Social Items

PADA saat itu, Pek Hong San-jin mengerahkan tenaganya dan mendorongkan tangan kanannya yang melekat pada kedua tangan si tengkorak hidup. Akibatnya tengkorak hidup itu pun terpental ke belakang dan dari mulutnya mengalir darah, tanda bahwa diapun sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya.

Tanpa banyak cakap lagi, si raksasa hitam dan si tengkorak hidup yang telah menderita luka itu lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah terhuyung, takut melanjutkan pertandingan melawan hwe-sio tua yang sakti itu.

Tiong Li siuman dan dia bangkit berdiri, agak terhuyung. Akan tetapi dia mendengar suhunya terbatuk-batuk dan tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang juga terluka, dia menghampiri gurunya. Kakek itu terhuyung lalu menjatuhkan diri duduk di atas bangku. lalu muntahkan darah yang cukup banyak Suhunya telah terluka parah!

"Suhu...!" Dia menghampiri.

Pek Hong San-jin mengangkat mukanya. Dia telah mempergunakan tenaga yang berlebihan melawan dua orang yang sakti sehingga dia menderita luka parah tanpa di ketahui kedua orang lawannya yang melarikan diri. Dia melihat muridnya dan tersenyum!

"Engkau tidak apa-apa, Tiong Li...?" katanya dengan suara yang lemah sekali.

"Tidak, suhu. Akan tetapi suhu bagaimana ? Suhu muntahkan demikian banyak darah..."

"Omitohud... mereka berdua itu... kuat sekali. Sayang kesaktian seperti itu... dipergunakan untuk berbuat jahat...! Tiong Li, engkau ingat semua nasihatku...? Jangan... jangan sekali-kali kau pergunakan ilmumu untuk kejahatan..."

"Tentu saja teecu ingat Suhu..." Tiong Li khawatir sekali melihat wajah gurunya demikian pucat seperti mayat sehingga dia lupa akan keadaan dirinya sendiri yang juga terluka parah disebelah dalam tubuhnya.

"Akan tetapi suhu..., marilah teecu bantu untuk menyalurkan sin-kang ke tubuh suhu..."

Gurunya menggeleng kepala dan berkata lirih, "Tidak ada gunanya lagi..."

"Suhu...!" Tiong Li berseru ketika melihat suhunya terkulai. Cepat dirangkulnya suhunya agar jangan terjatuh dari atas bangku.

Gurunya memandangnya dengan tetap tersenyum. Menyedihkan sekali melihat bibir yang berdarah itu tersenyum!

"Tiong Li, ingatkah engkau... akan pembicaraan kita tadi... tentang... tentang kematian? Kematian bukanlah yang terakhir, Tiong Li... dan sudah ditentukan oleh Tuhan, kita tinggal menyerah... kehendak Tuhan terjadilah...!"

"Suhu...!"

"Pinceng hanya pesan... agar jenazah pinceng dibakar bersama gubuk itu..." Kepala itu terkulai dan napasnya putus.

"Suhu!" Tiong Li merebahkan tubuh yang tak bernyawa itu di atas bangku dan diapun terkulai, pingsan di atas tanah.

Tiong Li membuka dan mengedip-ngedipkan matanya. Mukanya basah terpercik air dan samar-samar dia melihat wajah seorang gadis remaja bersama seorang wanita dewasa yang cantik jelita.

Dia teringat akan kematian gurunya, teringat akan si raksasa hitam dan bibirnya bergerak, "Si Golok Naga...! lalu dia terkulai dan pingsan lagi.

Wanita itu memang cantik sekali. Usianya sekitar tigapuluh tahun, akan tetapi ia kelihatan seperti seorang gadis dua puluhan tahun. Rambutnya yang subur itu hitam mengkilap tersisir rapi dan digelung ke atas, terhias emas permata berbentuk burung Hong yang indah sekali dan tentu mahal harganya.

Anak rambut berjuntai di dahinya yang putih mulus dan alisnya juga hitam kecil panjang melengkung indah, melindungi sepasang mata yang amat tajam sinarnya. Sinar mata yang seolah menembus segala yang dipandangnya dan kadang sinar mata itu mencorong seperti binatang yang haus darah!

Hidungnya kecil mancung dan mulutnya berbentuk manis dengan sepasang bibir yang selalu merah basah. Wajahnya berbentuk bulat telur. Sungguh sebuah wajah yang cantik jelita, namun sinar mata dan tarikan pada mulut itu kadang membayangkan kekerasan nati yang mengerikan.

Tubuhnya juga padat menggairahkan, sedang dan ramping. Wanita cantik ini kalau sudah memperkenalkan namanya tentu akan membuat orang-orang kang-ouw terkejut setengah mati. Wanita yang amat cancik ini ternyata adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal sebagai seorang datuk sesat dengan nama julukan Ban-tok Sian-li (Dewi Selaksa Racun)!

Selain ilmu silatnya yang tinggi dan lihai bukan main, juga wanita ini terkenal sebagai seorang ahli racun dan kabarnya, sebuah goresan kuku jari tangannye saja sudah cukup membuat orang mati keracunan!

Bahkan tempat tinggalnya juga menjadi sebuah tempat yang menakutkan, yaitu di lembah Sungai Yang-ce dan lembah itu demikian ditakuti orang hingga diberi nama Lembah Maut.

Adapun gadis remaja yang bersamanya itu adalah seorang muridnya, bernama The Siang Hwi, berusia empat belas tahun akan tetapi sudah pula mewarisi ilmu silat tinggi dari gurunya yang secantik dewi akan tetapi kadang dapat sekejam iblis itu.

Ketika Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi secara kebetulan mendaki puncak itu dalam penyelidikannya tentang Golok Naga, la menemukan seorang hwesio tua yang sudah tewas di atas bangku dan seorang pemuda remaja yang menggeletak pingsan di bawah bangku. Muridnya lalu disuruh mencari air dan memecikkan pada wajah pemuda itu agar siuman dan dapat ditanyai apa yang telah terjadi.

Ketika Tiong Li siuman dan satu-satunya kata yang keIuar dari mulutnya adalah "si Golok Naga!" kemudian pingsan kembali, tentu saja hati Bantok Sian-li menjadi tertarik sekali.

Kunjungannya ke Liong-san memang ada hubungannya dengan Golok Naga. la mendengar tentang golok pusaka yang di curi itu dan sudah sepuluh tahun belum juga dapat ditemukan kembali.

Mendengar bahwa Kaisar menjanjikan hadiah besar bagi siapa yang dapat mengembalikan golok pusaka itu tidaklah begitu menarik perhatiannya. Yang menarik perhatiannya adalah golok itu sendiri karena la mendengar bahwa Golok Naga itu adalah sebuah senjata mestika yang amat ampuh. la ingin mencarinya, bukan untuk dikemballkan kepada Kaisar, melainkan untuk dimilikinya sendiri.

la mendengar pula bahwa empat orang-tokoh dari perkumpulan besar yang melakukan penyelidikan telah terbunuh di Liong-san. Maka ia mengambil kesimpulan bahwa ia dapat mulai melakukan penyelidikan dari Liong-san. Tentu ada hubungannya antara Liong-san dengan pembunuh itu dan agaknya pembunuh itu tahu soal golok pusaka yang dicuri. Kalau tidak begitu, mengapa dia membunuh empat orang tokoh partai-partai besar yang kabarnya difitnah oleh si pencuri golok!

Demikianlah, mendengar pemuda remaja itu menyebut Golok Naga, tentu saja ia tertarik sekali.ia lalu memeriksa pemuda itu dan mengertilah ia mengpa pemuda itu setelah siuman lalu pingsan kembali. Pemuda itu menderita luka dalam yang amat parah, akibat dari pukulan beracun yang entah dilakukan oleh siapa.

Karena ia memang ahli tentang pukulan-pukulan beracun, maka Ban tok Sian-li lalu menyingsingkan lengan bajunya sehingga sepasang lengannya yang putih mulus itu nampak sebatas siku. Kemudian ja menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Tiong Li setelah menelungkupkan pemuda itu. Muridnya hanya berdiri menonton gurunya mengobati pemuda yang pingsan itu.

Seperempat jam kemudian setelah pengobatan dengan penyaluran tenaga sinkang itu dilakukan Ban-tok Sian-li pernapasan Tiong Li yang tadinya terengah dan satu-satu, mulai normal kembali dan setelah ditotok di beberapa bagian jalan darah di tubuhnya,diapun siuman.

Ban-tok Sian-li bangkit berdiri, menghapus sedikit keringat dileher dan dahinya. la telah mengerahkan banyak tenaga untuk menyembuhkan pemuda itu. Akan tetapi ia rela karena ia tentu akan mendapatkan keterangan yang banyak dari pemuda itu tentang Golok Naga.

Tiong Li membuka mata, bergerak bangkit duduk dan terkejut heran melihat wanita cantik dan gadis remaja itu. "Siapakah Ji-wi (anda berdua)?" tanyanya.

Akan tetapi dia teringat, menoleh dan melihat suhunya masih menggeletak di atas bangku dalam keadaan tidak bernyawa lagi, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut dekat bangku dan menangis.

"Suhu...!" Tiong Li merasa ada sentuhan halus sebuah tangan di pundaknya. Ketika dia menengok, ternyata gadis remaja itu yang menyentuh pundaknya dan gadis itu berkata.

"Engkau tadi terluka parah dan subo (guru) yang telah menyembuhkanmu. Jangan menangis dan ceritakan semuanya kepada subo.”

Mendengar ini, Tiong Li lalu bangkit dan memberi hormat kepada Ban-tok Sian-li, dengan air mata masih membasahi pipinya. "Terima kasih atas pertolongan bibi..."

"Aku bukan bibimu!" terdengar jawaban menyentak marah. Memang merupakan pantangan begi Ban-tok Sian-li kalau ia disebut sebagai orang yang lebih tua!

Muridnya yang sudah mengenal watak subonya lalu berkata kepada Tiong Li, "Subo adalah Ban-tok Sian-li, engkau boleh menyebutnya Sian-li (Dewi) bukan bibi."

Tiong Li yang mengenal baik sopan santun lalu berkata, "Maaf, terima kasih atas pertolongan Sian-li kepadaku."

"Aku tidak butuh terima kasihmu, lebih baik kau cepat ceritakan dimana adanya Golok Naga!" kata pula Ban-tok Sian-li sambil memandang tajam penuh selidik.

"Golok Naga...?" Tiong Li memandang heran. "Aku tidak tahu tentang golok itu..."

"Jangan bohong!" bentak Ban-tok Sian-li. "Ketika engkau sluman, tadi engkau berkata Si Golok Naga! Dan sekarang mengatakan tidak tahu?"

"Ahh,... Si Golok Naga? Memang benar, Sianli. Akan tetapi yang kumaksudkan adalah Si Golok Naga raksasa hitam itu yang bersama-temannya. Tengkorak Hidup itu telah membunuh guruku dan melukai aku.”

"Apa hubungannya raksasa hitam dengan Mestika Golok Naga? hayo ceritakan semuanya!"

Tentu saja Tiong Li sudah dapat menduga bahwa raksasa hitam yang membunuhi empat tokoh partai besar dan juga membunuh ayahnya, kemudian bersama orang seperti tengkorak hidup itu membunuh suhunya, agaknya menjadi pencuri Mestika Golok Naga. Akan tetapi dia tidak ingin menceritakan hal itu kepada wanita galak ini. Dia hendak merahasiakannya untuk dirinya sendiri. Dia sendiri yang akan mencari raksasa hitam itu yang telah membunuh ayah kandungnya kemudian membunuh pula suhunya.

"Aku tidak tahu, Sianli. Raksasa hitam itu menyebut dirinya sendiri Golok Naga dan dia datang bersama orang yang mukanya seperti tengkorak hidup."

"Mengapa dia datang membunuh gurumu dan melukaimu? Apa sebabnya?"

"Aku juga tidak tahu. Suhu tidak pernah mempunyai musuh, akan tetapi Golok Naga itu tiba-tiba muncul bersama temannya dan mengeroyok suhu."

"Dan hubungannya dengan Mesti Golok Naga?"

"Aku tidak tahu."

"Keparat! Aku sudah susah payah membuang banyak tenaga untuk menghidupkanmu kembali dan engkau tidak dapat memberi petunjuk tentang Mestika Golok Naga? Kalau begitu, apa perlunya aku mengobatimu? Lebih baik kau kubunuh saja karena engkau telah mengecewakan hatiku!"

Wanita itu sudah mengangkat tangannya, akan tetapi tiba-tiba gadis remaja itu melangkah maju menghadang dan menyembunyikan Tiong Li di belakang tubuhnya.

"Subo, aku tidak setuju! Pemuda itu tadi belum mati ketika subo menolongnya. Dan diapun tidak minta ditolong. Adalah subo sendiri yang menolongnya, kenapa sekarang subo hendak membunuhnya? Lihat, subo, gurunya sudah tewas dan siapa yang akan mengurus jenazah suhunya kalau kini muridnya subo bunuh pula? Subo, kita boleh bertindak keras kepada seorang yang bersalah kepada kita, akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak bersalah kepada subo!"

Anak itu kelihatan berani sekali menentang kehendak subonya, dan sungguh aneh, ketika bertemu pandang dengan muridnya yang melindungi Tiong Li, Ban-tok Sian-li menurunkan lagi tangannya dan menarik napas panjang.

"Sudahlah, membunuh anak inipun tak ada gunanya! Mari kita pergi!"

Dan sekali berkelebat Ban-tok Sian-li telah lenyap dari tempat itu. Demikian cepat gerakannya seolah-olah ia pandai menghilang saja.

Tiong Li memegang tangan gadis remaja itu. "Nona, engkau telah menyelamatkan nyawaku! Aku selama hidup tidak akan melupakanmu dan semoga kelak aku dapat membalas jasamu ini. Namaku Tan Tiong Li, nona. Dan bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Namaku The Siang Hwi. Sudahlah, aku harus pergi agar subo tidak marah kepadaku!"

Siang Hwi menarik lepas tangannya lalu ia meloncat dengan tubuh ringan dan berlari cepat, sebentar saja sudah lenyap dari situ.

Tiong Li menghela napas panjang. Baru saja nyawanya beberapa kali terancam maut akan tetapi kalau memang Tuhan belum menghendaki dia mati, seperti wejangan gurunya, tetap saja dia tertolong. Mula-mula dia terancam maut ketika terpukul oleh Si Golok Naga. Tapi Ban-tok Sian-li yang menyembuhkannya.

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Kemudian mestinya dia mati di tangan Ban-tok Sian-li, akan tetapi ada The Siang Hwi yang menyelamatkannya. Dan peristiwa yang baru saja terjadi membuka matanya bahwa setelah selama sepuluh tahun dia mempelajari ilmu, ternyata masih jauh untuk dapat dipakai membela diri. Melawan Si Golok Naga dan Si Muka Tengkorak Hidup saja tidak mampu, apa lagi melawan Ban-tok Sian-li! Ilmu yang telah dikuasainya belum ada artinya.

Tentu saja pemuda remaja itu tidak tahu bahwa yang dihadapinya itu adalah datuk-datuk persilatan yang sakti. Kalau dia bertemu dengan tokoh-tokoh yang leblh rendah tingkatnya, maka ilmunya sudah lebih dari cukup.

Dia lalu mengangkat jenazah suhunya. Terasa ringan sekali jenazah itu dan baru sekarang dia menyadari betapa ringkih dan kurus tubuh suhunya. Heran bagaimana tubuh seringkih itu memiliki kesaktian yang hebat. Akan tetapi sekarang, di mana adanya semua kesaktian itu? Lenyap bersama matinya raga!

Kalau begitu, yang dinamakan ilmu kepandaian itu hanya untuk sementara saja, tidak kekal seperti adanya tubuh ini. Benar suhunya. Semua ini hanya alat! Dan sudah sepatutnya semua orang berusaha untuk menjadi alat yang baik bukan alat yang merusak! Alat yang baik akan dipergunakan Tuhan mengutarakan kekuasaannya, sebaliknya alat yang buruk hanya akan dipakai oleh setan untuk merajalela!

"Suhu, teecu bersumpah untuk menjadi alat yang baik bagi Tuhan Yang Maha Kuasa."

Dia teringat akan pesan terakhir suhunya sebelum meninggal. Suhunya minta agar jenazahnya dibakar bersama gubuk tempat tinggalnya. Hal ini hanya mengandung arti bahwa sepeninggal suhu nya, dia harus pula meninggalkan tempat itu, maka gubuknya disuruh bakar Dia merebahkan jenazah itu ke pembaringan suhunya.

Melihat pakaian suhunya berlepotan darah, dengan hati terharu dan tangan gemetar dia lalu mengganti pakaian suhunya itu dengan pakaian yang bersih. Kemudian dia mengemasi pakaiannya sendiri, disatukan dalam buntalan, setelah sekali lagi memberi hormat sambil berlutut delapan kali di depan jenazah suhunya sambil menangis, dia berkata,

"Selamat tinggal, suhu, selamat tinggal dan selamat jalan...!"

Dia sendiri menjadi bingung, harus mengucapkan selamat tinggal atau kah selamat jalan kepada gurunya!

Dia lalu mengumpulkan kayu bakar, menumpuknya di sekitar pembaringan suhunya, kemudian, dengan air mata bercucuran, mulailah dia membakar tumpukan kayu bakar itu. Setelah api berkobar besar barulah dia keluar dari rumah itu, berdiri di pekarangan memandang api berkobar membakar pondok itu dengan air mata bercucuran membasahi kedua pipinya.

" Suhu... suhu... ahh, suhu..." Tiong Li mengeluh sambil menangis tersedu-sedu.

Sepuluh tahun lamanya dia hidup bersama kakek itu yang menjadi pengganti ayahnya, pengganti segala galanya baginya. Menjadi gurunya, orang tuanya, sahabatnya. Dan kini, tiba-tiba saja gurunya mati dan dimakan api! Padahal, baru saja tadi gurunya masih bercakap-cakap dengan dia.

Malam mulai tiba dan cuaca mulai gelap sehingga api yang membakar pondok itu membuat cuaca disekelilingnya menjadi terang benderang. Tiba-tiba saja di belakang Tiong Li terdengar orang tertawa bergelak, suara tawanya menembus keremangan malam itu bagaikan suara tawa iblis.

"Ha-ha-ha, si hwesio tua dari Pek hong-san kok telah mendahului kita. Ha ha-ha sungguh beruntung, sungguh baik sekali nasibnya, ha-ha-ha!"

Tiong Li terkejut dan membalikkan tubuhnya, siap untuk bertanding mati-matian. Akan tetapi yang dilihatnya bukanlah Si Golok Naga melainkan seorang kakek berpakaian jubah pendeta yang longgar. Kakek itu bertubuh pendek gendut seperti bola saja bentuknya dan dialah yang tertawa bergelak dan mengeluarkan ucapan tadi.

Di sampingnya berdiri seorang kakek lain yang juga berjubah longgar akan tetapi kakek ini tinggi kurus seperti tihang. Usia mereka sekitar enampuluh tahun. Kalau kakek pendek gendut itu masih tertawa terkekeh-kekeh seperti orang kesenangan, adalah kakek tinggi kurus memandang langit di mana sudah muncul bulan sepotong dan kakek kurus itu lalu bernyanyi! Suaranya tinggi melengking sesuai dengan bentuk tubuhnya dan karena lehernya panjang, maka suaranya cukup merdu ketika dia bernyanyi.

"Sungguh membuat hati kita menjadi iri melihat keberuntungan hwesio tua ini betapa senangnya meninggalkan segala kepalsuan untuk menikmati kebebasan! Habislah derita, lenyap sengsara bebas menuai hasil karma! Aiih, hwe-sio tua dari Pek-hong-san kenapa pergi meninggalkan kami tanpa pesan?"

Sehabis bernyanyi diapun ikut tertawa-tawa bersama si kakek gendut. Tiong Li menjadi marah dan hatinya dongkol sekali. Dia sedang menangis dan berkabung karena kematian suhunya, dua orang ini malah tertawa-tawa dan bersenang-senang! Akan tetapi karena nada bicara orang itu seperti orang-orang yang telah mengenal baik suhunya, dan siapa mereka tidak bermusuhan, diapun bersikap hormat dan melangkah maju menghadapi kedua orang yang masih tertawa-tawa itu sambil mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

"Maaf, ji wi lo-cian-pwe. Siapakah ji-wi yang datang tertawa-tawa selagi saya berduka dan berkabung karena kematian suhu?"

Si pendek gendut itu yang menjawab sambil menyeringai, "Kami berdua adalah sahabat-sahabat baik si hwesio tua. Pinto (aku) disebut Tee Kui Lojin (Si Tua Setan Bumi) dan saudaraku ini Thian Kui Lojin (Si Tua Setan Langit). Karena sudah lama tidak berjumpa dengan Pek Hong San-jin, malam ini kami datang berkunjung, siapa tahu dia seenaknya meninggalkan kami untuk bersenang-senang! Ha-ha-ha! Si Tua yang licik, meninggalkan kami disarang kepalsuan dan kesengsaraan ini!"

Tiong Li mengerutkan alisnya. "Maaf, lo-cian-pwe. Saya kira siapa ji-wi ini tidak sepantasnya. Saya sedang menangis, berduka dan berkabung, akan tetapi jiwi datang bersenang dan tertawa-tawa. Dan ji-wi masih mengaku sebagai sahabat-sahabat baik suhu!"

"Ha-ha ha-ha!" Tee Kui Lojin tertawa geli seolah ucapan pemuda itu terdengar lucu sekali. "Kami memang sahabat baik dan kami amat menghormati dan sayang kepada si hwesio tua."

"Lebih tidak masuk diakal lagi!" bantah Tiong Li. "Kalau ji-wi menghormati dan sayang kepada suhu, mengapa tertawa melihat kematiannya?"

"Ha-ha, anak muda. Justeru karena kami sayang kepada suhumu, maka kami bersenang-senang melihat dia meninggalkan dunia..."

"Tidak masuk akal!" bantah Tiong li. "Bagaimana mungkin orang dapat bersenang-senang di tinggal mati orang yang disayangnya? Saya menyayang suhu, dan ketika suhu meninggal saya merasa berduka sekali!"

"Hemm, orang muda, engkau murid Pek Hong San-jin? Kenapa begini bodoh!"

Sekarang si jangkung Thian Kui Lojin berkata, mencela. "Kenapa pandanganmu masih sepicik itu? Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, kalau engkau memang sayang kepada suhumu, mengapa setelah dia mati engkau tangisi dia. Mengapa?"

"Tentu seja, lo-cian-pwe, saya kehilangan suhu yang saya sayang dan mati. "

"Hemm, jadi engkau menangisi dirimu sendiri, ya? Engkau menangis karna merasa kasihan kepada dirimu sendiri yang ditinggalkan orang yang kau sayang? Berarti engkau sama sekali tidak menangisi gurumu! Dan pula, mengapa kematian ditangisi? Kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan suhumu, kenapa ditangisi? Yang jelas sekali, dia telah terbebas dari siksa hidup, dari penyakit, dari permusuhan, dari kepalsuan dan segala macam kemunafikan dunia. Kenapa ditangisi?"

Tiong Li terbelalak dan dia merasa malu kepada diri sendiri. Tentu saja suhunya pernah bicara tentang kematian ini, dan diapun kini manyadari bahwa dia tadi menangis karena duka mengingat akan keadaan dirinya sendiri,sama sekali bukan menangisi gurunya! Bagaimana dia dapat menangisi nasib gurunya kalau dia tidak tahu apa yang dialami gurunya setelah kematiannya?

"Saya menangisi suhu, menangisi kematiannya yang amat menyedihkan. Dia tewas karena dibunuh oleh dua orang jahat. Apakah hal itu tidak menyedihkan?" bantahnya untuk memberi alasan tangisnya tadi.

Api masih berkobar-kobar membakar pondok dan Jenazah yang berada di dalamnya. Kini Tee Kui Lojin yang bicara. "Ha ha, kau berduka karena permainan pikiran dan perasaanmu sendiri. Kematian itu sudah merupakan garis yang tidak dapat diuboh oleh siapaun juga. Kalau saat kematian sudah tiba, biar engkau bersembunyi dilubang semut, maut akan tetap datang menjemput. Sebaliknya kalau saat kematian belum mestinya tiba, biar engkau diancam seribu ujung tombak, engkau akan tetap dapat mengelak. Kematian gurumu sudah garis, tidak dapat dielakkan lagi, seperti kematian yang datang pada setiap orang hidup di dunia ini. Adapun cara kematian itu yang merupakan penyebab kematian adalah buah karma. Roda karma pasti datang berputar dan pada saatnya akibat akan menyusul sebabnya. Usaha kita satu-satunya untuk menanam karma baik hanyalah dengan perbuatan baik yang tanpa pamrih."

"Perbuatan yang baik itu yang bagaimana, lo-cian-pwe?"

Tiong Li memancing karena dia tertarik sekali. Dari mendiang suhunya diapun sudah banyak mendapatkan wejangan tentang ini, akan tetapi cara mengungkapkan kedua orang kakek aneh ini agak berbeda walaupun intinya sama, maka dia ingin sekali mendengarnya.

"Ha-ha-ha, engkau anak yang cerdik, pantas untuk mendengar penjelasan tentang itu agar kelak tidak akan tersesat. Perbuatan baik itu adalah perbuatan yang bermanfaat dan mendatangkan kesenangan bagi orang lain. Ada perbuatan baik yang dilakukan dengan sengaja dan berpamrih. Perbuatan baik seperti ini buahnya sudah langsung diterima sesuai dengan pamrihnya. Kesenangan atau pujian yang didapatkan karena perbuatan baik itu sudah menjadi buah yang langsung dipetik dan dinikmatinya sehingga sudah lunas. Akan tetapi perbuatan baik kedua adalah perbuatan yang tidak disengaja, bahkan tidak diketahuinya bahwa itu perbuatan baik, melainkan perbuatan yang timbul dari hati yang penuh belas kasih dan karena tidak disengaja atau diketahui bahwa perbuatan itu baik maka pelakunya tidak berpamrih dan tidak mengharapkan apapun. Nah, perbuatan seperti inilah yang masuk catatan karma dan mungkin buahnya diterima kemudian, cepat atau lambat. Perbuatan-perbuatan yang timbul dari hati penuh belas kasih inilah yang memupuk karma baik. Mengertilah engkau, eh, siapa namamu, orang muda?"

"Terima kasih atas semua penjelasan itu, lo-cian-pwe. Nama saya adalah Tan Tiong Li dan saya telah menjadi murid suhu semenjak saya berusia lima tahun, sudah sepuluh tahun ini."

"Bagus, engkau murid berbakat dan berbakti. Sekarang ceritakan, bagaimana Pek-hong Sanjin tewas dan oleh siapa dan kenapa?"

Karena maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang sakti sahabat suhunya, maka tanpa ragu lagi Tiong Ll lalu bercerita, diawali sejak dia berusia lima tahun.

"Ketika saya baru berusia lima tahun, saya bersama mendiang ayah saya pergi berburu binatang ke puncak Liong san. Tanpa sengaja kami berdua melihat empat orang tokoh-tokoh partai besar sedang bercakap-cakap tentang lenyapnya Mestika Golok Naga yang katanya dicuri orang dan pencurinya membunuhi para pengawal dengan menggunakan ilmu dari empat partai besar itu. Tiba-tiba muncul seorang raksasa hitam yang mengaku berjuluk Si Golok Naga, dan dia menggunakan sebatang golok membunuh empat orang tokoh besar itu."

"Siancai... kami sudah mendengar tentang terbunuhnya para tokoh Siauw-limpai, Hoa-sanpai, Butong-pai dan Kunlunpai di Liong-san itu. Sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa pembunuhnya. Siapa kira engkau tidak hanya mengetahui bahkan menjadi saksi!" kata Thian Kui Lo-jin yang jangkung.

"Lanjutkan ceritamu, Tiong Li. Menarik sekali ceritamu," kata Tee Kui Lojin.

"Ayah lalu mengajak saya untuk melarikan diri. Akan tetapi Si Golok Naga agaknya mengetahui dan mengejar kami Ayah lalu menyuruh saya mendaki sebuah puncak lain dan ayah sendiri mengalihkan perhatian pengejar itu. Akhirnya ayah tersusul dan dibunuh oleh si Golok Naga, sedangkan saya ditolong oleh suhu Pek Hong San-jin, lalu diambil murid sampai hari ini..."

"Hemm, dan suhumu mati oleh Si Golok Naga itu pula? terjadinya?"

"Sore tadi suhu baru tiba dari perjalanannya sejak pagi dan selagi kami bicara, muncullah Si Golok Naga bersama seorang yang wajahnya sepert tengkorak hidup. Karena mereka menyatakan hendak membunuh suhu, saya lalu myerang Si Golok Naga, akan tetapi akhirnya dia merobohkan saya dengan sebuah pukulan beracun. Saya melihat suhu juga roboh dan saya memaksakan diri menghampiri suhu. Suhu meninggalkan pesan agar jenazahnya di bakar bersama pondok ini, dan suhu meninggal dalam rangkulan saya. Kemudian saya roboh pingsan."

"Hemm, tapi kami melihat engkau sudah tidak terluka lagi, melihat gerakanmu dan suaramu," kata si jangkung Thian Kui Lo-jin...

Mestika Golok Naga Jilid 03

PADA saat itu, Pek Hong San-jin mengerahkan tenaganya dan mendorongkan tangan kanannya yang melekat pada kedua tangan si tengkorak hidup. Akibatnya tengkorak hidup itu pun terpental ke belakang dan dari mulutnya mengalir darah, tanda bahwa diapun sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya.

Tanpa banyak cakap lagi, si raksasa hitam dan si tengkorak hidup yang telah menderita luka itu lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah terhuyung, takut melanjutkan pertandingan melawan hwe-sio tua yang sakti itu.

Tiong Li siuman dan dia bangkit berdiri, agak terhuyung. Akan tetapi dia mendengar suhunya terbatuk-batuk dan tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang juga terluka, dia menghampiri gurunya. Kakek itu terhuyung lalu menjatuhkan diri duduk di atas bangku. lalu muntahkan darah yang cukup banyak Suhunya telah terluka parah!

"Suhu...!" Dia menghampiri.

Pek Hong San-jin mengangkat mukanya. Dia telah mempergunakan tenaga yang berlebihan melawan dua orang yang sakti sehingga dia menderita luka parah tanpa di ketahui kedua orang lawannya yang melarikan diri. Dia melihat muridnya dan tersenyum!

"Engkau tidak apa-apa, Tiong Li...?" katanya dengan suara yang lemah sekali.

"Tidak, suhu. Akan tetapi suhu bagaimana ? Suhu muntahkan demikian banyak darah..."

"Omitohud... mereka berdua itu... kuat sekali. Sayang kesaktian seperti itu... dipergunakan untuk berbuat jahat...! Tiong Li, engkau ingat semua nasihatku...? Jangan... jangan sekali-kali kau pergunakan ilmumu untuk kejahatan..."

"Tentu saja teecu ingat Suhu..." Tiong Li khawatir sekali melihat wajah gurunya demikian pucat seperti mayat sehingga dia lupa akan keadaan dirinya sendiri yang juga terluka parah disebelah dalam tubuhnya.

"Akan tetapi suhu..., marilah teecu bantu untuk menyalurkan sin-kang ke tubuh suhu..."

Gurunya menggeleng kepala dan berkata lirih, "Tidak ada gunanya lagi..."

"Suhu...!" Tiong Li berseru ketika melihat suhunya terkulai. Cepat dirangkulnya suhunya agar jangan terjatuh dari atas bangku.

Gurunya memandangnya dengan tetap tersenyum. Menyedihkan sekali melihat bibir yang berdarah itu tersenyum!

"Tiong Li, ingatkah engkau... akan pembicaraan kita tadi... tentang... tentang kematian? Kematian bukanlah yang terakhir, Tiong Li... dan sudah ditentukan oleh Tuhan, kita tinggal menyerah... kehendak Tuhan terjadilah...!"

"Suhu...!"

"Pinceng hanya pesan... agar jenazah pinceng dibakar bersama gubuk itu..." Kepala itu terkulai dan napasnya putus.

"Suhu!" Tiong Li merebahkan tubuh yang tak bernyawa itu di atas bangku dan diapun terkulai, pingsan di atas tanah.

Tiong Li membuka dan mengedip-ngedipkan matanya. Mukanya basah terpercik air dan samar-samar dia melihat wajah seorang gadis remaja bersama seorang wanita dewasa yang cantik jelita.

Dia teringat akan kematian gurunya, teringat akan si raksasa hitam dan bibirnya bergerak, "Si Golok Naga...! lalu dia terkulai dan pingsan lagi.

Wanita itu memang cantik sekali. Usianya sekitar tigapuluh tahun, akan tetapi ia kelihatan seperti seorang gadis dua puluhan tahun. Rambutnya yang subur itu hitam mengkilap tersisir rapi dan digelung ke atas, terhias emas permata berbentuk burung Hong yang indah sekali dan tentu mahal harganya.

Anak rambut berjuntai di dahinya yang putih mulus dan alisnya juga hitam kecil panjang melengkung indah, melindungi sepasang mata yang amat tajam sinarnya. Sinar mata yang seolah menembus segala yang dipandangnya dan kadang sinar mata itu mencorong seperti binatang yang haus darah!

Hidungnya kecil mancung dan mulutnya berbentuk manis dengan sepasang bibir yang selalu merah basah. Wajahnya berbentuk bulat telur. Sungguh sebuah wajah yang cantik jelita, namun sinar mata dan tarikan pada mulut itu kadang membayangkan kekerasan nati yang mengerikan.

Tubuhnya juga padat menggairahkan, sedang dan ramping. Wanita cantik ini kalau sudah memperkenalkan namanya tentu akan membuat orang-orang kang-ouw terkejut setengah mati. Wanita yang amat cancik ini ternyata adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal sebagai seorang datuk sesat dengan nama julukan Ban-tok Sian-li (Dewi Selaksa Racun)!

Selain ilmu silatnya yang tinggi dan lihai bukan main, juga wanita ini terkenal sebagai seorang ahli racun dan kabarnya, sebuah goresan kuku jari tangannye saja sudah cukup membuat orang mati keracunan!

Bahkan tempat tinggalnya juga menjadi sebuah tempat yang menakutkan, yaitu di lembah Sungai Yang-ce dan lembah itu demikian ditakuti orang hingga diberi nama Lembah Maut.

Adapun gadis remaja yang bersamanya itu adalah seorang muridnya, bernama The Siang Hwi, berusia empat belas tahun akan tetapi sudah pula mewarisi ilmu silat tinggi dari gurunya yang secantik dewi akan tetapi kadang dapat sekejam iblis itu.

Ketika Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi secara kebetulan mendaki puncak itu dalam penyelidikannya tentang Golok Naga, la menemukan seorang hwesio tua yang sudah tewas di atas bangku dan seorang pemuda remaja yang menggeletak pingsan di bawah bangku. Muridnya lalu disuruh mencari air dan memecikkan pada wajah pemuda itu agar siuman dan dapat ditanyai apa yang telah terjadi.

Ketika Tiong Li siuman dan satu-satunya kata yang keIuar dari mulutnya adalah "si Golok Naga!" kemudian pingsan kembali, tentu saja hati Bantok Sian-li menjadi tertarik sekali.

Kunjungannya ke Liong-san memang ada hubungannya dengan Golok Naga. la mendengar tentang golok pusaka yang di curi itu dan sudah sepuluh tahun belum juga dapat ditemukan kembali.

Mendengar bahwa Kaisar menjanjikan hadiah besar bagi siapa yang dapat mengembalikan golok pusaka itu tidaklah begitu menarik perhatiannya. Yang menarik perhatiannya adalah golok itu sendiri karena la mendengar bahwa Golok Naga itu adalah sebuah senjata mestika yang amat ampuh. la ingin mencarinya, bukan untuk dikemballkan kepada Kaisar, melainkan untuk dimilikinya sendiri.

la mendengar pula bahwa empat orang-tokoh dari perkumpulan besar yang melakukan penyelidikan telah terbunuh di Liong-san. Maka ia mengambil kesimpulan bahwa ia dapat mulai melakukan penyelidikan dari Liong-san. Tentu ada hubungannya antara Liong-san dengan pembunuh itu dan agaknya pembunuh itu tahu soal golok pusaka yang dicuri. Kalau tidak begitu, mengapa dia membunuh empat orang tokoh partai-partai besar yang kabarnya difitnah oleh si pencuri golok!

Demikianlah, mendengar pemuda remaja itu menyebut Golok Naga, tentu saja ia tertarik sekali.ia lalu memeriksa pemuda itu dan mengertilah ia mengpa pemuda itu setelah siuman lalu pingsan kembali. Pemuda itu menderita luka dalam yang amat parah, akibat dari pukulan beracun yang entah dilakukan oleh siapa.

Karena ia memang ahli tentang pukulan-pukulan beracun, maka Ban tok Sian-li lalu menyingsingkan lengan bajunya sehingga sepasang lengannya yang putih mulus itu nampak sebatas siku. Kemudian ja menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Tiong Li setelah menelungkupkan pemuda itu. Muridnya hanya berdiri menonton gurunya mengobati pemuda yang pingsan itu.

Seperempat jam kemudian setelah pengobatan dengan penyaluran tenaga sinkang itu dilakukan Ban-tok Sian-li pernapasan Tiong Li yang tadinya terengah dan satu-satu, mulai normal kembali dan setelah ditotok di beberapa bagian jalan darah di tubuhnya,diapun siuman.

Ban-tok Sian-li bangkit berdiri, menghapus sedikit keringat dileher dan dahinya. la telah mengerahkan banyak tenaga untuk menyembuhkan pemuda itu. Akan tetapi ia rela karena ia tentu akan mendapatkan keterangan yang banyak dari pemuda itu tentang Golok Naga.

Tiong Li membuka mata, bergerak bangkit duduk dan terkejut heran melihat wanita cantik dan gadis remaja itu. "Siapakah Ji-wi (anda berdua)?" tanyanya.

Akan tetapi dia teringat, menoleh dan melihat suhunya masih menggeletak di atas bangku dalam keadaan tidak bernyawa lagi, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut dekat bangku dan menangis.

"Suhu...!" Tiong Li merasa ada sentuhan halus sebuah tangan di pundaknya. Ketika dia menengok, ternyata gadis remaja itu yang menyentuh pundaknya dan gadis itu berkata.

"Engkau tadi terluka parah dan subo (guru) yang telah menyembuhkanmu. Jangan menangis dan ceritakan semuanya kepada subo.”

Mendengar ini, Tiong Li lalu bangkit dan memberi hormat kepada Ban-tok Sian-li, dengan air mata masih membasahi pipinya. "Terima kasih atas pertolongan bibi..."

"Aku bukan bibimu!" terdengar jawaban menyentak marah. Memang merupakan pantangan begi Ban-tok Sian-li kalau ia disebut sebagai orang yang lebih tua!

Muridnya yang sudah mengenal watak subonya lalu berkata kepada Tiong Li, "Subo adalah Ban-tok Sian-li, engkau boleh menyebutnya Sian-li (Dewi) bukan bibi."

Tiong Li yang mengenal baik sopan santun lalu berkata, "Maaf, terima kasih atas pertolongan Sian-li kepadaku."

"Aku tidak butuh terima kasihmu, lebih baik kau cepat ceritakan dimana adanya Golok Naga!" kata pula Ban-tok Sian-li sambil memandang tajam penuh selidik.

"Golok Naga...?" Tiong Li memandang heran. "Aku tidak tahu tentang golok itu..."

"Jangan bohong!" bentak Ban-tok Sian-li. "Ketika engkau sluman, tadi engkau berkata Si Golok Naga! Dan sekarang mengatakan tidak tahu?"

"Ahh,... Si Golok Naga? Memang benar, Sianli. Akan tetapi yang kumaksudkan adalah Si Golok Naga raksasa hitam itu yang bersama-temannya. Tengkorak Hidup itu telah membunuh guruku dan melukai aku.”

"Apa hubungannya raksasa hitam dengan Mestika Golok Naga? hayo ceritakan semuanya!"

Tentu saja Tiong Li sudah dapat menduga bahwa raksasa hitam yang membunuhi empat tokoh partai besar dan juga membunuh ayahnya, kemudian bersama orang seperti tengkorak hidup itu membunuh suhunya, agaknya menjadi pencuri Mestika Golok Naga. Akan tetapi dia tidak ingin menceritakan hal itu kepada wanita galak ini. Dia hendak merahasiakannya untuk dirinya sendiri. Dia sendiri yang akan mencari raksasa hitam itu yang telah membunuh ayah kandungnya kemudian membunuh pula suhunya.

"Aku tidak tahu, Sianli. Raksasa hitam itu menyebut dirinya sendiri Golok Naga dan dia datang bersama orang yang mukanya seperti tengkorak hidup."

"Mengapa dia datang membunuh gurumu dan melukaimu? Apa sebabnya?"

"Aku juga tidak tahu. Suhu tidak pernah mempunyai musuh, akan tetapi Golok Naga itu tiba-tiba muncul bersama temannya dan mengeroyok suhu."

"Dan hubungannya dengan Mesti Golok Naga?"

"Aku tidak tahu."

"Keparat! Aku sudah susah payah membuang banyak tenaga untuk menghidupkanmu kembali dan engkau tidak dapat memberi petunjuk tentang Mestika Golok Naga? Kalau begitu, apa perlunya aku mengobatimu? Lebih baik kau kubunuh saja karena engkau telah mengecewakan hatiku!"

Wanita itu sudah mengangkat tangannya, akan tetapi tiba-tiba gadis remaja itu melangkah maju menghadang dan menyembunyikan Tiong Li di belakang tubuhnya.

"Subo, aku tidak setuju! Pemuda itu tadi belum mati ketika subo menolongnya. Dan diapun tidak minta ditolong. Adalah subo sendiri yang menolongnya, kenapa sekarang subo hendak membunuhnya? Lihat, subo, gurunya sudah tewas dan siapa yang akan mengurus jenazah suhunya kalau kini muridnya subo bunuh pula? Subo, kita boleh bertindak keras kepada seorang yang bersalah kepada kita, akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak bersalah kepada subo!"

Anak itu kelihatan berani sekali menentang kehendak subonya, dan sungguh aneh, ketika bertemu pandang dengan muridnya yang melindungi Tiong Li, Ban-tok Sian-li menurunkan lagi tangannya dan menarik napas panjang.

"Sudahlah, membunuh anak inipun tak ada gunanya! Mari kita pergi!"

Dan sekali berkelebat Ban-tok Sian-li telah lenyap dari tempat itu. Demikian cepat gerakannya seolah-olah ia pandai menghilang saja.

Tiong Li memegang tangan gadis remaja itu. "Nona, engkau telah menyelamatkan nyawaku! Aku selama hidup tidak akan melupakanmu dan semoga kelak aku dapat membalas jasamu ini. Namaku Tan Tiong Li, nona. Dan bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Namaku The Siang Hwi. Sudahlah, aku harus pergi agar subo tidak marah kepadaku!"

Siang Hwi menarik lepas tangannya lalu ia meloncat dengan tubuh ringan dan berlari cepat, sebentar saja sudah lenyap dari situ.

Tiong Li menghela napas panjang. Baru saja nyawanya beberapa kali terancam maut akan tetapi kalau memang Tuhan belum menghendaki dia mati, seperti wejangan gurunya, tetap saja dia tertolong. Mula-mula dia terancam maut ketika terpukul oleh Si Golok Naga. Tapi Ban-tok Sian-li yang menyembuhkannya.

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Kemudian mestinya dia mati di tangan Ban-tok Sian-li, akan tetapi ada The Siang Hwi yang menyelamatkannya. Dan peristiwa yang baru saja terjadi membuka matanya bahwa setelah selama sepuluh tahun dia mempelajari ilmu, ternyata masih jauh untuk dapat dipakai membela diri. Melawan Si Golok Naga dan Si Muka Tengkorak Hidup saja tidak mampu, apa lagi melawan Ban-tok Sian-li! Ilmu yang telah dikuasainya belum ada artinya.

Tentu saja pemuda remaja itu tidak tahu bahwa yang dihadapinya itu adalah datuk-datuk persilatan yang sakti. Kalau dia bertemu dengan tokoh-tokoh yang leblh rendah tingkatnya, maka ilmunya sudah lebih dari cukup.

Dia lalu mengangkat jenazah suhunya. Terasa ringan sekali jenazah itu dan baru sekarang dia menyadari betapa ringkih dan kurus tubuh suhunya. Heran bagaimana tubuh seringkih itu memiliki kesaktian yang hebat. Akan tetapi sekarang, di mana adanya semua kesaktian itu? Lenyap bersama matinya raga!

Kalau begitu, yang dinamakan ilmu kepandaian itu hanya untuk sementara saja, tidak kekal seperti adanya tubuh ini. Benar suhunya. Semua ini hanya alat! Dan sudah sepatutnya semua orang berusaha untuk menjadi alat yang baik bukan alat yang merusak! Alat yang baik akan dipergunakan Tuhan mengutarakan kekuasaannya, sebaliknya alat yang buruk hanya akan dipakai oleh setan untuk merajalela!

"Suhu, teecu bersumpah untuk menjadi alat yang baik bagi Tuhan Yang Maha Kuasa."

Dia teringat akan pesan terakhir suhunya sebelum meninggal. Suhunya minta agar jenazahnya dibakar bersama gubuk tempat tinggalnya. Hal ini hanya mengandung arti bahwa sepeninggal suhu nya, dia harus pula meninggalkan tempat itu, maka gubuknya disuruh bakar Dia merebahkan jenazah itu ke pembaringan suhunya.

Melihat pakaian suhunya berlepotan darah, dengan hati terharu dan tangan gemetar dia lalu mengganti pakaian suhunya itu dengan pakaian yang bersih. Kemudian dia mengemasi pakaiannya sendiri, disatukan dalam buntalan, setelah sekali lagi memberi hormat sambil berlutut delapan kali di depan jenazah suhunya sambil menangis, dia berkata,

"Selamat tinggal, suhu, selamat tinggal dan selamat jalan...!"

Dia sendiri menjadi bingung, harus mengucapkan selamat tinggal atau kah selamat jalan kepada gurunya!

Dia lalu mengumpulkan kayu bakar, menumpuknya di sekitar pembaringan suhunya, kemudian, dengan air mata bercucuran, mulailah dia membakar tumpukan kayu bakar itu. Setelah api berkobar besar barulah dia keluar dari rumah itu, berdiri di pekarangan memandang api berkobar membakar pondok itu dengan air mata bercucuran membasahi kedua pipinya.

" Suhu... suhu... ahh, suhu..." Tiong Li mengeluh sambil menangis tersedu-sedu.

Sepuluh tahun lamanya dia hidup bersama kakek itu yang menjadi pengganti ayahnya, pengganti segala galanya baginya. Menjadi gurunya, orang tuanya, sahabatnya. Dan kini, tiba-tiba saja gurunya mati dan dimakan api! Padahal, baru saja tadi gurunya masih bercakap-cakap dengan dia.

Malam mulai tiba dan cuaca mulai gelap sehingga api yang membakar pondok itu membuat cuaca disekelilingnya menjadi terang benderang. Tiba-tiba saja di belakang Tiong Li terdengar orang tertawa bergelak, suara tawanya menembus keremangan malam itu bagaikan suara tawa iblis.

"Ha-ha-ha, si hwesio tua dari Pek hong-san kok telah mendahului kita. Ha ha-ha sungguh beruntung, sungguh baik sekali nasibnya, ha-ha-ha!"

Tiong Li terkejut dan membalikkan tubuhnya, siap untuk bertanding mati-matian. Akan tetapi yang dilihatnya bukanlah Si Golok Naga melainkan seorang kakek berpakaian jubah pendeta yang longgar. Kakek itu bertubuh pendek gendut seperti bola saja bentuknya dan dialah yang tertawa bergelak dan mengeluarkan ucapan tadi.

Di sampingnya berdiri seorang kakek lain yang juga berjubah longgar akan tetapi kakek ini tinggi kurus seperti tihang. Usia mereka sekitar enampuluh tahun. Kalau kakek pendek gendut itu masih tertawa terkekeh-kekeh seperti orang kesenangan, adalah kakek tinggi kurus memandang langit di mana sudah muncul bulan sepotong dan kakek kurus itu lalu bernyanyi! Suaranya tinggi melengking sesuai dengan bentuk tubuhnya dan karena lehernya panjang, maka suaranya cukup merdu ketika dia bernyanyi.

"Sungguh membuat hati kita menjadi iri melihat keberuntungan hwesio tua ini betapa senangnya meninggalkan segala kepalsuan untuk menikmati kebebasan! Habislah derita, lenyap sengsara bebas menuai hasil karma! Aiih, hwe-sio tua dari Pek-hong-san kenapa pergi meninggalkan kami tanpa pesan?"

Sehabis bernyanyi diapun ikut tertawa-tawa bersama si kakek gendut. Tiong Li menjadi marah dan hatinya dongkol sekali. Dia sedang menangis dan berkabung karena kematian suhunya, dua orang ini malah tertawa-tawa dan bersenang-senang! Akan tetapi karena nada bicara orang itu seperti orang-orang yang telah mengenal baik suhunya, dan siapa mereka tidak bermusuhan, diapun bersikap hormat dan melangkah maju menghadapi kedua orang yang masih tertawa-tawa itu sambil mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

"Maaf, ji wi lo-cian-pwe. Siapakah ji-wi yang datang tertawa-tawa selagi saya berduka dan berkabung karena kematian suhu?"

Si pendek gendut itu yang menjawab sambil menyeringai, "Kami berdua adalah sahabat-sahabat baik si hwesio tua. Pinto (aku) disebut Tee Kui Lojin (Si Tua Setan Bumi) dan saudaraku ini Thian Kui Lojin (Si Tua Setan Langit). Karena sudah lama tidak berjumpa dengan Pek Hong San-jin, malam ini kami datang berkunjung, siapa tahu dia seenaknya meninggalkan kami untuk bersenang-senang! Ha-ha-ha! Si Tua yang licik, meninggalkan kami disarang kepalsuan dan kesengsaraan ini!"

Tiong Li mengerutkan alisnya. "Maaf, lo-cian-pwe. Saya kira siapa ji-wi ini tidak sepantasnya. Saya sedang menangis, berduka dan berkabung, akan tetapi jiwi datang bersenang dan tertawa-tawa. Dan ji-wi masih mengaku sebagai sahabat-sahabat baik suhu!"

"Ha-ha ha-ha!" Tee Kui Lojin tertawa geli seolah ucapan pemuda itu terdengar lucu sekali. "Kami memang sahabat baik dan kami amat menghormati dan sayang kepada si hwesio tua."

"Lebih tidak masuk diakal lagi!" bantah Tiong Li. "Kalau ji-wi menghormati dan sayang kepada suhu, mengapa tertawa melihat kematiannya?"

"Ha-ha, anak muda. Justeru karena kami sayang kepada suhumu, maka kami bersenang-senang melihat dia meninggalkan dunia..."

"Tidak masuk akal!" bantah Tiong li. "Bagaimana mungkin orang dapat bersenang-senang di tinggal mati orang yang disayangnya? Saya menyayang suhu, dan ketika suhu meninggal saya merasa berduka sekali!"

"Hemm, orang muda, engkau murid Pek Hong San-jin? Kenapa begini bodoh!"

Sekarang si jangkung Thian Kui Lojin berkata, mencela. "Kenapa pandanganmu masih sepicik itu? Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, kalau engkau memang sayang kepada suhumu, mengapa setelah dia mati engkau tangisi dia. Mengapa?"

"Tentu seja, lo-cian-pwe, saya kehilangan suhu yang saya sayang dan mati. "

"Hemm, jadi engkau menangisi dirimu sendiri, ya? Engkau menangis karna merasa kasihan kepada dirimu sendiri yang ditinggalkan orang yang kau sayang? Berarti engkau sama sekali tidak menangisi gurumu! Dan pula, mengapa kematian ditangisi? Kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan suhumu, kenapa ditangisi? Yang jelas sekali, dia telah terbebas dari siksa hidup, dari penyakit, dari permusuhan, dari kepalsuan dan segala macam kemunafikan dunia. Kenapa ditangisi?"

Tiong Li terbelalak dan dia merasa malu kepada diri sendiri. Tentu saja suhunya pernah bicara tentang kematian ini, dan diapun kini manyadari bahwa dia tadi menangis karena duka mengingat akan keadaan dirinya sendiri,sama sekali bukan menangisi gurunya! Bagaimana dia dapat menangisi nasib gurunya kalau dia tidak tahu apa yang dialami gurunya setelah kematiannya?

"Saya menangisi suhu, menangisi kematiannya yang amat menyedihkan. Dia tewas karena dibunuh oleh dua orang jahat. Apakah hal itu tidak menyedihkan?" bantahnya untuk memberi alasan tangisnya tadi.

Api masih berkobar-kobar membakar pondok dan Jenazah yang berada di dalamnya. Kini Tee Kui Lojin yang bicara. "Ha ha, kau berduka karena permainan pikiran dan perasaanmu sendiri. Kematian itu sudah merupakan garis yang tidak dapat diuboh oleh siapaun juga. Kalau saat kematian sudah tiba, biar engkau bersembunyi dilubang semut, maut akan tetap datang menjemput. Sebaliknya kalau saat kematian belum mestinya tiba, biar engkau diancam seribu ujung tombak, engkau akan tetap dapat mengelak. Kematian gurumu sudah garis, tidak dapat dielakkan lagi, seperti kematian yang datang pada setiap orang hidup di dunia ini. Adapun cara kematian itu yang merupakan penyebab kematian adalah buah karma. Roda karma pasti datang berputar dan pada saatnya akibat akan menyusul sebabnya. Usaha kita satu-satunya untuk menanam karma baik hanyalah dengan perbuatan baik yang tanpa pamrih."

"Perbuatan yang baik itu yang bagaimana, lo-cian-pwe?"

Tiong Li memancing karena dia tertarik sekali. Dari mendiang suhunya diapun sudah banyak mendapatkan wejangan tentang ini, akan tetapi cara mengungkapkan kedua orang kakek aneh ini agak berbeda walaupun intinya sama, maka dia ingin sekali mendengarnya.

"Ha-ha-ha, engkau anak yang cerdik, pantas untuk mendengar penjelasan tentang itu agar kelak tidak akan tersesat. Perbuatan baik itu adalah perbuatan yang bermanfaat dan mendatangkan kesenangan bagi orang lain. Ada perbuatan baik yang dilakukan dengan sengaja dan berpamrih. Perbuatan baik seperti ini buahnya sudah langsung diterima sesuai dengan pamrihnya. Kesenangan atau pujian yang didapatkan karena perbuatan baik itu sudah menjadi buah yang langsung dipetik dan dinikmatinya sehingga sudah lunas. Akan tetapi perbuatan baik kedua adalah perbuatan yang tidak disengaja, bahkan tidak diketahuinya bahwa itu perbuatan baik, melainkan perbuatan yang timbul dari hati yang penuh belas kasih dan karena tidak disengaja atau diketahui bahwa perbuatan itu baik maka pelakunya tidak berpamrih dan tidak mengharapkan apapun. Nah, perbuatan seperti inilah yang masuk catatan karma dan mungkin buahnya diterima kemudian, cepat atau lambat. Perbuatan-perbuatan yang timbul dari hati penuh belas kasih inilah yang memupuk karma baik. Mengertilah engkau, eh, siapa namamu, orang muda?"

"Terima kasih atas semua penjelasan itu, lo-cian-pwe. Nama saya adalah Tan Tiong Li dan saya telah menjadi murid suhu semenjak saya berusia lima tahun, sudah sepuluh tahun ini."

"Bagus, engkau murid berbakat dan berbakti. Sekarang ceritakan, bagaimana Pek-hong Sanjin tewas dan oleh siapa dan kenapa?"

Karena maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang sakti sahabat suhunya, maka tanpa ragu lagi Tiong Ll lalu bercerita, diawali sejak dia berusia lima tahun.

"Ketika saya baru berusia lima tahun, saya bersama mendiang ayah saya pergi berburu binatang ke puncak Liong san. Tanpa sengaja kami berdua melihat empat orang tokoh-tokoh partai besar sedang bercakap-cakap tentang lenyapnya Mestika Golok Naga yang katanya dicuri orang dan pencurinya membunuhi para pengawal dengan menggunakan ilmu dari empat partai besar itu. Tiba-tiba muncul seorang raksasa hitam yang mengaku berjuluk Si Golok Naga, dan dia menggunakan sebatang golok membunuh empat orang tokoh besar itu."

"Siancai... kami sudah mendengar tentang terbunuhnya para tokoh Siauw-limpai, Hoa-sanpai, Butong-pai dan Kunlunpai di Liong-san itu. Sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa pembunuhnya. Siapa kira engkau tidak hanya mengetahui bahkan menjadi saksi!" kata Thian Kui Lo-jin yang jangkung.

"Lanjutkan ceritamu, Tiong Li. Menarik sekali ceritamu," kata Tee Kui Lojin.

"Ayah lalu mengajak saya untuk melarikan diri. Akan tetapi Si Golok Naga agaknya mengetahui dan mengejar kami Ayah lalu menyuruh saya mendaki sebuah puncak lain dan ayah sendiri mengalihkan perhatian pengejar itu. Akhirnya ayah tersusul dan dibunuh oleh si Golok Naga, sedangkan saya ditolong oleh suhu Pek Hong San-jin, lalu diambil murid sampai hari ini..."

"Hemm, dan suhumu mati oleh Si Golok Naga itu pula? terjadinya?"

"Sore tadi suhu baru tiba dari perjalanannya sejak pagi dan selagi kami bicara, muncullah Si Golok Naga bersama seorang yang wajahnya sepert tengkorak hidup. Karena mereka menyatakan hendak membunuh suhu, saya lalu myerang Si Golok Naga, akan tetapi akhirnya dia merobohkan saya dengan sebuah pukulan beracun. Saya melihat suhu juga roboh dan saya memaksakan diri menghampiri suhu. Suhu meninggalkan pesan agar jenazahnya di bakar bersama pondok ini, dan suhu meninggal dalam rangkulan saya. Kemudian saya roboh pingsan."

"Hemm, tapi kami melihat engkau sudah tidak terluka lagi, melihat gerakanmu dan suaramu," kata si jangkung Thian Kui Lo-jin...