Social Items

RASA nyeri yang amat hebat membuat tubuhnya seperti kejang dan panas dan juga seolah-olah ada ribuan semut berapi yang mengigit seluruh tubuhnya. Pundaknya terasa seperti dibakar. Han Beng tiba-tiba menjadi marah sekali pada ular itu. kepala ular itu masih menempel di pundaknya dan tubuh ular itu mulai membelit dada dan lehernya.

Dia menjadi nekat dan dengan mengerahkan sepenuh tenaganya, dia menangkap tubuh ular itu, menariknya kedekat mulutnya dan diapun menggigit tubuh ular itu dibagian leher. Begitu dia mengigit dengan sekuat tenaga sehingga menembus kulit ular yang licin dan amis itu, dia merasakan sesuatu yang manis dan juga amis membasahi mulutnya. Itulah darah ular!

Diapun teringat bahwa ular itu masih menggigitnya, pundaknya nyeri bukan main, maka dalam kemarahannya, untuk membalas kepada ular itu, diapun menggigit semakin kuat dan menghisap darah ular itu, ditelannya sampai berteguk-teguk!

Aneh sekali, begitu dia menelan darah ular itu, hatinya merasa senang! Rasakan kamu, pikirnya. Kalau perlu, kita mati berbareng! Dia menghisap terus tanpa mengendurkan gigitannya sedikitpun juga.

Sementara itu, melihat kawannya digigit ular pada pundaknya dan tubuh ular itu membelit tubuh Han Beng, Giok Cu tidak tinggal diam. Ia tadi ditolong oleh Han Beng sehingga belitan ulr pada tubuhnya terlepas. Kini iapun tidak mau tinggal diam, dan ia pun meniru perbuatan Han Beng yang mengigit leher ular.

Giok Cu tidak dapat membantu karena ia tidak memegang senjata, maka satu-satunya senjatanya hanyalah gigi dan ia pun mengigit ekor ular itu sekuat tenaga! Dan seperti Han Beng, ia merasakan darah ular manis dan amis, akan tetapi ia tidak melepaskan gigitannya dan bahkan menghisap sehingga sedikit darah ular memasuki perutnya!

Tadinya, para tokoh kang-ouw mengerutkan alis dan marah melihat dan mendengar kegaduhan yang dibikin seorang anak perempuan, akan tetapi ketika mereka melihat bahwa yang kena pancing itu anak naga yang dijadikan rebutan, semua orang terkejut dan perahu-perahu itu meluncur datang. Karena banyaknya perahu, terjadi kekacauan dan ada perahu-perahu yang bertabrakan! Hal ini membuat mereka agak lambat mendekati Han Beng dan Giok Cu yang bergulat dengan ular yang oleh para tokoh kang-ouw disebut anak naga itu.

Han Beng terus menggigit leher ular dan menghisap darah ular sekuatnya. Demikian pula Giok Cu yang juga menghisap darah ular yang dirasakan manis dan amis itu. Akan tetapi karena anak perempuan itu menggigit bagian ekor ular atau “Anak Naga” itu, darahnya dihisapnya tidaklah sebanyak yang dihisap Han Beng.

Han beng yang tadinya merasa pundaknya yang digigit itu amat nyeri dan panas, bahkan tubuhnya seperti ditusuki ribuan jarum di dalam, kini merasa betapa ada hawa panas yang berputaran di seluruh tubuhnya dan rasa nyeri di pundak itu pun lenyap. Kini terganti oleh hawa panas yang seolah-olah membakar tubuhnya didalam. Karena siksaan hawa panas itu di menjadi nekat dan menggigit semakin kuat. Kini gigitan ular pada pundaknya terlepas dan ular itu menjadi lemas gerakannya tidak sekuat tadi.

Pada saat itu, sebuah perahu sudah datang paling dekat dan seorang kakek tua berperut gendut dengan muka selalu berseri, mulut yang selalu menyeringai, telah menggerakkan tangannya dan di lain saat, kakek itu telah menyambar tengkuk Han Beng dan ditariknya anak itu naik keatas perahunya.

Han beng yang sudah berkunang matanya, pening kepalanya dan hawa panas seperti membakar seluruh isi perut dan kepala, seperti tidak sadar bahwa ia diangkat orang naik ke perahu. Dia masih terus menggigit leher ular dan menghisap darahnya, dan ketika dia ditarik ketas perahu, ular itu pun ikut pula tertarik.

Dan di ujung ular itu, Giok Cu yang menggigit ekor dan menghisap darah, ikut pula tertarik! Anak perempuan ini pun mulai merasa pening dan tubuhnya terasa panas seperti dibakar. Biarpun ia tidak sehebat Han Beng terasa oleh hawa panas karena darah ular yang dihisapnya tidak sebanyak yang dihisap Han Beng, namun ternyata hawa panas dalam tubuhnya hampir tak tertahankan dan anak perempuan ini pun dalam keadaan tidak begitu sadar ketika tubuhnya tertarik ke atas perahu kakek gendut.

Kakek gendut yang kepalanya bulat seperti bola itu terkekeh girang melihat anak naga yang masih menggeliat-geliat lemah. “Ha-ha, anak naga terdapat olehku ha-ha!”

Dia menangkap tubuh ular itu dan terdengar dia berteriak kaget. “Wah, celaka! Anak naga ini hampir mati, darahnya hampir habis! Wah, kiranya kau hisap darahnya, anak setan!”

Kakek gendut berkepala bulat itu adalah seorang tokoh kong-ouw kenamaan bernama Ci Kai Liat, seorang bajak sungai yang terkenal lihai sekali dan ditakuti banyak orang. Biarpun mukanya selalu berseri dan mulutnya selalu menyeringai lebar, nampaknya seperti orang yang selalu riang dan ramah, namanya sesungguhnya dia memiliki watak yang amat kejam dan berdarah dingin. Dia dapat membunuh atau menyiksa orang sambil tertawa-tawa, dan melihat penderitaan orang lain seperti sebuah hal yang amat menggembirakan dan lucu.

Ci Kai Liat marah sekali melihat bahwa “Anak Ular” itu sudah hampir habis darahnya, dihisap oleh anak laki-laki dan anak perempuan itu, akan tetapi sebelum dia menentukan apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba nampak bayangan hitam meluncur datang. Sebuah perahu yang didayung oleh Liu Bhok Ki sudah tiba dan kakek perkasa ini membentak dengan suaraa keren.

“Bajak Hina Ci Kai Liat, berikan anak naga itu kepadaku!”

Berkata demikian, Liu Bhok Ki meloncat keatas perahu bajak itu. Ci Kai Liat sudah mengenal pria perkasa itu, maka dia melepaskan ular yang sudah lemas dan masih digigit oleh Han Beng dan Giok Cu, lalu menyambut tubuh Liu Bhok Ki dengan hantaman dayungnya yang terbuat dari pada baja! Dihantamkan sekuat tenaga kearah kepala orang yang melompat ke perahu itu.

“Dukkkk!” Liu Bhok Ki menangkis dengan lengannya dan karena tubuhnya masih berada di udara, pertemuan tenaga itu membuat tubuhnya melayang kembali ke atas perahunya sendiri, sedangkan Ci Kai Hiat terjengkang di dalam perahunya karena hebatnya benturan lengan Liu Bhok Ki ketika menangkis dayungnya. Dari kenyataan ini saja dapat diketahui bahwa dalam hal tenga sin-kang bajak ini bukanlah lawan Liu Bhok Ki yang lihai.

“Hayo, lepaskan anak naga ini!” Ci Kai Liat membentak dan dia menendang tubuh Giok Cu. Anak perempuan yang sudah merasa pening ini terkena tendangan, gigitannya pada ekor ular terlepas dan ia pun terjatuh ke dalam air!

Melihat ini, han Beng marah sekali. Dia merasa bahwa darah ular itu telah habis dan ular itu agaknya sudah tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi dia tidak sudi menyerahkan ular kepada si Gendut yang dengan kejam menendang Giok Cu, maka dia segera melemparkan tubuh ular yang sudah lemas itu kearah perahu yang di tumpangi Liu Bhok Ki!

Orang gagah ini segera menangkap “anak naga” itu dan tanpa ragu-ragu lagi, dia lalu menggigit kepala naga sampai pecah, dan didalam kepala itu terdapat sebuah benda kuning, seperti kuning telur. Cepat benda ini dimasukkan ke dalam mulut dan ditelannya!

Tiba-tiba wajah Liu Bhok Ki menjadi pucat, kerut merut dan dia menggigit bibirnya. Terasa betapa perutnya seperti diremas-remas dari dalam, nyeri bukan main dan akhirnya, orang gagah perkasa itu roboh pingsan di dalam perahunya!

Sementara itu, Han beng sudah meloncat ke dalam air untuk menolong Giok Cu kalau-kalau anak perempuan itu terancam bahaya. Namun, dia merasa lega melihat Giok Cu berenang dan dalam keadaan selamat.

“Giok Cu…!” Han Beng berseru. “Mari kita kembali ke perahu kita!”

“Han Beng, aku… aku pening sekali…” Anak perempuan itu terengah-engah.

Han beng juga merasa pening sekali, dan tubuhnya seperti sebuah balon yang penuh dengan hawa panas, seperti akan meledak setiap saat. Namun dia tidak mau menyatakan hal ini, melainkan menangkap lengan Giok Cu dan menariknya.

“Hayo kita cari perahu kita…” Akan tetapi, biarpun bulan purnama menerangi permukaan air, tetap saja sukar untuk mencari perahu keluarga mereka diantara banyak perahu berseliweran itu.

“Ha-ha, kau hendak pergi ke mana...?" Tiba-tiba ada suara terdengar di dekat mereka. Kiranya kakek gendut berkepala bulat tadi sudah berada di dekat mereka sambil menyeringai.

“Anak naga tidak dapat, akan tetapi darah naga bisa kuperoleh dari tubuh kalian. Ha-ha-ha! Mari ikut dengan aku, anak-anak manis!”

Orang itu adalah Ci Kai Liat. Setelah melihat betapa anak naga itu tadi terjatuh ke tangan Liu Bhok Ki, Ci Kai Liat merasa terkejut, menyesal dan penasaran. Namun, dia teringat betapa dua orang anak itu telah menghisap darah anak naga sampai hampir habis. Dengan demikian, darah kedua orang anak itu amat bermanfaat, mengandung darah naga! Demikian dia mendengar dongeng tentang naga. Maka, kini timbul niatnya untuk menangkap dua orang anak yang telah minum habis darah naga, dan dia akan mengambil darah kedua orang anak itu.

“Tidak, tidak sudi ikut denganmu” Han Beng membentak.

Anak ini memang memiliki ketabahan luar biasa disamping keuletan dan tahan uji. Tubuhnya seperti dibakar dari dalam, kepalanya pening berdenyut-denyut, namun, dia masih tabah menghadapi kakek gendut yang menyeringai menyeramkan itu. Bahkan, ketika kakek itu mengulurkan tangan hendak menangkapnya, Han Beng mengelak dengan menyelam.

Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang bajak sungai yang tentu saja mempunyai keahlian di dalam air selain ilmu silat yang tinggi. Dia tidak mungkin dapat meloloskan diri hanya dengan menyelam terhadap pengejaran kakek ini. Tahu-tahu Han Beng sudah tertangkap lengannya dicengkeram kakek itu.

Melihat Han Beng meronta-ronta hendak melepaskan diri dari pegangan kakek itu Giok Cu menjadi marah. Ia tidak rela melihat temannya ditangkap, maka anak perempuan yang pandai renang ini pun meluncur maju dan memukul tangan kanannya kea rah punggung kakek itu.

“Lepaskan dia! Lepaskan!”

“Dukkk!” Pukulan kepalan kecil ke arah punggung itu mengejutkan Ci Kai Liat karena terasa kuat dan menimbulkan nyeri pada punggungnya! Tak disangkanya anak perempuan kecil itu memiliki tenaga sebesar itu. Punggung seperti dipukul palu besi dengan keras. Untung dia memiliki kekebalan. Dia pun membalik dan menangkap pula lengan Giok Cu dan menyeret kedua orang anak itu dan membuat mereka lumpuh tak mampu bergerak lagi. Dengan mudah dia melemparkan tubuh kedua anak itu ke atas perahunya dan dia sendiri menyusul naik.

“Heh-heh-heh, mari ikut dengan aku, anak-anak manis!” katanya sambil mulai mendayung perahunya.

Han Beng yang tertotok tadi, seketika menjadi lumpuh kaki tangannya. Akan tetapi hanya sebentar saja karena hawa panas itu membuat tubuhnya pulih kembali dan dia mampu bergerak lagi. Dia bangkit duduk dan membentak. “Kakek jahat! Mau apa engkau membawa kami berdua? Kami ingin kembali kepada keluarga kami”

“Ehhh…??!” Ci Kai Liat terkejut sekali melihat Han Beng telah dapat Bergerak lagi. Bagaimana mungkin ini? Totokannya amat kuat. Dan dia melihat anak perempuan itu pun mulai menggerak-gerakkan kakinya! Dia pun teringat!

“Aha, kalian sudah menghabiskan darah naga, di tubuh kalian ada darah naga! Kalian harus ikut bersamaku!” dan lalu menubruk Han Beng dan sebelum pemuda itu mampu meronta, dia sudah menotoknya lagi dan dalam keadaan lumpuh sementara itu, Han Beng diikat kaki tangannya. Juga Giok Cu diikat kaki tangannya oleh kakek gendut.

“Hem, bajak rendah, berikan kedua orang anak itu kepadaku!” tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nampak sebuah perahu meluncur cepat sekali, tahu-tahu perahu itu sudah dekat dan penumpangnya hanya seorang wanita cantik yang berpakaian mewah, sikapnya dingin dan angkuh. Melihat wanita ini, wajah Ci kai Hiat berubah pucat. Tentu saja dia mengenal Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu.

“Ban-tok Mo-li, engkau carilah anak naga, aku tidak akan mencarinya lagi, aku… aku suka kepada dua orang anak ini, hendak kuajak pulang, karena aku tidak mempunyai anak, tidak mempunyai murid. Harap jangan halangi aku, Mo-li…” katanya dengan suara jelas mengandung rasa takut menghadapi wanita cantik itu.

“Berani engkau hendak membohongi aku?” wanita itu membentak.

Tiba-tiba tubuhnya seperti terbang melayang dan tahu-tahu ia sudah berada diatas perahu Ci Kai Liat yang menjadi semakin pucat. Bau harum yang aneh menyengat hidung dan Ci kai Liat yang biasanya merupakan seorang bajak yang amat kejam dan tidak mengenal takut, sekarang nampak menggigil. Sungguh mengherankan sekali betapa seorang bajak yang diikuti banyak orang itu kini menggigil berhadapan dengan seorang wanita cantik.

“Hayo terangkan mengapa engkau hendak mengambil darah kedua orang bocah ini!” Ia mengacungkan jari telunjuknya yang berkuku panjang dan kini Ci Kai Liat bergidik.

“Maaf, Mo-li. Aku tidak ingin berbohong. Kedua orang anak ini… entah bagaimana tadi dibelit dan digigit... anak naga! Dan kedua orang bocah ini juga menggigit, bahkan menghisap darah anak naga sampai kedalam tubuh mereka. Oleh karena itu…”

“Pergi kau! Dua orang anak ini untuk aku!” tiba-tiba kaki wanita itu bergerak. Cepat sekali tendangannya itu dan tahu-tahu tubuh Ci Kai Liat yang gendut telah terlempar kedalam air!

“Byuuuur…!” air muncrat dan Ci kai Liat menyelam, tidak berani muncul ke permukaan air sebelum jauh dari perahunya yang kini dirampas wanita itu berikut dua orang anak kecil. Dia menyumpah-nyumpah, namun tetap saja tidak berani berbuat sesuatu. Ci kai Liat sudah mengenal benar siapa adanya Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, bahkan pernah dia hampir tewas di tangan iblis betina itu. Maka kini, begitu bertemu dia seperti tikus bertemu seekor kucing.

Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu mendekati dua orang anak yang terikat itu, tidak tahu bahwa Ci kai Liat yang penasaran, melampiaskan rasa penasarannya dengan mengabarkan tentang dua orang anak yang menghisap habis darah anak naga itu kepada para tokoh kang-ouw yang berputar-putar di sekitar tempat itu. Kini semua tokoh sudah tahu belaka bahwa naga ular telah hilang, darahnya telah disedot habis oleh dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yang kini tertawan oleh ban-tok Mo-li.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Ketika Ban-tok Mo-li meraba tubuh Han Beng dan Giok Cu, ia terkejut dan menarik kembali tangannya. Wajahnya berseri dan matanya berkilat. Tubuh dua orang anak kecil itu panas seperti api! “Bagus,” katanya mengangguk-angguk. “Kalian harus ikut denganku!” Ia pun mempergunakan dayung untuk mengerakkan perahu meninggalkan tempat itu.

Tiga buah perahu, masing-masing ditumpangi dua orang, menghadangnya. Mereka adalah enam orang tokoh kang-ouw yang juga mendengar berita yang disebar luaskan oleh Ci Kai Hiat, maka kini mereka menghadang perahu Ban-tok Mo-li dengan senjata terhunus. Dua orang memegang golok, dua orang lagi memegang pedang, dan dua orang yang lain memegang trisula. Wajah mereka garang dan agaknya enam orang itu walaupun bukan dari satu kelompok, karena jerih kalau harus menghadapi Ban-tok Mo-li sendiri saja, sudah sepakat untuk mengeroyok iblis betina ini.

“Hemmmm, kalian ini enam ekor tikus mau apa menghadang perahuku!” Ban-tok Mo-li berkata dengan suara dingin.

Seorang berkumis tebal yang memegang trisula, mewakili teman-temannya menjawab. “Ban-to Mo-li, kami berenam mohon agar engaku suka menyerahkan seorang diantara dua orang anak itu kepada kami.”

Wanita cantik itu tersenyum. Senyuman yang membuat wajahnya manis sekali, akan tetapi juga penuh ejekan. “Huh, enak saja berbicara. Tak seorangpun boleh menjamah dua orang anak yang menjadi milikku ini!”

“Aih, Mo-li, harap berlaku adil dan jangan tamak. Seorang pun lebih dari cukup untukmu. Berilah yang seorang kepadaku agar dapat kami bagi berenam.”

“Tikus-tikus busuk, pergilah dan jangan ganggu aku! Ataukah kalian sudah bosan hidup barangkali?”

Karena mengandalkan banyak teman, enam orang ini tidak mau menyingkir bahkan mendekatkan perahu mereka, dengan senjata terangkat dan sikap mengancam mereka menyerbu.

“Berikan seorang kepada kami atau kami terpaksa akan merampas keduanya!” bentak pula si kumis tebal.

“Kiranya kalian sudah bosan hidup!” bentak Ban-tok Mo-li dan tanpa memperdulikan enam orang dalam tiga perahu itu, ia mendayung terus ke depan.

Sebuah perahu menghadang didepan, yang du buah lagi menyerang dari kanan kiri. Enam orang itu dengan nekat, berlompatan dari perahu mereka keatas perahu Ban-to Mo-li sambil menggerakkan senjata masing-masing!

Namun, ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dengan sikap tenang saja menyambut serbuan enam orang itu dengan kipas ditangan kiri mengebut-ngebut lehernya seperti orang kepanasan, sedangkan tangan kanan tetap mendayung perahu. Melihat enam orang itu berloncatan, tiba-tiba ia menggerakkan kipasnya kekiri kanan dan depan. Terdengar suara berciut bersama dengan menyambarnya sinar hitam ketiga penjuru dan lima orang yang sedang berloncatan menyerbu itu mengeluaran teriakan dan tubuh mereka runtuk keatas air yang bergelombang.

Seorang diantara mereka berhasil menghindarkan diri dari sambaran jarum yang keluar dari gagang kipas dengan memutar pedangnya, dan dia berhasil turun keatas perahu didepan Ban-tok Mo-li. Melihat lima orang temannya tewas semua, dia menjadi marah dan mengangkat pedangnya lalu menerjang Ban-to Mo-li yang masih duduk dengan tenang.

Wanita itu tersenyum, lalu meludah kearah orang yang menyerangnya dengan pedang. Air ludah meluncur keluar dari mulut yang manis itu, tepat mengenai muka si penyerang. Orang itu terkejut, lalu berteriak-teriak kesakitan sambil mencakari muka sendiri. Pedangnya terlempar dan dia pun roboh jatuh ke air sambil masih mencakari mukanya dan berteriak-teriak!

Han Beng dan Giok Cu yang dalam keadaan tertotok dan terbelunggu kaki tangan mereka itu menyaksikan ini semua dan keduanya terbelalak dengan muka pucat. Wanita cantik ini sungguh lihai bukan main, dalam sekejap mata lelaki yang berkepandaian tinggi. Han beng ngeri dan takut, akan tetapi juga kagum bukan main.

Kembali ada banyak perahu menghadang, bahkan kini mengepung. Tidak kurang dari lima belas buah perahu mengepung Perahu yang ditumpangi Ban-tok Mo-li, Han beng dan Giok Cu. Semua tokoh kini tahu belaka bahwa mereka tidak lagi memperbutkan anak naga, melainkan memperebutkan dua orang bucah yang kabarnya menghisap habis darah anak naga sehingga dua orang bocah itu kini memiliki darah yang mengandung darah naga.

Melihat betapa perahunya dihadang dan dikepung banyak orang, Ban-to Mo-li menjadi marah bukan main. Ia berhenti mendayung dan kini ia bangkit berdiri tegak di tengah perahunya, pedang telanjang di tangan kanan dan kipas di tangan kiri, sikapnya ganas dan penuh ancaman. Teriakan-teriakan banyak orang yang minta agar seorang diantara dua anak yang berada dalam perahunya diserahkan kepada mereka.

Dan itu membuat Ban-to Mo-li mengerti bahwa mereka itu sudah tahu tentang dua orang bocah yang telah menghisap habis darah anak naga. Tahulah ia bahwa ia harus mempertahankan anak itu mati-matian dan banyak bicara tidak ada gunanya lagi. Perebutan anak naga itu kini berubah menjadi perebutan dua orang anak ini.

“Kalian ini tikus-tikus yang sudah bosan hidup!” teriaknya dan kipasnya dikebutkan kedepan, kanan dan kiri berhamburan jarum-jarum beracun yang amat berbahaya.

Senjata-rahasia ini amat kecil, berwarna hitam pula dan ketika meluncur keluar dari ujung gagang kipasnya amatlah cepatnya. Dalam cuaca yang hanya diterangi sinar bulan purnama, pula dengan adanya kebisingan mereka, bagaimana mungkin dapat melihat atau mendengar datangnya jarum-jarum pembawa maut itu?

Segera terdengar teriakan-teriakan kesakitan disusul robohnya banyak orang yang terjungkal dari perahu mereka kedalam air. Tubuh mereka diseret air yang mulai deras arusnya karena mereka semakin dekat dengan tepi pusaran air sudah mulai bergolak.

Terjadilah perkelahian hebat diatas permukaan air itu ketika ban-tok Mo-li di keroyok. Perahunya dikepung dan wanita itu dengan pedang ditangan kanan, kipas di tangan kiri, berkelabat dan berloncatan dari perahu ke perahu. Hebat bukan main gerakan wanita ini. Pedangnya menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar mendahului tubuhnya yang berkelebat dan kemana pun tubuhnya melayang, tentu ada seorang dua orang yang terjungkal keluar dari perahunya.

Akan tetapi, tiba-tiba pengeroyokan terhadap Ban-tok Mo-li terhenti dan sisa orang yang mengeroyoknya, kini mendayung perahunya mengejar ke suatu jurusan. Ban-tok Mo-li memandang dan ia terkejut. Kiranya, perahunya yang ia tinggalkan ketika mengamuk dan berloncatan dari perahu yang satu ke perahu yang lain.

Perahunya yang ditumpangi dua orang bocah yang masih dalam keadan tertotok lumpuh dan terikat kaki tangannya, kini meluncur kedepan, didayung oleh dua orang bocah itu yang entah bagaimana telah dapat bergerak kembali dan tidak terikat kaki tangan mereka! Ia tidak tahu bahwa telah terjadi keanehan pada diri Han Beng dan Giok Cu.

Dua orang bocah ini telah menghisap darah ular yang aneh, yang membuat tubuh mereka panas seperti dibakar dan menimbulkan kekuatan dasyat sekali. Hal ini tadipun sudah nampak ketika dua orang anak itu tertotok oleh Ci kai Liat. Totokan itu buyar dengan sendirinya dilanda hawa panas yang berputar-putar di seluruh tubuh mereka.

Ketika Ban-tok Mo-li tadi dikeroyok orang dan perahu itu ditinggalkan, Han Beng dan Giok Cu yang tersiksa oleh hawa panas, berusaha untuk menggerakkan kaki tangan mereka. Dan begitu Han Beng menggerakkan kaki tangannya, maka tali ikatan kaki tangan yang amat kuat itupun putus!

Dia melihat Giok Cu meronta dan mencoba melepaskan kaki tangannya, lalu dibantunya anak perempuan itu dan dengan mudah saja dia dapat membikin putus tali pengikat kaki tangan Giok Cu. Tali itu seolah-olah rambut bertemu api saja ketika tersentuholeh tangannya! Mereka merasa semakin tersiksa oleh hawa panas yang kini membuat mereka seperti hendak melayang-layang, kepala seperti membengkak dan akan meledak.

“Hayo kita lari…!” kata Han Beng dan dia pun mengambil dayung dalam perahu itu. Giok Cu mengambil dayung kedua dan mereka pun mendayung perahu untuk melarikan diri. Anehnya, begitu mereka mendayung, maka gerakan mereka mengandung tenaga yang amat kuat sehingga perahu meluncur cepat sekali.

Melihat betapa dua orang anak yang diperebutkan itu melarikan diri, mereka yang mengeroyok Ban-tok Mo-li segera meninggalkan iblis betina itu dan melakukan pengejaran. Ban-tok Mo-li mengeluarkan teriakan marah. Tubuhnya berkelebat dan dua orang penumpang perahu terlempar keluar. Ia lalu dengan cepatnya melakukan pengejaran pula.

Terjadilah kejar-kejaran yang hiruk-pikuk dan mengangkan. Perahu yang didayung oleh dua orang anak kecil itu ternyata dapat melaju dengan amat cepatnya sehingga membikin banyak orang menjadi heran dan juga bingung. Perahu itu menyelinap diantara perahu-perahu yang menghadang, mengepung dan mengejar dan sampai lama tidak dapat orang menangkap mereka. Akan tetapi, Han Beng dan Giok Cu jadi bingung karena mereka tidak dapat menemukan dua buah perahu keluarga mereka.

Mereka berputar-putar dan pandang mata mereka semakin berkunang, kepala semikin pening dan tubuh semakin panas. Tiba-tiba ada benda hitam menyambar dari atas dan tahu-tahu selembar jala hitam telah jatuh menimpa tubuh Han Beng dan Giok Cu. Dua orang anak ini terkejut, akan tetapi karena sudah pening, ketika jala itu menyelimuti mereka dan kemudian ditarik, mereka pun jatuh ke air, didalam jala yang amat kuat itu.

Mereka meronta, namun tidak berdaya dan mereka terseret kedalam air oleh tiga orang yang memegangi tali dan ujung jala. Bagaikan tiga ekor ikan saja, tiga orang ini menyelam dan menyeret jala yang terisi dua orang anak itu. Han beng dan Giok Cu gelagapan, namun karena mereka sudah biasa bermain di dalam air, mereka segera menahan napas dan membiarkan diri mereka diseret.

“Huang-ho Saam-ki (Tiga setan Huang-ho) telah menawan anak-anak itu!” terdengar teriakan dan keadaan kacau.

Mereka semua mengejar siapa adanya Huang-ho Sam-kwi. Mereka semua mengenal siapa adanya Huang-ho Sam-kwi, tiga orang tokoh sesat yang amat terkenal di sepanjang sungai Huang-ho. Ilmu silat tiga orang ini tidaklah amat tinggi, akan tetapi mereka memiliki ilmu di dalam air yang membuat semua orang merasa jerih kalau harus melawan mereka di air. Mereka tiada ubahnya ikan-ikan saja. Dan kini mereka menawan dua orang bocah yang dijadikan rebutan itu dan membawa dua orang aanak-anak itu menyelam kedalam air.

Hal ini sungguh membuat tidak tahu kemana dua orang itu dibawa oleh tiga orang Huang-ho Sam-kwi. Perahu-perahu hilir mudik mencari-cari dan mengharapkan melihat tiga setan itu muncul di permukaan air membawa dua orang tawanannya agar mereka dapat menyerang dan merampas dua orang anak itu.

Betapun pandainya Huang-ho Sam-kwi bermain di air, mereka tetap saja manusia biasa dan bukan ikan. Mereka harus keluar untuk menghirup udara segar dan tidak mungkin mereka bersembunyi terus di dalam air...

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 05

RASA nyeri yang amat hebat membuat tubuhnya seperti kejang dan panas dan juga seolah-olah ada ribuan semut berapi yang mengigit seluruh tubuhnya. Pundaknya terasa seperti dibakar. Han Beng tiba-tiba menjadi marah sekali pada ular itu. kepala ular itu masih menempel di pundaknya dan tubuh ular itu mulai membelit dada dan lehernya.

Dia menjadi nekat dan dengan mengerahkan sepenuh tenaganya, dia menangkap tubuh ular itu, menariknya kedekat mulutnya dan diapun menggigit tubuh ular itu dibagian leher. Begitu dia mengigit dengan sekuat tenaga sehingga menembus kulit ular yang licin dan amis itu, dia merasakan sesuatu yang manis dan juga amis membasahi mulutnya. Itulah darah ular!

Diapun teringat bahwa ular itu masih menggigitnya, pundaknya nyeri bukan main, maka dalam kemarahannya, untuk membalas kepada ular itu, diapun menggigit semakin kuat dan menghisap darah ular itu, ditelannya sampai berteguk-teguk!

Aneh sekali, begitu dia menelan darah ular itu, hatinya merasa senang! Rasakan kamu, pikirnya. Kalau perlu, kita mati berbareng! Dia menghisap terus tanpa mengendurkan gigitannya sedikitpun juga.

Sementara itu, melihat kawannya digigit ular pada pundaknya dan tubuh ular itu membelit tubuh Han Beng, Giok Cu tidak tinggal diam. Ia tadi ditolong oleh Han Beng sehingga belitan ulr pada tubuhnya terlepas. Kini iapun tidak mau tinggal diam, dan ia pun meniru perbuatan Han Beng yang mengigit leher ular.

Giok Cu tidak dapat membantu karena ia tidak memegang senjata, maka satu-satunya senjatanya hanyalah gigi dan ia pun mengigit ekor ular itu sekuat tenaga! Dan seperti Han Beng, ia merasakan darah ular manis dan amis, akan tetapi ia tidak melepaskan gigitannya dan bahkan menghisap sehingga sedikit darah ular memasuki perutnya!

Tadinya, para tokoh kang-ouw mengerutkan alis dan marah melihat dan mendengar kegaduhan yang dibikin seorang anak perempuan, akan tetapi ketika mereka melihat bahwa yang kena pancing itu anak naga yang dijadikan rebutan, semua orang terkejut dan perahu-perahu itu meluncur datang. Karena banyaknya perahu, terjadi kekacauan dan ada perahu-perahu yang bertabrakan! Hal ini membuat mereka agak lambat mendekati Han Beng dan Giok Cu yang bergulat dengan ular yang oleh para tokoh kang-ouw disebut anak naga itu.

Han Beng terus menggigit leher ular dan menghisap darah ular sekuatnya. Demikian pula Giok Cu yang juga menghisap darah ular yang dirasakan manis dan amis itu. Akan tetapi karena anak perempuan itu menggigit bagian ekor ular atau “Anak Naga” itu, darahnya dihisapnya tidaklah sebanyak yang dihisap Han Beng.

Han beng yang tadinya merasa pundaknya yang digigit itu amat nyeri dan panas, bahkan tubuhnya seperti ditusuki ribuan jarum di dalam, kini merasa betapa ada hawa panas yang berputaran di seluruh tubuhnya dan rasa nyeri di pundak itu pun lenyap. Kini terganti oleh hawa panas yang seolah-olah membakar tubuhnya didalam. Karena siksaan hawa panas itu di menjadi nekat dan menggigit semakin kuat. Kini gigitan ular pada pundaknya terlepas dan ular itu menjadi lemas gerakannya tidak sekuat tadi.

Pada saat itu, sebuah perahu sudah datang paling dekat dan seorang kakek tua berperut gendut dengan muka selalu berseri, mulut yang selalu menyeringai, telah menggerakkan tangannya dan di lain saat, kakek itu telah menyambar tengkuk Han Beng dan ditariknya anak itu naik keatas perahunya.

Han beng yang sudah berkunang matanya, pening kepalanya dan hawa panas seperti membakar seluruh isi perut dan kepala, seperti tidak sadar bahwa ia diangkat orang naik ke perahu. Dia masih terus menggigit leher ular dan menghisap darahnya, dan ketika dia ditarik ketas perahu, ular itu pun ikut pula tertarik.

Dan di ujung ular itu, Giok Cu yang menggigit ekor dan menghisap darah, ikut pula tertarik! Anak perempuan ini pun mulai merasa pening dan tubuhnya terasa panas seperti dibakar. Biarpun ia tidak sehebat Han Beng terasa oleh hawa panas karena darah ular yang dihisapnya tidak sebanyak yang dihisap Han Beng, namun ternyata hawa panas dalam tubuhnya hampir tak tertahankan dan anak perempuan ini pun dalam keadaan tidak begitu sadar ketika tubuhnya tertarik ke atas perahu kakek gendut.

Kakek gendut yang kepalanya bulat seperti bola itu terkekeh girang melihat anak naga yang masih menggeliat-geliat lemah. “Ha-ha, anak naga terdapat olehku ha-ha!”

Dia menangkap tubuh ular itu dan terdengar dia berteriak kaget. “Wah, celaka! Anak naga ini hampir mati, darahnya hampir habis! Wah, kiranya kau hisap darahnya, anak setan!”

Kakek gendut berkepala bulat itu adalah seorang tokoh kong-ouw kenamaan bernama Ci Kai Liat, seorang bajak sungai yang terkenal lihai sekali dan ditakuti banyak orang. Biarpun mukanya selalu berseri dan mulutnya selalu menyeringai lebar, nampaknya seperti orang yang selalu riang dan ramah, namanya sesungguhnya dia memiliki watak yang amat kejam dan berdarah dingin. Dia dapat membunuh atau menyiksa orang sambil tertawa-tawa, dan melihat penderitaan orang lain seperti sebuah hal yang amat menggembirakan dan lucu.

Ci Kai Liat marah sekali melihat bahwa “Anak Ular” itu sudah hampir habis darahnya, dihisap oleh anak laki-laki dan anak perempuan itu, akan tetapi sebelum dia menentukan apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba nampak bayangan hitam meluncur datang. Sebuah perahu yang didayung oleh Liu Bhok Ki sudah tiba dan kakek perkasa ini membentak dengan suaraa keren.

“Bajak Hina Ci Kai Liat, berikan anak naga itu kepadaku!”

Berkata demikian, Liu Bhok Ki meloncat keatas perahu bajak itu. Ci Kai Liat sudah mengenal pria perkasa itu, maka dia melepaskan ular yang sudah lemas dan masih digigit oleh Han Beng dan Giok Cu, lalu menyambut tubuh Liu Bhok Ki dengan hantaman dayungnya yang terbuat dari pada baja! Dihantamkan sekuat tenaga kearah kepala orang yang melompat ke perahu itu.

“Dukkkk!” Liu Bhok Ki menangkis dengan lengannya dan karena tubuhnya masih berada di udara, pertemuan tenaga itu membuat tubuhnya melayang kembali ke atas perahunya sendiri, sedangkan Ci Kai Hiat terjengkang di dalam perahunya karena hebatnya benturan lengan Liu Bhok Ki ketika menangkis dayungnya. Dari kenyataan ini saja dapat diketahui bahwa dalam hal tenga sin-kang bajak ini bukanlah lawan Liu Bhok Ki yang lihai.

“Hayo, lepaskan anak naga ini!” Ci Kai Liat membentak dan dia menendang tubuh Giok Cu. Anak perempuan yang sudah merasa pening ini terkena tendangan, gigitannya pada ekor ular terlepas dan ia pun terjatuh ke dalam air!

Melihat ini, han Beng marah sekali. Dia merasa bahwa darah ular itu telah habis dan ular itu agaknya sudah tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi dia tidak sudi menyerahkan ular kepada si Gendut yang dengan kejam menendang Giok Cu, maka dia segera melemparkan tubuh ular yang sudah lemas itu kearah perahu yang di tumpangi Liu Bhok Ki!

Orang gagah ini segera menangkap “anak naga” itu dan tanpa ragu-ragu lagi, dia lalu menggigit kepala naga sampai pecah, dan didalam kepala itu terdapat sebuah benda kuning, seperti kuning telur. Cepat benda ini dimasukkan ke dalam mulut dan ditelannya!

Tiba-tiba wajah Liu Bhok Ki menjadi pucat, kerut merut dan dia menggigit bibirnya. Terasa betapa perutnya seperti diremas-remas dari dalam, nyeri bukan main dan akhirnya, orang gagah perkasa itu roboh pingsan di dalam perahunya!

Sementara itu, Han beng sudah meloncat ke dalam air untuk menolong Giok Cu kalau-kalau anak perempuan itu terancam bahaya. Namun, dia merasa lega melihat Giok Cu berenang dan dalam keadaan selamat.

“Giok Cu…!” Han Beng berseru. “Mari kita kembali ke perahu kita!”

“Han Beng, aku… aku pening sekali…” Anak perempuan itu terengah-engah.

Han beng juga merasa pening sekali, dan tubuhnya seperti sebuah balon yang penuh dengan hawa panas, seperti akan meledak setiap saat. Namun dia tidak mau menyatakan hal ini, melainkan menangkap lengan Giok Cu dan menariknya.

“Hayo kita cari perahu kita…” Akan tetapi, biarpun bulan purnama menerangi permukaan air, tetap saja sukar untuk mencari perahu keluarga mereka diantara banyak perahu berseliweran itu.

“Ha-ha, kau hendak pergi ke mana...?" Tiba-tiba ada suara terdengar di dekat mereka. Kiranya kakek gendut berkepala bulat tadi sudah berada di dekat mereka sambil menyeringai.

“Anak naga tidak dapat, akan tetapi darah naga bisa kuperoleh dari tubuh kalian. Ha-ha-ha! Mari ikut dengan aku, anak-anak manis!”

Orang itu adalah Ci Kai Liat. Setelah melihat betapa anak naga itu tadi terjatuh ke tangan Liu Bhok Ki, Ci Kai Liat merasa terkejut, menyesal dan penasaran. Namun, dia teringat betapa dua orang anak itu telah menghisap darah anak naga sampai hampir habis. Dengan demikian, darah kedua orang anak itu amat bermanfaat, mengandung darah naga! Demikian dia mendengar dongeng tentang naga. Maka, kini timbul niatnya untuk menangkap dua orang anak yang telah minum habis darah naga, dan dia akan mengambil darah kedua orang anak itu.

“Tidak, tidak sudi ikut denganmu” Han Beng membentak.

Anak ini memang memiliki ketabahan luar biasa disamping keuletan dan tahan uji. Tubuhnya seperti dibakar dari dalam, kepalanya pening berdenyut-denyut, namun, dia masih tabah menghadapi kakek gendut yang menyeringai menyeramkan itu. Bahkan, ketika kakek itu mengulurkan tangan hendak menangkapnya, Han Beng mengelak dengan menyelam.

Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang bajak sungai yang tentu saja mempunyai keahlian di dalam air selain ilmu silat yang tinggi. Dia tidak mungkin dapat meloloskan diri hanya dengan menyelam terhadap pengejaran kakek ini. Tahu-tahu Han Beng sudah tertangkap lengannya dicengkeram kakek itu.

Melihat Han Beng meronta-ronta hendak melepaskan diri dari pegangan kakek itu Giok Cu menjadi marah. Ia tidak rela melihat temannya ditangkap, maka anak perempuan yang pandai renang ini pun meluncur maju dan memukul tangan kanannya kea rah punggung kakek itu.

“Lepaskan dia! Lepaskan!”

“Dukkk!” Pukulan kepalan kecil ke arah punggung itu mengejutkan Ci Kai Liat karena terasa kuat dan menimbulkan nyeri pada punggungnya! Tak disangkanya anak perempuan kecil itu memiliki tenaga sebesar itu. Punggung seperti dipukul palu besi dengan keras. Untung dia memiliki kekebalan. Dia pun membalik dan menangkap pula lengan Giok Cu dan menyeret kedua orang anak itu dan membuat mereka lumpuh tak mampu bergerak lagi. Dengan mudah dia melemparkan tubuh kedua anak itu ke atas perahunya dan dia sendiri menyusul naik.

“Heh-heh-heh, mari ikut dengan aku, anak-anak manis!” katanya sambil mulai mendayung perahunya.

Han Beng yang tertotok tadi, seketika menjadi lumpuh kaki tangannya. Akan tetapi hanya sebentar saja karena hawa panas itu membuat tubuhnya pulih kembali dan dia mampu bergerak lagi. Dia bangkit duduk dan membentak. “Kakek jahat! Mau apa engkau membawa kami berdua? Kami ingin kembali kepada keluarga kami”

“Ehhh…??!” Ci Kai Liat terkejut sekali melihat Han Beng telah dapat Bergerak lagi. Bagaimana mungkin ini? Totokannya amat kuat. Dan dia melihat anak perempuan itu pun mulai menggerak-gerakkan kakinya! Dia pun teringat!

“Aha, kalian sudah menghabiskan darah naga, di tubuh kalian ada darah naga! Kalian harus ikut bersamaku!” dan lalu menubruk Han Beng dan sebelum pemuda itu mampu meronta, dia sudah menotoknya lagi dan dalam keadaan lumpuh sementara itu, Han Beng diikat kaki tangannya. Juga Giok Cu diikat kaki tangannya oleh kakek gendut.

“Hem, bajak rendah, berikan kedua orang anak itu kepadaku!” tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nampak sebuah perahu meluncur cepat sekali, tahu-tahu perahu itu sudah dekat dan penumpangnya hanya seorang wanita cantik yang berpakaian mewah, sikapnya dingin dan angkuh. Melihat wanita ini, wajah Ci kai Hiat berubah pucat. Tentu saja dia mengenal Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu.

“Ban-tok Mo-li, engkau carilah anak naga, aku tidak akan mencarinya lagi, aku… aku suka kepada dua orang anak ini, hendak kuajak pulang, karena aku tidak mempunyai anak, tidak mempunyai murid. Harap jangan halangi aku, Mo-li…” katanya dengan suara jelas mengandung rasa takut menghadapi wanita cantik itu.

“Berani engkau hendak membohongi aku?” wanita itu membentak.

Tiba-tiba tubuhnya seperti terbang melayang dan tahu-tahu ia sudah berada diatas perahu Ci Kai Liat yang menjadi semakin pucat. Bau harum yang aneh menyengat hidung dan Ci kai Liat yang biasanya merupakan seorang bajak yang amat kejam dan tidak mengenal takut, sekarang nampak menggigil. Sungguh mengherankan sekali betapa seorang bajak yang diikuti banyak orang itu kini menggigil berhadapan dengan seorang wanita cantik.

“Hayo terangkan mengapa engkau hendak mengambil darah kedua orang bocah ini!” Ia mengacungkan jari telunjuknya yang berkuku panjang dan kini Ci Kai Liat bergidik.

“Maaf, Mo-li. Aku tidak ingin berbohong. Kedua orang anak ini… entah bagaimana tadi dibelit dan digigit... anak naga! Dan kedua orang bocah ini juga menggigit, bahkan menghisap darah anak naga sampai kedalam tubuh mereka. Oleh karena itu…”

“Pergi kau! Dua orang anak ini untuk aku!” tiba-tiba kaki wanita itu bergerak. Cepat sekali tendangannya itu dan tahu-tahu tubuh Ci Kai Liat yang gendut telah terlempar kedalam air!

“Byuuuur…!” air muncrat dan Ci kai Liat menyelam, tidak berani muncul ke permukaan air sebelum jauh dari perahunya yang kini dirampas wanita itu berikut dua orang anak kecil. Dia menyumpah-nyumpah, namun tetap saja tidak berani berbuat sesuatu. Ci kai Liat sudah mengenal benar siapa adanya Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, bahkan pernah dia hampir tewas di tangan iblis betina itu. Maka kini, begitu bertemu dia seperti tikus bertemu seekor kucing.

Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu mendekati dua orang anak yang terikat itu, tidak tahu bahwa Ci kai Liat yang penasaran, melampiaskan rasa penasarannya dengan mengabarkan tentang dua orang anak yang menghisap habis darah anak naga itu kepada para tokoh kang-ouw yang berputar-putar di sekitar tempat itu. Kini semua tokoh sudah tahu belaka bahwa naga ular telah hilang, darahnya telah disedot habis oleh dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yang kini tertawan oleh ban-tok Mo-li.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Ketika Ban-tok Mo-li meraba tubuh Han Beng dan Giok Cu, ia terkejut dan menarik kembali tangannya. Wajahnya berseri dan matanya berkilat. Tubuh dua orang anak kecil itu panas seperti api! “Bagus,” katanya mengangguk-angguk. “Kalian harus ikut denganku!” Ia pun mempergunakan dayung untuk mengerakkan perahu meninggalkan tempat itu.

Tiga buah perahu, masing-masing ditumpangi dua orang, menghadangnya. Mereka adalah enam orang tokoh kang-ouw yang juga mendengar berita yang disebar luaskan oleh Ci Kai Hiat, maka kini mereka menghadang perahu Ban-tok Mo-li dengan senjata terhunus. Dua orang memegang golok, dua orang lagi memegang pedang, dan dua orang yang lain memegang trisula. Wajah mereka garang dan agaknya enam orang itu walaupun bukan dari satu kelompok, karena jerih kalau harus menghadapi Ban-tok Mo-li sendiri saja, sudah sepakat untuk mengeroyok iblis betina ini.

“Hemmmm, kalian ini enam ekor tikus mau apa menghadang perahuku!” Ban-tok Mo-li berkata dengan suara dingin.

Seorang berkumis tebal yang memegang trisula, mewakili teman-temannya menjawab. “Ban-to Mo-li, kami berenam mohon agar engaku suka menyerahkan seorang diantara dua orang anak itu kepada kami.”

Wanita cantik itu tersenyum. Senyuman yang membuat wajahnya manis sekali, akan tetapi juga penuh ejekan. “Huh, enak saja berbicara. Tak seorangpun boleh menjamah dua orang anak yang menjadi milikku ini!”

“Aih, Mo-li, harap berlaku adil dan jangan tamak. Seorang pun lebih dari cukup untukmu. Berilah yang seorang kepadaku agar dapat kami bagi berenam.”

“Tikus-tikus busuk, pergilah dan jangan ganggu aku! Ataukah kalian sudah bosan hidup barangkali?”

Karena mengandalkan banyak teman, enam orang ini tidak mau menyingkir bahkan mendekatkan perahu mereka, dengan senjata terangkat dan sikap mengancam mereka menyerbu.

“Berikan seorang kepada kami atau kami terpaksa akan merampas keduanya!” bentak pula si kumis tebal.

“Kiranya kalian sudah bosan hidup!” bentak Ban-tok Mo-li dan tanpa memperdulikan enam orang dalam tiga perahu itu, ia mendayung terus ke depan.

Sebuah perahu menghadang didepan, yang du buah lagi menyerang dari kanan kiri. Enam orang itu dengan nekat, berlompatan dari perahu mereka keatas perahu Ban-to Mo-li sambil menggerakkan senjata masing-masing!

Namun, ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dengan sikap tenang saja menyambut serbuan enam orang itu dengan kipas ditangan kiri mengebut-ngebut lehernya seperti orang kepanasan, sedangkan tangan kanan tetap mendayung perahu. Melihat enam orang itu berloncatan, tiba-tiba ia menggerakkan kipasnya kekiri kanan dan depan. Terdengar suara berciut bersama dengan menyambarnya sinar hitam ketiga penjuru dan lima orang yang sedang berloncatan menyerbu itu mengeluaran teriakan dan tubuh mereka runtuk keatas air yang bergelombang.

Seorang diantara mereka berhasil menghindarkan diri dari sambaran jarum yang keluar dari gagang kipas dengan memutar pedangnya, dan dia berhasil turun keatas perahu didepan Ban-tok Mo-li. Melihat lima orang temannya tewas semua, dia menjadi marah dan mengangkat pedangnya lalu menerjang Ban-to Mo-li yang masih duduk dengan tenang.

Wanita itu tersenyum, lalu meludah kearah orang yang menyerangnya dengan pedang. Air ludah meluncur keluar dari mulut yang manis itu, tepat mengenai muka si penyerang. Orang itu terkejut, lalu berteriak-teriak kesakitan sambil mencakari muka sendiri. Pedangnya terlempar dan dia pun roboh jatuh ke air sambil masih mencakari mukanya dan berteriak-teriak!

Han Beng dan Giok Cu yang dalam keadaan tertotok dan terbelunggu kaki tangan mereka itu menyaksikan ini semua dan keduanya terbelalak dengan muka pucat. Wanita cantik ini sungguh lihai bukan main, dalam sekejap mata lelaki yang berkepandaian tinggi. Han beng ngeri dan takut, akan tetapi juga kagum bukan main.

Kembali ada banyak perahu menghadang, bahkan kini mengepung. Tidak kurang dari lima belas buah perahu mengepung Perahu yang ditumpangi Ban-tok Mo-li, Han beng dan Giok Cu. Semua tokoh kini tahu belaka bahwa mereka tidak lagi memperbutkan anak naga, melainkan memperebutkan dua orang bucah yang kabarnya menghisap habis darah anak naga sehingga dua orang bocah itu kini memiliki darah yang mengandung darah naga.

Melihat betapa perahunya dihadang dan dikepung banyak orang, Ban-to Mo-li menjadi marah bukan main. Ia berhenti mendayung dan kini ia bangkit berdiri tegak di tengah perahunya, pedang telanjang di tangan kanan dan kipas di tangan kiri, sikapnya ganas dan penuh ancaman. Teriakan-teriakan banyak orang yang minta agar seorang diantara dua anak yang berada dalam perahunya diserahkan kepada mereka.

Dan itu membuat Ban-to Mo-li mengerti bahwa mereka itu sudah tahu tentang dua orang bocah yang telah menghisap habis darah anak naga. Tahulah ia bahwa ia harus mempertahankan anak itu mati-matian dan banyak bicara tidak ada gunanya lagi. Perebutan anak naga itu kini berubah menjadi perebutan dua orang anak ini.

“Kalian ini tikus-tikus yang sudah bosan hidup!” teriaknya dan kipasnya dikebutkan kedepan, kanan dan kiri berhamburan jarum-jarum beracun yang amat berbahaya.

Senjata-rahasia ini amat kecil, berwarna hitam pula dan ketika meluncur keluar dari ujung gagang kipasnya amatlah cepatnya. Dalam cuaca yang hanya diterangi sinar bulan purnama, pula dengan adanya kebisingan mereka, bagaimana mungkin dapat melihat atau mendengar datangnya jarum-jarum pembawa maut itu?

Segera terdengar teriakan-teriakan kesakitan disusul robohnya banyak orang yang terjungkal dari perahu mereka kedalam air. Tubuh mereka diseret air yang mulai deras arusnya karena mereka semakin dekat dengan tepi pusaran air sudah mulai bergolak.

Terjadilah perkelahian hebat diatas permukaan air itu ketika ban-tok Mo-li di keroyok. Perahunya dikepung dan wanita itu dengan pedang ditangan kanan, kipas di tangan kiri, berkelabat dan berloncatan dari perahu ke perahu. Hebat bukan main gerakan wanita ini. Pedangnya menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar mendahului tubuhnya yang berkelebat dan kemana pun tubuhnya melayang, tentu ada seorang dua orang yang terjungkal keluar dari perahunya.

Akan tetapi, tiba-tiba pengeroyokan terhadap Ban-tok Mo-li terhenti dan sisa orang yang mengeroyoknya, kini mendayung perahunya mengejar ke suatu jurusan. Ban-tok Mo-li memandang dan ia terkejut. Kiranya, perahunya yang ia tinggalkan ketika mengamuk dan berloncatan dari perahu yang satu ke perahu yang lain.

Perahunya yang ditumpangi dua orang bocah yang masih dalam keadan tertotok lumpuh dan terikat kaki tangannya, kini meluncur kedepan, didayung oleh dua orang bocah itu yang entah bagaimana telah dapat bergerak kembali dan tidak terikat kaki tangan mereka! Ia tidak tahu bahwa telah terjadi keanehan pada diri Han Beng dan Giok Cu.

Dua orang bocah ini telah menghisap darah ular yang aneh, yang membuat tubuh mereka panas seperti dibakar dan menimbulkan kekuatan dasyat sekali. Hal ini tadipun sudah nampak ketika dua orang anak itu tertotok oleh Ci kai Liat. Totokan itu buyar dengan sendirinya dilanda hawa panas yang berputar-putar di seluruh tubuh mereka.

Ketika Ban-tok Mo-li tadi dikeroyok orang dan perahu itu ditinggalkan, Han Beng dan Giok Cu yang tersiksa oleh hawa panas, berusaha untuk menggerakkan kaki tangan mereka. Dan begitu Han Beng menggerakkan kaki tangannya, maka tali ikatan kaki tangan yang amat kuat itupun putus!

Dia melihat Giok Cu meronta dan mencoba melepaskan kaki tangannya, lalu dibantunya anak perempuan itu dan dengan mudah saja dia dapat membikin putus tali pengikat kaki tangan Giok Cu. Tali itu seolah-olah rambut bertemu api saja ketika tersentuholeh tangannya! Mereka merasa semakin tersiksa oleh hawa panas yang kini membuat mereka seperti hendak melayang-layang, kepala seperti membengkak dan akan meledak.

“Hayo kita lari…!” kata Han Beng dan dia pun mengambil dayung dalam perahu itu. Giok Cu mengambil dayung kedua dan mereka pun mendayung perahu untuk melarikan diri. Anehnya, begitu mereka mendayung, maka gerakan mereka mengandung tenaga yang amat kuat sehingga perahu meluncur cepat sekali.

Melihat betapa dua orang anak yang diperebutkan itu melarikan diri, mereka yang mengeroyok Ban-tok Mo-li segera meninggalkan iblis betina itu dan melakukan pengejaran. Ban-tok Mo-li mengeluarkan teriakan marah. Tubuhnya berkelebat dan dua orang penumpang perahu terlempar keluar. Ia lalu dengan cepatnya melakukan pengejaran pula.

Terjadilah kejar-kejaran yang hiruk-pikuk dan mengangkan. Perahu yang didayung oleh dua orang anak kecil itu ternyata dapat melaju dengan amat cepatnya sehingga membikin banyak orang menjadi heran dan juga bingung. Perahu itu menyelinap diantara perahu-perahu yang menghadang, mengepung dan mengejar dan sampai lama tidak dapat orang menangkap mereka. Akan tetapi, Han Beng dan Giok Cu jadi bingung karena mereka tidak dapat menemukan dua buah perahu keluarga mereka.

Mereka berputar-putar dan pandang mata mereka semakin berkunang, kepala semikin pening dan tubuh semakin panas. Tiba-tiba ada benda hitam menyambar dari atas dan tahu-tahu selembar jala hitam telah jatuh menimpa tubuh Han Beng dan Giok Cu. Dua orang anak ini terkejut, akan tetapi karena sudah pening, ketika jala itu menyelimuti mereka dan kemudian ditarik, mereka pun jatuh ke air, didalam jala yang amat kuat itu.

Mereka meronta, namun tidak berdaya dan mereka terseret kedalam air oleh tiga orang yang memegangi tali dan ujung jala. Bagaikan tiga ekor ikan saja, tiga orang ini menyelam dan menyeret jala yang terisi dua orang anak itu. Han beng dan Giok Cu gelagapan, namun karena mereka sudah biasa bermain di dalam air, mereka segera menahan napas dan membiarkan diri mereka diseret.

“Huang-ho Saam-ki (Tiga setan Huang-ho) telah menawan anak-anak itu!” terdengar teriakan dan keadaan kacau.

Mereka semua mengejar siapa adanya Huang-ho Sam-kwi. Mereka semua mengenal siapa adanya Huang-ho Sam-kwi, tiga orang tokoh sesat yang amat terkenal di sepanjang sungai Huang-ho. Ilmu silat tiga orang ini tidaklah amat tinggi, akan tetapi mereka memiliki ilmu di dalam air yang membuat semua orang merasa jerih kalau harus melawan mereka di air. Mereka tiada ubahnya ikan-ikan saja. Dan kini mereka menawan dua orang bocah yang dijadikan rebutan itu dan membawa dua orang aanak-anak itu menyelam kedalam air.

Hal ini sungguh membuat tidak tahu kemana dua orang itu dibawa oleh tiga orang Huang-ho Sam-kwi. Perahu-perahu hilir mudik mencari-cari dan mengharapkan melihat tiga setan itu muncul di permukaan air membawa dua orang tawanannya agar mereka dapat menyerang dan merampas dua orang anak itu.

Betapun pandainya Huang-ho Sam-kwi bermain di air, mereka tetap saja manusia biasa dan bukan ikan. Mereka harus keluar untuk menghirup udara segar dan tidak mungkin mereka bersembunyi terus di dalam air...