Social Items

"Heii, berhenti!" Bentak kepala perampok ini sambil memandang dengan matanya yang besar menakutkan. "Siapa engkau, dari mana hendak ke mana?"

Tiong Li bersikap tenang walaupun dia sudah pernah mendengar dari para gurunya bahwa sekarang banyak gerombolan perampok dan gerombolan yang menamakan dirinya pejuang akan tetapi tidak segan melakukan segala bentuk kekerasan untuk merampok. Sebutan pejuang hanya untuk kedok saja.

"Namaku Tan Tiong Li, datang dari puncak gunung dan hendak turun gunung," jawabnya terus terang.

"Bagus, tinggalkan buntalan dalam pikulanmu itu atau tinggalkan kepalamu. Pilih!"

"Sobat, buntalan ini hanya terisi pakaian yang sederhana dan tidak ada harganya. Kutinggalkan tidak ada gunanya untuk kalian, maka tidak akan kutinggalkan," jawab Tiong Li tetap tenang, akan tetapi dia waspada karena orang-orang seperti ini tidak segan melakukan segala kecurangan pula.

"Kalau begitu, tinggalkan kepalamu. Aku ingin melihat engkau tidak berkepala lagi!" kata kepala perampok itu dan empat belas orang anak buahnya menyeringai kejam. Agaknya mempermainkan nyawa orang bagi mereka merupakan hiburan dan kesenangan tersendiri.

"Twa-ko, biarkan aku memuntir putus leher orang ini!" kata seorang anak buahnya yang bertubuh gendut sekali dan mukanya hitam seperti pantat kwali. Setelah berkata demikian, dia sudah melangkah maju menghadapi Tiong Li, "Orang muda, serahkan kepalamu untuk kupuntir sampai putus!"

setelah berkata demikian, raksasa gendut itu lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipentang seperti seekor biruang hendak menerjang, lalu tangan itu menangkap hendak mencengkeram kepala Tiong Li. Akan tetapi dengan tenang pemuda itu melangkah dua kali ke belakang, lalu kakinya mencuat dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai perut yang gendut itu.

"Bukk!" Raksasa itu terjengkang keras dan dia akan bangkit berdiri, namun jatuh terduduk kembali sambil mengelus dan menekan perutnya yang terasa nyeri bukan main, mulas melilit-lilit.

Melihat si gendut ini roboh dengan sekali tendang saja, kawan-kawannya menjadi marah dan mereka mencabut golok, lalu menyerang Tiong Li kalang kabut. Juga kepala perampok tidak ketinggalan. Dia yang paling tangkas di antara teman-temannya sudah pula maju membacokkan goloknya kepada Tiong Li.

Tiong Li menggunakan ilmu meringankan tubuh Jiauw-sang-hui mengelak ke sana kemari dengan kecepatan yang luar biasa sehingga gerombolan perampok itu merasa seolah mereka menyerang sebuah bayangan saja yang berkelebaian ke sana sini. Setelah menurunkan buntalannya dan memegang tongkatnya, Tiong Li lalu menggerakkan tongkatnya, menyerang dengan totokan totokan dan seorang demi demi seorang kawanan perampok itu roboh bergulingan.

Kepala perampok menyerang dengan pengerahan sepenuh tenaganya, akan terapi goloknva terlepas ketika Tiong Li menotok pergelangan tangannya, Kemudian, sebuah tendangan merobohkannya. Limabelas orang perampok itu roboh semua mengaduh-aduh dan tidak mampu bangkit kembali. Tiong Li melompat ke dekat kepala perampok dan menodongkan ranting kayu itu kearah lehernya.

"Bagaimana, sobat? Apakah engkau masih ingin melanjutkan perkelahian ini?"

Kepala perampok itu mengerti betul bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar yang lihai sekali, maka tanpa malu-malu dia lalu berlutut. "Ampunkan kami, tai-hiap. Kami seperti buta, tidak melihat bukit Thai-san menjulang tinggi di depan mata dan berani mengganggu tai-hap (pendekar besar)”

"Kalian memang buta. Bukan karena menyerang aku, melainkan karena mengganggu rakyat jelata yang tidak berdosa. Kalian buta tidak melihat bahwa kalian merampoki sesama manusia yang sama sekali tidak bersalah. Apakah kalian begitu buta sehingga tidak melihat betapa rakyat jelata sudah amat menderita hidupnya? Sepatutnya orang gagah-gagah dan kuat-kuat seperti kalian ini membantu manusia lain yang sengsara. Bukan malah mengganggu rakyat yang sudah cukup menderita. Dari pada menggunakan tenaga dan kekuatan kalian mengganggu rakyat tanpa mengenal prikemanusiaan, lebih baik kalau kalian membantu perjuangan para pendekar patriot yang hendak membela negara mengusir penjajah Bangsa Yu-cen."

"Kami juga seringkali memasuki daerah Kerajaan Kin dan mengacau daerah musuh itu taihiap. Kami membunuhi banyak orang dan merampas harta milik mereka...!" kepala perampok itu hendak memamerkan jasanya.

"Itu bukan perjuangan namanya! Perjuangan tidak sama dengan merampoki. Perjuangan berarti menentang pasukan musuh yang mengacau di daerah Kerajaan Sung, atau maju perang bertempur melawan pasukan musuh. Akan tetapi kalian hanya memasuki daerah kekuasaan lawan untuk merampoki rakyat pula. Apa bedanya rakyat di sana dan rakyat di sini! Sama saja. Sebangsa dan mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa. Orang-orang macam kalian ini sepantasnya dibasmi habis!" Tiong Li menggertak.

"Ampun, tai-hiap..."

"Berjanjilah bahwa kalian akan bergabung dengan para pejuang dan tidak melakukan perampokan lagi, dan aku akan memaafkan kalian. Ketahuilah, kalau kalian berjuang dengan sungguh-sungguh membela rakyat, maka rakyat tentu akan dengan rela hati memberikan apa yang mereka miliki untuk kalian makan."

"Saya berjanji, tai-hiap."

"Aku ingin kalian semua yang berjanji, tidak hanya engkau!"

"Kami berjanji, tai-hiap...!" semua orang berseru.

"Aku tidak memaksa kalian. Kalau kalian sudah berjanji, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, penuhi janji itu. Akan tetapi kalau kalian tidak suka, boleh bangkit dan melawan aku sampai mati!"

"Kami tidak berani tai-hiap. Kami berjanji..."

"Nah, baiklah, aku melepaskan kalian. Akan tetapi ingat, aku akan selalu mengamati dan kalau sekali saja aku melihat kalian masih melakukan perampokan, aku pasti akan membasmi kalian."

"Terima kasih, tai-hiap!" lima belas orang itu memberi hormat sambil berlutut, akan tetapi ketika mereka mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ seperti menghilang saja. Pengalaman itu membuat mereka jera dan ketakutan dan mereka benar-benar mencari kelompok pejuang untuk menggabungkan diri!

Setelah pengalaman itu, Tiong Li merasa bergembira. Kini dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh guru-gurunya. Memang dia dapat mempergunakan kepandaiannya untuk kebaikan dan dia akan terus melakukannya. Di sepanjang perjalanannya, setiap kali bertemu gerombolan perampok, tentu dia menundukkan mereka dan membujuk mereka untuk bertaubat. Dan kalau ada hartawan atau bangsawan bertindak sewenang-wenang, diapun lalu turun tangan menghajar mereka dan membujuk mereka untuk mengubah sikaр dan watak mereka yang tidak benar.

Tiong Li menuju ke kota raja. Di sepanjang perjalanan dia tidak kekurangan bekal karena orang-orang yang ditolongnya tidak segan memberinya bekal dan pakaian, melihat betapa pendekar ini tidak memiliki apa-apa.

Dan pemberian yang dilakukan dengan rela itupun tidak ditolak oleh Tiong Li karena dia memang membutuhkan bekal untuk biaya perjalanannya. Dia pantang untuk melakukan pencurian apa lagi perampasan barang milik orang lain, juga dia tidak sampai hati untuk mengemis.

Pada suatu pagi, ketika tiba di sebelah utara kota raja, di dekat sebuah hutan, dia melihat dua orang wanita sedang dikeroyok oleh sepasukan orang yang dipimpin oleh seorang raksasa hitam yang membuat jantungnya berdebar tegang karena dia mengenal raksasa hitam itu sebagai Si Golok Naga, orang yang telah membunuh ayahnya dan membunuh pula gurunya yang pertama, Pек Hong San-jin! Orang yang telah membunuh empat prang tokoh partai besar, pencuri Mestika Golok Naga dari istana.

Siapakah dua orang wanita itu? Bukan lain adalah Ban-tok Sian li dan The Siang Hwi! Seperti diceritakan di bagian depan, kedua orang guru dan murid ini telah menyusup keluar dari pintu gerbang kota raja dengan menyamar sebagai pengemis. Setelah berhasil lolos dari pintu gerbang, sampai di tempat sunyi mereka menanggalkan penyamaran mereka dan berpisah dari para pengemis lain, melanjutkan perjalanan mereka.

Akan tetapi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda dari belakang. Karena mereka telah tiba jauh dari pintu gerbang kota raja, kedua wanita itu tidak merasa gentar lagi. Kalau mereka harus melawan musuh di kota raja, sungguh berbahaya karena selain mereka terkurung tidak mampu keluar, juga di kota raja banyak terdapat pasukan keamanan. Berbeda kalau berada di luar kota raja, tentu saja mereka tidak takut kalau hanya menghadapi belasan orang pengawal. Mereka berhenti di tepi jalan dan ternyata yang mengejar mereka adalab pasukan pengawal pilihan yang dipimpin sendiri oleh Hak Bu Cu!

"Itu mereka! Kepung!"

"Bunuh!"

"Tangkap!"

Belasan orang pengawal itu berloncatan turun dari kuda mereka dan dengan senjata di tangan mereka mengepung. Diam-diam Ban-tok Sian-li merasa kaget juga. Lagi-lagi si raksasa hitam yang muncul di situ, dan raksasa hitam itu telah menghunus goloknya yang hebat, yaitu Mestika Golok Naga. Ban-tok Sian-li merasa heran bukan main. Mestika Golok Naga adalah pusaka yang dicuri orang dari gudang pusaka kerajaan, kenapa sekarang berada di tangan seorang perwira pengawal? Akan tetapi ia tidak sempat berpikir terlampau jauh karena raksasa hitam itu sudah menerjangnya sambil membentak marah,

"Pemberontak, engkau hendak lari kemana?"

Golok itu menyambar dahsyat dan Ban-tok Sian-li cepat mengelak lalu membalas dengan pedangnya, dari bawah menusuk ke arah perut raksasa itu. Namun, Hak Bu Cu biarpun tinggi besar ternyata memiliki gerakan yang gesit juga karena begitu perutnya ditusuk, dia sudah dapat menghindar sambil mengelebatkan goloknya menangkis.

"Trangggg !" Bunga api berpijar ketika pedang bertemu golok dan ke dua orang ini sudah saling serang dengan sengitnya. Dan sebentar saja lima orang pengawal sudah membantu si raksasa hitam mengeroyok Ban-tok Sian-li. Wanita ini baru saja sembuh dari luka di pahanya.

Memang sudah tidak nyeri, akan tetapi kini dipakai bertanding, mengerahkan tenaga maka pahanya terasa pula agak nyeri karena memang belum pulih benar. Namun dengan gigih wanita itu membela diri dan dengan cepat balas menyerang para pengeroyoknya, seperti seekor harimau yang dikeroyok segerombolan srigala.

Sementara itu, Siang Hwi juga dikeroyok sepuluh orang pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi karena mereka yang diajak melakukan pengejaran oleh Hak Bu Cu memang merupakan pengawal-pengawal pilihan. Siang Hwi juga mengamuk seperti gurunya namun betapapun lihai gadis ini, para pengeroyoknya berjumlah banyak dan juga tangguh, maka tak lama kemudian iapun terdesak hebat.

Untung bagi Siang Hwi bahwa para pengawal itu sudah mendapat perintah Jin Kiat agar menangkap hidup-hidup gadis itu, maka penyerangan mereka hanya untuk mendesak dan mencari kesempatan untuk merobohkannya tanpa melukai berat. Dengah demikian, Sian Hwi masih dapat melawan dengan gigihnya.

Biarpun demikian, guru dan murid ini sudah terdesak dan agaknya tak lama lagi mereka tentu akan kalah. Dalam keadaan yang terancam bahaya itulah muncul Tiong Li. Pemuda ini mengenal si raksasa hitam, dan setelah dia mengamati penuh perhatian, dia mengenal pula Ban-tok Sian-li, àрà lagi Siang Hwi, gadis yang pernah menyelamatkannya dari ancaman tangan Ban-tok Sian-li yang hendak membunuhnya.

Tidak sukar bagi Tiong Li untuk mengambil keputusan pihak mana yang harus dibantunya. Dan melihat betàрà yang paling lihai di antara lawan kedua orang wanita itu adalah si raksasa hitam, dia melepaskan buntalan pakaiannya di atas tanah dan sambil memegang ranting di tangannya, dia meloncat dan berjungklr balik, tahu-tahu telah berhadapan dengan Hak Bu Cu sambil menotok dengan rantingnya ke arah siku kanan raksasa itu.

Biarpun yang dipergunakan hanya ranting, akan tetapi mengeluarkan suara bersiutan dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat dan cepat sehingga amat mengejutkan Hak Bu Cu yang segera melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan lengannya dari totokan.

"Bibi, harap membantu adik Siang Hwi dan serahkan raksasa hitam ini kepadaku," kata Tiong Li yang lalu mengerahkan rantingnya menyerang lagi.

Serangannya amat cepat sehingga tidak memberi kesempatan bagi Hak Bu Cu untuk lebih dulu menyerang. Dia berusaha membacok dengan goloknya untuk menangkis dan sekaligus mematahkan ranting itu, akan tetapi ranting itu terlalu cepat gerakannya sehingga tidak pernah tersentuh golok.

Sementara itu, melihat munculnya seorang pemuda yang lihai menghadapi si raksasa hitam, dan melihat betapa muridnya memang terdesak, Ban-tok Sian-li lalu meloncat dan membantu muridnya. Lima orang pengawal yang tadi membantu Hak Bu Cu mengeroyok wanita itu, kinipun mengejar dan dua orang guru dan murid itu kini dikeroyok lima belas orang pengawal.

Hak Bu Cu melintangkan pedangnya dan membentak, "Tahan!"

Mendengar ini, Tiong Li menghentikan gerakannya dan berdiri menghadapi musuh besar itu sam bil memandang tajam.

"Orang muda, siapakah engkau? Tidak tahukah engkau bahwa dua orang wanita ini adalah pemberontak? Kami menerima tugas dari Perdana Menteri Jin Kun untuk menangkap pemberontak, dan engkau berani membantu pemberontak? minggirlah dan jangan mencampuri kalau engkau tidak ingin dianggap pemberontak pula!"

"Aku bernama Tan Tiong Li dan aku bukan pemberontak, juga dua orang wanita ini bukan pemberontak. Akan tetapi engkaulah yang pemberontak dan pengacau. Engkau mencuri Mestika Golok Naga dan engkau membunuhi empat orang tokoh partai besar, membunuh pula ayahku, dan membunuh Pек Hong San-jin!"

Hak Bu Cu terbelalak dan memandang penuh perhatian. "Ahh... kiranya engkau bocah keparat itu...!" Dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang dengan goloknya.

Melihat golok ini, Tiong Li menjadi girang. Inilah golok pusaka yang dicuri itu. Dia harus mendapatkannya dan mengembalikannya kepada Kaisar. Hak Bu Cu merasa penasaran sekali. Jarang ada orang mampu menandinginya. Akan tetapi pemuda ini, walaupun hanya bersenjatakan ranting, akan tetapi memiliki gerakan yang demikian cepat dan ilmu silat yang aneh. Tubuhnya berkelebatan seperti bayangan saja sehingga matanya menjadi berkunang dibuatnya. Juga ranting itu demikian berbahaya, mengancam jalan darahnya dengan totokan bahkan beberapa kali mengancam matanya.

Biarpun di dalam hatinya Tiong Li mendendam kepada si raksasa ini kalau teringat akan kematian ayah kandungnya dan guru pertamanya, akan tetapi kesadarannya selalu membuatnya ingat bahwa dia tidak boleh sembarangan membunuh orang. Maka, diapun hanya mengirim serangan untuk menundukkannya saja, merobohkan tanpa niat membunuhnya!

Sementara itu, guru dan murid itu mengamuk dan setelah Siang Hwi dibantu gurunya, dalam waktu sabentar saja ia dan gurunya sudah merobohkan dan membunuh lima orang pengawal! Yang sepuluh orang menjadi jerih, apalagi setelah mereka melihat betapa pemimpin mereka juga kewalahan menghadapl pemuda yang memainkan ranting demikian hebatnya!

Maka mereka hanya mengepung sambil menjaga jarak, tidak berani mendesak seperti tadi dan kini kedua orang wanita itulah yang menghujankan serangan Kembali tiga orang pengawal terjungkal dan yang lain berlompatan mundur.

Suatu ketika, Tiong Li menyerang dengan kecepatan kilat dan rantingnya kini dengan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Hak Bu Cu, membuat raksasa itu berteriak kaget karena seketika tangan kanannya menjadi lumpuh dan dengan sendirinya golok itupun terlepas dari pegangannya.

Sebelum golok itu jatuh ke atas tanah, Tiong Li sudah menyambar dengan tangan kirinya dan golok itu berada di tangannya. Ketika melihat ini, Hak Bu Cu menubruk kedepan untuk merampas kembali goloknya menggunakan tangan kirinya, akan tetapi dia disambut sebuah tendangan berputar yang amat keras, membuat tubuhnya terlempar.

Malang baginya, tubuhnya yang tertendang itu terjatuh ke dekat Ban-tok Sian Li. Melihat si raksasa hitam itu jatuh ke dekat kakinya, secepat kilat pedang Ban tok Sian Li bergerak menyambar dan terpenggallah kepala raksasa hitam itu. Darah menyembur keluar dan kepala itu terpisah jauh dari badannya. Melihat ini, tujuh orang pengawal menjadi terkejut dan mereka segera melarikan diri, meloncat ke punggung kuda dan kabur dengan ketakutan!

"Mereka akan datang membawa bala bantuan, kita harus cepat pergi dari slnil" kata The Siang Hwi sambil melompat dan lari, diikuti gurunya dan juga Tiong Li.

Setelah berlari jauh, barulah mereka berbenti dan Siang Hwi memandang kepada pemuda itu, lalu tersenyum.

"Tiong Li...!" katanya lirih.

"Siang Hwi, akhirnya kita dapat saling berjumpa juga," kata pula Tiong Li sambil tersenyum dan memberi hormat kepada Ban-tok Sian-li. "Sian-li, saya harap Sian-li baik baik saja," katanya.

Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya. la sudah lupa kepada Tiong Li dan bertanya, "Hemm, siapakah engkau?"

"Su-bo, apakah subo sudah lupa? Dia Tan Tiong Li, murid dari Pек Hon San-jin yang meninggal dunia ketika kita berkunjung ke Pek-hong San-кок dahulu itu."

"Ahhhh... engkaukah anak muda itu? Akan tetapi..." la tidak melanjutkan kata-katanya karena merasa terheran-heran. Kepandaian pemuda itu dulu tidaklah terlalu hebat, akan tetapi sekarang, ia menyaksikan sendiri betapa pemuda itu mengalahkan si raksasa hitam hanya dengan menggunakan sebatang ranting! Dan ia melihat betapa golok milik raksasa hitam itu kini berada di tangan kiri pemuda itu.

"Engkau merampas golok raksasa itu?" tanyanya sambil memandang golok itu penuh perhatian.

"Ini adalah Mestika Golok Naga yang dicurinya dari gudang perpustakaan istana."

"Kenapa engkau merampasnya?"

"Untuk saya kembalikan kepada Kaisar tentu.saja," Kata Tiong Li.

Ban-tok Sian li tersenyum mengejek. "Dan menerima hukuman berat dari Kaisar? Golok itu palsu!"

"Ehh...?" Tiong Li terkejut mendengar ucapan Ban tok Sian-li itu.

"Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, engkau tidak akan mampu mematahkannya. Akan tetapi coba kau patahkan golok itu!" kata pula wanita yang berpengalaman itu.

Tiong Li tidak percaya, lalu menggunakan kedua tangan untuk mematahkan golok itu.

"Krekkk!" Golok itu patah menjadi dua potong dengan mudahnya. Tiong Li terbelalak, dan memandang kepada Ban-tok Sian-li. "Sian-li, bagaimana Sian-li dapat mengetahui bahwa golok itu palsu?"

"Mudah saja. Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, tentu tadi pedangku sudah patah-patah kalau bertemu dengan pusaka itu. Akan tetapi, pedangku sama sekali tidak patah, gempilpun tidak. Itu berarti bahwa golok itu palsu adanya."

Tiong Li membuang gagang golok itu. "Sungguh aneh. Dia sendiri mengaku mencuri golok pusaka dan bahkan membunuh empat orang tokoh partai besar, kemudian membunuh ayahku dan membunuh pula suhu Pек Hong San-jin untuk menyembunyikan rahasianya. Dan sekarang golok yang dipegangnya itu palsu! Aneh!"

"Kenapa aneh, Tiong Li? Kurasa dia ada yang mengutus, dan kalau benar dugaanku dia ada yang mengutus, maka golok aselinya tentu berada di tangan yang mengutusnya itu," kata Siang Hwi sambil memandang kepada pemuda itu penuh kagum.

Sejak pertama kali bertemu dulu, Siang Hwi memang sudah suka sekali kepada Tiong Li sehingga dibujuknya gurunya agar tidak membunuh pemuda itu. Kini ia melihat Tiong Li sudah menjadi seorang pemuda dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Siang Hwi menjadi kagum bukan main.

Tiong Li juga memandang gadis itu dengan kagum. Kini Siang Hwi telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, dan sinar matanya masih seperti dulu, lembut akan tetapi tajam sekali. Dan melihat ketika gadis itu tadi menghadapi para pengeroyoknya, dia maklum bahwa Siang Hwi memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tangguh.

"Aku akan mencari pengutusnya sampai kudapatkan golok pusaka itu!" kata Ban-tok Sian-li.

"Aih, subo. Golok itu menjadi milik negara, kalau kita dapat menemukannya harus dikembalikan kepada kaisar."

"Ah, engkau tahu apa! Kaisar amat lemah, lebih baik golok itu dipergunakaп untuk membantu perjuangan! Mari kita pergi!"

Wanita itu yang bagaimanapun merasa tidak enak dan tidak suka karena ia merasa kalah lihai oleh pemuda itu, sudah berkelebat pergi.

"Tiong.Li, aku harus pergi mengikuti subo," kata Siang Hwi sambil memandang kepada pemuda itu dengan menyesal

"Siang Hwi, pertemuan kita singkat sekali. Sebetulnya aku ingin banyak bercakap-cakap denganmu. Kapan kita dapat bertemu kembali? Aku tidak pernah melupakan engkau yang telah menyelamatkan nyawaku."

Siang Hwi tersenyum manis. "Kenapa engkau masih bicara begitu? Soal menyelamatkan nyawa, kalau tadi engkau tidak muncul, kukira aku dan subo akan tewas di tangan mereka. Karena itu, tidak ada hutang budi lagi di antara kita. Kalau memang berjodoh, tentu kelak kita akan dapat bertemu kembali."

Tiba tiba wajah gadis itu berubah merah sekali karena ia sudah terlanjur bicara tentang berjodoh, pada hal tentu saja yang ia maksudkan berjodoh untuk bertemu kembali, akan tetapi dapat disalah artikan. "Sudahlah, Tiong Li. Aku khawatir subo nanti marah. Selamat tinggal, Tiong Li. Aku kagum kepadamu yang kini telah menjadi seorang pendekar yang amat lihai."

"Selamat jalan, Siang Hwi, dan ingat, kita pasti akan dapat saling ber jumpa kembali dan dapat bercakap-cakap lebih lama lagi."

Gadis itu melambaikan tangan lalu berkelebat pergi. Sampai lama Tiong Li berdiri termenung. Dia harus mengakui dalam hatinya bahwa dia amat tertarik kepada Siang Hwi dan merasa amat suka kepada gadis murid datuk wanita itu. Entah mengapa, begitu bertemu kembali dengan gadis itu, dia merasa ada kebahagiaan yang aneh menyelinap di dalam hatinya dan kini setelah berpisah, dia merasa kehilangan dan kesepian.

Cinta asmara memang ajaib. Merasa bahagia kalau bersanding, merasa tersiksa kalau berpisah. Ingin memiliki dan dimiliki, ingin menyenangkan dan di senangkan, ingin memanjakan dan dimanjakan. Ada rasa belas kasihan, ada rasa sayang yang mendalam dan kalau semua keinginan itu terpenuhi, hati penuh dengan kebahagiaan yang mendalam. Namun, cinta itu pula yang dapat mendatangkan derita dan siksa. Kalau cinta tidak terbalas, kalau cinta dikhianati, kalau cinta berubah menjadi bosan. Maka cinta dapat berubah menjadi benci!

Dan semua ini adalah ulah nafsu. Nafsu bertujuan satu, yakni ingin senang sendiri. Cinta nafsu selalu menghendaki dirinya senang, maka cinta seperti ini membutuhkan balasan cinta, kalau tidak, cintanya akan berubah menjadi kebencian. Dapatkah seseorang mencinta, kalau yang dicinta itu tidak membalas cintanya dan malah mencinta orang lain? Dapatkah seseorang mencinta kalau yang dicinta itu tidak menghiraukannya, bahkan mencibir dan menghinanya? Cinta yang bergelimang nafsu selalu menghendaki imbalan, jadi cintanya hanya merupakan cara untuk mendapatkan sesuatu. Jelas, bahwa cinta seperti ini adalah cinta nafsu.

Akan tetapi kita manusia tidak dapat melepaskan diri dari nafsu yang memang diikut sertakan dalam diri setiap orang manusia. Kalau kita mencinta seseorang, maka nafsu mendorong kita menuntut sesuatu yang menyenangkan dari orang yang kita cinta itu, baik yang kita cinta itu kekasih, isteri, anak, sahabat atau siapapun juga.

Kemanakah, larinya cinta kita kalau isteri kita menyeleweng dengan orang lain? Kemanakah perginya cinta kita kalau anak kita durhaka dan tidak berbakti kepada kita. Atau kalau seorang sahabat mengkhianati dan merugikan kita? Tidak, kita tidak dapat mencinta tanpa pamrih, tidak dapat mencinta demi cinta itu sendiri. Bahkan bagi kebanyakan dari kita, cinta kita terhadap Tuhan sekalipun mengandung harapan-harapan dan imbalan.


Lemas rasanya kedua kaki Tiong Li ketika akhirnya dia meninggalkan tempat itu dan entah bagaimana, kakinya membawanya kembali ke kota raja ! Dia ingin melihat kota raja, sebuah kota yang kabarnya indah dan ramai.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Tewasnya Hak Bu Cu tentu saja amat mengejutkan hati Perdana Menteri Jin Kui. Dia segera mengadakan perundingan dengan para pembantunya, dan juga puteranya. Di dalam ruangan rahasia di bagian belakang gedung perdana menteri itu, berkumpullah mereka.

Yang pertama adalah Perdana Menteri Jin Kui, berusia limapuluh tahun lebih, sorang pembesar dengan pakaian mewah tubuhnya sedang saja, akan tetapi matanya yang sipit itu melirak-1irik dengan cara yang menunjukkan bahwa di memiliki watak yang cerdik dan licik sekali.

Mulutnya juga selalu tersenyum mengejek dan angkuh. Orang seperti ini pandai sekali menjilat-jilat atasan dan menghina dan menghimpit bawahan, dan kalau menjadi musuh amatlah berbahaya karena hatinya kejam dan banyak tipu muslihatnya. Dia duduk di kepala meja, dihadap oleh empat orang.

Yang pertama, duduk di sebelah kanannya adalah puteranya yang bernama Jin Kiat. Wajah pemuda berusia duapuluh lima tahun ini cukup tampan, akan tetapi juga bentuk wajahnya membayangkan kelicikan dan kecurangan. Terutama sekali pada matanya yang bergerak-gerak lincah itu. Hidungnya juga melengkung seperti hidung kakaktua dan suaranya meninggi seperti suara wanita. Dia terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang, akan tetapi juga cerdik sekali dan selain ahli sastera juga ahli dalam hal ilmu silat, menjadi kebanggaan ayahnya.

Orang ke dua adalah seorang berpakaian pendeta. Dia seorang tosu bernama Kui To Cin-jin, masih guru dari Jin Kiat karena tosu ini lah yang mengajarkan ilmu silat tlnggi kepada Jin Kiat. Selain sebagai guru pemuda itu, juga Kui To Cin-jin bertugas sebagai penasihat Perdana Menteri karena tosu yang berusia limapuluh lima tahun ini memiliki pandangan yang luas. Kui To Cin-jin bertubuh kurus, tinggi dan wajahnya yang seperti wajah tikus itu memiliki jenggot yang panjang sampai ke dada, namun jarang dan tipis.

Orang ke tiga berpakaian seperti ahli silat dan dia bernama Ciang Sun Hok, menjadi jagoan dan tugasnya sebagai pengawal pribadi Perdana Menteri. Karena dia mengawal secara rahasia maka dia mengenakan рàкàian biasa, tidak berpakaian sebagai perwira atau perajurit. Tubuhnya tinggi tegap dan dari pembawaannya jelas menunjukkan bahwa dia seorang yang kuat dan bertenaga besar di samping ilmu silatnya yang tinggi. Ciang Sun Hok yang berusia empatpuluh lima tahun ini adalah seorang peranakan Khitan yang sejak muda sudah menghambakan diri kepada Perdana Menteri Jin Kui maka dipercaya penuh oleh pajabat tinggi itu.

Adapun orang ke empat adalah seorang panglima berpakaian mewah, bernama Ma Kiu It, berusia empat puluh tahun dan juga dia bertubuh tinggi tegap sehingga nampak gagah dalam рàкàian panglima. Dialah panglima pasukan pengawal Perdana Menteri Jin Kui. Tiga orang pembantu dan puteranya inilah merupakan orang-orang yang dipercaya oleh Perdana Menteri Jin Kui di samping Hak Bu Cu, pembantu yang datang dari utara itu.

Atas bujukan Perdana Menteri Jin Kui inilah maka Kaisar bersikap lunak dan suka mengadakan perdamaian dan mengalah terhadap Bangsa Yu-cen atau Kerajaan Cin (Kin). Hal ini sebetulnya tidak aneh kalau orang mengetahui asal usul Jin Kui yang penuh rahasia.

Ketika ibu kandung Jin Kui masih seorang gadis, diam-diam ia mempunyai hubungan gelap dengan seorang pelayan keluarganya. Pelayan ini adalah Bangsa Yu-cen. Dari Hubungan ini gadis itu mengandung dan melihat ini, orang tuanya marah kepada pelayan itu dan diam-diam si pelayan dibunuh dan gadis itu dinikahkan dengan seorang Bangsa Han yang bermarga Jin. Setelah Jin Kui agak besar, Ibu kandungnya yang memberitahu kepadanya akan rahasia itu, bahwa ayah kandungnya sesungguhnya seorang berbangsa Yu-cen yang sudah meninggal dunia. Demikianlah rahasia itu.

Jin Kui menyadari sepenuhnya bahwa dia keturunan Yu cen dan biarpun dia sendiri merahasiakan hal ini, ketika dia menduduki jabatan sampai menjadi Perdana Menteri, melihat gerakan Bangsa Yu-cen tentu saja diam-diam diapun bersimpati. Inilah yang menyebabkan dia mati-matian berusaha agar kaisar berdamai dengan bangsa Yu-cen, apa lagi karena Kerajaan Kin banyak mengirim hadiah kepadanya dan sudah lama mengadakan persekongkolan dengannya.

Ketika mendengar berita bahwa Hak Bu Cu tewas di tangan dua orang wanita pemberontak itu, tentu saja Jin Kuil menjadi terkejut sekali dan segera dia mengadakan perundingan dengan empat orang itu.

"Celaka sekali!" Jin Kui menggebrak meja. "Hak Bu Cu tewas. Kalau Panglima Wu Chu mendengar akan hal ini, tentu dia merasa menyesal dan marah sekali. Jian Kiat, bagaimana engkau sekali ini tidak menyertai dia pergi sehingga dapat membantunya?"

"Ketika ayah menerima berita rahasia itu bahwa dua orang pemberontak wanita menyamar sebagai pengemis lolos dari pintu gerbang utara, ayah mengutus Hak Bu Cu membawa pasukan istimewa melakukan pengejaran dan ketika itu saya tidak tahu," bantah Jin Kiat yang tidak mau dipersalahkan.

"Ma-ciangkun, panggil seorang di antara tujuh pengawai yang selamat itu ke sini. Aku ingin mendengar sendirt keterangan darinya."

"Baik, tai-jin." Ma Kiu It segera keluar dan tak lama kemudian dia datang lagi bersama seorang perajurit pe ngawal yang kelihatan ketakutan.

Setelah perajurit pengawai itu berlutut di depan Jin Kui, Perdana Menteri Jin Kui berkata dengan ketus, "Ceritakan bagaimana matinya Hak Bu Cu.dengan jelas!"

"Begini, tai-jin. Kami lima belas orang pengawai bersama Hak-sicu telah berhasil mengejar dua orang wanita pemberontak itu. Hak-sicu dibantu lima orang pengawal lalu menyerang yang tua sedangkan sepuluh orang pengawal menyerang yang muda dan sesuai dengan kinginan Yin-kongcu kami berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup."

Jin Kui mengerling dengan matanya yang sipit kepada puteranya. "Hem, yang kau pikirkan hanya wanita saja!"

"Ayah, saya memang menyuruh menangkapnya hidup-hidup agar ia dapat menceritakan di mana adanya kawan-kawannya!" bantah Jin Kiat dengan cerdik.

"Lanjutkan!" perintah Jin Kui kepada pengawal itu...

Mestika Golok Naga Jilid 07

"Heii, berhenti!" Bentak kepala perampok ini sambil memandang dengan matanya yang besar menakutkan. "Siapa engkau, dari mana hendak ke mana?"

Tiong Li bersikap tenang walaupun dia sudah pernah mendengar dari para gurunya bahwa sekarang banyak gerombolan perampok dan gerombolan yang menamakan dirinya pejuang akan tetapi tidak segan melakukan segala bentuk kekerasan untuk merampok. Sebutan pejuang hanya untuk kedok saja.

"Namaku Tan Tiong Li, datang dari puncak gunung dan hendak turun gunung," jawabnya terus terang.

"Bagus, tinggalkan buntalan dalam pikulanmu itu atau tinggalkan kepalamu. Pilih!"

"Sobat, buntalan ini hanya terisi pakaian yang sederhana dan tidak ada harganya. Kutinggalkan tidak ada gunanya untuk kalian, maka tidak akan kutinggalkan," jawab Tiong Li tetap tenang, akan tetapi dia waspada karena orang-orang seperti ini tidak segan melakukan segala kecurangan pula.

"Kalau begitu, tinggalkan kepalamu. Aku ingin melihat engkau tidak berkepala lagi!" kata kepala perampok itu dan empat belas orang anak buahnya menyeringai kejam. Agaknya mempermainkan nyawa orang bagi mereka merupakan hiburan dan kesenangan tersendiri.

"Twa-ko, biarkan aku memuntir putus leher orang ini!" kata seorang anak buahnya yang bertubuh gendut sekali dan mukanya hitam seperti pantat kwali. Setelah berkata demikian, dia sudah melangkah maju menghadapi Tiong Li, "Orang muda, serahkan kepalamu untuk kupuntir sampai putus!"

setelah berkata demikian, raksasa gendut itu lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipentang seperti seekor biruang hendak menerjang, lalu tangan itu menangkap hendak mencengkeram kepala Tiong Li. Akan tetapi dengan tenang pemuda itu melangkah dua kali ke belakang, lalu kakinya mencuat dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai perut yang gendut itu.

"Bukk!" Raksasa itu terjengkang keras dan dia akan bangkit berdiri, namun jatuh terduduk kembali sambil mengelus dan menekan perutnya yang terasa nyeri bukan main, mulas melilit-lilit.

Melihat si gendut ini roboh dengan sekali tendang saja, kawan-kawannya menjadi marah dan mereka mencabut golok, lalu menyerang Tiong Li kalang kabut. Juga kepala perampok tidak ketinggalan. Dia yang paling tangkas di antara teman-temannya sudah pula maju membacokkan goloknya kepada Tiong Li.

Tiong Li menggunakan ilmu meringankan tubuh Jiauw-sang-hui mengelak ke sana kemari dengan kecepatan yang luar biasa sehingga gerombolan perampok itu merasa seolah mereka menyerang sebuah bayangan saja yang berkelebaian ke sana sini. Setelah menurunkan buntalannya dan memegang tongkatnya, Tiong Li lalu menggerakkan tongkatnya, menyerang dengan totokan totokan dan seorang demi demi seorang kawanan perampok itu roboh bergulingan.

Kepala perampok menyerang dengan pengerahan sepenuh tenaganya, akan terapi goloknva terlepas ketika Tiong Li menotok pergelangan tangannya, Kemudian, sebuah tendangan merobohkannya. Limabelas orang perampok itu roboh semua mengaduh-aduh dan tidak mampu bangkit kembali. Tiong Li melompat ke dekat kepala perampok dan menodongkan ranting kayu itu kearah lehernya.

"Bagaimana, sobat? Apakah engkau masih ingin melanjutkan perkelahian ini?"

Kepala perampok itu mengerti betul bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar yang lihai sekali, maka tanpa malu-malu dia lalu berlutut. "Ampunkan kami, tai-hiap. Kami seperti buta, tidak melihat bukit Thai-san menjulang tinggi di depan mata dan berani mengganggu tai-hap (pendekar besar)”

"Kalian memang buta. Bukan karena menyerang aku, melainkan karena mengganggu rakyat jelata yang tidak berdosa. Kalian buta tidak melihat bahwa kalian merampoki sesama manusia yang sama sekali tidak bersalah. Apakah kalian begitu buta sehingga tidak melihat betapa rakyat jelata sudah amat menderita hidupnya? Sepatutnya orang gagah-gagah dan kuat-kuat seperti kalian ini membantu manusia lain yang sengsara. Bukan malah mengganggu rakyat yang sudah cukup menderita. Dari pada menggunakan tenaga dan kekuatan kalian mengganggu rakyat tanpa mengenal prikemanusiaan, lebih baik kalau kalian membantu perjuangan para pendekar patriot yang hendak membela negara mengusir penjajah Bangsa Yu-cen."

"Kami juga seringkali memasuki daerah Kerajaan Kin dan mengacau daerah musuh itu taihiap. Kami membunuhi banyak orang dan merampas harta milik mereka...!" kepala perampok itu hendak memamerkan jasanya.

"Itu bukan perjuangan namanya! Perjuangan tidak sama dengan merampoki. Perjuangan berarti menentang pasukan musuh yang mengacau di daerah Kerajaan Sung, atau maju perang bertempur melawan pasukan musuh. Akan tetapi kalian hanya memasuki daerah kekuasaan lawan untuk merampoki rakyat pula. Apa bedanya rakyat di sana dan rakyat di sini! Sama saja. Sebangsa dan mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa. Orang-orang macam kalian ini sepantasnya dibasmi habis!" Tiong Li menggertak.

"Ampun, tai-hiap..."

"Berjanjilah bahwa kalian akan bergabung dengan para pejuang dan tidak melakukan perampokan lagi, dan aku akan memaafkan kalian. Ketahuilah, kalau kalian berjuang dengan sungguh-sungguh membela rakyat, maka rakyat tentu akan dengan rela hati memberikan apa yang mereka miliki untuk kalian makan."

"Saya berjanji, tai-hiap."

"Aku ingin kalian semua yang berjanji, tidak hanya engkau!"

"Kami berjanji, tai-hiap...!" semua orang berseru.

"Aku tidak memaksa kalian. Kalau kalian sudah berjanji, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, penuhi janji itu. Akan tetapi kalau kalian tidak suka, boleh bangkit dan melawan aku sampai mati!"

"Kami tidak berani tai-hiap. Kami berjanji..."

"Nah, baiklah, aku melepaskan kalian. Akan tetapi ingat, aku akan selalu mengamati dan kalau sekali saja aku melihat kalian masih melakukan perampokan, aku pasti akan membasmi kalian."

"Terima kasih, tai-hiap!" lima belas orang itu memberi hormat sambil berlutut, akan tetapi ketika mereka mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ seperti menghilang saja. Pengalaman itu membuat mereka jera dan ketakutan dan mereka benar-benar mencari kelompok pejuang untuk menggabungkan diri!

Setelah pengalaman itu, Tiong Li merasa bergembira. Kini dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh guru-gurunya. Memang dia dapat mempergunakan kepandaiannya untuk kebaikan dan dia akan terus melakukannya. Di sepanjang perjalanannya, setiap kali bertemu gerombolan perampok, tentu dia menundukkan mereka dan membujuk mereka untuk bertaubat. Dan kalau ada hartawan atau bangsawan bertindak sewenang-wenang, diapun lalu turun tangan menghajar mereka dan membujuk mereka untuk mengubah sikaр dan watak mereka yang tidak benar.

Tiong Li menuju ke kota raja. Di sepanjang perjalanan dia tidak kekurangan bekal karena orang-orang yang ditolongnya tidak segan memberinya bekal dan pakaian, melihat betapa pendekar ini tidak memiliki apa-apa.

Dan pemberian yang dilakukan dengan rela itupun tidak ditolak oleh Tiong Li karena dia memang membutuhkan bekal untuk biaya perjalanannya. Dia pantang untuk melakukan pencurian apa lagi perampasan barang milik orang lain, juga dia tidak sampai hati untuk mengemis.

Pada suatu pagi, ketika tiba di sebelah utara kota raja, di dekat sebuah hutan, dia melihat dua orang wanita sedang dikeroyok oleh sepasukan orang yang dipimpin oleh seorang raksasa hitam yang membuat jantungnya berdebar tegang karena dia mengenal raksasa hitam itu sebagai Si Golok Naga, orang yang telah membunuh ayahnya dan membunuh pula gurunya yang pertama, Pек Hong San-jin! Orang yang telah membunuh empat prang tokoh partai besar, pencuri Mestika Golok Naga dari istana.

Siapakah dua orang wanita itu? Bukan lain adalah Ban-tok Sian li dan The Siang Hwi! Seperti diceritakan di bagian depan, kedua orang guru dan murid ini telah menyusup keluar dari pintu gerbang kota raja dengan menyamar sebagai pengemis. Setelah berhasil lolos dari pintu gerbang, sampai di tempat sunyi mereka menanggalkan penyamaran mereka dan berpisah dari para pengemis lain, melanjutkan perjalanan mereka.

Akan tetapi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda dari belakang. Karena mereka telah tiba jauh dari pintu gerbang kota raja, kedua wanita itu tidak merasa gentar lagi. Kalau mereka harus melawan musuh di kota raja, sungguh berbahaya karena selain mereka terkurung tidak mampu keluar, juga di kota raja banyak terdapat pasukan keamanan. Berbeda kalau berada di luar kota raja, tentu saja mereka tidak takut kalau hanya menghadapi belasan orang pengawal. Mereka berhenti di tepi jalan dan ternyata yang mengejar mereka adalab pasukan pengawal pilihan yang dipimpin sendiri oleh Hak Bu Cu!

"Itu mereka! Kepung!"

"Bunuh!"

"Tangkap!"

Belasan orang pengawal itu berloncatan turun dari kuda mereka dan dengan senjata di tangan mereka mengepung. Diam-diam Ban-tok Sian-li merasa kaget juga. Lagi-lagi si raksasa hitam yang muncul di situ, dan raksasa hitam itu telah menghunus goloknya yang hebat, yaitu Mestika Golok Naga. Ban-tok Sian-li merasa heran bukan main. Mestika Golok Naga adalah pusaka yang dicuri orang dari gudang pusaka kerajaan, kenapa sekarang berada di tangan seorang perwira pengawal? Akan tetapi ia tidak sempat berpikir terlampau jauh karena raksasa hitam itu sudah menerjangnya sambil membentak marah,

"Pemberontak, engkau hendak lari kemana?"

Golok itu menyambar dahsyat dan Ban-tok Sian-li cepat mengelak lalu membalas dengan pedangnya, dari bawah menusuk ke arah perut raksasa itu. Namun, Hak Bu Cu biarpun tinggi besar ternyata memiliki gerakan yang gesit juga karena begitu perutnya ditusuk, dia sudah dapat menghindar sambil mengelebatkan goloknya menangkis.

"Trangggg !" Bunga api berpijar ketika pedang bertemu golok dan ke dua orang ini sudah saling serang dengan sengitnya. Dan sebentar saja lima orang pengawal sudah membantu si raksasa hitam mengeroyok Ban-tok Sian-li. Wanita ini baru saja sembuh dari luka di pahanya.

Memang sudah tidak nyeri, akan tetapi kini dipakai bertanding, mengerahkan tenaga maka pahanya terasa pula agak nyeri karena memang belum pulih benar. Namun dengan gigih wanita itu membela diri dan dengan cepat balas menyerang para pengeroyoknya, seperti seekor harimau yang dikeroyok segerombolan srigala.

Sementara itu, Siang Hwi juga dikeroyok sepuluh orang pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi karena mereka yang diajak melakukan pengejaran oleh Hak Bu Cu memang merupakan pengawal-pengawal pilihan. Siang Hwi juga mengamuk seperti gurunya namun betapapun lihai gadis ini, para pengeroyoknya berjumlah banyak dan juga tangguh, maka tak lama kemudian iapun terdesak hebat.

Untung bagi Siang Hwi bahwa para pengawal itu sudah mendapat perintah Jin Kiat agar menangkap hidup-hidup gadis itu, maka penyerangan mereka hanya untuk mendesak dan mencari kesempatan untuk merobohkannya tanpa melukai berat. Dengah demikian, Sian Hwi masih dapat melawan dengan gigihnya.

Biarpun demikian, guru dan murid ini sudah terdesak dan agaknya tak lama lagi mereka tentu akan kalah. Dalam keadaan yang terancam bahaya itulah muncul Tiong Li. Pemuda ini mengenal si raksasa hitam, dan setelah dia mengamati penuh perhatian, dia mengenal pula Ban-tok Sian-li, àрà lagi Siang Hwi, gadis yang pernah menyelamatkannya dari ancaman tangan Ban-tok Sian-li yang hendak membunuhnya.

Tidak sukar bagi Tiong Li untuk mengambil keputusan pihak mana yang harus dibantunya. Dan melihat betàрà yang paling lihai di antara lawan kedua orang wanita itu adalah si raksasa hitam, dia melepaskan buntalan pakaiannya di atas tanah dan sambil memegang ranting di tangannya, dia meloncat dan berjungklr balik, tahu-tahu telah berhadapan dengan Hak Bu Cu sambil menotok dengan rantingnya ke arah siku kanan raksasa itu.

Biarpun yang dipergunakan hanya ranting, akan tetapi mengeluarkan suara bersiutan dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat dan cepat sehingga amat mengejutkan Hak Bu Cu yang segera melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan lengannya dari totokan.

"Bibi, harap membantu adik Siang Hwi dan serahkan raksasa hitam ini kepadaku," kata Tiong Li yang lalu mengerahkan rantingnya menyerang lagi.

Serangannya amat cepat sehingga tidak memberi kesempatan bagi Hak Bu Cu untuk lebih dulu menyerang. Dia berusaha membacok dengan goloknya untuk menangkis dan sekaligus mematahkan ranting itu, akan tetapi ranting itu terlalu cepat gerakannya sehingga tidak pernah tersentuh golok.

Sementara itu, melihat munculnya seorang pemuda yang lihai menghadapi si raksasa hitam, dan melihat betapa muridnya memang terdesak, Ban-tok Sian-li lalu meloncat dan membantu muridnya. Lima orang pengawal yang tadi membantu Hak Bu Cu mengeroyok wanita itu, kinipun mengejar dan dua orang guru dan murid itu kini dikeroyok lima belas orang pengawal.

Hak Bu Cu melintangkan pedangnya dan membentak, "Tahan!"

Mendengar ini, Tiong Li menghentikan gerakannya dan berdiri menghadapi musuh besar itu sam bil memandang tajam.

"Orang muda, siapakah engkau? Tidak tahukah engkau bahwa dua orang wanita ini adalah pemberontak? Kami menerima tugas dari Perdana Menteri Jin Kun untuk menangkap pemberontak, dan engkau berani membantu pemberontak? minggirlah dan jangan mencampuri kalau engkau tidak ingin dianggap pemberontak pula!"

"Aku bernama Tan Tiong Li dan aku bukan pemberontak, juga dua orang wanita ini bukan pemberontak. Akan tetapi engkaulah yang pemberontak dan pengacau. Engkau mencuri Mestika Golok Naga dan engkau membunuhi empat orang tokoh partai besar, membunuh pula ayahku, dan membunuh Pек Hong San-jin!"

Hak Bu Cu terbelalak dan memandang penuh perhatian. "Ahh... kiranya engkau bocah keparat itu...!" Dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang dengan goloknya.

Melihat golok ini, Tiong Li menjadi girang. Inilah golok pusaka yang dicuri itu. Dia harus mendapatkannya dan mengembalikannya kepada Kaisar. Hak Bu Cu merasa penasaran sekali. Jarang ada orang mampu menandinginya. Akan tetapi pemuda ini, walaupun hanya bersenjatakan ranting, akan tetapi memiliki gerakan yang demikian cepat dan ilmu silat yang aneh. Tubuhnya berkelebatan seperti bayangan saja sehingga matanya menjadi berkunang dibuatnya. Juga ranting itu demikian berbahaya, mengancam jalan darahnya dengan totokan bahkan beberapa kali mengancam matanya.

Biarpun di dalam hatinya Tiong Li mendendam kepada si raksasa ini kalau teringat akan kematian ayah kandungnya dan guru pertamanya, akan tetapi kesadarannya selalu membuatnya ingat bahwa dia tidak boleh sembarangan membunuh orang. Maka, diapun hanya mengirim serangan untuk menundukkannya saja, merobohkan tanpa niat membunuhnya!

Sementara itu, guru dan murid itu mengamuk dan setelah Siang Hwi dibantu gurunya, dalam waktu sabentar saja ia dan gurunya sudah merobohkan dan membunuh lima orang pengawal! Yang sepuluh orang menjadi jerih, apalagi setelah mereka melihat betapa pemimpin mereka juga kewalahan menghadapl pemuda yang memainkan ranting demikian hebatnya!

Maka mereka hanya mengepung sambil menjaga jarak, tidak berani mendesak seperti tadi dan kini kedua orang wanita itulah yang menghujankan serangan Kembali tiga orang pengawal terjungkal dan yang lain berlompatan mundur.

Suatu ketika, Tiong Li menyerang dengan kecepatan kilat dan rantingnya kini dengan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Hak Bu Cu, membuat raksasa itu berteriak kaget karena seketika tangan kanannya menjadi lumpuh dan dengan sendirinya golok itupun terlepas dari pegangannya.

Sebelum golok itu jatuh ke atas tanah, Tiong Li sudah menyambar dengan tangan kirinya dan golok itu berada di tangannya. Ketika melihat ini, Hak Bu Cu menubruk kedepan untuk merampas kembali goloknya menggunakan tangan kirinya, akan tetapi dia disambut sebuah tendangan berputar yang amat keras, membuat tubuhnya terlempar.

Malang baginya, tubuhnya yang tertendang itu terjatuh ke dekat Ban-tok Sian Li. Melihat si raksasa hitam itu jatuh ke dekat kakinya, secepat kilat pedang Ban tok Sian Li bergerak menyambar dan terpenggallah kepala raksasa hitam itu. Darah menyembur keluar dan kepala itu terpisah jauh dari badannya. Melihat ini, tujuh orang pengawal menjadi terkejut dan mereka segera melarikan diri, meloncat ke punggung kuda dan kabur dengan ketakutan!

"Mereka akan datang membawa bala bantuan, kita harus cepat pergi dari slnil" kata The Siang Hwi sambil melompat dan lari, diikuti gurunya dan juga Tiong Li.

Setelah berlari jauh, barulah mereka berbenti dan Siang Hwi memandang kepada pemuda itu, lalu tersenyum.

"Tiong Li...!" katanya lirih.

"Siang Hwi, akhirnya kita dapat saling berjumpa juga," kata pula Tiong Li sambil tersenyum dan memberi hormat kepada Ban-tok Sian-li. "Sian-li, saya harap Sian-li baik baik saja," katanya.

Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya. la sudah lupa kepada Tiong Li dan bertanya, "Hemm, siapakah engkau?"

"Su-bo, apakah subo sudah lupa? Dia Tan Tiong Li, murid dari Pек Hon San-jin yang meninggal dunia ketika kita berkunjung ke Pek-hong San-кок dahulu itu."

"Ahhhh... engkaukah anak muda itu? Akan tetapi..." la tidak melanjutkan kata-katanya karena merasa terheran-heran. Kepandaian pemuda itu dulu tidaklah terlalu hebat, akan tetapi sekarang, ia menyaksikan sendiri betapa pemuda itu mengalahkan si raksasa hitam hanya dengan menggunakan sebatang ranting! Dan ia melihat betapa golok milik raksasa hitam itu kini berada di tangan kiri pemuda itu.

"Engkau merampas golok raksasa itu?" tanyanya sambil memandang golok itu penuh perhatian.

"Ini adalah Mestika Golok Naga yang dicurinya dari gudang perpustakaan istana."

"Kenapa engkau merampasnya?"

"Untuk saya kembalikan kepada Kaisar tentu.saja," Kata Tiong Li.

Ban-tok Sian li tersenyum mengejek. "Dan menerima hukuman berat dari Kaisar? Golok itu palsu!"

"Ehh...?" Tiong Li terkejut mendengar ucapan Ban tok Sian-li itu.

"Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, engkau tidak akan mampu mematahkannya. Akan tetapi coba kau patahkan golok itu!" kata pula wanita yang berpengalaman itu.

Tiong Li tidak percaya, lalu menggunakan kedua tangan untuk mematahkan golok itu.

"Krekkk!" Golok itu patah menjadi dua potong dengan mudahnya. Tiong Li terbelalak, dan memandang kepada Ban-tok Sian-li. "Sian-li, bagaimana Sian-li dapat mengetahui bahwa golok itu palsu?"

"Mudah saja. Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, tentu tadi pedangku sudah patah-patah kalau bertemu dengan pusaka itu. Akan tetapi, pedangku sama sekali tidak patah, gempilpun tidak. Itu berarti bahwa golok itu palsu adanya."

Tiong Li membuang gagang golok itu. "Sungguh aneh. Dia sendiri mengaku mencuri golok pusaka dan bahkan membunuh empat orang tokoh partai besar, kemudian membunuh ayahku dan membunuh pula suhu Pек Hong San-jin untuk menyembunyikan rahasianya. Dan sekarang golok yang dipegangnya itu palsu! Aneh!"

"Kenapa aneh, Tiong Li? Kurasa dia ada yang mengutus, dan kalau benar dugaanku dia ada yang mengutus, maka golok aselinya tentu berada di tangan yang mengutusnya itu," kata Siang Hwi sambil memandang kepada pemuda itu penuh kagum.

Sejak pertama kali bertemu dulu, Siang Hwi memang sudah suka sekali kepada Tiong Li sehingga dibujuknya gurunya agar tidak membunuh pemuda itu. Kini ia melihat Tiong Li sudah menjadi seorang pemuda dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Siang Hwi menjadi kagum bukan main.

Tiong Li juga memandang gadis itu dengan kagum. Kini Siang Hwi telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, dan sinar matanya masih seperti dulu, lembut akan tetapi tajam sekali. Dan melihat ketika gadis itu tadi menghadapi para pengeroyoknya, dia maklum bahwa Siang Hwi memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tangguh.

"Aku akan mencari pengutusnya sampai kudapatkan golok pusaka itu!" kata Ban-tok Sian-li.

"Aih, subo. Golok itu menjadi milik negara, kalau kita dapat menemukannya harus dikembalikan kepada kaisar."

"Ah, engkau tahu apa! Kaisar amat lemah, lebih baik golok itu dipergunakaп untuk membantu perjuangan! Mari kita pergi!"

Wanita itu yang bagaimanapun merasa tidak enak dan tidak suka karena ia merasa kalah lihai oleh pemuda itu, sudah berkelebat pergi.

"Tiong.Li, aku harus pergi mengikuti subo," kata Siang Hwi sambil memandang kepada pemuda itu dengan menyesal

"Siang Hwi, pertemuan kita singkat sekali. Sebetulnya aku ingin banyak bercakap-cakap denganmu. Kapan kita dapat bertemu kembali? Aku tidak pernah melupakan engkau yang telah menyelamatkan nyawaku."

Siang Hwi tersenyum manis. "Kenapa engkau masih bicara begitu? Soal menyelamatkan nyawa, kalau tadi engkau tidak muncul, kukira aku dan subo akan tewas di tangan mereka. Karena itu, tidak ada hutang budi lagi di antara kita. Kalau memang berjodoh, tentu kelak kita akan dapat bertemu kembali."

Tiba tiba wajah gadis itu berubah merah sekali karena ia sudah terlanjur bicara tentang berjodoh, pada hal tentu saja yang ia maksudkan berjodoh untuk bertemu kembali, akan tetapi dapat disalah artikan. "Sudahlah, Tiong Li. Aku khawatir subo nanti marah. Selamat tinggal, Tiong Li. Aku kagum kepadamu yang kini telah menjadi seorang pendekar yang amat lihai."

"Selamat jalan, Siang Hwi, dan ingat, kita pasti akan dapat saling ber jumpa kembali dan dapat bercakap-cakap lebih lama lagi."

Gadis itu melambaikan tangan lalu berkelebat pergi. Sampai lama Tiong Li berdiri termenung. Dia harus mengakui dalam hatinya bahwa dia amat tertarik kepada Siang Hwi dan merasa amat suka kepada gadis murid datuk wanita itu. Entah mengapa, begitu bertemu kembali dengan gadis itu, dia merasa ada kebahagiaan yang aneh menyelinap di dalam hatinya dan kini setelah berpisah, dia merasa kehilangan dan kesepian.

Cinta asmara memang ajaib. Merasa bahagia kalau bersanding, merasa tersiksa kalau berpisah. Ingin memiliki dan dimiliki, ingin menyenangkan dan di senangkan, ingin memanjakan dan dimanjakan. Ada rasa belas kasihan, ada rasa sayang yang mendalam dan kalau semua keinginan itu terpenuhi, hati penuh dengan kebahagiaan yang mendalam. Namun, cinta itu pula yang dapat mendatangkan derita dan siksa. Kalau cinta tidak terbalas, kalau cinta dikhianati, kalau cinta berubah menjadi bosan. Maka cinta dapat berubah menjadi benci!

Dan semua ini adalah ulah nafsu. Nafsu bertujuan satu, yakni ingin senang sendiri. Cinta nafsu selalu menghendaki dirinya senang, maka cinta seperti ini membutuhkan balasan cinta, kalau tidak, cintanya akan berubah menjadi kebencian. Dapatkah seseorang mencinta, kalau yang dicinta itu tidak membalas cintanya dan malah mencinta orang lain? Dapatkah seseorang mencinta kalau yang dicinta itu tidak menghiraukannya, bahkan mencibir dan menghinanya? Cinta yang bergelimang nafsu selalu menghendaki imbalan, jadi cintanya hanya merupakan cara untuk mendapatkan sesuatu. Jelas, bahwa cinta seperti ini adalah cinta nafsu.

Akan tetapi kita manusia tidak dapat melepaskan diri dari nafsu yang memang diikut sertakan dalam diri setiap orang manusia. Kalau kita mencinta seseorang, maka nafsu mendorong kita menuntut sesuatu yang menyenangkan dari orang yang kita cinta itu, baik yang kita cinta itu kekasih, isteri, anak, sahabat atau siapapun juga.

Kemanakah, larinya cinta kita kalau isteri kita menyeleweng dengan orang lain? Kemanakah perginya cinta kita kalau anak kita durhaka dan tidak berbakti kepada kita. Atau kalau seorang sahabat mengkhianati dan merugikan kita? Tidak, kita tidak dapat mencinta tanpa pamrih, tidak dapat mencinta demi cinta itu sendiri. Bahkan bagi kebanyakan dari kita, cinta kita terhadap Tuhan sekalipun mengandung harapan-harapan dan imbalan.


Lemas rasanya kedua kaki Tiong Li ketika akhirnya dia meninggalkan tempat itu dan entah bagaimana, kakinya membawanya kembali ke kota raja ! Dia ingin melihat kota raja, sebuah kota yang kabarnya indah dan ramai.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Tewasnya Hak Bu Cu tentu saja amat mengejutkan hati Perdana Menteri Jin Kui. Dia segera mengadakan perundingan dengan para pembantunya, dan juga puteranya. Di dalam ruangan rahasia di bagian belakang gedung perdana menteri itu, berkumpullah mereka.

Yang pertama adalah Perdana Menteri Jin Kui, berusia limapuluh tahun lebih, sorang pembesar dengan pakaian mewah tubuhnya sedang saja, akan tetapi matanya yang sipit itu melirak-1irik dengan cara yang menunjukkan bahwa di memiliki watak yang cerdik dan licik sekali.

Mulutnya juga selalu tersenyum mengejek dan angkuh. Orang seperti ini pandai sekali menjilat-jilat atasan dan menghina dan menghimpit bawahan, dan kalau menjadi musuh amatlah berbahaya karena hatinya kejam dan banyak tipu muslihatnya. Dia duduk di kepala meja, dihadap oleh empat orang.

Yang pertama, duduk di sebelah kanannya adalah puteranya yang bernama Jin Kiat. Wajah pemuda berusia duapuluh lima tahun ini cukup tampan, akan tetapi juga bentuk wajahnya membayangkan kelicikan dan kecurangan. Terutama sekali pada matanya yang bergerak-gerak lincah itu. Hidungnya juga melengkung seperti hidung kakaktua dan suaranya meninggi seperti suara wanita. Dia terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang, akan tetapi juga cerdik sekali dan selain ahli sastera juga ahli dalam hal ilmu silat, menjadi kebanggaan ayahnya.

Orang ke dua adalah seorang berpakaian pendeta. Dia seorang tosu bernama Kui To Cin-jin, masih guru dari Jin Kiat karena tosu ini lah yang mengajarkan ilmu silat tlnggi kepada Jin Kiat. Selain sebagai guru pemuda itu, juga Kui To Cin-jin bertugas sebagai penasihat Perdana Menteri karena tosu yang berusia limapuluh lima tahun ini memiliki pandangan yang luas. Kui To Cin-jin bertubuh kurus, tinggi dan wajahnya yang seperti wajah tikus itu memiliki jenggot yang panjang sampai ke dada, namun jarang dan tipis.

Orang ke tiga berpakaian seperti ahli silat dan dia bernama Ciang Sun Hok, menjadi jagoan dan tugasnya sebagai pengawal pribadi Perdana Menteri. Karena dia mengawal secara rahasia maka dia mengenakan рàкàian biasa, tidak berpakaian sebagai perwira atau perajurit. Tubuhnya tinggi tegap dan dari pembawaannya jelas menunjukkan bahwa dia seorang yang kuat dan bertenaga besar di samping ilmu silatnya yang tinggi. Ciang Sun Hok yang berusia empatpuluh lima tahun ini adalah seorang peranakan Khitan yang sejak muda sudah menghambakan diri kepada Perdana Menteri Jin Kui maka dipercaya penuh oleh pajabat tinggi itu.

Adapun orang ke empat adalah seorang panglima berpakaian mewah, bernama Ma Kiu It, berusia empat puluh tahun dan juga dia bertubuh tinggi tegap sehingga nampak gagah dalam рàкàian panglima. Dialah panglima pasukan pengawal Perdana Menteri Jin Kui. Tiga orang pembantu dan puteranya inilah merupakan orang-orang yang dipercaya oleh Perdana Menteri Jin Kui di samping Hak Bu Cu, pembantu yang datang dari utara itu.

Atas bujukan Perdana Menteri Jin Kui inilah maka Kaisar bersikap lunak dan suka mengadakan perdamaian dan mengalah terhadap Bangsa Yu-cen atau Kerajaan Cin (Kin). Hal ini sebetulnya tidak aneh kalau orang mengetahui asal usul Jin Kui yang penuh rahasia.

Ketika ibu kandung Jin Kui masih seorang gadis, diam-diam ia mempunyai hubungan gelap dengan seorang pelayan keluarganya. Pelayan ini adalah Bangsa Yu-cen. Dari Hubungan ini gadis itu mengandung dan melihat ini, orang tuanya marah kepada pelayan itu dan diam-diam si pelayan dibunuh dan gadis itu dinikahkan dengan seorang Bangsa Han yang bermarga Jin. Setelah Jin Kui agak besar, Ibu kandungnya yang memberitahu kepadanya akan rahasia itu, bahwa ayah kandungnya sesungguhnya seorang berbangsa Yu-cen yang sudah meninggal dunia. Demikianlah rahasia itu.

Jin Kui menyadari sepenuhnya bahwa dia keturunan Yu cen dan biarpun dia sendiri merahasiakan hal ini, ketika dia menduduki jabatan sampai menjadi Perdana Menteri, melihat gerakan Bangsa Yu-cen tentu saja diam-diam diapun bersimpati. Inilah yang menyebabkan dia mati-matian berusaha agar kaisar berdamai dengan bangsa Yu-cen, apa lagi karena Kerajaan Kin banyak mengirim hadiah kepadanya dan sudah lama mengadakan persekongkolan dengannya.

Ketika mendengar berita bahwa Hak Bu Cu tewas di tangan dua orang wanita pemberontak itu, tentu saja Jin Kuil menjadi terkejut sekali dan segera dia mengadakan perundingan dengan empat orang itu.

"Celaka sekali!" Jin Kui menggebrak meja. "Hak Bu Cu tewas. Kalau Panglima Wu Chu mendengar akan hal ini, tentu dia merasa menyesal dan marah sekali. Jian Kiat, bagaimana engkau sekali ini tidak menyertai dia pergi sehingga dapat membantunya?"

"Ketika ayah menerima berita rahasia itu bahwa dua orang pemberontak wanita menyamar sebagai pengemis lolos dari pintu gerbang utara, ayah mengutus Hak Bu Cu membawa pasukan istimewa melakukan pengejaran dan ketika itu saya tidak tahu," bantah Jin Kiat yang tidak mau dipersalahkan.

"Ma-ciangkun, panggil seorang di antara tujuh pengawai yang selamat itu ke sini. Aku ingin mendengar sendirt keterangan darinya."

"Baik, tai-jin." Ma Kiu It segera keluar dan tak lama kemudian dia datang lagi bersama seorang perajurit pe ngawal yang kelihatan ketakutan.

Setelah perajurit pengawai itu berlutut di depan Jin Kui, Perdana Menteri Jin Kui berkata dengan ketus, "Ceritakan bagaimana matinya Hak Bu Cu.dengan jelas!"

"Begini, tai-jin. Kami lima belas orang pengawai bersama Hak-sicu telah berhasil mengejar dua orang wanita pemberontak itu. Hak-sicu dibantu lima orang pengawal lalu menyerang yang tua sedangkan sepuluh orang pengawal menyerang yang muda dan sesuai dengan kinginan Yin-kongcu kami berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup."

Jin Kui mengerling dengan matanya yang sipit kepada puteranya. "Hem, yang kau pikirkan hanya wanita saja!"

"Ayah, saya memang menyuruh menangkapnya hidup-hidup agar ia dapat menceritakan di mana adanya kawan-kawannya!" bantah Jin Kiat dengan cerdik.

"Lanjutkan!" perintah Jin Kui kepada pengawal itu...