Social Items

SUDAH sejak pagi sekali tadi dia mengemis obat, namun hasilnya selalu berupa penghinaan, makian dan cemoohan. Ingin rasanya sekali ini dia melanggar pantangan suhunya. Betapa mudahnya meloncat naik ke atas genteng rumah atau toko obat itu, melalui genteng masuk ke dalam dan mencuri obat apa saja yang dia butuhkan! Takkan ada yang tahu. Andaikata ada yang tahu juga, dia dapat menyelamatkan diri dengan amat mudahnya!

Terjadi perang dalam batinnya antara yang mendorong dia untuk mencuri saja dan yang menentangnya. Pada saat itu, dia melihat sebuah toko obat lain lagi di depan. Tempat itu agak ramai, dekat dengan pasar dan dalam batinnya Han Beng mengambil keputusan bahwa kalau sekali lagi dia gagal mendapatkan obat dengan jalan mengemis, dia akan mencuri saja! Untuk satu kali saja, karena dia amat membutuhkan obat.

Toko obat di depan itu tidak sebesar toko obat yang baru saja mengusirnya, akan tetapi dia melangkah tanpa ragu ke depan pintu toko itu. Dia melihat bahwa penjaga toko itu seorang gadis berusia delapan belas tahunan, dibantu oleh orang pegawai pria yang usianya sudah setengah tua. Gadis dan dua orang pegawainya itu memandang kepada Han Beng, dan terutama sekali kepada pakaiannya yang tambal-tambalan. Dua orang pegawai mengerutkan alisnya, jelas kelihatan tidak senang hati mereka. Seorang diantara mereka bahkan segera menegur.

"Engkau datang ke sini mau apa? sini menjual obat, bukan menjual makanan. Kalau engkau hendak minta-minta…"

"Kulihat tidak ada sabuk merah pinggangmu! Kami tidak dapat memberi sedekah kepadamu…"

"Paman!" tiba-tiba gadis itu menegur dengan suara yang keras kepada dua orang pegawainya. "Kalian tidak boleh sikap seperti itu!"

Dua orang pegawai itu menundukkan muka dan kelihatan sungkan dan patuh kepada nona mereka. Kini gadis itu bangkit berdiri dan menghadapi Han Beng, hanya terhalang lemari tempat obat. Sejenak mereka saling pandang penuh perhatian. Biarpun tidak secara langsung, Han Beng mengamati gadis itu.

Seorang gadis berusia delapan belas tahun, bertubuh ramping dan agak tinggi kalau dibandingkan dengan wanita pada umumnya, wajahnya manis dan anggun, dengan mata yang jernih dan mulut yang ramah. Gadis itu pun membayangkan keraguan dan keheranan dalam pandang matanya ketika ia mengamati Han Beng penuh selidik. Seorang pemuda yang begini gagah, juga tubuhnya terawat baik dan bersih, biarpun mengenakan. pakaian tambal-tambalan, agaknya tentu bukan seorang peminta-minta! la pun memperlihatkan senyumnya yang manis dan ramah sebelum bicara dengan suara halus.

"Harap Saudara memaafkan sikap dua orang pegawai kami. Maklumlah mereka seringkali diganggu oleh para peminta-minta sehingga sikap mereka agak kaku. Dapatkah kami membantu Saudara. Di sini kami mempunyai persediaan lengkap."

Ini merupakan pengalaman baru bagi Han Beng yang membuat wajahnya agak kemerahan! Dia biasanya diterima dengan pandang mata iba atau cemooh, akan tetapi baru sekali orang menghadapinya sebagai bukan jembel, sebagai seorang pembeli biasa! Menghadapi pengalaman baru ini, Han Beng agak tertegun dan betapa dia mengharapkan saat itu ada uang cukup di sakunya agar dia dapat benar-benar membeli obat yang di butuhkan. Apalagi pandang mata gadis itu demikian penuh kepercayaan, sedikit pun tidak ada bayangan mengejek atau menghina dalam pandang mata itu. Akan tetapi dia harus menyadari kenyataan dan dengan "menebalkan" muka, dia pun berkata, suaranya lembut.

"Saya memang membutuhkan obat, Nona. Guruku sakit, terserang demam panas dan batuk, sudah dua minggu…"

"Demam panas dan batuk? Ah, tentu ada obat untuk itu! Gurumu itu, berapakah usianya?"

"Sekitar enam puluh lima tahun, Nona.”

"Baiklah, kau tunggu sebentar, biar diambilkan obatnya. Paman Ji, tolong berikan obat untuk penyakit demam panas dan batuk yang diderita seorang tua. Oya, berapa bungkuskah yang Saudara kehendaki? Sebungkus untuk sekali masak dan diulang sampai dua kali, Air dua mangkok tinggalkan setengah mangkok."

"Secukupnya sampai sembuh, Nona."

"Kukira tiga bungkus pun sudah cukup. Sediakan tiga bungkus, Paman Ji!"

Pembantunya itu segera mengumpulkan obat rempah-rempah dan menimbanginya, dipersiapkan di atas kertas pembungkus sebagai tiga helai.

"Maafkan saya, Nona. Saya memang membutuhkan obat untuk guruku yang sakit, akan tetapi… saya… Maksud saya… hendak mohon bantuan Nona untuk memberikanbobat kepada saya. Saya tidak mempunyai uang untuk membelinya…"

Gadis itu nampak tercengang. Kiranya benar juga dua orang pembantun tadi. Pemuda itu mengemis! Sungguh luar biasa. Sama sekali tidak pantas menjadi pengemis.

"Nah… nahhh… betul tidak dugaan kami, Nona? Dia tentu hanya datang untuk mengemis! Sungguh tidak tahu malu, masih muda dan kuat lagi, dan bukan anggauta Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah). Pergilah kau dari sini!"

"Sssttt, Paman Ji! Diam kau, biar aku yang mengurus persoalan ini!" bentak gadis itu. Kemudian ia menghadap Han Beng dan suaranya halus ketika berkata, "Saudara, tahukah gurumu bahwa engkau pergi mencarikan obat untuknya dengan jalan minta-minta?"

"Tentu saja dia mengetahuinya..."

Gadis itu membelalakkan matanya yang indah. "Dan dia tidak melarang muridnya melakukan hal yang merendahkan namanya itu?"

Han Beng tersenyum dan membayangkan betapa suhunya akan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ini. Suhunya yang berjuluk Raja Pengemis, melarang muridnya mengemis?bAlangkah lucunya pertanyaan gadis itu.

"Guruku sendiri juga suka mengemis mengapa dia harus melarang saya?"

Seorang pembantu gadis itu yang masih merasa penasaran lalu berkata. "Mungkin gurunya seorang pengemis dan yang diajarkan adalah ilmu mengemis!"

Gadis itu menoleh dan melotot pada pembantunya, akan tetapi Han Beng yang sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu, cepat berkata,

"Benar sekali, memang guruku seorang pengemis dan yang diajarkan kepadaku adalah ilmu mengemis. Nona, maukah Nona menolongku, ataukah tidak? Kalau tidak saya akan mengemis ke toko lain…"

"Ah, boleh, boleh… tentu saja akan kuberi, bukankah sudah dibungkuskan obat itu?" Gadis itu lalu mengambil tiga bungkus obat dan hendak diserahkan kepada Han Beng, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Tidak boleh! Tidak boleh memberi apa pun juga kepada pengemis busuk yang lancang ini!"

Ketika semua orang menoleh, ternyata telah muncul tiga orang laki-laki usia empat puluh tahun dan lucunya, yang melarang orang memberi bantuan pada Han Beng yang dimaki sebagai seorang pengemis busuk itu… adalah juga orang berpakaian pengemis pula!

Seperti juga Han Beng, tiga orang pendatang ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, akan tetapi kainnya masih baru, agaknya memang sengaja dibuat tambal-tambalan dari kain-kain berwarna-warni dan berkembang. Di pinggang mereka terdapat sabuk merah. Ini menandakan bahwa mereka adalah tiga orang anggota Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah) yang amat terkenal di kota raja.

Seluruh pengemis kota raja adalah anggauta Ang-kin Kai-pang dan mereka semua mengenal sabuk merah sebagai tanda bahwa mereka adalah anggauta perkumpulan itu. Ang-kin Kai-pang menganggap bahkan merekalah yang berhak menguasai seluruh kota raja dan daerahnya, dan setiap orang pengemis bukan anggauta, baik dari dalam maupun luar kota, tidak diperbolehkan mengemis di kota raja daerahnya tanpa seijin mereka!

Dan untuk menertibkan ini, jagoan-jagoan Ang-kin Kai-pang setiap hari mengada perondaan dan kini, yang muncul depan toko obat melarang pemilik toko obat memberi sedekah kepada Han Beng adalah tiga orang tukang pukul Ang-Kai-pang. Perkumpulan ini memang berpengaruh sekali dan ditakuti orang, mereka bukan saja menghimpun para penjahat untuk bergabung dan menjadi tukang-tukang pukul.

Akan tetapi bahkan mereka sanggup mendekati para pembesar dan dengan jalan memberi suapan-suapan besar-besaran perkumpulan ini menjadi "sahabat" para pembesar tinggi. Orang tentu akan merasa heran bagaimana perkumpulan pengemis mampu menyewa tukang-tukang pukul bahkan menyuap para pembesar? Hasil mereka itu besar bukan main!

Setiap orang anggauta diwajibkan untuk menyerahkan sepuluh prosen dari hasil mereka mengemis kepada perkumpulan itu. Perkumpulan ini, dari ribuan bahkan puluhan ribu pengemis di kota raja dan daerahnya, tentu saja merupakan harta yang amat besar jumlahnya. Dan perkumpulan itu pun dipimpin oleh orang-orang yang pandai, bahkan kabarnya yang duduk paling atas adalah seorang datuk sesat yang sakti!

Han Beng yang sudah kegirangan mendapatkan obat yang dibutuhkannya, ketika siap menerima tiga bungkus obat itu dengan pandang mata bersyukur, tentu saja mendongkol juga melihat sikap tiga orang ini. Mereka itu pun pengemis-pengemis, seperti dia, bagaimana kini mengganggu sesama "rekan"? Belum pernah dia menjumpai kekurangajaran seperti itu!

"Kawan-kawan," katanya tenang namun tegas. "Mengapa kalian datang-datang melarang orang memberi pertolongan kepadaku dan mengapa pula kalian memaki aku?"

Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar dan hidungnya merah sekali, besar dan merah seperti jambu masak, menepuk-nepuk perutnya yang gendut. "Bocah lancang! Apakah matamu sudah buta dan engkau tidak melihat sabuk merah ini? Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang, dan engkau pengemis busuk ini berani bertanya lagi mengapa kami melarang engkau pengemis di sini? Apakah engkau sudah mendapatikan ijin dari pimpinan kami?"

Han Beng tertawa, di dalam hatinya dia bahkan tertawa bergelak. Minta-minta saja harus mendapat ijin! Ijin mengemis! "Tidak, aku tidak pernah mendapatkan ijin, bahkan tidak pernah meminta ijin. Aku hanya lewat saja di kota raja ini, bukan untuk menetap dan melakukan, pekerjaan mengemis."

"Pengemis tetap maupun mengemis sementara harus mendapat ijin lebih dulu dari pimpinan kami Pendeknya, engkau harus cepat pergi dari sini!"

"Aku pergi... aku pergi...!" kata Han Beng, tidak mau mencari keributan di tempat orang.

"Nanti dulu, kau terimalah obat-obat untuk gurumu yang sakit," kata gadis itu. la menyerahkan obat itu sambil keluar dari tokonya, menghampiri Han Beng.

Han Beng juga menjulurkan lengan untuk menerimanya. Akan tetapi, tiba-tiba pengemis perut gendut itu menggerakkan tangannya menampar ke arah bungkusan obat yang akan diserah terimakan itu.

"Plakkkkk" Bungkusan-bungkusan itu terlepas dari tangan Si Gadis dan terlempar ke atas tanah! Kini gadis itu membalikkan tubuh menghadapi Si Gendut, mukanya marah sekali, alisnya berkerut dan sepasang matanya mencorong. Pengemis gendut itu menyeringai, dan agaknya merasa gugup juga melihat betapa gadis itu kini menghadapi dengan penuh kemarahan.

"Nona, jangan memberikan apa-apa kepadanya. Kalau diberikan juga, tak urung kami akan merampas barang itu dari tangannya, bahkan dia akan kami pukul setengah mati."

Gadis itu sejak tadi diam saja, akan tetapi sinar matanya seperti hendak membakar wajah orang. Tiba-tiba, tangan kirinya bertolak pinggang, tangan kanannya menuding ke arah tiga buah bungkusan yang berserakan di atas tanah, lalu dia berkata kepada pengemis perut gendut dengan suara memerintah.

"Ambil...!!"

Pengemis gendut itu terbelalak, memandang ke arah bungkusan-bungkusan itu lalu kepada Si Nona yang bersikap galak. Tentu saja dia tidak sudi melaksanakan perintah yang dianggapnya menghina itu. Dia adalah seorang diantara tokoh Ang-kin Kai-pang yang terkenal, ditakuti dan biarpun dia berpakaian pengemis, namun sabuk yang terlilit dipingangnya berwarna merah cerah, bukan merah muda sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada para anggauta lainnya. Dia biasa memerintah, bukan diperintah, kecuali tentu saja oleh para pimpinan Kai-pang yang lebih tinggi kedudukannya, atau atasannya.

"Ambil, kataku! Apakah engkau tuli?" bentak gadis itu dengan suara semakin lantang.

Pengemis ke dua yang bertubuh tinggi kurus dan agak bongkok segera menjawab dengan suara memprotes. "Nona, mengapa Nona hendak membela pengemis asing ini? Siapa tahu dia ini seorang mata-mata, atau seorang jahat yang hendak mengacaukan kotaraja dengan menyamar sebagai pengemis. Hanya pengemis Ang-kin Kai-pang yang boleh dipercaya!"

"Aku tidak membela siapa-siapa hanya menentang kalian yang kurang ajar. Obat itu adalah milikku, akan kuberikan kepada siapapun juga, kalian peduli apa? Bukan milik nenek moyangmu! engkau sudah berani memukulnya hingga tiga bungkusan itu terjatuh, ke atas tanah. Sekarang kuperintahkan kalian untuk mengambilnya kembali dan menyerahkan kepadaku, ataukah aku harus memaksa kalian?"

Diam-diam Han Beng terkejut dan dia siap siaga. Nona ini memang amat baik dan gagah, akan tetapi juga sembrono sekali. Dia dapat melihat bahwa tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang ini sedikit banyak tentu pandai ilmu silat dan sudah terbiasa memaksakan kehendak mereka dengan kekerasan. Dan gadis itu berani menentang mereka!

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Si Perut Gendut menjadi merah mukanya. Namun agaknya dia masih menjaga gengsi, tidak ingin ribut dengan seorang gadis cantik, maka dia masih menganggap bahwa gadis itu tentu belum mengenal siapa mereka.

"Nona, dengar dan lihat baik-baik. Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang," Dia menepuk pinggangnya memperlihatkan sabuk merah cerah yang menjadi tanda anggauta dan tingkat, "dan kami datang untuk menyelamatkan Nona dari tipuan pengemis busuk ini. Semua pengemis di kota raja adalah anggauta kami, Nona, dan orang ini adalah penyelundup dari luar kota."

"Tidak peduli!" Gadis itu membentak. "Biar kalian pengemis dari neraka pun tidak berhak melarang aku menolong siapa saja. Hayo cepat ambil bungkusan-bungkusan obat itu!"

Si Perut Gendut kini menjadi marah. Dia merasa ditantang oleh seorang gadis muda! "Hem, bagaimana kalau kami tidak mau, Nona?"

Gadis itu tersenyum dingin. "Terpaksa aku akan memaksa kalian untuk melakukannya!"

Tiga orang pengemis itu saling pandang, lalu tertawa. Si Tinggi Kurus bertanya, "Ha-ha-ha, bagaimana caranya Nona?"

"Caranya begini!" Tiba-tiba tubuh gadis itu menerjang kedepan dan sebelum Si Tinggi Kurus itu sempat mengelak atau menangkis, dua kali ujung sepatunya menendang lutut dan tangannya mendorong. Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Si Kurus itu terjengkang, pantatnya yang tipis terbanting ke atas tanah, sehingga dia meringis kesakitan. Debu mengepul dan gadis itu berkata, "Nah, ambillah bungkusan itu!"

Dua orang temannya menjadi terkejut bukan main. Sungguh mereka tidak menyangka akan ada orang berani menjatuhkan seorang di antara mereka dan yang berani melakukan hal itu justeru seorang gadis muda! Pengemis ke tiga yang mukanya hitam karena suatu penyakit sehingga kulit muka itu tebal dan keras kasar, menerjang ke depan dan kedua tangannya mencengkeram untuk menangkap kedua pundak gadis itu.

Namun, dengan gerakan lincah sekali, gadis itu menggeserkan kaki memiringkan tubuhnya. Dengan kecepatan luar biasa, sambil memiringkan tubuh, pada saat tubuh pengemis itu lewat dan luput menerkamnya, lututnya diangkat dengan tiba-tiba, tepat menyambut perut lawan.

"Ngekkk!" perut itu dimakan lutut membuat Si Pengemis membungkuk memegangi perut. Gadis itu melihat sasaran lunak ketika tubuh itu membungkuk, yaitu tengkuk yang telanjang, maka tangan kirinya cepat membacok ke arah tengkuk.

"Kekkk!" tubuh orang itu pun terjungkal!

"Nona, engkau keterlaluan, berarti menentang kami!" bentak Si Perut Gendut.

"Kalian yang kurang ajar dan patut diberi pelajaran agar tidak mengganggu orang lain!"

Sementara itu, Han Beng memandang dengan hati lega dan kagum. Kiranya nona itu lihai! Gerakannya begitu cepat dan otomatis, juga pandai mengatur gerakan menggunakan tenaga secara tepat sekali.

Akan tetapi kini Si Gendut sudah mengangkat tongkatnya, sebatang tongkat hitam terbuat dari bambu yang ujungnya dipasangi besi runcing! Dan dengan senjata ini, dia menyerang gadis itu! Han Beng terkejut dan dia sudah siap siaga untuk melindungi gadis itu. Akan tetapi segera dia tahu bahwa gadis itu tidak memerlukan perlindungannya karena dengan amat sigapnya, gadis sudah mengelak dengan mudah.

Dan kini, dua orang pengemis lainnya sudah la menggunakan tongkat mereka untuk mengeroyok. Tiga batang tongkat dengan ujung besi runcing menyambar-nyambar kearah Si Gadis yang dengan lincahnya mengelak ke sana-sini bagaikan seekor burung walet saja. Kini gadis itu dengan cepat menyambar sebatang kayu pengganjal pintu toko yang panjangnya sekitar dua meteran yang besarnya sekepalan tangan. Dengan senjata sederhana serupa toya ini, gadis itu menghadapi tiga batang tongkat lawan dan kini ia bersilat dengan indah dan cepatnya. Han Beng terbelalak kagum karena dia mengenal ilmu silat yang dasarnya tak salah lagi tentu ilmu dari Siauw-lim-pai!

Karena toko obat itu terletak di jalan raya dekat pasar, maka perkelahian depan toko itu menarik perhatian orang dan sebentar saja tempat itu telah dilingkari banyak orang yang menonton, mereka itu agaknya tadi mengira bahwa ada serombongan pemain silat atau pedagang obat mengadakan pertunjukan di situ. Akan tetapi ketika mereka mengenal tiga orang anggauta Ang-ki Kai-pang, mereka menjadi terkejut. Ada rasa girang di dalam hati mereka bahwa kini ada orang berani menentang tiga tokoh Perkumpulan Jembel itu, dan orang itu bahkan hanya seorang gadis muda!

Karena takut kalau tiga bungkusan obat itu terinjak mereka yang sedang berkelahi, maka Han Beng sudah memungutinya. Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan akan keselamatan gadis itu tentu dia sudah pergi, tidak ingin terlibat dalam perkelahian. Akan tetapi di harus menjaga keselamatan gadis yang telah menolongnya itu.

Permainan toya gadis itu memang hebat, dan Siauw-lim-pai memang terkenal sekali dengan permainan toya ini. Hal ini tidak mengherankan karena Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh para pendeta biara Siauw-lim-si, di mana para muridnya adalah para hwesio. Senjata yang paling tepat bagi seorang hwesio untuk membela diri kalau diserang musuh adalah toya yang dapat dipergunakan pula sebagai sebatang tongkat atau untuk memukul barang bawaan.

Han Beng memandang kagum. Gadis Itu memang lihai dan begitu toyanya diputar dengan amat cepatnya, tiga orang pengemis itu terdesak dan mundur. Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan bentakan melengking panjang dan ujung toyanya tergetar keras, membuat gerakan melengkung dan begitu gulungan sinar toya berkelebat, dua orang pengeroyok roboh.

Yang seorang lagi, Si Muka Hitam, terkejut dan dengan nekat menghantamkan tongkatnya ke arah tengkuk gadis itu dari belakang. Namun, tanpa kesukaran sedikit pun, gadis itu membalikkan toyanya ke belakang, menangkis tongkat, tubuhnya membuat gerakan memutar dan di lain saat toyanya sudah menyodok ke arah dada orang itu sehingga dia pun jatuh terjengkang!

Tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang itu terengah-engah, Si Gendut Perut itu kepalanya benjol besar, Si Tinggi Kurus meringis karena kaki kanannya terkena sambaran toya sehingga tulang keringnya terasa seolah remuk, dan Si muka Hitam dadanya sesak. Gadis itu menghentikan gerakannya, berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tang kanan memegangi toya yang didirikan, sikapnya gagah, matanya mencorong, tiga orang pengemis itu tahu diri. Mereka bangkit dan tanpa banyak cakap lagi berjalan pergi terhuyung-huyung.

Semua orang memuji kehebatan gadis itu, akan tetapi mereka yang mengenal kekuasaan Ang-kin Kai-pang merasa khawatir akan keselamatan gadis pemilik toko obat. Para penonton itu pun bubar dan dan Han Beng menjura dengan penuh hormat kepada Si Gadis perkasa.

"Sungguh saya bersukur sekali bahwa Nona telah menolong saya dan guru saya. Terima kasih, Nona."

"Ah, tidak mengapalah, Saudara. Engkau dan gurumu adalah pengembara dan gurumu sakit, sudah sepatutnya kalau aku memberi obat kepadamu. Dan mengenal tiga orang tadi, mereka sendiri yang mencari penyakit dan memang perlu dihajar."

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dandua orang laki-laki menghentikan kuda mereka di depan toko itu. Han Beng melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sastrawan, dan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih berpakaian ringkas dan bersikap gagah.

Ketika dua orang laki-laki itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, gadis itu cepat menghampiri laki-laki yang berpakaian sastrawan. "Ayah! Engkau baru pulang?"

Akan tetapi ayahnya memandangnya lengan wajah heran, sama sekali tidak gembira, bahkan suaranya terdengar marah ketika dia bertanya, "Hui Im, apa yang kudengar ketika memasuki kota tadi? Engkau membela seorang pengemis asing dan berkelahi dengan tiga orang anggauta Ang-kin Kai-pang?"

Gadis itu menghadapi ayahnya dengan sikap tenang, tegas dan bertanggung jawab. "Benar, Ayah. Dan dia inilah Saudara yang telah kutolong itu katanya menunjuk kepada Han Beng masih berdiri dengan hati tidak enak.

Majikan toko obat itu bernama Kun Tiong atau di kota raja terkenal dengan nama Souw Sian-seng, seorang ahli obat atau seorang tabib yang seringkali menerima undangan untuk mengobati orang sakit, akan tetapi juga membuka toko obat yang diurusi puterinya. Puterinya itu anak tunggal bernama Souw Hui Im. Ibu gadis ini, telah lama meninggal dunia.

Souw Kun Tiong atau Souw Sian memandang sejenak kepada Han Beng lalu dia membalik menghadapi puterinya lagi, menuntut, "Apa yang telah terjadi? Dalam suaranya masih terkandung rasa tidak senang. Dia menganggap puterinya mencari gara-gara saja, karena dia tahu benar siapa itu Ang-kin Kai-pang perkumpulan yang amat berpergaruh di kota raja, bahkan mempunyai hubungan baik dengan para pembesar yang kuasa.

"Sesungguhnya aku tidak bersalah. Ayah,” kata Hui Im yang dapat melihat bahwa ayahnya marah. "Mula-mula Saudara ini datang dan minta pertolongan, agar diberi obat untuk gurunya yang sedang sakit panas demam dan batuk, karena kulihat dia seorang pengembara yang sedang dirundung malang, maka aku memberinya obat yang dimintanya. Tiba-tiba muncul tiga orang pengemis Ang-Kai-pang itu yang bersikap sombong dan melarang aku memberikan obat kepada Saudara ini. Tentu saja aku marah, Ayah. Mereka tidak berhak melarangku memberikan obat milikku sendiri kepada siapapun juga. Mereka malah menghina saudara ini, mengusirnya dan melarangku menyerahkan obat. Maka terjadilah perkelahian itu dan mereka melarikan diri."

Dengan alis masih berkerut, Souw Han-seng menghadapi Han Beng. Sejenak dia mengamati pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah itu, lalu karena penyesalannya bahwa puterinya menanam permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang gara-gara pemuda ini, dia pun berkata dengan suara penuh sesalan dan kemarahan.

"Orang muda, tidak malukah engkau! Engkau masih muda belia, bertubuh sehat dan kuat, akan tetapi ada orang-orang menghinamu, engkau diam saja tidak membela diri sendiri, bahkan mengandalkan seorang wanita untuk membelamu! Tidak malukah engkau menjadi seorang pengecut?"

"Ayah!" Hui Im berseru.

"Diam kau!" bentak ayahnya yang masih menghadapi Han Beng, melanjutkan kata-katanya. "Orang muda, gara-gara " engkau, anakku menanam bibit permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang, berarti kami menghadapi kesulitan besar. Karena engkau menjadi gara-gara, maka engkau perlu dihajar agar semua orang tahu bahwa aku, Souw Kun Tiong, sebetulnya tidak mau mencampuri urusan antara pengemis. Biarlah engkau berhadapan sendiri dengan Ang-kin Kai-pang? Nah, bersiaplah, orang muda, aku akan menghajarmu seperti tadi anakku menghajar orang-orang Ang-kin Kai-pang!"

Han Beng terbelalak, kebingungan, tentu saja dia tidak ingin berkelahi dengan orang lain, apalagi orang ini adalah ayah kandung dari gadis yang telah menolongnya tadi. Akan tetapi dia pun mengerti apa yang dimaksudkan orang tua ini. Dia hendak menghajarnya di depan umum sehingga kalau Ang-kin Kai-pang mendengar akan hal ini, mereka akan menganggap bahwa keluarga Souw sebetulnya tidak membela Han Benig, melainkan terjadi kesalahpahaman saja antara Nona Souw dan tiga orang murid atau anggauta Ang-kin Kai-pang. Han Beng menjura kepada Souw Sian-Seng,

"Tuan, harap maafkan saya. Sesungguhnya saya datang ke toko ini tidak ada maksud lain kecuali minta bantuan agar diberi obat untuk guruku yang sedang sakit. Saya sama sekali tidak mencari keributan atau perkelahian. Kalau memang Tuan tidak rela memberi obat ini untuk guruku, biarlah saya kembalikan saja."

"Hemmm, puteriku telah memberi obat itu, tidak akan kami tarik kembali akan tetapi untuk membuktikan bahwa kami tidak berpihak dalam urusanmu dengan Ang-kin Kai-pang, aku harus menghajarmu!"

Souw Sian-seng maklum bahwa di tempat ramai itu tentu terdapat banyak mata-mata Ang-kin Kai-pang yang dapat mendengarkan semua ucapannya dan dapat menyaksikan pula dia menghajar pemuda itu agar melaporkan hal itu kepada pimpinan Ang-kir Kai-pang. Dia sudah melangkah maju, siap untuk menghajar Han Beng.

"Suheng, tahan dulu…!" tiba tiba orang yang tadi datang bersama Souw Sian-seng, melompat maju dan memeggangi lengan tabib itu.

Orang berusia empat puluh tahun lebih ini bernama Hui Siong dan dia adalah seorang di antara murid-murid Siauw-lim-pai yang berhasil melarikan diri ketika Kuil Siauw-Lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah. Dalam pelariannya, dengan aman dia bersembunyi dan mondok dirumah tabib itu yang juga merupakan murid Siauw-lim-pai, akan tetapi merupakan 'murid luar' yang tidak tinggal di kuil. Di sini dia hidup aman karena tentu saja para perwira pasukan pemerintah tidak menyangka bahwa orang Siauw-lim-pai ada yang berani tinggal di kota raja!

Melihat sutenya menahan dia yang hendak menghajar pengemis muda itu, Souw Sian-seng merasa heran dan memandang sutenya dengan alis berkerut, Gui Siong mendekatkan mulutnya ketelinga suhengnya dan membisikkan,

"Dia adalah Naga Sakti seperti yang pernah kuceritakan padamu, Suheng...!"

Tentu saja Souw Sian-seng terkejut bukan main dan hanya berdiri seperti patung mengamati Han Beng yang tidak mengenal apa yang dibicarakan kedua orang itu. Dia rasanya pernah melihat orang yang datang bersama ayah kandung gadis itu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh kurus, wajahnya tampan, rambut penuh uban dan matanya lebar sekali itu...

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 18

SUDAH sejak pagi sekali tadi dia mengemis obat, namun hasilnya selalu berupa penghinaan, makian dan cemoohan. Ingin rasanya sekali ini dia melanggar pantangan suhunya. Betapa mudahnya meloncat naik ke atas genteng rumah atau toko obat itu, melalui genteng masuk ke dalam dan mencuri obat apa saja yang dia butuhkan! Takkan ada yang tahu. Andaikata ada yang tahu juga, dia dapat menyelamatkan diri dengan amat mudahnya!

Terjadi perang dalam batinnya antara yang mendorong dia untuk mencuri saja dan yang menentangnya. Pada saat itu, dia melihat sebuah toko obat lain lagi di depan. Tempat itu agak ramai, dekat dengan pasar dan dalam batinnya Han Beng mengambil keputusan bahwa kalau sekali lagi dia gagal mendapatkan obat dengan jalan mengemis, dia akan mencuri saja! Untuk satu kali saja, karena dia amat membutuhkan obat.

Toko obat di depan itu tidak sebesar toko obat yang baru saja mengusirnya, akan tetapi dia melangkah tanpa ragu ke depan pintu toko itu. Dia melihat bahwa penjaga toko itu seorang gadis berusia delapan belas tahunan, dibantu oleh orang pegawai pria yang usianya sudah setengah tua. Gadis dan dua orang pegawainya itu memandang kepada Han Beng, dan terutama sekali kepada pakaiannya yang tambal-tambalan. Dua orang pegawai mengerutkan alisnya, jelas kelihatan tidak senang hati mereka. Seorang diantara mereka bahkan segera menegur.

"Engkau datang ke sini mau apa? sini menjual obat, bukan menjual makanan. Kalau engkau hendak minta-minta…"

"Kulihat tidak ada sabuk merah pinggangmu! Kami tidak dapat memberi sedekah kepadamu…"

"Paman!" tiba-tiba gadis itu menegur dengan suara yang keras kepada dua orang pegawainya. "Kalian tidak boleh sikap seperti itu!"

Dua orang pegawai itu menundukkan muka dan kelihatan sungkan dan patuh kepada nona mereka. Kini gadis itu bangkit berdiri dan menghadapi Han Beng, hanya terhalang lemari tempat obat. Sejenak mereka saling pandang penuh perhatian. Biarpun tidak secara langsung, Han Beng mengamati gadis itu.

Seorang gadis berusia delapan belas tahun, bertubuh ramping dan agak tinggi kalau dibandingkan dengan wanita pada umumnya, wajahnya manis dan anggun, dengan mata yang jernih dan mulut yang ramah. Gadis itu pun membayangkan keraguan dan keheranan dalam pandang matanya ketika ia mengamati Han Beng penuh selidik. Seorang pemuda yang begini gagah, juga tubuhnya terawat baik dan bersih, biarpun mengenakan. pakaian tambal-tambalan, agaknya tentu bukan seorang peminta-minta! la pun memperlihatkan senyumnya yang manis dan ramah sebelum bicara dengan suara halus.

"Harap Saudara memaafkan sikap dua orang pegawai kami. Maklumlah mereka seringkali diganggu oleh para peminta-minta sehingga sikap mereka agak kaku. Dapatkah kami membantu Saudara. Di sini kami mempunyai persediaan lengkap."

Ini merupakan pengalaman baru bagi Han Beng yang membuat wajahnya agak kemerahan! Dia biasanya diterima dengan pandang mata iba atau cemooh, akan tetapi baru sekali orang menghadapinya sebagai bukan jembel, sebagai seorang pembeli biasa! Menghadapi pengalaman baru ini, Han Beng agak tertegun dan betapa dia mengharapkan saat itu ada uang cukup di sakunya agar dia dapat benar-benar membeli obat yang di butuhkan. Apalagi pandang mata gadis itu demikian penuh kepercayaan, sedikit pun tidak ada bayangan mengejek atau menghina dalam pandang mata itu. Akan tetapi dia harus menyadari kenyataan dan dengan "menebalkan" muka, dia pun berkata, suaranya lembut.

"Saya memang membutuhkan obat, Nona. Guruku sakit, terserang demam panas dan batuk, sudah dua minggu…"

"Demam panas dan batuk? Ah, tentu ada obat untuk itu! Gurumu itu, berapakah usianya?"

"Sekitar enam puluh lima tahun, Nona.”

"Baiklah, kau tunggu sebentar, biar diambilkan obatnya. Paman Ji, tolong berikan obat untuk penyakit demam panas dan batuk yang diderita seorang tua. Oya, berapa bungkuskah yang Saudara kehendaki? Sebungkus untuk sekali masak dan diulang sampai dua kali, Air dua mangkok tinggalkan setengah mangkok."

"Secukupnya sampai sembuh, Nona."

"Kukira tiga bungkus pun sudah cukup. Sediakan tiga bungkus, Paman Ji!"

Pembantunya itu segera mengumpulkan obat rempah-rempah dan menimbanginya, dipersiapkan di atas kertas pembungkus sebagai tiga helai.

"Maafkan saya, Nona. Saya memang membutuhkan obat untuk guruku yang sakit, akan tetapi… saya… Maksud saya… hendak mohon bantuan Nona untuk memberikanbobat kepada saya. Saya tidak mempunyai uang untuk membelinya…"

Gadis itu nampak tercengang. Kiranya benar juga dua orang pembantun tadi. Pemuda itu mengemis! Sungguh luar biasa. Sama sekali tidak pantas menjadi pengemis.

"Nah… nahhh… betul tidak dugaan kami, Nona? Dia tentu hanya datang untuk mengemis! Sungguh tidak tahu malu, masih muda dan kuat lagi, dan bukan anggauta Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah). Pergilah kau dari sini!"

"Sssttt, Paman Ji! Diam kau, biar aku yang mengurus persoalan ini!" bentak gadis itu. Kemudian ia menghadap Han Beng dan suaranya halus ketika berkata, "Saudara, tahukah gurumu bahwa engkau pergi mencarikan obat untuknya dengan jalan minta-minta?"

"Tentu saja dia mengetahuinya..."

Gadis itu membelalakkan matanya yang indah. "Dan dia tidak melarang muridnya melakukan hal yang merendahkan namanya itu?"

Han Beng tersenyum dan membayangkan betapa suhunya akan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ini. Suhunya yang berjuluk Raja Pengemis, melarang muridnya mengemis?bAlangkah lucunya pertanyaan gadis itu.

"Guruku sendiri juga suka mengemis mengapa dia harus melarang saya?"

Seorang pembantu gadis itu yang masih merasa penasaran lalu berkata. "Mungkin gurunya seorang pengemis dan yang diajarkan adalah ilmu mengemis!"

Gadis itu menoleh dan melotot pada pembantunya, akan tetapi Han Beng yang sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu, cepat berkata,

"Benar sekali, memang guruku seorang pengemis dan yang diajarkan kepadaku adalah ilmu mengemis. Nona, maukah Nona menolongku, ataukah tidak? Kalau tidak saya akan mengemis ke toko lain…"

"Ah, boleh, boleh… tentu saja akan kuberi, bukankah sudah dibungkuskan obat itu?" Gadis itu lalu mengambil tiga bungkus obat dan hendak diserahkan kepada Han Beng, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Tidak boleh! Tidak boleh memberi apa pun juga kepada pengemis busuk yang lancang ini!"

Ketika semua orang menoleh, ternyata telah muncul tiga orang laki-laki usia empat puluh tahun dan lucunya, yang melarang orang memberi bantuan pada Han Beng yang dimaki sebagai seorang pengemis busuk itu… adalah juga orang berpakaian pengemis pula!

Seperti juga Han Beng, tiga orang pendatang ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, akan tetapi kainnya masih baru, agaknya memang sengaja dibuat tambal-tambalan dari kain-kain berwarna-warni dan berkembang. Di pinggang mereka terdapat sabuk merah. Ini menandakan bahwa mereka adalah tiga orang anggota Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah) yang amat terkenal di kota raja.

Seluruh pengemis kota raja adalah anggauta Ang-kin Kai-pang dan mereka semua mengenal sabuk merah sebagai tanda bahwa mereka adalah anggauta perkumpulan itu. Ang-kin Kai-pang menganggap bahkan merekalah yang berhak menguasai seluruh kota raja dan daerahnya, dan setiap orang pengemis bukan anggauta, baik dari dalam maupun luar kota, tidak diperbolehkan mengemis di kota raja daerahnya tanpa seijin mereka!

Dan untuk menertibkan ini, jagoan-jagoan Ang-kin Kai-pang setiap hari mengada perondaan dan kini, yang muncul depan toko obat melarang pemilik toko obat memberi sedekah kepada Han Beng adalah tiga orang tukang pukul Ang-Kai-pang. Perkumpulan ini memang berpengaruh sekali dan ditakuti orang, mereka bukan saja menghimpun para penjahat untuk bergabung dan menjadi tukang-tukang pukul.

Akan tetapi bahkan mereka sanggup mendekati para pembesar dan dengan jalan memberi suapan-suapan besar-besaran perkumpulan ini menjadi "sahabat" para pembesar tinggi. Orang tentu akan merasa heran bagaimana perkumpulan pengemis mampu menyewa tukang-tukang pukul bahkan menyuap para pembesar? Hasil mereka itu besar bukan main!

Setiap orang anggauta diwajibkan untuk menyerahkan sepuluh prosen dari hasil mereka mengemis kepada perkumpulan itu. Perkumpulan ini, dari ribuan bahkan puluhan ribu pengemis di kota raja dan daerahnya, tentu saja merupakan harta yang amat besar jumlahnya. Dan perkumpulan itu pun dipimpin oleh orang-orang yang pandai, bahkan kabarnya yang duduk paling atas adalah seorang datuk sesat yang sakti!

Han Beng yang sudah kegirangan mendapatkan obat yang dibutuhkannya, ketika siap menerima tiga bungkus obat itu dengan pandang mata bersyukur, tentu saja mendongkol juga melihat sikap tiga orang ini. Mereka itu pun pengemis-pengemis, seperti dia, bagaimana kini mengganggu sesama "rekan"? Belum pernah dia menjumpai kekurangajaran seperti itu!

"Kawan-kawan," katanya tenang namun tegas. "Mengapa kalian datang-datang melarang orang memberi pertolongan kepadaku dan mengapa pula kalian memaki aku?"

Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar dan hidungnya merah sekali, besar dan merah seperti jambu masak, menepuk-nepuk perutnya yang gendut. "Bocah lancang! Apakah matamu sudah buta dan engkau tidak melihat sabuk merah ini? Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang, dan engkau pengemis busuk ini berani bertanya lagi mengapa kami melarang engkau pengemis di sini? Apakah engkau sudah mendapatikan ijin dari pimpinan kami?"

Han Beng tertawa, di dalam hatinya dia bahkan tertawa bergelak. Minta-minta saja harus mendapat ijin! Ijin mengemis! "Tidak, aku tidak pernah mendapatkan ijin, bahkan tidak pernah meminta ijin. Aku hanya lewat saja di kota raja ini, bukan untuk menetap dan melakukan, pekerjaan mengemis."

"Pengemis tetap maupun mengemis sementara harus mendapat ijin lebih dulu dari pimpinan kami Pendeknya, engkau harus cepat pergi dari sini!"

"Aku pergi... aku pergi...!" kata Han Beng, tidak mau mencari keributan di tempat orang.

"Nanti dulu, kau terimalah obat-obat untuk gurumu yang sakit," kata gadis itu. la menyerahkan obat itu sambil keluar dari tokonya, menghampiri Han Beng.

Han Beng juga menjulurkan lengan untuk menerimanya. Akan tetapi, tiba-tiba pengemis perut gendut itu menggerakkan tangannya menampar ke arah bungkusan obat yang akan diserah terimakan itu.

"Plakkkkk" Bungkusan-bungkusan itu terlepas dari tangan Si Gadis dan terlempar ke atas tanah! Kini gadis itu membalikkan tubuh menghadapi Si Gendut, mukanya marah sekali, alisnya berkerut dan sepasang matanya mencorong. Pengemis gendut itu menyeringai, dan agaknya merasa gugup juga melihat betapa gadis itu kini menghadapi dengan penuh kemarahan.

"Nona, jangan memberikan apa-apa kepadanya. Kalau diberikan juga, tak urung kami akan merampas barang itu dari tangannya, bahkan dia akan kami pukul setengah mati."

Gadis itu sejak tadi diam saja, akan tetapi sinar matanya seperti hendak membakar wajah orang. Tiba-tiba, tangan kirinya bertolak pinggang, tangan kanannya menuding ke arah tiga buah bungkusan yang berserakan di atas tanah, lalu dia berkata kepada pengemis perut gendut dengan suara memerintah.

"Ambil...!!"

Pengemis gendut itu terbelalak, memandang ke arah bungkusan-bungkusan itu lalu kepada Si Nona yang bersikap galak. Tentu saja dia tidak sudi melaksanakan perintah yang dianggapnya menghina itu. Dia adalah seorang diantara tokoh Ang-kin Kai-pang yang terkenal, ditakuti dan biarpun dia berpakaian pengemis, namun sabuk yang terlilit dipingangnya berwarna merah cerah, bukan merah muda sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada para anggauta lainnya. Dia biasa memerintah, bukan diperintah, kecuali tentu saja oleh para pimpinan Kai-pang yang lebih tinggi kedudukannya, atau atasannya.

"Ambil, kataku! Apakah engkau tuli?" bentak gadis itu dengan suara semakin lantang.

Pengemis ke dua yang bertubuh tinggi kurus dan agak bongkok segera menjawab dengan suara memprotes. "Nona, mengapa Nona hendak membela pengemis asing ini? Siapa tahu dia ini seorang mata-mata, atau seorang jahat yang hendak mengacaukan kotaraja dengan menyamar sebagai pengemis. Hanya pengemis Ang-kin Kai-pang yang boleh dipercaya!"

"Aku tidak membela siapa-siapa hanya menentang kalian yang kurang ajar. Obat itu adalah milikku, akan kuberikan kepada siapapun juga, kalian peduli apa? Bukan milik nenek moyangmu! engkau sudah berani memukulnya hingga tiga bungkusan itu terjatuh, ke atas tanah. Sekarang kuperintahkan kalian untuk mengambilnya kembali dan menyerahkan kepadaku, ataukah aku harus memaksa kalian?"

Diam-diam Han Beng terkejut dan dia siap siaga. Nona ini memang amat baik dan gagah, akan tetapi juga sembrono sekali. Dia dapat melihat bahwa tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang ini sedikit banyak tentu pandai ilmu silat dan sudah terbiasa memaksakan kehendak mereka dengan kekerasan. Dan gadis itu berani menentang mereka!

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Si Perut Gendut menjadi merah mukanya. Namun agaknya dia masih menjaga gengsi, tidak ingin ribut dengan seorang gadis cantik, maka dia masih menganggap bahwa gadis itu tentu belum mengenal siapa mereka.

"Nona, dengar dan lihat baik-baik. Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang," Dia menepuk pinggangnya memperlihatkan sabuk merah cerah yang menjadi tanda anggauta dan tingkat, "dan kami datang untuk menyelamatkan Nona dari tipuan pengemis busuk ini. Semua pengemis di kota raja adalah anggauta kami, Nona, dan orang ini adalah penyelundup dari luar kota."

"Tidak peduli!" Gadis itu membentak. "Biar kalian pengemis dari neraka pun tidak berhak melarang aku menolong siapa saja. Hayo cepat ambil bungkusan-bungkusan obat itu!"

Si Perut Gendut kini menjadi marah. Dia merasa ditantang oleh seorang gadis muda! "Hem, bagaimana kalau kami tidak mau, Nona?"

Gadis itu tersenyum dingin. "Terpaksa aku akan memaksa kalian untuk melakukannya!"

Tiga orang pengemis itu saling pandang, lalu tertawa. Si Tinggi Kurus bertanya, "Ha-ha-ha, bagaimana caranya Nona?"

"Caranya begini!" Tiba-tiba tubuh gadis itu menerjang kedepan dan sebelum Si Tinggi Kurus itu sempat mengelak atau menangkis, dua kali ujung sepatunya menendang lutut dan tangannya mendorong. Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Si Kurus itu terjengkang, pantatnya yang tipis terbanting ke atas tanah, sehingga dia meringis kesakitan. Debu mengepul dan gadis itu berkata, "Nah, ambillah bungkusan itu!"

Dua orang temannya menjadi terkejut bukan main. Sungguh mereka tidak menyangka akan ada orang berani menjatuhkan seorang di antara mereka dan yang berani melakukan hal itu justeru seorang gadis muda! Pengemis ke tiga yang mukanya hitam karena suatu penyakit sehingga kulit muka itu tebal dan keras kasar, menerjang ke depan dan kedua tangannya mencengkeram untuk menangkap kedua pundak gadis itu.

Namun, dengan gerakan lincah sekali, gadis itu menggeserkan kaki memiringkan tubuhnya. Dengan kecepatan luar biasa, sambil memiringkan tubuh, pada saat tubuh pengemis itu lewat dan luput menerkamnya, lututnya diangkat dengan tiba-tiba, tepat menyambut perut lawan.

"Ngekkk!" perut itu dimakan lutut membuat Si Pengemis membungkuk memegangi perut. Gadis itu melihat sasaran lunak ketika tubuh itu membungkuk, yaitu tengkuk yang telanjang, maka tangan kirinya cepat membacok ke arah tengkuk.

"Kekkk!" tubuh orang itu pun terjungkal!

"Nona, engkau keterlaluan, berarti menentang kami!" bentak Si Perut Gendut.

"Kalian yang kurang ajar dan patut diberi pelajaran agar tidak mengganggu orang lain!"

Sementara itu, Han Beng memandang dengan hati lega dan kagum. Kiranya nona itu lihai! Gerakannya begitu cepat dan otomatis, juga pandai mengatur gerakan menggunakan tenaga secara tepat sekali.

Akan tetapi kini Si Gendut sudah mengangkat tongkatnya, sebatang tongkat hitam terbuat dari bambu yang ujungnya dipasangi besi runcing! Dan dengan senjata ini, dia menyerang gadis itu! Han Beng terkejut dan dia sudah siap siaga untuk melindungi gadis itu. Akan tetapi segera dia tahu bahwa gadis itu tidak memerlukan perlindungannya karena dengan amat sigapnya, gadis sudah mengelak dengan mudah.

Dan kini, dua orang pengemis lainnya sudah la menggunakan tongkat mereka untuk mengeroyok. Tiga batang tongkat dengan ujung besi runcing menyambar-nyambar kearah Si Gadis yang dengan lincahnya mengelak ke sana-sini bagaikan seekor burung walet saja. Kini gadis itu dengan cepat menyambar sebatang kayu pengganjal pintu toko yang panjangnya sekitar dua meteran yang besarnya sekepalan tangan. Dengan senjata sederhana serupa toya ini, gadis itu menghadapi tiga batang tongkat lawan dan kini ia bersilat dengan indah dan cepatnya. Han Beng terbelalak kagum karena dia mengenal ilmu silat yang dasarnya tak salah lagi tentu ilmu dari Siauw-lim-pai!

Karena toko obat itu terletak di jalan raya dekat pasar, maka perkelahian depan toko itu menarik perhatian orang dan sebentar saja tempat itu telah dilingkari banyak orang yang menonton, mereka itu agaknya tadi mengira bahwa ada serombongan pemain silat atau pedagang obat mengadakan pertunjukan di situ. Akan tetapi ketika mereka mengenal tiga orang anggauta Ang-ki Kai-pang, mereka menjadi terkejut. Ada rasa girang di dalam hati mereka bahwa kini ada orang berani menentang tiga tokoh Perkumpulan Jembel itu, dan orang itu bahkan hanya seorang gadis muda!

Karena takut kalau tiga bungkusan obat itu terinjak mereka yang sedang berkelahi, maka Han Beng sudah memungutinya. Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan akan keselamatan gadis itu tentu dia sudah pergi, tidak ingin terlibat dalam perkelahian. Akan tetapi di harus menjaga keselamatan gadis yang telah menolongnya itu.

Permainan toya gadis itu memang hebat, dan Siauw-lim-pai memang terkenal sekali dengan permainan toya ini. Hal ini tidak mengherankan karena Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh para pendeta biara Siauw-lim-si, di mana para muridnya adalah para hwesio. Senjata yang paling tepat bagi seorang hwesio untuk membela diri kalau diserang musuh adalah toya yang dapat dipergunakan pula sebagai sebatang tongkat atau untuk memukul barang bawaan.

Han Beng memandang kagum. Gadis Itu memang lihai dan begitu toyanya diputar dengan amat cepatnya, tiga orang pengemis itu terdesak dan mundur. Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan bentakan melengking panjang dan ujung toyanya tergetar keras, membuat gerakan melengkung dan begitu gulungan sinar toya berkelebat, dua orang pengeroyok roboh.

Yang seorang lagi, Si Muka Hitam, terkejut dan dengan nekat menghantamkan tongkatnya ke arah tengkuk gadis itu dari belakang. Namun, tanpa kesukaran sedikit pun, gadis itu membalikkan toyanya ke belakang, menangkis tongkat, tubuhnya membuat gerakan memutar dan di lain saat toyanya sudah menyodok ke arah dada orang itu sehingga dia pun jatuh terjengkang!

Tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang itu terengah-engah, Si Gendut Perut itu kepalanya benjol besar, Si Tinggi Kurus meringis karena kaki kanannya terkena sambaran toya sehingga tulang keringnya terasa seolah remuk, dan Si muka Hitam dadanya sesak. Gadis itu menghentikan gerakannya, berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tang kanan memegangi toya yang didirikan, sikapnya gagah, matanya mencorong, tiga orang pengemis itu tahu diri. Mereka bangkit dan tanpa banyak cakap lagi berjalan pergi terhuyung-huyung.

Semua orang memuji kehebatan gadis itu, akan tetapi mereka yang mengenal kekuasaan Ang-kin Kai-pang merasa khawatir akan keselamatan gadis pemilik toko obat. Para penonton itu pun bubar dan dan Han Beng menjura dengan penuh hormat kepada Si Gadis perkasa.

"Sungguh saya bersukur sekali bahwa Nona telah menolong saya dan guru saya. Terima kasih, Nona."

"Ah, tidak mengapalah, Saudara. Engkau dan gurumu adalah pengembara dan gurumu sakit, sudah sepatutnya kalau aku memberi obat kepadamu. Dan mengenal tiga orang tadi, mereka sendiri yang mencari penyakit dan memang perlu dihajar."

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dandua orang laki-laki menghentikan kuda mereka di depan toko itu. Han Beng melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sastrawan, dan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih berpakaian ringkas dan bersikap gagah.

Ketika dua orang laki-laki itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, gadis itu cepat menghampiri laki-laki yang berpakaian sastrawan. "Ayah! Engkau baru pulang?"

Akan tetapi ayahnya memandangnya lengan wajah heran, sama sekali tidak gembira, bahkan suaranya terdengar marah ketika dia bertanya, "Hui Im, apa yang kudengar ketika memasuki kota tadi? Engkau membela seorang pengemis asing dan berkelahi dengan tiga orang anggauta Ang-kin Kai-pang?"

Gadis itu menghadapi ayahnya dengan sikap tenang, tegas dan bertanggung jawab. "Benar, Ayah. Dan dia inilah Saudara yang telah kutolong itu katanya menunjuk kepada Han Beng masih berdiri dengan hati tidak enak.

Majikan toko obat itu bernama Kun Tiong atau di kota raja terkenal dengan nama Souw Sian-seng, seorang ahli obat atau seorang tabib yang seringkali menerima undangan untuk mengobati orang sakit, akan tetapi juga membuka toko obat yang diurusi puterinya. Puterinya itu anak tunggal bernama Souw Hui Im. Ibu gadis ini, telah lama meninggal dunia.

Souw Kun Tiong atau Souw Sian memandang sejenak kepada Han Beng lalu dia membalik menghadapi puterinya lagi, menuntut, "Apa yang telah terjadi? Dalam suaranya masih terkandung rasa tidak senang. Dia menganggap puterinya mencari gara-gara saja, karena dia tahu benar siapa itu Ang-kin Kai-pang perkumpulan yang amat berpergaruh di kota raja, bahkan mempunyai hubungan baik dengan para pembesar yang kuasa.

"Sesungguhnya aku tidak bersalah. Ayah,” kata Hui Im yang dapat melihat bahwa ayahnya marah. "Mula-mula Saudara ini datang dan minta pertolongan, agar diberi obat untuk gurunya yang sedang sakit panas demam dan batuk, karena kulihat dia seorang pengembara yang sedang dirundung malang, maka aku memberinya obat yang dimintanya. Tiba-tiba muncul tiga orang pengemis Ang-Kai-pang itu yang bersikap sombong dan melarang aku memberikan obat kepada Saudara ini. Tentu saja aku marah, Ayah. Mereka tidak berhak melarangku memberikan obat milikku sendiri kepada siapapun juga. Mereka malah menghina saudara ini, mengusirnya dan melarangku menyerahkan obat. Maka terjadilah perkelahian itu dan mereka melarikan diri."

Dengan alis masih berkerut, Souw Han-seng menghadapi Han Beng. Sejenak dia mengamati pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah itu, lalu karena penyesalannya bahwa puterinya menanam permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang gara-gara pemuda ini, dia pun berkata dengan suara penuh sesalan dan kemarahan.

"Orang muda, tidak malukah engkau! Engkau masih muda belia, bertubuh sehat dan kuat, akan tetapi ada orang-orang menghinamu, engkau diam saja tidak membela diri sendiri, bahkan mengandalkan seorang wanita untuk membelamu! Tidak malukah engkau menjadi seorang pengecut?"

"Ayah!" Hui Im berseru.

"Diam kau!" bentak ayahnya yang masih menghadapi Han Beng, melanjutkan kata-katanya. "Orang muda, gara-gara " engkau, anakku menanam bibit permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang, berarti kami menghadapi kesulitan besar. Karena engkau menjadi gara-gara, maka engkau perlu dihajar agar semua orang tahu bahwa aku, Souw Kun Tiong, sebetulnya tidak mau mencampuri urusan antara pengemis. Biarlah engkau berhadapan sendiri dengan Ang-kin Kai-pang? Nah, bersiaplah, orang muda, aku akan menghajarmu seperti tadi anakku menghajar orang-orang Ang-kin Kai-pang!"

Han Beng terbelalak, kebingungan, tentu saja dia tidak ingin berkelahi dengan orang lain, apalagi orang ini adalah ayah kandung dari gadis yang telah menolongnya tadi. Akan tetapi dia pun mengerti apa yang dimaksudkan orang tua ini. Dia hendak menghajarnya di depan umum sehingga kalau Ang-kin Kai-pang mendengar akan hal ini, mereka akan menganggap bahwa keluarga Souw sebetulnya tidak membela Han Benig, melainkan terjadi kesalahpahaman saja antara Nona Souw dan tiga orang murid atau anggauta Ang-kin Kai-pang. Han Beng menjura kepada Souw Sian-Seng,

"Tuan, harap maafkan saya. Sesungguhnya saya datang ke toko ini tidak ada maksud lain kecuali minta bantuan agar diberi obat untuk guruku yang sedang sakit. Saya sama sekali tidak mencari keributan atau perkelahian. Kalau memang Tuan tidak rela memberi obat ini untuk guruku, biarlah saya kembalikan saja."

"Hemmm, puteriku telah memberi obat itu, tidak akan kami tarik kembali akan tetapi untuk membuktikan bahwa kami tidak berpihak dalam urusanmu dengan Ang-kin Kai-pang, aku harus menghajarmu!"

Souw Sian-seng maklum bahwa di tempat ramai itu tentu terdapat banyak mata-mata Ang-kin Kai-pang yang dapat mendengarkan semua ucapannya dan dapat menyaksikan pula dia menghajar pemuda itu agar melaporkan hal itu kepada pimpinan Ang-kir Kai-pang. Dia sudah melangkah maju, siap untuk menghajar Han Beng.

"Suheng, tahan dulu…!" tiba tiba orang yang tadi datang bersama Souw Sian-seng, melompat maju dan memeggangi lengan tabib itu.

Orang berusia empat puluh tahun lebih ini bernama Hui Siong dan dia adalah seorang di antara murid-murid Siauw-lim-pai yang berhasil melarikan diri ketika Kuil Siauw-Lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah. Dalam pelariannya, dengan aman dia bersembunyi dan mondok dirumah tabib itu yang juga merupakan murid Siauw-lim-pai, akan tetapi merupakan 'murid luar' yang tidak tinggal di kuil. Di sini dia hidup aman karena tentu saja para perwira pasukan pemerintah tidak menyangka bahwa orang Siauw-lim-pai ada yang berani tinggal di kota raja!

Melihat sutenya menahan dia yang hendak menghajar pengemis muda itu, Souw Sian-seng merasa heran dan memandang sutenya dengan alis berkerut, Gui Siong mendekatkan mulutnya ketelinga suhengnya dan membisikkan,

"Dia adalah Naga Sakti seperti yang pernah kuceritakan padamu, Suheng...!"

Tentu saja Souw Sian-seng terkejut bukan main dan hanya berdiri seperti patung mengamati Han Beng yang tidak mengenal apa yang dibicarakan kedua orang itu. Dia rasanya pernah melihat orang yang datang bersama ayah kandung gadis itu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh kurus, wajahnya tampan, rambut penuh uban dan matanya lebar sekali itu...