Social Items

SETELAH percaya benar kepada Ceng Ho Hwe-shio, Tiong Li dan Siang Hwi dengan terus terang menceritakan pengalaman mereka dan maksud mereka memasuki wilayah Kin.

"Lo-suhu, saya adalah orang yang difitnah oleh Perdana Menteri Jin Kui, di tuduh menculik puteri Sung Hiang Bwee sehingga di Kerajaan Sung saya menjadi buruan pemerintah yang hendak menangkap saya sebagai seorang pemberontak. Kemudian saya mendengar bahwa sebetulnya yang menculik sang puteri adalah kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui sendiri, dan sang puteri diserahkan kepada Panglima Wu Chu sebagai hadiah. Oleh karena itulah maka kami datang ke sini untuk membuktikan apakah benar sang puteri berada di sini dan kalau mungkin saya akan menolongnya untuk dikembalikan ke kota raja sehingga nama saya dapat menjadi bersih, dan ke kejaman dan pengkhianatan Perdana Menteri Jin Kui dapat terbongkar."

"Omitohud! Perdana Menteri Jin Kuj adalah seorang yang amat jahat dan licik. Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa dan setia itu sampai tewas secara sia-sia hanya karena kelicikan Perdana Menteri Jin Kui itu. Andai kata engkau dapat menolong sang puteri keluar dari sini dan kembali ke kota raja Hang-couw, bagaimana engkau dapat menuduhnya? Tidak ada bukti bahwa yang menculik adalah orangnya. Engkau harus berhati-hati sekali berhadapan dengan orang macam Jin Kui itu, orang muda."

"Biarpun begitu, saya harus menolong sang puteri. Dengan kesaksian sang puteri bahwa saya bukan penculiknya, nama saya akan dapat dibikin bersih, tidak lagi dicap sebagai pemberontak. Akan tetapi saya tidak tahu dengan pasti, apakah berita yang saya terima itu benar bahwa sang puteri berada di tempat tinggal Panglima Wu Chu?"

"Pin-ceng juga mendengar bahwa Panglima Besar Wu Chu menerima hadiah seorang puteri kaisar. Dan dari keluarga wanita panglima itu yang bersembahyang di sini, pinceng mendengar bahwa sang puteri menolak dijadikan selir panglima itu, dan karenanya sekarang masih menjadi orang tahanan."

"Di rumah panglima itu?"

"Tentu saja, karena tahanan itu merupakan tahanan istimewa, agaknya untuk membujuk agar sang puteri mau menjadi selirnya."

Tiong Li mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, dia harus menyelidiki sendiri ke tempat tinggal panglima itu. "Lo-suhu, saya melihat Barisan Golok Naga itu amat tangguh. Dan senjata golok mereka hebat sekali. Apakah lo-suhu mengetahui asal usul barisan golok itu?"

"Barisan Golok Naga itu merupakan pasukan khusus yang dibentuk oleh Panglima Besar Wu Chu, dan memang terdiri dari orang-orang yang lihai. Dibentuknya juga belum begitu lama, mungkin mendapat latihan khusus di benteng panglima itu. Engkau harus berhati-hati menghadapi mereka, orang-muda. Mereka itu selain lihai, juga kabarnya kejam dan dengan mudah membunuh orang yang dimusuhi."

Kini Tiong Li merasa yakin. Agaknya Mestika Golok Naga ada pula pada panglima besar Bangsa Kin itu.Ini berarti bahwa pencuri Mestika Golok Naga, yaitu Hak Bu Cu yang tewas ditangan Ban-tok Sian-li telah menyerahkan pusaka itu kepada panglima besar itu. Dia percaya bahwa Hak Bu Chu, seperti juga Tang Boa Lu, adalah kaki tangan Kin yang sengaja dikirim untuk membantu usaha Perdana Menteri Jin Kui untuk menghadapi golongan yang membenci pemerintah Kin.

Orang-orang seperti Hak Bu Cu dan Tang Boa Lu itu cukup lihai untuk melakukan penculikan itu, di samping beberapa orang jagoan yang menjadi kaki tangan perdana menteri itu. Menurut dugaannya, baik Mestika Golok Naga maupun puteri Sung Hiang Bwee berada di rumah Panglima Besar Wu Chu!

Sehari itu Tiong Li memeras otaknya untuk mencari jalan bagaimana dia akan dapat merampas kembali Mestika Golok Naga dan sekaligus membebaskan sang puteri. Dia harus menggunakan akal. Kalau hanya mempergunakan kepandaian silatnya saja, mungkin dia akan dapat keluar masuk dari tempat itu mengandalkan kepandaian, akan tetapi untuk membawa keluar sang puteri? Sungguh merupakan pekerjaan yang amat sukar, bahkan tidak mungkin dilaksanakan!

"Lo-suhu," dia minta keterangan kepada Ceng Ho Hweshio. "Apakah lo-suhu mengetahui, siapa yang menjadi orang kesayangan Panglima Besar Wu Chu? Barangkali seorang di antara puteranya, atau selirnya?"

"Dia hanya mempunyai seorang putera biarpun ada beberapa orang puterinya, karena itu dia amat menyayang puteranya itu lebih dari segalanya."

"Berapa usia puteranya itu?"

"Masih kecil, paling banyak lima tahun usianya. Kenapa engkau menanyakan hal itu?"

"Tidak apa-apa, lo-suhu. Saya hanya sedang berpikir dan mencari akal bagaimana saya dapat membebaskan sang puteri dan sekaligus mencari kembali pusaka Kerajaan Sung yang dicuri orang."

Tiong Li kini mendapat akal. Dia harus menggunakan akal itu, kalau dia ingin berhasil. Malam itu dia menemui Siang Hwi di kuil itu, dan mengajaknya bercakap-cakap.

"Hwi-moi, aku Sudah mendapatkan, akal. Kuharap saja akal ini berhasil baik, karena kalau tidak, akan sia-sia perjalanan kita, bahkan mungkin berbalik akan membahayakan kita."

"Bagaimana akalmu itu, koko?"

Dengan berbisik-bisik Tiong Li berkata kepadanya. "Kita sekarang, malam ini juga, pergi ke gedung Pangiima Besar Wu Chu. Engkau tidak perlu ikut masuk, melainkan menanti di luar sambil bersembunyi. Aku akan memaksa panglima itu untuk menyerahkan pusaka itu dan membebaskan sang puteri. Setelah berhasil, engkau membawa sang puteri ke sini dan menyembunyikan di sini."

"Bagaimana engkau akan dapat memaksanya, koko?" tanya Siang Hwi khawatir.

"Jangan khawatir, aku telah mengetahui kelemahannya. Aku tentu akan dapat memaksanya melakukan itu. Tugasmu hanya mengantar sang puteri ketempat ini dan bersembunyi di sini menanti sampai aku datang."

"Baik, koko. Akan tetapi berhati hatilah. Ciu Bhok Hi itu dengan Pasukan Golok Naganya amat berbahaya."

"Aku tahu dan aku akan selalu berhati-hati. Kita harus mengenakan pakaian serba hitam, Hwi-moi dan setelah berganti pakaian, kita berangkat."

Demikianlah, diantar oleh Ceng Ho Hwe-shio sampai keluar dari kuil, dua orang muda itu meninggalkan kuil melalui tembok belakang kuil agar tidak kelihatan oleh orang lain. Kemudian, keduanya mempergunakan ilmu lari cepat menuruni lereng bukit itu dan menuju ke Lok-yang.

Dengan mudah mereka melompati pagar tembok tinggi yang mengelilingi kota Lok-yang, kemudian memasuki kota itu, menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Karena gerakan mereka memang ringan dan cepat, maka mereka hanya nampak seperti dua bayangan hitam saja. Akhirnya mereka dapat mendekati rumah gedung Panglima Besar Wu Chu.

"Engkau menanti di sini. Baru keluar dari sini kalau engkau melihat aku keluar dari pintu gerbang itu membawa sang puteri. Sebelum aku muncul, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, Hwi-moi."

"Baik, koko."

"Nah, aku pergi, Hwi-moi!"

"Nanti dulu, koko."

Tiong Li menahan langkahnya dan membalik. "Ada apa lagi, Hwi-moi?"

Gadis itu menghampiri dan merangkul leher Tiong Li. "Engkau... yang hati-hati menjaga dirimu, koko."

Tiong Li menunduk dan mencium dahi gadis itu. "Aku tahu, aku masih belum ingin berpisah darimu, Hwi-moi. Engkau juga berhati-hatilah. Menyingkirlah kalau ada orang mendekat tempat ini..." Kemudian Tiong Li berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Untung bagi mereka. Malam itu gelap sekali karena udara mendung dan angin bertiup mendatangkan hawa dingin. Karena udara buruk, maka jarang ada orang keluar dari rumahnya dan suasana di sekeliling tempat itu sunyi sekali. Akan tetapi penjagaan di rumah gedung Panglima Besar Wu Chu tetap ketat. Di depan pintu gerbang berkumpul belasan orang perajurit yang berjaga.

Dan Tiong Li sudah tahu bahwa di atas genteng terdapat alat-alat rahasia yang dapat memberi tahu kalau ada orang datang melalui atap. Dia sudah melompati pagar tembok dan tiba di taman. Agaknya taman ini yang paling aman karena banyak pohon-pohon. Dia mengintai dari balik rumpun bunga yang tebal dan melihat dua orang peronda membawa lampu teng berjalan datang sambil bercakap-cakap.

Tiong Li berpikir sejenak dan mengambil keputusan yang amat berani. Dia menanti sampai dua orang itu datang dekat. Lalu tiba-tiba dia meloncat dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu sudah menjadi lumpuh tertotok dan lampu teng sudah berpindah ke tangannya!

Dia memandangi kedua orang itu dengan lampu teng menyinari wajah mereka. Orang yang tinggi besar itu memandang dengan wajah ketakutan sedangkan yang kurus bahkan mendelik dengan marah. Dia lalu menotok lagi yang kurus sehingga roboh pingsan, mengikat kaki tangannya dengan sabuk orang itu sendiri, juga mulutnya ditutup kain, lalu menyeretnya ke balik semak belukar.

Sedangkan yang tinggi besar itu dia totok urat gagunya sehingga tidak dapat bicara. Dan dalam keadaan masih tertotok lemas itu, diancamnya orang itu sambil menodongkan golok di batang lehernya.

"Engkau ingin hidup?" gertaknya.

Orang tinggi besar itu mengangguk-angguk lemah. Hanya kaki tangannya saja yang tidak mampu digerakkan.

"Engkau tidak ingin mampus?" kembali dia bertanya.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepala dengan mata terbelalak penuh ketakutan.

"Baik, kalau begitu, aku minta engkau mengantarkan aku ketempat di mana Panglima Wu Chu berada. Sanggup?"

Orang itu memandang liar ke kanan kiri, nampak ketakutan dan agaknya sulit untuk mengambil keputusan.

"Hayo jawab, atau engkau ingin aku menyembelihmu sekarang juga!" Goloknya ditempelkan ke kulit leher.

Orang itu cepat mengangguk-angguk, menyatakan sanggup. Tiong Li lalu melucuti pakaian si kurus dan dipakainya pakaian itu. Dia menyamar sebagai seorang petugas ronda. Kemudian, dengan golok telanjang di tangan, dia membebaskan si tinggi besar yang ketakutan, akan tetapi orang tinggi besar itu biarpun sudah dapat menggerakkan kaki tangan, tetap saja dia tidak dapat mengeluarkan suara.

"Nah, sekarang bawa aku ke sana. Awas, sekali saja engkau melakukan gerakan yang tidak kukehendaki, golok ini akan memenggal lehermu!"

Kembali dia menempelkan golok di leher orang itu yang nampak menggigil saking takutnya. Tiong Li merasa senang. Pilihannya tepat. Orang tinggi besar ini berhati kecil dan penakut sehingga dapat diharapkan akan menaati semua perintahnya.

"Bawa lampu teng ini dan berjalanlah di depan," bisiknya. "Bersikap biasa saja kalau bertemu penjaga lain seolah tidak terjadi sesuatu. Dan cepat bawa aku ke tempat di mana Wu Chu berada!"

Dari belakang dia menodongkan goloknya ke punggung orang itu dan bergeraklah mereka meninggalkan taman. Orang itu benar-benar ketakutan, mereka memasuki gedung itu dari pintu belakang dan empat orang penjaga yang melihat dua orang peronda ini tidak menaruh perhatian. Apa lagi wajah Tiong Li terhalang bayangan si tinggi besar yang membawa lampu di depannya, sehingga wajah Tiong Li terliputi kegelapan.

Setelah melalui jalan berlika liku, dari jauh orang itu menunjuk ke sebuah ruangan. Tiong Li melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, tinggi besar dan mukanya brewok, sedang bermain-main dengan seorang anak laki-laki.

"Itukah Wu Chu?" bisik Tiong Li dan tawanannya mengangguk. "Antarkan aku ke kamar puteranya!" kata pula Tiong Li.

Orang itu menunjuk ke depan, ke arah-anak yang sedang bermain-main dengan orang tinggi besar itu. "Kau maksudkan anak itu puteranya?"

Orang itu mengangguk. "Engkau tindak berbohong?" tanya Tiong Li yang merasa gembira bukan main.

Sungguh baik sekali peruntungannya, sekaligus dapat menemukan Panglima Besar Wu Chu dan puteranya. Sebetulnya dia ingin menculik putera itu yang masih kecil dan yang di sayang untuk ditukar dengan sang puteri dan Mestika Golok Naga. Akan tetapi sekarang keduanya berada di situ. Sungguh kebetulan yang menguntungkan sekali.

Orang itu menggeleng kepalanya. "Awas. engkau kutinggal dulu di sini dalam keadaan tertotok, kalau engkau berbohong, aku akan kembali di sini untuk memenggal lehermu. Benar engkau tidak membohong?"

Orang itu kembali menggeleng kepala keras-keras dan Tiong Li segera merampas lampu teng sambil menotok orang itu sehingga roboh pingsan tanpa mengeluarkan suara karena dia sudah menahan tubuhnya. Kemudian, sambil membawa lampu teng dia menghampiri ruangan yang terbuka itu. Orang tinggi besar yang sedang main-main dengan anak itu. ketika melihat seorang peronda menghampiri, segera memondong anak itu dan menghardik,

"Mau apa engkau ke sini!"

"Maafkan saja, ciangkun. Ada seorang yang menanyakan di mana adanya Panglima Besar Wu Chu."

"Siapa orang yang bertanya tentang aku itu?" bentak sang panglima marah karena dia merasa terganggu dengan kemunculan peronda itu.

"Aku yang menanyakannya!" kata Tiong Li dan tiba-tiba dia meloncat ke depan, tangan kirinya menyambar tahu-tahu anak itu telah berada dalam cengkeraman tangan kirinya.

"Keparat! Kembalikan anakku!" teriak Wu Chu sambil menubruk untuk merampas anaknya. Akan tetapi, biarpun dia seorang panglima besar dan ahli dalam urusan peperangan, namun dalam hal ilmu silat, dia masih jauh kalau dibandingkan Tiong Li. Sambarannya luput dan sebaliknya, tiba-tiba golok di tangan Tiong Li sudah menodong dadanya.

"Sedikit saja bergerak, golok ini akan menembus jantungmu, ciangkun!" bentak Tiong Li sementara itu anak kecil yang berada dalam pondongan tangan kirinya sudah menjerit-jerit menangis.

Panglima Besar Wu Chu tidak berani bergerak lagi akan tetapi dia sempat berteriak memanggil pengawal. Tak lama kemudian sedikitnya tiga puluh orang pengawal memenuhi tempat itu, akan tetapi mereka tidak berani bergerak ketika melihat panglima mereka di todong dan putera panglima mereka dipondong seorang pemuda yang berpakaian peronda. Di antara para pengawal itu terdapat lima orang anggauta Golok Naga, dan mereka segera mengenal pemuda itu yang mereka sudah rasakan kelihaiannya ketika mengepung dan mengeroyoknya.

"Semua mundur! Siapa berani bergerak berarti matinya panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dan para pengepung itu dengan sendirinya melangkah mundur. Ada pula yang berlari keluar memanggil bala bantuan sehingga sebentar saja tempat itu penuh dengan pasukan.

"Orang muda, apa sebenarnya yang kau kehendaki?" Panglima Wu Chu yang masih tenang itu bertanya. Dia adalah seorang panglima besar, tidak mudah panik walaupun ditawannya puteranya membuat dia khawatir sekali.

"Tidak banyak," kata Tiong Li. "Nyawamu dan nyawa anakmu ini hendak kutukar dengan kebebasan puteri Sung Hiang Bwee dan Mestika Golok Naga!"

"Akan tetapi..."

"Jangan banyak cakap lagi. Kalau tidak setuju, aku akan membunuh puteramu dulu baru engkau!"

Para pasukan itu hendak menerjang maju, akan tetapi Panglima Wu Chu membentak mereka agar tidak bergerak. "Kalian jangan bergerak! Perwira Tong, cepat ambilkan sebuah golok naga!"

Yang disebut perwira Tong itu seorang yang pendek gendut segera maju dan menyerahkan sebatang golok yang berukir naga kepada Tiong Li.

"Apakah ini Mestika Golok Naga?" tanyanya kepada Wu Chu.

"Benar!" Tiong Li mengambil golok itu, menekuk dengan kedua tangan sambil memodong anak itu dan golok itu patah menjadi dua potong! "Kau bohong!" dia menghardik dan menodongkan senjatanya sehingga sedikit melukai kulit dada panglima itu. "Serahkan yang aselinya atau anakmu akan kusembelih!" Kini dia menempelkan goloknya ke leher anak itu yang menjerit-jerit ketakutan.

Panglima Wu Chu memandang dengan khawatir sekali. "Cepat ambilkan Mestika Golok Naga di kamarku, tergantung di dinding!" perintahnya dan perwira Tong itu segera berlari pergi. Tak lama kemudian dia telah kembali membawa sebatang golok dalam sarung.

"Cabut golok itu dan serahkan kepadaku!" bentak Tiong Li.

Perwira itu memandang atasannya dan Panglima Wu Chu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiong Li menerima golok itu dan baru memegangnya saja dia sudah yakin bahwa inilah golok aselinya. Dia mengadukan golok yang dipegangnya dengan golok itu dan goloknya patah menjadi dua dengan mudah! Kini dia memegang Mestika Golok Naga itu dan mengikatkan sarungnya di pinggang. Karena anak itu masih dipondongnya, Panglima Wu Chu tidak berani bergerak.

"Sekarang bawa keluar sang puteri. Cepat!"

"Bawa ia keluar!" kata Panglima Wu Chu.

Kembali perwira Tong yang berlari lari dan tidak terlalu lama kemudian dia sudah datang lagi mengikuti seorang wanita yang bukan lain adalah Sung Hiang Bwee. Puteri itu masih menjadi orang tahanan karena ia selalu menolak keinginan Wu Chu dan begitu melihat Tiong Li, sang puteri menangis menghampiri.

"Akhirnya engkau datang juga menolongku...!" Sang puteri saking girangnya hendak merangkul Tiong Li akan tetapi pemuda itu berkata.

"Nona, bersiaplah untuk keluar dari tempat ini. Harap engkau berjalan di belakangku," kata Tiong Li dengan singkat. Melihat kesungguhan sikap pemuda ini yang menodong Panglima Wu Chu dengan goloknya, puteri itupun maklum akan gawatnya keadaan.

"Baik, taihiap. Sungguh aku girang sekali melihat engkau," katanya lalu iapun berdiri di belakang pemuda itu.

Tiba-tiba dua orang pengawal dengan nekat menubruk dan menyerang Tiong Li. Tiong Li menggerakkan goloknya dan nampak sinar terang berkelebat di susul robohnya kedua orang itu, mandi darah.

"Sekali lagi ada yang bergerak, yang akan kubunuh adalah panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dengan hati khawatir juga karena kalau sekian banyaknya pasukan mengeroyoknya, biarpun dia akan dapat membunuh panglima itu, dia tentu tidak tega membunuh puteranya dan dia tidak akan mampu melindungi sang puteri!

"Tolol! Jangan ada yang menyerang!" teriak sang panglima yang tentu saja mengkhawatirkan dirinya sendiri dan puteranya.

"Ciangkun, sekarang engkau berjalan di depanku dan mengantarku keluar dari rumah ini. Hayo cepat dan jangan ada yang mendekat!"

Panglima itu terpaksa menurut dan semua pengawal hanya dapat mengikuti saja tidak berani terlalu mendekat. Tiong Li sambil memondong anak yang kini sudah agak mereda tangisnya, menodongkan goloknya ke punggung sang panglima dan Sung Hiang Bwee melangkah di belakangnya. Setelah tiba. di luar pintu gerbang Sehingga tentu akan kelihatan oleh Siang Hwi, Tiong Li berteriak,

"Hwi-moi, cepat kau ke sini!"

Gadis itu meloncat dekat dan semua pasukan tidak sempat menghadangnya.

"Bawa sang puteri pergi dari sini. Awas, kalau ada yang menghalangi atau mengejar, aku akan membunuh panglima dan puteranya!" Tiong Li berseru dengan suara berwibawa.

"Mari, sang puteri!" kata Siang Hwi sambil menggandeng tangan Sung Hiang Bwee, diajak pergi dari situ dengan cepat.

Tidak ada seorangpun berani menghalangi dan tidak ada pula yang berani melakukan pengejaran. Sebentar saja bayangan kedua orang gadis itu lenyap ditelan kegelapan malam. Siang Hwi membawa puteri itu keluar dari kota melalui pagar tembok yang dilompatinya sambil menggendong puteri itu. dan ia segera mengajak puteri itu berlari menuju ke perbukitan Fu-niu-san.

Sementara itu, Tiong Li yang masih memondong anak itu, minta diantar keluar dari pintu gerbang timur untuk mengalihkan perhatian. Sedikitnya seratus orang perajurit tetap saja mengikutinya dari jarak yang tidak terlalu dekat dan panglima itu masih terus di todong di depannya. Setelah agak jauh dari pintu gerbang, barulah Tiong Li menurunkan anak itu dari pondongannya dan anak itu segera dipondong ayahnya!

"Ciangkun, maafkan aku. Terpaksa aku mengambil cara ini untuk membebaskan sang puteri dan untuk mengambil kembali Mestika Golok Naga. Engkau tidak berhak atas keduanya. Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan mengerahkan orang mencariku. Selain percuma, juga kalau aku menjadi marah mungkin peristiwa seperti ini akan terulang lagi. Akan tetapi belum tentu aku akan membebaskanmu! Nah, selamat tinggal!" Tiba-tiba Tiong Li meloncat dan berkelebat menghilang di dalam kegelap an malam.

"Kejar dan Tangkap dia!" Kini panglima itu berteriak-teriak dan dia sendiri mendekap dan menciumi puteranya dengan hati lega karena putera yang disayangnya itu selamat.

Saking marahnya hati Panglima Wu Chu, dia memerintahkan pada malam hari itu juga untuk membunuh Souw Cun Ki, pemuda Kun-lun-pai yang dulu pernah hendak menolong sang puteri. Tanpa banyak alasan lagi malam hari itu juga Souw Cun Ki dibunuh oleh para pengawal di dalam kamar tahanannya!

********************

Cersil Online Karya Kho Ping Hoo Serial Mestika Golok Naga

Siang Hwi mengajak Hiang Bwee ke puncak bukit di mana kuil Siauw-lim-si itu berada dan cepat mereka diterima oleh Ceng Ho Hwe-shio dan diajak ke sebelah dalam.

"Enci, siapakah engkau?" tanya puteri itu kepada Siang Hwi.

"Saya bernama The Siang Hwi, nona," jawab Siang Hwi dengan hormat. "Dan ini adalah Ceng Ho Hwe-shio, ketua kuil ini yang melindungi dan menyembunyikan kita. Di sini, engkau tidak usah khawatir karena tidak ada yang akan berani mencari ke dalam."

"Aku tidak khawatir selama Tan-taihiap berada bersamaku," jawab puteri itu. "Bukan main gagah dan lihainya Tan-taihiap. Berani menawan Panglima Wu Chu dan memaksanya membebaskan aku. Akan tetapi, bagaimana dia akan dapat membebaskan diri dari kepungan pasukan sebanyak itu?"

"Harap jangan khawatir, aku yakin, bahwa Li-koko akan mampu membebaskan diri."

"Hemm, apa hubunganmu dengan Tan-taihiap, enci?"

Wajah Siang Hwi berubah kemerahan ditanya seperti itu. "Kami... kami adalah sahabat baik yang bekerja sama untuk membebaskanmu dari tempat tinggal Panglima Wu Chu. Sudahlah, nona. Engkau telah melakukan perjalanan melelahkan dan mengalami banyak hal yang menggelisahkan, harap beristirahat dan tidur."

"Bagaimana aku dapat tidur sebelum Tan-taihiap datang? Aku harus melihat dia selamat dulu dan tiba di sini," kata puteri itu.

Dan Siang Hwi merasa hatinya tidak enak sekali. Dari sikapnya, jelas baginya bahwa sang puteri ini rupanya amat tertarik dan memperhatikan Tiong Li. Dan ia sudah mendengar dari Tiong Li betapa pemuda itu pernah membebaskan puteri ini dari tangan seorang penculik dahulu. Mereka sudah saling mengenal.

Baru menjelang pagi Tiong Li yang melarikan diri dari pintu gerbang timur itu tiba di situ. Bayangannya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah berada di depan dua orang gadis itu.

"Tan-taihiap...!" Sang puteri berseru gembira, bangkit berdiri dan menyongsong pemuda itu, lalu tanpa ragu dan sungkan lagi ia memegang kedua tangan Tiong Li.

"Engkau membuatku tidak dapat tidur, khawatir kalau engkau tidak dapat lolos dari kepungan mereka! Bagaimana, taihiap? Apakah engkau sudah membunuh jahanam Wu Chu itu?"

"Tidak, nona. Aku sudah berjanji menukarkan nyawanya dan nyawa puteranya dengan dirimu dan Mestika Golok Naga!"

"Ah, sayang. Orang macam itu sebaiknya dibunuh saja!" kata sang puteri dengan kecewa. "Dan kapan engkau akan mengantar aku pulang ke istana? Sekali ini ayah tentu akan girang sekali dan engkau tidak boleh lagi menolak anugerah pemberian ayahanda Kaisar"

"Kita tidak boleh tergesa meninggalkan tempat ini, nona. Panglima Wu Chu tentu sedang mengerahkan pasukannya untuk melakukan pengejaran sampai di perbatasan. Bahkan mungkin dia sudah menghubungi Perdana Menteri Jin Kui untuk membantunya melakukan penangkapan terhadap diriku kalau aku berhasil melewati perbatasan. Sebaiknya untuk selama beberapa hari ini kita tinggal dulu di sini."

"Omitohud! Selamat, selamat, Tan-sicu. Engkau telah berhasil! Benar sekali, tuan puteri. Sebaiknya cu-wi tinggal di sini dulu sampai pengejaran itu mereda. Pin-ceng akan menyuruh para murid menyelidiki. Kalau sudah mereda, barulah kalian pergi meninggalkan kuil dan kembali ke selatan," kata Ceng Ho Hweshio yang muncul dan tersenyum lebar kepada Tiong Li.

Tiong Li memberi hormat kepada hwe-shio tua itu. "Kalau tidak ada pertolongan dari lo-suhu, semua usaha kami akan sia-sia belaka. Juga jasa Hwi-moi tidak boleh dilupakan, ia yang telah mengawal sang puteri sampai kesini tanpa diketahui orang. Engkau memang hebat, Hwi-moi!"

Siang Hwi tersenyum dengan hati senang, la tahu bahwa kekasihnya itu sengaja memujinya untuk menyenangkan hatinya. "Ahh, aku hanya membantumu, koko. Tidak usah terlalu memujiku! Engkaulah yang hebat. Tak kusangka engkau akan dapat menawan mereka semudah itu. Dan engkau telah berganti pakaian seorang di antara penjaga. Lucu sekali. Ceritakan, koko, bagaimana engkau melakukannya?"

Sang puteri mengerutkan alisnya. Dilihatnya betapa akrab kedua orang muda itu dan dari pandang mata mereka saja ia sudah dapat tahu bahwa ada apa-apa di antara mereka!

"Ya, ceritakanlah, Tan-taihiap. Akupun ingin mendengarnya," akhirnya ia berkata agar jangan merasa terlalu tersisih.

Tiong Li lalu menceritakan pengalamannya ketika menyandera Wu Chu dan puteranya sambil menyamar sebagai seorang peronda. Semua yang mendengarnya memuji, bahkan Ceng Ho Hwe-shio menarik napas panjang sambil berkata.

"Omitohud, engkau memang luar biasa sekali, Tan-taihiap! Biarpun aku belum melihatnya sendiri, aku yakin bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Kalau boleh pin-ceng mengetahui, siapakah gurumu, sicu?"

Terhadap hwe-shio yang sudah menolongnya itu, Tiong Li tidak ingin menyembunyikan keadaan dirinya. "Saya mempunyai tiga orang guru, lo-suhu. Guru saya yang pertama adalah mendiang Pek Hong San-jin, yang kedua adalah suhu Thian Kui Lo-jin dan ke tiga Tee Kui Lo-jin."

Ceng Ho Hwe-shio terbelalak. "Omitohud...! Pin-ceng mengenal siapa mereka! Kiranya sicu murid orang-orang sakti itu. Pantas saja kalau begitu dan pinceng merasa girang sekali dapat membantu murid mereka."

Demikianlah, setelah tinggal disitu selama sepekan dan dari para hwe-shio yang melakukan penyelidikan di peroleh keterangan bahwa kini tidak ada lagi pasukan yang mencari-cari mereka, Tiong Li lalu mengajak Siang Hwi dan puteri itu untuk meninggalkan kuil.

Mereka membeli tiga ekor kuda atas bantuan para hwe-shio dan mereka meninggalkan kuil itu dengan menunggang kuda. Untung bahwa puteri Hiang Bwee biarpun tidak pandai silat akan tetapi mempunyai kegemaran ikut ayahanda kaisar pergi berburu binatang buas sehingga ia pandai menunggang kuda...

Mestika Golok Naga Jilid 14

SETELAH percaya benar kepada Ceng Ho Hwe-shio, Tiong Li dan Siang Hwi dengan terus terang menceritakan pengalaman mereka dan maksud mereka memasuki wilayah Kin.

"Lo-suhu, saya adalah orang yang difitnah oleh Perdana Menteri Jin Kui, di tuduh menculik puteri Sung Hiang Bwee sehingga di Kerajaan Sung saya menjadi buruan pemerintah yang hendak menangkap saya sebagai seorang pemberontak. Kemudian saya mendengar bahwa sebetulnya yang menculik sang puteri adalah kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui sendiri, dan sang puteri diserahkan kepada Panglima Wu Chu sebagai hadiah. Oleh karena itulah maka kami datang ke sini untuk membuktikan apakah benar sang puteri berada di sini dan kalau mungkin saya akan menolongnya untuk dikembalikan ke kota raja sehingga nama saya dapat menjadi bersih, dan ke kejaman dan pengkhianatan Perdana Menteri Jin Kui dapat terbongkar."

"Omitohud! Perdana Menteri Jin Kuj adalah seorang yang amat jahat dan licik. Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa dan setia itu sampai tewas secara sia-sia hanya karena kelicikan Perdana Menteri Jin Kui itu. Andai kata engkau dapat menolong sang puteri keluar dari sini dan kembali ke kota raja Hang-couw, bagaimana engkau dapat menuduhnya? Tidak ada bukti bahwa yang menculik adalah orangnya. Engkau harus berhati-hati sekali berhadapan dengan orang macam Jin Kui itu, orang muda."

"Biarpun begitu, saya harus menolong sang puteri. Dengan kesaksian sang puteri bahwa saya bukan penculiknya, nama saya akan dapat dibikin bersih, tidak lagi dicap sebagai pemberontak. Akan tetapi saya tidak tahu dengan pasti, apakah berita yang saya terima itu benar bahwa sang puteri berada di tempat tinggal Panglima Wu Chu?"

"Pin-ceng juga mendengar bahwa Panglima Besar Wu Chu menerima hadiah seorang puteri kaisar. Dan dari keluarga wanita panglima itu yang bersembahyang di sini, pinceng mendengar bahwa sang puteri menolak dijadikan selir panglima itu, dan karenanya sekarang masih menjadi orang tahanan."

"Di rumah panglima itu?"

"Tentu saja, karena tahanan itu merupakan tahanan istimewa, agaknya untuk membujuk agar sang puteri mau menjadi selirnya."

Tiong Li mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, dia harus menyelidiki sendiri ke tempat tinggal panglima itu. "Lo-suhu, saya melihat Barisan Golok Naga itu amat tangguh. Dan senjata golok mereka hebat sekali. Apakah lo-suhu mengetahui asal usul barisan golok itu?"

"Barisan Golok Naga itu merupakan pasukan khusus yang dibentuk oleh Panglima Besar Wu Chu, dan memang terdiri dari orang-orang yang lihai. Dibentuknya juga belum begitu lama, mungkin mendapat latihan khusus di benteng panglima itu. Engkau harus berhati-hati menghadapi mereka, orang-muda. Mereka itu selain lihai, juga kabarnya kejam dan dengan mudah membunuh orang yang dimusuhi."

Kini Tiong Li merasa yakin. Agaknya Mestika Golok Naga ada pula pada panglima besar Bangsa Kin itu.Ini berarti bahwa pencuri Mestika Golok Naga, yaitu Hak Bu Cu yang tewas ditangan Ban-tok Sian-li telah menyerahkan pusaka itu kepada panglima besar itu. Dia percaya bahwa Hak Bu Chu, seperti juga Tang Boa Lu, adalah kaki tangan Kin yang sengaja dikirim untuk membantu usaha Perdana Menteri Jin Kui untuk menghadapi golongan yang membenci pemerintah Kin.

Orang-orang seperti Hak Bu Cu dan Tang Boa Lu itu cukup lihai untuk melakukan penculikan itu, di samping beberapa orang jagoan yang menjadi kaki tangan perdana menteri itu. Menurut dugaannya, baik Mestika Golok Naga maupun puteri Sung Hiang Bwee berada di rumah Panglima Besar Wu Chu!

Sehari itu Tiong Li memeras otaknya untuk mencari jalan bagaimana dia akan dapat merampas kembali Mestika Golok Naga dan sekaligus membebaskan sang puteri. Dia harus menggunakan akal. Kalau hanya mempergunakan kepandaian silatnya saja, mungkin dia akan dapat keluar masuk dari tempat itu mengandalkan kepandaian, akan tetapi untuk membawa keluar sang puteri? Sungguh merupakan pekerjaan yang amat sukar, bahkan tidak mungkin dilaksanakan!

"Lo-suhu," dia minta keterangan kepada Ceng Ho Hweshio. "Apakah lo-suhu mengetahui, siapa yang menjadi orang kesayangan Panglima Besar Wu Chu? Barangkali seorang di antara puteranya, atau selirnya?"

"Dia hanya mempunyai seorang putera biarpun ada beberapa orang puterinya, karena itu dia amat menyayang puteranya itu lebih dari segalanya."

"Berapa usia puteranya itu?"

"Masih kecil, paling banyak lima tahun usianya. Kenapa engkau menanyakan hal itu?"

"Tidak apa-apa, lo-suhu. Saya hanya sedang berpikir dan mencari akal bagaimana saya dapat membebaskan sang puteri dan sekaligus mencari kembali pusaka Kerajaan Sung yang dicuri orang."

Tiong Li kini mendapat akal. Dia harus menggunakan akal itu, kalau dia ingin berhasil. Malam itu dia menemui Siang Hwi di kuil itu, dan mengajaknya bercakap-cakap.

"Hwi-moi, aku Sudah mendapatkan, akal. Kuharap saja akal ini berhasil baik, karena kalau tidak, akan sia-sia perjalanan kita, bahkan mungkin berbalik akan membahayakan kita."

"Bagaimana akalmu itu, koko?"

Dengan berbisik-bisik Tiong Li berkata kepadanya. "Kita sekarang, malam ini juga, pergi ke gedung Pangiima Besar Wu Chu. Engkau tidak perlu ikut masuk, melainkan menanti di luar sambil bersembunyi. Aku akan memaksa panglima itu untuk menyerahkan pusaka itu dan membebaskan sang puteri. Setelah berhasil, engkau membawa sang puteri ke sini dan menyembunyikan di sini."

"Bagaimana engkau akan dapat memaksanya, koko?" tanya Siang Hwi khawatir.

"Jangan khawatir, aku telah mengetahui kelemahannya. Aku tentu akan dapat memaksanya melakukan itu. Tugasmu hanya mengantar sang puteri ketempat ini dan bersembunyi di sini menanti sampai aku datang."

"Baik, koko. Akan tetapi berhati hatilah. Ciu Bhok Hi itu dengan Pasukan Golok Naganya amat berbahaya."

"Aku tahu dan aku akan selalu berhati-hati. Kita harus mengenakan pakaian serba hitam, Hwi-moi dan setelah berganti pakaian, kita berangkat."

Demikianlah, diantar oleh Ceng Ho Hwe-shio sampai keluar dari kuil, dua orang muda itu meninggalkan kuil melalui tembok belakang kuil agar tidak kelihatan oleh orang lain. Kemudian, keduanya mempergunakan ilmu lari cepat menuruni lereng bukit itu dan menuju ke Lok-yang.

Dengan mudah mereka melompati pagar tembok tinggi yang mengelilingi kota Lok-yang, kemudian memasuki kota itu, menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Karena gerakan mereka memang ringan dan cepat, maka mereka hanya nampak seperti dua bayangan hitam saja. Akhirnya mereka dapat mendekati rumah gedung Panglima Besar Wu Chu.

"Engkau menanti di sini. Baru keluar dari sini kalau engkau melihat aku keluar dari pintu gerbang itu membawa sang puteri. Sebelum aku muncul, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, Hwi-moi."

"Baik, koko."

"Nah, aku pergi, Hwi-moi!"

"Nanti dulu, koko."

Tiong Li menahan langkahnya dan membalik. "Ada apa lagi, Hwi-moi?"

Gadis itu menghampiri dan merangkul leher Tiong Li. "Engkau... yang hati-hati menjaga dirimu, koko."

Tiong Li menunduk dan mencium dahi gadis itu. "Aku tahu, aku masih belum ingin berpisah darimu, Hwi-moi. Engkau juga berhati-hatilah. Menyingkirlah kalau ada orang mendekat tempat ini..." Kemudian Tiong Li berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Untung bagi mereka. Malam itu gelap sekali karena udara mendung dan angin bertiup mendatangkan hawa dingin. Karena udara buruk, maka jarang ada orang keluar dari rumahnya dan suasana di sekeliling tempat itu sunyi sekali. Akan tetapi penjagaan di rumah gedung Panglima Besar Wu Chu tetap ketat. Di depan pintu gerbang berkumpul belasan orang perajurit yang berjaga.

Dan Tiong Li sudah tahu bahwa di atas genteng terdapat alat-alat rahasia yang dapat memberi tahu kalau ada orang datang melalui atap. Dia sudah melompati pagar tembok dan tiba di taman. Agaknya taman ini yang paling aman karena banyak pohon-pohon. Dia mengintai dari balik rumpun bunga yang tebal dan melihat dua orang peronda membawa lampu teng berjalan datang sambil bercakap-cakap.

Tiong Li berpikir sejenak dan mengambil keputusan yang amat berani. Dia menanti sampai dua orang itu datang dekat. Lalu tiba-tiba dia meloncat dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu sudah menjadi lumpuh tertotok dan lampu teng sudah berpindah ke tangannya!

Dia memandangi kedua orang itu dengan lampu teng menyinari wajah mereka. Orang yang tinggi besar itu memandang dengan wajah ketakutan sedangkan yang kurus bahkan mendelik dengan marah. Dia lalu menotok lagi yang kurus sehingga roboh pingsan, mengikat kaki tangannya dengan sabuk orang itu sendiri, juga mulutnya ditutup kain, lalu menyeretnya ke balik semak belukar.

Sedangkan yang tinggi besar itu dia totok urat gagunya sehingga tidak dapat bicara. Dan dalam keadaan masih tertotok lemas itu, diancamnya orang itu sambil menodongkan golok di batang lehernya.

"Engkau ingin hidup?" gertaknya.

Orang tinggi besar itu mengangguk-angguk lemah. Hanya kaki tangannya saja yang tidak mampu digerakkan.

"Engkau tidak ingin mampus?" kembali dia bertanya.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepala dengan mata terbelalak penuh ketakutan.

"Baik, kalau begitu, aku minta engkau mengantarkan aku ketempat di mana Panglima Wu Chu berada. Sanggup?"

Orang itu memandang liar ke kanan kiri, nampak ketakutan dan agaknya sulit untuk mengambil keputusan.

"Hayo jawab, atau engkau ingin aku menyembelihmu sekarang juga!" Goloknya ditempelkan ke kulit leher.

Orang itu cepat mengangguk-angguk, menyatakan sanggup. Tiong Li lalu melucuti pakaian si kurus dan dipakainya pakaian itu. Dia menyamar sebagai seorang petugas ronda. Kemudian, dengan golok telanjang di tangan, dia membebaskan si tinggi besar yang ketakutan, akan tetapi orang tinggi besar itu biarpun sudah dapat menggerakkan kaki tangan, tetap saja dia tidak dapat mengeluarkan suara.

"Nah, sekarang bawa aku ke sana. Awas, sekali saja engkau melakukan gerakan yang tidak kukehendaki, golok ini akan memenggal lehermu!"

Kembali dia menempelkan golok di leher orang itu yang nampak menggigil saking takutnya. Tiong Li merasa senang. Pilihannya tepat. Orang tinggi besar ini berhati kecil dan penakut sehingga dapat diharapkan akan menaati semua perintahnya.

"Bawa lampu teng ini dan berjalanlah di depan," bisiknya. "Bersikap biasa saja kalau bertemu penjaga lain seolah tidak terjadi sesuatu. Dan cepat bawa aku ke tempat di mana Wu Chu berada!"

Dari belakang dia menodongkan goloknya ke punggung orang itu dan bergeraklah mereka meninggalkan taman. Orang itu benar-benar ketakutan, mereka memasuki gedung itu dari pintu belakang dan empat orang penjaga yang melihat dua orang peronda ini tidak menaruh perhatian. Apa lagi wajah Tiong Li terhalang bayangan si tinggi besar yang membawa lampu di depannya, sehingga wajah Tiong Li terliputi kegelapan.

Setelah melalui jalan berlika liku, dari jauh orang itu menunjuk ke sebuah ruangan. Tiong Li melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, tinggi besar dan mukanya brewok, sedang bermain-main dengan seorang anak laki-laki.

"Itukah Wu Chu?" bisik Tiong Li dan tawanannya mengangguk. "Antarkan aku ke kamar puteranya!" kata pula Tiong Li.

Orang itu menunjuk ke depan, ke arah-anak yang sedang bermain-main dengan orang tinggi besar itu. "Kau maksudkan anak itu puteranya?"

Orang itu mengangguk. "Engkau tindak berbohong?" tanya Tiong Li yang merasa gembira bukan main.

Sungguh baik sekali peruntungannya, sekaligus dapat menemukan Panglima Besar Wu Chu dan puteranya. Sebetulnya dia ingin menculik putera itu yang masih kecil dan yang di sayang untuk ditukar dengan sang puteri dan Mestika Golok Naga. Akan tetapi sekarang keduanya berada di situ. Sungguh kebetulan yang menguntungkan sekali.

Orang itu menggeleng kepalanya. "Awas. engkau kutinggal dulu di sini dalam keadaan tertotok, kalau engkau berbohong, aku akan kembali di sini untuk memenggal lehermu. Benar engkau tidak membohong?"

Orang itu kembali menggeleng kepala keras-keras dan Tiong Li segera merampas lampu teng sambil menotok orang itu sehingga roboh pingsan tanpa mengeluarkan suara karena dia sudah menahan tubuhnya. Kemudian, sambil membawa lampu teng dia menghampiri ruangan yang terbuka itu. Orang tinggi besar yang sedang main-main dengan anak itu. ketika melihat seorang peronda menghampiri, segera memondong anak itu dan menghardik,

"Mau apa engkau ke sini!"

"Maafkan saja, ciangkun. Ada seorang yang menanyakan di mana adanya Panglima Besar Wu Chu."

"Siapa orang yang bertanya tentang aku itu?" bentak sang panglima marah karena dia merasa terganggu dengan kemunculan peronda itu.

"Aku yang menanyakannya!" kata Tiong Li dan tiba-tiba dia meloncat ke depan, tangan kirinya menyambar tahu-tahu anak itu telah berada dalam cengkeraman tangan kirinya.

"Keparat! Kembalikan anakku!" teriak Wu Chu sambil menubruk untuk merampas anaknya. Akan tetapi, biarpun dia seorang panglima besar dan ahli dalam urusan peperangan, namun dalam hal ilmu silat, dia masih jauh kalau dibandingkan Tiong Li. Sambarannya luput dan sebaliknya, tiba-tiba golok di tangan Tiong Li sudah menodong dadanya.

"Sedikit saja bergerak, golok ini akan menembus jantungmu, ciangkun!" bentak Tiong Li sementara itu anak kecil yang berada dalam pondongan tangan kirinya sudah menjerit-jerit menangis.

Panglima Besar Wu Chu tidak berani bergerak lagi akan tetapi dia sempat berteriak memanggil pengawal. Tak lama kemudian sedikitnya tiga puluh orang pengawal memenuhi tempat itu, akan tetapi mereka tidak berani bergerak ketika melihat panglima mereka di todong dan putera panglima mereka dipondong seorang pemuda yang berpakaian peronda. Di antara para pengawal itu terdapat lima orang anggauta Golok Naga, dan mereka segera mengenal pemuda itu yang mereka sudah rasakan kelihaiannya ketika mengepung dan mengeroyoknya.

"Semua mundur! Siapa berani bergerak berarti matinya panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dan para pengepung itu dengan sendirinya melangkah mundur. Ada pula yang berlari keluar memanggil bala bantuan sehingga sebentar saja tempat itu penuh dengan pasukan.

"Orang muda, apa sebenarnya yang kau kehendaki?" Panglima Wu Chu yang masih tenang itu bertanya. Dia adalah seorang panglima besar, tidak mudah panik walaupun ditawannya puteranya membuat dia khawatir sekali.

"Tidak banyak," kata Tiong Li. "Nyawamu dan nyawa anakmu ini hendak kutukar dengan kebebasan puteri Sung Hiang Bwee dan Mestika Golok Naga!"

"Akan tetapi..."

"Jangan banyak cakap lagi. Kalau tidak setuju, aku akan membunuh puteramu dulu baru engkau!"

Para pasukan itu hendak menerjang maju, akan tetapi Panglima Wu Chu membentak mereka agar tidak bergerak. "Kalian jangan bergerak! Perwira Tong, cepat ambilkan sebuah golok naga!"

Yang disebut perwira Tong itu seorang yang pendek gendut segera maju dan menyerahkan sebatang golok yang berukir naga kepada Tiong Li.

"Apakah ini Mestika Golok Naga?" tanyanya kepada Wu Chu.

"Benar!" Tiong Li mengambil golok itu, menekuk dengan kedua tangan sambil memodong anak itu dan golok itu patah menjadi dua potong! "Kau bohong!" dia menghardik dan menodongkan senjatanya sehingga sedikit melukai kulit dada panglima itu. "Serahkan yang aselinya atau anakmu akan kusembelih!" Kini dia menempelkan goloknya ke leher anak itu yang menjerit-jerit ketakutan.

Panglima Wu Chu memandang dengan khawatir sekali. "Cepat ambilkan Mestika Golok Naga di kamarku, tergantung di dinding!" perintahnya dan perwira Tong itu segera berlari pergi. Tak lama kemudian dia telah kembali membawa sebatang golok dalam sarung.

"Cabut golok itu dan serahkan kepadaku!" bentak Tiong Li.

Perwira itu memandang atasannya dan Panglima Wu Chu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiong Li menerima golok itu dan baru memegangnya saja dia sudah yakin bahwa inilah golok aselinya. Dia mengadukan golok yang dipegangnya dengan golok itu dan goloknya patah menjadi dua dengan mudah! Kini dia memegang Mestika Golok Naga itu dan mengikatkan sarungnya di pinggang. Karena anak itu masih dipondongnya, Panglima Wu Chu tidak berani bergerak.

"Sekarang bawa keluar sang puteri. Cepat!"

"Bawa ia keluar!" kata Panglima Wu Chu.

Kembali perwira Tong yang berlari lari dan tidak terlalu lama kemudian dia sudah datang lagi mengikuti seorang wanita yang bukan lain adalah Sung Hiang Bwee. Puteri itu masih menjadi orang tahanan karena ia selalu menolak keinginan Wu Chu dan begitu melihat Tiong Li, sang puteri menangis menghampiri.

"Akhirnya engkau datang juga menolongku...!" Sang puteri saking girangnya hendak merangkul Tiong Li akan tetapi pemuda itu berkata.

"Nona, bersiaplah untuk keluar dari tempat ini. Harap engkau berjalan di belakangku," kata Tiong Li dengan singkat. Melihat kesungguhan sikap pemuda ini yang menodong Panglima Wu Chu dengan goloknya, puteri itupun maklum akan gawatnya keadaan.

"Baik, taihiap. Sungguh aku girang sekali melihat engkau," katanya lalu iapun berdiri di belakang pemuda itu.

Tiba-tiba dua orang pengawal dengan nekat menubruk dan menyerang Tiong Li. Tiong Li menggerakkan goloknya dan nampak sinar terang berkelebat di susul robohnya kedua orang itu, mandi darah.

"Sekali lagi ada yang bergerak, yang akan kubunuh adalah panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dengan hati khawatir juga karena kalau sekian banyaknya pasukan mengeroyoknya, biarpun dia akan dapat membunuh panglima itu, dia tentu tidak tega membunuh puteranya dan dia tidak akan mampu melindungi sang puteri!

"Tolol! Jangan ada yang menyerang!" teriak sang panglima yang tentu saja mengkhawatirkan dirinya sendiri dan puteranya.

"Ciangkun, sekarang engkau berjalan di depanku dan mengantarku keluar dari rumah ini. Hayo cepat dan jangan ada yang mendekat!"

Panglima itu terpaksa menurut dan semua pengawal hanya dapat mengikuti saja tidak berani terlalu mendekat. Tiong Li sambil memondong anak yang kini sudah agak mereda tangisnya, menodongkan goloknya ke punggung sang panglima dan Sung Hiang Bwee melangkah di belakangnya. Setelah tiba. di luar pintu gerbang Sehingga tentu akan kelihatan oleh Siang Hwi, Tiong Li berteriak,

"Hwi-moi, cepat kau ke sini!"

Gadis itu meloncat dekat dan semua pasukan tidak sempat menghadangnya.

"Bawa sang puteri pergi dari sini. Awas, kalau ada yang menghalangi atau mengejar, aku akan membunuh panglima dan puteranya!" Tiong Li berseru dengan suara berwibawa.

"Mari, sang puteri!" kata Siang Hwi sambil menggandeng tangan Sung Hiang Bwee, diajak pergi dari situ dengan cepat.

Tidak ada seorangpun berani menghalangi dan tidak ada pula yang berani melakukan pengejaran. Sebentar saja bayangan kedua orang gadis itu lenyap ditelan kegelapan malam. Siang Hwi membawa puteri itu keluar dari kota melalui pagar tembok yang dilompatinya sambil menggendong puteri itu. dan ia segera mengajak puteri itu berlari menuju ke perbukitan Fu-niu-san.

Sementara itu, Tiong Li yang masih memondong anak itu, minta diantar keluar dari pintu gerbang timur untuk mengalihkan perhatian. Sedikitnya seratus orang perajurit tetap saja mengikutinya dari jarak yang tidak terlalu dekat dan panglima itu masih terus di todong di depannya. Setelah agak jauh dari pintu gerbang, barulah Tiong Li menurunkan anak itu dari pondongannya dan anak itu segera dipondong ayahnya!

"Ciangkun, maafkan aku. Terpaksa aku mengambil cara ini untuk membebaskan sang puteri dan untuk mengambil kembali Mestika Golok Naga. Engkau tidak berhak atas keduanya. Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan mengerahkan orang mencariku. Selain percuma, juga kalau aku menjadi marah mungkin peristiwa seperti ini akan terulang lagi. Akan tetapi belum tentu aku akan membebaskanmu! Nah, selamat tinggal!" Tiba-tiba Tiong Li meloncat dan berkelebat menghilang di dalam kegelap an malam.

"Kejar dan Tangkap dia!" Kini panglima itu berteriak-teriak dan dia sendiri mendekap dan menciumi puteranya dengan hati lega karena putera yang disayangnya itu selamat.

Saking marahnya hati Panglima Wu Chu, dia memerintahkan pada malam hari itu juga untuk membunuh Souw Cun Ki, pemuda Kun-lun-pai yang dulu pernah hendak menolong sang puteri. Tanpa banyak alasan lagi malam hari itu juga Souw Cun Ki dibunuh oleh para pengawal di dalam kamar tahanannya!

********************

Cersil Online Karya Kho Ping Hoo Serial Mestika Golok Naga

Siang Hwi mengajak Hiang Bwee ke puncak bukit di mana kuil Siauw-lim-si itu berada dan cepat mereka diterima oleh Ceng Ho Hwe-shio dan diajak ke sebelah dalam.

"Enci, siapakah engkau?" tanya puteri itu kepada Siang Hwi.

"Saya bernama The Siang Hwi, nona," jawab Siang Hwi dengan hormat. "Dan ini adalah Ceng Ho Hwe-shio, ketua kuil ini yang melindungi dan menyembunyikan kita. Di sini, engkau tidak usah khawatir karena tidak ada yang akan berani mencari ke dalam."

"Aku tidak khawatir selama Tan-taihiap berada bersamaku," jawab puteri itu. "Bukan main gagah dan lihainya Tan-taihiap. Berani menawan Panglima Wu Chu dan memaksanya membebaskan aku. Akan tetapi, bagaimana dia akan dapat membebaskan diri dari kepungan pasukan sebanyak itu?"

"Harap jangan khawatir, aku yakin, bahwa Li-koko akan mampu membebaskan diri."

"Hemm, apa hubunganmu dengan Tan-taihiap, enci?"

Wajah Siang Hwi berubah kemerahan ditanya seperti itu. "Kami... kami adalah sahabat baik yang bekerja sama untuk membebaskanmu dari tempat tinggal Panglima Wu Chu. Sudahlah, nona. Engkau telah melakukan perjalanan melelahkan dan mengalami banyak hal yang menggelisahkan, harap beristirahat dan tidur."

"Bagaimana aku dapat tidur sebelum Tan-taihiap datang? Aku harus melihat dia selamat dulu dan tiba di sini," kata puteri itu.

Dan Siang Hwi merasa hatinya tidak enak sekali. Dari sikapnya, jelas baginya bahwa sang puteri ini rupanya amat tertarik dan memperhatikan Tiong Li. Dan ia sudah mendengar dari Tiong Li betapa pemuda itu pernah membebaskan puteri ini dari tangan seorang penculik dahulu. Mereka sudah saling mengenal.

Baru menjelang pagi Tiong Li yang melarikan diri dari pintu gerbang timur itu tiba di situ. Bayangannya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah berada di depan dua orang gadis itu.

"Tan-taihiap...!" Sang puteri berseru gembira, bangkit berdiri dan menyongsong pemuda itu, lalu tanpa ragu dan sungkan lagi ia memegang kedua tangan Tiong Li.

"Engkau membuatku tidak dapat tidur, khawatir kalau engkau tidak dapat lolos dari kepungan mereka! Bagaimana, taihiap? Apakah engkau sudah membunuh jahanam Wu Chu itu?"

"Tidak, nona. Aku sudah berjanji menukarkan nyawanya dan nyawa puteranya dengan dirimu dan Mestika Golok Naga!"

"Ah, sayang. Orang macam itu sebaiknya dibunuh saja!" kata sang puteri dengan kecewa. "Dan kapan engkau akan mengantar aku pulang ke istana? Sekali ini ayah tentu akan girang sekali dan engkau tidak boleh lagi menolak anugerah pemberian ayahanda Kaisar"

"Kita tidak boleh tergesa meninggalkan tempat ini, nona. Panglima Wu Chu tentu sedang mengerahkan pasukannya untuk melakukan pengejaran sampai di perbatasan. Bahkan mungkin dia sudah menghubungi Perdana Menteri Jin Kui untuk membantunya melakukan penangkapan terhadap diriku kalau aku berhasil melewati perbatasan. Sebaiknya untuk selama beberapa hari ini kita tinggal dulu di sini."

"Omitohud! Selamat, selamat, Tan-sicu. Engkau telah berhasil! Benar sekali, tuan puteri. Sebaiknya cu-wi tinggal di sini dulu sampai pengejaran itu mereda. Pin-ceng akan menyuruh para murid menyelidiki. Kalau sudah mereda, barulah kalian pergi meninggalkan kuil dan kembali ke selatan," kata Ceng Ho Hweshio yang muncul dan tersenyum lebar kepada Tiong Li.

Tiong Li memberi hormat kepada hwe-shio tua itu. "Kalau tidak ada pertolongan dari lo-suhu, semua usaha kami akan sia-sia belaka. Juga jasa Hwi-moi tidak boleh dilupakan, ia yang telah mengawal sang puteri sampai kesini tanpa diketahui orang. Engkau memang hebat, Hwi-moi!"

Siang Hwi tersenyum dengan hati senang, la tahu bahwa kekasihnya itu sengaja memujinya untuk menyenangkan hatinya. "Ahh, aku hanya membantumu, koko. Tidak usah terlalu memujiku! Engkaulah yang hebat. Tak kusangka engkau akan dapat menawan mereka semudah itu. Dan engkau telah berganti pakaian seorang di antara penjaga. Lucu sekali. Ceritakan, koko, bagaimana engkau melakukannya?"

Sang puteri mengerutkan alisnya. Dilihatnya betapa akrab kedua orang muda itu dan dari pandang mata mereka saja ia sudah dapat tahu bahwa ada apa-apa di antara mereka!

"Ya, ceritakanlah, Tan-taihiap. Akupun ingin mendengarnya," akhirnya ia berkata agar jangan merasa terlalu tersisih.

Tiong Li lalu menceritakan pengalamannya ketika menyandera Wu Chu dan puteranya sambil menyamar sebagai seorang peronda. Semua yang mendengarnya memuji, bahkan Ceng Ho Hwe-shio menarik napas panjang sambil berkata.

"Omitohud, engkau memang luar biasa sekali, Tan-taihiap! Biarpun aku belum melihatnya sendiri, aku yakin bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Kalau boleh pin-ceng mengetahui, siapakah gurumu, sicu?"

Terhadap hwe-shio yang sudah menolongnya itu, Tiong Li tidak ingin menyembunyikan keadaan dirinya. "Saya mempunyai tiga orang guru, lo-suhu. Guru saya yang pertama adalah mendiang Pek Hong San-jin, yang kedua adalah suhu Thian Kui Lo-jin dan ke tiga Tee Kui Lo-jin."

Ceng Ho Hwe-shio terbelalak. "Omitohud...! Pin-ceng mengenal siapa mereka! Kiranya sicu murid orang-orang sakti itu. Pantas saja kalau begitu dan pinceng merasa girang sekali dapat membantu murid mereka."

Demikianlah, setelah tinggal disitu selama sepekan dan dari para hwe-shio yang melakukan penyelidikan di peroleh keterangan bahwa kini tidak ada lagi pasukan yang mencari-cari mereka, Tiong Li lalu mengajak Siang Hwi dan puteri itu untuk meninggalkan kuil.

Mereka membeli tiga ekor kuda atas bantuan para hwe-shio dan mereka meninggalkan kuil itu dengan menunggang kuda. Untung bahwa puteri Hiang Bwee biarpun tidak pandai silat akan tetapi mempunyai kegemaran ikut ayahanda kaisar pergi berburu binatang buas sehingga ia pandai menunggang kuda...