Social Items

PUTERI dan Siang Hwi tidur sekamar ketika berada di kuil dan dalam kesempatan ini, sang puteri yang tadinya merasa cemburu kepada Siang Hwi, mendengar pengakuan Siang Hwi bahwa gadis itu saling mencinta dengan Tiong Li. Setelah mendengarkan pengakuan ini, Hiang Bwee dapat menerima kenyataan, ia adalah seorang puteri, tidak mungkin begitu saja menjatuhkan cintanya kepada setiap orang pria. Baginya, perjodohannya berada di tangan Kaisar dan ia tidak mungkin dapat memilih jodohnya sendiri.

Perjalanan itu melalui padang luas dan pada suatu hari mereka sudah tiba di daerah Kerajaan Sung. Ketika mereka menjalankan kudanya perlahan-lahan karena sudah lelah dan mencari tempat yang baik untuk mengaso, tiba-tiba muncul seorang wanita di tempat sunyi itu yang menghadang perjalanan mereka.

"Subo...!!" Siang Hwi berseru dan cepat ia melompat turun dari kudanya untuk menghampiri Ban-tok Sian-li yang berdiri tegak memandang mereka dengan sinar mata tajam, terutama pandang matanya kepada Tiong Li ia bahkan acuh saja terhadap muridnya yang menghampirinya.

"Subo, kami telah berhasil membebaskan tuan puteri Sung Hiang Bwee dan merampas kembali Mestika Golok Naga!" kata Siang Hwi yang hendak mengabarkan berita menggembirakan itu kepada subonya, juga hendak memamerkan jasa besar yang telah dibuat oleh Tiong Li.

Akan tetapi gurunya tidak menjawab, melainkan maju menghampiri Tiong Li dan juga sang puteri yang sudah melompat turun dari atas kuda mereka Tiong Li memberi hormat.

"Sian-li, apakah selama ini engkau baik-baik saja?" tegurnya ramah. Bagaimanapun juga, wanita ini adalah guru dari kekasihnya yang selayaknya dihormatinya.

Akan tetapi Ban-tok Sian-li memandang ke arah pinggangnya di mana tergantung Mestika Golok Naga dalam sarungnya. "Tan Tiong Li, engkau sudah berhsil merampas kembali Mestika Golok Naga?"

"Benar, Sian-li. Inilah dia!" kata Tiong Li. "Kami akan mengembalikan kepada Sri baginda Kaisar, bersama sang puteri."

"Berikan kepadaku! Golok Pusaka itu tidak sepatutnya berada di tangan Kaisar yang lemah. Berikan kepadaku untuk kupakai membasmi Bangsa Kin dan mengusirnya dari tanah air."

"Subo...!" seru Siang Hwi.

"Maafkan, Sian-li. Akan tetapi golok pusaka ini memang milik istana, maka harus kembali ke istana juga."

Tiba-tiba Ban-tok Sian-li melompat kedekat puteri Hiang Bwee dan sekali mencengkeram pundak puteri itu, ia membuat puteri itu terkulai roboh. Sambil tersenyum mengejek Ban-tok Sian li melompat ke belakang.

"Subo, apa yang kau lakukan ini?" teriak Siang Hwi terkejut.

"Nona Hiang Bwe...!" Tiong Li juga berseru, sama sekali tidak mengira bahwa Ban tok Sian-li akan melakukan hal itu sehingga dia tidak keburu mencegahnya.

Wajah puteri itu menyeringai kesakitan dan pucat sekali. Baju di pundaknya robek dan nampak pundaknya merah menghitam! Melihat ini, terkejutlah Tiong Li karena dia maklum bahwa pundak itu telah terluka beracun yang amat hebat.

"Subo, kenapa engkau melakukan ini?" tanya Siang Hwi dengan bingung, dan kepada Tiong Li ia berkata, "Koko, inilah luka Ban-tok-ciam (Jarum Selaksa Racun), tidak ada obatnya, Kecuali subo, tidak ada seorangpun yang akan mampu menyembuhkannya dan dalam waktu sehari semalam, yang terluka akan tewas!"

Tiong Li marah sekali. Kiranya ketika mencengkeram tadi, tangan Ban-tok Sian-li menggunakan jarum beracun yang dimasukkan ke dalam pundak puteri itu. "Ban-tok Sian-li, apa maksudmu dengan perbuatan ini? Engkau telah meracuni puteri Kaisar? Kenapa engkau hendak membunuhnya?" Tiong Li sudah siap untuk menyerang wanita itu.

Akan tetapi Ban-tok Sian-li bertolak pinggang dan tersenyum. "Siapa mau membunuhnya? Ingat, aku mempunyai obat pemunahnya seperti yang dikatakan Siang Hwi. Biar Siang Hwi sendiri tidak kuberi obat pemunahnya maka kalau engkau menghendaki puteri itu sembuh, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"

"Subo...!" Siang Hwi kembali berseru penasaran.

"Diam! Engkau tidak boleh mencampuri urusan ini!" bentak gurunya. "Bagaimana. Tiong Li? Maukah engkau menukar nyawa puteri itu dengan Mestika Golok Naga?"

Tiong Li berdiri dengan kedua tangan terkepal dan dia ragu-ragu. Dia dapat mengalahkan wanita itu. Akan tetapi dia meragu apakah dia dapat memaksanya menyerahkan obat pemunah. Wanita seperti itu memiliki kekerasan hati yang aneh, mungkin sampai mati dia tidak akan dapat memaksanya.

"Tiong Li, jangan mencoba-coba untuk menyerangku. Selain belum tentu engkau akan dapat mengalahkan aku dengan mudah, juga andaikata engkau menang dan aku mati, apa gunanya? Puteri itu akan mati pula bersamaku Nah, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"

"Sian-li, jangan menggertak aku. Aku masih mempunyai sinkang cukup kuat untuk mengusir hawa beracun dari tubuh sang puteri!" Tiong Li balas menggertak.

"Hi-hik, boleh kau coba kalau engkau ingin melihat puteri itu cepat mati. Bukan hawa beracun yang mematikannya, melainkan darahnya sudah keracunan. Betapapun kuatnya sinkangmu, tidak akan dapat membersihkan darahnya."

Tiong Li memandang kepada Siang Hwi untuk bertanya pendapat gadis itu yang tentu saja lebih mengerti dan gadis itu mengangguk dengan muka sedih, "la tidak berbohong, koko. Racun Ban-tok ciam langsung membuat darah keracunan dan tidak dapat diusir dengan sin-kang, hanya dapat disembuhkan dengan racun pemunah lain yang hanya dimiliki subo."

Tiong Li menghela napas panjang. Tidak percuma kiranya wanita itu berjuluk Ban-tok Sian-li! Ternyata penggunaan racunnya amat jahat. Hanya lawan, yang amat tangguh saja. yang akan mampu mengalahkan seorang wanita berbahaya seperti ini. Entah bagaimana nanti kalau ia sudah memiliki Mestika Golok Naga! Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tidak mungkin mengorbankan nyawa sang puteri.

"Tan-taihiap, bawalah pulang pusaka itu dan serahkan kepada ayah. Katakan bahwa aku tewas di tangan wanita ini. Ayah tentu akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menangkapnya dan biarpun ia akan terbang ke langit, tentu akhirnya ayahanda kaisar akan dapat menangkapnya!" kata Hiang Bwee.

Dan mendengar ucapan puteri ini, diam-diam Ban-tok Sian-li menjadi ketakutan sekali. Kalau ucapan gadis itu dituruti Tiong Li, ia tidak akan mendapatkan Mestika Golok Naga malah, akan menjadi buronan pemerintah. Ucapan gadis bangsawan itu bukan gertak kosong belaka. Kalau Kaisar marah dan mengerahkan pasukan mencarinya, ke mana ia akan dapat melarikan diri?

Akan tetapi Tiong Li berpendapat lain. Dia tidak mau mengorbankan nyawa puteri itu. Dia akan menyerahkan golok dan setelah puteri terbebas dari ancaman maut dan kembali ke istana, dia akan mulai lagi dan berusaha merampasnya dari tangan Ban-tok Sian-li kelak. Dia melepaskan ikatan sarung golok dari pinggangnya.

"Baik, aku akan menyerahkan golok pusaka, akan tetapi bagaimana aku dapat yakin bahwa engkau akan memberikan obat pemunahnya yang benar?"

"Hemm, ada Siang Hwi di sampingmu, ia tentu akan dapat mengetahui mana obat pemunah aseli mana yang palsu," kata Ban-tok Sian-li. "Akan tetapi siapa berani tanggung bahwa setelah menerima obat pemunah, engkau tidak akan menyerangku dan tidak memberikan golok itu?"

"Aku adalah seorang laki-laki sejati. Aku berjanji bahwa setelah menukar golok dengan obat pemunah di sini, aku tidak akan menyerangmu. Akan tetapi kalau lain kali kita bertemu jangan salahkan aku kalau aku memberi hajaran kepadamu dan merampas kembali golok pusaka!"

"Baik, berikan golok itu dan akan kuberikan obat pemunah," katanya.

"Perlahan dulu!" kata Tiong Li. "Berikan dulu obat pemunah dan setelah dipastikan tidak palsu, baru akan kuserahkan golok ini kepadamu. Nama dan kehormatanku menjadi jaminan janjiku!"

Ban-tok Sian-li lalu melemparkan sebungkus obat bubuk kepada Tiong Li dan pemuda Itu lalu menyerahkan kepada Siang Hwi. Gadis ini membuka buntalan, mencium obat bubuk itu dan ia lalu menghampiri sang puteri yang masih menyeringai kesakitan.

"Tuan puteri, minumlah semua obat bubuk ini." Dikeluarkannya sebotol arak ringan dan obat itu lalu diminumkan dengan arak ringan. Setelah minum obat itu, perlahan-lahan rasa nyeri itu menghilang dan warna biru kehitaman pada pundak juga mulai berkurang. Siang Hwi lalu menyedot keluar jarum itu dengan isapan mulutnya dan menggigit jarum itu lalu membuangnya. Kemudian ia minum sisa obat yang memang disediakan untuk dirinya agar ia tidak terpengaruh sisa racun yang berada di jarum. Setelah itu ia memandang kepada Tiong Li dan mengangguk.

"Sekarang tuan puteri sudah aman," katanya lirih.

Tiong Li menyerahkan Mestika Golok Naga kepada Ban-tok Sian-li yang menerimanya sambil tersenyum dan wajahnya cerah gembira sekali. Dicabutnya golok itu untuk memeriksanya. Nampak sinar berkilat ketika golok dicabut dan wanita itu mengangguk senang, lalu disimpannya kembali golok ke dalam sarungnya, di ikatkan sarung itu di punggungnya dan iapun melompat pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Subo, tunggu dulu...!" teriak Siang Hwi dan gurunya berhenti berlari, lalu membalikkan tubuh memandang kepada muridnya.

"Mau bicara apa lagi?" bentaknya.

"Bukan aku yang bicara, akan tetapi koko Tiong Li mempunyai sesuatu yang ingin ia sampaikan kepadamu!" kata Siang Hwi sambil memandang kepada kekasihnya. Pemuda ini maklum apa yang berada dalam pikiran gadis itu, maka diapun melangkah maju dan memberi hormat kepada Dewi Selaksa Racun itu.

"Sian-li, aku dan Hwi-moi sudah saling mencinta dan saling berjanji untuk menjadi suami isteri. Mengingat bahwa Hwi-moi sudah tidak mempunyai keluarga lagi, maka aku mengajukan pinangan kepadamu sebagai gurunya untuk meminang Hwi-moi menjadi jodohku!"

Puteri Sung Hiang Bwee memandang semua ini dengan mata terbelalak penuh keheranan dan kengerian. Bagaimana orang-orang kang-ouw itu bersikap ketika mengajukan pinangan. Pinangan diajukan di antara mereka, secara terus terang tanpa perantara lagi. Seolah bukan gadis yang diminta untuk diperisteri, seperti minta, sebuah benda saja!

Ban-tok Sian-li memandang kepada muridnya. "Siang Hwi sudah dewasa, ia boleh memutuskannya sendiri. Andaikata aku ikut campur sekalipun ia tidak akan taat kepadaku. Terserah kepada kalian!" Setelah berkata demikian wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Siang Hwi saling pandang dengan Tiong Li dan tiba-tiba terdengar orang bertepuk tangan. Mereka berpaling dan ternyata yang bertepuk tangan itu adalah puteri Sung Hiang Bwee. ini berarti bahwa sang puteri telah Sembuh, atau setidaknya pundaknya sudah tidak terasa nyeri lagi dipakai bertepuk tangan.

"Kiong-hi, kiong-hi (selamat)! Wah, aku harus mengucapkan selamat atas pertunangan kalian," katanya sambil menghampiri Siang Hwi. Di lolosnya sehelai kalung emas permata hiasan batu kemala, dan dikalungkan kalung itu ke leher Siang Hwi. "Ini hadiah dariku untukmu, enci Siang Hwi."

"Terima kasih, tuan puteri. Paduka baik sekali."

"Ih, apanya yang baik. Kalau tidak ada kalian berdua, entah sudah menjadi apa aku ini? Menjadi makanan burung gagak berangkali," kata puteri itu tertawa. Di dalam waktu yang amat singkat ternyata puteri itu telah telah bebas dari ancaman racun Ban-tok-ciam.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan setelah mengumpulkan kuda mereka. Di tengah perjalanan Tiong Li bertanya, "Hwi-moi, apakah engkau juga pandai mempergunakan Ban-tok-ciam?"

"Subo pernah mengajarkan kepadaku. Jarum halus itu dapat disembunyikan dalam kepalan tangan dan sambil memukul jarum itu dapat dilepaskan. Akan tetapi subo tidak pernah memberikan obat pemunahnya atau cara membuatnya sehingga aku tidak pernah mau menggunakan jarum selaksa racun itu. Terlalu keji kalau aku tidak mengetahui pemunahnya."

"Kau benar, Hwi-moi. Kalau engkau tidak dapat memunahkan racunnya, memang tidak perlu menggunakan senjata rahasia macam itu. Kurasa kalau yang diserang itu memiliki sin-kang yang kuat, dia akan mampu mencegah menjalarnya racun ke dalam darah dan hanya meracuni setempat saja yang mudah disembuhkan dengan pembedahan di tempat dan mengeluarkan racunnya."

"Engkau benar, koko”

Karena kini mereka sudah tiba di daerah Sung, maka perjalanan dapat mereka lakukan dengan lancar tanpa halangan. Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan sepasukan Sung yang dipimpin oleh seorang perwira kerajaan. Melihat Tiong Li yang dianggap buronan dan penculik sang puteri, perwira Itu tentu saja terkejut bukan main. Apa lagi melihat sang puteri menunggang kuda bersama orang buruan itu.

"Kepung! Tangkap pemberontak!"

"Tangkap pencuiik!"

"Selamatkan sang puteri!"

Mereka itu berteriak teriak sambil mengepung dan mengacung-acungkan senjata. Melihat ancaman kepungan ini, Sung Hiang Bwee mengajukan kudanya dan membentak,

"Apa yang hendak kalian lakukan ini? Tan-taihiap dan nona The ini adalah penolong penolongku dari tangan penculik. Jangan menuduh sembarangan! Hayo sediakan sebuah kereta untukku, agar dapat kupakai pulang ke istana!"

Perwira itu terkejut dan heran, lalu memerintahkan pasukannya untuk mundur dan menyediakan sebuah kereta itu mengawal sang puteri yang duduk di dalam kereta bersama Siang Hwi, dan Tiong Li juga mengawal naik kuda di dekat kereta.

Ketika mereka dihadapkan Kaisar, Kaisar girang bukan main melihat puterinya pulang dalam keadaan sehat dan dia mendengarkan laporan puterinya, betapa ia diculik oleh penjahat dan diberikan kepada Panglima Bangsa Kin, kemudian diselamatkan oleh Tiong Li dan Siang Hwi. Mendengar ini, Kaisar merasa girang dan berterima kasih kepada, Tiong Li .

Biarpun Tiong Li menduga keras bahwa penculikan sang puteri itu adalah perbuatan yang didalangi oleh Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi karena tidak ada bukti, diapun tidak berani sembarangan menuduh.

"Tiong Li, engkau sudah berjasa besar sebanyak dua kali. Sekarang kami hendak menganugerahkan pangkat pengawal istana untuk menjaga keselamatan keluarga kerajaan."

"Ampun beribu ampun. Yang Mulia. Bukan sekali-kali hamba menolak anugerah paduka yang berlimpah, melainkan hamba masih memiliki tugas yang penting, yaitu merampas kembali Mestika Golok Naga yang lenyap diambil pencuri dari gedung pusaka."

"Ah, pusaka itu sudah lama dicuri orang dan sampai sekarang para pengawal belum juga mampu menemukannya."

"Hamba sudah tahu siapa yang mengambilnya, Yang Mulia. Dan hamba berjanji untuk mendapatkannya kembali untuk paduka."

"Ayahanda, sebetulnya Mestika Golok Naga itupun diambil oleh Panglima Wu Chu dan sudah berhasil dirampas kembali oleh Tan-taihiap. Akan tetapi di tengah perjalanan, saya dilukai orang dan orang itu memaksa Tan-taihiap menyerahkan golok pusaka itu untuk ditukar dengan obat yang akan menyelamatkan nyawa saya. Tan-taihiap terpaksa menukarkan golok itu dengan obat pemunah racun yang melukai saya."

"Jahanam betul! Siapa orang itu?" "Seorang wanita kang-ouw, Yang Mulia," kata Tiong Li tanpa menyebutkan nama karena merasa tidak enak kepada Siang Hwi sebagai murid perampas golok pusaka itu.

"Baiklah, kalau begitu engkau pergilah untuk merampas kembali golok itu. Tiong Li," katanya kemudian.

"Akan tetapi Yang Mulia, gambar hamba terpampang di mana-mana sebagai pemberontak dan penculik sang puteri. Hal ini akan menghambat perjalanan hamba dan bahkan menghalangi hamba. Hamba mohon paduka memberi perintah penghapusan dakwaan terhadap hamba itu. Dengan surat perintah paduka, hamba tentu akan dapat membersihkan nama hamba dari noda dan dapat bergerak dengan leluasa."

Kaisar menghela napas panjang. "Kami menyesal telah memerintahkan pengumuman yang agak tergesa-gesa itu, Tiong Li, sehingga engkau menjadi orang buronan. Siapa tahu engkau justru malah dua kali menyelamatkan puteri kami dari tangan penculik. Baik, akan kami buatkan surat perintah dan pengumuman itu untuk membersihkan namamu."

Kaisar lalu memerintahkan pembantunya untuk menuliskan surat perintah itu, kemudian menandatanganinya dan membubuhi cap kerajaan. Tiong Li menerima dengan hati lega.

"Ada sebuah lagi permohonan hamba, Yang Mulia. Sepanjang yang hamba ketahui, para pemberontak itu sebenarnya bukanlah pemberontak. Mereka itu pejuang-pejuang, para patriot yang hendak memperjuangkan kebebasan tanah air dari penjajah Bangsa Kin. Mereka bahkan setia kepada Kerajaan Sung dan hendak mengembalikan kejayaan Kerajaar Sung untuk menguasai kembali daerah utara. Maka, tidak semestinya mereka itu dikejar-kejar seperti pemberontak, Yang Mulia."

Kaisar mengerutkan alisnya. "Kami mengadakan persahabatan dengan Bangsa Kin agar mencegah mereka menyerang keselatan dan menimbulkan korban di antara rakyat. Kami mencegah perang demi rakyat. Kalau mereka itu menyerang Kerajaan Kin, dan kalau kami mendiamkannya saja, tentu Kerajaan Kin akan memusuhi Kerajaan Sung. Akan tetapi, baiklah kami melihat perkembangannya dulu Kalau mereka itu tidak mengganggu pemerintah Kerajaan Sung, mereka tidak akan dianggap pemberontak."

"Tan-taihiap, engkau sudah berulang kali berjasa dan ayahanda Kaisar hendak menganugerahkan pangkat kepadamu, kenapa engkau menolaknya? Sudah sepatutnya kalau engkau menerima imbalan jasa-jasamu," kata sang puteri kepada Tiong Li.

"Terima kasih, tuan puteri. Akan tetapi apa yang hamba lakukan ini adalah merupakan kewajiban hamba yang selalu hendak menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat. Kalau hamba mengharapkan Imbalan jasa, maka perbuatan itu sama sekali bukan perbuatan gagah. Pula, hamba masih mempunyai kewajiban untuk merampas kembali Mestika Golok Naga, harap tuan puteri dapat memakluminya."

Bagi kebanyakan orang, tentu alasan yang dikemukakan Tiong Li itu tidak dapat diterima. Orang yang berjasa mendapat imbalan, hal itu sudah semestinya dan sepatutnya, demikian anggapan kita pada umumnya. Justeru karena pendapat inilah, maka kita semua terjerumus ke dalam perbuatan yang selalu berpamrih untuk mendapatkan imbalan. Semua perbuatan kita itu kita perhitungkan untung ruginya seperti berdagang.

Apa artinya sebuah pertolongan kalau, pertolongan itu dilakukan dengan harapan memperoleh imbalan? Apakah artinya sebuah kebaikan kalau dibaliknya terkandung harapan memperoleh balasan?! Perbuatan itu bukan lagi baik, bukan lagi pertolongan, melainkan suatu alasan untuk mendapatkan sesuatu. Kalau tidak akan ada imbalan, mungkin pelakunya akan mundur.

Perbuatan yang seutuhnya adalah perbuatan yang dilakukan tanpa pamrih bagi dirinya sendiri, tanpa pamrih memperoleh sesuatu sebagai buah dari perbuatannya itulah. Bahkan mengharapkan imbalan dari Tuhan atas perbuatannya yang "baik" pun merupakan pamrih dan karenanya menodai perbuatan itu sendiri.

Perbuatan baik muncul dari hati sanubari, digerakkan oleh perasaan iba melihat orang lain sengsara, merasa penasaran melihat perlakuan yang tidak adil dan sebagainya lagi. Bukan oleh pamrih untuk kesenangan diri sendiri yang akan memperoleh buah dari hasil perbuatannya. Imbalan ini justeru melahirkan munafik-munafik dipermukaan bumi. Orang-orang "baik" yang sesungguhnya hanyalah pengejar-pengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.


Tiong Li dan Siang Hwi meninggalkan istana dengan diberi bekal sekantung emas oleh Kaisar. Hiang Bwee mengantarkan mereka sampai ke pintu depan di mana Hiang Bwee merangkul Siang Hwi sambil berbisik, "Enci Hwi, jagalah Tan-taihiap baik-baik..."

Siang Hwi terharu sekali, la merasa betapa puteri itu sesungguhnya mencinta Tiong Li! Akan tetapi ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja Tiong Li yang berpendengaran tajam itu dapat mendengar bisikan ini namun dia pura-pura tidak mendengar dan memberi hormat kepada gadis yang ketika berada di depan Kaisar disebutnya tuan puteri itu.

"Sung-siocia (Nona Sung), selamat tinggal." katanya hormat.

"Tan-taihiap, selamat jalan dan selamat berpisah. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu kembali dan Enci Siang Hwi, selamat jalan dan jagalah diri kalian baik-baik." kata puteri itu yang merasa sedih juga ditinggalkan dua orang yang begitu baik kepadanya. Rasanya ingin ia meninggalkan keputriannya untuk ikut mereka berpetualang di dunia bebas!

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Nasihat Tiong Li kepada Kaisar agar tidak memusuhi para pejuang membuat Kaisar berpikir-pikir dan dia segera memanggil seorang puteranya. Putera ini adalah Pangeran Kian Cu, seorang yang merasa kagum kepada kesetiaan Gak Hui.

"Pergilah menghubungi para pejuang dan selidiki apakah benar para pejuang itu sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk memberontak, melainkan hanya membenci bangsa Kin." demikian perintah kaisar.

Pangeran Kian Cu, seorang Pangeran berusia dua puluh lima tahun adalah putera dari selir dan dia seorang pangeran yang sejak lama mengagumi sepak terjang para pejuang yang menjadi pengikut Gak Hui. Mendengar perintah ayahnya itu, Pangeran Kian Cu merasa gembira dan dia segera berangkat meninggalkan istana dan menghubungi para pejuang.

Dengan mudah saja dia dapat mengadakan hubungan dengan pimpinan pejuang, bahkan para pejuang dapat membawanya menemui Gak Liu. yaitu pejuang putera mendiang Panglima Gak Hui yang terkenal. Gak Liu menerima pangeran itu dengan baik dan mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pejuang lainnya.

"Sebetulnya aku datang mengadakan hubungan dengan kalian ini atas perintah ayahanda Kaisar," kata sang pangeran. "Selama ini beliau berpendapat bahwa kalian adalah pemberontak pemberontak yang ingin merebut kedudukan Ayahanda Kaisar. Akan tetapi menurut laporan dari seorang pendekar muda bernama Tan Tiong Li, kalian adalah patriot-patriot, pejuang yang hanya memusuhi penjajah Kin dan sama sekali tidak memusuhi pemerintah Sung. Benarkah keterangan itu.?"

Gak Liu memberi hormat kepada sang pangeran dan berkata dengan suaranya yang lantang. "Sebetulnya hal ini seharusnya sudah diketahui oleh Sribaginda sejak dahulu. Mendiang ayah saya, seorang patriot sejati yang setia kepada Sri baginda, bahkan dituduh pemberontak dan dihukum mati! Sebetulnya kami sama sekali tidak berniat memberontak, bahkan ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Sung dan merebut kembali wilayah utara yang dikuasai bangsa Kin. Akan tetapi kalau kami dianggap pemberontak dan diserang, tentu saja kami membalas."

"Kalau begitu, selama ini hanya terdapat kesalah pahaman belaka dan aku akan melaporkan kepada Ayahanda Kaisar." kata Pangeran Kian Cu dan setelah selesai pertemuan itu, dia menyumbangkan sejumlah besar uang untuk keperluan perjuangan, dan mengharapkan agar seluruh kekuatan pejuang digalang persatuannya...

Mestika Golok Naga Jilid 15

PUTERI dan Siang Hwi tidur sekamar ketika berada di kuil dan dalam kesempatan ini, sang puteri yang tadinya merasa cemburu kepada Siang Hwi, mendengar pengakuan Siang Hwi bahwa gadis itu saling mencinta dengan Tiong Li. Setelah mendengarkan pengakuan ini, Hiang Bwee dapat menerima kenyataan, ia adalah seorang puteri, tidak mungkin begitu saja menjatuhkan cintanya kepada setiap orang pria. Baginya, perjodohannya berada di tangan Kaisar dan ia tidak mungkin dapat memilih jodohnya sendiri.

Perjalanan itu melalui padang luas dan pada suatu hari mereka sudah tiba di daerah Kerajaan Sung. Ketika mereka menjalankan kudanya perlahan-lahan karena sudah lelah dan mencari tempat yang baik untuk mengaso, tiba-tiba muncul seorang wanita di tempat sunyi itu yang menghadang perjalanan mereka.

"Subo...!!" Siang Hwi berseru dan cepat ia melompat turun dari kudanya untuk menghampiri Ban-tok Sian-li yang berdiri tegak memandang mereka dengan sinar mata tajam, terutama pandang matanya kepada Tiong Li ia bahkan acuh saja terhadap muridnya yang menghampirinya.

"Subo, kami telah berhasil membebaskan tuan puteri Sung Hiang Bwee dan merampas kembali Mestika Golok Naga!" kata Siang Hwi yang hendak mengabarkan berita menggembirakan itu kepada subonya, juga hendak memamerkan jasa besar yang telah dibuat oleh Tiong Li.

Akan tetapi gurunya tidak menjawab, melainkan maju menghampiri Tiong Li dan juga sang puteri yang sudah melompat turun dari atas kuda mereka Tiong Li memberi hormat.

"Sian-li, apakah selama ini engkau baik-baik saja?" tegurnya ramah. Bagaimanapun juga, wanita ini adalah guru dari kekasihnya yang selayaknya dihormatinya.

Akan tetapi Ban-tok Sian-li memandang ke arah pinggangnya di mana tergantung Mestika Golok Naga dalam sarungnya. "Tan Tiong Li, engkau sudah berhsil merampas kembali Mestika Golok Naga?"

"Benar, Sian-li. Inilah dia!" kata Tiong Li. "Kami akan mengembalikan kepada Sri baginda Kaisar, bersama sang puteri."

"Berikan kepadaku! Golok Pusaka itu tidak sepatutnya berada di tangan Kaisar yang lemah. Berikan kepadaku untuk kupakai membasmi Bangsa Kin dan mengusirnya dari tanah air."

"Subo...!" seru Siang Hwi.

"Maafkan, Sian-li. Akan tetapi golok pusaka ini memang milik istana, maka harus kembali ke istana juga."

Tiba-tiba Ban-tok Sian-li melompat kedekat puteri Hiang Bwee dan sekali mencengkeram pundak puteri itu, ia membuat puteri itu terkulai roboh. Sambil tersenyum mengejek Ban-tok Sian li melompat ke belakang.

"Subo, apa yang kau lakukan ini?" teriak Siang Hwi terkejut.

"Nona Hiang Bwe...!" Tiong Li juga berseru, sama sekali tidak mengira bahwa Ban tok Sian-li akan melakukan hal itu sehingga dia tidak keburu mencegahnya.

Wajah puteri itu menyeringai kesakitan dan pucat sekali. Baju di pundaknya robek dan nampak pundaknya merah menghitam! Melihat ini, terkejutlah Tiong Li karena dia maklum bahwa pundak itu telah terluka beracun yang amat hebat.

"Subo, kenapa engkau melakukan ini?" tanya Siang Hwi dengan bingung, dan kepada Tiong Li ia berkata, "Koko, inilah luka Ban-tok-ciam (Jarum Selaksa Racun), tidak ada obatnya, Kecuali subo, tidak ada seorangpun yang akan mampu menyembuhkannya dan dalam waktu sehari semalam, yang terluka akan tewas!"

Tiong Li marah sekali. Kiranya ketika mencengkeram tadi, tangan Ban-tok Sian-li menggunakan jarum beracun yang dimasukkan ke dalam pundak puteri itu. "Ban-tok Sian-li, apa maksudmu dengan perbuatan ini? Engkau telah meracuni puteri Kaisar? Kenapa engkau hendak membunuhnya?" Tiong Li sudah siap untuk menyerang wanita itu.

Akan tetapi Ban-tok Sian-li bertolak pinggang dan tersenyum. "Siapa mau membunuhnya? Ingat, aku mempunyai obat pemunahnya seperti yang dikatakan Siang Hwi. Biar Siang Hwi sendiri tidak kuberi obat pemunahnya maka kalau engkau menghendaki puteri itu sembuh, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"

"Subo...!" Siang Hwi kembali berseru penasaran.

"Diam! Engkau tidak boleh mencampuri urusan ini!" bentak gurunya. "Bagaimana. Tiong Li? Maukah engkau menukar nyawa puteri itu dengan Mestika Golok Naga?"

Tiong Li berdiri dengan kedua tangan terkepal dan dia ragu-ragu. Dia dapat mengalahkan wanita itu. Akan tetapi dia meragu apakah dia dapat memaksanya menyerahkan obat pemunah. Wanita seperti itu memiliki kekerasan hati yang aneh, mungkin sampai mati dia tidak akan dapat memaksanya.

"Tiong Li, jangan mencoba-coba untuk menyerangku. Selain belum tentu engkau akan dapat mengalahkan aku dengan mudah, juga andaikata engkau menang dan aku mati, apa gunanya? Puteri itu akan mati pula bersamaku Nah, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"

"Sian-li, jangan menggertak aku. Aku masih mempunyai sinkang cukup kuat untuk mengusir hawa beracun dari tubuh sang puteri!" Tiong Li balas menggertak.

"Hi-hik, boleh kau coba kalau engkau ingin melihat puteri itu cepat mati. Bukan hawa beracun yang mematikannya, melainkan darahnya sudah keracunan. Betapapun kuatnya sinkangmu, tidak akan dapat membersihkan darahnya."

Tiong Li memandang kepada Siang Hwi untuk bertanya pendapat gadis itu yang tentu saja lebih mengerti dan gadis itu mengangguk dengan muka sedih, "la tidak berbohong, koko. Racun Ban-tok ciam langsung membuat darah keracunan dan tidak dapat diusir dengan sin-kang, hanya dapat disembuhkan dengan racun pemunah lain yang hanya dimiliki subo."

Tiong Li menghela napas panjang. Tidak percuma kiranya wanita itu berjuluk Ban-tok Sian-li! Ternyata penggunaan racunnya amat jahat. Hanya lawan, yang amat tangguh saja. yang akan mampu mengalahkan seorang wanita berbahaya seperti ini. Entah bagaimana nanti kalau ia sudah memiliki Mestika Golok Naga! Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tidak mungkin mengorbankan nyawa sang puteri.

"Tan-taihiap, bawalah pulang pusaka itu dan serahkan kepada ayah. Katakan bahwa aku tewas di tangan wanita ini. Ayah tentu akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menangkapnya dan biarpun ia akan terbang ke langit, tentu akhirnya ayahanda kaisar akan dapat menangkapnya!" kata Hiang Bwee.

Dan mendengar ucapan puteri ini, diam-diam Ban-tok Sian-li menjadi ketakutan sekali. Kalau ucapan gadis itu dituruti Tiong Li, ia tidak akan mendapatkan Mestika Golok Naga malah, akan menjadi buronan pemerintah. Ucapan gadis bangsawan itu bukan gertak kosong belaka. Kalau Kaisar marah dan mengerahkan pasukan mencarinya, ke mana ia akan dapat melarikan diri?

Akan tetapi Tiong Li berpendapat lain. Dia tidak mau mengorbankan nyawa puteri itu. Dia akan menyerahkan golok dan setelah puteri terbebas dari ancaman maut dan kembali ke istana, dia akan mulai lagi dan berusaha merampasnya dari tangan Ban-tok Sian-li kelak. Dia melepaskan ikatan sarung golok dari pinggangnya.

"Baik, aku akan menyerahkan golok pusaka, akan tetapi bagaimana aku dapat yakin bahwa engkau akan memberikan obat pemunahnya yang benar?"

"Hemm, ada Siang Hwi di sampingmu, ia tentu akan dapat mengetahui mana obat pemunah aseli mana yang palsu," kata Ban-tok Sian-li. "Akan tetapi siapa berani tanggung bahwa setelah menerima obat pemunah, engkau tidak akan menyerangku dan tidak memberikan golok itu?"

"Aku adalah seorang laki-laki sejati. Aku berjanji bahwa setelah menukar golok dengan obat pemunah di sini, aku tidak akan menyerangmu. Akan tetapi kalau lain kali kita bertemu jangan salahkan aku kalau aku memberi hajaran kepadamu dan merampas kembali golok pusaka!"

"Baik, berikan golok itu dan akan kuberikan obat pemunah," katanya.

"Perlahan dulu!" kata Tiong Li. "Berikan dulu obat pemunah dan setelah dipastikan tidak palsu, baru akan kuserahkan golok ini kepadamu. Nama dan kehormatanku menjadi jaminan janjiku!"

Ban-tok Sian-li lalu melemparkan sebungkus obat bubuk kepada Tiong Li dan pemuda Itu lalu menyerahkan kepada Siang Hwi. Gadis ini membuka buntalan, mencium obat bubuk itu dan ia lalu menghampiri sang puteri yang masih menyeringai kesakitan.

"Tuan puteri, minumlah semua obat bubuk ini." Dikeluarkannya sebotol arak ringan dan obat itu lalu diminumkan dengan arak ringan. Setelah minum obat itu, perlahan-lahan rasa nyeri itu menghilang dan warna biru kehitaman pada pundak juga mulai berkurang. Siang Hwi lalu menyedot keluar jarum itu dengan isapan mulutnya dan menggigit jarum itu lalu membuangnya. Kemudian ia minum sisa obat yang memang disediakan untuk dirinya agar ia tidak terpengaruh sisa racun yang berada di jarum. Setelah itu ia memandang kepada Tiong Li dan mengangguk.

"Sekarang tuan puteri sudah aman," katanya lirih.

Tiong Li menyerahkan Mestika Golok Naga kepada Ban-tok Sian-li yang menerimanya sambil tersenyum dan wajahnya cerah gembira sekali. Dicabutnya golok itu untuk memeriksanya. Nampak sinar berkilat ketika golok dicabut dan wanita itu mengangguk senang, lalu disimpannya kembali golok ke dalam sarungnya, di ikatkan sarung itu di punggungnya dan iapun melompat pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Subo, tunggu dulu...!" teriak Siang Hwi dan gurunya berhenti berlari, lalu membalikkan tubuh memandang kepada muridnya.

"Mau bicara apa lagi?" bentaknya.

"Bukan aku yang bicara, akan tetapi koko Tiong Li mempunyai sesuatu yang ingin ia sampaikan kepadamu!" kata Siang Hwi sambil memandang kepada kekasihnya. Pemuda ini maklum apa yang berada dalam pikiran gadis itu, maka diapun melangkah maju dan memberi hormat kepada Dewi Selaksa Racun itu.

"Sian-li, aku dan Hwi-moi sudah saling mencinta dan saling berjanji untuk menjadi suami isteri. Mengingat bahwa Hwi-moi sudah tidak mempunyai keluarga lagi, maka aku mengajukan pinangan kepadamu sebagai gurunya untuk meminang Hwi-moi menjadi jodohku!"

Puteri Sung Hiang Bwee memandang semua ini dengan mata terbelalak penuh keheranan dan kengerian. Bagaimana orang-orang kang-ouw itu bersikap ketika mengajukan pinangan. Pinangan diajukan di antara mereka, secara terus terang tanpa perantara lagi. Seolah bukan gadis yang diminta untuk diperisteri, seperti minta, sebuah benda saja!

Ban-tok Sian-li memandang kepada muridnya. "Siang Hwi sudah dewasa, ia boleh memutuskannya sendiri. Andaikata aku ikut campur sekalipun ia tidak akan taat kepadaku. Terserah kepada kalian!" Setelah berkata demikian wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Siang Hwi saling pandang dengan Tiong Li dan tiba-tiba terdengar orang bertepuk tangan. Mereka berpaling dan ternyata yang bertepuk tangan itu adalah puteri Sung Hiang Bwee. ini berarti bahwa sang puteri telah Sembuh, atau setidaknya pundaknya sudah tidak terasa nyeri lagi dipakai bertepuk tangan.

"Kiong-hi, kiong-hi (selamat)! Wah, aku harus mengucapkan selamat atas pertunangan kalian," katanya sambil menghampiri Siang Hwi. Di lolosnya sehelai kalung emas permata hiasan batu kemala, dan dikalungkan kalung itu ke leher Siang Hwi. "Ini hadiah dariku untukmu, enci Siang Hwi."

"Terima kasih, tuan puteri. Paduka baik sekali."

"Ih, apanya yang baik. Kalau tidak ada kalian berdua, entah sudah menjadi apa aku ini? Menjadi makanan burung gagak berangkali," kata puteri itu tertawa. Di dalam waktu yang amat singkat ternyata puteri itu telah telah bebas dari ancaman racun Ban-tok-ciam.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan setelah mengumpulkan kuda mereka. Di tengah perjalanan Tiong Li bertanya, "Hwi-moi, apakah engkau juga pandai mempergunakan Ban-tok-ciam?"

"Subo pernah mengajarkan kepadaku. Jarum halus itu dapat disembunyikan dalam kepalan tangan dan sambil memukul jarum itu dapat dilepaskan. Akan tetapi subo tidak pernah memberikan obat pemunahnya atau cara membuatnya sehingga aku tidak pernah mau menggunakan jarum selaksa racun itu. Terlalu keji kalau aku tidak mengetahui pemunahnya."

"Kau benar, Hwi-moi. Kalau engkau tidak dapat memunahkan racunnya, memang tidak perlu menggunakan senjata rahasia macam itu. Kurasa kalau yang diserang itu memiliki sin-kang yang kuat, dia akan mampu mencegah menjalarnya racun ke dalam darah dan hanya meracuni setempat saja yang mudah disembuhkan dengan pembedahan di tempat dan mengeluarkan racunnya."

"Engkau benar, koko”

Karena kini mereka sudah tiba di daerah Sung, maka perjalanan dapat mereka lakukan dengan lancar tanpa halangan. Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan sepasukan Sung yang dipimpin oleh seorang perwira kerajaan. Melihat Tiong Li yang dianggap buronan dan penculik sang puteri, perwira Itu tentu saja terkejut bukan main. Apa lagi melihat sang puteri menunggang kuda bersama orang buruan itu.

"Kepung! Tangkap pemberontak!"

"Tangkap pencuiik!"

"Selamatkan sang puteri!"

Mereka itu berteriak teriak sambil mengepung dan mengacung-acungkan senjata. Melihat ancaman kepungan ini, Sung Hiang Bwee mengajukan kudanya dan membentak,

"Apa yang hendak kalian lakukan ini? Tan-taihiap dan nona The ini adalah penolong penolongku dari tangan penculik. Jangan menuduh sembarangan! Hayo sediakan sebuah kereta untukku, agar dapat kupakai pulang ke istana!"

Perwira itu terkejut dan heran, lalu memerintahkan pasukannya untuk mundur dan menyediakan sebuah kereta itu mengawal sang puteri yang duduk di dalam kereta bersama Siang Hwi, dan Tiong Li juga mengawal naik kuda di dekat kereta.

Ketika mereka dihadapkan Kaisar, Kaisar girang bukan main melihat puterinya pulang dalam keadaan sehat dan dia mendengarkan laporan puterinya, betapa ia diculik oleh penjahat dan diberikan kepada Panglima Bangsa Kin, kemudian diselamatkan oleh Tiong Li dan Siang Hwi. Mendengar ini, Kaisar merasa girang dan berterima kasih kepada, Tiong Li .

Biarpun Tiong Li menduga keras bahwa penculikan sang puteri itu adalah perbuatan yang didalangi oleh Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi karena tidak ada bukti, diapun tidak berani sembarangan menuduh.

"Tiong Li, engkau sudah berjasa besar sebanyak dua kali. Sekarang kami hendak menganugerahkan pangkat pengawal istana untuk menjaga keselamatan keluarga kerajaan."

"Ampun beribu ampun. Yang Mulia. Bukan sekali-kali hamba menolak anugerah paduka yang berlimpah, melainkan hamba masih memiliki tugas yang penting, yaitu merampas kembali Mestika Golok Naga yang lenyap diambil pencuri dari gedung pusaka."

"Ah, pusaka itu sudah lama dicuri orang dan sampai sekarang para pengawal belum juga mampu menemukannya."

"Hamba sudah tahu siapa yang mengambilnya, Yang Mulia. Dan hamba berjanji untuk mendapatkannya kembali untuk paduka."

"Ayahanda, sebetulnya Mestika Golok Naga itupun diambil oleh Panglima Wu Chu dan sudah berhasil dirampas kembali oleh Tan-taihiap. Akan tetapi di tengah perjalanan, saya dilukai orang dan orang itu memaksa Tan-taihiap menyerahkan golok pusaka itu untuk ditukar dengan obat yang akan menyelamatkan nyawa saya. Tan-taihiap terpaksa menukarkan golok itu dengan obat pemunah racun yang melukai saya."

"Jahanam betul! Siapa orang itu?" "Seorang wanita kang-ouw, Yang Mulia," kata Tiong Li tanpa menyebutkan nama karena merasa tidak enak kepada Siang Hwi sebagai murid perampas golok pusaka itu.

"Baiklah, kalau begitu engkau pergilah untuk merampas kembali golok itu. Tiong Li," katanya kemudian.

"Akan tetapi Yang Mulia, gambar hamba terpampang di mana-mana sebagai pemberontak dan penculik sang puteri. Hal ini akan menghambat perjalanan hamba dan bahkan menghalangi hamba. Hamba mohon paduka memberi perintah penghapusan dakwaan terhadap hamba itu. Dengan surat perintah paduka, hamba tentu akan dapat membersihkan nama hamba dari noda dan dapat bergerak dengan leluasa."

Kaisar menghela napas panjang. "Kami menyesal telah memerintahkan pengumuman yang agak tergesa-gesa itu, Tiong Li, sehingga engkau menjadi orang buronan. Siapa tahu engkau justru malah dua kali menyelamatkan puteri kami dari tangan penculik. Baik, akan kami buatkan surat perintah dan pengumuman itu untuk membersihkan namamu."

Kaisar lalu memerintahkan pembantunya untuk menuliskan surat perintah itu, kemudian menandatanganinya dan membubuhi cap kerajaan. Tiong Li menerima dengan hati lega.

"Ada sebuah lagi permohonan hamba, Yang Mulia. Sepanjang yang hamba ketahui, para pemberontak itu sebenarnya bukanlah pemberontak. Mereka itu pejuang-pejuang, para patriot yang hendak memperjuangkan kebebasan tanah air dari penjajah Bangsa Kin. Mereka bahkan setia kepada Kerajaan Sung dan hendak mengembalikan kejayaan Kerajaar Sung untuk menguasai kembali daerah utara. Maka, tidak semestinya mereka itu dikejar-kejar seperti pemberontak, Yang Mulia."

Kaisar mengerutkan alisnya. "Kami mengadakan persahabatan dengan Bangsa Kin agar mencegah mereka menyerang keselatan dan menimbulkan korban di antara rakyat. Kami mencegah perang demi rakyat. Kalau mereka itu menyerang Kerajaan Kin, dan kalau kami mendiamkannya saja, tentu Kerajaan Kin akan memusuhi Kerajaan Sung. Akan tetapi, baiklah kami melihat perkembangannya dulu Kalau mereka itu tidak mengganggu pemerintah Kerajaan Sung, mereka tidak akan dianggap pemberontak."

"Tan-taihiap, engkau sudah berulang kali berjasa dan ayahanda Kaisar hendak menganugerahkan pangkat kepadamu, kenapa engkau menolaknya? Sudah sepatutnya kalau engkau menerima imbalan jasa-jasamu," kata sang puteri kepada Tiong Li.

"Terima kasih, tuan puteri. Akan tetapi apa yang hamba lakukan ini adalah merupakan kewajiban hamba yang selalu hendak menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat. Kalau hamba mengharapkan Imbalan jasa, maka perbuatan itu sama sekali bukan perbuatan gagah. Pula, hamba masih mempunyai kewajiban untuk merampas kembali Mestika Golok Naga, harap tuan puteri dapat memakluminya."

Bagi kebanyakan orang, tentu alasan yang dikemukakan Tiong Li itu tidak dapat diterima. Orang yang berjasa mendapat imbalan, hal itu sudah semestinya dan sepatutnya, demikian anggapan kita pada umumnya. Justeru karena pendapat inilah, maka kita semua terjerumus ke dalam perbuatan yang selalu berpamrih untuk mendapatkan imbalan. Semua perbuatan kita itu kita perhitungkan untung ruginya seperti berdagang.

Apa artinya sebuah pertolongan kalau, pertolongan itu dilakukan dengan harapan memperoleh imbalan? Apakah artinya sebuah kebaikan kalau dibaliknya terkandung harapan memperoleh balasan?! Perbuatan itu bukan lagi baik, bukan lagi pertolongan, melainkan suatu alasan untuk mendapatkan sesuatu. Kalau tidak akan ada imbalan, mungkin pelakunya akan mundur.

Perbuatan yang seutuhnya adalah perbuatan yang dilakukan tanpa pamrih bagi dirinya sendiri, tanpa pamrih memperoleh sesuatu sebagai buah dari perbuatannya itulah. Bahkan mengharapkan imbalan dari Tuhan atas perbuatannya yang "baik" pun merupakan pamrih dan karenanya menodai perbuatan itu sendiri.

Perbuatan baik muncul dari hati sanubari, digerakkan oleh perasaan iba melihat orang lain sengsara, merasa penasaran melihat perlakuan yang tidak adil dan sebagainya lagi. Bukan oleh pamrih untuk kesenangan diri sendiri yang akan memperoleh buah dari hasil perbuatannya. Imbalan ini justeru melahirkan munafik-munafik dipermukaan bumi. Orang-orang "baik" yang sesungguhnya hanyalah pengejar-pengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.


Tiong Li dan Siang Hwi meninggalkan istana dengan diberi bekal sekantung emas oleh Kaisar. Hiang Bwee mengantarkan mereka sampai ke pintu depan di mana Hiang Bwee merangkul Siang Hwi sambil berbisik, "Enci Hwi, jagalah Tan-taihiap baik-baik..."

Siang Hwi terharu sekali, la merasa betapa puteri itu sesungguhnya mencinta Tiong Li! Akan tetapi ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja Tiong Li yang berpendengaran tajam itu dapat mendengar bisikan ini namun dia pura-pura tidak mendengar dan memberi hormat kepada gadis yang ketika berada di depan Kaisar disebutnya tuan puteri itu.

"Sung-siocia (Nona Sung), selamat tinggal." katanya hormat.

"Tan-taihiap, selamat jalan dan selamat berpisah. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu kembali dan Enci Siang Hwi, selamat jalan dan jagalah diri kalian baik-baik." kata puteri itu yang merasa sedih juga ditinggalkan dua orang yang begitu baik kepadanya. Rasanya ingin ia meninggalkan keputriannya untuk ikut mereka berpetualang di dunia bebas!

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Nasihat Tiong Li kepada Kaisar agar tidak memusuhi para pejuang membuat Kaisar berpikir-pikir dan dia segera memanggil seorang puteranya. Putera ini adalah Pangeran Kian Cu, seorang yang merasa kagum kepada kesetiaan Gak Hui.

"Pergilah menghubungi para pejuang dan selidiki apakah benar para pejuang itu sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk memberontak, melainkan hanya membenci bangsa Kin." demikian perintah kaisar.

Pangeran Kian Cu, seorang Pangeran berusia dua puluh lima tahun adalah putera dari selir dan dia seorang pangeran yang sejak lama mengagumi sepak terjang para pejuang yang menjadi pengikut Gak Hui. Mendengar perintah ayahnya itu, Pangeran Kian Cu merasa gembira dan dia segera berangkat meninggalkan istana dan menghubungi para pejuang.

Dengan mudah saja dia dapat mengadakan hubungan dengan pimpinan pejuang, bahkan para pejuang dapat membawanya menemui Gak Liu. yaitu pejuang putera mendiang Panglima Gak Hui yang terkenal. Gak Liu menerima pangeran itu dengan baik dan mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pejuang lainnya.

"Sebetulnya aku datang mengadakan hubungan dengan kalian ini atas perintah ayahanda Kaisar," kata sang pangeran. "Selama ini beliau berpendapat bahwa kalian adalah pemberontak pemberontak yang ingin merebut kedudukan Ayahanda Kaisar. Akan tetapi menurut laporan dari seorang pendekar muda bernama Tan Tiong Li, kalian adalah patriot-patriot, pejuang yang hanya memusuhi penjajah Kin dan sama sekali tidak memusuhi pemerintah Sung. Benarkah keterangan itu.?"

Gak Liu memberi hormat kepada sang pangeran dan berkata dengan suaranya yang lantang. "Sebetulnya hal ini seharusnya sudah diketahui oleh Sribaginda sejak dahulu. Mendiang ayah saya, seorang patriot sejati yang setia kepada Sri baginda, bahkan dituduh pemberontak dan dihukum mati! Sebetulnya kami sama sekali tidak berniat memberontak, bahkan ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Sung dan merebut kembali wilayah utara yang dikuasai bangsa Kin. Akan tetapi kalau kami dianggap pemberontak dan diserang, tentu saja kami membalas."

"Kalau begitu, selama ini hanya terdapat kesalah pahaman belaka dan aku akan melaporkan kepada Ayahanda Kaisar." kata Pangeran Kian Cu dan setelah selesai pertemuan itu, dia menyumbangkan sejumlah besar uang untuk keperluan perjuangan, dan mengharapkan agar seluruh kekuatan pejuang digalang persatuannya...