Social Items

ADAPUN Ban-tok Sian li dan Thio Cin Kang kembali sudah menyamar sebagai kakek dan nenek tua. Benar saja, tak lama kemudian para pengejar sampai pula di rumah itu. Akan tetapi mereka mengenal Gan Kok Bu dan melihat para nggauta Hek tung Kai-pang, mereka tidak menjadi curiga bahkan pesan kepada Gan Kok Bu untuk membantu mereka mencari para pelarian yang tadi menyerbu rumah Perdana Menteri Jin Kui.

"Apa yang telah terjadi?" tanya Gan Kok Bu kepada para perwira yang memimpin pasukan itu.

"Segerombolan pemberontak telah menyerbu rumah Perdana Menteri Jin Kui," kata seorang perwira.

"Lalu. apa yang mereka lakukan? Mudah-mudahan Yang Mulia Perdana Menteri selamat." kata pula Gan Kok Bu.

"Yang Mulia Perdana Menteri selamat, hanya terluka dan pingsan, mungkin karena terkejut," kata perwira itu yang lalu melanjutkan pengejaran mereka.

Setelah pasukan pergi, Souw Hian Li memperkenalkan Thio Cin Kang kepada Gan Kok Bu yang segera berseru. "Ah, kiranya Pek-eng Pang-cu yang mengatur semua ini lalu, apakah engkau berhasil membunuh Perdana Menteri yang jahat itu, Sian-li?"

"Aku telah sengaja melukainya untuk menyiksanya. Dia pasti akan mampus karena sudah terkena Ban-tok-ciam dariku!"

"Ah, kalian belum berkenalan?" kata Gan Kok Bu yang teringat bahwa Tiong Li dan Siang Hwi berada di situ dan tidak diperkenalkan oleh Ban-tok Sian-li. "Thio-pangcu, saudara ini adalah Tan Tiong Li Taihiap, dan nona ini adalah nona The Siang Hwi, murid Ban-tok Sian-li.

Mereka saling memberi hormat dan Thio Cin Kang mengangguk-angguk. "Aku sekarang teringat akan gambar Tan-tai-hiap yang terpampang di mana-mana tempo hari. Akan tetapi sekarang tidak lagi."

"Semua itu gara-gara kelicikan Perdana Menteri Jin Kui yang melakukan fitnah sehingga aku dituduh menculik Puteri Sung Hiang Bwee," kata Tiong Li.

"Padahal, Tan-taihiap yang menolong puteri itu dari tangan penculiknya," kata Gan Kok Bu yang sudah mendengar akan peristiwa itu.

Thio Cin Kang menghela napas panjang. "Perdana Menteri Jin Kui memang Jahat sekali. Entah berapa banyak pahlawan sejati, patriot-patriot yang cinta negara dan bangsa, sesudah Panglima Gak Hui, yang tewas karena ulahnya. Mudah-mudahan dia sekarang tidak akan lolos dari kematiannya."

"Tidak mungkin ia lolos dari maut!" kata Ban-tok Sian-li. "Di dunia ini tidak ada orang lain yang akan mampu menyembuhkannya."

Melihat suasana yang akrab dan baik di antara mereka itu, bahkan subo-nya tidak memperlihatkan sikap bermusuhan dan nampak akrab sekali dengan ketua Pek-eng-pang, Siang Hwi lalu menggunakan kesempatan itu untuk membujuk subonya.

"Subo, kami berdua telah mencari subo kemana-mana tanpa hasil. Sekarang, kebetulan kita dapat bertemu disini. Harap subo suka mengembalikan Mestika Golok Naga kepada Li-koko yang akan mengembalikan kepada Sri baginda Kaisar. Li-koko yang berhak mengembalikan golok pusaka itu, subo, karena dia yang telah merampasnya dari pencurinya, yaitu Panglima Wu Chu Kerajaan Kin."

"Aku hanya ingin agar golok pusaka itu dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu Sribaginda Kaisar. Aku tidak mengharapkan imbalan atau balas jasa. Kalau Sian-li ingin mengembalikannya sendiri kepada Kaisar, sama saja dan silakan," kata Tiong Li dengan suara sungguh-sungguh.

"Golok itu sejak dahulu menjadi rebutan. Kini setelah berada di tangan ku, siapa yang menghendakinya boleh merampas dari tanganku," kata Ban-tok Sian-li dengan sikap menantang.

Melihat keadaan yang menegangkah dan bertentangan ini, Thio Cin Kang segera menengahi dan suaranya terdengar berwibawa namun lembut ketika dia berkata kepada Ban-tok Sian-li. "Li-moi, kalau memang benar Tan-taihiap yang telah mendapatkan kembali golok pusaka itu, kuharap engkau suka memberikan saja kepada Tan-taihiap. Di antara kita sendiri tidak perlu terjadi perebutan siapa yang akan mengembalikan Mestika Golok Naga kepada Kaisar."

Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya dan memandang kepada Thio Cin Kang, "Golok pusaka itu tidak pantas berada di tangan Kaisar yang demikian lemahnya. Kaisar tidak memusuhi penjajah Kin, bahkan telah mengejar-ngejar kaum pejuang dan membunuh banyak pahlawan yang sebetulnya setia kepadanya. Golok pusaka itu lebih tepat berada di tangan para pejuang dan akan kuserahkan kepada pimpinan pejuang Gak Liu, putera mendiang Panglima Gak Hui."

"Aku mengenal baik Gak Liu dan dia tidak akan mau menerima golok itu," kata Thio Cin Kang. "Golok itu adalah milik Kaisar, dicuri orang dari gudang pusaka istana. Kalau kita memilikinya, sama saja dengan kita yang mencurinya. Dan ingatlah, Li-moi. Selama ini yang mengejar-ngejar para pejuang sesungguhnya bukanlah kaisar, melainkan Jin Kui. Jin Kui seorang penjilat yang lihai dan kaisar hanya terpengaruh olehnya. Kalau dia sudah tidak ada, tentu sikap Kaisar terhadap para pejuang juga berubah."

"Benar sekali apa yang diucapkan oleh Thio-pangcu. Aku sendiri sudah bicara dengar Sri baginda Kaisar dan aku membujuknya agar tidak memusuhi para pejuang yang sesungguhnya setia kepada Kerajaan Sung dan para pejuang itu hanya hendak mengusir penjajah dari tanah air. Dan Kaisar dapat menerimanya, bahkan memberi aku surat kuasa. Akan tetapi Jin Kui pandai menghasut sehingga Kaisar kembali menganggap para pejuang itu sebagai pemberontak," kata Tiong Li.

"Kalau begitu, pengembalian golok ini harus dapat mengubah sikap Kaisar terhadap para pejuang!" kata Ban-tok Sian-li.

"Kukira Tan-taihiap cukup bijaksana untuk mengaturnya. Tan-taihiap, dapatkah engkau mengatur sedemikian rupa sehingga Kaisar akan menganggap bahwa para pejuang berjasa dalam mengembalikan golok pusaka itu?"

"Tentu saja!" jawab Tiong Li gembira. "Aku akan melaporkan kepada Sri baginda bahwa para pejuang yang membantuku sehingga golok pusaka itu dapat ditemukan kembali. Dan ini bukanlah bohong belaka. Dalam mencari Sian-li pun kami dibantu oleh orang-orang yang dipimpin Gan twako dari Hek tung Kai-pang."

"Nah, Li-moi. Engkau sudah mendengar sendiri janji yang diberikan Tan-taihiap. Kuharap sekarang engkau suka menyerahkan golok pusaka itu kepadanya."

Terjadi hal yang bagi Siang Hwi dan Tiong Li merupakan suatu keajaiban. Ban-tok Sian-li yang biasanya keras hati dan tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, sekali ini mendengar ucapan Thio-pangcu, menjadi jinak seperti domba! la mengambil golok pusaka itu dan menyerahkannya kepada Tan Tiong Li.

"Terimalah Mestika Golok Naga ini dan penuhi janjimu melaporkan kepada Kaisar bahwa para pejuang agar tidak dimusuhi lagi," katanya.

"Terima kasih, Sian-li," kata Tiong Li dan setelah mengikatkan golok itu di punggungnya, dia memberi hormat kepada Sian-li sambil berkata, "Setelah kita semua sekarang berkumpul di sini, ada satu hal lagi yang ingin ku minta darimu, Sian-li."

"Ada apa lagi?" tanya Sian-li mengerutkan alisnya dan memandang kepada Tiong Li dengan sinar mata tajam.

"Mengenai hubunganku dengan muridmu, yaitu Hwi-moi. Kami saling mencinta, Sian-li, dan perkenankan aku menggunakan kesempatan ini untuk melamarnya kepadamu, la sudah tidak memiliki keluarga lagi, maka hanya kepadamulah aku dapat mengajukan lamaranku. Sian-li, aku mohon perkenanmu untuk berjodoh dengan Siang Hwi,"

Mendengar ini, semua orang memperhatikan Sian-li. Gan Kok Bu juga memandang dengan sinar mata sayu, akan tetapi dia merasa terharu melihat keberanian Tiong Li mengajukan pinangan di depan banyak orang dengan jujur dan tanpa malu-malu. Dia melihat pula betapa Siang Hwi menjadi tersipu mendengar lamaran langsung itu.

Ban tok Sian-li yang dipandang dengan hati tegang dan khawatir kalau-kalau menolak oleh Tiong Li dan Siang Hwi, nampak tersenyum memandang kepada muridnya, kemudian ia berkata lantang, "Urusan perjodohan adalah urusan pribadi yang tidak perlu ditanyakan kepada orang lain. Kalau yang bersangkutan sudah setuju, tidak ada orang lain boleh mencampurinya. Karena itu, tanyakan saja kepada Siang Hwi, kalau ia setuju menjadi jodohmu, akupun tidak menaruh keberatan apapun."

Kalau Tiong Li dan Siang Hwi mendengarkan ini dengan mata terbelalak heran dan girang, adalah Thio Cin Kang yang segera bertepuk tangan. "Suatu pernyataan yang tepat sekali! Dan suatu saat yang berbahagia sekali. Ha-ha ha! Biarlah kebahagiaan perjodohan ini kami tambah lagi dengan pengumuman. Bagaimana, Li-moi, kalau kita mengumumkannya sekarang?" Dia menoleh kepada Ban-tok Sian-li yang hanya mengangguk sambil tersenyum tersipu.

Thio Cin Kang lalu berkata lantang. "Baiklah, saudara-saudara semua. Kami mengumumkan bahwa kami pun merencanakan pernikahan kami. Aku, Thio Cin Kang sudah saling bersepakat dengan Souw Hian Li untuk menjadi suami isteri!"

Mendengar ini, semua orang bertepuk tangan penuh keheranan dan juga kegembiraan. Tidak ada seorang pun berani menyangka atau mengira bahwa suatu saat Ban-tok Sian-li akan memilih jodohnya! Dan pilihan itu jatuh kepada ketua Pek-eng-pang yang telah menjadi duda tanpa anak, sungguh merupakan pilihan yang tepat sekali karena Thio Cin Kang seorang yang jantan dan gagah perkasa.

Ketika Siang Hwi mendengar ucapan itu dan melihat subonya tersipu sambil senyum-senyum, ia tidak dapat menahan keharuan hatinya. Iapun sama sekali tidak mengira bahwa subonya dapat jatuh cinta. Maka iapun lari menghampiri dan merangkul subonya sambil bercucuran air mata. Dan, untuk pertama kalinya orang-orang melihat bahwa Ban-tok Sian li Souw Hian Li juga dapat menangis, mencucurkan air mata bahagia!

Kemudian ramailah orang-orang memberi selamat kepada dua pasang calon suami isteri itu. Thio Cin Kang merasa gembira sekali dan dia berkata. "Peristiwa bahagia ini harus dirayakan Kami mengundang saudara semua untuk datang ke Pek-eng-pang tiga hari lagi, untuk merayakan pertunanganku dengan Li-moi, dan pertunangan Tan-taihiap dengan nona The."

Semua menyambut dengan tepuk tangan gembira. Pada keesokan harinya, dengan menyamar sebagai para anggauta Hek-tung Kai-pang orang-orang Pek-eng-pang itu berhasil keluar dari kota raja dengan aman.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Dengan sumpah-serapah, saking menderita nyeri diseluruh tubuhnya, Perdana Menteri Jin Kui menyuruh panggil seluruh tabib yang ada di kota raja. Bahkan tabib istana juga dipanggilnya untuk mengobatinya. Semua tabib menyatakan bahwa tubuh Perdana Menteri keracunan hebat. Dan biarpun dua batang jarum dipunggungnya telah berhasil dikeluarkan, akan tetapi darahnya telah keracunan.

Bermacam obat telah diberikan, akan tetapi semua obat itu hanya menambah usianya beberapa hari saja, berarti menambah siksaan bagi dirinya selama beberapa hari. Karena pengaruh obat itu yang melawan racun, tubuhnya timbul bisul-bisul yang mengeluarkan darah dan nanah, nyerinya tak tertahankan sehingga berhari-hari dia hanya mengerang dan kadang menjerit jerit minta-minta ampun!

Kaisar yang datang menjenguk mendengar Jin Kui sakit, sampai mundur dengan ngeri melihat betapa tubuh perdana menterinya itu penuh bisul sampai ke muka-mukanya dan mengeluarkan bau busuk. Akhirnya perdana menteri itu meninggal dunia dalam keadaan yang menyedihkan sekali. Semua orang yang mendengar akan hal ini bersyukur dan mengatakan bahwa Jin Kui mati karena dosa-dosanya yang bertumpuk-tumpuk, ada yang mengatakan bahwa perdana menteri itu mati terkena kutukan mendiang Panglima Gak Hui.

Agaknya Jin Kui memang terkena kutukan orang banyak. Bahkan sampai beratus-ratus tahun kemudian, orang membuat arcanya yang berlutut dan orang-orang meludahi arca itu kalau melewatinya. Sungguh merupakan kutukan dan penghinaan yang tiada taranya bagi orang yang sudah mati. Inilah buah dari pada pengkhianatan dan kejahatannya. Berbeda sekali dengan kematian Gak Hui. Orang membuatkan kuil untuk panglima besar ini dan dia dipuja-puja sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa dan setia kepada negara. dan bangsa. Sampai beratus tahun rakyat tetap menghormatinya dan memujanya.

Sementara itu, Tiong Li dan Siang Hwi menghadap Kaisar. Dengan terus terang, Tiong Li membeberkan semua rahasia perbuatan Jin Kui kepada kaisar, tentang pengkhianatannya. Persengkongkolannya kepada Kerajaan Kin. Tentang pembunuhan atas diri Pangeran Kian Cu yang di lakukan oleh kaki tangan Jin Kui. Tentang penculikan puteri kaisar yang dihadiahkan kepada Panglima Wu Chu. Bahkan tentang kematian Panglima Gak Hui yang semua adalah siasat yang licik dari Perdana Menteri Jin Kui. Kemudian Tiong Li menghaturkan Mestika Golok Naga.

"Yang Mulia, untuk mendapatkan kembali Mestika Golok Naga Ini hamba berdua mendapat bantuan dari para pejuang. Kembali hal Ini membuktikan bahwa para pejuang bukanlah pemberontak. Kalau dahulu sampai disebut pemberontak, hal itu hanyalah fitnah semata yang dilontarkan Jin Kui dan kaki tangannya. Oleh, karena itu, Yang Mulia, untuk kedua kalinya hamba mohon agar para pejuang tidak dikejar-kejar lagi. Mereka adalah patriot-patriot yang setia kepada Kerajaan Sung, yang mencinta negara dan bangsa dan membenci penjajah Kin."

Kaisar merasa senang sekali menerima Mestika Golok Naga dan mendengar semua penjelasan Tiong Li. Perdana Menteri Jin Kui sudah meninggal, akan tetapi keluarganya masih mendapatkan hukuman karena dosa-dosa bekas perdana menteri itu, Tiong Li diangkat menjadi seorang panglima.

"Jadilah engkau panglima penghubung antara kerajaan dan para pejuang agar tidak, terjadi kesalah-pahaman lagi . Akan tetapi mereka itu harus tunduk kepada peraturan. Kerajaan Sung tidak sedang perang dengan Kerajaan Kin. Perang hanya akan melemahkan kerajaan dan menyengsarakan rakyat. Oleh karena itu, para pejuang itu hanya boleh menyerang pasukan Kin yang melanggar perbatasan dan tidak boleh mengacau di daerah Kin, sehingga membikin buruk nama baik Kerajaan Sung."

Demikian pesan Kaisar yang kemudian menyerahkan Mestika Golok Naga kepada Tiong Li sebagal hadiah. Mulai hari itu Tiong LI terkenal sebagai Panglima Golok Naga karena panglima ini selalu membawa golok naga di pinggangnya. Tadinya Siang Hwi juga diberi pangkat oleh Kaisar, akan tetapi setelah Tiong Li menceritakan bahwa siang Hwi adalah calon isterinya, Kaisar hanya memberi seuntai kalung mutiara yang berharga sekail kepada calon mempelai wanita ini.

********************

Malapetaka yang menimpa keluarga Jin Kui itu tentu saja membuat seluruh keluarga Jin Kui menyesal. Akan tetapi ada orang lain yang juga amat menyesali peristiwa itu, yaitu para jagoan yang tadinya membantu Jin Kui. Mereka terpaksa melarikan diri dan menaruh dendam kepada Tiong Li dan kawan-kawannya. Mereka itu adalah Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cin-jin, Ouw Yang Kian dan Ouw Yang Sian, dan tentu saja Si Muka Tengkorak, Tang Boa Lu. Mereka terpaksa melarikan diri, takut akan ikut terlibat dan ditangkap.

Sementara itu, di Pek-eng-pang di adakan pesta meriah di antara mereka sendiri, tanpa mengundang orang luar karena pesta itu merupakan pesta sukuran atas pertunangan dua pasang-kekasih dan atas kemenangan terhadap komplotan Jin Kui. Gan Kok Bu berhasil membujuk ayahnya, yaitu ketua Hek-tung Kai-pang Gan Liang untuk ikut datang memberi selamat kepada dua pasang calon pengantin itu. Gan Liang sudah melupakan lagi sakit hatinya yang lama terhadap Ban-tok Sian-li, bahkan menyadari bahwa pihaknya yang bersalah.

Yang merasa paling berbahagia pada saat itu tentu saja dua pasang kekasih itu. Mereka makan minum sambil bercakap-cakap diselingi sendau gurau karena Gan Kok Bu tidak kekurangan akal untuk menggoda dua orang yang bertunangan itu dengan kelakar-kelakarnya. Dua pasang kekasih itu makan minum satu meja dengan Gan Kok Bu dan Gan Liang, sedangkan para anak buah Pek-eng-pang makan minum dengan anak buah Hek-tung Kai-pang yang juga mendapat undangan. Suasana amat riuh rendah dan meriah. Akan tetapi tiba-tiba keramaian Itu terhenti dengan adanya bentakan nyaring sekali dari luar.

"Ban-tok Sian-li! Tan Tiong Li! Keluarlah kalian berdua untuk membuat perhitungan dengan kami!"

Mendengar teriakan itu, tentu saja Tiong Li dan yang lain-lain terkejut sekali. Akan tetapi Ban-tok Sian-li sudah melompat dan berlari keluar, diikuti oleh yang lain. Ketika tiba di luar, mereka melihat pasukan yang dipimpin oleh beberapa orang perwira sudah mengepung tempat itu dan di depan berdiri enam orang yang bukan lain adalah para jagoan yang tadinya menjadi para pembantu Perdana Mentert Jin Kui. Melihat pasukan kerajaan mengepung tempat itu, Tiong Li meloncat kedepan dan berteriak dengan suara nyaring.

"Siapa yang memerintahkan kalian memimpin pasukan mengepung tempat ini?"

Ma Kiu It berteriak. "Kalian adalah pemberontak-pemberontak yang harus dibasmi. Kalian musuh Kerajaan Sung!"

Tiong Li berseru lagi, ditujukan kepada para perwira. "Cuwi-ciangkun harap jangan percaya omongan orang ini! Aku baru saja diangkat oleh Sri baginda Kaisar sendiri menjadi seorang panglima! Lihatlah, ini Mestika Golok Naga yang dihadiahkan olah Yang Mulia kepadaku dan lihat ini tanda kekuasaanku"

Dia mengambil tanda kakuasaan dari sakunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Aku memerintahkan para panglima menarik mundur pasukannya atau kelak aku akan melapor kepada Sri baginda!"

Para perwira yang melihat tanda kekuasaan itu, tanda kekuasaan dari kaisar sendiri menjadi bingung dan ragu.

"Jangan percaya, dialah pemberontak yang berbahaya!" teriak Ma Kiu It.

"Cuwi-ciangkun, berhati-hatilah terhadap orang-orang ini! Tentu cu-wi tahu siapa Ma Kiu It itu, dan siapa enam orang itu. Mereka adalah pembantu-pembantu Perdana Menteri Jin Kui yang sekeluarganya sudah dijatuhi hukuman. Perdana Menteri Jin Kui adalah seorang pengkhianat dan kalian hendak membantu orang-orangnya pengkhianat? Lekas tarik mundur pasukan itu dan jangan ganggu kami. Kami adalah pejuang-pejuang, bukan pemberontak! Kami memusuhi pengkhianat Jin Kui, bukan musuh pasukan Kerajaan Sung!"

Kini para perwira yang dipengaruhi Ma Kiu-it sebagai bekas rekan mereka itu menjadi panik dan mereka segera menarik mundur pasukan mereka, kembali ke benteng. Enam orang itu marah sekali meiihat ini.

"Tan Tiong Li, kalau engkau memang gagah, aku menantangmu untuk bertanding satu lawan satu. Jangan mempergunakan pengeroyokan!" tiba-tiba Si Muka Tengkorak berteriak lantang.

"Kami juga menantang kalian, siapa berani menandingi kami satu lawan satu!" teriak Ouw Yang Kian.

Tiong Li sudah melompat maju menghadapi, Si Muka Tengkorak dan perbuatannya itu disusul oleh Ban-tok Sian-Li yang meloncat dan menghadapi Ouw Yang Kian. "Engkau yang berjuluk Toat-beng-jiauw, bukan? Akulah yang akan menghajarmu!"

Ouw Yang Sian yang melompat maju segera dihadang oleh Thio Cin Kang, Ciang Sun Hok ditandingi The Siang Hwi Ma Kiu it dihadapi Gan Kok Bu dan Kui To Cin-jin dihadapi Gan Liang, ketua Hek-tung Kai-pang.

Si Muka Tengkorak Tang Boa Lu sudah mencabut sebatang pedang dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang Tiong Li dengan pedangnya. Tiong Li juga mencabut Mestika Golok Naga dan menandingi Tang Boa Lu. Mereka bertanding dengan hebat sekali. Si Muka Tengkorak itu memang lihai sekali. Juga pedangnya terbuat dari baja yang ampuh sehingga tidak patah ketika bertemu dengan Mestika Golok Naga.

Tiong Li memainkan goloknya dengan gerakan dari Ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Terbang) dan senjata kedua orang ini lenyap. Yang nampak hanya dua gulungan sinar golok dan pedang. Golok yang berada di tangan Tiong Li adalah Mestika Golok Naga yang aseli. Ketika dimainkan, golok itu bukan saja membentuk gulungan sinar terang yang luas, Juga mengeluarkan suara mengaung-ngaung mengerikan. Apa lagi digerakkan oleh tenaga besar Jian-ki-lat, golok itu menyambar-nyambar seperti seekor naga beterbangan di angkasa.

Kalau saja Tiong Li dikuasai dendam untuk membalas kematian Pek Hong San-Jin, mungkin dia berada dalam bahaya karena ilmu pedang lawannya benar-benar hebat. Akan tetapi dia telah bebas dari dendam dan permainan goloknya menjadi mantap dan kokoh kuat, membuat pedang itu terkepung dinding sinar golok yang bagaikan benteng baja tak dapat ditembus, bahkan kini sinar golok mulai menindih dan perlahan-lahan Si Muka Tengkorak hanya main mundur karena tindihan itu terasa berat sekail. Kini pedangnya lebih banyak mempertahankan diri dari pada menyerang dan sebaliknya golok di tangan Tiong Li menyambar-nyambar semakin hebat.

Pertandingan antara Ban tok Sian-li Souw Hian Li melawan Toat-beng-Jiauw (Cakar Pencabut Nyawa) Ouw Yang Kian juga terjadi dengan mati-matian. Akan tetapi segera ternyata bahwa Ouw Yang Kian bukanlah lawan yang seimbang dibandingkan Ban-tok Sian-li. Memang kedua tangan Ouw Yang Kian merupakah cakar-cakar yang hebat, akan tetapi di bandingkan dengan Ban-tok Sian-li yang setiap kukunya mengandung racun yang mematikan, sepasang cakar itu bukan apa-apa bagi wanita cantik jelita itu.

Setelah bertanding selama limapuluh jurus, sebuah tamparan yang nyaris mengenai dada Ouw Yang Kian membuat orang ini terhuyung ke belakang. Kesempatan itu dipergunakan oleh Ban-tok Sian-li untuk menendang dan tendangannya mengenai lutut kiri lawan sehingga Ouw Yang Kian jatuh berlutut dengan sebelah kakinya. Cepat bagaikan kilat tangan kiri Ban-tok Sian-li menampar kepala lawan dan robohlah Ouw Yang Kian tanpa dapat berkutik kembali, tewas seketika.

Melihat kakaknya roboh tewas, Ouw Yang Sian yang berhadapan dengan Thio Cin Kang mengamuk. Berbeda dengan kakaknya yang lebih mengandalkan kedua tangannya sebagai cakar maut, Ouw Yang Sian ini menggunakan sebatang pedang dan kini dia mencoba untuk mendesak ketua Pek-eng-pang dengan pedangnya. Thio Cin Kang bersikap waspada dan memutar pedangnya dengan cepat untuk menahan desakan lawan yang tiba-tiba menjadi marah dan nekat itu.

Dalam keadaan marah dan nekat, Ouw Yang Sian bernafsu untuk cepat merobohkan lawan dan dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk menyerang sehingga kurang memperhatikan pertahanan. Kelemahan ini dipergunakan oleh Thio Cin Kang dan setelah lewat puluhan jurus, akhirnya pedangnya dapat menembus dada lawan dan membuat Ouw Yang Sian tewas seketika.

Pihak para jagoan bekas pembantu Jin Kui menjadi kacau permainannya setelah kedua orang ini roboh dan tewas. Ban-tok Sian-li dan calon suaminya, setelah merobohkan kedua orang itu, kini hanya menjadi penonton, tidak mau melakukan pengeroyokan, hanya bersiap-siap menolong apabila pihak kawan ada yang terancam bahaya.

Tiong Li yang sudah mendesak Si Muka Tengkorak dengan hebatnya, sebetulnya tidak ingin sembarangan membunuh orang. Akan tetapi dia lalu teringat bahwa Si Muka Tengkorak ini adalah kaki tangan Kerajaan Kin yang lihai dan yang selamanya tidak akan berhenti mengganggu pemerintah Sung. Kalau tidak dilenyapkan orang ini, akan selalu mendatangkan kekacauan.

Maka, melihat betapa Ban-tok Sian-li dan ketua Pek-eng-pang telah berhasil merobohkan lawan mereka, diapun mempercepat gerakan goloknya dan tangan kirinya membantu dengan dorongan Thai-lek-im-kong-jiu. Si Muka Tengkorak tidak dapat menahan dorongan ini dan diapun terhuyung ke belakang. Golok Naga itu mengejarnya dan sebelum Tang Boa Lu menyadari apa yang terjadi atas dirinya, lehernya telah putus disambar Mestika Golok Naga.

Robohlah tokoh utama dari enam orang jagoan itu membuat tiga orang yang masih dapat bertahan, yaitu Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan Kui To Cin-jin menjadi gentar bukan main. Sama sekali tidak pernah mereka sangka bahwa mereka yang hanya mencari Tan Tiong Li dan Ban-tok Sian-li akan berhadapan dengan lawan-lawan yang demikian tangguhnya. Terutama sekali Ciang Sun Hok yarig menghadapi Siang Hwi.

Gadis, ini memainkan pedangnya dengan dahsyat sekait, agaknya gadis ini merasa penasaran bahwa subonya dan Tiong Li sudah dapat merobohkan lawan akan tetapi ia belum, ia mengerahkan seluruh tenaga dan memainkan Ilmu pedangnya dengan cepat, tanpa mau mempergunakan bantuan pukulan atau senjata beracun seperti yang dilarang oleh calon suaminya. Sebaliknya Ciang Sun Hok yang sudah kehilangan semangat dan nyali melihat robohnya tiga orang kawannya, menjadi terdesak hebat dan suatu kesempatan yang baik tidak di sia-siakan oleh Siang Hwi. Pedangnya menyambar dan robohlah Ciang Sun Hok dengan leher tertembus pedang dan dia pun tewas seketika.

Karena jerih dan habis semangatnya, tidak lama kemudian Ma Kiu It menyusul roboh di tangan Gan Kok Bu dan Kui To Cin-jin roboh di tangan Hek-tung Kai pang, yaitu Gan Liang. Habislah enam orang bekas pembantu Jin Kui, menyusul majikan mereka yang lebih dulu mati untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatan mereka ketika masih hidup.

Anak buah Hek-tung Kai-pang dan Pek-eng-pang bersorak gembira melihat betapa para pemimpin mereka merobohkan lawan secara gagah perkasa, yaitu satu lawan satu dan tidak terjadi pengeroyokan. Thio Cin Kang sebagai tuan rumah lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengurus enam buah mayat itu dan menguburkan mereka secara baik-baik. Kemudian mereka semua kembali melanjutkan pesta mereka yang tadi terganggu. Pasukan yang menyertai enam orang bekas pembantu Jin Kui sudah tidak nampak karena setelah digertak oleh Tiong Li tadi, mereka lalu cepat cepat meninggalkan tempat itu.

"Sekarang baru puas dan lega hatiku," kata Ban-tok Sian-li. "Lembah Maut yang dihancurkan telah dibalas, dan aku akan mengumpulkan kembali sisa anak buahku..."

"Dan tidak perlu engkau membangun kembali Lembah Maut!" potong Thio Cin Kang. "Bawa saja semua sisa anak buahmu ke sini karena setelah kita menikah, engkau sebaiknya membantuku mengurus Pek-eng-pang di sini dan semua anak buahmu dapat masuk menjadi anggauta Pek-eng-pang!"

Mendengar ucapan calon suaminya itu, Souw Hian L i tidak membantah, hanya tersenyum manis. ia lalu berpaling kepada muridnya dan berkata dengan tegas. "Siang Hwi, setelah aku menjadi nyonya rumah di sini kelak, aku ingin agar pernikahanmu dirayakan di tempat ini. Aku yang akan menjadi walimu, wakil keluargamu."

"Terima kasih, subo!" Kata Siang Hwi dengan girang sekail. Kini ia melihat banyak kelembutan dan kebaikan hati diperlihatkan subonya itu. Mau mengembalikan golok pusaka semudah itu, kemudian mau pula menerima Tan Tiong Li, menjadi jodohnya, bahkan kini menjanjikan akan merayakan pernikahannya di situ dan menjadi walinya. Agaknya cinta asmara telah mendatangkan perubahan besar dalam hati wanita yang biasanya keras seperti baja itu.

Tak tama kemudian, tiga bulan semenjak itu, pernikahan antara Thio Cin Kang dan Souw Hian li dirayakan secara besar-besaran. Semua perkumpulan silat besar di dunia kang-ouw diundang dan pesta diadakan secara meriah sekali. Kemudian, lewat tiga, bulan lagi, Souw Hian Li dan suaminya mengadakan pesta pernikahan lagi, sekali ini untuk merayakan pernikahan antara Tan-Tiong Li dan The Siang Hwi. Walaupun tidak semeriah ketika Souw Hian Li menikah, akan tetapi di hadiri banyak pejabat pemerintah Kerajaan Sung dan para tokoh kangouw karena nama besar Tan Tiong Li sebagai pendekar dan sebagai pahlawan segera tersiar luas. Dia dikenal sebagal panglima Golok Naga yang menjadi perantara hubungan baik antara pemerinta dan para pejuang.

Banyak tokoh pejuang mau menerima jabatan dari pemerintah sebagai panglima atau perwira dan kini para pejuang itu menjadi pembantu yang setia dari Kerajaan Sung. Mereka patuh akan peraturan yang diadakan oleh pemerintah dan para pejuang inilah yang membantu sehingga di mana-mana, jauh dari kota raja, rakyat hidup tenteram. Para pejuang ini yang membersihkan para penjahat, Juga membersihkan pasukan Kin yang berani melanggar perbatasan dan membikin kacau di perbatasaan.

Semenjak Tan Tiong Li menjadi panglima, maka keadaan kehidupan rakyat jelata menjadi tenteram. Akan tetapi kaisar bersikeras untuk tidak melakukan perang melawan Kerajaan Kin. Menurut perhitungan Kaisar, berperang membutuhkan biaya yang jauh lebih besar daripada kalau hanya sekedar mengirim upeti kepada Kerajaan Kin sebagai tanda persahabatan.

Pula, setelah Kerajaan Sung berdiri di selatan, ternyata daerah selatan ini jauh lebih subur dibandingkan daerah utara, maka Kaisar tidak terlalu ingin merebut kembali daerah utara yang dikuasai Kerajaan Kin itu. Dengan bantuan Tiong Li dan para pejuang, Kaisar Sung Kao Cu yang telah terbebas dari pengaruh Jin Kui, dapat memerintah sampai lama, yaitu sejak tahun 1127 sampai 1162.

Seperti tercatat dalam sejarah, barulah dalam tahun 1279 Kerajaan Sung Selatan ini akhirnya hancur oleh kekuasaan baru yang amat hebat, yaitu kekuasaan Bangsa Mongol yang dapat menguasai seluruh Cina dan mendirikan Wangsa Goan (Yuan).

Demikianlah, kisah ini diakhiri dengan catatan bahwa di Cina terdapat pepatah: Harimau mati meninggalkan kulitnya, manusia mati meninggalkan namanya. Bedanya kalau kulit harimau itu selalu berharga, nama manusia dapat di tinggalkan sebagai nama baik, juga sebagai nama busuk.

Semoga kisah ini ada manfaatnya bagi para pembaca. Sampai jumpa dikisah lainnya!

Mestika Golok Naga Jilid 19

ADAPUN Ban-tok Sian li dan Thio Cin Kang kembali sudah menyamar sebagai kakek dan nenek tua. Benar saja, tak lama kemudian para pengejar sampai pula di rumah itu. Akan tetapi mereka mengenal Gan Kok Bu dan melihat para nggauta Hek tung Kai-pang, mereka tidak menjadi curiga bahkan pesan kepada Gan Kok Bu untuk membantu mereka mencari para pelarian yang tadi menyerbu rumah Perdana Menteri Jin Kui.

"Apa yang telah terjadi?" tanya Gan Kok Bu kepada para perwira yang memimpin pasukan itu.

"Segerombolan pemberontak telah menyerbu rumah Perdana Menteri Jin Kui," kata seorang perwira.

"Lalu. apa yang mereka lakukan? Mudah-mudahan Yang Mulia Perdana Menteri selamat." kata pula Gan Kok Bu.

"Yang Mulia Perdana Menteri selamat, hanya terluka dan pingsan, mungkin karena terkejut," kata perwira itu yang lalu melanjutkan pengejaran mereka.

Setelah pasukan pergi, Souw Hian Li memperkenalkan Thio Cin Kang kepada Gan Kok Bu yang segera berseru. "Ah, kiranya Pek-eng Pang-cu yang mengatur semua ini lalu, apakah engkau berhasil membunuh Perdana Menteri yang jahat itu, Sian-li?"

"Aku telah sengaja melukainya untuk menyiksanya. Dia pasti akan mampus karena sudah terkena Ban-tok-ciam dariku!"

"Ah, kalian belum berkenalan?" kata Gan Kok Bu yang teringat bahwa Tiong Li dan Siang Hwi berada di situ dan tidak diperkenalkan oleh Ban-tok Sian-li. "Thio-pangcu, saudara ini adalah Tan Tiong Li Taihiap, dan nona ini adalah nona The Siang Hwi, murid Ban-tok Sian-li.

Mereka saling memberi hormat dan Thio Cin Kang mengangguk-angguk. "Aku sekarang teringat akan gambar Tan-tai-hiap yang terpampang di mana-mana tempo hari. Akan tetapi sekarang tidak lagi."

"Semua itu gara-gara kelicikan Perdana Menteri Jin Kui yang melakukan fitnah sehingga aku dituduh menculik Puteri Sung Hiang Bwee," kata Tiong Li.

"Padahal, Tan-taihiap yang menolong puteri itu dari tangan penculiknya," kata Gan Kok Bu yang sudah mendengar akan peristiwa itu.

Thio Cin Kang menghela napas panjang. "Perdana Menteri Jin Kui memang Jahat sekali. Entah berapa banyak pahlawan sejati, patriot-patriot yang cinta negara dan bangsa, sesudah Panglima Gak Hui, yang tewas karena ulahnya. Mudah-mudahan dia sekarang tidak akan lolos dari kematiannya."

"Tidak mungkin ia lolos dari maut!" kata Ban-tok Sian-li. "Di dunia ini tidak ada orang lain yang akan mampu menyembuhkannya."

Melihat suasana yang akrab dan baik di antara mereka itu, bahkan subo-nya tidak memperlihatkan sikap bermusuhan dan nampak akrab sekali dengan ketua Pek-eng-pang, Siang Hwi lalu menggunakan kesempatan itu untuk membujuk subonya.

"Subo, kami berdua telah mencari subo kemana-mana tanpa hasil. Sekarang, kebetulan kita dapat bertemu disini. Harap subo suka mengembalikan Mestika Golok Naga kepada Li-koko yang akan mengembalikan kepada Sri baginda Kaisar. Li-koko yang berhak mengembalikan golok pusaka itu, subo, karena dia yang telah merampasnya dari pencurinya, yaitu Panglima Wu Chu Kerajaan Kin."

"Aku hanya ingin agar golok pusaka itu dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu Sribaginda Kaisar. Aku tidak mengharapkan imbalan atau balas jasa. Kalau Sian-li ingin mengembalikannya sendiri kepada Kaisar, sama saja dan silakan," kata Tiong Li dengan suara sungguh-sungguh.

"Golok itu sejak dahulu menjadi rebutan. Kini setelah berada di tangan ku, siapa yang menghendakinya boleh merampas dari tanganku," kata Ban-tok Sian-li dengan sikap menantang.

Melihat keadaan yang menegangkah dan bertentangan ini, Thio Cin Kang segera menengahi dan suaranya terdengar berwibawa namun lembut ketika dia berkata kepada Ban-tok Sian-li. "Li-moi, kalau memang benar Tan-taihiap yang telah mendapatkan kembali golok pusaka itu, kuharap engkau suka memberikan saja kepada Tan-taihiap. Di antara kita sendiri tidak perlu terjadi perebutan siapa yang akan mengembalikan Mestika Golok Naga kepada Kaisar."

Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya dan memandang kepada Thio Cin Kang, "Golok pusaka itu tidak pantas berada di tangan Kaisar yang demikian lemahnya. Kaisar tidak memusuhi penjajah Kin, bahkan telah mengejar-ngejar kaum pejuang dan membunuh banyak pahlawan yang sebetulnya setia kepadanya. Golok pusaka itu lebih tepat berada di tangan para pejuang dan akan kuserahkan kepada pimpinan pejuang Gak Liu, putera mendiang Panglima Gak Hui."

"Aku mengenal baik Gak Liu dan dia tidak akan mau menerima golok itu," kata Thio Cin Kang. "Golok itu adalah milik Kaisar, dicuri orang dari gudang pusaka istana. Kalau kita memilikinya, sama saja dengan kita yang mencurinya. Dan ingatlah, Li-moi. Selama ini yang mengejar-ngejar para pejuang sesungguhnya bukanlah kaisar, melainkan Jin Kui. Jin Kui seorang penjilat yang lihai dan kaisar hanya terpengaruh olehnya. Kalau dia sudah tidak ada, tentu sikap Kaisar terhadap para pejuang juga berubah."

"Benar sekali apa yang diucapkan oleh Thio-pangcu. Aku sendiri sudah bicara dengar Sri baginda Kaisar dan aku membujuknya agar tidak memusuhi para pejuang yang sesungguhnya setia kepada Kerajaan Sung dan para pejuang itu hanya hendak mengusir penjajah dari tanah air. Dan Kaisar dapat menerimanya, bahkan memberi aku surat kuasa. Akan tetapi Jin Kui pandai menghasut sehingga Kaisar kembali menganggap para pejuang itu sebagai pemberontak," kata Tiong Li.

"Kalau begitu, pengembalian golok ini harus dapat mengubah sikap Kaisar terhadap para pejuang!" kata Ban-tok Sian-li.

"Kukira Tan-taihiap cukup bijaksana untuk mengaturnya. Tan-taihiap, dapatkah engkau mengatur sedemikian rupa sehingga Kaisar akan menganggap bahwa para pejuang berjasa dalam mengembalikan golok pusaka itu?"

"Tentu saja!" jawab Tiong Li gembira. "Aku akan melaporkan kepada Sri baginda bahwa para pejuang yang membantuku sehingga golok pusaka itu dapat ditemukan kembali. Dan ini bukanlah bohong belaka. Dalam mencari Sian-li pun kami dibantu oleh orang-orang yang dipimpin Gan twako dari Hek tung Kai-pang."

"Nah, Li-moi. Engkau sudah mendengar sendiri janji yang diberikan Tan-taihiap. Kuharap sekarang engkau suka menyerahkan golok pusaka itu kepadanya."

Terjadi hal yang bagi Siang Hwi dan Tiong Li merupakan suatu keajaiban. Ban-tok Sian-li yang biasanya keras hati dan tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, sekali ini mendengar ucapan Thio-pangcu, menjadi jinak seperti domba! la mengambil golok pusaka itu dan menyerahkannya kepada Tan Tiong Li.

"Terimalah Mestika Golok Naga ini dan penuhi janjimu melaporkan kepada Kaisar bahwa para pejuang agar tidak dimusuhi lagi," katanya.

"Terima kasih, Sian-li," kata Tiong Li dan setelah mengikatkan golok itu di punggungnya, dia memberi hormat kepada Sian-li sambil berkata, "Setelah kita semua sekarang berkumpul di sini, ada satu hal lagi yang ingin ku minta darimu, Sian-li."

"Ada apa lagi?" tanya Sian-li mengerutkan alisnya dan memandang kepada Tiong Li dengan sinar mata tajam.

"Mengenai hubunganku dengan muridmu, yaitu Hwi-moi. Kami saling mencinta, Sian-li, dan perkenankan aku menggunakan kesempatan ini untuk melamarnya kepadamu, la sudah tidak memiliki keluarga lagi, maka hanya kepadamulah aku dapat mengajukan lamaranku. Sian-li, aku mohon perkenanmu untuk berjodoh dengan Siang Hwi,"

Mendengar ini, semua orang memperhatikan Sian-li. Gan Kok Bu juga memandang dengan sinar mata sayu, akan tetapi dia merasa terharu melihat keberanian Tiong Li mengajukan pinangan di depan banyak orang dengan jujur dan tanpa malu-malu. Dia melihat pula betapa Siang Hwi menjadi tersipu mendengar lamaran langsung itu.

Ban tok Sian-li yang dipandang dengan hati tegang dan khawatir kalau-kalau menolak oleh Tiong Li dan Siang Hwi, nampak tersenyum memandang kepada muridnya, kemudian ia berkata lantang, "Urusan perjodohan adalah urusan pribadi yang tidak perlu ditanyakan kepada orang lain. Kalau yang bersangkutan sudah setuju, tidak ada orang lain boleh mencampurinya. Karena itu, tanyakan saja kepada Siang Hwi, kalau ia setuju menjadi jodohmu, akupun tidak menaruh keberatan apapun."

Kalau Tiong Li dan Siang Hwi mendengarkan ini dengan mata terbelalak heran dan girang, adalah Thio Cin Kang yang segera bertepuk tangan. "Suatu pernyataan yang tepat sekali! Dan suatu saat yang berbahagia sekali. Ha-ha ha! Biarlah kebahagiaan perjodohan ini kami tambah lagi dengan pengumuman. Bagaimana, Li-moi, kalau kita mengumumkannya sekarang?" Dia menoleh kepada Ban-tok Sian-li yang hanya mengangguk sambil tersenyum tersipu.

Thio Cin Kang lalu berkata lantang. "Baiklah, saudara-saudara semua. Kami mengumumkan bahwa kami pun merencanakan pernikahan kami. Aku, Thio Cin Kang sudah saling bersepakat dengan Souw Hian Li untuk menjadi suami isteri!"

Mendengar ini, semua orang bertepuk tangan penuh keheranan dan juga kegembiraan. Tidak ada seorang pun berani menyangka atau mengira bahwa suatu saat Ban-tok Sian-li akan memilih jodohnya! Dan pilihan itu jatuh kepada ketua Pek-eng-pang yang telah menjadi duda tanpa anak, sungguh merupakan pilihan yang tepat sekali karena Thio Cin Kang seorang yang jantan dan gagah perkasa.

Ketika Siang Hwi mendengar ucapan itu dan melihat subonya tersipu sambil senyum-senyum, ia tidak dapat menahan keharuan hatinya. Iapun sama sekali tidak mengira bahwa subonya dapat jatuh cinta. Maka iapun lari menghampiri dan merangkul subonya sambil bercucuran air mata. Dan, untuk pertama kalinya orang-orang melihat bahwa Ban-tok Sian li Souw Hian Li juga dapat menangis, mencucurkan air mata bahagia!

Kemudian ramailah orang-orang memberi selamat kepada dua pasang calon suami isteri itu. Thio Cin Kang merasa gembira sekali dan dia berkata. "Peristiwa bahagia ini harus dirayakan Kami mengundang saudara semua untuk datang ke Pek-eng-pang tiga hari lagi, untuk merayakan pertunanganku dengan Li-moi, dan pertunangan Tan-taihiap dengan nona The."

Semua menyambut dengan tepuk tangan gembira. Pada keesokan harinya, dengan menyamar sebagai para anggauta Hek-tung Kai-pang orang-orang Pek-eng-pang itu berhasil keluar dari kota raja dengan aman.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Dengan sumpah-serapah, saking menderita nyeri diseluruh tubuhnya, Perdana Menteri Jin Kui menyuruh panggil seluruh tabib yang ada di kota raja. Bahkan tabib istana juga dipanggilnya untuk mengobatinya. Semua tabib menyatakan bahwa tubuh Perdana Menteri keracunan hebat. Dan biarpun dua batang jarum dipunggungnya telah berhasil dikeluarkan, akan tetapi darahnya telah keracunan.

Bermacam obat telah diberikan, akan tetapi semua obat itu hanya menambah usianya beberapa hari saja, berarti menambah siksaan bagi dirinya selama beberapa hari. Karena pengaruh obat itu yang melawan racun, tubuhnya timbul bisul-bisul yang mengeluarkan darah dan nanah, nyerinya tak tertahankan sehingga berhari-hari dia hanya mengerang dan kadang menjerit jerit minta-minta ampun!

Kaisar yang datang menjenguk mendengar Jin Kui sakit, sampai mundur dengan ngeri melihat betapa tubuh perdana menterinya itu penuh bisul sampai ke muka-mukanya dan mengeluarkan bau busuk. Akhirnya perdana menteri itu meninggal dunia dalam keadaan yang menyedihkan sekali. Semua orang yang mendengar akan hal ini bersyukur dan mengatakan bahwa Jin Kui mati karena dosa-dosanya yang bertumpuk-tumpuk, ada yang mengatakan bahwa perdana menteri itu mati terkena kutukan mendiang Panglima Gak Hui.

Agaknya Jin Kui memang terkena kutukan orang banyak. Bahkan sampai beratus-ratus tahun kemudian, orang membuat arcanya yang berlutut dan orang-orang meludahi arca itu kalau melewatinya. Sungguh merupakan kutukan dan penghinaan yang tiada taranya bagi orang yang sudah mati. Inilah buah dari pada pengkhianatan dan kejahatannya. Berbeda sekali dengan kematian Gak Hui. Orang membuatkan kuil untuk panglima besar ini dan dia dipuja-puja sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa dan setia kepada negara. dan bangsa. Sampai beratus tahun rakyat tetap menghormatinya dan memujanya.

Sementara itu, Tiong Li dan Siang Hwi menghadap Kaisar. Dengan terus terang, Tiong Li membeberkan semua rahasia perbuatan Jin Kui kepada kaisar, tentang pengkhianatannya. Persengkongkolannya kepada Kerajaan Kin. Tentang pembunuhan atas diri Pangeran Kian Cu yang di lakukan oleh kaki tangan Jin Kui. Tentang penculikan puteri kaisar yang dihadiahkan kepada Panglima Wu Chu. Bahkan tentang kematian Panglima Gak Hui yang semua adalah siasat yang licik dari Perdana Menteri Jin Kui. Kemudian Tiong Li menghaturkan Mestika Golok Naga.

"Yang Mulia, untuk mendapatkan kembali Mestika Golok Naga Ini hamba berdua mendapat bantuan dari para pejuang. Kembali hal Ini membuktikan bahwa para pejuang bukanlah pemberontak. Kalau dahulu sampai disebut pemberontak, hal itu hanyalah fitnah semata yang dilontarkan Jin Kui dan kaki tangannya. Oleh, karena itu, Yang Mulia, untuk kedua kalinya hamba mohon agar para pejuang tidak dikejar-kejar lagi. Mereka adalah patriot-patriot yang setia kepada Kerajaan Sung, yang mencinta negara dan bangsa dan membenci penjajah Kin."

Kaisar merasa senang sekali menerima Mestika Golok Naga dan mendengar semua penjelasan Tiong Li. Perdana Menteri Jin Kui sudah meninggal, akan tetapi keluarganya masih mendapatkan hukuman karena dosa-dosa bekas perdana menteri itu, Tiong Li diangkat menjadi seorang panglima.

"Jadilah engkau panglima penghubung antara kerajaan dan para pejuang agar tidak, terjadi kesalah-pahaman lagi . Akan tetapi mereka itu harus tunduk kepada peraturan. Kerajaan Sung tidak sedang perang dengan Kerajaan Kin. Perang hanya akan melemahkan kerajaan dan menyengsarakan rakyat. Oleh karena itu, para pejuang itu hanya boleh menyerang pasukan Kin yang melanggar perbatasan dan tidak boleh mengacau di daerah Kin, sehingga membikin buruk nama baik Kerajaan Sung."

Demikian pesan Kaisar yang kemudian menyerahkan Mestika Golok Naga kepada Tiong Li sebagal hadiah. Mulai hari itu Tiong LI terkenal sebagai Panglima Golok Naga karena panglima ini selalu membawa golok naga di pinggangnya. Tadinya Siang Hwi juga diberi pangkat oleh Kaisar, akan tetapi setelah Tiong Li menceritakan bahwa siang Hwi adalah calon isterinya, Kaisar hanya memberi seuntai kalung mutiara yang berharga sekail kepada calon mempelai wanita ini.

********************

Malapetaka yang menimpa keluarga Jin Kui itu tentu saja membuat seluruh keluarga Jin Kui menyesal. Akan tetapi ada orang lain yang juga amat menyesali peristiwa itu, yaitu para jagoan yang tadinya membantu Jin Kui. Mereka terpaksa melarikan diri dan menaruh dendam kepada Tiong Li dan kawan-kawannya. Mereka itu adalah Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cin-jin, Ouw Yang Kian dan Ouw Yang Sian, dan tentu saja Si Muka Tengkorak, Tang Boa Lu. Mereka terpaksa melarikan diri, takut akan ikut terlibat dan ditangkap.

Sementara itu, di Pek-eng-pang di adakan pesta meriah di antara mereka sendiri, tanpa mengundang orang luar karena pesta itu merupakan pesta sukuran atas pertunangan dua pasang-kekasih dan atas kemenangan terhadap komplotan Jin Kui. Gan Kok Bu berhasil membujuk ayahnya, yaitu ketua Hek-tung Kai-pang Gan Liang untuk ikut datang memberi selamat kepada dua pasang calon pengantin itu. Gan Liang sudah melupakan lagi sakit hatinya yang lama terhadap Ban-tok Sian-li, bahkan menyadari bahwa pihaknya yang bersalah.

Yang merasa paling berbahagia pada saat itu tentu saja dua pasang kekasih itu. Mereka makan minum sambil bercakap-cakap diselingi sendau gurau karena Gan Kok Bu tidak kekurangan akal untuk menggoda dua orang yang bertunangan itu dengan kelakar-kelakarnya. Dua pasang kekasih itu makan minum satu meja dengan Gan Kok Bu dan Gan Liang, sedangkan para anak buah Pek-eng-pang makan minum dengan anak buah Hek-tung Kai-pang yang juga mendapat undangan. Suasana amat riuh rendah dan meriah. Akan tetapi tiba-tiba keramaian Itu terhenti dengan adanya bentakan nyaring sekali dari luar.

"Ban-tok Sian-li! Tan Tiong Li! Keluarlah kalian berdua untuk membuat perhitungan dengan kami!"

Mendengar teriakan itu, tentu saja Tiong Li dan yang lain-lain terkejut sekali. Akan tetapi Ban-tok Sian-li sudah melompat dan berlari keluar, diikuti oleh yang lain. Ketika tiba di luar, mereka melihat pasukan yang dipimpin oleh beberapa orang perwira sudah mengepung tempat itu dan di depan berdiri enam orang yang bukan lain adalah para jagoan yang tadinya menjadi para pembantu Perdana Mentert Jin Kui. Melihat pasukan kerajaan mengepung tempat itu, Tiong Li meloncat kedepan dan berteriak dengan suara nyaring.

"Siapa yang memerintahkan kalian memimpin pasukan mengepung tempat ini?"

Ma Kiu It berteriak. "Kalian adalah pemberontak-pemberontak yang harus dibasmi. Kalian musuh Kerajaan Sung!"

Tiong Li berseru lagi, ditujukan kepada para perwira. "Cuwi-ciangkun harap jangan percaya omongan orang ini! Aku baru saja diangkat oleh Sri baginda Kaisar sendiri menjadi seorang panglima! Lihatlah, ini Mestika Golok Naga yang dihadiahkan olah Yang Mulia kepadaku dan lihat ini tanda kekuasaanku"

Dia mengambil tanda kakuasaan dari sakunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Aku memerintahkan para panglima menarik mundur pasukannya atau kelak aku akan melapor kepada Sri baginda!"

Para perwira yang melihat tanda kekuasaan itu, tanda kekuasaan dari kaisar sendiri menjadi bingung dan ragu.

"Jangan percaya, dialah pemberontak yang berbahaya!" teriak Ma Kiu It.

"Cuwi-ciangkun, berhati-hatilah terhadap orang-orang ini! Tentu cu-wi tahu siapa Ma Kiu It itu, dan siapa enam orang itu. Mereka adalah pembantu-pembantu Perdana Menteri Jin Kui yang sekeluarganya sudah dijatuhi hukuman. Perdana Menteri Jin Kui adalah seorang pengkhianat dan kalian hendak membantu orang-orangnya pengkhianat? Lekas tarik mundur pasukan itu dan jangan ganggu kami. Kami adalah pejuang-pejuang, bukan pemberontak! Kami memusuhi pengkhianat Jin Kui, bukan musuh pasukan Kerajaan Sung!"

Kini para perwira yang dipengaruhi Ma Kiu-it sebagai bekas rekan mereka itu menjadi panik dan mereka segera menarik mundur pasukan mereka, kembali ke benteng. Enam orang itu marah sekali meiihat ini.

"Tan Tiong Li, kalau engkau memang gagah, aku menantangmu untuk bertanding satu lawan satu. Jangan mempergunakan pengeroyokan!" tiba-tiba Si Muka Tengkorak berteriak lantang.

"Kami juga menantang kalian, siapa berani menandingi kami satu lawan satu!" teriak Ouw Yang Kian.

Tiong Li sudah melompat maju menghadapi, Si Muka Tengkorak dan perbuatannya itu disusul oleh Ban-tok Sian-Li yang meloncat dan menghadapi Ouw Yang Kian. "Engkau yang berjuluk Toat-beng-jiauw, bukan? Akulah yang akan menghajarmu!"

Ouw Yang Sian yang melompat maju segera dihadang oleh Thio Cin Kang, Ciang Sun Hok ditandingi The Siang Hwi Ma Kiu it dihadapi Gan Kok Bu dan Kui To Cin-jin dihadapi Gan Liang, ketua Hek-tung Kai-pang.

Si Muka Tengkorak Tang Boa Lu sudah mencabut sebatang pedang dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang Tiong Li dengan pedangnya. Tiong Li juga mencabut Mestika Golok Naga dan menandingi Tang Boa Lu. Mereka bertanding dengan hebat sekali. Si Muka Tengkorak itu memang lihai sekali. Juga pedangnya terbuat dari baja yang ampuh sehingga tidak patah ketika bertemu dengan Mestika Golok Naga.

Tiong Li memainkan goloknya dengan gerakan dari Ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Terbang) dan senjata kedua orang ini lenyap. Yang nampak hanya dua gulungan sinar golok dan pedang. Golok yang berada di tangan Tiong Li adalah Mestika Golok Naga yang aseli. Ketika dimainkan, golok itu bukan saja membentuk gulungan sinar terang yang luas, Juga mengeluarkan suara mengaung-ngaung mengerikan. Apa lagi digerakkan oleh tenaga besar Jian-ki-lat, golok itu menyambar-nyambar seperti seekor naga beterbangan di angkasa.

Kalau saja Tiong Li dikuasai dendam untuk membalas kematian Pek Hong San-Jin, mungkin dia berada dalam bahaya karena ilmu pedang lawannya benar-benar hebat. Akan tetapi dia telah bebas dari dendam dan permainan goloknya menjadi mantap dan kokoh kuat, membuat pedang itu terkepung dinding sinar golok yang bagaikan benteng baja tak dapat ditembus, bahkan kini sinar golok mulai menindih dan perlahan-lahan Si Muka Tengkorak hanya main mundur karena tindihan itu terasa berat sekail. Kini pedangnya lebih banyak mempertahankan diri dari pada menyerang dan sebaliknya golok di tangan Tiong Li menyambar-nyambar semakin hebat.

Pertandingan antara Ban tok Sian-li Souw Hian Li melawan Toat-beng-Jiauw (Cakar Pencabut Nyawa) Ouw Yang Kian juga terjadi dengan mati-matian. Akan tetapi segera ternyata bahwa Ouw Yang Kian bukanlah lawan yang seimbang dibandingkan Ban-tok Sian-li. Memang kedua tangan Ouw Yang Kian merupakah cakar-cakar yang hebat, akan tetapi di bandingkan dengan Ban-tok Sian-li yang setiap kukunya mengandung racun yang mematikan, sepasang cakar itu bukan apa-apa bagi wanita cantik jelita itu.

Setelah bertanding selama limapuluh jurus, sebuah tamparan yang nyaris mengenai dada Ouw Yang Kian membuat orang ini terhuyung ke belakang. Kesempatan itu dipergunakan oleh Ban-tok Sian-li untuk menendang dan tendangannya mengenai lutut kiri lawan sehingga Ouw Yang Kian jatuh berlutut dengan sebelah kakinya. Cepat bagaikan kilat tangan kiri Ban-tok Sian-li menampar kepala lawan dan robohlah Ouw Yang Kian tanpa dapat berkutik kembali, tewas seketika.

Melihat kakaknya roboh tewas, Ouw Yang Sian yang berhadapan dengan Thio Cin Kang mengamuk. Berbeda dengan kakaknya yang lebih mengandalkan kedua tangannya sebagai cakar maut, Ouw Yang Sian ini menggunakan sebatang pedang dan kini dia mencoba untuk mendesak ketua Pek-eng-pang dengan pedangnya. Thio Cin Kang bersikap waspada dan memutar pedangnya dengan cepat untuk menahan desakan lawan yang tiba-tiba menjadi marah dan nekat itu.

Dalam keadaan marah dan nekat, Ouw Yang Sian bernafsu untuk cepat merobohkan lawan dan dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk menyerang sehingga kurang memperhatikan pertahanan. Kelemahan ini dipergunakan oleh Thio Cin Kang dan setelah lewat puluhan jurus, akhirnya pedangnya dapat menembus dada lawan dan membuat Ouw Yang Sian tewas seketika.

Pihak para jagoan bekas pembantu Jin Kui menjadi kacau permainannya setelah kedua orang ini roboh dan tewas. Ban-tok Sian-li dan calon suaminya, setelah merobohkan kedua orang itu, kini hanya menjadi penonton, tidak mau melakukan pengeroyokan, hanya bersiap-siap menolong apabila pihak kawan ada yang terancam bahaya.

Tiong Li yang sudah mendesak Si Muka Tengkorak dengan hebatnya, sebetulnya tidak ingin sembarangan membunuh orang. Akan tetapi dia lalu teringat bahwa Si Muka Tengkorak ini adalah kaki tangan Kerajaan Kin yang lihai dan yang selamanya tidak akan berhenti mengganggu pemerintah Sung. Kalau tidak dilenyapkan orang ini, akan selalu mendatangkan kekacauan.

Maka, melihat betapa Ban-tok Sian-li dan ketua Pek-eng-pang telah berhasil merobohkan lawan mereka, diapun mempercepat gerakan goloknya dan tangan kirinya membantu dengan dorongan Thai-lek-im-kong-jiu. Si Muka Tengkorak tidak dapat menahan dorongan ini dan diapun terhuyung ke belakang. Golok Naga itu mengejarnya dan sebelum Tang Boa Lu menyadari apa yang terjadi atas dirinya, lehernya telah putus disambar Mestika Golok Naga.

Robohlah tokoh utama dari enam orang jagoan itu membuat tiga orang yang masih dapat bertahan, yaitu Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan Kui To Cin-jin menjadi gentar bukan main. Sama sekali tidak pernah mereka sangka bahwa mereka yang hanya mencari Tan Tiong Li dan Ban-tok Sian-li akan berhadapan dengan lawan-lawan yang demikian tangguhnya. Terutama sekali Ciang Sun Hok yarig menghadapi Siang Hwi.

Gadis, ini memainkan pedangnya dengan dahsyat sekait, agaknya gadis ini merasa penasaran bahwa subonya dan Tiong Li sudah dapat merobohkan lawan akan tetapi ia belum, ia mengerahkan seluruh tenaga dan memainkan Ilmu pedangnya dengan cepat, tanpa mau mempergunakan bantuan pukulan atau senjata beracun seperti yang dilarang oleh calon suaminya. Sebaliknya Ciang Sun Hok yang sudah kehilangan semangat dan nyali melihat robohnya tiga orang kawannya, menjadi terdesak hebat dan suatu kesempatan yang baik tidak di sia-siakan oleh Siang Hwi. Pedangnya menyambar dan robohlah Ciang Sun Hok dengan leher tertembus pedang dan dia pun tewas seketika.

Karena jerih dan habis semangatnya, tidak lama kemudian Ma Kiu It menyusul roboh di tangan Gan Kok Bu dan Kui To Cin-jin roboh di tangan Hek-tung Kai pang, yaitu Gan Liang. Habislah enam orang bekas pembantu Jin Kui, menyusul majikan mereka yang lebih dulu mati untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatan mereka ketika masih hidup.

Anak buah Hek-tung Kai-pang dan Pek-eng-pang bersorak gembira melihat betapa para pemimpin mereka merobohkan lawan secara gagah perkasa, yaitu satu lawan satu dan tidak terjadi pengeroyokan. Thio Cin Kang sebagai tuan rumah lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengurus enam buah mayat itu dan menguburkan mereka secara baik-baik. Kemudian mereka semua kembali melanjutkan pesta mereka yang tadi terganggu. Pasukan yang menyertai enam orang bekas pembantu Jin Kui sudah tidak nampak karena setelah digertak oleh Tiong Li tadi, mereka lalu cepat cepat meninggalkan tempat itu.

"Sekarang baru puas dan lega hatiku," kata Ban-tok Sian-li. "Lembah Maut yang dihancurkan telah dibalas, dan aku akan mengumpulkan kembali sisa anak buahku..."

"Dan tidak perlu engkau membangun kembali Lembah Maut!" potong Thio Cin Kang. "Bawa saja semua sisa anak buahmu ke sini karena setelah kita menikah, engkau sebaiknya membantuku mengurus Pek-eng-pang di sini dan semua anak buahmu dapat masuk menjadi anggauta Pek-eng-pang!"

Mendengar ucapan calon suaminya itu, Souw Hian L i tidak membantah, hanya tersenyum manis. ia lalu berpaling kepada muridnya dan berkata dengan tegas. "Siang Hwi, setelah aku menjadi nyonya rumah di sini kelak, aku ingin agar pernikahanmu dirayakan di tempat ini. Aku yang akan menjadi walimu, wakil keluargamu."

"Terima kasih, subo!" Kata Siang Hwi dengan girang sekail. Kini ia melihat banyak kelembutan dan kebaikan hati diperlihatkan subonya itu. Mau mengembalikan golok pusaka semudah itu, kemudian mau pula menerima Tan Tiong Li, menjadi jodohnya, bahkan kini menjanjikan akan merayakan pernikahannya di situ dan menjadi walinya. Agaknya cinta asmara telah mendatangkan perubahan besar dalam hati wanita yang biasanya keras seperti baja itu.

Tak tama kemudian, tiga bulan semenjak itu, pernikahan antara Thio Cin Kang dan Souw Hian li dirayakan secara besar-besaran. Semua perkumpulan silat besar di dunia kang-ouw diundang dan pesta diadakan secara meriah sekali. Kemudian, lewat tiga, bulan lagi, Souw Hian Li dan suaminya mengadakan pesta pernikahan lagi, sekali ini untuk merayakan pernikahan antara Tan-Tiong Li dan The Siang Hwi. Walaupun tidak semeriah ketika Souw Hian Li menikah, akan tetapi di hadiri banyak pejabat pemerintah Kerajaan Sung dan para tokoh kangouw karena nama besar Tan Tiong Li sebagai pendekar dan sebagai pahlawan segera tersiar luas. Dia dikenal sebagal panglima Golok Naga yang menjadi perantara hubungan baik antara pemerinta dan para pejuang.

Banyak tokoh pejuang mau menerima jabatan dari pemerintah sebagai panglima atau perwira dan kini para pejuang itu menjadi pembantu yang setia dari Kerajaan Sung. Mereka patuh akan peraturan yang diadakan oleh pemerintah dan para pejuang inilah yang membantu sehingga di mana-mana, jauh dari kota raja, rakyat hidup tenteram. Para pejuang ini yang membersihkan para penjahat, Juga membersihkan pasukan Kin yang berani melanggar perbatasan dan membikin kacau di perbatasaan.

Semenjak Tan Tiong Li menjadi panglima, maka keadaan kehidupan rakyat jelata menjadi tenteram. Akan tetapi kaisar bersikeras untuk tidak melakukan perang melawan Kerajaan Kin. Menurut perhitungan Kaisar, berperang membutuhkan biaya yang jauh lebih besar daripada kalau hanya sekedar mengirim upeti kepada Kerajaan Kin sebagai tanda persahabatan.

Pula, setelah Kerajaan Sung berdiri di selatan, ternyata daerah selatan ini jauh lebih subur dibandingkan daerah utara, maka Kaisar tidak terlalu ingin merebut kembali daerah utara yang dikuasai Kerajaan Kin itu. Dengan bantuan Tiong Li dan para pejuang, Kaisar Sung Kao Cu yang telah terbebas dari pengaruh Jin Kui, dapat memerintah sampai lama, yaitu sejak tahun 1127 sampai 1162.

Seperti tercatat dalam sejarah, barulah dalam tahun 1279 Kerajaan Sung Selatan ini akhirnya hancur oleh kekuasaan baru yang amat hebat, yaitu kekuasaan Bangsa Mongol yang dapat menguasai seluruh Cina dan mendirikan Wangsa Goan (Yuan).

Demikianlah, kisah ini diakhiri dengan catatan bahwa di Cina terdapat pepatah: Harimau mati meninggalkan kulitnya, manusia mati meninggalkan namanya. Bedanya kalau kulit harimau itu selalu berharga, nama manusia dapat di tinggalkan sebagai nama baik, juga sebagai nama busuk.

Semoga kisah ini ada manfaatnya bagi para pembaca. Sampai jumpa dikisah lainnya!