Social Items

KETIKA dua orang itu membebaskan totokan dari tubuhnya dan ia merasakan darahnya mengalir kembali dengan normal, Giok Cu tidak tergesa-gesa bergerak, membiarkan jalan darahnya pulih kembali dan ia pun mandah saja ketika mereka kembali mulai membelai dan menciuminya.

Akan tetapi begitu jalan darahnya sudah pulih kembali, diam-diam ia mengerahkan tenaganya, digerakkannya dengan tiba-tiba kepalanya menghantam muka Ji Ban To, melompat berdiri dan kakinya menendang dada Gak Su. Dua orang pemuda yang sedang dimabuk nafsu mereka sendiri itu seperti orang terlena, menjadi lengah dan tak mampu menghindarkan diri dari serangan tiba-tiba itu.

"Duk! Desssss!"

Ji Ban To berteriak kesakitan karena hidungnya bocor, mengucurkan darah ketika dihantam kepala Giok Cu, sedangkan Gak Su terbanting dan terjengkang keras, dadanya terasa sesak dan napasnya terengah-engah. Juga dia mengaduh-aduh.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Giok Cu untuk meloncat dan melarikan diri. Yang masih menempel di tubuhnya yang telanjang bulat itu hanya tinggal sepasang sepatunya saja! Hanya sejenak saja dua orang pemuda itu tertegun dan kesakitan. Melihat gadis itu melarikan diri, mereka pun la berloncatan dan cepat melakukan pengejaran. Biarpun Giok Cu memiliki kegesitan dan keringanan tubuh, akan tetapi ia berlari dengan kedua lengan terikat di belakang. Tentu saja hal ini membuat ia tidak leluasa lari dan kecepatannya berlari berkurang banyak.

Maka tak lama kemudian, dua orang pemuda itu mampu menyusulnya dan mereka menubruk dari belakang sambil meloncat.Tubuh Giok Cu terbanting keatas pasir dan ditindih oleh mereka berdua! Giok Cu meronta-ronta, menendang, menggigit dan meludah sehingga dua orang pemuda itu harus menjambaknya, memegangi kedua kakinya, bahkan menamparinya.

Akhirnya mereka dapat mengikat kedua pergetangan kaki Giok Cu dengan ikat pinggang Ji Ban To dan gadis itu untuk kedua kalinya tak mampu menggerakkan tangan dan kakinya. Kalau karena tertotok, kini karena kaki tangannya terbelenggu. Akan tetapi kini ia masih mampu membalikkan tubuhnya menelungkup, memutar leher dan memandang kepada dua orang muda yang terengah-engah kelelahan itu dengan mata melotot penuh kebencian.

"Suheng, cepat kerjai gadis liar ini, biar tahu rasa! Aku akan berjaga kalau ada orang datang dan menunggu giliranku!" kata Gak Su yang mendendam kepadao Giok Cu karena dadanya tadi tertendang cukup keras dan masih terasa nyeri sampai sekarang.

Ji Ban To yang sudah melepaskan ikat pinggangnya untuk membelenggu kaki Giok Cu, mendekati gadis itu dengan wajah menyeringai buas. Akan tetapi sebelum tangannya mampu menyentuh Giok Cu tiba-tiba terdengar suara halus,

"Kalian mencari mampus!"

Dua orang muda itu terkejut dan cepat menengok. Wajah mereka seketika berubah pucat dan mata mereka terbelalak ketika mereka mengenal siap wanita yang menegur mereka itu. Ban-tok Mo-li!

Wanita iblis ini tadi setelah muridnya lari keluar, diam-diam merasa kecewa dan tidak enak. Ia merasa sayang kepada muridnya itu, seorang murid yang baik dan berbakat. Heran ia mengapa muridnya begitu berkeras hendak menolong dua orang korban itu padahal dua orang korban itu amat diperlukan sebagai "tebusan" ia masuk menjadi anggauta pemuja Thian-te Kw ong!

Biarpun tadi ia merasa marah, setelah muridnya pergi, ia pun merasa menyesal dan ingin ia memanggil muridnya kembali untuk diajak berpesta, ia sedang bergembira karena diterima menjadi anggauta baru penyembah Thia te-kauw, maka ia tidak ingin ada gangguan berupa kekecewaan dan penyesalan terhadap muridnya yang disayangnya itu. Ketika dilihatnya tidak nampak bayangan Giok Cu di luar ruangan itu, ia pun lalu meninggalkan ruangan itu untuk mencarinya.

Ketika ia tidak dapat menemukan Giok Cu di dalam kamarnya, ia dapat menduga kemana perginya muridnya itu. Muridnya itu suka sekali bermain-main di Pantai lautan dan mungkin sekarang, dalam keadaan marah dan kecewa, Giok Cu juga pergi ke sana. Apalagi di pantai itu amat indah kalau terang bulan dan dapat menyejukkan dan menenangkan hatti. Dengan cepat Ban-tok Mo-li lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke pantai.

Mula-mula ia menemukan pakaian muridnya berserakan di pantai. Pakaian luar dan pakaian dalam! Dalam keadaan robek-robek. Akan tetapi muridnya tidak ada! Tentu bertelanjang bulat, la pun mengambil pakaian itu dan menyelipkannya di ikat pinggang. Kemudian berrlari lagi dan melihat bahwa tidak jauh dari situ nampak bayangan dua orang atas pasir.

Cepat ia menghampiri dan dapat dibayangkan betapa hatinya seperti dibakar ketika ia melihat muridnya dalam keadaan telanjang bulat menelungkup di atas pasir dengan kaki tangan terikat, dan dua orang pemuda yang bukan lain adalah Ji Ban To dan Cak Su berada di dekat muridnya. Tidak sukar diduga, apa yang akan dilakukan dua orang pemuda itu, maka ia pun lalu menegur mereka.

Melihat bahwa iblis betina itu muncul, dua orang pemuda itu sejenak seperti berubah menjadi patung. Kemudian, maklum betapa lihai dan galaknya wanita itu, keduanya lalu meloncat dan seperti dikomando, mereka melarikan diri!

Ban-tok Mo-li adalah seorang datuk sesat yang ditakuti banyak orang, ia sendiri tidak takut kepada siapapun juga, dan ia terkenal memiliki keberanian dan kekejaman yang luar biasa, tak pernah mau mengampuni musuh-musuhnya atau orang yang menyakiti hatinya. Melihat betapa muridnya hampir saja diperkosa dua orang pemuda itu, mengalami penghinaan, ia tidak lagi mempedulikan bahwa dua orang pemuda itu adalah tamu-tamunya, murid dari Ouw Kok Sian, seorang di antara tamu-tamunya yang terhormat.

Dengan beberapa loncatan saja, ia sudah dapat menyusul mereka. Bagaikan seekor harimau menerkam seekor domba dari belakang, kedua tangannya mencengkeram dan mencekik leher Gak Su dari belakang. Jari-jari kedua tangannya yang berkuku panjang dan runcing itu mencekik dan menembus kulit dan daging leher.

Cak Su mengeluarkan suara aneh, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman, akan tetapi kedua tangannya itu lalu merentang kaku, matanya melotot, mukanya berubah hitam dan ketika cekikan dilepaskan, dia pun terkulai dan roboh tanpa nyawa lagi dengan muka hitam dan mata melotot lidah terjulur keluar. Sejak Gak Su dicekik dari belakang, Ji Ban To sudah merasa tubuhnya menggigil dan kakinya seperti lumpuh. Dia menjatuhkan diri ke atas tanah dan berlutut, menyembah-nyembah meminta ampun sambil memandang kepada sutenya yang mengalami nasib mengerikan itu!

"Ampun, Lo-cian-pwe… ampunkan saya…!" ratapnya ketika dia melihat sutenya roboh dan tewas, dan wanita yang menakutkan itu berdiri sambil bertolak pinggang di depannya. Wajah yang cantik itu tersenyum manis, akan tetapi matanya yang mencorong itu membuat hati Ji Ban To menjadi semaki ketakutan. Dia melihat maut membayang pada mata itu dan walaupun ingin dia melarikan diri, namun tubuhnya mengigil dan kedua kakinya lumpuh, membuat dia hanya dapat mendekam di depan wanita itu.

“Ji Ban To, apa yang kau lakukan bersama Sutemu terhadap muridku itu?"

"Saya… saya… tidak melakukan apa-apa, hanya… hanya…" Dia begitu ketakutan sehingga untuk bicara amat sukar.

"Kalian telah memperkosanya?" bentak Ban-tok Mo-li.

Muncul sedikit harapan dalam hati Ji ban To ketika mendengar pertanyaan ini. Agaknya itulah yang menyebabkan kemarahan Ban-tok Mo-li, mengira bahwa muridnya telah mereka perkosa! Dan kenyataannya, dia belum memperkosanya!

"Tidak…! Tidak sama sekali, Lo-Cian-pwe! Saya… belum… eh, tidak memperkosanya, sama sekali tidak!"

"Hemmm, lalu kenapa engkau menelanjanginya dan mengikat kaki tangannya?"

"Eh… ohhh… yang menelanjangi dan membelenggu, hanya Sute… itu… lo-cian-pwe!" jelas nampak sifat pengecut dari pemuda itu yang begitu menghadapi ancaman lalu hendak menimpakan semua kesalahan kepada sutenya yang telah tewas.

Ban-tok Mo-li kembali tersenyum. Wanita yang sudah kenyang akan pengalaman di dunia ini tentu saja tidak mudah dibohongi begitu saja. "Bagus, dia yang menelanjangi dan membelenggu, dan engkau yang akan memperkosanya?"

"Tidak, tidak…!"

"Lalu apa yang kaulakukan? Hanya menonton?"

Ji Ban To tahu bahwa hal ini tidak mungkin. Dia harus mengakui kesalahan, akan tetapi kesalahan yang paling kecil. "Saya… saya tadi hanya... meciuminya beberapa kali, Lo-cian-pwe."

"Hemmm, menciumnya beberapa kali, ya? Agaknya engkau suka sekali menciumi perempuan. Nah, bangkitlah!"

Dengan tubuh menggigil, Ji Ban tidak berani membantah dan dia pun berdiri. Sejenak Ban-tok Mo-li mengamati pemuda ini dari kepala sampai ke kaki Seorang pemuda yang cukup tampan walaupun agak kurus dan mukanya pucat.

"Ji Ban To aku ingin merasakan bagaimana engkau menciumi muridku tadi Hayo kau cium aku!"

Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. "Mana saya… berani...?”

"Kau berani membantahku? Apak engkau ingin mampus seperti Sutemu tadi?"

"Tidak, tidak…!"

"Kalau begitu kau ciumi aku seperti engkau menciumi muridku tadi. Hayo cepat!"

Ji Ban To ketakutan setengah mati. Dengan tubuh menggigil, terpaksa dia memberanikan diri merangkul pundak wanita cantik itu dan mendekap mukanya, lalu mencium mulut yang tersenyum menggairahkan itu. Dasar dia pemuda yang sudah menjadi hamba nafsu. Biarpun tadinya ketakutan, begitu dia mencium dan merasa betapa mulut wanita cantik yang diciumnya itu membalas dengan mesra, dia pun mencium penuh nafsu.

Akan tetapi ketika dia hendak melepaskan ciumannya untuk bernapas, mulutnya melekat pada mulut itu dan merah mulutnya terasa seperti dibakar, rasa panas yang terus menyerang dirinya melalui mulut, masuk ke kerongkongan dan ke dada. Ciuman beracun! Dua lengannya yang tadi memeluk, kini meregang, matanya terbelalak dan suara aneh keluar dari kerongkongannya. Ketika Ban-tok Mo li melepaskan ciumannya, tubuh pemuda itu terkulai dan seluruh bibirnya nampak membiru!

Akan tetapi, kematian agaknya tidak datang tiba-tiba seperti yang dialami Cak Su dan hal ini agaknya memang disengaja oleh Ban-tok Mo-li. Melihat pemuda itu menggeliat-geliat Ban-tok Mo-li menggerakkan tangan menotok ke arah tengkuknya dan pemuda itu pun tak bergerak lagi karena telah tertotok. Ban-tok Mo-li berkelebat lenyap dari tempat itu.

"Subooo…!" Giok Cu memanggil ketika melihat bayangan subonya, akan tetapi subonya tidak menjawab. Ia mecoba untuk melepaskan belenggu kaki tangannya, namun ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya juga amat lelah. Giok Cu tak lama menunggu. Nampak dua bayangan berkelebat dan ternyata mereka adalah subonya bersama Ouw Kok Sian, tamu tinggi besar, majikan dari Pegunungan Liong-san, guru dari dua orang pemuda yang tadi hampir memperkosanya. Mereka berhenti di dekatnya dan terdengar subonya berkata,

"Nah, kau lihat sendiri keadaan muridku. Merekalah yang melakukannya!" Suara gurunya terdengar kaku dan marah.

"Keparat! Di mana mereka yang memalukan itu?"

"Mereka lari dan kukejar. Mari kita lihat, di sana mereka!"

Keduanya berkelebat lenyap dan sebentar saja, Ban-tok Mo-li dan Ouw Kok Sian telah berdiri di dekat tubuh Gak Su yang lagi sudah tidak bernyawa dan tubuh Ji Ban To yang tidak bergerak, akan tetapi masih hidup. Melihat gurunya, Ji Ban To mengeluh dan merintih. Melihat gurunya datang bersama Ban-tok Mo-li, tahulah dia bahwa gurunya tidak akan membelanya.

"Suhu… ampunkan teecu..." katanya memelas.

Dengan alis berkerut dan pandang mata marah, Ouw Kok Sian membentak, "Benarkah engkau dan Sutemu yang melakukan penghinaan terhadap murid Ban-tok Mo-li?"

"Suhu, kami berdua… tergila-gila olehnya… akan tetapi… Giok Cu menolak dan memukuli kami, terpaksa kami mengikatnya… tapi teecu… Teecu tidak memperkosanya, hanya menciumnya…" kata Ji Ban To dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya membengkak dan menghitam. "Ampunkan teecu, Suhu…"

Ouw Kok Sian menarik napas panjang. Bagaimanapun juga, Ji Ban To adalah muridnya, murid pertama. Dia menoleh kepada Ban-tok Mo-li. "Engkau telah membunuh muridku Gak Su sebagai hukuman. Apakah engkau tidak dapat mengampuni muridku yang satu ini? Dia pun telah mendapatkan hukuman, apakah itu belum memuaskan hatimu?"

"Ouw Kok Sian, engkau dan dua orang muridmu adalah tamu-tamu yang ku sambut dengan hormat dan dengan baik-baik. Akan tetapi dua orang muridmu telah menghina muridku. Aku telah membunuh seorang muridmu dan melukai muridmu yang ini, bagaimana pendapatmu? Apakah engkau tidak terima dan hendak menuntut balas?" Dalam ucapan itu terkandung kemarahan dan tantangan.

Ouw Kok Sian menarik napas panjang. "Aku sudah tahu akan kelihaianmu, Ban-tok Mo-li, akan tetapi bukan berarti aku takut padamu kalau kukatakan bahwa aku tidak ingin menuntut balas, aku mengerti sepenuhnya akan kemarahanmu dan aku mengakui kesalahan murid-muridku, maka aku mintakan maaf untuk mereka, dan kalau mungkin, ampunkanlah muridku Ji Ban To ini."

Wajah yang tadinya nampak marah itu melunak. Kalau gurunya sudah mengikut kesalahannya, maka itu pun cukuplah. Pula, rasa penasaran karena hinaan yang menimpa muridnya itu telah ditebus dengan nyawa seorang murid, dan murid yang lain juga akan mampus kalau ia tidak mengampuninya.

"Baiklah, melihat mukamu, biar aku mengampuni muridmu ini, Ouw Kok Sian. berikan obat ini kepadanya, minumkan dan sebagian untuk mengobati mulutnya, dan kau dapat mengusir hawa beracun dengan sin-kangmu." la mengeluarkan sebungkus obat bubuk kuning dari saku bajunya, menyerahkan bungkusan obat itu kepada Ouw Kok Sian.

Si Tinggi Besar ini menerimanya tanpa malu-malu lagi. Dia pun seorang tokoh dunia kang-ouw yang berpengalaman. Kalau hanya mengobati luka-luka biasa saja atau luka beracun yang tidak terlalu hebat, dia masih sanggup. Akan tetapi dunia ini, siapa mampu mengobati luka beracun akibat pukulan Ban-tok Mo-li?

Ban-tok Mo-li lalu meninggalkan tamunya yang mulai mengobati Ji BanTo lalu ia lari menghampiri muridnya, membuka ikatan kaki tangannya, dan membantu muridnya mengenakan pakaian Kemudian mereka berdua pun pulang dandi dalam perjalanan itu, Ban-tok Mo-li mengomeli muridnya.

"Sikapmu di ruangan sembahyang tadi sungguh tidak menyenangkan hatiku, Giok Cu. Engkau bahkan nyaris membikin malu hatiku, sungguh aku kecewa sekali padamu."

"Maaf, Subo. Akan tetapi hatiku tidak tahan melihat dua orang yang tidak berdosa itu akan dibunuh begitu saja!"

"Hemmm, engkau tahu bahwa mereka itu dijadikan korban. Gurumu ini berharap untuk mendapatkan berkah usia panjang, tentu saja dengan jalan menyerahkan korban. Kalau yang dijadikan syarat itu korban berupa binatang apa pun, tentu akan kupenuhi. Syaratnya ialah sepasang manusia, maka harus la dipenuhi. Engkau seperti anak kecil saja. Dan kulihat, perbuatanmu itu ternyata dikutuk oleh Thian-te Kwi-ong sendiri. Buktinya, begitu engkau mengacaukan upacara penyerahan korban, engkau hampir tertimpa malapetaka di pantai itu tadi. Kalau aku tidak kebetulan sedang mencarimu, apakah engkau akan dapat menyelamatkan diri? Engkau tentu sudah menjadi korban perkosaan dan sebulan kemudian engkau mati tersiksa!"

Giok Cu mengepal tinju. Akan tetapi ia menjawab lirih. "Terima kasih, Subo. Tentu mereka telah Subo bunuh, bukan?"

"Yang seorang telah kubunuh karena dia melarikan diri. Seorang lagi yang bernama Ji Ban To tidak kubunuh, hanya kuberi hajaran keras karena memandang muka gurunya dan dia sudah meminta ampun."

"Hemmm, mana mungkin mengampuni perbuatan mereka yang amat keji tadi. Biar kelak aku aku sendiri yang akan membunuhnya!" kata Giok Cu dengan suara mengandung kemarahan.

"Tidak ada untungnya menanam permusuhan dengan para murid Ouw Kok Sian. Apalagi dia tadi telah kuberi hajaran dan dalam keadaan setengah mati akan tetapi kutinggalkan obat penyembuhnya kepada gurunya. Lebih baik melupakan saja urusan itu, bukan engkau belum diperkosanya?"

"Tapi aku malu, Subo, aku merasa dihina bukan main. Biarlah kelak akan kucari jalan agar dia bermusuhan dengan aku sehingga ada alasan bagiku untuk membunuhnya!"

Ban-tok Mo-li yang mendengar hanya tersenyum saja, senyum acuh karena ia sendiri seorang yang tak pernah menghargai nyawa orang lain.

Semenjak peristiwa malam itu, Giok Cu berlatih silat semakin tekun karena ia ingin agar memperoleh kemajuan pesat dan mengalahkan orang-orang seperti Siangkoan Tek dan Ji Ban To yang sudah diangapnya sebagai musuh besarnya itu. Dan hanya ilmu-ilmu silat dari Ban-tok Mo-li saja yang dipelajarinya dengan tekun, termasuk ilmu-ilmu pukulan beracun.

Adapun mengenai cara hidup gurunya itu, sama sekali ia tidak merasa cocok, bahkan kadang-kadang ia muak melihat hal-hal yang dianggapnya memalukan yang dilakukan gurunya, seperti menculik orang-orang muda, memaksanya menuruti kehendaknya memuaskan nafsu-nafsunya, bergaul erat dengan tokoh-tokoh sesat dan lain kejahatan lagi.

Ia selalu menolak kalau diajak atau disuruh melakukan kejahatan oleh teman-teman gurunya. Agaknya Ban-tok Mo-li sendiri mengenal watak muridnya, maka ia pun tidak pernah memberi tugas kepada muridnya itu untuk melakukan hal yang berlawanan dengan watak muridnya itu.

Watak Giok Cu yang keras, tak mengenal takut, gagah bahkan liar dan ganas terhadap musuhnya, membuat Ban-tok Mo-li merasa kagum. Apalagi karena dari suaranya, pandang matanya dan sikapnya jelas bahwa murid itu juga mempunyai perasaan sayang kepadanya!

Kadang-kadang memang amat mengherankan kalau kita menemui seorang yang hidup sebagai seorang penjahat besar, yang sudah terbiasa melakukan segala macam kekejaman, dapat mempunyai perasaan sayang yang amat besar terhadap seseorang. Perasaan sayang yang amat mengharukan karena sungguh bertolak belakang dengan wataknya.

Seorang perampok besar yang biasanya membunuh orang lain dengan mata tanpa berkedip, dapat saja memiliki kasih sayang yang amat besar terhadap isterinya atau anaknya atau orang lain sehingga untuk orang itu dia mau berkorban apa pun juga, terhadap orang itu dia bersikap amat lembut dan mengalah. Ini membuktikan bahwa didalam diri setiap manusia itu terdapat dua sifat, yaitu sifat baik dan sifat buruk.

Diri manusia merupakan sumber daripada kebaikan dan keburukan yang bermunculan silih berganti dan seperti berlumba menguasai batin manusia yang melahirkan perbuatan-perbuatan baik maupun buruk. Padahal, sesungguhnya dasar dari semua ciptaan Tuhan adalah sempurna, karena Tuhan adalah Maha Sempurna, tidak ada seorang pun bayi yang jahat!

Pandang mata dan senyum tawa seorang bayi, bahkan tangisnya, adalah suci. Baru setelah pengertian pikiran menguasainya, akal budi dan pikiran ini yang memberi pupuk kepada si-akunya dan mulailah muncul sifat-sifat yang buruk itu. Hanya seorang manusia yang mengenal benar semua sifat jahatnya ini, yang secara seketika membersihkan diri dari semua sifat yang buruk.

Ia seolah-olah membersihkan kaca-kaca jendela yang kotor berdebu dan yang menghalangi masuknya sinar matahari, dan barulah dia menjadi pulih kembali seperti seorang bayi, bersih, wajar dan suci. Selama tindakan pembersihan diri ini tidak dilakukan secara seketika, maka segala usaha lain takkan ada gunanya. Menutup-nutupi kekotoran tidak akan mendatangkan kejernihan, satu-satunya jalan hanyalah membuang kotoran-kotoran itu seketika.


********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Pengemis atau orang yang berpakaian seperti pengemis penuh tambal-tambalan itu masih muda, kurang lebih dua puluh tahun usianya. Kalau melihat keadaan tubuhnya, sungguh tidak pantas dia mengenakan pakaian pengemis, atau pakaian yang butut penuh tambalan itu. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, sikapnya juga sopan, kepalanya selalu menunduk dan pendiam, langkahnya sopan dan gagah, tidak nanpak sikap rendah diri, matanya tajam cerdik, wajahnya cerah. Akan tetapi kenyataannya ketika berhenti di depan sebuah toko obat pemuda ini mengemis!

Biarpun sikap dan kata-katanya tidak seperti pengemis sembarangan yang memelas, namun tetap saja dia mohon pertolongan orang. Kepada pemilik toko obat di kota raja itu, sebuah toko obat yang besar, dia memberi hormat dan berkata dengan sikap yang hormat tanpa malu-malu.

"Harap Lo-ya (Tuan Tua) suka memaafkan saya kalau saya mengganggu. Saya mohon pertolongan Lo-ya untuk memberi sedekah berupa obat untuk orang yang sudah lanjut usia, obat panas dan batuk. Mohon kebaikan budi Lo-ya untuk menolong saya."

Pemilik toko obat yang usianya sudah ada enam puluh tahun, berperut gendut sekali seperti sebagian besar orang kaya di kota raja, memandang dengan alis berkerut. Pengemis ini tentu pengemis baru atau asing, pikirnya karena belum pernah dia melihat sebelumnya. Timbul rasa tidak sukanya melihat tubuh pengemis yang demikian sehat dan gagah, jauh lebih gagah daripada putera-puteranya.

"Hemm, sungguh engkau ini orang pemuda yang tidak tahu malu sama sekali Dia berkata sambil mengelus jenggotnya. "Engkau masih begini muda, kenapa tidak mau bekerja dan menjadi pengemis? Hayo pergi, aku tidak mau menolong orang malas! Pergi atau kupanggilkan penjaga keamanan agar engkau ditangkap!"

Pengemis muda itu menahan senyumnya. Sedikitpun dia tidak menjadi merah muka atau marah. Agaknya, cemooh dan makian seperti itu sudah terlalu sering dia terima sehingga dia sudah merasa kebal. Dia membungkuk lalu pergi seenaknya. Pengemis muda itu adalah Si Han Beng! Seperti kita ketahui, lima tahun yang lalu dia bertemu dengan gurunya yang kedua, yaitu Sin-ciang Kai-ong Si Raja Pengemis Bertangan Sakti dan menjadi muridnya.

Karena gurunya ini hidup berkelana sebagai seorang pengemis maka Han Beng juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan gurunya berpakaian sebagai pengemis, bahkan juga minta-minta untuk makan mereka sehari-hari. Pernah Han Beng mengajukan rasa penasaran dalam hatinya mengapa gurunya hidup sebagai pengemis.

"Suhu adalah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi di jaman ini. Kalau Suhu menghendakinya, dengan kepandaian itu, suhu dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan, atau dapat menjadi usahawan yang berhasil, bahkan kalau Suhu memerlukan harta benda, apa sukarnya? Akan tetapi mengapa Suhu bahkan menjadi seorang pengemis? Maaf, suhu, bukankah masyarakat umum memandang pengemis itu sebagai orang yang yang rendah, hina dan pemalas?"

Sin-ciang Kai-ong sama sekali tidak marah, bahkan tertawa bergelak mendengar pertanyaan muridnya itu, "Uwah, ha-ha-ha! Han Beng, muridku yang baik, apakah engkau sungguh-sungguh tidak melihat betapa mulianya pengemis dan betapa besar jasa-jasanya, asalkan dia menjadi pengemis seperti kita ini, bukan karena malas?"

Han Beng maklum bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki watak aneh, akan tetapi dia percaya penuh akan kesaktian dan kebijaksanaan kakek berpakaian jembel itu. Mendengar ucapan itu dia memandang heran.

"Mulia dan berjasa besar? Teecu sungguh tidak mengerti apa yang Suhu maksudkan."

"Dengarlah baik-baik, muridku..." Wajah yang biasanya suka tertawa dan cerah itu kini memandang serius, dan suaranya yang biasanya suka berkelakar itu kini terdengar bersungguh-sungguh. "Aku adalah seorang kelana yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, tidak lebih dari satu dua hari berada di suat tempat. Ini menyebabkan tidak mungkin aku bekerja mencari sesuap nasi. Orang tentu takkan mau mempergunakan tenaga orang yang tinggalnya tidak tetap dan hanya untuk sehari dua hari saja. Bukan karena malas, melainkan terpaksa aku mengemis untuk mengisi perut mempertahankan hidup. Bukankah lebih baik mengemis daripada mencuri atau merampok? Sekarang mengapa kukatakan mulia? Karena pekerjaan ini merupakan latihan yang amat baiknya bagi kita, bagi engkau terutama, Han Beng. Dengan mengemis, engkau belajar untuk rendah hati! Latihan ini menghilangkan kesombongan diri, menghilangkan pandangan terlalu tinggi kepada diri yang hanya memperbesar perasaan si-AKU yang serba hebat! Dan mengapa berjasa? Karena, mengemis setidaknya membangkitkan rasa perikemanusiaan dalam hati orang baik, menyentuh perasaan mereka untuk menaruh iba kepada sesama hidup yang sedang menderita kesusahan."

Demikianlah, semenjak memperoleh keterangan dari gurunya, Han Beng tidak merasa malu-malu atau ragu-ragu lagi untuk mengemis! Bahkan dia menganggap hal ini sebagai suatu latihan batin yang baik sekali. Dia kini dapat melihat sikap orang yang menghinanya, mencemoohkannya, tanpa perasaan marah atau sakit hati sedikit pun, bahkan diam-diam mentertawakan mereka, dan dari sikap mereka itu dia dapat mempelajari banyak watak manusia. Latihan ini amat baik untuk memupuk kesabaran, pandangan yang luas dan perasaan rendah hati yang mendalam.

Demikianlah, ketika dia diusir oleh majikan toko obat yang perutnya gendut, dia pergi tanpa merasa sakit hati. Hanya hatinya merasa agak gelisah. Dia tidak membohong ketika mengemis obat. Gurunya jatuh sakit! Gurunya terserang penyakit demam panas dan batuk! Heran juga dia bagaimana seorang sakti seperti gurunya dapat terserang penyakit.

Hal ini mengingatkan dia akan kenyataan bahwa betapapun tinggi kepandaian seseorang, namun badan manusia ini perlu dirawat sebaiknya, menjaga kesehatan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, kebersihan harus dijaga. Kepandaian silat membuat orang pandai melindungi dirinya terhadap serangan dari luar memperbesar tenaga dan kecepatan. Akan tetapi terhadap penyakit yang menyerang entah dari mana, yang tidak nampak. Seorang pesilat yang betapa pandai pun takkan mungkin dapat mengelak atau menangkis!

Dan tubuh ini takkan bebas dari penyakit, usia tua dan kematian. Biarpun gurunya menerima datangnya penyakit itu dengan tenang dan sabar, namun Han Beng merasa gelisah dan dia merasa iba kepada suhunya. Demikianlah kalau orang hidup sebatang-kara, tiada keluarga dan tiada rumah. Kalau sakit, tidak ada yang merawat, tidak ada yang mempedulikan...

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 17

KETIKA dua orang itu membebaskan totokan dari tubuhnya dan ia merasakan darahnya mengalir kembali dengan normal, Giok Cu tidak tergesa-gesa bergerak, membiarkan jalan darahnya pulih kembali dan ia pun mandah saja ketika mereka kembali mulai membelai dan menciuminya.

Akan tetapi begitu jalan darahnya sudah pulih kembali, diam-diam ia mengerahkan tenaganya, digerakkannya dengan tiba-tiba kepalanya menghantam muka Ji Ban To, melompat berdiri dan kakinya menendang dada Gak Su. Dua orang pemuda yang sedang dimabuk nafsu mereka sendiri itu seperti orang terlena, menjadi lengah dan tak mampu menghindarkan diri dari serangan tiba-tiba itu.

"Duk! Desssss!"

Ji Ban To berteriak kesakitan karena hidungnya bocor, mengucurkan darah ketika dihantam kepala Giok Cu, sedangkan Gak Su terbanting dan terjengkang keras, dadanya terasa sesak dan napasnya terengah-engah. Juga dia mengaduh-aduh.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Giok Cu untuk meloncat dan melarikan diri. Yang masih menempel di tubuhnya yang telanjang bulat itu hanya tinggal sepasang sepatunya saja! Hanya sejenak saja dua orang pemuda itu tertegun dan kesakitan. Melihat gadis itu melarikan diri, mereka pun la berloncatan dan cepat melakukan pengejaran. Biarpun Giok Cu memiliki kegesitan dan keringanan tubuh, akan tetapi ia berlari dengan kedua lengan terikat di belakang. Tentu saja hal ini membuat ia tidak leluasa lari dan kecepatannya berlari berkurang banyak.

Maka tak lama kemudian, dua orang pemuda itu mampu menyusulnya dan mereka menubruk dari belakang sambil meloncat.Tubuh Giok Cu terbanting keatas pasir dan ditindih oleh mereka berdua! Giok Cu meronta-ronta, menendang, menggigit dan meludah sehingga dua orang pemuda itu harus menjambaknya, memegangi kedua kakinya, bahkan menamparinya.

Akhirnya mereka dapat mengikat kedua pergetangan kaki Giok Cu dengan ikat pinggang Ji Ban To dan gadis itu untuk kedua kalinya tak mampu menggerakkan tangan dan kakinya. Kalau karena tertotok, kini karena kaki tangannya terbelenggu. Akan tetapi kini ia masih mampu membalikkan tubuhnya menelungkup, memutar leher dan memandang kepada dua orang muda yang terengah-engah kelelahan itu dengan mata melotot penuh kebencian.

"Suheng, cepat kerjai gadis liar ini, biar tahu rasa! Aku akan berjaga kalau ada orang datang dan menunggu giliranku!" kata Gak Su yang mendendam kepadao Giok Cu karena dadanya tadi tertendang cukup keras dan masih terasa nyeri sampai sekarang.

Ji Ban To yang sudah melepaskan ikat pinggangnya untuk membelenggu kaki Giok Cu, mendekati gadis itu dengan wajah menyeringai buas. Akan tetapi sebelum tangannya mampu menyentuh Giok Cu tiba-tiba terdengar suara halus,

"Kalian mencari mampus!"

Dua orang muda itu terkejut dan cepat menengok. Wajah mereka seketika berubah pucat dan mata mereka terbelalak ketika mereka mengenal siap wanita yang menegur mereka itu. Ban-tok Mo-li!

Wanita iblis ini tadi setelah muridnya lari keluar, diam-diam merasa kecewa dan tidak enak. Ia merasa sayang kepada muridnya itu, seorang murid yang baik dan berbakat. Heran ia mengapa muridnya begitu berkeras hendak menolong dua orang korban itu padahal dua orang korban itu amat diperlukan sebagai "tebusan" ia masuk menjadi anggauta pemuja Thian-te Kw ong!

Biarpun tadi ia merasa marah, setelah muridnya pergi, ia pun merasa menyesal dan ingin ia memanggil muridnya kembali untuk diajak berpesta, ia sedang bergembira karena diterima menjadi anggauta baru penyembah Thia te-kauw, maka ia tidak ingin ada gangguan berupa kekecewaan dan penyesalan terhadap muridnya yang disayangnya itu. Ketika dilihatnya tidak nampak bayangan Giok Cu di luar ruangan itu, ia pun lalu meninggalkan ruangan itu untuk mencarinya.

Ketika ia tidak dapat menemukan Giok Cu di dalam kamarnya, ia dapat menduga kemana perginya muridnya itu. Muridnya itu suka sekali bermain-main di Pantai lautan dan mungkin sekarang, dalam keadaan marah dan kecewa, Giok Cu juga pergi ke sana. Apalagi di pantai itu amat indah kalau terang bulan dan dapat menyejukkan dan menenangkan hatti. Dengan cepat Ban-tok Mo-li lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke pantai.

Mula-mula ia menemukan pakaian muridnya berserakan di pantai. Pakaian luar dan pakaian dalam! Dalam keadaan robek-robek. Akan tetapi muridnya tidak ada! Tentu bertelanjang bulat, la pun mengambil pakaian itu dan menyelipkannya di ikat pinggang. Kemudian berrlari lagi dan melihat bahwa tidak jauh dari situ nampak bayangan dua orang atas pasir.

Cepat ia menghampiri dan dapat dibayangkan betapa hatinya seperti dibakar ketika ia melihat muridnya dalam keadaan telanjang bulat menelungkup di atas pasir dengan kaki tangan terikat, dan dua orang pemuda yang bukan lain adalah Ji Ban To dan Cak Su berada di dekat muridnya. Tidak sukar diduga, apa yang akan dilakukan dua orang pemuda itu, maka ia pun lalu menegur mereka.

Melihat bahwa iblis betina itu muncul, dua orang pemuda itu sejenak seperti berubah menjadi patung. Kemudian, maklum betapa lihai dan galaknya wanita itu, keduanya lalu meloncat dan seperti dikomando, mereka melarikan diri!

Ban-tok Mo-li adalah seorang datuk sesat yang ditakuti banyak orang, ia sendiri tidak takut kepada siapapun juga, dan ia terkenal memiliki keberanian dan kekejaman yang luar biasa, tak pernah mau mengampuni musuh-musuhnya atau orang yang menyakiti hatinya. Melihat betapa muridnya hampir saja diperkosa dua orang pemuda itu, mengalami penghinaan, ia tidak lagi mempedulikan bahwa dua orang pemuda itu adalah tamu-tamunya, murid dari Ouw Kok Sian, seorang di antara tamu-tamunya yang terhormat.

Dengan beberapa loncatan saja, ia sudah dapat menyusul mereka. Bagaikan seekor harimau menerkam seekor domba dari belakang, kedua tangannya mencengkeram dan mencekik leher Gak Su dari belakang. Jari-jari kedua tangannya yang berkuku panjang dan runcing itu mencekik dan menembus kulit dan daging leher.

Cak Su mengeluarkan suara aneh, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman, akan tetapi kedua tangannya itu lalu merentang kaku, matanya melotot, mukanya berubah hitam dan ketika cekikan dilepaskan, dia pun terkulai dan roboh tanpa nyawa lagi dengan muka hitam dan mata melotot lidah terjulur keluar. Sejak Gak Su dicekik dari belakang, Ji Ban To sudah merasa tubuhnya menggigil dan kakinya seperti lumpuh. Dia menjatuhkan diri ke atas tanah dan berlutut, menyembah-nyembah meminta ampun sambil memandang kepada sutenya yang mengalami nasib mengerikan itu!

"Ampun, Lo-cian-pwe… ampunkan saya…!" ratapnya ketika dia melihat sutenya roboh dan tewas, dan wanita yang menakutkan itu berdiri sambil bertolak pinggang di depannya. Wajah yang cantik itu tersenyum manis, akan tetapi matanya yang mencorong itu membuat hati Ji Ban To menjadi semaki ketakutan. Dia melihat maut membayang pada mata itu dan walaupun ingin dia melarikan diri, namun tubuhnya mengigil dan kedua kakinya lumpuh, membuat dia hanya dapat mendekam di depan wanita itu.

“Ji Ban To, apa yang kau lakukan bersama Sutemu terhadap muridku itu?"

"Saya… saya… tidak melakukan apa-apa, hanya… hanya…" Dia begitu ketakutan sehingga untuk bicara amat sukar.

"Kalian telah memperkosanya?" bentak Ban-tok Mo-li.

Muncul sedikit harapan dalam hati Ji ban To ketika mendengar pertanyaan ini. Agaknya itulah yang menyebabkan kemarahan Ban-tok Mo-li, mengira bahwa muridnya telah mereka perkosa! Dan kenyataannya, dia belum memperkosanya!

"Tidak…! Tidak sama sekali, Lo-Cian-pwe! Saya… belum… eh, tidak memperkosanya, sama sekali tidak!"

"Hemmm, lalu kenapa engkau menelanjanginya dan mengikat kaki tangannya?"

"Eh… ohhh… yang menelanjangi dan membelenggu, hanya Sute… itu… lo-cian-pwe!" jelas nampak sifat pengecut dari pemuda itu yang begitu menghadapi ancaman lalu hendak menimpakan semua kesalahan kepada sutenya yang telah tewas.

Ban-tok Mo-li kembali tersenyum. Wanita yang sudah kenyang akan pengalaman di dunia ini tentu saja tidak mudah dibohongi begitu saja. "Bagus, dia yang menelanjangi dan membelenggu, dan engkau yang akan memperkosanya?"

"Tidak, tidak…!"

"Lalu apa yang kaulakukan? Hanya menonton?"

Ji Ban To tahu bahwa hal ini tidak mungkin. Dia harus mengakui kesalahan, akan tetapi kesalahan yang paling kecil. "Saya… saya tadi hanya... meciuminya beberapa kali, Lo-cian-pwe."

"Hemmm, menciumnya beberapa kali, ya? Agaknya engkau suka sekali menciumi perempuan. Nah, bangkitlah!"

Dengan tubuh menggigil, Ji Ban tidak berani membantah dan dia pun berdiri. Sejenak Ban-tok Mo-li mengamati pemuda ini dari kepala sampai ke kaki Seorang pemuda yang cukup tampan walaupun agak kurus dan mukanya pucat.

"Ji Ban To aku ingin merasakan bagaimana engkau menciumi muridku tadi Hayo kau cium aku!"

Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. "Mana saya… berani...?”

"Kau berani membantahku? Apak engkau ingin mampus seperti Sutemu tadi?"

"Tidak, tidak…!"

"Kalau begitu kau ciumi aku seperti engkau menciumi muridku tadi. Hayo cepat!"

Ji Ban To ketakutan setengah mati. Dengan tubuh menggigil, terpaksa dia memberanikan diri merangkul pundak wanita cantik itu dan mendekap mukanya, lalu mencium mulut yang tersenyum menggairahkan itu. Dasar dia pemuda yang sudah menjadi hamba nafsu. Biarpun tadinya ketakutan, begitu dia mencium dan merasa betapa mulut wanita cantik yang diciumnya itu membalas dengan mesra, dia pun mencium penuh nafsu.

Akan tetapi ketika dia hendak melepaskan ciumannya untuk bernapas, mulutnya melekat pada mulut itu dan merah mulutnya terasa seperti dibakar, rasa panas yang terus menyerang dirinya melalui mulut, masuk ke kerongkongan dan ke dada. Ciuman beracun! Dua lengannya yang tadi memeluk, kini meregang, matanya terbelalak dan suara aneh keluar dari kerongkongannya. Ketika Ban-tok Mo li melepaskan ciumannya, tubuh pemuda itu terkulai dan seluruh bibirnya nampak membiru!

Akan tetapi, kematian agaknya tidak datang tiba-tiba seperti yang dialami Cak Su dan hal ini agaknya memang disengaja oleh Ban-tok Mo-li. Melihat pemuda itu menggeliat-geliat Ban-tok Mo-li menggerakkan tangan menotok ke arah tengkuknya dan pemuda itu pun tak bergerak lagi karena telah tertotok. Ban-tok Mo-li berkelebat lenyap dari tempat itu.

"Subooo…!" Giok Cu memanggil ketika melihat bayangan subonya, akan tetapi subonya tidak menjawab. Ia mecoba untuk melepaskan belenggu kaki tangannya, namun ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya juga amat lelah. Giok Cu tak lama menunggu. Nampak dua bayangan berkelebat dan ternyata mereka adalah subonya bersama Ouw Kok Sian, tamu tinggi besar, majikan dari Pegunungan Liong-san, guru dari dua orang pemuda yang tadi hampir memperkosanya. Mereka berhenti di dekatnya dan terdengar subonya berkata,

"Nah, kau lihat sendiri keadaan muridku. Merekalah yang melakukannya!" Suara gurunya terdengar kaku dan marah.

"Keparat! Di mana mereka yang memalukan itu?"

"Mereka lari dan kukejar. Mari kita lihat, di sana mereka!"

Keduanya berkelebat lenyap dan sebentar saja, Ban-tok Mo-li dan Ouw Kok Sian telah berdiri di dekat tubuh Gak Su yang lagi sudah tidak bernyawa dan tubuh Ji Ban To yang tidak bergerak, akan tetapi masih hidup. Melihat gurunya, Ji Ban To mengeluh dan merintih. Melihat gurunya datang bersama Ban-tok Mo-li, tahulah dia bahwa gurunya tidak akan membelanya.

"Suhu… ampunkan teecu..." katanya memelas.

Dengan alis berkerut dan pandang mata marah, Ouw Kok Sian membentak, "Benarkah engkau dan Sutemu yang melakukan penghinaan terhadap murid Ban-tok Mo-li?"

"Suhu, kami berdua… tergila-gila olehnya… akan tetapi… Giok Cu menolak dan memukuli kami, terpaksa kami mengikatnya… tapi teecu… Teecu tidak memperkosanya, hanya menciumnya…" kata Ji Ban To dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya membengkak dan menghitam. "Ampunkan teecu, Suhu…"

Ouw Kok Sian menarik napas panjang. Bagaimanapun juga, Ji Ban To adalah muridnya, murid pertama. Dia menoleh kepada Ban-tok Mo-li. "Engkau telah membunuh muridku Gak Su sebagai hukuman. Apakah engkau tidak dapat mengampuni muridku yang satu ini? Dia pun telah mendapatkan hukuman, apakah itu belum memuaskan hatimu?"

"Ouw Kok Sian, engkau dan dua orang muridmu adalah tamu-tamu yang ku sambut dengan hormat dan dengan baik-baik. Akan tetapi dua orang muridmu telah menghina muridku. Aku telah membunuh seorang muridmu dan melukai muridmu yang ini, bagaimana pendapatmu? Apakah engkau tidak terima dan hendak menuntut balas?" Dalam ucapan itu terkandung kemarahan dan tantangan.

Ouw Kok Sian menarik napas panjang. "Aku sudah tahu akan kelihaianmu, Ban-tok Mo-li, akan tetapi bukan berarti aku takut padamu kalau kukatakan bahwa aku tidak ingin menuntut balas, aku mengerti sepenuhnya akan kemarahanmu dan aku mengakui kesalahan murid-muridku, maka aku mintakan maaf untuk mereka, dan kalau mungkin, ampunkanlah muridku Ji Ban To ini."

Wajah yang tadinya nampak marah itu melunak. Kalau gurunya sudah mengikut kesalahannya, maka itu pun cukuplah. Pula, rasa penasaran karena hinaan yang menimpa muridnya itu telah ditebus dengan nyawa seorang murid, dan murid yang lain juga akan mampus kalau ia tidak mengampuninya.

"Baiklah, melihat mukamu, biar aku mengampuni muridmu ini, Ouw Kok Sian. berikan obat ini kepadanya, minumkan dan sebagian untuk mengobati mulutnya, dan kau dapat mengusir hawa beracun dengan sin-kangmu." la mengeluarkan sebungkus obat bubuk kuning dari saku bajunya, menyerahkan bungkusan obat itu kepada Ouw Kok Sian.

Si Tinggi Besar ini menerimanya tanpa malu-malu lagi. Dia pun seorang tokoh dunia kang-ouw yang berpengalaman. Kalau hanya mengobati luka-luka biasa saja atau luka beracun yang tidak terlalu hebat, dia masih sanggup. Akan tetapi dunia ini, siapa mampu mengobati luka beracun akibat pukulan Ban-tok Mo-li?

Ban-tok Mo-li lalu meninggalkan tamunya yang mulai mengobati Ji BanTo lalu ia lari menghampiri muridnya, membuka ikatan kaki tangannya, dan membantu muridnya mengenakan pakaian Kemudian mereka berdua pun pulang dandi dalam perjalanan itu, Ban-tok Mo-li mengomeli muridnya.

"Sikapmu di ruangan sembahyang tadi sungguh tidak menyenangkan hatiku, Giok Cu. Engkau bahkan nyaris membikin malu hatiku, sungguh aku kecewa sekali padamu."

"Maaf, Subo. Akan tetapi hatiku tidak tahan melihat dua orang yang tidak berdosa itu akan dibunuh begitu saja!"

"Hemmm, engkau tahu bahwa mereka itu dijadikan korban. Gurumu ini berharap untuk mendapatkan berkah usia panjang, tentu saja dengan jalan menyerahkan korban. Kalau yang dijadikan syarat itu korban berupa binatang apa pun, tentu akan kupenuhi. Syaratnya ialah sepasang manusia, maka harus la dipenuhi. Engkau seperti anak kecil saja. Dan kulihat, perbuatanmu itu ternyata dikutuk oleh Thian-te Kwi-ong sendiri. Buktinya, begitu engkau mengacaukan upacara penyerahan korban, engkau hampir tertimpa malapetaka di pantai itu tadi. Kalau aku tidak kebetulan sedang mencarimu, apakah engkau akan dapat menyelamatkan diri? Engkau tentu sudah menjadi korban perkosaan dan sebulan kemudian engkau mati tersiksa!"

Giok Cu mengepal tinju. Akan tetapi ia menjawab lirih. "Terima kasih, Subo. Tentu mereka telah Subo bunuh, bukan?"

"Yang seorang telah kubunuh karena dia melarikan diri. Seorang lagi yang bernama Ji Ban To tidak kubunuh, hanya kuberi hajaran keras karena memandang muka gurunya dan dia sudah meminta ampun."

"Hemmm, mana mungkin mengampuni perbuatan mereka yang amat keji tadi. Biar kelak aku aku sendiri yang akan membunuhnya!" kata Giok Cu dengan suara mengandung kemarahan.

"Tidak ada untungnya menanam permusuhan dengan para murid Ouw Kok Sian. Apalagi dia tadi telah kuberi hajaran dan dalam keadaan setengah mati akan tetapi kutinggalkan obat penyembuhnya kepada gurunya. Lebih baik melupakan saja urusan itu, bukan engkau belum diperkosanya?"

"Tapi aku malu, Subo, aku merasa dihina bukan main. Biarlah kelak akan kucari jalan agar dia bermusuhan dengan aku sehingga ada alasan bagiku untuk membunuhnya!"

Ban-tok Mo-li yang mendengar hanya tersenyum saja, senyum acuh karena ia sendiri seorang yang tak pernah menghargai nyawa orang lain.

Semenjak peristiwa malam itu, Giok Cu berlatih silat semakin tekun karena ia ingin agar memperoleh kemajuan pesat dan mengalahkan orang-orang seperti Siangkoan Tek dan Ji Ban To yang sudah diangapnya sebagai musuh besarnya itu. Dan hanya ilmu-ilmu silat dari Ban-tok Mo-li saja yang dipelajarinya dengan tekun, termasuk ilmu-ilmu pukulan beracun.

Adapun mengenai cara hidup gurunya itu, sama sekali ia tidak merasa cocok, bahkan kadang-kadang ia muak melihat hal-hal yang dianggapnya memalukan yang dilakukan gurunya, seperti menculik orang-orang muda, memaksanya menuruti kehendaknya memuaskan nafsu-nafsunya, bergaul erat dengan tokoh-tokoh sesat dan lain kejahatan lagi.

Ia selalu menolak kalau diajak atau disuruh melakukan kejahatan oleh teman-teman gurunya. Agaknya Ban-tok Mo-li sendiri mengenal watak muridnya, maka ia pun tidak pernah memberi tugas kepada muridnya itu untuk melakukan hal yang berlawanan dengan watak muridnya itu.

Watak Giok Cu yang keras, tak mengenal takut, gagah bahkan liar dan ganas terhadap musuhnya, membuat Ban-tok Mo-li merasa kagum. Apalagi karena dari suaranya, pandang matanya dan sikapnya jelas bahwa murid itu juga mempunyai perasaan sayang kepadanya!

Kadang-kadang memang amat mengherankan kalau kita menemui seorang yang hidup sebagai seorang penjahat besar, yang sudah terbiasa melakukan segala macam kekejaman, dapat mempunyai perasaan sayang yang amat besar terhadap seseorang. Perasaan sayang yang amat mengharukan karena sungguh bertolak belakang dengan wataknya.

Seorang perampok besar yang biasanya membunuh orang lain dengan mata tanpa berkedip, dapat saja memiliki kasih sayang yang amat besar terhadap isterinya atau anaknya atau orang lain sehingga untuk orang itu dia mau berkorban apa pun juga, terhadap orang itu dia bersikap amat lembut dan mengalah. Ini membuktikan bahwa didalam diri setiap manusia itu terdapat dua sifat, yaitu sifat baik dan sifat buruk.

Diri manusia merupakan sumber daripada kebaikan dan keburukan yang bermunculan silih berganti dan seperti berlumba menguasai batin manusia yang melahirkan perbuatan-perbuatan baik maupun buruk. Padahal, sesungguhnya dasar dari semua ciptaan Tuhan adalah sempurna, karena Tuhan adalah Maha Sempurna, tidak ada seorang pun bayi yang jahat!

Pandang mata dan senyum tawa seorang bayi, bahkan tangisnya, adalah suci. Baru setelah pengertian pikiran menguasainya, akal budi dan pikiran ini yang memberi pupuk kepada si-akunya dan mulailah muncul sifat-sifat yang buruk itu. Hanya seorang manusia yang mengenal benar semua sifat jahatnya ini, yang secara seketika membersihkan diri dari semua sifat yang buruk.

Ia seolah-olah membersihkan kaca-kaca jendela yang kotor berdebu dan yang menghalangi masuknya sinar matahari, dan barulah dia menjadi pulih kembali seperti seorang bayi, bersih, wajar dan suci. Selama tindakan pembersihan diri ini tidak dilakukan secara seketika, maka segala usaha lain takkan ada gunanya. Menutup-nutupi kekotoran tidak akan mendatangkan kejernihan, satu-satunya jalan hanyalah membuang kotoran-kotoran itu seketika.


********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Pengemis atau orang yang berpakaian seperti pengemis penuh tambal-tambalan itu masih muda, kurang lebih dua puluh tahun usianya. Kalau melihat keadaan tubuhnya, sungguh tidak pantas dia mengenakan pakaian pengemis, atau pakaian yang butut penuh tambalan itu. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, sikapnya juga sopan, kepalanya selalu menunduk dan pendiam, langkahnya sopan dan gagah, tidak nanpak sikap rendah diri, matanya tajam cerdik, wajahnya cerah. Akan tetapi kenyataannya ketika berhenti di depan sebuah toko obat pemuda ini mengemis!

Biarpun sikap dan kata-katanya tidak seperti pengemis sembarangan yang memelas, namun tetap saja dia mohon pertolongan orang. Kepada pemilik toko obat di kota raja itu, sebuah toko obat yang besar, dia memberi hormat dan berkata dengan sikap yang hormat tanpa malu-malu.

"Harap Lo-ya (Tuan Tua) suka memaafkan saya kalau saya mengganggu. Saya mohon pertolongan Lo-ya untuk memberi sedekah berupa obat untuk orang yang sudah lanjut usia, obat panas dan batuk. Mohon kebaikan budi Lo-ya untuk menolong saya."

Pemilik toko obat yang usianya sudah ada enam puluh tahun, berperut gendut sekali seperti sebagian besar orang kaya di kota raja, memandang dengan alis berkerut. Pengemis ini tentu pengemis baru atau asing, pikirnya karena belum pernah dia melihat sebelumnya. Timbul rasa tidak sukanya melihat tubuh pengemis yang demikian sehat dan gagah, jauh lebih gagah daripada putera-puteranya.

"Hemm, sungguh engkau ini orang pemuda yang tidak tahu malu sama sekali Dia berkata sambil mengelus jenggotnya. "Engkau masih begini muda, kenapa tidak mau bekerja dan menjadi pengemis? Hayo pergi, aku tidak mau menolong orang malas! Pergi atau kupanggilkan penjaga keamanan agar engkau ditangkap!"

Pengemis muda itu menahan senyumnya. Sedikitpun dia tidak menjadi merah muka atau marah. Agaknya, cemooh dan makian seperti itu sudah terlalu sering dia terima sehingga dia sudah merasa kebal. Dia membungkuk lalu pergi seenaknya. Pengemis muda itu adalah Si Han Beng! Seperti kita ketahui, lima tahun yang lalu dia bertemu dengan gurunya yang kedua, yaitu Sin-ciang Kai-ong Si Raja Pengemis Bertangan Sakti dan menjadi muridnya.

Karena gurunya ini hidup berkelana sebagai seorang pengemis maka Han Beng juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan gurunya berpakaian sebagai pengemis, bahkan juga minta-minta untuk makan mereka sehari-hari. Pernah Han Beng mengajukan rasa penasaran dalam hatinya mengapa gurunya hidup sebagai pengemis.

"Suhu adalah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi di jaman ini. Kalau Suhu menghendakinya, dengan kepandaian itu, suhu dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan, atau dapat menjadi usahawan yang berhasil, bahkan kalau Suhu memerlukan harta benda, apa sukarnya? Akan tetapi mengapa Suhu bahkan menjadi seorang pengemis? Maaf, suhu, bukankah masyarakat umum memandang pengemis itu sebagai orang yang yang rendah, hina dan pemalas?"

Sin-ciang Kai-ong sama sekali tidak marah, bahkan tertawa bergelak mendengar pertanyaan muridnya itu, "Uwah, ha-ha-ha! Han Beng, muridku yang baik, apakah engkau sungguh-sungguh tidak melihat betapa mulianya pengemis dan betapa besar jasa-jasanya, asalkan dia menjadi pengemis seperti kita ini, bukan karena malas?"

Han Beng maklum bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki watak aneh, akan tetapi dia percaya penuh akan kesaktian dan kebijaksanaan kakek berpakaian jembel itu. Mendengar ucapan itu dia memandang heran.

"Mulia dan berjasa besar? Teecu sungguh tidak mengerti apa yang Suhu maksudkan."

"Dengarlah baik-baik, muridku..." Wajah yang biasanya suka tertawa dan cerah itu kini memandang serius, dan suaranya yang biasanya suka berkelakar itu kini terdengar bersungguh-sungguh. "Aku adalah seorang kelana yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, tidak lebih dari satu dua hari berada di suat tempat. Ini menyebabkan tidak mungkin aku bekerja mencari sesuap nasi. Orang tentu takkan mau mempergunakan tenaga orang yang tinggalnya tidak tetap dan hanya untuk sehari dua hari saja. Bukan karena malas, melainkan terpaksa aku mengemis untuk mengisi perut mempertahankan hidup. Bukankah lebih baik mengemis daripada mencuri atau merampok? Sekarang mengapa kukatakan mulia? Karena pekerjaan ini merupakan latihan yang amat baiknya bagi kita, bagi engkau terutama, Han Beng. Dengan mengemis, engkau belajar untuk rendah hati! Latihan ini menghilangkan kesombongan diri, menghilangkan pandangan terlalu tinggi kepada diri yang hanya memperbesar perasaan si-AKU yang serba hebat! Dan mengapa berjasa? Karena, mengemis setidaknya membangkitkan rasa perikemanusiaan dalam hati orang baik, menyentuh perasaan mereka untuk menaruh iba kepada sesama hidup yang sedang menderita kesusahan."

Demikianlah, semenjak memperoleh keterangan dari gurunya, Han Beng tidak merasa malu-malu atau ragu-ragu lagi untuk mengemis! Bahkan dia menganggap hal ini sebagai suatu latihan batin yang baik sekali. Dia kini dapat melihat sikap orang yang menghinanya, mencemoohkannya, tanpa perasaan marah atau sakit hati sedikit pun, bahkan diam-diam mentertawakan mereka, dan dari sikap mereka itu dia dapat mempelajari banyak watak manusia. Latihan ini amat baik untuk memupuk kesabaran, pandangan yang luas dan perasaan rendah hati yang mendalam.

Demikianlah, ketika dia diusir oleh majikan toko obat yang perutnya gendut, dia pergi tanpa merasa sakit hati. Hanya hatinya merasa agak gelisah. Dia tidak membohong ketika mengemis obat. Gurunya jatuh sakit! Gurunya terserang penyakit demam panas dan batuk! Heran juga dia bagaimana seorang sakti seperti gurunya dapat terserang penyakit.

Hal ini mengingatkan dia akan kenyataan bahwa betapapun tinggi kepandaian seseorang, namun badan manusia ini perlu dirawat sebaiknya, menjaga kesehatan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, kebersihan harus dijaga. Kepandaian silat membuat orang pandai melindungi dirinya terhadap serangan dari luar memperbesar tenaga dan kecepatan. Akan tetapi terhadap penyakit yang menyerang entah dari mana, yang tidak nampak. Seorang pesilat yang betapa pandai pun takkan mungkin dapat mengelak atau menangkis!

Dan tubuh ini takkan bebas dari penyakit, usia tua dan kematian. Biarpun gurunya menerima datangnya penyakit itu dengan tenang dan sabar, namun Han Beng merasa gelisah dan dia merasa iba kepada suhunya. Demikianlah kalau orang hidup sebatang-kara, tiada keluarga dan tiada rumah. Kalau sakit, tidak ada yang merawat, tidak ada yang mempedulikan...