang tertulis dalam dinding tanah liang lahat di mana Datuk Kematian minta dikuburkan.

Karena dua kali teriakannya tidak mendapat sahutan, Iblis Rangkap Jiwa kembali buka mulut. "Percuma kau sembunyi, jahanam Cucu Dewa! Ke lobang semut pun kau tidak akan.lolos dari tanganku!"

Selesai berucap begitu, Iblis Rangkap Jiwa sentakkan sedikit kepalanya tengadah ke atas. Saat lain terdengarlah gelakan tawanya. Karena tawa itu bukan tawa sembarangan, melainkan telah dialiri dengan pengerahan tenaga dalam, maka tempat itu untuk beberapa saat laksana dibuncah suara geledek yang menggidikkan!

Tapi laksana dicabut tangan setan, Iblis Rangkap Jiwa putuskan gelakan tawanya saat dia merasakan ada semilir angin lewat pundaknya. Sebagai orang yang memiliki daya tangkap luar biasa apalagi dia berada di sekitar tempat orang yang dicari, laki-laki yang mengaku berusia lebih dari dua ratus tahun ini maklum kalau ada orang!

Tanpa buka mulut lagi Iblis Rargkap Jiwa luruskan kepalanya. Laksana terbang dia berkelebat ke samping kanan Tanpa berpaling rupanya Iblis Rangkap Jiwa sudah dapat menentukan di mana adanya orang itu!

Begitu berkelebat ke samping kanan, seraya angkat kedua tangannya Iblis Rangkap Jiwa berpaling. Namun kedua tangannya yang terangkat mendadak tertahan tatkala dari tempatnya berdiri sepasang matanya bukan melihat Cucu Dewa melainkan seorang pemuda berwajah tampan yang tidak memiliki tangan dan mulutnya mainkan bundaran karet. Saat si pemuda bertangan buntung kempiskan mulut seolah menyedot, terdengarlah suara duuuttl Duuttt! Duuuutt! Lalu bundaran karet mencuat ke depan dan mengapung di udara.

Sesaat Iblis Rangkap Jiwa pentangkan mata perhatikan dengan saksama ke bagian bawah orang di hadapannya, karena ternyata si pemuda yang tidak lain adalah Dewa Orok tegak dengan, kaki bersila di atas dan kepala di bawah!

"Dewa Orok!" terdengar desisan Iblis Rangkap Jiwa. Raut wajah orang ini seketika berubah. Ada kegembiraan dan keheranan terpancar dari pandangan lakilaki berkepala gundul ini.

"Hem... Nyatanya aku tak perlu mengorek mulut Cucu Dewa untuk minta keterangan orang yang kucari! Orang ini ternyata datang sendiri! Tapi... Mengapa orang ini berada di sini? Apa hubungannya dengan Cucu Dewa jahanam itu? Sahabatnya? Atau keberadaannya di sini untuk menemui Cucu Dewa? Hem... Dia mungkin belum tahu apa tujuanku, sebaiknya aku tanya pada dia dahulu..." iblis Rangkap Jiwa membatin. Lalu sambil sunggingkan senyum dia berkata.

"Tidak disangka kalau selang waktu telah mempertemukan kita kembaii! Kuharap kau tidak lupa dengan diriku!"

Sepasang mata Dewa Orok mengerjap beberapa kali. Saat lain pemuda bertangan buntung ini gerakkan kedua kakinya yang bersila di udara. Wuuuutt! Kini Dewa Orok telah tegak dengan bertumpu pada kedua ibu jari kakinya Sementara bundaran karet terlihat tetap mengapung sejengkal di atas tanah

Dewa Orok sodorkan kepalanya ke depan seakan hendak mengamati tampang orang di hadapannya. Yang dipandang pasang tampang dengan bibir tersenyum, lalu angguk-anggukkan kepalanya yang gundul. Dewa Orok tarik pulang kepalanya dengan sepasang mata menyipit. Bersamaan dengan itu kepalanya bergerak menggeleng-geleng.

"Sepertinya aku tidak pernah jumpa denganmu! Jadi harap jangan marah kalau aku tanya siapa dirimu?!" Dewa Orok buka suara.

"Aku maklum kalau kau mengatakan begitu. Pertemuan kita memang telah lama sekaii Sebelum aku jawab pertanyaanmu, aku tanya. Bukankah kau Dewa Orok?!" kata Iblis Rangkap Jiwa meski dia yakin orang di hadapannya adalah Dewa Orok.

"Aku maklum kau bertanya begitu!" Dewa Orok ikut-ikutan berkata seperti ucapan iblis Rangkap Jiwa. "Sebelum aku jawab pertanyaanmu, kuharap kau jawab dulu pertanyaanku...!"

Meski mulai agak jengkel mendengar ucapan si pemuda yang Ikut-ikutan bicara mirip ucapannya, namun akhirnva iblis Rangkap Jiwa jawab pertanyaan orang. "Aku Iblis Rangkap Jiwa! Kau juga sebutkan diri!"

“Aku Iblis Rangkap Nyawa!" ujar Dewa Orok membuat Iblis Rangkap Jiwa beliakkan sepasang matanya makin besar.

Diam-diam laki-laki gundul ini membatin. "Bagaimna ini? Aku yakin manusia ini Dewa Orok. Tapi mengapa dia mengaku iblis Rangkap Nyawa. Apakah itu gelaran yang baru disandangnya?!"

Menduga begitu, iblis Rangkap Jiwa akhirnya berkata lagi. "Gelaran barumu bagus! Pasti kau telah mendapat ilmu luar biasa hingga bergelar begitu! Kalau kita bergabung, tentu akan membuat rimba persilatan geger! Yang satu Iblis Rangkap Jiwa, satunya lagi Iblis Rangkap Nyawa! Ha Ha Ha...!

"Ha Ha Ha...!" Dewa Orok Ikut-Ikutan tertawa. Hingga tempat Itu seketika dlbuncah dengan tawa bergelak-gelak

"Diam!" Mendadak Iblis Rangkap Jiwa membentak tatkala mendapati Dewa Orok terus tertawa bergelak meski dia sudah hentikan tawanya.

Laksana disambar setan. Dewa Orok putuskan gelakan tawanya. Kini mulutnya terkancing rapat. Namun kejap kemudian mulutnya membuka, bukan perdengarkan suara melainkan membuat gerakan menyedot. Bundaran karet yang terapung sejengkal di atas tanah bergerak-gerak lalu melesat masuk ke mulutnya!

"Dewa Orok! Jangan..."

"Aku Iblis Rangkap Nyawa!" tukas Dewa Orok dengan mulut masih mainkan bundaran karet diputar-putar ke atas ke bawah

"Aku tak peduli siapa kau!" sentak Iblis Rangkap Jiwa.

Dewa Orok pasang tampang terkejut. Mulutnya meniup. Bundaran karet melesat keluar lalu mengapung di depan wajahnya. Kejap lain dia berkata. "Aku juga tak peduli siapa kau!"

Dada Iblis Rangkap Jiwa laksana meledak mendengar ucapan Dewa Orok. Tapi laki-laki ini coba menindih hawa amarahnya. Dia yakin benar kalau pemuda bertangan buntung di hadapannya adalah Dewa Orok. Namun keberadaannya di sekitar kuil tempat tinggai Cucu Dewa yang membuat Iblis Rangkap Jiwa tidak berani segera laksanakan tugas yang diperintah Malaikat Penggali Kubur untuk membunuh Dewa Orok. Laki-laki ini sebenarnya masih ingin meyakinkan bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang perempuan.

Kejadian di puncak Bukit Selamangleng yang membuat kesaktiannya musnah membuat iblis Rangkap Jiwa tidak berani berbuat gegabah. Karena kalau dia sampai gagal lakukan perintah Malaikat Penggali Kubur, apa yang menjadi cita-citanya hanya impian belaka. (Tentang peristiwa musnahnya kesaktian Iblis Rangkap Jiwa silakan baca dalam episode Titah dari Liang Lahat)

"Iblis Rangkap Nyawa!" kata Iblis Rangkap Jiwa. "Jauh sampai di tempat ini pasti kau hendak bertemu dengan Cucu Dewa. Benar?!"

"Iblis Rangkap Jiwa!" ucap Dewa Orok masih menirukan seperti ucapan Iblis Rangkap Jiwa. "Jauh datang ke tempat ini dan mendengar teriakanmu tadi, tentu kau hendak bertemu Cucu Dewa. Benar?!"

"Jahanam! Sekali lagi kau tirukan ucapanku, rangkap berapa pun nyawamu, bukan pekerjaan sulit bagiku mencabut beberapa nyawamu itu! Lekas jawab!"

"Aneh... Kau tadi mengajakku bergabung agar rimba persilatan geger! Sekarang kau malah hendak cabut rangkapan nyawaku! Bagaimana?!”

"Jangan banyak mulut! Jawab. Kau hendak menemui Cucu Dewa, bukan?!" sentak Iblis Rangkap Jiwa.

"Jangan banyak..." Dewa Orok putuskan ucapannya yang hendak berkata seperti ucapan Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tundukkan wajah sembunyikan senyumnya. Sesaat kemudian dia angkat wajah lalu berkata.

"Aku memang hendak bertemu dengannya!"

"Apa urusanmu dengan Cucu Dewa?!" tanya lblis Rangkap Jiwa

"Karena gelarku Iblis Rangkap Nyawa, tentu urusanku adalah nyawa!"

Iblis Rangkap Jiwa anggukkan kepalanya perlahan. Tangannya bergerak mengusap dagunya, lalu berujar. "Cucu Dewa bukan orang sembarangan. Apa kau datang sendirian?!"

"Cucu Dewa memang bukan orang sembarangan. Tapi aku tak butuh teman kalau hanya untuk cabut satu nyawanya!"

Mungkin untuk buktikan ucapan Dewa Orok yang mengisyaratkan bahwa dia datang seorang diri, Iblis Rangkap Jiwa putar kepalanya berkeliling dengan mata menyelidik.

"Kau mencari seseorang?!" tanya Dewa Orok.

Iblis Rangkap Jiwa tidak menyahut. Malah begitu kepalanya lurus ke arah Dewa Orok, sepasang matanya mendelik angker. "Aku memang tidak menangkap adanya orang lain di tempat ini. Hem... Manusia buntung ini harus kuselesaikan dahulu..."

Saat lain dia membentak. "Dengar! Kau tak akan cabut nyawa Cucu Dewa jahanam itu. Karena sebelum kau cabut nyawanya, nyawamu akan kucabut dahulu!"

Dewa Orok terkesiap. "Kau ini bagaimana? Mengapa kau inginkan nyawaku? Kau tahu? Meski aku bergelar Iblis Rangkap Nyawa, kau tidak bisa rangkapkan nyawaku yang telah kau cabut masuk ke jiwamu!"

"Peduli setan! Yang jelas kau harus mampus!" hardik Iblis Rangkap Jiwa.

"Peduli setan!" ucap Dewa Orok ikut-ikutan. "Yang jelas aku tidak mau mampus!"

"Bagus! Kita lihat, Iblis mana yang mampus!" Iblis Rangkap Jiwa angkat kedua tangannya.

"Bagus! Kita lihat, iblis mana yang tidak mampus!" kata Dewa Orok lalu membuat gerakan menyedot pada mulutnya. Bundaran karet melesat masuk ke mulutnya.

Bersamaan dengan itu Iblis Rangkap Jiwa berkelebat ke depan. Kelebatan sosoknya timbulkan suara berdesir keras. Kejap lain kedua tangan laki-laki gundul ini telah lakukan gerakan menghantam dari arah kiri kanan kepala Dewa Orok!

Karena sudah waspada dan sebelumnya telah tahu siapa adanya orang yang dihadapi, sebelum kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa menghantam rengkah kepalanya, pemuda bertangan buntung ini membuat gerakan salto satu kali. Begitu kakinya di udara, sepasang kakinya bergerak ke samping kiri kanan.

Bukkkkk! Bukkkkk!

Sepasang tangan Iblis Rangkap Jiwa beradu keras dengan sepasang kaki Dewa Orok. Saat bersamaan, sosok Dewa Orok terjajar ke belakang. Kakinya yang masih berada di atas udara tampak bergetar hebat. Malah saat lain kaki itu tampak doyong serentak ke arah kiri.

Namun gerakan kaki Dewa Orok mendadak terhenti tiga jengkal di atas tanah. Bersamaan dengan itu bahu Dewa Orok membuat gerakan dua kali.

Wuutt! Wuuutt!

Bagian tubuh atas Dewa Orok yang berada di bawah terangkat. Kejap lain pemuda ini telah tegak di atas ibu jari kakinya. Namun begitu, paras wajahnya tetap berubah.

Di hadapannya, Iblis Rangkap Jiwa menyeringai. Walau sosoknya tidak bergeming dari tempatnya, tapi jelas parasnya membayangkan rasa hampir tidak percaya.

"Hem... Kekuatannya terletak pada kakinya! Tapi untuk apa aku memikirkan itu? Dia tidak mungkin bisa menghindar kalau kuhantam dengan pukulan Jarak Jauh" batin Iblis Rangkap Jiwa.

Dengan cepat Iblis Rangkap Jiwa kerahkan tenaga dalamnya. Namun belum sampai dia membuat gerakan apa-apa, di depan sana Dewa Orok tarik tubuhnya ke belakang. Lalu serta-merta dihentakkan kembali ke depan.

Beettt!

Dari dada Dewa Orok melesat bongkahan awan putih yang keluarkan suara luar biasa keras menusuk gendang telinga. Kejap kemudian tanah di depan Dewa Orok bertabur muncrat ke udara tersapu bongkahan awan putih yang lewat. Tanah di tempat itu pun bergetar laksana dilanda gelombang dahsyat.

Melihat serangan yang datang, Iblis Rangkap Jiwa bukannya cepat membuat gerakan untuk memangkas. Sebaliknya laki-laki ini perdengarkan suara tawa bergelak. Lalu tegak menyongsong pukulan orang dengan kedua tangan kacak pinggang!

Dessss!

Sosok Iblis Rangkap Jiwa mencelat mental terlanggar bongkahan awan putih. Lalu terpuruk di atas tanah tak bergerak-gerak lagi! Namun cuma sekejap. Di lain saat sosok Iblis Rangkap Jiwa membuat gerakan. Kedua tangannya menghentak di atas tanah. Tubuhnya seketika bangkit berdiri. Untuk sesaat Iblis Rangkap Jiwa perhatikan dirinya.

Sementara di depan sana sepasang mata Dewa Orok membelalak. Iblis Rangkap Jiwa tidak mengalami cedera sama sekali! Hanya dadanya yang sedikit bergetar karena terhantam bongkahan awan putih.

"Kau telah lihat. Aku memiliki jiwa rangkap hingga aku bisa bangun lagi. Sekarang aku mau lihat, apakah kau pantas menyandang gelar Iblis Rangkap Nyawa!"

Tengkuk Dewa Orok berubah dingin. Gerakan mulutnya yang menyedot-nyedot bundaran karet mirip dot bayi bertambah keras hingga saat itu juga terdengar suara duutt! Duuuttt! Duuttt! beberapa kali.

Iblis Rangkap Jiwa angkat kedua tangannya. Di seberang sana, Dewa Orok tampak sipitkan sepasang matanya. Sadar bahaya akan mengancam dirinya, meski dia tidak yakin dapat memangkas pukulan iblis Rangkap Jiwa, namun pemuda ini tidak diam begitu saja. Tubuhnya segera ditarik ke belakang. Sepasang matanya memejam. Jelas kalau pemuda ini coba kerahkan segenap tenaga dalamnya.

Iblis Rangkap Jiwa sunggingkan senyum seringai. Kedua tangannya bergerak. Namun gerakan kedua tangan laki-laki gundul ini tertahan di udara tatkala mendadak terdengar suara tawa! Baik Dewa Orok maupun Iblis Rangkap Jiwa tidak dapat menentukan siapa adanya orang. Yang pasti bagi mereka, siapa pun orangnya yang perdengarkan suara, jelas jika suara tawa itu adalah suara perempuan!

BAB 2

KEPARAT! Siapa perempuan yang tertawa ini? Jangan-jangan gadis sableng di puncak bukit tempo hari! Celaka kalau benar-benar dia! Tapi tidak tenang hatiku sebelum tahu sendiri!" Kepala Iblis Rangkap Jiwa berpaling ke arah datangnya suara tawa.

Di sebelah depan, perlahan-lahan Dewa Orok buka kelopak matanya. Dengan dahi berkerut dia juga menoleh ke arah datangnya suara tawa. Kira-kira delapan tombak dari tempatnya berdiri, Iblis Rangkap Jiwa melihat sesosok tubuh tegak dengan kedua tangan saling meremas. Orang ini mengenakan pakaian warna hitam yang disambung-sambung hingga panjang ke bawah membuat tubuh bagian bawahnya tidak kelihatan. Orang ini juga mengenakan cadar menutupi wajahnya. Hingga dari anggota tubuhnya yang kelihatan hanyalah sepasang matanya serta uraian rambutnya yang hitam dan lebat.

Ketegangan di paras wajah Iblis Rangkap Jiwa mereda demi melihat sosok tubuh orang. Dia menghela napas panjang. Diam-diam dia membatin. "Untung bukan gadis sableng berjubah merah itu! Siapa orang ini? Temannya manusia buntung itu...? Tapi dia juga seperti terkejut, berarti bukan temannya..."

Baru saja Iblis Rangkap Jiwa membatin begitu, orang yang mengenakan pakaian hitam disambung-sambung hingga menjulai ke bawah membuat gerakan satu kali. Sosoknya melesat dan tegak tiga langkah disamping Dewa Orok. Orang ini sesaat memandang pada Dewa Orok. Yang dipandang mendelik seolah ingin mengetahui siapa adanya orang. Namun karena sekujur tubuh orang tertutup, Dewa Orok tidak bisa memastikan.

Di seberang sana, Iblis Rangkap Jiwa beliakkan sepasang matanya yang besar, memandang tak berkesip silih berganti pada Dewa Orok dan orang yang baru muncul. Setelah yakin bahwa orang yang datang bukan orang yang pernah ditemuinya di puncak Bukit Selamangleng, Iblis Rangkap Jiwa buka mulut langsung membentak.

"Orang tak dikenal! Kuperintahkan kau tinggalkan tempat ini!"

Orang bercadar dan berpakaian sambung-sambung perdengarkan suara tawa cekikikan. Lalu berkata. "Bahagia rasanya hari ini bisa jumpa dengan seorang tokoh maha sakti bergelar Iblis Rangkap Jiwa. Tapi sayang rupanya kau tidak menyukai kedatanganku di tempat ini...”

Orang ini lantas berpaling pada Dewa Orok dan lanjutkan ucapannya. "Orang muda. Apakah kau juga tidak menyukai kedatanganku di sini?"

Iblis Rangkap Jiwa terlihat sedikit terkejut mendapati orang telah tahu siapa dirinya. Sementara Dewa Orok meski terkejut namun segera semburkan bundaran karetnya hingga mengapung di depannya. Kejap lain terdengarlah ucapannya.

"Bahagia rasanya hari ini bisa jumpa denganmu. Sayang aku tidak bisa melihat raut wajahmu.”

"Ah... Senang sekali aku mendengar jawabanmu. Berarti kau menyukai kehadiranku di sini meski kita belum saling kenai..."

"Ah... Aku juga senang sekali mendengar ucapanmu. Berarti kau..."

Ucapan Dewa Orok yang ikut-ikutan bicara orang belum selesai, Iblis Rangkap Jiwa telah memotong. “Orang tak dikenal! Siapa kau?!"

“Namaku Orang Tak Dikenal!" jawab orang yang baru muncul. Kembali orang ini berpaling pada Dewa Orok dan bertanya.

“Orang muda. Kau sendiri siapa...?!"

“Namaku Orang Terkenal!" jawab Dewa Orok seenaknya lalu tersenyum dan lanjutkan kata-katanya. “itu kalau di daerah barat. Kalau di daerah timur orang memanggilku Iblis Rangkap Nyawa. Di daerah selatan aku dikenal dengan Iblis Tanah Arak. Di daerah utara aku digelari orang Iblis Tangan Dua!"

Orang di samping Dewa Orok tertawa cekikikan. “Wah... Gelarmu banyak serta angker-angker. Ini daerah mana?"

"Ini daerah timur. Maka, kau boleh memanggilku Iblis Rangkap Nyawa!"

“Mendengar gelarmu itu, apakah kau masih saudara Iblis Rangkap Jiwa itu?!"

"Benar! Dia adalah adikku paling bungsu! Kakaknya dia bernama Iblis Rangkap Iblis!" kata Dewa Orok lalu tertawa cekikikan seperti halnya orang di sampingnya tadi.

"Wah... Jadi kalian keluarga Iblis... Lalu ciri-cirinya adikmu yang bernama Iblis Rangkap Iblis itu bagaimana? Apa aneh dan angker mirip kalian berdua ini?!"

Dewa Orok gelengkan kepala. "Sebaliknya dia sepertimu. Seorang perempuan. Wajahnya cantik. Tubuhnya membentuk bagus. Dadanya besar, pinggulnya padat. Hanya sayang..." Dewa Orok tidak lanjutkan ucapannya, membuat orang di sampingnya cepat menyahut seolah penasaran ingin tahu.

"Sayang bagaimana?!"

"Dia tidak pernah mengenakan rangkapan di balik pakaiannya!"

Mendengar keterangan Dewa Orok, orang di sampingnya tertawa melengking. Dewa Orok tidak tinggal diam. Dia ikut-ikutan tertawa melengking.

Tulang rahang Iblis Rangkap Jiwa terangkat. Sepasang matanya membelalak laksana hendak meloncat keluar, "iblis jahanam! Keparat! Kalian berdua akan mampus!"

Orang di samping Dewa Orok putuskan lengkingan tawanya. Lalu bertanya. "Kenapa adik bungsumu marah-marah? Apa karena kau mengatakan adikmu satunya tidak pernah mengenakan rangkapan di balik pakaiannya tadi?!"

Dewa Orok ikut putuskan lengkingan tawanya lalu menjawab. "Kurasa bukan itu masalahnya meski masih ada hubungannya!"

"Hem... Lalu apa masalahnya?!"

"Dia menyuruhku mencarikan rangkapan pakaian dalam untuk kakak perempuannya itu! Tapi aku menolak. Ke mana aku harus cari rangkapan pakaian dalam seorang perempuan? Kalaupun dapat, adik perempuanku itu pasti menolak! Karena dia akan terus garuk-garuk jika mengenakan rangkapan pakaian dalam! Tidak tahu kalau pakaian dalam itu bekas milikmu..."

Seraya tertawa cekikikan, orang di samping Dewa Orok berkata. "Sebenarnya aku mau saja memberikan pakaian dalamku pada adik perempuanmu itu! Dan aku dapat memastikan adikmu tidak akan garuk-garuk Jika mengenakan rangkapan pakaian dalam bekas milikku. Hanya sayang..."

“Sayang bagaimana...?!" tanya Dewa Orok cepat.

"Hari ini aku tidak mengenakan rangkapan pakaian dalam. Maaf, bukannya aku berbohong, kalau tidak percaya kau boleh melihatnya!"

"Jahanam! Jangan-jangan perempuan ini juga tahu kelemahanku! Atau ucapannya itu tanpa sengaja...?" Diam-diam Iblis Rangkap Jiwa gelisah. Dadanya berdebar-debar.

Kegelisahan Iblis Rangkap Jiwa makin terlihat tatkala di depan sana dilihat orang di samping Dewa Orok gerakkan kedua tangannya seolah hendak menyingkap pakaian hitam sambung-sambungannya.

Mungkin karena terlalu ketakutan akibat kejadian di puncak Bukit Selamangleng tempo hari, padahal kesaktiannya baru musnah jika melihat pantat laki-laki dan perempuan bersamaan, maka tanpa sengaja Iblis Rangkap Jiwa berteriak.

"Tahan!"

Dewa Orok dan orang di sampingnya sama-sama berpaling. Dahi Dewa Orok tampak mengernyit. Sepasang mata orang di sampingnya mengerjap beberapa kali.

"Apa yang akan kau lakukan?!" bentak iblis Rangkap Jiwa.

"Kakakmu ini ingin tahu kalau aku benar-benar tidak mengenakan rangkapan pakaian dalam! Apakah kau juga ingin melihatnya?!"

"Jahanam! Dia bukan kakakku! Aku juga tak ingin lihat bagian dalam tubuhmu!"

Orang di samping Dewa Orok menoleh pada Dewa Orok. "Kau ini bagaimana? Kau bilang dia adikmu. Tapi mengapa dia tak mengakui kau kakaknya?"

"Kau tak usah heran, itulah keluarga iblis! Dia tak mau mengakui saudara di depan orang...! Padahal kalau ada kesulitan masih minta bantuan"

“Sebagai saudaranya, kau sedikit banyak tentu tahu. Apakah dia memang tidak suka melihat bagian dalam tubuh perempuan?! Padahal selama ini banyak orang tergila-gila ingin tahu bagian dalam tubuhku. Apalagi pantatku yang besar ini. Hik Hik...!" sambil tertawa orang ini usap-usap pantatnya.

Wajah Iblis Rangkap Jiwa makin tegang. Sebaliknya Dewa Orok tidak menyahut. Sementara orang di sampingnya segera meloncat mendekati Dewa Orok. "Rupanya saudaramu tidak mau diberi rezeki. Kaulah yang akan mendapat rezeki dapat melihat punyaku!” kata orang berpakaian hitam sambung-sambung lalu kedua tangannya bergerak seolah hendak buka pakaiannya.

"He... Nanti lakukan apa yang kuucapkan! Jangan membantah..." bisik orang di samping Dewa Orok.

Belum sampai Dewa Orok dapat mengerti maksud ucapan orang dan belum sampai orang itu buka kancing pakaiannya, terdengar Iblis Rangkap Jiwa membentak.

"Kalian manusia-manusia keparat!” Bersamaan dengan selesainya ucapan, kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa terangkat. Kejap lain satu gelombang luar biasa dahsyat membawa kabut hitam melesat.

Orang di samping Dewa Orok segera dorong tubuh Dewa Orok seraya berbisik. “Jangan dilawan. Menyingkir saja!"

Dewa Orok terjajar tiga langkah. Dan meski belum tahu maksud ucapan orang, pemuda bertangan buntung ini cepat berkelebat menghindar selamatkan diri. Bersamaan itu, orang berpakaian hitam sambung-sambung juga melesat selamatkan diri.

Gelombang dan kabut hitam menggebrak keras. Namun karena Dewa Orok dan orang berpakaian hitam sambung-sambung telah melesat mendahului, serangan Iblis Rangkap Jiwa hanya melanggar tempat kosong. Lalu menghantam bagian samping kuil hingga timbulkan suara berderak keras. Bagian samping kuil langsung ambrol dan bangunannya bergetar keras. Tanah berpasir di sekitar kuil tersapu muncrat.

Iblis Rangkap Jiwa tegak dengan tubuh bergetar. Sepasang matanya menyengat tajam perhatikan sosok Dewa Orok dan orang berpakaian hitam sambung-sambung. Kedua tangannya kembali terangkat. Tubuhnya bergerak memutar menghadap Dewa Orok. Dewa Orok memandang ke depan. Bukan pada Iblis Rangkap Jiwa melainkan pada bundaran karet yang tampak berputarputar keras di udara karena tersambar pukulan Iblis Rangkap Jiwa.

"Dotku...!" seru Dewa Orok.

Orang berpakaian hitam sambung-sambung yang melesat berlawanan arah dengan Dewa Orok terdengar bergumam. Saat lain sosoknya melesat dan tahu-tahu telah tegak di samping Dewa Orok. "Jangan hiraukan dotmu dahulu! Kau dalam bahaya! Lihat ke depan!"

Dewa Orok turuti ucapan orang. Seketika wajahnya berubah. Di depan sana Iblis Rangkap Jiwa telah tarik kedua tangannya ke belakang dan siap lancarkan pukulan.

"Jangan dilawan. Percuma! Balikkan saja tubuhmu memunggungi dia!" kata orang di sampingnya.

"Jangan dilawan bagaimana? Percuma bagaimana? Aku bisa celaka!"

"Ikuti saja ucapanku! Balikkan tubuhmu! Lorotkan sedikit celanamu!"

“Aneh...! Bagaimana aku bisa lorotkan celana? Tanganku buntung!"

"Kalau begitu biar aku yang melakukan! Balikkan tubuhmu!" kata orang di sampingnya. Karena Dewa Orok masih tak lakukan yang dikatakan orang, orang berpakaian hitam sambung-sambung melangkah satu tindak. Tangannya bergerak balikkan tubuh Dewa Orok. Kejap lain tangannya lorotkan celana Dewa Orok sedikit hingga bagian pantatnya terlihat. Meski tidak mengerti maksud orang, Dewa Orok diam saja. Malah saat itu juga bahunya berguncang menahan tawa.

"Rupanya kau ingin melihatku mampus dengan pantat terbuka!" ujar Dewa Orok.

Secara diam-diam Dewa Orok kerahkan tenaga dalamnya. Dia sudah siap berkelebat kalau Iblis Rangkap Jiwa lakukan pukulan. Begitu pantat Dewa Orok sedikit terlihat, orang berpakaian hitam sambung-sambung melompat menjajari Dewa Orok. Kedua tangannya bergerak ke belakang membuat isyarat laksana orang hendak singkirkan pakaian bawahnya.

Di belakang sana, Iblis Rangkap Jiwa pelototkan mata. Sikap orang di depan sana bukan hanya membuat laki-laki ini urungkan niat lancarkan pukulan melainkan juga membuatnya gemetar dan langsung balikan tubuh. Orang di samping Dewa Orok gerakkan kepalanya berpaling. Lalu berbisik.

“Adikmu benar-benar tak mau rezeki. Dia bukan hanya picingkan matanya melainkan balikkan tubuh!"

Dewa Orok putar diri ingin buktikan ucapan orang. Ketika ucapan orang benar, pemuda bertangan buntung ini tertawa terpingkal-pingkal. Lalu berbisik dalam hati. "Mengapa bisa jadi begini?"

Dewa Orok hendak tanyakan apa yang ada dalam hatinya pada orang berpakaian hitam sambung-sambung. Namun sebelum ucapannya terdengar, orang disampingnya telah balikkan tubuh lalu berteriak.

"Jangan kau sentuh pantatku! Lihat saja cukup! Besar bukan?!" selesai berteriak, orang ini menoleh pada Dewa Orok lalu memberi isyarat dengan anggukkan kepalanya.

Seakan tahu isyarat orang, Dewa Orok langsung buka mulut menyahut. "Aduh besar sekali. Padat berisi dan hitam legam! Mananya gatal kakiku ingin mengusapnya...!"

"Hei...! Jangan kau teruskan kakimu! Aku geli!" kata orang di samping Dewa Orok sambil tahan tawanya.

Dewa Orok tidak tinggal diam. Dia segera menyahut. “Kau diam sajalah! Salahmu sendiri kenapa pantat bagus begitu ditunjukkan di depan orang! Aku jadi tak sabaran!"

“Hai...!" kembali orang di samping Dewa Orok berteriak. "Dotmu... Bikin aku tambah geli!"

"Aduh... Aku sampai lupa. Sebentar akan kulepas dulu dotku! Bagaimana sekarang...?! Apa masih geli...?!"

Di depan sana, Iblis Rangkap Jiwa memaki-maki sendiri. Lalu tanpa berpaling lagi dia berkelebat tinggalkan tempat itu. Begitu sosok Iblis Rangkap Jiwa tidak kelihatan, Dewa Orok kuncupkan mulut lalu menyedot bundaran karetnya hingga masuk ke mulutnya. Lalu berpaling pada orang di sampingnya. Sebelum dia berkata, orang di sampingnya gerakkan kedua tangannya singkapkan pakaian sambungan bawahnya.

Dewa Orok sudah siap pejamkan mata. Namun diurungkan tatkala perlahan-lahan yang terlihat di balik pakaian bawah orang bukan sepasang betis mulus, melainkan dua batangan kayu sebesar betis! Kira-kira satu setengah depa ke atas lagi, barulah terlihat sepasang telapak kaki besar yang tegak di atas ujung kayu. Orang di samping Dewa Orok sentakkan kedua tangannya.

Bretttt!

Pakaian hitam sambung-sambung melorot jatuh. Kini tampaklah satu sosok tubuh pendek tegak di atau ujung kayu! Orang bertubuh pendek di atas ujung batangan kayu angkat tangan kanannya sentakkan cadar hitam yang menutupi wajahnya. Tampaklah raut wajah seorang iaki-laki berhidung agak besar bermata sipit. Bentuk wajahnya bulat besar. Dia bukan lain adalah Cucu Dewa!

"Guru...!" seru Dewa Orok. "Penyamaran dan ilmu memindah suaramu hebat! Bagaimana dia bisa ngacir begitu saja?"

“Tempat Ini kurang aman lagi! Kita harus pergi dari sini” kata Cucu Dewa. Lalu meloncat dari ujung kayu. Seraya memberi isyarat dia berkelebat. Tanpa buka mulut Dewa Orok menyusul.

********************

BAB 3

SATU sosok tubuh terlihat duduk ongkang-ongkang kaki di atas batu padas di pinggir sebuah telaga berair jernih. Orang ini sesekali bergumam sendiri lalu meringis. Tak lama kemudian dia perdengarkan dendang nyanyian seraya gerak-gerakkan kakinya. Namun tak iama kemudian dia putuskan dendang nyanyiannya. Kepalanya berputar. Sepasang matanya sedikit dibeliakkan memandang ke arah mana kepalanya berputar. Sikapnya jelas membayangkan hatinya gelisah. Dan kegelisahan itu makin terpancar jelas saat kepalanya tengadah melihat hamparan langit yang telah menghitam karena sudah agak lama matahari terbenam.

"Menyesal aku bersedia mengajaknya dalam urusan ini! Bukannya urusan cepat selesai, tapi malah membuatku bingung sendiri! Belum lagi harus menunggu seperti ini! Kalau saja bukan seorang..."

Orang di atas batu padas putuskan gumamannya. Kepalanya berpaling ke samping kanan. Sepasang matanya mendelik memperhatikan Tapi dia tidak menangkap siapa-siapa.

“Kau telah lama menunggu?!" Tiba-tiba terdengar satu suara.

Orang di atas batu padas putar kepetenya ke kiri. Dari balik samping batu besar muncul itu sosok tubuh. Ternyata ia adalah seorang gadis berparas jelita dengan rambut panjang dikuncir. Sepasang matanya bagus. Bibinya merah ranum, bentuk tubuhnya agak tinggi. Dia mengenakan jubah merah menyala. Gadis berjubah merah melangkah perlahan mendekati orang yang duduk di atas batu padas yang ternyata adalah seorang pemuda berwajah tampan mengenakan pakaian putih-putih. Rambutnya panjang sedikit acak-acakan dibalut ikat kepala berwarna putih.

"Kita berangkat sekarang?!" tanya si gadis begitu dekat dengan si pemuda.

Si pemuda tidak segera buka mulut menjawab. sebaliknya memandang tajam pada si gadis. "Hem... gadis ini benar-benar jelita, melihat gadis cantik begini membuatku teringat pada Dewi Seribu Bunga dan Sitoresmi. Juga kedua gadis anak tokoh bergelar Tengkorak Berdarah. Puspa Ratri dan Saraswati... Bagaimana mereka sekarang? Kaiau urusan ini selesai, aku akan mencari mereka..."

"Kau melamun? Ingat seseorang...?!" tanya gadis berjubah merah.

Yang ditanya angkat bahu. Lalu gelengkan kepala. "Kecantikanmu membuatku tidak ingat siapa-siapa lagi. Bahkan aku lupa pada diriku'"

Dipuji begitu, gadis berjubah merah bukannya palingkan wajah untuk sembunyikan rona merah di pipinya, melainkan tertawa cekikikan. Lalu berkata. "Sayang kau terlambat mengucapkan itu!"

Si pemuda turun dari atas batu padas. "Maksudmu kau telah punya seorang kekasih?!"

Si gadis palingkan kepalanya. "Pacarku memang banyak. Tapi aku belum punya kekasih!"

Si pemuda memandang dengan dahi mengernyit. “Lalu mengapa kau katakan ucapanku terlambat?"

"Karena aku sudah sering mendengarnya dari pemuda sebelum kau! Hik Hik Hik... Kau sendiri bagaimana? Apa sudah punya kekasih ?”

"Hem... Dia pura-pura tanya atau betulan? Dia tahu banyak tentang diriku..." membatin si pemuda. Lalu berkata.

"Seperti halnya dirimu, aku juga punya banyak kenalan gadis-gadis, tapi sejauh ini aku belum punya seorang kekasih..."

"Betul?!" tanya si gadis dengan mimik sungguh-sungguh.

"Sumpah mati!" Si pemuda pasang tampang tak kalah sungguh-sungguhnya.

"Bagaimana kalau kau kukenalkan dengan sahabatku? Aku percaya kau pasti akan tertarik dan kalian nanti tentu akan jadi pasangan kekasih yang sepadan!"

"Jangkrik! Sahabatnya yang ditawarkan! Padahal aku..."

"Bagaimana? Kau setuju? Sahabatku itu cantik. Atau kalau kau tak suka aku masih punya beberapa sahabat lagi..." kata si gadis memutus kata hati si pemuda.

"Coba katakan siapa saja sahabatmu itu!"

"Hem... Ada yang bernama Sekar Jali-jali, Kembang Banteng Ketaton, ada juga yang bergelar Dewi Asap Gantung, Dewi Kabut Berarak, Ratu Langit Tanpa Bumi, Ratu Samudera Tanpa Air serta masih banyak..."

Mendengar nama-nama yang disebut gadis berjubah merah, si pemuda mendelik. Tapi cibirnya tersenyum. Saat lain ia berkata. "Nama dan gelar sahabatmu hebat-hebat. Pasti mereka cantik-cantik! Tapi sayang aku tidak tertarik pada salah satunya...!”

"Ah sayang... Tapi aku masih punya seorang kenalan lagi. Yang ini pasti kau tertarik walau hanya dengar namanya saja..."

"Hem.... Katakan siapa...!"

"Namanya sendiri dia tak pernah mau katakan padaku. Dia selalu perkenalkan diri dengan Ratu Malam...”

Laksana disengat, sepasang kaki si pemuda tersurut satu tindak. Wajahnya langsung berubah. Namun cuma sesaat. Di saat lain tawanya meledak!

"Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu? Hah...?!" Si gadis membentak.

"Kau tahu. Aku kenal Ratu Malam! Nenek tua yang selalu komat-kamit mengunyah tembakau hitam dan ceriwis itu bukan?!"

Tampang gadis berjubah merah berubah. "Ah.... ternyata kau sudah kenal...."

"Siapa tidak kenal nenek itu! Selain terkenal ceriwis, dia juga dikenal sering gonta-ganti kekasih! Hem.... Apa tidak ada lagi yang lebih tua dari dia?!"

Gadis berjubah merah tidak menjawab. Si pemuda gelengkan kepala lalu berucap. "Aku menolak semua nama yang kau tawarkan! Bagaimana kalau sekarang aku yang tawarkan nama pemuda padamu? Siapa tahu salah satunya menarik hatimu?!"

Si gadis meringis, lalu berujar. "Aku tak tertarik. Mungkin yang hendak kau sodorkan padaku gurumu sendiri si Pendeta Sinting itu! Atau temanmu si Iblis Ompong!"

"Edan! Dari mana dia tahu aku hendak tawarkan mereka?!" kata si pemuda dalam hati. Dia hendak angkat bicara, namun si gadis telah memotong.

“Kau hendak mengajakku menyelidik atau hendak mengatur perjodohan?!"

“Ah... Benar ucapanmu. Kita berangkat sekarang!” kata si pemuda lalu mendahului melangkah.

"Ke mana tujuan kita? Kau mengatakan hendak menemui seseorang. Siapa? Di mana?!" tanya si gadis membuat si pemuda hentikan langkahnya.

"Dia bergelar Dewa Orok! Di mananya itu yang membuat kepalaku masih pusing memikirkannya!"

"Dasar sableng! Kalau tidak tahu di mana adanya orang, lalu ke mana kau akan berangkat?! Percuma aku menunggu-nunggu malam datang kalau begini jadinya!" Gadis berjubah merah cemberut. Kaki kanannya dihentakkan keras-keras di atas tanah pinggiran telaga. Tanah itu langsung longsor dan di bawah sana air telaga terlihat muncrat.

"Aku tanya. Mengapa kau ingin menemui orang bergelar Dewa Orok itu?" tanya si gadis masih dengan tampang cemberut.

"Apakah aku harus bercerita terus terang padanya? Apa dia bisa dipercaya...?" Si pemuda diam-diam membatin. Setelah merenung agak lama akhirnya dia berkata.

"Menurut orang yang kupercaya, dia memiliki rahasia yang bisa mengungkap di mana sebenarnya Kitab Hitam itu berada!"

"Bagaimana kalau akhirnya terbukti tempat itu sama dengan yang ditunjukkan si manusia Iblis di puncak bukit itu? Bukankah perjalanan kita sia-sia?!"

Si pemuda garuk-garuk lobang telinganya. "Apa kau yakin jurang di sebelah bukit itu memang tempat Kitab Hitam?!"

"Melihat tanda tandanya aku hampir yakin. Hanya kita terlambat datang dan seseorang telah mendahului kita!"

“Kau juga punya keyakinan kalau Kitab Hitam itu sebenarnya telah diambil oleh Iblis Rangkap Jiwa itu?”

"Mendengar ceritamu tempo hari, aku menduga begitu. Namun ada kejanggalan! Kalau Iblis Rangkap Jiwa benar-benar telah mengambil kitab itu, mengapa dia masih berada di puncak bukit? Padahal jika seseorang telah mendapatkan barang yang dicari, seharusnya dia cepat tinggalkan tempat itu! Dia seharusnya maklum, bagaimanapun juga kabar tentang Kitab Hitam itu lambat laun akan tersebar dalam rimba persilatan. Dengan begitu jiwanya akan terancam setiap saat!"

"Aku sekarang makin bingung.... Aku khawatir dugaanmu benar. Ada orang lain yang mengambil kitab itu! Lalu siapa...?!"

Untuk beberapa saat kedua orang ini sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Saat itulah mendadak sebuah benda bulat sebesar kepalan tangan melayang dan jatuh di tengah air telaga. Air telaga bergolak muncrat. Anehnya walau benda itu melayang pelan, akibat muncratannya laksana ditimpa benda besar! Malah walau gadis berjubah merah dan si pemuda cepat menghindar, muncratan air telaga tak urung mengenai mereka berdua! Hingga keduanya basah!

"Sialan! Siapa berani main air di tengah malam begini? Jelas ini bukan tidak disengaja! Ada anak manusia di sekitar tempat ini!" kata si gadis lalu putar kepalanya.

Si pemuda tidak menyahut ucapan si gadis. Namun melihat putaran kepalanya serta matanya yang jelalatan memandang berkeliling, dia membenarkan ucapan si gadis.

“Kau ke sana! Aku akan ke sana!" kata si pemuda sambil arahkan telunjuk jari tangannya ke arah berlawanan.

Kejap lain kedua orang ini te!ah berkelebat mengambil arah berlawanan. Sang pemuda ambil arah kiri, si gadis arah kanan. Tak berapa lama kemudian si pemuda sudah muncul di tempatnya semula dengan mata nyalang. Dia tidak menemukan siapa-siapa.

"Aku yakin. Lemparan tadi dilakukan seseorang! Lemparan itu bukan lemparan biasa! Hem.... Ke mana gadis sableng itu? Apa dia menemukan orang? Tapi mengapa suaranya tidak terdengar?!”

Si pemuda berpaling ke arah mana tadi si gadis berkelebat. Dia menunggu sesaat. Karena tidak ada tanda-tanda orang akan muncul dari arah itu, tak sabar si pemuda berteriak.

"Putri Sableng! Di mana kau? Apa kau menemukan seseorang?!"

Tidak terdengar suara jawaban. Si pemuda mulai tampak gelisah. Untuk kedua kalinya dia berteriak.

"Putri Sableng! Kau di mana?!"

Karena masih tidak ada suara jawaban, si pemuda berkelebat ke arah mana tadi gadis berjubah merah yang bukan lain adalah Putri Sableng berkelebat. Namun si pemuda serta-merta tahan gerakannya tatkala mendadak terdengar suara tawa cekikikan.

"Dasar gadis kurang ajar! Bikin dada orang deg-degan saja! Kalau tidak cantik mungkin sudah tidak kupedulikan!"

"Eh... Ada yang tidak beres!" wajah si pemuda kembali berubah tegang dan gelisah tatkala tiba-tiba suara tawa cekikikan terputus laksana dibetot setan. Tanpa herpikir panjang lagi, si pemuda berkelebat.

Pada satu tempat tidak jauh dari pinggiran telaga si pemuda hentikan larinya dengan sepasang mata mendelik dan dahi mengernyit. Sejarak lima langkah di hadapannya Putri Sableng tegak dengan kedua tangan ditangkapkan di depan dada. Sepasang matanya membuka memejam.

“Hei! Apa yang kau lakukan di sini?!" kata si pemuda.

"Monyet raksasa!" kata Putri Sableng sambil tunjuk ke satu arah.

Si pemuda arahkan pandangannya pada arah yang ditunjuk Putri Sableng. Pada satu tempat di bawah sebatang pohon, tampak satu sosok besar duduk bersandar punggung.

"Jangan-jangan dia!" gumam si pemuda setelah agak lama memperhatikan.

"Hai! Rupanya kau kenal monyet besar itu?!" tanya Putri Sableng.

"Jaga bicaramu!" kata si pemuda dengan suara agak keras. Kejap lain sosoknya melompat dan tegak tiga langkah di hadapan sosok besar di bawah pohon.

"Benar. Rupanya dia...!" desis si pemuda lalu perhatikan sekali lagi pada sosok di hadapannya.

Sosok besar itu ternyata adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Rambutnya panjang putih disanggul tinggi. Laki-laki mengenakan pakaian gombrong besar berwarna hijau. Pada perutnya tampak melingkar satu ikat pinggang besar yang di bagian depan perutnya terdapat sebuah cermin bulat. Kedua mata orang ini memejam rapat.

"Gendeng Panuntun!" seru si pemuda lalu melangkah mendekat.

"Hai! Kau pandai juga memberi nama monyet besar itu dengan Gendeng Panuntun. Apa dia gendeng betulan?" Putri Sableng berteriak.

Si pemuda hanya gelengkan kepala tanpa menyambuti teriakan Putri Sableng. Sementara begitu tidak mendapat sahutan, kembali Putri Sableng berteriak.

"Monyet besar yang kau beri nama Gendeng Paruntun itu berjenis laki-laki atau perempuan? Kulihat dia membawa cermin. Apa dia jenis monyet yang suka dandan? Hik Hik Hik...! Nyatanya bukan manusia saja yang ingin bergaya. Monyet sekarang pun mulai bisa pasang aksi! Apa dia bisa tari Topeng Monyet?!"

"Gadis sableng! Jangan bicara ngelantur tak karuan! Dia bukan monyet. Dia sahabatku! Kemarilah!"

"Apa?! Dia bukan monyet? Kalau bentuk seperti itu kau bilang bukan monyet, lalu bentuk monyet betulan bagaimana?! Hik Hik Hik...!"

Si pemuda hanya bisa gelengkan kepalanya berulang kali. "Mengajak gadis seperti dia nyatanya makin tambah merusak suasana!" gumamnya lalu menjura hormat pada sosok di hadapannya yang tidak lain Gendeng Panuntun adanya.

"Sobatku, Gendeng Panuntun. Harap maafkan ucapan sahabatku itu!"

Gendeng Panuntun buka kelopak sepasang matanya. Bola matanya yang putih sejenak mengerjap. Lalu terdengarlah ucapannya. "Anak muda.... Tak usah gelisah. Aku tidak apa-apa dikatakan monyet. Karena saat seperti sekarang ini, monyet kadang-kadang lebih manusia daripada makhluk yang bernama manusia! Aku gembira bisa jumpa kau lagi! Hem.... Siapa gadis cantik yang bersamamu itu? Kekasih...? Teman biasa...? Hati-hati, Anak Muda! Kalau dua orang berlainan jenis berada di tempat sepi begini, apalagi dekat telaga, orang ketiganya adalah nafsu! Aku percaya kau bisa menahan. Tapi temanmu itu?"

Meski ucapan manusia bermata putih pertanda dia buta ini perlahan, namun masih terdengar oleh Putri Sableng. Paras gadis ini seketika berubah merah padam. Namun justru yang selanjutnya terdengar adalah tawa cekikikannya. Kejap lain gadis ini berkelebat dan tegak di sebelah si pemuda.

Si pemuda berpaling, lalu sorongkan kepalanya berbisik. "Harap jangan bicara tak karuan! Dia sahabat baikku. Kita sekarang butuh keterangan darinya!"

Putri Sableng sesaat perhatikan Gendeng Panuntun. Lalu balik berbisik. "Kulihat matanya buta. Bagaimana kau mau minta keterangan padanya? Hik Hik Hik...! Jangan-jangan kau salah ucap! Atau barangkali pendengaranku yang keliru?!"

“Kau Ini aneh. Kau banyak mengenal tokoh-tokoh rimba persilatan. Tapi nyatanya kau tidak tahu kehebatan orang satu persatu!" bisik si pemuda.

"Jangan salah sangka. Aku mengenal mereka lewat cerita. Jadi bagaimana aku tahu kehebatan mereka Hik Hik Hik...! Orang buta ini tadi kau beri nama siapa?!"

"Bukan aku yang memberi nama. Sejak dulu namanya sudah Gendeng Panuntun!"

"Kalau kau dengar saranku, jangan minta keterangan padanya! Namanya saja Gendeng. Apa keterangannya nanti tidak malah lebih gendeng? Apalagi dia orang buta"

Meski si pemuda mulai tampak jengkel, namun akhirnya dia berkata lirih. "Tapi yang ini lain!"

“Lain bagaimana? Orang buta ya begitu itu matanya! Kalaupun dia beda dari orang buta lainnya, Itu hanya pada cermin bulatnya itu! Kau pernah tahu bagaimana kalau dia berkaca?!"

Mungkin tak dapat lagi menahan rasa jengkel, si pemuda mendelik dan berbisik. "Harap kau tidak usil! Jangan ikut bicara! Kalau kau ikut-ikutan nimbrung dan suasana kacau, kau nanti yang bertanggung jawab!"

"Hai.... Apa dia suka bikin kacau?!"

"Kau benar-benar gadis sableng!" sentak si pemuda.

"Tapi kau juga Joko Sableng!" si gadis balik membentak, membuat si pemuda yang tidak lain adalah murid Pendeta Sinting, Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng mendelik dengan dada menindih rasa jengkel.

"Hem.... Kalian ini berebut apa?" ujar Gendeng Panuntun.

Sebelum Joko buka mulut menjawab, Putri Sableng telah mendahului. "Kata temanku ini, meski kau telah kakek-kakek dan matamu tidak bisa melihat, tapi kau termasuk kakek-kakek sableng! Apa betul?!"

"Hem.... Aku mencium bau tembakau! Adakah di antara kalian berdua yang membawa tembakau?!" kata Gendeng Panuntun alihkan pembicaraan.

"Apa kubilang! Orang buta biasanya suka sok tahu! Kau dengar. Mana di antara kita yang membawa tembakau?!" bisik Putri Sableng lalu tertawa tertahan.

Murid Pendeta Sinting dekap mulut Putri Sableng dengan tangan kanannya. Lalu maju satu langkah tepat di hadapan si gadis hingga pandangan si gadis terhalangi. "Terus-terusan melayanimu bisa-bisa urusan tak kunjung selesai!" kata Joko lalu memandang pada Gendeng Panuntun dan berkata.

"Kita lupakan dahulu urusan tembakau! Aku sekarang perlu keteranganmu!"

"Aku hanya bisa memberimu satu keterangan. Kitab yang kau cari telah menjadi milik orang! Dia adalah seorang pemuda sebaya denganmu. Tanpa kau cari kelak dia akan mencarimu! Berhati-hatilah menghadapinya. Kitab ditangannya mengandung kekuatan luar biasa dahsyat..."

Untuk sesaat murid Pendeta Sinting jadi terdiam tergugu. Kepalanya silih berganti memandang pada Gendeng Panuntun lalu pada Putri Sableng yang kini telah maju dan tegak di sampingnya. Gendeng Panuntun perlahan-lahan bangkit. Kepalanya menghadap bergantian pada Joko dan Putri Saleng. Lalu tanpa buka suara lagi, kakek bertubuh besar Ini melangkah.

"Kek! Tunggu!" tahan Joko. "Siapa kira-kira pemuda itu?!"

"Saatnya nanti kau akan tahu! Silakan teruskan bersenang-senang. Seandainya saja perempuan cantik itu mau tunjukkan diri, aku mau menemani kalian bersenang-senang di sini! Sayang dia tak mau tunjukkan diri. Padahal kecantikannya tidak kalah dengan gadis berjubah merah kawanmu itu..."

Ucapan Gendeng Panuntun membuat murid Pendeta Sinting kerutkan dahi. Sebaliknya Putri Sableng tampak tenang-tenang saja. Malah mulutnya membuat gerakan mencibir.

"Monyet besar minta diri...” ujar Gendeng Panuntun.

Lalu sekali bergerak, tubuhnya telah berkelebat dan saat Joko dan Putri Sableng berpaling, sosok Gendeng Panuntun sudah melangkah jauh di depan sana. Kejap lain hanya kilatan-kilatan cahaya putih yang keluar dari cermin bulat si kakek yang terlihat sebelum akhirnya sirna.

"Ucapan kakek itu mengisyaratkan ada orang di sekitar tempat ini!" bisik Joko setelah Gendeng Panuntun lenyap.

"Apa perlunya menuruti ucapan orang gendeng! Lebih baik kita mencari tahu benar tidaknya ucapannya yang mengatakan Kitab Hitam telah jatuh pada seorang pemuda!' sahut Putri Sableng.

"Itu benar! Tapi kita harus juga tahu siapa adanya perempuan cantik yang dikatakan Gendeng Panuntun."

"Kalau itu maumu, silakan cari! Aku akan menunggu di sini!" ujar Putri Sableng dengan siratkan ketidak senangan.

"Kau cemburu karena orang itu dikatakan cantik?!"

Putri Sableng menatap pada murid Pendeta Sinting. Lalu tertawa cekikikan. "Pantaskah pemuda sableng sepertimu mendapat rasa cemburu? Hik Hik Hik...! Jangankan hanya mencari, kau berpelukan di hadapanku pun aku tidak akan cemburu!"

"Busyet! Dia benar-benar tidak ada rasa sama sekali padaku! Akan kubuktikan nanti ucapannya! Biasanya seorang perempuan pandai menutupi perasaannya!" Habis membatin begitu, murid Pendeta Sinting berkelebat. Bersamaan dengan itu sejarak lima tombak dari tempatnya Putri Sableng dan Joko tadi berada, satu sosok tubuh yang sedari tadi mengendap-endap membuat gerakan.

"Jangan bergerak dari tempatmu!" teriak Joko lalu arahkan pandangannya pada sosok tubuh yang mulai membuat gerakan seakan hendak berkelebat. Tapi orang yang diteriaki tidak hiraukan ucapan Joko Sebaliknya langsung berkelebat cepat.

"Hai! Tunggu!" Joko kembali berteriak. Lalu lipat gandakan ilmu peringan tubuh dan menyusul pada sosok yang berkelebat. Karena keadaan gelap dan murid Pendeta Sinting tidak mengetahui daerah di sekitar tempat itu, pada akhirnya Joko kehilangan jejak.

"Ucapan Gendeng Panuntun benar. Melihat sosoknya dia adalah seorang perempuan! Tapi mengapa dia mencuri dengar pembicaraan ini?" Joko terus berkata sendiri dalam hati seraya melangkah ke arah di mana Putri Sableng menunggu.

Krakkk!

Terdengar ranting diinjak orang. Joko cepat berpaling lalu berkelebat ke arah tempat terdengarnya suara. “Jangan harap kau bisa lolos! Tetap di tempatmu atau kuhantam!" ancam murid Pendeta Sinting berharap agar orang tidak berkelebat pergi.

Rupanya ancaman Joko berpengaruh. Karena murid Pendeta Sinting tidak melihat adanya sosok yang berkebat. Pendekar 131 hentikan langkah. Sepasang matanya menembusi kegelapan. Nalurinya mengatakan di situ ada orang. Murid Pendeta Sinting tidak berani berniat ayal. Dengan kerahkan tenaga dalam pada tangan kanannya dia berteriak.

"Keluarlah dari tempatmu!"

Tidak ada sahutan atau sosok yang terlihat. “Kau dengar ucapanku! Keluarlah!" kembali murid Pendeta Sinting berteriak.

"Aku malu... Aku takut..." Terdengar suara jawaban halus seorang perempuan.

"Kau tidak malu mencuri dengar pembicaraan orang! Kau tidak takut mengintip orang! Mengapa sekarang kau baru malu? Keluarlah!" seru Joko.

“Aku malu... Aku takut..." Kembali terdengar suara.

“Jangkrik! Jangan-jangan ini hantu perempuan..." Tengkuk murid Pendeta Sinting jadi merinding. "Makhluk bangsa hantu tidak mempan pukulan. Tapi Gendeng Panuntun mengatakan seorang perempuan. Bukan hantu!"

Ingat akan ucapan Gendeng Panuntun, kembali Joko berseru. "Kau tak usah malu. Tak perlu takut!"

"Kau tidak akan menghantamku, bukan?!" kata suara perempuan tadi.

"Aku hanya perlu tahu siapa kau dan apa tujuanmu!"

"Baiklah kalau hanya itu maumu..." kata suara perempuan. Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda munculnya seseorang, membuat Joko hendak berteriak lagi dan mulai jengkel.

Namun belum sampai suaranya terdengar, perlahanlahan semak belukar tujuh langkah di samping murid Pendeta Sinting bergerak-gerak. Murid Pendeta Sinting menunggu dengan mata terpentang. Meski dia tidak angkat tangannya, namun diam-diam telah kerahkan tenaga dalam. Semak belukar bergerak menyibak. Lalu tampaklah satu sosok tubuh!

Murid Pendeta Sinting makin pentangkan matanya. Rahangnya mengambung dengan mulut komat-kamit. Saat lain terdengar dia memaki-maki lalu hentakkan kaki. Bersamaan dengan itu satu sosok tubuh yang baru keluar dari arah semak belukar buka mulut. Bukan perdengarkan suara, melainkan tertawa cekikikan! Ternyata orang ini adalah seorang perempuan muda berparas cantik mengenakan jubah merah dan bukan lain adalah Putri Sableng.

“Kau bercanda tidak ada juntrungan!" maki Joko seraya balikkan tubuh.

“Siapa bercanda? Aku juga mencari perempuan itu tapi juga kehilangan jejak! Hik Hik Hik...!"

“Tapi caramu! Mengapa berbuat begitu?!"

“Salahmu sendiri. Kau terlalu terbawa perasaan!" Putri Sableng seenaknya saja.

“Kepalaku bisa pecah kalau terus-terusan bersamamu” kata murid Pendeta Sinting lalu berkelebat.

“Tunggu!" seru Putri Sableng seraya ikut berkelebat.

“Ingat, sekali lagi kau bercanda tidak pada tempatnya aku tak akan berhubungan lagi denganmu!" ancam Joko begitu Putri Sableng berlari di sampingnya. Yang diancam tidak menyahut. Dia hanya tersenyum-senyum.

********************

BAB 4

LAKI-LAKI mengenakan pakaian hitam-hitam yang raut wajahnya sukar dikenali karena tertutup oleh sebagian caping lebarnya itu melangkah pelan-pelan dengan tubuh sedikit terbungkuk. Pada satu tempat mendadak dia hentikan langkahnya. Sejurus kepalanya menghadap lurus ke depan. Lalu kembali tertunduk. Bersamaan itu kakinya kembali melangkah.

"Hem... Ada orang dari sebelah depan..." gumam si laki-laki bercaping lebar seraya terus melangkah dengan kepala menunduk hingga raut wajahnya makin sulit dikenali.

Baru saja enam langkah, dari arah depan sana tampak satu sosok tubuh berkelebat cepat. Laki-laki bercaping lebar angkat kepalanya. Mungkin pandangannya terhalangi, tangan kanannya bergerak. Caping lebar bagian depan sedikit terangkat.

"Hem... Rasanya aku pernah jumpa dengan orang ini?" desis laki-laki bercaping lalu tarik pulang tangan kanannya hingga caping lebarnya kembali menutup sebagian raut wajahnya.

Sementara orang yang berlari dari arah depan seakan tidak hiraukan si laki-laki. Dia terus berkelebat dan melewati laki-laki bercaping tanpa berpaling.

"Tampaknya kau terburu-buru. Apa ada urusan sangat penting?" si laki-laki bercaping perdengarkan suara begitu sosok yang berkelebat dari arah depan melewatinya.

Mendengar ucapan orang, sosok yang berkelebat berhenti. Lalu tanpa berpaling dia berkata. “Ada atau tidak ada urusan apa pedulimu?!" laki-laki bercaping putar diri. Kepalanya sedikit ditengadahkan agar pandangan matanya tidak terhalang bagian depan capingnya.

“Hem... Bentuk tubuhnya boleh juga! Aku yakin memang pernah menjumpainya. Tapi di mana?"

Lakilaki bercaping lebar berpikir sejenak mengingat-ingat. Sesaat kemudian dia terlihat angguk-anggukkan kepalanya. Lalu berkata sambil tundukkan kepala.

“Memang tak ada pedulinya! Tapi siapa tahu aku bisa membantu?"

Orang di hadapan laki-laki bercaping perdengarkan dengusan pelan. Lalu berujar. Suaranya jelas bernada meremehkan.

“Orang sepertimu, apa yang bisa kau lakukan untukku?”

“Aku tadi bilang, siapa tahu. Semuanya nanti bergantung urusan dan imbalan. Kalau cocok mengapa tidak...?"

“Hem... Begitu? Siapa kau...?!"

Laki-laki bercaping perdengarkan suara tawa pelan “soal aku, itu urusan belakangan! Yang jelas aku tahu siapa kau adanya..."

Orang di hadapan laki-laki bercaping lebar balikan tubuh menghadap. Ternyata dia adalah seorang perempuan berwajah cantik meski usianya tidak muda. Mengenakan pakaian warna biru ketat dan tipis. Pada bagian dadanya dibuat rendah hingga sembulan sepasang payudaranya yang membusung padat terlihat jelas. Rambutnya panjang bergerai dengan bulu mata lentik dan hidung sedikit mancung. Bibirnya merah membentuk bagus.

Si perempuan berpakaian biru sesaat perhatikan orang di hadapannya dengan sepasang mata tak berkesip. Namun karena laki-laki di depannya sengaja masukkan capingnya dalam-dalam pada kepalanya, si perempuan tidak bisa mengenali dengan jelas paras wajah orang. Yang tampak adalah bagian hidung ke bawah. Si perempuan buka mulut. Tapi si laki-laki bercaping sudah mendahului berkata.

"Bukankah kau Ratu Pemikat...?!"

Perempuan di hadapan laki-laki bercaping yang memang Ratu Pemikat adanya kerutkan dahi. Diam-diam dia berkata dalam hati. "Melihat potongannya memang mirip seorang kakek-kakek. Tapi bagian bawah wajahnya jelas menunjukkan kalau usianya masih muda. Siapa dia? Kalau dia mengenalku, pasti dia dari kalangan orang persilatan. Hem... Tak ada salahnya memang sedikit bertanya jawab dengannya. Siapa tahu dia mengetahui urusan yang sedang kuhadapi! Ucapan Gendeng Panuntun di dekat telaga malam itu membuat ku kembali agak bingung. Dia mengatakan Kitab Hitam telah dimiliki orang. Herannya orang itu masih sebaya dengan Pendekar 131. Berarti kitab itu telah jatuh ke tangan seorang pemuda! Sayangnya dia tidak mengatakan siapa adanya pemuda yang telah memiliki Kitab Hitam itu! Padahal aku yakin Gendeng Panuntun tahu siapa pemuda itu. Dan ucapannya pasti benar! Kalau saja Gendeng Panuntun mudah ditaklukkan, aku akan mengorek keterangan dari mulutnya. Untungnya malam itu aku selamat dari kejaran Pendekar 131 dan gadis berjubah merah. Kalau tidak..."

“Kurasa urusanmu sangat penting. Kulihat kau melamun dan bergumam sendiri!" Laki-laki bercaping lebar putuskan kata hati Ratu Pemikat.

"Ah... Urusanku tidaklah begitu penting! Dan aku bersyukur kau telah mengenaliku..." kata Ratu Pemikat.

“Hem... Aku juga bersyukur kalau urusanmu tidak penting, berarti kau tidak memerlukan bantuan orang lain. Hanya kalau sudi, mau jawab tanyaku...?!"

Ratu Pemikat tertawa panjang. "Kau ini aneh. Kau tadi yang tawarkan bantuan. Sekarang kau yang hendak bertanya!"

"Tapi pertanyaanku mungkin masih ada hubungannya denganmu!"

Ratu Pemikat kembali pandangi orang dengan lebih seksama. "Rupanya dia tahu banyak dengan diriku!“ katanya dalam hati. Lalu berkata.

“Sebenarnya aku tak mau jawab pertanyaanmu, tapii akan kudengar dahulu apa yang akan kau tanyakan...“

“Bagaimana akhir dari peristiwa di Pulau Biru?!" tanya laki-laki bercaping.

Sepasang kaki Ratu Pemikat tampak bergerak mundur setengah tindak. Pertanyaan orang membuat hatinya tidak enak dan berdebar-debar. “Siapa kau sebenarnya?!" tanya Ratu Pemikat setelah dapat kuasai diri.

"Itu urusan mudah dan bisa ditangguhkan..."

“Hem... Peristiwa di Pulau Biru hanya beberapa orang yang tahu. Kalau dia sampai tahu peristiwa itu, janganjangan dia salah satu orang yang ada di sana sewaktu peristiwa itu! Tapi siapa..."

Mungkin tak bisa memperoleh jawaban, akhirnya Ratu Pemikat bertanya. "Apa kau salah seorang yang hadir di Pulau Biru itu?!"

Laki-laki bercaping tidak menjawab. Sebaliknya dia malahh ajukan tanya lagi. “Bagaimana kau bisa selamat dari Pulau Biru?!"

"Aku tahu bagaimana caranya lolos! Dan aku tak tahu bagaimana kelanjutan peristiwa itu! Yang jelas, Kitab Serat Biru telah jatuh ke tangan..."

"Pendekar 131!" sahut laki-laki bercaping.

"Hem... Kau ternyata banyak tahu juga. Apa kau juga sudah tahu kalau sebuah kitab lagi jatuh juga ke tangannya?!"

"Kudengar dia memang telah mendapat sebuah kitab dengan adanya peristiwa Tengkorak Berdarah!" kata laki-laki bercaping.

"Ah... Melihat kau tahu banyak seluk beluk orangorang rimba persilatan, pasti kau seorang tokoh dunia persilatan. Mendengar kau tahu tentang Pendekar 131 jangan-jangan kau masih sahabatnya..."

Bibir laki-laki bercaping sunggingkan senyum aneh. "Benar! Aku memang sahabatnya. Seorang sahabat yang akan mengantar nyawanya masuk liang lahat”

Paras wajah Ratu Pemikat tampak berubah. Namun diam-diam perempuan bertubuh bahenol berwajah cantik ini merasa lega. "Kalau dia tahu banyak, tentu orang ini memiliki kepandaian tinggi! Lebih dari itu dia rupanya punya dendam..."

"Kau punya urusan silang sengketa dengan pemuda itu?!" tanya Ratu Pemikat.

"Bukan hanya dengan dia! Siapa pun yang coba-coba menjamahnya berarti berani berurusan denganku. Karena dia telah memotong dendamku!"

Mendengar ucapan laki-laki bercaping, Ratu Pemikat tersenyum. "Apa kau siap menghadapinya? Dengan kedua kitab sakti di tangannya, Pendekar 131 bukan manusia yang mudah dikalahkan..."

Rahang laki-laki bercaping terlihat terangkat. Tubuhnya sedikit bergetar. "Berapa pun kitab di tangannya, bukan menjadi hal yang membuatku takut. Aku punya kekuatan untuk membunuhnya sebanyak nyawa yang dia miliki!"

"Hem... Aku akan terus memancingnya... Mudah mudahan ini ada hubungannya dengan Kitab Hitam..." Ratu Pemikat membatin lalu berkata.

"Siapa pun boleh berkata seperti apa yang kau kakatakan. Tapi menurut apa yang pernah kudengar, kekuatan apa pun yang dimiliki orang, dia tak akan bisa mengalahkan Pendekar 131 kecuali..." Ratu Pemikat sengaja memutus ucapannya.

Laki-laki bercaping tidak menyahut. Dia hanya tersenyum. Ratu Pemikat sejurus memandang lalu lanjutkan ucapannya. "Kecuali kalau orang itu membekal sebuah kitab sakti!"

Laki-laki bercaping masih tetap kancingkan mulut. Malah sejenak kemudian kepalanya berpaling sedikit ke samping kanan.

"Apa kau telah membekal kitab sakti itu?!"

“Aku lebih tahu bagaimana cara membunuh Pendekar 131!"

Ratu Pemikat tertawa panjang hingga dadanya berguncang. "Kau boleh memiliki seribu satu cara. Tapi jangan harap kau bisa lampiaskan dendammu!"

Kini laki-laki bercaping yang perdengarkan tawa panjang bergelak. "Dengar, Ratu Pemikat! Aku hanya punya satu cara untuk membunuh Pendekar 131!"

"Mau tunjukkan bagaimana caramu itu?!"

Laki-laki bercaping tidak menjawab. Namun bersamaan itu sosoknya bergerak memutar memunggungi Ratu Pemikat. Tangan kanannya bergerak setinggi dada lalu mengusap dadanya. Terdengar deruan perlahan. Ratu Pemikat tampak sunggingkan senyum mengejek. Karena bersamaan dengan terdengarnya suara deruan, tidak terlihat adanya gelombang atau sinar yang melesat. Namun senyum Ratu Pemikat terputus. Kepalanya tersentak memandang ke depan dengan mata melotot.

Di depan sana, laksana dihantam kekuatan luar biasa dahsyat, pohon yang tegak berjajar langsung berderak tumbang dan mencelat mental sampai dua tombak dengan berubah jadi serpihan hitam tatkala kembali bertabur di atas tanah! Tanah di sekitar pohon yang mental porak-poranda dan semburat membubung ke udara!

"Luar biasa. Bagaimana dia keluarkan ilmu tadi. Kulihat dia hanya gerakkan tangan kanan. Tapi apakah mungkin dia dapat mengalahkan Pendekar 131?" Ratu Pemikat pandangi bagian belakang sosok laki-laki bercaping.

Laki-laki bercaping sendiri terdengar mendengus pelan. Lalu balikkan tubuh. Sesaat kepalanya menghadap lurus pada Ratu Pemikat. Bersamaan itu kedua tangannya bergerak ke atas. Perlahan-lahan kedua tangannya membuka kancing pakaiannya. Sepasang mata Ratu Pemikat terbelalak besar-besar tatkala bagian atas pakaian laki-laki bercaping lebar terbuka.

"Sebuah kitab!" desis Ratu Pemikat. "Apakah itu Kitab Hitam yang tengah dicari Pendekar 131? Warnanya memang hitam. Tapi apa benar itu Kitab Hitam?!"

Sambil tersenyum aneh, laki-laki bercaping lebar kancingkan kembali pakaiannya. "Apa kau kira Pendekar 131 masih sanggup pertahankan nyawanya?!"

"Aku baru bisa memastikan jawaban kalau kau jawab dulu pertanyaanku. Apakah kitab itu Kitab Hitam?!”

“Dari warnanya kurasa kau tidak usah ajukan tanya” ujar laki-laki bercaping.

“Hem... Warna bisa sama, tapi kadang kala isinya berbeda! Aku tanya lagi. Apa kau pernah mengenal serang tokoh bergelar Iblis Rangkap Jiwa?!"

“Hem... Perempuan ini rupanya tahu hubungan kitab ini dengan iblis Rangkap Jiwa. Iblis Rangkap Jiwa telah menjadi budakku. Aku ingin perempuan ini jadi budakku sekaligus gundikku..." membatin laki-laki bercaping. Lalu berkata.

“Aku bukan hanya mengenal Iblis Rangkap Jiwa, tapi dia adalah pembantuku! Termasuk seorang tokoh lagi yang bergelar Cucu Dewa!"

Ratu Pemikat tampak sedikit terlonjak mendengar jawaban laki-laki bercaping. "Dia telah mengenal tokoh-tokoh yang ada hubungannya dengan Kitab Hitam. Berarti kitab di dadanya itu Kitab Hitam! Hem... Aku harus dapat merebutnya..."

Setelah berpikir begitu Ratu Pemikat tampak tengadahkan sedikit kepalanya hingga lehernya yang panjang dan putih terlihat. “Kau rupanya seorang yang beruntung. Kurasa kau kini dapat membalaskan dendammu pada Pendekar 131. Tapi kuharap kau memberiku kesempatan... seperti halnya kau, aku juga punya dendam pada dia!"

“Aku sudah katakan, siapa pun yang berani menjamah pendekar 131 berarti berani menghadapiku!"

“Aku tahu. Aku tidak menginginkan nyawa Pendekar 131 kalau kau telah menginginkannya. Tapi setidaknya aku dapat melunaskan sakit hati ini!"

Laki-laki bercaping lebar tertawa bergelak panjang mendengar ucapan Ratu Pemikat. "Kau tadi mengatakan tidak ada orang yang bisa mengalahkan Pendekar 131 kecuali orang itu berbekal kitab sakti. Sekarang aku tanya padamu. Apa kau juga telah membekal kitab sakti?!"

Mendengar pertanyaan laki-laki bercaping, Ratu Pemikat tampak terkejut. Perempuan ini lalu gelengkan kepala dan berujar. "Hal itulah yang membuatku pusing! Aku tak membekal apa-apa, padahal dadaku penuh dengan bara dendam! Seandainya kau mau baik hati padaku, aku mau juga jadi pembantumu!"

"Berbaik hati bagaimana maksudmu?!" tanya laki-laki bercaping.

"Sisakan sedikit nyawanya untukku!"

"Hem... Urusan itu mudah, asal imbalannya pantas!"

"Asal ucapanmu benar, imbalan apa yang kau minta akan kuturuti!" kata Ratu Pemikat dengan sedikit busungkan dadanya. Perempuan ini tampaknya maklum ke mana arah ucapan laki-laki bercaping. Ratu Pemikat maju satu langkah.

"Selain itu, aku juga ingin tahu siapa kau sebenarnya..."

Tanpa buka suara, laki-laki bercaping gerakkan tangan kanan. Perlahan-lahan caping lebarnya diangkat tinggitinggi ke atas, hingga kini tampak jelaslah wajahnya. Sesaat Ratu Pemikat perhatikan wajah orang dengan mata tak berkesip. Dahinya berkerut.

"Aku yakin pernah bertemu dengan pemuda ini! Tapi aku lupa dimana! Ah... Bukankah dia tadi sebut-sebut peristiwa Pulau Biru? Astaga! Kalau tidak salah bukankah dia pemuda yang ikut hadir di Pulau Biru yang bergelar Malaikat Penggali Kubur?!" (Tentang peristiwa di Pulau Biru, silakan baca serial Joko Sableng dalam episode: Neraka Pulau Biru)

Laki-laki yang tadi mengenakan caping lebar dan tak lain adalah Malaikat Penggali Kubur sunggingkan senyum aneh. Sepasang matanya menatap tajam belahan dada Ratu Pemikat.

“Kau telah tahu siapa diriku! Apa ada syarat lagi yang hendak kau ajukan?!" tanya Malaikat Penggali Kubur.

Ratu Pemikat tidak menjawab, sebaliknya ajukan tanya balik. “Imbalan apa yang kau inginkan dariku?"

Malaikat Penggali Kubur membuat gerakan satu kali tahu-tahu sosoknya telah tegak di depan Ratu Pemikat. “Aku inginkan dirimu!" kata Malaikat Penggali Kubur pada saat yang sama, kedua tangan pemuda murid Bayu Bajra ini telah bergerak ke depan merengkuh sosok Ratu Pemikat.

Ratu Pemikat tidak berusaha menolak. Malah dia sengaja tengadahkan kepala dengan mata sedikit dipejamkan dan bibir sedikit membuka perdengarkan keluhan pendek. Namun perempuan ini segera menjerit kecil tatkala Malaikat Penggali Kubur menggigit lehernya. Sikap dan jeritan kecil Ratu Pemikat membuat Malaikat Penggali Kubur makin bergelora. Dengan tak sabar kedua tangannya bergerak lepaskan kancing pakaian Ratu Pemikat. Kejap lain sepasang mata pemuda itu terpentang besar tatkala melihat dua buah payudara putih padat. Malaikat Penggali Kubur cepat tekapkan wajahnya ke dada Ratu Pemikat.

Ratu Pemikat tampak pejamkan sepasang matanya. Perlahan-lahan dia menggeliat sambil tarik kedua lengannya ke atas. Kedua tangannya lalu bergerak mengusap tengkuk Malaikat Penggali Kubur. Mendadak Ratu Pemikat membuat gerakan menggeliat sekali lagi. Bersamaan dengan itu laksana kilat kedua tangannya terangkat ke atas dan langsung dihujamkan bagian bawah ketiak Malaikat Penggali Kubur lakukan sebuah Totokan.

Seujung jari lagi totokan Ratu Pemikat bersarang di bagian bawah ketiak Malaikat Penggali Kubur, tiba-tiba perempuan ini berseru tertahan. Sekuat tenaga dia teruskan totokannya namun sia-sia. Malah di lain saat tubuhnya tegang kaku!

Malaikat Penggali Kubur tarik pulang kepalannya dari dada Ratu Pemikat. Sepasang matanya berkiiat-kilat. Rahangnya mengembung besar. Dari hidungnnya keluar dengusan keras.

"Jangan harap bisa mengelabuiku, Perempuan Sundal! Kau salah besar jika menduga Malaikat Penggali Kubur tidak tahu apa yang ada dalam benakmu!"

Ratu Pemikat rasakan nyawanya melayang. Paras wajahnya laksana tidak berdarah. Sepasang matanya mendelik besar membayangkan rasa takut. Dengan suara bergetar akhirnya dia berkata. "Kuharap kau memberi ampun padaku. Beri kesempatan padaku sampai aku dapat membalas sakti hati ini pada Pendekar 131. Apa yang kau katakan akan kulakukan..."

Malaikat Penggali Kubur menyeringai. "Turutkan hati, aku bisa saja membuatmu mampus saat ini. Tapi, Aku masih memberi ampun padamu. Tapi ingat! Ini hanya berlaku satu kali! Sekali lagi kau membuat tindakan bodoh, tubuhmu akan kukuliti dahulu sebelum mampus! Kau dengar?!"

"Aku dengar..."

"Bagus! Kau telah berkata akan lakukan apa yang kukatakan. Dengar apa yang kukatakan! Kau harus menyelidiki di mana Pendekar 131. Atur satu pertemuan denganku! Kau juga harus hubungi beberapa orang yang akan kusebutkan nanti. Jangan sekali-kali jamah dua kitab di tangan Pendekar 131!"

Meski dalam hati masih ragu akan dapat lakukan yang dikatakan Malaikat Penggali Kubur, namun karena jiwanya dalam keadaan tidak berdaya, terpaksa Ratu Pemikat! berkata. “Aku akan berusaha lakukan semua itu..."

”Jahanam! Jangan berusaha! Kau harus berhasil! keselamatan nyawamu tergantung berhasilnya tugasmu atau tidak! Soal caranya aku tak mau tahu. Dan aku yakin kau lebih tahu urusan itu!"

“Tugas ini adalah tugas berat. Harap kau memberiku waktu agak panjang..." ujar Ratu Pemikat dengan rasa masih tampak ketakutan.

“Aku yang atur semua ini! Jangan membantah! Kau harus berhasil mengatur pertemuan pada bulan purnama depan! Kau masih punya waktu satu purnama!"

“Baiklah... Sekarang bebaskan aku..." pinta Ratu Pemikat.

“Kata-kataku belum selesai!" bentak Malaikat Penggali Kubur. "Tiga hari di depan kau harus pergi ke puncak Bukit Selamangleng! Temui Iblis Rangkap Jiwa. Kalau tugas yang kuberikan padanya gagal, tugas itu juga menjadi tugas kalian berdua!"

Paras wajah Ratu Pemikat membayangkan ketakutan. Dengan suara tambah gemetar dia berkata. “Bagaimana aku harus menemuinya? Aku tidak kenal dengannya! Kalau dia tidak percaya?!"

Malaikat Penggali Kubur tertawa bergelak. "Itu urusanmu! Kalau kau sampai tewas di tangan manusia iblis Itu, berarti nyawamu memang ditakdirkan di tangan Iblis Rangkap Jiwa!"

Ratu Pemikat menggumam tak jelas. Sementara sepasang mata Malaikat Penggali Kubur beralih pandangi sepasang payudara Ratu Pemikat yang terbuka. Dada pemuda ini kembali bergemuruh. Malaikat Penggali Kubur maju satu langkah. Tanpa buka mulut, kedua tangannya bergerak.

Breettt!

Pakaian Ratu Pemikat robek hingga bagian dada sampai perutnya terbuka. Ratu Pemikat coba kerahkan tenaga dalam untuk bebaskan diri. Namun tak berhasil. Sementara Malaikat Penggali Kubur perdengarkan tawa pelan bahkan hampir tidak terdengar karena tenggelam dalam suara dengusan napasnya. Malaikat Penggali Kubur putar kepalanya sejenak. Lalu berujar.

"Aku tahu tempat yang enak untuk bersuka ria. Ha Ha Ha...! Dua hari dua malam kau harus layani aku dulu! Setelah itu kau boleh pergi lakukan yang kukatakan...!"

"Aku sudah katakan akan lakukan apa yang kau katakan. Berapa pun malam yang kau inginkan aku akan melayanimu! Tapi bebaskan aku dahulu..."

Plaaakk!

Satu tamparan mendarat di pipi kanan Ratu Pemikat hingga kepala perempuan bertubuh bahenol itu tersentak sedikit ke samping.

"Jangan berani memberi perintah pada Malaikat Penggali Kubur! Aku ingin bersuka ria dengan caraku sendiri!"

Ratu Pemikat gigit bibirnya yang kucurkan darah. Dalam hati perempuan ini memaki-maki. "Kelak kau akan rasakan pembalasanku, Jahanam! Sekarang kau menang dan bisa lakukan apa yang kau inginkan...."

Malaikat Penggali Kubur sorongkan wajahnya ke dada Ratu Pemikat. Namun cuma sekejap. Di lain saat kedua tangannya bergerak. Tahu-tahu sosok Ratu Pemikat telah berada di atas pundak kirinya. Malaikat Penggali Kubur putar diri. Lalu berkelebat dengan tertawa bergelak.

Bersamaan dengan berkebatnya tubuh, tangan kanannya bergerak ke atas. Ratu Pemikat tidak berani buka mulut meski hatinya terus menyumpah-nyumpah, karena tangan Malaikat Penggali Kubur menarik pakaiannya hingga robek disana-sini. Ketika memasuki sebuah goa sepi, tidak selembar kain pun yang tersisa menutupi sosok Ratu Pemikat!

********************

BAB 5

PENDEKAR 131 melangkah berjingkat seraya masukkan jari kelingking ke lobang telinganya. Sepasang matanya terpejam membuka. Kepalanya sedikit tengleng ke kanan.

"Begitu gadis sableng itu minggat, rasanya hilang beban di dada ini. Jalan bersama gadis cantik bukannya gembira yang kudapat, melainkan perasaan khawatir dan dongkol! Tahu begini jadinya, aku tidak akan mengajaknya dalam urusan pelik ini! Tapi bagaimana hendak dikata. Semuanya sudah telanjur. Siapa sebenarnya gadis sableng itu. Setiap kali kutanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan seolah tak ingin diketahui siapa dirinya. Hanya aku menduga, dia bukan gadis yang punya niat jahat meski selama ini dia tak mengatakan apa maksudnya ikut-ikutan menyelidik Kitab Hitam. Mudah-mudahan dugaanku tidak meleset. Tapi kalaupun meleset, apa artinya? Kitab Hitam menurut Gendeng Panuntun sudah didapat oleh seorang pemuda! Hem... Bagaimanapun juga aku harus segera mencari siapa pemuda yang berhasil mendapatkan kitab itu!"

Murid Pendeta Sinting hentikan langkahnya saat di depan sana terlihat sebuah kedai makan agak besar. Tangannya yang terangkat segera bergerak dan kini mengusap perutnya. Sambil bergumam dia teruskan langkah menuju arah kedai. Belum sampai langkahnya menginjak halaman kedai, mendadak dia berhenti. Sepasang matanya mendelik dengan dahi berkerut.

Dari arah sebelah kedai terlihat seorang pemuda berwajah tampan melangkah. Yang menarik perhatian, pemuda ini tidak memiliki kedua tangan alias buntung dan pada mulutnya tampak sebuah bundaran karet yang dikulum.

Pemuda bertangan buntung ini sejurus memandang pada murid Pendeta Sinting yang tegak di sebelah depan sana. Namun cuma sekejap. Seolah tak acuh dia berpaling lalu teruskan langkahnya menuju halaman kedai. Tepat di pintu masuk kedai, si pemuda bertangan buntung hentikan langkahnya. Memandang sejenak ke dalam kedai.

Seorang berusia lanjut tampak longokkan kepala dari dalam kedai, lalu mengangguk dengan bibir tersenyum. Si pemuda tidak balas anggukan orang yang rupanya adalah pemilik kedai. Melainkan putar diri lalu teruskan langkah menjauh!

"Ah... Kenapa aku bodoh betul! Orang tak punya tangan begitu aku harapkan makan di sini! Bagaimana ia akan menyuap nasi...?" Orang tua pemilik kedai gelengkan kepala lalu hendak melangkah masuk. Namun langkahnya tertahan tatkala dilihatnya seorang pemuda lain lewat dan tegak di pintu kedai.

Lagi-lagi orang tua pemilik kedai anggukkan kepala dengan pasang senyum. Tapi orang tua ini kembali gelengkan kepala tatkala orang muda yang diharapkan masuk kedainya hanya memandang lalu melangkah pergi!

"Kalau yang tadi aku maklum. Tapi pemuda yang barusan kulihat memiliki kedua tangan utuh. Pasti dia tidak berbekal uang? Dasar pemuda bengal. Hanya bisa jual tampang tapi kartong kosong!" Orang tua pemilik kedai mengomel sendiri lalu berpaling. Mendadak orang tua ini terperanjat.

"Ke mana pemuda itu tadi?!" Penasaran karena pemuda yang baru tegak di depan pintu kedainya telah lenyap, orang tua ini segera bergegas ke halaman kedai. Sepasang matanya yang kelabu dipelototkan besar-besar memandang ke jurusan timur arah mana dilihatnya si pemuda bertangan buntung dan pemuda satunya melangkah pergi. Namun orang tua ini tidak melihat siapa-siapa.

"Heran... Keduanya lenyap laksana ditelan bumi! Jangan-jangan-kedua pemuda itu hantu.. tapi..." Orang tua pemilik kedai tengadahkan kepala. "Apa mungkin hantu keluar di siang bolong begini? Ah. Jangan-jangan manusia jadi-jadian!" Orang tua ini rasakan tengkuknya dingin. Kedua kakinya gemetar. Tanpa pikir panjang lagi dia segera bergegas dan masuk kedai dengan tubuh sedikit menggigil.

Pendekar 131 terus berkelebat. "Aku yakin dia tadi Dewa Orok! Dan aku juga percaya dia tadi telah melihatku! Yang kuherankan mengapa dia seolah tidak mengenaliku? Dan rupanya dia maklum kalau kuikuti! Dia langsung lari begitu saja laksana melihat setan!"

Sampai di tempat agak sepi, murid Pendeta Sinting hentikan larinya. Dia mendengar suara duutt! Duttt! beberapa kali. Dia cepat berpaling ke kanan dari arah mana suara terdengar. Sekali lompat, murid Pendeta Sinting telah tegak sepuluh langkah di hadapan pemuda bertangan buntung yang mulutnya membuat gerakan menyedot hingga terdengar suara duuuttt! Duuuttt! Duuuttt!

"Mengapa kau mengikutiku, Anak Muda?! Apa ada yang aneh?!" si pemuda bertangan buntung yang tidak lain adakah Dewa Orok adanya telah buka mulut setelah semburkan bundaran karet di mulutnya. Bundaran karet mirip dot bayi itu mengapung berputar-putar di udara.

“Aku mencarimu! Ada hal penting yang harus kau ketahui!" ujar murid Pendeta Sinting lalu melangkah mendekat.

“Tetap di tempatmu, Anak Muda!" sentak Dewa Orok. "Jangan berani bergerak langkahkan kaki!"

“Aneh... Kita sudah saling kenal dan bersahabat! Malah aku telah berbaik hati padamu memberikan apa..."

Belum sampai ucapan murid Pendeta Sinting selesai, Dewa Orok telah memotong. "Aneh... Kapan kita saling berkenalan dan bersahabat? Apa yang pernah kau berikan padaku?! Jangan berani berkata telah menanam budi pada orang!"

"Aku Joko! Joko Sableng...! Kau lupa?!" kata murid Pendeta Sinting seraya tunjuk dadanya sendiri.

"Aku tidak tanya namamu! Aku tanya kapan kita berkenalan. Apa yang pernah kau berikan padaku?!"

"Kau ingat peristiwa Tengkorak Berdarah?! Di sana aku memberikan sebuah mahkota bersusun tiga padamu!"

"Jangan sembarangan bicara! Itu barang milikku!"

"Benar. Tapi aku yang telah menemukan dan memberikannya padamu!"

"Ah...." Dewa Orok berseru seraya gelengkan kepala seolah orang baru Ingat. Murid Pendeta Sinting tersenyum lalu melangkah maju

"Kubilang tetap di tempatmu!" Mendadak Dewa Orok perdengarkan bentakan membuat Joko hentikan kakinya mengapung di atas udara.

"Apa yang hendak kau beritahukan padaku" Dewa Orok bertanya.

Mungkin agak mulai jengkel melihat sikap orang, kaki yang terapung hendak melangkah dihentakkan keras. Dengan sepasang mata sedikit dipentangkan murid Pendeta Sinting berkata dengan suara agak keras.

"Di dalam mahkota bersusun tiga itu ada sebuah rahasia besar!"

"Sebagai pemilik barang, aku lebih tahu darimu! Aku tanya padamu, apa kau telah mendapatkan kitab itu?!"

"Hem.... Berarti orang ini telah mengetahui rahasia kitab yang tersimpan di mahkota miliknya! Gendeng Panuntun mengatakan kitab Itu telah jatuh ke tangan seorang pemuda. Sementara pemuda ini telah mengetahuinya terlebih dahulu dari mahkota yang dikatakan miliknya. Jangan-jangan dia yang telah mendapatkan kitab itu..."

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting segera berujar. "Kau teiah mengetahui rahasia itu sebelum aku. Mengapa kau tanya aku?!"

Dewa Orok sunggingkan senyum. "Kau telah mendahuluiku mengetahui di mana beradanya mahkota dan kitab bersampul kuning! Siapa tahu kau juga telah mendahului mengambil kitab itu?! Bukankah kau telah sampai puncak Bukit Selamangleng?! Lebih dari itu kau telah mengalahkan Iblis Rangkap Jiwa yang pasti telah tunjukkan di mana kitab itu berada"

Pendekar 131 terkejut mendapati Dewa Orok tahu apa yang telah terjadi. Hal itu menambah kuat dugaannya kalau Dewa Orok telah berhasil mendapatkan kitab itu.

"Dewa Orok! Aku memang telah sampai tempat yang ditunjuk Iblis Rangkap Jiwa. Tapi ada seseorang yang mendahuluiku! Sementara kau tahu rahasia dalam mahkota..." Pendekar 131 hentikan sejenak ucapannya seraya berpaling. Lalu melanjutkan. "Kuharap kau rela memberikannya padaku! Jangan salah sangka, aku tidak ingin memilikinya. Kitab itu harus dimusnahkan!”

“Pendekar 131! Aku memang mengetahui rahasia dalam mahkota. Tapi aku terlambat! Sementara kau telah mendahului ke puncak Bukit Selamangleng...." Seperti halnya sikap murid Pendeta Sinting, Dewa Orok sejenak hentikan ucapannya. Lalu ikut-ikutan berpaling. Lalu lanjutkan ucapannya. "Kau musnahkan atau tidak itu urusanmu! Karena apa yang hendak kau musnahkan ada di tanganmu!"

"Kau pandai memutar balik urusan!" sentak murid Pendeta Sinting.

"Kau pandai memutar balik lidah!" Dewa Orok balas menghardik.

"Aku yang akan memutar balik kepala kalian berdua!" Satu suara sekonyong-konyong menyahut. Bersamaan dengan itu satu sosok tubuh berkelebat dan tegak sepuluh langkah di samping kiri kanan Pendekar 131 dan Dewa Orok. Orang yang baru muncul ini langsung perdengarkan tawa bergelak-gelak.

“Iblis Rangkap Jiwa!" seru Pendekar 131 dengan suara tercekat. "Bagaimana ini? Di sini tidak mungkin ada seorang perempuan! Kalaupun ada belum tentu mau melakukan seperti apa yang dilakukan Putri Sableng di puncak Bukit Selamangleng..." Diam-diam murid Pendeta Sinting membatin.

Di depan sana, Dewa Orok juga tak kalah kagetnya. Apa yang ada dalam pikirannya tak jauh berbeda dengan apa yang sedang dipikirkan murid Pendeta Sinting. Seolah tahu apa yang ada dalam benak kedua orang di hadapannya, orang yang baru muncul yang ternyata adalah seorang laki-laki yang raut wajahnya hampir tidak tertutup daging, berkepala gundul, dan bukan lain adalah Iblis Rangkap Jiwa adanya putuskan tawanya.

"Aku sudah berputar tiga kali di tempat ini! Jangan harap kalian akan menemukan yang namanya perempuan! Ha Ha Ha...! Nasibku baik hari ini. Dicari satu-satu yang kudapat dua sekaligus!"

Baik murid Pendeta Sinting maupun Dewa Orok sejurus saling pandang. Kalau Dewa Orok mengetahui bahwa Pendekar 131 pernah membuat Iblis Rangkap Jiwa tak berkutik dari Cucu Dewa, maka sebaliknya Pendekar 131 baru mengetahui kalau Dewa Orok mengetahui kelemahan Iblis Rangkap Jiwa dari ucapan yang barusan dikatakan Iblis Rangkap Jiwa. Namun apalah artinya mengetahui kelemahan orang tanpa bisa melakukannya?

"Iblis Rangkap Jiwa!" kata murid Pendeta Sinting. "Kurasa kau telah tahu kalau aku tidak mendapatkan kitab itu! Dengan begitu di antara kita rasanya tidak ada urusan lagi!"

"Iblis Rangkap Jiwa!" Dewa Orok ikut-ikutan angkat bicara. "Kurasa kau juga telah tahu kalau aku tidak nimbrung urusan kitab! Dengan begitu aneh rasanya kalau kau tiba-tiba terus mencari-cariku!"

Mendengar ucapan kedua orang itu, Iblis Rangkap Jiwa keraskan gelakan tawanya. Tangan kanannya diangkat ditunjukkan lurus ke arah murid Pendeta Sinting. "Kau memang bernasib sial karena tidak menemukan kitab itu! Tapi jangan kira urusan di antara kita tidak ada lagi!"

Habis berkata begitu, tangan kanan Iblis Rangkap Jiwa bergerak dan berhenti tatkala tepat menunjuk lurus ke arah Dewa Orok. "Dan kau! Memang tidak ikut nimbrung urusan kitab sialan itu! Tapi jangan merasa aneh kalau aku tetap akan mencarimu sampai kapan dan di mana pun!"

"Hem... Ucapannya mengisyaratkan dia telah tahu siapa adanya orang yang mendapatkan kitab itu! Dan yang pasti itu bukan Dewa Orok..." Murid Pendeta Sinting menduga-duga ucapan Iblis Rangkap Jiwa.

Kalau murid Pendeta Sinting menduga-duga dalam hati, diam-diam pula Dewa Orok membatin. "Nyatanya Pendekar 131 bukan orang yang mendapatkan kitab itu meski telah tahu tempatnya! Jadi ada yang tidak beres kalau manusia ini terus-terusan mencariku...."

"Iblis Rangkap Jiwa!" kembali murid Pendeta Sinting buka suara. "Kalau bukan urusan kitab, lalu urusan apa lagi? Apa peristiwa di puncak bukit itu masih membuatmu jengkel? Seharusnya kau berterima kasih. Kalau tidak ada aku, mana mungkin kau bisa menikmati pantat bagus, putih, besar, dan padat berisi...?!"

"Iblis Rangkap Jiwa!" kali ini yang buka suara Dewa orok. "Aku akan tetap merasa aneh kalau kau tetap akan mencariku sampai kapan dan di mana pun! Apa peristiwa di depan kuil itu masih membekas di dadamu? Seharusnya kau juga mengucapkan terima kasih padaku meski tempo hari kau tidak berkenan melihatnya. Karena yang kau dapatkan bukan seperti di puncak bukit. Melainkan besar, hitam legam, dan kendor!"

Habis berkata begitu Dewa Orok tampak tertawa. Di depan sana tawa murid Pendeta Sinting sudah meledak lebih dahulu. Iblis Rangkap Jiwa tegak dengan tubuh bergetar. Sepasang matanya yang melotot besar makin terpentang. Tulang rahangnya bergerak terangkat.

"Agar kalian tidak bertanya-tanya di alam kubur nanti, dengar!" bentak Iblis Rangkap Jiwa lalu arahkan pandangannya pada Dewa Orok. "Nyawamu tidak akan kusisakan!" Iblis Rangkap Jiwa lalu arahkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting. "Dan kau masih sedikit beruntung. Karena aku hanya butuh setengah nyawamu!"

Habis berkata begitu, Iblis Rangkap Jiwa mendongak. "Satu setengah nyawa kalian adalah tebusan dari nyawaku! Lebih dari itu, satu setengah nyawa kalian kelak akan kutukar dengan Kitab Hitam itu! Ha Ha Ha...!"

Kembali Dewa Orok dan Pendekar 131 saling pandang. Kejap lain Dewa Orok telah perdengarkan suara. "Ternyata nasibmu lebih baik, Anak Muda! Dia hanya butuh setengah nyawamu! Padahal siapa pun tahu kalau nyawaku lebih baik dari nyawamu! Apa ini karena aku hanya bisa memperlihatkan pantat yang besar, hitam legam, dan kendor?"

"Ah... Kau keliru, Teman Muda!" sahut murid Pendeta Sinting. "Kalau dia ingin setengah nyawaku berarti aku harus merasakan sakit dulu yang bukan alang kepalang. Lebih enak kau. Langsung mati tak merasakan apa-apa lagi! Jangan-jangan ini karena sahabat kita bergelar Iblis Rangkap Jiwa itu memang lebih suka melihat yang besar, hitam gosong, dan kendor!"

Meski murid Pendeta Sinting dan Dewa Orok tampak tersenyum-senyum, namun sebenarnya dada masing-masing orang ini merasa gelisah. Mereka sama maklum kalau Iblis Rangkep Jiwva adalah tokoh yang punya kesaktian luar biasa. Dan walau keduanya tahu bagaimana memusnahkan kesaktian Iblis Rangkap Jlwa, namun rasanya sulit mendapatkan perempuan di tempat seperti sekarang ini.

Sementara itu, begitu mendengar ucapan-ucapan Pendekar 131 dan Dewa Orok, iblis Rangkap Jiwa menggereng keras. Kedua tangannya serta-merta di angkat. Kejap lain kedua tangannya bergerak lepaskan pukulan. Tangan kanan mengarah pada murid Pendeta Sinting, tangan kiri lurus ke arah Dewa Orok!

BAB 6

PENDEKAR 131 dan Dewa Orok sejenak saling berpandangan. Namun belum sempat ada yang buka mulut, dua gelombang luar biasa dahsyat telah menggebrak ke arah keduanya! Meski telah tahu bahwa tidak ada gunanya memangkas pukulan yang dilancarkan Iblis Rangkap Jiwa, namun kalau tidak berusaha bertahan maka pasti akan mengalami nasib lebih buruk lagi.

Berpikir begitu, Joko cepat kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Kejap lain kedua tangannya telah berubah berwarna kuning pertanda murid Pendeta Sinting telah siap lancarkan pukulan 'Lembur Kuning', Di lain pihak, Dewa Orok tidak tinggal diam. Pemuda bertangan buntung murid Cucu Dewa ini tarik tubuh bagian atasnya sedikit ke belakang. Saat lain tubuhnya disentakkan ke depan.

Untuk sesaat cuaca menjadi semburat kekuningan. Lalu terlihat cahaya kuning melesat dengan membawa gelombang dahsyat dan hawa luar biasa panas. Bersamaan itu dari tubuh Dewa Orok bagian atas melesat kabut putih.

Bummm! Bummm!

Dua ledakan keras mengguncang tempat itu. Sinar kuning yang melesat keluar dari tangan Joko semburat ke udara lalu bertabur setelah membuat lidah api. Pada saat yang sama, bongkahan kabut putih dari dada Dewa Orok berhamburan. Sosok Pendekar 131 mencelat sampai satu setengah tombak. Untung murid Pendeta Sinting ini segera sentakkan kedua tangannya untuk imbangi diri, hingga meski sesaat sempat terhuyung-huyung namun tidak sampai roboh. Wajahnya berubah pucat pasi. Kedua tangannya tampak bergetar.

Di seberang, Dewa Orok juga terlihat tersapu akibat bentroknya pukulan yang keluar dari dadanya dengan pukulan Iblis Rangkap Jiwa. Sosoknya terputar lalu melesat jauh ke belakang. Namun sebelum tubuhnya terjerembab di atas tanah, pemuda bertangan buntung ini gerakkan kedua kakinya seakan berselonjor ke atas. Saat lain kedua kakinya membuat gerakan bersila di udara dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Dengan menggoyang kedua bahunya, sosoknya jungkir balik. Lalu mendarat di atas tanah dengan duduk bersila.

Meski mulut Dewa Orok tampak sunggingkan senyum, namun pemuda bertangan buntung ini tidak dapat sembunyikan rasa sakit. Parasnya pias dengan dada bergerak-gerak keras. Sepasang matanya sedikit menyipit dengan kedua alis mata terangkat. Walau iblis Rangkap Jiwa dikenal kalangan rimba persilatan sebagai tokoh yang berkepandaian tinggi dan kebal terhadap pukulan, namun mendapat pukulan secara bersamaan dari murid Pendeta Sinting dan Dewa Orok, tak urung sosoknya tergeret sampai satu tombak dan terhuyung-huyung. Namun kejap lain laki-laki berkepala gundul ini telah tegak dengari mulut perdengarkan suara tawa bergelak.

"Kalian manusia-manusia bernasib malang berani membuat urusan dengan Iblis Rangkap Jiwa! Ha Ha Ha...!"

Meski masih merasakan sakit, Dewa Orok segera buka mulut menyahut. "Kau manusia bernasib malang berani membuat urusan dengan Dewa Orok! Ha Ha Ha...!" Dewa Orok teruskan tawanya seraya mengerling pada murid pendeta Sinting. Lalu edarkan pandangannya berkeliling. Diam-diam pemuda ini didera perasaan gelisah dan cemas.

"Celaka! Di tempat begini tidak mungkin ada seorang perempuan! Dan tak mungkin dia dapat dikelabui lagi seperti tempo hari!"

Seperti halnya Dewa Orok, diam-diam Pendekar 131 juga merasa gelisah dan waswas. Dia maklum Iblis Rangkap Jiwa tidak dapat dikalahkan hanya dengan mengandalkan pukulan. "Apa yang harus kulakukan? Waktu di puncak Bukit Selamangleng beberapa waktu lalu, pukulan 'Serat Biru' tidak membuat dirinya cedera! Hem.... Meski menurut beberapa orang manusia iblis ini kebal pukulan tapi akan kucoba dengan pukulan yang kudapat dari Kitab Sundrik Cakra..."

Pendekar 131 segera alirkan tenaga dalam pada tangan kanan. Jari telunjuk, jari tengah serta jari manis diluruskan. Sementara ibu jari serta jari kelingking ditekuk ke depan saling bertemu. Melihat apa yang dilakukan Joko, Dewa Orok kernyitkan dahi. Seakan tahu apa yang hendak dilakukan orang, pemuda bertangan buntung ini segera kerahkan tenaga dalamnya kembali. Sepasang matanya dipejamkan. Lalu perlahan-lahan tubuh bagian atasnya ditarik ke belakang hingga tubuhnya hampir sejajar dengan tanah.

Mendapati kedua orang di hadapannya membuat gerakan, Iblis Rangkap Jiwa perkeras gelakan tawanya. Namun laksana dirobek setan, mendadak dia putuskan tawanya. Mulutnya menyeringai dengan sepasang mata mendelik angker. Kedua tangannya berkacak pinggang.

"Kalian boleh pilih sebelah mana yang kalian sukai"

Dewa Orok buka kelopak matanya. Mulutnya membuka angkat bicara. "Kau telah memberikan pilihan pada kami. Meski aku tidak memiliki tangan, tapi aku tidak tertarik dengan kedua tanganmu. Justru aku lebih suka pada senjata bawahmu! Dengan punya dua senjata, tanpa tangan pun pasti akan banyak perempuan yang tergila-gila padaku! Lebih dari itu, aku bisa main-main dengan dua perempuan sekaligus! Ha Ha Ha...! Pasti rasanya asyik...!"

Pendekar 131 tidak sahuti ucapan Dewa Orok. Sebaliknya dia cepat dorong tangan kanannya.

Wuuuttt!

Tiga larik sinar kuning melesat keluarkan suara deruan keras. Tanah di depan sana terlihat bertabur tersapu ke udara. Di sebelah samping, Dewa Orok segera sentakkan tubuhnya ke atas.

Wuuutttt!

Tampak gelombang dahsyat menyembur dari dada Dewa Orok disertai melesatnya bongkahan kabut. Iblis Rangkap Jiwa pandangi pukulan yang mengarah padanya dengan tatapan dingin. Orang ini tidak terlihat membuat gerakan. Malah sesaat kemudian mulutnya membuka perdengarkan suara tawa!

Desss! Desss!

Gelakan tawa Iblis Rangkap Jiwa terputus. Bersamaan itu sosoknya tersapu hingga empat tombak ke belakang sebelum akhirnya jatuh terbanting di atas tanah. Pakaian yang dikenakannya tampak robek menganga di sana-sini. Darah mengucur deras dari sudut bibirnya. Tubuhnya diam tak bergerak. Namun sesaat kemudian, laki-laki berkepala gundul ini membuat gerakan. Kedua tangannya menyentak di atas tanah.

Sosoknya bergerak bangkit. Sepasang matanya mendelik angker pandangi silih berganti pada Pendekar 131 dan Dewa Orok. Walau Iblis Rangkap Jiwa dapat tegak kembali, namun jelas kalau laki-laki ini tidak dapat sembunyikan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Hal Ini membuatnya terheran-heran.

"Keparat benar! Selama malang melintang beratusratus tahun dalam dunia persilatan, baru kali ini aku menemukan manusia yang pukulannya membuat dadaku seolah hendak jebol! Aku harus segera membereskan kedua manusia itu! Jika tidak, urusan dengan Malaikat Penggali Kubur akan tertunda! Lebih dari itu aku bisa celaka sendiri kalau terus-terusan meladeninya!"

Iblis Rangkap Jiwa kerahkan tenaga dalamnya. Serta merta kedua tangannya diangkat ke atas. Di seberang depan sana, Pendekar 131 dan Dewa Orok sama pentangkan mata masing-masing dengan mulut terkancing.

"Pukulan 'Sundrik Cakra" hanya membuat mulutnya berdarah! Hem... Aku akan coba gabungkan pukulan 'Serat Biru' dengan 'Sundrik Cakra'!" kata Joko dalam hati. Lalu kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya.

Di sebelah samping, mungkin merasa tidak ada gunanya lagi lancarkan pukulan, Dewa Orok hanya memandang tanpa membuat gerakan apa-apa. Iblis Rangkap Jiwa sentakkan' kedua tangannya. Pada saat yang sama murid Pendeta Sinting dorong kedua tangannya hendak lancarkan gabungan pukulan 'Serat Biru' dengan 'Sundrik Cakra'. Namun belum sampai kedua orang ini lancarkan pukulan masing-masing, satu bayangan berkelebat.

"Tahan serangan!"

Murid Pendeta Sinting urungkan niat tanpa berpaling. Di depan sana Iblis Rangkap Jiwa terlihat melengak kaget malah sepasang kakinya tersurut satu tindak. Seakan disentak tangan setan, kepalanya cepat berpaling dengan paras berubah.

Dewa Orok sendiri terlihat belalakkan sepasang matanya. Bibirnya sunggingkan senyum. Kejap lain pemuda bertangan buntung Ini berkelebat dan tahu-tahu telah tegak sejarak tiga langkah di samping orang yang berseru.

"Jahanam! Siapa makhluk perempuan ini?!" desis Iblis Rangkap Jiwa dengan mata tak berkesip pandangi orang yang baru datang.

Yang dipandang sunggingkan senyum. Sepasang matanya menatap tajam. Bukan ke arah Dewa Orok atau lblis Rangkap Jiwa, melainkan pada Pendekar 131. Dia adalah seorang perempuan berusia lanjut. Raut wajahnya telah mengeriput. Kelopak matanya besar dengan bola mata sipit. Rambutnya putih sebatas tengkuk. Nenek ini mengenakan jubah panjang warna merah menyala. Pada mulutnya tampak segumpal tembakau berwarna hitam yang bergerak-gerak seiring gerakan mulutnya.

Dewa Orok bungkukkan sedikit tubuhnya seraya buka suara. "Selamat jumpa lagi, teman lama... Kuharap keadaanmu baik-baik saja. Dan mudah-mudahan kau tidak lupa denganku..."

Nenek berjubah merah menyala palingkan kepala menghadap Dewa Orok. Sepasang matanya membesar. Lalu terdengarlah suara tawa cekikikannya.

"Heran. Kurasa baru kali ini kita bertemu muka. Adalah satu hal aneh kalau tiba-tiba kau menyebutku teman lama. Hik Hik Hik...! Harap kau tidak kecewa kalau aku bukan saja lupa padamu, tetapi juga tidak mengenalmu!"

Dewa Orok angkat kepalanya. Dahinya mengernyit dengan mulut bergumam tak jelas. "Nenek ini pura-pura lupa atau bagaimana? Aku masih ingat benar pertemuan dengannya! Atau mungkinkah pandangan mataku yang keliru?!" Dewa Orok kerjapkan sepasang matanya. Lalu kepalanya disorongkan ke depan.

"Benar! Memang nenek ini yang sempat kutemui beberapa waktu lalu. Rambut dan tembakau di mulutnya masih kuingat betul!" kata Dewa Orok dalam hati lalu seraya masih sunggingkan senyum, dia berkata.

"Nek! Bukankah kau Ratu Malam...?! Kita pernah jumpa di depan Istana Hantu!"

Nenek berjubah merah pasang tampang angker. Namun justru kejap kemudian yang terdengar adalah suara tawa cekikikannya lagi, membuat Dewa Orok gelengkan kepala. Tapi pemuda bertangan buntung ini segera hentikan gelengan kepalanya. Saat lain dia ikut-ikutan perdengarkan tawa cekikikan!

Pendekar 131 menoleh. Sejurus sepasang matanya memandang tajam ke arah nenek berjubah merah yang tidak lain memang Ratu Malam adanya. "Nek...! Kalau kau lupa dengan temanku itu, kuharap kau tidak lupa denganku...!" ucap Joko lalu menjura.

Ratu Malam hadapkan wajahnya pada murid Pendeta Sinting. "Harapanmu sia-sia, Anak Muda! Seperti halnya pemuda bertangan buntung itu, kurasa aku baru pertama? kali jumpa denganmu...!" Ratu Malam berpaling pada Iblis Rangkap Jiwa lalu teruskan ucapannya.

"Kalau dengan yang satu ini, tentu aku masih ingat benar! Bukankah kau yang dikena! Iblis Rangkap Jiwa?!"

Meski hatinya tidak enak mendapati orang telah mengenali dirinya, namun Iblis Rangkap Jiwa segera menyahut. "Syukur kau telah mengenaliku. Kalau tidak keberatan, harap sudi sebutkan diri!"

Ratu Malam tertawa dahulu sebelum menyahut. “Pertemuan kita memang sudah lama sekali. Jadi aku maklum kalau kau lupa denganku! Hik Hik Hik...!" Ratu Malam arahkan pandangannya ke jurusan lain. Lalu lanjutkan kata-katanya. "Sebelum kujawab tanyamu, aku tanya dahulu. Kau ingin aku sebutkan diri untuk suatu apa bagaimana?!"

Iblis Rangkap Jiwa menatap dingin. "Pendekar 131 mengenalnya dengan Ratu Malam. Hem... Aku memang pernah dengar nama itu dalam rimba persilatan. tapi apa maksud pertanyaannya...?" Diam-diam laki-laki berkepala gundul ini membatin. Lalu buka mulut.

"Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu!"

"Aku punya sebutan banyak! Untuk siang hari aku punya gelar lain dengan malam hari. Demikian juga untuk petang dan dini hari! Kau ingin aku sebutkan satu persatu atau bagaimana? Atau kau hanya ingin aku sebutkan nama yang biasa kusandang di semua suasana?!"

Mungkin mulai dongkol dengan ucapan Ratu Malam, Iblis Rangkap Jiwa cepat menyahut dengan suara keras. "Terserah kau hendak sebutkan yang mana! Aku hanya ingin kau sebutkan diri!"

Ratu Malam mainkan gumpalan tembakau hitam di mulutnya sejenak. Lalu menjawab. "Karena kau menyerahkan padaku, agar tidak terlalu panjang lebar, aku akan sebutkan diri nama yang biasa kupakai di semua suasana. Aku biasa dipanggil Ken Dedes!"

Tawa cekikikan Dewa Orok berubah menjadi ledakan tawa. Di seberang samping murid Pendeta Sinting coba menahan tawa, tapi tak urung suara tawanya meledak juga. Hanya Iblis Rangkap Jiwa yang tampak kancingkan mulut dengan mata makin membeliak. Ratu Malam memandang silih berganti pada Pendekar 131 dan Dewa Orok.

"Kenapa kalian tertawa, hah?! Apa yang kalian anggap lucu?!"

"Harap Ken Dedes tidak salah sangka! Tidak ada yang lucu. Hanya aku merasa heran, mengapa nama kita bisa mirip?!" Yang buka suara adalah murid Pendeta Sinting.

"Betul! Ken Dedes harap tidak salah duga. Kami tertawa bukan karena ada yang lucu! Hal ini semata-mata karena aku juga merasa aneh, mengapa nama kita betul-betul hampir sama...!" sahut Dewa Orok.

"Kalian berdua jangan main-main! Siapa nama-nama kalian hingga kalian berani sebutkan nama hampir sama denganku, hah?!" hardik Ratu Malam.

"Untuk semua suasana orang biasa memanggilku Ken Jaka!" jawab Joko.

Dewa Orok tidak tinggal diam. Pemuda ini segera pula menyahuti. "Sementara untuk semua daerah, aku biasa dikenal dengan Ken Arok...!"

Mendengar murid Pendata Sinting dan Dewa Orok sebutkan nama, Ratu Malam komat-kamitkan mulut. Lalu tertawa cekikikan hingga bahunya berguncang keras. Di sebelah depan sana, Iblis Rangkap Jiwa bantingkan kaki hingga keluarkan suara berdebam. Tanah di bawahnya langsung semburat bertabur.

"Jahanam! Aku tak peduli siapa kalian! Yang jelas Kalian harus mampus bersama!"

Iblis Rangkap Jiwa angkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Tubuhnya terlihat bergetar keras pertanda dia tak dapat lagi menahan gejolak amarah.

"Tunggu!" tahan Ratu Malam seraya hentikan tawanya. Nenek ini melangkah empat tindak ke depan. Lalu lorotkan sedikit tubuhnya dengan kedua tangan berjarak mengangkat bagian bawah jubahnya sedikit membuat gerakan seperti orang memberi hormat.

"Kuharap kau tidak merasa tersinggung. Aku mengatakan yang sebenarnya. Ken Dedes memang nama yang sering kukatakan pada orang-orang untuk semua suasana. Entah kalau kedua orang itu...!" Jari telunjuk Ratu Malam bergerak menunjuk pada murid Pendeta Mnting dan Dewa Orok.

"Aku juga mengatakan yang sebenarnya!" sahut Pendekar 131.

"Aku juga!" timpal Dewa Orok, lalu ikut-ikutan membuat gerakan seperti yang dilakukan oleh Ratu Malam.

Hanya kalau Ratu Malam angkat sedikit bagian bawah jubahnya dengan kedua tangan, Dewa Orok angkat kaki kanannya untuk sibakkan celana kirinya. Lalu angkat kaki kirinya untuk sibakkan sedikit celana kaki kanannya!

Melihat gerakan yang dilakukan Ratu Malam, diamdiam Iblis Rangkap Jiwa rasakan dadanya berdebar. “Jangan-jangan perempuan tua ini tahu kelemahanku. Bangsat benar! Siapa yang telah menebarkan semua ini hingga orang yang baru saja kujumpa seakan sudah tahu kelemahanku?!"

"Terima kasih kau mau mengerti..." kata Ratu Malam melihat iblis Rangkap Jiwa urungkan niat kirimkan serangan, bahkan terlihat tercenung. Seraya berkata begitu, Ratu Malam kembali membuat gerakan hormat sambil singsingkan jubah merahnya sedikit agak tinggi.

Dewa Orok tidak berdiam diri. Dia segera pula menyahut. "Aku juga mengucapkan terima kasih..." Lalu ikut-ikutan membuat gerakan menghormat dengan singsingkan celana kanan kiri silih berganti dengan kakinya.

Seakan tahu apa yang ada dalam benak Iblis Rangkap Jiwa, murid Pendeta Sinting angkat kedua tangannya ke arah pinggang. Iblis Rangkap Jiwa tersentak. Dia seakan maklum apa yang hendak dilakukan oleh orang-orang di hadapannya. Dengan suara bergetar keras dia membentak.

"Ken Dedes! Siapa pun kau adanya, kuharap kau segera tinggalkan tempat ini!"

Ratu Malam gelengkan kepala. "Sayang... Ken Dedes tidak pernah mau menurut perintah orang! Harap kau tidak kecewa. Hik Hik Hik...!"

Iblis Rangkap Jiwa mendengus keras. "Baik. Tapi kuharap kau tidak ikut campur urusanku dengan kedua manusia itu!"

Lagi-lagi Ratu Malam gelengkan kepala. "Sayang... Selama ini Ken Dedes tidak pernah mau menerima syarat orang. Hik Hik Hik...!"

Mungkin karena tertawa cekikikan sementara kedua tangannya masih memegangi bagian bawah jubahnya, maka singkapan jubahnya makin tertarik ke atas, membuat Iblis Rangkap Jiwa makin terbeliak.

"Jahanam! Perempuan ini jangan-jangan memang telah tahu...! Tapi aku belum yakin benar kalau tidak menyaksikan sendiri! Siapa tahu hal itu dilakukan secara tidak sengaja..." Berpikir begitu, Iblis Rangkap Jiwa cepat angkat! Kedua tangannya kembali. Lalu membentak. "Kau tidak mau turuti ucapanku..."

Belum sampai ucapan Iblis Rangkap Jiwa selesai, Ratu Malam telah menukas. "Sayang... Aku tidak mau dengar segala macam bentuk ancaman! Hik Hik Hik...!"

Mendengar ucapan Ratu Malam dan mungkin karena belum merasa yakin kalau si nenek tahu kelemahannya, Iblis Rangkap Jiwa tarik kedua tangannya ke belakang siap lancarkan pukulan.

"Hai... Kau tidak main-main?!" seru Ratu Malam dengan pasang tampang seperti orang ketakutan. Malah dengan mimik seolah ngeri, nenek ini balikkan tubuh dengan kedua tangan tetap pegangi bagian bawah jubahnya.

Melihat gerakan Ratu Malam, Dewa Orok cepat ikut-ikutan putar diri membelakangi Iblis Rangkap Jiwa dengan kaki kanan diangkat dan digaetkan pada ujung Celana kaki kirinya seolah membuat gerakan seperti orang hendak melorotkan celana. Murid Pendeta Sinting anggukkan kepala. Lalu balikkan tubuh dengan kedua tangan siap seolah hendak menarik celananya ke bawah.

Iblis Rangkap Jiwa pandangi punggung ketiga orang di hadapannya dengan kaki bergetar. Sepasang matanya membeliak. Dalam hati laki-laki ini memaki panjang pendek. "Manusia-manusia keparat! Kalian boleh mengetahui kelemahanku, namun aku akan meninggalkan sesuatu yang pantas untuk kalian!"

Iblis Rangkap Jiwa gerakkan kedua tangannya lancarkan pukulan! Dua gelombang hitam luar biasa dahsyat menderu ke arah Pendekar 131, Ratu Malam, serta Dewa Orok. Sesaat Iblis Rangkap Jiwa pentangkan mata memandang ke arah tiga orang di hadapan sana, lalu sentakkan kedua kakinya dan berkelebat pergi.

BAB 7

GERAKAN kedua tangan Ratu Malam yang hendak singkapkan bagian bawah jubah merahnya tertahan. Demikian juga gerakan kaki Dewa Orok serta kedua tangan murid Pendeta Sinting yang hendak tarik celananya.

"Cepat menyingkir!" teriak Pendekar 131 sambil sentakkan kedua tangannya ke belakang. Lalu berkelebat menghindar.

Ratu Malam dan Dewa Orok sejenak saling berpaling. Namun baru saja kedua kepala mereka bergerak, gelombang hitam telah menerjang.

"Celaka!" desis murid Pendeta Sinting. Tanpa pikir pamjang lagi dia segera berkelebat ke arah Ratu Malam.

Brukkk!

Tubuh Ratu Malam tertubruk hingga tubuhnya dan tubuh murid Pendeta Sinting terhuyung ke samping ke arah Dewa Orok.

Brukkk!

Sosok Ratu Malam dan Pendekar 131 kini menubruk sosok Dewa Orok. Saat itulah pukulan Iblis Rangkap Jiwa datang menggebrak. Hingga tak ampun lagi tubuh ketiga orang ini mental dengan saling bergandengan. Sosok Pendekar 131 dan Dewa Orok terlihat berputar di udara. Sementara sosok Ratu Malam hanya melayang tanpa bergerak, karena sosoknya tertahan tubuh murid Pendeta Sinting dan Dewa Orok.

Bukkk! Bukkk! Bukkkk!

Tubuh murid Pendeta Sinting menghantam tanah terlebih dahulu dengan posisi telentang. Disusul dengan tubuh Ratu Malam yang melayang jatuh tengkurap di atas tubuh Pendekar 131. Sesaat kemudian tubuh Dewa Orok terhempas dan tepat menindih tubuh Ratu Malam dengan telungkup!

"Sialan! Kenapa kau menindihku?!" seru Ratu Malam. Sikunya bergerak ke atas.

"Sialan! Kenapa kau menuduhku?!" teriak Dewa Orok. Namun sebelum ucapannya selesai, sosoknya telah melayang ke udara terkena hantaman siku Ratu Malam.

Ratu Malam tertawa cekikikan. Tapi mendadak tawa cekikikannya terputus. Bersamaan dengan itu sosoknya ikut melayang ke udara dengan kaki terjungkal ke atas. Pendekar 131 buka kelopak matanya. Meski la masih merasakan sakit pada bahu kanannya, namun tak urung dia perdengarkan suara tawa bergelak. Karena di atas sana terlihat Dewa Orok melayang dengan kaki menggaet jubah Ratu Malam bagian bawah hingga nenek itu ikut melayang dengan kaki di atas kepala di bawah!

Ratu Malam menggerendeng panjang pendek. Sekali bergerak tubuhnya berputar. Kedua kakinya lakukan tendangan ke arah kaki Dewa Orok yang menggaet bagian bawah jubahnya.

Desss!

Tubuh Dewa Orok terbanting di udara. Gaetan kaki pada jubah Ratu Maiam lepas. Sosoknya melayang jatuh. Namun begitu tubuhnya berada di bawah tubuh Ratu Malam, kaki pemuda ini kembali bergerak menggaet jubah bagian depan si nenek, hingga mau tak mau keduanya melayang jatuh bersamaan!

Bukkk! Bukkkk!

Tubuh Dewa Orok jatuh terlebih dahulu dengan terIentang. Disusul dengan tubuh Ratu Malam yang tengkurap di atas tubuh Dewa Orok!

"Sialan! Kenapa kau menindih bahkan menciumku?!" seru Dewa Orok seraya gerakkan kepalanya ke kiri kanan hindarkan diri dari wajah Ratu Malam.

Ratu Malam angkat tubuhnya. Sepasang matanya mendelik tak berkesip memandang ke arah bola mata Dewa Orok. Mulutnya komat-kamit hingga tembakau hitamnya tampak keluar masuk.

"Sialan! Kau yang sengaja minta supaya dapat di cium!" teriak Ratu Malam. Tangan kiri kanannya diangkat ke samping. Lalu dihantamkan ke arah kepala Dewa Orok.

Karena tertindih tubuh Ratu Malam serta tidak punya tangan, maka Dewa Orok hanya bisa memandang tanpa bisa bergerak menghindar atau menangkis. Murid Pendeta Sinting hendak berteriak menahan gerakan kedua tangan Ratu Malam. Namun sebelum suaranya terdengar satu suara mendahului.

"Nek! Di bawahmu ada pemuda tak memiliki kedua tangan. Mengapa kau masih tega hendak memecahkan kepalanya?"

Ratu Malam tak hiraukan ucapan orang. Kedua tangannya terus bergerak menghantam ke arah kepala Dawa Orok. Sejengkal lagi kedua tangan Ratu Malam menggebrak kepala Dewa Orok, mendadak satu cahaya putih berkiblat. Gerakan kedua tangan Ratu Malam tertahan, malah kajap lain kedua tangan nenek ini terlihat mental balik ke samping. Bersamaan itu sosoknya laksana disapu gelombang dan mencelat dari atas tubuh Dewa Orok.

"Kurang ajar! Siapa berani turun tangan ikut urusanku?!" teriak Ratu Malam lalu berpaling.

Sejarak lima belas langkah dari tempatnya, Ratu Malam melihat seorang laki-laki bertubuh besar mengenakan pakaian gombrong warna hijau. Pada perutnya terlihat melingkar satu ikat pinggang besar yang bagian depannya terdapat sebuah cermin bulat. sepasang mata laki-laki ini berwarna putih dan memandang ke atas dengan bibir tersenyum.

Murid Pendeta Sinting bergerak bangkit. Di seberang sana, Dewa Orok juga menggeliat lalu bangkit duduk. Kedua orang ini sama arahkan pandangannya pada laki-laki berpakaian hijau gombrong yang tidak lain adalah Gendeng Panuntun.

"Ke mana gerangan minggatnya Iblis Rangkap Jiwa?!" Pendekar 131 dan Dewa Orok sama membatin karena Iblis Rangkap Jiwa memang sudah meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan Joko dan Dewa Orok. Baik Joko maupun Dewa Orok sama-sama hendak buka mulut, namun Gendeng Panuntun telah mendahului.

"Kalian jangan bergerak dahulu! Kalian masih dalam keadaan terluka"

Baru saja ucapan Gendeng Panuntun selesai, Pendekar 131 rasakan dadanya sesak. Kedua tangan dan kakinya bergetar. Kejap lain dia melorot jatuh. Di seberang sana, Dewa Orok terlihat megap-megap. Lalu mulutnya menguncup membuat gerakan menyedot. Bundaran karet yang sedari tadi mengapung di udara melesat dan masuk ke dalam mulutnya. Pada saat bersamaan, tubuhnya terjajar rata dengan tanah. Ratu Malam sedikit sipitkan sepasang matanya. Lalu berpaling pada murid Pendeta Sinting dan Dewa Orok. Namun baru saja menoleh dan belum sempat buka suara, sosoknya melorot jatuh!

"Himpun tenaga murni. Salurkan pada dada kalian!" kata Gendeng Panuntun.

Habis berkata begitu, Gendeng Panuntun hadapkan tubuhnya ke arah Ratu Malam. Pantatnya digoyang sedikit. Satu cahaya putih melesat ke arah Ratu Malam. Kejap lain Gendeng Panuntun hadapkan tubuhnya ke arah murid Pendeta Sinting. Pantatnya digoyang. Dari cermin bulat di depan perutnya melesat satu cahaya putih. Lalu sekali lagi pantatnya digoyang dan diarahkan pada Dewa Orok.

Ratu Malam, Pendekar 131, serta Dewa Orok rasakan hawa dingin merasuki sekujur tubuhnya. Namun berrsamaan dengan itu, masing-masing orang rasakan kepalanya berputar-putar. Saat lain ketiganya tidak ingat apa-apa lagi.

Gendeng Panuntun melangkah ke arah Ratu Malam. Tangan kirinya bergerak mengambil tubuh si nenek lalu diletakkan di atas pundak kirinya. Sejenak Gendeng Panuntun tengadah, lalu menghampiri Dewa Orok. Begitu dekat, tangan kanannya bergerak. Tahu-tahu sosok Dewa Orok telah berada di pundak kanannya. Gendeng Panuntun hadapkan wajah ke arah sosok murid Pendeta Sinting, namun cuma sekilas.

Kejap lain dia melangkah perlahan tinggalkan tempat itu dengan tangan kiri kanan terangkat memegangi punggung masing-masing orang yang ada di pundaknya. Beberapa saat berlalu. Mendadak murid Pendeta Sinting membuat gerakan menggeliat. Lalu sepasang matanya terbuka.

"Apa yang telah terjadi?"

Murid Pendeta Sinting bangkit duduk. Lalu edarkan pandangan berkeliling. Dia tersentak. Bukan saja karena dia tidak menemukan Ratu Malam, Dewa Orok, serta Gendeng Panuntun, melainkan sepuluh langkah di hadapannya tampak tegak seorang perempuan berusia lanjut. Rambutnya putih dengan seluruh wajah mengeriput. Sepasang matanya melotot besar dengan bibir tersenyum dingin. Kedua tangannya merangkap di depan dada. Tangan kanannya terlihat memegang sebuah tusuk konde besar berwarna hitam. Nenek ini mengenakan pakaian panjang berwarna coklat.

Murid Pendeta Sinting bergerak bangkit. Baru saja tegak, nenek di hadapannya telah membentak. "Jawab dengan jujur! Bukankah kau anak manusia yang bergelar Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng?!"

Murid Pendeta Sinting pandangi orang di hadapannya dari kaki sampai rambut dengan dahi berkerut.

"Kau punya telinga! Lekas bicara jawab tanyaku!” bentak si nenek.

"Kau ini siapa, Nek?!"

Sambil bertanya diam-diam Joko terus membatin. "Kemana sebenarnya Gendeng Panuntun, Ratu Malam, dan Dewa Orok?! Dari mana nenek ini tiba-tiba muncul?! Apakah dia sempat jumpa dengan mereka?! Atau jangan-jangan..."

Murid Pendeta Sinting tidak lanjutkan kata hatinya karena si nenek telah menyahut pertanyaannya. "Nanti ada saatnya kau tahu siapa diriku! Saat sekarang kau harus jawab dulu tanyaku!"

"Sikapnya tidak bersahabat. Aku tak mau buat urusan!" kata Joko dalam hati lalu berkata. "Aku memang Joko Sableng!"

Si nenek melangkah dua tindak dengan kedua tangan masih merangkap di depan dada. "Bagus! Berarti kau murid manusia jahanam Pendeta Sinting! Betul?!"

Joko tidak segera menjawab. Melainkan balikkan tubuh lalu melangkah hendak tinggalkan tempat itu.

"Namamu memang telah dikenal dalam rimba persilatan. Namun jangan kira langkahmu bisa berlanjut sebelum kau tuntas jawab pertanyaanku!" kata si nenek lalu gerakkan kaki kanannya menyapu ke depan.

Wuuttt!

Terdengar deruan keras. Lalu satu angin dahsyat melesat ke depan. Murid Pendeta Sinting cepat melompat selamatkan diri lalu putar diri. Tapi belum sempat Joko angkat bicara, si nenek telah mendahului.

"Di mana gurumu berada?!"

"Katakan dulu siapa kau dan mengapa tanya-tanya guruku Pendeta Sinting?!"

Nenek berpakaian coklat menyeringai. Dengan arahkan pandangan ke jurusan lain dia menjawab. "Namamu boleh menjulang setinggi langit. Namun sebelum kau mengenal banyak tokoh dunia persilatan, jangan anggap dirimu di atas!" Si nenek arahkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting lalu lanjutkan ucapannya. "Aku Ni Luh Padmi! Takdir telah menuntunku untuk meneruskan urusanku dengan gurumu yang belum selesai!"

"Hem...! Kau punya silang sengketa dengan guruku?!"

Nenek yang sebutkan diri dengan Ni Luh Padmi tertawa pelan. "Urusanku lebih dari sekadar silang sengketa! Dan urusan ini tidak akan terputus sebelum gurumu menemui ajal di tanganku!"

Joko pandangi orang dengan gelengkan kepala. Lalu tanpa berkata sepatah kata dia balikkan tubuh.

"Di mana gurumu berada?!" Ni Luh Padmi menghardik.

Tanpa berpaling murid Pendeta Sinting berkata. "Kau yang punya urusan. Aku tidak mau terlibat di dalamnya! Lebih dari itu karena aku sendiri tidak tahu di mana guruku berada!"

"Hem... Begitu? Dengar, Orang Muda! Aku datang dari jauh! Selama puluhan tahun pula aku mencari tahu. Jadi jangan kira aku akan sia-siakan satu kesempatan lolos dari tanganku! Kau mengerti maksudku bukan?"

"Tapi aku tidak tahu di mana guruku berada!"

Ni Luh Padmi gelengkan kepala. "Satu hal biasa kalau seorang murid lindungi gurunya! Tapi adalah kenyataan aneh jika seorang murid tidak tahu di mana gurunya mendekam! Kau hanya perlu katakan di mana, maka umurmu akan kuperpanjang. Jika tidak..."

Si nenek tidak lanjutkan ucapannya. Sebaliknya dia bergerak satu kali. Tahu-tahu tubuhnya telah tegak di hadapan murid Pendeta Sinting dengan kaki terkembang dan kedua tangan masih merangkap di depan dada.

"Aku tidak akan tawarkan pilihan! Dan kau tidak punya hak memilih! Kau hanya punya hak jawab tanyaku!"

"Aku telah menjawab tanyamu!"

"Benar! Tapi kau berdusta!"

"Terserah! Yang pasti aku telah menjawab!" ucap murid Pendeta Sinting lalu putar diri membelakangi Ni Luh Padmi. Dan enak saja Joko melangkah.

"Kau ternyata memilih jalan salah, Orang Muda!" kata Ni Luh Padmi. Lalu kedua tangannya merentang. Kejap lain tangan kanannya yang menggenggam tusuk konde besar bergerak.

Wuuttt!

Tusuk konde besar berwarna hitam melesat keluarkan suara menderu keras. Murid Pendeta Sinting yang telah waspada sedari tadi cepat berkelebat ke samping. Seraya putar diri kedua tangannya membuat gerakan mendorong. Satu gelombang menghampar ke depan. Namun Joko terperanjat. Tusuk konde yang terlanggar gelombang pukulannya laksana punya kekuatan luar biasa, bukan hanya mampu menahan gelombang dari kedua tangan Joko, melainkan melesat ke arahnya semakin cepat!

"Busyet! Orang ini punya senjata luar biasa!" desis Joko lalu cepat berkelebat seraya dorongkan kembali kedua tangannya ke arah tusuk konde.

Di depan sana, Ni Luh Padmi tertawa sambil gerakkan tangan kanannya. Tusuk konde yang berada di atas udara bergerak ke atas hindarkan diri dari gelombang yang untuk kedua kalinya melesat keluar dari tangan murid Pendeta Sinting. Begitu lepas dari gelombang, tusuk konde menukik deras mengarah pada Pendekar 131!

Joko cepat kerahkah tenaga dalam pada kedua tangannya. Saat lain kedua tangannya berubah menjadi berwarna kekuningan, pertanda dia siap lancarkan pukulan 'Lembur Kuning'. Ni Luh Padmi perkeras tawanya. Namun diam-diam nenek ini lipat gandakan tenaga dalam pada tangan kanannya. Bersamaan dengan bergeraknya kedua tangan Joko lepaskan pukulan 'Lembur Kuning', Ni Luh Padmi membuat gerakan menghantam ke depan.

Gerakan menukik tusuk konde semakin deras dan keluarkan suara makin keras. Sepuluh jengkal lagi tusukan konde menghantam, dari kedua tangan Pendekar 131 melesat dua sinar kuning disertai gelombang dahsyat membawa hawa luar biasa panas. Tusuk konde tertahan di udara, lalu tersapu dan mencelat balik ke arah Ni Luh Padmi!

Baru setengah jalan, Ni Luh Padmi keluarkan bentakan garang. Sosoknya melesat ke depan. Tusuk konde ditangkap dan serta-merta disentakkan ke arah murid Pendeta Sinting. Untuk kedua kalinya tusuk konde menderu ganas. Bersamaan dengan itu Ni Luh Padmi teruskan kelebatan tubuhnya. Sepasang kakinya membuat gerakan lakukan sapuan ke depan.

Joko cepat selinapkan tangan kanannya ke balik pakaiannya. Ketika ditarik kembali, tampaklah sebuah pedang bersarung dan bergagang warna hijau, tangan kiri cepat menarik sarung pedang, maka terlihatlah sebuah pedang tumpul berwarna kuning bertuliskan angka 131. Joko gerakkan tangan kanan babatkan pedangnya. Terdengar suara deruan dahsyat. Pada saat bersamaan murid Pendeta Sinting angkat kaki kanannya.

Tranggg!

Tusuk konde bentrok dengan pedang di tangan Joko perdengarkan suara keras dan semburatkan lidah api. Tangan kanan Joko tampak mental ke belakang Tusuk konde Ni Luh Padmi mencelat balik. Saat itulah sapuan sepasang kaki si nenek bertemundengan kaki kanan Joko.

Bukkkkk!

Sosok Ni Luh Padmi terjajar tiga langkah ke belakang. Di hadapannya, sosok murid Pendeta Sinting terhuyung-huyung. Ni Luh Padmi angkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Lalu membuat gerakan laksana orang menarik dengan sentakkan tangannya ke depan. Tusuk konde yang mental terhenti di udara. Di saat lain tusuk konde itu melesat kembali ke arah tangan si nenek. Dan enak saja Ni Luh Padmi tangkap tusuk kondenya. Sejenak nenek ini tengadahkan kepala meneliti tusuk kondenya. Sepasang matanya tampak mendelik. Tangan kanannya bergetar.

"Jahanam! Tangan kananku laksana dipanggang! Anak manusia itu harus cepat kubereskan! Tapi aku tak mau dia mati! Keterangannya kuperlukan!"

Ni Luh Padmi gerakkan tangan kiri. Namun baru setengah jalan, satu gelombang dahsyat menghampar. Si nenek berseru berang. Kalau dia teruskan gerakkan tangan kiri, maka sebelum gelombang sempat keluar, hamparan gelombang dari Joko pasti akan terlebih dahulu menyapunya!

Maklum akan hal itu, si nenek tidak mau ambil resiko. Karena satu-satunya jalan untuk selamatkan diri dari gelombang adalah berkelebat, maka tanpa pikir panjang lagi, nenek ini hentakkan kaki kanan kirinya. Tubuhnya melesat ke samping. Gelombang yang menghampar lewat dua jengkal di samping tubuhnya.

Begitu sepasang kakinya menginjak tanah kembali, tangan kiri kanannya bergerak. Namun gerakan kedua tangan nenek ini tertahan. Sepasang matanya membeliak angker dengan rahang mengembung. Karena ternyata dia tinggal sendirian di tempat itu!

********************

BAB 8

PUNCAK Bukit Selamangleng masih tertutup kabut dini hari. Di balik sebuah batangan pohon, satu sosok tubuh tampak duduk bersila dengan kedua tangan bersilangan di depan dada. Orang ini tidak sedang bersemadi. Karena sepasang matanya yang besar terlihat mendelik seakan menembusi kegelapan kabut. Hembusan napasnya tidak teratur. Malah sesekali kepalanya tengadah dengan pandangan menerawang.

"Bangsat benar! Apakah nasibku harus begini malang! Beratus tahun aku habiskan waktu untuk menunggu. Tapi begitu saatnya tiba, bukan hasil yang kudapati! Jahanam! Keparat! Siapa sebenarnya yang menebarkan berita hingga semua orang tahu kelemahanku! ini akan membuat rencanaku berantakan! Malaikat Penggali Kubur akan lebih semena-mena memperalat diriku! Sialan benar! Aku harus cari jalan lain! Kitab Hitam harus cepat kurebut dari tangan Malaikat Penggali Kubur!"

Orang yang berkata sendirian dan bukan lain adalah Iblis Rangkap Jiwa adanya menghela napas dalam. Seperti diketahui, saat bertemu dengan Ratu Malam, Pendekar 131, dan Dewa Orok, ketiga orang ini seakan tahu kelemahan Iblis Rangkap Jiwa, hingga laki-laki berkepala gundul ini gagal laksanakan maksudnya. Meski begitu dia masih sempat kirimkan pukulan sebelum berkelebat pergi.

"Tak mungkin aku merebut kitab itu dengan jalan kekerasan. Dengan Kitab Hitam di tangannya, Malaikat Penggali Kubur jadi manusia yang sukar ditaklukkan. Meringkus dan menghabisi Dewa Orok pun bukan lagi pekerjaan mudah! Aku harus dapatkan siasat lain!" Iblis Rangkap Jiwa luruskan kepala. Untuk sekian kalinya laki-laki berusia ratusan tahun ini menghela napas dalam dan panjang. Jeias kalau dadanya dibuncah dengan berbagai hal sulit.

"Malaikat Penggali Kubur tidak dapat kutentukan kapan datangnya ke tempat ini! Bisa saja setahun lagi atau mendadak muncul hari ini juga! Hem..."

Mungkin belum dapat menemukan apa yang harus diperbuat, Iblis Rangkap Jiwa akhirnya bergerak bangkit. Namun mendadak laki-laki ini urungkan niat. Malah dia bungkukkan sedikit tubuhnya dan makin rapatkan ke batangan pohon. Bersamaan dengan itu kepalanya berpaling ke bawah dengan sepasang mata liar berputar.

"Telingaku menangkap gerakan orang mendaki puncak bukit! Jangan-jangan Malaikat Penggali Kubur! Celaka kalau benar-benar dia!" Iblis Rangkap Jiwa makin beliakkan sepasang matanya dengan paras berubah dan tubuh bergetar.

Iblis Rangkap Jiwa tidak menunggu terlalu lama. Satu sosok tubuh terlihat berkelebat dan tahu-tahu tegak tidak jauh dari pohon di mana Iblis Rangkap Jiwa mendekam sembunyi. Untuk sesaat Iblis Rangkap Jiwa pandangi orang dengan mata tak berkesip. Meski orang ini tegak membelakangi pohon, dan iblis Rangkap Jiwa belum mengenali siapa adanya orang, namun ketegangan pada paras wajah laki-laki berkepala gundul ini lenyap.

"Seorang perempuan!" desis Iblis Rangkap Jiwa. Namun sejauh ini dia belum beranjak dari tempatnya. Dia hanya pandangi bagian belakang tubuh orang dengan sepasang mata agak menyipit.

Di depan sana, orang yang baru muncul putar kepala dengan mata menyelidik. Dia adalah seorang perempuan berwajah cantik jelita meski usianya tidak muda. Rambutnya hitam lebat digeraikan menutupi punggung dan sebagian wajahnya. Sepasang matanya bulat tajam. Hidungnya sedikit mancung ditingkah bibir merah ranum. Dadanya membusung padat dengan pinggul besar. Perempuan ini mengenakan pakaian warna biru tipis yang bagian dadanya dibuat rendah, hingga dadanya yang padat tampak mencuat menantang.

"Malaikat Penggali Kubur mengatakan orang itu ada di bukit ini! Dan aku yakin Inilah tempat yang dikatakannya! Tapi tak kulihat adanya orang di tempat ini! Apakah Malaikat Penggali Kubur salah mengatakan? Atau aku yang salah tempat?" Perempuan berbaju biru bergumam sendiri seraya terus memandang berkeliling.

Mungkin merasa kurang yakin, si perempuan melangkah memutari puncak bukit dan berhenti lagi di tempatnya semula. Dia menarik napas. Lalu kembali bergumam sendiri. "Aku harus menemui Malaikat Penggali Kubur kembali..." Si perempuan melangkah hendak menuruni puncak bukit. Namun satu suara teguran membuat langkah si perempuan tertahan."

"Kau mencari sesuatu?!"

Belum sampai si perempuan berpaling ke arah datangnya suara. Iblis Rangkap Jiwa yang baru saja perdengarkan suara telah berkelebat keluar dari balik pohon dan tegak sejarak tiga langkah di belakang si perempuan. Si perempuan putar tubuh. Sepasang matanya yang bulat tajam memperhatikan orang di hadapannya dengan mata mendelik. Yang dipandang balas menatap. Bukan ke arah mata orang, melainkan pada leher dan turun pada dada lalu pada pinggul.

"Adakah ini manusianya yang kucari?” desis si perempuan dalam hati. Lalu angkat bicara.

"Apakah yang ada di hadapanku ini seorang yang dikenal dengan julukan Iblis Rangkap Jiwa?!"

"Di dunia ini hanya ada satu iblis Rangkap Jiwa. Dan yang tegak di hadapanmu adalah orangnya!"

"Tak kusangka kalau orang yang baru kutemui sekaligus harus kuajak bekerja sama adalah begini macamnya! Tapi apa boleh buat! Ini harus kulakukan demi tercapainya cita-citaku..." Diam-diam si perempuan membatin.

"Kau menebak tepat diriku. Apakah kau datang sengaja mencariku?!" Iblis Rangkap Jiwa ajukan tanya dengan bibir sunggingkan senyum.

Si perempuan tidak segera menjawab. Kepalanya berpaling ke samping dengan menghela napas dalam, membuat dadanya tampak makin membusung kencang. Sepasang mata iblis Rangkap Jiwa tambah membelalak. Dadanya bergerak tidak teratur dan jakunnya turun naik.

"Datang dari tempat jauh, aku memang sengaja mencarimu!" kata si perempuan setelah agak lama berdiam diri. Lalu arahkan kembali pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa dan sekali lagi perhatikan orang dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Hem... Apakah tujuannya untuk mengetahui Kitab Hitam seperti beberapa orang sebelum ini? Atau punya tujuan lain...? Hem... Apa pun tujuan perempuan ini, aku tak akan sia-siakan kesempatan..." Iblis Rangkap Jiwa berkata dalam hati. Lalu angkat bicara.

"Kalau kau datang dari tempat jauh dan sengaja mencariku, pasti kau punya maksud"

Si perempuan tertawa perlahan. "Kau mengenal seorang pemuda bergelar Malaikat Penggali Kubur?!"

Iblis Rangkap Jiwa tampak terkesiap. Paras wajahnya berubah tegang dengan tulang dahi bergerak mengernyit. Sesaat laki-laki ini terdiam. Sementara melihat perubahan pada orang di hadapannya, si perempuan tersenyum meski diam-diam dalam hati penuh dengan tanda tanya.

"Orang ini tampak menunjukkan wajah ketakutan ketika kusebut nama Malaikat Penggali Kubur. Hem... Ada apa ini?"

"Apa hubunganmu dengan Malaikat Penggali Kubur?!" tanya Iblis Rangkap Jiwa setelah dapat kuasai diri.

Si perempuan berbaju biru gelengkan kepala masih dengan bibir sunggingkan senyum. "Apa hubunganku tak perlu kau tahu. Tapi perubahan wajahmu menunjukkan kau mengenali Malaikat Penggali Kubur! Aku tanya. Kau menerima tugas dari Malaikat Penggali Kubur?!"

Paras Iblis Rangkap Jiwa makin tegang. Dia tidak menjawab pertanyaan si perempuan, sebaliknya hanya memandang. "Hem Seandainya Kitab Hitam belum jatuh ke tangan Malaikat Penggali Kubur, tentu lebih mudah menaklukkan orang macam begini! Sayang, orang ini kutemui setelah Kitab Hitam jatuh ke tangan pemuda keparat itu! Tapi aku masih punya kesempatan..." membatin si perempuan.

"Menurut Pendekar 131, orang ini memiliki kepandaian sangat tinggi! Setidaknya hal itu bisa kumanfaatkan..."

Si perempuan maju satu tindak. "Pada mulanya aku Memang punya maksud. Namun sesuatu telah membuat maksudku berubah! Aku tahu, kau mengerti seluk-beluk tentang sebuah kitab sakti. Namun rupanya kau bukan manusia yang beruntung karena tidak mendapatkan kitab itu! Hem... Apakah kau masih inginkan kitab itu?!"

Iblis Rangkap Jiwa pandangi orang lebih saksama. "Perempuan ini telah tahu banyak tentang diriku dan kitab itu! Jangan-jangan dia memang sahabat Malaikat Penggali Kubur! Tapi apa maksud ucapannya...?"

Setelah membatin begitu, Iblis Rangkap Jiwa berkata. "Tidak ada seorang pun yang tidak inginkan kitab itu! Dan meski diriku belum beruntung, tapi akan tiba saatnya kitab itu jadi milikku!"

Si perempuan berbaju biru tertawa. "Cita-cita tidak akan tercapai kalau tidak ada tindakan dan usaha! Apakah kau sudah mempunyai satu rencana?!"

"Itu urusanku!"

"Benar! Tapi dalam urusan satu ini, tanpa bantuan orang lain, semua rencanamu hanya sia-sia!"

"Itu juga urusanku!"

"Betul! Tapi adalah tindakan bodoh kalau sudah tahu usaha sia-sia tapi tetap kau laksanakan!"

"Keparat! Siapa kau sebenarnya?!" hardik Iblis Rangkap Jiwa.

Yang dibentak sunggingkan senyum. "Aku memang bukan orang yang banyak dikenal dalam dunia persilatan. Namun setidaknya aku juga punya kemampuan untuk menggenggam rimba persilatan!"

Mendengar ucapan si perempuan, Iblis Rangkap Jiwa pandangi wajah orang dari atas hingga bawah. Kejap lain tawanya meledak. "Bagaimana mungkin, orang yang namanya belum begitu banyak dikenal dunia persilatan akan mampu menggenggam rimba persilatanl Kau terlalu tinggi berangan-angan, Anak Manis...!"

Si perempuan menunggu sampai tawa Iblis Rangkap Jiwa lenyap. Begitu laki-laki berkepala gundul ini hentikan gelakan tawanya, si perempuan angkat bicara. "Kepandaian tinggi bukan satu-satunya alat untuk menggenggam dunia persilatan! Ada hal lain yang lebih dari itu! Buktinya, meski kau memiliki kepandaian tinggi, namun untuk memiliki sebuah kitab, kau tidak berhasil! Bahkan kau harus menjadi budak orang lain!"

Tulang rahang Iblis Rangkap Jiwa mengembang. Sepasang matanya mendelik angker. "Dengar! Semua ini hanya sementara! Dan ini adalah salah satu rencanaku!"

Si perempuan kini ganti perdengarkan tawa bergelak panjang. Lalu berkata dengan sedikit tengadahkan kepalanya. "Ingat. Urusan yang kau hadapi tidak ada istilah sementara! Sekali kau menjadi budak orang, selamanya kau akan jadi budak! Kau mempunyai satu rencana, tapi di lain pihak, tuan besarmu menyimpan seribu rencana!"

"Keparat! Kau tahu apa tentang aku, nah?!"

"Kalau kau mendengar ucapanku sejak tadi, kau tentu tak akan ucapkan pertanyaan itu! Aku tahu siapa kau bahkan siapa yang telah mendapatkan kitab sakti itu!"

"Berarti kau harus mampus!"

"Kau membutuhkan diriku dalam urusanmu!"

Iblis Rangkap Jiwa angkat tangan kanannya seraya mengepal. "Tanganku masih memiliki kekuatan! Aku memang membutuhkan dirimu. Bukan dalam urusanku. Tetapi dalam hal bersenang-senang denganku! Ha Ha Ha...!"

Si perempuan ikut tertawa. "Urusan bersenang-senang, bukan kau saja yang membutuhkan. Aku juga menginginkannya..."

Ucapan si perempuan membuat Iblis Rangkap Jiwa terkesiap. Tanpa sengaja kakinya bergerak melangkah dua tindak dengan kedua tangan mengembang. Di depannya, si perempuan beraju biru surutkan langkah Masih dengan sunggingkan senyum dia berkata.

"Keinginanmu bisa saja kita lakukan di mana dan kapan saja! Itu pekerjaan mudah. Tapi sebenarnya ada pekerjaan sulit yang harus segera kita lakukan! Pekerjaan ini harus kita perhitungkan matang kalau kita tidak ingin mati terlalu cepat!"

"Kau mengajakku bersekongkol untuk merebut kitab itu! Benar?!" tanya Iblis Rangkap Jiwa dengan tersenyum dingin.

"Urusan kitab bukanlah satu-satunya tujuanku!"

"Hem... Lalu apa tujuanmu sebenarnya?!"

"Aku inginkan nyawa Pendekar 131 dan Malaikat Penggali Kubur dan aku ingin nyawa kedua manusia keparat itu putus tanpa aku harus ikut turun tangan"

"Satu keinginan yang mustahil!"

Si perempuan gelengkan kepala. Sambil tertawa perlahan dia berucap. "Aku punya cara tersendiri untuk laksanakan keinginanku. Dan aku yakin perhitungan caraku tidak akan meleset!"

"Hem... Mau katakan apa caramu?!"

"Aku dikenal dengan gelar Ratu Pemikat. Dengan cara itulah aku akan mempertemukan mereka berdua. Aku tahu, diantara mereka berdua terdapat silang sengketa dan dendam! Dari pertemuan mereka, kita bisa mendapatkan hasil tanpa harus turun tangan"

"Hem... Ada benarnya juga ucapan perempuan ini!" kata Iblis Rangkap Jiwa dalam hati.

Laki-laki ini hendak berkata. Tapi si perempuan yang bukan lain adalah Ratu Pemikat adanya telah lanjutkan ucapannya. "Tapi untuk mempertemukan mereka, bukanlah hal mudah. Aku butuh orang sepertimu! Karena tidak tertutup kemungkinan ada orang lain yang ikut campur dan harus dihadapi dengan jalan kekerasan! Untuk Itulah aku menawarkan padamu untuk bergabung denganku! Kita memang punya tujuan berlainan, tapi orang yang kita hadapi adalah sama!"

"Baik! Kita bergabung. Tapi kalau di balik rencanamu kau menyimpan satu rencana lain, kau akan menyesal!"

Ratu Pemikat arahkan pandangannya kejurusan lain. "Kau tidak memiliki apa-apa yang dapat diambil keuntungannya. Kalau ada, itu hanyalah karena kau juga punya dendam pada Malaikat Penggali Kubur! Jika tidak, mungkin aku tadah cari orang lain..."

Iblis Rangkap Jiwa menyumpah-nyumpah dalam hati. Sementara Ratu Pemikat putar tubuhnya sambil berkata. "Aku tak punya waktu banyak! Aku ingin cepat dengar keputusanmu tanpa ancaman!"

Karena ditunggu agak lama Iblis Rangkap Jiwa tidak segera buka suara memberi jawaban, Ratu Pemikat melangkah.

"Tunggu!"

Ratu Pemikat teruskan langkah tanpa hiraukan teriakan Iblis Rangkap Jiwa, membuat laki-laki ini segera berkelebat lalu tegak menghadang di hadapan Ratu Pemikat.

"Syaratmu kuterima! Tapi..."

Ratu Pemikat hentikan langkah. Menatap sejurus pada Iblis Rangkap Jiwa. Seakan tahu apa lanjutan kata-kata yang hendak diucapkan orang, dia berkata.

"Urusan senang-senang pasti akan kita lakukan! Tapi bukan di sini tempatnya!"

Habis berkata begitu, Ratu Pemikat berkelebat menuruni bukit. Iblis Rangkap Jiwa putar diri. Seakan tak sabar dia hentakkan sepasang kakinya lalu menyusul turun puncak Bukit Selamangleng yang mulai terang karena sinar matahari telah unjuk diri.

BAB 9

PADA satu tempat, Iblis Rangkap Jiwa dan Ratu Pemikat hentikan larinya masing-masing. Iblis Rangkap Jiwa putar kepalanya dengan sepasang mata menyelidik berkeliling. Di sebelahnya Ratu Pemikat hanya edarkan pandangannya sejurus lalu berpaling pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Kau tidak lupa bahwa di tempat inilah kau terakhir jumpa dengan Pendekar 131?!"

Tanpa memandang pada Ratu Pemikat, iblis Rangkap Jiwa menyahut. Suaranya keras karena agak jengkel. "ingatanku masih normal. Selang waktunya belum lama! Dan malah aku yakin mereka sempat terkena pukulanku! Dan kau bisa lihat bekas-bekas di tempat ini!" seraya berkata, tangan kiri Iblis Rangkap Jiwa menunjuk pada beberapa tempat yang tampak porak-poranda akibat pukulan.

"Hem... Tapi..."

Belum sampai Ratu Pemikat selesaikan ucapannya, Iblis Rangkap Jiwa telah menukas. "Tak ada gunanya kita berdebat! Terserah kau percaya apa tidak! Yang jelas, di tempat inilah aku jumpa dengan Pendekar 131!"

"Hem... Lalu ke mana kira-kira mereka?!"

Iblis Rangkap Jiwa berpaling memandang pada Ratu Pemikat. "Kalau aku tahu, tak mungkin aku banyak bicara lagi!"

"Tapi setidaknya kau bisa menduga!"

"Aku berlari ke arah timur dan sempat menunggu beberapa saat di suatu tempat. Tapi mereka tidak mengejarku!"

Begitu mendengar jawaban iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat edarkan matanya berkeliling dengan meneliti agak saksama. Lalu matanya berhenti pada sosok iblis Rangkap Jiwa.

"Kita ke arah barat!"

Habis berkata begitu, tanpa menunggu Iblis Rangkap Jiwa buka suara, Ratu Pemikat berkelebat, Iblis Rangkap Jiwa masih termangu sejenak. Namun di kejap lain dia berlari ke arah yang diambil Ratu Pemikat. Saat matahari mulai condong ke arah barat, Ratu Pemikat berhenti. Tangan kanannya diangkat, Iblis Rangkap Jiwa serta-merta hentikan larinya dengan sepasang mata menatap tajam pada sang Ratu.

"Kuharap kau menunggu di sini! Aku akan memberi isyarat kapan saatnya kau harus keluar!"

Lagi-lagi tanpa menunggu sahutan Iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat telah berkelebat. "Jahanam! Dia seakan tidak memberiku kesempatan! Tapi... Aku masih punya waktu banyak untuk dapat menikmati tubuhnya! Hem... Aku memang menangkap adanya seseorang tidak jauh dari tempat ini! Memang sebaiknya aku menunggu. Dengan begitu, aku dapat mengetahui lebih dahulu siapa yang akan kuhadapi!" kata iblis Rangkap Jiwa dalam hati seraya memandang ke arah sosok Ratu Pemikat yang berkelebat dan lenyap di tikungan di depan sana.

Apa yang ditangkap oleh Iblis Rangkap Jiwa dan sebelumnya sudah pula ditangkap Ratu Pemikat benar adanya. Baru saja Ratu Pemikat berkelebat sejarak dua puluh tombak, sepasang matanya membentur pada satu sosok tubuh yang duduk bersila di lamping sebuah tanah yang agak menggugus. Untuk beberapa saat Ratu Pemikat pandangi orang dengan dahi berkerut.

"Seorang pemuda berparas tampan... Sayang, tidak memiliki tangan! Siapa dia? Tapi siapa pun dia adanya, sikap dan tindakannya yang bersemadi menunjukkan kalau dia dari kalangan orang persilatan..."

Ratu Pemikat melangkah mendekat. Kira-kira tujuh langkah di hadapan orang yang duduk bersila dan tampak bersemadi dengan sepasang mata terpejam, perempuan berparas cantik dan bertubuh bahenol ini berhenti. Sekali lagi ditatapinya orang yang duduk dengan lebih saksama.

Saat itulah mendadak orang yang duduk bersila kempotkan kedua pipinya lalu meniup. Bundaran karet yang sedari tadi tampak di mulutnya melesat dan mengapung di udara. Mungkin karena sama sekali tidak menduga dan juga karena menyangka orang lakukan serangan, Ratu Pemikat berseru tertahan. Sosoknya melompat ke samping. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi. Orang yang duduk bersila dan bukan lain adalah Dewa Orok adanya buka kelopak matanya. Meski sepasang matanya memandang pada Ratu Pemikat, namun apa yang ada dalam benak si pemuda adalah lain.

"Heran. Bagaimana aku tahu-tahu berada di sini? Ke mana Pendekar 131 dan Ratu Malam serta manusia buta itu?!"

Seperti diketahui, begitu tersambar pukulan Iblis Rangkap Jiwa, Dewa Orok sempat terkapar. Lalu muncullah Gendeng Panuntun. Dewa Orok tidak tahu apa yang kemudian terjadi, karena begitu kerahkan tenaga murni seperti yang dikatakan Gendeng Panuntun dan satu cahaya putih berkiblat ke arahnya, dia merasakan pandangannya menghitam. Yang sempat dirasakannya saat itu adalah tubuhnya melayang dalam pundak orang. Saat dia buka kelopak matanya, yang dia tahu dia sudah berada di tempat lain. Dewa Orok kerjapkan sepasang matanya. Dan tahu apa yang hendak dilakukan Ratu Pemikat, pemuda bertangan buntung ini cepat buka mulut.

"Kukira kita masih belum kenal. Adakah perkenalan ini harus didahului dengan satu pukulan?!"

Ratu Pemikat urungkan niat. Perlahan-lahan kedua tangannya ditarik kembali ke bawah. Lalu melompat lagi ke tempatnya semula. Begitu sepasang kakinya menginjak tanah, perempuan ini segera berkata.

"Kita memang belum kenal! Jadi katakan siapa kau sebenarnya?!"

Dewa Orok pandangi orang dengan bibir sunggingkan senyum. "Aku telah katakan lebih dahulu kalau kita belum saling kenal! Jadi harap kau katakan dahulu siapa kau sebenarnya!"

Mendengar orang yang ditanya malah balik ajukan tanya, Ratu Pemikat kelihatan belalakkan sepasang matanya. Kalau perturutkan hati, mungkin perempuan ini sudah tidak sabaran. Namun mengingat saat ini dia tengah menjalankan satu urusan besar yang selain harus bertindak hati-hati dan waspada seperti menjauhi silang sengketa baru dengan orang lain, maka Ratu Pemikat coba menindih perasaan. Seraya tersenyum dia berkata menjawab.

"Aku digelari orang Ratu Pemikat!"

"Ah..." Dewa Orok perdengarkan keluhan. "Gelar yang sesuai dengan orangnya... Cantik, bertubuh bagus dan memang memikat... Tapi apakah..."

"Sekarang katakan siapa kau sebenarnya!" Ratu Pemikat menukas ucapan Dewa Orok.

“Heem... Aku digelari orang Pendekar 131" ucap Dewa Orok seenaknya malah sambil alihkan pandangannya.

Ratu Pemikat semakin beliakkan sepasang matanya. Diam-diam dalam hati perempuan ini membatin. "Dia perkenalkan diri dengan menggunakan nama Pendekar 131. Pasti dia mengenal Pendekar 131! Hem... Apa dikira aku tidak kenal dengan Pendekar 131?!"

Ratu Pemikat masih coba menahan perasaan meski makin tambah dongkol. Malah dengan maju satu tindak dan kembangkan senyum dia angkat bicara. "Senang jumpa dengan seorang tokoh yang namanya banyak dikenal dunia persilatan. Berada di tempat begini sendirian apa kau menunggu seseorang?"

"Ucapanmu tidak salah! Sayang, lain yang ditunggu lain pula yang muncul! Tapi aku bersyukur. Yang muncul seorang perempuan yang memikat! Lewat di tempat begini sendirian, apa kau tengah mencari seseorang?!"

"Dugaanmu benar! Sayang, lain yang dicari lain pula yang ditemui! Tapi aku bersyukur... yang kutemui seorang pemuda tampan dan sudah dikenal orang dengan nama menjulang!" Ratu Pemikat ikut-ikutan tirukan ucapan Dewa Orok.

Dewa Orok bergerak bangkit. Mulutnya membuat gerakan menyedot. Bundaran karet yang mengapung di udara melesat masuk ke dalam mulutnya. Sejenak pemuda bertangan buntung ini kempotkan kedua pipinya. Terdengar suara duut! Duuttt! Duuttt! Saat berikutnya Dewa Orok anggukkan kepala. Lalu tanpa berkata lagi dia putar tubuh setengah lingkaran. Kejap lain dia melangkah meninggalkan tempat itu.

"Boleh aku tahu. Hendak ke mana kau?!" teriak Ratu Pemikat.

Dewa Orok hentikan langkahnya. "Kau bukan orang yang kutunggu! Jadi harap tidak kecewa kalau aku tidak bisa jawab pertanyaanmu!"

"Hem... Begitu? Boleh aku tahu siapa orang yang kau tunggu?!"

Masih tanpa putar tubuh menghadap Ratu Pemikat, Dewa Orok menyahut. "Sebenarnya aku bisa katakan siapa saja padamu. Tapi aku tidak mau berkata dusta padamu. Jadi terus terang aku juga merasa menyesal tidak bisa jawab lagi pertanyaanmu! Malah kalau tidak keberatan, bisa katakan padaku siapa orang yang tengah kau cari?!"

Dengan menyeringai karena tidak dapat kuasai perasaan, Ratu Pemikat menjawab dengan suara keras. "Kau! Kaulah orang yang kucari!"

Dengan agak terkejut, Dewa Orok balikkan tubuh. Sesaat dipandanginya Ratu Pemikat. Namun saat lain sepasang mata pemuda ini terpejam seraya berkata. "Heran. Kau tadi mengatakan lain yang dicari lain pula yang ditemui. Bukankah itu berarti bahwa bukan aku orang yang tengah kau cari?! Lagi pula perempuan cantik sepertimu mengapa mencari pemuda seperti ku? Aku tidak memiliki kedua tangan. Pasti kau nanti akan menyesal seumur-umur!"

"Dengar! Aku memang tidak butuh pemuda tidak memiliki tangan sepertimu!"

"Kalau begitu, aku bisa pergi..." ucap Dewa Orok dengan suara agak mendesis karena mulutnya tertutup oleh bundaran karet. Masih dengan sepasang mata terpejam, pemuda ini kembali balikkan tubuh.

Namun sebelum kaki Dewa Orok bergerak melangkah, Ratu Pemikat telah angkat bicara. "Kau bisa pergi, tapi tinggalkan keterangan padaku!"

Dewa Orok gelengkan kepala. "Dari pemuda sepertiku, keterangan apa yang bisa kuberikan padamu?!"

"Di mana beradanya Pendekar 131?!"

Sesaat Dewa Orok tampak terkejut. Sepasang matanya kontan membuka dengan mulut komat-kamit. Saat lain dia meniup. Bundaran karet mencuat ke udara. "Kau benar-benar mencariku?!"

"Aku mencari Pendekar 131! Bukan kau!"

"Tapi aku adalah..."

"Aku tahu luar dalam siapa Pendekar 131! Jadi jangan banyak mulut bicara tak karuan!" hardik Ratu Pemikat.

"Ah... Kau tentu salah lihat! Atau jangan-jangan kau telah dikelabui orang..."

Mungkin tidak sabar, Ratu Pemikat meloncat ke depan dan tegak sejarak empat langkah di depan Dewa Orok. "Aku tidak dapat dikelabui orang! Apalagi orang sepertimu!"

"Aku juga tidak dapat dikelabui orang! Apalagi orang cantik sepertimu!" Dewa Orok mulai ikut-ikutan bicara seperti ucapan Ratu Pemikat.

"Persetan dengan ucapanmu! Kau mengaku-ngaku sebagai Pendekar 131, berarti kau kenal Pendekar 131. Dan tentu kau tahu di mana dia!"

"Kalau kau bisa mengatakan persetan dengan ucapanku. Jangan menyesal kalau aku juga bisa mengatakan persetan dengan pertanyaan dan dugaanmu!"

"Siapa menduga!" sentak Ratu Pemikat.

"Siapa menduga?" tanya Dewa Orok sambil tertawa mengekeh. "Kau jelas telah tahu kalau di sini hanya kita berdua! Kau tadi mengatakan aku tahu di mana orang yang tengah kau cari dan menurutmu bernama sepertiku! Bukankah itu sebuah dugaan?!"

"Hem... Kau pintar bicara!"

Dewa Orok gelengkan kepala. "Sebagai orang yang bergelar Ratu Pemikat, pasti kau lebih pintar bicara daripada aku! Dan aku khawatir, jangan-jangan kau..." Dewa Orok tidak lanjutkan ucapannya.

"Jangan-jangan apa, hah?!" sahut Ratu Pemikat.

"Semua pembicaraanmu tadi hanya untuk memikatku..."

Tampang Ratu Pemikat berubah merah padam. Perempuan ini sudah tidak dapat lagi menindih perasannya. Tubuhnya tampak bergetar. "Dengar! Aku tak peduli siapa kau sebenarnya! Tapi jika kau tidak mengatakan di mana Pendekar 131, aku tak segan membuatmu tidak hidup juga tidak mati! Kau dengar?!"

"Aku dengar, Ratu... Tapi harap kau dengar juga. Aku memang sejak lama sudah tidak peduli orang memandangku siapa! Yang jelas aku adalah Pendekar 131!"

"Bagus! Rupanya kau lebih suka hidup tidak mati juga tidak!" Belum habis kata-kata Ratu Pemikat, perempuan ini sudah berkelebat ke depan. Kedua tangannya diangkat tinggi Bersamaan dengan itu kaki kanannya bergerak menendang dengan menyamping

Dewa Orok sedot bundaran karet masuk ke dalam mulutnya, pemuda melakukan gerakan satu kali. Kejap lain sepasang kakinya telah berada di atas udara sementara kepalanya berada di bawah. Begitu sepasang tangan Ratu Pemikat dan tendangan kaki kanannya menggebrak, Dewa Orok tekuk kedua kakinya lalu serentak disentakkan lurus ke depan.

Bukkkkk!

Terdengar seruan tertahan dari mulut Ratu Pemikat. Kedua tangannya mental deras ke samping. Sosoknya terhuyung beberapa tindak ke belakang. Malah kaki kanannya yang menendang sudah tersapu terlebih dahulu sebelum mencapai sasaran! Pada mulanya Ratu Pemikat hanya memandang sebelah mata pada Dewa Orok hingga saat lakukan pukulan dan tendangan, perempuan ini hanya sedikit kerahkan tenaga dalamnya. Dia lebih andalkan tenaga luar.

"Keparat! Siapa pemuda ini?" Ratu Pemikat perhatikan orang di hadapannya dengan rahang mengembang. Diam-diam dia kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Kali ini dia tidak mau bertindak ayal. Bentrok yang baru saja terjadi membuat dirinya maklum kalau orang yang dihadapi bukan orang yang bisa dipandang sebelah mata. Sementara di depan sana, Dewa Orok tetap tegak dengan bertumpu pada kepalanya. Malah pemuda ini tampak sunggingkan senyum lalu buka mulut.

"Ratu... Kau telah temui orang yang tengah kau cari. Harap katakan apa tujuanmu mencariku “

Ratu Pemikat tidak menjawab pertanyaan itu dan mengeluarkan dengusan keras. Saat bersamaan dengan sosoknya berkelebat ke depan. Kedua tangannya menyambar ke arah selangkangan Dewa Orok. Dewa Orok pejamkan sepasang matanya. Kedua kakinya sambil ditekuk dengan lutut disilangkan tepat di depan selangkangan.

Bukkk!

Untuk kedua kalinya kedua tangan Ratu Pemikat bentrok dengan kedua kaki Dewa Orok. Meski Ratu Pemikat telah kerahkan tenaga dalamnya dua kali lipat dari yang semula, namun tak urung juga sosoknya terlihat surut satu tindak. Tapi sebelum sosoknya terseret lebih jauh, perempuan berparas cantik ini cepat sentakkan tubuhnya ke bawah. Saat bersamaan sosoknya terhenti lalu kedua kakinya laksana kilat menggebrak lurus ke arah kepala Dewa Orok!

Dewa Orok buka kelopak matanya. Sesaat matanya mendelik. Dengan perdengarkan seruan, pemuda bertangan buntung ini tarik kepalanya ke belakang. Bersamaan itu kedua kakinya diluruskan lalu dihempaskan ke depan.

Seeett!

Gerakan sepasang kaki Ratu Pemikat tertahan. Perempuan ini tampak menjerit Karena sepasang kaki Dewa Orok menjepit pinggulnya!

"Kurang ajar!" Kedua tangan Ratu Pernikat bergerak menghantam punggung Dewa Orok yang kini setengah tegak di atas tubuhnya dengan posisi membelakangi. Bukan hanya sampai di situ. Ratu Pemikat serentak juga gerakkan kedua kakinya ke atas menghantam ke arah dada lawan.

Mendapat serangan dari depan dan belakang, Dewa Orok tampak terkesiap. Namun pemuda ini tidak hilang akal. Sejengkal lagi kedua tangan dan kaki Ratu Pemikat menghantam telak punggung dan dadanya, dia gerakkan tubuhnya ke samping dengan kedua kaki menggapit pinggul Ratu Pemikat.

Ratu Pemikat menggeram. Kedua tangannya digerakkan berbelok mengikuti arah gerakan tubuh Dewa Orok. Pada saat yang sama, kaki kirinya juga bergerak searah gerakan dada Dewa Orok. Namun lagi-lagi Ratu Pemikat mendengus marah. Karena Dewa Orok telah terlebih dahulu menggerakkan tubuhnya dengan cepat ke samping kanan. Hingga baik kedua tangan dan kaki Ratu Pemikat hanya menghantam tempat kosong!

Mungkin merasa dipermainkan orang, dengari lipat gandakan tenaga dalamnya, Ratu Pemikat tekuk kedua tangan dan kakinya. Kejap kemudian siku serta lututnya menghantam sekaligus ke arah kaki dan perut Dewa Orok.

Dewa Orok tidak tinggal diam. Laksana disentakkan tangan setan, pemuda ini angkat tubuhnya sedikit ke atas. Lalu serta-merta pantatnya didorong ke belakang.

Bukkk! Bukkk!

Kedua siku Ratu Pemikat menghantam telak kaki Dewa Orok hingga jepitan kakinya pada pinggul sang Ratu lepas. Namun bersamaan dengan itu pantat Dewa Orok menghantam tepat wajah Ratu Pemikat membuat perempuan ini terjengkang telentang di atas tanah. Sementara Dewa Orok jatuh terduduk di atasnya dengan kedua kaki merentang di atas bahu kiri dan kanan Ratu Pemikat.

"Bangsat keparat!" teriak Ratu Pemikat. Kedua tangannya cepat bergerak menggaet kedua kaki Dewa Orok. Kedua kakinya pun segera menghentak tanah.

Saat lain sosoknya bergerak bangkit. Karena kedua kaki Dewa Orok berada di atas bahu Ratu Pemikat, maka tubuh Dewa Orok tampak terangkat ke atas. Melihat hal demikian, Ratu Pemikat tidak sia-siakan kesempatan. Kaki kanannya cepat dihantamkan ke belakang. Namun terlambat. Karena Dewa Orok telah terlebih dahulu tubrukkan tubuhnya ke arah paha kaki kiri Ratu Pemikat yang dibuat sebagai tumpuan tubuhnya.

Dessss!

Ratu Pemikat menjerit tinggi. Sosoknya terhuyung-huyung. Dewa Orok tarik tubuhnya ke depan, lalu kembali ditubrukkan ke arah paha Ratu Pemikat.

Dessss!

Kedua kaki Ratu Pemikat menekuk. Lalu perempuan ini jatuh terduduk. Dewa Orok cepat angkat tubuhnya ke atas. Laiu kedua kakinya yang masih dipegang Ratu Pemikat dilorotkan ke bawah, hingga tubuh pemuda bertangan buntung ini nongkrong di atas tengkuk Ratu Pemikat.

"Kalau begini rasanya tidak hidup tidak mati, aku ingin seumur-umur begini saja!" ujar Dewa Orok seraya kempotkan pipinya menyedot hingga saat itu juga terdengar suara duutt! Duutt! beberapa kali.

Ratu Pemikat memaki dengan kedua tangan lepaskan gaetannya pada kedua kaki Dewa Orok. Serta-merta kedua tangannya bergerak menghantam ke atas. Namun sebelum kedua tangan Ratu Pemikat menghantam, satu gelombang luar biasa dahsyat menggebrak

BAB 10

MESKI Ratu Pemikat adalah orang yang paling terkejut karena baginya tidak mungkin dapat hindarkan diri selagi tubuh Dewa Orok masih nongkrong di tengkuknya, namun Dewa Orok juga tampak tak kalah terkejut. Namun pemuda ini cepat berpikir. Kejap lain kedua kakinya yang teiah lepas dari gaetan Ratu Pemikat ditarik ke atas menggaet lengan si perempuan yang tengah terangkat.

Dewa Orok kerahkan tenaga dalamnya. Tubuh bagian atasnya disentakkan ke atas. Bersamaan dengan itu tubuhnya terangkat. Karena kedua kakinya menggaet kedua lengan Ratu Pemikat, maka tak urung sosok Ratu Pemikat juga ikut terangkat. Lima jengkal lagi gelombang dahsyat melanggar, Dewa Orok gerakkan kedua kakinya ke arah lambung kiri kanan Ratu Pemikat. Dengan sedikit sentakkan kaki, sosoknya melesat.

Di lain pihak, Ratu Pemikat cepat sentakkan kedua kakinya. Sosoknya berkelebat. Tapi kelebatan tubuh Ratu Pemikat bersamaan dengan datangnya gelombang, hingga meski tubuhnya selamat, namun tak urung kaki kanannya masih juga tersambar gelombang. Tak ampun lagi tubuhnya sempat terbanting di udara sebelum akhirnya jatuh terkapar.

Dewa Orok cepat balikkan tubuh. Bersamaan dengan itu Ratu Pemikat cepat sentakkan kedua tangannya. Sosoknya bergerak duduk. Sejenak perempuan ini meneliti bagian kakinya. Parasnya seketika berubah. Karena kaki kanannya tampak mengembung hitam dan terasa panas luar biasa.

"Bangsat siapa yang berani lakukan serangan dari belakang ini?!" Laksana disentak setan, kepalanya cepat berpaling kebelakang dari mana gelombang yang sempat menghajar kaki kanannya datang.

Kali ini meski Ratu Pemikat sempat terkesiap, tapi yang terlihat paling tersentak kaget adalah Dewa Orok. Kedua orang ini melihat seorang laki-laki berkepala gundu! tegak dengan kedua tangan mengembang ke belakang dan bibir sunggingkan senyum dingin.

"Sialan! Mengapa kau menyerangku?!" seru Ratu Pemikat dengan suara keras bergetar.

"Betul! Sialan! Mengapa dia juga menyerangku?” Dewa Orok ikut-ikutan memaki meski raut wajahnya tak dapat sembunyikan rasa khawatir.

Laki-laki berkepala gundul dan bukan lain adalah Iblis Rangkap Jiwa adanya tanggapi makian orang dengan mulut terkancing. Namun tubuhnya terlihat sedikit bergetar tanda laki-laki ini telah dilanda amarah. Iblis Rangkap Jiwa memandang pada Dewa Orok dengan tampang beringas.

"Kali ini kau tak akan lolos, Jahanam" teriaknya sambil kerahkan tenaga dalam.

"Astaga! Jadi Iblis Rangkap Jiwa telah mengenal pemuda itu! jangan-jangan pemuda itu salah satu orang yang diceritakan bersama-sama Pendekar 131! Jadi dia adalah Dewa Orok..." Ratu Pemikat membatin dalam hati seraya pandangi Dewa Orok. Lalu berpaling lagi pada iblis Rangkap Jiwa.

Sebenarnya Iblis Rangkap Jiwa sudah sejak tadi mengintai dan mendengar adu mulut antara Dewa Orok dan Ratu Pemikat. Namun sejauh ini dia belum berani unjuk diri. Dia masih khawatir kalau Pendekar 131 dan Ratu Malam ada di sekitar tempat ini, karena pada pertemuan kemarin Dewa Orok memang bersama-sama dengan Pendekar 131 dan Ratu Malam.

Begitu ditunggu agak lama dan yakin kalau tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, Iblis Rangkap Jiwa segera kirimkan pukulan saat Ratu Pemikat hendak lakukan pukulan ke arah Dewa Orok yang tengah nongkrong di atas tengkuknya.

Sementara melihat siapa adanya orang, Dewa Orok terlihat gelisah. Untuk beberapa saat dia tampak tercenung berpikir. "Di sini memang ada seorang perempuan. Tapi tak mungkin dia mau kuajak bekerja sama. Bagaimana sekarang...?!"

Selagi Dewa Orok tengah berpikir, Ratu Pemikat telah bangkit berdiri meski sesaat tampak terhuyung-huyung.

"Kau bernasib malang! Di tempat ini tidak ada lagi orang yang dapat membantumu, Jahanam! Dan nyawamu seperti pernah kukatakan adalah telah diperuntukkan untukku sebagai imbalan!" kata Iblis Rangkap Jiwa lalu angkat kedua tangannya.

"Tunggu!" tahan Ratu Pemikat.

Iblis Rangkap Jiwa tidak hiraukan seruan Ratu Pemikat. Kedua tangannya terus diangkat tinggi-tinggi ke atas. Maklum akan apa yang hendak dilakukan iblis Rangkap Jiwa dan yakin jika Iblis Rangkap Jiwa tidak main-main dengan ucapannya, Ratu Pemikat cepat berkelebat ke arah Iblis Rangkap Jiwa. Ratu Pemikat angkat tangannya menahan kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa yang hendak kirimkan pukulan ke arah Dewa Orok.

"Jangan bikin dia mampus! Keterangannya kita butuhkan! Menurut ucapan-ucapannya dan ceritamu, aku hampir yakin kalau dia tahu di mana Pendekar 131! Kalau dia sampai mampus, pencarian kita tambah sukar”

"Tapi dia harus mampus di tanganku! Kalau tidak, urusan dengan Malaikat Penggali Kubur tidak cepat selesai!" sahut Iblis Rangkap Jiwa dengan mata terus pandangi Dewa Orok. Laki-laki berkepala gundul ini seakan tidak mau lagi kehilangan orang yang harus dibunuh seperti yang diperintahkan Malaikat Penggali Kubur.

"Dia memang harus mampus! Tapi bukan untuk saat sekarang! Setelah dia beri keterangan, nyawanya terserah padamu!"

Iblis Rangkap Jiwa gelengkan kepala. "Jejak Pendekar 131 dapat kita cari! Tapi kalau aku kehilangan jejak manusia buntung itu, urusanku akan jadi berantakan! Bahkan nyawaku tidak dapat kuselamatkan!"

"Urusanmu dengan MalaiKat Penggali Kubur nanti bisa kita atur lagi. Bukankah tujuan utamamu kitab itu? Dengan keterangan dari pemuda bertangan buntung itu, kita akan tahu di mana Pendekar 131. Kalau kita berhasil mempertemukan Pendekar 131 dengan Malaikat Penggali Kubur, urusan kitab sakti itu akan juga selesai! Bukankah begitu?"

"Tapi urusanku dengan Malaikat Penggali Kubur lain! Nyawaku tergantung pada nyawa pemuda itu!"

Ratu Pemikat tertawa perlahan. "Urusan Malaikat Penggali Kubur dengan Pendekar 131 kurasa lebih berarti bagi Malaikat Penggali Kubur dibanding urusan nyawa pemuda buntung itu dan kau!"

"Tapi..."

"Nyawanya hanya kita tahan sementara sampai dia beri keterangan! Malah mungkin Malaikat Penggali Kubur tentu dapat mengerti apa yang kita lakukan jika dia kelak tahu!" potong Ratu Pemikat lalu lepaskan kedua tangannya pada kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa.

"Bikin dia tidak berdaya!"

Sesaat Iblis, Rangkap Jiwa terdiam. Namun saat lain kepalanya mengangguk. Bersamaan dengan itu kedua tangannya bergerak lakukan pukulan. Namun tenaga dalam yang dikerahkan sudah jauh berkurang dari apa yang hendak dilakukan semula

Di depan sana Dewa Orok tampak tarik sedikit tubuhnya ke belakang. Pemuda itu maklum akan tingkat ilmu Iblis Rangkap Jiwa. Hingga dia tak berani bertindak sembarangan. Ketika gelombang angin dahsyat melesat dari kedua tangan iblis Rangkap Jiwa, Dewa Orok cepat sentakkan tubuhnya ke depan.

Wuuttt!

Gelombang kabut putih menghampar dan dada Dewa Orok memangkas gelombang angin yang keluar dari kedua tangan iblis Rangkap Jiwa. Karena Iblis Rangkap Jiwa hanya kerahkan sedikit tenaga dalamnya, sementara Dewa Orok kerahkan segenap tenaga dalamnya, maka begitu kedua pukulan mereka bentrok di udara, sosok iblis Rangkap Jiwa tampak mencelat mental sampai satu setengah tombak ke belakang. Di lain pihak, sosok Dewa Orok hanya terseret beberapa langkah. Meski demikian, paras pemuda bertangan buntung ini tampak berubah. Dadanya bergetar keras. Malah kedua pijakan kakinya sedikit menekuk.

Sementara sosok Iblis Rangkap Jiwa tampak jatuh terkapar di atas tanah. Namun karena laki-laki ini dikenal sebagai tokoh berilmu tinggi yang tahan pukul, maka begitu sosoknya terkapar di atas tanah, dia cepat bergerak bangkit. Kejap kemudian dia berkelebat dan tahu-tahu telah tegak di hadapan Dewa Orok dengan senyum seringai.

"Wah... Benar-benar celaka kali ini!" desis Dewa Orok. Wajahnya tegang dengan mulut komat-kamit. Namun kali ini bundaran karet pada mulutnya tidak perdengarkan suara.

"Hem... Manusia ini benar-benar luar biasa! Dia memang tidak mempan pukulan! Aku harus dapat memanfaatkan tenaganya..." Diam-diam Ratu Pemikat membatin. "Dia tampaknya melakukan apa yang kuucapkan. Dengan begitu apa yang kurencanakan akan segera menjadi kenyataan..."

Habis membatin begitu, Ratu Pemikat ikut berkelebat, dan tegak di samping Iblis Rangkap Jiwa. Sejurus dia memandang pada Dewa Orok, lalu beralih pada Iblis Rangkap Jiwa. Bibirnya sunggingkan senyum. Kepalanya bergerak mendekat. Dia lalu berbisik.

"Buat dia tidak berkutik! Setelah itu kita bersenang-senang..."

Iblis Rangkap Jiwa tersenyum. Dipandanginya dada dan pinggul Ratu Pemikat. "Tidak sulit lakukan apa yang kau minta..." bisiknya.

"Kalian berbisik-bisik apa...?!" teriak Dewa Orok.

Pemuda ini sengaja mencari bahan pembicaraan untuk mengulur waktu sambil berpikir untuk dapat selamatkan diri, karena dia sadar tidak ada gunanya melayani Iblis Rangkap Jiwa yang tahan terhadap pukulan. Malah hal itu akan membuatnya celaka sendiri.

Mendengar teriakan Dewa Orok, Iblis Rangkap Jiwa sentakkan kepalanya menghadap. Sepasang matanya berkilat. Seakan tahu apa yang ada dalam benak Dewa Orok, Iblis Rangkap Jiwa tertawa bergelak lalu berkata.

"Jangan harap kau bisa memancingku untuk berdebat. Ha Ha...!"

Gelakan tawa Iblis Rangkap Jiwa belum lenyap, kedua tangannya telah lakukan pukulan ke arah Dewa Orok. Mungkin takut kalau Iblis Rangkap Jiwa hanya kerahkan sedikit tenaga dalamnya, Ratu Pemikat segera pula lakukan pukulan. Yang diarah adalah bagian kaki Dewa Orok.

"Benar-benar akan tamat riwayatku..." gumam Dewa Orok. Namun meski sudah merasa maklum tak ada artinya lagi memangkas pukulan kedua orang di hadapannya, pemuda bertangan buntung ini tidak mau berdiam diri. Tubuhnya cepat disentakkan ke belakang lalu dihempaskan ke depan.

Pukulan dari Iblis Rangkap Jiwa dan Ratu Pemikat tampak semburat kian kemari. Namun karena harus bentrok dengan dua pukulan, mau tak mau sosok Dewa Orok tampak mencelat deras ke beiakang meski di depan sana Ratu Pemikat dan iblis Rangkap Jiwa juga terlihat mental.

Kali ini rupanya Iblis Rangkap Jiwa sudah tidak sabaran lagi, apalagi setelah mendapat janji dari Ratu Pemikat. Hingga begitu tubuhnya mental ke belakang, dia cepat kuasai diri lalu sekonyong-konyong melesat balik ke arah Dewa Orok yang masih terhuyung-huyung. Belum sampai Dewa Orok tegak kuasai diri, tendangan sepasang kaki Iblis Rangkap Jiwa telah berkelebat angker ke arah kakinya! Dewa Orok masih tidak tinggal diam. Kaki kanannya diangkat.

Bukkkk!

Tubuh Dewa Orok terputar. Saat itulah Ratu Pemikat melabrak dengan lakukan tendangan.

Bukkk!

Putaran tubuh Dewa Orok semakin kencang. Dan belum sempat Dewa Orok hentikan diri, kaki kiri Iblis Rangkap Jiwa telah pula menggebrak! Dewa Orok mengeluh tinggi hingga bundaran karet di mulutnya melesat keluar dan mengapung di udara. Bersamaan dengan itu putaran tubuhnya berbalik arah!

Ratu Pemikat bergerak lagi. Namun Iblis Rangkap Jiwa telah mendahului gerakkan tangan kanannya. Serta merta putaran tubuh Dewa Orok terhenti! Malah pemuda ini tidak bisa gerakkan lagi anggota tubuhnya! Ratu Pemikat urungkan niat. Matanya melirik pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Sialan! Dia mendahului gerakanku. Berarti dia akan menagih janji yang tadi kuucapkan..." Ratu Pemikat membatin. "Seandainya aku tadi berhasil mendahului, aku masih bisa membuat alasan! Tapi sekarang..."

"Aku telah lakukan apa yang kau minta! Apa acara kita bisa segera dimulai sekarang juga?!" Iblis Rangkap Jiwa berkata dengan sunggingkan senyum.

Ratu Pemikat sempat tersentak. Namun perempuan ini tidak mau menunjukkan keterkejutannya. Dia balas memandang dengan bibir mengembang senyum. "Janjiku akan selalu kutepati. Tapi kita harus minta keterangan dahulu dari pemuda itu! Bukankah acara kita akan lebih tenang kalau kita sudah tahu di mana beradanya orang yang kita cari...?"

Tampang Iblis Rangkap Jiwa berubah. Jelas laki-laki ini tampak dongkol dengan ucapan Ratu Pemikat. Ratu Pemikat tahu apa yang harus dilakukan menghadapi orang macam Iblis Rangkap Jiwa. Tanpa buka suara lagi, Ratu Pemikat melangkah mendekati Iblis Rangkap Jiwa. Kedua tangannya mengembang dengan dada dibusungkan. Mulutnya setengah dibuka. Lalu seraya sipitkan sedikit matanya, kedua tangannya dilingkarkan pada tengkuk Iblis Rangkap Jiwa. Bersamaan itu, kepalanya didorong ke depan.

Iblis Rangkap Jiwa yang semula hanya diam dengan mulut terkancing rapat cepat kembangkan kedua tangannya lalu dilingkarkan pada pinggang Ratu Pemikat. Saat bersamaan kepalanya bergerak menyambut wajah sang Ratu yang mendekat ke wajahnya. Untuk beberapa saat kedua orang ini tenggelam dalam peluk cium mesra. Malah kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa sudah bergerak dari lingkaran pinggang Ratu Pemikat dan kini merambat ke arah dadanya.

Di depan sana, Dewa Orok yang tegang tak bisa bergerak karena tertotok Iblis Rangkap Jiwa hanya memandang melongo dengan mata membelalak. "Busyet! Dadaku jadi ikut berdebar-debar! Mereka sungguh tega hati berbuat begitu di depan mataku! Apa dikira aku sudah tidak punya keinginan...? Sialan betul!" kata Dewa Orok dalam hati. Dia lalu alihkan pandangannya pada jurusan lain. Saat itulah sepasang matanya melihat bundaran karatnya yang masih mengapung di udara.

Entah untuk menaik perhatian orang atau secara tidak sengaja, Dewa Orok berteriak. "Dotku... Mana dotku! Tolong ambilkan!"

Mungkin karena sudah tenggelam dalam kemesraan, baik Ratu Pemikat maupun Iblis Rangkap Jiwa tidak hiraukan teriakan Dewa Orok, membuat pemuda ini kembali berteriak. Tapi meski teriakan Dewa Orok begitu keras, Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa tetap teruskan peluk ciumnya.

"Setan! Mereka pura-pura tidak atau..." Dewa Orok kerjapkan sepasang matanya. Saat lain dia coba kerahkan tenaga dalamnya. Lalu mulutnya menguncup.

Wuuuutt!

Dari mulut Dewa Orok melesat angin tidak begitu keras. Namun anehnya mampu membuat pakaian Ratu Pemikat tersingkap. Menduga yang lakukan singkapkan pakaiannya adalah tangan iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat cepat tarik wajahnya. Kedua tangannya bergerak ke belakang untuk tutup pakaiannya yang terbuka. Namun perempuan ini jadi terkesiap. Karena bagaimanapun dia coba tutupkan pakaiannya, pakaiannya tetap berkibar-kibar terbuka!

Sementara Iblis Rangkap Jiwa yang tahu akan tindakan Dewa Orok, segera lepaskan rabaannya pada dada Ratu Pemikat. "Jahanam itu mengganggu kesenangan orang!" desisnya. Serta-merta sosoknya melesat ke arah Dewa Orok. Saat lain tangan kanan kirinya bergerak terangkat.

"Tunggu!" teriak Ratu Pemikat. "Biar dia aku yang mengurus!"

Entah karena sudah tidak dapat lagi menahan gejolak amarahnya karena kesenangannya terganggu, Iblis Rangkap Jiwa tidak pedulikan lagi teriakan Ratu Pemikat. Kedua tangannya terus bergerak lakukan hantaman ke arah kepala Dewa Orok. Di hadapannya, Dewa Orok hanya dapat buka mulutnya tanpa keluarkan suara. Malah bersamaan dengan itu sepasang matanya terpejam rapat. Pemuda ini seakan sudah pasrah.

"Celaka kalau dia benar-benar lakukan itu!" gumam dengan tercekat. Sosoknya berkelebat. Lalu mendorong Dewa Orok hingga sosoknya jatuh tersungkur di atas tanah. Tapi hal itu menyelamatkannya dari hantaman kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa.

"Dotku... Dotku...!" seru Dewa Orok begitu buka kelopak matanya serta melihat dirinya selamat dari hantaman kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa.

Plaaakk! Plaaakk!

Kepala Dewa Orok sedikit tersentak kesamping kiri kanan terkena tamparan kedua tangan Ratu Pemikat. "Manusia edan! Dot bulukan begitu rasanya lebih berharga dari nyawanya!" desis Ratu Pemikat. Serta merta perempuan ini melompat. Tangan kanannya menyambar bundaran karet milik Dewa Orok yang mengapung di udara.

Melihat hal itu, Dewa Orok yang terkapar di atas tanah segera berteriak. "Kalau kau sampai merusak dotku, kau tak akan mendapat keterangan apa-apa dariku!"

Ratu Pemikat pandangi Dewa Orok dengan senyum dingin. Lalu melangkah ke arah Dewa Orok. Namun langkah perempuan ini tertahan karena iblis Rangkap Jiwa telah tegak di hadapannya dengan kedua tangan mengembang.

"Acara bisa kita lanjutkan nanti!" ucap Ratu Pemikat seraya tepis kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa. Namun mungkin agar tidak membuat Iblis Rangkap Jiwa tersinggung, Ratu Pemikat sorongkan wajahnya dan mencium wajah iblis Rangkap Jiwa.

Iblis Rangkap Jiwa kembali hendak lingkarkan kedua tangannya. Namun sebelum sempat menyentuh pinggang Ratu Pemikat, perempuan bertubuh bahenol ini telah berkelebat ke arah Dewa Orok. Tanpa berkata lagi, Ratu Pemikat angkat tubuh Dewa Orok lalu diletakkan di atas pundaknya. Kejap lain dia berkelebat.

BAB 11

MEMASUKI sebuah kawasan dataran berbatu, Ratu Pemikat mulai memperlambat larinya. Lalu enak saja tubuh Dewa Orok disentakkan hingga jatuh menghantam salah satu gundukan batu, membuat keningnya berdarah.

"Dotku! Berikan padaku...!" ujar Dewa Orok dengan mengerjap beberapa kali dan meringis.

“Bukan hanya dot, tapi nyawamu akan kuselamatkan jika kau mengatakan di mana Pendekar 131!" Ratu Pemikat membentak.

"Nyawanya milikku, tidak akan kubiarkan siapa pun selamatkan nyawanya sekali pun setan!" Yang berteriak menyahut adalah Iblis Rangkap Jiwa yang kini telah tegak di belakang Ratu Pemikat.

"Dasar manusia tolol!" desis Ratu Pemikat dalam hati. Perempuan ini segera berpaling pada Iblis Rangkap Jiwa. Lalu memberi isyarat dengan kerdipkan sebelah matanya. Kejap lain, tanpa menunggu Iblis Rangkap Jiwa buka mulut, Ratu Pemikat telah menoleh kembali menghadap Dewa Orok.

"Membunuhmu saat ini, tidak lebih sulit dari kerjapkan mata! Tapi aku akan membuatmu mati perlahan-lahan kalau kau tetap keras kepala!"

"Baiklah..." ujar Dewa Orok pada akhirnya setelah beberapa saat terdiam.

"Bagus! Kau telah memiiih jalan yang benar!" kata Ratu Pemikat seraya tersenyum. "Sekarang katakanlah!"

"Pergilah ke pantai timur. Di sana ada sebuah kuil!"

"Ucapanmu bisa dipercaya?!"

Dewa Orok kancingkan mulut tidak menjawabnya pandangannya kini beralih pada iblis Rangkap Jiwa. Yang dipandang menyeringai lalu berkata.

"Di pantai timur memang ada sebuah kuil! Aku tahu tempatnya!"

Iblis Rangkap Jiwa sengaja berkata karena sebenarnya laki-laki ini ingin segera urusan dengan Dewa Orok cepat selesai dan bisa bersenang-senang kembali dengan Ratu Pemikat.

Ratu Pemikat palingkan kepala pada Iblis Rangkap Jiwa. "Tapi apakah benar orang yang kita cari pergi ke sana?!"

"Pendekar 131 adalah sahabat pemuda buntung itu! Sedangkan aku pernah menemukannya di kuil itu! Jadi benar kemungkinan orang yang kita cari memang pergi ke sana!"

Habis berkata begitu, Iblis Rangkap Jiwa melangkah dan berhenti di samping Ratu Pemikat. "Urusanmu dengan dirinya sudah selesai! Sekarang biar aku selesaikan urusanku dengannya!"

Ratu Pemikat mendebat lalu berbisik. "Harap tahan dahulu urusanmu. Tidak tertutup kemungkinan ucapan pemuda itu dusta...!"

"Keparat! Rencana busuk apa yang ada dalam benakmu?!" teriak Iblis Rangkap Jiwa.

"Kau masih terlalu menaruh curiga padaku! Dengar. Dia kita buat tidak bisa ke mana-mana sebelum kita buktikan kebenarannya ucapannya! Dia adalah sahabat Pendekar 131. Dengan tidak munculnya dia, setidaknya Pendekar 131 akan mencari! Apalagi dia berkata menunggu seseorang. Besar kemungkinan yang ditunggu adalah Pendekar 131!"

"Benar atau tidak ucapannya, Pendekar 131 atau bukan orang yang ditunggu, tak ada hubungannya denganku, sedang jelas aku harus membawa penggalan kepalanya “

"Kau salah besar! Justru di sinilah hubunganmu dengan urusan kitab itu!"

"Aku tak mengerti maksudmu!" kata Iblis Rangkap Jiwa masih dengan suara keras.

"Di sini bukan tempat yang baik untuk menerangkan! Harap kau tidak terlalu berburuk sangka padaku. Untuk sementara ini biar aku urus pemuda itu!"

Setelah tersenyum pada Iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat mendadak hentakkan kedua tangannya di atas tanah. Tanah itu langsung muncrat bertabur ke udara tinggalkan lobang menganga. Ratu Pemikat angkat kedua tangannya. Serta-merta disentakkan pada lobang yang menganga. Untuk kedua kalinya dari lobang yang telah menganga terlihat hamburan tanah, membuat lobang di atas tanah makin besar dan dalam.

Belum sampai hamburan tanah lenyap, Ratu Pemikat telah berkelebat ke arah Dewa Orok. Dengan enak saja perempuan ini cekal kaki kanan Dewa Orok lalu diseretnya mendekati lobang yang menganga. Begitu tepat di hadapan lobang, Ratu Pemikat sentakkan cekatannya pada kaki Dewa Orok. Maka tak ampun lagi tubuh Dewa Orok jatuh ke dalam lobang.

"Gila! Apa yang akan kau lakukan padaku?! Bukankah aku telah katakan apa yang kau tanyakan?!" seru Dewa Orok. Tubuh pemuda ini sekarang tidak kelihatan lagi. Yang terlihat di atas tanah adalah bagian leher dan kepalanya!

Ratu Pemikat tidak menyahut ucapan Dewa Orok. Sebaliknya perempuan ini cepat gerakkan kakinya menutup lobang dengan tanah yang ia di sekitarnya. Begitu tubuh Dewa Orok telah tertanam dalam tanah dan hanya menyisakan leher dan kepalanya. Ratu Pemikat angkat bicara.

"Pertama kali jumpa sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak mudah dikelabui orang sepertimu! Selamat tinggal!"

Ratu Pemikat putar tubuh. Lalu melompat ke arah Iblis Rangkap Jiwa yang sedari tadi hanya memandang apa yang dilakukan Ratu Pemikat.

"Kita segera menuju pantai timur!"

Iblis Rangkap Jiwa tidak menyahut juga tidak membuat gerakan apa-apa.

"Kau tak perlu khawatir. Kalaupun kita terlambat datang ke tempat ini lagi, mungkin nyawanya sudah putus!"

"Kalau ada orang yang menolong?!" Iblis Rangkap Jiwa akhirnya buka mulut.

"Tempat ini sepi. Kalaupun ada yang lewat, kebanyakan adalah binatang buas. Lain daripada itu, kalau tidak lewat di sekitar lobang itu, tidak mungkin orang dapat melihatnya, karena di sekitar tempat ini banyak batu-batu besar!"

"Tapi dia masih bisa berteriak!"

Ratu Pemikat sunggingkan senyum. "Sengaja jalan suaranya tidak kututup. Tapi kau tak perlu cemas, sekuat apa pun tenaga yang dimiliki, tidak mungkin dia kuasa berteriak terus menerus sehari semalam!"

Sebenarnya iblis Rangkap Jiwa masih hendak angkat bicara. Namun sebelum suaranya terdengar, Ratu Pemikat telah menarik tangannya hingga mau tak mau sosok iblis Rangkap Jiwa ikut bergerak.

"Tunggu!" teriak Dewa Orok. "Dotku! Kembalikan dahulu dotku!"

Tapi Ratu Pemikat seolah tidak mendengar teriakan Dewa Orok. Dia terus berkelebat sambil menarik tangan Iblis Rangkap Jiwa.

"Dotku! Dotku! mana dotku!" Dewa Orok terus berteriak meski sosok Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa sudah tidak kelihatan lagi...!

S E L E S A I