Social Items

MEREKA segera berenang di dalam air, menyeret dua orang tawanan mereka, menuju ke tepi sungai sebelah selatan. Sebagai tiga setan Huang-ho, mereka agaknya hafal akan keadaan sungai itu, bahkan ketika berada di dalam air, mereka dapat mengira-ngira ke tepi bagaian mana mereka dapat mendarat tanpa diketahui orang lain. Mereka memilih tepi yang sunyi, tepi yang merupakan bagian dari hutan lebat.

Akhirnya, Huang-ho sam-kwi mendarat di tepi yang landai dan yang bersambung dengan padang rumput di tepi jalan itu. Mereka mendarat dan menyeret jala yang berisi Han Beng dan Giok Cu. Dua orang anak itu kini pingsan dengan perut agak kembung kemasukan air ketika mereka diseret di bawah permukaan air. Dua orang anak itu masih berada di dalam jala dan tidak bergerak seperti dua ekor ikan besar terjala. Begitu tiga orang pria yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian serba hitam itu mendarat dan menyeret jala termuat dua orang bocah itu, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dari kanan kiri.

“Serahkan seorang anak kepadaku!” bentak orang yang datang dari kiri. Dia adalah Kiu-bwe-houw Gan Lok yang bertubuh tinggi kurus dan di tangan kanannya nampak sebatang pecut berekor sembilan. Senjata inilah yang membuat dia dijuluki Kiu-bwe-houw (Harimau ekor sembilan) dan di dunia kang-ouw namanya cukup terkenal.

“Yang seorang lagi serahkan kepadaku!” bentak orang yang datang dari kanan dan dia ini adalah Kim-kauw-pang Pouw In Tiang, pendekar dari Lu-liang-san yang berperut gendut dan tubuhnya pendek itu. sebatang tongkat berada di tangannya dan dia bertolak pinggang dengan sikap angkuh.

Tiga orang Huang-ho Sam-kwi terkejut, mereka memandang kepada dua orang itu. Di bawah sinar bulan purnama mereka dapat mengenal kedua orang itu yang merupakan tokoh-tokoh persilatan yang tangguh. Orang pertama dari Huang-ho sam-kwi, yang dahinya terdapat bekas luka memanjang, segera memberi hormat kepada mereka berdua.

“Harap Ji-wi Eng-hiong (kalian berdua orang gagah) tidak mengganggu kami. Dua ekor ikan ini adalah hasil jala kami dan menjadi hak kami.”

Kim-kauw-pang Pouw In Tiang menggoyangkan tongkatnya yang berselaput emas itu sambil tersenyum mengejek. “Huang-ho Sam-kwi, kita semua tahu bahwa dua orang anak ini menjadi perebutan diantara kita semua. Siapa yang unggul ilmunya, dialah yang berhak mendapatkan mereka!”

Biarpun tiga orang setan Sungai Kuning itu maklum akan kelihaian dua orang ini, namun karena mereka sudah merasa berhasil mendapatkan dua orang anak itu, tentu saja mereka tidak menyerahkan korban itu begitu saja kepada orang lain. Mereka segera mencabut pedang masing-masing yang tergantung dipunggung, siap melakukan perlawanan. Dua orang jagoan itu pun menggerakkan senjata masing-masing menyerbu kedepan, disambut oleh Huang-ho Sam-kwi dan terjadilah perkelahian mati-matian di tepi sungai yang sunyi itu.

Sementara itu, Han Beng lebih dulu siuman dari pingsannya. Dia merasa betapa tubuhnya masih panas terbakar dari dalam, akan tetapi perutnya kembung penuh air. Aneh sekali, ketika dia menggunakan tangan menekan perutnya ada hawa panas yang kuat mendesak perut itu dan Han Beng membuka mulutnya, memuntahkan air dari dalam perut seperti pancuran. Dan air itu pun panas, mengeluarkan uap! Akan tetapi sebentar saja perutnya mengempis dan tidak terasa kembung lagi.

Pada saat itu, Giok Cu juga mengeluh dan bergerak. Han Beng membantu anak perempuan itu melepaskan diri dari libatan tali jala dan ketika Giok Cu mengeluh tentang perutnya yang membesar kembung, Han Beng teringat akan keadaan dirinya.

“Tekan perutmu itu dengan tangan agar airnya keluar lagi melalui mulutmu!”

Giok Cu menurut dan menekan-nekan perutnya, akan tetapi tidak berhasil.

“Mari kubantu,” kata han Beng dan tanpa ragu-ragu diapun ikut menekan perut kembung anak perempuan itu dengan telapak tangannya. Dan seketika ada hawa panas yang kuat menekan perut dan mendesak keluar air dari perut kembung itu. giok Cu muntah-muntah dan air dari dalam perutnya memancur keluar. Air ini pun panas, namun tidak sepanas air yang keluar dari perut han Beng.

Biarpun kepala mereka masih pening dan tubuh panas sekali namun kedua orang anak ini masih dapat melihat betapa tiga orang yang menjala mereka dan menyeret mereka ke dalam air tadi kini berkelahi melawan dua orang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih. Melihat betapa tiga orang yang tadi menangkap dia dan Giok Cu berkelahi melawan dua orang yang kelihatan gagah, Han Beng mengambil kesimpulan bahwa tentu dua orang gagah itu yang berusaha menolong dia dan Giok Cu. Dia memandang dengan hati kuatir, lalu memegang tangan Giok Cu dan berbisik “Giok Cu, mari kita cepat lari!”

Akan tetapi anak perempuan itu mengeluh. “Aku… aku merasa panas sekali, Han Beng… rasanya mual dan hendak muntah… ah, perutku panas sekali…!”

Memang terdapat perbedaan antara Han Beng dan Giok Cu sebagai akibat mereka menghisap darah ualar yang disebut anak naga oleh para tokoh kang-ouw tadi. Han Beng menghisap darah jauh lebih banyak dari Giok Cu dan andaikata dia tidak tergigit oleh ular itu tentu dia sudah tidak kuat bertahan dia sudah tewas. Akan tetapi, Han beng digigit ular pundaknya, dan racun ular itu menyerangnya.

Perlu diketahui bahwa ular itu memang merupakan semacam ular yang langka, ular yang kalau malam mengeluarkan cahaya di bagian kepalanya dan di dalam kepalanya itu terdapat semacam benda yang dianggap mustika oleh para tokoh kang-ouw, benda yang amat langka dan juga ampuh. Akan tetapi, gigitan ular ini mengandung racun yang mematikan!

Dan Han Beng tentu sudah sejak tadi tewas kalau saja dia tidak menghisap darah ular itu. Darah itu yang sekaligus menjadi obat penawar racun, bahkan pencampuran dua benda beracun, yang satu melalui gigitan dan yang kedua melalui darah ular, mendatangkan kekuatan luar biasa di dalam tubuhnya. Namun, tetap saja Han Beng terancam maut karena racun yang memasuki tubuhnya itu sungguh amat ampuh.

Adapun Giok Cu hanya menghisap darah ular, tidak tergigit. Namun darah ular itu pun memabukkan dan mengandung racun yang dashyat disamping mengandung kekuatan yang aneh pula. Seperti juga Han Beng, Giok Cu juga terancam maut dengan adanya darah ular dalam tubuhnya, darah yang dihisapnya dari ekor ular untuk menolong temannya tadi.

Perkelahian itu berjalan dengan seru. Sebetulnya, tingkat kepandaian Huang-ho Sam-kwi masih kalah dibandingkan dengan Kiu-bwe-houw Gan Lok ataupun Kim-kauw-pang Pouw In Tiang. Akan tetapi, kiranya kedua orang jagoan itu tidak bekerjasama. Agaknya mereka berdua yang juga tadinya memperebutkan anak naga, kebetulan saja menghadang Huang-ho Sam-kwi di pantai sunyi itu secara berbareng.

Setelah terjadi perkelahian, mereka berdua maju sendiri-sendiri dan tidak saling Bantu. Hal ini menguntungkan Huang-ho Sam-kwi yang maju bertiga. Seorang diantara mereka dapat membantu teman kanan kiri untuk mengeroyok dua orang lawan itu. Bagaimanapun juga, permainan pecut ekor sembilan dari Kiu-bwe-houw dan permainan tongkat sakti dari Kim-kauw-pang memang hebat dan membuat tiga orang Huang-ho Sam-kwi itu kocar-kacir dan permainan pedang mereka menjadi kacau balau.

Melihat ini, orang pertama dari Huang-ho Sam-kwi merasa kuatir lalu berseru kepada adiknya yang ketiga. “Cepat larikan dua orang bocah itu, kami akan menahan mereka!”

Orang ketiga dari Huang-ho Sam-kwi yang tinggi dan kurus sekali sampai seperti ikan layur, maklum akan maksud kakaknya. Satu-satunya jalan bagi mereka adalah melarikan diri lewat dalam air! Dan sebelum melarikan diri tentu saja lebih dulu dua orang anak itu harus disingkirkan agar jangan terjatuh ke tangan orang lain.

Kalau mereka bertiga melawan terus akhirnya akan roboh, dua orang anak dengan darah naga sakti itu tentu akan terampas, bahkan keselamatan nyawa mereka terancam. Maka dia lalu menubruk Han Beng dan Giok Cu. Kedua tangannya hendak mencengkeram dan menangkap dua orang anak itu untuk dibawa loncat kedalam air.

Han Beng dan Giok Cu mampu menghindarkan diri dan lengan kiri Han beng sudah tertangkap, juga lengan kanan Giok Cu. Keduanya meronta dan tiba-tiba Han-beng mengangkat tangan kiri, dikepalnya tangan itu dan memukul kearah perut orang termuda Huang-ho Sam-kwi.

“Desssss…!”

Hebat bukan main akibat pukulan anak laki-laki berusaha dua belas tahunan itu. Tubuh tinggi kurus itu terjengkang terbanting keatas tanah dan dia bergulingan mengaduh-aduh sambil memegangi perutnya. ”Aduhhh… panas… panas…!” Dan dia pun berkelonjotan tak mampu mengeluh lagi!

Tentu saja dua orang saudaranya terkejut. Melihat keadaan tidak menguntungkan itu, mereka lalu meloncat kebelakang, menyambar tubuh saudara yang terluka, lalu membawanya loncat ke dalam air, lalu menyelam lenyap.

Kiu-bwe-houw gan Lok dan Kim-kauw-pang Pouw In Tiang saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka terkejut dan merasa heran sekali melihat peristiwa tadi. Seorang diantara Huang-ho Sam-kwi sekali pukul oleh bocah berusia dua belas tahun itu! bagaimana mungkin ini! Mereka berdua tahu benar betapa lihainya Huang-ho Sam-kwi, walaupun tingkat masing-masing anggota Tiga Setan Sungai Kuning masih kalah oleh mereka namun selisihnya hanya sedikit dan tidak sembarang orang akan mampu mengalahkan mereka.

Dan kini, sekali pukul saja anak itu dapat merobohkan seorang diantara mereka yang mengaduh-aduh mengatakan bahwa perut yang dipukul itu terasa panas! Mereka berdua adalah tokoh kang-ouw yang berpengalaman dan cerdik, maka mereka sudah dapat menduga bahwa tentu kehebatan bocah itu adalah akibat dari minum darah anak naga tadi! Makin gembira dan bersemangat hati mereka untuk dapat memiliki dua orang anak kecil itu dan mereka lalu menghampiri Han Beng dan Giok Cu.

Han Beng masih bergandeng tangan dengan Giok Cu dan kini dia berkata kepada dua orang gagah itu. “Terima kasih atas pertolongan paman berdua. Sekarang orang-orang jahat itu telah tidak ada, kami hendak pergi mencari keluarga kami.” Dan dia hendak menarik lengan Giok Cu, diajak pergi dari situ, kedua anak itu berjalan terhuyung-huyung seperti mabuk.

“Nanti dulu, anak-anak baik ?” dua orang jagoan itu melompat menghadang di depan dua orang anak itu Kim-bwe-houw Gan Lok menyentuh lengan Han Beng dan Kim-kauw-pang Pouw In Tiang menyentuh lengan Giok Cu.

Keduanya mengeluarkan seruan kaget dan meloncat mundur karena ketika mereka menyentuh lengan kedua orang anak itu terasa amat panas seolah-olah mereka menyentuh besi membara! Diam-diam mereka merasa semakin gembira. Dua orang ini telah menjadi anak yang luar biasa!

“Anak baik, jangan dikira bahwa kalian terlepas dari orang-orang jahat. Ketahuilah, hampir semua orang di permukaan air sungai itu sedang mencari untuk menangkap kalian. Marilah kalian ikut bersama kami, dan kami akan mencarikan keluarga kalian,” kata Kiu-bwe-houw.

“Benar,” sambung Kim-kauw-pang. Jangan kalian pergi sendiri mencari mereka. Kalian sedang sakit, lihat, jalan pun terhuyung. Biarlah kami yang akan mengkabari keluarga kalian dengan berpencar.”

Giok Cu mengangguk dan ia melepaskan tangan Han Beng, menghampiri Kim-kauw-pang Pouw In Tiang dan hendak memegang tangan orang ini. Akan tetapi, Kim-kauw-pang mengelak.

“Jangan… jangan pegang tanganku. Tanganmu panas sekali. Kita berjalan berdampingan saja,” kata jagoan itu.

Akan tetapi, sebelum mereka pergi tiba-tiba bermunculan belasan orang di tempat itu. Mereka berloncatan dan sudah mengepung tempat itu. terkejut sekali hati dua orang jagoan itu ketika mereka melihat bahwa belasan orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang agaknya sudah dapat mencari mereka dan tiba di tempat ini, siap memperebutkan dua orang bocah yang sudah terjatuh ke tangan mereka. Ini pun hasil perbuatan Hiuang-ho Sam-Kwi!

Setelah mereka dikalahkan karena seorang diantara mereka terluka parah oleh pukulan Han Beng mereka melarikan diri dengan hati menyesal, kecewa dan penuh penasaran. Maka, mereka lalu memberitahukan kepada para tokoh kang-ouw yang masih berseliweran di atas perahu mereka bahwa dua orang bocah itu telah terjatuh ke tangan Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang yang berada di tepi sungai dalam hutan yang sunyi itu.

Mendengar keterangan ini tentu saja para tokoh kang-ouw berbondong-bondong pergi ke tempat itu dan sebelum dua orang jagoan itu sempat membawa dua orng bocah itu, para tokoh kang-ouw sudah berdatangan dan mengepung tempat itu.

“Kiu-bwe-houw perlahan dulu! Anak laki-laki itu harus diserahkan kepadaku!” kata seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang sudah memalangkan toyanya dengan sikap bengis.

“Kim-kauw-pang, anak perempuan itu bagianku!” kata pula seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti sastrawan sambil melintangkan sepasang pedang di depan dadanya.

Juga banyak orang lain yang mengambil sikap mengancam dan siap untuk menyerang siapa saja demi memperebutkan dua orang anak yang mereka percaya mempunyai darah yang ajaib dan yang akan banyak sekali manfaatnya bagi mereka. Tentu saja Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang yang tadi telah menguasai dua orang anak yang diperebutkan, andaikan orang makan daging sudah dipegang dan dibawa ke depan mulut, tinggal telan saja, tidak rela menyerahkan anak itu kepada siapapun juga.

Mereka pun menggerakkan senjata dan tak dapat dicegah lagi terjadilah perkelahian kacau-balau. Tidak ada kawan tertentu atau lawan tertentu. Setiap orang lain menjadi musuh dan diserang karena mereka semua beranggapan bahwa siapa yang keluar menjadi pemenang tunggal dialah yang akan menguasai dua orang anak itu!

Suasana menjadi rebut dan ramai bukan main, seperti terjadi perang campuh saja dan beberapa orang sudah nampak roboh menjadi korban. Darah mulai mengalir dan nyawa melayang. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali, suaranya membawa getaran yang terasa oleh semua orang.

“Haiiiiiii! Semua saudara, hentikan perkelahian gila ini…!” Di dalam suara itu terkandung tenaga khi-kang yang amat kuat, dan semua orang merasa betapa jantung mereka tergetar hebat.

Mereka terkejut dan otomatis semua orang menghentikan perkelahian dan menengok kearah orang yang mengeluarkan teriakan itu. Mereka melihat seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa, dengan mata mencorong penuh wibawa, pakainnya sederhana sekali mendekati miskin, namun sikapnya anggun dan jelas bahwa dia bukan orang sembarangan. Akan tetapi, para tokoh kang-ouw itu tidak mengenalnya dan semua orang memandang heran.

“Siapakah engkau dan perlu apa menghentikan perkelahian kami?” Tanya Kiu-bwe-houw Gan Lok dengan suara heran.

“Tidak penting mengetahui siapa adanya aku,” jawab pria itu yang bukan lain adalah Liu Bhok Ki.

Seperti kita ketahui, orang gagah ini berhasil mendapatkan tubuh ular yang dijadikan perebutan sebagai anak naga itu, menggigit kepalanya dan menelan “mustika” yang terdapat di dalam kepala ular, lalu roboh pingsan di dalam perahunya. Karena dia pingsan, tidak ada orang lain yang tahu apa yang telah terjadi dan mengira bahwa anak naga itu lenyap setelah darahnya dihisap oleh dua orang anak itu. Lama juga Liu Bhok Ki jatuh pingsan.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Setelah sadar, dia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa luka akibat pedang di tangan Sim Lan Ci, luka oleh pedang Cui-mo Hek-kiam yang mengandung racun jahat itu ternyata telah bersih dari racun. Tidak lagi ada tanda menghitam, dan tidak ada perasaan nyeri. Ternyata “mustika” naga itu benar-benar ampuh dan telah menyembuhkannya! Dia merasa bersyukur sekali, akan tetapi juga kuatirkan nasib dua orang anak kecil yang tadi digigit oleh anak naga.

Dia lalu bangkit duduk mendayung perahunya sampai dia mendengar bahwa dua orang anak yang dikabarkan telah menghisap darah anak naga itu, kini terjatuh ke dalam tangan Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang di sebuah tepi sungai. Cepat diapun melakukan pengejaran kesana bersama-sama orang-orang lain dan ketika para tokoh kang-ouw itu berkelahi untuk memperebutkan dua orang anak itu, dia lalu turun tangan dan berteriak menyuruh mereka semua berhenti berkelahi.

“Kalian semua tahu bahwa mereka bukanlah binatang seperti anak naga, bukan pula benda seperti mustika naga yang boleh dipakai perebutan begitu saja. Mereka adalah dua orang anak manusia, oleh karena itu sungguh tidak patut kalau kalian memperebutkan mereka dan hendak memaksa mereka dengan maksud buruk! Sebagian dari kalian adalah pendekar yang gagah, bagaimana mempunyai niat buruk untuk membunuh mereka dan mengambil darah mereka?”

Mendengar ucapan ini, Han Beng dan Giok Cu terkejut bukan main. Kiranya mereka diperebutkan untuk dibunuh dan diambil darah mereka! Han Beng kini memandang kepada mereka semua dengan mata terbelalak dan muka yang panas itu kini menjadi marah sekali. Dia marah! Kemarahan luar biasa yang belum pernah dialami selama hidupnya. Kemarahan yang seolah terdorong oleh hawa panas di tubuh dan dalam perutnya itu.

Sementara itu, para tokoh pendekar merasa rikuh mendengar ucapan Liu Bhok Ki. Dua orng diantara para tokoh itu, segera melangkah maju mendekati Han Beng dan Giok Cu. Mereka tersenyum dan seorang diantara mereka berkata kepada Han Beng.

“Anak baik, memang seharusnya engkau diajak secara baik-baik. Marilah engkau ikut bersamaku. Kau akan hidup berkecukupan, minta apapun akan kubelikan dan kalu ingin belajar silat akan kuajari ilmu silat tinggi sehingga kelak engkau akan menjadi seorang gagah perkasa!”

“Dan engkau ikut dengan aku, anak manis. Kau akan kuanggap seperti anakku sendiri,” kata orang kedua kepada Giok Cu.

Han Beng sejak tadi sudah marah bukan main. Hawa panas di dalam tubuhnya seperti berpusing di dalam tubuhnya, membuat kepalanya semakin pening dan pandang matanya berkunang. Sepasang matanya mencorong seperti mata harimau dan wajahnya menjadi ganas sekali. Kini melihat dua orang itu membujuk dia dan Giok Cu, teringat dia akan ucapan laki-laki gagah tadi bahwa mereka semua itu hendak membunuh dia dan Giok Cu dan mengambil darah mereka berdua.

Teringat ini, kemarahannya berkobar dan dia pun menerjang maju, menghantam dengan tangan terbuka, beruntun kepada dua orang itu. Dua orang kang-ouw itu adalah orang-orang pandai, tentu saja tidak mempedulikan serangan Han Beng, seorang anak kecil berusia dua belas tahun.

“Desss! Dessss!!"

Dua tubuh orang itu terlempar seperti daun-daun kering tertiup angin, terhuyung kemudian roboh dan tidak bangkit kembali. Dari mulut, hidung, mata dan telinganya keluar darah dan jelas bahwa dua orang itu tidak dapat diselamatkan lagi!

Keadaan menjadi gempar! Semua orang kini hendak menangkap Han Beng karena mereka semua semakin yakin bahwa anak itu benar-benar menjadi kuat berkat minum darah anak naga! Dan kini Han Beng mengamuk. Dia kini sudah seperti mabuk, terhuyung-huyung dan memejamkan mata, mulutnya mengeluarkan suara tidak karuan. Dia merasa betapa tubuhnya ringan dan seperti hendak terbang keatas, seluruh tubuh yang panas itu berdenyut-denyut tidak karuan, seolah-olah setiap saat dada, kepala dan perutnya akan meledak!

Dan setiap kali ada tangan menyentuhnya, dia menghantam. Juga telinganya dapat menangkap setiap gerakan orang, maka tanpa membuka matanya dia mengetahui bahwa ada orang mendekatinya dari belakang, depan kanan atau kiri dan setiap kali tanganya menghantam, tentu bertemu tubuh orang. Dia tidak tahu betapa setiap pukulannya membuat seorang jagoan terlempar dan terbanting, ada yang tewas seketika, ada pula yang terluka parah atau ringan, tergantung dari tingkat kepandaian orang itu.

Nampaklah pemandangan yang luar biasa sekali, lucu dan aneh. Orang-orang yang terkenal sebagai orang-orang gagah di dunia persilatan, yang bertubuh tinggi besar, bersikap garang dan bertenaga besar, seperti mengeroyok seorang anak kecil dan anak itu mngamuk, memukul sana-sini tanpa gerakan silat sama sekali, melainkan gerakan ngawur dan memukul biasa saja terdorong kemarah. Seperti seorang anak yang nekat. Akan tetapi hebatnya, setiap kali pukulannya mengenai sasaran, yang dipukul tentu roboh terlempar dan terbanting keras, seperti ditumbuk oleh kekuatan yang amat dasyat!

Tentu saja orang-orang itu tadinya tidak bermaksud mengeroyok, melainkan hendak menangkapnya, akan tetapi kini juga menyerang untuk merobohkan anak itu agar dapat mereka paksa dan mereka bawa pergi. Kembali han Beng menjadi perebutan.

Giok Cu adalah seorang anak perempuan yang lincah dan memang bagi anak perempuan tergolong berani dan nakal. Ia pun pening dan mabuk, akan tetapi ternyata ia memiliki perasan setia kawan yang tinggi. Biarpun perasaan tubuhnya tidak karuan, begitu melihat Han Beng dikeroyok, iapun menjadi marah dan ia ikut pula memukul-mukul. Dan hebatnya, biarpun pukulannya tidak sekuat Han Beng, namun pukulan tangannya mengandung hawa panas yang membuat orang yang terpukul cukup menderita nyeri dan kepanasan dan mereka pun terhuyung kebelakang.

Akan tetapi, Giok Cu tidak sekuat Han Beng karena sebuah tendangan membuat ia jatuh tersungkur. Akan tetapi begitu ada tangan hendak menangkap anak perempuan yang terjatuh itu, Han Beng menerjang kedepan dan pukulan tangannya yang menampar mengenai pundak orang yang hendak menangkap Giok Cu.

“Auhhh…!” orang itu terjungkal dan berguling menjauh sambil mengaduh-aduh.

Han Beng mengamuk terus. Biarpun kepalanya pening, namun agaknya mengenai sasaran dan berhasil menghalau orang-orang yang hendak menangkap dia dan Giok Cu. Maka, anak itu kini bukan hanya membela diri, bahkan memukul siapa saja yang berani mendekat tanpa menanti untuk ditangkap lagi. Dan akibatnya memang hebat. Orang-orang kang-ouw itu terheran-heran karena bocah ini memang memiliki tenaga yang dasyat sekali, selain kuat, juga gerakan kedua tangannya yang memukul dengan ngawur itu mengandung hawa panas yang luar biasa.

Beberapa orang yang mencoba untuk menangkis pukulan anak itu, ketika lengan mereka bertemu dengan lengan kecil Han Beng, mereka mengaduh dan terpelanting keras. Bahkan ada yang tulang lengannya patah, dan setidaknya mereka tentu merasa betapa lengan mereka itu nyeri dan panas seperti bertemu dengan besi panas!

Liu Bhok Ki yang tadinya muncul dan hendak melindungi dua orang bocah yang telah berjasa kepadanya karena anak laki-laki itu tadi melemparkan anak naga kepadanya, kini memandang dengan bengong. Tidak mungkin bocah sekecil itu memiliki kepandaian tinggi. Apalagi melihat gerakan bocah itu ketika memukul, sama sekali tidak menggunakan gerakan ilmu silat. Namun, pukulannya amat ampuh. Bahkan ketika ada beberapa orang yang menyerang bocah itu dan dia melihat betapa pukulan tangan mereka itu mengenai tubuh anak yang mengamuk, pemukul itu menarik kembali tangannya dan seperti dibakar rasanya, dan anak yang terpukul sama sekali tidak bergoyang!

Liu Bhok Ki juga amat cerdik. Tentu ini akibat darah anak naga, pikirnya. Kalau begitu memang anak-anak telah menghisap darah anak naga sampai habis. Ketika dia menerima tubuh anak naga itu, binatang ajaib itu sudah lemas dan kehilangan darah, bahkan ketika dia menggigit pecah kepala anak naga itu, hampir tidak ada darah keluar. Agaknya, setelah menghisap darah binatang ajaib itu, kedua anak itu, terutama anak laki-laki itu, memiliki tenaga yang bukan main dasyatnya!

Semua orang terkejut dan heran, apalagi kini mendengar Han Beng mengeluh dan mengerang seperti kesakitan sambil terus menyerang ke kanan kiri secara kalang kabut. Memang terjadi keanehan pada tubuh Han Beng. Begitu ketika menggerakkan kaki tangan memukul dan menyerang, seperti ada tenaga dasyat dan panas menguasainya sepenuhnya, dan tenaga itu tidak mau berdiam lagi, terus berpusing di dalam tubuhnya sehingga dia pun tidak dapat lagi menghentikan gerakan kaki tangannya!

Rasa nyeri makin menghebat terutama di dada dan bawah pusar, sedangkan kedua pasang kai tangannya setiap kali digerakkan mengeluarkan bunyi berkerotokan! Ini menandakan bahwa tenaga mukjijat itu, hawa sakti yang panas itu, mulai menyusup kedalam tulang-tulangnya!

Orang-orang kang-ouw itu menjadi gentar setelah belasan orang roboh malang melintang oleh pukulan-pukulan Han Beng dan kini mereka mundur mengatr jarak menjauhkan diri. Han Beng memukul-mukul terus sambil melangkah maju dan terhuyung-huyung, kedua matanya terpejam. Dari kedua tangan anak yang memukul-mukul secara ngawur itu keluar hawa pukulan yang mengeluarkan uap panas! Sementara itu, Giok Cu sudah terjatuh terduduk, tidak kuat menahan kepeningannya dan anak perempuan itu pun hanya menundukkan muka sambil memejamkan kedua matanya.

Sejak tadi Liu Bhok Ki memandang dengan penuh kagum dan heran melihat sepak terjang anak laki-laki itu. Akan tetapi, kini dia menjadi kuatir sekali. Dilihatnya betapa wajah anak yang kerut-merut menahan nyeri itu makin lama berubah semakin merah sehingga kini kehitaman! Celaka, pikirnya karena dia tahu bahwa anak itu ternyata keracunan hebat. Agaknya gigitan dan darah anak naga itu terlampau kuat dan menimbulkan racun yang amat dasyat yang menguasai tubuh anak itu akan kuat bertahan. Dan anak perempuan itu pun agaknya sudah hampir tidak kuat lagi, sudah duduk dengan lemas.

Liu Bho Ki sudah siap hendak meloncat ke depan ketika Han Beng yang terus melangkah maju itu kini tiba didekat ban-to Mo-li Phang Bi Cu yang agaknya baru muncul. Mendengar ada langkah kaki ringan di sebelah kanannya, Han Beng lalu menyerang ke kanan, memukul dengan kepalan tangan kanannya. Pukulan itu mengeluarkan angin pukulan yang mengandung hawa panas sekali. Ban-to Mo-li miringkan tubuh mengelak dari sambaran hawa panas itu dan dari samping ia menampar kearah leher Han Beng.

“Plakkkk” tubuh Han Beng terpelanting dan anak itu pun tak mampu bangkit kembali. Tamparan ban-tok Mo-li itu mengandung racun, dan memang disengajanya ia memukul anak itu terjatuh ke tangan orang lain, anak itu atau darahnya tidak dapat dipergunakan lagi karena mengandung racun maut! Sebaliknya, ia tentu saja akan mampu melenyapkan pengaruh racun dari tubuh anak itu karena ia memiliki obat penawarnya!

Han Beng yang tadinya sudah pening, kini mendadak merasa betapa tubuhnya lumpuh. Dia berusaha menggerakkan kaki tangannya, namun gagal dan dia membuka matanya, memandang kepada wanita cantik itu tanpa mampu bergerak lagi. Ada terjadi keanehan di dalam tubuhnya. Kalau tadinya, tubuh itu seperti menggembung rasanya, seolah-olah kemasukan angin panas dan akan meledak, kini perlahan-lahan hawa panas itu berkurang seolah-olah tubuhnya mulai mengempis dan hawa panas yang berputaran cepat sekali ditubuhnya itu kini mulai agak tenang, ketika dia membuka kedua matanya, pandangannya tidak berkunang dan tidak kelihatan berputaran lagi.

Rasa mual di perutnya juga hilang dan dia bahkan mulai merasakan suatu kenyamanan yang aneh, seolah-olah orang yang tadinya dipanggang terik matahari kini berteduh di bawah pohon yang rindang, dan menghirup hawa yang sejuk sekali. Akan tetapi, dia masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya yang seperti lumpuh. Ada rasa dingin yang hebat masuk ke tubuhnya melalui leher dan agaknya hawa dingin inilah yang membuat rasa panas di tubuhnya bekurang.

Dan memang sesungguhnya demikianlah. Telah terjadi sesuatu kebetulan yang berulang pada diri Han Beng. Anak ini mestinya sudah tewas oleh gigitan ular Sungai Huang-ho karena gigitan itu mengandung racun yang amat kuat. Akan tetapi, hawa panas dahsyat yang amat kuat itu yang membuat setiap pukulan Han Beng tidak dapat ditahan oleh seorang jagoan silat, juga mendatangkan bencana dan ancaman maut lain lagi.

Tubuhnya yang tidak terlatih itu, biarpun masih bersih, tidak kuat menahan kekuatan dasyat di dalamnya dan Han Beng terancam maut untuk kedua kalinya. Hal ini nampak ketika wajahnya berubah semakin merah lalu menghitam. Akan tetapi, pada saat itu “Kebetulan” sekali ban-to Mo-li diserangnya dan wanita iblis ini hendak menguasai dirinya dengan memberi tamparan beracun pada lehernya. Sama sekali diluar dugaan Ban-to Mo-li sendiri bahwa racun dari kukunya yang amat kuat itu, yang mengandung hawa dingin, ternyata malah menyelamatkan nyawa Han Beng!

Racun dingin inilah yang mengurangi tekanan hawa panas di tubuh Han Beng sehingga keadaan dalam tubuh anak itu menjadi seimbang. Dan sebaliknya, racun dingin ini pun kehilangan daya serangnya yang berbahaya karena bertemu dengan hawa panas itu. Memang racun bertemu racun yang bertentangan itu kehilangan daya serangnya yang mematikan, bahkan sebaliknya dapat menjadi obat yang amat ampuh!

Melihat Han Beng roboh dan lemas, para tokoh kang-ouw menjadi girang dan mereka pun kini kembali berebut maju untuk dapat lebih dulu menangkap dan melarikan anak itu. Ada pula sebagian yang lari untuk menubruk dan melarikan Giok Cu. Akan tetapi, Liu Bhok Ki sudah meloncat kedepan dan tangan kakinya bergerak cepat dan menyerang mereka yang hendak memperebutkan Han Beng. Empat orang terlempar kebelakang terkena tendangan kaki Liu Bhok Ki yang sudah marah sekali...

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 06

MEREKA segera berenang di dalam air, menyeret dua orang tawanan mereka, menuju ke tepi sungai sebelah selatan. Sebagai tiga setan Huang-ho, mereka agaknya hafal akan keadaan sungai itu, bahkan ketika berada di dalam air, mereka dapat mengira-ngira ke tepi bagaian mana mereka dapat mendarat tanpa diketahui orang lain. Mereka memilih tepi yang sunyi, tepi yang merupakan bagian dari hutan lebat.

Akhirnya, Huang-ho sam-kwi mendarat di tepi yang landai dan yang bersambung dengan padang rumput di tepi jalan itu. Mereka mendarat dan menyeret jala yang berisi Han Beng dan Giok Cu. Dua orang anak itu kini pingsan dengan perut agak kembung kemasukan air ketika mereka diseret di bawah permukaan air. Dua orang anak itu masih berada di dalam jala dan tidak bergerak seperti dua ekor ikan besar terjala. Begitu tiga orang pria yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian serba hitam itu mendarat dan menyeret jala termuat dua orang bocah itu, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dari kanan kiri.

“Serahkan seorang anak kepadaku!” bentak orang yang datang dari kiri. Dia adalah Kiu-bwe-houw Gan Lok yang bertubuh tinggi kurus dan di tangan kanannya nampak sebatang pecut berekor sembilan. Senjata inilah yang membuat dia dijuluki Kiu-bwe-houw (Harimau ekor sembilan) dan di dunia kang-ouw namanya cukup terkenal.

“Yang seorang lagi serahkan kepadaku!” bentak orang yang datang dari kanan dan dia ini adalah Kim-kauw-pang Pouw In Tiang, pendekar dari Lu-liang-san yang berperut gendut dan tubuhnya pendek itu. sebatang tongkat berada di tangannya dan dia bertolak pinggang dengan sikap angkuh.

Tiga orang Huang-ho Sam-kwi terkejut, mereka memandang kepada dua orang itu. Di bawah sinar bulan purnama mereka dapat mengenal kedua orang itu yang merupakan tokoh-tokoh persilatan yang tangguh. Orang pertama dari Huang-ho sam-kwi, yang dahinya terdapat bekas luka memanjang, segera memberi hormat kepada mereka berdua.

“Harap Ji-wi Eng-hiong (kalian berdua orang gagah) tidak mengganggu kami. Dua ekor ikan ini adalah hasil jala kami dan menjadi hak kami.”

Kim-kauw-pang Pouw In Tiang menggoyangkan tongkatnya yang berselaput emas itu sambil tersenyum mengejek. “Huang-ho Sam-kwi, kita semua tahu bahwa dua orang anak ini menjadi perebutan diantara kita semua. Siapa yang unggul ilmunya, dialah yang berhak mendapatkan mereka!”

Biarpun tiga orang setan Sungai Kuning itu maklum akan kelihaian dua orang ini, namun karena mereka sudah merasa berhasil mendapatkan dua orang anak itu, tentu saja mereka tidak menyerahkan korban itu begitu saja kepada orang lain. Mereka segera mencabut pedang masing-masing yang tergantung dipunggung, siap melakukan perlawanan. Dua orang jagoan itu pun menggerakkan senjata masing-masing menyerbu kedepan, disambut oleh Huang-ho Sam-kwi dan terjadilah perkelahian mati-matian di tepi sungai yang sunyi itu.

Sementara itu, Han Beng lebih dulu siuman dari pingsannya. Dia merasa betapa tubuhnya masih panas terbakar dari dalam, akan tetapi perutnya kembung penuh air. Aneh sekali, ketika dia menggunakan tangan menekan perutnya ada hawa panas yang kuat mendesak perut itu dan Han Beng membuka mulutnya, memuntahkan air dari dalam perut seperti pancuran. Dan air itu pun panas, mengeluarkan uap! Akan tetapi sebentar saja perutnya mengempis dan tidak terasa kembung lagi.

Pada saat itu, Giok Cu juga mengeluh dan bergerak. Han Beng membantu anak perempuan itu melepaskan diri dari libatan tali jala dan ketika Giok Cu mengeluh tentang perutnya yang membesar kembung, Han Beng teringat akan keadaan dirinya.

“Tekan perutmu itu dengan tangan agar airnya keluar lagi melalui mulutmu!”

Giok Cu menurut dan menekan-nekan perutnya, akan tetapi tidak berhasil.

“Mari kubantu,” kata han Beng dan tanpa ragu-ragu diapun ikut menekan perut kembung anak perempuan itu dengan telapak tangannya. Dan seketika ada hawa panas yang kuat menekan perut dan mendesak keluar air dari perut kembung itu. giok Cu muntah-muntah dan air dari dalam perutnya memancur keluar. Air ini pun panas, namun tidak sepanas air yang keluar dari perut han Beng.

Biarpun kepala mereka masih pening dan tubuh panas sekali namun kedua orang anak ini masih dapat melihat betapa tiga orang yang menjala mereka dan menyeret mereka ke dalam air tadi kini berkelahi melawan dua orang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih. Melihat betapa tiga orang yang tadi menangkap dia dan Giok Cu berkelahi melawan dua orang yang kelihatan gagah, Han Beng mengambil kesimpulan bahwa tentu dua orang gagah itu yang berusaha menolong dia dan Giok Cu. Dia memandang dengan hati kuatir, lalu memegang tangan Giok Cu dan berbisik “Giok Cu, mari kita cepat lari!”

Akan tetapi anak perempuan itu mengeluh. “Aku… aku merasa panas sekali, Han Beng… rasanya mual dan hendak muntah… ah, perutku panas sekali…!”

Memang terdapat perbedaan antara Han Beng dan Giok Cu sebagai akibat mereka menghisap darah ualar yang disebut anak naga oleh para tokoh kang-ouw tadi. Han Beng menghisap darah jauh lebih banyak dari Giok Cu dan andaikata dia tidak tergigit oleh ular itu tentu dia sudah tidak kuat bertahan dia sudah tewas. Akan tetapi, Han beng digigit ular pundaknya, dan racun ular itu menyerangnya.

Perlu diketahui bahwa ular itu memang merupakan semacam ular yang langka, ular yang kalau malam mengeluarkan cahaya di bagian kepalanya dan di dalam kepalanya itu terdapat semacam benda yang dianggap mustika oleh para tokoh kang-ouw, benda yang amat langka dan juga ampuh. Akan tetapi, gigitan ular ini mengandung racun yang mematikan!

Dan Han Beng tentu sudah sejak tadi tewas kalau saja dia tidak menghisap darah ular itu. Darah itu yang sekaligus menjadi obat penawar racun, bahkan pencampuran dua benda beracun, yang satu melalui gigitan dan yang kedua melalui darah ular, mendatangkan kekuatan luar biasa di dalam tubuhnya. Namun, tetap saja Han Beng terancam maut karena racun yang memasuki tubuhnya itu sungguh amat ampuh.

Adapun Giok Cu hanya menghisap darah ular, tidak tergigit. Namun darah ular itu pun memabukkan dan mengandung racun yang dashyat disamping mengandung kekuatan yang aneh pula. Seperti juga Han Beng, Giok Cu juga terancam maut dengan adanya darah ular dalam tubuhnya, darah yang dihisapnya dari ekor ular untuk menolong temannya tadi.

Perkelahian itu berjalan dengan seru. Sebetulnya, tingkat kepandaian Huang-ho Sam-kwi masih kalah dibandingkan dengan Kiu-bwe-houw Gan Lok ataupun Kim-kauw-pang Pouw In Tiang. Akan tetapi, kiranya kedua orang jagoan itu tidak bekerjasama. Agaknya mereka berdua yang juga tadinya memperebutkan anak naga, kebetulan saja menghadang Huang-ho Sam-kwi di pantai sunyi itu secara berbareng.

Setelah terjadi perkelahian, mereka berdua maju sendiri-sendiri dan tidak saling Bantu. Hal ini menguntungkan Huang-ho Sam-kwi yang maju bertiga. Seorang diantara mereka dapat membantu teman kanan kiri untuk mengeroyok dua orang lawan itu. Bagaimanapun juga, permainan pecut ekor sembilan dari Kiu-bwe-houw dan permainan tongkat sakti dari Kim-kauw-pang memang hebat dan membuat tiga orang Huang-ho Sam-kwi itu kocar-kacir dan permainan pedang mereka menjadi kacau balau.

Melihat ini, orang pertama dari Huang-ho Sam-kwi merasa kuatir lalu berseru kepada adiknya yang ketiga. “Cepat larikan dua orang bocah itu, kami akan menahan mereka!”

Orang ketiga dari Huang-ho Sam-kwi yang tinggi dan kurus sekali sampai seperti ikan layur, maklum akan maksud kakaknya. Satu-satunya jalan bagi mereka adalah melarikan diri lewat dalam air! Dan sebelum melarikan diri tentu saja lebih dulu dua orang anak itu harus disingkirkan agar jangan terjatuh ke tangan orang lain.

Kalau mereka bertiga melawan terus akhirnya akan roboh, dua orang anak dengan darah naga sakti itu tentu akan terampas, bahkan keselamatan nyawa mereka terancam. Maka dia lalu menubruk Han Beng dan Giok Cu. Kedua tangannya hendak mencengkeram dan menangkap dua orang anak itu untuk dibawa loncat kedalam air.

Han Beng dan Giok Cu mampu menghindarkan diri dan lengan kiri Han beng sudah tertangkap, juga lengan kanan Giok Cu. Keduanya meronta dan tiba-tiba Han-beng mengangkat tangan kiri, dikepalnya tangan itu dan memukul kearah perut orang termuda Huang-ho Sam-kwi.

“Desssss…!”

Hebat bukan main akibat pukulan anak laki-laki berusaha dua belas tahunan itu. Tubuh tinggi kurus itu terjengkang terbanting keatas tanah dan dia bergulingan mengaduh-aduh sambil memegangi perutnya. ”Aduhhh… panas… panas…!” Dan dia pun berkelonjotan tak mampu mengeluh lagi!

Tentu saja dua orang saudaranya terkejut. Melihat keadaan tidak menguntungkan itu, mereka lalu meloncat kebelakang, menyambar tubuh saudara yang terluka, lalu membawanya loncat ke dalam air, lalu menyelam lenyap.

Kiu-bwe-houw gan Lok dan Kim-kauw-pang Pouw In Tiang saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka terkejut dan merasa heran sekali melihat peristiwa tadi. Seorang diantara Huang-ho Sam-kwi sekali pukul oleh bocah berusia dua belas tahun itu! bagaimana mungkin ini! Mereka berdua tahu benar betapa lihainya Huang-ho Sam-kwi, walaupun tingkat masing-masing anggota Tiga Setan Sungai Kuning masih kalah oleh mereka namun selisihnya hanya sedikit dan tidak sembarang orang akan mampu mengalahkan mereka.

Dan kini, sekali pukul saja anak itu dapat merobohkan seorang diantara mereka yang mengaduh-aduh mengatakan bahwa perut yang dipukul itu terasa panas! Mereka berdua adalah tokoh kang-ouw yang berpengalaman dan cerdik, maka mereka sudah dapat menduga bahwa tentu kehebatan bocah itu adalah akibat dari minum darah anak naga tadi! Makin gembira dan bersemangat hati mereka untuk dapat memiliki dua orang anak kecil itu dan mereka lalu menghampiri Han Beng dan Giok Cu.

Han Beng masih bergandeng tangan dengan Giok Cu dan kini dia berkata kepada dua orang gagah itu. “Terima kasih atas pertolongan paman berdua. Sekarang orang-orang jahat itu telah tidak ada, kami hendak pergi mencari keluarga kami.” Dan dia hendak menarik lengan Giok Cu, diajak pergi dari situ, kedua anak itu berjalan terhuyung-huyung seperti mabuk.

“Nanti dulu, anak-anak baik ?” dua orang jagoan itu melompat menghadang di depan dua orang anak itu Kim-bwe-houw Gan Lok menyentuh lengan Han Beng dan Kim-kauw-pang Pouw In Tiang menyentuh lengan Giok Cu.

Keduanya mengeluarkan seruan kaget dan meloncat mundur karena ketika mereka menyentuh lengan kedua orang anak itu terasa amat panas seolah-olah mereka menyentuh besi membara! Diam-diam mereka merasa semakin gembira. Dua orang ini telah menjadi anak yang luar biasa!

“Anak baik, jangan dikira bahwa kalian terlepas dari orang-orang jahat. Ketahuilah, hampir semua orang di permukaan air sungai itu sedang mencari untuk menangkap kalian. Marilah kalian ikut bersama kami, dan kami akan mencarikan keluarga kalian,” kata Kiu-bwe-houw.

“Benar,” sambung Kim-kauw-pang. Jangan kalian pergi sendiri mencari mereka. Kalian sedang sakit, lihat, jalan pun terhuyung. Biarlah kami yang akan mengkabari keluarga kalian dengan berpencar.”

Giok Cu mengangguk dan ia melepaskan tangan Han Beng, menghampiri Kim-kauw-pang Pouw In Tiang dan hendak memegang tangan orang ini. Akan tetapi, Kim-kauw-pang mengelak.

“Jangan… jangan pegang tanganku. Tanganmu panas sekali. Kita berjalan berdampingan saja,” kata jagoan itu.

Akan tetapi, sebelum mereka pergi tiba-tiba bermunculan belasan orang di tempat itu. Mereka berloncatan dan sudah mengepung tempat itu. terkejut sekali hati dua orang jagoan itu ketika mereka melihat bahwa belasan orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang agaknya sudah dapat mencari mereka dan tiba di tempat ini, siap memperebutkan dua orang bocah yang sudah terjatuh ke tangan mereka. Ini pun hasil perbuatan Hiuang-ho Sam-Kwi!

Setelah mereka dikalahkan karena seorang diantara mereka terluka parah oleh pukulan Han Beng mereka melarikan diri dengan hati menyesal, kecewa dan penuh penasaran. Maka, mereka lalu memberitahukan kepada para tokoh kang-ouw yang masih berseliweran di atas perahu mereka bahwa dua orang bocah itu telah terjatuh ke tangan Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang yang berada di tepi sungai dalam hutan yang sunyi itu.

Mendengar keterangan ini tentu saja para tokoh kang-ouw berbondong-bondong pergi ke tempat itu dan sebelum dua orang jagoan itu sempat membawa dua orng bocah itu, para tokoh kang-ouw sudah berdatangan dan mengepung tempat itu.

“Kiu-bwe-houw perlahan dulu! Anak laki-laki itu harus diserahkan kepadaku!” kata seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang sudah memalangkan toyanya dengan sikap bengis.

“Kim-kauw-pang, anak perempuan itu bagianku!” kata pula seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti sastrawan sambil melintangkan sepasang pedang di depan dadanya.

Juga banyak orang lain yang mengambil sikap mengancam dan siap untuk menyerang siapa saja demi memperebutkan dua orang anak yang mereka percaya mempunyai darah yang ajaib dan yang akan banyak sekali manfaatnya bagi mereka. Tentu saja Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang yang tadi telah menguasai dua orang anak yang diperebutkan, andaikan orang makan daging sudah dipegang dan dibawa ke depan mulut, tinggal telan saja, tidak rela menyerahkan anak itu kepada siapapun juga.

Mereka pun menggerakkan senjata dan tak dapat dicegah lagi terjadilah perkelahian kacau-balau. Tidak ada kawan tertentu atau lawan tertentu. Setiap orang lain menjadi musuh dan diserang karena mereka semua beranggapan bahwa siapa yang keluar menjadi pemenang tunggal dialah yang akan menguasai dua orang anak itu!

Suasana menjadi rebut dan ramai bukan main, seperti terjadi perang campuh saja dan beberapa orang sudah nampak roboh menjadi korban. Darah mulai mengalir dan nyawa melayang. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali, suaranya membawa getaran yang terasa oleh semua orang.

“Haiiiiiii! Semua saudara, hentikan perkelahian gila ini…!” Di dalam suara itu terkandung tenaga khi-kang yang amat kuat, dan semua orang merasa betapa jantung mereka tergetar hebat.

Mereka terkejut dan otomatis semua orang menghentikan perkelahian dan menengok kearah orang yang mengeluarkan teriakan itu. Mereka melihat seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa, dengan mata mencorong penuh wibawa, pakainnya sederhana sekali mendekati miskin, namun sikapnya anggun dan jelas bahwa dia bukan orang sembarangan. Akan tetapi, para tokoh kang-ouw itu tidak mengenalnya dan semua orang memandang heran.

“Siapakah engkau dan perlu apa menghentikan perkelahian kami?” Tanya Kiu-bwe-houw Gan Lok dengan suara heran.

“Tidak penting mengetahui siapa adanya aku,” jawab pria itu yang bukan lain adalah Liu Bhok Ki.

Seperti kita ketahui, orang gagah ini berhasil mendapatkan tubuh ular yang dijadikan perebutan sebagai anak naga itu, menggigit kepalanya dan menelan “mustika” yang terdapat di dalam kepala ular, lalu roboh pingsan di dalam perahunya. Karena dia pingsan, tidak ada orang lain yang tahu apa yang telah terjadi dan mengira bahwa anak naga itu lenyap setelah darahnya dihisap oleh dua orang anak itu. Lama juga Liu Bhok Ki jatuh pingsan.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Setelah sadar, dia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa luka akibat pedang di tangan Sim Lan Ci, luka oleh pedang Cui-mo Hek-kiam yang mengandung racun jahat itu ternyata telah bersih dari racun. Tidak lagi ada tanda menghitam, dan tidak ada perasaan nyeri. Ternyata “mustika” naga itu benar-benar ampuh dan telah menyembuhkannya! Dia merasa bersyukur sekali, akan tetapi juga kuatirkan nasib dua orang anak kecil yang tadi digigit oleh anak naga.

Dia lalu bangkit duduk mendayung perahunya sampai dia mendengar bahwa dua orang anak yang dikabarkan telah menghisap darah anak naga itu, kini terjatuh ke dalam tangan Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang di sebuah tepi sungai. Cepat diapun melakukan pengejaran kesana bersama-sama orang-orang lain dan ketika para tokoh kang-ouw itu berkelahi untuk memperebutkan dua orang anak itu, dia lalu turun tangan dan berteriak menyuruh mereka semua berhenti berkelahi.

“Kalian semua tahu bahwa mereka bukanlah binatang seperti anak naga, bukan pula benda seperti mustika naga yang boleh dipakai perebutan begitu saja. Mereka adalah dua orang anak manusia, oleh karena itu sungguh tidak patut kalau kalian memperebutkan mereka dan hendak memaksa mereka dengan maksud buruk! Sebagian dari kalian adalah pendekar yang gagah, bagaimana mempunyai niat buruk untuk membunuh mereka dan mengambil darah mereka?”

Mendengar ucapan ini, Han Beng dan Giok Cu terkejut bukan main. Kiranya mereka diperebutkan untuk dibunuh dan diambil darah mereka! Han Beng kini memandang kepada mereka semua dengan mata terbelalak dan muka yang panas itu kini menjadi marah sekali. Dia marah! Kemarahan luar biasa yang belum pernah dialami selama hidupnya. Kemarahan yang seolah terdorong oleh hawa panas di tubuh dan dalam perutnya itu.

Sementara itu, para tokoh pendekar merasa rikuh mendengar ucapan Liu Bhok Ki. Dua orng diantara para tokoh itu, segera melangkah maju mendekati Han Beng dan Giok Cu. Mereka tersenyum dan seorang diantara mereka berkata kepada Han Beng.

“Anak baik, memang seharusnya engkau diajak secara baik-baik. Marilah engkau ikut bersamaku. Kau akan hidup berkecukupan, minta apapun akan kubelikan dan kalu ingin belajar silat akan kuajari ilmu silat tinggi sehingga kelak engkau akan menjadi seorang gagah perkasa!”

“Dan engkau ikut dengan aku, anak manis. Kau akan kuanggap seperti anakku sendiri,” kata orang kedua kepada Giok Cu.

Han Beng sejak tadi sudah marah bukan main. Hawa panas di dalam tubuhnya seperti berpusing di dalam tubuhnya, membuat kepalanya semakin pening dan pandang matanya berkunang. Sepasang matanya mencorong seperti mata harimau dan wajahnya menjadi ganas sekali. Kini melihat dua orang itu membujuk dia dan Giok Cu, teringat dia akan ucapan laki-laki gagah tadi bahwa mereka semua itu hendak membunuh dia dan Giok Cu dan mengambil darah mereka berdua.

Teringat ini, kemarahannya berkobar dan dia pun menerjang maju, menghantam dengan tangan terbuka, beruntun kepada dua orang itu. Dua orang kang-ouw itu adalah orang-orang pandai, tentu saja tidak mempedulikan serangan Han Beng, seorang anak kecil berusia dua belas tahun.

“Desss! Dessss!!"

Dua tubuh orang itu terlempar seperti daun-daun kering tertiup angin, terhuyung kemudian roboh dan tidak bangkit kembali. Dari mulut, hidung, mata dan telinganya keluar darah dan jelas bahwa dua orang itu tidak dapat diselamatkan lagi!

Keadaan menjadi gempar! Semua orang kini hendak menangkap Han Beng karena mereka semua semakin yakin bahwa anak itu benar-benar menjadi kuat berkat minum darah anak naga! Dan kini Han Beng mengamuk. Dia kini sudah seperti mabuk, terhuyung-huyung dan memejamkan mata, mulutnya mengeluarkan suara tidak karuan. Dia merasa betapa tubuhnya ringan dan seperti hendak terbang keatas, seluruh tubuh yang panas itu berdenyut-denyut tidak karuan, seolah-olah setiap saat dada, kepala dan perutnya akan meledak!

Dan setiap kali ada tangan menyentuhnya, dia menghantam. Juga telinganya dapat menangkap setiap gerakan orang, maka tanpa membuka matanya dia mengetahui bahwa ada orang mendekatinya dari belakang, depan kanan atau kiri dan setiap kali tanganya menghantam, tentu bertemu tubuh orang. Dia tidak tahu betapa setiap pukulannya membuat seorang jagoan terlempar dan terbanting, ada yang tewas seketika, ada pula yang terluka parah atau ringan, tergantung dari tingkat kepandaian orang itu.

Nampaklah pemandangan yang luar biasa sekali, lucu dan aneh. Orang-orang yang terkenal sebagai orang-orang gagah di dunia persilatan, yang bertubuh tinggi besar, bersikap garang dan bertenaga besar, seperti mengeroyok seorang anak kecil dan anak itu mngamuk, memukul sana-sini tanpa gerakan silat sama sekali, melainkan gerakan ngawur dan memukul biasa saja terdorong kemarah. Seperti seorang anak yang nekat. Akan tetapi hebatnya, setiap kali pukulannya mengenai sasaran, yang dipukul tentu roboh terlempar dan terbanting keras, seperti ditumbuk oleh kekuatan yang amat dasyat!

Tentu saja orang-orang itu tadinya tidak bermaksud mengeroyok, melainkan hendak menangkapnya, akan tetapi kini juga menyerang untuk merobohkan anak itu agar dapat mereka paksa dan mereka bawa pergi. Kembali han Beng menjadi perebutan.

Giok Cu adalah seorang anak perempuan yang lincah dan memang bagi anak perempuan tergolong berani dan nakal. Ia pun pening dan mabuk, akan tetapi ternyata ia memiliki perasan setia kawan yang tinggi. Biarpun perasaan tubuhnya tidak karuan, begitu melihat Han Beng dikeroyok, iapun menjadi marah dan ia ikut pula memukul-mukul. Dan hebatnya, biarpun pukulannya tidak sekuat Han Beng, namun pukulan tangannya mengandung hawa panas yang membuat orang yang terpukul cukup menderita nyeri dan kepanasan dan mereka pun terhuyung kebelakang.

Akan tetapi, Giok Cu tidak sekuat Han Beng karena sebuah tendangan membuat ia jatuh tersungkur. Akan tetapi begitu ada tangan hendak menangkap anak perempuan yang terjatuh itu, Han Beng menerjang kedepan dan pukulan tangannya yang menampar mengenai pundak orang yang hendak menangkap Giok Cu.

“Auhhh…!” orang itu terjungkal dan berguling menjauh sambil mengaduh-aduh.

Han Beng mengamuk terus. Biarpun kepalanya pening, namun agaknya mengenai sasaran dan berhasil menghalau orang-orang yang hendak menangkap dia dan Giok Cu. Maka, anak itu kini bukan hanya membela diri, bahkan memukul siapa saja yang berani mendekat tanpa menanti untuk ditangkap lagi. Dan akibatnya memang hebat. Orang-orang kang-ouw itu terheran-heran karena bocah ini memang memiliki tenaga yang dasyat sekali, selain kuat, juga gerakan kedua tangannya yang memukul dengan ngawur itu mengandung hawa panas yang luar biasa.

Beberapa orang yang mencoba untuk menangkis pukulan anak itu, ketika lengan mereka bertemu dengan lengan kecil Han Beng, mereka mengaduh dan terpelanting keras. Bahkan ada yang tulang lengannya patah, dan setidaknya mereka tentu merasa betapa lengan mereka itu nyeri dan panas seperti bertemu dengan besi panas!

Liu Bhok Ki yang tadinya muncul dan hendak melindungi dua orang bocah yang telah berjasa kepadanya karena anak laki-laki itu tadi melemparkan anak naga kepadanya, kini memandang dengan bengong. Tidak mungkin bocah sekecil itu memiliki kepandaian tinggi. Apalagi melihat gerakan bocah itu ketika memukul, sama sekali tidak menggunakan gerakan ilmu silat. Namun, pukulannya amat ampuh. Bahkan ketika ada beberapa orang yang menyerang bocah itu dan dia melihat betapa pukulan tangan mereka itu mengenai tubuh anak yang mengamuk, pemukul itu menarik kembali tangannya dan seperti dibakar rasanya, dan anak yang terpukul sama sekali tidak bergoyang!

Liu Bhok Ki juga amat cerdik. Tentu ini akibat darah anak naga, pikirnya. Kalau begitu memang anak-anak telah menghisap darah anak naga sampai habis. Ketika dia menerima tubuh anak naga itu, binatang ajaib itu sudah lemas dan kehilangan darah, bahkan ketika dia menggigit pecah kepala anak naga itu, hampir tidak ada darah keluar. Agaknya, setelah menghisap darah binatang ajaib itu, kedua anak itu, terutama anak laki-laki itu, memiliki tenaga yang bukan main dasyatnya!

Semua orang terkejut dan heran, apalagi kini mendengar Han Beng mengeluh dan mengerang seperti kesakitan sambil terus menyerang ke kanan kiri secara kalang kabut. Memang terjadi keanehan pada tubuh Han Beng. Begitu ketika menggerakkan kaki tangan memukul dan menyerang, seperti ada tenaga dasyat dan panas menguasainya sepenuhnya, dan tenaga itu tidak mau berdiam lagi, terus berpusing di dalam tubuhnya sehingga dia pun tidak dapat lagi menghentikan gerakan kaki tangannya!

Rasa nyeri makin menghebat terutama di dada dan bawah pusar, sedangkan kedua pasang kai tangannya setiap kali digerakkan mengeluarkan bunyi berkerotokan! Ini menandakan bahwa tenaga mukjijat itu, hawa sakti yang panas itu, mulai menyusup kedalam tulang-tulangnya!

Orang-orang kang-ouw itu menjadi gentar setelah belasan orang roboh malang melintang oleh pukulan-pukulan Han Beng dan kini mereka mundur mengatr jarak menjauhkan diri. Han Beng memukul-mukul terus sambil melangkah maju dan terhuyung-huyung, kedua matanya terpejam. Dari kedua tangan anak yang memukul-mukul secara ngawur itu keluar hawa pukulan yang mengeluarkan uap panas! Sementara itu, Giok Cu sudah terjatuh terduduk, tidak kuat menahan kepeningannya dan anak perempuan itu pun hanya menundukkan muka sambil memejamkan kedua matanya.

Sejak tadi Liu Bhok Ki memandang dengan penuh kagum dan heran melihat sepak terjang anak laki-laki itu. Akan tetapi, kini dia menjadi kuatir sekali. Dilihatnya betapa wajah anak yang kerut-merut menahan nyeri itu makin lama berubah semakin merah sehingga kini kehitaman! Celaka, pikirnya karena dia tahu bahwa anak itu ternyata keracunan hebat. Agaknya gigitan dan darah anak naga itu terlampau kuat dan menimbulkan racun yang amat dasyat yang menguasai tubuh anak itu akan kuat bertahan. Dan anak perempuan itu pun agaknya sudah hampir tidak kuat lagi, sudah duduk dengan lemas.

Liu Bho Ki sudah siap hendak meloncat ke depan ketika Han Beng yang terus melangkah maju itu kini tiba didekat ban-to Mo-li Phang Bi Cu yang agaknya baru muncul. Mendengar ada langkah kaki ringan di sebelah kanannya, Han Beng lalu menyerang ke kanan, memukul dengan kepalan tangan kanannya. Pukulan itu mengeluarkan angin pukulan yang mengandung hawa panas sekali. Ban-to Mo-li miringkan tubuh mengelak dari sambaran hawa panas itu dan dari samping ia menampar kearah leher Han Beng.

“Plakkkk” tubuh Han Beng terpelanting dan anak itu pun tak mampu bangkit kembali. Tamparan ban-tok Mo-li itu mengandung racun, dan memang disengajanya ia memukul anak itu terjatuh ke tangan orang lain, anak itu atau darahnya tidak dapat dipergunakan lagi karena mengandung racun maut! Sebaliknya, ia tentu saja akan mampu melenyapkan pengaruh racun dari tubuh anak itu karena ia memiliki obat penawarnya!

Han Beng yang tadinya sudah pening, kini mendadak merasa betapa tubuhnya lumpuh. Dia berusaha menggerakkan kaki tangannya, namun gagal dan dia membuka matanya, memandang kepada wanita cantik itu tanpa mampu bergerak lagi. Ada terjadi keanehan di dalam tubuhnya. Kalau tadinya, tubuh itu seperti menggembung rasanya, seolah-olah kemasukan angin panas dan akan meledak, kini perlahan-lahan hawa panas itu berkurang seolah-olah tubuhnya mulai mengempis dan hawa panas yang berputaran cepat sekali ditubuhnya itu kini mulai agak tenang, ketika dia membuka kedua matanya, pandangannya tidak berkunang dan tidak kelihatan berputaran lagi.

Rasa mual di perutnya juga hilang dan dia bahkan mulai merasakan suatu kenyamanan yang aneh, seolah-olah orang yang tadinya dipanggang terik matahari kini berteduh di bawah pohon yang rindang, dan menghirup hawa yang sejuk sekali. Akan tetapi, dia masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya yang seperti lumpuh. Ada rasa dingin yang hebat masuk ke tubuhnya melalui leher dan agaknya hawa dingin inilah yang membuat rasa panas di tubuhnya bekurang.

Dan memang sesungguhnya demikianlah. Telah terjadi sesuatu kebetulan yang berulang pada diri Han Beng. Anak ini mestinya sudah tewas oleh gigitan ular Sungai Huang-ho karena gigitan itu mengandung racun yang amat kuat. Akan tetapi, hawa panas dahsyat yang amat kuat itu yang membuat setiap pukulan Han Beng tidak dapat ditahan oleh seorang jagoan silat, juga mendatangkan bencana dan ancaman maut lain lagi.

Tubuhnya yang tidak terlatih itu, biarpun masih bersih, tidak kuat menahan kekuatan dasyat di dalamnya dan Han Beng terancam maut untuk kedua kalinya. Hal ini nampak ketika wajahnya berubah semakin merah lalu menghitam. Akan tetapi, pada saat itu “Kebetulan” sekali ban-to Mo-li diserangnya dan wanita iblis ini hendak menguasai dirinya dengan memberi tamparan beracun pada lehernya. Sama sekali diluar dugaan Ban-to Mo-li sendiri bahwa racun dari kukunya yang amat kuat itu, yang mengandung hawa dingin, ternyata malah menyelamatkan nyawa Han Beng!

Racun dingin inilah yang mengurangi tekanan hawa panas di tubuh Han Beng sehingga keadaan dalam tubuh anak itu menjadi seimbang. Dan sebaliknya, racun dingin ini pun kehilangan daya serangnya yang berbahaya karena bertemu dengan hawa panas itu. Memang racun bertemu racun yang bertentangan itu kehilangan daya serangnya yang mematikan, bahkan sebaliknya dapat menjadi obat yang amat ampuh!

Melihat Han Beng roboh dan lemas, para tokoh kang-ouw menjadi girang dan mereka pun kini kembali berebut maju untuk dapat lebih dulu menangkap dan melarikan anak itu. Ada pula sebagian yang lari untuk menubruk dan melarikan Giok Cu. Akan tetapi, Liu Bhok Ki sudah meloncat kedepan dan tangan kakinya bergerak cepat dan menyerang mereka yang hendak memperebutkan Han Beng. Empat orang terlempar kebelakang terkena tendangan kaki Liu Bhok Ki yang sudah marah sekali...