Social Items

TIBA-TIBA, tiga belas buah mulut mengeluarkan suara melengking panjang, sambung menyambung dan karena mereka itu mengerahkan khi-kang, maka tenaga yang tergabung ini menjadi kuat sekali, disusul gerakan pedang mereka menyerang secara berbareng dari semua jurusan! Liu Bhok Ki terkejut.

Harus diakuinya bahwa Cap-sha-tin ini hebat dan berbahaya. Dia cepat mengenjot tubuh keatas untuk menghindarkan diri dari serangan tiga belas batang pedang itu. Akan tetapi dua sinar terang meluncur dan menyerangnya selagi tubuhnya masih meloncat keatas. Itulah sepasang pedang di tangan Siang Lee yang kini membantu Cap-sha-tin. Pemuda itu meloncat dan tubuhnya meluncur seperti terbang saja, didahului dua batang pedangnya yang lihay.

“Ahhh…!” Liu Bhok Ki terkejut dan mengeluarkan bentakan ini, tangannya diputar untuk menangkis sinar pedang. Lengannya menangkis pedang. Namun sebatang pedang yang menyeleweng pundak kiri Liu Bhok Ki sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka mengeluarkan darah!

Liu Bhok Ki berjungkir balik dan tubuhnya dapat turun diluar kepungan Cap-sha-tin! kini barisan itu sudah berlari-larian mengepungnya lagi, dari jarak agak jauh, sedangkan Siang Lee yang paling lihay diantara mereka, kini berada di bagian kepala seolah-olah barisan itu membentuk seekor ular yang melingkari tempat itu dengan Liu Bhok Ki di tengah, dan Coa Siang Lee memimpin atau menjadi kepala ular.

Liu Bhok Ki berdiri tegak, kedua kakinya dipentang lebar, tubuhnya tidak bergerak, hanya matanya yang melirik kke kanan kiri pemperhatikan gerakan barisan itu. Perlahan-lahan dia melolos sabuknya ketika barisan yang mengepung sambil berlari mengitarinya itu mempersempit lingkaran. Melihat ini, seorang diantara murid-murid Hek-Houw-pang mengeluarkan isarat kawan-kawannya, terutama kepada Siang Lee agar berhati-hati karena dia tahu betapa lihainya Liu Bhok Ki dengan senjata sabuk kain tebal yang kelihatan sederhana itu.

Pernah Liu Bhok Ki dikeroyok puluhan orang murid Hek-Houw-pang yang kesemuanya bersenjata pedang tau golok, namun sabuk itu membuat para pengeroyok tidak berdaya, bahkan banyak diantara mereka yang mengalami luka-luka berat, dan ada pula yang tewas.

Siang Lee adalah seorang pemuda yang sudah tinggi ilmu silatnya. Mendengar suara isyarat ini, dia pun berhati-hati. Dia tidak berani memandang ringan kepada lawan ini, karena tadi, ketika berkelahi satu lawan satu, dia sudah merasakan kehebatan ilmu silat Liu Bhok Ki. Kini diapun mengerti mengapa banyak sekali murid dan anak buah Hek-Houw-pang tewas ditangan musuh besar ini.

Dan memang sesungguhnya Liu Bhok Ki amat berbahaya kalau sudah mempergunakan sabuknya sebagai senjata. Dia seorang ahli senjata apapun, dan permainan pedangnya juga hebat. Akan tetapi, untuk menghadapi pengeroyokan banyak lawan yang menggunakan pedang, senjata sabuk kain tebal itu sungguh amat tepat.

Kain itu bersifat lemas shingga tepat sekali untuk menghadapi senjata pedang atau golok yang keras dan sabuk itu dapat dipergunakan dari jarak dekat maupun jauh karena dapat diulur panjang. Ditangan ahli seperti Liu Bhok Ki, kain yang lemas itu dapat pula dibuat kaku, dapat berubah lemas kembali, untuk melibat dan membelit senjata lawan tanpa merusak sabuk.

Liu Bhok Ki maklum bahwa pemuda itu lihai, dan Cap-sha-tin juga berbahaya sekali. Maka dia pun tidak menunggu dan membiarkan dirinya didesak, begitu pengepungan itu mengetat dan di berhadapan dengan mereka yang melingkarainya dalam jarak dua meter, dia menggerakkan sabuknya dan mengamuk! Sabuk itu lenyap bentuknya dan nampak hanya gulungan sinar hitam yang panjang, menyambar-nyambar seperti seekor naga hitam yang bemain diantara awan di angkasa.

Barisan itu berusaha membendung gerakan sinar bergulung-gulung itu dengan meningkatkan kerjasama mereka. Namun, belasan pedang itu tetap saja tidak mampu membendung daya serang dari sabuk panjang di tangan Liu Bhok Ki.

Terdengar bunyi berdesing-desing dan angin menyambar bagaikan angin puyuh, disusul teriakan-teriakan para anggota Hek-Houw-pang. Betapun mereka itu mempertahankan diri dan saling Bantu, tetap saja mereka dilanda oleh gulungan sinar hitam seperti naga mengamuk itu dan susunan barisan mereka pun cerai berai dan kacau balau.

Liu Bhok Ki menambah Sin-kang pada gerakan sabuknya dan terdengar teriakan susul-menyusul diikuti robohnya para pengeroyok seorang demi seorang. Para anggota Hek-Houw-pang masih melawan terus sekuat tenaga, dipelopori oleh Coa Siang Lee yang memaninkan siang-kiamnya dengan cepat dan kuat.

Namun, mereka itu bagaikan semut-semut yang mengeroyok seekor jangkerik. Tubuh mereka berpelantingan, dan akhirnya yang masih dapat bertahan hanyalah Coa Siang Lee seorang. Pemuda ini masih memainkan sepasang pedangnya melakukan perlawanan mati-matian, sedangkan tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang itu telah tewas semua.

Tentu saja Coa Siang Lee tidak tahu bahwa andaikata Liu Bhok Ki menghendaki, diapun tentu sudah roboh dan tewas. Ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam perasaan hati pendekar tinggi besar yang sedang mengamuk itu. Melihat betapa Coa Siang Lee demikian mirip wajahnya dengan Coa Kun Tian dan melihat keberanian pemuda itu, besarnya semangatnya untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, timbul suatu perasaan sayang dan iba kepada pemuda itu. Kalau sampai saat itu Coa Siang Lee masih belum roboh, bahkan terluka, hal itu adalah karena perasaan ini yang mengganjal di hati Liu Bhok Ki.

Gerakan gulungan sinar sabuknya tadi menggulung Cap-sha-tin. Seluruh daya serangnya ditujukan untuk merobohkan tiga belas murid Hek-Houw-pang itu, sedangkan terhadap Coa Siang Lee, dia hanya menangkis dan membendung serangan sepasang pedang itu.

Kini terjadi perkelahian yang seru namun berat sebelah antara Liu Bhok Kid an Coa Siang Lee. Seru karena pemuda itu dengan nekad masih terus menyerang mati-matian, namun semua serangannya gagal dan kemanapun sianr sepasang pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan ujung sabuk dan terpental kembali. Perkelahian itu terjadi mati-matian diantara tiga belas sosok mayat yang berserakan.

“Coa Siang Lee, sudahlah. Tiada gunanya engkau nekat. Engkau masih muda, sayang kalau mati konyol. Apakah engku tidak mau menghentikan permusuhan gila ini? Pulanglah dan engkau boleh membawa kepala ayahmu.”

Sungguh luar biasa sekali mendengar ucapan Liu Bhok Ki ini. Biasanya dia amat keras hati dan keras kepala, ingin “menyiksa” kepala orang yang menzinai isterinya itu selama dia masih hidup. Akan tetapi kini dia yang jelas menguasai pemuda itu dengan mudah akan mampu merobohkannya, mendadak menawarkan perdamaian dan membolehkan pemuda itu membawa pergi kepala ayahnya.

“Liu Bhok Ki, tak usah banyak cakap hari ini engkau atau aku yang mati!” Coa Siang Lee mendesak dengan sepasang pedangnya.

Pemuda ini memang lihai dan ilmu sepasang pedang itu pun berbahaya sekali. Sekarang, setelah tidak ada murid Hek-Houw-pang yang membantu, dia bahkan dapat mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya dan terasalah oleh Liu Bhok Ki bahwa pemuda ini memang cukup tangguh.

Diapun memutar sabuknya dan kini terjadilah perkelahian yang lebih hebat lagi, karena Liu Bhok Ki tentu saja tidak ingin menjadi korban sepasang pedang yang ganas itu dan dia mulai membalas dengan serangan-serangannya. Biarpun dia mampu mendesak pemuda itu, namun pendekar tinggi besar ini maklum bahwa tidak mau menerima usulnya berdamai itu membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.

Pada sat itu terdengar bentakan nyaring, “Liu Bhok Ki memang seorang laki-laki pengecut dan jahat!” dan begitu bentakan itu terhenti, terdengar suara berdesing-desing dan ada tiga sinar kecil berkelebat menyambar kearah tubuh Liu Bhok Ki.

Itulah tiga batang senjata rahasia piauw beronce merah yang mengandung racun. Liu Bhok Ki mengeluarkan bentakan nyaring dan sabuknya diputar melindungi tubuhnya. Tiga batang piauw itu terpukul dan terlempar jauh, dan Liu Bhok Ki meloncat jauh kebelakang.

“Tahan senjata!” bentaknya dan suaranya mengandung kekuatan khi-kang yang demikian hebatnya sehingga Coa Siang Lee dan orang yang baru muncul itu berhenti dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian.

Ketika dia memandang gadis yang baru saja muncul dan yang menyerangnya dengan senjata rahasia piauw itu, hampir Liu Bhok Ki mengeluarkan teriakan kaget. Dia melihat wajah isterinya yang telah tiada. Gadis itu mirip sekali dengan isterinya. Muka yang bulat telur dengan kulit muka putih kemerahan, rambut yang hitam halus dan panjang, mata yang bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora, mulut yang bibirnya merah basah dan menantang itu.

“Kau… kau siapakah…?” akhirnya dia dapat mengeluarkan suara yang agak bergetar.

“Sebetulnya, tidak pantas seorang macam engkau mengenal namaku, Liu Bhok Ki!” kata gadis itu dan Liu Bhok Ki terbelalak heran. Suaranya juga persis suara isterinya.

”Akan tetapi agar engkau tidak mati penasaran, ketahuilah bahwa namaku Sim lan Ci, dan aku datang untuk membunuhmu!”

“Tapi… tapi…” Suara pendekar yang biasanya tenang dan tabah itu masih gagap karena jantungnya masih terguncang hebat melihat seolah-olah isterinya hidup kembali. Apalagi kini gadis itu berdiri didekat Coa Siang Lee, seolah-olah dia melihat isterinya berdiri berdampingan dengan Coa Kun Tian, bersama-sama hendak menghadapinya dan membunuhnya. Kepala Kun Tian itu masih tergantung disana, dan botol besar itupun masih diatas meja!

“Mengapa engkau hendak membunuhku, dan engkau ini puteri siapakah…?” Bergidik dia membayangkan bahwa gadis itu, seperti juga Siang Lee yang mengaku sebagai putera Kun Tian, akan mengaku pula sebagai puteri Hui Cu, isterinya.

Akan tetapi tidak, gadis itu tidak mengaku demikian, dan memang hal itu tidak mungkin. Isterinya masih perawan ketika menikah dengan dia, dan isterinya mati dalam usia masih muda, tidak mungkin meninggalkan keturunan, seperti halnya Kun Tian.

“Buka telingamu baik-baik, Liu Bhok Ki. Aku hendak membunuhmu untuk menuntut balas atas kematian bibiku Phang Hui Cu, yang bukan saja kau bunuh secara keji, akan tetapi juga kepalanya kau masukkan dalam botol besar dan kau rendam dalam anggur, kau jadikan minuman. Sungguh hal itu tidak dapat kubiarkan begitu saja!”

Liu Bhok Ki mengerutkan alisnya. Dia teringat bahwa isterinya, Phang Hui Cu mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Phang Bi Cu dan menurut cerita isterinya, kakak perempuan itu sejak kecil sekali diculik orang dan tidak pernah ada kabar ceritanya. Apakah gadis itu puteri Phang Bi Cu? Kalau kakak perempuan isterinya itu wajahnya mirip dengan isterinya memang bukan tak mungkin wajah sang keponakan serupa benar dengan wajah bibinya.

“Kau… puteri dari… Phang Bi Cu…?” tanyanya, masih ragu dan masih terpengaruh wajah gadis yang sama benar dengan wajah isterinya itu.

Gadis itu tersenyum mengejek, “Agaknya engkau masih belum kehilangan ingatanmu! Benar sekali, aku puteri tunggalnya. Aku mendengar akan apa yang kau lakukan terhadap mendiang bibi Phang Hui Cu, maka aku datang untuk mencabut nyawamu dan untuk minta kepala bibi agar dapat ku makamkan dengan baik.”

“Tidak!” Tiba-tiba kekerasan hati Liu Bhok Ki datang kembali begitu dia teringat akan perbuatan isterinya dan Coa Kun Tian. Dua orang muda didepannya ini, yang mirip sekali dengan isterinya dan kekasih gelap isterinya, mengingat akan dia dan semua yang terjadi dua puluh tahun lebih itu, dan mendatangkan pula kemarahan dan kekerasan hatinya.

“Mereka berdua itu patut dihukum selama aku masih hidup. Mereka telah menghancurkan kehidupanku, menghancurkan kebahagianku!”

“Kalau begitu mampuslah!” teriakan ini disusul berkelebatnya sinar hitam yang selain cepat dan dashyat, juga membawa bau amis tanda bahwa pedang itu, yang berwarna hitam, seperti senjata rahasia piauw tadi, mengandung racun yang berbahaya. Pedang itu membuat gerakan memutar, berkelebat dan tiba-tiba menusuk kearah muka Liu Bhok Ki dan begitu pendekar ini mengelak ke kiri, pedang yang luput menusuk muka itupun berkelebat mengejar ke kiri dan membacok kearah leher.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Cepat sekali gerakan gadis yang berpakaian serba hitam itu, dan bau amis dari pedangnya membuat lawan merasa muak dan pusing. Namun, Liu Bhok Ki yang maklum akan berbahayanya pedang hitam itu, cepat mengerahkan sin-kangnya untuk menahan serangan bau amis, dan begitu melihat pedang membacok, diapun menggerakkan ujung sabuk di tangan kiri untuk menangkis dan melibat agar dia dapat merampas pedang itu.

Akan tetapi, gadis itu ternyata lihai sekali karena begitu pedangnya ditempel sabuk sebelum sabuk itu melibat, ia sudah menarik kembali pedangnya, memutar tubuh, dan kini pedangnya membuat gerakan panjang menyapu kearah kedua kaki lawan.

“Hmmmmm!” Liu Bhok Ki meloncat keatas dan dari atas, ujung sabuknya menyambar kearah kepala gadis itu. Gadis bernama Sim Lan Ci pun dapat mengelak dengan gerakan yang cepat dan pada saat itu Coa Siang Lee sudah menerjang kedepan dan menyerang dengan Siang-kiam di kedua tangannya.

Kini Liu Bhok Ki dikeroyok dua dan terasalah oleh pendekar ini betapa sepasang muda ini memang memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Tingkat kepandaian gadis itu bahkan tidak kalah dibandingkan dengan tingkat kepandaian putera Coa Kun Tian itu, dan terutama pedang gadis itu dan pukulan tangan kirinya, sungguh berbahaya bukan main. Tahulah Liu Bhok Ki bahwa Lan Ci ini selain memiliki senjata-senjata beraun, juga mahir menggunakan pukulan beracun.

Perkelahian itu terjadi lebih seru dibandingkan dengan ketika Liu Bhok Ki dikeroyok oleh Cap-sha-tin tadi. Karena kedua orang muda itu sama-sama menggunakan pedang, dan tempat perkelahian menjadi luas dengan hanya adanya mereka berdua yang mengeroyok, mereka dapat bersilat dengan leluasa, mengerahkan semua tenaga dan kepandaian.

Beberapa kali Liu Bhok Ki mencoba untuk merampas pedang kedua orang muda itu, namun selalu gagal. Kiranya selain memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat, kedua orang muda itu pun cerdik sekali dan tidak pernah terlambat untuk menarik kembali pedang mereka sebelum terlibat. Sebetulnya, kalau dibuat ukuran, tingkat kepandaian kedua orang muda itu masih belum mampu menandingi tingkat kepandaian Liu Bhok Ki yang sudah matang, apalagi karena selama ini, biarpun mengasingkan diri, Liu Bhok Ki tak pernah lalai untuk melatih diri, bahkan memperdalam ilmu silatnya.

Namun kedua orang muda itu silatnya hebat, dan terutama sekali hawa beracun yang keluar dari pedang dan tamparan tangan kiri Lan Ci amat berbahaya. Dan lebih daripada itu, entah bagaimana setiap kali sabuknya mendesak kearah Lan Ci, melihat wajah yang mirip sekali dengan wajah mendiang isterinya itu, hati Liu Bhok Ki menjadi lemas dan dia merasa tidak tega untuk melukai atau membunuh gadis itu.

Inilah yang membuat dia lengah bahkan lemah pertahanannya dan pada suatu saat, ketika kembali dia terpesona oleh wajah gadis itu, Lan Ci dan Siang Lee mengeluarkan pekik yang melengking panjang hampir berbareng. Sepasang pedang siang lee membuat serangan kilat yang luar biasa cepatnya dan pada saat Liu Bhok Ki meloncat kebelakang, dia sudah menusukkan pedangnya dari samping. Liu bhok Ki menangkis dengan sabuknya, namun dia terlambat sehingga pedang itu meleset dan masih menancap di pundak kirinya, kurang lebih satu dim dalamnya.

“Uhhh…!” Liu Bhok Ki mendengus dan tiba-tiba dia mengeluarkan suara kerengan hebat, tubuhnya mencelat keatas dan dari atas, tubuhnya itu bagaikan seekor burung rajawali menyambar, meluncur kebawah dan kedua ujung sabuknya menyambar-nyambar kearah kepala kedua orang lawannya.

Siang Lee dan lan Ci terkejut bukan main. Mereka tidak tahu bahwa ilmu Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang), sebuah ilmu yang baru diciptakan oleh Liu Bhok Ki di tempat pengasingannya. Hebat sekali gerakan loncatan ini, bagaikan seekor burung rajawali terbang, cepat namun juga mengandung kekuatan yang amat dasyat.

Kalau dia tidak memegang senjata sabuk, serangan itu dilanjutkan cengan cengkeraman kedua tangan ke bawah, karena dia memegang senjata ampuhnya itu, dia menggunakan sabuk untuk menyerang kebawah dan tentu saja serangan ini lebih cepat daripada kalau menggunakan kedua tangan, karena sabuk itu lebih panjang.

Dua orang muda itu sama sekali tidak menduga bahwa lawan yang sudah tertusuk pedang itu akan mampu berbuat seperti itu. Mereka terkejut dan karenanya terlambat menghindarkan diri. Kedua ujung sabuk itu menotok pundak dan mereka berdua roboh tak sadarkan diri. Melihat kedua orang lawannya yang tangguh itu roboh pingsan, Liu Bhok Ki yang sudah turun keatas tanah, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar. Napasnya agak memburu dan dia memejamkan kedua matanya, merasa betapa kenyerian yang amat hebat menusuk-nusuk dari pundak kedalam tubuh, bahkan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Maklumlah dia bahwa dia tertusuk oleh pedang yang mengandung racun amat jahatnya. Terhuyung-huyung dia memasuki pondoknya, membuka buntalan simpanan obat dan segera minum tiga pel kuning, lalu menempelkan obat yang berwarna merah kepada luka di pundaknya setelah itu merobek bajunya bagian pundak. Dia mengimpun hawa murni untuk mengusir hawa beracun dari lukanya.

Namun betapa kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa racun itu memang hebat luar biasa dan tidak dapat disembuhkannya dengan obat dan pengerahan tenaga sakti. Dia hanya mampu menahan rasa nyeri dan menghentikan racun itu menjalar lebih lanjut ke jantungnya, namun dia tidak berhasil mengeluarkan racun itu dari tubuhnya. Ini berarti bahwa ia terancam bahaya maut, kalau saja dia tidak menemukan obat penawarnya. Maka, diapun cepat berlari keluar lagi.

Dua orang muda itu masih rebah tidak pingsan lagi, akan tetapi belum mampu bergerak karena pengaruh totokan yang lihai dari ujung sabuk di tangan Liu Bhok Ki. Melihat pria setengah tua tinggi besar itu sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, bahkan memandang kepadanya dengan mata melotoot penuh kemarahan dan kebencian.

“Sim Lan Ci,” katanya kepada gadis itu. “Engkau tahu bahwa sekali menggerakkan tangan, nyawamu akan melayang menyusul nyawa bibimu. Akan tetapi aku tidak membunuhmu, bahkan aku suka membebaskanmu dan membiarkan engkau membawa pergi kepala bibimu. Akan tetapi, engkau harus menebusnya dengan obat penawar racun pedangmu.”

Biarpun kaki tangannya tidak mampu bergerak, Lan Ci masih dapat bicara walaupun lirih. Namun bicara dengan penuh semangat dan sepasang matanya memancarkan kebencian. “Aku sudah kalah, mau bunuh, bunuhlah, siapa takut mampus. Engkau pun akan mampus karena racun pedangku dan kita sama-sama menghadap arwah bibi Hui Cu.”

Liu Bhok Ki adalah seorang yang cerdik. Dia mengenal gadis yang berhati keras, maka membujuk takkan ada manfaatnya. Maka dia lalu memancing untuk mengetahui macam racun yang dideritanya. “Hemmmmm, engkau anak kecil yang sombong. Kau kira akan mudah membunuh aku begitu saja. Sudah puluhan kali aku terkena racun, akan tetapi selalu dapat kusembuhkan. Racun piauw darimu tadi pun dapat kuhilangkan pengaruhnya. Racun pedangmu ini pun tentu akan dapat kuobti sampai sembuh dalam waktu dekat.”

Pancingnya mengena. Gadis itu tersenyum mengejek. “Boleh kau coba Obat penawar racun pedang Cui-mo Hek Kiam (Pedang hitam Pengejar Iblis) ini hanya ada pada ibuku. Kau tahu siapa ibuku? Ia berjuluk ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa racun).”

Mendengar julukan ini diam-diam Liu Bhok Ki terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa enci (kakak perempuan) dari mendiang isterinya itu, yang dikabarkan lenyap diculik orang ketika masih kecil, adalah datuk sesat berjuluk Ban-tok mo-li itu. Tentu saja dia pernah mendengar nama itu, yang terkenal sebagai seorang ahli racun yang amat berbahaya dan jahat. Akan tetapi dia tetap bersikap tenang, bahkan tersenyum mengejek,

“Hemmmm, biar racun itu datang dari ban-to Mo-li atau siapapun saja, sudah pasti akan dapat kusembuhkan. Tak mungkin ada racun yang tidak ada obat penawarnya di dunia ini.”

Sim Lan Ci masih terlalu muda untuk dapat menduga bahwa sikap lawannya itu adalah untuk memancing keterangan tentang racun itu. Ia menjadi penasaran dan berkata. “Engkau akan mampus, takkan mungkin sembuh. Obat penawarnya hanya ditangan ibuku. Kecuali kalau engkau dapat menemukan raja mustika di kepala naga…”

Sim lan Ci bukan berbohong atau sekedar mengulang dongeng kuno yang mengatakan bahwa mustika di kepala naga merupakan obat paling mujarab di dunia, dapat menawarkan segala macam racun, bahkan dapat memperkuat tubuh. Memang ia pernah mendengr dari ibunya itu bahwa satu diantara obat yang akan mampu mengobati luka bercun karena pedang Cui-mo Hek-kiam. Ia sengaja mengatakan ini, bukan berbohong, melainkan untuk mengejek karena tidak akan mungkin Liu Bhok Ki bisa mendapatkan mustika di kepala naga.

“Engkau bohong.”

“Huh, Perlu apa aku bohong? Engkau akan mampus dan kalau engkau hendak membunuhku, silakan! Kau kira dengan Sin-kang akan dapat mengusir racun dari pedangku? Tidak mungkin. Paling-paling dengan obat dan sin-kang engkau hanya akan dapat mengurangi rasa nyeri, akan tetapi racun itu tetap akan mengeram dalam tubuhmu. Memang dapat kauperlambat menjalarnya ke Jantung, akan tetapi lambat laun, akan sampai juga. Melihat betapa pedangku sudah melukai pundakmu tidak berapa jauh dari jantung, dalam waktu paling lama tiga bulan engkau tentu akan mati dalam keadaan yang sangat menderita.”

Liu Bhok Ki menjadi terkejut sekali mendengar ini. Memang cocok apa yang dikatakan gadis itu, berarti ia tidak berbohong. Dia menjadi marah sekali tangannya diangkat keatas untuk menghantam kearah kepala gadis itu. Gadis itu sama sekali tidak berkedip memandang kepadanya dengan mata yang tajam dan indah, mata isterinya. Tangannya tertahan dan dia menggeleng kepala keras-keras, lalu menoleh kearah Coa Siang Lee yang sudah siuman akan tetapi tidak mampu bergerak. Dia mendapatkan gagasan yang luar biasa untuk melampiaskan hatinya.

“Tidak, aku tidak akan membunuhmu! Bahkan aku tidak akan membunuh dia. Biar kalian menggantikan Kun Tian dan Hui Cu untuk merasakan apa yang pernah kurasakan.” Berkata demikian, dua kali tangannya bergerak dan dia sudah menepuk leher kedua orang muda itu yang seketika menjadi pingsan kembali.

Siang Lee siuman dari pingsannya dan merasa betapa tubuhnya panas, bukan panas yang menganggu, melainkan panas yang hangat dan nyaman. Kepalanya agak pening, akan tetapi bukan kepeningan yang tidak enak, seperti peningnya orang mabuk! Telinganya seperti mendengar suara merdu. Dia membuka mata dan silau ketika matanya bertemu dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela yang terbuka. Jendela?

Dia merasa seperti dalam mimpi, akan tetapi mimpi yang indah sekali, yang membuat jantungnya berdenyut dan gairahnya memuncak. Ketika dia mendengar suara disebelahnya, napas orang, dia cepat menengok kekanan dan disitu, dekat sekali dengan dia, dia melihat seorang gadis yang amat cantik jelita, tubuhnya mulus karena tubuh itu tidak tertutup apa-apa.

Gadis itu juga seperti orang bangun tidur, memandang kepadanya dengan heran, akan tetapi sepasang mata itu meredup dan sayu seperti mata orang mengantuk, dan mulut yang setengah terbuka itu membentuk senyum menantang, Siang Lee mendapat kenyataan bahwa bukan hanya wanita muda itu yang telanjang bulat, juga dia sendiri tidak berpakaian.

Dan mereka berdua dalam keadaan tanpa pakaian, berada di dalam pondok yang jendelanya terbuka, dari mana sinar matahari masuk dengan indah dan hangatnya, dan mereka berdua rebah diatas sebuah pembaringan kayu yang kokoh kuat. Keduanya saling pandang dan gairah berahi mereka memuncak, tak mungkin dapat ditahan lagi, dan tanpa bicara keduanya lalu saling rangkul, saling dekap dengan mesra dan panas. Tak ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu mencegah apa yang terjadi diantara mereka.

Keduanya seperti dikuasai nafsu berahi yang berkobar, tak mampu mempergunakan akal budi lagi, ingatan mereka seperti terapung di atas samudera luas yang indah menghanyutkan, seperti terbang melayang diantara awan-awan dia nagkasa dan mereka pun hanyut, tidak dapat mempertahankan diri karena tidak ada lagi yang dapat diingatnya kecuali melaksanakan hasrat yang berkobar.

Mereka seperti dua orang kehausan di padang pasir, yang sudah hampir mati kehausan, lalu tiba-tiba mendapatkan air yang jernih dan sejuk. Mereka minum dan meneguk air sejuk itu tanpa mengenal puas, sampai akhirnya keduanya terhempas dan terengah-engah diatas pembaringan itu, lalu tertidur pulas seperti pingsan, tubuh penuh keringat.

Tak kurang dari tiga jam Siang Lee dan Lan Ci tidur tertelentang, sebelah menyebelah, tanpa pakaian sama sekali, tidur nyenyak seperti pingsan. Mereka sama sekali tidak tahu betapa ada byangan orang masuk dan melemparkan pakaian mereka keatas pembaringan dekat tubuh mereka, lalu bayangan itu menghilang lagi.

Mereka terbangun hampir berbarengan. Siang Lee yang lebih dulu bangun dan mengeluh karena kini dia merasa kepalanya pening, kepeningan yang menyakitkan, dan tubuhnya terasa lelah sekali. Keluhannya ini seperti menggugah Lan Ci dan gadis ini pun terbangun. Seperti Siang Lee, ia pun merasa pening dan matanya berkunang. Akan tetapi, mereka dapat mengetahui kehadiran masing-masing, dan ketika membuka mata melihat betapa mereka telanjang bulat, bersama berada di dalam pondok diatas senbuah pembaringan, keduanya terkejut bukan main.

Lan Ci mengeluarkan jeritan tertahan, seperti kilat cepatnya menyambar pakaiannya yang ada didekatnya dan menutupi dada dan pahanya, matanya mengeluarkan kilat yang menyambar kearah Siang Lee yang juga berusaha menutupi perutnya dengan pakaiannya. Keduanya saling pandang, terbelalak dan ketika Lan Ci melihat noda-noda merah diatas pembaringan, tahulah ia apa yang terjadi dengan dirinya.

Ia mengeluarkan jerit tertahan, dan tangannya menyambar kedepan, kearah kepala Siang Lee yang juga terkejut dan terheran setengah mati, sudah dapat melempar tubuh ke bawah pembaringan sambil membawa pakaiannya dan dengan beberapa loncatan dia sudah keluar dari pondok itu.

Dengan tergesa-gesa dia mengenakan pakaiannya, memeras otak untuk mengingat apa yang telah terjadi dengannya dan dengan gadis itu. Bagaimana mereka tahu-tahu berada di dalam pondok, diatas pembaringan dalam keadaan bugil dan telah terjadi hubungan diluar kesadaran mereka? Diapun samara-samar teringat betapa telah terjadi kemesraan antara dia dan Lan Ci, terjadi hubungan badan yang amat mesra dan semua kejadian itu seperti dalam mimpi saja.

“Wuuuuuutttttt…” Kini Lan Ci meloncat keluar, dalam keadaan sudah berpakaian. Kedua pipinya basah air mata dan mukanya pucat, matanya mencorong ketika ia memandang kepada Siang Lee. Lalu ia menuding pemuda itu dengan telunjuknya dan membentak.

“Jahanam, keparat engakau. Engkau... Engkau harus menebus dengan nyawamu!”

Akan tetapi Siang Lee sudah merenungkan peristiwa itu. Dia memang terkejut dan bhatinnya terguncang namun tidaklah sehebat guncangan bhatin yang diderita oleh Sim Lan Ci, maka pemuda ini dapat lebih dahulu menenangkan bhatinya dan dapat merenungkan dan mengingat-ingat peristiwa yang telah terjadi itu.

“Nanti dulu, nona. Harap nona suka bersabar dulu sebelum menyerang aku, dan marilah kita bicara dengan kepala dingin. Percayalah, aku bersumpah bahwa aku tidak melakukan seperti apa yang kau sangka. Kita sama-sama berada dalam keadaan tidak sadar dan seperti dalam mimpi kita bersama melakukan hal itu, kita telah masuk perangkap musuh, Nona.”

Lan Ci mengerutkan alisnya dan menghapus air mata dengan punggung tangan kirinya. “Apa… apa maksudmu…?” tanyanya, heran dan samar-samar ia teringat akan “mimpi” itu, betapa pemuda itu sama sekali tidak memperkosanya, melainkan betapa keduanya melakukan hubungan dengan mesra, dengan suka rela.

“Harap kau suka bersikap tenang, Nona. Sekali lagi, percayalah bahwa aku tidak melakukan hal keji seperti yang kau sangka. Nah, mari kita ingat-ingat, kita berdua telah roboh tertotok oleh musuh besar kita, Liu Bhok Ki? Kita tidak berdaya dan aku sudah menduga bahwa kita tentu akan dibunuh, setidaknya aku akan dibunuh, seperti yang terjadi pada tiga belas orang suheng-suhengku. Kemudian, ketika jahanam itu mengetuk leherku aku tidak ingat apa-apa lagi. Dan tahu-tahu aku terbangun, aku merasa seperti dalam mimpi, di dalam pondok diatas pembaringan itu, dalam keadaan… tanpa pakaian… Dan kau… pun disana… dalam keadaan yang sama lalu kita… kita… ah, seperti dalam mimpi saja, nona. Kemudian, tadi aku terbangun, sadar dan kepalaku pening dan… Kudapati engkau lalu engkau menyerangku! Nah, aku berani bersumpah bahwa seperti itulah kejadiannya...”

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 02

TIBA-TIBA, tiga belas buah mulut mengeluarkan suara melengking panjang, sambung menyambung dan karena mereka itu mengerahkan khi-kang, maka tenaga yang tergabung ini menjadi kuat sekali, disusul gerakan pedang mereka menyerang secara berbareng dari semua jurusan! Liu Bhok Ki terkejut.

Harus diakuinya bahwa Cap-sha-tin ini hebat dan berbahaya. Dia cepat mengenjot tubuh keatas untuk menghindarkan diri dari serangan tiga belas batang pedang itu. Akan tetapi dua sinar terang meluncur dan menyerangnya selagi tubuhnya masih meloncat keatas. Itulah sepasang pedang di tangan Siang Lee yang kini membantu Cap-sha-tin. Pemuda itu meloncat dan tubuhnya meluncur seperti terbang saja, didahului dua batang pedangnya yang lihay.

“Ahhh…!” Liu Bhok Ki terkejut dan mengeluarkan bentakan ini, tangannya diputar untuk menangkis sinar pedang. Lengannya menangkis pedang. Namun sebatang pedang yang menyeleweng pundak kiri Liu Bhok Ki sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka mengeluarkan darah!

Liu Bhok Ki berjungkir balik dan tubuhnya dapat turun diluar kepungan Cap-sha-tin! kini barisan itu sudah berlari-larian mengepungnya lagi, dari jarak agak jauh, sedangkan Siang Lee yang paling lihay diantara mereka, kini berada di bagian kepala seolah-olah barisan itu membentuk seekor ular yang melingkari tempat itu dengan Liu Bhok Ki di tengah, dan Coa Siang Lee memimpin atau menjadi kepala ular.

Liu Bhok Ki berdiri tegak, kedua kakinya dipentang lebar, tubuhnya tidak bergerak, hanya matanya yang melirik kke kanan kiri pemperhatikan gerakan barisan itu. Perlahan-lahan dia melolos sabuknya ketika barisan yang mengepung sambil berlari mengitarinya itu mempersempit lingkaran. Melihat ini, seorang diantara murid-murid Hek-Houw-pang mengeluarkan isarat kawan-kawannya, terutama kepada Siang Lee agar berhati-hati karena dia tahu betapa lihainya Liu Bhok Ki dengan senjata sabuk kain tebal yang kelihatan sederhana itu.

Pernah Liu Bhok Ki dikeroyok puluhan orang murid Hek-Houw-pang yang kesemuanya bersenjata pedang tau golok, namun sabuk itu membuat para pengeroyok tidak berdaya, bahkan banyak diantara mereka yang mengalami luka-luka berat, dan ada pula yang tewas.

Siang Lee adalah seorang pemuda yang sudah tinggi ilmu silatnya. Mendengar suara isyarat ini, dia pun berhati-hati. Dia tidak berani memandang ringan kepada lawan ini, karena tadi, ketika berkelahi satu lawan satu, dia sudah merasakan kehebatan ilmu silat Liu Bhok Ki. Kini diapun mengerti mengapa banyak sekali murid dan anak buah Hek-Houw-pang tewas ditangan musuh besar ini.

Dan memang sesungguhnya Liu Bhok Ki amat berbahaya kalau sudah mempergunakan sabuknya sebagai senjata. Dia seorang ahli senjata apapun, dan permainan pedangnya juga hebat. Akan tetapi, untuk menghadapi pengeroyokan banyak lawan yang menggunakan pedang, senjata sabuk kain tebal itu sungguh amat tepat.

Kain itu bersifat lemas shingga tepat sekali untuk menghadapi senjata pedang atau golok yang keras dan sabuk itu dapat dipergunakan dari jarak dekat maupun jauh karena dapat diulur panjang. Ditangan ahli seperti Liu Bhok Ki, kain yang lemas itu dapat pula dibuat kaku, dapat berubah lemas kembali, untuk melibat dan membelit senjata lawan tanpa merusak sabuk.

Liu Bhok Ki maklum bahwa pemuda itu lihai, dan Cap-sha-tin juga berbahaya sekali. Maka dia pun tidak menunggu dan membiarkan dirinya didesak, begitu pengepungan itu mengetat dan di berhadapan dengan mereka yang melingkarainya dalam jarak dua meter, dia menggerakkan sabuknya dan mengamuk! Sabuk itu lenyap bentuknya dan nampak hanya gulungan sinar hitam yang panjang, menyambar-nyambar seperti seekor naga hitam yang bemain diantara awan di angkasa.

Barisan itu berusaha membendung gerakan sinar bergulung-gulung itu dengan meningkatkan kerjasama mereka. Namun, belasan pedang itu tetap saja tidak mampu membendung daya serang dari sabuk panjang di tangan Liu Bhok Ki.

Terdengar bunyi berdesing-desing dan angin menyambar bagaikan angin puyuh, disusul teriakan-teriakan para anggota Hek-Houw-pang. Betapun mereka itu mempertahankan diri dan saling Bantu, tetap saja mereka dilanda oleh gulungan sinar hitam seperti naga mengamuk itu dan susunan barisan mereka pun cerai berai dan kacau balau.

Liu Bhok Ki menambah Sin-kang pada gerakan sabuknya dan terdengar teriakan susul-menyusul diikuti robohnya para pengeroyok seorang demi seorang. Para anggota Hek-Houw-pang masih melawan terus sekuat tenaga, dipelopori oleh Coa Siang Lee yang memaninkan siang-kiamnya dengan cepat dan kuat.

Namun, mereka itu bagaikan semut-semut yang mengeroyok seekor jangkerik. Tubuh mereka berpelantingan, dan akhirnya yang masih dapat bertahan hanyalah Coa Siang Lee seorang. Pemuda ini masih memainkan sepasang pedangnya melakukan perlawanan mati-matian, sedangkan tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang itu telah tewas semua.

Tentu saja Coa Siang Lee tidak tahu bahwa andaikata Liu Bhok Ki menghendaki, diapun tentu sudah roboh dan tewas. Ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam perasaan hati pendekar tinggi besar yang sedang mengamuk itu. Melihat betapa Coa Siang Lee demikian mirip wajahnya dengan Coa Kun Tian dan melihat keberanian pemuda itu, besarnya semangatnya untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, timbul suatu perasaan sayang dan iba kepada pemuda itu. Kalau sampai saat itu Coa Siang Lee masih belum roboh, bahkan terluka, hal itu adalah karena perasaan ini yang mengganjal di hati Liu Bhok Ki.

Gerakan gulungan sinar sabuknya tadi menggulung Cap-sha-tin. Seluruh daya serangnya ditujukan untuk merobohkan tiga belas murid Hek-Houw-pang itu, sedangkan terhadap Coa Siang Lee, dia hanya menangkis dan membendung serangan sepasang pedang itu.

Kini terjadi perkelahian yang seru namun berat sebelah antara Liu Bhok Kid an Coa Siang Lee. Seru karena pemuda itu dengan nekad masih terus menyerang mati-matian, namun semua serangannya gagal dan kemanapun sianr sepasang pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan ujung sabuk dan terpental kembali. Perkelahian itu terjadi mati-matian diantara tiga belas sosok mayat yang berserakan.

“Coa Siang Lee, sudahlah. Tiada gunanya engkau nekat. Engkau masih muda, sayang kalau mati konyol. Apakah engku tidak mau menghentikan permusuhan gila ini? Pulanglah dan engkau boleh membawa kepala ayahmu.”

Sungguh luar biasa sekali mendengar ucapan Liu Bhok Ki ini. Biasanya dia amat keras hati dan keras kepala, ingin “menyiksa” kepala orang yang menzinai isterinya itu selama dia masih hidup. Akan tetapi kini dia yang jelas menguasai pemuda itu dengan mudah akan mampu merobohkannya, mendadak menawarkan perdamaian dan membolehkan pemuda itu membawa pergi kepala ayahnya.

“Liu Bhok Ki, tak usah banyak cakap hari ini engkau atau aku yang mati!” Coa Siang Lee mendesak dengan sepasang pedangnya.

Pemuda ini memang lihai dan ilmu sepasang pedang itu pun berbahaya sekali. Sekarang, setelah tidak ada murid Hek-Houw-pang yang membantu, dia bahkan dapat mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya dan terasalah oleh Liu Bhok Ki bahwa pemuda ini memang cukup tangguh.

Diapun memutar sabuknya dan kini terjadilah perkelahian yang lebih hebat lagi, karena Liu Bhok Ki tentu saja tidak ingin menjadi korban sepasang pedang yang ganas itu dan dia mulai membalas dengan serangan-serangannya. Biarpun dia mampu mendesak pemuda itu, namun pendekar tinggi besar ini maklum bahwa tidak mau menerima usulnya berdamai itu membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.

Pada sat itu terdengar bentakan nyaring, “Liu Bhok Ki memang seorang laki-laki pengecut dan jahat!” dan begitu bentakan itu terhenti, terdengar suara berdesing-desing dan ada tiga sinar kecil berkelebat menyambar kearah tubuh Liu Bhok Ki.

Itulah tiga batang senjata rahasia piauw beronce merah yang mengandung racun. Liu Bhok Ki mengeluarkan bentakan nyaring dan sabuknya diputar melindungi tubuhnya. Tiga batang piauw itu terpukul dan terlempar jauh, dan Liu Bhok Ki meloncat jauh kebelakang.

“Tahan senjata!” bentaknya dan suaranya mengandung kekuatan khi-kang yang demikian hebatnya sehingga Coa Siang Lee dan orang yang baru muncul itu berhenti dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian.

Ketika dia memandang gadis yang baru saja muncul dan yang menyerangnya dengan senjata rahasia piauw itu, hampir Liu Bhok Ki mengeluarkan teriakan kaget. Dia melihat wajah isterinya yang telah tiada. Gadis itu mirip sekali dengan isterinya. Muka yang bulat telur dengan kulit muka putih kemerahan, rambut yang hitam halus dan panjang, mata yang bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora, mulut yang bibirnya merah basah dan menantang itu.

“Kau… kau siapakah…?” akhirnya dia dapat mengeluarkan suara yang agak bergetar.

“Sebetulnya, tidak pantas seorang macam engkau mengenal namaku, Liu Bhok Ki!” kata gadis itu dan Liu Bhok Ki terbelalak heran. Suaranya juga persis suara isterinya.

”Akan tetapi agar engkau tidak mati penasaran, ketahuilah bahwa namaku Sim lan Ci, dan aku datang untuk membunuhmu!”

“Tapi… tapi…” Suara pendekar yang biasanya tenang dan tabah itu masih gagap karena jantungnya masih terguncang hebat melihat seolah-olah isterinya hidup kembali. Apalagi kini gadis itu berdiri didekat Coa Siang Lee, seolah-olah dia melihat isterinya berdiri berdampingan dengan Coa Kun Tian, bersama-sama hendak menghadapinya dan membunuhnya. Kepala Kun Tian itu masih tergantung disana, dan botol besar itupun masih diatas meja!

“Mengapa engkau hendak membunuhku, dan engkau ini puteri siapakah…?” Bergidik dia membayangkan bahwa gadis itu, seperti juga Siang Lee yang mengaku sebagai putera Kun Tian, akan mengaku pula sebagai puteri Hui Cu, isterinya.

Akan tetapi tidak, gadis itu tidak mengaku demikian, dan memang hal itu tidak mungkin. Isterinya masih perawan ketika menikah dengan dia, dan isterinya mati dalam usia masih muda, tidak mungkin meninggalkan keturunan, seperti halnya Kun Tian.

“Buka telingamu baik-baik, Liu Bhok Ki. Aku hendak membunuhmu untuk menuntut balas atas kematian bibiku Phang Hui Cu, yang bukan saja kau bunuh secara keji, akan tetapi juga kepalanya kau masukkan dalam botol besar dan kau rendam dalam anggur, kau jadikan minuman. Sungguh hal itu tidak dapat kubiarkan begitu saja!”

Liu Bhok Ki mengerutkan alisnya. Dia teringat bahwa isterinya, Phang Hui Cu mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Phang Bi Cu dan menurut cerita isterinya, kakak perempuan itu sejak kecil sekali diculik orang dan tidak pernah ada kabar ceritanya. Apakah gadis itu puteri Phang Bi Cu? Kalau kakak perempuan isterinya itu wajahnya mirip dengan isterinya memang bukan tak mungkin wajah sang keponakan serupa benar dengan wajah bibinya.

“Kau… puteri dari… Phang Bi Cu…?” tanyanya, masih ragu dan masih terpengaruh wajah gadis yang sama benar dengan wajah isterinya itu.

Gadis itu tersenyum mengejek, “Agaknya engkau masih belum kehilangan ingatanmu! Benar sekali, aku puteri tunggalnya. Aku mendengar akan apa yang kau lakukan terhadap mendiang bibi Phang Hui Cu, maka aku datang untuk mencabut nyawamu dan untuk minta kepala bibi agar dapat ku makamkan dengan baik.”

“Tidak!” Tiba-tiba kekerasan hati Liu Bhok Ki datang kembali begitu dia teringat akan perbuatan isterinya dan Coa Kun Tian. Dua orang muda didepannya ini, yang mirip sekali dengan isterinya dan kekasih gelap isterinya, mengingat akan dia dan semua yang terjadi dua puluh tahun lebih itu, dan mendatangkan pula kemarahan dan kekerasan hatinya.

“Mereka berdua itu patut dihukum selama aku masih hidup. Mereka telah menghancurkan kehidupanku, menghancurkan kebahagianku!”

“Kalau begitu mampuslah!” teriakan ini disusul berkelebatnya sinar hitam yang selain cepat dan dashyat, juga membawa bau amis tanda bahwa pedang itu, yang berwarna hitam, seperti senjata rahasia piauw tadi, mengandung racun yang berbahaya. Pedang itu membuat gerakan memutar, berkelebat dan tiba-tiba menusuk kearah muka Liu Bhok Ki dan begitu pendekar ini mengelak ke kiri, pedang yang luput menusuk muka itupun berkelebat mengejar ke kiri dan membacok kearah leher.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Cepat sekali gerakan gadis yang berpakaian serba hitam itu, dan bau amis dari pedangnya membuat lawan merasa muak dan pusing. Namun, Liu Bhok Ki yang maklum akan berbahayanya pedang hitam itu, cepat mengerahkan sin-kangnya untuk menahan serangan bau amis, dan begitu melihat pedang membacok, diapun menggerakkan ujung sabuk di tangan kiri untuk menangkis dan melibat agar dia dapat merampas pedang itu.

Akan tetapi, gadis itu ternyata lihai sekali karena begitu pedangnya ditempel sabuk sebelum sabuk itu melibat, ia sudah menarik kembali pedangnya, memutar tubuh, dan kini pedangnya membuat gerakan panjang menyapu kearah kedua kaki lawan.

“Hmmmmm!” Liu Bhok Ki meloncat keatas dan dari atas, ujung sabuknya menyambar kearah kepala gadis itu. Gadis bernama Sim Lan Ci pun dapat mengelak dengan gerakan yang cepat dan pada saat itu Coa Siang Lee sudah menerjang kedepan dan menyerang dengan Siang-kiam di kedua tangannya.

Kini Liu Bhok Ki dikeroyok dua dan terasalah oleh pendekar ini betapa sepasang muda ini memang memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Tingkat kepandaian gadis itu bahkan tidak kalah dibandingkan dengan tingkat kepandaian putera Coa Kun Tian itu, dan terutama pedang gadis itu dan pukulan tangan kirinya, sungguh berbahaya bukan main. Tahulah Liu Bhok Ki bahwa Lan Ci ini selain memiliki senjata-senjata beraun, juga mahir menggunakan pukulan beracun.

Perkelahian itu terjadi lebih seru dibandingkan dengan ketika Liu Bhok Ki dikeroyok oleh Cap-sha-tin tadi. Karena kedua orang muda itu sama-sama menggunakan pedang, dan tempat perkelahian menjadi luas dengan hanya adanya mereka berdua yang mengeroyok, mereka dapat bersilat dengan leluasa, mengerahkan semua tenaga dan kepandaian.

Beberapa kali Liu Bhok Ki mencoba untuk merampas pedang kedua orang muda itu, namun selalu gagal. Kiranya selain memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat, kedua orang muda itu pun cerdik sekali dan tidak pernah terlambat untuk menarik kembali pedang mereka sebelum terlibat. Sebetulnya, kalau dibuat ukuran, tingkat kepandaian kedua orang muda itu masih belum mampu menandingi tingkat kepandaian Liu Bhok Ki yang sudah matang, apalagi karena selama ini, biarpun mengasingkan diri, Liu Bhok Ki tak pernah lalai untuk melatih diri, bahkan memperdalam ilmu silatnya.

Namun kedua orang muda itu silatnya hebat, dan terutama sekali hawa beracun yang keluar dari pedang dan tamparan tangan kiri Lan Ci amat berbahaya. Dan lebih daripada itu, entah bagaimana setiap kali sabuknya mendesak kearah Lan Ci, melihat wajah yang mirip sekali dengan wajah mendiang isterinya itu, hati Liu Bhok Ki menjadi lemas dan dia merasa tidak tega untuk melukai atau membunuh gadis itu.

Inilah yang membuat dia lengah bahkan lemah pertahanannya dan pada suatu saat, ketika kembali dia terpesona oleh wajah gadis itu, Lan Ci dan Siang Lee mengeluarkan pekik yang melengking panjang hampir berbareng. Sepasang pedang siang lee membuat serangan kilat yang luar biasa cepatnya dan pada saat Liu Bhok Ki meloncat kebelakang, dia sudah menusukkan pedangnya dari samping. Liu bhok Ki menangkis dengan sabuknya, namun dia terlambat sehingga pedang itu meleset dan masih menancap di pundak kirinya, kurang lebih satu dim dalamnya.

“Uhhh…!” Liu Bhok Ki mendengus dan tiba-tiba dia mengeluarkan suara kerengan hebat, tubuhnya mencelat keatas dan dari atas, tubuhnya itu bagaikan seekor burung rajawali menyambar, meluncur kebawah dan kedua ujung sabuknya menyambar-nyambar kearah kepala kedua orang lawannya.

Siang Lee dan lan Ci terkejut bukan main. Mereka tidak tahu bahwa ilmu Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang), sebuah ilmu yang baru diciptakan oleh Liu Bhok Ki di tempat pengasingannya. Hebat sekali gerakan loncatan ini, bagaikan seekor burung rajawali terbang, cepat namun juga mengandung kekuatan yang amat dasyat.

Kalau dia tidak memegang senjata sabuk, serangan itu dilanjutkan cengan cengkeraman kedua tangan ke bawah, karena dia memegang senjata ampuhnya itu, dia menggunakan sabuk untuk menyerang kebawah dan tentu saja serangan ini lebih cepat daripada kalau menggunakan kedua tangan, karena sabuk itu lebih panjang.

Dua orang muda itu sama sekali tidak menduga bahwa lawan yang sudah tertusuk pedang itu akan mampu berbuat seperti itu. Mereka terkejut dan karenanya terlambat menghindarkan diri. Kedua ujung sabuk itu menotok pundak dan mereka berdua roboh tak sadarkan diri. Melihat kedua orang lawannya yang tangguh itu roboh pingsan, Liu Bhok Ki yang sudah turun keatas tanah, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar. Napasnya agak memburu dan dia memejamkan kedua matanya, merasa betapa kenyerian yang amat hebat menusuk-nusuk dari pundak kedalam tubuh, bahkan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Maklumlah dia bahwa dia tertusuk oleh pedang yang mengandung racun amat jahatnya. Terhuyung-huyung dia memasuki pondoknya, membuka buntalan simpanan obat dan segera minum tiga pel kuning, lalu menempelkan obat yang berwarna merah kepada luka di pundaknya setelah itu merobek bajunya bagian pundak. Dia mengimpun hawa murni untuk mengusir hawa beracun dari lukanya.

Namun betapa kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa racun itu memang hebat luar biasa dan tidak dapat disembuhkannya dengan obat dan pengerahan tenaga sakti. Dia hanya mampu menahan rasa nyeri dan menghentikan racun itu menjalar lebih lanjut ke jantungnya, namun dia tidak berhasil mengeluarkan racun itu dari tubuhnya. Ini berarti bahwa ia terancam bahaya maut, kalau saja dia tidak menemukan obat penawarnya. Maka, diapun cepat berlari keluar lagi.

Dua orang muda itu masih rebah tidak pingsan lagi, akan tetapi belum mampu bergerak karena pengaruh totokan yang lihai dari ujung sabuk di tangan Liu Bhok Ki. Melihat pria setengah tua tinggi besar itu sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, bahkan memandang kepadanya dengan mata melotoot penuh kemarahan dan kebencian.

“Sim Lan Ci,” katanya kepada gadis itu. “Engkau tahu bahwa sekali menggerakkan tangan, nyawamu akan melayang menyusul nyawa bibimu. Akan tetapi aku tidak membunuhmu, bahkan aku suka membebaskanmu dan membiarkan engkau membawa pergi kepala bibimu. Akan tetapi, engkau harus menebusnya dengan obat penawar racun pedangmu.”

Biarpun kaki tangannya tidak mampu bergerak, Lan Ci masih dapat bicara walaupun lirih. Namun bicara dengan penuh semangat dan sepasang matanya memancarkan kebencian. “Aku sudah kalah, mau bunuh, bunuhlah, siapa takut mampus. Engkau pun akan mampus karena racun pedangku dan kita sama-sama menghadap arwah bibi Hui Cu.”

Liu Bhok Ki adalah seorang yang cerdik. Dia mengenal gadis yang berhati keras, maka membujuk takkan ada manfaatnya. Maka dia lalu memancing untuk mengetahui macam racun yang dideritanya. “Hemmmmm, engkau anak kecil yang sombong. Kau kira akan mudah membunuh aku begitu saja. Sudah puluhan kali aku terkena racun, akan tetapi selalu dapat kusembuhkan. Racun piauw darimu tadi pun dapat kuhilangkan pengaruhnya. Racun pedangmu ini pun tentu akan dapat kuobti sampai sembuh dalam waktu dekat.”

Pancingnya mengena. Gadis itu tersenyum mengejek. “Boleh kau coba Obat penawar racun pedang Cui-mo Hek Kiam (Pedang hitam Pengejar Iblis) ini hanya ada pada ibuku. Kau tahu siapa ibuku? Ia berjuluk ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa racun).”

Mendengar julukan ini diam-diam Liu Bhok Ki terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa enci (kakak perempuan) dari mendiang isterinya itu, yang dikabarkan lenyap diculik orang ketika masih kecil, adalah datuk sesat berjuluk Ban-tok mo-li itu. Tentu saja dia pernah mendengar nama itu, yang terkenal sebagai seorang ahli racun yang amat berbahaya dan jahat. Akan tetapi dia tetap bersikap tenang, bahkan tersenyum mengejek,

“Hemmmm, biar racun itu datang dari ban-to Mo-li atau siapapun saja, sudah pasti akan dapat kusembuhkan. Tak mungkin ada racun yang tidak ada obat penawarnya di dunia ini.”

Sim Lan Ci masih terlalu muda untuk dapat menduga bahwa sikap lawannya itu adalah untuk memancing keterangan tentang racun itu. Ia menjadi penasaran dan berkata. “Engkau akan mampus, takkan mungkin sembuh. Obat penawarnya hanya ditangan ibuku. Kecuali kalau engkau dapat menemukan raja mustika di kepala naga…”

Sim lan Ci bukan berbohong atau sekedar mengulang dongeng kuno yang mengatakan bahwa mustika di kepala naga merupakan obat paling mujarab di dunia, dapat menawarkan segala macam racun, bahkan dapat memperkuat tubuh. Memang ia pernah mendengr dari ibunya itu bahwa satu diantara obat yang akan mampu mengobati luka bercun karena pedang Cui-mo Hek-kiam. Ia sengaja mengatakan ini, bukan berbohong, melainkan untuk mengejek karena tidak akan mungkin Liu Bhok Ki bisa mendapatkan mustika di kepala naga.

“Engkau bohong.”

“Huh, Perlu apa aku bohong? Engkau akan mampus dan kalau engkau hendak membunuhku, silakan! Kau kira dengan Sin-kang akan dapat mengusir racun dari pedangku? Tidak mungkin. Paling-paling dengan obat dan sin-kang engkau hanya akan dapat mengurangi rasa nyeri, akan tetapi racun itu tetap akan mengeram dalam tubuhmu. Memang dapat kauperlambat menjalarnya ke Jantung, akan tetapi lambat laun, akan sampai juga. Melihat betapa pedangku sudah melukai pundakmu tidak berapa jauh dari jantung, dalam waktu paling lama tiga bulan engkau tentu akan mati dalam keadaan yang sangat menderita.”

Liu Bhok Ki menjadi terkejut sekali mendengar ini. Memang cocok apa yang dikatakan gadis itu, berarti ia tidak berbohong. Dia menjadi marah sekali tangannya diangkat keatas untuk menghantam kearah kepala gadis itu. Gadis itu sama sekali tidak berkedip memandang kepadanya dengan mata yang tajam dan indah, mata isterinya. Tangannya tertahan dan dia menggeleng kepala keras-keras, lalu menoleh kearah Coa Siang Lee yang sudah siuman akan tetapi tidak mampu bergerak. Dia mendapatkan gagasan yang luar biasa untuk melampiaskan hatinya.

“Tidak, aku tidak akan membunuhmu! Bahkan aku tidak akan membunuh dia. Biar kalian menggantikan Kun Tian dan Hui Cu untuk merasakan apa yang pernah kurasakan.” Berkata demikian, dua kali tangannya bergerak dan dia sudah menepuk leher kedua orang muda itu yang seketika menjadi pingsan kembali.

Siang Lee siuman dari pingsannya dan merasa betapa tubuhnya panas, bukan panas yang menganggu, melainkan panas yang hangat dan nyaman. Kepalanya agak pening, akan tetapi bukan kepeningan yang tidak enak, seperti peningnya orang mabuk! Telinganya seperti mendengar suara merdu. Dia membuka mata dan silau ketika matanya bertemu dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela yang terbuka. Jendela?

Dia merasa seperti dalam mimpi, akan tetapi mimpi yang indah sekali, yang membuat jantungnya berdenyut dan gairahnya memuncak. Ketika dia mendengar suara disebelahnya, napas orang, dia cepat menengok kekanan dan disitu, dekat sekali dengan dia, dia melihat seorang gadis yang amat cantik jelita, tubuhnya mulus karena tubuh itu tidak tertutup apa-apa.

Gadis itu juga seperti orang bangun tidur, memandang kepadanya dengan heran, akan tetapi sepasang mata itu meredup dan sayu seperti mata orang mengantuk, dan mulut yang setengah terbuka itu membentuk senyum menantang, Siang Lee mendapat kenyataan bahwa bukan hanya wanita muda itu yang telanjang bulat, juga dia sendiri tidak berpakaian.

Dan mereka berdua dalam keadaan tanpa pakaian, berada di dalam pondok yang jendelanya terbuka, dari mana sinar matahari masuk dengan indah dan hangatnya, dan mereka berdua rebah diatas sebuah pembaringan kayu yang kokoh kuat. Keduanya saling pandang dan gairah berahi mereka memuncak, tak mungkin dapat ditahan lagi, dan tanpa bicara keduanya lalu saling rangkul, saling dekap dengan mesra dan panas. Tak ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu mencegah apa yang terjadi diantara mereka.

Keduanya seperti dikuasai nafsu berahi yang berkobar, tak mampu mempergunakan akal budi lagi, ingatan mereka seperti terapung di atas samudera luas yang indah menghanyutkan, seperti terbang melayang diantara awan-awan dia nagkasa dan mereka pun hanyut, tidak dapat mempertahankan diri karena tidak ada lagi yang dapat diingatnya kecuali melaksanakan hasrat yang berkobar.

Mereka seperti dua orang kehausan di padang pasir, yang sudah hampir mati kehausan, lalu tiba-tiba mendapatkan air yang jernih dan sejuk. Mereka minum dan meneguk air sejuk itu tanpa mengenal puas, sampai akhirnya keduanya terhempas dan terengah-engah diatas pembaringan itu, lalu tertidur pulas seperti pingsan, tubuh penuh keringat.

Tak kurang dari tiga jam Siang Lee dan Lan Ci tidur tertelentang, sebelah menyebelah, tanpa pakaian sama sekali, tidur nyenyak seperti pingsan. Mereka sama sekali tidak tahu betapa ada byangan orang masuk dan melemparkan pakaian mereka keatas pembaringan dekat tubuh mereka, lalu bayangan itu menghilang lagi.

Mereka terbangun hampir berbarengan. Siang Lee yang lebih dulu bangun dan mengeluh karena kini dia merasa kepalanya pening, kepeningan yang menyakitkan, dan tubuhnya terasa lelah sekali. Keluhannya ini seperti menggugah Lan Ci dan gadis ini pun terbangun. Seperti Siang Lee, ia pun merasa pening dan matanya berkunang. Akan tetapi, mereka dapat mengetahui kehadiran masing-masing, dan ketika membuka mata melihat betapa mereka telanjang bulat, bersama berada di dalam pondok diatas senbuah pembaringan, keduanya terkejut bukan main.

Lan Ci mengeluarkan jeritan tertahan, seperti kilat cepatnya menyambar pakaiannya yang ada didekatnya dan menutupi dada dan pahanya, matanya mengeluarkan kilat yang menyambar kearah Siang Lee yang juga berusaha menutupi perutnya dengan pakaiannya. Keduanya saling pandang, terbelalak dan ketika Lan Ci melihat noda-noda merah diatas pembaringan, tahulah ia apa yang terjadi dengan dirinya.

Ia mengeluarkan jerit tertahan, dan tangannya menyambar kedepan, kearah kepala Siang Lee yang juga terkejut dan terheran setengah mati, sudah dapat melempar tubuh ke bawah pembaringan sambil membawa pakaiannya dan dengan beberapa loncatan dia sudah keluar dari pondok itu.

Dengan tergesa-gesa dia mengenakan pakaiannya, memeras otak untuk mengingat apa yang telah terjadi dengannya dan dengan gadis itu. Bagaimana mereka tahu-tahu berada di dalam pondok, diatas pembaringan dalam keadaan bugil dan telah terjadi hubungan diluar kesadaran mereka? Diapun samara-samar teringat betapa telah terjadi kemesraan antara dia dan Lan Ci, terjadi hubungan badan yang amat mesra dan semua kejadian itu seperti dalam mimpi saja.

“Wuuuuuutttttt…” Kini Lan Ci meloncat keluar, dalam keadaan sudah berpakaian. Kedua pipinya basah air mata dan mukanya pucat, matanya mencorong ketika ia memandang kepada Siang Lee. Lalu ia menuding pemuda itu dengan telunjuknya dan membentak.

“Jahanam, keparat engakau. Engkau... Engkau harus menebus dengan nyawamu!”

Akan tetapi Siang Lee sudah merenungkan peristiwa itu. Dia memang terkejut dan bhatinnya terguncang namun tidaklah sehebat guncangan bhatin yang diderita oleh Sim Lan Ci, maka pemuda ini dapat lebih dahulu menenangkan bhatinya dan dapat merenungkan dan mengingat-ingat peristiwa yang telah terjadi itu.

“Nanti dulu, nona. Harap nona suka bersabar dulu sebelum menyerang aku, dan marilah kita bicara dengan kepala dingin. Percayalah, aku bersumpah bahwa aku tidak melakukan seperti apa yang kau sangka. Kita sama-sama berada dalam keadaan tidak sadar dan seperti dalam mimpi kita bersama melakukan hal itu, kita telah masuk perangkap musuh, Nona.”

Lan Ci mengerutkan alisnya dan menghapus air mata dengan punggung tangan kirinya. “Apa… apa maksudmu…?” tanyanya, heran dan samar-samar ia teringat akan “mimpi” itu, betapa pemuda itu sama sekali tidak memperkosanya, melainkan betapa keduanya melakukan hubungan dengan mesra, dengan suka rela.

“Harap kau suka bersikap tenang, Nona. Sekali lagi, percayalah bahwa aku tidak melakukan hal keji seperti yang kau sangka. Nah, mari kita ingat-ingat, kita berdua telah roboh tertotok oleh musuh besar kita, Liu Bhok Ki? Kita tidak berdaya dan aku sudah menduga bahwa kita tentu akan dibunuh, setidaknya aku akan dibunuh, seperti yang terjadi pada tiga belas orang suheng-suhengku. Kemudian, ketika jahanam itu mengetuk leherku aku tidak ingat apa-apa lagi. Dan tahu-tahu aku terbangun, aku merasa seperti dalam mimpi, di dalam pondok diatas pembaringan itu, dalam keadaan… tanpa pakaian… Dan kau… pun disana… dalam keadaan yang sama lalu kita… kita… ah, seperti dalam mimpi saja, nona. Kemudian, tadi aku terbangun, sadar dan kepalaku pening dan… Kudapati engkau lalu engkau menyerangku! Nah, aku berani bersumpah bahwa seperti itulah kejadiannya...”