Social Items

SETELAH pemandian selesai dilakukan, dua orang yang akan menjadi korban itu bergerak, bahkan gadis itu mengeluarkan jerit tertahan dan menangis. Melihat ini, teringatlah Lui Seng Cu bahwa mereka tentu sudah terbebas dari pengaruh totokan, maka cepat dia pun menghampiri mereka dan dua kali tangannya bergerak, perjaka dan perawan itu sudah lumpuh kembali.

Kemudian, dengan lagak dan sikap seperti seorang pendeta agung Lui Seng Cu berdiri tegak, lalu mengambil ikatan dupa yang masih membara, dan menggerakkannya di atas mukanya yang tengadah. Abu yang berada di ujung ikatan hio itu terjatuh ke atas mukanya. Ketika dia mengembalikan ikatan hio itu, mukanya kini menjadi coreng moreng dengan abu hio, dan dengan tangan kirinya dia mengusap mukanya, bukan untuk menghapus abu, melainkan untuk meratakannya!

Tiba-tiba tubuhnya terhuyung lalu dia jatuh terduduk, tubuh itu menggelepar seperti ayam disembelih, kaki tangannya kejang-kejang dan menggelepar, matanya mendelik lidahnya keluar. Dua orang muridnya nampak tenang saja maka para tamu yang hadir juga diam saja hanya mengamati dengan bulu tengkuk meremang.

Mereka tadi telah diberitahu oleh Lui Seng Cu bahwa dari upacara itu, akan ada "setan pembantu” dari Thian-te Kwi-ong memasuki dirinya dan kalau dia melakukan hal-hal yang aneh, diharapkan para hadirin tidak menjadi kaget karena yang melakukan itu adalah roh atau setan pembantu yang memasuki dirinya.

Kini semua orang mengamatinya, ada yang percaya dan ada pula yang setengah-setengah, ada pun yang belum percaya sehingga mereka ini tersenyum mengejek, menganggap bahwa Lui Seng Cu hanya berpura-pura dan berlagak saja untuk mendatangkan kesan. Akan tetapi, Ban-tok Mo-Ii sudah percaya betul karena sebelum ini, Hok-houw Toa-to sudah membuktikan bahwa dia memang memiliki kekuatan gaib yang didapatnya dari Thian-te Kwi-ong!

Sebelum menyatakan diri ingin masuk menjadi anggauta atau anak buah atau murid Thian-te Kwi-ong, lebih dahulu Ban-tok Mo-Ii menguji Lui Seng Cu. Di dalam ruangan ini pula, beberapa hari lalu, mereka berdua duduk berhadapan dalam jarak empat meter. Ban-tok Mo-Ii yakin bahwa ilmu silatnya, ilmu gin-kang maupun kekuatan sin-kang-nya, masih lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Akan tetapi ketika ia menguji orang itu, yang lebih dulu membiarkan dirinya "kemasukan" Thian-te Kwi-ong, sebelum menyentuh tubuh Lui Seng Cu, ia berkali-kali terpelanting, kemudian bahkan ia tidak mampu bergerak dari tempat duduknya!

Lui Seng Cu lalu memberitahu bahwa itu hanya satu di antara kesaktian Thian-te Kwi-ong! Murid yang tekun akan menjadi sakti, kaya raya, dan juga panjang umur sampai lebih seratus tahun! Inilah sebabnya, ketika melihat Lui Seng Cu menggelepar di depan meja sembahyang, Ban-tok Mo-li tidak merasa heran, juga ia percaya sepenuhnya bahwa orang itu sedang mulai kemasukan roh halus atau setan pembantu seperti yang telah diceritakan sebelumnya.

Kini Lui Seng Cu tidak menggelepar lagi, menjadi tenang dan berlutut di depan meja sembahyang, menghadap ke arca Thian-te Kwi-ong dan menyembah sampai tiga belas kali, mengeluarkan suara mengaum seperti harimau. Kemudian bangkit berdiri, mukanya masih coreng moreng terkena abu, matanya mendelik dan berdirinya tegak lurus dan nampak seolah-olah tubuhnya lebih jangkung daripada tadi. Lalu dia memutar tubuh menghadap ke arah Ban-tok Mo-li, lalu terdengar suaranya lantang sekali, terdengar bergetar biarpun agak parau.

"Phang Bi Cu, Ong-ya memanggil engkau untuk menghadap ke sini, sekarang juga!"

Semua orang terkejut. Nama besar Ban-tok Mo-li, siapakah yang tidak tahu? Akan tetapi nama kecilnya, Phang Bi Cu jarang ada yang tahu dan mereka yang tahu pun tidak berani mempergunakannya. Kini, Lui Seng Cu yang kemasukan iblis itu menyebut nama kecilnya begitu saja seolah-olah memanggil seorang pelayan atau seorang anak kecil!

Kalau orang lain berani memanggilnya seperti itu, tentu sekali menggerakkan tangannya, Ban-tok Mo-li akan membunuhnya! Akan tetapi sekali ini, Ban-tok Mo-li sama sekali tidak menjadi marah, bahkan ia lalu bangkit dari tempat duduknya.

"Ong-ya, saya datang menghadap!" Dan wanita yang dikenal sebagai Iblis Betina itu melangkah dengan lambat, lengan lenggang lemah gemulai penuh gairah, menuju ke meja sembahyang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menghadap patung Thian-te Kwi-ong.

"Phang Bi Cu, kami mewakili Thian-te Kwi-ong bertanya kepadamu agar kamu menjawab dengan sejujurnya!" kembali terdengar suara parau Lui Seng Cu yang masih berdiri tegak. "Dengarkan baik-baik!"

"Saya mendengarkan dan akan menjawab sejujurnya," kata Ban-tok Mo-li dengan perasaan aneh karena selama hidupnya belum pernah ia berjanji untuk menjawab dengan jujur!

Selama ini kejujuran dianggapnya suatu kelemahan dan kebodohan, tanda dari hati yang takut Akan tetapi sekali ini ia berjanji untuk menjawab dengan jujur. Mungkin karena takut di dalam hatinya terhadap kekuasaan Thian-te Kwi-ong, atau karena ada harapan di lubuk hatinya agar mendapatkan berkah, terutama sekali umur panjang?

"Phang Bi Cu, benarkah engkau ingin menghambakan diri kepada Thian-te Kw ong-ya?"

"Benar."

"Dan engkau siap untuk menghaturkan korban suci kepada Ong-ya?"

"Saya sanggup dengan senang hati."

"Apakah korban sudah disediakan?"

"Sudah disediakan dan siap dikorbankan."

"Bagus, permohonanmu diterima, Phang Bi Cu, dan sebagai anugerah Ong-ya melalui kami, anggur darah remaja akan membuat engkau menjadi awet muda seperti remaja!"

"Terima kasih, Ong-ya," kata Ban-tok Mo-li dengan girang dan wanita yang terkenal sebagai Iblis Betina yang biasanya amat angkuh ini, yang tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, kini menyembah sambil berlutut, menyembah sebanyak tiga belas kali seperti yang diberitahukan kepadanya oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Cara penyembahan dan penyerahan diri kepada Thian-te Kwi-ong!

Tiba-tiba Lui Seng Cu jatuh terduduk dan menggelepar kembali, hanya sebentar dan dia pun sudah bangkit lagi dan kini sikapnya biasa, seolah-olah setan yang memasuki tubuhnya sudah menghilang dan dia menjadi Lui Seng Cu kembali. Kini dihapusnya abu yang coreng moreng pada mukanya, kemudiandia berkata kepada Ban-tok Mo-li.

"Upacara tingkat pertama telah selesai. Kini tinggal menanti masuknya sinar bulan. Kalau sinar bulan sudah menimpa tubuh kedua orang korban itu, barulah upacara terpenting, yaitu persembahan, boleh dilakukan. Sementara ini, sambil menanti naiknya bulan, Toanio (Nyonya) boleh menjamu para tamu dan saksi, bergembira karena Toa-nio telah diterima menjadi murid dari Thian te Kwi-ong!"

Dengan wajahnya yang cantik pesolek itu berseri, Ban-tok Mo-li lalu bangkit dan dengan isyarat tangannya, belasan orang pelayannya yang semua terdiri dari wanita yang masih muda, cantik dan gesit, mengeluarkan hidangan dan mengatur hidangan itu di atas lantai di depan para hadirin yang duduk bersila di ruangan itu. Cara pesta yang aneh karena mereka semua duduk bersila di atas lantai, bukan di kursi menghadapi meja.

Akan tetapi, hidangan yang disuguhkan merupakan masakan istimewa, mahal dan lezat, masih mengepul panas lagi, maka gembiralah hati para tamu. Semenjak beberapa hari menjadi tamu Ban-tok Mo-li, memang mereka sudah menjadi tamu-tamu terhormat yang dimanja dan disambut dengan baik sekali, akan tetapi malam ini sungguh merupakan pesta yang mewah!

Semua orang makan minum dengan gembira setelah Lui Seng Cu menyuguhkan arak dan beberapa mangkok masakan panas ke atas meja sembahyang, dan seorang pun agaknya tidak ada yang teringat atau mempedulikan dua orang calon korban yang masih menggeletak telentang di atas pembaringan dalam keadaan tidak mampu bergerak dan telanjang bulat itu. Tidak ada seorang pun kecuali Giok Cu! Dara remaja ini sejak tadi mengamati semua yang terjadi dan ketika semua orang makan minum berpesta pora, ia tidak ikut makan!

la selalu memandang ke arah pembaringan di mana dua orang itu rebah telentang. Hatinya memberontak! Biarpun ia tidak peduli melihat gurunya masuk menjadi anggauta atau murid kepercayaan baru itu, penyembah setan yang disebut Raja Setan Langit Bumi, namun melihat dua orang calon korban itu, ia merasa tidak senang sama sekali! Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dua orang caloon korban itu, akan tetapi menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang mengerikan.

Mungkin dua orang itu akan dibunuh! Hatinya meronta dan ia sama sekali tidak mampu makan minum. Ia memang tidak pernah diajar lain kecual. ilmu silat dan sedikit baca tulis oleh gurunya, tidak pernah belajar tentang akhlak. Akan tetapi, lima tahun yang lalu ia telah mengerti tentang baik-buruk tentang susila dan akhlak yang diterimanya dari pendidikan ayah ibu kandungnya.

"Siauw-moi Giok Cu, kenapa kau tidak makan?" Tiba-tiba Siangkoan Tek bertanya. Sejak tadi pemuda ini memang selalu memperhatikan Giok Cu, dan pandang matanya kini bertambah dengan pandang mata kagum. Memang, sejak pertemuan pertama, Siangkoan Tek tergila-gila kepada gadis remaja ini, dan pengalaman pagi tadi di lautan membuat dia semakin kagum.

Gadis remaja itu bukan saja cantik jelita, manis dan pandai ilmu silat, akan tetapi juga amat cerdik dan pandai ilmu bermain di air pula. Dan, yang lebih menyenangkan hatinya, ketika ia dalam keadaan pingsan, ternyata gadis itu tidak membunuhnya, bahkan menelanjanginya! Apalagi artinya perbuatan ini kalau bukan cinta, pikirnya. Gadis remaja itu bagaimanapun juga mencintanya!

Mendengar teguran halus itu, Giok Cu hanya menunduk, akan tetapi gurunya menoleh dan menegur pula, "Benar, mengapa engkau tidak ikut makan minum, Giok Cu?" Gurunya amat sayang kepadanya, dan hal ini terasa benar oleh Giok Cu, akan tetapi alangkah bedanya rasa sayang gurunya itu dengan rasa sayang yang pernah dirasakannya dari ayah ibunya.

"Aku… aku tidak ada nafsu makan Subo. Aku masih kenyang," jawabnya pendek. Gurunya pun tidak peduli lagi karena hati Iblis Betina itu sedang gembira bukan main, mana ia mau peduli tentang muridnya makan atau tidak?

Selain Siangkoan Tek, juga ada dua pasang mata sejak tadi melirik ke arah Giok Cu, yaitu mata Ji Ban To dan Gak Su. Suheng dan sute itu, semenjak tadi memang menderita kekecewaan beberapa kali. Pertama ketika permintaan mereka kepada dua orang murid Hok-houw Toa-to untuk mempermainkan gadis calon korban mereka tolak. Kemudian ketika tadi Hok-houw Toa-to di depan orang banyak menghardik mereka karena mereka berdua membantu Siok Boan dari Poa Kian So untuk melepaskan pakaian dua orang calon korban itu dan mereka mencoba untuk meraba dan membela tubuh gadis calon korban!

Mereka berdua kini merasa kecewa sekali dan biarpun mereka ikut pula makan minum, mereka selalu melirik ke arah Giok Cu. Apalagi setelah mereka menuangkan banyak arak ke dalam perut mereka keduanya semakin sering melirik ke arah Giok Cu. Tidak salah, pikir mereka. Dara calon korban itu, kalau dibandingkan dengan Giok Cu, memang bukan apa-apanya!

Mereka pun beruntung sekali pernah melihat Giok Cu menanggalkan pakaian ketika dara itu berganti pakaian kering di pantai. Ah, sungguh menggairahkan sekali, dan kini mata mereka seperti berubah hijau ketika mengerling ke arah Giok Cu.

Pikiran, badan dan perasaan melalui lima indera merupakan persekutuan yang selalu menyeret kita ke arah kemaksiatan atau perbuatan yang tidak sehat, bahkan kadang kala perbuatan jahat yang merugikan orang lain. Gairah nafsu bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Sebagai contohnya, gairah nafsu berahi. Mata melihat wanita cantik. Kalau pikiran tidak mencampuri dan mengotori, maka tidak akan terjadi sesuatu.

Namun, biasanya, pikiran mencampuri, si-AKU membayangkan kalau wanita itu menjadi miliknya, kalau wanita itu, dikuasainya, dan sebagainya, maka, timbullah gairah nafsu birahi. Pikir yang membayangkan ini merupakan cermin dari pengalaman melalui badan pula dengan perantaraan lima indera, perasaa nikmat dan enak mendatangkan mgata dan bayangan.

Kalau nafsu sudah menguasai batin, maka kita melakukan segalanya untuk memuaskan tuntutan nafsu dan kadang-kadang kita menjadi sedemikian buta sehingga tidak segan melakukan perbuatan yang kotor, seperti melacur, berjina, atau bahkan memperkosa!

Kita lupa bahwa kita, manusia ini, pribadi-pribadi ini, bukanlah binatang! Kita bukanlah tubuh ini! Kita bukan pula pikiran ini, bukan perasaan panca indera ini, bahkan bukan kesadaran ini! Semua ini, tubuh, pikiran, perasaan, kesadaran ini hanya merupakan hal-hal yang sementara saja, yang akhirnya akan hancur lenyap begitu "rumah" ini menjadi tua atau rusak dan tidak tepakai lagi!

Seperti juga rumah membutuhkan perlengkapan, perapian, penerangan dan sebagainya, tubuh juga membutuhkan perlengkapan, seperti pikiran, perasaan, kesadaran. Kalau tubuh ini tertidur, atau pingsan, maka semua itu pun berhenti berfungsi. Pikiran, perasaan, kesadaran, kesemuanya itu pun berhenti bekerja. Seperti tubuh, mereka itu punnya alat!

Jelaslah bahwa kita ini bukan mereka! Namun, sudah menjadi kebiasaan kita tidak waspada akan kenyataan ini. Kita terlalu terikat kepada darah daging (tubuh) kita ini, terlalu mencandu kepada panca-indera, hati akan kenikmatan dan keenakan, terlalu bergantung kepada pikiran sehingga kita lupa akan keadaan kita yang sesungguhnya!

Kalau semua ikatan itu sudah dapa kita hancurkan, kalau si-AKU sudah berhenti merajalela sehingga hidup kita bukan sepenuhnya merupakan penghambaan kepada nafsu-nafsu belaka, hanya mengejar kenikmatan, kesenangan dan keenakan saja, barulah mungkin terdapat suatu keadaan yang sama sekali berbeda. Berhentinya pikiran mendatangkan keheningan dan di dalam keheningan inilah mungkin sekali kita akan memasuki dimensi lain dari kehidupan ini menyentuh lingkaran cahaya Illahi yang tak pernah sedetikpun meninggaik kita.

Tanpa adanya cengkeraman pikiran perasaan dan kesadaran panca indera maka si-aku pun runtuh dan tanpa adanya si-aku yang penuh keinginan ini, maka kita akan mengenal apa arti cinta kasih. Bukan cinta kasih antara aku dan engkau yang saling mengharapkan imbalan demi kesenangan diri pribadi, bukan cinta kasih jual belidi pasar, tak pernah mengharapkan imbalan, tak pernah berpamrih. Membiarkan diri penuh dengan cinta kasih ini, berarti membiarkan diri dipenuhi cahaya Illahi, membiarkan diri bersatu dengan Tuhan!


Kini sinar bulan mulai memasuki ruangan itu melalui jendela yang dibiarkan terbuka di sebelah timur. Sinar bulan yang mula-mula menyinari dinding lalu merayap ke meja sembahyang, dan perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar bulan yang lembut dari bulan purnama itu mulai merangkak ke arah pembaringan di mana dua orang remaja itu masih rebah telentang.

Lui Seng Cu kini bangkit berdiri, mencuci kedua tangannya, lalu mengambil kain putih yang sudah dipersiapkan di bawah meja sembahyang. Setelah memberi sembah tiga belas kali ke arah patung Thian-te Kwi-ong, dia lalu membawa dua potong kain sutera panjang itu ke arah pembaringan. Dua orang remaja itu masih telentang, yang pria wajahnya pucat dan ketakutan, yang wanita masih menangis tanpa suara.

Lalu dia mengenakan pakaian itu kepada mereka sekedar menutupi ketelanjangan mereka dengan menyelimutkan sutera putih itu dan membelitkan ke tubuh mereka. Kemudian, dia mengambil pula sebatang pisau belati dari bawah meja, meletakkan pisau itu ke atas meja sembahyang. Pisau itu amat tajam, agaknya diasa sampai mengkilap dan Giok Cu merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Seperti yang diduganya, tentu dua orang korban itu akan dibunuh!

"Toanio, bersiaplah untuk menghaturkan korban kepada Ong-ya! Sinar bulan sudah mendekati mereka, beberapa saat lagi sinar bulan akan menyentuh dada mereka dan itulah saatnya untuk...”

"Tidaaaaaakkk! Mereka tidak boleh dibunuh!" Tiba-tiba Giok Cu berteriak dan tubuhnya sudah meloncat ke arah pembaringan itu, maksudnya tentu saja hendak membebaskan mereka!

“Jangan melanggar kedaulatan Ong-ya!" Lui Seng Cu membentak dan dia pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya.

Akibatnya, tubuh Giok Cu terlempar dan terjengkang, jatuh ke belakang dan bergulingan. Hebat sekali dorongan Lui Seng Cu tadi, akan tetapi karena dia tahu bahwa gadis itu adalah murid tersayang dari Ban-tok Mo-li, maka dorongannya hanya mengandung angin yang kuat dan yang telah membuat gadis itu terjengkang dan bergulingan, akan tetapi tidak melukainya!

Semua orang terkejut, mengira bahwa tentu Ban-tok Mo-li akan marah sekali melihat muridnya yang terkasih itu dirobohkan orang. Akan tetapi, wanita itu bersikap tenang saja, bahkan mengerutkan alisnya. Ketika ia melihat muridnya bangkit. berdiri dan sama sekali tidak terluka, ia pun berkata dengan sikap marah.

"Giok Cu, apa yang kau lakukan ini? Hayo keluar kau!"

Giok Cu berdiri dengan mata terbelalak memandang ke arah pembaringan itu, ia marah sekali dan juga ingin sekali membebaskan dua orang remaja itu. Akan tetapi ia tahu bahwa tenaganya tidak cukup untuk menentang Lui Sen Cu, apalagi gurunya sendiri mengusirnya keluar. Dengan gemas dan membantin kaki kirinya beberapa kali, Giok Cu lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan sekali meloncat ia sudah lenyap dari ruangan itu, berlari keluar.

Ketika Giok Cu tiba di luar, ia melangkah pergi di bawah sinar bulan purnama. Tiba-tiba ia mendengar jerit dua kali. Ia berhenti melangkah dan memejamkan mata. Akan tetapi tetap saja ia dapat membayangkan betapa pisau belati itu menancap di dada dua orang korban yang mungkin dibebaskan dulu dari totokan ketika hendak ditusuk dadanya, la menggunakan kedua tangan menutupi telinganya, lalu ia berlari menuj ke luar kota, ke pantai lautan. Ia tidak melihat betapa apa yang dibayangkan itu masih jauh daripada kenyataan yang amat mengerikan sekali bagi orang awam.

Setelah sinar bulan tiba di atas dada kedua orang muda itu Ban-tok Mo-li yang sudah siap dengan pisau belati di tangan, lalu membebaskan totokan mereka, akan tetapi secepat kliat pisaunya menyambar ke arah dada, sedemikian cepatnya sehingga kelihatannya seperti dua batang pisau bekerja dalam waktu yang sama. Dua orang remaja itu hanya mengeluarkan jeritan masing-masing satu kali menggelepar dan tewas seketika karena jantungnya telah ditarik keluar oleh Ban-lok Mo-li seperti diharuskan dalam upacara itu!

Bagi orang lain, perbuatan seperti ini tentu saja amat mengerikan. Akan tetap bagi seorang datuk sesat seperti Ban-tok Mo-li, pekerjaan itu biasa saja! Dalam waktu beberapa detik saja, tangan kirinya sudah mengambil jantung manusia yang masih bergerak-gerak, dan meletakkan dua buah jantung itu ke atas baki perak yang lebar yang dipegang oleh Lui Seng Cu.

Dua buah jantung itu masih bergerak-gerak seperti hidup, akan tetapi hanya sebentar saja dan Ban-tok Mo-li sudah membersihkan tangannya dari darah menggunakan kain sutera yang menyelimuti tubuh dua orang remaja itu! Sikapnya tenang saja, bahkan mulutnya tersenyum. Dan mereka yang hadir itu adalah tokoh-tokoh sesat yang berhati kejam. Melihat pertunjukkan itu, mereka tidak merasa ngeri, hanya tegang dan kagum!

Kini Ban-tok Mo-li, dipimpin oleh Lui Seng Cu, bersembahyang didepan meja sembahyang di mana dua buah jantung itu dihidangkan. Banyak dupa dibakar dan mereka menyembah sambil berlutut. Kemudian, Lui Seng Cu mengambil sebuah guci terisi anggur. Mulut guci itu lebar dan dia memasukkan dijantung manusia itu ke dalam guci. Di kocoknya anggur dalam guci bersama dua buah jantung itu, kemudian dia menuangkan anggur itu ke dalam sebuah cawan, lalu disiramkan dari atas patung, sehingga patung itu menjadi basah oleh anggur. Tiga kali patung itu disiram anggur bercampur jantung manusia itu.

Kemudian, Lui Seng Cu menuangkan anggur ke dalam cawan dan menyerahkan kepada Ban-tok Mo-li yang segera meminumnya! Setelah itu, mulailah mereka pesta minum anggur yang bercampur jantung manusia yang masih segar! Dan agaknya, mereka semua minum tanpa jijik sedikit pun, bahkan merasa seolah-olah mereka minum obat kuat yang ampuh!

Belasan orang pelayan Ban-tok Mo-li sudah cepat menyingkirkan dua mayat yang masih hangat itu, membawanya jauh ke belakang, ke dalam kebun yang luas di mana siang tadi mereka telah menggali sebuah lubang besar, melempar dua mayat itu ke dalam lubang dan menguruk lubang dengan tanah tanpa banyak peraturan lagi! Dua mayat manusia itu dikubur seperti orang mengubur bangkai binatang saja!

Adakah yang lebih kejam daripada manusia? Manusia, kalau sudah dilanda rasa takut, kalau sudah dikuasai nafsu mengejar sesuatu, menjadi jauh lebih kejam daripada binatang yang bagaimana buas sekalipun! Binatang, betapapun liar dan buasnya, tidak mempunyai pikiran jahat. Kebuasan dan keliaran mereka hanya naluri untuk melindungi dirinya.

Kalau ada binatang buas membunuh binatang lain, hal itu dilakukan tanpa benci, melainkan karena dia harus melakukannya untuk mempertahankan hidupnya, mengisi perutnya, atau membela dirinya. Akan tetapi manusia membunuh demi menyenangkan dirinya, atau demi mencapai sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya.


Upacara selesai akan tetapi pesta itu masih belum selesai! Mereka minum-minum dan terdengar gelak tawa, bahkan ada pula di antara para tamu yang menarik pinggang seorang pelayan wanita. Ada wanita yang mengelak dan menolak, dan tamu itu pun tidak berani memaksa, karena mereka menghormati dan segan kepada Ban-tok Mo-li.

Akan tetapi ada pula pelayan wanita yang mau melayani sehingga mereka itu bercumbu rayu begitu saja, di depan orang banyak di depan Ban-tok Mo-li sendiri yang hanya tertawa. Akan tetapi kalau sampai ada tamu yang berani memaksa seorang pelayannya tentu tamu itu akan sukar keluar dari situ dalam keadaan hidup!

Memang aneh sekali cara hidup para Datuk sesat ini. Agaknya, mereka sudah tidak mengenal hukum dan peraturan lagi, baik hukum agama, hukum tradisi, hukum masyarakat maupun hukum negara. Yang ada hanyalah tindakan semau-gua, seenak perutnya sendiri, apa yang disukai itulah yang dilakukan, dan satu-satunya hukum adalah hukum rimba. Yang kuat dia menang, yang menang dia kuasa, yang kuasa dia benar! Tidak ada susila lagi. Tidak ada akhlak lagi, tidak ada rikuh lagi, yang ada hanya demi senang, senang, senang!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Giok Cu menjatuhkan diri di atas pasir pantai dan ia menangis! Menangis tersedu-sedu, bahkan sampai sesenggukan. Agaknya seluruh rasa penasaran yang selama ini tertimbun di dalam batinnya, melihat hal-hal yang bertolak belakang dengan suara hatinya terjadi di depannya tanpa ia dapat menentangnya, juga semua perasaan duka yang dirasakannya semenjak ia kematian ayah ibunya perasaan dendam karena kematian ayah ibunya adalah perbuatan Sin-tiauw Li Bhok Ki, dan semua hal yang buruk buruk dan yang terpendam di dalam hatinya kini terungkap keluar sehingga ia menangis sampai mengguguk!

Selama lima tahun ini, ia seolah-olah digembleng untuk memiliki watak yang tahan uji? Namun, ternyata kini ia dapat menangis seperti itu, tanda dari kelemahan hati. Hatinya seperti diremas-remas, melihat dua orang remaja dibunuh begitu saja tanpa dosa, dan ia tidak mampu menolong mereka! Apa gunanya selama lima tahun ia mempelajari ilmu silat, ilmu kesaktian kalau kini ia tidak berdaya sama sekali menghadapi seorang Lui Seng Cu yang demikian jahat dan kejam?

Giok Cu menangis tanpa merasa khawatir dilihat atau didengar orang. Siapa yang akan datang di pantai yang amat sunyi di malam hari itu? Dan siapa dapat mendengar suara tangisnya yang ditelan suara ombak yang menggelegar? Tangis merupakan suatu penyaluran rasa duka. Duka yang tadinya membeku di dalam batinnya, seolah-olah mencair dan sedikit demi sedikit mengalir keluar dari dalam hatinya, hanyut melalui air mata.

Setelah menangis selama satu jam, akhirnya tidak ada lagi air mata yang keluar, dan Giok Cu merasa betapa dadanya lega dan ringan sekali. Pikirannya pun lelah dan kosong, dan akhirnya, dendang suara air lautan ditambah semilirnya angin, sinar bulan yang sejuk, membuat ia tidak dapat lagi menahan kantuknya dan bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, tahu-tahu ia telah jatuh pulas, telentang di atas pasir pantai.

Langit amat bersih dan bulan purnama seperti tersenyum kepada dara itu, bintang-bintang yang agak suram juga melambaikan cahayanya kepada dara itu. Suasana yang amat indah di pantai itu tidak meramalkan keindahan dan kedamaian. Sebaliknya malah. Di balik keheningan malam itu, bersembunyi bahaya yang amat mengerikan bagi diri Giok Cu.

Ketika ia lari meninggalkan tempat pesta itu, diam-diam ada dua orang pemuda yang juga pergi meninggalkan pesta. Hal ini tidak kentara karena memang pesta sudah mulai kacau dan orang-orang bergerak ke sana-sini dengan bebas, bahkan ada yang menarik seorang pelayan wanita yang mau melayani ke tempat gelap tanpa dipedulikan yang lain.

Dua orang muda itu bukan lain adalah Ji Ban To dan Gak Su dua orang pemuda yang sejak tadi sudah dibakar nafsu berahi, pertama kali ketika melihat Giok Cu di pantai bersama Siangkoan Tek, kemudian melihat gadis yang dijadikan korban. Melihat peristiwa keributan di pesta, di mana Giok Cu hendak melepaskan dua orang korban kemudian dirobohkan Lui Seng Cu dan dimarahi gurunya, kemudian melihat betapa gadis itu lari meninggalkan ruangan pesta, dua orang pemuda ini pun diam-diam keluar dan mencari Giok Cu.

Ketika Giok Cu yang kelelahan itu tertidur di atas pasir, telentang dalam keadaan pulas, dua sosok bayangan orang menghampirinya dengan hati-hati sekali. Kaki mereka melangkah perlahan-lahan, sedikit pun tidak menimbulkan suara sehingga gadis remaja yang sedang pulas itu sama sekali tidak mendengar apa-apa dan masih enak saja tidur nyenyak dengan napas lembut dan panjang.

Akan tetapi, seorang gadis remaja seperti Giok Cu itu memiliki kepekaan yang melebihi orang-orang dewasa atau orang-orang tua. Bahaya besar yang mengancam dirinya itu seolah-olah menggerakkan sesuatu di dalam tubuhnya yang menyembunyikan tanda bahaya sehingga tiba-tiba saja Giok Cu seperti orang tergugah dan terkejut, membuka matanya. Namun, terlambat sudah. Sebuah totokan membuat tubuhnya menjadi lemas dan tenaganya hilang. Ia hanya mampu terbelalak saja ketika mengenal dua buah wajah di bawah sinar bulan purnama.

Wajah Ji Ban To dan Gak Su, dua orang murid majikan Pegunung Liong-san yang menjadi tamu subonya Dan dua buah wajah itu kini dalam penglihatan Giok Cu amat menakutkan. Di buah mulut itu menyeringai lebar di nafsu mereka mendengus panas, mata mereka juga beringas seperti mata bintang buas kelaparan! Giok Cu yang belum berpengalaman itu tidak dapat menduga apa yang mereka kehendaki, namun naluri kewanitaannya mengisyaratkan ancaman bahaya besar bagi dirinya, membuat ia mengerahkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya untuk membebaskan diri.

Namun percuma saja. Totokan yang di lakukan oleh Ji Ban To itu membuat kaki tangannya seperti lumpuh. Tingkat kepandaian dan tenaga dari dua orang pemuda itu tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri. Andaikata ia tidak dicurangi, ditotok selagi tidur, tentu ia mampu melawan dua orang ini dan ia tidak gentar walaupun dikeroyok dua.

"Jahanam kalian!" Ia hanya mampu memaki dan bahkan suaranya pun kekurangan tenaga. "Apa yang kalian lakukan ini? Bebaskan aku!"

Pemuda kurus kering yang bermuka pucat itu, Ji Ban To, mendekatkan mulutnya, menyeringai dan hidungnya hampir menyentuh pipi Giok Cu sehingga gadis remaja ini sedapat mungkin memutar lehernya menjauhkan mukanya dan dengan jijik ia merasa betapa napas pemuda itu meniup kelehernya.

"Apa yang kami lakukan? Heh-heh, Giok Cu yang manis, engkau tentu mengerti sendiri. Jangan hanya memperhatikan Siangkoan Tek seorang. Kami pun dua orang pemuda yang gagah perkasa, murid seorang datuk, penguasa Pegunungan Liong-san."

"Benar sekali kata Suheng!" kata Gak Su dan muka yang tampan akan tetapi bopeng itu pun mendekat dan tangannya mulai merenggut lepas pakaian yang menutupi tubuh Giok Cu. "Mari kita bertiga bersenang-senang di pantai ini, di atas pasir, di bawah sinar bulan purnama. Alangkah indahnya, alangkah asyik dan nikmatnya!"

Kini jantung dalam dada Giok Cu berdegup penuh rasa ngeri dan ketakutan. Baru sekali ini ia benar-benar merasa takut membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya. Dua orang itu seperti berlomba merenggut lepas semua pakaiannya! Ia meronta, memberontak, memekik, menjerit, akan tetapi hanya dalam batin saja karena kaki tangannya tetap tidak mampu digerakkan dan suaranya hanya keluar dengan lemah saja.

"Kalian jahanam busuk! Anjing keparat. Lepaskan aku…! Jangan… jangan ganggu aku…!"

Akan tetapi, mulutnya sudah ditutup dengan ciuman mereka berganti-ganti. Giok Cu merasa muak dan jijik mau muntah rasanya. Akan tetapi rasa takut mengatasi semua rasa jijik ini matanya terbelalak, jiwanya meronta, tahu bahwa ia sama sekali tidak berdaya dan sebentar lagi tentu ia akan diperkosa.

Membayangkan ini, ia hampir pingsan Tidak, ia tidak boleh pingsan. Ia tidak boleh membiarkan mereka memperkosanya! Ia harus mencari akal. Dua orang pemuda itu seperti dua ekor ikan menperebutkan makanan, menciumi muka dan mulut Giok Cu dan tangan mereka meraba dan membelai.

"Ji Ban To dan Gak Su, nanti dulu... nanti dulu, dengarkan omonganku…“

Giok Cu berkata sedapat mungkin diantara ciuman-ciuman mereka yang semakin panas. Ia pun mulai merasa ngeri mengingat akan tanda tahi lalat merah kecil di bawah siku lengan kirinya. Bukankah subonya pernah memberitahu kepadanya bahwa kalau keperawanannya hilang tanda itu akan lenyap dan dalam waktu sebulan ia akan mati? Ia akan diperkosa kehilangan kehormatannya secara hina sekali, kemudian ia akan mati!

"Nanti dulu, dengarkan aku…" kata-katanya membujuk.

Dua orang pemuda itu sambil menyeringai menghentikan ciuman dan rabaan mereka. "Hem, Manis, engkau sungguh cantik dan panas! Engkau mau bicara apa, sayang?"

Giok Cu tersenyum, senyum yang manis sekali! Dua orang pemuda itu terpesona dan merasa girang. Gadis itu tersenyum kepada mereka! Agaknya, ciuman dan belaian mereka tadi membuat gadis itu pun mulai menikmati permainan cinta mereka.

"Kalian ini sungguh dua orang laki laki yang bodoh sekali. Bagaimana kita dapat menikmati permainan cinta kalau aku tertotok seperti ini? Kalian sama saja bermain cinta dengan sesosok mayat dan aku… aku merasa tidak leluasa dan tidak dapat menikmati cinta kalian dalam keadaan tidak mampu bergerak begini. Kalau kalian membebaskan totokan ini, tentu kita akan dapat bermain cinta lebih asyik lagi…"

Dua orang pemuda itu saling pandang dan tertawa gembira. "Ha-ha-ha, ia benar sekali, Suheng! Kita bebaskan totokannya dan kita bergiliran "

Akan tetapi, biarpun sudah diamuk nafsunya sendiri, Ji Ban To ternyata, lebih cerdik daripada sutenya. "Nanti dulu, Sute. Kita harus yakin benar bahwa ia tidak menipu kita. Ikat dulu kaki dua lengannya dengan ikat pinggangnya itu."

Mereka lalu menelikung kedua tangan Giok Cu ke belakang, lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat-kuat, menggunakan ikat pinggang Giok Cu sendiri yang tadi mereka renggut lepas. Biarpun mendongkol sekali, Giok Cu menyembunyikan rasa dongkol itu dari mukanya...

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 16

SETELAH pemandian selesai dilakukan, dua orang yang akan menjadi korban itu bergerak, bahkan gadis itu mengeluarkan jerit tertahan dan menangis. Melihat ini, teringatlah Lui Seng Cu bahwa mereka tentu sudah terbebas dari pengaruh totokan, maka cepat dia pun menghampiri mereka dan dua kali tangannya bergerak, perjaka dan perawan itu sudah lumpuh kembali.

Kemudian, dengan lagak dan sikap seperti seorang pendeta agung Lui Seng Cu berdiri tegak, lalu mengambil ikatan dupa yang masih membara, dan menggerakkannya di atas mukanya yang tengadah. Abu yang berada di ujung ikatan hio itu terjatuh ke atas mukanya. Ketika dia mengembalikan ikatan hio itu, mukanya kini menjadi coreng moreng dengan abu hio, dan dengan tangan kirinya dia mengusap mukanya, bukan untuk menghapus abu, melainkan untuk meratakannya!

Tiba-tiba tubuhnya terhuyung lalu dia jatuh terduduk, tubuh itu menggelepar seperti ayam disembelih, kaki tangannya kejang-kejang dan menggelepar, matanya mendelik lidahnya keluar. Dua orang muridnya nampak tenang saja maka para tamu yang hadir juga diam saja hanya mengamati dengan bulu tengkuk meremang.

Mereka tadi telah diberitahu oleh Lui Seng Cu bahwa dari upacara itu, akan ada "setan pembantu” dari Thian-te Kwi-ong memasuki dirinya dan kalau dia melakukan hal-hal yang aneh, diharapkan para hadirin tidak menjadi kaget karena yang melakukan itu adalah roh atau setan pembantu yang memasuki dirinya.

Kini semua orang mengamatinya, ada yang percaya dan ada pula yang setengah-setengah, ada pun yang belum percaya sehingga mereka ini tersenyum mengejek, menganggap bahwa Lui Seng Cu hanya berpura-pura dan berlagak saja untuk mendatangkan kesan. Akan tetapi, Ban-tok Mo-Ii sudah percaya betul karena sebelum ini, Hok-houw Toa-to sudah membuktikan bahwa dia memang memiliki kekuatan gaib yang didapatnya dari Thian-te Kwi-ong!

Sebelum menyatakan diri ingin masuk menjadi anggauta atau anak buah atau murid Thian-te Kwi-ong, lebih dahulu Ban-tok Mo-Ii menguji Lui Seng Cu. Di dalam ruangan ini pula, beberapa hari lalu, mereka berdua duduk berhadapan dalam jarak empat meter. Ban-tok Mo-Ii yakin bahwa ilmu silatnya, ilmu gin-kang maupun kekuatan sin-kang-nya, masih lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Akan tetapi ketika ia menguji orang itu, yang lebih dulu membiarkan dirinya "kemasukan" Thian-te Kwi-ong, sebelum menyentuh tubuh Lui Seng Cu, ia berkali-kali terpelanting, kemudian bahkan ia tidak mampu bergerak dari tempat duduknya!

Lui Seng Cu lalu memberitahu bahwa itu hanya satu di antara kesaktian Thian-te Kwi-ong! Murid yang tekun akan menjadi sakti, kaya raya, dan juga panjang umur sampai lebih seratus tahun! Inilah sebabnya, ketika melihat Lui Seng Cu menggelepar di depan meja sembahyang, Ban-tok Mo-li tidak merasa heran, juga ia percaya sepenuhnya bahwa orang itu sedang mulai kemasukan roh halus atau setan pembantu seperti yang telah diceritakan sebelumnya.

Kini Lui Seng Cu tidak menggelepar lagi, menjadi tenang dan berlutut di depan meja sembahyang, menghadap ke arca Thian-te Kwi-ong dan menyembah sampai tiga belas kali, mengeluarkan suara mengaum seperti harimau. Kemudian bangkit berdiri, mukanya masih coreng moreng terkena abu, matanya mendelik dan berdirinya tegak lurus dan nampak seolah-olah tubuhnya lebih jangkung daripada tadi. Lalu dia memutar tubuh menghadap ke arah Ban-tok Mo-li, lalu terdengar suaranya lantang sekali, terdengar bergetar biarpun agak parau.

"Phang Bi Cu, Ong-ya memanggil engkau untuk menghadap ke sini, sekarang juga!"

Semua orang terkejut. Nama besar Ban-tok Mo-li, siapakah yang tidak tahu? Akan tetapi nama kecilnya, Phang Bi Cu jarang ada yang tahu dan mereka yang tahu pun tidak berani mempergunakannya. Kini, Lui Seng Cu yang kemasukan iblis itu menyebut nama kecilnya begitu saja seolah-olah memanggil seorang pelayan atau seorang anak kecil!

Kalau orang lain berani memanggilnya seperti itu, tentu sekali menggerakkan tangannya, Ban-tok Mo-li akan membunuhnya! Akan tetapi sekali ini, Ban-tok Mo-li sama sekali tidak menjadi marah, bahkan ia lalu bangkit dari tempat duduknya.

"Ong-ya, saya datang menghadap!" Dan wanita yang dikenal sebagai Iblis Betina itu melangkah dengan lambat, lengan lenggang lemah gemulai penuh gairah, menuju ke meja sembahyang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menghadap patung Thian-te Kwi-ong.

"Phang Bi Cu, kami mewakili Thian-te Kwi-ong bertanya kepadamu agar kamu menjawab dengan sejujurnya!" kembali terdengar suara parau Lui Seng Cu yang masih berdiri tegak. "Dengarkan baik-baik!"

"Saya mendengarkan dan akan menjawab sejujurnya," kata Ban-tok Mo-li dengan perasaan aneh karena selama hidupnya belum pernah ia berjanji untuk menjawab dengan jujur!

Selama ini kejujuran dianggapnya suatu kelemahan dan kebodohan, tanda dari hati yang takut Akan tetapi sekali ini ia berjanji untuk menjawab dengan jujur. Mungkin karena takut di dalam hatinya terhadap kekuasaan Thian-te Kwi-ong, atau karena ada harapan di lubuk hatinya agar mendapatkan berkah, terutama sekali umur panjang?

"Phang Bi Cu, benarkah engkau ingin menghambakan diri kepada Thian-te Kw ong-ya?"

"Benar."

"Dan engkau siap untuk menghaturkan korban suci kepada Ong-ya?"

"Saya sanggup dengan senang hati."

"Apakah korban sudah disediakan?"

"Sudah disediakan dan siap dikorbankan."

"Bagus, permohonanmu diterima, Phang Bi Cu, dan sebagai anugerah Ong-ya melalui kami, anggur darah remaja akan membuat engkau menjadi awet muda seperti remaja!"

"Terima kasih, Ong-ya," kata Ban-tok Mo-li dengan girang dan wanita yang terkenal sebagai Iblis Betina yang biasanya amat angkuh ini, yang tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, kini menyembah sambil berlutut, menyembah sebanyak tiga belas kali seperti yang diberitahukan kepadanya oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Cara penyembahan dan penyerahan diri kepada Thian-te Kwi-ong!

Tiba-tiba Lui Seng Cu jatuh terduduk dan menggelepar kembali, hanya sebentar dan dia pun sudah bangkit lagi dan kini sikapnya biasa, seolah-olah setan yang memasuki tubuhnya sudah menghilang dan dia menjadi Lui Seng Cu kembali. Kini dihapusnya abu yang coreng moreng pada mukanya, kemudiandia berkata kepada Ban-tok Mo-li.

"Upacara tingkat pertama telah selesai. Kini tinggal menanti masuknya sinar bulan. Kalau sinar bulan sudah menimpa tubuh kedua orang korban itu, barulah upacara terpenting, yaitu persembahan, boleh dilakukan. Sementara ini, sambil menanti naiknya bulan, Toanio (Nyonya) boleh menjamu para tamu dan saksi, bergembira karena Toa-nio telah diterima menjadi murid dari Thian te Kwi-ong!"

Dengan wajahnya yang cantik pesolek itu berseri, Ban-tok Mo-li lalu bangkit dan dengan isyarat tangannya, belasan orang pelayannya yang semua terdiri dari wanita yang masih muda, cantik dan gesit, mengeluarkan hidangan dan mengatur hidangan itu di atas lantai di depan para hadirin yang duduk bersila di ruangan itu. Cara pesta yang aneh karena mereka semua duduk bersila di atas lantai, bukan di kursi menghadapi meja.

Akan tetapi, hidangan yang disuguhkan merupakan masakan istimewa, mahal dan lezat, masih mengepul panas lagi, maka gembiralah hati para tamu. Semenjak beberapa hari menjadi tamu Ban-tok Mo-li, memang mereka sudah menjadi tamu-tamu terhormat yang dimanja dan disambut dengan baik sekali, akan tetapi malam ini sungguh merupakan pesta yang mewah!

Semua orang makan minum dengan gembira setelah Lui Seng Cu menyuguhkan arak dan beberapa mangkok masakan panas ke atas meja sembahyang, dan seorang pun agaknya tidak ada yang teringat atau mempedulikan dua orang calon korban yang masih menggeletak telentang di atas pembaringan dalam keadaan tidak mampu bergerak dan telanjang bulat itu. Tidak ada seorang pun kecuali Giok Cu! Dara remaja ini sejak tadi mengamati semua yang terjadi dan ketika semua orang makan minum berpesta pora, ia tidak ikut makan!

la selalu memandang ke arah pembaringan di mana dua orang itu rebah telentang. Hatinya memberontak! Biarpun ia tidak peduli melihat gurunya masuk menjadi anggauta atau murid kepercayaan baru itu, penyembah setan yang disebut Raja Setan Langit Bumi, namun melihat dua orang calon korban itu, ia merasa tidak senang sama sekali! Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dua orang caloon korban itu, akan tetapi menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang mengerikan.

Mungkin dua orang itu akan dibunuh! Hatinya meronta dan ia sama sekali tidak mampu makan minum. Ia memang tidak pernah diajar lain kecual. ilmu silat dan sedikit baca tulis oleh gurunya, tidak pernah belajar tentang akhlak. Akan tetapi, lima tahun yang lalu ia telah mengerti tentang baik-buruk tentang susila dan akhlak yang diterimanya dari pendidikan ayah ibu kandungnya.

"Siauw-moi Giok Cu, kenapa kau tidak makan?" Tiba-tiba Siangkoan Tek bertanya. Sejak tadi pemuda ini memang selalu memperhatikan Giok Cu, dan pandang matanya kini bertambah dengan pandang mata kagum. Memang, sejak pertemuan pertama, Siangkoan Tek tergila-gila kepada gadis remaja ini, dan pengalaman pagi tadi di lautan membuat dia semakin kagum.

Gadis remaja itu bukan saja cantik jelita, manis dan pandai ilmu silat, akan tetapi juga amat cerdik dan pandai ilmu bermain di air pula. Dan, yang lebih menyenangkan hatinya, ketika ia dalam keadaan pingsan, ternyata gadis itu tidak membunuhnya, bahkan menelanjanginya! Apalagi artinya perbuatan ini kalau bukan cinta, pikirnya. Gadis remaja itu bagaimanapun juga mencintanya!

Mendengar teguran halus itu, Giok Cu hanya menunduk, akan tetapi gurunya menoleh dan menegur pula, "Benar, mengapa engkau tidak ikut makan minum, Giok Cu?" Gurunya amat sayang kepadanya, dan hal ini terasa benar oleh Giok Cu, akan tetapi alangkah bedanya rasa sayang gurunya itu dengan rasa sayang yang pernah dirasakannya dari ayah ibunya.

"Aku… aku tidak ada nafsu makan Subo. Aku masih kenyang," jawabnya pendek. Gurunya pun tidak peduli lagi karena hati Iblis Betina itu sedang gembira bukan main, mana ia mau peduli tentang muridnya makan atau tidak?

Selain Siangkoan Tek, juga ada dua pasang mata sejak tadi melirik ke arah Giok Cu, yaitu mata Ji Ban To dan Gak Su. Suheng dan sute itu, semenjak tadi memang menderita kekecewaan beberapa kali. Pertama ketika permintaan mereka kepada dua orang murid Hok-houw Toa-to untuk mempermainkan gadis calon korban mereka tolak. Kemudian ketika tadi Hok-houw Toa-to di depan orang banyak menghardik mereka karena mereka berdua membantu Siok Boan dari Poa Kian So untuk melepaskan pakaian dua orang calon korban itu dan mereka mencoba untuk meraba dan membela tubuh gadis calon korban!

Mereka berdua kini merasa kecewa sekali dan biarpun mereka ikut pula makan minum, mereka selalu melirik ke arah Giok Cu. Apalagi setelah mereka menuangkan banyak arak ke dalam perut mereka keduanya semakin sering melirik ke arah Giok Cu. Tidak salah, pikir mereka. Dara calon korban itu, kalau dibandingkan dengan Giok Cu, memang bukan apa-apanya!

Mereka pun beruntung sekali pernah melihat Giok Cu menanggalkan pakaian ketika dara itu berganti pakaian kering di pantai. Ah, sungguh menggairahkan sekali, dan kini mata mereka seperti berubah hijau ketika mengerling ke arah Giok Cu.

Pikiran, badan dan perasaan melalui lima indera merupakan persekutuan yang selalu menyeret kita ke arah kemaksiatan atau perbuatan yang tidak sehat, bahkan kadang kala perbuatan jahat yang merugikan orang lain. Gairah nafsu bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Sebagai contohnya, gairah nafsu berahi. Mata melihat wanita cantik. Kalau pikiran tidak mencampuri dan mengotori, maka tidak akan terjadi sesuatu.

Namun, biasanya, pikiran mencampuri, si-AKU membayangkan kalau wanita itu menjadi miliknya, kalau wanita itu, dikuasainya, dan sebagainya, maka, timbullah gairah nafsu birahi. Pikir yang membayangkan ini merupakan cermin dari pengalaman melalui badan pula dengan perantaraan lima indera, perasaa nikmat dan enak mendatangkan mgata dan bayangan.

Kalau nafsu sudah menguasai batin, maka kita melakukan segalanya untuk memuaskan tuntutan nafsu dan kadang-kadang kita menjadi sedemikian buta sehingga tidak segan melakukan perbuatan yang kotor, seperti melacur, berjina, atau bahkan memperkosa!

Kita lupa bahwa kita, manusia ini, pribadi-pribadi ini, bukanlah binatang! Kita bukanlah tubuh ini! Kita bukan pula pikiran ini, bukan perasaan panca indera ini, bahkan bukan kesadaran ini! Semua ini, tubuh, pikiran, perasaan, kesadaran ini hanya merupakan hal-hal yang sementara saja, yang akhirnya akan hancur lenyap begitu "rumah" ini menjadi tua atau rusak dan tidak tepakai lagi!

Seperti juga rumah membutuhkan perlengkapan, perapian, penerangan dan sebagainya, tubuh juga membutuhkan perlengkapan, seperti pikiran, perasaan, kesadaran. Kalau tubuh ini tertidur, atau pingsan, maka semua itu pun berhenti berfungsi. Pikiran, perasaan, kesadaran, kesemuanya itu pun berhenti bekerja. Seperti tubuh, mereka itu punnya alat!

Jelaslah bahwa kita ini bukan mereka! Namun, sudah menjadi kebiasaan kita tidak waspada akan kenyataan ini. Kita terlalu terikat kepada darah daging (tubuh) kita ini, terlalu mencandu kepada panca-indera, hati akan kenikmatan dan keenakan, terlalu bergantung kepada pikiran sehingga kita lupa akan keadaan kita yang sesungguhnya!

Kalau semua ikatan itu sudah dapa kita hancurkan, kalau si-AKU sudah berhenti merajalela sehingga hidup kita bukan sepenuhnya merupakan penghambaan kepada nafsu-nafsu belaka, hanya mengejar kenikmatan, kesenangan dan keenakan saja, barulah mungkin terdapat suatu keadaan yang sama sekali berbeda. Berhentinya pikiran mendatangkan keheningan dan di dalam keheningan inilah mungkin sekali kita akan memasuki dimensi lain dari kehidupan ini menyentuh lingkaran cahaya Illahi yang tak pernah sedetikpun meninggaik kita.

Tanpa adanya cengkeraman pikiran perasaan dan kesadaran panca indera maka si-aku pun runtuh dan tanpa adanya si-aku yang penuh keinginan ini, maka kita akan mengenal apa arti cinta kasih. Bukan cinta kasih antara aku dan engkau yang saling mengharapkan imbalan demi kesenangan diri pribadi, bukan cinta kasih jual belidi pasar, tak pernah mengharapkan imbalan, tak pernah berpamrih. Membiarkan diri penuh dengan cinta kasih ini, berarti membiarkan diri dipenuhi cahaya Illahi, membiarkan diri bersatu dengan Tuhan!


Kini sinar bulan mulai memasuki ruangan itu melalui jendela yang dibiarkan terbuka di sebelah timur. Sinar bulan yang mula-mula menyinari dinding lalu merayap ke meja sembahyang, dan perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar bulan yang lembut dari bulan purnama itu mulai merangkak ke arah pembaringan di mana dua orang remaja itu masih rebah telentang.

Lui Seng Cu kini bangkit berdiri, mencuci kedua tangannya, lalu mengambil kain putih yang sudah dipersiapkan di bawah meja sembahyang. Setelah memberi sembah tiga belas kali ke arah patung Thian-te Kwi-ong, dia lalu membawa dua potong kain sutera panjang itu ke arah pembaringan. Dua orang remaja itu masih telentang, yang pria wajahnya pucat dan ketakutan, yang wanita masih menangis tanpa suara.

Lalu dia mengenakan pakaian itu kepada mereka sekedar menutupi ketelanjangan mereka dengan menyelimutkan sutera putih itu dan membelitkan ke tubuh mereka. Kemudian, dia mengambil pula sebatang pisau belati dari bawah meja, meletakkan pisau itu ke atas meja sembahyang. Pisau itu amat tajam, agaknya diasa sampai mengkilap dan Giok Cu merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Seperti yang diduganya, tentu dua orang korban itu akan dibunuh!

"Toanio, bersiaplah untuk menghaturkan korban kepada Ong-ya! Sinar bulan sudah mendekati mereka, beberapa saat lagi sinar bulan akan menyentuh dada mereka dan itulah saatnya untuk...”

"Tidaaaaaakkk! Mereka tidak boleh dibunuh!" Tiba-tiba Giok Cu berteriak dan tubuhnya sudah meloncat ke arah pembaringan itu, maksudnya tentu saja hendak membebaskan mereka!

“Jangan melanggar kedaulatan Ong-ya!" Lui Seng Cu membentak dan dia pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya.

Akibatnya, tubuh Giok Cu terlempar dan terjengkang, jatuh ke belakang dan bergulingan. Hebat sekali dorongan Lui Seng Cu tadi, akan tetapi karena dia tahu bahwa gadis itu adalah murid tersayang dari Ban-tok Mo-li, maka dorongannya hanya mengandung angin yang kuat dan yang telah membuat gadis itu terjengkang dan bergulingan, akan tetapi tidak melukainya!

Semua orang terkejut, mengira bahwa tentu Ban-tok Mo-li akan marah sekali melihat muridnya yang terkasih itu dirobohkan orang. Akan tetapi, wanita itu bersikap tenang saja, bahkan mengerutkan alisnya. Ketika ia melihat muridnya bangkit. berdiri dan sama sekali tidak terluka, ia pun berkata dengan sikap marah.

"Giok Cu, apa yang kau lakukan ini? Hayo keluar kau!"

Giok Cu berdiri dengan mata terbelalak memandang ke arah pembaringan itu, ia marah sekali dan juga ingin sekali membebaskan dua orang remaja itu. Akan tetapi ia tahu bahwa tenaganya tidak cukup untuk menentang Lui Sen Cu, apalagi gurunya sendiri mengusirnya keluar. Dengan gemas dan membantin kaki kirinya beberapa kali, Giok Cu lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan sekali meloncat ia sudah lenyap dari ruangan itu, berlari keluar.

Ketika Giok Cu tiba di luar, ia melangkah pergi di bawah sinar bulan purnama. Tiba-tiba ia mendengar jerit dua kali. Ia berhenti melangkah dan memejamkan mata. Akan tetapi tetap saja ia dapat membayangkan betapa pisau belati itu menancap di dada dua orang korban yang mungkin dibebaskan dulu dari totokan ketika hendak ditusuk dadanya, la menggunakan kedua tangan menutupi telinganya, lalu ia berlari menuj ke luar kota, ke pantai lautan. Ia tidak melihat betapa apa yang dibayangkan itu masih jauh daripada kenyataan yang amat mengerikan sekali bagi orang awam.

Setelah sinar bulan tiba di atas dada kedua orang muda itu Ban-tok Mo-li yang sudah siap dengan pisau belati di tangan, lalu membebaskan totokan mereka, akan tetapi secepat kliat pisaunya menyambar ke arah dada, sedemikian cepatnya sehingga kelihatannya seperti dua batang pisau bekerja dalam waktu yang sama. Dua orang remaja itu hanya mengeluarkan jeritan masing-masing satu kali menggelepar dan tewas seketika karena jantungnya telah ditarik keluar oleh Ban-lok Mo-li seperti diharuskan dalam upacara itu!

Bagi orang lain, perbuatan seperti ini tentu saja amat mengerikan. Akan tetap bagi seorang datuk sesat seperti Ban-tok Mo-li, pekerjaan itu biasa saja! Dalam waktu beberapa detik saja, tangan kirinya sudah mengambil jantung manusia yang masih bergerak-gerak, dan meletakkan dua buah jantung itu ke atas baki perak yang lebar yang dipegang oleh Lui Seng Cu.

Dua buah jantung itu masih bergerak-gerak seperti hidup, akan tetapi hanya sebentar saja dan Ban-tok Mo-li sudah membersihkan tangannya dari darah menggunakan kain sutera yang menyelimuti tubuh dua orang remaja itu! Sikapnya tenang saja, bahkan mulutnya tersenyum. Dan mereka yang hadir itu adalah tokoh-tokoh sesat yang berhati kejam. Melihat pertunjukkan itu, mereka tidak merasa ngeri, hanya tegang dan kagum!

Kini Ban-tok Mo-li, dipimpin oleh Lui Seng Cu, bersembahyang didepan meja sembahyang di mana dua buah jantung itu dihidangkan. Banyak dupa dibakar dan mereka menyembah sambil berlutut. Kemudian, Lui Seng Cu mengambil sebuah guci terisi anggur. Mulut guci itu lebar dan dia memasukkan dijantung manusia itu ke dalam guci. Di kocoknya anggur dalam guci bersama dua buah jantung itu, kemudian dia menuangkan anggur itu ke dalam sebuah cawan, lalu disiramkan dari atas patung, sehingga patung itu menjadi basah oleh anggur. Tiga kali patung itu disiram anggur bercampur jantung manusia itu.

Kemudian, Lui Seng Cu menuangkan anggur ke dalam cawan dan menyerahkan kepada Ban-tok Mo-li yang segera meminumnya! Setelah itu, mulailah mereka pesta minum anggur yang bercampur jantung manusia yang masih segar! Dan agaknya, mereka semua minum tanpa jijik sedikit pun, bahkan merasa seolah-olah mereka minum obat kuat yang ampuh!

Belasan orang pelayan Ban-tok Mo-li sudah cepat menyingkirkan dua mayat yang masih hangat itu, membawanya jauh ke belakang, ke dalam kebun yang luas di mana siang tadi mereka telah menggali sebuah lubang besar, melempar dua mayat itu ke dalam lubang dan menguruk lubang dengan tanah tanpa banyak peraturan lagi! Dua mayat manusia itu dikubur seperti orang mengubur bangkai binatang saja!

Adakah yang lebih kejam daripada manusia? Manusia, kalau sudah dilanda rasa takut, kalau sudah dikuasai nafsu mengejar sesuatu, menjadi jauh lebih kejam daripada binatang yang bagaimana buas sekalipun! Binatang, betapapun liar dan buasnya, tidak mempunyai pikiran jahat. Kebuasan dan keliaran mereka hanya naluri untuk melindungi dirinya.

Kalau ada binatang buas membunuh binatang lain, hal itu dilakukan tanpa benci, melainkan karena dia harus melakukannya untuk mempertahankan hidupnya, mengisi perutnya, atau membela dirinya. Akan tetapi manusia membunuh demi menyenangkan dirinya, atau demi mencapai sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya.


Upacara selesai akan tetapi pesta itu masih belum selesai! Mereka minum-minum dan terdengar gelak tawa, bahkan ada pula di antara para tamu yang menarik pinggang seorang pelayan wanita. Ada wanita yang mengelak dan menolak, dan tamu itu pun tidak berani memaksa, karena mereka menghormati dan segan kepada Ban-tok Mo-li.

Akan tetapi ada pula pelayan wanita yang mau melayani sehingga mereka itu bercumbu rayu begitu saja, di depan orang banyak di depan Ban-tok Mo-li sendiri yang hanya tertawa. Akan tetapi kalau sampai ada tamu yang berani memaksa seorang pelayannya tentu tamu itu akan sukar keluar dari situ dalam keadaan hidup!

Memang aneh sekali cara hidup para Datuk sesat ini. Agaknya, mereka sudah tidak mengenal hukum dan peraturan lagi, baik hukum agama, hukum tradisi, hukum masyarakat maupun hukum negara. Yang ada hanyalah tindakan semau-gua, seenak perutnya sendiri, apa yang disukai itulah yang dilakukan, dan satu-satunya hukum adalah hukum rimba. Yang kuat dia menang, yang menang dia kuasa, yang kuasa dia benar! Tidak ada susila lagi. Tidak ada akhlak lagi, tidak ada rikuh lagi, yang ada hanya demi senang, senang, senang!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Giok Cu menjatuhkan diri di atas pasir pantai dan ia menangis! Menangis tersedu-sedu, bahkan sampai sesenggukan. Agaknya seluruh rasa penasaran yang selama ini tertimbun di dalam batinnya, melihat hal-hal yang bertolak belakang dengan suara hatinya terjadi di depannya tanpa ia dapat menentangnya, juga semua perasaan duka yang dirasakannya semenjak ia kematian ayah ibunya perasaan dendam karena kematian ayah ibunya adalah perbuatan Sin-tiauw Li Bhok Ki, dan semua hal yang buruk buruk dan yang terpendam di dalam hatinya kini terungkap keluar sehingga ia menangis sampai mengguguk!

Selama lima tahun ini, ia seolah-olah digembleng untuk memiliki watak yang tahan uji? Namun, ternyata kini ia dapat menangis seperti itu, tanda dari kelemahan hati. Hatinya seperti diremas-remas, melihat dua orang remaja dibunuh begitu saja tanpa dosa, dan ia tidak mampu menolong mereka! Apa gunanya selama lima tahun ia mempelajari ilmu silat, ilmu kesaktian kalau kini ia tidak berdaya sama sekali menghadapi seorang Lui Seng Cu yang demikian jahat dan kejam?

Giok Cu menangis tanpa merasa khawatir dilihat atau didengar orang. Siapa yang akan datang di pantai yang amat sunyi di malam hari itu? Dan siapa dapat mendengar suara tangisnya yang ditelan suara ombak yang menggelegar? Tangis merupakan suatu penyaluran rasa duka. Duka yang tadinya membeku di dalam batinnya, seolah-olah mencair dan sedikit demi sedikit mengalir keluar dari dalam hatinya, hanyut melalui air mata.

Setelah menangis selama satu jam, akhirnya tidak ada lagi air mata yang keluar, dan Giok Cu merasa betapa dadanya lega dan ringan sekali. Pikirannya pun lelah dan kosong, dan akhirnya, dendang suara air lautan ditambah semilirnya angin, sinar bulan yang sejuk, membuat ia tidak dapat lagi menahan kantuknya dan bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, tahu-tahu ia telah jatuh pulas, telentang di atas pasir pantai.

Langit amat bersih dan bulan purnama seperti tersenyum kepada dara itu, bintang-bintang yang agak suram juga melambaikan cahayanya kepada dara itu. Suasana yang amat indah di pantai itu tidak meramalkan keindahan dan kedamaian. Sebaliknya malah. Di balik keheningan malam itu, bersembunyi bahaya yang amat mengerikan bagi diri Giok Cu.

Ketika ia lari meninggalkan tempat pesta itu, diam-diam ada dua orang pemuda yang juga pergi meninggalkan pesta. Hal ini tidak kentara karena memang pesta sudah mulai kacau dan orang-orang bergerak ke sana-sini dengan bebas, bahkan ada yang menarik seorang pelayan wanita yang mau melayani ke tempat gelap tanpa dipedulikan yang lain.

Dua orang muda itu bukan lain adalah Ji Ban To dan Gak Su dua orang pemuda yang sejak tadi sudah dibakar nafsu berahi, pertama kali ketika melihat Giok Cu di pantai bersama Siangkoan Tek, kemudian melihat gadis yang dijadikan korban. Melihat peristiwa keributan di pesta, di mana Giok Cu hendak melepaskan dua orang korban kemudian dirobohkan Lui Seng Cu dan dimarahi gurunya, kemudian melihat betapa gadis itu lari meninggalkan ruangan pesta, dua orang pemuda ini pun diam-diam keluar dan mencari Giok Cu.

Ketika Giok Cu yang kelelahan itu tertidur di atas pasir, telentang dalam keadaan pulas, dua sosok bayangan orang menghampirinya dengan hati-hati sekali. Kaki mereka melangkah perlahan-lahan, sedikit pun tidak menimbulkan suara sehingga gadis remaja yang sedang pulas itu sama sekali tidak mendengar apa-apa dan masih enak saja tidur nyenyak dengan napas lembut dan panjang.

Akan tetapi, seorang gadis remaja seperti Giok Cu itu memiliki kepekaan yang melebihi orang-orang dewasa atau orang-orang tua. Bahaya besar yang mengancam dirinya itu seolah-olah menggerakkan sesuatu di dalam tubuhnya yang menyembunyikan tanda bahaya sehingga tiba-tiba saja Giok Cu seperti orang tergugah dan terkejut, membuka matanya. Namun, terlambat sudah. Sebuah totokan membuat tubuhnya menjadi lemas dan tenaganya hilang. Ia hanya mampu terbelalak saja ketika mengenal dua buah wajah di bawah sinar bulan purnama.

Wajah Ji Ban To dan Gak Su, dua orang murid majikan Pegunung Liong-san yang menjadi tamu subonya Dan dua buah wajah itu kini dalam penglihatan Giok Cu amat menakutkan. Di buah mulut itu menyeringai lebar di nafsu mereka mendengus panas, mata mereka juga beringas seperti mata bintang buas kelaparan! Giok Cu yang belum berpengalaman itu tidak dapat menduga apa yang mereka kehendaki, namun naluri kewanitaannya mengisyaratkan ancaman bahaya besar bagi dirinya, membuat ia mengerahkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya untuk membebaskan diri.

Namun percuma saja. Totokan yang di lakukan oleh Ji Ban To itu membuat kaki tangannya seperti lumpuh. Tingkat kepandaian dan tenaga dari dua orang pemuda itu tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri. Andaikata ia tidak dicurangi, ditotok selagi tidur, tentu ia mampu melawan dua orang ini dan ia tidak gentar walaupun dikeroyok dua.

"Jahanam kalian!" Ia hanya mampu memaki dan bahkan suaranya pun kekurangan tenaga. "Apa yang kalian lakukan ini? Bebaskan aku!"

Pemuda kurus kering yang bermuka pucat itu, Ji Ban To, mendekatkan mulutnya, menyeringai dan hidungnya hampir menyentuh pipi Giok Cu sehingga gadis remaja ini sedapat mungkin memutar lehernya menjauhkan mukanya dan dengan jijik ia merasa betapa napas pemuda itu meniup kelehernya.

"Apa yang kami lakukan? Heh-heh, Giok Cu yang manis, engkau tentu mengerti sendiri. Jangan hanya memperhatikan Siangkoan Tek seorang. Kami pun dua orang pemuda yang gagah perkasa, murid seorang datuk, penguasa Pegunungan Liong-san."

"Benar sekali kata Suheng!" kata Gak Su dan muka yang tampan akan tetapi bopeng itu pun mendekat dan tangannya mulai merenggut lepas pakaian yang menutupi tubuh Giok Cu. "Mari kita bertiga bersenang-senang di pantai ini, di atas pasir, di bawah sinar bulan purnama. Alangkah indahnya, alangkah asyik dan nikmatnya!"

Kini jantung dalam dada Giok Cu berdegup penuh rasa ngeri dan ketakutan. Baru sekali ini ia benar-benar merasa takut membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya. Dua orang itu seperti berlomba merenggut lepas semua pakaiannya! Ia meronta, memberontak, memekik, menjerit, akan tetapi hanya dalam batin saja karena kaki tangannya tetap tidak mampu digerakkan dan suaranya hanya keluar dengan lemah saja.

"Kalian jahanam busuk! Anjing keparat. Lepaskan aku…! Jangan… jangan ganggu aku…!"

Akan tetapi, mulutnya sudah ditutup dengan ciuman mereka berganti-ganti. Giok Cu merasa muak dan jijik mau muntah rasanya. Akan tetapi rasa takut mengatasi semua rasa jijik ini matanya terbelalak, jiwanya meronta, tahu bahwa ia sama sekali tidak berdaya dan sebentar lagi tentu ia akan diperkosa.

Membayangkan ini, ia hampir pingsan Tidak, ia tidak boleh pingsan. Ia tidak boleh membiarkan mereka memperkosanya! Ia harus mencari akal. Dua orang pemuda itu seperti dua ekor ikan menperebutkan makanan, menciumi muka dan mulut Giok Cu dan tangan mereka meraba dan membelai.

"Ji Ban To dan Gak Su, nanti dulu... nanti dulu, dengarkan omonganku…“

Giok Cu berkata sedapat mungkin diantara ciuman-ciuman mereka yang semakin panas. Ia pun mulai merasa ngeri mengingat akan tanda tahi lalat merah kecil di bawah siku lengan kirinya. Bukankah subonya pernah memberitahu kepadanya bahwa kalau keperawanannya hilang tanda itu akan lenyap dan dalam waktu sebulan ia akan mati? Ia akan diperkosa kehilangan kehormatannya secara hina sekali, kemudian ia akan mati!

"Nanti dulu, dengarkan aku…" kata-katanya membujuk.

Dua orang pemuda itu sambil menyeringai menghentikan ciuman dan rabaan mereka. "Hem, Manis, engkau sungguh cantik dan panas! Engkau mau bicara apa, sayang?"

Giok Cu tersenyum, senyum yang manis sekali! Dua orang pemuda itu terpesona dan merasa girang. Gadis itu tersenyum kepada mereka! Agaknya, ciuman dan belaian mereka tadi membuat gadis itu pun mulai menikmati permainan cinta mereka.

"Kalian ini sungguh dua orang laki laki yang bodoh sekali. Bagaimana kita dapat menikmati permainan cinta kalau aku tertotok seperti ini? Kalian sama saja bermain cinta dengan sesosok mayat dan aku… aku merasa tidak leluasa dan tidak dapat menikmati cinta kalian dalam keadaan tidak mampu bergerak begini. Kalau kalian membebaskan totokan ini, tentu kita akan dapat bermain cinta lebih asyik lagi…"

Dua orang pemuda itu saling pandang dan tertawa gembira. "Ha-ha-ha, ia benar sekali, Suheng! Kita bebaskan totokannya dan kita bergiliran "

Akan tetapi, biarpun sudah diamuk nafsunya sendiri, Ji Ban To ternyata, lebih cerdik daripada sutenya. "Nanti dulu, Sute. Kita harus yakin benar bahwa ia tidak menipu kita. Ikat dulu kaki dua lengannya dengan ikat pinggangnya itu."

Mereka lalu menelikung kedua tangan Giok Cu ke belakang, lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat-kuat, menggunakan ikat pinggang Giok Cu sendiri yang tadi mereka renggut lepas. Biarpun mendongkol sekali, Giok Cu menyembunyikan rasa dongkol itu dari mukanya...