Social Items

Serial Joko Sableng Dalam Episode Rahasia Pulau Biru
Cersil online serial joko sableng pendekar pedang tumpul 131


BAB 1

MATAHARI sudah mengambang diatas permukaan air laut sebelah barat. Senja pun perlahan-lahan melingkari bumi. Tak berselang lama, air laut berubah warna. Lintasan bumi pun diselimuti kegelapan malam. Di sebuah gugusan batu karang yang menghadang laut, terlihat sesosok tubuh duduk bersila dengan sepasang tangan merangkap di depan dada.

Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Rambutnya yang panjang dan telah memutih dibiarkan jatuh bergerai menutupi sebagian bahu dan wajahnya yang pucat dan berkulit tipis. Sepasang kelopak matanya yang masuk ke rongga yang dalam tampak terpejam rapat. Namun sedari tadi mulutnya selalu berkemik-kemik hingga kumis dan jenggotnya yang panjang terlihat bergerak-gerak. Kakek ini mengenakan pakaian gombrang berwarna putih kusam.

Ada sedikit keanehan pada kakek ini. Meski rambutnya dibiarkan bergerai, sementara pakaian yang dikenakannya begitu gombrang, namun baik rambut serta pakaiannya tidak tampak melambai-lambai, padahal angin laut saat itu bertiup amat kencang. Lalu dari mulutnya yang selalu berkemik terdengar suara gumaman.

Siapa pun yang berada sejarak lima belas tombak dari tempat si kakek duduk pasti akan dengan jelas mendengar gumaman itu. Padahal saat itu gempuran ombak yang abadi menghantam gugusan karang terdengar memekakkan telinga dan hampir menindih lenyap semua suara yang terdengar!

Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba si kakek buka kelopak matanya. Saat Itu malam tengah merangkak makin jauh. Dan angkasa raya terbungkus gulungan awan hitam, hingga tatkala si kakek jerengkan sepasang matanya, yang tampak hanyalah permukaan air laut yang hitam dan suasana pekat di sekitarnya. Sejenak sepasang mata si kakek memandang ke arah selatan dengan sedikit palingkan kepala. Mulutnya tiba-tiba dikancingkan rapat-rapat. Sejurus kemudian kepalanya mengangguk perlahan.

Bersamaan dengan itu, dari arah selatan terlihat satu bayangan hitam berlari kencang laksana dikejar setan. Seluruh tubuh sosok ini telah basah kuyup, selain karena keringat juga karena gelombang air laut yang menghajar pantai di mana saat itu si sosok sedang berlari.

Tiba-tiba sosok yang berlari ini hentikan langkah. Kepalanya bergerak berputar memperhatikan beberapa gugusan karang. Sepasang matanya dipentangkan liar mengawasi. Ketika samar-samar sepasang matanya menangkap sesosok tubuh duduk bersila di salah satu gugusan batu karang, tanpa menunggu lagi. sosok yang tadi berlari kembali bergerak berkelebat. Dan tahu-tahu sosok ini telah tegak lima langkah di hadapan si kakek yang duduk bersila.

Ternyata sosok yang baru datang ini adalah seorang pemuda bertubuh besar tegap. Rambutnya panjang lebat, demikian pula kumis dan alis matanya. Sepasang matanya tajam laksana elang. Dagunya kokoh dengan hidung sedikit besar. Paras wajahnya keras dengan ditingkahi bibir yang selalu sunggingkan senyum aneh.

Untuk beberapa saat si pemuda memandang tak berkesip pada si kakek di hadapannya. Setelah mengusap leher dan rambutnya yang basah, si pemuda buka mulut. "Kakek guru! Harap maafkan atas lambatnya kedatanganku!"

Si kakek buka matanya. Memandang sejurus lalu menggeleng perlahan. "Aku sengaja sampai di tempat ini jauh sebelum waktu yang kita janjikan, karena aku ingin menikmati keindahan laut dan lantunan suara gelombang ombak..."

Si pemuda yang juga mengenakan jubah warna putih kusam dan besar palingkan kepalanya sedikit menghadap laut. Diam -diam dalam hati si pemuda berkata. "Hem... Air laut terlihat hitam. Suara gelombang ombak menyakitkan gendang telinga. Aneh. Di mana keindahannya?!" senyum aneh si pemuda tersungging.

"Pandanglah dengan mata hatimu. Dengarkan dengan batinmu. Di sana akan kau temui keindahan itu!" Tiba-tiba si kakek berucap seakan tahu apa yang ada di benak si pemuda, membuat sang pemuda melengak dengan wajah berubah.

"Itulah yang sering kukatakan padamu, Gumara! Lihatlah sesuatu dari apa yang terkandung di dalamnya. Dan lihatlah dengan mata hatimu! Jika itu selalu kau lakukan, maka kau tak akan punya prasangka buruk terhadap apa pun yang ada di muka bumi ini! Karena asal segala sesuatu adalah baik. Manusialah yang punya ulah dengan tak mau memandang dari segi batin, hingga muncullah apa yang dinamakan buruk!”

Si pemuda yang dipanggil Gumara terdiam beberapa saat seolah meresapi apa yang dikatakan si kakek. Di hadapannya, si kakek alihkan pandangannya ke arah permukaan air laut di depan sana. Lalu berucap kembali.

"Gumara... Tiap langkah manusia pasti dihadang dengan batas. Dan hal itu tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Demikian halnya dengan aku dan dirimu..."

"Maksud, Eyang guru...?!"

"Sejak lima belas tahun terakhir ini kau dan aku hidup bersama terikat hubungan murid dan guru. Seperti yang kukatakan, langkah manusia pasti dihadang dengan batas. Demikian pula kebersamaan kita. Dan malam ini batas itu menghadang kebersamaan kita!"

"Aku masih belum mengerti maksud Eyang guru sebenarnya...!"

"Gumara... Sejak malam ini kita harus berpisah! Sudah saatnya kau melangkah sendiri tentukan masa depanmu. Semua kepandaian yang ku turunkan padamu hanyalah bagian kecil dari bongkahan ilmu, dan pasti sangat terbatas sekali. Maka dari itu janganlah berjalan di atas bumi dengan congkak!"

"Jadi...?"

Si kakek telah memotong ucapan sang murid sebelum kata-katanya selesai. "Tiba saatnya bagimu menggunakan semua yang kau miliki, Gumara. Tapi harus kau ingat. Yang hendak kau masuki di depan sana adalah dunia persilatan. Satu dunia yang bukan saja dilingkari dengan manusia-manusia berilmu, namun juga diselimuti berbagai corak ragam kehidupan aneh. Karena terkadang di sanalah orang dapat berubah secara cepat. Kebaikan bisa berubah jadi buruk! Di sana akan kau temui dendam turun temurun. Fitnah yang dibungkus ucapan manis. Lebih dari itu, kau akan melihat kelicikan yang digunakan orang untuk mencapai tujuannya!" Sejenak si kakek menghela napas panjang lalu melanjutkan. "Dunia persilatan adalah batu ujian bagimu. Sekali kau tergelincir di sana, maka kau akan tenggelam dalam lumpur kebusukan! Sebaliknya jika kau tegar berdiri, maka namamu akan dikenang orang! Di depan matamu terbentang dua pilihan. Tinggal ke mana kakimu hendak kau bawa!"

"Eyang guru... Demi nama baikmu, pasti aku akan berjalan di atas yang benar!"

Si kakek tertawa perlahan mendengar ucapan muridnya. "Jawaban itu belum bisa menjamin, Gumara. Tanpa kau ucapkan sekarang, kelak semuanya akan bisa dilihat! Hanya yang kuharap, apa yang kau katakan benar-benar jadi kenyataan!"

"Nada ucapan Eyang guru tampaknya menyangsikan diriku..." kata Gumara dengan suara perlahan namun agak gemetar pertanda dia menahan rasa tak enak.

"Sebagai orang tua, terus terang saja aku khawatir, Gumara. Godaan di depan sana sangat besar. Sedangkan kau masih muda. Tapi... Sudahlah. Apa pun yang nanti terjadi harus kita terima. Sekarang dengar baik-baik!" kata si kakek seraya menatap tajam pada Gumara.

"Rimba persilatan saat ini sedang dilanda kemelut tak menentu. Banyak tokoh yang Iama menyembunyikan diri muncul kembali..."

Wajah Gumara sedikit berubah dengan dahi mengernyit. Lalu pemuda ini angkat bicara tatkala sang guru tak segera lanjutkan ucapannya. "Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan kemunculan mereka kembali, Eyang guru...?"

"Sebenarnya ini urusan lama. Namun karena sampai saat ini tak kunjung selesai, maka urusan ini tetap hangat, malah bertambah ramai. Apalagi dengan malang melintangnya beberapa tokoh muda..."

"Urusan lama?" gumam Gumara. "Urusan apa, Eyang guru?"

Si kakek arahkan kembali pandangannya ke air laut di depan sana. Lalu berkata. "Entah sejak kapan mulainya aku sendiri tak tahu. Yang pasti urusan ini telah merebak saat aku masih muda. Seperti saat ini, saat itu rimba persilatan dibuat geger dengan beredarnya berita tentang sebuah kitab yang diyakini berisi ilmu hebat. Orang menyebut kitab itu Serat Biru. Demikian gegernya urusan kitab itu hingga saat itu banyak terjadi pembunuhan baik karena salah sangka atau karena fitnah. Namun akhirnya urusan kitab itu mereda sendiri ketika telah banyak korban yang jatuh dan kitab itu belum juga bisa ditemukan!"

"Apakah kitab itu betul-betul tidak ada?"

"Belum bisa dijawab dengan pasti. Melihat beraninya orang turunkan tangan maut lalu banyaknya tokoh yang memburu dan berani pertaruhkan nyawa, menandakan berita itu bukan hanya kabar burung. Namun melihat hasilnya, orang lantas bimbang!"

"Menurut Eyang guru sendiri, apakah kitab itu benar adanya?!"

Untuk sesaat si kakek tak segera menjawab. Setelah menghela napas daiam akhirnya dia berkata. "Aku sendiri berkesim pulan Kitab Serat Biru betul-betul ada!"

Gumara agak tegang mendengar ucapan gurunya. Pemuda ini buru-buru angkat bicara kembali. "Harap Eyang guru sudi mengatakan di mana kitab itu berada!"

Si kakek bukannya menjawab, namun tertawa perlahan seraya geleng-gelengkan kepala, membuat Gumara pentangkan sedikit matanya. "Gumara! Kitab Serat Biru bukan barang sembarangan. Tidak semua orang dengan mudah mengetahui di mana beradanya!"

"Kalau mengetahui di mana beradanya sulit, bagaimana Eyang guru dapat berkesimpulan jika kitab itu betul-betul ada?!"

"Gumara. Kau masih ingat aku pernah cerita padamu tentang kakak kandungku bernama Jalu Paksi?"

"Yang dikenal orang dengan gelar Dewa Sukma itu?! Apa hubungannya dengan Kitab Serat Biru?!"

"Dengar, Gumara. Pada suatu hari, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan antara kakakku dengan seorang tokoh. Mereka menyebut-nyebut sebuah peta yang ada kaitannya dengan tempat di mana beradanya Kitab Serat Biru. Karena saat itu aku tidak tertarik dengan urusan kitab, maka aku tak begitu memperhatikan! Tapi dari pembicaraan itulah aku yakin jika kitab itu benar-benar ada!"

"Baru sekarang Eyang guru membicarakan. Apakah sekarang Eyang guru jadi tertarik dengan kitab itu?!"

Si kakek tersenyum sambil gelengkan kepala. "Aku sudah tua, Gumara. Kitab itu tak akan berguna banyak jika berada di tanganku. Lagi pula aku sudah ingin hidup tenang damai tanpa bising senjata. Biarlah orang lain saja yang berurusan dengan kitab itu. Tapi jika kau suka tak ada jeleknya kau coba menyelidik. Kau masih muda, masih banyak yang bisa kau perbuat jika kitab itu bisa kau miliki!"

"Hem... Kalau kitab itu benar-benar dapat kumiliki, tentunya aku akan jadi orang sakti tanpa tanding. Itulah cita-citaku sebenarnya..." gumam Gumara dalam hati lalu berujar.

"Eyang guru. Kalau kau memberi izin, aku akan segera menyelidik kitab itu!"

"Gumara. Sejak malam ini kau bebas tentukan langkah. Jika kau berkeinginan menyelidik berangkatlah ke tempat kakakku. Jalu Paksi. Tapi jika kau tak suka, mulailah melangkah menurut apa yang kau yakini baik dan berguna bagi orang banyak!"

“Tapi, Eyang. Dengan kitab itu di tanganku, akan lebih banyak nantinya yang bisa kulakukan! Aku akan menyelidik kitab itu!"

"Hem... Begitu? Bagus! Tapi satu hal harus kau ingat, Gumara. Sebuah kitab biasanya hanya berjodoh pada satu orang. Jika nantinya kau ditakdirkan tidak berjodoh untuk memilikinya, kuharap kau mau menerima kenyataan! Jangan sekali-kali paksakan diri jika kau tak ingin terjerumus!"

"Ucapanmu akan kuingat, Eyang guru! Sekarang harap Eyang katakan di mana aku bisa menjumpai kakek Jalu Paksi?!"

"Meski sepuluh tahun terakhir ini aku tak jumpa dengannya tapi aku yakin dia masih berada di tempatnya semula. Pergilah kau ke lereng bukit Watu Gedek sebelah selatan dusun Polaman. Di belakang dua beringin kembar ada satu gua batu. Di sana kau akan menemui orang yang kau cari!"

Lama Gumara terdiam mendengarkan penuturan gurunya. Sementara si kakek pandangi muridnya sejurus sebelum akhirnya berkata kembali. "Aku berharap kaulah yang kelak ditakdirkan berjodoh memiliki kitab itu, Gumara. Kalaupun tidak, aku berharap kau dapat mempergunakan ilmu yang ada padamu untuk kebaikan!"

Gumara anggukkan kepala. Lalu menjura dalam-dalam seraya berucap. "Eyang guru. Sebelum aku berangkat, kuucapkan terima kasih atas segala jerih payahmu mendidikku. Aku akan melangkah sesuai apa yang kau katakan!"

Si kakek tersenyum . "Sebagai guru sudah menjadi kewajibannya untuk turunkan ilmu pada murid. Kau tak usah berbasa-basi ucapkan terima kasih. Jika kau dapat pergunakan dengan baik apa yang kau miliki, itu sudah lebih dari cukup!"

Gumara menatap tajam pada Eyang gurunya dengan mulut terkancing rapat. Dan tanpa berkata-kata lagi, pemuda ini menjura tiga kali lalu putar diri dan berkelebat tinggalkan tempat itu.

"Hem..." Si kakek menghela napas sambil bergumam. "Perasaannya mudah tersinggung. Dan tampaknya dia masih perlu waktu untuk mematahkan pikirannya. Tapi aku sudah terlalu lama menahannya. Semoga dengan jalan ini dia dapat lebih cepat matang..."

Si kakek donggakkan kepala memandangi angkasa yang masih diselimuti awan hitam. "Sebenarnya aku tak hendak utarakan tentang Kitab Serat Biru padanya, namun daripada dia salah langkah dan terjerumus, terpaksa hal itu kukatakan! Hem... Mudah-mudahan dia nanti dapat menerima kenyataan...”

Habis bergum am begitu, si kakek gerakkan bahunya. Kejap lain tubuhnya berkelebat dan sosoknya lenyap dari gugusan batu karang!

******************

BAB 2

KITA tinggalkan dulu si pemuda bernama Gumara yang mulai menyelidik Kitab Serat Biru dengan jalan menemui seorang tokoh bergelar Dewa Sukma. Kita kembali sejenak pada Pendekar 131.

Seperti dituturkan pada episode Rahasia Pulau Biru, saat Pendekar 131 terluka dalam dan terlibat bentrok dengan Ratu Pemikat, tiba-tiba berkelebat satu bayangan yang menyambar tubuh murid Pendeta Sinting. Si bayangan yang ternyata Dewi Siluman membawa lari Joko Sableng, namun di tengah jalan sang Dewi dihadang oleh seorang perempuan bercadar dan berpunuk.

Perkelahian tak dapat dihindarkan lagi. Tapi dalam beberapa jurus, Dewi Siluman dapat merobohkan si perempuan berpunuk. Karena penasaran ingin mengetahui siapa adanya perempuan bercadar dan berpunuk, Dewi Sliuman sengaja tak langsung kirimkan pukulan mematikan namun hanya membuat perempuan berpunuk roboh pingsan. Saat Dewi Siluman hendak menyingkap cadar si perempuan berpunuk, mendadak muncul iblis Ompong.

Karena Iblis Ompong menginginkan Pendekar 131 dan perempuan berpunuk, sementara Dewi Siluman merasa urusannya dicampuri, membuat sang Dewi marah besar hingga terjadilah bentrok. Saat suasana pekat karena hamburan tanah akibat dari bentroknya pukulan, tanpa sepengetahuan Dewi Siluman, iblis Ompong berkelebat menyambar tubuh Joko dan perempuan berpunuk.

Hingga ketika suasana sirap kembali, Dewi Siluman tak lagi melihat sosok iblis Ompong, Joko Sableng dan perem puan berpunuk. Namun Dewi Siluman masih merasa agak lega, karena Pedang Tumpul 131 milik Pendekar Pedang Tumpul Joko Sableng berhasil dibawanya.

Pada satu padang rumput tak begitu luas yang di sekitarnya dirangasi semak belukar lebat dan tinggi-tinggi, Iblis Ompong yang di kanan kiri pundaknya terlihat dua sosok tubuh, hentikan larinya. Sepasang matanya dipentangkan lebar-lebar sejurus, lalu...

"Wuuuttt! Wuuuttt!" Dua bahu kiri kanannya bergerak. Dua sosok yang di atas pundaknya melenting setengah tombak dari pundaknya. Bersamaan dengan itu Iblis Ompong gerakkan kedua tangannya seraya berkelebat ke udara. Saat melayang turun, kedua tangan kiri kanan si kakek telah membopong satu tubuh.

Perlahan-lahan iblis Ompong letakkan satu persatu tubuh di tangannya ke atas tanah berumput di sebelah kanan kiri tubuhnya. Sejenak dia pandangi dua sosok itu.

"Hem... Perempuan ini terluka cukup parah. Harus segera ditolong terlebih dahulu..."

Iblis Ompong jongkok dengan tubuh menghadap perempuan berpunuk. Sejurus mulutnya membuka lebar-lebar. Lalu dengan cepat kedua tangannya bergerak menutup pakaian si perempuan yang robek di bagian dada dan pinggangnya yang sedari tadi perlihatkan kulit putih mulus di baliknya.

Tak menunggu lama, iblis Ompong segera totok beberapa jalan darah perempuan berpunuk. Lalu balikkan tubuh si perempuan. Kedua tangannya lalu ditem pelkan pada punggung si perempuan. Tapi tiba-tiba iblis Ompong tarik kembali kedua tangannya. Mulutnya membuka lebar-lebar.

"Aneh, kenapa punuk orang demikian lembek? Jangan-jangan... Tapi itu urusan orang. Aku tak mau tahu apa sebabnya dia menyamar. Urusanku adalah menyelam atkan nyawanya..."

Iblis Ompong kembali letakkan kedua telapak tangannya pada punggung orang. Lalu kerahkan tenaga dalam salurkan hawa murni. Beberapa saat berlalu. Perubahan segera terlihat. Sosok perempuan berpunuk perdengarkan erangan pelan. Tubuhnya mulai bergerak-gerak. Tak lama kemudian terdengar si perempuan batuk-batuk beberapa kali.

Pada saat yang sama kedua tangan iblis Ompong bergerak menotok beberapa bagian dari tubuh si perempuan. Tiba-tiba si perempuan angkat kepalanya sedikit. Mulutnya terlihat mengembung besar. Ketika si perempuan semburkan mulut, darah merah kehitaman muncrat keluar dari mulutnya.

Anehnya, bersamaan dengan muncratnya darah dari mulut, si perempuan berpunuk yang mukanya masih mengenakan cadar berlobang kecil-kecil merasakan tubuhnya perlahan-lahan dialiri hawa hangat. Mungkin merasa tubuhnya agak enak, ditambah ingin tahu siapa adanya orang yang menolong, perempuan berpunuk cepat balikkan tubuh. Sepasang mata dari balik cadar berlobang kecil-kecil terpentang sejenak perhatikan orang tua disampingnya. Lalu terdengar suara bergumam perlahan.

"Orang tua. Terima kasih..."

Iblis Ompong buka mulutnya lebar-iebar. Seraya mendongak dia berujar. “Tak perlu ucap terima kasih. Semua ini didasarkan pada rasa kemanusiaan saja."

Perempuan berpunuk rapikan pakaiannya dengan tubuh sedikit ditarik ke belakang. Dari balik kain cadarnya terlihat perubahan wajahnya. Namun perubahan itu makin nyata bahkan tiba-tiba dia gerakkan tangan kanannya untuk menutupi mulutnya di balik cadar. Sementara kepalanya lurus dengan sepasang mata di balik cadar memandang lekat-lekat pada tubuh Joko Sableng yang masih tergeletak dengan tubuh diam dan mata terpejam.

"Buang rasa khawatir. Tak ada yang perlu dipikirkan. Dia baik-baik saja!" kata Iblis Ompong seraya kerlingkan sebelah matanya pada perempuan berpunuk yang jelas mengkhawatirkan keadaan murid Pendeta Sinting.

"Orang tua. Boleh aku tahu siapa kau sebenarnya?" tanya perempuan berpunuk.

Iblis Ompong tertawa panjang, tapi meski suara tawanya tak lama kemudian terhenti, mulutnya tetap membuka lebar-lebar, membuat perempuan berpunuk belalakkan sepasang matanya di balik cadar.

"Orang tua aneh. Tapi kalau dia mampu selamatkan diriku bersama Pendekar 131 dari tangan Dewi Siluman, pasti dia bukan orang sembarangan. Hem... Sebenarnya aku ingin berlama-lama di sini. Namun karena ada sesuatu yang harus segera kuselesaikan, terpaksa aku tinggalkan tempat ini..."

Berpikir sampai di situ, perempuan berpunuk bergerak bangkit. Memandang sejurus pada Pendekar 131 lalu pada Ibiis Ompong dan berkata. "Orang tua. Kalau kau berat sebutkan siapa dirimu, tak apa. Tapi siapa pun adanya dirimu, kau akan tetap kuingat! Sekarang aku harus tinggalkan tempat ini."

Perempuan berpunuk putar diri. Lalu melangkah hendak tinggalkan tempat Itu. Tapi gerak kakinya tertahan saat dari arah belakang terdengar suara.

"Gadis cantik! Tidak titip sesuatu padanya?!"

Perempuan berpunuk berdiri tegang dengan air muka di balik cadar berubah. Diam-diam dalam hati si perempuan berkata. "Jangan-jangan orang tua itu telah usil membuka penutup cadar ini. Hem... Tapi aku tak kenal dia, demikian pula sebaliknya!"

Tanpa berpaling pada iblis Ompong, perempuan berpunuk perdengarkan tawa pendek seraya berujar. "Orang tua. Aku suka kau menyebutku gadis cantik, mesti aku tahu ucapanmu hanyalah untuk membuat diri tua bangka ini gembira. Aku tak punya sesuatu yang pantas untuk kuberikan pada pemuda Itu. Hanya..." Perempuan berpunuk putus kan ucapannya.

"Hanya apa...?!" sahut Iblis Ompong.

Perempuan berpunuk gerakkan kepalanya menggeleng. Tapi iblis Ompong masih jelas menangkap gumaman tak jelas dari mulutnya. "Dalam mnya laut bisa diselami. Tingginya gunung dapat didaki. Tapi hati perempuan luas tiada bertepi. Kuucapkan selamat jalan padamu. Kalau takdir masih menentukan, pasti akan bertemu..." ucap iblis Ompong lalu balikkan tubuh ke arah Joko Sableng.

Peremmpuan berpunuk di seberang sana sejenak masih tegak. Jelas sikapnya tampak bimbang. Tapi tak lama kemudian sosoknya berkelebat tinggalkan tempat itu. "Meski belum jelas benar siapa dirinya. Berat dugaan dia adalah seorang gadis. Kulit dari robekan pakaiannya jelas menunjukkan itu. Melihat sikap khawatirnya, sepertinya dia menyukai pemuda ini.

“Hem..." Iblis Ompong bergumam sendiri. Lalu gerakkan kepalanya menggeleng dengan mulut dibuka lebar-lebar. Sesaat kemudian kedua tangan Iblis Ompong bergerak bebaskan Joko Sableng dari totokan.

Sejurus murid Pendeta Sinting masih belum membuat gerakan apa-apa. Sepasang matanya pun masih terpejam rapat. Tapi tak berselang lama kemudian terdengar dia mengerang pelan. Saat akhirnya sepasang mata Joko terbuka, murid Pendeta Sinting ini jadi tersentak dan pentangkan sepasang matanya dengan mulut komat-kamit. Memandang tak berkedip pada orang tua di sampingnya dengan dada dipenuhi berbagai tanya.

"Apa yang terjadi dengan diriku? Dan kenapa aku bisa di tangan orang tua ini? Bukankah dia menginginkan nyawaku...? Celaka!"

Mungkin merasa bahwa si orang tua benar dengan ucapannya beberapa waktu yang lalu yang mengatakan inginkan nyawanya, murid Pendeta Sinting bergerak bangkit untuk duduk. Memandang berkeliling dia makin melengak ketika mendapati dirinya berada pada satu tempat sunyi yang di sekitarnya dirangasi semak belukar lebat.

Iblis Ompong menatap dengan mata dijerengkan. Lalu memandang ke jurusan lain. Dalam hati kakek ini berkata, "Senjata yang ada padanya jelas menunjukkan bahwa anak manusia inilah yang kutunggu selama ini. Hem... Apakah Ratu Malam sudah menemukannya? Dan memberikan peta itu padanya?"

Iblis Ompong tidak tahu jika saat itu Pedang Tumpul 131 sudah dibawa oleh perempuan berjubah dan bercadar hitam yang membawanya lari dan bukan lain adalah Dewi Siluman. (Untuk lebih jelasnya baca serial Joko Sableng episode Rahasia Pulau Biru

"Orang tua... Siapakah kau? Dan kenapa membawaku ke sini?!" Joko segera ajukan tanya.

"Siapa aku, kau telah tahu. Jangan bicara berpura-pura. Sekarang aku tanya padamu. Apakah kau pernah bertemu dengan Ratu Malam?!"

"Ratu Malam?! Hem... Rasanya baru kali ni aku mendengarnya. Apakah ia seorang ratu beneran?!" Joko balik ajukan tanya.

"Jangan banyak tanya! Jawab saja tanyaku pernah atau belum!" sentak Iblis Ompong lalu buka mulutnya lebar-lebar.

"Kek! Aku tadi sudah bilang. Baru pertama kali ini mendengarnya. Jadi sudah barang tentu aku belum pernah bertemu dengannya! Sebenarnya siapakah dia, Kek? Lalu apa hubungannya diriku dengan ratu itu?! Apakah tujuanmu membawaku ke sini hanya untuk tanya soal ratu itu?!"

"Hem... Bagaimana sekarang? Aku sebenarnya sudah tak betah menyimpan penggalan peta ini. Lalu apakah penggalan peta ini akan kuberikan meski belum jelas apakah Ratu Malam sebagai pemegang penggalan peta sebelum yang ada padaku telah bertemu dan memberikan padanya?" Diam-diam Iblis Ompong didera berbagai pertanyaan. Hingga dia tak sempat untuk menjawab pertanyaan Joko.

"Kek! Kau tak jawab tanyaku. Kau terlihat tercenung bergumam sendiri. Aku bisa menebak sekarang. Pasti kau kehilangan orang yang kau sebut sebagai Ratu Malam itu. Hem... Apakah dia seorang gadis cantik, Kek?"

"Cantik atau tidak yang pasti kau harus bertemu dengannya! Karena kau telah ditentukan berjodoh dengannya! Dan yang perlu kau ketahui, dia adalah seorang nenek-nenek!"

Joko melengak dengan sepasang mata dibeliakkan. Dahinya mengernyit lalu berpaling pada jurusan lain seraya berujar. "Kek! Meski aku tahu kau berilmu tinggi, namun bukan berarti kau dengan enaknya bisa menjodohkan orang!"

Iblis Ompong tertawa bergelak. "Silakan kau berontak. Namun takdir itu tak bisa kau tolak! Bertahun-tahun ratu itu menunggu dan mencari. Suratan telah ditulis dan terpateri. Tak mungkin semuanya diingkari meski kau coba hendak berlari!"

"Iblis Ompong... Hem... Ratu Pemikat menyebut orang ini demikian. Belum bisa kutentukan apakah dia punya maksud jahat atau baik. Tapi melihat ia tak berbuat apa-apa padaku sewaktu aku pingsan, jelas dia tak menginginkan nyawaku. Namun apa maksudnya menjodohkan diriku dengan orang bernama Ratu Malam?"

Berpikir demikian, murid Pendeta Sinting ini lantas berkata. "Kek. Aku tak mungkin berada berlama-lama di sini. Aku harus segera lanjutkan perjalanan untuk menemui seseorang! Soal perjodohan, nanti bisa kita bicarakan lagi jika kita bertemu kembali!"

"Bagaimana bisa begitu? Aku bukannya mengungkit segala macam budi. Tapi adalah satu perbuatan tolol jika kau hendak berlari dari perjodohan ini. Lebih dari itu, kau akan menyesal berkali-kali!"

Murid Pendeta Sinting ganti perdengarkan suara tawa. "Mana bisa begitu Kek? Kau bilang sang ratu adalah seorang nenek-nenek. Di mana nikmatnya bersanding dengan seorang nenek meski dia seorang ratu?"

"Hem... Begitu? Baiklah. Hari ini kau kubebaskan. Tapi dengan syarat?!"

"Aneh. Kau sepertinya menanam banyak jasa padaku hingga untuk pergi saja kau memasang syarat padaku!"

"Anak muda! Sekali lagi kukatakan bukannya aku meminta kau membalas budi padaku..."

"Kek!" potong Joko sebelum Iblis Ompong teruskan ucapannya. "Dari tadi kau mengatakan segala macam budi. Katakan padaku, pertolongan dan budi apa saja yang telah kau tanam padaku?!"

Iblis Ompong tertawa bergelak. "Tidak baik ungkap pertolongan. Namun kalau kau ingin tahu, kelak bisa kau tanyakan pada seorang perempuan bercadar dan berpunuk!"

Ucapan Iblis Ompong membuat Pendekar 131 melegak. "Apa hubungan orang tua ini dengan perempuan berpunuk yang menolongku itu?" Sebelum Joko Sableng berpikir jauh untuk mengetahui ada hubungan apa antara Iblis Ompong dan perempuan berpunuk, Iblis Ompong telah berucap.

"Katakan padaku. Siapa yang hendak kau temui?!"

Joko Sableng terdiam sejenak. Memandang tajam pada Iblis Ompong beberapa saat sebelum akhirnya berkata. "Aku tak bisa mengatakan padamu!"

"Ah!" tiba-tiba Iblis Ompong mengeluh. "Memang tidak seharusnya aku memaksakan kehendak. Dan aku juga tak seharusnya tahu ke mana kau berkehendak. Sudahlah, sebaiknya aku mengikuti langkah kakiku sekarang. Mudah-mudahan kau tidak menyesal dengan sikap yang kau ambil..."

Murid Pendeta Sinting berpaling. Astaga! Joko jadi tersentak. Meski suara Iblis Ompong masih jelas terdengar di tempat itu, namun tatkala dia berpaling, sosok Iblis Ompong sudah tak ada di tempat itu! "Ucapan orang tua itu sulit untuk kumengerti. Sikapnyapun berubah-ubah. Pertama kali sepertinya sengaja hendak menahanku. Tapi akhirnya dia pergi mendahuluiku begitu saja... Hem... Malam memang sebentar lagi menjelang. Dengan keadaan gelap, perjalananku akan sedikit mudah. Meski tenagaku belum pulih benar, tapi dengan Pedang Tumpul 131, mungkin akan sedikit menolong..."

Tanpa sadar, tangan murid Pendeta Sinting meraba pinggangnya di mana tersimpan Pedang Tumpul 131. Namun mendadak nyawa Pendekar 131 laksana terbang ketika tangannya tak menemukan lagi senjata di bailk pakaiannya.

"Celaka! Ke mana pedang itu? Jangan-jangan orang tua itu..." Sepasang mata murid Pendeta Sinting terpentang besar. Dagunya mengembung dengan pelipis kiri kanan bergerak-gerak. Saat itulah mendadak satu bayangan berkelebat. Joko cepat berpaling.

"Dia...!" desis Joko seraya memandang kedepan.

BAB 3

TIGA LIMA langkah dari tempatnya berdiri, murid Pendeta Sinting melihat seorang nenek mengenakan jubah besar warna merah menyala. Paras wajahnya pucat. Kelopak sepasang matanya amat besar, namun sepasang mata di dalamnya yang bolak-balik membuka dan memejam tampak sangat sipit. Rambutnya putih dan hanya sebatas tengkuk. Pada mulutnya terlihat gumpalan tembakau berwarna hitam yang selalu bergerak-gerak keluar masuk! Beberapa saat lamanya si nenek yang bukan lain adalah Ratu Malam kembang kempiskan cuping hidungnya. Lalu bergumam dengan kepala digoyang-goyang.

"Aku masih jelas mencium bau badannya. Dia pasti tak jauh dari sekitar tempat ini..."

Ratu Malam seakan tak pedulikan pandangan Joko yang menatap tak berkesip ke arahnya. Dia malah arahkan sepasang matanya yang dipentangkan ke arah rangasan semak belukar.

"Nek!" seru Joko setelah sekian lama dilihatnya si nenek tetap nyalangkan sepasang matanya mencari-cari. "Ada sesuatu yang hilang?!"

Ratu Malam tidak memberi jawaban. Bahkan berpaling pun tidak, membuat murid Pendeta Sinting gelengkan kepala.

"Nek..." Belum sempat Joko teruskan ucapannya, Ratu Malam telah menyemprot dengan suara keras.

"Apa panggil-panggil, hah? Kau kira aku tak dengar?!" Joko jadi terkesiap. Dan belum sampai murid Pendeta Sinting ini utarakan kata-kata, kembali Ratu Malam telah membentak garang.

"Kenapa kau masih enak-enakan di sini? Apa yang kau tunggu?! Setan Jelek! Lekas pergi dari hadapanku!"

"Nek! Aku tak akan pergi dari sini. Lebih-lebih urusan penggalan peta itu terpaks a kutunda dahulu. Ada urusan lain yang lebih penting, dan jika tidak segera kuselesaikan, bisa-bisa aku celaka!"

Ratu Malam melotot angker. Mulutnya komat-kamit mainkan gumpalan tembakau hitam. "Ternyata kau anak manusia yang tak tahu diuntung. Diberi cuma-cuma barang yang diperebutkan banyak orang tapi enak saja kau sepelekan! Kalau tidak karena pesan, barangkali penggalan peta itu tak akan kuberikan padamu! Aku tanya padamu. Urusan apa hingga kau tunda urusan peta itu, hah?!"

"Senjataku lenyap, Nek...!"

"Apa? Ulangi lagi ucapanmu!" ujar Ratu Malam seraya miringkan kepalanya seakan ingin hadapkan telinganya ke arah Joko.

"Setan Jelek! Kau dengar ucapanku. Ulangi kata-katamu!" bentak Ratu Malam ketika ditunggu agak lama murid Pendeta Sinting tak segera turuti ucapan Ratu Malam.

"Kau tidak akan marah lagi bila aku ulangi kata-kataku, Nek? Karena aku tahu kau telah mendengarnya dengan jelas!"

"Setan! Jangan banyak tanya-tanya. Ayo katakan lagi!" "Senjataku lenyap!" terpaksa Joko ulangi kata-katanya.

Ratu Malam cepat arahkan pandangannya pada. Joko. Lalu sepasang matanya memperhatikan tubuh Joko dan atas sampai bawah. "Kau yakin? Kau telah periksa dengan teliti?!"

"Nek. Meski aku tak tahu siapa namamu, tapi kau telah berjasa padaku. Tidak ada untungnya mendustaimu! Senjataku benar-benar hilang lenyap!"

Tiba-tiba Ratu Malam tertawa mengekeh panjang, membuat Joko Sableng mau tak mau sedikit jengkel. "Dikasih tahu bukannya ikut mencari jalan keluar, malah tertawa terbahak-bahak!"

"Setan Jelek. Kau boleh bicara berkata tak mendustaiku. Tapi mata hatiku mengatakan lain. Aku melihat senjatamu masih ada. Hik hik hik...!"

Murid Pendeta Sinting belalakkan mata. Mulutnya komat-kamit tanpa adanya ucapan yang jelas terdengar. "Setan Jelek! Coba kau periksa sekali lagi!" kata Ratu Malam masih dengan tertawa mengekeh.

Entah karena ingin buktikan ucapan Ratu Malam atau ingin menunjukkan bahwa dia tak berdusta, Joko cepat gerakkan tangan kanannya ke arah balik pakaiannya. Namun gerakan tangan murid Pendeta Sinting ini tertahan tatkala bers am aan dengan itu Ratu Malam kembali berkata.

"Tunggu! Meski aku seorang nenek bau, tapi aku tak mau lihat seorang pemuda meraba-raba dihadapanku. Aku akan berbalik dahulu!" Habis berkata begitu Ratu Malam putar diri membelakangi seraya terus tertawa terbahak.

Meski belum mengerti arah ucapan Ratu Malam, begitu si nenek putar membelakangi, Joko Sableng segera selinapkan tangan kanan, mencari-cari pedang di balik pakaiannya. Bahkan kali ini dia sempat buka sebagian pakaiannya.

"Bagaimana? Kau masih temukan senjatamu, bukan?" kata Ratu Maiam setelah ditunggu agak lama tak juga terdengar ucapan dari Joko.

Karena merasa jengkel, murid Pendeta Sinting tak buka mulut untuk menjawab. Malah memandang ke arah punggung si nenek dengan bergumam sendiri. "Seandainya bukan dia, sudah kudamprat habis-habisan!"

Saat itulah mendadak Ratu Malam balikkan tubuh. Sepasang matanya terpejam rapat. Sementara mulutnya bergerak-gerak mainkan gumpalan tembakau hitam. "Setan Jelek. Kau masih ada dihadapanku?!"

Lagi-lagi Joko tak menjawab, membuat Ratu Malam sedikit buka kelopak matanya.

"Nah, apa kubilang. Senjatamu masih utuh bukan?!"

"Busyet! Ternyata yang dimaksud senjata olehnya, bukan pedangku. Tapi senjata yang lain! Walah. Kenapa aku tadi juga salah ucap...?"

Menyadari bahwa ucapan Ratu Malam lain dengan yang dimaksud Joko, murid Pendeta Sinting ini segera berkata. "Nek, yang lenyap adalah Pedang Tumpul 131! Bukan senjata nenek moyangku!"

Ratu Malam kancingkan mulut. Sepasang matanya membesar. Kepalanya digeleng-gelengkan seakan tak percaya dengan ucapan si pemuda.

"Nek. Aku harus segera pergi. Orang itu pasti belum jauh dari sini. Aku curiga orang itulah yang mengambilnya!"

"Hei. Siapa yang dimaksud?!"

"Aku belum kenal betul. Tapi seseorang sempat memanggilnya Iblis Ompong!"

"Hem... Dugaanku benar. Tua peot itu berada disekitar tempat ini. Tapi tak mungkin dia berani menggerayangi milik orang lain! Bahkan seharusnya dia serahkan miliknya pada pemuda ini. Hem..."

"Setan Jelek!" tegur Ratu Malam. "Jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti!"

"Nek. Dialah yang membawaku sampai ke tempat ini. Dia juga mengatakan hendak menjodohkan aku dengan seorang nenek-nenek bergelar Ratu Malam! Mungkin saat membawaku, dia mengambil pedang dari balik pakaianku! Karena kulihat tak ada orang lain selain dia!"

"Tua bangka sialan! Sejak kapan dia jadi mak comblang tukang cari jodoh? Apa dikira aku tak bisa cari sendiri?"

Mendengar desisan suara si nenek, murid Pendeta Sinting jadi curiga jika si nenek kenal dengan Iblis Ompong. Pendekar 131 segera buka mulut. "Ucapanmu menunjukkan kau kenal dengan kakek itu. Katakan siapa dia sebenarnya! Dia orang jahat atau orang baik?!"

"Sebelum kujawab tanyamu. Aku tanya padamu. Apakah kakek itu memberikan sesuatu padamu?!"

Murid Pendeta Sinting menyeringai. Seraya tertawa pendek dia berucap. "Dia bukannya memberikan sesuatu. Sebaliknya aku curiga dialah yang mengambil barang milikku!"

"Tua bangka bodoh. Apalagi yang dia tunggu? Atau barangkali dia belum tahu siapa adanya pemuda ini? Urusan peta harus segera diselesaikan. Kulihat banyak tangan-tangan usil yang mulai gentayangan. Terbukti penggalan peta pertama yang ada di tangan Jalu Paksi telah jatuh pada orang yang tidak berhak. Aku yakin tua bangka itu masih ada di tempat ini..." gumam Ratu Malam lantas arahkan sepasang matanya ke semak belukar di samping kirinya. Tiba-tiba nenek berjubah merah menyala ini berteriak lantang.

"Lantika! Aku tak perlu banyak bicara lagi. Keluarlah dari tempatmu!"

"Heran. Siapa yang dimaksud dengan nenek ini? Adakah orang lain di sekitar tempat ini?"

Ucapan lantang Ratu Malam tak mendapat jawaban dengan munculnya seseorang, membuat si nenek pelototkan sepasang matanya yang sipit. Lalu dengan mainkan gumpalan tembakau di mulutnya, dia berteriak lagi.

"Lantika! Lekas keluar atau..."

Semak belukar di samping kiri Ratu Malam bergoyang-goyang. Lalu disusul dengan suara orang. "Aku datang penuhi undangan. Tapi jangan sangkut-pautkan aku dengan senjata yang raib dan tangan. Urusan memang harus cepat dikupas agar segalanya menjadi jelas..."

Suara orang belum selesai, enam langkah di samping Ratu Malam telah tegak seorang kakek berambut putih panjang yang mulutnya dibuka lebar-lebar.

Pendekar 131 membelalakkan mata. Laksana terbang, murid Pendeta Sinting ini berkelebat ke samping, ke arah di mana si kakek yang bukan lain Iblis Ompong adanya berada. Namun gerakan Joko Sableng tertahan, tubuhnya tampak sedikit doyong ke depan dalam posisi seperti orang hendak berkelebat. Murid Pendeta Sinting ini rasakan desiran angin pelan. Anehnya, pada saat yang sama satu kekuatan luar biasa menahan gerakannya, hingga bukan saja dia gagal berkelebat namoun tubuhnya terdorong ke belakang dan kini tegak kembali seperti semula.

"Tahan hawa marahmu, Bocah jelek! Kita bicara baik-baik!"

Pendekar 131 kertakkan rahang sambil berpaling ke arah Ratu Malam yang baru saja bicara. Terlihat Ratu Malam kembungkan mulut seperti orang sedang meniup.

"Edan! Bagaimana mungkin tiupannya mampu menghadang gerakanku? Atau karena tenagaku yang belum pulih betul?!" kata Joko dalam hati, lalu lipat gandakan tenaga dalamnya.

Sekonyong-konyong murid Pendeta Sinting melesat ke arah Iblis Ompong. Tapi setengah jalan melesat, Ratu Malam gerakkan kedua tangannya mendorong ke depan. Satu gelombang angin menyambar pelan. Di lain kejap sosok Pendekar 131 tampak terdorong keras kebelakang dan terhuyung-huyung hendak roboh. Untung Joko cepat dapat kuasai diri, jika tidak niscaya tubuhnya akan terjengkang!

"Gila! Aku tak percaya!" desis Joko. Karena masih penasaran, murid Pendeta Sinting ini kerahkan segenap tenaga dalamnya. Lalu tanpa berkata-kata lagi dia berkelebat ke depan.

Ratu Malam terdengar mengomel panjang pendek. Bersamaan dengan itu kedua tangannya menyilang di depan dada lalu didorong sambil meniup.

"Wuussss! Wuusss!" Kali ini gerakan Pendekar 131 tampaknya tak bisa dibendung. Meski Ratu Malam telah mendorong dan meniup tapi sosok murid Pendeta Sinting ini terus berkelebat.

"Sialan! Anak ini betul-betul geblek" ujar Ratu Malam dan hendak maju menghadang. Tapi di sampingnya Iblis Ompong berbisik pelan.

"Sekar Mayang! Biarkan dia!"

"Tapi jangan bertindak yang bukan-bukan padanya! Lihat. Hari sebentar lagi akan malam. Dan aku harus tinggalkan tempat ini dengan segera! Jika terjadi sesuatu, aku..."

"Sudah! Aku tahu apa maksudmu!" potong Ibils Ompong. Lalu kakek ini balikkan tubuh dengan kedua tangan menyentak ke belakang saat mana kelebatan tubuh Pendekar 131 sudah setengah tombak dari tempatnya berdiri.

Mendadak sosok murid Pendeta Sinting tertahan di udara. Mungkin merasa jengkel, Joko dorong kedua tangannya ke arah Iblis Ompong. Iblis Ompong tidak tinggal diam, seraya menekuk tubuhnya ke depan sampai melipat dan kini dalam posisi menungging, kakek ini melompat ke belakang.

"Bukk! Bukkk!" Kedua tangan Joko yang mendorong ke depan menghantam pantat kiri kanan si kakek. Bersamaan dengan itu dari mulut Joko terdengar seruan tertahan. Lalu kedua tangannya tampak mental kebelakang. Disusul kemudian dengan terdorongnya tubuh mencelat sampai dua tombak. Terhuyung-huyung, murid Pendeta Sinting mendarat kembali di mana tadi dia berdiri!

Di depan sana, Iblis Ompong tampak tersapu ke depan dengan tubuh masih melipat menungging. Namun kejap lain, si kakek buat gerakan melesat ke udara lalu melayang turun dan tegak dua langkah di samping Ratu Maiam dengan mulut terbuka lebar!

"Sekar Mayang! Lama tak jumpa bertatap muka. Sepertinya kau tambah cantik hingga hampir aku salah sangka. Bagaimana keadaanmu?" bisik Iblis Ompong dengan memanggli nama asli Ratu Malam.

Sekar Mayang alias Ratu Malam monyongkan mulutnya ke depan. Tanpa menoleh dia berkata. "Tak usah berbasa-basi memuji. Aku tahu apa maksud tujuanmu keluarkan kata-kata pujian. Bukankah kau ingin mendekatiku lagi? Dasar laki-laki. Tidak bosan-bosannya perdengarkan kata-kata puja-puji, meski orang yang dipuji-puji sebenarnya mual! Hik hik hik...!"

Mendengar ucapan Ratu Malam, Iblis Ompong yang bernama asli Lantika ganti tertawa. "Sekar Mayang! Dulu memang kuakui aku ingin mendekatimu. Tapi sekarang?" Iblis Ompong tergelak-gelak lagi sebelum melanjutkan. "Apa yang sedang dipandang dari tubuhmu?"

"Tutup mulutmu, Lantika!" hardik Ratu Malam, namun meski nada suaranya keras menghardik, mulut nenek ini tampak sunggingkan senyum. "Hari sudah hampir berganti. Urusan ini harus segera selesai!"

"Hem... Betul. Tapi apakah tugasmu telah kau sampaikan?!" tanya Iblis Ompong.

"Tanya saja padanya!" jawab Ratu Malam seraya arahkan pandangannya pada Joko yang sedari tadi diam memperhatikan.

"Berarti dia mendustaiku. Dia bilang belum pernah bertemu denganmu! Kurang ajar betul!"

"Sudah. Tak usah banyak cingcong. Bukankah selama ini kita menunggu kedatangannya? Adalah satu keberuntungan jika orang yang bertahun-tahun kita tunggu akhirnya muncul tak terduga!"

"Orang-orang ini bicara urusan apa? Mereka sepertinya sudah kenal akrab. Jangan-jangan keduanya bersekongkol lalu..." Pendekar 131 maju satu tindak.

"Orang tua ompong! Harap serahkan kembali pedangku!"

"Tadi sudah kubilang. Jangan sangkut-pautkan aku dengan senjata yang lenyap hilang!"

"Lantika!" kata Ratu Malam. "Adalah aneh jika tiba-tiba senjata itu raib begitu saja. Padahal bukankah kau yang membawanya ke sini?!"

"Mem bawanya ke sini benar. Tapi mengambil senjatanya tidak benar!"

"Bagaimana bisa terjadi begitu?!" gumam Ratu Malam seraya geleng-gelengkan kepalanya.

"Barangkali dia..." desis Iblis Ompong dengan sepasang mata memandang jauh.

"Dia siapa?!" tanya Joko dengan suara agak keras. "Dengar. Aku mengambil tubuhmu yang sudah dalam keadaan tertotok dari seorang perempuan bercadar dan berjubah hitam? Coba kau ingat-ingat! Bukankah sewaktu terlibat bentrok dengan Ratu Pemikat tiba-tiba muncul berkelebat seorang yang menyambar tubuhmu?!"

Murid Pendeta Sinting dongakkan kepala dengan dahi mengeryit. Dia coba mengingat-ingat. "Benar. Waktu aku melayang, aku merasakan seseorang menyambar tubuhku. Sayang, aku tak bisa mengenalinya! Hem... Urusan pedang ini akan makin ruwet..." batin Joko dalam hati.

"Setan jelek! Benar apa yang diucapkan tua bangka bau ini?!" tanya Ratu Malam setelah beberapa saat saling diam.

"Aku memang merasakan seseorang menyambar tubuhku. Tapi aku tak mengenali siapa adanya orang itu!"

"Hem... Jika begitu sekarang jelas persoalannya. Dan itu bagian dari tugasmu untuk mencari dan mendapatkannya kembali. Sekarang ada persoalan lain yang harus kita selesaikan!" Ratu Malam berpaling pada Iblis Om pong. "Kau tunggu apalagi?! Apa barang itu akan kau simpan terus menerus?!"

"Persoalan apalagi ini?" desis murid Pendeta Sinting seraya menatap bergantian pada Ratu Malam dan Iblis Ompong.

"Setan jelek! Kau masih ingat dengan keteranganku tempo hari?" tanya Ratu Malam.

"Keterangan? Keterangan apa?"

"Edan! Bukankah aku telah cerita padamu urusan penggalan peta itu? Hah?"

"Ah. Keterangan itu. Jelas aku masih ingat!"

"Bagus! Nyatanya kau anak manusia yang benar-benar beruntung..."

"Nek. Dengan lenyapnya pedangku, kau masih mengatakan aku beruntung?"

"Diam! Jangan berkata memotong ucapanku!" sentak Ratu Malam. "Urusan hilangnya pedangmu bisa dicari, apalagi orangnya meski belum jelas siapa adanya namun sedikit banyak sudah ada gambaran. Tapi urusan yang satu ini, kalau tidak beruntung, sampai menungging seumur-umur pun tak akan dapat!"

Habis berkata begitu, tangan kanan Ratu Malam mengangsur ke arah Iblis Ompong membuat gerakan seperti meminta. Pada s maat yang sama, Iblis Ompong masukkan tangannya ke balik pakaian. Kejap kemudian, di tangan si kakek terlihat satu gulungan kulit berwarna coklat. Gulungan itu segera diberikan pada Ratu Malam.

"Tak usah kukatakan, kau tentu bisa menerka sendiri!" ujar Ratu Malam seraya sentakkan tangannya yang memegang gulungan kulit.

Di depan sana, Pendekar 131 cepat maju dan menyahut guiungan kulit yang melayang di udara. "Ikuti terus petunjuk yang tertera!" kata Ratu Malam. Lalu berpaling pada Iblis Ompong. "Sudah saatnya kita tinggalkan tempat ini!"

Iblis Ompong tidak menyahut. Sebaliknya memandang tajam ke arah Ratu Malam dengan mulut membuka lebar-lebar. Diseberang, murid Pendeta Sinting sejenak pandangi gulungan kulit yang kini ada di tangannya. Dadanya sedikit berdebar. Lalu memandang ke depan. Mendadak sepasang mata murid Pendeta Sinting ini terpentang besar tak berkesip. Bahkan untuk meyakinkan, kedua tangannya diusap-usapkan ke bola matanya, lalu dengan dijerengkan makin besar dia menatap lagi ke depan.

"Gila! Aku yang salah lihat atau dia yang menipu mataku?!"

Sementara di depan sana, Ratu Malam terdengar bergumam tak karuan. Namun sejenak kemudian dia rapikan rambutnya. Tenyata rambut nenek ini telah berubah warna jadi hitam dan bergerai panjang sampai punggung. Bukan hanya itu saja. Raut wajahnya yang tadi dibalut dengan kulit tipis dan pucat, kini berubah menjadi putih dan padat. Sepasang matanya bulat tajam dengan tangan lentik!

"Ompong!" seru Ratu Malam yang kini telah berubah wujud menjadi seorang gadis muda cantik jelita. "Aku tak bisa menunggumu lama-lama. Aku pergi sekarang!" Habis berkata begitu, Ratu Malam putar tubuh dan berkelebat tinggalkan tempat itu.

"Ratu Malam! Tunggu..." teriak Iblis Ompong. Lalu berpaling pada Pendekar 131 dan berkata. "Kali ini keberuntungan tidak padamu. Karena ternyata tua bangka ini yang dijamu. Ha ha ha...! Seandainya kau tidak menolak perjodohan itu. Tapi terlambat!"

Sambil terus tertawa, Iblis Ompong berkelebat menyusul Ratu Malam. "Busyet! Jadi nenek itu adalah Ratu Malam..." gumam Joko seraya pandangi kepergian Iblis Ompong. "Dan Iblis Ompong pasti salah satu saudara seperguruan Ratu Malam yang pernah diceritakan padaku. Ratu Malam. Hem... Siapa kira jika nenek-nenek itu adalah seorang gadis muda cantik..."

Memang, Ratu Malam adalah seorang tokoh yang tidak asing lagi bagi dunia persilatan. Selain berilmu tinggi, tokoh ini punya keanehan. Yakni jika malam telah menjelang, maka wujudnya akan berubah menjadi seorang gadis muda berparas cantik jelita. Karena itulah kalangan rimba persilatan menggelarinya Ratu Malam.

********************

BAB 4

SEPERTI dituturkan dalam episode Rahasia SPulau Biru, setelah terjadinya bentrok antara Iblis Ompong dan Dewi Siluman, tiba-tiba di tempat mana Dewi Siluman berada muncul dua orang gadis berparas cantik mengenakan jubah warna kuning dan biru yang bukan lain adalah murid Dewi Siluman sendiri yakni Wulandari dan Ayu Laksmi.

Karena yang muncul cuma dua muridnya, saat itu juga Dewi Siluman memerintahkah pada kedua muridnya untuk mencari salah seorang lagi yang tidak muncul di tempat itu, yakni Sitoresmi. Dan untuk mencari Sitoresmi, Dewi Siluman memberi batas sampai malam hari.

Wulandari dan Ayu Laksmi sudah berputar di tempat mana tadi mereka bertiga berpisah. Bahkan keduanya telah saling berpencar untuk mencari jajak Sitoresmi. Namun hingga keduanya bertemu kembali, mereka berdua gagal menemukan Sitoresmi. Dua gadis berparas cantik murid Dewi Siluman ini sama tegak di tempat masing-masing dengan keringat membasahi sekujur tubuh. Si jubah kuning Wulandari tiba-tiba mendongak melihat langit.

"Malam hampir tiba..." gumamnya dengan suara agak bergetar. "Tapi Sitoresmi belum berhasil kita temukan. Bagaimana sekarang? Apa kita temui Guru tanpa Sitoresmi?!"

Si jubah biru Ayu Laksmi berpaling. "Kita hanya cari celaka jika menemui Guru tanpa Sitoresmi! Sebaiknya kita tunggu sampai besok pagi. Bukankah kita bertiga telah membuat perjanjian untuk bertemu besok pagi?!"

"Tapi Guru memberi batas waktu sampai malam ini!" ujar Wulandari seraya menghela napas panjang dan dalam. "Sialan! Kemana perginya anak itu? Gara-gara dia kita jadi tambah tugas!"

"Peduli setan dengan batas waktu. Kalau kita memaksakan diri menemui Guru tanpa Sitoresmi malam ini, kau tahu apa yang akan menimpa kita! Lebih baik kita tunda sampai besok. Kita nanti bisa memberi alasan, asalkan Sitoresmi sudah kita temukan!" kata Ayu Laksmi lalu memandang berkeliling. Saat itu perlahan-lahan cuaca sudah mulai gelap.

"Kita cari tempat untuk istirahat!" sambung Ayu Laksmi seraya hendak pergi.

"Tunggu!" tahan Wulandari. Kepala gadis berjubah kuning ini berpaling ke arah timur. "Ada orang menuju kemari!"

Ayu Laksmi ikuti arah pandangan Wulandari. Dan dari arah timur samar-samar terlihat sesosok tubuh berlari kencang menuju ke arah keduanya. Belum sampai kedua gadis ini ada yang buka mulut kembali, tahu-tahu sepuluh langkah di hadapan mereka berdua tegak seorang kakek bertubuh besar. Rammbutnya putih panjang disanggul tinggi ke atas. Wajahnya pucat laksana tak berdarah. Sepasang matanya besar dan hanya tam pak putihnya saja, pertanda jika kakek ini buta. Dia mengenakan pakaian gombrong besar warna hijau hingga sekujur tubuhnya hampir tertutup. Pada pinggangnya tampak sebuah ikat pinggang besar dari kulit yang pangkalnya berupa cermin bundar. Anehnya, begitu si kakek berada di tempat itu, suasana tempat itu jadi terang benderang.

"Aneh..," bisik Wulandari setelah menahan rasa kejut. "Baru saja tubuhnya jauh di sebelah timur. Tapi kini tahu-tahu sudah berada di sini..." Wulandari perhatikan sekali lagi lebih seksama pada si kakek. "Cermin pada pangkal ikat pinggangnya mampu mem mbuat tempat ini terang benderang, dan walau sepasang matanya buta, tapi tampaknya dia tahu di hadapannya ada orang. Hem... Siapa orang tua ini?!" ujar Wulandari dalam hati, lalu utarakan yang ada dalam hatinya pada Ayu Laksmi.

"Aku juga sulit mengenali siapa dia adanya! Tapi kalau dia berbuat macam-macam aku tak segan-segan membuat matanya buta dua kali!" bisik Ayu Laksmi. Gadis ini tampaknya sudah jengkel dengan tidak ditemukannya Sitoresmi, hingga tatkala ada orang yang tahu-tahu tegak di hadapannya, semua kejengkelannya laksana hendak ditumpahkan.

"Hem... Ternyata ada dua orang dihadapanku ini. Sahabat-sahabat cantik. Sudi tunjukkan padaku mana arah yang menuju mata air?" Si kakek tiba-tiba keluarkan ucapan.

Wulandari dan Ayu Laksmi saling berpandangan. Mereka sedikit terkesiap. Karena jarak antara mereka dan si kakek cukup jauh dan ucapan keduanya juga amat pelan, tapi si kakek tampaknya mengetahui, malah bisa berkata jika kedua orang di hadapannya adalah dua gadis berparas cantik.

"Orang tua!" teriak Wulandari. "Aku tak tahu mana arah mata air. Dan ingat. Kami bukan sahabatmu!"

"Ah...!" si kakek terdengar keluarkan keluhan. "Maaf. Jika begitu aku harus cari sendiri mata air itu. Padahal, di sana ada seorang gadis cantik mengenakan jubah warna merah..."

Habis berkata begitu, si kakek usap cermin pada pangkal ikat pinggangnya yang tepat berada di depan pus arnya. Bersamaan dengan itu, suasana kembali gelap seperti sedia kala.

Wulandari dan Ayu Laksmi kali ini tak dapat menyembunyikan lagi rasa kecut masing-masing. Setelah diam sejurus, tiba-tiba Wulandari yang merasa bahwa yang disebut-sebut si kakek adalah Sitoresmi, segera melompat ke depan.

"Orang tua! Siapa kau sebenarnya? Kulihat sepasang matamu buta, tapi kau tahu siapa kami, lebih-lebih sepertinya kau juga tahu bahwa kami sedang mencari gadis berjubah merah!"

Si kakek tertawa panjang. Dua gadis di depannya tampak tersentak, karena masing-masing gadis ini merasakan tanah di mana kini mereka berpijak bergetar! Padahal suara tawa itu hanya pelan saja!

"Eh, jadi kalian mencari gadis berjubah merah...?" tanya si kakek setelah tawanya berhenti.

"Betul! Dan katakan di mana dia berada!" Kali ini yang buka mulut adalah Ayu Laksmi.

"Sayang kita bukan sahabat. Lagi pula aku tak tahu di mana temanmu itu berada. Jadi harap maafkan orang tua ini tak bisa jawab pertanyaanmu!"

"Aku yakin, orang ini bukan orang sembarangan. Bohong jika dia tak tahu di mana beradanya Sitoresmi. Bukankah apa yang baru diucapkan tadi benar adanya?" kata Wulandari dalam hati. Gadis berjubah kuning ini lantas angkat bicara.

"Orang tua! Kalau kau tak mau jawab pertanyaan kami, jangan harap kau bisa teruskan langkah!"

"Eh, bagaimana bisa begini?!"

"Itu urusanmu! Sekarang jawab atau langkahmu sampai di sini!"

"Jadi kau memaksaku...?!"

"Terserah kau sebut apa. Yang jelas kau harus menjawab!" sahut Wulandari dengan suara lantang.

"Baiklah..." ucap si kakek pada akhirnya sambil menghela napas. Kepalanya didongakkan menghadap langit. Sementara tangan kanannya mengusap-usap cermin bulat yang ada di depan perutnya. "Aku tak bisa menunjukkan di mana beradanya temanmu itu. Hanya..."

"Orang tua! Aku ingin jawaban pasti!" potong Wulandari. "Dan jangan coba-coba menjual bualan"

"Anak manusia cantik!" kata si kakek seraya hadapkan wajahnya ke arah Wulandari. "Jawaban pasti hanya milik Tuhan. Aku hanya bisa menduga. Tapi sebaiknya kau dengar. Selama ini apa yang kuduga biasanya jarang sekali meleset. Dan satu lagi, jangan kau memotong kata-kataku sebelum aku selesai bicara!"

"Jahaman! Aku yang buat peraturan. Bukan kau!" teriak Wulandari.

Si kakek tertawa perlahan. "Di sini tak ada yang berhak bikin aturan. Atau barangkali kau tak mau dengar ucapanku?!"

Wulandari jadi terdiam mendengar ucapan si kakek. Sebenarnya gadis ini sudah geram, tapi karena memang ingin tahu keberadaan Sitoresmi, terpaksa dia harus menindih rasa geramnya. Sambil berpaling akhirnya dia berkata. "Baik. Lekas katakan apa yang kau ketahui tentang temanku itu!"

"Seperti kukatakan tadi, aku tak bisa menunjukkan di mana beradanya temanmu itu. Hanya saja sebentar lagi dia akan sampai di tempat itu. Dan satu hal lagi. Meski malam ini kalian punya janji dengan seseorang, sebaiknya kalian urungkan. Karena orang itu tidak akan datang di tempat perjanjian! Besok pagi adalah waktu yang baik untuk menemuinya..."

Baik Wulandari maupun Ayu Laksmi tampak besarkan mata masing-masing. Seperti diketahui, kedua gadis ini memang punya janji malam ini dengan gurunya Dewi Siluman.

"Hem... Orang tua ini benar-benar tepat dugaannya..." gumam Wuiandari. "Tak ada salahnya jika aku tanya tentang urusan yang kini kuemban. Siapa tahu dia bisa mem bantu..."

Berpikir begitu, gadis berjubah kuning ini segera buka mulut. "Orang tua. Dugaanmu yang satu memang tepat. Satunya lagi perlu dibuktikan. Bagaimana kalau aku ajukan beberapa pertanyaan lagi?"

"Sebenarnya aku keberatan. Tapi untuk kali ini, baiklah! Apa yang hendak kau tanyakan?!"

"Saat ini rimba persilatan sedang ramai membicarakan sebuah kitab sakti bernama Serat Biru. Apakah kitab itu betul-betul ada? Lalu di mana kira-kira beradanya? Kalau ada, kelak siapakah yang berhasil mendapatkannya?!"

"Wah. Pertanyaanmu banyak betul. Namun karena aku sudah berjanji akan menjawab, terpaksa semua itu akan kucoba mengatakannya padamu..."

Sejenak si kakek hentikan kata-katanya. Saat bersamaan, Ayu Laksmi yang berada agak jauh segera berkelebat menghampiri Wulandari. Ayu Laksmi sepertinya hendak mengucapkan sesuatu. Namun Wulandari cepat jarinya di tengah bibir.

Si kakek usap-usap cermin bundarnya sejurus. Lalu hadapkan wajahnya ke depan seolah melihat dua gadis cantik yang kini tegak dengan sepasang mata tak berkedip memperhatikan. Kejap kemudian si kakek arahkan wajahnya menghadap ke atas, lalu buka mulut.

"Aku menduga Kitab Serat Biru yang saat ini ramai dibicarakan kalangan orang-orang persilatan memang benar-benar ada! Namun di mana beradanya, terus terang aku hanya tahu nama tempatnya tanpa tahu di mana tempat itu!"

"Apa nama tempat itu?!" sahut Wuiandari.

"Pulau Biru...!"

"Hem... Jadi apa yang diucapkan Guru betul!" desis Wulandari. Lalu gadis berjubah kuning ini lanjutkan pertanyaan.

"Siapakah kelak yang berhasil mendapatkannya?!"

"Seperti biasanya, meski kitab itu sejak dulu hingga kini diperebutkan banyak orang, namun pada akhirnya hanya satu orang di kolong langit ini yang mendapatkan dan mewarisinya. Apa kalian berdua punya niat untuk memilikinya?"

"Menurut kabar yang tersiar. Kitab Serat Biru adalah kitab sakti, raja di raja kitab. Adalah bohong jika orang yang menamakan diri sebagai kalangan orang persilatan tidak punya niat untuk memilikinya!"

"Mau dengar saranku, gadis-gadis cantik!" tanya si kakek sambil hadapkan lagi wajahnya ke arah dua gadis dihadapannya.

"Katakan. Namun aku tak bisa jamin akan turuti saranmu!" kata Wulandari.

Si kakek tertawa pendek. Lalu usap-usap dagunya dan berkata. "Terserah kalian mau turuti apa tidak. Aku hanya memberi saran. Siapa tahu kelak ucapanku bisa jadi pertimbangan. Kalian masih muda..."

"Orang tua! Sepertinya kau merasa tahu tentang kami lebih dari kami sendiri! Jangan bicara ke mana-mana. Katakan saja apa yang perlu!"

"Urungkan niat kalian memburu kitab itu! Aku melihat dua penghalang di depan kalian..." Akhirnya si kakek berkata setelah agak lama terdiam.

Wulandari melirik pada Ayu Laksmi. Saat itu Ayu Laksmi sendiri sedang melirik pada Wulandari. "Orang ini membual atau sengaja menghalang-halangi langkah kita?" bisik Wulandari.

"Aku tak bisa menebak dengan pasti. Tapi apa perlunya menuruti omongan orang. Dia baru saja kita kenal, dan kita belum tahu pasti siapa dia sebenarnya! Jangan-jangan orang ini sengaja menghalangi niat kita agar orang lain leluasa mendapatkan kitab itu!" ujar Ayu Laksmi.

"Hem... Tapi tak ada jeleknya kita tanya apa halangan itu. Dengan demikian setidaknya kita nanti bisa menghindari atau sekaligus menyingkirkannya!" kata Wulandari. Lalu tanpa menunggu persetujuan dari Ayu Laksmi gadis berjubah kuning ini berucap.

"Orang tua! Kalau mulutmu tidak membual, coba katakan apa halangan itu!"

Si kakek manggut-manggut sebelum akhirnya berkata. "Pertama. Menurut mata batinku, kelak si pewaris itu adalah seorang laki-laki. Kedua, justru laki-laki itu yang membuat kalian terpecah..."

Wajah kedua gadis dihadapan si kakek berubah agak tegang. Tanpa sadar keduanya saling bentrok pandang saat sama berpaling. Mulut sama terkancing dengan sikap jelas membayangkan hati yang gelisah. Tapi Wulandari segera memecah ketegangan dengan buka mulut.

"Orang tua! Kau jangan bicara yang bukan-bukan! Mana mungkin kami bisa terpecah hanya gara-gara seorang laki-laki? Persaudaraan bagi kami adalah nomor satu. Itu sudah jadi ikrar kami bertiga!"

Si kakek perdengarkan tawa panjang. "Cinta datang tanpa diundang. Sekali datang, tak ada yang bisa menghadang. Jangankan badai gelombang, hingga nyawa melayang dia akan tetap menerjang. Cinta datang membawa lupa dan buta. Jangankan ikrar kata, derajat dan harta dipandangnya sebelah mata..."

Mendengar ucapan si kakek, Wulandari ganti tertawa. "Orang tua. Kau bukan saja pandai bicara membual, tapi juga pintar urusan cinta!"

"Kita ini hidup. Dalam hidup, siapa pun dia adanya pasti memiliki rasa cinta. Kalau saat ini kalian belum merasakan, mungkin belum tiba saatnya. Dan satu hal lagi, cinta seringkali butuh pengorbanan. Nah, di sinilah kelak kalian harus tentukan pilihan. Rela berkorban untuk cinta atau..."

"Orang tua! Omonganmu sudah ngelantur! Kami tak butuh korban untuk cinta. Silakan orang lupa dan buta karena cinta, tapi bagi kami..."

"Anak gadis!" Kali ini ganti si kakek yang memotong ucapan Wulandari. "Tadi kukatakan, cinta datang tanpa diundang, berarti kita belum tahu kapan datangnya. Dan karena kalian belum merasakan maka kalian dapat bicara apa saja. Tapi aku yakin, kalian akan lupa pada ucapan kalian sendiri jika la telah melanda hati kalian. Silakan percaya apa tidak. Kelak kalian sendiri akan membuktikannya..." Habis berkata begitu, si kakek hadapkan wajahnya ke atas. "Ah. Rupanya kita telah banyak bicara. Aku harus pergi... Aku tak mau ganggu urusan pertemuan kalian dengan gadis yang kalian cari..." Si kakek lalu melangkah dengan kepala tetap menengadah menghadap langit.

"Tunggu!" tahan Ayu Laksmi, membuat si kakek hentikan langkah. "Katakan siapa kau sebenarnya? Dan hendak ke mana kau pergi?!"

Tetap dengan mendongak si kakek buka mulut memberi jawaban. "Kadang-kadang orang memanggil tua bangka ini Gendeng Panuntun. Namun jangan salah sangka, meski aku gendeng tapi banyak orang yang perlu tuntunan dariku. Ha ha ha...! Dan karena aku biasa berjalan tanpa tujuan, maka aku tak bisa katakan ke mana aku hendak pergi. Tapi jangan salah tangkap, meskipun aku jalan tanpa tujuan, namun pasti punya maksud! Ha ha ha...!"

Masih tetap tertawa dan menengadah, si kakek lanjutkan langkah. Bersamaan dengan itu dari perutnya di mana cermin bulat berada, tampak cahaya cemerlang menyorot. Seakan bisa melihat, si kakek melangkah menuruti cahaya yang keluar dari cerminnya. Meski terlihat melangkah pelan, tapi dalam waktu sekejap sosok si kakek sudah berada jauh dari tempat di mana Wulandari dan Ayu Laksmi berada. Bahkan kejap kemudian, kedua gadis murid Dewi Silum an ini hanya mendengar suara tawa dan kilatan cahaya tanpa terlihatnya sosok si kakek!

"Untuk apa pikirkan omongan orang gendengl" gumam Ayu Laksmi saat dilihatnya Wulandari tegak dengan sikap gelisah dan memandang jauh dengan sorot mata kosong.

"Tapi ucapan-ucapannya sepertinya benar!" sahut si jubah kuning Wulandari tanpa menoleh.

Ayu Laksmi tertawa bergelak msndengar ucapan Wulandari. "Rupanya kau tergoda dengan kata-kata Tua bangka itu. Padahal dugaannya belum kita buktikan kebenarannya!"

"Dugaannya tentang pertemuan dan janji kita malam ini dengan Guru tepat!"

"Itu mungkin satu kebetulan belaka! Perlu waktu untuk pembuktian selanjutnya. Kalau benar..."

Ayu Laksmi putus kan ucapannya. Lalu sentakkan kepalanya ke samping. Demikian pula halnya dengan Wulandari.

"Gemerisik itu pasti bukan ulah binatang. Ada orang di sekitar tempat Ini..." bis ik Wulandari saat telinganya mendengar gemerisik semak-belukar tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Ayu Laksmi anggukkan kepala dan cepat kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Belum sampai ada yang membuat gerakan, semak belukar di samping kedua gadis ini bergerak menguak. Lalu muncullah sesosok tubuh!

Wulandari dan Ayu Laksmi sama-sama pentangkan mata masing-masing memandang tak berkesip pada sosok yang kini melangkah ke arah mereka. Ternyata sosok ini adalah seorang gadis berwajah cantik mengenakan jubah merah!

"Sitoresmi...!" gumam Wulandari.

BAB 5

SEAKAN tak percaya, laksana terbang Wulandari dan Ayu Laksmi segera melompat. Berdiri tegak tiga langkah dihadapan sosok gadis berjubah merah yang bukan lain Sitoresmi adanya dengan mata perhatikan dari atas sampai bawah.

Merasa jengah dipandangi begitu rupa, Sitoresmi balas memandang dengan tatapan melotot dan segera buka mulut menegur. "Kenapa kalian memandang demikian padaku? Apa yang salah?!"

Wulandari dan Ayu Laksmi tak segera memberi jawaban. Sebaliknya kedua gadis ini saling pandang.

"Ucapan orang tua itu ternyata terbukti..." desis Wulandari. Diam-diam perasaan gadis berjubah kuning ini menjadi tak enak dan tampak bimbang. Hatinya pun lantas berkata. "Apakah dugaan orang tua itu akan apa yang hendak menghadang perburuan ini juga akan menjadi kenyataan? Akankah seorang laki-laki akhirnya hendak memisahkan kami? Mungkinkah kami harus berhadapan dengan pilihan yang meminta pengorbanan?" Ternyata bukan hanya Wulandari yang dilanda gelisah dengan berbagai pertanyaan.

Diam-diam pula Ayu Laksmi membatin. "Dugaan Gendeng Panuntun tentang janji pertemuan dengan Guru mungkin saja bisa satu kebetulan. Tapi kalau tepatnya dugaan tentang datangnya Sitoresmi, Ini sudah bukan lagi kebetulan! Hem... Apakah dugaannya tentang apa yang akan terjadi betul-betul akan terbukti? Siapa laki-laki yang dikatakannya itu?"

Karena sama-sama tenggelam dengan pikiran masing-masing, membuat kedua gadis ini belum juga memberi jawaban pada Sitoresmi. Sitoresmi makin tak enak. Dia sepertinya salah tingkah.

"Apa pun yang akan terjadi, aku sudah bulat. Kalau mereka tak mau mengerti, apa hendak dikata. Aku tak hendak surutkan langkah..." kata Sitoresmi dalam hati. Lalu dengan suara agak keras dia berkata.

"Kalian diam tak jawab tanyaku. Aku bukannya lancang bicara. Tapi aku menangkap perubahan pada kalian! Hem... Malam ini memang belum saatnya kita bertemu. Aku harus pergi dulu. Besok pagi kita bertemu di tempat yang kita tentukan!"

Sitoresmi segera putar diri dan melangkah meninggalkan tempat itu. Namun langkah gadis berjubah merah ini tertahan saat didengarnya satu suara menahan.

"Sitoresmi! Tunggu!"

Meski tak ucapkan sepatah kata, namun Sitoresmi hentikan langkah. Dia tegak menunggu tanpa berpaling. "Malam ini Guru menunggu kita! Aku dan Ayu Laksmi diberi perintah mencarimu dan ditunggu malam ini juga!"

Wajah Sitoresmi tampak berubah tegang. Dahinya mengernyit. Sepasang matanya tiba-tiba memejam rapat dengan bibir saling mengigit. Untuk sesaat gadis ini coba menahan guncangan pada tubuh dan dadanya. "Apakah aku harus menemui Guru? Bagaimana kalau dia... Ah, ini sudah resiko yang harus kutanggung..." bisik Sitoresmi dalam hati. Tanpa menoleh ia berkata "Apakah Guru ikut serta turun tangan dalam urusan ini? Dan untuk apa kita menemuinya?!"

"Turun tangan atau tidak bukan hal penting yang harus kita ketahui. Kita juga tak usah pikir untuk apa menemuinya. Ini perintah!" ucap Wulandari dengan suara tak kalah keras. Gadis ini yang sedari tadi telah menindih rasa jengkel karena harus mencari Sitoresmi sepertinya sjudah tak sabar. Namun dia masih mencoba menahan rasa jengkelnya.

"Baiklah. Kita temui Guru sekarang juga!" kata Sitoresmi pada akhirnya, lalu balikkan tubuh menghadap Wulandari dan Ayu Laksmi.

"Tapi menurut dugaan orang tua itu, kita tak akan bertemu dengan Guru. Apa tidak sebaiknya kita tunda dulu sampai besok pagi?" kata Ayu Laksmi dengan suara perlahan seraya berpaling pada Wulandari.

Wulandari tertawa. "Nyatanya kau juga terpengaruh dengan ucapan orang tua itu..."

"Dua hal yang dikatakannya tepat. Ini sudah bukan sebuah kebetulan lagi."

"Ucapanmu benar. Tapi yang kita hadapi lain. Bertemu atau tidak kita ke sana sekarang! Kita tunggu dia di tempat yang ditentukan!" ujar Wulandari.

"Hem... Dari tadi kailan berdua menyebut-nyebut orang tua. Siapa yang kalian maksud?" tanya Sitoresmi.

"Seorang pembual yang kami temui di tempat ini beberapa saat yang lalu. Kita berangkat sekarang!" kata Wulandari lalu berkelebat mendahului.

Sitoresmi segera mendekati Ayu Laksmi, lalu menjajari gadis berjubah biru ini dan berbisik. "Kukira yang kalian temui bukan seorang pembual. Bisa katakan padaku siapa sebenarnya orang-tua yang kalian bicarakan tadi?"

Sambil berkelebat menyusul Wulandari, Ayu Laksmi berkata. "Dia mengaku bernama Gendeng Panuntun. Menurutku dia bukan seorang pembual!"

"Pasti kau punya alasan..."

"Apa yang diucapkan tepat dan terbukti!"

Sitoresmi memegang lengan Ayu Laksmi seraya terus mengikuti Wulandari. "Apa saja yang dikatakan orang tua itu?" Tanya Sitoresmi.

"Tentang janji kami yang hendak menemui Guru malam ini. Lalu soal kedatanganmu yang kami cari-cari! Juga tentang pertemuan malam ini dengan Guru. Tapi dalam hal Ini, dia mengatakan, kita tak akan menemuinya malam ini. Kita buktikan nanti apakah ucapan orang tua itu terbukti..."

"Tak ada lagi yang dikatakannya selain itu?"

"Hem... Ada. Namun terus terang dalam soal yang terakhir ini aku masih sangsi..."

"Soal apa itu?!"

"Soal pem buruan kita dan masa depan kita bertiga!"

"Apa yang diucapkannya?!"

"Dia menyarankan agar kita tidak meneruskan pemburuan ini, karena kelak sang pewaris Kitab Serat Biru adalah seorang laki-laki. Dan yang lebih tidak mengenakkan, dia bilang justru seorang laki-laki itu kelak yang akan memisahkan kita bertiga!"

Perubahan tampak di raut wajah Sitoresmi. Entah kenapa gadis ini tiba-tiba dilanda perasaan tak enak. Dadanya berdebar, kedua tangannya bergetar.

"Kenapa tanganmu bergetar, Sitoresmi?" tanya Ayu Laksmi sambil melirik. "Apa yang ada dalam benakmu?!"

Sitoresmi menggeleng perlahan. "Kau percaya dengan itu semua?" dia balik ajukan tanya pada Ayu Laksmi.

Ayu Laksmi tertawa pelan. "Untuk tiga hal yang pertama, mungkin aku bisa menerima. Tapi untuk soal yang terakhir, kukira orang tua itu sudah terlalu jauh bicara..."

Di depan sana, mendadak Wulandari hentikan larinya. Kepala gadis ini bergerak berputar berkeliling. Sepasang matanya membesar tak berkedip. "Dia belum datang..." katanya setelah Ayu Laksmi dan Sitoresmi tegak di sampingnya. "Kita tunggu sebentar...!"

Beberapa saat berlalu. Namun orang yang ditunggu belum juga tampak. Ketiga gadis ini sudah terlihat agak gelisah. Malah Wulandari tampak berjalan mondar-mandir dengan sesekali memandang ke arah Sitoresmi dan Ayu Laksmi. Entah karena tak sabar, akhirnya Wuiandari berkata.

"Bagaimana sekarang?!"

"Ucapan orang tua itu kali ini terbukti lagi. Hem... Kita sudah terlanjur di tempat ini. Terpaksa kita cari tempat istirahat di sini!" sahut Ayu Laksmi seraya menoleh pada Sitoresmi.

"Benar. Lagi pula malam masih panjang. Siapa tahu Guru akan datang tengah malam nanti..." ujar Sitoresmi menyahut.

Tak lama kemudian, ketiga gadis ini sama mencari tempat untuk istirahat. Tapi meski ketiganya sudah sama rebahkan diri dan mata sama terpejam, sebenarnya dalam hati masing-masing gadis ini sama dibuncah berbagai hal. Dan yang tampak paling gundah adalah Sitoresmi. Sesekali gadis berjubah merah ini buka kelopak matanya dan memandang pada dua saudara seperguruannya.

"Cerita Ayu Laksmi tadi, apakah benar-benar akan terjadi...? Ah... Kenapa hatiku jadi berdebar-debar tak karuan? Dan wajah itu, kenapa tak bisa lepas dari mataku?"

Sitoresmi tak sadar sampai berapa lama dia gundah sendiri malam itu. la baru buka kelopak matanya lebar-lebar tatkala telinganya menangkap suara gemeretak sayup-sayup di kejauhan. Sejurus dia menatap pada Wulandari dan Ayu Laksmi yang rebah tak jauh dari tempatnya. Lalu bangkit duduk dan memandang ke arah sumber suara gemeretakan. Saat itu langit di sebelah timur tampak terang kekuningan, pertanda tak lama lagi sang mentari akan unjuk diri menggantikan malam.

Suara gemeretak makin lama makin dekat, dan tak berselang lama, dari tempatnya berada, Sitoresmi melihat sebuah kereta yang di bagian depannya tampak seorang laki-laki berjubah hitam duduk di bangku kusir. Sejenak wajah Sitoresmi berubah. Dadanya makin berdebar. Buru-buru gadis ini berseru pada Wulandari dan Ayu Laksmi.

"Guru datang!"

Wulandari dan Ayu Laksmi cepat-cepat bergerak bangkit. Kini ketiganya tegak berdiri menyongsong kereta yang terus berderak menghampiri ke arah mereka. Sejarak tiga tombak dari hadapan ketiga gadis ini, di depan sana mendadak sang kusir kereta menarik tali kekang kuda keretanya. Terdengar suara kaki ladam kuda menggeru tanah. Serta-merta binatang penarik kereta itu hentikan larinya.

Sejurus terlihat tanah lembab muncrat setengah tombak ke udara. Lalu satu bayangan hitam berkelebat. Dan tahu-tahu tiga langkah di hadapan para gadis tadi tegak berdiri seorang kakek berjubah hitam besar dan panjang dengan rambut putih dan disanggul ke atas. Paras wajahnya pucat keriput. Sepasang matanya besar. Kedua tangannya tampak dimasukkan ke dalam saku kedua jubahnya.

"Ki Buyut Pagar Alam..." seru ketiga gadis lalu sama menjura.

Si kakek berjubah hitam besar dan panjang yang kedua tangannya masuk ke dalam saku yang dikenal sebagai paman sekaligus pendamping utama Dewi Siluman perdengarkan gumaman dengan mata memandang bergantian ke arah tiga gadis di hadapannya. Si kakek yang dipanggil dengan Ki Buyut Pagar Alam tengadah, lalu terdengar ucapannya.

"Apakah kalian bertiga sudah lama menanti?"

"Kami belum begitu lama di tempat ini, Ki Buyut," jawab Wulandari.

"Dan kalaupun Guru tidak datang hari ini, kami akan tetap di sini menunggu..." sambung Sitoresmi.

Ki Buyut Pagar Alam sunggingkan senyum, tapi cuma sekejap. Masih dengan mendongak, si kakek ini berkata. "Bagaimana keadaanmu Sitoresmi?!"

Untuk sesaat raut Sitoresmi berubah sedikit tegang. Namun kejap kemudian gadis berjubah merah ini tersenyum sambil berkata menjawab. "Aku baik-baik saja, Ki Buyut. Hanya beberapa saat kemarin aku menemui halangan, hingga tak sempat bertemu dengan Guru. Lagi pula kami bertiga telah sepakat untuk bertemu pagi ini..."

"Hem... Aku gembira mendengar keteranganmu. Terus terang aku dan gurumu sangat cemas dengan ketidakhadiranmu kemarin siang. Karena kusirap telah banyak orang-orang muncul di sekitar tempat ini. Dan kemunculan mereka pasti punya maksud yang sama dengan kita!"

Beberapa saat suasana di tempat itu sunyi, karena keempat orang itu tidak ada yang buka mulut. Namun tak berapa lama kemudian, Ki Buyut Pagar Alam memecah kesunyian dengan berucap.

"Guru kalian Dewi Siluman hari ini tak bisa menemui kalian, karena ada sesuatu yang harus dikerjakan. Hanya dia berpesan agar kalian teruskan perjalanan menuju arah selatan. Tujuh hari di depan, kalian ditunggu di sebuah kanal yang menuju arah laut selatan! Tapi harus diingat, meski kalian menuju arah selatan, tapi kalian harus berpencar. Dan beri tanda seperti biasa jika salah satu di antara kalian ada yang mengalami kesulitan! Ada yang ingin utarakan sesuatu?!"

"Berarti jarak di antara kami bertiga harus tidak terlalu jauh. Begitu?" Wulandari ajukan tanya.

"Itu bisa kalian atur. Yang penting jika salah satu di antara kalian memberi tanda, lainnya dapat menangkap tanda itu!" jawab Ki Buyut.

"Dan yang juga perlu kalian perhatikan, kalian harus lebih waspada. Orang yang kini banyak muncul, rata-rata punya kepandaian yang tidak bisa dipandang remeh. Jangan liat orang dari segi pakaian atau ucapannya! Justru di balik pakaian rombeng dan ucapan yang seperti orang gila kadang tersimpan kekuatan luar biasa! Kalian dengar?!"

Ketiga gadis di hadapan Ki Buyut Pagar Alam sama anggukkan kepala.

"Satu hal lagi. Singkirkan setiap orang yang punya maksud searah dengan perjalanan kalian! Siapa saja. Jangan pandang bulu!" sambung Ki Buyut. Kakek Ini lantas putar tubuh, dan sekali bergerak, tubuhnya melesat. Kejap lain sosoknya telah tegak di atas kereta.

Ketiga gadis saling pandang sejurus. Lalu sama anggukkan kepala memberi isyarat. Sitoresmi yang membuat gerakan terlebih dahulu dengan melesat ke arah selatan. Lalu disusul dengan Ayu Laksmi yang juga berkelebat ke arah selatan namun mengambil jarak kira-kira enamtom bak dari arah yang diambil Sitoresmi. Yang terakhir berkelebat adalah Wulandari. Tapi tiba-tiba gadis ini tercengang sendiri. Meski dia telah kerahkan tenaga namun sepertinya ada satu kekuatan luar biasa yang menahan gerakannya.

"Gila! Pasti ada orang yang berbuat kurang ajar!" teriak Wulandari dalam hati, lalu kerahkan tenaga dalam sekali lagi. Namun sia-sia.

Selagi sadis berjubah kuning ini memaki sendiri, tiba-tiba terdengar orang tertawa. Wulandari cepat berpaling. Di depan sana, di atas kereta tampak Ki Buyut Pagar Alam arahkan wajah ke jurusan lain dengan mulut terbuka tertawa.

"Apa maksud orang tua itu menahan gerakanku?!" desis Wulandari. Gadis ini sudah buka mulut untuk berucap. Namun suaranya belum terdengar, Ki Buyut Pagar Alam telah putuskan tawanya. Kedua tangannya yang mengepal di dalam saku dibuka perlahan-lahan. Lalu mulutnya terbuka.

"Wulandari! Kemarilah..."

Sejurus Wulandari tampak bimbang. Di atas kereta Ki Buyut keluarkan tangan kanannya dari saku jubahnya. Lalu tangan itu membuat gerakan melambai seperti orang memanggil. Wulandari merasakan ada satu kekuatan dahsyat mendorong tubuhnya dari belakang. Dan belum sempat mengetahui apa yang terjadi menimpa dirinya, sosok Wulandari perlahan-lahan bergerak maju ke arah kereta! Empat langkah lagi sampai, tiba-tiba Ki Buyut hentikan lambaian tangannya dan dimas ukkan kembali ke dalam saku jubahnya. Pada saat bersamaan, sosok Wulandari terhenti.

"Wulandari! Kau mendapat tugas khusus dari gurumu. Kau diperintahkan berjalan membuntuti Sitoresmi!"

"Ki Buyut..."

"Kau tak usah tanya mengapa. Ini pesan Dewi Siluman! Jika kepergok, kau cari sendiri alasannya! Nah. Berangkatlah!" tukas Ki Buyut Pagar Alam.

Meski dalam hati masih disarati berbagai tanya, tapi Wulandari tak bisa berbuat banyak. Karena begitu selesai bicara Ki Buyut Pagar Alam segera tarik tali kekang kereta. Anehnya, bukan kedua tangannya yang menghentak tali kekang itu, melainkan mulutnya! Dan meski tali kekang yang ada di mulutnya itu hanya ditarik pelan, kuda kereta itu tersentak dan perdengarkan suara ringkikan keras. Kedua kaki depannya terangkat tinggi. Lalu sekali Ki Buyut tarik kepalanya, sang kuda berputar dan berderak cepat meninggalkan tempat itu.

Untuk beberapa saat Wulandari pandangi punggung kereta. Dan masih dengan benak dipenuhi tanda tanya, Wulandari balikkan tubuh lalu berkelebat mengambil arah sejalan dengan arah Sitoresmi.

********************

BAB 6

PENDEKAR Pedang Tumpul 131 Joko Sableng sandarkan tubuh pada sebatang pohon. Lalu tangan kirinya bergerak ke Jari kelingkingnya dimasukkan ke lobang telinganya, hingga tak lama kemudian dia tampak meringis sendiri seraya berjingkat. Sejurus tangan kanannya bergerak pula ke balik pakaiannya. Mengeluarkan dua gulungan kulit berwarna coklat lusuh. Perlahan-lahan tubuhnya melorot. Dua gulungan kulit diletakkan di atas tanah. Lalu dibuka satu per atu dan dijajar bersambung.

"Hem... Peta kedua ini berakhir tak jauh dari tempat ini..." desisnya lalu menggulung kembali gulungan kulit dan dimasukkan ke balik pakaiannya. Sepasang matanya memandang ke depan. "Urusan peta belum ada ujung pangkalnya tapi pedangku telah lenyap disambar orang. Hem... Perempuan bercadar dan berjubah hitam. Hanya itu tanda yang kuketahui tentang orang yang mengambil pedangku. Apa aku harus mencari orang itu dahulu atau teruskan perjalanan gila ini?"

Murid Pendeta Sinting itu untuk beberapa saat dilanda kebingungan tentukan keputusan. "Ah. Benar kata Ratu Malam . Orang yang mengambil pedangku sudah ada gambaran. Sedangkan urusan Kitab Serat Biru harus diselesaikan dengan cepat, karena telah banyak orang yang muncul. Terlambat sedikit kitab itu tidak mustahil akan didahului orang lain. Dan dunia persilatan akan geger dan kiamat jika orang itu dari golongan orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaiknya aku teruskan perjalanan ini. Tidak tertutup kemungkinan perempuan bercadar dan berjubah hitam itu juga sedang memburu Kitab Serat Biru. Siapa tahu aku berjumpa dengannya..."

Berpikir sampai di situ, murid Pendeta Sinting ini bangkit. Memandang ke arah selatan seperti yang tertera dalam peta, lalu melangkah cepat. Hanya beberapa saat berlari, tiba-tiba Joko hentikan langkah. Pada sebuah batu besar, tempak seorang laki-laki duduk ongkang-ongkang kaki. Joko hanya bisa melihat rambut putih yang menggerai di punggung orang. Karena orang yang duduk itu mem belakangi.

"Meski sikapnya acuh, sepertinya dia bukan tak sengaja duduk di situ. Siapa orang ini? Tapi tak perlu diladeni..." putus Joko. Lalu teruskan langkah berjalan di belakang orang.

Sampai batu di mana orang duduk terlewati, tak terdengar orang buka mulut. Hingga Joko teruskan langkah tanpa memandang. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara tawa. Tanpa berpaling, Joko telah tahu siapa adanya orang yang perdengarkan tawa. Dia hentikan langkah. Suara tawa kian keras melengking, membuat murid Pendeta Sinting harus kerahkan tenaga dalam pada telinga untuk menutup suara yang masuk. Tiba-tiba suara tawa diputus laksana disambar setan. Lalu terdengar suara orang bicara.

"Setengah jalan sudah dikayuh. Namun setengahnya lagi masih harus ditempuh. Makin tinggi pohon dipanjat. Makin kencang angin menghujat. Makin dalam lobang digali, makin gelap yang terpandangi. Tapi takdir sudah terpentang, tak pantas putus asa berpatah arang!"

Joko Sableng terkesiap mendengar ucapan orang. Cepat dia putar diri dengan mata lurus memandang ke arah orang yang duduk di atas batu. Karena dari arah samping, Joko tak bisa mengenali dengan jelas raut wajah orang. Yang terlihat hanya sebagian wajahnya sebelah kanan yang putih berkilat. Dan sekali lihat, Joko telah bisa menebak jika arang itu menggunakan penutup wajah untuk menyembunyikan wajah aslinya.

"Wajahnya beda. Tapi suaranya kukenal betul! Apakah memang dia?!" Joko melangkah mendekat.

"Berbalik dan teruskan langkah berjalan. Sedikit terlambat gerak akan tertahan. Di depan orang telah menunggu. Jangan sia-siakan dengan diam termangu."

Habis ucapkan kata-kata orang yang duduk ongkang-ongkang kaki di atas batu membuat gerakan dengan jejakkan sepasang kakinya ke batu yang diduduki. Bersamaan dengan itu tubuhnya berkelebat melesat ke depan. Batu yang tadi diduduki bergetar sesaat, lalu bergerak menggelinding ke arah Joko!

Dengan menggerendeng panjang pendek, murid Pendeta Sinting melompat ke samping hindarkan diri. Begitu memandang ke depan, dia sudah tak melihat siapa-siapa lagi! Orang yang baru saja berkelebat lenyap laksana ditelan bumi. Sambil geleng-geleng kepala Pendekar 131 balikkan tubuh.

"Orang aneh. Tapi kata-katanya mengandung kaitan dengan apa yang sedang kulakukan. Hem... Di depan orang sudah menunggu. Aku yang ditunggu?!”

Tanpa pikir panjang lagi, murid Pendeta Sinting segera berkelebat teruskan langkah ke arah selatan. Kira-kira seratus tombak, samar-samar sepasang matanya menangkap adanya sesosok tubuh yang berjalan pelan di depan sana.

"Hem... Mungkin orang ini yang dimaksud..." gumam Joko Ialu percepat larinya. Namun Joko jadi terkesiap sendiri. Meski dia telah berusaha kerahkan segenap ilmu peringan tubuh, dan di depan sana si orang berjalan pelan, tapi Joko mengalami kesulitan untuk mempersempit jarak! Malah pada suatu tempat, orang yang dikejar tak tampak lagi sosoknya.

"Ke mana lenyapnya orang itu! Baru saja kulihat, tapi sekarang sudah tak tampak!"

Joko mengawasi berkeliling. Namun sampai matanya pedas berpeluh, orang yang dicari tak juga ditemukan. "Ah. Untuk apa buang waktu mencari orang yang belum jelas sangkut-pautnya?" Joko putar diri lalu teruskan langkah ke arah selatan.

Baru beberapa tombak, tiba-tiba terdengar suara orang bersenandung tak jelas. Lalu tampak cahaya berkilat-kilat memantul. Karena suara itu datangnya dari arah belakang, Joko cepat balikkan tubuh. Di depan sana, tampak seorang kakek berjalan pelan dengan kepala mendongak. Dia mengenakan pakaian gombrong warna hijau. Rambutnya disanggul ke atas tinggi. Dari perut orang ini tampak keluar cahaya pantulan matahari.

Anehnya, meski Joko tegak menunggu dengan mata tak berkesip memperhatikan, sementara orang tua itu berjalan ke arahnya, namun jarak antara keduanya tak juga jadi dekat!

"Waduh. Orang ini hantu atau manusia biasa? Kalau hantu kenapa siang-siang begini berkeliaran. Kalau manusia kenapa memiliki keunikan demikian?!"

Karena ditunggu agak lama. kakek bertubuh gemuk besar mengenakan pakaian hijau tak juga mendekat meski tampak melangkah ke arahnya, murid Pendeta Sinting segera berkelebat ke depan. Empat langkah di depan orang, Joko berhenti. Sepasapg matanya di pentang besar mengawasi orang dengan tak berkesip.

Mendadak kakek bertubuh besar lurus kan kepalanya. Sepasang matanya bolak-balik mengerjap. Ternyata mata itu hanya kelihatan putihnya saja, menandakan jika orang itu buta.

"Mengapa kau mengikuti, Bocah?!" Tiba-tiba kakek bertubuh besar perdengarkan teguran.

Joko terkesiap. Sambil gelengkan kepala diam-diam dia membatin. "Matanya buta, bagaimana dia tahu ku ikuti? Akan kucoba, apakah dia benar-benar tahu meski matanya buta!" Lalu Joko kerahkan tenaga dalam ketenggorokan. Kejap kemudian dia buka mulut.

"Orang tua! Siapa mengikutimu? lagi pula apa untungnya mengikutimu? Masih banyak laki-laki muda yang gagah yang pantas untuk diikuti!"

Si kakek kernyitkan dahi. Karena suara Joko kali ini terdengar seperti suara seorang perempuan! "Eh, meski mataku buta tapi mata hatiku bisa melihat dan merasakan. Orang yang diam-diam mengikutiku adalah seorang pemuda. Tapi kenapa suaranya mirip suara orang perempuan?! Gila. Jangan-jangan orang di hadapanku ini banci... Ah, ke betulan sekali. Sudah lama aku tak ngomong-ngomong dengan banci," gumam si kakek lalu tertawa panjang.

"Busyet! Dia telah tahu?. Bagaimana Ini? Aku tak mungkin terus menerus berkata seperti perempuan..." batin Joko seraya cengengesan.

"Anak Banci! Kalau kau tak mengikuti, ke mana tujuanmu sebenarnya?" si kakek yang bukan lain adalah Gendeng Panuntun ajukan tanya seraya arahkan cermin bulat di depan perutnya pada Joko.

Sejenak Joko tadangkan telapak tangannya di depan mata karena silau. Lalu melangkah satu tindak ke samping dan berkata. "Ke mana tujuanku, seorang pun tak layak mengetahuinya! Kau sendiri akan ke mana?"

Si kakek tak segera menjawab. Sebaliknya dia bergumam sendiri dengan kepala ditengadahkan. "Rambut panjang sedikit acak-cakan. Pakaian warna putih dengan ikat kepala putih. Hem... penglihatan cerminku yang salah atau pendengaranku yang tidak benar?"

Sejenak Gendeng Panuntun hentikan gumamannya, tapi tak berapa lam la bergumam lagi. "Tampangnya seperti tampang laki-laki. Ah, kasihan sekali jika dugaanku benar. Tampang laki-laki tapi jiwa dan suara perempuan..."

Pendekar 131 hanya bisa mengumpat dalam hati mendengar gumaman si kakek. Tapi diam-diam dia sadar jika orang tua di hadapannya bukan orang sembarangan. Dengan sekali pantulkan cermin, dia dapat mengetahui siapa adanya orang!

"Eh, kau tadi tanya apa?!" si kakek tiba-tiba bertanya.

"Ke mana kau hendak menuju?!" jawab Joko masih dengan suara perempuan.

"Apa itu penting bagimu?!"

"Dibilang penting ya penting. Dikatakan tidak penting juga bisa!"

"Pentingnya apa? Dan tidak pentingnya juga apa?"

"Pentingnya. Maaf, kulihat penglihatanmu tidak berfungsi. Kalau kita satu arah tak ada jeleknya kita jajan bersama. Akan kuceritakan padamu tentang tempat-tempat yang kita lewati. Tidak pentingnya, kalau tujuanmu tidak boleh diketahui orang lain aku tak akan usil mencari tahu..."

"Begitu? Sayang sekali niat baikmu tak bisa kuterima. Karena selama malang melintang di hamparan bumi ini aku telah mendapatkan teman seperjalanan yang bukan saja tidak pernah berkata dusta dan pura-pura namun juga tak pernah bertanya-tanya...!"

Sejenak sepasang mata Joko mengawasi, mencaritahu teman seperjalanan yang baru saja dikatakan si kakek. Tapi hingga agak lama murid Pendeta Sinting ini tak bisa menemukan apa yang dikatakan si kakek.

"Apa yang kau cari, Bocah?!"

"Kau tadi mengatakan punya teman..."

Gendeng Panuntun tertawa bergelak. Puas tertawa dia berkata. "Bocah. Lihatlah sesuatu dari sudut berbeda! Karena sesuatu apa pun ingin dilihat lebih dari apa adanya!"

"Aku belum mengerti maksudmu!"

"Hem... Lihat! Apa ini?!" tanya Gendeng Panuntun seraya arahkan telunjuk tangannya pada cermin bundar di depan perutnya.

"Cermin!" jawab Joko.

Kembali Gendeng Panuntun tertawa mengekeh. "Anak kecil pun pasti akan menjawab seperti jawabanmu! Namun tidak bagi orang yang memandang cermin dari sudut berbeda! Cermin adalah sahabat sejati yang mengatakan apa adanya! Hitam adanya, cermin akan pantulkan hitam. Putih adanya, cermin akan tunjukkan putih! Kau paham?!"

Joko hanya bisa mengangguk tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

"Nah, Jika kau dapat memandang sesuatu dari sudut beda dan melihatnya lebih dari apa adanya, maka kau tidak akan meremehkan ciptaan Tuhan meski ciptaan itu seperti benda tak berguna. Demikian pula cara pandangmu padaku. Maaf meski penglihatanku tak bisa digunakan, tapi mungkin aku dapat menduga ke mana dan apa tujuanmu!"

"Hem... Coba katakan...!"

"Kau sebenarnya belum paham betul kemana kau hendak melangkah. Namun yang pasti kau punya tujuan mencari Kitab Serat Biru! Betul?!"

"Luar biasa orang tua ini. Siapa dia sebenarnya?" Joko bertanya-tanya sendiri dalam hati. Lalu berkata menjawab. "Aku tak bisa katakan betul apa tidak!"

"Dan kau sebenarnya seorang pemuda yang berlagak bicara seperti perempuan. Benar?!"

Murid Pendeta Sinting tidak menjawab. Tapi dia sunggingkan senyum dengan kepala menggeleng.

"Anak muda! Siapa namamu?"

"Hem... Joko Sableng!"

"Sableng... Sama artinya dengan edan. Tak beda dengan sinting. Juga berarti gendeng. Ha ha ha...!" Mendadak Gendeng Panuntun tertawa terbahak-bahak. "Namamu sama artinya dengan namaku. Berarti kamu ditentukan berjodoh denganku, Anak muda!"

"Eh. Apa maksud ucapanmu, Kek?!"

"Berjodoh artinya harus bersatu hati meski tidak bersanding. Orang berjodoh harus saling terbuka. Satu sama lain harus rela memberikan apa yang dibutuhkan lainnya. Milikku adalah punyamu. Milikmu juga boleh kumiliki!"

“Tapi, Kek. Aku sepertinya tak punya sesuatu yang pantas kau miliki!"

"Jangan khawatir, Anak muda. Aku tak akan meminta lebih dari apa yang tak kuasa kau berikan! Aku tak akan minta penglihatanmu. Karena aku sudah senang dengan keadaanku yang demikian ini. Orang punya mata memang bisa melihat. Namun harus diingat. Justru dari matalah, awal terjadinya kebohongan! Lain dengan orang buta sepertiku yang melihat segala sesuatu dengan hati Karena hati tak diajak untuk berbohong!"

"Kek. Aku tadi sudah mengatakan siapa diriku. Sekarang katakan siapa dirimu..."

"Orang-orang menyebutku Gendeng Penuntun...!"

"Gendeng Panuntun. Hem..." Joko bergumam, lalu tersenyum.

"Eh. Ingat nama itu, aku jadi ingat dengan nama seorang sahabat dan tokoh yang artinya sama..." ujar Gendeng Panuntun dengan terus mendongak.

"Yang kau maksud Pendeta Sinting?" kata Joko menebak setelah agak lama si kakek terdiam seolah mengingat-ingat.

"Ah. Betul. Pendeta Sinting. Kau kenal dengannya?"

"Lebih dari kenal, Kek. Dia adalah Eyang guruku!"

"Wah. Berarti kita benar-benar berjodoh. Satunya Sableng, lainnya Gendeng, ditambah Sinting! Ha ha ha...!" Setelah puas tertawa, Gendeng Panuntun usap-usap cerminnya. Lalu berkata. "Mendung... Kulihat awan hitam berarak di atas kepalamu. Apa sebenarnya yang terjadi menimpa dirimu?!"

"Hem... Dia sepertinya tahu apa yang akan terjadi. Aku akan berkata terus terang. Barangkali dia bisa membantu," kata Joko dalam hati, lalu setelah menarik napas panjang dia berkata.

"Pedang Tumpul 131 milikku dibawa orang! Aku tak tahu siapa orangnya, tapi berat dugaan dia adalah seorang perempuan mengenakan cadar dan jubah hitam..."

"Hem... tak salah. Berarti ini anak manusianya yang ditakdirkan memiliki barang yang terpendam di Pulau Biru," membatin Gendeng Panuntun. "Tak usah cemas dengan senjatamu, Anak muda. Aku menduga kelak kau akan bertemu dengan perempuan itu. Tapi kau harus hati-hati. Karena aku melihat kau dikelilingi bunga. Bunga adalah isyarat perempuan. Sementara perempuan adalah makhluk di kolong langit yang dengan kelemahannya bisa mengguncang bumi!"

"Aku tidak mengerti maksudmu, Kek!"

"Dalam perjalananmu kelak, akan menghadang beberapa perempuan yang tidak saja membawa kekuatan ilmu, namun juga berbekal senjata cinta! Di sini kau dihadapkan dengan pilihan pelik. Sekali kau salah tentukan langkah, bukan saja akan terperosok, tapi tugasmu akan terbengkelai!"

"Ah, kau ada-ada saja. Mana mungkin ada perempuan yang mau sama manusia jelek sepertiku ini. Apalagi beberapa perempuan!"

"Kelak kau bisa buktikan ucapanku. Dan sekali lagi pesanku, berhati-hatilah. Kadangkala laki-laki bisa menerjang badai ombak, tegar menghadapi letusan gunung. Namun terhenti dan bersimpuh karena tetes air mata perempuan!"

Murid Pendeta Sinting terdiam mendengar ucapan Gendeng Panuntun. Dia buka mulut hendak mengatakan sesuatu. Namun si kakek telah mendahului.

"Joko. Sebenarnya telah bertahun lamanya aku menyimpan sesuatu untukmu. Sekarang mumpung bertemu, terimalah barang itu!"

Habis berkata, Gendeng Panuntun selinapkan tangan ke balik ikat pinggangnya. Ketika tangan itu menjulur kembali, tampaklah sebuah gulungan kulit berwarna coklat lusuh. Kulit coklat segera diangsurkan ke depan. Tanpa ragu-ragu lagi Pendekar 131 cepat angsurkan tangan untuk menerima gulungan kulit itu.

"Dengan sampainya kau di sini, aku telah dapat menduga jika kedua saudaraku telah memberikan penggalan kulit seperti ini padamu! Nah. Silakan teruskan jalan! Jangan lupa. Jika dugaanku tentang bunga-bunga tadi tidak meleset, tolong sisakan satu untukku!"

"Hem... Karena kita berjodoh, jangankan satu, semuanya nanti bisa kau ambil. Bukankah milikku juga milikmu?"

"Ha ha ha...! Boleh, boleh. Tapi jangan coba-coba curang. Karena aku tak bisa melihat, lantas kau ganti dengan nenek-nenek girang!"

"Wah, sebagai orang yang lama malang melintang, sekali pegang tentu kau dapat membedakan. Dan kalaupun tak dapat, kau harus melihatnya dari sudut berbeda! Bukankah begitu?!"

"Sontoloyo! Kau pandai juga!” Bersamaan dengan selesainya ucapan, Gendeng Panuntun goyangkan pantatnya. Cermin di perutnya ikut bergerak ke kanan kiri ikuti goyangan pantat. Cahaya putih tampak memantul.

Dihadapannya, murid Pendeta Sinting terpaksa pejamkan mata untuk menghindari silau. Begitu sepasang mata Pendekar 131 dibuka kembali, astaga! Sosok Gendeng Panuntun sudah tidak tampak lagi di tempat itu. Hanya samar-samar Joko dapat menangkap kelebatan pakaiannya yang berkibar-kibar ditiup angin jauh di depan!

********************

BAB 7

ORANG berjubah biru itu berkelebat laksana angin. Melihat tubuhnya telah basah kuyup oleh keringat, napasnya yang terengah-engah, namun tak juga berhenti barang sejenak, berat dugaan jika orang ini punya satu maksud yang sangat penting. Menilik dari sepasang matanya yang tak henti terpentang besar pandangi setiap jalan yang dilewati dan kadang tak jarang memandang jauh ke depan, jelas dia sedang mencari sesuatu.

"Hem... Sudah dua hari aku berlari, tapi tiada seorangpun yang kutemui. Apakah petunjuk yang diberikan tidak salah? Ataukah perintah itu hanya untuk menemui Guru di tempat yang ditentukan itu?!" kata orang berjubah biru sendirian seraya terus berkelebat.

Mendadak sepasang mata orang ini yang ternyata milik seorang gadis muda berparas cantik dan bukan lain adalah Ayu Laksmi, salah seorang murid Dewi Siluman mendelik besar menatap jauh ke depan.

"Aku menangkap seseorang di depan sana. Mudah-mudahan orang itu ada hubungannya dengan Kitab Serat Biru yang sedang diincar banyak-orang..." gumamnya perlahan. Penglihatannya semakin dipertajam. Meski tubuhnya sudah terasa capek bukan main, dia tetap berkelebat ke depan dengan kerahkan tenaga tambahan.

Seperti diketahui, sang Guru Dewi Siluman melalui Ki Buyut Pagar Alam memberi perintah pada ketiga muridnya, Wulandari, Sitoresmi, dan Ayu Laksmi untuk bergerak menuju arah selatan dan dalam waktu enam hari ditunggu di sebuah kanal yang menuju arah Laut Selatan. Karena dalam pesan itu Dewi Siluman memerintahkan muridnya untuk bergerak berpencar, maka menuruti perintah itu ketiga gadis muda murid Dewi Siluman bergerak sendiri-sendiri meski arahnya sama.

"Hai! Berhenti!" Tiba-tiba Ayu Laksmi berseru ketika jarak antara dia dengan orang di depannya sudah agak dekat meski saat itu Ayu Laksmi belum jelas benar siapa adanya orang di depannya.

Orang yang diteriaki seolah tak mendengar. Malah dia percepat larinya. Pada satu jalan berkelok, orang yang dikejar cepat menerabas rumpun lebatnya semak belukar dan menyelinap mendekam. Hingga tatkala si jubah biru Ayu Laksmi sampai pada kelokan jalan, gadis ini kehilangan jejak.

"Hem... Pasti masih di sekitar sini!" desis Ayu Laksmi setelah memandang jauh ke depan dia tak melihat seorang pun.

Sepasang mata tajam milik Ayu Laksmi bergerak mementang lebar mengawasi rumpun semak belukar di sekitar kelokan jalan. Tapi tetap saja dia tak melihat siapa-siapa. "Heran. Jelas jika tadi aku menangkap seseorang. Tapi mana tampangnya?! Hem... Tampaknya dia ingin main-main!" Ayu Laksmi mulai tampak jengkel, karena meski dia telah pentangkan mata berkali-kali dia tak juga bisa menemukan orang yang diyakininya ada di sekitar tempat itu.

"Jahanam! Hai. Manusia atau iblis sekalipun, mengapa pengecut tak berani tunjukkan rupa?!" membentak Ayu Laksmi hilang kesabaran.

Enam langkah dari tempat Ayu Laksmi tegak dengan mata melotot, rumpun semak belukar perlahan bergerak sedikit menguak. Dari celah kuakan itu terlihat sepasang mata tajam memperhatikan ke arah Ayu Laksmi. Mata itu sejenak menyipit lalu membesar. Berkedip-kedip lalu menghilang tertutup kembali oleh rumpun semak belukar yang tadi menguak.

"Jangkrik! Bagaimana gadis itu bisa berada di sini? Apakah selama ini dia menguntit jalanku? Atau ini hanya kebetulan belaka? Dia sendirian. Bukankah tempo hari bertiga? Hem... Bunga sama artinya dengan perempuan. Adakah ini pertanda dugaan itu sudah akan terbukti?" Orang yang mendekam di balik semak belukar berkata sendiri dalam hati.

"Jahanam keparat! Sekali lagi kuperintah tak juga perlihatkan diri, jangan menyesal bila tubuhmu akan hancur bersama leburnya tempat ini!" teriak Ayu Laksmi mengancam seraya angkat kedua tangannya ke atas kepala membuat gerakan seperti orang hendak lepaskan pukulan.

"Gelagatnya dia tak main-main dengan ancamannya! Walah. Daripada cari penyakit, lebih baik kutemui saja!" desis orang di balik rumpun semak seraya berjingkat karena jari kelingkingnya tampak masuk kedalam lobang telinganya.

"Kalau tak dibuktikan, dikira aku main-main!" Ayu Laksmi kertakkan rahang. Lalu alirkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Kejap kemudian kedua tangannya bergerak lepaskan satu pukulan ke arah semak belukar di samping kirinya, tepat di mana orang yang mendekam berada.

"Busyet! Jangan-jangan dia tahu aku berada di sini!" keluh orang di balik semak, lalu bergerak bangkit dan menguak semak belukar. Seraya nongolkan kepala orang ini berseru. “Tahan!"

Ayu Laksmi tarik pulang kedua tangannya. Gadis ini berpijak di atas tanah dengan sepasang mata membelalak namun air muka berubah. Dia pandangi orang yang baru muncul dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ternyata orang ini adalah seorang pemuda mengenakan pakaian putih-putih dengan ikat kepala juga berwarna putih.

Seraya keluar si pemuda tersenyum-senyum. "Aku telah turuti perintah. Sekarang perintah apalagi yang hendak dititahkan?" sambil berkata si pemuda yang bukan lain adalah Pendekar 131 menjura dalam-dalam. Namun sepasang matanya tampak melirik.

Ayu Laksmi berdiri di atas tanah dengan kaki bergetar. Dia sama sekali tidak menduga jika orang di hadapannya adalah Pendekar 131. Dalam pertemuan tempo hari, si pemuda dapat membendung pukulan 'Kabut Neraka' dan 'Sinar Setan'. Padahal saat itu Ayu Laksmi bersama Wulandari dan Sitoresmi. Kini dia sendirian, bagaimana perasaannya tidak kecut? Namun mengingat perintah gurunya, perlahan-lahan muncul keberanian di dalam dada gadis berjubah biru ini.

"Jelas sekarang jika dugaan Wulandari ada benarnya. Jalan yang ditempuh pemuda ini searah dengan yang dikatakan Guru. Berarti pemuda ini memburu Kitab Serat Biru! Aku harus segera menyingkirkannya!"

Ayu Laksmi arahkan pandangannya pada jurusan lain. "Akan kuhantam sekaligus dengan 'Kabut Neraka' dan 'Sinar Setan'! Jika tidak, aku sendiri yang mendapat celaka!"

Berpikir sampai di situ, Ayu Laksmi segera kerahkan tenaga dalam pada kedua tangan dan sepasang matanya. Siap hendak lepaskan dua pukulan sekaligus. Namun sebelum si gadis sempat membuat gerakan, terdengar murid Pendeta Sinting buka suara.

"Hai! Kenapa jadi diam? Kita telah dua kali ini bertemu. Pertama bertemu kau dan dua sahabatmu sebutkan diri Pemburu Dari Neraka. Itu pasti gelar kalian bertiga. Waktu itu aku telah katakan siapa diriku. Kalau boleh, mau sebutkan siapa namamu sebenarnya?"

Mulut Ayu Laksmi masih terkancing tak memberi jawaban. Namun sejurus kemudian dia buka mulut membentak. "Siapa namaku bisa kau tanya pada Malaikat Maut!"

"Ah. Berarti kenalanmu banyak. Sampai-sampai Malaikat Maut sudah mengenalmu. Bisa tunjukkan padaku di mana Malaikat Maut berada?!"

Ucapan Joko makin membuat Ayu Laksmi geram. Masih dengan palingkan wajah, gadis berjubah biru ini berkata. "Aku memang akan tunjukkan padamu di mana beradanya Malaikat Maut! Bersiaplah!"

Habis berkata begitu, Ayu Laksmi angkat kedua tangannya, sementara kedua kakinya dibantingkan ke atas tanah. Gadis ini hendak lepaskan pukulan 'Kabut Neraka' sekaligus dengan pukulan sakti 'Sinar Setan'. Namun gerakan Ayu Laksmi tertahan, tatkala mendadak satu bayangan berkelebat dan tegak memandang lima langkah di samping Pendekar 131.

Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng berpaling. Sejenak keningnya mengernyit. Tapi kejap lain bibirnya tersenyum dan mulutnya membuka. "Dewi Seribu Bunga" serunya ketika mengenali siapa adanya yang tegak tak jauh darinya.

Di tempat itu kini terlihat seorang gadis muda berparas jelita mengenakan pakaian warna merah ketat. Hidung mancung dengan mata bulat dan buru mata lentik. Rambutnya panjang dikuncir ke atas dengan diikat menggunakan ikat kepala warna putih.

Gadis berbaju merah ketat berparas jelita dan bukan lain memang Dewi Seribu Bunga adanya sunggingkan senyum. Lalu gadis ini berpaling pada Ayu Laksmi dengan alis mata diangkat. Namun kejap lain Dewi Seribu Bunga telah alihkan pandangannya kembali pada Joko Sableng.

(Tentang Dewi Seribu Bunga silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Ratu Pemikat)

"Pendekar 131 Joko Sableng... Terima kasih. Kau tak lupa padaku..."

"Ha ha ha... Wajah secantik dirimu, mana mungkin mudah dilupakan?" ujar Joko lalu hendak melangkah mendekat. Tapi di depan sana, Dewi Seribu Bunga memberi isyarat agar Joko urungkan niat, membuat murid Pendeta Sinting urungkan niat tak jadi melangkah.

Saat Dewi Seribu Bunga muncul dan Joko menyambut dengan gembira, Ayu Laksmi semakin geram. Dan demi mendengar kata pujian yang diucapkan Joko, raut wajah Ayu Laksmi berubah mengelam. Gadis berjubah biru ini segera berpaling. "Tampaknya mereka begitu akrab. Bisa jadi mereka pasangan kekasih. Hm... Siapa sebenarnya gadis itu belum jelas. Yang jelas dengan adanya gadis itu di tempat ini, pasti dia juga sedang memburu Kitab Serat Biru. ini tak boleh dibiarkan!"

Ayu Laksmi lipat gandakan tenaga dalamnya. Dia menduga jika si pemuda diserang, si gadis berbaju merah pasti tak akan tinggal diam. Apalagi keduanya sudah tampak akrab. Gelagat dan sikap Ayu Laksmi tampaknya tak lepas dari pandangan Dewi Seribu Bunga, hingga tatkala Pendekar 131 hendak melangkah mendekat, gadis berbaju merah murid Maut Mata Satu ini memberi isyarat pada Joko untuk urungkan niat. Malah tak lama kemudian dia berkata.

"Maaf. Rupanya kedatanganku mengganggu kalian berdua. Aku harus segera pergi..."

"Dewi... Tunggu!" panggil Joko menahan langkah Dewi Seribu Bunga yang telah putar diri hendak tinggalkan tempat itu.

"Bagus! Memang tidak semudah itu untuk tinggalkan tempat ini!" Tiba-tiba Ayu Laksmi perdengarkan suara keras.

Sambil kernyitkan dahi, Pendekar 131 berpaling pada Ayu Laksmi. Ayu Laksmi hujamkan sepasang matanya lekat-lekat pada Dewi Seribu Bunga. Saat bersamaan, di depan sana Dewi Seribu Bunga yang merasa tak enak dengan nada ucapan orang segera balikkan tubuh. Sejenak Ayu Laksmi dan Dewi Seribu Bunga saling bentrok pandangan. Si jubah biru Ayu Laksmi sunggingkan senyum seringai. Di seberang Dewi Seribu Bunga tersenyum simpul.

"Hm... Apa maunya gadis berjubah biru ini?" kata Joko dalam hati begitu melihat gelagat tidak baik dalam adu pandangan dua gadis yang kini telah saling berhadapan. Untuk mencegah terjadinya sesuatu, cepat-cepat murid Pendeta Sinting melangkah maju ke arah Ayu Laksmi dan berkata.

"Dia sahabatku. Kalau kau merasa punya urusan denganku, harap jangan sangkut-pautkan orang lain!"

Tanpa berpaling, Ayu Laksmi membentak garang. "Persetan dengan sahabat! Kau dan dia silakan tinggalkan tempat ini tapi tanpa nyawa!"

"Hai… Ada apa ini sebenarnya?!"

"Tutup mulutmu!" sentak Ayu Laksmi. "Jangan bergerak dari tempatmu. Setelah dia kuselesaikan, kau akan dapat giliran!"

Kedatangan Dewi Seribu Bunga ternyata telah membuat salah seorang murid Dewi Siluman ini bertambah geram. Hingga yang ada dalam hatinya kini adalah melenyapkan Dewi Seribu Bunga juga Pendekar 131 sekaligus.

Dewi Seribu Bunga sebenarnya tak tahu urusan antara Joko Sableng dengan Ayu Laksmi. Dia hanya tahu bahwa saat itu pemuda yang secara diam-diam dirindukan berada berdua-dua dengan seorang gadis cantik. Perasaan cemburu mendera dada Dewi Seribu Bunga. Dia menduga ucapan keras gadis berjubah biru karena dia juga cemburu dengan kedatangannya.

"Dia adalah pemuda tampan, berilmu tinggi. Tak heran jika banyak gadis yang menyukainya. Tapi sejak pertama bertemu, aku tak dapat melupakannya. Aku tak dapat mendustai diri sendiri. Sebenarnya aku mengharapkan dirinya, perhatiannya. Tapi mungkinkah dia mengetahui apa yang selama ini kurasakan? Apakah dia tahu bagaimana selama ini aku merindukan pertemuan dengannya? Ah. Sekian lama memendam rindu, begitu jumpa ternyata dia... Hemm... Lebih baik aku segera tinggalkan tempat ini. Tak ada guna meladeni orang!" Berpikir sampai di situ, Dewi Seribu Bunga palingkan wajah ke arah Pendekar 131 s eraya berujar.

"Pendekar 131, aku pergi dulu. Katakan pada gadismu itu, bahwa urusan hati tak akan pernah selesai meski diputus dengan jalan kekerasan! Urusan hati akan tuntas jika orang sadar bahwa takdir telah menyuratkan demikian!"

Habis berkata begitu, Dewi Seribu Bunga balikkan tubuh. Namun untuk kedua kalinya gerakan gadis jelita berbaju merah ini tertahan ketika terdengar suara tawa panjang Ayu Laksmi yang kemudian disusul dengan ucapan.

"Kau salah duga, Gadis Liar! Ini bukan lagi urusan hati! Ini urusan mati hidup yang baru selesai jika salah satu terkapar tak bernyawa!"

Dikatakan gadis liar, paras wajah Dewi Seribu Bunga seketika berubah. Dia kembali putar tubuh dengan wajah merah padam dan mata menyorot tajam. "Kalau begitu ucapmu, sekarang katakan apa maumu!" bentak Dewi Seribu Bunga.

"Kau sudah mendengar sejak tadi!" jawab Ayu Laksmi balik membentak.

Dewi Seribu Bunga tertawa pendek. "Kalau kau inginkan nyawa orang kenapa masih diam? Apa yang kau tunggu, hah?!"

"Bagus! Kau telah siap untuk mati rupanya!" hardik Ayu Laksmi lalu gadis ini melompat ke depan. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi.

"Tahan!" teriak Joko sambil melompat ke depan menghadang gerakan Ayu Laksmi.

Merasa dirinya dihadang demikian rupa, kemarahan Ayu Laksmi makin memuncak. Serta-merta kedua tangannya yang hendak kirimkan pukulan pada Dewi Seribu Bunga dipukulkan pada murid Pendeta Sinting. Menduga bahwa si gadis berjubah biru tak akan memukulnya, Joko hanya tegak dengan kedua tangan mengembang ke samping.

"Bukkk! Bukkk!" Dua jotosan telak menghantam dada dan perut Pendekar 131. Karena pukulan itu bukan pukulan biasa, tapi telah dialiri tenaga dalam tinggi, maka meski sesaat sosok murid Pendeta Sinting tetap diam tak bergeming, namun kejap lain tubuhnya tersurut dua langkah ke belakang!

Saat itulah, Ayu Laksmi cepat berkelebat dan langsung kirim kan tendangan keras ke arah Dewi Seribu Bunga. Dewi Seribu Bunga tak mau bertindak ayal. Dari gerakan dan pukulan yang baru saja disarangkan pada Joko Sableng, gadis berbaju merah ini telah dapat menduga jika gadis berjubah biru berbekal ilmu yang tidak rendah.

"Apa hendak dikata. Meski apa urusannya tidak jelas namun orang telah menginginkan nyawaku!" kata Dewi Seribu Bunga dalam hati, lalu angkat kedua tangannya dan dilintangkan di depan kepala. Saat tendangan sejengkal lagi sampai, Dewi Seribu Bunga sentakkan tangan kiri kanannya.

"Dess! Desss!" Karena Ayu Laksmi belum tahu siapa adanya Dewi Seribu Bunga, dan merasa dirinya berilmu tinggi, membuat gadis berjubah biru ini remehkan orang. Hingga meski tendangannya dialiri tenaga dalam, namun karena kedua tangan yang memapak juga dialiri tenaga dalam, membuat tubuhnya terpental dan terhuyung hampir jatuh.

Namun Ayu Laksmi adalah murid seorang tokoh sakti dan sudah beberapa tahun digembleng, hingga pada saat tubuhnya terhuyung bahkan sampai akan roboh, gadis berjubah biru ini cepat membuat gerakan seperti orang mengayun. Kejap kemudian sosok Ayu Laksmi tampak meliuk ke depan. Lalu...

"Wuuutt! Wuuttt!" Tubuh Ayu Laksmi melesat ke udara setinggi dua tombak. Membuat gerakan jungkir balik dua kali. Begitu tubuhnya melayang turun, sosoknya langsung melesat ke arah Dewi Seribu Bunga dengan kedua tangan sekaligus kirimkan pukulan!

Dewi Seribu Bunga tak tinggal diam. Gadis ini segera pula sentakkan kedua tangannya ke depan.

"Prakk! Prakkk!" Terdengar dua benturan keras. Dua Seruan tertahan segera pula terdengar.

Ayu Laksmi tampak terjajar lima langkah ke belakang. Wajahnya berubah memucat. Tubuhnya bergetar dengan dada bergerak turun naik. MuLutnya terkancing rapat dengan sepasang mata mendelik memandang ke arah Dewi Seribu Bunga.

"Gadis jahanam ini ternyata punya ilmu juga. Jika tak segera kuselesaikan kelak bisa menghadang jalan!" Berpikir ke sana, gadis murid Dewi Siluman ini segera kerahkan tenaga dalam siapkan pukulan 'Kabut Neraka'.

Di lain pihak, Dewi Seribu Bunga tampak berpijak di atas tanah dengan sosok bergoyang-goyang sebelum akhirnya tersurut tiga langkah. Raut wajahnya yang jelita pias dengan napas terengah-engah. Namun gadis murid tokoh bergelar Maut Mata Satu ini segera alirkan tenaga dalam demi melihat lawan membuat gerakan.

"Rupanya dia hendak lepaskan pukulan andalan" duga Dewi Seribu Bunga. Dia segera pula siapkan pukulan sakti 'Api Seribu Bunga'.

Melihat gelagat yang makin buruk, Joko segera m laju kembali menghalangi. "Tunggu! Jangan lakukan pukulan!" teriak Joko. Namun sudah terlambat. Karena Ayu Laksmi yang telah marah besar, apalagi mengetahui Dewi Seribu Bunga memiliki simpanan ilmu telah melesat dan menggebrak terlebih dahulu dengan lepas kan pukulan sakti 'Kabut Neraka'

BAB 8

KABUT putih tampak melesat hamparkan hawa panas dan perdengarkan suara luar biasa dahsyat. Sejurus Dewi Seribu Bunga terkesiap. Tapi kejap lain kedua tangannya bergerak lepaskan pukulan 'Api Seribu Bunga'.

"Wusss!" Dari kedua tangan Dewi Seribu Bunga menggebrak satu sinar yang sebarkan cahaya berwarna-warni. Setengah jalan, sinar itu pecah. Lalu terlihat beberapa bunga-bunga api muncrat yang selain keluarkan hawa luar biasa panas juga berdesing laksana pisau tajam!

"Bummm!" Tempat itu laksana didera gempa hebat. Di udara sekejap terlihat cahaya terang yang kemudian padam dengan keluarkan letupan. Bersamaan itu tanah muncrat membungkus udara hingga suasana menjadi agak pekat. Semak belukar yang ada di sekitar tempat itu terabas rata.

Ketika hamburan tanah surut, Ayu Laksmi terlihat tegak dengan lutut goyah. Dan tak berselang lama gadis berjubah biru ini jatuh terduduk dengan lutut menekuk. Dari mulutnya mengalir darah agak kehitaman pertanda dia telah terluka dalam. Wajahnya pucat pasi seakan tak berdarah. Tubuhnya bergetar keras. Sepasang matanya setengah memejam jelas membayangkan rasa sakit.

Lima belas langkah di seberang Ayu Laksmi, Dewi Seribu Bunga tampak terhuyung-huyung sebentar sebelum akhirnya juga jatuh terduduk. Seperti halnya Ayu Laksmi, gadis berbaju merah ini tampak mengeluarkan darah dari mulutnya. Sementara murid Pendeta Sinting tampak tegak dengan kepala berpaling bergantian ke arah Ayu Laksmi dan Dewi Seribu Bunga.

"Urusan ini tak boleh dibiarkan! Mereka bisa celaka sendiri. Padahal urusannya apa belum jelas...!" gumam Joko lalu melangkah ke arah Dewi Seribu Bunga.

"Dewi... Lekas tinggalkan tempat ini. Tunggu aku diarah selatan. Aku perlu bicara denganmu!" bisik murid Pendeta Sinting.

"Hem... Tampaknya dia juga tak suka dengan kemunculanku di sini! Seenaknya dia memerintahku untuk menunggu, sementara dia sendiri akan menunggui gadis keparat itu! Huh... Jauh berjalan membawa rindu, namun yang kutemui adalah malapetaka yang menyakitkan hati!"

Dewi Seribu Bunga memandang tajam pada Pendekar. Yang dipandang tersenyum dan anggukkan kepala. Namun senyum murid Pendeta Sinting pupus seketika tatkala perlahan-lahan Dewi Seribu Bunga bangkit dan berkata dengan suara bergetar.

"Aku tahu ke mana arah bicaramu, Pendekar 131! Aku memang datang mengganggu keasyikanmu, dan jika kau menginginkan aku pergi, aku tak keberatan! Tapi aku tak bisa diam menerima serangan gadis keparatmu itu!"

Joko jadi terlengak mendengar ucapan Dewi Seribu Bunga. Dia maju lebih mendekat. Mulutnya terbuka hendak berkata, namun telah didahului oleh Dewi Seribu Bunga.

"Tak perlu bicara, Pendekar 131! Dan kuingatkan jangan lagi ikut campur urusan ini! Ini urusan perempuan!"

"Dewi! Jangan salah paham. Aku..." Belum habis ucapan Joko, Dewi Seribu Bunga telah menukas.

"Kau laki-laki. Memalukan bila usil urusan perempuan! Menyingkirlah!"

Selagi Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga bercakap-cakap, diam-diam Ayu Laksmi yang kini sadar jika lawan tidak bisa dipandang remeh segera membatin. "Kalau terjadi bentrok lagi, pasti keadaanku akan bertambah parah. Sementara perjalanan masih jauh. Dan aku juga tak mau mati konyol! Hem... Terpaksa aku harus meminta bantuan!"

Cepat gadis berjubah biru ini selinapkan tangan kanan ke balik jubahnya lalu mengeluarkan satu benda bulat warna putih sebesar telor. Tak menunggu lama, Ayu Laksmi segera lemparkan benda bulat itu ke udara. Sepuluh tombak di atas udara benda bulat putih itu pecah, lalu tampaklah asap biru bertabur.

"Hem... Gadis siapa? Sebelum keparat itu lepaskan tanda. Sudah telanjur lebih baik kudahului!" desis Dewi Seribu Bunga ketika melihat hal yang dilakukan Ayu Laksmi. Namun karena di hadapannya Pendekar masih tegak dengan sikap menghadang, membuat Dewi Seribu Bunga terhalangi. Gadis ini jadi jengkel.

"Kalau kau tetap di situ, berarti kau buat urusan denganku!" bentak Dewi Seribu Bunga dengan mata membesar dan bibir bergetar. Sebenarnya gadis ini tak kuasa ucapkan kata-kata begitu, namun dia kuatkan hati apalagi dilihatnya Joko sepertinya melindungi Ayu Laksmi.

"Dewi... Harap jangan salah sangka. Bagiku, kemunculanmu adalah kebahagiaan tersendiri. Aku tahu siapa dia dan siapa kau! Aku tak ingin melihat kau terluka..." bisik Joko dengan mata tajam menghujam ke dalam mata si gadis.

Ucapan dan tatapan murid Pendeta Sinting membuat gadis berbaju merah di hadapannya dirasuki berbagai perasaan tak karuan. "Dia tak ingin melihatku terluka. Apakah hanya itu? Apakah dia tak tahu lukanya hati lebih pedih dari luka tubuh? Apakah dia memang benar-benar hendak melindungiku? Atau hanya ingin jual kebaikan di hadapanku untuk menutupi hal sebenarnya?"

Selagi Dewi Seribu Bunga bergulat dengan perasaannya sendiri, Ayu Laksmi yang melihat sikap Joko terhadap Dewi Seribu Bunga tak bisa lagi menahan rasa geram. "Keparat jahanam!" makinya lalu sekonyong-konyong hantamkan kedua tangannya ke depan, lepaskan pukulan 'Kabut Neraka'.

"Wuuttt! Wuuuttt!" Kabut putih menggebrak lurus ke arah Pendekar Pedang Tumpul 131 yang tegak membelakangi Ayu Laksmi.

"Perempuan licik!" teriak Dewi Seribu Bunga, lalu peringatkan Joko agar segera menyingkir.

Murid Pendeta Sinting keluarkan gerendengan panjang pendek sambil melompat menghindar. Bersamaan dengan menyingkirnya Joko, Dewi Seribu Bunga segera lepaskan pukulan 'Api Seribu Bunga'.

Saat itulah, mendadak dari balik rumpun semak belukar terdengar satu seruan. Lalu melesat kabut putih yang membantu pukulan 'Kabut Neraka'-nya Ayu Laksmi, hingga saat terdengar dentuman dahsyat akibat bentroknya pukulan, tubuh Dewi Seribu Bunga tampak mental mencelat sampai tiga tombak dan terhuyung-huyung siap menghajar tanah.

Melihat hal demikian, Joko cepat berkelebat. Lalu menyambar tubuh Dewi Seribu Bunga, hingga selamatlah tubuh gadis jelita ini dari jilatan tanah yang sudah menunggu luncuran tubuhnya.

Di seberang, sosok Ayu Laksmi juga tersapu ke belakang. Namun tubuhnya serta-merta terhenti tatkala dua tangan tampak mendekap dari arah belakangnya. Pemilik tangan itu ternyata seorang gadis muda berparas cantik mengenakan jubah warna kuning.

"Kau tak apa-apa, Ayu Laksmi?" tanya gadis berjubah kuning.

Ayu Laksmi gelengkan kepalanya. Gadis berjubah kuning yang bukan lain adalah Wulandari segera salurkan tenaga pada Ayu Laksmi, karena walau Ayu Laksmi menggeleng tapi dari mulutnya keluarkan darah pertanda terluka cukup parah.

"Untung kau segera datang..." gumam Ayu Laksmi setelah merasa tubuhnya agak enak.

"Terlambat sedikit kau memberi tanda, mungkin nyawamu tak tertolong!" ujar Wulandari lalu m melangkah ke depan menjajari Ayu Laksmi dengan sepasang mata memandang tajam tak berkesip ke arah Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga.

Seperti diketahui, Dewi Siluman lewat Paman sekaligus pendampingnya Ki Buyut Pagar Alam berpesan pada ketiga muridnya untuk menuju arah selatan dengan cara berpencar. Namun jika salah satu mendapatkan bahaya, harus segera memberi tanda. Saat itu Wulandari yang juga mendapat tugas khusus dari Ki Buyut Pagar Alam agar membuntuti Sitoresmi tiba-tiba melihat tanda yang dilepaskan Ayu Laksmi. Hingga saat itu juga terpaksa dia berbelok dari belakang Sitoresmi dan berkelebat ke arah datangnya tanda.

Ketika Dewi Seribu Bunga melepas pukulan 'Api Seribu Bunga', saat itulah Wulandari sampai di tempat mana Ayu Laksmi berada, dan melihat Ayu Laksmi mendapat serangan, Wulandari segera pula lepaskan pukulan 'Kabut Neraka'. Hingga membuat pukulan Dewi Seribu Bunga harus bentrok dengan dua pukulan. Inilah yang menyebabkan tubuh Dewi Seribu Bunga terlempar sampai tiga tombak ke belakang.

BAB 9

JAHANAM!" maki si jubah kuning Wulandari dengan sepasang mata tak berkesip memandang ke arah Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga yang tampak masih saling berpelukan.

Dada gadis berjubah kuning ini berdebar keras. Dari mulutnya terdengar gumaman tak jelas. Setelah mendengus keras, dia m elirik pada Ayu Laksmi. "Firasatku tak salah. Pemuda itu pasti punya tujuan sama dengan kita! Mumpung masih di sini, kita habisi sekarang juga!"

Ayu Laksmi tidak menyahut ucapan Wulandari. Sebaliknya gadis berjubah biru ini hanya memandang ke depan dengan tatapan tajam menyengat.

"Siapa gadis berbaju merah itu?!" tanya Wulandari dalam hati. "Ucap Ki Buyut benar. Telah banyak orang bermunculan! Dan pasti tujuannya adalah memburu Kitab Serat Biru! Hm..."

Gadis berjubah kuning ini segera utarakan isi hatinya pada Ayu Laksmi. Untuk beberapa saat Ayu Laksmi terdiam. Namun kejap lain dia palingkan kepala ke arah Wulandari

"Pemuda itu memanggilnya Dewi Seribu Bunga...!"

Tiba-tiba Wulandari tertawa panjang. "Dewi Seribu Bunga?!" ulangnya dengan nada mengejek. "Tampang begitu bergelar Seribu Bunga? Bunga apa?!”

"Tak perlu urus segala macam nama, yang penting keduanya harus segera kita singkirkan!" ujar Ayu Laksmi, lalu tanpa bicara lagi dia salurkan tenaga dalam pada kedua tangannya siapkan pukulan sakti 'Kabut Neraka'.

Wulandari tak menunggu, begitu tahu saudara seperguruannya siapkan pukulan, dia pun cepat alirkan tenaga dalam pada kedua tangannya.

Sementara di depan sana, Pendekar 131 tak hiraukan ucapan-ucapan gadis berjubah biru dan kuning. Murid Pendeta Sinting ini perlahan-lahan menggandeng Dewi Seribu Bunga lalu didudukkan bersandar pada sebatang pohon.

Untuk beberapa saat Ayu Laksmi dan Wulandari sama memandang tak berkedip pada Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga. Tiba-tiba Ayu Laksmi berpaling.

"Kau siap?!"

Wulandari hanya mengangguk. Sejurus kedua murid Dewi Siluman ini saling berpandangan, lalu saling memberi isyarat.

Di seberang, Pendekar 131 tampak memandang tajam pada Dewi Seribu Bunga. Yang dipandang tampak tundukkan kepala dengan menggigit bibir. "Dewi... Aku akan salurkan hawa murni untuk mengurangi rasa sakit di tubuhmu..."

Dewi Seribu Bunga gelengkan kepala. "Aku tak apa-apa. Jangan hiraukan diriku. Lihat! Mereka hendak lepaskan pukulan lagi..."

Tanpa diketahui, dari balik rumpun semak belukar sepasang mata tampak menatap tajam pada Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga, lalu beralih pada Ayu Laksmi dan Wulandari. Lantas beralih lagi pada sosok Pendekar 131. Untuk beberapa saat lamanya mata itu tak bergerak lagi. Terus menatap tak berkesip! Tak berselang lama terlihat dua telapak tangan putih menutupi mata dari balik rumpun semak belukar itu.

"Pendekar 131..." terdengar bisikan halus dari balik rumpun semak belukar. "Tak kuduga jika kau telah punya pilihan. Ah. Dia memang gadis Jelita. Dan pasti dari kalangan orang baik-baik. Tidak seperti diriku, yang banyak dilumuri dosa. Tapi tidak bolehkah orang sepertiku ini mengharap sepenggal hati dari seseorang?"

Telapak tangan yang menutup mata di balik rumpun semak belukar perlahan-lahan diturunkan. Kini tampak sepasang mata itu merah sembab. "Pendekar 131... Tahukah kau, aku... Ah, tapi mungkinkah itu? Aku mengenalmu, tapi kau tidak. Hem... Haruskah aku mencintai orang yang tak mengenalku? Bisakah cinta tumbuh bersemi tanpa adanya saling mengenal? Pendekar 131. Sebenarnya aku ingin kau mengenalku, tapi aku takut. Apa yang harus kulakukan sekarang...? Terus menutup diri dengan hati memendam perasaan? Ataukah aku akan berterus terang...?"

Tiba-tiba satu bayangan berkelebat dan laksana kilat langsung menyelinap masuk ke balik rumpun semak belukar tak jauh dari sepasang mata yang sedari tadi memandang pada Pendekar 131. Sepasang mata itu mementang besar, lalu kepalanya berputar memperhatikan berkeliling. Tiba-tiba sepasang mata itu menyipit dan mem besar ketika menangkap satu sosok tubuh besar dengan enaknya menggeletak telentang sejarak lima langkah di sampingnya.

Orang yang menggeletak ternyata seorang kakek bertubuh besar. Rambutnya putih disanggul tinggi ke atas. Sepasang matanya besar dan lurus memandang langit. Anehnya sepasang mata itu hanya kelihatan putihnya saja pertanda orang yang memilikinya adalah orang buta. Kakek ini mengenakan baju gombrong besar berwarna hijau yang di bagian perutnya tampak melingkar satu ikat pinggang besar yang dipangkalnya terdapat cermin bulat tepat pada depan perutnya.

"Gadis cantik..." tiba-tiba si kakek bertubuh besar buka mulut dengan wajah masih menghadap langit dan tubuh telentang.

"Husss!" terdengar orang memberi isyarat agar si kakek tak buka mulut.

"Jangan takut, Anak cantik! Mereka tak mungkin mendengar..." ujar si kakek lalu tertawa perlahan.

"Siapa orang tua ini? Meski tubuhnya besar, tapi keberadaannya di sampingku tidak bisa kuketahui. Lebih-lebih meski kulihat sepasang matanya buta, namun dia tahu jika aku adalah seorang gadis..." gumam orang di samping si kakek yang sedari tadi sepasang matanya mengintai dan memandangi pada Pendekar 131.

"Biasanya..." kata si kakek. "Dari cahaya sorot mata, air muka dan sikap, orang bisa dengan mudah ditebak. Hemmm... Pandangan matamu suram, rona wajahmu keruh. Sikapmu gelisah. Tentu kau sedang dilanda perasaan hebat. Dan kalau seorang gadis mengalami perasaan hebat demikian, biasanya hal yang dihadapi bukan lain adalah masalah cinta! Bagaimana...?"

Orang di samping si kakek yang ternyata adalah seorang gadis muda berparas cantik mengenakan jubah warna merah dan bukan lain adalah Sitoresmi terdiam. Tapi diam-diam dalam hati si gadis membatin. "Jangan-jangan orang tua ini yang diceritakan Ayu Laksmi tempo hari... Matanya buta, tapi dugaannya tidak pernah meleset!"

"Kalau tak salah, apakah orang di hadapanku ini yang bernama Gendeng Panuntun?!" tanya Sitoresmi dengan suara perlahan setengah berbisik.

Si kakek yang memang Gendeng Panuntun adanya tertawa pelan. Sambil usap-usap cermin di depan perutnya dia berucap. "Hem... Aku senang kau telah mengenalku, Anak Cantik. Kalau tak salah, bukankah kau gadis yang dicari-cari dua temanmu itu?!"

"Betul, Kek...!"

"Bisa katakan padaku, apa yang membuatmu bicara sendiri dan memandang tak berkedip sedari tadi?!"

"Aku tak bisa mengatakan padamu!"

Gendeng Panuntun tertawa perlahan. "Hem... Inilah salah satu kekuatan cinta! Membuat orang lebih percaya pada benda mati daripada yang bernapas. Lebih percaya pada orang yang melihat daripada orang buta!"

"Bukan karena itu aku tak mau mengatakan padamu!" sahut Sitoresmi.

Gendeng Panuntun geleng-gelengkan kepala. Sepasang matanya yang putih bolak-balik mengerjap. Tubuhnya tetap telentang. "Kunasihati, Anak cantik. Beban apa pun yang kau pikul, jika kau mau berbagi dengan orang lain, meski tampak tak berkurang setidak-tidaknya langkahmu akan lebih ringan! Apalagi bebanmu adalah beban hati. Satu beban yang tak tampak dipandang mata tapi bisa membutakan mata!"

"Aku... Aku tak bisa mengutarakannya padamu..." gumam Sitoresmi seraya gelengkan kepalanya perlahan.

"Kuatkan hati. Katakan apa yang kau lihat!"

Setelah terdiam agak lama, akhirnya Sitoresmi berkata dengan suara agak tersendat. "Di seberang sana kulihat dua saudara seperguruanku. Sementara di depan mereka ada seorang pemuda bersama seorang gadis jelita..."

"Kau tertarik dengan pemuda yang kau katakan bersama dengan gadis berparas jelita itu?!"

Sitoresmi tak menjawab. Gendeng Panuntun tersenyum. "Biasanya, jika seorang gadis ditanya dan menjawab tidak, maka jawaban itu belum menjamin apakah gadis itu benar bersungguh-sungguh. Tapi bila si gadis tidak menjawab, bisa dipastikan jawabannya adalah ya!"

Ucapan si kakek membuat gadis di sampingnya berubah paras. Mungkin karena ucapan si kakek ada benarnya, pada akhirnya Sitoresmi mengatakan terus terang apa yang ada dalam hatinya.

"Sebenarnya aku memang menyukainya, Kek! Tapi aku takut. Ada beberapa hal yang pasti akan menghadang. Apalagi dia telah..." Sitoresmi tak kuasa terus kan kata-katanya.

"Anak cantik. Pengorbanan adalah satu hal yang tak dapat dipisahkan dari sebuah cita-cita dan cinta. Tanpa pengorbanan segalanya akan terasa hambar. Dan harus diingat, cinta suci tidak selamanya harus memiliki! Orang sudah merasa bahagia jika orang yang dicintai mendapat kebahagiaan,"

Gendeng Panuntun hentikan bicaranya sebentar sebelum akhirnya meneruskan. "Segala sesuatu ada jalan keluarnya, Anak cantik. Tak terkecuali hal yang kini menjadi beban perasaanmu!"

"Katakanlah Kek. Apa jalan keluar itu!?!"

"Kau harus ambil kuputusan. Lupakan dan tinggalkan dia atau hadapi segala sesuatu yang menghadang dengan resiko berkorban!"

"Kek. Rasanya aku tak bisa lupakan dia. Tapi aku juga belum tahu apakah aku dapat menghadang rintangan!"

"Memutuskan masalah pelik begini membutuhkan waktu panjang. Dan..." Gendeng Panuntun putuskan ucapannya karena dari arah depan sana terdengar suara ledakan keras.

Sitoresmi cepat berpaling untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun karena pemandangan di depan sana dihamburi taburan tanah, hingga untuk beberapa saat gadis berjubah merah ini belum bisa menentukan apa yang terjadi.

"Menurutmu, apakah aku harus keluar dari sini...?" tanya Sitoresmi.

Tak terdengar suara jawaban. Sitoresmi berpaling. Gadis salah seorang murid Dewi Siluman ini melengak tak percaya. Kakek bertubuh besar sudah tidak tampak di tempatnya tadi menggeletak!

BAB 10

SEWAKTU terjadi percakapan antara Sitoresmi dan Gendeng Panuntun, di depan sana Wulandari dan Ayu Laksmi yang sudah sama saling memberi isyarat untuk lepaskan pukulan, segera saja hantamkan kedua tangan masing-masing kirimkan pukulan 'Kabut Neraka'. Karena kedua gadis murid Dewi Siluman ini melepas pukulan secara bersama-sama, maka saat itu juga tempat itu laks ana dibungkus kabut putih. Suasana berubah menjadi luar biasa panas, dan terdengar suara laksana gelombang hebat.

Di seberang, melihat datangnya serangan, Dewi Seribu Bunga cepat peringatkan Pendekar 131. Murid Pendeta Sinting ini segera berpaling. Sejenak dia jadi melengak melihat ganasnya pukulan. Sadar bahwa bukan saja harus selamatkan diri sendiri, namun juga harus menyelamatkan Dewi Seribu Bunga yang tak mungkin lagi bisa bergerak menghindar dengan cepat, murid Pendeta Sinting segera kerahkan tenaga lalu lepaskan pukulan 'Lembur Kuning'.

Kejap kemudian terdengar ledakan hebat ketika pukulan 'Kabut Neraka' yang dilepas secara bersama oleh Wulandari dan Ayu Laksmi bentrok dengan pukulan 'Lembur Kuning'. Tanah bertabur ke udara menutupi pemandangan, lalu tempat itu bergetar keras. Samar-samar dalam pekatnya suasana tampak sosok Wuiandari dan Ayu Laksmi terpental jauh ke belakang lalu sama terkapar di atas tanah.

"Bangsat Jahanam!" maki Wulandari. Setelah meneliti dan tak mengalami cidera parah, gadis berjubah kuning cepat bergerak bangkit. Namun serentak sepasang mata gadis ini membelalak besar. Kedua kakinya dibanting keatas tanah, hingga tanah dua tombak di sekitar tempatnya berdiri bergetar.

"Keparat! Setan alas!" Wulandari terus memaki-maki dengan kepala berputar dan mata liar menyapu.

"Wulandari! Ada..."

"Diam!" potong Wulandari saat Ayu Laksmi hendak ajukan tanya.

Perlahan-lahan Ayu Laksmi bangkit duduk. Memandang sekejap pada Wulandari yang melangkah mondar-mandir sambil terus mengomel. Gadis berjubah biru menarik napas panjang dan dalam.

"Tak ada guna memaki. Yang kita perlukan sekarang bergerak mencari ke mana mereka pergi!" Ternyata di tempat itu tinggal mereka berdua. Sementara Joko Sableng dan Dewi Seribu Bunga sudah tak kelihatan lagi.

"Ini salah kita! Salah kita!" teriak Wulandari.

"Jangan salahkan diri sendiri! Semuanya sudah terjadi!"

"Seandainya kita langsung lepaskan gabung 'Kabut Neraka' dan 'Sinar Setan'! Pasti bangsat tidak akan lolos! Dua kali dia lepas dari tangan kita!

"Waktu kita masih panjang. Kalau tujuan sama, tentu akan bertemu lagi!" ujar Ayu Laksmi mereda kemarahan Wulandari. "Sekarang lebih baik kita teruskan perjalanan!"

Karena Wulandari sepertinya tak mendengarkan ucapan Ayu Laksmi, gadis berjubah biru ini segera putar diri setengah lingkaran. "Kita bertemu di tempat yang ditentukan. Aku pergi sekarang!"

Namun gerakan Ayu Laksmi tertahan tatkala saat itu dari rumpun semak belukar satu sosok tubuh berkelebat keluar. Ayu Laksmi cepat berpaling, sementara Wulandari yang masih dilanda kemarahan cepat angkat kedua tangannya tinggi-tinggi hendak lepaskan pukulan pada sosok yang berkelebat datang.

Tunggu! Aku Sitoresmi!" teriak orang yang berkelebat. "Apa yang terjadi?!" tanya Sitoresmi begitu sosoknya tegak lima langkah di depan Wulandari. Wulandari tak menjawab. Hanya sepasang matanya menatap pada Sitoresmi dengan pandangan menyelidik.

"Mudah-mudahan mereka tak tahu atau mendengar percakapanku dengan orang tua itu..." Diam-diam Sitoresmi membatin. Lalu memandang pada Ayu Laksmi.

Ayu Laksmi memberi isyarat agar Sitoresmi mendekat kearahnya. Tanpa pikir panjang, Sitoresmi segera melangkah mendekat ke arah Ayu Laksmi.

"Teruskan perjalanan! Tak ada gunanya bertanya pada orang yang sedang dilanda amarah! Nanti kuceritakan apa yang baru saja terjadi!" Habis berkata begitu, Ayu Laksmi berkelebat pergi.

Sementara Sitoresmi memandang sejurus pada Wulandari. Dan tanpa keluarkan sepatah katapun dia meninggalkan tempat itu juga.

Karena tak ada lagi suara yang terdengar, Wulandari palingkan wajah ke arah mana tadi Ayu Laksmi berada. Pelipis gadis ini bergerak-gerak. Dagunya mengembung. Kedua tangannya mengepal lalu dihantamkan satu sama lain ketika mendapati tinggal dirinya sendiri di tempat itu.

"Sialan! Jahanam!" makinya lalu bantingkan kaki. Untuk kesekian kalinya tempat itu bergetar. Akhirnya Wulandari melangkah meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba saja salah seorang dari murid Dewi Siluman ini hentikan langkah, karena saat itu terdengar orang tertawa perlahan.

"Heran. Mataku baru saja mengelilingi tempat ini. Lalu Sitoresmi dan Ayu Laksmi baru saja pergi. Adalah aneh jika tiba-tiba saja ada orang di sekitar tempat ini yang tak kuketahui kapan datangnya! Pasti dia memiliki kepandaian luar biasa! Hemm..." Wulandari cepat alirkan tenaga dalam pada kedua tangannya, lalu cepat pula balikkan diri menghadap ke arah datangnya suara tawa.

Wulandari terkesiap. Hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri dilihatnya tegak seorang kakek bertubuh besar mengenakan pakaian gombrong warna hijau dengan rambut disanggul tinggi ke atas. Pada pinggang kakek ini tampak melingkar sebuah ikat pinggang besar yang dibagian depan perutnya terdapat sebuah cermin bulat.

"Adakah kedatanganku membuatmu terkejut?!" si kakek yang bukan lain adalah Gendeng Panuntun ajukan tanya.

Karena masih dibungkus hawa amarah ditambah dengan rasa terkejut dengan kemunculan orang, membuat Wulandari tidak segera menjawab. Malah dia pelototkan sepasang matanya. Namun kejap lain gadis ini segera membentak.

"Orang tua! Hari ini aku tak butuh ocehanmu! Lekas tinggalkan tempat ini!"

Gendeng Panuntun tersenyum. Tangan kanannya mengusap-usap cermin bulat di depan perutnya. Kepalanya bergerak mendongak. Lalu terdengarlah ucapannya. "Kalau kau tak mau dengar omonganku, biarlah omonganku akan kudengar sendiri. Hanya sayang jika..."

"Orang tua!" tukas Wulandari. "Aku tidak main-main! Kudengar kau buka suara, aku tak segan membuat mulutmu bungkam!"

"Ah. Siapa berani main-main denganmu, Anak cantik. Aku bersungguh-sungguh. Aku ingin dengar omonganku sendiri. Jika kau tak suka, harap jangan dengarkan..."

Wulandari yang bersifat tak sabaran, segera melompat ke depan. Kemarahan yang tadi ditindihnya segera dimuntahkan. Gadis ini sambil melompat kirimkan satu jotosan ke arah mulut si kakek.

"Wuuuttt!" Terdengar suara tawa pendek. Wulandari tersentak namun makin naik pitam karena bukan saja jotosan tangannya tak mengenai sasaran, namun di depannya si kakek mendongak dengan perdengarkan tawa!

Mendadak gadis berjubah kuning ini membuat gerakan berputar dua kali di atas tanah. Pada putaran ketiga, dengan mengandalkan kaki sebelah sebagai tumpuan Wulandari hentikan putarannya tepat saat menghadap Gendeng Panuntun. Lalu dengan cepat kaki sebelahnya melesat lepaskan satu tendangan.

"Buukkk!" Tendangan kaki Wulandari mendarat telak di mulut Gendeng Panuntun. Namun untuk kedua kalinya gadis berjubah kuning ini melengak kaget. Karena jangankan mengeluh, kepala kakek bertubuh besar ini pun tak bergeming! Bahkan sambil tertawa-tawa, Gendeng Panuntun usap-usap mulutnya yang baru saja terkena tendangan.

"Luar biasa. Tendangan hebat! Sekarang boleh aku bicara?!" ujar Gendeng Panuntun sambil tersenyum.

Wulandari tegak di atas tanah dengan mata terbeliak dan mulut terkancing rapat. Di hadapannya, Gendeng Panuntun usap-usap cerminnya lalu tanpa pedulikan orang dia buka mulut.

"Manusia memang diberi perasaan marah. Tapi jika salah tempat akan jadi salah kaprah. Berjalanlah dengan membawa lentera. Di sana akan kau temui bahtera..."

Meski dada Wuiandari masih disarati dengan rasa geram, namun diam-diam dia juga menyimak kata-kata Gendeng Panuntun. "Sialan betul! Ucapannya menyinggung diriku! Aku tak mau dengar lagi ucapannya!" ucap Wulandari dalam hati. Lalu gadis ini segera keluarkan hardikan keras tatkala dilihatnya Gendeng Panuntun hendak buka mulutnya lagi.

"Gendeng Panuntun! Cukup! Tinggalkan tempat ini!"

"Ah. Sebenarnya aku masih ingin mendengar ucapanku sendiri. Namun karena kau tak berkenan, apa boleh buat. Aku akan turuti perintahmu tinggalkan tempat ini. Tapi..."

"Tak ada tapi!" sentak Wuiandari menukas ucapan si kakek. Kedua tangannya diangkat tinggi siapkan pukulan 'Kabut Neraka'.

"Ah, 'Kabut Neraka'. Jadi kau masih ada sangkut-paut dengan Durga Ratih."

Wulandari tegak terbelalak. Kedua tangannya tertahan di udara. Gadis ini diam-diam juga merasa terkejut bagaimana Gendeng Panuntun tahu bahwa dirinya hendak siap lepaskan pukulan 'Kabut Neraka', meski dia juga bertanya-tanya sendiri siapa yang dimaksud dengan Durga Ratih.

"Orang tua! Jangan bicara sembarangan. Siapa Durga Ratih?!" kata Wulandari pada akhirnya.

"Sebetulnya aku ingin katakan padamu. Namun karena sudah waktunya aku tinggalkan tempat ini. jadi sementara waktu biarlah tersimpan dulu jawaban itu untuk kita bicarakan lagi suatu hari kelak. Maafkan diri tua bangka ini..." Gendeng Panuntun usap-usap cerminnya. Lalu putar tubuh dan masih dengan mendongak, kakek ini melangkah ke jurusan selatan.

Wulandari tatapi punggung orang dengan mata menerawang jauh. "Durga Ratih... Hemmm... Jadi masih ada orang lain yang memiliki pukulan 'Kabut Neraka'. Aku teringat pada kecurigaan Ayu Laksmi yang katanya mengenali pukulan orang. Jangan-jangan orang itu adalah Durga Ratih yang masih tak berani tunjukkan diri. Ah, aku juga sepertinya mengenali pukulan perempuan berpunuk tempo hari. Apakah dia Durga Ratih...? Edan! Kenapa aku jadi pusing urusan orang? Aku harus segera pergi. Jika tidak, aku bisa kehilangan jejak Sitoresmi!"

Berpikir begitu, akhirnya Wulandari segera berkelebat tinggalkan tempat yang telah sepi itu.

********************

BAB 11

SOSOK berjubah putih yang basah kuyup oleh keringat itu hentikan larinya saat sepasang kakinya menginjak lereng bukit Watu Gedeg. Untuk beberapa lama sepasang matanya memperhatikan tak berkedip ke seluruh lereng bukit yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan rimbun semak belukar.

"Beringin kem bar... Itulah tandanya!" desis si sosok seraya terus mengawasi berkeliling. Lalu orang ini melompat ke samping. Dari tempatnya kini berdiri, di antara kerapatan pohon dan rimbun semak belukar, orang ini melihat dua pohon beringin besar yang berdiri kokoh berjajar. Tanpa banyak pikir lagi, orang itu segera berkelebat. Kejap lain tubuhnya telah tegap di depan dua pohon beringin besar.

"Beringin kembar. Inilah tempat yang kucari!" gumam si orang yang ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan dengan rambut panjang mengenakan jubah besar warna putih. Sosoknya besar tegap. Sepasang matanya tajam ditingkah dagu kokoh dan mulut selalu sunggingkan senyum aneh.

Dengan langkah pasti, si pemuda melangkah ke arah beringin kembar di mana di belakangnya tampak sebuah gua batu yang telah disamaki lumut hitam. Namun langkah pemuda ini tertahan ketika tiba-tiba sepasang telinganya menangkap suara orang mendesah panjang. Namun sejenak kemudian tempat itu kembali sepi. Meski kuduknya sedikit meremang, namun si pemuda terus kan langkah. Baru tiga langkah kembali terdengar suara orang mendesah. Bahkan kali ini disusul dengan suara orang mengerang laksana dicekik!

"Hem... Dengan terdengarnya suara itu, berarti di sini masih dihuni manusia! Tapi aneh. Kenapa yang terdengar hanya desahan panjang dan suara orang seperti hendak menjerit...?!"

Si pemuda tenangkan hati. Dia tegak diam menunggu. Tapi kali ini suara itu tidak lagi terdengar. Si pemuda tajamkan telinga. Tapi suara desahan dan jerit tertahan itu tak lagi tertangkap telinganya.

"Jangan-jangan orang sekarat hendak..." Si pemuda kini cepat melompat dan segera menerobos masuk ke dalam gua batu.

Untuk sesaat si pemuda disambut dengan suasana gelap. Namun setelah agak terbiasa sepasang matanya mulai mencari-cari. Saat itulah suara desahan panjang terdengar lagi. Si pemuda cepat palingkan kepala ke arah sumber datangnya suara. Si pemuda mendadak keluarkan suara terperanjat ketika sepasang matanya melihat sesosok tubuh tergantung dengan kaki di atas kepala di bawah! Anehnya, meski tubuh orang ini tampak tergantung, yang menggantung sosoknya bukanlah tali. Melainkan satu cahaya hitam berkilat-kilat. Cahaya hitam itu menggantung mulai dari langit-langit gua sampai membelit sekujur tubuh orang.

"Ini pasti ulah orang yang memiliki kepandaian luar biasa! Apakah orang ini yang kucari?!" si pemuda pandangi berlama-lama tubuh orang yang tergantung. Ternyata dia adalah seorang kakek m engenakan pakaian tambal-tambal. Rambutnya putih panjang. Wajahnya cekung dengan dibalut kulit keriput tipis.

"Harus kupastikan apakah orang ini yang kucari!" kata si pemuda dalam hati lalu sunggingkan senyum aneh. "Orang tua! Apakah kau yang bergelar Dewa Sukma?!"

Sepasang mata orang yang tergantung dengan tali aneh itu membuka. Namun mulutnya tetap bungkam tak perdengarkan suara menjawab. Bahkan tak lama kemudian, sepasang matanya memejam kembali.

"Jangan-jangan dia tak dengar..." Si pemuda ulangi lagi pertanyaannya dengan suara dikeraskan.

Orang yang tergantung tidak menjawab. Malah membuka matanya pun tidak, membuat si pemuda mulai agak jengkel karena dia yakin orang yang ditanya mendengar suaranya. Tapi karena merasa punya satu kepentingan, si pemuda menindih rasa geramnya, lalu kembali berkata dengan suara agak lirih.

"Orang tua! Ada pesan untukmu dari seseorang..."

Si pemuda menunggu. Mula-mula tak ada gerakan apa-apa dari orang tua tergantung itu. Tapi tak lama kemudian matanya terbuka. Malah kini menatap tajam ke arah si pemuda.

"Siapa kau?!" tiba-tiba si kakek ajukan tanya. Suaranya keras menggelenggar, hingga karena tak menyangka, si pemuda sempat terkesiap.

"Hem... Caraku mengena!" desis si pemuda lalu kembali sunggingkan senyum aneh. "Menghadapi orang macam begini, tidak boleh tunjukkan kelemahan. Nama pun harus terdengar angker!"

Setelah terdiam agak lama, si pemuda akhirnya menjawab tanya si kakek. "Aku Malaikat Penggali Kubur! Kau bukankah Jalu Paksi yang lebih dikenal dengan gelaran Dewa Sukma? Benar?!"

"Bertahun-tahun malang melintang, hanya beberapa orang tertentu yang tahu nama asliku. Orang ini masih muda, tapi rupanya telah tahu banyak tentang diriku..."

"Aku tak mau jawab sebelum kau katakan siapa kau sebenarnya dan siapa orang yang menitip pesan padamu!"

"Aku adalah murid tunggal Bayu Bajra. Dialah yang juga titip pesan padamu!"

"Bayu Bajra adikku..." gumam si kakek. "Hem... Sepuluh tahun silam dia memang mengatakan punya seorang murid. Dan kalau pemuda ini sampai tahu nama asliku juga tempat tinggalku, berarti dia tak berkata mendustaiku..."

"Kek! Ini pasti perbuatan orang. Apa sebenarnya yang telah terjadi?!" pemuda yang bukan lain adalah Gumara yang kini mengaku bergelar Malaikat Penggali Kubur cepat ajukan tanya sebelum si kakek yang ternyata adalah kakak Bayu Bajra, guru Gumara alias Malaikat Penggali Kubur buka mulut.

"Gila! Ini memang bukan perbuatan setan. Tapi perbuatan manusia berhati setan!" ujar si kakek yang sebenarnya bukan lain adalah Jalu Paksi yang dalam rimba persilatan lebih dikenal dengan gelar Dewa Sukma. Seorang tokoh kelas atas yang beberapa puluh tahun silam bersama tokoh-tokoh besar lainnya sempat malang melintang meramaikan rimba persilatan.

"Tapi kenapa kau tidak segera bebaskan dirimu, Kek? Bukankah...”

Jalu Paksi alias Dewa Sukma telah tertawa keras sebelum ucapan Malaikat Penggali Kubur selesai, hingga si pemuda putus kan ucapannya.

"Anak muda! Ini bukan tali biasa. Aku bisa bebas dengan tangan orang lain! Kau mau bantu aku?!"

Malaikat Penggali Kubur tak buka mulut untuk memberikan jawab, namun diam-diam otaknya merencana.

"Hai! Kau dengar ucapku. Kenapa tidak memberi jawab?!" tanya Dewa Sukma.

Malaikat Penggali Kubur sunggingkan senyum aneh. Seraya melangkah mendekat dia angguk-anggukkan kepala. Lalu memandangi cahaya hitam yang menggantung dan membelit sekujur tubuh Dewa Sukma. "Orang tua. Sebelum aku katakan mau atau tidak, aku ingin pastikan dulu apakah kau betul-betul Dewa Sukma?!"

"Kurang ajar! Bukit Watu Gedeg hanya dihuni oleh satu orang! Dan jika kau tak mengatakan murid Bayu Bajra adikku, lebih baik aku mati daripada buka mulut minta bantuan!"

"Hem... Sekarang katakan apa yang harus kulakukan!"

"Cari simpul terakhir dari cahaya sialan ini. Kerahkan sedikit tenaga dalam lalu tarik simpul dengan menahan napas! Ingat baik-baik. Waktu menarik tali simpul kau harus membelakangi! Sekali kau lakukan dengan menghadap, bukan hanya aku yang celaka, namun kau juga akan menemui ajal! Jelas? Sekarang lakukan! Aku sudah tak tahan!"

Malaikat Penggali Kubur bukannya segera melakukan apa yang diperintahkan si kakek. Melainkan pandangi cahaya hitam seraya manggut-manggut. Dan tiba-tiba pemuda ini balikkan tubuh dan melangkah menjauh.

"Gila! Apa yang kau lakukan?! Hendak ke mana kau?"

"Aku tak bisa membantumu, Kek! Dan aku sebenarnya belum yakin benar apakah kau betul-betul Dewa Sukma adik Eyang guruku!"

"Setan! Kalau tak ikut bertanggung jawab, sudah sejak lama aku ingin mati saja!" maki si kakek dalam hati. Lalu berujar dengan suara keras. "Anak muda! Bebaskan aku dulu, nanti akan kubuktikan keraguanmu!"

Malaikat Penggali Kubur tersenyum. Lalu balikkan tubuh menghadap mulut gua. "Kek! Aku yang akan membantumu. Nyawamu sekarang tergantung padaku. Jadi aku yang menentukan!"

"Hai! Apa maksudmu?!"

"Pembuktian bahwa dirimu adalah Dewa Sukma harus kau lakukan sebelum aku membuka ikatan celaka itu! Bagaimana? Aku tak mau tertipu orang yang mengaku-ngaku sebagai Dewa Sukma."

"Bagaimana aku akan buktikan? Lihat. Aku hanya bisa buka mulut dan mata!"

"Justru dari situlah aku butuh pembuktian itu!"

"Hem... Katakan apa sebenarnya yang kau mau!"

"Eyang guru pernah mengatakan bahwa kau memegang peta tempat tersimpannya kitab sakti Serat Biru. Sekarang katakan di mana kau simpan peta itu! Kau cukup buka mulut saja!"

Dewa Sukma menggerendeng tak habis-habisnya dalam hati. Sepasang matanya menyipit membesar perhatikan tak berkesip pada punggung Malaikat Penggali Kubur. Yang dipandangi tersenyum aneh. Pemuda murid Bayu Bajra ini sebenarnya sejak semula sudah memendam niat buruk. Dasar sifatnya pun tinggi hati. Namun dengan kelicikannya dia dapat menyimpan dan menyembunyikan sifat aslinya. Hingga gurunya sendiri tak tahu jika muridnya mempunyai maksud tertentu di balik sikap baiknya selama lima belas tahun menimba ilmu.

Seraya masih membelakangi, Malaikat Penggali Kubur berujar. "Kau tak buka mulut. Berarti kau bukan Dewa Sukma. Hem... Selamat tinggal!" Malaikat Penggali Kubur m elangkah. Tapi sebelum kakinya bergerak, Dewa Sukma telah berteriak.

"Tunggu!"

"Aku ada perlu lain yang penting. Lekas katakan atau aku tinggalkan tempat ini!"

"Benar-benar sialan pemuda ini! Hem... Kalau saja aku tak merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi menimpa rimba persilatan..."

"Anak muda!" akhirnya Dewa Sukma berkata. "Hantam mulut gua sebelah kiri!"

"Kau rupanya ingin permainkan aku, Orang tua!"

"Sialan kurang ajar! Siapa main-main?! Lakukan apa yang kukatakan atau kau tak akan mendapatkan bukti itu!"

"Hem... Jangan-jangan peta itu disimpan di mulut gua yang dikatakannya. Betul-betul tempat simpanan yang tak terduga!" pikir Malaikat Penggali Kubur. Pemuda murid Bayu Bajra ini melangkah perlahan ke arah mulut gua, sejenak sepasang matanya memperhatikan batu yang menjadi bagian dari mulut gua.

"Jika kau menipu, bukan saja aku akan tinggalkan tempat ini, tapi aku akan mengantarmu ke liang akherat!" desis Malaikat Penggali Kubur.

Lalu serta-merta gerakkan tangan kanannya menjotos mulut gua sebelah kiri. Karena jotosan itu mengandung tenaga dalam, sekali jotos batu besar pasti akan hancur berkeping-keping. Tapi Malaikat Penggali Kubur jadi terkesiap. Jotosannya hanya membuat mulut gua bergetar! Sementara tak secuil pun mulut gua itu bertaburan.

"Kau harus kerahkan segenap tenaga dalammu, Anak muda!"

Malaikat Penggali Kubur menyeringai. Dia segera kerahkan segenap tenaga dalamnya. Dan sekonyong-konyong kedua tangannya bergerak sekaligus menghantam mulut gua.

"Bukkk! Buukkk! Byaarrr!"

Mulut gua sebelah kiri hancur berantakan. Di antara hamburan batu si pemuda melihat benda mirip kotak yang terlempar keluar. Tanpa pikir panjang lagi, Malaikat Penggali Kubur segera melesat menghambur keluar. Kotak berwarna hitam yang tergeletak nyangsrang di antara rumpun semak belukar cepat diambil. Dengan dada bergetar, kotak hitam segera dibuka. Mata Malaikat Penggali Kubur tiba-tiba mendelik besar tatkala dapati kotak hitam itu tidak berisi apa-apa!

"Jahanam! Penipu busuk!" kotak hitam dibanting. Dan serta-merta tubuhnya melesat ke dalam gua. Tegak dengan mulut terkancing tiga langkah dihadapan tubuh Dewa Sukma yang tergantung.

Dewa Sukma tersenyum. Lalu berujar lirih. "Jangan berlaku bodoh, Anak muda! Di dalam kotak itu kau memang tak akan menemukan peta. Namun jika kau buka lapisan bagian tutup kotak, di situ akan kau dapatkan peta itu! Ayo sekarang bebaskan aku!"

"Akan kubuktikan dahulu ucapanmu!" kata Malaikat Penggali Kubur, lalu bergerak lagi berkelebat keluar.

Sementara di dalam gua Dewa Sukma kembali hanya bisa menghela napas. Di luar gua, Malaikat Penggali Kubur segera lakukan seperti apa yang dikatakan Dewa Sukma. Dan mendadak terbelalaklah mata murid Bayu Bajra ini. Pada lapisan penutup kotak dia menemukan lipatan kain putih yang ketika dipentangkan terlihat gambar sebuah peta!

"Aku berhasil! Ha ha ha...!"

"Hai! Sekarang giliranmu lakukan apa yang kuperintah!" Dari dalam gua Dewa Sukma berteriak.

"Dewa Sukma. Kau masih inginkan peta ini?!" Dari luar Malaikat Penggali Kubur ajukan tanya.

"Hai! Apa maksudmu?!"

"Akan kubuktikan dahulu apakah peta ini asli atau palsu!"

"Setan! Bagaimana harus membuktikannya?!"

"Kau tidak bodoh Dewa Sukma! Aku akan melakukan perjalanan menurut apa yang tertera dalam peta ini. Jika terbukti benar sampai ke Pulau Biru, berarti peta ini asli. Jadi harap kau bersabar menunggu sampai aku tiba kembali. Ha ha ha...!"

"Jahanam! Setan Alas! Kau menipuku!" teriak Dewa Sukma.

"Berteriaklah sepuasmu, Dewa Sukma. Itu akan mempercepat hari kematianmu! Ha ha ha…!"

Suara tawa Malaikat Penggali Kubur makin lama makin perlahan sebelum akhirnya lenyap.

BAB 12

KIRA-KIRA baru seratus tombak dari tempat dimana Dewa Sukma berada, tepatnya pada satu dataran luas yang jarang ditumbuh! pohon dan semak-belukar, satu teguran keras mendadak terdengar, Gumara yang kini menggelari diri dengan julukan Malaikat Penggali Kubur bukan saja tersentak kaget, namun juga memutuskan suara tawanya.

“Garis kehidupanmu mujur, Anak muda! Kulihat kau tertawa-tawa sendirian. Tentu kau baru saja mendapat rejeki besar. Sudi berbagi rejeki itu barang sedikit denganku?!”

"Meski aku belum bisa memastikan apakah peta ini asli atau palsu, namun tidak akan kubiarkan anak manusia jenis apa pun yang hendak menyentuhnya! Aneh, dari mana bangsat itu tahu aku mendapat rejeki? Tentu yang dimaksud adalah peta ini. Hemmm..."

Meski baru saja jejakkan kaki di rimba persilatan, namun karena pemuda murid Bayu Bajra ini punya sifat tinggi hati walau dia tak menunjukkan di depan gurunya, dia segera putar diri lalu berkacak pinggang dengan sepasang mata menyengat tajam memandang tak berkesip kedepan.

Dari tempatnya berdiri, Malaikat Penggali Kubur melihat seorang kakek bertubuh tinggi kurus. Sepasang matanya besar melotot. Rambutnya panjang kelimis diuraikan ke depan, hingga raut wajah kakek ini hanya terlihat samar-samar. Dia mengenakan pakaian panjang gombrang sebatas mata kaki berwarna hitam.

Keangkeran sosok kakek ini makin nyata jika orang melihat pada raut wajahnya yang kelihatan samar-samar, karena ternyata warna kulit wajahnya hitam legam. Kelopak matanya juga terlihat besar. Si kakek tegak dengan sedikit tengadah dan kedua tangan merangkap di depan dada. Lalu terlihat sepasang matanya bergerak memejam. Hingga kini dari balik uraian rambutnya yang tampak raut hitam angker!

Walau Malaikat Penggali Kubur merasa memiliki kepandaian tinggi dan pada dasarnya punya sifat sombong, melihat tampang si kakek mau tak mau membuat hatinya berdebar. Namun semua itu hanya sekejap. Di lain kejap sifat aslinya muncul. Sambil ikut dongakkan kepala, Malaikat Penggali Kubur perdengarkan dengusan keras. Lalu terdengarlah suara bentakannya.

"Siapa kau?! Berani menghadang, selembar nyawamu melayang!"

Si kakek luruskan kepalanya menghadap Malaikat Penggali Kubur. Sepasang matanya masih tetap terpejam rapat. Tiba-tiba si kakek tertawa bergelak. "Melihat kau tanya siapa aku, jelas pertanda kau masih bau kencur dalam dunia persilatan! Hem... Tapi tak ada salahnya kita berkenalan. Pasang telinga baik-baik! Dunia persilatan memberi julukan padaku Datuk Hitam! Kau sendiri siapa?!"

Malaikat Penggali Kubur tersenyum aneh. "Aku Malaikat Penggali Kubur! Manusia yang membuat liang untuk kuburkan siapa saja yang berani ikut campur semua urusanku! Kau dengar?!"

"Hem... Begitu? Pasti kau memiliki ilmu hebat. Tapi ucapan setinggi langit hanya akan ditertawakan orang tanpa tunjukkan bukti! Dan jangan mengira Datuk Hitam lari terkentut-kentut dengar ancaman orang!"

"Inilah saat-saat yang selama ini kutunggu. Menjajal ilmu yang telah kupelajari selama lima belas tahun..." batin Malaikat Penggali Kubur. Kemudian alihkan pandangannya pada jurusan lain seraya berkata. "Akan kulipat lidahmu hingga tak bisa bicara, kubungkam mulutmu hingga tak dapat tertawa sebagai bukti ucapan Malaikat Penggali Kubur bukan seperti busa di lautan!"

"Hem... Bangsat tengik sombong ini nampaknya memang berbekal ilmu. Tapi apakah dia benar-benar telah mendapatkan peta itu? Dia datang dari jurusan di mana Dewa Sukma berada. Wajahnya cerah berseri. Kalau belum tahu dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana aku bisa membuktikannya?!" kata Datuk Hitam dalam hati. Lalu berujar.

"Bagi Datuk Hitam, nyawa manusia tidak ada harganya. Namun saat ini tanganku masih bisa diajak kompromi. Hanya saja hal itu harus mendapat imbalan. Dari itulah aku tadi menawarkan padamu untuk memberi sediki rejeki yang sudah kau peroleh!"

“Jahanam! Apa yang kau makksud dengan rejeki, hah?!" hardik Malaikat Penggali Kubur sambil palingkan kembali kepalanya.

Datuk Hitam tertawa berbahak. "Kau datang dengan tertawa-tawa dari arah tempat Dewa Sukma. Kalau tidak mendapat rejeki dari Dewa Sukma, mana mungkin kau berbuat begitu? Hanya orang gila yang tertawa sendiri tanpa ada sebab!"

Rahang Malaikat Penggali Kubur mengembang, pelipis kiri kanannya bergerak-gerak. Sepasang matanya terpentang angker, pertanda dadanya telah terbungkus hawa amarah. Namun Malaikat Penggali Kubur segera tersenyum aneh. Pemuda ini selain berhati sombong ternyata juga memendam sifat licik dan pura-pura. Bahkan begitu liciknya, sampai-sampai gurunya tak mengetahui sifat asli muridnya ini.

"Datuk Hitam!" ucap Malaikat Penggali Kubur. "Orang tertawa bukan selamanya karena mendapat rejeki. Demikian juga dengan apa yang kualami saat ini!"

"Hem... Jika begitu, katakan apa yang membuatmu seperti orang gila itu!"

Meski dadanya bergemuruh disebut seperti orang gila, tapi si pemuda bukannya naik pitam. Sebaliknya dia hanya tersenyum, lalu berkata. "Aku memang datang dari tempat Dewa Sukma untuk menyampaikan pesan seseorang. Tapi sampai di sana, pesan itu terpaksa urung kusampaikan secara langsung, dan hanya kutulis lalu kuletakkan di depan tempat tinggalnya. Lalu aku pergi begitu saja dan bertemu denganmu di sini!"

"Keparat! Aku tanya kenapa kau bertingkah seperti orang gila!" sentak Datuk Hitam seraya goyang-goyangkan kepala, hingga rambutnya yang mengurai kedepan bergerak sedikit menyibak ke kiri kanan.

"Yang kau tanyakan itulah yang juga menyebabkan aku urungkan niat sampaikan pesan. Aku tak bisa katakan padamu, lebih baik kau melihatnya sendiri saja!" Lalu tiba-tiba Malaikat Penggali Kubur tertawa bergelak-gelak.

"Aku tak percaya ucapan orang gila sepertimu!”

"Percaya atau tidak itu urusanmu! Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau juga akan berlaku mirip orang gila jika telah melihatnya sendiri!"

"Hemm... Aku jadi ingin lihat apa sebenarnya yang terjadi. Tapi aku tidak mudah dipecundangi ucapan anak bau kencur seperti dia..." desis Datuk Hitam. Lalu maju selangkah dan berkata. "Mendengar ceritamu, aku tak sabar ingin melihatnya. Tapi sebelum itu, serahkan dulu peta itu padaku!"

Tampang Malaikat Penggali Kubur langsung berubah. Untuk beberapa saat, sepasang matanya tak berkesip pandangi sosok Datuk Hitam. "Jahanam ini ternyata telah tahu. Sialan betul! Tapi apa hendak dikata. Pantang serahkan benda yang telah berada di tangan!" batinnya.

Di depan sana, Datuk Hitam jerengkan sepasang matanya. Sekali lihat dia telah tahu apa yang berkecamuk dalam dada si pemuda. "Hemm... Gertakku nyatanya tidak sia-sia. Perubahan wajahnya menunjukkan bahwa bangsat itu telah mendapatkan rejeki dari Dewa Sukma. Heran... Dewa Sukma bukanlah tokoh yang begitu saja bisa dibikin mampus, apalagi serahkan peta yang menyimpan benda sakti. Untuk urusan ini saja aku siapkan diri bertahun-tahun lamanya. Kalau bangsat itu berhasil mendapatkan peta itu, berarti dia bukan lawan yang dapat dipandang enteng..." Diam-diam Datuk Hitam juga berkata dalam hati. Setelah berpikir sejurus, akhirnya Datuk Hitam berujar.

"Bagaimana?! Jangan banyak pikir. Waktuku hanya sedikit! Ada urusan lain yang harus cepat kuselesaikan!"

Malaikat Penggali Kubur mendengus keras. Namun sejauh ini dia belum beri jawaban. Hingga Datuk Hitam kembali buka mulut.

"Baik! Mungkin aku harus menunda dahulu urusanku. Dan..."

"Kau tak akan pernah selesaikan urusanmu, Datuk Hitam! Hari ini aku telah menggali lobang kubur untukmu!" tukas Malaikat Penggali Kubur.

"Hemm... Kita buktikan untuk siapa lobang kubur yang kau gali! Jangan-jangan kau gali lobang kubur untuk dirimu sendiri!" kata Datuk Hitam lalu tertawa berderai.

Namun suara tawa itu mendadak terputus laksana dirobek setan ketika tiba-tiba Malaikat Penggali Kubur membuat gerakan seperti menyembah. Kedua tangannya saling menakup dan diangkat sejajar kening. Lalu kaki kanannya ditarik sedikit kebelakang. Kejap lain tubuhnya melesat ke depan dengan kedua tangan lepaskan satu pukulan ke arah kepala Datuk Hitam!

Datuk Hitam dongakkan kepala tanpa membuat gerakan menghindar. Begitu sejengkal lagi kedua tangan Malaikat Penggali Kubur menghantam pecah batok kepalanya, kakek berwajah hitam ini angkat kedua tangannya.

"Bukkk! Bukkk!" Dua pasang tangan saling beradu keras. Datuk Hitam rasakan sapuan luar biasa keras, hingga begitu terjadi bentrok tangan, sosok kakek ini terjajar satu tombak ke belakang. Ketika si kakek singkapkan kain di bagian lengannya, dia terlengak kaget mendapati lengan tangannya menggembung berwarna merah! Si kakek cepat alirkan tenaga dalam, lalu pandangi Malaikat Penggali Kubur dengan mata mendelik angker.

Saat itu, Malaikat Penggali Kubur tampak tegak dengan sepasang kaki goyang. Namun raut wajahnya jelas memendam rasa sakit. Malah kejap itu juga sepasang matanya bergerak terpejam. Namun sejurus kemudian membuka kembali dan balas menatap pandangan Datuk Hitam dengan senyum seringai!

Datuk Hitam diam-diam bertanya-tanya sendiri dalam hati tentang siapa sebenarnya adanya si pemuda. Dia memang telah tahu jika Dewa Sukma adalah seorang tokoh yang memiliki ilmu tinggi, tapi dengan sekali bentrok tadi, dia sadar bahwa tidak m mustahil jika si pemuda dapat mengimbangi Dewa Sukma. Hal itu membuatnya tidak berani bertindak ayal. Bukan saja karena bisa mendapat celaka, tapi persiapannya bertahun-tahun hanya akan sia-sia. Berpikir sampai di situ, Datuk Hitam segera kerahkan tenaga dalam pada kedua tangan dan kakinya. Kejap itu juga sepasang kaki si kakek bergerak-gerak. Dan...

"Blepp! Bleepp!" Sepasang kaki Datuk Hitam masuk ke dalam tanah sebatas mata kaki.

Malaikat Penggali Kubur sedikit terkesiap. Karena bersamaan dengan masuknya kaki si kakek ke dalam tanah, tempat dia tegak berdiri bergetar keras! Belum tahu apa yang hendak diperbuat si kakek, mendadak si kakek melesat ke atas. Di udara dia membuat gerakan telentang, tiba-tiba seraya masih telentang tubuhnya berputar cepat dan menggebrak lurus ke arah Malaikat Penggali Kubur dengan sepasang kaki mencuat dari balik pakaian hitamnya, lepaskan satu tendangan dahsyat!

Malaikat Penggali Kubur pentangkan sepasang matanya dengan kedua tangan diangkat siap kirimkan pukulan. Namun sebelum tangannya bergerak, si pemuda rasakan deruan angin luar biasa kencang. "Keparat!" umpat Malaikat Penggali Kubur lalu arahkan kedua tangannya ke depan. Baru tangannya bergerak setengah jalan hendak lepaskan pukulan, tubuhnya terhuyung ke belakang hingga kedua tangannya oleng ke atas dan pukulannya melenceng menghajar tempat kosong di udara.

Malaikat Penggali Kubur kertakkan rahang, dia lipat gandakan tenaga dalam, lalu kedua tangannya kembali diangkat ke atas siap lancarkan pukulan. Namun pemuda murid Bayu Bajra ini jadi terkesiap. Deru angin yang datang dari arah depan begitu luar biasa dahsyat, hingga sebelum dia sempat hantamkan kedua tangannya lepaskan pukulan, tubuhnya tersapu ke belakang sampai empat langkah! Kejap kemudian sepasang kaki tampak mencuat dari balik pakaian hitam di depan hidung Malaikat Penggali Kubur!

"Bukkk!" Sosok Malaikat Penggali Kubur terpental. Datuk Hitam segera pula berkelebat di udara, memburu tubuh Malaikat Penggali Kubur. Lalu untuk kedua kalinya kaki kanannya bergerak lepaskan satu tendangan.

"Bukkk!" Malaikat Penggali Kubur berseru tertahan. Tubuhnya melayang dan terbanting di udara. Lalu menghujam ke bawah dan terpuruk dengan kepala lebih dulu menghajar tanah. Malaikat Penggali Kubur rasakan tubuh dan kepalanya laksana pecah. Tapi mendapati gelagat bahaya belum selesai, pemuda murid Bayu Bajra ini segera kerahkan tenaga dalam, lalu secepat kilat bergerak bangkit dan tegak dengan kaki terkembang.

Dua tombak dihadapannya, si pemuda melihat Datuk Hitam goyang-goyangkan kepala lalu tertawa terbahak dengan kepala tengadah dan mata terpejam. Mendadak Datuk Hitam ulurkan tangannya ke depan.

"Peta itu atau akan kuambil beserta nyawamu sekalian!"

Malaikat Penggali Kubur katupkan mulut. Sejenak dia terkesiap, karena mulutnya terasa asin pertanda ada darah yang menunjukkan bahwa dirinya telah terluka bagian dalam.

"Ha ha ha...!" Tiba-tiba Datuk Hitam perdengarkan tawa panjang. Lalu berkata. "Jangan bertindak bodoh! Kau telah terluka, memutus selembar nyawamu saat ini bagiku semudah membalik telapak tangan!"

Malaikat Penggali Kubur tak hiraukan ucapan orang. Sebaliknya dia kepalkan tangan. Tak menunggu lama, si pemuda segera angkat kedua tangannya. Seraya membentak garang, dia pukulkan kedua tangannya ke arah Datuk Hitam.

"Wuuttt! Wuttt!" Dari kepalan tangannya membersit sinar terang, namun cuma sekejap, kejap lain terdengar deru luar biasa dahsyat, pada saat bersamaan menghampar gelombang angin laksana gelombang yang menggidikkan dan menebar hawa luar biasa panas!

Inilah pukulan sakti 'Telaga Surya', satu pukulan sakti yang telah diwarisi dari Bayu Bajra dan telah lima belas tahun dilatih dan dipelajarinya. Beberapa puluh tahun silam, pukulan ‘Telaga Surya' sempat membuat guru Malaikat Penggali Kubur yakni Bayu Bajra ditakuti dan disegani lawan dan kawan. Bahkan hanya beberapa tokoh saja yang dapat mengimbangi kehebatan pukulan 'Telaga Surya'. Hingga saat pukulan itu dilepas oleh Malaikat Penggali Kubur, Datuk Hitam terlihat tersirap kaget.

Kakek berpakaian gombrong panjang berwarna hitam ini segera rentangkan kedua telapak tangannya. Terdengar suara berkeretekan. Lalu serta-merta Datuk Hitam dorong kedua telapak tangannya ke depan.

"Wuusss! Wuusss!" Melesat dua jalur hitam di udara yang bukan saja membuat tempat itu berubah gelap gulita, namun juga perdengarkan suara keras laksana gemuruh badai dan menyambarnya angin luar biasa kencang!

Inilah pukulan sakti Datuk Hitam yang disebut 'Puspa Jagat'. Satu pukulan yang menghantar Datuk Hitam menjadi salah satu momok rimba persilatan dan juga membuat dirinya sebagai tokoh jajaran atas yang menjadikan beberapa tokoh harus berpikir dua kali untuk coba-coba mencari urusan dengan Datuk Hitam.

Selain memiliki pukulan sakti 'Puspa Jagat', Datuk Hitam juga dikenal memiliki ilmu 'Mendera Bayu'. Satu ilmu yang membuat sang Datuk bisa telentang dan berputar cepat di atas udara. Sementara lawan akan merasakan sapuan gelombang angin luar biasa dahsyat. Ilmu 'Mendera Bayu' Inilah yang tadi mem buat Malaikat Penggali Kubur terhuyung-huyung dan pukulan yang dilepas melenceng jauh di udara.

"Bummm!" Terdengar ledakan hebat saat pukulan 'Telaga Surya' yang dilepas Malaikat Penggali Kubur beradu dengan pukulan 'Puspa Jagat' yang dikirim Datuk Hitam. Suasana yang sebentar tadi gelap gulita karena bias pukulan 'Puspa Jagat' bertambah pekat katika hamburan tanah akibat bentroknya dua pukulan bertabur menyungkup tempat itu.

Sosok Malaikat Penggali Kubur tampak mencelat mental sejauh dua tombak, terhuyung-huyung beberapa kali sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan wajah laksana tak berdarah. Napasnya megap-megap dan darah kehitaman keluar membasahi jubah putihnya.

"Iblis Jahanam!" rutuk Malaikat Penggali Kubur dengan suara mendesis. "Aku tak mungkin teruskan pertarungan ini dengan keadaan begini! Aku bisa mendapat celaka dan peta ini akan jatuh ke tangan setan tua itu! Hemm..." Malaikat Penggali Kubur angkat kepalanya dan memandang berkeliling. Saat itu suasana masih dibungkus kepekatan.

"Tunggulah Setan tua! Urusan kita belum selesai. Kelak urusan ini akan kita tuntaskan!" gumam si pemuda, lalu secepat kilat dia bergerak bangkit dan secepat itu pula dia berkelebat tinggalkan tempat itu.

Saat suasana terang kembali, Datuk Hitam yang juga tampak terduduk dengan tubuh bergetar dan bergumam tak jelas, pentangkan sepasang matanya tak berkesip. Seakan tak percaya dengan pandangan matanya, kakek ini gerakkan tangan kanan menyibak uraian rambutnya yang menutupi wajah. Tiba-tiba kakek ini keluarkan sumpah serapah tidak karuan ketika menyadari bahwa Malaikat Penggali Kubur benar-benar telah pergi tinggalkan tempat itu.

"Anak keparat itu benar-benar memiliki ilmu yang tak boleh dipandang sembarangan! Apakah dia betul-betul telah mendapatkan peta itu dari Dewa Sukma? Dan apa yang dilakukan Dewa Sukma hingga anak jahanam tadi tertawa mirip orang gila?! Hem... Kalau tak melihat sendiri, bagaimana aku mendapat jawaban pasti?!"

Datuk Hitam berpikir, lalu bergerak bangkit. Setelah yakin bahwa Malaikat Penggali Kubur betul-betul tidak ada di tempat itu, sang Datuk jejak tanah. Tanah itu terbongkar, dan bersamaan itu sosok Datuk Hitam berkelebat.

********************

Pada satu tempat di mana tampak dua pohon beringin kembar berdiri kokoh, Datuk Hitam hentikan larinya. Sepasang matanya dijerengkan memandang seantero tempat itu. Saat matanya menangkap sebuah gua tak jauh di belakang pohon, sang Datuk kembali melesat ke depan. Lalu berhenti lima langkah di depan mulut gua.

"Hemm... Mulut gua bagian kiri tampak berantakan. ini pasti perbuatan tangan manusia! Sialan! Jangan-jangan ini perbuatan anak keparat itu!" desah Datuk Hitam dengan sepasang mata memeriksa dengan tajam.

"Tampaknya hal ini dilakukan dengan sengaja! Orang yang memukul mulut gua sepertinya menjaga agar ada sesuatu yang tak terkena pukulan"

Paras wajah Datuk Hitam mendadak berubah. Mulutnya komat-kamit dengan mata mendelik angker. "Jahanam busuk!" terdengar umpatan dari mulutnya. "Jangan-jangan anak bangsat itu benar-benar telah mendahuluiku mendapatkan peta itu!"

Tanpa pikir panjang lagi, Datuk Hitam segera berkelebat masuk ke dalam gua. Sepasang matanya segera menyapu ke seluruh ruangan gua. Tiba-tiba kepala sang Datuk yang ikut bergerak berputar terhenti. Sepasang matanya makin membeliak. Seraya angkat tangannya menyibak uraian rambut yang menghalangi pandangannya, sang Datuk berkata pelan.

"Hemm... Yang ini pasti bukan perbuatan si anak jahanam itu! Setan alas! Berarti telah banyak orang yang datang mendahuluiku!"

"Melihat keadaannya bukan satu purnama dua purnama dia tergantung seperti itu! Jika bukan orang yang berkepandaian tinggi, pasti sudah mampus sejak lama..." gumam Datuk Hitam tatkala melihat satu sosok tergantung dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Sosok ini tergantung dengan satu tali berupa sinar hitam yang bukan saja menggantung tubuhnya namun juga membelit sekujur tubuhnya.

"Siapa yang mempunyai perbuatan gila ini? Tapi aneh... Tapi siapa pun manusianya yang punya ulah ini bagiku tidak penting! Jauh lebih penting mengetahui apakah peta itu masih di tangannya atau sudah berpindah tangan!"

Datuk Hitam pandang sekali lagi pada sosok yang tergantung dan bukan lain adalah Dewa Sukma. Lalu seraya tengadah dia berkata. "Dewa Sukma! Tentu tidak enak hidup bergelantungan begitu rupa. Sebagai sahabat, aku ingin sekali menolongmu. Apa jawabmu?!"

Dewa Sukma tidak buka mulut untuk memberi jawaban. Bahkan sepasang matanya pun tetap terpejam rapat. Hanya tarikan napasnya yang terdengar berat.

Mungkin menduga Dewa Sukma tidak mendengar ucapannya karena tubuhnya telah lemah, Datuk Hitam ulangi lagi ucapannya dengan suara agak keras. Namun sejauh ini orang yang diajak bicara tetap diam.

"Kau mendengar! Jangan berlagak tuli!" hardik Datuk Hitam geram karena pertanyaannya tidak terjawab. Beberapa saat berlalu. Perlahan Dewa Sukma buka kelopak matanya. Lalu memandang pada Datuk Hitam. Tapi mulutnya tetap terkancing tak perdengarkan sepatah kata.

"Dewa Sukma! Aku telah tawarkan pertolongan padamu. Harap kau suka beri jawaban!"

"Nada ucapanmu mengisyaratkan kau punya pamrih dalam urusan tawar menawar ini. Sebelum kujawab tanyamu, aku tanya padamu. Apa yang ada di balik ucapanmu!"

Datuk Hitam tertawa pelan. "Ternyata kau pandai menduga. Terus terang saja, aku akan menolongmu dengan syarat berikan padaku peta itu!"

Meski tampak lemah, Dewa Sukma perdengarkan tawa pelan. Sejenak kemudian dia berkata. "Harap kau suka tinggalkan aku sendirian!"

"Dewa Sukma..."

"Aku tak suka bicara dua kali!" potong Dewa Sukma sebelum Datuk Hitam selesaikan ucapannya.

"Jahanam!" dengus sang Datuk. “Datang jauh-jauh percuma jika berhampa tangan. Tak mendapat peta, nyawamu pun jadilah!"

Habis berkata begitu, Datuk Hitam angkat kedua tangannya dengan telapak terkembang. Sang datuk siap lepaskan pukulan sakti 'Puspa Jagat'. Tapi sebelum telapak tangan sang datuk bergerak, satu suara membuat orang tua bertampang hitam angker ini melengak kaget.

"Masih pantaskah lepaskan pukulan 'Puspa Jagat' untuk membunuh orang yang tak bisa melawan? Hik hik hik..."

Datuk Hitam cepat putar diri. Namun hingga sepasang matanya dibeliakkan besar-besar dan uraian rambut di wajahnya disibakkan, sang datuk tidak melihat siapa-siapa...!

S E L E S A I

Malaikat Penggali Kubur

Serial Joko Sableng Dalam Episode Rahasia Pulau Biru
Cersil online serial joko sableng pendekar pedang tumpul 131


BAB 1

MATAHARI sudah mengambang diatas permukaan air laut sebelah barat. Senja pun perlahan-lahan melingkari bumi. Tak berselang lama, air laut berubah warna. Lintasan bumi pun diselimuti kegelapan malam. Di sebuah gugusan batu karang yang menghadang laut, terlihat sesosok tubuh duduk bersila dengan sepasang tangan merangkap di depan dada.

Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Rambutnya yang panjang dan telah memutih dibiarkan jatuh bergerai menutupi sebagian bahu dan wajahnya yang pucat dan berkulit tipis. Sepasang kelopak matanya yang masuk ke rongga yang dalam tampak terpejam rapat. Namun sedari tadi mulutnya selalu berkemik-kemik hingga kumis dan jenggotnya yang panjang terlihat bergerak-gerak. Kakek ini mengenakan pakaian gombrang berwarna putih kusam.

Ada sedikit keanehan pada kakek ini. Meski rambutnya dibiarkan bergerai, sementara pakaian yang dikenakannya begitu gombrang, namun baik rambut serta pakaiannya tidak tampak melambai-lambai, padahal angin laut saat itu bertiup amat kencang. Lalu dari mulutnya yang selalu berkemik terdengar suara gumaman.

Siapa pun yang berada sejarak lima belas tombak dari tempat si kakek duduk pasti akan dengan jelas mendengar gumaman itu. Padahal saat itu gempuran ombak yang abadi menghantam gugusan karang terdengar memekakkan telinga dan hampir menindih lenyap semua suara yang terdengar!

Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba si kakek buka kelopak matanya. Saat Itu malam tengah merangkak makin jauh. Dan angkasa raya terbungkus gulungan awan hitam, hingga tatkala si kakek jerengkan sepasang matanya, yang tampak hanyalah permukaan air laut yang hitam dan suasana pekat di sekitarnya. Sejenak sepasang mata si kakek memandang ke arah selatan dengan sedikit palingkan kepala. Mulutnya tiba-tiba dikancingkan rapat-rapat. Sejurus kemudian kepalanya mengangguk perlahan.

Bersamaan dengan itu, dari arah selatan terlihat satu bayangan hitam berlari kencang laksana dikejar setan. Seluruh tubuh sosok ini telah basah kuyup, selain karena keringat juga karena gelombang air laut yang menghajar pantai di mana saat itu si sosok sedang berlari.

Tiba-tiba sosok yang berlari ini hentikan langkah. Kepalanya bergerak berputar memperhatikan beberapa gugusan karang. Sepasang matanya dipentangkan liar mengawasi. Ketika samar-samar sepasang matanya menangkap sesosok tubuh duduk bersila di salah satu gugusan batu karang, tanpa menunggu lagi. sosok yang tadi berlari kembali bergerak berkelebat. Dan tahu-tahu sosok ini telah tegak lima langkah di hadapan si kakek yang duduk bersila.

Ternyata sosok yang baru datang ini adalah seorang pemuda bertubuh besar tegap. Rambutnya panjang lebat, demikian pula kumis dan alis matanya. Sepasang matanya tajam laksana elang. Dagunya kokoh dengan hidung sedikit besar. Paras wajahnya keras dengan ditingkahi bibir yang selalu sunggingkan senyum aneh.

Untuk beberapa saat si pemuda memandang tak berkesip pada si kakek di hadapannya. Setelah mengusap leher dan rambutnya yang basah, si pemuda buka mulut. "Kakek guru! Harap maafkan atas lambatnya kedatanganku!"

Si kakek buka matanya. Memandang sejurus lalu menggeleng perlahan. "Aku sengaja sampai di tempat ini jauh sebelum waktu yang kita janjikan, karena aku ingin menikmati keindahan laut dan lantunan suara gelombang ombak..."

Si pemuda yang juga mengenakan jubah warna putih kusam dan besar palingkan kepalanya sedikit menghadap laut. Diam -diam dalam hati si pemuda berkata. "Hem... Air laut terlihat hitam. Suara gelombang ombak menyakitkan gendang telinga. Aneh. Di mana keindahannya?!" senyum aneh si pemuda tersungging.

"Pandanglah dengan mata hatimu. Dengarkan dengan batinmu. Di sana akan kau temui keindahan itu!" Tiba-tiba si kakek berucap seakan tahu apa yang ada di benak si pemuda, membuat sang pemuda melengak dengan wajah berubah.

"Itulah yang sering kukatakan padamu, Gumara! Lihatlah sesuatu dari apa yang terkandung di dalamnya. Dan lihatlah dengan mata hatimu! Jika itu selalu kau lakukan, maka kau tak akan punya prasangka buruk terhadap apa pun yang ada di muka bumi ini! Karena asal segala sesuatu adalah baik. Manusialah yang punya ulah dengan tak mau memandang dari segi batin, hingga muncullah apa yang dinamakan buruk!”

Si pemuda yang dipanggil Gumara terdiam beberapa saat seolah meresapi apa yang dikatakan si kakek. Di hadapannya, si kakek alihkan pandangannya ke arah permukaan air laut di depan sana. Lalu berucap kembali.

"Gumara... Tiap langkah manusia pasti dihadang dengan batas. Dan hal itu tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Demikian halnya dengan aku dan dirimu..."

"Maksud, Eyang guru...?!"

"Sejak lima belas tahun terakhir ini kau dan aku hidup bersama terikat hubungan murid dan guru. Seperti yang kukatakan, langkah manusia pasti dihadang dengan batas. Demikian pula kebersamaan kita. Dan malam ini batas itu menghadang kebersamaan kita!"

"Aku masih belum mengerti maksud Eyang guru sebenarnya...!"

"Gumara... Sejak malam ini kita harus berpisah! Sudah saatnya kau melangkah sendiri tentukan masa depanmu. Semua kepandaian yang ku turunkan padamu hanyalah bagian kecil dari bongkahan ilmu, dan pasti sangat terbatas sekali. Maka dari itu janganlah berjalan di atas bumi dengan congkak!"

"Jadi...?"

Si kakek telah memotong ucapan sang murid sebelum kata-katanya selesai. "Tiba saatnya bagimu menggunakan semua yang kau miliki, Gumara. Tapi harus kau ingat. Yang hendak kau masuki di depan sana adalah dunia persilatan. Satu dunia yang bukan saja dilingkari dengan manusia-manusia berilmu, namun juga diselimuti berbagai corak ragam kehidupan aneh. Karena terkadang di sanalah orang dapat berubah secara cepat. Kebaikan bisa berubah jadi buruk! Di sana akan kau temui dendam turun temurun. Fitnah yang dibungkus ucapan manis. Lebih dari itu, kau akan melihat kelicikan yang digunakan orang untuk mencapai tujuannya!" Sejenak si kakek menghela napas panjang lalu melanjutkan. "Dunia persilatan adalah batu ujian bagimu. Sekali kau tergelincir di sana, maka kau akan tenggelam dalam lumpur kebusukan! Sebaliknya jika kau tegar berdiri, maka namamu akan dikenang orang! Di depan matamu terbentang dua pilihan. Tinggal ke mana kakimu hendak kau bawa!"

"Eyang guru... Demi nama baikmu, pasti aku akan berjalan di atas yang benar!"

Si kakek tertawa perlahan mendengar ucapan muridnya. "Jawaban itu belum bisa menjamin, Gumara. Tanpa kau ucapkan sekarang, kelak semuanya akan bisa dilihat! Hanya yang kuharap, apa yang kau katakan benar-benar jadi kenyataan!"

"Nada ucapan Eyang guru tampaknya menyangsikan diriku..." kata Gumara dengan suara perlahan namun agak gemetar pertanda dia menahan rasa tak enak.

"Sebagai orang tua, terus terang saja aku khawatir, Gumara. Godaan di depan sana sangat besar. Sedangkan kau masih muda. Tapi... Sudahlah. Apa pun yang nanti terjadi harus kita terima. Sekarang dengar baik-baik!" kata si kakek seraya menatap tajam pada Gumara.

"Rimba persilatan saat ini sedang dilanda kemelut tak menentu. Banyak tokoh yang Iama menyembunyikan diri muncul kembali..."

Wajah Gumara sedikit berubah dengan dahi mengernyit. Lalu pemuda ini angkat bicara tatkala sang guru tak segera lanjutkan ucapannya. "Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan kemunculan mereka kembali, Eyang guru...?"

"Sebenarnya ini urusan lama. Namun karena sampai saat ini tak kunjung selesai, maka urusan ini tetap hangat, malah bertambah ramai. Apalagi dengan malang melintangnya beberapa tokoh muda..."

"Urusan lama?" gumam Gumara. "Urusan apa, Eyang guru?"

Si kakek arahkan kembali pandangannya ke air laut di depan sana. Lalu berkata. "Entah sejak kapan mulainya aku sendiri tak tahu. Yang pasti urusan ini telah merebak saat aku masih muda. Seperti saat ini, saat itu rimba persilatan dibuat geger dengan beredarnya berita tentang sebuah kitab yang diyakini berisi ilmu hebat. Orang menyebut kitab itu Serat Biru. Demikian gegernya urusan kitab itu hingga saat itu banyak terjadi pembunuhan baik karena salah sangka atau karena fitnah. Namun akhirnya urusan kitab itu mereda sendiri ketika telah banyak korban yang jatuh dan kitab itu belum juga bisa ditemukan!"

"Apakah kitab itu betul-betul tidak ada?"

"Belum bisa dijawab dengan pasti. Melihat beraninya orang turunkan tangan maut lalu banyaknya tokoh yang memburu dan berani pertaruhkan nyawa, menandakan berita itu bukan hanya kabar burung. Namun melihat hasilnya, orang lantas bimbang!"

"Menurut Eyang guru sendiri, apakah kitab itu benar adanya?!"

Untuk sesaat si kakek tak segera menjawab. Setelah menghela napas daiam akhirnya dia berkata. "Aku sendiri berkesim pulan Kitab Serat Biru betul-betul ada!"

Gumara agak tegang mendengar ucapan gurunya. Pemuda ini buru-buru angkat bicara kembali. "Harap Eyang guru sudi mengatakan di mana kitab itu berada!"

Si kakek bukannya menjawab, namun tertawa perlahan seraya geleng-gelengkan kepala, membuat Gumara pentangkan sedikit matanya. "Gumara! Kitab Serat Biru bukan barang sembarangan. Tidak semua orang dengan mudah mengetahui di mana beradanya!"

"Kalau mengetahui di mana beradanya sulit, bagaimana Eyang guru dapat berkesimpulan jika kitab itu betul-betul ada?!"

"Gumara. Kau masih ingat aku pernah cerita padamu tentang kakak kandungku bernama Jalu Paksi?"

"Yang dikenal orang dengan gelar Dewa Sukma itu?! Apa hubungannya dengan Kitab Serat Biru?!"

"Dengar, Gumara. Pada suatu hari, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan antara kakakku dengan seorang tokoh. Mereka menyebut-nyebut sebuah peta yang ada kaitannya dengan tempat di mana beradanya Kitab Serat Biru. Karena saat itu aku tidak tertarik dengan urusan kitab, maka aku tak begitu memperhatikan! Tapi dari pembicaraan itulah aku yakin jika kitab itu benar-benar ada!"

"Baru sekarang Eyang guru membicarakan. Apakah sekarang Eyang guru jadi tertarik dengan kitab itu?!"

Si kakek tersenyum sambil gelengkan kepala. "Aku sudah tua, Gumara. Kitab itu tak akan berguna banyak jika berada di tanganku. Lagi pula aku sudah ingin hidup tenang damai tanpa bising senjata. Biarlah orang lain saja yang berurusan dengan kitab itu. Tapi jika kau suka tak ada jeleknya kau coba menyelidik. Kau masih muda, masih banyak yang bisa kau perbuat jika kitab itu bisa kau miliki!"

"Hem... Kalau kitab itu benar-benar dapat kumiliki, tentunya aku akan jadi orang sakti tanpa tanding. Itulah cita-citaku sebenarnya..." gumam Gumara dalam hati lalu berujar.

"Eyang guru. Kalau kau memberi izin, aku akan segera menyelidik kitab itu!"

"Gumara. Sejak malam ini kau bebas tentukan langkah. Jika kau berkeinginan menyelidik berangkatlah ke tempat kakakku. Jalu Paksi. Tapi jika kau tak suka, mulailah melangkah menurut apa yang kau yakini baik dan berguna bagi orang banyak!"

“Tapi, Eyang. Dengan kitab itu di tanganku, akan lebih banyak nantinya yang bisa kulakukan! Aku akan menyelidik kitab itu!"

"Hem... Begitu? Bagus! Tapi satu hal harus kau ingat, Gumara. Sebuah kitab biasanya hanya berjodoh pada satu orang. Jika nantinya kau ditakdirkan tidak berjodoh untuk memilikinya, kuharap kau mau menerima kenyataan! Jangan sekali-kali paksakan diri jika kau tak ingin terjerumus!"

"Ucapanmu akan kuingat, Eyang guru! Sekarang harap Eyang katakan di mana aku bisa menjumpai kakek Jalu Paksi?!"

"Meski sepuluh tahun terakhir ini aku tak jumpa dengannya tapi aku yakin dia masih berada di tempatnya semula. Pergilah kau ke lereng bukit Watu Gedek sebelah selatan dusun Polaman. Di belakang dua beringin kembar ada satu gua batu. Di sana kau akan menemui orang yang kau cari!"

Lama Gumara terdiam mendengarkan penuturan gurunya. Sementara si kakek pandangi muridnya sejurus sebelum akhirnya berkata kembali. "Aku berharap kaulah yang kelak ditakdirkan berjodoh memiliki kitab itu, Gumara. Kalaupun tidak, aku berharap kau dapat mempergunakan ilmu yang ada padamu untuk kebaikan!"

Gumara anggukkan kepala. Lalu menjura dalam-dalam seraya berucap. "Eyang guru. Sebelum aku berangkat, kuucapkan terima kasih atas segala jerih payahmu mendidikku. Aku akan melangkah sesuai apa yang kau katakan!"

Si kakek tersenyum . "Sebagai guru sudah menjadi kewajibannya untuk turunkan ilmu pada murid. Kau tak usah berbasa-basi ucapkan terima kasih. Jika kau dapat pergunakan dengan baik apa yang kau miliki, itu sudah lebih dari cukup!"

Gumara menatap tajam pada Eyang gurunya dengan mulut terkancing rapat. Dan tanpa berkata-kata lagi, pemuda ini menjura tiga kali lalu putar diri dan berkelebat tinggalkan tempat itu.

"Hem..." Si kakek menghela napas sambil bergumam. "Perasaannya mudah tersinggung. Dan tampaknya dia masih perlu waktu untuk mematahkan pikirannya. Tapi aku sudah terlalu lama menahannya. Semoga dengan jalan ini dia dapat lebih cepat matang..."

Si kakek donggakkan kepala memandangi angkasa yang masih diselimuti awan hitam. "Sebenarnya aku tak hendak utarakan tentang Kitab Serat Biru padanya, namun daripada dia salah langkah dan terjerumus, terpaksa hal itu kukatakan! Hem... Mudah-mudahan dia nanti dapat menerima kenyataan...”

Habis bergum am begitu, si kakek gerakkan bahunya. Kejap lain tubuhnya berkelebat dan sosoknya lenyap dari gugusan batu karang!

******************

BAB 2

KITA tinggalkan dulu si pemuda bernama Gumara yang mulai menyelidik Kitab Serat Biru dengan jalan menemui seorang tokoh bergelar Dewa Sukma. Kita kembali sejenak pada Pendekar 131.

Seperti dituturkan pada episode Rahasia Pulau Biru, saat Pendekar 131 terluka dalam dan terlibat bentrok dengan Ratu Pemikat, tiba-tiba berkelebat satu bayangan yang menyambar tubuh murid Pendeta Sinting. Si bayangan yang ternyata Dewi Siluman membawa lari Joko Sableng, namun di tengah jalan sang Dewi dihadang oleh seorang perempuan bercadar dan berpunuk.

Perkelahian tak dapat dihindarkan lagi. Tapi dalam beberapa jurus, Dewi Siluman dapat merobohkan si perempuan berpunuk. Karena penasaran ingin mengetahui siapa adanya perempuan bercadar dan berpunuk, Dewi Sliuman sengaja tak langsung kirimkan pukulan mematikan namun hanya membuat perempuan berpunuk roboh pingsan. Saat Dewi Siluman hendak menyingkap cadar si perempuan berpunuk, mendadak muncul iblis Ompong.

Karena Iblis Ompong menginginkan Pendekar 131 dan perempuan berpunuk, sementara Dewi Siluman merasa urusannya dicampuri, membuat sang Dewi marah besar hingga terjadilah bentrok. Saat suasana pekat karena hamburan tanah akibat dari bentroknya pukulan, tanpa sepengetahuan Dewi Siluman, iblis Ompong berkelebat menyambar tubuh Joko dan perempuan berpunuk.

Hingga ketika suasana sirap kembali, Dewi Siluman tak lagi melihat sosok iblis Ompong, Joko Sableng dan perem puan berpunuk. Namun Dewi Siluman masih merasa agak lega, karena Pedang Tumpul 131 milik Pendekar Pedang Tumpul Joko Sableng berhasil dibawanya.

Pada satu padang rumput tak begitu luas yang di sekitarnya dirangasi semak belukar lebat dan tinggi-tinggi, Iblis Ompong yang di kanan kiri pundaknya terlihat dua sosok tubuh, hentikan larinya. Sepasang matanya dipentangkan lebar-lebar sejurus, lalu...

"Wuuuttt! Wuuuttt!" Dua bahu kiri kanannya bergerak. Dua sosok yang di atas pundaknya melenting setengah tombak dari pundaknya. Bersamaan dengan itu Iblis Ompong gerakkan kedua tangannya seraya berkelebat ke udara. Saat melayang turun, kedua tangan kiri kanan si kakek telah membopong satu tubuh.

Perlahan-lahan iblis Ompong letakkan satu persatu tubuh di tangannya ke atas tanah berumput di sebelah kanan kiri tubuhnya. Sejenak dia pandangi dua sosok itu.

"Hem... Perempuan ini terluka cukup parah. Harus segera ditolong terlebih dahulu..."

Iblis Ompong jongkok dengan tubuh menghadap perempuan berpunuk. Sejurus mulutnya membuka lebar-lebar. Lalu dengan cepat kedua tangannya bergerak menutup pakaian si perempuan yang robek di bagian dada dan pinggangnya yang sedari tadi perlihatkan kulit putih mulus di baliknya.

Tak menunggu lama, iblis Ompong segera totok beberapa jalan darah perempuan berpunuk. Lalu balikkan tubuh si perempuan. Kedua tangannya lalu ditem pelkan pada punggung si perempuan. Tapi tiba-tiba iblis Ompong tarik kembali kedua tangannya. Mulutnya membuka lebar-lebar.

"Aneh, kenapa punuk orang demikian lembek? Jangan-jangan... Tapi itu urusan orang. Aku tak mau tahu apa sebabnya dia menyamar. Urusanku adalah menyelam atkan nyawanya..."

Iblis Ompong kembali letakkan kedua telapak tangannya pada punggung orang. Lalu kerahkan tenaga dalam salurkan hawa murni. Beberapa saat berlalu. Perubahan segera terlihat. Sosok perempuan berpunuk perdengarkan erangan pelan. Tubuhnya mulai bergerak-gerak. Tak lama kemudian terdengar si perempuan batuk-batuk beberapa kali.

Pada saat yang sama kedua tangan iblis Ompong bergerak menotok beberapa bagian dari tubuh si perempuan. Tiba-tiba si perempuan angkat kepalanya sedikit. Mulutnya terlihat mengembung besar. Ketika si perempuan semburkan mulut, darah merah kehitaman muncrat keluar dari mulutnya.

Anehnya, bersamaan dengan muncratnya darah dari mulut, si perempuan berpunuk yang mukanya masih mengenakan cadar berlobang kecil-kecil merasakan tubuhnya perlahan-lahan dialiri hawa hangat. Mungkin merasa tubuhnya agak enak, ditambah ingin tahu siapa adanya orang yang menolong, perempuan berpunuk cepat balikkan tubuh. Sepasang mata dari balik cadar berlobang kecil-kecil terpentang sejenak perhatikan orang tua disampingnya. Lalu terdengar suara bergumam perlahan.

"Orang tua. Terima kasih..."

Iblis Ompong buka mulutnya lebar-iebar. Seraya mendongak dia berujar. “Tak perlu ucap terima kasih. Semua ini didasarkan pada rasa kemanusiaan saja."

Perempuan berpunuk rapikan pakaiannya dengan tubuh sedikit ditarik ke belakang. Dari balik kain cadarnya terlihat perubahan wajahnya. Namun perubahan itu makin nyata bahkan tiba-tiba dia gerakkan tangan kanannya untuk menutupi mulutnya di balik cadar. Sementara kepalanya lurus dengan sepasang mata di balik cadar memandang lekat-lekat pada tubuh Joko Sableng yang masih tergeletak dengan tubuh diam dan mata terpejam.

"Buang rasa khawatir. Tak ada yang perlu dipikirkan. Dia baik-baik saja!" kata Iblis Ompong seraya kerlingkan sebelah matanya pada perempuan berpunuk yang jelas mengkhawatirkan keadaan murid Pendeta Sinting.

"Orang tua. Boleh aku tahu siapa kau sebenarnya?" tanya perempuan berpunuk.

Iblis Ompong tertawa panjang, tapi meski suara tawanya tak lama kemudian terhenti, mulutnya tetap membuka lebar-lebar, membuat perempuan berpunuk belalakkan sepasang matanya di balik cadar.

"Orang tua aneh. Tapi kalau dia mampu selamatkan diriku bersama Pendekar 131 dari tangan Dewi Siluman, pasti dia bukan orang sembarangan. Hem... Sebenarnya aku ingin berlama-lama di sini. Namun karena ada sesuatu yang harus segera kuselesaikan, terpaksa aku tinggalkan tempat ini..."

Berpikir sampai di situ, perempuan berpunuk bergerak bangkit. Memandang sejurus pada Pendekar 131 lalu pada Ibiis Ompong dan berkata. "Orang tua. Kalau kau berat sebutkan siapa dirimu, tak apa. Tapi siapa pun adanya dirimu, kau akan tetap kuingat! Sekarang aku harus tinggalkan tempat ini."

Perempuan berpunuk putar diri. Lalu melangkah hendak tinggalkan tempat Itu. Tapi gerak kakinya tertahan saat dari arah belakang terdengar suara.

"Gadis cantik! Tidak titip sesuatu padanya?!"

Perempuan berpunuk berdiri tegang dengan air muka di balik cadar berubah. Diam-diam dalam hati si perempuan berkata. "Jangan-jangan orang tua itu telah usil membuka penutup cadar ini. Hem... Tapi aku tak kenal dia, demikian pula sebaliknya!"

Tanpa berpaling pada iblis Ompong, perempuan berpunuk perdengarkan tawa pendek seraya berujar. "Orang tua. Aku suka kau menyebutku gadis cantik, mesti aku tahu ucapanmu hanyalah untuk membuat diri tua bangka ini gembira. Aku tak punya sesuatu yang pantas untuk kuberikan pada pemuda Itu. Hanya..." Perempuan berpunuk putus kan ucapannya.

"Hanya apa...?!" sahut Iblis Ompong.

Perempuan berpunuk gerakkan kepalanya menggeleng. Tapi iblis Ompong masih jelas menangkap gumaman tak jelas dari mulutnya. "Dalam mnya laut bisa diselami. Tingginya gunung dapat didaki. Tapi hati perempuan luas tiada bertepi. Kuucapkan selamat jalan padamu. Kalau takdir masih menentukan, pasti akan bertemu..." ucap iblis Ompong lalu balikkan tubuh ke arah Joko Sableng.

Peremmpuan berpunuk di seberang sana sejenak masih tegak. Jelas sikapnya tampak bimbang. Tapi tak lama kemudian sosoknya berkelebat tinggalkan tempat itu. "Meski belum jelas benar siapa dirinya. Berat dugaan dia adalah seorang gadis. Kulit dari robekan pakaiannya jelas menunjukkan itu. Melihat sikap khawatirnya, sepertinya dia menyukai pemuda ini.

“Hem..." Iblis Ompong bergumam sendiri. Lalu gerakkan kepalanya menggeleng dengan mulut dibuka lebar-lebar. Sesaat kemudian kedua tangan Iblis Ompong bergerak bebaskan Joko Sableng dari totokan.

Sejurus murid Pendeta Sinting masih belum membuat gerakan apa-apa. Sepasang matanya pun masih terpejam rapat. Tapi tak berselang lama kemudian terdengar dia mengerang pelan. Saat akhirnya sepasang mata Joko terbuka, murid Pendeta Sinting ini jadi tersentak dan pentangkan sepasang matanya dengan mulut komat-kamit. Memandang tak berkedip pada orang tua di sampingnya dengan dada dipenuhi berbagai tanya.

"Apa yang terjadi dengan diriku? Dan kenapa aku bisa di tangan orang tua ini? Bukankah dia menginginkan nyawaku...? Celaka!"

Mungkin merasa bahwa si orang tua benar dengan ucapannya beberapa waktu yang lalu yang mengatakan inginkan nyawanya, murid Pendeta Sinting bergerak bangkit untuk duduk. Memandang berkeliling dia makin melengak ketika mendapati dirinya berada pada satu tempat sunyi yang di sekitarnya dirangasi semak belukar lebat.

Iblis Ompong menatap dengan mata dijerengkan. Lalu memandang ke jurusan lain. Dalam hati kakek ini berkata, "Senjata yang ada padanya jelas menunjukkan bahwa anak manusia inilah yang kutunggu selama ini. Hem... Apakah Ratu Malam sudah menemukannya? Dan memberikan peta itu padanya?"

Iblis Ompong tidak tahu jika saat itu Pedang Tumpul 131 sudah dibawa oleh perempuan berjubah dan bercadar hitam yang membawanya lari dan bukan lain adalah Dewi Siluman. (Untuk lebih jelasnya baca serial Joko Sableng episode Rahasia Pulau Biru

"Orang tua... Siapakah kau? Dan kenapa membawaku ke sini?!" Joko segera ajukan tanya.

"Siapa aku, kau telah tahu. Jangan bicara berpura-pura. Sekarang aku tanya padamu. Apakah kau pernah bertemu dengan Ratu Malam?!"

"Ratu Malam?! Hem... Rasanya baru kali ni aku mendengarnya. Apakah ia seorang ratu beneran?!" Joko balik ajukan tanya.

"Jangan banyak tanya! Jawab saja tanyaku pernah atau belum!" sentak Iblis Ompong lalu buka mulutnya lebar-lebar.

"Kek! Aku tadi sudah bilang. Baru pertama kali ini mendengarnya. Jadi sudah barang tentu aku belum pernah bertemu dengannya! Sebenarnya siapakah dia, Kek? Lalu apa hubungannya diriku dengan ratu itu?! Apakah tujuanmu membawaku ke sini hanya untuk tanya soal ratu itu?!"

"Hem... Bagaimana sekarang? Aku sebenarnya sudah tak betah menyimpan penggalan peta ini. Lalu apakah penggalan peta ini akan kuberikan meski belum jelas apakah Ratu Malam sebagai pemegang penggalan peta sebelum yang ada padaku telah bertemu dan memberikan padanya?" Diam-diam Iblis Ompong didera berbagai pertanyaan. Hingga dia tak sempat untuk menjawab pertanyaan Joko.

"Kek! Kau tak jawab tanyaku. Kau terlihat tercenung bergumam sendiri. Aku bisa menebak sekarang. Pasti kau kehilangan orang yang kau sebut sebagai Ratu Malam itu. Hem... Apakah dia seorang gadis cantik, Kek?"

"Cantik atau tidak yang pasti kau harus bertemu dengannya! Karena kau telah ditentukan berjodoh dengannya! Dan yang perlu kau ketahui, dia adalah seorang nenek-nenek!"

Joko melengak dengan sepasang mata dibeliakkan. Dahinya mengernyit lalu berpaling pada jurusan lain seraya berujar. "Kek! Meski aku tahu kau berilmu tinggi, namun bukan berarti kau dengan enaknya bisa menjodohkan orang!"

Iblis Ompong tertawa bergelak. "Silakan kau berontak. Namun takdir itu tak bisa kau tolak! Bertahun-tahun ratu itu menunggu dan mencari. Suratan telah ditulis dan terpateri. Tak mungkin semuanya diingkari meski kau coba hendak berlari!"

"Iblis Ompong... Hem... Ratu Pemikat menyebut orang ini demikian. Belum bisa kutentukan apakah dia punya maksud jahat atau baik. Tapi melihat ia tak berbuat apa-apa padaku sewaktu aku pingsan, jelas dia tak menginginkan nyawaku. Namun apa maksudnya menjodohkan diriku dengan orang bernama Ratu Malam?"

Berpikir demikian, murid Pendeta Sinting ini lantas berkata. "Kek. Aku tak mungkin berada berlama-lama di sini. Aku harus segera lanjutkan perjalanan untuk menemui seseorang! Soal perjodohan, nanti bisa kita bicarakan lagi jika kita bertemu kembali!"

"Bagaimana bisa begitu? Aku bukannya mengungkit segala macam budi. Tapi adalah satu perbuatan tolol jika kau hendak berlari dari perjodohan ini. Lebih dari itu, kau akan menyesal berkali-kali!"

Murid Pendeta Sinting ganti perdengarkan suara tawa. "Mana bisa begitu Kek? Kau bilang sang ratu adalah seorang nenek-nenek. Di mana nikmatnya bersanding dengan seorang nenek meski dia seorang ratu?"

"Hem... Begitu? Baiklah. Hari ini kau kubebaskan. Tapi dengan syarat?!"

"Aneh. Kau sepertinya menanam banyak jasa padaku hingga untuk pergi saja kau memasang syarat padaku!"

"Anak muda! Sekali lagi kukatakan bukannya aku meminta kau membalas budi padaku..."

"Kek!" potong Joko sebelum Iblis Ompong teruskan ucapannya. "Dari tadi kau mengatakan segala macam budi. Katakan padaku, pertolongan dan budi apa saja yang telah kau tanam padaku?!"

Iblis Ompong tertawa bergelak. "Tidak baik ungkap pertolongan. Namun kalau kau ingin tahu, kelak bisa kau tanyakan pada seorang perempuan bercadar dan berpunuk!"

Ucapan Iblis Ompong membuat Pendekar 131 melegak. "Apa hubungan orang tua ini dengan perempuan berpunuk yang menolongku itu?" Sebelum Joko Sableng berpikir jauh untuk mengetahui ada hubungan apa antara Iblis Ompong dan perempuan berpunuk, Iblis Ompong telah berucap.

"Katakan padaku. Siapa yang hendak kau temui?!"

Joko Sableng terdiam sejenak. Memandang tajam pada Iblis Ompong beberapa saat sebelum akhirnya berkata. "Aku tak bisa mengatakan padamu!"

"Ah!" tiba-tiba Iblis Ompong mengeluh. "Memang tidak seharusnya aku memaksakan kehendak. Dan aku juga tak seharusnya tahu ke mana kau berkehendak. Sudahlah, sebaiknya aku mengikuti langkah kakiku sekarang. Mudah-mudahan kau tidak menyesal dengan sikap yang kau ambil..."

Murid Pendeta Sinting berpaling. Astaga! Joko jadi tersentak. Meski suara Iblis Ompong masih jelas terdengar di tempat itu, namun tatkala dia berpaling, sosok Iblis Ompong sudah tak ada di tempat itu! "Ucapan orang tua itu sulit untuk kumengerti. Sikapnyapun berubah-ubah. Pertama kali sepertinya sengaja hendak menahanku. Tapi akhirnya dia pergi mendahuluiku begitu saja... Hem... Malam memang sebentar lagi menjelang. Dengan keadaan gelap, perjalananku akan sedikit mudah. Meski tenagaku belum pulih benar, tapi dengan Pedang Tumpul 131, mungkin akan sedikit menolong..."

Tanpa sadar, tangan murid Pendeta Sinting meraba pinggangnya di mana tersimpan Pedang Tumpul 131. Namun mendadak nyawa Pendekar 131 laksana terbang ketika tangannya tak menemukan lagi senjata di bailk pakaiannya.

"Celaka! Ke mana pedang itu? Jangan-jangan orang tua itu..." Sepasang mata murid Pendeta Sinting terpentang besar. Dagunya mengembung dengan pelipis kiri kanan bergerak-gerak. Saat itulah mendadak satu bayangan berkelebat. Joko cepat berpaling.

"Dia...!" desis Joko seraya memandang kedepan.

BAB 3

TIGA LIMA langkah dari tempatnya berdiri, murid Pendeta Sinting melihat seorang nenek mengenakan jubah besar warna merah menyala. Paras wajahnya pucat. Kelopak sepasang matanya amat besar, namun sepasang mata di dalamnya yang bolak-balik membuka dan memejam tampak sangat sipit. Rambutnya putih dan hanya sebatas tengkuk. Pada mulutnya terlihat gumpalan tembakau berwarna hitam yang selalu bergerak-gerak keluar masuk! Beberapa saat lamanya si nenek yang bukan lain adalah Ratu Malam kembang kempiskan cuping hidungnya. Lalu bergumam dengan kepala digoyang-goyang.

"Aku masih jelas mencium bau badannya. Dia pasti tak jauh dari sekitar tempat ini..."

Ratu Malam seakan tak pedulikan pandangan Joko yang menatap tak berkesip ke arahnya. Dia malah arahkan sepasang matanya yang dipentangkan ke arah rangasan semak belukar.

"Nek!" seru Joko setelah sekian lama dilihatnya si nenek tetap nyalangkan sepasang matanya mencari-cari. "Ada sesuatu yang hilang?!"

Ratu Malam tidak memberi jawaban. Bahkan berpaling pun tidak, membuat murid Pendeta Sinting gelengkan kepala.

"Nek..." Belum sempat Joko teruskan ucapannya, Ratu Malam telah menyemprot dengan suara keras.

"Apa panggil-panggil, hah? Kau kira aku tak dengar?!" Joko jadi terkesiap. Dan belum sampai murid Pendeta Sinting ini utarakan kata-kata, kembali Ratu Malam telah membentak garang.

"Kenapa kau masih enak-enakan di sini? Apa yang kau tunggu?! Setan Jelek! Lekas pergi dari hadapanku!"

"Nek! Aku tak akan pergi dari sini. Lebih-lebih urusan penggalan peta itu terpaks a kutunda dahulu. Ada urusan lain yang lebih penting, dan jika tidak segera kuselesaikan, bisa-bisa aku celaka!"

Ratu Malam melotot angker. Mulutnya komat-kamit mainkan gumpalan tembakau hitam. "Ternyata kau anak manusia yang tak tahu diuntung. Diberi cuma-cuma barang yang diperebutkan banyak orang tapi enak saja kau sepelekan! Kalau tidak karena pesan, barangkali penggalan peta itu tak akan kuberikan padamu! Aku tanya padamu. Urusan apa hingga kau tunda urusan peta itu, hah?!"

"Senjataku lenyap, Nek...!"

"Apa? Ulangi lagi ucapanmu!" ujar Ratu Malam seraya miringkan kepalanya seakan ingin hadapkan telinganya ke arah Joko.

"Setan Jelek! Kau dengar ucapanku. Ulangi kata-katamu!" bentak Ratu Malam ketika ditunggu agak lama murid Pendeta Sinting tak segera turuti ucapan Ratu Malam.

"Kau tidak akan marah lagi bila aku ulangi kata-kataku, Nek? Karena aku tahu kau telah mendengarnya dengan jelas!"

"Setan! Jangan banyak tanya-tanya. Ayo katakan lagi!" "Senjataku lenyap!" terpaksa Joko ulangi kata-katanya.

Ratu Malam cepat arahkan pandangannya pada. Joko. Lalu sepasang matanya memperhatikan tubuh Joko dan atas sampai bawah. "Kau yakin? Kau telah periksa dengan teliti?!"

"Nek. Meski aku tak tahu siapa namamu, tapi kau telah berjasa padaku. Tidak ada untungnya mendustaimu! Senjataku benar-benar hilang lenyap!"

Tiba-tiba Ratu Malam tertawa mengekeh panjang, membuat Joko Sableng mau tak mau sedikit jengkel. "Dikasih tahu bukannya ikut mencari jalan keluar, malah tertawa terbahak-bahak!"

"Setan Jelek. Kau boleh bicara berkata tak mendustaiku. Tapi mata hatiku mengatakan lain. Aku melihat senjatamu masih ada. Hik hik hik...!"

Murid Pendeta Sinting belalakkan mata. Mulutnya komat-kamit tanpa adanya ucapan yang jelas terdengar. "Setan Jelek! Coba kau periksa sekali lagi!" kata Ratu Malam masih dengan tertawa mengekeh.

Entah karena ingin buktikan ucapan Ratu Malam atau ingin menunjukkan bahwa dia tak berdusta, Joko cepat gerakkan tangan kanannya ke arah balik pakaiannya. Namun gerakan tangan murid Pendeta Sinting ini tertahan tatkala bers am aan dengan itu Ratu Malam kembali berkata.

"Tunggu! Meski aku seorang nenek bau, tapi aku tak mau lihat seorang pemuda meraba-raba dihadapanku. Aku akan berbalik dahulu!" Habis berkata begitu Ratu Malam putar diri membelakangi seraya terus tertawa terbahak.

Meski belum mengerti arah ucapan Ratu Malam, begitu si nenek putar membelakangi, Joko Sableng segera selinapkan tangan kanan, mencari-cari pedang di balik pakaiannya. Bahkan kali ini dia sempat buka sebagian pakaiannya.

"Bagaimana? Kau masih temukan senjatamu, bukan?" kata Ratu Maiam setelah ditunggu agak lama tak juga terdengar ucapan dari Joko.

Karena merasa jengkel, murid Pendeta Sinting tak buka mulut untuk menjawab. Malah memandang ke arah punggung si nenek dengan bergumam sendiri. "Seandainya bukan dia, sudah kudamprat habis-habisan!"

Saat itulah mendadak Ratu Malam balikkan tubuh. Sepasang matanya terpejam rapat. Sementara mulutnya bergerak-gerak mainkan gumpalan tembakau hitam. "Setan Jelek. Kau masih ada dihadapanku?!"

Lagi-lagi Joko tak menjawab, membuat Ratu Malam sedikit buka kelopak matanya.

"Nah, apa kubilang. Senjatamu masih utuh bukan?!"

"Busyet! Ternyata yang dimaksud senjata olehnya, bukan pedangku. Tapi senjata yang lain! Walah. Kenapa aku tadi juga salah ucap...?"

Menyadari bahwa ucapan Ratu Malam lain dengan yang dimaksud Joko, murid Pendeta Sinting ini segera berkata. "Nek, yang lenyap adalah Pedang Tumpul 131! Bukan senjata nenek moyangku!"

Ratu Malam kancingkan mulut. Sepasang matanya membesar. Kepalanya digeleng-gelengkan seakan tak percaya dengan ucapan si pemuda.

"Nek. Aku harus segera pergi. Orang itu pasti belum jauh dari sini. Aku curiga orang itulah yang mengambilnya!"

"Hei. Siapa yang dimaksud?!"

"Aku belum kenal betul. Tapi seseorang sempat memanggilnya Iblis Ompong!"

"Hem... Dugaanku benar. Tua peot itu berada disekitar tempat ini. Tapi tak mungkin dia berani menggerayangi milik orang lain! Bahkan seharusnya dia serahkan miliknya pada pemuda ini. Hem..."

"Setan Jelek!" tegur Ratu Malam. "Jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti!"

"Nek. Dialah yang membawaku sampai ke tempat ini. Dia juga mengatakan hendak menjodohkan aku dengan seorang nenek-nenek bergelar Ratu Malam! Mungkin saat membawaku, dia mengambil pedang dari balik pakaianku! Karena kulihat tak ada orang lain selain dia!"

"Tua bangka sialan! Sejak kapan dia jadi mak comblang tukang cari jodoh? Apa dikira aku tak bisa cari sendiri?"

Mendengar desisan suara si nenek, murid Pendeta Sinting jadi curiga jika si nenek kenal dengan Iblis Ompong. Pendekar 131 segera buka mulut. "Ucapanmu menunjukkan kau kenal dengan kakek itu. Katakan siapa dia sebenarnya! Dia orang jahat atau orang baik?!"

"Sebelum kujawab tanyamu. Aku tanya padamu. Apakah kakek itu memberikan sesuatu padamu?!"

Murid Pendeta Sinting menyeringai. Seraya tertawa pendek dia berucap. "Dia bukannya memberikan sesuatu. Sebaliknya aku curiga dialah yang mengambil barang milikku!"

"Tua bangka bodoh. Apalagi yang dia tunggu? Atau barangkali dia belum tahu siapa adanya pemuda ini? Urusan peta harus segera diselesaikan. Kulihat banyak tangan-tangan usil yang mulai gentayangan. Terbukti penggalan peta pertama yang ada di tangan Jalu Paksi telah jatuh pada orang yang tidak berhak. Aku yakin tua bangka itu masih ada di tempat ini..." gumam Ratu Malam lantas arahkan sepasang matanya ke semak belukar di samping kirinya. Tiba-tiba nenek berjubah merah menyala ini berteriak lantang.

"Lantika! Aku tak perlu banyak bicara lagi. Keluarlah dari tempatmu!"

"Heran. Siapa yang dimaksud dengan nenek ini? Adakah orang lain di sekitar tempat ini?"

Ucapan lantang Ratu Malam tak mendapat jawaban dengan munculnya seseorang, membuat si nenek pelototkan sepasang matanya yang sipit. Lalu dengan mainkan gumpalan tembakau di mulutnya, dia berteriak lagi.

"Lantika! Lekas keluar atau..."

Semak belukar di samping kiri Ratu Malam bergoyang-goyang. Lalu disusul dengan suara orang. "Aku datang penuhi undangan. Tapi jangan sangkut-pautkan aku dengan senjata yang raib dan tangan. Urusan memang harus cepat dikupas agar segalanya menjadi jelas..."

Suara orang belum selesai, enam langkah di samping Ratu Malam telah tegak seorang kakek berambut putih panjang yang mulutnya dibuka lebar-lebar.

Pendekar 131 membelalakkan mata. Laksana terbang, murid Pendeta Sinting ini berkelebat ke samping, ke arah di mana si kakek yang bukan lain Iblis Ompong adanya berada. Namun gerakan Joko Sableng tertahan, tubuhnya tampak sedikit doyong ke depan dalam posisi seperti orang hendak berkelebat. Murid Pendeta Sinting ini rasakan desiran angin pelan. Anehnya, pada saat yang sama satu kekuatan luar biasa menahan gerakannya, hingga bukan saja dia gagal berkelebat namoun tubuhnya terdorong ke belakang dan kini tegak kembali seperti semula.

"Tahan hawa marahmu, Bocah jelek! Kita bicara baik-baik!"

Pendekar 131 kertakkan rahang sambil berpaling ke arah Ratu Malam yang baru saja bicara. Terlihat Ratu Malam kembungkan mulut seperti orang sedang meniup.

"Edan! Bagaimana mungkin tiupannya mampu menghadang gerakanku? Atau karena tenagaku yang belum pulih betul?!" kata Joko dalam hati, lalu lipat gandakan tenaga dalamnya.

Sekonyong-konyong murid Pendeta Sinting melesat ke arah Iblis Ompong. Tapi setengah jalan melesat, Ratu Malam gerakkan kedua tangannya mendorong ke depan. Satu gelombang angin menyambar pelan. Di lain kejap sosok Pendekar 131 tampak terdorong keras kebelakang dan terhuyung-huyung hendak roboh. Untung Joko cepat dapat kuasai diri, jika tidak niscaya tubuhnya akan terjengkang!

"Gila! Aku tak percaya!" desis Joko. Karena masih penasaran, murid Pendeta Sinting ini kerahkan segenap tenaga dalamnya. Lalu tanpa berkata-kata lagi dia berkelebat ke depan.

Ratu Malam terdengar mengomel panjang pendek. Bersamaan dengan itu kedua tangannya menyilang di depan dada lalu didorong sambil meniup.

"Wuussss! Wuusss!" Kali ini gerakan Pendekar 131 tampaknya tak bisa dibendung. Meski Ratu Malam telah mendorong dan meniup tapi sosok murid Pendeta Sinting ini terus berkelebat.

"Sialan! Anak ini betul-betul geblek" ujar Ratu Malam dan hendak maju menghadang. Tapi di sampingnya Iblis Ompong berbisik pelan.

"Sekar Mayang! Biarkan dia!"

"Tapi jangan bertindak yang bukan-bukan padanya! Lihat. Hari sebentar lagi akan malam. Dan aku harus tinggalkan tempat ini dengan segera! Jika terjadi sesuatu, aku..."

"Sudah! Aku tahu apa maksudmu!" potong Ibils Ompong. Lalu kakek ini balikkan tubuh dengan kedua tangan menyentak ke belakang saat mana kelebatan tubuh Pendekar 131 sudah setengah tombak dari tempatnya berdiri.

Mendadak sosok murid Pendeta Sinting tertahan di udara. Mungkin merasa jengkel, Joko dorong kedua tangannya ke arah Iblis Ompong. Iblis Ompong tidak tinggal diam, seraya menekuk tubuhnya ke depan sampai melipat dan kini dalam posisi menungging, kakek ini melompat ke belakang.

"Bukk! Bukkk!" Kedua tangan Joko yang mendorong ke depan menghantam pantat kiri kanan si kakek. Bersamaan dengan itu dari mulut Joko terdengar seruan tertahan. Lalu kedua tangannya tampak mental kebelakang. Disusul kemudian dengan terdorongnya tubuh mencelat sampai dua tombak. Terhuyung-huyung, murid Pendeta Sinting mendarat kembali di mana tadi dia berdiri!

Di depan sana, Iblis Ompong tampak tersapu ke depan dengan tubuh masih melipat menungging. Namun kejap lain, si kakek buat gerakan melesat ke udara lalu melayang turun dan tegak dua langkah di samping Ratu Maiam dengan mulut terbuka lebar!

"Sekar Mayang! Lama tak jumpa bertatap muka. Sepertinya kau tambah cantik hingga hampir aku salah sangka. Bagaimana keadaanmu?" bisik Iblis Ompong dengan memanggli nama asli Ratu Malam.

Sekar Mayang alias Ratu Malam monyongkan mulutnya ke depan. Tanpa menoleh dia berkata. "Tak usah berbasa-basi memuji. Aku tahu apa maksud tujuanmu keluarkan kata-kata pujian. Bukankah kau ingin mendekatiku lagi? Dasar laki-laki. Tidak bosan-bosannya perdengarkan kata-kata puja-puji, meski orang yang dipuji-puji sebenarnya mual! Hik hik hik...!"

Mendengar ucapan Ratu Malam, Iblis Ompong yang bernama asli Lantika ganti tertawa. "Sekar Mayang! Dulu memang kuakui aku ingin mendekatimu. Tapi sekarang?" Iblis Ompong tergelak-gelak lagi sebelum melanjutkan. "Apa yang sedang dipandang dari tubuhmu?"

"Tutup mulutmu, Lantika!" hardik Ratu Malam, namun meski nada suaranya keras menghardik, mulut nenek ini tampak sunggingkan senyum. "Hari sudah hampir berganti. Urusan ini harus segera selesai!"

"Hem... Betul. Tapi apakah tugasmu telah kau sampaikan?!" tanya Iblis Ompong.

"Tanya saja padanya!" jawab Ratu Malam seraya arahkan pandangannya pada Joko yang sedari tadi diam memperhatikan.

"Berarti dia mendustaiku. Dia bilang belum pernah bertemu denganmu! Kurang ajar betul!"

"Sudah. Tak usah banyak cingcong. Bukankah selama ini kita menunggu kedatangannya? Adalah satu keberuntungan jika orang yang bertahun-tahun kita tunggu akhirnya muncul tak terduga!"

"Orang-orang ini bicara urusan apa? Mereka sepertinya sudah kenal akrab. Jangan-jangan keduanya bersekongkol lalu..." Pendekar 131 maju satu tindak.

"Orang tua ompong! Harap serahkan kembali pedangku!"

"Tadi sudah kubilang. Jangan sangkut-pautkan aku dengan senjata yang lenyap hilang!"

"Lantika!" kata Ratu Malam. "Adalah aneh jika tiba-tiba senjata itu raib begitu saja. Padahal bukankah kau yang membawanya ke sini?!"

"Mem bawanya ke sini benar. Tapi mengambil senjatanya tidak benar!"

"Bagaimana bisa terjadi begitu?!" gumam Ratu Malam seraya geleng-gelengkan kepalanya.

"Barangkali dia..." desis Iblis Ompong dengan sepasang mata memandang jauh.

"Dia siapa?!" tanya Joko dengan suara agak keras. "Dengar. Aku mengambil tubuhmu yang sudah dalam keadaan tertotok dari seorang perempuan bercadar dan berjubah hitam? Coba kau ingat-ingat! Bukankah sewaktu terlibat bentrok dengan Ratu Pemikat tiba-tiba muncul berkelebat seorang yang menyambar tubuhmu?!"

Murid Pendeta Sinting dongakkan kepala dengan dahi mengeryit. Dia coba mengingat-ingat. "Benar. Waktu aku melayang, aku merasakan seseorang menyambar tubuhku. Sayang, aku tak bisa mengenalinya! Hem... Urusan pedang ini akan makin ruwet..." batin Joko dalam hati.

"Setan jelek! Benar apa yang diucapkan tua bangka bau ini?!" tanya Ratu Malam setelah beberapa saat saling diam.

"Aku memang merasakan seseorang menyambar tubuhku. Tapi aku tak mengenali siapa adanya orang itu!"

"Hem... Jika begitu sekarang jelas persoalannya. Dan itu bagian dari tugasmu untuk mencari dan mendapatkannya kembali. Sekarang ada persoalan lain yang harus kita selesaikan!" Ratu Malam berpaling pada Iblis Om pong. "Kau tunggu apalagi?! Apa barang itu akan kau simpan terus menerus?!"

"Persoalan apalagi ini?" desis murid Pendeta Sinting seraya menatap bergantian pada Ratu Malam dan Iblis Ompong.

"Setan jelek! Kau masih ingat dengan keteranganku tempo hari?" tanya Ratu Malam.

"Keterangan? Keterangan apa?"

"Edan! Bukankah aku telah cerita padamu urusan penggalan peta itu? Hah?"

"Ah. Keterangan itu. Jelas aku masih ingat!"

"Bagus! Nyatanya kau anak manusia yang benar-benar beruntung..."

"Nek. Dengan lenyapnya pedangku, kau masih mengatakan aku beruntung?"

"Diam! Jangan berkata memotong ucapanku!" sentak Ratu Malam. "Urusan hilangnya pedangmu bisa dicari, apalagi orangnya meski belum jelas siapa adanya namun sedikit banyak sudah ada gambaran. Tapi urusan yang satu ini, kalau tidak beruntung, sampai menungging seumur-umur pun tak akan dapat!"

Habis berkata begitu, tangan kanan Ratu Malam mengangsur ke arah Iblis Ompong membuat gerakan seperti meminta. Pada s maat yang sama, Iblis Ompong masukkan tangannya ke balik pakaian. Kejap kemudian, di tangan si kakek terlihat satu gulungan kulit berwarna coklat. Gulungan itu segera diberikan pada Ratu Malam.

"Tak usah kukatakan, kau tentu bisa menerka sendiri!" ujar Ratu Malam seraya sentakkan tangannya yang memegang gulungan kulit.

Di depan sana, Pendekar 131 cepat maju dan menyahut guiungan kulit yang melayang di udara. "Ikuti terus petunjuk yang tertera!" kata Ratu Malam. Lalu berpaling pada Iblis Ompong. "Sudah saatnya kita tinggalkan tempat ini!"

Iblis Ompong tidak menyahut. Sebaliknya memandang tajam ke arah Ratu Malam dengan mulut membuka lebar-lebar. Diseberang, murid Pendeta Sinting sejenak pandangi gulungan kulit yang kini ada di tangannya. Dadanya sedikit berdebar. Lalu memandang ke depan. Mendadak sepasang mata murid Pendeta Sinting ini terpentang besar tak berkesip. Bahkan untuk meyakinkan, kedua tangannya diusap-usapkan ke bola matanya, lalu dengan dijerengkan makin besar dia menatap lagi ke depan.

"Gila! Aku yang salah lihat atau dia yang menipu mataku?!"

Sementara di depan sana, Ratu Malam terdengar bergumam tak karuan. Namun sejenak kemudian dia rapikan rambutnya. Tenyata rambut nenek ini telah berubah warna jadi hitam dan bergerai panjang sampai punggung. Bukan hanya itu saja. Raut wajahnya yang tadi dibalut dengan kulit tipis dan pucat, kini berubah menjadi putih dan padat. Sepasang matanya bulat tajam dengan tangan lentik!

"Ompong!" seru Ratu Malam yang kini telah berubah wujud menjadi seorang gadis muda cantik jelita. "Aku tak bisa menunggumu lama-lama. Aku pergi sekarang!" Habis berkata begitu, Ratu Malam putar tubuh dan berkelebat tinggalkan tempat itu.

"Ratu Malam! Tunggu..." teriak Iblis Ompong. Lalu berpaling pada Pendekar 131 dan berkata. "Kali ini keberuntungan tidak padamu. Karena ternyata tua bangka ini yang dijamu. Ha ha ha...! Seandainya kau tidak menolak perjodohan itu. Tapi terlambat!"

Sambil terus tertawa, Iblis Ompong berkelebat menyusul Ratu Malam. "Busyet! Jadi nenek itu adalah Ratu Malam..." gumam Joko seraya pandangi kepergian Iblis Ompong. "Dan Iblis Ompong pasti salah satu saudara seperguruan Ratu Malam yang pernah diceritakan padaku. Ratu Malam. Hem... Siapa kira jika nenek-nenek itu adalah seorang gadis muda cantik..."

Memang, Ratu Malam adalah seorang tokoh yang tidak asing lagi bagi dunia persilatan. Selain berilmu tinggi, tokoh ini punya keanehan. Yakni jika malam telah menjelang, maka wujudnya akan berubah menjadi seorang gadis muda berparas cantik jelita. Karena itulah kalangan rimba persilatan menggelarinya Ratu Malam.

********************

BAB 4

SEPERTI dituturkan dalam episode Rahasia SPulau Biru, setelah terjadinya bentrok antara Iblis Ompong dan Dewi Siluman, tiba-tiba di tempat mana Dewi Siluman berada muncul dua orang gadis berparas cantik mengenakan jubah warna kuning dan biru yang bukan lain adalah murid Dewi Siluman sendiri yakni Wulandari dan Ayu Laksmi.

Karena yang muncul cuma dua muridnya, saat itu juga Dewi Siluman memerintahkah pada kedua muridnya untuk mencari salah seorang lagi yang tidak muncul di tempat itu, yakni Sitoresmi. Dan untuk mencari Sitoresmi, Dewi Siluman memberi batas sampai malam hari.

Wulandari dan Ayu Laksmi sudah berputar di tempat mana tadi mereka bertiga berpisah. Bahkan keduanya telah saling berpencar untuk mencari jajak Sitoresmi. Namun hingga keduanya bertemu kembali, mereka berdua gagal menemukan Sitoresmi. Dua gadis berparas cantik murid Dewi Siluman ini sama tegak di tempat masing-masing dengan keringat membasahi sekujur tubuh. Si jubah kuning Wulandari tiba-tiba mendongak melihat langit.

"Malam hampir tiba..." gumamnya dengan suara agak bergetar. "Tapi Sitoresmi belum berhasil kita temukan. Bagaimana sekarang? Apa kita temui Guru tanpa Sitoresmi?!"

Si jubah biru Ayu Laksmi berpaling. "Kita hanya cari celaka jika menemui Guru tanpa Sitoresmi! Sebaiknya kita tunggu sampai besok pagi. Bukankah kita bertiga telah membuat perjanjian untuk bertemu besok pagi?!"

"Tapi Guru memberi batas waktu sampai malam ini!" ujar Wulandari seraya menghela napas panjang dan dalam. "Sialan! Kemana perginya anak itu? Gara-gara dia kita jadi tambah tugas!"

"Peduli setan dengan batas waktu. Kalau kita memaksakan diri menemui Guru tanpa Sitoresmi malam ini, kau tahu apa yang akan menimpa kita! Lebih baik kita tunda sampai besok. Kita nanti bisa memberi alasan, asalkan Sitoresmi sudah kita temukan!" kata Ayu Laksmi lalu memandang berkeliling. Saat itu perlahan-lahan cuaca sudah mulai gelap.

"Kita cari tempat untuk istirahat!" sambung Ayu Laksmi seraya hendak pergi.

"Tunggu!" tahan Wulandari. Kepala gadis berjubah kuning ini berpaling ke arah timur. "Ada orang menuju kemari!"

Ayu Laksmi ikuti arah pandangan Wulandari. Dan dari arah timur samar-samar terlihat sesosok tubuh berlari kencang menuju ke arah keduanya. Belum sampai kedua gadis ini ada yang buka mulut kembali, tahu-tahu sepuluh langkah di hadapan mereka berdua tegak seorang kakek bertubuh besar. Rammbutnya putih panjang disanggul tinggi ke atas. Wajahnya pucat laksana tak berdarah. Sepasang matanya besar dan hanya tam pak putihnya saja, pertanda jika kakek ini buta. Dia mengenakan pakaian gombrong besar warna hijau hingga sekujur tubuhnya hampir tertutup. Pada pinggangnya tampak sebuah ikat pinggang besar dari kulit yang pangkalnya berupa cermin bundar. Anehnya, begitu si kakek berada di tempat itu, suasana tempat itu jadi terang benderang.

"Aneh..," bisik Wulandari setelah menahan rasa kejut. "Baru saja tubuhnya jauh di sebelah timur. Tapi kini tahu-tahu sudah berada di sini..." Wulandari perhatikan sekali lagi lebih seksama pada si kakek. "Cermin pada pangkal ikat pinggangnya mampu mem mbuat tempat ini terang benderang, dan walau sepasang matanya buta, tapi tampaknya dia tahu di hadapannya ada orang. Hem... Siapa orang tua ini?!" ujar Wulandari dalam hati, lalu utarakan yang ada dalam hatinya pada Ayu Laksmi.

"Aku juga sulit mengenali siapa dia adanya! Tapi kalau dia berbuat macam-macam aku tak segan-segan membuat matanya buta dua kali!" bisik Ayu Laksmi. Gadis ini tampaknya sudah jengkel dengan tidak ditemukannya Sitoresmi, hingga tatkala ada orang yang tahu-tahu tegak di hadapannya, semua kejengkelannya laksana hendak ditumpahkan.

"Hem... Ternyata ada dua orang dihadapanku ini. Sahabat-sahabat cantik. Sudi tunjukkan padaku mana arah yang menuju mata air?" Si kakek tiba-tiba keluarkan ucapan.

Wulandari dan Ayu Laksmi saling berpandangan. Mereka sedikit terkesiap. Karena jarak antara mereka dan si kakek cukup jauh dan ucapan keduanya juga amat pelan, tapi si kakek tampaknya mengetahui, malah bisa berkata jika kedua orang di hadapannya adalah dua gadis berparas cantik.

"Orang tua!" teriak Wulandari. "Aku tak tahu mana arah mata air. Dan ingat. Kami bukan sahabatmu!"

"Ah...!" si kakek terdengar keluarkan keluhan. "Maaf. Jika begitu aku harus cari sendiri mata air itu. Padahal, di sana ada seorang gadis cantik mengenakan jubah warna merah..."

Habis berkata begitu, si kakek usap cermin pada pangkal ikat pinggangnya yang tepat berada di depan pus arnya. Bersamaan dengan itu, suasana kembali gelap seperti sedia kala.

Wulandari dan Ayu Laksmi kali ini tak dapat menyembunyikan lagi rasa kecut masing-masing. Setelah diam sejurus, tiba-tiba Wulandari yang merasa bahwa yang disebut-sebut si kakek adalah Sitoresmi, segera melompat ke depan.

"Orang tua! Siapa kau sebenarnya? Kulihat sepasang matamu buta, tapi kau tahu siapa kami, lebih-lebih sepertinya kau juga tahu bahwa kami sedang mencari gadis berjubah merah!"

Si kakek tertawa panjang. Dua gadis di depannya tampak tersentak, karena masing-masing gadis ini merasakan tanah di mana kini mereka berpijak bergetar! Padahal suara tawa itu hanya pelan saja!

"Eh, jadi kalian mencari gadis berjubah merah...?" tanya si kakek setelah tawanya berhenti.

"Betul! Dan katakan di mana dia berada!" Kali ini yang buka mulut adalah Ayu Laksmi.

"Sayang kita bukan sahabat. Lagi pula aku tak tahu di mana temanmu itu berada. Jadi harap maafkan orang tua ini tak bisa jawab pertanyaanmu!"

"Aku yakin, orang ini bukan orang sembarangan. Bohong jika dia tak tahu di mana beradanya Sitoresmi. Bukankah apa yang baru diucapkan tadi benar adanya?" kata Wulandari dalam hati. Gadis berjubah kuning ini lantas angkat bicara.

"Orang tua! Kalau kau tak mau jawab pertanyaan kami, jangan harap kau bisa teruskan langkah!"

"Eh, bagaimana bisa begini?!"

"Itu urusanmu! Sekarang jawab atau langkahmu sampai di sini!"

"Jadi kau memaksaku...?!"

"Terserah kau sebut apa. Yang jelas kau harus menjawab!" sahut Wulandari dengan suara lantang.

"Baiklah..." ucap si kakek pada akhirnya sambil menghela napas. Kepalanya didongakkan menghadap langit. Sementara tangan kanannya mengusap-usap cermin bulat yang ada di depan perutnya. "Aku tak bisa menunjukkan di mana beradanya temanmu itu. Hanya..."

"Orang tua! Aku ingin jawaban pasti!" potong Wulandari. "Dan jangan coba-coba menjual bualan"

"Anak manusia cantik!" kata si kakek seraya hadapkan wajahnya ke arah Wulandari. "Jawaban pasti hanya milik Tuhan. Aku hanya bisa menduga. Tapi sebaiknya kau dengar. Selama ini apa yang kuduga biasanya jarang sekali meleset. Dan satu lagi, jangan kau memotong kata-kataku sebelum aku selesai bicara!"

"Jahaman! Aku yang buat peraturan. Bukan kau!" teriak Wulandari.

Si kakek tertawa perlahan. "Di sini tak ada yang berhak bikin aturan. Atau barangkali kau tak mau dengar ucapanku?!"

Wulandari jadi terdiam mendengar ucapan si kakek. Sebenarnya gadis ini sudah geram, tapi karena memang ingin tahu keberadaan Sitoresmi, terpaksa dia harus menindih rasa geramnya. Sambil berpaling akhirnya dia berkata. "Baik. Lekas katakan apa yang kau ketahui tentang temanku itu!"

"Seperti kukatakan tadi, aku tak bisa menunjukkan di mana beradanya temanmu itu. Hanya saja sebentar lagi dia akan sampai di tempat itu. Dan satu hal lagi. Meski malam ini kalian punya janji dengan seseorang, sebaiknya kalian urungkan. Karena orang itu tidak akan datang di tempat perjanjian! Besok pagi adalah waktu yang baik untuk menemuinya..."

Baik Wulandari maupun Ayu Laksmi tampak besarkan mata masing-masing. Seperti diketahui, kedua gadis ini memang punya janji malam ini dengan gurunya Dewi Siluman.

"Hem... Orang tua ini benar-benar tepat dugaannya..." gumam Wuiandari. "Tak ada salahnya jika aku tanya tentang urusan yang kini kuemban. Siapa tahu dia bisa mem bantu..."

Berpikir begitu, gadis berjubah kuning ini segera buka mulut. "Orang tua. Dugaanmu yang satu memang tepat. Satunya lagi perlu dibuktikan. Bagaimana kalau aku ajukan beberapa pertanyaan lagi?"

"Sebenarnya aku keberatan. Tapi untuk kali ini, baiklah! Apa yang hendak kau tanyakan?!"

"Saat ini rimba persilatan sedang ramai membicarakan sebuah kitab sakti bernama Serat Biru. Apakah kitab itu betul-betul ada? Lalu di mana kira-kira beradanya? Kalau ada, kelak siapakah yang berhasil mendapatkannya?!"

"Wah. Pertanyaanmu banyak betul. Namun karena aku sudah berjanji akan menjawab, terpaksa semua itu akan kucoba mengatakannya padamu..."

Sejenak si kakek hentikan kata-katanya. Saat bersamaan, Ayu Laksmi yang berada agak jauh segera berkelebat menghampiri Wulandari. Ayu Laksmi sepertinya hendak mengucapkan sesuatu. Namun Wulandari cepat jarinya di tengah bibir.

Si kakek usap-usap cermin bundarnya sejurus. Lalu hadapkan wajahnya ke depan seolah melihat dua gadis cantik yang kini tegak dengan sepasang mata tak berkedip memperhatikan. Kejap kemudian si kakek arahkan wajahnya menghadap ke atas, lalu buka mulut.

"Aku menduga Kitab Serat Biru yang saat ini ramai dibicarakan kalangan orang-orang persilatan memang benar-benar ada! Namun di mana beradanya, terus terang aku hanya tahu nama tempatnya tanpa tahu di mana tempat itu!"

"Apa nama tempat itu?!" sahut Wuiandari.

"Pulau Biru...!"

"Hem... Jadi apa yang diucapkan Guru betul!" desis Wulandari. Lalu gadis berjubah kuning ini lanjutkan pertanyaan.

"Siapakah kelak yang berhasil mendapatkannya?!"

"Seperti biasanya, meski kitab itu sejak dulu hingga kini diperebutkan banyak orang, namun pada akhirnya hanya satu orang di kolong langit ini yang mendapatkan dan mewarisinya. Apa kalian berdua punya niat untuk memilikinya?"

"Menurut kabar yang tersiar. Kitab Serat Biru adalah kitab sakti, raja di raja kitab. Adalah bohong jika orang yang menamakan diri sebagai kalangan orang persilatan tidak punya niat untuk memilikinya!"

"Mau dengar saranku, gadis-gadis cantik!" tanya si kakek sambil hadapkan lagi wajahnya ke arah dua gadis dihadapannya.

"Katakan. Namun aku tak bisa jamin akan turuti saranmu!" kata Wulandari.

Si kakek tertawa pendek. Lalu usap-usap dagunya dan berkata. "Terserah kalian mau turuti apa tidak. Aku hanya memberi saran. Siapa tahu kelak ucapanku bisa jadi pertimbangan. Kalian masih muda..."

"Orang tua! Sepertinya kau merasa tahu tentang kami lebih dari kami sendiri! Jangan bicara ke mana-mana. Katakan saja apa yang perlu!"

"Urungkan niat kalian memburu kitab itu! Aku melihat dua penghalang di depan kalian..." Akhirnya si kakek berkata setelah agak lama terdiam.

Wulandari melirik pada Ayu Laksmi. Saat itu Ayu Laksmi sendiri sedang melirik pada Wulandari. "Orang ini membual atau sengaja menghalang-halangi langkah kita?" bisik Wulandari.

"Aku tak bisa menebak dengan pasti. Tapi apa perlunya menuruti omongan orang. Dia baru saja kita kenal, dan kita belum tahu pasti siapa dia sebenarnya! Jangan-jangan orang ini sengaja menghalangi niat kita agar orang lain leluasa mendapatkan kitab itu!" ujar Ayu Laksmi.

"Hem... Tapi tak ada jeleknya kita tanya apa halangan itu. Dengan demikian setidaknya kita nanti bisa menghindari atau sekaligus menyingkirkannya!" kata Wulandari. Lalu tanpa menunggu persetujuan dari Ayu Laksmi gadis berjubah kuning ini berucap.

"Orang tua! Kalau mulutmu tidak membual, coba katakan apa halangan itu!"

Si kakek manggut-manggut sebelum akhirnya berkata. "Pertama. Menurut mata batinku, kelak si pewaris itu adalah seorang laki-laki. Kedua, justru laki-laki itu yang membuat kalian terpecah..."

Wajah kedua gadis dihadapan si kakek berubah agak tegang. Tanpa sadar keduanya saling bentrok pandang saat sama berpaling. Mulut sama terkancing dengan sikap jelas membayangkan hati yang gelisah. Tapi Wulandari segera memecah ketegangan dengan buka mulut.

"Orang tua! Kau jangan bicara yang bukan-bukan! Mana mungkin kami bisa terpecah hanya gara-gara seorang laki-laki? Persaudaraan bagi kami adalah nomor satu. Itu sudah jadi ikrar kami bertiga!"

Si kakek perdengarkan tawa panjang. "Cinta datang tanpa diundang. Sekali datang, tak ada yang bisa menghadang. Jangankan badai gelombang, hingga nyawa melayang dia akan tetap menerjang. Cinta datang membawa lupa dan buta. Jangankan ikrar kata, derajat dan harta dipandangnya sebelah mata..."

Mendengar ucapan si kakek, Wulandari ganti tertawa. "Orang tua. Kau bukan saja pandai bicara membual, tapi juga pintar urusan cinta!"

"Kita ini hidup. Dalam hidup, siapa pun dia adanya pasti memiliki rasa cinta. Kalau saat ini kalian belum merasakan, mungkin belum tiba saatnya. Dan satu hal lagi, cinta seringkali butuh pengorbanan. Nah, di sinilah kelak kalian harus tentukan pilihan. Rela berkorban untuk cinta atau..."

"Orang tua! Omonganmu sudah ngelantur! Kami tak butuh korban untuk cinta. Silakan orang lupa dan buta karena cinta, tapi bagi kami..."

"Anak gadis!" Kali ini ganti si kakek yang memotong ucapan Wulandari. "Tadi kukatakan, cinta datang tanpa diundang, berarti kita belum tahu kapan datangnya. Dan karena kalian belum merasakan maka kalian dapat bicara apa saja. Tapi aku yakin, kalian akan lupa pada ucapan kalian sendiri jika la telah melanda hati kalian. Silakan percaya apa tidak. Kelak kalian sendiri akan membuktikannya..." Habis berkata begitu, si kakek hadapkan wajahnya ke atas. "Ah. Rupanya kita telah banyak bicara. Aku harus pergi... Aku tak mau ganggu urusan pertemuan kalian dengan gadis yang kalian cari..." Si kakek lalu melangkah dengan kepala tetap menengadah menghadap langit.

"Tunggu!" tahan Ayu Laksmi, membuat si kakek hentikan langkah. "Katakan siapa kau sebenarnya? Dan hendak ke mana kau pergi?!"

Tetap dengan mendongak si kakek buka mulut memberi jawaban. "Kadang-kadang orang memanggil tua bangka ini Gendeng Panuntun. Namun jangan salah sangka, meski aku gendeng tapi banyak orang yang perlu tuntunan dariku. Ha ha ha...! Dan karena aku biasa berjalan tanpa tujuan, maka aku tak bisa katakan ke mana aku hendak pergi. Tapi jangan salah tangkap, meskipun aku jalan tanpa tujuan, namun pasti punya maksud! Ha ha ha...!"

Masih tetap tertawa dan menengadah, si kakek lanjutkan langkah. Bersamaan dengan itu dari perutnya di mana cermin bulat berada, tampak cahaya cemerlang menyorot. Seakan bisa melihat, si kakek melangkah menuruti cahaya yang keluar dari cerminnya. Meski terlihat melangkah pelan, tapi dalam waktu sekejap sosok si kakek sudah berada jauh dari tempat di mana Wulandari dan Ayu Laksmi berada. Bahkan kejap kemudian, kedua gadis murid Dewi Silum an ini hanya mendengar suara tawa dan kilatan cahaya tanpa terlihatnya sosok si kakek!

"Untuk apa pikirkan omongan orang gendengl" gumam Ayu Laksmi saat dilihatnya Wulandari tegak dengan sikap gelisah dan memandang jauh dengan sorot mata kosong.

"Tapi ucapan-ucapannya sepertinya benar!" sahut si jubah kuning Wulandari tanpa menoleh.

Ayu Laksmi tertawa bergelak msndengar ucapan Wulandari. "Rupanya kau tergoda dengan kata-kata Tua bangka itu. Padahal dugaannya belum kita buktikan kebenarannya!"

"Dugaannya tentang pertemuan dan janji kita malam ini dengan Guru tepat!"

"Itu mungkin satu kebetulan belaka! Perlu waktu untuk pembuktian selanjutnya. Kalau benar..."

Ayu Laksmi putus kan ucapannya. Lalu sentakkan kepalanya ke samping. Demikian pula halnya dengan Wulandari.

"Gemerisik itu pasti bukan ulah binatang. Ada orang di sekitar tempat Ini..." bis ik Wulandari saat telinganya mendengar gemerisik semak-belukar tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Ayu Laksmi anggukkan kepala dan cepat kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Belum sampai ada yang membuat gerakan, semak belukar di samping kedua gadis ini bergerak menguak. Lalu muncullah sesosok tubuh!

Wulandari dan Ayu Laksmi sama-sama pentangkan mata masing-masing memandang tak berkesip pada sosok yang kini melangkah ke arah mereka. Ternyata sosok ini adalah seorang gadis berwajah cantik mengenakan jubah merah!

"Sitoresmi...!" gumam Wulandari.

BAB 5

SEAKAN tak percaya, laksana terbang Wulandari dan Ayu Laksmi segera melompat. Berdiri tegak tiga langkah dihadapan sosok gadis berjubah merah yang bukan lain Sitoresmi adanya dengan mata perhatikan dari atas sampai bawah.

Merasa jengah dipandangi begitu rupa, Sitoresmi balas memandang dengan tatapan melotot dan segera buka mulut menegur. "Kenapa kalian memandang demikian padaku? Apa yang salah?!"

Wulandari dan Ayu Laksmi tak segera memberi jawaban. Sebaliknya kedua gadis ini saling pandang.

"Ucapan orang tua itu ternyata terbukti..." desis Wulandari. Diam-diam perasaan gadis berjubah kuning ini menjadi tak enak dan tampak bimbang. Hatinya pun lantas berkata. "Apakah dugaan orang tua itu akan apa yang hendak menghadang perburuan ini juga akan menjadi kenyataan? Akankah seorang laki-laki akhirnya hendak memisahkan kami? Mungkinkah kami harus berhadapan dengan pilihan yang meminta pengorbanan?" Ternyata bukan hanya Wulandari yang dilanda gelisah dengan berbagai pertanyaan.

Diam-diam pula Ayu Laksmi membatin. "Dugaan Gendeng Panuntun tentang janji pertemuan dengan Guru mungkin saja bisa satu kebetulan. Tapi kalau tepatnya dugaan tentang datangnya Sitoresmi, Ini sudah bukan lagi kebetulan! Hem... Apakah dugaannya tentang apa yang akan terjadi betul-betul akan terbukti? Siapa laki-laki yang dikatakannya itu?"

Karena sama-sama tenggelam dengan pikiran masing-masing, membuat kedua gadis ini belum juga memberi jawaban pada Sitoresmi. Sitoresmi makin tak enak. Dia sepertinya salah tingkah.

"Apa pun yang akan terjadi, aku sudah bulat. Kalau mereka tak mau mengerti, apa hendak dikata. Aku tak hendak surutkan langkah..." kata Sitoresmi dalam hati. Lalu dengan suara agak keras dia berkata.

"Kalian diam tak jawab tanyaku. Aku bukannya lancang bicara. Tapi aku menangkap perubahan pada kalian! Hem... Malam ini memang belum saatnya kita bertemu. Aku harus pergi dulu. Besok pagi kita bertemu di tempat yang kita tentukan!"

Sitoresmi segera putar diri dan melangkah meninggalkan tempat itu. Namun langkah gadis berjubah merah ini tertahan saat didengarnya satu suara menahan.

"Sitoresmi! Tunggu!"

Meski tak ucapkan sepatah kata, namun Sitoresmi hentikan langkah. Dia tegak menunggu tanpa berpaling. "Malam ini Guru menunggu kita! Aku dan Ayu Laksmi diberi perintah mencarimu dan ditunggu malam ini juga!"

Wajah Sitoresmi tampak berubah tegang. Dahinya mengernyit. Sepasang matanya tiba-tiba memejam rapat dengan bibir saling mengigit. Untuk sesaat gadis ini coba menahan guncangan pada tubuh dan dadanya. "Apakah aku harus menemui Guru? Bagaimana kalau dia... Ah, ini sudah resiko yang harus kutanggung..." bisik Sitoresmi dalam hati. Tanpa menoleh ia berkata "Apakah Guru ikut serta turun tangan dalam urusan ini? Dan untuk apa kita menemuinya?!"

"Turun tangan atau tidak bukan hal penting yang harus kita ketahui. Kita juga tak usah pikir untuk apa menemuinya. Ini perintah!" ucap Wulandari dengan suara tak kalah keras. Gadis ini yang sedari tadi telah menindih rasa jengkel karena harus mencari Sitoresmi sepertinya sjudah tak sabar. Namun dia masih mencoba menahan rasa jengkelnya.

"Baiklah. Kita temui Guru sekarang juga!" kata Sitoresmi pada akhirnya, lalu balikkan tubuh menghadap Wulandari dan Ayu Laksmi.

"Tapi menurut dugaan orang tua itu, kita tak akan bertemu dengan Guru. Apa tidak sebaiknya kita tunda dulu sampai besok pagi?" kata Ayu Laksmi dengan suara perlahan seraya berpaling pada Wulandari.

Wulandari tertawa. "Nyatanya kau juga terpengaruh dengan ucapan orang tua itu..."

"Dua hal yang dikatakannya tepat. Ini sudah bukan sebuah kebetulan lagi."

"Ucapanmu benar. Tapi yang kita hadapi lain. Bertemu atau tidak kita ke sana sekarang! Kita tunggu dia di tempat yang ditentukan!" ujar Wulandari.

"Hem... Dari tadi kailan berdua menyebut-nyebut orang tua. Siapa yang kalian maksud?" tanya Sitoresmi.

"Seorang pembual yang kami temui di tempat ini beberapa saat yang lalu. Kita berangkat sekarang!" kata Wulandari lalu berkelebat mendahului.

Sitoresmi segera mendekati Ayu Laksmi, lalu menjajari gadis berjubah biru ini dan berbisik. "Kukira yang kalian temui bukan seorang pembual. Bisa katakan padaku siapa sebenarnya orang-tua yang kalian bicarakan tadi?"

Sambil berkelebat menyusul Wulandari, Ayu Laksmi berkata. "Dia mengaku bernama Gendeng Panuntun. Menurutku dia bukan seorang pembual!"

"Pasti kau punya alasan..."

"Apa yang diucapkan tepat dan terbukti!"

Sitoresmi memegang lengan Ayu Laksmi seraya terus mengikuti Wulandari. "Apa saja yang dikatakan orang tua itu?" Tanya Sitoresmi.

"Tentang janji kami yang hendak menemui Guru malam ini. Lalu soal kedatanganmu yang kami cari-cari! Juga tentang pertemuan malam ini dengan Guru. Tapi dalam hal Ini, dia mengatakan, kita tak akan menemuinya malam ini. Kita buktikan nanti apakah ucapan orang tua itu terbukti..."

"Tak ada lagi yang dikatakannya selain itu?"

"Hem... Ada. Namun terus terang dalam soal yang terakhir ini aku masih sangsi..."

"Soal apa itu?!"

"Soal pem buruan kita dan masa depan kita bertiga!"

"Apa yang diucapkannya?!"

"Dia menyarankan agar kita tidak meneruskan pemburuan ini, karena kelak sang pewaris Kitab Serat Biru adalah seorang laki-laki. Dan yang lebih tidak mengenakkan, dia bilang justru seorang laki-laki itu kelak yang akan memisahkan kita bertiga!"

Perubahan tampak di raut wajah Sitoresmi. Entah kenapa gadis ini tiba-tiba dilanda perasaan tak enak. Dadanya berdebar, kedua tangannya bergetar.

"Kenapa tanganmu bergetar, Sitoresmi?" tanya Ayu Laksmi sambil melirik. "Apa yang ada dalam benakmu?!"

Sitoresmi menggeleng perlahan. "Kau percaya dengan itu semua?" dia balik ajukan tanya pada Ayu Laksmi.

Ayu Laksmi tertawa pelan. "Untuk tiga hal yang pertama, mungkin aku bisa menerima. Tapi untuk soal yang terakhir, kukira orang tua itu sudah terlalu jauh bicara..."

Di depan sana, mendadak Wulandari hentikan larinya. Kepala gadis ini bergerak berputar berkeliling. Sepasang matanya membesar tak berkedip. "Dia belum datang..." katanya setelah Ayu Laksmi dan Sitoresmi tegak di sampingnya. "Kita tunggu sebentar...!"

Beberapa saat berlalu. Namun orang yang ditunggu belum juga tampak. Ketiga gadis ini sudah terlihat agak gelisah. Malah Wulandari tampak berjalan mondar-mandir dengan sesekali memandang ke arah Sitoresmi dan Ayu Laksmi. Entah karena tak sabar, akhirnya Wuiandari berkata.

"Bagaimana sekarang?!"

"Ucapan orang tua itu kali ini terbukti lagi. Hem... Kita sudah terlanjur di tempat ini. Terpaksa kita cari tempat istirahat di sini!" sahut Ayu Laksmi seraya menoleh pada Sitoresmi.

"Benar. Lagi pula malam masih panjang. Siapa tahu Guru akan datang tengah malam nanti..." ujar Sitoresmi menyahut.

Tak lama kemudian, ketiga gadis ini sama mencari tempat untuk istirahat. Tapi meski ketiganya sudah sama rebahkan diri dan mata sama terpejam, sebenarnya dalam hati masing-masing gadis ini sama dibuncah berbagai hal. Dan yang tampak paling gundah adalah Sitoresmi. Sesekali gadis berjubah merah ini buka kelopak matanya dan memandang pada dua saudara seperguruannya.

"Cerita Ayu Laksmi tadi, apakah benar-benar akan terjadi...? Ah... Kenapa hatiku jadi berdebar-debar tak karuan? Dan wajah itu, kenapa tak bisa lepas dari mataku?"

Sitoresmi tak sadar sampai berapa lama dia gundah sendiri malam itu. la baru buka kelopak matanya lebar-lebar tatkala telinganya menangkap suara gemeretak sayup-sayup di kejauhan. Sejurus dia menatap pada Wulandari dan Ayu Laksmi yang rebah tak jauh dari tempatnya. Lalu bangkit duduk dan memandang ke arah sumber suara gemeretakan. Saat itu langit di sebelah timur tampak terang kekuningan, pertanda tak lama lagi sang mentari akan unjuk diri menggantikan malam.

Suara gemeretak makin lama makin dekat, dan tak berselang lama, dari tempatnya berada, Sitoresmi melihat sebuah kereta yang di bagian depannya tampak seorang laki-laki berjubah hitam duduk di bangku kusir. Sejenak wajah Sitoresmi berubah. Dadanya makin berdebar. Buru-buru gadis ini berseru pada Wulandari dan Ayu Laksmi.

"Guru datang!"

Wulandari dan Ayu Laksmi cepat-cepat bergerak bangkit. Kini ketiganya tegak berdiri menyongsong kereta yang terus berderak menghampiri ke arah mereka. Sejarak tiga tombak dari hadapan ketiga gadis ini, di depan sana mendadak sang kusir kereta menarik tali kekang kuda keretanya. Terdengar suara kaki ladam kuda menggeru tanah. Serta-merta binatang penarik kereta itu hentikan larinya.

Sejurus terlihat tanah lembab muncrat setengah tombak ke udara. Lalu satu bayangan hitam berkelebat. Dan tahu-tahu tiga langkah di hadapan para gadis tadi tegak berdiri seorang kakek berjubah hitam besar dan panjang dengan rambut putih dan disanggul ke atas. Paras wajahnya pucat keriput. Sepasang matanya besar. Kedua tangannya tampak dimasukkan ke dalam saku kedua jubahnya.

"Ki Buyut Pagar Alam..." seru ketiga gadis lalu sama menjura.

Si kakek berjubah hitam besar dan panjang yang kedua tangannya masuk ke dalam saku yang dikenal sebagai paman sekaligus pendamping utama Dewi Siluman perdengarkan gumaman dengan mata memandang bergantian ke arah tiga gadis di hadapannya. Si kakek yang dipanggil dengan Ki Buyut Pagar Alam tengadah, lalu terdengar ucapannya.

"Apakah kalian bertiga sudah lama menanti?"

"Kami belum begitu lama di tempat ini, Ki Buyut," jawab Wulandari.

"Dan kalaupun Guru tidak datang hari ini, kami akan tetap di sini menunggu..." sambung Sitoresmi.

Ki Buyut Pagar Alam sunggingkan senyum, tapi cuma sekejap. Masih dengan mendongak, si kakek ini berkata. "Bagaimana keadaanmu Sitoresmi?!"

Untuk sesaat raut Sitoresmi berubah sedikit tegang. Namun kejap kemudian gadis berjubah merah ini tersenyum sambil berkata menjawab. "Aku baik-baik saja, Ki Buyut. Hanya beberapa saat kemarin aku menemui halangan, hingga tak sempat bertemu dengan Guru. Lagi pula kami bertiga telah sepakat untuk bertemu pagi ini..."

"Hem... Aku gembira mendengar keteranganmu. Terus terang aku dan gurumu sangat cemas dengan ketidakhadiranmu kemarin siang. Karena kusirap telah banyak orang-orang muncul di sekitar tempat ini. Dan kemunculan mereka pasti punya maksud yang sama dengan kita!"

Beberapa saat suasana di tempat itu sunyi, karena keempat orang itu tidak ada yang buka mulut. Namun tak berapa lama kemudian, Ki Buyut Pagar Alam memecah kesunyian dengan berucap.

"Guru kalian Dewi Siluman hari ini tak bisa menemui kalian, karena ada sesuatu yang harus dikerjakan. Hanya dia berpesan agar kalian teruskan perjalanan menuju arah selatan. Tujuh hari di depan, kalian ditunggu di sebuah kanal yang menuju arah laut selatan! Tapi harus diingat, meski kalian menuju arah selatan, tapi kalian harus berpencar. Dan beri tanda seperti biasa jika salah satu di antara kalian ada yang mengalami kesulitan! Ada yang ingin utarakan sesuatu?!"

"Berarti jarak di antara kami bertiga harus tidak terlalu jauh. Begitu?" Wulandari ajukan tanya.

"Itu bisa kalian atur. Yang penting jika salah satu di antara kalian memberi tanda, lainnya dapat menangkap tanda itu!" jawab Ki Buyut.

"Dan yang juga perlu kalian perhatikan, kalian harus lebih waspada. Orang yang kini banyak muncul, rata-rata punya kepandaian yang tidak bisa dipandang remeh. Jangan liat orang dari segi pakaian atau ucapannya! Justru di balik pakaian rombeng dan ucapan yang seperti orang gila kadang tersimpan kekuatan luar biasa! Kalian dengar?!"

Ketiga gadis di hadapan Ki Buyut Pagar Alam sama anggukkan kepala.

"Satu hal lagi. Singkirkan setiap orang yang punya maksud searah dengan perjalanan kalian! Siapa saja. Jangan pandang bulu!" sambung Ki Buyut. Kakek Ini lantas putar tubuh, dan sekali bergerak, tubuhnya melesat. Kejap lain sosoknya telah tegak di atas kereta.

Ketiga gadis saling pandang sejurus. Lalu sama anggukkan kepala memberi isyarat. Sitoresmi yang membuat gerakan terlebih dahulu dengan melesat ke arah selatan. Lalu disusul dengan Ayu Laksmi yang juga berkelebat ke arah selatan namun mengambil jarak kira-kira enamtom bak dari arah yang diambil Sitoresmi. Yang terakhir berkelebat adalah Wulandari. Tapi tiba-tiba gadis ini tercengang sendiri. Meski dia telah kerahkan tenaga namun sepertinya ada satu kekuatan luar biasa yang menahan gerakannya.

"Gila! Pasti ada orang yang berbuat kurang ajar!" teriak Wulandari dalam hati, lalu kerahkan tenaga dalam sekali lagi. Namun sia-sia.

Selagi sadis berjubah kuning ini memaki sendiri, tiba-tiba terdengar orang tertawa. Wulandari cepat berpaling. Di depan sana, di atas kereta tampak Ki Buyut Pagar Alam arahkan wajah ke jurusan lain dengan mulut terbuka tertawa.

"Apa maksud orang tua itu menahan gerakanku?!" desis Wulandari. Gadis ini sudah buka mulut untuk berucap. Namun suaranya belum terdengar, Ki Buyut Pagar Alam telah putuskan tawanya. Kedua tangannya yang mengepal di dalam saku dibuka perlahan-lahan. Lalu mulutnya terbuka.

"Wulandari! Kemarilah..."

Sejurus Wulandari tampak bimbang. Di atas kereta Ki Buyut keluarkan tangan kanannya dari saku jubahnya. Lalu tangan itu membuat gerakan melambai seperti orang memanggil. Wulandari merasakan ada satu kekuatan dahsyat mendorong tubuhnya dari belakang. Dan belum sempat mengetahui apa yang terjadi menimpa dirinya, sosok Wulandari perlahan-lahan bergerak maju ke arah kereta! Empat langkah lagi sampai, tiba-tiba Ki Buyut hentikan lambaian tangannya dan dimas ukkan kembali ke dalam saku jubahnya. Pada saat bersamaan, sosok Wulandari terhenti.

"Wulandari! Kau mendapat tugas khusus dari gurumu. Kau diperintahkan berjalan membuntuti Sitoresmi!"

"Ki Buyut..."

"Kau tak usah tanya mengapa. Ini pesan Dewi Siluman! Jika kepergok, kau cari sendiri alasannya! Nah. Berangkatlah!" tukas Ki Buyut Pagar Alam.

Meski dalam hati masih disarati berbagai tanya, tapi Wulandari tak bisa berbuat banyak. Karena begitu selesai bicara Ki Buyut Pagar Alam segera tarik tali kekang kereta. Anehnya, bukan kedua tangannya yang menghentak tali kekang itu, melainkan mulutnya! Dan meski tali kekang yang ada di mulutnya itu hanya ditarik pelan, kuda kereta itu tersentak dan perdengarkan suara ringkikan keras. Kedua kaki depannya terangkat tinggi. Lalu sekali Ki Buyut tarik kepalanya, sang kuda berputar dan berderak cepat meninggalkan tempat itu.

Untuk beberapa saat Wulandari pandangi punggung kereta. Dan masih dengan benak dipenuhi tanda tanya, Wulandari balikkan tubuh lalu berkelebat mengambil arah sejalan dengan arah Sitoresmi.

********************

BAB 6

PENDEKAR Pedang Tumpul 131 Joko Sableng sandarkan tubuh pada sebatang pohon. Lalu tangan kirinya bergerak ke Jari kelingkingnya dimasukkan ke lobang telinganya, hingga tak lama kemudian dia tampak meringis sendiri seraya berjingkat. Sejurus tangan kanannya bergerak pula ke balik pakaiannya. Mengeluarkan dua gulungan kulit berwarna coklat lusuh. Perlahan-lahan tubuhnya melorot. Dua gulungan kulit diletakkan di atas tanah. Lalu dibuka satu per atu dan dijajar bersambung.

"Hem... Peta kedua ini berakhir tak jauh dari tempat ini..." desisnya lalu menggulung kembali gulungan kulit dan dimasukkan ke balik pakaiannya. Sepasang matanya memandang ke depan. "Urusan peta belum ada ujung pangkalnya tapi pedangku telah lenyap disambar orang. Hem... Perempuan bercadar dan berjubah hitam. Hanya itu tanda yang kuketahui tentang orang yang mengambil pedangku. Apa aku harus mencari orang itu dahulu atau teruskan perjalanan gila ini?"

Murid Pendeta Sinting itu untuk beberapa saat dilanda kebingungan tentukan keputusan. "Ah. Benar kata Ratu Malam . Orang yang mengambil pedangku sudah ada gambaran. Sedangkan urusan Kitab Serat Biru harus diselesaikan dengan cepat, karena telah banyak orang yang muncul. Terlambat sedikit kitab itu tidak mustahil akan didahului orang lain. Dan dunia persilatan akan geger dan kiamat jika orang itu dari golongan orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaiknya aku teruskan perjalanan ini. Tidak tertutup kemungkinan perempuan bercadar dan berjubah hitam itu juga sedang memburu Kitab Serat Biru. Siapa tahu aku berjumpa dengannya..."

Berpikir sampai di situ, murid Pendeta Sinting ini bangkit. Memandang ke arah selatan seperti yang tertera dalam peta, lalu melangkah cepat. Hanya beberapa saat berlari, tiba-tiba Joko hentikan langkah. Pada sebuah batu besar, tempak seorang laki-laki duduk ongkang-ongkang kaki. Joko hanya bisa melihat rambut putih yang menggerai di punggung orang. Karena orang yang duduk itu mem belakangi.

"Meski sikapnya acuh, sepertinya dia bukan tak sengaja duduk di situ. Siapa orang ini? Tapi tak perlu diladeni..." putus Joko. Lalu teruskan langkah berjalan di belakang orang.

Sampai batu di mana orang duduk terlewati, tak terdengar orang buka mulut. Hingga Joko teruskan langkah tanpa memandang. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara tawa. Tanpa berpaling, Joko telah tahu siapa adanya orang yang perdengarkan tawa. Dia hentikan langkah. Suara tawa kian keras melengking, membuat murid Pendeta Sinting harus kerahkan tenaga dalam pada telinga untuk menutup suara yang masuk. Tiba-tiba suara tawa diputus laksana disambar setan. Lalu terdengar suara orang bicara.

"Setengah jalan sudah dikayuh. Namun setengahnya lagi masih harus ditempuh. Makin tinggi pohon dipanjat. Makin kencang angin menghujat. Makin dalam lobang digali, makin gelap yang terpandangi. Tapi takdir sudah terpentang, tak pantas putus asa berpatah arang!"

Joko Sableng terkesiap mendengar ucapan orang. Cepat dia putar diri dengan mata lurus memandang ke arah orang yang duduk di atas batu. Karena dari arah samping, Joko tak bisa mengenali dengan jelas raut wajah orang. Yang terlihat hanya sebagian wajahnya sebelah kanan yang putih berkilat. Dan sekali lihat, Joko telah bisa menebak jika arang itu menggunakan penutup wajah untuk menyembunyikan wajah aslinya.

"Wajahnya beda. Tapi suaranya kukenal betul! Apakah memang dia?!" Joko melangkah mendekat.

"Berbalik dan teruskan langkah berjalan. Sedikit terlambat gerak akan tertahan. Di depan orang telah menunggu. Jangan sia-siakan dengan diam termangu."

Habis ucapkan kata-kata orang yang duduk ongkang-ongkang kaki di atas batu membuat gerakan dengan jejakkan sepasang kakinya ke batu yang diduduki. Bersamaan dengan itu tubuhnya berkelebat melesat ke depan. Batu yang tadi diduduki bergetar sesaat, lalu bergerak menggelinding ke arah Joko!

Dengan menggerendeng panjang pendek, murid Pendeta Sinting melompat ke samping hindarkan diri. Begitu memandang ke depan, dia sudah tak melihat siapa-siapa lagi! Orang yang baru saja berkelebat lenyap laksana ditelan bumi. Sambil geleng-geleng kepala Pendekar 131 balikkan tubuh.

"Orang aneh. Tapi kata-katanya mengandung kaitan dengan apa yang sedang kulakukan. Hem... Di depan orang sudah menunggu. Aku yang ditunggu?!”

Tanpa pikir panjang lagi, murid Pendeta Sinting segera berkelebat teruskan langkah ke arah selatan. Kira-kira seratus tombak, samar-samar sepasang matanya menangkap adanya sesosok tubuh yang berjalan pelan di depan sana.

"Hem... Mungkin orang ini yang dimaksud..." gumam Joko Ialu percepat larinya. Namun Joko jadi terkesiap sendiri. Meski dia telah berusaha kerahkan segenap ilmu peringan tubuh, dan di depan sana si orang berjalan pelan, tapi Joko mengalami kesulitan untuk mempersempit jarak! Malah pada suatu tempat, orang yang dikejar tak tampak lagi sosoknya.

"Ke mana lenyapnya orang itu! Baru saja kulihat, tapi sekarang sudah tak tampak!"

Joko mengawasi berkeliling. Namun sampai matanya pedas berpeluh, orang yang dicari tak juga ditemukan. "Ah. Untuk apa buang waktu mencari orang yang belum jelas sangkut-pautnya?" Joko putar diri lalu teruskan langkah ke arah selatan.

Baru beberapa tombak, tiba-tiba terdengar suara orang bersenandung tak jelas. Lalu tampak cahaya berkilat-kilat memantul. Karena suara itu datangnya dari arah belakang, Joko cepat balikkan tubuh. Di depan sana, tampak seorang kakek berjalan pelan dengan kepala mendongak. Dia mengenakan pakaian gombrong warna hijau. Rambutnya disanggul ke atas tinggi. Dari perut orang ini tampak keluar cahaya pantulan matahari.

Anehnya, meski Joko tegak menunggu dengan mata tak berkesip memperhatikan, sementara orang tua itu berjalan ke arahnya, namun jarak antara keduanya tak juga jadi dekat!

"Waduh. Orang ini hantu atau manusia biasa? Kalau hantu kenapa siang-siang begini berkeliaran. Kalau manusia kenapa memiliki keunikan demikian?!"

Karena ditunggu agak lama. kakek bertubuh gemuk besar mengenakan pakaian hijau tak juga mendekat meski tampak melangkah ke arahnya, murid Pendeta Sinting segera berkelebat ke depan. Empat langkah di depan orang, Joko berhenti. Sepasapg matanya di pentang besar mengawasi orang dengan tak berkesip.

Mendadak kakek bertubuh besar lurus kan kepalanya. Sepasang matanya bolak-balik mengerjap. Ternyata mata itu hanya kelihatan putihnya saja, menandakan jika orang itu buta.

"Mengapa kau mengikuti, Bocah?!" Tiba-tiba kakek bertubuh besar perdengarkan teguran.

Joko terkesiap. Sambil gelengkan kepala diam-diam dia membatin. "Matanya buta, bagaimana dia tahu ku ikuti? Akan kucoba, apakah dia benar-benar tahu meski matanya buta!" Lalu Joko kerahkan tenaga dalam ketenggorokan. Kejap kemudian dia buka mulut.

"Orang tua! Siapa mengikutimu? lagi pula apa untungnya mengikutimu? Masih banyak laki-laki muda yang gagah yang pantas untuk diikuti!"

Si kakek kernyitkan dahi. Karena suara Joko kali ini terdengar seperti suara seorang perempuan! "Eh, meski mataku buta tapi mata hatiku bisa melihat dan merasakan. Orang yang diam-diam mengikutiku adalah seorang pemuda. Tapi kenapa suaranya mirip suara orang perempuan?! Gila. Jangan-jangan orang di hadapanku ini banci... Ah, ke betulan sekali. Sudah lama aku tak ngomong-ngomong dengan banci," gumam si kakek lalu tertawa panjang.

"Busyet! Dia telah tahu?. Bagaimana Ini? Aku tak mungkin terus menerus berkata seperti perempuan..." batin Joko seraya cengengesan.

"Anak Banci! Kalau kau tak mengikuti, ke mana tujuanmu sebenarnya?" si kakek yang bukan lain adalah Gendeng Panuntun ajukan tanya seraya arahkan cermin bulat di depan perutnya pada Joko.

Sejenak Joko tadangkan telapak tangannya di depan mata karena silau. Lalu melangkah satu tindak ke samping dan berkata. "Ke mana tujuanku, seorang pun tak layak mengetahuinya! Kau sendiri akan ke mana?"

Si kakek tak segera menjawab. Sebaliknya dia bergumam sendiri dengan kepala ditengadahkan. "Rambut panjang sedikit acak-cakan. Pakaian warna putih dengan ikat kepala putih. Hem... penglihatan cerminku yang salah atau pendengaranku yang tidak benar?"

Sejenak Gendeng Panuntun hentikan gumamannya, tapi tak berapa lam la bergumam lagi. "Tampangnya seperti tampang laki-laki. Ah, kasihan sekali jika dugaanku benar. Tampang laki-laki tapi jiwa dan suara perempuan..."

Pendekar 131 hanya bisa mengumpat dalam hati mendengar gumaman si kakek. Tapi diam-diam dia sadar jika orang tua di hadapannya bukan orang sembarangan. Dengan sekali pantulkan cermin, dia dapat mengetahui siapa adanya orang!

"Eh, kau tadi tanya apa?!" si kakek tiba-tiba bertanya.

"Ke mana kau hendak menuju?!" jawab Joko masih dengan suara perempuan.

"Apa itu penting bagimu?!"

"Dibilang penting ya penting. Dikatakan tidak penting juga bisa!"

"Pentingnya apa? Dan tidak pentingnya juga apa?"

"Pentingnya. Maaf, kulihat penglihatanmu tidak berfungsi. Kalau kita satu arah tak ada jeleknya kita jajan bersama. Akan kuceritakan padamu tentang tempat-tempat yang kita lewati. Tidak pentingnya, kalau tujuanmu tidak boleh diketahui orang lain aku tak akan usil mencari tahu..."

"Begitu? Sayang sekali niat baikmu tak bisa kuterima. Karena selama malang melintang di hamparan bumi ini aku telah mendapatkan teman seperjalanan yang bukan saja tidak pernah berkata dusta dan pura-pura namun juga tak pernah bertanya-tanya...!"

Sejenak sepasang mata Joko mengawasi, mencaritahu teman seperjalanan yang baru saja dikatakan si kakek. Tapi hingga agak lama murid Pendeta Sinting ini tak bisa menemukan apa yang dikatakan si kakek.

"Apa yang kau cari, Bocah?!"

"Kau tadi mengatakan punya teman..."

Gendeng Panuntun tertawa bergelak. Puas tertawa dia berkata. "Bocah. Lihatlah sesuatu dari sudut berbeda! Karena sesuatu apa pun ingin dilihat lebih dari apa adanya!"

"Aku belum mengerti maksudmu!"

"Hem... Lihat! Apa ini?!" tanya Gendeng Panuntun seraya arahkan telunjuk tangannya pada cermin bundar di depan perutnya.

"Cermin!" jawab Joko.

Kembali Gendeng Panuntun tertawa mengekeh. "Anak kecil pun pasti akan menjawab seperti jawabanmu! Namun tidak bagi orang yang memandang cermin dari sudut berbeda! Cermin adalah sahabat sejati yang mengatakan apa adanya! Hitam adanya, cermin akan pantulkan hitam. Putih adanya, cermin akan tunjukkan putih! Kau paham?!"

Joko hanya bisa mengangguk tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

"Nah, Jika kau dapat memandang sesuatu dari sudut beda dan melihatnya lebih dari apa adanya, maka kau tidak akan meremehkan ciptaan Tuhan meski ciptaan itu seperti benda tak berguna. Demikian pula cara pandangmu padaku. Maaf meski penglihatanku tak bisa digunakan, tapi mungkin aku dapat menduga ke mana dan apa tujuanmu!"

"Hem... Coba katakan...!"

"Kau sebenarnya belum paham betul kemana kau hendak melangkah. Namun yang pasti kau punya tujuan mencari Kitab Serat Biru! Betul?!"

"Luar biasa orang tua ini. Siapa dia sebenarnya?" Joko bertanya-tanya sendiri dalam hati. Lalu berkata menjawab. "Aku tak bisa katakan betul apa tidak!"

"Dan kau sebenarnya seorang pemuda yang berlagak bicara seperti perempuan. Benar?!"

Murid Pendeta Sinting tidak menjawab. Tapi dia sunggingkan senyum dengan kepala menggeleng.

"Anak muda! Siapa namamu?"

"Hem... Joko Sableng!"

"Sableng... Sama artinya dengan edan. Tak beda dengan sinting. Juga berarti gendeng. Ha ha ha...!" Mendadak Gendeng Panuntun tertawa terbahak-bahak. "Namamu sama artinya dengan namaku. Berarti kamu ditentukan berjodoh denganku, Anak muda!"

"Eh. Apa maksud ucapanmu, Kek?!"

"Berjodoh artinya harus bersatu hati meski tidak bersanding. Orang berjodoh harus saling terbuka. Satu sama lain harus rela memberikan apa yang dibutuhkan lainnya. Milikku adalah punyamu. Milikmu juga boleh kumiliki!"

“Tapi, Kek. Aku sepertinya tak punya sesuatu yang pantas kau miliki!"

"Jangan khawatir, Anak muda. Aku tak akan meminta lebih dari apa yang tak kuasa kau berikan! Aku tak akan minta penglihatanmu. Karena aku sudah senang dengan keadaanku yang demikian ini. Orang punya mata memang bisa melihat. Namun harus diingat. Justru dari matalah, awal terjadinya kebohongan! Lain dengan orang buta sepertiku yang melihat segala sesuatu dengan hati Karena hati tak diajak untuk berbohong!"

"Kek. Aku tadi sudah mengatakan siapa diriku. Sekarang katakan siapa dirimu..."

"Orang-orang menyebutku Gendeng Penuntun...!"

"Gendeng Panuntun. Hem..." Joko bergumam, lalu tersenyum.

"Eh. Ingat nama itu, aku jadi ingat dengan nama seorang sahabat dan tokoh yang artinya sama..." ujar Gendeng Panuntun dengan terus mendongak.

"Yang kau maksud Pendeta Sinting?" kata Joko menebak setelah agak lama si kakek terdiam seolah mengingat-ingat.

"Ah. Betul. Pendeta Sinting. Kau kenal dengannya?"

"Lebih dari kenal, Kek. Dia adalah Eyang guruku!"

"Wah. Berarti kita benar-benar berjodoh. Satunya Sableng, lainnya Gendeng, ditambah Sinting! Ha ha ha...!" Setelah puas tertawa, Gendeng Panuntun usap-usap cerminnya. Lalu berkata. "Mendung... Kulihat awan hitam berarak di atas kepalamu. Apa sebenarnya yang terjadi menimpa dirimu?!"

"Hem... Dia sepertinya tahu apa yang akan terjadi. Aku akan berkata terus terang. Barangkali dia bisa membantu," kata Joko dalam hati, lalu setelah menarik napas panjang dia berkata.

"Pedang Tumpul 131 milikku dibawa orang! Aku tak tahu siapa orangnya, tapi berat dugaan dia adalah seorang perempuan mengenakan cadar dan jubah hitam..."

"Hem... tak salah. Berarti ini anak manusianya yang ditakdirkan memiliki barang yang terpendam di Pulau Biru," membatin Gendeng Panuntun. "Tak usah cemas dengan senjatamu, Anak muda. Aku menduga kelak kau akan bertemu dengan perempuan itu. Tapi kau harus hati-hati. Karena aku melihat kau dikelilingi bunga. Bunga adalah isyarat perempuan. Sementara perempuan adalah makhluk di kolong langit yang dengan kelemahannya bisa mengguncang bumi!"

"Aku tidak mengerti maksudmu, Kek!"

"Dalam perjalananmu kelak, akan menghadang beberapa perempuan yang tidak saja membawa kekuatan ilmu, namun juga berbekal senjata cinta! Di sini kau dihadapkan dengan pilihan pelik. Sekali kau salah tentukan langkah, bukan saja akan terperosok, tapi tugasmu akan terbengkelai!"

"Ah, kau ada-ada saja. Mana mungkin ada perempuan yang mau sama manusia jelek sepertiku ini. Apalagi beberapa perempuan!"

"Kelak kau bisa buktikan ucapanku. Dan sekali lagi pesanku, berhati-hatilah. Kadangkala laki-laki bisa menerjang badai ombak, tegar menghadapi letusan gunung. Namun terhenti dan bersimpuh karena tetes air mata perempuan!"

Murid Pendeta Sinting terdiam mendengar ucapan Gendeng Panuntun. Dia buka mulut hendak mengatakan sesuatu. Namun si kakek telah mendahului.

"Joko. Sebenarnya telah bertahun lamanya aku menyimpan sesuatu untukmu. Sekarang mumpung bertemu, terimalah barang itu!"

Habis berkata, Gendeng Panuntun selinapkan tangan ke balik ikat pinggangnya. Ketika tangan itu menjulur kembali, tampaklah sebuah gulungan kulit berwarna coklat lusuh. Kulit coklat segera diangsurkan ke depan. Tanpa ragu-ragu lagi Pendekar 131 cepat angsurkan tangan untuk menerima gulungan kulit itu.

"Dengan sampainya kau di sini, aku telah dapat menduga jika kedua saudaraku telah memberikan penggalan kulit seperti ini padamu! Nah. Silakan teruskan jalan! Jangan lupa. Jika dugaanku tentang bunga-bunga tadi tidak meleset, tolong sisakan satu untukku!"

"Hem... Karena kita berjodoh, jangankan satu, semuanya nanti bisa kau ambil. Bukankah milikku juga milikmu?"

"Ha ha ha...! Boleh, boleh. Tapi jangan coba-coba curang. Karena aku tak bisa melihat, lantas kau ganti dengan nenek-nenek girang!"

"Wah, sebagai orang yang lama malang melintang, sekali pegang tentu kau dapat membedakan. Dan kalaupun tak dapat, kau harus melihatnya dari sudut berbeda! Bukankah begitu?!"

"Sontoloyo! Kau pandai juga!” Bersamaan dengan selesainya ucapan, Gendeng Panuntun goyangkan pantatnya. Cermin di perutnya ikut bergerak ke kanan kiri ikuti goyangan pantat. Cahaya putih tampak memantul.

Dihadapannya, murid Pendeta Sinting terpaksa pejamkan mata untuk menghindari silau. Begitu sepasang mata Pendekar 131 dibuka kembali, astaga! Sosok Gendeng Panuntun sudah tidak tampak lagi di tempat itu. Hanya samar-samar Joko dapat menangkap kelebatan pakaiannya yang berkibar-kibar ditiup angin jauh di depan!

********************

BAB 7

ORANG berjubah biru itu berkelebat laksana angin. Melihat tubuhnya telah basah kuyup oleh keringat, napasnya yang terengah-engah, namun tak juga berhenti barang sejenak, berat dugaan jika orang ini punya satu maksud yang sangat penting. Menilik dari sepasang matanya yang tak henti terpentang besar pandangi setiap jalan yang dilewati dan kadang tak jarang memandang jauh ke depan, jelas dia sedang mencari sesuatu.

"Hem... Sudah dua hari aku berlari, tapi tiada seorangpun yang kutemui. Apakah petunjuk yang diberikan tidak salah? Ataukah perintah itu hanya untuk menemui Guru di tempat yang ditentukan itu?!" kata orang berjubah biru sendirian seraya terus berkelebat.

Mendadak sepasang mata orang ini yang ternyata milik seorang gadis muda berparas cantik dan bukan lain adalah Ayu Laksmi, salah seorang murid Dewi Siluman mendelik besar menatap jauh ke depan.

"Aku menangkap seseorang di depan sana. Mudah-mudahan orang itu ada hubungannya dengan Kitab Serat Biru yang sedang diincar banyak-orang..." gumamnya perlahan. Penglihatannya semakin dipertajam. Meski tubuhnya sudah terasa capek bukan main, dia tetap berkelebat ke depan dengan kerahkan tenaga tambahan.

Seperti diketahui, sang Guru Dewi Siluman melalui Ki Buyut Pagar Alam memberi perintah pada ketiga muridnya, Wulandari, Sitoresmi, dan Ayu Laksmi untuk bergerak menuju arah selatan dan dalam waktu enam hari ditunggu di sebuah kanal yang menuju arah Laut Selatan. Karena dalam pesan itu Dewi Siluman memerintahkan muridnya untuk bergerak berpencar, maka menuruti perintah itu ketiga gadis muda murid Dewi Siluman bergerak sendiri-sendiri meski arahnya sama.

"Hai! Berhenti!" Tiba-tiba Ayu Laksmi berseru ketika jarak antara dia dengan orang di depannya sudah agak dekat meski saat itu Ayu Laksmi belum jelas benar siapa adanya orang di depannya.

Orang yang diteriaki seolah tak mendengar. Malah dia percepat larinya. Pada satu jalan berkelok, orang yang dikejar cepat menerabas rumpun lebatnya semak belukar dan menyelinap mendekam. Hingga tatkala si jubah biru Ayu Laksmi sampai pada kelokan jalan, gadis ini kehilangan jejak.

"Hem... Pasti masih di sekitar sini!" desis Ayu Laksmi setelah memandang jauh ke depan dia tak melihat seorang pun.

Sepasang mata tajam milik Ayu Laksmi bergerak mementang lebar mengawasi rumpun semak belukar di sekitar kelokan jalan. Tapi tetap saja dia tak melihat siapa-siapa. "Heran. Jelas jika tadi aku menangkap seseorang. Tapi mana tampangnya?! Hem... Tampaknya dia ingin main-main!" Ayu Laksmi mulai tampak jengkel, karena meski dia telah pentangkan mata berkali-kali dia tak juga bisa menemukan orang yang diyakininya ada di sekitar tempat itu.

"Jahanam! Hai. Manusia atau iblis sekalipun, mengapa pengecut tak berani tunjukkan rupa?!" membentak Ayu Laksmi hilang kesabaran.

Enam langkah dari tempat Ayu Laksmi tegak dengan mata melotot, rumpun semak belukar perlahan bergerak sedikit menguak. Dari celah kuakan itu terlihat sepasang mata tajam memperhatikan ke arah Ayu Laksmi. Mata itu sejenak menyipit lalu membesar. Berkedip-kedip lalu menghilang tertutup kembali oleh rumpun semak belukar yang tadi menguak.

"Jangkrik! Bagaimana gadis itu bisa berada di sini? Apakah selama ini dia menguntit jalanku? Atau ini hanya kebetulan belaka? Dia sendirian. Bukankah tempo hari bertiga? Hem... Bunga sama artinya dengan perempuan. Adakah ini pertanda dugaan itu sudah akan terbukti?" Orang yang mendekam di balik semak belukar berkata sendiri dalam hati.

"Jahanam keparat! Sekali lagi kuperintah tak juga perlihatkan diri, jangan menyesal bila tubuhmu akan hancur bersama leburnya tempat ini!" teriak Ayu Laksmi mengancam seraya angkat kedua tangannya ke atas kepala membuat gerakan seperti orang hendak lepaskan pukulan.

"Gelagatnya dia tak main-main dengan ancamannya! Walah. Daripada cari penyakit, lebih baik kutemui saja!" desis orang di balik rumpun semak seraya berjingkat karena jari kelingkingnya tampak masuk kedalam lobang telinganya.

"Kalau tak dibuktikan, dikira aku main-main!" Ayu Laksmi kertakkan rahang. Lalu alirkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Kejap kemudian kedua tangannya bergerak lepaskan satu pukulan ke arah semak belukar di samping kirinya, tepat di mana orang yang mendekam berada.

"Busyet! Jangan-jangan dia tahu aku berada di sini!" keluh orang di balik semak, lalu bergerak bangkit dan menguak semak belukar. Seraya nongolkan kepala orang ini berseru. “Tahan!"

Ayu Laksmi tarik pulang kedua tangannya. Gadis ini berpijak di atas tanah dengan sepasang mata membelalak namun air muka berubah. Dia pandangi orang yang baru muncul dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ternyata orang ini adalah seorang pemuda mengenakan pakaian putih-putih dengan ikat kepala juga berwarna putih.

Seraya keluar si pemuda tersenyum-senyum. "Aku telah turuti perintah. Sekarang perintah apalagi yang hendak dititahkan?" sambil berkata si pemuda yang bukan lain adalah Pendekar 131 menjura dalam-dalam. Namun sepasang matanya tampak melirik.

Ayu Laksmi berdiri di atas tanah dengan kaki bergetar. Dia sama sekali tidak menduga jika orang di hadapannya adalah Pendekar 131. Dalam pertemuan tempo hari, si pemuda dapat membendung pukulan 'Kabut Neraka' dan 'Sinar Setan'. Padahal saat itu Ayu Laksmi bersama Wulandari dan Sitoresmi. Kini dia sendirian, bagaimana perasaannya tidak kecut? Namun mengingat perintah gurunya, perlahan-lahan muncul keberanian di dalam dada gadis berjubah biru ini.

"Jelas sekarang jika dugaan Wulandari ada benarnya. Jalan yang ditempuh pemuda ini searah dengan yang dikatakan Guru. Berarti pemuda ini memburu Kitab Serat Biru! Aku harus segera menyingkirkannya!"

Ayu Laksmi arahkan pandangannya pada jurusan lain. "Akan kuhantam sekaligus dengan 'Kabut Neraka' dan 'Sinar Setan'! Jika tidak, aku sendiri yang mendapat celaka!"

Berpikir sampai di situ, Ayu Laksmi segera kerahkan tenaga dalam pada kedua tangan dan sepasang matanya. Siap hendak lepaskan dua pukulan sekaligus. Namun sebelum si gadis sempat membuat gerakan, terdengar murid Pendeta Sinting buka suara.

"Hai! Kenapa jadi diam? Kita telah dua kali ini bertemu. Pertama bertemu kau dan dua sahabatmu sebutkan diri Pemburu Dari Neraka. Itu pasti gelar kalian bertiga. Waktu itu aku telah katakan siapa diriku. Kalau boleh, mau sebutkan siapa namamu sebenarnya?"

Mulut Ayu Laksmi masih terkancing tak memberi jawaban. Namun sejurus kemudian dia buka mulut membentak. "Siapa namaku bisa kau tanya pada Malaikat Maut!"

"Ah. Berarti kenalanmu banyak. Sampai-sampai Malaikat Maut sudah mengenalmu. Bisa tunjukkan padaku di mana Malaikat Maut berada?!"

Ucapan Joko makin membuat Ayu Laksmi geram. Masih dengan palingkan wajah, gadis berjubah biru ini berkata. "Aku memang akan tunjukkan padamu di mana beradanya Malaikat Maut! Bersiaplah!"

Habis berkata begitu, Ayu Laksmi angkat kedua tangannya, sementara kedua kakinya dibantingkan ke atas tanah. Gadis ini hendak lepaskan pukulan 'Kabut Neraka' sekaligus dengan pukulan sakti 'Sinar Setan'. Namun gerakan Ayu Laksmi tertahan, tatkala mendadak satu bayangan berkelebat dan tegak memandang lima langkah di samping Pendekar 131.

Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng berpaling. Sejenak keningnya mengernyit. Tapi kejap lain bibirnya tersenyum dan mulutnya membuka. "Dewi Seribu Bunga" serunya ketika mengenali siapa adanya yang tegak tak jauh darinya.

Di tempat itu kini terlihat seorang gadis muda berparas jelita mengenakan pakaian warna merah ketat. Hidung mancung dengan mata bulat dan buru mata lentik. Rambutnya panjang dikuncir ke atas dengan diikat menggunakan ikat kepala warna putih.

Gadis berbaju merah ketat berparas jelita dan bukan lain memang Dewi Seribu Bunga adanya sunggingkan senyum. Lalu gadis ini berpaling pada Ayu Laksmi dengan alis mata diangkat. Namun kejap lain Dewi Seribu Bunga telah alihkan pandangannya kembali pada Joko Sableng.

(Tentang Dewi Seribu Bunga silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Ratu Pemikat)

"Pendekar 131 Joko Sableng... Terima kasih. Kau tak lupa padaku..."

"Ha ha ha... Wajah secantik dirimu, mana mungkin mudah dilupakan?" ujar Joko lalu hendak melangkah mendekat. Tapi di depan sana, Dewi Seribu Bunga memberi isyarat agar Joko urungkan niat, membuat murid Pendeta Sinting urungkan niat tak jadi melangkah.

Saat Dewi Seribu Bunga muncul dan Joko menyambut dengan gembira, Ayu Laksmi semakin geram. Dan demi mendengar kata pujian yang diucapkan Joko, raut wajah Ayu Laksmi berubah mengelam. Gadis berjubah biru ini segera berpaling. "Tampaknya mereka begitu akrab. Bisa jadi mereka pasangan kekasih. Hm... Siapa sebenarnya gadis itu belum jelas. Yang jelas dengan adanya gadis itu di tempat ini, pasti dia juga sedang memburu Kitab Serat Biru. ini tak boleh dibiarkan!"

Ayu Laksmi lipat gandakan tenaga dalamnya. Dia menduga jika si pemuda diserang, si gadis berbaju merah pasti tak akan tinggal diam. Apalagi keduanya sudah tampak akrab. Gelagat dan sikap Ayu Laksmi tampaknya tak lepas dari pandangan Dewi Seribu Bunga, hingga tatkala Pendekar 131 hendak melangkah mendekat, gadis berbaju merah murid Maut Mata Satu ini memberi isyarat pada Joko untuk urungkan niat. Malah tak lama kemudian dia berkata.

"Maaf. Rupanya kedatanganku mengganggu kalian berdua. Aku harus segera pergi..."

"Dewi... Tunggu!" panggil Joko menahan langkah Dewi Seribu Bunga yang telah putar diri hendak tinggalkan tempat itu.

"Bagus! Memang tidak semudah itu untuk tinggalkan tempat ini!" Tiba-tiba Ayu Laksmi perdengarkan suara keras.

Sambil kernyitkan dahi, Pendekar 131 berpaling pada Ayu Laksmi. Ayu Laksmi hujamkan sepasang matanya lekat-lekat pada Dewi Seribu Bunga. Saat bersamaan, di depan sana Dewi Seribu Bunga yang merasa tak enak dengan nada ucapan orang segera balikkan tubuh. Sejenak Ayu Laksmi dan Dewi Seribu Bunga saling bentrok pandangan. Si jubah biru Ayu Laksmi sunggingkan senyum seringai. Di seberang Dewi Seribu Bunga tersenyum simpul.

"Hm... Apa maunya gadis berjubah biru ini?" kata Joko dalam hati begitu melihat gelagat tidak baik dalam adu pandangan dua gadis yang kini telah saling berhadapan. Untuk mencegah terjadinya sesuatu, cepat-cepat murid Pendeta Sinting melangkah maju ke arah Ayu Laksmi dan berkata.

"Dia sahabatku. Kalau kau merasa punya urusan denganku, harap jangan sangkut-pautkan orang lain!"

Tanpa berpaling, Ayu Laksmi membentak garang. "Persetan dengan sahabat! Kau dan dia silakan tinggalkan tempat ini tapi tanpa nyawa!"

"Hai… Ada apa ini sebenarnya?!"

"Tutup mulutmu!" sentak Ayu Laksmi. "Jangan bergerak dari tempatmu. Setelah dia kuselesaikan, kau akan dapat giliran!"

Kedatangan Dewi Seribu Bunga ternyata telah membuat salah seorang murid Dewi Siluman ini bertambah geram. Hingga yang ada dalam hatinya kini adalah melenyapkan Dewi Seribu Bunga juga Pendekar 131 sekaligus.

Dewi Seribu Bunga sebenarnya tak tahu urusan antara Joko Sableng dengan Ayu Laksmi. Dia hanya tahu bahwa saat itu pemuda yang secara diam-diam dirindukan berada berdua-dua dengan seorang gadis cantik. Perasaan cemburu mendera dada Dewi Seribu Bunga. Dia menduga ucapan keras gadis berjubah biru karena dia juga cemburu dengan kedatangannya.

"Dia adalah pemuda tampan, berilmu tinggi. Tak heran jika banyak gadis yang menyukainya. Tapi sejak pertama bertemu, aku tak dapat melupakannya. Aku tak dapat mendustai diri sendiri. Sebenarnya aku mengharapkan dirinya, perhatiannya. Tapi mungkinkah dia mengetahui apa yang selama ini kurasakan? Apakah dia tahu bagaimana selama ini aku merindukan pertemuan dengannya? Ah. Sekian lama memendam rindu, begitu jumpa ternyata dia... Hemm... Lebih baik aku segera tinggalkan tempat ini. Tak ada guna meladeni orang!" Berpikir sampai di situ, Dewi Seribu Bunga palingkan wajah ke arah Pendekar 131 s eraya berujar.

"Pendekar 131, aku pergi dulu. Katakan pada gadismu itu, bahwa urusan hati tak akan pernah selesai meski diputus dengan jalan kekerasan! Urusan hati akan tuntas jika orang sadar bahwa takdir telah menyuratkan demikian!"

Habis berkata begitu, Dewi Seribu Bunga balikkan tubuh. Namun untuk kedua kalinya gerakan gadis jelita berbaju merah ini tertahan ketika terdengar suara tawa panjang Ayu Laksmi yang kemudian disusul dengan ucapan.

"Kau salah duga, Gadis Liar! Ini bukan lagi urusan hati! Ini urusan mati hidup yang baru selesai jika salah satu terkapar tak bernyawa!"

Dikatakan gadis liar, paras wajah Dewi Seribu Bunga seketika berubah. Dia kembali putar tubuh dengan wajah merah padam dan mata menyorot tajam. "Kalau begitu ucapmu, sekarang katakan apa maumu!" bentak Dewi Seribu Bunga.

"Kau sudah mendengar sejak tadi!" jawab Ayu Laksmi balik membentak.

Dewi Seribu Bunga tertawa pendek. "Kalau kau inginkan nyawa orang kenapa masih diam? Apa yang kau tunggu, hah?!"

"Bagus! Kau telah siap untuk mati rupanya!" hardik Ayu Laksmi lalu gadis ini melompat ke depan. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi.

"Tahan!" teriak Joko sambil melompat ke depan menghadang gerakan Ayu Laksmi.

Merasa dirinya dihadang demikian rupa, kemarahan Ayu Laksmi makin memuncak. Serta-merta kedua tangannya yang hendak kirimkan pukulan pada Dewi Seribu Bunga dipukulkan pada murid Pendeta Sinting. Menduga bahwa si gadis berjubah biru tak akan memukulnya, Joko hanya tegak dengan kedua tangan mengembang ke samping.

"Bukkk! Bukkk!" Dua jotosan telak menghantam dada dan perut Pendekar 131. Karena pukulan itu bukan pukulan biasa, tapi telah dialiri tenaga dalam tinggi, maka meski sesaat sosok murid Pendeta Sinting tetap diam tak bergeming, namun kejap lain tubuhnya tersurut dua langkah ke belakang!

Saat itulah, Ayu Laksmi cepat berkelebat dan langsung kirim kan tendangan keras ke arah Dewi Seribu Bunga. Dewi Seribu Bunga tak mau bertindak ayal. Dari gerakan dan pukulan yang baru saja disarangkan pada Joko Sableng, gadis berbaju merah ini telah dapat menduga jika gadis berjubah biru berbekal ilmu yang tidak rendah.

"Apa hendak dikata. Meski apa urusannya tidak jelas namun orang telah menginginkan nyawaku!" kata Dewi Seribu Bunga dalam hati, lalu angkat kedua tangannya dan dilintangkan di depan kepala. Saat tendangan sejengkal lagi sampai, Dewi Seribu Bunga sentakkan tangan kiri kanannya.

"Dess! Desss!" Karena Ayu Laksmi belum tahu siapa adanya Dewi Seribu Bunga, dan merasa dirinya berilmu tinggi, membuat gadis berjubah biru ini remehkan orang. Hingga meski tendangannya dialiri tenaga dalam, namun karena kedua tangan yang memapak juga dialiri tenaga dalam, membuat tubuhnya terpental dan terhuyung hampir jatuh.

Namun Ayu Laksmi adalah murid seorang tokoh sakti dan sudah beberapa tahun digembleng, hingga pada saat tubuhnya terhuyung bahkan sampai akan roboh, gadis berjubah biru ini cepat membuat gerakan seperti orang mengayun. Kejap kemudian sosok Ayu Laksmi tampak meliuk ke depan. Lalu...

"Wuuutt! Wuuttt!" Tubuh Ayu Laksmi melesat ke udara setinggi dua tombak. Membuat gerakan jungkir balik dua kali. Begitu tubuhnya melayang turun, sosoknya langsung melesat ke arah Dewi Seribu Bunga dengan kedua tangan sekaligus kirimkan pukulan!

Dewi Seribu Bunga tak tinggal diam. Gadis ini segera pula sentakkan kedua tangannya ke depan.

"Prakk! Prakkk!" Terdengar dua benturan keras. Dua Seruan tertahan segera pula terdengar.

Ayu Laksmi tampak terjajar lima langkah ke belakang. Wajahnya berubah memucat. Tubuhnya bergetar dengan dada bergerak turun naik. MuLutnya terkancing rapat dengan sepasang mata mendelik memandang ke arah Dewi Seribu Bunga.

"Gadis jahanam ini ternyata punya ilmu juga. Jika tak segera kuselesaikan kelak bisa menghadang jalan!" Berpikir ke sana, gadis murid Dewi Siluman ini segera kerahkan tenaga dalam siapkan pukulan 'Kabut Neraka'.

Di lain pihak, Dewi Seribu Bunga tampak berpijak di atas tanah dengan sosok bergoyang-goyang sebelum akhirnya tersurut tiga langkah. Raut wajahnya yang jelita pias dengan napas terengah-engah. Namun gadis murid tokoh bergelar Maut Mata Satu ini segera alirkan tenaga dalam demi melihat lawan membuat gerakan.

"Rupanya dia hendak lepaskan pukulan andalan" duga Dewi Seribu Bunga. Dia segera pula siapkan pukulan sakti 'Api Seribu Bunga'.

Melihat gelagat yang makin buruk, Joko segera m laju kembali menghalangi. "Tunggu! Jangan lakukan pukulan!" teriak Joko. Namun sudah terlambat. Karena Ayu Laksmi yang telah marah besar, apalagi mengetahui Dewi Seribu Bunga memiliki simpanan ilmu telah melesat dan menggebrak terlebih dahulu dengan lepas kan pukulan sakti 'Kabut Neraka'

BAB 8

KABUT putih tampak melesat hamparkan hawa panas dan perdengarkan suara luar biasa dahsyat. Sejurus Dewi Seribu Bunga terkesiap. Tapi kejap lain kedua tangannya bergerak lepaskan pukulan 'Api Seribu Bunga'.

"Wusss!" Dari kedua tangan Dewi Seribu Bunga menggebrak satu sinar yang sebarkan cahaya berwarna-warni. Setengah jalan, sinar itu pecah. Lalu terlihat beberapa bunga-bunga api muncrat yang selain keluarkan hawa luar biasa panas juga berdesing laksana pisau tajam!

"Bummm!" Tempat itu laksana didera gempa hebat. Di udara sekejap terlihat cahaya terang yang kemudian padam dengan keluarkan letupan. Bersamaan itu tanah muncrat membungkus udara hingga suasana menjadi agak pekat. Semak belukar yang ada di sekitar tempat itu terabas rata.

Ketika hamburan tanah surut, Ayu Laksmi terlihat tegak dengan lutut goyah. Dan tak berselang lama gadis berjubah biru ini jatuh terduduk dengan lutut menekuk. Dari mulutnya mengalir darah agak kehitaman pertanda dia telah terluka dalam. Wajahnya pucat pasi seakan tak berdarah. Tubuhnya bergetar keras. Sepasang matanya setengah memejam jelas membayangkan rasa sakit.

Lima belas langkah di seberang Ayu Laksmi, Dewi Seribu Bunga tampak terhuyung-huyung sebentar sebelum akhirnya juga jatuh terduduk. Seperti halnya Ayu Laksmi, gadis berbaju merah ini tampak mengeluarkan darah dari mulutnya. Sementara murid Pendeta Sinting tampak tegak dengan kepala berpaling bergantian ke arah Ayu Laksmi dan Dewi Seribu Bunga.

"Urusan ini tak boleh dibiarkan! Mereka bisa celaka sendiri. Padahal urusannya apa belum jelas...!" gumam Joko lalu melangkah ke arah Dewi Seribu Bunga.

"Dewi... Lekas tinggalkan tempat ini. Tunggu aku diarah selatan. Aku perlu bicara denganmu!" bisik murid Pendeta Sinting.

"Hem... Tampaknya dia juga tak suka dengan kemunculanku di sini! Seenaknya dia memerintahku untuk menunggu, sementara dia sendiri akan menunggui gadis keparat itu! Huh... Jauh berjalan membawa rindu, namun yang kutemui adalah malapetaka yang menyakitkan hati!"

Dewi Seribu Bunga memandang tajam pada Pendekar. Yang dipandang tersenyum dan anggukkan kepala. Namun senyum murid Pendeta Sinting pupus seketika tatkala perlahan-lahan Dewi Seribu Bunga bangkit dan berkata dengan suara bergetar.

"Aku tahu ke mana arah bicaramu, Pendekar 131! Aku memang datang mengganggu keasyikanmu, dan jika kau menginginkan aku pergi, aku tak keberatan! Tapi aku tak bisa diam menerima serangan gadis keparatmu itu!"

Joko jadi terlengak mendengar ucapan Dewi Seribu Bunga. Dia maju lebih mendekat. Mulutnya terbuka hendak berkata, namun telah didahului oleh Dewi Seribu Bunga.

"Tak perlu bicara, Pendekar 131! Dan kuingatkan jangan lagi ikut campur urusan ini! Ini urusan perempuan!"

"Dewi! Jangan salah paham. Aku..." Belum habis ucapan Joko, Dewi Seribu Bunga telah menukas.

"Kau laki-laki. Memalukan bila usil urusan perempuan! Menyingkirlah!"

Selagi Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga bercakap-cakap, diam-diam Ayu Laksmi yang kini sadar jika lawan tidak bisa dipandang remeh segera membatin. "Kalau terjadi bentrok lagi, pasti keadaanku akan bertambah parah. Sementara perjalanan masih jauh. Dan aku juga tak mau mati konyol! Hem... Terpaksa aku harus meminta bantuan!"

Cepat gadis berjubah biru ini selinapkan tangan kanan ke balik jubahnya lalu mengeluarkan satu benda bulat warna putih sebesar telor. Tak menunggu lama, Ayu Laksmi segera lemparkan benda bulat itu ke udara. Sepuluh tombak di atas udara benda bulat putih itu pecah, lalu tampaklah asap biru bertabur.

"Hem... Gadis siapa? Sebelum keparat itu lepaskan tanda. Sudah telanjur lebih baik kudahului!" desis Dewi Seribu Bunga ketika melihat hal yang dilakukan Ayu Laksmi. Namun karena di hadapannya Pendekar masih tegak dengan sikap menghadang, membuat Dewi Seribu Bunga terhalangi. Gadis ini jadi jengkel.

"Kalau kau tetap di situ, berarti kau buat urusan denganku!" bentak Dewi Seribu Bunga dengan mata membesar dan bibir bergetar. Sebenarnya gadis ini tak kuasa ucapkan kata-kata begitu, namun dia kuatkan hati apalagi dilihatnya Joko sepertinya melindungi Ayu Laksmi.

"Dewi... Harap jangan salah sangka. Bagiku, kemunculanmu adalah kebahagiaan tersendiri. Aku tahu siapa dia dan siapa kau! Aku tak ingin melihat kau terluka..." bisik Joko dengan mata tajam menghujam ke dalam mata si gadis.

Ucapan dan tatapan murid Pendeta Sinting membuat gadis berbaju merah di hadapannya dirasuki berbagai perasaan tak karuan. "Dia tak ingin melihatku terluka. Apakah hanya itu? Apakah dia tak tahu lukanya hati lebih pedih dari luka tubuh? Apakah dia memang benar-benar hendak melindungiku? Atau hanya ingin jual kebaikan di hadapanku untuk menutupi hal sebenarnya?"

Selagi Dewi Seribu Bunga bergulat dengan perasaannya sendiri, Ayu Laksmi yang melihat sikap Joko terhadap Dewi Seribu Bunga tak bisa lagi menahan rasa geram. "Keparat jahanam!" makinya lalu sekonyong-konyong hantamkan kedua tangannya ke depan, lepaskan pukulan 'Kabut Neraka'.

"Wuuttt! Wuuuttt!" Kabut putih menggebrak lurus ke arah Pendekar Pedang Tumpul 131 yang tegak membelakangi Ayu Laksmi.

"Perempuan licik!" teriak Dewi Seribu Bunga, lalu peringatkan Joko agar segera menyingkir.

Murid Pendeta Sinting keluarkan gerendengan panjang pendek sambil melompat menghindar. Bersamaan dengan menyingkirnya Joko, Dewi Seribu Bunga segera lepaskan pukulan 'Api Seribu Bunga'.

Saat itulah, mendadak dari balik rumpun semak belukar terdengar satu seruan. Lalu melesat kabut putih yang membantu pukulan 'Kabut Neraka'-nya Ayu Laksmi, hingga saat terdengar dentuman dahsyat akibat bentroknya pukulan, tubuh Dewi Seribu Bunga tampak mental mencelat sampai tiga tombak dan terhuyung-huyung siap menghajar tanah.

Melihat hal demikian, Joko cepat berkelebat. Lalu menyambar tubuh Dewi Seribu Bunga, hingga selamatlah tubuh gadis jelita ini dari jilatan tanah yang sudah menunggu luncuran tubuhnya.

Di seberang, sosok Ayu Laksmi juga tersapu ke belakang. Namun tubuhnya serta-merta terhenti tatkala dua tangan tampak mendekap dari arah belakangnya. Pemilik tangan itu ternyata seorang gadis muda berparas cantik mengenakan jubah warna kuning.

"Kau tak apa-apa, Ayu Laksmi?" tanya gadis berjubah kuning.

Ayu Laksmi gelengkan kepalanya. Gadis berjubah kuning yang bukan lain adalah Wulandari segera salurkan tenaga pada Ayu Laksmi, karena walau Ayu Laksmi menggeleng tapi dari mulutnya keluarkan darah pertanda terluka cukup parah.

"Untung kau segera datang..." gumam Ayu Laksmi setelah merasa tubuhnya agak enak.

"Terlambat sedikit kau memberi tanda, mungkin nyawamu tak tertolong!" ujar Wulandari lalu m melangkah ke depan menjajari Ayu Laksmi dengan sepasang mata memandang tajam tak berkesip ke arah Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga.

Seperti diketahui, Dewi Siluman lewat Paman sekaligus pendampingnya Ki Buyut Pagar Alam berpesan pada ketiga muridnya untuk menuju arah selatan dengan cara berpencar. Namun jika salah satu mendapatkan bahaya, harus segera memberi tanda. Saat itu Wulandari yang juga mendapat tugas khusus dari Ki Buyut Pagar Alam agar membuntuti Sitoresmi tiba-tiba melihat tanda yang dilepaskan Ayu Laksmi. Hingga saat itu juga terpaksa dia berbelok dari belakang Sitoresmi dan berkelebat ke arah datangnya tanda.

Ketika Dewi Seribu Bunga melepas pukulan 'Api Seribu Bunga', saat itulah Wulandari sampai di tempat mana Ayu Laksmi berada, dan melihat Ayu Laksmi mendapat serangan, Wulandari segera pula lepaskan pukulan 'Kabut Neraka'. Hingga membuat pukulan Dewi Seribu Bunga harus bentrok dengan dua pukulan. Inilah yang menyebabkan tubuh Dewi Seribu Bunga terlempar sampai tiga tombak ke belakang.

BAB 9

JAHANAM!" maki si jubah kuning Wulandari dengan sepasang mata tak berkesip memandang ke arah Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga yang tampak masih saling berpelukan.

Dada gadis berjubah kuning ini berdebar keras. Dari mulutnya terdengar gumaman tak jelas. Setelah mendengus keras, dia m elirik pada Ayu Laksmi. "Firasatku tak salah. Pemuda itu pasti punya tujuan sama dengan kita! Mumpung masih di sini, kita habisi sekarang juga!"

Ayu Laksmi tidak menyahut ucapan Wulandari. Sebaliknya gadis berjubah biru ini hanya memandang ke depan dengan tatapan tajam menyengat.

"Siapa gadis berbaju merah itu?!" tanya Wulandari dalam hati. "Ucap Ki Buyut benar. Telah banyak orang bermunculan! Dan pasti tujuannya adalah memburu Kitab Serat Biru! Hm..."

Gadis berjubah kuning ini segera utarakan isi hatinya pada Ayu Laksmi. Untuk beberapa saat Ayu Laksmi terdiam. Namun kejap lain dia palingkan kepala ke arah Wulandari

"Pemuda itu memanggilnya Dewi Seribu Bunga...!"

Tiba-tiba Wulandari tertawa panjang. "Dewi Seribu Bunga?!" ulangnya dengan nada mengejek. "Tampang begitu bergelar Seribu Bunga? Bunga apa?!”

"Tak perlu urus segala macam nama, yang penting keduanya harus segera kita singkirkan!" ujar Ayu Laksmi, lalu tanpa bicara lagi dia salurkan tenaga dalam pada kedua tangannya siapkan pukulan sakti 'Kabut Neraka'.

Wulandari tak menunggu, begitu tahu saudara seperguruannya siapkan pukulan, dia pun cepat alirkan tenaga dalam pada kedua tangannya.

Sementara di depan sana, Pendekar 131 tak hiraukan ucapan-ucapan gadis berjubah biru dan kuning. Murid Pendeta Sinting ini perlahan-lahan menggandeng Dewi Seribu Bunga lalu didudukkan bersandar pada sebatang pohon.

Untuk beberapa saat Ayu Laksmi dan Wulandari sama memandang tak berkedip pada Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga. Tiba-tiba Ayu Laksmi berpaling.

"Kau siap?!"

Wulandari hanya mengangguk. Sejurus kedua murid Dewi Siluman ini saling berpandangan, lalu saling memberi isyarat.

Di seberang, Pendekar 131 tampak memandang tajam pada Dewi Seribu Bunga. Yang dipandang tampak tundukkan kepala dengan menggigit bibir. "Dewi... Aku akan salurkan hawa murni untuk mengurangi rasa sakit di tubuhmu..."

Dewi Seribu Bunga gelengkan kepala. "Aku tak apa-apa. Jangan hiraukan diriku. Lihat! Mereka hendak lepaskan pukulan lagi..."

Tanpa diketahui, dari balik rumpun semak belukar sepasang mata tampak menatap tajam pada Pendekar 131 dan Dewi Seribu Bunga, lalu beralih pada Ayu Laksmi dan Wulandari. Lantas beralih lagi pada sosok Pendekar 131. Untuk beberapa saat lamanya mata itu tak bergerak lagi. Terus menatap tak berkesip! Tak berselang lama terlihat dua telapak tangan putih menutupi mata dari balik rumpun semak belukar itu.

"Pendekar 131..." terdengar bisikan halus dari balik rumpun semak belukar. "Tak kuduga jika kau telah punya pilihan. Ah. Dia memang gadis Jelita. Dan pasti dari kalangan orang baik-baik. Tidak seperti diriku, yang banyak dilumuri dosa. Tapi tidak bolehkah orang sepertiku ini mengharap sepenggal hati dari seseorang?"

Telapak tangan yang menutup mata di balik rumpun semak belukar perlahan-lahan diturunkan. Kini tampak sepasang mata itu merah sembab. "Pendekar 131... Tahukah kau, aku... Ah, tapi mungkinkah itu? Aku mengenalmu, tapi kau tidak. Hem... Haruskah aku mencintai orang yang tak mengenalku? Bisakah cinta tumbuh bersemi tanpa adanya saling mengenal? Pendekar 131. Sebenarnya aku ingin kau mengenalku, tapi aku takut. Apa yang harus kulakukan sekarang...? Terus menutup diri dengan hati memendam perasaan? Ataukah aku akan berterus terang...?"

Tiba-tiba satu bayangan berkelebat dan laksana kilat langsung menyelinap masuk ke balik rumpun semak belukar tak jauh dari sepasang mata yang sedari tadi memandang pada Pendekar 131. Sepasang mata itu mementang besar, lalu kepalanya berputar memperhatikan berkeliling. Tiba-tiba sepasang mata itu menyipit dan mem besar ketika menangkap satu sosok tubuh besar dengan enaknya menggeletak telentang sejarak lima langkah di sampingnya.

Orang yang menggeletak ternyata seorang kakek bertubuh besar. Rambutnya putih disanggul tinggi ke atas. Sepasang matanya besar dan lurus memandang langit. Anehnya sepasang mata itu hanya kelihatan putihnya saja pertanda orang yang memilikinya adalah orang buta. Kakek ini mengenakan baju gombrong besar berwarna hijau yang di bagian perutnya tampak melingkar satu ikat pinggang besar yang dipangkalnya terdapat cermin bulat tepat pada depan perutnya.

"Gadis cantik..." tiba-tiba si kakek bertubuh besar buka mulut dengan wajah masih menghadap langit dan tubuh telentang.

"Husss!" terdengar orang memberi isyarat agar si kakek tak buka mulut.

"Jangan takut, Anak cantik! Mereka tak mungkin mendengar..." ujar si kakek lalu tertawa perlahan.

"Siapa orang tua ini? Meski tubuhnya besar, tapi keberadaannya di sampingku tidak bisa kuketahui. Lebih-lebih meski kulihat sepasang matanya buta, namun dia tahu jika aku adalah seorang gadis..." gumam orang di samping si kakek yang sedari tadi sepasang matanya mengintai dan memandangi pada Pendekar 131.

"Biasanya..." kata si kakek. "Dari cahaya sorot mata, air muka dan sikap, orang bisa dengan mudah ditebak. Hemmm... Pandangan matamu suram, rona wajahmu keruh. Sikapmu gelisah. Tentu kau sedang dilanda perasaan hebat. Dan kalau seorang gadis mengalami perasaan hebat demikian, biasanya hal yang dihadapi bukan lain adalah masalah cinta! Bagaimana...?"

Orang di samping si kakek yang ternyata adalah seorang gadis muda berparas cantik mengenakan jubah warna merah dan bukan lain adalah Sitoresmi terdiam. Tapi diam-diam dalam hati si gadis membatin. "Jangan-jangan orang tua ini yang diceritakan Ayu Laksmi tempo hari... Matanya buta, tapi dugaannya tidak pernah meleset!"

"Kalau tak salah, apakah orang di hadapanku ini yang bernama Gendeng Panuntun?!" tanya Sitoresmi dengan suara perlahan setengah berbisik.

Si kakek yang memang Gendeng Panuntun adanya tertawa pelan. Sambil usap-usap cermin di depan perutnya dia berucap. "Hem... Aku senang kau telah mengenalku, Anak Cantik. Kalau tak salah, bukankah kau gadis yang dicari-cari dua temanmu itu?!"

"Betul, Kek...!"

"Bisa katakan padaku, apa yang membuatmu bicara sendiri dan memandang tak berkedip sedari tadi?!"

"Aku tak bisa mengatakan padamu!"

Gendeng Panuntun tertawa perlahan. "Hem... Inilah salah satu kekuatan cinta! Membuat orang lebih percaya pada benda mati daripada yang bernapas. Lebih percaya pada orang yang melihat daripada orang buta!"

"Bukan karena itu aku tak mau mengatakan padamu!" sahut Sitoresmi.

Gendeng Panuntun geleng-gelengkan kepala. Sepasang matanya yang putih bolak-balik mengerjap. Tubuhnya tetap telentang. "Kunasihati, Anak cantik. Beban apa pun yang kau pikul, jika kau mau berbagi dengan orang lain, meski tampak tak berkurang setidak-tidaknya langkahmu akan lebih ringan! Apalagi bebanmu adalah beban hati. Satu beban yang tak tampak dipandang mata tapi bisa membutakan mata!"

"Aku... Aku tak bisa mengutarakannya padamu..." gumam Sitoresmi seraya gelengkan kepalanya perlahan.

"Kuatkan hati. Katakan apa yang kau lihat!"

Setelah terdiam agak lama, akhirnya Sitoresmi berkata dengan suara agak tersendat. "Di seberang sana kulihat dua saudara seperguruanku. Sementara di depan mereka ada seorang pemuda bersama seorang gadis jelita..."

"Kau tertarik dengan pemuda yang kau katakan bersama dengan gadis berparas jelita itu?!"

Sitoresmi tak menjawab. Gendeng Panuntun tersenyum. "Biasanya, jika seorang gadis ditanya dan menjawab tidak, maka jawaban itu belum menjamin apakah gadis itu benar bersungguh-sungguh. Tapi bila si gadis tidak menjawab, bisa dipastikan jawabannya adalah ya!"

Ucapan si kakek membuat gadis di sampingnya berubah paras. Mungkin karena ucapan si kakek ada benarnya, pada akhirnya Sitoresmi mengatakan terus terang apa yang ada dalam hatinya.

"Sebenarnya aku memang menyukainya, Kek! Tapi aku takut. Ada beberapa hal yang pasti akan menghadang. Apalagi dia telah..." Sitoresmi tak kuasa terus kan kata-katanya.

"Anak cantik. Pengorbanan adalah satu hal yang tak dapat dipisahkan dari sebuah cita-cita dan cinta. Tanpa pengorbanan segalanya akan terasa hambar. Dan harus diingat, cinta suci tidak selamanya harus memiliki! Orang sudah merasa bahagia jika orang yang dicintai mendapat kebahagiaan,"

Gendeng Panuntun hentikan bicaranya sebentar sebelum akhirnya meneruskan. "Segala sesuatu ada jalan keluarnya, Anak cantik. Tak terkecuali hal yang kini menjadi beban perasaanmu!"

"Katakanlah Kek. Apa jalan keluar itu!?!"

"Kau harus ambil kuputusan. Lupakan dan tinggalkan dia atau hadapi segala sesuatu yang menghadang dengan resiko berkorban!"

"Kek. Rasanya aku tak bisa lupakan dia. Tapi aku juga belum tahu apakah aku dapat menghadang rintangan!"

"Memutuskan masalah pelik begini membutuhkan waktu panjang. Dan..." Gendeng Panuntun putuskan ucapannya karena dari arah depan sana terdengar suara ledakan keras.

Sitoresmi cepat berpaling untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun karena pemandangan di depan sana dihamburi taburan tanah, hingga untuk beberapa saat gadis berjubah merah ini belum bisa menentukan apa yang terjadi.

"Menurutmu, apakah aku harus keluar dari sini...?" tanya Sitoresmi.

Tak terdengar suara jawaban. Sitoresmi berpaling. Gadis salah seorang murid Dewi Siluman ini melengak tak percaya. Kakek bertubuh besar sudah tidak tampak di tempatnya tadi menggeletak!

BAB 10

SEWAKTU terjadi percakapan antara Sitoresmi dan Gendeng Panuntun, di depan sana Wulandari dan Ayu Laksmi yang sudah sama saling memberi isyarat untuk lepaskan pukulan, segera saja hantamkan kedua tangan masing-masing kirimkan pukulan 'Kabut Neraka'. Karena kedua gadis murid Dewi Siluman ini melepas pukulan secara bersama-sama, maka saat itu juga tempat itu laks ana dibungkus kabut putih. Suasana berubah menjadi luar biasa panas, dan terdengar suara laksana gelombang hebat.

Di seberang, melihat datangnya serangan, Dewi Seribu Bunga cepat peringatkan Pendekar 131. Murid Pendeta Sinting ini segera berpaling. Sejenak dia jadi melengak melihat ganasnya pukulan. Sadar bahwa bukan saja harus selamatkan diri sendiri, namun juga harus menyelamatkan Dewi Seribu Bunga yang tak mungkin lagi bisa bergerak menghindar dengan cepat, murid Pendeta Sinting segera kerahkan tenaga lalu lepaskan pukulan 'Lembur Kuning'.

Kejap kemudian terdengar ledakan hebat ketika pukulan 'Kabut Neraka' yang dilepas secara bersama oleh Wulandari dan Ayu Laksmi bentrok dengan pukulan 'Lembur Kuning'. Tanah bertabur ke udara menutupi pemandangan, lalu tempat itu bergetar keras. Samar-samar dalam pekatnya suasana tampak sosok Wuiandari dan Ayu Laksmi terpental jauh ke belakang lalu sama terkapar di atas tanah.

"Bangsat Jahanam!" maki Wulandari. Setelah meneliti dan tak mengalami cidera parah, gadis berjubah kuning cepat bergerak bangkit. Namun serentak sepasang mata gadis ini membelalak besar. Kedua kakinya dibanting keatas tanah, hingga tanah dua tombak di sekitar tempatnya berdiri bergetar.

"Keparat! Setan alas!" Wulandari terus memaki-maki dengan kepala berputar dan mata liar menyapu.

"Wulandari! Ada..."

"Diam!" potong Wulandari saat Ayu Laksmi hendak ajukan tanya.

Perlahan-lahan Ayu Laksmi bangkit duduk. Memandang sekejap pada Wulandari yang melangkah mondar-mandir sambil terus mengomel. Gadis berjubah biru menarik napas panjang dan dalam.

"Tak ada guna memaki. Yang kita perlukan sekarang bergerak mencari ke mana mereka pergi!" Ternyata di tempat itu tinggal mereka berdua. Sementara Joko Sableng dan Dewi Seribu Bunga sudah tak kelihatan lagi.

"Ini salah kita! Salah kita!" teriak Wulandari.

"Jangan salahkan diri sendiri! Semuanya sudah terjadi!"

"Seandainya kita langsung lepaskan gabung 'Kabut Neraka' dan 'Sinar Setan'! Pasti bangsat tidak akan lolos! Dua kali dia lepas dari tangan kita!

"Waktu kita masih panjang. Kalau tujuan sama, tentu akan bertemu lagi!" ujar Ayu Laksmi mereda kemarahan Wulandari. "Sekarang lebih baik kita teruskan perjalanan!"

Karena Wulandari sepertinya tak mendengarkan ucapan Ayu Laksmi, gadis berjubah biru ini segera putar diri setengah lingkaran. "Kita bertemu di tempat yang ditentukan. Aku pergi sekarang!"

Namun gerakan Ayu Laksmi tertahan tatkala saat itu dari rumpun semak belukar satu sosok tubuh berkelebat keluar. Ayu Laksmi cepat berpaling, sementara Wulandari yang masih dilanda kemarahan cepat angkat kedua tangannya tinggi-tinggi hendak lepaskan pukulan pada sosok yang berkelebat datang.

Tunggu! Aku Sitoresmi!" teriak orang yang berkelebat. "Apa yang terjadi?!" tanya Sitoresmi begitu sosoknya tegak lima langkah di depan Wulandari. Wulandari tak menjawab. Hanya sepasang matanya menatap pada Sitoresmi dengan pandangan menyelidik.

"Mudah-mudahan mereka tak tahu atau mendengar percakapanku dengan orang tua itu..." Diam-diam Sitoresmi membatin. Lalu memandang pada Ayu Laksmi.

Ayu Laksmi memberi isyarat agar Sitoresmi mendekat kearahnya. Tanpa pikir panjang, Sitoresmi segera melangkah mendekat ke arah Ayu Laksmi.

"Teruskan perjalanan! Tak ada gunanya bertanya pada orang yang sedang dilanda amarah! Nanti kuceritakan apa yang baru saja terjadi!" Habis berkata begitu, Ayu Laksmi berkelebat pergi.

Sementara Sitoresmi memandang sejurus pada Wulandari. Dan tanpa keluarkan sepatah katapun dia meninggalkan tempat itu juga.

Karena tak ada lagi suara yang terdengar, Wulandari palingkan wajah ke arah mana tadi Ayu Laksmi berada. Pelipis gadis ini bergerak-gerak. Dagunya mengembung. Kedua tangannya mengepal lalu dihantamkan satu sama lain ketika mendapati tinggal dirinya sendiri di tempat itu.

"Sialan! Jahanam!" makinya lalu bantingkan kaki. Untuk kesekian kalinya tempat itu bergetar. Akhirnya Wulandari melangkah meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba saja salah seorang dari murid Dewi Siluman ini hentikan langkah, karena saat itu terdengar orang tertawa perlahan.

"Heran. Mataku baru saja mengelilingi tempat ini. Lalu Sitoresmi dan Ayu Laksmi baru saja pergi. Adalah aneh jika tiba-tiba saja ada orang di sekitar tempat ini yang tak kuketahui kapan datangnya! Pasti dia memiliki kepandaian luar biasa! Hemm..." Wulandari cepat alirkan tenaga dalam pada kedua tangannya, lalu cepat pula balikkan diri menghadap ke arah datangnya suara tawa.

Wulandari terkesiap. Hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri dilihatnya tegak seorang kakek bertubuh besar mengenakan pakaian gombrong warna hijau dengan rambut disanggul tinggi ke atas. Pada pinggang kakek ini tampak melingkar sebuah ikat pinggang besar yang dibagian depan perutnya terdapat sebuah cermin bulat.

"Adakah kedatanganku membuatmu terkejut?!" si kakek yang bukan lain adalah Gendeng Panuntun ajukan tanya.

Karena masih dibungkus hawa amarah ditambah dengan rasa terkejut dengan kemunculan orang, membuat Wulandari tidak segera menjawab. Malah dia pelototkan sepasang matanya. Namun kejap lain gadis ini segera membentak.

"Orang tua! Hari ini aku tak butuh ocehanmu! Lekas tinggalkan tempat ini!"

Gendeng Panuntun tersenyum. Tangan kanannya mengusap-usap cermin bulat di depan perutnya. Kepalanya bergerak mendongak. Lalu terdengarlah ucapannya. "Kalau kau tak mau dengar omonganku, biarlah omonganku akan kudengar sendiri. Hanya sayang jika..."

"Orang tua!" tukas Wulandari. "Aku tidak main-main! Kudengar kau buka suara, aku tak segan membuat mulutmu bungkam!"

"Ah. Siapa berani main-main denganmu, Anak cantik. Aku bersungguh-sungguh. Aku ingin dengar omonganku sendiri. Jika kau tak suka, harap jangan dengarkan..."

Wulandari yang bersifat tak sabaran, segera melompat ke depan. Kemarahan yang tadi ditindihnya segera dimuntahkan. Gadis ini sambil melompat kirimkan satu jotosan ke arah mulut si kakek.

"Wuuuttt!" Terdengar suara tawa pendek. Wulandari tersentak namun makin naik pitam karena bukan saja jotosan tangannya tak mengenai sasaran, namun di depannya si kakek mendongak dengan perdengarkan tawa!

Mendadak gadis berjubah kuning ini membuat gerakan berputar dua kali di atas tanah. Pada putaran ketiga, dengan mengandalkan kaki sebelah sebagai tumpuan Wulandari hentikan putarannya tepat saat menghadap Gendeng Panuntun. Lalu dengan cepat kaki sebelahnya melesat lepaskan satu tendangan.

"Buukkk!" Tendangan kaki Wulandari mendarat telak di mulut Gendeng Panuntun. Namun untuk kedua kalinya gadis berjubah kuning ini melengak kaget. Karena jangankan mengeluh, kepala kakek bertubuh besar ini pun tak bergeming! Bahkan sambil tertawa-tawa, Gendeng Panuntun usap-usap mulutnya yang baru saja terkena tendangan.

"Luar biasa. Tendangan hebat! Sekarang boleh aku bicara?!" ujar Gendeng Panuntun sambil tersenyum.

Wulandari tegak di atas tanah dengan mata terbeliak dan mulut terkancing rapat. Di hadapannya, Gendeng Panuntun usap-usap cerminnya lalu tanpa pedulikan orang dia buka mulut.

"Manusia memang diberi perasaan marah. Tapi jika salah tempat akan jadi salah kaprah. Berjalanlah dengan membawa lentera. Di sana akan kau temui bahtera..."

Meski dada Wuiandari masih disarati dengan rasa geram, namun diam-diam dia juga menyimak kata-kata Gendeng Panuntun. "Sialan betul! Ucapannya menyinggung diriku! Aku tak mau dengar lagi ucapannya!" ucap Wulandari dalam hati. Lalu gadis ini segera keluarkan hardikan keras tatkala dilihatnya Gendeng Panuntun hendak buka mulutnya lagi.

"Gendeng Panuntun! Cukup! Tinggalkan tempat ini!"

"Ah. Sebenarnya aku masih ingin mendengar ucapanku sendiri. Namun karena kau tak berkenan, apa boleh buat. Aku akan turuti perintahmu tinggalkan tempat ini. Tapi..."

"Tak ada tapi!" sentak Wuiandari menukas ucapan si kakek. Kedua tangannya diangkat tinggi siapkan pukulan 'Kabut Neraka'.

"Ah, 'Kabut Neraka'. Jadi kau masih ada sangkut-paut dengan Durga Ratih."

Wulandari tegak terbelalak. Kedua tangannya tertahan di udara. Gadis ini diam-diam juga merasa terkejut bagaimana Gendeng Panuntun tahu bahwa dirinya hendak siap lepaskan pukulan 'Kabut Neraka', meski dia juga bertanya-tanya sendiri siapa yang dimaksud dengan Durga Ratih.

"Orang tua! Jangan bicara sembarangan. Siapa Durga Ratih?!" kata Wulandari pada akhirnya.

"Sebetulnya aku ingin katakan padamu. Namun karena sudah waktunya aku tinggalkan tempat ini. jadi sementara waktu biarlah tersimpan dulu jawaban itu untuk kita bicarakan lagi suatu hari kelak. Maafkan diri tua bangka ini..." Gendeng Panuntun usap-usap cerminnya. Lalu putar tubuh dan masih dengan mendongak, kakek ini melangkah ke jurusan selatan.

Wulandari tatapi punggung orang dengan mata menerawang jauh. "Durga Ratih... Hemmm... Jadi masih ada orang lain yang memiliki pukulan 'Kabut Neraka'. Aku teringat pada kecurigaan Ayu Laksmi yang katanya mengenali pukulan orang. Jangan-jangan orang itu adalah Durga Ratih yang masih tak berani tunjukkan diri. Ah, aku juga sepertinya mengenali pukulan perempuan berpunuk tempo hari. Apakah dia Durga Ratih...? Edan! Kenapa aku jadi pusing urusan orang? Aku harus segera pergi. Jika tidak, aku bisa kehilangan jejak Sitoresmi!"

Berpikir begitu, akhirnya Wulandari segera berkelebat tinggalkan tempat yang telah sepi itu.

********************

BAB 11

SOSOK berjubah putih yang basah kuyup oleh keringat itu hentikan larinya saat sepasang kakinya menginjak lereng bukit Watu Gedeg. Untuk beberapa lama sepasang matanya memperhatikan tak berkedip ke seluruh lereng bukit yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan rimbun semak belukar.

"Beringin kem bar... Itulah tandanya!" desis si sosok seraya terus mengawasi berkeliling. Lalu orang ini melompat ke samping. Dari tempatnya kini berdiri, di antara kerapatan pohon dan rimbun semak belukar, orang ini melihat dua pohon beringin besar yang berdiri kokoh berjajar. Tanpa banyak pikir lagi, orang itu segera berkelebat. Kejap lain tubuhnya telah tegap di depan dua pohon beringin besar.

"Beringin kembar. Inilah tempat yang kucari!" gumam si orang yang ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan dengan rambut panjang mengenakan jubah besar warna putih. Sosoknya besar tegap. Sepasang matanya tajam ditingkah dagu kokoh dan mulut selalu sunggingkan senyum aneh.

Dengan langkah pasti, si pemuda melangkah ke arah beringin kembar di mana di belakangnya tampak sebuah gua batu yang telah disamaki lumut hitam. Namun langkah pemuda ini tertahan ketika tiba-tiba sepasang telinganya menangkap suara orang mendesah panjang. Namun sejenak kemudian tempat itu kembali sepi. Meski kuduknya sedikit meremang, namun si pemuda terus kan langkah. Baru tiga langkah kembali terdengar suara orang mendesah. Bahkan kali ini disusul dengan suara orang mengerang laksana dicekik!

"Hem... Dengan terdengarnya suara itu, berarti di sini masih dihuni manusia! Tapi aneh. Kenapa yang terdengar hanya desahan panjang dan suara orang seperti hendak menjerit...?!"

Si pemuda tenangkan hati. Dia tegak diam menunggu. Tapi kali ini suara itu tidak lagi terdengar. Si pemuda tajamkan telinga. Tapi suara desahan dan jerit tertahan itu tak lagi tertangkap telinganya.

"Jangan-jangan orang sekarat hendak..." Si pemuda kini cepat melompat dan segera menerobos masuk ke dalam gua batu.

Untuk sesaat si pemuda disambut dengan suasana gelap. Namun setelah agak terbiasa sepasang matanya mulai mencari-cari. Saat itulah suara desahan panjang terdengar lagi. Si pemuda cepat palingkan kepala ke arah sumber datangnya suara. Si pemuda mendadak keluarkan suara terperanjat ketika sepasang matanya melihat sesosok tubuh tergantung dengan kaki di atas kepala di bawah! Anehnya, meski tubuh orang ini tampak tergantung, yang menggantung sosoknya bukanlah tali. Melainkan satu cahaya hitam berkilat-kilat. Cahaya hitam itu menggantung mulai dari langit-langit gua sampai membelit sekujur tubuh orang.

"Ini pasti ulah orang yang memiliki kepandaian luar biasa! Apakah orang ini yang kucari?!" si pemuda pandangi berlama-lama tubuh orang yang tergantung. Ternyata dia adalah seorang kakek m engenakan pakaian tambal-tambal. Rambutnya putih panjang. Wajahnya cekung dengan dibalut kulit keriput tipis.

"Harus kupastikan apakah orang ini yang kucari!" kata si pemuda dalam hati lalu sunggingkan senyum aneh. "Orang tua! Apakah kau yang bergelar Dewa Sukma?!"

Sepasang mata orang yang tergantung dengan tali aneh itu membuka. Namun mulutnya tetap bungkam tak perdengarkan suara menjawab. Bahkan tak lama kemudian, sepasang matanya memejam kembali.

"Jangan-jangan dia tak dengar..." Si pemuda ulangi lagi pertanyaannya dengan suara dikeraskan.

Orang yang tergantung tidak menjawab. Malah membuka matanya pun tidak, membuat si pemuda mulai agak jengkel karena dia yakin orang yang ditanya mendengar suaranya. Tapi karena merasa punya satu kepentingan, si pemuda menindih rasa geramnya, lalu kembali berkata dengan suara agak lirih.

"Orang tua! Ada pesan untukmu dari seseorang..."

Si pemuda menunggu. Mula-mula tak ada gerakan apa-apa dari orang tua tergantung itu. Tapi tak lama kemudian matanya terbuka. Malah kini menatap tajam ke arah si pemuda.

"Siapa kau?!" tiba-tiba si kakek ajukan tanya. Suaranya keras menggelenggar, hingga karena tak menyangka, si pemuda sempat terkesiap.

"Hem... Caraku mengena!" desis si pemuda lalu kembali sunggingkan senyum aneh. "Menghadapi orang macam begini, tidak boleh tunjukkan kelemahan. Nama pun harus terdengar angker!"

Setelah terdiam agak lama, si pemuda akhirnya menjawab tanya si kakek. "Aku Malaikat Penggali Kubur! Kau bukankah Jalu Paksi yang lebih dikenal dengan gelaran Dewa Sukma? Benar?!"

"Bertahun-tahun malang melintang, hanya beberapa orang tertentu yang tahu nama asliku. Orang ini masih muda, tapi rupanya telah tahu banyak tentang diriku..."

"Aku tak mau jawab sebelum kau katakan siapa kau sebenarnya dan siapa orang yang menitip pesan padamu!"

"Aku adalah murid tunggal Bayu Bajra. Dialah yang juga titip pesan padamu!"

"Bayu Bajra adikku..." gumam si kakek. "Hem... Sepuluh tahun silam dia memang mengatakan punya seorang murid. Dan kalau pemuda ini sampai tahu nama asliku juga tempat tinggalku, berarti dia tak berkata mendustaiku..."

"Kek! Ini pasti perbuatan orang. Apa sebenarnya yang telah terjadi?!" pemuda yang bukan lain adalah Gumara yang kini mengaku bergelar Malaikat Penggali Kubur cepat ajukan tanya sebelum si kakek yang ternyata adalah kakak Bayu Bajra, guru Gumara alias Malaikat Penggali Kubur buka mulut.

"Gila! Ini memang bukan perbuatan setan. Tapi perbuatan manusia berhati setan!" ujar si kakek yang sebenarnya bukan lain adalah Jalu Paksi yang dalam rimba persilatan lebih dikenal dengan gelar Dewa Sukma. Seorang tokoh kelas atas yang beberapa puluh tahun silam bersama tokoh-tokoh besar lainnya sempat malang melintang meramaikan rimba persilatan.

"Tapi kenapa kau tidak segera bebaskan dirimu, Kek? Bukankah...”

Jalu Paksi alias Dewa Sukma telah tertawa keras sebelum ucapan Malaikat Penggali Kubur selesai, hingga si pemuda putus kan ucapannya.

"Anak muda! Ini bukan tali biasa. Aku bisa bebas dengan tangan orang lain! Kau mau bantu aku?!"

Malaikat Penggali Kubur tak buka mulut untuk memberikan jawab, namun diam-diam otaknya merencana.

"Hai! Kau dengar ucapku. Kenapa tidak memberi jawab?!" tanya Dewa Sukma.

Malaikat Penggali Kubur sunggingkan senyum aneh. Seraya melangkah mendekat dia angguk-anggukkan kepala. Lalu memandangi cahaya hitam yang menggantung dan membelit sekujur tubuh Dewa Sukma. "Orang tua. Sebelum aku katakan mau atau tidak, aku ingin pastikan dulu apakah kau betul-betul Dewa Sukma?!"

"Kurang ajar! Bukit Watu Gedeg hanya dihuni oleh satu orang! Dan jika kau tak mengatakan murid Bayu Bajra adikku, lebih baik aku mati daripada buka mulut minta bantuan!"

"Hem... Sekarang katakan apa yang harus kulakukan!"

"Cari simpul terakhir dari cahaya sialan ini. Kerahkan sedikit tenaga dalam lalu tarik simpul dengan menahan napas! Ingat baik-baik. Waktu menarik tali simpul kau harus membelakangi! Sekali kau lakukan dengan menghadap, bukan hanya aku yang celaka, namun kau juga akan menemui ajal! Jelas? Sekarang lakukan! Aku sudah tak tahan!"

Malaikat Penggali Kubur bukannya segera melakukan apa yang diperintahkan si kakek. Melainkan pandangi cahaya hitam seraya manggut-manggut. Dan tiba-tiba pemuda ini balikkan tubuh dan melangkah menjauh.

"Gila! Apa yang kau lakukan?! Hendak ke mana kau?"

"Aku tak bisa membantumu, Kek! Dan aku sebenarnya belum yakin benar apakah kau betul-betul Dewa Sukma adik Eyang guruku!"

"Setan! Kalau tak ikut bertanggung jawab, sudah sejak lama aku ingin mati saja!" maki si kakek dalam hati. Lalu berujar dengan suara keras. "Anak muda! Bebaskan aku dulu, nanti akan kubuktikan keraguanmu!"

Malaikat Penggali Kubur tersenyum. Lalu balikkan tubuh menghadap mulut gua. "Kek! Aku yang akan membantumu. Nyawamu sekarang tergantung padaku. Jadi aku yang menentukan!"

"Hai! Apa maksudmu?!"

"Pembuktian bahwa dirimu adalah Dewa Sukma harus kau lakukan sebelum aku membuka ikatan celaka itu! Bagaimana? Aku tak mau tertipu orang yang mengaku-ngaku sebagai Dewa Sukma."

"Bagaimana aku akan buktikan? Lihat. Aku hanya bisa buka mulut dan mata!"

"Justru dari situlah aku butuh pembuktian itu!"

"Hem... Katakan apa sebenarnya yang kau mau!"

"Eyang guru pernah mengatakan bahwa kau memegang peta tempat tersimpannya kitab sakti Serat Biru. Sekarang katakan di mana kau simpan peta itu! Kau cukup buka mulut saja!"

Dewa Sukma menggerendeng tak habis-habisnya dalam hati. Sepasang matanya menyipit membesar perhatikan tak berkesip pada punggung Malaikat Penggali Kubur. Yang dipandangi tersenyum aneh. Pemuda murid Bayu Bajra ini sebenarnya sejak semula sudah memendam niat buruk. Dasar sifatnya pun tinggi hati. Namun dengan kelicikannya dia dapat menyimpan dan menyembunyikan sifat aslinya. Hingga gurunya sendiri tak tahu jika muridnya mempunyai maksud tertentu di balik sikap baiknya selama lima belas tahun menimba ilmu.

Seraya masih membelakangi, Malaikat Penggali Kubur berujar. "Kau tak buka mulut. Berarti kau bukan Dewa Sukma. Hem... Selamat tinggal!" Malaikat Penggali Kubur m elangkah. Tapi sebelum kakinya bergerak, Dewa Sukma telah berteriak.

"Tunggu!"

"Aku ada perlu lain yang penting. Lekas katakan atau aku tinggalkan tempat ini!"

"Benar-benar sialan pemuda ini! Hem... Kalau saja aku tak merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi menimpa rimba persilatan..."

"Anak muda!" akhirnya Dewa Sukma berkata. "Hantam mulut gua sebelah kiri!"

"Kau rupanya ingin permainkan aku, Orang tua!"

"Sialan kurang ajar! Siapa main-main?! Lakukan apa yang kukatakan atau kau tak akan mendapatkan bukti itu!"

"Hem... Jangan-jangan peta itu disimpan di mulut gua yang dikatakannya. Betul-betul tempat simpanan yang tak terduga!" pikir Malaikat Penggali Kubur. Pemuda murid Bayu Bajra ini melangkah perlahan ke arah mulut gua, sejenak sepasang matanya memperhatikan batu yang menjadi bagian dari mulut gua.

"Jika kau menipu, bukan saja aku akan tinggalkan tempat ini, tapi aku akan mengantarmu ke liang akherat!" desis Malaikat Penggali Kubur.

Lalu serta-merta gerakkan tangan kanannya menjotos mulut gua sebelah kiri. Karena jotosan itu mengandung tenaga dalam, sekali jotos batu besar pasti akan hancur berkeping-keping. Tapi Malaikat Penggali Kubur jadi terkesiap. Jotosannya hanya membuat mulut gua bergetar! Sementara tak secuil pun mulut gua itu bertaburan.

"Kau harus kerahkan segenap tenaga dalammu, Anak muda!"

Malaikat Penggali Kubur menyeringai. Dia segera kerahkan segenap tenaga dalamnya. Dan sekonyong-konyong kedua tangannya bergerak sekaligus menghantam mulut gua.

"Bukkk! Buukkk! Byaarrr!"

Mulut gua sebelah kiri hancur berantakan. Di antara hamburan batu si pemuda melihat benda mirip kotak yang terlempar keluar. Tanpa pikir panjang lagi, Malaikat Penggali Kubur segera melesat menghambur keluar. Kotak berwarna hitam yang tergeletak nyangsrang di antara rumpun semak belukar cepat diambil. Dengan dada bergetar, kotak hitam segera dibuka. Mata Malaikat Penggali Kubur tiba-tiba mendelik besar tatkala dapati kotak hitam itu tidak berisi apa-apa!

"Jahanam! Penipu busuk!" kotak hitam dibanting. Dan serta-merta tubuhnya melesat ke dalam gua. Tegak dengan mulut terkancing tiga langkah dihadapan tubuh Dewa Sukma yang tergantung.

Dewa Sukma tersenyum. Lalu berujar lirih. "Jangan berlaku bodoh, Anak muda! Di dalam kotak itu kau memang tak akan menemukan peta. Namun jika kau buka lapisan bagian tutup kotak, di situ akan kau dapatkan peta itu! Ayo sekarang bebaskan aku!"

"Akan kubuktikan dahulu ucapanmu!" kata Malaikat Penggali Kubur, lalu bergerak lagi berkelebat keluar.

Sementara di dalam gua Dewa Sukma kembali hanya bisa menghela napas. Di luar gua, Malaikat Penggali Kubur segera lakukan seperti apa yang dikatakan Dewa Sukma. Dan mendadak terbelalaklah mata murid Bayu Bajra ini. Pada lapisan penutup kotak dia menemukan lipatan kain putih yang ketika dipentangkan terlihat gambar sebuah peta!

"Aku berhasil! Ha ha ha...!"

"Hai! Sekarang giliranmu lakukan apa yang kuperintah!" Dari dalam gua Dewa Sukma berteriak.

"Dewa Sukma. Kau masih inginkan peta ini?!" Dari luar Malaikat Penggali Kubur ajukan tanya.

"Hai! Apa maksudmu?!"

"Akan kubuktikan dahulu apakah peta ini asli atau palsu!"

"Setan! Bagaimana harus membuktikannya?!"

"Kau tidak bodoh Dewa Sukma! Aku akan melakukan perjalanan menurut apa yang tertera dalam peta ini. Jika terbukti benar sampai ke Pulau Biru, berarti peta ini asli. Jadi harap kau bersabar menunggu sampai aku tiba kembali. Ha ha ha...!"

"Jahanam! Setan Alas! Kau menipuku!" teriak Dewa Sukma.

"Berteriaklah sepuasmu, Dewa Sukma. Itu akan mempercepat hari kematianmu! Ha ha ha…!"

Suara tawa Malaikat Penggali Kubur makin lama makin perlahan sebelum akhirnya lenyap.

BAB 12

KIRA-KIRA baru seratus tombak dari tempat dimana Dewa Sukma berada, tepatnya pada satu dataran luas yang jarang ditumbuh! pohon dan semak-belukar, satu teguran keras mendadak terdengar, Gumara yang kini menggelari diri dengan julukan Malaikat Penggali Kubur bukan saja tersentak kaget, namun juga memutuskan suara tawanya.

“Garis kehidupanmu mujur, Anak muda! Kulihat kau tertawa-tawa sendirian. Tentu kau baru saja mendapat rejeki besar. Sudi berbagi rejeki itu barang sedikit denganku?!”

"Meski aku belum bisa memastikan apakah peta ini asli atau palsu, namun tidak akan kubiarkan anak manusia jenis apa pun yang hendak menyentuhnya! Aneh, dari mana bangsat itu tahu aku mendapat rejeki? Tentu yang dimaksud adalah peta ini. Hemmm..."

Meski baru saja jejakkan kaki di rimba persilatan, namun karena pemuda murid Bayu Bajra ini punya sifat tinggi hati walau dia tak menunjukkan di depan gurunya, dia segera putar diri lalu berkacak pinggang dengan sepasang mata menyengat tajam memandang tak berkesip kedepan.

Dari tempatnya berdiri, Malaikat Penggali Kubur melihat seorang kakek bertubuh tinggi kurus. Sepasang matanya besar melotot. Rambutnya panjang kelimis diuraikan ke depan, hingga raut wajah kakek ini hanya terlihat samar-samar. Dia mengenakan pakaian panjang gombrang sebatas mata kaki berwarna hitam.

Keangkeran sosok kakek ini makin nyata jika orang melihat pada raut wajahnya yang kelihatan samar-samar, karena ternyata warna kulit wajahnya hitam legam. Kelopak matanya juga terlihat besar. Si kakek tegak dengan sedikit tengadah dan kedua tangan merangkap di depan dada. Lalu terlihat sepasang matanya bergerak memejam. Hingga kini dari balik uraian rambutnya yang tampak raut hitam angker!

Walau Malaikat Penggali Kubur merasa memiliki kepandaian tinggi dan pada dasarnya punya sifat sombong, melihat tampang si kakek mau tak mau membuat hatinya berdebar. Namun semua itu hanya sekejap. Di lain kejap sifat aslinya muncul. Sambil ikut dongakkan kepala, Malaikat Penggali Kubur perdengarkan dengusan keras. Lalu terdengarlah suara bentakannya.

"Siapa kau?! Berani menghadang, selembar nyawamu melayang!"

Si kakek luruskan kepalanya menghadap Malaikat Penggali Kubur. Sepasang matanya masih tetap terpejam rapat. Tiba-tiba si kakek tertawa bergelak. "Melihat kau tanya siapa aku, jelas pertanda kau masih bau kencur dalam dunia persilatan! Hem... Tapi tak ada salahnya kita berkenalan. Pasang telinga baik-baik! Dunia persilatan memberi julukan padaku Datuk Hitam! Kau sendiri siapa?!"

Malaikat Penggali Kubur tersenyum aneh. "Aku Malaikat Penggali Kubur! Manusia yang membuat liang untuk kuburkan siapa saja yang berani ikut campur semua urusanku! Kau dengar?!"

"Hem... Begitu? Pasti kau memiliki ilmu hebat. Tapi ucapan setinggi langit hanya akan ditertawakan orang tanpa tunjukkan bukti! Dan jangan mengira Datuk Hitam lari terkentut-kentut dengar ancaman orang!"

"Inilah saat-saat yang selama ini kutunggu. Menjajal ilmu yang telah kupelajari selama lima belas tahun..." batin Malaikat Penggali Kubur. Kemudian alihkan pandangannya pada jurusan lain seraya berkata. "Akan kulipat lidahmu hingga tak bisa bicara, kubungkam mulutmu hingga tak dapat tertawa sebagai bukti ucapan Malaikat Penggali Kubur bukan seperti busa di lautan!"

"Hem... Bangsat tengik sombong ini nampaknya memang berbekal ilmu. Tapi apakah dia benar-benar telah mendapatkan peta itu? Dia datang dari jurusan di mana Dewa Sukma berada. Wajahnya cerah berseri. Kalau belum tahu dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana aku bisa membuktikannya?!" kata Datuk Hitam dalam hati. Lalu berujar.

"Bagi Datuk Hitam, nyawa manusia tidak ada harganya. Namun saat ini tanganku masih bisa diajak kompromi. Hanya saja hal itu harus mendapat imbalan. Dari itulah aku tadi menawarkan padamu untuk memberi sediki rejeki yang sudah kau peroleh!"

“Jahanam! Apa yang kau makksud dengan rejeki, hah?!" hardik Malaikat Penggali Kubur sambil palingkan kembali kepalanya.

Datuk Hitam tertawa berbahak. "Kau datang dengan tertawa-tawa dari arah tempat Dewa Sukma. Kalau tidak mendapat rejeki dari Dewa Sukma, mana mungkin kau berbuat begitu? Hanya orang gila yang tertawa sendiri tanpa ada sebab!"

Rahang Malaikat Penggali Kubur mengembang, pelipis kiri kanannya bergerak-gerak. Sepasang matanya terpentang angker, pertanda dadanya telah terbungkus hawa amarah. Namun Malaikat Penggali Kubur segera tersenyum aneh. Pemuda ini selain berhati sombong ternyata juga memendam sifat licik dan pura-pura. Bahkan begitu liciknya, sampai-sampai gurunya tak mengetahui sifat asli muridnya ini.

"Datuk Hitam!" ucap Malaikat Penggali Kubur. "Orang tertawa bukan selamanya karena mendapat rejeki. Demikian juga dengan apa yang kualami saat ini!"

"Hem... Jika begitu, katakan apa yang membuatmu seperti orang gila itu!"

Meski dadanya bergemuruh disebut seperti orang gila, tapi si pemuda bukannya naik pitam. Sebaliknya dia hanya tersenyum, lalu berkata. "Aku memang datang dari tempat Dewa Sukma untuk menyampaikan pesan seseorang. Tapi sampai di sana, pesan itu terpaksa urung kusampaikan secara langsung, dan hanya kutulis lalu kuletakkan di depan tempat tinggalnya. Lalu aku pergi begitu saja dan bertemu denganmu di sini!"

"Keparat! Aku tanya kenapa kau bertingkah seperti orang gila!" sentak Datuk Hitam seraya goyang-goyangkan kepala, hingga rambutnya yang mengurai kedepan bergerak sedikit menyibak ke kiri kanan.

"Yang kau tanyakan itulah yang juga menyebabkan aku urungkan niat sampaikan pesan. Aku tak bisa katakan padamu, lebih baik kau melihatnya sendiri saja!" Lalu tiba-tiba Malaikat Penggali Kubur tertawa bergelak-gelak.

"Aku tak percaya ucapan orang gila sepertimu!”

"Percaya atau tidak itu urusanmu! Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau juga akan berlaku mirip orang gila jika telah melihatnya sendiri!"

"Hemm... Aku jadi ingin lihat apa sebenarnya yang terjadi. Tapi aku tidak mudah dipecundangi ucapan anak bau kencur seperti dia..." desis Datuk Hitam. Lalu maju selangkah dan berkata. "Mendengar ceritamu, aku tak sabar ingin melihatnya. Tapi sebelum itu, serahkan dulu peta itu padaku!"

Tampang Malaikat Penggali Kubur langsung berubah. Untuk beberapa saat, sepasang matanya tak berkesip pandangi sosok Datuk Hitam. "Jahanam ini ternyata telah tahu. Sialan betul! Tapi apa hendak dikata. Pantang serahkan benda yang telah berada di tangan!" batinnya.

Di depan sana, Datuk Hitam jerengkan sepasang matanya. Sekali lihat dia telah tahu apa yang berkecamuk dalam dada si pemuda. "Hemm... Gertakku nyatanya tidak sia-sia. Perubahan wajahnya menunjukkan bahwa bangsat itu telah mendapatkan rejeki dari Dewa Sukma. Heran... Dewa Sukma bukanlah tokoh yang begitu saja bisa dibikin mampus, apalagi serahkan peta yang menyimpan benda sakti. Untuk urusan ini saja aku siapkan diri bertahun-tahun lamanya. Kalau bangsat itu berhasil mendapatkan peta itu, berarti dia bukan lawan yang dapat dipandang enteng..." Diam-diam Datuk Hitam juga berkata dalam hati. Setelah berpikir sejurus, akhirnya Datuk Hitam berujar.

"Bagaimana?! Jangan banyak pikir. Waktuku hanya sedikit! Ada urusan lain yang harus cepat kuselesaikan!"

Malaikat Penggali Kubur mendengus keras. Namun sejauh ini dia belum beri jawaban. Hingga Datuk Hitam kembali buka mulut.

"Baik! Mungkin aku harus menunda dahulu urusanku. Dan..."

"Kau tak akan pernah selesaikan urusanmu, Datuk Hitam! Hari ini aku telah menggali lobang kubur untukmu!" tukas Malaikat Penggali Kubur.

"Hemm... Kita buktikan untuk siapa lobang kubur yang kau gali! Jangan-jangan kau gali lobang kubur untuk dirimu sendiri!" kata Datuk Hitam lalu tertawa berderai.

Namun suara tawa itu mendadak terputus laksana dirobek setan ketika tiba-tiba Malaikat Penggali Kubur membuat gerakan seperti menyembah. Kedua tangannya saling menakup dan diangkat sejajar kening. Lalu kaki kanannya ditarik sedikit kebelakang. Kejap lain tubuhnya melesat ke depan dengan kedua tangan lepaskan satu pukulan ke arah kepala Datuk Hitam!

Datuk Hitam dongakkan kepala tanpa membuat gerakan menghindar. Begitu sejengkal lagi kedua tangan Malaikat Penggali Kubur menghantam pecah batok kepalanya, kakek berwajah hitam ini angkat kedua tangannya.

"Bukkk! Bukkk!" Dua pasang tangan saling beradu keras. Datuk Hitam rasakan sapuan luar biasa keras, hingga begitu terjadi bentrok tangan, sosok kakek ini terjajar satu tombak ke belakang. Ketika si kakek singkapkan kain di bagian lengannya, dia terlengak kaget mendapati lengan tangannya menggembung berwarna merah! Si kakek cepat alirkan tenaga dalam, lalu pandangi Malaikat Penggali Kubur dengan mata mendelik angker.

Saat itu, Malaikat Penggali Kubur tampak tegak dengan sepasang kaki goyang. Namun raut wajahnya jelas memendam rasa sakit. Malah kejap itu juga sepasang matanya bergerak terpejam. Namun sejurus kemudian membuka kembali dan balas menatap pandangan Datuk Hitam dengan senyum seringai!

Datuk Hitam diam-diam bertanya-tanya sendiri dalam hati tentang siapa sebenarnya adanya si pemuda. Dia memang telah tahu jika Dewa Sukma adalah seorang tokoh yang memiliki ilmu tinggi, tapi dengan sekali bentrok tadi, dia sadar bahwa tidak m mustahil jika si pemuda dapat mengimbangi Dewa Sukma. Hal itu membuatnya tidak berani bertindak ayal. Bukan saja karena bisa mendapat celaka, tapi persiapannya bertahun-tahun hanya akan sia-sia. Berpikir sampai di situ, Datuk Hitam segera kerahkan tenaga dalam pada kedua tangan dan kakinya. Kejap itu juga sepasang kaki si kakek bergerak-gerak. Dan...

"Blepp! Bleepp!" Sepasang kaki Datuk Hitam masuk ke dalam tanah sebatas mata kaki.

Malaikat Penggali Kubur sedikit terkesiap. Karena bersamaan dengan masuknya kaki si kakek ke dalam tanah, tempat dia tegak berdiri bergetar keras! Belum tahu apa yang hendak diperbuat si kakek, mendadak si kakek melesat ke atas. Di udara dia membuat gerakan telentang, tiba-tiba seraya masih telentang tubuhnya berputar cepat dan menggebrak lurus ke arah Malaikat Penggali Kubur dengan sepasang kaki mencuat dari balik pakaian hitamnya, lepaskan satu tendangan dahsyat!

Malaikat Penggali Kubur pentangkan sepasang matanya dengan kedua tangan diangkat siap kirimkan pukulan. Namun sebelum tangannya bergerak, si pemuda rasakan deruan angin luar biasa kencang. "Keparat!" umpat Malaikat Penggali Kubur lalu arahkan kedua tangannya ke depan. Baru tangannya bergerak setengah jalan hendak lepaskan pukulan, tubuhnya terhuyung ke belakang hingga kedua tangannya oleng ke atas dan pukulannya melenceng menghajar tempat kosong di udara.

Malaikat Penggali Kubur kertakkan rahang, dia lipat gandakan tenaga dalam, lalu kedua tangannya kembali diangkat ke atas siap lancarkan pukulan. Namun pemuda murid Bayu Bajra ini jadi terkesiap. Deru angin yang datang dari arah depan begitu luar biasa dahsyat, hingga sebelum dia sempat hantamkan kedua tangannya lepaskan pukulan, tubuhnya tersapu ke belakang sampai empat langkah! Kejap kemudian sepasang kaki tampak mencuat dari balik pakaian hitam di depan hidung Malaikat Penggali Kubur!

"Bukkk!" Sosok Malaikat Penggali Kubur terpental. Datuk Hitam segera pula berkelebat di udara, memburu tubuh Malaikat Penggali Kubur. Lalu untuk kedua kalinya kaki kanannya bergerak lepaskan satu tendangan.

"Bukkk!" Malaikat Penggali Kubur berseru tertahan. Tubuhnya melayang dan terbanting di udara. Lalu menghujam ke bawah dan terpuruk dengan kepala lebih dulu menghajar tanah. Malaikat Penggali Kubur rasakan tubuh dan kepalanya laksana pecah. Tapi mendapati gelagat bahaya belum selesai, pemuda murid Bayu Bajra ini segera kerahkan tenaga dalam, lalu secepat kilat bergerak bangkit dan tegak dengan kaki terkembang.

Dua tombak dihadapannya, si pemuda melihat Datuk Hitam goyang-goyangkan kepala lalu tertawa terbahak dengan kepala tengadah dan mata terpejam. Mendadak Datuk Hitam ulurkan tangannya ke depan.

"Peta itu atau akan kuambil beserta nyawamu sekalian!"

Malaikat Penggali Kubur katupkan mulut. Sejenak dia terkesiap, karena mulutnya terasa asin pertanda ada darah yang menunjukkan bahwa dirinya telah terluka bagian dalam.

"Ha ha ha...!" Tiba-tiba Datuk Hitam perdengarkan tawa panjang. Lalu berkata. "Jangan bertindak bodoh! Kau telah terluka, memutus selembar nyawamu saat ini bagiku semudah membalik telapak tangan!"

Malaikat Penggali Kubur tak hiraukan ucapan orang. Sebaliknya dia kepalkan tangan. Tak menunggu lama, si pemuda segera angkat kedua tangannya. Seraya membentak garang, dia pukulkan kedua tangannya ke arah Datuk Hitam.

"Wuuttt! Wuttt!" Dari kepalan tangannya membersit sinar terang, namun cuma sekejap, kejap lain terdengar deru luar biasa dahsyat, pada saat bersamaan menghampar gelombang angin laksana gelombang yang menggidikkan dan menebar hawa luar biasa panas!

Inilah pukulan sakti 'Telaga Surya', satu pukulan sakti yang telah diwarisi dari Bayu Bajra dan telah lima belas tahun dilatih dan dipelajarinya. Beberapa puluh tahun silam, pukulan ‘Telaga Surya' sempat membuat guru Malaikat Penggali Kubur yakni Bayu Bajra ditakuti dan disegani lawan dan kawan. Bahkan hanya beberapa tokoh saja yang dapat mengimbangi kehebatan pukulan 'Telaga Surya'. Hingga saat pukulan itu dilepas oleh Malaikat Penggali Kubur, Datuk Hitam terlihat tersirap kaget.

Kakek berpakaian gombrong panjang berwarna hitam ini segera rentangkan kedua telapak tangannya. Terdengar suara berkeretekan. Lalu serta-merta Datuk Hitam dorong kedua telapak tangannya ke depan.

"Wuusss! Wuusss!" Melesat dua jalur hitam di udara yang bukan saja membuat tempat itu berubah gelap gulita, namun juga perdengarkan suara keras laksana gemuruh badai dan menyambarnya angin luar biasa kencang!

Inilah pukulan sakti Datuk Hitam yang disebut 'Puspa Jagat'. Satu pukulan yang menghantar Datuk Hitam menjadi salah satu momok rimba persilatan dan juga membuat dirinya sebagai tokoh jajaran atas yang menjadikan beberapa tokoh harus berpikir dua kali untuk coba-coba mencari urusan dengan Datuk Hitam.

Selain memiliki pukulan sakti 'Puspa Jagat', Datuk Hitam juga dikenal memiliki ilmu 'Mendera Bayu'. Satu ilmu yang membuat sang Datuk bisa telentang dan berputar cepat di atas udara. Sementara lawan akan merasakan sapuan gelombang angin luar biasa dahsyat. Ilmu 'Mendera Bayu' Inilah yang tadi mem buat Malaikat Penggali Kubur terhuyung-huyung dan pukulan yang dilepas melenceng jauh di udara.

"Bummm!" Terdengar ledakan hebat saat pukulan 'Telaga Surya' yang dilepas Malaikat Penggali Kubur beradu dengan pukulan 'Puspa Jagat' yang dikirim Datuk Hitam. Suasana yang sebentar tadi gelap gulita karena bias pukulan 'Puspa Jagat' bertambah pekat katika hamburan tanah akibat bentroknya dua pukulan bertabur menyungkup tempat itu.

Sosok Malaikat Penggali Kubur tampak mencelat mental sejauh dua tombak, terhuyung-huyung beberapa kali sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan wajah laksana tak berdarah. Napasnya megap-megap dan darah kehitaman keluar membasahi jubah putihnya.

"Iblis Jahanam!" rutuk Malaikat Penggali Kubur dengan suara mendesis. "Aku tak mungkin teruskan pertarungan ini dengan keadaan begini! Aku bisa mendapat celaka dan peta ini akan jatuh ke tangan setan tua itu! Hemm..." Malaikat Penggali Kubur angkat kepalanya dan memandang berkeliling. Saat itu suasana masih dibungkus kepekatan.

"Tunggulah Setan tua! Urusan kita belum selesai. Kelak urusan ini akan kita tuntaskan!" gumam si pemuda, lalu secepat kilat dia bergerak bangkit dan secepat itu pula dia berkelebat tinggalkan tempat itu.

Saat suasana terang kembali, Datuk Hitam yang juga tampak terduduk dengan tubuh bergetar dan bergumam tak jelas, pentangkan sepasang matanya tak berkesip. Seakan tak percaya dengan pandangan matanya, kakek ini gerakkan tangan kanan menyibak uraian rambutnya yang menutupi wajah. Tiba-tiba kakek ini keluarkan sumpah serapah tidak karuan ketika menyadari bahwa Malaikat Penggali Kubur benar-benar telah pergi tinggalkan tempat itu.

"Anak keparat itu benar-benar memiliki ilmu yang tak boleh dipandang sembarangan! Apakah dia betul-betul telah mendapatkan peta itu dari Dewa Sukma? Dan apa yang dilakukan Dewa Sukma hingga anak jahanam tadi tertawa mirip orang gila?! Hem... Kalau tak melihat sendiri, bagaimana aku mendapat jawaban pasti?!"

Datuk Hitam berpikir, lalu bergerak bangkit. Setelah yakin bahwa Malaikat Penggali Kubur betul-betul tidak ada di tempat itu, sang Datuk jejak tanah. Tanah itu terbongkar, dan bersamaan itu sosok Datuk Hitam berkelebat.

********************

Pada satu tempat di mana tampak dua pohon beringin kembar berdiri kokoh, Datuk Hitam hentikan larinya. Sepasang matanya dijerengkan memandang seantero tempat itu. Saat matanya menangkap sebuah gua tak jauh di belakang pohon, sang Datuk kembali melesat ke depan. Lalu berhenti lima langkah di depan mulut gua.

"Hemm... Mulut gua bagian kiri tampak berantakan. ini pasti perbuatan tangan manusia! Sialan! Jangan-jangan ini perbuatan anak keparat itu!" desah Datuk Hitam dengan sepasang mata memeriksa dengan tajam.

"Tampaknya hal ini dilakukan dengan sengaja! Orang yang memukul mulut gua sepertinya menjaga agar ada sesuatu yang tak terkena pukulan"

Paras wajah Datuk Hitam mendadak berubah. Mulutnya komat-kamit dengan mata mendelik angker. "Jahanam busuk!" terdengar umpatan dari mulutnya. "Jangan-jangan anak bangsat itu benar-benar telah mendahuluiku mendapatkan peta itu!"

Tanpa pikir panjang lagi, Datuk Hitam segera berkelebat masuk ke dalam gua. Sepasang matanya segera menyapu ke seluruh ruangan gua. Tiba-tiba kepala sang Datuk yang ikut bergerak berputar terhenti. Sepasang matanya makin membeliak. Seraya angkat tangannya menyibak uraian rambut yang menghalangi pandangannya, sang Datuk berkata pelan.

"Hemm... Yang ini pasti bukan perbuatan si anak jahanam itu! Setan alas! Berarti telah banyak orang yang datang mendahuluiku!"

"Melihat keadaannya bukan satu purnama dua purnama dia tergantung seperti itu! Jika bukan orang yang berkepandaian tinggi, pasti sudah mampus sejak lama..." gumam Datuk Hitam tatkala melihat satu sosok tergantung dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Sosok ini tergantung dengan satu tali berupa sinar hitam yang bukan saja menggantung tubuhnya namun juga membelit sekujur tubuhnya.

"Siapa yang mempunyai perbuatan gila ini? Tapi aneh... Tapi siapa pun manusianya yang punya ulah ini bagiku tidak penting! Jauh lebih penting mengetahui apakah peta itu masih di tangannya atau sudah berpindah tangan!"

Datuk Hitam pandang sekali lagi pada sosok yang tergantung dan bukan lain adalah Dewa Sukma. Lalu seraya tengadah dia berkata. "Dewa Sukma! Tentu tidak enak hidup bergelantungan begitu rupa. Sebagai sahabat, aku ingin sekali menolongmu. Apa jawabmu?!"

Dewa Sukma tidak buka mulut untuk memberi jawaban. Bahkan sepasang matanya pun tetap terpejam rapat. Hanya tarikan napasnya yang terdengar berat.

Mungkin menduga Dewa Sukma tidak mendengar ucapannya karena tubuhnya telah lemah, Datuk Hitam ulangi lagi ucapannya dengan suara agak keras. Namun sejauh ini orang yang diajak bicara tetap diam.

"Kau mendengar! Jangan berlagak tuli!" hardik Datuk Hitam geram karena pertanyaannya tidak terjawab. Beberapa saat berlalu. Perlahan Dewa Sukma buka kelopak matanya. Lalu memandang pada Datuk Hitam. Tapi mulutnya tetap terkancing tak perdengarkan sepatah kata.

"Dewa Sukma! Aku telah tawarkan pertolongan padamu. Harap kau suka beri jawaban!"

"Nada ucapanmu mengisyaratkan kau punya pamrih dalam urusan tawar menawar ini. Sebelum kujawab tanyamu, aku tanya padamu. Apa yang ada di balik ucapanmu!"

Datuk Hitam tertawa pelan. "Ternyata kau pandai menduga. Terus terang saja, aku akan menolongmu dengan syarat berikan padaku peta itu!"

Meski tampak lemah, Dewa Sukma perdengarkan tawa pelan. Sejenak kemudian dia berkata. "Harap kau suka tinggalkan aku sendirian!"

"Dewa Sukma..."

"Aku tak suka bicara dua kali!" potong Dewa Sukma sebelum Datuk Hitam selesaikan ucapannya.

"Jahanam!" dengus sang Datuk. “Datang jauh-jauh percuma jika berhampa tangan. Tak mendapat peta, nyawamu pun jadilah!"

Habis berkata begitu, Datuk Hitam angkat kedua tangannya dengan telapak terkembang. Sang datuk siap lepaskan pukulan sakti 'Puspa Jagat'. Tapi sebelum telapak tangan sang datuk bergerak, satu suara membuat orang tua bertampang hitam angker ini melengak kaget.

"Masih pantaskah lepaskan pukulan 'Puspa Jagat' untuk membunuh orang yang tak bisa melawan? Hik hik hik..."

Datuk Hitam cepat putar diri. Namun hingga sepasang matanya dibeliakkan besar-besar dan uraian rambut di wajahnya disibakkan, sang datuk tidak melihat siapa-siapa...!

S E L E S A I