Social Items

DIA lalu menghampiri Tiong Li yang masih menangis, lalu mengangkatnya bangun. "Diamlah, anak yang baik. Yang mati tidak akan dapat hidup kembali oleh tangis. Kematian datang menjemput setiap orang, karena itu jangan di tangisi lagi. Mari pinceng bantu engkau menguburkan jenazah ayahmu dengan baik. Di manakah rumahmu? Kita dapat membawa jenazah ayahmu kembali ke keluargamu."

"Lo-suhu, ayah dan saya tinggal di dusun lereng bawah sana. Akan tetapi kami tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kami hanya hidup berdua."

"ibumu?"

"Sudah meninggal sejak saya masih kecil, lo-suhu."

"Aih, anak sekecil ini sudah yatim piatu. Kalau begitu, bagaimana baiknya? Apakah dikubur di sini saja?"

Anak itu mengangguk. Baginya sama saja ayahnya akan dikuburkan di mana karena dia sudah mengambil keputusan bulat bahwa dia akan ikut dengan hwe-sio tua Ini yang mampu mengusir raksasa hitam yang jahat tadi.

Kemudian terjadilah peristiwa yang membuat Tiong Li terheran-heran . Dengan menggunakan sepotong kayu, bukan cangkul atau senjata tajam lainnya. kakek itu menggali tanah dan penggalian dengan menggunakan sepotong kayu itu terjadi sedemikian cepatnya sehingga dalam sekejap saja sudah tergali sebuah lubang yang cukup besar dan panjang untuk menguburkan jenazah ayahnya!

Kakek itu lalu mengangkat Jenazah itu berikut kepalanya dan merebahkan ke dalam lubang dengan baik, Kemudian setelah kakek itu membaca doa untuk yang mati, lubang itu ditimbuni tanah oleh mereka berdua. Di atas gundukan tanah itu diletakkan sebuah batu panjang oleh si hwe-sio tua yang dengan mudahnya mengangkat batu yang belum tentu dapat diangkat empat orang laki-laki yang bertenaga besar.

Setelah itu, Tiong Li lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, "Lo-suhu, saya sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, oleh karena itu perkenankanlah saya ikut dengan lo-suhu, menjadi murid lo-suhu," Dia berkata demikian sambil menangis.

"Omitohud, menolong orang tidak boleh setengah-setengah. Tanpa kau minta sekalipun, pinceng tidak akan menegakanmu. Anak yang baik, siapakah namamu dan siapa pula nama ayahmu?"

"Mendiang ayah bernama Tan Hok dan saya bernama Tan Tiong Li, lo-su-hu."

"Kalau begitu. di atas batu ini perlu dituliskan nama ayahmu agar kelak dapat menjadi peringatan bagimu." Hwe-sio tua itu lalu menggunakan jari telunjuknya, menggurat-gurat pada batu besar dan nampaklah huruf-huruf seperti dipahat saja dan berbunyi: KUBURAN TAN HOK.

"Marilah kita pulang, Tiong Li." kakek itu berkata dan dia menggandeng tangan anak itu. Segera Tiong Li merasa tubuhnya seperti terangkat dan meluncur dengan cepat mendaki puncak. Kakinya seolah tidak menyentuh tanah, akan tetapi tubuhnya meluncur cepat sekali seperti terbang dan sebentar saja mereka telah tiba di puncak di mana dia bertemu dengan kakek tadi.

"Puncak ini merupakan tempat tinggal pinceng dan disebut Pek-hong sen- kok (Lembah Gunung Burung Hong Putih). Mulai sekarang engkau tinggal di sini bersamaku."

Demikianlah, mulai hari itu Tiong Li menjadi murid kakek itu yang tidak mempunyai nama, melainkan memakai nama puncak itu sebagai namanya, yaitu Pek Hong San-jin (Orang Gunung Hong Putih). Anak itu memang rajin dan tahu membawa diri. Biarpun masih kecil dia sudah membantu kakek itu dengan segala macam pekerjaan. Mencari kayu kering, memasak air, berkebun, memikul air dari sumber, membersihkan pondok kecil yang seperti gubuk itu, menyapu pekarangan.

Dan diapun tidak pernah mengeluh harus makan nasi dan sayur-sayuran sederhana saja. Dia tidak tahu dari mana kakek itu mendapatkan beras, hanya kadang kakek itu meninggalkan puncak sampai sehari lamanya dan pulangnya membawa segala bahan keperluan hidup mereka.

Akan tetapi dari hwe-sio tua itu Tiong Li mempelajari segala macam ilmu. Bukan saja dasar-dasar ilmu silat, melainkan juga Ilmu membaca dan menulis, bahkan setelah dia pandai membaca, dia mulai disuruh membaca kitab-kitab agama.

Beberapa tahun kemudian setelah Tiong Li memiliki dasar-dasar Ilmu silat, barulah gurunya mengajarkan ilmu silat. Ternyata kakek itu merupakan seorang ahli semua ilmu silat.

"Ilmu silat banyak ragamnya," demikian antara lain kakek itu menjelaskan, "namun pada dasarnya mempunyai sumber yang sama. Mempergunakan tenaga sedikit mungkin untuk menghaslikan daya serang sebanyak mungkin. Semua ilmu silat ditujukan untuk membela diri, dan dasar bela diri itu semua sama saja, hanya kembangannya yang berbeda sesuai dengan aliran masing-masing."

"Suhu, kalau Ilmu silat itu ditujukan untuk membela diri, mengapa ada Jurus-Jurus untuk menyerang?" Tanya Tiong Li.

"Membela diri bukan berarti bertahan saja. Menyerang dan merobohkan lawan juga merupakan bentuk bela diri. Akan tetapi, jangan sekali-kali menyerang orang yang tidak mengganggu kita atau jangan mendahului menyerang orang. Ilmu silat bukan dipelajari untuk melakukan kekerasan, bukan pula untuk mencari kemenangan, atau untuk menyembongkan diri. 0leh karena itu, di jaman dahulu, ilmu silat hanya dipelajari oleh orang-orang yang lemah, yang tertindas dan bertenaga keciI. Semua itu merupakan usaha untuk dapat membela diri dari penindasan mereka yang lebih kuat."

"Apalagi tujuan Ilmu silat selain untuk membela diri dari penindasan mereka yang sewenang-wenang, suhu?"

"Ilmu silat mengandung tiga unsur, Tiong Li. Pertama sekali, sebagaimana awal mulanya, ilmu silat adalah untuk menjaga kesehatan karena ilmu silat adalah olah raga yang baik sekali dan yang menyehatkan. Kedua, di dalam Ilmu silat dimasukkan unsur seni tari yang indah, yang sesuai dengan kelemasan dan kelincahan gerakan seorang manusia atau bahkan meniru gerakan hewan . Dan unsur ketiga adalah seni bela diri itulah."

"Akan tetapi, teecu (murid) melihat ada ilmu-ilmu sesat seperti yang dipergunakan oleh raksasa hitam dahulu, suhu. Apakah memang ada ilmu bersih dan ilmu kotor?"

"Semua ilmu asal mulanya datang karena ada anugerah Yang Maha Kuasa sebagai dayanya sang budi atau disebut budi-daya yang menjadi kebudayaan manusia. Tidak ada yang bersih dan tidak ada yang kotor. Barulah ilmu itu menjadi bersih atau kotor setelah dipergunkan manusia. Ilmu apapun kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka ilmu itu menjadi sesat, Seperti halnya sebatang pisau, pisau itu tidak dapat disebut baik atau buruk, melainkan pisau waja saja. Setelah dipergunakan untuk bekerja di kebun atau di dapur, mengupas bahkan memotong sayuran maka pisau itu baik, akan tetapi kalau pisau itu dipergunakan untuk menyerang orang, melukai atau membunuh, maka pisau itu menjadi buruk. Sebetulnya yang jahat itu bukan pisaunya, bukan pula ilmunya, melainkan manusianya. Semua itu hanya alat, ilmu silatpun dianugerahkan kepada manusia untuk dijadikan alat, yaitu sebagai olah raga, sebagai seni tari dan sebagai seni bela diri. Kalau dipergurnakan untuk berbuat kejahatan, yang Jahat bukanlah ilmu silatnya, melainkan orangnya. Kau ingat golok yang dipegang oleh raksasa hitam dahulu itu? Golok itu adalah sebuah pusaka yang langka didapatkan, kalau tidak salah golok itu adalah Mestika Golok Naga yang tempatnya di gudang pusaka istana. Nah, biarpun mestika itu sebuah pusaka yang ampuh dan keramat sekalipun, kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka tetap saja menjadi jahat sifatnya. Tergantung yang mempergunakannya. Kepintaran itu baik bagi manusia, akan tetapi bagaimana kalau kepintaran itu dipergunakan untuk menipu orang orang lain yang bodoh? "

Tiong Li mengangguk-angguk mengerti. Baru berusia belasan tahun dia sudah mendengar banyak sekali tentang kehidupan dari gurunya yang arif bijaksana.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Pencurian Mestika Golok Naga Itu menggegerkan kota raja. Terjadinya memang aneh sekali. Bukan pencurian biasa karena perbuatan itu dilakukan orang dengan terang-terangan. Seperti biasa, gudang pusaka itu dijaga siang malam oleh pasukan pengawal, tujuh orang banyaknya dan pengawal itu bukanlah perajurit biasa melainkan pengawal pilihan yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.

Akan tetapi pada malam hari itu, tahu-tahu pada keesokan harinya orang mendapatkan tujuh orang pengawal ini telah tewas semua dan di antara barang-barang pusaka yang demikian banyaknya, hanya sebuah saja yang hllang, yaitu Mestika Golok Naga.

Kaisar menjadi marah dan mengutus para ahli menyelidikinya. Para jagoan istana yang berilmu tinggi memeriksa mayat ke tujuh orang pengawal itu dan mereka mendapat kenyataan bahwa di antara para mayat ini terdapat tanda-tanda dengan ilmu apa mereka dibunuh. Ada yang terbunuh oleh pukulan Pek-lek-jlu (Tangan Geledek) yang mereka tahu merupakan ilmu pukulan dari Kun-lun-pai.

Ada pula yang terbunuh oleh senjata rahasia paku yang disebut Touw-kut-teng (Paku Penembus Tulang) yang biasa dipergunakan oleh para pendekar Butong-pai. Ada pula yang tewas karena pukulan Ang-se-ciang (Tangan Pasir Merah) dari Siauw-Lim-pai dan ada pula yang tewas karena pukulan Ilmu Tiat-ciang (Tangan Besi) dari Hoa-san-pai.

Tentu saja para jagoan Istana melaporkan hal ini kepada kaisar. Pada waktu itu Kerajaan Sung telah pecah berantakan oleh serangan Kerajaan Cin yang menyerang sampai ke kota raja Kai feng. Kaisar beserta seluruh keluarganya tertawan dan dibuang. Semua ini adalah akibat pengkhianatan Jin Kui yang bersekutu dengan Kerajaan Cin, sehingga Kerajaan Sung menjadi berantakan.

Akan tetapi, seorang pangeran adik Kaisar yang bernama Sung Kao Cung, berhasil melarikan diri dan tidak tertangkap oleh bangsa Yucen atau Kerajaan Cin dan Sung Kau Cung melarikan diri ke selatan, menyeberangi Sungai Yang-ce.

Di selatan ini, Sung Kao Cung naik tahta dan Kerajaan Sung berdiri kembali dalam tahun 1127. Akan tetapi karena kekuasaan Kerajaan Sung hanya berada di sebelah selatan Sungai Yang-ce, maka kerajaan itu dinamakan Kerajaan Sung Selatan.

Daratan Cina kembali terpecah menjadi dua. Di sebelah utara Sungai Yang ce berkuasa Kerajaan Cin, dan di sebelah selatan sungai itu berkuasa Kerajaan Sung. Akan tetapi Kerajaan Sung Selatan ini amat lemah sehingga Kaisarnya terpaksa harus membayar upeti kepada Kerajaan Cin.

Memang tidak selamanya Sung Selatan tunduk. Ada kalanya terjadi pertempuran sengit antara kedua kerajaan itu. Akan tetapi dalam Kerajaan Sung Selatan, kekuasaan yang besar berada di tangan kaum tuan tanah yang tidak merasa berkepentingan untuk merebut daerah sebelah utara Sungai Yang-ce, maka pertempuran itu tidak pernah menjadi peperangan umum. Sebaliknya, Kerajaan Cin sendiri juga tidak memandang penting untuk merebut daerah Kerajaan Sung, karena daerah pertanian di selatan tidak menarik bagi mereka yang berasal dari Bangsa Nomad berkuda.

Yang terjadi adalah perang dingin. Dan yang lebih banyak mengadakan perlawanan kepada Bangsa Cin adalah orang-orang kang-ouw, para pendekar yang masih mendendam dan membenci bangsa Cin yang telah menguasai Kerajaan Sung dan memaksa kaisarnya pindah ke selatan sehingga Kerajaan Sung menjadi sebuah negara yang lemah dan nampaknya seperti sebuah pemerintahan yang mengungsi.

Para pendekar banyak yang seringkali bentrok dengan pasukan Cin di sepanjang perbatasan dan sepak terjang para pendekar ini kadang memusingkan Kerajaan Cin karena mereka banyak kehilangan anak buah yang terbasmi oleh para pendekar.

Dalam keadaan seperti itulah tiba tiba saja Mestika Golok Naga itu lenyap dicuri orang dalam gudang pusaka Istana Kerajaan Sung. Ketika Kaisar Sung Kao Cung mendengar bahwa ada tanda-tanda bahwa yang membuhuh para pengawal adalah orang-orang dari empat perkumpulan besar Siauw-lim-pai, Bu- tong-pai, Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, Kaisar menjadi marah. Kaisar mengutus para jagoannya membawa pasukan untuk mendatangi partai-partai itu.

Akan tetapi, para jagoan istana sendiri tidak percaya bahwa ke empat partai yang biasanya amat setia itu mencuri golok pusaka, dan mendatangi mereka bukan untuk melakukan penangkapan, melainkan mengajak mereka berunding membicarakan perkara pencurian itu.

Para ketua keempat partai persilatan itu berjanji akan berusaha mencari pencuri yang selain mencuri golok pusaka juga telah melakukan fitnah kepada nama perkumpulan mereka berempat. Mereka mengutus murid-murid pilihan mereka untuk menyebar dan melakukan penyelidikan, kalau perlu sampai ke sebelah utara Sungai Yang-ce-kiang.

Para ketua empat partai besar itu mengadakan pertemuan sendiri dan mereka terutama membicarakan murid-murid mereka yang menjadi tokoh kelas tiga, yang mengadakan pertemuan di Liong-san akan tetapi tidak pernah kembali.

Mereka lalu mengutus murid-murid lain menyusul ke sana dan mendapatkan empat orang murid itu telah tewas dan mayat mereka telah menjadi kerangka. Mereka mengenali mereka dari pakaian dan senjata-senjata mereka saja.

"Omitohud! Jelas ini tentu perbuatan si pencuri itu dan dia tentu bukan pencuri sembarangan. Di balik perbuatannya mencuri ini agaknya terkandung maksud yang lebih besar lagi. Pertama, untuk mengadu domba antara para partai dan Kerajaan Sung, dan kedua untuk membingungkan para tokoh partai itu sendiri agar saling tuduh dan terjadi perpecahan. Pendeknya, di balik pencurian golok pusaka itu terkandung maksud untuk semakin melemahkan Kerajan Sung," kata ketua Siauw-lim-pai "Yang jelas, orang yang mencuri golok pusaka itu adalah seorang yang ahli banyak macam ilmu dan dia lihai sekali."

"Kami mencurigai Bangsa Yu-ce yang berdiri di balik semua ini " Sambung ketua Butong-pai ketika keduanya mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah itu.

"Bangsa Yu-cen pertama-tama menjalin persahabatan dengan kerajaan Sung hanya ketika mereka hendak menundukkan Bangsa Khitan dan membutuhkan bantuan. Setelah mereka mengalahkan Bangsa Khitan, Kini mereka hendak menguasai Sung dengan berbagai cara."

"Benarlah demikian. Dahulu, Bangsa Khitan yang merupakan gangguan bagi kita, dan kini ternyata Bangsa Yu-cen setelah kita bantu mengalahkan Bangsa Khitan, menjadi pengganggu yang lebih kejam lagi. Di sepanjang perbatasan mereka selalu membikin kacau dan mengganggu rakyat jelata. Harapan kita satu-satunya terletak kepada... Jenderal Gak Hui yang berjaga di garis terdepan. Hanya Jenderal Gak itulah yang akan mampu menghancurkah Bangsa Yu-cen dengan Kerajaan Cin mereka!" kata pula ketua Siauw-lim-pai. Kalau hendak menemukan lagi golok pusaka itu, kita harus mencari kedaerah kekuasaan Cin di utara."

"Omitohud,. kata-kata to-yu benar. Mari kita kirimkan murid-murid kita masing-masing untuk mencari ke sana. Kalau kita tidak dapat menemukan golok itu, tentu Kaisar akan memandang kepada kita dengan curiga."

Apa yang dibicarakan kedua orang ketua partai besar ini memang sebenarnya. Pada waktu itu, terdapat seorang jenderal yang setia kepada Kerajaan Sung, yaitu Jenderal Gak Hui. Kalau saja kaisar menuruti kehendak jenderal ini yang bermaksud menghajar Bangsa Yucen dengan kekerasan, mungkin Kerajaan Sung tidak sampai jatuh.

Akan tetapi, Kaisar dipengaruhi oleh seorang Menteri bernama Jin Kui, seorang yang berjiwa pengkhianat sehingga Kaisar melarang Gak Hui untuk memukul pasukan Cin dan lebih suka mengeluarkan harta benda untuk membayar upeti kepada Bangsa Yu-cen.

Jenderal Gak Hui menjadi penasaran. Dia menghadap kaisar dan mengusulkan untuk membangun pasukan rakyat besar-besaran untuk merebut kembali daerah utara. Namun, Perdana Menteri Jin Kui membujuk Kaisar dengan alasan bahwa kalau gagasan Jenderal Gak Hui itu dilaksanakan, maka Kerajaan Sung akan hancur sama sekali. Dan celakanya, kaisar lebih percaya kepada Perdana Menteri Jin Kui sehingga Kaisar melarang Jenderal Gak Hui untuk mengadakan penyerbuan ke utara.

Jenderal Gak Hui adalah seorang panglima yang amat setia, maka diapun menaati perintah kaisar dan menahan pasukannya di perbatasan, tidak bergerak maju lagi. Akan tetapi di mana terdapat pasukan Jenderal Gak Hui, daerah itu pasti aman dan tidak ada pasukan Cin berani mengganggu rakyat jelata. Oleh karena itu, nama Jenderal Gak Hui disanjung dan dipuja rakyat sebagai pembela dan pelindung rakyat jelata.

Demikianlah keadaan Kerajaan Sung pada waktu itu. Nampaknya saja aman tidak ada perang, akan tetapi sesungguhnya kerajaan ini selalu mengalah kepada Kerajaan Cin dan mengirim upeti, bahkan banyak pelanggaran dilakukan pasukan Cin di perbatasan. Hal ini membuat para pendekar menjadi dongkol sekali dan merasa terhina karena kedaulatan mereka terinjak-injak oleh Bangsa Yu-cen yang mereka anggap sebagai bangsa biadab dari utara.

Sang waktu meluncur dengan amat cepatnya dan sepuluh tahun telah lewat sejak Tiong Li menjadi murid kakek yang hanya dikenalnya sebagai Pek Hong San-jin. Dia telah menjadi seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun yang bertubuh seperti seorang pemuda dewasa saja. Tinggi tegap dengan dada yang bidang. Wajahnya yang sederhana itu tampan dan gagah dan semuda itu dia telah mempelajari banyak macam ilmu.

Bukan saja ilmu silat yang tinggi, melainkan juga ilmu baca tulis dan ilmu keagamaan yang membuatnya berpandangan jauh dan mendalam mengenai kehidupan.

Pada suatu sore, seperti biasa setelah selesai melakukan tugas pekerjaannya, Tiong Li berlatih silat seorang diri di pekarangan depan rumah. Mula-mula dia bersilat tangan kosong, gerakannya lambat dan mantap, akan tetapi setiap gerakan tangannya mendatangkan angin yang membuat daun-daun dan bunga-bunga di pekarangan itu bergoyang-goyang. Makin lama gerakannya menjadi semakin cepat sehingga akhirnya tubuhnya tidak nampak jelas dan hanya bayangannya saja yang berkelebat ke sana sini.

Ada seperempat jam dia bersilat tangan kosong, lalu menghentikan gerakannya. Ada sedikit keringat membasahi dahinya akan tetapi pernapasannya biasa saja, tidak terengah. Kemudian dia memungut sebatang kayu kering yang panjangnya seperti panjang pedang atau golok dan mulailah dia bersilat lagi, kayu itu dimainkan seperti orang memainkan sebatang golok. Membacok sana sini, menangkis dan menusuk.

Gerakannya seperti juga tadi, mula-mula lambat dan mantap, semakin lama semakin cepat sehingga akhirnya tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar kehijauan dari kayu yang dimainkannya. Seperempat jam kemudian dia berhenti lagi.

"Bagus, Tiong Li. Kulihat engkau sudah mendapat kemajuan!" terdengar teguran dan Tiong Li membalikkan tubuh, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya yang ternyata baru datang setelah sehari bepergian.

"Semua ini berkat bimbingan suhu kepada teecu (murid)," kata Tiong Li dengan suara mengandung rasa terima kasih.

"Bukan, melainkan berkat ketekunan dan kerajinanmu, juga karena engkau memiliki bakat yang baik sekali. Berterima kesihlah kepada Tuhan, Tiong Li Ketahuilah, bahwa manusia itu sebenarnya hanya sekedar alat yang dipergunakan Tuhan untuk melaksanakan kekuasaanNya. Oleh karena itu, yang pandai itu adalah Tuhan, yang kuasa adalah Tuhan. Manusia yang bijaksana selalu akan menyerah pasrah kepada kekuasaan Tuhan dan selalu berusaha untuk dapat menjadi alat yang baik sehingga dapat dipergunakan Tuhan."

"Akan tetapi, suhu. Bukanlah segala daya upaya itu usaha manusia? Untuk mempelajari sesuatu, bukankah manusia harus menggunakan pikirannya?"

"Omitohud, tidakkah engkau melihat bahwa yang dinamakan pikiran itupun pemberian Tuhan pula? Kita terlahir dengan sempurna, dengan segala peralatan yang serba lengkap, tentu dimaksudkan agar kita mempergunakan semua itu dengan sebaiknya. Adalah suatu kesombongan kosong kalau seseorang membanggakan dirinya sebagai yang pintar dan yang berkuasa. Manusia itu tanpa kekuasaan Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa. Baru mengatur tumbuhnya rambut sendiri saja tidak mampu! Bahkan tumbuhnya rambutnya pun diatur oleh kekuasaan Tuhan. Segala sesuatu ini diatur oleh kekuasaan Tuhan, karena itu, sudah semestinya kalau kita menyerah dengan tulus ikhlas kepada kekuasaanNya, Kalau kekuasaan Tuhan sudah menghendaki kita mati, sewaktu-waktu kita dapat saja mati tanpa ada apapun yang akan mampu mencegahnya"

Tiong Li menundukkan kepalanya dan pada saat itu dia merasa seolah semua bulu di tubuhnya bangkit berdiri. Terasa sekali olehnya bahwa hidupnya ini, luar dalam, dikuasai oleh kekuasaan Tuhan dan bahwa dia sesungguhnya adalah tidak memiliki kekuasaan apapun.

Keyakinan ini menebalkan imannya bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Tuhan, dan tugas manusia hanyalah berusaha sedapat-dapatnya. Kalau menghadapi bahaya, berusahalah untuk menghindar. Kalau sakit berusahalah untuk berobat sampai sembuh. Untuk keperluan hidup seperti makan pakaian dan tempat tinggal berusahalah untuk mendapatkannya dengan bekerja. Hanya itu tugas manusia. Berusaha sebaik mungkin. Ada pun bagaimana hasilnya, terserah kepada kekuasaan Tuhan yang mengaturnya.

"Suhu, harap jangan bicara tentang kematian, karena betapapun juga, teecu masih ingin melihat teecu dan suhu dalam keadaan sehat selamat."

"Omitohud... siapa takut akan kematian, berarti belum dapat mengambil sikap menyerah sebulatnya kepada kekuasaan Tuhan. Nah, bangkitlah, Tiong Li dan duduk di sini. Pinceng hendak menceritakan hal-hal yang menimbulkan perasaan tidak enak di hati pinceng. duduklah."

Mereka duduk di atas bangku yang berada di pekarangan itu. Setelah mereka duduk, Tiong Li bertanya, "Suhu pergi sejak pagi, kini pulang membawa berita apakah, suhu?"

"Berita yang buruk sekali, Tiong Li. Omitohud, apakah ini merupakan tanda bahwa Kerajaan Sung akan lenyap dari permukaan bumi ini ? Ketahuilah, Jenderal Gak Hui yang menjadi tumpuan harapan rakyat untuk membebaskan mereka dari ancaman Bangsa Yu-cen, bukan saja diperintahkan menghentikan gerakannya dan bahkan dipanggil untuk pulang ke kota raja oleh Kaisar! Padahal, kalau pasukan Jenderal Gak Hui sampai ditarik mundur, berarti pertahanan di tapal batas akan menjadi lemah sekali dan pasukan Cin akan dengan mudah menyerbu ke daerah Sung."

"Akan tetapi, sebagai seorang panglima tentu saja Jenderal Gak Hui tidak dapat menolak perintah Kaisar."

"Itulah Jenderal Gak Hui adalah seorang panglima yang setia lahir batin, tentu akan menaati semua perintah Kaisar, bahkan rela mengorbankan nyawa demi negara. Akan tetapi perintah kaisar itu sungguh aneh sekali. Jenderal Gak Hui amat dibutuhkan di garis depan, mengapa malah dipanggil pulang? Dan desas-desus yang pinceng terima mengkhawatirkan bahwa semua ini adalah ulah Perdana Menteri Jin Kui yang mempengaruhi Kaisar. Padahal bukan rahasia lagi bahwa Perdana Menteri Jin Kui adalah seorang yang licik bahkan mencurigakan, ada persangkaan bahwa dia bersekutu dengan pihak Bangsa Yu-cen!"

"Akan tetapi, kalau benar demikian, kenapa dia dipercaya oleh Kaisar, suhu?"

Itulah! Kaisar tidak percaya bahwa Perdana Menteri Jin Kui sesungguhnya adalah seorang menteri durna. Dia lebih percaya pada menteri yang khianat itu dari pada seorang panglima besar yang setia seperti Jenderal Gak Hui. Inilah sebabnya pinceng mengatakan bahwa barangkali semua Ini merupakan tanda bahwa Kerajaan Sung sudah tiba saatnya untuk hancur dan lenyap dari permukaan bumi."

"Suhu, mengapa mengkhawatirkan sampai sedemikian jauhnya?"

"Banyak tanda-tandanya, Tiong Li. Dan engkau ingatlah selalu, sebagai seorang laki-laki sejati, pantanglah untuk menjadi seorang pengkhianat. Orang laki-laki harus tiga kali berbakti dalam hidupnya. Berbakti kepada Tuhan, Berbakti kepada Negara dan berbakti ke pada orang tua. Kalau satu di antaranya dilanggar, dia bukan laki-laki sejati. ingatlah semua ini, Tiong Li..."

"Teecu akan selalu mengingat dan menaati semua nasihat suhu."

Tiba-tiba terdengar suara tawa yang bergelak dan nyaring sekali. "Ha- ha-ha-ha, kalau engkau laki-laki sejati, bersiaplah engkau untuk membuat perhitungan denganku, kakek tua bangka!"

Guru dan murid itu menengok. Ternyata di situ telah berdiri dua orang, yang seorang adalah raksasa hitam yang pernah mereka lihat sepuluh tahun yang lalu, yang memakai nama Si Golok Naga, dan orang kedua adalah seorang kakek yang kecil pendek dan demikian kurusnya sehingga seperti kerangka terbungkus tulang dan mukanya mirip tengkorak!

"Omitohud...! Engkau datang lagi, sobat. Sekarang apakah yang kau kehendaki?" tanya Pek Hong San-jin dengan sikapnya yang tenang sekali.

"Ha-ha-ha, apa lagi yang kukehendaki? Ini tentu bocah yang dulu kau selamatkan itu! Aku datang untuk membunuh kalian berdua!"

"Omitohud, sampai sekarang engkau belum juga menyadari kesesatanmu, Sobat?"

Akan tetapi Tiong Li tidak sesabar gurunya. "Si Golok Naga! Aku mengerti mengapa engkau hendak membunuh aku dan suhu. Aku telah melihat bahwa engkau membunuhi empat orang tokoh partai besar itu dan aku telah mendengar bahwa engkaulah pencuri golok pusaka dari Istana! Engkau tidak ingin kenyataan semua itu tersiar, bukan? Engkau pencuri jahat, sudah mencuri masih hendak melempar fitnah kepada orang-orang lain..."

"Bocah keparat mampuslah!" bentak Si Golok Naga dan dia sudah menubruk maju dengan kedua tangan membentuk cakar. Jari-jari tangan besar yang membentuk cakar itu berbahaya sekali. Kalau sampai cakar itu dapat mencengkeram kepala Tiong Li, tentu kepala itu akan remuk dan orangnya tewas!

Akan tetapi Tiong Li sekarang bukanlah anak berusia lima tahun seperti sepuluh tahun yang lalu. Dia telah menjadi seorang remaja yang amat lihai, maka cengkeraman itu dapat dihindarkannya dengan lompatan ke kiri. Ketika raksasa hitam itu mengejar dan menampar dengan tangan kanannya, Tiong Li menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

"Dukk!" Tubuh Tiong Li tergetar ke belakang akan tetapi si raksasa hitam itupun mundur dua langkah.

"Bagus, engkau agaknya telah memiliki sedikit kepandaian!" bentak raksasa hitam itu dan kini dia menyerang kalang kabut dengan pukulan-pukulan yang amat dahsyat.

Tiong Li melawan, mengelak, menangkis dan bahkan membalas memukul dengan tidak kalah dahsyatnya. Pemuda ini telah mempelajari ilmu silat tinggi dari kakek hwe-sio tua itu, dan juga sudah menghimpun tenaga sakti yang cukup kuat.

Pertandingan antara mereka berjalan dengan seru dan seimbang. Pek Hong San-jin yang ingin melihat kemajuan muridnya, sengaja tidak mau menolong muridnya andaikata muridnya terancam bahaya.

Si raksasa hitam merasa penasaran Sekali. Sampai dua puluh jurus sama sekali dia tidak mampu mendesak Tiong Li dan pertandingan berjalan seimbang. Dia tidak mau mempergunakan senjata karena merasa malu kalau harus bersenjata melawan seorang pemuda remaja yang bertangan kosong.

Akan tetapi, agaknya tengkorak hidup yang datang bersama Si Golok Naga itu tidak bersabar lagi, dua kali tangannya mendorong ke depan dan terdengar suara berciutan, Pek Hong San-jin sendiri terkejut melihat pukulan jarak jauh yang demikian hebat. Dia hendak menangkis, akan tetapi terlambat. Tiong Li tiba-tiba didorong oleh tenaga yang amat dahsyat dan dia terhuyung ke belakang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Si Goliok Naga untuk menghantamnya dengan tangan kiri yang tepat mengenai dada Tiong Li. Pemuda Ini terpental ke belakang dan roboh, tak dapat bergerak kembali dan pingsan.

Sementara Itu, Pek Hong San-jin sudah menangkis pukulan jarak jauh yang ke dua, juga dengan dorongan tangannya dan keduanya masing-masing tertolak ke belakang. Si tengkorak hidup mengeluarkan suara melengking tinggi dan dia lalu menyerang hwe-sio tua itu dengan pukulan-pukulan tangan terbuka yang mengeluarkan suara berciutan.

Akan tetapi hwe-sio tua itu mengimbanginya dengan dorongan-dorongan tangannya. Melihat kawannya sudah bertanding melawan hwe-sio tua itu dan si pemuda sudah roboh dan tentu tewas oleh pukulan tangan kirinya, raksasa hitam kini menerjang hwesio tua dan mengeroyoknya bersama si tengkorak hidup. Karena maklum akan kelihaian hwesio tua itu, si raksasa hitam telah mencabut goloknya yang nampak hebat, yaitu golok naga!

Hwe-sio tua itu bersikap tenang namun gerakannya cepat bukan main. Semua sambaran golok dapat dielaknya dengan mudah dan hal ini membuat si tengkofak hidup menjadi penasaran sekai . Dia terkenal sebagai seorang sakti, guru dari Golok Naga, dan sekarang dia harus mengeroyok hwe-sio itu berdua muridnya! Dengan pengerahan tenaga dia lalu mendorong dengan kedua telapak tangannya sambil mengeluarkan teriakan melengking.

"Hieeeeeehhhhhhh...!"

"Omitohud...!" Pek Hong San-jin berseru kaget dan dia menyambut dorongan kedua tangan si tengkorak hidup itu dengan tangannya. Tangan kanan itu bertemu dengan dua tangan si Tengkorak hidup dan melekat. Mereka saling dorong dan terjadilah adu kekuatan sin-kang yang menegangkan.

Melihat kesempatan baik ini, Si Golok Naga tidak mau menyia-nyiakannya dan diapun melompat ke depan, mengangkat goloknya tinggi-tinggi dan membacok ke arah kepala Pek Hong San-Jin.

Akan tetapi Pek Hong San jin menggerakkan tangan kirinya, mendorong ke arah penyerang itu dan sebelum golok mengenai kepalanya, lebih dahulu tubuh Si Golok Naga terkena dorongan tangan kiri itu dan dia terlempar sampai tiga tombak jauhnya dan jatuh berdebuk dengan keras. Ketika dia bangkit lagi, mukanya berubah pucat dan mulutnya menyeringai kesakitan...

Mestika Golok Naga Jilid 02

DIA lalu menghampiri Tiong Li yang masih menangis, lalu mengangkatnya bangun. "Diamlah, anak yang baik. Yang mati tidak akan dapat hidup kembali oleh tangis. Kematian datang menjemput setiap orang, karena itu jangan di tangisi lagi. Mari pinceng bantu engkau menguburkan jenazah ayahmu dengan baik. Di manakah rumahmu? Kita dapat membawa jenazah ayahmu kembali ke keluargamu."

"Lo-suhu, ayah dan saya tinggal di dusun lereng bawah sana. Akan tetapi kami tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kami hanya hidup berdua."

"ibumu?"

"Sudah meninggal sejak saya masih kecil, lo-suhu."

"Aih, anak sekecil ini sudah yatim piatu. Kalau begitu, bagaimana baiknya? Apakah dikubur di sini saja?"

Anak itu mengangguk. Baginya sama saja ayahnya akan dikuburkan di mana karena dia sudah mengambil keputusan bulat bahwa dia akan ikut dengan hwe-sio tua Ini yang mampu mengusir raksasa hitam yang jahat tadi.

Kemudian terjadilah peristiwa yang membuat Tiong Li terheran-heran . Dengan menggunakan sepotong kayu, bukan cangkul atau senjata tajam lainnya. kakek itu menggali tanah dan penggalian dengan menggunakan sepotong kayu itu terjadi sedemikian cepatnya sehingga dalam sekejap saja sudah tergali sebuah lubang yang cukup besar dan panjang untuk menguburkan jenazah ayahnya!

Kakek itu lalu mengangkat Jenazah itu berikut kepalanya dan merebahkan ke dalam lubang dengan baik, Kemudian setelah kakek itu membaca doa untuk yang mati, lubang itu ditimbuni tanah oleh mereka berdua. Di atas gundukan tanah itu diletakkan sebuah batu panjang oleh si hwe-sio tua yang dengan mudahnya mengangkat batu yang belum tentu dapat diangkat empat orang laki-laki yang bertenaga besar.

Setelah itu, Tiong Li lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, "Lo-suhu, saya sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, oleh karena itu perkenankanlah saya ikut dengan lo-suhu, menjadi murid lo-suhu," Dia berkata demikian sambil menangis.

"Omitohud, menolong orang tidak boleh setengah-setengah. Tanpa kau minta sekalipun, pinceng tidak akan menegakanmu. Anak yang baik, siapakah namamu dan siapa pula nama ayahmu?"

"Mendiang ayah bernama Tan Hok dan saya bernama Tan Tiong Li, lo-su-hu."

"Kalau begitu. di atas batu ini perlu dituliskan nama ayahmu agar kelak dapat menjadi peringatan bagimu." Hwe-sio tua itu lalu menggunakan jari telunjuknya, menggurat-gurat pada batu besar dan nampaklah huruf-huruf seperti dipahat saja dan berbunyi: KUBURAN TAN HOK.

"Marilah kita pulang, Tiong Li." kakek itu berkata dan dia menggandeng tangan anak itu. Segera Tiong Li merasa tubuhnya seperti terangkat dan meluncur dengan cepat mendaki puncak. Kakinya seolah tidak menyentuh tanah, akan tetapi tubuhnya meluncur cepat sekali seperti terbang dan sebentar saja mereka telah tiba di puncak di mana dia bertemu dengan kakek tadi.

"Puncak ini merupakan tempat tinggal pinceng dan disebut Pek-hong sen- kok (Lembah Gunung Burung Hong Putih). Mulai sekarang engkau tinggal di sini bersamaku."

Demikianlah, mulai hari itu Tiong Li menjadi murid kakek itu yang tidak mempunyai nama, melainkan memakai nama puncak itu sebagai namanya, yaitu Pek Hong San-jin (Orang Gunung Hong Putih). Anak itu memang rajin dan tahu membawa diri. Biarpun masih kecil dia sudah membantu kakek itu dengan segala macam pekerjaan. Mencari kayu kering, memasak air, berkebun, memikul air dari sumber, membersihkan pondok kecil yang seperti gubuk itu, menyapu pekarangan.

Dan diapun tidak pernah mengeluh harus makan nasi dan sayur-sayuran sederhana saja. Dia tidak tahu dari mana kakek itu mendapatkan beras, hanya kadang kakek itu meninggalkan puncak sampai sehari lamanya dan pulangnya membawa segala bahan keperluan hidup mereka.

Akan tetapi dari hwe-sio tua itu Tiong Li mempelajari segala macam ilmu. Bukan saja dasar-dasar ilmu silat, melainkan juga Ilmu membaca dan menulis, bahkan setelah dia pandai membaca, dia mulai disuruh membaca kitab-kitab agama.

Beberapa tahun kemudian setelah Tiong Li memiliki dasar-dasar Ilmu silat, barulah gurunya mengajarkan ilmu silat. Ternyata kakek itu merupakan seorang ahli semua ilmu silat.

"Ilmu silat banyak ragamnya," demikian antara lain kakek itu menjelaskan, "namun pada dasarnya mempunyai sumber yang sama. Mempergunakan tenaga sedikit mungkin untuk menghaslikan daya serang sebanyak mungkin. Semua ilmu silat ditujukan untuk membela diri, dan dasar bela diri itu semua sama saja, hanya kembangannya yang berbeda sesuai dengan aliran masing-masing."

"Suhu, kalau Ilmu silat itu ditujukan untuk membela diri, mengapa ada Jurus-Jurus untuk menyerang?" Tanya Tiong Li.

"Membela diri bukan berarti bertahan saja. Menyerang dan merobohkan lawan juga merupakan bentuk bela diri. Akan tetapi, jangan sekali-kali menyerang orang yang tidak mengganggu kita atau jangan mendahului menyerang orang. Ilmu silat bukan dipelajari untuk melakukan kekerasan, bukan pula untuk mencari kemenangan, atau untuk menyembongkan diri. 0leh karena itu, di jaman dahulu, ilmu silat hanya dipelajari oleh orang-orang yang lemah, yang tertindas dan bertenaga keciI. Semua itu merupakan usaha untuk dapat membela diri dari penindasan mereka yang lebih kuat."

"Apalagi tujuan Ilmu silat selain untuk membela diri dari penindasan mereka yang sewenang-wenang, suhu?"

"Ilmu silat mengandung tiga unsur, Tiong Li. Pertama sekali, sebagaimana awal mulanya, ilmu silat adalah untuk menjaga kesehatan karena ilmu silat adalah olah raga yang baik sekali dan yang menyehatkan. Kedua, di dalam Ilmu silat dimasukkan unsur seni tari yang indah, yang sesuai dengan kelemasan dan kelincahan gerakan seorang manusia atau bahkan meniru gerakan hewan . Dan unsur ketiga adalah seni bela diri itulah."

"Akan tetapi, teecu (murid) melihat ada ilmu-ilmu sesat seperti yang dipergunakan oleh raksasa hitam dahulu, suhu. Apakah memang ada ilmu bersih dan ilmu kotor?"

"Semua ilmu asal mulanya datang karena ada anugerah Yang Maha Kuasa sebagai dayanya sang budi atau disebut budi-daya yang menjadi kebudayaan manusia. Tidak ada yang bersih dan tidak ada yang kotor. Barulah ilmu itu menjadi bersih atau kotor setelah dipergunkan manusia. Ilmu apapun kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka ilmu itu menjadi sesat, Seperti halnya sebatang pisau, pisau itu tidak dapat disebut baik atau buruk, melainkan pisau waja saja. Setelah dipergunakan untuk bekerja di kebun atau di dapur, mengupas bahkan memotong sayuran maka pisau itu baik, akan tetapi kalau pisau itu dipergunakan untuk menyerang orang, melukai atau membunuh, maka pisau itu menjadi buruk. Sebetulnya yang jahat itu bukan pisaunya, bukan pula ilmunya, melainkan manusianya. Semua itu hanya alat, ilmu silatpun dianugerahkan kepada manusia untuk dijadikan alat, yaitu sebagai olah raga, sebagai seni tari dan sebagai seni bela diri. Kalau dipergurnakan untuk berbuat kejahatan, yang Jahat bukanlah ilmu silatnya, melainkan orangnya. Kau ingat golok yang dipegang oleh raksasa hitam dahulu itu? Golok itu adalah sebuah pusaka yang langka didapatkan, kalau tidak salah golok itu adalah Mestika Golok Naga yang tempatnya di gudang pusaka istana. Nah, biarpun mestika itu sebuah pusaka yang ampuh dan keramat sekalipun, kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka tetap saja menjadi jahat sifatnya. Tergantung yang mempergunakannya. Kepintaran itu baik bagi manusia, akan tetapi bagaimana kalau kepintaran itu dipergunakan untuk menipu orang orang lain yang bodoh? "

Tiong Li mengangguk-angguk mengerti. Baru berusia belasan tahun dia sudah mendengar banyak sekali tentang kehidupan dari gurunya yang arif bijaksana.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Pencurian Mestika Golok Naga Itu menggegerkan kota raja. Terjadinya memang aneh sekali. Bukan pencurian biasa karena perbuatan itu dilakukan orang dengan terang-terangan. Seperti biasa, gudang pusaka itu dijaga siang malam oleh pasukan pengawal, tujuh orang banyaknya dan pengawal itu bukanlah perajurit biasa melainkan pengawal pilihan yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.

Akan tetapi pada malam hari itu, tahu-tahu pada keesokan harinya orang mendapatkan tujuh orang pengawal ini telah tewas semua dan di antara barang-barang pusaka yang demikian banyaknya, hanya sebuah saja yang hllang, yaitu Mestika Golok Naga.

Kaisar menjadi marah dan mengutus para ahli menyelidikinya. Para jagoan istana yang berilmu tinggi memeriksa mayat ke tujuh orang pengawal itu dan mereka mendapat kenyataan bahwa di antara para mayat ini terdapat tanda-tanda dengan ilmu apa mereka dibunuh. Ada yang terbunuh oleh pukulan Pek-lek-jlu (Tangan Geledek) yang mereka tahu merupakan ilmu pukulan dari Kun-lun-pai.

Ada pula yang terbunuh oleh senjata rahasia paku yang disebut Touw-kut-teng (Paku Penembus Tulang) yang biasa dipergunakan oleh para pendekar Butong-pai. Ada pula yang tewas karena pukulan Ang-se-ciang (Tangan Pasir Merah) dari Siauw-Lim-pai dan ada pula yang tewas karena pukulan Ilmu Tiat-ciang (Tangan Besi) dari Hoa-san-pai.

Tentu saja para jagoan Istana melaporkan hal ini kepada kaisar. Pada waktu itu Kerajaan Sung telah pecah berantakan oleh serangan Kerajaan Cin yang menyerang sampai ke kota raja Kai feng. Kaisar beserta seluruh keluarganya tertawan dan dibuang. Semua ini adalah akibat pengkhianatan Jin Kui yang bersekutu dengan Kerajaan Cin, sehingga Kerajaan Sung menjadi berantakan.

Akan tetapi, seorang pangeran adik Kaisar yang bernama Sung Kao Cung, berhasil melarikan diri dan tidak tertangkap oleh bangsa Yucen atau Kerajaan Cin dan Sung Kau Cung melarikan diri ke selatan, menyeberangi Sungai Yang-ce.

Di selatan ini, Sung Kao Cung naik tahta dan Kerajaan Sung berdiri kembali dalam tahun 1127. Akan tetapi karena kekuasaan Kerajaan Sung hanya berada di sebelah selatan Sungai Yang-ce, maka kerajaan itu dinamakan Kerajaan Sung Selatan.

Daratan Cina kembali terpecah menjadi dua. Di sebelah utara Sungai Yang ce berkuasa Kerajaan Cin, dan di sebelah selatan sungai itu berkuasa Kerajaan Sung. Akan tetapi Kerajaan Sung Selatan ini amat lemah sehingga Kaisarnya terpaksa harus membayar upeti kepada Kerajaan Cin.

Memang tidak selamanya Sung Selatan tunduk. Ada kalanya terjadi pertempuran sengit antara kedua kerajaan itu. Akan tetapi dalam Kerajaan Sung Selatan, kekuasaan yang besar berada di tangan kaum tuan tanah yang tidak merasa berkepentingan untuk merebut daerah sebelah utara Sungai Yang-ce, maka pertempuran itu tidak pernah menjadi peperangan umum. Sebaliknya, Kerajaan Cin sendiri juga tidak memandang penting untuk merebut daerah Kerajaan Sung, karena daerah pertanian di selatan tidak menarik bagi mereka yang berasal dari Bangsa Nomad berkuda.

Yang terjadi adalah perang dingin. Dan yang lebih banyak mengadakan perlawanan kepada Bangsa Cin adalah orang-orang kang-ouw, para pendekar yang masih mendendam dan membenci bangsa Cin yang telah menguasai Kerajaan Sung dan memaksa kaisarnya pindah ke selatan sehingga Kerajaan Sung menjadi sebuah negara yang lemah dan nampaknya seperti sebuah pemerintahan yang mengungsi.

Para pendekar banyak yang seringkali bentrok dengan pasukan Cin di sepanjang perbatasan dan sepak terjang para pendekar ini kadang memusingkan Kerajaan Cin karena mereka banyak kehilangan anak buah yang terbasmi oleh para pendekar.

Dalam keadaan seperti itulah tiba tiba saja Mestika Golok Naga itu lenyap dicuri orang dalam gudang pusaka Istana Kerajaan Sung. Ketika Kaisar Sung Kao Cung mendengar bahwa ada tanda-tanda bahwa yang membuhuh para pengawal adalah orang-orang dari empat perkumpulan besar Siauw-lim-pai, Bu- tong-pai, Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, Kaisar menjadi marah. Kaisar mengutus para jagoannya membawa pasukan untuk mendatangi partai-partai itu.

Akan tetapi, para jagoan istana sendiri tidak percaya bahwa ke empat partai yang biasanya amat setia itu mencuri golok pusaka, dan mendatangi mereka bukan untuk melakukan penangkapan, melainkan mengajak mereka berunding membicarakan perkara pencurian itu.

Para ketua keempat partai persilatan itu berjanji akan berusaha mencari pencuri yang selain mencuri golok pusaka juga telah melakukan fitnah kepada nama perkumpulan mereka berempat. Mereka mengutus murid-murid pilihan mereka untuk menyebar dan melakukan penyelidikan, kalau perlu sampai ke sebelah utara Sungai Yang-ce-kiang.

Para ketua empat partai besar itu mengadakan pertemuan sendiri dan mereka terutama membicarakan murid-murid mereka yang menjadi tokoh kelas tiga, yang mengadakan pertemuan di Liong-san akan tetapi tidak pernah kembali.

Mereka lalu mengutus murid-murid lain menyusul ke sana dan mendapatkan empat orang murid itu telah tewas dan mayat mereka telah menjadi kerangka. Mereka mengenali mereka dari pakaian dan senjata-senjata mereka saja.

"Omitohud! Jelas ini tentu perbuatan si pencuri itu dan dia tentu bukan pencuri sembarangan. Di balik perbuatannya mencuri ini agaknya terkandung maksud yang lebih besar lagi. Pertama, untuk mengadu domba antara para partai dan Kerajaan Sung, dan kedua untuk membingungkan para tokoh partai itu sendiri agar saling tuduh dan terjadi perpecahan. Pendeknya, di balik pencurian golok pusaka itu terkandung maksud untuk semakin melemahkan Kerajan Sung," kata ketua Siauw-lim-pai "Yang jelas, orang yang mencuri golok pusaka itu adalah seorang yang ahli banyak macam ilmu dan dia lihai sekali."

"Kami mencurigai Bangsa Yu-ce yang berdiri di balik semua ini " Sambung ketua Butong-pai ketika keduanya mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah itu.

"Bangsa Yu-cen pertama-tama menjalin persahabatan dengan kerajaan Sung hanya ketika mereka hendak menundukkan Bangsa Khitan dan membutuhkan bantuan. Setelah mereka mengalahkan Bangsa Khitan, Kini mereka hendak menguasai Sung dengan berbagai cara."

"Benarlah demikian. Dahulu, Bangsa Khitan yang merupakan gangguan bagi kita, dan kini ternyata Bangsa Yu-cen setelah kita bantu mengalahkan Bangsa Khitan, menjadi pengganggu yang lebih kejam lagi. Di sepanjang perbatasan mereka selalu membikin kacau dan mengganggu rakyat jelata. Harapan kita satu-satunya terletak kepada... Jenderal Gak Hui yang berjaga di garis terdepan. Hanya Jenderal Gak itulah yang akan mampu menghancurkah Bangsa Yu-cen dengan Kerajaan Cin mereka!" kata pula ketua Siauw-lim-pai. Kalau hendak menemukan lagi golok pusaka itu, kita harus mencari kedaerah kekuasaan Cin di utara."

"Omitohud,. kata-kata to-yu benar. Mari kita kirimkan murid-murid kita masing-masing untuk mencari ke sana. Kalau kita tidak dapat menemukan golok itu, tentu Kaisar akan memandang kepada kita dengan curiga."

Apa yang dibicarakan kedua orang ketua partai besar ini memang sebenarnya. Pada waktu itu, terdapat seorang jenderal yang setia kepada Kerajaan Sung, yaitu Jenderal Gak Hui. Kalau saja kaisar menuruti kehendak jenderal ini yang bermaksud menghajar Bangsa Yucen dengan kekerasan, mungkin Kerajaan Sung tidak sampai jatuh.

Akan tetapi, Kaisar dipengaruhi oleh seorang Menteri bernama Jin Kui, seorang yang berjiwa pengkhianat sehingga Kaisar melarang Gak Hui untuk memukul pasukan Cin dan lebih suka mengeluarkan harta benda untuk membayar upeti kepada Bangsa Yu-cen.

Jenderal Gak Hui menjadi penasaran. Dia menghadap kaisar dan mengusulkan untuk membangun pasukan rakyat besar-besaran untuk merebut kembali daerah utara. Namun, Perdana Menteri Jin Kui membujuk Kaisar dengan alasan bahwa kalau gagasan Jenderal Gak Hui itu dilaksanakan, maka Kerajaan Sung akan hancur sama sekali. Dan celakanya, kaisar lebih percaya kepada Perdana Menteri Jin Kui sehingga Kaisar melarang Jenderal Gak Hui untuk mengadakan penyerbuan ke utara.

Jenderal Gak Hui adalah seorang panglima yang amat setia, maka diapun menaati perintah kaisar dan menahan pasukannya di perbatasan, tidak bergerak maju lagi. Akan tetapi di mana terdapat pasukan Jenderal Gak Hui, daerah itu pasti aman dan tidak ada pasukan Cin berani mengganggu rakyat jelata. Oleh karena itu, nama Jenderal Gak Hui disanjung dan dipuja rakyat sebagai pembela dan pelindung rakyat jelata.

Demikianlah keadaan Kerajaan Sung pada waktu itu. Nampaknya saja aman tidak ada perang, akan tetapi sesungguhnya kerajaan ini selalu mengalah kepada Kerajaan Cin dan mengirim upeti, bahkan banyak pelanggaran dilakukan pasukan Cin di perbatasan. Hal ini membuat para pendekar menjadi dongkol sekali dan merasa terhina karena kedaulatan mereka terinjak-injak oleh Bangsa Yu-cen yang mereka anggap sebagai bangsa biadab dari utara.

Sang waktu meluncur dengan amat cepatnya dan sepuluh tahun telah lewat sejak Tiong Li menjadi murid kakek yang hanya dikenalnya sebagai Pek Hong San-jin. Dia telah menjadi seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun yang bertubuh seperti seorang pemuda dewasa saja. Tinggi tegap dengan dada yang bidang. Wajahnya yang sederhana itu tampan dan gagah dan semuda itu dia telah mempelajari banyak macam ilmu.

Bukan saja ilmu silat yang tinggi, melainkan juga ilmu baca tulis dan ilmu keagamaan yang membuatnya berpandangan jauh dan mendalam mengenai kehidupan.

Pada suatu sore, seperti biasa setelah selesai melakukan tugas pekerjaannya, Tiong Li berlatih silat seorang diri di pekarangan depan rumah. Mula-mula dia bersilat tangan kosong, gerakannya lambat dan mantap, akan tetapi setiap gerakan tangannya mendatangkan angin yang membuat daun-daun dan bunga-bunga di pekarangan itu bergoyang-goyang. Makin lama gerakannya menjadi semakin cepat sehingga akhirnya tubuhnya tidak nampak jelas dan hanya bayangannya saja yang berkelebat ke sana sini.

Ada seperempat jam dia bersilat tangan kosong, lalu menghentikan gerakannya. Ada sedikit keringat membasahi dahinya akan tetapi pernapasannya biasa saja, tidak terengah. Kemudian dia memungut sebatang kayu kering yang panjangnya seperti panjang pedang atau golok dan mulailah dia bersilat lagi, kayu itu dimainkan seperti orang memainkan sebatang golok. Membacok sana sini, menangkis dan menusuk.

Gerakannya seperti juga tadi, mula-mula lambat dan mantap, semakin lama semakin cepat sehingga akhirnya tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar kehijauan dari kayu yang dimainkannya. Seperempat jam kemudian dia berhenti lagi.

"Bagus, Tiong Li. Kulihat engkau sudah mendapat kemajuan!" terdengar teguran dan Tiong Li membalikkan tubuh, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya yang ternyata baru datang setelah sehari bepergian.

"Semua ini berkat bimbingan suhu kepada teecu (murid)," kata Tiong Li dengan suara mengandung rasa terima kasih.

"Bukan, melainkan berkat ketekunan dan kerajinanmu, juga karena engkau memiliki bakat yang baik sekali. Berterima kesihlah kepada Tuhan, Tiong Li Ketahuilah, bahwa manusia itu sebenarnya hanya sekedar alat yang dipergunakan Tuhan untuk melaksanakan kekuasaanNya. Oleh karena itu, yang pandai itu adalah Tuhan, yang kuasa adalah Tuhan. Manusia yang bijaksana selalu akan menyerah pasrah kepada kekuasaan Tuhan dan selalu berusaha untuk dapat menjadi alat yang baik sehingga dapat dipergunakan Tuhan."

"Akan tetapi, suhu. Bukanlah segala daya upaya itu usaha manusia? Untuk mempelajari sesuatu, bukankah manusia harus menggunakan pikirannya?"

"Omitohud, tidakkah engkau melihat bahwa yang dinamakan pikiran itupun pemberian Tuhan pula? Kita terlahir dengan sempurna, dengan segala peralatan yang serba lengkap, tentu dimaksudkan agar kita mempergunakan semua itu dengan sebaiknya. Adalah suatu kesombongan kosong kalau seseorang membanggakan dirinya sebagai yang pintar dan yang berkuasa. Manusia itu tanpa kekuasaan Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa. Baru mengatur tumbuhnya rambut sendiri saja tidak mampu! Bahkan tumbuhnya rambutnya pun diatur oleh kekuasaan Tuhan. Segala sesuatu ini diatur oleh kekuasaan Tuhan, karena itu, sudah semestinya kalau kita menyerah dengan tulus ikhlas kepada kekuasaanNya, Kalau kekuasaan Tuhan sudah menghendaki kita mati, sewaktu-waktu kita dapat saja mati tanpa ada apapun yang akan mampu mencegahnya"

Tiong Li menundukkan kepalanya dan pada saat itu dia merasa seolah semua bulu di tubuhnya bangkit berdiri. Terasa sekali olehnya bahwa hidupnya ini, luar dalam, dikuasai oleh kekuasaan Tuhan dan bahwa dia sesungguhnya adalah tidak memiliki kekuasaan apapun.

Keyakinan ini menebalkan imannya bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Tuhan, dan tugas manusia hanyalah berusaha sedapat-dapatnya. Kalau menghadapi bahaya, berusahalah untuk menghindar. Kalau sakit berusahalah untuk berobat sampai sembuh. Untuk keperluan hidup seperti makan pakaian dan tempat tinggal berusahalah untuk mendapatkannya dengan bekerja. Hanya itu tugas manusia. Berusaha sebaik mungkin. Ada pun bagaimana hasilnya, terserah kepada kekuasaan Tuhan yang mengaturnya.

"Suhu, harap jangan bicara tentang kematian, karena betapapun juga, teecu masih ingin melihat teecu dan suhu dalam keadaan sehat selamat."

"Omitohud... siapa takut akan kematian, berarti belum dapat mengambil sikap menyerah sebulatnya kepada kekuasaan Tuhan. Nah, bangkitlah, Tiong Li dan duduk di sini. Pinceng hendak menceritakan hal-hal yang menimbulkan perasaan tidak enak di hati pinceng. duduklah."

Mereka duduk di atas bangku yang berada di pekarangan itu. Setelah mereka duduk, Tiong Li bertanya, "Suhu pergi sejak pagi, kini pulang membawa berita apakah, suhu?"

"Berita yang buruk sekali, Tiong Li. Omitohud, apakah ini merupakan tanda bahwa Kerajaan Sung akan lenyap dari permukaan bumi ini ? Ketahuilah, Jenderal Gak Hui yang menjadi tumpuan harapan rakyat untuk membebaskan mereka dari ancaman Bangsa Yu-cen, bukan saja diperintahkan menghentikan gerakannya dan bahkan dipanggil untuk pulang ke kota raja oleh Kaisar! Padahal, kalau pasukan Jenderal Gak Hui sampai ditarik mundur, berarti pertahanan di tapal batas akan menjadi lemah sekali dan pasukan Cin akan dengan mudah menyerbu ke daerah Sung."

"Akan tetapi, sebagai seorang panglima tentu saja Jenderal Gak Hui tidak dapat menolak perintah Kaisar."

"Itulah Jenderal Gak Hui adalah seorang panglima yang setia lahir batin, tentu akan menaati semua perintah Kaisar, bahkan rela mengorbankan nyawa demi negara. Akan tetapi perintah kaisar itu sungguh aneh sekali. Jenderal Gak Hui amat dibutuhkan di garis depan, mengapa malah dipanggil pulang? Dan desas-desus yang pinceng terima mengkhawatirkan bahwa semua ini adalah ulah Perdana Menteri Jin Kui yang mempengaruhi Kaisar. Padahal bukan rahasia lagi bahwa Perdana Menteri Jin Kui adalah seorang yang licik bahkan mencurigakan, ada persangkaan bahwa dia bersekutu dengan pihak Bangsa Yu-cen!"

"Akan tetapi, kalau benar demikian, kenapa dia dipercaya oleh Kaisar, suhu?"

Itulah! Kaisar tidak percaya bahwa Perdana Menteri Jin Kui sesungguhnya adalah seorang menteri durna. Dia lebih percaya pada menteri yang khianat itu dari pada seorang panglima besar yang setia seperti Jenderal Gak Hui. Inilah sebabnya pinceng mengatakan bahwa barangkali semua Ini merupakan tanda bahwa Kerajaan Sung sudah tiba saatnya untuk hancur dan lenyap dari permukaan bumi."

"Suhu, mengapa mengkhawatirkan sampai sedemikian jauhnya?"

"Banyak tanda-tandanya, Tiong Li. Dan engkau ingatlah selalu, sebagai seorang laki-laki sejati, pantanglah untuk menjadi seorang pengkhianat. Orang laki-laki harus tiga kali berbakti dalam hidupnya. Berbakti kepada Tuhan, Berbakti kepada Negara dan berbakti ke pada orang tua. Kalau satu di antaranya dilanggar, dia bukan laki-laki sejati. ingatlah semua ini, Tiong Li..."

"Teecu akan selalu mengingat dan menaati semua nasihat suhu."

Tiba-tiba terdengar suara tawa yang bergelak dan nyaring sekali. "Ha- ha-ha-ha, kalau engkau laki-laki sejati, bersiaplah engkau untuk membuat perhitungan denganku, kakek tua bangka!"

Guru dan murid itu menengok. Ternyata di situ telah berdiri dua orang, yang seorang adalah raksasa hitam yang pernah mereka lihat sepuluh tahun yang lalu, yang memakai nama Si Golok Naga, dan orang kedua adalah seorang kakek yang kecil pendek dan demikian kurusnya sehingga seperti kerangka terbungkus tulang dan mukanya mirip tengkorak!

"Omitohud...! Engkau datang lagi, sobat. Sekarang apakah yang kau kehendaki?" tanya Pek Hong San-jin dengan sikapnya yang tenang sekali.

"Ha-ha-ha, apa lagi yang kukehendaki? Ini tentu bocah yang dulu kau selamatkan itu! Aku datang untuk membunuh kalian berdua!"

"Omitohud, sampai sekarang engkau belum juga menyadari kesesatanmu, Sobat?"

Akan tetapi Tiong Li tidak sesabar gurunya. "Si Golok Naga! Aku mengerti mengapa engkau hendak membunuh aku dan suhu. Aku telah melihat bahwa engkau membunuhi empat orang tokoh partai besar itu dan aku telah mendengar bahwa engkaulah pencuri golok pusaka dari Istana! Engkau tidak ingin kenyataan semua itu tersiar, bukan? Engkau pencuri jahat, sudah mencuri masih hendak melempar fitnah kepada orang-orang lain..."

"Bocah keparat mampuslah!" bentak Si Golok Naga dan dia sudah menubruk maju dengan kedua tangan membentuk cakar. Jari-jari tangan besar yang membentuk cakar itu berbahaya sekali. Kalau sampai cakar itu dapat mencengkeram kepala Tiong Li, tentu kepala itu akan remuk dan orangnya tewas!

Akan tetapi Tiong Li sekarang bukanlah anak berusia lima tahun seperti sepuluh tahun yang lalu. Dia telah menjadi seorang remaja yang amat lihai, maka cengkeraman itu dapat dihindarkannya dengan lompatan ke kiri. Ketika raksasa hitam itu mengejar dan menampar dengan tangan kanannya, Tiong Li menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

"Dukk!" Tubuh Tiong Li tergetar ke belakang akan tetapi si raksasa hitam itupun mundur dua langkah.

"Bagus, engkau agaknya telah memiliki sedikit kepandaian!" bentak raksasa hitam itu dan kini dia menyerang kalang kabut dengan pukulan-pukulan yang amat dahsyat.

Tiong Li melawan, mengelak, menangkis dan bahkan membalas memukul dengan tidak kalah dahsyatnya. Pemuda ini telah mempelajari ilmu silat tinggi dari kakek hwe-sio tua itu, dan juga sudah menghimpun tenaga sakti yang cukup kuat.

Pertandingan antara mereka berjalan dengan seru dan seimbang. Pek Hong San-jin yang ingin melihat kemajuan muridnya, sengaja tidak mau menolong muridnya andaikata muridnya terancam bahaya.

Si raksasa hitam merasa penasaran Sekali. Sampai dua puluh jurus sama sekali dia tidak mampu mendesak Tiong Li dan pertandingan berjalan seimbang. Dia tidak mau mempergunakan senjata karena merasa malu kalau harus bersenjata melawan seorang pemuda remaja yang bertangan kosong.

Akan tetapi, agaknya tengkorak hidup yang datang bersama Si Golok Naga itu tidak bersabar lagi, dua kali tangannya mendorong ke depan dan terdengar suara berciutan, Pek Hong San-jin sendiri terkejut melihat pukulan jarak jauh yang demikian hebat. Dia hendak menangkis, akan tetapi terlambat. Tiong Li tiba-tiba didorong oleh tenaga yang amat dahsyat dan dia terhuyung ke belakang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Si Goliok Naga untuk menghantamnya dengan tangan kiri yang tepat mengenai dada Tiong Li. Pemuda Ini terpental ke belakang dan roboh, tak dapat bergerak kembali dan pingsan.

Sementara Itu, Pek Hong San-jin sudah menangkis pukulan jarak jauh yang ke dua, juga dengan dorongan tangannya dan keduanya masing-masing tertolak ke belakang. Si tengkorak hidup mengeluarkan suara melengking tinggi dan dia lalu menyerang hwe-sio tua itu dengan pukulan-pukulan tangan terbuka yang mengeluarkan suara berciutan.

Akan tetapi hwe-sio tua itu mengimbanginya dengan dorongan-dorongan tangannya. Melihat kawannya sudah bertanding melawan hwe-sio tua itu dan si pemuda sudah roboh dan tentu tewas oleh pukulan tangan kirinya, raksasa hitam kini menerjang hwesio tua dan mengeroyoknya bersama si tengkorak hidup. Karena maklum akan kelihaian hwesio tua itu, si raksasa hitam telah mencabut goloknya yang nampak hebat, yaitu golok naga!

Hwe-sio tua itu bersikap tenang namun gerakannya cepat bukan main. Semua sambaran golok dapat dielaknya dengan mudah dan hal ini membuat si tengkofak hidup menjadi penasaran sekai . Dia terkenal sebagai seorang sakti, guru dari Golok Naga, dan sekarang dia harus mengeroyok hwe-sio itu berdua muridnya! Dengan pengerahan tenaga dia lalu mendorong dengan kedua telapak tangannya sambil mengeluarkan teriakan melengking.

"Hieeeeeehhhhhhh...!"

"Omitohud...!" Pek Hong San-jin berseru kaget dan dia menyambut dorongan kedua tangan si tengkorak hidup itu dengan tangannya. Tangan kanan itu bertemu dengan dua tangan si Tengkorak hidup dan melekat. Mereka saling dorong dan terjadilah adu kekuatan sin-kang yang menegangkan.

Melihat kesempatan baik ini, Si Golok Naga tidak mau menyia-nyiakannya dan diapun melompat ke depan, mengangkat goloknya tinggi-tinggi dan membacok ke arah kepala Pek Hong San-Jin.

Akan tetapi Pek Hong San jin menggerakkan tangan kirinya, mendorong ke arah penyerang itu dan sebelum golok mengenai kepalanya, lebih dahulu tubuh Si Golok Naga terkena dorongan tangan kiri itu dan dia terlempar sampai tiga tombak jauhnya dan jatuh berdebuk dengan keras. Ketika dia bangkit lagi, mukanya berubah pucat dan mulutnya menyeringai kesakitan...