Social Items

LAKI-LAKI itu berusia kurang lebih lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan berotot, kokoh kekar membayangkan kekuatan yang hebat. Kepalanya seperti kepala harimau, rambutnya masih hitam kaku agak awut-awutan tersembul dari kain pengikat kepalanya. Mukanya jantan dan galak. Alis tebal hitam melindungi sepasang mata yang lebar dan tajam, bahkan kadang-kadang mencorong penuh wibawa.

Hidungnya besar mancung dengan lengkungan menonjol di tengah, mulutnya tertutup kumis yang dibiarkan tumbuh liar, dan dagu yang membayangkan kekerasan itu dihiasi jenggot pendek yang agaknya dipotong secara kasar. Andaikata dia merawat muka itu baik-baik, mudah dilihat bahwa wajah itu kelihatan menyeramkan. Pakaiannya sederhana dari kain yang kasar dan tebal kuat, biar sederhana sekali namun cukup bersih seperti juga rambut, jenggot dan kumisnya yang tidak terawat itu nampak bersih dan sering dicuci.

Dia duduk diatas sebuah bangku menghadapi meja, sedang makan. Keadaan dalam pondok itupun amat sederhana, seperti keadaan pemiliknya. Sebuah pondok kayu yang kecil saja, tidak memeliki kamar, dengan dua jendela di depan belakang, dan dua pintu di depan belakang pula. Di dalam pondok terbuka begitu saja dan agaknya dia tidur, makan dan melakukan segalanya di satu ruangan itu saja. Ruangan itu hanya diisi meja dan sebuah bangku, ada pula dipan kayu di sudut yang lain. Membayangkan kemiskinan, bukan sekedar kesederhanaan.

Di dalam pondok kayu beratap daun kering itu hanya mempunyai sebuah hiasan, atau mungkin juga tidak dimaksudkan sebagai hiasan. Di dekat dipan terdapat sebuah rak senjata dan nampak beberapa macam senjata disitu. Tombak, golok, ruyung yang kesemuanya mempunyai ukuran besar dan berat.

Di tengah-tengah pondok, kini persis didepan mukanya ketika dia duduk menghadapi meja tergantung sebuah benda yang akan membuat orang lain bergidik ngeri. Benda itu sebuah kepala! Kepala yang mongering, akan tetapi masih lengkap. Agaknya kepala itu direndam semacam obat yang membuat kepala itu tidak menjadi busuk. Masih dapat dilihat jelas bentuk muka itu.

Sebuah muka laki-laki yang masih muda, tidak lebih dari tahun usianya, tentu saja pucat seperti muka mayat, dengan mata terbuka tanpa sinar sama sekali, seperti mata boneka. Mulutnya juga agak terbuka menyeringai seperti orang ketakutan atau kesakitan. Kepala itu tergantung pada rambutnya yang hitam panjang seperti rambut wanita dan tentu saja amat mengerikan. Setiap ada angin bersilir masuk, kepala itu bergoyang-goyang seperti menengok ke kanan kiri, mencari sesuatu.

Sunyi saja di dalam pondok itu. Pria itu makan tanpa mengeluarkan bunyi. Melihat keadaan tubuhnya dan kesederhanaannya, sungguh mengherankan melihat cara dia makan. Biasanya, orang yang hidupnya sederhana dan kasar seperti itu, kalau makan mengeluarkan bunyi, seperti mengecap-ngecap makanan dalam mulut, menggerak-gerakkan sumpit di pinggiran mangkok.

Akan tetapi, orang ini makan seperti seorang terpelajar, orang yang biasa dengan aturan dan tatasusila. Mulutnya mengunyah makanan dengan bibir hampir terkatup, juga sepasang sumpitnya digerakkan dengan hati-hati sehingga tidak menimbulkan bunyi. Diatas meja itu terdapat dua piring masakan sayur dan daging, sederhana saja karena dimasaknya sendiri dan semangkok besar nasi.

Akan tetapi diatas meja dekat mangkok nasi itu terdapat sebuah botol besar dan kalau orang melihat botol besar ini, tentu dia akan menjadi terkejut, ngeri dan seram. Botol itu berisi anggur merah yang merendam sebuah Kepala pula.

Sebuah kepala seorang wanita. Masih nampak uth seolah-olah masih hidup. Kulit mukanya yang putih bersih, sebagian leher yang mulus, rambut yang halus hitam panjang itu sebagian berada di luar botol. Mata kepala wanita itupun terbuka, mulutnya sedikit terbuka memperlihatkan deretan gigi yang putih seperti mutiara. Namun bibir yang indah bentuknya itu tidak merah lagi, melainkan membiru, mengerikan!

Pria itu mengambil botol dengan tangan kiri, menuangkan anggur dari botol dengan hati-hati ke dalam sebuah cawan, sambil memandang muka kepala wanita itu, meletakkan kembali botol besar dengan muka itu menghadap padanya, dan dia pun tersenyum. Makin jelas nampak ketampanan wajah setengah tua itu ketika dia tersenyum. Lalu diminumnya anggur dalam cawan itu, matanya kini tetap memandang wajah kepala wanita dalam botol besar.

Ditaruhnya cawan kosong itu ke atas meja kembali. Dia sudah selesai makan dan kini duduk termenung, memandang wajah dalam botol, lalu terdengar dia bicara lirih seperti kepada diri sendiri, akan tetapi jelas ditujukan kepada wajah dalam botol itu.

“Hui Cu, pagi ini kau nampak semakin cantik saja! Ah, engkau mengingatkan aku akan malam pengantin kita… ah, betapa mesranya, betapa hangatnya, betapa manisnya…”

Dia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya kembali dan memandang wajah kepala wanita itu, jari tangannya bergerak mengelus rambut yang terjurai keluar dari botol dengan gerakan tangan mesra.

“Ketika itu engkau berusia delapan belas tahun, dan aku dua puluh lima tahun. Kita saling bersumpah untuk saling mencinta sampai mati dan kita saling curahkan cinta kita. Betapa mesranya, Hui Cu. Kemudian setiap malam, ya… hampir setiap malam, kita bermalam pengantin seperti itu. Aku semakin mencintaimu, aku tergila-gila kepadamu, akan tetapi… baru setahun, engkau mulai berubah…”

Tiba-tiba dia menyambar sepasang sumpit didepannya, tubuhnya tak bergerak dan matanya setengah terpejam. Dia memusatkan perhatiannya kepada pendengarannya karena telinganya yang terlatih menangkap suara yang tidak wajar. Lalu dia bersikap biasa kembali, hanya saja tangan kanannya masih memegangi sepasang sumpit. Dan dia sudah melanjutkan “pembicaraannya” kepada wajah wanita dalam botol.

Dan ketika dia datang…” Dia menengok kearah kepala yang tergantung ke tengah ruangan dan yang kini kebetulan berputar menghadap padanya dan agaknya menyeringai lebih lebar dari biasanya,

“…dia si mulut manis, si perayu besar, sahabatku yang tadinya amat kusayang, sahabat yang ternyata berkhianat dan palsu, engkau pun jatuh! Ternyata engkau lebih menyukai sikap yang bermanis muka, rayuan-rayuan sikap gombal daripada sikapku yang selalu terbuka dan jujur. Bahkan, ketika aku mencoba kalian, sengaja aku berpamit pergi untuk suatu keperluan, kalian sudah berani mengkhianatiku, berzina didalam kamar kita, diatas ranjang pengantin kita. Aku menahan kemarahan, menantang Kun Tian keluar, untuk bertanding sebagai dua orang laki-laki, memperebutkan engkau…”

Tiba-tiba nampak sinar kecil berkelebat kearah pria itu. Dengan sikap tenang sekali, pria itu menggerakkan tangan kanannya dan dilain saat sepasang sumpit itu telah menangkap atau menjepit sebatang senjata piauw beronce merah yang ujungnya menghitam dan berbau amis, tanda bahwa piauw itu beracun. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, pria itu kini melanjutkan kata-katanya yang ditujukan kepada wajah kepala wanita dalam botol.

“Engkau menjadi saksi perkelahian kita yang adil. Aku berhasil merobohkannya, akan tetapi betapa sakitnya hatiku melihat engkau menubruk mayatnya dan menangisinya. Engkau terang-terangan lebih memberatkan dia daripada aku, suamimu yang sah. Hal ini tak dapat kutahan lagi, Hui Cu. Aku memenggal lehermu, juga leher Kun Tian. Aku terlalu cinta padamu, biarlah kepalamu selamanya dekat dengan aku, biarlah setiap hari aku minum anggur yang merendam kepalamu, dan biarlah kepala dia melihatnya dan merasa iri. Ha-ha-ha!” tiba-tiba saja pria itu tertawa bergelak, seperti orang mabuk dan kini dia memandang kepada muka kepala laki-laki yang tergantung di tengah ruangan.

Akan tetapi, kalau mulutnya terbuka lebar tertawa bergelak, sepasang mata pria itu basah oleh air mata. Dia menangis sambil tertawa, tanpa terisak. Sungguh dapat dibayangkan betapa besar penderitaan batin pria ini, yang belum dapat melupakan peristiwa yang terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Dan agaknya, bukan dia saja yang tidak melupakan peristiwa itu. Pihak lawannya, yang kepalanya kini tergantung ditengah ruangan pondoknya, agaknya juga tidak melupakannya.

Orang yang bernama Coa Kun Tian itu adalah putera ketua perkumpulan Hek-Houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam), sebuah perkumpulan yang amat terkenal disepanjang lembah Sungai Kuning. Putera ketua Hek-houw-pang ini adalah seorang pemuda berilmu tinggi yang tampan dan gagah menjadi kebanggan perkumpulan Hek-houw-pang yang memang terdiri dari orang-orang gagah.

Hanya sayang sekali, ketampanan wajah dan kegagahan Coa Kun Tian ini dinodai oleh wataknya yang mata keranjang dan hidung belang. Dia mudah jatuh kalau berhadapan dengan wanita cantik, dan sekali tertarik, dia suka mata gelap dan berusaha merayu sedapatnya untuk merayu wanita itu, tidak peduli wanita itu sudah ada yang punya ataukah belum.

Dan biasanya, karena dia gagah dan tampan, pandai merayu, maka jarang ada rayuan-rayuannya yang gagal. Jarang ada wanita yang mampu menolak rayuannya. Demikian pula Phang Hui Cu, isteri pria tinggi besar yang berada di pondok itu, ia jatuh menghadapi rayuan dan ketampanan Coa Kun Tian sehingga dengan penuh gairah melayani hasrat laki-laki itu dan mereka berzina didalam rumah dan kamar suami Hui Cu.

Setelah Coa Kun Tian tewas, gegerlah perkumpulan Hek-Houw-pang. Apalagi setelah mendengar bahwa putera ketua itu tewas di tangan Liu Bhok Ki, seorang pendekar yang menjadi sahabat baik Coa Kun Tian, bahkan menjadi orang yang dihormati oleh Hek-houw-pang! Hek-houw-pang yang dipimpin ketuanya, tidak tinggal diam saja. Coa Liong, ketua Hek-houw-pang tidak membiarkan puteranya terbunuh tanpa dibalas. Dia lalu mencari Liu Bhok Ki, pendekar yang tadinya menjadi sahabatnya dan sahabat puteranya. Terjadi perkelahian mati-matian dan akhirnya, para anak buah Hek-houw-pang terpaksa membawa pulang jenazah ketua mereka dengan hati penuh duka.

Liu Bhok Ki sendiri hancur hatinya semenjak peristiwa yang menimpa keluarganyaa. Hatinya remuk, kebahaagiaan hidupnya lenyap dan dia hidup seperti seorang setengah gila, mengasingkan diri di Kui-san (Bukit Setan) yang berada di Lembah Sungai Huang-ho yang paling sunyi. Disini dia mendirikan pondok tinggal di situ bersama dua buah kepala.

Yang sebuah adalah kepala Coa Kun Tian dan setelah direndamnya dengan ramuan yang membuat kepala itu tak dapat membusuk, bahkan kini mengering seperti kayu, dan digantungnya di tengah pondok. Yang kedua adalah kepala isterinya Phang Hui Cu yang cantik jelita, yang direndamnya dalam anggur di botol besar dan kedua kepala inilah yang selalu menemaninya di dalam pondok sunyi itu.

Selama dua puluh tahun lebih ini, pihak Hek-Houw-pang tidak pernah diam untuk berusaha membalas dendam. Sudah puluhan kali, bahkan hampir setiap tahun ada saja dari pihak Hek-Houw-pang yang mencari Liu Bhok Ki untuk membalas dendam. Namun, selama ini belum pernah ada yang berhasil. Bahkan sebaliknya, ada saja pihak Hek-Houw-pang yang roboh dan tewas.

Oleh karena itu, dendam Hek-Houw-pang terhadap Liu Bhok Ki menjadi semakin berlarut, semakin mendalam. Hal ini sebenarnya membuat Liu Bhok Ki merasa sedih juga. Akan tetapi apa hendak dikata, keadaan sudah seperti itu. Dia tidak mungkin mundur kembali, dan dia selalu siap membela diri kalau tiba serangan dari pihak Hek-Houw-pang.

Bahkan pada pagi hari itu, selagi dia makan, datang serangan gelap dalam bentuk sebatang piauw yang dapat ditangkapnya dengan sepasang sumpitnya. Cara menghadapi serangan gelap senjata piauw beracun itu saja sudah menunjukkan betapa lihaynya pria setengah tua tinggi besar ini. Memang sejak kecil dia suka mempelajari ilmu silat dan namanya pernah besar sebagai seorang pendekar yang selalu menentang para penjahat di sepanjang sungai Huang-ho.

Akan tetapi, semenjak peristiwa menyedihkan itu, dimana dia terpaksa membunuh isteri tercinta dan sahabatnya terbaik, namanya lenyap dari dunia kangouw dan dia mengasingkan diri di pondok itu. Hanya kadang-kadang saja dia pergi ke dusun terdekat untuk membeli kebutuhan sehari-hari, ditukar dengan hasil dia bercocok tanam atau mencari ikan di sungai Huang-ho yang berada di dekat pondoknya.

Peristiwa itu sungguh menghancurkan kehidupannya. Dia seolah-olah telah mati, dan selalu terancam bahaya oleh pihak Hek-Houw-pang. Maklum bahwa para musuhnya itu takkan pernah berhenti berusaha untuk membalas dendam, diapun tidak tinggal diam dan setiap hari, kalau tidak bekerja, Liu Bhok Ki melatih diri, memperdalam ilmu-ilmunya, bahkan dengan bakat dan kecerdikannya, dia telah menciptakan beberapa macam ilmu silat yang hebat. Kini, dalam usia kurang lebih lima puluh tahun, dia memiliki ilmu kepandaian yng hebat, dan jarang ada orang yang akan mampu menandinginya.

Kini Liu Bhok Ki sudah tidak “berbicara” lagi dengan wajah kepala wanita di dalam botol, melainkan duduk termenung memandangi piauw yang tadi ditangkap sepasang sumpitnya dan kini dia letakkan diatas meja didepannya. Sebatang piauw yang bentuknya segi tiga dan diujung belakangnya dihiasi ronce-ronce merah. Piauw ini kecil dan ringan sekali, akan tetapi runcing dan mengandung racun yang amat berbahaya, hal ini dapat dikenalnya dari baunya yang amis seperti bau ular.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Dan melihat bentuk piauw yang kecil ringan itu, apalagi melihat hiasan ronce merah, Liu Bhok Ki dapat menduga bahwa yang mempergunakannya patutnya seorang wanita. Sepasang alisnya berkerut. Selama dua puluh tahun lebih ini, belum pernah Hek-Houw-pang mengirim seorang murid wanita untuk mencoba membunuhnya. Rasa gatal pada tangan kanannya membuat dia tiba-tiba seperti orang terkejut dan cepat dia memeriksa tangan kanannya, matanya terbelalak melihat betapa ada tanda menghitam pada dua jarinya, di permukaan telunjuk dari jari tengah.

“Ahhh…” serunya perlahan dan cepat mengambil sebuah buntalan yang tergantung pada rak senjata. “Sungguh tolol, memandang rendah lawan!” gumamnya sambil membuka buntalan dan dia mengeluarkan sebuah bungkusan kuning.

Dibukanya bungkusan itu dan ditaburkan sedikit bubukan merah pada noda hitam di kedua permukaan jari tangan, digosok-gosoknya dan noda itupun lenyap, rasa gatalnya lenyap. Bubuk merah itu adalah obat manjur sekali untuk melawan racun. Kiranya, penyerang dengan piauw tadi agaknya sengaja melontarkan piauw secara perlahan saja agar dia dengan mudah dapat menangkapnya dengan tangan atau sumpit.

Dan biarpun ditangkap dengan sumpit, namun agaknya ada bubuk atau hawa beracun dari piauw itu yang mengenai jari tangannya seolah-olah racun itu mampu menjalar melalui sumpit, mengenai dua jari tangan yang kalau tidak cepat diobati akan berbahaya sekali baginya, dapat membuatnya mati konyol! Kini tahulah dia bahwa pelempar piauw itu merupakan seorang lawan tangguh yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan!

Pada saat itu, muncullah belasan orang di depan pintu pondok. Mereka itu rata-rata berusia empat puluh tahun, mengiringkan seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun. Pemuda ini berwajah tampan dan begitu melihat wajah pemuda itu, Liu Bhok Ki merasa jantungnya berdebar tegang. Wajah itu! Persis wajah pria yang telah menggoda dan menggauli isterinya. Persis wajah Coa Kun Tian yang kepalanya kini tergantung di tengah ruangan pondok.

Pemuda itu kini berdiri memandang kepada kepala kering yang tergantung itu, kepala yang bergoyang dan berputar. Ketika kepala itu menghadap keluar kepadanya, tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut.

“Ayah…!” Dan diapun sambil berlutut memberi hormat delapan kali kearah kepala yang tergantung itu.

Sejak tadi Liu Bhok Ki sudah bangkit berdiri dan dia memandang bengong kepada pemuda itu. Putera Coa Kun Tian? rasanya tidak mungkin! Bukankah Kun Tian ketika menzinai isterinya dahulu itu belum menikah? Dia tahu benar akan hal ini karena dia bersahabat karib dengan Kun Tian dan dia mengenal betul keluarga ketua Hek-Houw-pang.

Bagaimana kini muncul seorang pemuda yang menyebut ayah kepada mendiang Coa Kun Tian? Akan tetapi, kalau bukan puteranya, lalu siapa dan mengapa mengaku anak? Dan wajah itu! Dia tidak akan meragukan bahwa itu adalah wajah Kun Tian, dan patut dipercaya bahwa pemuda ini memang putera bekas sahabat yang dibunuhnya itu.

Setelah memberi hormat kepada kepala yang terayun-ayun itu, si pemuda yang tampan berpakaian seba putih itu bangkit berdiri memandang kepada Liu Bhok Ki dengan sinar mata penuh kemarahan dan dendam. Pandang mata seperti ini sudah biasa dirasakan oleh Bhok Ki dari para anggota Hek-Houw-pang, maka diapun balas memandang dengan sikap tenang saja.

Pemuda itu melangkah mundur, dan para anggota Hek-Houw-pang yang berada dibelakangnya juga ikut mundur. Sambil melangkah mundur tanpa melepaskan pandang matanya dari laki-laki setengah tua di dalam pondok itu, si pemuda lalu berkata, suaranya halus walaupun mengandung kemarahan yang ditahannya.

“Liu Bhok Ki, keluarlah dan mari kita selesaikan perhitungan yang telah terpendam lama sekali ini!”

Liu Bhok Ki melangkah maju, mulutnya tersenyum dan ketika dia berada diluar pondok, di udara terbuka, dia lalu tertawa bergelak. Tubuhnya terguncang-guncang dan wajahnya dilempar ke belakang, menengadah, seolah-olah dia tertawa kepada langit diatas. “Ha-ha-ha!” Lalu dia menunduk dan menatap pemuda didepannya itu penuh perhatian.

“Orang muda, engkau telah mengenal namaku, akan tetapi aku belum mengenalmu. Biasanya, tidak pernah aku menanyakan nama orang-orang Hek-Houw-pang yang datang dengan maksud membunuh aku. Entah sudah berapa banyak, mungkin lebih dari enam puluh orang Hek-Houw-pang yang tewas dalam usaha mereka membunuhku. Akan tetapi engkau lain. Sikapmu menarik hatiku, terutama ketika engkau tadi berlutut dan menyebut ayah kepada Coa Kun Tian. Benarkah engkau putera Kun Tian dan siapa namamu?”

Sikap pemuda itu tenang dan cukup gagah, nampak ketabahan luar biasa pada sinar matanya. “Namaku Coa Siang Lee dan memang mendiang Coa Kun Tian adalah ayah kandungku. Sebagai putera kandungnya, tentu engkau cukup maklum apa yang menjadi maksud kunjunganku ini. Bersiaplah untuk mengadu nyawa denganku, Liu Bhok Ki!”

Liu Bhok Ki memandang ragu dan penuh selidik. Biarpun wajah pemuda pakaian putih itu memang serupa dengan mendiang Kun Tian, akan tetap bagaimana mungkin Kun Tian yang masih belum menikah itu kini tiba-tiba mempunyai anak?

“Hemmmm, ketahuilah bahwa Kun Tian tadinya adalah sahabat karibku dan aku tahu benar bahwa dia belum pernah menikah. Bagaimana kini tiba-tiba saja muncul engkau yang mengaku sebagai puteranya?”

Mendengar ucapan ini, wajah yang tampan itu berubah merah, dan tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang, yang dapat dikenal dengan lukisan harimau hitam kecil di dada sebelah kiri baju mereka, saling pandang dan merekapun kelihatan rikuh. Memang, pemuda bernama Coa Siang Lee ini adalah keturunan aseli dari Coa Kun Tian, putera kandung yang kini menjadi jago mereka yang diharapkan, akan mampu menandingi dan merobohkan musuh besar mereka. Akan tetapi kelahiran Coa Siang Lee ini tidak sah, karena ibunya mengandung sebagai hasil hubungan gelap dengan mendiang Coa Kun Tian. Setelah Kun Tian meninggal barulah diketahui bahwa gadis yang digaulinya itu telah mengandung!

“Liu Bhok Ki, aku datang bukan untuk menceritakan riwayatku kepadamu. Bagaimana duduknya perkara aku menjadi putera ayahku, bukan urusanmu. Cukup kau ketahui bahwa aku adalah putera kandungnya dan aku datang untuk menuntut balas atas kematian ayahku di tanganmu!”

Liu Bhok ki menarik napas panjang. Dia tidak pernah merasa gembira, setiap kali diserbu orang-orang Hek-Houw-pang. Dia melayani mereka hanya karena terpaksa, untuk membela diri dank arena mereka itu selalu menyerangnya mati-matian maka tidak dapat dihindarkan lagi setiap kali jatuh korban diantara mereka.

Apalagi kini yang maju adalah putera kandung Coa Kun Tian. Sebetulnya, dia dahulu amat sayang kepada shabatnya itu. Bahkan sekarangpun, setiap kali memandang wajah kepala sahabatnya itu, timbul rasa sayang, akan tetapi perasaan itu selalu diusirnya dengan membayangkan kembali perbuatan sahabatnya itu dengan isterinya yang membuat hatinya menjadi panas kembali. Tentu saja dia tidak membenci putera Kun Tian yang wajahnya tampan mirip sekali ayahnya itu.

“Coa Siang Lee, tahukah engkau mengapa ayahmu sampai tewas di tanganku?” tanyanya, dan para anggota Hek-Houw-pang mendengar betapa dalam suara itu terdapat keraguan, agaknya si jago tua yang menggiriskan itu merasa gentar menghadapi jago muda mereka yang kelihatan amat tabah dan gagah itu.

“Aku tidak perduli! Yang jelas, engkau telah membunuh ayahku, bahkan telah berbuat sedemikian keji dan kejam, menyiksa dan mempermainkan kepala ayahku seperti itu. Sungguh perbuatan yang terkutuk! Pendeknya, aku datang untuk menuntut balas kepadamu, sebagai amal bakti kepada ayah kandungku! Aku akan membunuhmu dan membawa pulang kepala ayahku itu untuk dimakamkan dengan baik dan terhormat.”

Liu Bhok Ki kembali menarik napas panjang sehingga mengherankan para anggota Hek-Houw-pang. Mereka pernah beberapa kali ikut menyerbu musuh besar itu dalam belum pernah mereka melihat Liu Bhok Ki meragu seperti sekarang ini.

“Orang muda, kalau engkau hendak berbakti kepada ayahmu, semestinya engkau bukan datang kesini dan ingin membunuhku. Seharusnya engkau membuat jasa-jasa baik, melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menebus dosa-dosa ayahmu itu agar hukumannya lebih ringan di neraka sana.”

Pemuda itu mengerutkan alisnya dan kini suaranya meninggi, tanda bahwa dia marah sekali. “Liu Bhok Ki, tidak perlu engkau menasehati aku dan memburuk-burukkan ayahku! Tengok dirimu sendiri! Aku sudah tahu bahwa engkau membunuh ayahku karena ayahku bermain cinta dengan isterimu. Bukankah begitu? Kalau benar demikian, engkaulah yang tidak tahu malu! Seharusnya engkau tahu bahwa kalau isterimu suka kepada pria lain, itu berarti bahwa ia tidak cinta lagi kepadamu, bahwa pria yang dipilihnya itu lebih baik dari padamu! Mendiang ayahku tidak memperkosa dan kalau dia tidak dilayani dengan senang hati oleh isterimu tentu tidak akan terjadi hubungan itu! Sepatutnya engkau bercermin diri dan kalau benar laki-laki, harus tahu diri ditolak isteri sendiri yang memilih pria lain! Huh, sungguh tak tahu malu!”

Wajah Liu Bhok Ki berubah merah sekali, lalu pucat dan merah kembali. Ucapan pemuda itu sungguh merupakan mata pedang yang tajam meruncing menusuk perasaan hatinya. Dia melihat kebenarannya, akan tetapi juga menjadi marah karena pemuda itu menghinanya.

Memang sesungguhnya, apa gunanya dia dulu menjadi seperti gila karena cemburu? Cinta antara pria dan wanita tidak mungkin hanya bertepuk sebelah tangan. Kalau isterinya sudah tidak cinta kepadanya, dengan bukti bahwa ia menyerahkan diri kepada pria lain, tidak ada gunanya walaupun dipaksa juga.

Akan tetapi, bantah suara dikepalanya. Mereka telah menghinaku, menodai nama dan kehormatanku! Sudah sepatutnya mereka dibunuh, dihukum, bahkan hukuman yang dia berikan masih kurang memadai, masih kurang berat dibandingkan dengan penghinaan yang dia derita.

“Coa Siang Lee, sudah menjadi hakmu untuk membela ayahmu walaupun dalam pembelaanmu itu engkau seperti buta tidak melihat kejahatan ayahmu yang menghancurkan ketentraman rumah tanggaku, menghancurkan kebahagiaan hidupku, mendatangkan aib dan penghinaan kepadaku. Akan tetapi aku pun berhak mempertahankan kehormatanku di waktu itu dan sekarang akupun berhak untuk membela diri kalau ada yang mengncam keselamatan diriku. Nah, sekarang engkau mau apa.”

Pertanyaan ini mengandung tantangan. Kedua tangan pemuda itu bergerak dan nampak dua sinar terang berkelebat ketika dia mencabut Siang-kiam (Sepasang pedang) yang tadi tergantung di punggungnya. Dia menyilangkan kedua pedang di depan dada, matanya mencorong memandang kearah Liu Bhok Ki.

“Liu Bhok Ki, bersiaplah engkau untuk mati di ujung pedangku!” bentak pemuda itu dan tiba-tiba saja pedangnya mencuat berubah menjadi sinar terang menusuk kearah dada pria setengah tua itu.

Liu bhok ki bersikap tenang saja. Dengan gerakan mantap dia mengelak ke bukan belakang melainkan kesamping bahkan memajukan kakinya dan tangan kirinya menampar dari samping kearah kepala lawan. Ketika Coa Siang Lee merasa betapa ada angin pukulan yang amat kuat mendahului tangan lawan, cepat dia menggerakkan pedang kedua di tangan kanan untuk menangkis dan sekalian membabat lengan lawan.

Liu Bhok Ki menarik kembali tangannya dan kini kakinya menendang dengan tendangan kilat kedepan. Tendangan ini mengandung tenaga sakti yang amat kuat dan diapun terpaksa meloncat kebelakang sambil memutar kedua pedang melindungi dirinya. Liu Bhok Ki tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk menyusun serangan baru. Dia cepat melangkah maju dan menyusulkan serangan bertubi-tubi dengan kedua tangan dan kakinya.

Pemuda itu semakin kaget dan diapun mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak kesana-sini dan kadang-kadang menggunakan kedua pedangnya untuk membendung banjir serangan lawan itu. Dia terdesak hebat.

Melihat betapa jago muda mereka terdesak walaupun mempergunakan sepasang pedang sedangkan Liu Bhok Ki bertangan kosong, tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang tingkat tinggi itu lalu menyerbu dan mengepung Liu Bhok Ki. Itulah Cap-sha-tin (Barisan Tiga Belas) yang diciptakan oleh perguruan Hek-Houw-pang dan dilatih selama setahun ini untuk dipergunakan menghadapi Liu Bhok Ki. Tadinya, mereka mengharapkan Sian Lee akan mampu menandingi musuh besar itu.

Coa Siang Lee memang putera kandung mendiang Coa Kun Tian. Kun Tian ketika masih hidup terkenal sebagai seorang laki-laki perayu wanita. Banyak sudah korban berjatuhan akibat rayuannya. Akan tetapi hanya ada seorang gadis yang mengandung akibat perbuatannya itu dan kemudian lahirlah Coa Siang Lee. Gadis itu menghadap ketua Hek-Houw-pang setelah mendengar akan kematian Coa Kun Tian, membawa anak laki-laki itu.

Coa Siong, pangcu (ketua) Hek-Houw-pang menerima cucunya yang tidak sah itu dan Coa Siang Lee lalu digembleng, bukan hanya oleh kakeknya, bahkan oleh kakeknya dikirim kepada beberapa sahabat, tokoh-toh kangouw yang lihai, untuk memperdalam ilmu silatnya. Kini, dalam usia dua puluh dua tahun lebih, Siang Lee pulang dan telah memiliki tingkat kepandaian yang melebihi tingkat kakeknya sendiri. Dia memang sejak kecil sudah mendengar kisah kematian ayahnya. Maka dia lalu dijadikan jago Hek-Houw-pang dan diharapkan akan dapat membalas dendam kepada musuh besar itu.

Cap-sha-tin dari Hek-Houw-pang segera maju setelah melihat kenyataan betapa Siang Lee terdesak oleh Liu Bhok Kid an kini barisan itu mengepung pria tinggi besar yang gagah perkasa itu dan pedang mereka menyerang secara bertubi-tubi dan teratur sekali.

Setiap kali Liu Bhok Ki mengelak dari suatu sambaran pedang, sudah ada pedang lain yang menyambutnya dengan tusukan atau bacokan. Semua bergerak secara otomatis dan kemana pun dia mengelak, selalu disambut serangan pedang lain. Dan setiap kali dia hendak membalas, sudah ada dua tiga batang pedang lain menyerangnya dari kanan kiri dan belakang, membuat dia sama sekali tidak sempat untuk balas menyerang lawan...!

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 01

LAKI-LAKI itu berusia kurang lebih lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan berotot, kokoh kekar membayangkan kekuatan yang hebat. Kepalanya seperti kepala harimau, rambutnya masih hitam kaku agak awut-awutan tersembul dari kain pengikat kepalanya. Mukanya jantan dan galak. Alis tebal hitam melindungi sepasang mata yang lebar dan tajam, bahkan kadang-kadang mencorong penuh wibawa.

Hidungnya besar mancung dengan lengkungan menonjol di tengah, mulutnya tertutup kumis yang dibiarkan tumbuh liar, dan dagu yang membayangkan kekerasan itu dihiasi jenggot pendek yang agaknya dipotong secara kasar. Andaikata dia merawat muka itu baik-baik, mudah dilihat bahwa wajah itu kelihatan menyeramkan. Pakaiannya sederhana dari kain yang kasar dan tebal kuat, biar sederhana sekali namun cukup bersih seperti juga rambut, jenggot dan kumisnya yang tidak terawat itu nampak bersih dan sering dicuci.

Dia duduk diatas sebuah bangku menghadapi meja, sedang makan. Keadaan dalam pondok itupun amat sederhana, seperti keadaan pemiliknya. Sebuah pondok kayu yang kecil saja, tidak memeliki kamar, dengan dua jendela di depan belakang, dan dua pintu di depan belakang pula. Di dalam pondok terbuka begitu saja dan agaknya dia tidur, makan dan melakukan segalanya di satu ruangan itu saja. Ruangan itu hanya diisi meja dan sebuah bangku, ada pula dipan kayu di sudut yang lain. Membayangkan kemiskinan, bukan sekedar kesederhanaan.

Di dalam pondok kayu beratap daun kering itu hanya mempunyai sebuah hiasan, atau mungkin juga tidak dimaksudkan sebagai hiasan. Di dekat dipan terdapat sebuah rak senjata dan nampak beberapa macam senjata disitu. Tombak, golok, ruyung yang kesemuanya mempunyai ukuran besar dan berat.

Di tengah-tengah pondok, kini persis didepan mukanya ketika dia duduk menghadapi meja tergantung sebuah benda yang akan membuat orang lain bergidik ngeri. Benda itu sebuah kepala! Kepala yang mongering, akan tetapi masih lengkap. Agaknya kepala itu direndam semacam obat yang membuat kepala itu tidak menjadi busuk. Masih dapat dilihat jelas bentuk muka itu.

Sebuah muka laki-laki yang masih muda, tidak lebih dari tahun usianya, tentu saja pucat seperti muka mayat, dengan mata terbuka tanpa sinar sama sekali, seperti mata boneka. Mulutnya juga agak terbuka menyeringai seperti orang ketakutan atau kesakitan. Kepala itu tergantung pada rambutnya yang hitam panjang seperti rambut wanita dan tentu saja amat mengerikan. Setiap ada angin bersilir masuk, kepala itu bergoyang-goyang seperti menengok ke kanan kiri, mencari sesuatu.

Sunyi saja di dalam pondok itu. Pria itu makan tanpa mengeluarkan bunyi. Melihat keadaan tubuhnya dan kesederhanaannya, sungguh mengherankan melihat cara dia makan. Biasanya, orang yang hidupnya sederhana dan kasar seperti itu, kalau makan mengeluarkan bunyi, seperti mengecap-ngecap makanan dalam mulut, menggerak-gerakkan sumpit di pinggiran mangkok.

Akan tetapi, orang ini makan seperti seorang terpelajar, orang yang biasa dengan aturan dan tatasusila. Mulutnya mengunyah makanan dengan bibir hampir terkatup, juga sepasang sumpitnya digerakkan dengan hati-hati sehingga tidak menimbulkan bunyi. Diatas meja itu terdapat dua piring masakan sayur dan daging, sederhana saja karena dimasaknya sendiri dan semangkok besar nasi.

Akan tetapi diatas meja dekat mangkok nasi itu terdapat sebuah botol besar dan kalau orang melihat botol besar ini, tentu dia akan menjadi terkejut, ngeri dan seram. Botol itu berisi anggur merah yang merendam sebuah Kepala pula.

Sebuah kepala seorang wanita. Masih nampak uth seolah-olah masih hidup. Kulit mukanya yang putih bersih, sebagian leher yang mulus, rambut yang halus hitam panjang itu sebagian berada di luar botol. Mata kepala wanita itupun terbuka, mulutnya sedikit terbuka memperlihatkan deretan gigi yang putih seperti mutiara. Namun bibir yang indah bentuknya itu tidak merah lagi, melainkan membiru, mengerikan!

Pria itu mengambil botol dengan tangan kiri, menuangkan anggur dari botol dengan hati-hati ke dalam sebuah cawan, sambil memandang muka kepala wanita itu, meletakkan kembali botol besar dengan muka itu menghadap padanya, dan dia pun tersenyum. Makin jelas nampak ketampanan wajah setengah tua itu ketika dia tersenyum. Lalu diminumnya anggur dalam cawan itu, matanya kini tetap memandang wajah kepala wanita dalam botol besar.

Ditaruhnya cawan kosong itu ke atas meja kembali. Dia sudah selesai makan dan kini duduk termenung, memandang wajah dalam botol, lalu terdengar dia bicara lirih seperti kepada diri sendiri, akan tetapi jelas ditujukan kepada wajah dalam botol itu.

“Hui Cu, pagi ini kau nampak semakin cantik saja! Ah, engkau mengingatkan aku akan malam pengantin kita… ah, betapa mesranya, betapa hangatnya, betapa manisnya…”

Dia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya kembali dan memandang wajah kepala wanita itu, jari tangannya bergerak mengelus rambut yang terjurai keluar dari botol dengan gerakan tangan mesra.

“Ketika itu engkau berusia delapan belas tahun, dan aku dua puluh lima tahun. Kita saling bersumpah untuk saling mencinta sampai mati dan kita saling curahkan cinta kita. Betapa mesranya, Hui Cu. Kemudian setiap malam, ya… hampir setiap malam, kita bermalam pengantin seperti itu. Aku semakin mencintaimu, aku tergila-gila kepadamu, akan tetapi… baru setahun, engkau mulai berubah…”

Tiba-tiba dia menyambar sepasang sumpit didepannya, tubuhnya tak bergerak dan matanya setengah terpejam. Dia memusatkan perhatiannya kepada pendengarannya karena telinganya yang terlatih menangkap suara yang tidak wajar. Lalu dia bersikap biasa kembali, hanya saja tangan kanannya masih memegangi sepasang sumpit. Dan dia sudah melanjutkan “pembicaraannya” kepada wajah wanita dalam botol.

Dan ketika dia datang…” Dia menengok kearah kepala yang tergantung ke tengah ruangan dan yang kini kebetulan berputar menghadap padanya dan agaknya menyeringai lebih lebar dari biasanya,

“…dia si mulut manis, si perayu besar, sahabatku yang tadinya amat kusayang, sahabat yang ternyata berkhianat dan palsu, engkau pun jatuh! Ternyata engkau lebih menyukai sikap yang bermanis muka, rayuan-rayuan sikap gombal daripada sikapku yang selalu terbuka dan jujur. Bahkan, ketika aku mencoba kalian, sengaja aku berpamit pergi untuk suatu keperluan, kalian sudah berani mengkhianatiku, berzina didalam kamar kita, diatas ranjang pengantin kita. Aku menahan kemarahan, menantang Kun Tian keluar, untuk bertanding sebagai dua orang laki-laki, memperebutkan engkau…”

Tiba-tiba nampak sinar kecil berkelebat kearah pria itu. Dengan sikap tenang sekali, pria itu menggerakkan tangan kanannya dan dilain saat sepasang sumpit itu telah menangkap atau menjepit sebatang senjata piauw beronce merah yang ujungnya menghitam dan berbau amis, tanda bahwa piauw itu beracun. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, pria itu kini melanjutkan kata-katanya yang ditujukan kepada wajah kepala wanita dalam botol.

“Engkau menjadi saksi perkelahian kita yang adil. Aku berhasil merobohkannya, akan tetapi betapa sakitnya hatiku melihat engkau menubruk mayatnya dan menangisinya. Engkau terang-terangan lebih memberatkan dia daripada aku, suamimu yang sah. Hal ini tak dapat kutahan lagi, Hui Cu. Aku memenggal lehermu, juga leher Kun Tian. Aku terlalu cinta padamu, biarlah kepalamu selamanya dekat dengan aku, biarlah setiap hari aku minum anggur yang merendam kepalamu, dan biarlah kepala dia melihatnya dan merasa iri. Ha-ha-ha!” tiba-tiba saja pria itu tertawa bergelak, seperti orang mabuk dan kini dia memandang kepada muka kepala laki-laki yang tergantung di tengah ruangan.

Akan tetapi, kalau mulutnya terbuka lebar tertawa bergelak, sepasang mata pria itu basah oleh air mata. Dia menangis sambil tertawa, tanpa terisak. Sungguh dapat dibayangkan betapa besar penderitaan batin pria ini, yang belum dapat melupakan peristiwa yang terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Dan agaknya, bukan dia saja yang tidak melupakan peristiwa itu. Pihak lawannya, yang kepalanya kini tergantung ditengah ruangan pondoknya, agaknya juga tidak melupakannya.

Orang yang bernama Coa Kun Tian itu adalah putera ketua perkumpulan Hek-Houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam), sebuah perkumpulan yang amat terkenal disepanjang lembah Sungai Kuning. Putera ketua Hek-houw-pang ini adalah seorang pemuda berilmu tinggi yang tampan dan gagah menjadi kebanggan perkumpulan Hek-houw-pang yang memang terdiri dari orang-orang gagah.

Hanya sayang sekali, ketampanan wajah dan kegagahan Coa Kun Tian ini dinodai oleh wataknya yang mata keranjang dan hidung belang. Dia mudah jatuh kalau berhadapan dengan wanita cantik, dan sekali tertarik, dia suka mata gelap dan berusaha merayu sedapatnya untuk merayu wanita itu, tidak peduli wanita itu sudah ada yang punya ataukah belum.

Dan biasanya, karena dia gagah dan tampan, pandai merayu, maka jarang ada rayuan-rayuannya yang gagal. Jarang ada wanita yang mampu menolak rayuannya. Demikian pula Phang Hui Cu, isteri pria tinggi besar yang berada di pondok itu, ia jatuh menghadapi rayuan dan ketampanan Coa Kun Tian sehingga dengan penuh gairah melayani hasrat laki-laki itu dan mereka berzina didalam rumah dan kamar suami Hui Cu.

Setelah Coa Kun Tian tewas, gegerlah perkumpulan Hek-Houw-pang. Apalagi setelah mendengar bahwa putera ketua itu tewas di tangan Liu Bhok Ki, seorang pendekar yang menjadi sahabat baik Coa Kun Tian, bahkan menjadi orang yang dihormati oleh Hek-houw-pang! Hek-houw-pang yang dipimpin ketuanya, tidak tinggal diam saja. Coa Liong, ketua Hek-houw-pang tidak membiarkan puteranya terbunuh tanpa dibalas. Dia lalu mencari Liu Bhok Ki, pendekar yang tadinya menjadi sahabatnya dan sahabat puteranya. Terjadi perkelahian mati-matian dan akhirnya, para anak buah Hek-houw-pang terpaksa membawa pulang jenazah ketua mereka dengan hati penuh duka.

Liu Bhok Ki sendiri hancur hatinya semenjak peristiwa yang menimpa keluarganyaa. Hatinya remuk, kebahaagiaan hidupnya lenyap dan dia hidup seperti seorang setengah gila, mengasingkan diri di Kui-san (Bukit Setan) yang berada di Lembah Sungai Huang-ho yang paling sunyi. Disini dia mendirikan pondok tinggal di situ bersama dua buah kepala.

Yang sebuah adalah kepala Coa Kun Tian dan setelah direndamnya dengan ramuan yang membuat kepala itu tak dapat membusuk, bahkan kini mengering seperti kayu, dan digantungnya di tengah pondok. Yang kedua adalah kepala isterinya Phang Hui Cu yang cantik jelita, yang direndamnya dalam anggur di botol besar dan kedua kepala inilah yang selalu menemaninya di dalam pondok sunyi itu.

Selama dua puluh tahun lebih ini, pihak Hek-Houw-pang tidak pernah diam untuk berusaha membalas dendam. Sudah puluhan kali, bahkan hampir setiap tahun ada saja dari pihak Hek-Houw-pang yang mencari Liu Bhok Ki untuk membalas dendam. Namun, selama ini belum pernah ada yang berhasil. Bahkan sebaliknya, ada saja pihak Hek-Houw-pang yang roboh dan tewas.

Oleh karena itu, dendam Hek-Houw-pang terhadap Liu Bhok Ki menjadi semakin berlarut, semakin mendalam. Hal ini sebenarnya membuat Liu Bhok Ki merasa sedih juga. Akan tetapi apa hendak dikata, keadaan sudah seperti itu. Dia tidak mungkin mundur kembali, dan dia selalu siap membela diri kalau tiba serangan dari pihak Hek-Houw-pang.

Bahkan pada pagi hari itu, selagi dia makan, datang serangan gelap dalam bentuk sebatang piauw yang dapat ditangkapnya dengan sepasang sumpitnya. Cara menghadapi serangan gelap senjata piauw beracun itu saja sudah menunjukkan betapa lihaynya pria setengah tua tinggi besar ini. Memang sejak kecil dia suka mempelajari ilmu silat dan namanya pernah besar sebagai seorang pendekar yang selalu menentang para penjahat di sepanjang sungai Huang-ho.

Akan tetapi, semenjak peristiwa menyedihkan itu, dimana dia terpaksa membunuh isteri tercinta dan sahabatnya terbaik, namanya lenyap dari dunia kangouw dan dia mengasingkan diri di pondok itu. Hanya kadang-kadang saja dia pergi ke dusun terdekat untuk membeli kebutuhan sehari-hari, ditukar dengan hasil dia bercocok tanam atau mencari ikan di sungai Huang-ho yang berada di dekat pondoknya.

Peristiwa itu sungguh menghancurkan kehidupannya. Dia seolah-olah telah mati, dan selalu terancam bahaya oleh pihak Hek-Houw-pang. Maklum bahwa para musuhnya itu takkan pernah berhenti berusaha untuk membalas dendam, diapun tidak tinggal diam dan setiap hari, kalau tidak bekerja, Liu Bhok Ki melatih diri, memperdalam ilmu-ilmunya, bahkan dengan bakat dan kecerdikannya, dia telah menciptakan beberapa macam ilmu silat yang hebat. Kini, dalam usia kurang lebih lima puluh tahun, dia memiliki ilmu kepandaian yng hebat, dan jarang ada orang yang akan mampu menandinginya.

Kini Liu Bhok Ki sudah tidak “berbicara” lagi dengan wajah kepala wanita di dalam botol, melainkan duduk termenung memandangi piauw yang tadi ditangkap sepasang sumpitnya dan kini dia letakkan diatas meja didepannya. Sebatang piauw yang bentuknya segi tiga dan diujung belakangnya dihiasi ronce-ronce merah. Piauw ini kecil dan ringan sekali, akan tetapi runcing dan mengandung racun yang amat berbahaya, hal ini dapat dikenalnya dari baunya yang amis seperti bau ular.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Dan melihat bentuk piauw yang kecil ringan itu, apalagi melihat hiasan ronce merah, Liu Bhok Ki dapat menduga bahwa yang mempergunakannya patutnya seorang wanita. Sepasang alisnya berkerut. Selama dua puluh tahun lebih ini, belum pernah Hek-Houw-pang mengirim seorang murid wanita untuk mencoba membunuhnya. Rasa gatal pada tangan kanannya membuat dia tiba-tiba seperti orang terkejut dan cepat dia memeriksa tangan kanannya, matanya terbelalak melihat betapa ada tanda menghitam pada dua jarinya, di permukaan telunjuk dari jari tengah.

“Ahhh…” serunya perlahan dan cepat mengambil sebuah buntalan yang tergantung pada rak senjata. “Sungguh tolol, memandang rendah lawan!” gumamnya sambil membuka buntalan dan dia mengeluarkan sebuah bungkusan kuning.

Dibukanya bungkusan itu dan ditaburkan sedikit bubukan merah pada noda hitam di kedua permukaan jari tangan, digosok-gosoknya dan noda itupun lenyap, rasa gatalnya lenyap. Bubuk merah itu adalah obat manjur sekali untuk melawan racun. Kiranya, penyerang dengan piauw tadi agaknya sengaja melontarkan piauw secara perlahan saja agar dia dengan mudah dapat menangkapnya dengan tangan atau sumpit.

Dan biarpun ditangkap dengan sumpit, namun agaknya ada bubuk atau hawa beracun dari piauw itu yang mengenai jari tangannya seolah-olah racun itu mampu menjalar melalui sumpit, mengenai dua jari tangan yang kalau tidak cepat diobati akan berbahaya sekali baginya, dapat membuatnya mati konyol! Kini tahulah dia bahwa pelempar piauw itu merupakan seorang lawan tangguh yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan!

Pada saat itu, muncullah belasan orang di depan pintu pondok. Mereka itu rata-rata berusia empat puluh tahun, mengiringkan seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun. Pemuda ini berwajah tampan dan begitu melihat wajah pemuda itu, Liu Bhok Ki merasa jantungnya berdebar tegang. Wajah itu! Persis wajah pria yang telah menggoda dan menggauli isterinya. Persis wajah Coa Kun Tian yang kepalanya kini tergantung di tengah ruangan pondok.

Pemuda itu kini berdiri memandang kepada kepala kering yang tergantung itu, kepala yang bergoyang dan berputar. Ketika kepala itu menghadap keluar kepadanya, tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut.

“Ayah…!” Dan diapun sambil berlutut memberi hormat delapan kali kearah kepala yang tergantung itu.

Sejak tadi Liu Bhok Ki sudah bangkit berdiri dan dia memandang bengong kepada pemuda itu. Putera Coa Kun Tian? rasanya tidak mungkin! Bukankah Kun Tian ketika menzinai isterinya dahulu itu belum menikah? Dia tahu benar akan hal ini karena dia bersahabat karib dengan Kun Tian dan dia mengenal betul keluarga ketua Hek-Houw-pang.

Bagaimana kini muncul seorang pemuda yang menyebut ayah kepada mendiang Coa Kun Tian? Akan tetapi, kalau bukan puteranya, lalu siapa dan mengapa mengaku anak? Dan wajah itu! Dia tidak akan meragukan bahwa itu adalah wajah Kun Tian, dan patut dipercaya bahwa pemuda ini memang putera bekas sahabat yang dibunuhnya itu.

Setelah memberi hormat kepada kepala yang terayun-ayun itu, si pemuda yang tampan berpakaian seba putih itu bangkit berdiri memandang kepada Liu Bhok Ki dengan sinar mata penuh kemarahan dan dendam. Pandang mata seperti ini sudah biasa dirasakan oleh Bhok Ki dari para anggota Hek-Houw-pang, maka diapun balas memandang dengan sikap tenang saja.

Pemuda itu melangkah mundur, dan para anggota Hek-Houw-pang yang berada dibelakangnya juga ikut mundur. Sambil melangkah mundur tanpa melepaskan pandang matanya dari laki-laki setengah tua di dalam pondok itu, si pemuda lalu berkata, suaranya halus walaupun mengandung kemarahan yang ditahannya.

“Liu Bhok Ki, keluarlah dan mari kita selesaikan perhitungan yang telah terpendam lama sekali ini!”

Liu Bhok Ki melangkah maju, mulutnya tersenyum dan ketika dia berada diluar pondok, di udara terbuka, dia lalu tertawa bergelak. Tubuhnya terguncang-guncang dan wajahnya dilempar ke belakang, menengadah, seolah-olah dia tertawa kepada langit diatas. “Ha-ha-ha!” Lalu dia menunduk dan menatap pemuda didepannya itu penuh perhatian.

“Orang muda, engkau telah mengenal namaku, akan tetapi aku belum mengenalmu. Biasanya, tidak pernah aku menanyakan nama orang-orang Hek-Houw-pang yang datang dengan maksud membunuh aku. Entah sudah berapa banyak, mungkin lebih dari enam puluh orang Hek-Houw-pang yang tewas dalam usaha mereka membunuhku. Akan tetapi engkau lain. Sikapmu menarik hatiku, terutama ketika engkau tadi berlutut dan menyebut ayah kepada Coa Kun Tian. Benarkah engkau putera Kun Tian dan siapa namamu?”

Sikap pemuda itu tenang dan cukup gagah, nampak ketabahan luar biasa pada sinar matanya. “Namaku Coa Siang Lee dan memang mendiang Coa Kun Tian adalah ayah kandungku. Sebagai putera kandungnya, tentu engkau cukup maklum apa yang menjadi maksud kunjunganku ini. Bersiaplah untuk mengadu nyawa denganku, Liu Bhok Ki!”

Liu Bhok Ki memandang ragu dan penuh selidik. Biarpun wajah pemuda pakaian putih itu memang serupa dengan mendiang Kun Tian, akan tetap bagaimana mungkin Kun Tian yang masih belum menikah itu kini tiba-tiba mempunyai anak?

“Hemmmm, ketahuilah bahwa Kun Tian tadinya adalah sahabat karibku dan aku tahu benar bahwa dia belum pernah menikah. Bagaimana kini tiba-tiba saja muncul engkau yang mengaku sebagai puteranya?”

Mendengar ucapan ini, wajah yang tampan itu berubah merah, dan tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang, yang dapat dikenal dengan lukisan harimau hitam kecil di dada sebelah kiri baju mereka, saling pandang dan merekapun kelihatan rikuh. Memang, pemuda bernama Coa Siang Lee ini adalah keturunan aseli dari Coa Kun Tian, putera kandung yang kini menjadi jago mereka yang diharapkan, akan mampu menandingi dan merobohkan musuh besar mereka. Akan tetapi kelahiran Coa Siang Lee ini tidak sah, karena ibunya mengandung sebagai hasil hubungan gelap dengan mendiang Coa Kun Tian. Setelah Kun Tian meninggal barulah diketahui bahwa gadis yang digaulinya itu telah mengandung!

“Liu Bhok Ki, aku datang bukan untuk menceritakan riwayatku kepadamu. Bagaimana duduknya perkara aku menjadi putera ayahku, bukan urusanmu. Cukup kau ketahui bahwa aku adalah putera kandungnya dan aku datang untuk menuntut balas atas kematian ayahku di tanganmu!”

Liu Bhok ki menarik napas panjang. Dia tidak pernah merasa gembira, setiap kali diserbu orang-orang Hek-Houw-pang. Dia melayani mereka hanya karena terpaksa, untuk membela diri dank arena mereka itu selalu menyerangnya mati-matian maka tidak dapat dihindarkan lagi setiap kali jatuh korban diantara mereka.

Apalagi kini yang maju adalah putera kandung Coa Kun Tian. Sebetulnya, dia dahulu amat sayang kepada shabatnya itu. Bahkan sekarangpun, setiap kali memandang wajah kepala sahabatnya itu, timbul rasa sayang, akan tetapi perasaan itu selalu diusirnya dengan membayangkan kembali perbuatan sahabatnya itu dengan isterinya yang membuat hatinya menjadi panas kembali. Tentu saja dia tidak membenci putera Kun Tian yang wajahnya tampan mirip sekali ayahnya itu.

“Coa Siang Lee, tahukah engkau mengapa ayahmu sampai tewas di tanganku?” tanyanya, dan para anggota Hek-Houw-pang mendengar betapa dalam suara itu terdapat keraguan, agaknya si jago tua yang menggiriskan itu merasa gentar menghadapi jago muda mereka yang kelihatan amat tabah dan gagah itu.

“Aku tidak perduli! Yang jelas, engkau telah membunuh ayahku, bahkan telah berbuat sedemikian keji dan kejam, menyiksa dan mempermainkan kepala ayahku seperti itu. Sungguh perbuatan yang terkutuk! Pendeknya, aku datang untuk menuntut balas kepadamu, sebagai amal bakti kepada ayah kandungku! Aku akan membunuhmu dan membawa pulang kepala ayahku itu untuk dimakamkan dengan baik dan terhormat.”

Liu Bhok Ki kembali menarik napas panjang sehingga mengherankan para anggota Hek-Houw-pang. Mereka pernah beberapa kali ikut menyerbu musuh besar itu dalam belum pernah mereka melihat Liu Bhok Ki meragu seperti sekarang ini.

“Orang muda, kalau engkau hendak berbakti kepada ayahmu, semestinya engkau bukan datang kesini dan ingin membunuhku. Seharusnya engkau membuat jasa-jasa baik, melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menebus dosa-dosa ayahmu itu agar hukumannya lebih ringan di neraka sana.”

Pemuda itu mengerutkan alisnya dan kini suaranya meninggi, tanda bahwa dia marah sekali. “Liu Bhok Ki, tidak perlu engkau menasehati aku dan memburuk-burukkan ayahku! Tengok dirimu sendiri! Aku sudah tahu bahwa engkau membunuh ayahku karena ayahku bermain cinta dengan isterimu. Bukankah begitu? Kalau benar demikian, engkaulah yang tidak tahu malu! Seharusnya engkau tahu bahwa kalau isterimu suka kepada pria lain, itu berarti bahwa ia tidak cinta lagi kepadamu, bahwa pria yang dipilihnya itu lebih baik dari padamu! Mendiang ayahku tidak memperkosa dan kalau dia tidak dilayani dengan senang hati oleh isterimu tentu tidak akan terjadi hubungan itu! Sepatutnya engkau bercermin diri dan kalau benar laki-laki, harus tahu diri ditolak isteri sendiri yang memilih pria lain! Huh, sungguh tak tahu malu!”

Wajah Liu Bhok Ki berubah merah sekali, lalu pucat dan merah kembali. Ucapan pemuda itu sungguh merupakan mata pedang yang tajam meruncing menusuk perasaan hatinya. Dia melihat kebenarannya, akan tetapi juga menjadi marah karena pemuda itu menghinanya.

Memang sesungguhnya, apa gunanya dia dulu menjadi seperti gila karena cemburu? Cinta antara pria dan wanita tidak mungkin hanya bertepuk sebelah tangan. Kalau isterinya sudah tidak cinta kepadanya, dengan bukti bahwa ia menyerahkan diri kepada pria lain, tidak ada gunanya walaupun dipaksa juga.

Akan tetapi, bantah suara dikepalanya. Mereka telah menghinaku, menodai nama dan kehormatanku! Sudah sepatutnya mereka dibunuh, dihukum, bahkan hukuman yang dia berikan masih kurang memadai, masih kurang berat dibandingkan dengan penghinaan yang dia derita.

“Coa Siang Lee, sudah menjadi hakmu untuk membela ayahmu walaupun dalam pembelaanmu itu engkau seperti buta tidak melihat kejahatan ayahmu yang menghancurkan ketentraman rumah tanggaku, menghancurkan kebahagiaan hidupku, mendatangkan aib dan penghinaan kepadaku. Akan tetapi aku pun berhak mempertahankan kehormatanku di waktu itu dan sekarang akupun berhak untuk membela diri kalau ada yang mengncam keselamatan diriku. Nah, sekarang engkau mau apa.”

Pertanyaan ini mengandung tantangan. Kedua tangan pemuda itu bergerak dan nampak dua sinar terang berkelebat ketika dia mencabut Siang-kiam (Sepasang pedang) yang tadi tergantung di punggungnya. Dia menyilangkan kedua pedang di depan dada, matanya mencorong memandang kearah Liu Bhok Ki.

“Liu Bhok Ki, bersiaplah engkau untuk mati di ujung pedangku!” bentak pemuda itu dan tiba-tiba saja pedangnya mencuat berubah menjadi sinar terang menusuk kearah dada pria setengah tua itu.

Liu bhok ki bersikap tenang saja. Dengan gerakan mantap dia mengelak ke bukan belakang melainkan kesamping bahkan memajukan kakinya dan tangan kirinya menampar dari samping kearah kepala lawan. Ketika Coa Siang Lee merasa betapa ada angin pukulan yang amat kuat mendahului tangan lawan, cepat dia menggerakkan pedang kedua di tangan kanan untuk menangkis dan sekalian membabat lengan lawan.

Liu Bhok Ki menarik kembali tangannya dan kini kakinya menendang dengan tendangan kilat kedepan. Tendangan ini mengandung tenaga sakti yang amat kuat dan diapun terpaksa meloncat kebelakang sambil memutar kedua pedang melindungi dirinya. Liu Bhok Ki tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk menyusun serangan baru. Dia cepat melangkah maju dan menyusulkan serangan bertubi-tubi dengan kedua tangan dan kakinya.

Pemuda itu semakin kaget dan diapun mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak kesana-sini dan kadang-kadang menggunakan kedua pedangnya untuk membendung banjir serangan lawan itu. Dia terdesak hebat.

Melihat betapa jago muda mereka terdesak walaupun mempergunakan sepasang pedang sedangkan Liu Bhok Ki bertangan kosong, tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang tingkat tinggi itu lalu menyerbu dan mengepung Liu Bhok Ki. Itulah Cap-sha-tin (Barisan Tiga Belas) yang diciptakan oleh perguruan Hek-Houw-pang dan dilatih selama setahun ini untuk dipergunakan menghadapi Liu Bhok Ki. Tadinya, mereka mengharapkan Sian Lee akan mampu menandingi musuh besar itu.

Coa Siang Lee memang putera kandung mendiang Coa Kun Tian. Kun Tian ketika masih hidup terkenal sebagai seorang laki-laki perayu wanita. Banyak sudah korban berjatuhan akibat rayuannya. Akan tetapi hanya ada seorang gadis yang mengandung akibat perbuatannya itu dan kemudian lahirlah Coa Siang Lee. Gadis itu menghadap ketua Hek-Houw-pang setelah mendengar akan kematian Coa Kun Tian, membawa anak laki-laki itu.

Coa Siong, pangcu (ketua) Hek-Houw-pang menerima cucunya yang tidak sah itu dan Coa Siang Lee lalu digembleng, bukan hanya oleh kakeknya, bahkan oleh kakeknya dikirim kepada beberapa sahabat, tokoh-toh kangouw yang lihai, untuk memperdalam ilmu silatnya. Kini, dalam usia dua puluh dua tahun lebih, Siang Lee pulang dan telah memiliki tingkat kepandaian yang melebihi tingkat kakeknya sendiri. Dia memang sejak kecil sudah mendengar kisah kematian ayahnya. Maka dia lalu dijadikan jago Hek-Houw-pang dan diharapkan akan dapat membalas dendam kepada musuh besar itu.

Cap-sha-tin dari Hek-Houw-pang segera maju setelah melihat kenyataan betapa Siang Lee terdesak oleh Liu Bhok Kid an kini barisan itu mengepung pria tinggi besar yang gagah perkasa itu dan pedang mereka menyerang secara bertubi-tubi dan teratur sekali.

Setiap kali Liu Bhok Ki mengelak dari suatu sambaran pedang, sudah ada pedang lain yang menyambutnya dengan tusukan atau bacokan. Semua bergerak secara otomatis dan kemana pun dia mengelak, selalu disambut serangan pedang lain. Dan setiap kali dia hendak membalas, sudah ada dua tiga batang pedang lain menyerangnya dari kanan kiri dan belakang, membuat dia sama sekali tidak sempat untuk balas menyerang lawan...!