Social Items

SIN WAN mengerahkan seluruh tenaganya berlari cepat hingga akhirnya dia dapat melihat bayangan itu berloncatan dari atas atap ke atas atap rumah lain, dan dia terus mengejar secepatnya. Ternyata orang itu berlari ke rumah gedung milik Pangeran Mahkota yang tadi!

Berdebar rasa jantung di dada Sin Wan. Kalau Si Kedok Hitam tadi berada di rumah itu, dia akan menghadapi lawan berat. Si Kedok Hitam itu sudah berat, apa lagi kalau dibantu orang-orang lain. Akan tetapi dia tidak merasa takut.

Melihat orang itu menghilang ke dalam gedung, dia pun cepat mengintai dari atas atap. Yang membuat dia heran adalah bahwa kini seluruh gedung dipasangi lampu penerangan, tidak seperti tadi. Dia lalu mengintai ke ruangan tengah dan betapa kaget serta herannya melihat Pangeran Mahkota Chu Hui San berada di situ, duduk menghadapi meja panjang ditemani empat orang wanita muda yang cantik-cantik.

Dari pakaian mereka Sin Wan tahu bahwa empat orang wanita itu pasti bukan selir atau dayang dari istana. Agaknya sang pangeran mata keranjang itu tengah bersenang-senang ditemani empat orang wanita panggilan. Anehnya, mengapa baru sekarang pangeran itu berada di situ sedangkan tadi, hanya kurang lebih dua jam yang lalu, belum ada?

Dan sekarang di sekeiiling gedung itu terdapat pengawal, tidak seperti tadi. Bagaimana si pencuri pusaka dapat masuk ke situ tanpa diketahui pengawal? Kalau bersembunyi, dapat bersembunyi di mana?

Sin Wan meragu. Dia tidak berani lancang turun menemui sang pangeran karena hal itu bisa dianggap dosa besar, mengganggu kesenangan sang pangeran mahkota! Ia menanti hingga setengah jam lamanya, tanpa memandang apa yang dilakukan putera mahkota itu bersama empat orang wanitanya, hanya bersiap siaga kalau-kalau bayangan tadi muncul lantas menyerang sang pangeran, atau kalau-kalau bayangan itu menyelinap keluar lagi. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu. Bayangan tadi, maling yang dikejarnya itu seperti lenyap ditelan bumi.

Karena dia tidak berani mengganggu Putera Mahkota, terpaksa Sin Wan pulang dengan tangan kosong. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia menemui Bhok-ciangkun dan memberi laporan tentang semua yang dilihat dan dialaminya semalam.

Bhok Cun Ki tentu saja tertarik sekali, terutama tentang Si Kedok Hitam yang sangat lihai. "Begitu lihainya dia sampai dapat menandingimu, Sin Wan? Hemmm…, tentu dia seorang tokoh besar dari Kerajaan Goan. Dan dia disebut Yang Mulia? Ini menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan tinggi, mungkin keluarga Kaisar Mongol yang telah kalah dan jatuh."

"Akan tetapi yang membuat saya tidak mengerti kenapa Pangeran Mahkota tiba-tiba bisa berada di sana, dan mengapa pula Si Kedok Hitam dan kedua orang anak buahnya yang mencuri dari gedung pusaka dapat berada di sana pula?"

"Hemmm…, hal ini memang tidak masuk di akal. Kalau benar Si Kedok Hitam itu seorang bangsawan Mongol, bagaimana mungkin dia dapat berada di rumah milik Putera Mahkota! Memang aneh sekali. Biarlah sekarang juga akan kuperiksa keadaan di gedung pusaka, apakah ada pusaka yang hilang. Kalau menurut ceritamu tadi, Si Kedok Hitam menyuruh anak buahnya mencuri pusaka milik Kerajaan Mongol, terutama cap-cap dan tanda-tanda kebesaran."

Sebentar saja Bhok Cun Ki memperoleh berita bahwa gedung pusaka memang kecurian barang yang bagi Kerajaan Beng tidak berharga, hanya disimpan di sana sebagai benda sejarah, yaitu tiga buah cap kebesaran kaisar dan sebuah pedang tanda kekuasaan kaisar Mongol.

"Jelas sudah, pencurinya tentulah mata-mata Mongol itu!” seru Bhok Cun Ki. "Akan tetapi bagaimana mungkin jaringan mata-mata Mongol dapat bersembunyi di gedung Pangeran Mahkota? Hal ini perlu penyelidikan, tetapi harus dilakukan dengan hati-hati sekali supaya Putera Mahkota tidak sampai merasa tersinggung. Beliau adalah seorang pangeran yang juga menjadi putera mahkota, calon kaisar. Maka bagaimana pun juga aku tidak percaya kalau beliau mempunyai hubungan dengan bangsawan Mongol yang hendak mendirikan kembali Kerajaan Mongol. Mustahil ini!"

"Saya maklum akan kesulitan paman apa bila harus menyelidiki urusan ini. Paman adalah seorang panglima, tentu tidak akan berani kalau harus melakukan penyelidikan di rumah gedung milik Putera Mahkota. Tetapi saya adalah seorang yang tidak terikat oleh disiplin ketentaraan sehingga saya takkan merasa canggung atau rikuh. Apa lagi saya membawa tanda kekuasaan dari Sribaginda Kaisar yang saya terima dari suhu."

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya. "Tetapi bagaimana kalau Pangeran Mahkota marah? Sekali dia memberi isyarat, para jagoan istana akan mengeroyok dan membunuhmu, dan kalau engkau melawan, berarti engkau telah menjadi pengkhianat dan pemberontak!"

Sin Wan menggeleng kepala dan tersenyum. "Saya kira tidak akan begitu, paman. Saya akan mempergunakan cara yang halus. Seandainya dia bermain kasar maka saya masih mempunyai pelindung, yaitu surat kekuasaan Kaisar dan juga kesaksian saya bahwa ada mata-mata Mongol berlindung di rumah pangeran."

Panglima itu menghela napas panjang. Urusan ini memang penting sekali, maka akan dia bicarakan dengan atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta. "Baiklah, Sin Wan. Akan tetapi berhati-hatilah. Aku amat membutuhkan bantuanmu pada pemilihan bengcu kelak. Dan sebaiknya hal ini kusampaikan dahulu kepada Jenderal Shu Ta."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bhok-ciangkun berkunjung ke benteng. Namun ternyata dia tidak bertemu dengan Jenderal Shu Ta yang belum datang, dan di situ hanya ada wakilnya, yaitu Jenderal Yauw Ti.

Sesudah menerima penghormatan Bhok Cun Ki, jenderal Yauw Ti yang tubuhnya tinggi besar dan gagah itu bertanya heran, "Ada kepentingan mendesak apakah yang membuat engkau sepagi ini sudah mencari Jenderal Shu?"

Karena Jenderal Yauw Ti juga merupakan seorang atasannya, maka Bhok Cun Ki segera menerangkan mengenai pengalaman Sin Wan tadi malam. Mendengar ini, wajah Jenderal berubah merah dan alisnya berkerut.

"Hemm... hemmm... engkau bermain dengan api, Bhok-ciangkun," katanya tak senang.

"Betapa beraninya bocah Uighur itu bicara! Jangan-jangan dia malah mata-mata Mongol yang hendak mengacaukan keadaan. Bagaimana mungkin Pangeran Mahkota... ahhh, ini mustahil. Biar aku sendiri yang akan bicara dengan beliau, dan jika ternyata anak Uighur itu berbohong maka terpaksa aku akan menangkapnya dengan tuduhan menghina Putera Mahkota!"

Bhok Cun Ki sangat terkejut. Dia tahu betapa Jenderal ini membenci suku-suku bangsa lain. “Saya harap Yauw-goanswe (Jenderal Yauw) tidak terburu nafsu. Saya akan mohon pertimbangan Jenderal Shu...”

"Heh, apa bedanya? Tak urung dia pun akan bertindak seperti yang kulakukan. Di antara kami tidak pernah ada ketidak cocokan. Setiap kali timbul masalah, harus kita tanggulangi dengan secepatnya. Kini Pangeran Mahkota dicurigai, maka harus diselidiki sekarang juga untuk menentukan siapa yang bersalah! Sudahlah, serahkan saja urusan ini ke tanganku dan kembalilah!"

Ucapan itu merupakan perintah, maka Bhok Cun Ki segera pulang dengan tubuh panas dingin. Celaka bagi Sin Wan pikirnya. Jenderal Yauw adalah seorang yang sepenuhnya setia kepada kaisar, apa lagi terhadap putera mahkota, dan dia pun seorang yang keras hati dan keras tangan. Kalau sampai Pangeran Mahkota menyangkal, dan keterangan Sin Wan tidak ada bukti, celakalah Sin Wan!

Setelah tiba di rumah, Bhok Cun Ki cepat memberi tahu Sin Wan tentang pertemuannya dengan Jenderal Yauw. "Wah, repot!" katanya cemas. "Tadi Jenderal Shu belum datang dan aku kepergok oleh Jenderal Yauw. Sukar untuk tidak berterus terang, apa lagi dia pun atasanku, wakil Jenderal Shu. Dan orang yang keras hati itu langsung saja menanggapi, hendak menyelidiki kepada Pangeran Mahkota. Dia berani bertindak keras terhadap siapa saja, dan kalau sampai engkau tidak bisa membuktikan keteranganmu, tentu engkau akan dianggap sebagai orang yang menaruh fitnah kepada Pangeran Mahkota. Jenderal Yauw dapat berbuat hal-hal yang mengejutkan, dan dia selalu keras, akan tetapi dia membela kebenaran, tidak ada yang dapat membantahnya."

"Jangan khawatir, paman. Saya berpegang pada kebenaran dan saya yakin bahwa Tuhan Yang Maha Adil akan selalu melindungi orang yang berada di pihak benar."

Bhok Cun Ki menghela napas panjang. "Akan tetapi semua orang akan mengaku benar, Sin Wan, untuk membela tindakannya."

"Saya mengerti, paman. Manusia dapat dibohongi, akan tetapi Tuhan tidak! Tuhan Maha Mengetahui sehingga akan mengetahui pula siapa benar siapa yang salah. Karena saya yakin bahwa saya benar, tidak melakukan fitnah dan tidak berbohong, maka saya berani menghadapi segala resikonya."

Bhok Cun Ki menghela napas panjang dan memandang pemuda itu dengan rasa kagum. "Engkau seorang gagah sejati Sin Wan. Aihh, kalau dulu ketika muda aku dapat bersikap sepertimu, tentu sekarang tidak akan menanggung akibatnya. Nah, kalau begitu terserah kepadamu, Sin Wan."

Pemuda itu maklum bahwa panglima ini tentu teringat mengenai permusuhannya dengan Bi-coa Sianli Cu Sui In, akan tetapi dia tidak menanggapi urusan yang sangat pribadi itu. "Saya hanya minta agar paman suka mengusahakan supaya sekarang juga saya dapat menghadap Pangeran Mahkota."

"Baiklah, akan kutemui kepala pengawal istana yang sudah kukenal baik. Apa lagi engkau memegang tanda kekuasaan dari Sribaginda Kaisar, seharusnya tidak sulit bagimu untuk menghadap beliau."

Benar saja, dengan bantuan Bhok Cun Ki tidak sukarlah bagi Sin Wan untuk memasuki istana dan dia pun segera diantar pengawal menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Chu Hui San, putera Mahkota. Dan suatu kejutan yang sama sekali tak disangka-sangka oleh Sin Wan menyambutnya sesudah dia memasuki kamar tamu dan duduk di ruangan luas itu setelah dipersilakan pengawal untuk menunggu di situ.

Kejutan itu muncul bersama Pangeran Chu Hui San. Pangeran berusia empat puluh tahun yang tinggi kurus, bermuka pucat dan matanya cekung, pesolek serta tubuhnya nampak lemah itu muncul bersama seorang pria tampan berusia tiga puluh lima tahun, berpakaian sebagai seorang sastrawan, sikapnya lembut dan wajahnya cerah dihias senyum, tangan kirinya memegang sebuah kipas putih yang sesuai pula dengan pakaiannya yang serba putih indah, dengan seorang gadis yang membuat Sin Wan terbelalak karena gadis cantik yang tersenyum simpul itu bukan lain adalah Tang Bwe Li atau Lili!

Sebagai orang yang tahu sopan santun, Sin Wan yang telah mendapat gambaran tentang Pangeran Mahkota dan yakin bahwa dia berhadapan dengan pangeran itu, segera bangkit dari tempat duduknya lalu menjatuhkan diri berlutut dengan kaki kiri memberi hormat.

Pangeran Chu Hui San memandang kepada Sin Wan dengan alis berkerut. Jelas bahwa kunjungan seorang pemuda biasa di pagi hari itu, ketika tubuhnya masih terasa lelah dan malas bangun, sangat mengganggunya. Akan tetapi kepala pengawal mengatakan bahwa pemuda yang mohon menghadap itu adalah orang yang memegang tanda kekuasaan dari kaisar dan mohon menghadap untuk urusan yang teramat penting mengenai keselamatan sang pangeran, maka mau tidak mau dia terpaksa bangun dan menerima tamu itu.

"Sin Wan...! Engkau yang datang ini?" Lili berseru, suaranya mengandung nada terkejut, keheranan dan juga kegembiraan.

"Ehh? Engkau sudah mengenal pemuda ini, nona Lili?" Sang pangeran bertanya heran.

Lili tersenyum manis dan Sin Wan melihat betapa Lili nampak sudah akrab sekali dengan pangeran itu, malah sikapnya tidak terlampau merendah seperti sikap orang lain terhadap seorang pangeran mahkota.

"Tentu saja, pangeran! Sejak berusia sepuluh tahun aku sudah mengenalnya!”

Sin Wan yang masih terkejut dan heran, hanya dapat berkata dengan suara lirih, "Lili, tak kusangka akan bertemu denganmu di sini." Dia memandang kepada lelaki tampan yang berpakaian sastrawan, akan tetapi tidak mengenalnya.

"Aku belum lama berada di sini, Sin Wan, menjadi pengawal pribadi yang mulia pangeran mahkota!"

Melihat kedua orang muda itu saling tegur dan bicara seolah-olah dia sendiri tidak berarti dan sudah dilupakan orang, Pangeran Chu Hui San menjadi marah. Bukan marah kepada Lili yang diperkenalkan kepadanya oleh Yauw Siucai lalu diangkatnya menjadi pengawal pribadinya karena selain gadis itu amat lihai, juga cantik menarik sekali dan dia berharap dara itu sekali waktu akan menyerahkan diri kepadanya. Dia marah kepada Sin Wan yang dianggapnya telah mengganggu waktunya.

“Orang muda," dia menegur dengan suara berwibawa. "Pengawal tadi mengatakan bahwa engkau adalah orang yang memegang tanda kekuasaan dari Kaisar. Benarkah itu? Kalau benar, buktikan kepada kami."

Mendengar perintah ini, Sin Wan yang tadinya berlutut dengan sebelah kaki cepat bangkit berdiri lantas mengeluarkan sehelai bendera kecil, yaitu bendera tanda kekuasaan kaisar yang diberikan kepada seorang utusan yang dipercaya.

Melihat benda ini, sastrawan berpakaian serba putih itu segera menjatuhkan diri berlutut, sementara itu sang pangeran juga membungkuk dengan hormat. Melihat Lili masih berdiri seperti biasa saja, sastrawan itu cepat berbisik,

"Nona Lili, berlututlah untuk memberi hormat!"

Lili memandang heran. "Apa-apaan ini? Mengapa aku disuruh berlutut? Kepada Sin Wan ini?"

"Bukan kepada orangnya, tapi kepada benderanya. Leng-ki itu adalah bendera kekuasaan dari Sribaginda, karena itu kita harus menghormatinya sebagai wakil kehadiran Sribaginda sendiri. Berlututlah, nona...," kata pula sastrawan itu berbisik.

Mendengar ini mau tak mau Lili lalu berlutut, meski pun mulutnya cemberut. Kalau berlutut menghormati kaisar, tentu saja dia akan melakukannya dengan senang hati. Akan tetapi kepada sehelai bendera yang dipegang oleh Sin Wan? Sungguh lucu!

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sementara itu Pangeran Mahkota lalu berkata, "Orang muda, kami sudah melihat bahwa engkau memang memegang sebuah leng-ki. Sekarang simpanlah pusaka itu dan silakan duduk." Sikap pangeran itu kini menjadi hormat.

Sin Wan hanya ingin membuktikan bahwa dirinya memang menjadi wakil Ciu-sian yang mendapatkan leng-ki dari kaisar, bukan bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk menyombongkan diri. Dia cepat menggulung dan menyimpan kembali leng-ki, lalu duduk di atas kursi, berhadapan dengan pangeran mahkota. Sesudah sang pangeran duduk, Lili dan Yauw Siucai juga mengambil tempat duduk di belakang pangeran itu.

"Nah, sekarang katakan apa keperluan yang mengenai keselamatan kami itu, dan siapa namamu," kata sang pangeran.

Sin Wan memberi hormat sambil duduk, kemudian berkata, "Sebelumnya harap paduka memaafkan saya yang telah berani menghadap paduka tanpa dipanggil dan mengganggu waktu paduka. Nama saya Sin Wan. Saya mewakili suhu Ciu-sian yang sudah menerima titah dari Sribaginda Kaisar untuk melakukan penyelidikan tentang gerakan jaringan mata-mata Mongol yang merupakan ancaman bagi pemerintah."

“Hemm, kalau engkau melaksanakan tugas seperti itu, kenapa pagi ini datang menghadap padaku? Kami tidak ingin memusingkan kepala dengan segala macam urusan penjagaan keamanan!" Sang pangeran mulai marah lagi karena merasa terganggu.

"Maafkan saya, Yang Mulia. Tidak sekali-sekali saya berani mengganggu waktu paduka kalau saja malam tadi tidak terjadi sesuatu yang amat aneh sehingga terpaksa saya harus memberanikan diri menghadap paduka untuk mohon keterangan."

Pangeran Chu Hui San mengerutkan kening dan memandang heran. "Terjadi apakah dan mengapa minta keterangan dari kami?”

Dengan singkat tetapi jelas Sin Wan lalu menceritakan pengalamannya semalam, betapa dia melihat tiga orang berkedok berada di gedung peristirahatan milik pangeran mahkota di luar lingkungan istana, sebelum melihat sang pangeran berada di rumah itu.

"Demikianlah, Yang Mulia. Sekarang saya hanya ingin mohon keterangan, siapakah tiga orang berkedok itu."

Wajah Pangeran Mahkota menjadi merah. "Memang benar semalam kami pergi ke rumah peristirahatan kami di luar istana, dikawal oleh sepasukan pengawal. Akan tetapi di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan dengan orang-orang berkedok itu!"

Tiba-tiba Lili yang berada di belakang pangeran itu menegur. "Sin Wan, tadi malam aku tidak disuruh mengawal yang mulia pangeran. Kalau engkau memang melihat tiga orang berkedok berada di rumah pangeran, kenapa engkau tidak menangkap mereka?"

"Benar sekali pertanyaan itu," kata sang pangeran. "Engkau bertugas sebagai penyelidik, kenapa engkau tidak menangkap mereka?"

"Mohon maaf, yang mulia. Orang berkedok itu lihai bukan main, dan saya tidak berhasil menangkapnya. Sedangkan si kedok hijau dan si kedok biru yang melakukan pencurian di gedung pusaka, pada waktu saya kejar, dia melarikan diri dan menghilang pula di gedung peristirahatan paduka itu kemudian lenyap. Karena semalam saya melihat paduka berada di sana maka saya tidak berani melakukan pengejaran ke dalam."

Sastrawan berpakaian putih yang kelihatan lembut itu memberi hormat kepada pangeran dan berkata dengan suara halus. "Maaf, pangeran. Urusan yang diceritakan pemuda ini menyangkut nama paduka, oleh karena itu haruslah dibuktikan kebenarannya. Pemuda ini harus dapat memperlihatkan bukti dari apa yang dia ceritakan."

"Tepat sekali! Nah, Sin Wan, apa kau mempunyai bukti bahwa semua ceritamu itu benar-benar terjadi?" tanya sang pangeran.

Pada saat itu pula kepala pengawal masuk, lalu menjatuhkan diri berlutut di ambang pintu ruangan, "Mohon ampun yang mulia. Jenderal Yauw Ti mohon untuk menghadap paduka sekarang juga!"

Sebelum sang pangeran menjawab, jenderal yang tinggi besar itu telah melangkah masuk kemudian dia menjatuhkan diri berlutut dengan sebelah kaki dan memberi hormat kepada pangeran mahkota. Kepala pengawal segera mengundurkan diri dengan hati lega karena kemunculan jenderal itu membebaskan dia dari kemarahan sang pangeran.

"Pangeran, hamba ingin bicara penting dengan paduka sekarang juga!" kata jenderal itu dengan sikap dan suara tegas.

Pangeran mahkota mengerutkan alisnya sambil memandang kepada jenderal itu. Walau pun sikapnya jelas menunjukkan bahwa hatinya tak senang dengan semua gangguan ini, namun dia tahu bahwa jenderal yang datang ini adalah seorang kepercayaan ayahnya dan terkenal jujur dan keras, maka dia pun mengangguk dan berkata.

"Hemm, kiranya engkau, Jenderal Yauw Ti. Ada urusan apakah pagi-pagi begini engkau sudah datang berkunjung?"

Jenderal itu tanpa dipersilakan lalu bangkit dan duduk, kemudian dia memandang kepada Sin Wan dan mukanya berubah kemerahan seperti orang marah. "Yang Mulia, kebetulan sekali urusan yang hendak hamba bicarakan ini adalah mengenai diri pemuda itu. Hamba mendengar dari Bhok-ciangkun bahwa pemuda itu, eh, siapa namanya, Sin Wan? Ya, dia memberi keterangan bahwa dia melihat penjahat dan pencuri yang bersembunyi di dalam rumah peristirahatan paduka. Urusan ini teramat penting, menyangkut nama baik paduka sehingga harus dibikin terang sekarang juga."

"Ahh, kami pun sedang membicarakan urusan itu dengan Sin Wan ini dan kami sedang menuntut agar dia dapat membuktikan apa yang dia ceritakan itu," kata sang pangeran.

"Tepat sekali itu, Pangeran yang mulia!" seru Jenderal Yauw Ti. "Memang hamba sendiri pun merasa penasaran mendengar cerita itu, maka hamba menuntut agar pemuda Uighur yang kebetulan menjadi murid Sam-sian ini membuktikan kebenaran ceritanya."

"Pangeran!" tiba-tiba Lili berseru dengan suara tegas. "Urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan suku bangsa atau keturunan! Saya memprotes kalau ada orang yang menekankan kepada kesukuan Sin Wan!"

Sin Wan sendiri terkejut. Dia tahu benar bahwa gadis liar ini memang mencintanya, tetapi membelanya secara demikian kasar, di depan Pangeran Mahkota dan seperti menyerang Jenderal Yauw Ti, sungguh merupakan perbuatan yang terlalu berani dan lancang sekali.

Pangeran Chu Hui San hanya tersenyum, agaknya dia sudah mengenal watak pengawal pribadinya yang baru itu sehingga tidak merasa heran melihat peledakan ini. Akan tetapi jenderal Yauw Ti mengerutkan alisnya yang tebal dan memandang kepada Lili dengan mata melotot marah. Namun gadis itu pun memandang kepadanya dengan balasan mata melotot yang tidak kalah sengitnya!

"Yang Mulia, siapakah gadis yang kasar dan lancang ini?" tanya sang jenderal, menahan kemarahannya karena di hadapan Pangeran Mahkota tentu saja dia tidak berani bersikap kasar. Pangeran Mahkota segera menengahi dan menyabarkan Jenderal Yauw Ti.

"Jenderal Yauw Ti, harap jangan marah. Dia ini Lili, eh, nona Tang Bwe Li dan dia adalah pengawal pribadiku yang baru. Dia sangat lihai dan boleh dipercaya, dan yang ini adalah Yauw Siucai. Ehh…, sungguh menarik karena kebetulan nama keluarganya sama dengan margamu. Yauw Siucai ini adalah pengawal juga akan tetapi sekarang dia telah menjadi guru sastra untuk puteraku."

Jenderal Yauw Ti mengangguk-angguk, lalu dia kembali memandang kepada Sin Wan dan berkata, "Seperti hamba katakan tadi, pangeran, tuntutan paduka memang sangat tepat dan pemuda itu harus dapat membuktikan bahwa omongannya itu betul. Nah, Sin Wan, bagaimana jawabanmu?"

Sejak tadi Sin Wan hanya menjadi penonton saja. Dia tidak khawatir terhadap jenderal itu karena tahu bahwa jenderal itu adalah orang yang sangat setia kepada Kerajaan Beng, seorang yang sudah berjasa besar. Ada pun sastrawan itu, kalau dia itu pengawal dan juga guru sastra di istana, tentu merupakan orang yang boleh dipercaya. Hanya dia masih bingung dan heran sekali melihat Lili secara tiba-tiba menjadi pengawal pribadi Pangeran Chu Hui San! Dan kini, menghadapi pertanyaan jenderal galak yang agaknya tidak suka kepada suku bangsa Uighur itu, dengan sikap tenang dia pun menatap wajah jenderal itu.

"Jika sekarang jenderal memeriksa ke gedung pusaka, tentu akan mendengar bahwa ada benda-benda yang hilang dan itu merupakan bukti kebenaran cerita saya. Para penjaga yang tertotok semalam juga akan dapat bercerita. Itulah bukti saksi kebenaran keterangan saya."

"Hemm, itu hanya kesaksian bahwa memang gedung pusaka sudah dimasuki pencuri. Hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan nama yang mulia Pangeran Mahkota. Yang kami tuntut pembuktiannya adalah keteranganmu bahwa para penjahat berkedok itu berada di rumah gedung milik beliau. Nah, engkau harus dapat membuktikan itu. Mari kita bersama menggeledah rumah itu untuk mencari orang-orang berkedok yang kau ceritakan itu!"

"Sudah pasti kita tak akan dapat menemukan seorang pun!" Sin Wan membantah sambil tersenyum. "Mereka adalah orang-orang lihai sehingga tak mungkin mereka begitu bodoh untuk tinggal diam saja di sana menunggu untuk ditangkap."

"Orang muda, berhati-hatilah dengan kata-katamu. Engkau telah melempar fitnah dengan mengatakan bahwa ada penjahat yang bersembunyi di rumah milik yang mulia Pangeran Mahkota. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa beliau sudah bersekongkol dengan penjahat berkedok itu?"

Sin Wan terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa urusan membelok sedemikian rupa sehingga dia yang kini terancam bahaya! "Ahh, sama sekali tidak, Jenderal!”

"Kau bilang sama sekali tidak? Akan tetapi bagaimana kalau ada orang yang mendengar bahwa pencuri pusaka lari menghilang ke dalam rumah pangeran, dan mendengar bahwa engkau melihat tiga orang berkedok berada di rumah itu? Apakah tidak didesas-desuskan orang bahwa Pangeran Mahkota menyembunyikan penjahat-penjahat itu di rumah beliau? Hayo katakan, bagaimana engkau dapat membuktikan kehadiran para penjahat di rumah beliau. Kalau tidak, maka terpaksa aku akan menangkap dan menahanmu sebagai orang yang menghina dan melempar fitnah kepada Pangeran Mahkota!"

Sin Wan tak dapat menjawab dan dia semakin terkejut. Kini dia yang terancam bahaya, namun dia tidak menyalahkan kekerasan Jenderal Yauw Ti. Memang sudah sepantasnya kalau jenderal itu mencurigainya. Pria berpakaian sastrawan itu kini berkata dan suaranya tetap terdengar lembut.

"Saudara Sin Wan yang gagah, apa yang dikatakan tay-ciangkun (panglima besar) Yauw memang tak keliru. Sebaiknya kalau engkau bisa membuktikan kebenaran keteranganmu dengan menangkap semua atau salah seorang di antara para penjahat berkedok itu, baru engkau mendapatkan bukti."

Sin Wan menggeleng kepala. "Bagaimana mungkin saya dapat mencari mereka? Selain lihai mereka pun berkedok sehingga saya tidak mengenal wajah mereka."

"Kalau begitu, kami harus menangkap dan memeriksamu, mengusut perkara ini dengan tuduhan engkau sudah menghina Yang Mulia Pangeran!" Jenderal itu lalu menengok ke arah pintu untuk memanggil pasukan.

"Tunggu...!" Tiba-tiba saja Lili melangkah maju sambil mengeluarkan suara bentakan yang mengejutkan semua orang. "Sin Wan, keluarkan leng-kimu tadi, cepat!"

Sin Wan yang tadinya telah merasa bingung, tiba-tiba teringat bahwa dia memiliki senjata yang ampuh, yaitu bendera tanda kekuasaan dari kaisar itu. Kini, mendengar seruan Lili, demi untuk menyelamatkan diri, dia pun segera mengeluarkan bendera kecil itu kemudian mengangkatnya ke atas kepala.

Lili langsung menjatuhkan diri berlutut menghadap Sin Wan sambil berseru dengan suara lantang. "Banswe, ban-ban-swe (hidup Sribaginda Kaisar)!”

Seruan ini biasa dilakukan orang apa bila menghadap kaisar untuk memberi hormat dan memujikan kaisar panjang umur sampai selaksa tahun! Melihat ulah gadis ini, mau tidak mau semua orang langsung menjatuhkan diri berlutut dengan satu kaki memberi hormat kepada bendera kekuasaan kaisar itu dengan seruan yang sama.

"Siapa yang menghina pemegang leng-ki sama dengan menghina kaisar sendiri!" seru Lili.

Jenderal Yauw Ti menjadi penasaran. "Leng-ki berada di tangan orang yang salah! Aku harus menangkap Sin Wan ini!"

"Menangkap pemegang leng-ki sama saja dengan menangkap Sribaginda Kaisar! Apakah engkau hendak memberontak terhadap Sribaginda, Jenderal? Kalau begitu halnya maka sebagai hamba yang setia terhadap kaisar, aku akan menentangmu!" Lili juga berdiri dan sikapnya menantang.

Melihat ini, Pangeran Mahkota melerai. "Hentikanlah keributan ini dan kita bicara dengan kepala dingin."

"Pangeran," kata Lili cepat mendahului jenderal itu. "Aku mengenal benar siapa Sin Wan. Dia seorang pendekar yang gagah perkasa, dan aku yakin dia tidak akan melakukan hal yang salah, apa lagi menghina dan menyebar fitnah kepada paduka! Dia pemegang leng-ki, bila kita mengganggunya tentu Sribaginda akan marah sekali." Saking emosinya gadis itu sampai lupa diri dan menyebut diri sendiri aku begitu saja kepada Pangeran Mahkota...!

Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 16

SIN WAN mengerahkan seluruh tenaganya berlari cepat hingga akhirnya dia dapat melihat bayangan itu berloncatan dari atas atap ke atas atap rumah lain, dan dia terus mengejar secepatnya. Ternyata orang itu berlari ke rumah gedung milik Pangeran Mahkota yang tadi!

Berdebar rasa jantung di dada Sin Wan. Kalau Si Kedok Hitam tadi berada di rumah itu, dia akan menghadapi lawan berat. Si Kedok Hitam itu sudah berat, apa lagi kalau dibantu orang-orang lain. Akan tetapi dia tidak merasa takut.

Melihat orang itu menghilang ke dalam gedung, dia pun cepat mengintai dari atas atap. Yang membuat dia heran adalah bahwa kini seluruh gedung dipasangi lampu penerangan, tidak seperti tadi. Dia lalu mengintai ke ruangan tengah dan betapa kaget serta herannya melihat Pangeran Mahkota Chu Hui San berada di situ, duduk menghadapi meja panjang ditemani empat orang wanita muda yang cantik-cantik.

Dari pakaian mereka Sin Wan tahu bahwa empat orang wanita itu pasti bukan selir atau dayang dari istana. Agaknya sang pangeran mata keranjang itu tengah bersenang-senang ditemani empat orang wanita panggilan. Anehnya, mengapa baru sekarang pangeran itu berada di situ sedangkan tadi, hanya kurang lebih dua jam yang lalu, belum ada?

Dan sekarang di sekeiiling gedung itu terdapat pengawal, tidak seperti tadi. Bagaimana si pencuri pusaka dapat masuk ke situ tanpa diketahui pengawal? Kalau bersembunyi, dapat bersembunyi di mana?

Sin Wan meragu. Dia tidak berani lancang turun menemui sang pangeran karena hal itu bisa dianggap dosa besar, mengganggu kesenangan sang pangeran mahkota! Ia menanti hingga setengah jam lamanya, tanpa memandang apa yang dilakukan putera mahkota itu bersama empat orang wanitanya, hanya bersiap siaga kalau-kalau bayangan tadi muncul lantas menyerang sang pangeran, atau kalau-kalau bayangan itu menyelinap keluar lagi. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu. Bayangan tadi, maling yang dikejarnya itu seperti lenyap ditelan bumi.

Karena dia tidak berani mengganggu Putera Mahkota, terpaksa Sin Wan pulang dengan tangan kosong. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia menemui Bhok-ciangkun dan memberi laporan tentang semua yang dilihat dan dialaminya semalam.

Bhok Cun Ki tentu saja tertarik sekali, terutama tentang Si Kedok Hitam yang sangat lihai. "Begitu lihainya dia sampai dapat menandingimu, Sin Wan? Hemmm…, tentu dia seorang tokoh besar dari Kerajaan Goan. Dan dia disebut Yang Mulia? Ini menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan tinggi, mungkin keluarga Kaisar Mongol yang telah kalah dan jatuh."

"Akan tetapi yang membuat saya tidak mengerti kenapa Pangeran Mahkota tiba-tiba bisa berada di sana, dan mengapa pula Si Kedok Hitam dan kedua orang anak buahnya yang mencuri dari gedung pusaka dapat berada di sana pula?"

"Hemmm…, hal ini memang tidak masuk di akal. Kalau benar Si Kedok Hitam itu seorang bangsawan Mongol, bagaimana mungkin dia dapat berada di rumah milik Putera Mahkota! Memang aneh sekali. Biarlah sekarang juga akan kuperiksa keadaan di gedung pusaka, apakah ada pusaka yang hilang. Kalau menurut ceritamu tadi, Si Kedok Hitam menyuruh anak buahnya mencuri pusaka milik Kerajaan Mongol, terutama cap-cap dan tanda-tanda kebesaran."

Sebentar saja Bhok Cun Ki memperoleh berita bahwa gedung pusaka memang kecurian barang yang bagi Kerajaan Beng tidak berharga, hanya disimpan di sana sebagai benda sejarah, yaitu tiga buah cap kebesaran kaisar dan sebuah pedang tanda kekuasaan kaisar Mongol.

"Jelas sudah, pencurinya tentulah mata-mata Mongol itu!” seru Bhok Cun Ki. "Akan tetapi bagaimana mungkin jaringan mata-mata Mongol dapat bersembunyi di gedung Pangeran Mahkota? Hal ini perlu penyelidikan, tetapi harus dilakukan dengan hati-hati sekali supaya Putera Mahkota tidak sampai merasa tersinggung. Beliau adalah seorang pangeran yang juga menjadi putera mahkota, calon kaisar. Maka bagaimana pun juga aku tidak percaya kalau beliau mempunyai hubungan dengan bangsawan Mongol yang hendak mendirikan kembali Kerajaan Mongol. Mustahil ini!"

"Saya maklum akan kesulitan paman apa bila harus menyelidiki urusan ini. Paman adalah seorang panglima, tentu tidak akan berani kalau harus melakukan penyelidikan di rumah gedung milik Putera Mahkota. Tetapi saya adalah seorang yang tidak terikat oleh disiplin ketentaraan sehingga saya takkan merasa canggung atau rikuh. Apa lagi saya membawa tanda kekuasaan dari Sribaginda Kaisar yang saya terima dari suhu."

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya. "Tetapi bagaimana kalau Pangeran Mahkota marah? Sekali dia memberi isyarat, para jagoan istana akan mengeroyok dan membunuhmu, dan kalau engkau melawan, berarti engkau telah menjadi pengkhianat dan pemberontak!"

Sin Wan menggeleng kepala dan tersenyum. "Saya kira tidak akan begitu, paman. Saya akan mempergunakan cara yang halus. Seandainya dia bermain kasar maka saya masih mempunyai pelindung, yaitu surat kekuasaan Kaisar dan juga kesaksian saya bahwa ada mata-mata Mongol berlindung di rumah pangeran."

Panglima itu menghela napas panjang. Urusan ini memang penting sekali, maka akan dia bicarakan dengan atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta. "Baiklah, Sin Wan. Akan tetapi berhati-hatilah. Aku amat membutuhkan bantuanmu pada pemilihan bengcu kelak. Dan sebaiknya hal ini kusampaikan dahulu kepada Jenderal Shu Ta."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bhok-ciangkun berkunjung ke benteng. Namun ternyata dia tidak bertemu dengan Jenderal Shu Ta yang belum datang, dan di situ hanya ada wakilnya, yaitu Jenderal Yauw Ti.

Sesudah menerima penghormatan Bhok Cun Ki, jenderal Yauw Ti yang tubuhnya tinggi besar dan gagah itu bertanya heran, "Ada kepentingan mendesak apakah yang membuat engkau sepagi ini sudah mencari Jenderal Shu?"

Karena Jenderal Yauw Ti juga merupakan seorang atasannya, maka Bhok Cun Ki segera menerangkan mengenai pengalaman Sin Wan tadi malam. Mendengar ini, wajah Jenderal berubah merah dan alisnya berkerut.

"Hemm... hemmm... engkau bermain dengan api, Bhok-ciangkun," katanya tak senang.

"Betapa beraninya bocah Uighur itu bicara! Jangan-jangan dia malah mata-mata Mongol yang hendak mengacaukan keadaan. Bagaimana mungkin Pangeran Mahkota... ahhh, ini mustahil. Biar aku sendiri yang akan bicara dengan beliau, dan jika ternyata anak Uighur itu berbohong maka terpaksa aku akan menangkapnya dengan tuduhan menghina Putera Mahkota!"

Bhok Cun Ki sangat terkejut. Dia tahu betapa Jenderal ini membenci suku-suku bangsa lain. “Saya harap Yauw-goanswe (Jenderal Yauw) tidak terburu nafsu. Saya akan mohon pertimbangan Jenderal Shu...”

"Heh, apa bedanya? Tak urung dia pun akan bertindak seperti yang kulakukan. Di antara kami tidak pernah ada ketidak cocokan. Setiap kali timbul masalah, harus kita tanggulangi dengan secepatnya. Kini Pangeran Mahkota dicurigai, maka harus diselidiki sekarang juga untuk menentukan siapa yang bersalah! Sudahlah, serahkan saja urusan ini ke tanganku dan kembalilah!"

Ucapan itu merupakan perintah, maka Bhok Cun Ki segera pulang dengan tubuh panas dingin. Celaka bagi Sin Wan pikirnya. Jenderal Yauw adalah seorang yang sepenuhnya setia kepada kaisar, apa lagi terhadap putera mahkota, dan dia pun seorang yang keras hati dan keras tangan. Kalau sampai Pangeran Mahkota menyangkal, dan keterangan Sin Wan tidak ada bukti, celakalah Sin Wan!

Setelah tiba di rumah, Bhok Cun Ki cepat memberi tahu Sin Wan tentang pertemuannya dengan Jenderal Yauw. "Wah, repot!" katanya cemas. "Tadi Jenderal Shu belum datang dan aku kepergok oleh Jenderal Yauw. Sukar untuk tidak berterus terang, apa lagi dia pun atasanku, wakil Jenderal Shu. Dan orang yang keras hati itu langsung saja menanggapi, hendak menyelidiki kepada Pangeran Mahkota. Dia berani bertindak keras terhadap siapa saja, dan kalau sampai engkau tidak bisa membuktikan keteranganmu, tentu engkau akan dianggap sebagai orang yang menaruh fitnah kepada Pangeran Mahkota. Jenderal Yauw dapat berbuat hal-hal yang mengejutkan, dan dia selalu keras, akan tetapi dia membela kebenaran, tidak ada yang dapat membantahnya."

"Jangan khawatir, paman. Saya berpegang pada kebenaran dan saya yakin bahwa Tuhan Yang Maha Adil akan selalu melindungi orang yang berada di pihak benar."

Bhok Cun Ki menghela napas panjang. "Akan tetapi semua orang akan mengaku benar, Sin Wan, untuk membela tindakannya."

"Saya mengerti, paman. Manusia dapat dibohongi, akan tetapi Tuhan tidak! Tuhan Maha Mengetahui sehingga akan mengetahui pula siapa benar siapa yang salah. Karena saya yakin bahwa saya benar, tidak melakukan fitnah dan tidak berbohong, maka saya berani menghadapi segala resikonya."

Bhok Cun Ki menghela napas panjang dan memandang pemuda itu dengan rasa kagum. "Engkau seorang gagah sejati Sin Wan. Aihh, kalau dulu ketika muda aku dapat bersikap sepertimu, tentu sekarang tidak akan menanggung akibatnya. Nah, kalau begitu terserah kepadamu, Sin Wan."

Pemuda itu maklum bahwa panglima ini tentu teringat mengenai permusuhannya dengan Bi-coa Sianli Cu Sui In, akan tetapi dia tidak menanggapi urusan yang sangat pribadi itu. "Saya hanya minta agar paman suka mengusahakan supaya sekarang juga saya dapat menghadap Pangeran Mahkota."

"Baiklah, akan kutemui kepala pengawal istana yang sudah kukenal baik. Apa lagi engkau memegang tanda kekuasaan dari Sribaginda Kaisar, seharusnya tidak sulit bagimu untuk menghadap beliau."

Benar saja, dengan bantuan Bhok Cun Ki tidak sukarlah bagi Sin Wan untuk memasuki istana dan dia pun segera diantar pengawal menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Chu Hui San, putera Mahkota. Dan suatu kejutan yang sama sekali tak disangka-sangka oleh Sin Wan menyambutnya sesudah dia memasuki kamar tamu dan duduk di ruangan luas itu setelah dipersilakan pengawal untuk menunggu di situ.

Kejutan itu muncul bersama Pangeran Chu Hui San. Pangeran berusia empat puluh tahun yang tinggi kurus, bermuka pucat dan matanya cekung, pesolek serta tubuhnya nampak lemah itu muncul bersama seorang pria tampan berusia tiga puluh lima tahun, berpakaian sebagai seorang sastrawan, sikapnya lembut dan wajahnya cerah dihias senyum, tangan kirinya memegang sebuah kipas putih yang sesuai pula dengan pakaiannya yang serba putih indah, dengan seorang gadis yang membuat Sin Wan terbelalak karena gadis cantik yang tersenyum simpul itu bukan lain adalah Tang Bwe Li atau Lili!

Sebagai orang yang tahu sopan santun, Sin Wan yang telah mendapat gambaran tentang Pangeran Mahkota dan yakin bahwa dia berhadapan dengan pangeran itu, segera bangkit dari tempat duduknya lalu menjatuhkan diri berlutut dengan kaki kiri memberi hormat.

Pangeran Chu Hui San memandang kepada Sin Wan dengan alis berkerut. Jelas bahwa kunjungan seorang pemuda biasa di pagi hari itu, ketika tubuhnya masih terasa lelah dan malas bangun, sangat mengganggunya. Akan tetapi kepala pengawal mengatakan bahwa pemuda yang mohon menghadap itu adalah orang yang memegang tanda kekuasaan dari kaisar dan mohon menghadap untuk urusan yang teramat penting mengenai keselamatan sang pangeran, maka mau tidak mau dia terpaksa bangun dan menerima tamu itu.

"Sin Wan...! Engkau yang datang ini?" Lili berseru, suaranya mengandung nada terkejut, keheranan dan juga kegembiraan.

"Ehh? Engkau sudah mengenal pemuda ini, nona Lili?" Sang pangeran bertanya heran.

Lili tersenyum manis dan Sin Wan melihat betapa Lili nampak sudah akrab sekali dengan pangeran itu, malah sikapnya tidak terlampau merendah seperti sikap orang lain terhadap seorang pangeran mahkota.

"Tentu saja, pangeran! Sejak berusia sepuluh tahun aku sudah mengenalnya!”

Sin Wan yang masih terkejut dan heran, hanya dapat berkata dengan suara lirih, "Lili, tak kusangka akan bertemu denganmu di sini." Dia memandang kepada lelaki tampan yang berpakaian sastrawan, akan tetapi tidak mengenalnya.

"Aku belum lama berada di sini, Sin Wan, menjadi pengawal pribadi yang mulia pangeran mahkota!"

Melihat kedua orang muda itu saling tegur dan bicara seolah-olah dia sendiri tidak berarti dan sudah dilupakan orang, Pangeran Chu Hui San menjadi marah. Bukan marah kepada Lili yang diperkenalkan kepadanya oleh Yauw Siucai lalu diangkatnya menjadi pengawal pribadinya karena selain gadis itu amat lihai, juga cantik menarik sekali dan dia berharap dara itu sekali waktu akan menyerahkan diri kepadanya. Dia marah kepada Sin Wan yang dianggapnya telah mengganggu waktunya.

“Orang muda," dia menegur dengan suara berwibawa. "Pengawal tadi mengatakan bahwa engkau adalah orang yang memegang tanda kekuasaan dari Kaisar. Benarkah itu? Kalau benar, buktikan kepada kami."

Mendengar perintah ini, Sin Wan yang tadinya berlutut dengan sebelah kaki cepat bangkit berdiri lantas mengeluarkan sehelai bendera kecil, yaitu bendera tanda kekuasaan kaisar yang diberikan kepada seorang utusan yang dipercaya.

Melihat benda ini, sastrawan berpakaian serba putih itu segera menjatuhkan diri berlutut, sementara itu sang pangeran juga membungkuk dengan hormat. Melihat Lili masih berdiri seperti biasa saja, sastrawan itu cepat berbisik,

"Nona Lili, berlututlah untuk memberi hormat!"

Lili memandang heran. "Apa-apaan ini? Mengapa aku disuruh berlutut? Kepada Sin Wan ini?"

"Bukan kepada orangnya, tapi kepada benderanya. Leng-ki itu adalah bendera kekuasaan dari Sribaginda, karena itu kita harus menghormatinya sebagai wakil kehadiran Sribaginda sendiri. Berlututlah, nona...," kata pula sastrawan itu berbisik.

Mendengar ini mau tak mau Lili lalu berlutut, meski pun mulutnya cemberut. Kalau berlutut menghormati kaisar, tentu saja dia akan melakukannya dengan senang hati. Akan tetapi kepada sehelai bendera yang dipegang oleh Sin Wan? Sungguh lucu!

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sementara itu Pangeran Mahkota lalu berkata, "Orang muda, kami sudah melihat bahwa engkau memang memegang sebuah leng-ki. Sekarang simpanlah pusaka itu dan silakan duduk." Sikap pangeran itu kini menjadi hormat.

Sin Wan hanya ingin membuktikan bahwa dirinya memang menjadi wakil Ciu-sian yang mendapatkan leng-ki dari kaisar, bukan bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk menyombongkan diri. Dia cepat menggulung dan menyimpan kembali leng-ki, lalu duduk di atas kursi, berhadapan dengan pangeran mahkota. Sesudah sang pangeran duduk, Lili dan Yauw Siucai juga mengambil tempat duduk di belakang pangeran itu.

"Nah, sekarang katakan apa keperluan yang mengenai keselamatan kami itu, dan siapa namamu," kata sang pangeran.

Sin Wan memberi hormat sambil duduk, kemudian berkata, "Sebelumnya harap paduka memaafkan saya yang telah berani menghadap paduka tanpa dipanggil dan mengganggu waktu paduka. Nama saya Sin Wan. Saya mewakili suhu Ciu-sian yang sudah menerima titah dari Sribaginda Kaisar untuk melakukan penyelidikan tentang gerakan jaringan mata-mata Mongol yang merupakan ancaman bagi pemerintah."

“Hemm, kalau engkau melaksanakan tugas seperti itu, kenapa pagi ini datang menghadap padaku? Kami tidak ingin memusingkan kepala dengan segala macam urusan penjagaan keamanan!" Sang pangeran mulai marah lagi karena merasa terganggu.

"Maafkan saya, Yang Mulia. Tidak sekali-sekali saya berani mengganggu waktu paduka kalau saja malam tadi tidak terjadi sesuatu yang amat aneh sehingga terpaksa saya harus memberanikan diri menghadap paduka untuk mohon keterangan."

Pangeran Chu Hui San mengerutkan kening dan memandang heran. "Terjadi apakah dan mengapa minta keterangan dari kami?”

Dengan singkat tetapi jelas Sin Wan lalu menceritakan pengalamannya semalam, betapa dia melihat tiga orang berkedok berada di gedung peristirahatan milik pangeran mahkota di luar lingkungan istana, sebelum melihat sang pangeran berada di rumah itu.

"Demikianlah, Yang Mulia. Sekarang saya hanya ingin mohon keterangan, siapakah tiga orang berkedok itu."

Wajah Pangeran Mahkota menjadi merah. "Memang benar semalam kami pergi ke rumah peristirahatan kami di luar istana, dikawal oleh sepasukan pengawal. Akan tetapi di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan dengan orang-orang berkedok itu!"

Tiba-tiba Lili yang berada di belakang pangeran itu menegur. "Sin Wan, tadi malam aku tidak disuruh mengawal yang mulia pangeran. Kalau engkau memang melihat tiga orang berkedok berada di rumah pangeran, kenapa engkau tidak menangkap mereka?"

"Benar sekali pertanyaan itu," kata sang pangeran. "Engkau bertugas sebagai penyelidik, kenapa engkau tidak menangkap mereka?"

"Mohon maaf, yang mulia. Orang berkedok itu lihai bukan main, dan saya tidak berhasil menangkapnya. Sedangkan si kedok hijau dan si kedok biru yang melakukan pencurian di gedung pusaka, pada waktu saya kejar, dia melarikan diri dan menghilang pula di gedung peristirahatan paduka itu kemudian lenyap. Karena semalam saya melihat paduka berada di sana maka saya tidak berani melakukan pengejaran ke dalam."

Sastrawan berpakaian putih yang kelihatan lembut itu memberi hormat kepada pangeran dan berkata dengan suara halus. "Maaf, pangeran. Urusan yang diceritakan pemuda ini menyangkut nama paduka, oleh karena itu haruslah dibuktikan kebenarannya. Pemuda ini harus dapat memperlihatkan bukti dari apa yang dia ceritakan."

"Tepat sekali! Nah, Sin Wan, apa kau mempunyai bukti bahwa semua ceritamu itu benar-benar terjadi?" tanya sang pangeran.

Pada saat itu pula kepala pengawal masuk, lalu menjatuhkan diri berlutut di ambang pintu ruangan, "Mohon ampun yang mulia. Jenderal Yauw Ti mohon untuk menghadap paduka sekarang juga!"

Sebelum sang pangeran menjawab, jenderal yang tinggi besar itu telah melangkah masuk kemudian dia menjatuhkan diri berlutut dengan sebelah kaki dan memberi hormat kepada pangeran mahkota. Kepala pengawal segera mengundurkan diri dengan hati lega karena kemunculan jenderal itu membebaskan dia dari kemarahan sang pangeran.

"Pangeran, hamba ingin bicara penting dengan paduka sekarang juga!" kata jenderal itu dengan sikap dan suara tegas.

Pangeran mahkota mengerutkan alisnya sambil memandang kepada jenderal itu. Walau pun sikapnya jelas menunjukkan bahwa hatinya tak senang dengan semua gangguan ini, namun dia tahu bahwa jenderal yang datang ini adalah seorang kepercayaan ayahnya dan terkenal jujur dan keras, maka dia pun mengangguk dan berkata.

"Hemm, kiranya engkau, Jenderal Yauw Ti. Ada urusan apakah pagi-pagi begini engkau sudah datang berkunjung?"

Jenderal itu tanpa dipersilakan lalu bangkit dan duduk, kemudian dia memandang kepada Sin Wan dan mukanya berubah kemerahan seperti orang marah. "Yang Mulia, kebetulan sekali urusan yang hendak hamba bicarakan ini adalah mengenai diri pemuda itu. Hamba mendengar dari Bhok-ciangkun bahwa pemuda itu, eh, siapa namanya, Sin Wan? Ya, dia memberi keterangan bahwa dia melihat penjahat dan pencuri yang bersembunyi di dalam rumah peristirahatan paduka. Urusan ini teramat penting, menyangkut nama baik paduka sehingga harus dibikin terang sekarang juga."

"Ahh, kami pun sedang membicarakan urusan itu dengan Sin Wan ini dan kami sedang menuntut agar dia dapat membuktikan apa yang dia ceritakan itu," kata sang pangeran.

"Tepat sekali itu, Pangeran yang mulia!" seru Jenderal Yauw Ti. "Memang hamba sendiri pun merasa penasaran mendengar cerita itu, maka hamba menuntut agar pemuda Uighur yang kebetulan menjadi murid Sam-sian ini membuktikan kebenaran ceritanya."

"Pangeran!" tiba-tiba Lili berseru dengan suara tegas. "Urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan suku bangsa atau keturunan! Saya memprotes kalau ada orang yang menekankan kepada kesukuan Sin Wan!"

Sin Wan sendiri terkejut. Dia tahu benar bahwa gadis liar ini memang mencintanya, tetapi membelanya secara demikian kasar, di depan Pangeran Mahkota dan seperti menyerang Jenderal Yauw Ti, sungguh merupakan perbuatan yang terlalu berani dan lancang sekali.

Pangeran Chu Hui San hanya tersenyum, agaknya dia sudah mengenal watak pengawal pribadinya yang baru itu sehingga tidak merasa heran melihat peledakan ini. Akan tetapi jenderal Yauw Ti mengerutkan alisnya yang tebal dan memandang kepada Lili dengan mata melotot marah. Namun gadis itu pun memandang kepadanya dengan balasan mata melotot yang tidak kalah sengitnya!

"Yang Mulia, siapakah gadis yang kasar dan lancang ini?" tanya sang jenderal, menahan kemarahannya karena di hadapan Pangeran Mahkota tentu saja dia tidak berani bersikap kasar. Pangeran Mahkota segera menengahi dan menyabarkan Jenderal Yauw Ti.

"Jenderal Yauw Ti, harap jangan marah. Dia ini Lili, eh, nona Tang Bwe Li dan dia adalah pengawal pribadiku yang baru. Dia sangat lihai dan boleh dipercaya, dan yang ini adalah Yauw Siucai. Ehh…, sungguh menarik karena kebetulan nama keluarganya sama dengan margamu. Yauw Siucai ini adalah pengawal juga akan tetapi sekarang dia telah menjadi guru sastra untuk puteraku."

Jenderal Yauw Ti mengangguk-angguk, lalu dia kembali memandang kepada Sin Wan dan berkata, "Seperti hamba katakan tadi, pangeran, tuntutan paduka memang sangat tepat dan pemuda itu harus dapat membuktikan bahwa omongannya itu betul. Nah, Sin Wan, bagaimana jawabanmu?"

Sejak tadi Sin Wan hanya menjadi penonton saja. Dia tidak khawatir terhadap jenderal itu karena tahu bahwa jenderal itu adalah orang yang sangat setia kepada Kerajaan Beng, seorang yang sudah berjasa besar. Ada pun sastrawan itu, kalau dia itu pengawal dan juga guru sastra di istana, tentu merupakan orang yang boleh dipercaya. Hanya dia masih bingung dan heran sekali melihat Lili secara tiba-tiba menjadi pengawal pribadi Pangeran Chu Hui San! Dan kini, menghadapi pertanyaan jenderal galak yang agaknya tidak suka kepada suku bangsa Uighur itu, dengan sikap tenang dia pun menatap wajah jenderal itu.

"Jika sekarang jenderal memeriksa ke gedung pusaka, tentu akan mendengar bahwa ada benda-benda yang hilang dan itu merupakan bukti kebenaran cerita saya. Para penjaga yang tertotok semalam juga akan dapat bercerita. Itulah bukti saksi kebenaran keterangan saya."

"Hemm, itu hanya kesaksian bahwa memang gedung pusaka sudah dimasuki pencuri. Hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan nama yang mulia Pangeran Mahkota. Yang kami tuntut pembuktiannya adalah keteranganmu bahwa para penjahat berkedok itu berada di rumah gedung milik beliau. Nah, engkau harus dapat membuktikan itu. Mari kita bersama menggeledah rumah itu untuk mencari orang-orang berkedok yang kau ceritakan itu!"

"Sudah pasti kita tak akan dapat menemukan seorang pun!" Sin Wan membantah sambil tersenyum. "Mereka adalah orang-orang lihai sehingga tak mungkin mereka begitu bodoh untuk tinggal diam saja di sana menunggu untuk ditangkap."

"Orang muda, berhati-hatilah dengan kata-katamu. Engkau telah melempar fitnah dengan mengatakan bahwa ada penjahat yang bersembunyi di rumah milik yang mulia Pangeran Mahkota. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa beliau sudah bersekongkol dengan penjahat berkedok itu?"

Sin Wan terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa urusan membelok sedemikian rupa sehingga dia yang kini terancam bahaya! "Ahh, sama sekali tidak, Jenderal!”

"Kau bilang sama sekali tidak? Akan tetapi bagaimana kalau ada orang yang mendengar bahwa pencuri pusaka lari menghilang ke dalam rumah pangeran, dan mendengar bahwa engkau melihat tiga orang berkedok berada di rumah itu? Apakah tidak didesas-desuskan orang bahwa Pangeran Mahkota menyembunyikan penjahat-penjahat itu di rumah beliau? Hayo katakan, bagaimana engkau dapat membuktikan kehadiran para penjahat di rumah beliau. Kalau tidak, maka terpaksa aku akan menangkap dan menahanmu sebagai orang yang menghina dan melempar fitnah kepada Pangeran Mahkota!"

Sin Wan tak dapat menjawab dan dia semakin terkejut. Kini dia yang terancam bahaya, namun dia tidak menyalahkan kekerasan Jenderal Yauw Ti. Memang sudah sepantasnya kalau jenderal itu mencurigainya. Pria berpakaian sastrawan itu kini berkata dan suaranya tetap terdengar lembut.

"Saudara Sin Wan yang gagah, apa yang dikatakan tay-ciangkun (panglima besar) Yauw memang tak keliru. Sebaiknya kalau engkau bisa membuktikan kebenaran keteranganmu dengan menangkap semua atau salah seorang di antara para penjahat berkedok itu, baru engkau mendapatkan bukti."

Sin Wan menggeleng kepala. "Bagaimana mungkin saya dapat mencari mereka? Selain lihai mereka pun berkedok sehingga saya tidak mengenal wajah mereka."

"Kalau begitu, kami harus menangkap dan memeriksamu, mengusut perkara ini dengan tuduhan engkau sudah menghina Yang Mulia Pangeran!" Jenderal itu lalu menengok ke arah pintu untuk memanggil pasukan.

"Tunggu...!" Tiba-tiba saja Lili melangkah maju sambil mengeluarkan suara bentakan yang mengejutkan semua orang. "Sin Wan, keluarkan leng-kimu tadi, cepat!"

Sin Wan yang tadinya telah merasa bingung, tiba-tiba teringat bahwa dia memiliki senjata yang ampuh, yaitu bendera tanda kekuasaan dari kaisar itu. Kini, mendengar seruan Lili, demi untuk menyelamatkan diri, dia pun segera mengeluarkan bendera kecil itu kemudian mengangkatnya ke atas kepala.

Lili langsung menjatuhkan diri berlutut menghadap Sin Wan sambil berseru dengan suara lantang. "Banswe, ban-ban-swe (hidup Sribaginda Kaisar)!”

Seruan ini biasa dilakukan orang apa bila menghadap kaisar untuk memberi hormat dan memujikan kaisar panjang umur sampai selaksa tahun! Melihat ulah gadis ini, mau tidak mau semua orang langsung menjatuhkan diri berlutut dengan satu kaki memberi hormat kepada bendera kekuasaan kaisar itu dengan seruan yang sama.

"Siapa yang menghina pemegang leng-ki sama dengan menghina kaisar sendiri!" seru Lili.

Jenderal Yauw Ti menjadi penasaran. "Leng-ki berada di tangan orang yang salah! Aku harus menangkap Sin Wan ini!"

"Menangkap pemegang leng-ki sama saja dengan menangkap Sribaginda Kaisar! Apakah engkau hendak memberontak terhadap Sribaginda, Jenderal? Kalau begitu halnya maka sebagai hamba yang setia terhadap kaisar, aku akan menentangmu!" Lili juga berdiri dan sikapnya menantang.

Melihat ini, Pangeran Mahkota melerai. "Hentikanlah keributan ini dan kita bicara dengan kepala dingin."

"Pangeran," kata Lili cepat mendahului jenderal itu. "Aku mengenal benar siapa Sin Wan. Dia seorang pendekar yang gagah perkasa, dan aku yakin dia tidak akan melakukan hal yang salah, apa lagi menghina dan menyebar fitnah kepada paduka! Dia pemegang leng-ki, bila kita mengganggunya tentu Sribaginda akan marah sekali." Saking emosinya gadis itu sampai lupa diri dan menyebut diri sendiri aku begitu saja kepada Pangeran Mahkota...!